"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..
Tampilkan postingan dengan label PENDEKAR SLEBOR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDEKAR SLEBOR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2025

PENDEKAR SLEBOR EPISODE GOA TERKUTUK

Goa Terkutuk

 


PENDEKAR SLEBOR GOA TERKUTUK 

Serial Pendekar Slebor 

Cetakan pertama 

Penerbit Cintamedia, Jakarta 

Hak cipta pada Penerbit 

Dilarang mengcopy atau memperbanyak 

sebagian atau seluruh isi. buku ini 

tanpa izin tertulis dari penerbit 

Serial Pendekar Slebor 

dalam episode : 

Goa Terkutuk 

128 hal.


1


Pernahkah sekali waktu manusia merasakan alam 

terlelap dalam tidurnya. Hanya, dalam tidur tenanglah 

umat manusia merasakan hal sedemikian rupa. Alam tak 

pernah berhenti bergerak dalam sekejap mata juga. Alam 

datang penuh pesona, tetapi juga penuh kengerian bencana. 

Seperti yang terjadi di tubuh Gunung Larangan. Gunung 

menjulang tinggi dengan pepohonan lebat dihantam hujan 

deras dan kabut tebal dari subuh hingga pagi hari ini. 

Suaranya menderu-deru. Angin besar menegakkan bulu 

roma, mengerikan. Petir menggelegar hendak 

menggoyangkan Gunung Larangan. 

Dengan udara dingin membeku membuat beku jalan 

darah. Tak seorang pun berani mendatangi Gunung 

Larangan yang terkenal angker. Selain itu, jalan untuk 

mencapai kaki gunung saja sudah sedemikian sulit karena 

didahului hutan lebat yang tak terjamah. Apalagi untuk 

mencapai puncak yang begitu terjal dengan batu-batu besar 

yang sewaktu-waktu dapat terguling. 

Lolongan anjing tak mampu menembus gemuruh hujan. 

Entah yang ke berapa puluh kali kilat menyambar dan 

menerangi seluruh tempat mengerikan itu sesaat selebihnya 

gelap kembali. 

Di pagi yang mengerikan dengan kabut tebal dan alam 

gulita, ketika kilat menerangi tempat itu beberapa saat, 

terlihatlah sebuah pemandangan yang benar-benar 

membuat kening berkerut, 

Di dinding Gunung Larangan sebelah barat, terlihat 

sebuah goa yang terbuka karena belukar yang terkena basah


hujan tersibak. Lalu mengatup kembali didorong oleh angin 

keras. 

Plaass!! 

Kilat kembali menyambar. Bila mata dipicingkan 

seksama, goa itu seakan mengundang orang masuk ke 

dalamnya, dengan sesekali semak di depannya yang setinggi 

dada manusia dewasa terbuka. 

Lebih aneh lagi karena di tempat yang tak pernah 

didatangi orang itu, terlihat tiga sosok tubuh yang telah 

basah kuyup. Ketika kilat menerangi kembali tempat itu, 

terlihat tiga laki-laki berbaju hitam dan ikat pinggang 

kuning, sedang merayap melewati tanjakan hutan terakhir. 

Dan kini ketiga lelaki berambut gondrong dengan ikat 

kepala hitam telah tiba di depan goa dalam jarak dua 

tombak. Mereka tak hiraukan betapa air yang meluncur 

bertubi-tubi dari langit itu bagai menusuk seluruh kulit. 

Dalam hujan yang lebat dan angin dingin menusuk, 

ketiga lelaki itu bagaikan terpana menatap semak belukar 

yang sesekali tersibak oleh tiupan angin dan 

memperlihatkan goa yang berada di belakangnya. Rasa 

penat dan muak karena hujan yang bertambah deras dan 

tak berhenti juga, hilang begitu saja. 

Bila melihat keberadaan mereka di sini dalam cuaca 

yang, sangat buruk namun mereka seperti tak kekurangan 

suatu apa, bisa dipercaya, ketiganya orang-orang rimba 

persilatan yang memiliki cukup ilmu. 

"Tak kusangka, kalau berita tentang Goa Terkutuk 

memang benar," kata yang berkumis lebat. Suaranya keras, 

mencoba mengalahkan gemuruh angin dan hujan. 

"Kau benar, Singaranu. Menurut kabar yang kita dengar, 

di Goa Terkutuk-lah Dewi Putih Hati Setan menghabiskan

sisa hidupnya. Aku yakin, wanita yang puluhan tahun lalu 

pernah menggemparkan dunia persilatan itu sekarang telah 

mampus. Inilah kesempatan kita untuk mendapatkan dua 

benda pusaka miliknya. Kitab Pusaka Rembulan Mambang 

dan Pecut Sakti Bulu Babi!" sahut yang berjenggot lebat 

tanpa memalingkan wajahnya dari goa yang tersibak di 

depannya. Ia bernama Kuntara. 

"Dan aku yakin, tak seorang pun yang pernah berhasil 

menginjak Gunung Larangan ini, apalagi menemukan Goa 

Terkutuk!" kata yang bercambang lebat dengan berteriak 

pula. Lalu orang yang bernama Sampurno itu terbahak-

bahak keras. "Kesempatan ini tak boleh disia-siakan!" 

Singaranu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan 

wajah puas. Lalu ia berkata, "Sesuai dengan kesepakatan di 

antara kita, Pecut Sakti Bulu Babi akan menjadi milik kita 

bersama. Kedahsyatan pecut itu tak ada tandingannya. 

Hmmm, rencana yang telah bertahun-tahun kita susun 

untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, harta, takhta 

dan wanita, nampaknya sebentar lagi akan terwujud. Yang 

terpenting lagi, kita akan mendapatkan ilmu ampuh yang 

tiada tanding dari Kitab Pusaka Rembulan Mambang. Kita 

mulai!" 

Kala-kala Singaranu terakhir itu merupakan komando. 

Secara serempak ketiganya loloskan ikat pinggang berwarna 

hitam dari pinggang masing-masing. Lalu segera 

menyimpulkannya menjadi satu dan kedua ujungnya 

dipegang oleh Sampurna dan Singaranu. Sementara 

Kuntara memegang bagian tengah. Sambil mengerjakan 

semua itu, pandangan mereka tak putus dari goa di balik 

semak belukar yang sesekali tampak karena semak yang 

menutupi goa itu tersibak tertiup angin keras. 

Ketiga lelaki yang tak mempedulikan betapa lebat hujan 

dan betapa dingin cuaca, perlahan-lahan mulai melangkah

mendekati goa yang mereka sebut Goa Terkutuk. Mereka 

siap untuk masuk. Dalam pikiran mereka, sesudah 

menempuh perjalanan jauh dan sangat sukar, semuanya 

akan terbalas begitu mereka mendapatkan dua benda 

pusaka milik Dewi Putih Hati Setan yang tersimpan 

puluhan tahun di Goa Terkutuk. Namun mendadak mereka 

tercekat ketika terdengar suara yang sangat keras bagaikan 

halilintar menyalak. 

"Siapa yang mengganggu tapaku, mereka akan mati!" 

Serentak ketiganya celingukan dengan kening berkerut. 

Tak sadar wajah mereka yang semula berseri tampakkan 

wajah cukup tegang. Setelah terdiam beberapa saat dan 

suara itu tak terdengar lagi, Singaranu yang panasan 

membentak, "Gila! Apakah Dewi Putih Hati Setan itu 

masih hidup? Mustahil! Wanita itu pasti sudah lama 

menjadi santapan cacing tanah! Kita tetap untuk menerobos 

masuk dan mendapatkan dua benda sakti tiada tanding!" 

“Siapa yang mengganggu tapaku, ia akan mati!" 

Suara menggemuruh menebar kembali. Mencekam. 

Tanpa sadar ketiganya saling pandang dengan perasaan tak 

karuan. Diam-diam di hati masing-masing cukup ciut 

memikirkan kemungkinan Dewi Putih Hati Setan masih 

hidup. Namun mereka adalah orang-orang yang nekat dan 

dibuai ambisi. Ketiganya tajamkan pendengaran, namun 

mereka tak menemukan sumber suara itu, karena suaranya 

bagai menggema di empat penjuru. 

"Setan gentayangan laknat! Tampang busukmu tak perlu 

kau sembunyikan!!" bentak Singaranu yang jadi jengkel 

karena ketegangan itu cukup melanda hatinya. "Akan 

kucacah dan kulemparkan kau ke neraka!!" 

Tak ada sahutan apa-apa. Sampurna yang sejak tadi 

memperhatikan goa di hadapannya, berbisik pelan,

"Apakah tidak mungkin kalau suara itu berasal dari dalam 

goa itu? Dan berarti.... Dewi Putih Hati Setan memang 

masih hidup seperti katamu tadi, Singaranu?" 

“Jangan berpikir bodoh! Tak mungkin wanita itu masih 

hidup!" sentak Singaranu kasar, sedikit jengkel mendengar 

kata-kata Sampurna. Dan lebih jengkel lagi mengingat 

dialah yang pertama kali melontarkan dugaan itu. 

"Singaranu teras terang aku jadi cukup ngeri memikirkan 

kata-kata Sampurno,” kata Sampurno," kata Kuntara 

sambil pandangi Singaranu yang mendengus melecehkan. 

"Orang-orang sundal yang bodoh! Apakah kalian akan 

sia-siakan kesempatan yang sudah di depan hanya karena 

pikiran tolol itu? Peduli setan dengan ancaman tadi! Kitab 

Pusaka Rembulan Mambang dan Pecut Sakti Bulu Babi 

harus kita miliki!" sembur Singaranu dengan pipi 

menggembor. Lalu dengan mata yang bagai mau melompat 

karena kejengkelan yang sudah tiba di ubun-ubun, ia 

membentak kembali, "Apakah kalian akan mundur padahal 

apa yang kita inginkan sudah ada di depan mata, hah? 

Bodoh! Kehidupan yang kita dambakan selama ini, bisa kita 

dapatkan melalui dua benda pusaka yang ada di dalam Goa 

Terkutuk itu! Karena, semua orang rimba persilatan akan 

takut pada kita!! Kita mulai sekarang!!" 

Lelaki yang penuh ambisi itu segera mengalirkan tenaga 

dalamnya pada ikat pinggang yang telah dijadikan satu. 

Hawa panas segera dirasakan oleh Kunlara dan Sampurno 

yang segera melakukan hal yang sama. Ikat pinggang yang 

tadi kelihatan lemas itu, sekarang tiba-tiba menjelma 

bagaikan sebuah tombak yang terbuat dari baja. 

"Kita bersiap untuk masuk!" kata Singaranu lagi. 

"Alirkan seluruh tenaga dalam! Heaaaa!!"


Diiringi dengan teriakan sambung menyambung yang 

keras, ketiganya berkelebat ke arah Goa Terkutuk, tepat 

ketika semak di depannya tersibak. 

Namun ketika ketiga laki-laki nekat itu tiba dalam jarak 

satu tombak dari goa, tubuh mereka tiba-tiba mencelat ke 

belakang, bagai ada tenaga raksasa menghantam tubuh 

mereka. Bergulingan hingga lima belas tombak bagaikan 

sebuah batu yang lemparkan. Dan muntah darah dengan 

tubuh yang terasa sakit. Seluruh tulang penyangga raga 

mereka seakan patah. 

Singaranu yang pertama kali bertindak cepat. Segera 

dialirkan tenaga dalamnya lagi dan menggeram dengan 

wajah muak. Kedua matanya turun ke bawah dengan pipi 

menggembor. 

"Keparat! Siapa yang melakukan serangan setan itu?!" 

makinya penuh kebencian. 

Kuntara yang tengah mengalirkan hawa murninya untuk 

menghilangkan rasa sakit, menjawab setelah muntah darah 

kembali, suaranya tak bisa sembunyikan nyerinya, "Aku 

khawatir Dewi Putih Hati Setan masih hidup dan ia tak 

menginginkan kita berada di sini." Semangat yang ada 

dalam dadanya tiba-tiba saja luntur, namun ia sudah tentu 

tak berani mengatakannya pada Singaranu yang seketika 

melotot gusar padanya. 

"Kita tidak usah jeri!" sentak Singaranu satelah bisa 

berdiri. Sesaat tubuhnya limbung namun segera dikuasainya 

kembali. Dari ketiganya, memang dialah yang paling 

berambisi untuk mendapatkan dua benda pusaka di dalam 

Goa Terkutuk. Dia pula yang sebelumnya membujuk 

Kuntara dan Sampurno agar mengikutinya menuju Goa 

Terkutuk. Sebagai sahabat, keduanya menyetujui ajakan 

itu. Terlebih-lebih setelah diiming-imingi dengan harapan

untuk menguasai rimba pcrsilatan. Paling tidak 

mendapatkan kedudukan, harta dan wanita secara mudah. 

Pada dasarnya, Kuntara dan Sampurno memang orang-

orang yang serakah, Namun, mereka sendiri tidak 

menyangka kalau begitu sulit untuk mendapatkan dua 

benda pusaka itu, Apalagi sekarang, mengingat 

kemungkinan Dewi Putih Hati Setan yang pernah mereka 

dengar pula tentang sepak terjang telengasnya puluhan 

tahun yang lalu, masih hidup. 

"Singaranu.... Dewi Putih Hati Setan telah memberi 

peringatan pada kita. Lebih baik, kita batalkan rencana ini," 

desis Sampurno yang menderita sakit yang sama. 

"Bodoh! Kalian masih meyakinkan diri kalau Dewi Pulih 

Hati Setan masih hidup! Keparat! Aku ingin tahu hal itu! 

Kerahkan tenaga 'Sekati Gajah Mati' untuk menahan bobol 

tubuh kita agar tidak termakan oleh serangan gelap sialan 

itu! Hayo, jangan loyo seperti itu! Kita kembali terobos ke 

dalam!" 

Kuntara dan Sampurno saling pandang. Meskipun 

mereka tegang dengan aliran darah yang kacau, namun 

mereka pun membenarkan kala-kala Singaranu yang 

mengatakan kalau mereka telah menyia-nyiakan 

kesempatan. Keberanian itu muncul kembali. Memang 

percuma menempuh jarak berminggu-minggu untuk tiba di 

Gunung Larangan kalau mereka mundur perlahan-lahan 

hanya gara-gara ancaman dari dalam goa itu. 

Lalu ketiganya secara bersamaan mengalirkan ajian 

‘Sekati Gajah Mati'. Sebuah ajian. dahsyat, mampu 

membuat bobot tubuh bertambah ribuan kati. Namun bagi 

pemiliknya, seakan tak ada tambahan bobot, karena mereka 

bisa bergerak dengan mudah.

Sekarang, ketiganya tiba kembali dalam jarak tiga 

tombak di hadapan Goa Terkutuk. Tak berkesip menatap ke 

depan. Air makin banyak ditumpahkan dari langit. Dingin 

makin menusuk tulang paling dalam. Singaranu 

menganggukkan kepalanya pada kedua temannya, tanda 

bersiap. 

"Heaaaa!!" teriakan menggelegar terdengar bersamaan. 

Lentingan tubuh mereka yang bertambah bobot ribuan kati, 

getarkan tempat itu. Namun lagi-lagi sebuah tenaga raksasa 

yang mengeluarkan gemuruh angin, menghantam tubuh 

mereka dengan keras, hingga ketiganya terpental beberapa 

tombak ke belakang. 

Ajian 'Sekati Gajah Mati' yang, dipergunakan tak 

membawa banyak arti. Karena kali ini mereka harus 

muntah darah berkali-kali. Hanya sesaat ketiga lelaki 

berbaju hitam itu menahan sakit, karena selebihnya nyawa 

sudah lepas dan badan diiringi jeritan menyayat 

mengalahkan gemuruh hujan. 

Keanehan itu berlanjut, karena bagai ada tangan-tangan 

gaib mayat ketiganya terangkat, melayang-layang dan jatuh 

seperti nangka busuk di depan Goa Terkutuk. 

Satu detik kemudian, meluncur dari dalam goa tiga buah 

sinar hitam. bergulung-gulung, menyelingkupi mayat 

ketiganya bagaikan puluhan tawon yang mengeluarkan 

dengungan kematian. Dan tiba-tiba saja bagaikan seutas tali 

sinar-sinar hitam itu mencengkeram erat mayat tiga laki-laki 

malang, memutar-mutar, hingga ketiga mayat itu tak 

ubahnya bagai sebuah bandul yang lengah dimainkan. 

Bummm!! 

Sebuah ledakan terdengar keras. Halilintar seolah 

berhenti menyalak. Kilat seolah terdiam. Mayat ketiga 

lelaki itu telah pecah menjadi serpihan.

Sinar hitam tadi melesat kembali ke dalam goa. Seolah 

tak pernah ada kejadian yang mengerikan, semuanya 

kembali sunyi. 

Tinggal hujan lebat, angin dingin, halilintar menyalak, 

dan kilat sambar menyambar. Juga bentakan ingin yang 

menggema dari dalam goa, "Sudah kuperingatkan pada 

kalian, tetapi kalian tetap membangkang! Hhh! Caping 

Dewa Sakti, aku masih menunggu kedatanganmu!" 

Selebihnya, diam. 


2


"Kerbau bau! Orang gundul! Kucing mabuk! Kapan 

hujan ini akan berhenti?" makian itu terdengar dari sebuah 

gubuk yang terdapat di hutan belantara tak jauh dari 

Gunung Larangan. 

Pemuda yang memaki itu menekuk kedua lututnya di 

balai-balai usang yang terdapat di gubuk itu. Tubuhnya 

sedikit menggigil karena menahan dingin padahal ia sudah 

alirkan tenaga dalamnya. Wajah tampan dengan rambut 

panjang acak-acakan berkerut-kerut karena jengkel. 

Sungguh jelek jadinya! 

"Apa harus seumur hidupku berada di sini terus? Astaga! 

Mau jadi apa aku kalau sudah besar?" Kalau barusan ia 

memaki, sekarang terdengar tawanya yang merasa lucu 

dengan ucapannya sendiri, "Apa sekarang aku belum besar 

juga? Padahal pipisku sudah lempeng! Edan!"


Pemuda berbaju hijau pupus itu masih menggerutu 

panjang pendek. Bibirnya membentuk kerucut. Sepasang 

alis hitamnya bergerak-gerak turun naik. 

Namun tiba-tiba saja kepalanya menegak. Wajahnya 

tegang, dan bagai dibetot setan ia memandang keluar dari 

gubuk itu, menerobos hujan yang turun dengan deras. 

Duaaarrr! ! 

Gubuk itu hancur berantakan tersambar halilintar. Si 

pemuda yang tadi bergulingan kini perlahan-lahan tegak 

kembali sambil mengelus dadanya. Tak pedulikan hujan 

yang sudah membasahi seluruh tubuhnya. 

"Konyol! Mengejutkanku saja!!" gerutu si pemuda 

panjang pendek. "Memang aku tidak mampus kalau 

tersambar petir atau halilintar. Tetapi, kan sakitnya tetap 

sama!! Di mana lagi aku bisa berteduh sekarang? Kasihan 

juga para penebang kayu karena gara-gara aku mereka 

sudah tentu tak punya tempat beristirahat. Brengsek! 

Brengsek!" 

Pemuda berbaju hijau pupus dengan sehelai kain 

bercorak catur yang tersampir di lehernya, menoleh ke sana 

kemari seperti orang linglung. 

"Busyet! Apa aku harus terus membiarkan sekujur 

tubuhku terus menerus basah kuyup seperti ini?" makinya 

tak karuan. Saat itulah didengarnya suara berdentuman, 

keras, hampir-hampir mengalahkan gemuruh hujan dan 

salakan halilintar. Kepala si pemuda menoleh ke satu 

tempat "Sinting! Aku yakin yang menggelegar itu bukanlah 

halilintar! Tetapi apa?" desisnya tak mengerti, "Hmmm, 

sekarang sudah basah kuyup! Tempat berteduh pun tak ada, 

sebaiknya aku mencari saja dari mana asal suara 

menggelegar barusan tadi! Pepohonan yang berada di

dekatku seakan bergetar, dedaunan luruh begitu saja! Gila! 

Kekuatan apa itu? Apakah alam yang sedang marah?" 

Setelah mempertimbangkannya, pemuda berbaju hijau 

pupus yang tak lain adalah Andika alias Pendekar Slebor, 

segera berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. 

Diterobosnya curahan air laksana ribuan jarum menusuk 

sekujur tubuhnya. Pepohonan lebat dan jalan terhalang 

kabut, tak mengganggu kelincahan dan mata tajamnya. 

Namun licinnya jalannya cukup membuatnya berhati-hati. 

Selang beberapa lama, Pendekar Slebor tiba di lereng 

Gunung Larangan. Pandangannya tak mampu menembus 

betapa pekatnya kabut. Dicoba untuk mengagumi 

keindahan yang samar terpancar, namun kepalanya jadi 

menggeleng-geleng sendiri. 

"Busyet! Kenapa sih aku tahu-tahu berada di sini?" 

makinya pada diri sendiri. "Jangan-jangan, suara yang 

kudengar tadi suara setan yang sedang berpesta!” 

Mendadak didengarnya suara yang sangat keras sekali. 

Membuat pemuda urakan dari Lembah Kutukan itu 

mendengus karena jengkel sendiri. 

"Monyet buduk! Siapa yang mengeluarkan kata-kata 

yang mengalahkan gegap gempita, hujan dan halilintar! 

Hhhh! Asal suara itu dari sisi kiriku! Aku jadi penasaran, 

apa yang sebenarnya terjadi?” 

Lincah Andika berkelebat, melompati batu-batu besar 

dan menghindari halilintar yang berkali-kali menyambar. 

Beberapa saat kemudian ia tiba di sebuah tempat yang agak 

lapang. Suasana di situ sangat gelap sekali. Pendekar Slebor 

mencoba memicingkan matanya, namun gagal menembus 

kegelapan.

"Heran! Kenapa kilat tidak menerangi tempat ini? Hei, 

Kilat! Ayo dong berkelebat lagi!! dalam keadaan mencekam 

dan membuatnya penasaran, Andika masih tak lupa dengan 

sifat slebornya. 

Pendekar Slebor menggerutu tak karuan. 

“Brengsek! Kalau memang dari sini asal suara itu 

rasanya tak masuk akal! Aku tak merasa ada yang 

mencurigakan!! Hhh Jangan-jangan memang setan yang 

kudengar tadi!! Lebih baik aku mencari tempat berteduh 

saja daripada pusing memikirkan keanehan ini. Baiknya 

kutunggu dulu barangkali saja suara keras itu terdengar lagi. 

Memikir sampai di situ, Pendekar Slebor membiarkan 

tubuhnya diterpa hujan. Sekian lama ia berdiri di sana, 

membuka pandangan dan pendengarannya lebih tajam, tak 

terlihat atau terdengar sesuatu yang seperti diharapkannya. 

Lalu ia putuskan meninggalkan tempat itu. 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Hujan deras perlahan-lahan mereda. Angin dahsyat 

bergemuruh kini berhembus lembut. Tak ada lagi halilintar 

menyambar, tak ada kilat sambung menyambung. Alam 

berubah terang. Seluruh dedaunan basah. Satwa yang hidup 

di sana segera keluar dari sarang, bergembira. 

Andika yang bernaung di sebuah pohon besar berdiri 

sambil merentangkan kedua tangannya. 

“Busyet! Entah berapa lama aku menekuk lutut di situ!” 

desisnya celingukan. Ketika mendongak, dilihatnya pohon 

di mana ia bernaung tadi dipenuhi buah. “Wah, kalau tahu 

dari tadi, perutku pasti kenyang.” 

Sekali sentak, pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah 

Kutukan sudah mendapatkan buah-buahan itu.


Dimakannya untuk mengganjal perut yang sudah 

keroncongan. 

Setelah itu barulah dirasakan tubuhnya lengket karena 

keringat yang menyatu dengan air hujan telah mengering 

pada tubuhnya. Diangkat tangan kanan, diciumnya, 

seketika hidungnya bergerak-gerak mirip hidung tikus. 

"Kecut! Hmm... sambil mengeringkan pakaianku ini, aku 

ingin mandi. Di mana ya ada sungai di sini?" 

Andika celingukan lalu kelebatkan tubuh untuk mencari 

sungai, tak lama kemudian ditemukannya sebuah sungai 

yang terletak dalam jarak seratus tombak dari Gunung 

Larangan. 

Sungai itu mengalirkan air yang cukup jernih. Namun 

suaranya bergemuruh tinggi. Mungkin disebabkan hujan 

terus menerus turun semalaman hingga air sungai itu lebih 

deras. 

Sebelum membuka seluruh pakaiannya, Andika 

celingukan lagi. Setelah diyakini tak ada yang mengintip, 

segera dibuka pakaiannya dan meletakkan di sebuah batu 

besar. Lalu.... 

Byur! 

Gembira bersenandung lagu yang tak karuan, Andika 

berenang-renang sambil menggosok seluruh tubuhnya. Rasa 

penatnya, hilang perlahan-lahan. Tubuhnya segar kembali. 

Setelah puas mandi, Andika berenang ke tepian. Setelah 

memperhatikan sekelilingnya, terburu-buru Andika berlari 

ke atas. 

Bagai melihat setan sedang bercumbu, langkahnya 

mendadak terhenti. Mulutnya terbuka, tatapan matanya 

melotot. Sejurus kemudian dengusan dan makiannya

terdengar, "Kutu kudis! Orang iseng mana yang berani 

mengambil pakaianku?!" 

"Hik hik hik... baru saja sampai di sini, sudah disuguhi 

tontonan memalukan! Aku jadi tidak enak melihatnya!!" 

terdengar satu suara dari salah sebuah pohon dengan 

kekehan panjang keras membahana. 

Bagai digigit kalajengking Andika melompat kembali ke 

dalam air. 

Byyurrr! 

Tubuhnya keluar lagi hingga sedada dari dalam sungai 

sambil menggerakkan kepalanya membuang air yang 

menempel di rambut dan wajahnya. Sepasang matanya 

mendelik besar tak berkedip pada seorang nenek yang 

duduk di sebuah pohon besar di dekatnya. 

"Keparat! Kuntilanak kesiangan! Kembalikan 

pakaianku!!" bentaknya pada si nenek yang duduk 

menguncang kaki di sebuah ranting pohon. Di tangan 

kanannya tergenggam seluruh pakaian termasuk kain 

bercorak catur milik Pendekar Slebor. Andika bertambah 

sewot melihatnya, "Hei, Nenek usilan! Kembalikan 

pakaianku!!" 

Perempuan tua ini mengenakan baju merah menyala. 

Rambutnya digelung ke atas, dengan sebuah tulang yang 

dijadikan tusuk konde. Pakaian bawahnya sebuah kain 

batik usang. Parasnya pucat, penuh kerut merut. Dalam 

cuaca yang terang seperti ini saja sudah ngeri orang 

memandangnya, apalagi bila Andika bertemu dengannya di 

saat hujan lebat dan kabut yang menutupi seluruh hutan ini. 

Bisa tunggang-langgang dibuatnya karena menyangka ada 

kuntilanak nyasar.

"Hik hik hik... konyol sekali kau, Pendekar Slebor! 

Sikapmu sungguh memalukan! Apakah kau akan terus 

menerus berada di sungai itu, hah? Jangan-jangan 'burung'-

mu tak jadi bertelur nanti!!" suara mirip kuntilanak itu 

terdengar lagi diiringi kekehan yang membuat Andika ingin 

mengemplang kepala si wanita tua. 

Siapa sebenarnya nenek itu'! Ia mengenalku, sementara 

aku sendiri tidak tahu siapa dia, pikir Andika. 

"Nenek peot jelek! Kembalikan pakaianku!!" 

Sambil uncang-uncang kaki, si nenek menyahut dengan 

seringaian jelek, "Mengapa kau tidak mengambilnya, hah?" 

"Kurang ajar! Apa kau pikir aku tidak punya malu?" 

gerutu Andika sewot. "Cepat kembalikan pakaianku, 

sebelum kugedor perutmu!!" 

"Hik hik hik... nama jelekmu itu sudah lama kudengar! 

Apa yang selama ini kudengar ternyata memang benar! Kau 

bukan hanya urakan, tapi juga slebor! Eh, sama saja ya?" 

Nenek itu terkikik-kikik. 

Kerut di wajahnya bagai tertarik masuk keluar. Deretan 

gigi ompongnya memperlihatkan keseramannya. 

Pipi Andika mengembung melihat tingkah 

menjengkelkan si nenek. Tiba-tiba saja dikibaskan 

tangannya. 

Wusss! . 

Serangkum angin keras menderu bak air bah tumpah ke 

arah si nenek, yang masih terkikik-kikik. Tetapi mendadak 

terdengar suara dentuman yang menggugurkan dedaunan. 

Andika tercekat melihatnya. Tak dilihatnya bagaimana si 

nenek menghalangi serangannya. Bagaimana ini bisa

terjadi? Padahal si nenek masih terkikik seolah tak 

mempedulikan pukulan jarak jauhnya. 

"Hmmm, rupanya bukan manusia sembarangan, si peot 

ini. Bisa berabe. Kalau begitu aku harus membujuknya. Uh! 

Kalau saja tidak telanjang seperti ini, sudah kujitak jidatnya 

yang nonong itu!" batin Andika salut bercampur jengkel. 

"Hei, Nek! Jarak langit dan bumi masih jauh, mengapa kau 

mengambil pakaianku? Apakah kau sebenarnya ini seorang 

pencuri pakaian yang kesiangan?" 

"Kurang ajar! Tutup mulutmu! Mengapa kau 

meninggalkan pakaianmu ini, hah? Kusobek mulutmu 

nanti!!" sentak si nenek membentak. Sepasang mata 

kelabunya yang celong ke dalam, bagai melompat keluar. 

"Iya, iya! Kau bisa melakukannya nanti, kalau kau sudah 

mengembalikan pakaianku!" 

"Apakah kau pikir aku tak bisa melakukannya, hah?" 

bentak si nenek keras. Tiba-tiba tangan kirinya mengibas. 

Wuss! 

Andika tercekat merasakan angin panas menderu ke 

arahnya. Cepat Andika keluar dari sungai dan bergulingan 

ke balik semak. Sementara sambaran angin raksasa itu 

menghantam air sungai yang menggelegar muncrat begitu 

hebat dan menimbulkan suara menggeledek. 

“Hik hik hik... ayo keluar kau dari persembunyianmu 

itu, Pendekar jelek!" 

"Iya! Iya! Kembalikan dulu dong pakaianku! Keenakan 

kau Nek, kalau melihat tubuhku yang tegap dan gagah ini! 

Kambing pun tak akan mau memperlihatkan auratnya 

kepadamu!!" 

"Pemuda gendeng!!"

Wusss!! 

Si nenek sudah mengibaskan tangannya kembali. Semak 

di mana Pendekar Slebor berada bagai tersibak dan terpapas 

habis dengan suara dentuman yang keras. 

"Sudah, sudah! Kembalikan dulu pakaianku!!" terdengar 

suara Pendekar Slebor dari salah sebuah pohon. Rupanya ia 

sudah mengempos tubuhnya ke balik pohon. 

"Hik hik hik... aku akan mengembalikan pakaianmu, bila 

kau mau menjawab pertanyaanku!!" 

"Keparat betul," maki Andika dalam hati. "Cuma mau 

bertanya saja harus mengambil pakaianku. Bahkan sudah 

menyerangku dengan dahsyat seperti itu." 

Lalu ia berteriak, "Hei, Nek! Aku akan menjawab 

pertanyaanmu, tetapi kembalikan dulu pakaianku!!" 

"Jawab dulu pertanyaanku!!" bentak si nenek 

menggelegar keras. Andika merasa pohon yang 

dijadikannya sebagai tempat berlindung, bergoyang. 

"Busyet! Tenaga dalamnya sangat tinggi sekali. Siapa sih 

nenek jelek ini sebenarnya? Nek, cepat kau tanyakan apa 

yang ingin kau ketahui!!" serunya kemudian. 

Si nenek terkikik kemenangan. 

“Apakah kau melihat muridku yang jelita, hah?" 

“Selama aku berada di hutan ini, aku belum bertemu 

dengan siapa pun juga kecuali kuntilanak yang mengenakan 

baju merah menyala! Mana aku tahu di mana muridmu 

berada?" 

"Brengsek!" maki si nenek mendumal dikatai Andika 

barusan. Tetapi kelihatannya si nenek memang sangat ingin 

sekali mencari muridnya. "Hei, muridku sangat cantik 

sekali! Namanya Sri Kasih! Bila kau bertemu dengannya,

pasti kau jatuh cinta! Tetapi... hhh! Mana kuizinkan ia 

menjadi kekasihmu, Urakan!!" , 

"Masa bodohlah dengan ucapanmu! Kau harus menepati 

janjimu bila aku sudah menjawab pertanyaanmu! Ayo, 

kembalikan pakaianku itu!!" 

“Aku bukan orang yang tak pernah menepati janji! 

Nih!!" 

Wrrrr! ! 

Bagai anak panah yang diluncurkan dari busurnya, baju 

hijau pupus dan kain bercorak catur menderu deras ke arah 

pemiliknya. Andika tercekat. "Kadal buntung!!" makinya. 

Ditepuk kedua tangannya. Pakaiannya yang meluncur 

itu bagai tersentak, seolah-olah ada tenaga yang 

menahannya, lalu seperti melompat ke arahnya. 

Tap! 

Andika menangkapnya. Segera dipakainya setelah 

membersihkan tubuhnya dengan dedaunan. Setelah itu 

barulah dia keluar dari balik pohon besar tadi. 

"Terima kasih, Nek! Kalau aku bertemu dengan 

muridmu itu, tentu aku akan mengatakannya kalau kau 

mencarinya." 

"Hei! Kau tak tanya siapa namaku!!" 

Andika menyeringai. "Untuk apa sih? Masa' aku harus 

mengingat-ingat wajah jelekmu itu!!" 

"Bocah keparat!" si nenek sudah mengangkat tangannya. 

Andika buru'-buru berkata-kata, "Iya, iya! Sebutkan 

namamu, Nek!!" 

"Keterlaluan! Katakan pada Sri Kasih, kalau aku, Si Tua 

Naga Merah menunggunya di sini!!"


"Baik, Nek! Kalau begitu, aku permisi!" 

"Mau ke mana kau?" 

"Ke mana saja! Aku justru pusing bila berhadapan 

denganmu terus!!" 

Sebagai jawaban dari selorohan Andika, tangan wanita 

tua yang mengaku berjuluk si Tua Naga Merah sudah 

mengibas ke arahnya. Dalam keadaan sudah berpakaian, 

pemuda sakti itu melompat ringan sambil terkekeh-kekeh. 

"Sayang, aku tidak bernafsu denganmu, Nek!" 

Lalu tubuhnya berkelebat cepat. 

Tinggal si Tua Naga Merah yang menggerutu panjang-

pendek. "Hhhh! Aku harus secepatnya menemukan Sri 

Kasih! Aku kuatir bila murid jelitaku itu tak mampu 

menemukan di mana Pecut Sakti Bulu Babi milik Dewi 

Putih Hati Setan itu! Tetapi sekarang ini, mengapa firasatku 

mengatakan kalau Dewi Putih Hati Setan masih hidup'! 

Sialan benar! Ah, sebelum terlambat, sebaiknya aku 

mencarinya kembali.” 

Lalu bagai ditelan bumi, tubuh si Tua Naga Merah 

hilang begitu saja. 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Pendekar Slebor yang sudah menjauh dari si Tua Naga 

Merah menghentikan larinya ketika dilihatnya dua sosok 

tubuh berpakaian putih-putih, berzig-zag menerobos 

pepohonan yang hampir-hampir rapat. 

Cepat pendekar urakan itu lompat ke sebuah pohon dan 

kerutkan kening sambil memperhatikan keduanya. "siapa 

kedua orang itu? Aku saja ingin keluar dari sini, justru 

keduanya seperti hendak menerobos masuk? Ada rahasia 

apa sebenarnya di Gunung Larangan? Apakah ada

hubungannya dengan suara menggelegar mengalahkan 

gemuruh hujan yang kudengar? Tetapi siapakah yang 

berbicara itu? Hmm Jangan-Jangan SI Tua Naga Merah itu 

yang melakukannya? Sialan, kenapa aku tidak bertanya 

tadi!!" 

Dua laki-laki berpakaian putih-putih itu sudah jauh dari 

tempat di mana Andika mengintip. Penasaran Andika 

memutuskan untuk mengikuti keduanya. Ada apa 

sebenarnya di tempat sesunyi ini ternyata didatangi orang, 

batinnya penasaran. 

Meskipun dua lelaki yang dibuntuti Andika bergerak 

laksana hantu, tetapi pemuda urakan yang kesohor 

memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, berhasil 

mendekati. Menjaga jarak. 

Di tempat di mana Andika berada tadi bersama si Tua 

Naga Merah, kedua laki-laki itu berhenti. 

"Kakang Suryopati. kurasa di sebelah barat Gunung 

Larangan Goa Terkutuk itu berada," kata yang seorang. 

Wajahnya kelimis, sinar matanya dingin. Pakaian putih 

dengan celana hitam menambah kegagahannya. Terlilit di 

pinggangnya kain batik. Di belakang ikat pinggang itu 

terselip sebatang keris berlekuk tujuh. Di kepalanya sehuah 

blangkon indah bertengger. 

"Kau benar Adi Gumilang," sahut Suryopati. Kalau 

wajah Gumilang kelimis. wajah Suryopati dipenuhi bulu. 

Berpakaian sama dengan Gumilang. Kita harus 

membuktikan kabar angin yang mengatakan Dewi Putih 

Hati Setan masih hidup. Puluhan tahun yang lalu, ketika 

kita masih kecil, dengan telengasnya wanita keparat itu 

telah membunuh kedua orangtua kita. Bila saja Guru tidak 

menceritakan semua ini, kita tidak pernah tahu bagaimana 

kedua orangtua kita mati. Tetapi terus terang, aku

mengharapkan kalau wanita keparat itu memang sudah 

mati. Dan dikutuk selamanya oleh sumpah manusia yang 

pernah dibuatnya sakit hati." 

Keduanya terdiam. Terpampang di mata mereka 

kejadian empat puluh tahun yang lalu, ketika mereka masih 

berusia dua belas tahun dan delapan tahun. 

Kedua orangtua yang mereka sayangi, mereka temukan 

sudah mati terbunuh di dalam rumah. Keadaan mereka 

sangat menyedihkan. Dengan leher hampir putus dan darah 

membanjiri lantai. Saat itu keduanya sedang asyik mandi di 

sungai di sebelah kiri kaki Bukit Melati di mana mereka 

tinggal. 

Tangis dan kesedihan melanda tiada henti. Sampai 

muncul seorang laki-laki setengah baya yang mengaku 

bernama Ki Pati Suci atau yang berjuluk Dewa Tangan 

Baja. Keduanya dibawa ke tempat tinggal Dewa Tangan 

Baja, di Lembah Jenjang, terletak ratusan tombak dari 

Gunung Kerinci. Mereka diasuh dan dijadikan murid. 

Perlahan-lahan mereka melupakan tragedi empat puluh 

tahun lalu. Sampai sebulan lalu ketika Ki Pati Suci atau 

Dewa Tangan Baja yang telah mengundurkan diri dari 

dunia persilatan. merasa perlu menceritakan kejadian yang 

dialami oleh orangtua kedua muridnya. Karena, cerita itu 

memang terlalu lama dipendam dan dirasakan kalau kedua 

muridnya sudah cukup pantas untuk mengetahui latar 

belakang kehidupan mereka. 

Meskipun waktu itu, keduanya bisa mengingat kejadian 

mengerikan yang dialami oleh kedua orangtua mereka, 

namun agak samar untuk diingat lebih jelas. 

Seorang wanita yang berjuluk Dewi Putih Hati Setan 

telah membunuh sepasang suami-istri karena merasa kalah 

cantik dengan ibu Gumilang dan Suryopati. Hati keduanya

geram bukan buatan. Hanya gara-gara masalah kecantikan 

saja, wanita itu membunuh kedua orangtua mereka dengan 

kejam. Ki Pati Suci juga mengatakan, selama itu dia 

berusaha mencari tahu di mana Dewi Putih Hati Setan 

berada. Terakhir disirap kabar kalau wanita itu berada di 

Goa Terkutuk. Yang belum diketahui oleh lelaki dedengkot 

dunia persilatan, wanita itu masih hidup atau sudah mati. 

Tak ada pesan dari Ki Pati Suci melarang atau 

memperbolehkan kedua muridnya yang sudah mulai 

berumur pula membalas sakit hati mereka atau tidak. 

Baginya, segala keputusan berpulang pada diri kedua 

muridnya. 

Namun sekarang, kedua kakak beradik itu justru jadi 

penasaran untuk mengetahui siapa gerangan wanita yang 

berjuluk Dewi Putih Hati Setan. Mereka memutuskan 

mendatangi Gunung Larangan di mana Goa Terkutuk 

berada. 

Setelah berhenti beberapa saat, keduanya berkelebat 

kembali. Tinggal Andika yang sejak tadi mencuri dengar 

mengerutkan keningnya. Lagi-lagi tentang Dewi Putih Hati 

Setan yang didengarnya. Siapakah sebenarnya wanita itu? 

Sambil mendengarkan percakapan kedua lelaki gagah itu 

matanya mencari-cari di mana si Tua Naga Merah itu 

berada. Tetapi tak dilihatnya nenek peot baju merah itu. 

Pasti dia sudah meninggalkan tempat itu, entah ke mana.. 

"Hmm, baiknya, kuikuti saja keduanya. Aku jadi ingin 

tahu sekali tentang Dewi Putih Hati Setan. Tetapi... entah 

mengapa sepertinya aku menangkap isyarat kematian yang 

sangat mengerikan.....” 

Segera diempos tubuhnya untuk mengikuti ke mana arah 

kedua lelaki berpakaian putih itu berkelebat. 


3


Puluhan tahun lalu, ada seorang pemuda tangguh yang 

selalu muncul dengan caping bambunya. Pemuda itu 

memiliki tubuh yang gagah dan wajah tampan dengan 

sepasang mata jernih yang membiaskan ketenteraman. 

Pakaian putih bersih yang dikenakannya menandakan 

pemuda itu memang selalu menjaga kebersihannya. Ikat 

pinggangnya berwarna hitam. Rambut bagian atas selalu 

tertutup caping bambu yang jarang sekali dibukanya, beriap 

hingga ke punggung, dibiarkan tergerai. 

Kemunculan pemuda ini sebenarnya tak pernah 

diketahui dari mana dia datang. Hanya saja, ketika suatu 

hari ada keributan di kotapraja, yang bermula dari sebuah 

kedai makan, pemuda bercaping bambu itu turun tangan 

dan menuntaskan masalah yang cukup merepotkan 

beberapa prajurit kadipaten. 

Juga kemunculannya yang mendadak saat terjadi 

perampokan besar-besaran di desa Randu, Para penduduk 

mengelu-elukannya. Namun sampai sejauh itu, si pemuda 

hanya tersenyum saja tanpa pernah mengatakan siapa 

namanya. 

Kemunculan si pemuda yang kemudian dijuluki Caping 

Dewa Sakti memang cukup mengejutkan para tokoh dari 

golongan hitam kala itu. Mereka berbondong-bondong 

untuk menghentikan sepak terjangnya yang mereka pikir 

sebagai penghalang utama. Namun sampai sejauh itu, tak 

seorang pun yang bisa mengalahkan si pemuda yang 

diketahui memiliki kesaktian cukup tinggi. 

Banyak sekali yang mendendam padanya, dan banyak 

pula yang berlindung padanya. Hingga dalam waktu kurang

dari dua tahun, julukan Caping Dewa Sakti benar-benar 

telah menggemparkan rimba persilatan, 

Pada masa itu pula, hidup seorang wanita berparas dewi 

namun memiliki hati kejam laksana setan. Dia merasa 

dirinya paling cantik, dan bila menurutnya ada seorang 

wanita yang mengalahkan kecantikannya, tak segan-segan 

wanita itu menurunkan tangan kejam. 

Banyak tokoh golongan lurus yang mencoba 

menghentikan sepak terjangnya. Namun, akhirnya mereka 

justru menemui ajal di tangan Dewi Putih Hati Setan. 

Hanya seorang yang berhasil menghentikan kekejaman 

Dewi Putih Hati Setan. Caping Dewa Sakti yang muncul 

ketika wanita itu mencoba membunuh seorang gadis dari 

Desa Batu Ampar yang sedang mencuci baju di sungai. 

Nama telengas Dewi Putih Hati Setan pun lenyap dari 

pendengaran. Begitu pula dengan julukan Caping Dewa 

Sakti. 

Hanya saja, Caping Dewa Sakti masih muncul ke dunia 

ramai bila didengarnya terjadi kerusuhan yang 

membahayakan. Meskipun nama Caping Dewa Sakti dan 

Dewi Putih Hati Setan hanya selentingan saja terdengar, 

orang-orang banyak tahu, kalau sebenarnya Dewi Putih 

Hati Setan masih mendendam pada Caping Dewa Sakti. 

Karena, tokoh itulah satu-satunya yang mampu 

menghentikan sepak telengasnya. 

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, pemuda gagah yang 

berjuluk Caping Dewa Sakti sudah berubah baik fisi,k 

maupun wajahnya. Ketuaan mulai menggerogoti tubuhnya. 

Namun kebijaksanaan dan capingnya masih tetap 

bertengger di benak dan kepalanya.

Orang tua yang berjuluk Caping Dewa Sakti itulah yang 

kini tengah merenung di kediamannya, di puncak kaki 

Gunung Batu. 

Sepasang mata si kakek yang cekung menatap ke 

kejauhan. Kabut tebal menyelimuti Gunung Batu. 

Pepohonan yang sepertinya bagai sedang lari menanjak dan 

menurun, ditutupi oleh kabut. Udara dinginnya bukan 

main. Akan tetapi si kakek tenang saja seolah tak merasa 

apa-apa walaupun pakaian yang dikenakannya rombeng, ia 

tetap duduk di atas batu besar. Matanya menatap satu 

tempat dalam kegelapan, seolah tak tahu apa yang sedang 

di tatapnya. 

"Puluhan tahun berlalu sudah. Seperti yang kuduga, 

kalau Dewi Putih Hati Setan masih hidup. Kini, telinga 

tuaku masih menangkap denyut hawa kematian yang siap 

ditebarnya," pikir si kakek sambil mengusap Jenggot 

putihnya yang panjang. Tubuhnya begitu bongkok sekali. 

Di dekat batu yang diduduki ada sebuah tongkat berwarna 

hitam. Kepalanya yang tertutup caping bambu menggeleng-

geleng seolah membuang keresahan dalam pikirannya. 

Kembali si kakek mendesah, "Aku tak bisa membiarkan hal 

ini terjadi terus menerus, Dewi Putih Hati Setan pasti akan 

segera turun kembali dari tapanya. Hmm, nampaknya 

keangkaramurkaan akan berlaga lagi di rimba persilatan 

ini...." 

Angin semakin dingin menghembus. Kabut semakin 

tebal menyelingkupi Gunung Batu. Keresahan si kakek 

semakin membesar saja. 

Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Membuat si 

kakek tersentak dan seketika berdiri. Wajahnya bagai 

ditampar oleh tangan raksasa yang sangat dahsyat Gubuk di 

mana dia tinggal terlempar jauh.

Tubuh si kakek bergetar, "Dewi Putih Hati Setan... bila 

kau sedang mampir di kediamanku, aku menerima dengan 

senang hati...." 

Angin semakin dahsyat berhembus, berputar-putar dalam 

gelombang yang sangat hebat. Pepohonan seketika tumbang 

dan berpentalan. Dalam angin yang bergemuruh itu, 

terdengar sebuah suara, "Enam puluh tahun sudah berlalu. 

Cukup sudah tapa yang kulakukan dengan menuntaskan 

segala ilmu yang kupelajari. Dendam naik ke permukaan, 

ajal sudah datang!" 

"Dewi!!" si kakek mengangkat wajahnya, mencoba 

mencari dari mana asal suara itu. Wajahnya tampak agak 

tegang. 

"Jangan panggil namaku, Caping Dewa Sakti! Kematian 

sudah dekat, kau tak bisa lolos dari mati!!" 

Dari angin yang bergemuruh dahsyat itu, tiba-tiba 

meluncur sinar menggidikkan. Menderu mengeluarkan 

suara mengerikan ke arah laki-laki tua yang masih 

memicingkan mata dan menajamkan pendengaran. Si 

kakek cepat melompat dan sinar hitam itu menghantam 

batu besar di mana ia berdiri sekarang. 

Blaaarrr!! 

Batu itu hancur seketika. 

Caping Dewi Sakti sudah berdiri di tanah dengan tatapan 

dingin. 

"Dewi... enam puluh tahun sudah berlalu, namun 

dendammu kepadaku masih terpatri dalam! Kupikir, 

Dewata sudah cabut nyawamu!" 

“Sebelum melihatmu terkapar, tak pernah aku 

meninggalkan dunia. Sebelum dendam tuntas, aku tak akan

mati dengan tenang! Masih ada keinginanku setelah kau 

mati di tanganku!" 

"Katakan!" 

"Kau harus menemui ajalmu lebih dulu Manusia Hina!” 

Wrrrr! Singg!! 

Bersamaan dengan gemuruh angin yang menderu 

dahsyat, sinar hitam menggidikkan kembali mengarah pada 

Caping Dewa Sakti yang seketika mengempos tubuhnya. 

Gunung Batu bagai bergetar dahsyat, batu-batu 

bergulingan, pepohonan tumbang berpentalan. 

“Tahan, Dewi!!" desis Caping Dewa Sakti. "Kita sudah 

sama-sama lanjut usia! Tak ada guna kita teruskan silang 

sengketa ini! Kau hanya menambah dosamu saja!" 

Terdengar suara kikikan yang sangat dahsyat. 

"Dulu aku tak mampu mengalahkan kau, Caping Dewa 

Sakti! Sekarang, kau Lak akan pernah bisa mengalahkanku 

lagi!" 

"Takabur!" 

"Demi membuktikan ucapanku ini, kutantang kau ke 

Goa Terkutuk! Di sana, kau akan menyesali dirimu sendiri 

karena tak mempercayai kata-kataku!! Perlu kau ingat, bila 

kau tidak segera tiba di Goa Terkutuk, maka puluhan 

nyawa akan tewas di tanganku!" terdengar suara keras yang 

datangnya entah dari arah mana, menyusul gemuruh angin 

panas yang mengeluarkan suara mengerikan ke arah laki-

laki tua itu. 

Wusss! 

Caping Dewa Sakti segera lompat hindarkan serangan 

itu. Begitu dia berdiri kembali, tak lagi dirasakan serangan

baru yang datang. Malah angin yang berhembus dahsyat 

tadi perlahan-lahan mereda, dan bertiup seperti biasa. 

Sadarlah laki-laki tua itu, kalau Dewi Putih Hati Setan 

sudah tak lagi di tempatnya. 

"Luar biasa! Ilmunya sudah maju sekali! Bukan buatan 

jauhnya Gunung Batu ini dengan Goa Terkutuk! Usiaku 

sudah tua dan tubuh yang renta, namun tak akan kubiarkan 

wanita itu muncul kembali ke rimba persilatan ini!" 

Memikir demikian, laki-laki tua itu duduk di sebuah 

batu. Lalu bersila dengan kedua tangan menyatu di dada. 

Terlihat getaran tubuhnya yang perlahan-lahan menghebat. 

Angin berputaran kacau. Daun-daun berguguran dan 

bebatuan berpentalan. 

Sedang beberapa saat, terdengar tarikan napas laki-laki 

bongkok itu. 

"Hmm... rupanya kematian sudah menebar di sekitar 

Goa Terkutuk. Kulihat ada beberapa orang di sana. 

Sebaiknya aku segera menuju ke Goa Terkutuk sekarang 

juga...." 

Selesai berpikir begitu, laki-laki tua itu berpindah tempat 

tanpa menggerakkan badannya sedikit pun. Berpindah dari 

satu tempat ke tempat lain dengan jarak yang cukup jauh. 

Hingga lama kelamaan tubuhnya pun lenyap dari 

pandangan. Sungguh satu unjuk kebolehan ilmu 

meringankan tubuh yang sangat tinggi sekali dan mungkin 

hanya dimiliki oleh beberapa orang tokoh rimba persilatan. 

(Oodwkz-ray-novooO) 

"Dewi Pulih Hati Setan... siapakah dia? Mengapa banyak 

sekali yang, menginginkan dirinya? Apakah ini berkaitan 

dengan dendam yang pernah dibuat wanita itu?. Ataukah.. 

ada hal lain yang diinginkan orang-orang ini?"

Masih dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab, 

Andika terus berkelebat mengikuti kedua lelaki berbaju 

putih itu. Namun tiba-tiba saja dihentikan larinya, 

celingukan dengan kedua alisnya yang seperti kepakan 

sayap elang tertekuk. 

"Gila! Ke mana kedua orang itu? Apakah mereka tahu-

tahu berbalik arah dan mengurungkan niat menuju Goa 

Terkutuk? Atau... Jangan-jangan keduanya hantu Gunung 

Larangan yang menghilang begitu saja! Monyet buduk! Aku 

harus.,. heeiii!!" 

Andika melompat ke samping ketika dirasakan desingan 

halus menderu ke arahnya. Dilihatnya sebatang pohon di 

sampingnya menjadi layu. 

Bersamaan dengan itu, muncullah dua lelaki berpakaian 

putih di hadapannya dalam jarak tiga tombak dengan wajah 

bengis. 

"Kau benar, Adi Gumilang! Rupanya ada monyet yang 

mengikuti kita!!" 

Andika celingukan, lalu kembali menatap keduanya 

sambil berkata, "Tidak ada monyet di sini? Siapa yang 

kalian maksud?" 

Suryopati yang berseru tadi menggeram dengan gigi 

berbunyi, ia merasa diejek dengan sikap pemuda berbaju 

hijau pupus di hadapannya. 

"Keparat! Mau apa kau mengikuti kami, hah?" 

"Nah, kalau kau bertanya begitu, jelas pertanyaan itu 

ditujukan kepadaku," sahut Andika santai. 

"Jangan banyak cincong! Nyawa hinamu sudah menjadi 

milik kami!!" seru Gumilang sengit. 

Andika cuma menyeringai.

"Tak ada maksud apa-apa untuk mengikuti kalian, Aku 

cuma penasaran saja dengan yang kalian bicarakan. Siapa 

sih yang kalian maksudkan dengan Dewi Putih Hati Setan?" 

Kedua lelaki yang tengah jengkel itu berpandangan. Lalu 

tiba-tiba Gumilang sudah menderu dengan serangan 

dahsyat. "Keparat hina! Rupanya kau mencuri dengar 

percakapan kami, hah?!!" 

Andika tahu kalau serangan yang dilancarkan itu 

bukanlah serangan sembarangan, terbukti dengan pohon 

yang mendadak layu di belakangnya tadi. Begitu tubuh 

Gumilang menderu, ia pun mengempos tubuhnya. 

Des! 

Dua tangan yang terangkum tenaga dalam kuat itu 

berbenturan. Tubuh Gumilang terpental lima tombak ke 

belakang dengan dada yang sakitnya bukan alang kepalang. 

Sementara Andika terhuyung tiga langkah. Dari mulutnya 

mengeluarkan darah. 

"Hebat juga tenaga dalamnya," desisnya. 

Gumilang yang juga tak menyangka akan hal itu, segera 

mengalirkan hawa murninya untuk menghilangkan rasa 

sakit. Tiba-tiba ia tersedak dan muntah darah. Kepalanya 

mendadak pening sejenak. Melihat hal itu, Suryopati 

menggeram murka. 

"Lihat serangan!!" 

Andika yang bisa mengukur kekuatan keduanya 

sekarang, langsung membuang tubuhnya ke kiri begitu 

serangan bak angin topan bergemuruh ke arahnya. Sambil 

membuang tubuhnya, jotosan dilancarkan ke pinggang kiri 

SuryopaLi yang menekuk tangan kirinya. 

Duk!

Andika merasa tangannya kesemutan. Suryopati 

berteriak marah. Tangan kanannya cepat cabut kerisnya 

yang memancarkan sinar merah dan mengelebatkannya ke 

arah Andika yang baru saja mundur dua tombak. 

Wuuuttt! 

Ujung keris yang tajam itu menyambar hanya sejengkal 

di depan mata pemuda pewaris Ilmu Pendekar Lembah 

Kutukan. Andika tercekat dengan tengkuk yang mendadak 

dingin. Cepat dia menjatuhkan tubuhnya begitu Suryopati 

memburu lagi dengan kilatan sinar merah yang cukup 

menyilaukan matanya. 

Wuuuttt! 

Bila saja Andika terlambat menjatuhkan dirinya, sudah 

bisa dipastikan keris yang tajam dan memancarkan sinar 

merah itu melobangi batok kepalanya. 

"Astaga! Ini benar-benar gawat!!" maki Andika dan 

mengibaskan kaki kanannya untuk menendang kaki 

Suryopati. Namun dengan sigapnya lelaki berbulu tebal di 

wajahnya melompat setengah tombak dan melurup kembali 

dengan tusukan kerisnya. Andika mendengus dan 

bergulingan. Namun kaki Suryopati sudah menjejak, siap 

menginjak jantungnya. Andika bergerak lebih cepat dari 

semula. Tangannya dengan serempak dikibaskan. 

Duk! 

Bergetar setelah beradu dengan jejakkan kaki Suryopati 

yang menjadi kehilangan keseimbangannya. Bersamaan 

dengan itu, Andlka bangkit dan menghantamkan telapak 

tangannya yang sudah terangkum tenaga 'inti petir' tingkat 

kedua puluh tiga. 

Buk!

Suryopati merasa tulang rahangnya bagai berpindah dari 

posisinya ketika telapak tangan Andika menghantam 

dagunya dengan keras. Lelaki itu menjerit keras sambil 

jatuh bergulingan. 

Gumilang tercekat melihatnya. Ia benar-benar tak 

menyangka kalau lawan yang kelihatan masih muda itu 

mampu menjatuhkan kakangnya yang dikenalnya memiliki 

ilmu yang tinggi. Begitu sadar apa yang terjadi, Gumilang 

langsung melurup sambil mencabut kerisnya. 

"Pemuda keparat! Kau harus membayar semua ini!!" 

Wuuuutt! 

Andika yang sudah memperhitungkan hal itu, 

memiringkan tubuh. Begitu tubuh Gumilang lewat di 

sampingnya, tangan kanannya bergerak. 

Prak! 

Menghantam punggung Gumilang yang tersungkur ke 

tanah. Namun pemuda berwajah kelimis itu langsung 

bangkit dengan membuat lompatan pendek. 

Andika mendengus dan memapakinya dengan gerakan 

yang sangat aneh. Kedua tangannya bagai berputar cepat 

menekuk tangan kiri Gumilang dan menghantam tangan 

kanan Gumilang. Keris yang dipegang pemuda kelimis itu 

jatuh. 

Dan dengan gerakan yang sangat cepat Andika menotok 

tubuh laki-laki itu hingga kaku terdiam. Namun mulutnya 

bisa berbicara dan mengeluarkan makian-makian sengit. 

"Dalam suasana dan tempat seperti ini, memang wajar 

bila kita saling curiga! Namun, menyerang tanpa 

memberikan penjelasan adalah konyol!" gerutu Andika tak 

mempedulikan sumpah serapah yang menerpa telinganya.

Sewot juga dia dimaki-maki seperti itu, tetapi ditahan 

kesewotannya. Karena dipikirnya, ini hanyalah salah 

paham belaka. 

"Banyak omong! Lepaskan totokanmu ini, kita bertarung 

sampai mampus!!" sentak Gumilang dengan sorot mata 

laksana melontarkan api. 

"Busyet! Tuh mulut tidak pernah diajar sopan santun 

barangkali," batin Andika sewot. Lalu katanya sambil 

mendengus, "Dengan begitu, kalian hanya membuang 

waktu saja. Dengar baik-baik, meskipun aku belum tahu 

siapa yang kalian maksudkan dengan Dewi Putih Hati 

Setan, namun aku bisa menangkap isyarat kematian yang 

siap ditebarkannya. Sebaiknya kalian berhati-hati, karena 

kemungkinan kalian tak akan bisa membalaskan sakit hati 

kedua orangtua kalian!" 

Gumilang memicingkan matanya. Hatinya geram bukan 

buatan mendengar kata-kata Andika. 

"Benar -benar pemuda hina yang kerjanya mencuri 

dengar percakapan orang lain!!" 

"Terus terang, aku sendiri penasaran ingin mengetahui 

siapa gerangan Dewi Putih Hati Setan itu!" 

Kali ini Gumilang terdiam. Suryopati yang sudah 

bangkit dan siap menyerang Andika pun terdiam. Tetapi 

sejurus kemudian terdengar bentakannya, "Lebih baik kau 

tinggalkan tempat ini!!" 

Andika menoleh pada Suryopati. 

"Tanpa kalian suruh pun aku akan meninggalkan kalian 

manusia-manusia bebal! Manusia-manusia yang mau 

menang sendiri tanpa mempedulikan kata-kata orang lain? 

Apakah kalian pikir, otak kalian sudah cukup normal hah? 

Kalian tak lebih dari monyet buduk yang sok tahu!"

Suryopati menggeram mendengar ejekan pemuda di 

hadapannya. Ia membentak dengan rahang mengeras. 

"Sebutkan nama!" 

Andika garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. 

"Namaku Andika... orang-orang rimba persilatan 

menjuluki Pendekar Slebor!!" 

"Hhh!" dengus Suryopati dan untuk sesaat dia terdiam 

ketika mendengar julukan itu disebutkan. Lalu bentaknya 

dengan nada melecehkan, "Setahuku Pendekar Slebor 

berdiri di jalur lurus dan membela orang-orang tertindas! 

Tetapi sekarang, tahu-tahu sudah menjadi pencuri 

pembicaraan orang!!" 

Andika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. 

"Busyet! Benar-benar tidak pernah belajar sopan santun nih! 

Apa mesti kutabok mulut keduanya biar mereka tahu 

betapa usil mulut mereka!" batinnya makin jengkel. Diiringi 

dengusannya dia berseru “Aku tak peduli apa yang kalian 

katakan tentang diriku! Tetapi, perlu kalian camkan! 

Dendam tak akan membawa hasil yang baik!" 

Tiba-tiba Andika mengibaskan tangannya ke arah 

Gumilang. 

Tuk! 

Totokan yang dilakukannya terlepas. Lalu tubuhnya pun 

berkelebat secepat angin. Tinggal kedua lelaki berpakaian 

putih itu yang terdiam sesaat. 

Kata-kata Gumilang memecah kesunyian, "Kakang 

Suryo... kurasa... yang dikatakan oleh Pendekar Slebor itu 

benar adanya. Sebaiknya kita memang hati-hati. Kudengar 

pula, kalau ia adalah orang dari golongan lurus. Dia pula 

yang menyelamatkan kerajaan Pakuan dari serangan 

seorang tokoh sesal yang menjulukinya Raja Akhirat.(Untuk mengetahui tentang; hal itu, silakan baca: "Raja 

Akhirat"). 

Suryopati menganggukkan kepalanya. 

"Kau benar Adi Gumilang. Tetapi, rasa penasaranku 

ingin mengetahui seperti apa wajah wanita keparat yang 

telah membunuh kedua orangtua kita itu tetap masih ada!" . 

"Kakang... sayang sekali kita sudah memperlihatkan 

sikap tak bersahabat tadi dengannya." 

"Kau benar, Adi...," kata Suryopati seperti merenung. 

"Sudahlah, kita harus secepatnya menemukan Goa 

Terkutuk." 

Lalu tubuh keduanya pun berkelebat meninggalkan 

tempat itu. 


4


Hari sudah memasuki rembang petang ketika Andika 

menghentikan larinya di satu tempat. Matahari sudah 

melampaui tiga perempat perjalanannya di sebelah barat. 

Ratu malam siap menyongsong, menggantikan tugasnya. 

"Selagi pemuda urakan itu memperhatikan sekelilingnya, 

tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kelinci 

gemuk sedang berlari. Perutnya mendadak menjadi lapar. 

Terbayang sudah kelinci panggang yang akan 

mengenyangkan perutnya. 

Andika bermaksud menangkapnya. Namun sebelum dia 

bergerak, sebuah desingan terdengar ke arahnya. Andika 

menoleh sambil menyipitkan mata dan langsung

membuang tubuh ke kanan. Kelinci yang hendak 

ditangkapnya melompat ke balik semak dan menghilang. 

Ctar! 

"Buruan itu punyaku, kau lak berhak menangkapnya!" 

seman itu terdengar bersamaan munculnya satu sosok 

tubuh ramping berbaju biru. Dan berseru lagi melihat 

Andika melongo memperhatikannya, “Kau harus 

mengganti buruanku yang lenyap itu!!" 

Dari terpananya melihat kecantikan gadis berambut 

panjang dengan ikat kepala di kening berwarna biru, 

Andika mendengus ketika menyadari kalau gadis itu tidak 

bersikap ramah. 

"Kelinci yang menghilang itu bukan urusanku! Kenapa 

justru kau menyerangku, hah?" serunya sewot. 

"Karena kau lancang hendak menangkapnya!" seru si 

gadis sengit. Wajah cantiknya seperti ditarik setan 

gentayangan. Matanya yang jernih dengan bola mata hitam 

legam melotot gusar, tak berkedip pada Andika. 

"Kelinci liar itu belum menjadi milikmu! Siapa pun 

masih berhak untuk mendapatkannya!! Enaknya main 

serang begitu! Konyol! Telur busuk!" 

"Eh!!" ejekan Andika barusan membuat wajah gadis itu 

seperti kepiting rebus. "Kau mengatai aku telur busuk, hah? 

Kau yang ayam busuk!" 

Gadis berbaju biru itu menggerakkan tangannya yang 

memegang sebuah cambuk. 

Cletarrr! ! 

Sambaran cambuknya dihindari Andika dengan 

melompat ke samping. Namun tak urung dirasakan bulu

kuduknya meremang akibat angin yang ditimbulkan 

cambuk itu. 

"Masih mending ayam busuk cuma seekor! Kalau telur 

busuk jumlahnya beratus-ratus butir bagaimana?!" 

"Ayam busuk itu jumlahnya beribu-ribu ekor!" sentak si 

gadis dan kembali menggerakkan tangannya. Cambuknya 

kembali mencecar Andika yang makin sewot. 

"Main labrak orang sembarangan!" makinya dan melihat 

di mana tanah yang dipijak tadi bagai berukir garis sedalam 

satu jengkal. Menyadari gadis itu tidak main-main, Andika 

mendumal. "Kau senang kalau tiba-tiba kuserang, ya?" 

"Justru aku ingin melihat kebisaanmu!! Jangan-jangan 

kau hanya jual tampang dan lagak saja dengan pakaian 

seperti itu!" Setelah berkata begitu, si gadis memburu sambil 

mengibaskan cambuknya berkali-kali. Suara keras itu 

menerpa telinga Andika yang bersungut-sungut sambil 

bersalto ke sana kemari. 

"Benar-benar nasib sial! Kalau sebelumnya si Tua Naga 

Merah, lalu dua lelaki berpakaian putih itu menyulitkan 

aku, sekarang gadis pemarah ini! Mengapa tiba-tiba begitu 

banyak orang yang tiba di tempat sepi seperti ini, hah?" 

rutuk Andika dalam hati. "Nona, kita tak saling kenal, tak 

pernah pula punya silang sengketa! Hentikan seranganmu!!" 

"Apakah dengan larinya kelinci milikku itu kita tak 

punya silang sengketa? Kau yang pertama kali 

menimbulkannya!!" geram si gadis yang jadi jengkel dan 

penasaran karena sejak tadi serangannya tak satu pun yang 

masuk pada sasarannya. Sekarang ia menerjang dengan 

disertai tenaga dalam tinggi, hingga bukan hanya suara 

gemuruh angin saja yang terdengar, suara bagai ledakan di 

udara pun berkali-kali mengerjap dahsyat.

"Hei! Mana aku tahu kalau kelinci itu sedang kau incar 

juga! Kita sama-sama lapar! Apakah lapar membuat kita 

harus jadi bertindak konyol seperti ini?!" maki Andika dan 

mencoba mencari sela untuk membalas. Akan tetapi, 

serangan gadis itu demikian gencar hingga membuatnya 

pontang-panting. Hanya sejenak serangan itu 

menyulitkannya, karena detik berikutnya Andika buang 

tubuh ke kanan, lalu dengan pencalan satu kaki, melompat 

ke muka. Si gadis langsung sambarkan pecutnya. 

Ctaar! 

Tetapi, Andika justru menghentikan lompatannya dan 

bergerak melompati Si gadis. Ketika dia hinggap di tanah 

tubuhnya sudah berada di belakang si gadis. Kedua 

tangannya langsung didekapkan sambil berseru, "Tahan, Sri 

Kasih!!" 

Si gadis yang sedang berusaha melepaskan diri dari 

dekapan Andika mengerutkan keningnya. Merasa si gadis 

akan hentikan serangannya, Andika melepaskan 

dekapannya dan nyengir. “Lumayan, tubuh gadis itu 

empuk juga," pikirnya nakal. 

Si gadis putar tubuhnya. Wajahnya tegang dengan 

tatapan tak berkesip pada pemuda di hadapannya. Ia 

berseru sewot, "Siapa kau yang mengetahui namaku, hah?" 

Andika menyeringai. "Dugaanku ternyata tepat,” 

desisnya dalam hati. "Tidak usah sewot seperti itu. 

Kalaupun aku mengenalmu ya... karena aku memang 

menduga yang tepat.” 

"Katakan dari mana kau mengetahui namaku, hah? Aku 

sendiri tidak tahu siapa kau!!” Kali ini wajah si gadis 

memerah mengingat dirinya baru saja didekap oleh seorang 

pemuda yang tak dikenalnya.

"Barangkali saja kita berjodoh, bukan?” seloroh Andika 

sambil nyengir. 

"Jaga mulutmu!" 

“Tahan, tahan!” seru Andika ketika melihat gadis itu 

hendak menggerakkan tangannya lagi yang memegang 

pecut. “Benar-benar gadis panasan,” pikirnya. Merasa gadis 

itu menuruti kata-katanya dia berkata. “Aku tahu 

tentangmu dari Si Tua Naga Merah! Puas?” 

Gadis itu terdiam lagi, seolah sedang 

mempertimbangkan kebenaran kata-kata andika. 

“Tidak mungkin!” serunya kemudian. “Guru berada di 

kediamannya!! Jangan sembarangan menyebut nama 

guru!!” 

“Kau salah, Sri Kasih. Aku sudah bertemu dengan nenek 

jelek yang mengaku gurumu itu. Heran kok bisa-bisanya ya 

ia mempunyai murid yang cantik seperti kau!!” 

Meskipun wajahnya memerah mendengar kata-kata 

Andika barusan, gadis berbaju biru yang memang Sri Kasih 

murid dari si Tua Naga Merah membentak keras,” 

Brengsek! Kau mengata-ngatai guruku, hah!!” 

Andika mengulapkan tangannya sambil 

menyunggingkan seringaian. 

“Sudahlah, aku toh sudah menyampaikan pesan gurumu 

yang harus kusampaikan kepadamu!” seru andika yang 

tiba-tiba saja merasa laparnya lenyap melihat sikap si gadis 

yang menjengkelkannya. Pemuda sakti itu berpikir lebih 

baik segera meninggalkan gadis ini saja daripada terus-

menerus melayani bentakannya.

Memikirkan begitu Andika mendadak berkelebat, namun 

mendadak pula harus bersalto karena Sri Kasih sudah 

mengibaskan cambuknya. 

Ctar! 

"Brengsek!" maki Andika begitu hinggap di tanah. Lalu 

putar tubuh dan menatap gadis itu. "Apaapaan sih kau ini? 

Kok terus menerus menyerangku?" 

"Tak sopan orang meninggalkan pembicaraan yang 

belum tuntas!" sahut murid si Tua Naga Merah. "Dan kau 

harus membayar semua perlakuanmu barusan?!" 

"Apa lagi? Toh semuanya sudah kukatakan kepadamu!!" 

maki Andika yang saat ini memang penasaran ingin 

mengetahui tentang Dewi Putih Hati Setan. "Lagi pula, 

masih untungkan kau kupeluk!" 

"Konyol!" Wajah si gadis makin memerah. Lalu sambil 

menekan kemarahannya ia berkata, "Kalau yang kau 

katakan itu dusta, kucabik-cabik tubuhmu dengan 

cambukku ini!!" 

"Terserah kau mau percaya atau tidak!" 

Wusss! 

Andika berkelebat cepat. Pikirnya, lebih baik 

menuntaskan rasa penasaran di hatinya tentang Dewi Putih 

Hati Setan dan Goa Terkutuk. Meninggalkan Sri Kasih 

yang menjadi terpana sekarang karena tak dilihatnya 

gerakan yang dilakukan oleh pemuda berbaju hijau pupus 

itu. Gerakan itu lebih cepat dari gerakan yang diperlihatkan 

Andika barusan. 

"Hmm! Siapa pemuda itu sebenarnya? Meskipun 

sikapnya konyol begitu, tetapi aku yakin dia bukan orang 

jahat. Lagi pula, salahnya sendiri, mengapa buruanku tadi

hendak diburunya pula?" kala Sri Kasih yang tiba-tiba 

wajahnya memerah sendiri. "Apa yang dikatakan pemuda 

itu benar. Kelinci liar itu bukan milik siapa-siapa. Aku 

sendiri belum mendapatkannya, Ah, masa bodoh! Perutku 

lapar! Kalau begitu, yang dikatakan Guru memang benar. 

Aku harus lebih banyak belajar mengendalikan diri. Masa' 

gara-gara kelinci yang tak tahu juntrungannya itu aku harus 

marah dan menyerang pemuda tadi. Tetapi... oh! Benarkah 

Guru berada di sini? Berabe kalau begini! Dia bisa marah 

besar karena aku belum menemukan Pecut Sakti Bulu Babi. 

Lebih baik, kuikuti saja pemuda konyol itu sekarang!! 

Tetapi, ke mana dia pergi tadi? Kelebatannya seperti setan 

saja!" 

Dan mendadak gadis itu terdiam. Wajahnya mendadak 

memerah ketika teringat betapa eratnya dekapan pemuda 

tampan tadi di tubuhnya. Entah mengapa dari rasa 

sewotnya tadi, diam-diam hatinya berbunga. Tetapi buru-

buru ditepisnya. 

"Konyol! Kenapa aku justru membayangkan kembali 

dekapan pemuda brengsek itu! Hhh!" 

Segera diempos tubuhnya meninggalkan tempat itu. 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Suryopati dan Gumilang telah tiba di sebuah tempat 

yang cukup sepi. Di sekeliling mereka berdiri pepohonan 

tinggi dan belukar setinggi dada manusia. Kedua lelaki 

berpakaian putih yang sudah mengobati tubuhnya sendiri 

akibat luka dalam yang mereka derita, menatap waspada di 

tempat yang agak lapang itu. Angin berhembus sangat 

dingin, seolah mengirimkan kabar kematian pada 

keduanya.

"Kakang, Guru mengatakan, Dewi Putih Hati Setan 

berdiam di Goa Terkutuk. Tetapi, aku tidak melihat ada 

goa di sekitar sini," kata Gumilang waspada. 

"Kau benar, Adi. Jelas kita menuju ke arah barat dari 

Gunung Larangan. Mungkin... goa itu tersembunyi di balik 

semak," sahut Suryopati tanpa menoleh pada adiknya 

kecuali menatap sekelilingnya. Kita cari!" 

Keduanya segera melangkah, berhati-hati. Keris yang 

memancarkan sinar merah sudah berada di tangan. Segenap 

indera penglihatan dan pendengaran dibuka lebar-lebar. 

Namun tiba-tiba saja tubuh keduanya terpental ke 

belakang dengan deras disertai jerit kepanikan dan 

keterkejutan. Bergulingan bagai sebuah bola yang dilempar 

dan muntah darah dengan tubuh yang seperti remuk. 

"Kakang... tenaga apa yang barusan menyerang kita?" 

tanya Gumilang gelagapan sambil bangkit perlahan-lahan. 

Dadanya sakit bukan buatan Wajahnya pias seketika. 

Begitu pula yang dilakukan oleh Suryopati, "Aku tidak 

tahu... yang pasti, ada bahaya yang mengancam kita." 

"Siapa yang datang ke sini, maka kematian akan 

diterima." 

Suara bergemuruh dahsyat itu tiba-tiba terdengar. 

Jantung keduanya seakan tanggal dari tempatnya. 

Dedaunan berguguran. 

"Kakang, siapa yang bersuara itu?" tanya Gumilang, kali 

ini ketegangan mulai menyelimuti tubuhnya. 

Suryoti tak segera menjawab. Dia memperhatikan 

sekelilingnya sebelum berkata, "Aku tak tahu." 

"Kakang... mungkinkah suara itu berasal dari Dewi Putih 

Hati Setan? Hmm, kalau begitu di sekitar sini pasti Goa

Terkutuk berada. Meskipun aku tak tahu apa yang akan 

terjadi, sebaiknya kita mencari lagi Kakang." 

"Jangan gegabah. Serangan aneh dan mendadak itu telah 

membuat, kita terpental dengan dada yang terasa remuk. 

Bisa jadi sekarang kita akan mampus!!" sahut Suryopati 

tcgang pula. 

Keduanya terdiam, masing-masing mulai dicekam oleh 

keraguan yang tiba-tiba muncul. Rasa tak tenang 

berdendang di hati mereka. Wajah keduanya benar-benar 

tegang dengan kening berkerut. 

"Adi Gumilang... kau tetap di sini! Aku yang akan 

mencari goa itu!!" desis Suryopati dengan kesiagaan 

menjadi-jadi. 

"Mengapa tidak bersama-sama saja, Kakang?" 

Maksudku, bila terjadi apa-apa denganku, kau masih bisa 

menikmati hidup lebih lama." 

"Kalau begitu, biar aku saja yang melakukannya 

Kakang!" seru Gumilang. 

"Jangan membantah ucapanku! Kau tunggu di sini!!” 

sahut Suryopati dan melangkah kembali dengan sikap 

bertambah waspada. Dilindungi dirinya dengan tenaga 

dalam yang tinggi guna menghalangi serangan mendadak 

yang tadi menerpanya. 

"Manusia-manusia yang mau cari mampus!" Suara 

bergemuruh keras itu kembali terdengar. 

"Kakang!!" seru Gumilang tercekat dan melihat 

bagaimana tubuh Suryopati terpental ke belakang dengan 

derasnya. Segera diempos tubuhnya, menangkap tubuh 

Suryopati. Namun dorongan tenaga dahsyat yang menerpa 

tubuh Suryopati, justru membuat tubuhnya terpental pula,

jatuh bergulingan tiga puluh tombak dengan masih 

merangkul tubuh Suryopati. 

"Kakang... bagaimana keadaanmu? Bagaimana?" 

tanyanya risau yang melihat tubuh Suryopati tak bergerak. 

Digoncang-goncangnya dengan hati cemas. Darah mengalir 

di sekujur tubuh Suryopati. Mata lelaki itu tertutup rapat. 

Kecemasan semakin kuat mengikat diri Gumilang. Dia 

berusaha membangunkan Suryopati dengan mengalirkan 

tenaga dalamnya, namun sampai sejauh itu belum 

membawa hasil yang diharapkan. Sadarlah Gumliang, 

kalau kakaknya sudah tak bernyawa. 

Sedih, geram dan kemarahan membaur jadi satu. 

Sebelum dia berdiri dan berteriak melampiaskan rasa 

amarahnya, tiba-tiba sebuah tenaga yang tak terlihat 

menghantam tubuhnya hingga terguling ke belakang. 

Namun kekerasan hati yang terpatri begitu melihat 

Suryopati sudah menjadi mayat, membuatnya segera 

bangkit cepat. 

Matanya melotot. Darahnya mendidih. Ketegangan 

mengikat erat. Tubuh Suryopati mengapung di udara dan 

bagai ditarik kekuatan aneh, melesat ke arah berlawanan. 

"Kakang!!" serunya sambil mencoba menarik mayat 

Suryopati, namun justru dia yang tersungkur karena tenaga 

itu begitu kuat. Susah payah, tak mempedulikan rasa sakit 

yang menyiksa, Gumilang mencoba memburu kembali. 

Dan lagi-lagi tubuhnya terpental lagi ke belakang. 

Jeritannya yang semakin serak berbaur dengan nyeri yang 

tak terkira terdengar, 

"Kakang!!" 

Kembali dicobanya mengejar mayat Suryopati yang 

melayang-layang ke tempat semula, di mana ia melihat

kakak seperguruannya terhantam tenaga aneh yang 

dahsyat. Dan kini jatuh di tanah. 

Tergesa Gumilang memburu mayat yang terbujur kaku 

itu. Namun urung ketika melihat angin kencang 

menyibakkan semak-semak. Sekujur tubuhnya bagai 

diserang penyakit kaku mendadak. Sepasang matanya 

terbuka lebar dengan mulut terbuka. Di balik semak itu, 

dilihatnya sebuah celah cukup besar. 

"Goa Terkutuk!!" desisnya tanpa sadar. 

Tiba-tiba pula dirasakan kecemasan yang kuat, ketika 

menyadari kemungkinan Dewi Putih Hati Setan masih 

hidup. Namun dikuatkan hatinya. Ditekannya seluruh rasa 

kejut dan khawatirnya. 

Jantung Gumilang seakan copot ketika melihat sinar 

warna hitam tiba-tiba berkelebat keluar dari dalam goa itu. 

"Astaga! Sinar apa itu?" desisnya sambil melompat 

menghindar karena pikirnya sinar hitam itu akan 

menyerang ke arahnya. Akan tetapi justru sinar hitam itu 

menggulung mayat Suryopati. . 

Secepat itu pula kesadaran muncul di benak Gumilang 

dan lelaki kelimis itu segera melompat untuk 

menyelamatkan kembali mayat Suryopati. . 

Namun ketika ia menyentuh mayat itu, rasa panas yang 

sangat kuat menyengatnya hingga cepat ditarik pulang 

kedua tangannya sambil mengaduh. Dan dilihatnya 

bagaimana sinar hitam yang menggulung di sekujur tubuh 

Suryopati mengangkat mayat itu perlahan-lahan. 

"Kakang!!" teriak Gumilang dan merasakan pijaran 

panas yang lebih kuat hingga kulitnya bagai terbakar saja. 

Matanya terbelalak melihat bagaimana Sinar hitam itu 

semakin lama seperti melihat mayat Suryopati.

Dan dilihatnya mayat itu kelojotan. 

Sebelum Gumilang sempat berbuat sesuatu untuk 

menyelamatkan mayat Suryopati, mendadak dilihatnya 

kelebatan bayangan hijau menderu ke arah mayat 

Suryopati. Sosok tubuh itu pun terguling oleh sinar hitam 

yang mengeluarkan panas luar biasa. Jeritannya terdengar 

keras membahana, dan tangan kanannya melontarkan 

mayat Suryopati yang segera ditangkap oleh Gumilang. 

Sementara sosok tubuh hijau pupus itu tengah berusaha 

melepaskan diri dari lilitan sinar hitam dengan jeritan yang 

keras sekali.


5


"Pendekar Slebor!!" seru Gumilang terkejut dan melihat 

bagaimana tersiksanya Pendekar Slebor dalam lilitan sinar 

hitam yang memancar dari dalam Goa Terkutuk. 

Setelah meninggalkan Sri Kasih, Andika yang memang 

dicekam rasa penasaran ingin mengetahui siapa gerangan 

Dewi Pulih Hati Setan, segera meneruskan langkah. 

Perasaannya semakin kuat kalau hawa kematian tengah 

berputar di sekitarnya, sedang mengintai siapa saja. Apalagi 

bila dikaitkan dengan suara menggelegar yang pernah 

didengarnya, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. 

Soal Sri Kasih yang bertemu dengannya tak sengaja, 

adalah urusan kedua dari janjinya pada Si Tua Naga 

Merah. 

Dan betapa terkejutnya Pendekar Slebor begitu melihat 

sosok tubuh yang dikirakannya sudah menjadi mayat

sedang dililit oleh sinar hitam menggidikkan. Melayang-

layang dipermainkan di udara. Dia juga melihat Gumilang 

yang terpelanting seperti terhantam tenaga raksasa yang tak 

terlihat. 

Tanpa pikir panjang, Andika segera berkelebat untuk 

menyelamatkan mayat yang ia yakini adalah sosok 

Suryopati. Perbuatan baiknya itu justru bisa 

mencelakakannya, karena tubuhnyalah yang terkena lilitan 

sinar hitam itu sekarang. 

"Setan,alas! Keparat!!" teriak Andika dengan napas yang 

terasa sesak. Seluruh anggota tubuhnya bagai tak kuasa 

digerakkan. Sangat mengikat dan menyiksa. 

Dicoba untuk mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya, 

namun lilitan sinar hitam itu semakin 

menjungkirbalikkannya. Tenaga 'inti petir' pun dikerahkan, 

namun tak bergeming sedikit juga. Bahkan, lilitan sinar 

hitam itu semakin kuat. Wajah tampannya tertekuk ke 

dalam. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya. 

"Busyet! Apakah aku harus mampus sekarang ini?" 

dengusnya sambil mengerahkan seluruh tenaganya. 

"Barangkali dengan ajian 'Guntur Selaksa' aku mampu 

melepaskan sinar sialan ini!!" 

Akan tetapi, sinar hitam itu bertambah kuat, membuat 

tubuhnya bagai disayat pisau yang sangat tajam. Di 

beberapa bagian tubuh Andika sudah mengalirkan darah. 

Sakitnya tak terkira. 

Dalam petualangannya, Andika telah sering menderita 

luka dan menerima serangan-serangan aneh yang 

mengerikan, namun serangan yang dialaminya sekarang ini 

membuat bulu kuduknya meremang dengan ketegangan 

luar biasa. Dirasakan seluruh aliran darahnya kacau balau.

Kepalanya pusing berpendar. Isi perutnya seakan hendak 

tumpah. 

"Tidak, aku tidak boleh mampus sekarang," pikirnya 

sambil mencoba meloloskan diri, Dikerahkan seluruh 

tenaganya yang telah dipadukan, antara tenaga 'inti petir' 

dengan ajian 'Guntur Selaksa'. Namun lagi-lagi tak 

membawa arti apa-apa kecuali tubuhnya semakin terjepit 

dan napas sangat sesak. 

"Hik hik hik... rupanya Pendekar Slebor sedang siap 

menerima kematiannya!!" terdengar suara terkikik itu dari 

satu tempat. "Kasihan, sering kali dibicarakan orang, 

namun menghadapi hal semacam itu saja sudah tak 

mampu!" 

Gumilang segera menoleh. Pendekar Slebor justru 

memaki keras ke sosok yang baru muncul, "Jangan cuma 

tertawa saja! Aku bisa mampus nih, Nek!!" 

"Kau sudah bertemu dengan muridku?" seru yang 

terkikik tak lain adalah si Tua Naga Merah. Seolah 

menonton orang kesurupan, dia hanya memperhatikan 

Andika, yang dalam keadaan kritis tanpa bisa berbuat apa-

apa, dengan tenangnya. 

"Setan betul nenek jelek ini! Orang sudah mau mampus 

dia masih bisa bertanya santai begitu!" maki Andika sambil 

menahan sakit yang luar biasa. "Sudah, sudah!!" serunya 

menjawab pertanyaan si Tua Naga Merah. 

"Di mana dia sekarang?" 

"Mana aku tahu! Kalau mau menolongku, cepat kau 

lakukan!! Bila tidak, cepat tinggalkan tempat ini! Perutku 

semakin sakit melihat tampang jelekmu!" 

Wanita tua keriput itu tertawa.

"Sabar, menurut penglihatanku, sinar itu membutuhkan 

waktu sepeminuman teh untuk membuat tubuhmu 

meledak. Bila kau tidak memiliki tenaga 'inti petir', dalam 

waktu hanya sepuluh kali tarikan napas, tubuhmu sudah 

hancur! Nah, jawab pertanyaanku tadi? Di mana murid 

Jelitaku itu?” 

"Aku tidak tahu! Tetapi, bila kau menolongku, sebagai 

imbalannya, aku akan mencarinya nanti!” 

"Dia cantik?" 

"Keparat!! Cantik, cantik!!" rutuk Andika sewot, 

sementara Gumilang hanya mengerutkan kening melihat 

keadaan ini. Dia sendiri merasa tak mampu untuk 

menolong Pendekar Slebor yang Justru mengorbankan 

nyawanya sendiri untuk menyelamatkan kakangnya yang 

sesungguhnya sudah menjadi mayat. 

"Bagus! Kau suka dengannya?” 

"Nenek poet keparat! Apa-apaan pertanyaanmu itu, 

hah?!" 

"Wah Pemarah betul ya? Kau bisa menjawab 

pertanyaanku dengan santai, bukan?” 

"Kadal ompong!" maki Andika dan masih mengerahkan 

tenaga dalamnya guna melepaskan diri. 

"Ckk ckk ckk... kasihan sekali!" tiba-tiba Si Tua Naga 

Merah menepuk tangannya tiga kali. Kepulan asap putih 

keluar dari tangannya, perlahan-lahan bertambah banyak 

dan tiba-tiba membubung serta menyelimuti tubuh Andika 

yang terbatuk-batuk. Hal itu semakin membuatnya 

blingsatan. 

"Busyet! Apa yang dilakukan Nenek peot ini? Kalau aku 

bertambah celaka, kukepruk kepalanya!”


Andika merasa seluruh urat di tubuhnya lemas 

mendadak. Tenaganya bagai hilang seketika. Namun yang 

sedikit membuatnya terkejut, karena lilitan sinar hitam itu 

bagai mengendor terkena asap putih yang dilakukan oleh si 

Tua Naga Merah. 

Sementara tubuh si nenek sendiri bergetar hebat. Dari 

hidung dan mulutnya keluar darah segar perlahan. 

Tiba-tiba Andika merasakan seluruh lilitan sinar hitam 

yang menyiksanya terlepas dan tubuhnya ambruk ke tanah. 

Asap putih yang membubung dan membuatnya terbatuk-

batuk ditarik kembali oleh pemiliknya yang mengeluarkan 

desahan panjang. 

Andika melihat si Tua Naga Merah terhuyung ke 

belakang dan jatuh terduduk. Si nenek langsung 

mengatupkan kedua tangannya di dada, seperti sedang 

mengatur seluruh pernapasan dan memulihkan tenaga 

dalamnya. Semen tara sinar hitam yang melilit Andika tadi, 

langsung lenyap begitu saja. 

"Gila!" dengus Andika begitu melihat sebuah goa yang 

berada di balik sebuah semak yang tersibak. Entah mengapa 

Andika merasa bulu kuduknya meremang. Dia mencium 

hawa kematian yang sudah sedemikian dekatnya. Cepat 

diaturnya pernapasannya lagi. 

"Huaaak!" 

Terdengar si Tua Naga Merah muntah darah. Andika 

cepat berkelebat mendekati si nenek yang tampak sangat 

menderita. Cepat segera dialirkan tenaga dalamnya melalui 

kedua telapak tangannya pada punggung si nenek. 

"Kerahkan tenaga dalammu, Nek! Luka dalammu bisa 

segera mengirimmu ke alam lain."

Si nenek menuruti kata-kata Andika. Perlahan-lahan 

dirasakan resapan hangat mengaliri punggungnya. Satu 

gumpalan hangat lainnya menjalari sekujur tubuhnya. 

Keringat yang mengalir perlahan-lahan lenyap. 

Andika duduk di samping si nenek. Didengarnya suara si 

Tua Naga Merah yang bagai desisan, "Dewi putih Hati 

Setan ternyata masih hidup. Goa Terkutuk dan sinar hitam 

tadi merupakan bukti. Kekuatan tenaga yang melilit 

tubuhmu tadi, Andika, begitu dahsyat sekali. Tenagaku 

sebenarnya tak banyak berarti." 

Sebelum Andika menyahuti kata-kata si nenek, terdengar 

suara tawa mengerikan dari dalam goa. 

"Apa yang kau duga itu memang benar. Lebih baik 

kembali daripada kuturunkan tangan telengas!” 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Andika tercekat dengan jantung yang berdebar kencang. 

Suara itulah yang pernah didengarnya, yang mengalahkan 

gemuruh hujan badai. Hmmm kalau begitu, memang sudah 

ada korban yang terjadi sebelumnya. 

Si Tua Naga Merah mengeluarkan suara seruan takjub, 

"Bukan main!! Setan mana yang sedang bersuara ini, hah?" 

ejeknya namun sikapnya menunjukkan kalau dia sangat 

waspada. 

Sedangkan Gumilang seperti anak kecil yang khawatir 

kehilangan gula-gulanya, mendekap mayat Suryopati. 

"itulah suara yang kudengar ketika aku, dan Kakang 

Suryopati tiba di sini. Hatiku tak puas bila belum 

membalas!" lelaki yang tengah bersedih itu berdiri. 

Tangannya Siap melepaskan satu pukulan ke Goa 

Terkutuk.

Andika cepat melenting mendekatinya dengan sikap 

waspada, "Jangan bertindak gegabah. Saat ini yang kita 

tahu, yang kekuatan dahsyat yang dilakukan oleh Dewi 

Putih Hati Setan. Kita belum tahu bagaimana 

mengatasinya. Gumilang, lebih baik kau kuburkan saja dulu 

mayat kakangmu itu...." 

Gumilang menatap Pendekar Slebor sesaat dan perlahan-

lahan menurunkan tangannya. Lalu diperhatikan mayat 

kakaknya, nanar. Pandangannya menjadi sedikit kabur 

karena terhalang oleh air mata yang menetes perlahan. Biar 

bagaimanapun juga kesedihannya, dia tetap tegar. 

Tanpa berucap sepatah kata pun juga, dia bangkit 

membopong tubuh Suryopati, dan melesat meninggalkan 

Pendekar Slebor dan si Tua Naga Merah. 

Si Tua Naga Merah yang memiliki sifat angin-anginan 

sudah berdiri dan membentak Andika yang tengah menatap 

Goa Terkutuk kembali 

"Hei, katanya kau memiliki otak cerdik! Ayo, pikirkan! 

Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana caranya kita 

menerobos masuk ke goa itu?" 

Andika hanya menatap si Tua Naga Merah dengan 

kening berkerut. Sungguh, dia tak tahu apa yang 

diperbuatnya. Tetapi dia berkata mengemukakan jalan 

pikirannya, 

"Yang kupikirkan sekarang, bukanlah bagaimana caanya 

klta bisa masuk ke dalam goa itu saat ini? Melainkan... 

kalau memang benar orang yang kau katakan berjuluk 

Dewi Putih Hati Setan itu masih hidup, siapa sebenarnya 

yang ditunggunya? Puluhan tahun telah berlalu, namun dia 

tidak keluar dari goa itu."

Si Tua Naga Merah terdiam. Semakin lama dia 

bertambah kagum melihat kecerdikan Andika. Diam-diam, 

wanita tua yang tak sabaran itu menginginkan muridnya 

berjodoh dengan Pendekar Slebor. Tetapi di mana 

muridnya itu? Sampai saat ini ia belum bertemu juga 

dengannya. Ada rasa penyesalan di dirinya karena 

menyuruh muridnya untuk mendapatkan Pecut Sakti Bulu 

Babi milik Dewi Putih Hati Setan di Goa Terkutuk. 

"Masa bodoh dengan semua itu! Aku hendak mencari 

muridku dulu! Kau harus ikut!" 

Andika menoleh. "Kenapa?" 

"Pakai tanya lagi! Hayo, ikut! Sambil lalu kita 

memikirkan bagaimana caranya menerobos masuk ke Goa 

Terkutuk!" 

"Kita bisa melakukannya sekarang!" 

"Lakukan sendiri kalau kau ingin mampus!" 

Andika membenarkan kata-kata si Tua Naga Merah. 

Adakah sesuatu yang bisa mereka pergunakan untuk 

masuk? 

Melihat si Tua Naga Merah sudah melesat, Andika 

menarik napas panjang. Sejenak ditatapnya Goa Terkutuk 

di hadapannya. "Si Tua Naga Merah memang benar, lebih 

baik menghindar dulu sebelum menemukan cara yang tepat 

untuk masuk. Dan bila memang dugaanku benar tentang 

seseorang yang ditunggu oleh Dewi Putih Hati Setan, 

siapakah orang itu?" 

Andika pun berkelebat menyusul si Tua Naga Merah. 


6


Tak sengaja, keduanya tiba di sebuah bukit yang tak jauh 

dari Gunung Larangan. Sebuah bukit karang yang cukup 

terjal. Malam sudah berlalu. Kini matahari di ufuk timur 

sudah membiaskan cahayanya. 

Andika bertanya selesai mandi di sebuah mata air pada si 

Tua Naga Merah, "Apa yang hendak kita lakukan di sini, 

Nek?" 

"Lho, aku hendak mencari muridku? Kalau kau memang 

ingin menerobos Goa Terkutuk, silakan saja!" 

Andika mendengus mendengarnya. Untuk saat ini, dia 

tidak terlalu bodoh nekat menerobos. Dialihkan 

pandangannya pada bukit karang di hadapannya. Lalu 

ditolehnya Gunung Larangan yang berjarak ratusan tombak 

dari tempat mereka berdiri, terhalang hutan yang sangat 

lebat. 

Alam memang begitu aneh dan terkadang menakutkan. 

Terkadang pula memberikan ketenangan dan kenyamanan, 

alam banyak menyimpan misteri. 

"Sudah kukatakan aku telah bertemu dengan muridmu 

itu. Dia tak kurang suatu apa." 

Si Tua Naga Merah terkekeh, padahal otaknya pun 

dipenuhi dengan kebingungan tentang Dewi Putih Hati 

Setan. 

"Apakah kau tertarik dengan muridku itu'!" 

"Heran, masih saja omongannya seperti itu? Apakah aku 

ini benar -benar tampan?" meskipun mulut Andlka 

mendumal, tetapi hatinya bangga juga. Lalu katanya, “Soal 

tertarik atau tidak, bukan urusan yang penting saat ini."

“Kalau begitu, pergunakan otakmu yang katanya cerdik 

untuk memecahkan semua ini!" sinis suara si nenek. 

Andika terdiam mendengar kata-kata si Tua Naga 

Merah. Memang, belum ada yang bisa dijadikan patokan 

oleh Pendekar Slebor untuk memecahkan semua teka-teki 

yang terpampang di hadapannya sekarang. 

Selagi keduanya terdiam, mendadak berkesiur angin 

dingin ke arah mereka. 

Keduanya menoleh, tercekat dengan tubuh tegang. 

Karena, entah bagaimana dan dari mana munculnya, di 

hadapan mereka terlihat satu sosok tubuh jelita berpakaian 

putih tipis menerawang. Tubuhnya yang indah bagai 

tercetak dan siap dilahap bulat-bulat oleh pandangan mata 

setiap laki-laki. Rambutnya panjang tergerai, mengeluarkan 

aroma wangi yang lembut dan menusuk hidung. Sepasang 

matanya jernih namun dingin menusuk. Bibirnya merekah 

Plak. 

Tangan si Tua Naga Merah menepak kepala Andika 

yang langsung meringis. 

"Matamu itu!” dengus si nenek. 

“Usil amat sih? Ini kan pemandangan yang indah. Di 

tempat sesepi ini, mana boleh dilewatkan?" balas Andika 

bagai selorohan, padahal hatinya bertanya-tanya siapa 

gerangan gadis itu? "Apa aku harus terus menerus menatap 

tubuhmu yang aduhai itu?” 

"Mata lancang itu tak bisa dimaafkan!!" Sosok baju putih 

menerawang itu melangkah. Gerakannya ringan, seakan tak 

menginjak bumi. Mata tajamnya menyorot, berbinar 

marah. Aroma yang penuh dengan ikatan pesona menguar 

menerpa hidung Andika yang bagai tersedak. Hanya sesaat

dia bisa menikmati keindahan itu, karena di detik lain 

Andika merasa napasnya sesak. 

"Kurang ajar! Rupanya ini serangan tak langsung!" 

makinya sambil mengerahkan hawa murni untuk mengaliri 

seluruh tubuhnya, sehingga pernapasannya tidak begitu 

terganggu. 

"Hik hik hik... kau memang pandai, Anak Muda. 

Otakmu sangat cerdik sekali hingga kau tahu ini serangan 

tidak langsung!" sosok cantik merangsang itu terkikik. 

Getaran suaranya bagai meredam jantung. 

Kening Andika berkerut hingga kedua alisnya yang bagai 

kepakan sayap elang itu hampir bertautan. 

"Siapa gerangan wanita muda ini?” pikirnya. 

Belum lagi didapat jawaban yang dicarinya, mendadak 

Andika sudah berseru sambil mendorong tubuh si Tua 

Naga Merah yang sedang menahan jengkel mendengar 

ucapan Andika tadi. 

Blaaarrr!! 

Tanah di mana si Tua Naga Merah berdiri langsung 

membentuk sebuah lobang setelah terdengar dentuman 

keras. Pasir dan kerikil beterbangan ke sana kemari. 

"Kau?" dengus si nenek sambil menuding si gadis jelita 

yang menyeringai mirip setan. Si nenek benar-benar heran, 

mengapa dia tidak mendengar atau mengetahui kalau 

serangan tengah dilancarkan oleh sosok di hadapannya. 

Justru Pendekar Slebor yang mengetahuinya. 

Saat itu, si Tua Naga Merah memang sedang merasa 

jengkel, hingga kewaspadaannya hilang. Tak dipikirkan hal 

lainnya kecuali ejekan Andika barusan. Sedangkan Andika, 

dalam waktu yang sangat sempit, masih sempat melihat

mulut sosok itu terbuka, membentuk lorong indah dan 

mengarah pada si Tua Naga Merah. Andika yakin itu satu 

serangan maut, makanya dia langsung mendorong tubuh si 

nenek. 

"Aku menginginkan pemuda itu, tidak menginginkan 

kau!” suara itu bertambah dingin. Dan sepasang bibir 

memerah itu kembali membentuk lorong. 

Kali ini Si nenek memaki sambil menggebrak tubuhnya 

ke depan ketika dirasakannya angin yang menderu dahsyat 

ke arahnya. 

"Keparat! Kau belum mengenal siapa aku, hah?!” 

makinya dan tangannya sudah mengibas. Dikawal suara 

keras, sinar putih meluncur ke arah si gadis yang hanya 

terkikik. 

Tiba-tiba, saja kembali mulut si gadis meniup. Angin 

yang keluar dari tiupan lembut itu benar-benar dahsyat. Si 

Tua Naga Merah terpekik dan langsung membuang tubuh, 

menghindari angin bergulung-gulung. Sebuah batu karang 

besar terpental tiga puluh tombak. Si nenek bangkit dengan 

wajah pias. 

"Edan! Siapa gadis ini! Serangannya benar-benar 

mengerikan. Pantang bagiku dihina seperti itu," pikir si 

nenek, kali ini kedua tangannya kelihatan memerah. Ajian 

'Surya Darah' telah dialirkan. Sebuah ajian yang meminjam 

tenaga surya. 

Gadis jelita berbaju tipis menerawang itu terkikik. Keluar 

dari mulutnya kata-kata, “'Surya Darah'. Rupanya kau 

murid dari Buyut Jala Gandring! Sayang, ajian 'Surya 

Darah' tak mampu menghalangiku!" 

Tua Naga Merah benar-benar tak mengerti, karena gadis 

itu tahu ajian yang akan dipergunakannya. Bukan hanya

sampai di situ saja yang mengejutkannya, bahkan gadis itu 

tahu tentang gurunya. 

"Kurang ajar! Siapa gadis itu sebenarnya? Bagaimana dia 

bisa tahu tentang guruku yang sudah meninggal lebih dari 

lima puluh tahun! Menurut per hitunganku, gadis ini paling 

tidak baru berusia dua puluh lima tahun! Benar -benar luar 

biasa, murid siapakah dia'!" desisnya dalam hati dengan 

tatapan tak berkesip pada sosok jelita di depannya. 

Dan seperti tahu apa yang dipikirkannya, si gadis 

terkikik, "Tak perlu heran dan memusingkan siapa aku, 

Orang Tua! Nyawamu sudah menjadi milikku!!" 

"Tahan! Sebutkan siapa kau sebenarnya!!" 

"Namaku Cempaka! Orang-orang menjulukiku Dewi 

Putih Hati Setan! Nah, apakah kau sudah siap nyawamu 

kukirim pada setan neraka'!" 

Kali ini kening si Tua Naga Merah yang sudah berkerut, 

semakin mengerut. Lalu ia menggeleng-gelengkan 

kepalanya, "Tak mungkin dia gadis yang pernah 

menggemparkan dunia persilatan delapan puluh tahun yang 

lalu. Kalaupun dugaanku tentang Dewi Putih Hati Setan 

masih hidup, tentunya dia tidak seperti gadis belasan tahun 

ini. Paling tidak, usianya jauh di atasku! Mungkin, 

kebetulan saja dia memiliki nama dan Julukan yang sama. 

Dewi Putih Hati Setan menghilang setelah dikalahkan oleh 

Caping Dewa Sakti puluhan tahun lalu! Kudengar kabar dia 

memang mendiami Goa Terkutuk! Tetapi... mengapa dia 

masih semuda ini?" 

"Hik hk hik... kau telah memikirkan soal Caping Dewa 

Sakti, Nek! Berarti kau harus mampus!" sentak Si gadis 

yang mengaku bernama Cempaka dan berjuluk Dewi Putih 

Hati Setan yang lagi-lagi seakan mampu membaca pikiran 

si Tua Naga Merah.

Lalu dengan kelebatan seperti setan gentayangan, tubuh 

Si gadis sudah bergerak ke arah si Tua Naga Merah. 

Kelebatan tubuhnya menimbulkan gemuruh yang luar 

biasa. 

Si nenek yang sudah mempersiapkan diri dengan ajian 

Surya Darah berteriak keras sambil mengempos tubuhnya 

dengan kecepatan hampir sama. 

Des! 

Benturan dahsyat yang menerbangkan batu-batu karang 

dan mengeluarkan asap, terjadi di udara. Tubuh Si Tua 

Naga Merah terpental lima tombak ke belakang, dadanya 

bagai dihantam oleh godam raksasa darah mengalir dari 

mulut dan hidungnya. Sementara tubuh gadis berbaju putih 

tetap tegak dengan tatapan yang semakin dingin. Tak 

kurang suatu apa. 

"Sudah kukatakan tadi, ajian 'Surya Darah' milik buyut 

Jala Gandring tak ada gunanya! Dulu manusia itu pun mati 

di tanganku!!" 

Wajah si nenek yang sedang bangkit dengan susah payah 

menjadi pias. Meskipun ia masih tak percaya dengan apa 

yang didengarnya, namun kata-kata gadis itu membuat bulu 

kuduknya meremang. 

Pendekar Slebor yang tidak mengerti akan semua itu, 

membentak keras, "Siapa pun namamu, kau telah 

melakukan sebuah tindakan telengas yang tak bisa 

dimaafkan!" 

Si gadis pamerkan senyumnya. Tetapi, di mata Andika 

senyum itu begitu mengerikan, bagai memancarkan satu 

bahaya yang luar biasa jahatnya. 

"Aku tahu siapa kau adanya, Orang Muda! Kalau 

pemuda yang dijuluki orang sebagai Pendekar Slebor!

Tetapi, melihat kain bercorak catur yang ada di lehermu, 

ada hubungan apakah kau dengan Ki Saptacakra?" 

Kali ini Andika yang mengerutkan keningnya. Benar-

benar semakin membingungkan. Sejak tadi pemuda urakan 

itu juga merasa heran ketika mendengar pengakuan gadis 

itu yang mengaku berjuluk Dewi Putih Hati Setan. Sejak 

pertama kali mendengar julukan itu, diduganya kalau orang 

yang berjuluk itu sudah lanjut usia namun masih memiliki 

kesaktian yang tinggi. Otaknya diperas habis-habisan untuk 

memecahkan teka-teki yang semakin bertambah. 

Sementara, si Tua Naga Merah menggeram, "Aku ingin 

tahu siapa kau sebenarnya!!" Kedua tangannya ditepukkan 

tiga kali. Seketika asap. putih yang tebal membubung dan 

mengarah pada Si gadis berbaju putih yang terkikik-kikik. 

"Ajian 'Asap Dewa' yang tak banyak artinya!" serunya 

sambil membuka mulutnya dan menyedot seluruh asap itu 

masuk ke perutnya. Tiba-tiba saja dihembuskannya. Bak 

meriam, asap itu meluncur deras ke arah si Tua Naga 

Merah yang menjadi terkesiap. Kedua matanya terbelalak 

lebih lebar. 

Segera si nenek membuang tubuhnya lagi, namun asap 

putih miliknya itu justru terus mencecarnya dengan 

menimbulkan suara ledakan berkali-kali.Membuatnya bagai 

monyet kebakaran ekor, yang harus berlompatan dan 

berlompatan dan sekali waktu punggungnya terpapas asap 

putih itu. 

"Aaaakhhh!!" jeritnya keras dan tubuhnya ambruk 

dengan luka besar di punggung. 

Pendekar Slebor segera melakukan tindakan yang benar-

benar nekat. Dia berguling cepat ke arah si Tua Naga 

Merah dan menarik tubuhnya, hingga asap putih yang 

ditiupkan oleh si gadis luput dari sasaran.

Selagi andika melenting menghindar dengan membawa 

tubuh si Tua Naga Merah, tangan kanan si gadis yang 

mengaku berjuluk Dewi Putih Hati Setan itu mengibas ke 

arahnya. Satu serbuan angin mengerikan siap mencacah 

tubuh Pendekar Slebor terlepas cepat, menimbulkan 

gemuruh yang menakutkan. 

Wusss!!! 

Telinga andika yang tajam itu menangkap desingan 

dahsyat ke arahnya. Tanpa mengurangi keseimbangan dan 

pegangannya pada si Tua Naga Merah digerakkan tangan 

kanannya. 

Wuuuttt!! 

Duaaarr! 

Serangan dahsyat itu tertahan, berbenturan, hingga 

menimbulkan percikan api yang cukup menyilaukan. 

Akibat tenaga lawan lebih kuat dari milik Andika, pemuda 

pewaris ilmu Pendekar Lembab Kutukan yang masih 

membopong tubuh si Tua Naga Merah yang sudah tak 

berdaya, terpental deras ke belakang. Masih dicoba 

kendalikan diri agar keseimbangannya tetap terjaga dengan 

jalan memutar tubuh dua kali. 

Bersamaan dengan itu, tangan kanan dan kiri gadis 

berbaju putih bergerak diiringi seringaian mengerikan. Lima 

larik sinar hitam menderu bagai untaian benang menuju ke 

arah Pendekar Slebor yang dengan susah payah sedang 

berusaha bangkit sambil membopong tubuh si Tua Naga 

Merah. 

Sraat! Sraatt! 

Serangan aneh itu membuat Andika tercekal. 

Mengandalkan kecepatannya diusahakan agar serangan itu 

tidak mengenai tubuhnya. Gempuran pertama lawan

berhasil dihindarinya, namun lima larik sinar lainnya 

menderu lebih cepat. 

Memekik Andika merasa tak mampu menghindar lagi. 

Namun sebelum sinar hitam itu melilit tubuhnya, 

sekaligus tubuh si Tua Naga Merah, dirasakannya satu 

sentakan kuat menerpanya. Tubuhnya terlempar deras ke 

belakang, sementara tubuh si Tua Naga Merah yang berada 

dalam bopongannya terlepas. Terpental pula entah ke 

mana.


7


Apa yang sebenarnya telah terjadi? 

Dalam keadaan kritis bagi Andika, untuk kedua kalinya 

terjebak lilitan sinar hitam yang mematikan itu, apalagi 

dalam kondisi si Tua Naga Merah yang tak berdaya, satu 

sosok tubuh ramping telah melakukan satu tindakan yang 

luar biasa beraninya. Ia adalah Sri Kasih yang sekarang 

tengah terengah dan menatap tak percaya pada sosok 

ramping berpakaian tipis menerawang yang menatapnya 

gusar dalam jarak tiga tombak di hadapannya. Lima larik 

sinar hitam tadi menghantam pepohonan kembali, hingga 

berantakan. 

Sepeninggal Andika, Sri Kasih memang bermaksud 

untuk mencarinya. Bukan karena Andika menyebabkan 

kelinci buruannya lenyap, melainkan kata-kata andika yang 

mengatakan kalau gurunya berada di sini pula. Bila pemuda 

itu berbohong, Sri Kasih berkeinginan untuk menghajarnya. 

Tetapi, hatinya pun tidak enak bila berpikir tentang sifat

gurunya yang suka muncul tiba-tiba, dengan cara berkata-

kata yang membuat hati yang mendengarnya mau muntah. 

Dan bukan main terkejutnya Sri Kasih melihat pemuda 

yang pernah bertarung dengannya berada dalam keadaan 

kritis. Terutama melihat satu sosok tubuh yang sangat 

dikenalnya dan kelihatan tak berdaya. 

Segera dengan pekikan keras ia mengempos tubuhnya 

dan menendang keras ke arah tubuh keduanya yang hampir 

terkena sambaran lilitan sinar hitam. 

Setelah itu, ia melenting dengan lincahnya. 

"Keparrrraaattt!!" suara itu menggelegar hebat, bagai 

meluruhkan dedaunan. Menyusul lima larik sinar hitam 

mengarah pada Sri Kasih yang segera menggerakkan 

cambuknya. 

Ctaarrr! 

Ujung cambuknya menghantam sinar hitam yang 

dirasakannya bagai menghantam kerasnya gunung. 

Tubuhnya terpental ke belakang dan muntah darah. 

Dirasakan tubuhnya bergetar hebat. Aliran darahnya kacau 

seketika. 

Sinar hitam yang kali ini dikendalikan oleh gadis yang 

mengaku berjuluk Dewi Putih Hati Setan itu membubung 

dan meliuk-liuk mengarah pada Sri Kasih yang segera 

bergulingan, 

Blar!! 

Tanah di mana tadi terjatuh, bolong seketika. Dan Sri 

Kasih segera berguling lebih jauh. Ia segera berdiri sigap 

untuk menerima serangan selanjutnya. Napasnya senin-

kemis. Dan keringat membanjiri wajahnya yang cantik dan 

sekarang pucat bagai ditarik setan.

Andika yang telah berdiri dan melihat kemurkaan di 

wajah gadis berbaju putih itu cepat berteriak dan 

menerjang, "Sri Kasih! Kau cari gurumu yang terpental tadi! 

Biar aku yang menghadang gadis setan ini!!" 

Tubuh pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah Kutukan 

itu sudah menderu. Ajian 'Guntur Selaksa' telah terangkum 

di tangannya dan siap dihantamkan pada gadis berbaju 

putih yang tengah meradang. Bersamaan dengan itu, si 

gadis angkat sebelah tangannya dan memutarnya dengan 

cepat. 

Satu gelombang angin yang menimbulkan suara 

menyengat telinga dan jantung menerjang ke muka. 

Menghantam tubuh Andika yang terpental kembali ke 

belakang. Nyeri tak tertahankan. Seluruh darahnya bagai 

muncrat ke ubun-ubun. Hatinya mendesis kaget, "Gila! 

Tenaganya luar biasa sekali! Ajian 'Guntur Selaksa' seperti 

barang mainan saja terhadapnya!" 

Sementara Sri Kasih begitu mendengar kata-kata Andika, 

segera berkelebat mencari gurunya. Ketika ditemukan, Sri 

Kasih terbelalak melihat luka di punggung gurunya. 

Dibawanya tubuh gurunya jauh dari tempat itu. Hatinya 

bagai diremas keras oleh tangan raksasa. Pikirannya 

seketika kacau. 

Di satu tempat yang menurutnya cukup aman, segera 

dialirkan tenaga dalamnya pada tubuh gurunya. Napasnya 

dirasakan sesak luar biasa. Namun baginya, yang terpenting 

adalah nyawa gurunya yang mengasihi dan 

membesarkannya. Setelah itu, dimasukkan lima buah 

bulatan kecil berwarna merah ke mulut gurunya. 

Sri Kasih mendesah ketika merasakan panas di tubuh 

gurunya sedikit menghilang. Segera diatur napasnya, duduk

bersemadi dengan dada tegak. Dialirkannya kembali 

seluruh hawa murninya guna menghilangkan rasa sakit. 

Sedangkan saat ini Andika benar-benar menjadi bulan-

bulanan dari gadis berbaju putih. Sebisanya pemuda urakan 

itu menghindari setiap serangan mautnya yang dilepaskan 

dengan tatapan mata berkobar laksana api. 

"Tak mungkin aku bisa mengalahkannya di saat 

kondisiku luka dalam seperti ini. Ada baiknya aku 

tinggalkan gadis keparat ini dulu dan mencari titik 

kelemahannya.” 

Memikir sampai di situ, mendadak saja andika 

kelebatkan kain pusaka bercorak catur ketika sinar hitam 

menderu dahsyat ke arahnya. 

Pyaaarr!! 

Kelebatan kain bercorak catur yang keluarkan suara 

bagai ribuan tawon mengamuk itu menghantam sinar hitam 

yang mengarah padanya. 

Lagi-lagi andika tersentak ke belakang karena kuatnya 

tenaga yang dilepaskan oleh si gadis. Namun kesempatan 

itu pun dipergunakannya untuk meninggalkan tempat itu. 

Dengan cara berzig-zag andika berhasil loloskan diri. 

Tempat itu telah hancur berantakan, bagai diamuk oleh 

ratusan kerbau liar. 

Si gadis menghentikan serangannya. Wajahnya yang 

cantik tertekuk dengan kerut-merut yang kentara. Matanya 

berpendar penuh amarah. 

Entah apa yang dipikirkannya, tiba-tiba saja tubuh gadis 

itu lenyap. Dan entah bagaimana caranya, gadis yang telah 

membuat andika pontang-panting dengan serangan gencar

yang mematikan sudah tiba di Gunung Larangan, dan 

melesat masuk ke dalam Goa Terkutuk. 

Suasana dalam goa itu sangat pekat sekali. Meskipun 

mata telah dipicingkan tetap saja tak tampak apa-apa 

kecuali gelap yang menyeramkan. Namun bagi si gadis 

semuanya tampak biasa saja. 

Ia duduk di sebuah batu di dalam goa. 

“Bukan hanya kalian yang terkejut melihat keadaanku 

sekarang ini. Berkat ramuan puluhan dedaunan yang 

terdapat di hutan ini dan kuminum saat terluka parah akibat 

serangan Caping Dewa Sakti, secara tak sengaja 

membuatku awet muda sampai saat ini.” 

Tangannya meraba dalam gelap. Bibirnya menyeringai 

ketika merasakan dua buah benda di tangannya. 

"Dulu, Caping Dewa Sakti berhasil mengalahkanku 

karena aku belum sepenuhnya menamatkan Kitab. Pusaka 

Rembulan Mambang. Sekarang, dengan Ilmu yang 

kuciptakan lagi dan Pecut Sakti Bulu Babi, akan kubuat 

rencah tubuhnya!" 

Lalu gadis itu terdiam. Kedua matanya terpejam 

kembali. 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Andika menghentikan larinya ketika melihat Sri Kasih 

yang sedang duduk bersemadi dan si Tua Naga Merah yang 

terbaring di rerumputan. 

"Tindakanmu barusan bisa mencelakakanmu sendiri, Sri 

Kasih...," katanya pelan setelah atur napas. 

Sri Kasih yang sudah selesai melakukan pengobatannya 

sendiri, menoleh.

"Aku tahu, Kang Andika... tetapi, aku tak ingin kalian 

tewas." 

Pendekar Slebor cuma menyeringai sambil menahan rasa 

sakit, mendengar kata-kata lembut Sri Kasih. Pada 

dasarnya, gadis itu memang memiliki hati yang lembut, 

polos dan jujur. Kalaupun ia marah waktu itu pada Andika. 

karena ia merasa Andika menggagalkan niatnya untuk 

menangkap kelinci gemuk. 

"Terima kasih kalau kau berpikir demikian," kata Andika 

yang yakin kalau gadis itu memiliki hati yang baik. 

"Aku yakin, gadis yang mengaku Dewi Putih Hati Setan 

itu, adalah penghuni Goa Terkutuk. Ia harus merasakan 

seluruh sakit hatiku atas perbuatannya!" 

"Jangan terlalu bernafsu. Keadaan sangat tidak 

menguntungkan sekarang ini. Karena, gurumu dalam 

keadaan pingsan. dan aku sendiri terluka dalam. 

Kemungkinannya, bila ada serangan yang datang, itu 

berarti kita hanya membunuh diri saja." 

Sri Kasih mendesah pendek, membenarkan kata-kata 

Andika. 

Setelah napasnya normal kembali, Andika membungkuk 

dan memeriksa tubuh si Tua Naga Merah. 

Dalam sekali periksa, ia yakin tubuh wanita tua yang 

pemarah itu telah berada dalam pengobatan yang tepat. 

Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan muridnya yang 

jelita itu? 

“Sebaiknya, kita beristirahat saja dulu di sini. Sepertinya, 

gurumu sedikit banyaknya mengetahui tentang Dewi Putih 

Hati Setan. Terus terang, aku ingin mengetahuinya pula."

Sri Kasih menganggukkan kepalanya sambil menatap 

pemuda tampan di hadapannya. Diam-diam ia menyesal 

pernah membentak Andika. Itu pun dilakukan karena ia 

jengkel kelinci gemuk yang hendak dijadikan santapannya 

kabur. 

"Sebaiknya kita beristirahat di sini. Tempat ini cukup 

aman," kata andika sambil melangkah tiga tombak dari 

jarak Sri Kasih dan si Tua Naga Merah. 

Direbahkan tubuhnya di sana. 

Meskipun lelah tak terkira, namun sepasang matanya 

belum bisa segera dipejamkan. Masalah yang dihadapinya 

ini sangat memusingkan kepalanya. Kalau memang gadis 

berbaju putih menerawang itu Dewi Putih Hati Setan, 

mengapa si Tua Naga Merah seperti keheranan? Apakah 

karena si Tua Naga Merah menganggap seharusnya Dewi 

Putih Hati Setan sudah lebih tua darinya? Lalu, mengapa 

wanita itu masih demikian muda? 

Sementara itu Sri Kasih pun tak bisa memejamkan 

matanya. Entah mengapa pikirannya tertuju pada Andllka 

yang berada pada jarak tiga tombak dengannya. Perasaan 

aneh yang tak pernah dirasakan selama ini, coba ditekannya 

dalam-dalam. 

Dan perlahan-lahan matanya pun terpejam. 



Matahari telah bekerja kembali. Sinarnya yang berwarna 

kekuningan indah mewarnai seluruh alam. Embun pagi

masih bergelayut manja di dedaunan, ketika Andika terjaga 

dari tidurnya. 

Ketika ia berdiri, dilihatnya si Tua Naga Merah sedang 

duduk sambil menikmati buah-buahan. 

"Kau sudah bangun?" sapa si nenek. 

Andika cuma nyengir saja sambil melangkah. Ia gembira 

melihat si nenek sudah siuman dari pingsannya. "Di mana 

Sri Kasih, Nek?" 

"Untuk apa kau menanyakannya, hah?!" 

"Wah! Orang bertanya masa harus dibentak!" dengus 

Andika sambil mencomot buah-buahan yang ada di depan 

si nenek. Tangan si nenek langsung menelepak tangannya. 

"Jangan main comot saja!" 

Kembali Andika nyengir. Lalu tak acuh saja ia 

menikmati buah yang sudah dipegangnya itu. 

Si Tua Naga Merah berkata lagi, "Kau belum menjawab 

pertanyaanku?" 

"Memangnya kenapa? Aku kan cuma bertanya saja?" 

sahut Andika dan mencomot lagi buah yang ada di 

hadapannya, kali ini manggis hutan yang sudah masak. 

"Apakah kau..." Kata-kata itu terpotong oleh suatu suara 

bernada riang. 

"Nek, air di sungai itu jernih sekah! Aku sudah... oh!!” 

Sri Kasih menghentikan kalimatnya, berhenti melangkah 

begitu melihat Andika yang nyengir sambil menunjukkan 

buah yang dimakannya pada Sri Kasih. 

“Kau enak, Kang Andika,” kata Sri Kasih sambil 

melangkah kembali "Aku yang mencari susah payah, kau 

yang memakannya!"

"Nanti aku kembalikan. Di mana sungai yang kau 

katakan tadi?" Andika tersenyum sambil tatap Sri Kasih " 

Gadis ini cantik sekali,” pikirnya nakal "Ih! Bau merang 

dari tubuhnya benar-benar menunjukkan keaslian bau 

tubuh gadis jelita ini.” 

"Tauk! Cari saja sendiri!” sahut Sri Kasih ketika 

menyadari pandangan nakal Andika padanya sambil 

duduk di sisi gurunya yang cuma tersenyum. 

Andika bangkit dan melangkah sambil berseloroh, 

"Kalau tidak mau kasih tahu ya tidak apa-apa. Aku tahu, 

sebenarnya kau masih ingin mandi bersamaku, kan?" 

Sri Kasih putar kepalanya seketika. Sepasang matanya 

bagai melompat keluar mendengar seloroh Andika. 

“Brengsek!” makinya diiringi satu gerakan tangan ke 

arah andika. 

Wusss! ! 

Andika memiringkan tubuh sedikit. Serangan yang 

dilakukan oleh Sri Kasih luput dari sasarannya, 

menghantam pohon yang bergetar. Beberapa buahnya jatuh 

yang segera ditangkap Andika dengan lincah. 

"Lumayan! Hei, apakah kau masih menganggap ini 

milikmu juga?" serunya dan sebelum Sri Kasih membentak, 

tubuh Andika sudah lenyap dari pandangan. 

"Konyol!" Sri Kasih tertawa. "Bagaimana kau bisa 

bertemu dengan pemuda konyol itu, Nek?" tanya Sri Kasih 

pada gurunya. Ia bebas memanggil 'guru' atau 'nenek' pada 

si Tua Naga Merah yang cuma tersenyum. 

Ia tahu kalau muridnya yang diam-diam itu menyukai 

Pendekar Slebor.

"Sudahlah, Sri Kasih. Persoalan bagaimana caranya aku 

bertemu dengan Pendekar Slebor bukanlah sebuah masalah. 

Kuakui... kalau Pendekar Slebor memiliki ilmu yang tinggi. 

Aku berharap, dengan bantuannya kita bisa mengalahkan 

Dewi Putih Hati Setan, Sri Kasih." 

"Hhhh! Percuma, Nek! Melihat sikapnya, Andika jelas 

sekali tergolong pemuda urakan," kata Sri Kasih 

melecehkan. "Apa dengan pemuda yang memiliki sifat 

urakan itu, kita bisa meminta bantuannya, Nek?" 

"Entahlah, Sri Kasih. Hanya saja, aku melihat sisi lain 

dari sifat Andika yang urakan itu." 

Sri Kasih jadi penasaran ketika melihat bibir gurunya 

tersenyum. Dan entah mengapa gadis jelita itu jadi risih 

menatap bola mata gurunya. 

"Sisi lain apa yang Nenek maksudkan? Sudah jelas 

pemuda itu suka bersikap seenaknya saja!" katanya 

mencoba mengubur sesuatu yang bergejolak di dadanya. 

Orang tua berbaju merah itu tersenyum penuh arti, justru 

Sri Kasih menjadi memerah wajahnya. 

“Apakah kau tidak melihat sisi lain pada dirinya, Sri 

Kasih?" 

Sri Kasih tak menjawab. Justru menyatukan kedua 

tangannya dengan sikap gelisah. Si nenek tersenyum sendiri 

dan tak acuh menikmati lagi buah-buahan yang ada di 

hadapannya. Sedikit banyaknya, sikap yang diperlihatkan 

oleh muridnya sudah jelas menandakan gadis itu diam-

diam menyukai Andika. 

Selang beberapa lama, Pendekar Slebor sudah tiba 

kembali dengan rambut yang masih basah. Sementara Sri 

Kasih sudah menggelung rambutnya ke atas.

"Nek, ceritakan kepadaku tentang Dewi Putih Hati 

Setan. Terus terang, aku masih bingung karenanya,” pinta 

Andika setelah duduk kembali di hadapan Si Tua Naga 

Merah. 

Si Tua Naga Merah mengangguk-anggukkan kepalanya. 

"Aku hanya mendengar dari guruku Buyut Jala 

Gandring. Puluhan tahun lalu, ada seorang tokoh rimba 

persilatan yang berjuluk Caping Dewa Sakti. Sepak 

terjangnya sangat disegani oleh setiap orang rimba 

persilatan. Di mana ada orang golongan sesat melakukan 

aksinya, di sana juga Caping Dewa Sakti akan muncul. 

Kemudian kudengar ada seorang gadis jelita yang memiliki 

kesaktian sangat tinggi namun memiliki tangan telengas. Ia 

tak peduli siapa pun juga, bila ia ingin membunuhnya, pasti 

ia akan melakukan. Melihat hal itu, Caping Dewa Sakti 

turun tangan. Hingga terjadi pertarungan yang sangat hebat 

sekali. Dalam pertarungan itu, Dewi Putih Hati Setan 

berhasil dikalahkan dan menghilang entah ke mana. Banyak 

pendapat yang mengatakan kalau ia sudah meninggalkan 

rimba persilatan dan menjadi pertapa. Ada juga yang 

mengatakan ia mati membunuh diri. Ada juga yang 

mengatakan ia mati di tangan Caping Dewa Sakti. Tetapi 

yang kudengar dari guruku, tentang Caping Dewa Sakti 

yang kemudian menjadi pertapa di Gunung Batu. Entahlah 

ia masih hidup atau tidak." 

"Lalu bagaimana tahu-tahu muncul gadis yang mengaku 

bernama Dewi Pulih Hati Setan itu, Nek?" 

Si Tua Naga Merah tarik napas berkali-kali sebelum 

menjawab, "Aku tidak tahu soal itu. Seharusnya, seiring 

dengan bertambahnya usia, tubuh dan wajah Dewi Putih 

Hati Setan, sudah berubah. Namun, cukup mengejutkan 

hatiku bila melihat keadaannya masih seperti itu. Yang 

pasti, kesaktiannya hampir setara dengan yang pernah


diceritakan oleh guruku. Yang mengejutkan lagi, ia tahu 

jurus-jurus yang hendak kulakukan." 

"Berarti kesimpulanmu, Nek... yang muncul itu memang 

Dewi Putih Hati Setan'!" 

"Entahlah, aku sendiri tidak bisa mengatakannya dengan 

pasti. Hanya saja... kalau memang yang muncul itu Dewi 

Putih Hati Setan, mengapa ia tidak membawa senjata 

pusakanya yang bernama Pecut Sakti Bulu Babi? Terus 

terang, aku memang telah menduga wanita itu sudah 

meninggal, hingga aku menginginkan Sri Kasih untuk 

mendatangi Goa Terkutuk guna mendapatkan Pecut Sakti 

Bulu Babi. Tetapi sekarang... dugaanku yang 

mengatakannya ia masih hidup, ternyata benar." 

Andika terdiam mendengar penjelasan si Tua Naga 

Merah. Otaknya terus berpikir berusaha memecahkan teka-

teki yang semakin mengembang di depannya. 

"Jauhkah jarak Gunung Batu dari sini, Nek?" tanyanya 

kemudian. 

"Kau membutuhkan waktu lima hari lima malam bila 

menunggang kuda." 

"Cukup jauh." 

“Kang Andika... apakah kau bermaksud mencari Caping 

Dewa Sakti?" tanya Sri Kasih yang sejak tadi diam 

mendengarkan. Tatapannya yang bening menatap sepasang 

mata elang milik pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah 

Kutukan yang tahu-tahu mengerutkan keningnya. 

"Busyet, suaranya bisa bikin aku lupa diri, nih," desis 

Andika dalam hati. Tapi ia tak terlalu lama memusingkan 

soal itu. “Kau benar, Sri Kasih. Karena menurutku, 

kelemahan dari Dewi Putih Hati Setan itu hanya diketahui 

oleh Caping Dewa Sakti. Paling tidak, kita bisa

mengetahuinya dari orang tua sakti itu. Hanya saja, sangat 

sulit untuk menemuinya, bukan?" 

Tak ada yang bersuara. Angin pun seakan enggan 

bertiup. 

Selang beberapa lama, Andika bangkit dari duduknya. 

"Daripada pusing memikirkan soal itu, lebih baik aku 

kembali ke Goa Terkutuk." 

"Oh! Kang Andika! Apakah tidak terlalu berbahaya?" 

seru Sri Kasih dan saat itu ia tak bisa lagi menutupi 

perasaan cemasnya terhadap Andika. 

Si Tua Naga Merah yang memperhatikan, diam-diam 

tersenyum dalam hati. "Ah, dasar anak muda," desisnya. 

"Berbahaya atau tidak, aku akan tetap mencoba untuk 

menghentikan sepak terjang Dewi Putih Hati Setan. 

Karena, kukhawatirkan akan banyaknya korban yang 

berjatuhan. Mungkin mereka berusaha untuk mendapatkan 

Kitab Pusaka Rembulan Mambang dan Pecut Sakti Bulu 

Babi. Atau juga, ada pula yang mencoba keberuntungan 

untuk membalas dendam lama mereka. Lebih gawat lagi, 

bila Dewi Putih Hati Setan muncul kembali ke rimba 

persilatan ini, sementara kita sendiri belum mengetahui 

kelemahannya. Terutama, kita tidak tahu apakah Caping 

Dewa Sakti akan muncul atau tidak...” 

Tiba-tiba Andika menghentikan kata-katanya. Sikapnya 

itu membuat si Tua Naga Merah dan muridnya menjadi 

keheranan. Keduanya menatap lurus pada Andika yang 

sedang bergumam pelan, "Apakah sebaiknya tidak kucoba 

saja...." . 

Tanpa hiraukan pandangan mata guru dan murid itu, 

perlahan-lahan Andika mengangkat kedua tangannya. Lalu

menepuknya tiga kali, sangat lembut. Dan bibirnya keluar 

suara pelan, "Rawangi... datanglah...." 

Belum lagi desisannya habis,. mendadak bau wangi yang 

sangat kuat menebar di tempat itu. Si Tua Naga Merah 

seketika bersiaga. Begitu pula dengan Sri Kasih. Bau wangi 

itu begitu menyengat hingga sangat mengherankan sekali. 

Namun sikap Andika tetap tenang saja. 

"Ah, ternyata janji gadis itu benar...," desisnya pelan. 

Dari aroma wangi yang kuat itu perlahan-lahan dari 

kejauhan memancar cahaya merah yang cukup kuat dan 

bagai mengambang cahaya itu mendekati ketiganya. 

Si Tua Naga Merah alihkan pandangan dan tak berkesip 

menatap cahaya merah itu, sementara Sri Kasih bersiaga. 

"Andika... ada apakah kau memanggilku?" dari balik 

cahaya merah itu terdengar suara begitu lembut sekali. Dan 

perlahan-lahan cahaya yang diselingi bau wangi yang kuat, 

menghilang. Sebagai gantinya, muncul satu sosok tubuh 

jelita nan ramping yang mengenakan pakaian warna merah 

menerawang, hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang 

sempurna. 

Di balik pakaian yang menerawang itu terdapat dua helai 

kain berwarna biru yang menutupi auratnya. Wajah sosok 

yang muncul secara aneh itu begitu cantik sekali, tak 

ubahnya wajah dewi-dewi dalam dongeng. Bibirnya tipis 

tersaputkan pemerah yang menawan. Hidungnya bangir 

bagai melengkapi kecantikannya. Matanya bersinar lembut 

dengan bulu mata lentik dan alis hitam. Rambutnya yang 

indah mengkilat hitam tergerai panjang. Kedua pipinya 

bening sehalus pualam. 


9


Andika tarik napas sekali lagi. Wajahnya sedikit cerah. 

Ia mendekat dan berkata, "Terima kasih atas kehadiranmu, 

Rawangi...." 

Sosok jelita nan ramping yang dipanggil Rawangi itu 

tersenyum. 

"Janji telah kuucapkan. Aku pasti akan muncul bila kau 

memanggil namaku, Andika.” 

Andika perlihatkan senyumnya yang bagus. Gadis 

penghuni Gerbang Neraka ini memang telah menjanjikan 

padanya ketika secara tak sengaja ia memasuki Gerbang 

Neraka, bila Andika membutuhkan bantuannya, maka ia 

akan hadir. (Untuk lebih mengetahui siapa Rawangi dan 

pengalaman apa yang dialami Andika, silakan baca : 

"Bunga Neraka"). 

"Maafkan aku yang telah merepotkanmu, Rawangi. 

Tetapi terus terang, aku membutuhkan bantuanmu untuk 

menyelidiki tentang Dewi Putih Hati Setan yang mendiami 

Goa Terkutuk." 

"Baiklah... kau tunggulah sebentar Andika." 

Gadis cantik itu memejamkan kedua matanya. Andika 

geleng-geleng kepala melihat kesempurnaan yang ada pada 

gadis itu. Sementara Si Tua Naga Merah ubah sikapnya dan 

penuh siaga menjadi tenang. Sedangkan hal yang lain 

dirasakan oleh Sri Kasih. Mendadak sesuatu yang tak 

pernah disadarinya di hatinya bergejolak. Ia rasa hatinya 

panas membara hingga tanpa disadarinya pula kedua 

pipinya merona. Hatinya benar-benar jengkel melihat 

kehadiran gadis berpakaian menerawang itu. 

"Tidak sopan!" pikirnya dengan gelisah.

Sementara itu perubahan pada tubuh Rawangi tampak 

jelas terjadi. Dan sikapnya yang berdiri tegak sambil 

memejamkan matanya, mendadak tubuhnya bergetar. 

Makin lama makin hebat. Tampak sekali kalau ia berusaha 

menenangkan dirinya. Dan getaran itu berangsur-angsur 

melambat dan lama kelamaan tubuhnya normal kembali. 

Ketika ia buka kedua mata, terdengar tarikan napasnya. 

"Sulit untuk menembus diri Dewi Putih Hati Setan itu, 

Andika...." katanya dengan suara yang terdengar letih 

sekali, seolah habis melakukan perjalanan yang jauh. 

"Meskipun demikian aku bisa menangkap kekejaman dan 

ketinggian ilmu yang dimilikinya. Dalam aliran darahnya, 

ada semacam gumpalan sebesar sawo mentah, yang 

berfungsi sebagai pusat pengendali tenaga miliknya. Kulihat 

pula ada kilatan cahaya hitam di sekujur tubuhnya, yang 

bisa melontarkan sinar hitam sangat dahsyat. Nampaknya, 

ia telah meminum sebuah ramuan yang entah apa bisa 

mempertahankan keremajaan kulitnya. Aku yakin, wanita 

itu berusia lebih kurang delapan puluh tahun." 

Andika yang mendengarkan dengan seksama, bertanya, 

"Kau mengatakan ada gumpalan sebesar sawo mentah. Di 

manakah letaknya?" 

"Sulit. kukatakan, karena gumpalan itu bergerak terus 

menerus." 

"Rawangi...," desis Andika yang tiba pada satu pikiran. 

"Apakah itu merupakan kelemahan dan Dewi Putih Hati 

Setan?" 

"Kemungkinannya iya. Tetapi bisa juga tidak. Karena, 

sekujur tubuhnya bagai dialiri kilatan hitam."

Andika angguk-anggukkan kepalanya. Si Tua Naga 

Merah yang sejak tadi juga mendengarkan bertanya, 

"Apakah kau melihat sebuah pecut di dekatnya?" 

Rawangi menoleh pada si nenek. "Kau benar, Nek. 

Senjata itu memang sebuah pecut yang di ujungnya seperti 

ada puluhan duri tajam." 

"Kalau begitu, gadis itu memang Dewi Putih Hati 

Setan." 

Rawangi putar lagi kepalanya pada Andika, "Adakah 

yang bisa kubantu lagi?" 

Andika yang masih memikirkan tentang kelemahan 

Dewi Putih Hati Setan tersentak, "Oh! Y a, ya... tahukah 

kau jalan masuk ke Goa Terkutuk?" 

Rawangi terdiam kembali. Matanya terpejam. Tak lama 

kemudian ia membuka matanya dengan desahan seolah 

habis melakukan perjalanan yang jauh. 

"Aku melihat dua puluh buah sinar hitam yang 

melingkari Goa Terkutuk. Sinar itu jelas berasal dari 

kekuatan penghuni Goa Terkutuk., Aku yakin, tak seorang 

pun yang bisa menembus sinar-sinar hitam yang merupakan 

sebuah pintu, kecuali Si penghuni Goa Terkutuk. Maafkan 

aku, Andika...." 

"Tidak apa-apa." 

"Kalau kau ingin bantuan, aku bisa menahan sinar hitam 

itu untuk beberapa saat." 

Andika mengulapkan tangannya., "Tidak! Aku tidak 

ingin merepotkanmu lebih lama lagi, Rawangi. Aku tahu, 

kau sangat dibutuhkan oleh penduduk di Gerbang Neraka. 

Terima kasih atas bantuanmu, Rawangi."

Rawangi perlihatkan senyumnya. Matanya yang teduh 

bersinar sedih. 

"Untukmu, aku rela melakukan apa saja, Andika." 

Sudah tentu seperti itu dan Andika yakin sekali akan 

kebenaran ucapan Rawangi. Ia tahu, kalau gadis yang 

berasal dari sebuah alam yang disebut Gerbang Neraka 

memang mencintainya. Bahkan pernah sekali berharap 

untuk menikah dengannya. 

"Teima kasih atas bantuanmu." 

"Kalau begitu... aku permisi." Sehabis berkata begitu, 

dari tubuh Rawangi memancar cahaya merah yang cukup 

menyilaukan. Sinar itu bergerak bagai meninggalkan 

mereka dan semakin lama lenyap dari pandangan. 

Terdengar desisan lembut bersama angin, "Aku 

merindukanmu, Andika...." 

Bersamaan dengan itu, cahaya merah tadi pun lenyap 

dari pandangan. Andika tarik napas pendek. 

"Sekali waktu... aku pernah pula merindukanmu, 

Rawangi.... " 

Lain yang dialami oleh Andika dan si Tua Naga Merah, 

lain pula yang dialami oleh Sri Kasih. Gadis yang sejak tadi 

terdiam dengan menahan getaran hatinya yang tak 

menentu, kali ini hembuskan napas perlahan. Ia senang 

karena gadis jelita berpakaian menerawang tadi sudah 

berlalu dan hadapannya. 

Diam-diam ia melirik pemuda tampan dari Lembah 

Kutukan yang masih terdiam. Satu pertanyaan mendesis 

galau dalam hatinya, "Apakah gadis Itu kekasih, Kang 

Andika?"

Andika mengangkat wajahnya, menatap Si Tua Naga 

Merah. 

"Nek... tahukah kau di mana gumpalan darah yang 

dimaksudkan oleh gadis dari Alam Gerbang Neraka?" 

Si Tua Naga Merah menggelengkan kepalanya. "Aku 

tidak tahu sama sekali soal itu." 

Andika mendesah. 

"Untuk mencari tahu, kita memang harus ke Goa 

Terkutuk kembali. Karena, aku masih menunggu siapa 

orang yang dimaksud oleh Dewi Putih Hati Setan. Selama 

orang itu belum muncul, akan banyak korban lain yang 

berjatuhan." . 

Dan selagi semuanya terdiam, dicamuk oleh pikiran 

masing-masing, mendadak saja satu gemuruh angin 

kencang menderu hebat laksana topan badai. 

Ketiganya tersentak dengan wajah terperangah! 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Bummm!! 

"Monyet pitak! Setan itu lagi yang berseliweran!!” maki 

Andika sewot sambil bergulingan, ketika ia berdiri tegak 

bukan hanya ia yang terperangah, melainkan juga si Tua 

Naga Merah dan Sri Kasih. 

Mata mereka seperti melompat keluar dengan mulut 

ternganga. Kening mereka berkerut-merut. Di hadapan 

mereka, sebuah kepala menyeringai sedang mengapung di 

udara. Wajah Dewi Putih Hati Setan, hanya saja tanpa 

tubuh. Darah menetes dari lehernya yang penuh luka. 

Matanya melotot bersinar merah. Lidahnya yang panjang 

terjulur keluar bersama air liur yang bercampur darah. 

Lidah itulah yang menggebubu tadi.

"Iblis gentayangan!!" maki Andika bergidik. Sementara 

tanpa sadar Sri Kasih yang berdiri di sampingnya 

memegang tangannya erat-erat. Kalau tidak dalam suasana 

mengejutkan ini, sudah pasti mulut Andika yang usil 

berbicara, "Mengapa tidak peluk sekalian saja?" 

Si Tua Naga Merah lebih bisa menguasai keadaan. "Ilmu 

apa lagi yang telah dimilikinya?" desisnya dalam hati. 

Potongan kepala itu menyeringai. 

"Sebelum kuhadapi Caping Dewa Sakti, aku ingin 

menguji kemampuan ilmu baruku ini ajian 'Pengembang 

Mata'!" 

Srrrttt! 

Lidah penuh darah itu melesat ke arah si Tua Naga 

Merah yang menyongsong dengan ajian 'Surya Darah'. 

Namun ia jadi tersentak sendiri, karena lidah panjang itu 

meliuk menghindar dan melilit wajahnya bagai dililit 

puluhan ular berbisa ditambah dengan tusukan menyayat 

yang membuatnya berteriak keras terhuyung ke belakang. 

Sebisanya ia untuk melepaskan wajahnya dari lilitan 

lidah yang mengeluarkan bau busuk. Namun, tenaganya 

bagaikan lumpuh dan perlahan-lahan ia merasa ada yang 

keluar dari tubuhnya dan tersedot oleh lidah itu. 

Melihat maut siap menjemput si nenek Andika segera 

bertindak dengan tangan memapas. Akan tetapi, sebelum 

tangannya mengenai lidah panjang yang tengah melilit 

wajah si Tua Naga Merah, bagai tambah memanjang lidah 

itu melihat tangannya yang membuatnya menjerit. 

"Tak sia-sia aku berdiam puluhan tahun di Goa 

Terkutuk!" suara dingin itu menggelegar.

Sri Kasih yang telah meloloskan cambuknya pun 

menggerakkannya, namun tubuhnya terhantam kepala 

Dewi Putih Hati Setan yang melayang laksana bom ke 

arahnya. Tubuhnya terpental deras ke belakang dan muntah 

darah. Tulang iganya terasa patah. Ia meringis kesakitan 

sampai mengeluarkan air mata. 

"Pendekar Slebor... aku akan membuat perjanjian 

denganmu daripada nyawamu dan nyawa nenek keparat itu 

kucabut!" potongan kepala itu berbicara. 

"Arwah jahanam! Siapa sudi membuat perjanjian 

denganmu?!" 

Wuusss!! 

Kepala tanpa jasad itu mencelat ke udara mengeluarkan 

suara menggidikkan. Sambil melayang di udara potongan 

kepala itu umbar tawa yang mengerikan. 

"Pemuda keparat! Bila saja kau mau, bersekutu 

denganku, nyawamu akan kuampuni! Tetapi kau telah 

lancang bicara! Darahmu akan kusedot habis hingga kau 

mati kehabisan darah!" 

Didahului tawa yang tak berkesudahan potongan kepala 

itu melayang ke atas, dan menukik menimbulkan angin 

bergemuruh ke arah batok kepala Andika. 

Pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah Kutukan yang 

tangan kanannya penuh darah dan kulitnya dirasakan 

terkelupas segera jatuhkan tubuh dan bergulingan. Kaki 

kanannya cepat menendang sebuah pohon di dekatnya yang 

langsung tumbang. 

Potongan kepala yang membuka mulut dengan 

memperlihatkan taring sekeras besi itu terus melurup ke 

arah batang pohon yang meluncur ke arahnya. Lilitan

lidahnya pada tangan Andika dan tubuh si Tua Naga 

Merah dilepaskan. 

Braaakkk! ! 

Pohon itu hancur berantakan dihantam lidah besi kepala 

Dewi Putih Hati Setan. Begitu pohon itu hancur, potongan 

kepala itu kembali membubung tinggi dan menukik lagi ke 

arah Andika yang sedang berusaha bangkit. 

Namun sebelum taring-taring sekeras besi itu 

menghujam di batok kepala Andika, si Tua Naga Merah 

sudah kelebatkan tubuh. 

Des! 

Potongan kepala itu terpental terkena ajian 'Surya 

Darah'. dan mengeluarkan pekikan yang sangat keras. 

Begitu mencelat ke belakang, potongan kepala itu langsung 

berputar, dan kali ini sasarannya diubah. 

Mengarah pada si Tua Naga Merah yang terperangah 

dan langsung buang tubuh. 

Wusss!! 

Lidah itu bergerak laksana kilat, membuat si Tua Naga 

Merah kalang kabut. Sebisanya ia kibaskan tangan yang 

telah terangkum ajian 'Asap Dewa', yang segera 

membubung asap putih yang tebal. 

Lidah terjulur itu langsung tertarik dengan cepat. Lalu 

potongan kepala itu memburu dikawal angin deras yang 

menggebubu ke arah si Tua Naga Merah yang lagi-lagi 

gulingkan tubuh hindarkan serangan itu. 

Melihat hal itu, Andika yang tengah mengalirkan hawa 

murninya pada tangan kanannya yang terasa panas, 

langsung memburu pula ke arah potongan kepala Dewi 

Putih Hati Setan.

"Kalau begitu caranya, aku sulit menemukan di mana 

letak gumpalan darah seperti yang dikatakan oleh 

Rawangi!" desisnya dengan perasaan kacau. 

Ajian 'Guntur Selaksa' sudah menderu dahsyat. Namun 

yang membuatnya terperangah, karena pukulannya itu 

bagai ceplos belaka. Dan karena dorongan tenaganya 

sendiri, tubuhnya tersuruk ke depan, justru mengarah pada 

si Tua Naga Merah! 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Andika memekik keras, sebisanya ia membuang 

tubuhnya agar jotosan tangannya tak mengenai si nenek. Sri 

Kasih yang melihat keadaan yang tak menguntungkan itu, 

cepat kelebatkan tubuh dan tendang kaki Andika, hingga 

pemuda itu tersuruk dan jotosannya yang tak sengaja 

mengarah pada si Tua Naga Merah berpindah arah, 

menghantam sebatang pohon yang langsung menjadi 

serpihan didahului dengan ledakan bagai salakan petir. 

"Busyet kau, Bor! Kira-kira dong!" maki si nenek dengan 

menggemborkan pipi peotnya. "Bisa-bisa aku yang kau 

kirim ke akhirat lebih dulu!" 

Bersamaan dengan itu, potongan kepala mengerikan 

menderu dahsyat ke arah Andika, menghantamnya, hingga 

terpental sepuluh tombak. Tulang iganya bagai patah, 

muntah darah dialaminya lagi. 

"Pendekar Slebor, kini saatnya kau akan mampus!!" Lalu 

menggebubu potongan kepala Dewi Putih Hati Setan. 

Dalam keadaan kritis bagi Andika, pemuda pewaris ilmu 

Pendekar Lembah Kutukan masih sempat loloskan kain 

bercorak catur dan mengebutnya sekuat tenaga. 

Wuuuttt!!

Potongan kepala yang siap kirim Andika ke akhirat, 

bagai naik dua tombak hindari serbuan angin yang 

mengeluarkan suara bagai ribuan tawon marah, lalu 

melurup dengan jeritan yang keras. 

Andika bagai lumpuh kedua kakinya melihat mulut yang 

penuh taring sekeras besi itu membuka lebih lebar, siap 

mencaplok kepalanya. Dalam keadaan kritis pemuda 

urakan itu jatuhkan tubuh dengan kedua lutut ditekuk, 

kepalanya ditundukkan namun tangannya mengibas. 

Wuusss!! 

Kain bercorak catur itu tepat melurup di potongan kepala 

Dewi Putih Hati Setan. Bagai menemukan kekuatannya 

kembali, Andika melilitkannya dengan kuat. Potongan 

kepala itu bagai bandul ajaib bergerak ke sana kemari 

dengan menyentak. Andika yang telah mengeluarkan 

seluruh tenaga dalamnya, harus terpelanting beberapa kali 

dengan tubuh menghajar pohon. 

Sakitnya tidak ketulungan lagi. Tangannya yang masih 

mempertahankan kain bercorak catur yang melilit potongan 

kepala itu terasa kesemutan. Namun sekuatnya ia berusaha 

agar kain itu tidak terlepas. 

Akan tetapi, justru ia yang melepaskannya, karena panas 

bak api neraka mengalir dan seperti membakar tangannya. 

Tubuhnya mencelat ke belakang lima tombak dengan 

tangan bagai melepuh. Potongan kepala itu menggereng 

keras sambil bergoyang-goyang, kain bercorak catur milik 

Andika terlepas entah ke mana. 

Lalu terlihatlah seringaian yang luar biasa seramnya. 

Taring-taring tajam itu lebih membuka, "Kini ajalmu telah 

tiba, Pendekar Slebor!!"

Habis berkata begitu, potongan kepala Dewi Putih Hati 

Setan menderu dahsyat ke arah Andika yang rasanya tak 

mampu untuk berbuat apa-apa lagi. 

Sri Kasih memekik keras penuh rasa kekhawatiran. Si 

Tua Naga Merah hanya terperangah tanpa mampu berbuat 

apa-apa. 

Akan tetapi, keanehan terjadi. Karena sebelum serangan 

yang dilancarkan oleh potongan kepala itu menghantam 

hebat Pendekar Slebor, tiba-tiba saja potongan kepala itu 

berbelok arah dan terdengar makiannya yang keras. 

"Keparat! Caping Dewa Sakti, kini ajalmu telah tiba!!" 

Sebuah caping kusam menderu keras bak bumerang yang 

keluarkan getaran dahsyat halangi serbuan potongan kepala 

itu dan dengan indahnya, berbalik pada satu tempat. Dan 

dengan santainya, sosok bongkok yang berdiri dengan 

kepala menggeleng-geleng menangkapnya. Mata kelabunya 

tak berkesip menatap potongan kepala yang mengambang 

di depannya. 

Perasaannya tak menentu. 

"Kehebatannya semakin menjadi-jadi," desisnya. 

Di sisi sosok bongkok itu, berdiri Gumilang!


10


Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana tahu-tahu 

Gumilang bisa muncul bersama seorang kakek bongkok? 

Di satu tempat sepi, di sebelah timur Goa Terkutuk, 

dengan hati sedih bercampur geram. Gumilang

menguburkan mayat kakang yang dikasihinya. Meskipun 

dendam begitu besar di hatinya, Gumilang merasa tak akan 

mampu untuk menghadapi Dewi Putih Hati Setan. Apalagi 

setelah membenarkan kata-kata Pendekar Slebor agar dia 

jangan bertindak gegabah. 

Dengan berat hati, akhirnya Gumilang memutuskan 

untuk meninggalkan tempat itu. Dengan hati sedih, 

perlahan-lahan Gumilang berdiri. Sepasang matanya tak 

lepas dari makam Suryopati yang baru dibuatnya. 

"Kakang, aku yakin kau tak menginginkan semua ini 

terjadi. Aku pun yakin, kau tak ingin aku menjadi pengecut. 

Akan tetapi, seperti yang kau katakan, bila kita mati 

bersama, maka tak ada lagi yang akan melanjutkan 

keturunan keluarga kita. Meskipun demikian, secara tidak 

langsung aku sudah menunjukkan sifat pengecutku, 

Kakang. Maafkan aku, kupikir... ini adalah jalan yang 

terbaik." 

Sekali lagi lelaki berpakaian putih-putih berwajah kelimis 

itu tarik napas panjang. Menatap langit, kelam. 

"Pendekar Slebor dan Tua Naga Merah, terima kasih 

atas bantuan kalian. Pertemuan ini tak akan pernah 

kulupakan." 

Lalu dengan berat hati penuh penyesalan, Gumilang pun 

melesat meninggalkan tempat itu. Di satu tempat 

dihentikan larinya. Keraguannya kembali muncul dan 

menusuk seluruh relung hatinya. Tali sukmanya bagaikan 

berdenting. 

"Oh, apakah aku telah melakukan satu tindakan yang 

salah? Aku telah memperlihatkan ketidakberdayaanku, 

kepengecutanku dan rasa ketakutanku. Apakah ku harus 

kembali lagi untuk membalaskan sakit hati kedua 

orangtuaku dan Kakang Suryopati pada Dewi Putih Hati

Setan? Namun, apa yang bisa kulakukan?” desisnya dengan 

kebimbangan yang makin menjadi. 

Rasa bimbang itu makin menyergap erat, makin 

membuatnya bagai berada dalam lingkaran api yang 

membuatnya sulit untuk keluar. 

Tiba-tiba kedua tangannya mengepal. Rahangnya 

merapat dan tatapannya semakin tajam. Wajahnya tegang 

bukan main. 

"Tidak, aku harus kembali lagi ke sana! Biar 

bagaimanapun juga, aku harus membalaskan sakit hati 

kedua orangtuaku dan Kakang Suryopati! Mati secara 

ksatria lebih baik dari seorang ksatria." Kepalanya perlahan-

lahan tengadah, yang tampak hanyalah pucuk-pucuk pohon 

Jati. Namun sesuatu yang lain singgah di hatinya. Seperti 

melihat Suryopati lelaki itu berkata, "Maafkan aku, 

Kakang. Amanat yang kau sampaikan kepadaku, tak bisa 

kujalani. Aku bukan orang pengecut. Kakang, bila memang 

ini sudah tulisan Yang Kuasa, kita akan bersama-sama 

lagi...." 

Gumilang pun menundukkan kepalanya. Tekadnya bulat 

sudah untuk kembali lagi, namun sebelum dia beranjak, 

terdengar suara di belakangnya, "Keputusan yang berada di 

persimpangan jalan, memang sangat sulit untuk kita ambil. 

Kenyataan semacam ini tak bisa kita hindari dalam setiap 

kehidupan, karena bila kita hindari maka dia akan semakin 

mengejar dan semakin dalam bersemayam." 

Secepat kilat Gumilang membalikkan tubuh. Kedua 

tangannya siap untuk menyerang. 

"Kemarahan terkadang tak bisa kita hindari. Namun, 

kemarahan hanyalah batu ujian dalam kehidupan. 

Kesabaran akan mampu mengalahkannya."

"Kakek bongkok! Siapa kau, hah? Apa urusanmu 

mencampuri urusanku?!" bentak Gumilang dengan sipitkan 

mata. 

Kakek bongkok yang baru datang itu berpakaian kumal 

dengan tudung kepala berbentuk caping. Wajahnya tertutup 

caping itu. Di tangan kanannya ada sebuah tongkat yang 

seharusnya dipergunakan untuk membantunya melangkah. 

Namun tongkat itu seakan tak ada fungsinya. 

"Ah, tak ada maksudku untuk mencampuri urusanmu. 

Aku hanya kebetulan saja lewat tempat ini. Sementara 

tujuanku masih jauh," kata si kakek dengan sikap tenang, 

bijaksana dan penuh senyuman di mata dan bibirnya. 

"Lekas tinggalkan tempat ini! Uruslah segala 

urusanmu!!" 

Orang tua itu memperlihatkan senyum. 

"Baik, baik... aku akan melakukannya. Karena urusanku 

ini akan bertambah besar. Orang muda, bila kau memang 

kesulitan untuk menentukan pilihanmu, tekadkan di 

hatimu, kalau salah satu keputusan itu bila kau lakukan, 

akan mendatangkan kebaikan padamu. Bila kau tinggalkan, 

akan mendatangkan hal yang sama pula." 

Setelah berkata begitu, si kakek bongkok itu balikkan 

tubuh dan mulai melangkah. 

"Tunggu!!" 

Si kakek berbalik dan tersenyum. 

"Orang muda, bukankah tadi kau mengatakan uruslah 

urusanku? Nah, aku sudah hendak melakukannya." 

"Siapakah kau sebenarnya, Kek?"

Si kakek menyeringai. Gumilang berusaha untuk melihat 

wajahnya, namun tetap ketutupan oleh caping bambu yang 

usang itu. 

"Suaramu sudah melembut sekarang. Berarti, kau 

memang bukan orang yang tidak sabaran." 

Mendengar kata-kata itu, Gumilang jadi tidak enak 

sendiri. Sesungguhnya, dia berbuat seperti ini karena 

perasaannya sedang kacau. Perlahan-lahan lelaki yang 

dalam kebimbangan itu mendesah, "Apa yang kau katakan 

itu benar, Kek. Ini semua dikarenakan aku sedang risau." 

Dengan penuh kebijaksanaan, si orang tua lagi-lagi 

memperlihatkan senyumnya. Kedua pipinya yang penuh 

kerut, bagai tertarik keluar. 

"Tidak perlu bingung. Hhmm, kalau kau ingin tahu siapa 

namaku, aku sendiri tidak tahu. Otakku sudah melupakan 

nama pemberian kedua orangtuaku dulu. Tetapi, kau bisa 

memanggilku seperti orang-orang rimba persilatan 

memanggilku, Caping Dewa Sakti. " 

Gurnilang terdiam. Matanya mati berusaha melihat 

wajah si kakek yang berjuluk Caping Dewa Sakti. 

Dirasakan satu ketenangan merambati hatinya yang benar-

benar tanpa disadarinya berada di dekat si kakek ini. 

"Maafkan atas kekasaranku tadi, Kek." 

"Sudahlah. Siapakah yang sedang kau risaukan tadi? 

Kulihat, tak ada sosok siapa pun di sini. Kalaupun kau 

memang sedang merasa sedih, mengapa?" 

Entah mengapa perasaan tenang di hati Gumilang 

semakin menjadi-jadi. Tanpa diminta kedua kalinya 

diceritakan apa yang dialaminya. Kali ini, didengarnya 

suara bagai tersedak dari Caping Dewa Sakti, membuat

Gumilang menatap tak berkesip pada wajah yang tertutup 

caping kusam. 

"Aku terlambat," begitu kata si kakek. 

"Apa maksudmu, Kek?" 

"Kita tak perlu membicarakannya sekarang, yang 

terpenting, kita harus mencari Dewi Putih Hati Setan. 

Wanita itu benar-benar menurunkan terornya. Ah, aku 

yang salah, aku yang salah." Si kakek menggeleng-

gelengkan kepalanya dengan wajah gelisah. Diangkat lagi 

kepalanya dan menatap Gumilang yang masih tak mengerti 

melihat perubahan sikap si kakek. "Aku tak boleh buang 

waktu lebih lama! Pegang tanganku!" 

Tak mengerti apa yang diinginkan oleh Caping Dewa 

Sakti, Gumilang memegang tangan keriput si orang tua. 

Dan begitu tangannya memegang, tubuhnya dirasakan 

bagai terbang ke alam sukma. Saking takjubnya, Gumilang 

tak mampu keluarkan suara apa pun kecuali setiap kali dia 

menarik napas, setiap kali pula kelebatan itu dirasakan 

makin cepat. 

Apa yang dikatakan oleh Caping Dewa Sakti memang 

terbukti. Gumilang melihat si Tua Naga Merah sedang 

meringis tak berdaya. Dilihatnya pula seorang gadis jelita 

yang sedang berusaha untuk bangkit namun tak kuasa 

dilakukannya. Yang membuat pandangannya bagai melihat 

wanita telanjang namun penuh dengan kejijikan, ketika 

melihat sebuah potongan kepala wanita cantik yang sedang 

mencecar Pendekar Slebor yang tengah kibaskan kain 

bercorak catur di tangannya. 

“Kita belum terlambat," telinganya mendengar desisan 

Caping Dewa Sakti.

Gumilang merasa kepalanya berpendar-pendar. Rasa 

pusing datang mendadak. Potongan kepala itu tengah 

melayang-layang mengerikan dengan leher bagai tercacah 

teteskan darah dililit lidah panjang memerah penuh darah 

serta gigi-giginya yang keras setajam besi. 

Gumilang bagai tersedak dan hilang napasnya ketika 

melihat Pendekar Slebor terlempar ke belakang setelah 

lepaskan kain bercorak catur yang dipegangnya. Dan 

potongan kepala darah itu melurup ke arah Pendekar Slebor 

dengan keluarkan suara gerengan penuh hawa kematian. 

Saat itulah Caping Dewa Sakti kibaskan tangannya. 

Caping kusamnya melesat cepat menggebubu keluarkan 

deru angin bak topan prahara. 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Potongan kepala Dewi Putih Hati Setan tertarik ke 

belakang dengan tatapan tak berkedip. Namun di saat lain 

sudah terdengar geramannya, begitu melihat sosok bongkok 

di hadapannya. Sesaat wajah itu tampak tegang. 

"Caping Dewa Sakti, kematian sudah siap menerpa! Kau 

tak akan pernah luput dari kematian!” 

Caping Dewa Sakti yang sudah kenakan caping 

kusamnya lagi, melangkah tiga tindak. Mata lembutnya tak 

berkesip menatap potongan kepala di depannya. 

Pendekar Slebor yang merasa terbebas dari belenggu 

kematian itu berdiri tegak dan menyambar kain bercorak 

caturnya yang tersangkut di ranting sebuah pohon. 

Si Tua Naga Merah yang melihat dan mendengar semua 

itu, merasa kepalanya jadi pusing. Caping Dewa Sakti, 

rupanya nama besar itu bukanlah dongeng belaka. Apa 

yang pernah diceritakan gurunya dulu memang suatu 

kenyataan. Dan kini ia bertemu dengan Caping Dewa Sakti.

"Dewi... rupanya dendammu padaku makin membesar 

saja. Tak pernah pupus. Kau telah menyiksa dirimu sendiri, 

Dewi Putih Hati Setan." 

“Jangan banyak bacot. Orang Tua Hina! Semua ini 

terjadi gara-garamu sendiri!" 

"Sepak terjangmu dululah yang membuat aku harus 

turun tangan dan hentikan semuanya." 

"Secara tidak langsung kau telah menghinaku!!" 

“Itulah kenyataannya. Au tak bisa berdiam diri melihat 

kejahatan yang kau turunkan." 

"Kini semuanya sudah siap di akhiri bersama dengan 

kematianmu!" 

Habis berkata begitu, tiba-tiba saja lidah penuh darah itu 

terjulur dengan kekuatan dahsyat. 

Wuuuttt! 

Caping Dewa Sakti tak beranjak dari berdirinya. Tak 

berusaha menghalau juluran lidah itu ke arah capingnya. 

Capingnya terpental ke atas, namun dalam waktu beberapa 

detik caping itu bagai mengenali tuannya bertengger lagi di 

kepalanya. 

"ilmu semacam itukah yang kau pelajari sekian tahun di 

Goa Terkutuk?" suara Caping Dewa Sakti penuh ejekan. 

Yang lain termasuk Pendekar Slebor menahan napas 

melihat sikap yang diperlihatkan oleh si kakek bongkok. 

Dan orang-orang yang sedang melongo itu semakin 

terlongoh-longoh dengan kening mengerut. Karena, tak 

melihat bagaimana cara Caping Dewa Sakti menghindar, 

tahu-tahu saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan dan 

telah berada di sebelah kiri sambil masih perdengarkan 

tawanya.

Masih setengah terkekeh mendadak saja Caping Dewa 

Sakti gerakkan kepalanya. Bagai anak panah yang 

dilepaskan dengan tarikan seluruh tenaga dalam, caping 

kusamnya melayang dan menderu hebat. 

Memapas arah potongan kepala Dewi Putih Hati Setan 

yang sedang menggebubu. Potongan kepala itu tiba-tiba 

melenting setengah lingkaran, lebih tinggi dari apungannya 

di udara tadi. Dan menderu lagi. Namun, Caping Dewa 

Sakti telah meluncur dengan jotosan ke muka. 

Des! 

Potongan kepala itu terpental dan mengeluarkan 

gerengan keras. 

"Kuundang kau ke Goa Terkutuk, Manusia Hina!!" 

Lalu.... 

Wusssssh! 

Potongan kepala aneh itu telah menghilang. Andika yang 

melompat mengejar, ditahan oleh Caping Dewa Sakti 

dengan satu gerakan tangan yang mengeluarkan angin 

dingin. Terheran-heran Andika berbalik dan menatap laki-

laki bongkok aneh itu. 

"Mengapa?" serunya langsung. "Tak seharusnya manusia 

keparat itu dibiarkan hidup lebih lama lagi." 

Caping Dewa Sakti tersenyum. “Dia hanya membalas 

dendam, dan dendam itu ditujukan kepadaku. Tak ada 

sangkut pautnya dengan kalian." 

Apa yang dikatakan Caping Dewa Sakti memang benar. 

Itu bertanda Caping Dewa Sakti tidak ingin yang lainnya 

terlibat dalam urusan dendam mengerikan. 


11


Mereka tiba di tempat yang agak terbuka. Di balik semak 

di hadapan mereka terdapat sebuah goa. Sejenak terasa 

kengerian yang lebih mendalam di hati Andika. Entah 

mengapa begitu matanya melihat kembali Goa Terkutuk, 

bulu kuduknya meremang. 

Kegelapan goa itu seolah pancarkan kebengisan dan 

kekejaman yang sangat luar biasa. Begitu mereka tiba, 

mendadak saja terdengar kesiur angin dahsyat bergulung-

gulung ke arah mereka, yang serabutan berlompatan 

menyelamatkan diri. Gumilang yang terlambat 

menghindar, terpelanting deras dan menabrak sebuah 

pohon. Lelaki berpakaian putih-putih itu pingsan saat itu 

juga. 

Sri Kasih merasa dadanya sesak, padahal ia terkena tak 

secara langsung, hanya terkena sambarannya saja. Andika 

merasakan tubuhnya menggigil. Ia alirkan tenaga dalamnya 

dengan cepat. Hal yang sama pun dialami oleh si Tua Naga 

Merah. Hanya Caping Dewa Sakti yang tampaknya tetap 

berdiri tegar. 

Kedua matanya yang masuk ke dalam menatap tak 

bergeming goa di depannya. 

"Setelah nyawamu kucabut, Manusia hina, yang lain pun 

akan segera menyusulmu!" terdengar suara penuh gelegar 

dahsyat itu. Habis suara itu, mendadak saja berdesing angin 

bak topan prahara ke arah Caping Dewa Sakti. Angin itu 

muncul bersamaan bergeraknya satu sosok tubuh dari 

dalam Goa Terkutuk.

Caping Dewa Sakti hanya geleng-gelengkan kepalanya. 

Kejap lain jotosannya sudah dilancarkan akan tetapi 

kelebatan sosok tubuh yang cepat itu justru 

mengejutkannya. Karena, sesuatu yang keluarkan sinar 

hitam berkelebat. 

Ctaaar! ! 

Menerbangkan kerikil dan membuat tempat itu semakin 

berdebu. 

Sesaat Caping Dewa Sakti mundur beberapa tindak. 

Pandangannya mulai dibaluri kemarahan. Namun, sebelum 

si kakek bongkok ini bertindak, Andika sudah 

mengemposkan tubuh sambil menggerakkan tangannya 

yang memegang kain bercorak catur. 

Ctaaar! 

Suara keras terdengar bersamaan dengan itu kain pusaka 

bercorak catur melilit sinar hitam yang bergerak-gerak yang 

keluar dari Pecut Sakti Bulu Babi yang dikibaskan oleh 

sosok tubuh jelita yang tak lain Dewi Putih Hati Setan. 

Dewi Putih Hati Setan mundur dua tombak. Tangannya 

dirasa kesemutan. Matanya hampir lompat keluar tak 

percaya dengan apa yang dialaminya. Pecut Sakti Bulu Babi 

yang dibanggakannya dapat dikalahkan oleh kain bercorak 

catur di tangan Pendekar Slebor. 

Dewi Putih Hati Setan yang geram karena keinginannya 

untuk segera membunuh Caping Dewa Sakti telah 

terhalang, segera putar kepala dan tatapan bengis pada 

Andika yang cuma nyengir saja. 

"Keparat!" suara itu terdengar keras sementara 

Pecut,Sakti Bulu Babi di tangannya semakin pancarkan 

sinar warna hitam. Pecut itu tak bertangkai pada hulunya.

Mengikat erat pada tangan Dewi Putih Hati Setan. Suara 

geramannya menyusul, "Kau akan mampus, Setan Muda!!" 

Tiba-tiba saja pecut itu menggebubu lagi dengan 

pancarkan sinar hitam menggidikkan. Andika yang 

memang sudah siap untuk menerjang segera bergerak 

dengan kecepatan laksana setan. Tangannya yang 

mengandung kekuatan penuh digerakkan. 

Bummm! 

Pecut itu terlilit oleh kain pusakanya dan ketika ia coba 

tarik, justru tubuhnya yang tersentak ke depan. 

"Monyet pincang! Bisa mampus aku kalau wanita jalang 

itu hantamkan pukulannya!" 

Masih dalam posisi tubuh dibawa oleh pecut yang 

pancarkan sinar hitam itu, Andika buat satu gerakan aneh. 

Ia justru tambah tenaganya sendiri hingga tubuhnya lebih 

cepat melesat ke arah Dewi Putih Hati Setan yang siap 

hantamkan pukulannya. Bersamaan dengan itu, Andika 

langsung lompat ke kanan dengan lepaskan kain bercorak 

catur yang di pegangnya. 

Wusss! 

"Setan alas!!" maki gadis cantik berhati kejam itu sambil 

buang tubuh karena lesatan kain bercorak catur yang melilit 

pada ujung pecutnya bagai meteor belaka. 

Keterkejutannya makin menjadi. Karena Andika sudah 

buat satu gerakan menyerang kembali. Tubuhnya meluncur 

deras! 

Wuutttt!! 

Dalam keadaan terjepit, Dewi Putih Hati Setan masih 

memperlihatkan kelasnya. Selagi ia melompat menghindar 

lesatan kain bercorak catur, ia gerakkan tangan kirinya

Wuuutt! 

Des! 

Pukulan Andika yang mengandung tenaga dalam tinggi 

dipapasi dengan cepat. Menyusul kibasan Pecut Sakti Bulu 

Babi ke arahnya, cepat. Keras menimbulkan angin maut. 

Sing! Sing! 

Bum! Bum! 

Bukan hanya Andika saja yang harus tunggang-langgang 

dibuatnya, yang lain pun segera berlompatan dan melihat 

tanah yang mereka pijak tadi sudah membentuk lobang 

dengan mengeluarkan asap. 

Saat itu, tiba-tiba saja si Tua Naga Merah yang masih 

terluka dalam berkelit dua kali hindari serangan yang 

mengerikan. Begitu merasa ada kesempatan, ia segera 

berdiri tegak. Kedua tangannya dikatupkan di dada dan 

ditepuknya tiga kali. 

Terlihatlah asap putih perlahan-lahan mengepul dan 

semakin lama semakin banyak. Ajian 'Asap Dewa' sudah 

dikeluarkannya. Dengan hebatnya, asap putih itu 

bergulung-gulung semakin tebal dan menutupi ruang 

serangan dari sinar hitam yang sulit untuk ditembus. 

Setelah berkali-kali melakukan, terdengar gerengan 

dahsyat, "Kau juga akan mati, Perempuan Peot!!" 

Dengan kalap Dewi Putih Hati Setan gerakan tangannya 

berkali-kali. Desingan sinar hitam itu semakin lama 

semakin banyak dan bertubi-tubi. Sebisanya si Tua Naga 

Merah mempertahankan ajian 'Asap Dewa'-nya. Perlahan-

lahan terlihat tubuhnya bergetar hebat dengan darah yang 

mengalir dari hidung dan mulut. 

Andika terperangah melihatnya.

."Kacau, nampaknya si Tua Naga Merah tidak akan 

mampu bertahan lebih lama lagi. Aku harus berbuat sesuatu 

kalau tak ingin keselamatan si Tua Naga Merah terancam." 

Berpikir seperti itu, Andika mencoba menerobos asap 

putih itu dan menderu ke arah Dewi Putih Hati Setan. 

Akan tetapi, justru tubuhnya yang digenjot cepat itu 

terpental ke belakang. Tak mampu terobos asap putih tebal 

milik si Tua Naga Merah. Seolah ada dinding yang tebalnya 

sepanjang lengan manusia dewasa yang menghalanginya. 

Begitu tubuhnya terlontar ke belakang, getaran tubuh si 

Tua Naga Merah semakin kuat. Darah yang mengalir dari 

hidung dan mulutnya semakin banyak. 

Tiba-tiba terdengar teriakannya yang setinggi langit. 

Bersamaan dengan itu tubuhnya terpental deras. 

"Aaakhhhh!!" 

Sri Kasih yang sudah cemas sejak tadi, dan harus 

menghindari serangan sinar hitam membabi buta, langsung 

bergerak dan menangkap tubuh gurunya. Namun 

akibatnya, justru ia yang terpental bersama dengan tubuh 

gurunya. 

Brak! 

Sri Kasih masih bisa mengendalikan keseimbangannya 

hingga meskipun terjatuh namun tidak terlalu deras. Tak 

pula dirasakan tubuh gurunya yang menindih yang 

membuat napasnya makin terasa sesak. Segera ia balikkan 

tubuh gurunya dengan tergesa dan hati cemas. 

Dilihatnya di bahu kanan gurunya sebuah lobang kecil 

yang mengalirkan darah dan mengepulkan asap. 

"Guru!" desisnya dan segera dialirkannya tenaga 

dalamnya untuk memberikan tambahan tenaga pada

gurunya yang sedetik kemudian jatuh pingsan. Rasa panik 

semakin muncul di hati Sri Kasih. Ia masih terus 

melakukan tindakan penyelamatan yang menurutnya tepat. 

Sementara itu, begitu tubuh si Tua Naga Merah 

terpental, seketika ajian 'Asap Dewa' yang dikerahkannya 

untuk menahan serangan Dewi Putih Hati Setan, lenyap. 

Dan ini memudahkan sinar hitam yang berasal dan Pecut 

Sakti Bulu Babi itu terus meluncur, menyerang membabi 

buta pada Andika. 

"Setan betul!!" makinya dan menghindar lagi dengan 

cepat. 

Sementara Andika berjumpalitan, Caping Dewa Sakti 

memperhatikan tak berkedip. "Pemuda berpakaian hijau 

pupus ini benar-benar keras kepala! Biar kulihat dulu, apa 

yang akan terjadi dengannya!" 

Sementara itu Dewi Putih Hati Setan sambil terus 

mempergencar serangannya pada Pendekar Slebor. "Kau 

telah menjelma menjadi monyet buduk, Pendekar Slebor!! 

Dan kau kakek bongkok keparat! Giliranmu akan tiba!" 

"Hal ini tidak boleh dibiarkan," pikir Andika masih 

menghindar. "Bila tidak segera dihentikan, tenagaku dan 

yang lainnya akan terkuras kayak monyet habis nandak! 

Aku harus memotong serangannya!" 

Memikir sampai di sana, mendadak saja kenekatannya 

muncul. Tiba-tiba Andika lentingkan tubuhnya ketika sinar 

hitam itu kembali mengarah kepadanya, dan tangannya 

dengan gerakan yang sangat cepat bergerak, melilit sekujur 

tubuhnya dengan kain pusaka warisan Ki Saptacakra. 

Dengan masih berputar di udara itu, tubuhnya membentuk 

satu pusaran dan menderu ke arah Dewi Putih Hati Setan 

yang cukup kaget melihat kenekatan Andika. Ia makin 

menambah tenaganya. Namun sinar hitam yang melesat ke

arah Andika bagai terpental kembali begitu mengenai 

tubuhnya. Ini dikarenakan pusaran tubuhnya yang sangat 

cepat dibantu dengan kesaktian kain bercorak catur 

miliknya. 

Suara keras menggelegar menyadari serangan sinar 

hitam itu tak berguna lagi terdengar, "Keparat! Kau harus 

mampus!!" 

Tiba-tiba saja terdengar suara berderak yang sangat 

keras. Dan bumi bergoyang seketika. Bahkan Andika yang 

masih berputar di udara itu tiba-tiba ambruk. Tubuhnya 

bagai tersedot oleh gaya gravitasi bumi. 

Segera ia berdiri. Dan kedua matanya terbuka, mulutnya 

menganga. Ia melihat Dewi Putih Hati Setan tengah 

pancarkan tenaga dalamnya dan memulai Ilmu baru yang 

diciptakannya! 

(Oodwkz-ray-novooO) 

Caping Dewa Sakti yang lihat pula akan keanehan itu, 

segera melenting di sisi Andika. Ia berkata pelan, 

"Menyingkirlah! Yang diinginkan hanyalah nyawaku! 

Selamatkan si Tua Naga Merah dan muridnya! Bawa pula 

tubuh Gumilang!" 

Andika putar kepalanya dan kerutkan kening. Ia sadar, 

dengan perkataan seperti itu, secara tidak langsung Caping 

Dewa Sakti memberitahukannya kalau lawan 

mengeluarkan ilmu yang sangat luar biasa. 

Tetapi bagi Andika, ia tak akan mundur bila belum 

melihat kezaliman di depan matanya terhenti. Dengan 

keras kepala ia menggeleng, "Aku akan tetap di sini. Kita 

coba untuk hancurkan manusia itu!" 

“Terlalu berbahaya! Cara ia pergunakan Pecut Sakti Bulu 

Babi-nya, lain dengan puluhan tahun lalu. Kali ini

tenaganya lebih tinggi dan aku yakin, ilmunya makin 

bertambah. Menyingkir dari sini Andika." 

Andika tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. Ia 

justru berkata-kata, "Menurut Rawangi, kelemahannya ada 

pada gumpalan darah di tubuhnya. Sialnya, kita akan 

kesulitan menentukan di mana letak gumpalan darah itu!" 

"Siapa, Rawangi?" 

"Wah! Terlalu panjang menceritakannya!" 

"Biarpun kau mencarinya, kau akan terlambat 

menemukannya. Karena, tubuhmu sudah hancur!" 

terdengar suara menggelegar yang sangat dahsyat. Kaki 

kanan Dewi Putih Hati Setan melangkah. 

Bum! 

Andika merasa tubuhnya goyang, begitu pula dengan 

Caping Dewa Sakti. Untungnya mereka memiliki tenaga 

dalam yang tinggi. Hingga keseimbangannya masih terjaga. 

Sementara itu, Sri Kasih bergetar dadanya. 

"Astaga! Apakah ada gempa bumi?" desisnya sambil 

berpegang pada sebatang pohon yang daun-daunnya 

berguguran. Ia melihat tubuh gurunya yang pingsan 

terjingkat sejenak. Mendadak ia teringat akan Gumilang. 

"Gila, di mana dia sekarang?" 

Segera Sri Kasih berkelebat dan begitu menemukan 

Gumilang yang pingsan segera dibawanya ke tempat di 

mana gurunya pingsan pula. 

Di tempat yang agak terbuka, Andika mendesis, "Luar 

biasa! Seumur hidupku aku baru melihat kehebatan tenaga 

dalam seperti itu!" 

"Dan kau akan merasakan kedahsyatannya! Bersiaplah 

Andika!"

Andika cuma mengangguk-anggukkannya. Ia merasa 

bulu kuduknya meremang dan tubuhnya menjadi dingin. 

"Benar-benar sinting! Bagaimana caranya menghentikan 

manusia keparat itu?" desisnya dengan kepala berpendar 

pusing. "Biar bagaimanapun juga, aku harus menemukan 

gumpalan darah yang ada pada tubuhnya!" 

Dan mendadak saja ia bersama Caping Dewa Sakti, 

bergulingan hindari satu serangan yang benar-benar 

mencengangkan. Karena, tubuh Dewi Putih Hati Setan 

sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya menimbulkan 

gemuruh yang sangat dahsyat sekali. Saat itu benar-benar 

terasa bagai kiamat. Belum lagi ketika kedua kakinya 

melangkah dan memijak tanah. Andika sampai terpental ke 

atas sepuluh hasta! 

"Gila! Kekuatan apa yang sebenarnya dimiliki oleh 

wanita itu?" makinya sambil mengerahkan ilmu 

meringankan tubuhnya agar tidak terjatuh. Namun begitu 

kedua kakinya hinggap di tanah, tiba-tiba saja dengan 

bengis Dewi Putih Bati Setan sudah melesat lagi ke 

arahnya. 

Wusss! 

Andika cepat merebahkan tubuhnya di tanah. Namun 

tak mungkin punggungnya terserempet angin yang kuat. 

Perih sekali dirasakannya. Bersamaan dengan luputnya 

serangan itu, datang lagi satu serangan melalui injakan kaki 

Dewi Pulih Hati Setan yang bagai bertambah ribuan kali 

dan mampu mematahkan seluruh tulang Pendekar Slebor 

dalam sekali injak. 

Segera Andika bergulingan cepat kalau tidak ingin 

ajalnya segera tiba. 

Bummm!

Suara dentuman keras terdengar begitu kaki gadis kejam 

itu menginjak tanah di mana ia rebah tadi. 

Kekuatan injakannya itu membuat Andika terpental ke 

atas dan menukik ambruk ke tanah. Sakitnya sudah tak 

ketulungan lagi. Bahkan Andika merasa sudah tak sanggup 

lagi untuk bangkit. 

Samar matanya melihat bagaimana Dewi Putih Hati 

Setan sedang mencecar Caping Dewa Sakti yang 

menghindar dan kesulitan untuk membalas. Karena setiap 

kali ia menghindar dan hinggap di tanah, getaran dahsyat 

yang mampu membuat aliran darahnya kacau 

dirasakannya. 

"Seluruh dosa-dosamu akan kau tebus hari ini, Manusia 

Keparat!!" suara menggelegar itu terdengar bersamaan 

dengan tangan yang bergerak menghantam. 

Caping Dewa Sakti mencoba bergulingan di saat 

bergulingan ia hantamkan kakinya ke kaki Dewi Putih Hati 

Setan. 

Des! 

Tubuh Dewi Putih Hati Setan terhuyung sesaat. 

Wajahnya terlihat agak pias. Namun, perempuan sesat yang 

menyimpan dendam setinggi langit, bergerak kembali 

dengan hebatnya. 

Caping Dewa Sakti menarik napas pendek. Kejap 

berikutnya dia menggeser tubuhnya ke kanan, bersamaan 

dengan itu tongkatnya pun digerakkan. 

Wuutt! ! 

Gebrakan Dewi Putih Hati Setan tertahan beberapa saat. 

Kepiasan yang dibaluri kemurkaan tampak di wajahnya. 

Lalu mendadak saja dia menggereng keras, "Kau memang

berilmu tinggi! Tetapi cita-citaku adalah untuk menuntut 

balas semua! Bersiaplah, Kakek Keparat!" 

Caping Dewa Sakti terdiam sesaat. Belum lagi dia 

menentukan jalan pikirannya, Dewi Putih Hati Setan sudah 

keluarkan suara kembali. 

"Inilah ilmu terakhir yang kupelajari dari Kitab Pusaka 

Rembulan Mambang! 'Raksasa Memetik Rembulan'!"


12


Caping Dewa Sakti yang berdiri tegak, membatin resah. 

"Dendam rupanya telah membuat perempuan ini menjelma 

menjadi iblis! Rasanya, terpaksa aku harus menurunkan 

tangan juga!" 

Tetapi sebelum si kakek bongkok melakukannya, 

mendadak saja satu sosok tubuh berkelebat dengan cepat, 

melenting setengah lingkaran melewati kepala Dewi Putih 

Hati Setan. Andika yang masih menahan sakit telah 

melakukan tindakan yang memerlukan keberanian luar 

biasa. Saat ia berada tepat di kepala Dewi Putih Hati Setan 

yang terkesiap kaget, tangannya yang sudah terangkum 

ajian 'Guntur Selaksa' menjotos kepala itu. 

Des! 

Dewi Putih Hati Setan keluarkan suara erangan yang 

luar biasa. Tubuhnya sempoyongan. Andika yang sudah 

hinggap di tanah memperhatikan dengan seksama. 

"Gila, kalau sejak tadi tak satu serangan pun yang 

mampu membuatnya bergetar seperti itu, kali ini bahkan 

tubuhnya sempoyongan," desisnya dan otaknya yang cerdik

segera tahu apa kelemahan yang dimiliki oleh Dewi Putih 

Hati Setan. "Kepalanya! Ya, kepalanyalah kelemahannya!! 

Pasti gumpalan darah yang dimaksud oleh Rawangi berada 

di dalam kepalanya!" 

Andika berkelit dengan lincah ketika dengan gerengan 

setinggi langit yang getarkan jantung Dewi Putih Hati Setan 

menderu dengan amukan dahsyat. 

Andika cepat berkelit yang dilanjutkan dengan lompatan 

yang cukup tinggi dan kali ini kaki kanannya menendang 

kepala Dewi Putih Hati Setan. 

Des! 

Tangan Dewi Putih Hati Setan masih sempat menahan 

serangannya. Meskipun kakinya terasa remuk, Andika tak 

mau hentikan serangan. Bersamaan kakinya terhantam, 

masih berada di udara ia putar tubuhnya. Tangannya 

dikibaskan kembali. 

Des! 

"Keppaarrraaattt!!" suara keras itu kali ini terdengar 

bagai suara jauh dari lobang sumur. Tubuh Dewi Putih Hati 

Setan semakin bergetar hebat. Dari hidungnya mengalir 

darah segar. 

Caping Dewa Sakti yang melihat hal itu, mendesah 

pendek, "Tindakan pemuda dari Lembah Kutukan ini 

memang tepat! Terpaksa semua memang harus dilakukan!" 

Lalu dilihatnya Pendekar Slebor menghantamkan 

serangannya ke kepala Dewi Putih Hati Setan. Yang makin 

lama makin bergetar hebat dengan erangan dahsyat 

mengerikan. 

Menyusul satu serangan yang dilakukan Andika melalui 

kain pusaka bercorak catur yang dialiri dengan ajian 

'Guntur Selaksa'. Bukan hanya membuat Dewi Putih Hati

Setan sempoyongan, bahkan ambruk dengan suara 

berdebam keras. 

"Injak kepalanya, Andika!!" seru Caping Dewa Sakti 

yang baru menyadari kalau kepalalah kelemahan dari 

wanita kejam itu. 

Tanpa diperintah pun Andika memang akan melakukan 

tindakan itu. Dengan lincahnya kedua kakinya bagai 

melompat jangkit menginjak kepala Dewi Putih Hati Setan. 

Suara berderak terdengar bersamaan dengan lolongan 

yang menggetarkan sukma. Akan tetapi, yang dialami oleh 

Andika pun tak kalah mengerikannya. 

Tangan kiri Dewi Putih Hati Setan masih sempat 

tangkap sebelah kakinya dan bagai sebuah kerikil tubuh 

Andika dilontarkan jauh beberapa tombak. Dan berhenti 

dengan tulang bagai patah setelah menabrak sebuah pohon. 

Namun kekeraskepalaan Andika memaksanya membuat ia 

tetap berdiri dan siap menyerang kembali. . 

Akan tetapi apa yang dilihatnya kemudian membuatnya 

terbelalak. Begitu pula dengan Caping Dewa Sakti yang 

telah siap untuk membantu Andika. 

Keduanya melihat tubuh Dewi Putih Hati Setan bergetar 

sangat dahsyat dan terdengarlah ledakan yang sangat kuat. 

Tubuhnya pecah dan berpentalan bagai meteor! 

Andika cepat merebahkan tubuhnya. Sementara Caping 

Dewa Sakti masih berdiri tegak. Pecahan daging dan tulang 

yang meluncur ke arahnya tertahan. Sementara sebagian 

menghajar pepohonan yang kembali tumbang berdebam. . 

Setelah beberapa saat, hujan pecahan daging, dan tulang 

yang berasal dari tubuh Dewi Putih Hati Setan mereda. 

Sebagai gantinya, keduanya melihat sosok transparan

penuh amarah dan darah yang mengalir dari mulutnya 

menyeringai. 

"Dewi Putih Hati Setan!" desis Caping Dewa Sakti 

dengan suara berat. Sosok transparan itu perlihatkan wajah 

tua penuh kerut merut dan Caping Dewa Sakti meyakinkan 

diri kalau sosok transparan itulah sesungguhnya wajah dari 

Dewi Putih Hati Setan yang sudah menua. 

"Bila sekarang aku gagal mencabut nyawamu, Orang 

Bongkok, lain kesempatan kau pasti kudapatkan! Dan kau 

Pendekar Slebor, kau telah menorehkan dendamku 

padamu! Kau pun tak akan luput dari sasaran kematian!" 

Diiringi dengan tawa yang menggema keras, sosok 

transparan yang merupakan arwah penasaran dari Dewi 

Putih Hati Setan perlahan-lahan lenyap dari pandangan. 

Tinggal keduanya yang menghela napas panjang. 

(Oodwkz-ray-novooO) 

"Rupanya dendamnya padaku akan semakin panjang, 

entah kapan akan selesai...," desis Caping Dewa Sakti 

dengan kepala tertunduk. 

Andika tak segera menjawab. Ia masih merasa aneh 

dengan semua yang dihadapinya ini. Tiba-tiba didengarnya 

suara dari belakang, "Andika! Di manakah Dewi Putih Hati 

Setan?" 

Andika menoleh dan melihat Sri Kasih dan si Tua Naga 

Merah yang sudah pulih dari pingsannya mendekat. Ia 

hanya menganggukkan kepalanya. Perasaannya masih tak 

menentu. Pertama, bingung sekaligus takjub dengan 

kesaktian Dewi Putih Hati Setan. Kedua, saat ajalnya tiba 

pun wanita itu berubah menjadi arwah penasaran yang 

masih mendendam pada Caping Dewa Sakti.

Si Tua Naga Merah mendesah pendek, "Maafkan aku... 

karena tak kuasa membantu kalian." 

"Sudahlah, Nek... toh semuanya sudah berakhir," kata 

Sri Kasih. "Apakah kau masih menginginkan Pecut Sakti 

Bulu Babi untukku, Nek?" 

Si Tua Naga Merah gelengkan kepalanya. Matanya lekat 

menatap pada Pecut Sakti Bulu Babi yang tergeletak di 

tanah. 

Sementara itu Andika melangkah perlahan seolah tak 

menyadari ada mereka di sana. Sri Kasih hendak 

memanggil, tetapi Caping Dewa Sakti melarangnya, 

"Biarkan pemuda itu berlalu. Karena, dia masih 

dipusingkan dengan apa yang terjadi barusan. 

"Tetapi, Kek..." 

"Sri Kasih," potong si Tua Naga Merah. "Bila kau 

memang mencintainya, kau kuizinkan untuk 

mengikutinya." 

Kali ini terlihat Sri Kasih menjadi serba salah. Ia 

menunduk dengan wajah memerah. Lalu desisnya malu, 

"Nenek...." 

Diperhatikannya sosok pemuda yang mulai dicintainya 

itu melangkah. Ah, mengapa ia tak sempat lagi bercakap-

cakap dengan Andika? Akankah ia bertemu kembali? Sri 

Kasih semakin menundukkan kepalanya. 

Tiba-tiba kepalanya terangkat ketika mendengar suara 

Pendekar Slebor, "Sialan! Aku kan belum sempat mencium 

Sri Kasih sebagai ucapan selamat berpisah!!" 

"Memalukan!!" justru terdengar desisan Sri Kasih 

bernada gembira.

Yang lainnya tertawa. Seperti hendak, melakukan apa 

yang dikatakannya, Andika berlari ke arah Sri Kasih. Gadis 

itu tertawa dan menghindar. 

"Eh, memaksaku main kucing-kucingan ya? Awas kau!" 

seru Andika sambil mengejar. 

Si Tua Naga Merah dan Caping Dewa Sakti tertawa. 

Membiarkan Pendekar Slebor dan Sri Kasih dalam 

urusannya. 

Setelah itu, Caping Dewa Sakti melangkah untuk 

mengambil Pecut Sakti Bulu Babi yang tergeletak. Namun 

alangkah terkejutnya laki-laki bangkok itu ketika ia pegang 

pecut itu, telah berubah menjadi asap. 

"Gila!" desisnya. 

Si Tua Naga Merah pun memperhatikan dengan kening 

berkerut. Ia mendesis, "Aku yakin.... Kitab Pusaka 

Rembulan Mambang pun lenyap begitu saja bersamaan 

matinya Dewi Putih Hati Setan....” 

Keduanya terdiam, lalu memutuskan untuk menemui Gumilang. 


                          SELESAI



















Share:

Blog Archive