PENDEKAR SLEBOR GOA TERKUTUK
Serial Pendekar Slebor
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi. buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Serial Pendekar Slebor
dalam episode :
Goa Terkutuk
128 hal.
1
Pernahkah sekali waktu manusia merasakan alam
terlelap dalam tidurnya. Hanya, dalam tidur tenanglah
umat manusia merasakan hal sedemikian rupa. Alam tak
pernah berhenti bergerak dalam sekejap mata juga. Alam
datang penuh pesona, tetapi juga penuh kengerian bencana.
Seperti yang terjadi di tubuh Gunung Larangan. Gunung
menjulang tinggi dengan pepohonan lebat dihantam hujan
deras dan kabut tebal dari subuh hingga pagi hari ini.
Suaranya menderu-deru. Angin besar menegakkan bulu
roma, mengerikan. Petir menggelegar hendak
menggoyangkan Gunung Larangan.
Dengan udara dingin membeku membuat beku jalan
darah. Tak seorang pun berani mendatangi Gunung
Larangan yang terkenal angker. Selain itu, jalan untuk
mencapai kaki gunung saja sudah sedemikian sulit karena
didahului hutan lebat yang tak terjamah. Apalagi untuk
mencapai puncak yang begitu terjal dengan batu-batu besar
yang sewaktu-waktu dapat terguling.
Lolongan anjing tak mampu menembus gemuruh hujan.
Entah yang ke berapa puluh kali kilat menyambar dan
menerangi seluruh tempat mengerikan itu sesaat selebihnya
gelap kembali.
Di pagi yang mengerikan dengan kabut tebal dan alam
gulita, ketika kilat menerangi tempat itu beberapa saat,
terlihatlah sebuah pemandangan yang benar-benar
membuat kening berkerut,
Di dinding Gunung Larangan sebelah barat, terlihat
sebuah goa yang terbuka karena belukar yang terkena basah
hujan tersibak. Lalu mengatup kembali didorong oleh angin
keras.
Plaass!!
Kilat kembali menyambar. Bila mata dipicingkan
seksama, goa itu seakan mengundang orang masuk ke
dalamnya, dengan sesekali semak di depannya yang setinggi
dada manusia dewasa terbuka.
Lebih aneh lagi karena di tempat yang tak pernah
didatangi orang itu, terlihat tiga sosok tubuh yang telah
basah kuyup. Ketika kilat menerangi kembali tempat itu,
terlihat tiga laki-laki berbaju hitam dan ikat pinggang
kuning, sedang merayap melewati tanjakan hutan terakhir.
Dan kini ketiga lelaki berambut gondrong dengan ikat
kepala hitam telah tiba di depan goa dalam jarak dua
tombak. Mereka tak hiraukan betapa air yang meluncur
bertubi-tubi dari langit itu bagai menusuk seluruh kulit.
Dalam hujan yang lebat dan angin dingin menusuk,
ketiga lelaki itu bagaikan terpana menatap semak belukar
yang sesekali tersibak oleh tiupan angin dan
memperlihatkan goa yang berada di belakangnya. Rasa
penat dan muak karena hujan yang bertambah deras dan
tak berhenti juga, hilang begitu saja.
Bila melihat keberadaan mereka di sini dalam cuaca
yang, sangat buruk namun mereka seperti tak kekurangan
suatu apa, bisa dipercaya, ketiganya orang-orang rimba
persilatan yang memiliki cukup ilmu.
"Tak kusangka, kalau berita tentang Goa Terkutuk
memang benar," kata yang berkumis lebat. Suaranya keras,
mencoba mengalahkan gemuruh angin dan hujan.
"Kau benar, Singaranu. Menurut kabar yang kita dengar,
di Goa Terkutuk-lah Dewi Putih Hati Setan menghabiskan
sisa hidupnya. Aku yakin, wanita yang puluhan tahun lalu
pernah menggemparkan dunia persilatan itu sekarang telah
mampus. Inilah kesempatan kita untuk mendapatkan dua
benda pusaka miliknya. Kitab Pusaka Rembulan Mambang
dan Pecut Sakti Bulu Babi!" sahut yang berjenggot lebat
tanpa memalingkan wajahnya dari goa yang tersibak di
depannya. Ia bernama Kuntara.
"Dan aku yakin, tak seorang pun yang pernah berhasil
menginjak Gunung Larangan ini, apalagi menemukan Goa
Terkutuk!" kata yang bercambang lebat dengan berteriak
pula. Lalu orang yang bernama Sampurno itu terbahak-
bahak keras. "Kesempatan ini tak boleh disia-siakan!"
Singaranu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan
wajah puas. Lalu ia berkata, "Sesuai dengan kesepakatan di
antara kita, Pecut Sakti Bulu Babi akan menjadi milik kita
bersama. Kedahsyatan pecut itu tak ada tandingannya.
Hmmm, rencana yang telah bertahun-tahun kita susun
untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, harta, takhta
dan wanita, nampaknya sebentar lagi akan terwujud. Yang
terpenting lagi, kita akan mendapatkan ilmu ampuh yang
tiada tanding dari Kitab Pusaka Rembulan Mambang. Kita
mulai!"
Kala-kala Singaranu terakhir itu merupakan komando.
Secara serempak ketiganya loloskan ikat pinggang berwarna
hitam dari pinggang masing-masing. Lalu segera
menyimpulkannya menjadi satu dan kedua ujungnya
dipegang oleh Sampurna dan Singaranu. Sementara
Kuntara memegang bagian tengah. Sambil mengerjakan
semua itu, pandangan mereka tak putus dari goa di balik
semak belukar yang sesekali tampak karena semak yang
menutupi goa itu tersibak tertiup angin keras.
Ketiga lelaki yang tak mempedulikan betapa lebat hujan
dan betapa dingin cuaca, perlahan-lahan mulai melangkah
mendekati goa yang mereka sebut Goa Terkutuk. Mereka
siap untuk masuk. Dalam pikiran mereka, sesudah
menempuh perjalanan jauh dan sangat sukar, semuanya
akan terbalas begitu mereka mendapatkan dua benda
pusaka milik Dewi Putih Hati Setan yang tersimpan
puluhan tahun di Goa Terkutuk. Namun mendadak mereka
tercekat ketika terdengar suara yang sangat keras bagaikan
halilintar menyalak.
"Siapa yang mengganggu tapaku, mereka akan mati!"
Serentak ketiganya celingukan dengan kening berkerut.
Tak sadar wajah mereka yang semula berseri tampakkan
wajah cukup tegang. Setelah terdiam beberapa saat dan
suara itu tak terdengar lagi, Singaranu yang panasan
membentak, "Gila! Apakah Dewi Putih Hati Setan itu
masih hidup? Mustahil! Wanita itu pasti sudah lama
menjadi santapan cacing tanah! Kita tetap untuk menerobos
masuk dan mendapatkan dua benda sakti tiada tanding!"
“Siapa yang mengganggu tapaku, ia akan mati!"
Suara menggemuruh menebar kembali. Mencekam.
Tanpa sadar ketiganya saling pandang dengan perasaan tak
karuan. Diam-diam di hati masing-masing cukup ciut
memikirkan kemungkinan Dewi Putih Hati Setan masih
hidup. Namun mereka adalah orang-orang yang nekat dan
dibuai ambisi. Ketiganya tajamkan pendengaran, namun
mereka tak menemukan sumber suara itu, karena suaranya
bagai menggema di empat penjuru.
"Setan gentayangan laknat! Tampang busukmu tak perlu
kau sembunyikan!!" bentak Singaranu yang jadi jengkel
karena ketegangan itu cukup melanda hatinya. "Akan
kucacah dan kulemparkan kau ke neraka!!"
Tak ada sahutan apa-apa. Sampurna yang sejak tadi
memperhatikan goa di hadapannya, berbisik pelan,
"Apakah tidak mungkin kalau suara itu berasal dari dalam
goa itu? Dan berarti.... Dewi Putih Hati Setan memang
masih hidup seperti katamu tadi, Singaranu?"
“Jangan berpikir bodoh! Tak mungkin wanita itu masih
hidup!" sentak Singaranu kasar, sedikit jengkel mendengar
kata-kata Sampurna. Dan lebih jengkel lagi mengingat
dialah yang pertama kali melontarkan dugaan itu.
"Singaranu teras terang aku jadi cukup ngeri memikirkan
kata-kata Sampurno,” kata Sampurno," kata Kuntara
sambil pandangi Singaranu yang mendengus melecehkan.
"Orang-orang sundal yang bodoh! Apakah kalian akan
sia-siakan kesempatan yang sudah di depan hanya karena
pikiran tolol itu? Peduli setan dengan ancaman tadi! Kitab
Pusaka Rembulan Mambang dan Pecut Sakti Bulu Babi
harus kita miliki!" sembur Singaranu dengan pipi
menggembor. Lalu dengan mata yang bagai mau melompat
karena kejengkelan yang sudah tiba di ubun-ubun, ia
membentak kembali, "Apakah kalian akan mundur padahal
apa yang kita inginkan sudah ada di depan mata, hah?
Bodoh! Kehidupan yang kita dambakan selama ini, bisa kita
dapatkan melalui dua benda pusaka yang ada di dalam Goa
Terkutuk itu! Karena, semua orang rimba persilatan akan
takut pada kita!! Kita mulai sekarang!!"
Lelaki yang penuh ambisi itu segera mengalirkan tenaga
dalamnya pada ikat pinggang yang telah dijadikan satu.
Hawa panas segera dirasakan oleh Kunlara dan Sampurno
yang segera melakukan hal yang sama. Ikat pinggang yang
tadi kelihatan lemas itu, sekarang tiba-tiba menjelma
bagaikan sebuah tombak yang terbuat dari baja.
"Kita bersiap untuk masuk!" kata Singaranu lagi.
"Alirkan seluruh tenaga dalam! Heaaaa!!"
Diiringi dengan teriakan sambung menyambung yang
keras, ketiganya berkelebat ke arah Goa Terkutuk, tepat
ketika semak di depannya tersibak.
Namun ketika ketiga laki-laki nekat itu tiba dalam jarak
satu tombak dari goa, tubuh mereka tiba-tiba mencelat ke
belakang, bagai ada tenaga raksasa menghantam tubuh
mereka. Bergulingan hingga lima belas tombak bagaikan
sebuah batu yang lemparkan. Dan muntah darah dengan
tubuh yang terasa sakit. Seluruh tulang penyangga raga
mereka seakan patah.
Singaranu yang pertama kali bertindak cepat. Segera
dialirkan tenaga dalamnya lagi dan menggeram dengan
wajah muak. Kedua matanya turun ke bawah dengan pipi
menggembor.
"Keparat! Siapa yang melakukan serangan setan itu?!"
makinya penuh kebencian.
Kuntara yang tengah mengalirkan hawa murninya untuk
menghilangkan rasa sakit, menjawab setelah muntah darah
kembali, suaranya tak bisa sembunyikan nyerinya, "Aku
khawatir Dewi Putih Hati Setan masih hidup dan ia tak
menginginkan kita berada di sini." Semangat yang ada
dalam dadanya tiba-tiba saja luntur, namun ia sudah tentu
tak berani mengatakannya pada Singaranu yang seketika
melotot gusar padanya.
"Kita tidak usah jeri!" sentak Singaranu satelah bisa
berdiri. Sesaat tubuhnya limbung namun segera dikuasainya
kembali. Dari ketiganya, memang dialah yang paling
berambisi untuk mendapatkan dua benda pusaka di dalam
Goa Terkutuk. Dia pula yang sebelumnya membujuk
Kuntara dan Sampurno agar mengikutinya menuju Goa
Terkutuk. Sebagai sahabat, keduanya menyetujui ajakan
itu. Terlebih-lebih setelah diiming-imingi dengan harapan
untuk menguasai rimba pcrsilatan. Paling tidak
mendapatkan kedudukan, harta dan wanita secara mudah.
Pada dasarnya, Kuntara dan Sampurno memang orang-
orang yang serakah, Namun, mereka sendiri tidak
menyangka kalau begitu sulit untuk mendapatkan dua
benda pusaka itu, Apalagi sekarang, mengingat
kemungkinan Dewi Putih Hati Setan yang pernah mereka
dengar pula tentang sepak terjang telengasnya puluhan
tahun yang lalu, masih hidup.
"Singaranu.... Dewi Putih Hati Setan telah memberi
peringatan pada kita. Lebih baik, kita batalkan rencana ini,"
desis Sampurno yang menderita sakit yang sama.
"Bodoh! Kalian masih meyakinkan diri kalau Dewi Pulih
Hati Setan masih hidup! Keparat! Aku ingin tahu hal itu!
Kerahkan tenaga 'Sekati Gajah Mati' untuk menahan bobol
tubuh kita agar tidak termakan oleh serangan gelap sialan
itu! Hayo, jangan loyo seperti itu! Kita kembali terobos ke
dalam!"
Kuntara dan Sampurno saling pandang. Meskipun
mereka tegang dengan aliran darah yang kacau, namun
mereka pun membenarkan kala-kala Singaranu yang
mengatakan kalau mereka telah menyia-nyiakan
kesempatan. Keberanian itu muncul kembali. Memang
percuma menempuh jarak berminggu-minggu untuk tiba di
Gunung Larangan kalau mereka mundur perlahan-lahan
hanya gara-gara ancaman dari dalam goa itu.
Lalu ketiganya secara bersamaan mengalirkan ajian
‘Sekati Gajah Mati'. Sebuah ajian. dahsyat, mampu
membuat bobot tubuh bertambah ribuan kati. Namun bagi
pemiliknya, seakan tak ada tambahan bobot, karena mereka
bisa bergerak dengan mudah.
Sekarang, ketiganya tiba kembali dalam jarak tiga
tombak di hadapan Goa Terkutuk. Tak berkesip menatap ke
depan. Air makin banyak ditumpahkan dari langit. Dingin
makin menusuk tulang paling dalam. Singaranu
menganggukkan kepalanya pada kedua temannya, tanda
bersiap.
"Heaaaa!!" teriakan menggelegar terdengar bersamaan.
Lentingan tubuh mereka yang bertambah bobot ribuan kati,
getarkan tempat itu. Namun lagi-lagi sebuah tenaga raksasa
yang mengeluarkan gemuruh angin, menghantam tubuh
mereka dengan keras, hingga ketiganya terpental beberapa
tombak ke belakang.
Ajian 'Sekati Gajah Mati' yang, dipergunakan tak
membawa banyak arti. Karena kali ini mereka harus
muntah darah berkali-kali. Hanya sesaat ketiga lelaki
berbaju hitam itu menahan sakit, karena selebihnya nyawa
sudah lepas dan badan diiringi jeritan menyayat
mengalahkan gemuruh hujan.
Keanehan itu berlanjut, karena bagai ada tangan-tangan
gaib mayat ketiganya terangkat, melayang-layang dan jatuh
seperti nangka busuk di depan Goa Terkutuk.
Satu detik kemudian, meluncur dari dalam goa tiga buah
sinar hitam. bergulung-gulung, menyelingkupi mayat
ketiganya bagaikan puluhan tawon yang mengeluarkan
dengungan kematian. Dan tiba-tiba saja bagaikan seutas tali
sinar-sinar hitam itu mencengkeram erat mayat tiga laki-laki
malang, memutar-mutar, hingga ketiga mayat itu tak
ubahnya bagai sebuah bandul yang lengah dimainkan.
Bummm!!
Sebuah ledakan terdengar keras. Halilintar seolah
berhenti menyalak. Kilat seolah terdiam. Mayat ketiga
lelaki itu telah pecah menjadi serpihan.
Sinar hitam tadi melesat kembali ke dalam goa. Seolah
tak pernah ada kejadian yang mengerikan, semuanya
kembali sunyi.
Tinggal hujan lebat, angin dingin, halilintar menyalak,
dan kilat sambar menyambar. Juga bentakan ingin yang
menggema dari dalam goa, "Sudah kuperingatkan pada
kalian, tetapi kalian tetap membangkang! Hhh! Caping
Dewa Sakti, aku masih menunggu kedatanganmu!"
Selebihnya, diam.
2
"Kerbau bau! Orang gundul! Kucing mabuk! Kapan
hujan ini akan berhenti?" makian itu terdengar dari sebuah
gubuk yang terdapat di hutan belantara tak jauh dari
Gunung Larangan.
Pemuda yang memaki itu menekuk kedua lututnya di
balai-balai usang yang terdapat di gubuk itu. Tubuhnya
sedikit menggigil karena menahan dingin padahal ia sudah
alirkan tenaga dalamnya. Wajah tampan dengan rambut
panjang acak-acakan berkerut-kerut karena jengkel.
Sungguh jelek jadinya!
"Apa harus seumur hidupku berada di sini terus? Astaga!
Mau jadi apa aku kalau sudah besar?" Kalau barusan ia
memaki, sekarang terdengar tawanya yang merasa lucu
dengan ucapannya sendiri, "Apa sekarang aku belum besar
juga? Padahal pipisku sudah lempeng! Edan!"
Pemuda berbaju hijau pupus itu masih menggerutu
panjang pendek. Bibirnya membentuk kerucut. Sepasang
alis hitamnya bergerak-gerak turun naik.
Namun tiba-tiba saja kepalanya menegak. Wajahnya
tegang, dan bagai dibetot setan ia memandang keluar dari
gubuk itu, menerobos hujan yang turun dengan deras.
Duaaarrr! !
Gubuk itu hancur berantakan tersambar halilintar. Si
pemuda yang tadi bergulingan kini perlahan-lahan tegak
kembali sambil mengelus dadanya. Tak pedulikan hujan
yang sudah membasahi seluruh tubuhnya.
"Konyol! Mengejutkanku saja!!" gerutu si pemuda
panjang pendek. "Memang aku tidak mampus kalau
tersambar petir atau halilintar. Tetapi, kan sakitnya tetap
sama!! Di mana lagi aku bisa berteduh sekarang? Kasihan
juga para penebang kayu karena gara-gara aku mereka
sudah tentu tak punya tempat beristirahat. Brengsek!
Brengsek!"
Pemuda berbaju hijau pupus dengan sehelai kain
bercorak catur yang tersampir di lehernya, menoleh ke sana
kemari seperti orang linglung.
"Busyet! Apa aku harus terus membiarkan sekujur
tubuhku terus menerus basah kuyup seperti ini?" makinya
tak karuan. Saat itulah didengarnya suara berdentuman,
keras, hampir-hampir mengalahkan gemuruh hujan dan
salakan halilintar. Kepala si pemuda menoleh ke satu
tempat "Sinting! Aku yakin yang menggelegar itu bukanlah
halilintar! Tetapi apa?" desisnya tak mengerti, "Hmmm,
sekarang sudah basah kuyup! Tempat berteduh pun tak ada,
sebaiknya aku mencari saja dari mana asal suara
menggelegar barusan tadi! Pepohonan yang berada di
dekatku seakan bergetar, dedaunan luruh begitu saja! Gila!
Kekuatan apa itu? Apakah alam yang sedang marah?"
Setelah mempertimbangkannya, pemuda berbaju hijau
pupus yang tak lain adalah Andika alias Pendekar Slebor,
segera berkelebat cepat meninggalkan tempat itu.
Diterobosnya curahan air laksana ribuan jarum menusuk
sekujur tubuhnya. Pepohonan lebat dan jalan terhalang
kabut, tak mengganggu kelincahan dan mata tajamnya.
Namun licinnya jalannya cukup membuatnya berhati-hati.
Selang beberapa lama, Pendekar Slebor tiba di lereng
Gunung Larangan. Pandangannya tak mampu menembus
betapa pekatnya kabut. Dicoba untuk mengagumi
keindahan yang samar terpancar, namun kepalanya jadi
menggeleng-geleng sendiri.
"Busyet! Kenapa sih aku tahu-tahu berada di sini?"
makinya pada diri sendiri. "Jangan-jangan, suara yang
kudengar tadi suara setan yang sedang berpesta!”
Mendadak didengarnya suara yang sangat keras sekali.
Membuat pemuda urakan dari Lembah Kutukan itu
mendengus karena jengkel sendiri.
"Monyet buduk! Siapa yang mengeluarkan kata-kata
yang mengalahkan gegap gempita, hujan dan halilintar!
Hhhh! Asal suara itu dari sisi kiriku! Aku jadi penasaran,
apa yang sebenarnya terjadi?”
Lincah Andika berkelebat, melompati batu-batu besar
dan menghindari halilintar yang berkali-kali menyambar.
Beberapa saat kemudian ia tiba di sebuah tempat yang agak
lapang. Suasana di situ sangat gelap sekali. Pendekar Slebor
mencoba memicingkan matanya, namun gagal menembus
kegelapan.
"Heran! Kenapa kilat tidak menerangi tempat ini? Hei,
Kilat! Ayo dong berkelebat lagi!! dalam keadaan mencekam
dan membuatnya penasaran, Andika masih tak lupa dengan
sifat slebornya.
Pendekar Slebor menggerutu tak karuan.
“Brengsek! Kalau memang dari sini asal suara itu
rasanya tak masuk akal! Aku tak merasa ada yang
mencurigakan!! Hhh Jangan-jangan memang setan yang
kudengar tadi!! Lebih baik aku mencari tempat berteduh
saja daripada pusing memikirkan keanehan ini. Baiknya
kutunggu dulu barangkali saja suara keras itu terdengar lagi.
Memikir sampai di situ, Pendekar Slebor membiarkan
tubuhnya diterpa hujan. Sekian lama ia berdiri di sana,
membuka pandangan dan pendengarannya lebih tajam, tak
terlihat atau terdengar sesuatu yang seperti diharapkannya.
Lalu ia putuskan meninggalkan tempat itu.
(Oodwkz-ray-novooO)
Hujan deras perlahan-lahan mereda. Angin dahsyat
bergemuruh kini berhembus lembut. Tak ada lagi halilintar
menyambar, tak ada kilat sambung menyambung. Alam
berubah terang. Seluruh dedaunan basah. Satwa yang hidup
di sana segera keluar dari sarang, bergembira.
Andika yang bernaung di sebuah pohon besar berdiri
sambil merentangkan kedua tangannya.
“Busyet! Entah berapa lama aku menekuk lutut di situ!”
desisnya celingukan. Ketika mendongak, dilihatnya pohon
di mana ia bernaung tadi dipenuhi buah. “Wah, kalau tahu
dari tadi, perutku pasti kenyang.”
Sekali sentak, pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah
Kutukan sudah mendapatkan buah-buahan itu.
Dimakannya untuk mengganjal perut yang sudah
keroncongan.
Setelah itu barulah dirasakan tubuhnya lengket karena
keringat yang menyatu dengan air hujan telah mengering
pada tubuhnya. Diangkat tangan kanan, diciumnya,
seketika hidungnya bergerak-gerak mirip hidung tikus.
"Kecut! Hmm... sambil mengeringkan pakaianku ini, aku
ingin mandi. Di mana ya ada sungai di sini?"
Andika celingukan lalu kelebatkan tubuh untuk mencari
sungai, tak lama kemudian ditemukannya sebuah sungai
yang terletak dalam jarak seratus tombak dari Gunung
Larangan.
Sungai itu mengalirkan air yang cukup jernih. Namun
suaranya bergemuruh tinggi. Mungkin disebabkan hujan
terus menerus turun semalaman hingga air sungai itu lebih
deras.
Sebelum membuka seluruh pakaiannya, Andika
celingukan lagi. Setelah diyakini tak ada yang mengintip,
segera dibuka pakaiannya dan meletakkan di sebuah batu
besar. Lalu....
Byur!
Gembira bersenandung lagu yang tak karuan, Andika
berenang-renang sambil menggosok seluruh tubuhnya. Rasa
penatnya, hilang perlahan-lahan. Tubuhnya segar kembali.
Setelah puas mandi, Andika berenang ke tepian. Setelah
memperhatikan sekelilingnya, terburu-buru Andika berlari
ke atas.
Bagai melihat setan sedang bercumbu, langkahnya
mendadak terhenti. Mulutnya terbuka, tatapan matanya
melotot. Sejurus kemudian dengusan dan makiannya
terdengar, "Kutu kudis! Orang iseng mana yang berani
mengambil pakaianku?!"
"Hik hik hik... baru saja sampai di sini, sudah disuguhi
tontonan memalukan! Aku jadi tidak enak melihatnya!!"
terdengar satu suara dari salah sebuah pohon dengan
kekehan panjang keras membahana.
Bagai digigit kalajengking Andika melompat kembali ke
dalam air.
Byyurrr!
Tubuhnya keluar lagi hingga sedada dari dalam sungai
sambil menggerakkan kepalanya membuang air yang
menempel di rambut dan wajahnya. Sepasang matanya
mendelik besar tak berkedip pada seorang nenek yang
duduk di sebuah pohon besar di dekatnya.
"Keparat! Kuntilanak kesiangan! Kembalikan
pakaianku!!" bentaknya pada si nenek yang duduk
menguncang kaki di sebuah ranting pohon. Di tangan
kanannya tergenggam seluruh pakaian termasuk kain
bercorak catur milik Pendekar Slebor. Andika bertambah
sewot melihatnya, "Hei, Nenek usilan! Kembalikan
pakaianku!!"
Perempuan tua ini mengenakan baju merah menyala.
Rambutnya digelung ke atas, dengan sebuah tulang yang
dijadikan tusuk konde. Pakaian bawahnya sebuah kain
batik usang. Parasnya pucat, penuh kerut merut. Dalam
cuaca yang terang seperti ini saja sudah ngeri orang
memandangnya, apalagi bila Andika bertemu dengannya di
saat hujan lebat dan kabut yang menutupi seluruh hutan ini.
Bisa tunggang-langgang dibuatnya karena menyangka ada
kuntilanak nyasar.
"Hik hik hik... konyol sekali kau, Pendekar Slebor!
Sikapmu sungguh memalukan! Apakah kau akan terus
menerus berada di sungai itu, hah? Jangan-jangan 'burung'-
mu tak jadi bertelur nanti!!" suara mirip kuntilanak itu
terdengar lagi diiringi kekehan yang membuat Andika ingin
mengemplang kepala si wanita tua.
Siapa sebenarnya nenek itu'! Ia mengenalku, sementara
aku sendiri tidak tahu siapa dia, pikir Andika.
"Nenek peot jelek! Kembalikan pakaianku!!"
Sambil uncang-uncang kaki, si nenek menyahut dengan
seringaian jelek, "Mengapa kau tidak mengambilnya, hah?"
"Kurang ajar! Apa kau pikir aku tidak punya malu?"
gerutu Andika sewot. "Cepat kembalikan pakaianku,
sebelum kugedor perutmu!!"
"Hik hik hik... nama jelekmu itu sudah lama kudengar!
Apa yang selama ini kudengar ternyata memang benar! Kau
bukan hanya urakan, tapi juga slebor! Eh, sama saja ya?"
Nenek itu terkikik-kikik.
Kerut di wajahnya bagai tertarik masuk keluar. Deretan
gigi ompongnya memperlihatkan keseramannya.
Pipi Andika mengembung melihat tingkah
menjengkelkan si nenek. Tiba-tiba saja dikibaskan
tangannya.
Wusss! .
Serangkum angin keras menderu bak air bah tumpah ke
arah si nenek, yang masih terkikik-kikik. Tetapi mendadak
terdengar suara dentuman yang menggugurkan dedaunan.
Andika tercekat melihatnya. Tak dilihatnya bagaimana si
nenek menghalangi serangannya. Bagaimana ini bisa
terjadi? Padahal si nenek masih terkikik seolah tak
mempedulikan pukulan jarak jauhnya.
"Hmmm, rupanya bukan manusia sembarangan, si peot
ini. Bisa berabe. Kalau begitu aku harus membujuknya. Uh!
Kalau saja tidak telanjang seperti ini, sudah kujitak jidatnya
yang nonong itu!" batin Andika salut bercampur jengkel.
"Hei, Nek! Jarak langit dan bumi masih jauh, mengapa kau
mengambil pakaianku? Apakah kau sebenarnya ini seorang
pencuri pakaian yang kesiangan?"
"Kurang ajar! Tutup mulutmu! Mengapa kau
meninggalkan pakaianmu ini, hah? Kusobek mulutmu
nanti!!" sentak si nenek membentak. Sepasang mata
kelabunya yang celong ke dalam, bagai melompat keluar.
"Iya, iya! Kau bisa melakukannya nanti, kalau kau sudah
mengembalikan pakaianku!"
"Apakah kau pikir aku tak bisa melakukannya, hah?"
bentak si nenek keras. Tiba-tiba tangan kirinya mengibas.
Wuss!
Andika tercekat merasakan angin panas menderu ke
arahnya. Cepat Andika keluar dari sungai dan bergulingan
ke balik semak. Sementara sambaran angin raksasa itu
menghantam air sungai yang menggelegar muncrat begitu
hebat dan menimbulkan suara menggeledek.
“Hik hik hik... ayo keluar kau dari persembunyianmu
itu, Pendekar jelek!"
"Iya! Iya! Kembalikan dulu dong pakaianku! Keenakan
kau Nek, kalau melihat tubuhku yang tegap dan gagah ini!
Kambing pun tak akan mau memperlihatkan auratnya
kepadamu!!"
"Pemuda gendeng!!"
Wusss!!
Si nenek sudah mengibaskan tangannya kembali. Semak
di mana Pendekar Slebor berada bagai tersibak dan terpapas
habis dengan suara dentuman yang keras.
"Sudah, sudah! Kembalikan dulu pakaianku!!" terdengar
suara Pendekar Slebor dari salah sebuah pohon. Rupanya ia
sudah mengempos tubuhnya ke balik pohon.
"Hik hik hik... aku akan mengembalikan pakaianmu, bila
kau mau menjawab pertanyaanku!!"
"Keparat betul," maki Andika dalam hati. "Cuma mau
bertanya saja harus mengambil pakaianku. Bahkan sudah
menyerangku dengan dahsyat seperti itu."
Lalu ia berteriak, "Hei, Nek! Aku akan menjawab
pertanyaanmu, tetapi kembalikan dulu pakaianku!!"
"Jawab dulu pertanyaanku!!" bentak si nenek
menggelegar keras. Andika merasa pohon yang
dijadikannya sebagai tempat berlindung, bergoyang.
"Busyet! Tenaga dalamnya sangat tinggi sekali. Siapa sih
nenek jelek ini sebenarnya? Nek, cepat kau tanyakan apa
yang ingin kau ketahui!!" serunya kemudian.
Si nenek terkikik kemenangan.
“Apakah kau melihat muridku yang jelita, hah?"
“Selama aku berada di hutan ini, aku belum bertemu
dengan siapa pun juga kecuali kuntilanak yang mengenakan
baju merah menyala! Mana aku tahu di mana muridmu
berada?"
"Brengsek!" maki si nenek mendumal dikatai Andika
barusan. Tetapi kelihatannya si nenek memang sangat ingin
sekali mencari muridnya. "Hei, muridku sangat cantik
sekali! Namanya Sri Kasih! Bila kau bertemu dengannya,
pasti kau jatuh cinta! Tetapi... hhh! Mana kuizinkan ia
menjadi kekasihmu, Urakan!!" ,
"Masa bodohlah dengan ucapanmu! Kau harus menepati
janjimu bila aku sudah menjawab pertanyaanmu! Ayo,
kembalikan pakaianku itu!!"
“Aku bukan orang yang tak pernah menepati janji!
Nih!!"
Wrrrr! !
Bagai anak panah yang diluncurkan dari busurnya, baju
hijau pupus dan kain bercorak catur menderu deras ke arah
pemiliknya. Andika tercekat. "Kadal buntung!!" makinya.
Ditepuk kedua tangannya. Pakaiannya yang meluncur
itu bagai tersentak, seolah-olah ada tenaga yang
menahannya, lalu seperti melompat ke arahnya.
Tap!
Andika menangkapnya. Segera dipakainya setelah
membersihkan tubuhnya dengan dedaunan. Setelah itu
barulah dia keluar dari balik pohon besar tadi.
"Terima kasih, Nek! Kalau aku bertemu dengan
muridmu itu, tentu aku akan mengatakannya kalau kau
mencarinya."
"Hei! Kau tak tanya siapa namaku!!"
Andika menyeringai. "Untuk apa sih? Masa' aku harus
mengingat-ingat wajah jelekmu itu!!"
"Bocah keparat!" si nenek sudah mengangkat tangannya.
Andika buru'-buru berkata-kata, "Iya, iya! Sebutkan
namamu, Nek!!"
"Keterlaluan! Katakan pada Sri Kasih, kalau aku, Si Tua
Naga Merah menunggunya di sini!!"
"Baik, Nek! Kalau begitu, aku permisi!"
"Mau ke mana kau?"
"Ke mana saja! Aku justru pusing bila berhadapan
denganmu terus!!"
Sebagai jawaban dari selorohan Andika, tangan wanita
tua yang mengaku berjuluk si Tua Naga Merah sudah
mengibas ke arahnya. Dalam keadaan sudah berpakaian,
pemuda sakti itu melompat ringan sambil terkekeh-kekeh.
"Sayang, aku tidak bernafsu denganmu, Nek!"
Lalu tubuhnya berkelebat cepat.
Tinggal si Tua Naga Merah yang menggerutu panjang-
pendek. "Hhhh! Aku harus secepatnya menemukan Sri
Kasih! Aku kuatir bila murid jelitaku itu tak mampu
menemukan di mana Pecut Sakti Bulu Babi milik Dewi
Putih Hati Setan itu! Tetapi sekarang ini, mengapa firasatku
mengatakan kalau Dewi Putih Hati Setan masih hidup'!
Sialan benar! Ah, sebelum terlambat, sebaiknya aku
mencarinya kembali.”
Lalu bagai ditelan bumi, tubuh si Tua Naga Merah
hilang begitu saja.
(Oodwkz-ray-novooO)
Pendekar Slebor yang sudah menjauh dari si Tua Naga
Merah menghentikan larinya ketika dilihatnya dua sosok
tubuh berpakaian putih-putih, berzig-zag menerobos
pepohonan yang hampir-hampir rapat.
Cepat pendekar urakan itu lompat ke sebuah pohon dan
kerutkan kening sambil memperhatikan keduanya. "siapa
kedua orang itu? Aku saja ingin keluar dari sini, justru
keduanya seperti hendak menerobos masuk? Ada rahasia
apa sebenarnya di Gunung Larangan? Apakah ada
hubungannya dengan suara menggelegar mengalahkan
gemuruh hujan yang kudengar? Tetapi siapakah yang
berbicara itu? Hmm Jangan-Jangan SI Tua Naga Merah itu
yang melakukannya? Sialan, kenapa aku tidak bertanya
tadi!!"
Dua laki-laki berpakaian putih-putih itu sudah jauh dari
tempat di mana Andika mengintip. Penasaran Andika
memutuskan untuk mengikuti keduanya. Ada apa
sebenarnya di tempat sesunyi ini ternyata didatangi orang,
batinnya penasaran.
Meskipun dua lelaki yang dibuntuti Andika bergerak
laksana hantu, tetapi pemuda urakan yang kesohor
memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, berhasil
mendekati. Menjaga jarak.
Di tempat di mana Andika berada tadi bersama si Tua
Naga Merah, kedua laki-laki itu berhenti.
"Kakang Suryopati. kurasa di sebelah barat Gunung
Larangan Goa Terkutuk itu berada," kata yang seorang.
Wajahnya kelimis, sinar matanya dingin. Pakaian putih
dengan celana hitam menambah kegagahannya. Terlilit di
pinggangnya kain batik. Di belakang ikat pinggang itu
terselip sebatang keris berlekuk tujuh. Di kepalanya sehuah
blangkon indah bertengger.
"Kau benar Adi Gumilang," sahut Suryopati. Kalau
wajah Gumilang kelimis. wajah Suryopati dipenuhi bulu.
Berpakaian sama dengan Gumilang. Kita harus
membuktikan kabar angin yang mengatakan Dewi Putih
Hati Setan masih hidup. Puluhan tahun yang lalu, ketika
kita masih kecil, dengan telengasnya wanita keparat itu
telah membunuh kedua orangtua kita. Bila saja Guru tidak
menceritakan semua ini, kita tidak pernah tahu bagaimana
kedua orangtua kita mati. Tetapi terus terang, aku
mengharapkan kalau wanita keparat itu memang sudah
mati. Dan dikutuk selamanya oleh sumpah manusia yang
pernah dibuatnya sakit hati."
Keduanya terdiam. Terpampang di mata mereka
kejadian empat puluh tahun yang lalu, ketika mereka masih
berusia dua belas tahun dan delapan tahun.
Kedua orangtua yang mereka sayangi, mereka temukan
sudah mati terbunuh di dalam rumah. Keadaan mereka
sangat menyedihkan. Dengan leher hampir putus dan darah
membanjiri lantai. Saat itu keduanya sedang asyik mandi di
sungai di sebelah kiri kaki Bukit Melati di mana mereka
tinggal.
Tangis dan kesedihan melanda tiada henti. Sampai
muncul seorang laki-laki setengah baya yang mengaku
bernama Ki Pati Suci atau yang berjuluk Dewa Tangan
Baja. Keduanya dibawa ke tempat tinggal Dewa Tangan
Baja, di Lembah Jenjang, terletak ratusan tombak dari
Gunung Kerinci. Mereka diasuh dan dijadikan murid.
Perlahan-lahan mereka melupakan tragedi empat puluh
tahun lalu. Sampai sebulan lalu ketika Ki Pati Suci atau
Dewa Tangan Baja yang telah mengundurkan diri dari
dunia persilatan. merasa perlu menceritakan kejadian yang
dialami oleh orangtua kedua muridnya. Karena, cerita itu
memang terlalu lama dipendam dan dirasakan kalau kedua
muridnya sudah cukup pantas untuk mengetahui latar
belakang kehidupan mereka.
Meskipun waktu itu, keduanya bisa mengingat kejadian
mengerikan yang dialami oleh kedua orangtua mereka,
namun agak samar untuk diingat lebih jelas.
Seorang wanita yang berjuluk Dewi Putih Hati Setan
telah membunuh sepasang suami-istri karena merasa kalah
cantik dengan ibu Gumilang dan Suryopati. Hati keduanya
geram bukan buatan. Hanya gara-gara masalah kecantikan
saja, wanita itu membunuh kedua orangtua mereka dengan
kejam. Ki Pati Suci juga mengatakan, selama itu dia
berusaha mencari tahu di mana Dewi Putih Hati Setan
berada. Terakhir disirap kabar kalau wanita itu berada di
Goa Terkutuk. Yang belum diketahui oleh lelaki dedengkot
dunia persilatan, wanita itu masih hidup atau sudah mati.
Tak ada pesan dari Ki Pati Suci melarang atau
memperbolehkan kedua muridnya yang sudah mulai
berumur pula membalas sakit hati mereka atau tidak.
Baginya, segala keputusan berpulang pada diri kedua
muridnya.
Namun sekarang, kedua kakak beradik itu justru jadi
penasaran untuk mengetahui siapa gerangan wanita yang
berjuluk Dewi Putih Hati Setan. Mereka memutuskan
mendatangi Gunung Larangan di mana Goa Terkutuk
berada.
Setelah berhenti beberapa saat, keduanya berkelebat
kembali. Tinggal Andika yang sejak tadi mencuri dengar
mengerutkan keningnya. Lagi-lagi tentang Dewi Putih Hati
Setan yang didengarnya. Siapakah sebenarnya wanita itu?
Sambil mendengarkan percakapan kedua lelaki gagah itu
matanya mencari-cari di mana si Tua Naga Merah itu
berada. Tetapi tak dilihatnya nenek peot baju merah itu.
Pasti dia sudah meninggalkan tempat itu, entah ke mana..
"Hmm, baiknya, kuikuti saja keduanya. Aku jadi ingin
tahu sekali tentang Dewi Putih Hati Setan. Tetapi... entah
mengapa sepertinya aku menangkap isyarat kematian yang
sangat mengerikan.....”
Segera diempos tubuhnya untuk mengikuti ke mana arah
kedua lelaki berpakaian putih itu berkelebat.
3
Puluhan tahun lalu, ada seorang pemuda tangguh yang
selalu muncul dengan caping bambunya. Pemuda itu
memiliki tubuh yang gagah dan wajah tampan dengan
sepasang mata jernih yang membiaskan ketenteraman.
Pakaian putih bersih yang dikenakannya menandakan
pemuda itu memang selalu menjaga kebersihannya. Ikat
pinggangnya berwarna hitam. Rambut bagian atas selalu
tertutup caping bambu yang jarang sekali dibukanya, beriap
hingga ke punggung, dibiarkan tergerai.
Kemunculan pemuda ini sebenarnya tak pernah
diketahui dari mana dia datang. Hanya saja, ketika suatu
hari ada keributan di kotapraja, yang bermula dari sebuah
kedai makan, pemuda bercaping bambu itu turun tangan
dan menuntaskan masalah yang cukup merepotkan
beberapa prajurit kadipaten.
Juga kemunculannya yang mendadak saat terjadi
perampokan besar-besaran di desa Randu, Para penduduk
mengelu-elukannya. Namun sampai sejauh itu, si pemuda
hanya tersenyum saja tanpa pernah mengatakan siapa
namanya.
Kemunculan si pemuda yang kemudian dijuluki Caping
Dewa Sakti memang cukup mengejutkan para tokoh dari
golongan hitam kala itu. Mereka berbondong-bondong
untuk menghentikan sepak terjangnya yang mereka pikir
sebagai penghalang utama. Namun sampai sejauh itu, tak
seorang pun yang bisa mengalahkan si pemuda yang
diketahui memiliki kesaktian cukup tinggi.
Banyak sekali yang mendendam padanya, dan banyak
pula yang berlindung padanya. Hingga dalam waktu kurang
dari dua tahun, julukan Caping Dewa Sakti benar-benar
telah menggemparkan rimba persilatan,
Pada masa itu pula, hidup seorang wanita berparas dewi
namun memiliki hati kejam laksana setan. Dia merasa
dirinya paling cantik, dan bila menurutnya ada seorang
wanita yang mengalahkan kecantikannya, tak segan-segan
wanita itu menurunkan tangan kejam.
Banyak tokoh golongan lurus yang mencoba
menghentikan sepak terjangnya. Namun, akhirnya mereka
justru menemui ajal di tangan Dewi Putih Hati Setan.
Hanya seorang yang berhasil menghentikan kekejaman
Dewi Putih Hati Setan. Caping Dewa Sakti yang muncul
ketika wanita itu mencoba membunuh seorang gadis dari
Desa Batu Ampar yang sedang mencuci baju di sungai.
Nama telengas Dewi Putih Hati Setan pun lenyap dari
pendengaran. Begitu pula dengan julukan Caping Dewa
Sakti.
Hanya saja, Caping Dewa Sakti masih muncul ke dunia
ramai bila didengarnya terjadi kerusuhan yang
membahayakan. Meskipun nama Caping Dewa Sakti dan
Dewi Putih Hati Setan hanya selentingan saja terdengar,
orang-orang banyak tahu, kalau sebenarnya Dewi Putih
Hati Setan masih mendendam pada Caping Dewa Sakti.
Karena, tokoh itulah satu-satunya yang mampu
menghentikan sepak telengasnya.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, pemuda gagah yang
berjuluk Caping Dewa Sakti sudah berubah baik fisi,k
maupun wajahnya. Ketuaan mulai menggerogoti tubuhnya.
Namun kebijaksanaan dan capingnya masih tetap
bertengger di benak dan kepalanya.
Orang tua yang berjuluk Caping Dewa Sakti itulah yang
kini tengah merenung di kediamannya, di puncak kaki
Gunung Batu.
Sepasang mata si kakek yang cekung menatap ke
kejauhan. Kabut tebal menyelimuti Gunung Batu.
Pepohonan yang sepertinya bagai sedang lari menanjak dan
menurun, ditutupi oleh kabut. Udara dinginnya bukan
main. Akan tetapi si kakek tenang saja seolah tak merasa
apa-apa walaupun pakaian yang dikenakannya rombeng, ia
tetap duduk di atas batu besar. Matanya menatap satu
tempat dalam kegelapan, seolah tak tahu apa yang sedang
di tatapnya.
"Puluhan tahun berlalu sudah. Seperti yang kuduga,
kalau Dewi Putih Hati Setan masih hidup. Kini, telinga
tuaku masih menangkap denyut hawa kematian yang siap
ditebarnya," pikir si kakek sambil mengusap Jenggot
putihnya yang panjang. Tubuhnya begitu bongkok sekali.
Di dekat batu yang diduduki ada sebuah tongkat berwarna
hitam. Kepalanya yang tertutup caping bambu menggeleng-
geleng seolah membuang keresahan dalam pikirannya.
Kembali si kakek mendesah, "Aku tak bisa membiarkan hal
ini terjadi terus menerus, Dewi Putih Hati Setan pasti akan
segera turun kembali dari tapanya. Hmm, nampaknya
keangkaramurkaan akan berlaga lagi di rimba persilatan
ini...."
Angin semakin dingin menghembus. Kabut semakin
tebal menyelingkupi Gunung Batu. Keresahan si kakek
semakin membesar saja.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Membuat si
kakek tersentak dan seketika berdiri. Wajahnya bagai
ditampar oleh tangan raksasa yang sangat dahsyat Gubuk di
mana dia tinggal terlempar jauh.
Tubuh si kakek bergetar, "Dewi Putih Hati Setan... bila
kau sedang mampir di kediamanku, aku menerima dengan
senang hati...."
Angin semakin dahsyat berhembus, berputar-putar dalam
gelombang yang sangat hebat. Pepohonan seketika tumbang
dan berpentalan. Dalam angin yang bergemuruh itu,
terdengar sebuah suara, "Enam puluh tahun sudah berlalu.
Cukup sudah tapa yang kulakukan dengan menuntaskan
segala ilmu yang kupelajari. Dendam naik ke permukaan,
ajal sudah datang!"
"Dewi!!" si kakek mengangkat wajahnya, mencoba
mencari dari mana asal suara itu. Wajahnya tampak agak
tegang.
"Jangan panggil namaku, Caping Dewa Sakti! Kematian
sudah dekat, kau tak bisa lolos dari mati!!"
Dari angin yang bergemuruh dahsyat itu, tiba-tiba
meluncur sinar menggidikkan. Menderu mengeluarkan
suara mengerikan ke arah laki-laki tua yang masih
memicingkan mata dan menajamkan pendengaran. Si
kakek cepat melompat dan sinar hitam itu menghantam
batu besar di mana ia berdiri sekarang.
Blaaarrr!!
Batu itu hancur seketika.
Caping Dewi Sakti sudah berdiri di tanah dengan tatapan
dingin.
"Dewi... enam puluh tahun sudah berlalu, namun
dendammu kepadaku masih terpatri dalam! Kupikir,
Dewata sudah cabut nyawamu!"
“Sebelum melihatmu terkapar, tak pernah aku
meninggalkan dunia. Sebelum dendam tuntas, aku tak akan
mati dengan tenang! Masih ada keinginanku setelah kau
mati di tanganku!"
"Katakan!"
"Kau harus menemui ajalmu lebih dulu Manusia Hina!”
Wrrrr! Singg!!
Bersamaan dengan gemuruh angin yang menderu
dahsyat, sinar hitam menggidikkan kembali mengarah pada
Caping Dewa Sakti yang seketika mengempos tubuhnya.
Gunung Batu bagai bergetar dahsyat, batu-batu
bergulingan, pepohonan tumbang berpentalan.
“Tahan, Dewi!!" desis Caping Dewa Sakti. "Kita sudah
sama-sama lanjut usia! Tak ada guna kita teruskan silang
sengketa ini! Kau hanya menambah dosamu saja!"
Terdengar suara kikikan yang sangat dahsyat.
"Dulu aku tak mampu mengalahkan kau, Caping Dewa
Sakti! Sekarang, kau Lak akan pernah bisa mengalahkanku
lagi!"
"Takabur!"
"Demi membuktikan ucapanku ini, kutantang kau ke
Goa Terkutuk! Di sana, kau akan menyesali dirimu sendiri
karena tak mempercayai kata-kataku!! Perlu kau ingat, bila
kau tidak segera tiba di Goa Terkutuk, maka puluhan
nyawa akan tewas di tanganku!" terdengar suara keras yang
datangnya entah dari arah mana, menyusul gemuruh angin
panas yang mengeluarkan suara mengerikan ke arah laki-
laki tua itu.
Wusss!
Caping Dewa Sakti segera lompat hindarkan serangan
itu. Begitu dia berdiri kembali, tak lagi dirasakan serangan
baru yang datang. Malah angin yang berhembus dahsyat
tadi perlahan-lahan mereda, dan bertiup seperti biasa.
Sadarlah laki-laki tua itu, kalau Dewi Putih Hati Setan
sudah tak lagi di tempatnya.
"Luar biasa! Ilmunya sudah maju sekali! Bukan buatan
jauhnya Gunung Batu ini dengan Goa Terkutuk! Usiaku
sudah tua dan tubuh yang renta, namun tak akan kubiarkan
wanita itu muncul kembali ke rimba persilatan ini!"
Memikir demikian, laki-laki tua itu duduk di sebuah
batu. Lalu bersila dengan kedua tangan menyatu di dada.
Terlihat getaran tubuhnya yang perlahan-lahan menghebat.
Angin berputaran kacau. Daun-daun berguguran dan
bebatuan berpentalan.
Sedang beberapa saat, terdengar tarikan napas laki-laki
bongkok itu.
"Hmm... rupanya kematian sudah menebar di sekitar
Goa Terkutuk. Kulihat ada beberapa orang di sana.
Sebaiknya aku segera menuju ke Goa Terkutuk sekarang
juga...."
Selesai berpikir begitu, laki-laki tua itu berpindah tempat
tanpa menggerakkan badannya sedikit pun. Berpindah dari
satu tempat ke tempat lain dengan jarak yang cukup jauh.
Hingga lama kelamaan tubuhnya pun lenyap dari
pandangan. Sungguh satu unjuk kebolehan ilmu
meringankan tubuh yang sangat tinggi sekali dan mungkin
hanya dimiliki oleh beberapa orang tokoh rimba persilatan.
(Oodwkz-ray-novooO)
"Dewi Pulih Hati Setan... siapakah dia? Mengapa banyak
sekali yang, menginginkan dirinya? Apakah ini berkaitan
dengan dendam yang pernah dibuat wanita itu?. Ataukah..
ada hal lain yang diinginkan orang-orang ini?"
Masih dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab,
Andika terus berkelebat mengikuti kedua lelaki berbaju
putih itu. Namun tiba-tiba saja dihentikan larinya,
celingukan dengan kedua alisnya yang seperti kepakan
sayap elang tertekuk.
"Gila! Ke mana kedua orang itu? Apakah mereka tahu-
tahu berbalik arah dan mengurungkan niat menuju Goa
Terkutuk? Atau... Jangan-jangan keduanya hantu Gunung
Larangan yang menghilang begitu saja! Monyet buduk! Aku
harus.,. heeiii!!"
Andika melompat ke samping ketika dirasakan desingan
halus menderu ke arahnya. Dilihatnya sebatang pohon di
sampingnya menjadi layu.
Bersamaan dengan itu, muncullah dua lelaki berpakaian
putih di hadapannya dalam jarak tiga tombak dengan wajah
bengis.
"Kau benar, Adi Gumilang! Rupanya ada monyet yang
mengikuti kita!!"
Andika celingukan, lalu kembali menatap keduanya
sambil berkata, "Tidak ada monyet di sini? Siapa yang
kalian maksud?"
Suryopati yang berseru tadi menggeram dengan gigi
berbunyi, ia merasa diejek dengan sikap pemuda berbaju
hijau pupus di hadapannya.
"Keparat! Mau apa kau mengikuti kami, hah?"
"Nah, kalau kau bertanya begitu, jelas pertanyaan itu
ditujukan kepadaku," sahut Andika santai.
"Jangan banyak cincong! Nyawa hinamu sudah menjadi
milik kami!!" seru Gumilang sengit.
Andika cuma menyeringai.
"Tak ada maksud apa-apa untuk mengikuti kalian, Aku
cuma penasaran saja dengan yang kalian bicarakan. Siapa
sih yang kalian maksudkan dengan Dewi Putih Hati Setan?"
Kedua lelaki yang tengah jengkel itu berpandangan. Lalu
tiba-tiba Gumilang sudah menderu dengan serangan
dahsyat. "Keparat hina! Rupanya kau mencuri dengar
percakapan kami, hah?!!"
Andika tahu kalau serangan yang dilancarkan itu
bukanlah serangan sembarangan, terbukti dengan pohon
yang mendadak layu di belakangnya tadi. Begitu tubuh
Gumilang menderu, ia pun mengempos tubuhnya.
Des!
Dua tangan yang terangkum tenaga dalam kuat itu
berbenturan. Tubuh Gumilang terpental lima tombak ke
belakang dengan dada yang sakitnya bukan alang kepalang.
Sementara Andika terhuyung tiga langkah. Dari mulutnya
mengeluarkan darah.
"Hebat juga tenaga dalamnya," desisnya.
Gumilang yang juga tak menyangka akan hal itu, segera
mengalirkan hawa murninya untuk menghilangkan rasa
sakit. Tiba-tiba ia tersedak dan muntah darah. Kepalanya
mendadak pening sejenak. Melihat hal itu, Suryopati
menggeram murka.
"Lihat serangan!!"
Andika yang bisa mengukur kekuatan keduanya
sekarang, langsung membuang tubuhnya ke kiri begitu
serangan bak angin topan bergemuruh ke arahnya. Sambil
membuang tubuhnya, jotosan dilancarkan ke pinggang kiri
SuryopaLi yang menekuk tangan kirinya.
Duk!
Andika merasa tangannya kesemutan. Suryopati
berteriak marah. Tangan kanannya cepat cabut kerisnya
yang memancarkan sinar merah dan mengelebatkannya ke
arah Andika yang baru saja mundur dua tombak.
Wuuuttt!
Ujung keris yang tajam itu menyambar hanya sejengkal
di depan mata pemuda pewaris Ilmu Pendekar Lembah
Kutukan. Andika tercekat dengan tengkuk yang mendadak
dingin. Cepat dia menjatuhkan tubuhnya begitu Suryopati
memburu lagi dengan kilatan sinar merah yang cukup
menyilaukan matanya.
Wuuuttt!
Bila saja Andika terlambat menjatuhkan dirinya, sudah
bisa dipastikan keris yang tajam dan memancarkan sinar
merah itu melobangi batok kepalanya.
"Astaga! Ini benar-benar gawat!!" maki Andika dan
mengibaskan kaki kanannya untuk menendang kaki
Suryopati. Namun dengan sigapnya lelaki berbulu tebal di
wajahnya melompat setengah tombak dan melurup kembali
dengan tusukan kerisnya. Andika mendengus dan
bergulingan. Namun kaki Suryopati sudah menjejak, siap
menginjak jantungnya. Andika bergerak lebih cepat dari
semula. Tangannya dengan serempak dikibaskan.
Duk!
Bergetar setelah beradu dengan jejakkan kaki Suryopati
yang menjadi kehilangan keseimbangannya. Bersamaan
dengan itu, Andlka bangkit dan menghantamkan telapak
tangannya yang sudah terangkum tenaga 'inti petir' tingkat
kedua puluh tiga.
Buk!
Suryopati merasa tulang rahangnya bagai berpindah dari
posisinya ketika telapak tangan Andika menghantam
dagunya dengan keras. Lelaki itu menjerit keras sambil
jatuh bergulingan.
Gumilang tercekat melihatnya. Ia benar-benar tak
menyangka kalau lawan yang kelihatan masih muda itu
mampu menjatuhkan kakangnya yang dikenalnya memiliki
ilmu yang tinggi. Begitu sadar apa yang terjadi, Gumilang
langsung melurup sambil mencabut kerisnya.
"Pemuda keparat! Kau harus membayar semua ini!!"
Wuuuutt!
Andika yang sudah memperhitungkan hal itu,
memiringkan tubuh. Begitu tubuh Gumilang lewat di
sampingnya, tangan kanannya bergerak.
Prak!
Menghantam punggung Gumilang yang tersungkur ke
tanah. Namun pemuda berwajah kelimis itu langsung
bangkit dengan membuat lompatan pendek.
Andika mendengus dan memapakinya dengan gerakan
yang sangat aneh. Kedua tangannya bagai berputar cepat
menekuk tangan kiri Gumilang dan menghantam tangan
kanan Gumilang. Keris yang dipegang pemuda kelimis itu
jatuh.
Dan dengan gerakan yang sangat cepat Andika menotok
tubuh laki-laki itu hingga kaku terdiam. Namun mulutnya
bisa berbicara dan mengeluarkan makian-makian sengit.
"Dalam suasana dan tempat seperti ini, memang wajar
bila kita saling curiga! Namun, menyerang tanpa
memberikan penjelasan adalah konyol!" gerutu Andika tak
mempedulikan sumpah serapah yang menerpa telinganya.
Sewot juga dia dimaki-maki seperti itu, tetapi ditahan
kesewotannya. Karena dipikirnya, ini hanyalah salah
paham belaka.
"Banyak omong! Lepaskan totokanmu ini, kita bertarung
sampai mampus!!" sentak Gumilang dengan sorot mata
laksana melontarkan api.
"Busyet! Tuh mulut tidak pernah diajar sopan santun
barangkali," batin Andika sewot. Lalu katanya sambil
mendengus, "Dengan begitu, kalian hanya membuang
waktu saja. Dengar baik-baik, meskipun aku belum tahu
siapa yang kalian maksudkan dengan Dewi Putih Hati
Setan, namun aku bisa menangkap isyarat kematian yang
siap ditebarkannya. Sebaiknya kalian berhati-hati, karena
kemungkinan kalian tak akan bisa membalaskan sakit hati
kedua orangtua kalian!"
Gumilang memicingkan matanya. Hatinya geram bukan
buatan mendengar kata-kata Andika.
"Benar -benar pemuda hina yang kerjanya mencuri
dengar percakapan orang lain!!"
"Terus terang, aku sendiri penasaran ingin mengetahui
siapa gerangan Dewi Putih Hati Setan itu!"
Kali ini Gumilang terdiam. Suryopati yang sudah
bangkit dan siap menyerang Andika pun terdiam. Tetapi
sejurus kemudian terdengar bentakannya, "Lebih baik kau
tinggalkan tempat ini!!"
Andika menoleh pada Suryopati.
"Tanpa kalian suruh pun aku akan meninggalkan kalian
manusia-manusia bebal! Manusia-manusia yang mau
menang sendiri tanpa mempedulikan kata-kata orang lain?
Apakah kalian pikir, otak kalian sudah cukup normal hah?
Kalian tak lebih dari monyet buduk yang sok tahu!"
Suryopati menggeram mendengar ejekan pemuda di
hadapannya. Ia membentak dengan rahang mengeras.
"Sebutkan nama!"
Andika garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Namaku Andika... orang-orang rimba persilatan
menjuluki Pendekar Slebor!!"
"Hhh!" dengus Suryopati dan untuk sesaat dia terdiam
ketika mendengar julukan itu disebutkan. Lalu bentaknya
dengan nada melecehkan, "Setahuku Pendekar Slebor
berdiri di jalur lurus dan membela orang-orang tertindas!
Tetapi sekarang, tahu-tahu sudah menjadi pencuri
pembicaraan orang!!"
Andika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Busyet! Benar-benar tidak pernah belajar sopan santun nih!
Apa mesti kutabok mulut keduanya biar mereka tahu
betapa usil mulut mereka!" batinnya makin jengkel. Diiringi
dengusannya dia berseru “Aku tak peduli apa yang kalian
katakan tentang diriku! Tetapi, perlu kalian camkan!
Dendam tak akan membawa hasil yang baik!"
Tiba-tiba Andika mengibaskan tangannya ke arah
Gumilang.
Tuk!
Totokan yang dilakukannya terlepas. Lalu tubuhnya pun
berkelebat secepat angin. Tinggal kedua lelaki berpakaian
putih itu yang terdiam sesaat.
Kata-kata Gumilang memecah kesunyian, "Kakang
Suryo... kurasa... yang dikatakan oleh Pendekar Slebor itu
benar adanya. Sebaiknya kita memang hati-hati. Kudengar
pula, kalau ia adalah orang dari golongan lurus. Dia pula
yang menyelamatkan kerajaan Pakuan dari serangan
seorang tokoh sesal yang menjulukinya Raja Akhirat.(Untuk mengetahui tentang; hal itu, silakan baca: "Raja
Akhirat").
Suryopati menganggukkan kepalanya.
"Kau benar Adi Gumilang. Tetapi, rasa penasaranku
ingin mengetahui seperti apa wajah wanita keparat yang
telah membunuh kedua orangtua kita itu tetap masih ada!" .
"Kakang... sayang sekali kita sudah memperlihatkan
sikap tak bersahabat tadi dengannya."
"Kau benar, Adi...," kata Suryopati seperti merenung.
"Sudahlah, kita harus secepatnya menemukan Goa
Terkutuk."
Lalu tubuh keduanya pun berkelebat meninggalkan
tempat itu.
4
Hari sudah memasuki rembang petang ketika Andika
menghentikan larinya di satu tempat. Matahari sudah
melampaui tiga perempat perjalanannya di sebelah barat.
Ratu malam siap menyongsong, menggantikan tugasnya.
"Selagi pemuda urakan itu memperhatikan sekelilingnya,
tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kelinci
gemuk sedang berlari. Perutnya mendadak menjadi lapar.
Terbayang sudah kelinci panggang yang akan
mengenyangkan perutnya.
Andika bermaksud menangkapnya. Namun sebelum dia
bergerak, sebuah desingan terdengar ke arahnya. Andika
menoleh sambil menyipitkan mata dan langsung
membuang tubuh ke kanan. Kelinci yang hendak
ditangkapnya melompat ke balik semak dan menghilang.
Ctar!
"Buruan itu punyaku, kau lak berhak menangkapnya!"
seman itu terdengar bersamaan munculnya satu sosok
tubuh ramping berbaju biru. Dan berseru lagi melihat
Andika melongo memperhatikannya, “Kau harus
mengganti buruanku yang lenyap itu!!"
Dari terpananya melihat kecantikan gadis berambut
panjang dengan ikat kepala di kening berwarna biru,
Andika mendengus ketika menyadari kalau gadis itu tidak
bersikap ramah.
"Kelinci yang menghilang itu bukan urusanku! Kenapa
justru kau menyerangku, hah?" serunya sewot.
"Karena kau lancang hendak menangkapnya!" seru si
gadis sengit. Wajah cantiknya seperti ditarik setan
gentayangan. Matanya yang jernih dengan bola mata hitam
legam melotot gusar, tak berkedip pada Andika.
"Kelinci liar itu belum menjadi milikmu! Siapa pun
masih berhak untuk mendapatkannya!! Enaknya main
serang begitu! Konyol! Telur busuk!"
"Eh!!" ejekan Andika barusan membuat wajah gadis itu
seperti kepiting rebus. "Kau mengatai aku telur busuk, hah?
Kau yang ayam busuk!"
Gadis berbaju biru itu menggerakkan tangannya yang
memegang sebuah cambuk.
Cletarrr! !
Sambaran cambuknya dihindari Andika dengan
melompat ke samping. Namun tak urung dirasakan bulu
kuduknya meremang akibat angin yang ditimbulkan
cambuk itu.
"Masih mending ayam busuk cuma seekor! Kalau telur
busuk jumlahnya beratus-ratus butir bagaimana?!"
"Ayam busuk itu jumlahnya beribu-ribu ekor!" sentak si
gadis dan kembali menggerakkan tangannya. Cambuknya
kembali mencecar Andika yang makin sewot.
"Main labrak orang sembarangan!" makinya dan melihat
di mana tanah yang dipijak tadi bagai berukir garis sedalam
satu jengkal. Menyadari gadis itu tidak main-main, Andika
mendumal. "Kau senang kalau tiba-tiba kuserang, ya?"
"Justru aku ingin melihat kebisaanmu!! Jangan-jangan
kau hanya jual tampang dan lagak saja dengan pakaian
seperti itu!" Setelah berkata begitu, si gadis memburu sambil
mengibaskan cambuknya berkali-kali. Suara keras itu
menerpa telinga Andika yang bersungut-sungut sambil
bersalto ke sana kemari.
"Benar-benar nasib sial! Kalau sebelumnya si Tua Naga
Merah, lalu dua lelaki berpakaian putih itu menyulitkan
aku, sekarang gadis pemarah ini! Mengapa tiba-tiba begitu
banyak orang yang tiba di tempat sepi seperti ini, hah?"
rutuk Andika dalam hati. "Nona, kita tak saling kenal, tak
pernah pula punya silang sengketa! Hentikan seranganmu!!"
"Apakah dengan larinya kelinci milikku itu kita tak
punya silang sengketa? Kau yang pertama kali
menimbulkannya!!" geram si gadis yang jadi jengkel dan
penasaran karena sejak tadi serangannya tak satu pun yang
masuk pada sasarannya. Sekarang ia menerjang dengan
disertai tenaga dalam tinggi, hingga bukan hanya suara
gemuruh angin saja yang terdengar, suara bagai ledakan di
udara pun berkali-kali mengerjap dahsyat.
"Hei! Mana aku tahu kalau kelinci itu sedang kau incar
juga! Kita sama-sama lapar! Apakah lapar membuat kita
harus jadi bertindak konyol seperti ini?!" maki Andika dan
mencoba mencari sela untuk membalas. Akan tetapi,
serangan gadis itu demikian gencar hingga membuatnya
pontang-panting. Hanya sejenak serangan itu
menyulitkannya, karena detik berikutnya Andika buang
tubuh ke kanan, lalu dengan pencalan satu kaki, melompat
ke muka. Si gadis langsung sambarkan pecutnya.
Ctaar!
Tetapi, Andika justru menghentikan lompatannya dan
bergerak melompati Si gadis. Ketika dia hinggap di tanah
tubuhnya sudah berada di belakang si gadis. Kedua
tangannya langsung didekapkan sambil berseru, "Tahan, Sri
Kasih!!"
Si gadis yang sedang berusaha melepaskan diri dari
dekapan Andika mengerutkan keningnya. Merasa si gadis
akan hentikan serangannya, Andika melepaskan
dekapannya dan nyengir. “Lumayan, tubuh gadis itu
empuk juga," pikirnya nakal.
Si gadis putar tubuhnya. Wajahnya tegang dengan
tatapan tak berkesip pada pemuda di hadapannya. Ia
berseru sewot, "Siapa kau yang mengetahui namaku, hah?"
Andika menyeringai. "Dugaanku ternyata tepat,”
desisnya dalam hati. "Tidak usah sewot seperti itu.
Kalaupun aku mengenalmu ya... karena aku memang
menduga yang tepat.”
"Katakan dari mana kau mengetahui namaku, hah? Aku
sendiri tidak tahu siapa kau!!” Kali ini wajah si gadis
memerah mengingat dirinya baru saja didekap oleh seorang
pemuda yang tak dikenalnya.
"Barangkali saja kita berjodoh, bukan?” seloroh Andika
sambil nyengir.
"Jaga mulutmu!"
“Tahan, tahan!” seru Andika ketika melihat gadis itu
hendak menggerakkan tangannya lagi yang memegang
pecut. “Benar-benar gadis panasan,” pikirnya. Merasa gadis
itu menuruti kata-katanya dia berkata. “Aku tahu
tentangmu dari Si Tua Naga Merah! Puas?”
Gadis itu terdiam lagi, seolah sedang
mempertimbangkan kebenaran kata-kata andika.
“Tidak mungkin!” serunya kemudian. “Guru berada di
kediamannya!! Jangan sembarangan menyebut nama
guru!!”
“Kau salah, Sri Kasih. Aku sudah bertemu dengan nenek
jelek yang mengaku gurumu itu. Heran kok bisa-bisanya ya
ia mempunyai murid yang cantik seperti kau!!”
Meskipun wajahnya memerah mendengar kata-kata
Andika barusan, gadis berbaju biru yang memang Sri Kasih
murid dari si Tua Naga Merah membentak keras,”
Brengsek! Kau mengata-ngatai guruku, hah!!”
Andika mengulapkan tangannya sambil
menyunggingkan seringaian.
“Sudahlah, aku toh sudah menyampaikan pesan gurumu
yang harus kusampaikan kepadamu!” seru andika yang
tiba-tiba saja merasa laparnya lenyap melihat sikap si gadis
yang menjengkelkannya. Pemuda sakti itu berpikir lebih
baik segera meninggalkan gadis ini saja daripada terus-
menerus melayani bentakannya.
Memikirkan begitu Andika mendadak berkelebat, namun
mendadak pula harus bersalto karena Sri Kasih sudah
mengibaskan cambuknya.
Ctar!
"Brengsek!" maki Andika begitu hinggap di tanah. Lalu
putar tubuh dan menatap gadis itu. "Apaapaan sih kau ini?
Kok terus menerus menyerangku?"
"Tak sopan orang meninggalkan pembicaraan yang
belum tuntas!" sahut murid si Tua Naga Merah. "Dan kau
harus membayar semua perlakuanmu barusan?!"
"Apa lagi? Toh semuanya sudah kukatakan kepadamu!!"
maki Andika yang saat ini memang penasaran ingin
mengetahui tentang Dewi Putih Hati Setan. "Lagi pula,
masih untungkan kau kupeluk!"
"Konyol!" Wajah si gadis makin memerah. Lalu sambil
menekan kemarahannya ia berkata, "Kalau yang kau
katakan itu dusta, kucabik-cabik tubuhmu dengan
cambukku ini!!"
"Terserah kau mau percaya atau tidak!"
Wusss!
Andika berkelebat cepat. Pikirnya, lebih baik
menuntaskan rasa penasaran di hatinya tentang Dewi Putih
Hati Setan dan Goa Terkutuk. Meninggalkan Sri Kasih
yang menjadi terpana sekarang karena tak dilihatnya
gerakan yang dilakukan oleh pemuda berbaju hijau pupus
itu. Gerakan itu lebih cepat dari gerakan yang diperlihatkan
Andika barusan.
"Hmm! Siapa pemuda itu sebenarnya? Meskipun
sikapnya konyol begitu, tetapi aku yakin dia bukan orang
jahat. Lagi pula, salahnya sendiri, mengapa buruanku tadi
hendak diburunya pula?" kala Sri Kasih yang tiba-tiba
wajahnya memerah sendiri. "Apa yang dikatakan pemuda
itu benar. Kelinci liar itu bukan milik siapa-siapa. Aku
sendiri belum mendapatkannya, Ah, masa bodoh! Perutku
lapar! Kalau begitu, yang dikatakan Guru memang benar.
Aku harus lebih banyak belajar mengendalikan diri. Masa'
gara-gara kelinci yang tak tahu juntrungannya itu aku harus
marah dan menyerang pemuda tadi. Tetapi... oh! Benarkah
Guru berada di sini? Berabe kalau begini! Dia bisa marah
besar karena aku belum menemukan Pecut Sakti Bulu Babi.
Lebih baik, kuikuti saja pemuda konyol itu sekarang!!
Tetapi, ke mana dia pergi tadi? Kelebatannya seperti setan
saja!"
Dan mendadak gadis itu terdiam. Wajahnya mendadak
memerah ketika teringat betapa eratnya dekapan pemuda
tampan tadi di tubuhnya. Entah mengapa dari rasa
sewotnya tadi, diam-diam hatinya berbunga. Tetapi buru-
buru ditepisnya.
"Konyol! Kenapa aku justru membayangkan kembali
dekapan pemuda brengsek itu! Hhh!"
Segera diempos tubuhnya meninggalkan tempat itu.
(Oodwkz-ray-novooO)
Suryopati dan Gumilang telah tiba di sebuah tempat
yang cukup sepi. Di sekeliling mereka berdiri pepohonan
tinggi dan belukar setinggi dada manusia. Kedua lelaki
berpakaian putih yang sudah mengobati tubuhnya sendiri
akibat luka dalam yang mereka derita, menatap waspada di
tempat yang agak lapang itu. Angin berhembus sangat
dingin, seolah mengirimkan kabar kematian pada
keduanya.
"Kakang, Guru mengatakan, Dewi Putih Hati Setan
berdiam di Goa Terkutuk. Tetapi, aku tidak melihat ada
goa di sekitar sini," kata Gumilang waspada.
"Kau benar, Adi. Jelas kita menuju ke arah barat dari
Gunung Larangan. Mungkin... goa itu tersembunyi di balik
semak," sahut Suryopati tanpa menoleh pada adiknya
kecuali menatap sekelilingnya. Kita cari!"
Keduanya segera melangkah, berhati-hati. Keris yang
memancarkan sinar merah sudah berada di tangan. Segenap
indera penglihatan dan pendengaran dibuka lebar-lebar.
Namun tiba-tiba saja tubuh keduanya terpental ke
belakang dengan deras disertai jerit kepanikan dan
keterkejutan. Bergulingan bagai sebuah bola yang dilempar
dan muntah darah dengan tubuh yang seperti remuk.
"Kakang... tenaga apa yang barusan menyerang kita?"
tanya Gumilang gelagapan sambil bangkit perlahan-lahan.
Dadanya sakit bukan buatan Wajahnya pias seketika.
Begitu pula yang dilakukan oleh Suryopati, "Aku tidak
tahu... yang pasti, ada bahaya yang mengancam kita."
"Siapa yang datang ke sini, maka kematian akan
diterima."
Suara bergemuruh dahsyat itu tiba-tiba terdengar.
Jantung keduanya seakan tanggal dari tempatnya.
Dedaunan berguguran.
"Kakang, siapa yang bersuara itu?" tanya Gumilang, kali
ini ketegangan mulai menyelimuti tubuhnya.
Suryoti tak segera menjawab. Dia memperhatikan
sekelilingnya sebelum berkata, "Aku tak tahu."
"Kakang... mungkinkah suara itu berasal dari Dewi Putih
Hati Setan? Hmm, kalau begitu di sekitar sini pasti Goa
Terkutuk berada. Meskipun aku tak tahu apa yang akan
terjadi, sebaiknya kita mencari lagi Kakang."
"Jangan gegabah. Serangan aneh dan mendadak itu telah
membuat, kita terpental dengan dada yang terasa remuk.
Bisa jadi sekarang kita akan mampus!!" sahut Suryopati
tcgang pula.
Keduanya terdiam, masing-masing mulai dicekam oleh
keraguan yang tiba-tiba muncul. Rasa tak tenang
berdendang di hati mereka. Wajah keduanya benar-benar
tegang dengan kening berkerut.
"Adi Gumilang... kau tetap di sini! Aku yang akan
mencari goa itu!!" desis Suryopati dengan kesiagaan
menjadi-jadi.
"Mengapa tidak bersama-sama saja, Kakang?"
Maksudku, bila terjadi apa-apa denganku, kau masih bisa
menikmati hidup lebih lama."
"Kalau begitu, biar aku saja yang melakukannya
Kakang!" seru Gumilang.
"Jangan membantah ucapanku! Kau tunggu di sini!!”
sahut Suryopati dan melangkah kembali dengan sikap
bertambah waspada. Dilindungi dirinya dengan tenaga
dalam yang tinggi guna menghalangi serangan mendadak
yang tadi menerpanya.
"Manusia-manusia yang mau cari mampus!" Suara
bergemuruh keras itu kembali terdengar.
"Kakang!!" seru Gumilang tercekat dan melihat
bagaimana tubuh Suryopati terpental ke belakang dengan
derasnya. Segera diempos tubuhnya, menangkap tubuh
Suryopati. Namun dorongan tenaga dahsyat yang menerpa
tubuh Suryopati, justru membuat tubuhnya terpental pula,
jatuh bergulingan tiga puluh tombak dengan masih
merangkul tubuh Suryopati.
"Kakang... bagaimana keadaanmu? Bagaimana?"
tanyanya risau yang melihat tubuh Suryopati tak bergerak.
Digoncang-goncangnya dengan hati cemas. Darah mengalir
di sekujur tubuh Suryopati. Mata lelaki itu tertutup rapat.
Kecemasan semakin kuat mengikat diri Gumilang. Dia
berusaha membangunkan Suryopati dengan mengalirkan
tenaga dalamnya, namun sampai sejauh itu belum
membawa hasil yang diharapkan. Sadarlah Gumliang,
kalau kakaknya sudah tak bernyawa.
Sedih, geram dan kemarahan membaur jadi satu.
Sebelum dia berdiri dan berteriak melampiaskan rasa
amarahnya, tiba-tiba sebuah tenaga yang tak terlihat
menghantam tubuhnya hingga terguling ke belakang.
Namun kekerasan hati yang terpatri begitu melihat
Suryopati sudah menjadi mayat, membuatnya segera
bangkit cepat.
Matanya melotot. Darahnya mendidih. Ketegangan
mengikat erat. Tubuh Suryopati mengapung di udara dan
bagai ditarik kekuatan aneh, melesat ke arah berlawanan.
"Kakang!!" serunya sambil mencoba menarik mayat
Suryopati, namun justru dia yang tersungkur karena tenaga
itu begitu kuat. Susah payah, tak mempedulikan rasa sakit
yang menyiksa, Gumilang mencoba memburu kembali.
Dan lagi-lagi tubuhnya terpental lagi ke belakang.
Jeritannya yang semakin serak berbaur dengan nyeri yang
tak terkira terdengar,
"Kakang!!"
Kembali dicobanya mengejar mayat Suryopati yang
melayang-layang ke tempat semula, di mana ia melihat
kakak seperguruannya terhantam tenaga aneh yang
dahsyat. Dan kini jatuh di tanah.
Tergesa Gumilang memburu mayat yang terbujur kaku
itu. Namun urung ketika melihat angin kencang
menyibakkan semak-semak. Sekujur tubuhnya bagai
diserang penyakit kaku mendadak. Sepasang matanya
terbuka lebar dengan mulut terbuka. Di balik semak itu,
dilihatnya sebuah celah cukup besar.
"Goa Terkutuk!!" desisnya tanpa sadar.
Tiba-tiba pula dirasakan kecemasan yang kuat, ketika
menyadari kemungkinan Dewi Putih Hati Setan masih
hidup. Namun dikuatkan hatinya. Ditekannya seluruh rasa
kejut dan khawatirnya.
Jantung Gumilang seakan copot ketika melihat sinar
warna hitam tiba-tiba berkelebat keluar dari dalam goa itu.
"Astaga! Sinar apa itu?" desisnya sambil melompat
menghindar karena pikirnya sinar hitam itu akan
menyerang ke arahnya. Akan tetapi justru sinar hitam itu
menggulung mayat Suryopati. .
Secepat itu pula kesadaran muncul di benak Gumilang
dan lelaki kelimis itu segera melompat untuk
menyelamatkan kembali mayat Suryopati. .
Namun ketika ia menyentuh mayat itu, rasa panas yang
sangat kuat menyengatnya hingga cepat ditarik pulang
kedua tangannya sambil mengaduh. Dan dilihatnya
bagaimana sinar hitam yang menggulung di sekujur tubuh
Suryopati mengangkat mayat itu perlahan-lahan.
"Kakang!!" teriak Gumilang dan merasakan pijaran
panas yang lebih kuat hingga kulitnya bagai terbakar saja.
Matanya terbelalak melihat bagaimana Sinar hitam itu
semakin lama seperti melihat mayat Suryopati.
Dan dilihatnya mayat itu kelojotan.
Sebelum Gumilang sempat berbuat sesuatu untuk
menyelamatkan mayat Suryopati, mendadak dilihatnya
kelebatan bayangan hijau menderu ke arah mayat
Suryopati. Sosok tubuh itu pun terguling oleh sinar hitam
yang mengeluarkan panas luar biasa. Jeritannya terdengar
keras membahana, dan tangan kanannya melontarkan
mayat Suryopati yang segera ditangkap oleh Gumilang.
Sementara sosok tubuh hijau pupus itu tengah berusaha
melepaskan diri dari lilitan sinar hitam dengan jeritan yang
keras sekali.
5
"Pendekar Slebor!!" seru Gumilang terkejut dan melihat
bagaimana tersiksanya Pendekar Slebor dalam lilitan sinar
hitam yang memancar dari dalam Goa Terkutuk.
Setelah meninggalkan Sri Kasih, Andika yang memang
dicekam rasa penasaran ingin mengetahui siapa gerangan
Dewi Pulih Hati Setan, segera meneruskan langkah.
Perasaannya semakin kuat kalau hawa kematian tengah
berputar di sekitarnya, sedang mengintai siapa saja. Apalagi
bila dikaitkan dengan suara menggelegar yang pernah
didengarnya, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.
Soal Sri Kasih yang bertemu dengannya tak sengaja,
adalah urusan kedua dari janjinya pada Si Tua Naga
Merah.
Dan betapa terkejutnya Pendekar Slebor begitu melihat
sosok tubuh yang dikirakannya sudah menjadi mayat
sedang dililit oleh sinar hitam menggidikkan. Melayang-
layang dipermainkan di udara. Dia juga melihat Gumilang
yang terpelanting seperti terhantam tenaga raksasa yang tak
terlihat.
Tanpa pikir panjang, Andika segera berkelebat untuk
menyelamatkan mayat yang ia yakini adalah sosok
Suryopati. Perbuatan baiknya itu justru bisa
mencelakakannya, karena tubuhnyalah yang terkena lilitan
sinar hitam itu sekarang.
"Setan,alas! Keparat!!" teriak Andika dengan napas yang
terasa sesak. Seluruh anggota tubuhnya bagai tak kuasa
digerakkan. Sangat mengikat dan menyiksa.
Dicoba untuk mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya,
namun lilitan sinar hitam itu semakin
menjungkirbalikkannya. Tenaga 'inti petir' pun dikerahkan,
namun tak bergeming sedikit juga. Bahkan, lilitan sinar
hitam itu semakin kuat. Wajah tampannya tertekuk ke
dalam. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya.
"Busyet! Apakah aku harus mampus sekarang ini?"
dengusnya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
"Barangkali dengan ajian 'Guntur Selaksa' aku mampu
melepaskan sinar sialan ini!!"
Akan tetapi, sinar hitam itu bertambah kuat, membuat
tubuhnya bagai disayat pisau yang sangat tajam. Di
beberapa bagian tubuh Andika sudah mengalirkan darah.
Sakitnya tak terkira.
Dalam petualangannya, Andika telah sering menderita
luka dan menerima serangan-serangan aneh yang
mengerikan, namun serangan yang dialaminya sekarang ini
membuat bulu kuduknya meremang dengan ketegangan
luar biasa. Dirasakan seluruh aliran darahnya kacau balau.
Kepalanya pusing berpendar. Isi perutnya seakan hendak
tumpah.
"Tidak, aku tidak boleh mampus sekarang," pikirnya
sambil mencoba meloloskan diri, Dikerahkan seluruh
tenaganya yang telah dipadukan, antara tenaga 'inti petir'
dengan ajian 'Guntur Selaksa'. Namun lagi-lagi tak
membawa arti apa-apa kecuali tubuhnya semakin terjepit
dan napas sangat sesak.
"Hik hik hik... rupanya Pendekar Slebor sedang siap
menerima kematiannya!!" terdengar suara terkikik itu dari
satu tempat. "Kasihan, sering kali dibicarakan orang,
namun menghadapi hal semacam itu saja sudah tak
mampu!"
Gumilang segera menoleh. Pendekar Slebor justru
memaki keras ke sosok yang baru muncul, "Jangan cuma
tertawa saja! Aku bisa mampus nih, Nek!!"
"Kau sudah bertemu dengan muridku?" seru yang
terkikik tak lain adalah si Tua Naga Merah. Seolah
menonton orang kesurupan, dia hanya memperhatikan
Andika, yang dalam keadaan kritis tanpa bisa berbuat apa-
apa, dengan tenangnya.
"Setan betul nenek jelek ini! Orang sudah mau mampus
dia masih bisa bertanya santai begitu!" maki Andika sambil
menahan sakit yang luar biasa. "Sudah, sudah!!" serunya
menjawab pertanyaan si Tua Naga Merah.
"Di mana dia sekarang?"
"Mana aku tahu! Kalau mau menolongku, cepat kau
lakukan!! Bila tidak, cepat tinggalkan tempat ini! Perutku
semakin sakit melihat tampang jelekmu!"
Wanita tua keriput itu tertawa.
"Sabar, menurut penglihatanku, sinar itu membutuhkan
waktu sepeminuman teh untuk membuat tubuhmu
meledak. Bila kau tidak memiliki tenaga 'inti petir', dalam
waktu hanya sepuluh kali tarikan napas, tubuhmu sudah
hancur! Nah, jawab pertanyaanku tadi? Di mana murid
Jelitaku itu?”
"Aku tidak tahu! Tetapi, bila kau menolongku, sebagai
imbalannya, aku akan mencarinya nanti!”
"Dia cantik?"
"Keparat!! Cantik, cantik!!" rutuk Andika sewot,
sementara Gumilang hanya mengerutkan kening melihat
keadaan ini. Dia sendiri merasa tak mampu untuk
menolong Pendekar Slebor yang Justru mengorbankan
nyawanya sendiri untuk menyelamatkan kakangnya yang
sesungguhnya sudah menjadi mayat.
"Bagus! Kau suka dengannya?”
"Nenek poet keparat! Apa-apaan pertanyaanmu itu,
hah?!"
"Wah Pemarah betul ya? Kau bisa menjawab
pertanyaanku dengan santai, bukan?”
"Kadal ompong!" maki Andika dan masih mengerahkan
tenaga dalamnya guna melepaskan diri.
"Ckk ckk ckk... kasihan sekali!" tiba-tiba Si Tua Naga
Merah menepuk tangannya tiga kali. Kepulan asap putih
keluar dari tangannya, perlahan-lahan bertambah banyak
dan tiba-tiba membubung serta menyelimuti tubuh Andika
yang terbatuk-batuk. Hal itu semakin membuatnya
blingsatan.
"Busyet! Apa yang dilakukan Nenek peot ini? Kalau aku
bertambah celaka, kukepruk kepalanya!”
Andika merasa seluruh urat di tubuhnya lemas
mendadak. Tenaganya bagai hilang seketika. Namun yang
sedikit membuatnya terkejut, karena lilitan sinar hitam itu
bagai mengendor terkena asap putih yang dilakukan oleh si
Tua Naga Merah.
Sementara tubuh si nenek sendiri bergetar hebat. Dari
hidung dan mulutnya keluar darah segar perlahan.
Tiba-tiba Andika merasakan seluruh lilitan sinar hitam
yang menyiksanya terlepas dan tubuhnya ambruk ke tanah.
Asap putih yang membubung dan membuatnya terbatuk-
batuk ditarik kembali oleh pemiliknya yang mengeluarkan
desahan panjang.
Andika melihat si Tua Naga Merah terhuyung ke
belakang dan jatuh terduduk. Si nenek langsung
mengatupkan kedua tangannya di dada, seperti sedang
mengatur seluruh pernapasan dan memulihkan tenaga
dalamnya. Semen tara sinar hitam yang melilit Andika tadi,
langsung lenyap begitu saja.
"Gila!" dengus Andika begitu melihat sebuah goa yang
berada di balik sebuah semak yang tersibak. Entah mengapa
Andika merasa bulu kuduknya meremang. Dia mencium
hawa kematian yang sudah sedemikian dekatnya. Cepat
diaturnya pernapasannya lagi.
"Huaaak!"
Terdengar si Tua Naga Merah muntah darah. Andika
cepat berkelebat mendekati si nenek yang tampak sangat
menderita. Cepat segera dialirkan tenaga dalamnya melalui
kedua telapak tangannya pada punggung si nenek.
"Kerahkan tenaga dalammu, Nek! Luka dalammu bisa
segera mengirimmu ke alam lain."
Si nenek menuruti kata-kata Andika. Perlahan-lahan
dirasakan resapan hangat mengaliri punggungnya. Satu
gumpalan hangat lainnya menjalari sekujur tubuhnya.
Keringat yang mengalir perlahan-lahan lenyap.
Andika duduk di samping si nenek. Didengarnya suara si
Tua Naga Merah yang bagai desisan, "Dewi putih Hati
Setan ternyata masih hidup. Goa Terkutuk dan sinar hitam
tadi merupakan bukti. Kekuatan tenaga yang melilit
tubuhmu tadi, Andika, begitu dahsyat sekali. Tenagaku
sebenarnya tak banyak berarti."
Sebelum Andika menyahuti kata-kata si nenek, terdengar
suara tawa mengerikan dari dalam goa.
"Apa yang kau duga itu memang benar. Lebih baik
kembali daripada kuturunkan tangan telengas!”
(Oodwkz-ray-novooO)
Andika tercekat dengan jantung yang berdebar kencang.
Suara itulah yang pernah didengarnya, yang mengalahkan
gemuruh hujan badai. Hmmm kalau begitu, memang sudah
ada korban yang terjadi sebelumnya.
Si Tua Naga Merah mengeluarkan suara seruan takjub,
"Bukan main!! Setan mana yang sedang bersuara ini, hah?"
ejeknya namun sikapnya menunjukkan kalau dia sangat
waspada.
Sedangkan Gumilang seperti anak kecil yang khawatir
kehilangan gula-gulanya, mendekap mayat Suryopati.
"itulah suara yang kudengar ketika aku, dan Kakang
Suryopati tiba di sini. Hatiku tak puas bila belum
membalas!" lelaki yang tengah bersedih itu berdiri.
Tangannya Siap melepaskan satu pukulan ke Goa
Terkutuk.
Andika cepat melenting mendekatinya dengan sikap
waspada, "Jangan bertindak gegabah. Saat ini yang kita
tahu, yang kekuatan dahsyat yang dilakukan oleh Dewi
Putih Hati Setan. Kita belum tahu bagaimana
mengatasinya. Gumilang, lebih baik kau kuburkan saja dulu
mayat kakangmu itu...."
Gumilang menatap Pendekar Slebor sesaat dan perlahan-
lahan menurunkan tangannya. Lalu diperhatikan mayat
kakaknya, nanar. Pandangannya menjadi sedikit kabur
karena terhalang oleh air mata yang menetes perlahan. Biar
bagaimanapun juga kesedihannya, dia tetap tegar.
Tanpa berucap sepatah kata pun juga, dia bangkit
membopong tubuh Suryopati, dan melesat meninggalkan
Pendekar Slebor dan si Tua Naga Merah.
Si Tua Naga Merah yang memiliki sifat angin-anginan
sudah berdiri dan membentak Andika yang tengah menatap
Goa Terkutuk kembali
"Hei, katanya kau memiliki otak cerdik! Ayo, pikirkan!
Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana caranya kita
menerobos masuk ke goa itu?"
Andika hanya menatap si Tua Naga Merah dengan
kening berkerut. Sungguh, dia tak tahu apa yang
diperbuatnya. Tetapi dia berkata mengemukakan jalan
pikirannya,
"Yang kupikirkan sekarang, bukanlah bagaimana caanya
klta bisa masuk ke dalam goa itu saat ini? Melainkan...
kalau memang benar orang yang kau katakan berjuluk
Dewi Putih Hati Setan itu masih hidup, siapa sebenarnya
yang ditunggunya? Puluhan tahun telah berlalu, namun dia
tidak keluar dari goa itu."
Si Tua Naga Merah terdiam. Semakin lama dia
bertambah kagum melihat kecerdikan Andika. Diam-diam,
wanita tua yang tak sabaran itu menginginkan muridnya
berjodoh dengan Pendekar Slebor. Tetapi di mana
muridnya itu? Sampai saat ini ia belum bertemu juga
dengannya. Ada rasa penyesalan di dirinya karena
menyuruh muridnya untuk mendapatkan Pecut Sakti Bulu
Babi milik Dewi Putih Hati Setan di Goa Terkutuk.
"Masa bodoh dengan semua itu! Aku hendak mencari
muridku dulu! Kau harus ikut!"
Andika menoleh. "Kenapa?"
"Pakai tanya lagi! Hayo, ikut! Sambil lalu kita
memikirkan bagaimana caranya menerobos masuk ke Goa
Terkutuk!"
"Kita bisa melakukannya sekarang!"
"Lakukan sendiri kalau kau ingin mampus!"
Andika membenarkan kata-kata si Tua Naga Merah.
Adakah sesuatu yang bisa mereka pergunakan untuk
masuk?
Melihat si Tua Naga Merah sudah melesat, Andika
menarik napas panjang. Sejenak ditatapnya Goa Terkutuk
di hadapannya. "Si Tua Naga Merah memang benar, lebih
baik menghindar dulu sebelum menemukan cara yang tepat
untuk masuk. Dan bila memang dugaanku benar tentang
seseorang yang ditunggu oleh Dewi Putih Hati Setan,
siapakah orang itu?"
Andika pun berkelebat menyusul si Tua Naga Merah.
6
Tak sengaja, keduanya tiba di sebuah bukit yang tak jauh
dari Gunung Larangan. Sebuah bukit karang yang cukup
terjal. Malam sudah berlalu. Kini matahari di ufuk timur
sudah membiaskan cahayanya.
Andika bertanya selesai mandi di sebuah mata air pada si
Tua Naga Merah, "Apa yang hendak kita lakukan di sini,
Nek?"
"Lho, aku hendak mencari muridku? Kalau kau memang
ingin menerobos Goa Terkutuk, silakan saja!"
Andika mendengus mendengarnya. Untuk saat ini, dia
tidak terlalu bodoh nekat menerobos. Dialihkan
pandangannya pada bukit karang di hadapannya. Lalu
ditolehnya Gunung Larangan yang berjarak ratusan tombak
dari tempat mereka berdiri, terhalang hutan yang sangat
lebat.
Alam memang begitu aneh dan terkadang menakutkan.
Terkadang pula memberikan ketenangan dan kenyamanan,
alam banyak menyimpan misteri.
"Sudah kukatakan aku telah bertemu dengan muridmu
itu. Dia tak kurang suatu apa."
Si Tua Naga Merah terkekeh, padahal otaknya pun
dipenuhi dengan kebingungan tentang Dewi Putih Hati
Setan.
"Apakah kau tertarik dengan muridku itu'!"
"Heran, masih saja omongannya seperti itu? Apakah aku
ini benar -benar tampan?" meskipun mulut Andlka
mendumal, tetapi hatinya bangga juga. Lalu katanya, “Soal
tertarik atau tidak, bukan urusan yang penting saat ini."
“Kalau begitu, pergunakan otakmu yang katanya cerdik
untuk memecahkan semua ini!" sinis suara si nenek.
Andika terdiam mendengar kata-kata si Tua Naga
Merah. Memang, belum ada yang bisa dijadikan patokan
oleh Pendekar Slebor untuk memecahkan semua teka-teki
yang terpampang di hadapannya sekarang.
Selagi keduanya terdiam, mendadak berkesiur angin
dingin ke arah mereka.
Keduanya menoleh, tercekat dengan tubuh tegang.
Karena, entah bagaimana dan dari mana munculnya, di
hadapan mereka terlihat satu sosok tubuh jelita berpakaian
putih tipis menerawang. Tubuhnya yang indah bagai
tercetak dan siap dilahap bulat-bulat oleh pandangan mata
setiap laki-laki. Rambutnya panjang tergerai, mengeluarkan
aroma wangi yang lembut dan menusuk hidung. Sepasang
matanya jernih namun dingin menusuk. Bibirnya merekah
Plak.
Tangan si Tua Naga Merah menepak kepala Andika
yang langsung meringis.
"Matamu itu!” dengus si nenek.
“Usil amat sih? Ini kan pemandangan yang indah. Di
tempat sesepi ini, mana boleh dilewatkan?" balas Andika
bagai selorohan, padahal hatinya bertanya-tanya siapa
gerangan gadis itu? "Apa aku harus terus menerus menatap
tubuhmu yang aduhai itu?”
"Mata lancang itu tak bisa dimaafkan!!" Sosok baju putih
menerawang itu melangkah. Gerakannya ringan, seakan tak
menginjak bumi. Mata tajamnya menyorot, berbinar
marah. Aroma yang penuh dengan ikatan pesona menguar
menerpa hidung Andika yang bagai tersedak. Hanya sesaat
dia bisa menikmati keindahan itu, karena di detik lain
Andika merasa napasnya sesak.
"Kurang ajar! Rupanya ini serangan tak langsung!"
makinya sambil mengerahkan hawa murni untuk mengaliri
seluruh tubuhnya, sehingga pernapasannya tidak begitu
terganggu.
"Hik hik hik... kau memang pandai, Anak Muda.
Otakmu sangat cerdik sekali hingga kau tahu ini serangan
tidak langsung!" sosok cantik merangsang itu terkikik.
Getaran suaranya bagai meredam jantung.
Kening Andika berkerut hingga kedua alisnya yang bagai
kepakan sayap elang itu hampir bertautan.
"Siapa gerangan wanita muda ini?” pikirnya.
Belum lagi didapat jawaban yang dicarinya, mendadak
Andika sudah berseru sambil mendorong tubuh si Tua
Naga Merah yang sedang menahan jengkel mendengar
ucapan Andika tadi.
Blaaarrr!!
Tanah di mana si Tua Naga Merah berdiri langsung
membentuk sebuah lobang setelah terdengar dentuman
keras. Pasir dan kerikil beterbangan ke sana kemari.
"Kau?" dengus si nenek sambil menuding si gadis jelita
yang menyeringai mirip setan. Si nenek benar-benar heran,
mengapa dia tidak mendengar atau mengetahui kalau
serangan tengah dilancarkan oleh sosok di hadapannya.
Justru Pendekar Slebor yang mengetahuinya.
Saat itu, si Tua Naga Merah memang sedang merasa
jengkel, hingga kewaspadaannya hilang. Tak dipikirkan hal
lainnya kecuali ejekan Andika barusan. Sedangkan Andika,
dalam waktu yang sangat sempit, masih sempat melihat
mulut sosok itu terbuka, membentuk lorong indah dan
mengarah pada si Tua Naga Merah. Andika yakin itu satu
serangan maut, makanya dia langsung mendorong tubuh si
nenek.
"Aku menginginkan pemuda itu, tidak menginginkan
kau!” suara itu bertambah dingin. Dan sepasang bibir
memerah itu kembali membentuk lorong.
Kali ini Si nenek memaki sambil menggebrak tubuhnya
ke depan ketika dirasakannya angin yang menderu dahsyat
ke arahnya.
"Keparat! Kau belum mengenal siapa aku, hah?!”
makinya dan tangannya sudah mengibas. Dikawal suara
keras, sinar putih meluncur ke arah si gadis yang hanya
terkikik.
Tiba-tiba, saja kembali mulut si gadis meniup. Angin
yang keluar dari tiupan lembut itu benar-benar dahsyat. Si
Tua Naga Merah terpekik dan langsung membuang tubuh,
menghindari angin bergulung-gulung. Sebuah batu karang
besar terpental tiga puluh tombak. Si nenek bangkit dengan
wajah pias.
"Edan! Siapa gadis ini! Serangannya benar-benar
mengerikan. Pantang bagiku dihina seperti itu," pikir si
nenek, kali ini kedua tangannya kelihatan memerah. Ajian
'Surya Darah' telah dialirkan. Sebuah ajian yang meminjam
tenaga surya.
Gadis jelita berbaju tipis menerawang itu terkikik. Keluar
dari mulutnya kata-kata, “'Surya Darah'. Rupanya kau
murid dari Buyut Jala Gandring! Sayang, ajian 'Surya
Darah' tak mampu menghalangiku!"
Tua Naga Merah benar-benar tak mengerti, karena gadis
itu tahu ajian yang akan dipergunakannya. Bukan hanya
sampai di situ saja yang mengejutkannya, bahkan gadis itu
tahu tentang gurunya.
"Kurang ajar! Siapa gadis itu sebenarnya? Bagaimana dia
bisa tahu tentang guruku yang sudah meninggal lebih dari
lima puluh tahun! Menurut per hitunganku, gadis ini paling
tidak baru berusia dua puluh lima tahun! Benar -benar luar
biasa, murid siapakah dia'!" desisnya dalam hati dengan
tatapan tak berkesip pada sosok jelita di depannya.
Dan seperti tahu apa yang dipikirkannya, si gadis
terkikik, "Tak perlu heran dan memusingkan siapa aku,
Orang Tua! Nyawamu sudah menjadi milikku!!"
"Tahan! Sebutkan siapa kau sebenarnya!!"
"Namaku Cempaka! Orang-orang menjulukiku Dewi
Putih Hati Setan! Nah, apakah kau sudah siap nyawamu
kukirim pada setan neraka'!"
Kali ini kening si Tua Naga Merah yang sudah berkerut,
semakin mengerut. Lalu ia menggeleng-gelengkan
kepalanya, "Tak mungkin dia gadis yang pernah
menggemparkan dunia persilatan delapan puluh tahun yang
lalu. Kalaupun dugaanku tentang Dewi Putih Hati Setan
masih hidup, tentunya dia tidak seperti gadis belasan tahun
ini. Paling tidak, usianya jauh di atasku! Mungkin,
kebetulan saja dia memiliki nama dan Julukan yang sama.
Dewi Putih Hati Setan menghilang setelah dikalahkan oleh
Caping Dewa Sakti puluhan tahun lalu! Kudengar kabar dia
memang mendiami Goa Terkutuk! Tetapi... mengapa dia
masih semuda ini?"
"Hik hk hik... kau telah memikirkan soal Caping Dewa
Sakti, Nek! Berarti kau harus mampus!" sentak Si gadis
yang mengaku bernama Cempaka dan berjuluk Dewi Putih
Hati Setan yang lagi-lagi seakan mampu membaca pikiran
si Tua Naga Merah.
Lalu dengan kelebatan seperti setan gentayangan, tubuh
Si gadis sudah bergerak ke arah si Tua Naga Merah.
Kelebatan tubuhnya menimbulkan gemuruh yang luar
biasa.
Si nenek yang sudah mempersiapkan diri dengan ajian
Surya Darah berteriak keras sambil mengempos tubuhnya
dengan kecepatan hampir sama.
Des!
Benturan dahsyat yang menerbangkan batu-batu karang
dan mengeluarkan asap, terjadi di udara. Tubuh Si Tua
Naga Merah terpental lima tombak ke belakang, dadanya
bagai dihantam oleh godam raksasa darah mengalir dari
mulut dan hidungnya. Sementara tubuh gadis berbaju putih
tetap tegak dengan tatapan yang semakin dingin. Tak
kurang suatu apa.
"Sudah kukatakan tadi, ajian 'Surya Darah' milik buyut
Jala Gandring tak ada gunanya! Dulu manusia itu pun mati
di tanganku!!"
Wajah si nenek yang sedang bangkit dengan susah payah
menjadi pias. Meskipun ia masih tak percaya dengan apa
yang didengarnya, namun kata-kata gadis itu membuat bulu
kuduknya meremang.
Pendekar Slebor yang tidak mengerti akan semua itu,
membentak keras, "Siapa pun namamu, kau telah
melakukan sebuah tindakan telengas yang tak bisa
dimaafkan!"
Si gadis pamerkan senyumnya. Tetapi, di mata Andika
senyum itu begitu mengerikan, bagai memancarkan satu
bahaya yang luar biasa jahatnya.
"Aku tahu siapa kau adanya, Orang Muda! Kalau
pemuda yang dijuluki orang sebagai Pendekar Slebor!
Tetapi, melihat kain bercorak catur yang ada di lehermu,
ada hubungan apakah kau dengan Ki Saptacakra?"
Kali ini Andika yang mengerutkan keningnya. Benar-
benar semakin membingungkan. Sejak tadi pemuda urakan
itu juga merasa heran ketika mendengar pengakuan gadis
itu yang mengaku berjuluk Dewi Putih Hati Setan. Sejak
pertama kali mendengar julukan itu, diduganya kalau orang
yang berjuluk itu sudah lanjut usia namun masih memiliki
kesaktian yang tinggi. Otaknya diperas habis-habisan untuk
memecahkan teka-teki yang semakin bertambah.
Sementara, si Tua Naga Merah menggeram, "Aku ingin
tahu siapa kau sebenarnya!!" Kedua tangannya ditepukkan
tiga kali. Seketika asap. putih yang tebal membubung dan
mengarah pada Si gadis berbaju putih yang terkikik-kikik.
"Ajian 'Asap Dewa' yang tak banyak artinya!" serunya
sambil membuka mulutnya dan menyedot seluruh asap itu
masuk ke perutnya. Tiba-tiba saja dihembuskannya. Bak
meriam, asap itu meluncur deras ke arah si Tua Naga
Merah yang menjadi terkesiap. Kedua matanya terbelalak
lebih lebar.
Segera si nenek membuang tubuhnya lagi, namun asap
putih miliknya itu justru terus mencecarnya dengan
menimbulkan suara ledakan berkali-kali.Membuatnya bagai
monyet kebakaran ekor, yang harus berlompatan dan
berlompatan dan sekali waktu punggungnya terpapas asap
putih itu.
"Aaaakhhh!!" jeritnya keras dan tubuhnya ambruk
dengan luka besar di punggung.
Pendekar Slebor segera melakukan tindakan yang benar-
benar nekat. Dia berguling cepat ke arah si Tua Naga
Merah dan menarik tubuhnya, hingga asap putih yang
ditiupkan oleh si gadis luput dari sasaran.
Selagi andika melenting menghindar dengan membawa
tubuh si Tua Naga Merah, tangan kanan si gadis yang
mengaku berjuluk Dewi Putih Hati Setan itu mengibas ke
arahnya. Satu serbuan angin mengerikan siap mencacah
tubuh Pendekar Slebor terlepas cepat, menimbulkan
gemuruh yang menakutkan.
Wusss!!!
Telinga andika yang tajam itu menangkap desingan
dahsyat ke arahnya. Tanpa mengurangi keseimbangan dan
pegangannya pada si Tua Naga Merah digerakkan tangan
kanannya.
Wuuuttt!!
Duaaarr!
Serangan dahsyat itu tertahan, berbenturan, hingga
menimbulkan percikan api yang cukup menyilaukan.
Akibat tenaga lawan lebih kuat dari milik Andika, pemuda
pewaris ilmu Pendekar Lembab Kutukan yang masih
membopong tubuh si Tua Naga Merah yang sudah tak
berdaya, terpental deras ke belakang. Masih dicoba
kendalikan diri agar keseimbangannya tetap terjaga dengan
jalan memutar tubuh dua kali.
Bersamaan dengan itu, tangan kanan dan kiri gadis
berbaju putih bergerak diiringi seringaian mengerikan. Lima
larik sinar hitam menderu bagai untaian benang menuju ke
arah Pendekar Slebor yang dengan susah payah sedang
berusaha bangkit sambil membopong tubuh si Tua Naga
Merah.
Sraat! Sraatt!
Serangan aneh itu membuat Andika tercekal.
Mengandalkan kecepatannya diusahakan agar serangan itu
tidak mengenai tubuhnya. Gempuran pertama lawan
berhasil dihindarinya, namun lima larik sinar lainnya
menderu lebih cepat.
Memekik Andika merasa tak mampu menghindar lagi.
Namun sebelum sinar hitam itu melilit tubuhnya,
sekaligus tubuh si Tua Naga Merah, dirasakannya satu
sentakan kuat menerpanya. Tubuhnya terlempar deras ke
belakang, sementara tubuh si Tua Naga Merah yang berada
dalam bopongannya terlepas. Terpental pula entah ke
mana.
7
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Dalam keadaan kritis bagi Andika, untuk kedua kalinya
terjebak lilitan sinar hitam yang mematikan itu, apalagi
dalam kondisi si Tua Naga Merah yang tak berdaya, satu
sosok tubuh ramping telah melakukan satu tindakan yang
luar biasa beraninya. Ia adalah Sri Kasih yang sekarang
tengah terengah dan menatap tak percaya pada sosok
ramping berpakaian tipis menerawang yang menatapnya
gusar dalam jarak tiga tombak di hadapannya. Lima larik
sinar hitam tadi menghantam pepohonan kembali, hingga
berantakan.
Sepeninggal Andika, Sri Kasih memang bermaksud
untuk mencarinya. Bukan karena Andika menyebabkan
kelinci buruannya lenyap, melainkan kata-kata andika yang
mengatakan kalau gurunya berada di sini pula. Bila pemuda
itu berbohong, Sri Kasih berkeinginan untuk menghajarnya.
Tetapi, hatinya pun tidak enak bila berpikir tentang sifat
gurunya yang suka muncul tiba-tiba, dengan cara berkata-
kata yang membuat hati yang mendengarnya mau muntah.
Dan bukan main terkejutnya Sri Kasih melihat pemuda
yang pernah bertarung dengannya berada dalam keadaan
kritis. Terutama melihat satu sosok tubuh yang sangat
dikenalnya dan kelihatan tak berdaya.
Segera dengan pekikan keras ia mengempos tubuhnya
dan menendang keras ke arah tubuh keduanya yang hampir
terkena sambaran lilitan sinar hitam.
Setelah itu, ia melenting dengan lincahnya.
"Keparrrraaattt!!" suara itu menggelegar hebat, bagai
meluruhkan dedaunan. Menyusul lima larik sinar hitam
mengarah pada Sri Kasih yang segera menggerakkan
cambuknya.
Ctaarrr!
Ujung cambuknya menghantam sinar hitam yang
dirasakannya bagai menghantam kerasnya gunung.
Tubuhnya terpental ke belakang dan muntah darah.
Dirasakan tubuhnya bergetar hebat. Aliran darahnya kacau
seketika.
Sinar hitam yang kali ini dikendalikan oleh gadis yang
mengaku berjuluk Dewi Putih Hati Setan itu membubung
dan meliuk-liuk mengarah pada Sri Kasih yang segera
bergulingan,
Blar!!
Tanah di mana tadi terjatuh, bolong seketika. Dan Sri
Kasih segera berguling lebih jauh. Ia segera berdiri sigap
untuk menerima serangan selanjutnya. Napasnya senin-
kemis. Dan keringat membanjiri wajahnya yang cantik dan
sekarang pucat bagai ditarik setan.
Andika yang telah berdiri dan melihat kemurkaan di
wajah gadis berbaju putih itu cepat berteriak dan
menerjang, "Sri Kasih! Kau cari gurumu yang terpental tadi!
Biar aku yang menghadang gadis setan ini!!"
Tubuh pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah Kutukan
itu sudah menderu. Ajian 'Guntur Selaksa' telah terangkum
di tangannya dan siap dihantamkan pada gadis berbaju
putih yang tengah meradang. Bersamaan dengan itu, si
gadis angkat sebelah tangannya dan memutarnya dengan
cepat.
Satu gelombang angin yang menimbulkan suara
menyengat telinga dan jantung menerjang ke muka.
Menghantam tubuh Andika yang terpental kembali ke
belakang. Nyeri tak tertahankan. Seluruh darahnya bagai
muncrat ke ubun-ubun. Hatinya mendesis kaget, "Gila!
Tenaganya luar biasa sekali! Ajian 'Guntur Selaksa' seperti
barang mainan saja terhadapnya!"
Sementara Sri Kasih begitu mendengar kata-kata Andika,
segera berkelebat mencari gurunya. Ketika ditemukan, Sri
Kasih terbelalak melihat luka di punggung gurunya.
Dibawanya tubuh gurunya jauh dari tempat itu. Hatinya
bagai diremas keras oleh tangan raksasa. Pikirannya
seketika kacau.
Di satu tempat yang menurutnya cukup aman, segera
dialirkan tenaga dalamnya pada tubuh gurunya. Napasnya
dirasakan sesak luar biasa. Namun baginya, yang terpenting
adalah nyawa gurunya yang mengasihi dan
membesarkannya. Setelah itu, dimasukkan lima buah
bulatan kecil berwarna merah ke mulut gurunya.
Sri Kasih mendesah ketika merasakan panas di tubuh
gurunya sedikit menghilang. Segera diatur napasnya, duduk
bersemadi dengan dada tegak. Dialirkannya kembali
seluruh hawa murninya guna menghilangkan rasa sakit.
Sedangkan saat ini Andika benar-benar menjadi bulan-
bulanan dari gadis berbaju putih. Sebisanya pemuda urakan
itu menghindari setiap serangan mautnya yang dilepaskan
dengan tatapan mata berkobar laksana api.
"Tak mungkin aku bisa mengalahkannya di saat
kondisiku luka dalam seperti ini. Ada baiknya aku
tinggalkan gadis keparat ini dulu dan mencari titik
kelemahannya.”
Memikir sampai di situ, mendadak saja andika
kelebatkan kain pusaka bercorak catur ketika sinar hitam
menderu dahsyat ke arahnya.
Pyaaarr!!
Kelebatan kain bercorak catur yang keluarkan suara
bagai ribuan tawon mengamuk itu menghantam sinar hitam
yang mengarah padanya.
Lagi-lagi andika tersentak ke belakang karena kuatnya
tenaga yang dilepaskan oleh si gadis. Namun kesempatan
itu pun dipergunakannya untuk meninggalkan tempat itu.
Dengan cara berzig-zag andika berhasil loloskan diri.
Tempat itu telah hancur berantakan, bagai diamuk oleh
ratusan kerbau liar.
Si gadis menghentikan serangannya. Wajahnya yang
cantik tertekuk dengan kerut-merut yang kentara. Matanya
berpendar penuh amarah.
Entah apa yang dipikirkannya, tiba-tiba saja tubuh gadis
itu lenyap. Dan entah bagaimana caranya, gadis yang telah
membuat andika pontang-panting dengan serangan gencar
yang mematikan sudah tiba di Gunung Larangan, dan
melesat masuk ke dalam Goa Terkutuk.
Suasana dalam goa itu sangat pekat sekali. Meskipun
mata telah dipicingkan tetap saja tak tampak apa-apa
kecuali gelap yang menyeramkan. Namun bagi si gadis
semuanya tampak biasa saja.
Ia duduk di sebuah batu di dalam goa.
“Bukan hanya kalian yang terkejut melihat keadaanku
sekarang ini. Berkat ramuan puluhan dedaunan yang
terdapat di hutan ini dan kuminum saat terluka parah akibat
serangan Caping Dewa Sakti, secara tak sengaja
membuatku awet muda sampai saat ini.”
Tangannya meraba dalam gelap. Bibirnya menyeringai
ketika merasakan dua buah benda di tangannya.
"Dulu, Caping Dewa Sakti berhasil mengalahkanku
karena aku belum sepenuhnya menamatkan Kitab. Pusaka
Rembulan Mambang. Sekarang, dengan Ilmu yang
kuciptakan lagi dan Pecut Sakti Bulu Babi, akan kubuat
rencah tubuhnya!"
Lalu gadis itu terdiam. Kedua matanya terpejam
kembali.
(Oodwkz-ray-novooO)
Andika menghentikan larinya ketika melihat Sri Kasih
yang sedang duduk bersemadi dan si Tua Naga Merah yang
terbaring di rerumputan.
"Tindakanmu barusan bisa mencelakakanmu sendiri, Sri
Kasih...," katanya pelan setelah atur napas.
Sri Kasih yang sudah selesai melakukan pengobatannya
sendiri, menoleh.
"Aku tahu, Kang Andika... tetapi, aku tak ingin kalian
tewas."
Pendekar Slebor cuma menyeringai sambil menahan rasa
sakit, mendengar kata-kata lembut Sri Kasih. Pada
dasarnya, gadis itu memang memiliki hati yang lembut,
polos dan jujur. Kalaupun ia marah waktu itu pada Andika.
karena ia merasa Andika menggagalkan niatnya untuk
menangkap kelinci gemuk.
"Terima kasih kalau kau berpikir demikian," kata Andika
yang yakin kalau gadis itu memiliki hati yang baik.
"Aku yakin, gadis yang mengaku Dewi Putih Hati Setan
itu, adalah penghuni Goa Terkutuk. Ia harus merasakan
seluruh sakit hatiku atas perbuatannya!"
"Jangan terlalu bernafsu. Keadaan sangat tidak
menguntungkan sekarang ini. Karena, gurumu dalam
keadaan pingsan. dan aku sendiri terluka dalam.
Kemungkinannya, bila ada serangan yang datang, itu
berarti kita hanya membunuh diri saja."
Sri Kasih mendesah pendek, membenarkan kata-kata
Andika.
Setelah napasnya normal kembali, Andika membungkuk
dan memeriksa tubuh si Tua Naga Merah.
Dalam sekali periksa, ia yakin tubuh wanita tua yang
pemarah itu telah berada dalam pengobatan yang tepat.
Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan muridnya yang
jelita itu?
“Sebaiknya, kita beristirahat saja dulu di sini. Sepertinya,
gurumu sedikit banyaknya mengetahui tentang Dewi Putih
Hati Setan. Terus terang, aku ingin mengetahuinya pula."
Sri Kasih menganggukkan kepalanya sambil menatap
pemuda tampan di hadapannya. Diam-diam ia menyesal
pernah membentak Andika. Itu pun dilakukan karena ia
jengkel kelinci gemuk yang hendak dijadikan santapannya
kabur.
"Sebaiknya kita beristirahat di sini. Tempat ini cukup
aman," kata andika sambil melangkah tiga tombak dari
jarak Sri Kasih dan si Tua Naga Merah.
Direbahkan tubuhnya di sana.
Meskipun lelah tak terkira, namun sepasang matanya
belum bisa segera dipejamkan. Masalah yang dihadapinya
ini sangat memusingkan kepalanya. Kalau memang gadis
berbaju putih menerawang itu Dewi Putih Hati Setan,
mengapa si Tua Naga Merah seperti keheranan? Apakah
karena si Tua Naga Merah menganggap seharusnya Dewi
Putih Hati Setan sudah lebih tua darinya? Lalu, mengapa
wanita itu masih demikian muda?
Sementara itu Sri Kasih pun tak bisa memejamkan
matanya. Entah mengapa pikirannya tertuju pada Andllka
yang berada pada jarak tiga tombak dengannya. Perasaan
aneh yang tak pernah dirasakan selama ini, coba ditekannya
dalam-dalam.
Dan perlahan-lahan matanya pun terpejam.
8
Matahari telah bekerja kembali. Sinarnya yang berwarna
kekuningan indah mewarnai seluruh alam. Embun pagi
masih bergelayut manja di dedaunan, ketika Andika terjaga
dari tidurnya.
Ketika ia berdiri, dilihatnya si Tua Naga Merah sedang
duduk sambil menikmati buah-buahan.
"Kau sudah bangun?" sapa si nenek.
Andika cuma nyengir saja sambil melangkah. Ia gembira
melihat si nenek sudah siuman dari pingsannya. "Di mana
Sri Kasih, Nek?"
"Untuk apa kau menanyakannya, hah?!"
"Wah! Orang bertanya masa harus dibentak!" dengus
Andika sambil mencomot buah-buahan yang ada di depan
si nenek. Tangan si nenek langsung menelepak tangannya.
"Jangan main comot saja!"
Kembali Andika nyengir. Lalu tak acuh saja ia
menikmati buah yang sudah dipegangnya itu.
Si Tua Naga Merah berkata lagi, "Kau belum menjawab
pertanyaanku?"
"Memangnya kenapa? Aku kan cuma bertanya saja?"
sahut Andika dan mencomot lagi buah yang ada di
hadapannya, kali ini manggis hutan yang sudah masak.
"Apakah kau..." Kata-kata itu terpotong oleh suatu suara
bernada riang.
"Nek, air di sungai itu jernih sekah! Aku sudah... oh!!”
Sri Kasih menghentikan kalimatnya, berhenti melangkah
begitu melihat Andika yang nyengir sambil menunjukkan
buah yang dimakannya pada Sri Kasih.
“Kau enak, Kang Andika,” kata Sri Kasih sambil
melangkah kembali "Aku yang mencari susah payah, kau
yang memakannya!"
"Nanti aku kembalikan. Di mana sungai yang kau
katakan tadi?" Andika tersenyum sambil tatap Sri Kasih "
Gadis ini cantik sekali,” pikirnya nakal "Ih! Bau merang
dari tubuhnya benar-benar menunjukkan keaslian bau
tubuh gadis jelita ini.”
"Tauk! Cari saja sendiri!” sahut Sri Kasih ketika
menyadari pandangan nakal Andika padanya sambil
duduk di sisi gurunya yang cuma tersenyum.
Andika bangkit dan melangkah sambil berseloroh,
"Kalau tidak mau kasih tahu ya tidak apa-apa. Aku tahu,
sebenarnya kau masih ingin mandi bersamaku, kan?"
Sri Kasih putar kepalanya seketika. Sepasang matanya
bagai melompat keluar mendengar seloroh Andika.
“Brengsek!” makinya diiringi satu gerakan tangan ke
arah andika.
Wusss! !
Andika memiringkan tubuh sedikit. Serangan yang
dilakukan oleh Sri Kasih luput dari sasarannya,
menghantam pohon yang bergetar. Beberapa buahnya jatuh
yang segera ditangkap Andika dengan lincah.
"Lumayan! Hei, apakah kau masih menganggap ini
milikmu juga?" serunya dan sebelum Sri Kasih membentak,
tubuh Andika sudah lenyap dari pandangan.
"Konyol!" Sri Kasih tertawa. "Bagaimana kau bisa
bertemu dengan pemuda konyol itu, Nek?" tanya Sri Kasih
pada gurunya. Ia bebas memanggil 'guru' atau 'nenek' pada
si Tua Naga Merah yang cuma tersenyum.
Ia tahu kalau muridnya yang diam-diam itu menyukai
Pendekar Slebor.
"Sudahlah, Sri Kasih. Persoalan bagaimana caranya aku
bertemu dengan Pendekar Slebor bukanlah sebuah masalah.
Kuakui... kalau Pendekar Slebor memiliki ilmu yang tinggi.
Aku berharap, dengan bantuannya kita bisa mengalahkan
Dewi Putih Hati Setan, Sri Kasih."
"Hhhh! Percuma, Nek! Melihat sikapnya, Andika jelas
sekali tergolong pemuda urakan," kata Sri Kasih
melecehkan. "Apa dengan pemuda yang memiliki sifat
urakan itu, kita bisa meminta bantuannya, Nek?"
"Entahlah, Sri Kasih. Hanya saja, aku melihat sisi lain
dari sifat Andika yang urakan itu."
Sri Kasih jadi penasaran ketika melihat bibir gurunya
tersenyum. Dan entah mengapa gadis jelita itu jadi risih
menatap bola mata gurunya.
"Sisi lain apa yang Nenek maksudkan? Sudah jelas
pemuda itu suka bersikap seenaknya saja!" katanya
mencoba mengubur sesuatu yang bergejolak di dadanya.
Orang tua berbaju merah itu tersenyum penuh arti, justru
Sri Kasih menjadi memerah wajahnya.
“Apakah kau tidak melihat sisi lain pada dirinya, Sri
Kasih?"
Sri Kasih tak menjawab. Justru menyatukan kedua
tangannya dengan sikap gelisah. Si nenek tersenyum sendiri
dan tak acuh menikmati lagi buah-buahan yang ada di
hadapannya. Sedikit banyaknya, sikap yang diperlihatkan
oleh muridnya sudah jelas menandakan gadis itu diam-
diam menyukai Andika.
Selang beberapa lama, Pendekar Slebor sudah tiba
kembali dengan rambut yang masih basah. Sementara Sri
Kasih sudah menggelung rambutnya ke atas.
"Nek, ceritakan kepadaku tentang Dewi Putih Hati
Setan. Terus terang, aku masih bingung karenanya,” pinta
Andika setelah duduk kembali di hadapan Si Tua Naga
Merah.
Si Tua Naga Merah mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku hanya mendengar dari guruku Buyut Jala
Gandring. Puluhan tahun lalu, ada seorang tokoh rimba
persilatan yang berjuluk Caping Dewa Sakti. Sepak
terjangnya sangat disegani oleh setiap orang rimba
persilatan. Di mana ada orang golongan sesat melakukan
aksinya, di sana juga Caping Dewa Sakti akan muncul.
Kemudian kudengar ada seorang gadis jelita yang memiliki
kesaktian sangat tinggi namun memiliki tangan telengas. Ia
tak peduli siapa pun juga, bila ia ingin membunuhnya, pasti
ia akan melakukan. Melihat hal itu, Caping Dewa Sakti
turun tangan. Hingga terjadi pertarungan yang sangat hebat
sekali. Dalam pertarungan itu, Dewi Putih Hati Setan
berhasil dikalahkan dan menghilang entah ke mana. Banyak
pendapat yang mengatakan kalau ia sudah meninggalkan
rimba persilatan dan menjadi pertapa. Ada juga yang
mengatakan ia mati membunuh diri. Ada juga yang
mengatakan ia mati di tangan Caping Dewa Sakti. Tetapi
yang kudengar dari guruku, tentang Caping Dewa Sakti
yang kemudian menjadi pertapa di Gunung Batu. Entahlah
ia masih hidup atau tidak."
"Lalu bagaimana tahu-tahu muncul gadis yang mengaku
bernama Dewi Pulih Hati Setan itu, Nek?"
Si Tua Naga Merah tarik napas berkali-kali sebelum
menjawab, "Aku tidak tahu soal itu. Seharusnya, seiring
dengan bertambahnya usia, tubuh dan wajah Dewi Putih
Hati Setan, sudah berubah. Namun, cukup mengejutkan
hatiku bila melihat keadaannya masih seperti itu. Yang
pasti, kesaktiannya hampir setara dengan yang pernah
diceritakan oleh guruku. Yang mengejutkan lagi, ia tahu
jurus-jurus yang hendak kulakukan."
"Berarti kesimpulanmu, Nek... yang muncul itu memang
Dewi Putih Hati Setan'!"
"Entahlah, aku sendiri tidak bisa mengatakannya dengan
pasti. Hanya saja... kalau memang yang muncul itu Dewi
Putih Hati Setan, mengapa ia tidak membawa senjata
pusakanya yang bernama Pecut Sakti Bulu Babi? Terus
terang, aku memang telah menduga wanita itu sudah
meninggal, hingga aku menginginkan Sri Kasih untuk
mendatangi Goa Terkutuk guna mendapatkan Pecut Sakti
Bulu Babi. Tetapi sekarang... dugaanku yang
mengatakannya ia masih hidup, ternyata benar."
Andika terdiam mendengar penjelasan si Tua Naga
Merah. Otaknya terus berpikir berusaha memecahkan teka-
teki yang semakin mengembang di depannya.
"Jauhkah jarak Gunung Batu dari sini, Nek?" tanyanya
kemudian.
"Kau membutuhkan waktu lima hari lima malam bila
menunggang kuda."
"Cukup jauh."
“Kang Andika... apakah kau bermaksud mencari Caping
Dewa Sakti?" tanya Sri Kasih yang sejak tadi diam
mendengarkan. Tatapannya yang bening menatap sepasang
mata elang milik pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah
Kutukan yang tahu-tahu mengerutkan keningnya.
"Busyet, suaranya bisa bikin aku lupa diri, nih," desis
Andika dalam hati. Tapi ia tak terlalu lama memusingkan
soal itu. “Kau benar, Sri Kasih. Karena menurutku,
kelemahan dari Dewi Putih Hati Setan itu hanya diketahui
oleh Caping Dewa Sakti. Paling tidak, kita bisa
mengetahuinya dari orang tua sakti itu. Hanya saja, sangat
sulit untuk menemuinya, bukan?"
Tak ada yang bersuara. Angin pun seakan enggan
bertiup.
Selang beberapa lama, Andika bangkit dari duduknya.
"Daripada pusing memikirkan soal itu, lebih baik aku
kembali ke Goa Terkutuk."
"Oh! Kang Andika! Apakah tidak terlalu berbahaya?"
seru Sri Kasih dan saat itu ia tak bisa lagi menutupi
perasaan cemasnya terhadap Andika.
Si Tua Naga Merah yang memperhatikan, diam-diam
tersenyum dalam hati. "Ah, dasar anak muda," desisnya.
"Berbahaya atau tidak, aku akan tetap mencoba untuk
menghentikan sepak terjang Dewi Putih Hati Setan.
Karena, kukhawatirkan akan banyaknya korban yang
berjatuhan. Mungkin mereka berusaha untuk mendapatkan
Kitab Pusaka Rembulan Mambang dan Pecut Sakti Bulu
Babi. Atau juga, ada pula yang mencoba keberuntungan
untuk membalas dendam lama mereka. Lebih gawat lagi,
bila Dewi Putih Hati Setan muncul kembali ke rimba
persilatan ini, sementara kita sendiri belum mengetahui
kelemahannya. Terutama, kita tidak tahu apakah Caping
Dewa Sakti akan muncul atau tidak...”
Tiba-tiba Andika menghentikan kata-katanya. Sikapnya
itu membuat si Tua Naga Merah dan muridnya menjadi
keheranan. Keduanya menatap lurus pada Andika yang
sedang bergumam pelan, "Apakah sebaiknya tidak kucoba
saja...." .
Tanpa hiraukan pandangan mata guru dan murid itu,
perlahan-lahan Andika mengangkat kedua tangannya. Lalu
menepuknya tiga kali, sangat lembut. Dan bibirnya keluar
suara pelan, "Rawangi... datanglah...."
Belum lagi desisannya habis,. mendadak bau wangi yang
sangat kuat menebar di tempat itu. Si Tua Naga Merah
seketika bersiaga. Begitu pula dengan Sri Kasih. Bau wangi
itu begitu menyengat hingga sangat mengherankan sekali.
Namun sikap Andika tetap tenang saja.
"Ah, ternyata janji gadis itu benar...," desisnya pelan.
Dari aroma wangi yang kuat itu perlahan-lahan dari
kejauhan memancar cahaya merah yang cukup kuat dan
bagai mengambang cahaya itu mendekati ketiganya.
Si Tua Naga Merah alihkan pandangan dan tak berkesip
menatap cahaya merah itu, sementara Sri Kasih bersiaga.
"Andika... ada apakah kau memanggilku?" dari balik
cahaya merah itu terdengar suara begitu lembut sekali. Dan
perlahan-lahan cahaya yang diselingi bau wangi yang kuat,
menghilang. Sebagai gantinya, muncul satu sosok tubuh
jelita nan ramping yang mengenakan pakaian warna merah
menerawang, hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang
sempurna.
Di balik pakaian yang menerawang itu terdapat dua helai
kain berwarna biru yang menutupi auratnya. Wajah sosok
yang muncul secara aneh itu begitu cantik sekali, tak
ubahnya wajah dewi-dewi dalam dongeng. Bibirnya tipis
tersaputkan pemerah yang menawan. Hidungnya bangir
bagai melengkapi kecantikannya. Matanya bersinar lembut
dengan bulu mata lentik dan alis hitam. Rambutnya yang
indah mengkilat hitam tergerai panjang. Kedua pipinya
bening sehalus pualam.
9
Andika tarik napas sekali lagi. Wajahnya sedikit cerah.
Ia mendekat dan berkata, "Terima kasih atas kehadiranmu,
Rawangi...."
Sosok jelita nan ramping yang dipanggil Rawangi itu
tersenyum.
"Janji telah kuucapkan. Aku pasti akan muncul bila kau
memanggil namaku, Andika.”
Andika perlihatkan senyumnya yang bagus. Gadis
penghuni Gerbang Neraka ini memang telah menjanjikan
padanya ketika secara tak sengaja ia memasuki Gerbang
Neraka, bila Andika membutuhkan bantuannya, maka ia
akan hadir. (Untuk lebih mengetahui siapa Rawangi dan
pengalaman apa yang dialami Andika, silakan baca :
"Bunga Neraka").
"Maafkan aku yang telah merepotkanmu, Rawangi.
Tetapi terus terang, aku membutuhkan bantuanmu untuk
menyelidiki tentang Dewi Putih Hati Setan yang mendiami
Goa Terkutuk."
"Baiklah... kau tunggulah sebentar Andika."
Gadis cantik itu memejamkan kedua matanya. Andika
geleng-geleng kepala melihat kesempurnaan yang ada pada
gadis itu. Sementara Si Tua Naga Merah ubah sikapnya dan
penuh siaga menjadi tenang. Sedangkan hal yang lain
dirasakan oleh Sri Kasih. Mendadak sesuatu yang tak
pernah disadarinya di hatinya bergejolak. Ia rasa hatinya
panas membara hingga tanpa disadarinya pula kedua
pipinya merona. Hatinya benar-benar jengkel melihat
kehadiran gadis berpakaian menerawang itu.
"Tidak sopan!" pikirnya dengan gelisah.
Sementara itu perubahan pada tubuh Rawangi tampak
jelas terjadi. Dan sikapnya yang berdiri tegak sambil
memejamkan matanya, mendadak tubuhnya bergetar.
Makin lama makin hebat. Tampak sekali kalau ia berusaha
menenangkan dirinya. Dan getaran itu berangsur-angsur
melambat dan lama kelamaan tubuhnya normal kembali.
Ketika ia buka kedua mata, terdengar tarikan napasnya.
"Sulit untuk menembus diri Dewi Putih Hati Setan itu,
Andika...." katanya dengan suara yang terdengar letih
sekali, seolah habis melakukan perjalanan yang jauh.
"Meskipun demikian aku bisa menangkap kekejaman dan
ketinggian ilmu yang dimilikinya. Dalam aliran darahnya,
ada semacam gumpalan sebesar sawo mentah, yang
berfungsi sebagai pusat pengendali tenaga miliknya. Kulihat
pula ada kilatan cahaya hitam di sekujur tubuhnya, yang
bisa melontarkan sinar hitam sangat dahsyat. Nampaknya,
ia telah meminum sebuah ramuan yang entah apa bisa
mempertahankan keremajaan kulitnya. Aku yakin, wanita
itu berusia lebih kurang delapan puluh tahun."
Andika yang mendengarkan dengan seksama, bertanya,
"Kau mengatakan ada gumpalan sebesar sawo mentah. Di
manakah letaknya?"
"Sulit. kukatakan, karena gumpalan itu bergerak terus
menerus."
"Rawangi...," desis Andika yang tiba pada satu pikiran.
"Apakah itu merupakan kelemahan dan Dewi Putih Hati
Setan?"
"Kemungkinannya iya. Tetapi bisa juga tidak. Karena,
sekujur tubuhnya bagai dialiri kilatan hitam."
Andika angguk-anggukkan kepalanya. Si Tua Naga
Merah yang sejak tadi juga mendengarkan bertanya,
"Apakah kau melihat sebuah pecut di dekatnya?"
Rawangi menoleh pada si nenek. "Kau benar, Nek.
Senjata itu memang sebuah pecut yang di ujungnya seperti
ada puluhan duri tajam."
"Kalau begitu, gadis itu memang Dewi Putih Hati
Setan."
Rawangi putar lagi kepalanya pada Andika, "Adakah
yang bisa kubantu lagi?"
Andika yang masih memikirkan tentang kelemahan
Dewi Putih Hati Setan tersentak, "Oh! Y a, ya... tahukah
kau jalan masuk ke Goa Terkutuk?"
Rawangi terdiam kembali. Matanya terpejam. Tak lama
kemudian ia membuka matanya dengan desahan seolah
habis melakukan perjalanan yang jauh.
"Aku melihat dua puluh buah sinar hitam yang
melingkari Goa Terkutuk. Sinar itu jelas berasal dari
kekuatan penghuni Goa Terkutuk., Aku yakin, tak seorang
pun yang bisa menembus sinar-sinar hitam yang merupakan
sebuah pintu, kecuali Si penghuni Goa Terkutuk. Maafkan
aku, Andika...."
"Tidak apa-apa."
"Kalau kau ingin bantuan, aku bisa menahan sinar hitam
itu untuk beberapa saat."
Andika mengulapkan tangannya., "Tidak! Aku tidak
ingin merepotkanmu lebih lama lagi, Rawangi. Aku tahu,
kau sangat dibutuhkan oleh penduduk di Gerbang Neraka.
Terima kasih atas bantuanmu, Rawangi."
Rawangi perlihatkan senyumnya. Matanya yang teduh
bersinar sedih.
"Untukmu, aku rela melakukan apa saja, Andika."
Sudah tentu seperti itu dan Andika yakin sekali akan
kebenaran ucapan Rawangi. Ia tahu, kalau gadis yang
berasal dari sebuah alam yang disebut Gerbang Neraka
memang mencintainya. Bahkan pernah sekali berharap
untuk menikah dengannya.
"Teima kasih atas bantuanmu."
"Kalau begitu... aku permisi." Sehabis berkata begitu,
dari tubuh Rawangi memancar cahaya merah yang cukup
menyilaukan. Sinar itu bergerak bagai meninggalkan
mereka dan semakin lama lenyap dari pandangan.
Terdengar desisan lembut bersama angin, "Aku
merindukanmu, Andika...."
Bersamaan dengan itu, cahaya merah tadi pun lenyap
dari pandangan. Andika tarik napas pendek.
"Sekali waktu... aku pernah pula merindukanmu,
Rawangi.... "
Lain yang dialami oleh Andika dan si Tua Naga Merah,
lain pula yang dialami oleh Sri Kasih. Gadis yang sejak tadi
terdiam dengan menahan getaran hatinya yang tak
menentu, kali ini hembuskan napas perlahan. Ia senang
karena gadis jelita berpakaian menerawang tadi sudah
berlalu dan hadapannya.
Diam-diam ia melirik pemuda tampan dari Lembah
Kutukan yang masih terdiam. Satu pertanyaan mendesis
galau dalam hatinya, "Apakah gadis Itu kekasih, Kang
Andika?"
Andika mengangkat wajahnya, menatap Si Tua Naga
Merah.
"Nek... tahukah kau di mana gumpalan darah yang
dimaksudkan oleh gadis dari Alam Gerbang Neraka?"
Si Tua Naga Merah menggelengkan kepalanya. "Aku
tidak tahu sama sekali soal itu."
Andika mendesah.
"Untuk mencari tahu, kita memang harus ke Goa
Terkutuk kembali. Karena, aku masih menunggu siapa
orang yang dimaksud oleh Dewi Putih Hati Setan. Selama
orang itu belum muncul, akan banyak korban lain yang
berjatuhan." .
Dan selagi semuanya terdiam, dicamuk oleh pikiran
masing-masing, mendadak saja satu gemuruh angin
kencang menderu hebat laksana topan badai.
Ketiganya tersentak dengan wajah terperangah!
(Oodwkz-ray-novooO)
Bummm!!
"Monyet pitak! Setan itu lagi yang berseliweran!!” maki
Andika sewot sambil bergulingan, ketika ia berdiri tegak
bukan hanya ia yang terperangah, melainkan juga si Tua
Naga Merah dan Sri Kasih.
Mata mereka seperti melompat keluar dengan mulut
ternganga. Kening mereka berkerut-merut. Di hadapan
mereka, sebuah kepala menyeringai sedang mengapung di
udara. Wajah Dewi Putih Hati Setan, hanya saja tanpa
tubuh. Darah menetes dari lehernya yang penuh luka.
Matanya melotot bersinar merah. Lidahnya yang panjang
terjulur keluar bersama air liur yang bercampur darah.
Lidah itulah yang menggebubu tadi.
"Iblis gentayangan!!" maki Andika bergidik. Sementara
tanpa sadar Sri Kasih yang berdiri di sampingnya
memegang tangannya erat-erat. Kalau tidak dalam suasana
mengejutkan ini, sudah pasti mulut Andika yang usil
berbicara, "Mengapa tidak peluk sekalian saja?"
Si Tua Naga Merah lebih bisa menguasai keadaan. "Ilmu
apa lagi yang telah dimilikinya?" desisnya dalam hati.
Potongan kepala itu menyeringai.
"Sebelum kuhadapi Caping Dewa Sakti, aku ingin
menguji kemampuan ilmu baruku ini ajian 'Pengembang
Mata'!"
Srrrttt!
Lidah penuh darah itu melesat ke arah si Tua Naga
Merah yang menyongsong dengan ajian 'Surya Darah'.
Namun ia jadi tersentak sendiri, karena lidah panjang itu
meliuk menghindar dan melilit wajahnya bagai dililit
puluhan ular berbisa ditambah dengan tusukan menyayat
yang membuatnya berteriak keras terhuyung ke belakang.
Sebisanya ia untuk melepaskan wajahnya dari lilitan
lidah yang mengeluarkan bau busuk. Namun, tenaganya
bagaikan lumpuh dan perlahan-lahan ia merasa ada yang
keluar dari tubuhnya dan tersedot oleh lidah itu.
Melihat maut siap menjemput si nenek Andika segera
bertindak dengan tangan memapas. Akan tetapi, sebelum
tangannya mengenai lidah panjang yang tengah melilit
wajah si Tua Naga Merah, bagai tambah memanjang lidah
itu melihat tangannya yang membuatnya menjerit.
"Tak sia-sia aku berdiam puluhan tahun di Goa
Terkutuk!" suara dingin itu menggelegar.
Sri Kasih yang telah meloloskan cambuknya pun
menggerakkannya, namun tubuhnya terhantam kepala
Dewi Putih Hati Setan yang melayang laksana bom ke
arahnya. Tubuhnya terpental deras ke belakang dan muntah
darah. Tulang iganya terasa patah. Ia meringis kesakitan
sampai mengeluarkan air mata.
"Pendekar Slebor... aku akan membuat perjanjian
denganmu daripada nyawamu dan nyawa nenek keparat itu
kucabut!" potongan kepala itu berbicara.
"Arwah jahanam! Siapa sudi membuat perjanjian
denganmu?!"
Wuusss!!
Kepala tanpa jasad itu mencelat ke udara mengeluarkan
suara menggidikkan. Sambil melayang di udara potongan
kepala itu umbar tawa yang mengerikan.
"Pemuda keparat! Bila saja kau mau, bersekutu
denganku, nyawamu akan kuampuni! Tetapi kau telah
lancang bicara! Darahmu akan kusedot habis hingga kau
mati kehabisan darah!"
Didahului tawa yang tak berkesudahan potongan kepala
itu melayang ke atas, dan menukik menimbulkan angin
bergemuruh ke arah batok kepala Andika.
Pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah Kutukan yang
tangan kanannya penuh darah dan kulitnya dirasakan
terkelupas segera jatuhkan tubuh dan bergulingan. Kaki
kanannya cepat menendang sebuah pohon di dekatnya yang
langsung tumbang.
Potongan kepala yang membuka mulut dengan
memperlihatkan taring sekeras besi itu terus melurup ke
arah batang pohon yang meluncur ke arahnya. Lilitan
lidahnya pada tangan Andika dan tubuh si Tua Naga
Merah dilepaskan.
Braaakkk! !
Pohon itu hancur berantakan dihantam lidah besi kepala
Dewi Putih Hati Setan. Begitu pohon itu hancur, potongan
kepala itu kembali membubung tinggi dan menukik lagi ke
arah Andika yang sedang berusaha bangkit.
Namun sebelum taring-taring sekeras besi itu
menghujam di batok kepala Andika, si Tua Naga Merah
sudah kelebatkan tubuh.
Des!
Potongan kepala itu terpental terkena ajian 'Surya
Darah'. dan mengeluarkan pekikan yang sangat keras.
Begitu mencelat ke belakang, potongan kepala itu langsung
berputar, dan kali ini sasarannya diubah.
Mengarah pada si Tua Naga Merah yang terperangah
dan langsung buang tubuh.
Wusss!!
Lidah itu bergerak laksana kilat, membuat si Tua Naga
Merah kalang kabut. Sebisanya ia kibaskan tangan yang
telah terangkum ajian 'Asap Dewa', yang segera
membubung asap putih yang tebal.
Lidah terjulur itu langsung tertarik dengan cepat. Lalu
potongan kepala itu memburu dikawal angin deras yang
menggebubu ke arah si Tua Naga Merah yang lagi-lagi
gulingkan tubuh hindarkan serangan itu.
Melihat hal itu, Andika yang tengah mengalirkan hawa
murninya pada tangan kanannya yang terasa panas,
langsung memburu pula ke arah potongan kepala Dewi
Putih Hati Setan.
"Kalau begitu caranya, aku sulit menemukan di mana
letak gumpalan darah seperti yang dikatakan oleh
Rawangi!" desisnya dengan perasaan kacau.
Ajian 'Guntur Selaksa' sudah menderu dahsyat. Namun
yang membuatnya terperangah, karena pukulannya itu
bagai ceplos belaka. Dan karena dorongan tenaganya
sendiri, tubuhnya tersuruk ke depan, justru mengarah pada
si Tua Naga Merah!
(Oodwkz-ray-novooO)
Andika memekik keras, sebisanya ia membuang
tubuhnya agar jotosan tangannya tak mengenai si nenek. Sri
Kasih yang melihat keadaan yang tak menguntungkan itu,
cepat kelebatkan tubuh dan tendang kaki Andika, hingga
pemuda itu tersuruk dan jotosannya yang tak sengaja
mengarah pada si Tua Naga Merah berpindah arah,
menghantam sebatang pohon yang langsung menjadi
serpihan didahului dengan ledakan bagai salakan petir.
"Busyet kau, Bor! Kira-kira dong!" maki si nenek dengan
menggemborkan pipi peotnya. "Bisa-bisa aku yang kau
kirim ke akhirat lebih dulu!"
Bersamaan dengan itu, potongan kepala mengerikan
menderu dahsyat ke arah Andika, menghantamnya, hingga
terpental sepuluh tombak. Tulang iganya bagai patah,
muntah darah dialaminya lagi.
"Pendekar Slebor, kini saatnya kau akan mampus!!" Lalu
menggebubu potongan kepala Dewi Putih Hati Setan.
Dalam keadaan kritis bagi Andika, pemuda pewaris ilmu
Pendekar Lembah Kutukan masih sempat loloskan kain
bercorak catur dan mengebutnya sekuat tenaga.
Wuuuttt!!
Potongan kepala yang siap kirim Andika ke akhirat,
bagai naik dua tombak hindari serbuan angin yang
mengeluarkan suara bagai ribuan tawon marah, lalu
melurup dengan jeritan yang keras.
Andika bagai lumpuh kedua kakinya melihat mulut yang
penuh taring sekeras besi itu membuka lebih lebar, siap
mencaplok kepalanya. Dalam keadaan kritis pemuda
urakan itu jatuhkan tubuh dengan kedua lutut ditekuk,
kepalanya ditundukkan namun tangannya mengibas.
Wuusss!!
Kain bercorak catur itu tepat melurup di potongan kepala
Dewi Putih Hati Setan. Bagai menemukan kekuatannya
kembali, Andika melilitkannya dengan kuat. Potongan
kepala itu bagai bandul ajaib bergerak ke sana kemari
dengan menyentak. Andika yang telah mengeluarkan
seluruh tenaga dalamnya, harus terpelanting beberapa kali
dengan tubuh menghajar pohon.
Sakitnya tidak ketulungan lagi. Tangannya yang masih
mempertahankan kain bercorak catur yang melilit potongan
kepala itu terasa kesemutan. Namun sekuatnya ia berusaha
agar kain itu tidak terlepas.
Akan tetapi, justru ia yang melepaskannya, karena panas
bak api neraka mengalir dan seperti membakar tangannya.
Tubuhnya mencelat ke belakang lima tombak dengan
tangan bagai melepuh. Potongan kepala itu menggereng
keras sambil bergoyang-goyang, kain bercorak catur milik
Andika terlepas entah ke mana.
Lalu terlihatlah seringaian yang luar biasa seramnya.
Taring-taring tajam itu lebih membuka, "Kini ajalmu telah
tiba, Pendekar Slebor!!"
Habis berkata begitu, potongan kepala Dewi Putih Hati
Setan menderu dahsyat ke arah Andika yang rasanya tak
mampu untuk berbuat apa-apa lagi.
Sri Kasih memekik keras penuh rasa kekhawatiran. Si
Tua Naga Merah hanya terperangah tanpa mampu berbuat
apa-apa.
Akan tetapi, keanehan terjadi. Karena sebelum serangan
yang dilancarkan oleh potongan kepala itu menghantam
hebat Pendekar Slebor, tiba-tiba saja potongan kepala itu
berbelok arah dan terdengar makiannya yang keras.
"Keparat! Caping Dewa Sakti, kini ajalmu telah tiba!!"
Sebuah caping kusam menderu keras bak bumerang yang
keluarkan getaran dahsyat halangi serbuan potongan kepala
itu dan dengan indahnya, berbalik pada satu tempat. Dan
dengan santainya, sosok bongkok yang berdiri dengan
kepala menggeleng-geleng menangkapnya. Mata kelabunya
tak berkesip menatap potongan kepala yang mengambang
di depannya.
Perasaannya tak menentu.
"Kehebatannya semakin menjadi-jadi," desisnya.
Di sisi sosok bongkok itu, berdiri Gumilang!
10
Bagaimana itu bisa terjadi? Bagaimana tahu-tahu
Gumilang bisa muncul bersama seorang kakek bongkok?
Di satu tempat sepi, di sebelah timur Goa Terkutuk,
dengan hati sedih bercampur geram. Gumilang
menguburkan mayat kakang yang dikasihinya. Meskipun
dendam begitu besar di hatinya, Gumilang merasa tak akan
mampu untuk menghadapi Dewi Putih Hati Setan. Apalagi
setelah membenarkan kata-kata Pendekar Slebor agar dia
jangan bertindak gegabah.
Dengan berat hati, akhirnya Gumilang memutuskan
untuk meninggalkan tempat itu. Dengan hati sedih,
perlahan-lahan Gumilang berdiri. Sepasang matanya tak
lepas dari makam Suryopati yang baru dibuatnya.
"Kakang, aku yakin kau tak menginginkan semua ini
terjadi. Aku pun yakin, kau tak ingin aku menjadi pengecut.
Akan tetapi, seperti yang kau katakan, bila kita mati
bersama, maka tak ada lagi yang akan melanjutkan
keturunan keluarga kita. Meskipun demikian, secara tidak
langsung aku sudah menunjukkan sifat pengecutku,
Kakang. Maafkan aku, kupikir... ini adalah jalan yang
terbaik."
Sekali lagi lelaki berpakaian putih-putih berwajah kelimis
itu tarik napas panjang. Menatap langit, kelam.
"Pendekar Slebor dan Tua Naga Merah, terima kasih
atas bantuan kalian. Pertemuan ini tak akan pernah
kulupakan."
Lalu dengan berat hati penuh penyesalan, Gumilang pun
melesat meninggalkan tempat itu. Di satu tempat
dihentikan larinya. Keraguannya kembali muncul dan
menusuk seluruh relung hatinya. Tali sukmanya bagaikan
berdenting.
"Oh, apakah aku telah melakukan satu tindakan yang
salah? Aku telah memperlihatkan ketidakberdayaanku,
kepengecutanku dan rasa ketakutanku. Apakah ku harus
kembali lagi untuk membalaskan sakit hati kedua
orangtuaku dan Kakang Suryopati pada Dewi Putih Hati
Setan? Namun, apa yang bisa kulakukan?” desisnya dengan
kebimbangan yang makin menjadi.
Rasa bimbang itu makin menyergap erat, makin
membuatnya bagai berada dalam lingkaran api yang
membuatnya sulit untuk keluar.
Tiba-tiba kedua tangannya mengepal. Rahangnya
merapat dan tatapannya semakin tajam. Wajahnya tegang
bukan main.
"Tidak, aku harus kembali lagi ke sana! Biar
bagaimanapun juga, aku harus membalaskan sakit hati
kedua orangtuaku dan Kakang Suryopati! Mati secara
ksatria lebih baik dari seorang ksatria." Kepalanya perlahan-
lahan tengadah, yang tampak hanyalah pucuk-pucuk pohon
Jati. Namun sesuatu yang lain singgah di hatinya. Seperti
melihat Suryopati lelaki itu berkata, "Maafkan aku,
Kakang. Amanat yang kau sampaikan kepadaku, tak bisa
kujalani. Aku bukan orang pengecut. Kakang, bila memang
ini sudah tulisan Yang Kuasa, kita akan bersama-sama
lagi...."
Gumilang pun menundukkan kepalanya. Tekadnya bulat
sudah untuk kembali lagi, namun sebelum dia beranjak,
terdengar suara di belakangnya, "Keputusan yang berada di
persimpangan jalan, memang sangat sulit untuk kita ambil.
Kenyataan semacam ini tak bisa kita hindari dalam setiap
kehidupan, karena bila kita hindari maka dia akan semakin
mengejar dan semakin dalam bersemayam."
Secepat kilat Gumilang membalikkan tubuh. Kedua
tangannya siap untuk menyerang.
"Kemarahan terkadang tak bisa kita hindari. Namun,
kemarahan hanyalah batu ujian dalam kehidupan.
Kesabaran akan mampu mengalahkannya."
"Kakek bongkok! Siapa kau, hah? Apa urusanmu
mencampuri urusanku?!" bentak Gumilang dengan sipitkan
mata.
Kakek bongkok yang baru datang itu berpakaian kumal
dengan tudung kepala berbentuk caping. Wajahnya tertutup
caping itu. Di tangan kanannya ada sebuah tongkat yang
seharusnya dipergunakan untuk membantunya melangkah.
Namun tongkat itu seakan tak ada fungsinya.
"Ah, tak ada maksudku untuk mencampuri urusanmu.
Aku hanya kebetulan saja lewat tempat ini. Sementara
tujuanku masih jauh," kata si kakek dengan sikap tenang,
bijaksana dan penuh senyuman di mata dan bibirnya.
"Lekas tinggalkan tempat ini! Uruslah segala
urusanmu!!"
Orang tua itu memperlihatkan senyum.
"Baik, baik... aku akan melakukannya. Karena urusanku
ini akan bertambah besar. Orang muda, bila kau memang
kesulitan untuk menentukan pilihanmu, tekadkan di
hatimu, kalau salah satu keputusan itu bila kau lakukan,
akan mendatangkan kebaikan padamu. Bila kau tinggalkan,
akan mendatangkan hal yang sama pula."
Setelah berkata begitu, si kakek bongkok itu balikkan
tubuh dan mulai melangkah.
"Tunggu!!"
Si kakek berbalik dan tersenyum.
"Orang muda, bukankah tadi kau mengatakan uruslah
urusanku? Nah, aku sudah hendak melakukannya."
"Siapakah kau sebenarnya, Kek?"
Si kakek menyeringai. Gumilang berusaha untuk melihat
wajahnya, namun tetap ketutupan oleh caping bambu yang
usang itu.
"Suaramu sudah melembut sekarang. Berarti, kau
memang bukan orang yang tidak sabaran."
Mendengar kata-kata itu, Gumilang jadi tidak enak
sendiri. Sesungguhnya, dia berbuat seperti ini karena
perasaannya sedang kacau. Perlahan-lahan lelaki yang
dalam kebimbangan itu mendesah, "Apa yang kau katakan
itu benar, Kek. Ini semua dikarenakan aku sedang risau."
Dengan penuh kebijaksanaan, si orang tua lagi-lagi
memperlihatkan senyumnya. Kedua pipinya yang penuh
kerut, bagai tertarik keluar.
"Tidak perlu bingung. Hhmm, kalau kau ingin tahu siapa
namaku, aku sendiri tidak tahu. Otakku sudah melupakan
nama pemberian kedua orangtuaku dulu. Tetapi, kau bisa
memanggilku seperti orang-orang rimba persilatan
memanggilku, Caping Dewa Sakti. "
Gurnilang terdiam. Matanya mati berusaha melihat
wajah si kakek yang berjuluk Caping Dewa Sakti.
Dirasakan satu ketenangan merambati hatinya yang benar-
benar tanpa disadarinya berada di dekat si kakek ini.
"Maafkan atas kekasaranku tadi, Kek."
"Sudahlah. Siapakah yang sedang kau risaukan tadi?
Kulihat, tak ada sosok siapa pun di sini. Kalaupun kau
memang sedang merasa sedih, mengapa?"
Entah mengapa perasaan tenang di hati Gumilang
semakin menjadi-jadi. Tanpa diminta kedua kalinya
diceritakan apa yang dialaminya. Kali ini, didengarnya
suara bagai tersedak dari Caping Dewa Sakti, membuat
Gumilang menatap tak berkesip pada wajah yang tertutup
caping kusam.
"Aku terlambat," begitu kata si kakek.
"Apa maksudmu, Kek?"
"Kita tak perlu membicarakannya sekarang, yang
terpenting, kita harus mencari Dewi Putih Hati Setan.
Wanita itu benar-benar menurunkan terornya. Ah, aku
yang salah, aku yang salah." Si kakek menggeleng-
gelengkan kepalanya dengan wajah gelisah. Diangkat lagi
kepalanya dan menatap Gumilang yang masih tak mengerti
melihat perubahan sikap si kakek. "Aku tak boleh buang
waktu lebih lama! Pegang tanganku!"
Tak mengerti apa yang diinginkan oleh Caping Dewa
Sakti, Gumilang memegang tangan keriput si orang tua.
Dan begitu tangannya memegang, tubuhnya dirasakan
bagai terbang ke alam sukma. Saking takjubnya, Gumilang
tak mampu keluarkan suara apa pun kecuali setiap kali dia
menarik napas, setiap kali pula kelebatan itu dirasakan
makin cepat.
Apa yang dikatakan oleh Caping Dewa Sakti memang
terbukti. Gumilang melihat si Tua Naga Merah sedang
meringis tak berdaya. Dilihatnya pula seorang gadis jelita
yang sedang berusaha untuk bangkit namun tak kuasa
dilakukannya. Yang membuat pandangannya bagai melihat
wanita telanjang namun penuh dengan kejijikan, ketika
melihat sebuah potongan kepala wanita cantik yang sedang
mencecar Pendekar Slebor yang tengah kibaskan kain
bercorak catur di tangannya.
“Kita belum terlambat," telinganya mendengar desisan
Caping Dewa Sakti.
Gumilang merasa kepalanya berpendar-pendar. Rasa
pusing datang mendadak. Potongan kepala itu tengah
melayang-layang mengerikan dengan leher bagai tercacah
teteskan darah dililit lidah panjang memerah penuh darah
serta gigi-giginya yang keras setajam besi.
Gumilang bagai tersedak dan hilang napasnya ketika
melihat Pendekar Slebor terlempar ke belakang setelah
lepaskan kain bercorak catur yang dipegangnya. Dan
potongan kepala darah itu melurup ke arah Pendekar Slebor
dengan keluarkan suara gerengan penuh hawa kematian.
Saat itulah Caping Dewa Sakti kibaskan tangannya.
Caping kusamnya melesat cepat menggebubu keluarkan
deru angin bak topan prahara.
(Oodwkz-ray-novooO)
Potongan kepala Dewi Putih Hati Setan tertarik ke
belakang dengan tatapan tak berkedip. Namun di saat lain
sudah terdengar geramannya, begitu melihat sosok bongkok
di hadapannya. Sesaat wajah itu tampak tegang.
"Caping Dewa Sakti, kematian sudah siap menerpa! Kau
tak akan pernah luput dari kematian!”
Caping Dewa Sakti yang sudah kenakan caping
kusamnya lagi, melangkah tiga tindak. Mata lembutnya tak
berkesip menatap potongan kepala di depannya.
Pendekar Slebor yang merasa terbebas dari belenggu
kematian itu berdiri tegak dan menyambar kain bercorak
caturnya yang tersangkut di ranting sebuah pohon.
Si Tua Naga Merah yang melihat dan mendengar semua
itu, merasa kepalanya jadi pusing. Caping Dewa Sakti,
rupanya nama besar itu bukanlah dongeng belaka. Apa
yang pernah diceritakan gurunya dulu memang suatu
kenyataan. Dan kini ia bertemu dengan Caping Dewa Sakti.
"Dewi... rupanya dendammu padaku makin membesar
saja. Tak pernah pupus. Kau telah menyiksa dirimu sendiri,
Dewi Putih Hati Setan."
“Jangan banyak bacot. Orang Tua Hina! Semua ini
terjadi gara-garamu sendiri!"
"Sepak terjangmu dululah yang membuat aku harus
turun tangan dan hentikan semuanya."
"Secara tidak langsung kau telah menghinaku!!"
“Itulah kenyataannya. Au tak bisa berdiam diri melihat
kejahatan yang kau turunkan."
"Kini semuanya sudah siap di akhiri bersama dengan
kematianmu!"
Habis berkata begitu, tiba-tiba saja lidah penuh darah itu
terjulur dengan kekuatan dahsyat.
Wuuuttt!
Caping Dewa Sakti tak beranjak dari berdirinya. Tak
berusaha menghalau juluran lidah itu ke arah capingnya.
Capingnya terpental ke atas, namun dalam waktu beberapa
detik caping itu bagai mengenali tuannya bertengger lagi di
kepalanya.
"ilmu semacam itukah yang kau pelajari sekian tahun di
Goa Terkutuk?" suara Caping Dewa Sakti penuh ejekan.
Yang lain termasuk Pendekar Slebor menahan napas
melihat sikap yang diperlihatkan oleh si kakek bongkok.
Dan orang-orang yang sedang melongo itu semakin
terlongoh-longoh dengan kening mengerut. Karena, tak
melihat bagaimana cara Caping Dewa Sakti menghindar,
tahu-tahu saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan dan
telah berada di sebelah kiri sambil masih perdengarkan
tawanya.
Masih setengah terkekeh mendadak saja Caping Dewa
Sakti gerakkan kepalanya. Bagai anak panah yang
dilepaskan dengan tarikan seluruh tenaga dalam, caping
kusamnya melayang dan menderu hebat.
Memapas arah potongan kepala Dewi Putih Hati Setan
yang sedang menggebubu. Potongan kepala itu tiba-tiba
melenting setengah lingkaran, lebih tinggi dari apungannya
di udara tadi. Dan menderu lagi. Namun, Caping Dewa
Sakti telah meluncur dengan jotosan ke muka.
Des!
Potongan kepala itu terpental dan mengeluarkan
gerengan keras.
"Kuundang kau ke Goa Terkutuk, Manusia Hina!!"
Lalu....
Wusssssh!
Potongan kepala aneh itu telah menghilang. Andika yang
melompat mengejar, ditahan oleh Caping Dewa Sakti
dengan satu gerakan tangan yang mengeluarkan angin
dingin. Terheran-heran Andika berbalik dan menatap laki-
laki bongkok aneh itu.
"Mengapa?" serunya langsung. "Tak seharusnya manusia
keparat itu dibiarkan hidup lebih lama lagi."
Caping Dewa Sakti tersenyum. “Dia hanya membalas
dendam, dan dendam itu ditujukan kepadaku. Tak ada
sangkut pautnya dengan kalian."
Apa yang dikatakan Caping Dewa Sakti memang benar.
Itu bertanda Caping Dewa Sakti tidak ingin yang lainnya
terlibat dalam urusan dendam mengerikan.
11
Mereka tiba di tempat yang agak terbuka. Di balik semak
di hadapan mereka terdapat sebuah goa. Sejenak terasa
kengerian yang lebih mendalam di hati Andika. Entah
mengapa begitu matanya melihat kembali Goa Terkutuk,
bulu kuduknya meremang.
Kegelapan goa itu seolah pancarkan kebengisan dan
kekejaman yang sangat luar biasa. Begitu mereka tiba,
mendadak saja terdengar kesiur angin dahsyat bergulung-
gulung ke arah mereka, yang serabutan berlompatan
menyelamatkan diri. Gumilang yang terlambat
menghindar, terpelanting deras dan menabrak sebuah
pohon. Lelaki berpakaian putih-putih itu pingsan saat itu
juga.
Sri Kasih merasa dadanya sesak, padahal ia terkena tak
secara langsung, hanya terkena sambarannya saja. Andika
merasakan tubuhnya menggigil. Ia alirkan tenaga dalamnya
dengan cepat. Hal yang sama pun dialami oleh si Tua Naga
Merah. Hanya Caping Dewa Sakti yang tampaknya tetap
berdiri tegar.
Kedua matanya yang masuk ke dalam menatap tak
bergeming goa di depannya.
"Setelah nyawamu kucabut, Manusia hina, yang lain pun
akan segera menyusulmu!" terdengar suara penuh gelegar
dahsyat itu. Habis suara itu, mendadak saja berdesing angin
bak topan prahara ke arah Caping Dewa Sakti. Angin itu
muncul bersamaan bergeraknya satu sosok tubuh dari
dalam Goa Terkutuk.
Caping Dewa Sakti hanya geleng-gelengkan kepalanya.
Kejap lain jotosannya sudah dilancarkan akan tetapi
kelebatan sosok tubuh yang cepat itu justru
mengejutkannya. Karena, sesuatu yang keluarkan sinar
hitam berkelebat.
Ctaaar! !
Menerbangkan kerikil dan membuat tempat itu semakin
berdebu.
Sesaat Caping Dewa Sakti mundur beberapa tindak.
Pandangannya mulai dibaluri kemarahan. Namun, sebelum
si kakek bongkok ini bertindak, Andika sudah
mengemposkan tubuh sambil menggerakkan tangannya
yang memegang kain bercorak catur.
Ctaaar!
Suara keras terdengar bersamaan dengan itu kain pusaka
bercorak catur melilit sinar hitam yang bergerak-gerak yang
keluar dari Pecut Sakti Bulu Babi yang dikibaskan oleh
sosok tubuh jelita yang tak lain Dewi Putih Hati Setan.
Dewi Putih Hati Setan mundur dua tombak. Tangannya
dirasa kesemutan. Matanya hampir lompat keluar tak
percaya dengan apa yang dialaminya. Pecut Sakti Bulu Babi
yang dibanggakannya dapat dikalahkan oleh kain bercorak
catur di tangan Pendekar Slebor.
Dewi Putih Hati Setan yang geram karena keinginannya
untuk segera membunuh Caping Dewa Sakti telah
terhalang, segera putar kepala dan tatapan bengis pada
Andika yang cuma nyengir saja.
"Keparat!" suara itu terdengar keras sementara
Pecut,Sakti Bulu Babi di tangannya semakin pancarkan
sinar warna hitam. Pecut itu tak bertangkai pada hulunya.
Mengikat erat pada tangan Dewi Putih Hati Setan. Suara
geramannya menyusul, "Kau akan mampus, Setan Muda!!"
Tiba-tiba saja pecut itu menggebubu lagi dengan
pancarkan sinar hitam menggidikkan. Andika yang
memang sudah siap untuk menerjang segera bergerak
dengan kecepatan laksana setan. Tangannya yang
mengandung kekuatan penuh digerakkan.
Bummm!
Pecut itu terlilit oleh kain pusakanya dan ketika ia coba
tarik, justru tubuhnya yang tersentak ke depan.
"Monyet pincang! Bisa mampus aku kalau wanita jalang
itu hantamkan pukulannya!"
Masih dalam posisi tubuh dibawa oleh pecut yang
pancarkan sinar hitam itu, Andika buat satu gerakan aneh.
Ia justru tambah tenaganya sendiri hingga tubuhnya lebih
cepat melesat ke arah Dewi Putih Hati Setan yang siap
hantamkan pukulannya. Bersamaan dengan itu, Andika
langsung lompat ke kanan dengan lepaskan kain bercorak
catur yang di pegangnya.
Wusss!
"Setan alas!!" maki gadis cantik berhati kejam itu sambil
buang tubuh karena lesatan kain bercorak catur yang melilit
pada ujung pecutnya bagai meteor belaka.
Keterkejutannya makin menjadi. Karena Andika sudah
buat satu gerakan menyerang kembali. Tubuhnya meluncur
deras!
Wuutttt!!
Dalam keadaan terjepit, Dewi Putih Hati Setan masih
memperlihatkan kelasnya. Selagi ia melompat menghindar
lesatan kain bercorak catur, ia gerakkan tangan kirinya
Wuuutt!
Des!
Pukulan Andika yang mengandung tenaga dalam tinggi
dipapasi dengan cepat. Menyusul kibasan Pecut Sakti Bulu
Babi ke arahnya, cepat. Keras menimbulkan angin maut.
Sing! Sing!
Bum! Bum!
Bukan hanya Andika saja yang harus tunggang-langgang
dibuatnya, yang lain pun segera berlompatan dan melihat
tanah yang mereka pijak tadi sudah membentuk lobang
dengan mengeluarkan asap.
Saat itu, tiba-tiba saja si Tua Naga Merah yang masih
terluka dalam berkelit dua kali hindari serangan yang
mengerikan. Begitu merasa ada kesempatan, ia segera
berdiri tegak. Kedua tangannya dikatupkan di dada dan
ditepuknya tiga kali.
Terlihatlah asap putih perlahan-lahan mengepul dan
semakin lama semakin banyak. Ajian 'Asap Dewa' sudah
dikeluarkannya. Dengan hebatnya, asap putih itu
bergulung-gulung semakin tebal dan menutupi ruang
serangan dari sinar hitam yang sulit untuk ditembus.
Setelah berkali-kali melakukan, terdengar gerengan
dahsyat, "Kau juga akan mati, Perempuan Peot!!"
Dengan kalap Dewi Putih Hati Setan gerakan tangannya
berkali-kali. Desingan sinar hitam itu semakin lama
semakin banyak dan bertubi-tubi. Sebisanya si Tua Naga
Merah mempertahankan ajian 'Asap Dewa'-nya. Perlahan-
lahan terlihat tubuhnya bergetar hebat dengan darah yang
mengalir dari hidung dan mulut.
Andika terperangah melihatnya.
."Kacau, nampaknya si Tua Naga Merah tidak akan
mampu bertahan lebih lama lagi. Aku harus berbuat sesuatu
kalau tak ingin keselamatan si Tua Naga Merah terancam."
Berpikir seperti itu, Andika mencoba menerobos asap
putih itu dan menderu ke arah Dewi Putih Hati Setan.
Akan tetapi, justru tubuhnya yang digenjot cepat itu
terpental ke belakang. Tak mampu terobos asap putih tebal
milik si Tua Naga Merah. Seolah ada dinding yang tebalnya
sepanjang lengan manusia dewasa yang menghalanginya.
Begitu tubuhnya terlontar ke belakang, getaran tubuh si
Tua Naga Merah semakin kuat. Darah yang mengalir dari
hidung dan mulutnya semakin banyak.
Tiba-tiba terdengar teriakannya yang setinggi langit.
Bersamaan dengan itu tubuhnya terpental deras.
"Aaakhhhh!!"
Sri Kasih yang sudah cemas sejak tadi, dan harus
menghindari serangan sinar hitam membabi buta, langsung
bergerak dan menangkap tubuh gurunya. Namun
akibatnya, justru ia yang terpental bersama dengan tubuh
gurunya.
Brak!
Sri Kasih masih bisa mengendalikan keseimbangannya
hingga meskipun terjatuh namun tidak terlalu deras. Tak
pula dirasakan tubuh gurunya yang menindih yang
membuat napasnya makin terasa sesak. Segera ia balikkan
tubuh gurunya dengan tergesa dan hati cemas.
Dilihatnya di bahu kanan gurunya sebuah lobang kecil
yang mengalirkan darah dan mengepulkan asap.
"Guru!" desisnya dan segera dialirkannya tenaga
dalamnya untuk memberikan tambahan tenaga pada
gurunya yang sedetik kemudian jatuh pingsan. Rasa panik
semakin muncul di hati Sri Kasih. Ia masih terus
melakukan tindakan penyelamatan yang menurutnya tepat.
Sementara itu, begitu tubuh si Tua Naga Merah
terpental, seketika ajian 'Asap Dewa' yang dikerahkannya
untuk menahan serangan Dewi Putih Hati Setan, lenyap.
Dan ini memudahkan sinar hitam yang berasal dan Pecut
Sakti Bulu Babi itu terus meluncur, menyerang membabi
buta pada Andika.
"Setan betul!!" makinya dan menghindar lagi dengan
cepat.
Sementara Andika berjumpalitan, Caping Dewa Sakti
memperhatikan tak berkedip. "Pemuda berpakaian hijau
pupus ini benar-benar keras kepala! Biar kulihat dulu, apa
yang akan terjadi dengannya!"
Sementara itu Dewi Putih Hati Setan sambil terus
mempergencar serangannya pada Pendekar Slebor. "Kau
telah menjelma menjadi monyet buduk, Pendekar Slebor!!
Dan kau kakek bongkok keparat! Giliranmu akan tiba!"
"Hal ini tidak boleh dibiarkan," pikir Andika masih
menghindar. "Bila tidak segera dihentikan, tenagaku dan
yang lainnya akan terkuras kayak monyet habis nandak!
Aku harus memotong serangannya!"
Memikir sampai di sana, mendadak saja kenekatannya
muncul. Tiba-tiba Andika lentingkan tubuhnya ketika sinar
hitam itu kembali mengarah kepadanya, dan tangannya
dengan gerakan yang sangat cepat bergerak, melilit sekujur
tubuhnya dengan kain pusaka warisan Ki Saptacakra.
Dengan masih berputar di udara itu, tubuhnya membentuk
satu pusaran dan menderu ke arah Dewi Putih Hati Setan
yang cukup kaget melihat kenekatan Andika. Ia makin
menambah tenaganya. Namun sinar hitam yang melesat ke
arah Andika bagai terpental kembali begitu mengenai
tubuhnya. Ini dikarenakan pusaran tubuhnya yang sangat
cepat dibantu dengan kesaktian kain bercorak catur
miliknya.
Suara keras menggelegar menyadari serangan sinar
hitam itu tak berguna lagi terdengar, "Keparat! Kau harus
mampus!!"
Tiba-tiba saja terdengar suara berderak yang sangat
keras. Dan bumi bergoyang seketika. Bahkan Andika yang
masih berputar di udara itu tiba-tiba ambruk. Tubuhnya
bagai tersedot oleh gaya gravitasi bumi.
Segera ia berdiri. Dan kedua matanya terbuka, mulutnya
menganga. Ia melihat Dewi Putih Hati Setan tengah
pancarkan tenaga dalamnya dan memulai Ilmu baru yang
diciptakannya!
(Oodwkz-ray-novooO)
Caping Dewa Sakti yang lihat pula akan keanehan itu,
segera melenting di sisi Andika. Ia berkata pelan,
"Menyingkirlah! Yang diinginkan hanyalah nyawaku!
Selamatkan si Tua Naga Merah dan muridnya! Bawa pula
tubuh Gumilang!"
Andika putar kepalanya dan kerutkan kening. Ia sadar,
dengan perkataan seperti itu, secara tidak langsung Caping
Dewa Sakti memberitahukannya kalau lawan
mengeluarkan ilmu yang sangat luar biasa.
Tetapi bagi Andika, ia tak akan mundur bila belum
melihat kezaliman di depan matanya terhenti. Dengan
keras kepala ia menggeleng, "Aku akan tetap di sini. Kita
coba untuk hancurkan manusia itu!"
“Terlalu berbahaya! Cara ia pergunakan Pecut Sakti Bulu
Babi-nya, lain dengan puluhan tahun lalu. Kali ini
tenaganya lebih tinggi dan aku yakin, ilmunya makin
bertambah. Menyingkir dari sini Andika."
Andika tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. Ia
justru berkata-kata, "Menurut Rawangi, kelemahannya ada
pada gumpalan darah di tubuhnya. Sialnya, kita akan
kesulitan menentukan di mana letak gumpalan darah itu!"
"Siapa, Rawangi?"
"Wah! Terlalu panjang menceritakannya!"
"Biarpun kau mencarinya, kau akan terlambat
menemukannya. Karena, tubuhmu sudah hancur!"
terdengar suara menggelegar yang sangat dahsyat. Kaki
kanan Dewi Putih Hati Setan melangkah.
Bum!
Andika merasa tubuhnya goyang, begitu pula dengan
Caping Dewa Sakti. Untungnya mereka memiliki tenaga
dalam yang tinggi. Hingga keseimbangannya masih terjaga.
Sementara itu, Sri Kasih bergetar dadanya.
"Astaga! Apakah ada gempa bumi?" desisnya sambil
berpegang pada sebatang pohon yang daun-daunnya
berguguran. Ia melihat tubuh gurunya yang pingsan
terjingkat sejenak. Mendadak ia teringat akan Gumilang.
"Gila, di mana dia sekarang?"
Segera Sri Kasih berkelebat dan begitu menemukan
Gumilang yang pingsan segera dibawanya ke tempat di
mana gurunya pingsan pula.
Di tempat yang agak terbuka, Andika mendesis, "Luar
biasa! Seumur hidupku aku baru melihat kehebatan tenaga
dalam seperti itu!"
"Dan kau akan merasakan kedahsyatannya! Bersiaplah
Andika!"
Andika cuma mengangguk-anggukkannya. Ia merasa
bulu kuduknya meremang dan tubuhnya menjadi dingin.
"Benar-benar sinting! Bagaimana caranya menghentikan
manusia keparat itu?" desisnya dengan kepala berpendar
pusing. "Biar bagaimanapun juga, aku harus menemukan
gumpalan darah yang ada pada tubuhnya!"
Dan mendadak saja ia bersama Caping Dewa Sakti,
bergulingan hindari satu serangan yang benar-benar
mencengangkan. Karena, tubuh Dewi Putih Hati Setan
sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya menimbulkan
gemuruh yang sangat dahsyat sekali. Saat itu benar-benar
terasa bagai kiamat. Belum lagi ketika kedua kakinya
melangkah dan memijak tanah. Andika sampai terpental ke
atas sepuluh hasta!
"Gila! Kekuatan apa yang sebenarnya dimiliki oleh
wanita itu?" makinya sambil mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya agar tidak terjatuh. Namun begitu
kedua kakinya hinggap di tanah, tiba-tiba saja dengan
bengis Dewi Putih Bati Setan sudah melesat lagi ke
arahnya.
Wusss!
Andika cepat merebahkan tubuhnya di tanah. Namun
tak mungkin punggungnya terserempet angin yang kuat.
Perih sekali dirasakannya. Bersamaan dengan luputnya
serangan itu, datang lagi satu serangan melalui injakan kaki
Dewi Pulih Hati Setan yang bagai bertambah ribuan kali
dan mampu mematahkan seluruh tulang Pendekar Slebor
dalam sekali injak.
Segera Andika bergulingan cepat kalau tidak ingin
ajalnya segera tiba.
Bummm!
Suara dentuman keras terdengar begitu kaki gadis kejam
itu menginjak tanah di mana ia rebah tadi.
Kekuatan injakannya itu membuat Andika terpental ke
atas dan menukik ambruk ke tanah. Sakitnya sudah tak
ketulungan lagi. Bahkan Andika merasa sudah tak sanggup
lagi untuk bangkit.
Samar matanya melihat bagaimana Dewi Putih Hati
Setan sedang mencecar Caping Dewa Sakti yang
menghindar dan kesulitan untuk membalas. Karena setiap
kali ia menghindar dan hinggap di tanah, getaran dahsyat
yang mampu membuat aliran darahnya kacau
dirasakannya.
"Seluruh dosa-dosamu akan kau tebus hari ini, Manusia
Keparat!!" suara menggelegar itu terdengar bersamaan
dengan tangan yang bergerak menghantam.
Caping Dewa Sakti mencoba bergulingan di saat
bergulingan ia hantamkan kakinya ke kaki Dewi Putih Hati
Setan.
Des!
Tubuh Dewi Putih Hati Setan terhuyung sesaat.
Wajahnya terlihat agak pias. Namun, perempuan sesat yang
menyimpan dendam setinggi langit, bergerak kembali
dengan hebatnya.
Caping Dewa Sakti menarik napas pendek. Kejap
berikutnya dia menggeser tubuhnya ke kanan, bersamaan
dengan itu tongkatnya pun digerakkan.
Wuutt! !
Gebrakan Dewi Putih Hati Setan tertahan beberapa saat.
Kepiasan yang dibaluri kemurkaan tampak di wajahnya.
Lalu mendadak saja dia menggereng keras, "Kau memang
berilmu tinggi! Tetapi cita-citaku adalah untuk menuntut
balas semua! Bersiaplah, Kakek Keparat!"
Caping Dewa Sakti terdiam sesaat. Belum lagi dia
menentukan jalan pikirannya, Dewi Putih Hati Setan sudah
keluarkan suara kembali.
"Inilah ilmu terakhir yang kupelajari dari Kitab Pusaka
Rembulan Mambang! 'Raksasa Memetik Rembulan'!"
12
Caping Dewa Sakti yang berdiri tegak, membatin resah.
"Dendam rupanya telah membuat perempuan ini menjelma
menjadi iblis! Rasanya, terpaksa aku harus menurunkan
tangan juga!"
Tetapi sebelum si kakek bongkok melakukannya,
mendadak saja satu sosok tubuh berkelebat dengan cepat,
melenting setengah lingkaran melewati kepala Dewi Putih
Hati Setan. Andika yang masih menahan sakit telah
melakukan tindakan yang memerlukan keberanian luar
biasa. Saat ia berada tepat di kepala Dewi Putih Hati Setan
yang terkesiap kaget, tangannya yang sudah terangkum
ajian 'Guntur Selaksa' menjotos kepala itu.
Des!
Dewi Putih Hati Setan keluarkan suara erangan yang
luar biasa. Tubuhnya sempoyongan. Andika yang sudah
hinggap di tanah memperhatikan dengan seksama.
"Gila, kalau sejak tadi tak satu serangan pun yang
mampu membuatnya bergetar seperti itu, kali ini bahkan
tubuhnya sempoyongan," desisnya dan otaknya yang cerdik
segera tahu apa kelemahan yang dimiliki oleh Dewi Putih
Hati Setan. "Kepalanya! Ya, kepalanyalah kelemahannya!!
Pasti gumpalan darah yang dimaksud oleh Rawangi berada
di dalam kepalanya!"
Andika berkelit dengan lincah ketika dengan gerengan
setinggi langit yang getarkan jantung Dewi Putih Hati Setan
menderu dengan amukan dahsyat.
Andika cepat berkelit yang dilanjutkan dengan lompatan
yang cukup tinggi dan kali ini kaki kanannya menendang
kepala Dewi Putih Hati Setan.
Des!
Tangan Dewi Putih Hati Setan masih sempat menahan
serangannya. Meskipun kakinya terasa remuk, Andika tak
mau hentikan serangan. Bersamaan kakinya terhantam,
masih berada di udara ia putar tubuhnya. Tangannya
dikibaskan kembali.
Des!
"Keppaarrraaattt!!" suara keras itu kali ini terdengar
bagai suara jauh dari lobang sumur. Tubuh Dewi Putih Hati
Setan semakin bergetar hebat. Dari hidungnya mengalir
darah segar.
Caping Dewa Sakti yang melihat hal itu, mendesah
pendek, "Tindakan pemuda dari Lembah Kutukan ini
memang tepat! Terpaksa semua memang harus dilakukan!"
Lalu dilihatnya Pendekar Slebor menghantamkan
serangannya ke kepala Dewi Putih Hati Setan. Yang makin
lama makin bergetar hebat dengan erangan dahsyat
mengerikan.
Menyusul satu serangan yang dilakukan Andika melalui
kain pusaka bercorak catur yang dialiri dengan ajian
'Guntur Selaksa'. Bukan hanya membuat Dewi Putih Hati
Setan sempoyongan, bahkan ambruk dengan suara
berdebam keras.
"Injak kepalanya, Andika!!" seru Caping Dewa Sakti
yang baru menyadari kalau kepalalah kelemahan dari
wanita kejam itu.
Tanpa diperintah pun Andika memang akan melakukan
tindakan itu. Dengan lincahnya kedua kakinya bagai
melompat jangkit menginjak kepala Dewi Putih Hati Setan.
Suara berderak terdengar bersamaan dengan lolongan
yang menggetarkan sukma. Akan tetapi, yang dialami oleh
Andika pun tak kalah mengerikannya.
Tangan kiri Dewi Putih Hati Setan masih sempat
tangkap sebelah kakinya dan bagai sebuah kerikil tubuh
Andika dilontarkan jauh beberapa tombak. Dan berhenti
dengan tulang bagai patah setelah menabrak sebuah pohon.
Namun kekeraskepalaan Andika memaksanya membuat ia
tetap berdiri dan siap menyerang kembali. .
Akan tetapi apa yang dilihatnya kemudian membuatnya
terbelalak. Begitu pula dengan Caping Dewa Sakti yang
telah siap untuk membantu Andika.
Keduanya melihat tubuh Dewi Putih Hati Setan bergetar
sangat dahsyat dan terdengarlah ledakan yang sangat kuat.
Tubuhnya pecah dan berpentalan bagai meteor!
Andika cepat merebahkan tubuhnya. Sementara Caping
Dewa Sakti masih berdiri tegak. Pecahan daging dan tulang
yang meluncur ke arahnya tertahan. Sementara sebagian
menghajar pepohonan yang kembali tumbang berdebam. .
Setelah beberapa saat, hujan pecahan daging, dan tulang
yang berasal dari tubuh Dewi Putih Hati Setan mereda.
Sebagai gantinya, keduanya melihat sosok transparan
penuh amarah dan darah yang mengalir dari mulutnya
menyeringai.
"Dewi Putih Hati Setan!" desis Caping Dewa Sakti
dengan suara berat. Sosok transparan itu perlihatkan wajah
tua penuh kerut merut dan Caping Dewa Sakti meyakinkan
diri kalau sosok transparan itulah sesungguhnya wajah dari
Dewi Putih Hati Setan yang sudah menua.
"Bila sekarang aku gagal mencabut nyawamu, Orang
Bongkok, lain kesempatan kau pasti kudapatkan! Dan kau
Pendekar Slebor, kau telah menorehkan dendamku
padamu! Kau pun tak akan luput dari sasaran kematian!"
Diiringi dengan tawa yang menggema keras, sosok
transparan yang merupakan arwah penasaran dari Dewi
Putih Hati Setan perlahan-lahan lenyap dari pandangan.
Tinggal keduanya yang menghela napas panjang.
(Oodwkz-ray-novooO)
"Rupanya dendamnya padaku akan semakin panjang,
entah kapan akan selesai...," desis Caping Dewa Sakti
dengan kepala tertunduk.
Andika tak segera menjawab. Ia masih merasa aneh
dengan semua yang dihadapinya ini. Tiba-tiba didengarnya
suara dari belakang, "Andika! Di manakah Dewi Putih Hati
Setan?"
Andika menoleh dan melihat Sri Kasih dan si Tua Naga
Merah yang sudah pulih dari pingsannya mendekat. Ia
hanya menganggukkan kepalanya. Perasaannya masih tak
menentu. Pertama, bingung sekaligus takjub dengan
kesaktian Dewi Putih Hati Setan. Kedua, saat ajalnya tiba
pun wanita itu berubah menjadi arwah penasaran yang
masih mendendam pada Caping Dewa Sakti.
Si Tua Naga Merah mendesah pendek, "Maafkan aku...
karena tak kuasa membantu kalian."
"Sudahlah, Nek... toh semuanya sudah berakhir," kata
Sri Kasih. "Apakah kau masih menginginkan Pecut Sakti
Bulu Babi untukku, Nek?"
Si Tua Naga Merah gelengkan kepalanya. Matanya lekat
menatap pada Pecut Sakti Bulu Babi yang tergeletak di
tanah.
Sementara itu Andika melangkah perlahan seolah tak
menyadari ada mereka di sana. Sri Kasih hendak
memanggil, tetapi Caping Dewa Sakti melarangnya,
"Biarkan pemuda itu berlalu. Karena, dia masih
dipusingkan dengan apa yang terjadi barusan.
"Tetapi, Kek..."
"Sri Kasih," potong si Tua Naga Merah. "Bila kau
memang mencintainya, kau kuizinkan untuk
mengikutinya."
Kali ini terlihat Sri Kasih menjadi serba salah. Ia
menunduk dengan wajah memerah. Lalu desisnya malu,
"Nenek...."
Diperhatikannya sosok pemuda yang mulai dicintainya
itu melangkah. Ah, mengapa ia tak sempat lagi bercakap-
cakap dengan Andika? Akankah ia bertemu kembali? Sri
Kasih semakin menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba kepalanya terangkat ketika mendengar suara
Pendekar Slebor, "Sialan! Aku kan belum sempat mencium
Sri Kasih sebagai ucapan selamat berpisah!!"
"Memalukan!!" justru terdengar desisan Sri Kasih
bernada gembira.
Yang lainnya tertawa. Seperti hendak, melakukan apa
yang dikatakannya, Andika berlari ke arah Sri Kasih. Gadis
itu tertawa dan menghindar.
"Eh, memaksaku main kucing-kucingan ya? Awas kau!"
seru Andika sambil mengejar.
Si Tua Naga Merah dan Caping Dewa Sakti tertawa.
Membiarkan Pendekar Slebor dan Sri Kasih dalam
urusannya.
Setelah itu, Caping Dewa Sakti melangkah untuk
mengambil Pecut Sakti Bulu Babi yang tergeletak. Namun
alangkah terkejutnya laki-laki bangkok itu ketika ia pegang
pecut itu, telah berubah menjadi asap.
"Gila!" desisnya.
Si Tua Naga Merah pun memperhatikan dengan kening
berkerut. Ia mendesis, "Aku yakin.... Kitab Pusaka
Rembulan Mambang pun lenyap begitu saja bersamaan
matinya Dewi Putih Hati Setan....”
Keduanya terdiam, lalu memutuskan untuk menemui Gumilang.
SELESAI