TERTUDUH di KALIMANTAN
SATU
ANGIN utara berhembus sepoi-sepoi basah membawa
kesejukan ditengah hari yang sangat panas itu. Ombak
bergulung-gulung dan memecah dipantai. Disatu pangkalan
perahu yang terletak diteluk yang berbentuk ladam kuda
dipesisir utara pulau Jawa berjalan seorang laki-laki berbaju
dan bercelana putih dengan kain sarung hitam begaris-garis
merah terlilit dipinggangnya. Orang itu menuju kesebuah
rumah kayu diujung pangkalan yang menjadi satu-satunya
bangunan didaerah itu. Diatas sebuah bangku panjang dimuka
rumah kayu tersebut duduk seorang ............. tegap gempal
........... hitam, begitu ........... matanya ........... terutama .......... sisir, tak mengerti .......... Sawang Acik, keturunan ........... Sawang Acik .......... duduk-duduk sambil memotong kuku-kuku
jari kakinya yang telah panjang dan hitam-hitam dengan
sebuah pisau lipat kecil.
Orang yang pertama tadi, yang mengenakan baju dan celana
putih yang tak lain adalah pendekar berkeris merah dari
gunung Wilis adanya datang mendekati Sawang Acik.
“Sahabat”, saya Aditia. “Kau tahu kapan ada perahu yang
berangkat keseberang?”. Orang yang ditanya tak menjawab
bahkan memutar kepalanyapun tidak. Aditia bertanya sekali
lagi. “Sahabat, mungkin kau tahu bila ada perahu yang akan
berangkat keseberang?”.
Sawang Acik memutar kepalanya sedikit, memperhatikan
orang yang tak dikenalnya itu dari ujung destar yang menutup
kepala Aditia sampai kekaki. Kemudian sambil meneruskan
memotong kuku jari kakinya dia membuka mulutnya. Suaranya
serak dan nadanya kasar bercampur congkak. “Kau bertanya
pada siapa, orang baru?”.
Aditia memandang berkeliling, kemudian melihat kedalam
rumah kayu yang dimukanya. Dia sama sekali tiada melihat
seorang lainpun sehingga kalau bukan karena kecongkakan tak
ada alasan lain bagi orang yang ditanyanya itu berkata kasar
seperti itu. Sambil tersenyum kecil Aditia berkata lagi. “Aku
bertanya padamu, sahabat. Kalau-kalau kau tahu bila ada kapal
yang hendak pergi keseberang........”.
“Sebelum bertanya kau harus tahu namaku dulu!” ujar
Sawang Acik pula.
“Maafkan. Aku orang baru disini dan belum mengetahui
siapa namamu. Kalau kau sudi memberitahukannya........” kata
Aditia. Sawang Acik nampak menyeringai. Dia memandang
.........................................................................................................
............................................................................................... ngan
seperti anak kecil!”.
“Maksudku seberang Kalimantan. Aku hendak menuju
ketanah Banjar”. jawab Aditia.
“Kau berasal dari sana?” tanya Sawang.
“Tidak. Aku orang sini” jawab Aditia.
“Lalu ada urusan apa kau mau pergi keseberang? Kau
pedagang? Bicaralah terus terang! Sawang Acik tak suka
melihat orang yang suka main sembunyi-sembunyian!”.
Aditia berusaha untuk tersenyum. “Aku juga tidak senang
main sembunyi-sembunyian sahabat. Aku ingin keseberang dan
aku bukan pedagang. Jelas?!”. Sawang Acik tampak
mengerenyitkan kening dan alis matanya.
“Aku tahu kau berdusta” ujar Sawang kemudian. “Tapi
biklah...... perahu mungkin akan berangkat kira-kira satu jam
lagi dari sini. Kau ada rokok?!”.
“Aku tidak merokok” jawab Aditia. “Tidak merokok atau pelit?!” tukas Sawang dengan gusar.
“Sudah kukatakan aku tidak suka main sembunyi- sembunyian. Aku benar-benar tak merokok”.
“Menyirih mungkin?!” ejek Sawang sambil menyeringai
menunjukkan gigi-giginya yang kecoklatan. Aditia
menggelengkan kepalanya dan memandang kelautan lepas
dihadapannya. Jauh ditengah lautan nampak beberapa buah
pulau seperti kotak api-api yang terapung diatas air sedang
disebelah sana kelihatan beberapa buah perahu penangkap
ikan. Walaupun matanya melihat kemuka sana dan tubuhnya
membelakangi Sawang Acik, tapi Aditia sudah dapat
memastikan bahwa Sawang Acik saat itu diam-diam tengah
menelitinya.
Ketika Aditia hendak memutar tubuhnya terdengar suara
Sawang. “Sebaiknya kau duduk saja dibangku ini, menunggu
perahu yang akan datang satu jam lagi. Aku hendak pergi........!”
“Pergi kemana?” tanya Aditia ingin tahu.
“Huha........ jangan banyak tanya pada Sawang Acik!
Urusanku adalah urusanku, bukan urusanmu!”. Sawang Acik
bangkit dari atas bangku kayu dan berjalan dengan cepat
menyusur pangkalan kayu. Seperempat jam kemudian laki-laki
itu menghilang dikejauhan. Aditia berjalan mendekati bangku
yang bekas diduduk Sawang Acik. Bangku kayu itu terasa
hangat, seperti kebanyakan bangku-bangku dan kursi-kursi
yang bekas diduduki oleh orang-orang. Tapi aneh, setelah
beberapa detik kemudian rasa hangat itu menjadi semakin
keras dan dari kayu bangku itu terasa seperti ada ratusan
jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk daging Aditia.
Tubuhnya sebelah bawah mulai terasa gatal-gatal. Aditia mulai
sadar dan memaklumi bahwa Sawang Acik bukan pergi begitu
saja dan menyilahkannya duduk begitu saja, tapi dia pergi
dengan meninggalkan satu maksud tertentu yaitu hendak
membunuh dirinya. Ilmu jarum beracun jang ditinggalkannya
dibangku dimana Aditia duduk itu bisa mematikan seorang
biasa dalam tempo tiga menit.
Ketika memaklumi hal itu, cepat-cepat Aditia bangkit dari
bangku tersebut sambil mengusap-usap beg1an tubuhnya yang
terasa gatal-gatal dan perih itu dengan kedua belah telapak
tangannya. Beberapa saat kemudian rasa gatal-gatal dan perih
tadi mulai hilang dan akhirnya lenyap sama sekali. Aditia
memandang kejurusan perginya Sawang Acik. Tak ada satu
sosok tubuhpun yang dapat ditangkap matanya. Aditia
menghembus bangku kayu itu satu kali dan kemudian baru
duduk diatasnya kembali. Lima menit kemudian dari arah
mana Sawang Acik menghilang tadi nampak dua sosok tubuh
datang menuju kepangkalan. Aditia duduk diatas bangku tanpa
bergerak. Kedua matanya ditutupkannya sedang dengan ilmu
tenaga dalamnya yang sudah sampai dipuncak tertinggi
ditahannya nafasnya.
Tak berapa lama kemudian, Sawang Acik bersama kawannya
yang bernama Gompel sampai dimuka rumah pangkalan.
“Ha...... ha... ha...... kau lihat Gompel bagaimana hebatnya ilmu
jarumku?! Dalam beberapa menit saja tubuhnya sudah menjadi
kaku. Rohnya sudah melayang keneraka jahanam! Cepat
geledah tubuhnya. Aku sudah dapat membaui bahwa dia
seorang saudagar intan berlian yang kaya dari Banjar sekalipun
dia coba untuk mengelahuiku!”
“Sebaiknyaa kita tidurkan saja dia dipasir supaya mudah
menggeledahnya......” kata Gompel memberi usul.
“Tepat. Aku memang hendak bermaksud demikian juga”
jawab Sawang Acik.
Dengan sangat kasar, kedua orang itu membaringkan Aditia
yang pura-pura kaku menjadi mayat itu. Begitu tubuhnya
terbujur begitu pula cepatnta tangan-tangan kedua perampok
darat tadi meluncur kesaku-saku Aditia. Bahkan Sawang mulai
membuka kain sarung yang terlilit dipinggang Aditia dan juga
membuka kancing-kancing bsju yang dipakai Aditia.
Tiba-tiba kedua tangan Aditia secara tak terduga bergerak
dengan cepat dan diantara terkejut dan kesakitan Sawang Acik
bersama kawannya Gompel terpental kebelakang dan
bergulingan dipasir. Sambil mengalirkan tenaga dalamnya
ketempat jang terkena pukul, Sawang dan Gompel bangun
dengan cepat. Memang Aditia sengaja tidak memberikan
pukulan yang keras pada kedua perampok darat itu. Dia ingin
tahu sampai dimana keberanian dan kenekatan keduanya.
Seandainya Sawang Acik cepat menyadari bagaimana ilmu
jarum beracunnya sudah tak mempan terhadap Aditia maka
sudah cukup menjadi peringatan baginya bahwa orang yang
hendak dirampoknya itu bukan seorang biasa yang dpat
dipermain-mainkannya. Tapi karena terkejutnya, kesakitan dan
sangat marah, maka Sawang melupakan semua itu. Sambil
berdiri Sawang Acik membentak. “Kurang ajar kau tikus cilik!
Berani mempermain-mainkan Sawang Acik. Kau belum tahu
siapa aku?! Rasakan!”. Begitu bentakannya lenyap tubuhnya
melesat cepat kehadapan Aditia. Kaki dan tangannya bekerja.
Saat itu Aditia masih terbaring dipasir. Dengan menggulingkan
dirinya dan sambil bangkit berdiri dengan cepat dia berhasil
mengeluarkan serangan tersebut.
Melihat serangannya dapat dielakkan dengan mudah,
amarah Sawang Acik semakin meluap-luap. “Manusia kintel!
Kukermus kepalamu!”, Aditia menyeringai dan berdiri dengan
bertolak pinggang. “Majulah perampok sial. Keluarkan semua
kepandaianmu. Tak kusangka orang yang mengaku dirinya
sebagai jagoan kiranya tak lain dari seorang perampok sinting
bahkan seorang pengecut pula! Mengapa cuma satu orang
kawanmu yang kau ajak kesini?”.
“Bagus........ bagus...... kau suruh aku untuk mengeluarkan
semua ilmuku........ bagus! Kau benar-benar ingin cepat-cepat
keneraka! Rasakan ini!”.
Sawang Acik melompat kemuka melancarkan serangan
dahsyat. Kaki kanannya meluncur cepat keperut bagian bawah
dari lawannya sedang kedua tinjunya secara bersamaan
mengarah kedada dan ketenggorokan Aditia. Dari belakang
datang pula tendangan kaki kanan Gompel yang mengarah
kepinggang Aditia, Dengan cepat dan dengan cara yang
mengagumkan, Aditia menggeser kedua kakinya kesamping
kanan. Tubuhnya miring enam puluh derajat. Kedua tinju
Sawang Acik lewat dengan deras disamping kiri Aditia. Begitu
juga tendangan kaki kanannya tak berhasil mangenai
sasarannya, sebaliknya kaki kanan Sawang Acik beradu keras
dengan kaki kanan kawannya sendiri yaitu Gompel yang juga
melancarkan tendangan keras kearah Aditia.
Kedua kaki yang beradu itu menimbulkan suara yang keras.
Gompel menjerit kesakitan. Pergelangan kaki kanannya serasa
copot sedang Sawang Acik dalam menahan sakit tak henti- hentinya mengeluarkan kutuk serapah menyumpah-nyumpah.
“Agaknya kau sudah mulai linglung Sawang? Mengapa
kawan sendiri yang kau tendang?!”, ejek Aditia sambil memutar
tubuhnya. Tangannya bergerak sedang kakinya melangkah
kemuka dan sebelum Gompel dapat berdiri dengan kedua
kakinya secara normal jotosan Aditia telah bersarang
didadanya. Gompel merasakan seperti nafasnya tertahan.
Matanya melotot dan akhirnya dalam keadaan seperti itu dia
roboh tak sadarkan diri.
Melihat kawannya roboh, Sawang Acik semakin meluap-luap
kemerahannya. Dengan mengertakkan giginya dia mencabut
golok besar yang tersisip dibalik sarungnya. Senjata itu
berkilauan ditimpa sinar matahari. Bacokan golok Sawang yang
pertama kekepala Aditia. Aditia mundur selangkah, tangan
kirinya berusaha untuk menangkap senjata yang ditangan
Sawang tapi tawannya cukup gesit. Sambil meninggikan lengan
kanannya yang memegang senjata itu, kaki kirinya mencari
sasaran diperut Aditia. Aditia terpaksa mengurungkan niatnya
semula. Tangan kirinya yang tadi hendak dipakainya untuk
merampas senjata Sawang kini meluncur ke bawah untuk
menangkap pergelangan kaki kiri Sawang Acik yang datang
deras kearah perutnya. Sawang Acik menjadi agak terkesiap
ketika merasakan bagaimana tangan kiri lawannya seperti
jepitan baja mencekal kakinya. Sawang untuk beberapa detik
lamanya tak berani menggerakkan kakinya itu atau coba untuk
melepaskan diri karena dia tahu bahwa hal itu akan sia-sia saja
dan akan menghilangkan keseimbangan tubuhnya. Cekalan
Aditia semakin keras. Sawang Acik menggigit bibirnya menahan
sakit. Ketika dia tak sanggup lagi menahan sakit, sambil
menjerit geram, golok yang ditangan kanannya dilemparkannya
kemuka Aditia. Aditia merunduk dengan cepat. Sawang
merasakan cekalan dikakinya mengendor. Sambil
menendangkan kaki kanannya dia menjatuhkan dirinya
ketanah. Dalam keadaan seperti itu Aditia terpaksa melepaskan
cekalannya.
Sawang Acik bergulingan ditanah dan bangkit berdiri dengan
cepat. Kini amarah laki-laki yang berewokan itu sudah sampai
kepuncaknya agaknya. Dengan berteriak-teriak keras dia
mengayunkan goloknya kian kemari. Menyerang bagian-bagian
tubuh yang mematikan dari lawannya. Pemuda gunung Wilis
tersenyum sinis saja melihat permainan golok Sawang Acik. Dia
hanya menggeserkan kakinya kian kemari untuk mengelakkan
semua serangan golok itu. Seluruh muka dan tubuh Sawang
telah basah dengan peluh. Dia tens mengamuk dengan hebat,
namun sampai sedemikian jauh tak satu serangannyapun
berhasil mengenai sasarannya, seakan-akan dia hanya
mengamuk seorang diri membacok tempat kosong. Dan sampai
saat itu Sawang masih belum juga menyadari bahwa orang yang
dihadapannya itu adalah seorang yang berilmu tinggi yang
sama sekali bukan tandingannya.
“Kau sudah puas........?” kata Aditia mengejek dengan
menyeringai. Sawang Acik tak menjawab apa-apa sebaliknya
serangan goloknya semakin dahsyat dan rapat. Satu kali senjata
yang ditangannya itu melayang cepat dan deras kekepala Aditia.
Aditia merunduk. Golok berbalik dengan cepat membabat
keleher Aditia kini. Juga serangan dahsyat ini dapat dielakkan
dengan mudah. Secepat Aditia mengelakkan diri, secepat itu
pula golok Sawang menyerang kembali. Inilah ilmu golok yang
sangat diandalkan Sawang Acik yang menurut almarhum
gurunya bernama serangan gunting berantai. Golok itu
bersilang-silang dengan cepat mencari sasaran ditubuh Aditia.
Ketika senjata itu mengarah kelambungnya, Aditia
memiringkan diri kesamping kiri. Golok Sawang lewat. Dalam
keadaan seperti itu Aditia memutar tubuhnya. Tangan
kanannya bergerak memukul sambungan siku Sawang Acik.
Sawang Acik menjerit keras setinggi langit. Sambungan sikunya
terlepas dan sakitnya tiada terperikan, sedang golok yang
ditangannya terlepas dan jatuh kepasir.
Dalam kesakitan yang luar biasa itu untuk pertama kalinya
baru Sawang Acik menyadari bahwa orang berbaju putih yang
dihadapannya itu adalah bukan tandingannya. Rasa takutnya
datang dan dengan cepat dia memutar tubuhnya untuk
melarikan diri.
“Tak usah cepat-cepat, Sawang. Perkenalan kita belum
selesai..........” kata Aditia. Tangannya meluncur cepat dan tahu- yahu Sawang merasakan rambutnya terjambak keras. Dia
hendak menjerit tapi suaranya tak keluar. Lidahnya kelu dan
tenggorokannya kering dan dalam kesadarannya yang terakhir
dia merasakan tubuhnya menjadi kejang. Sesudah itu dia tak
tahu apa-apa lagi.
Ketika dikejutkan, dibalik teluk kelihatan layar perahu,
Aditia menyeret tubuh Sawang dan kawannya kedalam rumah
pangkalan.
Dari jauh tampak sebuah perahu meluncur dengan cepat
membelah gelombang-gelombang kecil diatas lautan diteluk itu.
Aditia menanggalkan sapu tangan penutup kepalanya dan
melambai-lambaikannya. Perahu yang dikejauhan itu meluncur
kearah pangkalan, semakin lama semakin dekat. Seorang laki-
laki yang hanya memakai celana pendek berwarna abu-abu
berdiri dilambung muka perahu itu, melemparkan tali kesebuah
tambatan besi ditepi pangkalan dan bertanya pada Aditia, “Kau
mau pergi kemana?”.
“Kalian hendak menuju ke Banjar? Aku bermaksud hendak
menumpang kesana” jawab Aditia.
“Kalau begitu naiklah. Perahu layar ini memang hendak
menuju kesana” kata orang diatas perahu tersebut. Lalu
sambungnya. “Tunggu dulu aku akan ambil papan untuk
tangga......”. Orang itu membalikkan tubuhnya tapi tak jadi
ketika dia mendengar suara Aditia.
“Tak usah ambil papan... aku bisa melompat!”.
“Jangan melompat! Isi perahu ini sudah sedemikian
saratnya, nanti bisa terbalik!”.
Begitu kata-katanya berakhir tahu-tahu si tukang perahu
melihat orang yang berbaju putih itu telah berada didalam
perahu. Dia sama sekali tak menyadari kalau Aditia telah
melompat kedalam perahu motor itu. Satu lompatan yang
sangat mengagumkan karena Aditia sampai kedalam perahu itu
tanpa perahu tersebut oleng barang seujung rambutpun!
“Kau...... kau melompat bukan?” kata Samat, si tukang
perahu dengan nada tak percaya. Aditia menganggukan
kepalanya. Samat ternganga kemudian berkata lagi. “Tapi......
tapi mengapa......”.
“Lepaskanlah tambatan perahu. Lebih cepat berangkat lebih
baik......” potong Aditia sambil memutar tubuhnya. Setelah
memperhatikan Aditia beberapa jurus lamanya dengan rasa tak
percaya baru dia membalikkan diri. Tali perahu yang tertambat
itu diputar-putarkannya beberapa kali kemudian
dilambungkannya keudara. Buhul tali terlepas dari tambatan
besi panjang dan dengan perlahan-lahan Samat menarik tali
tambatan itu, menggulungnya disebuah balok kemudian
memberi isyarat pada kawannya yang memegang kemudi
dibagian belakang perahu.
Beberapa saat kemudian layar mengembung perahu
meluncur cepat diantar angin Selatan. Perahu membelok
kekanan dan menyongsong arus gelombang yang bersusun
beriring-iring menuju ketepi pantai
DUA
ADITIAJAYA memandang kelautan lepas. Diujung sebelah
sana nampak beberapa buah pulau dan perahu-perahu
penangkap ikan yang semakin lama nampak semakin kecil dan
akhirnya menghilang sama sekali dari pandangan mata. Kini
sejauh-jauh mata memandang hanya lautan saja yang kelihatan.
Aditia memandang pada pengemudi perahu. Orang itu separuh
baya dan tersenyum ramah kepadanya. “Kau berasal dari
Banjar?” kata orang itu membuka pembicaraan.
“Tidak. Aku orang Jawa” jawab Aditia.
“Wong Jawi heh? Aku juga berasal dari Jawa, tapi sudah
lama menetap di Banjar. Orang tuaku masih ada di Muntilan.
Aku hanya sekali-kali pulang kekampung”, menerangkan
pengemudi perahu itu.
“Senang berkenalan dengan kau. Perahu ini kepunyaan
kalian?” tanya Adatia pula.
“Bukan” jawab si pengemudi”. Perahu ini kepunyaan seorang
saudagar Banjar. Aku dan Samat hanya menjadi anak buahnya
saja......”.
“Sudah lama kalian bekerja semacam ini?”.
“Delapan tahun” jawab si pengemudi yang bernama Pomo.
“Dan lihatlah kulit tubuh kami. Hitam kering dan berkerut- kerut kena sinar matahari terus-terusan dan angin laut”.
Pembicaraan terhenti sampai disitu, Aditia melayangkan
pandangan. Hanya laut biru kehijauan yang tampak. Perahu itu
mempunyai sebuah ruangan bawah yang tak seberapa besar
yang ditutupi dengan kain terpal tebal. Dari dalam sana
terdengar suara orang bercakap-cakap dalam bahasa yang tak
di mengerti sama sekali oleh Aditia.
“Berapa orang penumpang yang turut bersama perahu ini?”
tanya Aditia pada Samat.
“Hanya tiga, empat orang dengan engkau”.
“Mereka orang-orang Banjar kesemuanya?” tanya Aditia lagi.
“Hanya satu orang. Yang dua lagi orang-orang Dayak dari
suku Kayan” jawab Samat.
“Orang Dayak?” tanya Aditia heran. “Setahuku orang-orang
Dayak hampir tak pernah meninggalkan negerinya. Mereka dari
mana?”
“Suku Kayan sudah agak maju diantara suku-suku Dayak
lainnya. Mereka memeluk agama Islam. Mereka naik dari pulau
Ambacang dibalik teluk tadi. Tenteng apa yang mereka perbuat
aku sendiri tak tahu......”.
“Matahari telah condong kebarat saat itu. Angin bertiup
dengan kencang. “Sebaiknya masuklah kedalam. Angin mulai
menasihatkan Pomo pada Aditia. Aditia menganggukkan
kepalanya dan menyingkapkan kain terpal penutup ruangan
bawah dan masuk kedalam. Didalam, tiga orang laki-laki
dilihatnya duduk berhadap-hadapan. Yang dua saling
berdekatan dan tengah bercakap-cakap dengan asyiknya.
Keduanya segera menghentikan percakapan ketika melihat
Aditia memasuk ruangan itu.
Aditia menganggukkan kepala dan tersenyum sedikit. Kedua
orang dari suku Dayak itu dan juga seorang yang lain
mengangguk pula dan tersenyum dengan ramah.
“Kalian hendak menuju ke Banjar?” tanya Aditia membuka
pembicaraan sambil mengambil sebuah peti kecil untuk tempat
duduk.
“Benar jawab salah seorang dari orang Dayak itu dalam
bahasa Indonesia.
“Agak panes didalam ini. Bagaimana kalau saya buka kain
terpal itu......?” tanya Aditia sambil memandang berkeliling
pada ketiga orang itu.
“Silahkan” jawab pedagang Banjar yang duduk disamping
kirinya sedang kedua orang suku Kayan itu hanya
menganggukkan kepala saja menyatakan tidak keberatan
mereka. Aditia menyingkapkan kain terpal yang menutupi jalan
masuk keruangan itu. Angin berhembus dan ruangan itu kini
terasa sejuk.
“Orang perahu ini menerangkan bahwa saudara berdua
adalah dari. suku Kayan. Benar?” tanya Aditia kemudian pada
kedua orang Dayak yang dihadapannya itu.
“Benar” jawab salah seorang dari mereka. “Nama saya
Suwantra. Ini Mirta sahabat saya” katanya kemudian
memperkenalkan diri.
“Saya Aditia,” kata Aditia pula menerangkan nama kecilnya.
Lalu sambungnya. “Agaknya kalian mempunyai urusan yang
penting didaerah ini maka kalian sampai meninggalkan
kampung halaman”.
“Begitulah” jawab Mirta sedang Suwantra hanya tersenyum
saja.
Aditia menoleh pada orang yang disampingnya. “Saudara
orang Banjar asli?”. Yang ditanya menganggukkan kepalanya.
“Dagang?”. Sekali lagi orang itu menganggukan kepalanya.
“Dagang apa? Intan...... berlian?” tanya Suwantra.
Pedagang Banjar itu yang bernama Kuwana tersenyum kecil
mendengar kata-kata Suwantra tadi. “Saya hanya pedagang
keliling kecil-kecilan”. Berdagang kain sarung dan dan cita-cita”
katanya kemudian menerangkan.
“Dagang kain dan cita besar juga keuntungannya” kata Aditia
menyela.
Pedagang Banjar itu menarik nafas. “Tidak yang seperti
saudara katakan. Pembeli di Kalimantan tidak begitu banyak
sedang penduduk asli hanya bisa membeli dengan cara
menukarkannya dengan hasil-hasil seperti damar, kayu manis,
rotan dan lain-lainnya sehingga untuk menjadikan benda- benda itu uang, saya terpaksa harus membawanya kembali ke
Jawa untuk dijual. Waktu habis tenaga terbuang sedang
keuntungan sangat tipis”.
“Tapi keuntungan yang dicapai dengan cucur keringat dan
jalan yang jujur sangat nikmat dikecapnya, bukan?” kata Aditia
pula. Kuwana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Dan kalau saya boleh mengetahui apakah saudara juga
seorang pedagang?” tanya Mirta pada Aditia. Aditia
menggelengkan kepalanya. “Saya keseberang hanya untuk
melihat saudara tua saya. Seorang pencalang mengabarkan
bahwa akhir-akhir ini saudara saya itu sakit-sakitan saja” kata
Aditia berdusta.
“Dimana tinggalnya saudaramu itu?” tanya Suwantra. Aditia
berusaha menghilangkan kegugupannya karena pertanyaan
yang tak terduga itu dengan pura-pura batuk-batuk. Setelah
beberapa lama kemudian baru dia memberikan jawaban.
“Tempat tinggalnya yang pasti saya sendiri tidak mengetahui.
Tapi seorang sahabat yang tinggal dekat pelabuhan
mengetahuinya. Jadi saya harus menemui sahabat itu terlebih
dahulu”.
“Memang pada musim-musim pancaroba seperti saat ini
banyak sekali orang yang mengalami sakit. Terutama sakit
demam panas” menyela Mirta. “Dan didaerah-daerah yang
berawa-rawa, mengamuk nyamuk malaria. Setahun yang lalu
saudara sepupuku mati karena serangan demam malaria......”.
Diluar hujan rintik-rintik turun dan gelombang sedikit
membesar kini. Perahu itu bergoyang-goyang dan oleng kian
kemari namun terus meluncur maju sekalipun ombak
mempermainkannya. Ketika hujan gerimis berhenti maka cuaca
menjadi terang benderang kembali. Dari bagian belakang
perahu terdengar suara nyanjian Samat, Sekali-kali kawannya
Pomo mengiringi pula.
“Lihat disana ada sebuah perahu besar......” kata Pomo
dengan tiba-tiba menghentikan nyanyiannya. Kawannya Samat
memandang kearah yang ditunjukkan oleh Pomo. Dikejauhan
nampak sebuah kapal meluncur dengan cepat membelah
ombak-ombak besar yang mengalun dilautan lepas itu.
“Kurasa kapal orang-orang kulit putih......” menduga Samat.
“Tidak bisa jadi” tukas Pomo. “Kapal orang-orang kalit putih
jauh lebih besar dari itu. Tiang layarnya tiga buah dan
lambangnya tinggi. Perahu besar yang kita lihat ini hanya
mempunyai dua tiang layar dan lambungnya rendah. Menurut
taksiranku mungkin sekali kapal dagang orang-orang Bugis”.
“Perahu besar itu meluncur dengan cepat mendekati perahu
yang ditumpangi Aditia sementara Aditia bersama penumpang- penumpang perahu yang lainnya masih asyik bercakap-cakap
didalam sana.
“Aku merasa tak enak......” desis Pomo pada kawannya
“Perasaanku begitu juga” jawab Samat. Keduanya terus
memperhatikan perahu besar yang semakin mendekat. Tiba-
tiba Samat berteriak keras. “Celaka! Pomo, lihat! Lihat bendera
yang berkibar ditiang sebelah muka dari perahu besar itu.
Tengkorak. Perahu bajak!”.
Pomo meletakkan tangan kirinya yang gemetaran dimuka
matanya dan memandang tajam ketiang muka sebelah atas dari
perahu besar disebelah sana. “Bajak laut......” desis Pomo
dengan nada cemas. Satu detik kemudian Pomo telah mengalih
layar, tapi pada detik itu pulalah dari kapal bajak yang
dibelakang mereka terdengar letusan meriam. Peluru meriam
itu jatuh diatas laut kira-kira lima meter dari lambung kanan
perahu Samat. Air laut melambung naik. Perahu kecil miring
kekiri. Pomo memegang kemudi dengan sedapat-dapatnya.
Perahu terus meluncur. Sekali lagi terdengar letusan meriam
dari kapal yang kini hanya tinggal sejauh seratus lima puluh
meter dibelakang mereka. Peluru meriam yang kedua ini jatuh
agak jauh sehingga perahu Samat hanya tergoncang sedikit saja.
Aditia bersama ketiga onang lainnya yang tadi asyik
bercakap-cakap didalam sana keluar dengan cepat untuk
menyaksikan apa jang terjadi.
“Perahu bajak!” kata Kuwana si pedagang Banjar setengah
berteriak dengan nada cemas ketakutan. Aditia memandang
kebagian kemudi. Kecepatan perahunya sudah sampai
kepuncak kecepatan perahu layar. Dia tahu bahwa walau
bagaimanapun perahu yang ditumpanginya itu tak akan
mungkin untuk dapat melarikan diri dari perahu bajak yang
jauh lebih besar dan meluncur dengan cepat itu, Disekitar sana
tiada terdapat sebuah pulau yang terdekat. Sekali lagi terdengar
letusan meriam, Peluru meriam memecah dua meter dimuka
perahu Aditia. Air laut membumbung tinggi. Perahu itu
terhambung keudara.
“Berpegangan dengan erat!” teriak Pomo sambil memegang
kemudi perahu dengan seerat-eratnya. Aditia bersama yang
lain-lainnya memegong setiap bagian perahu yang dapat
dicapainya saat itu.
Kapal bajak saat itu hanya tinggal lima puluh meter saja lagi
dari belakang mereka. Dari tiang menara muka kapal itu
terdengar teriakan salah seorang dari perompak laut itu :
“Berhenti! Barhenti kalau kalian mau selamat!”.
“Larikan terus. Walaupun kita berhenti nyawa kita tak akan
selamat!” teriak Kuwana pada Pomo. Perahu itu meluncur
terus. Air laut disekitar mereka berbuih-buih.
“Lepaskan meriam. Satu meter dari lambung kanan” teriak
pemimpin bajak dengan gusar ketika melihat perahu yang
dimukanya masih berusaha untuk melarikan diri. Sekali lagi
meriam dimuka kanan perahu bajak memuntahkan pelurunya.
Peluru itu meletus tepat sejarak satu meter dari lambung kanan
perahu Aditia. Air laut bergejolak dan memasuki perahu,
sedang perahu itu sendiri terbanting keras kesamping kiri. Air
laut tergenang dalam perahu. Masih untung perahu kecil itu
tidak terbalik karam.
“Sebaiknya kita berhenti saja!” teriak Aditia pada Pomo.
Walau bagaimanapun kita tak akan dapat malarikan diri!”.
“Tapi mereka akan membunuh kita semuanya!” balas Samat
berteriak.
“Lebih baik mati dalam berjuang dari pada mati karam
kedasar laut. Walaupun kita harus mati ditangan mereka tapi
kita telah berjuang dan memberikan perlawanan. Pomo,
turunkan layar!” teriak Aditia.
“Gila!” tukas Kuwana, “Kita hanya berenam orang. Mana bisa
melawan bajak-bajak yang sedemikian banyaknya?”.
“Tak ada yang tak mungkin didunia ini!” teriak Aditia. Pomo!
Lebih baik berhenti!”.
Pomo menurut. Perahu itu terapung-apung dipermainkan
ombak ditengah lautan terbuka, sementara kapal kepunyaan
bajak datang mendekati dari samping kanan. Kira-kira delapan
orang bajak yang berbadan tegap-tegap dengan kapak, golok
dan badik ditangan melompat dari dalam kapal kedalam perahu
kecil itu sehingga menjadi teroleng-oleng.
“Keluarkan semua harta dan barang dagangan yang kalian
bawa dan serahkan pada kami. Cepat!” perintah salah seorang
dari bajak-bajak itu. Kapak yang ditangannya ditimang-
timangnya.
“Kami bukan pedagang-pedagang. Kami sama sekali tak
membawa barang berharga apa-apa” terdengar suara jawaban.
Bajak-bajak itu sama menoleh kearah datangnya suara tadi dan
melihat bagaimana seorang pemuda berpakian serba putih,
berselempang kain sarung hitam bergaris-garis merah berdiri
dengan seenaknya sambil bersidekap tangan disamping kiri
perahu.
Bajak jang memberikan perintah tadi menyeringai.
Tangannya berhenti dari mempermain-mainkan kapak besar
itu dan kemudian dia melangkah mendekati Aditia.
“Kau tahu benda apa ini?” tanya si bajak sambil
mengacungkan mata kapak yang tajam itu kemuka hidung
Aditia. Dengan tersenyum sinis orang yang ditanya menjawab.
“Kalau aku tak salah benda ini bernama kapak. Benar?”.
“He...... he...... he......”, kekeh bajak laut itu sambil
memandang berkeliling pada kawan-kawannya yang lain. “Baru
kali ini aku menemui mangsa yang dalam keadaan seperti ini
masih bisa melawak!”. Kekehannya hilang dan dia memandang
pada Aditia kembali. Matanya menyorot geram. Dari atas palka
kapal kepunyaan bajak laut itu terdengar suara teriakan
pemimpin mereka. “Lekas bereskan pekerjaan kalian! Mengapa
harus pakai bercakap-cakap pula? Ganum! Jangan membuang- buang waktu!”.
Bajak yang berdiri memegang kapak dimuka Aditia yang
bernama Ganum memutar kepalanya memandang keatas palka
dimana pemimpinnya berdiri. “Tugas akan segera beres,
pemimpin! Tapi ketahuilah bahwa diperahu bejat ini terdapat
seorang yang pandai melawak. Sebentar lagi mulutnya akan
kami sumpal dengan gagang kapak ini!”.
Ganum memandang tajam pada Aditia. Menyeringai seketika
dan membuka mulutnya. “Kau ingin pindah dunia?!”.
“Kalau dunianya lebih indah, ingin sekali”, jawab Aditia
sambil menyeringai pula, meniru-niru lagak Ganum berbicara.
Kapak yang ditangan Ganum melayang kebatang leher
pendekar berbaju putih. Aditia masih menyeringai ketika
tangan kirinya bergerak menangkap pergelangan tangan
Ganum yang memegang kapak besar itu. Ganum menjerit keras
ketika merasakan pergelangan lengannya seperti hendak
puntung dijepit oleh jari-jari tangan lawannya. Mau tak mau
kapak yang ditangannya terlepas. Sambil mendorong Ganum
kebelakang sehingga bajak laut itu jatuh terduduk dilantai
perahu. Aditia dengan tangan kanannya menyambut kapak
yang jatuh tadi. Kemudian dengan kedua tangannya, seperti
seorang anak kecil mematahkan lidi, begitu pun dia
mematahkan gagang kapak itu dihadapan orang banyak.
Ganum yang saat itu masih terduduk dilantai perahu jadi
terkejut. Begitu juga semua orang yang berada ditempat itu.
“Keroyok!” terdengar jerit salah seorang perompak.
“Bunuh semua bangsat-bangsat ini!” teriak Ganum sambil
bangkit berdiri. Dari balik bajunya dikeluarkannya sebuah
badik dan semua bajak-bajak yang berada diatas perahu itu
segera mengeroyok Aditia, Samat, Pomo serta ketiga orang
penumpang lainnya tak tinggal diam. Dengan senjata kayu
panjang di tangan, Samat dan Pomo mementung bajak-bajak
yang lengah. Suwantara dan Mirta masing-masing
mengeluarkan pisau-pisau besar dari balik pakaian mereka,
sedang Kuwana si pedagang kain mengambil gunting besar dari
saku celananya. Dengan gunting itu dia mempertahankan diri
dari serangan-serangan bajak-bajak laut itu. Tapi tak lama.
Ketika Kuwana baru saja menikam salah seorang bajak yang
menyerangnya, kawan bajak yang lain menamatkan riwayatnya
dengan sebuah golok besar. Kuwana terhuyung-huyung. Darah
kental menyembur dari lehernya yang terluka hebat. Dan
sebelum tubuhnya mencium lantai perahu, nyawanya sudah
tiada lagi.
Beberapa orang bajak lagi, atas perintah pemimpin mereka
segera melompat kedalam perahu Samat untuk membantu
kawan-kawan mereka. Perahu kecil itu bergoyang hebat. Samat
dan Pomo dengan kayu pementung mempertahankan diri
sedapat-dapatnya. Seorang bajak muda yang lengah tak ampun
lagi jatuh rubuh, menjerit dahsyat. Kepalanya rengkah
dihantam kayu pementung yang ditangan Pomo. Seketika
juga, empat orang bajak segera mengurung Pomo dan Samat.
Satu orang memegang kapak sedang yang tiga lainnya
bersenjatakan golok panjang
Setelah bertahan dengan gigihnya akhirnya kedua anak
perahu itu mulai terdesak. Sambaran-sambaran kapak dan
golok maut mengurung mereka dengan rapat sementara perahu
yang kecil itu semakin menjadi-jadi olengnya. Dilain pihak, empat orang mengeroyok pendekar kita. Salah seorang
diantaranya adalah Ganum. Orang bersenjatakan badik besar.
Seranganya hebat mematikan. Semuanya itu dilancarkannya
Setelah bertahan dengan gigihnya akhirnya kedua anak
perahu itu mulai terdesak. Sambaran-sambaran kapak dan
golok maut mengurung mereka dengan rapat sementara perahu
yang kecil itu semakin menjadi-jadi olengnya. Dilain pihak, empat orang mengeroyok pendekar kita. Salah seorang
diantaranya adalah Ganum. Orang bersenjatakan badik besar.
Seranganya hebat mematikan. Semuanya itu dilancarkannya
dengan amarah yang meluap-luap. Sampai jurus yang ketiga
Ganum dan kawan-kawannya masih belum dapat mendesak
pemuda berbaju putih itu.
“Kurung terus yang rapat!” teriak Ganum. Dia maju
selangkah kemuka. Badik ditangannya bergerak cepat kian
kemari. Begitu juga ketiga orang kawannya. Pemuda kita benar- benar terkurung hebat kini. Bagi seorang yang berkepandaian
menengah adalah jauh dari mungkin untuk dapat mengelakkan
diri dari kurungan empat penjuru maut itu. Tapi tidak begitu
dengan muridnya Eyang Wilis. Aditia tahu bahwa dia tak boleh
membang-buang waktu. Dia membentak keras. Tubuhnya
berkelebatan dan dua orang bajak yang mengurungnya menjerit
keras, terpental keluar dari perahu. Masuk kedalam laut untuk
tidak timbul-timbul lagi. Ganum menjadi kalap. Sambil
menikamkan badiknya bertubi-tubi, dia memberi isyarat pada
kawan-kawannya yang diatas perahu besar. Empat orang lagi
turun melompat kebawah. Sebelum mereka mencapai perahu
Aditia. Aditia telah berhasil lagi merobohkan kawan Ganum
yang pertama. Kini lima orang mengurungnya. Goncang perahu
tak terkirakan lagi. Kelima orang pengurungnya menyerang
dengan serentak. Dari muka dua orang. Ganum dari samping
kiri. Dua orang dari belakang dan dari samping. Aditia
merunduk dengan cepat. Serangan kelima musuh-musuhnya
sekaligus dapat dielakkan. Tapi Ganum tidak bodoh. Begitu
badiknya mengena tempat kosong, kaki kanannya segera
bekerja. Secepat kilat kakinya menendang kearah tenggorokkan
Aditia. Tapi celaka. Dengan sigap lawannya berhasil menangkap
kaki kanannya itu. Ganum terjerumus kebelakang kehitangan
keseimbangan. Aditia menangkap kakinya yang satu lagi. Dan
satu detik kemudian permainan lama dari Aditia segera keluar.
Dengan memegang erat-erat kedua kaki Ganum, Aditia
membuat tubuh laki-laki itu seperti titiran, Dua orang bajak
yang pertama roboh tak sadarkan diri ketika dada, dan
kepalanya terbentur keras dengan tubuh Ganum yang diputar- putarkan Aditia. Sedang Ganum sendiri menjerit kesakitan
setinggi langit. Dua orang bajak yang lainnya yang tadi
mengurung Aditia mengeluarkan seruan tertahan dan mundur
beberapa langkah kebelakang. Salah seorang mundur
terlampau jauh dan tak menyadari bahwa saat itu dia berada
didalam perahu. Bajak itu terperosok dan jatuh kedalam air.
Kawannya yang seorang lagi melompat kedalam perahu besar
dengan ketakutan. Seluruh anggota bajak itu melihat dengan
mata melotot dan mulut ternganga apa yang terjadi dihadapan
mereka. Benar-benarkah orang yang berbaju putih itu tengah
melakukan perbuatan yang tak dapat dipercaya mereka?
Apakah mereka tidak bermimpi melihat untuk pertama kalinya
bagaimana seorang laki-laki mempergunakan tubuh seorang
manusia untuk mementungi manusia-manusia lainnya? Tiga
orang bajak yang mengeroyok Suwantra dan Mirta dalam
ketakutannya segera melarikan diri keatas kapal menyusul
kawannya. Dalam keadaan terluka pada bahunya, Suwantra
dengan cekatan masih dapat merobohkan salah seorang bajak
yang hendak melarikan diri itu. Bajak-bajak yang tadi
mengeroyok Pomo dan Samat juga tak mau ambil risiko dari
‘akrobat maut’ itu. Mereka segera pula, memanjat keatas
menyelamatkan diri. Dan kesempatan ini dipergunakan dengan
sebaik-baiknya oleh Pomo dan Samat. Masing-masing mereka
dengan sangat enaknya menghantam punggung-punggung
bajak yang hendak melarikan diri itu sampai babak belur. Tak
ada seorang bajakpun kini yang berada diatas perahu kecil itu.
Aditia terus memutar-mutar tubuh Ganum diatas kepalanya.
Dia mengerling keatas kapal, untuk mengetahui dimana
pemimpin lanun itu berada saat itu. Tiba-tiba semua mata
melihat tubuh Ganum melesat keatas kapal. Kalau si pemimpin
bajak tidak cepat-cepat merundukkan kepalanya sudah dapat
dipastikan bahwa Ganum akan membenturnya dengan keras.
Dua orang bajak yang berdiri dibelakang pemimpin mereka dan
tak sempat mengelakkan diri terpelanting keras kelantai perahu
begitu tubuh Ganum menghantamnya dengan keras. Dan
Ganum sendiri sudah lama menjadi mayat! Kepalanya rengkah,
tulang-tulang tangan dan tulang-tulang iganya patah-patah dan
remuk-remuk.
Pemimpin bajak laut dan juga semua orang yang berada
disitu termasuk Pomo. Samat, Mirta dan Suwantra sege
memaklumi bahwa pemuda berbaju putih dan berwajah
tampan itu bukan orang sembarangan. Ilmu kesaktiannya
benar-benar mengagumkan.
Dari atas kapal kepunyaan bajak terdengar suara pemimpin
bajak. “Pendekar yang berbaju putih, kalau kau benar-benar
jantan, naiklah keatas sini!”.
Aditia memandang keatas perahu bajak. Kemudian melirik
pada Pomo dan berkata : Kembangkan layar dan menjauhlah
dari sini. Tunggu aku......”. Pomo dengan cepat segera
mengerjakan apa yang dikatakan Aditia.
Dari atas lambung kapal terdengar lagi teriakan pemimpin
bajak. “Manusia yang berbaju putih tunjukkan kejantananmu.
Mari naik kesini! Mari teruskan perhitungan yang......”. Kata- kata pemimpin bajak itu terhenti sampai disitu karena dengan
kecepatan yang luar biasa dan hampir tak satu matapun yang
melihatnya, melompat keatas perahu besar dan tahu-tahu telah
berada dihadapan pemimpin bajak dengan bertolak pinggang.
”Kau punya sedikit ilmu juga heh......?” kata pemimpin bajak
dengan bertolak pinggang.
“Kau telah saksikan sendiri. Dan sekarang apa maumu?”
tanya Aditia menantang.
“Apa mauku...... he...... he. Baik! Ikuti aku!”. Kedua orang itu
berjalan ketengah-tengah kapal. Pemimpin bajak menghentikan
langkahnya. Dia melambaikan tangannya memberi isyarat pada
anak-anak buahnya. Dan dengan serta merta semua bajak-bajak
itu membentuk sebuah lingkaran besar. Aditia dan pemimpin
mereka persis ditengah-tengah lingkaran.
Pendekar kita tersenyum sinis dan memandang tajam pada
orang yang dimukanya. Tampang pemimpin bajak itu sungguh
tidak enak untuk dilihat. Hidungnya besar tapi melesak
kedalam. Matanya yang sebelah kiri lebih kecil dari yang
sebelah kanan. Bibirnya tebal. Kumisnya lebat dan kasar, begitu
juga cambang bawuknya. Tubuhnya pendek sedikit dari Aditia
tapi lebih kesat dan lebih kekar sedang kulitnya hitam pekat.
Pemimpin bajak ini mengenakan baju kaos putih bergaris-garis
hitam besar. Bercelana panjang sempit dan sebuah kain sarung
bugis melilit pinggangnya. Disisi kirinya tergantung sebuah
pedang besar bergagang perak yang berukiran tengkorak
manusia.
Aditia menyeringai dan bertanya. “Sudah...... Kau tunggu
apalagi?”.
“Kau tahu kau berada dimana saat ini?” tanya si pemimpin
bajak dengan nada mengejek. Aditia mengangguk.
“Dan kau tahu kau berhadapan dengan siapa kini?”.
Aditia mengangkat bahunya kemudian membuka mulut
dengan seenaknya. Dengan pemimpin bajak yang siat
Air muka pemimpin bajak itu berubah menjadi semakin
buruk. “Bagus...... kau akan lihat, siapa yang sial diantara kita
nanti...... kalau saja otakmu masih bisa berpikir sebelum
nyawamu melayang keneraka! He...... he......”.
Si pemimpin bajak meninggikan tangan kanannya,
mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya.
“Apa pula artinya ini......?” kata Aditia bertanya-tanya dalam
hatinya. Tak berapa lama kemudian tiga orang laki-laki
berwajah buruk seram menyeruak diantara bajak-bajak laut itu,
melangkah ketengah-tengah lingkaran. Ketiganya berkepala
botak, berbadan kukuh tegap, dan hanya mengenakan celana- celana pendek yang berwarna biru tua. Ditangan masing- masing tergenggam sebuah kapak besar.
Aditia mengerling pada ketiga orang itu. Dia sudah tahu apa
maksud si pemimpin bajak. “Hanya tiga orang........?”, ejek
Aditia.
”Kau takut?!” balas mengejek si pemimpin bajak.
“Jadi inikah yang kau sebutkan dengan kejantanan itu?”.
“Tak usah tanya panjang lebar. Hadapi orang-orangku,
perlihatkan kejantananmu!”, si pemimpin bajak melambaikan
tangannya, kemudian melangkah ketepi lingkaran sementara
tiga manusia berkepala botak tadi berpencaran dan mendekati
Aditia dari tiga jurusan. Semua orang menahan nafas. Dari
kejauhan terdengar suara mesin perahu motor yang
dikemudikan Pomo.
Aditia berdiri dengan waspada. Kedua kakinya terbuka lebar,
lututnya menekuk sedikit sedang tangannya, tergantung lemah
dikedua sisinya.
“Keluarkan senjatamu” teriak pemimpin bajak.
“Aku tidak punya senjata......” desis Aditia.
Pemimpin bajak mengambil golok besar kepunyaan salah
seorang anak buahnya dan melemparkan senjata itu kearah
Aditia. Pemuda kita cukup memaklumi bahwa pemimpin bajak
itu tengah menguji kepandaiannya. Dengan secara acuh tak
acuh Aditia menangkap gagang golok besar itu. Begitu senjata
tersebut tergenggam ditangannya, ketiga manusia berkepala
botak yang mengurungnya menyerang dengan serentak.
“Bunuh”.
“Cincang!”.
“Tebas batang lehernya!”. Bermacam-macamlah teriakan
bajak-bajak laut yang berdiri ditepi lingkaran menyaksikan
baku kapak itu.
TIGA
SAMBIL merundukkan kepalanya mengelakkan sambaran
kapak musuh yang dibelakangnya, Aditia imenangkis kapak
lawan yang disamping kanan dengan golok yang ditangannya.
Kedua senjata besar itu beradu keras. Aditia memukul lengan
lawan yang datang dari samping kiri tapi meleset. Lawannya
dengan sigap menggeser kedudukan kakinya sedang sambaran
kapaknya yang lewat percuma diputarnya sedemikian rupa dan
bersamaan dengan kawannya yang disamping kanan dia
membacokkan senjata dengan dahsyat. Tangan kanan Aditia
bergerak. Golok tajam yang ditangannya memupus puntung
kedua gagang kayu dari kapak-kapak kedua lawan yang
dihadapannya itu. Kedua orang yang berkepala botak itu
melompat mundur kebelakang sambil mengeluarkan seru
tertahan. “Kapak!” teriak salah seorang dari keduanya. Dua
buah kapak segera dilemparkan bajak-bajak laut dari tepi
katangan yang dengan cekatan dan cepat ditangkap oleh kedua
orang itu. Sementara Aditia mengelakkan satu sambaran deras
dari lawan yang seorang lagi, kedua manusia botak lainnya
telah mengurungnya kembali. Ketiga orang itu berputar-putar
beberapa lamanya. Tiba-tiba dengan sama-sama membentak
keras ketiganya menyerang. Yang dimuka kanan merunduk
menghantamkan kapaknya kearah lambung Aditia. Yang
dibelakang memapak punggungnya sedang yang disamping kiri
membabatkan senjatanya kebahu Aditia. Walaupun sudah siap- siap sejak semula dengan ilmu kebalnya, namun Aditia sampai
saat itu masih belum mau untuk menonjolkan kehebatannya.
Dengan sigap dia mengelakkan ketiga sambaran kapak itu
dengan cara yang benar-benar lihay mengagumkan, bahkan
salah seorang dari ketiga penyerangnya terpaksa terhuyung- huyung kebelakang dengan perut mual kena tendangan kaki kiri
Aditia.
“Ayo, jangan mundur Musto. Serang kembali! Bunuh!” teriak
salah seorang bajak memberi semangat pada kawannya yang
berkepala botak yang bernama Musto yang bar saja mendapat
tendangan keras pada perutnya itu.
Musto menggenggam kapak besarnya erat-erat dan maju
kearena pertempuran kembali. Ketiga orang itu bergerak cepat
kini. Tubuh mereka yang besar-besar itu berkelebatan enteng
kian kemari. Permainan kapak mereka semakin lama semakin
rapat. Aditia melompat kian kemari. Dua serangan dari
belakang dapat dielakkannya dengan muduh tapi tak terduga,
setelah serangannya gagal, Gembul salah seorang dari ketiga
lawan Aditia membungkukkan tubuhnya mengirimkan
tendangan keperut Aditia bagian bawah. Aditia melipatkan
lutut kirinya untuk menangkis serangan ganas itu, tapi dengan
cepat Gembul menarik kakinya kembali. Ternyata tendangan
itu hanyalah tipuan semata-mata. Dan bersamaan dengan itu
kembali kapaknya memapak kearah kepala Aditia dari samping
sebelah atas. Dengan golok yang ditangannya Aditia menangkis
serangan itu sedapat-dapatnya. Kedua mata senjata tajam itu
beradu keras. Kapak yang ditangan Gembul terlepas mental
sedang golok besar yang ditangan Aditia patah dua, potongan
sebelah bawah masih tergenggam erat ditangannya. Meskipun
senjatanya telah puntung, namun ketika melihat lawannya
sedikit lengah dalam gebrakan yang seru itu, Aditia
menusukkan Patahan golok itu kelambung Gembul. Gembul
merintih dan terhuyung-huyung kebelakang. Tak ada waktu
bagi pendekar gunung Wilis untuk melihat bagaimana nasib
musuhnya selanjutnya karena dia harus menyelamatkan diri
pula dari gempuran kapak yang datang bertubi-tubi dari dua
orang lawannya yang lain yaitu Musto dan Jangkreng.
Menghadapi dua orang musuh ini kini Aditia bisa bergerak
dengan seenaknya. Dengan tangan kosong serangan-serangan
kedua orang itu dihindarkannya. Musto dan Jangkreng
mengeluarkan seluruh tenaga dan kekuatannya. Kapaknya
menyambar kian kemari. Sekali, karena sambaran goloknya
kapaknya mengenai tempat kosong, Jangkreng mendudu
terhuyung-huyung kemuka. Tangan kanan Aditia bergerak
menjambak bahu kanan laki-laki itu, mencengkeramnya
dengan erat dan menariknya kemuka dengan sekuat tenaga.
Jangkreng jatuh terjerembab keras dengan muka lebih dahulu
menyerosot dilantai papan yang kasar. Hidung dan pipinya
lecet memerah. Dan mukanya yang buruk itu menjadi semakin
buruk. Dengan darah mendidih dan geram menahan sakit.
Jangkreng berdiri dengan sedikit terhuyung-huyung, memutar
tubuhnya kembali tapi sial! Sambaran kapak Musto yang
datang dengan hebat membuat Aditia terpaksa merunduk.
Posisi Jangkreng berdiri dan posisinya sendiri saat itu adalah
sedemikian tepatnya untuk mengirimkan satu tendangan
mematahkan. Kaki kanan Aditia seperti mempunyai per
bergerak cepat keperut Jangkreng. Jangkreng coba untuk
mengelak. Tapi karena keadaan tubuhnya belum lagi seimbang
maka usahanya untuk itu sia-sia, sebaliknya tubuhnya jadi
menekuk kemuka sehingga tendangan Aditia yang seharusnya
mampir diperutnya kini bersarang didadanya. Jangkreng
memekik keras. Nafasnya sesak, dia terbatuk beberapa kali dan
darah kental keluar berhamburan dari dalam mulutnya dan
pada saat itu juga jantungnya berhenti berdetak. Tubuhnya
tergelimpang kelantai kapal tiada bergerak-gerak lagi.
Kini hanya tinggal Musto satu orang yang harus dihadopi
Aditia. Laki-laki botak ini tampak ragu-ragu. Dia berputar- putar beberapa kali. Aditia melangkah dengan tenang
mendekati Musto. Tiba-tiba dia melompat menangkap leher
Musto dengan tangan kanannya. Lawannya yang tercekik itu
mengayunkan kapaknya keperut Aditia. Sebelum senjata itu
sampai diperutnya dengan cepat Aditia memukul lengan yang
memegang kapak itu dengan tepi telapak tangan kirinya. Musto
merasakan seperti dipukul dengan sepotong besi. Dia menjerit
dan mundur kebelakang tapi tak bisa karena lehernya masih
tercekik dalam tangan kanan Aditia. Kapaknya jatuh dan dia
berusaha untuk melepaskan cekikan yang semakin lama
semakin keras itu, namun sia-sia. Tiba-tiba, sambil membentak.
“Huuuuppp......”, dengan kedua buah tangannya Aditia
mengangkat tubuh Musto yang besar kukuh itu seperti seorang
anak kecil yang memomong boneka dan kemudian dengan
sekuat tenega dibantingkannya tubuh Musto keatas geladak
kapal itu. Musto jatuh dengan kepalanya yang botak lebih
dahulu mencium lantai kayu yang keras, persis dihadapan
pemimpin bajak. Kepalanya rengkah. Darah merah dan air
benaknya meleleh membasahi lantai. Untuk pertama kalinya
bajak-bajak yang sudah melihat orang-orang yang mati
terbunuh merasa bergidik dan berdiri bulu tengkuknya ketika
melihat cara mati kawan mereka itu.
Seluruh sudut kapal bajak diliputi kesunyian yang
mencengkam. Tak seorangpun yang bergerak, tak seorangpun
yang membuka mulut. Akhirnya sambil mengangguk- anggukkan kepalanya, pemimpin bajak laut itu bergerak
meninggalkan tempatnya, melangkah mendekati Aditia. Saat
itu barulah anak-anak buahnya seperti orang yang baru sadar
dari mimpi masing-masing. Mereka berteriak dengan hiruk
pikuk.
“Cincang bangsat itu!”.
“Gantung!”.
“Bakar sampai tulangnya menjadi arang!”.
Pemimpin mereka melambaikan tangan menyuruh bajak- bajak itu berhenti dari berteriak-teriak. Kembali keadaan
menjadi sunyi senyap. Setelah memandang tajam beberapa
lamanya kemuka Aditia, bertanyalah pemimpin bajak itu. “Kau
siapa sesungguhnya?”. Aditia tersenyum tapi sama sekali tak
memberikan jawaban. “Kau dengar pertanyaanku?!”
membentak pemimpin lanun tersebut dengan gusar.
“Apakah penting bagimu siapa adanya aku?” ujar Aditia
kemudian.
“Sompret!” maki si pemimpin bajak dengan gusar.
“Kemarikan tali itu!” katanya kemudian piala salah seorang,
anak buahnya menunjuk kesegulung tali yang panjangnya tak
lebih dari dua meter. Orang yang diperintah segera
mengerjakan apa yang sudah disuruhkan pemimpinnya.
“Kau hendak menggantungku......?” desis Aditia kepada
pemimpin bajak yang berdiri meminang-minang gulungan tali
ditangannya. Setelah menyeringai baru yang ditanya
memberikan jawaban. “Aku tidak akan menggantungmu secara
pengecut seperti yang kau duga semula sobat. Tapi satu hal, kau
harus serahkan nyawamu ketanganku!”.
“Maksudimu......?”, tanya pemuda kita pula.
“Mari kita bertempur secara jantan! Secara laki-laki!”.
“Secara jaatan seperti pengeroyokan tadi?” ejek Aditia sambil
memencongkan mulutnya dan mengeluarkan suara mendengus
dari lobang hidungnya.
“Aku hanya menguji kepandaianmu tadi!”.
“Menguji atau bermaksud hendak membunuhku?!” tukas
Aditia.
“Mungkin kedua-duanya” jawab si pemimpin bajak dengan
menyeringai. Gulungan tali yang ditangannya dibukanya
dengan cepat. Salah satu ujungnya diikatkannya kepinggangnya
sedang ujung yang lain dilemparkannya kehadapan Aditia.
“Ikatkan kepinggangmu. Mari kita bertanding secara laki-laki!
Dan ingat, nyawamu ada ditanganku!”.
Aditia mengikatkan ujung yang dilemparkan kepadanya
kepinggangnya.
“Kau sudah siap?” desis si pemimpin bajak. Aditia
mengangguk tapi dalam hatinya dia bertanya-tanya, berkelahi
cara apa pula yang dipakai oleh pemimpin lanun ini? Tiba-tiba
si pemimpin bajak menarik tali. Aditia terdorong kemuka dan
tinju kiri lawannya menghantam dadanya, menimbulkan suara
yangg nyaring sekali. Semua anak bush bajak itu tertawa
berkekehan dan mengejek Aditia. Aditia sendiri merasakan
bagaimana dadanya yang kena terpukul itu sangat perih sekali.
Agaknya pemimpin bajak ini mempunyai ‘isi’ juga.
“Sebelum kita bertanding, sebaiknya beri tahu dutu siapa
namamu, sobat, supaya kalau kau mampus ditanganku sebentar
lagi, aku benar-benar akan merasa puas!”.
“Namaku tak usah kau ketahui, sebaliknya katakan siapa
namamu!” balas Aditia. Air muka pemimpin bajak itu menjadi
berubah dengan serta merta.
“Jangan terlalu konyol dan sesumbar disini, keparat.
Keluarkan senjatamu!” bentak pemimpin bajak itu sambil
mencabut badik besarnya dari balik ikat pinggangnya. “Kalau
kau ingin tahu siapa aku, inilah dia Daeng Pasewang, manusia
yang ditakuti dilaut dan didaratan, orang Bugis asli! Keluarkan
senjatamu cepat!”.
“Aku sama sekali tak punya senjata apa-apa” jawab Aditia
sambil memperhatikan senjata yang ditangan lawannya. Sekali
lihat saja dia sudah tahu bahwa senjata yang dimiliki Daeng
Pasewang, pemimpin bajak itu bukan sembarangan. Gagangnya
terbuat dari perak asli sedang ujung badik itu tampak seperti
mengeluarkan sinar kebiruan. Aditia cukup memaklumi, bahwa
senjata-senjata kepunyaan orang-orang Bugis sangat hebat dan
berbahaya. Jangankan sampai terluka parah, tergores sedikit
sajapun bisa menimbulkan maut, karena racun yang diendap
oleh senjata tajam itu sungguh-sungguh keras dan berbahaya.
“Sirin, berikan belatimu pada orang ini!” teriak Daeng
Pasewang pada salah seorang anak buahnya. Sirin segera
mencabut belati yang tersisip dipinggangnya dan
melemparkannya kepada Aditia. Setelah Aditia menggenggam
senjata itu terdengar suara Daeng Pasewang. “Aku tahu, sobat.
Kau berdusta. Aku sama sekali tak percaya kalau kau tak
mempunyai senjata. Mari kita mulai!”.
Daeng Pasewang menarik tali yang menghubungkan mereka
satu sama lain. Tapi kali ini Aditia tidak berada dalam keadaan
lengah lagi. Sekuat apapun musuhnya menarik tali itu namun
tubuhnya tak bergerak barang seujung rambutpun. Keduanya
berputar-putar, Tali yang mengikat pinggang mereka meregang.
Mendadak, Aditia melompat kebelakang. Tapi lamanya hanya
tertarik sedikit saja. Tubuh Daeng Pasewang terasa seperti
ribuan kilo beratnya. Rupanya bajak ini juga mempunyai ilmu
memberatkan tubuh seperti yang dimiliki pendekar kita, namun
keampuhannya tidak sehebat Aditia.
Sambil memegang tali yang meregang dengan tangan
kirinya, Daeng Pasewang berputar kekiri, kemudian dengan
perlahan dia menggeser kakinya maju. Aditia memperhatikan
gerakan lawannya dengan waspada
“Rasakan ini!” teriak Daeng Pasewang dengan keras.
Tubuhnya tampak seperti hendak melompat kemuka
menyerang lawannya. Aditia menggerakkan tangan kirinya siap
untuk menangkis dan memukul tangan Daeng Pasewang yang
memegang senjata. Tapi bentakan dan gelagat Daeng Pasewang
hanya merupakan tipuan belaka. Ketika dilihatnya lawannya
menaikkan tangan kirinya, dengan cepat dia memiringkan
tubuhnya kemuka. Badik beracun yang ditangannya
menyambar kedada Aditia. Aditia tahu kalau dia sudah kena
ditipu. Sambil menjatuhkan diri dia coba menangkis dengan
tangan kanannya. Tapi tidak keburu. Satu-satunya jalan dia
terpaksa menggulingkan diri. Namun hanya satu gulingan,
tubuhnya tertahan oleh tali. Tapi dia berhasil menyelamatkan
diri dari tikaman yang berbahaya itu. Aditia berdiri dengan
cepat. Dia tahu bahwa lawannya mempunyai tipuan-tipuan
yang licik. Untuk selanjutnya dia harus waspada dengan
gerakan maupun bentakan Daeng Pasewang.
Kedua lawan itu berhadap-hadapan kembali. Keduanya
sama-sama melangkah mendekat. Ketika Daeng Pasewang
melompat kekiri, Aditia tidak menimbulkan reaksi dan ternyata
apa yang diduganya semula benar. Begitu kedua kakinya
menjejak lantai kembali tiba-tiba Daeng Pasewang meleset
kekanan, badik yang ditangannya menyambar deras
menimbulkan angin yang dahsyat. Aditia cepat bersurut
kebelakang tapi lawannya menarikkan tali dengan seluruh
kekuatannya. Aditia berdiri tak bergerak-gerak dan hal itu
menyebabkan dia terpaksa harus menggerakkan tangannya
lebih cepat untuk menangkis lengan lawan. Kedua lengan yang
sama-sama memegang senjata itu beradu dengan keras. Daeng
Pasewang menyeringai kesakitan sedang Aditia merasakan
lengannya pegal. Sebelum musuhnya mulai melancarkan
serangannya Aditia mendahului. Tali ditariknya, Daeng
Pasewang terbawa kemuka. Kaki kanan Aditia bekerja mencari
sasaran diperut lawannya. Tapi dengan sigap Pasewang
melompat keatas. Aditia memburu. Belati yang ditangannya
kini yang mencari sasaran. Dalam keadaan masih mengapung
diudara itu, Pasewang menendang tangan kanan Aditia
sehingga pemuda kita terpaksa menarik tangannya dengan
cepat sebelum terlambat. Kemudian sambil turun kembali
pemimpin bajak itu mengirimkan satu sampokan dahsyat
kearah tengkuk Aditia. Sekali lagi Aditia mengelakkan serangan
itu dengan memundurkan dirinya satu langkah kebelakang.
Dengan lewat dihadapannya dan sebelum musuhnya sempat
memutar tubuh tinju kiri Aditia berhasil menghantam
punggung kanan laki-laki itu! Hampir saja senjata ampuh yang
ditangan Pasewang terlepas karena demikian kerasnya jotosan
yang disertai tenaga dalam itu. Sambil mengimbangi tubuhnya
Pasewang coba memutar tubuhnya. Tapi dia berbalik kearah
yang salah dan dengan sedikit lengah. Belati yang ditangan
Aditia menyambar cepat kearah dadanya persis ditempat
jantungnya, Tapi apa yang terjadi adalah sama sekali tak diduga
Aditia. Jangankan terluka, bertanda sedikitpun tidak dada
Daeng Pasewang yang kena tusukan belati itu, cuma baju
kaosnya yang robek.
“Ha.......... ha........ kau terkejut?! Ayo silahkan tikam sepuas
hatimu!” ejek pemimpin bajak itu dengan menyeringai. Tiba-
tiba seringainya lenyap dan bersamaan dengan itu dia melesat
kemuka. Tangan kirinya disilangkannya didada, lutut kiri
dilipat kebelakang, kaki kanan menendang bersamaan
gerakannya dengan sambaran badik yang ditangannya. Banar- benar satu serangan yang hebat dan sukar untuk diancarkan
maupun untuk ditangkis.
Tak mungkin bagi Aditia untuk mengelakkan serangan itu
dengan merunduk karena lawannya telah menarik tali sehingga
meregang. Mau tak mau dia harus bentrokan dengan
musuhnya. Aditia mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya.
Untuk menangkis hantaman lutut kiri Pasewang, Aditia melipat
pula lutut kanannya. Sambaran badik ditangkisnya dengan
belati sedang pukulan tangan kiri Pasewang disambut dengan
tangan kiri. Begitulah dengkul beradu dengkul, senjata beradu
senjata dan tangan beradu tangan sehingga menimbulkan suara
yang nyaring sekali.
Kedua orang itu sama-sama terpelanting kebelakang. Belati
yang ditangan Aditia patah dua. Pasewang merasakan seluruh
badannya sakit-sakit dan pandangan matanya sedikit
berkunang-kunang. Dia berdiri nanar beberapa lamanya. Diam- diam Aditia mengagumi kekuatan tenaga dalam lawannya itu.
Begitu kekuatan tubuhnya pulih seperti semula, Daeng
Pasewang tak membuang-buang waktu lagi. Badik ditangannya
menyambar kian kemari. Tubuhnya berkelebatan. Senjata dan
orang sama-sama menimbulkan suara angin bersiuran. Secepat
gerakan Pasewang, mengirimkan serangan-serangan mautnya,
secepat itu pula bahkan lebih cepat Aditia berkelebat seperti
bayangan mengelakkan badik beracun itu dengan tangan
kosong. Ketika tubuh Aditia hampir tak kelihatan sama sekali
karena sangat cepatnya gerakannya, Daeng Pasewang akhirnya
menjadi lelah sendiri sedang musuh yang diserangnta tak tahu
ada dimana. Sebentar dimuka, sebentar disamping dan kadang- kadang menyelinap kebelakang. Kalau saja gerakannya tidak
cepat dia sudah dapat memastikan bahwa entah sudah berapa
kali dia kena terpukul.
Daeng Pasewang berdiri tanpa bergerak-gerak sementara
dilihatnya lawannya berkelebat kian kemari. Tiba-tiba terasa
sambaran angin datang dari sampmg kirinya. Dengan waspada
dia mengelak kebelakang, tapi dia tertipu karena mendadak
dengan sangat cepat sambaran angin itu berubah dan kini
datang dari belakang. Tiada kesempatan bagi pemimpin bajak
itu untuk mengelakkan diri karena dia telah keburu terlanjur
mundur kebelakang. Pasewang hanya menunggu apa yang
bakal diterimanya. Dua detik kemudian pemimpin bajak itu
menjerit keras. Tubuhnya terhuyung-huyung kemuka dan jatuh
menelungkup dilantai. Tengkuknya tampak kemerah-merahan.
Semua anak buah bajak laut itu memandang ke pemimpin
mereka dengan hati cemas dan takut. Cemas kalau pemimpin
mereka tidak lagi bernafas alias mati. Takut kalau-kalau giliran
mereka pula kini yang harus menerima hantaman dari pemuda
sakti tak dikenal itu.
Aditia memperhatikan tubuh Pasewang yang melingkar
dilantai kapal. Dilihatnya laki-laki itu menggerakkan kakinya.
Kemudien mengangkat kepalanya dan akhirnya bangkit dengan
perlahan-lahan. Diam-diam Aditia mengagumi kehebatan
pemimpin bajak itu. Pukulan tapak besi berapinya hanya
menghanguskan kuduk laki-laki itu saja dan tak sampai
mematikannya. Pasewang sendiri sambil berdiri dengan
terhuyung-huyung memandang lawannya dengan mata
membelalak. Baru sekali itu dia menerima pukulan yang sangat
hebat. Melemahkan seluruh anggota tubuhnya dan hampir saja
membuat dia jatuh pingsan.
“Kau siapa?!” desisnya. “Kau murid siapa?!” sambungnya
kemudian.
Aditia tersenyum. “Mengapa kau tanyakan hal itu? Kalau kau
belum puas majulah kembali. Aku masih punya waktu untuk
melayani manusia semacam kau!”.
Darah Daeng Pasewang jadi mendidih kembali, membuat
kekuatannya timbul lagi. Setelah mengatur jalan pernafasannya
dia melompat kemuka dan menyerang dengan ganas. Pasewang
mengeluarkan ilmu simpanannya yang oleh anak buahnya
diberi julukan ‘naga berkepala tujuh mengamuk’. Dan nama
yang diberikan itu memang sungguh tepat sekali. Tubuh
Pasewang berkelebat cepat. Tangan dan kakinya bergerak ganti
berganti, menyambar mengirimkan tikaman-tikaman serta
jotosan-jotosan dahsyat. Sekali-kali tali yang mengikat
pinggangnya dan pinggang Aditia ditariknya dengan kuat.
Kagum juga Aditia melihat cara bertempur musuhnya itu. Kalau
lawan yang hanya berkepandaian kelas menengah menghadapi
Pasewang saat itu niscaya tubuhnya sudah kena dicelaki oleh
Pasewang. Aditia sendiri hampir beberapa kali berhasil hendak
dikerumusnya. Akhirnya Aditia dengan matanya yang tajam itu
berhasil juga melihat kelemahan ilmu yang dipakai lawannya.
Tangan-tangan Pasewang yang berkelebatan kian kemari
seperti ular yang berkepala banyak yang hendak menyambar
musuhnya dalam ilmu pukulan itu hanya dipakai semata-mata
untuk menyerang sehingga kalau diserang oleh lawan daya
pertahanannya tidak seberapa ampuh dan hal ini dibuktikan
oleh Aditia. Dia mengirimkan tendangan kaki kanan yang
sengaja sedikit dipelankannya. Tangan kiri Pasewang
menghantam paha lawannya. Aditia menggigit bibir menahan
sakit sementara dia dipaksa untuk meloncat kesamping karena
tangan kanan Pasewang yang memegang badik beracun datang
pula menyambar dengan deras.
Begitu kedua sampokan tangan kanan Pasewang lewat
menggerakkan tangan kanannya memukul dada kanan musuh.
Juga pukulan ini sengaja dilambatkannya. Dengan ganas
Pasewang menikamkan badiknya kelengan Aditia. Sebaliknya
Aditia mengirimkan pukulan halilintar kebawah ketiak
lawannya. Sekali lagi pemimpin bajak itu mangeluarkan jeritan
keras. Tubuhnya terbanting kelantai, miring kekanan. Dari
mulutnya terdengar suara erangan kesakitan. Dalam keadaan
seperti itu dia berusaha mengalirkan tenaga dalamnya
ketempat yang terpukul. Juga dengan susah payah dicobanya
untuk mengatur jalannya pernafasan. Aditia memandang
kelengan bajunya yang terobek besar kena ujung badik
lawannya. Kulit lengannya tampak tergores merah memanjang.
Benar-benar dia mengagumi senjata lawannya itu. Ilmu
kebalnya yang sudah sampai kepuncaknya itu masih bisa
disaingi oleh badik orang Bugis itu, meskipun hanya
merupakan goresan yang tak berarti yang tak sampai
mencelakanya. Kalau orang yang berilmu rendah, sudah dapat
dipastikan bahwa orang itu sudah menemui ajalnya saat itu.
Aditia meludahi bekas goretan badik dilengan kanannya,
kemudian mengusap-usapnya beberapa kali sementara Daeng
Pasewang berbalik kian kemari diatas lantai kapal.
Satu menit kemudian, pemimpin bajak itu membukakan
matanya. Dia memandang pada Aditia. Matanya menyorotkan
rasa geram dan dendam yang meluap-luap. Dengan bertopang
pada kedua siku lengannya, pemimpin bajak itu mencoba
bangun dengan susah payah. Benar-benar orang ini keras
kepala dan keras hati, pikir Aditia sambil memperhatikan
Daeng Pasewang.
Selama beberapa saat kedua musuh itu saling beradu
pandang. Aditia membuka mulut bertanya setengah mengejek.
“Apa kau masih belum puas? Kita teruskan pertandingan ini,
atau kau menyerah sampai disini saja?”. “Menyerah? Ha........ ha........ tak ada kata-kata menyerah
dalam kamus hidupku, sekalipun mayatku nanti yang akan kau
langkahi! tukas Pasewang dengan geram. Ketika dia merasakan
nafasnya mulai teratur dan kekuatannya kembali, dia bergerak
melancarkan serangan. Sambaran-sambaran badiknya semakin
menggila. Bersiutan kian kemari. Kalau Aditia tak cepat
mengelak mungkin kulit dadanya akan tergores yaitu ketika
Daeng Pasewang seperti seekor banteng ketaton membabat,
memapak dan menghunjamkan badiknya dalam satu serangan
berantai yang amat dahsyat. Sebagai akibat hanya baju putih
Aditia yang terobek besar pada bagian dadanya.
Aditia mulai jemu dengan perkelahian yang seakan-akan
tiada akhirnya itu. Sambil menarik tali pengikat pinggang
dengan kerasnya sehingga Daeng Pasewang tertarik kencang
kemuka, Aditia melayangkan tinju kanannya yang berisi aji
gada dewata kearah kepala lawannya. Pasewang cukup maklum
dengan kehebatan ilmu lawannya, dia tak mau ambil resiko.
Sambil membuang diri kesamping kiri tumit kaki kanannya
disorongkannya keperut lawannya dan murid Eyang Wilis
terpaksa mengakui keunggulan lawannya kali ini. Perutnya
terasa sangat sakit. Dia menahan pernafasannya beberapa
ketika. Sebelum tenaga dalamnya berhasil dialirkannya
kebagian tubuhnya yang kena sambaran tumit musuhnya tadi,
Pasewang telah menyerang pula dengan badiknya. Aditia
melompat keatas. Dia mencoba untuk menjambak rambut
lawannya namun niatnya itu terpaksa diurungkannya karena
badik Pasewang dengan sangat cepatnya menyambar kembali
kebagian bawah perutnya. Cepat-cepat Aditia melipat lutut
kanannya membentengi bagian tubuhnya yang menjadi sasaran
musuh. Satu kesalahan bagi Daeng Pasewang yaitu dia tak mau
menarik pulang serangannya itu. Dia masih mengharapkan
bahwa senjata sakti beracunnya masih dapat mempecundangi
musuhnya padahal dia sudah menyaksikan bahwa senjata
kebanggaannya itu hanya meninggalkan goresan yang tak
berarti pada tubuh kulit Aditia.
Tangan yang memegang badik lewat, dengkul Aditia masuk
kebawah ketiak kanan Pasewang, membuat laki-laki itu mental
kebelakang tapi tertarik kembali kemuka karena tali yang
mengikat pinggangnya disentakkan Aditia dengan kerasnya.
Dalam keadaan kelabakan seperti itu Pasewang harus
menerima pula jotosan tangan kanan Aditia yang berisi aji gada
dewata yang kali ini tak bisa lagi dielakkannya. Daeng Pasewang
merasakan tengkorak kepalanya seperti rengkah pecah
berhamburan ketika tinju kanan Aditia menghantam pelipis
kanannya dengan sangat keras. Jeritannya setinggt langit.
Pandangannya kelam kabut. Tubuhnya terhempas keras
kelantai sedang mukanya sampai keleher nampak kebiru- biruan. Semua orang yaitu anak-anak buahnya dan juga Aditia
sendiri menduga bahwa saat itu Pasewang sudah menjadi
mayat. Tapi apa yang disangkanya itu tidak terbukti. Lima
menit kemudian, ketika Aditia hendak membungkuk
memperhatikan jalan nafas lawannya, tahu-tahu Pasewang
menggulingkan tubuhnya kesamping. Dengan kedua mata
masih tertutup dia menggeram. “Jangan kira bahwa aku sudah
menyerah...... dalam kamus hidupku, dalam kamus hidup setiap
orang Bugis, tak ada kata-kata menyerah!”.
Sekali lagi pemimpin bajak itu menggerakkan tubuhnya
berguling kesamping dan setengah menit kemudian dia bangkit
berdiri dengan tertatih-tatih. Benar-benar mengagumkan
pemimpin bajak ini. Ilmu kebal apa yang telah diwariskan
gurunya kepada orang bugis ini? Dan satu hal yang selalu
diperhatikan Aditia yaitu setiap Daeng Pasewang dipukulnya
roboh sampai pingsan, badik yang ditangan kanannya itu tak
pernah terlepas, seakan-akan senjata itu lengket menjadi satu
dengan telapak tangannya.
Beberapa saat kemudian kembali pertempuran terjadi. Lebih
seru dan lebih hebat. Bajak-bajak laut yang menontonpun kini
turut pula bersorak sorai memberi semangat pada pemimpin
mereka. Permainan silat Daeng Pasewang semakin cepat.
Hampir setiap jurus cara bertempurnya berubah-ubah.
Agaknya dia benar-benar mengeluarkan seluruh kepandainnya
kini. Namun setelah sembilan jurus berlalu dia masih saja
belum dapat memberikan satu pukulan atau satu tikamanpun
pada musuhnya.
Dilain pihak, Aditia dalam hati kecilnya benar-benar
mengagumi kehebatan pemimpin bajak ini. Pukulan-pukulan
hebatnya walaupun menimbulkan luka yang sangat parah
ditubuh bagian dalam lawannya namun tak sampai membuat
Pasewang meregang nyawa. Sambil terus berkelebat kian
kemari Aditia memutar otaknya mencari tahu ilmu apa yang
dimiliki lawannya, dimana letak tempat kematiannya dan lain
sebagainya. Ketika badik Pasewang lewat dimuka hidungnya,
Aditia menarik tali pengikat pinggang dan melibat tangan kiri
pemimpin bajak yang terjulur mengarah lambungnya. Begitu
lengan lawannya terjirat Aditia menariknya dengan keras.
Pasewang tertarik dan jungkir balik diudara. Ketika dia jatuh
kelantai kakinya tetap berdiri. Aditia mengirimkan tendangan
kaki kanan kedada lawannya, namun sama sekali tak dirasakan
oleh Pasewang.
“Kau benar-benar hebat!” memuji Aditia dengan jujur.
Keduanya bertempur lagi. Jumlah total dari pertempuran kedua
jago itu semenjak saat permulaan adalah seratus sebelas jurus!
Belum pernah Aditia bertempur sampai sebanyak itu. Tubuh
kedua orang telah mandi keringat namun tak seorangpun yang
menunjukkan tanda-tanda letih, begitu juga Pasewang
sekalipun tubuhnya bagian dalam sudah tidak normal lagi.
Pada jurus yang keseratus dua belas setelah sedemikian
lamanya mencari tahu tentang ilmu yang dipakai lawannya baru
Aditiajaya teringat akan satu ilmu yang pernah diterangkan
gurunya dipuncak gunung Wilis tempo hari. Ilmu yang
dimaksudkan itu dinamakan orang ‘kebal sebumi’. Walau
dengan aji kesaktian dan pukulan apa saja tak mungkin orang
yang memiliki ilmu kesaktian itu dirobohkan, kecuali kalau
darahnya ditumpahkan sekalipun hanya setetes kecil! Jadi mau
tak mau Aditia terpaksa mempergunakan keris sakti pemberian
gurunya, padahal sebelumnya dia tengah mencari kesempatan
untuk menghadiahkan pukulan wesi kuningnya kepada
lawannya.
Aditia berkelebat cepat sekali. Beberapa detik kemudian,
Daeng Pasewang dan juga semua anak buahnya yang berdiri
ditepi lingkaran melihat sebuah sinar merah berputar-putar
cepat kian kemari menurut gerakan tubuh pendekar berbaju
putih itu.
“Bagus, kau juga punya senjata, hah?! Aku sudah duga. Mari
kita teruskan pertempuran ini. Nyawamu atau nywaku!” ujar
Pasewang sambil bergerak cepat menandingi gerakan
lawannya. Kemudian terdengar jawaban Aditia. “Tadi kau
berkata bahwa nyawaku ada ditanganmu. Agaknya kau telah
menjilat air ludahmu kembali..........?”.
Pasewang menetakkan badiknya kebahu sebelum sampai
arah badiknya berubah dengan deras ketenggorokan. Murid
Eyang Wilis menangkis dengan keris merahnya kedua senjata
itu beradu hebat, menimbulkan kerlapan bunga api. Pasewang
terkejut, tangannya tergetar hebat dan terasa panas sedang
ujung badiknya yang beradu dengan badan keris Aditia, seperti
besi yang dipanaskan menjadi bengkok! Rasa terkejut yang
amat sangat membuat kelengahan pada Daeng Pasewang dan
hal itu adalah merupakan satu kesalahan besar. Tangan kanan
Aditia bergerak cepat. Pasewang dan penonton lainnya yang
melihat satu sambaran sinar merah kearah dadanya. Pada detik
itu juga terdengar suara jeritan tertahan. “Ahhh.........”.
Pemimpin bajak itu terguling kelantai kayu. Dadanya tampak
terluka, berlubang sebesar ibu jari. Dari luka itu keluar darah
kental dan seperti ada asap yang mengepul-ngepul. Tubuh
Pasewang tampak kaku. Dia hendak menggulingkan tubuhnya
kesamping kiri tapi nyawanya keburu melayang. Pemimpin
bajak menghembuskan nafasnya dalam keadaan tubuh
menggeletak miring.
Seluruh isi kapal itu sunyi senyap. Aditia memandang
berkeliling. Tak satu dari bajak itupun yang tampak bergerak.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya baru Aditia
membuka mulut. “Mungkin ada diantara kalian yang ingin
coba-coba berkenalan denganku, kupersilahkan maju!”. Tak
satupun yang bergerak, tak satu orangpun yang terdengar
bersuara. Aditia memandangi muka bajak-bajak itu satu
persatu. Semua mereka pada menundukkan kepala. Tak ada
satupun yang berani menantang sorotan mata murid Eyang
Wilis itu. Mereka semua sudah cukup tahu dan menyaksikan
kehebatan dan ketinggian ilmu pemuda berbaju putih itu.
Mereka telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri
bagaimana jago-jago mereka yaitu Jangkreng, Musto dan
Gembul menemui ajalnya ditangan Aditia dan lebih dari itu
mereka juga telah menyaksikan bagaimana pemimpin mereka
yang mereka takuti karena kesaktiannya setelah babak belur
dihujani pukulan-pukulan keras akhirnya dipaksa meregang
nyawa dengan satu lobang kecil didadanya.
Setelah menunggu beberapa lamanya dan tak seorangpun
yang bergerak atau membuka mulut, Aditia berkata. “Kalau tak
ada diantara kalian yang bermaksud untuk melayaniku, maka
dengarlah! Pemimpin kalian sudah mati. Ketahuilah bahwa
hidup sebagai bajak, merompak dan membunuh bukanlah satu
perbuatan yang baik dan terpuji. Kalian tak bisa untuk selama-
lamanya menjadi bajak. Karena itu selagi jalan yang menuju
kearah kebaikan masih terbuka lebar maka kembalilah kalian
kejalan itu. Kalian akan merasakan betapa nikmatnya hidup
diudara yang diliputi kebaikan dan kejujuran. Betapa segar dan
nikmatnya memakan sesuap nasi yang didapat dengan cucur
keringat sendiri. Banyak pekerjaan yang menunggu kalian
didaratan dan dilautan, sebagai petani, sebagai pedagang atau
sebagai nelayan. Kalian masih muda-muda, tegap-tegap dan
gagah. Kampung halaman, bangsa dan tanah tumpah darah
kalian sangat membutuhkan manusia-manusia seperti kalian.
Maka itu kembalilah kejalan yang benar. Atau mungkin setelah
pemimpin kalian mati, ada salah seorang diantara kalian yang
bermaksud hendak mengangkat dirinya sebagai pemimpin
baru, majulah kemuka. Aku ingin lihal tampangnya!”. Tak satu
orangpun yang bergerak. Semua bajak-bajak itu sama
menundukkan kepala.
“Kalian sudah lebih dari dewasa. Agaknya tak perlu aku yang
lebih muda dari kalian memberikan nasihat berpanjang lebar.
Kalian sudah terlampau pintar untuk membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk didalam kehidupan ini. Kembali
atau tidaknya kalian kejalan yang benar, terserah pada diri
masing-masing. Cuma satu hal yang aku peringatkan pada
kalian, kalau aku suatu ketika menemui kalian dan masih dalam
perbuatan terkutuk menjadi bajak laut juga, maka bagiku
nyawa kalian tiada berharga barang sepeser tengikpun! Dan
bukan aku saja yang akan meminta pertanggungan jawab
seperti itu kepada kamu orang, tapi setiap pendekar-pendekar
pembela kebenaran, dan keadilan yang banyak terdapat disana
sini yang jauh lebih sakti dari aku sendiri. Maka itu camkanlah
apa yang kukatakan!”.
Aditia melangkah ketepi terali perahu bajak dan memandang
kejurusan dimana perahu Samat yang tadi ditumpanginya
menanti terapung-apung dilautan. Aditia melambai-lambaikan
sapu tangan penutup kepalanya kearah perahu itu. Beberapa
saat kemudian perahu yang dikemudikan Pomo itu bergerak,
meluncur mendekati kapal bajak untuk menjemput pendekar
sakti berkeris merah.
EMPAT
PERAHU besar kepunyaan bajak itu semakin lama semakin
jauh, semakin mengecil dan akhirnya hilang lenyap dari
pandangan mata. Aditia berdiri dilambung kiri perahu Pomo,
memandang kearah barat menyaksikan sang surya dengan
segala keindahannya pada saat hendak tenggelamnya. Air laut
yang biru kehijauan itu seperti diselimuti permadani emas kena
cahaya sang surya. Pada saat seperti itulah, dalam menyaksikan
keindahan alam dikala matahari hendak kembali
keparaduannya, mau tak mau, setiap manusia, sekalipun dia itu
tidak mempercayai adanya Tuhan, tiada beragama, akan
bertanya-tanya dalam hatinya, siapakah yang telah
menciptakan keindahan yang tiada taranya itu, keindahan yang
tiada dapat ditiru dengan akal dan tangan manusia? Siapa........
siapa........ siapa........ Hanya terjadi dengan sendirinya agaknya?
Hanya alam semata-mata? Beragama atau tidak orang yang
menyaksikan keindahan ditengah lautan saat itu, namun dia
akan mengakui dengan akal dan hati nuraninya, bahwa
semuanya itu, semua keindahan yang tiada terlukiskan itu tentu
ada yang membuatnya, tentu ada yang menciptakannya. Bukan
manusia, bukan dewa-dewa dikayangan, bukan pula jin hantu
ditengah lautan tapi Dia Yang Satu, Dia Yang Maha Besar, Dia
Yang Maha Kuasa yaitu Allah Subhanahuwataala! Dan
memang, dalil adanya langit dan bumi serta segala isi dan
keindahannya menjadi dalil bukti bagi orang-orang yang
beragama untuk membukakan mata kaum yang tak percaya
pada adanya Tuhan, kaum Atheis, menyatakan bahwa
sesungguhnya Tuhan itu memang ada!
Ketika matahari telah tenggelam dan kegelapan malam mulai
membayangi lautan luas lepas dan Aditia masih saja termenung
termangu-mangu mengenang kebesaran Tuhannya, terdengar
suara orang perahu, yaitu Samat. “Pendekar.............. bagaimana
dengan mayat pedagang Banjar itu, Kuwana? Apa kita buang
saja ditengah lautan ini?”.
Aditia jadi tersenyum geli ketika untuk pertama kalinya laki-
laki itu memanggilnya dengan sebutan ‘pendekar’. Dar diam- diam memang Aditia mengetahui bahwa sejak terjadinya
pertempuran dengan bajak-bajak itu, Samat, Pomo, Mirta dan
Suwantra tampak bertambah segan dan sangat
menghormatinya. Mirta dan Suwantra yang telah menyaksikan
dari jauh pertempuran yang terjadi diatas geladak kapal bajak
menyatakan pujian dan rasa kagum mereka terhadap
kepandaian dan kesaktian ilmu Aditia. Kedua orang bertanya
tentang asal usul Aditia, dimana dia telah menuntut ilmu
kesaktian dan siapa gurunya. Semua pertanyaan dijawab Aditia
dengan lemah lembut penuh ketenangan sedang jawaban
sesungguhnya tak pernah diberikannya. Setiap orang bertanya
tentang dirinya atau tentang gurunya, dijawabnya sedemikian
rupa, dibawanya berpanjang-panjang kelain cerita sehingga
orang yang bertanya melupakan pertanyaannya tapi puas
mendengar cerita panjang lebar yang dikatakan Aditia.
Aditia memutar tubuhnya memandang kepada Samat, lalu
menjawab pertanyaan laki-laki itu. “Sebaiknya kita kuburkan
saja dia didaratan nanti dari pada dibuang ditengah lautan
seperti ini. Berkubur tiada tentu pusaranya. Kasihan.........”.
“Tapi......... tapi.........”.
“Tapi apa?” ujar Aditia memotong kata-kata Samat. Dia telah
tahu apa yang dimaksudkan orang itu. “Kau takut perahu ini
akan tenggelam? Karam?!”.
“Benar. Karena adalah pantangan bagi setiap orang
membawa mayat dalam perahu. Pantangan besar. Yang kalau
dilakukan juga akan menimbulkan celaka. Perahu akan karam!”
jawab Samat. Dengan tersenyum geli Aditia bertanya pada
Pomo. “Menurut pendapatmu dapatkah mayat yang tak bisa
bergerak, menenggelamkan perahu.........?”. Pomo mengangkat
bahunya sedang Samat tampak kemalu-maluan. Aditia
memandang kembali pada Samat. “Kalau seandainya kau yang
menjadi mayat saat ini dan bukannya Kuwana, sudikah kau
kalau mayatmu kami lemparkan kedalam lautan, dimakan oleh
ikan hiu, digerogoti oleh ikan kecil-kecil?”. Samat tak menjawab
melainkan memutar tubuhnya dan meninggalkan Aditia
seorang diri.
Disebuah pulau mereka berhenti menguburkan mayat
Kuwana dan setelah itu melanjutkan pelayaran.
Tiga hari kemudian daratan Kalimantan mulai nampak
memanjang dari barat ketimur dikejauhan dihadapan mereka,
merupakan garis besar biru keabu-abuan. Air laut tenang sekali
membuat perahu itu meluncur dengan lajunya. Beberapa ekor
ikan lumba-lumba berlomba-lomba, sebentar masuk menyelam
kedalam air sebentar muncul kembali mengiringi perahu kecil
itu. Beberapa buah pulau dilewati. Semakin dekat kepantai
semakin banyak mereka berpapasan dengan perahu-perahu
nelayan yang tengah menangkap ikan.
Menjelang tengah hari perahu sampai ketujuannya. Aditia,
bersama Mirta dan Suwantra turun diikuti oleh Pomo dan
Samat. Keduanya tak mau menerima uang sewa yang dibayar
Aditia, juga yang dikeluarkan oleh Mirta dan Suwantra.
“Nyawa kami yang telah pendekar selamatkan merupakan
hutang yang tak dapat kami bayar untuk selama-lamanya, dan
pendekar hendak membayar pula sewa perahu buruk itu!” ujar
Pomo menolak uang yang disodorkan Aditia. Aditia hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia teringat pada
dagangan kain cita Kuwana yang tertinggal dalam perahu
motor. “Kalau begitu ambil sajalah oleh kalian barang-barang
dagangan Kuwana yang tertinggal didalam perahu......”. Entah
terdengar entah tidak oleh kedua anak perahu itu, tapi mereka
terus berjalan kembali ketepi pantai.
“Giliran kita untuk berpisah.....” ujar Aditia pada Suwantra
ketika Samat dan Pomo menghilang dibalik pohon-pohon
kelapa.
“Benar” jawab Suwantra. Dia memandang pada Aditia
beberapa lamanya. Kemudian dari dalam sebuah dompet kulit
yang terselip dibalik ikat pinggang celananya dikeluarkannya
sebentuk cincin emas murni yang terukir indah sekali serta
bermatakan berlian besar yang sangat mahal harganya.
“Terimalah barang yang tak berharga ini, sebagai kenang- kenangan kami orang-orang Dayak dari suku Kayan yang telah
diselamatkan nyawanya oleh saudara”.
“Astaga......... apa pula ini. Tidak! Tak usah!” jawab Aditia
dengan keras menolak pemberian itu.
“Bukan sebagai pembalas hutang nyawa kami, sahabat, tapi
untuk kenang-kenangan dan rasa terima kasih kami.” jawab
Suwantra dengan jujur.
“Berterima kasihlah pada Tuhan, bukan kepada saya” ujar
Aditia pula.
“Benar sahabat” menyela Mirta. “Tapi terimalah pemberian
yang datang dari hati sanubari yang putih bersih. Ketahuilah,
Suwantra adalah anak tertua dari Raja kami suku Kayan.
Semestinya kami ajak sahabat ketempat kami untuk menerima
balas jasa dan kehormatan atas apa yang telah kami terima dari
kau, tapi kami tahu bahwa saudara tak akan mau bersusah
payah pergi ketempat kami menempuh hutan belukar yang
berbahaya. Maka itu terimalah pemberian yang tiada berharga
itu........”.
“Tiada sangka saya berhadapan dengan putera mahkota suku
Kayan” kata Aditia dengan nada terkejut. “Dan lebih dari itu
telah pula memberikan sedikit budi yang tak usah dipikirkan
akan pembalasannya. Benar-benar Suwantra, tak usah
memberikan apa-apa kepada saya. Cukup satu hal yaitu
persahabatan”.
Suwantra tampak seperti orang yang putus asa. Dia tahu
bahwa walau dipaksa bagaimanapun Aditia tak akan mau
menerima pemberiannya. Sambil, mempermain-mainkan
cincin emas bermata berlian itu dalam tangannya Suwantra
memandang pada kawan sesukunya yang berdiri disampingnya.
Beberapa saat kemudian, Suwantra melangkah mendekati
Aditia, sambil tersenyum dan dengan menepuk bahu kanan
Aditia dia berkata. “Baiklah kalau sahabat tak mau manerima
pemberian kenang-kenangan ini”, Suwantra menarik tangan
kanannya kembali dan menyambung. “Apakah saudara juga
akan menolak untuk memberitahukan nama saudara
Aditia mengangkat bahu dan menarik nafas dalam.
Kemudian berkata. “Bukankah waktu perkenalan kemarin
sudah saya katakan nama saya?”.
“Hanja Aditia? Apa saudara tidak memakai nama samaran?”
tanya Mirta tak percaya.
“Nama kecilku Aditia. Nama panjang, kalau kalian ingin tahu
juga adalah Aditiajaya”, lalu sambungnya sambil bergurau.
“Dan kalau kalian hendak bertanya pula siapa yang
memberikan nama itu kepadaku, aku sendiri juga tidak
tahu......”.
Mirta dan Suwantra sama-sama tersenyum.
“Nah sahabat-shabat, selamat jalan dan selamat tinggal”,
kata Aditia kemudian.
“Selamat jalan, semoga kita bisa bertemu lagi......” balas
Suwantra. Kedua orang itu saling berpandangan dan tersenyum
satu sama lain. Aditia dapat merasakan bahwa senyum itu
bukan senyum biasa, tapi satu senyum yang mengandung
sesuatu. Tapi untuk tidak membuang-buang waktu dia berlalu
tanpa menghiraukan apa yang menjadi bahan senyum dari
kedua orang suku Kayan tersebut. *
* *
Yang pertama sekali dilakukan Aditia sesudah berpisah
dengan Samat, Pomo, Suwantra dan Mirta adalah mencari
kedai nasi.
Dia terus mengikuti jalan kecil yang meliku-liku diantara
pohon-pohon kelapa terus masuk kebagian dalam daratan. Satu
jam berjalan dia masih juga belum menemui satu kedai
kecilpun. Rasa dahaga kini mencekik batang lehernya. Aditia
terus berjalan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Ah, mengapa
dari tadi aku teringat hal itu” katanya dalam hati. Dia
memandang berkeliling. Dikejauhan dilihatnya sebatang pohon
kelapa yang berbuah lebat dan masih muda-muda. Murid
Eyang Wilis meneguk air liurnya. Tak jauh dari batang kelapa
itu tumbuh dia memungut sebuah batu yang kira-kira sebesar
tinju. Setelah memperhatikan buah kelapa mana yang menjadi
sasarannya maka dengan satu timpukan lihay batu yang
ditangannya melayang keatas pohon kelapa. Satu buah kelapa
jatuh. Tanpa menunggu lebih lama, sebelum buah yang berisi
air sejuk itu sampai ketanah segera disambutnya dengan
tangannya. Dan kalau orang lain akan mencari kapak atau golok
atau sekurang-kurangnya pisau besar untuk membelah dan
melubangi kelapa itu, maka bagi murid Eyang Wilis untuk
mengerjakan itu semua cukup kedua tangannya saja yang
bekerja. Tangan kiri memegang buah kelapa sedang dengan tepi
telapak tangan kanannya dipukulnya buah kelapa itu. Buah itu
rengkah, air mengucur. Aditia segera meneguk air buah yang
sejuk itu. Cukup hanya satu kelapa saja. Rasa dahaganya hilang
oleh air buah yang manis itu. Setelah duduk beberapa lamanya
Aditia meneruskan perjalanan kembali.
Setengah jam kemudian mulai ditemuinya rumah penduduk
satu demi satu dalam jarak yang berjauhan. Kemudian semakin
lama semakin banyak san semakin rapat. Orang-orang yang
berpapasan dengan dia tersenyum ramah. Aditia memasuki
kota Banjarmasin. Saat itu kota ini masih bernama Banjaran.
Penduduknya banyak juga, terdiri dari berbagai suku ditanah
air ini seperti orang-orang Melayu, orang Bugis dan Makasar,
orang-orang Madura, penduduk asli, penduduk campuran dan
orang-orang Tionghoa saudagar-saudagar intan berlian yang
kaya raya.
Disatu kelokan jalan Aditia memasuki sebuah kedai nasi.
Beberapa orang dilihatnya tengah makan dengan lahapnya.
Setelah meminta pesanannya dia memperhatikan orang-orang
yang berada dalam kedai itu satu demi satu dengan sudut
matanya. Beberapa saat kemudian pelayan datang membawa
makanan yang dipesannya dan setelah meneguk air teh
beberapa teguk segera hidangan itu disantapnya. Ketika baru
setengah nasinya yang termakan laki-laki diluar terdengar
suara jeritan perempuan. Suara teriakan laki-laki membuat
suasana yang tadi tenang kini menjadi hiruk pikuk. Beberapa
orang didalam kedai dengan cepat berlarian keluar.
“Amuk! Orang mengamuk..........!” teriak seseorang.
“Awas........ lari, ada orang mengamuk!” teriak seorang lain.
Aditia mencuci tangannya dan keluar dari kedai nasi dengan
cepat. Ketika dia sampai dipintu dilihatnya seorang gadis
Tionghoa bersama seorang pemuda entah asli Banjar entah
berasal dari daerah lain tengah lari terbirit-birit. Wajah mereka
jelas membayangkan rasa takut yang amat sangat. Diujung
jalan seorang laki-laki Tionghoa bertubuh gemuk pendek
dengan sebuan golok panjang yang berkilauan kena cahaya
matahari berlari dengan kecepatan yang luar biasa. Dari lari
orang itu, Aditia telah dapat mengetahui bahwa dia ilmu
kepandaian juga. Melihat semua kejadian itu, dalam sekejap
mata Aditia yang berotak tajam segera memaklumi apa yang
menjadi sebab musabab dari peristiwa itu. Terlebih-lebih ketika
terdengar kutuk maki dari Tionghoa pendek yang mengejar
kedua anak muda tadi.
“Anak jahanam! Kurang ajar! Berani bikin malu orang tua.
Kucincang kau sampai mati. Kalian mau lari kemana?!”
Beberapa detik kemudian orang Tionghoa pendek yang
mengejar dengan pedang ditangan hanya tinggal beberapa
meter saja lagi dari kedua muda mudi yang melarikan diri itu.
Dan begitu si pengejar mencapai kedua orang yang dikejarnya,
golok panjang yang ditangannya dibabatkannya kekepala kedua
orang itu. Kalau sekiranya si pemuda tidak cepat menubruk
gadis yang disampingnya dan sama menjatuhkan diri
bergulingan ditanah sudah dapat dipastikan bahwa kepala
kedua anak muda itu sudah menggelinding ditanah terpapas
golok tajam pencabut nyawa. Beberapa orang yang melihat hal
itu mengeluarkan suara tertahan sedang perempuan- perempuan yang kebetulan ada disitu menjerit ngeri.
“Lari! Larilah Lian, bar kuhadapi dia.........!” terdengar suara
si pemuda sambil cepat memapah gadis Tionghoa itu berdiri.
“Tidak kakak. Aku tidak mau lari! Lebih baik mati bersama
kakak......” jawab gadis Tionghoa yang bernama Lian Hwa.
“Tapi selamatkanlah dirimu du..........” si pemuda tak
meneruskan kata-katanya. Sambaran golok Tan Siauw Tek
datang dengan deras. Pemuda yang diserang walaupun dengan
gugup tapi masih dapat menyelamatkan diri. Golok Tionghoa
pendek itu hanya tiga senti lewat dari lambungnya. Sementara
itu gadis Tionghoa tadi terdengar menjerit-jerit. “Ayah! Jangan
bunuh dia. Jangan!”.
“Jangan bunuh?! Hua......... ha......... ha.......... ha.........”, Tan
Siauw tertawa terbahak-bahak penuh keseraman. “Dua-duanya
kubunuh kau sampai lumat! Anak durhaka, bikin malu orang
tua. Sudah gatal kau rupanya!”. Tionghoa itu menggeser
kakinya dan membentak pada si pemuda kini. “Dan kau, laki-
laki bejat, hidung belang! Tak tahu diri. Berani mempermain- mainkan anakku. Rasakan ini olehmu!”. Golok yang ditangan
Tan Siauw membabat lagi dengan deras. Kali ini si pemuda tak
bisa mengelakkan karena memang dia sama sekali tak
mempunyai ilmu kepandaian apa-apa. Bahu kirinya terluka
parah. Tubuhnya mencium tanah.
“Kakak Ardi!” jerit Lian Hwa ketika melihat si pemuda roboh
dengan berlumuran darah. Dia berlari memburu dan
menjatuhkan dirinya diatas dada Ardi. Lian Hwa sama sekali
tak menghiraukan lagi bagaimana besarnya bahaya yang
mengancam jiwanya saat itu.
“Dau kau anak durhaka, kau juga harus mampus!”, terdengar
bentakan Tan Siauw. Golok ditangannya melayang cepat
menetak kekepala anak kandungnya sendiri!
Sejak semula, tiada seorangpun yang berani mengetengahi
atau berani menyabarkan Tionghoa gemuk pendek yang
mengamuk itu. Semua orang tahu bahwa Tan Siauw sebagai
saudagar berlian yang kaya raya juga adalah murid seorang jago
silat dan ahli tenaga dalam dari Ma Lhok Thay, seorang
Tionghoa yang menjadi guru silat berkepandaian tinggi.
Bagaimana takutnya orang-orang pada Ma Lhok Thay, begitu
pula takut mereka pada murid jago silat ini, sekalipun murid
dan guru itu tak pernah berbuat sesuatu yang menyeleweng dan
tak baik. Dan apa yang dilakukan mereka saat itu hanyalah
menyaksikan dengan penuh kengerian. Hendak coba
membekuk seorang yang berkepandaian tinggi yang tengah
diselimuti api amarah? Hal itu adalah sama dengan
mengantarkan nyawa sendiri.
Tapi pada saat yang sangat genting itu! Pada saat golok
pencabut nyawa dari Tan Siauw hanya beberapa detik lagi
membelah kepala Lian Hwa dari pintu kedai nasi sesosok
bayangan putih melesat lebih cepat dari kilat. Dan apa yang
dilihat orang banyak adalah bagaimana Tan Siauw mental
kebelakang, jatuh duduk menjelepok ditanah sedang golok
panjangnya yang tadi hanya tinggal beberapa detik saja lagi
hendak menghabiskan nyawa anaknya menggeletak ditanah tak
berapa jauh dari pemiliknya.
Dengan mata menyorot marah dan pandangan beringas, Tan
Siauw memandang pada laki-laki yang tak dikenalnya yang
berdiri dengan kaki sedikit merenggang dihadapannya. Setelah
saling pandang beberapa lamanya, tiba-tiba Tan Siauw menjerit
kers. Dan hanya mata Aditia seorang yang melihat bagaimana
sambil bangkit berdiri dengan kecepatan yang luar biasa tahu-
tahu goloknya yang tadi jatuh tak berapa jauh darinya, kini
telah tergenggam dalam tangan Tionghoa itu.
Setelah menyerang dengan ganas, Tan Siauw membuka
mulutnya. Suaranya gemetar karena geram dan amarah. “Siapa
kau yang berani ikut campur urusanku? Kawan pemuda bejat
itu? Saudaranya?! Aku tidak peduli. Kau juga harus mampus
bersama kedua manusia-manusia keparat itu!”. Pedang yang
ditangan Tan Siauw berputar cepat seperti baling-baling kapal
terbang, menyerang dan mengurung Aditiajaya dari setiap
sudut. Pakaian yang dipakai Aditia berkibar-kibar dilambaikan
kerasnya angin sambaran golok panjang itu. Pemuda kita segera
memaklumi bahwa lawannya bukan sembarang orang. Dengan
enteng, Aditia melompat kesamping. Satu detik kemudian
tubuhnya lenyap menjadi bayang-bayang dan tahu-tahu muncul
dari belakang Tan Siauw. Tionghoa itu membalikkan tubuhnya
dengan cepat. Kembali golok panjang mengurung Aditia. Aditia
lebih mempercepat gerakannya. Tanpa diketahui lawannya
kembali ia berada dibelakang Tan Siauw. Tionghoa bertubuh
gemuk pendek itu merasakan punggung kirinya seperti
dihantam dengan besi panas. Dia mental menuju kemuka dan
jatuh tersungkur dengan lutut lebih dahulu ketanah. Senjatanya
sekali lagi terlepas dari tangannya. Satu hal yang diperhatikan
Aditia adalah bagaimana lawannya hanya menggigit bibir tanpa
menjerit atau mengerang kesakitan ketika menerima pukulan
tapak besi berapinya.
Tan Siauw membalikkan tubuhnya dan mengambil goloknya
kembali. Matanya tampak memerah. Mukanya basah oleh
keringat dan juga agak kemerah-merahan. Dia berdiri kembali.
“Kau benar-benar mencari mampus, Kau hendak memamerkan
kepandaianmu pada murid Ma Lhok Thay? Baik! Aku akan lihat
sampai dimana kehebatanmu!”. Sengaja Siauw menyebutkan
nama gurunya agar pemuda kita menjadi gentar dan kecut. Tapi
apalah suatu nama bagi Aditia. Bahkan nama seperti itu baru
kali ini didengarnya. “Jadi kau muridnya Balok Tha?. Sayang aku tak mengenal
gurumu itu” ejek Aditia sengaja disalahkannya dalam menyebut
nama guru Tan Siauw itu. “Darahmu harus tumpah disini, bangsat!” maki Tan Siauw
dan menyerang dengan ganas. Kalau tadi waktu Tan Siauw
mengamuk mengejar Lian Hwa dan Ardi disaksikan orang
banyak dengan penuh kengerian, maka perbandingan antara
Tan Siauw dan pemuda berbaju putih yang robek-robek kini
mereka saksikan dengan penuh keasyikan.
Golok panjang Tan Siauw berkelebatan kembali. Kini orang
Tionghoa itu juga mempergunakan tangan kirinya untuk
memberikan serangan-serangan pukulan-pukulan yang berisi
tenaga dalam. Aditia menghadapi lawannya dengan tenaing.
Pertempuran semakin seru. Tubuh Tan Siauw Tek, goloknya
dan Aditia hanya merupakan bayangan-bayangan cepat yang
bergerak kian kemari. Satu kali lagi Tan Siauw terpukul jatuh. Ketika orang itu hendak bangkit berdiri berkatalah Aditia. “Sebaiknya marilah kita hentikan pertandingan yang tiada arti
dan gunanya ini. Mari selesaikan urusan kau dan anakmu dan
pemuda yang terluka itu. Cara perdamaian yang memakai akal
yang sehat adalah cara yang sebaik-baiknya diatas dunia ini
untuk memecahkan masalah apapun......”. “Kau siapa, yang hendak turut-turutan menyelesaikan
urusanku? Kau sinting? Gila? Keblinger? Sekali kukatakan kau
harus mampus, tetap nyawa busukmu harus melayang
keneraka”. bentak Tan Siauw Tek dengan gusar. Dia menyerang
kembali. Permainan goloknya berlainan kini, membabat kekiri
dan kekanan, bertukar arah dari atas kebawah atau menyerong
dari samping kiri kebagian tubuh bawah sebelah kanan. Satu
kali, ketika dia mengelakkan sambaran golok yang sangat cepat,
Aditia tak sempat lagi mengelakkan jotosan tangan kiri yang
mengandung tenaga dalam yang cukup ampuh dari lawannya
itu. Ketika dicobanya juga maka lutut kanan Tan Siauw
akhirnya yang bersarang diperutnya. Aditia menggeram
menahan sakit. Perutnya terasa mual. Sambil mengatur
jalannya pernafasan, tenaga dalamnya dialirkannya kebagian
perut yang kena hantam itu.
“Apa kau benar-benar tak mau menghentikan perkelahian
ini?!” tanya Aditia sambil mengelakkan babatan golok
lawannya.
“Apa kau tuli? Aku bukan macamnya manusia yang suka
menjilat ludah kembali!” tukas Tan Siauw Tek. Dia melompat
kemuka dan memapas dengan goloknya. Aditia menjadi gusar
melihat manusia yang keras kepala ini. Lebih-lebih karena
perutnya telah pula kena disodok oleh lawannya.
Aditia menunduk seperti orang yang hendak menangkap
pinggang lawannya. Tak ayal lagi, Tan Siauw membacokkan
senjatanya kepunggung lawannya. Tapi dengan lebih cepat,
Aditia membuang dirinya kesamping kiri, menggeser kakinya
dengan lekas. Tangannya terjulur kemuka. Yang kiri memegang
pergelangan tangan Tan Siauw sedang yang kanan merampas
golok laki-laki itu. Tan Siauw berontak, coba melepaskan
tangannya yang kena tercekal. Tapi percuma karena saat itu
senjata telah berpindah tangan. Dengan sekali sentakan keras,
golok panjang itu menjadi patah dua, Aditia menyeringai.
Matanya memandang tajam tanpa berkesip memperhatikan
kedua bola mata lawannya yang bergerak-gerak liar. “Masih
ingin diteruskan perkelahian ini?!” ujar Aditia kemudian.
“Cis! Aku bukan seorang pengecut! Kalau kau benar-benar
jantan, tunggu disini!”. Tan Siauw memutar tubuhnya dan
berlari dijalanan.
Setelah Tionghoa itu menghilang dikejauhan, Aditia
memutar tubuhnya dan melangkah mendekati Lian Hwa yang
menangis tersedu-sedu diatas dada kekasihnya, Ardi. Tak ada
seorangpun yang bisa memberikan pertolongan pada Ardi,
karena mereka sejak tadi tak berani mendekat, takut terkena
sambetan golok Tan Siauw atau kena hantaman tinju Aditia
yang tengah bertempur dengan hebatnya. Ketika pertempuran
berhenti yaitu dengan perginya Tan Siauw, maka
berkerumunlah orang banyak. Beramai-ramai tubuh Ardi
dipapah kedalam sebuah rumah ditepi jalan. Sedang dua orang
perempuan separuh baya membimbing Lian Hwa yang masih
terus menangis tersedu-sedu. Matanya tampak merah dan
sedikit bengkak karena menangis terus-terusan, namun
kecantikan asli yang terlukis diwajahnya yang mungil itu, tiada
hilang barang sedikitpun jua.
Ardi dibaringkan disebuah balai-balai bambu. Setelah
membersihkan luka yang dibahu laki-laki itu, Aditia
mengeluarkan sejenis obat yang berbentuk bubuk bewarna
kekuning-kuningan, menaburkan obat itu diatas luka Ardi.
Kemudian dimintanya tiga helai daun sirih dan luka itu
ditutupnya dengan ketiga daun itu.
“Tunggu sampai setengah jam, baru balut luka itu......” kata
Aditia sambil berdiri. Tiba-tiba diluar terdengar teriakan keras :
“Pendekar sombong yang berbaju putih, keluarlah. Mari kita
teruskan perkelahian! Jangan sembunyi didalam rumah!”.
“Aku tidak sembunyi, bung. Kukira kau yang tak akan
kembali!” balas Aditia berteriak, begitu dia sampai diluar
rumah. Ditangan Tan Siauw Tek dilihatnya sebuah toya yang
kedua ujungnya diberi berbesi yang berbentuk seperti pahat
dan tajam sekali.
“He...... he...... kau lihat senjataku ini?” seringai orang
Tionghoa itu. “Sebutlah nama Tuhanmu. Sebentar lagi
nyawamu akan kucabut!”.
Aditia memencongkan mulutnya mengejek. “Begitu?”
katanya. “Mulailah......“.
Tan Siauw Tek menggeser meju beberapa langkah.
“Heiiaaahhhhh!” bentaknya dengan keras dan saat itu juga
tombak yang ditangannya berputar-putar sangat cepat sekali.
Aditia menanti dengan waspada sampai musuhnya datang lebih
dekat. Ketika sudah sampai dijarak yang dimaksudkannya
Aditia mengangkat tangan kanannya. Meninjukannya kearah
lawannya. Pukulan tenaga dalam itu membuat Tan Siauw Tek
terdorong hebat kebelakang. Putaran toyanya menjadi lambat.
Dengan cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya. Kesempatan
ini dipergunakan Aditia untuk melompati lawannya. Tangan
kirinya mengirimkan pukulan kearah dada lawan sedang
tangan kanannya dipakai untuk merampas toya. Tan Siauw
tidak bodoh. Kaki kanannya bergerak cepat menendang keperut
lawannya sedang ujung toya yang sebelah kiri merasuk kearah
tulang iga sebelah kirinya. Murid Eyang Wilis melipat
dengkulnya membentengi perutnya dari tendangan musuh.
Dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalam dan ilmu
kebalnya dia memakai lengan kirinya untuk menangkis pukulan
toya, sedang tangan kanannya yang tadi hendak merampas toya
musuh dipergunakannya untuk menyodok lambung Tan Siauw.
Toya orang Tionghoa itu mendadak berubah arah. Ujung kiri
toya mundur kebelakang sedang ujung kanan yang mencari
sasaran dileher Aditia. Mau tak mau Aditia mengurungkan
niatnya untuk menyodok perut lawannya dan tangan kanannya
dipakainya untuk menangkis sambaran toya. Kaki kanan Tan
Siauw beradu keras dengan dengkul Aditia sedang lengan kanan
Aditia beradu keras dengan kayu toya. Tan Siauw Tek
terhempas beberapa langkah kebelakang. Kaki dan tangan
kirinya terasa sakit-sakit. Dia berusaha mengimbangi tubuhnya
dengan cepat. Dilain pihak, Aditia juga terhuyung-huyung.
Lengan kanannya yang terpukul toya terasa perih. Dengan
telapak tangan kirinya, diusap-usapnya lengan yang terpukul
itu.
“Ha...... ha...... kau sudah rasakan kehebatan senjataku?” ejek
Tan Siauw Tek padahal hatinya telah mulai kecut melihat
kekebalan lawannya. Lalu katanya kemudian. “Itu belum apa- apa. Rasakan ini!”. Dan toya yang ditangannya menyodok
setengah berputar-putar keseluruh bagian tubuh Aditia dengan
sangat cepatnya.
“Aku tanya untuk yang penghabisan kalinya. Apa kau benar- benar tak mau menghentikan pertempuran gila ini dan
mengambil jalan damai?”. Tan Siauw Tek tak memberi jawaban
sebaliknya permainan toyanya semakin hebat dan ganas.
Ujung-ujung toya yang berupa pahat tajam itu seakan-akan
berpuluh-puluh banyaknya dan mengurung tubuh Aditia.
Kesabaran pemuda keris merah jadi hilang kini. Seperti orang
yang mengantarkan nyawa, dalam keadaan yang seperti itu
Aditia melompati lawannya. Toya musuhnya menghantam
pinggulnya dengan keras. Aditia tak merasakan betapa sakit
pinggulnya. Sebaliknya toya Siauw Tek sendiri patah dua.
Dengan potongan toya yang masih tergenggam ditangan kirinya
dia coba menusukkan ujung senjata itu ketenggerokan
lawannya. Tapi telah kasip. Tangan kanan Aditia telah
menjambak rambutnya, menghentakkan kepala laki-laki itu.
Siauw Tek merasakan seperti kepalanya hendak tanggal dari
persendian lehernya, Baru pada pertama kali itulah Tan Siauw
Tek, murid guru besar yang ditakuti oleh seantero masyarakat
Banjaran menjerit keras setinggi langit. Pemandangan matanya
berkunang-kunang sedang kepalanya terasa semakin lama
semakin panas.
“Jangan......! Jangan bunuh ayahku!” terdengar jeritan
perempuan dari seberang jalan, Aditia memutar kepalanya.
Dilihatnya Lian Hwa, anak gadis Tan Siauw Tek menghambur
dari dalam rumah dan berlari kearahnya. Kesempatan ini
dipergunakan oleh lawannya untuk melepaskan diri. Dengan
sekuat tenaganya dia meninju pelipis kanan Aditia dengan
tangan kanannya sedang tepi telapak tangan kirinya
menghantam lengan Aditia yang menjambak perutnya. Pukulan
yang mendadak itu membuat Aditia terkejut. Cekalannya lepas
dan musuhnya membanting diri kesamping untuk kemudian
melarikan diri sambil berteriak-teriak mengancam. “Awas kau
bangsat! Kalau kau benar-benar jagoan, tunggu! Jangan lari!
Aku akan panggil guruku!”.
Aditia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar teriakan
itu. Baru sekali ini dia melihat orang yang sangat keras kepala
seperti Tan Siauw Tek itu.
LIMA
BEBERAPA lama kemudian pendekar kita baru sadar kalau
saat itu disampingnya berdiri Tan Lian Hwa anak gadis dari
musuhnya yang telah melarikan diri itu. Dia coba tersenyum
pada gadis Tionghoa yang cantik tersebut. Si gadis memandang
tak berkesip pada pemuda dihadapannya, kemudian membuka
mulutnya. “Ayahku memang keras kepala. Tapi dia tengah
diselimuti amarah karena perbuatanku. Kuharap sungguh
sungguh jangan sampai kau celakai dia...... Jaagan bunuh
dia......” dan gadis Tionghoa itu menangis tersedu-sedu.
“Anak muda yang terluka itu kekasihmu?” tanya Aditia tanpa
mengacuhkan tangis si gadis. Dengan terisak-isak Lian Hwa
menganggukan kepalanya. Walau Aditia sudah dapat
memaklumi sejak semula apa yang telah terjadi antara anak dan
ayah itu, namun dia bertanya juga. “Apa sesungguhnya yang
telah terjadi diantara kalian sampai ayahmu mengamuk
sedemikian rupa? Kalian telah berbuat serong?”.
Air muka Lian Hwa berubah menjadi kemerah-merahan.
“Tidak sepantasnya kau berkata seperti itu!” ujar si gadis
bermata sipit dengan gusarnya,
“Harap maafkan......” kata Aditia dengan perlahan menyesali
kata-katanya yang tak disengaja itu.
“Aku telah lama berhubungan dengan Ardi yaitu sejak dia
menyelamatkan jiwaku disungai. Suatu hari aku tengah
menikmati keindahan air terjun sungai Barito disatu tempat
yang teduh ditepi sungai. Tiba-tiba tanah dimana aku berdiri
longsor. Aku jatuh terseret kedalam sungai dan dihanyutkan
arus yang deras. Saat itu Ardi juga berada ditepi sungai. Ketika
melihat aku terapung-apung antara hidup dan mati, dia dengan
mempertaruhkan nyawanya pula terjun kedalam sungai dan
dengan susah payah dia berhasil menyelamatkan diriku. Sejak
itu hubungan kami menjadi erat. Aku mencintainya dengan
sejujur dan sepenuh hatiku, begitu pula dia. Ayahku tahu bahwa
Ardi telah menyelamatkan nyawaku. Pada mula pertama dia
merasa tergigit lidah untuk melarang perhubunganku dengan
Ardi. Tapi setelah dilihatnya kami semakin rapat dan sering
berdua-duaan, dengan keras aku diberinya peringatan. Tapi aku
tak bisa menjauhkan diri dari Ardi. Kami terus berhubungan
dengan sembunyi-sembunyian. Empat kali kami sudah
kedapatan berdua-duaan ditepi sungai. Dan tadi ketika aku
bertemu dengan Ardi ditempat yang telah ditentukan, tanpa
setahu kami ayahku rupanya telah lama membuntuti. Dirumah
dia habis berkelahi dengan ibu. Amarahnya yang belum hilang
agaknya menjadi mendidih kembali. Tanpa tanya dia mengejar
kami dengan golok ditangan. Allah rupanya masih
memanjangkan umur kami. Dia seakan-akan telah menyuruh
kau datang kemari untuk menyelamatkan kami........”.
Pemuda kita terkejut ketika mendengar gadis itu menyebut
nama Allah. Dia bertanya. “Ardi orang Banjar, bukan?”.
“Tidak” jawab gadis Tionghoa itu. “Dia orang Melayu tapi
sudah bertahun-tahun tinggal disini”.
“Tentunya dia beragama Islam bukan?”. Lian Hwa
mengangguk. “Lalu, bagaimana kau akan bisa berumah tangga,
dengan dia yang berlainan agama?”.
“Diam-diam aku telah masuk Islam” jawab gadis Tionghoa
itu dengan terus terang. “Ardi telah mengajarku banyak sekali
tentang Islam. Dan dia juga mengajar aku sembahyang lima
waktu............”.
“Pantas......” desis Aditia dengan takjub. “Tadi kau menyebut
kata-kata Allah dengan tiada kaku sedikitpun juga...... Ah......
kalian benar-benar sudah berjanji untuk sehidup semati
agaknya. Kudoakan semoga kalian berdua berbahagia dunia
akhirat”.
Lian Hwa tersenyum manis sekali. “Terima kasih......”
katanya. Tiba-tiba senyum yang bermain dibibirnya itu lenyap
seperti direnggutkan setan. Matanya memandang keujung jalan
dengan melotot dan wajahnya kini membayangkan rasa takut.
Aditia menurutkan pandangan mata gadis itu. Dari ujung jalan
dua orang laki-laki tampak berlari dengan cepat. Yang agak
kebelakang adalah Tan Siauw Tek sendiri.
“Hati-hati”, bisik Lian Hwa memperingatkan. “Orang yang
berlari dimuka itu adalah Ma Lhok Thay, guru ayahku. Dia
sangat sakti. Ilmu kepandaiannya tinggi. Aku tak bisa
mempercayai bagaimana, ayahku bisa menyeret-nyeret gurunya
yang jujur dan baik hati itu kedalam kejadian ini dan......”.
“Pergilah masuk kembali kedalam rumah itu” kata Aditia
memotong cakap si gadis. Sebelum memutar tubuhnya, Lian
Hwa berkata lagi. “Ingat ayahku sedang kalap. Kalau kalian
bertempur lagi jangan celakai dia......”.
Kedua orang Tionghoa itu, murid dan guru sampai
dihadapan Aditia. Ma Lhok Thay memperhatikan murid Eyang
Wilis dari ujung penutup kepalanya sampai keujung kaki. Satu
senyum kecil tampak dimukanya. Dia memandang pada
muridnya. “Siauw Tek, apa ini pemuda yang kau katakan telah
berani berlaku kurang ajar padamu?”.
“Ya, dialah bangsatnya”. Ma Lhok Thay tersenyum lagi.
Tionghoa yang berumur sudah agak lanjut ini berwajah bersih
membayangkan kejujuran, kebaikan dan kebijaksanaan. Dia
memandang pada Aditia dan sambil senyum-senyum kecil
bertanya. “Benar kau telah menghajar habis-habisan muridku
ini. Suaranya datar tiada membayangkan rasa sombong atau
nada mengejek sama sekali. Aditia maklum bahwa dengan
orang ini dia tak bisa bicara, asal keluar saja.
“Sangat menyesal sekali, guru” kata Aditia. “Karena
perbuatanku guru sampai terpaksa datang kemari. Harap
maafkan......”.
Ma Lhok Thay mengerenyitkan alis matanya yang hampir
memutih itu. Dia tersenyum lagi. Lalu berkata. “Pertanyaanku
belum kau jawab anak muda”.
Aditia mengangkat bahunya. “Bukan maksud saya bertindak
seperti itu, guru. Ayah Lian Hwa dalam keadaan mengamuk
lupa diri, hendak membunuh kekasih anaknya bahkan juga
anak kandungnya sendiri! Apakah salah, kalau saya coba untuk
mencegah kejadian itu?”.
“Mencegah sudah sepatutnya. Tapi mengapa sampai kau
hajar habis-habisan muridku?”.
“Guru tidak menyaksikan perkelahian itu bukan? Kalau saya
omong kosong boleh tanyakan pada orang-orang disini, pada
Lian Hwa dan anak laki-laki itu sendiri bagaimana dia juga
pertama sekali menyerang saya. Berulang-ulang saya teriakan
padanya supaya menghentikan perkelahian itu dan menempuh
jalan damai tapi sama sekali tak dihiraukannya!”.
“Kau tidak berdusta?” tanya Ma Lhok Thay.
“Tanyakanlah pada muridmu sendiri!” tukas Aditia, Ma Lhok
Thay memalingkan kepalanya kepada muridnya. Sang murid
hanya menundukkan kepala. Guru silat itu tersenyum dan
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Apa sebabnya kau mengamuk sedemikian hebat sampai
lupa daratan? Sampai hendak membunuh anak kandungmu
sendiri? Anakmu satu-satunya?!” tanya sang guru kepada
muridnya.
Siauw Tek mengangkat kepalanya sedikit dan menjawab.
“Aku tidak senang melihat Lian Hwa berhubungan dengan
orang Melayu itu. Pemuda hidung belang!”.
“Jangan menuduh sembarangan Siauw Tek!” ujar Aditia.
“Kalau orang Melayu itu pemuda yang hidung belang sudah
lama dia meninggalkan anak gadismu dalam keadaan hina. Kau
ingat bahwa dialah juga telah menyelamtkan nyawa Lian Hwa?
Dan kau telah saksikan sendiri bagaimana dia mempertaruhkan
nyawanya dihadapan golokmu untuk melindungi agar gadis
yang disaksikannya selamat dari golok maut ayah kandungnya
sendiri?!”.
Tan Siauw Tek menundukkan kepalanya sedang gurunya
dengan senyum-senyum kecil sambil menganggukkan
kepalanya berkata pada Aditia. “Teruskan...... teruskan, masih
banyak yang ingin kau katakan bukan? Teruslah. Aku senang
mendengar kata-katamu......”. Suara yang membayangkan
kejujuran itu membuat Aditia membuka mulutnya kembali.
“Didalam agamaku, rezeki, langkah, maut dan jodoh adalah
ditangan Tuhan. Kita manusia biasa tak bisa menentukannya.
Kalau pemuda Melayu itu dengan seluruh hati dan
kejujurannya mencintai anak gadismu, dan Lian Hwa tak bisa
memutuskan hubungan bathin antara kedua anak muda itu
dengan begitu saja. Kalau dipaksakan juga, anak sendiri yang
akan celaka dan kau juga yang akan rugi. Kau sudah menjadi
seorang bapak, tentu sudah banyak memakan asam garam
pengalaman dunia. Jangan lukai hati anakmu, jangan pisahkan
dia dari orang yang dikasihinya. Kita yang berada diluar
hubungan bathin keduanya memang tak akan merasa apa-apa
kalau dipaksakan juga untuk memutuskan hubungan itu. Tapi
bagaimana dengan diri anak gadismu? Bagaimana dengan masa
depannya? Meskipun dia kawin dengan orang lain tapi dia
hidupnya tak akan berbahagia. Masa depannya akan diselimuti
kemurungan dan sebagai seorang ayah yang sudah menutupkan
mata, nanti didalam kubur kau sendiri juga tak akan merasa
tenteram karena anakmu hidup menderita bathin selama
hayatnya. Ingatlah kalau anakmu yang kawin, bukan berarti
engkau yang jadi pengantin. Bukan kau yang akan berumah
tangga, tapi anakmu dan menantumu. Merekalah yang akan
mangemudikan rumah tangga mereka. Tapi bagaimanakah
kalau Lian Hwa hidup dengan pemuda lain juga tak dicintainya,
pilihan orang tuanya? Padahal satu-satunya kebahagian hidup
didunia ini adaah satu rumah tangga yang aman damai penuh
diliputi suasana kasih sayang. Agaknya kau dan juga guru
mengetahui bahwa cinta yang sebenar-benarnya cinta yang suci
dan jujur tidak mangenal perbedaan bangsa, derajat keturunan
dan agama. Atau mungkin kau merasa malu dan hina karena
anakmu kawin dengan seorang pemuda miskin sedang kau
seorang saudagar intan berlian yang kaya raya yang terkenal
diseluruh tanah Banjar ini? Sungguh sangat disayangkan kalau
begitu cara berpikirmu, Siauw Tek. Ketahuilah, kebahagiaan
hidup itu bukan dari harta, bukan dari uang, tapi dari pikiran,
dari rumah tangga yang tenteram dan dari sayang antara suami
istri. Bukankah kita sering menyaksikan bagaimana sepasang
suami istri tukang kayu yang hidup sederhana, makan
sederhana dan yang tidur diatas satu balai-balai kayu yang
keras jauh lebih bahagia dan senang hidupnya dari pada
sepasang suami istri yang kaya raya, hidup mewah, makan
mewah, tidur diatas tempat tidur yang mentul-mentul. Apa
sebabnya si miskin lebih bahagia dari si kaya raya? Tak lain
karena pikiran senang, rumah tangga aman tenteram, kedua
suami istri saling mengasihi satu sama laln! Aku tidak bisa
bicara panjang-panjang Siauw Tek, walau bagaimanapun antara
kau dan anakmu aku odalah orang luar. Tapi kalau kau kasihan
terhadap anakmu, kau sadar akan masa depan anakmu maka
biarkanlah dia hidup dengan pemuda yang dikasihi dan yang
mengasihinya. Sudah terlampau kasip bagimu untuk
melarangnya. Tali kasih lebih kuat dari rantai baja yang
manapun juga dan tak mungkin akan diputus kalau sudah
bersambung!”.
Kedua mata Siauw Tek tampak berkaca-kaca. Dia
memandang berkeliling pada Aditia, pada gurunya lalu
kerumah diseberang jalan dimana tadi dia melihat Lian Hwa
masuk kesana.
“Anak gadismu ada didalam sana bersama kekasihnya yang
terluka parah. Kalau kau masih ingin membunuh keduanya
pergilah......”, desis Aditia. Tan Siauw Tek tampak
menggelengkan kepalanya. Pikiran sehat dan hati dingin kini
memenuhi otak dan hatinya. Dia melangkah menuju kerumah
itu diikuti pandangan Ma Lhok Thay dan Aditia.
Didalam sana Lian Hwa dengan penuh ketakutan
memandang pada ayahnya yang berdiri diambang pintu. Dia
undur beberapa langkah kebelakang dan memeluk tubuh Ardi
yang saat itu duduk dibalai-balai. Lukanya telah dibalut.
“Ayah...... kalau ayah hendak membunuhku...... bunuhlah
kami berdua......” ujar Lian Hwa dengan berurai air mata, Tan
Siauw Tek datang semakin dekat. Tiba-tiba dia mengulurkan
kedua tangannya. “Lian Hwa anakku...... Ardi........”.
“Ayah!” dan ketiga orang itu saling berangkulan satu sama
lain. Tau Siauw Tek, Tan Lian Hwa, Ardi. Ayah, anak, calon
menantu. Calon mertua, calon istri dan calon suami!
“Lukamu tidak apa-apa Ardi......?”, tanya Tan Siauw Tek.
Pemuda Melayu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Didalam hatinya dia bertanya-tanya, mujizat apakah yang telah
diturunkan Tuhan maka sampai manusia yang tadi
menginginkan nyawanya kini menyapanya dengan lemah
lembut?!
“Lian Hwa, Ardi...... mari keluar dari rumah ini. Lian Hwa
harus rawat calon suamimu dirumahmu. Mari......”. Ketiganya
keluar dari dalam rumah. Ardi dipapah ditengah-tengah.
Pemilik rumah hanya senyum-senyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya melihat ketiga orang itu.
“Celaka!” kata ayah Lian Hwa begitu dia sampai dipintu
rumah. Dijalanan gurunya Ma Lhok Thay kelihatan tengah baku
hantam dengan laki-laki berbaju putih tadi. “Mengapa mereka
sampai berkelahi?!” ujar Siauw Tek. Dia berlari sambil
berteriak-teriak. “Tahan! Hentikan perkelahian itu!”.
“Tak usah khawatir......” terdengar suara Ma Lhok Thay.
“Kami hanya main-main. Aku ingin tahu sampai dimana
kehebatan pemuda yang telah menghajarmu sampai habis- habisan!”. Ma Lhok Thay tersenyum, begitu juga Aditia.
Atas permintaan Ma Lhok Thay, Aditia terpaksa menerima
tawaran guru silat itu untuk saling menguji kepandaian.
Sebenarnya Aditia tak menyenangi hal itu. Tapi karena didesak
akhirnya dia terpaksa juga. Mereka bersepakat bahwa mereka
akan adu tenaga selama lima belas jurus.
Jurus yang pertama dimulai dengan serangan pembukaan
dari Ma Lhok Thay. Kedua orang itu sama-sama bertangan
kosong. Orang yang menonton tak terhitung banyaknya. Kedai- kedai nasi pada kosong. Pemilik-pemilik kedai nasi turut pula
menyaksikan duel kesaktian itu bersama pelayan-pelayannya.
Sehingga kalau kucing masuk kekedai-kedai itu...... ditanggung
beres segala makanan yang ada disana.
Tubuh Ma Lhok Thay melompat enteng sebatas pinggang
lawannya. Kaki kanannya kebelakang sedang kaki kirinya
kemuka. Tangannya terbentang sehingga bagian dadanya
terbuka tiada terlindung sama sekali. Aditia tak mau ditipu
mentah-mentah oleh jago tua ini. Dia memiringkan tubuhnya.
Ketika tendangan Ma Lhok Thay datang dengan deras, dia
membuang dirinya kesamping. Melihat tendangannya
mengenai tempat kosong, guru silat itu memutar tubuhnya
diudara, tangannya yang terkembang tadi kini mulai bekerja.
Kedua tangan itu dengan cepat menangkap kepala Aditia.
Pemuda baju putih merunduk. Tinju kanan yang berisi aji tapak
besi berapi memukul keperut gurunya Siauw Tek. Melihat angin
pukulan yang demikian keras, Ma Lhok Thay mempergunakan
lengan kanannya untuk memukul lengan Aditia. Kedua tangan
itu saling bentrokan. Dan dengan sama-sama mengagumi
kekuatan tenaga dalam masing-masing, kedua orang itu sama- sama mundur kebelakang.
Jurus kedua kini. Juga Ma Lhok Thay yang mulai
menyerang. Kedua tangannya membentuk tinju. Dia, memukul
kian kemari. Angin pukulan yang keras membuat baju Aditia
berkibar-kibar. Kedua tinju lawannya semakin cepat datangnya.
Kelihatannya tak tentu arah. Tapi kalau Aditia lengah sedikkt
saja tinju yang tak menentu itu akan mampir ketubuhnya.
Pemuda gunung Wilis itu mengelak dengan waspada sambil
balas menyerang. Entah sudah beberapa kali kedua tangan
mereka saling beradu namun tanpa merasakan sakit yang
diderita, mereka habiskan juga jurus kedua itu. Jurus ketiga
masuk kini. Aditia berkelebatan kian kemari. Tinjunya
mengurung jago silat Tionghoa itu. Lututnya setiap dia
melompat selalu mencari sasaran. Jago tua dengan segala
kegesitannya melompat kian kemari mengelakkan pukulan- pukulan yang datang bertubi-tubi itu. Namun tak urung
menjelang akhir jurus ketiga dia terpaksa juga mengakui
keunggulan lawannya. Saat itu tinju kanan dan kiri Aditia
benar-benar telah mengurung Ma Lhok Thay. Dengkul
lawannya entah sudah beberapa kali hendak menghantam dada
dan perutnya namun sampai saat itu masih sanggup bertahan.
Tapi ketika tinju kiri Aditia datang dengan cepat sedang tinju
kanan dan dengkul kiri datang pula menyerang dengan
serentak, dia tak dapat lagi mengelakan serangan itu sekaligus,
Dia memilih lebih baik terpukul tangan kiri dari pada di hantam
dengkul dan tangan kanan. Demikianlah dia mangelakkan dua
serangan terakhir dengan mengurbankan pangkal tengkuknya
terkena jotosan kiri lawan. Ma Lhok Thay terhuyung-huyung
beberapa lamanya, Pangkal tengkuknya tampak kemerah- merahan. Tapi dia masih tersenyum ketika memuji lawannya.
“Kau benar-benar hebat, anak muda......”.
Pada jurus keempat, kelima, keenam dan ketujuh Ma Lhok
Thay berusaha untuk membalas kekalahannya, namun sia-sia.
Pada jurus kedelapan dan kesembilan bahkan dia dipaksa pula
menerima dua buah pukulan yang berat-berat dari Aditia.
Kini adu kekuatan itu memasuki jurus kesepuluh. Setelah
berkelebat kian kemari sehingga menimbulkan angin bersiuran
mendadak secepat kilat tinju Ma Lhok Thay sudah berada
sedemikian dekatnya diujung hidung Aditia. Dengan sekuat
tenaga Aditia menyampok lengan lawannya dengan tangan
kanan. Walaupun mukanya selamat dari tinju itu tapi tinju
lawannya meleset tersebut kini menjadi menghantam dadanya.
Aditia mundur tertatih-tatih kebelakang, sambil mengusap- usap dadanya yang kena jotos. Ketika, dia baru saja selesai
mengatur jalan nafasnya, lawannya dengan cepat membuka
jurus kesebelas dengan menyerang secara aneh. Tubuh Ma
Lhok Thay, setengah merunduk. Jari-jari telunjuk dan jari
tengah laki-laki itu memanjang kemuka sedang jari-jari yang
lainnya dilipat kebelakang. Sebagai guru silat kawakan,
permainan kuntau Ma Lhok Thay juga sangat hebat sekali. Dua
kali pendekar gunung Wilis berhasil kena totok pada perut dan
tulang iganya. Kalau orang lain...... jangan harap untuk masih
bisa hidup kena totokan itu. Dalam dia tengah mengagumi
kekebalan musuhnya, Lhok Thay bertindak lengah sehingga
akibatnya dia terpaksa menerima satu tendangan yang berisi aji
halilintar dari Aditia pada pinggulnya, Dengan agak sedikit
terpencong-pencong. Ma Lhok Thay maju kembali memasuki
jurus kedua belas. Pada jurus ini kedua musuh itu bertempur
dengan kecepatan yang luar biasa penuh kegigihan. Tapi tak
satu pukulan atau tendanganpun yang berhasil mengenai
lawan. Ketika hendak memasuki jurus ketiga belas Ma Lhok
Thay berkata. “Kurasa akan sia-sia menghadapimu dengan
tangan kosong. Bagaimana kalau aku mengeluarkan senjata?
“Silahkan, asal saja tidak dipakai untuk membunuhku!”
jawab Aditia pula sambil tersenyum. Begitulah jurus ketiga
belas dilalui dan Ma Lhok Thay mengeluarkan senjatanya,
sebentuk kalung yang terbuat dari baja putih. Kalung baja itu
diputar-putarkannya diatas kepalanya. Kemudian tangannya
bergerak kian kemari dan senjata itu mulai mencari sasarannya.
Cara berkelahi dengan memakai kalung itu agak aneh bagi
Aditia, sehingga setelah mengelak dengan penuh kegesitan baru
dia bisa menghindarkan sambaran-sambaran kalung itu. Pada
jurus keempat belas permainan kalung Ma Lhok Thay semakin
menghebat. Orang dan senjata tak kelihatan sama sekali
wujudnya, hanya bayangannya saja. Mau tak mau Aditia
bergerak cepat mengikuti gerakan lawannya namun kalung
berhasil juga bersarang sekali didadanya. Dada Aditia terasa
perih. Dia menggosok-gosoknya dengan telapak tangan kirinya
beberapa kali dan sebelum jurus yang terakhir dimulai Aditia
berkata. “Jurus terakhir, guru. Mari sama-sama kita keluarkan
ilmu simpanan kita!”.
“Aku tidak punya lagi ilmu simpanan, hanya kalung ini” ujar
Ma Lhok Thay merendah. Aditia tersenyum dan untuk pertama
kalinya dia memulai serangan pada jurus yang terakhir ini.
Pertempuran seru berlangsung. Abu jalanan beterbangan.
Sekali ketika Aditia berusaha untuk mengelakkan sambaran
kalung lawannya, kakinya terpeleset. Tapi dia cerdik, kalau
jatuh dia tak mau sendirian. Dengan mengenai lengan kiri
lawannya, kedua orang itu jatuh bergulingan ditanah. Nasib
buruk Aditia terhimpit dibawah. Ketika tinju kiri dan pukulan
kalung datang dengan sekaligus, dengan kecepatan dan
kekuatan yang luar biasa Aditia membalikkan tubuhnya, Ma
Lhok Thay terpelanting kesamping. Kedua orang itu bangun
dalam waktu yang bersamaan dan saling berhadap-hadapan
satu sama lain kembali. Pemuda kita tak ingin dipecundangi
pada jurus terakhir ini. Ketika dilihatnya lawannya berkelebat
cepat dengan kedua tinju melayang-layang deras mencari
sasaran sedang kalung baja putih berputar-putar ganas
mengeluarkan suara angin yang bersiuran. Aditia segera
menjejak tanah. Tubuhnya melesat keudara. Saat itu Ma Lhok
Thay menyampokkan kalungnya. Sampokan pertama dapat
dielakkan tapi sambaran kedua yang disertai jotosan tinju kiri
membuat pendekar keris merah jungkir balik diudara untuk
dapat mengelakkan serangan dahsyat yang datang dengan
serentak itu.
Sebelum kakinya menjejak tanah kembali, Aditia
mengirimkan kedua tinjunya dengan berbareng kearah kepala
lawannya. Ma Lhok Thay merunduk, tapi dia salah siasat
karena mendadak kaki kanan Aditia meluncur cepat kearah
dadanya. Ma Lhok Thay membuang diri kesamping kanan
untuk mengelakkan tendangan itu. Percuma! Tinju kanan
Aditia datang dari samping sedang tangan kirinya merampas
senjata lawan, Ma Lhok Thay terjungkal beberapa tombak
kebelakang jatuh duduk ditanah. Kulit mukanya tampak merah
sekali. Laki-laki itu tak kuasa membukakan kedua matanya
untuk beberapa saat lamanya. Dari mulutnya terdengar suara
erangan kecil. Sekalipun jago tua ini memiliki tenaga dalam
yang ampuh namun dia masih belum sanggup untuk menerima
pukulan halilintar warisan pertapa sakti Eyang Wilis.
Ketika badannya terasa baik dan pandangannya tidak lagi
berkunang-kunang, dengan perlahan-lahan Ma Lhok Thay
bangkit berdiri. Tiba-tiba dengan tak pencaya dia memandang
ketangan kanannya, kalungnya tidak ada lagi dalam
genggamannya. Ketika dia memandang kemuka, ternyata
senjatanya itu sudah ada ditangan lawannya. Kalau Ma Lhok
Thay tak dapat mempercayai hal itu, apa lagi muridnya Tan
Siauw Tek. Guru dan murid sama-sama terkejut. Untuk
pertama kali Siauw Tek melihat dengan mata kepala sendiri
bagaimana gurunya yang dihormati, disegani dan ditakuti oleh
seantero masyarakat di Banjaran karena ilmu kepandaiannya,
hari itu sama sekali dibikin tak berdaya sama sekali oleh
seorang laki-laki muda berwajah tampan yang berpakaian putih
robek-robek!
Ma Lhok Thay sadar bahwa pemuda yang berdiri
dihadapannya itu bukan sembarangan, berilmu tinggi. Jago
Tionghoa itu menjura memberi hormat kepada Aditia sambil
berkata. “Permainan yang kau keluarkan sungguh-sungguh tak
dapat kutandingi. Kalau aku boleh bertanya, murid siapakah
kau gerangan.........
Aditiajaya tersenyum kecil. Kemudian sambil memberikan
kalung baja putih yang ditangannya kepada orang Tionghoa itu
dia berkata. “Senjatamu sungguh ampuh, guru. Sangat sukar
bagiku untuk mengelakkan sambaran-sambarannya”.
Ma Lhok Thay tersenyum kecil. Jawaban Aditia cukup
memberikan kesan kepadanya bahwa anak muda itu tak mau
memberi tahu siapa gurunya. “Bagaimana kalau kuundang kau
minum teh kerumahku?” tanya guru silat itu kemudian. Aditia
menjura memberi hormat. “Terima kasih, guru. Lain kali
sajalah. Permainan yang guru berikan sudah lebih dari
undangan minum teh”.
Gurunya Siauw Tek tersenyum. Dia memandang pada
muridnya beberapa lamanya, kemudian pada Lian Hwa, pada
Ardi dan akhirnya kembali pada Aditia. Sekali lagi jago tua itu
memberi hormat dan berkata. “Terima kasih banyak pendekar
muda. Senang sekali dapat berkenalan dengan kau........”.
“Sayalah yang harus berterima kasih, guru......” ujar Aditia
pula sambil balas menjura. Ma Lhok Thay memutar tubuhnya
dan melangkah meninggalkan tempat itu.
Aditia memandang pada ketika orang yang berdiri
disampingnya dan berkata pada yang tertua. “Siauw Tek, apa
segala sesuatunya sudah beres kini..........?”.
“Anak muda........” kata orang Tionghoa yang bertubuh
gemuk pendek itu. “Kalau tak ada kau tentu aku sudah
membunuh Ardi dan anak kandungku sendiri”. Siauw Tek
menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya membayangkan
rasa penyesalan yang sedalam-dalamnya. Kemudian dia
berkata. “Mampirlah kerumahku, anak muda......”.
“Jadi semuanya sudah beres Siauw Tek?”.
Orang Tionghoa itu mengangguk. “Kalau begitu......
kuucapkan selamat pada kalian berdua”. Aditia melangkah
maju dan menjabat tangan Lian Hwa. Mata gadis tampak
berkaca-kaca. Kemudian dijabatnya pula tangan Ardi dan
akhirnya tangan Tan Siauw Tek. Sebelum memutar tubuhnya,
Aditia memandang sekali lagi pada kedua calon pengantin itu,
“Semoga kalian berdua hidup bahagia rukun dan damai untuk
selama-lamanya......
Aditiajaya kembali masuk kedalam kedai nasi itu. Nafsu
makannya sudah hilang. Dia mengeruk saku bajunya untuk
mengambil uang. Diantara lembaran-lembaran uang kertas
disakunya itu dirasakannya sebuah benda yang bulat berlubang.
Dan ketika benda itu dikeluarkannya, ternyata adalah cincin
emas yang bermata berlian yang tadi hendak diberikan oleh
Suwantra, pemuda dari suku Kayan itu. Pemuda kita merasa
terkejut sekali dan tak habis pikir jadinya. Bagaimana cincin itu
bisa berada dalam sakunya sedang ketika Suwantra hendak
memberikan benda itu dia menolaknya dengan keras. Aditia
berpikir-pikir dan mengingat-ingat. Akhirnya sambil tersenyum
kecil dia memasukkan cincin kembali kedalam sakunya. Dia
ingat bagaimana Suwantra ketika berkata, sambil menepuk
bahunya. Tentu dengan kecepatan yang luar biasa pemuda suku
Kayan itu diam-diam telah memasukkan cincin itu kedalam
sakunya. Dan memang itulah yang telah dilakukan Suwantra.
Sebagai anak suku dalam, sebagai seorang putera mahkota dari
suku Kayan, walaupun tidak begitu tinggi tapi Suwantra diam- diam juga mempunyai ilmu kepandaian. Satu diantaranya telah
diperlihatkannya dimuka hidung Aditia. Dan untuk pertama
kali murid Eyang Wilis itu merasa dirinya dikalahkan tapi
kekalahan yang diterimanya dengan hati senang gembira dan
senyum geli. Setelah membayar harga nasi yang dipesannya
tadi beserta minuman, Aditia keluar dari kedai itu. Semua mata
ditujukan kepadanya. Sebelum dia hilang dikejauhan belum
seorangpun yang memutar kepalanya memandang ketempat
lain. *
* *
ENAM
HARI masih pagi. Matahari belum lagi tinggi. Saat itu Aditia
tengah berada didalam hutan disatu lereng bukit yang diapit
oleh dua buah sungai yaitu sungai Dayak Besar dan sungai
Dayak Kecil. Sinar matahari hampir-hampir tak dapat
menembus kelebatan dedaunan pohon-pohon besar yang
tumbuh di hutan itu. Pohon-pohon kayu itu tumbuh dengan
kukuhnya. Batangnya dan cabang-cabangnya bahkan sampai
keranting-rantingnya diselimuti oleh lumut lembab yang
bewarna hitam kehijauan. Entah sudah berapa abad umur
pohon-pohon raksasa itu, Aditia tak dapat memastikan.
Kicauan burung terdengar dimana-mana, diselingi oleh auman
binatang-binatang buas.
Belum sampai seratus meter jauhnya Aditia memasuki hutan
belantara itu, entah sudah beberapa puluh ekor ular besar dan
kecil yang dilihatnya, disela semak-semak, melihat diranting
atau dicabang pohon, melingkar dalam keadaan tidur dan lain
sebagainya. Memang pulau Kalimantan adalah satu-satunya
pulau diseluruh Nusantara yang paling banyak ularnya, bahkan
mungkin diseluruh dunia, Aditia talc mau mati konyol dipatuk
ular dari belakang, karena itu sejak menemui tiga ekor ular
pertama yang dilihatnya waktu memasuki hutan tadi, dia telah
siap-siap dengan ilmu kebalnya. Semakin jauh masuk kedalam
hutan semakin lembab terasa udara. Aditia menyeruak diantara
semak-semak liar. Tiba-tiba disampingnya, tak seberapa
jauhnya terdengar suara semak-semak patah dan suara seperti
ada yang tengah bergumul. Dengan rasa ingin tahu Aditia
melangkahkan kakinya dengan waspada kearah datangnya
suara itu. Semak-semak yang dihadapannya disingkapkannya
dan satu pemandangan luar biasa yang belum pernah
disaksikannya seumur hidupnya kini terpampang
dihadapannya. Dua ekor binatang buas, ular besar dan macan
tutul tengah bergumul dengan dahsyatnya. Pohon-pohon kecil
dan semak-semak yang disekitar sana pada patah-patah kena
bantingan kedua tubuh binatang itu.
Tubuh macan tutul raksasa terlilit keras oleh lawannya,
namun binatang ini bertahan dengan gigih. Dia membanting
kian kemari. Kedua cakar kaki depannya mencari sasaran
dikulit sang ular, begitu juga taringnya berusaha mengoyak
kepala lawannya. Tapi ular besar itu tidak bodoh setiap mulut
lawannya terbuka lebar untuk menghancur luluhkan kepalanya
setiap kali dia mengelak dengan gesit bahkan sampai saat itu
sudah tiga kali dia berhasil mematuk kepala lawannya membuat
macan tutul besar itu meraung kesakitan. Belitan perutnya
terasa semakin mengencang. Macan tutul itu menukar siasat.
Dia bergulingan, sengaja menghantam tubuhnya yang terlilit
kepohon-pohon kayu d sekitarnya, sehingga tubuh ular besar
itu turut terpukul dengan keras kepohon kayu tersebut. Sang
ular mau tak mau mengendorkan ikatan lilitannya. Dengan
ujung ekornya dipukulnya bertubi-tubi perut lawannya. Macan
tutul itu seperti tak merasakan terus menyerang lawannya
dengan kedua cakar kaki mukanya. Cakaran dibalas dengan
patukan. Kulit tubuh ular besar itu yang bewarna hitam
berbelang-belang hijau tampak bergurat cabik-cabik dan
mengeluarkan darah kental bewarna hitam. Sedang moncong
dan hampir setiap bagian dari muka si macan tutul penuh
dengan patukan-patukan berbisa dari lawannya.
Sambil menampar keras dengan ujung ekornya keperut
lawannya ular besar itu mematuk mata kiri macam tutul itu
dengan tepatnya sampai buta. Macan itu mengaum setinggi
langit. Dengan menggeram dahsyat dia coba menggigit tubuh
lawannya, tapi tak berhasil karena ekor lawannya lebih cepat
menampar pangkal telinganya dengan keras. Raja hutan itu
terhuyung-huyung seketika. Sekali lagi musuhnya mematuk
moncongnya. Ketika ular besar itu hendak mengulangi sekali
lagi, musuhnya membuka mulutnya lebar-lebar. Gigi-gigi dan
taring-taringnya yang besar tampak mengerikan dan
huuppp........ sebelum ular besar dapat mematuk kepalanya,
macan tutul itu telah mendahului menerkam leher lawannya. Si
ular menghempaskan tubuhnya kian kemari dan memukul
lawannya dengan ujung ekornya sampai bertubi-tubi. Tapi
macan tutul itu walau bagaimanapun tak mau melepaskan
tubuh ular itu dari cengkeraman gigi-giginya. Si ular coba untuk
melilit lawannya kembali. Tapi tubuhnya sudah sedemikian
lemahnya. Lilitannya tak berarti sama sekali. Gigitan macan
tutul itu semakin keras dan semakin dalam. Leher binatang itu
semakin menggenting. Akhirnya setelah menghempaskan
tubuh melepaskan gigitannya. Dengan terhuyung-huyung raja
hutan itu mati. Setelah beberapa lama kemudian baru macan
tutul itu melepaskan gigitannya. Dengan terhuyung-huyung
raja hutan itu melangkah meninggalkan tempat itu. Tapi
dibawah pohon kayu raksasa disebelah sana tiba-tiba dia
meraung keras, membantingkan dirinya kian kemari untuk
kemudian jatuh rebah ketanah tak bergerak lagi. Rupanya bisa
ular yang memenuhi pembuluh-pembuluh darahnya telah
sampai kejantung dan keotaknya, membuat dia mati seketika
itu juga. Terbunuh setelah membunuh.
Aditia memandang kedua binatang itu berganti-ganti
beberapa lamanya. Sungguh suatu perkelahian yang hebat dan
seru yang tak pernah disaksikan manusia dimana kedua musuh
itu akhirnya sama-sama menemui ajalnya.
Murid Eyang Wilis meneruskan perjalanannya. Pohon-pohon
raksasa mulai berkurang dan setengah jam kemudian dia
sampai disatu pedataran terbuka yang ditumbuhi semak-semak
rendah dan rumput-rumput liar. Disudut kiri pedataran
ditengah hutan itu didapatinya sebuah mata air jang dijernih.
Setelah mencuci mukanya dan meneguk air yang sejuk itu
sepuas-puasnya, dia beristirahat beberapa lamanya. Jauh
dimuka sana nampak puncak sebuah gunung yang diselimuti
kabut tipis.
Sepuluh menit kemudian Aditia meneruskan perjalanannya.
Dia melihat sebuah jalan kecil dan tanpa ragu-ragu segera
mengikuti jalan itu. Semakin jauh jalan itu semakin menurun
sedang disebelah sana terdengar suara air terjun sayup-sayup
sampai. Disatu kelokan, Aditia seperti orang jang kena hipnotis
mendadak menghentikan langkahnya. Tubuhnya diam tak
bergerak-gerak. Matanya memandang melotot kebalik sebuah
batu besar dimana tersembul kepala seorang perempuan yang
rambutnya panjang terurai. Dari lehernya, dimana tertancap
sebuah golok besar masih keluar darah dengan perlahan-lahan
yang segera membeku karena dinginnya udara disekitar situ.
Dengan langkah gemetar Aditia mendekati majat itu.
Perempuan yang mati ini masih sangat muda. Wajahnya cantik
sekali. Dekat kepalanya, disamping telinga kiri, diatas tanah
terdapat sebuah bunga bewarna putih yang telah layu, mungkin
yang tadi dipakai oleh perempuan itu untuk menghias
rambutnya penambah kecantikan alamiahnya. Pakaian yang
dipakai gadis itu tampak tak karuan dan robek-robek sehingga
hampir seluruh bagian tubuhnya yang berkulit kuning halus itu
terlihat. Agaknya seseorang atau mungkin beberapa orang telah
membunuh dan merusak kehormatan gadis cantik itu beberapa
jam yang lalu, pikir Aditia. Dengan hati yang sedih dan iba tapi
juga geram, dia menanggalkan kain sarung yang tersandang
dibahunya dan dengan hati-hati menutup tubuh gadis yang
malang itu. Dari wajahnya, Aditia menduga bahwa mungkin
gadis itu adalah seorang penduduk asli. Selesai menutupi tubuh
mayat dengan kain sarungnya, Aditia memandang berkeliling,
mencari tempat dimana yang baik untuk mulai menggali lubang
untuk kubur gadis tersebut. Tiba-tiba semak-semak dimuka
sebelah kiri tampak bergerak-gerak, lalu semak-semak sebelah
kanannya, sebelah belakangnya dan akhirnya seluruh semak- semak itu tampak bergerak-gerak dan beberapa detik kemudian
seorang perempuan muda dengan panah ditangan yang
ditujukan kearah Aditia, keluar dari balik semak-semak diikuti
oleh lebih dari dua puluh orang laki-laki yang berkulit hitam
bertubuh kekar. Perempuan muda itu memakai pakaian seperti
rok yang panjangnya lebih sedikit dari atas lutut. Laki-laki yang
lain hanya memakai celana-celana pendek. Kesemuanya
bersenjata panah, beberapa orang diantaranya membawa
sumpritan. Mereka adalah penduduk asli. Orang-orang Dayak
yang berdiam kira-kira dua kilo dari tempat itu.
Ketika melihat paras perempuan muda yang mengancam
dengan panah beracun dihadapannya itu, Aditia teringat pada
gadis yang menjadi mayat tadi. Wajah kedua perempuan muda
itu hampir tak mempunyai perbedaan barang sedikitpun.
Dalam keadaan bertanya-tanya dalam hatinya terdengar suara
perempuan muda yang dimukanya itu dalam bahasa yang tak
dimengertinya. Tapi Aditia tahu bahwa kata-kata itu ditujukan
kepadanya. Ketika melihat Aditia memandang dengan tak
bergerak-gerak kearahnya, perempuan muda tadi kembali
membuka mulutnya, membentak.
“Aku sama sekali tak mengerti apa yang kau katakan......”,
kata Aditia.
“Begitu.........?” ujar perempuan muda yang cantik
dimukanya. Perempuan itu memandang kepada orang laki-laki
yang mengurung Aditia dan mengatakan sesuatu. Semua orang
tersebut maju kemuka beberapa langkah dan mengurung Aditia
lebih rapat.
Bahasa Indonesia perempuan muda itu terdengar agak kaku.
Dan melihat tindak tanduknya nyatalah bahwa dia adalah
pemimpin dari rombongan tersebut.
“Ikat dia!” ujar perempuan tadi pada orang-orangnya, dalam
bahasa mereka. Empat orang laki-laki yang bertubuh kekar
mendekati Aditia membawa tali rotan. Selebihnya mengancam
dengan anak-anak panah beracun dan sumpritan. Perempuan
muda itu yang berdiri kurang dari satu meter dari hadapan
Aditia sehingga pemuda kita menjadi lupa keadaannya saat itu
karena terpesona melihat paras yang cantik itu, lupa bahwa si
gadis mengarahkan anak panahnya tepat kemata kanannya!
Ketika tangannya disentuh oleh orang-orang Dayak itu baru dia
sadar dan berkata. “Tunggu!! Apa artinya ini semua? Mengapa
kalian menangkapku?!”.
“Apa artinya semua ini? Mengapa kami orang
menangkapmu..........? Ha........ ha........”, gadis yang mengancam
Aditia mengeluarkan suara tertawa dengan nada mengejek.
“Kau kira aku buta? Kau kira kami anak-anak yang bisa ditipu?
Cis, dasar manusia bejat terkutuk!”.
“Aku tidak suka mendengar kata-kata itu!” ujar Aditia. Air
mukanya menjadi merah.
“Dan aku juga tidak sudi adik kandungku kau bunuh dan kau
perkosa!” balas si gadis membentak.
Kalau ada halilintar yang maha keras saat itu mungkin Aditia
tidak akan terkejut, sebagaimana terkejutnya dia ketika
mendengar kata-kata si gadis. Mulutnya ternganga dan
matanya seakan-akan hendak keluar dari sarangnya,
memandang pada orang yang berdiri dimukanya saat itu, yang
menyeringai mengejek kepadanya.
“Kau salah sangka........ Kalian salah sangka......?” kata Aditia
antara terdengar dan tiada.
“Tak usah berdusta dan berpura-pura!” bentak si gadis.
“Kami telah saksikan bagaimana kau menutupi tubuh adikku
dan mencari tempat yang baik untuk membuangnya!”.
“Tapi aku sama sekali tidak membunuhnya. Demi Tuhan.
Aku akan........”.
“Jangan bawa nama Tuhan dalam hal ini. Kami lebih tahu
tentang Tuhan dari manusia bejat semacammu ini!” potong si
gadis dengan getas.
Aditia memandang berkeliling kemudian kembali pada gadis
yang dihadapannya. Ditatapnya mata gadis itu tepat-tepat dan
setelah beberapa detik lamanya dia membuka mulut. “Aku
benar-benar tidak membunuh adikmu. Aku sedang........”.
“Bohong! Dusta!”.
“Biarkan aku bicara dahulu!” teriak Aditia dengan keras dan
gusar. Kedua matanya memandang tajam dan menyorot kearah
mata gadis Dayak itu. Si gadis balas menantang tapi tak kuasa.
“Bicaralah, cepat! Dan jangan harap aku akan mempercayai
kata-katamu itu!” kata si gadis kemudian.
“Aku kebetulan melalui jalan ini dan menemui mayat gadis
itu dibalik batu. Karena kasihan aku menutupi tubuhnya
dengan kain sarung dan ketika tengah mencari tempat yang
baik untuk menguburkannya kau datang bersama orang- orangmu. Aku tidak membunuhnya. Sama sekali tidak!”.
“Kalau bukan kau yang membunuhnya mengapa kau mau
bersusah payah untuk menguburkannya?!”.
“Karena aku tak sampai hati mayatnya dirusak oleh binatang
buas”, jawab Aditia.
“Apa bukan karena kau takut bahwa jejakmu akan
ketahuan?”.
“Aku sudah katakan padamu dengan terus terang bahwa
bukan aku yang membunuh saudaramu” kata Aditia dengan
gusar.
“Dan aku juga sudah katakan padamu bahwa aku tidak akan
mempercayai apapun yang kau ucapkan!”. Gadis itu memberi
isyarat pada orangnya. Keempat laki-laki tadi maju kemuka dan
mulai mengikat tangan Aditia dengan tali rotan yang kuat, yang
bagi seorang manusia yang bagaimanapun kuat tenaganya tak
akan dapat memutuskannya atau coba untuk melarikan diri.
Sebaliknya bagi Aditia adalah merupakan soal yang mudah
untuk melepaskan ikatan rotan itu dan melarikan diri. Tapi dia
tak mau pergi dengan cara itu dimana tuduhan terkutuk
terhadap dirinya masih melekat. Dia tak akan pergi sebelum
tuduhan itu hapus dan dicabut kembali.
“Percayalah sahabat, aku benar-benar tidak membunuh
adikmu bahkan berusaha untuk menolongnya........” kata Aditia.
“Sudahlah, percuma dan sia-sia saja bagimu untuk
meyakinkan aku. Aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri
apa yang kau perbuat!”.
“Dan apa kau juga menyaksikan bagaimana aku membunuh
adikmu?!” tukas Aditia.
“Itu memang tidak, tapi terang bahwa tiada orang lain yang
membunuhnya selain engkau!”.
“Kalau kau sudah yakin bahwa aku yang membunuh adikmu,
mengapa kau tidak menyuruh orang-orangmu untuk
membunuhku saja saat ini?!”. Gadis itu menatap paras murid
Eyang Wilis itu beberapa lamanya. Kedua mata mereka saling
beradu. Akhirnya sambil memutar tubuhnya dia berkata pada
anak buahnya. “Giring dia..........”.
“Jalan!” perintah salah seorang dari orang-orang Dayak yang
mengurungnya. Dengan langkah gontai Aditia melangkah maju.
Sepuluh orang laki-laki dengan mengancamkan senjatanya
kearah Aditia berjalan sambil terus mengurung. Sedang dua
orang yang lain dengan memakai kain sarung Aditia
menggotong mayat gadis yang tadi menggeletak dibalik batu
besar. Yang lain-lainnya berjalan sebagian disebelah muka dan
sebagian lagi disebelah belakang.
Kurang dari satu jam kemudian rombongan itu sampai
dipuncak sebuah bukit. Diantara pepohonan yang banyak
tumbuh dilereng bukit itu. Aditia melihat sebuah rumah yang
sangat besar dan luar biasa panjangnya berdiri disamping
sebuah ladang pisang.
Beberapa orang tampak berjalan disekitar rumah tersebut.
Rumah itu berdinding kayu, tinggi dan mempunyai kolong
dibawahnya. Atapnya dari daun kelapa yang telah dikeringkan.
Jendelanya banyak sekali sedang delapan buah tangga terdapat
disamping rumah bagian kanan yang menghubungkan halaman
samping dengan delapan buah pintu besar dari rumah itu.
Dihalaman samping itu tampak beberapa pasang orang-orang
perempuan tengah menumbuk padi. Beberapa diantaranya
menampi dan jauh dibelakang sana kelihatan sawah yang luas
yang baru saja dituai. Lumbung padi berjejer sangat banyaknya
didekat ladang pisang yang berbuah sarat. Pada beberapa
bagian dari rumah itu seperti disekeliling jendela dan pintu
terdapat ukiran-ukiran model lama yang dari jauh kelihatannya
indah seka
“Jalan cepat!” perintah orang yang dibelakang Aditia sambil
mendorong dengan tangannya. Aditia pura-pura terhuyung- huyung dan terus berjalan mengikuti kepala rombongan.
“Kirta, berikan tanda bahwa kita kembali membawa
tawanan” terdengar suara si gadis memberikan perintah pada
salah seorang anak buahnya. Laki-laki yang bernama Kirta
membulatkan kedua telapak tangannya dimuka mulutnya.
Lehernya memanjang dan satu detik kemudian terdengarlah
lolongan keras yang panjang mengumandang keluar dari
mulutnya yang merupakan rangkaian kata-kata yang artinya
kira-kira, “Kami bersama tuan puteri telah kembali membawa
tawanan..........”. Bagi Aditia suara teriakan orang Dayak itu tak
lebih dari pada suara lolongan anjing yang melihat makhluk
halus dimalam Jum'at Kliwon. Begitu lolongan itu lenyap, maka
dari bawah bukit, yaitu dari arah rumah besar terdengar pula
suara teriakan panjang membalas. Dari dalam rumah, tampak
turun orang-orang banyak sekali. Laki-laki, perempuan dan
anak-anak. Semuanya berlarian kehalaman dan memandang
kearah rombongan yang tengah menuruni bukit.
Sepuluh menit kemudian, Aditia sebagai tawanan sampai
kehadapan rumah besar itu. Orang-orang Dayak laki-laki dan
perempuan berbaris dengan rapi. Banyak diantara mereka yang
memakai kain sarung. Diantara kelompok orang yang berbaris
itu berlarian dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan.
Keduanya menuju kearah kelompok orang-orang yang
menggotong mayat gadis itu. Keduanya sudah lanjut usianya.
“Amisah anakku..........” teriak yang perempuan. Dia
memeluk gadis yang telah menjadi mayat itu sambil menangis
tersedu-sedu. Sedang yang laki-laki hanya memandang kelangit
lepas, mulutnya tampak komat-kamit. Ditangan kanannya
tergenggam sebuah tasbih. Aditia memandangi wajah orang- orang itu satu persatu. Semuanya berair muka murung.
“Bawa dia keatas......” bisik gadis yang menyuruh tawan
Aditia. Dan mayat adiknya segera digotong keatas rumah besar
diikuti oleh ibu dan kaum perempuan lainnya. Orang laki-laki
tetap berada dihalaman dan pandangan mereka kini tertuju
pada satu orang yaitu Aditia. Pandangan yang dilontarkan
dengan rasa jijik. Beberapa menit kemudian gadis tadi turun
kembali kehalaman dan mendekati laki-laki tua tadi, “Ayah,
kakakku belum pulang?”. Orang yang ditanya hanya
menggelengkan kepala memberikan jawaban sedang matanya
yang keriputan tak lepas-lepasnya dari memandang Aditia.
“Kau manusianya yang membunuh anakku......?” desis orang
tua itu.
‘Anak gadis bapak juga menuduhkan begitu...... Tapi aku
sama sekali tidak melakukan perbuatan terkutuk itu!” jawab
Aditia.
“Lantas mengapa kau kena ditangkap?!” tanya ayah si gadis.
“Karena memang dialah yang membunuhnya”, yang
menjawab adalah gadis cantik tadi. Aditia hanya mengertakkan
gigi menahan geram.
“Jawab! Kau yang membunuh anakku? Akui!” membentak
seorang tua. Matanya menyorot seram.
“Bukan aku, tapi seorang atau beberapa orang lain!” jawab
Aditia dengan balas memandang.
“Tak usah bicara panjang lebar dengan pembunuh terkutuk
semacam dia. Kesalahannya sudah terbukti” ujar si gadis.
“Kesalahan apa yang telah terbukti?!” bentak Aditia gusar.
“Membunuh dan memperkosa!” sahut si gadis dengan ketus.
Darah murid Eyang Wilis menjadi mendidih. Dia
menggerakkan tangannya. Semua mata memandang dengan
melotot kemuka melihat bagaimana tali-tali rotan yang
mengikat tubuh tawanan diputuskan dengan mudah. Padahal
perbuatan itu dilakukan Aditia tanpa sengaja. Si gadis
melambaikan tangannya. Pasukan panah dan sumpritan segera
ditambah dengan beberapa orang yang memegang arit besar
mengurung Aditia dengan rapat.
“Larilah dan kau akan mampus!” desis si gadis.
“Aku berada diatas kebenaran, mengapa aku harus lari?”.
Ayah si gadis tampak mengerenyitkan keningnya. Kemudian
dia memberikan perintah. “Ikat dia dipohon besar itu. Seluruh
tubuhnya, mulai dari dada sampai keujung kaki!”
Aditia didorong kesebuah pohon besar. Dengan tali rotan
yang besar-besar tubuhnya dililit dan diikatkan kepohon kayu
besar ditepi halaman. Orang-orang yang memegang busur dan
panah, arit, sumpritan terus mengurungnya. Si orang tua yang
tak lain adalah raja dan kepala suku mereka mendekati Aditia
dan berkata. “Akuilah bahwa kau yang melakukan perbuatan
itu, dan kau akan dipancung secara terhormat. Tapi kalau kau
mungkir, kau akan dibakar hidup-hidup atau dicincang sampai
lumat!”.
Aditia memandang orang tua itu dari ujung kepalanya yang
berambut jarang putih sampai keujung kaki. Dia
memperhatikan yang tergenggam ditangan seorang tua
beberapa lamanya dan kemudian berkata. “Kalian orang-orang
yang beragama Islam bukan?”.
“Ya!”.
“Dan seperti inikah cara orang-orang yang mengaku
beragama Islam memperlakukan tawanannya?”. Satu suara
menjawab dari samping. “Kau bukan sembarang tawanan bung,
tapi pembunuh dan perusak kehormatan seorang gadis!”. Yang
berkata itu adalah gadis cantik kakak dari gadis yang
meninggal, anak dari raja sendiri.
“Saudari, kau tahu apa hukumannya dalam Islam bagi
seorang yang membuat tuduhan palsu terhadap orang lain?
Dihukum cambuk!”.
“Dan kau tahu apa hukumannya didalam Islam bagi seorang
yang membunuh dan merusak kehormatan seorang gadis? Tak
ada hukuman yang lebih baik selain dibakar hidup-hidup!”.
Aditia hendak membuka mulut tapi segera dibentak oleh si
gadis.
Tiba-tiba dari belakang terdengar satu suara. “Berikan jalan
pada putera mahkota..........”. Orang yang berkerumun segera
menyeruak memberi jalan. Seorang yang berwajah gagah,
kukuh, berpakaian kain sarung dan baju hitam melangkah
kemuka. Dia mengangkat kepalanya dan memandang pada
tawanan yang terikat dipohon.
“Aditia........ kau!” teriak anak kepala suku dengan mata
terbeliak.
“Tak disangka kita akan berjumpa, dalam keadaan seperti
ini, Suwantra. Orang-orangmu menangkapku, menuduh bahwa
akulah yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap
gadis itu..........” ujar Aditia dengan nada hambar.
“Suwantri.........” ujar putera mahkota sambil memandang
pada gadis yang disampingnya dalam bahasa sukunya. “Coba
terangkan dengan jelas bagaimana kalian menangkap tawanan
ini!”. Suwantri, begitulah nama gadis itu yang tak lain dari pada
adik kandung Suwantra adanya segera menceritakan
bagaimana dia mempergoki Aditia ditempat terjadinya
peristiwa pembunuhan itu. Suwantra mendengarkan dengan
gelisah. Ketika adiknya selesai dari memberi keterangan dia
berpaling pada Aditia dan berkata, “Sahabat, dengan jujur,
benar engkau yang melakukan hal itu?”.
“Suwantra, bukan aku menyombongkan diri dihadapanmu,
tapi kau lebih mengetahui dari mereka, siapa aku dan orang
bagaimana aku. Aku tak pernah melakukan perbuatan hina itu,
cuma kuakui bahwa aku berada ditempat itu secara kebetulan”,
ketika Aditia memandang kebelakang Suwantra, ternyata Mirta
berdiri disebelah sana. Suwantra ingat masa yang lalu, masa
yang belum sampai satu minggu lamanya berjalan, saat ketika
dia berada ditengah lautan, diselamatkan oleh Aditia bersama
yang lain-lainnya dari ancaman maut bajak laut Daeng
Pasewang. Suwantra menarik nafas dalam dan berkata. “Aku
mempercayaimu dan tak yakin bahwa kaulah yang telah
membunuh adikku”. Dia berpaling kepada adiknya, Suwantri. “Wantri, kau salah duga. Orang yang tertawan itu bukan orang
yang membunuh adikmu. Dia sahabatku........ sahabat dimana
aku berhutang nyawa kepadanya.........”.
Suwantri terkejut. “Aku tidak mengerti apa yang kau
katakan, kakak!” tukasnya. Suwantra menoleh pada Mirta dan
berkata. “Mirta ceritakan apa yang terjadi tempo hari......”.
Dalam bahasa sukunya, Mirta menceritakan apa yang telah
mereka alami ditengah lautan. Begitu cerita berakhir tempat itu
penuh dengan suara bisik-bisik. Suwantri tampak termenung,
begitu juga ayahnya Praya Giana. Gadis itu kemudian tampak
memandang Aditia, ketika hatinya merasa berdebar-debar dia
cepat-cepat berpaling kepada kakaknya Suwantra dan berkata.
“Kalau seseorang itu pada suatu ketika berlaku baik tidak
selamanya dia akan berlaku seperti itu terus-terusan. Setiap
manusia, selagi dia bernama manusia, akan selalu berbuat
kesalahan dan kekhilafan. Banyak manusia orang-orang yang
pernah kita lihat berbuat baik tanpa setahu kita melakukan
perbuatan-perbuatan yang salah dan memalukan, perbuatan
hina yang dilarang Tuhan. Dan agaknya begitulah yang terjadi
dengan laki-laki yang mengaku sahabat denganmu ini. Sahabat
dimuka, dihadapan mata belum tentu sahabat dibelakang,
dibalik punggung!”. Suwantri berhenti sebentar kemudian
meneruskan. “Aku telah melihat dengen mata kepalaku sendiri
bagaimana laki-laki ini menutupi mayat adikku untuk dibuang,
untuk menghilangkan jejak. Apakah itu masih belum
merupakan kenyataan, belum merupakan bukti bahwa orang ini
yang melakukan perbuatan itu? Baik, kuterima kata-kata
bahkan bukan dia yang melakukan. Bukan dia yang berbuat!
Tapi terimalah juga kata-kataku bahwa dia juga turut
tersangkut dalam peristiwa terkutuk itu!”.
Keadaan Suwantra jadi serba salah. Sebentar-sebentar dia
menarik nafas. Adiknya yang melihat kegelisahan kakaknya itu
berkata. “Untuk membela seorang kawan berkepala dua yang
telah memukulmu dari belakang kau sampai hati melupakan
tentang kematian adik kandungmu!”.
“Sudahlah Wantri. Tak baik bicara seperti itu........” kemudian
sambil memutar kepalanya dia berkata kepada Mirta, lepaskan
ikatan Aditia”.
“Apa?!”, kata Suwantri setengah berteriak. “Kalau kau
lepaskan manusia ini sampai kiamat aku tak akan mengakui
kakak terhadapmu!”.
“Wantri, masuk kedalam rumah besar. Biarkan urusan ini
berada ditangan kami. Kami yang akan menyelesaikannya
karena urusan ini adalah urusan orang laki-laki!”.
“Urusan laki-laki kata kakak saat ini. Tapi tadi kau suruh aku
untuk turut mencari si pembunuh dan setelah manusia ini
tertangkap, kau katakan ini urusanmu, urusan laki-laki bahkan
hendak kau lepaskan pula manusia terkutuk itu. Apa bukan
adikmu yang menjadi korban kebejatannya? Akan
disuapkannyakah intan berlian kemulutmu jika kau lepaskan
dia? Akan dicarikannyalah engkau seorang gadis kota yang
cantik, yang beralis tebal, yang berbibir disemir merah, yang
memakai tepung pada mukanya dan yang jalannya melenggang-
lenggok seperti itik pulang petang? Alangkah malunya aku
mempunyai kakak seperti ini. Alangkah besar kepala orang- orang suku Kayan mempunyai putera mahkota yang seperti
ini........ atau barangkali kakak bukan lagi seorang Dayak kini,
bukan lagi seonang suku Kayan kini, tapi seorang kota........?!
Tanpa menjawab apa-apa Suwantra memutar tubuhnya dan
berjalan kedalam rumah. Suwantri memandang pada Aditia dan
berkata. “Katakan apa permintaanmu yang terakhir sebelum
nyawamu masuk keneraka!”.
“Suwantri........”, kata Aditia dengan tenang. Gadis cantik itu
merasa dadanya berdebar-debar ketika mendengar Aditia
menyebut namanya. Mukanya merah........ tapi dia tak mau
memperlihatkan kelemahannya padahal dia lupa, sekeras- kerasnya hati seorang wanita........
“Katakan apa permintaanmu yang terakhir, cepat!”.
“Kau benar-benar menginginkan jiwaku?!”. “Aku akan cincang tubuhmu sampai hancur luluh, baru
senang hatiku!”, jawab gadis itu.
“Baik Wantri, lakukanlah” ujar Aditia. Dia memandang pada
Mirta. “Mirta, berikan golok besarmu kepadanya!”
Mirta terkejut. “Tapi...... tapi......”, kata laki-laki itu gagap.
“Kataku berikan golokmu padanya!” ujar Aditia sekali lagi.
Dengan tangan gemetar, Mirta mencabut goloknya dari da!am
sarungnya dan memberikannya pada Suwantri. Gadis itu
menggenggam senjata itu erat-erat. Dia memandang pada
Aditia. “Apa lagi yang kau tunggu........ lakukanlah........” desis
murid Eyang Wilis sedang matanya menatap mata gadis itu.
Suwantri melangkah mendekati tempat Aditia. Golok besar
yang ditangannya tampak naik keudara persis dimuka kepala
Aditia, matanya memandang mata pemuda itu. Pandangan
mereka saling bentrokan. Kembali dada gadis itu terasa
bergoncang dan berdebar-debar. Ketika dia hendak
mengayunkan goloknya, untuk pertama kalinya Suwantri
menyadari, betapa mata pemuda itu begitu bercahaya
memandang kepadanya, betapa parasnya yang tampan dan........
Suwantri menjatuhkan golok yang ditangannya ketanah. Dia
menutup mukanya. Memutar tubuhnya, dan berlari sambil
tersedu-sedu menaiki tangga rumah. Tepat pada saat gadis itu
menghilang dibalik pintu rumah besar, tiba-tiba terdengar
tong-tong tanda bahaya dipukul orang. Keadaan dimuka
halaman menjadi hiruk pikuk. Semua orang berlarian kian
kemari. Tiada seonangpun yang mengingat Aditia lagi. Didalam
rumah besar juga terdengar suara kacau balau. Pekik ketakutan
dan suara tangisan anak-anak. Suara tong-tong semakin keras
dan diselingi oleh teriakan-teriakan, “Awas musuh. Musuh
datang menyerang!”.
Dari dalam rumah besar melompat turun Suwantra. “Atur
barisan cepat! Jangan gugup! Pihak penyerang cuma sedikit!”
teriak Suwantra pula. Ditangannya tergenggam sebuah pedang.
TUJUH
DITENGAH-TENGAH pulau Kalimantan dibagian
pedalaman yang jarang didatangi orang luar, hidup orang- orang Dayak yang terbagi atas beberapa suku. Jumlah mereka
lebih kurang sebanyak tujuh ratus ribu orang. Sebagian besar
dari jumlah itu masih hidup dalam keadaan liar dan primitif.
Mereka tak bertuhan dan menyembah batu-batu besar atau
pohon-pohon beringin yang mereka anggap sakti. Beberapa
suku menganggap gunung-gunung sebagai Tuhan mereka. Ada
pula yang menyembah matahari, bulan dan lain sebagainya.
Biasanya mereka hidup bergerombol-gerombolan dan selalu
berpindah-pindah tempat. Hanya sebagian kecil dari suku-suku
itu yang telah maju, hidup menetap dalam rumah-rumah besar
yang panjangnya sampai dua ratus meter lebih. Diantara suku- suku yang maju adalah suku Kayan dan suku Kenia. Suku
Kayan berdiam didekat sungai Dayak Besar sedang suku Kenia
ditepi sungai Dayak Kecil. Pada mulanya, suku Kayan dan suku
Kenia berasal dari satu turunan yang sama-sama menyembah
matahari sebagai Tuhan mereka. Tapi ketika seorang ulama
pada kira-kira permulaan abad kelima belas membawa agama
Islam kepedalaman Kalimantan itu, maka terjadilah
perselisihan antara orang-orang tua dari suku yang telah maju
tersebut. Salah satu pihak menerima Islam dan menganut
agama baru itu sedang yang lain menentangnya dan tetap
mempertahankan agama mereka yang lama, agama animisme
yang menyembah matahari. Pihak yang menganut agama Islam
kemudian memisahkan diri dan tinggal ditepi sungai Dayak
Besar dan akhirnya dinamai suku Kayan. Sedang pihak yang
satu lagi terus menetap ditempat semula yaitu ditepi sungai
Dayak Kecil, dan menyebut diri suku Kenia.
Sejak itu antara suku Kayan dan suku Kenia selalu terjadi
perselisihan yang berlarut-larut. Yang teramat keras kepala dan
sombong adalah suku-suku Kenia. Suku Kayan sedapat- dapatnya menarik diri dari perselisihan yang tak diingini. Saat
itu orang-orang Kayan dipimpin oleh raja mereka yang lebih
lazim disebut sebagai kepala suku yaitu ayah Suwantra yang
bernama Praya Giana sedang suku Kenia dikepalai oleh
Tumang Aru. Praya Giana mempunyai tiga orang anak. Yang
tertua laki-laki yaitu Suwantra, yang kedua dan ketiga masing- masing perempuan bernama Suwantri dan Amisah. Kepala
suku Kenia mempunyai dua orang anak. Keduanya laki-laki.
Yang tertua bernama Agfal sedang yang bungsu Sangia.
Tumang Aru kira-kira dua bulan yang lalu telah menutupkan
matanya. Agfal segera dinobatkan menjadi kepala suku dalam
suatu pesta upacara kebesaran. Seperti tadi telah diterangkan,
antara suku Kayan dan suku Kenia selalu terjadi perselisihan
yang turun temurun. Sebulan sesudah penobatan Agfal, secara
tak terduga terjadi perselisihan antara Suwantra dan adik Agfal
yaitu Sangia. Dari perang mulut berubah menjadi ada kekuatan.
Kedua anak kepala suku itu saling baku tinju dihadapan orang- orang mereka. Meskipun Sangia bertubuh lebih besar dari
Suwantra, tapi dia agak kebal. Gerakannya lamban sehingga
seluruh mukanya menjadi bulan-bulanan empuk bagi tinju
lawannya. Setelah lima belas menit bergocoh, Sangia roboh
pingsan dan digotong oleh orang-orangnya. Sejak itu, dimana
saja perselisihan jadi meruncing. Dimana saja orang-orang
Kayan dan Kenia bertemu muka maka terjadilah perkelahian.
Satu hari sebelum terbunuhnya Amisah, anak gadis Praya
Giana yang bungsu terjadi pula pembunuhan terhadap Sangia.
Seseorang dari suku Kenia telah menemui mayat adik kepala
suku mereka ditepi sebuah mata air dengan pisau besar
tertancap ditenggorokan. Seluruh perkampungan Kenia kacau
balau. Dan apa yang diduga oleh kepala suku sama dengan apa
yang diduga oleh orang-orang suku Kenia sendiri. Beberapa
waktu yang lalu bukankah telah terjadi baku hantam antara
Suwantra dengan Sangia? Perbuatan siapa lagi kalau bukan
perbuatan Suwantra. Dan lagi pula pisau yang tertancap
dilehernya mayat Sangia adalah pisau yang gagangnya diberi
berukir seperti kebanyakan pisau milik orang-orang dari suku
Kayan. Tak ada kesangsian lagi!
Agfal segera menyiapkan bala tentaranya yang berjumlah
delapan ratus orang dan menyerbu keperkampungan suku
Kayan, tepat pada saat Aditiajaya menjadi tawanan. *
* *
Dalam waktu jang singkat prajurit-prajurit suku Kayan
dibawah pimpinan Suwantra segera maju kemuka menyambut
serangan musuh. Pertempuran segera berkecamuk. Jumlah
pasukan Kenia lebih banyak dari prajurit-prajurit Kayan sedang
pemimpin mereka, Agfal, mengamuk seperti banteng terluka.
Ditangannya masing-masing tergenggam dua buah golok
panjang yang bentuknya agak berkeluk. Dengan senjata-senjata
itu dia maju ketengah-tengah medan pertempuran. Setelah
bertahan dengan gigih selama kurang lebih setengah jam
akhirnya prajurit-prajurit Kayan mulai terdesak. Pada scat
itulah Agfal dan Suwantra saling berhadapan satu sama lain.
“Kau harus bayar nyawa prajurit-prajuritku dengan
nyawamu sendiri, raja durjana!” teriak Suwantra memaki
sambil membabatkan pedangnya. Agfal menangkis dengan
pedang yang ditangan kirinya. Sedang dengan pedang yang
ditangan kanannya dia membacok ganas. Perisai yang ditangan
kiri Suwantra melindungi pinggangnya dari bacokan pedang
lawan. Kedua musuh itu bertempur terus dengan hebat
sementara prajurit-prajurit Kayan semakin terdesak.
Sambil menyerang dengan cepat, Agfal membalas makian
Suwantra. “Nyawamu yang harus kau berikan sebagai pengganti
nyawa adikku yang kau bunuh, bedebah!”.
Suwantra terkejut. “Jangan mencari-cari alasan, keparat!
Sudah sejak lama orang-orangmu membuat keonaran terhadap
sukuku. Sekarang kau sendiri kepala sukunya yang datang
kesini Bagus sekali! Kau mengantarkan nyawa, Agfal”.
Kedua pedang yang ditangan Agfal bergerak cepat menetak
kian kemari. Perisai yang ditangan kiri Suwantra penuh dengan
bekas bacokan-bacokan. Ketika lawannya menyerang dengan
kedua pedang sekaligus, pedang Suwantra mental keudara.
Dalam keadaan tangan kosong, lawannya terus memburu. Saat
itulah satu sambaran pedang yang sangat keras datang
memapas kedua pedang maut Agfal.
Agfal terkejut, lebih terkejut lagi ketika dia menyadari bahwa
yang memapas senjatanya adalah seorang wanita.
“He...... he...... ada juga jagoan wanita diantara suku Kayan
heh...... sayang...... sayang sekali wanita secantik ini disuruh
bertempur. Lebih baik ikut bersamaku, aku belum
beristeri........”.
“Mampus kau!” teriak Suwantri. Pedang yang ditangannya
menetak dengan deras. Dengan mudah serangan itu ditangkap
oleh Agfal. “He...... he...... seranglah terus, aku tak akan
melawan, gadis cantik!” ujar Agfal. Dia hanya senyum-senyum
saja sambil menangkis dengan pedangnya. Sambaran pedang
Suwantri datang bertubi-tubi, tapi tak satupun dapat mengenai
musuhnya. Pada Saat itu, kakaknya Suwantra datang kembali.
Pertempuran dua lawan satu terjadi kini. Tapi setelah beberapa
jurus kedua anak Praya Giana itu segera terdesak. Sekalipun
dikeroyok, Agfal yang berguru pada seorang sakti dipuncak
gunung Tabur dipantai timur daratan Kalimantan bukanlah
tandingan mereka. Dalam satu gebrakan cepat, senjata kedua
kakak beradik itu sama-sama terpental kembali.
“Mundurlah Suwantra, ajak adikmu. Biar aku hadapi musuh
tangguh itu........” satu suara terdengar dibelakang Suwantra.
Suara tersebut cukup dikenal oleh Suwantra. Dan karena sadar
bahwa Agfal jauh lebih tinggi kepandainnya dari dia, maka
tanpa ragu-ragu Suwantra melompat mundur. Sebaliknya,
Suwantra hanya berdiri terkejut. Terkejut karena tak
menyangka Agfal sedemikian hebat kepandaiannya dan lebih
terkejut ketika memikirkan bagaimana Aditia yang telah diikat
sedemikian teguhnya bisa lepas, atau memang ada seorang lain
yang melepaskannya?
“Kau siapa anak muda, yang ingin mencari mati? Sebutkan
dulu namamu!” kata Agfal yang merasa dihina oleh tantangan
orang yang tak dikenalnya.
“Majulah, tak usah banyak tanya......”, ujar Aditia sambil
menggeser kemuka selangkah.
“Ha...... ha...... ha...... kau Yang masih ingusan hendak
melawanku? Ha...... ha...... ha......”. Agfal tertawa terpingkal- pingkal, sehingga prajurit-prajurtit yang tengah bertempur mau
tak mau memandang kearahnya. “Baik...... baik...... aku akan
layani kau. Mari kita main-main barang beberapa jurus. Ayo
keluarkan senjatamu!”.
“Mulailah. Senjataku hanya ini!” ujar Aditia sambil
melambaikan kedua tangannya. Agfal merasakan tubuhnya
bergoyang. Dia bertahan namun terhuyung-huyung kebelakang.
Sebelum terlambat dia cepat-cepat menghindar kesamping dan
mulai menyerang dengan kedua pedangnya. Dia tak memberi
kesempatan pada Aditia untuk menyerang karena diam-diam
dia sudah mengetahui bahwa musuhnya bertenaga dalam yang
tinggi sedang dia hanya mengandalkan ilmu luarnya, yaitu ilmu
silat dan permainan pedang.
Semakin lama permainan pedang Agfal semakin cepat.
Kedua goloknya menyambar dengan serempak, hampir tak
kelihatan karena cepatnya. Namun walau bagaimanapun mata
murid Eyang Wilis tak dapat ditipu. Setelah dia mengetahui
bagaimana nafas lawannya mulai memburu sesudah menyerang
terus-terusan dalam lima jurus pertama, Aditia dengan satu
gerakan cepat melompat kesamping.
Agfal mengeluarkan seruan tertahan tanda terkejut. Dia
hanya merasakan sambaran angin yang keras sekali dan tahu-
tahu kedua tangannya telah kosong. Pedang yang tadi
tergenggam ditangannya kini berada ditangan musuh. Rasa
terkejutnya belum lagi hilang dan menjadi bertambah-tambah
ketika melihat bagaimana dengan seenaknya Aditia
mematahkan kedua pedang dengan sekaligus!
“Celaka, lawanku bukan manusia agaknya” pikir kepala suku
Kenia itu. Dengan cepat dia memutar tubuhnya, tapi
langkahnya terhenti karena kerah baju hijaunja telah ditangkap
oleh Aditia. Satu jengkalpun Agfal tak dapat bergerak lagi. Dan
seperti ribuan kilo terasa berat tengkuknya saat itu. Aditia
memutar tubuh laki-laki itu sehingga keduanya berhadapan
satu sama lain. Ketika Aditia hendak membuka mulut, Agfal
dengan kalap meninjukan kedua tangannya keperut Aditia
sekeras-kerasnya. “Tinjulah lagi lebih keras!” ujar Aditia sambil
tersenyum. Seperti orang gila antara takut dan geram, Agfal
menghujani perut lawannya sehingga akhirnya dia berhenti
dengan sendirinya karena kedua tangannya terasa sakit dan
pegal-pegal.
“Puas?!” desis Aditia sambil menyeringai. Agfal tak
menjawab. Keringat dingin membasahi seluruh mukanya. Saat
itu, Aditia melihat pasukan Kenia masih terus mendesak
prajurit-prajurit Kayan sampai ketangga pertama. Tanpa ragu- ragu Aditia dengan cepat mengangkat tubuh Agfal dan
melemparkan kepala suku itu ketengah-tengah pasukannya
yang telah mendesak. Prajurit-prajurit Kenia terkejut dan
gempar ketika mengetahui rajanya dilemparkan seperti sebuah
kue gemblong yang sudah basi. Dan ketika rajanya angkat kaki,
tanpa pikir panjang lagi orang-orang Kenia segera angkat kaki
seribu pula......
DELAPAN
DENGAN dibantu oleh Suwantri, Aditia mengobati prajurit- prajurit Kayan yang terluka. Sedang Suwantra dan Mirta
bersama beberapa orang lainnya menggotong mayat-mayat
prajurit-prajurit yang tewas, membawanya kekolong rumah.
Pemuda kita pura-pura tak tahu kalau gadis cantik yang
membantunya itu hampir setiap saat selalu melirik kepadanya
sambil menjalankan pekerjaannya.
Keesokan paginya dengan didahului pemakaman Amisah,
maka dimakamkanlah prajurit-prajurit Kayan, diiringi dengan
ratap tangis istri-istri mereka yang ditinggalkan. Jumlah yang
tewas semuanya ada delapan puluh orang sedang dipihak
penyerang hanya empat puluh delapan orang.
Malam itu suasana berkabung meliputi suku Kayan. Diruang
tengah sepuluh orang laki-laki mengaji Kur’an, termasuk Aditia.
Dibatasi oleh kain putih panjang, maka disebelah tempat orang
laki-laki mengaji pulalah orang-orang perempuan, diantaranja
ibu dan adik Suwantra.
Pagi itu Aditia bangun pagi sekali. Bersama Suwantra dia
mandi kesebuah pancuran yang berair sejuk. Alangkah
nikmatnya mandi dipagi itu. Aditia teringat akan pancuran
dibelakang pondok gurunya dipuncak gunung Wilis.
“Jadi juga kau berangkat siang ini?” tanya Suwantra pada
Aditia dalam perjalanan kembali pulang.
“Benar”, jawab Aditia sambil menikmati keindahan
pemandangan disekitarnya.
“Bisakah aku minta tolong?”.
“Dengan senang hati. Katakanlah”.
“Sambil meneruskan perjalanan coba-cobalah mencari tahu
jejak-jejak dari orang yang telah membunuh adikku, Amisah.
Aku menduga bahwa orang yang melakukan perbuatan itu
bukan orang jauh”.
“Maksudmu Agfal?” tanya Aditia.
“Sebelum kepala suku Kenia itu datang menyerang memang
aku menduga dialah orangnya. Tapi ketika dia menyerbu kesini
dugaanku lenyap”.
“Sebabnya?”.
“Dia menuduh bahwa akulah yang telah membunuh adik
laki-lakinya, Sangia”, jawab Suwantra pula.
“Hmmm...... agaknya ada orang ketiga yang sengaja
membesarkan nyala api perselisihan antara suku Kayan dan
Kenia. Apa kau punya musuh yang lain, maksudku yang diluar
suku Kenia?”.
“Tak satupun” jawab Suwantra.
“Ayahmu mungkin?”.
“Setahuku tidak. Entahlah diluar tahuku........”.
Keduanya sampai kerumah besar. Diladang pisang yang juga
ditanami berbagai sayur mayur, sudah banyak orang yang
bekerja. Perempuan-perempuan penumbuk padi dan penampi
beras telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ketika
Aditia dan Suwantra duduk bercakap-cakap diruang tengah,
Suwantri datang membawakan dua cangkir kopi hangat, satu
piring ketan dan pisang goreng. Aditia meneguk air liurnya.
Hidangan serupa ini sudah lama tak dicobanya. Begitu Suwantri
berlalu, Suwantra segera menyilahkan Aditia. Pemuda kita
mereguk kopi hangat itu dengan nikmatnya. Kini bahwa dia
yang membunuh Amisah lenyap dengan sendirinya. Setiap
orang yang bertemu muka dengan dia tersenyum dengan
ramah. Diam-diam Aditia merasa geli juga kalau mengingat
pengalamannya yang baru saja berlalu itu.
Detik berubah menjadi menit, menit menjadi jam dan tak
terasa lagi tengah hari telah tiba. Selesai makan siang Aditia
meminta diri pada Praya Giana, istrinya, pada Suwantra, pada
Mirta dan pada seluruh orang-orang Kayan. Payah Aditia
melirik-lirik dimana adanya Suwantri namun gadis itu tak
kelihatan mata hidungnya.
Suwantra mengantarkan sahabatnya sampai dikelokan jalan
dilereng bukit. “Aku hanya mengantar sampai disini, Aditia”.
“Sampai disinipun sebenarnya sudah terlampau jauh, sahabat. Terima kasih banjak-banyak Suwantra, semoga kita
dapat bertemu lagi”.
“Selamat jalan, Aditia. Tuhan bersamamu.........”.
“Terima kasih........ dan sampaikan salamku pada adikmu,
menyesal aku tidak melihatnya sebelum berangkat.........”.
“Dia suka memancing. Pagi tadi dia telah pergi. Kalau
kembali akan kusampaikan. Selamat jalan........”.
Aditia melambai-lambaikan tangannya sambil mengikuti
jalan kecil itu. Akhirnya Suwantra lenyap dari
pemandangannya. Dibawah sebatang pohon kayu yang rindang
telinga Aditia yang tajam menangkap seperti ada suara langkah
orang dari belakangnya. Dia pura-pura tidak tahu dan sama
sekali tidak menoleh. Tapi sambil terus melangkah tenang dia
menanti dengan waspada. Langkah-langkah kaki itu datang
semakin dekat dan terus mengikutinya. Sampai sedemikian
jauhnya langkah-langkah kaki itu masih terus mengikutinya.
Aditia hilang sabarnya dan memutar kepalanya. Betapa
terkejutnya ketika mengetahui siapa orangnya yang telah
mengikutinya itu.
“Suwantri...... kau. Ada apa?” tanya Aditia sambil memutar
tubuhnya. Gadis cantik yang dihadapannya tampak berdiri
dengan gugup. Ditangannya terdapat sebuah bungkusan dari
daun pisang yang diikat dengan seutas tali.
“Mari ketepi sana. Jangan berdiri disini, panas” kata Aditia
sambil melangkah ketepi jalan yang teduh. Gadis itu mengikut
dari belakang.
“Kau mau pergi kemana sesungguhnya Wantri? Tak sangka
akan bertemu disini. Payah aku mencarimu tadi untuk minta
tinggal”. “Kau hendak pergi...... A...... Aditia?”.
“Kau nampak gugup Wantri. Ada apa?”.
“Namamu Aditia bukan......?”.
“Benar, mengapa?”.
“Kusangka aku salah menyebutkannya tadi”, jawab gadis itu
sambil menundukkan kepalanya.
“Kata kakakmu kau pergi memancing, benar?”.
Suwantri menggelengkan kepalanya. “Sejak tadi aku
menunggumu disini......” kata gadis itu kemudian.
“Menunggu aku? Heh......? Memangnya ada apa? Kau masih
menginginkan jiwaku agaknya?”. Gadis itu tersenyum manis
sekali. Kali ini pemuda kita yang jadi salah tingkah. Keduanya,
sama-sama berdiam diri beberapa lamanya, Akhirnya Suwantri
membuka mulut. “Aku ingin memberikan ini kepadamu.
Terimalah...... aku tak bisa memberikan apa-apa lain dari pada
ini”. Si gadis mengulurkan tangannya menyerahkan bungkusan
tadi.
“Kalau aku boleh tanya, apa isinya?” tanya Aditia sebelum
menyambut bungkusan.
“Isinya hanya nasi merah yang banyak batunya, ikan asin
dan sedikit sambal...... makanan orang desa......”
“Ta...... tapi aku sudah makan siang dirumahmu tadi”, ujar
Aditia. Lalu sambungnya. “Dan saat ini aku masih sangat
kenyang!”.
“Tapi ambillah untuk bekalmu dijalan nanti......”.
“Aih Wantri...... kau ini ada-ada saja. Sehari yang lalu kau
begitu galak terhadapku, tapi hari ini sengaja kau bersusah- susah mengantarkan bekal ini. Mimpi apa kau semalam?” tanya
Aditia bergurau. Suwantri tersenyum kemalu-maluan. Kembali
kesunyian menyelubungi kedua pemuda pemudi itu.
“Apa kau akan kembali ke Jawa Aditia?” tanya Suwantri
setelah keduanya berdiam diri sekian lamanya. Aditia
mengangkat bahunya. “Pulau Kalimantan ini sangat besar.
Pemandangannya indah-indah, penduduknya ramah. Sungguh
sedap tinggal disini........” ujar Aditia.
“Tapi jauh lebih senang hidup di tanah Jawa bukan?
Penduduknya ramai dan lebih maju dari kami disini......”.
“Tapi aku juga berasal dari gunung Wantri. Walau
bagaimanapun kehidupan didesa jauh lebih aman dan lebih
bersih dari kehidupan dikota-kota. Dan aku senang
mengembara” kata Aditia menerangkan.
“Tentunya kau belum beristri bukan?”.
“Kalau aku sudah beristri mana bisa aku mengembara seperti
ini. Aku akan terantai dirumah” jawab Aditia bergurau.
“Gadis Jawa kabarnya cantik-cantik......” kata Suwantri
sambil memandang kebawah bukit.
“Tuhan membuat wanita itu sama indahnya, Suwantri, dan
setan menambahkan kecantikannya......”
“Aku tidak akan melupakan kata-katamu yang indah itu,
Aditia......” kata gadis itu dengan perlahan.
“Maukah kau berjanji akan kembali lagi kesini?” kata
Suwantri sambil menundukkan kepalanya. Aditia agak bingung
dengan pertanyaan ini. Akhirnya dia menjawab. “Berjanji sama
artinya dengan berhutang. Dan ketahuilah bahwa aku seorang
yang paling segan membayar hutang!”.
“Tapi aku percaya bahwa kau bukan macamnya orang yang
suka melupakan hutangnya......”.
“Entahlah, aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu” ujar
Aditia tersenyum. “Nah, Wantri, mungkin ada lagi yang akan
kau katakan......?”
“Kau hendak berangkat kini?” tanya Suwantri dengan nada
yang agak lain.
Aditia mengangguk. “Hari telah siang. Tentu kau dicari-cari
oleh ibumu. Pergilah pulang, hati-hati........ Terima kasih atas
pemberianmu. Ingatlah, nasi ini akan menjadi darah dagingku,
membuat aku tak akan melupakan untuk selama-lamanya pada
seorang gadis cantik yang baik hati bernama Suwantri......”.
“Aditia......” bisik Suwantri. Kembali Aditia menjadi salah
tingkah.
“Suwantri, doakanlah agar aku lekas-lekas dapat menangkap
orang yang telah membunuh adikmu. Aku akan bawa orang itu
kehadapanmu dan kita akan bertemu kembali...... Selamat
tinggal Suwantri......”.
“Jangan berkata selamat tinggal Aditia......”.
“Selamat tinggal untuk berjumpa kembali, Wantri......”.
Ketika gadis itu mengangkat kepalanya tampak kedua matanya
berkaca-kaca. Nafas Aditia terasa sesak. Selama hidupku tak
pernah dia menghadapi saat-saat seperti itu. Tanpa disadari,
tangan kanan Aditia bergerak dan jari-jarinya memegang dagu
gadis yang mungil itu. Tapi ketika dia sadar akan apa yang
dilakukannya dengan cepat Aditia menarik tangannya.
“Maafkan perbuatanku yang lancang itu, Wantri. Aku tak
sengaja”. Aditia memutar tubuhnya. Suwantri memegang
lengan pemuda itu dan berkata, “Selamat jalan pemuda yang
gagah, Tuhan bersamamu...... kalau ada waktu lihat-lihatlah
desaku yang buruk ini......”.
“Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi......” ujar Aditia.
Perlahan-lahan gadis itu melepaskan pegangannya pada lengan
Aditia. Dengan mata yang masih berkaca-kaca dia melepas
kepergian si pemuda dengan hati yang berat. *
* *
Jalan jang ditempuh semakin mendaki. Sinar matahari
menyorot dengan teriknya. Aditia berjalan menepi dibawah
naungan pohon-pohon kayu yang rindang. Setengah jam
kemudian dia sampai kesatu tempat berbatu-batu. Entah
mengapa dia merasakan hatinya tak enak, tapi dia berjalan
terus. Tiba-tiba dari semak-semak dua orang laki-laki muncul
sama-sama bertolak pinggang. Yang muda segera dikenali
Aditia sebagai Agfal, kepala suku Kenia, sedang yang seorang
lagi berumur sudah lanjut yang ternyata dari tubuhnya yang
agak bungkuk serta rambutnya yang memutih. Mukanya
keriputan, begitu juga tangannya yang tersembul dibalik baju
panjangnya yang bentuknya seperti jubah-jubah yang sering
dipakai oleh orang-orang Tionghoa.
“Agaknya kau telah lama membuntuti aku bukan?” ujar
Aditia. Agfal menyeringat, begitu juga laki-laki tua yang
disampingnya. Dan seperti yang sudah direncanakan agaknya
kedua orang itu sama-sama melangkah kesamping murid Eyang
Wilis. Aditia berdiri dengan waspada.
“Rupanya kalian hendak menyelesaikan perhitungan lama,
neh?!”.
“Benar...... benar. Tapi agar kau mampus dengan sedikit
nyaman ketahuilah bahwa orang ini adalah kakak seguruku
yang ingin belajar kenal dengan kamu orang!”.
“Hemm...... tampangnya boleh jugalah, tapi sudah sedikit
tua” ejek Aditia.
“He...... he...... he...... berani menghina Klipar heh?” kekeh si
orang tua sambil memperkenalkan namanya. Tiba-tiba
kekehannya hilang, tangan kanannya yang tadi dimasukkannya
dalam saku jubahnya keluar dengan cepat, dan sebilah pisau
kecil berbentuk aneh melayang dengan kecepatan yang luar
biasa kearah mata kiri Aditia. Satu tombak jauhnya pisau dari
muka murid Eyang Wilis mengangkat tangan kirinya. Telapak
tangan itu terbentang lebar. Mendadak pisau yang hanya
tinggal dekat itu berputar-putar tak menentu. Aditia
mendorongkan telapak tangan kirinya kemuka seraya
membentak “kembali kepada pemilikmu!”. Dengan secara aneh,
pisau itu tiba-tiba berputar diudara dan melesat jauh lebih
cepat dari semula kearah pemiliknya. Klipar merunduk dengan
cepat. Namun masih terlambat, rambutnya yang putih tak
urung terbabat puntung beberapa helai. Sambil mengirimkan
sebuah pisau lagi kearah lawannya, Klipar melompat kemuka.
Gerakannya segera diikuti oleh Agfal. Tiga serangan datang
kearah Aditia dengan cepat dan sekaligus. Tendangan kaki
kanan Agfal yang datang dari rusuk kiri, pisau terbang Klipar
yang melesat dari sebelah muka dan pukulan tangan kanan
yang berisi tenaga dalam yang hebat dari Klipar sendiri.
Pemuda keris merah menjatuhkan dirinya ketanah.
Sambil bergulingan mengelakkan ketiga serangan itu, Aditia
berusaha menghantam kaki Klipar dengan lengan kanannya.
Klipar meloncat keudara, pukulan Aditia lewat.
Sedetik setelah Aditia bangun, kedua musuhnya
membalikkan diri. Klipar melompati Aditia kembali sedang
Agfal mencabut golok panjangnya dan menyusul serangan
kakak segurunya. Tinju Klipar datang dengan dahsyat tapi
dengan mudah dielakkan Aditia. Melihat pukulannya dielakkan
dengan mudah, Klipar menghantamkan kaki kirinya keperut
lawan. Aditia menggeser kesamping dan pada saat itulah
sambaran senjata Agfal datang dengan deras. Bermula Aditia
hendak melompat keatas, tapi ketika mengetahui bahwa posisi
Klipar sangat baik untuk melancarkan serangan berikutnya
maka tanpa ragu-ragu, Aditia menendang tangan yang
memegang senjata itu. Golok Agfal mental keudara sedang
pemiliknya meraung kesakitan. Tulang lengan laki-laki itu
patch! Agfal bergulingan ditanah sambil terus meraung-raung
kesakitan. Akhirnya dalam kesakitannya laki-laki itu jatuh
pingsan tak sadarkan diri, menggeletak ditanah.
Klipar menyerang dengan hebat sekali. Gerakannya luar
biasa cepatnya. Jubahnya melambai-lambai. Aditia
memiringkan tubuhnya ketika tinju kanan Klipar memukul
deras. Tapi jauh lebih cepat lagi, lawannya mengirimkan kaki
kanannya, Adica membuang diri kebelakang namun Klipar
masih sempat mengikuti gerakannya. Tinju kirinya berhasil
menghantam dada Aditia. Aditia jatuh ketanah. Dalam keadaan
itu lawannya datang meloncatnya dari atas. Walaupun dadanya
terasa sedikit perih tapi hal itu tidak mengurungkan niat Aditia
dari pada mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Dengan
kedua tumitnya, ditendangnya perut lawannya. Klipar
mengeluarkan suara ‘ngek!!’ dan terpelanting kesamping.
Dengan cepat Aditia bangun berdiri. Klipar berusaha
mengimbangi tubuhnya. Dalam keadaan itu, Aditia menangkap
tubuh lawannya, mengangkatnya tinggi keudara dan
membantingkannya ketanah. Klipar jungkir balik berusaha
untuk jatuh dengan kaki lebih dahulu tapi tak berhasil karena
sebelum kakinya menjejak tanah punggungnya lebih dahulu
dihantam Aditia dengan kaki kanan. Laki-laki itu jatuh
terlentang dengan keras. Klipar merasakan nafasnya sesak
sedang punggungnya yang kena tendang berdenjut-denyut
sakit.
Dengan menguatkan diri sedapatanya dibantu dengan tenaga
dalamnya dia bangkit kembali. Kedua orang itu saling
berhadapan sementara Agfal telah siuman dari pingsannya. Dia
berdiri dengan cepat tapi masih agak terhuyung-hujung. Ketika
Aditia sibuk menangkis dan mengelakkan serangan-serangan
Klipar dengan diam-diam Agfal mengambil golok panjangnya
dengan tangan kiri karena tangan kanannya tadi patah. Sekuat
tenaga golok itu diayunkannya kepunggung Aditia. Murid
Eyang Wilis bukan tidak tahu akan serangan itu. Beberapa detik
sebelum golok itu sampai kesasarannya Aditia melepaskan satu
tendangan dahsyat keperut Klipar. Klipar melompat
kebelakang. Tendangan Aditia mengenai tempat kosong,
membuat tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat
menghadapi Agfal kini. Golok Agfal menghantam bahu Aditia.
Ilmu kebal Aditia membuat golok itu patah dua sedang kaki
kanannya masuk kedada Agfal. Laki-laki itu menjerit keras.
Nafasnya sesak. Jantungnya berhenti bergetar dan nyawanya
meninggalkan tubuhnya.
Melihat adik segurunya menemui ajal seperti itu, Klipar
mengeluarkan senjatanya. Satu senjata yang teramat aneh bagi
Aditia. Senjata Klipar adalah seekor ular besar yang tubuh
binatang itu dikeringkan sedemikian rupa, diberi beberapa jenis
obat-obatan sehingga tubuh binatang itu sama kerasnya dengan
besi, tapi dalam tangan Klipar senjata itu dapat melenggak-
lenggok tak ubahnya seperti ular biasa yang masih hidup. Dari
mulut ular yang terbuka itu setiap Klipar memukulkannya
kearah lawannya, keluar bisa yang mematikan berwarna hijau
kekuningan.
Terhadap senjata yang aneh ini, murid Eyang Wilis tak mau
bertindak ceroboh. Klipar memutar-mutar senjatanya diatas
kepalanya. Kakinya menggeser sedikit demi sedikit mendekati
Aditia. Tiba-tiba dia melompat. Aditia menyangka bahwa
lawannya akan menghantamkan senjatanya kepadanya tapi
ternyata dia salah duga. Ular itu tetap berputar-putar deras
diatas kepala Klipar. Sebaliknya kaki kanan Kliparlah yang
datang dengan cepat kedada Aditia. Karena Aditia telah keburu
merunduk maka untuk mengelakkan serangan itu tiada jalan
lain dari pada membuang diri kesamping. Tapi sebegitu cepat
Aditia menjatuhkan dirinya kesamping, demikian pula cepatnya
senjata yang ditangan Klipar melayang kekepalanya. Karena
tahu bahwa dia tak punya daya lagi untuk mengelakkan senjata
lawan dalam detik itu, Aditia dengan cepat menahan
pernafasannya. Senjata Klipar menghantam pelipis Aditia,
menimbulkan suara yang amat keras. Pelipis Aditia tampak
merah kehitaman. Kepala ular yang menjadi senjata Klipar
hancur berantakan mengeluarkan bau busuk dari racun yang
tajam. Untung pemuda kita telah menahan jalan
pernafasannya. Dia cepat-cepat melompat kebelakang.
Kepalanya terasa berdenyut-denyut, pemandangannya
berkunang-kunang. Baru pertama kali itulah murid Eyang Wilis
dipukul sedemikian hebat pada kepalanya. Aditia mengerahkan
kekuatan tenaga dalamnya. Dengan tangan kirinya diusap- usapnya bagian yang terpukul. Ketika kekuatannya pulih
kembali dilihatnya Klipar kembali menyerang dengan tangan
kosong.
Amarah Aditia bergejolak. Dia menjejak tanah. Tubuhnya
melesat setinggi satu tombak keudara. Tangan kirinya
menghantam ketiak Klipar. Klipar mengelak dengan gesit.
Sambil memutar tubuhnya Aditia melipat lutut kanannya,
menghantamkannya kedada lawan. Serangan yang kedua ini
masih sempat dielakkan oleh Klipar. Sebelum kakinya kembali
ketanah, Aditia menggerakkan tangan kanannya, menjambak
jubah musuh. Klipar merasa tubuhnya tertarik keras kemuka.
Dia berontak, jubahnya robek besar. Sambil memaki dia
meninju kemuka, jang ditunggu-tunggu Aditia. Dengan cepat
kedua tangannya menangkap lengan Klipar. Tangan itu
dipuntirnya kebelakang. Klipar merintih kesakitan. Dengan
tumitnya dia coba untuk menginjak kaki Aditia. Tapi sebelum
maksudnya kesampaian, Aditia menendang kakinja. Tubuh
Klipar melambung kemuka. Karena tangannya masih terputir
kebelakang, mau tak mau persendian bahunya terlepas. Dan
seperti kerbau disembelih begitulah suara jeritan Klipar. Dia
meraung-raung tiada hentinya. Aditia mengangkat tubuh
lawannya membantingnya ketanah, persis disamping tubuh
Agfal. Begitulah, kedua saudara seguru itu menemui ajal
masing-masing.
Aditia memperhatikan mayat kedua orang itu beberapa
lamanya, kemudian mengambil bungkusan nasi yang
diletakkannya dekat sebuah pohon dan meneruskan perjalanan.
Disatu tempat yang rindang dimana perutnya mulai bernyanyi
merdu lagu lapar dia berhenti dan membuka bungkusan
nasinya. Sesuap demi sesuap nasi masuk kedalam mulutnya.
Dan setiap suap itu terbayanglah diruang matanya wajah
Suwantri, tengah tersenyum manis kepadanya.
SEMBILAN
DUA puluh enam tahun yang lalu, ketika Praya Giana, ayah
Suwantra masih muda belia, didalam suku Kayan terdapat
sebuah bunga yang indah dan harum semerbak baunya. Bunga
manusia ini bernama Liani. Konon kabarnya ketika Liani
dilahirkan saat itu umur Praya Giana sudah memasuki lima
tahun. Karena orang tua Liani dan orang tua Praya Giana yang
masih satu suku itu sama-sama bersahabat erat, maka antara
Liani dan Praya diperhubungkanlah tali jodoh. Ketika
menginjak alam kedewasaannya banyaklah pemuda sepesukuan
yang tergila-gila kepadanya. Tapi karena pemuda-pemuda itu
tahu bahwa Liani sudah menjadi pasangan Praya maka tak
seorangpun yang berani mengganggu bunga itu. Dan
terpaksalah pemuda-pemuda tersebut mengigau-igau tak
karuan dimalam hari. Namun ada salah seorang pemuda yang
tak peduli dengan hal tersebut. Namanya Solong Kambu. Dia
begitu tergila-gila pada Liani. Dimana saja Liani berada
sedapat-dapatnya selalu didatanginya. Kalau Liani pergi
mengambil air kelembah, dicegatnya. Kalau Liani pergi
keladang ditunggunya. Dan tanpa malu-malu Solong Kambu
mengutarakan isi hatinya pada gadis pujaannya itu.
Dikatakannya bagaimana makannya tidak enak kalau belum
melihat wajah itu. Bagaimana tidurnya tidak nyenyak kalau
tidak lebih dahulu menikmati wajah Liani dan seribu satu
macam kata-kata yang muluk dan indah-indah lainnya. Karena
Liani sama sekali tidak mengacuhkan Solong Kambu, terbitlah
amarah laki-laki itu. Pada malam yang ditentukannya,
dijalankannyalah satu rencana busuk yang selama ini telah
menjadi niatnya. Namun Praya Giana secara tak terduga
berhasil mempergoki maksud Solong Kambu.
Malam itu gelap sekali. Langit tiada berbintang. Agaknya
hujan lebat akan turun tak lama lagi. Dalam rumah besar
mengendap-endap sesosok tubuh mendekati kamar tidur Liani.
Dengan sebuah alat, sosok tubuh itu berhasil membuka pintu
kamar dan masuk kedalam. Beberarpa menit kemudian orang
itu yang tak lain dari pada Solong Kambu adanya keluar dari
kamar. Diatas bahunya terdukung sosok tubuh perempuan,
Liani. Solong Kambu rupanya telah menotok jalan darah gadis
itu. Setelab memperhatikan keadaan sekelilingnya, Solong
Kambu melangkah dengan hati-hati mendekati tangga. Begitu
kakinya menginjak tanah, terdengarlah satu bentakan keras.
“Bagus sekali perbuatanmu, Solong! Letakkan gadis itu
ditanah dan mari kita berkelahi satu lawan satu. Nyawamu atau
nyawaku!”.
Seperti dicekik setan, begitulah terkejutnya Solong Kambu.
Tubuh Liani disandarkannya dikaki tangga. Dia bersiap-siap.
Saat itu, Praya Giana telah melancarkan serangannya. Tanpa
diketahui satu orangpun kedua anak muda itu bertempur
dengan hebat dan mati-matian didalam kepekatannya malam.
Solong lima tahun lebih muda dari pada Praya. Tenaganya kuat
tapi dia masih kalah ‘isi dan pengalaman’ dari Praya Giana.
Setelah bertempur lima jurus maka Solong Kambu mulai
terdesak. Pukulan dan tendangan lawannya datang dengan
bertubi-tubi ketubuhnya tiada tertahankan. Dalam keadaan
babak belur akhirnya Solong Kambu rebah ketanah tak
sadarkan diri. Praya memukul tong-tong tanda bahaya. Dengan
seketika rumah besar menjadi hiruk pikuk. Semua orang
termasuk orang-orang perempuan turun kehalaman. Obor-obor
dipasang. Praya segera menerangkan apa yang telah terjadi,
sebelumnya dia telah melepaskan totokan ditubuh Liani. Solong
Kambu segera diikat orang dipohon kayu. Malam itu juga
dibuka sidang orang tua-tua untuk memutuskan perkara
tersebut. Akhirnya bulat kata bahwa mulai detik itu Solong
Kambu tidak diakui lagi sebagai salah seorang dari suku Kayan
dan dia diusir dari rumah besar.
Solong Kambu membawa diri kemana kakinya melangkah.
Bertahun-tahun berlalu. Orang Kayan telah melupakan
peristiwa malam itu sedang antara Liani dan Praya telah
dilangsungkan perkawinan. Pesta besar diadakan. Suku-suku
yang bersahabat diundang serta.
Tapi tidak demikianlah yang terjadi dengan Solong Kambu.
Dendam kesumat senantiasa bersarang dirongga dadanya.
Sambil menanti datangnya saat yang baik untuk membalaskan
sakit hatinya pada Praya Giana dan pada orang-orang Kayan
maka selama bertahun-tahun dia menjadi perampok dihutan- hutan. Beberapa orang berhasil diambilnya jadi anak buahnya.
Setiap orang yang ditemuinya dibegalnya. Entah sudah berapa
orang yang mati ditangan kelompok perampok kejam itu.
Tahun demi tahun berlalu juga, Solong Kambu diam-diam
menyadari bahwa dengan kekuatan ilmu kepandaiannya adalah
tak mungkin baginya untuk membalaskan sakit hatinya yang
telah berkarat itu. Maka dipergunakannyalah kecerdikan
akalnya.
Ketika terdengar kabar bahwa antara suku Kayan dan suku
Kenia akhir-akhir terjadi perselisihan yang memuncak maka
Solong segera menjalankan peranannya. Dia bermaksud untuk
menghancurkan kedua suku satu sama lain dengan jalan
mengodu dombanya. Seminggu yang lalu diketahuinya bahwa
antara Suwantra anak kepala suku Kayan dan Sangia anak
kepala suku Kenia telah terjadi perkelahian seru dengan
kekalahan Sangia.
Suatu hari Sangia tengah berjalan menyusuri jalan kecil
ketika disatu tempat lima orang yang tak dikenalnya
mengurungnya. Kelima orang itu masing-masing memegang
senjata.
Sangia mencabut goloknya, tapi salah seorang dari yang
mengurungnya menekankan ujung pisau kelambung kirinya.
Solong Kambu memukul kepala Sangia dengan sepotong kayu.
Ketika Sangia menggeletak tak sadarkan dirinya, Solong Kambu
mengeluarkan sebuah pisau besar. Pisau lama yang didapatnya
ketika dia masih berada ditengah-tengah suku Kayan. Dengan
menyeringai menandakan kekejamannya Solong
menghantamkan pisau tersebut ketenggorokan Sangia.
“Kelak, kalau orang-orang Kenia menemui mayat laki-laki
ini, dan melihat ukiran pisau itu... ha...... ha...... ha. Peperangan
antara Kayan dan Kenia akan pecah dengan hebat......” ujar
Solong Kambu pula.
Keesokan harinya sesudah melakukan pembunuhan
terhadap Sangia, dengan seorang diri, Solong Kambu
mendekati daerah Kayan. Dia tengah mengendap-endap
diantara semak-semak ketika melihat seorang wanita cantik
berjalan dengan cepat dimuka sana. Hatinya terkejut, darahnya
tersirap ketika melihat paras perempuan itu. Tak ada bedanya
dengan paras Liani...... perempuan yang digila-gilainya sampai
saat ini.
“Hemmmmm...... tentu ini anaknya Liani...... pikir Solong.
Walaupun umurnya sudah enam puluh tahun kurang sedikit
namun nafsu setan yang bersarang ditubuhnya segera
bergejolak didalam tubuhnya. “Tak dapat ibunya......
anaknyapun boleh” desis Solong. “Selain itu......” katanya
kemudian. “Kalau kubunuh gadis ini maka tentu orang-orang
Kayan akan menyangka bahwa itu adalah perbuatannya musuh
mereka orang-orang Kenia. Dengan golok ditangan, Solong
Kambu keluar dari balik semak-semak. Amisah, gadis itu
memekik terkejut ketika melihat seorang berwajah seram
mencegat jalannya. Dia memutar tubuh hendak melarikan diri.
Tapi Solong Kambu cepat melompatinya. Amisah berontak coba
melepaskan diri. Keduanya bergumul. Namun apalah kekuatan
seorang perempuan......
*
Aditia mempercepat jalannya. Matahari telah tenggelam.
Sebentar lagi malam akan tiba. Sampai saat itu dia masih belum
juga menemui satu rumah pendudukpun. Perutnya terasa mulai
perih tanda minta diisi. Aditia berjalan terus. Senja berlalu dan
hari mulai gelap. Bertambah gelap lagi ketika awan yang hitam
tebal menutupi langit luas. Angin kencang berhembus hampir
setiap saat. Menimbulkan suara berisik dari pohon-pohon kayu
dan menerbangkan daun-daun. Hujan rintik-rintik mulai turun.
Makin lebat... makin lebat seperti dicurahkan dari langit. Aditia
berlindung dibawah sebuah pokok kayu yang rindang berdaun
lebat, namun setelah beberapa menit tak kurang seluruh
tubuhnya jadi basah kuyup juga.
Lima menit kemudian hujan mulai mereda. Aditia
meneruskan perjalanan. Jalan kecil yang ditempuhnya tidak
kelihatan sama sekali karena gelap yang amat sangat. Perutnya
semakin perih. Tubuhnya menggigil kedinginan. Sekali-kali
diperasnya ujung pakaian yang dipakainya. Sampai beberapa
saat lamanya dia masih juga belum menemui satu rumah
pendudukpun. Dia berharap-harap akan melihat kelap-kelip
lampu pelita dikejauhan namun harapannya itu tiada menjadi
kenyataan.
Anak muda berjalan terus. Tiba-tiba hidungnya dilanda bau
yang harum sekali. Cacing gelang-gelang diperutnya menari- nari dan berbunyi kreak kreok. Betapakah tidak, awak lapar,
terbau pula harumnya daging panggang. Mau tak mau Aditia
melangkahkan kakinya menuju kearah mana datangnya bau
daging panggang tersebut.
Setelah lima menu lebih kasak kusuk didalam kegelapan
sehingga bajunya banyak yang koyak-koyak direnggutkan
ranting-ranting berduri akhirnya matanya menangkap nyala
bara api jauh dibawah lembah sebelah sana. Beberapa sosok
tubuh manusia yang merupakan benda-benda hitam
dikegelapan malam nampak mengelilingi perapian. Dengan
cepat tapi hati-hati Aditia menuruni lembah. Semakin dekat
keperapian, semakin bertambah menusuk hidung baunya
daging panggang itu. Dengan mengendap-endap Aditia sampai
kedekat rombongan orang-orang tersebut. Dia bersembunyi
dibalik sebatang pohon kayu, memperhatikan.
Dikelilingi oleh lima orang laki-laki yang semuanya
berkerudung kain sarung, maka diatas perapian tergantung
beberapa potong besar daging panggang. Minyak daging itu
menitik-nitik jatuh keatas bara. Itulah yang menimbulkan bau
yang sedap sekali. Pemuda kita mereguk air liurnya. Dia
mengurungkan niatnya untuk melangkah ketika mendengar
laki-laki yang membelakanginya membuka mulut.
“Bukan main sedapnya daging rusa ini. Hari dingin. Perut
lapar dan daging panggang hangat-hangat...... Huah......”.
“Kau tahu cuma makanan yang sedap saja” tukas seorang
yang lain. Orang ini kelihatannya sudah berumur. Tapi
badannya masih kukuh. Suaranya serak parau. “Kalian sudah
tahu apa yang terjadi beberapa hari yang lalu?”
“Oh........ peristiwa perahu nelayan yang terbalik itu?” ujar
salah seorang pula sambil mengunyah daging panggang yang
dimulutnya.
“Bukan itu bodoh. Tapi apa yang terjadi antara suku Kayan
dan suku Kenia!” bentak orang tadi.
“Rupanya rencana guru sudah berjalan beres?”.
Orang yang dipanggilkan guru itu tersenyum kecil. “Bolehlah
dikatakan begitu. Kalian tahu, Suku Kayan dan Suku Kenia
saling baku hantam. Suku Kenia menduga bahwa orang-orang
Kayanlah yang telah membunuh Sangia, adik kepala suku
mereka. Dengan serta merta orang-orang Kenia menggempur
Kayan, puluhan orang pada mampus. Padahal mereka orang- orang dungu itu tidak mengetahui bahwa akal akulah, akal si
Solong Kambulah maka semuanya itu terjadi. Ha...... ha......
ha...... Dan kalian tahu bagaimana cantiknya paras gadis yang
kutemui itu? Bagaimana putih bersih kulitnya.......... Ha........
ha.........”.
Solong Kambu termenung menghayal membayangkan
peristiwa beberapa hari yang lalu. Kemudian sambil
mengunyah daging panggang yang dimulutnya dia berkata.
“Tapi hatiku belum puas. Aku masih punya rencana lain yang
lebih hebat. Kalian......”. Solong Kambu menghentikan kata- katanya. Dia berdiri dengan cepat sambil mencabut goloknya.
Keempat anak buahnya mengikuti gerakan pemimpin mereka.
“Siapa disitu! Katakan cepat kalau tidak ingin mampus!”
bentak Solong Kambu sambil memandang tajam kearah
kegelapan.
“Saya......” terdengar suara jawaban.
“Saya siapa?!” bentak Solong.
Orang yang dikegelapan maju melangkah kemuka dengan
terbungkuk-bungkuk. Tindak tanduknya menyatakan dia
seorang desa. Padahal itu hanyalah pura-pura saja. Orang itu
tak lain adalah Aditia adanya.
“Siapa kau?” tanya Solong Kambu sambil memelintangkan
goloknya dimuka Aditia.
“Na...... namaku Mamat. Aku orang desa. Aku tersesat
dijalanan. Bau daging itu harum sekali. Dan aku lapar......”
jawab orang yang ditanya.
“Buset! Sudah tak diundang bicara tentang perut lapar lagi!”
ujar Solong Kambu.
“Kau petani?” tanya salah seorang anak buah Solong Kambu.
“Benar. Aku baru saja mengambil uang penjualan padiku
pada seorang tengkulak. Kalian pedagang-pedagang agaknya?”
tanya Mamat.
Solong Kambu mengedipkan matanya pada anak buahnya
dan menjawab. “Benar. Kami semuanya pedagang-pedagang.
Pedagang keliling. Tapi duduklah. Kau boleh ambil daging
panggang itu, tapi jangan banyak-banyak!”.
“Terima kasih......” kata Mamat pula sambil duduk disebuah
batu batang kayu. Dengan agak malu-malu dia mengambil
sepotong daging panggang dan mengunyahnya dengan penuh
lahap. Setelah beberapa lama kemudian...... “Apa boleh aku
ambil sepotong lagi......?” terdengar suara Mamat bertanya,
“Wah, perutmu besar sekali. Ambillah!”.
Ketika Mamat menghabiskan daging panggang yang kedua
tanpa diketahuinya, Solong Kambu memberi isyarat pada
keempat anak buahnya. Dengan serentak keempat orang itu
berdiri. Ernpat buah golok maut mengurung kepala Aditia.
“Ha...... ha...... ha......!” terdengar kekeh Solong Kambu.
Mamat tampak terkejut.
“Apa...... apaan ini. Kalian......”.
“Ha...... ha...... ha...... kami memang pedagang-pedagang.
Tapi pedagang nyawa manusia...... ha...... ha...... ha. Berdiri!”
bentak pemimpin rampok itu.
Dengan kedua lutut yang tampak gemetar, Mamat seorang
desa bangkit berdiri.
“Dasar orang desa bodoh dogol. Masih belum tahu kau
berhadapan dengan siapa? Ha...... ha...... Ini dia manusianya
yang bernama Solong Kambu!”, kata Solong Kambu sambil
memukul-mukul dadanya.
“Solong Kambu?” desis Mamat ketakutan.
“Yah, Solong Kambu. Keluarkan semua uangmu!”.
“Tapi...... tapi......”.
“Keluarkan semua uangmu!” bentak Solong Kambu.
“Tapi...... tapi......”. Tiba-tiba si Mamat membentak keras.
Keempat orang yang disampingnya yang mengurungnya sama
berpekikan dan rebah ketanah.
“Kurang ajar” maki Solong Kambu. Goloknya berkelebat
kearah Aditia. Tapi Aditia lebih cepat menangkap lengan yang
memegang senjata itu. Solong Kambu menjerit karena
tangannya seperti digencet oleh dua buah batu besar.
Jeritannya lenyap ketika totokan Aditia menghantam bahu
kanannya. Tubuh Solong Kambu menjadi kejang, dan sebelum
jatuh Aditia membiarkan saja bagaimana tubuh laki-laki itu
jatuh menimpa semak-semak. Sambil kembali menikmati
daging panggang yang liat itu dia memandang kelima orang
rampok itu satu-persatu. Ketika matanya terasa mengantuk,
Aditia menambahkan lagi satu totokan kesetiap perampok itu
dan dengan bersandar pada sebatang pohon dia mulai
memejamkan matanya.
SUWANTRI tengah mendaki lereng bukit sambil membawa
bumbung yang berisi air dari lembah ketika dipuncak bukit
dilihatnya seorang laki-laki berlari dengan cepat sambil
menggendong sesosok tubuh. Belum pernah dia melihat
kejadian yang serupa itu. Hatinya berdebar keras. Mungkinkah
laki-laki itu orang yang dirinduinya selama ini? Setengah berlari
dia menuju keatas bukit. Ketika dia sudah merasa pasti,
Suwantri melemparkan bumbung air yang ditangannya.
“Aditia...... Aditia...... kau kembali!”.
Aditia menghentikan larinya. Dia tersenyum pada gadis itu.
“Aku sudah lihat kau dari jauh Aditia. Ternyata duganku tak
salah. Ini siapa Aditia......”.
“Jangan banyak tanya dulu Wantri. Mari kita kerumah.
Jalanlah kau duluan”. Suwantri memutar tubuhnya dan berlari
dimuka Aditia.
Melihat kedatangan Aditia,bersama seorang yang pingsan
dalam rangkulannya, orang-orang Kayan datang mengerubung.
“Aditia!” terdengar suara Suwantra. “Ada apa? Orang ini
siapa?”.
Aditia tak menjawab, sebaliknya mengikat kedua tangan
Solong Kambu dengan sehelai sapu tangan. “Apakah semua
orang telah berkumpul disini?” tanya Aditia sambil memandang
berkeliling. Praya Giana dan beberapa orang tua-tua lainnya
mengedip-ngedipkan mata mereka. Menggosok-gosokanya
kemudian berpandangan satu sama lain.
“Laki-laki ini Solong Kambu. Orang yang dibuang
dahulu......” ujar Praya Giana.
“Benar, memang namanya Solong Kambu” ujar Aditia.
Semua orang soling bertanya-tanya dalam hatinya. Sementara
itu Aditia melepaskan kedua totokan pada tubuh Solong
Kambu. Laki-laki itu tampak bergerak-gerak. Kemudian
membukakan matanya. Aditia membantu Solong Kambu untuk
berdiri. Solong Kambu berdiri dan memandang berkeliling. Dia
terkejut. “Dimana aku?!” ujarnya kemudian. Tiba-tiba matanya
membentur wajah Praya Giana. Wajah Liani disebelah sana dan
wajah dari beberapa orang yang dikenalnya.
“Bicaralah Solong Kambu!” kata Aditia memerintah. “Cepat
katakan apa yang telah kau lakukan terhadap Amisah!”. Solong
Kambu memandang pada Aditia dengan melotot.
Suwantra maju kemuka. “Jadi dia manusianya?” tanya laki-
laki itu sambil memandang pada Aditia. Aditia mengangguk.
Dengan serta merta, Suwantra dan Suwantri mencabut pisau
masing-masing. “Sebaiknya biar dia bicara dulu mengakui
perbuatannya”. kata Aditia menyarankan.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Solong Kambu.
Tiada jalan lari baginya. Tangannya terikat sedang lapisan
manusia mengurungnya. Dengan suara yang gemetar laki-laki
itu memaparkan tentang semua perbuatannya. Pada akhirnya
keterangannya dia berkata. “Kalau kalian hendak menghukum
aku, hukumlah secara jantan, secara peradatan suku kita!”.
“Manusia semacam kau tidak usah diperlakukan secara
jantan, binatang!” teriak Suwantri sambil menghunus pisaunya.
Aditia memegang lengan gadis itu.
“Kau minta dihukum secara peradatan Kayan. Tapi sejak
puluhan tahun yang lalu kau sudah bukan lagi seorang suku
Kayan......” kata Praya Giana.
“Lepaskan sapu tangan yang mengikat lengannya!” perintah
Suwantra. Seseorang melepaskan ikatan tangan Solong Kambu.
“Mundur!”. Orang ramai mundur kebelakang. Suwantra
memberikan sebuah pisau pada Solong Kambu. Ditangannya
sendiri tergenggam sebuah pisau. “Majulah Solong Kambu,
inilah cara jantan yang kau ingini. Kau harus berikan nyawamu
untuk pengganti nyawa adikku!”.
Solong Kambu maju dengan ragu-ragu. Tiba-tiba terdengar
suara Praya Giana. “Anakku Suwantra, berikan pisau itu
padaku. Biar aku yang menghadapi dia......”, Suwantra terkejut.
Dan saat itu pisaunya telah berpindah tangan kedalam tangan
ayahnya.
“Kita bertemu kembali, Solong. Ingat cerita lama? Majulah”.
Begitulah kedua tua sama tua itu saling berhadapan. Tubuh
Solong Kambu lebih kekar dari Praya Giana, tapi dia kalah
kepandaian. Tiga jurus pertama keduanya berkelebatan kian
kemari. Gerakan-gerakan mereka tak kalah hebat dengan
gerakan-gerakan anak muda. Praya Giana meninjukan tangan
kirinya kedada Solong Kambu. Gerakannya sengaja
diperlambat. Apa yang diharapkan Praya segera terjadi. Ketika
Solong Kambu menepis lengannya dengan tangan kirinya,
Praya menangkap lengan lawannya dan menariknya kemuka
dengan keras. Solong Kambu tertarik kemuka. Pisau yang
ditangannya bergerak, tapi Praya Giana lebih cepat. Senjatanya
dihunjamkannya keperut lawannya. Solong Kambu merintih.
Lidahnya terjulur keluar. Dia terhuyung-huyung kebelakang
dan roboh terlentang. Laki-laki itu mati dengan pisau tertancap
diperutnya. Hutang nyawa berbalas sudah! *
* *
Aditia memegang lengan gadis itu. Keduanya berjalan
menyusuri jalan kecil dilereng bukit. “Nah Suwantri, ini sudah
terlampau jauh. Sampai disini sajalah, dik.....” kata Aditia.
Gadis itu mengangguk.
Selamat jalan Aditia. Kau akan selalu kukenang. Namamu,
senyummu, kebaikanmu, jasamu...... segala-galanya”.
“Dan aku juga akan selalu mengingat seorang dara berwajah
cantik, berkulit mulus putih, yang senyumnya manis sekali yang
namanya Suwantri......”.
“Hati-hatilah Aditia. Doaku bersamamu. Selamat jalan”.
Aditia memegang kedua bahu gadis itu. Matanya
memandang dalam-dalam kemata gadis yang menengadah
kepadanya. Aditia membungkuk. Suwantri memejamkan
matanya. Perlahan-lahan Aditia mencium kening gadis itu.
Kemudian tanpa diketahui si gadis dia meninggalkan tempat
itu. Suwantri masih memejamkan matanya menunggu. Setelah
beberapa lamanya dia membukakan matanya. Dengan terkejut
dia memandang berkeliling. Tapi Aditia sudah lama pergi.
Sambil tersenyum, Suwantri berkata seorang diri. “Ah...... dia
sungguh gagah, dan sakti sekali......”. Kemudian perlahan-lahan
gadis itu menuruni bukit. Kembali pulang dengan membawa
satu kenangan indah dilubuk hatinya.
Tamat