"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..
Tampilkan postingan dengan label KERIS MERAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KERIS MERAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2025

KERIS MERAH EPISODE TERTUDUH DI KALIMANTAN

 

https://matjenuhkhairil.blogspot.com


TERTUDUH di KALIMANTAN


SATU


ANGIN utara berhembus sepoi-sepoi basah membawa

kesejukan ditengah hari yang sangat panas itu. Ombak

bergulung-gulung dan memecah dipantai. Disatu pangkalan

perahu yang terletak diteluk yang berbentuk ladam kuda

dipesisir utara pulau Jawa berjalan seorang laki-laki berbaju

dan bercelana putih dengan kain sarung hitam begaris-garis

merah terlilit dipinggangnya. Orang itu menuju kesebuah

rumah kayu diujung pangkalan yang menjadi satu-satunya

bangunan didaerah itu. Diatas sebuah bangku panjang dimuka

rumah kayu tersebut duduk seorang ............. tegap gempal

........... hitam, begitu ........... matanya ........... terutama .......... sisir, tak mengerti .......... Sawang Acik, keturunan ........... Sawang Acik .......... duduk-duduk sambil memotong kuku-kuku

jari kakinya yang telah panjang dan hitam-hitam dengan

sebuah pisau lipat kecil.

Orang yang pertama tadi, yang mengenakan baju dan celana

putih yang tak lain adalah pendekar berkeris merah dari

gunung Wilis adanya datang mendekati Sawang Acik.

“Sahabat”, saya Aditia. “Kau tahu kapan ada perahu yang

berangkat keseberang?”. Orang yang ditanya tak menjawab

bahkan memutar kepalanyapun tidak. Aditia bertanya sekali

lagi. “Sahabat, mungkin kau tahu bila ada perahu yang akan

berangkat keseberang?”.

Sawang Acik memutar kepalanya sedikit, memperhatikan

orang yang tak dikenalnya itu dari ujung destar yang menutup

kepala Aditia sampai kekaki. Kemudian sambil meneruskan

memotong kuku jari kakinya dia membuka mulutnya. Suaranya

serak dan nadanya kasar bercampur congkak. “Kau bertanya

pada siapa, orang baru?”.

Aditia memandang berkeliling, kemudian melihat kedalam

rumah kayu yang dimukanya. Dia sama sekali tiada melihat

seorang lainpun sehingga kalau bukan karena kecongkakan tak

ada alasan lain bagi orang yang ditanyanya itu berkata kasar

seperti itu. Sambil tersenyum kecil Aditia berkata lagi. “Aku

bertanya padamu, sahabat. Kalau-kalau kau tahu bila ada kapal

yang hendak pergi keseberang........”.

“Sebelum bertanya kau harus tahu namaku dulu!” ujar

Sawang Acik pula.

“Maafkan. Aku orang baru disini dan belum mengetahui

siapa namamu. Kalau kau sudi memberitahukannya........” kata

Aditia. Sawang Acik nampak menyeringai. Dia memandang

.........................................................................................................

............................................................................................... ngan

seperti anak kecil!”.

“Maksudku seberang Kalimantan. Aku hendak menuju

ketanah Banjar”. jawab Aditia.

“Kau berasal dari sana?” tanya Sawang.

“Tidak. Aku orang sini” jawab Aditia.

“Lalu ada urusan apa kau mau pergi keseberang? Kau

pedagang? Bicaralah terus terang! Sawang Acik tak suka

melihat orang yang suka main sembunyi-sembunyian!”.

Aditia berusaha untuk tersenyum. “Aku juga tidak senang

main sembunyi-sembunyian sahabat. Aku ingin keseberang dan

aku bukan pedagang. Jelas?!”. Sawang Acik tampak

mengerenyitkan kening dan alis matanya.

“Aku tahu kau berdusta” ujar Sawang kemudian. “Tapi

biklah...... perahu mungkin akan berangkat kira-kira satu jam

lagi dari sini. Kau ada rokok?!”.

“Aku tidak merokok” jawab Aditia. “Tidak merokok atau pelit?!” tukas Sawang dengan gusar.

“Sudah kukatakan aku tidak suka main sembunyi- sembunyian. Aku benar-benar tak merokok”.

“Menyirih mungkin?!” ejek Sawang sambil menyeringai

menunjukkan gigi-giginya yang kecoklatan. Aditia

menggelengkan kepalanya dan memandang kelautan lepas

dihadapannya. Jauh ditengah lautan nampak beberapa buah

pulau seperti kotak api-api yang terapung diatas air sedang

disebelah sana kelihatan beberapa buah perahu penangkap

ikan. Walaupun matanya melihat kemuka sana dan tubuhnya

membelakangi Sawang Acik, tapi Aditia sudah dapat


memastikan bahwa Sawang Acik saat itu diam-diam tengah

menelitinya.

Ketika Aditia hendak memutar tubuhnya terdengar suara

Sawang. “Sebaiknya kau duduk saja dibangku ini, menunggu

perahu yang akan datang satu jam lagi. Aku hendak pergi........!”

“Pergi kemana?” tanya Aditia ingin tahu.

“Huha........ jangan banyak tanya pada Sawang Acik!

Urusanku adalah urusanku, bukan urusanmu!”. Sawang Acik

bangkit dari atas bangku kayu dan berjalan dengan cepat

menyusur pangkalan kayu. Seperempat jam kemudian laki-laki

itu menghilang dikejauhan. Aditia berjalan mendekati bangku

yang bekas diduduk Sawang Acik. Bangku kayu itu terasa

hangat, seperti kebanyakan bangku-bangku dan kursi-kursi

yang bekas diduduki oleh orang-orang. Tapi aneh, setelah

beberapa detik kemudian rasa hangat itu menjadi semakin

keras dan dari kayu bangku itu terasa seperti ada ratusan

jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk daging Aditia.

Tubuhnya sebelah bawah mulai terasa gatal-gatal. Aditia mulai

sadar dan memaklumi bahwa Sawang Acik bukan pergi begitu

saja dan menyilahkannya duduk begitu saja, tapi dia pergi

dengan meninggalkan satu maksud tertentu yaitu hendak

membunuh dirinya. Ilmu jarum beracun jang ditinggalkannya

dibangku dimana Aditia duduk itu bisa mematikan seorang

biasa dalam tempo tiga menit.

Ketika memaklumi hal itu, cepat-cepat Aditia bangkit dari

bangku tersebut sambil mengusap-usap beg1an tubuhnya yang

terasa gatal-gatal dan perih itu dengan kedua belah telapak

tangannya. Beberapa saat kemudian rasa gatal-gatal dan perih

tadi mulai hilang dan akhirnya lenyap sama sekali. Aditia

memandang kejurusan perginya Sawang Acik. Tak ada satu

sosok tubuhpun yang dapat ditangkap matanya. Aditia

menghembus bangku kayu itu satu kali dan kemudian baru

duduk diatasnya kembali. Lima menit kemudian dari arah

mana Sawang Acik menghilang tadi nampak dua sosok tubuh

datang menuju kepangkalan. Aditia duduk diatas bangku tanpa

bergerak. Kedua matanya ditutupkannya sedang dengan ilmu


tenaga dalamnya yang sudah sampai dipuncak tertinggi

ditahannya nafasnya.

Tak berapa lama kemudian, Sawang Acik bersama kawannya

yang bernama Gompel sampai dimuka rumah pangkalan.

“Ha...... ha... ha...... kau lihat Gompel bagaimana hebatnya ilmu

jarumku?! Dalam beberapa menit saja tubuhnya sudah menjadi

kaku. Rohnya sudah melayang keneraka jahanam! Cepat

geledah tubuhnya. Aku sudah dapat membaui bahwa dia

seorang saudagar intan berlian yang kaya dari Banjar sekalipun

dia coba untuk mengelahuiku!”


“Sebaiknyaa kita tidurkan saja dia dipasir supaya mudah

menggeledahnya......” kata Gompel memberi usul.

“Tepat. Aku memang hendak bermaksud demikian juga”

jawab Sawang Acik.

Dengan sangat kasar, kedua orang itu membaringkan Aditia

yang pura-pura kaku menjadi mayat itu. Begitu tubuhnya

terbujur begitu pula cepatnta tangan-tangan kedua perampok

darat tadi meluncur kesaku-saku Aditia. Bahkan Sawang mulai

membuka kain sarung yang terlilit dipinggang Aditia dan juga

membuka kancing-kancing bsju yang dipakai Aditia.

Tiba-tiba kedua tangan Aditia secara tak terduga bergerak

dengan cepat dan diantara terkejut dan kesakitan Sawang Acik

bersama kawannya Gompel terpental kebelakang dan

bergulingan dipasir. Sambil mengalirkan tenaga dalamnya

ketempat jang terkena pukul, Sawang dan Gompel bangun

dengan cepat. Memang Aditia sengaja tidak memberikan

pukulan yang keras pada kedua perampok darat itu. Dia ingin

tahu sampai dimana keberanian dan kenekatan keduanya.

Seandainya Sawang Acik cepat menyadari bagaimana ilmu

jarum beracunnya sudah tak mempan terhadap Aditia maka

sudah cukup menjadi peringatan baginya bahwa orang yang

hendak dirampoknya itu bukan seorang biasa yang dpat

dipermain-mainkannya. Tapi karena terkejutnya, kesakitan dan

sangat marah, maka Sawang melupakan semua itu. Sambil

berdiri Sawang Acik membentak. “Kurang ajar kau tikus cilik!

Berani mempermain-mainkan Sawang Acik. Kau belum tahu

siapa aku?! Rasakan!”. Begitu bentakannya lenyap tubuhnya

melesat cepat kehadapan Aditia. Kaki dan tangannya bekerja.

Saat itu Aditia masih terbaring dipasir. Dengan menggulingkan

dirinya dan sambil bangkit berdiri dengan cepat dia berhasil

mengeluarkan serangan tersebut.

Melihat serangannya dapat dielakkan dengan mudah,

amarah Sawang Acik semakin meluap-luap. “Manusia kintel!

Kukermus kepalamu!”, Aditia menyeringai dan berdiri dengan

bertolak pinggang. “Majulah perampok sial. Keluarkan semua

kepandaianmu. Tak kusangka orang yang mengaku dirinya

sebagai jagoan kiranya tak lain dari seorang perampok sinting


bahkan seorang pengecut pula! Mengapa cuma satu orang

kawanmu yang kau ajak kesini?”.

“Bagus........ bagus...... kau suruh aku untuk mengeluarkan

semua ilmuku........ bagus! Kau benar-benar ingin cepat-cepat

keneraka! Rasakan ini!”.

Sawang Acik melompat kemuka melancarkan serangan

dahsyat. Kaki kanannya meluncur cepat keperut bagian bawah

dari lawannya sedang kedua tinjunya secara bersamaan

mengarah kedada dan ketenggorokan Aditia. Dari belakang

datang pula tendangan kaki kanan Gompel yang mengarah

kepinggang Aditia, Dengan cepat dan dengan cara yang

mengagumkan, Aditia menggeser kedua kakinya kesamping

kanan. Tubuhnya miring enam puluh derajat. Kedua tinju

Sawang Acik lewat dengan deras disamping kiri Aditia. Begitu

juga tendangan kaki kanannya tak berhasil mangenai

sasarannya, sebaliknya kaki kanan Sawang Acik beradu keras

dengan kaki kanan kawannya sendiri yaitu Gompel yang juga

melancarkan tendangan keras kearah Aditia.

Kedua kaki yang beradu itu menimbulkan suara yang keras.

Gompel menjerit kesakitan. Pergelangan kaki kanannya serasa

copot sedang Sawang Acik dalam menahan sakit tak henti- hentinya mengeluarkan kutuk serapah menyumpah-nyumpah.

“Agaknya kau sudah mulai linglung Sawang? Mengapa

kawan sendiri yang kau tendang?!”, ejek Aditia sambil memutar

tubuhnya. Tangannya bergerak sedang kakinya melangkah

kemuka dan sebelum Gompel dapat berdiri dengan kedua

kakinya secara normal jotosan Aditia telah bersarang

didadanya. Gompel merasakan seperti nafasnya tertahan.

Matanya melotot dan akhirnya dalam keadaan seperti itu dia

roboh tak sadarkan diri.

Melihat kawannya roboh, Sawang Acik semakin meluap-luap

kemerahannya. Dengan mengertakkan giginya dia mencabut

golok besar yang tersisip dibalik sarungnya. Senjata itu

berkilauan ditimpa sinar matahari. Bacokan golok Sawang yang

pertama kekepala Aditia. Aditia mundur selangkah, tangan

kirinya berusaha untuk menangkap senjata yang ditangan

Sawang tapi tawannya cukup gesit. Sambil meninggikan lengan

kanannya yang memegang senjata itu, kaki kirinya mencari

sasaran diperut Aditia. Aditia terpaksa mengurungkan niatnya

semula. Tangan kirinya yang tadi hendak dipakainya untuk

merampas senjata Sawang kini meluncur ke bawah untuk

menangkap pergelangan kaki kiri Sawang Acik yang datang

deras kearah perutnya. Sawang Acik menjadi agak terkesiap

ketika merasakan bagaimana tangan kiri lawannya seperti

jepitan baja mencekal kakinya. Sawang untuk beberapa detik

lamanya tak berani menggerakkan kakinya itu atau coba untuk

melepaskan diri karena dia tahu bahwa hal itu akan sia-sia saja

dan akan menghilangkan keseimbangan tubuhnya. Cekalan

Aditia semakin keras. Sawang Acik menggigit bibirnya menahan

sakit. Ketika dia tak sanggup lagi menahan sakit, sambil

menjerit geram, golok yang ditangan kanannya dilemparkannya

kemuka Aditia. Aditia merunduk dengan cepat. Sawang

merasakan cekalan dikakinya mengendor. Sambil

menendangkan kaki kanannya dia menjatuhkan dirinya

ketanah. Dalam keadaan seperti itu Aditia terpaksa melepaskan

cekalannya.

Sawang Acik bergulingan ditanah dan bangkit berdiri dengan

cepat. Kini amarah laki-laki yang berewokan itu sudah sampai

kepuncaknya agaknya. Dengan berteriak-teriak keras dia

mengayunkan goloknya kian kemari. Menyerang bagian-bagian

tubuh yang mematikan dari lawannya. Pemuda gunung Wilis

tersenyum sinis saja melihat permainan golok Sawang Acik. Dia

hanya menggeserkan kakinya kian kemari untuk mengelakkan

semua serangan golok itu. Seluruh muka dan tubuh Sawang

telah basah dengan peluh. Dia tens mengamuk dengan hebat,

namun sampai sedemikian jauh tak satu serangannyapun

berhasil mengenai sasarannya, seakan-akan dia hanya

mengamuk seorang diri membacok tempat kosong. Dan sampai

saat itu Sawang masih belum juga menyadari bahwa orang yang

dihadapannya itu adalah seorang yang berilmu tinggi yang

sama sekali bukan tandingannya.

“Kau sudah puas........?” kata Aditia mengejek dengan

menyeringai. Sawang Acik tak menjawab apa-apa sebaliknya

serangan goloknya semakin dahsyat dan rapat. Satu kali senjata


yang ditangannya itu melayang cepat dan deras kekepala Aditia.

Aditia merunduk. Golok berbalik dengan cepat membabat

keleher Aditia kini. Juga serangan dahsyat ini dapat dielakkan

dengan mudah. Secepat Aditia mengelakkan diri, secepat itu

pula golok Sawang menyerang kembali. Inilah ilmu golok yang

sangat diandalkan Sawang Acik yang menurut almarhum

gurunya bernama serangan gunting berantai. Golok itu

bersilang-silang dengan cepat mencari sasaran ditubuh Aditia.

Ketika senjata itu mengarah kelambungnya, Aditia

memiringkan diri kesamping kiri. Golok Sawang lewat. Dalam

keadaan seperti itu Aditia memutar tubuhnya. Tangan

kanannya bergerak memukul sambungan siku Sawang Acik.

Sawang Acik menjerit keras setinggi langit. Sambungan sikunya

terlepas dan sakitnya tiada terperikan, sedang golok yang

ditangannya terlepas dan jatuh kepasir.

Dalam kesakitan yang luar biasa itu untuk pertama kalinya

baru Sawang Acik menyadari bahwa orang berbaju putih yang

dihadapannya itu adalah bukan tandingannya. Rasa takutnya

datang dan dengan cepat dia memutar tubuhnya untuk

melarikan diri.

“Tak usah cepat-cepat, Sawang. Perkenalan kita belum

selesai..........” kata Aditia. Tangannya meluncur cepat dan tahu- yahu Sawang merasakan rambutnya terjambak keras. Dia

hendak menjerit tapi suaranya tak keluar. Lidahnya kelu dan

tenggorokannya kering dan dalam kesadarannya yang terakhir

dia merasakan tubuhnya menjadi kejang. Sesudah itu dia tak

tahu apa-apa lagi.

Ketika dikejutkan, dibalik teluk kelihatan layar perahu,

Aditia menyeret tubuh Sawang dan kawannya kedalam rumah

pangkalan.

Dari jauh tampak sebuah perahu meluncur dengan cepat

membelah gelombang-gelombang kecil diatas lautan diteluk itu.

Aditia menanggalkan sapu tangan penutup kepalanya dan

melambai-lambaikannya. Perahu yang dikejauhan itu meluncur

kearah pangkalan, semakin lama semakin dekat. Seorang laki-

laki yang hanya memakai celana pendek berwarna abu-abu

berdiri dilambung muka perahu itu, melemparkan tali kesebuah

tambatan besi ditepi pangkalan dan bertanya pada Aditia, “Kau

mau pergi kemana?”.

“Kalian hendak menuju ke Banjar? Aku bermaksud hendak

menumpang kesana” jawab Aditia.

“Kalau begitu naiklah. Perahu layar ini memang hendak

menuju kesana” kata orang diatas perahu tersebut. Lalu

sambungnya. “Tunggu dulu aku akan ambil papan untuk

tangga......”. Orang itu membalikkan tubuhnya tapi tak jadi

ketika dia mendengar suara Aditia.

“Tak usah ambil papan... aku bisa melompat!”.

“Jangan melompat! Isi perahu ini sudah sedemikian

saratnya, nanti bisa terbalik!”.

Begitu kata-katanya berakhir tahu-tahu si tukang perahu

melihat orang yang berbaju putih itu telah berada didalam

perahu. Dia sama sekali tak menyadari kalau Aditia telah

melompat kedalam perahu motor itu. Satu lompatan yang

sangat mengagumkan karena Aditia sampai kedalam perahu itu

tanpa perahu tersebut oleng barang seujung rambutpun!

“Kau...... kau melompat bukan?” kata Samat, si tukang

perahu dengan nada tak percaya. Aditia menganggukan

kepalanya. Samat ternganga kemudian berkata lagi. “Tapi......

tapi mengapa......”.

“Lepaskanlah tambatan perahu. Lebih cepat berangkat lebih

baik......” potong Aditia sambil memutar tubuhnya. Setelah

memperhatikan Aditia beberapa jurus lamanya dengan rasa tak

percaya baru dia membalikkan diri. Tali perahu yang tertambat

itu diputar-putarkannya beberapa kali kemudian

dilambungkannya keudara. Buhul tali terlepas dari tambatan

besi panjang dan dengan perlahan-lahan Samat menarik tali

tambatan itu, menggulungnya disebuah balok kemudian

memberi isyarat pada kawannya yang memegang kemudi

dibagian belakang perahu.

Beberapa saat kemudian layar mengembung perahu

meluncur cepat diantar angin Selatan. Perahu membelok

kekanan dan menyongsong arus gelombang yang bersusun

beriring-iring menuju ketepi pantai


DUA


ADITIAJAYA memandang kelautan lepas. Diujung sebelah

sana nampak beberapa buah pulau dan perahu-perahu

penangkap ikan yang semakin lama nampak semakin kecil dan

akhirnya menghilang sama sekali dari pandangan mata. Kini

sejauh-jauh mata memandang hanya lautan saja yang kelihatan.

Aditia memandang pada pengemudi perahu. Orang itu separuh

baya dan tersenyum ramah kepadanya. “Kau berasal dari

Banjar?” kata orang itu membuka pembicaraan.

“Tidak. Aku orang Jawa” jawab Aditia.

“Wong Jawi heh? Aku juga berasal dari Jawa, tapi sudah

lama menetap di Banjar. Orang tuaku masih ada di Muntilan.

Aku hanya sekali-kali pulang kekampung”, menerangkan

pengemudi perahu itu.

“Senang berkenalan dengan kau. Perahu ini kepunyaan

kalian?” tanya Adatia pula.

“Bukan” jawab si pengemudi”. Perahu ini kepunyaan seorang

saudagar Banjar. Aku dan Samat hanya menjadi anak buahnya

saja......”.

“Sudah lama kalian bekerja semacam ini?”.

“Delapan tahun” jawab si pengemudi yang bernama Pomo.

“Dan lihatlah kulit tubuh kami. Hitam kering dan berkerut- kerut kena sinar matahari terus-terusan dan angin laut”.

Pembicaraan terhenti sampai disitu, Aditia melayangkan

pandangan. Hanya laut biru kehijauan yang tampak. Perahu itu

mempunyai sebuah ruangan bawah yang tak seberapa besar

yang ditutupi dengan kain terpal tebal. Dari dalam sana

terdengar suara orang bercakap-cakap dalam bahasa yang tak

di mengerti sama sekali oleh Aditia.

“Berapa orang penumpang yang turut bersama perahu ini?”

tanya Aditia pada Samat.

“Hanya tiga, empat orang dengan engkau”.

“Mereka orang-orang Banjar kesemuanya?” tanya Aditia lagi.

“Hanya satu orang. Yang dua lagi orang-orang Dayak dari

suku Kayan” jawab Samat.

“Orang Dayak?” tanya Aditia heran. “Setahuku orang-orang

Dayak hampir tak pernah meninggalkan negerinya. Mereka dari

mana?”

“Suku Kayan sudah agak maju diantara suku-suku Dayak

lainnya. Mereka memeluk agama Islam. Mereka naik dari pulau

Ambacang dibalik teluk tadi. Tenteng apa yang mereka perbuat

aku sendiri tak tahu......”.

“Matahari telah condong kebarat saat itu. Angin bertiup

dengan kencang. “Sebaiknya masuklah kedalam. Angin mulai

menasihatkan Pomo pada Aditia. Aditia menganggukkan

kepalanya dan menyingkapkan kain terpal penutup ruangan

bawah dan masuk kedalam. Didalam, tiga orang laki-laki

dilihatnya duduk berhadap-hadapan. Yang dua saling

berdekatan dan tengah bercakap-cakap dengan asyiknya.

Keduanya segera menghentikan percakapan ketika melihat

Aditia memasuk ruangan itu.

Aditia menganggukkan kepala dan tersenyum sedikit. Kedua

orang dari suku Dayak itu dan juga seorang yang lain

mengangguk pula dan tersenyum dengan ramah.

“Kalian hendak menuju ke Banjar?” tanya Aditia membuka

pembicaraan sambil mengambil sebuah peti kecil untuk tempat

duduk.

“Benar jawab salah seorang dari orang Dayak itu dalam

bahasa Indonesia.

“Agak panes didalam ini. Bagaimana kalau saya buka kain

terpal itu......?” tanya Aditia sambil memandang berkeliling

pada ketiga orang itu.

“Silahkan” jawab pedagang Banjar yang duduk disamping

kirinya sedang kedua orang suku Kayan itu hanya

menganggukkan kepala saja menyatakan tidak keberatan

mereka. Aditia menyingkapkan kain terpal yang menutupi jalan

masuk keruangan itu. Angin berhembus dan ruangan itu kini

terasa sejuk.

“Orang perahu ini menerangkan bahwa saudara berdua

adalah dari. suku Kayan. Benar?” tanya Aditia kemudian pada

kedua orang Dayak yang dihadapannya itu.

“Benar” jawab salah seorang dari mereka. “Nama saya

Suwantra. Ini Mirta sahabat saya” katanya kemudian

memperkenalkan diri.

“Saya Aditia,” kata Aditia pula menerangkan nama kecilnya.

Lalu sambungnya. “Agaknya kalian mempunyai urusan yang

penting didaerah ini maka kalian sampai meninggalkan

kampung halaman”.

“Begitulah” jawab Mirta sedang Suwantra hanya tersenyum

saja.

Aditia menoleh pada orang yang disampingnya. “Saudara

orang Banjar asli?”. Yang ditanya menganggukkan kepalanya.

“Dagang?”. Sekali lagi orang itu menganggukan kepalanya.

“Dagang apa? Intan...... berlian?” tanya Suwantra.

Pedagang Banjar itu yang bernama Kuwana tersenyum kecil

mendengar kata-kata Suwantra tadi. “Saya hanya pedagang

keliling kecil-kecilan”. Berdagang kain sarung dan dan cita-cita”

katanya kemudian menerangkan.

“Dagang kain dan cita besar juga keuntungannya” kata Aditia

menyela.

Pedagang Banjar itu menarik nafas. “Tidak yang seperti

saudara katakan. Pembeli di Kalimantan tidak begitu banyak

sedang penduduk asli hanya bisa membeli dengan cara

menukarkannya dengan hasil-hasil seperti damar, kayu manis,

rotan dan lain-lainnya sehingga untuk menjadikan benda- benda itu uang, saya terpaksa harus membawanya kembali ke

Jawa untuk dijual. Waktu habis tenaga terbuang sedang

keuntungan sangat tipis”.

“Tapi keuntungan yang dicapai dengan cucur keringat dan

jalan yang jujur sangat nikmat dikecapnya, bukan?” kata Aditia

pula. Kuwana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Dan kalau saya boleh mengetahui apakah saudara juga

seorang pedagang?” tanya Mirta pada Aditia. Aditia

menggelengkan kepalanya. “Saya keseberang hanya untuk

melihat saudara tua saya. Seorang pencalang mengabarkan

bahwa akhir-akhir ini saudara saya itu sakit-sakitan saja” kata

Aditia berdusta.

“Dimana tinggalnya saudaramu itu?” tanya Suwantra. Aditia

berusaha menghilangkan kegugupannya karena pertanyaan

yang tak terduga itu dengan pura-pura batuk-batuk. Setelah

beberapa lama kemudian baru dia memberikan jawaban.

“Tempat tinggalnya yang pasti saya sendiri tidak mengetahui.

Tapi seorang sahabat yang tinggal dekat pelabuhan

mengetahuinya. Jadi saya harus menemui sahabat itu terlebih

dahulu”.

“Memang pada musim-musim pancaroba seperti saat ini

banyak sekali orang yang mengalami sakit. Terutama sakit

demam panas” menyela Mirta. “Dan didaerah-daerah yang

berawa-rawa, mengamuk nyamuk malaria. Setahun yang lalu

saudara sepupuku mati karena serangan demam malaria......”.

Diluar hujan rintik-rintik turun dan gelombang sedikit

membesar kini. Perahu itu bergoyang-goyang dan oleng kian

kemari namun terus meluncur maju sekalipun ombak

mempermainkannya. Ketika hujan gerimis berhenti maka cuaca

menjadi terang benderang kembali. Dari bagian belakang

perahu terdengar suara nyanjian Samat, Sekali-kali kawannya

Pomo mengiringi pula.

“Lihat disana ada sebuah perahu besar......” kata Pomo

dengan tiba-tiba menghentikan nyanyiannya. Kawannya Samat

memandang kearah yang ditunjukkan oleh Pomo. Dikejauhan

nampak sebuah kapal meluncur dengan cepat membelah

ombak-ombak besar yang mengalun dilautan lepas itu.

“Kurasa kapal orang-orang kulit putih......” menduga Samat.

“Tidak bisa jadi” tukas Pomo. “Kapal orang-orang kalit putih

jauh lebih besar dari itu. Tiang layarnya tiga buah dan

lambangnya tinggi. Perahu besar yang kita lihat ini hanya

mempunyai dua tiang layar dan lambungnya rendah. Menurut

taksiranku mungkin sekali kapal dagang orang-orang Bugis”.

“Perahu besar itu meluncur dengan cepat mendekati perahu

yang ditumpangi Aditia sementara Aditia bersama penumpang- penumpang perahu yang lainnya masih asyik bercakap-cakap

didalam sana.

“Aku merasa tak enak......” desis Pomo pada kawannya


“Perasaanku begitu juga” jawab Samat. Keduanya terus

memperhatikan perahu besar yang semakin mendekat. Tiba-

tiba Samat berteriak keras. “Celaka! Pomo, lihat! Lihat bendera

yang berkibar ditiang sebelah muka dari perahu besar itu.

Tengkorak. Perahu bajak!”.

Pomo meletakkan tangan kirinya yang gemetaran dimuka

matanya dan memandang tajam ketiang muka sebelah atas dari

perahu besar disebelah sana. “Bajak laut......” desis Pomo

dengan nada cemas. Satu detik kemudian Pomo telah mengalih

layar, tapi pada detik itu pulalah dari kapal bajak yang

dibelakang mereka terdengar letusan meriam. Peluru meriam

itu jatuh diatas laut kira-kira lima meter dari lambung kanan

perahu Samat. Air laut melambung naik. Perahu kecil miring

kekiri. Pomo memegang kemudi dengan sedapat-dapatnya.

Perahu terus meluncur. Sekali lagi terdengar letusan meriam

dari kapal yang kini hanya tinggal sejauh seratus lima puluh

meter dibelakang mereka. Peluru meriam yang kedua ini jatuh

agak jauh sehingga perahu Samat hanya tergoncang sedikit saja.

Aditia bersama ketiga onang lainnya yang tadi asyik

bercakap-cakap didalam sana keluar dengan cepat untuk

menyaksikan apa jang terjadi.

“Perahu bajak!” kata Kuwana si pedagang Banjar setengah

berteriak dengan nada cemas ketakutan. Aditia memandang

kebagian kemudi. Kecepatan perahunya sudah sampai

kepuncak kecepatan perahu layar. Dia tahu bahwa walau

bagaimanapun perahu yang ditumpanginya itu tak akan

mungkin untuk dapat melarikan diri dari perahu bajak yang

jauh lebih besar dan meluncur dengan cepat itu, Disekitar sana

tiada terdapat sebuah pulau yang terdekat. Sekali lagi terdengar

letusan meriam, Peluru meriam memecah dua meter dimuka

perahu Aditia. Air laut membumbung tinggi. Perahu itu

terhambung keudara.

“Berpegangan dengan erat!” teriak Pomo sambil memegang

kemudi perahu dengan seerat-eratnya. Aditia bersama yang

lain-lainnya memegong setiap bagian perahu yang dapat

dicapainya saat itu.

Kapal bajak saat itu hanya tinggal lima puluh meter saja lagi

dari belakang mereka. Dari tiang menara muka kapal itu

terdengar teriakan salah seorang dari perompak laut itu :

“Berhenti! Barhenti kalau kalian mau selamat!”.

“Larikan terus. Walaupun kita berhenti nyawa kita tak akan

selamat!” teriak Kuwana pada Pomo. Perahu itu meluncur

terus. Air laut disekitar mereka berbuih-buih.

“Lepaskan meriam. Satu meter dari lambung kanan” teriak

pemimpin bajak dengan gusar ketika melihat perahu yang

dimukanya masih berusaha untuk melarikan diri. Sekali lagi

meriam dimuka kanan perahu bajak memuntahkan pelurunya.

Peluru itu meletus tepat sejarak satu meter dari lambung kanan

perahu Aditia. Air laut bergejolak dan memasuki perahu,

sedang perahu itu sendiri terbanting keras kesamping kiri. Air

laut tergenang dalam perahu. Masih untung perahu kecil itu

tidak terbalik karam.

“Sebaiknya kita berhenti saja!” teriak Aditia pada Pomo.

Walau bagaimanapun kita tak akan dapat malarikan diri!”.

“Tapi mereka akan membunuh kita semuanya!” balas Samat

berteriak.

“Lebih baik mati dalam berjuang dari pada mati karam

kedasar laut. Walaupun kita harus mati ditangan mereka tapi

kita telah berjuang dan memberikan perlawanan. Pomo,

turunkan layar!” teriak Aditia.

“Gila!” tukas Kuwana, “Kita hanya berenam orang. Mana bisa

melawan bajak-bajak yang sedemikian banyaknya?”.

“Tak ada yang tak mungkin didunia ini!” teriak Aditia. Pomo!

Lebih baik berhenti!”.

Pomo menurut. Perahu itu terapung-apung dipermainkan

ombak ditengah lautan terbuka, sementara kapal kepunyaan

bajak datang mendekati dari samping kanan. Kira-kira delapan

orang bajak yang berbadan tegap-tegap dengan kapak, golok

dan badik ditangan melompat dari dalam kapal kedalam perahu

kecil itu sehingga menjadi teroleng-oleng.

“Keluarkan semua harta dan barang dagangan yang kalian

bawa dan serahkan pada kami. Cepat!” perintah salah seorang

dari bajak-bajak itu. Kapak yang ditangannya ditimang-

timangnya.

“Kami bukan pedagang-pedagang. Kami sama sekali tak

membawa barang berharga apa-apa” terdengar suara jawaban.

Bajak-bajak itu sama menoleh kearah datangnya suara tadi dan

melihat bagaimana seorang pemuda berpakian serba putih,

berselempang kain sarung hitam bergaris-garis merah berdiri

dengan seenaknya sambil bersidekap tangan disamping kiri

perahu.

Bajak jang memberikan perintah tadi menyeringai.

Tangannya berhenti dari mempermain-mainkan kapak besar

itu dan kemudian dia melangkah mendekati Aditia.

“Kau tahu benda apa ini?” tanya si bajak sambil

mengacungkan mata kapak yang tajam itu kemuka hidung

Aditia. Dengan tersenyum sinis orang yang ditanya menjawab.

“Kalau aku tak salah benda ini bernama kapak. Benar?”.

“He...... he...... he......”, kekeh bajak laut itu sambil

memandang berkeliling pada kawan-kawannya yang lain. “Baru

kali ini aku menemui mangsa yang dalam keadaan seperti ini

masih bisa melawak!”. Kekehannya hilang dan dia memandang

pada Aditia kembali. Matanya menyorot geram. Dari atas palka

kapal kepunyaan bajak laut itu terdengar suara teriakan

pemimpin mereka. “Lekas bereskan pekerjaan kalian! Mengapa

harus pakai bercakap-cakap pula? Ganum! Jangan membuang- buang waktu!”.

Bajak yang berdiri memegang kapak dimuka Aditia yang

bernama Ganum memutar kepalanya memandang keatas palka

dimana pemimpinnya berdiri. “Tugas akan segera beres,

pemimpin! Tapi ketahuilah bahwa diperahu bejat ini terdapat

seorang yang pandai melawak. Sebentar lagi mulutnya akan

kami sumpal dengan gagang kapak ini!”.

Ganum memandang tajam pada Aditia. Menyeringai seketika

dan membuka mulutnya. “Kau ingin pindah dunia?!”.

“Kalau dunianya lebih indah, ingin sekali”, jawab Aditia

sambil menyeringai pula, meniru-niru lagak Ganum berbicara.

Kapak yang ditangan Ganum melayang kebatang leher

pendekar berbaju putih. Aditia masih menyeringai ketika


tangan kirinya bergerak menangkap pergelangan tangan

Ganum yang memegang kapak besar itu. Ganum menjerit keras

ketika merasakan pergelangan lengannya seperti hendak

puntung dijepit oleh jari-jari tangan lawannya. Mau tak mau

kapak yang ditangannya terlepas. Sambil mendorong Ganum

kebelakang sehingga bajak laut itu jatuh terduduk dilantai

perahu. Aditia dengan tangan kanannya menyambut kapak

yang jatuh tadi. Kemudian dengan kedua tangannya, seperti

seorang anak kecil mematahkan lidi, begitu pun dia

mematahkan gagang kapak itu dihadapan orang banyak.

Ganum yang saat itu masih terduduk dilantai perahu jadi

terkejut. Begitu juga semua orang yang berada ditempat itu.

“Keroyok!” terdengar jerit salah seorang perompak.

“Bunuh semua bangsat-bangsat ini!” teriak Ganum sambil

bangkit berdiri. Dari balik bajunya dikeluarkannya sebuah

badik dan semua bajak-bajak yang berada diatas perahu itu

segera mengeroyok Aditia, Samat, Pomo serta ketiga orang

penumpang lainnya tak tinggal diam. Dengan senjata kayu

panjang di tangan, Samat dan Pomo mementung bajak-bajak

yang lengah. Suwantara dan Mirta masing-masing

mengeluarkan pisau-pisau besar dari balik pakaian mereka,

sedang Kuwana si pedagang kain mengambil gunting besar dari

saku celananya. Dengan gunting itu dia mempertahankan diri

dari serangan-serangan bajak-bajak laut itu. Tapi tak lama.

Ketika Kuwana baru saja menikam salah seorang bajak yang

menyerangnya, kawan bajak yang lain menamatkan riwayatnya

dengan sebuah golok besar. Kuwana terhuyung-huyung. Darah

kental menyembur dari lehernya yang terluka hebat. Dan

sebelum tubuhnya mencium lantai perahu, nyawanya sudah

tiada lagi.

Beberapa orang bajak lagi, atas perintah pemimpin mereka

segera melompat kedalam perahu Samat untuk membantu

kawan-kawan mereka. Perahu kecil itu bergoyang hebat. Samat

dan Pomo dengan kayu pementung mempertahankan diri

sedapat-dapatnya. Seorang bajak muda yang lengah tak ampun

lagi jatuh rubuh, menjerit dahsyat. Kepalanya rengkah

dihantam kayu pementung yang ditangan Pomo. Seketika 


juga, empat orang bajak segera mengurung Pomo dan Samat.

Satu orang memegang kapak sedang yang tiga lainnya

bersenjatakan golok panjang


Setelah bertahan dengan gigihnya akhirnya kedua anak

perahu itu mulai terdesak. Sambaran-sambaran kapak dan

golok maut mengurung mereka dengan rapat sementara perahu

yang kecil itu semakin menjadi-jadi olengnya. Dilain pihak, empat orang mengeroyok pendekar kita. Salah seorang

diantaranya adalah Ganum. Orang bersenjatakan badik besar.

Seranganya hebat mematikan. Semuanya itu dilancarkannya


Setelah bertahan dengan gigihnya akhirnya kedua anak

perahu itu mulai terdesak. Sambaran-sambaran kapak dan

golok maut mengurung mereka dengan rapat sementara perahu

yang kecil itu semakin menjadi-jadi olengnya. Dilain pihak, empat orang mengeroyok pendekar kita. Salah seorang

diantaranya adalah Ganum. Orang bersenjatakan badik besar.

Seranganya hebat mematikan. Semuanya itu dilancarkannya


dengan amarah yang meluap-luap. Sampai jurus yang ketiga

Ganum dan kawan-kawannya masih belum dapat mendesak

pemuda berbaju putih itu.

“Kurung terus yang rapat!” teriak Ganum. Dia maju

selangkah kemuka. Badik ditangannya bergerak cepat kian

kemari. Begitu juga ketiga orang kawannya. Pemuda kita benar- benar terkurung hebat kini. Bagi seorang yang berkepandaian

menengah adalah jauh dari mungkin untuk dapat mengelakkan

diri dari kurungan empat penjuru maut itu. Tapi tidak begitu

dengan muridnya Eyang Wilis. Aditia tahu bahwa dia tak boleh

membang-buang waktu. Dia membentak keras. Tubuhnya

berkelebatan dan dua orang bajak yang mengurungnya menjerit

keras, terpental keluar dari perahu. Masuk kedalam laut untuk

tidak timbul-timbul lagi. Ganum menjadi kalap. Sambil

menikamkan badiknya bertubi-tubi, dia memberi isyarat pada

kawan-kawannya yang diatas perahu besar. Empat orang lagi

turun melompat kebawah. Sebelum mereka mencapai perahu

Aditia. Aditia telah berhasil lagi merobohkan kawan Ganum

yang pertama. Kini lima orang mengurungnya. Goncang perahu

tak terkirakan lagi. Kelima orang pengurungnya menyerang

dengan serentak. Dari muka dua orang. Ganum dari samping

kiri. Dua orang dari belakang dan dari samping. Aditia

merunduk dengan cepat. Serangan kelima musuh-musuhnya

sekaligus dapat dielakkan. Tapi Ganum tidak bodoh. Begitu

badiknya mengena tempat kosong, kaki kanannya segera

bekerja. Secepat kilat kakinya menendang kearah tenggorokkan

Aditia. Tapi celaka. Dengan sigap lawannya berhasil menangkap

kaki kanannya itu. Ganum terjerumus kebelakang kehitangan

keseimbangan. Aditia menangkap kakinya yang satu lagi. Dan

satu detik kemudian permainan lama dari Aditia segera keluar.

Dengan memegang erat-erat kedua kaki Ganum, Aditia

membuat tubuh laki-laki itu seperti titiran, Dua orang bajak

yang pertama roboh tak sadarkan diri ketika dada, dan

kepalanya terbentur keras dengan tubuh Ganum yang diputar- putarkan Aditia. Sedang Ganum sendiri menjerit kesakitan

setinggi langit. Dua orang bajak yang lainnya yang tadi

mengurung Aditia mengeluarkan seruan tertahan dan mundur


beberapa langkah kebelakang. Salah seorang mundur

terlampau jauh dan tak menyadari bahwa saat itu dia berada

didalam perahu. Bajak itu terperosok dan jatuh kedalam air.

Kawannya yang seorang lagi melompat kedalam perahu besar

dengan ketakutan. Seluruh anggota bajak itu melihat dengan

mata melotot dan mulut ternganga apa yang terjadi dihadapan

mereka. Benar-benarkah orang yang berbaju putih itu tengah

melakukan perbuatan yang tak dapat dipercaya mereka?

Apakah mereka tidak bermimpi melihat untuk pertama kalinya

bagaimana seorang laki-laki mempergunakan tubuh seorang

manusia untuk mementungi manusia-manusia lainnya? Tiga

orang bajak yang mengeroyok Suwantra dan Mirta dalam

ketakutannya segera melarikan diri keatas kapal menyusul

kawannya. Dalam keadaan terluka pada bahunya, Suwantra

dengan cekatan masih dapat merobohkan salah seorang bajak

yang hendak melarikan diri itu. Bajak-bajak yang tadi

mengeroyok Pomo dan Samat juga tak mau ambil risiko dari

‘akrobat maut’ itu. Mereka segera pula, memanjat keatas

menyelamatkan diri. Dan kesempatan ini dipergunakan dengan

sebaik-baiknya oleh Pomo dan Samat. Masing-masing mereka

dengan sangat enaknya menghantam punggung-punggung

bajak yang hendak melarikan diri itu sampai babak belur. Tak

ada seorang bajakpun kini yang berada diatas perahu kecil itu.

Aditia terus memutar-mutar tubuh Ganum diatas kepalanya.

Dia mengerling keatas kapal, untuk mengetahui dimana

pemimpin lanun itu berada saat itu. Tiba-tiba semua mata

melihat tubuh Ganum melesat keatas kapal. Kalau si pemimpin

bajak tidak cepat-cepat merundukkan kepalanya sudah dapat

dipastikan bahwa Ganum akan membenturnya dengan keras.

Dua orang bajak yang berdiri dibelakang pemimpin mereka dan

tak sempat mengelakkan diri terpelanting keras kelantai perahu

begitu tubuh Ganum menghantamnya dengan keras. Dan

Ganum sendiri sudah lama menjadi mayat! Kepalanya rengkah,

tulang-tulang tangan dan tulang-tulang iganya patah-patah dan

remuk-remuk.

Pemimpin bajak laut dan juga semua orang yang berada

disitu termasuk Pomo. Samat, Mirta dan Suwantra sege


memaklumi bahwa pemuda berbaju putih dan berwajah

tampan itu bukan orang sembarangan. Ilmu kesaktiannya

benar-benar mengagumkan.

Dari atas kapal kepunyaan bajak terdengar suara pemimpin

bajak. “Pendekar yang berbaju putih, kalau kau benar-benar

jantan, naiklah keatas sini!”.

Aditia memandang keatas perahu bajak. Kemudian melirik

pada Pomo dan berkata : Kembangkan layar dan menjauhlah

dari sini. Tunggu aku......”. Pomo dengan cepat segera

mengerjakan apa yang dikatakan Aditia.

Dari atas lambung kapal terdengar lagi teriakan pemimpin

bajak. “Manusia yang berbaju putih tunjukkan kejantananmu.

Mari naik kesini! Mari teruskan perhitungan yang......”. Kata- kata pemimpin bajak itu terhenti sampai disitu karena dengan

kecepatan yang luar biasa dan hampir tak satu matapun yang

melihatnya, melompat keatas perahu besar dan tahu-tahu telah

berada dihadapan pemimpin bajak dengan bertolak pinggang.

”Kau punya sedikit ilmu juga heh......?” kata pemimpin bajak

dengan bertolak pinggang.

“Kau telah saksikan sendiri. Dan sekarang apa maumu?”

tanya Aditia menantang.

“Apa mauku...... he...... he. Baik! Ikuti aku!”. Kedua orang itu

berjalan ketengah-tengah kapal. Pemimpin bajak menghentikan

langkahnya. Dia melambaikan tangannya memberi isyarat pada

anak-anak buahnya. Dan dengan serta merta semua bajak-bajak

itu membentuk sebuah lingkaran besar. Aditia dan pemimpin

mereka persis ditengah-tengah lingkaran.

Pendekar kita tersenyum sinis dan memandang tajam pada

orang yang dimukanya. Tampang pemimpin bajak itu sungguh

tidak enak untuk dilihat. Hidungnya besar tapi melesak

kedalam. Matanya yang sebelah kiri lebih kecil dari yang

sebelah kanan. Bibirnya tebal. Kumisnya lebat dan kasar, begitu

juga cambang bawuknya. Tubuhnya pendek sedikit dari Aditia

tapi lebih kesat dan lebih kekar sedang kulitnya hitam pekat.

Pemimpin bajak ini mengenakan baju kaos putih bergaris-garis

hitam besar. Bercelana panjang sempit dan sebuah kain sarung

bugis melilit pinggangnya. Disisi kirinya tergantung sebuah 


pedang besar bergagang perak yang berukiran tengkorak

manusia.


Aditia menyeringai dan bertanya. “Sudah...... Kau tunggu

apalagi?”.

“Kau tahu kau berada dimana saat ini?” tanya si pemimpin

bajak dengan nada mengejek. Aditia mengangguk.

“Dan kau tahu kau berhadapan dengan siapa kini?”.

Aditia mengangkat bahunya kemudian membuka mulut

dengan seenaknya. Dengan pemimpin bajak yang siat


Air muka pemimpin bajak itu berubah menjadi semakin

buruk. “Bagus...... kau akan lihat, siapa yang sial diantara kita

nanti...... kalau saja otakmu masih bisa berpikir sebelum

nyawamu melayang keneraka! He...... he......”.

Si pemimpin bajak meninggikan tangan kanannya,

mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya.

“Apa pula artinya ini......?” kata Aditia bertanya-tanya dalam

hatinya. Tak berapa lama kemudian tiga orang laki-laki

berwajah buruk seram menyeruak diantara bajak-bajak laut itu,

melangkah ketengah-tengah lingkaran. Ketiganya berkepala

botak, berbadan kukuh tegap, dan hanya mengenakan celana- celana pendek yang berwarna biru tua. Ditangan masing- masing tergenggam sebuah kapak besar.

Aditia mengerling pada ketiga orang itu. Dia sudah tahu apa

maksud si pemimpin bajak. “Hanya tiga orang........?”, ejek

Aditia.

”Kau takut?!” balas mengejek si pemimpin bajak.

“Jadi inikah yang kau sebutkan dengan kejantanan itu?”.

“Tak usah tanya panjang lebar. Hadapi orang-orangku,

perlihatkan kejantananmu!”, si pemimpin bajak melambaikan

tangannya, kemudian melangkah ketepi lingkaran sementara

tiga manusia berkepala botak tadi berpencaran dan mendekati

Aditia dari tiga jurusan. Semua orang menahan nafas. Dari

kejauhan terdengar suara mesin perahu motor yang

dikemudikan Pomo.

Aditia berdiri dengan waspada. Kedua kakinya terbuka lebar,

lututnya menekuk sedikit sedang tangannya, tergantung lemah

dikedua sisinya.

“Keluarkan senjatamu” teriak pemimpin bajak.

“Aku tidak punya senjata......” desis Aditia.

Pemimpin bajak mengambil golok besar kepunyaan salah

seorang anak buahnya dan melemparkan senjata itu kearah

Aditia. Pemuda kita cukup memaklumi bahwa pemimpin bajak

itu tengah menguji kepandaiannya. Dengan secara acuh tak

acuh Aditia menangkap gagang golok besar itu. Begitu senjata

tersebut tergenggam ditangannya, ketiga manusia berkepala

botak yang mengurungnya menyerang dengan serentak.

“Bunuh”.

“Cincang!”.

“Tebas batang lehernya!”. Bermacam-macamlah teriakan

bajak-bajak laut yang berdiri ditepi lingkaran menyaksikan

baku kapak itu.

TIGA

SAMBIL merundukkan kepalanya mengelakkan sambaran

kapak musuh yang dibelakangnya, Aditia imenangkis kapak

lawan yang disamping kanan dengan golok yang ditangannya.

Kedua senjata besar itu beradu keras. Aditia memukul lengan

lawan yang datang dari samping kiri tapi meleset. Lawannya

dengan sigap menggeser kedudukan kakinya sedang sambaran

kapaknya yang lewat percuma diputarnya sedemikian rupa dan

bersamaan dengan kawannya yang disamping kanan dia

membacokkan senjata dengan dahsyat. Tangan kanan Aditia

bergerak. Golok tajam yang ditangannya memupus puntung

kedua gagang kayu dari kapak-kapak kedua lawan yang

dihadapannya itu. Kedua orang yang berkepala botak itu

melompat mundur kebelakang sambil mengeluarkan seru

tertahan. “Kapak!” teriak salah seorang dari keduanya. Dua

buah kapak segera dilemparkan bajak-bajak laut dari tepi

katangan yang dengan cekatan dan cepat ditangkap oleh kedua

orang itu. Sementara Aditia mengelakkan satu sambaran deras

dari lawan yang seorang lagi, kedua manusia botak lainnya

telah mengurungnya kembali. Ketiga orang itu berputar-putar

beberapa lamanya. Tiba-tiba dengan sama-sama membentak

keras ketiganya menyerang. Yang dimuka kanan merunduk

menghantamkan kapaknya kearah lambung Aditia. Yang

dibelakang memapak punggungnya sedang yang disamping kiri

membabatkan senjatanya kebahu Aditia. Walaupun sudah siap- siap sejak semula dengan ilmu kebalnya, namun Aditia sampai

saat itu masih belum mau untuk menonjolkan kehebatannya.

Dengan sigap dia mengelakkan ketiga sambaran kapak itu

dengan cara yang benar-benar lihay mengagumkan, bahkan


salah seorang dari ketiga penyerangnya terpaksa terhuyung- huyung kebelakang dengan perut mual kena tendangan kaki kiri

Aditia.

“Ayo, jangan mundur Musto. Serang kembali! Bunuh!” teriak

salah seorang bajak memberi semangat pada kawannya yang

berkepala botak yang bernama Musto yang bar saja mendapat

tendangan keras pada perutnya itu.

Musto menggenggam kapak besarnya erat-erat dan maju

kearena pertempuran kembali. Ketiga orang itu bergerak cepat

kini. Tubuh mereka yang besar-besar itu berkelebatan enteng

kian kemari. Permainan kapak mereka semakin lama semakin

rapat. Aditia melompat kian kemari. Dua serangan dari

belakang dapat dielakkannya dengan muduh tapi tak terduga,

setelah serangannya gagal, Gembul salah seorang dari ketiga

lawan Aditia membungkukkan tubuhnya mengirimkan

tendangan keperut Aditia bagian bawah. Aditia melipatkan

lutut kirinya untuk menangkis serangan ganas itu, tapi dengan

cepat Gembul menarik kakinya kembali. Ternyata tendangan

itu hanyalah tipuan semata-mata. Dan bersamaan dengan itu

kembali kapaknya memapak kearah kepala Aditia dari samping

sebelah atas. Dengan golok yang ditangannya Aditia menangkis

serangan itu sedapat-dapatnya. Kedua mata senjata tajam itu

beradu keras. Kapak yang ditangan Gembul terlepas mental

sedang golok besar yang ditangan Aditia patah dua, potongan

sebelah bawah masih tergenggam erat ditangannya. Meskipun

senjatanya telah puntung, namun ketika melihat lawannya

sedikit lengah dalam gebrakan yang seru itu, Aditia

menusukkan Patahan golok itu kelambung Gembul. Gembul

merintih dan terhuyung-huyung kebelakang. Tak ada waktu

bagi pendekar gunung Wilis untuk melihat bagaimana nasib

musuhnya selanjutnya karena dia harus menyelamatkan diri

pula dari gempuran kapak yang datang bertubi-tubi dari dua

orang lawannya yang lain yaitu Musto dan Jangkreng.

Menghadapi dua orang musuh ini kini Aditia bisa bergerak

dengan seenaknya. Dengan tangan kosong serangan-serangan

kedua orang itu dihindarkannya. Musto dan Jangkreng

mengeluarkan seluruh tenaga dan kekuatannya. Kapaknya


menyambar kian kemari. Sekali, karena sambaran goloknya

kapaknya mengenai tempat kosong, Jangkreng mendudu

terhuyung-huyung kemuka. Tangan kanan Aditia bergerak

menjambak bahu kanan laki-laki itu, mencengkeramnya

dengan erat dan menariknya kemuka dengan sekuat tenaga.

Jangkreng jatuh terjerembab keras dengan muka lebih dahulu

menyerosot dilantai papan yang kasar. Hidung dan pipinya

lecet memerah. Dan mukanya yang buruk itu menjadi semakin

buruk. Dengan darah mendidih dan geram menahan sakit.

Jangkreng berdiri dengan sedikit terhuyung-huyung, memutar

tubuhnya kembali tapi sial! Sambaran kapak Musto yang

datang dengan hebat membuat Aditia terpaksa merunduk.

Posisi Jangkreng berdiri dan posisinya sendiri saat itu adalah

sedemikian tepatnya untuk mengirimkan satu tendangan

mematahkan. Kaki kanan Aditia seperti mempunyai per

bergerak cepat keperut Jangkreng. Jangkreng coba untuk

mengelak. Tapi karena keadaan tubuhnya belum lagi seimbang

maka usahanya untuk itu sia-sia, sebaliknya tubuhnya jadi

menekuk kemuka sehingga tendangan Aditia yang seharusnya

mampir diperutnya kini bersarang didadanya. Jangkreng

memekik keras. Nafasnya sesak, dia terbatuk beberapa kali dan

darah kental keluar berhamburan dari dalam mulutnya dan

pada saat itu juga jantungnya berhenti berdetak. Tubuhnya

tergelimpang kelantai kapal tiada bergerak-gerak lagi.

Kini hanya tinggal Musto satu orang yang harus dihadopi

Aditia. Laki-laki botak ini tampak ragu-ragu. Dia berputar- putar beberapa kali. Aditia melangkah dengan tenang

mendekati Musto. Tiba-tiba dia melompat menangkap leher

Musto dengan tangan kanannya. Lawannya yang tercekik itu

mengayunkan kapaknya keperut Aditia. Sebelum senjata itu

sampai diperutnya dengan cepat Aditia memukul lengan yang

memegang kapak itu dengan tepi telapak tangan kirinya. Musto

merasakan seperti dipukul dengan sepotong besi. Dia menjerit

dan mundur kebelakang tapi tak bisa karena lehernya masih

tercekik dalam tangan kanan Aditia. Kapaknya jatuh dan dia

berusaha untuk melepaskan cekikan yang semakin lama

semakin keras itu, namun sia-sia. Tiba-tiba, sambil membentak.


“Huuuuppp......”, dengan kedua buah tangannya Aditia

mengangkat tubuh Musto yang besar kukuh itu seperti seorang

anak kecil yang memomong boneka dan kemudian dengan

sekuat tenega dibantingkannya tubuh Musto keatas geladak

kapal itu. Musto jatuh dengan kepalanya yang botak lebih

dahulu mencium lantai kayu yang keras, persis dihadapan

pemimpin bajak. Kepalanya rengkah. Darah merah dan air

benaknya meleleh membasahi lantai. Untuk pertama kalinya

bajak-bajak yang sudah melihat orang-orang yang mati

terbunuh merasa bergidik dan berdiri bulu tengkuknya ketika

melihat cara mati kawan mereka itu.

Seluruh sudut kapal bajak diliputi kesunyian yang

mencengkam. Tak seorangpun yang bergerak, tak seorangpun

yang membuka mulut. Akhirnya sambil mengangguk- anggukkan kepalanya, pemimpin bajak laut itu bergerak

meninggalkan tempatnya, melangkah mendekati Aditia. Saat

itu barulah anak-anak buahnya seperti orang yang baru sadar

dari mimpi masing-masing. Mereka berteriak dengan hiruk

pikuk.

“Cincang bangsat itu!”.

“Gantung!”.

“Bakar sampai tulangnya menjadi arang!”.

Pemimpin mereka melambaikan tangan menyuruh bajak- bajak itu berhenti dari berteriak-teriak. Kembali keadaan

menjadi sunyi senyap. Setelah memandang tajam beberapa

lamanya kemuka Aditia, bertanyalah pemimpin bajak itu. “Kau

siapa sesungguhnya?”. Aditia tersenyum tapi sama sekali tak

memberikan jawaban. “Kau dengar pertanyaanku?!”

membentak pemimpin lanun tersebut dengan gusar.

“Apakah penting bagimu siapa adanya aku?” ujar Aditia

kemudian.

“Sompret!” maki si pemimpin bajak dengan gusar.

“Kemarikan tali itu!” katanya kemudian piala salah seorang,

anak buahnya menunjuk kesegulung tali yang panjangnya tak

lebih dari dua meter. Orang yang diperintah segera

mengerjakan apa yang sudah disuruhkan pemimpinnya.


“Kau hendak menggantungku......?” desis Aditia kepada

pemimpin bajak yang berdiri meminang-minang gulungan tali

ditangannya. Setelah menyeringai baru yang ditanya

memberikan jawaban. “Aku tidak akan menggantungmu secara

pengecut seperti yang kau duga semula sobat. Tapi satu hal, kau

harus serahkan nyawamu ketanganku!”.

“Maksudimu......?”, tanya pemuda kita pula.

“Mari kita bertempur secara jantan! Secara laki-laki!”.

“Secara jaatan seperti pengeroyokan tadi?” ejek Aditia sambil

memencongkan mulutnya dan mengeluarkan suara mendengus

dari lobang hidungnya.

“Aku hanya menguji kepandaianmu tadi!”.

“Menguji atau bermaksud hendak membunuhku?!” tukas

Aditia.

“Mungkin kedua-duanya” jawab si pemimpin bajak dengan

menyeringai. Gulungan tali yang ditangannya dibukanya

dengan cepat. Salah satu ujungnya diikatkannya kepinggangnya

sedang ujung yang lain dilemparkannya kehadapan Aditia.

“Ikatkan kepinggangmu. Mari kita bertanding secara laki-laki!

Dan ingat, nyawamu ada ditanganku!”.

Aditia mengikatkan ujung yang dilemparkan kepadanya

kepinggangnya.

“Kau sudah siap?” desis si pemimpin bajak. Aditia

mengangguk tapi dalam hatinya dia bertanya-tanya, berkelahi

cara apa pula yang dipakai oleh pemimpin lanun ini? Tiba-tiba

si pemimpin bajak menarik tali. Aditia terdorong kemuka dan

tinju kiri lawannya menghantam dadanya, menimbulkan suara

yangg nyaring sekali. Semua anak bush bajak itu tertawa

berkekehan dan mengejek Aditia. Aditia sendiri merasakan

bagaimana dadanya yang kena terpukul itu sangat perih sekali.

Agaknya pemimpin bajak ini mempunyai ‘isi’ juga.

“Sebelum kita bertanding, sebaiknya beri tahu dutu siapa

namamu, sobat, supaya kalau kau mampus ditanganku sebentar

lagi, aku benar-benar akan merasa puas!”.

“Namaku tak usah kau ketahui, sebaliknya katakan siapa

namamu!” balas Aditia. Air muka pemimpin bajak itu menjadi

berubah dengan serta merta.


“Jangan terlalu konyol dan sesumbar disini, keparat.

Keluarkan senjatamu!” bentak pemimpin bajak itu sambil

mencabut badik besarnya dari balik ikat pinggangnya. “Kalau

kau ingin tahu siapa aku, inilah dia Daeng Pasewang, manusia

yang ditakuti dilaut dan didaratan, orang Bugis asli! Keluarkan

senjatamu cepat!”.

“Aku sama sekali tak punya senjata apa-apa” jawab Aditia

sambil memperhatikan senjata yang ditangan lawannya. Sekali

lihat saja dia sudah tahu bahwa senjata yang dimiliki Daeng

Pasewang, pemimpin bajak itu bukan sembarangan. Gagangnya

terbuat dari perak asli sedang ujung badik itu tampak seperti

mengeluarkan sinar kebiruan. Aditia cukup memaklumi, bahwa

senjata-senjata kepunyaan orang-orang Bugis sangat hebat dan

berbahaya. Jangankan sampai terluka parah, tergores sedikit

sajapun bisa menimbulkan maut, karena racun yang diendap

oleh senjata tajam itu sungguh-sungguh keras dan berbahaya.

“Sirin, berikan belatimu pada orang ini!” teriak Daeng

Pasewang pada salah seorang anak buahnya. Sirin segera

mencabut belati yang tersisip dipinggangnya dan

melemparkannya kepada Aditia. Setelah Aditia menggenggam

senjata itu terdengar suara Daeng Pasewang. “Aku tahu, sobat.

Kau berdusta. Aku sama sekali tak percaya kalau kau tak

mempunyai senjata. Mari kita mulai!”.

Daeng Pasewang menarik tali yang menghubungkan mereka

satu sama lain. Tapi kali ini Aditia tidak berada dalam keadaan

lengah lagi. Sekuat apapun musuhnya menarik tali itu namun

tubuhnya tak bergerak barang seujung rambutpun. Keduanya

berputar-putar, Tali yang mengikat pinggang mereka meregang.

Mendadak, Aditia melompat kebelakang. Tapi lamanya hanya

tertarik sedikit saja. Tubuh Daeng Pasewang terasa seperti

ribuan kilo beratnya. Rupanya bajak ini juga mempunyai ilmu

memberatkan tubuh seperti yang dimiliki pendekar kita, namun

keampuhannya tidak sehebat Aditia.

Sambil memegang tali yang meregang dengan tangan

kirinya, Daeng Pasewang berputar kekiri, kemudian dengan

perlahan dia menggeser kakinya maju. Aditia memperhatikan

gerakan lawannya dengan waspada


“Rasakan ini!” teriak Daeng Pasewang dengan keras.

Tubuhnya tampak seperti hendak melompat kemuka

menyerang lawannya. Aditia menggerakkan tangan kirinya siap

untuk menangkis dan memukul tangan Daeng Pasewang yang

memegang senjata. Tapi bentakan dan gelagat Daeng Pasewang

hanya merupakan tipuan belaka. Ketika dilihatnya lawannya

menaikkan tangan kirinya, dengan cepat dia memiringkan

tubuhnya kemuka. Badik beracun yang ditangannya

menyambar kedada Aditia. Aditia tahu kalau dia sudah kena

ditipu. Sambil menjatuhkan diri dia coba menangkis dengan

tangan kanannya. Tapi tidak keburu. Satu-satunya jalan dia

terpaksa menggulingkan diri. Namun hanya satu gulingan,

tubuhnya tertahan oleh tali. Tapi dia berhasil menyelamatkan

diri dari tikaman yang berbahaya itu. Aditia berdiri dengan

cepat. Dia tahu bahwa lawannya mempunyai tipuan-tipuan

yang licik. Untuk selanjutnya dia harus waspada dengan

gerakan maupun bentakan Daeng Pasewang.

Kedua lawan itu berhadap-hadapan kembali. Keduanya

sama-sama melangkah mendekat. Ketika Daeng Pasewang

melompat kekiri, Aditia tidak menimbulkan reaksi dan ternyata

apa yang diduganya semula benar. Begitu kedua kakinya

menjejak lantai kembali tiba-tiba Daeng Pasewang meleset

kekanan, badik yang ditangannya menyambar deras

menimbulkan angin yang dahsyat. Aditia cepat bersurut

kebelakang tapi lawannya menarikkan tali dengan seluruh

kekuatannya. Aditia berdiri tak bergerak-gerak dan hal itu

menyebabkan dia terpaksa harus menggerakkan tangannya

lebih cepat untuk menangkis lengan lawan. Kedua lengan yang

sama-sama memegang senjata itu beradu dengan keras. Daeng

Pasewang menyeringai kesakitan sedang Aditia merasakan

lengannya pegal. Sebelum musuhnya mulai melancarkan

serangannya Aditia mendahului. Tali ditariknya, Daeng

Pasewang terbawa kemuka. Kaki kanan Aditia bekerja mencari

sasaran diperut lawannya. Tapi dengan sigap Pasewang

melompat keatas. Aditia memburu. Belati yang ditangannya

kini yang mencari sasaran. Dalam keadaan masih mengapung

diudara itu, Pasewang menendang tangan kanan Aditia


sehingga pemuda kita terpaksa menarik tangannya dengan

cepat sebelum terlambat. Kemudian sambil turun kembali

pemimpin bajak itu mengirimkan satu sampokan dahsyat

kearah tengkuk Aditia. Sekali lagi Aditia mengelakkan serangan

itu dengan memundurkan dirinya satu langkah kebelakang.

Dengan lewat dihadapannya dan sebelum musuhnya sempat

memutar tubuh tinju kiri Aditia berhasil menghantam

punggung kanan laki-laki itu! Hampir saja senjata ampuh yang

ditangan Pasewang terlepas karena demikian kerasnya jotosan

yang disertai tenaga dalam itu. Sambil mengimbangi tubuhnya

Pasewang coba memutar tubuhnya. Tapi dia berbalik kearah

yang salah dan dengan sedikit lengah. Belati yang ditangan

Aditia menyambar cepat kearah dadanya persis ditempat

jantungnya, Tapi apa yang terjadi adalah sama sekali tak diduga

Aditia. Jangankan terluka, bertanda sedikitpun tidak dada

Daeng Pasewang yang kena tusukan belati itu, cuma baju

kaosnya yang robek.

“Ha.......... ha........ kau terkejut?! Ayo silahkan tikam sepuas

hatimu!” ejek pemimpin bajak itu dengan menyeringai. Tiba-

tiba seringainya lenyap dan bersamaan dengan itu dia melesat

kemuka. Tangan kirinya disilangkannya didada, lutut kiri

dilipat kebelakang, kaki kanan menendang bersamaan

gerakannya dengan sambaran badik yang ditangannya. Banar- benar satu serangan yang hebat dan sukar untuk diancarkan

maupun untuk ditangkis.

Tak mungkin bagi Aditia untuk mengelakkan serangan itu

dengan merunduk karena lawannya telah menarik tali sehingga

meregang. Mau tak mau dia harus bentrokan dengan

musuhnya. Aditia mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya.

Untuk menangkis hantaman lutut kiri Pasewang, Aditia melipat

pula lutut kanannya. Sambaran badik ditangkisnya dengan

belati sedang pukulan tangan kiri Pasewang disambut dengan

tangan kiri. Begitulah dengkul beradu dengkul, senjata beradu

senjata dan tangan beradu tangan sehingga menimbulkan suara

yang nyaring sekali.

Kedua orang itu sama-sama terpelanting kebelakang. Belati

yang ditangan Aditia patah dua. Pasewang merasakan seluruh

badannya sakit-sakit dan pandangan matanya sedikit

berkunang-kunang. Dia berdiri nanar beberapa lamanya. Diam- diam Aditia mengagumi kekuatan tenaga dalam lawannya itu.

Begitu kekuatan tubuhnya pulih seperti semula, Daeng

Pasewang tak membuang-buang waktu lagi. Badik ditangannya

menyambar kian kemari. Tubuhnya berkelebatan. Senjata dan

orang sama-sama menimbulkan suara angin bersiuran. Secepat

gerakan Pasewang, mengirimkan serangan-serangan mautnya,

secepat itu pula bahkan lebih cepat Aditia berkelebat seperti

bayangan mengelakkan badik beracun itu dengan tangan

kosong. Ketika tubuh Aditia hampir tak kelihatan sama sekali

karena sangat cepatnya gerakannya, Daeng Pasewang akhirnya

menjadi lelah sendiri sedang musuh yang diserangnta tak tahu

ada dimana. Sebentar dimuka, sebentar disamping dan kadang- kadang menyelinap kebelakang. Kalau saja gerakannya tidak

cepat dia sudah dapat memastikan bahwa entah sudah berapa

kali dia kena terpukul.

Daeng Pasewang berdiri tanpa bergerak-gerak sementara

dilihatnya lawannya berkelebat kian kemari. Tiba-tiba terasa

sambaran angin datang dari sampmg kirinya. Dengan waspada

dia mengelak kebelakang, tapi dia tertipu karena mendadak

dengan sangat cepat sambaran angin itu berubah dan kini

datang dari belakang. Tiada kesempatan bagi pemimpin bajak

itu untuk mengelakkan diri karena dia telah keburu terlanjur

mundur kebelakang. Pasewang hanya menunggu apa yang

bakal diterimanya. Dua detik kemudian pemimpin bajak itu

menjerit keras. Tubuhnya terhuyung-huyung kemuka dan jatuh

menelungkup dilantai. Tengkuknya tampak kemerah-merahan.

Semua anak buah bajak laut itu memandang ke pemimpin

mereka dengan hati cemas dan takut. Cemas kalau pemimpin

mereka tidak lagi bernafas alias mati. Takut kalau-kalau giliran

mereka pula kini yang harus menerima hantaman dari pemuda

sakti tak dikenal itu.

Aditia memperhatikan tubuh Pasewang yang melingkar

dilantai kapal. Dilihatnya laki-laki itu menggerakkan kakinya.

Kemudien mengangkat kepalanya dan akhirnya bangkit dengan

perlahan-lahan. Diam-diam Aditia mengagumi kehebatan


pemimpin bajak itu. Pukulan tapak besi berapinya hanya

menghanguskan kuduk laki-laki itu saja dan tak sampai

mematikannya. Pasewang sendiri sambil berdiri dengan

terhuyung-huyung memandang lawannya dengan mata

membelalak. Baru sekali itu dia menerima pukulan yang sangat

hebat. Melemahkan seluruh anggota tubuhnya dan hampir saja

membuat dia jatuh pingsan.

“Kau siapa?!” desisnya. “Kau murid siapa?!” sambungnya

kemudian.


Aditia tersenyum. “Mengapa kau tanyakan hal itu? Kalau kau

belum puas majulah kembali. Aku masih punya waktu untuk

melayani manusia semacam kau!”.

Darah Daeng Pasewang jadi mendidih kembali, membuat

kekuatannya timbul lagi. Setelah mengatur jalan pernafasannya

dia melompat kemuka dan menyerang dengan ganas. Pasewang

mengeluarkan ilmu simpanannya yang oleh anak buahnya

diberi julukan ‘naga berkepala tujuh mengamuk’. Dan nama

yang diberikan itu memang sungguh tepat sekali. Tubuh

Pasewang berkelebat cepat. Tangan dan kakinya bergerak ganti

berganti, menyambar mengirimkan tikaman-tikaman serta

jotosan-jotosan dahsyat. Sekali-kali tali yang mengikat

pinggangnya dan pinggang Aditia ditariknya dengan kuat.

Kagum juga Aditia melihat cara bertempur musuhnya itu. Kalau

lawan yang hanya berkepandaian kelas menengah menghadapi

Pasewang saat itu niscaya tubuhnya sudah kena dicelaki oleh

Pasewang. Aditia sendiri hampir beberapa kali berhasil hendak

dikerumusnya. Akhirnya Aditia dengan matanya yang tajam itu

berhasil juga melihat kelemahan ilmu yang dipakai lawannya.

Tangan-tangan Pasewang yang berkelebatan kian kemari

seperti ular yang berkepala banyak yang hendak menyambar

musuhnya dalam ilmu pukulan itu hanya dipakai semata-mata

untuk menyerang sehingga kalau diserang oleh lawan daya

pertahanannya tidak seberapa ampuh dan hal ini dibuktikan

oleh Aditia. Dia mengirimkan tendangan kaki kanan yang

sengaja sedikit dipelankannya. Tangan kiri Pasewang

menghantam paha lawannya. Aditia menggigit bibir menahan

sakit sementara dia dipaksa untuk meloncat kesamping karena

tangan kanan Pasewang yang memegang badik beracun datang

pula menyambar dengan deras.

Begitu kedua sampokan tangan kanan Pasewang lewat

menggerakkan tangan kanannya memukul dada kanan musuh.

Juga pukulan ini sengaja dilambatkannya. Dengan ganas

Pasewang menikamkan badiknya kelengan Aditia. Sebaliknya

Aditia mengirimkan pukulan halilintar kebawah ketiak

lawannya. Sekali lagi pemimpin bajak itu mangeluarkan jeritan

keras. Tubuhnya terbanting kelantai, miring kekanan. Dari

mulutnya terdengar suara erangan kesakitan. Dalam keadaan

seperti itu dia berusaha mengalirkan tenaga dalamnya

ketempat yang terpukul. Juga dengan susah payah dicobanya

untuk mengatur jalannya pernafasan. Aditia memandang

kelengan bajunya yang terobek besar kena ujung badik

lawannya. Kulit lengannya tampak tergores merah memanjang.

Benar-benar dia mengagumi senjata lawannya itu. Ilmu

kebalnya yang sudah sampai kepuncaknya itu masih bisa

disaingi oleh badik orang Bugis itu, meskipun hanya

merupakan goresan yang tak berarti yang tak sampai

mencelakanya. Kalau orang yang berilmu rendah, sudah dapat

dipastikan bahwa orang itu sudah menemui ajalnya saat itu.

Aditia meludahi bekas goretan badik dilengan kanannya,

kemudian mengusap-usapnya beberapa kali sementara Daeng

Pasewang berbalik kian kemari diatas lantai kapal.

Satu menit kemudian, pemimpin bajak itu membukakan

matanya. Dia memandang pada Aditia. Matanya menyorotkan

rasa geram dan dendam yang meluap-luap. Dengan bertopang

pada kedua siku lengannya, pemimpin bajak itu mencoba

bangun dengan susah payah. Benar-benar orang ini keras

kepala dan keras hati, pikir Aditia sambil memperhatikan

Daeng Pasewang.

Selama beberapa saat kedua musuh itu saling beradu

pandang. Aditia membuka mulut bertanya setengah mengejek.

“Apa kau masih belum puas? Kita teruskan pertandingan ini,

atau kau menyerah sampai disini saja?”. “Menyerah? Ha........ ha........ tak ada kata-kata menyerah

dalam kamus hidupku, sekalipun mayatku nanti yang akan kau

langkahi! tukas Pasewang dengan geram. Ketika dia merasakan

nafasnya mulai teratur dan kekuatannya kembali, dia bergerak

melancarkan serangan. Sambaran-sambaran badiknya semakin

menggila. Bersiutan kian kemari. Kalau Aditia tak cepat

mengelak mungkin kulit dadanya akan tergores yaitu ketika

Daeng Pasewang seperti seekor banteng ketaton membabat,

memapak dan menghunjamkan badiknya dalam satu serangan

berantai yang amat dahsyat. Sebagai akibat hanya baju putih

Aditia yang terobek besar pada bagian dadanya.


Aditia mulai jemu dengan perkelahian yang seakan-akan

tiada akhirnya itu. Sambil menarik tali pengikat pinggang

dengan kerasnya sehingga Daeng Pasewang tertarik kencang

kemuka, Aditia melayangkan tinju kanannya yang berisi aji

gada dewata kearah kepala lawannya. Pasewang cukup maklum

dengan kehebatan ilmu lawannya, dia tak mau ambil resiko.

Sambil membuang diri kesamping kiri tumit kaki kanannya

disorongkannya keperut lawannya dan murid Eyang Wilis

terpaksa mengakui keunggulan lawannya kali ini. Perutnya

terasa sangat sakit. Dia menahan pernafasannya beberapa

ketika. Sebelum tenaga dalamnya berhasil dialirkannya

kebagian tubuhnya yang kena sambaran tumit musuhnya tadi,

Pasewang telah menyerang pula dengan badiknya. Aditia

melompat keatas. Dia mencoba untuk menjambak rambut

lawannya namun niatnya itu terpaksa diurungkannya karena

badik Pasewang dengan sangat cepatnya menyambar kembali

kebagian bawah perutnya. Cepat-cepat Aditia melipat lutut

kanannya membentengi bagian tubuhnya yang menjadi sasaran

musuh. Satu kesalahan bagi Daeng Pasewang yaitu dia tak mau

menarik pulang serangannya itu. Dia masih mengharapkan

bahwa senjata sakti beracunnya masih dapat mempecundangi

musuhnya padahal dia sudah menyaksikan bahwa senjata

kebanggaannya itu hanya meninggalkan goresan yang tak

berarti pada tubuh kulit Aditia.

Tangan yang memegang badik lewat, dengkul Aditia masuk

kebawah ketiak kanan Pasewang, membuat laki-laki itu mental

kebelakang tapi tertarik kembali kemuka karena tali yang

mengikat pinggangnya disentakkan Aditia dengan kerasnya.

Dalam keadaan kelabakan seperti itu Pasewang harus

menerima pula jotosan tangan kanan Aditia yang berisi aji gada

dewata yang kali ini tak bisa lagi dielakkannya. Daeng Pasewang

merasakan tengkorak kepalanya seperti rengkah pecah

berhamburan ketika tinju kanan Aditia menghantam pelipis

kanannya dengan sangat keras. Jeritannya setinggt langit.

Pandangannya kelam kabut. Tubuhnya terhempas keras

kelantai sedang mukanya sampai keleher nampak kebiru- biruan. Semua orang yaitu anak-anak buahnya dan juga Aditia


sendiri menduga bahwa saat itu Pasewang sudah menjadi

mayat. Tapi apa yang disangkanya itu tidak terbukti. Lima

menit kemudian, ketika Aditia hendak membungkuk

memperhatikan jalan nafas lawannya, tahu-tahu Pasewang

menggulingkan tubuhnya kesamping. Dengan kedua mata

masih tertutup dia menggeram. “Jangan kira bahwa aku sudah

menyerah...... dalam kamus hidupku, dalam kamus hidup setiap

orang Bugis, tak ada kata-kata menyerah!”.

Sekali lagi pemimpin bajak itu menggerakkan tubuhnya

berguling kesamping dan setengah menit kemudian dia bangkit

berdiri dengan tertatih-tatih. Benar-benar mengagumkan

pemimpin bajak ini. Ilmu kebal apa yang telah diwariskan

gurunya kepada orang bugis ini? Dan satu hal yang selalu

diperhatikan Aditia yaitu setiap Daeng Pasewang dipukulnya

roboh sampai pingsan, badik yang ditangan kanannya itu tak

pernah terlepas, seakan-akan senjata itu lengket menjadi satu

dengan telapak tangannya.

Beberapa saat kemudian kembali pertempuran terjadi. Lebih

seru dan lebih hebat. Bajak-bajak laut yang menontonpun kini

turut pula bersorak sorai memberi semangat pada pemimpin

mereka. Permainan silat Daeng Pasewang semakin cepat.

Hampir setiap jurus cara bertempurnya berubah-ubah.

Agaknya dia benar-benar mengeluarkan seluruh kepandainnya

kini. Namun setelah sembilan jurus berlalu dia masih saja

belum dapat memberikan satu pukulan atau satu tikamanpun

pada musuhnya.

Dilain pihak, Aditia dalam hati kecilnya benar-benar

mengagumi kehebatan pemimpin bajak ini. Pukulan-pukulan

hebatnya walaupun menimbulkan luka yang sangat parah

ditubuh bagian dalam lawannya namun tak sampai membuat

Pasewang meregang nyawa. Sambil terus berkelebat kian

kemari Aditia memutar otaknya mencari tahu ilmu apa yang

dimiliki lawannya, dimana letak tempat kematiannya dan lain

sebagainya. Ketika badik Pasewang lewat dimuka hidungnya,

Aditia menarik tali pengikat pinggang dan melibat tangan kiri

pemimpin bajak yang terjulur mengarah lambungnya. Begitu

lengan lawannya terjirat Aditia menariknya dengan keras.


Pasewang tertarik dan jungkir balik diudara. Ketika dia jatuh

kelantai kakinya tetap berdiri. Aditia mengirimkan tendangan

kaki kanan kedada lawannya, namun sama sekali tak dirasakan

oleh Pasewang.

“Kau benar-benar hebat!” memuji Aditia dengan jujur.

Keduanya bertempur lagi. Jumlah total dari pertempuran kedua

jago itu semenjak saat permulaan adalah seratus sebelas jurus!

Belum pernah Aditia bertempur sampai sebanyak itu. Tubuh

kedua orang telah mandi keringat namun tak seorangpun yang

menunjukkan tanda-tanda letih, begitu juga Pasewang

sekalipun tubuhnya bagian dalam sudah tidak normal lagi.

Pada jurus yang keseratus dua belas setelah sedemikian

lamanya mencari tahu tentang ilmu yang dipakai lawannya baru

Aditiajaya teringat akan satu ilmu yang pernah diterangkan

gurunya dipuncak gunung Wilis tempo hari. Ilmu yang

dimaksudkan itu dinamakan orang ‘kebal sebumi’. Walau

dengan aji kesaktian dan pukulan apa saja tak mungkin orang

yang memiliki ilmu kesaktian itu dirobohkan, kecuali kalau

darahnya ditumpahkan sekalipun hanya setetes kecil! Jadi mau

tak mau Aditia terpaksa mempergunakan keris sakti pemberian

gurunya, padahal sebelumnya dia tengah mencari kesempatan

untuk menghadiahkan pukulan wesi kuningnya kepada

lawannya.

Aditia berkelebat cepat sekali. Beberapa detik kemudian,

Daeng Pasewang dan juga semua anak buahnya yang berdiri

ditepi lingkaran melihat sebuah sinar merah berputar-putar

cepat kian kemari menurut gerakan tubuh pendekar berbaju

putih itu.

“Bagus, kau juga punya senjata, hah?! Aku sudah duga. Mari

kita teruskan pertempuran ini. Nyawamu atau nywaku!” ujar

Pasewang sambil bergerak cepat menandingi gerakan

lawannya. Kemudian terdengar jawaban Aditia. “Tadi kau

berkata bahwa nyawaku ada ditanganmu. Agaknya kau telah

menjilat air ludahmu kembali..........?”.

Pasewang menetakkan badiknya kebahu sebelum sampai

arah badiknya berubah dengan deras ketenggorokan. Murid

Eyang Wilis menangkis dengan keris merahnya kedua senjata

itu beradu hebat, menimbulkan kerlapan bunga api. Pasewang

terkejut, tangannya tergetar hebat dan terasa panas sedang

ujung badiknya yang beradu dengan badan keris Aditia, seperti

besi yang dipanaskan menjadi bengkok! Rasa terkejut yang

amat sangat membuat kelengahan pada Daeng Pasewang dan

hal itu adalah merupakan satu kesalahan besar. Tangan kanan

Aditia bergerak cepat. Pasewang dan penonton lainnya yang

melihat satu sambaran sinar merah kearah dadanya. Pada detik

itu juga terdengar suara jeritan tertahan. “Ahhh.........”.

Pemimpin bajak itu terguling kelantai kayu. Dadanya tampak

terluka, berlubang sebesar ibu jari. Dari luka itu keluar darah

kental dan seperti ada asap yang mengepul-ngepul. Tubuh

Pasewang tampak kaku. Dia hendak menggulingkan tubuhnya

kesamping kiri tapi nyawanya keburu melayang. Pemimpin

bajak menghembuskan nafasnya dalam keadaan tubuh

menggeletak miring.

Seluruh isi kapal itu sunyi senyap. Aditia memandang

berkeliling. Tak satu dari bajak itupun yang tampak bergerak.

Setelah menunggu beberapa saat lamanya baru Aditia

membuka mulut. “Mungkin ada diantara kalian yang ingin

coba-coba berkenalan denganku, kupersilahkan maju!”. Tak

satupun yang bergerak, tak satu orangpun yang terdengar

bersuara. Aditia memandangi muka bajak-bajak itu satu

persatu. Semua mereka pada menundukkan kepala. Tak ada

satupun yang berani menantang sorotan mata murid Eyang

Wilis itu. Mereka semua sudah cukup tahu dan menyaksikan

kehebatan dan ketinggian ilmu pemuda berbaju putih itu.

Mereka telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri

bagaimana jago-jago mereka yaitu Jangkreng, Musto dan

Gembul menemui ajalnya ditangan Aditia dan lebih dari itu

mereka juga telah menyaksikan bagaimana pemimpin mereka

yang mereka takuti karena kesaktiannya setelah babak belur

dihujani pukulan-pukulan keras akhirnya dipaksa meregang

nyawa dengan satu lobang kecil didadanya.

Setelah menunggu beberapa lamanya dan tak seorangpun

yang bergerak atau membuka mulut, Aditia berkata. “Kalau tak

ada diantara kalian yang bermaksud untuk melayaniku, maka


dengarlah! Pemimpin kalian sudah mati. Ketahuilah bahwa

hidup sebagai bajak, merompak dan membunuh bukanlah satu

perbuatan yang baik dan terpuji. Kalian tak bisa untuk selama-

lamanya menjadi bajak. Karena itu selagi jalan yang menuju

kearah kebaikan masih terbuka lebar maka kembalilah kalian

kejalan itu. Kalian akan merasakan betapa nikmatnya hidup

diudara yang diliputi kebaikan dan kejujuran. Betapa segar dan

nikmatnya memakan sesuap nasi yang didapat dengan cucur

keringat sendiri. Banyak pekerjaan yang menunggu kalian

didaratan dan dilautan, sebagai petani, sebagai pedagang atau

sebagai nelayan. Kalian masih muda-muda, tegap-tegap dan

gagah. Kampung halaman, bangsa dan tanah tumpah darah

kalian sangat membutuhkan manusia-manusia seperti kalian.

Maka itu kembalilah kejalan yang benar. Atau mungkin setelah

pemimpin kalian mati, ada salah seorang diantara kalian yang

bermaksud hendak mengangkat dirinya sebagai pemimpin

baru, majulah kemuka. Aku ingin lihal tampangnya!”. Tak satu

orangpun yang bergerak. Semua bajak-bajak itu sama

menundukkan kepala.

“Kalian sudah lebih dari dewasa. Agaknya tak perlu aku yang

lebih muda dari kalian memberikan nasihat berpanjang lebar.

Kalian sudah terlampau pintar untuk membedakan mana yang

baik dan mana yang buruk didalam kehidupan ini. Kembali

atau tidaknya kalian kejalan yang benar, terserah pada diri

masing-masing. Cuma satu hal yang aku peringatkan pada

kalian, kalau aku suatu ketika menemui kalian dan masih dalam

perbuatan terkutuk menjadi bajak laut juga, maka bagiku

nyawa kalian tiada berharga barang sepeser tengikpun! Dan

bukan aku saja yang akan meminta pertanggungan jawab

seperti itu kepada kamu orang, tapi setiap pendekar-pendekar

pembela kebenaran, dan keadilan yang banyak terdapat disana

sini yang jauh lebih sakti dari aku sendiri. Maka itu camkanlah

apa yang kukatakan!”.

Aditia melangkah ketepi terali perahu bajak dan memandang

kejurusan dimana perahu Samat yang tadi ditumpanginya

menanti terapung-apung dilautan. Aditia melambai-lambaikan

sapu tangan penutup kepalanya kearah perahu itu. Beberapa


saat kemudian perahu yang dikemudikan Pomo itu bergerak,

meluncur mendekati kapal bajak untuk menjemput pendekar

sakti berkeris merah.

EMPAT

PERAHU besar kepunyaan bajak itu semakin lama semakin

jauh, semakin mengecil dan akhirnya hilang lenyap dari

pandangan mata. Aditia berdiri dilambung kiri perahu Pomo,

memandang kearah barat menyaksikan sang surya dengan

segala keindahannya pada saat hendak tenggelamnya. Air laut

yang biru kehijauan itu seperti diselimuti permadani emas kena

cahaya sang surya. Pada saat seperti itulah, dalam menyaksikan

keindahan alam dikala matahari hendak kembali

keparaduannya, mau tak mau, setiap manusia, sekalipun dia itu

tidak mempercayai adanya Tuhan, tiada beragama, akan

bertanya-tanya dalam hatinya, siapakah yang telah

menciptakan keindahan yang tiada taranya itu, keindahan yang

tiada dapat ditiru dengan akal dan tangan manusia? Siapa........

siapa........ siapa........ Hanya terjadi dengan sendirinya agaknya?

Hanya alam semata-mata? Beragama atau tidak orang yang

menyaksikan keindahan ditengah lautan saat itu, namun dia

akan mengakui dengan akal dan hati nuraninya, bahwa

semuanya itu, semua keindahan yang tiada terlukiskan itu tentu

ada yang membuatnya, tentu ada yang menciptakannya. Bukan

manusia, bukan dewa-dewa dikayangan, bukan pula jin hantu

ditengah lautan tapi Dia Yang Satu, Dia Yang Maha Besar, Dia

Yang Maha Kuasa yaitu Allah Subhanahuwataala! Dan

memang, dalil adanya langit dan bumi serta segala isi dan

keindahannya menjadi dalil bukti bagi orang-orang yang

beragama untuk membukakan mata kaum yang tak percaya

pada adanya Tuhan, kaum Atheis, menyatakan bahwa

sesungguhnya Tuhan itu memang ada!

Ketika matahari telah tenggelam dan kegelapan malam mulai

membayangi lautan luas lepas dan Aditia masih saja termenung

termangu-mangu mengenang kebesaran Tuhannya, terdengar


suara orang perahu, yaitu Samat. “Pendekar.............. bagaimana

dengan mayat pedagang Banjar itu, Kuwana? Apa kita buang

saja ditengah lautan ini?”.

Aditia jadi tersenyum geli ketika untuk pertama kalinya laki-

laki itu memanggilnya dengan sebutan ‘pendekar’. Dar diam- diam memang Aditia mengetahui bahwa sejak terjadinya

pertempuran dengan bajak-bajak itu, Samat, Pomo, Mirta dan

Suwantra tampak bertambah segan dan sangat

menghormatinya. Mirta dan Suwantra yang telah menyaksikan

dari jauh pertempuran yang terjadi diatas geladak kapal bajak

menyatakan pujian dan rasa kagum mereka terhadap

kepandaian dan kesaktian ilmu Aditia. Kedua orang bertanya

tentang asal usul Aditia, dimana dia telah menuntut ilmu

kesaktian dan siapa gurunya. Semua pertanyaan dijawab Aditia

dengan lemah lembut penuh ketenangan sedang jawaban

sesungguhnya tak pernah diberikannya. Setiap orang bertanya

tentang dirinya atau tentang gurunya, dijawabnya sedemikian

rupa, dibawanya berpanjang-panjang kelain cerita sehingga

orang yang bertanya melupakan pertanyaannya tapi puas

mendengar cerita panjang lebar yang dikatakan Aditia.

Aditia memutar tubuhnya memandang kepada Samat, lalu

menjawab pertanyaan laki-laki itu. “Sebaiknya kita kuburkan

saja dia didaratan nanti dari pada dibuang ditengah lautan

seperti ini. Berkubur tiada tentu pusaranya. Kasihan.........”.

“Tapi......... tapi.........”.

“Tapi apa?” ujar Aditia memotong kata-kata Samat. Dia telah

tahu apa yang dimaksudkan orang itu. “Kau takut perahu ini

akan tenggelam? Karam?!”.

“Benar. Karena adalah pantangan bagi setiap orang

membawa mayat dalam perahu. Pantangan besar. Yang kalau

dilakukan juga akan menimbulkan celaka. Perahu akan karam!”

jawab Samat. Dengan tersenyum geli Aditia bertanya pada

Pomo. “Menurut pendapatmu dapatkah mayat yang tak bisa

bergerak, menenggelamkan perahu.........?”. Pomo mengangkat

bahunya sedang Samat tampak kemalu-maluan. Aditia

memandang kembali pada Samat. “Kalau seandainya kau yang

menjadi mayat saat ini dan bukannya Kuwana, sudikah kau


kalau mayatmu kami lemparkan kedalam lautan, dimakan oleh

ikan hiu, digerogoti oleh ikan kecil-kecil?”. Samat tak menjawab

melainkan memutar tubuhnya dan meninggalkan Aditia

seorang diri.

Disebuah pulau mereka berhenti menguburkan mayat

Kuwana dan setelah itu melanjutkan pelayaran.

Tiga hari kemudian daratan Kalimantan mulai nampak

memanjang dari barat ketimur dikejauhan dihadapan mereka,

merupakan garis besar biru keabu-abuan. Air laut tenang sekali

membuat perahu itu meluncur dengan lajunya. Beberapa ekor

ikan lumba-lumba berlomba-lomba, sebentar masuk menyelam

kedalam air sebentar muncul kembali mengiringi perahu kecil

itu. Beberapa buah pulau dilewati. Semakin dekat kepantai

semakin banyak mereka berpapasan dengan perahu-perahu

nelayan yang tengah menangkap ikan.

Menjelang tengah hari perahu sampai ketujuannya. Aditia,

bersama Mirta dan Suwantra turun diikuti oleh Pomo dan

Samat. Keduanya tak mau menerima uang sewa yang dibayar

Aditia, juga yang dikeluarkan oleh Mirta dan Suwantra.

“Nyawa kami yang telah pendekar selamatkan merupakan

hutang yang tak dapat kami bayar untuk selama-lamanya, dan

pendekar hendak membayar pula sewa perahu buruk itu!” ujar

Pomo menolak uang yang disodorkan Aditia. Aditia hanya

menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia teringat pada

dagangan kain cita Kuwana yang tertinggal dalam perahu

motor. “Kalau begitu ambil sajalah oleh kalian barang-barang

dagangan Kuwana yang tertinggal didalam perahu......”. Entah

terdengar entah tidak oleh kedua anak perahu itu, tapi mereka

terus berjalan kembali ketepi pantai.

“Giliran kita untuk berpisah.....” ujar Aditia pada Suwantra

ketika Samat dan Pomo menghilang dibalik pohon-pohon

kelapa.

“Benar” jawab Suwantra. Dia memandang pada Aditia

beberapa lamanya. Kemudian dari dalam sebuah dompet kulit

yang terselip dibalik ikat pinggang celananya dikeluarkannya

sebentuk cincin emas murni yang terukir indah sekali serta

bermatakan berlian besar yang sangat mahal harganya.


“Terimalah barang yang tak berharga ini, sebagai kenang- kenangan kami orang-orang Dayak dari suku Kayan yang telah

diselamatkan nyawanya oleh saudara”.

“Astaga......... apa pula ini. Tidak! Tak usah!” jawab Aditia

dengan keras menolak pemberian itu.

“Bukan sebagai pembalas hutang nyawa kami, sahabat, tapi

untuk kenang-kenangan dan rasa terima kasih kami.” jawab

Suwantra dengan jujur.

“Berterima kasihlah pada Tuhan, bukan kepada saya” ujar

Aditia pula.

“Benar sahabat” menyela Mirta. “Tapi terimalah pemberian

yang datang dari hati sanubari yang putih bersih. Ketahuilah,

Suwantra adalah anak tertua dari Raja kami suku Kayan.

Semestinya kami ajak sahabat ketempat kami untuk menerima

balas jasa dan kehormatan atas apa yang telah kami terima dari

kau, tapi kami tahu bahwa saudara tak akan mau bersusah

payah pergi ketempat kami menempuh hutan belukar yang

berbahaya. Maka itu terimalah pemberian yang tiada berharga

itu........”.

“Tiada sangka saya berhadapan dengan putera mahkota suku

Kayan” kata Aditia dengan nada terkejut. “Dan lebih dari itu

telah pula memberikan sedikit budi yang tak usah dipikirkan

akan pembalasannya. Benar-benar Suwantra, tak usah

memberikan apa-apa kepada saya. Cukup satu hal yaitu

persahabatan”.

Suwantra tampak seperti orang yang putus asa. Dia tahu

bahwa walau dipaksa bagaimanapun Aditia tak akan mau

menerima pemberiannya. Sambil, mempermain-mainkan

cincin emas bermata berlian itu dalam tangannya Suwantra

memandang pada kawan sesukunya yang berdiri disampingnya.

Beberapa saat kemudian, Suwantra melangkah mendekati

Aditia, sambil tersenyum dan dengan menepuk bahu kanan

Aditia dia berkata. “Baiklah kalau sahabat tak mau manerima

pemberian kenang-kenangan ini”, Suwantra menarik tangan

kanannya kembali dan menyambung. “Apakah saudara juga

akan menolak untuk memberitahukan nama saudara


Aditia mengangkat bahu dan menarik nafas dalam.

Kemudian berkata. “Bukankah waktu perkenalan kemarin

sudah saya katakan nama saya?”.

“Hanja Aditia? Apa saudara tidak memakai nama samaran?”

tanya Mirta tak percaya.

“Nama kecilku Aditia. Nama panjang, kalau kalian ingin tahu

juga adalah Aditiajaya”, lalu sambungnya sambil bergurau.

“Dan kalau kalian hendak bertanya pula siapa yang

memberikan nama itu kepadaku, aku sendiri juga tidak

tahu......”.

Mirta dan Suwantra sama-sama tersenyum.

“Nah sahabat-shabat, selamat jalan dan selamat tinggal”,

kata Aditia kemudian.

“Selamat jalan, semoga kita bisa bertemu lagi......” balas

Suwantra. Kedua orang itu saling berpandangan dan tersenyum

satu sama lain. Aditia dapat merasakan bahwa senyum itu

bukan senyum biasa, tapi satu senyum yang mengandung

sesuatu. Tapi untuk tidak membuang-buang waktu dia berlalu

tanpa menghiraukan apa yang menjadi bahan senyum dari

kedua orang suku Kayan tersebut. *

* *

Yang pertama sekali dilakukan Aditia sesudah berpisah

dengan Samat, Pomo, Suwantra dan Mirta adalah mencari

kedai nasi.

Dia terus mengikuti jalan kecil yang meliku-liku diantara

pohon-pohon kelapa terus masuk kebagian dalam daratan. Satu

jam berjalan dia masih juga belum menemui satu kedai

kecilpun. Rasa dahaga kini mencekik batang lehernya. Aditia

terus berjalan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Ah, mengapa

dari tadi aku teringat hal itu” katanya dalam hati. Dia

memandang berkeliling. Dikejauhan dilihatnya sebatang pohon

kelapa yang berbuah lebat dan masih muda-muda. Murid

Eyang Wilis meneguk air liurnya. Tak jauh dari batang kelapa

itu tumbuh dia memungut sebuah batu yang kira-kira sebesar


tinju. Setelah memperhatikan buah kelapa mana yang menjadi

sasarannya maka dengan satu timpukan lihay batu yang

ditangannya melayang keatas pohon kelapa. Satu buah kelapa

jatuh. Tanpa menunggu lebih lama, sebelum buah yang berisi

air sejuk itu sampai ketanah segera disambutnya dengan

tangannya. Dan kalau orang lain akan mencari kapak atau golok

atau sekurang-kurangnya pisau besar untuk membelah dan

melubangi kelapa itu, maka bagi murid Eyang Wilis untuk

mengerjakan itu semua cukup kedua tangannya saja yang

bekerja. Tangan kiri memegang buah kelapa sedang dengan tepi

telapak tangan kanannya dipukulnya buah kelapa itu. Buah itu

rengkah, air mengucur. Aditia segera meneguk air buah yang

sejuk itu. Cukup hanya satu kelapa saja. Rasa dahaganya hilang

oleh air buah yang manis itu. Setelah duduk beberapa lamanya

Aditia meneruskan perjalanan kembali.

Setengah jam kemudian mulai ditemuinya rumah penduduk

satu demi satu dalam jarak yang berjauhan. Kemudian semakin

lama semakin banyak san semakin rapat. Orang-orang yang

berpapasan dengan dia tersenyum ramah. Aditia memasuki

kota Banjarmasin. Saat itu kota ini masih bernama Banjaran.

Penduduknya banyak juga, terdiri dari berbagai suku ditanah

air ini seperti orang-orang Melayu, orang Bugis dan Makasar,

orang-orang Madura, penduduk asli, penduduk campuran dan

orang-orang Tionghoa saudagar-saudagar intan berlian yang

kaya raya.

Disatu kelokan jalan Aditia memasuki sebuah kedai nasi.

Beberapa orang dilihatnya tengah makan dengan lahapnya.

Setelah meminta pesanannya dia memperhatikan orang-orang

yang berada dalam kedai itu satu demi satu dengan sudut

matanya. Beberapa saat kemudian pelayan datang membawa

makanan yang dipesannya dan setelah meneguk air teh

beberapa teguk segera hidangan itu disantapnya. Ketika baru

setengah nasinya yang termakan laki-laki diluar terdengar

suara jeritan perempuan. Suara teriakan laki-laki membuat

suasana yang tadi tenang kini menjadi hiruk pikuk. Beberapa

orang didalam kedai dengan cepat berlarian keluar.

“Amuk! Orang mengamuk..........!” teriak seseorang.


“Awas........ lari, ada orang mengamuk!” teriak seorang lain.

Aditia mencuci tangannya dan keluar dari kedai nasi dengan

cepat. Ketika dia sampai dipintu dilihatnya seorang gadis

Tionghoa bersama seorang pemuda entah asli Banjar entah

berasal dari daerah lain tengah lari terbirit-birit. Wajah mereka

jelas membayangkan rasa takut yang amat sangat. Diujung

jalan seorang laki-laki Tionghoa bertubuh gemuk pendek

dengan sebuan golok panjang yang berkilauan kena cahaya

matahari berlari dengan kecepatan yang luar biasa. Dari lari

orang itu, Aditia telah dapat mengetahui bahwa dia ilmu

kepandaian juga. Melihat semua kejadian itu, dalam sekejap

mata Aditia yang berotak tajam segera memaklumi apa yang

menjadi sebab musabab dari peristiwa itu. Terlebih-lebih ketika

terdengar kutuk maki dari Tionghoa pendek yang mengejar

kedua anak muda tadi.

“Anak jahanam! Kurang ajar! Berani bikin malu orang tua.

Kucincang kau sampai mati. Kalian mau lari kemana?!”

Beberapa detik kemudian orang Tionghoa pendek yang

mengejar dengan pedang ditangan hanya tinggal beberapa

meter saja lagi dari kedua muda mudi yang melarikan diri itu.

Dan begitu si pengejar mencapai kedua orang yang dikejarnya,

golok panjang yang ditangannya dibabatkannya kekepala kedua

orang itu. Kalau sekiranya si pemuda tidak cepat menubruk

gadis yang disampingnya dan sama menjatuhkan diri

bergulingan ditanah sudah dapat dipastikan bahwa kepala

kedua anak muda itu sudah menggelinding ditanah terpapas

golok tajam pencabut nyawa. Beberapa orang yang melihat hal

itu mengeluarkan suara tertahan sedang perempuan- perempuan yang kebetulan ada disitu menjerit ngeri.

“Lari! Larilah Lian, bar kuhadapi dia.........!” terdengar suara

si pemuda sambil cepat memapah gadis Tionghoa itu berdiri.

“Tidak kakak. Aku tidak mau lari! Lebih baik mati bersama

kakak......” jawab gadis Tionghoa yang bernama Lian Hwa.

“Tapi selamatkanlah dirimu du..........” si pemuda tak

meneruskan kata-katanya. Sambaran golok Tan Siauw Tek

datang dengan deras. Pemuda yang diserang walaupun dengan

gugup tapi masih dapat menyelamatkan diri. Golok Tionghoa


pendek itu hanya tiga senti lewat dari lambungnya. Sementara

itu gadis Tionghoa tadi terdengar menjerit-jerit. “Ayah! Jangan

bunuh dia. Jangan!”.


“Jangan bunuh?! Hua......... ha......... ha.......... ha.........”, Tan

Siauw tertawa terbahak-bahak penuh keseraman. “Dua-duanya

kubunuh kau sampai lumat! Anak durhaka, bikin malu orang

tua. Sudah gatal kau rupanya!”. Tionghoa itu menggeser

kakinya dan membentak pada si pemuda kini. “Dan kau, laki-

laki bejat, hidung belang! Tak tahu diri. Berani mempermain- mainkan anakku. Rasakan ini olehmu!”. Golok yang ditangan


Tan Siauw membabat lagi dengan deras. Kali ini si pemuda tak

bisa mengelakkan karena memang dia sama sekali tak

mempunyai ilmu kepandaian apa-apa. Bahu kirinya terluka

parah. Tubuhnya mencium tanah.

“Kakak Ardi!” jerit Lian Hwa ketika melihat si pemuda roboh

dengan berlumuran darah. Dia berlari memburu dan

menjatuhkan dirinya diatas dada Ardi. Lian Hwa sama sekali

tak menghiraukan lagi bagaimana besarnya bahaya yang

mengancam jiwanya saat itu.

“Dau kau anak durhaka, kau juga harus mampus!”, terdengar

bentakan Tan Siauw. Golok ditangannya melayang cepat

menetak kekepala anak kandungnya sendiri!

Sejak semula, tiada seorangpun yang berani mengetengahi

atau berani menyabarkan Tionghoa gemuk pendek yang

mengamuk itu. Semua orang tahu bahwa Tan Siauw sebagai

saudagar berlian yang kaya raya juga adalah murid seorang jago

silat dan ahli tenaga dalam dari Ma Lhok Thay, seorang

Tionghoa yang menjadi guru silat berkepandaian tinggi.

Bagaimana takutnya orang-orang pada Ma Lhok Thay, begitu

pula takut mereka pada murid jago silat ini, sekalipun murid

dan guru itu tak pernah berbuat sesuatu yang menyeleweng dan

tak baik. Dan apa yang dilakukan mereka saat itu hanyalah

menyaksikan dengan penuh kengerian. Hendak coba

membekuk seorang yang berkepandaian tinggi yang tengah

diselimuti api amarah? Hal itu adalah sama dengan

mengantarkan nyawa sendiri.

Tapi pada saat yang sangat genting itu! Pada saat golok

pencabut nyawa dari Tan Siauw hanya beberapa detik lagi

membelah kepala Lian Hwa dari pintu kedai nasi sesosok

bayangan putih melesat lebih cepat dari kilat. Dan apa yang

dilihat orang banyak adalah bagaimana Tan Siauw mental

kebelakang, jatuh duduk menjelepok ditanah sedang golok

panjangnya yang tadi hanya tinggal beberapa detik saja lagi

hendak menghabiskan nyawa anaknya menggeletak ditanah tak

berapa jauh dari pemiliknya.

Dengan mata menyorot marah dan pandangan beringas, Tan

Siauw memandang pada laki-laki yang tak dikenalnya yang


berdiri dengan kaki sedikit merenggang dihadapannya. Setelah

saling pandang beberapa lamanya, tiba-tiba Tan Siauw menjerit

kers. Dan hanya mata Aditia seorang yang melihat bagaimana

sambil bangkit berdiri dengan kecepatan yang luar biasa tahu-

tahu goloknya yang tadi jatuh tak berapa jauh darinya, kini

telah tergenggam dalam tangan Tionghoa itu.

Setelah menyerang dengan ganas, Tan Siauw membuka

mulutnya. Suaranya gemetar karena geram dan amarah. “Siapa

kau yang berani ikut campur urusanku? Kawan pemuda bejat

itu? Saudaranya?! Aku tidak peduli. Kau juga harus mampus

bersama kedua manusia-manusia keparat itu!”. Pedang yang

ditangan Tan Siauw berputar cepat seperti baling-baling kapal

terbang, menyerang dan mengurung Aditiajaya dari setiap

sudut. Pakaian yang dipakai Aditia berkibar-kibar dilambaikan

kerasnya angin sambaran golok panjang itu. Pemuda kita segera

memaklumi bahwa lawannya bukan sembarang orang. Dengan

enteng, Aditia melompat kesamping. Satu detik kemudian

tubuhnya lenyap menjadi bayang-bayang dan tahu-tahu muncul

dari belakang Tan Siauw. Tionghoa itu membalikkan tubuhnya

dengan cepat. Kembali golok panjang mengurung Aditia. Aditia

lebih mempercepat gerakannya. Tanpa diketahui lawannya

kembali ia berada dibelakang Tan Siauw. Tionghoa bertubuh

gemuk pendek itu merasakan punggung kirinya seperti

dihantam dengan besi panas. Dia mental menuju kemuka dan

jatuh tersungkur dengan lutut lebih dahulu ketanah. Senjatanya

sekali lagi terlepas dari tangannya. Satu hal yang diperhatikan

Aditia adalah bagaimana lawannya hanya menggigit bibir tanpa

menjerit atau mengerang kesakitan ketika menerima pukulan

tapak besi berapinya.

Tan Siauw membalikkan tubuhnya dan mengambil goloknya

kembali. Matanya tampak memerah. Mukanya basah oleh

keringat dan juga agak kemerah-merahan. Dia berdiri kembali.

“Kau benar-benar mencari mampus, Kau hendak memamerkan

kepandaianmu pada murid Ma Lhok Thay? Baik! Aku akan lihat

sampai dimana kehebatanmu!”. Sengaja Siauw menyebutkan

nama gurunya agar pemuda kita menjadi gentar dan kecut. Tapi


apalah suatu nama bagi Aditia. Bahkan nama seperti itu baru

kali ini didengarnya. “Jadi kau muridnya Balok Tha?. Sayang aku tak mengenal

gurumu itu” ejek Aditia sengaja disalahkannya dalam menyebut

nama guru Tan Siauw itu. “Darahmu harus tumpah disini, bangsat!” maki Tan Siauw

dan menyerang dengan ganas. Kalau tadi waktu Tan Siauw

mengamuk mengejar Lian Hwa dan Ardi disaksikan orang

banyak dengan penuh kengerian, maka perbandingan antara

Tan Siauw dan pemuda berbaju putih yang robek-robek kini

mereka saksikan dengan penuh keasyikan.

Golok panjang Tan Siauw berkelebatan kembali. Kini orang

Tionghoa itu juga mempergunakan tangan kirinya untuk

memberikan serangan-serangan pukulan-pukulan yang berisi

tenaga dalam. Aditia menghadapi lawannya dengan tenaing.

Pertempuran semakin seru. Tubuh Tan Siauw Tek, goloknya

dan Aditia hanya merupakan bayangan-bayangan cepat yang

bergerak kian kemari. Satu kali lagi Tan Siauw terpukul jatuh. Ketika orang itu hendak bangkit berdiri berkatalah Aditia. “Sebaiknya marilah kita hentikan pertandingan yang tiada arti

dan gunanya ini. Mari selesaikan urusan kau dan anakmu dan

pemuda yang terluka itu. Cara perdamaian yang memakai akal

yang sehat adalah cara yang sebaik-baiknya diatas dunia ini

untuk memecahkan masalah apapun......”. “Kau siapa, yang hendak turut-turutan menyelesaikan

urusanku? Kau sinting? Gila? Keblinger? Sekali kukatakan kau

harus mampus, tetap nyawa busukmu harus melayang

keneraka”. bentak Tan Siauw Tek dengan gusar. Dia menyerang

kembali. Permainan goloknya berlainan kini, membabat kekiri

dan kekanan, bertukar arah dari atas kebawah atau menyerong

dari samping kiri kebagian tubuh bawah sebelah kanan. Satu

kali, ketika dia mengelakkan sambaran golok yang sangat cepat,

Aditia tak sempat lagi mengelakkan jotosan tangan kiri yang

mengandung tenaga dalam yang cukup ampuh dari lawannya

itu. Ketika dicobanya juga maka lutut kanan Tan Siauw

akhirnya yang bersarang diperutnya. Aditia menggeram

menahan sakit. Perutnya terasa mual. Sambil mengatur


jalannya pernafasan, tenaga dalamnya dialirkannya kebagian

perut yang kena hantam itu.

“Apa kau benar-benar tak mau menghentikan perkelahian

ini?!” tanya Aditia sambil mengelakkan babatan golok

lawannya.

“Apa kau tuli? Aku bukan macamnya manusia yang suka

menjilat ludah kembali!” tukas Tan Siauw Tek. Dia melompat

kemuka dan memapas dengan goloknya. Aditia menjadi gusar

melihat manusia yang keras kepala ini. Lebih-lebih karena

perutnya telah pula kena disodok oleh lawannya.

Aditia menunduk seperti orang yang hendak menangkap

pinggang lawannya. Tak ayal lagi, Tan Siauw membacokkan

senjatanya kepunggung lawannya. Tapi dengan lebih cepat,

Aditia membuang dirinya kesamping kiri, menggeser kakinya

dengan lekas. Tangannya terjulur kemuka. Yang kiri memegang

pergelangan tangan Tan Siauw sedang yang kanan merampas

golok laki-laki itu. Tan Siauw berontak, coba melepaskan

tangannya yang kena tercekal. Tapi percuma karena saat itu

senjata telah berpindah tangan. Dengan sekali sentakan keras,

golok panjang itu menjadi patah dua, Aditia menyeringai.

Matanya memandang tajam tanpa berkesip memperhatikan

kedua bola mata lawannya yang bergerak-gerak liar. “Masih

ingin diteruskan perkelahian ini?!” ujar Aditia kemudian.

“Cis! Aku bukan seorang pengecut! Kalau kau benar-benar

jantan, tunggu disini!”. Tan Siauw memutar tubuhnya dan

berlari dijalanan.

Setelah Tionghoa itu menghilang dikejauhan, Aditia

memutar tubuhnya dan melangkah mendekati Lian Hwa yang

menangis tersedu-sedu diatas dada kekasihnya, Ardi. Tak ada

seorangpun yang bisa memberikan pertolongan pada Ardi,

karena mereka sejak tadi tak berani mendekat, takut terkena

sambetan golok Tan Siauw atau kena hantaman tinju Aditia

yang tengah bertempur dengan hebatnya. Ketika pertempuran

berhenti yaitu dengan perginya Tan Siauw, maka

berkerumunlah orang banyak. Beramai-ramai tubuh Ardi

dipapah kedalam sebuah rumah ditepi jalan. Sedang dua orang

perempuan separuh baya membimbing Lian Hwa yang masih


terus menangis tersedu-sedu. Matanya tampak merah dan

sedikit bengkak karena menangis terus-terusan, namun

kecantikan asli yang terlukis diwajahnya yang mungil itu, tiada

hilang barang sedikitpun jua.

Ardi dibaringkan disebuah balai-balai bambu. Setelah

membersihkan luka yang dibahu laki-laki itu, Aditia

mengeluarkan sejenis obat yang berbentuk bubuk bewarna

kekuning-kuningan, menaburkan obat itu diatas luka Ardi.

Kemudian dimintanya tiga helai daun sirih dan luka itu

ditutupnya dengan ketiga daun itu.

“Tunggu sampai setengah jam, baru balut luka itu......” kata

Aditia sambil berdiri. Tiba-tiba diluar terdengar teriakan keras :

“Pendekar sombong yang berbaju putih, keluarlah. Mari kita

teruskan perkelahian! Jangan sembunyi didalam rumah!”.

“Aku tidak sembunyi, bung. Kukira kau yang tak akan

kembali!” balas Aditia berteriak, begitu dia sampai diluar

rumah. Ditangan Tan Siauw Tek dilihatnya sebuah toya yang

kedua ujungnya diberi berbesi yang berbentuk seperti pahat

dan tajam sekali.

“He...... he...... kau lihat senjataku ini?” seringai orang

Tionghoa itu. “Sebutlah nama Tuhanmu. Sebentar lagi

nyawamu akan kucabut!”.

Aditia memencongkan mulutnya mengejek. “Begitu?”

katanya. “Mulailah......“.

Tan Siauw Tek menggeser meju beberapa langkah.

“Heiiaaahhhhh!” bentaknya dengan keras dan saat itu juga

tombak yang ditangannya berputar-putar sangat cepat sekali.

Aditia menanti dengan waspada sampai musuhnya datang lebih

dekat. Ketika sudah sampai dijarak yang dimaksudkannya

Aditia mengangkat tangan kanannya. Meninjukannya kearah

lawannya. Pukulan tenaga dalam itu membuat Tan Siauw Tek

terdorong hebat kebelakang. Putaran toyanya menjadi lambat.

Dengan cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya. Kesempatan

ini dipergunakan Aditia untuk melompati lawannya. Tangan

kirinya mengirimkan pukulan kearah dada lawan sedang

tangan kanannya dipakai untuk merampas toya. Tan Siauw

tidak bodoh. Kaki kanannya bergerak cepat menendang keperut

lawannya sedang ujung toya yang sebelah kiri merasuk kearah

tulang iga sebelah kirinya. Murid Eyang Wilis melipat

dengkulnya membentengi perutnya dari tendangan musuh.

Dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalam dan ilmu

kebalnya dia memakai lengan kirinya untuk menangkis pukulan

toya, sedang tangan kanannya yang tadi hendak merampas toya

musuh dipergunakannya untuk menyodok lambung Tan Siauw.

Toya orang Tionghoa itu mendadak berubah arah. Ujung kiri

toya mundur kebelakang sedang ujung kanan yang mencari

sasaran dileher Aditia. Mau tak mau Aditia mengurungkan

niatnya untuk menyodok perut lawannya dan tangan kanannya

dipakainya untuk menangkis sambaran toya. Kaki kanan Tan

Siauw beradu keras dengan dengkul Aditia sedang lengan kanan

Aditia beradu keras dengan kayu toya. Tan Siauw Tek

terhempas beberapa langkah kebelakang. Kaki dan tangan

kirinya terasa sakit-sakit. Dia berusaha mengimbangi tubuhnya

dengan cepat. Dilain pihak, Aditia juga terhuyung-huyung.

Lengan kanannya yang terpukul toya terasa perih. Dengan

telapak tangan kirinya, diusap-usapnya lengan yang terpukul

itu.

“Ha...... ha...... kau sudah rasakan kehebatan senjataku?” ejek

Tan Siauw Tek padahal hatinya telah mulai kecut melihat

kekebalan lawannya. Lalu katanya kemudian. “Itu belum apa- apa. Rasakan ini!”. Dan toya yang ditangannya menyodok

setengah berputar-putar keseluruh bagian tubuh Aditia dengan

sangat cepatnya.

“Aku tanya untuk yang penghabisan kalinya. Apa kau benar- benar tak mau menghentikan pertempuran gila ini dan

mengambil jalan damai?”. Tan Siauw Tek tak memberi jawaban

sebaliknya permainan toyanya semakin hebat dan ganas.

Ujung-ujung toya yang berupa pahat tajam itu seakan-akan

berpuluh-puluh banyaknya dan mengurung tubuh Aditia.

Kesabaran pemuda keris merah jadi hilang kini. Seperti orang

yang mengantarkan nyawa, dalam keadaan yang seperti itu

Aditia melompati lawannya. Toya musuhnya menghantam

pinggulnya dengan keras. Aditia tak merasakan betapa sakit

pinggulnya. Sebaliknya toya Siauw Tek sendiri patah dua.


Dengan potongan toya yang masih tergenggam ditangan kirinya

dia coba menusukkan ujung senjata itu ketenggerokan

lawannya. Tapi telah kasip. Tangan kanan Aditia telah

menjambak rambutnya, menghentakkan kepala laki-laki itu.

Siauw Tek merasakan seperti kepalanya hendak tanggal dari

persendian lehernya, Baru pada pertama kali itulah Tan Siauw

Tek, murid guru besar yang ditakuti oleh seantero masyarakat

Banjaran menjerit keras setinggi langit. Pemandangan matanya

berkunang-kunang sedang kepalanya terasa semakin lama

semakin panas.

“Jangan......! Jangan bunuh ayahku!” terdengar jeritan

perempuan dari seberang jalan, Aditia memutar kepalanya.

Dilihatnya Lian Hwa, anak gadis Tan Siauw Tek menghambur

dari dalam rumah dan berlari kearahnya. Kesempatan ini

dipergunakan oleh lawannya untuk melepaskan diri. Dengan

sekuat tenaganya dia meninju pelipis kanan Aditia dengan

tangan kanannya sedang tepi telapak tangan kirinya

menghantam lengan Aditia yang menjambak perutnya. Pukulan

yang mendadak itu membuat Aditia terkejut. Cekalannya lepas

dan musuhnya membanting diri kesamping untuk kemudian

melarikan diri sambil berteriak-teriak mengancam. “Awas kau

bangsat! Kalau kau benar-benar jagoan, tunggu! Jangan lari!

Aku akan panggil guruku!”.

Aditia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar teriakan

itu. Baru sekali ini dia melihat orang yang sangat keras kepala

seperti Tan Siauw Tek itu.

LIMA

BEBERAPA lama kemudian pendekar kita baru sadar kalau

saat itu disampingnya berdiri Tan Lian Hwa anak gadis dari

musuhnya yang telah melarikan diri itu. Dia coba tersenyum

pada gadis Tionghoa yang cantik tersebut. Si gadis memandang

tak berkesip pada pemuda dihadapannya, kemudian membuka

mulutnya. “Ayahku memang keras kepala. Tapi dia tengah

diselimuti amarah karena perbuatanku. Kuharap sungguh


sungguh jangan sampai kau celakai dia...... Jaagan bunuh

dia......” dan gadis Tionghoa itu menangis tersedu-sedu.

“Anak muda yang terluka itu kekasihmu?” tanya Aditia tanpa

mengacuhkan tangis si gadis. Dengan terisak-isak Lian Hwa

menganggukan kepalanya. Walau Aditia sudah dapat

memaklumi sejak semula apa yang telah terjadi antara anak dan

ayah itu, namun dia bertanya juga. “Apa sesungguhnya yang

telah terjadi diantara kalian sampai ayahmu mengamuk

sedemikian rupa? Kalian telah berbuat serong?”.

Air muka Lian Hwa berubah menjadi kemerah-merahan.

“Tidak sepantasnya kau berkata seperti itu!” ujar si gadis

bermata sipit dengan gusarnya,

“Harap maafkan......” kata Aditia dengan perlahan menyesali

kata-katanya yang tak disengaja itu.

“Aku telah lama berhubungan dengan Ardi yaitu sejak dia

menyelamatkan jiwaku disungai. Suatu hari aku tengah

menikmati keindahan air terjun sungai Barito disatu tempat

yang teduh ditepi sungai. Tiba-tiba tanah dimana aku berdiri

longsor. Aku jatuh terseret kedalam sungai dan dihanyutkan

arus yang deras. Saat itu Ardi juga berada ditepi sungai. Ketika

melihat aku terapung-apung antara hidup dan mati, dia dengan

mempertaruhkan nyawanya pula terjun kedalam sungai dan

dengan susah payah dia berhasil menyelamatkan diriku. Sejak

itu hubungan kami menjadi erat. Aku mencintainya dengan

sejujur dan sepenuh hatiku, begitu pula dia. Ayahku tahu bahwa

Ardi telah menyelamatkan nyawaku. Pada mula pertama dia

merasa tergigit lidah untuk melarang perhubunganku dengan

Ardi. Tapi setelah dilihatnya kami semakin rapat dan sering

berdua-duaan, dengan keras aku diberinya peringatan. Tapi aku

tak bisa menjauhkan diri dari Ardi. Kami terus berhubungan

dengan sembunyi-sembunyian. Empat kali kami sudah

kedapatan berdua-duaan ditepi sungai. Dan tadi ketika aku

bertemu dengan Ardi ditempat yang telah ditentukan, tanpa

setahu kami ayahku rupanya telah lama membuntuti. Dirumah

dia habis berkelahi dengan ibu. Amarahnya yang belum hilang

agaknya menjadi mendidih kembali. Tanpa tanya dia mengejar

kami dengan golok ditangan. Allah rupanya masih


memanjangkan umur kami. Dia seakan-akan telah menyuruh

kau datang kemari untuk menyelamatkan kami........”.


Pemuda kita terkejut ketika mendengar gadis itu menyebut

nama Allah. Dia bertanya. “Ardi orang Banjar, bukan?”.

“Tidak” jawab gadis Tionghoa itu. “Dia orang Melayu tapi

sudah bertahun-tahun tinggal disini”.

“Tentunya dia beragama Islam bukan?”. Lian Hwa

mengangguk. “Lalu, bagaimana kau akan bisa berumah tangga,

dengan dia yang berlainan agama?”.

“Diam-diam aku telah masuk Islam” jawab gadis Tionghoa

itu dengan terus terang. “Ardi telah mengajarku banyak sekali

tentang Islam. Dan dia juga mengajar aku sembahyang lima

waktu............”.

“Pantas......” desis Aditia dengan takjub. “Tadi kau menyebut

kata-kata Allah dengan tiada kaku sedikitpun juga...... Ah......

kalian benar-benar sudah berjanji untuk sehidup semati

agaknya. Kudoakan semoga kalian berdua berbahagia dunia

akhirat”.

Lian Hwa tersenyum manis sekali. “Terima kasih......”

katanya. Tiba-tiba senyum yang bermain dibibirnya itu lenyap

seperti direnggutkan setan. Matanya memandang keujung jalan

dengan melotot dan wajahnya kini membayangkan rasa takut.

Aditia menurutkan pandangan mata gadis itu. Dari ujung jalan

dua orang laki-laki tampak berlari dengan cepat. Yang agak

kebelakang adalah Tan Siauw Tek sendiri.

“Hati-hati”, bisik Lian Hwa memperingatkan. “Orang yang

berlari dimuka itu adalah Ma Lhok Thay, guru ayahku. Dia

sangat sakti. Ilmu kepandaiannya tinggi. Aku tak bisa

mempercayai bagaimana, ayahku bisa menyeret-nyeret gurunya

yang jujur dan baik hati itu kedalam kejadian ini dan......”.

“Pergilah masuk kembali kedalam rumah itu” kata Aditia

memotong cakap si gadis. Sebelum memutar tubuhnya, Lian

Hwa berkata lagi. “Ingat ayahku sedang kalap. Kalau kalian

bertempur lagi jangan celakai dia......”.

Kedua orang Tionghoa itu, murid dan guru sampai

dihadapan Aditia. Ma Lhok Thay memperhatikan murid Eyang

Wilis dari ujung penutup kepalanya sampai keujung kaki. Satu

senyum kecil tampak dimukanya. Dia memandang pada

muridnya. “Siauw Tek, apa ini pemuda yang kau katakan telah

berani berlaku kurang ajar padamu?”.

“Ya, dialah bangsatnya”. Ma Lhok Thay tersenyum lagi.

Tionghoa yang berumur sudah agak lanjut ini berwajah bersih

membayangkan kejujuran, kebaikan dan kebijaksanaan. Dia

memandang pada Aditia dan sambil senyum-senyum kecil

bertanya. “Benar kau telah menghajar habis-habisan muridku

ini. Suaranya datar tiada membayangkan rasa sombong atau

nada mengejek sama sekali. Aditia maklum bahwa dengan

orang ini dia tak bisa bicara, asal keluar saja.

“Sangat menyesal sekali, guru” kata Aditia. “Karena

perbuatanku guru sampai terpaksa datang kemari. Harap

maafkan......”.

Ma Lhok Thay mengerenyitkan alis matanya yang hampir

memutih itu. Dia tersenyum lagi. Lalu berkata. “Pertanyaanku

belum kau jawab anak muda”.

Aditia mengangkat bahunya. “Bukan maksud saya bertindak

seperti itu, guru. Ayah Lian Hwa dalam keadaan mengamuk

lupa diri, hendak membunuh kekasih anaknya bahkan juga

anak kandungnya sendiri! Apakah salah, kalau saya coba untuk

mencegah kejadian itu?”.

“Mencegah sudah sepatutnya. Tapi mengapa sampai kau

hajar habis-habisan muridku?”.

“Guru tidak menyaksikan perkelahian itu bukan? Kalau saya

omong kosong boleh tanyakan pada orang-orang disini, pada

Lian Hwa dan anak laki-laki itu sendiri bagaimana dia juga

pertama sekali menyerang saya. Berulang-ulang saya teriakan

padanya supaya menghentikan perkelahian itu dan menempuh

jalan damai tapi sama sekali tak dihiraukannya!”.

“Kau tidak berdusta?” tanya Ma Lhok Thay.

“Tanyakanlah pada muridmu sendiri!” tukas Aditia, Ma Lhok

Thay memalingkan kepalanya kepada muridnya. Sang murid

hanya menundukkan kepala. Guru silat itu tersenyum dan

mengangguk-anggukan kepalanya.

“Apa sebabnya kau mengamuk sedemikian hebat sampai

lupa daratan? Sampai hendak membunuh anak kandungmu

sendiri? Anakmu satu-satunya?!” tanya sang guru kepada

muridnya.

Siauw Tek mengangkat kepalanya sedikit dan menjawab.

“Aku tidak senang melihat Lian Hwa berhubungan dengan

orang Melayu itu. Pemuda hidung belang!”.

“Jangan menuduh sembarangan Siauw Tek!” ujar Aditia.

“Kalau orang Melayu itu pemuda yang hidung belang sudah

lama dia meninggalkan anak gadismu dalam keadaan hina. Kau

ingat bahwa dialah juga telah menyelamtkan nyawa Lian Hwa?

Dan kau telah saksikan sendiri bagaimana dia mempertaruhkan

nyawanya dihadapan golokmu untuk melindungi agar gadis


yang disaksikannya selamat dari golok maut ayah kandungnya

sendiri?!”.

Tan Siauw Tek menundukkan kepalanya sedang gurunya

dengan senyum-senyum kecil sambil menganggukkan

kepalanya berkata pada Aditia. “Teruskan...... teruskan, masih

banyak yang ingin kau katakan bukan? Teruslah. Aku senang

mendengar kata-katamu......”. Suara yang membayangkan

kejujuran itu membuat Aditia membuka mulutnya kembali.

“Didalam agamaku, rezeki, langkah, maut dan jodoh adalah

ditangan Tuhan. Kita manusia biasa tak bisa menentukannya.

Kalau pemuda Melayu itu dengan seluruh hati dan

kejujurannya mencintai anak gadismu, dan Lian Hwa tak bisa

memutuskan hubungan bathin antara kedua anak muda itu

dengan begitu saja. Kalau dipaksakan juga, anak sendiri yang

akan celaka dan kau juga yang akan rugi. Kau sudah menjadi

seorang bapak, tentu sudah banyak memakan asam garam

pengalaman dunia. Jangan lukai hati anakmu, jangan pisahkan

dia dari orang yang dikasihinya. Kita yang berada diluar

hubungan bathin keduanya memang tak akan merasa apa-apa

kalau dipaksakan juga untuk memutuskan hubungan itu. Tapi

bagaimana dengan diri anak gadismu? Bagaimana dengan masa

depannya? Meskipun dia kawin dengan orang lain tapi dia

hidupnya tak akan berbahagia. Masa depannya akan diselimuti

kemurungan dan sebagai seorang ayah yang sudah menutupkan

mata, nanti didalam kubur kau sendiri juga tak akan merasa

tenteram karena anakmu hidup menderita bathin selama

hayatnya. Ingatlah kalau anakmu yang kawin, bukan berarti

engkau yang jadi pengantin. Bukan kau yang akan berumah

tangga, tapi anakmu dan menantumu. Merekalah yang akan

mangemudikan rumah tangga mereka. Tapi bagaimanakah

kalau Lian Hwa hidup dengan pemuda lain juga tak dicintainya,

pilihan orang tuanya? Padahal satu-satunya kebahagian hidup

didunia ini adaah satu rumah tangga yang aman damai penuh

diliputi suasana kasih sayang. Agaknya kau dan juga guru

mengetahui bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta yang suci

dan jujur tidak mangenal perbedaan bangsa, derajat keturunan

dan agama. Atau mungkin kau merasa malu dan hina karena


anakmu kawin dengan seorang pemuda miskin sedang kau

seorang saudagar intan berlian yang kaya raya yang terkenal

diseluruh tanah Banjar ini? Sungguh sangat disayangkan kalau

begitu cara berpikirmu, Siauw Tek. Ketahuilah, kebahagiaan

hidup itu bukan dari harta, bukan dari uang, tapi dari pikiran,

dari rumah tangga yang tenteram dan dari sayang antara suami

istri. Bukankah kita sering menyaksikan bagaimana sepasang

suami istri tukang kayu yang hidup sederhana, makan

sederhana dan yang tidur diatas satu balai-balai kayu yang

keras jauh lebih bahagia dan senang hidupnya dari pada

sepasang suami istri yang kaya raya, hidup mewah, makan

mewah, tidur diatas tempat tidur yang mentul-mentul. Apa

sebabnya si miskin lebih bahagia dari si kaya raya? Tak lain

karena pikiran senang, rumah tangga aman tenteram, kedua

suami istri saling mengasihi satu sama laln! Aku tidak bisa

bicara panjang-panjang Siauw Tek, walau bagaimanapun antara

kau dan anakmu aku odalah orang luar. Tapi kalau kau kasihan

terhadap anakmu, kau sadar akan masa depan anakmu maka

biarkanlah dia hidup dengan pemuda yang dikasihi dan yang

mengasihinya. Sudah terlampau kasip bagimu untuk

melarangnya. Tali kasih lebih kuat dari rantai baja yang

manapun juga dan tak mungkin akan diputus kalau sudah

bersambung!”.

Kedua mata Siauw Tek tampak berkaca-kaca. Dia

memandang berkeliling pada Aditia, pada gurunya lalu

kerumah diseberang jalan dimana tadi dia melihat Lian Hwa

masuk kesana.

“Anak gadismu ada didalam sana bersama kekasihnya yang

terluka parah. Kalau kau masih ingin membunuh keduanya

pergilah......”, desis Aditia. Tan Siauw Tek tampak

menggelengkan kepalanya. Pikiran sehat dan hati dingin kini

memenuhi otak dan hatinya. Dia melangkah menuju kerumah

itu diikuti pandangan Ma Lhok Thay dan Aditia.

Didalam sana Lian Hwa dengan penuh ketakutan

memandang pada ayahnya yang berdiri diambang pintu. Dia

undur beberapa langkah kebelakang dan memeluk tubuh Ardi

yang saat itu duduk dibalai-balai. Lukanya telah dibalut.


“Ayah...... kalau ayah hendak membunuhku...... bunuhlah

kami berdua......” ujar Lian Hwa dengan berurai air mata, Tan

Siauw Tek datang semakin dekat. Tiba-tiba dia mengulurkan

kedua tangannya. “Lian Hwa anakku...... Ardi........”.

“Ayah!” dan ketiga orang itu saling berangkulan satu sama

lain. Tau Siauw Tek, Tan Lian Hwa, Ardi. Ayah, anak, calon

menantu. Calon mertua, calon istri dan calon suami!

“Lukamu tidak apa-apa Ardi......?”, tanya Tan Siauw Tek.

Pemuda Melayu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Didalam hatinya dia bertanya-tanya, mujizat apakah yang telah

diturunkan Tuhan maka sampai manusia yang tadi

menginginkan nyawanya kini menyapanya dengan lemah

lembut?!

“Lian Hwa, Ardi...... mari keluar dari rumah ini. Lian Hwa

harus rawat calon suamimu dirumahmu. Mari......”. Ketiganya

keluar dari dalam rumah. Ardi dipapah ditengah-tengah.

Pemilik rumah hanya senyum-senyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya melihat ketiga orang itu.

“Celaka!” kata ayah Lian Hwa begitu dia sampai dipintu

rumah. Dijalanan gurunya Ma Lhok Thay kelihatan tengah baku

hantam dengan laki-laki berbaju putih tadi. “Mengapa mereka

sampai berkelahi?!” ujar Siauw Tek. Dia berlari sambil

berteriak-teriak. “Tahan! Hentikan perkelahian itu!”.

“Tak usah khawatir......” terdengar suara Ma Lhok Thay.

“Kami hanya main-main. Aku ingin tahu sampai dimana

kehebatan pemuda yang telah menghajarmu sampai habis- habisan!”. Ma Lhok Thay tersenyum, begitu juga Aditia.

Atas permintaan Ma Lhok Thay, Aditia terpaksa menerima

tawaran guru silat itu untuk saling menguji kepandaian.

Sebenarnya Aditia tak menyenangi hal itu. Tapi karena didesak

akhirnya dia terpaksa juga. Mereka bersepakat bahwa mereka

akan adu tenaga selama lima belas jurus.

Jurus yang pertama dimulai dengan serangan pembukaan

dari Ma Lhok Thay. Kedua orang itu sama-sama bertangan

kosong. Orang yang menonton tak terhitung banyaknya. Kedai- kedai nasi pada kosong. Pemilik-pemilik kedai nasi turut pula

menyaksikan duel kesaktian itu bersama pelayan-pelayannya.


Sehingga kalau kucing masuk kekedai-kedai itu...... ditanggung

beres segala makanan yang ada disana.

Tubuh Ma Lhok Thay melompat enteng sebatas pinggang

lawannya. Kaki kanannya kebelakang sedang kaki kirinya

kemuka. Tangannya terbentang sehingga bagian dadanya

terbuka tiada terlindung sama sekali. Aditia tak mau ditipu

mentah-mentah oleh jago tua ini. Dia memiringkan tubuhnya.

Ketika tendangan Ma Lhok Thay datang dengan deras, dia

membuang dirinya kesamping. Melihat tendangannya

mengenai tempat kosong, guru silat itu memutar tubuhnya

diudara, tangannya yang terkembang tadi kini mulai bekerja.

Kedua tangan itu dengan cepat menangkap kepala Aditia.

Pemuda baju putih merunduk. Tinju kanan yang berisi aji tapak

besi berapi memukul keperut gurunya Siauw Tek. Melihat angin

pukulan yang demikian keras, Ma Lhok Thay mempergunakan

lengan kanannya untuk memukul lengan Aditia. Kedua tangan

itu saling bentrokan. Dan dengan sama-sama mengagumi

kekuatan tenaga dalam masing-masing, kedua orang itu sama- sama mundur kebelakang.

Jurus kedua kini. Juga Ma Lhok Thay yang mulai

menyerang. Kedua tangannya membentuk tinju. Dia, memukul

kian kemari. Angin pukulan yang keras membuat baju Aditia

berkibar-kibar. Kedua tinju lawannya semakin cepat datangnya.

Kelihatannya tak tentu arah. Tapi kalau Aditia lengah sedikkt

saja tinju yang tak menentu itu akan mampir ketubuhnya.

Pemuda gunung Wilis itu mengelak dengan waspada sambil

balas menyerang. Entah sudah beberapa kali kedua tangan

mereka saling beradu namun tanpa merasakan sakit yang

diderita, mereka habiskan juga jurus kedua itu. Jurus ketiga

masuk kini. Aditia berkelebatan kian kemari. Tinjunya

mengurung jago silat Tionghoa itu. Lututnya setiap dia

melompat selalu mencari sasaran. Jago tua dengan segala

kegesitannya melompat kian kemari mengelakkan pukulan- pukulan yang datang bertubi-tubi itu. Namun tak urung

menjelang akhir jurus ketiga dia terpaksa juga mengakui

keunggulan lawannya. Saat itu tinju kanan dan kiri Aditia

benar-benar telah mengurung Ma Lhok Thay. Dengkul


lawannya entah sudah beberapa kali hendak menghantam dada

dan perutnya namun sampai saat itu masih sanggup bertahan.

Tapi ketika tinju kiri Aditia datang dengan cepat sedang tinju

kanan dan dengkul kiri datang pula menyerang dengan

serentak, dia tak dapat lagi mengelakan serangan itu sekaligus,

Dia memilih lebih baik terpukul tangan kiri dari pada di hantam

dengkul dan tangan kanan. Demikianlah dia mangelakkan dua

serangan terakhir dengan mengurbankan pangkal tengkuknya

terkena jotosan kiri lawan. Ma Lhok Thay terhuyung-huyung

beberapa lamanya, Pangkal tengkuknya tampak kemerah- merahan. Tapi dia masih tersenyum ketika memuji lawannya.

“Kau benar-benar hebat, anak muda......”.

Pada jurus keempat, kelima, keenam dan ketujuh Ma Lhok

Thay berusaha untuk membalas kekalahannya, namun sia-sia.

Pada jurus kedelapan dan kesembilan bahkan dia dipaksa pula

menerima dua buah pukulan yang berat-berat dari Aditia.

Kini adu kekuatan itu memasuki jurus kesepuluh. Setelah

berkelebat kian kemari sehingga menimbulkan angin bersiuran

mendadak secepat kilat tinju Ma Lhok Thay sudah berada

sedemikian dekatnya diujung hidung Aditia. Dengan sekuat

tenaga Aditia menyampok lengan lawannya dengan tangan

kanan. Walaupun mukanya selamat dari tinju itu tapi tinju

lawannya meleset tersebut kini menjadi menghantam dadanya.

Aditia mundur tertatih-tatih kebelakang, sambil mengusap- usap dadanya yang kena jotos. Ketika, dia baru saja selesai

mengatur jalan nafasnya, lawannya dengan cepat membuka

jurus kesebelas dengan menyerang secara aneh. Tubuh Ma

Lhok Thay, setengah merunduk. Jari-jari telunjuk dan jari

tengah laki-laki itu memanjang kemuka sedang jari-jari yang

lainnya dilipat kebelakang. Sebagai guru silat kawakan,

permainan kuntau Ma Lhok Thay juga sangat hebat sekali. Dua

kali pendekar gunung Wilis berhasil kena totok pada perut dan

tulang iganya. Kalau orang lain...... jangan harap untuk masih

bisa hidup kena totokan itu. Dalam dia tengah mengagumi

kekebalan musuhnya, Lhok Thay bertindak lengah sehingga

akibatnya dia terpaksa menerima satu tendangan yang berisi aji

halilintar dari Aditia pada pinggulnya, Dengan agak sedikit


terpencong-pencong. Ma Lhok Thay maju kembali memasuki

jurus kedua belas. Pada jurus ini kedua musuh itu bertempur

dengan kecepatan yang luar biasa penuh kegigihan. Tapi tak

satu pukulan atau tendanganpun yang berhasil mengenai

lawan. Ketika hendak memasuki jurus ketiga belas Ma Lhok

Thay berkata. “Kurasa akan sia-sia menghadapimu dengan

tangan kosong. Bagaimana kalau aku mengeluarkan senjata?


“Silahkan, asal saja tidak dipakai untuk membunuhku!”

jawab Aditia pula sambil tersenyum. Begitulah jurus ketiga

belas dilalui dan Ma Lhok Thay mengeluarkan senjatanya,

sebentuk kalung yang terbuat dari baja putih. Kalung baja itu


diputar-putarkannya diatas kepalanya. Kemudian tangannya

bergerak kian kemari dan senjata itu mulai mencari sasarannya.

Cara berkelahi dengan memakai kalung itu agak aneh bagi

Aditia, sehingga setelah mengelak dengan penuh kegesitan baru

dia bisa menghindarkan sambaran-sambaran kalung itu. Pada

jurus keempat belas permainan kalung Ma Lhok Thay semakin

menghebat. Orang dan senjata tak kelihatan sama sekali

wujudnya, hanya bayangannya saja. Mau tak mau Aditia

bergerak cepat mengikuti gerakan lawannya namun kalung

berhasil juga bersarang sekali didadanya. Dada Aditia terasa

perih. Dia menggosok-gosoknya dengan telapak tangan kirinya

beberapa kali dan sebelum jurus yang terakhir dimulai Aditia

berkata. “Jurus terakhir, guru. Mari sama-sama kita keluarkan

ilmu simpanan kita!”.

“Aku tidak punya lagi ilmu simpanan, hanya kalung ini” ujar

Ma Lhok Thay merendah. Aditia tersenyum dan untuk pertama

kalinya dia memulai serangan pada jurus yang terakhir ini.

Pertempuran seru berlangsung. Abu jalanan beterbangan.

Sekali ketika Aditia berusaha untuk mengelakkan sambaran

kalung lawannya, kakinya terpeleset. Tapi dia cerdik, kalau

jatuh dia tak mau sendirian. Dengan mengenai lengan kiri

lawannya, kedua orang itu jatuh bergulingan ditanah. Nasib

buruk Aditia terhimpit dibawah. Ketika tinju kiri dan pukulan

kalung datang dengan sekaligus, dengan kecepatan dan

kekuatan yang luar biasa Aditia membalikkan tubuhnya, Ma

Lhok Thay terpelanting kesamping. Kedua orang itu bangun

dalam waktu yang bersamaan dan saling berhadap-hadapan

satu sama lain kembali. Pemuda kita tak ingin dipecundangi

pada jurus terakhir ini. Ketika dilihatnya lawannya berkelebat

cepat dengan kedua tinju melayang-layang deras mencari

sasaran sedang kalung baja putih berputar-putar ganas

mengeluarkan suara angin yang bersiuran. Aditia segera

menjejak tanah. Tubuhnya melesat keudara. Saat itu Ma Lhok

Thay menyampokkan kalungnya. Sampokan pertama dapat

dielakkan tapi sambaran kedua yang disertai jotosan tinju kiri

membuat pendekar keris merah jungkir balik diudara untuk


dapat mengelakkan serangan dahsyat yang datang dengan

serentak itu.

Sebelum kakinya menjejak tanah kembali, Aditia

mengirimkan kedua tinjunya dengan berbareng kearah kepala

lawannya. Ma Lhok Thay merunduk, tapi dia salah siasat

karena mendadak kaki kanan Aditia meluncur cepat kearah

dadanya. Ma Lhok Thay membuang diri kesamping kanan

untuk mengelakkan tendangan itu. Percuma! Tinju kanan

Aditia datang dari samping sedang tangan kirinya merampas

senjata lawan, Ma Lhok Thay terjungkal beberapa tombak

kebelakang jatuh duduk ditanah. Kulit mukanya tampak merah

sekali. Laki-laki itu tak kuasa membukakan kedua matanya

untuk beberapa saat lamanya. Dari mulutnya terdengar suara

erangan kecil. Sekalipun jago tua ini memiliki tenaga dalam

yang ampuh namun dia masih belum sanggup untuk menerima

pukulan halilintar warisan pertapa sakti Eyang Wilis.

Ketika badannya terasa baik dan pandangannya tidak lagi

berkunang-kunang, dengan perlahan-lahan Ma Lhok Thay

bangkit berdiri. Tiba-tiba dengan tak pencaya dia memandang

ketangan kanannya, kalungnya tidak ada lagi dalam

genggamannya. Ketika dia memandang kemuka, ternyata

senjatanya itu sudah ada ditangan lawannya. Kalau Ma Lhok

Thay tak dapat mempercayai hal itu, apa lagi muridnya Tan

Siauw Tek. Guru dan murid sama-sama terkejut. Untuk

pertama kali Siauw Tek melihat dengan mata kepala sendiri

bagaimana gurunya yang dihormati, disegani dan ditakuti oleh

seantero masyarakat di Banjaran karena ilmu kepandaiannya,

hari itu sama sekali dibikin tak berdaya sama sekali oleh

seorang laki-laki muda berwajah tampan yang berpakaian putih

robek-robek!

Ma Lhok Thay sadar bahwa pemuda yang berdiri

dihadapannya itu bukan sembarangan, berilmu tinggi. Jago

Tionghoa itu menjura memberi hormat kepada Aditia sambil

berkata. “Permainan yang kau keluarkan sungguh-sungguh tak

dapat kutandingi. Kalau aku boleh bertanya, murid siapakah

kau gerangan.........


Aditiajaya tersenyum kecil. Kemudian sambil memberikan

kalung baja putih yang ditangannya kepada orang Tionghoa itu

dia berkata. “Senjatamu sungguh ampuh, guru. Sangat sukar

bagiku untuk mengelakkan sambaran-sambarannya”.

Ma Lhok Thay tersenyum kecil. Jawaban Aditia cukup

memberikan kesan kepadanya bahwa anak muda itu tak mau

memberi tahu siapa gurunya. “Bagaimana kalau kuundang kau

minum teh kerumahku?” tanya guru silat itu kemudian. Aditia

menjura memberi hormat. “Terima kasih, guru. Lain kali

sajalah. Permainan yang guru berikan sudah lebih dari

undangan minum teh”.

Gurunya Siauw Tek tersenyum. Dia memandang pada

muridnya beberapa lamanya, kemudian pada Lian Hwa, pada

Ardi dan akhirnya kembali pada Aditia. Sekali lagi jago tua itu

memberi hormat dan berkata. “Terima kasih banyak pendekar

muda. Senang sekali dapat berkenalan dengan kau........”.

“Sayalah yang harus berterima kasih, guru......” ujar Aditia

pula sambil balas menjura. Ma Lhok Thay memutar tubuhnya

dan melangkah meninggalkan tempat itu.

Aditia memandang pada ketika orang yang berdiri

disampingnya dan berkata pada yang tertua. “Siauw Tek, apa

segala sesuatunya sudah beres kini..........?”.

“Anak muda........” kata orang Tionghoa yang bertubuh

gemuk pendek itu. “Kalau tak ada kau tentu aku sudah

membunuh Ardi dan anak kandungku sendiri”. Siauw Tek

menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya membayangkan

rasa penyesalan yang sedalam-dalamnya. Kemudian dia

berkata. “Mampirlah kerumahku, anak muda......”.

“Jadi semuanya sudah beres Siauw Tek?”.

Orang Tionghoa itu mengangguk. “Kalau begitu......

kuucapkan selamat pada kalian berdua”. Aditia melangkah

maju dan menjabat tangan Lian Hwa. Mata gadis tampak

berkaca-kaca. Kemudian dijabatnya pula tangan Ardi dan

akhirnya tangan Tan Siauw Tek. Sebelum memutar tubuhnya,

Aditia memandang sekali lagi pada kedua calon pengantin itu,

“Semoga kalian berdua hidup bahagia rukun dan damai untuk

selama-lamanya......


Aditiajaya kembali masuk kedalam kedai nasi itu. Nafsu

makannya sudah hilang. Dia mengeruk saku bajunya untuk

mengambil uang. Diantara lembaran-lembaran uang kertas

disakunya itu dirasakannya sebuah benda yang bulat berlubang.

Dan ketika benda itu dikeluarkannya, ternyata adalah cincin

emas yang bermata berlian yang tadi hendak diberikan oleh

Suwantra, pemuda dari suku Kayan itu. Pemuda kita merasa

terkejut sekali dan tak habis pikir jadinya. Bagaimana cincin itu

bisa berada dalam sakunya sedang ketika Suwantra hendak

memberikan benda itu dia menolaknya dengan keras. Aditia

berpikir-pikir dan mengingat-ingat. Akhirnya sambil tersenyum

kecil dia memasukkan cincin kembali kedalam sakunya. Dia

ingat bagaimana Suwantra ketika berkata, sambil menepuk

bahunya. Tentu dengan kecepatan yang luar biasa pemuda suku

Kayan itu diam-diam telah memasukkan cincin itu kedalam

sakunya. Dan memang itulah yang telah dilakukan Suwantra.

Sebagai anak suku dalam, sebagai seorang putera mahkota dari

suku Kayan, walaupun tidak begitu tinggi tapi Suwantra diam- diam juga mempunyai ilmu kepandaian. Satu diantaranya telah

diperlihatkannya dimuka hidung Aditia. Dan untuk pertama

kali murid Eyang Wilis itu merasa dirinya dikalahkan tapi

kekalahan yang diterimanya dengan hati senang gembira dan

senyum geli. Setelah membayar harga nasi yang dipesannya

tadi beserta minuman, Aditia keluar dari kedai itu. Semua mata

ditujukan kepadanya. Sebelum dia hilang dikejauhan belum

seorangpun yang memutar kepalanya memandang ketempat

lain. *

* *

ENAM

HARI masih pagi. Matahari belum lagi tinggi. Saat itu Aditia

tengah berada didalam hutan disatu lereng bukit yang diapit

oleh dua buah sungai yaitu sungai Dayak Besar dan sungai

Dayak Kecil. Sinar matahari hampir-hampir tak dapat


menembus kelebatan dedaunan pohon-pohon besar yang

tumbuh di hutan itu. Pohon-pohon kayu itu tumbuh dengan

kukuhnya. Batangnya dan cabang-cabangnya bahkan sampai

keranting-rantingnya diselimuti oleh lumut lembab yang

bewarna hitam kehijauan. Entah sudah berapa abad umur

pohon-pohon raksasa itu, Aditia tak dapat memastikan.

Kicauan burung terdengar dimana-mana, diselingi oleh auman

binatang-binatang buas.

Belum sampai seratus meter jauhnya Aditia memasuki hutan

belantara itu, entah sudah beberapa puluh ekor ular besar dan

kecil yang dilihatnya, disela semak-semak, melihat diranting

atau dicabang pohon, melingkar dalam keadaan tidur dan lain

sebagainya. Memang pulau Kalimantan adalah satu-satunya

pulau diseluruh Nusantara yang paling banyak ularnya, bahkan

mungkin diseluruh dunia, Aditia talc mau mati konyol dipatuk

ular dari belakang, karena itu sejak menemui tiga ekor ular

pertama yang dilihatnya waktu memasuki hutan tadi, dia telah

siap-siap dengan ilmu kebalnya. Semakin jauh masuk kedalam

hutan semakin lembab terasa udara. Aditia menyeruak diantara

semak-semak liar. Tiba-tiba disampingnya, tak seberapa

jauhnya terdengar suara semak-semak patah dan suara seperti

ada yang tengah bergumul. Dengan rasa ingin tahu Aditia

melangkahkan kakinya dengan waspada kearah datangnya

suara itu. Semak-semak yang dihadapannya disingkapkannya

dan satu pemandangan luar biasa yang belum pernah

disaksikannya seumur hidupnya kini terpampang

dihadapannya. Dua ekor binatang buas, ular besar dan macan

tutul tengah bergumul dengan dahsyatnya. Pohon-pohon kecil

dan semak-semak yang disekitar sana pada patah-patah kena

bantingan kedua tubuh binatang itu.

Tubuh macan tutul raksasa terlilit keras oleh lawannya,

namun binatang ini bertahan dengan gigih. Dia membanting

kian kemari. Kedua cakar kaki depannya mencari sasaran

dikulit sang ular, begitu juga taringnya berusaha mengoyak

kepala lawannya. Tapi ular besar itu tidak bodoh setiap mulut

lawannya terbuka lebar untuk menghancur luluhkan kepalanya

setiap kali dia mengelak dengan gesit bahkan sampai saat itu


sudah tiga kali dia berhasil mematuk kepala lawannya membuat

macan tutul besar itu meraung kesakitan. Belitan perutnya

terasa semakin mengencang. Macan tutul itu menukar siasat.

Dia bergulingan, sengaja menghantam tubuhnya yang terlilit

kepohon-pohon kayu d sekitarnya, sehingga tubuh ular besar

itu turut terpukul dengan keras kepohon kayu tersebut. Sang

ular mau tak mau mengendorkan ikatan lilitannya. Dengan

ujung ekornya dipukulnya bertubi-tubi perut lawannya. Macan

tutul itu seperti tak merasakan terus menyerang lawannya

dengan kedua cakar kaki mukanya. Cakaran dibalas dengan

patukan. Kulit tubuh ular besar itu yang bewarna hitam

berbelang-belang hijau tampak bergurat cabik-cabik dan

mengeluarkan darah kental bewarna hitam. Sedang moncong

dan hampir setiap bagian dari muka si macan tutul penuh

dengan patukan-patukan berbisa dari lawannya.

Sambil menampar keras dengan ujung ekornya keperut

lawannya ular besar itu mematuk mata kiri macam tutul itu

dengan tepatnya sampai buta. Macan itu mengaum setinggi

langit. Dengan menggeram dahsyat dia coba menggigit tubuh

lawannya, tapi tak berhasil karena ekor lawannya lebih cepat

menampar pangkal telinganya dengan keras. Raja hutan itu

terhuyung-huyung seketika. Sekali lagi musuhnya mematuk

moncongnya. Ketika ular besar itu hendak mengulangi sekali

lagi, musuhnya membuka mulutnya lebar-lebar. Gigi-gigi dan

taring-taringnya yang besar tampak mengerikan dan

huuppp........ sebelum ular besar dapat mematuk kepalanya,

macan tutul itu telah mendahului menerkam leher lawannya. Si

ular menghempaskan tubuhnya kian kemari dan memukul

lawannya dengan ujung ekornya sampai bertubi-tubi. Tapi

macan tutul itu walau bagaimanapun tak mau melepaskan

tubuh ular itu dari cengkeraman gigi-giginya. Si ular coba untuk

melilit lawannya kembali. Tapi tubuhnya sudah sedemikian

lemahnya. Lilitannya tak berarti sama sekali. Gigitan macan

tutul itu semakin keras dan semakin dalam. Leher binatang itu

semakin menggenting. Akhirnya setelah menghempaskan

tubuh melepaskan gigitannya. Dengan terhuyung-huyung raja

hutan itu mati. Setelah beberapa lama kemudian baru macan


tutul itu melepaskan gigitannya. Dengan terhuyung-huyung

raja hutan itu melangkah meninggalkan tempat itu. Tapi

dibawah pohon kayu raksasa disebelah sana tiba-tiba dia

meraung keras, membantingkan dirinya kian kemari untuk

kemudian jatuh rebah ketanah tak bergerak lagi. Rupanya bisa

ular yang memenuhi pembuluh-pembuluh darahnya telah

sampai kejantung dan keotaknya, membuat dia mati seketika

itu juga. Terbunuh setelah membunuh.

Aditia memandang kedua binatang itu berganti-ganti

beberapa lamanya. Sungguh suatu perkelahian yang hebat dan

seru yang tak pernah disaksikan manusia dimana kedua musuh

itu akhirnya sama-sama menemui ajalnya.

Murid Eyang Wilis meneruskan perjalanannya. Pohon-pohon

raksasa mulai berkurang dan setengah jam kemudian dia

sampai disatu pedataran terbuka yang ditumbuhi semak-semak

rendah dan rumput-rumput liar. Disudut kiri pedataran

ditengah hutan itu didapatinya sebuah mata air jang dijernih.

Setelah mencuci mukanya dan meneguk air yang sejuk itu

sepuas-puasnya, dia beristirahat beberapa lamanya. Jauh

dimuka sana nampak puncak sebuah gunung yang diselimuti

kabut tipis.

Sepuluh menit kemudian Aditia meneruskan perjalanannya.

Dia melihat sebuah jalan kecil dan tanpa ragu-ragu segera

mengikuti jalan itu. Semakin jauh jalan itu semakin menurun

sedang disebelah sana terdengar suara air terjun sayup-sayup

sampai. Disatu kelokan, Aditia seperti orang jang kena hipnotis

mendadak menghentikan langkahnya. Tubuhnya diam tak

bergerak-gerak. Matanya memandang melotot kebalik sebuah

batu besar dimana tersembul kepala seorang perempuan yang

rambutnya panjang terurai. Dari lehernya, dimana tertancap

sebuah golok besar masih keluar darah dengan perlahan-lahan

yang segera membeku karena dinginnya udara disekitar situ.

Dengan langkah gemetar Aditia mendekati majat itu.

Perempuan yang mati ini masih sangat muda. Wajahnya cantik

sekali. Dekat kepalanya, disamping telinga kiri, diatas tanah

terdapat sebuah bunga bewarna putih yang telah layu, mungkin

yang tadi dipakai oleh perempuan itu untuk menghias


rambutnya penambah kecantikan alamiahnya. Pakaian yang

dipakai gadis itu tampak tak karuan dan robek-robek sehingga

hampir seluruh bagian tubuhnya yang berkulit kuning halus itu

terlihat. Agaknya seseorang atau mungkin beberapa orang telah

membunuh dan merusak kehormatan gadis cantik itu beberapa

jam yang lalu, pikir Aditia. Dengan hati yang sedih dan iba tapi

juga geram, dia menanggalkan kain sarung yang tersandang

dibahunya dan dengan hati-hati menutup tubuh gadis yang

malang itu. Dari wajahnya, Aditia menduga bahwa mungkin

gadis itu adalah seorang penduduk asli. Selesai menutupi tubuh

mayat dengan kain sarungnya, Aditia memandang berkeliling,

mencari tempat dimana yang baik untuk mulai menggali lubang

untuk kubur gadis tersebut. Tiba-tiba semak-semak dimuka

sebelah kiri tampak bergerak-gerak, lalu semak-semak sebelah

kanannya, sebelah belakangnya dan akhirnya seluruh semak- semak itu tampak bergerak-gerak dan beberapa detik kemudian

seorang perempuan muda dengan panah ditangan yang

ditujukan kearah Aditia, keluar dari balik semak-semak diikuti

oleh lebih dari dua puluh orang laki-laki yang berkulit hitam

bertubuh kekar. Perempuan muda itu memakai pakaian seperti

rok yang panjangnya lebih sedikit dari atas lutut. Laki-laki yang

lain hanya memakai celana-celana pendek. Kesemuanya

bersenjata panah, beberapa orang diantaranya membawa

sumpritan. Mereka adalah penduduk asli. Orang-orang Dayak

yang berdiam kira-kira dua kilo dari tempat itu.

Ketika melihat paras perempuan muda yang mengancam

dengan panah beracun dihadapannya itu, Aditia teringat pada

gadis yang menjadi mayat tadi. Wajah kedua perempuan muda

itu hampir tak mempunyai perbedaan barang sedikitpun.

Dalam keadaan bertanya-tanya dalam hatinya terdengar suara

perempuan muda yang dimukanya itu dalam bahasa yang tak

dimengertinya. Tapi Aditia tahu bahwa kata-kata itu ditujukan

kepadanya. Ketika melihat Aditia memandang dengan tak

bergerak-gerak kearahnya, perempuan muda tadi kembali

membuka mulutnya, membentak.

“Aku sama sekali tak mengerti apa yang kau katakan......”,

kata Aditia.


“Begitu.........?” ujar perempuan muda yang cantik

dimukanya. Perempuan itu memandang kepada orang laki-laki

yang mengurung Aditia dan mengatakan sesuatu. Semua orang

tersebut maju kemuka beberapa langkah dan mengurung Aditia

lebih rapat.

Bahasa Indonesia perempuan muda itu terdengar agak kaku.

Dan melihat tindak tanduknya nyatalah bahwa dia adalah

pemimpin dari rombongan tersebut.

“Ikat dia!” ujar perempuan tadi pada orang-orangnya, dalam

bahasa mereka. Empat orang laki-laki yang bertubuh kekar

mendekati Aditia membawa tali rotan. Selebihnya mengancam

dengan anak-anak panah beracun dan sumpritan. Perempuan

muda itu yang berdiri kurang dari satu meter dari hadapan

Aditia sehingga pemuda kita menjadi lupa keadaannya saat itu

karena terpesona melihat paras yang cantik itu, lupa bahwa si

gadis mengarahkan anak panahnya tepat kemata kanannya!

Ketika tangannya disentuh oleh orang-orang Dayak itu baru dia

sadar dan berkata. “Tunggu!! Apa artinya ini semua? Mengapa

kalian menangkapku?!”.

“Apa artinya semua ini? Mengapa kami orang

menangkapmu..........? Ha........ ha........”, gadis yang mengancam

Aditia mengeluarkan suara tertawa dengan nada mengejek.

“Kau kira aku buta? Kau kira kami anak-anak yang bisa ditipu?

Cis, dasar manusia bejat terkutuk!”.

“Aku tidak suka mendengar kata-kata itu!” ujar Aditia. Air

mukanya menjadi merah.

“Dan aku juga tidak sudi adik kandungku kau bunuh dan kau

perkosa!” balas si gadis membentak.

Kalau ada halilintar yang maha keras saat itu mungkin Aditia

tidak akan terkejut, sebagaimana terkejutnya dia ketika

mendengar kata-kata si gadis. Mulutnya ternganga dan

matanya seakan-akan hendak keluar dari sarangnya,

memandang pada orang yang berdiri dimukanya saat itu, yang

menyeringai mengejek kepadanya.

“Kau salah sangka........ Kalian salah sangka......?” kata Aditia

antara terdengar dan tiada.


“Tak usah berdusta dan berpura-pura!” bentak si gadis.

“Kami telah saksikan bagaimana kau menutupi tubuh adikku

dan mencari tempat yang baik untuk membuangnya!”.

“Tapi aku sama sekali tidak membunuhnya. Demi Tuhan.

Aku akan........”.

“Jangan bawa nama Tuhan dalam hal ini. Kami lebih tahu

tentang Tuhan dari manusia bejat semacammu ini!” potong si

gadis dengan getas.

Aditia memandang berkeliling kemudian kembali pada gadis

yang dihadapannya. Ditatapnya mata gadis itu tepat-tepat dan

setelah beberapa detik lamanya dia membuka mulut. “Aku

benar-benar tidak membunuh adikmu. Aku sedang........”.

“Bohong! Dusta!”.

“Biarkan aku bicara dahulu!” teriak Aditia dengan keras dan

gusar. Kedua matanya memandang tajam dan menyorot kearah

mata gadis Dayak itu. Si gadis balas menantang tapi tak kuasa.

“Bicaralah, cepat! Dan jangan harap aku akan mempercayai

kata-katamu itu!” kata si gadis kemudian.

“Aku kebetulan melalui jalan ini dan menemui mayat gadis

itu dibalik batu. Karena kasihan aku menutupi tubuhnya

dengan kain sarung dan ketika tengah mencari tempat yang

baik untuk menguburkannya kau datang bersama orang- orangmu. Aku tidak membunuhnya. Sama sekali tidak!”.

“Kalau bukan kau yang membunuhnya mengapa kau mau

bersusah payah untuk menguburkannya?!”.

“Karena aku tak sampai hati mayatnya dirusak oleh binatang

buas”, jawab Aditia.

“Apa bukan karena kau takut bahwa jejakmu akan

ketahuan?”.

“Aku sudah katakan padamu dengan terus terang bahwa

bukan aku yang membunuh saudaramu” kata Aditia dengan

gusar.

“Dan aku juga sudah katakan padamu bahwa aku tidak akan

mempercayai apapun yang kau ucapkan!”. Gadis itu memberi

isyarat pada orangnya. Keempat laki-laki tadi maju kemuka dan

mulai mengikat tangan Aditia dengan tali rotan yang kuat, yang

bagi seorang manusia yang bagaimanapun kuat tenaganya tak


akan dapat memutuskannya atau coba untuk melarikan diri.

Sebaliknya bagi Aditia adalah merupakan soal yang mudah

untuk melepaskan ikatan rotan itu dan melarikan diri. Tapi dia

tak mau pergi dengan cara itu dimana tuduhan terkutuk

terhadap dirinya masih melekat. Dia tak akan pergi sebelum

tuduhan itu hapus dan dicabut kembali.

“Percayalah sahabat, aku benar-benar tidak membunuh

adikmu bahkan berusaha untuk menolongnya........” kata Aditia.

“Sudahlah, percuma dan sia-sia saja bagimu untuk

meyakinkan aku. Aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri

apa yang kau perbuat!”.

“Dan apa kau juga menyaksikan bagaimana aku membunuh

adikmu?!” tukas Aditia.

“Itu memang tidak, tapi terang bahwa tiada orang lain yang

membunuhnya selain engkau!”.

“Kalau kau sudah yakin bahwa aku yang membunuh adikmu,

mengapa kau tidak menyuruh orang-orangmu untuk

membunuhku saja saat ini?!”. Gadis itu menatap paras murid

Eyang Wilis itu beberapa lamanya. Kedua mata mereka saling

beradu. Akhirnya sambil memutar tubuhnya dia berkata pada

anak buahnya. “Giring dia..........”.

“Jalan!” perintah salah seorang dari orang-orang Dayak yang

mengurungnya. Dengan langkah gontai Aditia melangkah maju.

Sepuluh orang laki-laki dengan mengancamkan senjatanya

kearah Aditia berjalan sambil terus mengurung. Sedang dua

orang yang lain dengan memakai kain sarung Aditia

menggotong mayat gadis yang tadi menggeletak dibalik batu

besar. Yang lain-lainnya berjalan sebagian disebelah muka dan

sebagian lagi disebelah belakang.

Kurang dari satu jam kemudian rombongan itu sampai

dipuncak sebuah bukit. Diantara pepohonan yang banyak

tumbuh dilereng bukit itu. Aditia melihat sebuah rumah yang

sangat besar dan luar biasa panjangnya berdiri disamping

sebuah ladang pisang.

Beberapa orang tampak berjalan disekitar rumah tersebut.

Rumah itu berdinding kayu, tinggi dan mempunyai kolong

dibawahnya. Atapnya dari daun kelapa yang telah dikeringkan.


Jendelanya banyak sekali sedang delapan buah tangga terdapat

disamping rumah bagian kanan yang menghubungkan halaman

samping dengan delapan buah pintu besar dari rumah itu.

Dihalaman samping itu tampak beberapa pasang orang-orang

perempuan tengah menumbuk padi. Beberapa diantaranya

menampi dan jauh dibelakang sana kelihatan sawah yang luas

yang baru saja dituai. Lumbung padi berjejer sangat banyaknya

didekat ladang pisang yang berbuah sarat. Pada beberapa

bagian dari rumah itu seperti disekeliling jendela dan pintu

terdapat ukiran-ukiran model lama yang dari jauh kelihatannya

indah seka


“Jalan cepat!” perintah orang yang dibelakang Aditia sambil

mendorong dengan tangannya. Aditia pura-pura terhuyung- huyung dan terus berjalan mengikuti kepala rombongan.

“Kirta, berikan tanda bahwa kita kembali membawa

tawanan” terdengar suara si gadis memberikan perintah pada

salah seorang anak buahnya. Laki-laki yang bernama Kirta

membulatkan kedua telapak tangannya dimuka mulutnya.

Lehernya memanjang dan satu detik kemudian terdengarlah

lolongan keras yang panjang mengumandang keluar dari

mulutnya yang merupakan rangkaian kata-kata yang artinya

kira-kira, “Kami bersama tuan puteri telah kembali membawa

tawanan..........”. Bagi Aditia suara teriakan orang Dayak itu tak

lebih dari pada suara lolongan anjing yang melihat makhluk

halus dimalam Jum'at Kliwon. Begitu lolongan itu lenyap, maka

dari bawah bukit, yaitu dari arah rumah besar terdengar pula

suara teriakan panjang membalas. Dari dalam rumah, tampak

turun orang-orang banyak sekali. Laki-laki, perempuan dan

anak-anak. Semuanya berlarian kehalaman dan memandang

kearah rombongan yang tengah menuruni bukit.

Sepuluh menit kemudian, Aditia sebagai tawanan sampai

kehadapan rumah besar itu. Orang-orang Dayak laki-laki dan

perempuan berbaris dengan rapi. Banyak diantara mereka yang

memakai kain sarung. Diantara kelompok orang yang berbaris

itu berlarian dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan.

Keduanya menuju kearah kelompok orang-orang yang

menggotong mayat gadis itu. Keduanya sudah lanjut usianya.

“Amisah anakku..........” teriak yang perempuan. Dia

memeluk gadis yang telah menjadi mayat itu sambil menangis

tersedu-sedu. Sedang yang laki-laki hanya memandang kelangit

lepas, mulutnya tampak komat-kamit. Ditangan kanannya

tergenggam sebuah tasbih. Aditia memandangi wajah orang- orang itu satu persatu. Semuanya berair muka murung.

“Bawa dia keatas......” bisik gadis yang menyuruh tawan

Aditia. Dan mayat adiknya segera digotong keatas rumah besar

diikuti oleh ibu dan kaum perempuan lainnya. Orang laki-laki

tetap berada dihalaman dan pandangan mereka kini tertuju


pada satu orang yaitu Aditia. Pandangan yang dilontarkan

dengan rasa jijik. Beberapa menit kemudian gadis tadi turun

kembali kehalaman dan mendekati laki-laki tua tadi, “Ayah,

kakakku belum pulang?”. Orang yang ditanya hanya

menggelengkan kepala memberikan jawaban sedang matanya

yang keriputan tak lepas-lepasnya dari memandang Aditia.

“Kau manusianya yang membunuh anakku......?” desis orang

tua itu.

‘Anak gadis bapak juga menuduhkan begitu...... Tapi aku

sama sekali tidak melakukan perbuatan terkutuk itu!” jawab

Aditia.

“Lantas mengapa kau kena ditangkap?!” tanya ayah si gadis.

“Karena memang dialah yang membunuhnya”, yang

menjawab adalah gadis cantik tadi. Aditia hanya mengertakkan

gigi menahan geram.

“Jawab! Kau yang membunuh anakku? Akui!” membentak

seorang tua. Matanya menyorot seram.

“Bukan aku, tapi seorang atau beberapa orang lain!” jawab

Aditia dengan balas memandang.

“Tak usah bicara panjang lebar dengan pembunuh terkutuk

semacam dia. Kesalahannya sudah terbukti” ujar si gadis.

“Kesalahan apa yang telah terbukti?!” bentak Aditia gusar.

“Membunuh dan memperkosa!” sahut si gadis dengan ketus.

Darah murid Eyang Wilis menjadi mendidih. Dia

menggerakkan tangannya. Semua mata memandang dengan

melotot kemuka melihat bagaimana tali-tali rotan yang

mengikat tubuh tawanan diputuskan dengan mudah. Padahal

perbuatan itu dilakukan Aditia tanpa sengaja. Si gadis

melambaikan tangannya. Pasukan panah dan sumpritan segera

ditambah dengan beberapa orang yang memegang arit besar

mengurung Aditia dengan rapat.

“Larilah dan kau akan mampus!” desis si gadis.

“Aku berada diatas kebenaran, mengapa aku harus lari?”.

Ayah si gadis tampak mengerenyitkan keningnya. Kemudian

dia memberikan perintah. “Ikat dia dipohon besar itu. Seluruh

tubuhnya, mulai dari dada sampai keujung kaki!”


Aditia didorong kesebuah pohon besar. Dengan tali rotan

yang besar-besar tubuhnya dililit dan diikatkan kepohon kayu

besar ditepi halaman. Orang-orang yang memegang busur dan

panah, arit, sumpritan terus mengurungnya. Si orang tua yang

tak lain adalah raja dan kepala suku mereka mendekati Aditia

dan berkata. “Akuilah bahwa kau yang melakukan perbuatan

itu, dan kau akan dipancung secara terhormat. Tapi kalau kau

mungkir, kau akan dibakar hidup-hidup atau dicincang sampai

lumat!”.

Aditia memandang orang tua itu dari ujung kepalanya yang

berambut jarang putih sampai keujung kaki. Dia

memperhatikan yang tergenggam ditangan seorang tua

beberapa lamanya dan kemudian berkata. “Kalian orang-orang

yang beragama Islam bukan?”.

“Ya!”.

“Dan seperti inikah cara orang-orang yang mengaku

beragama Islam memperlakukan tawanannya?”. Satu suara

menjawab dari samping. “Kau bukan sembarang tawanan bung,

tapi pembunuh dan perusak kehormatan seorang gadis!”. Yang

berkata itu adalah gadis cantik kakak dari gadis yang

meninggal, anak dari raja sendiri.

“Saudari, kau tahu apa hukumannya dalam Islam bagi

seorang yang membuat tuduhan palsu terhadap orang lain?

Dihukum cambuk!”.

“Dan kau tahu apa hukumannya didalam Islam bagi seorang

yang membunuh dan merusak kehormatan seorang gadis? Tak

ada hukuman yang lebih baik selain dibakar hidup-hidup!”.

Aditia hendak membuka mulut tapi segera dibentak oleh si

gadis.

Tiba-tiba dari belakang terdengar satu suara. “Berikan jalan

pada putera mahkota..........”. Orang yang berkerumun segera

menyeruak memberi jalan. Seorang yang berwajah gagah,

kukuh, berpakaian kain sarung dan baju hitam melangkah

kemuka. Dia mengangkat kepalanya dan memandang pada

tawanan yang terikat dipohon.

“Aditia........ kau!” teriak anak kepala suku dengan mata

terbeliak.


“Tak disangka kita akan berjumpa, dalam keadaan seperti

ini, Suwantra. Orang-orangmu menangkapku, menuduh bahwa

akulah yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap

gadis itu..........” ujar Aditia dengan nada hambar.

“Suwantri.........” ujar putera mahkota sambil memandang

pada gadis yang disampingnya dalam bahasa sukunya. “Coba

terangkan dengan jelas bagaimana kalian menangkap tawanan

ini!”. Suwantri, begitulah nama gadis itu yang tak lain dari pada

adik kandung Suwantra adanya segera menceritakan

bagaimana dia mempergoki Aditia ditempat terjadinya

peristiwa pembunuhan itu. Suwantra mendengarkan dengan

gelisah. Ketika adiknya selesai dari memberi keterangan dia

berpaling pada Aditia dan berkata, “Sahabat, dengan jujur,

benar engkau yang melakukan hal itu?”.

“Suwantra, bukan aku menyombongkan diri dihadapanmu,

tapi kau lebih mengetahui dari mereka, siapa aku dan orang

bagaimana aku. Aku tak pernah melakukan perbuatan hina itu,

cuma kuakui bahwa aku berada ditempat itu secara kebetulan”,

ketika Aditia memandang kebelakang Suwantra, ternyata Mirta

berdiri disebelah sana. Suwantra ingat masa yang lalu, masa

yang belum sampai satu minggu lamanya berjalan, saat ketika

dia berada ditengah lautan, diselamatkan oleh Aditia bersama

yang lain-lainnya dari ancaman maut bajak laut Daeng

Pasewang. Suwantra menarik nafas dalam dan berkata. “Aku

mempercayaimu dan tak yakin bahwa kaulah yang telah

membunuh adikku”. Dia berpaling kepada adiknya, Suwantri. “Wantri, kau salah duga. Orang yang tertawan itu bukan orang

yang membunuh adikmu. Dia sahabatku........ sahabat dimana

aku berhutang nyawa kepadanya.........”.

Suwantri terkejut. “Aku tidak mengerti apa yang kau

katakan, kakak!” tukasnya. Suwantra menoleh pada Mirta dan

berkata. “Mirta ceritakan apa yang terjadi tempo hari......”.

Dalam bahasa sukunya, Mirta menceritakan apa yang telah

mereka alami ditengah lautan. Begitu cerita berakhir tempat itu

penuh dengan suara bisik-bisik. Suwantri tampak termenung,

begitu juga ayahnya Praya Giana. Gadis itu kemudian tampak

memandang Aditia, ketika hatinya merasa berdebar-debar dia


cepat-cepat berpaling kepada kakaknya Suwantra dan berkata.

“Kalau seseorang itu pada suatu ketika berlaku baik tidak

selamanya dia akan berlaku seperti itu terus-terusan. Setiap

manusia, selagi dia bernama manusia, akan selalu berbuat

kesalahan dan kekhilafan. Banyak manusia orang-orang yang

pernah kita lihat berbuat baik tanpa setahu kita melakukan

perbuatan-perbuatan yang salah dan memalukan, perbuatan

hina yang dilarang Tuhan. Dan agaknya begitulah yang terjadi

dengan laki-laki yang mengaku sahabat denganmu ini. Sahabat

dimuka, dihadapan mata belum tentu sahabat dibelakang,

dibalik punggung!”. Suwantri berhenti sebentar kemudian

meneruskan. “Aku telah melihat dengen mata kepalaku sendiri

bagaimana laki-laki ini menutupi mayat adikku untuk dibuang,

untuk menghilangkan jejak. Apakah itu masih belum

merupakan kenyataan, belum merupakan bukti bahwa orang ini

yang melakukan perbuatan itu? Baik, kuterima kata-kata

bahkan bukan dia yang melakukan. Bukan dia yang berbuat!

Tapi terimalah juga kata-kataku bahwa dia juga turut

tersangkut dalam peristiwa terkutuk itu!”.

Keadaan Suwantra jadi serba salah. Sebentar-sebentar dia

menarik nafas. Adiknya yang melihat kegelisahan kakaknya itu

berkata. “Untuk membela seorang kawan berkepala dua yang

telah memukulmu dari belakang kau sampai hati melupakan

tentang kematian adik kandungmu!”.

“Sudahlah Wantri. Tak baik bicara seperti itu........” kemudian

sambil memutar kepalanya dia berkata kepada Mirta, lepaskan

ikatan Aditia”.

“Apa?!”, kata Suwantri setengah berteriak. “Kalau kau

lepaskan manusia ini sampai kiamat aku tak akan mengakui

kakak terhadapmu!”.

“Wantri, masuk kedalam rumah besar. Biarkan urusan ini

berada ditangan kami. Kami yang akan menyelesaikannya

karena urusan ini adalah urusan orang laki-laki!”.

“Urusan laki-laki kata kakak saat ini. Tapi tadi kau suruh aku

untuk turut mencari si pembunuh dan setelah manusia ini

tertangkap, kau katakan ini urusanmu, urusan laki-laki bahkan

hendak kau lepaskan pula manusia terkutuk itu. Apa bukan


adikmu yang menjadi korban kebejatannya? Akan

disuapkannyakah intan berlian kemulutmu jika kau lepaskan

dia? Akan dicarikannyalah engkau seorang gadis kota yang

cantik, yang beralis tebal, yang berbibir disemir merah, yang

memakai tepung pada mukanya dan yang jalannya melenggang-

lenggok seperti itik pulang petang? Alangkah malunya aku

mempunyai kakak seperti ini. Alangkah besar kepala orang- orang suku Kayan mempunyai putera mahkota yang seperti

ini........ atau barangkali kakak bukan lagi seorang Dayak kini,

bukan lagi seonang suku Kayan kini, tapi seorang kota........?!


Tanpa menjawab apa-apa Suwantra memutar tubuhnya dan

berjalan kedalam rumah. Suwantri memandang pada Aditia dan

berkata. “Katakan apa permintaanmu yang terakhir sebelum

nyawamu masuk keneraka!”.

“Suwantri........”, kata Aditia dengan tenang. Gadis cantik itu

merasa dadanya berdebar-debar ketika mendengar Aditia

menyebut namanya. Mukanya merah........ tapi dia tak mau

memperlihatkan kelemahannya padahal dia lupa, sekeras- kerasnya hati seorang wanita........

“Katakan apa permintaanmu yang terakhir, cepat!”.

“Kau benar-benar menginginkan jiwaku?!”. “Aku akan cincang tubuhmu sampai hancur luluh, baru

senang hatiku!”, jawab gadis itu.

“Baik Wantri, lakukanlah” ujar Aditia. Dia memandang pada

Mirta. “Mirta, berikan golok besarmu kepadanya!”

Mirta terkejut. “Tapi...... tapi......”, kata laki-laki itu gagap.

“Kataku berikan golokmu padanya!” ujar Aditia sekali lagi.

Dengan tangan gemetar, Mirta mencabut goloknya dari da!am

sarungnya dan memberikannya pada Suwantri. Gadis itu

menggenggam senjata itu erat-erat. Dia memandang pada

Aditia. “Apa lagi yang kau tunggu........ lakukanlah........” desis

murid Eyang Wilis sedang matanya menatap mata gadis itu.

Suwantri melangkah mendekati tempat Aditia. Golok besar

yang ditangannya tampak naik keudara persis dimuka kepala

Aditia, matanya memandang mata pemuda itu. Pandangan

mereka saling bentrokan. Kembali dada gadis itu terasa

bergoncang dan berdebar-debar. Ketika dia hendak

mengayunkan goloknya, untuk pertama kalinya Suwantri

menyadari, betapa mata pemuda itu begitu bercahaya

memandang kepadanya, betapa parasnya yang tampan dan........

Suwantri menjatuhkan golok yang ditangannya ketanah. Dia

menutup mukanya. Memutar tubuhnya, dan berlari sambil

tersedu-sedu menaiki tangga rumah. Tepat pada saat gadis itu

menghilang dibalik pintu rumah besar, tiba-tiba terdengar

tong-tong tanda bahaya dipukul orang. Keadaan dimuka

halaman menjadi hiruk pikuk. Semua orang berlarian kian

kemari. Tiada seonangpun yang mengingat Aditia lagi. Didalam


rumah besar juga terdengar suara kacau balau. Pekik ketakutan

dan suara tangisan anak-anak. Suara tong-tong semakin keras

dan diselingi oleh teriakan-teriakan, “Awas musuh. Musuh

datang menyerang!”.

Dari dalam rumah besar melompat turun Suwantra. “Atur

barisan cepat! Jangan gugup! Pihak penyerang cuma sedikit!”

teriak Suwantra pula. Ditangannya tergenggam sebuah pedang.

TUJUH

DITENGAH-TENGAH pulau Kalimantan dibagian

pedalaman yang jarang didatangi orang luar, hidup orang- orang Dayak yang terbagi atas beberapa suku. Jumlah mereka

lebih kurang sebanyak tujuh ratus ribu orang. Sebagian besar

dari jumlah itu masih hidup dalam keadaan liar dan primitif.

Mereka tak bertuhan dan menyembah batu-batu besar atau

pohon-pohon beringin yang mereka anggap sakti. Beberapa

suku menganggap gunung-gunung sebagai Tuhan mereka. Ada

pula yang menyembah matahari, bulan dan lain sebagainya.

Biasanya mereka hidup bergerombol-gerombolan dan selalu

berpindah-pindah tempat. Hanya sebagian kecil dari suku-suku

itu yang telah maju, hidup menetap dalam rumah-rumah besar

yang panjangnya sampai dua ratus meter lebih. Diantara suku- suku yang maju adalah suku Kayan dan suku Kenia. Suku

Kayan berdiam didekat sungai Dayak Besar sedang suku Kenia

ditepi sungai Dayak Kecil. Pada mulanya, suku Kayan dan suku

Kenia berasal dari satu turunan yang sama-sama menyembah

matahari sebagai Tuhan mereka. Tapi ketika seorang ulama

pada kira-kira permulaan abad kelima belas membawa agama

Islam kepedalaman Kalimantan itu, maka terjadilah

perselisihan antara orang-orang tua dari suku yang telah maju

tersebut. Salah satu pihak menerima Islam dan menganut

agama baru itu sedang yang lain menentangnya dan tetap

mempertahankan agama mereka yang lama, agama animisme

yang menyembah matahari. Pihak yang menganut agama Islam

kemudian memisahkan diri dan tinggal ditepi sungai Dayak


Besar dan akhirnya dinamai suku Kayan. Sedang pihak yang

satu lagi terus menetap ditempat semula yaitu ditepi sungai

Dayak Kecil, dan menyebut diri suku Kenia.

Sejak itu antara suku Kayan dan suku Kenia selalu terjadi

perselisihan yang berlarut-larut. Yang teramat keras kepala dan

sombong adalah suku-suku Kenia. Suku Kayan sedapat- dapatnya menarik diri dari perselisihan yang tak diingini. Saat

itu orang-orang Kayan dipimpin oleh raja mereka yang lebih

lazim disebut sebagai kepala suku yaitu ayah Suwantra yang

bernama Praya Giana sedang suku Kenia dikepalai oleh

Tumang Aru. Praya Giana mempunyai tiga orang anak. Yang

tertua laki-laki yaitu Suwantra, yang kedua dan ketiga masing- masing perempuan bernama Suwantri dan Amisah. Kepala

suku Kenia mempunyai dua orang anak. Keduanya laki-laki.

Yang tertua bernama Agfal sedang yang bungsu Sangia.

Tumang Aru kira-kira dua bulan yang lalu telah menutupkan

matanya. Agfal segera dinobatkan menjadi kepala suku dalam

suatu pesta upacara kebesaran. Seperti tadi telah diterangkan,

antara suku Kayan dan suku Kenia selalu terjadi perselisihan

yang turun temurun. Sebulan sesudah penobatan Agfal, secara

tak terduga terjadi perselisihan antara Suwantra dan adik Agfal

yaitu Sangia. Dari perang mulut berubah menjadi ada kekuatan.

Kedua anak kepala suku itu saling baku tinju dihadapan orang- orang mereka. Meskipun Sangia bertubuh lebih besar dari

Suwantra, tapi dia agak kebal. Gerakannya lamban sehingga

seluruh mukanya menjadi bulan-bulanan empuk bagi tinju

lawannya. Setelah lima belas menit bergocoh, Sangia roboh

pingsan dan digotong oleh orang-orangnya. Sejak itu, dimana

saja perselisihan jadi meruncing. Dimana saja orang-orang

Kayan dan Kenia bertemu muka maka terjadilah perkelahian.

Satu hari sebelum terbunuhnya Amisah, anak gadis Praya

Giana yang bungsu terjadi pula pembunuhan terhadap Sangia.

Seseorang dari suku Kenia telah menemui mayat adik kepala

suku mereka ditepi sebuah mata air dengan pisau besar

tertancap ditenggorokan. Seluruh perkampungan Kenia kacau

balau. Dan apa yang diduga oleh kepala suku sama dengan apa

yang diduga oleh orang-orang suku Kenia sendiri. Beberapa


waktu yang lalu bukankah telah terjadi baku hantam antara

Suwantra dengan Sangia? Perbuatan siapa lagi kalau bukan

perbuatan Suwantra. Dan lagi pula pisau yang tertancap

dilehernya mayat Sangia adalah pisau yang gagangnya diberi

berukir seperti kebanyakan pisau milik orang-orang dari suku

Kayan. Tak ada kesangsian lagi!

Agfal segera menyiapkan bala tentaranya yang berjumlah

delapan ratus orang dan menyerbu keperkampungan suku

Kayan, tepat pada saat Aditiajaya menjadi tawanan. *

* *

Dalam waktu jang singkat prajurit-prajurit suku Kayan

dibawah pimpinan Suwantra segera maju kemuka menyambut

serangan musuh. Pertempuran segera berkecamuk. Jumlah

pasukan Kenia lebih banyak dari prajurit-prajurit Kayan sedang

pemimpin mereka, Agfal, mengamuk seperti banteng terluka.

Ditangannya masing-masing tergenggam dua buah golok

panjang yang bentuknya agak berkeluk. Dengan senjata-senjata

itu dia maju ketengah-tengah medan pertempuran. Setelah

bertahan dengan gigih selama kurang lebih setengah jam

akhirnya prajurit-prajurit Kayan mulai terdesak. Pada scat

itulah Agfal dan Suwantra saling berhadapan satu sama lain.

“Kau harus bayar nyawa prajurit-prajuritku dengan

nyawamu sendiri, raja durjana!” teriak Suwantra memaki

sambil membabatkan pedangnya. Agfal menangkis dengan

pedang yang ditangan kirinya. Sedang dengan pedang yang

ditangan kanannya dia membacok ganas. Perisai yang ditangan

kiri Suwantra melindungi pinggangnya dari bacokan pedang

lawan. Kedua musuh itu bertempur terus dengan hebat

sementara prajurit-prajurit Kayan semakin terdesak.

Sambil menyerang dengan cepat, Agfal membalas makian

Suwantra. “Nyawamu yang harus kau berikan sebagai pengganti

nyawa adikku yang kau bunuh, bedebah!”.

Suwantra terkejut. “Jangan mencari-cari alasan, keparat!

Sudah sejak lama orang-orangmu membuat keonaran terhadap


sukuku. Sekarang kau sendiri kepala sukunya yang datang

kesini Bagus sekali! Kau mengantarkan nyawa, Agfal”.

Kedua pedang yang ditangan Agfal bergerak cepat menetak

kian kemari. Perisai yang ditangan kiri Suwantra penuh dengan

bekas bacokan-bacokan. Ketika lawannya menyerang dengan

kedua pedang sekaligus, pedang Suwantra mental keudara.

Dalam keadaan tangan kosong, lawannya terus memburu. Saat

itulah satu sambaran pedang yang sangat keras datang

memapas kedua pedang maut Agfal.

Agfal terkejut, lebih terkejut lagi ketika dia menyadari bahwa

yang memapas senjatanya adalah seorang wanita.

“He...... he...... ada juga jagoan wanita diantara suku Kayan

heh...... sayang...... sayang sekali wanita secantik ini disuruh

bertempur. Lebih baik ikut bersamaku, aku belum

beristeri........”.

“Mampus kau!” teriak Suwantri. Pedang yang ditangannya

menetak dengan deras. Dengan mudah serangan itu ditangkap

oleh Agfal. “He...... he...... seranglah terus, aku tak akan

melawan, gadis cantik!” ujar Agfal. Dia hanya senyum-senyum

saja sambil menangkis dengan pedangnya. Sambaran pedang

Suwantri datang bertubi-tubi, tapi tak satupun dapat mengenai

musuhnya. Pada Saat itu, kakaknya Suwantra datang kembali.

Pertempuran dua lawan satu terjadi kini. Tapi setelah beberapa

jurus kedua anak Praya Giana itu segera terdesak. Sekalipun

dikeroyok, Agfal yang berguru pada seorang sakti dipuncak

gunung Tabur dipantai timur daratan Kalimantan bukanlah

tandingan mereka. Dalam satu gebrakan cepat, senjata kedua

kakak beradik itu sama-sama terpental kembali.

“Mundurlah Suwantra, ajak adikmu. Biar aku hadapi musuh

tangguh itu........” satu suara terdengar dibelakang Suwantra.

Suara tersebut cukup dikenal oleh Suwantra. Dan karena sadar

bahwa Agfal jauh lebih tinggi kepandainnya dari dia, maka

tanpa ragu-ragu Suwantra melompat mundur. Sebaliknya,

Suwantra hanya berdiri terkejut. Terkejut karena tak

menyangka Agfal sedemikian hebat kepandaiannya dan lebih

terkejut ketika memikirkan bagaimana Aditia yang telah diikat


sedemikian teguhnya bisa lepas, atau memang ada seorang lain

yang melepaskannya?

“Kau siapa anak muda, yang ingin mencari mati? Sebutkan

dulu namamu!” kata Agfal yang merasa dihina oleh tantangan

orang yang tak dikenalnya.

“Majulah, tak usah banyak tanya......”, ujar Aditia sambil

menggeser kemuka selangkah.

“Ha...... ha...... ha...... kau Yang masih ingusan hendak

melawanku? Ha...... ha...... ha......”. Agfal tertawa terpingkal- pingkal, sehingga prajurit-prajurtit yang tengah bertempur mau

tak mau memandang kearahnya. “Baik...... baik...... aku akan

layani kau. Mari kita main-main barang beberapa jurus. Ayo

keluarkan senjatamu!”.

“Mulailah. Senjataku hanya ini!” ujar Aditia sambil

melambaikan kedua tangannya. Agfal merasakan tubuhnya

bergoyang. Dia bertahan namun terhuyung-huyung kebelakang.

Sebelum terlambat dia cepat-cepat menghindar kesamping dan

mulai menyerang dengan kedua pedangnya. Dia tak memberi

kesempatan pada Aditia untuk menyerang karena diam-diam

dia sudah mengetahui bahwa musuhnya bertenaga dalam yang

tinggi sedang dia hanya mengandalkan ilmu luarnya, yaitu ilmu

silat dan permainan pedang.

Semakin lama permainan pedang Agfal semakin cepat.

Kedua goloknya menyambar dengan serempak, hampir tak

kelihatan karena cepatnya. Namun walau bagaimanapun mata

murid Eyang Wilis tak dapat ditipu. Setelah dia mengetahui

bagaimana nafas lawannya mulai memburu sesudah menyerang

terus-terusan dalam lima jurus pertama, Aditia dengan satu

gerakan cepat melompat kesamping.

Agfal mengeluarkan seruan tertahan tanda terkejut. Dia

hanya merasakan sambaran angin yang keras sekali dan tahu-

tahu kedua tangannya telah kosong. Pedang yang tadi

tergenggam ditangannya kini berada ditangan musuh. Rasa

terkejutnya belum lagi hilang dan menjadi bertambah-tambah

ketika melihat bagaimana dengan seenaknya Aditia

mematahkan kedua pedang dengan sekaligus!


“Celaka, lawanku bukan manusia agaknya” pikir kepala suku

Kenia itu. Dengan cepat dia memutar tubuhnya, tapi

langkahnya terhenti karena kerah baju hijaunja telah ditangkap

oleh Aditia. Satu jengkalpun Agfal tak dapat bergerak lagi. Dan

seperti ribuan kilo terasa berat tengkuknya saat itu. Aditia

memutar tubuh laki-laki itu sehingga keduanya berhadapan

satu sama lain. Ketika Aditia hendak membuka mulut, Agfal

dengan kalap meninjukan kedua tangannya keperut Aditia

sekeras-kerasnya. “Tinjulah lagi lebih keras!” ujar Aditia sambil

tersenyum. Seperti orang gila antara takut dan geram, Agfal

menghujani perut lawannya sehingga akhirnya dia berhenti

dengan sendirinya karena kedua tangannya terasa sakit dan

pegal-pegal.

“Puas?!” desis Aditia sambil menyeringai. Agfal tak

menjawab. Keringat dingin membasahi seluruh mukanya. Saat

itu, Aditia melihat pasukan Kenia masih terus mendesak

prajurit-prajurit Kayan sampai ketangga pertama. Tanpa ragu- ragu Aditia dengan cepat mengangkat tubuh Agfal dan

melemparkan kepala suku itu ketengah-tengah pasukannya

yang telah mendesak. Prajurit-prajurit Kenia terkejut dan

gempar ketika mengetahui rajanya dilemparkan seperti sebuah

kue gemblong yang sudah basi. Dan ketika rajanya angkat kaki,

tanpa pikir panjang lagi orang-orang Kenia segera angkat kaki

seribu pula......

DELAPAN

DENGAN dibantu oleh Suwantri, Aditia mengobati prajurit- prajurit Kayan yang terluka. Sedang Suwantra dan Mirta

bersama beberapa orang lainnya menggotong mayat-mayat

prajurit-prajurit yang tewas, membawanya kekolong rumah.

Pemuda kita pura-pura tak tahu kalau gadis cantik yang

membantunya itu hampir setiap saat selalu melirik kepadanya

sambil menjalankan pekerjaannya.

Keesokan paginya dengan didahului pemakaman Amisah,

maka dimakamkanlah prajurit-prajurit Kayan, diiringi dengan


ratap tangis istri-istri mereka yang ditinggalkan. Jumlah yang

tewas semuanya ada delapan puluh orang sedang dipihak

penyerang hanya empat puluh delapan orang.

Malam itu suasana berkabung meliputi suku Kayan. Diruang

tengah sepuluh orang laki-laki mengaji Kur’an, termasuk Aditia.

Dibatasi oleh kain putih panjang, maka disebelah tempat orang

laki-laki mengaji pulalah orang-orang perempuan, diantaranja

ibu dan adik Suwantra.

Pagi itu Aditia bangun pagi sekali. Bersama Suwantra dia

mandi kesebuah pancuran yang berair sejuk. Alangkah

nikmatnya mandi dipagi itu. Aditia teringat akan pancuran

dibelakang pondok gurunya dipuncak gunung Wilis.

“Jadi juga kau berangkat siang ini?” tanya Suwantra pada

Aditia dalam perjalanan kembali pulang.

“Benar”, jawab Aditia sambil menikmati keindahan

pemandangan disekitarnya.

“Bisakah aku minta tolong?”.

“Dengan senang hati. Katakanlah”.

“Sambil meneruskan perjalanan coba-cobalah mencari tahu

jejak-jejak dari orang yang telah membunuh adikku, Amisah.

Aku menduga bahwa orang yang melakukan perbuatan itu

bukan orang jauh”.

“Maksudmu Agfal?” tanya Aditia.

“Sebelum kepala suku Kenia itu datang menyerang memang

aku menduga dialah orangnya. Tapi ketika dia menyerbu kesini

dugaanku lenyap”.

“Sebabnya?”.

“Dia menuduh bahwa akulah yang telah membunuh adik

laki-lakinya, Sangia”, jawab Suwantra pula.

“Hmmm...... agaknya ada orang ketiga yang sengaja

membesarkan nyala api perselisihan antara suku Kayan dan

Kenia. Apa kau punya musuh yang lain, maksudku yang diluar

suku Kenia?”.

“Tak satupun” jawab Suwantra.

“Ayahmu mungkin?”.

“Setahuku tidak. Entahlah diluar tahuku........”.


Keduanya sampai kerumah besar. Diladang pisang yang juga

ditanami berbagai sayur mayur, sudah banyak orang yang

bekerja. Perempuan-perempuan penumbuk padi dan penampi

beras telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ketika

Aditia dan Suwantra duduk bercakap-cakap diruang tengah,

Suwantri datang membawakan dua cangkir kopi hangat, satu

piring ketan dan pisang goreng. Aditia meneguk air liurnya.

Hidangan serupa ini sudah lama tak dicobanya. Begitu Suwantri

berlalu, Suwantra segera menyilahkan Aditia. Pemuda kita

mereguk kopi hangat itu dengan nikmatnya. Kini bahwa dia

yang membunuh Amisah lenyap dengan sendirinya. Setiap

orang yang bertemu muka dengan dia tersenyum dengan

ramah. Diam-diam Aditia merasa geli juga kalau mengingat

pengalamannya yang baru saja berlalu itu.

Detik berubah menjadi menit, menit menjadi jam dan tak

terasa lagi tengah hari telah tiba. Selesai makan siang Aditia

meminta diri pada Praya Giana, istrinya, pada Suwantra, pada

Mirta dan pada seluruh orang-orang Kayan. Payah Aditia

melirik-lirik dimana adanya Suwantri namun gadis itu tak

kelihatan mata hidungnya.

Suwantra mengantarkan sahabatnya sampai dikelokan jalan

dilereng bukit. “Aku hanya mengantar sampai disini, Aditia”.

“Sampai disinipun sebenarnya sudah terlampau jauh, sahabat. Terima kasih banjak-banyak Suwantra, semoga kita

dapat bertemu lagi”.

“Selamat jalan, Aditia. Tuhan bersamamu.........”.

“Terima kasih........ dan sampaikan salamku pada adikmu,

menyesal aku tidak melihatnya sebelum berangkat.........”.

“Dia suka memancing. Pagi tadi dia telah pergi. Kalau

kembali akan kusampaikan. Selamat jalan........”.

Aditia melambai-lambaikan tangannya sambil mengikuti

jalan kecil itu. Akhirnya Suwantra lenyap dari

pemandangannya. Dibawah sebatang pohon kayu yang rindang

telinga Aditia yang tajam menangkap seperti ada suara langkah

orang dari belakangnya. Dia pura-pura tidak tahu dan sama

sekali tidak menoleh. Tapi sambil terus melangkah tenang dia

menanti dengan waspada. Langkah-langkah kaki itu datang


semakin dekat dan terus mengikutinya. Sampai sedemikian

jauhnya langkah-langkah kaki itu masih terus mengikutinya.

Aditia hilang sabarnya dan memutar kepalanya. Betapa

terkejutnya ketika mengetahui siapa orangnya yang telah

mengikutinya itu.

“Suwantri...... kau. Ada apa?” tanya Aditia sambil memutar

tubuhnya. Gadis cantik yang dihadapannya tampak berdiri

dengan gugup. Ditangannya terdapat sebuah bungkusan dari

daun pisang yang diikat dengan seutas tali.

“Mari ketepi sana. Jangan berdiri disini, panas” kata Aditia

sambil melangkah ketepi jalan yang teduh. Gadis itu mengikut

dari belakang.

“Kau mau pergi kemana sesungguhnya Wantri? Tak sangka

akan bertemu disini. Payah aku mencarimu tadi untuk minta

tinggal”. “Kau hendak pergi...... A...... Aditia?”.

“Kau nampak gugup Wantri. Ada apa?”.

“Namamu Aditia bukan......?”.

“Benar, mengapa?”.

“Kusangka aku salah menyebutkannya tadi”, jawab gadis itu

sambil menundukkan kepalanya.

“Kata kakakmu kau pergi memancing, benar?”.

Suwantri menggelengkan kepalanya. “Sejak tadi aku

menunggumu disini......” kata gadis itu kemudian.

“Menunggu aku? Heh......? Memangnya ada apa? Kau masih

menginginkan jiwaku agaknya?”. Gadis itu tersenyum manis

sekali. Kali ini pemuda kita yang jadi salah tingkah. Keduanya,

sama-sama berdiam diri beberapa lamanya, Akhirnya Suwantri

membuka mulut. “Aku ingin memberikan ini kepadamu.

Terimalah...... aku tak bisa memberikan apa-apa lain dari pada

ini”. Si gadis mengulurkan tangannya menyerahkan bungkusan

tadi.

“Kalau aku boleh tanya, apa isinya?” tanya Aditia sebelum

menyambut bungkusan.

“Isinya hanya nasi merah yang banyak batunya, ikan asin

dan sedikit sambal...... makanan orang desa......”


“Ta...... tapi aku sudah makan siang dirumahmu tadi”, ujar

Aditia. Lalu sambungnya. “Dan saat ini aku masih sangat

kenyang!”.

“Tapi ambillah untuk bekalmu dijalan nanti......”.

“Aih Wantri...... kau ini ada-ada saja. Sehari yang lalu kau

begitu galak terhadapku, tapi hari ini sengaja kau bersusah- susah mengantarkan bekal ini. Mimpi apa kau semalam?” tanya

Aditia bergurau. Suwantri tersenyum kemalu-maluan. Kembali

kesunyian menyelubungi kedua pemuda pemudi itu.

“Apa kau akan kembali ke Jawa Aditia?” tanya Suwantri

setelah keduanya berdiam diri sekian lamanya. Aditia

mengangkat bahunya. “Pulau Kalimantan ini sangat besar.

Pemandangannya indah-indah, penduduknya ramah. Sungguh

sedap tinggal disini........” ujar Aditia.

“Tapi jauh lebih senang hidup di tanah Jawa bukan?

Penduduknya ramai dan lebih maju dari kami disini......”.

“Tapi aku juga berasal dari gunung Wantri. Walau

bagaimanapun kehidupan didesa jauh lebih aman dan lebih

bersih dari kehidupan dikota-kota. Dan aku senang

mengembara” kata Aditia menerangkan.

“Tentunya kau belum beristri bukan?”.

“Kalau aku sudah beristri mana bisa aku mengembara seperti

ini. Aku akan terantai dirumah” jawab Aditia bergurau.

“Gadis Jawa kabarnya cantik-cantik......” kata Suwantri

sambil memandang kebawah bukit.

“Tuhan membuat wanita itu sama indahnya, Suwantri, dan

setan menambahkan kecantikannya......”

“Aku tidak akan melupakan kata-katamu yang indah itu,

Aditia......” kata gadis itu dengan perlahan.

“Maukah kau berjanji akan kembali lagi kesini?” kata

Suwantri sambil menundukkan kepalanya. Aditia agak bingung

dengan pertanyaan ini. Akhirnya dia menjawab. “Berjanji sama

artinya dengan berhutang. Dan ketahuilah bahwa aku seorang

yang paling segan membayar hutang!”.

“Tapi aku percaya bahwa kau bukan macamnya orang yang

suka melupakan hutangnya......”.


“Entahlah, aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu” ujar

Aditia tersenyum. “Nah, Wantri, mungkin ada lagi yang akan

kau katakan......?”

“Kau hendak berangkat kini?” tanya Suwantri dengan nada

yang agak lain.


Aditia mengangguk. “Hari telah siang. Tentu kau dicari-cari

oleh ibumu. Pergilah pulang, hati-hati........ Terima kasih atas

pemberianmu. Ingatlah, nasi ini akan menjadi darah dagingku,

membuat aku tak akan melupakan untuk selama-lamanya pada

seorang gadis cantik yang baik hati bernama Suwantri......”.


“Aditia......” bisik Suwantri. Kembali Aditia menjadi salah

tingkah.

“Suwantri, doakanlah agar aku lekas-lekas dapat menangkap

orang yang telah membunuh adikmu. Aku akan bawa orang itu

kehadapanmu dan kita akan bertemu kembali...... Selamat

tinggal Suwantri......”.

“Jangan berkata selamat tinggal Aditia......”.

“Selamat tinggal untuk berjumpa kembali, Wantri......”.

Ketika gadis itu mengangkat kepalanya tampak kedua matanya

berkaca-kaca. Nafas Aditia terasa sesak. Selama hidupku tak

pernah dia menghadapi saat-saat seperti itu. Tanpa disadari,

tangan kanan Aditia bergerak dan jari-jarinya memegang dagu

gadis yang mungil itu. Tapi ketika dia sadar akan apa yang

dilakukannya dengan cepat Aditia menarik tangannya.

“Maafkan perbuatanku yang lancang itu, Wantri. Aku tak

sengaja”. Aditia memutar tubuhnya. Suwantri memegang

lengan pemuda itu dan berkata, “Selamat jalan pemuda yang

gagah, Tuhan bersamamu...... kalau ada waktu lihat-lihatlah

desaku yang buruk ini......”.

“Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi......” ujar Aditia.

Perlahan-lahan gadis itu melepaskan pegangannya pada lengan

Aditia. Dengan mata yang masih berkaca-kaca dia melepas

kepergian si pemuda dengan hati yang berat. *

* *

Jalan jang ditempuh semakin mendaki. Sinar matahari

menyorot dengan teriknya. Aditia berjalan menepi dibawah

naungan pohon-pohon kayu yang rindang. Setengah jam

kemudian dia sampai kesatu tempat berbatu-batu. Entah

mengapa dia merasakan hatinya tak enak, tapi dia berjalan

terus. Tiba-tiba dari semak-semak dua orang laki-laki muncul

sama-sama bertolak pinggang. Yang muda segera dikenali

Aditia sebagai Agfal, kepala suku Kenia, sedang yang seorang

lagi berumur sudah lanjut yang ternyata dari tubuhnya yang

agak bungkuk serta rambutnya yang memutih. Mukanya


keriputan, begitu juga tangannya yang tersembul dibalik baju

panjangnya yang bentuknya seperti jubah-jubah yang sering

dipakai oleh orang-orang Tionghoa.

“Agaknya kau telah lama membuntuti aku bukan?” ujar

Aditia. Agfal menyeringat, begitu juga laki-laki tua yang

disampingnya. Dan seperti yang sudah direncanakan agaknya

kedua orang itu sama-sama melangkah kesamping murid Eyang

Wilis. Aditia berdiri dengan waspada.

“Rupanya kalian hendak menyelesaikan perhitungan lama,

neh?!”.

“Benar...... benar. Tapi agar kau mampus dengan sedikit

nyaman ketahuilah bahwa orang ini adalah kakak seguruku

yang ingin belajar kenal dengan kamu orang!”.

“Hemm...... tampangnya boleh jugalah, tapi sudah sedikit

tua” ejek Aditia.

“He...... he...... he...... berani menghina Klipar heh?” kekeh si

orang tua sambil memperkenalkan namanya. Tiba-tiba

kekehannya hilang, tangan kanannya yang tadi dimasukkannya

dalam saku jubahnya keluar dengan cepat, dan sebilah pisau

kecil berbentuk aneh melayang dengan kecepatan yang luar

biasa kearah mata kiri Aditia. Satu tombak jauhnya pisau dari

muka murid Eyang Wilis mengangkat tangan kirinya. Telapak

tangan itu terbentang lebar. Mendadak pisau yang hanya

tinggal dekat itu berputar-putar tak menentu. Aditia

mendorongkan telapak tangan kirinya kemuka seraya

membentak “kembali kepada pemilikmu!”. Dengan secara aneh,

pisau itu tiba-tiba berputar diudara dan melesat jauh lebih

cepat dari semula kearah pemiliknya. Klipar merunduk dengan

cepat. Namun masih terlambat, rambutnya yang putih tak

urung terbabat puntung beberapa helai. Sambil mengirimkan

sebuah pisau lagi kearah lawannya, Klipar melompat kemuka.

Gerakannya segera diikuti oleh Agfal. Tiga serangan datang

kearah Aditia dengan cepat dan sekaligus. Tendangan kaki

kanan Agfal yang datang dari rusuk kiri, pisau terbang Klipar

yang melesat dari sebelah muka dan pukulan tangan kanan

yang berisi tenaga dalam yang hebat dari Klipar sendiri.

Pemuda keris merah menjatuhkan dirinya ketanah.


Sambil bergulingan mengelakkan ketiga serangan itu, Aditia

berusaha menghantam kaki Klipar dengan lengan kanannya.

Klipar meloncat keudara, pukulan Aditia lewat.

Sedetik setelah Aditia bangun, kedua musuhnya

membalikkan diri. Klipar melompati Aditia kembali sedang

Agfal mencabut golok panjangnya dan menyusul serangan

kakak segurunya. Tinju Klipar datang dengan dahsyat tapi

dengan mudah dielakkan Aditia. Melihat pukulannya dielakkan

dengan mudah, Klipar menghantamkan kaki kirinya keperut

lawan. Aditia menggeser kesamping dan pada saat itulah

sambaran senjata Agfal datang dengan deras. Bermula Aditia

hendak melompat keatas, tapi ketika mengetahui bahwa posisi

Klipar sangat baik untuk melancarkan serangan berikutnya

maka tanpa ragu-ragu, Aditia menendang tangan yang

memegang senjata itu. Golok Agfal mental keudara sedang

pemiliknya meraung kesakitan. Tulang lengan laki-laki itu

patch! Agfal bergulingan ditanah sambil terus meraung-raung

kesakitan. Akhirnya dalam kesakitannya laki-laki itu jatuh

pingsan tak sadarkan diri, menggeletak ditanah.

Klipar menyerang dengan hebat sekali. Gerakannya luar

biasa cepatnya. Jubahnya melambai-lambai. Aditia

memiringkan tubuhnya ketika tinju kanan Klipar memukul

deras. Tapi jauh lebih cepat lagi, lawannya mengirimkan kaki

kanannya, Adica membuang diri kebelakang namun Klipar

masih sempat mengikuti gerakannya. Tinju kirinya berhasil

menghantam dada Aditia. Aditia jatuh ketanah. Dalam keadaan

itu lawannya datang meloncatnya dari atas. Walaupun dadanya

terasa sedikit perih tapi hal itu tidak mengurungkan niat Aditia

dari pada mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Dengan

kedua tumitnya, ditendangnya perut lawannya. Klipar

mengeluarkan suara ‘ngek!!’ dan terpelanting kesamping.

Dengan cepat Aditia bangun berdiri. Klipar berusaha

mengimbangi tubuhnya. Dalam keadaan itu, Aditia menangkap

tubuh lawannya, mengangkatnya tinggi keudara dan

membantingkannya ketanah. Klipar jungkir balik berusaha

untuk jatuh dengan kaki lebih dahulu tapi tak berhasil karena

sebelum kakinya menjejak tanah punggungnya lebih dahulu


dihantam Aditia dengan kaki kanan. Laki-laki itu jatuh

terlentang dengan keras. Klipar merasakan nafasnya sesak

sedang punggungnya yang kena tendang berdenjut-denyut

sakit.

Dengan menguatkan diri sedapatanya dibantu dengan tenaga

dalamnya dia bangkit kembali. Kedua orang itu saling

berhadapan sementara Agfal telah siuman dari pingsannya. Dia

berdiri dengan cepat tapi masih agak terhuyung-hujung. Ketika

Aditia sibuk menangkis dan mengelakkan serangan-serangan

Klipar dengan diam-diam Agfal mengambil golok panjangnya

dengan tangan kiri karena tangan kanannya tadi patah. Sekuat

tenaga golok itu diayunkannya kepunggung Aditia. Murid

Eyang Wilis bukan tidak tahu akan serangan itu. Beberapa detik

sebelum golok itu sampai kesasarannya Aditia melepaskan satu

tendangan dahsyat keperut Klipar. Klipar melompat

kebelakang. Tendangan Aditia mengenai tempat kosong,

membuat tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat

menghadapi Agfal kini. Golok Agfal menghantam bahu Aditia.

Ilmu kebal Aditia membuat golok itu patah dua sedang kaki

kanannya masuk kedada Agfal. Laki-laki itu menjerit keras.

Nafasnya sesak. Jantungnya berhenti bergetar dan nyawanya

meninggalkan tubuhnya.

Melihat adik segurunya menemui ajal seperti itu, Klipar

mengeluarkan senjatanya. Satu senjata yang teramat aneh bagi

Aditia. Senjata Klipar adalah seekor ular besar yang tubuh

binatang itu dikeringkan sedemikian rupa, diberi beberapa jenis

obat-obatan sehingga tubuh binatang itu sama kerasnya dengan

besi, tapi dalam tangan Klipar senjata itu dapat melenggak-

lenggok tak ubahnya seperti ular biasa yang masih hidup. Dari

mulut ular yang terbuka itu setiap Klipar memukulkannya

kearah lawannya, keluar bisa yang mematikan berwarna hijau

kekuningan.

Terhadap senjata yang aneh ini, murid Eyang Wilis tak mau

bertindak ceroboh. Klipar memutar-mutar senjatanya diatas

kepalanya. Kakinya menggeser sedikit demi sedikit mendekati

Aditia. Tiba-tiba dia melompat. Aditia menyangka bahwa

lawannya akan menghantamkan senjatanya kepadanya tapi


ternyata dia salah duga. Ular itu tetap berputar-putar deras

diatas kepala Klipar. Sebaliknya kaki kanan Kliparlah yang

datang dengan cepat kedada Aditia. Karena Aditia telah keburu

merunduk maka untuk mengelakkan serangan itu tiada jalan

lain dari pada membuang diri kesamping. Tapi sebegitu cepat

Aditia menjatuhkan dirinya kesamping, demikian pula cepatnya

senjata yang ditangan Klipar melayang kekepalanya. Karena

tahu bahwa dia tak punya daya lagi untuk mengelakkan senjata

lawan dalam detik itu, Aditia dengan cepat menahan

pernafasannya. Senjata Klipar menghantam pelipis Aditia,

menimbulkan suara yang amat keras. Pelipis Aditia tampak

merah kehitaman. Kepala ular yang menjadi senjata Klipar

hancur berantakan mengeluarkan bau busuk dari racun yang

tajam. Untung pemuda kita telah menahan jalan

pernafasannya. Dia cepat-cepat melompat kebelakang.

Kepalanya terasa berdenyut-denyut, pemandangannya

berkunang-kunang. Baru pertama kali itulah murid Eyang Wilis

dipukul sedemikian hebat pada kepalanya. Aditia mengerahkan

kekuatan tenaga dalamnya. Dengan tangan kirinya diusap- usapnya bagian yang terpukul. Ketika kekuatannya pulih

kembali dilihatnya Klipar kembali menyerang dengan tangan

kosong.

Amarah Aditia bergejolak. Dia menjejak tanah. Tubuhnya

melesat setinggi satu tombak keudara. Tangan kirinya

menghantam ketiak Klipar. Klipar mengelak dengan gesit.

Sambil memutar tubuhnya Aditia melipat lutut kanannya,

menghantamkannya kedada lawan. Serangan yang kedua ini

masih sempat dielakkan oleh Klipar. Sebelum kakinya kembali

ketanah, Aditia menggerakkan tangan kanannya, menjambak

jubah musuh. Klipar merasa tubuhnya tertarik keras kemuka.

Dia berontak, jubahnya robek besar. Sambil memaki dia

meninju kemuka, jang ditunggu-tunggu Aditia. Dengan cepat

kedua tangannya menangkap lengan Klipar. Tangan itu

dipuntirnya kebelakang. Klipar merintih kesakitan. Dengan

tumitnya dia coba untuk menginjak kaki Aditia. Tapi sebelum

maksudnya kesampaian, Aditia menendang kakinja. Tubuh

Klipar melambung kemuka. Karena tangannya masih terputir


kebelakang, mau tak mau persendian bahunya terlepas. Dan

seperti kerbau disembelih begitulah suara jeritan Klipar. Dia

meraung-raung tiada hentinya. Aditia mengangkat tubuh

lawannya membantingnya ketanah, persis disamping tubuh

Agfal. Begitulah, kedua saudara seguru itu menemui ajal

masing-masing.

Aditia memperhatikan mayat kedua orang itu beberapa

lamanya, kemudian mengambil bungkusan nasi yang

diletakkannya dekat sebuah pohon dan meneruskan perjalanan.

Disatu tempat yang rindang dimana perutnya mulai bernyanyi

merdu lagu lapar dia berhenti dan membuka bungkusan

nasinya. Sesuap demi sesuap nasi masuk kedalam mulutnya.

Dan setiap suap itu terbayanglah diruang matanya wajah

Suwantri, tengah tersenyum manis kepadanya.

SEMBILAN

DUA puluh enam tahun yang lalu, ketika Praya Giana, ayah

Suwantra masih muda belia, didalam suku Kayan terdapat

sebuah bunga yang indah dan harum semerbak baunya. Bunga

manusia ini bernama Liani. Konon kabarnya ketika Liani

dilahirkan saat itu umur Praya Giana sudah memasuki lima

tahun. Karena orang tua Liani dan orang tua Praya Giana yang

masih satu suku itu sama-sama bersahabat erat, maka antara

Liani dan Praya diperhubungkanlah tali jodoh. Ketika

menginjak alam kedewasaannya banyaklah pemuda sepesukuan

yang tergila-gila kepadanya. Tapi karena pemuda-pemuda itu

tahu bahwa Liani sudah menjadi pasangan Praya maka tak

seorangpun yang berani mengganggu bunga itu. Dan

terpaksalah pemuda-pemuda tersebut mengigau-igau tak

karuan dimalam hari. Namun ada salah seorang pemuda yang

tak peduli dengan hal tersebut. Namanya Solong Kambu. Dia

begitu tergila-gila pada Liani. Dimana saja Liani berada

sedapat-dapatnya selalu didatanginya. Kalau Liani pergi

mengambil air kelembah, dicegatnya. Kalau Liani pergi

keladang ditunggunya. Dan tanpa malu-malu Solong Kambu


mengutarakan isi hatinya pada gadis pujaannya itu.

Dikatakannya bagaimana makannya tidak enak kalau belum

melihat wajah itu. Bagaimana tidurnya tidak nyenyak kalau

tidak lebih dahulu menikmati wajah Liani dan seribu satu

macam kata-kata yang muluk dan indah-indah lainnya. Karena

Liani sama sekali tidak mengacuhkan Solong Kambu, terbitlah

amarah laki-laki itu. Pada malam yang ditentukannya,

dijalankannyalah satu rencana busuk yang selama ini telah

menjadi niatnya. Namun Praya Giana secara tak terduga

berhasil mempergoki maksud Solong Kambu.

Malam itu gelap sekali. Langit tiada berbintang. Agaknya

hujan lebat akan turun tak lama lagi. Dalam rumah besar

mengendap-endap sesosok tubuh mendekati kamar tidur Liani.

Dengan sebuah alat, sosok tubuh itu berhasil membuka pintu

kamar dan masuk kedalam. Beberarpa menit kemudian orang

itu yang tak lain dari pada Solong Kambu adanya keluar dari

kamar. Diatas bahunya terdukung sosok tubuh perempuan,

Liani. Solong Kambu rupanya telah menotok jalan darah gadis

itu. Setelab memperhatikan keadaan sekelilingnya, Solong

Kambu melangkah dengan hati-hati mendekati tangga. Begitu

kakinya menginjak tanah, terdengarlah satu bentakan keras.

“Bagus sekali perbuatanmu, Solong! Letakkan gadis itu

ditanah dan mari kita berkelahi satu lawan satu. Nyawamu atau

nyawaku!”.

Seperti dicekik setan, begitulah terkejutnya Solong Kambu.

Tubuh Liani disandarkannya dikaki tangga. Dia bersiap-siap.

Saat itu, Praya Giana telah melancarkan serangannya. Tanpa

diketahui satu orangpun kedua anak muda itu bertempur

dengan hebat dan mati-matian didalam kepekatannya malam.

Solong lima tahun lebih muda dari pada Praya. Tenaganya kuat

tapi dia masih kalah ‘isi dan pengalaman’ dari Praya Giana.

Setelah bertempur lima jurus maka Solong Kambu mulai

terdesak. Pukulan dan tendangan lawannya datang dengan

bertubi-tubi ketubuhnya tiada tertahankan. Dalam keadaan

babak belur akhirnya Solong Kambu rebah ketanah tak

sadarkan diri. Praya memukul tong-tong tanda bahaya. Dengan

seketika rumah besar menjadi hiruk pikuk. Semua orang


termasuk orang-orang perempuan turun kehalaman. Obor-obor

dipasang. Praya segera menerangkan apa yang telah terjadi,

sebelumnya dia telah melepaskan totokan ditubuh Liani. Solong

Kambu segera diikat orang dipohon kayu. Malam itu juga

dibuka sidang orang tua-tua untuk memutuskan perkara

tersebut. Akhirnya bulat kata bahwa mulai detik itu Solong

Kambu tidak diakui lagi sebagai salah seorang dari suku Kayan

dan dia diusir dari rumah besar.

Solong Kambu membawa diri kemana kakinya melangkah.

Bertahun-tahun berlalu. Orang Kayan telah melupakan

peristiwa malam itu sedang antara Liani dan Praya telah

dilangsungkan perkawinan. Pesta besar diadakan. Suku-suku

yang bersahabat diundang serta.

Tapi tidak demikianlah yang terjadi dengan Solong Kambu.

Dendam kesumat senantiasa bersarang dirongga dadanya.

Sambil menanti datangnya saat yang baik untuk membalaskan

sakit hatinya pada Praya Giana dan pada orang-orang Kayan

maka selama bertahun-tahun dia menjadi perampok dihutan- hutan. Beberapa orang berhasil diambilnya jadi anak buahnya.

Setiap orang yang ditemuinya dibegalnya. Entah sudah berapa

orang yang mati ditangan kelompok perampok kejam itu.

Tahun demi tahun berlalu juga, Solong Kambu diam-diam

menyadari bahwa dengan kekuatan ilmu kepandaiannya adalah

tak mungkin baginya untuk membalaskan sakit hatinya yang

telah berkarat itu. Maka dipergunakannyalah kecerdikan

akalnya.

Ketika terdengar kabar bahwa antara suku Kayan dan suku

Kenia akhir-akhir terjadi perselisihan yang memuncak maka

Solong segera menjalankan peranannya. Dia bermaksud untuk

menghancurkan kedua suku satu sama lain dengan jalan

mengodu dombanya. Seminggu yang lalu diketahuinya bahwa

antara Suwantra anak kepala suku Kayan dan Sangia anak

kepala suku Kenia telah terjadi perkelahian seru dengan

kekalahan Sangia.

Suatu hari Sangia tengah berjalan menyusuri jalan kecil

ketika disatu tempat lima orang yang tak dikenalnya


mengurungnya. Kelima orang itu masing-masing memegang

senjata.

Sangia mencabut goloknya, tapi salah seorang dari yang

mengurungnya menekankan ujung pisau kelambung kirinya.

Solong Kambu memukul kepala Sangia dengan sepotong kayu.

Ketika Sangia menggeletak tak sadarkan dirinya, Solong Kambu

mengeluarkan sebuah pisau besar. Pisau lama yang didapatnya

ketika dia masih berada ditengah-tengah suku Kayan. Dengan

menyeringai menandakan kekejamannya Solong

menghantamkan pisau tersebut ketenggorokan Sangia.

“Kelak, kalau orang-orang Kenia menemui mayat laki-laki

ini, dan melihat ukiran pisau itu... ha...... ha...... ha. Peperangan

antara Kayan dan Kenia akan pecah dengan hebat......” ujar

Solong Kambu pula.

Keesokan harinya sesudah melakukan pembunuhan

terhadap Sangia, dengan seorang diri, Solong Kambu

mendekati daerah Kayan. Dia tengah mengendap-endap

diantara semak-semak ketika melihat seorang wanita cantik

berjalan dengan cepat dimuka sana. Hatinya terkejut, darahnya

tersirap ketika melihat paras perempuan itu. Tak ada bedanya

dengan paras Liani...... perempuan yang digila-gilainya sampai

saat ini.

“Hemmmmm...... tentu ini anaknya Liani...... pikir Solong.

Walaupun umurnya sudah enam puluh tahun kurang sedikit

namun nafsu setan yang bersarang ditubuhnya segera

bergejolak didalam tubuhnya. “Tak dapat ibunya......

anaknyapun boleh” desis Solong. “Selain itu......” katanya

kemudian. “Kalau kubunuh gadis ini maka tentu orang-orang

Kayan akan menyangka bahwa itu adalah perbuatannya musuh

mereka orang-orang Kenia. Dengan golok ditangan, Solong

Kambu keluar dari balik semak-semak. Amisah, gadis itu

memekik terkejut ketika melihat seorang berwajah seram

mencegat jalannya. Dia memutar tubuh hendak melarikan diri.

Tapi Solong Kambu cepat melompatinya. Amisah berontak coba

melepaskan diri. Keduanya bergumul. Namun apalah kekuatan

seorang perempuan......

*

Aditia mempercepat jalannya. Matahari telah tenggelam.

Sebentar lagi malam akan tiba. Sampai saat itu dia masih belum

juga menemui satu rumah pendudukpun. Perutnya terasa mulai

perih tanda minta diisi. Aditia berjalan terus. Senja berlalu dan

hari mulai gelap. Bertambah gelap lagi ketika awan yang hitam

tebal menutupi langit luas. Angin kencang berhembus hampir

setiap saat. Menimbulkan suara berisik dari pohon-pohon kayu

dan menerbangkan daun-daun. Hujan rintik-rintik mulai turun.

Makin lebat... makin lebat seperti dicurahkan dari langit. Aditia

berlindung dibawah sebuah pokok kayu yang rindang berdaun

lebat, namun setelah beberapa menit tak kurang seluruh

tubuhnya jadi basah kuyup juga.

Lima menit kemudian hujan mulai mereda. Aditia

meneruskan perjalanan. Jalan kecil yang ditempuhnya tidak

kelihatan sama sekali karena gelap yang amat sangat. Perutnya

semakin perih. Tubuhnya menggigil kedinginan. Sekali-kali

diperasnya ujung pakaian yang dipakainya. Sampai beberapa

saat lamanya dia masih juga belum menemui satu rumah

pendudukpun. Dia berharap-harap akan melihat kelap-kelip

lampu pelita dikejauhan namun harapannya itu tiada menjadi

kenyataan.

Anak muda berjalan terus. Tiba-tiba hidungnya dilanda bau

yang harum sekali. Cacing gelang-gelang diperutnya menari- nari dan berbunyi kreak kreok. Betapakah tidak, awak lapar,

terbau pula harumnya daging panggang. Mau tak mau Aditia

melangkahkan kakinya menuju kearah mana datangnya bau

daging panggang tersebut.

Setelah lima menu lebih kasak kusuk didalam kegelapan

sehingga bajunya banyak yang koyak-koyak direnggutkan

ranting-ranting berduri akhirnya matanya menangkap nyala

bara api jauh dibawah lembah sebelah sana. Beberapa sosok

tubuh manusia yang merupakan benda-benda hitam

dikegelapan malam nampak mengelilingi perapian. Dengan

cepat tapi hati-hati Aditia menuruni lembah. Semakin dekat


keperapian, semakin bertambah menusuk hidung baunya

daging panggang itu. Dengan mengendap-endap Aditia sampai

kedekat rombongan orang-orang tersebut. Dia bersembunyi

dibalik sebatang pohon kayu, memperhatikan.

Dikelilingi oleh lima orang laki-laki yang semuanya

berkerudung kain sarung, maka diatas perapian tergantung

beberapa potong besar daging panggang. Minyak daging itu

menitik-nitik jatuh keatas bara. Itulah yang menimbulkan bau

yang sedap sekali. Pemuda kita mereguk air liurnya. Dia

mengurungkan niatnya untuk melangkah ketika mendengar

laki-laki yang membelakanginya membuka mulut.

“Bukan main sedapnya daging rusa ini. Hari dingin. Perut

lapar dan daging panggang hangat-hangat...... Huah......”.

“Kau tahu cuma makanan yang sedap saja” tukas seorang

yang lain. Orang ini kelihatannya sudah berumur. Tapi

badannya masih kukuh. Suaranya serak parau. “Kalian sudah

tahu apa yang terjadi beberapa hari yang lalu?”

“Oh........ peristiwa perahu nelayan yang terbalik itu?” ujar

salah seorang pula sambil mengunyah daging panggang yang

dimulutnya.

“Bukan itu bodoh. Tapi apa yang terjadi antara suku Kayan

dan suku Kenia!” bentak orang tadi.

“Rupanya rencana guru sudah berjalan beres?”.

Orang yang dipanggilkan guru itu tersenyum kecil. “Bolehlah

dikatakan begitu. Kalian tahu, Suku Kayan dan Suku Kenia

saling baku hantam. Suku Kenia menduga bahwa orang-orang

Kayanlah yang telah membunuh Sangia, adik kepala suku

mereka. Dengan serta merta orang-orang Kenia menggempur

Kayan, puluhan orang pada mampus. Padahal mereka orang- orang dungu itu tidak mengetahui bahwa akal akulah, akal si

Solong Kambulah maka semuanya itu terjadi. Ha...... ha......

ha...... Dan kalian tahu bagaimana cantiknya paras gadis yang

kutemui itu? Bagaimana putih bersih kulitnya.......... Ha........

ha.........”.

Solong Kambu termenung menghayal membayangkan

peristiwa beberapa hari yang lalu. Kemudian sambil

mengunyah daging panggang yang dimulutnya dia berkata.


“Tapi hatiku belum puas. Aku masih punya rencana lain yang

lebih hebat. Kalian......”. Solong Kambu menghentikan kata- katanya. Dia berdiri dengan cepat sambil mencabut goloknya.

Keempat anak buahnya mengikuti gerakan pemimpin mereka.

“Siapa disitu! Katakan cepat kalau tidak ingin mampus!”

bentak Solong Kambu sambil memandang tajam kearah

kegelapan.

“Saya......” terdengar suara jawaban.

“Saya siapa?!” bentak Solong.

Orang yang dikegelapan maju melangkah kemuka dengan

terbungkuk-bungkuk. Tindak tanduknya menyatakan dia

seorang desa. Padahal itu hanyalah pura-pura saja. Orang itu

tak lain adalah Aditia adanya.

“Siapa kau?” tanya Solong Kambu sambil memelintangkan

goloknya dimuka Aditia.

“Na...... namaku Mamat. Aku orang desa. Aku tersesat

dijalanan. Bau daging itu harum sekali. Dan aku lapar......”

jawab orang yang ditanya.

“Buset! Sudah tak diundang bicara tentang perut lapar lagi!”

ujar Solong Kambu.

“Kau petani?” tanya salah seorang anak buah Solong Kambu.

“Benar. Aku baru saja mengambil uang penjualan padiku

pada seorang tengkulak. Kalian pedagang-pedagang agaknya?”

tanya Mamat.

Solong Kambu mengedipkan matanya pada anak buahnya

dan menjawab. “Benar. Kami semuanya pedagang-pedagang.

Pedagang keliling. Tapi duduklah. Kau boleh ambil daging

panggang itu, tapi jangan banyak-banyak!”.

“Terima kasih......” kata Mamat pula sambil duduk disebuah

batu batang kayu. Dengan agak malu-malu dia mengambil

sepotong daging panggang dan mengunyahnya dengan penuh

lahap. Setelah beberapa lama kemudian...... “Apa boleh aku

ambil sepotong lagi......?” terdengar suara Mamat bertanya,

“Wah, perutmu besar sekali. Ambillah!”.

Ketika Mamat menghabiskan daging panggang yang kedua

tanpa diketahuinya, Solong Kambu memberi isyarat pada


keempat anak buahnya. Dengan serentak keempat orang itu

berdiri. Ernpat buah golok maut mengurung kepala Aditia.

“Ha...... ha...... ha......!” terdengar kekeh Solong Kambu.

Mamat tampak terkejut.

“Apa...... apaan ini. Kalian......”.

“Ha...... ha...... ha...... kami memang pedagang-pedagang.

Tapi pedagang nyawa manusia...... ha...... ha...... ha. Berdiri!”

bentak pemimpin rampok itu.

Dengan kedua lutut yang tampak gemetar, Mamat seorang

desa bangkit berdiri.

“Dasar orang desa bodoh dogol. Masih belum tahu kau

berhadapan dengan siapa? Ha...... ha...... Ini dia manusianya

yang bernama Solong Kambu!”, kata Solong Kambu sambil

memukul-mukul dadanya.

“Solong Kambu?” desis Mamat ketakutan.

“Yah, Solong Kambu. Keluarkan semua uangmu!”.

“Tapi...... tapi......”.

“Keluarkan semua uangmu!” bentak Solong Kambu.

“Tapi...... tapi......”. Tiba-tiba si Mamat membentak keras.

Keempat orang yang disampingnya yang mengurungnya sama

berpekikan dan rebah ketanah.

“Kurang ajar” maki Solong Kambu. Goloknya berkelebat

kearah Aditia. Tapi Aditia lebih cepat menangkap lengan yang

memegang senjata itu. Solong Kambu menjerit karena

tangannya seperti digencet oleh dua buah batu besar.

Jeritannya lenyap ketika totokan Aditia menghantam bahu

kanannya. Tubuh Solong Kambu menjadi kejang, dan sebelum

jatuh Aditia membiarkan saja bagaimana tubuh laki-laki itu

jatuh menimpa semak-semak. Sambil kembali menikmati

daging panggang yang liat itu dia memandang kelima orang

rampok itu satu-persatu. Ketika matanya terasa mengantuk,

Aditia menambahkan lagi satu totokan kesetiap perampok itu

dan dengan bersandar pada sebatang pohon dia mulai

memejamkan matanya.


SUWANTRI tengah mendaki lereng bukit sambil membawa

bumbung yang berisi air dari lembah ketika dipuncak bukit

dilihatnya seorang laki-laki berlari dengan cepat sambil

menggendong sesosok tubuh. Belum pernah dia melihat

kejadian yang serupa itu. Hatinya berdebar keras. Mungkinkah

laki-laki itu orang yang dirinduinya selama ini? Setengah berlari

dia menuju keatas bukit. Ketika dia sudah merasa pasti,

Suwantri melemparkan bumbung air yang ditangannya.

“Aditia...... Aditia...... kau kembali!”.

Aditia menghentikan larinya. Dia tersenyum pada gadis itu.

“Aku sudah lihat kau dari jauh Aditia. Ternyata duganku tak

salah. Ini siapa Aditia......”.

“Jangan banyak tanya dulu Wantri. Mari kita kerumah.

Jalanlah kau duluan”. Suwantri memutar tubuhnya dan berlari

dimuka Aditia.

Melihat kedatangan Aditia,bersama seorang yang pingsan

dalam rangkulannya, orang-orang Kayan datang mengerubung.

“Aditia!” terdengar suara Suwantra. “Ada apa? Orang ini

siapa?”.

Aditia tak menjawab, sebaliknya mengikat kedua tangan

Solong Kambu dengan sehelai sapu tangan. “Apakah semua

orang telah berkumpul disini?” tanya Aditia sambil memandang

berkeliling. Praya Giana dan beberapa orang tua-tua lainnya

mengedip-ngedipkan mata mereka. Menggosok-gosokanya

kemudian berpandangan satu sama lain.

“Laki-laki ini Solong Kambu. Orang yang dibuang

dahulu......” ujar Praya Giana.

“Benar, memang namanya Solong Kambu” ujar Aditia.

Semua orang soling bertanya-tanya dalam hatinya. Sementara

itu Aditia melepaskan kedua totokan pada tubuh Solong

Kambu. Laki-laki itu tampak bergerak-gerak. Kemudian

membukakan matanya. Aditia membantu Solong Kambu untuk

berdiri. Solong Kambu berdiri dan memandang berkeliling. Dia

terkejut. “Dimana aku?!” ujarnya kemudian. Tiba-tiba matanya

membentur wajah Praya Giana. Wajah Liani disebelah sana dan

wajah dari beberapa orang yang dikenalnya.


“Bicaralah Solong Kambu!” kata Aditia memerintah. “Cepat

katakan apa yang telah kau lakukan terhadap Amisah!”. Solong

Kambu memandang pada Aditia dengan melotot.

Suwantra maju kemuka. “Jadi dia manusianya?” tanya laki-

laki itu sambil memandang pada Aditia. Aditia mengangguk.

Dengan serta merta, Suwantra dan Suwantri mencabut pisau

masing-masing. “Sebaiknya biar dia bicara dulu mengakui

perbuatannya”. kata Aditia menyarankan.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Solong Kambu.

Tiada jalan lari baginya. Tangannya terikat sedang lapisan

manusia mengurungnya. Dengan suara yang gemetar laki-laki

itu memaparkan tentang semua perbuatannya. Pada akhirnya

keterangannya dia berkata. “Kalau kalian hendak menghukum

aku, hukumlah secara jantan, secara peradatan suku kita!”.

“Manusia semacam kau tidak usah diperlakukan secara

jantan, binatang!” teriak Suwantri sambil menghunus pisaunya.

Aditia memegang lengan gadis itu.

“Kau minta dihukum secara peradatan Kayan. Tapi sejak

puluhan tahun yang lalu kau sudah bukan lagi seorang suku

Kayan......” kata Praya Giana.

“Lepaskan sapu tangan yang mengikat lengannya!” perintah

Suwantra. Seseorang melepaskan ikatan tangan Solong Kambu.

“Mundur!”. Orang ramai mundur kebelakang. Suwantra

memberikan sebuah pisau pada Solong Kambu. Ditangannya

sendiri tergenggam sebuah pisau. “Majulah Solong Kambu,

inilah cara jantan yang kau ingini. Kau harus berikan nyawamu

untuk pengganti nyawa adikku!”.

Solong Kambu maju dengan ragu-ragu. Tiba-tiba terdengar

suara Praya Giana. “Anakku Suwantra, berikan pisau itu

padaku. Biar aku yang menghadapi dia......”, Suwantra terkejut.

Dan saat itu pisaunya telah berpindah tangan kedalam tangan

ayahnya.

“Kita bertemu kembali, Solong. Ingat cerita lama? Majulah”.

Begitulah kedua tua sama tua itu saling berhadapan. Tubuh

Solong Kambu lebih kekar dari Praya Giana, tapi dia kalah

kepandaian. Tiga jurus pertama keduanya berkelebatan kian

kemari. Gerakan-gerakan mereka tak kalah hebat dengan


gerakan-gerakan anak muda. Praya Giana meninjukan tangan

kirinya kedada Solong Kambu. Gerakannya sengaja

diperlambat. Apa yang diharapkan Praya segera terjadi. Ketika

Solong Kambu menepis lengannya dengan tangan kirinya,

Praya menangkap lengan lawannya dan menariknya kemuka

dengan keras. Solong Kambu tertarik kemuka. Pisau yang

ditangannya bergerak, tapi Praya Giana lebih cepat. Senjatanya

dihunjamkannya keperut lawannya. Solong Kambu merintih.

Lidahnya terjulur keluar. Dia terhuyung-huyung kebelakang

dan roboh terlentang. Laki-laki itu mati dengan pisau tertancap

diperutnya. Hutang nyawa berbalas sudah! *

* *

Aditia memegang lengan gadis itu. Keduanya berjalan

menyusuri jalan kecil dilereng bukit. “Nah Suwantri, ini sudah

terlampau jauh. Sampai disini sajalah, dik.....” kata Aditia.

Gadis itu mengangguk.

Selamat jalan Aditia. Kau akan selalu kukenang. Namamu,

senyummu, kebaikanmu, jasamu...... segala-galanya”.

“Dan aku juga akan selalu mengingat seorang dara berwajah

cantik, berkulit mulus putih, yang senyumnya manis sekali yang

namanya Suwantri......”.

“Hati-hatilah Aditia. Doaku bersamamu. Selamat jalan”.

Aditia memegang kedua bahu gadis itu. Matanya

memandang dalam-dalam kemata gadis yang menengadah

kepadanya. Aditia membungkuk. Suwantri memejamkan

matanya. Perlahan-lahan Aditia mencium kening gadis itu.

Kemudian tanpa diketahui si gadis dia meninggalkan tempat

itu. Suwantri masih memejamkan matanya menunggu. Setelah

beberapa lamanya dia membukakan matanya. Dengan terkejut

dia memandang berkeliling. Tapi Aditia sudah lama pergi.

Sambil tersenyum, Suwantri berkata seorang diri. “Ah...... dia

sungguh gagah, dan sakti sekali......”. Kemudian perlahan-lahan

gadis itu menuruni bukit. Kembali pulang dengan membawa

satu kenangan indah dilubuk hatinya.




                                    Tamat










Share:

Blog Archive