"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Sabtu, 07 Desember 2024

PENDEKAR BODOH EPISODE SETAN SELAKSA WAJAH

PENDEKAR BODOH EPISODE SETAN SELAKSA WAJAH

SATU


PUCUK-PUCUK cemara melambai dalam se-

nyuman, menyambut siraman sinar mentari sore hari. 

Aneka warna burung parkit berkicau riang bersama 

elusan sang bayu. Di antara jajaran manusia yang 

berdiri di tepi Telaga Dewa, dua sosok bayangan berke-

lebat meninggalkan perahu yang mereka tumpangi.

Kedua bayangan itu berkelebat cepat sekali dan 

menimbulkan tiupan angin kencang bergemuruh. 

Daun cemara berguguran, jatuh ke tanah bagai ribuan 

jarum yang ditebarkan dari angkasa. Ketika melewati 

sebuah aliran sungai yang berada di utara Kota Gam-

biran, sosok bayangan yang ada di belakang berteriak 

keras,

"Berhentilah, Sahabat! Kita salah langkah!" 

Mendengar teriakan yang dialiri tenaga dalam itu, so-

sok bayangan yang ada di depan langsung menghenti-

kan kelebatan tubuhnya. Ternyata, dia seorang kakek 

berkepala gundul licin. Tubuhnya yang tinggi besar 

terbungkus jubah kuning dan selempang kain merah 

bercorak kotak-kotak. Wajahnya yang halus menyi-

ratkan sifat welas asih. Seuntai tasbih melingkar di 

leher kakek yang tampaknya amat pendiam itu.

"Salah langkah bagaimana, Sahabatku Sastra-

wan Berbudi?" tanya kakek berjubah kuning yang tak 

lain dari Pendeta Tasbih Terbang.

Yang ditanya adalah seorang kakek berwajah 

halus, berkumis, dan berjenggot tipis. Tubuhnya kurus 

tinggi, mengenakan pakaian serba hijau. Rambutnya 

yang telah memutih dibiarkan tergerai bebas. Dia ada-

lah Bagus Tembihi yang lebih dikenal dengan sebutan 

Sastrawan Berbudi.


"Kau berteriak menghentikan langkahku. Kau 

katakan bahwa kita telah salah langkah. Aku tak tahu 

apa maksudmu, Sahabat...," ujar Pendeta Tasbih Ter-

bang melihat Sastrawan Berbudi tak segera menjawab 

pertanyaannya.

"Jangan-jangan pemuda itu mengecoh kita...," 

sahut Sastrawan Berbudi, tidak seyakin teriakannya 

tadi.

"Mengecoh bagaimana, Sahabat?" Pendeta Tas-

bih Terbang bertanya lagi dengan kening berkerut ra-

pat.

"Kita tidak tahu siapa dia. Kita tidak tahu pula 

apa maksudnya meninggalkan Telaga Dewa. Kenapa 

dia meninggalkan Ikan Mas Dewa yang telah dilu-

kainya? Apakah dia tidak menginginkan Kodok Wasiat 

Dewa?"

Mendengar ucapan Sastrawan Berbudi yang 

cukup panjang Itu, kerut di kening Pendeta Tasbih 

Terbang itu semakin merapat. Setelah berpikir dan 

menimbang, si kakek gundul berkata, "Kita memang 

tak tahu siapa dia, Sahabat. Tapi, bukankah kita ber-

dua telah mendengar bila Pendekar Bodoh menyebut 

pemuda itu sebagai Mahisa Lodra? Mahisa Lodra ada-

lah Setan Selaksa Wajah! Dia telah melakukan serang-

kaian tindakan kejam. Pusaka Pedang Naga yang di-

bawanya tentu hasil rampasan atau curian. Bukankah 

pedang pusaka itu milik Ksatria Seribu Syair?"

"Benar apa yang kau katakan, Sahabatku Tas-

bih Terbang," sambut Sastrawan Berbudi. "Pusaka Pe-

dang Naga memang milik Ksatria Seribu Syair. Semula, 

pedang itu adalah salah satu benda pusaka Istana 

Mahespati semasa Prabu Darma Sagotra masih meme-

rintah...."

"Ya. Ya, aku tahu riwayat pedang itu, termasuk


riwayat Ksatria Seribu Syair yang sebenarnya adalah 

putra Prabu Darma Sagotra," sergap Pendeta Tasbih 

Terbang. 

"Tapi kita tak perlu mengusik-usik riwayat be-

kas putra mahkota itu walau dia juga sahabat baik ki-

ta. Hanya, aku masih merasa heran atas sikapmu yang 

meminta ku berhenti mengejar Mahisa Lodra, Saha-

bat...."

"Ya. Aku bisa membaca jalan pikiranmu, Saha-

batku Pendeta Tasbih Terbang," tukas Sastrawan Ber-

budi. "Kau tentu ingin segera menghukum mati Mahisa 

Lodra dan merampas kembali Pusaka Pedang Naga mi-

lik Ksatria Seribu Syair sahabat kita itu. Namun... ti-

dakkah kau melihat satu keanehan pada sikap Mahisa 

Lodra ini?"

Pendeta Tasbih Terbang terdiam. Jalan piki-

rannya diputar-putar, tapi apa yang dimaksud oleh 

Sastrawan Berbudi tetap tak tertemukan juga. Pendeta 

Tasbih Terbang cuma dapat mengerutkan kening, me-

natap wajah Sastrawan Berbudi dengan segudang tan-

da tanya.

"Cobalah kau pikir, Sahabat. Mahisa Lodra te-

lah berhasil melukai Ikan Mas Dewa, tapi kenapa dia 

malah berlari meninggalkan ikan raksasa itu?" lanjut 

Sastrawan Berbudi.

"Dia bukan meninggalkannya, Sahabat," tukas

Pendeta Tasbih Terbang. "Kita tahu dengan mata kepa-

la sendiri, Mahisa Lodra mengejar Ikan Mas Dewa yang 

meluncur ke arah timur. Kita juga melihat dengan ma-

ta kepala sendiri, Ikan Mas Dewa menyelam dan tak 

muncul-muncul lagi. Mungkin karena itulah Mahisa 

Lodra berlari meninggalkan Telaga Dewa."

"Hmmm.... Jalan pikiranmu terlalu sederhana, 

Sahabat," sambut Sastrawan Berbudi tanpa bermaksud menyinggung perasaan Pendeta Tasbih Terbang.

"Lalu, menurutmu ada apa di balik perbuatan 

Mahisa Lodra ini?" tanya Pendeta Tasbih Terbang, be-

nar-benar tak tahu apa yang terkandung di dalam pi-

kiran Sastrawan Berbudi.

"Mahisa Lodra sengaja meninggalkan Ikan Mas 

Dewa yang telah dilukainya. Dia bermaksud menunggu 

sampai muncul seseorang yang dapat mengambil Ko-

dok Wasiat Dewa dari dalam perut Ikan raksasa itu...."

"Ya..., ya! Aku tahu sekarang," sergap Pendeta 

Tasbih terbang. "Mahisa Lodra hanya mau membuka 

Jalan. Setelah jalan yang dibukanya itu membuahkan 

hasil, dia akan muncul lagi untuk merampas benda 

yang dia inginkan."

"Kita memang telah terkecoh!" tegas Sastrawan 

Berbudi. "Susan payah kita berlari mencari Mahisa Lo-

dra, sementara orang yang kita cari masih berada di 

sekitar Telaga Dewa tanpa sepengetahuan kita." 

"Ya! Kalau begitu, kita kembali," cetus Pendeta 

Tasbih Terbang tanpa ragu-ragu lagi. "Sungguh aku 

merasa ngeri bila harus melihat Telaga Dewa jadi ajang 

pertumpahan darah!"

Sastrawan Berbudi mengangguk. Sekali menje-

jak tanah, tubuh kakek berpakaian serba hijau ini me-

layang belasan tombak jauhnya. Bergegas Pendeta 

Tasbih Terbang mengikuti. (Agar lebih jelas dalam 

mengikuti jalan cerita ini, silakan baca serial Pendekar 

Bodoh episode: "Kemelut Di Telaga Dewa").

Namun, belum genap dua ratus tombak jarak 

yang ditempuh, mendadak Sastrawan Berbudi meng-

hentikan kelebatan tubuhnya. Diapit dua batang po-

hon cemara tinggi menjulang, empat orang kakek ber-

kepala gundul tampak berdiri tegak menghadang. Me-

reka sama-sama berwajah garang, mengenakan rompi


kuning dan celana merah.

"Empat Setan Gundul...," desis Sastrawan Ber-

budi seraya menghentikan kelebatan tubuhnya.

Pendeta Tasbih Terbang turut terhantam keter-

kejutan. Serta-merta dia pun menghentikan kelebatan 

tubuhnya.

Ditatapnya sosok Empat Setan Gundul dengan 

kening berkerut rapat.

"Aku tahu kalian sengaja menghadang. Apakah 

peristiwa di Telaga Dewa membuat kalian penasaran?" 

tebak Sastrawan Berbudi.

Empat Setan Gundul yang sama-sama meme-

gang golok terhunus tampak maju selangkah bersa-

maan. Secara bersamaan pula, mereka mengacungkan 

golok ke depan. Sikap mereka begitu kasar dan menyi-

ratkan nafsu membunuh.

Golok yang dibawa Empat Setan Gundul adalah 

hasil rampasan. Golok mereka sendiri yang lebih bagus 

dan terbuat dari logam pilihan telah tenggelam di da-

sar Telaga Dewa saat bertempur dengan Seno Prasetyo 

atau Pendekar Bodoh yang dibantu Sastrawan Berbudi 

dan Pendeta Tasbih Terbang.

"Jahanam kau, Sastrawan Jelek! Sudah tahu 

kenapa bertanya lagi?!" sentak salah satu dari Empat 

Setan Gundul yang mengenakan kalung perak. Na-

manya Surogentini.

Sambil berkata, Surogentini menggerak-

gerakkan goloknya seakan sedang mencacah wajah 

Sastrawan Berbudi. Sementara, ketiga teman Surogen-

tini yang bernama Surogati, Waraksuro, dan Banyak-

suro langsung memasang kuda-kuda.

Namun, Sastrawan Berbudi malah tersenyum. 

Ditatapnya wajah Empat Setan Gundul bergantian. 

"Kupikir, aneh juga tindakan kalian ini," ujarnya.


"Jauh-jauh kalian datang dari Pesisir Laut Selatan ten-

tu terkandung satu tujuan untuk mendapatkan Kodok 

Wasiat Dewa. Tapi, kenapa kalian malah hendak me-

nantang perkara denganku, padahal aku tidak mem-

bawa benda yang kalian inginkan itu?"

"Jangan banyak mulut kau, Sastrawan Kudi-

san!" sergap Waraksuro. "Kau dan temanmu, pendeta 

gendeng itu, telah mempermalukan kami di hadapan 

sekian banyak orang! Untuk mendapatkan Kodok Wa-

siat Dewa, kami pikir masih banyak waktu. Yang ter-

penting dan yang harus segera kami lakukan adalah 

mengembalikan nama besar Empat Setan Gundul. Dan 

ketahuilah kau, Sastrawan Kudisan, hanya ada satu 

cara untuk mengembalikan nama besar Empat Setan 

Gundul, yaitu mencincang tubuhmu beserta pendeta 

gendeng itu!"

"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-

bih Terbang, menghela napas panjang. "Apa yang kami 

lakukan sebenarnya hanyalah untuk mencegah terja-

dinya pertumpahan darah. Sungguh aku dan saha-

batku, Sastrawan Berbudi, tidak bermaksud menja-

tuhkan nama besar kalian, apalagi...."

"Cukup!" potong Banyaksuro.

"Tak perlu bersilat lidah!" timpal Surogati. "Se-

gera kau keluarkan senjatamu, Pendeta Gendeng! 

Hiaattt...!"

Bergegas Pendeta Tasbih Terbang membuang 

tubuh ke kiri. Golok di tangan Surogati berkelebat 

memburu kematian. Sementara, Banyaksuro pun 

langsung meloncat untuk membantu serangan Suroga-

ti.

Menghadapi serangan-serangan yang cukup 

berbahaya itu, mau tak mau Pendeta Tasbih Terbang 

mesti melepas seutas tasbih yang melingkar di leher


nya. Tasbih yang terbuat dari jalinan butir-butir kain 

yang amat keras itu berputaran di angkasa, menim-

bulkan suara gemuruh yang memekakkan gendang te-

linga.

Melihat dua orang temannya telah terlibat da-

lam pertarungan sengit, Surogentini dan Waraksuro 

tak mau tinggal diam. Kedua kakek yang sama-sama 

bertubuh kekar itu langsung menerjang Sastrawan 

Berbudi.

Sampai tiga jurus, Sastrawan Berbudi masih 

dapat bertahan dan membalas serangan tanpa menge-

luarkan senjatanya. Namun setelah Surogentini dan 

Waraksuro memainkan jurus-jurus gabungan dan 

memperlihatkan serangan yang susul-menyusul, Sa-

strawan Berbudi terdesak. Terpaksa dia mengeluarkan 

senjata alat tulisnya dari balik pakaian.

Senjata Sastrawan Berbudi berupa sebatang 

bambu sepanjang tiga jengkal. Di salah satu ujungnya 

terdapat bulu-bulu halus yang terbuat dari bulu be-

ruang. Namun, di balik kesederhanaan senjata Sastra-

wan Berbudi itu tersimpan kekuatan luar biasa. Alat 

tulis itu telah direndam dalam cairan pengawet selama 

dua tahun dan dikeringkan dengan kekuatan panas 

bumi selama berbulan-bulan. Sehingga, senjata Sa-

strawan Berbudi memiliki kekuatan yang tak kalah ji-

ka dibanding dengan sebatang pedang.

Lebih hebat lagi, bila senjata Sastrawan Berbu-

di dialiri tenaga dalam, maka bulu-bulu halus di ujung 

alat tulis itu dapat mengejang kaku dan menjadi runc-

ing menyerupai alat tusuk yang cukup mampu untuk 

melubangi sebongkah batu kali.

Oleh karena itulah, Sastrawan Berbudi berani 

menggunakan alat tulisnya untuk menangkis ketaja-

man golok Surogentini dan Waraksuro. Bahkan, mampu membuat kedua kakek berwajah garang itu terpe-

rangah. Golok di tangan mereka mulai rompal di bebe-

rapa tempat karena berbenturan dengan alat tulis Sa-

strawan Berbudi.

Sementara, senjata Pendeta Tasbih Terbang 

pun tak kalah hebat. Tasbih kakek berjubah kuning 

itu tampak melayang-layang di udara, berusaha meng-

gempur pertahanan Surogati dan Banyaksuro.

Setiap berbenturan dengan batang golok, tasbih 

itu akan melenting dan melesat lebih cepat mengincar 

bagian-bagian tubuh terpenting lawan. Untaian tasbih 

benar-benar dapat terbang ke sana-sini karena Pende-

ta Tasbih Terbang mengendalikannya dengan menggu-

nakan kekuatan tenaga dalam yang bersifat mendo-

rong dan mengisap.

Maka, pertempuran di sela-sela jajaran pohon 

cemara itu semakin lama semakin seru. Batang-batang

cemara pecah dan sebagian malah tumbang akibat te-

basan ataupun hantaman senjata yang nyasar. Aneka 

warna burung parkit yang biasa bertengger di pucuk-

pucuk cemara tampak terbang menjauh, tak tahan 

melihat sifat keras manusia... yang haus darah!

***

"Ke mana mereka?" tanya seorang kakek kurus 

berpakaian kuning-hitam. Berkali-kali kakek ini me-

mutar tubuh karena sedang mengedarkan pandangan.

Melihat wajahnya yang menyiratkan kekejaman

itu, siapa lagi dia kalau bukan Iblis Perenggut Roh!

Sementara, kakak seperguruan Iblis Perenggut 

Roh, yaitu Iblis Pencabut Jiwa tampak mengedarkan 

pandangan pula. Namun, perilaku kakek bertubuh 

gemuk bulat itu terkesan lebih tenang dan sangat hati


hati. 

"Biarkan saja mereka pergi. Kita cari saja pe-

muda gemblung berjuluk Pendekar Bodoh. Aku benar-

benar telah dibuat penasaran," sahut Iblis Pencabut 

Jiwa.

Mendengar ucapan kakak seperguruannya, Ib-

lis Perenggut Roh langsung mengarahkan pandangan 

ke Telaga Dewa. Namun, sosok yang dicarinya sudah 

tak tampak lagi. Iblis Perenggut Roh lalu menatap wa-

jah Iblis Pencabut Jiwa dengan penuh tanda tanya.

"Dia telah pergi, Goblok!" maki Iblis Pencabut 

Jiwa. "Kalau dia masih ada di tempatnya, bagaimana 

mungkin aku masih berada di sini?!"

"Ya. Ya! Kita memang harus mencarinya," sam-

but Iblis Perenggut Roh dengan suara bergetar. Kakek 

kurus ini memang menyimpan rasa takut terhadap 

kakak seperguruannya.

"Kau ikuti aku!" ajak Iblis Pencabut Jiwa seraya 

menjejak tanah.

Walau tubuh Iblis Pencabut Jiwa gemuk bulat, 

tapi dia mampu berkelebat cepat. Hingga, tubuh kakek 

yang rambutnya dikelabang itu seakan berubah men-

jadi bola berwarna kuning-hitam yang terus melenting-

lenting di udara. Sementara, Iblis Perenggut Roh yang 

mengikuti juga berkelebat tak kalah cepat.

Setelah mengitari Telaga Dewa, kedua kakek 

yang juga terkenal dengan sebutan Dua Iblis dari Gu-

nung Batur itu berkelebat ke utara. Iblis Pencabut Ji-

wa yang berada di depan tampak mengerahkan selu-

ruh kemampuan berlari cepatnya.

"Cepatlah!" seru Iblis Pencabut Jiwa. "Aku 

mendengar suara pertempuran. Mungkin dia ada di 

sana" 

Iblis Perenggut Roh tak menyahuti. Namun,


bergegas dia mengempos tenaga pula. Dia kerahkan 

seluruh kemampuan ilmu peringan tubuhnya untuk 

dapat mengimbangi kelebatan Iblis Pencabut Jiwa.

Beberapa tarikan napas kemudian, Iblis Penca-

but Jiwa menghentikan kelebatan tubuhnya. Dia ber-

diri tegak menatap empat kakek bersenjata golok yang 

tengah bertempur dengan dua orang kakek bersenjata 

tasbih dan alat tulis.

"Mereka Empat Setan Gundul, Sastrawan Ber-

budi, dan Pendeta Tasbih Terbang," beri tahu Iblis Pe-

renggut Roh yang juga telah menghentikan kelebatan 

tubuhnya.

"Aku sudah tahu!" sentak Iblis Pencabut Jiwa.

Mengelam paras Iblis Perenggut Roh mendengar 

ucapan kasar kakak seperguruannya itu. Namun, dia 

tak berbuat apa-apa kecuali terus menatap pertempu-

ran yang tengah berlangsung sekitar lima puluh tom-

bak dari hadapannya.

Mendadak, Iblis Perenggut Roh mengepal tinju. 

Jajaran giginya saling bertautan, mengeluarkan suara 

gemelutuk. Iblis Perenggut Roh teringat pada peristiwa 

di Kedai Mawar. Gara-gara bertengkar mulut dengan 

Sastrawan Berbudi, dia sempat dipermalukan oleh 

Dewi Pedang Halilintar.

"Jahanam kau, Sastrawan Bau!" 

Iblis Perenggut Roh memekik nyaring. Dia ber-

kelebat cepat sekali. Sepuluh jari tangannya terkepal 

untuk mengirim pukulan 'Merenggut Roh Mencabut 

Jiwa'!

Sastrawan Berbudi terkesiap mengetahui kele-

batan tubuh Iblis Perenggut Roh yang tiba-tiba datang 

menyerangnya. Tanpa pikir panjang, Sastrawan Ber-

budi menarik dua tusukan alat tulis yang ditujukan 

kepada Surogentini dan Waraksuro. Lalu dia melentingkan tubuhnya jauh ke samping kanan untuk 

menghindari pukulan Iblis Perenggut Roh yang datang 

bertubi-tubi.

Sebenarnya, Sastrawan Berbudi hampir dapat 

memukul mundur Surogentini dan Waraksuro. Na-

mun, kedatangan Iblis Perenggut Roh telah membuat 

keadaan jadi terbalik. Kelebatan tangan Iblis Perenggut 

Roh selalu disertai bau anyir darah yang membuat isi 

perut bagai diaduk-aduk. Perhatian Sastrawan Berbudi 

jadi terpecah. Hingga sedikit demi sedikit, ganti Sa-

strawan Berbudi yang terdesak.

"Bagus, Sahabat! Kita cincang saja sastrawan 

jelek Itu!" seru Surogentini, menyebut Iblis Perenggut 

Roh sebagai 'sahabat' walau belum begitu mengenal.

Iblis Pencabut Jiwa masih berdiri terpaku di 

tempatnya. Dia perhatikan Surogati dan Banyaksuro 

yang tengah bertempur melawan Pendeta Tasbih Ter-

bang. Walau belum pernah berjumpa sebelumnya, Iblis 

Pencabut Jiwa banyak mendengar kebesaran nama 

Empat Setan Gundul sebagai tokoh-tokoh aliran hitam. 

Maka, merasa sebagai tokoh satu aliran, Iblis Pencabut 

Jiwa berkelebat menerjang Pendeta Tasbih Terbang. 

Lupa sudah Iblis Pencabut Jiwa kepada Pendekar Bo-

doh yang sedang dicarinya. Dia menerjang Pendeta 

Tasbih Terbang seperti orang kesetanan. Seluruh ama-

rah dan kekesalannya ditumpahkan kepada kakek ber-

jubah kuning itu.

"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-

bih Terbang sambil menghindari pukulan Iblis Penca-

but Jiwa.

"Sebut terus nama Tuhan-mu agar kau tak me-

nyesal bila nanti kepalamu kupecahkan!" ujar Iblis 

Pencabut Jiwa. Kedua tangan dan kaki kakek gemuk 

bulat ini mengirim serangan-serangan yang amat berbahaya.

Seperti Iblis Perenggut Roh, kelebatan tangan 

Iblis Pencabut Jiwa juga menebarkan bau anyir darah 

yang memualkan perut. Agaknya, Iblis Pencabut Jiwa 

pun mengeluarkan ilmu pukulan 'Merenggut Roh Men-

cabut Jiwa'!

Melihat ada bantuan datang, Surogati dan Ba-

nyaksuro berseru girang dalam hati. Mereka tadi su-

dah hampir putus asa karena tak dapat mendesak 

Pendeta Tasbih Terbang. Bahkan, beberapa anggota 

tubuh mereka telah menjadi sasaran tasbih terbang si 

pendeta.

Kedatangan Iblis Pencabut Jiwa membuat se-

mangat Surogati dan Banyaksuro menyala lagi. Mereka 

bagai mendapat tenaga baru. Hingga, serangan-

serangan mereka terlihat makin gencar.

"Hei! Kita tak ada urusan! Kenapa kau turut 

menyerangku?!" seru Pendeta Tasbih Terbang yang 

merasa terdesak.

"Kita memang tak ada urusan. Tapi, pendeta 

bau macam kau tak patut dibiarkan hidup terlalu la-

ma!" sahut Iblis Pencabut Jiwa.

Pertempuran berlangsung makin seru. Empat 

Setan Gundul dan Dua iblis dari Gunung Batur benar-

benar dikuasai nafsu membunuh. Sementara, Sastra-

wan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang mesti me-

loncat ke sana-sini untuk mempertahankan nyawa. 

Kedua kakek beraliran putih itu sama-sama terdesak 

hebat.

Andai Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih 

Terbang tidak mempunyai senjata ampuh, mereka ten-

tu tak akan dapat bertahan lama menghadapi keroyo-

kan Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gunung 

Batur. Namun agaknya, malaikat kematian akan segera menjemput nyawa Sastrawan Berbudi dan Pendeta 

Tasbih Terbang.

Pada saat Sastrawan Berbudi menangkis sabe-

tan golok Surogentini, mendadak Iblis Perenggut Roh 

melentingkan tubuhnya ke atas seraya meluruskan 

pergelangan tangannya. Dan, kepalannya yang dilam-

bari ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Jiwa' siap 

memecahkan batok kepala Sastrawan Berbudi.

"Eit...!"

Bet...!

Sastrawan Berbudi masih dapat menghindari 

pukulan Iblis Perenggut Roh dengan menjatuhkan tu-

buh ke tanah. Tapi..., golok Waraksuro berkelebat ce-

pat sekali. Dan tampaknya, Sastrawan Berbudi pun 

tak punya kesempatan lagi untuk menghindari maut!

Pada saat yang sama, Iblis Pencabut Jiwa ber-

hasil merampas senjata Pendeta Tasbih Terbang.

Lalu, senjata berupa seuntai tasbih itu diguna-

kan Iblis Pencabut Jiwa untuk memukul dada sang 

empunya sendiri. Selagi Pendeta Tasbih Terbang berge-

rak menghindar, golok Surogati dan Banyaksuro men-

girim tebasan maut. Golok Surogati mengarah leher. 

Golok Banyaksuro mengarah pinggang.

Memucat wajah Pendeta Tasbih Terbang seketi-

ka. Dia sadar benar bila dirinya sudah tak punya wak-

tu lagi untuk menghindari serangan yang begitu cepat. 

Tubuh Pendeta Tasbih Terbang akan segera terpotong 

menjadi tiga bagian!

"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-

bih Terbang, menyadari kematiannya yang sudah di 

pelupuk mata.

***


DUA



“BERHENTI!" Tiba-tiba, terdengar sebuah teria-

kan keras menggelegar. Hebat sekali pengaruh teria-

kan itu. Empat Setan Gundul tampak berdiri kaku di 

tempatnya. Golok mereka tertahan di udara. Sementa-

ra, Dua Iblis dari Gunung Batur pun mengalami hal 

yang sama. Iblis Perenggut Roh dan Iblis Pencabut Ji-

wa tampak berdiri kaku pula. Kepalan tangan mereka 

juga tertahan di udara!

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang 

yang sudah pasrah menerima kematian kontan terhan-

tam keterkejutan.

Namun, di balik keterkejutan itu terkandung 

rasa senang karena mereka telah selamat. Padahal, go-

lok Empat Setan Gundul dan pukulan Dua Iblis dari 

Gunung Batur kurang dari sejengkal untuk segera 

mengenal sasaran.

"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-

bih Terbang seraya menyambar senjata tasbihnya dari 

cekalan Iblis Pencabut Jiwa yang masih berdiri kaku.

Lalu secara bersamaan, Pendeta Tasbih Ter-

bang dan Sastrawan Berbudi meloncat dua tombak ke 

belakang. Dan pada saat itulah, Empat Setan Gundul 

dan Dua Iblis dari Gunung Batur dapat menggerakkan 

anggota-anggota tubuh mereka 

kembali. 

"Jahanam! Siapa yang telah berani pamer ke-

pandaian di hadapanku?!" geram Iblis Pencabut Jiwa 

seraya memutar pandangan.

"Kalau memang sengaja ingin unjuk kebolehan 

di hadapan Dua Iblis dari Gunung Batur, segera tam-

pakkan batang hidung!" tambah Iblis Perenggut Roh


penuh rasa penasaran.

Empat Setan Gundul tampak mengedarkan 

pandangan pula. Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tas-

bih Terbang sudah tak mereka pedulikan lagi. Suro-

gentini yang sebenarnya adalah pemimpin Empat Se-

tan Gundul meneriakkan kata-kata tantangan.

"Haram Jadah! Kalau ingin coba-coba membuat 

urusan dengan Empat Setan Gundul, kenapa me-

nyembunyikan diri?!"

Namun, teriakan Surogentini itu hanya disam-

but desau angin. Dua Iblis dari Gunung Batur berte-

riak-teriak lebih keras, tapi suara mereka pun hanya 

disambut desau angin. Sunyi menggeluti tempat itu. 

Sementara, sang baskara telah jauh condong ke barat. 

Sinarnya lemah, mengelus hangat.

Memuncak amarah Empat Setan Gundul dan 

Dua Iblis dari Gunung Batur. Mereka menggedruk-

gedruk tanah penuh rasa kesal. Hingga, bumi bergetar 

diiringi suara berdebum keras. Debu mengepul menu-

tupi pandangan mata.

Mendadak, di sekitar tempat itu terdengar lan-

tunan syair. Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih 

Terbang terkesiap. Demikian pula dengan Empat Setan 

Gundul dan Dua Iblis dari Gunung Batur. Kontan 

enam tokoh beraliran hitam itu berhenti menggedruk-

gedruk. Mereka memasang telinga lebar-lebar sambil 

mengedarkan pandangan.

Bila nafsu jahat telah merasuk dalam jiwa 

Butalah mata batin manusia 

Takkan dapat orang membedakan 

Mana kebajikan dan mana kebatilan

Namun sesungguhnya.... 

Setiap manusia mesti ingat


Menanam padi akan menuai padi 

Padi tak akan berubah jadi rumput

Rumput pun tak akan berubah jadi padi 

Yang baik akan menerima pahala atas budi ke-

baikannya

Yang jahat akan memetik buah balasan dari ke-

jahatannya

Kalau tidak di dunia

Pastilah nanti di akhirat

Pengadilan Tuhan....

Selalu mengiringi perbuatan manusia

Bila hukuman telah dijatuhkan

Apalah guna penyesalan?

Siapa yang tak percaya adanya pengadilan Tu-

han

Adalah seburuk-buruknya manusia yang paling 

buruk

Oleh karena itu 

Tidakkah lebih baik berpikir dulu sebelum ber-

tindak?

Cermin manusia hidup di dunia

Adalah karma dan pengadilan akhirat 

Mendengus gusar Empat Setan Gundul dan 

Dua Iblis dari Gunung Batur mendengar lantunan 

syair yang penuh makna sindiran Itu. Karena hawa 

amarah dan rasa penasaran benar-benar telah mengu-

asai jalan pikiran, mereka menggedruk-gedruk tanah 

lagi, bahkan lebih keras. Batang-batang pohon cemara 

bergoyang. Daunnya berguguran bagai dihempas ti-

upan angin kencang.

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang 

saling tatap. Sama-sama menaikkan alis. Mereka pun 

mengedarkan pandangan, namun si pelantun syair tetap tak terlihat.

"Aku bisa menebak. Aku bisa menebak!" ujar 

Sastrawan Berbudi lirih, seperti menggumam.

"Menebak apa, Sahabat?" tanya Pendeta Tasbih 

Terbang.

"Pelantun syair itu adalah dewa penolong kita. 

Dan, aku bisa menebak siapa dirinya!" jawab Sastra-

wan Berbudi, penuh keyakinan.

"Ksatria Seribu Syair?" cetus Pendeta Tasbih 

Terbang.

Mengangguk Sastrawan Berbudi. "Tepat. Hanya 

Ksatria Seribu Syair yang memiliki daya batin yang 

amat kuat. Dengan daya batinnya itu, dia bisa mem-

pengaruhi jalan pikiran orang lain. Bahkan, dia pun 

bisa memerintah orang lain sekehendak hatinya."

"Ya. Semua itu berkat ilmu sihir yang dimili-

kinya," sahut Pendeta Tasbih Terbang. "Tapi..., bukan-

kah Ksatria Seribu Syair telah mengundurkan diri dari 

rimba persilatan sejak lima tahun yang lalu?"

"Kau tidak salah, Sahabatku Pendeta Tasbih 

Terbang. Cobalah kau ingat peristiwa di Telaga Dewa 

siang tadi...."

Terdiam Pendeta Tasbih Terbang. Selagi si pen-

deta berpikir-pikir, Sastrawan Berbudi melanjutkan 

kata-katanya.

"Tentu masih hangat dalam ingatanmu, Saha-

bat, ada seorang pemuda berpakaian serba merah 

yang mampu melukai Ikan Mas Dewa. Dia membawa 

Pusaka Pedang Naga! Sementara, kita telah tahu ber-

sama bila Pusaka Pedang Naga adalah milik Ksatria 

Seribu Syair...."

"Ya. Ya, aku tahu! Pendekar Bodoh menyebut 

pemuda berpakaian serba merah itu sebagai Mahisa 

Lodra! Dan, dialah orang yang kita kejar-kejar beberapa waktu tadi."

"Kemunculan Ksatria Seribu Syair tentu ada 

hubungannya dengan Pusaka Pedang Naga yang telah 

dilarikan oleh Mahisa Lodra!"

Sewaktu Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tas-

bih Terbang bercakap-cakap, Empat Setan Gundul 

menggeram marah. Seperti orang kesurupan, mereka 

menerjang jajaran pohon cemara. Golok mereka berke-

lebatan dan menimbulkan suara berdesing yang me-

nyakitkan gendang telinga. Disusul suara berdebum 

keras. Empat batang pohon cemara tumbang tertebas 

golok Empat Setan Gundul!

Empat kakek berompi kuning dan bercelana 

merah itu berbuat lebih gila. Batang pohon cemara 

yang telah tumbang mereka cacah-cacah menjadi ser-

pihan kecil yang berpentalan ke berbagai penjuru!

Sementara, Dua Iblis dari Gunung Batur ber-

buat tak kalah gila. Mereka terus menggedruk tanah 

hingga menciptakan lubang besar yang cukup untuk 

menguburkan dua ekor kerbau. Suara hiruk-pikuk be-

nar-benar menguasai tempat itu.

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang 

meloncat menjauh. Namun, mereka tak mau beranjak 

pergi. Karena, kedua kakek yang bersahabat baik itu 

ingin melihat kemunculan sang dewa penolong yang 

mereka duga sebagai Ksatria Seribu Syair.

"Jahanam! Segera tampakkan batang hidung-

mu!" teriak Surogentini, sekuat tenaga.

"Jangan buat aku penasaran, Keparat!" timpal 

Iblis Pencabut Jiwa.

Mendadak, hembusan angin terasa mengen-

cang. Hawa di sekitar tempat itu berubah dingin seper-

ti telah terjadi hujan salju. Empat Setan Gundul dan 

Dua Iblis dari Gunung Batur terhantam keterkejutan


yang mampu menyesakkan dada mereka. Tanpa sadar, 

kegilaan mereka pun terhenti. Dengan bola mata melo-

tot besar, mereka memutar tubuh, mengedarkan pan-

dangan ke berbagai penjuru.

"Sedari tadi aku berada di tempat ini! Siapa lagi 

yang kalian cari, Manusia-manusia Kotor?!"

Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gu-

nung Batur mendengar ucapan yang amat pelan dan 

hampir tak dapat ditangkap indera pendengaran. Na-

mun, akibatnya sungguh luar biasa. Seperti ada keku-

atan tak kasat mata yang menghantam. Tubuh Empat 

Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gunung Batur ter-

pental ke belakang, lalu jatuh bergulingan sejauh lima 

tombak!

"Ksatria Seribu Syair...," kejut Sastrawan Ber-

budi dan Pendeta Tasbih Terbang.

Tanpa sadar, kedua kakek itu tersurut mundur 

selangkah. Tubuh mereka pun bergetar menatap seo-

rang lelaki setengah baya yang tiba-tiba telah berdiri di 

bawah batang pohon cemara yang hampir tumbang.

Lelaki setengah baya bertubuh tinggi tegap itu 

mengenakan pakaian putih-putih dengan ikat ping-

gang kain biru. Berkulit putih bersih seperti kulit 

kaum bangsawan. Rambutnya yang panjang diikat 

dengan sehelai sapu tangan sutera merah. Wajahnya 

halus tampan. Sorot matanya amat tajam, pertanda 

dia memiliki ilmu kesaktian yang sudah cukup sulit 

untuk diukur.

Dia memang Ksatria Seribu Syair!

"Sahabatku Sastrawan Berbudi dan Pendeta 

Tasbih Terbang...," sebut lelaki yang bernama kecil 

Darma Pasulangit atau Wisnu Sidharta itu, "Maafkan 

aku. Aku telah menutupi diriku dengan 'Sihir Penutup 

Raga'. Namun, kuharap kalian jangan salah mengerti.


Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada begundal-

begundal yang suka berbuat kekerasan itu."

"Hmmm.... Pantas aku dan Pendeta Tasbih Ter-

bang tak dapat melihat sosok Ksatria Seribu Syair. 

Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gunung Batur 

tak dapat melihat pula. Rupanya, Ksatria Seribu Syair 

menyembunyikan dirinya dengan ilmu 'Sihir Penutup 

Raga'...," gumam Sastrawan Berbudi.

"Sekali lagi, aku mohon maaf...," tambah Ksa-

tria Seribu Syair. 

Melihat bekas putra mahkota Kerajaan Mahes-

pati itu membungkukkan badan, Sastrawan Berbudi 

dan Pendeta Tasbih Terbang jadi tak enak hati. Usia 

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang me-

mang lebih tua, tapi ada aturan tak tertulis di rimba 

persilatan bahwa kedudukan seseorang ditentukan 

oleh ketinggian ilmunya. Oleh karena itu, Sastrawan 

Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang yang merasa be-

rilmu lebih rendah menjadi tak enak hati melihat sikap 

Ksatria Seribu Syair yang membungkuk hormat kepa-

da mereka,

"Eh.... Jangan begitu, Sahabat...," ujar Pendeta 

Tasbih Terbang. "Tak ada yang perlu dimintakan maaf. 

Aku bernama Sastrawan Berbudi justru harus meng-

haturkan beribu terima kasih atas pertolonganmu, Sa-

habat. Kami menyadari, tanpa pertolongan Sahabat, 

mana mungkin kami masih dapat menghirup udara 

segar saat ini....."

Tersenyum tipis Ksatria Seribu Syair. Lalu den-

gan suara lembut, dia berkata, "Sudah sekian lama ki-

ta-kita ini menjalin persahabatan. Walau aku telah li-

ma tahun mengasingkan diri, rasa persahabatan itu te-

tap ada. Sungguh, kau jangan membesar-besarkan 

pertolonganku yang tidak ada harganya tadi...."


"Ya. Ya! Kita bertiga adalah sahabat lama. Un-

tuk apa berbasa-basi segala?" sahut Sastrawan Berbu-

di untuk melembutkan suasana yang kaku.

"Tepat sekali apa yang kau kata, Sahabatku 

Sastrawan Berbudi," sambut Ksatria Seribu Syair. 

"Apalah guna basa-basi yang hanya membuat hati jadi 

tak enak?" 

Usai berkata, Ksatria Seribu Syair menggerak-

kan bola matanya ke kiri, melirik Empat Setan Gundul 

dan Dua Iblis dari Gunung Batur yang melangkah 

mendekatinya. Empat Setan Gundul telah memungut 

kembali golok mereka yang terlontar sewaktu jatuh 

bergulingan tadi.

"Jahanam kau, Ksatria Seribu Syair!" geram 

Surogentini, mengacungkan goloknya. "Lima tahun 

kau tidak muncul. Kupikir kau telah mati. Hmmm.... 

Begitu menampakkan batang hidung, kau sengaja 

membuat perkara dengan Empat Setan Gundul! Jan-

gan menyesal kalau nyawamu benar-benar ku asing-

kan ke neraka!"

"Aku tidak membuat perkara...," tolak Ksatria 

Seribu Syair dengan lembut walau tahu dirinya dian-

cam dengan tudingan golok. "Sang Pencipta telah men-

ciptakan satu tindak keadilan yang harus diemban 

oleh setiap manusia berjiwa lurus. Kejahatan mesti di-

basmi. Kekejaman mesti diberantas. Rimba persilatan 

memang penuh kekerasan. Namun, andai dapat, setiap 

orang mesti menghindari pertempuran darah.... Aku 

hanya sekadar memberi pelajaran kepada kalian. Ti-

dakkah kalian sadar? Kalau aku mau, sejak dari tadi 

nyawa kalian tentu telah melayang ke alam baka."

Ksatria Seribu Syair berkata-kata tanpa punya 

maksud menyombongkan diri ataupun pamer kepan-

daian. Namun, Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari


Gunung Batur malah merasa terhina. Mereka menden-

gus gusar, menatap wajah Ksatria Seribu Syair dengan 

mata mendelik.

"Walau kau mempunyai kepandaian seperti de-

wa, tak mungkin Dua Iblis dari Gunung Batur mem-

biarkan hinaan ini!" dengus Iblis Pencabut Jiwa.

Di ujung kalimatnya, kakek bertubuh gemuk 

bulat itu memberi isyarat mata kepada Iblis Perenggut 

Roh. Secara bersamaan, mereka langsung menerjang. 

Iblis Pencabut Jiwa melayangkan pukulan ke dada 

Ksatria Seribu Syair. Sementara, Iblis Perenggut Roh 

berusaha menyarangkan pukulan ke kepala. Mereka 

sama-sama mengeluarkan ilmu 'Merenggut Roh Men-

cabut Jiwa'. Hingga, kelebatan tubuh dua tokoh sesat 

itu menebarkan bau anyir darah yang sangat menusuk 

lubang hidung!

Empat Setan Gundul yang sudah merasa sena-

sib sepenanggungan dengan Dua Iblis dari Gunung 

Batur, tak mau ketinggalan. Mereka menerjang kalap. 

Golok mereka mendesis ganas. hendak mencacah tu-

buh Ksatria Seribu Syair!

Namun tampaknya, Ksatria Seribu Syair bersi-

kap acuh tak acuh. Dia seperti tak mau ambil peduli 

walau tahu dirinya dalam bahaya. Sastrawan Berbudi 

dan Pendeta Tasbih Terbang terbelalak kaget melihat 

sikap bekas putra mahkota itu. Namun..., kekhawati-

ran di hati Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih 

Terbang itu sebenarnya tidak perlu karena....

Wesss...!

"Wuahhh...!"

Pelan saja Ksatria Seribu Syair menggerakkan 

lengan bajunya. Timbul serangkum angin pukulan 

dahsyat, melebihi kekuatan angin topan. Sastrawan 

Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang terbelalak heran


dan bercampur kagum. Tubuh Dua Iblis dari Gunung 

Batur dan Empat Setan Gundul tiba-tiba terlontar 

jauh, lalu jatuh terbanting-banting di tanah berbatu. 

Keenam tokoh sesat itu memekik kesakitan. Tubuh 

mereka yang terbanting terasa remuk. Sementara, rasa 

pedih menjalar dari luka-luka lecet akibat berbenturan 

dengan batu dan kerikil

"Pergilah!"

Ksatria Seribu Syair mengusir dengan ucapan 

lirih. Namun, Dua Iblis dari Gunung Batur dan Empat 

Setan Gundul memekik parau lagi. Ucapan Ksatria Se-

ribu Syair terasa menepuk gendang telinga, hingga 

membuat mereka pusing dan semakin merasa kesaki-

tan.

"Lari! Lari!" cetus Iblis Perenggut Roh, meloncat 

bangun seraya berlari pergi dengan langkah terpin-

cang-pincang. 

"Ya! Ya! Kita lari! Kita lari!" sambut Surogentini, 

mengambil langkah seribu pula.

Iblis Perenggut Roh berlari ke utara. Sementara, 

Surogentini ngibrit pergi ke selatan. Iblis Pencabut Ji-

wa yang telah hilang pula keberaniannya, bergegas 

mengekor langkah adik seperguruannya. Banyaksuro, 

Waraksuro, dan Surogati pun tak mau ketinggalan. 

Tanpa pikir panjang lagi, mereka mengikuti ke mana 

Surogentini pergi. Mereka semua lari terbirit-birit bagai 

melihat hantu gentayangan di siang bolong, tak peduli

lagi pada harga diri mereka sebagai tokoh tua yang 

punya nama cukup besar di rimba persilatan. Keheba-

tan Ksatria Seribu Syair benar-benar membuat mereka 

bergidik ngeri!

"Lima tahun tak berjumpa, kiranya kau telah 

mendapat kemajuan yang sedemikian pesat, Saha-

batku Ksatria Seribu Syair..." puji Sastrawan Berbudi,


tulus.

"Jangan berbasa-basi lagi, Sahabatku Sastra-

wan Berbudi," sergap Ksatria Seribu Syair. "Ilmu ke-

pandaianku masih jauh dari kesempurnaan. Aku takut 

bila nanti pujian dan sanjungan akan membuatku jadi 

pongah dan sombong...."

"Ha ha ha...!" tertawa bergelak Sastrawan Ber-

budi. "Kau tetap saja tak berubah, Sahabat. Sungguh 

aku benar-benar kagum kepadamu. Kau sangat pandai 

merendah. Ha ha ha.... Tahukah kau, Sahabat, sikap 

merendah itu justru membuat diriku merasa semakin 

kecil dan tak ada apa-apanya bila dibanding dengan 

dirimu?"

"Benar! Benar apa yang dikatakan Sastrawan 

Berbudi," sahut Pendeta Tasbih Terbang. "Aku pun 

merasa kecil dan tak berarti sama sekali. Sungguh kau 

memang patut dipuji dan disanjung, Sahabatku Ksa-

tria Seribu Syair. Kau memiliki jiwa besar. Aku tahu 

riwayat hidupmu. Kau difitnah orang. Kau diburu 

orang. Namun, kau tetap tabah dan tak mendendam 

kepada siapa pun...."

"Ya! Ya!" potong Ksatria Seribu Syair, cepat. 

"Aku telah melupakan perjalanan hidupku di masa 

muda. Kau tak perlu mengungkit-ungkit lagi, Saha-

batku Pendeta Tasbih Terbang...."

Melihat air muka Ksatria Seribu Syair yang be-

rubah kelam, Pendeta Tasbih Terbang sedikit kaget. Si 

pendeta menyadari bila telah kelepasan bicara.

"Maaf.... Maaf, Sahabat...," ujarnya sambil 

membungkuk dalam. "Maafkan atas kekeliruan ku ta-

di...."

Bibir Ksatria Seribu Syair menyungging senyum 

pahit. "Sebenarnya, lima tahu lalu aku bermaksud 

mengundurkan diri dari kancah rimba persilatan yang


penuh kekerasan. Aku pun bermaksud meninggalkan 

segala hal yang berbau keduniawian...," ucapnya se-

perti mengandung penyesalan, "Aku benar-benar telah 

muak dan tak sudi lagi melihat keangkaramurkaan 

manusia yang gila harkat, martabat, atau derajat! Aku 

benci dengan semua itu! Namun agaknya..., Sang Pen-

cipta belum merestui maksud hatiku tersebut. Pusaka 

Pedang Naga yang kusimpan di puncak Gunung Arju-

na tiba-tiba hilang dicuri orang...."

Ksatria Seribu Syair menarik napas panjang. 

Air mukanya terlihat makin keruh. Sastrawan Berbudi 

dan Pendeta Tasbih Terbang diam seribu bahasa. Me-

reka mendengarkan kata-kata Ksatria Seribu Syair 

dengan penuh perhatian. Sebagai seorang sahabat, 

mereka bisa merasakan kesedihan yang tersirat dari 

kata-kata bekas putra mahkota yang tergulingkan itu.

"Aku khawatir dan benar-benar sangat khawa-

tir...," lanjut Ksatria Seribu Syair. "Pusaka Pedang Na-

ga dicuri seorang tokoh sesat. Aku khawatir pedang 

pusaka itu akan digunakan untuk mengumbar nafsu 

jahat...."

"Benar dugaanku, Kemunculan Ksatria Seribu 

Syair ada hubungannya dengan Pusaka Pedang Na-

ga...," kata hati Sastrawan Berbudi.

Kakek tinggi kurus berpakaian serba hijau itu 

menatap lekat-lekat wajah Ksatria Seribu Syair. "Aku 

tahu siapa yang membawa pedang itu... " cetusnya.

"Benarkah itu?" kesiap Ksatria Seribu Syair 

bercampur rasa senang dan setengah tak percaya.

Sastrawan Berbudi mengambil napas dalam-

dalam, lalu berkata, "Siang tadi, di Telaga Dewa aku 

melihat seorang pemuda berpakaian serba merah 

membawa Pusaka Pedang Naga. Dengan pedang itu, 

dia berhasil melukai Ikan Mas Dewa...."


"Siapa dia?" kejar Ksatria Seribu Syair. "Pende-

kar Bodoh dapat mengenali pemuda itu sebagai Mahisa 

Lodra."

"Mahisa Lodra?" kejut Ksatria Seribu Syair. 

"Benarkah lelaki bergelar Setan Selaksa Wajah itu 

membawa Pusaka Pedang Naga? Dan, siapa itu Pende-

kar Bodoh?"

"Benar apa yang dikatakan Sastrawan Berbudi," 

tukas Pendeta Tasbih Terbang. "Aku berani memperta-

ruhkan kepalaku. Mahisa Lodra atau Setan Selaksa

Wajah memang membawa Pusaka Pedang Naga. Dia 

berkelebat pergi setelah berhasil melukai Ikan Mas 

Dewa."

"Jadi, dia belum mendapatkan Kodok Wasiat 

Dewa?" tebak Ksatria Seribu Syair yang tentu saja juga 

mendengar khasiat benda ajaib yang selalu jadi rebu-

tan tokoh-tokoh rimba persilatan setiap tanggal satu 

Suro itu.

"Ya," angguk Pendeta Tasbih Terbang.

Menarik napas lega Ksatria Seribu Syair. Andai 

Mahisa Lodra mendapatkan Kodok Wasiat Dewa, amat-

lah sulit untuk menghentikan kejahatan murid murtad 

Dewa Dungu itu. Apalagi, dia telah membawa Pusaka 

Pedang Naga.

"Lalu, siapa yang kau sebut sebagai Pendekar 

Bodoh tadi?" tanya Ksatria Seribu Syair kepada Sa-

strawan Berbudi. 

"Dia seorang pemuda remaja berumur sekitar 

tujuh belas tahun. Aku mengenalnya sehari yang lalu," 

jawab Sastrawan Berbudi. "Namun demikian, dia me-

miliki ilmu kepandaian hebat. Dia pernah menadahi 

pukulan Iblis Perenggut Roh yang bernama 'Merenggut 

Roh Mencabut Jiwa' tanpa mendapat luka apa-apa. 

Malah membuat tubuh Iblis Perenggut Roh terlontar,


padahal dia tak bergerak sedikit pun...."

"Lain itu, dia pun berhasil menaklukkan Ikan 

Mas Dewa. Dengan dua tali baja, dia menjerat tubuh 

Ikan mas raksasa itu, hingga menjadi jinak. Namun 

kemudian, dia melepaskannya...," tambah Pendeta 

Tasbih Terbang.

"Kenapa?" tanya Ksatria Seribu Syair, heran. 

"Apakah dia tak menginginkan Kodok Wasiat Dewa 

yang tersimpan di dalam perut ikan raksasa itu?"

"Entahlah," Pendeta Tasbih Terbang mengang-

kat bahu "Tapi kupikir..., dia sebenarnya juga mengin-

ginkan Kodok Wasiat Dewa. Mungkin karena kasihan, 

dia lalu melepaskan Ikan Mas Dewa yang telah berha-

sil ditaklukkannya."

Ksatria Seribu Syair mengangguk-angguk. Ceri-

ta tentang Pendekar Bodoh benar-benar merasuk da-

lam hati, hingga membuatnya jadi penasaran.

"Cobalah kalian katakan kepadaku bagaimana 

ciri-ciri pemuda bergelar Pendekar Bodoh itu...," pinta 

Ksatria Seribu Syair kemudian.

"Dia bertubuh tinggi tegap. mengenakan pa-

kaian biru-biru dan berikat pinggang kain merah. 

Rambutnya panjang tergerai. Wajahnya tampan, na-

mun terkesan amat lugu," jelas Sastrawan Berbudi.

Pendeta Tasbih Terbang menatap lekat wajah 

Ksatria Seribu Syair. Si pendeta menatap terus tanpa 

berkedip, sehingga membuat Ksatria Seribu Syair jen-

gah.

"Ada apa, Sahabatku Pendeta Tasbih Terbang?" 

tegur Ksatria Seribu Syair.

"Pendekar Bodoh. Pendekar Bodoh...," ujar 

Pendeta Tasbih Terbang, lirih.

"Kenapa dengan dia?" selidik Ksatria Seribu 

Syair yang melihat sikap aneh si pendeta.


"Segala puji Tuhan seru sekalian alam...," sebut 

Pendeta Tasbih Terbang tiba-tiba. "Wajah Pendekar 

Bodoh mirip sekali denganmu, Sahabat...."

"Ya! Aku tadi juga hendak ,m mengatakan itu!" 

tegas Sastrawan Berbudi.

Kening Ksatria Seribu Syair langsung berkerut 

rapat. Mendadak, keringat dingin bercucuran dari se-

kujur tubuhnya. Dia teringat masa lalunya. Rasa se-

dih, senang, sesal, dan haru menyeruak masuk dalam 

hati sanubarinya.

"Maafkan aku kalau kata-kataku tadi menying-

gung perasaanmu, Sahabat..." ujar Pendeta Tasbih 

Terbang yang melihat perubahan sikap Ksatria Seribu 

Syair.

"Ah, tidak! Aku tidak tersinggung. Aku malah 

senang, tapi aku.... Ah!" tergagap Ksatria Seribu Syair.

Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang 

saling pandang. Mereka tak mengerti maksud ucapan 

Ksatria Seribu Syair yang menggantung. 

"Maafkan aku. Aku harus pergi," ujar Ksatria 

Seribu Syair seraya berkelebat pergi.

Cepat sekali gerakan bekas putra mahkota itu. 

Dia seakan sosok hantu yang dapat menghilang. Se-

mentara, Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Ter-

bang terlihat saling pandang lagi. Mereka mengangkat 

bahu bersama-sama.

"Dia kenapa?" tanya Sastrawan Berbudi kemu-

dian,

"Aku tak tahu," jawab Pendeta Tasbih Terbang. 

"Tersinggungkah dia?"

"Kukira tidak." 

"Lalu?"

"Barangkali dia teringat pada putranya yang hi-

lang ketika masih kecil."


"Bukankah putranya itu dibawa oleh istrinya 

yang bernama Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Pu-

tih?"

"Ya. Tapi sejak saat itu, dia tak pernah bertemu 

lagi dengan putra atau istrinya itu." 

"Mungkinkah Pendekar Bodoh adalah pu-

tranya?" 

Pendeta Tasbih Terbang tak menjawab. Dia 

cuma menarik napas panjang. Sementara, hari telah 

bergeser ke waktu petang. Keadaan jadi remang-

remang.

"Kita tinggalkan tempat ini," cetus Pendeta Tas-

bih Terbang.

Sastrawan Berbudi mengangguk.

***

TIGA



ANGIN berhembus cukup kencang, membuat 

dingin malam semakin menusuk tulang. Seorang pe-

muda remaja keluar dari Kota Gambiran dengan terge-

sa-gesa, meninggalkan kerumunan orang yang masih 

ramai membicarakan peristiwa di Telaga Dewa. Pemu-

da berparas tampan itu berjalan sambil menutupi se-

bagian wajahnya dengan ujung lengan baju. Agaknya, 

dia tak ingin dikenali orang.

Setelah sampai di sebuah jalan sepi, cukup 

jauh dari Kota Gambiran, si pemuda melangkah pelan. 

Ditatapnya rembulan sabit yang berwarna pucat tem-

baga. Rambut dan kain bajunya yang berwarna biru 

tampak berkibar dipermainkan hembusan angin. Kedua ujung ikat pinggangnya yang terbuat dari kain me-

rah melambai-lambai pula, seperti mengajak si pemu-

da agar segera melanjutkan langkah kembali.

Namun, sepasang kaki si pemuda tetap tegak 

kaku mencengkeram tanah. Tubuhnya yang tinggi te-

gap tak bergeming sedikit pun, tak bosan menatap bu-

lan sabit yang dikerumuni bintang.

Dia Seno Prasetyo atau Pendekar Bodoh! Setiap 

kali merasa melakukan kesalahan murid Dewa Dungu 

itu memang punya kebiasaan menengadahkan wajah 

ke langit. Di atas sana, dia seakan dapat melihat sosok 

ibunya, Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Putih, yang 

telah meninggal.

"Ibu...," sebut Seno dengan suara lirih bergetar, 

"Sejak sore tadi, aku berlari berputar-putar untuk 

mencari orang jahat bernama Mahisa Lodra atau Setan 

Selaksa Wajah. Tapi, aku tak dapat menemukannya...."

Pemuda yang wajahnya menyiratkan sinar ke-

luguan dan kejujuran itu menarik napas panjang be-

berapa kali. Dia sangat sedih karena usahanya tidak 

membuahkan hasil. Dengan kepala terus tengadah, dia 

tumpahkan segala isi hatinya.

"Ibu..., Mahisa Lodra itu benar-benar orang ja-

hat! Dia telah membuat lumpuh kedua kaki Kakek 

Dewa Dungu. Dia pun telah melarikan dua bagian Ki-

tab Sanggalangit milik Kakek yang amat baik itu. Bah-

kan, dia telah melakukan serangkaian pembunuhan 

kejam! Aku benar-benar benci kepadanya, Bu! Aku be-

nar-benar ingin menghentikan semua perbuatan ja-

hatnya! Dia telah membunuh Sepasang Nelayan Sakti 

yang juga sangat menyayangi ku! Dia pun telah men-

culik Kemuning, Bu!"

Kusut masai wajah Seno. Tanpa mempedulikan 

rasa lapar yang melilit-lilit, dia tumpahkan semua kata


hatinya. Ketika angin malam telah bercampur dengan 

embun pagi, barulah Seno menyadari keadaan. Dingin 

terasa membuat tubuh jadi beku.

Perlahan Seno menurunkan wajah. Dia raba 

pakaiannya yang menjadi basah. Mendadak, Seno ter-

kesiap. Telapak tangannya menyentuh sebuah benda 

lembek namun terasa hangat. Dengan mata tak berke-

dip, bergegas Seno mengeluarkan benda itu dari saku 

bajunya.

Ternyata, benda itu berupa gumpalan sinar pu-

tih sebesar buah kedondong. Di dalamnya terdapat se-

bentuk katak kecil berwarna emas. Semula, gumpalan 

sinar itu tak terlihat dari luar karena saku baju Seno 

terbuat dari kain yang cukup tebal

"Kodok Wasiat Dewa...!" desis Seno dengan ma-

ta berbinar, menyebut nama benda di telapak tangan 

kanannya.

Mendadak, Seno menepak kepalanya sendiri se-

raya merutuk, "Uh! Bodoh sekali aku ini! Kenapa aku 

bisa lupa pada benda pemberian Ikan Mas Dewa ini?! 

Kalau benda ini sampai jatuh dan hilang, alangkah 

meruginya aku!"

Untuk beberapa lama, Seno menatap tak ber-

kedip wujud Kodok Wasiat Dewa. Benda berwujud 

gumpalan sinar putih itu adalah salah satu dari ben-

da-benda ajaib yang selalu menjadi incaran tokoh-

tokoh rimba persilatan.

Sama seperti Capung Kumala yang pernah di-

berikan Dewa Dungu kepada Seno, Kodok Wasiat Dewa

juga mempunyai khasiat melipat gandakan hawa sakti 

dalam tubuh, sehingga dapat pula melipat gandakan 

kekuatan tenaga dalam. Barang siapa menelan benda 

itu, maka sama halnya dengan berlatih ilmu sifat se-

lama dua puluh tahun!


Sungguh suatu keberuntungan yang tak dapat 

lagi dinilai harganya bila kali ini Seno juga berhasil 

mendapatkan Kodok Wasiat Dewa.

Namun...

"Ada orang mendatangi ku...," bisik Seno kepa-

da dirinya sendiri.

Indera pendengaran Seno yang tajam menden-

gar suara kelebatan bayangan yang datang dari arah 

belakang tubuhnya. Cepat Seno menyimpan lagi Kodok 

Wasiat Dewa ke saku bajunya di bagian dalam.

"Malam yang indah. Dingin namun menye-

nangkan. Kenapa kau menyendiri, Pendekar Bodoh?"

Terdengar sebuah bisikan lembut di antara de-

sau angin malam. Seno membalikkan badan. Ternyata, 

di belakangnya telah berdiri seorang gadis berpakaian 

putih-hijau dengan pernik-pernik gemerlap bak putri 

bangsawan tinggi kerajaan.

Gadis berusia dua puluh tahunan itu bertubuh 

tinggi semampai dan berparas cantik menawan. Ram-

butnya yang hitam kemilau digelung ke atas dengan 

hiasan tiga tusuk konde emas. Sorot matanya tajam, 

tapi bibirnya menyunggingkan senyum yang amat 

menggemaskan.

Kening Seno berkerut rapat. Dia heran melihat 

kehadiran si gadis. Namun, Seno tak berbuat apa-apa 

kecuali menatap dengan pandangan menyelidik.

"Aku telah menyaksikan kehebatanmu tadi 

siang di Telaga Dewa. Kau layak diacungi jempol. Tapi, 

kenapa lagak lagu mu tampak begitu tolol?"

Usai berkata, gadis berpakaian bangsawan ter-

tawa mengikik. Suara tawanya lepas bebas, memecah 

keheningan malam. Seno mendesah panjang. Menden-

gar kata-kata si gadis yang ceplas-ceplos, Seno teringat 

pada Kemuning. Kontan hatinya jadi sedih. Rasa kehilangan menggeluti sanubarinya.

"Apa kau bisu? Kenapa diam saja?" tegur gadis 

berpakaian bangsawan yang melihat Seno terus ber-

diam diri.

Kerut di kening Seno semakin merapat. Setelah 

nyengir kuda, dia berkata, "Malam-malam begini, ke-

napa kau datang ke tempat sepi? Apa kau tidak takut 

diganggu orang jahat?"

Mendengar ucapan Seno yang begitu lugu, si 

gadis tertawa panjang. "Kau pikir aku ini siapa?" ujar-

nya sambil melempar kerlingan. "Walau aku hanya 

seorang wanita, siapa pun akan berpikir seribu kali ka-

lau mau berbuat jahat kepadaku."

"Ya, ya! Aku percaya kau punya ilmu bela diri 

yang bisa diandalkan, tapi tak sepantasnya bila... bila 

seorang gadis cantik sepertimu keluyuran di ma...."

"Hus!" potong gadis berpakaian bangsawan. 

"Aku tidak keluyuran! Aku sengaja keluar malam un-

tuk menemuimu!"

"Menemuiku? Kita tidak punya urusan. Masing-

masing dari kita tidak saling mengenal. Apa yang ha-

rus dibicarakan? Aku tak punya waktu. Aku tak mau 

ada orang memergoki kita! Bukankah kau seorang ga-

dis dan aku seorang pemuda?"

"Ya. Aku gadis dan kau pemuda. Memangnya 

kenapa?"

"Ah! Aku...."

Seno tak melanjutkan kalimatnya. Seno tak ta-

hu apa yang harus diucapkan. Dia tak tahu kata-kata 

apa yang harus dikeluarkan untuk mengutarakan rasa 

canggung dan risih di hatinya.

Melihat Seno yang menjadi salah tingkah, gadis 

berpakaian bangsawan malah tertawa senang. Dita-

tapnya wajah Seno lekat-lekat seraya berkata, "Orang


orang menyebut mu sebagai Pendekar Bodoh. Sikap 

dan tingkah lakumu memang kelihatan amat bodoh. 

Tapi, aku yakin kau tidak benar-benar bodoh. Aku ya-

kin kau punya otak cemerlang. Oleh karena itu, aku 

jadi tak enak hati kalau memanggilmu dengan sebutan 

Pendekar Bodoh. Katakanlah siapa namamu, agar 

nanti lebih enak kalau bicara...."

"Namaku Seno. Seno Prasetyo. Tapi..., kukira 

tak ada satu pun masalah yang harus kita bicara-

kan...."

Seno berkata sambil mundur selangkah. Tata-

pan matanya seperti menyuruh pergi. Namun, gadis 

berpakaian bangsawan tersenyum manis. Dia lempar-

kan kerlingan yang penuh makna.

"Seno Prasetyo...," desis gadis berpakaian bang-

sawan. "Sebuah nama yang cukup enak didengar telin-

ga. Bila kau ingin tahu namaku, panggil saja Kenan-

ga."

"Kenanga?"

Bibir Seno bergetar mengucap nama itu. Se-

buah nama yang sama artinya dengan nama salah sa-

tu bunga. Kenanga! Kontan Seno teringat lagi pada so-

sok Kemuning. Kemuning juga nama bunga. Apa hu-

bungannya Kemuning dengan Kenanga? Atau, hanya 

suatu kebetulan bila mereka mempunyai nama yang 

sama-sama memakai nama bunga?

Tanpa sadar, Seno tersurut mundur selangkah 

lagi.

Kenanga mengerjapkan matanya beberapa kali. 

Lalu, kakinya melangkah untuk mendekati Seno. Na-

mun mendadak... tubuh si gadis terhuyung dan hen-

dak jatuh terjerembab!

Seno terkejut. Cepat dia bentangkan kedua 

tangannya untuk menyambut tubuh Ken

Langa yang


hendak jatuh ke arahnya.

"Eh! Eh! Kau kenapa?" seru Seno dengan tan-

gan melingkar di pinggang ramping Kenanga.

Merasa tipuannya berhasil, Kenanga bersorak 

girang dalam hati. Dengan membuka sedikit kelopak 

mata, tangan kanannya melingkar ke leher Seno. Se-

mentara, jemari tangan kirinya mengelus mesra dada 

si pemuda.

"Eh! Kau kenapa?"

Seno menegur, tapi tak melepaskan dekapan-

nya karena takut tubuh Kenanga akan jatuh ke tanah. 

Sementara, bibir Kenanga pun tak henti merintih-

rintih.

Bersentuhan kulit seperti itu, gejolak jiwa muda 

Seno tiba-tiba bergelora. Apalagi, aroma wangi yang 

menebar dari tubuh Kenanga benar-benar bisa mem-

buat hati siapa pun jadi lupa diri.

Jantung Seno berdegup kencang. Dadanya te-

rasa sesak karena jalan nafasnya tiba-tiba terasa bun-

tu. Dan mendadak..., Kenanga memeluk erat sekali..., 

lalu mencium bibirnya dengan segenap hasrat meng-

gebu!

Namun, ciuman itu justru menyadarkan Seno. 

Bukan kenikmatan yang dirasakan Seno, tapi justru 

dia terhantam keterkejutan seperti disengat kalajengk-

ing!

"Kau pergilah, Kenanga!" seru Seno, berusaha 

melepaskan diri dari pelukan si gadis.

Tapi, Kenanga malah memeluk semakin erat. 

Tangan kirinya terus meraba-raba. Hingga, si gadis 

pun merasakan adanya sebuah benda bulat yang ter-

simpan di saku baju Seno bagian dalam.

Seno tersentak kaget. Dengan kasar, dia men-

dorong tubuh Kenanga. "Pergilah! Jangan buat aku


marah!" usirnya.

Bagai baru saja melakukan pekerjaan yang 

sangat melelahkan, Kenanga melepas pelukannya den-

gan lemas lunglai. Namun, dia tak mau menjauh. Di-

cekalnya kedua pergelangan tangan Seno sambil me-

natap wajah si pemuda lekat-lekat.

Seno merasa jijik dan amat muak. Ingin ra-

sanya dia melemparkan tubuh Kenanga sekuat tenaga. 

Tapi, itu tak dilakukannya. Dia tak mau menyakiti hati 

Kenanga walau si gadis telah menunjukkan sikap tak 

baik.

"Maafkan aku, Seno..." ujar Kenanga dengan 

suara bergetar, mengandung penyesalan.

"Ya. Aku memaafkanmu. Kau lekaslah pergi...," 

sahut Seno.

"Aku akan segera pergi bila kau bersedia men-

jawab beberapa pertanyaanku,"

Kening Seno berkerut lagi mendengar ucapan 

Kenanga. Tanpa sadar, dia menarik tangannya seraya 

nyengir kuda. "Pertanyaan apa? Aku tidak tahu apa-

apa. Aku orang bodoh," ujarnya, tidak senang.

Kenanga tersenyum tipis. Ditatapnya saku baju 

Seno yang di dalamnya terdapat Kodok Wasiat Dewa. 

Tatapan gadis itu seperti tak sengaja, hingga Seno tak 

menjadi curiga.

"Aku tahu kau pemuda hebat, Seno," ujar Ke-

nanga kemudian. "Kau jangan terlalu merendah. Kau 

memiliki ilmu peringan tubuh tingkat tinggi bernama 

'Lesatan Angin Meniup Dingin'. Kau pun memiliki ilmu 

pukulan dahsyat bernama 'Dewa Badai Rontokkan 

Langit'. Cobalah jawab pertanyaanku dengan jujur. 

Siapa yang telah menurunkan kedua ilmu itu kepada-

mu?" 

Mendengar pertanyaan Kenanga yang diutara


kan dengan penuh kesungguhan, tiba-tiba hati Seno 

digeluti perasaan tak enak. Tiba-tiba pula, bibirnya 

terkunci rapat dan tak bisa lagi membuka suara. 

"Kenapa diam?" tegur Kenanga. "Kenapa kau 

tampak begitu keberatan menjawab pertanyaanku? 

Kau takut bila aku punya maksud buruk?"

Seno tetap diam. Matanya menatap penuh seli-

dik.

"Kalau tidak mau menjawab, ya sudah! Kenapa 

malah bengong?" seru Kenanga. Setelah berpikir se-

bentar gadis cantik ini melanjutkan perkataannya, 

"Hei, Seno, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat 

yang sangat indah. Di sana banyak sekali orang berke-

pandaian tinggi yang punya sifat dan perilaku yang 

menyenangkan. Di sana kau akan merasa aman dan 

tenteram...."

Kepala Seno menggeleng. "Terima kasih atas 

ajakan mu. Tapi, aku banyak urusan. Aku tak bisa 

memenuhi ajakan mu...."

"Jangan begitu, Seno! Kalau kau telah menden-

gar nama tempat itu, aku yakin kau pasti menerima 

ajakan ku...." 

"Hmmm.... Walau kau menyebutkan nama se-

buah tempat yang melebihi keindahan surga, aku tetap 

tak bisa memenuhi ajakan mu."

"Hmmm.... Bagaimana kalau tempat yang akan 

kutunjukkan itu bernama Lembah Dewa-Dewi?"

Terkejut Seno mendengar ucapan Kenanga. Ma-

tanya terbelalak, tak percaya pada pendengarannya 

sendiri. Dari Kemuning dan Sepasang Nelayan Sakti, 

Seno pernah mendengar nama Lembah Dewa-Dewi.

Menurut mereka, lembah itu terkenal sebagai tempat 

bermukim para tokoh berilmu tinggi dari berbagai go-

longan. Namun kemudian, timbul satu gerombolan


orang jahat yang menamakan diri dengan sebutan 

Komplotan Lembah Dewa-Dewi, yang tentu saja mem-

punyai hubungan dengan Lembah Dewa-Dewi. Tapi 

sampai saat ini, tak seorang pun tahu di mana letak 

Lembah Dewa-Dewi itu. Hingga, Sepasang Nelayan 

Sakti pun jadi ragu, apakah Lembah Dewa-Dewi itu 

benar-benar ada atau hanya isapan jempol belaka.

"Bagaimana, Seno? Kau tetap menolak ajakan

ku?" kejar Kenanga.

Seno tampak berpikir-pikir. Lalu, dia teringat 

pada Mahisa Lodra yang dicurigai Sepasang Nelayan 

Sakti sebagai anggota Komplotan Lembah Dewa-Dewi.

"Benarkah Lembah Dewa-Dewi itu ada?" tanya 

Seno kemudian.

Bibir Kenanga menyungging senyum manis. 

"Kenapa kau begitu bodoh, Seno?!" tegurnya dengan 

suara lembut. "Bagaimana aku bisa mengajak mu ke 

suatu tempat yang cuma disebut sebagai khayalan 

orang? Atau barangkali, kau curiga bila aku akan me-

nipumu?"

"Tidak! Aku tidak boleh punya prasangka buruk 

kepada siapa pun!" sahut Seno, tegas. 

"Berarti kau menerima ajakan ku?" Seno nyen-

gir kuda seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. 

Mendadak, dia jadi ragu. Dia tidak tahu siapa Kenanga 

sebenarnya, tapi kenapa gadis itu mengajaknya pergi 

ke Lembah Dewa-Dewi? Apa maksud Kenanga? Seno 

memang tidak mencurigai Kenanga sebagai orang ja-

hat, tapi Seno tetap harus bersikap hati-hati. Bukan-

kah saat ini dia sedang membawa Kodok Wasiat Dewa 

yang menjadi incaran kaum rimba persilatan? Apakah 

ajakan Kenanga tidak ada hubungannya dengan benda 

ajaib yang mempunyai khasiat luar biasa itu?

Terlalu banyak tanda tanya yang menggeluti


benak Seno. Hingga sampai beberapa lama, Seno cuma 

dapat berdiri termenung tanpa menyampaikan keputu-

sannya. Seno baru tersadar manakala Kenanga mene-

puk bahunya.

"Kau terlalu lama berpikir! Aku jadi tak sabaran 

lagi!"

Di ujung kalimatnya, Kenanga menjejak tanah. 

Cepat sekali tubuhnya berkelebat.

"Hei! Tunggu!" cegah Seno, berteriak keras se-

kali.

Tapi, tubuh Kenanga telah hilang menyatu 

dengan kegelapan malam. Tinggallah Seno merutuk 

dan menyesali kebodohannya sendiri 

***

EMPAT



PENYESALAN selalu datang terlambat. Seno 

merasakan kebenaran ungkapan itu. Tidakkah lebih 

baik mengejar Kenanga? Kalau mungkin, malah me-

maksa gadis itu untuk mengatakan di mana letak 

Lembah Dewa-Dewi! Bukankah Lembah Dewa-Dewi 

mempunyai komplotan yang telah terbukti melakukan 

serangkaian pembunuhan kejam?

"Astaga!" seru Seno tiba-tiba, mengarahkan 

pandangan ke arah hilangnya sosok Kenanga. "Aku 

dapat mengenali gerakan Kenanga tadi! Dia pergi den-

gan menggunakan ilmu 'Angin Pergi Tiada Berbekas'! 

Ya! Dia berkelebat dengan menggunakan ilmu 'Angin 

Pergi Tiada Berbekas'!"

Plok!

Seno menepak kepalanya sendiri. Tanpa sadar,

dia mengeluarkan tenaga terlalu banyak, sehingga tu-

buhnya terhuyung ke kiri.

"Uh! Bodoh benar aku ini!" rutuknya sambil 

menepuk-nepuk kening. "Ilmu 'Angin Pergi Tiada Ber-

bekas' berasal dari salah satu bagian Kitab Sanggalan-

git yang telah dilarikan oleh Mahisa Lodra! Ya! Kenan-

ga pasti tak lain dari Mahisa Lodra yang bisa merubah 

wajah dan bentuk tubuhnya! Jahanam! Aku telah ter-

kecoh! Tapi, apa maksud penyamarannya tadi...?"

Kening Seno semakin berkerut rapat. Terbawa 

rasa penasaran yang menggeluti benaknya, dia menje-

jak tanah. Secepat kilat, tubuhnya berkelebat untuk 

mengejar Kenanga. Tentu saja sosok si gadis tak dapat 

dia temukan lagi. Kesadaran dan tindakan Seno benar-

benar telah terlambat.

Namun, Seno tak putus asa. Dia terus berlari 

dan terus berlari. Dimasukinya lagi Kota Gambiran 

yang kini telah sepi karena malam telah larut. Semen-

tara, lamat-lamat mulai terdengar kokok ayam. Fajar 

akan segera menyingsing. Hari akan segera berganti

Rasa lelah dan lapar membuat Seno menghen-

tikan langkah kakinya di tepi sungai, tak seberapa 

jauh dari Kota Gambiran. Seno duduk terpekur di atas 

tonjolan batu. Dia menahan rasa kantuk. Pikirannya 

terus melayang-layang, tak henti mengingat berbagai 

peristiwa yang baru dialaminya. Dan ketika ingat akan 

Kodok Wasiat Dewa, Seno tersentak kaget, meloncat 

dari tempat duduknya.

"Syukurlah! Syukurlah!" seru Seno, mengetahui 

Kodok Wasiat Dewa masih berada di saku bajunya ba-

gian dalam. 

Seno mengeluarkan benda ajaib pemberian 

Ikan Mas Dewa itu. Ditatapnya beberapa saat. "Aku 

harus menelan benda ini...," katanya dalam hati. "Aku


harus menelan seperti aku menelan Capung Kumala 

lima tahun yang lalu... "

Mengikuti pikiran di benaknya, Seno mengang-

kat Kodok Wasiat Dewa ke dekat mulutnya. Hendak di-

telannya benda itu, tapi.... 

"Tahan!" 

Sebuah teriakan memecah kesunyian. Seno me-

loncat karena kaget. Sekitar lima tombak di sisi ka-

nannya telah berdiri seorang gadis berpakaian putih 

hijau dengan pernik-pernik gemerlap bak putri seorang 

bangsawan tinggi.

"Kenanga...!" desis Seno, terbelalak menatap 

sosok si gadis.

"Serahkan benda di tanganmu itu!" seru Ke-

nanga. Suara gadis ini tiba-tiba berubah menjadi suara 

seorang lelaki setengah baya. Sikap berdirinya pun 

tampak gagah mirip lelaki.

Seno yang sudah dapat menduga siapa Kenan-

ga sebenarnya, cepat mengatas keterkejutannya. "Kau 

Mahisa Lodra, bukan...?!" tebaknya, menyiratkan ke-

bencian.

"Ha ha ha...! Rupanya, kau tak sebodoh yang 

kukira, Seno! Ha ha ha...! Bolehlah kubuka penyama-

ran ku karena kurasa memang sudah tak ada gunanya 

lagi!"

Ketika tertawa, kelopak mata kiri gadis berpa-

kaian bangsawan selalu tertutup rapat. Hal itu me-

nambah keyakinan Seno bila gadis itu memang Mahisa 

Lodra atau Setan Selaksa Wajah!

Dan tampaknya, si gadis pun benar-benar ingin 

membuktikan kata-katanya yang ingin membuka pe-

nyamaran. Perlahan telapak tangan kanannya mengu-

sap wajah tiga kali. Lalu....

"Astaga...!"


Seno berseru kaget. Walau telah menduga apa 

yang akan terjadi, namun tetap saja dia terhantam ke-

terkejutan. Matanya terbelalak menatap sosok gadis 

berpakaian gemerlap yang telah berubah menjadi so-

sok seorang kakek. Tubuh si gadis yang semula tinggi 

semampai berubah tinggi besar dan tampak gagah 

berwibawa.

"Mahisa Lodra..." desis Seno, teringat wajah ka-

kek berikat kepala batik yang pernah melakukan pem-

bunuhan di Penginapan Asri.

Melihat keterkejutan Seno yang membuat wa-

jahnya tampak kebodoh-bodohan itu, sosok kakek 

yang baru berubah wujud langsung tertawa panjang 

bergelak. Sanggulan rambutnya dilepaskan, hingga ja-

tuh tergerai ke punggung.

Karena masih ingin pamer kepandaian, kakek 

yang memang benar Mahisa Lodra atau Setan Selaksa 

Wajah itu mengusap lagi wajahnya tiga kali. Di lain ke-

jap, wajah si kakek telah berubah menjadi wajah tam-

pan seorang pemuda dua puluh lima tahunan.

"Jahanam!" geram Seno.

Mahisa Lodra yang telah berubah wajahnya 

menjadi seorang pemuda tampan mengingatkan Seno 

pada sosok pemuda berpakaian serba merah yang te-

lah membunuh Sepasang Nelayan Sakti. Bahkan, pe-

muda itu juga melukai Ikan Mas Dewa dengan meng-

gunakan sebatang pedang pusaka.

Geram dan amarah di hati Seno hendak mele-

dak manakala dia teringat akan Kemuning atau Dewi 

Pedang Kuning yang diculik oleh pemuda berpakaian 

serba merah. Maka dengan pandangan tajam menu-

suk, Seno berteriak lantang.

"Jahanam kau, Mahisa Lodra! Kau telah mem-

bunuh Sepasang Nelayan Sakti. Kau bawa lari Kemuning! Bila terjadi apa-apa dengan murid Dewi Pedang 

Halilintar itu, tak akan segan aku mengadu nyawa 

denganmu!"

"Ha ha ha...!" tawa gelak Mahisa Lodra, kelopak 

mata kirinya terpejam rapat. "Aku tahu isi hatimu, Se-

no! Ha ha ha...! Boleh-boleh saja kau meminta gadis 

itu. Tapi..., serahkan dulu Kodok Wasiat Dewa kepa-

daku! Ha ha ha...!"

Mendengus gusar Seno. Dicekalnya erat Kodok 

Wasiat Dewa di tangannya. "Jahanam kau, Mahisa Lo-

dra!" umpatnya untuk kesekian kali. "Apa hakmu me-

minta Kodok Wasiat Dewa?! Justru kaulah yang harus

menyerahkan dua bagian Kitab Sanggalangit! Murid 

murtad kau, Mahisa Lodra! Setan kejam kau! Bagai-

mana kau bisa tega membuat lumpuh gurumu sendi-

ri?!"

"Ha ha ha...! Lupakan dulu urusan Kitab Sang-

galangit dan Dewa Dungu! Kalau kau terlalu banyak 

mulut, Kemuning akan segera mati dengan tubuh ter-

cerai-berai!"

"Apa maksudmu? Lepaskan gadis itu, Keparat!"

Mahisa Lodra tersenyum. Sedikit kasar, dia 

tanggalkan pakaian putih-hijau yang membungkus tu-

buhnya. Di dalam pakaian mahal itu terdapat pakaian 

serba merah yang juga terbuat dari bahan mahal.

Setelah melemparkan pakaian putih-hijaunya, 

Mahisa Lodra mengeluarkan sebuah benda persegi dari 

balik baju merahnya. Benda itu berupa cermin selebar 

telapak tangan. Keempat sisinya berukir indah seperti 

cermin putri istana.

"Lihatlah baik-baik...!" seru Mahisa Lodra se-

raya menghadapkan cerminnya ke arah Seno.

Tersurut mundur Pendekar Bodoh dan lang-

sung memasang kuda-kuda. Tapi ternyata, Mahisa Lo


dra tidak menyerang. Tangan kanan Mahisa Lodra 

yang membawa cermin terjulur lurus. Seno menatap 

cermin itu tanpa berkedip. Bagaimanapun, dia harus 

mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi. Mahisa 

Lodra adalah tokoh jahat. Dia bisa berlaku licik dan 

culas tanpa memperhitungkan peradatan di rimba per-

silatan.

"Cermin ini bernama 'Terawang Tempat Lewati 

Masa'!" seru Mahisa Lodra lagi. "Lihatlah baik-baik! 

Kau akan segera tahu apa yang tengah terjadi pada 

Kemuning!"

Usai berkata, Mahisa Lodra menyipitkan kelo-

pak matanya. Sebentar kemudian, dari mulut lelaki 

tua berwajah pemuda ini keluar suara ceracau tak ka-

ruan, mirip sekelompok lebah yang sedang mengamuk. 

Namun, Seno bisa menduga bila Mahisa Lodra sedang 

merapal mantra guna mengeluarkan salah satu ilmu 

kesaktiannya.

"Jahanam itu, sedang merapal mantra, tapi aku 

tak tahu apa yang akan dilakukannya...," desah Seno. 

"Aku harus siap siaga. Ada baiknya bila aku mengelua-

rkan ilmu 'Perisai Dewa Badai'...."

Terbawa perasaan tegang, Seno mengalirkan 

kekuatan tenaga dalam ke berbagai tempat penting di 

tubuhnya. Di lain kejap, sekujur tubuh Seno meman-

carkan cahaya putih berkeredapan. Agaknya, tanpa 

sadar Seno telah mengerahkan ilmu 'Perisai Dewa Ba-

dai' sampai pada tingkat tertinggi.

Sementara Mahisa Lodra merapal mantra, per-

lahan sinar mentari pagi mulai menyembur di ufuk ti-

mur. Cahaya Jingga mengusir kegelapan.

Mahisa Lodra melebarkan kelopak matanya. 

Dia tersenyum mengejek ketika tahu Seno mengelua-

rkan ilmu 'Perisai Dewa Badai'. Dengan tangan kanan


tetap diluruskan ke depan, dia berkata, "Aku tak akan 

menyerangmu. Tanpa menyerang pun, aku bisa mem-

buatmu bertekuk lutut. Lihatlah!"

Tangan kanan Mahisa Lodra yang memegang 

cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' tampak berge-

tar. Dan terkesiaplah Seno saat melihat bayangan tu-

buh di cermin itu

Bayangan di cermin 'Terawang Tempat Lewati 

Masa' berupa seorang gadis berpakaian serba kuning. 

Mulutnya tertutup sehelai sapu tangan yang diikatkan 

ke belakang kepalanya. Sementara, kedua tangannya 

terikat tali yang terbuat dari akar pepohonan. Tubuh 

gadis itu digantung di sebuah dahan pohon yang me-

lintang ke sebuah rawa-rawa. Yang mengerikan, di ba-

wah kaki si gadis, terdapat belasan buaya yang siap 

mencabik-cabik!

"Kemuning...!" seru Seno, memanggil nama ga-

dis yang berada di gantungan.

"Lihat terus cermin ini, Seno!" seru Mahisa Lo-

dra, keras menggelegar.

Semakin terbelalak Seno melihat sosok Kemun-

ing yang berada di bayangan cermin 'Terawang Tempat 

Lewati Masa'.

"Lepaskan dia! Jangan siksa dia!" pintanya, ka-

lut dan khawatir.

Terbawa rasa hatinya yang tak menentu, Seno 

melepas aliran tenaga dalamnya. Dan, lepas pula ilmu 

'Perisai Dewa Badai' yang tengah digunakan untuk me-

lindungi tubuhnya. Tapi tampaknya, Mahisa Lodra 

memang tidak bermaksud menyerang pemuda lugu 

itu. Dia cuma tersenyum sinis dan tertawa bergelak 

panjang sekali.

"Lepaskan Kemuning! Lepaskan dia!" pinta Se-

no, semakin khawatir.


Seno tahu apa yang ditunjukkan oleh cermin 

'Terawang Tempat Lewati Masa' adalah wujud asli Ke-

muning. Sementara, dalam bayangan cermin ajaib itu, 

Kemuning tampak tak berdaya sama sekali. Jiwa Ke-

muning benar-benar dalam intaian maut!

"Lihatlah lebih teliti, Seno!" perintah Mahisa 

Lodra. "Kau lihat ujung tali yang menggantung gadis 

itu!"

Bola mata Seno kontan melotot besar. Ujung ta-

li yang digunakan untuk menggantung Kemuning ter-

nyata sedang digerogoti seekor tikus kecil berbulu kun-

ing! Tikus itu tampak sangat rakus, berusaha mengga-

nyang habis tali penggantung Kemuning. Dan kalau ta-

li yang terbuat dari akar itu sampai terputus, tubuh 

Kemuning akan tercebur ke rawa-rawa yang tengah di-

tunggui belasan buaya!

"Ha ha ha...!" tawa gelak Mahisa Lodra, penuh 

kemenangan. "Kulihat tubuhmu gemetaran, Seno. Tak 

sadarkah kau bila bola matamu turut melotot besar 

dan mulut pun ternganga lebar?! Ha ha ha...!"

"Jahanam! Licik sekali kau, Mahisa Lodra!" ge-

ram Pendekar Bodoh. "Di mana kau gantung Kemun-

ing?! Kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu, ke mana 

pun kau pergi, aku akan terus memburumu!"

"Hmmm.... Kau mengancam bagai harimau tak 

punya taring, Seno! Kau tak akan pernah dapat mewu-

judkan ancamanmu itu. Ha ha ha...!" ejek Mahisa Lo-

dra seraya tertawa bergelak, tangan kanannya yang 

membawa cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' tetap 

diluruskan ke depan. Lalu dengan penuh kesunggu-

han, murid murtad Dewa Dungu ini berkata, "Bila 

sampai matahari tenggelam tiga kali terhitung dari 

senja nanti kau tidak dapat menemukan di mana be-

radanya Kemuning berada, maka gadis itu benar-benar


akan menjadi santapan buaya-buaya ganas. Si tikus 

mungil memutuskan tali penggantungnya lebih dulu. 

Lalu tubuh Kemuning yang sintal montok akan terce-

bur ke rawa-rawa. Kemudian..., hemmm... kukira kau 

sudah tahu sendiri apa yang akan terjadi pada gadis 

itu, Seno."

"Jahanam!" maki Seno untuk kesekian kalinya. 

Ingin rasanya Seno membunuh Mahisa Lodra saat itu 

juga. Tapi dia tak mungkin menyerang kakek berwajah 

pemuda itu. Kalaupun Mahisa Lodra dapat dibunuh, 

Kemuning tetap saja akan menemui nasib naas. Maka, 

tak ada jalan lain bagi Seno kecuali meminta Mahisa 

Lodra mengatakan di mana sebenarnya Kemuning be-

rada. Oleh karena itulah, Seno berusaha menekan lu-

apan hawa amarah. Dengan suara yang dilembutkan,

dia berkata, "Tampaknya, hari ini aku harus mengikuti 

kemauanmu, Mahisa Lodra. Aku memang harus me-

nurut, tapi katakan dulu di mana Kemuning berada!"

Bibir Mahisa Lodra menyungging senyum se-

nang. Kelopak matanya menyipit. Mendadak, sosok 

Kemuning yang terdapat pada bayangan cermin 

'Terawang Tempat Lewati Masa' lenyap tanpa bekas. Di 

cermin itu, Seno cuma dapat melihat pancaran cahaya 

mentari berwarna jingga.

Perlahan Mahisa Lodra menyimpan kembali 

cermin ajaibnya ke balik pakaian merahnya. "Kau ma-

sih punya waktu sampai sore nanti, Seno," ujarnya. 

"Tapi, jangan sampai keduluan matahari tenggelam. 

Bila terlambat, kau hanya akan menemukan tubuh 

Kemuning hanya berupa tulang-belulang di dasar ra-

wa-rawa...."

"Jangan banyak mulut, Mahisa Lodra!" sergap 

Seno. "Segera katakan di mana Kemuning!"

Mahisa Lodra tersenyum lagi. Pelan saja dia


menjawab, "Lembah Dewa-Dewi."

Kontan kening Seno berkerut rapat. Dia tidak 

tahu di mana letak Lembah Dewa-Dewi. Terbawa rasa 

panasan, Seno membentak. 

"Aku tak pernah menginjakkan kaki di Lembah 

Dewa-Dewi! Aku tak tahu di mana letak lembah itu! 

Jangan kau permainkan aku, Mahisa Lodra!"

"Tahan amarah mu, Seno! Kau keliru bila men-

ganggap Lembah Dewa-Dewi cuma kabar angin. Lem-

bah Dewa-Dewi benar-benar ada! Kalau kau ingin tahu 

di mana letaknya, demi menyelamatkan nyawa Kemun-

ing, tentu saja kau harus memenuhi syarat ku...."

"Aku tahu apa permintaanmu!" sahut Seno. 

"Bukankah kau menginginkan Kodok Wasiat Dewa...?"

"Ha ha ha...!" Mahisa Lodra terus tertawa pon-

gah. "Kalau sudah tahu, kenapa tak segera kau serah-

kan benda di tanganmu itu?"

Seno menarik napas panjang. Sesaat benaknya 

jadi kalut. Pikirannya berputar bingung. Bila Mahisa 

Lodra menelan Kodok Wasiat Dewa, maka dia akan 

mendapatkan tambahan hawa sakti. Ilmu kesaktian-

nya akan berlipat ganda seperti telah dilatih selama 

dua puluh tahun! Kalau sudah begitu, amatlah sulit 

untuk menghentikan nafsu jahat Mahisa Lodra!

Namun, sosok Kemuning yang telah mencuri 

hatinya sanggup mengalahkan kekhawatiran Seno ter-

hadap kesesatan Mahisa Lodra. Seno harus dapat me-

nyelamatkan Kemuning! Apalagi, di benak Seno ter-

bayang peristiwa manis yang pernah dilaluinya bersa-

ma Kemuning. Beberapa hari yang lalu, di tengah ma-

lam, Seno pernah merasakan ciuman dan dekapan 

Kemuning. Dan, hal itu membuat Seno mengambil ke-

putusan bahwa nyawa Kemuning lebih berharga dari 

Kodok Wasiat Dewa!


"Baik! Aku menuruti apa syaratmu!" ujar Seno 

kemudian. "Kodok Wasiat Dewa akan kuberikan kepa-

damu, tapi beritahukan lebih dulu di mana letak Lem-

bah Dewa-Dewi!"

"Kau lemparkan benda di tanganmu itu kepa-

daku, baru nanti kukatakan tempat Kemuning bera-

da...," tawar Mahisa Lodra.

"Jahanam! Kau hendak berlaku culas lagi!"

"Tidak! Aku tahu kau saudara seperguruanku. 

Oleh karena itu, aku tak akan mempermainkan mu. 

Aku benar-benar akan mengatakan di mana letak 

Lembah Dewa-Dewi kalau Kodok Wasiat Dewa telah 

berada di tanganku!"

Mendengar ucapan Mahisa Lodra yang penuh 

kesungguhan, Pendekar Bodoh tampak terpaku di 

tempatnya. Benarkah Mahisa Lodra akan menepati ka-

ta-katanya? Ataukah dia akan berlaku licik?

***

LIMA



Di balik semak belukar yang tumbuh menebar 

di tepi sungai, sosok manusia berpakaian putih-putih 

ini memandang nanar. Tubuhnya bergetar, seperti ten-

gah menyimpan hawa amarah ataupun rasa khawatir. 

Sosok manusia yang sedang mengintai ini seorang le-

laki bertubuh tinggi tegap. Raut wajahnya tak bisa di-

kenali karena dia mengenakan topeng yang terbuat da-

ri baja putih.

"Aku bisa merasakan kebingungan pemuda ber-

juluk Pendekar Bodoh itu," kata hati lelaki bertopeng. 

"Dia harus menentukan pilihan yang sama-sama berat


bak makan buah simalakama. Sebagai seorang pende-

kar, tentu saja dia tak merelakan Kodok Wasiat Dewa 

jatuh ke tangan orang jahat. Namun sebagai manusia 

biasa yang punya rasa sayang dan cinta, dia tak 

mungkin membiarkan orang yang dikasihinya celaka."

Lelaki bertopeng ini terus mengarahkan pan-

dangan ke sosok Mahisa Lodra dan Seno Prasetyo. Ge-

taran tubuhnya semakin terlihat manakala Seno men-

gangkat Kodok Wasiat Dewa di depan dada. Agaknya, 

pengintai ini juga menyayangkan apabila Kodok Wasiat 

Dewa sampai jatuh ke tangan Mahisa Lodra yang su-

dah terbukti sebagai seorang tokoh beraliran sesat. 

"Seno.... Seno...," mendadak lelaki bertopeng 

menyebut nama kecil Pendekar Bodoh. Tapi karena 

suaranya amat pelan, tak ada orang lain yang dapat 

mendengarkannya. Tak juga Pendekar Bodoh yang se-

benarnya punya indera pendengaran amat tajam. "Se-

no.... Seno...," sebut lelaki bertopeng lagi. "Wajah pe-

muda itu mirip sekali.... Yah! Mirip sekali! Benarkah 

dia Seno Prasetyo, putra Dewi Ambarsari...?"

Sementara Pendekar Bodoh dan Mahisa Lodra 

saling tatap dalam perasaan tegang, lelaki yang wajah-

nya tertutup rapat ini mendesah panjang berulang 

kali. Rasa senang, sedih, kalut, dan tegang tiba-tiba 

menggeluti batinnya. Namun saat keempat rasa itu 

berperang, rasa sedihlah yang menang. Hingga, dari 

balik topeng baja putihnya, bola mata si pengintai 

tampak berkaca-kaca. Namun, lelaki ini tak hendak 

berbuat apa-apa kecuali memperhatikan dan menung-

gu apa yang akan dilakukan oleh si Pendekar Bodoh 

Seno Prasetyo.

"Hei! Semakin lama kau berpikir, semakin pen-

dek waktumu untuk menyelamatkan Kemuning!" ujar 

Setan Selaksa Wajah,


Seno menggeragap seperti baru disadarkan dari 

lamunan panjang. Sesaat ditatapnya wajah Mahisa Lo-

dra, lalu tatapannya kembali ke gumpalan sinar putih 

yang berada di telapak tangan kanannya.

"Ikan Mas Dewa...," desis Seno dengan kepala 

tetap tertunduk. "Bukan aku tak menghargai benda 

pemberianmu ini. Tapi, aku mesti menyelamatkan 

nyawa Kemuning. Terpaksa aku menyerahkan Kodok 

Wasiat Dewa pemberianmu kepada binatang laknat 

itu!"

Usai mengucap kata-kata yang ditujukan kepa-

da Ikan Mas Dewa, Pendekar Bodoh menatap lekat wa-

jah Setan Selaksa Wajah. "Bila kau tak menepati kata-

katamu, sampai ke ujung langit pun aku akan menge-

jarmu untuk membuat perhitungan!" katanya seraya 

melemparkan Kodok Wasiat Dewa kepada Setan Selak-

sa Wajah. 

Hup!

Cekatan sekali Mahisa Lodra menangkap gum-

palan cahaya putih yang dilemparkan ke arahnya. 

Benda ajaib yang semula tersimpan di dalam perut 

Ikan Mas Dewa itu lalu diamat-amati dengan bola ma-

ta berbinar senang.

"Kodok Wasiat Dewa....! Kodok Wasiat Dewa...!" 

seru Setan Selaksa Wajah, melonjak girang. "Ha ha 

ha...! Aku telah mendapatkannya! Aku telah menda-

patkannya! Ha ha ha...!"

Selagi Mahisa Lodra tertawa bergelak-gelak, 

Seno mendelikkan mata. Seno khawatir bila Mahisa 

Lodra akan mengingkari kata-katanya. Namun, bila hal 

itu memang terjadi, Seno bermaksud mengadu jiwa. 

Maka tanpa pikir panjang lagi, dia menyiapkan puku-

lan 'Dewa Badai Rontokkan Langit'! Di lain kejap, ke-

dua pergelangan Seno berubah warna menjadi putih


berkilat!

"Kau tampak begitu tegang, Seno...," tegur Ma-

hisa Lodra sambil menimang Kodok Wasiat Dewa. "Aku 

tahu kau telah mempersiapkan ilmu pukulan yang be-

rasal dari salah satu bagian Kitab Sanggalangit. Tapi..., 

hemmm..., sudah kubilang tadi, aku tak akan mem-

permainkan mu. Aku benar-benar akan mengatakan di 

mana letak Lembah Dewa-Dewi. Sekarang buka telin-

gamu baik-baik...." 

Semakin tegang hati Seno. Sekujur tubuhnya 

gemetaran, tak kuasa menunggu ucapan Mahisa Lo-

dra. Sementara, Mahisa Lodra sendiri tampak terse-

nyum-senyum. Perlahan tangannya mengeluarkan se-

buah kantong kain terbuat dari kain putih. Setelah 

menyimpan Kodok Wasiat Dewa ke dalam kantong itu, 

Mahisa Lodra menyimpannya kembali ke balik baju.

"Cepat katakan!" bentak Seno, tak sabaran.

Mahisa Lodra tersenyum. "Buka telingamu 

baik-baik...," katanya. "Aku tak bisa mengatakan seca-

ra pasti di mana letak Lembah Dewa-Dewi...."

"Jahanam!" sela Seno sikapnya seperti hendak 

mengirim pukulan jarak jauh.

"Uts! Tunggu!" Mahisa Lodra mengangkat tela-

pak tangan kanannya. "Jangan salah mengerti! Karena 

suatu hal yang sudah menjadi aturan, aku memang 

tak bisa mengatakan di mana letak Lembah Dewa-

Dewi. Tapi..., buka telingamu baik-baik, ada kata sandi 

yang harus dapat kau pecahkan untuk dapat menye-

lamatkan jiwa Kemuning. Sandi itu adalah 'Menembus 

Laut Bernapas Dalam Air'...!"

Usai berkata, Setan Selaksa Wajah menjejak 

tanah seraya berkelebat pergi. Seno yang masih pena-

saran tentu saja tak mau membiarkan kakek berwajah 

pemuda itu menyingkir begitu cepat. Namun sebelum


Seno mengerahkan ilmu 'Lesatan Angin Meniup Din-

gin', mendadak terdengar sebuah seruan....

"Waktumu sangat singkat! Pecahkan sandi yang 

kau dapat! Aku yang akan mengurus Mahisa Lodra!"

Seruan itu dibarengi dengan berkelebatnya se-

sosok bayangan putih yang langsung mengejar Setan 

Selaksa Wajah. Seno tak dapat mengenali si bayangan 

karena kelebatan tubuhnya amat cepat luar biasa, tak 

kalah dengan ilmu 'Angin Pergi Tiada Berbekas' milik 

Setan Selaksa Wajah ataupun 'Lesatan Angin Meniup 

Dingin' milik Seno sendiri. 

"Hei! Siapa kau?" teriak Seno. Tapi, si pengejar 

Mahisa Lodra yang sebenarnya adalah lelaki bertopeng 

baja putih, tak menghiraukan teriakan Seno, Namun, 

lamat-lamat Seno mendengar sebuah bisikan yang dis-

ampaikan dengan ilmu pengirim suara jarak jauh.

"Suatu saat nanti, aku pasti akan menemuimu. 

Ada banyak hal yang ingin kuketahui tentang jati diri-

mu. Namun, agar kau tak penasaran, kau bisa men-

gingat ku dengan sebutan Ksatria Topeng Putih."

Mendengar bisikan itu, untuk beberapa lama 

Seno terpaku di tempatnya. "Ksatria Topeng Putih.... 

Ksatria Topeng Putih...," desisnya. "Siapa dia? Apakah 

dia berada di pihakku? Hmmm.... Siapa pun dia, yang 

pasti dia mempunyai urusan dengan Mahisa Lodra. 

Mudah-mudahan dia bisa menyelamatkan Kodok Wa-

siat Dewa agar tidak disalahgunakan oleh Mahisa Lo-

dra...."

Seno menatap sang baskara yang telah naik se-

jengkal dari garis cakrawala timur. Teringat akan per-

soalan pelik yang dihadapinya, Seno cuma dapat cen-

gar-cengir sampai beberapa saat. Jalan pikirannya jadi 

buntu mendadak. Haruskah dia mengejar Mahisa Lo-

dra yang membawa Kodok Wasiat Dewa? Tapi, bukan


kah Ksatria Topeng Putih telah berpesan bahwa perihal 

Mahisa Lodra akan diurusnya sendiri?

Tangan kanan Seno terangkat, lalu menggaruk 

kepalanya yang tak gatal. Wajah murid Dewa Dungu 

ini semakin tampak kebodoh-bodohan.

"Uh! Aku benar-benar bingung!" gumamnya. 

"Ksatria Topeng Putih melarangku mengejar Mahisa 

Lodra, namun bagaimana kalau dia ternyata kaki-

tangan Mahisa Lodra sendiri? Hmmm.... Kalau me-

mang begitu, berarti sandi yang diberikan kepadaku 

tadi hanya sandi palsu belaka...."

Plok! Plok!

Dua kali Seno menepak kepalanya sendiri, 

sampai tubuhnya oleh ke kiri. Lalu, dia menggeleng-

geleng untuk mengusir baying-bayang yang mengaburi 

pandangannya. Begitu pandangannya kembali jernih, 

mata Seno tampak berbinar.

"Aku percaya! Aku percaya pada suara hatiku!" 

desisnya. "Walau jahat dan licik, tapi kali ini Mahisa 

Lodra tidak menipuku. Dan, orang yang mengaku ber-

juluk Ksatria Topeng Putih itu pun bukan kaki-tangan 

Mahisa Lodra. Aku bisa merasakan adanya hawa ama-

rah yang ditujukan kepada Mahisa Lodra saat dia 

membisikkan kata-kata kepadaku. Ya! Aku percaya 

pada suara hatiku ini!"

Sekali lagi, Seno menatap wajah sang baskara 

yang menandakan hari telah berganti. Keningnya tam-

pak berkerut rapat karena tengah berpikir keras, men-

gingat kata sandi yang disampaikan oleh Setan Selaksa 

Wajah.

"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," desis 

Seno setelah dapat mengingat kata sandi untuk dapat 

pergi ke Lembah Dewa-Dewi.

Kening Seno semakin berkerut rapat. Dia berpikir semakin keras. Perutnya memperdengarkan sua-

ra berkeruyukan, pertanda di tengah terserang rasa 

lapar. Namun, kekhawatiran Seno terhadap keselama-

tan Kemuning mampu mengalahkan rasa laparnya. 

Seno memang harus segera dapat memecahkan kata 

sandi dari Mahisa Lodra.

"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," desis 

Seno. "Apakah letak Lembah Dewa-Dewi berada di da-

lam laut, sehingga ada kata lanjutan "bernapas dalam 

air'? Tapi..., dari cermin 'Terawang Tempat Lewati Ma-

sa', aku melihat sosok Kemuning digantung di atas ra-

wa-rawa. Rawa-rawa itu tak mungkin berada di dasar 

laut. Namun..., apa maksudnya Mahisa Lodra mema-

kai kata sandi 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'?"

Plok!

Untuk kesekian kalinya, Seno menepak kepa-

lanya sendiri. "Bodoh sekali aku ini! 'Menembus Laut 

Bernapas Dalam air'...? Apa artinya? Apakah aku ha-

rus menyelam ke dasar laut seraya bernapas dalam 

air? Uh! Kedalaman laut ratusan bahkan ribuan tom-

bak, bagaimana aku dapat menyelam ke dasarnya? Ka-

laupun dapat, lalu yang dimaksud Mahisa Lodra itu 

laut mana? Di dunia ini banyak laut. Haruskah aku 

menyelami semua laut yang ada?"

Seno menatap sang baskara yang sedikit ber-

geser naik. Merasakan putaran waktu yang tak mung-

kin dapat ditahan, Seno jadi kalut. Untuk menyela-

matkan jiwa Kemuning, dua hari. Bila hari keburu 

berganti, jiwa Kemuning tak akan dapat diselamatkan 

lagi!

Seperti orang kehilangan ingatan, Seno lalu 

berkata-kata seorang diri, mengulang kata sandi dari 

Mahisa Lodra. 

"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'....


'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...."

Terbawa kekalutannya, Seno sampai tidak me-

nyadari bila tak jauh darinya telah hadir dua orang 

kakek bertampang bengis. Kedua kakek itu meman-

dang Seno dengan bola mata berkilat-kilat penuh ke-

bencian.

Mereka sama-sama mengenakan pakaian kun-

ing-hitam. Yang satu bertubuh kurus tinggi dan sa-

tunya lagi bertubuh gemuk bulat. Menilik raut wajah 

mereka, siapa lagi kalau bukan Dua Iblis dari Gunung 

Batur. Iblis Perenggut Roh dan Iblis Pencabut Jiwa!

"Hmmm.... Pemuda gendeng itu menyebut-

nyebut 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'..., apa-

kah dia telah mencuri batu mustika itu?" tanya Iblis 

Perenggut Roh.

"Aku tak tahu," jawab Iblis Pencabut Jiwa, te-

rus mengawasi Seno dari jarak sepuluh tombak. "Pe-

muda itu terus memegangi perutnya. Di balik pakaian-

nya mungkin saja tersimpan batu mustika 'Menembus 

Laut Bernapas Dalam Air'...."

"Kalau benar begitu, kita harus cepat bertin-

dak. Kita bunuh saja pemuda gendeng itu. Dua kali 

aku dipermainkannya. Sakit hatiku hanya bisa diobati 

oleh cucuran darahnya!"

Usai berkata, Iblis Perenggut Roh meloncat se-

bat. Seno yang sedang duduk terpaku sambil meme-

gangi perutnya tampak terkejut. Kekalutan di benak 

Seno benar-benar membuat kewaspadaan Seno berku-

rang. Dia tak tahu kalau sedari tadi dirinya telah men-

jadi perhatian Dua iblis dari Gunung Batur.

"Kita berjumpa lagi, Pemuda Gendeng!" seru Ib-

lis Perenggut Roh, berkacak pinggang. "Sebelum kita 

melanjutkan urusan tempo hari, ada baiknya kalau 

kau serahkan benda yang ada di balik pakaianmu itu!"


"Ya! Serahkan batu mustika 'Menembus Laut 

Bernapas Dalam Air'...!" teriak iblis Pencabut Jiwa se-

raya meloncat ke samping kanan adik seperguruannya.

Seno geleng-geleng kepala sambil nyengir kuda. 

Dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Dua Iblis da-

ri Gunung Batur. Hingga untuk beberapa lama, Seno 

cuma dapat menatap tanpa berkata sepatah kata pun.

"Kau memang bodoh atau berlagak bodoh!" 

bentak Iblis Pencabut Jiwa. "Walau kau punya kesak-

tian setinggi dewa pun, jangan harap kali ini kau dapat 

lolos dari tanganku!"

"Serahkan batu mustika 'Menembus Laut Ber-

napas Dalam Air' yang tersimpan di balik pakaianmu 

itu!" tambah Iblis Pencabut Jiwa.

Dua Iblis dari Gunung Batur sama-sama men-

gucap kata ancaman. Agaknya, mereka lupa bila per-

nah dipecundangi dengan mudah oleh Seno di Telaga 

Dewa. Bentrokan dengan Ksatria Seribu Syair pun tak 

membuat mereka jadi jera. Kekalahan itu justru mem-

buat mereka semakin ingin mengumbar hawa amarah.

"Apa maksud kalian?" tanya Seno, tak mengerti. 

"Dan kau, Kakek Gendut, kenapa menyebut sandi 

'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'? Apakah kau in-

gin membantuku memecahkan sandi itu?" 

"Edan!" maki Iblis Pencabut Jiwa. "Jangan ber-

pura-pura! Sedari tadi aku melihatmu memegangi pe-

rut. Batu mustika itu tentu berada di balik pakaianmu! 

Cepat serahkan!" 

"Batu mustika?" ujar Seno, semakin tak men-

gerti. "Aku tidak membawa batu mustika! Aku meme-

gangi perutku karena aku merasa lapar...."

"Jahanam!" geram Iblis Perenggut Roh. "Kau 

pasti menyimpan batu mustika 'Menembus Laut Ber-

napas Dalam Air' karena kau terus menyebut-nyebut


nama batu milik Raja Penyasar Sukma itu!"

Mendengar tuduhan Dua Iblis dari Gunung Ba-

tur yang datang silih berganti, lama-kelamaan Seno ja-

di tahu duduk persoalannya. "Hmmm.... Aku tahu se-

karang...," katanya dalam hati. "Kedua kakek itu me-

nyangka aku membawa sebuah batu mustika bernama 

'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' milik seseorang 

yang berjuluk Raja Penyasar Sukma. Jadi..., kiranya 

kata sandi dari Mahisa Lodra itu berupa nama sebuah 

batu mustika...."

Mendadak, Seno bersorak girang. Setitik jalan 

terang untuk memecahkan sandi 'Menembus Laut 

Bernapas Dalam Air' sudah dapat ditemukannya tanpa 

sengaja.

"Terima kasih, Kek.... Terima kasih, Kek...," ujar 

Seno seraya membungkuk hormat ke arah Dua Iblis 

dari Gunung Batur. "Aku yang bodoh ini memang ha-

rus menghaturkan beribu terima kasih kepada Kakek 

berdua. Kakek berdua telah membantuku memecah-

kan sebuah sandi yang...."

"Edan!" maki Iblis Pencabut Jiwa. Mendidih 

naik darah kakek gemuk bulat ini melihat sikap Seno 

yang tampak begitu menghormat. Kakek ini tidak tahu 

bahwa penghormatan Seno benar-benar disampaikan 

penuh kesungguhan.

"Serahkan batu mustika 'Menembus Laut Ber-

napas Dalam Air'!" seru Iblis Perenggut Roh, keras 

menggelegar. "Setelah itu, bolehlah nanti kita bermain-

main sampai seribu jurus!"

Melihat kenekatan Iblis Perenggut Roh yang 

masih saja memandang rendah, Seno jadi gemas. Seno 

sudah dapat mengukur sampai di mana ketinggian il-

mu kakek kurus itu. Bahkan, pernah pula menadahi 

pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Jiwa' andalan si


kakek. Maka, terbawa rasa gemasnya, Seno menan-

tang. 

"Aku tidak membawa batu mustika yang kau 

sebutkan itu. Tapi kalau kau penasaran, majulah! Ku-

beri kau kesempatan menyerang sampai tiga jurus! Ka-

lau kau dapat menyentuh sedikit saja salah satu ang-

gota tubuhku, aku bersumpah akan menjadi budak 

pengiring mu seumur hidup!"

Mendengus gusar Iblis Perenggut Roh menden-

gar tantangan itu. Tanpa sungkan-sungkan lagi, dia 

keluarkan ilmu pukulan 'Merengut Roh Mencabut Ji-

wa' yang menjadi andalannya. Lalu, dia menerjang ga-

nas dengan kedua tangan terjulur lurus ke depan. Se-

saat, bau anyir darah menebar ke mana-mana! 

"Hiahhh...!"

***

ENAM



LELAKI bertopeng ini menghentikan kelebatan 

tubuhnya di kaki Bukit Pralambang, berjarak hampir 

seribu tombak dari Telaga Dewa ke arah selatan. Dari 

balik topeng baja putihnya, dia mengedarkan pandan-

gan. Matanya yang tajam berkilat menatap seksama. 

Tak sejengkal pun tempat yang luput dari pengama-

tannya.

Tapi karena apa yang dicarinya tak juga terli-

hat, perlahan kakinya melangkah menaiki bukit. Dile-

watinya jajaran pohon jati yang tumbuh dirambati se-

mak belukar. Tubuhnya tampak bergetar terbawa pe-

rasaan tegang. Dia tahu kalau ada bahaya besar yang sedang mengintai nyawanya.

"Aku yakin durjana itu masih berada di sekitar 

sini...," kata hati lelaki bertopeng yang mengenalkan 

diri sebagai Ksatria Topeng Putih. "Aku bisa mengim-

bangi ilmu peringan tubuhnya yang bernama 'Angin 

Pergi Tiada Berbekas'. Tapi, benar-benar aku tak me-

nyangka bila dia bisa berkelebat lenyap dari pandan-

ganku. Kini, aku harus selalu waspada dengan mem-

pertajam indera pendengaran. Bisikan batinku tak 

pernah menipu. Durjana itu masih berada di sekitar 

sini. Dia pasti sedang menunggu kesempatan untuk 

melumpuhkan aku dengan caranya yang licik. 

Hmmm.... Awas kau, Mahisa Lodra! Selain mencuri 

Pusaka Pedang Naga, rupanya kau pun telah meram-

pas cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' milik Ratu 

Perut Bumi. Hmmm.... Kau benar-benar seorang dur-

jana yang amat licin seperti belut. Tapi, jangan kau ki-

ra aku tak dapat meremukkan tulang-belulang mu!"

Terdesak oleh hawa amarah, jajaran gigi Ksatria 

Topeng Putih saling bertaut dan memperdengarkan 

suara berkerot-kerot. Di balik topeng baja putih, air 

mukanya telah berubah merah padam dengan rahang 

mengembung hingga berbentuk balok persegi empat.

Kaki Ksatria Topeng Putih terus melewati jaja-

ran pohon jati. Perlahan namun pasti, dia pun mulai 

menuju ke puncak bukit. Kabut yang belum hilang se-

penuhnya membuat hawa di setiap lereng bukit terasa 

dingin. Namun demikian, sekujur tubuh Ksatria To-

peng Putih bermandikan keringat. Bukan karena habis 

berlari menempuh jarak ratusan tombak, tapi karena 

terbawa rasa tegang.

Setelah melalui jalan berliku-liku berupa tanah 

cadas yang dirambati semak berduri, sampailah Ksa-

tria Topeng Putih di sebuah tebing yang menjulang cukup tinggi. Tebing itu amat kasar dan dipenuhi cekun-

gan-cekungan. Permukaan tanahnya seperti habis di-

gulung. Anehnya, tebing yang ditemukan Ksatria To-

peng Putih itu senantiasa bergerak mengembung dan 

mengempis. Angin yang berhembus tidak seberapa 

kencang tidak mungkin dapat menggerakkan tebing 

itu. Tapi, kenapa tebing itu senantiasa bergerak men-

gembung dan mengempis?

Ksatria Topeng Putih menambah kewaspa-

daannya. Tebing yang ditemukannya jelas bukan teb-

ing sewajarnya. Apalagi ketika terdengar suara.... 

"Khrokkk...! Khrokkk...!"

Suara yang didengar Ksatria Topeng Putih itu 

mirip suara katak, tapi terdengar amat keras. Karena 

kaget, Ksatria Topeng Putih melompat cepat ke bela-

kang. Ringan sekali tubuhnya mendarat di tanah wa-

lau habis melayang tak kurang dari lima tombak.

"Khrokkk...! Khrokkk...!"

Suara aneh itu terdengar lagi. Gerakan pada 

tebing terlihat makin kentara. Mengembang makin be-

sar dan mengempis makin dalam. Agar dapat melihat 

puncak tebing, Ksatria Topeng Putih mengibaskan ke-

dua telapak tangannya

Timbul dua larik sinar merah yang melintang di 

hadapan Ksatria Topeng Putih. Semak belukar lang-

sung berhamburan ke berbagai penjuru. Disusul den-

gan suara berdebum keras. Dua batang pohon jati ber-

garis tengah satu depa tiba-tiba tumbang. Akibatnya, 

permukaan tanah bergetar. Gumpalan tanah dan be-

batuan berhamburan.

Saat suara hiruk-pikuk sudah reda dan pan-

dangan kembali terang, Ksatria Topeng Putih tersurut 

mundur dua langkah. Bola matanya membesar karena 

terhantam keterkejutan.

"Ya, Tuhan...," sebut Ksatria Topeng Putih, ter-

surut mundur lagi dua langkah.

Tebing aneh yang ditemukan oleh Ksatria To-

peng Putih ternyata seekor katak raksasa!

Bagian yang tampak terus mengembung dan 

mengempis tak lain dari perut katak raksasa itu. Ksa-

tria Topeng Putih menatap nanar, setengah tak per-

caya pada penglihatannya sendiri. Namun, Ksatria To-

peng Putih segera mendengus gusar manakala melihat 

seorang pemuda berpakaian serba merah yang sedang 

duduk menggantungkan kaki di leher katak raksasa.

"Mahisa Lodra keparat...!" dengus Ksatria To-

peng Putih.

"Ha ha ha...!" tawa gelak pemuda berpakaian 

serba merah yang memang Mahisa Lodra atau Setan 

Selaksa Wajah. "Bentuk tubuhmu bagus, bahan pa-

kaianmu pun cukup enak dipandang mata, tapi aku 

tak tahu kenapa wajahmu kau tutup dengan topeng? 

Siapa kau? Apa hubunganmu dengan pemuda geblek 

bergelar Pendekar Bodoh itu? Kenapa kau mengejar-

ku?"

Mahisa Lodra mengeluarkan rentetan kalimat 

panjang. Telapak tangan kanannya tak henti mengelus 

katak raksasa yang tengah didudukinya. Sementara, 

satwa setinggi sepuluh tombak lebih itu senantiasa 

membuka mulut. Lidahnya yang berwarna merah ber-

kilat tampak melelet-lelet.

"Aku mengejarmu karena ada banyak urusan 

yang harus kuselesaikan denganmu!" seru Ksatria To-

peng Putih.

"Kau belum sepenuhnya menjawab perta-

nyaanku, Lelaki Bertopeng!" sahut Setan Selaksa Wa-

jah. "Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Pendekar 

Bodoh, sehingga kau bersusah payah mengejarku


sampai ke Bukit Pratambang ini?" 

Di ujung kalimat Mahisa Lodra, katak raksasa 

mengeluarkan suara ngorok dua kali. Tiba-tiba, lidah-

nya terjulur panjang. Cepat Ksatria Topeng Putih me-

loncat ke samping kiri karena lidah katak raksasa 

hendak menggulung tubuhnya.

"Sabarlah dulu, Adiguna...," ujar Setan Selaksa 

Wajah, menenangkan katak raksasa yang didudu-

kinya. "Biarkan orang itu memperkenalkan dulu siapa 

jati dirinya. Kalau dia memang punya maksud memu-

suhiku, terserah kepadamu apa yang akan kau laku-

kan...."

Usai mengelus-elus katak raksasa yang dis-

ebutnya dengan nama Adiguna, Setan Selaksa Wajah 

menuding Ksatria Topeng Putih. "Cepat kenalkan siapa 

dirimu dan buka topengmu sekarang juga!" bentaknya.

"Tentang siapa diriku, itu tidak begitu penting," 

sahut Ksatria Topeng Putih. "Kau bisa memanggilku 

dengan sebutan Ksatria Topeng Putih. Hanya itu yang 

boleh kau ketahui. Sementara, yang harus kau laku-

kan adalah... mengembalikan Pusaka Pedang Naga 

yang kau curi dari puncak Gunung Arjuna...!"

"Huh!" dengus Setan Selaksa Wajah. "Aku sama 

sekali tak mengenalmu, hai kau lelaki bertopeng! Tak 

ada hujan, tak ada guntur. Bertemu pun baru pertama 

kali ini, kenapa tahu-tahu kau hendak meminta Pusa-

ka Pedang Naga?!"

"Kau keliru, Mahisa Lodra! Terlalu banyak hu-

jan ataupun guntur yang menyebabkan kau mempu-

nyai urusan denganku! Selain telah mencuri Pusaka 

Pedang Naga, kau pun telah merampas cermin 

'Terawang Tempat Lewati Masa' milik Ratu Perut Bumi. 

Lain itu, aku tahu kau membawa Kodok Wasiat Dewa 

yang kau rampas secara licik dari tangan Pendekar


Bodoh. Hmmm.... Melihat begitu banyak urusan yang 

harus kau selesaikan denganku, ada baiknya bila kau 

segera turun dari leher katak buduk itu!"

Setan Selaksa Wajah tak dapat menyembunyi-

kan keterkejutannya. Ucapan Ksatria Topeng Putih 

membuat air mukanya berubah amat keruh. Semua 

ucapan lelaki bertopeng itu memang benar adanya.

"Heran aku...," kata hati Mahisa Lodra. "Bagai-

mana dia bisa tahu kalau aku telah mencuri Pusaka 

Pedang Naga? Bagaimana pula dia bisa tahu kalau 

cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' dan Kodok Wa-

siat Dewa berada di tanganku? Hmmm.... Dia pasti 

seorang tokoh tua yang jati dirinya tak ingin dikenali 

orang lain. Tapi..., siapa pun dia, karena sudah terlalu 

banyak yang diketahuinya, dia harus mati saat ini ju-

ga!"

Lalu, Setan Selaksa Wajah menatap lekat Ksa-

tria Topeng Putih. Dia masih mencoba mengenali wa-

jah si lelaki yang tersembunyi di balik topeng baja pu-

tih. Karena tak dapat, Setan Selaksa Wajah mengamati 

bentuk tubuh si lelaki bertopeng.

"Hmmm.... Warna dan potongan pakaian bisa 

dirubah sekehendak hati. Tapi, kau tak mungkin dapat 

merubah bentuk tubuhmu, hai kau lelaki bertopeng! 

Tanpa ilmu 'Selaksa Wajah Berganti-ganti' seperti yang 

kumiliki, kau tak mungkin dapat menipu penglihatan-

ku...," ujar Setan Selaksa Wajah.

Di balik topengnya, wajah Ksatria Topeng Putih 

langsung memucat. Dia merasa jati dirinya dapat dike-

nali oleh Mahisa Lodra.

"Hmmm.... Kulihat tubuhmu gemetar," lanjut 

Setan Selaksa Wajah. "Bertambahlah keyakinanku bila 

kau memang seorang tokoh tua yang sengaja menyem-

bunyikan jatidiri. Namun, kau tak dapat menipuku! Haha ha...! Bukankah kau Ksatria Se...."

"Keparat! Jangan banyak cakap!"

Ksatria Topeng Putih memotong kalimat Setan 

Selaksa Wajah dengan geram kemarahan. Mendadak, 

lelaki berpakaian putih-putih ini mengibaskan kedua 

telapak tangannya. 

Wus...! Wus...!

Dua larik sinar merah dalam bentuk lengkun-

gan melesat ganas ke arah Setan Selaksa Wajah yang 

tengah duduk di leher katak raksasa bernama Adigu-

na.

Tak mau dirinya bersama satwa tunggangannya 

celaka, bergegas Setan Selaksa Wajah mengeluarkan 

ilmu pukulan 'Pelebur Sukma'. Saat telapak tangan 

kanannya mengibas, melesat seberkas cahaya biru 

yang menebarkan hawa panas!

Ketika mengeluarkan ilmu pukulannya itu, Se-

tan Selaksa Wajah tak mau tanggung-tanggung. Dia 

kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Selain untuk me-

redam ilmu pukulan Ksatria Topeng Putih, Setan Se-

laksa Wajah juga bermaksud langsung menghabisi ri-

wayat lelaki bertopeng itu. 

Blarrr,..!

Blarrr...!

Dua ledakan dahsyat menggelegar panjang. Be-

lasan ekor burung yang kebetulan sedang terbang di 

atas pusat ledakan tampak terlontar dengan tubuh 

tercerai-berai. Beberapa pohon jati tumbang, dan se-

bagian tercabut dari dalam tanah lalu terlontar ke kaki 

bukit. Sementara, gumpalan tanah dan bebatuan lang-

sung menutupi pandangan mata!

Beberapa saat kemudian, Ksatria Topeng Putih 

tampak berdiri terhuyung-huyung. Kain bajunya yang 

berwarna putih telah ternoda oleh cairan darah yang


menyembur dari mulutnya. Rambutnya yang semula 

terikat rapi tampak tergerai awut-awutan. Sebagian 

malah terlihat mengepulkan asap karena terbakar.

"Ha ha ha...!" tawa pongah Setan Selaksa Wa-

jah. "Kukira Ilmu pukulanmu masih jauh berada di 

bawah ku. Hari ini aku berlaku sangat pintar! Kau 

akan segera mati! Ha ha ha...! Ksatria Se..."

"Jahanam! Aku belum kalah!" seru Ksatria To-

peng Putih, memotong ucapan Mahisa Lodra.

"Kau belum mengaku kalah?" cibir Setan Selak-

sa Wajah. "Boleh! Boleh saja kau turuti sifat keras ke-

palamu! Tapi, apa kau tidak sadar bila isi dadamu te-

lah terguncang? Kau telah terluka dalam! Lihat sikap 

berdiri mu yang sempoyongan itu!"

"Tapi, aku belum kalah!" sahut Ksatria Topeng 

Putih.

Aneh sekali? Saat Ksatria Topeng Putih bicara, 

bibirnya sama sekali tak bergerak. Dan, dari balik to-

peng baja putih, bola matanya yang semula bersorot 

tajam, kini berubah tanpa sinar sama sekali. Bahkan, 

bila diperhatikan dengan seksama, bola mata Ksatria 

Topeng Putih telah berubah menjadi dua butir batu 

berwarna kelabu!

"Aku belum kalah!" seru Ksatria Topeng Putih 

lagi bibirnya tetap tak bergerak.

"Hmmm.... Kau memang keras kepala, Ksatria 

Se...."

"Aku belum kalah!" Ksatria Topeng Putih berse-

ru kembali, memotong kalimat Mahisa Lodra.

"Aku tak mau membuang tenaga percuma! 

Membunuh orang yang sudah luka parah sepertimu, 

aku tak memperoleh keuntungan apa-apa!" ujar Setan 

Selaksa Wajah, jumawa. "Untuk meladeni kekerasan 

kepalamu, kau hadapi saja Lidah Maut satwa tunggangan ku ini!" 

Usai berkata, Setan Selaksa Wajah menepuk 

leher Adiguna.

"Khrokkk...! Khrokkk...!"

Katak raksasa berkulit kasar seperti tonjolan 

batu itu membuka mulutnya lebar-lebar. Timbul ti-

upan angin kencang. Beberapa bongkah batu besar ja-

tuh menggelinding ke kaki bukit. Sementara, gumpa-

lan tanah bercampur kerikil dan patahan ranting po-

hon jati tampak beterbangan hendak menghajar tubuh 

Ksatria Topeng Putih!

"Aku belum kalah!"

Ksatria Topeng Putih mengulang lagi kalimat-

nya. Dia tak berbuat apa-apa untuk mempertahankan 

diri. Dia tadahi benda-benda yang hendak menghajar 

tubuhnya.

Setan Selaksa Wajah tertawa bergelak-gelak 

melihat tubuh Ksatria Topeng Putih jatuh berdebam ke 

tanah, lalu berguling-guling di lereng bukit. 

Namun, begitu Adiguna menutup kembali rong-

ga mulutnya, Ksatria Topeng Putih bangkit berdiri. 

Dengan langkah terhuyung-huyung, dia berjalan men-

dekati. Pakaiannya semakin lusuh dan kotor. Selain 

noda darah, gumpalan tanah pun turut mengotori.

"Aku belum kalah!"

Sekali lagi, Ksatria Topeng Putih mengulang 

ucapannya. Dia terus berdiri terhuyung-huyung sambil 

menengadahkan wajahnya. Hingga, topeng baja putih-

nya tampak berkilat-kilat tertimpa sinar mentari.

Terkesiap Setan Selaksa Wajah melihat keneka-

tan Ksatria Topeng Putih. Dilihat dari keadaan lahir-

nya, Ksatria Topeng Putih tak mungkin lagi dapat ber-

napas panjang, apalagi melakukan pertempuran. Tapi, 

kenapa dia tampak begitu nekat?


"Kau telah memberi salam perkenalan kepada 

orang itu, Adiguna!" ujar Setan Selaksa Wajah sambil 

menepuk leher katak raksasa tunggangannya. "Kini, 

tiba saatnya kau keluarkan Lidah Maut-mu!"

Di ujung kalimat Setan Selaksa Wajah, Adiguna 

mengeluarkan suara ngorok amat keras yang menya-

kitkan gendang telinga. Lalu, dari mulutnya melesat 

sebuah benda pipih panjang berwarna merah berkilat. 

Itulah Lidah Maut sang katak raksasa!

Swik...! Swik...!

"Wuahhh...!"

Agaknya, Ksatria Topeng Putih memang sudah 

tak mempunyai daya kekuatan apa-apa lagi. Dengan 

mudah tubuhnya dibelit Lidah Maut Adiguna. Lalu, 

ringan sekali tubuh lelaki bertopeng itu diangkat, se-

mentara mulut Adiguna terbuka lebar!

"Tunggu...!" 

Setan Selaksa Wajah berteriak lantang untuk 

mencegah Adiguna yang hendak menelan tubuh Ksa-

tria Topeng Putih. Maksud Setan Selaksa Wajah adalah 

untuk membuka topeng dan mengenali wajah Ksatria 

Topeng Putih, Adiguna pun mengerti perintah tuannya. 

Ketika tubuh Ksatria Topeng Putih telah menempel di 

rongga mulut, katak raksasa itu menghentikan gera-

kannya. Tapi, tiba-tiba...

"Khrokkk...!"

Sang katak raksasa menggeliat kesakitan. Beli-

tan lidahnya terlepas. Tubuh Ksatria Topeng Putih ja-

tuh di antara jajaran giginya. Dan tanpa diduga-

duga..., Ksatria Topeng Putih melompat masuk ke ke-

rongkongan Adiguna!

"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?" seru Setan 

Selaksa Wajah yang tak dapat melihat peristiwa yang 

baru berlangsung.


Adiguna menggoyang-goyangkan kepalanya, 

hingga tubuh Setan Selaksa Wajah bergerak naik-

turun. Cepat kakek berwajah pemuda itu menenang-

kan Adiguna dengan mengelus-elus leher sang katak 

raksasa.

"Tenanglah! Tenanglah.... Apa yang terjadi?" 

ujar Setan Selaksa Wajah dengan raut wajah sedikit 

memucat.

"Khrokkk...!"

Adiguna mengeluarkan suara ngorok keras. Li-

dahnya terjulur panjang ke depan. Kontan mata Setan 

Selaksa Wajah terbelalak karena tak melihat tubuh 

Ksatria Topeng Putih dalam belitan lidah sang katak 

raksasa.

"Aku tahu benar watak dan tabiat Adiguna. Dia 

akan selalu menuruti apa pun yang kuperintah tanpa 

membantah...," gumam Setan Selaksa Wajah. "Tapi, 

kenapa tubuh lelaki bertopeng itu tak ada lagi dalam 

belitan lidahnya? Apakah Adiguna telah telanjur mene-

lannya?"

Telapak tangan kanan Setan Selaksa Wajah 

mengelus-elus leher Adiguna. Tapi, Adiguna terus 

mengeluarkan suara ngorok amat keras. Setan Selaksa 

Wajah jadi curiga bila telah terjadi apa-apa pada satwa 

tungganngannya.

"Aku tahu sekarang!" seru Setan Selaksa Wajah 

dengan bola mata melotot besar. "Adiguna tidak mene-

lan tubuh Ksatria Topeng Putih! Justru lelaki berto-

peng itulah yang meloncat masuk ke dalam perutnya!"

Mendadak, Setan Selaksa Wajah tertawa berge-

lak-gelak. Suara tawanya panjang dan keras sekali,

hingga terdengar seantero Bukit Pralambang.

"Lelaki bertopeng itu masuk ke perutmu, Adi-

guna.'" seru Setan Selaksa Wajah kemudian, menepuk


leher sang katak raksasa. "Cepat kau kerahkan tenaga 

'Mengolah Api Guncangkan Bumi'...!"

"Khrokkk...!"

Sambil mengangkat kedua kakinya, Adiguna 

mengeluarkan suara ngorok yang lebih keras. Tiba-

tiba, dari perut satwa tunggangan Mahisa Lodra itu 

terdengar suara bergemuruh seperti suara kawah gu-

nung berapi.

"Bagus! Bagus, Adiguna!" puji Satan Selaksa 

Wajah. "Kau telah mengerahkan tenaga 'Mengolah Api 

Guncangkan Bumi'! Gumpalan api yang ada dalam pe-

rutmu akan segera membakar hancur tubuh lelaki itu! 

Ha ha ha...!"

Selagi Setan Selaksa Wajah tertawa bergelak, 

Adiguna menengadah. Mulutnya terbuka, lalu... gum-

palan api menyembur-nyembur ke angkasa bagai hen-

dak membakar langit!

Rupanya, di dalam perut Adiguna benar-benar 

tersimpan api! Melihat kehebatan satwa tunggangan 

Mahisa Lodra itu, agaknya Ksatria Topeng Putih harus 

merelakan nyawanya melayang ke alam baka!

***

TUJUH



KEDUA telapak tangan Iblis Perenggut Roh ber-

putar sebentar. Pada saat bau anyir darah membuat 

kepala Seno jadi pening, kedua telapak tangan kakek 

yang dilambari ilmu pukulan 'Merenggut Roh Menca-

but Jiwa' itu melesat lurus ke depan. Telapak tangan 

kiri hendak menampar pecah kepala Seno, sementara


telapak tangan yang kanan hendak mengarah ke dada. 

Rupanya, Iblis Perenggut Roh benar-benar ingin me-

nyudahi riwayat. Seno pada gebrakan pertama.

Pada saat yang sama, tiba-tiba Iblis Pencabut 

Jiwa menggembor keras. Dengan gerakan 'Mencari Roh 

Mengirim ke Neraka', telapak tangan kanannya yang 

dimiringkan berusaha membabat putus pinggang Se-

no.

Sudah puluhan nyawa melayang akibat baba-

tan telapak tangan kanan Iblis Pencabut Jiwa yang ju-

ga dilambari ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut 

Jiwa' itu. Batang pohon sepelukan manusia dewasa 

pun akan terbabat pula, apalagi tubuh seorang anak 

manusia yang cuma terdiri dari susunan tulang dan 

daging empuk!

Serangan Dua Iblis dari Gunung Batur itu amat 

cepat dan tangkas sekali. Tiga gelombang serangan 

yang berasal dari tiga telapak tangan berpusat ke satu 

jurusan. Sesaat, Seno mendelikkan mata melihat se-

rangan Dua Iblis dari Gunung Batur yang teramat ga-

nas dan penuh nafsu membunuh. Pandangan Seno ja-

di kabur akibat rasa pening di kepalanya. Bau anyir 

darah telah memenuhi tempatnya berdiri.

Namun, percuma saja Seno digembleng keras 

oleh Dewa Dungu selama lima tahun andai dia tak da-

pat meredam serangan Dua iblis dari Gunung Batur 

itu. Ketika tiga telapak tangan yang mengandung hawa 

kematian hampir mengenai sasaran, Seno mengi-

baskan telapak tangan kirinya. Timbul serangkum an-

gin pukulan yang cukup hebat walau Seno cuma men-

gerahkan sepertiga bagian tenaga dalamnya. Kibasan 

telapak tangan kiri pemuda berjuluk Pendekar Bodoh 

itu bukan saja mampu mengusir bau anyir darah yang 

menebar dari telapak tangan Dua Iblis dari Gunung


Batur, bahkan mampu menahan lesatan tubuh dua 

tokoh sesat itu.

Dan pada saat tubuh Dua Iblis dari Gunung 

Batur masih tertahan di udara, Pendekar Bodoh mem-

bungkuk seraya melakukan gerakan 'Dewa Badai 

Menghitung Bintang Menyapa Bulan', salah satu gera-

kan hebat yang dipelajarinya dari Kitab Sanggalangit.

Tuk! Tuk! Tuk!

Des...!

Bola mata Iblis Pencabut Jiwa tiba-tiba melotot 

besar seperti hendak keluar dari rongganya. Mulut ka-

kek gemuk bulat itu pun terbuka lebar dan tak bisa 

dikatupkan lagi. Totokan Pendekar Bodoh tepat bersa-

rang di beberapa jalan darah penting di tubuhnya. 

Akibatnya, tubuh Iblis Pencabut Jiwa jatuh terduduk 

dan tak bisa bergerak-gerak lagi!

Akibat yang diterima oleh Iblis Perenggut Roh 

Jauh lebih menggiriskan bila dibanding dengan kakak 

seperguruannya. Ketika Seno bangkit dari sikap mem-

bungkuknya, cepat sekali tangan kiri si pemuda 

menghantam ke depan. Dada Iblis Perenggut Roh ter-

kena bogem mentah dengan telak. Jerit parau yang 

amat menyayat hati terdengar manakala tubuh Iblis 

Perenggut Roh terlontar lalu jatuh berdebam di tanah 

keras.

Dari mulut, lubang hidung dan telinga Iblis Pe-

renggut Roh mengucur darah kental kehitaman. Dia 

masih mencoba bangkit sambil memegangi dadanya. 

Namun, kesadarannya keburu hilang. Tubuh Iblis Pe-

renggut Roh jatuh terjengkang dan tak bergerak-gerak 

lagi. Kain bajunya tampak terbakar di bagian dada. 

Sementara, dua tulang iganya patah!

Pendekar Bodoh cuma cengar-cengir melihat 

basil gerakan 'Dewa Badai Menghitung Bintang Menyapa Bulan' yang baru saja dilakukannya. Pemuda 

remaja berpakaian biru-biru itu menatap tubuh Iblis 

Perenggut Roh yang terkapar tak berdaya di tanah.

"Aku cuma mengerahkan seperdelapan tenaga 

dalam. Kalau kukerahkan sepenuhnya, jangan harap 

tubuhmu masih berwujud utuh seperti itu..." ujar Pen-

dekar Bodoh, terus menatap tubuh Iblis Perenggut 

Roh. "Tapi..., kukira kau tentu sudah kapok untuk tak 

mengulangi perbuatan jahatmu. Aku tahu ada dua tu-

lang igamu yang patah. Untuk memulihkannya seperti 

sediakala, kau butuh waktu tiga tahun lebih! Rasakan 

itu, Kakek jelek tukang bunuh orang!"

Seno berkata-kata seakan Iblis Perenggut Roh 

dapat mendengar ucapannya, padahal dia sudah tahu 

kalau kakek kurus tinggi itu telah hilang kesadaran-

nya karena jatuh pingsan. Sementara, Iblis Pencabut 

Jiwa cuma dapat melenguh-lenguh seperti seekor lem-

bu yang baru dicocok hidungnya.

Teringat kata sandi yang diterimanya dari Ma-

hisa Lodra, cepat Seno menghampiri Iblis Pencabut Ji-

wa. Melihat langkah kaki Seno yang tampak tergesa-

gesa, Iblis Pencabut Jiwa langsung dihantui rasa ta-

kut. Bola matanya semakin melotot besar. Keluh yang 

keluar dari mulutnya yang terbuka semakin terdengar 

jelas. 

"Uhhh...!"

Iblis Pencabut Jiwa melenguh keras sekali saat 

melihat ujung telunjuk jari tangan kanan Seno berke-

lebat cepat mengarah ke wajahnya. Iblis Pencabut Jiwa 

menyangka bila Seno hendak mencongkel bola ma-

tanya. Tapi ternyata, Seno malah membebaskan pen-

garuh totokan yang bersarang di pangkal lehernya.

"Kau dan saudara seperguruanmu tadi menu-

duhku membawa batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," ujar Pendekar Bodoh. "Kenapa 

kau menuduh begitu? Dan, apa yang kau ketahui ten-

tang batu mustika itu?"

Iblis Pencabut Jiwa tak langsung menjawab. 

Dia menelan ludah beberapa kali. Ditatapnya wajah 

Seno lekat-lekat. Melihat wajah si pemuda yang tam-

pak kebodoh-bodohan, keberanian Iblis Pencabut Jiwa 

timbul kembali.

"Lepaskan aku! Kita bertempur lagi sampai di 

antara kita ada yang mati!" tantang Iblis Pencabut Ji-

wa.

"Aku tidak mengikatmu!. Kenapa minta dile-

paskan?" ujar Pendekar Bodoh sambil nyengir kuda.

"Yang ku maksud adalah melepas pengaruh to-

tokanmu ini, Geblek!" bentak Iblis Pencabut Jiwa.

"Akan ku turuti permintaanmu asal kau jawab 

dulu pertanyaanku!" seru Seno, balas membentak.

"Aku tak sudi!"

"Aku akan menyiksamu!"

"Aku tak takut!"

"Hmmm.... Begitu?"

Pendekar Bodoh geleng-geleng kepala sebentar. 

Ditatapnya lekat-lekat wajah Iblis Pencabut Jiwa. Lalu, 

dia berjongkok seraya....

Tuk! tuk! Tuk!

Seno menotok beberapa jalan darah Iblis Pen-

cabut Jiwa yang terletak di tengkuk dan iga. Dan saat 

itu juga, Iblis Pencabut Jiwa menjerit keras sekali. Tu-

buhnya bergetar karena terserang rasa sakit hebat. Je-

ritan Iblis Pencabut Jiwa begitu keras dan terdengar 

amat menyayat hati. Dari sudut matanya menitik air 

bening. Tak kuasa menahan sakit yang merejam seku-

jur tubuhnya, Iblis Pencabut Jiwa menangis menggerung-gerung.


"Ampun.... Ampun.... Jangan kau siksa aku, 

Pendekar...," iba Iblis Pencabut Jiwa, memelas.

"Kau mau menjawab pertanyaanku atau tidak?" 

tanya Pendekar Bodoh.

"Ya! Ya, aku mau menjawab, Pendekar! Le-

paskan pengaruh totokanmu! Aku tak tahan! Aku tak 

tahan...." 

Mendengar kesanggupan Iblis Pencabut Jiwa, 

bergegas Seno melepas pengaruh totokannya. Namun, 

beberapa totokan dia biarkan, sehingga Iblis Pencabut 

Jiwa tetap duduk mendeprok di tanah tanpa dapat 

berbuat apa-apa.

"Jawab pertanyaanku?" bentak Seno. "Apa yang 

kau ketahui tentang kata 'Menembus Laut Bernapas 

Dalam Air?"

Iblis Pencabut Jiwa menghela napas panjang. 

Air matanya masih jatuh berlelehan ke kedua pipinya. 

Merasa tak mungkin dapat membebaskan diri dan me-

lakukan perlawanan, dia berkata,

"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' adalah 

nama sebuah batu mustika milik Raja Penyasar Suk-

ma...."

"Ya. Ya! Aku tahu!" bentak Seno memasang wa-

jah ketus, tapi raut wajahnya yang lugu malah sema-

kin tampak kebodoh-bodohan, "Apa kegunaan batu 

mustika itu? Dan, siapa itu Raja Penyasar Sukma?"

Iblis Pencabut Jiwa menelan ludah, lalu berka-

ta, "Aku tidak tahu apa kegunaan batu mustika itu. 

Yang ku tahu bahwa sejak satu candra yang lalu batu 

mustika itu telah hilang dicuri orang....." 

"Hmmm..... Jadi, karena itulah kau menuduh 

aku telah mencuri batu mustika 'Menembus Laut Ber-

napas Dalam Air'?" 

Iblis Pencabut Jiwa tak menjawab. Dia cuma


menatap wajah lugu Seno. Tapi, Seno sudah dapat ne-

nangkap arti dari tatapan kakek gemuk bulat itu.

"Ketahuilah, Kakek Gendut, aku tidak pernah 

mencuri benda yang kau sebutkan itu," ujar Pendekar 

Bodoh kemudian. "Aku mengucap 'Menembus Laut 

Bernapas Dalam Air' karena kata-kata itu adalah kata 

sandi pemberian Setan Selaksa Wajah. Tokoh jahat itu 

telah menyandera seorang sahabatku. Dan, aku harus 

dapat memecahkan kata sandi itu agar aku dapat 

memberi pertolongan...."

Seno berkata dengan sejujurnya. Nada ucapan-

nya jelas menyiratkan bahwa dia sudah tak punya sa-

kit hati lagi kepada Iblis Pencabut Jiwa. Sementara, Ib-

lis Pencabut Jiwa yang mendengar Seno menyebut 

nama Setan Selaksa Wajah cuma diam saja. Padahal, 

dia punya hubungan dengan kakek yang pandai meru-

bah wajah dan bentuk tubuhnya itu.

"Sekarang, katakan siapa Raja Penyasar Sukma 

yang kau katakan sebagai pemilik batu mustika 

'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' itu?! Dan, apa-

kah dia pun tak tahu siapa yang telah mencuri batu 

mustikanya?" tanya Pendekar Bodoh dengan nada sua-

ra sedikit dilembutkan.

Kening Iblis Pencabut Jiwa langsung berkerut 

rapat, tak segera menjawab pertanyaan Seno.

"Kau tak mau menjawab? Apa kau ingin punya 

nasib sama dengan saudara seperguruanmu itu?" an-

cam Seno sambil menggeser tubuh Iblis Pencabut Ji-

wa, sehingga kakek gemuk bulat itu dapat melihat tu-

buh Iblis Perenggut Roh yang terbujur telentang di ta-

nah dengan baju bersimpah darah.

"Ya! Ya, aku jawab pertanyaanmu...," ujar Iblis 

Pencabut Jiwa, merasa ngeri melihat keadaan adik se-

perguruannya yang sudah tak punya daya apa-apa.


"Bagus! Katakan siapa itu Raja Penyasar Suk-

ma!" sambut Pendekar Bodoh.

"Dia... dia seorang tokoh sakti yang tiada tan-

dingannya. Kau akan mati bila berani melawannya...."

"Bukan itu yang ingin ku tahu!" bentak Pende-

kar Bodoh seraya menekan bahu kanan iblis Pencabut 

Jiwa.

"Uh...!"

Mengeluh kesakitan iblis Pencabut Jiwa. Bahu 

kanannya terasa bagai ditindih batu sebesar gajah. 

Maka, matanya langsung mendelik dengan mulut ter-

buka lebar.

"Ya.... Ya, kukatakan siapa Raja Penyasar 

Sukma sebenarnya...," ujar Iblis Pencabut Jiwa sambil 

merintih kesakitan.

"Bagus!" sambut Pendekar Bodoh, menarik te-

lapak tangan kirinya yang menekan bahu kanan Iblis 

Pencabut Jiwa. "Raja Penyasar Sukma tentu punya 

nama kecil. Siapa nama kecilnya itu?"

Iblis Pencabut Jiwa tampak berpikir sejenak. 

Lalu dengan tatapan menyiratkan rasa takut, dia ber-

kata, "Nama kecilnya Banyak Langkir."

Pelan sekali suara yang keluar dari mulut Iblis 

Pencabut Jiwa, tapi akibatnya sungguh membuat Iblis 

Pencabut Jiwa sendiri terkejut. Begitu mendengar na-

ma Banyak Langkir, Pendekar Bodoh melonjak kaget. 

Tanpa sadar, pemuda itu meloncat satu tombak ke be-

lakang!

"Banyak Langkir? Banyak Langkir? Kau tadi 

berkata Banyak Langkir?" desis Pendekar Bodoh, ber-

jalan mendekati Iblis Pencabut Jiwa lagi.

Melihat wajah Seno yang jadi tegang dengan bo-

la mata melotot besar, Iblis Pencabut Jiwa terhantam 

rasa takut. Tubuhnya langsung gemetaran karena menyangka Seno hendak melepaskan tangan maut.

"Apa aku tidak salah dengar? Kau katakan tadi, 

Raja Penyasar Sukma punya nama kecil Banyak Lang-

kir?" ujar Pendekar Bodoh, menatap tajam wajah Iblis 

Pencabut Jiwa.

"I... iya...," jawab Iblis Pencabut Jiwa, masih 

bergidik ngeri.

Mendadak, Pendekar Bodoh menengadahkan 

wajahnya. Di atas langit luas berwarna biru, pemuda 

lugu ini seakan dapat melihat sosok ibunya yang telah 

meninggal. Lalu, dia berkata-kata seorang diri.

"Ibu..., tanpa sengaja aku telah menemukan sa-

tu petunjuk untuk mencari orang yang telah menyeng-

sarakan mu, Bu. Aku akan segera menuntut balas, Bu! 

Berbahagialah Ibu di surga. Dendam di hati Ibu akan 

segera terbalaskan...."

Pendekar Bodoh berkata-kata penuh kesung-

guhan. Di antara rasa kalut karena memikirkan kese-

lamatan Kemuning, terbersit setitik rasa senang di hati 

Pendekar Bodoh mengetahui Raja Penyasar Sukma 

punya nama kecil Banyak Langkir. Sementara, sejak 

lima tahun yang lalu di hati Pendekar Bodoh telah ber-

semayam dendam kesumat terhadap seorang tokoh 

bernama Banyak Langkir. Banyak Langkir adalah 

pembunuh Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Putih 

yang tak lain dari ibu kandung Pendekar Bodoh. (Ten-

tang peristiwa terbunuhnya Dewi Ambarsari, silakan 

simak serial Pendekar Bodoh dalam episode : "Tongkat 

Dewa Badai").

"Apa lagi yang kau ketahui tentang Banyak 

Langkir?!" seru Pendekar Bodoh kemudian.

Terbawa rasa takut, agak terbata-bata Iblis 

Pencabut Jiwa menjawab. "Dia... dia penguasa Lembah 

Dewa-Dewi...."


Untuk kedua kalinya, Seno melonjak kaget. Dia 

terkejut bagai disambar petir. Namun, di antara keter-

kejutannya, terbersit pula setitik rasa senang. Kiranya, 

Lembah Dewa-Dewi benar-benar ada. Berarti Setan Se-

laksa Wajah tidak berdusta. Kemuning atau Dewi Pe-

dang Kuning memang berada di tempat itu.

"Kau tahu di mana letak Lembah Dewa-Dewi 

itu?" tanya Pendekar Bodoh setelah menghela napas 

beberapa kali.

Iblis Pencabut Jiwa menggeleng lemah. Melihat 

raut wajah kakek gemuk bulat itu, Seno memper-

cayainya. Namun, dia masih ingin mengorek beberapa 

keterangan lagi.

"Kau sendiri punya hubungan apa dengan Ba-

nyak Langkir?" 

"Aku... aku...." 

Iblis Pencabut Jiwa ragu-ragu untuk menjawab. 

Menilik dari sikap dan nada ucapan Seno, dia tahu ka-

lau Seno menyimpan rasa benci terhadap Banyak 

Langkir. Oleh karena itu, dia takut untuk berkata te-

rus terang.

"Kau tak mau menjawab pertanyaanku? Kau 

ingin tulang igamu juga kupatahkan seperti saudara 

seperguruanmu itu?" ancam Pendekar Bodoh. 

Seno mengucap ancaman dengan penuh ke-

sungguhan. Terdesak oleh rasa hatinya yang tak enak, 

Seno lupa pada nasihat ibunya bahwa dia harus selalu 

berlaku sopan dan menghormat kepada siapa saja te-

rutama kepada orang yang lebih tua. Tapi kali ini, Se-

no benar-benar membuat Iblis Pencabut Jiwa yang su-

dah tua bangkotan benar-benar mati kutu karena rasa 

takut. Seno benar-benar lupa pada nasihat ibunya, 

hingga dia tak memberi rasa hormat sedikit pun kepa-

da Iblis Pencabut Jiwa.


"Cepat katakan! Kau punya hubungan apa den-

gan jahanam itu?!" bentak Pendekar Bodoh melihat Ib-

lis Pencabut Jiwa tak segera menjawab pertanyaannya.

"Ya.., ya! Aku adalah anak buah Banyak Lang-

kir..." aku Iblis Pencabut Jiwa.

"Anak buah?" kesiap Pendekar Bodoh.

"Ya..., ya.... Eh...!"

"Anak buah atau bukan?!"

"Ya. Ya, aku anak buahnya...."

"Hmmm.... Kau ini aneh, Kakek Gendut...," ujar 

Seno, menepuk-nepuk bahu Iblis Pencabut Jiwa. "Kau 

mengaku anak buah Banyak Langkir atau Raja Penya-

sar Sukma penguasa Lembah Dewa-Dewi, tapi kenapa 

kau tidak tahu di mana letak tempat itu?! Hayo! Jan-

gan bohong! Ku tonjok hidungmu baru tahu rasa nan-

ti!"

"Aku benar-benar tak tahu di mana letak Lem-

bah Dewa-Dewi," sahut Iblis Pencabut Jiwa yang meli-

hat Seno mengepal tinju. "Selain Mahisa Lodra dan be-

berapa orang kepercayaannya yang lain, tidak ada 

yang pernah menjamah tempat itu...."

"Kau tidak bohong?"

"Sungguh! Sumpah! Aku tidak bohong!"

"Hmmm.... Kau tadi menyebut nama Mahisa 

Lodra. Apakah kakek jelek itu juga anak buah Banyak 

Langkir?"

"Ya... ya!"

"Kalau Mahisa Lodra bisa mendatangi Lembah 

Dewa-Dewi, kenapa kau tidak?"

"Karena dia dipinjami batu mustika 'Menembus 

Laut Bernapas Dalam Air'...."

"Hmmm.... Jadi, untuk mendatangi Lembah 

Dewa-Dewi, setiap orang harus membawa batu musti-

ka 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...."


Bersorak girang Seno dalam hati. Sandi dari 

Mahisa Lodra sedikit demi sedikit mulai dapat dipe-

cahkannya. Hingga, Seno berkesimpulan bahwa untuk 

menyelamatkan Kemuning, dia harus mendapatkan 

dulu batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam 

Air'. Tapi, di mana dia harus mendapatkannya? Bu-

kankah batu mustika milik Raja Penyasar Sukma itu 

telah dicuri orang?

"Aku bertanya sekali lagi...," ujar Seno kemu-

dian. "Tahukah siapa yang telah mencuri batu mustika 

'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'?"

"Pemiliknya sendiri pun tak tahu, apalagi 

aku...," jawab Iblis Pencabut Jiwa.

"Menurut pendapatmu, siapa kira-kira pencu-

rinya?" buru Seno.

"Aku tak tahu."

"Tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau batu 

mustika itu dicuri orang?"

"Raja Penyasar Sukma sendiri yang berkata ke-

padaku. Aku dan adik seperguruanku diperintahkan-

nya untuk turut mencari batu mustika yang hilang 

itu."

Pendekar Bodoh tak bertanya lagi. Otaknya di-

putar untuk dapat menyerap arti semua ucapan Iblis 

Pencabut Jiwa. Sesaat, ditatapnya sang baskara yang 

terus bergeser naik. Waktunya untuk dapat menyela-

matkan jiwa Kemuning semakin singkat.

Merasa tak ada keterangan lain yang dapat di-

korek dari mulut Iblis Pencabut Jiwa, Pendekar Bodoh 

melepas pengaruh totokannya. Dan, begitu dapat 

menggerakkan tangan dan kakinya, Iblis Pencabut Ji-

wa yang sudah jera dan ngeri melihat kehebatan Pen-

dekar Bodoh langsung meloncat menjauhi.

"Pergilah! Gendong tubuh saudara sepergu


ruanmu itu!" seru Pendekar Bodoh. "Ingat kata-kataku 

ini! Jika ternyata apa yang kau katakan tadi hanya su-

atu kebohongan, tak segan-segan aku meremukkan se-

luruh tulang-belulang mu!"

Seno mengancam penuh kesungguhan. Tapi, 

wajahnya yang lugu malah semakin tampak kebodoh-

bodohan. Iblis Pencabut Jiwa yang benar-benar sudah 

jera dan ngeri bergegas menghampiri tubuh Iblis Pe-

renggut Roh yang masih tergeletak pingsan di tanah.

Tanpa menoleh-noleh lagi. Iblis Pencabut Jiwa 

membopong tubuh adik seperguruannya seraya lari 

terbirit-birit. Sementara, Pendekar Bodoh menatap ke-

pergian kakek gemuk bulat itu sambil nyengir kuda.

"Aku harus segera mendapatkan batu mustika 

'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," tekad Seno. 

"Aku harus segera mendapatkannya! Tapi..., aku tak 

tahu batu mustika itu dibawa siapa?"

Pendekar Bodoh menggaruk kepalanya yang tak 

gatal. Perutnya yang lapar memperdengarkan suara 

berkeruyukan. Tapi, Pendekar Bodoh tak mau ambil 

peduli. Dia terus memutar otak. Namun, tetap saja ak-

al pikirannya menemui jalan buntu. Siapa yang mem-

bawa batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam 

Air'? Pertanyaan itu tidak pernah bisa dijawab oleh 

Pendekar Bodoh! 

"Astaga...!"

Mendadak, Pendekar Bodoh berseru kaget. Ta-

nah tempatnya berpijak tiba-tiba bergetar. Suara ge-

muruh terdengar dari dalam tanah. Batang-batang po-

hon di sekitar tempat Pendekar Bodoh berdiri tampak 

bergerak-gerak bagai terserang gempa. Akibatnya, bu-

tiran kerikil dan gumpalan batu menggelinding berpin-

dah tempat. Lalu....

Brolll...!


"Ya, Tuhan...."

Sekali lagi, Pendekar Bodoh berseru kaget. Se-

kitar lima tombak dari hadapan pemuda lugu ini, per-

mukaan tanah ambrol, dan dari dalamnya muncul se-

sosok manusia!

***

DELAPAN



"CUKUP! Cukup, Adiguna!" seru Setan Selaksa 

Wajah. "Kukira tubuh lelaki jahanam yang masuk ke 

perutmu itu telah hancur luluh!"

Katak raksasa bernama Adiguna yang sedang

menyembur-nyemburkan gumpalan api ke angkasa 

langsung menghentikan perbuatannya. Untuk bebera-

pa lama, hawa di lereng Bukit Pralambang jadi panas. 

Daun-daun jati yang semula masih hijau segera telah 

menguning. Sebagian malah terbakar hangus. Semen-

tara, bau sangit menebar ke mana-mana karena ada 

puluhan ekor burung yang turut terbakar hangus. Se-

mua itu akibat tenaga 'Mengolah Api Guncangkan 

Bumi' yang baru saja dikeluarkan oleh satwa tunggan-

gan Setan Selaksa Wajah.

"Khrokkk...! Khrokkk...!"

Adiguna mengeluarkan suara ngorok sambil 

menggeser-geser dua kakinya yang menginjak tanah. 

Mahisa Lodra atau Setan Selaksa Wajah yang duduk di 

leher katak raksasa itu tampak menengadahkan wa-

jahnya ke angkasa, sementara tangan kirinya menge-

lus-elus leher satwa tunggangannya.

"Ha ha ha...!" tawa pongah Setan Selaksa Wajah. "Lelaki bertopeng itu sudah mati dengan tubuh 

hancur luluh menjadi abu! Tidak ada lagi orang yang 

mengejarku untuk merampas kembali Pusaka Pedang 

Naga. Tidak ada pula yang akan mengungkit-ungkit 

masalah cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa'. Aku 

bebas melangkahkan kaki ke mana aku suka. Kodok 

Wasiat Dewa pun telah berada di tanganku! Kini, aku 

bisa mewujudkan cita-citaku. Ha ha ha..,!"

Selagi Setan Selaksa Wajah tertawa senang, 

kembali Adiguna menggeser-geser dua kakinya yang 

menginjak tanah. Tubuh Setan Selaksa Wajah tampak 

bergoyang-goyang.

"Ya! Ya, aku tahu kemauanmu, Adiguna!" ujar 

Setan Selaksa Wajah, menepuk-nepuk leher satwa 

tunggangannya. "Kita memang harus segera mengha-

dap sang pemimpin...."

Usai berkata, Setan Selaksa Wajah memperke-

ras tepukannya. Adiguna mengeluarkan suara ngorok 

tiga kali seraya memutar tubuh. Tiba-tiba terdengar 

suara berdebum keras. Timbul tiupan angin kencang 

yang menyertai berguncangnya permukaan tanah. Ki-

ranya, hal itu akibat perbuatan Adiguna yang menje-

jakkan dua kakinya ke tanah. 

"Khrokkk...! Khrokkk...!" 

Bummm...!

Di lain kejap, tubuh raksasa Adiguna melayang 

tinggi di udara dan melesat sebat ke utara. Terdengar 

lagi suara berdebum keras manakala tubuh Adiguna 

mendarat di tanah. Dengan cara meloncat-loncat, ka-

tak raksasa itu membawa Setan Selaksa Wajah untuk 

pergi ke suatu tempat.

Namun, tanpa diketahui oleh Adiguna dan Se-

tan Selaksa Wajah, sesosok bayangan muncul dari ba-

lik pohon jati seraya berkelebat menguntit. Sesosok


bayangan itu terus menguntit di belakang Adiguna 

dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya yang 

hebat luar biasa.

Satu kali loncatan Adiguna dapat menempuh 

jarak sekitar seratus tombak. Bahkan, tubuh katak 

raksasa itu dapat melesat cepat sekali laksana menya-

tu dengan hembusan angin. Namun demikian, sosok 

bayangan yang menguntit dapat mengimbangi lesatan 

tubuh Adiguna. Itu pertanda bahwa si penguntit me-

mang bukan tokoh sembarangan.

Saat Adiguna menghentikan loncatannya di se-

buah padang tandus bernama Padang Angin Malaikat, 

si penguntit menghentikan pula kelebatan tubuhnya 

seraya bersembunyi di balik bongkahan batu besar. 

Ternyata, dia seorang lelaki berpakaian putih-putih 

dan mengenakan topeng yang terbuat dari baja putih. 

Ksatria Topeng Putih!

Lelaki bertubuh tinggi tegap itu memang belum 

mati. Tenaga 'Mengolah Api Guncangkan Bumi' yang 

dikeluarkan oleh Adiguna sama sekali tidak membuat 

hancur tubuhnya. Ksatria Topeng Putih memang 

mempunyai ilmu kesaktian yang hampir tidak masuk 

akal pikiran.

"Gatal tanganku melihat kesombongan durjana 

laknat itu...," kata hati Ksatria Topeng Putih dalam ha-

ti. "Dia benar-benar seorang manusia yang kelewat 

sombong, padahal dia baru saja ku kelabui...."

Benar! Setan Selaksa Wajah memang telah ter-

makan tipu muslihat Ksatria Topeng Putih.

Pada waktu Setan Selaksa Wajah melepas pu-

kulan 'Pelebur Sukma' untuk menyelamatkan diri se-

kaligus memukul balik Ksatria Topeng Putih yang 

mengirim pukulan 'Sinar Merah Perontok Jiwa', dia ti-

dak tahu kalau Ksatria Topeng Putih mengeluarkan


pula ilmu 'Sihir Penutup Raga'. Ketika terjadi ledakan 

dahsyat akibat bentrokan dua ilmu pukulan tingkat 

tinggi itu, Ksatria Topeng Putih berkelebat lalu berlin-

dung di balik bongkahan batu besar. Karena Ksatria 

Topeng Putih mengeluarkan ilmu 'Sihir Penutup Raga', 

maka kelebatan tubuhnya tidak diketahui oleh Setan 

Selaksa Wajah maupun sang katak raksasa Adiguna.

Kemudian, dengan menggunakan ilmu 'Sihir 

Penghidup Benda Mati', Ksatria Topeng Putih menipu 

pandangan Setan Selaksa Wajah dan Adiguna. Mereka 

melihat sosok Ksatria Topeng Putih yang telah terluka 

dalam tengah berdiri terhuyung-huyung. Padahal, so-

sok yang mereka lihat itu sebenarnya hanyalah seba-

tang ranting pohon jati yang digerakkan oleh Ksatria 

Topeng Putih dengan tenaga dalam yang bersifat men-

dorong dan menarik.

Berkat kekuatan tenaga dalam itu, Ksatria To-

peng Putih berhasil memasukkan ranting pohon jati 

yang telah disihirnya ke dalam perut Adiguna. Dan, Se-

tan Selaksa Wajah pun benar-benar tertipu. Dia me-

nyangka bila benda yang masuk ke perut Adiguna ada-

lah tubuh Ksatria Topeng Putih.

Karena takut terjadi apa-apa, Setan Selaksa 

Wajah lalu memerintahkan Adiguna untuk mengerah-

kan tenaga 'Mengolah Api Guncangkan Bumi'. Tentu 

saja ranting pohon jati terbakar hangus oleh gumpalan 

api yang tersimpan di dalam perut Adiguna. Dan, Se-

tan Selaksa Wajah pun menyangka Ksatria Topeng Pu-

tih benar-benar telah dijemput ajal. Murid murtad De-

wa Dungu itu tidak tahu bila Ksatria Topeng Putih ten-

gah bersembunyi di balik bongkahan batu besar dan 

sedang menunggu kesempatan untuk dapat melaksa-

nakan rencana yang telah disusunnya.


***

"Melihat sikap durjana laknat itu, agaknya dia 

sedang menanti kehadiran seseorang yang amat dis-

eganinya," kata hati Ksatria Topeng Putih, terus mem-

perhatikan Setan Selaksa Wajah yang masih duduk di 

leher sang katak raksasa Adiguna.

Sementara itu, Setan Selaksa Wajah tengah di-

geluti perasaan tegang. Berkali-kali dia mendesah pan-

jang seraya meraba-raba Kodok Wasiat Dewa yang ter-

simpan di balik bajunya.

Pandangan kakek berwajah pemuda itu terus 

tertuju ke satu arah. Sementara, jauh di depan sana, 

yang tampak hanyalah butir-butiran pasir yang diter-

bangkan angin. Sapuan angin di Padang Angin Malai-

kat memang senantiasa menerbangkan butiran pasir 

yang bisa membuat orang tersesat karena pandangan-

nya terhalang. Padang Angin Malaikat amat jarang di-

jamah manusia. Angin yang tertiup di tanah tandus 

berpasir itu seringkali berubah menjadi angin puting 

beliung yang mempunyai kekuatan luar biasa untuk 

menelan kemudian melontarkan tubuh manusia sam-

pai ratusan tombak jauhnya. Seorang tokoh silat ting-

kat atas pun akan mati dengan tubuh hancur tercerai-

berai apabila dilontarkan angin puting beliung yang 

muncul di Padang Angin Malaikat. Oleh karena itulah, 

Setan Selaksa Wajah tak berani memerintahkan Adi-

guna untuk memasuki Padang Angin Malaikat lebih 

jauh.

"Agaknya, durjana laknat itu tak membawa Pu-

saka Pedang Naga...," kata hati Ksatria Topeng Putih 

yang masih mengintai dari balik bongkahan batu be-

sar. "Namun, itu pun tak jadi apa. Yang paling penting, 

aku harus bisa merampas Kodok Wasiat Dewa. Kalau


durjana itu menelannya, rimba persilatan benar-benar 

akan menjadi ajang pertumpahan darah. Aku khawa-

tir, durjana itu akan terus mengumbar keangkaramur-

kaannya.... "

Tubuh Ksatria Topeng Putih bergetar saat meli-

hat butiran pasir yang beterbangan semakin tebal. 

Sementara kemudian, tiupan angin berubah arah, lalu 

berputar-putar amat cepat. Butiran pasir menyembur 

ke satu titik di angkasa, kemudian jatuh menebar ke 

berbagai penjuru.

"Angin puting beliung...," desis Setan Selaksa 

Wajah, menatap nanar putaran angin yang semakin 

lama semakin cepat.

Sebenarnya, angin puting beliung yang muncul 

itu berjarak sekitar seratus tombak dari hadapan Se-

tan Selaksa Wajah. Namun, Setan Selaksa Wajah da-

pat merasakan kekuatan angin yang punya daya hisap 

dahsyat itu. Maka, tanpa pikir panjang lagi Setan Se-

laksa Wajah menepuk bahu Adiguna dengan telapak 

kakinya. Dia memberi isyarat agar Adiguna memper-

kuat cengkeraman kakinya di tanah. Sementara dia 

sendiri berpegangan pada gerigi kuat leher katak rak-

sasa itu.

Ksatria Topeng Putih, yang berada sekitar tiga 

puluh tombak di sebelah kanan Adiguna tampak pula 

berpegangan erat pada bongkahan batu yang dijadi-

kannya sebagai tempat berlindung. Karena daya isap 

angin puting beliung semakin kuat, Ksatria Topeng Pu-

tih melindungi dirinya dengan ilmu memperberat tu-

buh.

Glarrr...!

Wusss,..!

Mendadak dari pusat putaran angin putih be-

liung terdengar ledakan keras yang disusul dengan


melesatnya segumpal cahaya kuning menuju ke hada-

pan Adiguna. Begitu menyentuh ke permukaan tanah 

berpasir, gumpalan cahaya itu berubah menjadi sosok 

manusia!

Sosok manusia yang muncul dari pusat puta-

ran angin puting beliung itu seorang kakek berpakaian 

serba kuning. Bahkan, kulit dan rambutnya pun ber-

warna kuning seperti dilumuri air perasan kunyit! 

Anehnya, si kakek duduk di atas batu persegi pipih 

yang terus melayang di udara!

"Raja Penyasar Sukma...," desis Setan Selaksa 

Wajah, menyebut julukan si kakek yang duduk di atas 

batu terbang.

Sementara, Ksatria Topeng Putih tampak mem-

belalakkan mata melihat kemunculan Raja Penyasar 

Sukma. Di balik topeng baja putihnya, wajah lelaki 

berpakaian putih-putih itu langsung menegang kaku.

"Tak kusangka! Benar-benar tak kusangka bila 

orang bernama Banyak Langkir itu memiliki ilmu ke-

saktian yang sedemikian hebat. Kukira, semua itu ber-

kat Kitab Tiga Dewa yang dicurinya dari Istana Mahes-

pati lima tahun yang lalu...," pikir Ksatria Topeng Pu-

tih. Banyak Langkir adalah nama kecil Raja Penyasar 

Sukma.

Sementara Ksatria Topeng Putih terbawa pera-

saan tegang yang membuat hatinya berdebar-debar, 

Raja Penyasar Sukma tertawa bergelak panjang sekali.

"Ha ha ha...! Aku tahu kedatanganmu ini mem-

buahkan hasil seperti yang kuinginkan, Mahisa Lodra! 

Ha ha ha...! Aku tahu kau membawa Kodok Wasiat 

Dewa. Cepat serahkan benda itu!"

Mendengar perintah Raja Penyasar Sukma, bola 

mata Setan Selaksa Wajah langsung berkilat tajam. 

Namun, cepat meredup lagi manakala Raja Penyasar


Sukma menggerendeng marah.

"Apa lagi yang kau pikirkan, Mahisa Lodra?!" 

bentak Raja Penyasar Sukma, keras menggelegar. "Bila 

kau sengaja mengundang hawa amarahku, apa kau 

pikir kau punya nyawa rangkap, heh?!"

"Bukan! Bukan begitu!" sahut Setan Selaksa 

Wajah. "Mana aku berani melawanmu, Raja Penyasar 

Sukma. Aku tadi hanya terkejut melihat kedatangan-

mu yang sangat berlainan dari biasanya...."

Raja Penyasar Sukma tertawa bergelak lagi. Ba-

tu persegi yang didudukinya meluncur turun hingga 

menyentuh permukaan tanah berpasir, lalu melesat 

naik lagi.

"Tidak percuma aku mempelajari Kitab Tiga 

Dewa selama lima tahun...," ujar Raja Penyasar Suk-

ma, bangga. "Kini, aku telah menguasai seluruh bagian 

kitab itu. Setahun yang lalu, kau tentu sudah menyak-

sikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana aku te-

lah menguasai ilmu 'Dewa Penghancur' dan 'Dewa Pe-

langlang Jagat'. Bagian lain yang telah ku kuasai dari 

Kitab Tiga Dewa adalah apa yang sedang kau saksikan 

ini. Aku telah menguasai ilmu 'Dewa Angkasa'. Ha ha 

ha...! Cepatlah! Cepat kau serahkan Kodok Wasiat De-

wa agar aku dapat pula menyempurnakan ilmu wari-

san leluhur ku yang bernama 'Raja Tiwikrama'!"

Mendengar Raja Penyasar Sukma menyebut Il-

mu 'Raja Tiwikrama', Ksatria Topeng Putih terhantam 

keterkejutan. Jantung lelaki bertopeng itu langsung 

berdegup lebih kencang. Sepanjang pengetahuannya, 

ilmu 'Raja Tiwikrama' hanya ada pada masa dua ratus 

tahun silam. Orang yang dapat menguasai ilmu itu se-

cara sempurna, mampu memperbesar tubuhnya hing-

ga puluhan kali lipat. Dengan kata lain, ilmu 'Raja Ti-

wikrama' adalah ilmu merubah tubuh menjadi raksa

sa.

"Aku tahu Banyak Langkir adalah seorang to-

koh yang amat licik dan kejam. Amat berbahaya apabi-

la dia menguasai ilmu 'Raja Tiwikrama' dengan sem-

purna...," gumam Ksatria Topeng Putih. "Aku harus 

mencegahnya! Aku harus dapat merampas Kodok Wa-

siat Dewa! Soal Pusaka Pedang Naga biarlah nanti 

kuurus di lain waktu. Tentang cermin 'Terawang Tem-

pat Lewati Masa' biar Ratu Perut Bumi sendiri yang 

mengurusnya...."

"Ayo, tunggu apa lagi?!" seru Raja Penyasar 

Sukma, semakin tak sabaran.

"Hmmm.... Soal menyerahkan Kodok Wasiat 

Dewa adalah suatu hal yang amat mudah...," sahut Se-

tan Selaksa Wajah. "Tapi, dapatkah kau memegang ka-

ta-kata yang kau ucapkan dulu, Ba... eh, Raja Penya-

sar Sukma?"

"Kata-kataku yang mana, heh?!" bentak Raja 

Penyasar Sukma. "Apa kau lupa bila Adiguna yang kau 

tunggangi itu adalah milikku yang kini telah kuserah-

kan dan ku jinakkan untukmu?"

"Ya! Ya, aku tetap ingat bila katak raksasa yang 

maha hebat ini adalah pemberianmu. Aku hanya ingin 

mengingatkan bahwa sebelum kau memerintahkan 

aku mencari Kodok Wasiat Dewa, kau berjanji akan 

memberikan pula Kitab Tiga Dewa kepadaku...."

"Ya! Aku ingat! Cepat kau serahkan Kodok Wa-

siat Dewa yang tersimpan di balik bajumu itu!"

"Tapi, aku ingin melihat Kitab Tiga Dewa du-

lu...."

"Jahanam! Apa kau tak percaya kepadaku, 

heh?!"

"Bukan aku tak percaya, tapi...."

Kalimat Setan Selaksa Wajah terpotong oleh geram kemarahan Raja Penyasar Sukma. Dan, Setan Se-

laksa Wajah pun melonjak kaget ketika Raja Penyasar 

Sukma bersuit nyaring.

Bergegas Setan Selaksa Wajah meloncat turun 

dari leher Adiguna. Karena, tiba-tiba katak raksasa itu 

mengangkat kedua tangannya seperti hendak menang-

kap dan meremas tubuh Setan Selaksa Wajah.

Namun, begitu kaki Setan Selaksa Wajah men-

ginjak tanah berpasir, dia langsung menjerit parau. 

Dari lubang hidung dan sudut bibirnya meleleh darah 

segar!

"Sadarkah kau, Mahisa Lodra, dengan Ilmu pu-

kulan 'Dewa Penghancur' tingkat kesepuluh, aku bisa 

membunuhmu hanya melalui pandangan mata? Dan 

kini, kau pun telah merasakannya, bukan?" cibir Raja 

Penyasar Sukma.

Setan Selaksa Wajah menyeka cairan darah 

yang mengotori mukanya. Dia tak menyangka sama 

sekali bila akan diserang oleh pukulan kasat mata Raja 

Penyasar Sukma. Saat menarik napas panjang, tahu-

lah Setan Selaksa Wajah bila dirinya telah menderita 

luka dalam.

"Keparat kau, Banyak Langkir!" umpat Setan 

Selaksa Wajah dalam hati. "Dulu, kau dan aku adalah 

sahabat baik. Tapi, kenapa sekarang kau menjadikan 

aku sebagai budak? Huh! Kau benar-benar manusia 

laknat, Banyak Langkir! Tunggu saja nanti! Kau akan 

merasakan pembalasanku! Telah lama aku menyusun 

siasat untuk menggulingkan kekuasaanmu!"

"Hei! Kenapa kau diam saja, Mahisa Lodra?!" 

sentak Raja Penyasar Sukma. Batu persegi yang didu-

dukinya melayang mendekati Setan Selaksa Wajah 

yang tampak memegangi dada.

Walau Raja Penyasar Sukma berada di ketinggian karena duduk di lempengan batu yang melayang, 

tapi dia tak melihat sosok Ksatria Topeng Putih yang 

tengah berlindung di balik bongkahan batu besar. Ksa-

tria Topeng Putih memang menyamarkan sosok tu-

buhnya dengan ilmu 'Sihir Penutup Raga'. Ilmu 'Sihir 

Penutup Raga' selain bisa menyamarkan wujud badan 

kasar manusia, juga mampu menghilangkan suara de-

sah napas, detak jantung, dan semua tanda kehidupan 

lainnya.

"Baik! Baiklah, akan kuserahkan Kodok Wasiat 

Dewa kepadamu. Tapi, kuharap kau tidak lupa akan 

janjimu...," ujar Setan Selaksa Wajah kemudian.

Raja Penyasar Sukma langsung tertawa pan-

jang bergelak melihat Setan Selaksa Wajah mengelua-

rkan sebuah kantong kain putih dari balik bajunya.

"Kantong ini berisi Kodok Wasiat Dewa yang 

kau inginkan," ucap Setan Selaksa Wajah. "Setelah 

kau terima nanti, kau harus segera menyerahkan Ki-

tab Tiga Dewa kepadaku...."

Mendengar ucapan kakek berwajah pemuda 

dua puluh lima tahunan itu. Raja Penyasar Sukma ter-

tawa bergelak lagi. Tapi, dalam hati dia berkata, "Enak 

betul! Kalau Kodok Wasiat Dewa telah berada di tan-

ganku, tak bakalan aku menyerahkan Kitab Tiga De-

wa! Kalau orang tua bodoh itu nekat meminta, dia 

akan kubunuh!"

Dari jarak lima tombak, Setan Selaksa Wajah 

menatap lekat sosok Raja Penyasar Sukma yang masih 

duduk di batu terbang. Keadaan memang tidak men-

guntungkan bagi Setan Selaksa Wajah. Maka, untuk 

sementara waktu dia masih mau mengalah lagi kepada 

Raja Penyasar Sukma.

"Terimalah...!" seru Setan Selaksa Wajah seraya 

melemparkan kantong putih berisi Kodok Wasiat Dewa.

Namun, ketika benda ajaib yang semula ter-

simpan di perut Ikan Mas Dewa itu melayang di udara, 

Ksatria Topeng Putih meluruskan telapak tangan ka-

nannya ke depan. Dengan ilmu 'Sihir Penghisap Bulan' 

dia menyedot Kodok Wasiat Dewa, hingga menempel di 

telapak tangannya! 

Raja Penyasar Sukma yang sudah sangat gem-

bira karena merasa akan mendapatkan Kodok Wasiat 

Dewa tampak membelalakkan mata karena kaget. De-

mikian pula dengan Setan Selaksa Wajah. Mereka ber-

dua melihat kantong putih berisi Kodok Wasiat Dewa 

tiba-tiba lenyap begitu saja.

"Jahanam! Siapa yang berani main-main di ha-

dapan Raja Penyasar Sukma?!" geram Raja Penyasar 

Sukma.

Kakek yang rambut dan kulit tubuhnya ber-

warna kuning seperti dilumuri air perasan kunyit itu 

menempelkan kedua telapak tangannya di permukaan 

batu persegi yang didudukinya. Dengan kekuatan te-

naga dalamnya yang sudah sangat sulit diukur, dia 

mengeluarkan ilmu 'Dewa Angkasa' pada tingkatan ter-

tinggi. Di lain kejap, tubuh Raja Penyasar Sukma dan 

batu persegi yang didudukinya berubah menjadi se-

gumpal cahaya berwarna kuning yang berputar-putar 

di angkasa. Raja Penyasar Sukma bermaksud mencari 

orang yang telah merampas Kodok Wasiat Dewa.

Setan Selaksa Wajah pun tak mau tinggal diam. 

Dia langsung meloncat naik ke leher Adiguna yang su-

dah menjadi jinak lagi. Kakek berpakaian serba merah 

itu turut mengedarkan pandangan ke segala penjuru. 

Tapi, orang yang telah merampas Kodok Wasiat Dewa 

tetap tak terlihat!

"Haram jadah! Mencari gara-gara dengan Raja

Penyasar Sukma, berarti mencari mati!"

Terdengar suara keras Raja Penyasar Sukma

yang tergeluti hawa amarah. Gumpalan cahaya kuning

terus melayang berputar-putar di angkasa.

Setan Selaksa Wajah pun terus mengedarkan 

pandangan. Namun..., mereka berdua hanya menda-

patkan rasa kecewa dan penasaran yang tak kunjung 

habis....

***

"Ya, Tuhan...," Pendekar Bodoh menyebut nama 

Sang Penguasa Tunggal sekali lagi. Tubuhnya gemeta-

ran dengan jantung berdegup kencang. Tanpa terasa, 

keringat dingin bercucuran. Kain bajunya segera me-

nebarkan aroma harum kayu cendana.

Di hadapan pemuda remaja berwajah lugu itu, 

nampak sesosok tubuh manusia yang sungguh-

sungguh bisa membuat siapa saja yang melihatnya 

menjadi bergidik ngeri. Wujud manusia yang baru 

muncul dari dalam tanah itu merupakan perpaduan 

antara manusia dengan ular!

Dari pinggang ke atas, sosok tubuh itu berupa 

seorang wanita berwajah cantik mengenakan baju me-

rah gemerlap seperti layaknya seorang ratu. Di kepa-

lanya bertengger sebuah mahkota emas bertahtakan

intan berlian. Sementara, dari pinggang ke bawah, so-

sok tubuh itu berbentuk ekor ular yang panjang me-

lingkar dan berwarna hijau berkilat!

"Jangan takut!" seru sosok tubuh itu. "Aku ada-

lah Ratu Perut Bumi. Aku bukan makhluk jahat! Keda-

tanganku justru untuk menolongmu."

"Ratu... Ratu Perut Bumi...," desis Pendekar 

Bodoh, tergagap. Karena keringat dingin semakin ba

nyak bercucuran, baju pemuda ini semakin menebar-

kan aroma wangi kayu cendana.

"Hmm... Baju pemuda itu menebarkan aroma 

aneh yang membuat gairahku bangkit...," kata hati so-

sok tubuh yang mengenalkan diri sebagai Ratu Perut 

Bumi. "Aku tidak boleh terlena. Aku harus melindungi 

diriku dengan ilmu 'Melebur Nafsu Membersihkan Ji-

wa'...."

Sesaat, Ratu Perut Bumi memejamkan kelopak 

matanya. Ketika terbuka kembali, aroma harum yang 

membangkitkan gairahnya tak mampu mempengaru-

hinya lagi.

"Hai, kau Pendekar Bodoh, dari dalam tanah 

aku dapat mendengar apa yang baru terjadi di tempat 

ini," ujar Ratu Perut Bumi kemudian. "Aku dapat me-

nolongmu untuk mendapatkan batu mustika 

'Menembus Langit Bernapas Dalam Air'...."

"Apa? Benarkah itu?" kesiap Pendekar Bodoh, 

lalu nyengir kuda hingga wajahnya tampak seperti 

orang berotak sangat bebal.

"Orang yang membawa batu mustika itu adalah 

orang yang telah mencuri cermin 'Terawang Tempat 

Lewati Masa' milikku,..," lanjut Ratu Perut Bumi. "Dia 

Setan Selaksa Wajah! Sebenarnya, aku tadi bisa saja 

langsung merampas kembali cermin sakti milikku, tapi 

ada orang lain yang turut mengintai semua gerak-gerik

Setan Selaksa Wajah. Aku tak mengenal pengintai itu 

karena dia mengenakan topeng, hingga aku tak berani 

bertindak gegabah."

"Mungkin orang yang kau maksud adalah Ksa-

tria Topeng Putih, Ratu...," ujar Pendekar Bodoh. Pe-

muda lugu ini masih belum menyadari bila kain ba-

junya menebarkan aroma harum kayu cendana yang 

dapat membangkitkan gairah orang lain.


"Ksatria Topeng Putih...?" desis Ratu Perut Bu-

mi seraya berpikir-pikir. Namun tak lama kemudian, 

sosok manusia setengah ular ini berkata, "Naiklah ke 

punggungku. Kita akan menemui Setan Selaksa Wa-

jah...."

Aneh! Seperti kerbau dicocok hidungnya, tiba-

tiba Pendekar Bodoh berjalan mendekati seraya melon-

cat naik ke punggung Ratu Perut Bumi! Lalu....

Werrr...!

Blussss...!

Tubuh Ratu Perut Bumi melenting, kemudian 

berputar cepat laksana gangsing! Di lain kejap, tubuh 

manusia setengah ular itu amblas ke dalam tanah 

dengan membawa Pendekar Bodoh!


                         SELESAI


Ikuti kisah selanjutnya:


RATU PERUT BUMI

 

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive