SATU
PUCUK-PUCUK cemara melambai dalam se-
nyuman, menyambut siraman sinar mentari sore hari.
Aneka warna burung parkit berkicau riang bersama
elusan sang bayu. Di antara jajaran manusia yang
berdiri di tepi Telaga Dewa, dua sosok bayangan berke-
lebat meninggalkan perahu yang mereka tumpangi.
Kedua bayangan itu berkelebat cepat sekali dan
menimbulkan tiupan angin kencang bergemuruh.
Daun cemara berguguran, jatuh ke tanah bagai ribuan
jarum yang ditebarkan dari angkasa. Ketika melewati
sebuah aliran sungai yang berada di utara Kota Gam-
biran, sosok bayangan yang ada di belakang berteriak
keras,
"Berhentilah, Sahabat! Kita salah langkah!"
Mendengar teriakan yang dialiri tenaga dalam itu, so-
sok bayangan yang ada di depan langsung menghenti-
kan kelebatan tubuhnya. Ternyata, dia seorang kakek
berkepala gundul licin. Tubuhnya yang tinggi besar
terbungkus jubah kuning dan selempang kain merah
bercorak kotak-kotak. Wajahnya yang halus menyi-
ratkan sifat welas asih. Seuntai tasbih melingkar di
leher kakek yang tampaknya amat pendiam itu.
"Salah langkah bagaimana, Sahabatku Sastra-
wan Berbudi?" tanya kakek berjubah kuning yang tak
lain dari Pendeta Tasbih Terbang.
Yang ditanya adalah seorang kakek berwajah
halus, berkumis, dan berjenggot tipis. Tubuhnya kurus
tinggi, mengenakan pakaian serba hijau. Rambutnya
yang telah memutih dibiarkan tergerai bebas. Dia ada-
lah Bagus Tembihi yang lebih dikenal dengan sebutan
Sastrawan Berbudi.
"Kau berteriak menghentikan langkahku. Kau
katakan bahwa kita telah salah langkah. Aku tak tahu
apa maksudmu, Sahabat...," ujar Pendeta Tasbih Ter-
bang melihat Sastrawan Berbudi tak segera menjawab
pertanyaannya.
"Jangan-jangan pemuda itu mengecoh kita...,"
sahut Sastrawan Berbudi, tidak seyakin teriakannya
tadi.
"Mengecoh bagaimana, Sahabat?" Pendeta Tas-
bih Terbang bertanya lagi dengan kening berkerut ra-
pat.
"Kita tidak tahu siapa dia. Kita tidak tahu pula
apa maksudnya meninggalkan Telaga Dewa. Kenapa
dia meninggalkan Ikan Mas Dewa yang telah dilu-
kainya? Apakah dia tidak menginginkan Kodok Wasiat
Dewa?"
Mendengar ucapan Sastrawan Berbudi yang
cukup panjang Itu, kerut di kening Pendeta Tasbih
Terbang itu semakin merapat. Setelah berpikir dan
menimbang, si kakek gundul berkata, "Kita memang
tak tahu siapa dia, Sahabat. Tapi, bukankah kita ber-
dua telah mendengar bila Pendekar Bodoh menyebut
pemuda itu sebagai Mahisa Lodra? Mahisa Lodra ada-
lah Setan Selaksa Wajah! Dia telah melakukan serang-
kaian tindakan kejam. Pusaka Pedang Naga yang di-
bawanya tentu hasil rampasan atau curian. Bukankah
pedang pusaka itu milik Ksatria Seribu Syair?"
"Benar apa yang kau katakan, Sahabatku Tas-
bih Terbang," sambut Sastrawan Berbudi. "Pusaka Pe-
dang Naga memang milik Ksatria Seribu Syair. Semula,
pedang itu adalah salah satu benda pusaka Istana
Mahespati semasa Prabu Darma Sagotra masih meme-
rintah...."
"Ya. Ya, aku tahu riwayat pedang itu, termasuk
riwayat Ksatria Seribu Syair yang sebenarnya adalah
putra Prabu Darma Sagotra," sergap Pendeta Tasbih
Terbang.
"Tapi kita tak perlu mengusik-usik riwayat be-
kas putra mahkota itu walau dia juga sahabat baik ki-
ta. Hanya, aku masih merasa heran atas sikapmu yang
meminta ku berhenti mengejar Mahisa Lodra, Saha-
bat...."
"Ya. Aku bisa membaca jalan pikiranmu, Saha-
batku Pendeta Tasbih Terbang," tukas Sastrawan Ber-
budi. "Kau tentu ingin segera menghukum mati Mahisa
Lodra dan merampas kembali Pusaka Pedang Naga mi-
lik Ksatria Seribu Syair sahabat kita itu. Namun... ti-
dakkah kau melihat satu keanehan pada sikap Mahisa
Lodra ini?"
Pendeta Tasbih Terbang terdiam. Jalan piki-
rannya diputar-putar, tapi apa yang dimaksud oleh
Sastrawan Berbudi tetap tak tertemukan juga. Pendeta
Tasbih Terbang cuma dapat mengerutkan kening, me-
natap wajah Sastrawan Berbudi dengan segudang tan-
da tanya.
"Cobalah kau pikir, Sahabat. Mahisa Lodra te-
lah berhasil melukai Ikan Mas Dewa, tapi kenapa dia
malah berlari meninggalkan ikan raksasa itu?" lanjut
Sastrawan Berbudi.
"Dia bukan meninggalkannya, Sahabat," tukas
Pendeta Tasbih Terbang. "Kita tahu dengan mata kepa-
la sendiri, Mahisa Lodra mengejar Ikan Mas Dewa yang
meluncur ke arah timur. Kita juga melihat dengan ma-
ta kepala sendiri, Ikan Mas Dewa menyelam dan tak
muncul-muncul lagi. Mungkin karena itulah Mahisa
Lodra berlari meninggalkan Telaga Dewa."
"Hmmm.... Jalan pikiranmu terlalu sederhana,
Sahabat," sambut Sastrawan Berbudi tanpa bermaksud menyinggung perasaan Pendeta Tasbih Terbang.
"Lalu, menurutmu ada apa di balik perbuatan
Mahisa Lodra ini?" tanya Pendeta Tasbih Terbang, be-
nar-benar tak tahu apa yang terkandung di dalam pi-
kiran Sastrawan Berbudi.
"Mahisa Lodra sengaja meninggalkan Ikan Mas
Dewa yang telah dilukainya. Dia bermaksud menunggu
sampai muncul seseorang yang dapat mengambil Ko-
dok Wasiat Dewa dari dalam perut Ikan raksasa itu...."
"Ya..., ya! Aku tahu sekarang," sergap Pendeta
Tasbih terbang. "Mahisa Lodra hanya mau membuka
Jalan. Setelah jalan yang dibukanya itu membuahkan
hasil, dia akan muncul lagi untuk merampas benda
yang dia inginkan."
"Kita memang telah terkecoh!" tegas Sastrawan
Berbudi. "Susan payah kita berlari mencari Mahisa Lo-
dra, sementara orang yang kita cari masih berada di
sekitar Telaga Dewa tanpa sepengetahuan kita."
"Ya! Kalau begitu, kita kembali," cetus Pendeta
Tasbih Terbang tanpa ragu-ragu lagi. "Sungguh aku
merasa ngeri bila harus melihat Telaga Dewa jadi ajang
pertumpahan darah!"
Sastrawan Berbudi mengangguk. Sekali menje-
jak tanah, tubuh kakek berpakaian serba hijau ini me-
layang belasan tombak jauhnya. Bergegas Pendeta
Tasbih Terbang mengikuti. (Agar lebih jelas dalam
mengikuti jalan cerita ini, silakan baca serial Pendekar
Bodoh episode: "Kemelut Di Telaga Dewa").
Namun, belum genap dua ratus tombak jarak
yang ditempuh, mendadak Sastrawan Berbudi meng-
hentikan kelebatan tubuhnya. Diapit dua batang po-
hon cemara tinggi menjulang, empat orang kakek ber-
kepala gundul tampak berdiri tegak menghadang. Me-
reka sama-sama berwajah garang, mengenakan rompi
kuning dan celana merah.
"Empat Setan Gundul...," desis Sastrawan Ber-
budi seraya menghentikan kelebatan tubuhnya.
Pendeta Tasbih Terbang turut terhantam keter-
kejutan. Serta-merta dia pun menghentikan kelebatan
tubuhnya.
Ditatapnya sosok Empat Setan Gundul dengan
kening berkerut rapat.
"Aku tahu kalian sengaja menghadang. Apakah
peristiwa di Telaga Dewa membuat kalian penasaran?"
tebak Sastrawan Berbudi.
Empat Setan Gundul yang sama-sama meme-
gang golok terhunus tampak maju selangkah bersa-
maan. Secara bersamaan pula, mereka mengacungkan
golok ke depan. Sikap mereka begitu kasar dan menyi-
ratkan nafsu membunuh.
Golok yang dibawa Empat Setan Gundul adalah
hasil rampasan. Golok mereka sendiri yang lebih bagus
dan terbuat dari logam pilihan telah tenggelam di da-
sar Telaga Dewa saat bertempur dengan Seno Prasetyo
atau Pendekar Bodoh yang dibantu Sastrawan Berbudi
dan Pendeta Tasbih Terbang.
"Jahanam kau, Sastrawan Jelek! Sudah tahu
kenapa bertanya lagi?!" sentak salah satu dari Empat
Setan Gundul yang mengenakan kalung perak. Na-
manya Surogentini.
Sambil berkata, Surogentini menggerak-
gerakkan goloknya seakan sedang mencacah wajah
Sastrawan Berbudi. Sementara, ketiga teman Surogen-
tini yang bernama Surogati, Waraksuro, dan Banyak-
suro langsung memasang kuda-kuda.
Namun, Sastrawan Berbudi malah tersenyum.
Ditatapnya wajah Empat Setan Gundul bergantian.
"Kupikir, aneh juga tindakan kalian ini," ujarnya.
"Jauh-jauh kalian datang dari Pesisir Laut Selatan ten-
tu terkandung satu tujuan untuk mendapatkan Kodok
Wasiat Dewa. Tapi, kenapa kalian malah hendak me-
nantang perkara denganku, padahal aku tidak mem-
bawa benda yang kalian inginkan itu?"
"Jangan banyak mulut kau, Sastrawan Kudi-
san!" sergap Waraksuro. "Kau dan temanmu, pendeta
gendeng itu, telah mempermalukan kami di hadapan
sekian banyak orang! Untuk mendapatkan Kodok Wa-
siat Dewa, kami pikir masih banyak waktu. Yang ter-
penting dan yang harus segera kami lakukan adalah
mengembalikan nama besar Empat Setan Gundul. Dan
ketahuilah kau, Sastrawan Kudisan, hanya ada satu
cara untuk mengembalikan nama besar Empat Setan
Gundul, yaitu mencincang tubuhmu beserta pendeta
gendeng itu!"
"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-
bih Terbang, menghela napas panjang. "Apa yang kami
lakukan sebenarnya hanyalah untuk mencegah terja-
dinya pertumpahan darah. Sungguh aku dan saha-
batku, Sastrawan Berbudi, tidak bermaksud menja-
tuhkan nama besar kalian, apalagi...."
"Cukup!" potong Banyaksuro.
"Tak perlu bersilat lidah!" timpal Surogati. "Se-
gera kau keluarkan senjatamu, Pendeta Gendeng!
Hiaattt...!"
Bergegas Pendeta Tasbih Terbang membuang
tubuh ke kiri. Golok di tangan Surogati berkelebat
memburu kematian. Sementara, Banyaksuro pun
langsung meloncat untuk membantu serangan Suroga-
ti.
Menghadapi serangan-serangan yang cukup
berbahaya itu, mau tak mau Pendeta Tasbih Terbang
mesti melepas seutas tasbih yang melingkar di leher
nya. Tasbih yang terbuat dari jalinan butir-butir kain
yang amat keras itu berputaran di angkasa, menim-
bulkan suara gemuruh yang memekakkan gendang te-
linga.
Melihat dua orang temannya telah terlibat da-
lam pertarungan sengit, Surogentini dan Waraksuro
tak mau tinggal diam. Kedua kakek yang sama-sama
bertubuh kekar itu langsung menerjang Sastrawan
Berbudi.
Sampai tiga jurus, Sastrawan Berbudi masih
dapat bertahan dan membalas serangan tanpa menge-
luarkan senjatanya. Namun setelah Surogentini dan
Waraksuro memainkan jurus-jurus gabungan dan
memperlihatkan serangan yang susul-menyusul, Sa-
strawan Berbudi terdesak. Terpaksa dia mengeluarkan
senjata alat tulisnya dari balik pakaian.
Senjata Sastrawan Berbudi berupa sebatang
bambu sepanjang tiga jengkal. Di salah satu ujungnya
terdapat bulu-bulu halus yang terbuat dari bulu be-
ruang. Namun, di balik kesederhanaan senjata Sastra-
wan Berbudi itu tersimpan kekuatan luar biasa. Alat
tulis itu telah direndam dalam cairan pengawet selama
dua tahun dan dikeringkan dengan kekuatan panas
bumi selama berbulan-bulan. Sehingga, senjata Sa-
strawan Berbudi memiliki kekuatan yang tak kalah ji-
ka dibanding dengan sebatang pedang.
Lebih hebat lagi, bila senjata Sastrawan Berbu-
di dialiri tenaga dalam, maka bulu-bulu halus di ujung
alat tulis itu dapat mengejang kaku dan menjadi runc-
ing menyerupai alat tusuk yang cukup mampu untuk
melubangi sebongkah batu kali.
Oleh karena itulah, Sastrawan Berbudi berani
menggunakan alat tulisnya untuk menangkis ketaja-
man golok Surogentini dan Waraksuro. Bahkan, mampu membuat kedua kakek berwajah garang itu terpe-
rangah. Golok di tangan mereka mulai rompal di bebe-
rapa tempat karena berbenturan dengan alat tulis Sa-
strawan Berbudi.
Sementara, senjata Pendeta Tasbih Terbang
pun tak kalah hebat. Tasbih kakek berjubah kuning
itu tampak melayang-layang di udara, berusaha meng-
gempur pertahanan Surogati dan Banyaksuro.
Setiap berbenturan dengan batang golok, tasbih
itu akan melenting dan melesat lebih cepat mengincar
bagian-bagian tubuh terpenting lawan. Untaian tasbih
benar-benar dapat terbang ke sana-sini karena Pende-
ta Tasbih Terbang mengendalikannya dengan menggu-
nakan kekuatan tenaga dalam yang bersifat mendo-
rong dan mengisap.
Maka, pertempuran di sela-sela jajaran pohon
cemara itu semakin lama semakin seru. Batang-batang
cemara pecah dan sebagian malah tumbang akibat te-
basan ataupun hantaman senjata yang nyasar. Aneka
warna burung parkit yang biasa bertengger di pucuk-
pucuk cemara tampak terbang menjauh, tak tahan
melihat sifat keras manusia... yang haus darah!
***
"Ke mana mereka?" tanya seorang kakek kurus
berpakaian kuning-hitam. Berkali-kali kakek ini me-
mutar tubuh karena sedang mengedarkan pandangan.
Melihat wajahnya yang menyiratkan kekejaman
itu, siapa lagi dia kalau bukan Iblis Perenggut Roh!
Sementara, kakak seperguruan Iblis Perenggut
Roh, yaitu Iblis Pencabut Jiwa tampak mengedarkan
pandangan pula. Namun, perilaku kakek bertubuh
gemuk bulat itu terkesan lebih tenang dan sangat hati
hati.
"Biarkan saja mereka pergi. Kita cari saja pe-
muda gemblung berjuluk Pendekar Bodoh. Aku benar-
benar telah dibuat penasaran," sahut Iblis Pencabut
Jiwa.
Mendengar ucapan kakak seperguruannya, Ib-
lis Perenggut Roh langsung mengarahkan pandangan
ke Telaga Dewa. Namun, sosok yang dicarinya sudah
tak tampak lagi. Iblis Perenggut Roh lalu menatap wa-
jah Iblis Pencabut Jiwa dengan penuh tanda tanya.
"Dia telah pergi, Goblok!" maki Iblis Pencabut
Jiwa. "Kalau dia masih ada di tempatnya, bagaimana
mungkin aku masih berada di sini?!"
"Ya. Ya! Kita memang harus mencarinya," sam-
but Iblis Perenggut Roh dengan suara bergetar. Kakek
kurus ini memang menyimpan rasa takut terhadap
kakak seperguruannya.
"Kau ikuti aku!" ajak Iblis Pencabut Jiwa seraya
menjejak tanah.
Walau tubuh Iblis Pencabut Jiwa gemuk bulat,
tapi dia mampu berkelebat cepat. Hingga, tubuh kakek
yang rambutnya dikelabang itu seakan berubah men-
jadi bola berwarna kuning-hitam yang terus melenting-
lenting di udara. Sementara, Iblis Perenggut Roh yang
mengikuti juga berkelebat tak kalah cepat.
Setelah mengitari Telaga Dewa, kedua kakek
yang juga terkenal dengan sebutan Dua Iblis dari Gu-
nung Batur itu berkelebat ke utara. Iblis Pencabut Ji-
wa yang berada di depan tampak mengerahkan selu-
ruh kemampuan berlari cepatnya.
"Cepatlah!" seru Iblis Pencabut Jiwa. "Aku
mendengar suara pertempuran. Mungkin dia ada di
sana"
Iblis Perenggut Roh tak menyahuti. Namun,
bergegas dia mengempos tenaga pula. Dia kerahkan
seluruh kemampuan ilmu peringan tubuhnya untuk
dapat mengimbangi kelebatan Iblis Pencabut Jiwa.
Beberapa tarikan napas kemudian, Iblis Penca-
but Jiwa menghentikan kelebatan tubuhnya. Dia ber-
diri tegak menatap empat kakek bersenjata golok yang
tengah bertempur dengan dua orang kakek bersenjata
tasbih dan alat tulis.
"Mereka Empat Setan Gundul, Sastrawan Ber-
budi, dan Pendeta Tasbih Terbang," beri tahu Iblis Pe-
renggut Roh yang juga telah menghentikan kelebatan
tubuhnya.
"Aku sudah tahu!" sentak Iblis Pencabut Jiwa.
Mengelam paras Iblis Perenggut Roh mendengar
ucapan kasar kakak seperguruannya itu. Namun, dia
tak berbuat apa-apa kecuali terus menatap pertempu-
ran yang tengah berlangsung sekitar lima puluh tom-
bak dari hadapannya.
Mendadak, Iblis Perenggut Roh mengepal tinju.
Jajaran giginya saling bertautan, mengeluarkan suara
gemelutuk. Iblis Perenggut Roh teringat pada peristiwa
di Kedai Mawar. Gara-gara bertengkar mulut dengan
Sastrawan Berbudi, dia sempat dipermalukan oleh
Dewi Pedang Halilintar.
"Jahanam kau, Sastrawan Bau!"
Iblis Perenggut Roh memekik nyaring. Dia ber-
kelebat cepat sekali. Sepuluh jari tangannya terkepal
untuk mengirim pukulan 'Merenggut Roh Mencabut
Jiwa'!
Sastrawan Berbudi terkesiap mengetahui kele-
batan tubuh Iblis Perenggut Roh yang tiba-tiba datang
menyerangnya. Tanpa pikir panjang, Sastrawan Ber-
budi menarik dua tusukan alat tulis yang ditujukan
kepada Surogentini dan Waraksuro. Lalu dia melentingkan tubuhnya jauh ke samping kanan untuk
menghindari pukulan Iblis Perenggut Roh yang datang
bertubi-tubi.
Sebenarnya, Sastrawan Berbudi hampir dapat
memukul mundur Surogentini dan Waraksuro. Na-
mun, kedatangan Iblis Perenggut Roh telah membuat
keadaan jadi terbalik. Kelebatan tangan Iblis Perenggut
Roh selalu disertai bau anyir darah yang membuat isi
perut bagai diaduk-aduk. Perhatian Sastrawan Berbudi
jadi terpecah. Hingga sedikit demi sedikit, ganti Sa-
strawan Berbudi yang terdesak.
"Bagus, Sahabat! Kita cincang saja sastrawan
jelek Itu!" seru Surogentini, menyebut Iblis Perenggut
Roh sebagai 'sahabat' walau belum begitu mengenal.
Iblis Pencabut Jiwa masih berdiri terpaku di
tempatnya. Dia perhatikan Surogati dan Banyaksuro
yang tengah bertempur melawan Pendeta Tasbih Ter-
bang. Walau belum pernah berjumpa sebelumnya, Iblis
Pencabut Jiwa banyak mendengar kebesaran nama
Empat Setan Gundul sebagai tokoh-tokoh aliran hitam.
Maka, merasa sebagai tokoh satu aliran, Iblis Pencabut
Jiwa berkelebat menerjang Pendeta Tasbih Terbang.
Lupa sudah Iblis Pencabut Jiwa kepada Pendekar Bo-
doh yang sedang dicarinya. Dia menerjang Pendeta
Tasbih Terbang seperti orang kesetanan. Seluruh ama-
rah dan kekesalannya ditumpahkan kepada kakek ber-
jubah kuning itu.
"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-
bih Terbang sambil menghindari pukulan Iblis Penca-
but Jiwa.
"Sebut terus nama Tuhan-mu agar kau tak me-
nyesal bila nanti kepalamu kupecahkan!" ujar Iblis
Pencabut Jiwa. Kedua tangan dan kaki kakek gemuk
bulat ini mengirim serangan-serangan yang amat berbahaya.
Seperti Iblis Perenggut Roh, kelebatan tangan
Iblis Pencabut Jiwa juga menebarkan bau anyir darah
yang memualkan perut. Agaknya, Iblis Pencabut Jiwa
pun mengeluarkan ilmu pukulan 'Merenggut Roh Men-
cabut Jiwa'!
Melihat ada bantuan datang, Surogati dan Ba-
nyaksuro berseru girang dalam hati. Mereka tadi su-
dah hampir putus asa karena tak dapat mendesak
Pendeta Tasbih Terbang. Bahkan, beberapa anggota
tubuh mereka telah menjadi sasaran tasbih terbang si
pendeta.
Kedatangan Iblis Pencabut Jiwa membuat se-
mangat Surogati dan Banyaksuro menyala lagi. Mereka
bagai mendapat tenaga baru. Hingga, serangan-
serangan mereka terlihat makin gencar.
"Hei! Kita tak ada urusan! Kenapa kau turut
menyerangku?!" seru Pendeta Tasbih Terbang yang
merasa terdesak.
"Kita memang tak ada urusan. Tapi, pendeta
bau macam kau tak patut dibiarkan hidup terlalu la-
ma!" sahut Iblis Pencabut Jiwa.
Pertempuran berlangsung makin seru. Empat
Setan Gundul dan Dua iblis dari Gunung Batur benar-
benar dikuasai nafsu membunuh. Sementara, Sastra-
wan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang mesti me-
loncat ke sana-sini untuk mempertahankan nyawa.
Kedua kakek beraliran putih itu sama-sama terdesak
hebat.
Andai Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih
Terbang tidak mempunyai senjata ampuh, mereka ten-
tu tak akan dapat bertahan lama menghadapi keroyo-
kan Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gunung
Batur. Namun agaknya, malaikat kematian akan segera menjemput nyawa Sastrawan Berbudi dan Pendeta
Tasbih Terbang.
Pada saat Sastrawan Berbudi menangkis sabe-
tan golok Surogentini, mendadak Iblis Perenggut Roh
melentingkan tubuhnya ke atas seraya meluruskan
pergelangan tangannya. Dan, kepalannya yang dilam-
bari ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Jiwa' siap
memecahkan batok kepala Sastrawan Berbudi.
"Eit...!"
Bet...!
Sastrawan Berbudi masih dapat menghindari
pukulan Iblis Perenggut Roh dengan menjatuhkan tu-
buh ke tanah. Tapi..., golok Waraksuro berkelebat ce-
pat sekali. Dan tampaknya, Sastrawan Berbudi pun
tak punya kesempatan lagi untuk menghindari maut!
Pada saat yang sama, Iblis Pencabut Jiwa ber-
hasil merampas senjata Pendeta Tasbih Terbang.
Lalu, senjata berupa seuntai tasbih itu diguna-
kan Iblis Pencabut Jiwa untuk memukul dada sang
empunya sendiri. Selagi Pendeta Tasbih Terbang berge-
rak menghindar, golok Surogati dan Banyaksuro men-
girim tebasan maut. Golok Surogati mengarah leher.
Golok Banyaksuro mengarah pinggang.
Memucat wajah Pendeta Tasbih Terbang seketi-
ka. Dia sadar benar bila dirinya sudah tak punya wak-
tu lagi untuk menghindari serangan yang begitu cepat.
Tubuh Pendeta Tasbih Terbang akan segera terpotong
menjadi tiga bagian!
"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-
bih Terbang, menyadari kematiannya yang sudah di
pelupuk mata.
***
DUA
“BERHENTI!" Tiba-tiba, terdengar sebuah teria-
kan keras menggelegar. Hebat sekali pengaruh teria-
kan itu. Empat Setan Gundul tampak berdiri kaku di
tempatnya. Golok mereka tertahan di udara. Sementa-
ra, Dua Iblis dari Gunung Batur pun mengalami hal
yang sama. Iblis Perenggut Roh dan Iblis Pencabut Ji-
wa tampak berdiri kaku pula. Kepalan tangan mereka
juga tertahan di udara!
Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang
yang sudah pasrah menerima kematian kontan terhan-
tam keterkejutan.
Namun, di balik keterkejutan itu terkandung
rasa senang karena mereka telah selamat. Padahal, go-
lok Empat Setan Gundul dan pukulan Dua Iblis dari
Gunung Batur kurang dari sejengkal untuk segera
mengenal sasaran.
"Segala puji bagi Tuhan...," sebut Pendeta Tas-
bih Terbang seraya menyambar senjata tasbihnya dari
cekalan Iblis Pencabut Jiwa yang masih berdiri kaku.
Lalu secara bersamaan, Pendeta Tasbih Ter-
bang dan Sastrawan Berbudi meloncat dua tombak ke
belakang. Dan pada saat itulah, Empat Setan Gundul
dan Dua Iblis dari Gunung Batur dapat menggerakkan
anggota-anggota tubuh mereka
kembali.
"Jahanam! Siapa yang telah berani pamer ke-
pandaian di hadapanku?!" geram Iblis Pencabut Jiwa
seraya memutar pandangan.
"Kalau memang sengaja ingin unjuk kebolehan
di hadapan Dua Iblis dari Gunung Batur, segera tam-
pakkan batang hidung!" tambah Iblis Perenggut Roh
penuh rasa penasaran.
Empat Setan Gundul tampak mengedarkan
pandangan pula. Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tas-
bih Terbang sudah tak mereka pedulikan lagi. Suro-
gentini yang sebenarnya adalah pemimpin Empat Se-
tan Gundul meneriakkan kata-kata tantangan.
"Haram Jadah! Kalau ingin coba-coba membuat
urusan dengan Empat Setan Gundul, kenapa me-
nyembunyikan diri?!"
Namun, teriakan Surogentini itu hanya disam-
but desau angin. Dua Iblis dari Gunung Batur berte-
riak-teriak lebih keras, tapi suara mereka pun hanya
disambut desau angin. Sunyi menggeluti tempat itu.
Sementara, sang baskara telah jauh condong ke barat.
Sinarnya lemah, mengelus hangat.
Memuncak amarah Empat Setan Gundul dan
Dua Iblis dari Gunung Batur. Mereka menggedruk-
gedruk tanah penuh rasa kesal. Hingga, bumi bergetar
diiringi suara berdebum keras. Debu mengepul menu-
tupi pandangan mata.
Mendadak, di sekitar tempat itu terdengar lan-
tunan syair. Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih
Terbang terkesiap. Demikian pula dengan Empat Setan
Gundul dan Dua Iblis dari Gunung Batur. Kontan
enam tokoh beraliran hitam itu berhenti menggedruk-
gedruk. Mereka memasang telinga lebar-lebar sambil
mengedarkan pandangan.
Bila nafsu jahat telah merasuk dalam jiwa
Butalah mata batin manusia
Takkan dapat orang membedakan
Mana kebajikan dan mana kebatilan
Namun sesungguhnya....
Setiap manusia mesti ingat
Menanam padi akan menuai padi
Padi tak akan berubah jadi rumput
Rumput pun tak akan berubah jadi padi
Yang baik akan menerima pahala atas budi ke-
baikannya
Yang jahat akan memetik buah balasan dari ke-
jahatannya
Kalau tidak di dunia
Pastilah nanti di akhirat
Pengadilan Tuhan....
Selalu mengiringi perbuatan manusia
Bila hukuman telah dijatuhkan
Apalah guna penyesalan?
Siapa yang tak percaya adanya pengadilan Tu-
han
Adalah seburuk-buruknya manusia yang paling
buruk
Oleh karena itu
Tidakkah lebih baik berpikir dulu sebelum ber-
tindak?
Cermin manusia hidup di dunia
Adalah karma dan pengadilan akhirat
Mendengus gusar Empat Setan Gundul dan
Dua Iblis dari Gunung Batur mendengar lantunan
syair yang penuh makna sindiran Itu. Karena hawa
amarah dan rasa penasaran benar-benar telah mengu-
asai jalan pikiran, mereka menggedruk-gedruk tanah
lagi, bahkan lebih keras. Batang-batang pohon cemara
bergoyang. Daunnya berguguran bagai dihempas ti-
upan angin kencang.
Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang
saling tatap. Sama-sama menaikkan alis. Mereka pun
mengedarkan pandangan, namun si pelantun syair tetap tak terlihat.
"Aku bisa menebak. Aku bisa menebak!" ujar
Sastrawan Berbudi lirih, seperti menggumam.
"Menebak apa, Sahabat?" tanya Pendeta Tasbih
Terbang.
"Pelantun syair itu adalah dewa penolong kita.
Dan, aku bisa menebak siapa dirinya!" jawab Sastra-
wan Berbudi, penuh keyakinan.
"Ksatria Seribu Syair?" cetus Pendeta Tasbih
Terbang.
Mengangguk Sastrawan Berbudi. "Tepat. Hanya
Ksatria Seribu Syair yang memiliki daya batin yang
amat kuat. Dengan daya batinnya itu, dia bisa mem-
pengaruhi jalan pikiran orang lain. Bahkan, dia pun
bisa memerintah orang lain sekehendak hatinya."
"Ya. Semua itu berkat ilmu sihir yang dimili-
kinya," sahut Pendeta Tasbih Terbang. "Tapi..., bukan-
kah Ksatria Seribu Syair telah mengundurkan diri dari
rimba persilatan sejak lima tahun yang lalu?"
"Kau tidak salah, Sahabatku Pendeta Tasbih
Terbang. Cobalah kau ingat peristiwa di Telaga Dewa
siang tadi...."
Terdiam Pendeta Tasbih Terbang. Selagi si pen-
deta berpikir-pikir, Sastrawan Berbudi melanjutkan
kata-katanya.
"Tentu masih hangat dalam ingatanmu, Saha-
bat, ada seorang pemuda berpakaian serba merah
yang mampu melukai Ikan Mas Dewa. Dia membawa
Pusaka Pedang Naga! Sementara, kita telah tahu ber-
sama bila Pusaka Pedang Naga adalah milik Ksatria
Seribu Syair...."
"Ya. Ya, aku tahu! Pendekar Bodoh menyebut
pemuda berpakaian serba merah itu sebagai Mahisa
Lodra! Dan, dialah orang yang kita kejar-kejar beberapa waktu tadi."
"Kemunculan Ksatria Seribu Syair tentu ada
hubungannya dengan Pusaka Pedang Naga yang telah
dilarikan oleh Mahisa Lodra!"
Sewaktu Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tas-
bih Terbang bercakap-cakap, Empat Setan Gundul
menggeram marah. Seperti orang kesurupan, mereka
menerjang jajaran pohon cemara. Golok mereka berke-
lebatan dan menimbulkan suara berdesing yang me-
nyakitkan gendang telinga. Disusul suara berdebum
keras. Empat batang pohon cemara tumbang tertebas
golok Empat Setan Gundul!
Empat kakek berompi kuning dan bercelana
merah itu berbuat lebih gila. Batang pohon cemara
yang telah tumbang mereka cacah-cacah menjadi ser-
pihan kecil yang berpentalan ke berbagai penjuru!
Sementara, Dua Iblis dari Gunung Batur ber-
buat tak kalah gila. Mereka terus menggedruk tanah
hingga menciptakan lubang besar yang cukup untuk
menguburkan dua ekor kerbau. Suara hiruk-pikuk be-
nar-benar menguasai tempat itu.
Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang
meloncat menjauh. Namun, mereka tak mau beranjak
pergi. Karena, kedua kakek yang bersahabat baik itu
ingin melihat kemunculan sang dewa penolong yang
mereka duga sebagai Ksatria Seribu Syair.
"Jahanam! Segera tampakkan batang hidung-
mu!" teriak Surogentini, sekuat tenaga.
"Jangan buat aku penasaran, Keparat!" timpal
Iblis Pencabut Jiwa.
Mendadak, hembusan angin terasa mengen-
cang. Hawa di sekitar tempat itu berubah dingin seper-
ti telah terjadi hujan salju. Empat Setan Gundul dan
Dua Iblis dari Gunung Batur terhantam keterkejutan
yang mampu menyesakkan dada mereka. Tanpa sadar,
kegilaan mereka pun terhenti. Dengan bola mata melo-
tot besar, mereka memutar tubuh, mengedarkan pan-
dangan ke berbagai penjuru.
"Sedari tadi aku berada di tempat ini! Siapa lagi
yang kalian cari, Manusia-manusia Kotor?!"
Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gu-
nung Batur mendengar ucapan yang amat pelan dan
hampir tak dapat ditangkap indera pendengaran. Na-
mun, akibatnya sungguh luar biasa. Seperti ada keku-
atan tak kasat mata yang menghantam. Tubuh Empat
Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gunung Batur ter-
pental ke belakang, lalu jatuh bergulingan sejauh lima
tombak!
"Ksatria Seribu Syair...," kejut Sastrawan Ber-
budi dan Pendeta Tasbih Terbang.
Tanpa sadar, kedua kakek itu tersurut mundur
selangkah. Tubuh mereka pun bergetar menatap seo-
rang lelaki setengah baya yang tiba-tiba telah berdiri di
bawah batang pohon cemara yang hampir tumbang.
Lelaki setengah baya bertubuh tinggi tegap itu
mengenakan pakaian putih-putih dengan ikat ping-
gang kain biru. Berkulit putih bersih seperti kulit
kaum bangsawan. Rambutnya yang panjang diikat
dengan sehelai sapu tangan sutera merah. Wajahnya
halus tampan. Sorot matanya amat tajam, pertanda
dia memiliki ilmu kesaktian yang sudah cukup sulit
untuk diukur.
Dia memang Ksatria Seribu Syair!
"Sahabatku Sastrawan Berbudi dan Pendeta
Tasbih Terbang...," sebut lelaki yang bernama kecil
Darma Pasulangit atau Wisnu Sidharta itu, "Maafkan
aku. Aku telah menutupi diriku dengan 'Sihir Penutup
Raga'. Namun, kuharap kalian jangan salah mengerti.
Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada begundal-
begundal yang suka berbuat kekerasan itu."
"Hmmm.... Pantas aku dan Pendeta Tasbih Ter-
bang tak dapat melihat sosok Ksatria Seribu Syair.
Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari Gunung Batur
tak dapat melihat pula. Rupanya, Ksatria Seribu Syair
menyembunyikan dirinya dengan ilmu 'Sihir Penutup
Raga'...," gumam Sastrawan Berbudi.
"Sekali lagi, aku mohon maaf...," tambah Ksa-
tria Seribu Syair.
Melihat bekas putra mahkota Kerajaan Mahes-
pati itu membungkukkan badan, Sastrawan Berbudi
dan Pendeta Tasbih Terbang jadi tak enak hati. Usia
Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang me-
mang lebih tua, tapi ada aturan tak tertulis di rimba
persilatan bahwa kedudukan seseorang ditentukan
oleh ketinggian ilmunya. Oleh karena itu, Sastrawan
Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang yang merasa be-
rilmu lebih rendah menjadi tak enak hati melihat sikap
Ksatria Seribu Syair yang membungkuk hormat kepa-
da mereka,
"Eh.... Jangan begitu, Sahabat...," ujar Pendeta
Tasbih Terbang. "Tak ada yang perlu dimintakan maaf.
Aku bernama Sastrawan Berbudi justru harus meng-
haturkan beribu terima kasih atas pertolonganmu, Sa-
habat. Kami menyadari, tanpa pertolongan Sahabat,
mana mungkin kami masih dapat menghirup udara
segar saat ini....."
Tersenyum tipis Ksatria Seribu Syair. Lalu den-
gan suara lembut, dia berkata, "Sudah sekian lama ki-
ta-kita ini menjalin persahabatan. Walau aku telah li-
ma tahun mengasingkan diri, rasa persahabatan itu te-
tap ada. Sungguh, kau jangan membesar-besarkan
pertolonganku yang tidak ada harganya tadi...."
"Ya. Ya! Kita bertiga adalah sahabat lama. Un-
tuk apa berbasa-basi segala?" sahut Sastrawan Berbu-
di untuk melembutkan suasana yang kaku.
"Tepat sekali apa yang kau kata, Sahabatku
Sastrawan Berbudi," sambut Ksatria Seribu Syair.
"Apalah guna basa-basi yang hanya membuat hati jadi
tak enak?"
Usai berkata, Ksatria Seribu Syair menggerak-
kan bola matanya ke kiri, melirik Empat Setan Gundul
dan Dua Iblis dari Gunung Batur yang melangkah
mendekatinya. Empat Setan Gundul telah memungut
kembali golok mereka yang terlontar sewaktu jatuh
bergulingan tadi.
"Jahanam kau, Ksatria Seribu Syair!" geram
Surogentini, mengacungkan goloknya. "Lima tahun
kau tidak muncul. Kupikir kau telah mati. Hmmm....
Begitu menampakkan batang hidung, kau sengaja
membuat perkara dengan Empat Setan Gundul! Jan-
gan menyesal kalau nyawamu benar-benar ku asing-
kan ke neraka!"
"Aku tidak membuat perkara...," tolak Ksatria
Seribu Syair dengan lembut walau tahu dirinya dian-
cam dengan tudingan golok. "Sang Pencipta telah men-
ciptakan satu tindak keadilan yang harus diemban
oleh setiap manusia berjiwa lurus. Kejahatan mesti di-
basmi. Kekejaman mesti diberantas. Rimba persilatan
memang penuh kekerasan. Namun, andai dapat, setiap
orang mesti menghindari pertempuran darah.... Aku
hanya sekadar memberi pelajaran kepada kalian. Ti-
dakkah kalian sadar? Kalau aku mau, sejak dari tadi
nyawa kalian tentu telah melayang ke alam baka."
Ksatria Seribu Syair berkata-kata tanpa punya
maksud menyombongkan diri ataupun pamer kepan-
daian. Namun, Empat Setan Gundul dan Dua Iblis dari
Gunung Batur malah merasa terhina. Mereka menden-
gus gusar, menatap wajah Ksatria Seribu Syair dengan
mata mendelik.
"Walau kau mempunyai kepandaian seperti de-
wa, tak mungkin Dua Iblis dari Gunung Batur mem-
biarkan hinaan ini!" dengus Iblis Pencabut Jiwa.
Di ujung kalimatnya, kakek bertubuh gemuk
bulat itu memberi isyarat mata kepada Iblis Perenggut
Roh. Secara bersamaan, mereka langsung menerjang.
Iblis Pencabut Jiwa melayangkan pukulan ke dada
Ksatria Seribu Syair. Sementara, Iblis Perenggut Roh
berusaha menyarangkan pukulan ke kepala. Mereka
sama-sama mengeluarkan ilmu 'Merenggut Roh Men-
cabut Jiwa'. Hingga, kelebatan tubuh dua tokoh sesat
itu menebarkan bau anyir darah yang sangat menusuk
lubang hidung!
Empat Setan Gundul yang sudah merasa sena-
sib sepenanggungan dengan Dua Iblis dari Gunung
Batur, tak mau ketinggalan. Mereka menerjang kalap.
Golok mereka mendesis ganas. hendak mencacah tu-
buh Ksatria Seribu Syair!
Namun tampaknya, Ksatria Seribu Syair bersi-
kap acuh tak acuh. Dia seperti tak mau ambil peduli
walau tahu dirinya dalam bahaya. Sastrawan Berbudi
dan Pendeta Tasbih Terbang terbelalak kaget melihat
sikap bekas putra mahkota itu. Namun..., kekhawati-
ran di hati Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih
Terbang itu sebenarnya tidak perlu karena....
Wesss...!
"Wuahhh...!"
Pelan saja Ksatria Seribu Syair menggerakkan
lengan bajunya. Timbul serangkum angin pukulan
dahsyat, melebihi kekuatan angin topan. Sastrawan
Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang terbelalak heran
dan bercampur kagum. Tubuh Dua Iblis dari Gunung
Batur dan Empat Setan Gundul tiba-tiba terlontar
jauh, lalu jatuh terbanting-banting di tanah berbatu.
Keenam tokoh sesat itu memekik kesakitan. Tubuh
mereka yang terbanting terasa remuk. Sementara, rasa
pedih menjalar dari luka-luka lecet akibat berbenturan
dengan batu dan kerikil
"Pergilah!"
Ksatria Seribu Syair mengusir dengan ucapan
lirih. Namun, Dua Iblis dari Gunung Batur dan Empat
Setan Gundul memekik parau lagi. Ucapan Ksatria Se-
ribu Syair terasa menepuk gendang telinga, hingga
membuat mereka pusing dan semakin merasa kesaki-
tan.
"Lari! Lari!" cetus Iblis Perenggut Roh, meloncat
bangun seraya berlari pergi dengan langkah terpin-
cang-pincang.
"Ya! Ya! Kita lari! Kita lari!" sambut Surogentini,
mengambil langkah seribu pula.
Iblis Perenggut Roh berlari ke utara. Sementara,
Surogentini ngibrit pergi ke selatan. Iblis Pencabut Ji-
wa yang telah hilang pula keberaniannya, bergegas
mengekor langkah adik seperguruannya. Banyaksuro,
Waraksuro, dan Surogati pun tak mau ketinggalan.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka mengikuti ke mana
Surogentini pergi. Mereka semua lari terbirit-birit bagai
melihat hantu gentayangan di siang bolong, tak peduli
lagi pada harga diri mereka sebagai tokoh tua yang
punya nama cukup besar di rimba persilatan. Keheba-
tan Ksatria Seribu Syair benar-benar membuat mereka
bergidik ngeri!
"Lima tahun tak berjumpa, kiranya kau telah
mendapat kemajuan yang sedemikian pesat, Saha-
batku Ksatria Seribu Syair..." puji Sastrawan Berbudi,
tulus.
"Jangan berbasa-basi lagi, Sahabatku Sastra-
wan Berbudi," sergap Ksatria Seribu Syair. "Ilmu ke-
pandaianku masih jauh dari kesempurnaan. Aku takut
bila nanti pujian dan sanjungan akan membuatku jadi
pongah dan sombong...."
"Ha ha ha...!" tertawa bergelak Sastrawan Ber-
budi. "Kau tetap saja tak berubah, Sahabat. Sungguh
aku benar-benar kagum kepadamu. Kau sangat pandai
merendah. Ha ha ha.... Tahukah kau, Sahabat, sikap
merendah itu justru membuat diriku merasa semakin
kecil dan tak ada apa-apanya bila dibanding dengan
dirimu?"
"Benar! Benar apa yang dikatakan Sastrawan
Berbudi," sahut Pendeta Tasbih Terbang. "Aku pun
merasa kecil dan tak berarti sama sekali. Sungguh kau
memang patut dipuji dan disanjung, Sahabatku Ksa-
tria Seribu Syair. Kau memiliki jiwa besar. Aku tahu
riwayat hidupmu. Kau difitnah orang. Kau diburu
orang. Namun, kau tetap tabah dan tak mendendam
kepada siapa pun...."
"Ya! Ya!" potong Ksatria Seribu Syair, cepat.
"Aku telah melupakan perjalanan hidupku di masa
muda. Kau tak perlu mengungkit-ungkit lagi, Saha-
batku Pendeta Tasbih Terbang...."
Melihat air muka Ksatria Seribu Syair yang be-
rubah kelam, Pendeta Tasbih Terbang sedikit kaget. Si
pendeta menyadari bila telah kelepasan bicara.
"Maaf.... Maaf, Sahabat...," ujarnya sambil
membungkuk dalam. "Maafkan atas kekeliruan ku ta-
di...."
Bibir Ksatria Seribu Syair menyungging senyum
pahit. "Sebenarnya, lima tahu lalu aku bermaksud
mengundurkan diri dari kancah rimba persilatan yang
penuh kekerasan. Aku pun bermaksud meninggalkan
segala hal yang berbau keduniawian...," ucapnya se-
perti mengandung penyesalan, "Aku benar-benar telah
muak dan tak sudi lagi melihat keangkaramurkaan
manusia yang gila harkat, martabat, atau derajat! Aku
benci dengan semua itu! Namun agaknya..., Sang Pen-
cipta belum merestui maksud hatiku tersebut. Pusaka
Pedang Naga yang kusimpan di puncak Gunung Arju-
na tiba-tiba hilang dicuri orang...."
Ksatria Seribu Syair menarik napas panjang.
Air mukanya terlihat makin keruh. Sastrawan Berbudi
dan Pendeta Tasbih Terbang diam seribu bahasa. Me-
reka mendengarkan kata-kata Ksatria Seribu Syair
dengan penuh perhatian. Sebagai seorang sahabat,
mereka bisa merasakan kesedihan yang tersirat dari
kata-kata bekas putra mahkota yang tergulingkan itu.
"Aku khawatir dan benar-benar sangat khawa-
tir...," lanjut Ksatria Seribu Syair. "Pusaka Pedang Na-
ga dicuri seorang tokoh sesat. Aku khawatir pedang
pusaka itu akan digunakan untuk mengumbar nafsu
jahat...."
"Benar dugaanku, Kemunculan Ksatria Seribu
Syair ada hubungannya dengan Pusaka Pedang Na-
ga...," kata hati Sastrawan Berbudi.
Kakek tinggi kurus berpakaian serba hijau itu
menatap lekat-lekat wajah Ksatria Seribu Syair. "Aku
tahu siapa yang membawa pedang itu... " cetusnya.
"Benarkah itu?" kesiap Ksatria Seribu Syair
bercampur rasa senang dan setengah tak percaya.
Sastrawan Berbudi mengambil napas dalam-
dalam, lalu berkata, "Siang tadi, di Telaga Dewa aku
melihat seorang pemuda berpakaian serba merah
membawa Pusaka Pedang Naga. Dengan pedang itu,
dia berhasil melukai Ikan Mas Dewa...."
"Siapa dia?" kejar Ksatria Seribu Syair. "Pende-
kar Bodoh dapat mengenali pemuda itu sebagai Mahisa
Lodra."
"Mahisa Lodra?" kejut Ksatria Seribu Syair.
"Benarkah lelaki bergelar Setan Selaksa Wajah itu
membawa Pusaka Pedang Naga? Dan, siapa itu Pende-
kar Bodoh?"
"Benar apa yang dikatakan Sastrawan Berbudi,"
tukas Pendeta Tasbih Terbang. "Aku berani memperta-
ruhkan kepalaku. Mahisa Lodra atau Setan Selaksa
Wajah memang membawa Pusaka Pedang Naga. Dia
berkelebat pergi setelah berhasil melukai Ikan Mas
Dewa."
"Jadi, dia belum mendapatkan Kodok Wasiat
Dewa?" tebak Ksatria Seribu Syair yang tentu saja juga
mendengar khasiat benda ajaib yang selalu jadi rebu-
tan tokoh-tokoh rimba persilatan setiap tanggal satu
Suro itu.
"Ya," angguk Pendeta Tasbih Terbang.
Menarik napas lega Ksatria Seribu Syair. Andai
Mahisa Lodra mendapatkan Kodok Wasiat Dewa, amat-
lah sulit untuk menghentikan kejahatan murid murtad
Dewa Dungu itu. Apalagi, dia telah membawa Pusaka
Pedang Naga.
"Lalu, siapa yang kau sebut sebagai Pendekar
Bodoh tadi?" tanya Ksatria Seribu Syair kepada Sa-
strawan Berbudi.
"Dia seorang pemuda remaja berumur sekitar
tujuh belas tahun. Aku mengenalnya sehari yang lalu,"
jawab Sastrawan Berbudi. "Namun demikian, dia me-
miliki ilmu kepandaian hebat. Dia pernah menadahi
pukulan Iblis Perenggut Roh yang bernama 'Merenggut
Roh Mencabut Jiwa' tanpa mendapat luka apa-apa.
Malah membuat tubuh Iblis Perenggut Roh terlontar,
padahal dia tak bergerak sedikit pun...."
"Lain itu, dia pun berhasil menaklukkan Ikan
Mas Dewa. Dengan dua tali baja, dia menjerat tubuh
Ikan mas raksasa itu, hingga menjadi jinak. Namun
kemudian, dia melepaskannya...," tambah Pendeta
Tasbih Terbang.
"Kenapa?" tanya Ksatria Seribu Syair, heran.
"Apakah dia tak menginginkan Kodok Wasiat Dewa
yang tersimpan di dalam perut ikan raksasa itu?"
"Entahlah," Pendeta Tasbih Terbang mengang-
kat bahu "Tapi kupikir..., dia sebenarnya juga mengin-
ginkan Kodok Wasiat Dewa. Mungkin karena kasihan,
dia lalu melepaskan Ikan Mas Dewa yang telah berha-
sil ditaklukkannya."
Ksatria Seribu Syair mengangguk-angguk. Ceri-
ta tentang Pendekar Bodoh benar-benar merasuk da-
lam hati, hingga membuatnya jadi penasaran.
"Cobalah kalian katakan kepadaku bagaimana
ciri-ciri pemuda bergelar Pendekar Bodoh itu...," pinta
Ksatria Seribu Syair kemudian.
"Dia bertubuh tinggi tegap. mengenakan pa-
kaian biru-biru dan berikat pinggang kain merah.
Rambutnya panjang tergerai. Wajahnya tampan, na-
mun terkesan amat lugu," jelas Sastrawan Berbudi.
Pendeta Tasbih Terbang menatap lekat wajah
Ksatria Seribu Syair. Si pendeta menatap terus tanpa
berkedip, sehingga membuat Ksatria Seribu Syair jen-
gah.
"Ada apa, Sahabatku Pendeta Tasbih Terbang?"
tegur Ksatria Seribu Syair.
"Pendekar Bodoh. Pendekar Bodoh...," ujar
Pendeta Tasbih Terbang, lirih.
"Kenapa dengan dia?" selidik Ksatria Seribu
Syair yang melihat sikap aneh si pendeta.
"Segala puji Tuhan seru sekalian alam...," sebut
Pendeta Tasbih Terbang tiba-tiba. "Wajah Pendekar
Bodoh mirip sekali denganmu, Sahabat...."
"Ya! Aku tadi juga hendak ,m mengatakan itu!"
tegas Sastrawan Berbudi.
Kening Ksatria Seribu Syair langsung berkerut
rapat. Mendadak, keringat dingin bercucuran dari se-
kujur tubuhnya. Dia teringat masa lalunya. Rasa se-
dih, senang, sesal, dan haru menyeruak masuk dalam
hati sanubarinya.
"Maafkan aku kalau kata-kataku tadi menying-
gung perasaanmu, Sahabat..." ujar Pendeta Tasbih
Terbang yang melihat perubahan sikap Ksatria Seribu
Syair.
"Ah, tidak! Aku tidak tersinggung. Aku malah
senang, tapi aku.... Ah!" tergagap Ksatria Seribu Syair.
Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Terbang
saling pandang. Mereka tak mengerti maksud ucapan
Ksatria Seribu Syair yang menggantung.
"Maafkan aku. Aku harus pergi," ujar Ksatria
Seribu Syair seraya berkelebat pergi.
Cepat sekali gerakan bekas putra mahkota itu.
Dia seakan sosok hantu yang dapat menghilang. Se-
mentara, Sastrawan Berbudi dan Pendeta Tasbih Ter-
bang terlihat saling pandang lagi. Mereka mengangkat
bahu bersama-sama.
"Dia kenapa?" tanya Sastrawan Berbudi kemu-
dian,
"Aku tak tahu," jawab Pendeta Tasbih Terbang.
"Tersinggungkah dia?"
"Kukira tidak."
"Lalu?"
"Barangkali dia teringat pada putranya yang hi-
lang ketika masih kecil."
"Bukankah putranya itu dibawa oleh istrinya
yang bernama Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Pu-
tih?"
"Ya. Tapi sejak saat itu, dia tak pernah bertemu
lagi dengan putra atau istrinya itu."
"Mungkinkah Pendekar Bodoh adalah pu-
tranya?"
Pendeta Tasbih Terbang tak menjawab. Dia
cuma menarik napas panjang. Sementara, hari telah
bergeser ke waktu petang. Keadaan jadi remang-
remang.
"Kita tinggalkan tempat ini," cetus Pendeta Tas-
bih Terbang.
Sastrawan Berbudi mengangguk.
***
TIGA
ANGIN berhembus cukup kencang, membuat
dingin malam semakin menusuk tulang. Seorang pe-
muda remaja keluar dari Kota Gambiran dengan terge-
sa-gesa, meninggalkan kerumunan orang yang masih
ramai membicarakan peristiwa di Telaga Dewa. Pemu-
da berparas tampan itu berjalan sambil menutupi se-
bagian wajahnya dengan ujung lengan baju. Agaknya,
dia tak ingin dikenali orang.
Setelah sampai di sebuah jalan sepi, cukup
jauh dari Kota Gambiran, si pemuda melangkah pelan.
Ditatapnya rembulan sabit yang berwarna pucat tem-
baga. Rambut dan kain bajunya yang berwarna biru
tampak berkibar dipermainkan hembusan angin. Kedua ujung ikat pinggangnya yang terbuat dari kain me-
rah melambai-lambai pula, seperti mengajak si pemu-
da agar segera melanjutkan langkah kembali.
Namun, sepasang kaki si pemuda tetap tegak
kaku mencengkeram tanah. Tubuhnya yang tinggi te-
gap tak bergeming sedikit pun, tak bosan menatap bu-
lan sabit yang dikerumuni bintang.
Dia Seno Prasetyo atau Pendekar Bodoh! Setiap
kali merasa melakukan kesalahan murid Dewa Dungu
itu memang punya kebiasaan menengadahkan wajah
ke langit. Di atas sana, dia seakan dapat melihat sosok
ibunya, Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Putih, yang
telah meninggal.
"Ibu...," sebut Seno dengan suara lirih bergetar,
"Sejak sore tadi, aku berlari berputar-putar untuk
mencari orang jahat bernama Mahisa Lodra atau Setan
Selaksa Wajah. Tapi, aku tak dapat menemukannya...."
Pemuda yang wajahnya menyiratkan sinar ke-
luguan dan kejujuran itu menarik napas panjang be-
berapa kali. Dia sangat sedih karena usahanya tidak
membuahkan hasil. Dengan kepala terus tengadah, dia
tumpahkan segala isi hatinya.
"Ibu..., Mahisa Lodra itu benar-benar orang ja-
hat! Dia telah membuat lumpuh kedua kaki Kakek
Dewa Dungu. Dia pun telah melarikan dua bagian Ki-
tab Sanggalangit milik Kakek yang amat baik itu. Bah-
kan, dia telah melakukan serangkaian pembunuhan
kejam! Aku benar-benar benci kepadanya, Bu! Aku be-
nar-benar ingin menghentikan semua perbuatan ja-
hatnya! Dia telah membunuh Sepasang Nelayan Sakti
yang juga sangat menyayangi ku! Dia pun telah men-
culik Kemuning, Bu!"
Kusut masai wajah Seno. Tanpa mempedulikan
rasa lapar yang melilit-lilit, dia tumpahkan semua kata
hatinya. Ketika angin malam telah bercampur dengan
embun pagi, barulah Seno menyadari keadaan. Dingin
terasa membuat tubuh jadi beku.
Perlahan Seno menurunkan wajah. Dia raba
pakaiannya yang menjadi basah. Mendadak, Seno ter-
kesiap. Telapak tangannya menyentuh sebuah benda
lembek namun terasa hangat. Dengan mata tak berke-
dip, bergegas Seno mengeluarkan benda itu dari saku
bajunya.
Ternyata, benda itu berupa gumpalan sinar pu-
tih sebesar buah kedondong. Di dalamnya terdapat se-
bentuk katak kecil berwarna emas. Semula, gumpalan
sinar itu tak terlihat dari luar karena saku baju Seno
terbuat dari kain yang cukup tebal
"Kodok Wasiat Dewa...!" desis Seno dengan ma-
ta berbinar, menyebut nama benda di telapak tangan
kanannya.
Mendadak, Seno menepak kepalanya sendiri se-
raya merutuk, "Uh! Bodoh sekali aku ini! Kenapa aku
bisa lupa pada benda pemberian Ikan Mas Dewa ini?!
Kalau benda ini sampai jatuh dan hilang, alangkah
meruginya aku!"
Untuk beberapa lama, Seno menatap tak ber-
kedip wujud Kodok Wasiat Dewa. Benda berwujud
gumpalan sinar putih itu adalah salah satu dari ben-
da-benda ajaib yang selalu menjadi incaran tokoh-
tokoh rimba persilatan.
Sama seperti Capung Kumala yang pernah di-
berikan Dewa Dungu kepada Seno, Kodok Wasiat Dewa
juga mempunyai khasiat melipat gandakan hawa sakti
dalam tubuh, sehingga dapat pula melipat gandakan
kekuatan tenaga dalam. Barang siapa menelan benda
itu, maka sama halnya dengan berlatih ilmu sifat se-
lama dua puluh tahun!
Sungguh suatu keberuntungan yang tak dapat
lagi dinilai harganya bila kali ini Seno juga berhasil
mendapatkan Kodok Wasiat Dewa.
Namun...
"Ada orang mendatangi ku...," bisik Seno kepa-
da dirinya sendiri.
Indera pendengaran Seno yang tajam menden-
gar suara kelebatan bayangan yang datang dari arah
belakang tubuhnya. Cepat Seno menyimpan lagi Kodok
Wasiat Dewa ke saku bajunya di bagian dalam.
"Malam yang indah. Dingin namun menye-
nangkan. Kenapa kau menyendiri, Pendekar Bodoh?"
Terdengar sebuah bisikan lembut di antara de-
sau angin malam. Seno membalikkan badan. Ternyata,
di belakangnya telah berdiri seorang gadis berpakaian
putih-hijau dengan pernik-pernik gemerlap bak putri
bangsawan tinggi kerajaan.
Gadis berusia dua puluh tahunan itu bertubuh
tinggi semampai dan berparas cantik menawan. Ram-
butnya yang hitam kemilau digelung ke atas dengan
hiasan tiga tusuk konde emas. Sorot matanya tajam,
tapi bibirnya menyunggingkan senyum yang amat
menggemaskan.
Kening Seno berkerut rapat. Dia heran melihat
kehadiran si gadis. Namun, Seno tak berbuat apa-apa
kecuali menatap dengan pandangan menyelidik.
"Aku telah menyaksikan kehebatanmu tadi
siang di Telaga Dewa. Kau layak diacungi jempol. Tapi,
kenapa lagak lagu mu tampak begitu tolol?"
Usai berkata, gadis berpakaian bangsawan ter-
tawa mengikik. Suara tawanya lepas bebas, memecah
keheningan malam. Seno mendesah panjang. Menden-
gar kata-kata si gadis yang ceplas-ceplos, Seno teringat
pada Kemuning. Kontan hatinya jadi sedih. Rasa kehilangan menggeluti sanubarinya.
"Apa kau bisu? Kenapa diam saja?" tegur gadis
berpakaian bangsawan yang melihat Seno terus ber-
diam diri.
Kerut di kening Seno semakin merapat. Setelah
nyengir kuda, dia berkata, "Malam-malam begini, ke-
napa kau datang ke tempat sepi? Apa kau tidak takut
diganggu orang jahat?"
Mendengar ucapan Seno yang begitu lugu, si
gadis tertawa panjang. "Kau pikir aku ini siapa?" ujar-
nya sambil melempar kerlingan. "Walau aku hanya
seorang wanita, siapa pun akan berpikir seribu kali ka-
lau mau berbuat jahat kepadaku."
"Ya, ya! Aku percaya kau punya ilmu bela diri
yang bisa diandalkan, tapi tak sepantasnya bila... bila
seorang gadis cantik sepertimu keluyuran di ma...."
"Hus!" potong gadis berpakaian bangsawan.
"Aku tidak keluyuran! Aku sengaja keluar malam un-
tuk menemuimu!"
"Menemuiku? Kita tidak punya urusan. Masing-
masing dari kita tidak saling mengenal. Apa yang ha-
rus dibicarakan? Aku tak punya waktu. Aku tak mau
ada orang memergoki kita! Bukankah kau seorang ga-
dis dan aku seorang pemuda?"
"Ya. Aku gadis dan kau pemuda. Memangnya
kenapa?"
"Ah! Aku...."
Seno tak melanjutkan kalimatnya. Seno tak ta-
hu apa yang harus diucapkan. Dia tak tahu kata-kata
apa yang harus dikeluarkan untuk mengutarakan rasa
canggung dan risih di hatinya.
Melihat Seno yang menjadi salah tingkah, gadis
berpakaian bangsawan malah tertawa senang. Dita-
tapnya wajah Seno lekat-lekat seraya berkata, "Orang
orang menyebut mu sebagai Pendekar Bodoh. Sikap
dan tingkah lakumu memang kelihatan amat bodoh.
Tapi, aku yakin kau tidak benar-benar bodoh. Aku ya-
kin kau punya otak cemerlang. Oleh karena itu, aku
jadi tak enak hati kalau memanggilmu dengan sebutan
Pendekar Bodoh. Katakanlah siapa namamu, agar
nanti lebih enak kalau bicara...."
"Namaku Seno. Seno Prasetyo. Tapi..., kukira
tak ada satu pun masalah yang harus kita bicara-
kan...."
Seno berkata sambil mundur selangkah. Tata-
pan matanya seperti menyuruh pergi. Namun, gadis
berpakaian bangsawan tersenyum manis. Dia lempar-
kan kerlingan yang penuh makna.
"Seno Prasetyo...," desis gadis berpakaian bang-
sawan. "Sebuah nama yang cukup enak didengar telin-
ga. Bila kau ingin tahu namaku, panggil saja Kenan-
ga."
"Kenanga?"
Bibir Seno bergetar mengucap nama itu. Se-
buah nama yang sama artinya dengan nama salah sa-
tu bunga. Kenanga! Kontan Seno teringat lagi pada so-
sok Kemuning. Kemuning juga nama bunga. Apa hu-
bungannya Kemuning dengan Kenanga? Atau, hanya
suatu kebetulan bila mereka mempunyai nama yang
sama-sama memakai nama bunga?
Tanpa sadar, Seno tersurut mundur selangkah
lagi.
Kenanga mengerjapkan matanya beberapa kali.
Lalu, kakinya melangkah untuk mendekati Seno. Na-
mun mendadak... tubuh si gadis terhuyung dan hen-
dak jatuh terjerembab!
Seno terkejut. Cepat dia bentangkan kedua
tangannya untuk menyambut tubuh Ken
Langa yang
hendak jatuh ke arahnya.
"Eh! Eh! Kau kenapa?" seru Seno dengan tan-
gan melingkar di pinggang ramping Kenanga.
Merasa tipuannya berhasil, Kenanga bersorak
girang dalam hati. Dengan membuka sedikit kelopak
mata, tangan kanannya melingkar ke leher Seno. Se-
mentara, jemari tangan kirinya mengelus mesra dada
si pemuda.
"Eh! Kau kenapa?"
Seno menegur, tapi tak melepaskan dekapan-
nya karena takut tubuh Kenanga akan jatuh ke tanah.
Sementara, bibir Kenanga pun tak henti merintih-
rintih.
Bersentuhan kulit seperti itu, gejolak jiwa muda
Seno tiba-tiba bergelora. Apalagi, aroma wangi yang
menebar dari tubuh Kenanga benar-benar bisa mem-
buat hati siapa pun jadi lupa diri.
Jantung Seno berdegup kencang. Dadanya te-
rasa sesak karena jalan nafasnya tiba-tiba terasa bun-
tu. Dan mendadak..., Kenanga memeluk erat sekali...,
lalu mencium bibirnya dengan segenap hasrat meng-
gebu!
Namun, ciuman itu justru menyadarkan Seno.
Bukan kenikmatan yang dirasakan Seno, tapi justru
dia terhantam keterkejutan seperti disengat kalajengk-
ing!
"Kau pergilah, Kenanga!" seru Seno, berusaha
melepaskan diri dari pelukan si gadis.
Tapi, Kenanga malah memeluk semakin erat.
Tangan kirinya terus meraba-raba. Hingga, si gadis
pun merasakan adanya sebuah benda bulat yang ter-
simpan di saku baju Seno bagian dalam.
Seno tersentak kaget. Dengan kasar, dia men-
dorong tubuh Kenanga. "Pergilah! Jangan buat aku
marah!" usirnya.
Bagai baru saja melakukan pekerjaan yang
sangat melelahkan, Kenanga melepas pelukannya den-
gan lemas lunglai. Namun, dia tak mau menjauh. Di-
cekalnya kedua pergelangan tangan Seno sambil me-
natap wajah si pemuda lekat-lekat.
Seno merasa jijik dan amat muak. Ingin ra-
sanya dia melemparkan tubuh Kenanga sekuat tenaga.
Tapi, itu tak dilakukannya. Dia tak mau menyakiti hati
Kenanga walau si gadis telah menunjukkan sikap tak
baik.
"Maafkan aku, Seno..." ujar Kenanga dengan
suara bergetar, mengandung penyesalan.
"Ya. Aku memaafkanmu. Kau lekaslah pergi...,"
sahut Seno.
"Aku akan segera pergi bila kau bersedia men-
jawab beberapa pertanyaanku,"
Kening Seno berkerut lagi mendengar ucapan
Kenanga. Tanpa sadar, dia menarik tangannya seraya
nyengir kuda. "Pertanyaan apa? Aku tidak tahu apa-
apa. Aku orang bodoh," ujarnya, tidak senang.
Kenanga tersenyum tipis. Ditatapnya saku baju
Seno yang di dalamnya terdapat Kodok Wasiat Dewa.
Tatapan gadis itu seperti tak sengaja, hingga Seno tak
menjadi curiga.
"Aku tahu kau pemuda hebat, Seno," ujar Ke-
nanga kemudian. "Kau jangan terlalu merendah. Kau
memiliki ilmu peringan tubuh tingkat tinggi bernama
'Lesatan Angin Meniup Dingin'. Kau pun memiliki ilmu
pukulan dahsyat bernama 'Dewa Badai Rontokkan
Langit'. Cobalah jawab pertanyaanku dengan jujur.
Siapa yang telah menurunkan kedua ilmu itu kepada-
mu?"
Mendengar pertanyaan Kenanga yang diutara
kan dengan penuh kesungguhan, tiba-tiba hati Seno
digeluti perasaan tak enak. Tiba-tiba pula, bibirnya
terkunci rapat dan tak bisa lagi membuka suara.
"Kenapa diam?" tegur Kenanga. "Kenapa kau
tampak begitu keberatan menjawab pertanyaanku?
Kau takut bila aku punya maksud buruk?"
Seno tetap diam. Matanya menatap penuh seli-
dik.
"Kalau tidak mau menjawab, ya sudah! Kenapa
malah bengong?" seru Kenanga. Setelah berpikir se-
bentar gadis cantik ini melanjutkan perkataannya,
"Hei, Seno, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat
yang sangat indah. Di sana banyak sekali orang berke-
pandaian tinggi yang punya sifat dan perilaku yang
menyenangkan. Di sana kau akan merasa aman dan
tenteram...."
Kepala Seno menggeleng. "Terima kasih atas
ajakan mu. Tapi, aku banyak urusan. Aku tak bisa
memenuhi ajakan mu...."
"Jangan begitu, Seno! Kalau kau telah menden-
gar nama tempat itu, aku yakin kau pasti menerima
ajakan ku...."
"Hmmm.... Walau kau menyebutkan nama se-
buah tempat yang melebihi keindahan surga, aku tetap
tak bisa memenuhi ajakan mu."
"Hmmm.... Bagaimana kalau tempat yang akan
kutunjukkan itu bernama Lembah Dewa-Dewi?"
Terkejut Seno mendengar ucapan Kenanga. Ma-
tanya terbelalak, tak percaya pada pendengarannya
sendiri. Dari Kemuning dan Sepasang Nelayan Sakti,
Seno pernah mendengar nama Lembah Dewa-Dewi.
Menurut mereka, lembah itu terkenal sebagai tempat
bermukim para tokoh berilmu tinggi dari berbagai go-
longan. Namun kemudian, timbul satu gerombolan
orang jahat yang menamakan diri dengan sebutan
Komplotan Lembah Dewa-Dewi, yang tentu saja mem-
punyai hubungan dengan Lembah Dewa-Dewi. Tapi
sampai saat ini, tak seorang pun tahu di mana letak
Lembah Dewa-Dewi itu. Hingga, Sepasang Nelayan
Sakti pun jadi ragu, apakah Lembah Dewa-Dewi itu
benar-benar ada atau hanya isapan jempol belaka.
"Bagaimana, Seno? Kau tetap menolak ajakan
ku?" kejar Kenanga.
Seno tampak berpikir-pikir. Lalu, dia teringat
pada Mahisa Lodra yang dicurigai Sepasang Nelayan
Sakti sebagai anggota Komplotan Lembah Dewa-Dewi.
"Benarkah Lembah Dewa-Dewi itu ada?" tanya
Seno kemudian.
Bibir Kenanga menyungging senyum manis.
"Kenapa kau begitu bodoh, Seno?!" tegurnya dengan
suara lembut. "Bagaimana aku bisa mengajak mu ke
suatu tempat yang cuma disebut sebagai khayalan
orang? Atau barangkali, kau curiga bila aku akan me-
nipumu?"
"Tidak! Aku tidak boleh punya prasangka buruk
kepada siapa pun!" sahut Seno, tegas.
"Berarti kau menerima ajakan ku?" Seno nyen-
gir kuda seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mendadak, dia jadi ragu. Dia tidak tahu siapa Kenanga
sebenarnya, tapi kenapa gadis itu mengajaknya pergi
ke Lembah Dewa-Dewi? Apa maksud Kenanga? Seno
memang tidak mencurigai Kenanga sebagai orang ja-
hat, tapi Seno tetap harus bersikap hati-hati. Bukan-
kah saat ini dia sedang membawa Kodok Wasiat Dewa
yang menjadi incaran kaum rimba persilatan? Apakah
ajakan Kenanga tidak ada hubungannya dengan benda
ajaib yang mempunyai khasiat luar biasa itu?
Terlalu banyak tanda tanya yang menggeluti
benak Seno. Hingga sampai beberapa lama, Seno cuma
dapat berdiri termenung tanpa menyampaikan keputu-
sannya. Seno baru tersadar manakala Kenanga mene-
puk bahunya.
"Kau terlalu lama berpikir! Aku jadi tak sabaran
lagi!"
Di ujung kalimatnya, Kenanga menjejak tanah.
Cepat sekali tubuhnya berkelebat.
"Hei! Tunggu!" cegah Seno, berteriak keras se-
kali.
Tapi, tubuh Kenanga telah hilang menyatu
dengan kegelapan malam. Tinggallah Seno merutuk
dan menyesali kebodohannya sendiri
***
EMPAT
PENYESALAN selalu datang terlambat. Seno
merasakan kebenaran ungkapan itu. Tidakkah lebih
baik mengejar Kenanga? Kalau mungkin, malah me-
maksa gadis itu untuk mengatakan di mana letak
Lembah Dewa-Dewi! Bukankah Lembah Dewa-Dewi
mempunyai komplotan yang telah terbukti melakukan
serangkaian pembunuhan kejam?
"Astaga!" seru Seno tiba-tiba, mengarahkan
pandangan ke arah hilangnya sosok Kenanga. "Aku
dapat mengenali gerakan Kenanga tadi! Dia pergi den-
gan menggunakan ilmu 'Angin Pergi Tiada Berbekas'!
Ya! Dia berkelebat dengan menggunakan ilmu 'Angin
Pergi Tiada Berbekas'!"
Plok!
Seno menepak kepalanya sendiri. Tanpa sadar,
dia mengeluarkan tenaga terlalu banyak, sehingga tu-
buhnya terhuyung ke kiri.
"Uh! Bodoh benar aku ini!" rutuknya sambil
menepuk-nepuk kening. "Ilmu 'Angin Pergi Tiada Ber-
bekas' berasal dari salah satu bagian Kitab Sanggalan-
git yang telah dilarikan oleh Mahisa Lodra! Ya! Kenan-
ga pasti tak lain dari Mahisa Lodra yang bisa merubah
wajah dan bentuk tubuhnya! Jahanam! Aku telah ter-
kecoh! Tapi, apa maksud penyamarannya tadi...?"
Kening Seno semakin berkerut rapat. Terbawa
rasa penasaran yang menggeluti benaknya, dia menje-
jak tanah. Secepat kilat, tubuhnya berkelebat untuk
mengejar Kenanga. Tentu saja sosok si gadis tak dapat
dia temukan lagi. Kesadaran dan tindakan Seno benar-
benar telah terlambat.
Namun, Seno tak putus asa. Dia terus berlari
dan terus berlari. Dimasukinya lagi Kota Gambiran
yang kini telah sepi karena malam telah larut. Semen-
tara, lamat-lamat mulai terdengar kokok ayam. Fajar
akan segera menyingsing. Hari akan segera berganti
Rasa lelah dan lapar membuat Seno menghen-
tikan langkah kakinya di tepi sungai, tak seberapa
jauh dari Kota Gambiran. Seno duduk terpekur di atas
tonjolan batu. Dia menahan rasa kantuk. Pikirannya
terus melayang-layang, tak henti mengingat berbagai
peristiwa yang baru dialaminya. Dan ketika ingat akan
Kodok Wasiat Dewa, Seno tersentak kaget, meloncat
dari tempat duduknya.
"Syukurlah! Syukurlah!" seru Seno, mengetahui
Kodok Wasiat Dewa masih berada di saku bajunya ba-
gian dalam.
Seno mengeluarkan benda ajaib pemberian
Ikan Mas Dewa itu. Ditatapnya beberapa saat. "Aku
harus menelan benda ini...," katanya dalam hati. "Aku
harus menelan seperti aku menelan Capung Kumala
lima tahun yang lalu... "
Mengikuti pikiran di benaknya, Seno mengang-
kat Kodok Wasiat Dewa ke dekat mulutnya. Hendak di-
telannya benda itu, tapi....
"Tahan!"
Sebuah teriakan memecah kesunyian. Seno me-
loncat karena kaget. Sekitar lima tombak di sisi ka-
nannya telah berdiri seorang gadis berpakaian putih
hijau dengan pernik-pernik gemerlap bak putri seorang
bangsawan tinggi.
"Kenanga...!" desis Seno, terbelalak menatap
sosok si gadis.
"Serahkan benda di tanganmu itu!" seru Ke-
nanga. Suara gadis ini tiba-tiba berubah menjadi suara
seorang lelaki setengah baya. Sikap berdirinya pun
tampak gagah mirip lelaki.
Seno yang sudah dapat menduga siapa Kenan-
ga sebenarnya, cepat mengatas keterkejutannya. "Kau
Mahisa Lodra, bukan...?!" tebaknya, menyiratkan ke-
bencian.
"Ha ha ha...! Rupanya, kau tak sebodoh yang
kukira, Seno! Ha ha ha...! Bolehlah kubuka penyama-
ran ku karena kurasa memang sudah tak ada gunanya
lagi!"
Ketika tertawa, kelopak mata kiri gadis berpa-
kaian bangsawan selalu tertutup rapat. Hal itu me-
nambah keyakinan Seno bila gadis itu memang Mahisa
Lodra atau Setan Selaksa Wajah!
Dan tampaknya, si gadis pun benar-benar ingin
membuktikan kata-katanya yang ingin membuka pe-
nyamaran. Perlahan telapak tangan kanannya mengu-
sap wajah tiga kali. Lalu....
"Astaga...!"
Seno berseru kaget. Walau telah menduga apa
yang akan terjadi, namun tetap saja dia terhantam ke-
terkejutan. Matanya terbelalak menatap sosok gadis
berpakaian gemerlap yang telah berubah menjadi so-
sok seorang kakek. Tubuh si gadis yang semula tinggi
semampai berubah tinggi besar dan tampak gagah
berwibawa.
"Mahisa Lodra..." desis Seno, teringat wajah ka-
kek berikat kepala batik yang pernah melakukan pem-
bunuhan di Penginapan Asri.
Melihat keterkejutan Seno yang membuat wa-
jahnya tampak kebodoh-bodohan itu, sosok kakek
yang baru berubah wujud langsung tertawa panjang
bergelak. Sanggulan rambutnya dilepaskan, hingga ja-
tuh tergerai ke punggung.
Karena masih ingin pamer kepandaian, kakek
yang memang benar Mahisa Lodra atau Setan Selaksa
Wajah itu mengusap lagi wajahnya tiga kali. Di lain ke-
jap, wajah si kakek telah berubah menjadi wajah tam-
pan seorang pemuda dua puluh lima tahunan.
"Jahanam!" geram Seno.
Mahisa Lodra yang telah berubah wajahnya
menjadi seorang pemuda tampan mengingatkan Seno
pada sosok pemuda berpakaian serba merah yang te-
lah membunuh Sepasang Nelayan Sakti. Bahkan, pe-
muda itu juga melukai Ikan Mas Dewa dengan meng-
gunakan sebatang pedang pusaka.
Geram dan amarah di hati Seno hendak mele-
dak manakala dia teringat akan Kemuning atau Dewi
Pedang Kuning yang diculik oleh pemuda berpakaian
serba merah. Maka dengan pandangan tajam menu-
suk, Seno berteriak lantang.
"Jahanam kau, Mahisa Lodra! Kau telah mem-
bunuh Sepasang Nelayan Sakti. Kau bawa lari Kemuning! Bila terjadi apa-apa dengan murid Dewi Pedang
Halilintar itu, tak akan segan aku mengadu nyawa
denganmu!"
"Ha ha ha...!" tawa gelak Mahisa Lodra, kelopak
mata kirinya terpejam rapat. "Aku tahu isi hatimu, Se-
no! Ha ha ha...! Boleh-boleh saja kau meminta gadis
itu. Tapi..., serahkan dulu Kodok Wasiat Dewa kepa-
daku! Ha ha ha...!"
Mendengus gusar Seno. Dicekalnya erat Kodok
Wasiat Dewa di tangannya. "Jahanam kau, Mahisa Lo-
dra!" umpatnya untuk kesekian kali. "Apa hakmu me-
minta Kodok Wasiat Dewa?! Justru kaulah yang harus
menyerahkan dua bagian Kitab Sanggalangit! Murid
murtad kau, Mahisa Lodra! Setan kejam kau! Bagai-
mana kau bisa tega membuat lumpuh gurumu sendi-
ri?!"
"Ha ha ha...! Lupakan dulu urusan Kitab Sang-
galangit dan Dewa Dungu! Kalau kau terlalu banyak
mulut, Kemuning akan segera mati dengan tubuh ter-
cerai-berai!"
"Apa maksudmu? Lepaskan gadis itu, Keparat!"
Mahisa Lodra tersenyum. Sedikit kasar, dia
tanggalkan pakaian putih-hijau yang membungkus tu-
buhnya. Di dalam pakaian mahal itu terdapat pakaian
serba merah yang juga terbuat dari bahan mahal.
Setelah melemparkan pakaian putih-hijaunya,
Mahisa Lodra mengeluarkan sebuah benda persegi dari
balik baju merahnya. Benda itu berupa cermin selebar
telapak tangan. Keempat sisinya berukir indah seperti
cermin putri istana.
"Lihatlah baik-baik...!" seru Mahisa Lodra se-
raya menghadapkan cerminnya ke arah Seno.
Tersurut mundur Pendekar Bodoh dan lang-
sung memasang kuda-kuda. Tapi ternyata, Mahisa Lo
dra tidak menyerang. Tangan kanan Mahisa Lodra
yang membawa cermin terjulur lurus. Seno menatap
cermin itu tanpa berkedip. Bagaimanapun, dia harus
mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi. Mahisa
Lodra adalah tokoh jahat. Dia bisa berlaku licik dan
culas tanpa memperhitungkan peradatan di rimba per-
silatan.
"Cermin ini bernama 'Terawang Tempat Lewati
Masa'!" seru Mahisa Lodra lagi. "Lihatlah baik-baik!
Kau akan segera tahu apa yang tengah terjadi pada
Kemuning!"
Usai berkata, Mahisa Lodra menyipitkan kelo-
pak matanya. Sebentar kemudian, dari mulut lelaki
tua berwajah pemuda ini keluar suara ceracau tak ka-
ruan, mirip sekelompok lebah yang sedang mengamuk.
Namun, Seno bisa menduga bila Mahisa Lodra sedang
merapal mantra guna mengeluarkan salah satu ilmu
kesaktiannya.
"Jahanam itu, sedang merapal mantra, tapi aku
tak tahu apa yang akan dilakukannya...," desah Seno.
"Aku harus siap siaga. Ada baiknya bila aku mengelua-
rkan ilmu 'Perisai Dewa Badai'...."
Terbawa perasaan tegang, Seno mengalirkan
kekuatan tenaga dalam ke berbagai tempat penting di
tubuhnya. Di lain kejap, sekujur tubuh Seno meman-
carkan cahaya putih berkeredapan. Agaknya, tanpa
sadar Seno telah mengerahkan ilmu 'Perisai Dewa Ba-
dai' sampai pada tingkat tertinggi.
Sementara Mahisa Lodra merapal mantra, per-
lahan sinar mentari pagi mulai menyembur di ufuk ti-
mur. Cahaya Jingga mengusir kegelapan.
Mahisa Lodra melebarkan kelopak matanya.
Dia tersenyum mengejek ketika tahu Seno mengelua-
rkan ilmu 'Perisai Dewa Badai'. Dengan tangan kanan
tetap diluruskan ke depan, dia berkata, "Aku tak akan
menyerangmu. Tanpa menyerang pun, aku bisa mem-
buatmu bertekuk lutut. Lihatlah!"
Tangan kanan Mahisa Lodra yang memegang
cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' tampak berge-
tar. Dan terkesiaplah Seno saat melihat bayangan tu-
buh di cermin itu
Bayangan di cermin 'Terawang Tempat Lewati
Masa' berupa seorang gadis berpakaian serba kuning.
Mulutnya tertutup sehelai sapu tangan yang diikatkan
ke belakang kepalanya. Sementara, kedua tangannya
terikat tali yang terbuat dari akar pepohonan. Tubuh
gadis itu digantung di sebuah dahan pohon yang me-
lintang ke sebuah rawa-rawa. Yang mengerikan, di ba-
wah kaki si gadis, terdapat belasan buaya yang siap
mencabik-cabik!
"Kemuning...!" seru Seno, memanggil nama ga-
dis yang berada di gantungan.
"Lihat terus cermin ini, Seno!" seru Mahisa Lo-
dra, keras menggelegar.
Semakin terbelalak Seno melihat sosok Kemun-
ing yang berada di bayangan cermin 'Terawang Tempat
Lewati Masa'.
"Lepaskan dia! Jangan siksa dia!" pintanya, ka-
lut dan khawatir.
Terbawa rasa hatinya yang tak menentu, Seno
melepas aliran tenaga dalamnya. Dan, lepas pula ilmu
'Perisai Dewa Badai' yang tengah digunakan untuk me-
lindungi tubuhnya. Tapi tampaknya, Mahisa Lodra
memang tidak bermaksud menyerang pemuda lugu
itu. Dia cuma tersenyum sinis dan tertawa bergelak
panjang sekali.
"Lepaskan Kemuning! Lepaskan dia!" pinta Se-
no, semakin khawatir.
Seno tahu apa yang ditunjukkan oleh cermin
'Terawang Tempat Lewati Masa' adalah wujud asli Ke-
muning. Sementara, dalam bayangan cermin ajaib itu,
Kemuning tampak tak berdaya sama sekali. Jiwa Ke-
muning benar-benar dalam intaian maut!
"Lihatlah lebih teliti, Seno!" perintah Mahisa
Lodra. "Kau lihat ujung tali yang menggantung gadis
itu!"
Bola mata Seno kontan melotot besar. Ujung ta-
li yang digunakan untuk menggantung Kemuning ter-
nyata sedang digerogoti seekor tikus kecil berbulu kun-
ing! Tikus itu tampak sangat rakus, berusaha mengga-
nyang habis tali penggantung Kemuning. Dan kalau ta-
li yang terbuat dari akar itu sampai terputus, tubuh
Kemuning akan tercebur ke rawa-rawa yang tengah di-
tunggui belasan buaya!
"Ha ha ha...!" tawa gelak Mahisa Lodra, penuh
kemenangan. "Kulihat tubuhmu gemetaran, Seno. Tak
sadarkah kau bila bola matamu turut melotot besar
dan mulut pun ternganga lebar?! Ha ha ha...!"
"Jahanam! Licik sekali kau, Mahisa Lodra!" ge-
ram Pendekar Bodoh. "Di mana kau gantung Kemun-
ing?! Kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu, ke mana
pun kau pergi, aku akan terus memburumu!"
"Hmmm.... Kau mengancam bagai harimau tak
punya taring, Seno! Kau tak akan pernah dapat mewu-
judkan ancamanmu itu. Ha ha ha...!" ejek Mahisa Lo-
dra seraya tertawa bergelak, tangan kanannya yang
membawa cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' tetap
diluruskan ke depan. Lalu dengan penuh kesunggu-
han, murid murtad Dewa Dungu ini berkata, "Bila
sampai matahari tenggelam tiga kali terhitung dari
senja nanti kau tidak dapat menemukan di mana be-
radanya Kemuning berada, maka gadis itu benar-benar
akan menjadi santapan buaya-buaya ganas. Si tikus
mungil memutuskan tali penggantungnya lebih dulu.
Lalu tubuh Kemuning yang sintal montok akan terce-
bur ke rawa-rawa. Kemudian..., hemmm... kukira kau
sudah tahu sendiri apa yang akan terjadi pada gadis
itu, Seno."
"Jahanam!" maki Seno untuk kesekian kalinya.
Ingin rasanya Seno membunuh Mahisa Lodra saat itu
juga. Tapi dia tak mungkin menyerang kakek berwajah
pemuda itu. Kalaupun Mahisa Lodra dapat dibunuh,
Kemuning tetap saja akan menemui nasib naas. Maka,
tak ada jalan lain bagi Seno kecuali meminta Mahisa
Lodra mengatakan di mana sebenarnya Kemuning be-
rada. Oleh karena itulah, Seno berusaha menekan lu-
apan hawa amarah. Dengan suara yang dilembutkan,
dia berkata, "Tampaknya, hari ini aku harus mengikuti
kemauanmu, Mahisa Lodra. Aku memang harus me-
nurut, tapi katakan dulu di mana Kemuning berada!"
Bibir Mahisa Lodra menyungging senyum se-
nang. Kelopak matanya menyipit. Mendadak, sosok
Kemuning yang terdapat pada bayangan cermin
'Terawang Tempat Lewati Masa' lenyap tanpa bekas. Di
cermin itu, Seno cuma dapat melihat pancaran cahaya
mentari berwarna jingga.
Perlahan Mahisa Lodra menyimpan kembali
cermin ajaibnya ke balik pakaian merahnya. "Kau ma-
sih punya waktu sampai sore nanti, Seno," ujarnya.
"Tapi, jangan sampai keduluan matahari tenggelam.
Bila terlambat, kau hanya akan menemukan tubuh
Kemuning hanya berupa tulang-belulang di dasar ra-
wa-rawa...."
"Jangan banyak mulut, Mahisa Lodra!" sergap
Seno. "Segera katakan di mana Kemuning!"
Mahisa Lodra tersenyum lagi. Pelan saja dia
menjawab, "Lembah Dewa-Dewi."
Kontan kening Seno berkerut rapat. Dia tidak
tahu di mana letak Lembah Dewa-Dewi. Terbawa rasa
panasan, Seno membentak.
"Aku tak pernah menginjakkan kaki di Lembah
Dewa-Dewi! Aku tak tahu di mana letak lembah itu!
Jangan kau permainkan aku, Mahisa Lodra!"
"Tahan amarah mu, Seno! Kau keliru bila men-
ganggap Lembah Dewa-Dewi cuma kabar angin. Lem-
bah Dewa-Dewi benar-benar ada! Kalau kau ingin tahu
di mana letaknya, demi menyelamatkan nyawa Kemun-
ing, tentu saja kau harus memenuhi syarat ku...."
"Aku tahu apa permintaanmu!" sahut Seno.
"Bukankah kau menginginkan Kodok Wasiat Dewa...?"
"Ha ha ha...!" Mahisa Lodra terus tertawa pon-
gah. "Kalau sudah tahu, kenapa tak segera kau serah-
kan benda di tanganmu itu?"
Seno menarik napas panjang. Sesaat benaknya
jadi kalut. Pikirannya berputar bingung. Bila Mahisa
Lodra menelan Kodok Wasiat Dewa, maka dia akan
mendapatkan tambahan hawa sakti. Ilmu kesaktian-
nya akan berlipat ganda seperti telah dilatih selama
dua puluh tahun! Kalau sudah begitu, amatlah sulit
untuk menghentikan nafsu jahat Mahisa Lodra!
Namun, sosok Kemuning yang telah mencuri
hatinya sanggup mengalahkan kekhawatiran Seno ter-
hadap kesesatan Mahisa Lodra. Seno harus dapat me-
nyelamatkan Kemuning! Apalagi, di benak Seno ter-
bayang peristiwa manis yang pernah dilaluinya bersa-
ma Kemuning. Beberapa hari yang lalu, di tengah ma-
lam, Seno pernah merasakan ciuman dan dekapan
Kemuning. Dan, hal itu membuat Seno mengambil ke-
putusan bahwa nyawa Kemuning lebih berharga dari
Kodok Wasiat Dewa!
"Baik! Aku menuruti apa syaratmu!" ujar Seno
kemudian. "Kodok Wasiat Dewa akan kuberikan kepa-
damu, tapi beritahukan lebih dulu di mana letak Lem-
bah Dewa-Dewi!"
"Kau lemparkan benda di tanganmu itu kepa-
daku, baru nanti kukatakan tempat Kemuning bera-
da...," tawar Mahisa Lodra.
"Jahanam! Kau hendak berlaku culas lagi!"
"Tidak! Aku tahu kau saudara seperguruanku.
Oleh karena itu, aku tak akan mempermainkan mu.
Aku benar-benar akan mengatakan di mana letak
Lembah Dewa-Dewi kalau Kodok Wasiat Dewa telah
berada di tanganku!"
Mendengar ucapan Mahisa Lodra yang penuh
kesungguhan, Pendekar Bodoh tampak terpaku di
tempatnya. Benarkah Mahisa Lodra akan menepati ka-
ta-katanya? Ataukah dia akan berlaku licik?
***
LIMA
Di balik semak belukar yang tumbuh menebar
di tepi sungai, sosok manusia berpakaian putih-putih
ini memandang nanar. Tubuhnya bergetar, seperti ten-
gah menyimpan hawa amarah ataupun rasa khawatir.
Sosok manusia yang sedang mengintai ini seorang le-
laki bertubuh tinggi tegap. Raut wajahnya tak bisa di-
kenali karena dia mengenakan topeng yang terbuat da-
ri baja putih.
"Aku bisa merasakan kebingungan pemuda ber-
juluk Pendekar Bodoh itu," kata hati lelaki bertopeng.
"Dia harus menentukan pilihan yang sama-sama berat
bak makan buah simalakama. Sebagai seorang pende-
kar, tentu saja dia tak merelakan Kodok Wasiat Dewa
jatuh ke tangan orang jahat. Namun sebagai manusia
biasa yang punya rasa sayang dan cinta, dia tak
mungkin membiarkan orang yang dikasihinya celaka."
Lelaki bertopeng ini terus mengarahkan pan-
dangan ke sosok Mahisa Lodra dan Seno Prasetyo. Ge-
taran tubuhnya semakin terlihat manakala Seno men-
gangkat Kodok Wasiat Dewa di depan dada. Agaknya,
pengintai ini juga menyayangkan apabila Kodok Wasiat
Dewa sampai jatuh ke tangan Mahisa Lodra yang su-
dah terbukti sebagai seorang tokoh beraliran sesat.
"Seno.... Seno...," mendadak lelaki bertopeng
menyebut nama kecil Pendekar Bodoh. Tapi karena
suaranya amat pelan, tak ada orang lain yang dapat
mendengarkannya. Tak juga Pendekar Bodoh yang se-
benarnya punya indera pendengaran amat tajam. "Se-
no.... Seno...," sebut lelaki bertopeng lagi. "Wajah pe-
muda itu mirip sekali.... Yah! Mirip sekali! Benarkah
dia Seno Prasetyo, putra Dewi Ambarsari...?"
Sementara Pendekar Bodoh dan Mahisa Lodra
saling tatap dalam perasaan tegang, lelaki yang wajah-
nya tertutup rapat ini mendesah panjang berulang
kali. Rasa senang, sedih, kalut, dan tegang tiba-tiba
menggeluti batinnya. Namun saat keempat rasa itu
berperang, rasa sedihlah yang menang. Hingga, dari
balik topeng baja putihnya, bola mata si pengintai
tampak berkaca-kaca. Namun, lelaki ini tak hendak
berbuat apa-apa kecuali memperhatikan dan menung-
gu apa yang akan dilakukan oleh si Pendekar Bodoh
Seno Prasetyo.
"Hei! Semakin lama kau berpikir, semakin pen-
dek waktumu untuk menyelamatkan Kemuning!" ujar
Setan Selaksa Wajah,
Seno menggeragap seperti baru disadarkan dari
lamunan panjang. Sesaat ditatapnya wajah Mahisa Lo-
dra, lalu tatapannya kembali ke gumpalan sinar putih
yang berada di telapak tangan kanannya.
"Ikan Mas Dewa...," desis Seno dengan kepala
tetap tertunduk. "Bukan aku tak menghargai benda
pemberianmu ini. Tapi, aku mesti menyelamatkan
nyawa Kemuning. Terpaksa aku menyerahkan Kodok
Wasiat Dewa pemberianmu kepada binatang laknat
itu!"
Usai mengucap kata-kata yang ditujukan kepa-
da Ikan Mas Dewa, Pendekar Bodoh menatap lekat wa-
jah Setan Selaksa Wajah. "Bila kau tak menepati kata-
katamu, sampai ke ujung langit pun aku akan menge-
jarmu untuk membuat perhitungan!" katanya seraya
melemparkan Kodok Wasiat Dewa kepada Setan Selak-
sa Wajah.
Hup!
Cekatan sekali Mahisa Lodra menangkap gum-
palan cahaya putih yang dilemparkan ke arahnya.
Benda ajaib yang semula tersimpan di dalam perut
Ikan Mas Dewa itu lalu diamat-amati dengan bola ma-
ta berbinar senang.
"Kodok Wasiat Dewa....! Kodok Wasiat Dewa...!"
seru Setan Selaksa Wajah, melonjak girang. "Ha ha
ha...! Aku telah mendapatkannya! Aku telah menda-
patkannya! Ha ha ha...!"
Selagi Mahisa Lodra tertawa bergelak-gelak,
Seno mendelikkan mata. Seno khawatir bila Mahisa
Lodra akan mengingkari kata-katanya. Namun, bila hal
itu memang terjadi, Seno bermaksud mengadu jiwa.
Maka tanpa pikir panjang lagi, dia menyiapkan puku-
lan 'Dewa Badai Rontokkan Langit'! Di lain kejap, ke-
dua pergelangan Seno berubah warna menjadi putih
berkilat!
"Kau tampak begitu tegang, Seno...," tegur Ma-
hisa Lodra sambil menimang Kodok Wasiat Dewa. "Aku
tahu kau telah mempersiapkan ilmu pukulan yang be-
rasal dari salah satu bagian Kitab Sanggalangit. Tapi...,
hemmm..., sudah kubilang tadi, aku tak akan mem-
permainkan mu. Aku benar-benar akan mengatakan di
mana letak Lembah Dewa-Dewi. Sekarang buka telin-
gamu baik-baik...."
Semakin tegang hati Seno. Sekujur tubuhnya
gemetaran, tak kuasa menunggu ucapan Mahisa Lo-
dra. Sementara, Mahisa Lodra sendiri tampak terse-
nyum-senyum. Perlahan tangannya mengeluarkan se-
buah kantong kain terbuat dari kain putih. Setelah
menyimpan Kodok Wasiat Dewa ke dalam kantong itu,
Mahisa Lodra menyimpannya kembali ke balik baju.
"Cepat katakan!" bentak Seno, tak sabaran.
Mahisa Lodra tersenyum. "Buka telingamu
baik-baik...," katanya. "Aku tak bisa mengatakan seca-
ra pasti di mana letak Lembah Dewa-Dewi...."
"Jahanam!" sela Seno sikapnya seperti hendak
mengirim pukulan jarak jauh.
"Uts! Tunggu!" Mahisa Lodra mengangkat tela-
pak tangan kanannya. "Jangan salah mengerti! Karena
suatu hal yang sudah menjadi aturan, aku memang
tak bisa mengatakan di mana letak Lembah Dewa-
Dewi. Tapi..., buka telingamu baik-baik, ada kata sandi
yang harus dapat kau pecahkan untuk dapat menye-
lamatkan jiwa Kemuning. Sandi itu adalah 'Menembus
Laut Bernapas Dalam Air'...!"
Usai berkata, Setan Selaksa Wajah menjejak
tanah seraya berkelebat pergi. Seno yang masih pena-
saran tentu saja tak mau membiarkan kakek berwajah
pemuda itu menyingkir begitu cepat. Namun sebelum
Seno mengerahkan ilmu 'Lesatan Angin Meniup Din-
gin', mendadak terdengar sebuah seruan....
"Waktumu sangat singkat! Pecahkan sandi yang
kau dapat! Aku yang akan mengurus Mahisa Lodra!"
Seruan itu dibarengi dengan berkelebatnya se-
sosok bayangan putih yang langsung mengejar Setan
Selaksa Wajah. Seno tak dapat mengenali si bayangan
karena kelebatan tubuhnya amat cepat luar biasa, tak
kalah dengan ilmu 'Angin Pergi Tiada Berbekas' milik
Setan Selaksa Wajah ataupun 'Lesatan Angin Meniup
Dingin' milik Seno sendiri.
"Hei! Siapa kau?" teriak Seno. Tapi, si pengejar
Mahisa Lodra yang sebenarnya adalah lelaki bertopeng
baja putih, tak menghiraukan teriakan Seno, Namun,
lamat-lamat Seno mendengar sebuah bisikan yang dis-
ampaikan dengan ilmu pengirim suara jarak jauh.
"Suatu saat nanti, aku pasti akan menemuimu.
Ada banyak hal yang ingin kuketahui tentang jati diri-
mu. Namun, agar kau tak penasaran, kau bisa men-
gingat ku dengan sebutan Ksatria Topeng Putih."
Mendengar bisikan itu, untuk beberapa lama
Seno terpaku di tempatnya. "Ksatria Topeng Putih....
Ksatria Topeng Putih...," desisnya. "Siapa dia? Apakah
dia berada di pihakku? Hmmm.... Siapa pun dia, yang
pasti dia mempunyai urusan dengan Mahisa Lodra.
Mudah-mudahan dia bisa menyelamatkan Kodok Wa-
siat Dewa agar tidak disalahgunakan oleh Mahisa Lo-
dra...."
Seno menatap sang baskara yang telah naik se-
jengkal dari garis cakrawala timur. Teringat akan per-
soalan pelik yang dihadapinya, Seno cuma dapat cen-
gar-cengir sampai beberapa saat. Jalan pikirannya jadi
buntu mendadak. Haruskah dia mengejar Mahisa Lo-
dra yang membawa Kodok Wasiat Dewa? Tapi, bukan
kah Ksatria Topeng Putih telah berpesan bahwa perihal
Mahisa Lodra akan diurusnya sendiri?
Tangan kanan Seno terangkat, lalu menggaruk
kepalanya yang tak gatal. Wajah murid Dewa Dungu
ini semakin tampak kebodoh-bodohan.
"Uh! Aku benar-benar bingung!" gumamnya.
"Ksatria Topeng Putih melarangku mengejar Mahisa
Lodra, namun bagaimana kalau dia ternyata kaki-
tangan Mahisa Lodra sendiri? Hmmm.... Kalau me-
mang begitu, berarti sandi yang diberikan kepadaku
tadi hanya sandi palsu belaka...."
Plok! Plok!
Dua kali Seno menepak kepalanya sendiri,
sampai tubuhnya oleh ke kiri. Lalu, dia menggeleng-
geleng untuk mengusir baying-bayang yang mengaburi
pandangannya. Begitu pandangannya kembali jernih,
mata Seno tampak berbinar.
"Aku percaya! Aku percaya pada suara hatiku!"
desisnya. "Walau jahat dan licik, tapi kali ini Mahisa
Lodra tidak menipuku. Dan, orang yang mengaku ber-
juluk Ksatria Topeng Putih itu pun bukan kaki-tangan
Mahisa Lodra. Aku bisa merasakan adanya hawa ama-
rah yang ditujukan kepada Mahisa Lodra saat dia
membisikkan kata-kata kepadaku. Ya! Aku percaya
pada suara hatiku ini!"
Sekali lagi, Seno menatap wajah sang baskara
yang menandakan hari telah berganti. Keningnya tam-
pak berkerut rapat karena tengah berpikir keras, men-
gingat kata sandi yang disampaikan oleh Setan Selaksa
Wajah.
"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," desis
Seno setelah dapat mengingat kata sandi untuk dapat
pergi ke Lembah Dewa-Dewi.
Kening Seno semakin berkerut rapat. Dia berpikir semakin keras. Perutnya memperdengarkan sua-
ra berkeruyukan, pertanda di tengah terserang rasa
lapar. Namun, kekhawatiran Seno terhadap keselama-
tan Kemuning mampu mengalahkan rasa laparnya.
Seno memang harus segera dapat memecahkan kata
sandi dari Mahisa Lodra.
"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," desis
Seno. "Apakah letak Lembah Dewa-Dewi berada di da-
lam laut, sehingga ada kata lanjutan "bernapas dalam
air'? Tapi..., dari cermin 'Terawang Tempat Lewati Ma-
sa', aku melihat sosok Kemuning digantung di atas ra-
wa-rawa. Rawa-rawa itu tak mungkin berada di dasar
laut. Namun..., apa maksudnya Mahisa Lodra mema-
kai kata sandi 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'?"
Plok!
Untuk kesekian kalinya, Seno menepak kepa-
lanya sendiri. "Bodoh sekali aku ini! 'Menembus Laut
Bernapas Dalam air'...? Apa artinya? Apakah aku ha-
rus menyelam ke dasar laut seraya bernapas dalam
air? Uh! Kedalaman laut ratusan bahkan ribuan tom-
bak, bagaimana aku dapat menyelam ke dasarnya? Ka-
laupun dapat, lalu yang dimaksud Mahisa Lodra itu
laut mana? Di dunia ini banyak laut. Haruskah aku
menyelami semua laut yang ada?"
Seno menatap sang baskara yang sedikit ber-
geser naik. Merasakan putaran waktu yang tak mung-
kin dapat ditahan, Seno jadi kalut. Untuk menyela-
matkan jiwa Kemuning, dua hari. Bila hari keburu
berganti, jiwa Kemuning tak akan dapat diselamatkan
lagi!
Seperti orang kehilangan ingatan, Seno lalu
berkata-kata seorang diri, mengulang kata sandi dari
Mahisa Lodra.
"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'....
'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...."
Terbawa kekalutannya, Seno sampai tidak me-
nyadari bila tak jauh darinya telah hadir dua orang
kakek bertampang bengis. Kedua kakek itu meman-
dang Seno dengan bola mata berkilat-kilat penuh ke-
bencian.
Mereka sama-sama mengenakan pakaian kun-
ing-hitam. Yang satu bertubuh kurus tinggi dan sa-
tunya lagi bertubuh gemuk bulat. Menilik raut wajah
mereka, siapa lagi kalau bukan Dua Iblis dari Gunung
Batur. Iblis Perenggut Roh dan Iblis Pencabut Jiwa!
"Hmmm.... Pemuda gendeng itu menyebut-
nyebut 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'..., apa-
kah dia telah mencuri batu mustika itu?" tanya Iblis
Perenggut Roh.
"Aku tak tahu," jawab Iblis Pencabut Jiwa, te-
rus mengawasi Seno dari jarak sepuluh tombak. "Pe-
muda itu terus memegangi perutnya. Di balik pakaian-
nya mungkin saja tersimpan batu mustika 'Menembus
Laut Bernapas Dalam Air'...."
"Kalau benar begitu, kita harus cepat bertin-
dak. Kita bunuh saja pemuda gendeng itu. Dua kali
aku dipermainkannya. Sakit hatiku hanya bisa diobati
oleh cucuran darahnya!"
Usai berkata, Iblis Perenggut Roh meloncat se-
bat. Seno yang sedang duduk terpaku sambil meme-
gangi perutnya tampak terkejut. Kekalutan di benak
Seno benar-benar membuat kewaspadaan Seno berku-
rang. Dia tak tahu kalau sedari tadi dirinya telah men-
jadi perhatian Dua iblis dari Gunung Batur.
"Kita berjumpa lagi, Pemuda Gendeng!" seru Ib-
lis Perenggut Roh, berkacak pinggang. "Sebelum kita
melanjutkan urusan tempo hari, ada baiknya kalau
kau serahkan benda yang ada di balik pakaianmu itu!"
"Ya! Serahkan batu mustika 'Menembus Laut
Bernapas Dalam Air'...!" teriak iblis Pencabut Jiwa se-
raya meloncat ke samping kanan adik seperguruannya.
Seno geleng-geleng kepala sambil nyengir kuda.
Dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Dua Iblis da-
ri Gunung Batur. Hingga untuk beberapa lama, Seno
cuma dapat menatap tanpa berkata sepatah kata pun.
"Kau memang bodoh atau berlagak bodoh!"
bentak Iblis Pencabut Jiwa. "Walau kau punya kesak-
tian setinggi dewa pun, jangan harap kali ini kau dapat
lolos dari tanganku!"
"Serahkan batu mustika 'Menembus Laut Ber-
napas Dalam Air' yang tersimpan di balik pakaianmu
itu!" tambah Iblis Pencabut Jiwa.
Dua Iblis dari Gunung Batur sama-sama men-
gucap kata ancaman. Agaknya, mereka lupa bila per-
nah dipecundangi dengan mudah oleh Seno di Telaga
Dewa. Bentrokan dengan Ksatria Seribu Syair pun tak
membuat mereka jadi jera. Kekalahan itu justru mem-
buat mereka semakin ingin mengumbar hawa amarah.
"Apa maksud kalian?" tanya Seno, tak mengerti.
"Dan kau, Kakek Gendut, kenapa menyebut sandi
'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'? Apakah kau in-
gin membantuku memecahkan sandi itu?"
"Edan!" maki Iblis Pencabut Jiwa. "Jangan ber-
pura-pura! Sedari tadi aku melihatmu memegangi pe-
rut. Batu mustika itu tentu berada di balik pakaianmu!
Cepat serahkan!"
"Batu mustika?" ujar Seno, semakin tak men-
gerti. "Aku tidak membawa batu mustika! Aku meme-
gangi perutku karena aku merasa lapar...."
"Jahanam!" geram Iblis Perenggut Roh. "Kau
pasti menyimpan batu mustika 'Menembus Laut Ber-
napas Dalam Air' karena kau terus menyebut-nyebut
nama batu milik Raja Penyasar Sukma itu!"
Mendengar tuduhan Dua Iblis dari Gunung Ba-
tur yang datang silih berganti, lama-kelamaan Seno ja-
di tahu duduk persoalannya. "Hmmm.... Aku tahu se-
karang...," katanya dalam hati. "Kedua kakek itu me-
nyangka aku membawa sebuah batu mustika bernama
'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' milik seseorang
yang berjuluk Raja Penyasar Sukma. Jadi..., kiranya
kata sandi dari Mahisa Lodra itu berupa nama sebuah
batu mustika...."
Mendadak, Seno bersorak girang. Setitik jalan
terang untuk memecahkan sandi 'Menembus Laut
Bernapas Dalam Air' sudah dapat ditemukannya tanpa
sengaja.
"Terima kasih, Kek.... Terima kasih, Kek...," ujar
Seno seraya membungkuk hormat ke arah Dua Iblis
dari Gunung Batur. "Aku yang bodoh ini memang ha-
rus menghaturkan beribu terima kasih kepada Kakek
berdua. Kakek berdua telah membantuku memecah-
kan sebuah sandi yang...."
"Edan!" maki Iblis Pencabut Jiwa. Mendidih
naik darah kakek gemuk bulat ini melihat sikap Seno
yang tampak begitu menghormat. Kakek ini tidak tahu
bahwa penghormatan Seno benar-benar disampaikan
penuh kesungguhan.
"Serahkan batu mustika 'Menembus Laut Ber-
napas Dalam Air'!" seru Iblis Perenggut Roh, keras
menggelegar. "Setelah itu, bolehlah nanti kita bermain-
main sampai seribu jurus!"
Melihat kenekatan Iblis Perenggut Roh yang
masih saja memandang rendah, Seno jadi gemas. Seno
sudah dapat mengukur sampai di mana ketinggian il-
mu kakek kurus itu. Bahkan, pernah pula menadahi
pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Jiwa' andalan si
kakek. Maka, terbawa rasa gemasnya, Seno menan-
tang.
"Aku tidak membawa batu mustika yang kau
sebutkan itu. Tapi kalau kau penasaran, majulah! Ku-
beri kau kesempatan menyerang sampai tiga jurus! Ka-
lau kau dapat menyentuh sedikit saja salah satu ang-
gota tubuhku, aku bersumpah akan menjadi budak
pengiring mu seumur hidup!"
Mendengus gusar Iblis Perenggut Roh menden-
gar tantangan itu. Tanpa sungkan-sungkan lagi, dia
keluarkan ilmu pukulan 'Merengut Roh Mencabut Ji-
wa' yang menjadi andalannya. Lalu, dia menerjang ga-
nas dengan kedua tangan terjulur lurus ke depan. Se-
saat, bau anyir darah menebar ke mana-mana!
"Hiahhh...!"
***
ENAM
LELAKI bertopeng ini menghentikan kelebatan
tubuhnya di kaki Bukit Pralambang, berjarak hampir
seribu tombak dari Telaga Dewa ke arah selatan. Dari
balik topeng baja putihnya, dia mengedarkan pandan-
gan. Matanya yang tajam berkilat menatap seksama.
Tak sejengkal pun tempat yang luput dari pengama-
tannya.
Tapi karena apa yang dicarinya tak juga terli-
hat, perlahan kakinya melangkah menaiki bukit. Dile-
watinya jajaran pohon jati yang tumbuh dirambati se-
mak belukar. Tubuhnya tampak bergetar terbawa pe-
rasaan tegang. Dia tahu kalau ada bahaya besar yang sedang mengintai nyawanya.
"Aku yakin durjana itu masih berada di sekitar
sini...," kata hati lelaki bertopeng yang mengenalkan
diri sebagai Ksatria Topeng Putih. "Aku bisa mengim-
bangi ilmu peringan tubuhnya yang bernama 'Angin
Pergi Tiada Berbekas'. Tapi, benar-benar aku tak me-
nyangka bila dia bisa berkelebat lenyap dari pandan-
ganku. Kini, aku harus selalu waspada dengan mem-
pertajam indera pendengaran. Bisikan batinku tak
pernah menipu. Durjana itu masih berada di sekitar
sini. Dia pasti sedang menunggu kesempatan untuk
melumpuhkan aku dengan caranya yang licik.
Hmmm.... Awas kau, Mahisa Lodra! Selain mencuri
Pusaka Pedang Naga, rupanya kau pun telah meram-
pas cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' milik Ratu
Perut Bumi. Hmmm.... Kau benar-benar seorang dur-
jana yang amat licin seperti belut. Tapi, jangan kau ki-
ra aku tak dapat meremukkan tulang-belulang mu!"
Terdesak oleh hawa amarah, jajaran gigi Ksatria
Topeng Putih saling bertaut dan memperdengarkan
suara berkerot-kerot. Di balik topeng baja putih, air
mukanya telah berubah merah padam dengan rahang
mengembung hingga berbentuk balok persegi empat.
Kaki Ksatria Topeng Putih terus melewati jaja-
ran pohon jati. Perlahan namun pasti, dia pun mulai
menuju ke puncak bukit. Kabut yang belum hilang se-
penuhnya membuat hawa di setiap lereng bukit terasa
dingin. Namun demikian, sekujur tubuh Ksatria To-
peng Putih bermandikan keringat. Bukan karena habis
berlari menempuh jarak ratusan tombak, tapi karena
terbawa rasa tegang.
Setelah melalui jalan berliku-liku berupa tanah
cadas yang dirambati semak berduri, sampailah Ksa-
tria Topeng Putih di sebuah tebing yang menjulang cukup tinggi. Tebing itu amat kasar dan dipenuhi cekun-
gan-cekungan. Permukaan tanahnya seperti habis di-
gulung. Anehnya, tebing yang ditemukan Ksatria To-
peng Putih itu senantiasa bergerak mengembung dan
mengempis. Angin yang berhembus tidak seberapa
kencang tidak mungkin dapat menggerakkan tebing
itu. Tapi, kenapa tebing itu senantiasa bergerak men-
gembung dan mengempis?
Ksatria Topeng Putih menambah kewaspa-
daannya. Tebing yang ditemukannya jelas bukan teb-
ing sewajarnya. Apalagi ketika terdengar suara....
"Khrokkk...! Khrokkk...!"
Suara yang didengar Ksatria Topeng Putih itu
mirip suara katak, tapi terdengar amat keras. Karena
kaget, Ksatria Topeng Putih melompat cepat ke bela-
kang. Ringan sekali tubuhnya mendarat di tanah wa-
lau habis melayang tak kurang dari lima tombak.
"Khrokkk...! Khrokkk...!"
Suara aneh itu terdengar lagi. Gerakan pada
tebing terlihat makin kentara. Mengembang makin be-
sar dan mengempis makin dalam. Agar dapat melihat
puncak tebing, Ksatria Topeng Putih mengibaskan ke-
dua telapak tangannya
Timbul dua larik sinar merah yang melintang di
hadapan Ksatria Topeng Putih. Semak belukar lang-
sung berhamburan ke berbagai penjuru. Disusul den-
gan suara berdebum keras. Dua batang pohon jati ber-
garis tengah satu depa tiba-tiba tumbang. Akibatnya,
permukaan tanah bergetar. Gumpalan tanah dan be-
batuan berhamburan.
Saat suara hiruk-pikuk sudah reda dan pan-
dangan kembali terang, Ksatria Topeng Putih tersurut
mundur dua langkah. Bola matanya membesar karena
terhantam keterkejutan.
"Ya, Tuhan...," sebut Ksatria Topeng Putih, ter-
surut mundur lagi dua langkah.
Tebing aneh yang ditemukan oleh Ksatria To-
peng Putih ternyata seekor katak raksasa!
Bagian yang tampak terus mengembung dan
mengempis tak lain dari perut katak raksasa itu. Ksa-
tria Topeng Putih menatap nanar, setengah tak per-
caya pada penglihatannya sendiri. Namun, Ksatria To-
peng Putih segera mendengus gusar manakala melihat
seorang pemuda berpakaian serba merah yang sedang
duduk menggantungkan kaki di leher katak raksasa.
"Mahisa Lodra keparat...!" dengus Ksatria To-
peng Putih.
"Ha ha ha...!" tawa gelak pemuda berpakaian
serba merah yang memang Mahisa Lodra atau Setan
Selaksa Wajah. "Bentuk tubuhmu bagus, bahan pa-
kaianmu pun cukup enak dipandang mata, tapi aku
tak tahu kenapa wajahmu kau tutup dengan topeng?
Siapa kau? Apa hubunganmu dengan pemuda geblek
bergelar Pendekar Bodoh itu? Kenapa kau mengejar-
ku?"
Mahisa Lodra mengeluarkan rentetan kalimat
panjang. Telapak tangan kanannya tak henti mengelus
katak raksasa yang tengah didudukinya. Sementara,
satwa setinggi sepuluh tombak lebih itu senantiasa
membuka mulut. Lidahnya yang berwarna merah ber-
kilat tampak melelet-lelet.
"Aku mengejarmu karena ada banyak urusan
yang harus kuselesaikan denganmu!" seru Ksatria To-
peng Putih.
"Kau belum sepenuhnya menjawab perta-
nyaanku, Lelaki Bertopeng!" sahut Setan Selaksa Wa-
jah. "Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Pendekar
Bodoh, sehingga kau bersusah payah mengejarku
sampai ke Bukit Pratambang ini?"
Di ujung kalimat Mahisa Lodra, katak raksasa
mengeluarkan suara ngorok dua kali. Tiba-tiba, lidah-
nya terjulur panjang. Cepat Ksatria Topeng Putih me-
loncat ke samping kiri karena lidah katak raksasa
hendak menggulung tubuhnya.
"Sabarlah dulu, Adiguna...," ujar Setan Selaksa
Wajah, menenangkan katak raksasa yang didudu-
kinya. "Biarkan orang itu memperkenalkan dulu siapa
jati dirinya. Kalau dia memang punya maksud memu-
suhiku, terserah kepadamu apa yang akan kau laku-
kan...."
Usai mengelus-elus katak raksasa yang dis-
ebutnya dengan nama Adiguna, Setan Selaksa Wajah
menuding Ksatria Topeng Putih. "Cepat kenalkan siapa
dirimu dan buka topengmu sekarang juga!" bentaknya.
"Tentang siapa diriku, itu tidak begitu penting,"
sahut Ksatria Topeng Putih. "Kau bisa memanggilku
dengan sebutan Ksatria Topeng Putih. Hanya itu yang
boleh kau ketahui. Sementara, yang harus kau laku-
kan adalah... mengembalikan Pusaka Pedang Naga
yang kau curi dari puncak Gunung Arjuna...!"
"Huh!" dengus Setan Selaksa Wajah. "Aku sama
sekali tak mengenalmu, hai kau lelaki bertopeng! Tak
ada hujan, tak ada guntur. Bertemu pun baru pertama
kali ini, kenapa tahu-tahu kau hendak meminta Pusa-
ka Pedang Naga?!"
"Kau keliru, Mahisa Lodra! Terlalu banyak hu-
jan ataupun guntur yang menyebabkan kau mempu-
nyai urusan denganku! Selain telah mencuri Pusaka
Pedang Naga, kau pun telah merampas cermin
'Terawang Tempat Lewati Masa' milik Ratu Perut Bumi.
Lain itu, aku tahu kau membawa Kodok Wasiat Dewa
yang kau rampas secara licik dari tangan Pendekar
Bodoh. Hmmm.... Melihat begitu banyak urusan yang
harus kau selesaikan denganku, ada baiknya bila kau
segera turun dari leher katak buduk itu!"
Setan Selaksa Wajah tak dapat menyembunyi-
kan keterkejutannya. Ucapan Ksatria Topeng Putih
membuat air mukanya berubah amat keruh. Semua
ucapan lelaki bertopeng itu memang benar adanya.
"Heran aku...," kata hati Mahisa Lodra. "Bagai-
mana dia bisa tahu kalau aku telah mencuri Pusaka
Pedang Naga? Bagaimana pula dia bisa tahu kalau
cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa' dan Kodok Wa-
siat Dewa berada di tanganku? Hmmm.... Dia pasti
seorang tokoh tua yang jati dirinya tak ingin dikenali
orang lain. Tapi..., siapa pun dia, karena sudah terlalu
banyak yang diketahuinya, dia harus mati saat ini ju-
ga!"
Lalu, Setan Selaksa Wajah menatap lekat Ksa-
tria Topeng Putih. Dia masih mencoba mengenali wa-
jah si lelaki yang tersembunyi di balik topeng baja pu-
tih. Karena tak dapat, Setan Selaksa Wajah mengamati
bentuk tubuh si lelaki bertopeng.
"Hmmm.... Warna dan potongan pakaian bisa
dirubah sekehendak hati. Tapi, kau tak mungkin dapat
merubah bentuk tubuhmu, hai kau lelaki bertopeng!
Tanpa ilmu 'Selaksa Wajah Berganti-ganti' seperti yang
kumiliki, kau tak mungkin dapat menipu penglihatan-
ku...," ujar Setan Selaksa Wajah.
Di balik topengnya, wajah Ksatria Topeng Putih
langsung memucat. Dia merasa jati dirinya dapat dike-
nali oleh Mahisa Lodra.
"Hmmm.... Kulihat tubuhmu gemetar," lanjut
Setan Selaksa Wajah. "Bertambahlah keyakinanku bila
kau memang seorang tokoh tua yang sengaja menyem-
bunyikan jatidiri. Namun, kau tak dapat menipuku! Haha ha...! Bukankah kau Ksatria Se...."
"Keparat! Jangan banyak cakap!"
Ksatria Topeng Putih memotong kalimat Setan
Selaksa Wajah dengan geram kemarahan. Mendadak,
lelaki berpakaian putih-putih ini mengibaskan kedua
telapak tangannya.
Wus...! Wus...!
Dua larik sinar merah dalam bentuk lengkun-
gan melesat ganas ke arah Setan Selaksa Wajah yang
tengah duduk di leher katak raksasa bernama Adigu-
na.
Tak mau dirinya bersama satwa tunggangannya
celaka, bergegas Setan Selaksa Wajah mengeluarkan
ilmu pukulan 'Pelebur Sukma'. Saat telapak tangan
kanannya mengibas, melesat seberkas cahaya biru
yang menebarkan hawa panas!
Ketika mengeluarkan ilmu pukulannya itu, Se-
tan Selaksa Wajah tak mau tanggung-tanggung. Dia
kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Selain untuk me-
redam ilmu pukulan Ksatria Topeng Putih, Setan Se-
laksa Wajah juga bermaksud langsung menghabisi ri-
wayat lelaki bertopeng itu.
Blarrr,..!
Blarrr...!
Dua ledakan dahsyat menggelegar panjang. Be-
lasan ekor burung yang kebetulan sedang terbang di
atas pusat ledakan tampak terlontar dengan tubuh
tercerai-berai. Beberapa pohon jati tumbang, dan se-
bagian tercabut dari dalam tanah lalu terlontar ke kaki
bukit. Sementara, gumpalan tanah dan bebatuan lang-
sung menutupi pandangan mata!
Beberapa saat kemudian, Ksatria Topeng Putih
tampak berdiri terhuyung-huyung. Kain bajunya yang
berwarna putih telah ternoda oleh cairan darah yang
menyembur dari mulutnya. Rambutnya yang semula
terikat rapi tampak tergerai awut-awutan. Sebagian
malah terlihat mengepulkan asap karena terbakar.
"Ha ha ha...!" tawa pongah Setan Selaksa Wa-
jah. "Kukira Ilmu pukulanmu masih jauh berada di
bawah ku. Hari ini aku berlaku sangat pintar! Kau
akan segera mati! Ha ha ha...! Ksatria Se..."
"Jahanam! Aku belum kalah!" seru Ksatria To-
peng Putih, memotong ucapan Mahisa Lodra.
"Kau belum mengaku kalah?" cibir Setan Selak-
sa Wajah. "Boleh! Boleh saja kau turuti sifat keras ke-
palamu! Tapi, apa kau tidak sadar bila isi dadamu te-
lah terguncang? Kau telah terluka dalam! Lihat sikap
berdiri mu yang sempoyongan itu!"
"Tapi, aku belum kalah!" sahut Ksatria Topeng
Putih.
Aneh sekali? Saat Ksatria Topeng Putih bicara,
bibirnya sama sekali tak bergerak. Dan, dari balik to-
peng baja putih, bola matanya yang semula bersorot
tajam, kini berubah tanpa sinar sama sekali. Bahkan,
bila diperhatikan dengan seksama, bola mata Ksatria
Topeng Putih telah berubah menjadi dua butir batu
berwarna kelabu!
"Aku belum kalah!" seru Ksatria Topeng Putih
lagi bibirnya tetap tak bergerak.
"Hmmm.... Kau memang keras kepala, Ksatria
Se...."
"Aku belum kalah!" Ksatria Topeng Putih berse-
ru kembali, memotong kalimat Mahisa Lodra.
"Aku tak mau membuang tenaga percuma!
Membunuh orang yang sudah luka parah sepertimu,
aku tak memperoleh keuntungan apa-apa!" ujar Setan
Selaksa Wajah, jumawa. "Untuk meladeni kekerasan
kepalamu, kau hadapi saja Lidah Maut satwa tunggangan ku ini!"
Usai berkata, Setan Selaksa Wajah menepuk
leher Adiguna.
"Khrokkk...! Khrokkk...!"
Katak raksasa berkulit kasar seperti tonjolan
batu itu membuka mulutnya lebar-lebar. Timbul ti-
upan angin kencang. Beberapa bongkah batu besar ja-
tuh menggelinding ke kaki bukit. Sementara, gumpa-
lan tanah bercampur kerikil dan patahan ranting po-
hon jati tampak beterbangan hendak menghajar tubuh
Ksatria Topeng Putih!
"Aku belum kalah!"
Ksatria Topeng Putih mengulang lagi kalimat-
nya. Dia tak berbuat apa-apa untuk mempertahankan
diri. Dia tadahi benda-benda yang hendak menghajar
tubuhnya.
Setan Selaksa Wajah tertawa bergelak-gelak
melihat tubuh Ksatria Topeng Putih jatuh berdebam ke
tanah, lalu berguling-guling di lereng bukit.
Namun, begitu Adiguna menutup kembali rong-
ga mulutnya, Ksatria Topeng Putih bangkit berdiri.
Dengan langkah terhuyung-huyung, dia berjalan men-
dekati. Pakaiannya semakin lusuh dan kotor. Selain
noda darah, gumpalan tanah pun turut mengotori.
"Aku belum kalah!"
Sekali lagi, Ksatria Topeng Putih mengulang
ucapannya. Dia terus berdiri terhuyung-huyung sambil
menengadahkan wajahnya. Hingga, topeng baja putih-
nya tampak berkilat-kilat tertimpa sinar mentari.
Terkesiap Setan Selaksa Wajah melihat keneka-
tan Ksatria Topeng Putih. Dilihat dari keadaan lahir-
nya, Ksatria Topeng Putih tak mungkin lagi dapat ber-
napas panjang, apalagi melakukan pertempuran. Tapi,
kenapa dia tampak begitu nekat?
"Kau telah memberi salam perkenalan kepada
orang itu, Adiguna!" ujar Setan Selaksa Wajah sambil
menepuk leher katak raksasa tunggangannya. "Kini,
tiba saatnya kau keluarkan Lidah Maut-mu!"
Di ujung kalimat Setan Selaksa Wajah, Adiguna
mengeluarkan suara ngorok amat keras yang menya-
kitkan gendang telinga. Lalu, dari mulutnya melesat
sebuah benda pipih panjang berwarna merah berkilat.
Itulah Lidah Maut sang katak raksasa!
Swik...! Swik...!
"Wuahhh...!"
Agaknya, Ksatria Topeng Putih memang sudah
tak mempunyai daya kekuatan apa-apa lagi. Dengan
mudah tubuhnya dibelit Lidah Maut Adiguna. Lalu,
ringan sekali tubuh lelaki bertopeng itu diangkat, se-
mentara mulut Adiguna terbuka lebar!
"Tunggu...!"
Setan Selaksa Wajah berteriak lantang untuk
mencegah Adiguna yang hendak menelan tubuh Ksa-
tria Topeng Putih. Maksud Setan Selaksa Wajah adalah
untuk membuka topeng dan mengenali wajah Ksatria
Topeng Putih, Adiguna pun mengerti perintah tuannya.
Ketika tubuh Ksatria Topeng Putih telah menempel di
rongga mulut, katak raksasa itu menghentikan gera-
kannya. Tapi, tiba-tiba...
"Khrokkk...!"
Sang katak raksasa menggeliat kesakitan. Beli-
tan lidahnya terlepas. Tubuh Ksatria Topeng Putih ja-
tuh di antara jajaran giginya. Dan tanpa diduga-
duga..., Ksatria Topeng Putih melompat masuk ke ke-
rongkongan Adiguna!
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?" seru Setan
Selaksa Wajah yang tak dapat melihat peristiwa yang
baru berlangsung.
Adiguna menggoyang-goyangkan kepalanya,
hingga tubuh Setan Selaksa Wajah bergerak naik-
turun. Cepat kakek berwajah pemuda itu menenang-
kan Adiguna dengan mengelus-elus leher sang katak
raksasa.
"Tenanglah! Tenanglah.... Apa yang terjadi?"
ujar Setan Selaksa Wajah dengan raut wajah sedikit
memucat.
"Khrokkk...!"
Adiguna mengeluarkan suara ngorok keras. Li-
dahnya terjulur panjang ke depan. Kontan mata Setan
Selaksa Wajah terbelalak karena tak melihat tubuh
Ksatria Topeng Putih dalam belitan lidah sang katak
raksasa.
"Aku tahu benar watak dan tabiat Adiguna. Dia
akan selalu menuruti apa pun yang kuperintah tanpa
membantah...," gumam Setan Selaksa Wajah. "Tapi,
kenapa tubuh lelaki bertopeng itu tak ada lagi dalam
belitan lidahnya? Apakah Adiguna telah telanjur mene-
lannya?"
Telapak tangan kanan Setan Selaksa Wajah
mengelus-elus leher Adiguna. Tapi, Adiguna terus
mengeluarkan suara ngorok amat keras. Setan Selaksa
Wajah jadi curiga bila telah terjadi apa-apa pada satwa
tungganngannya.
"Aku tahu sekarang!" seru Setan Selaksa Wajah
dengan bola mata melotot besar. "Adiguna tidak mene-
lan tubuh Ksatria Topeng Putih! Justru lelaki berto-
peng itulah yang meloncat masuk ke dalam perutnya!"
Mendadak, Setan Selaksa Wajah tertawa berge-
lak-gelak. Suara tawanya panjang dan keras sekali,
hingga terdengar seantero Bukit Pralambang.
"Lelaki bertopeng itu masuk ke perutmu, Adi-
guna.'" seru Setan Selaksa Wajah kemudian, menepuk
leher sang katak raksasa. "Cepat kau kerahkan tenaga
'Mengolah Api Guncangkan Bumi'...!"
"Khrokkk...!"
Sambil mengangkat kedua kakinya, Adiguna
mengeluarkan suara ngorok yang lebih keras. Tiba-
tiba, dari perut satwa tunggangan Mahisa Lodra itu
terdengar suara bergemuruh seperti suara kawah gu-
nung berapi.
"Bagus! Bagus, Adiguna!" puji Satan Selaksa
Wajah. "Kau telah mengerahkan tenaga 'Mengolah Api
Guncangkan Bumi'! Gumpalan api yang ada dalam pe-
rutmu akan segera membakar hancur tubuh lelaki itu!
Ha ha ha...!"
Selagi Setan Selaksa Wajah tertawa bergelak,
Adiguna menengadah. Mulutnya terbuka, lalu... gum-
palan api menyembur-nyembur ke angkasa bagai hen-
dak membakar langit!
Rupanya, di dalam perut Adiguna benar-benar
tersimpan api! Melihat kehebatan satwa tunggangan
Mahisa Lodra itu, agaknya Ksatria Topeng Putih harus
merelakan nyawanya melayang ke alam baka!
***
TUJUH
KEDUA telapak tangan Iblis Perenggut Roh ber-
putar sebentar. Pada saat bau anyir darah membuat
kepala Seno jadi pening, kedua telapak tangan kakek
yang dilambari ilmu pukulan 'Merenggut Roh Menca-
but Jiwa' itu melesat lurus ke depan. Telapak tangan
kiri hendak menampar pecah kepala Seno, sementara
telapak tangan yang kanan hendak mengarah ke dada.
Rupanya, Iblis Perenggut Roh benar-benar ingin me-
nyudahi riwayat. Seno pada gebrakan pertama.
Pada saat yang sama, tiba-tiba Iblis Pencabut
Jiwa menggembor keras. Dengan gerakan 'Mencari Roh
Mengirim ke Neraka', telapak tangan kanannya yang
dimiringkan berusaha membabat putus pinggang Se-
no.
Sudah puluhan nyawa melayang akibat baba-
tan telapak tangan kanan Iblis Pencabut Jiwa yang ju-
ga dilambari ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut
Jiwa' itu. Batang pohon sepelukan manusia dewasa
pun akan terbabat pula, apalagi tubuh seorang anak
manusia yang cuma terdiri dari susunan tulang dan
daging empuk!
Serangan Dua Iblis dari Gunung Batur itu amat
cepat dan tangkas sekali. Tiga gelombang serangan
yang berasal dari tiga telapak tangan berpusat ke satu
jurusan. Sesaat, Seno mendelikkan mata melihat se-
rangan Dua Iblis dari Gunung Batur yang teramat ga-
nas dan penuh nafsu membunuh. Pandangan Seno ja-
di kabur akibat rasa pening di kepalanya. Bau anyir
darah telah memenuhi tempatnya berdiri.
Namun, percuma saja Seno digembleng keras
oleh Dewa Dungu selama lima tahun andai dia tak da-
pat meredam serangan Dua iblis dari Gunung Batur
itu. Ketika tiga telapak tangan yang mengandung hawa
kematian hampir mengenai sasaran, Seno mengi-
baskan telapak tangan kirinya. Timbul serangkum an-
gin pukulan yang cukup hebat walau Seno cuma men-
gerahkan sepertiga bagian tenaga dalamnya. Kibasan
telapak tangan kiri pemuda berjuluk Pendekar Bodoh
itu bukan saja mampu mengusir bau anyir darah yang
menebar dari telapak tangan Dua Iblis dari Gunung
Batur, bahkan mampu menahan lesatan tubuh dua
tokoh sesat itu.
Dan pada saat tubuh Dua Iblis dari Gunung
Batur masih tertahan di udara, Pendekar Bodoh mem-
bungkuk seraya melakukan gerakan 'Dewa Badai
Menghitung Bintang Menyapa Bulan', salah satu gera-
kan hebat yang dipelajarinya dari Kitab Sanggalangit.
Tuk! Tuk! Tuk!
Des...!
Bola mata Iblis Pencabut Jiwa tiba-tiba melotot
besar seperti hendak keluar dari rongganya. Mulut ka-
kek gemuk bulat itu pun terbuka lebar dan tak bisa
dikatupkan lagi. Totokan Pendekar Bodoh tepat bersa-
rang di beberapa jalan darah penting di tubuhnya.
Akibatnya, tubuh Iblis Pencabut Jiwa jatuh terduduk
dan tak bisa bergerak-gerak lagi!
Akibat yang diterima oleh Iblis Perenggut Roh
Jauh lebih menggiriskan bila dibanding dengan kakak
seperguruannya. Ketika Seno bangkit dari sikap mem-
bungkuknya, cepat sekali tangan kiri si pemuda
menghantam ke depan. Dada Iblis Perenggut Roh ter-
kena bogem mentah dengan telak. Jerit parau yang
amat menyayat hati terdengar manakala tubuh Iblis
Perenggut Roh terlontar lalu jatuh berdebam di tanah
keras.
Dari mulut, lubang hidung dan telinga Iblis Pe-
renggut Roh mengucur darah kental kehitaman. Dia
masih mencoba bangkit sambil memegangi dadanya.
Namun, kesadarannya keburu hilang. Tubuh Iblis Pe-
renggut Roh jatuh terjengkang dan tak bergerak-gerak
lagi. Kain bajunya tampak terbakar di bagian dada.
Sementara, dua tulang iganya patah!
Pendekar Bodoh cuma cengar-cengir melihat
basil gerakan 'Dewa Badai Menghitung Bintang Menyapa Bulan' yang baru saja dilakukannya. Pemuda
remaja berpakaian biru-biru itu menatap tubuh Iblis
Perenggut Roh yang terkapar tak berdaya di tanah.
"Aku cuma mengerahkan seperdelapan tenaga
dalam. Kalau kukerahkan sepenuhnya, jangan harap
tubuhmu masih berwujud utuh seperti itu..." ujar Pen-
dekar Bodoh, terus menatap tubuh Iblis Perenggut
Roh. "Tapi..., kukira kau tentu sudah kapok untuk tak
mengulangi perbuatan jahatmu. Aku tahu ada dua tu-
lang igamu yang patah. Untuk memulihkannya seperti
sediakala, kau butuh waktu tiga tahun lebih! Rasakan
itu, Kakek jelek tukang bunuh orang!"
Seno berkata-kata seakan Iblis Perenggut Roh
dapat mendengar ucapannya, padahal dia sudah tahu
kalau kakek kurus tinggi itu telah hilang kesadaran-
nya karena jatuh pingsan. Sementara, Iblis Pencabut
Jiwa cuma dapat melenguh-lenguh seperti seekor lem-
bu yang baru dicocok hidungnya.
Teringat kata sandi yang diterimanya dari Ma-
hisa Lodra, cepat Seno menghampiri Iblis Pencabut Ji-
wa. Melihat langkah kaki Seno yang tampak tergesa-
gesa, Iblis Pencabut Jiwa langsung dihantui rasa ta-
kut. Bola matanya semakin melotot besar. Keluh yang
keluar dari mulutnya yang terbuka semakin terdengar
jelas.
"Uhhh...!"
Iblis Pencabut Jiwa melenguh keras sekali saat
melihat ujung telunjuk jari tangan kanan Seno berke-
lebat cepat mengarah ke wajahnya. Iblis Pencabut Jiwa
menyangka bila Seno hendak mencongkel bola ma-
tanya. Tapi ternyata, Seno malah membebaskan pen-
garuh totokan yang bersarang di pangkal lehernya.
"Kau dan saudara seperguruanmu tadi menu-
duhku membawa batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," ujar Pendekar Bodoh. "Kenapa
kau menuduh begitu? Dan, apa yang kau ketahui ten-
tang batu mustika itu?"
Iblis Pencabut Jiwa tak langsung menjawab.
Dia menelan ludah beberapa kali. Ditatapnya wajah
Seno lekat-lekat. Melihat wajah si pemuda yang tam-
pak kebodoh-bodohan, keberanian Iblis Pencabut Jiwa
timbul kembali.
"Lepaskan aku! Kita bertempur lagi sampai di
antara kita ada yang mati!" tantang Iblis Pencabut Ji-
wa.
"Aku tidak mengikatmu!. Kenapa minta dile-
paskan?" ujar Pendekar Bodoh sambil nyengir kuda.
"Yang ku maksud adalah melepas pengaruh to-
tokanmu ini, Geblek!" bentak Iblis Pencabut Jiwa.
"Akan ku turuti permintaanmu asal kau jawab
dulu pertanyaanku!" seru Seno, balas membentak.
"Aku tak sudi!"
"Aku akan menyiksamu!"
"Aku tak takut!"
"Hmmm.... Begitu?"
Pendekar Bodoh geleng-geleng kepala sebentar.
Ditatapnya lekat-lekat wajah Iblis Pencabut Jiwa. Lalu,
dia berjongkok seraya....
Tuk! tuk! Tuk!
Seno menotok beberapa jalan darah Iblis Pen-
cabut Jiwa yang terletak di tengkuk dan iga. Dan saat
itu juga, Iblis Pencabut Jiwa menjerit keras sekali. Tu-
buhnya bergetar karena terserang rasa sakit hebat. Je-
ritan Iblis Pencabut Jiwa begitu keras dan terdengar
amat menyayat hati. Dari sudut matanya menitik air
bening. Tak kuasa menahan sakit yang merejam seku-
jur tubuhnya, Iblis Pencabut Jiwa menangis menggerung-gerung.
"Ampun.... Ampun.... Jangan kau siksa aku,
Pendekar...," iba Iblis Pencabut Jiwa, memelas.
"Kau mau menjawab pertanyaanku atau tidak?"
tanya Pendekar Bodoh.
"Ya! Ya, aku mau menjawab, Pendekar! Le-
paskan pengaruh totokanmu! Aku tak tahan! Aku tak
tahan...."
Mendengar kesanggupan Iblis Pencabut Jiwa,
bergegas Seno melepas pengaruh totokannya. Namun,
beberapa totokan dia biarkan, sehingga Iblis Pencabut
Jiwa tetap duduk mendeprok di tanah tanpa dapat
berbuat apa-apa.
"Jawab pertanyaanku?" bentak Seno. "Apa yang
kau ketahui tentang kata 'Menembus Laut Bernapas
Dalam Air?"
Iblis Pencabut Jiwa menghela napas panjang.
Air matanya masih jatuh berlelehan ke kedua pipinya.
Merasa tak mungkin dapat membebaskan diri dan me-
lakukan perlawanan, dia berkata,
"'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' adalah
nama sebuah batu mustika milik Raja Penyasar Suk-
ma...."
"Ya. Ya! Aku tahu!" bentak Seno memasang wa-
jah ketus, tapi raut wajahnya yang lugu malah sema-
kin tampak kebodoh-bodohan, "Apa kegunaan batu
mustika itu? Dan, siapa itu Raja Penyasar Sukma?"
Iblis Pencabut Jiwa menelan ludah, lalu berka-
ta, "Aku tidak tahu apa kegunaan batu mustika itu.
Yang ku tahu bahwa sejak satu candra yang lalu batu
mustika itu telah hilang dicuri orang....."
"Hmmm..... Jadi, karena itulah kau menuduh
aku telah mencuri batu mustika 'Menembus Laut Ber-
napas Dalam Air'?"
Iblis Pencabut Jiwa tak menjawab. Dia cuma
menatap wajah lugu Seno. Tapi, Seno sudah dapat ne-
nangkap arti dari tatapan kakek gemuk bulat itu.
"Ketahuilah, Kakek Gendut, aku tidak pernah
mencuri benda yang kau sebutkan itu," ujar Pendekar
Bodoh kemudian. "Aku mengucap 'Menembus Laut
Bernapas Dalam Air' karena kata-kata itu adalah kata
sandi pemberian Setan Selaksa Wajah. Tokoh jahat itu
telah menyandera seorang sahabatku. Dan, aku harus
dapat memecahkan kata sandi itu agar aku dapat
memberi pertolongan...."
Seno berkata dengan sejujurnya. Nada ucapan-
nya jelas menyiratkan bahwa dia sudah tak punya sa-
kit hati lagi kepada Iblis Pencabut Jiwa. Sementara, Ib-
lis Pencabut Jiwa yang mendengar Seno menyebut
nama Setan Selaksa Wajah cuma diam saja. Padahal,
dia punya hubungan dengan kakek yang pandai meru-
bah wajah dan bentuk tubuhnya itu.
"Sekarang, katakan siapa Raja Penyasar Sukma
yang kau katakan sebagai pemilik batu mustika
'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' itu?! Dan, apa-
kah dia pun tak tahu siapa yang telah mencuri batu
mustikanya?" tanya Pendekar Bodoh dengan nada sua-
ra sedikit dilembutkan.
Kening Iblis Pencabut Jiwa langsung berkerut
rapat, tak segera menjawab pertanyaan Seno.
"Kau tak mau menjawab? Apa kau ingin punya
nasib sama dengan saudara seperguruanmu itu?" an-
cam Seno sambil menggeser tubuh Iblis Pencabut Ji-
wa, sehingga kakek gemuk bulat itu dapat melihat tu-
buh Iblis Perenggut Roh yang terbujur telentang di ta-
nah dengan baju bersimpah darah.
"Ya! Ya, aku jawab pertanyaanmu...," ujar Iblis
Pencabut Jiwa, merasa ngeri melihat keadaan adik se-
perguruannya yang sudah tak punya daya apa-apa.
"Bagus! Katakan siapa itu Raja Penyasar Suk-
ma!" sambut Pendekar Bodoh.
"Dia... dia seorang tokoh sakti yang tiada tan-
dingannya. Kau akan mati bila berani melawannya...."
"Bukan itu yang ingin ku tahu!" bentak Pende-
kar Bodoh seraya menekan bahu kanan iblis Pencabut
Jiwa.
"Uh...!"
Mengeluh kesakitan iblis Pencabut Jiwa. Bahu
kanannya terasa bagai ditindih batu sebesar gajah.
Maka, matanya langsung mendelik dengan mulut ter-
buka lebar.
"Ya.... Ya, kukatakan siapa Raja Penyasar
Sukma sebenarnya...," ujar Iblis Pencabut Jiwa sambil
merintih kesakitan.
"Bagus!" sambut Pendekar Bodoh, menarik te-
lapak tangan kirinya yang menekan bahu kanan Iblis
Pencabut Jiwa. "Raja Penyasar Sukma tentu punya
nama kecil. Siapa nama kecilnya itu?"
Iblis Pencabut Jiwa tampak berpikir sejenak.
Lalu dengan tatapan menyiratkan rasa takut, dia ber-
kata, "Nama kecilnya Banyak Langkir."
Pelan sekali suara yang keluar dari mulut Iblis
Pencabut Jiwa, tapi akibatnya sungguh membuat Iblis
Pencabut Jiwa sendiri terkejut. Begitu mendengar na-
ma Banyak Langkir, Pendekar Bodoh melonjak kaget.
Tanpa sadar, pemuda itu meloncat satu tombak ke be-
lakang!
"Banyak Langkir? Banyak Langkir? Kau tadi
berkata Banyak Langkir?" desis Pendekar Bodoh, ber-
jalan mendekati Iblis Pencabut Jiwa lagi.
Melihat wajah Seno yang jadi tegang dengan bo-
la mata melotot besar, Iblis Pencabut Jiwa terhantam
rasa takut. Tubuhnya langsung gemetaran karena menyangka Seno hendak melepaskan tangan maut.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau katakan tadi,
Raja Penyasar Sukma punya nama kecil Banyak Lang-
kir?" ujar Pendekar Bodoh, menatap tajam wajah Iblis
Pencabut Jiwa.
"I... iya...," jawab Iblis Pencabut Jiwa, masih
bergidik ngeri.
Mendadak, Pendekar Bodoh menengadahkan
wajahnya. Di atas langit luas berwarna biru, pemuda
lugu ini seakan dapat melihat sosok ibunya yang telah
meninggal. Lalu, dia berkata-kata seorang diri.
"Ibu..., tanpa sengaja aku telah menemukan sa-
tu petunjuk untuk mencari orang yang telah menyeng-
sarakan mu, Bu. Aku akan segera menuntut balas, Bu!
Berbahagialah Ibu di surga. Dendam di hati Ibu akan
segera terbalaskan...."
Pendekar Bodoh berkata-kata penuh kesung-
guhan. Di antara rasa kalut karena memikirkan kese-
lamatan Kemuning, terbersit setitik rasa senang di hati
Pendekar Bodoh mengetahui Raja Penyasar Sukma
punya nama kecil Banyak Langkir. Sementara, sejak
lima tahun yang lalu di hati Pendekar Bodoh telah ber-
semayam dendam kesumat terhadap seorang tokoh
bernama Banyak Langkir. Banyak Langkir adalah
pembunuh Dewi Ambarsari atau Putri Bunga Putih
yang tak lain dari ibu kandung Pendekar Bodoh. (Ten-
tang peristiwa terbunuhnya Dewi Ambarsari, silakan
simak serial Pendekar Bodoh dalam episode : "Tongkat
Dewa Badai").
"Apa lagi yang kau ketahui tentang Banyak
Langkir?!" seru Pendekar Bodoh kemudian.
Terbawa rasa takut, agak terbata-bata Iblis
Pencabut Jiwa menjawab. "Dia... dia penguasa Lembah
Dewa-Dewi...."
Untuk kedua kalinya, Seno melonjak kaget. Dia
terkejut bagai disambar petir. Namun, di antara keter-
kejutannya, terbersit pula setitik rasa senang. Kiranya,
Lembah Dewa-Dewi benar-benar ada. Berarti Setan Se-
laksa Wajah tidak berdusta. Kemuning atau Dewi Pe-
dang Kuning memang berada di tempat itu.
"Kau tahu di mana letak Lembah Dewa-Dewi
itu?" tanya Pendekar Bodoh setelah menghela napas
beberapa kali.
Iblis Pencabut Jiwa menggeleng lemah. Melihat
raut wajah kakek gemuk bulat itu, Seno memper-
cayainya. Namun, dia masih ingin mengorek beberapa
keterangan lagi.
"Kau sendiri punya hubungan apa dengan Ba-
nyak Langkir?"
"Aku... aku...."
Iblis Pencabut Jiwa ragu-ragu untuk menjawab.
Menilik dari sikap dan nada ucapan Seno, dia tahu ka-
lau Seno menyimpan rasa benci terhadap Banyak
Langkir. Oleh karena itu, dia takut untuk berkata te-
rus terang.
"Kau tak mau menjawab pertanyaanku? Kau
ingin tulang igamu juga kupatahkan seperti saudara
seperguruanmu itu?" ancam Pendekar Bodoh.
Seno mengucap ancaman dengan penuh ke-
sungguhan. Terdesak oleh rasa hatinya yang tak enak,
Seno lupa pada nasihat ibunya bahwa dia harus selalu
berlaku sopan dan menghormat kepada siapa saja te-
rutama kepada orang yang lebih tua. Tapi kali ini, Se-
no benar-benar membuat Iblis Pencabut Jiwa yang su-
dah tua bangkotan benar-benar mati kutu karena rasa
takut. Seno benar-benar lupa pada nasihat ibunya,
hingga dia tak memberi rasa hormat sedikit pun kepa-
da Iblis Pencabut Jiwa.
"Cepat katakan! Kau punya hubungan apa den-
gan jahanam itu?!" bentak Pendekar Bodoh melihat Ib-
lis Pencabut Jiwa tak segera menjawab pertanyaannya.
"Ya.., ya! Aku adalah anak buah Banyak Lang-
kir..." aku Iblis Pencabut Jiwa.
"Anak buah?" kesiap Pendekar Bodoh.
"Ya..., ya.... Eh...!"
"Anak buah atau bukan?!"
"Ya. Ya, aku anak buahnya...."
"Hmmm.... Kau ini aneh, Kakek Gendut...," ujar
Seno, menepuk-nepuk bahu Iblis Pencabut Jiwa. "Kau
mengaku anak buah Banyak Langkir atau Raja Penya-
sar Sukma penguasa Lembah Dewa-Dewi, tapi kenapa
kau tidak tahu di mana letak tempat itu?! Hayo! Jan-
gan bohong! Ku tonjok hidungmu baru tahu rasa nan-
ti!"
"Aku benar-benar tak tahu di mana letak Lem-
bah Dewa-Dewi," sahut Iblis Pencabut Jiwa yang meli-
hat Seno mengepal tinju. "Selain Mahisa Lodra dan be-
berapa orang kepercayaannya yang lain, tidak ada
yang pernah menjamah tempat itu...."
"Kau tidak bohong?"
"Sungguh! Sumpah! Aku tidak bohong!"
"Hmmm.... Kau tadi menyebut nama Mahisa
Lodra. Apakah kakek jelek itu juga anak buah Banyak
Langkir?"
"Ya... ya!"
"Kalau Mahisa Lodra bisa mendatangi Lembah
Dewa-Dewi, kenapa kau tidak?"
"Karena dia dipinjami batu mustika 'Menembus
Laut Bernapas Dalam Air'...."
"Hmmm.... Jadi, untuk mendatangi Lembah
Dewa-Dewi, setiap orang harus membawa batu musti-
ka 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...."
Bersorak girang Seno dalam hati. Sandi dari
Mahisa Lodra sedikit demi sedikit mulai dapat dipe-
cahkannya. Hingga, Seno berkesimpulan bahwa untuk
menyelamatkan Kemuning, dia harus mendapatkan
dulu batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam
Air'. Tapi, di mana dia harus mendapatkannya? Bu-
kankah batu mustika milik Raja Penyasar Sukma itu
telah dicuri orang?
"Aku bertanya sekali lagi...," ujar Seno kemu-
dian. "Tahukah siapa yang telah mencuri batu mustika
'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'?"
"Pemiliknya sendiri pun tak tahu, apalagi
aku...," jawab Iblis Pencabut Jiwa.
"Menurut pendapatmu, siapa kira-kira pencu-
rinya?" buru Seno.
"Aku tak tahu."
"Tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau batu
mustika itu dicuri orang?"
"Raja Penyasar Sukma sendiri yang berkata ke-
padaku. Aku dan adik seperguruanku diperintahkan-
nya untuk turut mencari batu mustika yang hilang
itu."
Pendekar Bodoh tak bertanya lagi. Otaknya di-
putar untuk dapat menyerap arti semua ucapan Iblis
Pencabut Jiwa. Sesaat, ditatapnya sang baskara yang
terus bergeser naik. Waktunya untuk dapat menyela-
matkan jiwa Kemuning semakin singkat.
Merasa tak ada keterangan lain yang dapat di-
korek dari mulut Iblis Pencabut Jiwa, Pendekar Bodoh
melepas pengaruh totokannya. Dan, begitu dapat
menggerakkan tangan dan kakinya, Iblis Pencabut Ji-
wa yang sudah jera dan ngeri melihat kehebatan Pen-
dekar Bodoh langsung meloncat menjauhi.
"Pergilah! Gendong tubuh saudara sepergu
ruanmu itu!" seru Pendekar Bodoh. "Ingat kata-kataku
ini! Jika ternyata apa yang kau katakan tadi hanya su-
atu kebohongan, tak segan-segan aku meremukkan se-
luruh tulang-belulang mu!"
Seno mengancam penuh kesungguhan. Tapi,
wajahnya yang lugu malah semakin tampak kebodoh-
bodohan. Iblis Pencabut Jiwa yang benar-benar sudah
jera dan ngeri bergegas menghampiri tubuh Iblis Pe-
renggut Roh yang masih tergeletak pingsan di tanah.
Tanpa menoleh-noleh lagi. Iblis Pencabut Jiwa
membopong tubuh adik seperguruannya seraya lari
terbirit-birit. Sementara, Pendekar Bodoh menatap ke-
pergian kakek gemuk bulat itu sambil nyengir kuda.
"Aku harus segera mendapatkan batu mustika
'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'...," tekad Seno.
"Aku harus segera mendapatkannya! Tapi..., aku tak
tahu batu mustika itu dibawa siapa?"
Pendekar Bodoh menggaruk kepalanya yang tak
gatal. Perutnya yang lapar memperdengarkan suara
berkeruyukan. Tapi, Pendekar Bodoh tak mau ambil
peduli. Dia terus memutar otak. Namun, tetap saja ak-
al pikirannya menemui jalan buntu. Siapa yang mem-
bawa batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam
Air'? Pertanyaan itu tidak pernah bisa dijawab oleh
Pendekar Bodoh!
"Astaga...!"
Mendadak, Pendekar Bodoh berseru kaget. Ta-
nah tempatnya berpijak tiba-tiba bergetar. Suara ge-
muruh terdengar dari dalam tanah. Batang-batang po-
hon di sekitar tempat Pendekar Bodoh berdiri tampak
bergerak-gerak bagai terserang gempa. Akibatnya, bu-
tiran kerikil dan gumpalan batu menggelinding berpin-
dah tempat. Lalu....
Brolll...!
"Ya, Tuhan...."
Sekali lagi, Pendekar Bodoh berseru kaget. Se-
kitar lima tombak dari hadapan pemuda lugu ini, per-
mukaan tanah ambrol, dan dari dalamnya muncul se-
sosok manusia!
***
DELAPAN
"CUKUP! Cukup, Adiguna!" seru Setan Selaksa
Wajah. "Kukira tubuh lelaki jahanam yang masuk ke
perutmu itu telah hancur luluh!"
Katak raksasa bernama Adiguna yang sedang
menyembur-nyemburkan gumpalan api ke angkasa
langsung menghentikan perbuatannya. Untuk bebera-
pa lama, hawa di lereng Bukit Pralambang jadi panas.
Daun-daun jati yang semula masih hijau segera telah
menguning. Sebagian malah terbakar hangus. Semen-
tara, bau sangit menebar ke mana-mana karena ada
puluhan ekor burung yang turut terbakar hangus. Se-
mua itu akibat tenaga 'Mengolah Api Guncangkan
Bumi' yang baru saja dikeluarkan oleh satwa tunggan-
gan Setan Selaksa Wajah.
"Khrokkk...! Khrokkk...!"
Adiguna mengeluarkan suara ngorok sambil
menggeser-geser dua kakinya yang menginjak tanah.
Mahisa Lodra atau Setan Selaksa Wajah yang duduk di
leher katak raksasa itu tampak menengadahkan wa-
jahnya ke angkasa, sementara tangan kirinya menge-
lus-elus leher satwa tunggangannya.
"Ha ha ha...!" tawa pongah Setan Selaksa Wajah. "Lelaki bertopeng itu sudah mati dengan tubuh
hancur luluh menjadi abu! Tidak ada lagi orang yang
mengejarku untuk merampas kembali Pusaka Pedang
Naga. Tidak ada pula yang akan mengungkit-ungkit
masalah cermin 'Terawang Tempat Lewati Masa'. Aku
bebas melangkahkan kaki ke mana aku suka. Kodok
Wasiat Dewa pun telah berada di tanganku! Kini, aku
bisa mewujudkan cita-citaku. Ha ha ha..,!"
Selagi Setan Selaksa Wajah tertawa senang,
kembali Adiguna menggeser-geser dua kakinya yang
menginjak tanah. Tubuh Setan Selaksa Wajah tampak
bergoyang-goyang.
"Ya! Ya, aku tahu kemauanmu, Adiguna!" ujar
Setan Selaksa Wajah, menepuk-nepuk leher satwa
tunggangannya. "Kita memang harus segera mengha-
dap sang pemimpin...."
Usai berkata, Setan Selaksa Wajah memperke-
ras tepukannya. Adiguna mengeluarkan suara ngorok
tiga kali seraya memutar tubuh. Tiba-tiba terdengar
suara berdebum keras. Timbul tiupan angin kencang
yang menyertai berguncangnya permukaan tanah. Ki-
ranya, hal itu akibat perbuatan Adiguna yang menje-
jakkan dua kakinya ke tanah.
"Khrokkk...! Khrokkk...!"
Bummm...!
Di lain kejap, tubuh raksasa Adiguna melayang
tinggi di udara dan melesat sebat ke utara. Terdengar
lagi suara berdebum keras manakala tubuh Adiguna
mendarat di tanah. Dengan cara meloncat-loncat, ka-
tak raksasa itu membawa Setan Selaksa Wajah untuk
pergi ke suatu tempat.
Namun, tanpa diketahui oleh Adiguna dan Se-
tan Selaksa Wajah, sesosok bayangan muncul dari ba-
lik pohon jati seraya berkelebat menguntit. Sesosok
bayangan itu terus menguntit di belakang Adiguna
dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya yang
hebat luar biasa.
Satu kali loncatan Adiguna dapat menempuh
jarak sekitar seratus tombak. Bahkan, tubuh katak
raksasa itu dapat melesat cepat sekali laksana menya-
tu dengan hembusan angin. Namun demikian, sosok
bayangan yang menguntit dapat mengimbangi lesatan
tubuh Adiguna. Itu pertanda bahwa si penguntit me-
mang bukan tokoh sembarangan.
Saat Adiguna menghentikan loncatannya di se-
buah padang tandus bernama Padang Angin Malaikat,
si penguntit menghentikan pula kelebatan tubuhnya
seraya bersembunyi di balik bongkahan batu besar.
Ternyata, dia seorang lelaki berpakaian putih-putih
dan mengenakan topeng yang terbuat dari baja putih.
Ksatria Topeng Putih!
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu memang belum
mati. Tenaga 'Mengolah Api Guncangkan Bumi' yang
dikeluarkan oleh Adiguna sama sekali tidak membuat
hancur tubuhnya. Ksatria Topeng Putih memang
mempunyai ilmu kesaktian yang hampir tidak masuk
akal pikiran.
"Gatal tanganku melihat kesombongan durjana
laknat itu...," kata hati Ksatria Topeng Putih dalam ha-
ti. "Dia benar-benar seorang manusia yang kelewat
sombong, padahal dia baru saja ku kelabui...."
Benar! Setan Selaksa Wajah memang telah ter-
makan tipu muslihat Ksatria Topeng Putih.
Pada waktu Setan Selaksa Wajah melepas pu-
kulan 'Pelebur Sukma' untuk menyelamatkan diri se-
kaligus memukul balik Ksatria Topeng Putih yang
mengirim pukulan 'Sinar Merah Perontok Jiwa', dia ti-
dak tahu kalau Ksatria Topeng Putih mengeluarkan
pula ilmu 'Sihir Penutup Raga'. Ketika terjadi ledakan
dahsyat akibat bentrokan dua ilmu pukulan tingkat
tinggi itu, Ksatria Topeng Putih berkelebat lalu berlin-
dung di balik bongkahan batu besar. Karena Ksatria
Topeng Putih mengeluarkan ilmu 'Sihir Penutup Raga',
maka kelebatan tubuhnya tidak diketahui oleh Setan
Selaksa Wajah maupun sang katak raksasa Adiguna.
Kemudian, dengan menggunakan ilmu 'Sihir
Penghidup Benda Mati', Ksatria Topeng Putih menipu
pandangan Setan Selaksa Wajah dan Adiguna. Mereka
melihat sosok Ksatria Topeng Putih yang telah terluka
dalam tengah berdiri terhuyung-huyung. Padahal, so-
sok yang mereka lihat itu sebenarnya hanyalah seba-
tang ranting pohon jati yang digerakkan oleh Ksatria
Topeng Putih dengan tenaga dalam yang bersifat men-
dorong dan menarik.
Berkat kekuatan tenaga dalam itu, Ksatria To-
peng Putih berhasil memasukkan ranting pohon jati
yang telah disihirnya ke dalam perut Adiguna. Dan, Se-
tan Selaksa Wajah pun benar-benar tertipu. Dia me-
nyangka bila benda yang masuk ke perut Adiguna ada-
lah tubuh Ksatria Topeng Putih.
Karena takut terjadi apa-apa, Setan Selaksa
Wajah lalu memerintahkan Adiguna untuk mengerah-
kan tenaga 'Mengolah Api Guncangkan Bumi'. Tentu
saja ranting pohon jati terbakar hangus oleh gumpalan
api yang tersimpan di dalam perut Adiguna. Dan, Se-
tan Selaksa Wajah pun menyangka Ksatria Topeng Pu-
tih benar-benar telah dijemput ajal. Murid murtad De-
wa Dungu itu tidak tahu bila Ksatria Topeng Putih ten-
gah bersembunyi di balik bongkahan batu besar dan
sedang menunggu kesempatan untuk dapat melaksa-
nakan rencana yang telah disusunnya.
***
"Melihat sikap durjana laknat itu, agaknya dia
sedang menanti kehadiran seseorang yang amat dis-
eganinya," kata hati Ksatria Topeng Putih, terus mem-
perhatikan Setan Selaksa Wajah yang masih duduk di
leher sang katak raksasa Adiguna.
Sementara itu, Setan Selaksa Wajah tengah di-
geluti perasaan tegang. Berkali-kali dia mendesah pan-
jang seraya meraba-raba Kodok Wasiat Dewa yang ter-
simpan di balik bajunya.
Pandangan kakek berwajah pemuda itu terus
tertuju ke satu arah. Sementara, jauh di depan sana,
yang tampak hanyalah butir-butiran pasir yang diter-
bangkan angin. Sapuan angin di Padang Angin Malai-
kat memang senantiasa menerbangkan butiran pasir
yang bisa membuat orang tersesat karena pandangan-
nya terhalang. Padang Angin Malaikat amat jarang di-
jamah manusia. Angin yang tertiup di tanah tandus
berpasir itu seringkali berubah menjadi angin puting
beliung yang mempunyai kekuatan luar biasa untuk
menelan kemudian melontarkan tubuh manusia sam-
pai ratusan tombak jauhnya. Seorang tokoh silat ting-
kat atas pun akan mati dengan tubuh hancur tercerai-
berai apabila dilontarkan angin puting beliung yang
muncul di Padang Angin Malaikat. Oleh karena itulah,
Setan Selaksa Wajah tak berani memerintahkan Adi-
guna untuk memasuki Padang Angin Malaikat lebih
jauh.
"Agaknya, durjana laknat itu tak membawa Pu-
saka Pedang Naga...," kata hati Ksatria Topeng Putih
yang masih mengintai dari balik bongkahan batu be-
sar. "Namun, itu pun tak jadi apa. Yang paling penting,
aku harus bisa merampas Kodok Wasiat Dewa. Kalau
durjana itu menelannya, rimba persilatan benar-benar
akan menjadi ajang pertumpahan darah. Aku khawa-
tir, durjana itu akan terus mengumbar keangkaramur-
kaannya.... "
Tubuh Ksatria Topeng Putih bergetar saat meli-
hat butiran pasir yang beterbangan semakin tebal.
Sementara kemudian, tiupan angin berubah arah, lalu
berputar-putar amat cepat. Butiran pasir menyembur
ke satu titik di angkasa, kemudian jatuh menebar ke
berbagai penjuru.
"Angin puting beliung...," desis Setan Selaksa
Wajah, menatap nanar putaran angin yang semakin
lama semakin cepat.
Sebenarnya, angin puting beliung yang muncul
itu berjarak sekitar seratus tombak dari hadapan Se-
tan Selaksa Wajah. Namun, Setan Selaksa Wajah da-
pat merasakan kekuatan angin yang punya daya hisap
dahsyat itu. Maka, tanpa pikir panjang lagi Setan Se-
laksa Wajah menepuk bahu Adiguna dengan telapak
kakinya. Dia memberi isyarat agar Adiguna memper-
kuat cengkeraman kakinya di tanah. Sementara dia
sendiri berpegangan pada gerigi kuat leher katak rak-
sasa itu.
Ksatria Topeng Putih, yang berada sekitar tiga
puluh tombak di sebelah kanan Adiguna tampak pula
berpegangan erat pada bongkahan batu yang dijadi-
kannya sebagai tempat berlindung. Karena daya isap
angin puting beliung semakin kuat, Ksatria Topeng Pu-
tih melindungi dirinya dengan ilmu memperberat tu-
buh.
Glarrr...!
Wusss,..!
Mendadak dari pusat putaran angin putih be-
liung terdengar ledakan keras yang disusul dengan
melesatnya segumpal cahaya kuning menuju ke hada-
pan Adiguna. Begitu menyentuh ke permukaan tanah
berpasir, gumpalan cahaya itu berubah menjadi sosok
manusia!
Sosok manusia yang muncul dari pusat puta-
ran angin puting beliung itu seorang kakek berpakaian
serba kuning. Bahkan, kulit dan rambutnya pun ber-
warna kuning seperti dilumuri air perasan kunyit!
Anehnya, si kakek duduk di atas batu persegi pipih
yang terus melayang di udara!
"Raja Penyasar Sukma...," desis Setan Selaksa
Wajah, menyebut julukan si kakek yang duduk di atas
batu terbang.
Sementara, Ksatria Topeng Putih tampak mem-
belalakkan mata melihat kemunculan Raja Penyasar
Sukma. Di balik topeng baja putihnya, wajah lelaki
berpakaian putih-putih itu langsung menegang kaku.
"Tak kusangka! Benar-benar tak kusangka bila
orang bernama Banyak Langkir itu memiliki ilmu ke-
saktian yang sedemikian hebat. Kukira, semua itu ber-
kat Kitab Tiga Dewa yang dicurinya dari Istana Mahes-
pati lima tahun yang lalu...," pikir Ksatria Topeng Pu-
tih. Banyak Langkir adalah nama kecil Raja Penyasar
Sukma.
Sementara Ksatria Topeng Putih terbawa pera-
saan tegang yang membuat hatinya berdebar-debar,
Raja Penyasar Sukma tertawa bergelak panjang sekali.
"Ha ha ha...! Aku tahu kedatanganmu ini mem-
buahkan hasil seperti yang kuinginkan, Mahisa Lodra!
Ha ha ha...! Aku tahu kau membawa Kodok Wasiat
Dewa. Cepat serahkan benda itu!"
Mendengar perintah Raja Penyasar Sukma, bola
mata Setan Selaksa Wajah langsung berkilat tajam.
Namun, cepat meredup lagi manakala Raja Penyasar
Sukma menggerendeng marah.
"Apa lagi yang kau pikirkan, Mahisa Lodra?!"
bentak Raja Penyasar Sukma, keras menggelegar. "Bila
kau sengaja mengundang hawa amarahku, apa kau
pikir kau punya nyawa rangkap, heh?!"
"Bukan! Bukan begitu!" sahut Setan Selaksa
Wajah. "Mana aku berani melawanmu, Raja Penyasar
Sukma. Aku tadi hanya terkejut melihat kedatangan-
mu yang sangat berlainan dari biasanya...."
Raja Penyasar Sukma tertawa bergelak lagi. Ba-
tu persegi yang didudukinya meluncur turun hingga
menyentuh permukaan tanah berpasir, lalu melesat
naik lagi.
"Tidak percuma aku mempelajari Kitab Tiga
Dewa selama lima tahun...," ujar Raja Penyasar Suk-
ma, bangga. "Kini, aku telah menguasai seluruh bagian
kitab itu. Setahun yang lalu, kau tentu sudah menyak-
sikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana aku te-
lah menguasai ilmu 'Dewa Penghancur' dan 'Dewa Pe-
langlang Jagat'. Bagian lain yang telah ku kuasai dari
Kitab Tiga Dewa adalah apa yang sedang kau saksikan
ini. Aku telah menguasai ilmu 'Dewa Angkasa'. Ha ha
ha...! Cepatlah! Cepat kau serahkan Kodok Wasiat De-
wa agar aku dapat pula menyempurnakan ilmu wari-
san leluhur ku yang bernama 'Raja Tiwikrama'!"
Mendengar Raja Penyasar Sukma menyebut Il-
mu 'Raja Tiwikrama', Ksatria Topeng Putih terhantam
keterkejutan. Jantung lelaki bertopeng itu langsung
berdegup lebih kencang. Sepanjang pengetahuannya,
ilmu 'Raja Tiwikrama' hanya ada pada masa dua ratus
tahun silam. Orang yang dapat menguasai ilmu itu se-
cara sempurna, mampu memperbesar tubuhnya hing-
ga puluhan kali lipat. Dengan kata lain, ilmu 'Raja Ti-
wikrama' adalah ilmu merubah tubuh menjadi raksa
sa.
"Aku tahu Banyak Langkir adalah seorang to-
koh yang amat licik dan kejam. Amat berbahaya apabi-
la dia menguasai ilmu 'Raja Tiwikrama' dengan sem-
purna...," gumam Ksatria Topeng Putih. "Aku harus
mencegahnya! Aku harus dapat merampas Kodok Wa-
siat Dewa! Soal Pusaka Pedang Naga biarlah nanti
kuurus di lain waktu. Tentang cermin 'Terawang Tem-
pat Lewati Masa' biar Ratu Perut Bumi sendiri yang
mengurusnya...."
"Ayo, tunggu apa lagi?!" seru Raja Penyasar
Sukma, semakin tak sabaran.
"Hmmm.... Soal menyerahkan Kodok Wasiat
Dewa adalah suatu hal yang amat mudah...," sahut Se-
tan Selaksa Wajah. "Tapi, dapatkah kau memegang ka-
ta-kata yang kau ucapkan dulu, Ba... eh, Raja Penya-
sar Sukma?"
"Kata-kataku yang mana, heh?!" bentak Raja
Penyasar Sukma. "Apa kau lupa bila Adiguna yang kau
tunggangi itu adalah milikku yang kini telah kuserah-
kan dan ku jinakkan untukmu?"
"Ya! Ya, aku tetap ingat bila katak raksasa yang
maha hebat ini adalah pemberianmu. Aku hanya ingin
mengingatkan bahwa sebelum kau memerintahkan
aku mencari Kodok Wasiat Dewa, kau berjanji akan
memberikan pula Kitab Tiga Dewa kepadaku...."
"Ya! Aku ingat! Cepat kau serahkan Kodok Wa-
siat Dewa yang tersimpan di balik bajumu itu!"
"Tapi, aku ingin melihat Kitab Tiga Dewa du-
lu...."
"Jahanam! Apa kau tak percaya kepadaku,
heh?!"
"Bukan aku tak percaya, tapi...."
Kalimat Setan Selaksa Wajah terpotong oleh geram kemarahan Raja Penyasar Sukma. Dan, Setan Se-
laksa Wajah pun melonjak kaget ketika Raja Penyasar
Sukma bersuit nyaring.
Bergegas Setan Selaksa Wajah meloncat turun
dari leher Adiguna. Karena, tiba-tiba katak raksasa itu
mengangkat kedua tangannya seperti hendak menang-
kap dan meremas tubuh Setan Selaksa Wajah.
Namun, begitu kaki Setan Selaksa Wajah men-
ginjak tanah berpasir, dia langsung menjerit parau.
Dari lubang hidung dan sudut bibirnya meleleh darah
segar!
"Sadarkah kau, Mahisa Lodra, dengan Ilmu pu-
kulan 'Dewa Penghancur' tingkat kesepuluh, aku bisa
membunuhmu hanya melalui pandangan mata? Dan
kini, kau pun telah merasakannya, bukan?" cibir Raja
Penyasar Sukma.
Setan Selaksa Wajah menyeka cairan darah
yang mengotori mukanya. Dia tak menyangka sama
sekali bila akan diserang oleh pukulan kasat mata Raja
Penyasar Sukma. Saat menarik napas panjang, tahu-
lah Setan Selaksa Wajah bila dirinya telah menderita
luka dalam.
"Keparat kau, Banyak Langkir!" umpat Setan
Selaksa Wajah dalam hati. "Dulu, kau dan aku adalah
sahabat baik. Tapi, kenapa sekarang kau menjadikan
aku sebagai budak? Huh! Kau benar-benar manusia
laknat, Banyak Langkir! Tunggu saja nanti! Kau akan
merasakan pembalasanku! Telah lama aku menyusun
siasat untuk menggulingkan kekuasaanmu!"
"Hei! Kenapa kau diam saja, Mahisa Lodra?!"
sentak Raja Penyasar Sukma. Batu persegi yang didu-
dukinya melayang mendekati Setan Selaksa Wajah
yang tampak memegangi dada.
Walau Raja Penyasar Sukma berada di ketinggian karena duduk di lempengan batu yang melayang,
tapi dia tak melihat sosok Ksatria Topeng Putih yang
tengah berlindung di balik bongkahan batu besar. Ksa-
tria Topeng Putih memang menyamarkan sosok tu-
buhnya dengan ilmu 'Sihir Penutup Raga'. Ilmu 'Sihir
Penutup Raga' selain bisa menyamarkan wujud badan
kasar manusia, juga mampu menghilangkan suara de-
sah napas, detak jantung, dan semua tanda kehidupan
lainnya.
"Baik! Baiklah, akan kuserahkan Kodok Wasiat
Dewa kepadamu. Tapi, kuharap kau tidak lupa akan
janjimu...," ujar Setan Selaksa Wajah kemudian.
Raja Penyasar Sukma langsung tertawa pan-
jang bergelak melihat Setan Selaksa Wajah mengelua-
rkan sebuah kantong kain putih dari balik bajunya.
"Kantong ini berisi Kodok Wasiat Dewa yang
kau inginkan," ucap Setan Selaksa Wajah. "Setelah
kau terima nanti, kau harus segera menyerahkan Ki-
tab Tiga Dewa kepadaku...."
Mendengar ucapan kakek berwajah pemuda
dua puluh lima tahunan itu. Raja Penyasar Sukma ter-
tawa bergelak lagi. Tapi, dalam hati dia berkata, "Enak
betul! Kalau Kodok Wasiat Dewa telah berada di tan-
ganku, tak bakalan aku menyerahkan Kitab Tiga De-
wa! Kalau orang tua bodoh itu nekat meminta, dia
akan kubunuh!"
Dari jarak lima tombak, Setan Selaksa Wajah
menatap lekat sosok Raja Penyasar Sukma yang masih
duduk di batu terbang. Keadaan memang tidak men-
guntungkan bagi Setan Selaksa Wajah. Maka, untuk
sementara waktu dia masih mau mengalah lagi kepada
Raja Penyasar Sukma.
"Terimalah...!" seru Setan Selaksa Wajah seraya
melemparkan kantong putih berisi Kodok Wasiat Dewa.
Namun, ketika benda ajaib yang semula ter-
simpan di perut Ikan Mas Dewa itu melayang di udara,
Ksatria Topeng Putih meluruskan telapak tangan ka-
nannya ke depan. Dengan ilmu 'Sihir Penghisap Bulan'
dia menyedot Kodok Wasiat Dewa, hingga menempel di
telapak tangannya!
Raja Penyasar Sukma yang sudah sangat gem-
bira karena merasa akan mendapatkan Kodok Wasiat
Dewa tampak membelalakkan mata karena kaget. De-
mikian pula dengan Setan Selaksa Wajah. Mereka ber-
dua melihat kantong putih berisi Kodok Wasiat Dewa
tiba-tiba lenyap begitu saja.
"Jahanam! Siapa yang berani main-main di ha-
dapan Raja Penyasar Sukma?!" geram Raja Penyasar
Sukma.
Kakek yang rambut dan kulit tubuhnya ber-
warna kuning seperti dilumuri air perasan kunyit itu
menempelkan kedua telapak tangannya di permukaan
batu persegi yang didudukinya. Dengan kekuatan te-
naga dalamnya yang sudah sangat sulit diukur, dia
mengeluarkan ilmu 'Dewa Angkasa' pada tingkatan ter-
tinggi. Di lain kejap, tubuh Raja Penyasar Sukma dan
batu persegi yang didudukinya berubah menjadi se-
gumpal cahaya berwarna kuning yang berputar-putar
di angkasa. Raja Penyasar Sukma bermaksud mencari
orang yang telah merampas Kodok Wasiat Dewa.
Setan Selaksa Wajah pun tak mau tinggal diam.
Dia langsung meloncat naik ke leher Adiguna yang su-
dah menjadi jinak lagi. Kakek berpakaian serba merah
itu turut mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
Tapi, orang yang telah merampas Kodok Wasiat Dewa
tetap tak terlihat!
"Haram jadah! Mencari gara-gara dengan Raja
Penyasar Sukma, berarti mencari mati!"
Terdengar suara keras Raja Penyasar Sukma
yang tergeluti hawa amarah. Gumpalan cahaya kuning
terus melayang berputar-putar di angkasa.
Setan Selaksa Wajah pun terus mengedarkan
pandangan. Namun..., mereka berdua hanya menda-
patkan rasa kecewa dan penasaran yang tak kunjung
habis....
***
"Ya, Tuhan...," Pendekar Bodoh menyebut nama
Sang Penguasa Tunggal sekali lagi. Tubuhnya gemeta-
ran dengan jantung berdegup kencang. Tanpa terasa,
keringat dingin bercucuran. Kain bajunya segera me-
nebarkan aroma harum kayu cendana.
Di hadapan pemuda remaja berwajah lugu itu,
nampak sesosok tubuh manusia yang sungguh-
sungguh bisa membuat siapa saja yang melihatnya
menjadi bergidik ngeri. Wujud manusia yang baru
muncul dari dalam tanah itu merupakan perpaduan
antara manusia dengan ular!
Dari pinggang ke atas, sosok tubuh itu berupa
seorang wanita berwajah cantik mengenakan baju me-
rah gemerlap seperti layaknya seorang ratu. Di kepa-
lanya bertengger sebuah mahkota emas bertahtakan
intan berlian. Sementara, dari pinggang ke bawah, so-
sok tubuh itu berbentuk ekor ular yang panjang me-
lingkar dan berwarna hijau berkilat!
"Jangan takut!" seru sosok tubuh itu. "Aku ada-
lah Ratu Perut Bumi. Aku bukan makhluk jahat! Keda-
tanganku justru untuk menolongmu."
"Ratu... Ratu Perut Bumi...," desis Pendekar
Bodoh, tergagap. Karena keringat dingin semakin ba
nyak bercucuran, baju pemuda ini semakin menebar-
kan aroma wangi kayu cendana.
"Hmm... Baju pemuda itu menebarkan aroma
aneh yang membuat gairahku bangkit...," kata hati so-
sok tubuh yang mengenalkan diri sebagai Ratu Perut
Bumi. "Aku tidak boleh terlena. Aku harus melindungi
diriku dengan ilmu 'Melebur Nafsu Membersihkan Ji-
wa'...."
Sesaat, Ratu Perut Bumi memejamkan kelopak
matanya. Ketika terbuka kembali, aroma harum yang
membangkitkan gairahnya tak mampu mempengaru-
hinya lagi.
"Hai, kau Pendekar Bodoh, dari dalam tanah
aku dapat mendengar apa yang baru terjadi di tempat
ini," ujar Ratu Perut Bumi kemudian. "Aku dapat me-
nolongmu untuk mendapatkan batu mustika
'Menembus Langit Bernapas Dalam Air'...."
"Apa? Benarkah itu?" kesiap Pendekar Bodoh,
lalu nyengir kuda hingga wajahnya tampak seperti
orang berotak sangat bebal.
"Orang yang membawa batu mustika itu adalah
orang yang telah mencuri cermin 'Terawang Tempat
Lewati Masa' milikku,..," lanjut Ratu Perut Bumi. "Dia
Setan Selaksa Wajah! Sebenarnya, aku tadi bisa saja
langsung merampas kembali cermin sakti milikku, tapi
ada orang lain yang turut mengintai semua gerak-gerik
Setan Selaksa Wajah. Aku tak mengenal pengintai itu
karena dia mengenakan topeng, hingga aku tak berani
bertindak gegabah."
"Mungkin orang yang kau maksud adalah Ksa-
tria Topeng Putih, Ratu...," ujar Pendekar Bodoh. Pe-
muda lugu ini masih belum menyadari bila kain ba-
junya menebarkan aroma harum kayu cendana yang
dapat membangkitkan gairah orang lain.
"Ksatria Topeng Putih...?" desis Ratu Perut Bu-
mi seraya berpikir-pikir. Namun tak lama kemudian,
sosok manusia setengah ular ini berkata, "Naiklah ke
punggungku. Kita akan menemui Setan Selaksa Wa-
jah...."
Aneh! Seperti kerbau dicocok hidungnya, tiba-
tiba Pendekar Bodoh berjalan mendekati seraya melon-
cat naik ke punggung Ratu Perut Bumi! Lalu....
Werrr...!
Blussss...!
Tubuh Ratu Perut Bumi melenting, kemudian
berputar cepat laksana gangsing! Di lain kejap, tubuh
manusia setengah ular itu amblas ke dalam tanah
dengan membawa Pendekar Bodoh!
SELESAI
Ikuti kisah selanjutnya:
RATU PERUT BUMI
0 comments:
Posting Komentar