"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..
Tampilkan postingan dengan label PENDEKAR KEMBAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDEKAR KEMBAR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2025

PENDEKAR KEMBAR EPISODE RAHASIA DEDENGKOT IBLIS

Rahasia Dedengkot Iblis

 



1


GENANGAN air yang berwarna hijau lumut bu-

kan bentangan telaga ataupun danau air tawar. Ge-

nangan air itu memang ciptaan manusia, dan manusia 

menamakannya 'empang' alias 'tambak'. Ikan-ikan di-

pelihara dalam empang tersebut, dibesarkan tanpa di-

didik apa pun, agar kelak jika besar bisa menjadi san-

tapan lezat bagi pemeliharanya,

Empang itu ada di bagian belakang dari bebe-

rapa bangunan yang dinamakan padepokan. Padepo-

kan di kaki Gunung Mercapada hanya ada satu, yaitu 

padepokan dari sebuah perguruan silat yang bernama 

Perguruan Tapak Syiwa. Empang itu agaknya sengaja 

di bangun untuk kesibukan para murid perguruan 

seusai latihan; menangkap ikan dengan tangan kosong 

lalu membakarnya untuk dijadikan santapan mereka.

Karenanya, di atas empang dibangun sebuah 

dangau, rumah separo dinding tanpa perabot apa pun 

kecuali tikar, istilah sekarang 'Gazebo'. Gunanya bu-

kan untuk rapat kilat, tapi sekadar untuk duduk san-

tai menikmati kecipaknya tarian ikan-ikan di empang 

sambil melepas telah agar tak dihinggapi penyakit 

stress bagi para murid perguruan.

Tetapi di ujung pagi itu, ternyata sudah sejak 

fajar telah duduk seorang lelaki tua berjubah putih. 

Lelaki berambut pendek abu-abu dengan ikat kepala 

putih itu duduk bersila di atas dangau itu, meman-

dang ke arah munculnya sang mentari pagi.

Dalam usianya yang mencapai sekitar tujuh 

puluh tahun lebih, lelaki berjenggot pendek warna 

abu-abu itu tampak masih bisa duduk tegak, menam-

pakkan sisa kegagahan masa mudanya. Dia adalah 

guru besar, sekaligus Ketua Perguruan Tapak Syiwa


yang dikenal dengan nama si Mulut Guntur alias 

Eyang Wirata. Pandangan matanya yang masih tajam 

menampakkan ketegasannya bersikap dan selalu men-

gutamakan kebenaran dan keadilan. Kewibawaannya 

memancarkan kharisma yang membuat dirinya dis-

egani oleh para muridnya.

Dalam kebisuan pagi, suara alam mulai diusik 

oleh langkah-langkah tegap dari pemuda tampan ber-

pakaian serba putih dengan ikat pinggang kain merah. 

Kedua pemuda berbaju buntung itu mempunyai ram-

but sampai panjang; lurus sepundak. Kedua pemuda 

itu juga mempunyai postur tubuh yang sama-sama ga-

gah, kekar, dan gempal walau ototnya yang sampai 

bertonjolan seperti binaragawan. Keduanya mempu-

nyai potongan tubuh yang sama, pakaian sama, wajah 

tampan yang sama pula dan senyumnya pun juga sa-

ma-sama menawan bagi para gadis. Mereka berdua ti-

dak lain adalah Raka Pura dan Soka Pura alias si Pen-

dekar Kembar.

Setelah memberi hormat, kedua Pendekar 

Kembar itu dipersilakan duduk oleh si Mulut Guntur. 

Mereka duduk bersila, saling berhadapan dengan si 

Mulut Guntur. Sementara pedang kristal yang menjadi 

senjata Pendekar Kembar itu sama-sama diletakkan di 

samping mereka; Raka di samping kiri, Soka di samp-

ing kanan. Karena sehari-harinya mereka memang se-

lalu menyelipkan pedang pusaka yang bernama Pe-

dang Tangan Malaikat itu di pinggang masing-masing: 

Raka di pinggang kiri dan Soka di pinggang kanan.

"Apa benar, Eyang Wirata memanggil kami ber-

dua?" tanya Raka Pura.

"Kunto Aji mengatakan demikian, karenanya 

kami datang kemari, Eyang!" timpal Soka, si Pendekar 

Kembar bungsu.

"Benar. Pagi ini aku sengaja mengutus Kunto


Aji, muridku, untuk memanggil kalian. Karena setelah 

ku pikir-pikir sejak kemarin malam hingga sekarang, 

ku putuskan untuk membeberkan rahasia yang kalian 

inginkan itu."

Wajah kedua pemuda kembar itu segera beru-

bah menjadi ceria. Masing-masing ketampanan mereka 

di hiasi dengan senyum kegembiraan yang terpendam. 

Mereka saling beradu pandang sebentar dalam se-

nyum, kemudian Raka Pura menghembuskan napas 

panjang sebagai napas kelegaan.

"Sebelumnya kami haturkan terima kasih atas 

kesediaan Eyang Mulut Guntur dalam membantu ka-

mi; mengetahui rahasia Bambu Gading Mandul itu."

Si Mulut Guntur hanya manggut-manggut 

sambil pandangi kedua pemuda kembar secara ber-

gantian. Rupanya selama dua hari tinggal di Perguruan 

Tapak Syiwa itu, Pendekar Kembar selalu membujuk 

kepada si Mulut Guntur agar mau membeberkan raha-

sia Bambu Gading Mandul. Tetapi pada mulanya si ju-

bah putih itu tak mau membeberkannya demi kesela-

matan kedua pemuda kembar dari Gunung Merana 

itu.

Pendekar Kembar memang mencari Bambu 

Gading Mandul yang hanya tumbuh satu batang dan 

hanya ada di Lereng Gunung Mercapada. Bambu sakti 

itu akan digunakan oleh Pendekar Kembar untuk me-

lumpuhkan kekejian si anak Iblis; Darah Kula, yang 

mempunyai ilmu Pancawarsa, yaitu sebuah ilmu yang 

membuat Darah Kula selalu bangkit kembali dari ke-

matiannya setelah lima tahun.

Darah Kula adalah manusia titisan iblis yang 

selalu membutuhkan darah perawan sebagai kekua-

tannya. Beberapa gadis diculik dan dijual kepada Da-

rah Kula oleh para sekutunya, sehingga dunia persila-

tan menjadi heboh atas hilangnya para gadis tersebut.


Menurut Resi Bayakumba, yang pernah dua kali mem-

bunuh Darah Kula sepanjang hidupnya, si Penguasa 

Bukit Maut itu hanya bisa mati selama-lamanya jika 

ilmu Pancawarsa-nya telah lenyap. Bambu Gading 

Mandul itulah senjata yang dapat dipakai untuk mele-

nyapkan ilmu Pancawarsa tersebut, (Baca serial Pen-

dekar Kembar dalam episode: "Pemburu Mahkota Da-

ra").

Tetapi bambu ajaib yang hanya tumbuh satu 

batang dan tak ada duanya di seluruh pelosok bumi 

mana pun juga itu, adalah bukan sembarang bambu 

yang bisa dijamah orang. Bambu tersebut tumbuh di 

tanah keramat yang ada di lereng Gunung Mercapada. 

Menurut penjelasan Kirana, murid si Mulut Guntur, 

tanah keramat yang bernama Kubangan Berdarah itu 

telah banyak memakan korban nyawa manusia. Siapa 

pun yang mendekati tanah keramat itu dijamin pasti 

tewas tanpa sungkan-sungkan lagi. Di sana ada sesua-

tu yang menunggu nyawa manusia untuk di santap-

nya, dan sesuatu itu adalah sebuah misteri yang tak 

diketahui oleh siapa pun. Menurut Kirana, hanya gu-

runya yang mengetahui rahasia misteri tersebut, (Baca 

serial Pendekar Kembar dalam episode: "Tumbal Asma-

ra Buta").

Sebab itulah, Pendekar Kembar mendesak se-

kaligus membujuk si Mulut Guntur untuk membekali 

perjalanan mereka dengan rahasia tersebut. Tetapi 

mengingat bahaya besar yang dapat mencelakakan 

Pendekar Kembar, dan si Mulut Guntur tak ingin ke-

dua murid sahabatnya itu binasa di tanah keramat itu, 

maka ia semula tak ingin membeberkan rahasia miste-

ri Kubangan Berdarah. Namun setelah melalui berba-

gai pertimbangan, akhirnya Mulut Guntur memu-

tuskan bahwa rahasia itu harus dibeberkan di depan 

Pendekar Kembar, sebelum kedua pemuda tampan itu


nekat pergi ke Kubangan Berdarah tanpa bekal penge-

tahuan tentang rahasia tempat tersebut.

"Sudah lama kudengar tentang kekejaman si 

manusia sesat Darah Kula itu. Tapi baru sekarang ku-

dengar tentang rahasia kelemahannya," ujar si Mulut 

Guntur. "Tak kusangka ia dapat binasa selama-

lamanya jika dilukai dengan Bambu Gading Mandul. 

Tetapi seperti yang sudah kukatakan kepada kalian, 

bukan hal yang mudah mendapatkan Bambu Gading 

Mandul itu. Nyawa kalian yang menjadi taruhannya."

"Kami sudah siap pertaruhkan nyawa demi 

hancurnya kekejaman si Darah Kula itu, Eyang," sahut 

Soka Pura.

Si Mulut Guntur manggut-manggut kecil, me-

rasa yakin dengan keberanian dan kebulatan tekad 

kedua pemuda kembar itu. Dalam hatinya ia menyim-

pan kebanggaan terhadap ketegaran Raka dan Soka, 

karena ia sangat mengagumi jiwa-jiwa penuh kebera-

nian seperti yang dimiliki oleh Pendekar Kembar terse-

but.

"Perlu kalian ketahui, sebelum kalian nanti 

mendekati sebatang bambu kuning yang tumbuh lurus 

tanpa cabang dan tanpa anak bambu lainnya, yaitu 

yang dinamakan Bambu Gading Mandul, kalian akan 

berhadapan dengan lawan yang tak bisa kalian lihat, 

tak bisa kalian jamah, dan tak bisa kalian serang. Te-

tapi lawan kalian itu dapat melihat dan melukai kalian. 

Dengan cepat ia akan membunuh kalian tanpa ampun 

lagi."

"Siapa lawan yang akan kami hadapi nanti, 

Eyang Wirata?"

"Dia bernama: Dedengkot Iblis!"

Secara tak sadar, Raka dan Soka sama-sama 

menggumamkan nama itu, selain merasa asing dengan

nama tersebut, juga mencatat nama itu dalam ingatan


masing-masing.

"Siapa sebenarnya si Dedengkot Iblis itu, 

Eyang?" tanya Raka semakin ingin tahu.

"Dia adalah si penjaga bambu tersebut. Il-

munya bukan saja tinggi, tapi juga sangat mematikan. 

Tak pernah ada orang yang bisa pulang dengan sela-

mat jika sudah mendekati tanah Kubangan Berdarah. 

Dedengkot Iblis akan membunuh siapa pun yang men-

dekati tanah di sekitar Bambu Gading Mandul tanpa 

pandang bulu. Maut yang dikirimkan tak pernah dike-

tahui oleh siapa pun yang berada di sekitar tanah Ku-

bangan Berdarah itu."

Si Mulut Guntur sengaja hentikan ucapannya 

sesaat. Ia perhatikan wajah-wajah tampan di depan-

nya. Ternyata tak satu pun yang kelihatan berwajah 

cemas atau gelisah. Kedua wajah tampan itu sama-

sama tampak tenang, tak ada rasa gentar sedikit pun 

pada diri mereka.

"Dedengkot iblis sebenarnya seorang ksatria da-

ri sebuah kerajaan di pegunungan Tibet. Dia adalah 

seorang perwira perang yang tangguh. Setiap negeri 

yang didatangi selalu ditaklukkan dengan mudah 

olehnya. Tetapi pada suatu saat, ia berhadapan den-

gan prajurit dari negeri Sebarang Samudera. Ternyata 

ia dapat dikalahkan oleh perwira perang dari negeri 

tersebut. Ia pun melarikan diri ke tanah Jawa, berusa-

ha menambah ilmunya untuk lakukan balas dendam. 

Maka ia pun berjumpa dengan sosok Raja Iblis yang 

menjelma menjadi manusia. Akhirnya ia menjadi pen-

gikut si Raja Iblis dengan menyerap kesaktian si Raja 

Iblis...."

"Maksudnya, Raja Iblis ayahnya si Darah Kula 

itu, Eyang?" potong Soka dengan rasa ingin tahunya 

tak tertahan lagi.

"Benar. Pada waktu itu, Raja Iblis mau membe


rikan kesaktiannya kepada sang perwira perang terse-

but dengan perjanjian, harus mau menjadi pengikut 

setianya. Perjanjian itu disetujui, maka jadilah perwira 

perang tersebut sebagai pengikut setia Raja Iblis yang 

berjuluk Dedengkot Iblis. Setelah ia berhasil membalas 

dendam kepada lawannya yang dulu, ia ditugaskan 

oleh si Raja Iblis untuk menjaga Bambu Gading Man-

dul."

"Mengapa bambu itu harus dijaga, Eyang?" 

tanya Raka Pura setelah si Mulut Guntur hentikan 

ucapannya beberapa saat.

"Aku tak Jelas apa alasan si Raja Iblis menjaga 

bambu itu. Setahuku, Bambu Gading Mandul dapat 

dipakai untuk menolak dan melumpuhkan kekuatan 

sihir. Mungkin karena kesaktian itulah, Raja Iblis yang 

mempunyai ratusan ilmu sihir itu perlu menaruh seo-

rang penjaga di Kubangan Berdarah agar tak seorang 

pun memiliki bambu tersebut."

"Mengapa tidak dicabutnya saja? Atau dihan-

curkan sekalian, biar tak jadi perintang bagi ilmu si-

hirnya si Raja Iblis?" ujar Soka Pura kepada Raka, tapi 

kata-kata itu sebenarnya ditujukan kepada si Mulut 

Guntur.

Maka si jubah putih itu pun menjawabnya den-

gan suara pelan berkesan ragu, "Mungkin sudah dila-

kukan, tapi Raja Iblis tak berhasil cabut atau hancur-

kan bambu itu!"

Pendekar Kembar saling manggut-manggut da-

lam gumam kecil.

"Kudapatkan keterangan tentang jadi diri si 

Dedengkot Iblis Itu dari nenek ku." sambut si Mulut 

Guntur. "Sebab nenek ku pernah menjadi istri De-

dengkot Iblis, sebelum lelaki itu menjadi pengikut Raja 

iblis."

"Oooo...," gumam kedua pemuda kembar itu


semakin jelas.

"Ketika suaminya menjadi pengikut iblis, nenek 

segera lari dan tak mau menjadi istrinya lagi. Akhirnya 

beliau menikah dengan kakekku, sampai lahirlah ibu-

ku dan seterusnya lahir pula diriku. Sebab itu, aku 

adalah satu-satunya orang yang dapat menginjakkan 

kaki di tanah Kubangan Berdarah tanpa kehilangan 

nyawa, sebab Dedengkot Iblis tahu bahwa aku adalah 

cucunya Nyai Prabawinih."

"Kalau begitu, Eyang bisa mengambil Bambu 

Gading Mandul itu tanpa celaka?!"

Mulut Guntur gelengkan kepala sambil me-

mandang Soka Pura.

"Dedengkot iblis tak akan mengusik ku selama 

aku tidak mengusik bambu itu. Tapi jika aku ikut 

mengusik Bambu Gading Mandul, maka ia tak akan 

tinggal diam. Pasti aku akan dibunuhnya pula."

"Ooo...," Raka menggumam agak keras. "Lalu, 

bagaimana cara mengalahkan si Dedengkot Iblis itu,

Eyang?!"

Soka menimpali, "Apakah Nyai Prabawinih 

mengetahui kelemahan Dedengkot Iblis itu, Eyang?"

Mulut Guntur tarik napas panjang. Sepertinya 

ada sesuatu yang berat diucapkannya, namun ia tam-

pak pula memaksakan diri untuk mengungkapkan di 

depan Pendekar Kembar. Agaknya sesuatu yang ingin 

diungkapkan itulah rahasia yang selama ini disimpan 

rapat-rapat oleh si Mulut Guntur.

"Nenek ku pernah berpesan padaku, bahwa aku 

tak boleh membunuh Dedengkot Iblis karena hal itu 

sama saja membunuh cinta nenek kepada Dedengkot 

Iblis. Walau cinta itu sudah lama terkubur di dasar ha-

ti nenek ku, tapi nenek tetap tak ingin keturunannya 

bermusuhan dengan si Dedengkot Iblis."

"Lalu, tentang rahasia kelemahannya itu ba


gaimana, Eyang?" desak Soka Pura yang menyadari

bahwa si Mulut Guntur sedikit berbelit-belit dalam 

menjawab pertanyaan tadi karena rasa bimbang dalam 

hatinya. Dengan desakan itu, maka Soka berharap ke-

bimbangan itu musnah dari dalam hati si Mulut Gun-

tur.

"Kami perlu mengetahui kelemahan tersebut 

sebelum nantinya kami berdua akan dibunuh oleh si 

Dedengkot Iblis, Eyang!" Raka pun ikut mendesak, ka-

rena Raka segera tanggap maksud desakan adik kem-

barnya tadi.

"Nenek ku memang pernah memberi tahu raha-

sia kelemahan si Dedengkot Iblis...."

Baru berkata demikian, tiba-tiba tubuh si Mu-

lut Guntur terhempas kuat bagai diterjang badai san-

gat kencang. Tubuh itu terhempas membentur dinding 

dangau yang terbuat dari kepang itu. Brruuus...! 

Byuuurrr...!

Mulut Guntur jatuh ke dalam empang tanpa bi-

sa menjaga keseimbangan tubuhnya. Tentu saja hal 

itu sangat mengejutkan Pendekar Kembar yang serta 

merta menyambar pedang masing-masing dan bangkit 

berdiri beradu punggung. Tetapi ketika mata mereka 

sudah memandang dengan lebar-lebar di sekelilingnya, 

mereka tidak melihat bayangan apa pun yang dapat 

dicurigai sebagai penyebab terhempasnya tubuh si Mu-

lut Guntur. Bahkan angin pun berhembus dengan ka-

lem, nyaris tak membuat rambut Pendekar Kembar 

bergerak meriap.

"Tak ada angin tak ada bayangan apa pun, 

mengapa Eyang Wirata terlempar begitu saja?!" bisik 

Raka Pura kepada adiknya.

"Cepat bantu Eyang Wirata naik ke daratan, 

aku akan mencari apa penyebabnya!" perintah sang 

adik. Namun sebelum Raka Pura bertindak, ternyata


tubuh si Mulut Guntur telah melesat cepat bagai 

bayangan berkelebat dari perairan empang ke daratan, 

wuuut, jleeg...! Suara geram kejengkelannya terdengar 

samar-samar.

"Kurang ajar...!"

"Eyang, apa yang terjadi?! Bagaimana keadaan 

Eyang?! Eyang baik-baik saja?!" cecar Raka yang sege-

ra menghampirinya.

Mulut Guntur basah kuyup dari kepala sampai 

kaki. Matanya memandang tajam ke sekeliling. Raka 

Pura tak berani ajukan tanya lagi, karena ia tahu wa-

jah si Mulut Guntur sedang menahan kemarahan. So-

ka Pura segera melompat dari dangau dan berdiri di 

samping kanan si Mulut Guntur. Wuuut, jleeg...!

"Ada yang menyerangku!" ujar si Mulut Guntur 

bernada geram hingga terdengar pelan.

"Siapa orangnya, Eyang?! Aku tak melihat sia-

pa-siapa di sekitar sini!" ujar Soka Pura dengan tetap 

memandang penuh waspada. Tangan kirinya sudah 

bersiap mencabut pedang beningnya itu untuk hadapi 

lawan sewaktu-waktu.

"Rupanya percakapan kita tadi didengar oleh si 

Dedengkot Iblis!" bisik si Mulut Guntur kepada Soka, 

tapi Raka pun yang ada di samping kanannya juga 

mendengar bisikan tersebut, sehingga Raka juga ikut 

terperanjat seperti ekspresi wajah adiknya. Bahkan 

mereka sempat saling pandang dengan tegang.

"Maksud Eyang... orang yang menyerang Eyang 

adalah si Dedengkot Iblis itu?!" bisik Soka inginkan 

kepastian.

Sebelum si Mulut Guntur menjawab, tiba-tiba 

angin berhembus ke satu arah. Hembusan angin ken-

cang yang hanya sekelebat itu datang dari arah kiri 

Raka Pura. Padahal sekitar tiga tombak dari arah kiri 

Raka Pura terbentang pagar bumi yang mengelilingi


padepokan tersebut.

Wuuus...! Raka Pura pun cepat tanggap terha-

dap cuaca yang tak wajar itu. ia segera sentakkan ke-

dua tangannya dalam keadaan menggenggam ke arah 

datangnya angin tak wajar itu. Suuut...! Maka keluar-

lah tenaga dalam yang cukup besar dari kedua tangan 

yang menggenggam itu. Wuuus...!

Jurus 'Tangan Batu' tersebut ternyata tidak sia-

sia. Hembusan hawa padat dari tenaga dalamnya Pen-

dekar Kembar sulung itu bagaikan menghantam sesu-

atu yang besar dan empuk. Buuuhk...! Di susul den-

gan suara orang tersentak tertahan, seperti ditendang 

perutnya.

"Heeekhh...!" ... Bruuusk...! Tanaman hias se-

tinggi lutut menjadi rusak. Sesuatu telah jatuh me-

nimpa tanaman tersebut. Dan sesuatu itu ternyata 

adalah sesosok tubuh gemuk berwajah lebar seperti 

martabak dibentangkan di atas penggorengan. Kemun-

culan sosok gemuk itu membuat si Mulut Guntur ter-

peranjat, demikian pula Pendekar Kembar yang masih 

merasa asing dengan penampilan tokoh perempuan 

gemuk berwajah lebar itu.

"Bedebah!!" maki perempuan gemuk yang nya-

ris seperti gentong itu. Ia segera bangkit dengan ma-

tanya yang tajam memandang Raka Pura. Suara ge-

ramnya bercampur dengan nada kesakitan yang dita-

han mati-matian.

"Bocah ingusan mau berlagak jadi jagoan di de-

panku, hah?!!" bentaknya setelah berdiri tegak. Raka 

Pura undurkan diri hingga sejajar dengan si Mulut 

Guntur.

Beberapa murid si Mulut Guntur yang melihat 

kemunculan perempuan gemuk itu segera bergegas in-

gin menyergapnya. Tapi sang Guru segera mengangkat 

tangan, memberi isyarat agar para murid tidak mende


kati tempat itu.

Soka Pura segera berpindah tempat dekati ka-

kaknya.

"Raka, itu manusia atau karung beras gancet?!"

"Ssstt...!" Raka hanya mendesis pelan.

"Bukan begitu, aku benar-benar kaget melihat 

kemunculannya yang gemuknya sebesar itu. Agaknya 

ia cocok jadi kekasihmu, Raka!"

"Sekali lagi brisik, kutampar mulutmu, Soka!" 

hardik Raka Pura dengan suara berbisik. Raka tak ter-

tarik dengan kelakar adiknya, karena ia ingin pu-

satkan perhatian kepada si Mulut Guntur yang tampak 

sedikit tegang walau tetap maju dua langkah mengha-

dapi perempuan bertubuh besar dan gemuk itu.

"Rupanya kaulah orangnya yang tadi menye-

rangku dari jauh, Kecubung Manis?!"

"Yahh... memang aku yang menyerangmu, Mu-

lut Guntur!" jawab perempuan berusia sekitar empat 

puluh lima tahun itu.

"Gila!" bisik Soka kepada kakaknya. "Orang 

makan buah kecubung separo saja bisa edan tiga hari 

tiga malam. Kalau makan kecubung sebesar itu, edan-

nya berapa bulan, ya?"

"Diamlah, Soka!" bentak sang kakak dalam bi-

sikan Kecubung Manis berkata lagi, "Sengaja kubung-

kam mulutmu agar tidak sembarangan bicara tentang 

rahasia kelemahan si Dedengkot Iblis, karena seha-

rusnya kau hanya boleh bicara padaku! Orang lain tak 

boleh mengetahuinya! Lebih-lebih bocah-bocah ingu-

san macam si kembar itu! Mereka tak boleh tahu raha-

sia tersebut, Mulut Guntur!"

Eyang Wirata sunggingkan senyum tipis, agak-

nya sengaja memberikan kesan sinis kepada tamu tak 

diundang itu. Si Mulut Guntur bagai tak hiraukan ka-

ta-kata perempuan gemuk itu. Ia bahkan mengecam


perempuan tersebut dengan nada datar dan berkesan 

kalem.

"Terlalu lancang kau berani memasuki padepo-

kanku tanpa permisi, Kecubung Manis!" "Persetan 

dengan penilaianmu! Aku sudah tak sabar membujuk

mu dari tahun ke tahun, Mulut Guntur! Sekarang aku 

harus memaksamu agar kau bicara tentang rahasia 

kelemahan si Dedengkot Iblis! Dan ingat...!" jarinya 

yang besar diacungkan kuat-kuat."... kau hanya boleh 

bicara padaku tentang rahasia itu, Mulut Guntur! Jika 

kau beberkan rahasia itu di depan orang lain, maka 

jangan salahkan diriku jika padepokanmu ini berubah 

menjadi lautan api dalam sekejap!"

"Edan! Dia berani mengancam begitu?!" gumam 

Soka lirih didengar oleh Raka yang tetap tenang itu. 

"Berarti ilmunya cukup tinggi! Pukulan jarak jauhnya 

yang tidak bisa diketahui datangnya oleh Eyang Wirata 

sudah merupakan bukti bahwa perempuan seperti ga-

jah bengkak itu memang berilmu tinggi, Raka! Hati-

hati jika nanti kita harus melawannya, jangan sampai 

kena cium olehnya! Bisa hangus pipimu, Raka!"

"Diamlah kau, Cerewet!" hardik Raka lagi den-

gan suara berkasak-kusuk. Soka Pura sembunyikan 

senyum gelinya sambil melengos ke arah lain. Namun 

pandangan matanya segera diarahkan kembali ke wa-

jah perempuan gemuk berbaju ketat tanpa lengan 

warna hitam dengan celananya yang punya warna sa-

ma hitamnya itu.

"Nafas ku jadi sesak melihatnya terus-

menerus," ujar Soka membatin. "Ukuran baju dan ce-

lananya bisa dipakai untuk bikin pakaian tiga orang. 

Ya, ampuun... perempuan kok bisa segemuk itu, ma-

kanannya apa kira-kira?! Jangkrik atau bekicot racun, 

ya?!"

Tiba-tiba Kecubung Manis berseru kepada Mu


lut Guntur, "Sekarang juga kau harus ikut aku ke 

tempat yang sepi dan beri tahukan padaku rahasia itu! 

Kau tak bisa bohong lagi padaku, Mulut Guntur! Du-

gaanku dari semula telah terbukti, bahwa kau pasti 

tahu rahasia kelemahan si Dedengkot Iblis itu!"

Perempuan gemuk yang rambutnya dikonde 

bundar seperti sarang burung itu segera melangkah 

dekati si Mulut Guntur. Kedua matanya membelalak 

lebar, menampakkan keangkerannya walau sebenar-

nya justru membuatnya tampak lucu di hati Soka Pu-

ra.

"Cepat ikut aku, Mulut Guntur! Jangan sampai 

ku gunakan kekerasan untuk membuka mulutmu 

yang tua itu!" sambil ia tetap maju mendekati Mulut 

Guntur. Yang didekati hanya diam saja, memandang 

tanpa gerak sedikit pun. Mulut Guntur bagai tak pedu-

likan keadaan tubuh dan pakaiannya yang basah 

kuyup itu.

"Perlukah kutangani, Eyang?" bisik Raka Pura 

dari belakang Mulut Guntur. Namun sebelum Mulut 

Guntur kasih jawaban, tiba-tiba sekelebat bayangan 

menerjang Kecubung Manis dari belakang.

Weess...!

*

* *

2


MULUT Guntur dan Pendekar Kembar terkejut 

melihat seseorang menyerang Kecubung Manis dari be-

lakang. Serangan itu bagaikan badai menerjang pung-

gung si perempuan gemuk berdada membusung besar. 

Buuuhk...!


Anehnya terjangan keras itu tidak membuat 

Kecubung Manis tersungkur ke depan atau terjungkal, 

ia hanya tersentak setengah langkah ke depan, kemu-

dian segera berbalik pandangi si penyerang. Sedang-

kan si penyerang justru terpental mundur dan jatuh 

terduduk. Ia bagaikan habis menerjang sebongkah ba-

tu gunung yang sukar ditumbangkan.

"Bocah sangit! Heeah...!"

Kecubung Manis ingin sentakkan tangan ka-

nannya dalam keadaan telapak tangan terbuka. Tapi 

Mulut Guntur segera kelebatkan tangan kirinya den-

gan dua jari mengeras lurus bagaikan sebilah pisau in-

gin dilemparkan. Wuuut...!

Dari ujung kedua jari itu keluarkan cahaya me-

rah kecil seperti sebutir merica. Sinar merah itu kenai 

punggung telapak tangan Kecubung Manis yang ingin 

dihantamkan ke arah si penyerangnya. Deesss...!

"Aaoooww...!!" Kecubung Manis memekik keras, 

suaranya menggema. Pekikan itu disertai dengan sen-

takan tubuh yang melompat ke samping dan tangan-

nya buru-buru diturunkan, dipegangi dengan tangan 

sebelahnya. Ia menyeringai kesakitan, seperti habis 

disengat kala jengking.

"Mundur, Kirana!" perintah si Mulut Guntur 

kepada gadis penyerang tadi, yang ternyata adalah Ki-

rana, muridnya sendiri.

Gadis yang naksir Raka Pura itu segera mende-

kati Raka dengan pandangan mata tertuju kepada si 

Kecubung Manis. Sementara itu, geram Kecubung Ma-

nis yang ditujukan kepada Kirana segera terhenti oleh 

langkah Mulut Guntur yang menghalangi muridnya 

sambil berseru kepadanya.

"Rupanya kau memang perlu kuberi pelajaran 

biar tahu adat sedikit, Kecubung Manis!"

"Muridmu telah menyerangku dengan tidak jan


tan, Mulut Guntur!"

"Dia memang bukan murid jantan!" jawab Mu-

lut Guntur. "Dia murid perempuan. Jika kau merasa 

jantan, kau hanya akan berhadapan denganku, Kecu-

bung Manis!"

"Bagus!" seru Kecubung Manis sambil melu-

ruskan tangannya yang tadi seperti tersengat kala 

jengking itu. Agaknya ia sudah bisa mengatasi rasa 

sakitnya dan bersiap lakukan pertarungan dengan si 

Mulut Guntur.

"Kau pun perlu dihajar biar tahu bahwa aku 

benar-benar membutuhkan rahasia itu, Mulut Gun-

tur!"

Tunjukkan seberapa butuhnya kau terhadap 

rahasia itu!" tantang si Mulut Guntur dengan suara te-

tap bernada wibawa. Sementara itu ia sempatkan ber-

paling sebentar kepada Raka Pura yang berada bersa-

ma adik kembarnya dan Kirana.

"Menjauhlah kalian!"

Kirana segera mundur hingga ke depan dangau. 

Raka Pura dan adik kembarnya mengikuti Kirana.

"Siapa sebenarnya perempuan bengkak itu, Ki-

rana?" tanya Soka Pura.

"Dia orang Telaga Wengur, Ketua Perguruan Se-

rampang Mayat!" jawab Kirana sambil memperhatikan 

pertentangan antara gurunya dengan Kecubung Manis.

"Mengapa ia sangat memaksa Eyang Wirata un-

tuk membuka rahasia kelemahan Dedengkot Iblis?"

"Karena ia juga menghendaki bambu sakti itu. 

Salah seorang muridnya terkena kutukan dari Nyai 

Rempah Arum, musuh bebuyutannya. Kutukan itu tak 

akan bisa sirna jika tidak diobati dengan mandi air re-

busan Bambu Gading Mandul. Karena itu, berkali-kali 

Kecubung Manis membujuk dan mendesak Eyang 

Guru agar memberi tahu rahasia kelemahan Dedeng


kot Iblis. Tapi Eyang Guru tak pernah mau bicara dan 

selalu berlagak tidak tahu menahu tentang rahasia 

tersebut. Sampai akhirnya... sekarang ia sudah tak bi-

sa menahan kesabaran lagi dan lakukan desakan den-

gan cara kasar. Padahal sebelumnya kami tak pernah 

bentrok dengan pihak Perguruan Serampang Mayat!"

"O, begitu...?!" Raka Pura yang menggumam 

dan manggut-manggut.

"Kecubung Manis adalah cucu dari mendiang 

Eyang Tayangon."

"Eyang Tayangon itu siapa?"

"Kakaknya Eyang Wirata yang mewariskan se-

luruh ilmunya kepada Kecubung Manis."

"O, kalau begitu ilmu yang dimiliki Eyang Wira-

ta kalah tua dengan ilmu yang dimiliki Kecubung Ma-

nis?"

"Ya, memang begitu menurut pengakuan Eyang 

Guru!" ujar Kirana, gadis cantik bergigi gingsul itu.

Percakapan mereka terhenti seketika, Raka Pu-

ra yang ingin ajukan tanya terpaksa batal, karena me-

reka segera terperangah melihat Kecubung Manis ber-

tepuk tangan satu kali. Plaak..,! Tepukan tangannya 

memancarkan sinar hijau ke arah si Mulut Guntur. 

Claap...!

Sinar hijau lebar itu bagai menyambar tubuh si 

Mulut Guntur yang kurus. Namun sinar itu segera di-

tahan dengan sentakan telapak tangan kanan si Mulut 

Guntur yang disentakkan ke depan dan keluarkan si-

nar hijau pula, namun warna hijaunya lebih muda dari 

sinar hijaunya Kecubung Manis. Claap...! Blaaarrr...!

Mulut Guntur terpental mundur, jatuh berlutut 

dengan satu kaki. Telapak tangannya berasap dan ber-

getar. Pada saat itu, Kecubung Manis melompat me-

nerjang Mulut Guntur dengan kecepatan tinggi, seperti 

asap hitam berkelebat nyaris tak terlihat. Wuuut...!


Blaap...! Mulut Guntur bagaikan menghilang. 

Tahu-tahu ia sudah berdiri di sisi lain, di belakang Ke-

cubung Manis. Sedangkan perempuan besar itu ta-

pakkan kakinya ke tanah kosong. Jleeg...! Duuurr...! 

Bumi bergetar karena pijakan kakinya yang bertubuh 

besar itu. Kecubung Manis segera palingkan wajah dan 

menjadi makin berang melihat Mulut Guntur berdiri 

delapan langkah di belakangnya.

"Keparat kau! Jangan lari ke mana-mana kalau 

kuserang, Tolol!" bentak Kecubung Manis dengan sua-

ra mengerang ganas.

Ia segera mengangkat kedua tangannya yang 

berlengan besar dan membuat seorang lelaki akan me-

rinding jika membayangkan pelukannya itu. Kedua 

tangannya segera bertepuk di atas kepala. Ploook...! 

Claap, claap, claap...! Sinar hijau keluar lagi, kail ini 

berlapis-lapis dengan panjang dan lebar sinar seperti 

taplak meja.

Mulut Guntur pun keluarkan sinar tandingan 

dari telapak tangan kanannya yang berjari rapat se-

mua dan disodokkan lurus ke depan bagai menusuk 

udara. Dari tangan itu keluar sinar merah muda yang 

melebar dan beruntun. Clap, clap, clap...!

Blegar, blegar, blegaar...!

Dentuman besar terjadi secara beruntun dan 

menggetarkan alam sekelilingnya. Air empang sempat 

bergolak bagaikan diguncang gempa. Atap rumbia pa-

da dangau sempat merosot pada bagian salah satu si-

sinya karena getaran tersebut cukup kuat. Bahkan

Kirana nyaris terpelanting jatuh diterjang ge-

lombang getar dari ledakan beruntun tadi. Untung 

punggungnya segera ditarik oleh tangan Raka Pura, 

sehingga gadis cantik berompi merah saga itu tak jadi 

jatuh tercebur ke empang.

"Heeaaaahh...!!"


Kecubung Manis berteriak dengan mulut tern-

ganga lebar dan tubuh melompat menerjang lawan. 

Sedangkan si Mulut Guntur pun berteriak panjang 

sambil lakukan lompatan serupa menyambut kehadi-

ran lawannya.

"Heeaahhh...!!"

Blaaar, blarr...! Blegaaarrr...!

"Aaooww...!" suara pekik kesakitan itu datang 

dari mulut Raka Pura dan Soka Pura. Mereka berdua 

segera menutup telinga masing-masing sambil sedikit 

membungkuk, karena gendang telinga mereka bagai 

ditusuk dengan linggis begitu mendengar teriakan me-

reka yang bertarung.

Rupanya mereka yang bertarung sama-sama 

keluarkan jurus berupa getaran gelombang suara yang 

mempunyai kekuatan tenaga dalam menyerupai gele-

dek di siang hari belong. Getaran suara itu bisa meme-

cahkan gendang telinga bagi orang yang berilmu ren-

dah. Tetapi bagi yang berilmu tinggi hanya akan rasa-

kan sakit, gendang telinganya seperti ditusuk dengan 

benda tajam. Sedangkan bagi para murid si Mulut 

Guntur, getaran suara seperti itu tidak membuat me-

reka menjadi kesakitan, karena mereka sudah dibekali

ilmu tenaga dalam pelapis gendang telinga yang dapat 

bekerja dengan sendirinya Jika mendengar getaran su-

ara yang menyerupai geledek murka itu.

Tetapi dari kejadian yang mengejutkan itu, ada 

hal yang lebih mengejutkan lagi, yaitu pertemuan ke-

dua tokoh sakti yang melambung di udara. Kecubung 

Manis dan Mulut Guntur saling beradu telapak tangan 

di udara. Hingga ledakan menggelegar terjadi ketika 

cahaya merah menyebar dari adu telapak tangan di 

udara itu.

Biaaammm...!

Tubuh mereka sama-sama terpental mundur.


Mulut Guntur melayang-layang kehilangan keseim-

bangan tubuh, sedangkan Kecubung Manis masih 

sempat melambung dalam gerakan berjungkir balik di 

udara dengan lincahnya.

Wuk, wuk, wuk...!

Tab, tab, tab...!

Kaki si Kecubung Manis menyentak-nyentak 

pada tiap pendaratan di atas daun-daun tanaman 

hias. Rupanya ia juga mempunyai ilmu peringan tubuh 

yang cukup tinggi, sehingga tubuh besarnya itu mam-

pu melayang seringan kapas dan melesat ke sana-sini 

dengan lincahnya.

Jreeg...! Kecubung Manis akhirnya hinggap di 

atas pagar bumi yang mengelilingi padepokan tersebut. 

Sementara, si Mulut Guntur jatuh membentur salah 

satu pohon rindang di pojokan. Namun ia masih mam-

pu menggeliat bangun dengan mulut dan hidung su-

dah mulai berdarah.

"Guru...?!" sentak Kirana kaget dan tegang me-

lihat gurunya berdarah. Tapi ia sedikit lega setelah 

memperhatikan ke arah Kecubung Manis, ternyata pe-

rempuan besar itu lebih banyak keluarkan darah dari 

telinga, hidung, dan mulutnya.

"Keparat busuk kau, Mulut Guntur! Aku terlu-

ka karena pukulanmu! Awas...! Akan kubalas luka ini 

lebih parah lagi di lain waktu! Uuhkk...!" Kecubung 

Manis terbungkuk dan memuntahkan darah lagi dari 

mulutnya.

Kirana menggeram dengan wajah penuh kema-

rahan. Tangannya segera menyambar cambuk yang 

merupakan senjata andalannya itu. Namun sebelum 

cambuk dilecutkan, Kecubung Manis telah melesat 

pergi dari atas pagar tinggi itu bagaikan menghilang 

tanpa bekas lagi. Weess...!

"Raka, Eyang Wirata terluka parah!" seru Soka


Pura yang segera berkelebat hampiri si Mulut Guntur. 

Raka Pura pun bergegas menghampirinya dengan te-

gang. Para murid Perguruan Tapak Syiwa ikut berkele-

bat hampiri gurunya yang terluka.

"Bawa ke ruang husada!" seru Kunto Aji, pe-

muda tampan berpakaian loreng macan yang dijuluki 

si Bocah Loreng itu.

Mereka bergegas membawa Eyang Wirata ke 

ruang husada alias ruang penyembuhan. Kirana sem-

pat berkata kepada Raka Pura, karena memang ia sela-

lu didampingi oleh si Pendekar Kembar sulung itu.

"Kalau bukan Eyang Guru, mungkin sudah te-

was karena jurus mautnya si Kecubung Manis! Ia telah 

menggunakan jurus 'Tapak Neraka' yang sangat ber-

bahaya bagi jantung lawannya."

"Tapi kulihat tadi, si Kecubung Manis juga ter-

luka parah," ujar Raka Pura.

"Ya, karena Eyang Guru menggunakan jurus 

'Tapak Dewata' yang lebih tinggi dari 'Tapak Neraka'. 

Jika bukan Kecubung Manis, tentu orang itu sudah 

hancur menjadi serpihan arang!"

Melihat keadaan si Mulut Guntur sangat 

mengkhawatirkan; wajah pucat, mata terbeliak putih, 

darah mengalir terus dari hidung dan mulut, dan wa-

jah menjadi pucat pasi seperti mayat, maka Raka Pura 

segera ambil inisiatif untuk lakukan pengobatan sece-

patnya. Jurus 'Sambung Nyawa' yang terkenal ampuh 

untuk penyembuhan segera digunakan oleh Pendekar 

Kembar sulung.

Di depan para murid Perguruan Tapak Syiwa, 

pengobatan itu dilakukan oleh Raka dengan menem-

pelkan tangannya ke telapak tangan Mulut Guntur. 

Tangan Raka segera memancarkan cahaya ungu pen-

dar-pendar. Cahaya ungu itu segera meresap dan 

membuat tubuh Mulut Guntur menjadi bercahaya un


gu sama.

Walaupun tangan Raka sudah dilepaskan dari 

telapak tangan Mulut Guntur, namun tubuh Pak Tua 

itu masih memancarkan cahaya ungu yang mencen-

gangkan tiap murid perguruan tersebut. Bagi Kirana, 

hal itu bukan sesuatu yang aneh lagi, sebab ia pernah 

diobati dengan cara seperti itu oleh Raka Pura.

Setelah cahaya ungu pendar-pendar itu padam, 

Mulut Guntur mulai bisa bernapas dengan lega. Wa-

jahnya tidak sepucat tadi. Bahkan kini ia menjadi se-

gar, sepertinya tak pernah mengalami luka berbahaya 

sedikit pun. Waktu yang relatif singkat dalam penyem-

buhan tersebut membuat para murid saling berdecak

dan berkasak-kusuk mengagumi ilmu si Pendekar 

Kembar. Walaupun mereka pernah melihat Pendekar 

Kembar obati luka pada Kunto Aji, namun rasa kagum 

mereka masih belum ada habisnya.

"Aku berhutang nyawa pada kalian," ujar Mulut 

Guntur setelah para murid pergi dan Pendekar Kembar 

kembali duduk bersila di depan Ketua Perguruan Ta-

pak Syiwa itu.

"Kalau tak segera tertolong, nyawaku bisa am-

blas akibat pukulan 'Tapak Neraka'-nya si Kecubung 

Manis tadi! Untung kalian masih ada di sini."

"Lupakanlah apa yang sudah kami lakukan ta-

di, Eyang," ujar Raka Pura sambil tersenyum-senyum 

malu. "Kami hanya lakukan apa yang kami bisa laku-

kan. itu bukan hal yang hebat dan berlebihan, Eyang."

"Kalian terlalu merendah. Tapi aku sangat ka-

gum dengan jiwa kalian."

"Kalau boleh kami ingin tahu, apa sebab Eyang 

tidak beberkan rahasia kelemahan Dedengkot Iblis ke-

pada Kecubung Manis?" sela Soka Pura. "Bukankah 

menurut Kirana, ilmunya Kecubung Manis masih satu

aliran dengan ilmu silat di sini?"


"Memang. Tapi dia mempunyai niat lain dalam 

memiliki Bambu Gading Mandul itu. Bukan saja untuk 

melawan kutukan yang menimpa seorang muridnya, 

tapi juga akan digunakan untuk memperbudak kaum 

lelaki."

Kedua pemuda kembar itu saling berkerut dahi 

dalam memandang si Mulut Guntur. Akhirnya Soka 

Pura ajukan tanya kepada Mulut Guntur dengan suara 

pelan seperti orang menggumam heran.

"Memperbudak kaum lelaki...?! Maksudnya ba-

gaimana itu, Eyang?"

"Bambu Gading Mandul dapat untuk menun-

dukkan kaum lelaki. Seorang perempuan yang mem-

bawa sepotong Bambu Gading Mandul walau sebesar 

kelingking. akan menyebarkan pengaruh gaib melalui 

matanya. Pengaruh gaib itu dapat membuat kaum le-

laki tunduk dengan segala perintahnya, termasuk pe-

rintah melayani kemesraan di atas ranjang."

"Oooo...," kedua pemuda kembar itu tak senga-

ja menggumam bersama.

"Apakah pengaruh gaib itu juga dimiliki oleh 

seorang lelaki yang membawa sepotong bambu terse-

but, Eyang?"

"Tidak!" Mulut Guntur gelengkan kepala. "Bam-

bu Gading Mandul adalah bambu yang tercipta dari 

kelingking bidadari yang terpotong saat terjadi pertem-

puran di kayangan. Kelingking itu jatuh ke bumi dan 

tumbuh sebagai bambu tunggal tanpa anak bambu. 

Begitulah kepercayaan leluhur ku tentang Bambu Gad-

ing Mandul. Karenanya, hanya kaum perempuan yang 

bisa mempunyai pengaruh kekuatan gaib tersebut ter-

hadap lawan jenisnya."

Pendekar Kembar sama-sama angguk-

anggukkan kepala sambil menggumam kecil. Mereka 

baru tahu khasiat lain dari Bambu Gading Mandul itu,


sebab ketika Resi Bayakumba jelaskan tentang bambu 

tersebut, tak ada penjelasan tentang kekuatan daya 

pikat itu. Agaknya si Mulut Guntur lebih banyak tahu 

tentang Bambu Gading Mandul daripada Resi Baya-

kumba.

Raka dan Soka semakin penasaran ingin da-

patkan bambu tersebut. Bukan saja karena ingin ka-

lahkan kekuatan si Darah Kula, namun juga penasa-

ran ingin melihat seperti apa yang mempunyai kekua-

tan aneh tersebut. Hal itu membuat semangat mereka 

untuk pergi ke Kubangan Berdarah semakin tinggi.

Tetapi ternyata ada pihak lain yang menentang 

niat tersebut. Orang yang tidak setuju dengan perjala-

nan Pendekar Kembar ke Kubangan Berdarah tak lain 

adalah gadis cantik yang salah satu giginya bertumpuk 

alias 'gingsul' itu. Siapa lagi gadis gingsul berlesung 

pipit jika bukan Kirana, si murid tercantik dari bebe-

rapa murid perempuannya Mulut Guntur.

"Aku akan merintangi langkah kalian jika ka-

lian nekat pergi ke tanah Kubangan Berdarah!" ancam 

Kirana dengan wajah cemberut.

"Mengapa kau berubah sikap menjadi penen-

tang langkahku, Kirana?! Semula kau mendukungku 

dan bahkan membawaku kepada gurumu agar menda-

pat petunjuk untuk pergi ke sana. Tapi mengapa kau 

sekarang menjadi perintang ku?!"

"Karena aku tak ingin kau binasa di tangan si 

Dedengkot Iblis itu, Raka! Aku takut kehilangan diri 

mu!" jawab Kirana dengan nada suara tandas dan te-

gas.

Hati yang tertawan oleh ketampanan dan ke-

lembutan Raka Pura membuat Kirana nekat memprok-

lamirkan diri sebagai perintang utama bagi perjalanan 

sang Pendekar Kembar. Bahkan ia berkata dengan le-

bih tegas lagi di depan Raka dan Soka. "Lebih baik aku


mati lebih dulu daripada melihat kau dihancurkan 

oleh si Dedengkot Iblis! Karena itu, jika kalian tetap in-

gin berangkat ke Kubangan Berdarah, kalian harus bi-

sa langkahi mayatku dulu!"

"Heh, heh, heh...! Belum tahu dia...?!" ujar Soka 

sambil nyengir kepada kakaknya.

Tapi wajah Raka Pura pun menjadi kendur, 

seakan ia tak berani teruskan langkahnya jika Kirana 

melarang sekeras itu.

"Baiklah, kalau kemauanmu begitu, aku tak 

akan berangkat ke sana!" ujar Raka kepada Kirana. 

Hal itu membuat Soka Pura menjadi terperangah te-

gang.

"Kau gila, Raka?!"

"Aku tak ingin Kirana memusuhi ku, Soka!" 

"Hei...?l Mengapa hatimu yang selama ini dingin terha-

dap perempuan, sekarang menjadi selembek bubur sa-

gu begitu, Raka?!"

"Terserah apa katamu. Yang jelas, jika kau in-

gin nekat berangkat, berangkatlah sendiri. Aku akan 

tetap bersama Kirana di sini!"

"Edan tujuh turunan kau ini!" gerutu Soka Pu-

ra dengan napas memburu karena mulai dihinggapi 

kemarahan atas keputusan sang kakak. Soka Pura 

menjadi gusar sekali.

Sementara itu, Mulut Guntur menatap curiga 

pada kasak-kusuk mereka bertiga. Sang Guru segera 

mendekatinya. Namun sebelum ajukan tanya, Kirana 

sudah perdengarkan suaranya yang tegas lebih dulu.

"Eyang Guru, kalau Eyang Guru mengatakan 

rahasia itu kepada Pendekar Kembar, aku akan keluar 

dari perguruan ini!"

"Kirana?! Ada apa dengan dirimu?!"

Kirana tidak menjawab, ia segera pergi dengan 

wajah cemberut. Pendekar Kembar menatap si Mulut


Guntur yang terbengong kebingungan hadapi ancaman 

murid cantiknya itu.

*

* *

3


SIKAP lemah Raka yang sepertinya cenderung 

memihak keputusan Kirana ternyata hanya sebuah 

siasat saja. Sang gadis sempat merasa lega dan ber-

bunga indah mendengar Raka Pura lebih baik menyu-

ruh adik kembarnya pergi sendiri ketimbang ia harus 

menentang keputusan Kirana.

Tetapi dalam kenyataannya, esok pagi sebelum 

matahari terbit, kedua pemuda kembar itu akhirnya 

nekat tinggalkan Perguruan Tapak Syiwa. Di saat Ki-

rana masih tertidur nyenyak, mereka sudah berangkat 

menuju Kubangan Berdarah, sesuai dengan arah yang 

pernah ditunjukkan oleh Kirana, sebelum gadis itu be-

rubah keputusan.

Tentu saja Kirana yang menaruh hati kepada 

Raka Pura itu merasa kehilangan dan menjadi kelaba-

kan setelah mengetahui Pendekar Kembar sudah ting-

galkan padepokan. Ia segera temui gurunya dengan 

gusar. Wajah cantiknya sudah dilipat-lipat sepagi itu.

"Guru, apa yang telah Guru lakukan terhadap 

Pendekar Kembar?!"

Mulut Guntur berlagak bingung. "Maksudmu 

apa bertanya begitu, Kirana?!"

"Mereka telah pergi dari padepokan! Mereka ti-

dak ada di kamarnya, Guru!"

"O, tentu saja begitu. Sebab mereka telah pu-

lang ke Gunung Merana!"


"Guru pasti telah mengatakan rahasia kelema-

han Dedengkot Iblis, sehingga mereka berdua pergi ke 

Kubangan Berdarah!" tegas Kirana dalam menuduh.

Sang Guru kalem saja. "Tidak. Aku tidak men-

gatakan rahasia itu!"

"Guru berani bersumpah?!"

"Aku berani bersumpah, aku tidak mengatakan 

rahasia kelemahan Dedengkot Iblis!"

"Lalu, mengapa mereka pergi tinggalkan pade-

pokan tanpa pamit padaku?!"

Sang Guru masih kalem, sedikit angkat bahu 

tanda pasrah.

"Tapi mereka pamit padaku, Kirana. Mereka 

pulang ke Gunung Merana, karena mereka kecewa 

dengan sikapmu yang ingin menguasai mereka."

Kirana mulai surutkan kecemberutannya. Wa-

jah itu berubah menjadi murung, sepertinya penuh 

sesal yang menyedihkan. Sang Guru hanya pandangi 

muridnya dengan kedua tangan bersidekap di dada.

"Aku tahu kau menaruh hati pads Raka Pura, 

Kirana!"

"Guru...," Kirana angkat wajah dukanya setelah 

menunduk sesaat.

"Ya, aku tahu kau mulai jatuh cinta kepada 

seorang pemuda. Tapi tidak semestinya kau menge-

kang ruang gerak pemuda itu. Seorang lelaki cende-

rung mundur dari seorang gadis jika gadis itu tak 

punya pengertian dan kesadaran terhadap apa yang 

dihadapi oleh seorang lelaki."

"Guru, aku hanya tak ingin kehilangan Raka 

Pura!" ucap Kirana dengan suara mulai parau. "Aku ti-

dak ingin Raka Pura tewas di tangan penjaga tanah 

Kubangan Berdarah itu, Guru!"

"Tanpa sadar kau telah menganggap Raka le-

mah, meremehkan kemampuannya, merendahkan il


munya, dan yang lebih berbahaya lagi... kau telah 

mematahkan semangat dan keberanian seorang pen-

dekar seperti Raka Pura itu!"

"Aku... aku mencintainya, Guru," ucap Kirana 

semakin parau, karena kali ini ia benar-benar menitik-

kan air mata dukanya di depan sang Guru. Ia tak se-

gan-segan lagi ungkapkan isi hati yang sebenarnya 

demi memberikan alasan atas sikapnya yang menjadi 

penentang langkah Pendekar Kembar itu. Sang Guru 

yang cukup bijak dan berkharisma tinggi itu akhirnya 

hanya memeluk sang murid cantik, mengusap rambut 

sang murid dengan penuh kelembutan dan kasih 

sayang.

"Kau tak perlu cemas, Kirana! Kecemasanmu 

sama saja harapan celaka pada diri Raka Pura! Yakin-

lah, bahwa mereka tak akan temui halangan apa pun, 

tak akan alami celaka apa pun, dan akan kembali ke 

padepokan kita setelah urusan mereka selesai." Kirana 

tarik diri dan pandangi gurunya.

"Jadi benar mereka ke tanah keramat itu, 

Guru?!"

"Apakah kau tidak percaya dengan jawabanku 

yang tadi, Kirana?!"

Kirana diam tertegun dalam kebimbangan. Se-

harusnya Kirana mengatakan, "Ya, aku tidak percaya 

dengan jawabanmu yang tadi, Guru!" Maka saat itu 

sang Guru akan berkata, "Bagus. Kau memang pantas 

untuk tidak percaya." Kemudian sang Guru pasti akan 

menjelaskan hal yang sebenarnya.

Karena kepergian Pendekar Kembar bukan tan-

pa pamit kepada siapa pun. Justru atas saran si Mulut 

Guntur mereka berangkat sebelum para murid bangun 

di pagi hari. Mulut Guntur memang tidak mengatakan 

rahasia tersebut. Tapi ia menulis rahasia kelemahan 

Dedengkot Iblis pada sesobek kain putih. Kain itu di


berikan kepada Pendekar Kembar sebagai bekal men-

galahkan Dedengkot Iblis di tanah Kubangan Berda-

rah.

"Aku hanya bisa membekali kalian sesobek kain 

ini," ujarnya kepada kedua pemuda kembar itu. "Ada 

beberapa hal yang ku tulis pada kain ini. Tapi bacalah 

setelah kalian jauh dari padepokan!"

Sebab itulah, Mulut Guntur berani bersumpah 

bahwa ia tidak 'mengatakan' rahasia tersebut, karena 

ia hanya 'menulis' rahasia tersebut di atas selembar 

kain putih. Sebab itu pula, Pendekar Kembar bergegas 

menuju ke Kubangan Berdarah dengan semangat dan 

keberanian semakin tinggi.

Mulut Guntur sempat berpesan, "Potonglah ba-

gian ujung dari pohon Bambu Gading Mandul itu se-

cukupnya saja. Kekuatan sakti bambu itu terletak pa-

da bagian ujung. Semakin pucuk, semakin besar ke-

kuatan saktinya."

"Baik, Eyang. Kami akan memotong sekitar dua 

jengkal bagian pucuk bambu itu," ujar Raka Pura.

"Dan ingat... jangan sampai jatuh ke tangan pe-

rempuan, karena perempuan yang memegang bambu 

itu, ia akan dapat jadikan kalian budaknya saat itu ju-

ga!"

"Kami akan perhatikan pesan ini, Eyang!"

"Oh... hampir ku lupa," sergah Mulut Guntur 

sebelum Pendekar Kembar melangkah pergi. "Hancur-

kan atau bakar sampai habis kain putih yang kuti-

tipkan pada kalian itu, jika kalian sudah selesai mem-

baca tulisan yang ada di dalamnya!"

"Balk, Eyang!" jawab Raka yang sudah mendu-

ga apa isi tulisan dalam kain putih tersebut.

Tetapi Soka Pura masih belum paham apa yang 

di maksud dengan tulisan dalam kain putih tersebut. 

Ia menyangka tulisan itu berupa sebaris atau dua ba


ris mantra yang harus dihafalkan. Karenanya, rasa pe-

nasaran Soka membuatnya mendesak Raka untuk 

membaca tulisan dalam kain putih itu.

"Kita sudah cukup jauh dari padepokan! Men-

gapa tidak kita baca sekarang saja tulisan dalam kain 

putih yang ada padamu itu, Raka?!"

Raka Pura tertawa pelan. "Rupanya sejak tadi 

hati mu gelisah karena rasa penasaran terhadap tuli-

san dalam kain putih ini, Soka?!"

"Memang begitu. Kau tahu, daya ingat ku tak 

sebaik daya ingat mu. Aku harus punya cukup waktu 

untuk menghafalkan mantra tersebut."

Raka Pura hentikan langkah. "Kain putih ini 

bukan berisi mantra."

"Lalu berisi apa?"

"Penjelasan tentang rahasia kelemahan si De-

dengkot Iblis!" bisik Raka Pura pelan sekali.

"Dari mana kau yakin begitu?!"

"Firasat ku mengatakan begitu. Sebab menu-

rutku, Eyang Wirata tak mungkin melepas kepergian 

kita ke Kubangan Berdarah jika ia benar-benar tidak 

membekali kita dengan rahasia tersebut. Tentunya be-

liau juga tak ingin kita celaka di tangan si penjaga Ku-

bangan Berdarah itu!"

"Hmmrn...," Soka manggut-manggut sesaat. 

"Kita baca sekarang saja tulisan dalam kain putih itu!"

Raka Pura tengok kanan-kiri sebentar. Ia tak 

ingin ada pihak lain yang turut membaca rahasia ter-

sebut. Setelah merasa aman, mereka segera memba-

canya bersama dalam hati.

"Jangan biarkan kakimu menyentuh tanah. 

Pukulan tanpa amarah dan kebencian akan kenai sa-

saran dengan telak. Buanglah sampan pada tempat-

nya."

Soka Pura tersenyum geli begitu selesai mem


baca tulisan tersebut.

"Kalimat terakhir mengandung makna usil," 

ujarnya kepada Raka.

Sang kakak pun akhirnya tersenyum geli juga. 

Soka tambahkan kata, "Mestinya dilengkapi pula den-

gan kalimat 'Jagalah kebersihan, peliharalah lingkun-

gan'...."

Raka semakin geli. "Ada-ada saja. Kenapa tidak 

ditulis pula kalimat yang berbunyi 'Hemat pangkal 

kaya, rajin pangkal pandai'? Biar tambah konyol seka-

lian."

Tawa si bungsu agak memanjang. Tapi tawa itu 

segera reda setelah Raka Pura berujar dengan nada se-

rius.

"Eh, tapi mungkin saja kalimat terakhir ini 

punya arti tersendiri?!"

"Maksudmu bukan sekadar anjuran main-

main?"

"Ya. Coba kau renungkan dua kalimat di atas-

nya ini. Selalu kaki kita tak boleh sentuh tanah dalam 

melawannya, kita juga tak boleh memukul dengan hat 

diliputi kemarahan dan kebencian. Ditambah lagi... 

'buanglah sampah pada tempatnya' mungkin berarti: 

kuburkan mayatnya setelah kita berhasil membunuh-

nya."

"Jika tidak dikuburkan apakah ia akan bangkit 

lagi?"

"Barangkali saja begitu maksud kalimat terak-

hir ini."

Setelah mereka termenung sebentar, Soka Pura 

segera suruh kakaknya untuk hancurkan secarik kain 

putih itu. Raka Pura menghancurkannya dengan gu-

nakan jurus 'Cakar Matahari', yang mampu membakar 

kain tersebut hingga menjadi abu dalam sekejap, mela-

lui sinar putih berbentuk pisau yang keluar dari tela


pak tangan. Dan langkah pun mereka teruskan sambil 

membicarakan tentang rahasia tersebut dengan suara 

bisik.

Lereng Gunung Mercapada mulai dirayapi ka-

but setipis sutera. Hutan di lereng itu mulai bercampur 

pohon-pohon bambu hijau. Semakin menuju ke arah 

puncak semakin banyak tanaman bambu bergerombol.

Padahal si Mulut Guntur pernah berkata, "Jika 

kalian sudah temukan hutan tanpa tanaman lain ke-

cuali tanaman bambu, maka itu berarti kalian sudah 

sampai di tanah keramat yang dinamakan Kubangan 

Berdarah. Carilah di sekitar tempat itu sebatang pohon 

bambu kuning yang tumbuh lurus bagai ingin me-

nombak langit...."

Raka Pura mencekal lengan adik kembarnya, 

sehingga langkah mereka sama-sama terhenti. Tanpa 

bicara apa pun, Raka Pura memandang ke satu arah 

yang segera diikuti oleh pandangan mata Soka. Ter-

nyata mereka menemukan kerangka manusia yang 

tergeletak di bawah segerombol pohon bambu hijau. 

Mereka pun

mendekatinya. Bulu kuduk mulai berdiri ketika 

angin berhembus lebih kencang dari saat sebelumnya.

"Kerangka ini sudah kering dan tak tersisa da-

gingnya sedikit pun. Berarti kerangka ini sudah cukup 

lama tergeletak di sini," ujar Raka Pura dengan suara 

lirih.

"Mungkin kita sudah memasuki perbatasan 

Kubangan Berdarah," bisik Soka Pura sambil mengu-

sap tengkuk kepalanya yang merinding.

"Kurasa kerangka ini sebagai peringatan bagi 

kita agar mulai berhati-hati dan lebih waspada lagi. 

Maut mengancam di depan langkah kita, Soka!"

"Aku sudah siap hadapi maut dalam bentuk 

apa pun!" tegas Soka Pura. Kini ia mencabut pedang


bersama sarung pedangnya dari selipan pinggang ka-

nan. Pedang itu ditenteng dengan tangan kanan, agar 

se-waktu-waktu mudah dicabut dengan tangan kiri, 

karena Soka Pura adalah pendekar bertangan kidal.

Mereka mulai melangkah di antara semak-

semak pohon bambu hijau. Tanah di sekitar tempat itu 

berumput tipis dan tampak merah kehitam-hitaman. 

Warna merah kering itu tidak menyeluruh, namun 

membentuk semacam kelompok tersendiri. Bahkan 

dedaunan rumput pun banyak yang berwarna merah 

kering. Bau amis tercium samar-samar, menandakan 

tempat itu adalah tempat yang banyak diguyur oleh 

darah yang kini telah mengering.

Tulang kerangka manusia semakin banyak me-

reka jumpai di sana-sini. Pemandangan di sekitar tem-

pat itu bertambah menyeramkan, seperti ladang pem-

bantaian. Tentu saja naluri Pendekar Kembar mulai 

mengatakan bahwa mereka telah berada di Kubangan 

Berdarah yang berarti juga sudah mulai dekat dengan 

tempat tumbuhnya Bambu Gading Mandul.

"Soka, pertajam rasamu, gunakan indera kee-

nam untuk menangkap datangnya bahaya sewaktu-

waktu," bisik Raka Pura. Sang adik hanya menggu-

mam pendek dan pelan, matanya memandang ke sana-

sini dengan tajam dan penuh waspada.

Beberapa langkah kemudian, mereka temukan 

tanaman bambu biru kehitaman. Bambu wulung. 

Bambu-bambu itu tumbuh lurus secara sendiri-

sendiri, tidak menggerombol seperti bambu-bambu hi-

jau lainnya. Tanah di sekitar tempat itu semakin ber-

bau amis darah dan cukup memualkan perut. Kerang-

ka manusia lebih banyak berserakan di sana-sini. 

Langkah mereka pun terhenti untuk perhatikan kea-

daan pemandangan yang menyeramkan itu.

"Aku merasa seperti...."


Belum selesai Raka Pura bicara, tiba-tiba tu-

buhnya bagai disambar kuda terbang dari arah kiri. 

Bruuus...! Raka Pura terpekik pendek dengan tubuh 

terlempar menabrak Soka di samping kanannya. 

Brruuuk...!

"Aahk...!"

Setan belang! Apa-apaan kau ini, Raka?!" ben-

tak Soka Pura sambil mengusap-usap pelipisnya yang 

membentur batu saat terbanting ke kanan. Ia menye-

ringai kesakitan sambil perhatikan kakaknya yang wa-

jah kirinya memar membiru. Raka Pura tak bisa mem-

beri penjelasan apa pun, karena lehernya terasa seper-

ti habis dipenggal dengan sebatang besi. Sakitnya bu-

kan kepalang.

Soka Pura bangkit dengan memendam rasa he-

ran.

"Apa yang...."

Belum selesai Soka ucapkan kata, tiba-tiba da-

danya bagaikan disodok memakai kayu dolken dengan 

keras. Buuhk...!

"Haahhk...!" Soka Pura mendelik dan terlempar 

ke belakang dalam keadaan mata terpejam menahan 

rasa sakit. Tulang dadanya terasa patah dan nafasnya 

tersumbat oleh remukan tulang dada itu. Ia jatuh ter-

kapar dengan tubuh tersentak-sentak karena sukar 

bernafas. Darah segar mengalir dari mulut Soka, mele-

leh ke pipi kanan.

"Dia telah menyerang kita, Soka...!!" seru Raka 

Pura yang suaranya kontan menjadi serak, sambil ber-

siap melakukan perlawanan dengan mencabut pe-

dangnya. Namun pandangan mata si Pendekar Kembar 

sulung itu tak bisa menangkap gerakan apa pun di se-

kitarnya, kecuali daun-daun bambu yang tertiup an-

gin.

"Majulah kau sekarang juga, Dedengkot Iblis!"


seru Raka Pura dengan berang. Pedang Tangan Malai-

kat yang terbuat dari kristal bening mulai memancar-

kan bias sinar ungu samar-samar. Pedang itu segera 

dimainkan untuk hadapi lawan yang tak bisa dilihat 

dengan mata telanjang.

Namun sebelum ia dapat menduga ke mana ge-

rakan si Dedengkot Iblis itu, tiba-tiba seberkas sinar 

merah seperti telur burung berekor panjang segera me-

lesat dari arah belakangnya. Slaaap...! Pada waktu itu, 

Soka Pura sempat melihat kakaknya dalam ancaman 

bahaya sinar merah tersebut. Maka dengan susah 

payah Soka pun berseru sambil menggeliat bangkit 

terhuyung-huyung.

"Awas belakaaaang...!"

Raka Pura segera sentakkan kakinya dan tu-

buh pun melambung ke atas dalam gerakan bersalto. 

Wuuuk, wuuuk...! Ternyata gerakannya yang melam-

bung itu melebihi ketinggian sinar merah yang me-

layang, sehingga tubuhnya lolos dari terjangan sinar 

tersebut. Tetapi sinar merah itu ganti mengarah kepa-

da Soka Pura dengan membelok ke kiri sedikit. Seakan 

sinar merah itu mempunyai nyawa dan mampu mem-

buru lawannya yang lain. Slaaap...!

Dengan sisa tenaga yang ada, Soka Pura segera 

melompat ke samping dalam gerakan tubuh tegak lu-

rus namun berputar bagai baling-baling. Weees...!

Pedang kristal yang segera dicabut dari sa-

rungnya itu ditebaskan bagai menampel telur merah 

berekor panjang. Sinar merah tersebut terkena kibasan 

pedang, tepat di bagian pertengahan lebar pedang. 

Blaaaarrr...!

Ledakan cukup dahsyat terjadi saat sinar me-

rah mirip telur burung itu pecah dihantam Pedang 

Tangan Malaikat. Tetapi gelombang ledakannya me-

nyentak kuat ke berbagai penjuru, membuat tubuh


Raka Pura terpelanting ke arah lain dan jatuh tanpa 

keseimbangan tubuh. Brruuuk...!

Raka Pura bingung sekali melihat adiknya ter-

lempar sendiri. Ia tak bisa melihat di mana lawannya 

berada, padahal ia sudah siapkan jurus 'Nenek Petir' 

dengan pedangnya untuk menyerang lawan.

"Jangan sampai kakimu menyentuh tanah...?!" 

gumam Raka Pura dalam hati mengingat-ingat kalimat 

pemberian si Mulut Guntur itu.

Serta-merta Raka Pura melompat ke samping, 

ke arah dua pohon bambu yang tumbuh bersebelahan 

dalam jarak sekitar satu langkah. Wuuut...! Begitu 

masuk ke pertengahan jarak kedua bambu itu, kedua 

kakinya segera merentang hingga menapak pada ke-

dua pohon bambu tersebut. Zeeb...!

Kini kedua kaki Pendekar Kembar sulung tidak 

menapak di tanah. Kedua pohon bambu itu sedikit 

doyong ke samping karena dipakai pijakan kedua kaki 

Raka. Pedang pun segera dimainkan dalam sekelebat, 

Wiik, wiik, wiik...!

Gerakan tangan berpedang berhenti dalam po-

sisi ujung pedang mengarah ke depan dan kedua tan-

gan menggenggam gagang pedang di atas telinga ka-

nan. Mata Pendekar Kembar sulung masih jelalatan 

mencari di mana musuhnya berada.

Ternyata ia menemukan sesosok tubuh jang-

kung berambut putih yang panjangnya sepunggung. 

Tubuh kurus berjubah merah kusam dengan cela-

nanya yang merah juga itu mempunyai sepuluh jari 

berkuku panjang dan hitam. Sosok itu sedang melang-

kah hampiri Soka Pura dengan santainya. Padahal 

saat itu Soka Pura baru saja bangkit dari jatuhnya dan 

sedang kebingungan mengarahkan pedangnya.

"Dia di samping kirimu, Soka!!" seru Raka den-

gan wajah tegang.


"Kaki jangan menyentuh tanah!" sambung Raka 

secepatnya.

Pendekar Kembar bungsu segera ingat tulisan 

dalam kain putih tadi. Dengan cepat ia melompat ke 

kanan dan tancapkan pedangnya ke tanah. Jruub...! 

Wut, jleeg...!

Soka Pura berdiri di atas gagang pedang den-

gan kedua tangan mengembang bagai sayap seekor bu-

rung bangau. Jari-jarinya menguncup rapat, siap di-

pakai menangkis serangan lawan. Ketika itu pula, So-

ka Pura segera dapat melihat sosok jangkung berwajah 

kurus dengan mata kecil yang cekung dan kulit berke-

rut-kerut. itulah sosok wajah si Dedengkot Iblis yang 

hanya bisa dilihat jika kaki Soka tidak menyentuh ta-

nah.

Seandainya pada saat Pendekar Kembar tadi 

sama-sama melayang karena terjangan lawan dalam 

keadaan membuka matanya, maka mereka akan dapat 

melihat sosok Dedengkot Iblis. Tapi karena tadi mereka 

terlempar dan melayang dalam keadaan mata terpejam 

menahan rasa sakit, maka mereka tak sempat melihat 

sosok wujud lawannya.

Dedengkot Iblis hentikan langkah seketika. Ia 

bagaikan terkejut melihat lawannya berdiri di atas ga-

gang pedang dengan menggunakan jurus peringan tu-

buh yang cukup tinggi. Dedengkot Iblis juga menatap 

Raka Pura yang ada di belakangnya, dan menjadi he-

ran melihat Raka berdiri di antara kedua pohon bambu 

wulung tanpa menginjak tanah.

"Kami dapat melihat rupa mu yang keriputan, 

Dedengkot Iblis!" seru Soka Pura sambil nafasnya ma-

sih terhela dengan berat.

Dedengkot Iblis mundur dari pertengahan jarak 

antara Raka dan Soka. Matanya yang liar dan ganas 

itu memandang ke arah kanan-kirinya dengan gerakan


cepat. Kedua tangannya merenggangkan jemari hingga 

kuku-kuku panjangnya yang runcing itu tampak me-

mancarkan cahaya biru berlompatan, bagaikan cahaya 

petir yang siap menyambar ke mana-mana.

"Bangsat!" geram Dedengkot Iblis. "Turun ka-

lian dari tempat masing-masing dan hadapilah aku!"

"Kami lupa caranya turun!" sahut Soka Pura 

dengan konyol. "Jika kau memang merasa hebat, ma-

julah kemari dan seranglah aku!"

"Kami tak akan menapakkan kaki di tanah, De-

dengkot Iblis! Karena kau tak berani tampakkan diri 

jika kami menapakkan kaki ke tanah!" timpal Raka Pu-

ra sambil sama-sama menahan rasa sakitnya.

"Keparat! Mau apa kalian sebenarnya?!"

"Mencari sepotong Bambu Gading Mandul!" te-

gas Raka Pura.

"Bangsat tengik kalian! Ku kuras darah kalian! 

Heeeaaah...!"

Kedua tangan Dedengkot Iblis menyentak ke 

kanan-kiri dalam keadaan jari-jarinya membentuk ca-

kar terbuka. Dari jari-jari itu melesat sinar-sinar biru 

berkerilap bagaikan pasukan petir menerjang Pendekar 

Kembar. Craalaaap...! Weerss...!

Raka Pura sentakkan pedangnya ke depan den-

gan sedikit diputar. Maka dari ujung pedangnya keluar 

sinar ungu yang ikut bergerak memutar seperti obat 

nyamuk. Claap...! Dan sinar ungu itu menjadi perisai 

yang menahan serangan sinar-sinar biru berkelok-

kelok itu. Trat, taaar...! Blegaaarr...!

Ledakan lebih dahsyat dari yang pertama terja-

di dengan menyebarkan gelombang sentakan amat 

kuat. Ledakan itu terjadi akibat benturan kedua sinar. 

Pohon-pohon bambu menjadi patah dan sebagian 

tumbang bersama akar-akarnya. Tubuh Raka Pura 

sendiri terlempar ke arah belakang dengan gerakan


melayang-layang sambil membentur-bentur bambu-

bambu yang masih belum sempat tumbang atau pa-

tah.

Sementara itu, Soka Pura menahan napas dan 

menyentakkan kakinya di atas gagang pedang. Wuut, 

Wuuut...! Dalam sekejap tubuhnya telah meluncur 

tinggi karena ia menggunakan jurus peringan tubuh 

yang dinamakan jurus 'Badai Terbang'. Akibatnya, li-

ma sinar birunya Dedengkot iblis tak satu pun kenal 

tubuh Soka Pura. Sinar-sinar biru itu menghantam 

pohon bambu di belakang Soka dan membuat bambu-

bambu itu hancur menjadi serbuk halus yang beter-

bangan bersama asap bercampur kabut lereng gu-

nung.

Jegaaaarrr...!

"Heeeeaaaaat...!!"

Raka Pura menggunakan jurus Jalur Badai' 

yang mempunyai kecepatan gerak melebihi kecepatan 

badai yang paling cepat. Pedang Tangan Malaikat ma-

sih di genggam dengan ujungnya mengarah ke dada si 

Dedengkot Iblis. Dalam keadaan melayang cepat begi-

tu, Raka Pura tetap dapat melihat di mana lawannya 

berdiri.

Dedengkot Iblis terkejut melihat lawannya ber-

gerak cepat bagaikan badai mengganas. Ia tak sempat 

hindari diri dari terjangan ujung pedang Pendekar 

Kembar sulung. Maka dengan cepat ia sentakkan tan-

gan kanannya ke depan dalam keadaan telapak tangan 

terbuka dan memancarkan sinar merah bara. Telapak 

tangan itu dipakai menahan ujung pedang yang me-

nerjangnya.

Blegaaarrr...! Dedengkot Iblis tak tahu bahwa 

pedang kristal milik Pendekar Kembar dapat lukai la-

wan dalam jarak tiga langkah tanpa menyentuh tubuh 

lawan. Akibatnya, sebelum pedang itu menyentuh te


lapak tangannya, ternyata kekuatan sakti pedang telah 

menghujam telapak tangan yang menyala merah bara 

itu. Maka terjadilah ledakan yang dahsyat pula, mem-

buat tubuh Dedengkot Iblis terlempar sejauh sepuluh 

langkah lebih.

Wrrees...! Prak, prak, prak...! Brruus...! Bebera-

pa batang bambu wulung yang tumbuh tegak itu patah 

seketika diterjang tubuh Dedengkot Iblis yang terlem-

par melayang kuat itu. Sementara, kaki Raka Pura se-

gera hinggap di atas tonggak bambu dengan tetap per-

gunakan ilmu peringan tubuhnya. Hatinya sempat 

menyimpan rasa heran dan kagum melihat Dedengkot 

Iblis masih bisa berdiri walau wajahnya bagai tercabik-

cabik penuh darah akibat terkena gelombang ledakan 

tadi.

"Kalau bukan berilmu tinggi, sudah hancur tu-

buh gaib orang itu!" gumam hati Raka Pura sambil me-

lirik adiknya yang telah mencabut pedangnya dari ta-

nah dalam keadaan melayang turun dari udara. Soka 

pun segera melompat dan berdiri di atas tonggak bam-

bu berjarak tiga langkah dari samping kakak kembar-

nya.

"Serang bersama dengan jurus 'Lidah Dewa'!" 

ujar Soka membisik. Raka Pura tak menjawab tapi se-

tuju dengan rencana adiknya.

Dedengkot Iblis menendang sebatang bambu 

yang telah patah dan tumbang akibat terjangan tu-

buhnya tadi. Trak...! Bambu itu melayang di udara dan 

ia segera melompat, maka kedua kakinya pun mena-

pak pada batang bambu itu. Ia melayang bagaikan di-

bawa terbang oleh sebatang bambu wulung ke arah 

lawannya.

Pendekar Kembar segera sentakkan Pedang 

Tangan Malaikat ke arah depan. Dari ujung-ujung pe-

dang mereka keluar sinar ungu lurus. Kedua sinar itu


menyatu di depan dan menerjang si Dedengkot Iblis. 

Claaap...! Blaaas...!

"Hahh...?!" Raka Pura dan adiknya terbelalak 

heran dengan mata mendelik. Ternyata sinar ungu 

yang menyatu dan biasanya bisa membuat lawan men-

jadi arang seketika itu juga, ternyata tidak mampu lu-

kai tubuh Dedengkot Iblis. Penyatuan sinar ungu yang 

merupakan Jurus 'Lidah Dewa' itu hanya menembus 

tubuh Dedengkot Iblis bagaikan menembus bayangan 

di udara. Sementara arang yang diserang masih me-

luncur cepat dengan bambu terbangnya.

"Pencar...!" teriak Raka Pura. Kedua Pendekar 

Kembar itu segera melompat ke samping kanan-kiri, 

sehingga lawannya menerjang tempat kosong. Namun 

angin terjangannya mengandung hawa panas yang da-

pat membuat tubuh melepuh seketika.

"Aaow...!" Raka Pura memekik kesakitan, len-

gannya sempat menjadi hitam hangus seperti habis di 

sambar petir. Sedangkan sang adik yang melompat le-

bih jauh dan lebih cepat dalam keadaan selamat. 

Hanya rasakan hawa panas menyengat yang menyam-

bar punggungnya.

Weezz...! Weezz...! Soka Pura melompat ke ke-

dua arah dengan gerakan jurus 'Jalur Badai'-nya. Da-

lam sekejap ia sudah berada di samping kakaknya 

kembali. "Bagaimana lukamu?!"

"Masih bisa ku atasi!" jawab Raka dengan ce-

pat. "Hilangkan rasa benci dan amarah! Mungkin den-

gan cara begitu kita bisa lukai tubuh iblis itu!"

Soka Pura membenarkan dalam gumam pen-

dek, karena ia pun segera ingat tulisan dalam kain pu-

tih pemberian si Mulut Guntur itu. Maka ia dan ka-

kaknya segera tarik napas dalam-dalam dan mene-

nangkan gemuruh permusuhan dalam hatinya. Untuk 

lakukan hal itu, mereka sengaja lari menjauh beberapa


langkah untuk memperoleh banyak waktu dalam me-

nenangkan rasa permusuhan dalam hati mereka.

Tapi tanpa disengaja, gerakan menjauh mereka 

ternyata telah membuat mereka berada sekitar sepu-

luh langkah dari tumbuhnya sebatang bambu kuning 

yang tegak dan lurus bagai ingin menombak langit.

"Bambu itu, Raka...!" sentak Soka Pura dengan 

hati berdebar-debar. Raka pun segera memandang pe-

nuh ketegangan.

"Kurasa itulah yang dinamakan Bambu Gading 

Mandul!" ujar Raka. "Tebang pucuknya, aku akan me-

nahan serangan si iblis itu!" sambil Raka mulai me-

mandang ke arah Dedengkot Iblis yang berwajah te-

gang dalam gerakan melayang di atas sebatang bambu.

"Jangan kau sentuh bambu itu jika ingin sela-

mat. Keparat!!" teriak Dedengkot iblis dengan luka ca-

bikan di wajah membuatnya lebih menyeramkan.

"Aku mohon izinmu, Pak Tua!" seru Raka Pura 

sambil melayang dengan pergunakan kecepatan jurus

'Jalur Badai'. Ia menyongsong gerakan cepat si De-

dengkot Iblis yang telah mengangkat kedua tangannya 

dan di telapak tangan itu telah tampak sinar bundar 

warna biru sebesar telur ayam kampung. Entah kam-

pung mana.

Wuuuzzz...! Slaaap...!

Sementara itu, Soka Pura melesat ke arah 

bambu kuning yang tumbuh secara tunggal itu. Bam-

bu itu memang tumbuh lurus dengan pucuknya me-

runcing bagaikan ujung jari berkuku indah. Pantas ji-

ka bambu itu diyakini oleh leluhurnya si Mulut Guntur 

sebagai bambu jelmaan dari jari kelingking bidadari 

yang putus karena peperangan di kayangan.

Tanpa pedulikan kakaknya bertarung menahan 

si dedengkot Iblis, Soka Pura segera melesat tapakkan 

kakinya di tanah sekitar Bambu Gading Mandul itu.


Ternyata bambu itu tumbuh pada tanah yang menge-

luarkan asap seperti kabut. Asap itu merembes dari 

kedalaman tanah dan mengelilingi bambu itu bagai 

mengurungnya.

"Celaka! Asap beracun?!" gumam hati Soka Pu-

ra ketika mencium bau tidak sedap yang makin me-

nyesakkan pernapasan. Ia terpaksa mundur beberapa 

langkah.

*

* *

4


ASAP beracun itu sempat membuat mata Soka 

Pura berkunang-kunang dan paru-parunya panas se-

kali, seperti terbakar. Namun Pendekar Kembar bung-

su segera mencoba sempatkan diri salurkan hawa 

murni dan tenaga inti gaibnya untuk menawarkan ra-

cun yang telah terhirup itu.

Sementara itu, Raka Pura bertarung mati-

matian melawan Dedengkot Iblis yang berusaha mele-

paskan serangan ke arah Soka Pura. Pukulan jarak 

jauh Dedengkot Iblis selalu dipatahkan oleh jurus-

jurus mautnya Pendekar Kembar sulung, sehingga ter-

jadi ledakan dahsyat beberapa kali yang menggun-

cangkan alam sekitarnya. Sampai beberapa saat, Raka 

Pura belum bisa lukai si Dedengkot Iblis selain hanya 

menahan serangan dan menggagalkan gerakan De-

dengkot Iblis yang ingin menuju ke Bambu Gading 

Mandul.

Raka pun sesekali memandang ke arah adiknya 

yang masih belum juga menebang bambu tersebut. 

Akhirnya ia berseru kepada sang adik sambil melayang


bagaikan terbang, menerjang Dedengkot Iblis yang in-

gin berkelebat menyerang Soka. "Cepat lakukan, So-

kaaa...!!"

Jurus 'Sambung Nyawa' ternyata berhasil atasi 

asap beracun yang dihirup Soka Pura. Bahkan bebera-

pa luka dan rasa sakit Pendekar Kembar bungsu itu 

berhasil dilenyapkan oleh jurus 'Sambung Nyawa'-nya. 

Ketika terdengar seruan Raka tadi, keadaan Soka Pura 

sudah cukup segar. Ia segera berlari menjauhi bambu 

tersebut.

Beberapa langkah kemudian, Soka berhenti 

dan kembali berlari ke arah bambu tersebut dengan 

gunakan sentakan kaki yang membuatnya melesat ke 

atas. Jurus 'Badai Terbang' digabungkan dengan jurus 

'Jalur Badai', sehingga dalam waktu singkat ia sudah 

berada tak jauh dari kakaknya. Rupanya sang kakak 

terkena pukulan maut si Dedengkot Iblis. Dadanya 

menjadi hitam dan kepulkan asap kebiru-biruan. Soka 

Pura segera menyambar tubuh kakaknya yang lim-

bung hendak jatuh tersungkur itu. Wees...!

Tanpa pedulikan teriakan murka Dedengkot Ib-

lis, Soka Pura membawa lari Raka jauhi tempat itu. 

Sementara si Dedengkot Iblis terbelalak sesaat melihat 

Bambu Gading Mandul telah menjadi arang dengan si-

sa asap dan api yang masih tampak samar-samar. Ia 

pun segera berpaling memandang kepergian Pendekar 

Kembar.

"Heeeeaaaahhh...!!!" .

Dedengkot Iblis berteriak keras-keras lepaskan 

murkanya. Bum! berguncang hebat, pohon-pohon 

tumbang bagai dilanda kiamat, langit terang menjadi 

mendung seketika, seakan matahari tak diizinkan ber-

sinar lagi. Tanah bergerak makin kuat dan mengalami 

keretakan di beberapa tempat, membentuk celah da-

lam yang mengepulkan asap dan memancarkan ca


haya bara api dari kedalaman bumi.

Krak, krak, wuuurs...! Blaaar...! Blegaaar...! 

Bruuuk...!

Bumi menjadi gaduh oleh teriakan maut si De-

dengkot Iblis yang berlari mengejar Pendekar Kembar. 

Kecepatan geraknya menyamai kecepatan jurus 'Jalur 

Badai'-nya Soka Pura, sehingga dalam beberapa waktu 

saja, jarak mereka mulai dekat. Soka Pura sengaja 

menggunakan batang-batang pohon bambu untuk 

menjejakkan kakinya. Dengan begitu ia tetap dapat 

melihat sampai di mana pengejaran Dedengkot Iblis, 

sebab kakinya tak menyentuh tanah.

"Kembalikaaaaann...! Kembalikaaaaann...!"

Setiap teriakan Dedengkot Iblis mengandung 

getaran maut yang mematahkan pohon-pohon bambu 

wulung dan bahkan menjebolkan serumpun bambu hi-

jau di sekitar mereka. Soka Pura tetap melarikan diri 

sambil memanggul Raka. Ia butuh tempat aman untuk 

sembuhkan kakaknya lebih dulu, setelah itu dapat 

berhadapan dengan lawannya lagi. Sebab menurutnya, 

Raka Pura dalam ancaman luka maut yang dapat me-

renggut nyawa jika tidak segera diobati. Tubuh si Pen-

dekar sulung sudah sedingin es balok, itu menanda-

kan ajalnya hampir tiba.

Tetapi Dedengkot Iblis kini lakukan pengejaran 

sambil melepaskan pukulan-pukulan maut bersinar 

biru. Sinar-sinar itu sempat menghantam sebongkah 

batu yang ada di depan Soka Pura. Batu tersebut pe-

cah menjadi debu dalam sekejap dengan timbulkan 

suara menggelegar memekakkan telinga. Soka Pura 

terpaksa bergerak zig-zig dalam pelariannya agar tak 

terkena sinar-sinar birunya Dedengkot iblis.

WUUZ, WUUZ, WUUZ, WUUZ,..!

Clap, clap, clap, clap, clap...!

Pendekar Kembar bungsu sempat terperanjat



dan merasa heran ketika ekor matanya menangkap ge-

rakan sinar lain yang datang dari arah timur. Sinar-

sinar birunya si Dedengkot Iblis ternyata dihantam 

dengan sinar-sinar kuning emas patah-patah yang 

muncul dari sisi timur.

Duaar, blaar, blegaar, blaar, jegaar...!

Gunung Mercapada bagaikan mau meletus dari 

pertengahan lerengnya. Guncangan hebat terjadi, sea-

kan gunung itu akan tenggelam ke dasar bumi. Tentu 

saja alam sekitarnya menjadi rusak, pohon-pohon se-

makin banyak yang tumbang dan tanah retak terjadi di 

mana-mana. Ledakan-ledakan dahsyat itu pun sempat 

membuat langit bagai dilapisi cahaya merah secara be-

runtun, yang tentu saja dapat dirasakan oleh pendu-

duk di sekitar kaki Gunung Mercapada itu.

Soka Pura tetap berlari terus tanpa menginjak 

tanah, hanya sesekali ia berpijak pada tanah jika tak 

mendapat tempat pijakan lainnya. Sedangkan Dedeng-

kot Iblis tetap mengejarnya dengan gerakan dan seran-

gan membabi buta. Suara teriakan liarnya menggema 

panjang karena saling menyusul. Alam benar-benar 

menjadi gaduh dan mengerikan bagi orang awam.

Tiba-tiba Soka Pura terpaksa hentikan lang-

kahnya karena ia merasa dihadang oleh seseorang 

yang berdiri di atas pucuk ilalang. Orang itu sempat 

melepaskan pukulan bersinar kuning emas dari kedua 

jari tangan kirinya yang mengeras itu. Rupanya dialah 

yang memiliki pukulan bersinar emas dan menghan-

curkan sinar-sinar birunya Dedengkot Iblis. Orang itu 

adalah seorang perempuan berusia sekitar empat pu-

luh tahun dengan wajah separo bayanya yang masih 

cantik memukau.

"Larilah ke barat, akan ku tahan dia di sini!" 

ujar perempuan berjubah ungu sutera itu kepada Soka 

Pura.


Pendekar Kembar bungsu tertegun sekejap, lalu 

segera sadar bahwa perempuan itu berbicara padanya. 

Maka dengan cepat ia melesat ke arah barat sesuai an-

juran perempuan yang belum dikenal itu. Wuuuz...!

Blaar, blaar...! Duubs...! Perempuan berjubah 

ungu sutera itu berhasil lepaskan pukulan ke arah 

Dedengkot Iblis dengan tenang, tanpa kesan marah 

dan bermusuhan. Tentu saja dapat melihat sosok si 

Dedengkot Iblis karena ia berdiri di atas pucuk ilalang, 

bukan menapakkan kakinya ke tanah. Sementara itu, 

Soka Pura sempat menengok sebentar ke belakang dan 

melihat Dedengkot Iblis terlempar ke belakang dengan 

hempasan sangat kuat.

"Siapa perempuan itu?! Rupanya dia tahu ba-

gaimana caranya menghadapi Dedengkot Iblis?!" pikir 

Soka sambil lanjutkan pelariannya.

Ternyata arah yang ditunjukkan oleh perem-

puan cantik berjubah ungu itu memang mempunyai 

makna besar bagi Pendekar Kembar. Soka temukan 

sebuah gua bercelah sempit. Ia segera bawa masuk 

kakaknya ke gua tersebut, lalu cepat-cepat lakukan 

penyembuhan menggunakan jurus 'Sambung Nyawa', 

karena keadaan Raka Pura sudah sangat parah dan 

tak bisa lakukan penyembuhan sendiri.

Dalam waktu beberapa saat saja, rona pucat di 

wajah Raka Pura sudah mulai pudar dan menjadi se-

gar kembali. Namun rasa lemas masih diderita oleh 

Pendekar Kembar sulung itu. Sang adik merasa lega 

hingga hembuskan napas panjang-panjang.

Sambil meletakkan pedang milik kakaknya 

yang tadi sempat disambar dengan tangan kiri, dijadi-

kan satu dengan pedangnya, Soka Pura pun berkata 

kepada sang kakak yang sudah bisa melihat dengan 

normal.

"Jangan ke mana-mana dulu. Tetaplah di sini,


aku akan bantu perempuan itu lumpuhkan si Dedeng-

kot Iblis!"

Raka Pura menerima pedangnya di atas dada 

dan digenggam ala kadarnya. Jari tangan belum bisa 

menggenggam pedang terlalu kuat. Bahkan suaranya 

masih terdengar lemah dan pelan.

"Perempuan yang mana maksudmu?"

"Entah. Kurasa kita memang belum mengenal-

nya."

"Bambu itu bagaimana?'

Soka Pura tidak menjawab, hanya tersenyum 

sambil perlihatkan bambu kuning yang diselipkan pa-

da ikat pinggangnya itu.

"Oh, ternyata kau berhasil, Soka!" Raka terse-

nyum tipis.

"ini pekerjaan ringan, pasti berhasil." ujar Soka 

sedikit sombongkan diri dalam canda.

"Hati-hati dengan bambu itu! Jangan sampai di 

sambar orang lain!"

"Tenang sajalah kau!"

Setelah memaksakan diri agar tampak sedikit 

sombong di depan kakaknya, Soka Pura pun berkele-

bat keluar gua untuk membantu pertarungan perem-

puan berjubah ungu melawan Dedengkot Iblis. Ketika 

Soka tiba di tempat pertarungan itu, ternyata perem-

puan berjubah ungu sudah terkapar dengan mulut 

berbusa merah. Busa merah itu adalah darah yang ke-

luar akibat pukulan maut si Dedengkot Iblis. Tentu sa-

ja saat itu si perempuan tidak melihat apa yang akan 

dilakukan oleh Dedengkot iblis.

Tapi Soka Pura melihatnya karena ia hentikan 

langkah di atas sebatang pohon jati kering yang sudah 

lama tumbang. Soka Pura melihat si Dedengkot Iblis 

mengangkat sebongkah batu berukuran sebesar anak 

sapi. Batu itu ingin dihantamkan ke tubuh si perem


puan yang terkapar kesakitan.

"Gawat...!!" Soka Pura terkejut, lalu segera ber-

kelebat menyambar Dedengkot Iblis dalam gerakan 

meluncur lurus dengan pedang kristalnya mengarah 

ke depan. Wuuuzz...!

Hembusan angin aneh dirasakan oleh Dedeng-

kot iblis, sehingga ia segera berpaling dan melihat da-

tangnya bahaya. Serta-merta batu yang sudah diang-

katnya itu dilemparkan ke arah Soka Pura. Wuuut...! 

Tapi pedang kristal yang tampaknya mudah pecah itu 

bergerak cepat menebas beberapa kali. Angin tebasan-

nya membuat batu itu terbelah menjadi beberapa ba-

gian dan saling berjatuhan sebelum menyentuh ujung 

pedang.

Slaaap...! Soka Pura menerjang Dedengkot Iblis 

yang terperangah heran itu. Ujung pedangnya meng-

hujam dada si Dedengkot iblis. Tapi pedang itu bagai 

menembus bayangan, dan tubuh Soka Pura sendiri 

bagaikan menerjang gumpalan asap. Rupanya si Pen-

dekar Kembar bungsu masih belum bisa membuang 

kemarahannya dan rasa permusuhan masih ada da-

lam hatinya, sehingga ia belum bisa menyentuh atau 

melukai si Dedengkot iblis. Sementara itu, Dedengkot 

iblis dapat dengan mudah melukai lengan Soka dengan 

kibasan tangannya. Kuku-kuku tajam itu merobek ku-

lit dan daging lengan Soka Pura, timbulkan empat luka 

yang segera menghitam dan berasap serta berbusa bu-

suk. Cras...!

"Aoow...!" Soka Pura memekik. Ia segera jatuh 

terhempas di semak-semak. Namun segera bangkit 

dan ingat tentang rahasia kelemahan lawannya yang 

ditulis Mulut Guntur pada secarik kain putih tadi.

"Aku harus hilangkan rasa marah ku dan ke-

bencian ku. Aku harus menganggapnya sebagai saha-

bat yang sedang berlatih ilmu kanuragan dengan ku!"


pikir Soka Pura sambil melompat ke atas pohon agar 

kakinya tak menyentuh tanah. Wuuz...! Jleeg...!

"Geeerrhh...!" Dedengkot iblis mengerang sadis. 

Ia juga berada di atas pohon seberang. Wajahnya yang

tadi terluka akibat pertarungan di hutan bam-

bu, kini kian tampak memborok, membuat wajahnya 

bertambah menyeramkan. Rambutnya yang putih me-

riap acak-acakan itu dibiarkan tertipu angin, sebagian 

menutupi wajah kirinya. Kukunya yang hitam runcing 

masih memancarkan sinar biru berkelok-kelok yang 

saling berlompatan dari jari yang satu ke jari yang lain.

"Kembalikan bambu itu!" geramnya dengan ma-

ta kecil yang tajam tertuju pada sepotong bambu kun-

ing di pinggang Soka.

Pendekar Kembar bungsu sengaja tersenyum.

"Kau bercanda, Kawan. Kalau mau bikin sate, 

jangan pakai bambu ini! Pakailah bambu yang lain!"

"Jahanam kau! Sekali lagi ku ingatkan, kemba-

likan bambu itu padaku, atau kuhabisi nyawamu se-

perti yang lain?!"

"Nyawaku tak akan habis, Kawan! Aku punya 

persediaan lima nyawa. Yang satu nyawa kucing. He, 

he, he, he...!"

Soka Pura sengaja bercanda konyol. Bukan un-

tuk memancing kemarahan Dedengkot iblis, namun 

untuk menghibur hatinya agar tidak merasakan kema-

rahannya dan untuk membuang niatnya yang ingin 

membalas kekalahan Raka Pura, sang kakak. Dengan 

bicara konyol begitu, Soka menjadi geli sendiri dan ti-

dak merasa sedang berhadapan dengan lawan berba-

haya.

"Sekarang juga, habislah riwayatmu, Bocah Ke-

parat! Heeeeaa...."

"Hei, tunggu dulu!" sergah Soka Pura. "Aku 

akan kembalikan bambu ini padamu dengan satu sya


rat!"

Kata-kata yang meluncur cepat dari mulut So-

ka berhasil hentikan gerakan kedua tangan Dedengkot 

Iblis yang sudah terangkat ke atas dan ingin mele-

paskan pukulan jarak tujuh langkah itu. Dedengkot 

Iblis hanya menggeram panjang sambil menunggu 

ucapan Soka selanjutnya. Rupanya ia juga ingin tahu 

syarat yang dimaksud lawannya.

"Bambu Gading Mandul ini akan kuserahkan 

padamu, jika kau sebutkan siapa perempuan tercantik 

di muka bumi ini?"

"Persetan dengan pertanyaanmu! Heaaah...!"

Dua sinar biru lurus melesat dari telapak tan-

gan Dedengkot iblis. Soka Pura menghindarinya den-

gan melompat ke dahan lain.

"Hyaaaah...!" Soka melompat dengan berteriak 

dengan nada canda. Dua sinar biru itu menghantam 

dahan pohon dan dahan pohon itu lenyap tak berbe-

kas. Bahkan serbuknya pun tak tersisa. Namun hal itu 

tidak dipedulikan oleh Pendekar Kembar bungsu. Ia 

lebih memperhatikan lawannya yang segera menerjang 

ke arahnya ketika ia sudah berdiri kokoh di dahan 

yang baru.

"Heaaaahhh...!"

Dedengkot Iblis bermaksud menerjang Soka 

Pura dengan cakar siap merobek leher. Tetapi si Pen-

dekar Kembar bungsu itu segera tebaskan pedangnya 

pada saat tubuh Dedengkot Iblis melayang di udara 

dalam jarak tiga langkah darinya. "Eiit... mau ke mana, 

Kek?" Wess, wess...!

Dua angin tebasan mempunyai ketajaman me-

lebihi pedang mana pun. Salah satu angin tebasan 

yang dilakukan dengan bercanda itu berhasil kenal tu-

buh lawan yang sulit ditumbangkan itu. Crass...! 

"Ahhk...!" Dedengkot iblis memekik tertahan dengan


mata mendelik, karena ia tak sangka kalau anak muda 

itu bisa melukai tubuhnya. Dada kanannya robek 

sampai ke perut kiri. Ia pun jatuh ke bumi dengan 

timbulkan suara berdebam seperti nangka jatuh dari 

pohon bersama pencurinya.

Bluuuk...!

"Ahaaa..., rupanya kau sudah tidak dalam ben-

tuk bayangan lagi, Kakek Pikun!" seru Soka Pura sam-

bil tertawa girang. Ia pun meluncur turun dengan te-

riakan seperti anak kecil main terjun-terjunan.

"Yihuuuii...! Awas dewa tampan turun ke bu-

mi!"

Jleeg...! Soka Pura daratkan kaki ke tanah, tapi 

ia masih tetap bisa melihat sosok Dedengkot Iblis yang 

sedang bergegas bangkit. Berarti sang lawan kini bisa 

dilihat dengan mata telanjang walau kaki menyentuh 

tanah. Rupanya kesaktian Dedengkot iblis ada yang 

sirna akibat terkena tebasan Pedang Tangan Malaikat 

itu. Kesaktian yang sirna itu tak lain adalah ilmu 'Iblis 

Bayangan' yang biasanya hanya dapat dilihat jika 

orang itu tidak menapakkan kakinya ke tanah.

Tentu saja hal itu membuat Dedengkot iblis se-

dikit gentar. Bahkan ketika Soka Pura menggodanya 

dengan bentakan keras dan berlagak ingin maju me-

nyerang bersama pedangnya, Dedengkot Iblis cepat 

lompat mundur dan menggeragap tegang.

"Hiaaah...! Heh, heh, heh, heh...! Takut, ya?!" 

ledek Soka sambil cengar-cengir, menjaga rasa hatinya 

agar tetap ceria dan tak merasa marah.

Sementara itu, perempuan berjubah ungu yang 

terluka parah itu berusaha bangkit, namun ia tak 

mampu. Tubuhnya jatuh terkulai kembali, namun kali 

ini posisinya seperti duduk bersandar di bawah seba-

tang pohon. Matanya memperhatikan Soka dan De-

dengkot Iblis dari jarak lima langkah di sebelah kanan


Pendekar Kembar bungsu.

Dedengkot iblis sengaja tidak lakukan seran-

gan, karena ia masih harus kerahkan tenaga gaibnya 

untuk mengobati luka koyak di dada sampai perut itu. 

Dengan menahan nafasnya, luka tersebut bergerak 

mengatup sendiri dan akhirnya menjadi rapat kembali 

seperti tak pernah terkena sabetan pedang siapa pun. 

Hanya saja, kain jubah dan pakaian dalamnya yang 

berwarna merah tua itu tetap robek membekas sabetan 

pedang.

Sebenarnya hati Soka merasa kagum melihat 

luka itu terkatup rapat dalam waktu singkat. Namun 

rasa kagumnya tak ditonjolkan, bahkan dijadikan ba-

han bercandaan baginya.

"Hebat lho... luka selebar itu bisa rapat kemba-

li. Siapa yang menjahitnya, Kawan?!"

"Bangkai busuk! Terimalah Jurus Getar Ku-

bur'-ku ini. Heeeaa...."

"Ee, eh, eh... tunggu dulu!" sergah Soka dengan 

canda. "Kau belum jawab pertanyaanku tadi: siapa pe-

rempuan tercantik di muka bumi ini?!"

Dedengkot Iblis tak jadi lepaskan jurus 'Getar 

Kubur'-nya, walau tangan kiri sudah diangkat ke atas 

dan tangan kanannya menyilang di dada. Ia hanya 

menggeram penuh murka mendengar pertanyaan yang 

di anggapnya konyol sekali itu.

"Kalau kau bisa menjawab, kuserahkan sepo-

tong bambu sakti ini!" sambil Soka Pura sengaja pa-

merkan dua jengkal bambu kuning yang ujungnya 

runcing seperti kuku berjari lentik itu. Dedengkot Iblis 

mulai pertimbangkan tindakannya.

"Ayo, sebutkan...! Siapa menurutmu perem-

puan tercantik di dunia?!" desak Soka Pura sambil ia 

sendiri berpikir, siapa nama yang akan disebutkan se-

bagai jawabannya nanti. "Kirana? Bulan Berkabut?


Purbawenih? Ah... percuma, dia tidak kenal dengan 

gadis-gadis itu, mana mungkin dia percaya kalau ja-

wabanku nanti benar?" pikir Soka Pura dalam selintas.

Lalu ia mendengar Dedengkot Iblis berseru 

dengan suara geram, "Kau benar-benar keparat, Bocah 

Tengik!! Hhhhrrmmm...!"

"Boleh saja kau bilang aku keparat, tapi lebih 

keparat lagi manusia yang tidak tahu siapa perempuan 

tercantik dl dunia ini! Alangkah malang nasibnya jika 

sampai tak tahu," pancing Soka sambil tetap menjaga 

hatinya agar selalu riang.

"Tidak ada perempuan tercantik dl muka bumi 

ini, Jahanam!" bentak Dedengkot iblis.

"Ada saja!" Jawab Soka dengan lagak bercanda. 

"Kalau begitu kau tak boleh meminta kembali bambu 

ini!"

"Hhhhrrmm...! Persetan dengan pendapatmu 

tentang perempuan tercantik di dunia! Aku tidak bu-

tuh perempuan! Aku butuh bambu itu harus kau se-

rahkan padaku!"

"Eh, eh... tunggu sebentar!" sergah Soka Pura 

melihat Dedengkot Iblis ingin lepaskan serangannya. 

Pada saat itu tiba-tiba ia teringat semua nama yang in-

gin di pakai bahan candaan di depan lawannya itu.

"Kau boleh menyerangku dan merebut bambu 

ini, tapi kau harus tahu, bahwa perempuan tercantik 

di dunia ini adalah Nyai Prabawinih!"

"Hahhh...?!" Dedengkot Iblis terkejut, matanya

terbelalak seketika begitu mendengar nama bekas is-

trinya disebutkan oleh Pendekar Kembar bungsu. Ke-

dua tangan yang mengeras menjadi kendur, kakinya 

yang sedikit merenggang dan merendah menjadi tegak. 

Ia pun mundur dua langkah dengan wajah semakin te-

gang.

Soka Pura sendiri sebenarnya tak menyangka


kalau nama yang disebutkan dapat membuat Dedeng-

kot Iblis menjadi seperti ketakutan begitu. Namun rasa 

herannya itu tetap tersimpan dalam hati, dan Soka Pu-

ra sengaja sunggingkan senyum angkuh dengan sikap 

sengaja dibuat sombong.

"Kenapa kau kaget, hah?! Apakah karena nama 

Nyai Prabawinih adalah bekas istrimu, lalu kau kaget? 

Terkenang masa lalu? Menjadi terharu?! Uuh... kuno 

itu!"

"Siapa kau sebenarnya?!" suara Dedengkot Iblis 

menjadi bergetar, nafasnya terdengar dihela dengan 

berat, matanya masih terbelalak tegang.

"Katakan, siapa kau sebenarnya hingga men-

genal nama bekas istriku tercinta itu?!"

"Aku keturunan Nyai Prabawinih," Jawab Soka 

sambil memancing reaksi lawan. Ternyata lawan se-

makin terkejut dan menegang.

"Kau...?! Kau dan saudara kembar mu tadi ke-

turunan Prabawinih?!" gumam Dedengkot iblis kian je-

las bergetar suaranya.

"Ya, kami keturunan Nyai Prabawinih, tapi en-

tah keturunan ke berapa dan entah bagaimana jalur 

silsilahnya. Kau tak perlu bertanya, karena aku akan 

bingung menjawab. Hanya saja, setahuku, perempuan 

tercantik itu adalah Nyai Prabawinih!"

Hati Soka bertanya, "Benar apa tidak, ya? Jan-

gan-jangan Nyai Prabawinih sama buruknya dengan 

wajah si Dedengkot Iblis itu?!"

Soka pun terkesiap melihat ketegangan De-

dengkot Iblis menjadi mengendur semua. Bahkan pan-

dangan mata si pengikut Raja Iblis itu tertuju ke arah 

lain, bagai sedang menerawang masa lalunya. Di wajah 

sangar itu, kini tampak segumpal penyesalan dan ke-

haruan bermukim di sana. Rupanya rasa cintanya ke-

pada Nyai Prabawinih telah membuat hati Dedengkot


Iblis menjadi luluh dan rasa manusiawinya timbul 

kembali. Dan Soka Pura sengaja membiarkan orang itu 

hanyut dalam kenangan masa lalunya.

"Praba.... Prabawinih...," ucapnya datar dan pe-

lan. Ia segera menyingkapkan rambutnya yang meriap 

di wajah sambil menarik nafas dalam-dalam. Soka Pu-

ra perdengarkan suaranya dengan hati-hati.

"Apakah kau masih inginkan bambu ini, dan 

ingin membunuhku?!"

Seet...! Wajah si Dedengkot iblis berpaling cepat 

dan menyentak kuat ke arah Soka Pura. Hati pemuda 

itu sempat tersentak kaget dan sedikit grogi, namun 

dapat segera diatasi. Sepasang mata kecil si Dedengkot 

Iblis menatap tajam sekali membuat Soka Pura sempat 

salah tingkah dan menggenggam pedang kuat-kuat, 

bersiap hadapi serangan sewaktu-waktu. Dada si De-

dengkot Iblis tampak bergerak naik turun, menanda-

kan nafasnya mulai memburu karena suatu rasa yang 

terpendam dalam hatinya.

Tiba-tiba kedua tangan Dedengkot Iblis meng-

genggam kuat-kuat, kepalanya mendongak dan berse-

ru keras sekali.

"Prabaaaaaaaaaa...!!"

Soka Pura mundur beberapa langkah dengan 

mendekap telinganya. Suara berseru itu mendatang-

kan angin badai yang bergemuruh memekakkan telin-

ga. Pepohonan menjadi bergetar dan daun-daun ber-

guguran. Badal yang datang bagai memutar-mutar di 

sekeliling tempat itu, membuat dahan-dahan pohon 

patah dan tumbang berserakan.

Pendekar Kembar bungsu yang berpaling me-

munggungi lawannya segera menahan diri terhadap 

hembusan angin kencang yang memutar, seperti put-

ing beliung. Kedua kakinya merendah menjaga ke-

seimbangan tubuh. Salah satu kakinya menghentak


hentak ke bumi dengan pelan. Dug, dug, dug...! Dan 

angin badai itu pun menjadi reda secara sedikit demi 

sedikit. Rupanya Pendekar Kembar mempunyai satu 

ilmu aneh yang dapat dipakai untuk meredakan badai 

sekencang apa pun. Ilmu itu dinamakan jurus 'Gugah 

Jinak', yaitu dengan menghentakkan kaki ke bumi be-

berapa kali, maka badai pun akan jinak dan menjadi 

reda secepatnya.

Pada saat badai mereda, Soka Pura menjadi 

terperanjat kaget, karena Dedengkot iblis telah lenyap 

dari pandangan mata. Ia tak melihat saat Dedengkot 

Iblis pergi dengan kecepatan tinggi bertepatan dengan 

datangnya angin badai yang bergerak memutar seperti 

puting beliung itu. Tapi si perempuan berjubah ungu 

sutera itu melihat ke mana arah kepergian Dedengkot 

iblis. Hanya saja ia tak dapat bertindak apa-apa.

Rupanya Dedengkot iblis diliputi duka yang 

mengharu ketika mengenang bekas istrinya itu. Rasa 

penyesalan atas perpisahan dengan Nyai Prabawinih 

membuatnya tak tahan berhadapan dengan pemuda 

yang mengaku keturunan Prabawinih. Ia pun akhirnya 

tak mau peduli lagi dengan sepotong Bambu Gading 

Mandul yang ada pada diri Pendekar Kembar. Ia berlari

membuang dukanya, menyelinap di kerimbunan hutan 

untuk atasi rasa sesalnya.

Sementara itu, Soka Pura mulai dapat bernapas 

lebih lega lagi, karena merasa yakin bahwa lawannya 

yang sulit ditumbangkan itu telah pergi dan tak akan 

merebut sepotong bambu di pinggangnya itu. Sean-

dainya Dedengkot Iblis muncul lagi dengan persoalan 

yang sama, maka Soka sudah menemukan kunci ke-

lemahan lawannya yang paling utama, yaitu dengan 

menyebut nama Nyai Prabawinih.

Kini pandangan mata Soka Pura tertuju pada 

perempuan berjubah ungu sutera yang terdengar me


rintih dan batuk-batuk kecil. Sebelum ia mendekat, 

hatinya bertanya-tanya lebih dulu pada diri sendiri.

"Siapa perempuan itu sebenarnya?! Mengapa ia 

membantuku menyerang Dedengkot iblis?! Kurasa ia 

punya maksud tertentu, sehingga ia berani pertaruh-

kan nyawanya dalam menghadapi Dedengkot iblis. Oh. 

agaknya lukanya sangat parah. Kasihan, kalau tak se-

gera terobati ia bisa kehilangan nyawanya."

Soka Pura pun segera hampiri perempuan ber-

tubuh sintal dan berdada sekal. Rambutnya yang di 

konde dengan sisa rambut berjuntai ke belakang se-

perti ekor kuda itu membuat wajah separo bayanya 

tampak cantik menawan. Tahi lalat di sudut dagu ka-

nan juga membuat daya tarik tersendiri bagi lawan je-

nisnya.

Sayang usianya jauh lebih tua dari Soka Pura, 

sehingga Soka sempat canggung dalam berhadapan 

dengannya. Ketika Soka sudah ada di dekat perem-

puan itu, bau cendana tercium tajam dan menciptakan 

debar-debar nakal dalam dada Soka. Bau wangi cen-

dana itu timbul dari senjata kipasnya yang diberi war-

na emas. Senjata kipas itu masih tergenggam di tangan 

kanan dalam keadaan terkatup. Rupanya ia tadi 

menggunakan senjata itu untuk melawan Dedengkot 

Iblis, namun tak berhasil membentengi dirinya hingga 

terkena serangan berbahaya dari lawan yang memang 

tangguh dan berilmu tinggi itu.

"Boleh aku menolongmu, Bibi?" ujar Soka Pura 

sambil merendahkan badan di samping perempuan 

itu. Tapi perempuan itu justru meredupkan matanya 

dengan napas tersentak pelan. Mulutnya ternganga 

bagai ingin hembuskan nafas terakhir. Soka Pura te-

gang dan buru-buru mengguncang tubuh berkulit 

kuning langsat itu.

"Bibi, ehh.... Nyai... eh, anu... Jangan mati du


lu! Bertahanlah, Jangan mati dulu. Aku belum tahu 

siapa kau sebenarnya, Bi... eh, Nyai... eh... anu...." So-

ka Pura geragapan sendiri.

Mata perempuan itu makin redup, tubuhnya 

terasa semakin dingin dan wajahnya kian pucat seperti 

mayat. Bibirnya yang sensual itu membiru dengan ber-

cak-bercak darah di sekitarnya.

"Aku harus segera salurkan hawa murni dan 

tenaga inti gaib ke dalam tubuhnya. Tapi... dapatkah 

Jurus 'Sambung Nyawa'-ku menolong jiwa yang sudah 

kehabisan nyawa ini?!' pikir Soka Pura dengan cemas 

dan panik.

*

* *

5


PEREMPUAN berjubah ungu sutera itu nasib-

nya sedang mujur. Penyembuhan yang dilakukan Soka 

Pura belum terlambat. Ternyata jurus 'Sambung Nya-

wa' si Pendekar Kembar bungsu itu masih bisa atasi 

luka parah yang menghanguskan separo jantung si pe-

rempuan.

Dalam keadaan antara sadar dan tidak, perem-

puan jubah ungu sutera itu rasakan hawa hangat me-

nempel di dadanya. Hawa hangat itu bermula dari sen-

tuhan telapak tangan Soka yang memancarkan cahaya 

pijar ungu. Walaupun sebenarnya sentuhan tangan 

Soka itu berbau sedikit nakal, karena yang digenggam 

adalah gumpalan bukit kiri si perempuan yang menu-

rut Soka, masih tergolong kencang dan berisi itu, tapi 

tindakan tersebut tak bisa disalahkan.

Jurus 'Sambung Nyawa' hanya bisa dilakukan


jika telapak tangan Pendekar Kembar menempel pada 

kulit tubuh si pasien tanpa penghalang kain selembar 

benang pun. Sebenarnya bisa saja dilakukan pada 

pergelangan tangan atau telapak tangan si perempuan 

jubah ungu itu. Tapi karena Pendekar Kembar bungsu 

itu memang nakal dan usil, maka ia sengaja tempelkan 

telapak tangannya pada gumpalan daging sekal di ba-

gian dada kiri si perempuan jubah ungu. Perempuan 

itu memang merasakan sentuhan tangan tersebut, 

namun karena keadaannya sangat lemah, bagai kehi-

langan seluruh tenaganya, maka ia hanya bisa mem-

biarkan hal itu terjadi.

Walaupun kini perempuan itu telah sadar dan 

menjadi sehat seperti sediakala, bahkan tubuhnya te-

rasa lebih segar dari sebelumnya, namun ia tetap tak 

bisa menuntut tindakan nakal tangan pemuda tampan 

berhidung mancung itu. Toh karena sentuhan tangan 

itulah yang membuat nyawanya tidak jadi bablas ke 

neraka. Si perempuan berpendapat, "Mungkin memang 

begitulah cara penyembuhannya; harus melalui payu-

dara!" Maka ia pun segera lupakan persoalan itu dan 

menganggap tak ada niat nakal di hati si pemuda ga-

gah tersebut.

"Kalau saja kau tak kembali lagi, kurasa seka-

rang aku sudah mati dibunuh Dedengkot Iblis," ujar 

perempuan itu sambil merapikan pakaiannya.

Pendekar Kembar bungsu nyengir, merasa risi 

mendengar sanjungan yang diungkapkan secara tak 

langsung itu.

"Bagaimana aku harus memanggilmu? Bibi 

atau Nona?" tanya Soka Pura seakan ingin mengalih-

kan pembicaraan agar si perempuan tidak lanjutkan 

sanjungannya tadi.

"Kurasa kau memang belum mengenaliku. Tapi 

para tokoh di rimba persilatan mengenaliku sebagai


Nyai Rempah Arum. Karena aku adalah guru merang-

kap ketua di Perguruan Sayap Camar."

"Nyai Rempah Arum...?" gumam hati Soka. "Se-

pertinya nama itu pernah kudengar dari mulut Kirana. 

Kalau tak salah Nyai Rempah Arum adalah musuh be-

buyutannya si gajah bengkak; Kecubung Manis?! 

Hmm... sebaiknya ku tanyakan kebenaran dugaan ku 

ini!"

Nyai Rempah Arum membenarkan dugaan So-

ka. Matanya yang masih tampak bening dan sedikit 

berkesan jalang itu menatap Soka tak berkedip. Tata-

pan mata itu menimbulkan getaran aneh di hati Pen-

dekar Kembar bungsu, walau mulut si perempuan 

yang telah dibersihkan dari darah itu berkata tak se-

suai dengan tatapan matanya.

"Memang benar apa yang dikatakan sahabatmu 

bernama Kirana itu. Kecubung Manis adalah musuh-

ku, karena memang ia selalu memusuhi perguruanku. 

Kecubung Manis selalu mengincar murid-murid pria 

ku, dan akulah penghalang utama yang selalu meng-

gagalkan niatnya, memikat murid pria ku dengan pak-

sa untuk melayani asmaranya."

"Ooo, Jadi persoalannya itu?!" "Salah satu mu-

ridnya ada yang terkena kutukan ku: badannya bersi-

sik seperti ular. Tak heran jika ia selalu berusaha 

mendesak gurunya Kirana; si Mulut Guntur, untuk 

mendapatkan rahasia kelemahan si Dedengkot iblis, 

karena Kecubung Manis ingin mendapatkan Bambu 

Gading Mandul itu untuk memudarkan pengaruh ku-

tukanku terhadap muridnya."

"Rupanya kau juga kenal dengan Eyang Mulut 

Guntur, Nyai?!"

"Tentu saja aku mengenalnya," ujar perempuan 

itu sambil lepaskan pandangan ke arah lain.

"Mulut Guntur mempunyai kakak bernama


Eyang Tayangon. Aku adalah muridnya Eyang Tayan-

gon yang selalu bersaing dengan cucunya; si Kecubung 

Manis."

"Ooo... jadi kau muridnya mendiang Eyang 

Tayangon?!" gumam Soka sambil manggut-manggut.

"Aku mengetahui kelemahan si Dedengkot iblis 

setelah belum lama ini kutemukan kitab kuno milik 

mendiang guruku. Di dalam kitab kuno itu kutemukan 

tulisan tangan Eyang Tayangon yang berisi tentang ra-

hasia kelemahan Dedengkot Iblis."

"Pantas kau tahu bagaimana cara menyerang-

nya dan melihat wujudnya."

"Kalau saja kitab kuno itu kutemukan sejak 

dulu, tentu sudah sejak dulu pula aku datang kemari 

untuk melawan Dedengkot Iblis. Sayang sekali kitab 

kuno itu kutemukan di gua bekas tempat bertapa 

mendiang guruku, sehingga baru sekarang aku bisa 

datang ke tanah Kubangan Berdarah tadi."

"Apakah maksud kedatanganmu juga ingin 

mendapatkan Bambu Gading Mandul?"

"Benar!" Jawab Nyai Rempah Arum dengan te-

gas, matanya menatap Soka kembali dengan tajam, 

namun punya kelembutan tersendiri yang hanya bisa 

dirasakan oleh hati Soka Pura.

"Ada dua kepentingan dalam upaya ku menda-

patkan bambu itu. Pertama, aku harus melenyapkan 

Bambu Gading Mandul agar tak menjadi lawan ilmu 

kutukanku. Dengan lenyapnya Bambu Gading Mandul, 

maka siapa pun tak akan bisa lepas dari ilmu kutukan 

ku. Hanya aku yang bisa melepaskannya."

"Rupanya ilmu itu menjadi andalanmu. Menga-

pa tak kau lakukan kepada Dedengkot iblis saat kau 

melawannya tadi?"

"Ilmu itu tak mempan untuknya. Ia mempunyai 

lapisan tenaga gaib cukup tinggi, hingga ilmu 'Sabda


Kutuk' tak bisa mengenainya. Karena aku sibuk meng-

gunakan jurus 'Sabda Kutuk' akibatnya aku terkena 

tendangan kakinya yang menghanguskan bagian da-

lam tubuhku tadi."

Soka Pura tertawa kecil. Gagang pedang yang 

sudah disarungkan dan kini terselip di pinggang ka-

nan, dipakai sandaran lengan kanannya. Sementara 

itu, dua jengkal bambu kuning berujung runcing itu 

terselip di pinggang kiri. Tangan kiri Soka selalu siap 

menahan bambu itu jika Nyai Rempah Arum ingin me-

nyerobotnya.

"Karena itu," ujar sang Nyai Cantik. "Dengan 

rendah hati dan memohon kerelaanmu, kuminta se-

rahkan-lah bambu di pinggangmu itu kepadaku. Aku 

tak ingin bambu itu menjadi penghalang ilmu kutukan 

ku. Lebih tak rela lagi jika bambu itu jatuh ke tangan 

si Kecubung Manis!"

"Nanti dulu," sergah Soka Pura sebelum Nyai 

Rempah Arum lanjutkan kata. "Jelaskan dulu kepen-

tingan mu yang kedua. Karena kau tadi bilang, punya 

dua kepentingan dalam upayamu mendapatkan Bam-

bu Gading Mandul ini, Nyai."

"Kurasa kau tak perlu tahu kepentinganku 

yang kedua itu, karena itu menyangkut urusan priba-

diku dengan seseorang!" tegas sang Nyai. "Sekali lagi 

ku mohon dengan hormat, berikan bambu itu padaku. 

Aku berjanji akan membalas budi baikmu dengan ke-

baikan yang setimpal jika kau mau memberikan bam-

bu itu padaku."

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang 

muncul dari belakang Nyai Rempah Arum.

"Jangan berikan bambu itu!"

Sang Nyai cepat-cepat berpaling ke belakang, 

tapi Soka Pura hanya tersenyum kalem, karena orang 

yang muncul itu adalah kakaknya sendiri.


Raka Pura yang sudah sehat kembali itu me-

langkah dekati adik kembarnya dengan pandangan 

mata tetap tertuju pada Nyai Rempah Arum. Pandan-

gan mata itu berkesan sinis, sehingga Nyai Rempah 

Arum menjadi dongkol terhadap kemunculan Pendekar 

Kembar sulung. Namun dalam hatinya ia tetap mena-

han kedongkolan itu, karena ia mengakui kehebatan 

ilmu kedua pemuda kembar tersebut. Jika si Dedeng-

kot Iblis saja bisa dilukai oleh pedang Soka, berarti ke-

dua pemuda kembar itu mempunyai ilmu yang tidak 

bisa di anggap remeh. Ia harus hati-hati berhadapan 

dengan Pendekar Kembar.

Raka Pura perdengarkan suaranya lagi bernada 

ketus itu. Sementara si bungsu masih tersenyum-

senyum menertawakan keberangan kakaknya dalam 

hati.

"Kau pikir bambu itu adalah bambu sembaran-

gan?! Seenaknya kau ingin memintanya dari adikku? 

Bambu itu adalah nyawa kami, Nyai! Jika kau ingin 

memilikinya, berarti kau harus bertarung melawan 

kami!"

Nyai Rempah Arum tak mau kalah ketus. Se-

nyumnya pun mengembang dengan sinis sekali.

"Bertarung melawan kalian bukan hal yang su-

lit bagiku! Aku tahu, kalian pasti si Pendekar Kembar 

yang sedang jadi bahan pembicaraan para tokoh di 

rimba persilatan. Tetapi jika aku ditantang untuk ber-

tarung melawan kalian, hmmm.... Nyai Rempah Arum 

pantang mundur selangkah dalam menghadapi siapa 

pun!"

Soka Pura menyerobot pembicaraan sebelum 

kakaknya berkata lagi.

"Ehmm..., Nyai, perkenalkan ini kakak kembar 

ku: Raka Pura, namanya."

Raka melirik adiknya karena kesal tak jadi bi


cara. Sang adik tetap cengar-cengir dengan konyol, 

membuat sang kakak semakin jengkel kepadanya. So-

ka Pura makin merapat pada kakaknya dan berbisik 

pelan.

"Jangan galak-galak kepada orang yang telah 

ikut membantu kita dalam mendapatkan bambu ini! 

Kalau tadi tak ada dia, aku tak akan punya kesempa-

tan untuk menyembuhkan lukamu. Kita berdua 

mungkin sudah menjadi abu."

"Setiap ada perempuan cantik tak peduli tua 

atau muda, kau selalu melarangku untuk bersikap te-

gas. Apakah kau tak sadar kalau kecantikan itu dapat 

membuat dirimu celaka? Dasar buaya sawah!" gerutu 

Raka Pura sambil bersungut-sungut.

"Pendekar Kembar, kalau aku mau bermaksud 

jahat kepada kalian, sudah dari tadi kurampas bambu 

itu dengan cara bagaimanapun. Tapi aku tidak ber-

maksud tak balk kepada kalian. Aku memintanya den-

gan penuh kerendahan hati, karena aku sangat mem-

butuhkan bambu itu!" ujar Nyai Rempah Arum. "Kalau 

aku tidak sangat perlu dengan benda itu, kurasa lebih 

baik aku pulang dan tidur nyenyak di rumahku! Tak 

perlu aku keluyuran sampai di tempat ini bertaruh 

nyawa melawan Dedengkot Iblis. Jika aku tidak sangat 

membutuhkan bambu itu, untuk apa ku lindungi ka-

lian saat kalian dikejar-kejar oleh Dedengkot iblis!"

"Benar juga kata-katanya itu, Raka."

"Benar Juga, benar juga...! Sadarkah kau bah-

wa sekarang kita menghadapi lawan yang pandai me-

rayu?!" gertak Raka dalam nada membisik. "Sebaiknya 

tinggalkan saja perempuan itu! Lupakan segala bujuk 

rayunya! Kau ini memang punya kelas teri, sedikit ke-

na angin surga sudah blingsatan dan rapuh!"

"Kalau hatiku rapuh, sudah sejak tadi ku cium 

dia dan kuserahkan bambu ini!" gerutu Soka dengan


sedikit cemberut. Kemudian ia menatap sang Nyai 

kembali dengan senyum ramah dipaksakan mekar di 

bibirnya.

"Nyai Rempah Arum, sepertinya kau benar-

benar membutuhkan bambu ini. Barangkali aku punya 

kebijaksanaan lain padamu, jika kau mau jelaskan ke-

pentinganmu yang kedua itu. Tanpa penjelasan yang 

sebenarnya, mungkin aku tetap tak akan serahkan 

bambu ini, atau tak mau pinjamkan bambu ini pada-

mu."

Nyai Rempah Arum tarik napas panjang. Sete-

lah diam sesaat, ia perdengarkan suaranya yang ber-

nada tegas itu.

"Kubutuhkan bambu itu untuk melawan seseo-

rang secara pribadi, karena utusannya sudah berani 

menangkap murid kesayanganku: si Merak Jelita. 

Orang itu berilmu tinggi, dan kelemahannya hanya jika 

dilukai dengan Bambu Gading Mandul!"

Soka Pura dan kakaknya saling pandang den-

gan curiga.

"Siapa orang yang kau maksud itu, Nyai?!" 

tanya Soka.

"Darah Kula!"

Jawaban tegas sang Nyai membuat Pendekar 

kembar terperanjat terang-terangan. Kejap kemudian 

Soka Pura sunggingkan senyumnya kembali, Raka Pu-

ra kendurkan ketegangannya, membuang sikap sinis-

nya kepada sang Nyai.

"Maksudmu, Darah Kula si Penguasa Bukit 

Maut itu, Nyai?" ujar Raka.

"Benar!" jawab sang Nyai lebih semangat. "Apa-

kah kalian juga mengenainya?!"

"Bukan saja mengenalnya, Nyai," ujar Soka. 

"Justru kami berusaha dapatkan Bambu Gading Man-

dul ini hanya semata-mata untuk membunuh si Darah


Kula...."

Soka pura segera jelaskan maksudnya dari aw-

al pertemuannya dengan Bunga Dewi, di mana saat itu 

Bunga Dewi si gadis pencuri itu, akan dijual kepada 

Darah Kula untuk dijadikan santapan si manusia pen-

gisap darah perawan tersebut. Darah Kula adalah anak 

Raja Iblis yang mempunyai ilmu 'Pancawarsa', di mana 

ia selalu bangkit lagi dari kematiannya setelah melalui 

masa lima tahun. Kematian itu dapat abadi, ilmu 

'Pancawarsa'-nya dapat lenyap, jika tubuhnya dilukai 

dengan Bambu Gading Mandul. Dan Pendekar Kembar 

merasa harus segera bertindak tumbangkan si Darah 

Kula itu, agar para gadis di muka bumi tidak habis bi-

nasa dihirup darahnya oleh si Penguasa Bukit Maut 

itu, (Baca serial Pendekar Kembar dalam episode: 

"Pemburu Mahkota Dara").

Setelah tertegun sesaat, Nyai Rempah Arum 

hembuskan napas panjang, karena hatinya merasakan 

kelegaan yang cukup dalam.

"Tak kusangka kita punya tujuan yang sama, 

Pendekar Kembar. Seandainya ku tahu tujuan kalian 

sebelumnya, kurasa tak mungkin aku harus membu-

juk-bujuk seperti tadi."

"Maafkan atas kekasaran sikapku tadi, Nyai," 

ujar Raka Pura yang mulai tampak bersahabat. Soka 

Pura tertawa kecil dan bicara kepada kakaknya.

"Makanya jangan mudah punya praduga buruk 

terhadap orang yang belum kita kenal dengan jelas."

Nyai Rempah Arum segera berkata, "Sebaiknya 

kita segera menuju ke Bukit Maut, sebelum segala se-

suatunya menjadi terlambat. Aku harus selamatkan 

Merak Jelita, sebelum darahnya terhirup habis oleh 

kerakusan si Darah Kula itu!"

"Kurasa memang itulah gagasan yang terbaik, 

Nyai!" ujar Raka Pura, kemudian ia mengawali me


langkah tinggalkan tempat itu untuk menuju ke Bukit 

Maut.

Mereka bukan sekadar melangkah selayaknya 

orang pergi ke pasar, namun langkah yang mereka gu-

nakan adalah langkah cepat dengan dibantu ilmu pe-

ringan tubuh yang mereka miliki. Jurus 'Jalur Badai 

yang digunakan Pendekar Kembar tak bisa disamai ke-

cepatannya oleh Nyai Rempah Arum. Karenanya, Soka 

Pura sedikit kurangi kecepatan jurus tersebut, sehing-

ga ia dapat melangkah berdampingan dengan sang 

Nyai cantik itu, sedangkan Raka Pura berkelebat lebih 

cepat di depan mereka, seakan menjadi penunjuk jalan 

bagi mereka yang dl belakangnya.

"Hoi, tak bisakah kalian lebih cepat lagi?" seru 

Raka Pura agak jengkel karena Soka dan Nyai Rempah 

Arum seperti orang pacaran. Mereka berdua melang-

kah sambil lakukan obrolan yang sesekali hadirkan 

tawa, membuat Raka jadi gemas sendiri.

"Kalau saat itu Kirana ada bersamaku, mung-

kin aku tak merasa jengkel mendengar tawa mereka di 

belakang," ujar Raka Pura dalam hatinya. Bayangan 

wajah Kirana yang cantik berlesung pipit dan bergigi 

gingsul itu mulai menari-nari dalam benak Raka. Rasa 

ingin bertemu dengan gadis itu membuat Raka Pura 

tak sabar ingin lekas sampai di Bukit Maut dan sele-

saikan persoalan di Sana secepatnya.

Bayangan Kirana itu membuat Raka Pura men-

jadi sedikit lengah. Ia tak melihat ada sepasang mata 

yang menunggunya dari balik semak di bawah pohon 

besar, depan langkahnya. Sepasang mata itu segera 

melepaskan pukulan tanpa sinar ke pinggang Raka 

sewaktu Raka melintasi jalanan depan semak bawah 

pohon besar tersebut.

Dess...!

"Uhk...!" Raka Pura tersentak dengan suara lirih. Pinggangnya seperti disodok dengan toya besi. Se-

suatu yang terasa menyodoknya itu ternyata sebuah 

jurus totokan dari jarak jauh. Akibatnya, Raka Pura ja-

tuh terjungkal ke semak-semak di depannya. Si pemi-

lik sepasang mata berbulu lentik itu segera menyam-

bar tubuh Raka dan membawanya ke tempat persem-

bunyian sebelum Soka dan Nyai Rempah Arum tiba di 

tempat Itu.

Wuut, wees...!

Naluri sang adik kembar mulai memberikan fi-

rasat tak enak dalam hatinya. Langkah pun dihentikan 

dan membuat Nyai Rempah Arum merasa heran.

"Ada apa, Soka?"

"Ke mana kakakku tadi?"

"Mungkin dia sudah Jauh dari kita. Sebaiknya

kita susul secepatnya!"

"Tidak. Hatiku menjadi tak enak. Pasti ada se-

suatu yang tak beres pada Raka," gumam Soka sambil 

memandang clingak-clinguk di tempat hilangnya Raka.

Nyai Rempah Arum berkerut dahi dan tak be-

rani membantah lagi. Ia tahu hubungan batin sepa-

sang anak kembar sangat peka dan cukup kuat. Jika 

yang satu mendapat bahaya, maka yang satunya akan 

merasa gelisah dan resah.

"Kecepatan gerak Raka tak mungkin melebihi 

sejauh pandangan mataku, Nyai! Jika ia masih berge-

rak di depan sana, pasti terjangkau oleh pandangan 

mata ku, Nyai!"

"Kalau begitu kita cari saja dia di sekitar tempat 

sini!" ujar sang Nyai yang akhirnya mempercayai fira-

sat buruk Soka Pura.

Mereka tidak tahu bahwa Raka saat itu sudah 

berada di bawah empat pohon rindang yang menaungi 

semak-semak ilalang. Di tengah semak ilalang itu ter-

dapat tanah kosong bertanaman rumput pendek. Di si


tulah Raka Pura dibaringkan oleh seorang perempuan 

yang menggeledahnya.

Keadaan Raka yang terkena totokan melum-

puhkan itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, 

namun ia masih sadar atas apa yang terjadi pada di-

rinya. Matanya masih bisa memandang jelas wajah pe-

rempuan yang menggagahinya seperti sedang mencari 

sesuatu pada tubuhnya.

"Sial! Aku salah comot! Ternyata pemuda yang 

satunya yang menyelipkan bambu kuning tadi!" gerutu 

perempuan bertubuh besar dan gemuk yang tak lain 

adalah si Kecubung manis itu. Rupanya ia sudah ber-

hasil atasi luka parahnya akibat pertarungannya den-

gan si Mulut Guntur kemarin. Tanpa dibantu ramuan 

peninggalan kakeknya, Kecubung Manis tak mungkin 

dapat cepat sembuh dengan hanya mengandalkan ha-

wa sakti yang di salurkan ke tengah lukanya.

Rupanya tanpa di sengaja, Kecubung Manis 

yang ingin membalas kekalahannya kepada Mulut 

Guntur itu telah mendengar percakapan antara Pen-

dekar Kembar dengan Nyai Rempah Arum. Percakapan 

itu membuatnya menunda kepergiannya ke padepokan 

Perguruan Tapak Syiwa. Ia melihat bambu kuning ter-

selip di pinggang Soka Pura. Lalu berusaha mengincar 

bambu itu dengan menghadang langkah mereka.

Sayang sekali ia salah duga, Raka Pura yang di-

lumpuhkan dengan jurus totokan jarak jauhnya itu di 

sangka Soka Pura. Maka ketika ia menggeledah tubuh 

Raka, ia merasa kecele karena Bambu Gading Mandul 

tidak ditemukan di tubuh Raka.

Perempuan segemuk gajah bengkak itu akhir-

nya duduk melonjor dengan garuk-garuk lengannya. Ia 

merasa dongkol sekali atas tindakannya yang salah cu-

lik itu. Matanya memandang sengit kepada Raka Pura 

yang tak bisa bicara apapun, selain hanya memandang


lurus ke langit dalam keadaan telentang.

"Setan belang! Gara-gara wajah mereka kem-

bar, aku jadi salah culik begini! Seharusnya tadi ku-

perhatikan dulu pinggang pemuda ini, apakah menye-

lipkan bambu kuning apa tidak," ujar si Kecubung 

Manis.

"Ternyata pemuda yang menyelipkan bambu 

kuning di pinggangnya adalah yang berjalan bersama 

si keparat Rempah Arum itu! Sial! Benar-benar sial na-

sib ku hari ini dan hari kemarin!"

Kecubung Manis diam beberapa saat, berusaha 

mengatasi rasa kecewanya yang menjengkelkan hati 

itu. Wajah tampan Raka Pura dipandanginya terus, 

sampai akhirnya timbul getaran indah di dalam ha-

tinya.

"Ganteng sekali anak ini. Bibirnya ranum se-

perti bibir seorang perawan," ucapnya pelan seperti bi-

cara pada diri sendiri. Raka Pura mendengar ucapan 

itu, dan ia hanya bisa rasakan kecemasan serta ke-

jengkelan dalam hatinya tanpa bisa lakukan tindakan 

apa pun.

"Ternyata kau cukup menawan hati ku, Bocah 

Bagus. Badanmu kekar sekali...," sambil tangan Kecu-

bung Manis mengusap-usap dada Raka. Baju yang su-

dah dibuka saat menggeledah mencari bambu kuning 

itu semakin dilebarkan. Tangan perempuan gemuk itu 

merayapi dada hingga perut Raka Pura dengan senyum 

berseri-seri.

"Buat tambal kekecewaan ku, apa salahnya jika 

kita berbulan madu sebentar? Hik. hik. hik. hik...!"

"Mati aku! Mampuslah aku kalau begini!!" ge-

ram Raka Pura dalam hatinya. Ia berusaha mengge-

rakkan salah satu anggota tubuhnya, tapi tak bisa sa-

ma sekali.

Kecubung Manis merangkak di samping Raka


Pura. Senyumnya yang berbibir lebar dipamerkan ba-

gai peragawati unjuk kemesraan. Tapi buat Raka, se-

nyum itu adalah bencana besar yang akan menim-

panya. Lebih-lebih setelah tangan Kecubung Manis 

mengusap-ngusap wajah Raka dengan jari menyentuh-

nyentuh bibir.

Raka semakin muak dan ingin menjerit kuat-

kuat, sayang tak mampu di lakukan.

"Ooh... Lama-lama kau menggairahkan juga, 

Bocah Bagus!" ujar Kecubung Manis dengan suara 

mendesah, nafasnya mulai terdengar tak beraturan.

"Oh. Aku tak tahan jika membiarkan bibirmu 

terlalu lama kena angin. Takut melempem dan tak se-

gar lagi. Hik hik hik..."

Kecubung Manis pun segera dekatkan wajah. 

Dengus nafasnya terasa menyembur panas di wajah 

Raka. Maklum, lubang hidungnya termasuk lebar se-

perti knalpot bajaj. Tapi Raka tak bisa berbuat apa-

apa.

Ketika bibirnya dikecup oleh Kecubung Manis, 

Raka pun hanya bisa merasakan lumatan yang disertai 

pagutan-pagutan kencang. Pemuda itu hanya dapat 

mengeluh benci dalam hatinya.

Kecubung Manis bertambah gairahnya ketika 

dapat melumat bibir pemuda tampan sekehendak ha-

tinya. Tubuhnya segera menelungkup di atas tubuh 

Raka Pura. Ciumannya yang mengganas menelusuri 

tubuh itu dari mulut sampai ke perut.

"Ooh. Indah sekali bercinta dengan pemuda se-

kekar dirimu. Pasti kau mampu ku ajak berlayar se-

jauh-jauhnya. Pasti kau mampu bertahan untuk tidak 

menyerah lebih dulu sebelum aku merasa puas, bu-

kan? Hik, hik, hik..."

Tangan perempuan itu merayap kembali sete-

lah melepaskan ikat pinggang Raka. Tangan itu mene


lusup ke dalam dan meremas lembut.

"Oh, ya... aku lupa. Tentu saja kau tidak bisa 

'berdiri' karena seluruh uratmu ku lumpuhkan. Tapi 

jangan kuatir, aku bisa melepaskan totokan ku pada 

bagian tertentu agar kita bisa berbulan madu. Hek, 

hek, hek, hek..."

Kecubung Manis segera lakukan totokan di ke-

dua pangkal paha Raka dengan dua jarinya yang men-

geras. Des, des...! Maka kaki Raka dapat bergerak se-

dikit. Gerakan lebih banyak berpusat pada bagian lain 

yang sangat diharapkan untuk menjadi kokoh oleh Ke-

cubung Manis Maka tangan perempuan itu pun se-

makin nakal, semakin menggoda agar Raka Pura 

bangkit dengan kekokohannya.

"Nah, betul kan apa kataku...! Hik, hik, hik..." 

Kecubung Manis kegirangan ketika harapannya men-

jadi kenyataan. Ia sengaja memandang dengan mata 

terbelalak

"Wow...! Hebat sekali kau sebenarnya, Bocah 

Bagus! Hmm... aku tak sabar ingin segera merasakan 

kehebatanmu ini, Bocah Bagus! Hik, hik, hik, hik...!"

Kecubung Manis segera melepasi pakaiannya 

sambil tertawa cekikikan. Gerakannya terburu-buru 

pertanda tak sabar lagi; ingin segera dapatkan kehan-

gatan asmaranya.

"Ya, ampun...!" ucap hati Raka Pura ketika ma-

tanya melihat sosok gajah bengkak tanpa selembar be-

nang pun. Nafasnya menjadi sesak sekali melihat kea-

daan lawan jenisnya seperti itu.

"Ini perempuan apa babi kegemukan? Tinggal 

di beri kecap, persisi babi panggang kau ini!" ujar Raka 

namun hanya dalam hati saja.

Kecubung Manis cekikikan terus. Dadanya 

yang bukan saja montok namun tergolong bengkak 

dengan ujung seperti kelereng kusam itu di sodorkan


ke mulut Raka Pura. Tentu saja mulut itu tak bisa 

memagut karena urat pada mulut Raka ikut lumpuh.

"Oh, kau tak bisa memagutnya, Bocah Bagus? 

Kalau begitu biar kupagut saja bibirmu sambil kita 

nikmati kehangatan ini, Oouhh... hmmm..."

Kecubung Manis melumat bibir Raka kembali. 

Nafas Raka menjadi semakin berat, karena tubuh ge-

muk besar itu menindihnya dengan gerakan ganas. 

Tangan kiri Kecubung Manis menggapai bawah, beru-

saha memapankan perahunya yang akan meluncur ke 

samudera cinta.

Tetapi sebelum segalanya benar-benar mapan, 

tiba-tiba tubuh gemuk besar berdada bengkak itu ter-

guling ke samping dengan sentakan keras. Kecubung 

Manis rasakan kepalanya seperti di sambar dengan se-

bongkah batu sebesar anak kambing. Praakk...!

"Aaahhh...!!" Ia memekik sambil terguling-

guling.

Pandangan matanya menjadi berkunang-

kunang, telinganya mengucurkan darah. Ia segera sa-

dar ada yang menerjangnya dengan tendangan keras 

bertenaga dalam. Maka dengan kerahkan tenaga pe-

nahan sakit, ia pun segera bangkit dan hadapi si pe-

nerjang tadi.

Ternyata Soka Pura dan Nyai Rempah Arum 

sudah ada di samping Raka. Tendangan tadi datang-

nya dari Nyai Rempah Arum, musuh bebuyutannya.

"Perempuan liar!" kecam sang Nyai sambil me-

lompat melintasi tubuh Raka dan kakinya menjejak 

kuat ke dada Kecubung Manis yang baru saja ingin 

berdiri.

Bueehk...!

"Ujjkk...!" Kecubung Manis terlempar ke semak-

semak. Mulutnya sampai semburkan darah ketika me-

nerima jejakkan Nyai Rempah Arum.


Rupanya sang Nyai tidak hanya sekedar me-

nyingkirkan tubuh Kecubung Manis dari atas tubuh 

Raka tadi, namun berusaha untuk membuat lawannya 

tumbang tak berkutik. Karenanya, Nyai Rempah Arum 

mengejar Kecubung Manis ke dalam semak-semak dan 

menghajar perempuan gemuk bugil itu di sana.

Gusrak, gusrak, gusrak...!

"Aah...! Aoow...! Bangsat kau.. aaah...!" Soka 

Pura tertawa kecil mendengar Kecubung Manis dihajar 

oleh Nyai Rempah Arum. Kejap berikutnya ia baru sa-

dar kalau kakaknya perlu segera di pulihkan. Melihat

keadaan Raka yang diam tak berkutik sedikit pun, So-

ka yakin sang kakak terkena totokan yang melumpuh-

kan. Maka dengan satu totokan di bawah ketiak Raka, 

Soka Pura berhasil lepaskan totokan pelumpuh tadi. 

Dees...!

"Oooh...!" Raka Pura langsung hembuskan na-

fas panjang dan bergegas rapikan pakaiannya.

"Hampir saja aku dimakan gerhana sinting itu!" 

ujar Raka Pura yang membuat Soka tertawa cekikikan.

"Kalau dapat rezeki nomplok, bagi-bagilah pa-

daku, Raka...."

Plaaak...! Raka menampar adiknya yang menge-

jeknya. Sang adik terguling ke samping, lalu berdiri

dengan kedua lutut sambil mengusap-usap pipinya 

yang kena tampar, tapi ia tidak marah dan justru ter-

tawa semakin geli.

Brus, brus, brus...!

Terdengar langkah menerjang daun-daun se-

mak yang semakin lama semakin menjauh. Disusul 

kemudian suara teriakan si Kecubung Manis dl kejau-

han sana yang melontarkan ancaman bagi Nyai Rem-

pah Arum.

"Tunggu pembalasanku, Keparat Rempah 

Arum! Akan ku kuliti kau di depan murid


muridmu...!!"

Mendengar suara si Kecubung Manis, Raka Pu-

ra segera menyambar pedangnya yang belum sempat 

diselipkan di pinggang, ia segera berlari mengejar ke 

arah Kecubung Manis.

"Berhenti kau, Kodok Panggang!" seru Raka 

yang ingin mengejarnya. Namun langkahnya segera 

terhenti karena dihadang oleh Nyai Rempah Arum.

"Tak perlu kau kejar! Dia sudah cukup terluka 

oleh pukulan dan tendangan ku! Tak mungkin ia bisa 

sembuh dalam waktu tujuh hari."

"Tap! dia hampir saja memperkosaku, Nyai!"'

"Mahkota mu belum tercaplok olehnya, bukan?" 

ujar sang Nyai dengan senyum dikulum. Raka Pura 

hanya mendengus kesal.

"Raka," ujar adiknya. "Kita teruskan perjalanan 

kita ke Bukit Maut. Biarkan si gajah bengkak itu mela-

rikan diri. Yang penting kau belum sempat dinodai. 

Kau masih suci, bukan?"

"Tentu saja aku masih perawan!" jawab Raka 

dengan konyol karena menahan kejengkelan dalam ha-

tinya. Soka Pura tertawa sedikit terbahak-bahak. Na-

mun tawanya segera dihentikan, karena Raka Pura 

memandangnya dengan berang. Soka takut, dan sege-

ra bersikap biasa-biasa saja.

Pakaian si Kecubung Manis yang tertinggal se-

gera dipungut oleh Raka Pura, kemudian mereka ber-

gegas pergi teruskan langkah. Soka Pura sempat aju-

kan tanya kepada kakak kembarnya.

"Mengapa pakaian permaisuri mu kau bawa? 

Mau kau jual kepada Darah Kula?!"

"Mau ku buang biar biang kodok itu dipanah 

orang dikira babi hutan!" jawab Raka dengan gemas. 

Maka ketika mereka melewati tanggul sungai, pakaian 

itu di


buang oleh Raka ke sungai tersebut. Tindakan 

itu membuat Raka dan Nyai Rempah Arum tertawa ge-

li.

"Mengapa kau buang ke sungai itu?" ujar sang 

Nyai. "Justru pakaian itu akan sampai padanya, kare-

na perguruan si Kecubung Manis ada di tepi sungai 

itu."

"Hahhh...?" Raka Pura terkejut dan segera pan-

dangi pakaian yang sudah mengambang jauh terbawa 

arus sungai.

*

* *

6


PERJALANAN malam dilakukan oleh mereka, 

karena Raka Pura ingin segera berhadapan dengan Da-

rah Kula, demikian juga halnya dengan Nyai Rempah 

Arum yang ingin segera selamatkan murid kesayan-

gannya. Mau tak mau Soka Pura setujui lakukan per-

jalanan malam, karena tak ada pihak lain yang men-

dukung usulnya untuk beristirahat malam. Mereka 

hanya berhenti sebentar di sebuah bukit ketika fajar 

menyingsing dan matahari pagi menjadi pusat peman-

dangan yang mempesona.

Rupanya bukan hanya pihak Nyai Rempah 

Arum dan Pendekar Kembar yang mengincar kematian 

Darah Kula, tapi ada pihak lain yang lebih dulu berge-

rak ke Bukit Maut. Pihak yang telah lakukan serangan 

ke Istana Merah di puncak Bukit Maut sejak pertenga-

han malam itu adalah Lodayu, dari Perguruan Gagak 

Putih. Pendekar Kembar sangat kenal dengan Lodayu, 

karena mereka pernah saling jumpa dan menjadi ber


sahabat setelah mengakui kekalahannya dalam men-

gadu kesaktian dengan Pendekar Kembar, (Baca serial 

Pendekar Kembar dalam episode: "Gadis Penyebar Cin-

ta").

Lodayu dan orang-orang Perguruan Gagak Pu-

tih berhasil membakar Istana Merah pada malam men-

jelang fajar. Pertarungan sengit terjadi antara anak 

buah Darah Kula dengan orang-orang Perguruan Ga-

gak Putih. Sekalipun Istana Merah tempat berse-

mayamnya si anak Iblis itu telah terbakar, tapi korban 

yang bergelimpangan di sekitar Bukit Maut kebanya-

kan adalah dari orangnya Lodayu.

Nyai Rempah Arum yang mengetahui bahwa 

para korban itu adalah orang Perguruan Gagak Putih, 

karena ia mengenali beberapa wajah mereka. Antara 

pihak Perguruan Gagak Putih dan pihak Nyai Rempah 

Arum menjalin persahabatan yang baik, sehingga me-

reka saling kenal.

Lodayu ditemukan Pendekar Kembar pada saat 

pemuda berambut panjang diikat ke belakang itu ter-

guling-guling jatuh dari puncak bukit yang tak sebera-

pa tinggi itu. Keadaan Lodayu sangat menyedihkan. 

Wajahnya hancur bagai tercabik-cabik, dada di bawah 

tulang pundaknya belong, tembus ke belakang dalam 

keadaan luka hangus selebar tutup botol. Perut Lo-

dayu sendiri telah robek, namun ususnya tak sampai 

keluar. Ia masih bisa bernapas dan segera sadar bah-

wa tubuhnya dipapah oleh salah satu dari Pendekar 

Kembar, dibawa ke suatu tempat, kemudian diobati 

dengan jurus Sambung Nyawa'-nya,

Denting suara senjata beradu masih terdengar 

di puncak bukit. Ledakan dan dentuman menggelegar

sesekali, membuat tanah di sekitar bukit bergetar. Nyai 

Rempah Arum berkelebat lebih dulu ke atas bukit, se-

mentara itu Raka Pura menyusul sang Nyai, sedang


kan Soka masih mengurus Lodayu. "Kau... oh, kau...."

"Ya, aku Soka Pura. Masih ingat aku, Lodayu?!"

"Yaah, aku ingat sekali denganmu, Soka!" Lo-

dayu terengah-engah setelah tubuhnya memancarkan 

cahaya ungu dan cahaya itu kini telah redup. Lukanya 

menjadi sembuh dan hilang akibat pengobatan yang 

dilakukan Soka tadi.

"Untung kau datang, Soka Pura. Orang-

orangku banyak yang tewas di tangan si Darah Kula."

"Mengapa kau menyerang tempat ini?"

"Salah satu murid perguruanku yang masih ga-

dis; Miranti namanya, diculik oleh orangnya Darah Ku-

la.. Guru perintahkan kami untuk menyerang Istana 

Merah dan membebaskan Miranti. Tapi... agaknya ka-

mi tak bisa kalahkan kesaktian si Darah Kula."

"Kalau begitu, tetaplah di sini aku dan kakakku 

akan segera hancurkan si Darah Kula!"

Soka Pura segera berkelebat naik ke puncak 

bukit. Lodayu menunggu kekuatannya pulih, sesaat 

kemudian ia menyusul Soka, ikut naik ke atas bukit di 

mana bangunan megah itu masih kepulkan asap dan 

api yang berkobar.

Rupanya pihak anak buah Darah Kula banyak 

yang tumbang, sehingga Darah Kula akhirnya turun 

tangan sendiri menghadapi penyerangnya. Ketika Raka 

dan Nyai Rempah Arum tiba di tanah datar depan Is-

tana yang terbakar, Darah Kula baru saja habisi nyawa 

lawannya dengan menyodokkan jari tangannya yang 

mengeluarkan sinar merah lurus dan menghantam ulu 

hati lawan hingga tembus ke belakang. "Hentikan ke-

biadapan mu, Darah Kula!" sentak Nyai Rempah Arum 

yang membuat Darah Kula berpaling menatapnya den-

gan tajam. Sang Nyai segera mencabut kipas emasnya 

yang beraroma cendana itu. Ia bersiap hadapi seran-

gan lawan dengan kipas tersebut. Tetapi Raka Pura se


gera maju dan berkata pelan kepada sang Nyai.

"Biar aku yang menghadapinya, Nyai! Jangan 

sampai ada korban lagi setelah kemunculan kita ini! 

Kau carilah tahu di mana para gadis itu ditawan, lalu 

bebaskan mereka!"

Wuuuz...! Jleeg...!

Soka Pura tiba di tempat tersebut. Ia berdiri di 

samping kakaknya dengan mata memandang tajam ke 

arah seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun 

itu.

Darah Kula adalah lelaki berambut pendek 

yang mempunyai wajah pucat namun termasuk tam-

pan. Hidungnya bangir, alisnya tebal, matanya sedikit 

merah. Sayang sekali ia mempunyai taring kecil di mu-

lutnya sehingga jika menyeringai tampak menyeram-

kan.

Anak iblis itu bertubuh kurus, tinggi, menge-

nakan jubah hitam tepian merah. Jubahnya mempu-

nyai krah yang tegak melebar menutupi tengkuk dan 

lehernya. Ketika salah seorang murid Perguruan Gagak 

Putih menyerangnya dengan pukulan bersinar dari 

arah samping kiri Darah Kula, jubah itu dikelebatkan 

menangkis sinar tersebut. Sinar itu pun padam tanpa 

letupan sedikit pun. Rupanya jubah hitam si Darah 

Kula adalah perisai yang melindungi dirinya dari se-

rangan para pembokong. Jubah itu bukan saja tak 

mempan ditembus senjata tajam, namun juga tak bisa 

ditembus sinar tenaga dalam.

"Raka...," bisik Pendekar Kembar bungsu. "Pan-

cinglah dia agar sibuk hadapi seranganmu, aku akan 

menancapkan bambu ini ke tubuhnya!"

"Hati-hati, Soka!" jawab Raka sambil melebar-

kan jarak dari adiknya.

Tiba-tiba sekelebat bayangan datang menerjang 

Darah Kula dari belakang. Wuuus...! Tapi Darah Kula


sangat gesit. Ia rasakan ada angin yang bergerak cepat 

ke arahnya. Maka dengan berkelit ke samping, seseo-

rang yang berusaha menerjangnya itu tak berhasil 

kenal tubuhnya. Justru tangan Darah Kula menyentak 

ke atas dan orang yang melayang itu terjungkal dalam 

keadaan melambung, kemudian jatuh terbanting tepat 

di depan Soka Pura. Brruuuk...!

"Bulan Berkabut...?!!" pekik Soka dengan terke-

jut begitu melihat orang yang jatuh adalah gadis cantik 

berambut pendek seperti potongan lelaki. Gadis itu 

adalah murid Resi Bayakumba yang sempat membuat 

hati Soka terpikat dan terjerat. Namun kala itu, ia se-

gera dipisahkan dari Bulan Berkabut oleh sang Resi 

sendiri, (Baca serial Pendekar Kembar dalam episode: 

"Pemburu Mahkota Dara").

Bulan Berkabut cepat bangkit walau harus me-

nahan rasa sakit.

"Terlalu lama aku menunggumu di sekitar bukit 

ini, Soka!"

"Menyingkirlah, Bulan! Akan kuhadapi si pen-

gisap darah perawan itu!"

"Bagaimana dengan para gadis yang ditawan-

nya di ruang bawah tanah, di bawah istana itu?!"

"Ooh...?!" Nyai Rempah Arum terkejut menden-

gar ucapan Bulan Berkabut. Sementara itu, Raka Pura 

sudah lakukan serangan, membuat Darah Kula sibuk 

menghadapinya, tapi Soka masih bicara dengan Bulan 

Berkabut.

Nyai Rempah Arum segera dekati Soka.

"Apa benar mereka di bawah istana yang se-

dang terbakar itu?!"

Soka Pura segera memandang Bulan Berkabut, 

karena Bulan Berkabut yang mengetahui hal itu, ia tak 

bisa menjawab pertanyaan Nyai Rempah Arum. Dan 

saat itu Bulan Berkabut langsung menjawab dengan


suara pelan, karena harus menahan rasa sakit akibat 

pukulan Darah Kula tadi.

"Aku memata-matai tempat ini, sesuai perintah 

Guru. Aku nyaris tertangkap ketika mengetahui bahwa 

mereka ditawan di ruang bawah tanah. Untung segera 

datang penyerangan di tengah malam, sehingga aku 

bisa lolos kembali!"

"Kalau begitu tunjukkan padaku di mana tem-

pat mereka tertawan!" ujar Nyai Rempah Arum.

"Bulan, bantu Nyai Rempah Arum untuk be-

baskan mereka! Aku dan Raka akan hadapi si lintah 

darat itu."

"Lintah darat...?!" gumam Bulan Berkabut.

"Si pengisap darah perawan itu maksudku!"

Kedua perempuan beda usia itu segera pergi. 

Sementara itu, Darah Kula benar-benar dibuat sibuk 

oleh Raka dengan tebasan pedang kristalnya. Sehingga 

ia tampak hati-hati sekali menghadapi pedang terse-

but.

Kejap berikut, Darah Kula tiba-tiba lenyap dari 

pandangan mata. Raka kebingungan, Soka Pura pun 

mencari di mana si jubah hitam itu berada. Namun ia 

segera terkejut, karena tiba-tiba Raka Pura memekik 

sambil terpental.

"Aaahk...!!"

"Rakaa...?!" Soka berseru tegang, karena ka-

kaknya melambung di udara dengan mengucurkan da-

rah dari hidung dan telinga. Dada sang kakak tampak 

berasap, seperti habis terkena tendangan bertenaga 

dalam tinggi, Tapi Darah Kula masih belum kelihatan 

walau matahari pagi mulai meninggi.

"Aaahk...!" Raka Pura memekik lagi, tubuhnya 

yang berusaha bangkit itu terlempar kembali dengan 

pipi kanan luka cakar cukup lebar.

"Keparat! Rupanya Darah Kula mempunyai il


mu seperti si Dedengkot Iblis!" geram Soka Pura dalam 

hatinya. Maka pedang kristal segera dicabut dan ia 

melambung ke atas tanpa tujuan. Wuuut...!

Pada saat ia melambung, ia dapat melihat Da-

rah Kula sedang hampiri Raka Pura yang terkapar di 

tanah.

"Oh, benar juga dugaanku. Kakiku tak boleh 

menyentuh tanah jika ingin melihat di mana dia bera-

da! Hmmmmm... rupanya rahasia Dedengkot Iblis 

punya kesamaan dengan rahasia si Darah Kula."

Soka pun segera sentakkan kakinya kembali ke 

arah Raka berada. Wuuuzz...! Dalam gerakan bersalto 

ia sempat melihat Darah Kula ingin sabetkan tangan-

nya yang berkuku tajam itu ke wajah Raka Pura yang 

berusaha bangkit lagi.

Sebelum tangan Darah Kula berkelebat, tubuh 

Soka telah meluncur mendekati Darah Kula dan pe-

dangnya disabetkan dalam jarak sekitar dua langkah. 

Wess...! Craass...!

"Aaow...! Jahanam kau...!"

"O, maaf. Aku tak sengaja menyabet pundak-

mu, Kawan. Tujuanku menyabet lehermu!" ucap Soka 

Pura sengaja bercanda agar hatinya tak menyimpan 

kemarahan dan benci. Karena ia khawatir Darah Kula 

juga tak bisa dilukai jika hatinya diliputi kemarahan 

dan kebencian.

Soka Pura yang kini berani menapak di tanah 

itu masih tetap bisa melihat Darah Kula sibuk atasi 

lukanya. Sabetan Pedang Tangan Malaikat membuat 

Darah Kula tak bisa menghilang lagi, seperti yang di-

alami oleh Dedengkot iblis.

Bahkan Darah Kula pun dapat menutup lu-

kanya menjadi seperti semula, persis seperti yang dila-

kukan oleh Dedengkot Iblis. Barangkali karena De-

dengkot Iblis adalah muridnya Raja Iblis, ayah Darah


Kula, maka ilmunya tak jauh berbeda dengan si pengi-

sap darah perawan itu.

"Bangkai busuk! Ku hancurkan kau sekarang 

juga, heeaaah...!!" Darah Kula berteriak keras meme-

kakkan telinga. Tangannya mulai memancarkan ca-

haya biru yang ingin dilepaskan ke arah Soka. Tapi 

Raka Pura berhasil berlutut, lalu sentakkan tangannya 

ke depan dan seberkas sinar putih seperti pisau runc-

ing melesat menghantam punggung Darah Kula.

Duuubs...! Sinar itu redup tanpa ledakan apa 

pun kecuali kepulan asap. Tubuh Darah Kula tak ter-

luka, jubahnya berhasil menahan sinar dari jurus 

'Cakar Matahari'-nya Raka Pura. Tapi tubuh itu tersen-

tak maju satu langkah, sehingga Darah Kula sadar ada 

yang menyerangnya dari belakang. Ia segera berbalik 

dan kibaskan tangannya. Claaap...! Sinar biru melesat 

menghantam Raka, namun Pendekar Kembar sulung 

itu segera berguling ke samping hingga lolos dari maut 

di ujung sinar biru tersebut.

Pada saat Darah Kula mengibaskan tangan 

dengan tubuh berputar ke arah Raka, Soka pun guna-

kan kesempatan untuk melompat secepatnya. 

Wuuuz...! Ia berhasil melayang di atas kepala Darah 

Kula. Pedang di tangan kiri segera di pindah ke tangan 

kanan, lalu tangan kiri itu mencabut Bambu Gading 

Mandul. Bambu itu segera ditancapkan di kepala Da-

rah Kula dalam gerakan bersalto. Jruuubs...!

"Aaaaaaa...!!"

Darah Kula memekik keras-keras. Bambu se-

panjang dua jengkal itu tertancap tepat di ubun-

ubunnya. Bambu itu berasap dan menyemburkan api. 

Secara ajaib tubuh Darah Kula segera terbungkus api, 

hingga ia berguling-guling sambil meraung histeris. Api 

itu tak dapat dipadamkan, sampai akhirnya Darah Ku-

la tak bernyawa lagi dan terbujur kaku menjadi arang


hitam.

Suara jeritan Darah Kula menjadi pusat perha-

tian orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, terma-

suk anak buahnya sendiri dan murid-murid Perguruan 

Gagak Putih yang belum tewas. Para pengikut Darah 

Kula melarikan diri begitu melihat Darah Kula menjadi 

arang. Mereka dikejar oleh murid-murid Perguruan 

Gagak Putih.

Lodayu ikut mengejar, karena ia segera melihat 

beberapa gadis keluar dari istana yang terbakar sambil 

berjeritan. Rupanya Nyai Rempah Arum dan Bulan 

Berkabut berhasil bebaskan mereka. Lodayu menjadi 

lega, karena Miranti belum menjadi korban, seperti 

halnya si Merak Jelita yang masih belum terjamah oleh 

tangan Darah Kula.

Matahari makin meninggi. Mereka yang terluka 

segera diobati oleh Soka Pura, termasuk kakaknya 

sendiri. Tapi Raka segera berlari tinggalkan tempat itu 

setelah Soka Pura menggenggam tangan Bulan Berka-

but dengan senyum mesra.

"Hei, mau ke mana kau, Raka...?!" seru sang 

adik. "Selesaikan urusan dengan Kecubung Manis!" 

jawab Raka, tapi sang adik tertawa mencibir.

"Tak mungkin ia ke sana. Pasti mau menemui 

Kirana!"

"Siapa Kirana itu?" tanya Bulan Berkabut.

"Entahlah, aku tak tahu apakah Raka mau ja-

dikan gadis itu kekasihnya atau sekadar sahabat, yang 

jelas... dia pernah menaruh cemburu padaku," jawab 

Soka Pura, membuat Bulan Berkabut tersenyum. Lalu 

keduanya melangkah menemui Nyai Rempah Arum 

yang sedang bergabung dengan Merak Jelita, Lodayu, 

Miranti, dan gadis-gadis tawanan yang darahnya be-

lum terisap oleh si anak iblis itu.


                     SELESAI


Segera terbit:

TANTANGAN MESRA



Share:

Blog Archive