Hak cipta dan copy right
pada penerbit di bawah lindungan
undang-undang
Dilarang mengcopy atau memperbanyak seba-
gian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
SATU
PADANG Angin Malaikat...
Hanya orang gila atau orang yang sudah bosan
hidup, berani menginjakkan kaki di tanah luas berpa-
sir yang senantiasa siap merenggut nyawa siapa pun
itu. Tiupan angin kencang tiada henti menerbangkan
butiran pasir ke sana-sini. Butiran pasir itu sudah cu-
kup mampu untuk membeset kulit dan membutakan
mata. Suara gemuruh yang ditimbulkan sudah cukup
mampu pula untuk memecahkan gendang telinga. Ke-
ganasan Padang Angin Malaikat yang tak pernah mau
bersahabat dengan makhluk hidup, masih ditambah
lagi dengan seringnya muncul putaran angin puting
beliung.
Apabila putaran angin ganas itu muncul, bong-
kah batu sebesar gajah pun akan terbawa melayang
berputar-putar lalu terlontar jauh. Begitu mendarat di
tanah, bongkah batu itu akan langsung pecah berkep-
ing-keping. Apalagi, tubuh manusia yang cuma terdiri
dari susunan tulang dan daging empuk!
Namun anehnya, di tengah Padang Angin Ma-
laikat yang sedang tersiram sinar mentari pagi, tampak
sebentuk kepala manusia yang tak bergeming sedikit
pun walau angin bertiup amat kencang. Tubuh bagian
bawah orang itu menancap ke dalam tanah sampai se-
batas leher. Rambutnya riap-riapan dan selalu berki-
bar karena dipermainkan tiupan angin.
Dia seorang lelaki berusia sekitar enam puluh
tahun. Tapi..., wajahnya yang sudah keriputan sesekali
berubah menjadi wajah seorang pemuda dua puluh li-
ma tahunan. Sesekali pula, berubah menjadi wajah
Melihat kehebatan lelaki yang bisa berubah-
ubah itu, siapa lagi dia kalau bukan Mahisa Lodra
atau Setan Selaksa Wajah!
Dan agaknya, dalam menjalani siksa yang amat
menyakitkan itu, salah satu ilmu Mahisa Lodra yang
bernama 'Selaksa Wajah Berganti-ganti' bekerja tanpa
disadarinya. Mahisa Lodra sendiri tak tahu kalau wa-
jahnya senantiasa berubah-ubah.
Ketika wajah lelaki itu berubah menjadi wajah
aslinya, wajah seorang kakek-kakek enam puluh ta-
hunan, mendadak kelopak matanya terbuka. Dengan
sinar mata nyalang, ditatapnya sang baskara yang ba-
ru terbit di ufuk timur. Diedarkannya pandangan ke
depan. Badai terus mengganas di Padang Angin Malai-
kat yang luas seakan tiada bertepi....
Setan Selaksa Wajah sama sekali tak takut bu-
tiran pasir yang beterbangan akan membutakan ma-
tanya. Dia terus mengedarkan pandangan dan terus
mengedarkan pandangan....
"Jahanam kau, Banyak Langkir!" geram murid
murtad Dewa Dungu itu. "Kau siksa aku seperti ini...,
kau buat aku menderita seperti ini..., apa kau lupa
bahwa aku pernah menanam budi baik kepadamu? Di
antara kita pernah terjalin tali persahabatan..., kenapa
kau lupakan persahabatan itu? Berkali-kali kau mem-
perlakukan aku sebagai budakmu! Berkali-kali kau
berbuat sewenang-wenang terhadapku! Namun..., per-
buatanmu kali ini benar-benar amat kelewatan! Bina-
tang laknat kau, Banyak Langkir! Kalau kau tidak se-
gera membebaskan aku, seribu setan akan mencabik-
cabik tubuhmu! Kalau aku mati karena siksa ini, roh-
ku yang penasaran akan terus mengejarmu ke mana
pun kau pergi!"
Saat mengumpat dan berteriak, butiran pasir
yang berada di hadapan Setan Selaksa Wajah tampak
menyembur ke depan, lalu berhamburan karena ter-
tiup angin yang muncul dari mulut si kakek. Agaknya,
Setan Selaksa Wajah menyertai ucapannya dengan ali-
ran tenaga dalam.
Namun..., rentetan kata kakek berambut riap-
riapan itu segera lenyap tertelan suara gemuruh angin
yang terus bertiup di Padang Angin Malaikat. Tak ada
orang lain yang muncul. Justru dari belakang Setan
Selaksa Wajah tampak putaran angin puling beliung!
Wesss
"Wuahhh...!"
Memekik parau Setan Selaksa Wajah. Kepa-
lanya yang menyembul ke permukaan tanah terasa
amat pening luar biasa, bagai terhantam palu godam.
Putaran angin puting beliung yang menimpa, memelin-
tir lehernya. Andai kakek itu tidak mempunyai kekua-
tan tenaga dalam tingkat tinggi, dapat dipastikan bila
lehernya akan putus, dan kepalanya akan terbawa pu-
taran angin puting beliung!
"Setan alas kau, Banyak Langkirrr...!" teriak Se-
tan Selaksa Wajah, keras menggelegar.
Kakek itu berusaha menahan rasa sakit yang
mendera kepala dan sekujur tubuhnya. Dia melam-
piaskan kekesalan dan hawa amarahnya dengan berte-
riak mengumpat-umpat. Sumpah serapah dan kata-
kata kotor segera tertumpah dari mulutnya.
Namun, sosok Banyak Langkir atau Raja Pe-
nyasar Sukma tetap tak muncul. Maka, semakin me-
muncaklah amarah Setan Selaksa Wajah. Darahnya
menggelegak naik sampai ke ubun-ubun. Hingga, air
mukanya menjadi merah-padam.
Tanpa sadar, dia mengeluarkan ilmu 'Selaksa
Wajah Berganti-ganti'. Akibatnya, sebentar dia berwajah kakek-kakek, sebentar dia berwajah pemuda tam-
pan, lalu berwajah gadis cantik, kemudian menjadi ka-
kek-kakek lagi! Seiring berlalunya waktu, wajah murid
murtad Dewa Dungu itu terus berganti dan berubah-
ubah tiada henti...
"Jahanam kau, Banyak Langkirrr...!" geram Se-
tan Selaksa Wajah untuk kesekian kalinya. "Jika aku
benar-benar akan mati karena siksa ini aku bersum-
pah..., rohku yang penasaran akan terus mengejarmu
ke mana pun kau pergi! Rohku tak akan pernah puas
sebelum mencongkel keluar kedua biji matamu! Rohku
tak akan pernah tenang sebelum bisa membetot jan-
tungmu! Rohku akan terus penasaran sebelum bisa
mencabik-cabik tubuhmu! Aku bersumpah...! Aku ber-
sumpah...! Semoga selaksa setan dan iblis mau mem-
bantuku mewujudkan sumpahku ini! Keparat kau,
Banyak Langkirrr...!"
Sambil berteriak-teriak, Setan Selaksa Wajah
menghimpun seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Ke-
dua tangan dan kakinya yang berada di dalam tanah
berusaha digerakkan. Dia hendak keluar dari tanah
berpasir yang menimbun tubuhnya. Tapi..., tenaga da-
lamnya seperti membentur satu kekuatan gaib mana
dahsyat yang tak dapat dilawan. Kedua tangan dan
kakinya tak dapat digerakkan. Itu berarti, tubuhnya
pun tak dapat dikeluarkan dari dalam tanah!
Sementara, tiupan angin kencang terus meng-
hajar kepala Setan Selaksa Wajah yang menyembul ke
permukaan tanah. Angin puting beliung yang beberapa
kali muncul turut menghajar pula! Walau si kakek
memiliki daya tahan tubuh yang kuat luar biasa, tapi
kalau didera rasa sakit terus-terusan, maka semakin
melemahlah daya tahannya.
Hingga di lain kejap, butiran pasir mulai me
nancap di kulit wajah kakek itu. Titik-titik darah ke-
luar lewat lubang-lubang yang terbentuk.
Tentu saja, rasa sakit semakin menyiksa. Pe-
rih... pedih tiada terkira! Perlahan..., kesadaran Setan
Selaksa Wajah mulai lenyap. Kepalanya yang semula
tegak, kini tampak jatuh tertunduk tiada daya....
Gemuruh suara angin terus terdengar.
Gendang telinga pekak terhajar....
***
Di bagian lain Padang Angin Malaikat.... Di se-
la-sela tiupan angin kencang yang menerbangkan buti-
ran pasir, terlihat gumpalan cahaya kuning yang terus
melayang dan berputar-putar di angkasa. Setiap gum-
palan cahaya yang amat menyilaukan mata itu melesat
berpindah tempat, timbul suara berdesing keras seper-
ti suara puluhan pedang yang disabetkan bersamaan.
Bongkah-bongkah batu yang dilontarkan puta-
ran angin puting beliung langsung meledak hancur
saat mendekati gumpalan cahaya kuning itu. Hingga
suara gemuruh angin di Padang Angin Malaikat kerap
ditimpali suara ledakan keras. Bongkah-bongkah batu
yang telah pecah menebar ke berbagai penjuru. Na-
mun, tak jarang di antara bongkah-bongkah batu yang
membentur gumpalan cahaya kuning hancur luluh
menjadi debu yang kemudian lenyap begitu saja ter-
bawa tiupan angin!
Tiba-tiba..., gumpalan cahaya kuning yang
mempunyai daya penghancur dahsyat itu melesat ce-
pat ke timur, menuju ke tempat Mahisa Lodra yang se-
dang menjalani siksa. Kalau bongkah batu yang amat
keras saja bisa hancur menjadi debu, bisa dibayang-
kan akibat yang akan diterima Setan Selaksa Wajah
apabila gumpalan cahaya kuning itu menerpa kepala si
kakek....
Wusss...!
Werrr...!
Lesatan cahaya kuning ternyata berhenti seki-
tar lima tombak dari hadapan Setan Selaksa Wajah.
Sementara, Setan Selaksa Wajah yang mendengar sua-
ra lesatan benda aneh cuma membuka sedikit kelopak
matanya. Namun, wajah si kakek yang kebetulan se-
dang berupa wajah seorang pemuda dua puluh lima
tahunan langsung menegang. Jelas sekali bila dia ten-
gah menyimpan geram kemarahan di hati. Dengan ke-
lopak mata yang sedikit terbuka, rahang si kakek tam-
pak menggembung hingga berbentuk balok persegi.
Dari mulutnya keluar suara desis keras yang merupa-
kan wujud kemarahannya. Kulit wajahnya yang telah
ternoda cairan darah terlihat sangat mengerikan!
"Setan alas kau, Banyak Langkirrr...!" umpat
Setan Selaksa Wajah kemudian, keras menggelegar.
Umpatan kakek yang sudah tak berdaya itu
tersahuti suara dengus penasaran. Tepatnya berasal
dari gumpalan cahaya kuning.
Sesaat kemudian, gumpalan cahaya yang men-
gambang di udara itu berputar di tempat. Putarannya
amat cepat. Selain memperdengarkan suara gemuruh
keras, juga menimbulkan tiupan angin kencang.
Memekik parau Setan Selaksa Wajah. Anak-
anak rambutnya yang berkibar terasa hendak menge-
lupas kulit kepalanya. Kulit wajahnya pun terasa se-
makin perih bagai diiris-iris sebilah pisau tajam!
"Jahanam kau, Banyak Langkirrr...!" teriak Se-
tan Selaksa Wajah untuk kesekian kalinya. "Lepaskan
aku! Lepaskan aku, keparattt...!"
Tepat di ujung suara teriakan Setan Selaksa
Wajah, mendadak putaran cahaya kuning berhenti. La-
lu, gumpalan cahaya itu bergerak ke bawah..., dan
langsung lenyap manakala menyentuh permukaan ta-
nah!
Namun sebagai gantinya, di tempat mendarat-
nya gumpalan cahaya itu muncul sesosok tubuh ma-
nusia!
Anehnya, badai yang tengah melanda Padang
Angin Malaikat reda perlahan-lahan, hingga akhirnya
suasana menjadi sunyi lengang. Angin hanya bertiup
semilir. Butiran pasir pun tak lagi beterbangan.
Bola mata Setan Selaksa Wajah melotot besar,
menatap sosok manusia yang berada di hadapannya
dengan segudang dendam kemarahan meluap-luap....
Sosok manusia yang baru muncul itu ternyata
seorang kakek berpakaian serba kuning. Kulit wajah
dan tubuhnya berwarna kuning pula seperti dilumuri
air perasan kunyit. Demikian juga dengan rambutnya.
Hebatnya, lelaki tua itu tengah duduk bersila di atas
lempengan batu pipih yang terus mengambang di uda-
ra!
Dia Banyak Langkir atau Raja Penyasar Sukma!
"Hmmm.... Berkali-kali kau mengumpat dan
meneriaki ku dengan sumpah serapah mu. Mestinya
sekarang ini juga aku harus memecahkan batok kepa-
lamu, Mahisa Lodra...," ujar Raja Penyasar Sukma
dengan suara berat menggeram, menyimpan kemara-
han pula.
"Bedebah!" semprot Setan Selaksa Wajah. "Ka-
lau berani kau melakukan itu, rohku yang penasaran
akan membalas semua perbuatan kejimu ini!"
"Ha ha ha...!" Raja Penyasar Sukma tertawa
bergelak-gelak. Lempengan batu yang didudukinya
bergerak turun-naik. "Siapa takut pada ancamanmu
itu, Mahisa Lodra? Kalau aku berniat membunuh
orang, tak pernah aku berpikir apa pun akibatnya!
Namun..., hmmm... aku masih mau mengampuni nya-
wamu...."
"Jahanam! Andai benar apa yang kau katakan,
cepatlah kau keluarkan aku dari siksa ini!"
"Ha ha ha...!" Raja Penyasar Sukma tertawa la-
gi. "Sabar! Sabar dulu, Mahisa Lodra! Siksa yang ten-
gah kau rasakan ini sebenarnya amat pantas kau te-
rima! Karena, kau benar-benar telah mengecewakan
aku! Kodok Wasiat Dewa gagal kau serahkan kepada-
ku! Entah berada di tangan siapa benda ajaib itu seka-
rang...."
"Jangan banyak mulut, Keparat! Segera kelua-
rkan aku!" desak Setan Selaksa Wajah.
"Sabar! Sabar dulu, Mahisa Lodra! Aku tahu
kau telah mencuri batu mustika 'Menembus Laut Ber-
napas Dalam Air' milikku. Aku tahu kini batu mustika
itu berada di tangan Pendekar Bodoh! Dan..., tahukah
kau, Mahisa Lodra, bocah geblek itu telah masuk ke
Lembah Rongga Laut?"
Setan Selaksa Wajah terdiam. Mendengar uca-
pan Raja Penyasar Sukma, tiba-tiba hatinya berdebar-
debar tak karuan. Debar-debar itu mampu mengalah-
kan rasa sakit yang tengah menderanya.
"Ketahuilah, Mahisa Lodra...," lanjut Raja Pe-
nyasar Sukma. "Pendekar Bodoh bukan saja berhasil
menyelamatkan Kemuning yang kau sekap di Lembah
Rongga Laut, bocah geblek itu juga berhasil membawa
pergi Setan Bodong! Bahkan, ilmu kesaktian guruku
itu dapat pula dia kembalikan...! Semua ini karena ke-
salahanmu, Mahisa Lodra...!"
Kulit wajah Raja Penyasar Sukma semakin
menguning. Bola matanya menatap berapi-api. Bahunya naik-turun terbawa desakan hawa amarah di
dada.
Kontan debar-debar di hati Setan Selaksa Wa-
jah semakin terasa. Dia tak berani membayangkan
apabila Raja Penyasar Sukma benar-benar akan me-
mecahkan batok kepalanya. Hingga untuk beberapa
lama, Setan Selaksa Wajah yang didera rasa takut cu-
ma dapat memejamkan mata dengan mulut terkunci
rapat. Geram kemarahannya sudah tak terlihat lagi.
Semua kata-kata kotor dan sumpah serapahnya tak
terdengar pula.
"Mahisa Lodra...!" sebut Raja Penyasar Sukma
kemudian. "Buka matamu lebar-lebar! Buka akal piki-
ranmu baik-baik! Melihat kesalahanmu yang demikian
besar, hukuman yang kujatuhkan ini amatlah pantas
kau terima! Bahkan, mestinya aku membiarkan dirimu
berada di tempat ini sampai mati! Tapi..., kupikir jika
aku membunuhmu, tak ada manfaat apa-apa yang
kudapatkan. Oleh karena itu, aku masih mau membe-
rikan kesempatan. Biarlah kali ini kau kuampuni. Ta-
pi..., dengan satu syarat! Buka telingamu lebar-lebar.
Mahisa Lodra! Setelah kau kubebaskan, bunuh Pende-
kar Bodoh dan Setan Bodong! Tiga hari lagi, aku me-
nantimu di tempat ini. Kau jangan lagi mengecewakan
aku! Kau harus datang dengan membawa kepala me-
reka!"
Usai berkata, Raja Penyasar Sukma melu-
ruskan telunjuk jari tangan kanannya ke bawah. Sela-
rik sinar kuning tiba-tiba melesat!
Cusss...!
Setan Selaksa Wajah memejamkan mata penuh
rasa takut dan ngeri. Dia menyangka Raja Penyasar
Sukma hendak memecahkan batok kepalanya.
Ternyata tidak. Selarik sinar kuning yang melesat dari ujung jari telunjuk Raja Penyasar Sukma cu-
ma menerpa permukaan tanah di depan kepala Setan
Selaksa Wajah. Dan tiba-tiba, dari dalam tanah ter-
dengar suara mendesis keras seperti ada ratusan ular
yang tengah meleletkan lidah....
"Astaga...!" kejut Setan Selaksa Wajah. Kakek
berwajah seorang pemuda itu merasakan tubuhnya te-
rangkat. Permukaan tanah terkuak, dan muncullah
tubuh si kakek yang semula terbenam sebatas leher....
Satu pemandangan mengerikan segera terlihat.
Ternyata, tubuh Setan Selaksa Wajah berada di dalam
mulut seekor binatang raksasa bertubuh panjang tak
berkaki.
Binatang melata yang besar tubuhnya melebihi
batang pohon kelapa itu berkulit putih kemerahan dan
dilapisi lendir. Rupanya, dia seekor cacing raksasa!
Swosss...!
"Wuahhh...!"
Setan Selaksa Wajah memekik panjang saat tu-
buhnya disemburkan keluar dari mulut cacing raksa-
sa. Dan, ketika tubuh si kakek jatuh bergulingan, cac-
ing raksasa itu bergerak cepat, masuk kembali ke ta-
nah!
"Aku selamat! Aku selamat!" seru Setan Selaksa
Wajah, girang bukan main.
Murid murtad Dewa Dungu itu mengedarkan
pandangan ke segenap penjuru. Namun, sosok Raja
Penyasar Sukma sudah tak tampak lagi.
Tersentak Setan Selaksa Wajah manakala men-
dengar bisikan Raja Penyasar Sukma yang dikirim
dengan menggunakan ilmu pengirim suara dari jarak
jauh....
"Ingat, Mahisa Lodra! Jangan buat kesalahan
lagi! Kau hanya punya waktu tiga hari! Bawa kepala
Pendekar Bodoh dan Setan Bodong ke hadapanku!"
Setan Selaksa Wajah mendesah panjang.
Tugas teramat berat datang menghadang....
* * *
DUA
SEJAK langit baru tercipta.
Dan, bumi baru terbentuk.
Manusia tak pernah berhenti
Membuka mata dan hati
Lebih lebar....
Namun, rahasia alam tak pernah dapat terkuak
Rahasia Tuhan tak pernah dapat terjangkau
Oleh akal pikiran manusia...
Memang....
Ada banyak kejadian yang tak pernah bisa di-
mengerti manusia
Sering kali kekuasaan dan segala hiasan dunia
Membuat manusia lupa
Pada kodratnya sebagai manusia
Lupa diri dan berlaku seenaknya
Bukan cermin hidup manusia di dunia
Kesenangan adalah awal dari kesusahan
Kebahagiaan adalah awal dari penderitaan
Tuhan menciptakan dua 'teman' bagi hidup ma-
nusia
Di dunia
Orang hidup pasti mati
Ada budi, ada balas
Maka, manusia mesti pandai-pandai membawa
diri
Walau rahasia alam tak pernah dapat terkuak
Walau rahasia Tuhan tak pernah dapat terjang-
kau
Setiap perbuatan pasti ada akibat dan balasan
Yang baik akan menerima pahala
Yang jahat akan menerima dosa
Dan....
Salah satu dosa besar adalah....
Durhaka kepada orangtua
Pemuda remaja berpakaian biru-biru itu terke-
siap. Dengan kening berkerut rapat, dia mengedarkan
pandangan. Kepalanya menengok ke kanan dan ke ki-
ri. Lalu, dia cengar-cengir penuh rasa kecewa. Sosok
orang yang dicarinya tak dapat ditemukan.
"Hmmm.... Jelas sekali bila kata-kata terakhir
dari syair tadi sengaja menyindir diriku...," pikir si pe-
muda. "Apakah si pelantun syair itu tahu kalau aku
akan membuat perhitungan dengan ayah kandungku
sendiri?"
Saat berpikir-pikir, wajah tampan pemuda ting-
gi tegap itu jadi tampak kebodoh-bodohan. Sinar keju-
juran dan keluguan semakin terpancar dari sorot ma-
tanya.
Dia cengar-cengir lagi. Sambil terus mengedar-
kan pandangan, kakinya terayun. Dimasukinya Hutan
Saradan yang sunyi lengang. Disibaknya semak belu-
kar yang menghadang. Dia yakin bila orang yang ten-
gah dicarinya berada di antara jajaran pohon jati di da-
lam hutan itu.
"He, Ksatria Seribu Syair...!" teriak si pemuda
yang tak lain Seno Prasetyo atau Pendekar Bodoh.
"Ksatria Seribu Syair...! Kenapa kau lari setelah meli-
hat diriku?! Aku jadi semakin yakin bila kau memang
seorang pengecut! Keluarlah! Ada satu urusan yang
harus segera kuselesaikan denganmu!"
Teriakan pemuda berambut panjang tergerai itu
membahana panjang. Satwa-satwa hutan tersentak
kaget. Mereka langsung lari berserabutan karena gen-
dang telinga mereka terasa pekak. Agaknya, Pendekar
Bodoh menyertai teriakannya dengan aliran tenaga da-
lam.
Namun, teriakan pemuda lugu itu cuma tersa-
huti lambaian daun jati yang tertiup angin. Tak ada
orang lain yang muncul.
Kembali Seno mengayunkan langkah. Terus
dimasukinya Hutan Saradan yang cukup luas. Dia te-
tap yakin bila orang yang tengah dicarinya berada di
dalam hutan itu. Tapi..., belum seberapa jauh kakinya
melangkah, lamat-lamat terdengar sebuah syair lagi....
Bila orang terlalu menuruti isi hati
Tanpa berpikir untung dan ruginya
Apa akibatnya yang akan didapat?
Tak lebih dari penyesalan di kelak hari
Berpikir sebelum bertindak
Adalah salah satu ciri orang bijaksana
Hati-hati dalam bersikap
Patut dikerjakan setiap manusia
Waspada di setiap tempat
Akan banyak mendatangkan manfaat
Karena tak sabaran, bergegas Seno mengempos
tenaga. Dikerahkannya ilmu peringan tubuh 'Lesatan
Angin Meniup Dingin' ajaran Dewa Dungu.
Hingga, tubuh pemuda remaja itu berubah
menjadi segumpal asap yang melesat cepat di antara
jajaran pohon jati. Tiupan angin yang ditimbulkan
membuat sulur-sulur semak belukar tercabut dari da-
lam tanah, lalu melayang berhamburan ke kanan-kiri.
Seno baru menghentikan lesatan tubuhnya se-
telah sampai di sebidang tanah cukup luas. Dua ba-
tang pohon jati kering tampak tergeletak di tanah.
Dan..., di salah satu batang pohon jati yang tumbang
karena tiupan badai itu, Seno melihat seorang lelaki
berpakaian putih-putih dengan ikat pinggang kain bi-
ru. Wajahnya tertutup sebuah topeng yang terbuat dari
baja putih.
"Ksatria Topeng Putih...," deals Pendekar Bo-
doh, menyebut gelar lelaki bertopeng yang telah dike-
nalnya.
"Ya. Aku memang Ksatria Topeng Putih, Se-
no...," sahut lelaki bertopeng seraya melangkah meng-
hampiri Pendekar Bodoh. "Air mukamu tampak keruh.
Aku tahu pikiranmu kusut. Tentu ada masalah yang
membuatmu jadi bingung. Karena masalah yang ada di
benakmu itukah kau memasuki hutan jati ini, Seno?"
Ksatria Topeng Putih yang sebenarnya tak lain
dari Ksatria Seribu Syair merubah nada dan warna su-
aranya. Berbeda dengan ketika memakai gelar Ksatria
Seribu Syair, kali ini suara lelaki setengah baya itu
terdengar lebih berat dan berwibawa. Dia memang be-
lum mau membuka jatidirinya kepada Pendekar Bo-
doh. Oleh karenanya, Ksatria Topeng Putih mengguna-
kan ilmu 'Mengganti Suara Merubah Getaran' agar jati
dirinya tak diketahui oleh pemuda lugu itu.
Sementara, Pendekar Bodoh yang tengah men-
cari Ksatria Seribu Syair terlihat nyengir kuda. Untuk
beberapa lama, dia tak bisa membuka suara. Namun,
dari sorot matanya, jelas sekali bila dia berkeinginan
mengetahui wajah asli Ksatria Topeng Putih.
"Siapa Paman sebenarnya...?" tanya Seno, lirih.
"Memangnya ada apa?" Ksatria Topeng Putih
balik bertanya.
Seno nyengir lagi.
Ksatria Topeng Putih tersenyum.
"Aku tahu kau baru keluar dari Lembah Rongga
Laut," ujar lelaki bertopeng itu kemudian. "Kau telah
berhasil menyelamatkan Kemuning, bukan? Tapi, ke-
napa gadis itu tidak bersamamu sekarang ini?"
"Berkat bantuan Ratu Perut Bumi dan Paman
juga, aku memang telah berhasil menyelamatkan Ke-
muning. Tapi, gadis itu ku tinggalkan karena dia telah
berjumpa dengan Dewi Pedang Halilintar gurunya. Se-
mentara, aku pun harus menyelesaikan urusanku
sendiri...," sahut Pendekar Bodoh.
"Hmmm.... Begitu? Kalau boleh aku tahu, uru-
san apa itu?" tanya Ksatria Topeng Putih.
"Aku tengah mencari seorang lelaki bergelar
Ksatria Seribu Syair," jawab Seno, terus terang. "Apa-
kah Paman tadi melihat lelaki yang kucari itu lewat di
hutan ini?"
"Aku tak melihat siapa-siapa, kecuali dirimu
dan diriku sendiri, Seno...," beri tahu Ksatria Topeng
Putih. "Melihat sikapmu ini, sepertinya kau menyim-
pan rasa tak suka pada orang yang kau cari itu. Kena-
pa?"
Mendengar pertanyaan Ksatria Topeng Putih,
Seno terdiam. Tapi setelah berpikir-pikir, dia berkata,
"Karena Paman pernah menanam budi kepadaku, ku-
pikir tak ada jeleknya apabila aku berterus terang ke-
pada Paman. Ketahuilah, Paman, Ksatria Seribu Syair
adalah ayah kandungku...."
Terharu tiba-tiba Ksatria Topeng Putih men-
dengar pengakuan Seno. Ingin rasanya dia memeluk
Seno saat itu juga. Sebagai seorang ayah, tentu saja
Ksatria Topeng Putih menyimpan rasa kasih dan rindu
terhadap putra tunggalnya yang telah lama berpisah.
Namun, cepat Ksatria Topeng Putih menekan
keinginan itu. Pertemuannya dengan Seno tidak pada
waktu yang tepat. Seno yang masih hijau dan amat lu-
gu tentu belum matang dalam berpikir dan menentu-
kan sikap. Seno pasti menganggap kesengsaraan dan
penderitaan hidup Ibunya semata-mata hanya karena
perbuatan Ksatria Seribu Syair. Dengan kata lain, Se-
no belum dapat berpikir jauh, bahwa seseorang tak
mungkin dengan sengaja membuat sengsara orang
yang amat dicintainya. Seperti apa yang pernah dila-
kukan Ksatria Topeng Putih atau Ksatria Seribu Syair
terhadap mendiang ibunya Seno, Dewi Ambarsari.
"Menilik dari nada suaramu, aku semakin yakin
bila kau memang menyimpan rasa tak suka terhadap
ayah kandungmu sendiri, Seno...," ujar Ksatria Topeng
Putih kemudian. "Ada perkara apa gerangan? Dan, apa
yang akan kau perbuat jika kau telah berjumpa den-
gan ayahmu itu?"
Seno tak menjawab. Walau dalam dirinya ter-
simpan rasa kagum dan hormat, tapi tatapannya ter-
hadap Ksatria Topeng Putih tampak menyelidik.
"Maafkan aku andai pertanyaanku tadi tak ber-
kenan di hatimu...," ucap Ksatria Topeng Putih yang
merasa tak enak melihat tatapan Seno.
"Aku juga minta maaf, Paman...," sahut Pende-
kar Bodoh. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Pa-
man. Masalah yang Paman tanyakan itu terlalu priba-
di...."
"Hmmm.... Kau tak menjawab pun, tak jadi
apa. Kau tak perlu meminta maaf. Tapi ingat, seperti
yang dulu pernah kukatakan padamu..., pandai-
pandailah kau dalam menggunakan otak untuk menimbang dan berpikir. Jangan sampai kau menyesal di
akhir perbuatanmu...."
"Ya! Ya, aku akan mengingat nasihat Paman,"
sambut Pendekar Bodoh. "Tapi, Paman..., apakah Pa-
man tadi juga mendengar rentetan kata syair yang be-
rasal dari dalam hutan ini?"
Ksatria Topeng Putih mengangguk. Tak ingin
dia berbohong. Yang mengucapkan kata-kata syair tadi
memang dia sendiri. Tentu saja dia turut mendengar-
nya.
"Aku yakin, si pelantun syair itu adalah Ksatria
Seribu Syair," ujar Pendekar Bodoh. "Tapi..., benarkah
Paman tidak melihat orang lain di dalam hutan ini?"
"Sudah kukatakan tadi, aku tidak melihat sia-
pa-siapa kecuali dirimu dan tentu saja diriku sendiri,"
jawab Ksatria Topeng Putih.
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu tetap tak ber-
bohong. Namun, Pendekar Bodoh yang belum tahu
Ksatria Topeng Putih adalah Ksatria Seribu Syair,
mengartikan lain ucapan lelaki yang sengaja menyem-
bunyikan jatidirinya itu.
"Sayang..., sayang sekali...," desis Seno akhir-
nya. "Sejak tadi malam, aku mengejar orang itu. Tapi
jerih payahku tampaknya akan sia-sia belaka...."
Setelah berpikir-pikir sejenak, Seno menatap
sosok Ksatria Topeng Putih penuh selidik lagi. "Walau
sekilas, aku dapat melihat bila Ksatria Seribu Syair
memakai pakaian putih-putih seperti pakaian yang
kenakan ini, Paman. Potongan tubuhnya pun persis
sama dengan potongan tubuh Paman. Jangan-jangan
Paman adalah...."
"Aku tahu jalan pikiranmu, Seno," sela Ksatria
Topeng Putih. "Potongan tubuh dan warna pakaian bi-
sa sama. Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan...."
"Ah! Kalau begitu, maafkan aku, Paman...,"
ucap Pendekar Bodoh yang merasa keliru menyangka
orang.
"Sudahlah. Tak jadi apa...," sergap Ksatria To-
peng Putih. "Semoga Tuhan selalu bersamamu, Seno.
Aku yakin, di kelak kemudian hari kau akan dapat
menemukan Ksatria Seribu Syair.... Aku juga punya
urusan penting, Seno. Aku tak dapat menemanimu la-
gi...."
Usai berkata, Ksatria Topeng Putih menjejak
tanah seraya berkelebat pergi.
"Tunggu...!" cegah Pendekar Bodoh.
Namun, sosok Ksatria Topeng Putih keburu hi-
lang dari pandangan Pendekar Bodoh. Lelaki bertopeng
itu terus berlari mengerahkan seluruh kemampuan il-
mu peringan tubuhnya. Rasa galau dan kalut mener-
jang hati sanubarinya.
Walau dia telah berlari sekuat tenaga, sosok
Pendekar Bodoh terus membayang di kelopak ma-
tanya. Bayangan pemuda itu semakin membuat ha-
tinya pedih teriris-iris. Perasaan bersalah semakin ber-
kuasa dalam dirinya.
"Maafkan aku, Seno...," ucap Ksatria Topeng
Putih dalam hati. "Aku belum dapat membuka jati di-
riku sebenarnya kepadamu. Untuk beberapa lama, le-
bih baik kau tetap mengenalku sebagai Ksatria Topeng
Putih...."
Lelaki bertopeng itu mendesah panjang. Rasa
sedih terus menyerang....
* * *
TIGA
KAKEK berperut gendut itu berdiri celingukan
di tepi hutan. Dengan tatapan matanya, dia berusaha
menembus rimbunan semak belukar yang tumbuh
subur di antara jajaran pohon jati. Namun, berkali-kali
kakek bertubuh tinggi besar itu mendesah panjang se-
raya menggerutu panjang-pendek.
"Kelebatan bayangan bocah itu menghilang di
sekitar sini. Mungkinkah dia masuk ke hutan?" tanya
si kakek kepada dirinya sendiri. "Bagaimana kalau aku
turut masuk? Tapi..., kalau dia tidak kutemukan, bu-
kankah aku hanya akan membuang-buang waktu sa-
ja?"
Kakek yang wajahnya tampak jenaka itu me-
langkah tiga tindak ke depan. Dia celingukan lagi. Dis-
ibaknya sulur-sulur semak belukar yang menutupi
pandangan. Tapi, segera dia mendesah panjang lagi.
Gerutuan yang keluar dari mulutnya menyembur tiada
henti.
Tertimpa sinar mentari, kepala si kakek yang
gundul tampak berkilat karena terlapisi air keringat.
Tubuhnya yang tambun hanya terbungkus rompi dan
celana pendek berwarna putih kusam. Sehingga, pe-
rutnya yang gendut terlihat menonjol ke depan. Aneh-
nya, si kakek memiliki pusar yang berupa gumpalan
daging sebesar buah terong tua! Gumpalan daging itu
berwarna merah dan dapat bergerak-gerak seperti see-
kor binatang!
Melihat wujud lahir si kakek, siapa lagi dia ka-
lau bukan Setan Bodong!
Plok! Plok!
Mendadak, Setan Bodong menepak kepalanya
sendiri seraya merutuk, "Huh! Kenapa aku bisa jadi
amat tolol seperti ini?! Kalau cuma berdiri celingukan,
bukankah sama artinya dengan membuang-buang
waktu pula?! Ah! Apa boleh buat! Aku harus masuk!
Aku harus masuk!"
Mengikuti pikiran di benaknya, kakek yang ba-
ru keluar dari Lembah Rongga Laut itu melangkah ce-
pat, memasuki Hutan Saradan yang telah terbentang
di depan matanya. Namun tiba-tiba..., dia melonjak
kaget. Indera pendengarannya yang tajam menangkap
suara berisik yang muncul dari dalam hutan.
"Aku mendengar suara langkah kaki manusia,"
kata hati Setan Bodong. "Mungkinkah dia?"
Dengan kening berkerut rapat, Setan Bodong
berjalan mengendap-endap. Dipergunakannya ilmu pe-
ringan tubuh agar langkah kakinya tak mengeluarkan
suara.
Hebat sekali kakek itu!
Sulur-sulur semak belukar yang terinjak ka-
kinya sama sekali tak melengkung ataupun putus.
Agaknya, ilmu peringan tubuh Setan Bodong sudah
mencapai taraf sempurna. Dia mampu merubah berat
tubuhnya menjadi seringan kapas.
Mendadak, Setan Bodong tertawa terkekeh-
kekeh. "He he he.... Dia sudah kutemukan! He he he....
Aku harus membuatnya melonjak kaget setengah mati
dulu, baru aku melaksanakan rencana yang telah ku
susun. He he he...."
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Setan Bodong
mengintip dari balik semak belukar. Di antara jajaran
pohon jati ternyata ada seorang pemuda remaja sedang
berjalan gontai. Pemuda berwajah tampan itu menge-
nakan pakaian biru-biru dengan ikat pinggang kain
merah.
Dia Seno Prasetyo atau Pendekar Bodoh!
Karena sedang berpikir-pikir dengan benak ku-
sut, Seno jadi tidak waspada. Dia tak tahu kalau di-
rinya tengah diintip orang. Bahkan, indera pendenga-
rannya yang biasanya amat tajam pun tak dapat me-
nangkap suara tawa Setan Bodong. Hingga di lain ke-
jap....
"Astaga...!"
Seno berseru kaget. Tatapan matanya jadi nya-
lang. Puluhan ular tiba-tiba muncul dari balik semak
belukar, merayap cepat menuju ke arahnya! Dan...,
langsung mengepung!
Ular-ular yang tampak ganas itu mendesis-
desis dengan lidah melelet keluar. Bola mata mereka
berkilat menatap penuh nafsu membunuh. Kulit tubuh
mereka yang beraneka warna menambah rasa ngeri di
hati Seno!
Tak mau mati konyol dikeroyok puluhan ular
berbisa, bergegas Seno menggerakkan tangan kanan-
nya untuk mencabut Tongkat Dewa Badai yang terselip
di ikat pinggangnya. Namun tanpa diketahui oleh Se-
no, dari belakang pemuda itu melesat seekor ular po-
hon!
Sssttt...!
"Ih...!"
Terkejut setengah mati Pendekar Bodoh. Perge-
langan tangan kanannya tiba-tiba telah terbelit seekor
ular berkulit hijau berkilat. Dan..., ular pohon sepan-
jang satu depa itu berusaha membelit tangan Pendekar
Bodoh yang lainnya.
Tentu saja Pendekar Bodoh tak mau membiar-
kan hat itu terjadi. Sambil menekan rasa jijik dan nge-
ri, dia menarik tangan kirinya ke belakang. Lalu, dia
kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk
membentengi tubuhnya dengan ilmu kebal 'Perisai De-
wa Badai'!
"Astaga...!"
Seno berseru kaget lagi. Ternyata, dia tak
mampu menghimpun tenaga dalamnya. Dan..., itu be-
rarti ilmu 'Perisai Dewa Badai' tak dapat pula dia kelu-
arkan! Padahal, ular pohon yang telah membelit tan-
gan kanannya mulai bergerak ganas. Moncongnya ter-
buka lebar memperlihatkan dua taring runcing berki-
lat!
"Mati aku! Mati aku!" desah Seno dengan pera-
saan kalut tak karuan.
Puluhan ular yang bergerak di permukaan ta-
nah sudah mulai pula membelit kedua kaki Seno.
Ular-ular pohon yang terdapat di antara mereka tam-
pak melesat, dan langsung membelit tubuh bagian atas
sang pendekar!
Tampak kemudian, tubuh murid Dewa Dungu
itu benar-benar dikerumuni oleh puluhan ular berane-
ka jenis!
Pendekar Bodoh berteriak keras penuh rasa
ngeri. Dia memberontak sekuat tenaga. Berkali-kali dia
berusaha mengeluarkan ilmu 'Perisai Dewa Badai' un-
tuk membuat tubuhnya kebal. Tapi..., kekuatan tenaga
dalamnya benar-benar telah lenyap entah ke mana!
Seno jadi sulit bernapas ketika belitan ular-ular
itu semakin kuat. Tulang-belulang tubuh Seno mulai
mengeluarkan suara berkerutukan karena hendak re-
muk!
Anehnya, puluhan ular yang sedang membelit
dan mengepung Pendekar Bodoh itu tak mau mema-
tuk. Sebagian di antara mereka malah hanya bergerak
mengitari tubuh Pendekar Bodoh yang berdiri ter-
huyung-huyung.
"He he he.... Kau pergi tanpa berpamitan dulu
kepadaku. Itulah akibatnya! He he he...."
Tiba-tiba, Setan Bodong muncul dari persem-
bunyiannya. Tenang-tenang dia melangkah mengham-
piri Seno. Beberapa ekor ular yang masih melata di ta-
nah langsung diraupnya seraya diselempangkan di ke-
dua bahunya
"He he he..." tawa kekeh Setan Bodong."Sudah!
Sudah, Kawan! Lepaskan bocah itu!"
Di ujung kalimat Setan Bodong, mendadak
ular-ular yang tengah membelit tubuh Pendekar Bodoh
langsung mengendorkan belitannya. Lalu, perlahan
mereka turun ke tanah dan menghampiri Setan Bo-
dong!
"Kalian memang amat penurut. Terima kasih.
Terima kasih...."
Sambil berkata demikian, Setan Bodong me-
raup lagi beberapa ekor ular yang berada di dekatnya.
Ular-ular itu lalu diselempangkan pula ke kedua ba-
hunya.
Pendekar Bodoh yang sudah terbebas dari beli-
tan ular tampak membelalakkan mata penuh rasa tak
percaya. "Apa... apa yang kau lakukan, Pak Tua...?"
tanyanya, tergagap.
"He he he...," Setan Bodong tertawa lagi. "Kau
terkejut, bukan? Kau kaget, bukan? He he he.... Itulah
hukuman ku! Kenapa kau meninggalkan aku tanpa
pamit?"
Seno tersurut mundur beberapa langkah saat
melihat Setan Bodong berjalan menghampirinya. Jelas
sekali bila murid Dewa Dungu itu masih merasa ngeri
melihat ular-ular yang bergelantungan di leher dan
bahu Setan Bodong.
"Kau jangan mendekatiku, Pak Tua...," pinta
Seno sambil mengangkat kedua tangannya.
Setan Bodong geleng-geleng kepala seraya ter-
tawa terkekeh-kekeh lagi. Namun, melihat sorot mata
Pendekar Bodoh yang benar-benar menyiratkan rasa
ngeri, kakek gendut itu lalu menurunkan ular-ular
yang bergelantungan di tubuhnya.
"Hayo! Sekarang, kalian harus pergi! Hayo!
Hayo! Pergi semua!"
Setan Bodong mengusir dengan mengibas-
ngibaskan kedua telapak tangannya. Puluhan ular
yang masih melata di permukaan tanah menatap sosok
Setan Bodong sebentar, lalu mereka membalikkan ba-
dan seraya merayap lenyap ke balik semak belukar.
"Kau... kau... Kenapa kau mempermainkan
aku, Pak Tua?!" tegur Seno dengan mata melotot.
Kentara sekali bila murid Dewa Dungu itu ma-
rah karena merasa dilecehkan. Dia tahu kalau ular-
ular yang membelutnya tadi atas perintah Setan Bo-
dong. Padahal, Setan Bodong baru ditolongnya keluar
dari Lembah Rongga Laut, termasuk mengembalikan
ilmu kesaktian kakek gendut itu yang lenyap akibat
ulah Raja Penyasar Sukma. (Baca serial Pendekar Bo-
doh dalam episode: "Ksatria Seribu Syair").
Melihat Pendekar Bodoh memelototinya, Setan
Bodong malah tertawa lagi. "He he he.... Aku tahu jalan
pikiranmu, Bocah Bagus. Kau menganggap aku manu-
sia yang tak tahu membalas budi, bukan? Hmmm....
Jangan salah mengerti dulu. Justru kedatanganku ini
hendak berbuat baik kepadamu...."
"Tapi..., kenapa kau mempermainkan aku?!
Ular-ular itu amat menjijikkan...!" sembur Pendekar
Bodoh.
"Apa yang kulakukan tadi sudah pantas kau te-
rima. Bukankah kau pergi dariku tanpa pamit? Dan,
perlakuanmu itu membuatku tersinggung!" kilah Setan
Bodong.
"Aku tak punya waktu untuk berpamitan kepa-
damu, Pak Tua!" bentak Seno. "Aku harus mengejar
seseorang!"
"Ksatria Seribu Syair? Hmmm.... Lupakan dulu
urusanmu dengan orang itu. Apakah kau belum tahu
kalau tenaga dalammu telah lenyap?"
Seno terdiam.
Pemuda remaja itu merasakan kebenaran kata-
kata Setan Bodong. Tenaga dalamnya memang telah
lenyap. Hal itu terbukti saat dia tak dapat menerapkan
ilmu 'Perisai Dewa Badai'.
"Kau tentu mempunyai sebuah ilmu pukulan
yang menjadi andalanmu," ujar Setan Bodong kemu-
dian. "Untuk memastikan apakah tenaga dalammu te-
lah lenyap atau tidak, cobalah kau keluarkan ilmu pu-
kulanmu itu...."
"Tak perlu!" tolak Seno. "Aku sudah tahu kalau
tenaga dalamku telah lenyap."
"Tapi, tetaplah kau turuti kata-kataku!" desak
Setan Bodong.
"Aku tak sudi!" tolak Seno lagi, mulai naik pi-
tam.
Setan Bodong geleng-geleng kepala seraya ter-
tawa terkekeh. Lalu dia berkata, "Kau turuti saja apa
kataku! Akan kutunjukkan suatu hal kepadamu!"
"Boleh! Boleh!" terima Seno kemudian. "Tapi,
kalau aku dapat menghimpun tenaga dalamku, jangan
menyesal kalau kepalamu yang gundul itu kubuat pe-
cah berantakan!"
Setan Bodong menyambut ucapan Seno dengan
tertawa panjang terkekeh-kekeh. Dia tak berucap lagi.
Kepalanya cuma mengangguk-angguk.
Pendekar Bodoh yang masih kesal mendengus
gusar. Dicobanya untuk mengeluarkan ilmu pukulan
'Dewa Badai Rontokkan Langit'. Tapi..., tenaga dalam-
nya benar-benar telah lenyap. Ilmu pukulan yang be-
rasal dari Kitab Sanggalangit itu tak dapat dikelua-
rkannya!
"Kenapa bisa begin!? Kenapa bisa begini?" seru
Seno, tak mengerti.
"Aku akan menjelaskan apa yang telah terjadi
pada dirimu. Tapi tidak di tempat ini...," sahut Setan
Bodong seraya berkelebat keluar dari Hutan Saradan.
Seno nyengir kuda sejenak. Namun, bergegas
dia mengekor langkah Setan Bodong....
***
Di tepi Hutan Saradan, Setan Bodong tertawa
terkekeh-kekeh melihat Pendekar Bodoh tampak ke-
payahan. Napas pemuda remaja itu memburu dan ter-
dengar ngos-ngosan. Kulit wajahnya memerah dengan
peluh berlelehan....
Namun..., saat langkah Pendekar Bodoh telah
dekat, Setan Bodong terkesiap. Hidungnya mencium
aroma wangi kayu cendana. Aroma yang menebar dari
kain baju Pendekar Bodoh itu membuat kepala Setan
Bodong jadi pening.
"Hmmm.... Baju bocah itu mengandung kekua-
tan 'Penakluk Wanita'. Bila kain bajunya terkena air
keringat akan menebarkan aroma wangi yang bisa
membuat wanita lupa daratan...," pikir Setan Bodong.
"Hmmm.... Untung aku lelaki. Kalau tidak, pastilah
aku akan jatuh tak berdaya dalam pelukannya...."
Setan Bodong menggeleng-geleng seraya men-
gerahkan tenaga dalam untuk melindungi kepalanya
dari rasa pening. Sementara, Pendekar Bodoh yang te-
lah berdiri di hadapan Setan Bodong tampak terbatuk-
batuk karena terlalu memaksakan diri untuk menge-
luarkan tenaga.
"Aku... aku.... Kenapa aku bisa seperti ini...?"
ujar Seno di antara dengus nafasnya yang memburu.
"Ilmu peringan tubuhku turut hilang. Apa... apa yang
telah terjadi...?"
"Sabar! Atur jalan nafasmu dulu," sahut Setan
Bodong.
Seno menarik napas panjang beberapa kali.
Disekanya peluh yang membasahi wajahnya. Tak lama
kemudian, tubuh pemuda tampan itu terasa lebih se-
gar.
"Kau ingat ketika aku mengeluarkan batu mus-
tika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' dari dalam
perutmu, Seno?" tanya Setan Bodong kemudian.
"Ya! Ya..., aku ingat, Pak Tua," jawab Seno.
"Untuk mengeluarkan batu mustika itu, aku te-
lah memukul tengkukmu dengan 'Tenaga Inti Es Biru'.
Kau ingat?"
"Ya! Aku juga ingat! Kenapa?"
"Tahukah kau, Seno, bila Kodok Wasiat Dewa
yang telah kau telan mempunyai satu kekuatan luar
biasa yang bersifat panas?"
Seno menggeleng.
Karena Setan Bodong tak langsung memberi
penjelasan atas sesuatu yang telah terjadi pada di-
rinya, pemuda berambut panjang tergerai itu memben-
tak, "Jangan bertele-tele, Pak Tua! Cepat katakan, ba-
gaimana aku bisa menjadi seperti ini?! Apakah puku-
lanmu pada tengkuk ku kemarin itu sengaja untuk
membuatku celaka?!"
"Uts! Jangan seenaknya main tuduh, Bocah
Bagus...," tegur Setan Bodong. "Kalau aku punya niat
mencelakakanmu, bagaimana aku bisa keluar dari
Lembah Rongga Laut?"
"Lalu, kenapa tenaga dalamku bisa lenyap?"
buru Seno, tak sabaran.
"Ketahuilah, Bocah Bagus, sebelum tengkukmu
ku pukul dengan 'Tenaga Inti Es Biru' yang bersifat
dingin, dalam tubuhmu telah tersimpan tenaga lain
yang bersifat panas. Tenaga panas itu berasal dari Ko-
dok Wasiat Dewa yang kau telan..." tutur Setan Bo-
dong. (Agar lebih jelas dalam mengikuti jalan cerita ini,
silakan simak serial Pendekar Bodoh dalam episode:
"Ratu Perut Bumi" dan "Ksatria Seribu Syair").
Seno cuma diam. Tak tahu arti ucapan Setan
Bodong.
"Ketika kau ku pukul dengan 'Tenaga Inti Es
Biru', sebuah tenaga yang bersifat dingin masuk ke tu-
buhmu. Tenaga dingin itu lalu bentrok dengan tenaga
panas yang berasal dari Kodok Wasiat Dewa...," lanjut
Setan Bodong.
"Lalu?" kejar Seno sambil menggaruk pantatnya
yang tiba-tiba terasa amat gatal.
"Bentrokan tenaga yang berlainan sifat itu
membuat tenaga dalam yang telah kau miliki lenyap
perlahan-lahan...."
"Ah! Begitukah...?"
"Ketika masih berada di dalam Lembah Rongga
Laut, kau belum merasa kalau tenaga dalammu telah
berkurang. Tapi sekarang ini, kau sudah tahu sendiri,
bukan?"
Pendekar Bodoh nyengir kuda beberapa lama.
"Celaka! Aku benar-benar celaka!" desah murid
Dewa Dungu itu kemudian. "Aku belum dapat menye-
lesaikan kewajibanku, kenapa aku harus menerima
nasib seperti ini...?"
Lalu, Pendekar Bodoh mendongak. Ditatapnya
langit biru yang ditebari awan perak. Di atas sana, dia
seakan dapat melihat sosok Ibunya yang telah mening-
gal.
"Ibu...," sebut pemuda lugu itu, tetap mendon-
gak. "Maafkan aku, Bu.... Entah kapan aku dapat
membalaskan sakit hati Ibu.... Aku kini tak punya ke-
kuatan apa-apa lagi, Bu. Maafkan aku, Bu...."
Melihat Pendekar Bodoh berkata-kata seorang
diri, Setan Bodong tertawa geli.
"He he he.... kau ini aneh, Bocah Bagus.... Di
atas langit sana tidak ada orang! Siapa yang kau ajak
bicara? Jangan-jangan otakmu sudah tak waras...."
"Aku tidak gila!" bentak Seno tiba-tiba. "Gara-
gara kau, aku jadi seperti ini!"
"Uts! Jangan naik darah dulu! Aku justru ingin
menolongmu!" cetus Setan Bodong.
"Mengembalikan tenaga dalamku?"
"Tentu saja!"
"Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa!"
"Kalau begitu, cepat lakukan!"
"He he he.... Jangan keburu nafsu! Itu tak baik!
Bersabarlah! Semua pasti beres. He he he...."
Seno nyengir kuda lagi.
Tapi, dia percaya bila Setan Bodong benar-
benar akan dapat mengembalikan tenaga dalamnya....
Namun..., benarkah Setan Bodong dapat diper-
caya? Apakah kakek gendut yang banyak akal itu tidak
sedang menjalankan siasat liciknya untuk memper-
dayai sang pendekar?
* * *
EMPAT
SETELAH memulihkan keadaan tubuhnya dan
mengatasi pula luka dalamnya, Setan Selaksa Wajah
bergegas menuju ke Lembah Dewa-Dewi. Dia hendak
menemui seorang tokoh sakti bergelar Bidadari Alam
Kelam. Setan Selaksa Wajah hendak meminta uluran
tangan anggota Komplotan Lembah Dewa-Dewi itu un-
tuk membantu menyelesaikan persoalan yang tengah
dihadapinya.
Lembah Dewa-Dewi adalah sebuah tempat be-
rupa dataran berbatu-batu yang amat tersembunyi.
Terletak di dekat muara sebuah sungai yang berarus
deras. Kecuali anggota Komplotan Lembah Dewa-Dewi,
tak seorang pun tokoh rimba persilatan yang tahu le-
tak tempat itu. Sebab, selain keadaan alamnya yang
tak bersahabat dengan manusia, Lembah Dewa-Dewi
juga dipagari dengan suatu benteng kekuatan gaib
yang sulit ditembus. Benteng kekuatan gaib ciptaan
Bidadari Alam Kelam itu dapat menyesatkan setiap
manusia yang datang, bahkan bisa mendatangkan an-
caman kematian. Oleh karenanya, kaum rimba persila-
tan cuma dapat mendengar keberadaan Lembah Dewa-
Dewi tanpa pernah tahu di mana letak tempat itu se-
benarnya.
"Kalau Bidadari Alam Kelam bersedia menuruti
apa yang kuinginkan, aku yakin semuanya akan berja-
lan dengan baik...," gumam Setan Selaksa Wajah.
"Mudah-mudahan perempuan itu masih menyimpan
rasa hatinya terhadapku, sehingga aku dapat meman-
faatkan ilmu kepandaiannya...."
Sambil berkata-kata dengan dirinya sendiri, Se-
tan Selaksa Wajah menggerak-gerakkan tongkat bambu ke dalam air sungai untuk menjaga keseimbangan
rakit yang menopang tubuhnya. Kakek yang telah me-
rubah raut wajahnya menjadi seorang pemuda tampan
itu mengarahkan pandangan lurus ke depan. Namun,
tak jarang dia mengedarkan pandangan ke kanan-kiri
sungai.
Di pinggir aliran sungai yang menuju ke Lem-
bah Dewa-Dewi itu banyak terdapat bongkah-bongkah
batu besar. Dan, di sela-sela bongkah batu yang ter-
samar sulur-sulur semak belukar itu terdapat ratusan
ular bertubuh kecil pipih berwarna putih berkilat. Se-
bagian di antara mereka tampak berenang mengam-
bang di permukaan air. Walau gerakan mereka terlihat
lemah dan tampak amat jinak, jangan dikira ular-ular
itu tidak berbahaya. Siapa pun yang terpatuk atau ter-
pagut jangan harap masih dapat melihat mentari esok
hari. Patukan atau pagutan ular-ular itu mengandung
bisa yang amat mematikan. Semua korbannya, baik
manusia maupun binatang lain, akan mati seketika
dengan cairan darah mengering dan jantung membe-
ku.
Oleh karena itulah, Setan Selaksa Wajah tam-
pak berhati-hati sekali saat menggerakkan tongkat
bambunya. Selain untuk mengatur keseimbangan dan
arah laju rakit, tongkat bambu kakek berpakaian me-
rah-merah itu juga digunakan untuk mengusir ular-
ular putih yang mencoba mendekati. Namun, sering
kali Setan Selaksa Wajah memukul hancur tubuh ular-
ular itu karena mereka telanjur membelit balok-balok
kayu rakit si kakek.
Semakin mendekati Lembah Dewa-Dewi, arus
sungai semakin deras. Hingga, Setan Selaksa Wajah
tak perlu lagi mendorong rakitnya dengan tongkat
bambu. Tongkat bambu si kakek cuma digunakan untuk mengatur arah laju rakit agar tidak membentur
bongkah batu besar ataupun tersangkut sulur-sulur
semak belukar.
Namun sesaat kemudian, air muka Setan Se-
laksa Wajah terlihat menegang. Arus sungai mendadak
berubah amat deras luar biasa. Akibatnya, rakit yang
ditumpangi Setan Selaksa Wajah melesat cepat, bagai
lesatan anak panah yang lepas dari busur!
Walau telah berkali-kali menempuh perjalanan
sulit seperti itu, tapi kali ini Setan Selaksa Wajah me-
rasa khawatir juga. Dia tak dapat mengendalikan laju
rakitnya lagi. Hingga di lain kejap, rakit si kakek mem-
bentur bongkah batu besar yang menyembul di tengah
aliran sungai!
Brakkk..,!
"Haram jadah!"
Sambil mengumpat gusar, Setan Selaksa Wajah
melentingkan tubuhnya ke atas. Saat masih melayang
di udara, kakek berwajah pemuda dua puluh lima ta-
hunan itu dapat melihat rakitnya yang telah pecah be-
rantakan. Tapi, sebagai seorang tokoh tua yang sudah
matang pengalaman, dia tak menjadi panik atau gu-
gup. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh
'Angin Pergi Tiada Berbekas', dia bersalto di udara tiga
kali. Lalu, dia mendaratkan sepasang kakinya di salah
satu balok kayu pecahan rakit.
"Hihhh...!"
Byarrr...
Setan Selaksa Wajah mengalirkan beberapa ba-
gian kekuatan tenaga dalam ke tangan kanannya. Dia
tancapkan tongkat bambunya ke dasar sungai untuk
menghentikan luncuran balok kayu yang ditumpan-
ginya. Tapi..., tongkat bambu sepanjang tiga depa itu
langsung melengkung karena membentur bongkah batu yang terdapat di dalam air sungai!
Mendengus gusar Setan Selaksa Wajah.
Sambil menjaga keseimbangan tubuh, sekali
lagi kakek berpakaian merah-merah itu menancapkan
tongkat bambunya ke dasar sungai. Kali ini usaha si
kakek berhasil. Tongkat bambu menancap ke tanah di
dasar sungai. Laju balok kayu yang menopang tubuh
Setan Selaksa Wajah langsung terhenti.
Namun..., karena arus sungai teramat deras,
tongkat bambu yang menahan luncuran balok kayu
penopang tubuh Setan Selaksa Wajah tampak meleng-
kung, lalu patah menjadi dua. Akibatnya, balok kayu
pecahan rakit meluncur lagi, mengikuti arus sungai.
Tubuh Setan Selaksa Wajah yang berdiri di atasnya
kontan terhuyung-huyung hendak jatuh tercebur ke
dalam sungai.
"Setan alas!"
Kata-kata kotor segera menyembur dari mulut
Setan Selaksa Wajah. Dengan mengeluarkan seluruh
daya kemampuannya, dia berusaha menjaga keseim-
bangan tubuhnya agar tidak jatuh dari balok kayu.
Dan ternyata, murid murtad Dewa Dungu itu memiliki
keseimbangan tubuh yang cukup hebat. Dia dapat
berdiri tegak walau balok kayu yang ditumpanginya
meluncur amat cepat mengikuti arus sungai yang de-
ras luar biasa
Sebentar kemudian satu pemandangan aneh
terlihat. Luncuran balok kayu yang ditumpangi Setan
Selaksa Wajah berhenti tiba-tiba. Padahal, air sungai
terus mengalir deras. Agaknya, balok kayu pecahan
rakit itu tertahan oleh benteng kekuatan yang tak ka-
sat mata!
Setan Selaksa Wajah yang masih berdiri tegak
di atas balok kayu pecahan rakit tidak terkejut atau
pun menjadi panik. Justru dia merasa girang. Kakek
bertubuh kekar itu tahu kalau dirinya telah berada di
dekat Lembah Dewa-Dewi yang menjadi tujuan keda-
tangannya.
Sejenak, lelaki yang rambutnya diikat dengan
kain merah itu mengarahkan pandangan ke depan. Di
sisi kanan aliran sungai terlihat kabut tebal yang ber-
gerak membubung tiada henti. Aneh! Matahari telah
naik tinggi, tapi kenapa di tempat itu masih terdapat
kabut tebal?
Namun, Setan Selaksa Wajah merasa tak meli-
hat keanehan apa-apa. Dia tahu kalau kabut yang di-
lihatnya adalah kabut gaib ciptaan Bidadari Alam Ke-
lam yang berguna untuk menutupi Lembah Dewa-Dewi
agar tidak mudah dimasuki orang luar.
Andai ada orang berhasil menembus benteng
gaib buatan Bidadari Alam Kelam yang melintang di
aliran sungai, orang itu tetap akan menemui kesulitan
untuk dapat memasuki Lembah Dewa-Dewi. Kabut
yang menutupi tempat itu bukan saja membuat pan-
dangan jadi terhalang hingga menyesatkan langkah,
tapi juga mengandung suatu hawa aneh yang bila ter-
hirup terus-menerus akan membuat saluran napas ja-
di buntu. Dan, kalau saluran napas seseorang sudah
buntu, tentu saja kematianlah akibatnya.
"Manisku, Bidadari Alam Kelam...!" seru Setan
Selaksa Wajah, keras menggelegar, "Bukalah 'Gerbang
Kelam'-mu, Manisku! Ini aku yang datang..., Setan Se-
laksa Wajah!"
Teriakan kakek berwajah pemuda itu memba-
hana beberapa lama, mengalahkan suara gemuruh
arus sungai yang deras. Tapi, balok kayu yang meno-
pang tubuh si kakek tetap tertahan oleh benteng ke-
kuatan gaib yang melintang di aliran sungai. Bidadari
Alam Kelam pun tak menampakkan diri.
Setan Selaksa Wajah yang pada dasarnya
punya sifat tak sabaran dan lekas naik darah, mengge-
rendeng penuh rasa gusar. Sekali lagi, dia berteriak le-
bih keras....
"Aku yang datang, Manisku Bidadari Alam Ke-
lam...! Cepat buka 'Gerbang Kelam'-mu...!"
Mencoba bersabar Setan Selaksa Wajah bebe-
rapa saat. Namun, yang menyambutnya cuma rasa ke-
cewa belaka. Benteng gaib ciptaan Bidadari Alam Ke-
lam tetap tak terbuka. Juga, tak ada sosok manusia
lain yang muncul. Hanya gemuruh arus sungai yang
menyahuti teriakan Setan Selaksa Wajah.
"Hmmm.... Tak dapat aku menunggu terlalu
lama," dengus si kakek, "Lebih baik benteng kekuatan
gaib ini kuhancurkan saja!"
Mengikuti pikiran di benaknya, Setan Selaksa
Wajah mengalirkan kekuatan tenaga dalam ke tangan
kanannya. Di lain kejap, pergelangan tangan kanan
kakek berpakaian merah-merah itu berubah warna
menjadi biru berkeredapan. Agaknya, Setan Selaksa
Wajah hendak menghancurkan benteng kekuatan gaib
Bidadari Alam Kelam dengan pukulan 'Pelebur Sukma'!
"Hiahhh...!"
Blarrr...!
Sambil menggembor keras, Setan Selaksa Wa-
jah menghentakkan telapak tangan kanannya ke de-
pan. Selarik sinar biru yang menebarkan hawa panas
luar biasa langsung melesat tanpa dapat dibendung la-
gi.
Namun..., sinar biru yang keluar dari telapak
tangan Setan Selaksa Wajah itu tak dapat menjebol
benteng kekuatan gaib Bidadari Alam Kelam. Pukulan
'Pelebur Sukma' hanya mampu menciptakan lidah
lidah api biru yang menebar ke berbagai penjuru. Li-
dah-lidah api itu berpentalan setelah membentur ben-
teng tak kasat mata yang melintang di aliran sungai.
"Haram jadah! Setan alas!"
Mengumpat-umpat Setan Selaksa Wajah. Ter-
paksa kakek berwajah pemuda itu menggerakkan ba-
lok kayu yang ditumpanginya ke sana-sini untuk
menghindari hujan lidah api. Setan Selaksa Wajah
mesti mengerahkan tenaga dalamnya lagi. Karena, un-
tuk dapat menggerakkan balok kayu yang ditumpan-
ginya, dia harus melawan arus sungai yang teramat
deras.
Geram kemarahan murid murtad Dewa Dungu
itu terus terdengar. Kembali dia alirkan kekuatan te-
naga dalam ke tangan kanannya. Hendak dia kelua-
rkan pukulan 'Pelebur Sukma' tingkat tertinggi.
Namun sebelum Setan Selaksa Wajah melaksa-
nakan niatnya, tiba-tiba terdengar suara seorang wani-
ta....
"Dari dulu, kau tetap saja tak berubah, Mahisa
Lodra.... Tak dapatkah kau bersabar sebentar saja?"
Mendengar suara itu, mata Setan Selaksa Wa-
jah kontan berbinar. Dia tarik lagi kekuatan tenaga da-
lam yang telah dialirkan ke tangan kanannya.
"Manisku, Bidadari Alam Kelam...," sebut si Ka-
kek. "Siapa yang bisa bersabar bila harus menunggu di
tempat menggiriskan seperti ini? Cepatlah kau buka
'Benteng Kelam'-mu ini! Ada sesuatu yang harus kubi-
carakan denganmu!"
"Tunggulah sebentar! Aku sedang melakukan
sesuatu yang tak bisa ku tinggalkan...," sahut suara
wanita yang berasal dari tempat berkabut tebal di se-
belah kanan depan aliran sungai.
Menggerendeng marah Setan Selaksa Wajah.
Karena tak mau menunggu, kakek keras kepala
itu mempersiapkan kembali pukulan 'Pelebur Sukma'-
nya. Dalam sekejap mata, pergelangan tangan kanan si
kakek berubah warna lagi menjadi biru berkeredapan.
"Dasar keras kepala!"
Suara wanita yang muncul dari balik kabut ter-
dengar membentak. Sebelum Setan Selaksa Wajah me-
lepaskan pukulan 'Pelebur Sukma' untuk kedua ka-
linya, mendadak balok kayu yang menopang tubuh si
kakek terseret arus ke depan. Itu berarti benteng gaib
ciptaan Bidadari Alam Kelam telah terbuka.
Tapi..., Setan Selaksa Wajah malah terhantam
keterkejutan seraya memekik parau. Tubuh si kakek
tiba-tiba terangkat lepas dari balok kayu yang ditum-
panginya!
Tubuh murid Dewa Dungu itu tersedot masuk
ke balik gumpalan kabut! Untuk beberapa lama, jerit
ngeri Setan Selaksa Wajah membahana panjang....
Lembah Dewa-Dewi….
Di sisi kanan altar pemujaan, berdiri kokoh se-
buah patung manusia berkepala kerbau. Patung yang
terbuat dari batu pualam itu besarnya dua kali lipat
tubuh manusia dewasa. Namun, karena dipahat dalam
keadaan duduk bersila, tingginya jadi terlihat cuma
sekitar enam kaki.
Suasana ruang pemujaan yang hening terpecah
manakala terdengar suara orang merapal mantera-
mantera. Si perapal mantera itu adalah seorang wanita
cantik bertubuh sintal montok. Mengenakan pakaian
kuning-merah yang dipenuhi pernik-pernik gemerlap.
Rambutnya yang hitam panjang digelung ke atas den-
gan hiasan tiga tusuk konde emas bermata intan. Sepuluh jari tangannya yang lentik tampak memegang
sebuah gelas emas berukir.
Wanita itulah yang disebut sebagai Bidadari
Alam Kelam!
Sementara Bidadari Alam Kelam merapal man-
tera-mantera, belasan lelaki-perempuan yang berdiri di
belakang wanita itu terlihat tengah menyanyikan lagu
pujaan. Namun, lagu pujaan yang dinyanyikan orang-
orang berjubah dan berkerudung hitam itu tak karuan
kalimatnya, seperti orang menggumam yang tak jelas
apa maksudnya. Nada lagunya pun naik-turun tak
menentu. Hanya anehnya, walau tak enak didengar,
tapi suara belasan orang itu bisa serempak bersa-
maan.
Di bagian lain, tetap di ruang pemujaan, Setan
Selaksa Wajah tampak berdiri di sudut ruangan. Si
kakek Cuma menatap apa yang tengah dilakukan Bi-
dadari Alam Kelam dan para pengikutnya, tanpa ber-
buat apa-apa. Tapi, dilihat dari sorot matanya, jelas bi-
la Setan Selaksa Wajah sudah tak sabaran lagi untuk
segera menyampaikan apa yang ada di benaknya ke-
pada Bidadari Alam Kelam.
Bagaimana Setan Selaksa Wajah bisa berada di
tempat itu?
Beberapa saat tadi, ketika benteng gaib yang
melintang di aliran sungai dibuka oleh Bidadari Alam
Kelam, Setan Selaksa Wajah tak dapat menahan tu-
buhnya yang tersedot sebuah kekuatan tak kasat mata
yang muncul dari balik kabut. Kekuatan gaib yang ter-
cipta dari ilmu ‘Penarik Raga’ Bidadari Alam Kelam itu
membawa tubuh Setan Selaksa Wajah masuk ke ruang
pemujaan di sebuah Istana yang terletak di Lembah
Dewa-Dewi. Namun, karena Bidadari Alam Kelam tak
mau menunda-nunda lagi upacara persembahannya,
wanita itu membiarkan Setan Selaksa Wajah berdiri
terlongong bengong di sudut ruangan.
Dan tampaknya, Setan Selaksa Wajah pun tak
mau mengganggu Bidadari Alam Kelam walau kesaba-
rannya sudah hampir habis. Sebagai sesama anggota
Komplotan Lembah Dewa-Dewi, Setan Selaksa Wajah
tahu benar sifat dan tabiat Bidadari Alam Kelam. Apa-
bila wanita cantik itu tengah melakukan upacara per-
sembahan, dia tak mau diganggu oleh siapa pun. Ka-
lau diganggu, dia bisa berubah ganas dan bisa mem-
bunuh siapa saja yang berada di dekatnya.
Sesaat kemudian, Bidadari Alam Kelam berhen-
ti merapal mantra. Belasan orang berjubah dan berke-
rudung hitam yang berdiri di belakang wanita cantik
itu turut menghentikan nyanyian mereka. Sementara,
Setan Selaksa Wajah mendesah terus. Dengan tatapan
matanya yang tajam menusuk, kakek berwajah pemu-
da itu seakan menyuruh Bidadari Alam Kelam untuk
menyelesaikan upacara persembahannya.
“Wahai kau Dewa Langit, penguasa alam kege-
lapan…, sampailah saatnya aku memberikan kepada-
mu sebuah persembahan berupa darah bayi yang baru
lahir…,” ucap Bidadari Alam Kelam seraya mengangkat
gelas di tangannya tinggi-tinggi.
Suara wanita bertubuh amat menggiurkan itu
terdengar penuh getaran, dan seakan dapat membawa
orang ke suatu tempat di alam sihir. Belasan orang
berjubah dan berkerudung hitam terdengar menyanyi-
kan lagu pujaan lagi. Tapi, kali ini terdengar lebih pe-
lan dan hampir tidak terdengar.
“Setelah ku persembahkan apa yang kau minta,
dapatkah nanti kau tetap menjadikan aku sebagai wa-
kil jagat gelap di dunia, wahai kau Dewa Langit…!”
ucap Bidadari Alam Kelam lagi.
Usai berkata, wanita berkulit kuning langsat itu
mendekatkan gelas yang tercekal sepuluh jari tangan-
nya ke kepala patung yang disebut sebagai Dewa Lan-
git.
Terdengar suara mendesis seperti bara api ter-
siram air saat cairan darah segar yang berada di dalam
gelas ditumpahkan ke kepala Dewa Langit. Aneh! Cai-
ran darah segar itu langsung mengering! Lalu…, tubuh
Dewa Langit yang hanya berupa batu pualam tampak
bergetar!
“Ha ha ha…!” Bidadari Alam Kelam tertawa ber-
gelak. “Rupanya kau sangat menyukai persembahan
ku ini, wahai kau Dewa Langit…. Di antara kita me-
mang harus terjalin satu hubungan timbal balik. Aku
menjadikan mu sebagai raja Junjungan ku di mana
aku akan selalu menuruti permintaanmu. Dan seba-
liknya, kau harus terus menambah kekuatanku agar
aku dapat menjadi wakil jagat gelap yang perkasa di
dunia ini! Ha ha ha…!”
Sambil tertawa bergelak-gelak, Bidadari Alam
Kelam mengangkat telapak tangan kanannya. Belasan
orang berjubah dan berkerudung hitam langsung me-
langkah keluar dari ruang pemujaan.
“Ada urusan apa kau datang kemari?” tanya
Bidadari Alam Kelam kepada Setan Selaksa Wajah,
tanpa membalikkan badan.
“Tentu saja ada urusan penting,” jawab Setan
Selaksa Wajah.
“Urusan apa?”
“Kita bicara di tempat lain saja.”
Bidadari Alam Kelam diam beberapa lama. La-
lu, tanpa menatap sosok Setan Selaksa Wajah yang
berdiri di sisi kirinya, dia membalikkan badan seraya
melangkah keluar. Sementara, Setan Selaksa Wajah
langsung mengekor langkah wanita berpakaian gemer-
lapan itu.
“Aku butuh bantuanmu, Manisku Bidadari
Alam Kelam…,” ujar Setan Selaksa Wajah sesampai di
ruangan lain.
Kakek yang telah merubah raut wajahnya men-
jadi seorang pemuda tampan itu duduk berhadapan
meja dengan Bidadari Alam Kelam. Ruangan yang me-
reka tempati tampak remang-remang karena terletak di
bagian dalam istana. Dua buah lampu yang menggan-
tung di atap ruangan sengaja tak dinyalakan.
“Aku butuh bantuanmu, Manisku…,” ulang Se-
tan Selaksa Wajah.
Bidadari Alam Kelam tetap tak menyahuti.
Wanita berparas cantik menawan itu Cuma di-
am menatap wajah tampan Setan Selaksa Wajah. Ten-
tu saja Setan Selaksa Wajah jadi tak enak hati karena
tatapan Bidadari Alam Kelam tampak menyelidik.
“Kenapa kau menatap ku seperti ini?” tegur si
kakek kemudian. Suaranya terdengar datar tanpa te-
kanan. Rupanya, murid murtad Dewa Dungu ini takut
menyinggung perasaan Bidadari Alam Kelam.
“Hmmm…. Setelah lama tak berjumpa, tam-
paknya kau sengaja ingin pamer kepandaian di hada-
panku, Mahisa Lodra…,” ujar Bidadari Alam Kelam.
“Tidak!” sahut Setan Selaksa Wajah, cepat. “Un-
tuk apa aku pamer kepandaian di hadapanmu? Mak-
sud kedatanganku ini Cuma satu, yaitu meminta ban-
tuanmu,”
Tersenyum tipis Bidadari Alam Kelam. “Kau da-
tang tidak seperti dulu lagi,” katanya. “Raut wajahmu
kali ini amat tampan…. Agaknya, ilmu ‘Selaksa Wajah
Berganti-ganti’ yang kau miliki telah dapat kau sempurnakan.”
“Terima kasih atas pujian mu. Kulihat raut wa-
jahmu pun bertambah cantik. Bentuk tubuhmu juga
bertambah menggiurkan. Hmmm…. Aku tahu umurmu
tak berbeda jauh denganku. Hebat sekali ilmu ‘Meng-
ganti Kulit Sempurnakan Bentuk’ yang kau miliki, Ma-
nisku…. Tapi, kedatanganku ini bukan untuk membi-
carakan perihal ilmu semacam itu. Aku benar-benar
membutuhkan bantuanmu, Manisku Bidadari Alam
Kelam….”
“Hmmm…. Sedari tadi kau menyebut gelarku
dengan sangat mesra. Apakah bantuan yang kau bu-
tuhkan itu berhubungan dengan tubuhku atau ilmu
kepandaianku?”
Bidadari Alam Kelam tersenyum manis. Na-
mun, tatapan matanya tetap tajam menyelidik. Setan
Selaksa Wajah yang sempat terpesona oleh senyuman
wanita cantik itu cepat mengusir debar-debar di ha-
tinya.
“Bertahun-tahun kita menjadi sepasang keka-
sih. Bertahun-tahun pula kita mereguk kebahagiaan
bersama…,” ucap Setan Selaksa Wajah. “Mengingat
hubungan kita yang teramat dekat itu, aku yakin kau
akan bersedia menuruti apa yang kuinginkan. Bua-
tkan aku ‘Benteng Rajah Abadi’….”
Bidadari Alam Kelam geleng-geleng kepala.
“Hmmm…. Tidak mudah membuat rajah pe-
nyekap orang sampai mati itu. Kalau tidak untuk tu-
juan yang amat penting, mana aku mau….”
“Kau harus mau!” sergap Setan Selaksa Wajah.
“Kau hendak memaksa?”
“Tidak! Tapi…, aku harus membunuh dua
orang tokoh yang punya ilmu kesaktian hebat luar bi-
asa. Mereka adalah Pendekar Bodoh dan Setan Bodong!”
“Pendekar Bodoh? Siapa itu?”
“Dia seorang tokoh muda yang baru muncul di
rimba persilatan. Walau masih muda belia, ilmu ke-
saktiannya sudah sangat sulit diukur! Aku pernah di-
pecundanginya!”
“Hmmm…. Begitu? Lalu, kenapa Setan Bodong
harus dibunuh pula? Bukankah guru sang pemimpin
itu telah disekap di Lembah Rongga Laut? Kakek gen-
deng itu sudah tak punya ilmu kesaktian lagi! Apa un-
tungnya dia dibunuh?”
“Pendekar Bodoh telah membawanya keluar da-
ri Lembah Rongga Laut. Bahkan, orang tua ceriwis itu
telah mendapatkan ilmu kesaktiannya lagi!”
“Hmmm…. Begitu? Lalu, apa urusannya den-
ganku?”
“Kau harus membantuku, Manisku. Sang pe-
mimpin memerintahkan aku membunuh mereka. Dan,
aku Cuma diberi waktu tiga hari!”
“Ha ha ha…!” mendadak Bidadari Alam Kelam
tertawa bergelak. “Siapa yang percaya pada bualan
mu, Mahisa Lodra?! Aku tahu kau amat membenci
sang pemimpin! Kenapa kau tiba-tiba berubah amat
penurut seperti ini?”
“Terpaksa! Hanya karena terpaksa! Aku tak
mau mati konyol!” sahut Setan Selaksa Wajah penuh
kesungguhan. “Oleh karena itu, kau harus mau mem-
bantuku, Manisku. Buatkan aku ‘Benteng Rajah Ab-
adi’….”
“Kalau aku menolak?”
“Kau harus mau! Aku mohon!”
“Kalau aku menolak permohonan mu?”
Terdiam Setan Selaksa Wajah.
Murid murtad Dewa Dungu itu jadi bingung
mendengar tolakan Bidadari Alam Kelam. Namun, dia
tak kurang akal. Perlahan dia beringsut dari kursi
yang didudukmya. Lalu….
“Kau cantik sekali, Manisku….”
Sambil berkata demikian, Setan Selaksa Wajah
menerkam tubuh Bidadari Alam Kelam. Langsung di-
lumatnya bibir wanita cantik itu….
Sementara, Bidadari Alam Kelam tampak
menggelinjang merasakan ciuman ganas Setan Selaksa
Wajah. Wanita cantik itu semakin menggelinjang kuat
manakala jemari tangan Setan Selaksa Wajah bermain
nakal di sekitar dadanya.
“Uh! Kau! Apa yang kau lakukan?”
Bidadari Alam Kelam masih mencoba menegur.
Tapi anehnya, wanita cantik itu membiarkan saja je-
mari tangan Setan Selaksa Wajah yang terus bermain
nakal di sekitar dadanya. Bahkan, dia pun tampak
menikmati benar ciuman si kakek.
Hingga di lain kejap, tubuh sintal Bidadari
Alam Kelam telah tergeletak di atas lantai. Sementara,
Setan Selaksa Wajah berusaha menanggalkan pakaian
wanita cantik itu satu persatu….
* * *
LIMA
KALAU memang bisa mengembalikan tenaga
dalamku, kenapa tidak segera kau lakukan?" desak
Pendekar Bodoh. "Malah tampaknya, kau hendak
mengulur-ulur waktu.... Aku percaya kepadamu, Pak
Tua. Tapi, Jangan buat aku penasaran seperti ini...."
"He he he...," tawa kekeh Setan Bodong. "Sabar-
lah! He he he.... Perlu kukatakan dulu kepadamu...,
setelah aku berhasil mengembalikan tenaga dalammu,
kau akan punya dua macam ilmu pukulan dahsyat!
Yang satu bersifat dingin, dan yang satunya lagi bersi-
fat panas luar biasa!"
"Benarkah itu?" seru Pendekar Bodoh, melonjak
girang.
"He he he.... Aku tak bohong! He he he.... Tapi,
ada syaratnya...."
"Apa?"
Setan Bodong cuma tertawa. Seno nyengir ku-
da.
Pemuda lugu itu tak tahu apa yang ada di be-
nak Setan Bodong. Namun, dia tetap percaya bila Se-
tan Bodong bermaksud baik kepadanya. Hanya saja,
dia menjadi tak sabaran setelah melihat si kakek terus
tertawa beberapa lama.
"Kenapa kau tertawa terus, Pak Tua? Ayolah!
Cepat katakan apa syarat yang kau minta...," desak
Pendekar Bodoh kemudian.
Setan Bodong masih saja tertawa terkekeh-
kekeh. Pusarnya yang berupa gumpalan daging tam-
pak bergerak-gerak tiada henti. Namun, setelah meli-
hat tatapan Pendekar Bodoh yang penuh pengharapan,
akhirnya dia berkata
"Aku tak mau kehilangan ilmu kesaktian untuk
kedua kalinya. Aku tak mau menjadi orang lemah yang
tak bisa apa-apa! Batu mustika 'Menembus Laut Ber-
napas Dalam Air' masih kau bawa?"
"Kau minta batu itu?" sahut Seno, kebodoh-
bodohan. "Untuk apa?"
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Ya! Ya, batu mustika itu masih kubawa!"
"Berikan kepadaku!"
"Untuk apa?"
"He he he...," Setan Bodong tertawa lagi. "Kalau
ada orang mencopot lagi pusar ku, Ilmu kesaktianku
akan hilang selama-lamanya...."
"Begitukah? Tapi..., apa hubungannya batu
mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' dengan
pusar mu?"
"Kecuali senjata pusaka, tak sebilah pun senja-
ta tajam yang dapat memotong pusar ku. Tapi..., kalau
ada orang menempelkan batu mustika 'Menembus
Laut Bernapas Dalam Air' ke tengkuk ku, pusar ku
akan langsung copot! Oleh karena itu, aku harus me-
musnahkan batu mustika itu"
"Begitukah?"
"Ya! Sekarang, berikan batu mustika yang ku-
minta itu!"
Pendekar Bodoh menggaruk-garuk pantatnya
yang terasa gatal. Lalu, dia nyengir kuda beberapa la-
ma. Ditatapnya wajah Setan Bodong lekat-lekat. Men-
dadak, hati pemuda remaja itu jadi ragu. Apakah Se-
tan Bodong tak akan menipunya?
"He he he.... Aku bisa membaca jalan pikiran-
mu, Bocah Bagus...," ujar Setan Bodong sambil tertawa
terkekeh-kekeh. "Jangan khawatir! Aku tak akan me-
nipumu. Serahkan saja batu mustika yang kuingin-
kan, baru nanti kau kubantu mengembalikan tenaga
dalam...."
"Benar kau tak akan menipuku?" tanya Seno
untuk menegaskan.
Setan Bodong tertawa lagi.
Pendekar Bodoh menatap lekat wajah kakek
berkepala gundul licin itu. Karena mudah percaya pa-
da orang lain walau orang itu baru dikenalnya, Pende-
kar Bodoh mengangguk saat melihat Setan Bodong
menadahkan telapak tangan kanan ke arahnya. Tanpa
curiga sama sekali, dia keluarkan batu mustika
'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' yang tersimpan
di balik kain bajunya. Dengan raut wajah yang terlihat
amat lugu, Seno menyerahkan batu mustika berben-
tuk limas segi tiga berwarna biru itu kepada Setan Bo-
dong!
Dan..., begitu menerima batu mustika yang se-
benarnya milik Raja Penyasar Sukma itu, Setan Bo-
dong langsung tertawa bergelak-gelak. Kedua bola ma-
tanya berbinar-binar penuh rasa gembira. Karena ta-
wanya sangat panjang, perutnya yang gendut tampak
bergoyang-goyang beberapa lama. Gumpalan pusarnya
pun bergerak mengibas-ngibas tiada henti.
"Pak Tua! Kau jangan tertawa terus!" tegur
Pendekar Bodoh. "Apa yang kau minta sudah kuberi-
kan. Sekarang, kau harus menepati..."
Kalimat Pendekar Bodoh terpotong oleh suara
gelak tawa Setan Bodong yang tiba-tiba terdengar lebih
keras.
"Ha ha ha...! Akulah orang yang paling berun-
tung di dunia ini! Akulah orang yang paling berbahagia
di dunia ini! Ha ha ha...!"
"Pak Tua!" tegur Pendekar Bodoh lagi, tapi Se-
tan Bodong tak mempedulikannya.
"Ha ha ha...! Batu ini kuhancurkan saja! Ya!
Batu ini kuhancurkan saja! Ha ha ha...!"
Sambil tertawa bergelak-gelak, Setan Bodong
meletakkan batu mustika 'Menembus Laut Bernapas
Dalam Air' ke permukaan bongkah batu yang kebetu-
lan berada di dekatnya. Sementara, Seno cuma mena-
tap apa yang dilakukan kakek itu tanpa berbuat apa-
apa. Beberapa kali dia menggaruk pantatnya yang te-
rasa amat gatal sambil cengar-cengir seperti orang tak
waras.
Sesaat kemudian, mulut Setan Bodong menge-
luarkan suara mendengung seperti suara sekelompok
lebah sedang terbang. Seno tetap cengar-cengir saja
saat melihat seluruh kulit tubuh Setan Bodong beru-
bah warna menjadi merah seperti warna buah tomat
matang. Dan, gumpalan pusar Setan Bodong yang juga
telah berubah warna tiba-tiba berdiri tegak, sehingga
bagian ujungnya menyentuh dada si kakek. Lalu....
Sambil berjongkok, Setan Bodong mengangkat
telapak tangan kanannya tinggi-tinggi di atas kepala.
Di lain kejap, pergelangan tangan kanan si kakek dis-
elubungi lidah-lidah api merah yang panas menyala-
nyala!
Wuttt...!
Blarrr...!
Timbul ledakan keras menggelegar saat Setan
Bodong menghantamkan telapak tangan kanannya ke
batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'.
Batu mustika itu langsung hancur luluh menjadi ser-
buk halus yang tak mungkin dapat disatukan lagi.
Bongkah batu yang dijadikan tumpuan turut hancur
luluh. Pecahannya yang berupa serbuk lebih halus
langsung menebar ke berbagai penjuru.
"Ha ha ha...! Kini, tak akan ada manusia yang
dapat mencopot pusar ku! Ha ha ha...!"
Ketika tertawa, perlahan kulit tubuh Setan Bo-
dong berubah warna menjadi warna aslinya. Lidah-
lidah api yang menyelubungi pergelangan tangan si
kakek juga lenyap perlahan. Gumpalan pusarnya pun
tak lagi berdiri tegak. Gumpalan Paging sebesar buah
terong tua itu menggantung kembali, tapi tetap terus
bergerak-gerak tiada henti.
"Lekaslah, Pak Tua...," desak Pendekar Bodoh
yang melihat Setan Bodong masih saja tertawa panjang.
"Ha ha ha...! Ya! Kini, aku akan menepati janji
ku!" sahut Setan Bodong di antara derai tawanya. "Du-
duklah bersila!"
"Untuk apa?" tanya Pendekar Bodoh, amat lu-
gu.
"Kau mau mendapatkan kembali tenaga da-
lammu atau tidak?!" bentak Setan Bodong.
"Eh! Ya! Ya!"
Walau belum tahu apa maksud perintah Setan
Bodong, Send duduk bersila juga. Sementara, Setan
Bodong langsung melangkah di belakang pemuda lugu
itu.
"Tarik napas dalam-dalam!"
"Ya!"
Saat Pendekar Bodoh menarik napas dalam,
Setan Bodong berjongkok. Tiba-tiba..., kedua pergelan-
gan tangan kakek gendut itu diselubungi sinar merah
yang amat menyilaukan! Lalu....
Buk! Buk! Buk!
"Hk! Uh! Hoekkk...!"
Tiga kali Setan Bodong menghantam punggung
Pendekar Bodoh!
Pada hantaman ketiga, tubuh Pendekar Bodoh
yang tengah duduk bersila tampak melesat ke depan
sejauh dua tombak. Wajah murid Dewa Dungu itu
langsung memucat dengan bola mata melotot besar.
Gumpalan darah berwarna hitam pekat me-
nyembur dari mulutnya!
***
Dengan keringat membanjir, Setan Selaksa Wa-
jah merayap bangkit dari atas tubuh Bidadari Alam Ke
lam. Kakek berwajah pemuda itu langsung membetul-
kan letak bajunya yang kedodoran. Sementara, Bida-
dari Alam Kelam masih terbaring di lantai. Kelopak
matanya tertutup rapat.
Namun, dilihat dari raut wajah dan senyum
yang mengembang di bibirnya, jelas sekali bila wanita
bertubuh sintal montok itu merasa amat puas dan se-
nang.
"Bangunlah! Kita harus bicara lagi, Manisku...,"
pinta Setan Selaksa Wajah, berjongkok di sisi kiri Bi-
dadari Alam Kelam.
Namun, Bidadari Alam Kelam tetap diam tak
bergeming. Kelopak matanya pun tetap tak terbuka.
Setan Selaksa Wajah berjongkok seraya men-
cium kening wanita cantik itu. "Bangunlah, Sayang...,"
bisiknya. "Kau tahu kalau aku dalam kesulitan, bu-
kan?"
Mendengar bisikan itu, Bidadari Alam Kelam
menekuk lutut kanannya ke atas. Dan mendadak...,
dia merengkuh bahu Setan Selaksa Wajah seraya men-
jatuhkan kepala kakek itu di atas dadanya.
"Hmmm..."
"Ahhh...."
Merasakan sentuhan lembut kenyal pada kulit
wajahnya, Setan Selaksa Wajah lupa sejenak pada per-
soalan yang tengah dihadapinya. Aroma harum yang
menebar dari tubuh Bidadari Alam Kelam membuat
aliran darahnya kembali berdesir aneh.
Mengikuti gejolak hasratnya yang tiba-tiba
menggebu lagi, Setan Selaksa Wajah kembali menelu-
suri tubuh wanita cantik itu.
"Semakin tua..., kau semakin perkasa saja,
Mahisa Lodra...," desis Bidadari Alam Kelam di antara
dengus nafasnya yang memburu.
Setan Selaksa Wajah tak menyahuti. Bibirnya
sibuk mengulum dan mencium. Hingga, napas kedua
anak manusia berlainan jenis itu semakin terdengar
memburu.
Namun mendadak, tatkala Bidadari Alam Ke-
lam sampai pada puncak gejolak hasratnya, Setan Se-
laksa Wajah melepas pelukan. Lalu, kakek bertubuh
kekar itu merayap bangkit lagi.
"Kenapa?" tanya Bidadari Alam Kelam, tak
mengerti.
"Aku bisa memenuhi keinginanmu kapan saja
kau mau, tapi...."
Kalimat Setan Selaksa Wajah terpotong. Bida-
dari Alam Kelam menarik tangan kanan si kakek dan
meletakkannya di atas dadanya.
"Ah! Dengar kata-kataku, Sayang...," bisik Se-
tan Selaksa Wajah, menarik tangan kanannya dengan
lembut. "Aku sedang mengemban tugas yang maha be-
rat. Tak seharusnya aku bersenang-senang seperti
ini...."
"Aku akan membantumu..., asal kau tunjukkan
dulu keperkasaan mu sekali lagi...," desak Bidadari
Alam Kelam, mendesis membuka bibir.
Namun, Setan Selaksa Wajah cuma mencium
keningnya. "Kau buatkan aku 'Benteng Rajah Abadi',
Sayang.... Setelah aku menyelesaikan tugas, sampai
seratus kali pun aku mau menuruti apa maumu...."
"Tidak! Aku ingin saat ini juga!"
Tiba-tiba, Bidadari Alam Kelam membentak se-
raya bangkit duduk. Direngkuhnya bahu Setan Selak-
sa Wajah. Dia berusaha menjatuhkan tubuh kakek itu
ke dalam pelukannya. Tapi, tubuh Setan Selaksa Wa-
jah diam tak bergeming, kaku seperti patung batu.
"Sudah kukatakan, jika aku telah menyelesai
kan tugas, sampai seratus kali pun aku mau menuruti
kemauanmu. Akan kubuat kau merintih tiada henti....
Akan kubawa jiwamu terbang melayang ke angkasa
luas tak bertepi.... Tapi, itu nanti, setelah aku menye-
lesaikan tugas...!?"
Bidadari Alam Kelam terdiam. Dia lepaskan ce-
kalan tangannya pada bahu Setan Selaksa Wajah.
"Benarkah itu?" tanya Bidadari Alam Kelam,
sedikit ragu.
"Kapan aku pernah berbohong kepadamu? Se-
telah Pendekar Bodoh dan Setan Bodong ku binasa-
kan, aku akan tinggal di Lembah Dewa-Dewi ini sela-
ma kau inginkan...."
Mendengar kalimat Setan Selaksa Wajah yang
penuh kesungguhan itu, Bidadari Alam Kelam terdiam
lagi. Ditatapnya lekat-lekat wajah si kakek.
"Kau bisa memegang kata-kataku...," janji Se-
tan Selaksa Wajah.
"Hmmm.... Baiklah. Tapi, andai kau berbohong,
kau akan tahu sendiri akibatnya!" sambut Bidadari
Alam Kelam seraya mengancam.
Bersorak girang Setan Selaksa Wajah dalam ha-
ti saat melihat Bidadari Alam Kelam membetulkan le-
tak bajunya.
Setelah pakaian Bidadari Alam Kelam terlihat
rapi kembali, wanita cantik itu berdiri mematung. Usai
berpikir-pikir, Bidadari Alam Kelam berjalan menuju
ke ruang pemujaan.
Tanpa berkata apa-apa, Setan Selaksa Wajah
mengekor langkah wanita bertubuh sintal montok itu.
Setan Selaksa Wajah berjalan dengan mulut terkunci
rapat bagai kerbau dicocok hidungnya.
Sesampai di ruang pemujaan, Bidadari Alam
Kelam mengambil bendera-bendera kecil dari dalam
peti besi yang terletak di sudut ruangan. Lebar bende-
ra yang terbuat dari kain kuning itu tak lebih besar da-
ri telapak tangan. Bidadari Alam Kelam menghitung-
nya sampai jumlah tiga puluh.
Tanpa berkata apa-apa pula, Bidadari Alam Ke-
lam menata ketiga puluh bendera kain yang melekat di
sebatang lidi bambu itu ke atas altar. Setan Selaksa
Wajah menatap sambil tersenyum senang saat melihat
Bidadari Alam Kelam membuat tulisan rajah di permu-
kaan kain bendera.
Sesaat kemudian, setelah kain-kain bendera se-
lesai ditulisi rajah semua, Bidadari Alam Kelam mun-
dur dua langkah. Ditatapnya patung Dewa Langit be-
berapa lama, lalu dia berkata....
"Wahai kau Dewa Langit..., penguasa alam ke-
gelapan, bantu aku membuat 'Benteng Rajah Abadi'.
Aku percaya..., dengan kekuatan hitam yang kau mili-
ki, 'Benteng Rajah Abadi' yang kubuat akan mempu-
nyai kekuatan dahsyat..., yang amat sulit ditembus!
Ya! Aku percaya!"
Di ujung kalimat Bidadari Alam Kelam, menda-
dak Dewa Langit yang hanya berupa patung batu ber-
wujud manusia berkepala kerbau tampak bergetar tu-
buhnya!
Bidadari Alam Kelam melangkah dua tindak ke
depan seraya meraup tiga puluh bendera kuning yang
terletak di atas altar. Lalu, wanita cantik bertubuh sin-
tal montok itu melangkah menghampiri Dewa Langit.
Tiga puluh bendera yang tercekal di kedua tangannya,
dia dekatkan ke hadapan patung batu pualam itu.
Lama sekali Bidadari Alam Kelam merapal man-
tera-mantera. Setan Selaksa Wajah yang berdiri di de-
kat pintu menjadi tak sabaran. Berkali-kali kakek ber-
wajah pemuda itu mendesah dan mengepal tinju.
Tapi..., bibir Setan Selaksa Wajah langsung ter-
senyum senang manakala melihat patung Dewa Langit
bergetar lagi. Lalu....
Cusss...!
Srattt...!
Dari kedua mata Dewa Langit melesat seberkas
cahaya merah terang. Menerpa tiga puluh bendera
yang tercekal erat di kedua tangan Bidadari Alam Ke-
lam. Aneh! Tulisan rajah pada kain bendera yang se-
mula berwarna hitam, karena memang ditulis dengan
tinta hitam, tiba-tiba berubah menjadi merah darah!
"Terima kasih! Terima kasih, wahai kau Dewa
Langit...," ujar Bidadari Alam Kelam sambil membung-
kuk hormat. "Kau telah menyalurkan kekuatan hi-
tammu ke 'Benteng Rajah Abadi' yang kubuat. Aku
percaya! Aku percaya bila tiga puluh bendera ini akan
membuat kekuatan dahsyat yang amat sulit ditembus!"
"Sudah selesai, Manisku Bidadari Alam Kelam?"
tanya Setan Selaksa Wajah, melangkah menghampiri.
Bidadari Alam Kelam tak menjawab. Dia me-
langkah keluar, kembali ke ruang remang-remang yang
terletak di sisi kanan ruang pemujaan. Setan Selaksa
Wajah mengekor lagi.
Sesaat kemudian, kedua bola mata Setan Se-
laksa Wajah tampak berbinar-binar. Kakek bertubuh
kekar itu menatap Bidadari Alam Kelam yang tengah
membungkus tiga puluh bendera kuning dengan kain
lebar berwarna hitam. Bungkusan bendera-bendera
yang disebut sebagai 'Benteng Rajah Abadi' itu lalu di-
letakkan di atas meja.
"Telah ku turuti apa yang menjadi permin-
taanmu. Ingat janjimu!" seru Bidadari Alam Kelam.
"Satu lagi!" sahut Setan Selaksa Wajah seraya
berjalan mendekati. "Aku tak tahu di mana Pendekar
Bodoh dan Setan Bodong sekarang ini. Dengan
'Mustika Terawang'-mu kau pasti bisa menunjukkan di
mana mereka berada...."
"Cari sendiri!" bentak Bidadari Alam Kelam ti-
ba-tiba.
Namun, walau wajah cantik wanita itu berubah
ketus dengan sorot mata tajam menusuk, tapi dia ter-
senyum dalam hati. Dia sedang menjalankan akal bu-
lusnya untuk dapat membuat Setan Selaksa Wajah ja-
tuh ke dalam pelukannya lagi.
"Ah! Kenapa kau marah, Manisku...," sahut Se-
tan Selaksa Wajah. "Aku cuma waktu tiga hari. Kalau
harus mencari-cari, pasti akan banyak membuang
waktu. Apakah kau tidak ingin aku segera kembali ke
tempat ini? Apakah kau tidak ingin.... Hmmm...."
Setan Selaksa Wajah memeluk erat tubuh Bi-
dadari Alam Kelam. Dilumatnya bibir wanita cantik itu
beberapa lama. Namun, cepat dia melepas ciumannya
saat Bidadari Alam Kelam balas memeluk dan men-
cium.
"Kenapa?" tanya Bidadari Alam Kelam, kecewa.
"Cukuplah! Kalau aku sudah dapat menjalan-
kan tugas, aku tak akan pernah mengecewakan mu,"
ujar Setan Selaksa Wajah. "Tunjukkan aku di mana
Pendekar Bodoh dan Setan Bodong berada...."
Bidadari Alam Kelam menarik napas panjang,
berusaha mengusir rasa kecewanya. Setelah menatap
lekat wajah Setan Selaksa Wajah, dia melangkah men-
dekati lemari berukir. Dari dalam lemari yang bersan-
dar di dinding ruangan itu, dia mengeluarkan sebuah
bola kristal berwarna putih bening, dan langsung dile-
takkan di atas meja.
"Nah! Begitu! Kau memang seorang kekasih
yang amat baik, Manisku...," ujar Setan Selaksa Wajah
dengan senyum senang mengembang di bibir. Bidadari
Alam Kelam tak menyahuti. Wanita cantik itu mengu-
sap-usap bola kristalnya yang disebut sebagai 'Mustika
Terawang'. Setelah merapal mantera-mantera, dia ber-
kata....
"Pendekar Bodoh.... Apakah dia seorang pemu-
da remaja bertubuh tinggi tegap, mengenakan pakaian
biru-biru dengan ikat pinggang kain merah?"
"Ya! Tepat sekali! Di ikat pinggangnya terselip
sebatang tongkat pendek berwarna putih!" sahut Setan
Selaksa Wajah.
"Hmmm.... Ya! Dia berada di pinggir Hutan Sa-
radan!"
"Lalu, Setan Bodong?"
"Juga berada di sana! Entah apa yang dilaku-
kan kedua orang itu...," ujar Bidadari Alam Kelam, te-
rus menatap bola kristalnya. "Tapi tampaknya..., Pen-
dekar Bodoh baru saja memuntahkan gumpalan darah
mati..."
"Aku harus ke sana sekarang!" sahut Setan Se-
laksa Wajah seraya menyambar bungkusan bendera
yang terletak di dekat bola kristal.
"Hei! Tunggu!" cegah Bidadari Alam Kelam.
"Aku harus segera pergi...!"
"Tidak!"
"Ah! Kau jangan begitu, Manisku..."
Bibir Bidadari Alam Kelam tersenyum aneh.
Tiba-tiba, wanita bertubuh sintal montok itu
menerkam Setan Selaksa Wajah. Karena tak menyang-
ka, Setan Selaksa Wajah tak dapat mengelak.
Tampak kemudian, tubuh Setan Selaksa Wajah
terhuyung-huyung, lalu jatuh telentang di atas lantai.
Dan... Bidadari Alam Kelam yang tak dapat memen-
dam gejolak hasratnya langsung menggumuli tubuh
kekar kakek berwajah pemuda tampan itu.
Setan Selaksa Wajah jadi sulit bernapas saat
Bidadari Alam Kelam melumat bibirnya penuh nafsu.
Namun, dia tak berani berlaku kasar. Dia tahu benar
ilmu kesaktian Bidadari Alam Kelam yang tak bisa di-
anggap remeh. Kalau wanita cantik itu marah, justru
Setan Selaksa Wajah akan mendapat kesulitan besar.
"Uh! Hep! Aku harus pergi, Sayang...," ujar Se-
tan Selaksa Wajah saat ciuman Bidadari Alam Kelam
mengendor.
"Kau boleh pergi! Tapi..., aku ingin merasa-
kan... hmmm... sekali lagi. Ayolah!"
Tak dapat menolak Setan Selaksa Wajah ketika
Bidadari Alam Kelam menanggalkan bajunya. Semen-
tara, melihat wajah cantik dan tubuh sintal Bidadari
Alam Kelam, hasrat kelelakian si kakek pun bangkit
kembali.
Dan..., bergumullah mereka di atas lantai yang
dingin. Mereka saling peluk, saling cium..., berusaha
terbang ke puncak kenikmatan....
"Kau... kau harus berjanji, Sayang...," bisik Se-
tan Selaksa Wajah di antara dengue nafasnya yang
memburu. "Dengan ilmu gaib 'Tabir Pengirim Raga',
kau harus membawaku pergi ke hadapan Pendekar
Bodoh dan Setan Bodong!"
"Ya! Ya!" sahut Bidadari Alam Kelam tanpa pikir
panjang.
Kedua anak manusia berlainan jenis itu berge-
lut lagi.
Mengikuti desakan nafsu birahi....
* * *
ENAM
HUK! Huk! Ap... apa yang kau lakukan padaku
Pak Tua...?!" tegur Pendekar Bodoh dengan muka pu-
cat.
Pemuda itu hendak bangkit, tapi dia jatuh ter-
duduk lagi. Tubuhnya malah terasa amat lemas. Sete-
lah batuk-batuk beberapa lama, kembali gumpalan da-
rah hitam pekat menyembur dari mulutnya!
"Huk! Hoekkk...! Ap... apa kau hendak membu-
nuhku, Pak Tua?!"
Pendekar Bodoh menegur lagi. Tubuhnya tam-
pak terbungkuk-bungkuk karena menahan batuk. Se-
mentara, Setan Bodong yang baru saja menghantam
punggung murid Dewa Dungu itu tampak tertawa ter-
kekeh-kekeh.
"He he he.... Tunggulah beberapa saat! Kau
akan segera...."
"Sampai ke neraka!"
Tiba-tiba, terdengar suara keras membentak
yang menyahuti ucapan Setan Bodong. Ternyata, dari
balik jajaran pohon jati telah muncul dua orang kakek
yang sama-sama mengenakan pakaian kuning-hitam.
Namun, yang seorang bertubuh kurus tinggi, dan yang
satunya lagi bertubuh gemuk bulat. Wajah mereka
tampak garang dengan sorot mata yang menyiratkan
kekejaman.
Mereka adalah Dua Iblis Dari Gunung Batur.
Yang kurus terkenal dengan julukan Iblis Perenggut
Roh, dan yang gemuk biasa disebut Iblis Pencabut Ji-
wa!
Si Pendekar Bodoh Seno Prasetyo membelalak-
kan mata penuh rasa heran. Bagaimana mungkin Dua
Iblis Dari Gunung Batur berani muncul di hadapan-
nya? Tempo hari, bukankah dua kakek jahat itu telah
dihajarnya sampai kapok? Bahkan, dua tulang Iga Iblis
Perenggut Roh telah dibuat patah! (Tentang peristiwa
ini, baca serial Pendekar Bodoh dalam episode : "Setan
Selaksa Wajah").
"Ha ha ha...!" tertawa bergelak si kurus Iblis Pe-
renggut Roh. "Bocah geblek! Melihat matamu yang ter-
belalak lebar itu, aku bisa menduga apa yang ada di
hatimu! Kau tentu heran melihat aku segar bugar se-
perti ini. Aku adalah anggota Komplotan Lembah De-
wa-Dewi. Dan, tentu saja Raja Penyasar Sukma tak
mau membiarkan anak buahnya menderita luka. Den-
gan ilmu kesaktian sang pemimpinku itu, dua tulang
igaku yang kau patahkan tempo hari telah dapat dipu-
lihkannya! Ha ha ha...!"
"Lalu... lalu apa maksud kedatanganmu ini?"
tanya Seno, tergagap. Pemuda lugu ini tentu saja me-
rasa khawatir mengingat keadaan tubuhnya yang tak
memungkinkan untuk dibuat bertempur.
"Hmmm.... Selain mematahkan tulang iga adik
seperguruanku, tempo hari kau juga menyiksaku den-
gan ilmu totokanmu! Hmmm.... Maksud kedatangan
kami ini tak lain hanya untuk mencabut nyawamu!"
sahut si gemuk Iblis Pencabut Jiwa.
"Dan... ha ha ha...!" Iblis Perenggut Roh tertawa
bergelak lagi. "Aku tahu kau baru muntah darah! Aku
tahu ada sesuatu yang tak beres di dalam tubuhmu!
Hmmm.... Agaknya, riwayatmu hanya cukup sampai di
sini!"
Semakin memucat wajah Seno saat melihat
Dua Iblis Dari Gunung Batur melangkah bersamaan
mendekatinya. Seno menoleh ke belakang. Ditatapnya
Setan Bodong dengan seribu tanda tanya dan seribu
pengharapan. Tapi..., Setan Bodong cuma tertawa ter-
kekeh-kekeh. Si kakek sama sekali tak bergeming dari
tempatnya berdiri walau melihat jiwa Seno dalam ba-
haya!
"Jahanam kau, Pak Tua!" geram Seno pada Se-
tan Bodong. "Rupanya, kau Iblis culas yang sengaja
hendak mencelakakan aku!"
"He he he...," tawa kekeh Setan Bodong. "Kau
jangan melihatku, Bocah Bagus! Lihatlah ke depan!
Kedua orang itu benar-benar hendak membunuhmu!"
Tepat di ujung kalimat Setan Bodong, Dua Iblis
Dari Gunung Batur menerjang bersamaan. Tak tang-
gung-tanggung lagi, mereka langsung mengeluarkan
ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Jiwa' yang
menjadi ilmu andalan mereka.
Kepala Seno langsung pening saat mencium
bau anyir darah yang menebar dari pergelangan tan-
gan Dua Iblis Dari Gunung Batur. Namun sebelum ke-
palan tangan kedua kakek itu mengenal sasaran, cepat
Seno beringsut ke samping.
"Astaga!"
Berseru kaget Seno.
Pemuda itu merasakan tubuhnya melesat ce-
pat. Dia tak menyangka sama sekali bila ilmu 'Lesatan
Angin Meniup Dingin' telah dapat dikeluarkannya lagi.
Hingga akibatnya, pukulan Dua Iblis Dari Gunung Ba-
tur hanya mengenai tempat kosong.
"Jahanam! Walau baru muntah darah, agaknya
kau masih dapat bergerak cepat," dengus Iblis Pereng-
gut Roh. "Tapi, jangan keburu girang dulu! Malaikat
kematian tetap akan menjemput nyawamu hari ini ju-
ga!"
Sambil menggembor keras, kakek kurus itu
menerjang lagi. Kali ini dia gunakan jurus 'Mencari
Roh Mengirim ke Neraka'!
Iblis Pencabut Jiwa turut menerjang dengan ju-
rus yang sama. Kedua kakek itu tetap menyertai se-
rangannya dengan ilmu pukulan 'Merenggut Roh Men-
cabut Jiwa'. Maka, bau anyir darah yang menebar dari
kedua pergelangan tangan mereka semakin tercium
menusuk hidung!
Mengetahui dirinya terkepung bahaya maut,
bergegas Seno bangkit berdiri. Murid Dewa Dungu itu
berseru heran lagi. Tubuhnya terasa amat ringan.
Bahkan, terasa lebih ringan dari biasanya!
"Ilmu peringan tubuhku telah kembali!" ujar
Seno kepada dirinya sendiri seraya melentingkan tu-
buhnya ke atas.
Menggeram gusar Dua Iblis Dari Gunung Batur.
Mereka terus menerjang semakin gencar. Na-
mun, mereka tetap tak dapat menyentuh tubuh Pen-
dekar Bodoh yang berkelebatan amat cepat
"Hei, Bocah Bagus!" teriak Setan Bodong tiba-
tiba. "Kau tahu kalau mereka orang jahat, bukan? Ke-
napa malah kau ajak bermain-main? Cobalah ilmu pu-
kulanmu! Buat mereka jera seumur hidup!"
Seperti tak mendengar teriakan Setan Bodong,
Pendekar Bodoh terus berkelebatan menghindari se-
rangan Dua Iblis Dari Gunung Batur tanpa balas me-
nyerang. Namun, diam-diam pemuda lugu itu mencoba
mengalirkan kekuatan tenaga dalam ke kedua perge-
langan tangannya.
"Astaga!"
Kembali Seno berseru kaget. Kekuatan tenaga
dalamnya tiba-tiba telah kembali seperti sediakala, dan
dapat dialirkan pula ke kedua tangannya.
Tapi, terus saja Pendekar Bodoh terhantam ke-
terkejutan. Kedua pergelangan tangannya mendadak
berubah warna berlainan. Yang kiri berwarna putih
berkilat, sementara yang kanan berwarna kuning kee-
masan!
"Ya, Tuhan...," sebut Seno sambil menghindari
serangan Dua Iblis Dari Gunung Batur. "Bila aku men-
geluarkan ilmu pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Lan-
git', kedua pergelangan tanganku akan berubah warna
menjadi putih berkilat. Tapi..., kenapa tangan kananku
kali ini berwarna kuning keemasan? Oh! Apa yang te-
lah terjadi pada diriku?"
Karena terus tergeluti perasaan heran, Seno ja-
di kurang waspada. Pemuda remaja itu terkejut seten-
gah mati saat melihat kepalan tangan kanan Iblis Pe-
renggut Roh telah berada di dekat kepalanya. Semen-
tara, Iblis Pencabut Jiwa melancarkan tendangan amat
cepat ke dadanya
"Mati kau!" seru Dua Iblis Dari Gunung Batur,
bersamaan.
Dengan wajah pucat, terpaksa Seno menghen-
takkan kedua tangannya yang telah berubah warna.
Karena tak mau menjatuhkan tangan maut, Seno cu-
ma mengeluarkan seperempat bagian tenaga dalam-
nya. Namun...
Wesss...!
Dari telapak tangan kiri Seno melesat lidah-
lidah api putih yang menebarkan hawa panas luar bi-
asa. Dan, dari telapak tangan kanannya, keluar lapi-
san salju berwarna kuning keemasan. Lapisan salju itu
menebarkan hawa sangat dingin yang sanggup mem-
bekukan cairan apa pun!
Karena lesatan pukulan jarak jauh itu amat ce-
pat tiada terkira, Dua Iblis Dari Gunung Batur tak
sempat mengelak lagi. Hingga....
Blarrr...!
"Wuahhh...!"
Diiringi jerit panjang menyayat hati, tubuh Dua
Iblis Dari Gunung Batur terlontar cepat ke angkasa.
Dan ketika jatuh ke tanah, tubuh kedua kakek itu
hanya tinggal kerangka tulangnya saja!
Tulang-belulang tubuh Iblis Pencabut Jiwa
yang tertimpa lapisan salju kuning keemasan tampak
diselubungi bunga-bunga salju berwarna serupa. Se-
baliknya, tulang-belulang Iblis Perenggut Roh yang ter-
timpa lidah-lidah api putih berkilat tampak terbakar
beberapa lama!
"Aku telah membunuh orang! Aku telah mem-
bunuh orang!" seru Pendekar Bodoh, kaget setengah
mati.
Bagaimanapun, pemuda lugu itu tak bermak-
sud menjatuhkan tangan maut terhadap Dua Iblis Dari
Gunung Batur. Oleh karenanya, dia tadi hanya menge-
luarkan seperempat bagian tenaga dalamnya. Na-
mun..., kenapa akibat yang diterima Dua Iblis Dari
Gunung Batur begitu menggiriskan?
"Apa yang terjadi padaku, Pak Tua?" tanya
Pendekar Bodoh kemudian kepada Setan Bodong. Se-
tan Bodong tak menjawab. Kakek gendut itu cuma ter-
tawa terkekeh-kekeh. "Pak Tua!" bentak Seno. "Aku
bertanya! Kau dengar atau tidak?!"
"He he he.... Mendengar atau tidak, kau mau
apa?" Satan Bodong malah balik bertanya.
"Uh! Kalau terus berdekatan denganmu, lama-
lama rasanya aku bisa gila!"
"Gila! He he he.... Kalau kau jadi itu malah ba-
gus! Dunia ini sudah gila! Jika para penghuninya turut
gila, tak akan ada lagi kejahatan! Semua orang akan
sibuk memikirkan keadaannya sendiri yang sudah gila!
He he he...!"
"Ngawur!" bentak Seno lagi. "Aku tak mau gila!
Kaulah sendiri yang gila! Tapi, jika kau masih waras,
cobalah jawab pertanyaanku, Pak Tua!"
"Bagaimana mungkin aku bisa menjawab per-
tanyaanmu kalau sekarang ini aku sudah gila!"
"Uh!"
Kesal sekali hati Pendekar Bodoh mendengar
ucapan Setan Bodong yang berbelit-belit. Ingin rasanya
Pendekar Bodoh menampar mulut si kakek yang amat
nyinyir. Ingin rasanya Pendekar Bodoh menjitak kepala
si kakek yang gundul licin. Tapi, dia tak melakukan
keinginannya itu. Apa yang baru dialaminya, ketika
bertempur dengan Dua Iblis Dari Gunung Batur, me-
nunjukkan bahwa Setan Bodong tidak menipunya. Si
kakek benar-benar dapat mengembalikan kekuatan
tenaga dalamnya. Oleh karena itu, untuk apa dia me-
nyakiti orang yang telah menolongnya?
Namun, melihat sikap Setan Bodong yang mirip
orang tak waras, Pendekar Bodoh tak dapat menahan
rasa sebal dan kesalnya. Karena pertanyaannya tak
pernah terjawab, Pendekar Bodoh bermaksud pergi
meninggalkan kakek gendut itu.
"Eh! Eh! Tunggu!" cegah Setan Bodong.
Terhenti langkah Seno seketika. Ditatapnya wa-
jah Setan Bodong lekat-lekat. Kali ini wajah kakek
yang hanya mengenakan rompi dan celana pendek pu-
tih kusam itu tampak penuh kesungguhan.
"Ada apa?" tanya Seno, sedikit ketus.
"Kau belum memberi nama dua ilmu pukulan
barumu," ujar Setan Bodong, tak main-main.
"Hmmm.... Yah! Aneh sekali! Kenapa tiba-tiba
ilmu pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Langit' yang
kumiliki bisa jadi dua bagian?" ujar Seno, lirih seperti
menggumam.
"Kau ingin tahu apa jawabnya?" cetus Setan
Bodong, tak tertawa-tawa lagi.
"Tentu saja!" sambut Seno, melonjak girang.
"Aku tadi menghantam punggungmu berapa
kali?"
"Tiga kali."
"Dengar baik-baik!"
"Apa?"
"Hantaman pertama berguna untuk membuka
beberapa aliran darahmu yang tersekat oleh gumpalan
darah mati."
"Hantaman yang kedua?"
"Hantaman yang kedua untuk memisahkan te-
naga dingin yang berasal dari 'Tenaga Inti Es Biru',
yang ku masukkan ke tubuhmu ketika kita masih be-
rada di Lembah Rongga Laut?"
"Dipisahkan? Dipisahkan dengan apa?"
"Uh! Tolol benar kau! Tentu saja dipisahkan da-
ri tenaga panas yang bersumber dari benda ajaib Ko-
dok Wasiat Dewa, yang telah lebih dulu kau telan!"
"Begitukah? Hmmm.... Ya! Ya! Aku mengerti.
Lalu, hantaman yang ketiga untuk apa?"
"Kau pikir dulu! Kira-kira untuk apa?"
"Hmmm.... Untuk apa, ya?"
Seno memutar otak. Beberapa kali dia nyengir
kuda. Beberapa kali pula dia menarik celananya yang
melorot. Wajahnya jadi tampak amat lugu dan kebo-
doh-bodohan.
"Hmmm.... Apa, ya?" desis Seno.
Sesaat kemudian, murid Dewa Dungu itu tam-
pak terlongong bengong menatap wajah Setan Bodong.
"He he he...," tawa kekeh Setan Bodong. "Ru-
panya, kau benar-benar pemuda tolol!"
"Huh! Aku tidak tolol! Kau yang tolol!" bentak
Seno tiba-tiba, tak mau dikatakan tolol.
"He he he.... Kalau tidak tolol, kenapa kau tidak
tahu apa yang telah terjadi pada dirimu sendiri?"
"Oh! Iya, ya?! Aku memang tolol...," desis Seno
lagi. "Tapi tidak! Aku tidak tolol! Walau aku dikatakan
orang sebagai Pendekar Bodoh, tapi aku tetap tak mau
dikatakan tolol! Aku memang tidak tolol!"
"He he he...," Setan Bodong tertawa terkekeh-
kekeh, panjang sekali. Lalu katanya, "Terserah apa ka-
tamu! Tapi, sudah tahu jawabannya atau belum?"
"Apa?"
"Huh! Dasar tolol!"
"Aku tidak tolol!"
Melihat air muka Pendekar Bodoh yang tiba-
tiba menegang, Setan Bodong tertawa panjang lagi.
Namun, si kakek tak hendak mempermainkan pemuda
lugu itu.
"Ketahuilah, Bocah Bagus...," kata Setan Bo-
dong kemudian. "Hantaman ketiga yang bersarang te-
pat di tengah punggungmu kumaksudkan untuk
membangkitkan kekuatan dua tenaga dalam yang ber-
beda sifat, yang telah ku pisahkan. Sekaligus untuk
mengeluarkan gumpalan darah mati yang mengganggu
peredaran darahmu!"
"Ooo, begituuu...," Seno mengangguk-angguk.
"Apa tadi nama Ilmu pukulanmu?" tanya Setan
Bodong.
"'Dewa Badai Rontokkan Langit'," jawab Seno,
tetap mengangguk-angguk.
"Nama ilmu pukulan itu masih bisa kau pakai.
Tapi, untuk membedakan mana yang bersifat panas
dan mana yang bersifat dingin, kau bisa pakai nama
'Pukulan Inti Panas' dan 'Pukulan Inti Dingin'. Bagaimana?"
"'Pukulan Inti Panas'? 'Pukulan Inti Dingin'?"
desis Pendekar Bodoh sambil menggaruk-garuk pan-
tat, yang entah gatal entah tidak.
"Bagaimana?"
"Sebentar! Ku pikirkan dulu!"
***
"Sekarang, antarkan aku ke hadapan Pendekar
Bodoh dan Setan Bodong," pinta Setan Selaksa Wajah,
keringat masih berlelehan di sekujur tubuhnya.
Bidadari Alam Kelam tak menjawab.
Wanita cantik itu sibuk merapikan pakaiannya.
"Aku sudah menuruti apa maumu. Bergegaslah
kau keluarkan ilmu 'Tabir Pengirim Raga', Manisku Bi-
dadari Alam Kelam...," desak Setan Selaksa Wajah.
"Hmmm.... Kupikir..., ada baiknya bila kau
tinggal di sini selama dua hari...," sahut Bidadari Alam
Kelam, pelan sekali.
"Tidak! Jelas itu tidak mungkin, Manisku...," to-
lak Setan Selaksa Wajah. "Waktuku sangat singkat!"
"Pikirlah baik-baik! Kalau kau mau tinggal di
sini dua hari lagi, berarti kau masih punya waktu satu
hari untuk membinasakan Pendekar Bodoh dan Setan
Bodong. Tapi, kau jangan khawatir tak akan dapat
menjalankan tugas. Aku bersedia membantumu!"
Terdiam Setan Selaksa Wajah. Apa yang dika-
takan Bidadari Alam Kelam jelas merupakan satu ta-
waran amat bagus. Setan Selaksa Wajah tahu benar
ketinggian ilmu kesaktian Bidadari Alam Kelam. Bila
bekerja bahu-membahu dengan wanita cantik itu, Se-
tan Selaksa Wajah yakin semuanya akan berjalan lan-
car. Tapi..., ada sesuatu yang mengusik pikiran si kakek.
"Sebenarnya, aku ingin sekali menerima tawa-
ran wanita cantik itu...," pikir Setan Selaksa Wajah.
"Tapi, dia tidak tahu kalau aku tengah menyusun se-
buah siasat. Karena aku tak mau ada orang yang tahu
siasat ku itu, terpaksa sekali aku menolak tawaran
baik Bidadari Alam Kelam...."
"Kenapa kau diam, Mahisa Lodra?" tegur Bida-
dari Alam Kelam yang melihat Setan Selaksa Wajah
berdiri termenung.
"Hmmm.... Kau amat baik, Manisku...," sahut
Setan Selaksa Wajah. "Aku tak mau membuatmu ber-
susah payah memeras tenaga. Biarlah aku sendiri
yang melaksanakan tugas dari sang pemimpin. Seka-
rang ini, kau cukup membantu menghadapkan aku
pada Pendekar Bodoh dan Setan Bodong."
"Jadi, kau menolak tawaranku?"
"Bukan begitu, Manisku. Cuma orang gila yang
akan menolak tawaran baikmu. Hanya saja kau mesti
tahu..., aku tak mau kehilangan waktu banyak-banyak
dalam melaksanakan tugas. Aku ingin selekasnya
membunuh Pendekar Bodoh dan Setan Bodong! Kalau
hari ini juga aku dapat membunuh mereka, bukankah
kau akan segera bertemu lagi denganku, Sayang?"
Bidadari Alam Kelam tampak berpikir-pikir.
Namun, tak seberapa lama kemudian, dia berkata,
"Baik! Baik, ku hadapkan kau pada Pendekar Bodoh
dan Setan Bodong saat ini juga! Tapi..., setelah berha-
sil membinasakan mereka, kau harus segera kembali
ke tempat ini! Ingat janjimu! Jika ingkar, kau akan ce-
laka!"
"Ya! Ya!" sambut Setan Selaksa Wajah. Nada
suaranya tak jelas menyiratkan apa. Entah senang,
atau malah takut mendengar ancaman Bidadari Alam
Kelam.
"Duduklah bersila!" perintah Bidadari Alam Ke-
lam kemudian.
Setan Selaksa Wajah menatap wajah cantik Bi-
dadari Alam Kelam sejenak, lalu mengikuti perintah
wanita bertubuh sintal montok itu tanpa berkata apa-
apa.
Begitu Setan Selaksa Wajah duduk bersila, Bi-
dadari Alam Kelam mengangkat kedua tangannya se-
raya menengadahkan wajah.
"Wahai kau Dewa Langit..., kau tentu tahu
keinginanku," ujar Bidadari Alam Kelam dengan suara
bergetar. "Aku ingin memindahkan tubuh orang ini ke
pinggir Hutan Saradan. Dengan ilmu 'Tabir Pengirim
Raga', terlaksanalah keinginanku!"
Selesai berkata, mendadak di kedua telapak
tangan Bidadari Alam Kelam muncul gumpalan sinar
berwarna merah terang. Perlahan namun pasti, gum-
palan sinar itu membesar dan terus membesar....
Wusss...!
Gumpalan sinar merah yang berada di atas te-
lapak tangan Bidadari Alam Kelam dilontarkan ke tu-
buh Setan Selaksa Wajah. Gumpalan sinar itu lang-
sung menyelubungi tubuh si kakek. Dan..., perlahan-
lahan tubuh kakek berwajah pemuda itu terangkat da-
ri permukaan lantai!
"Pergilah ke hadapan Pendekar Bodoh dan Se-
tan Bodong!"
Sambil berseru demikian, Bidadari Alam Kelam
menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan.
Serangkum angin pukulan meluruk deras!
Wesss...!
Serangkum angin pukulan itu tepat menerpa
tubuh Setan Selaksa Wajah yang telah terselubungi
gumpalan sinar merah! Di lain kejap, tubuh si kakek
tampak melesat cepat, keluar dari Lembah Dewa-
Dewi....
"Uh! Walau tubuhnya masih perkasa, rupanya
Mahisa Lodra telah jadi kakek-kakek pikun!" ujar Bi-
dadari Alam Kelam tiba-tiba.
Perlahan wanita berpakaian gemerlapan itu
memungut bungkusan kain hitam yang terletak di atas
meja. Bungkusan berisi 'Benteng Rajah Abadi' Itu
agaknya lupa dibawa oleh Setan Selaksa Wajah.
"Hmmm.... Aku bermaksud baik pada Mahisa
Lodra. 'Benteng Rajah Abadi' ini sebaiknya kusampai-
kan kepada Mahisa Lodra dengan ilmu 'Tabir Pengirim
Raga'...."
Berpikir demikian, Bidadari Alam Kelam men-
gangkat lagi kedua tangannya seraya menengadahkan
wajah. Setelah berkata-kata dengan raja junjungan il-
mu hitamnya yang bernama Dewa Langit, di kedua te-
lapak tangan wanita cantik itu segera muncul gumpa-
lan sinar merah terang.
Di lain kejap, 'Benteng Rajah Abadi' melayang
keluar dari Lembah Dewa-Dewi. Menyusul lesatan tu-
buh Setan Selaksa Wajah!
* * *
TUJUH
WALAH... walah! Mengambil keputusan tentang
nama saja, lama benar kau berpikir!" seru Setan Bo-
dong, mencetuskan rasa tak sabaran.
"Uh! Rupanya, kaulah yang tolol, Pak Tua!" sa-
hut Pendekar Bodoh, membentak. "Menentukan nama
itu tidak mudah! Nama seseorang, nama julukan, atau
nama apa saja, akan dibawa sampai mati, Pak Tua!
Menentukan nama tidak boleh sembarangan! Tidak bo-
leh asal bunyi! Pokoknya, tidak boleh asal-asalan!"
"Ya! Ya, aku mengerti! Tapi, nama yang kuberi-
kan pada dua ilmu pukulanmu tadi, apakah kelihatan
asal-asalan?"
Berkerut kening si pemuda lugu Seno Prasetyo.
"Hmmm.... 'Pukulan Inti Panas'...? 'Pukulan Inti
Dingin'...?" desisnya, mengulang nama pemberian Se-
tan Bodong.
"Apakah kedua nama itu terdengar asal-
asalan?" sahut Setan Bodong menatap wajah Seno le-
kat-lekat.
"Eh! Iya, ya...! Kedua nama itu enak didengar
dan amat sesuai dengan sifat ilmu pukulanku. Baik-
lah! Aku menerimanya, Pak Tua!"
"Huh! Mengambil keputusan begitu saja mema-
kan waktu sekian lama! Apalagi nanti kalau mengam-
bil keputusan tentang masalah penting! Bisa-bisa du-
nia keburu kiamat baru kau dapat menentukan sikap!"
sambut Setan Bodong dengan menggerutu.
"Ya! Ya! Aku memang lambat berpikir!" sahut
Seno, jengkel.
"Sekarang aku mau pergi ke suatu tempat, kau
ikut atau tidak?" cetus Setan Bodong kemudian.
"Ke mana?"
"Padang Angin Malaikat!"
"Padang Angin Malaikat?"
"Ya!"
"Untuk apa?"
"Kau telah mendengar nama Raja Penyasar
Sukma, bukan?"
Seno mengangguk.
"Aku hendak menghukum murid murtad ku
itu!"
"Kalau begitu, aku ikut!" seru Seno, tegas. "Aku
juga ingin membuat perhitungan dengan manusia ja-
hat itu! Dia telah membunuh ibuku!"
"Ibumu? Bagaimana ceritanya?"
"Ah! Lain waktu saja kuceritakan! Aku ingin
menemui Banyak Langkir secepatnya! Ayolah, Pak
Tua!" desak Seno, menyebut nama kecil Raja Penyasar
Sukma.
Setan Bodong mengangguk gembira. Jika Pen-
dekar Bodoh ikut bersamanya, dia yakin urusan den-
gan Raja Penyasar Sukma akan lebih mudah dibe-
reskan. Namun ketika dia menjejak tanah untuk sege-
ra berkelebat pergi, Pendekar Bodoh mencegah.
"Tunggu dulu, Pak Tua!"
"Ada apa lagi?"
"Aku harus menguburkan kerangka Dua Iblis
Dari Gunung Batur!"
"Peduli amat!"
"Jangan begitu, Pak Tua! Walau mereka orang
jahat, mereka tetap manusia juga. Mereka pantas
mendapat perlakuan seperti manusia pada umumnya.
Mayat mereka walau telah menjadi tulang-belulang,
harus tetap dikuburkan!"
Mendadak, Setan Bodong tertawa terkekeh-
kekeh. "He he he.... apanya yang mesti dikuburkan?
Apa kau bisa? Lihat itu!"
Tersentak kaget Seno seketika. Tulang-belulang
kerangka Dua Iblis Dari Gunung Batur ternyata telah
ambyar menjadi serbuk halus, yang segera lenyap ter-
tiup angin!
"Ya, Tuhan...," sebut Seno. "Kenapa aku bisa
memiliki ilmu pukulan yang amat kejam seperti itu?"
"Tolol!" sentak Setan Bodong. "Ilmu pukulanmu
tidak kejam, tapi dahsyat!"
"Apa bedanya?"
"Jelas berbeda! Tergantung untuk tujuan apa
kau menggunakan ilmu pukulanmu itu! Kalau kau
menggunakannya untuk mengumbar nafsu jahat,
orang boleh mengatakan ilmu pukulanmu itu kejam
karena si empunya memang kejam. Kalau tidak, ya ti-
dak!"
Seno nyengir kuda.
Tak seberapa paham ucapan Setan Bodong.
"Ayo, berangkat!" ajak Setan Bodong kemudian
"Ke mana?"
"Uh! Selain tolol, rupanya kau juga pikun! Bu-
kankah kita hendak ke Padang Angin Malaikat?"
"Oh, iya ya.... Baiklah kita berangkat.... Heh?!
Apa Itu?"
Bola mata Pendekar Bodoh melotot besar. Pe-
muda lugu itu menatap tak berkedip segumpal sinar
merah terang yang melesat dari tenggara. Lebih terke-
jut lagi Pendekar Bodoh manakala tahu bila gumpalan
sinar bergaris tengah satu depa itu menuju ke arah-
nya!
"Ya, Tuhan...," sebut Seno seraya melompat ke
belakang.
Setan Bodong yang berdiri di dekat Seno turut
melompat ke belakang. Walau kakek gendut itu juga
terhantam keterkejutan, tapi dia bisa bersikap lebih
tenang. Bola matanya tak sampai melotot besar. Jauh
berbeda dengan Pendekar Bodoh yang lugu. Mulut si
pemuda tampak ternganga lebar. Dan, tatapannya pun
jelas menyiratkan rasa giris.
Wusss...!
Ssshhh...!
Gumpalan sinar yang dilihat Pendekar Bodoh
dan Setan Bodong mendarat perlahan di permukaan
tanah. Setelah mengeluarkan suara mendesis seperti
desis puluhan ular sedang meleletkan lidah, gumpalan
sinar itu meredup. Dan,.., di dalamnya tampak sesosok
tubuh manusia!
"Mahisa Lodra...!" seru Pendekar Bodoh, benar-
benar kaget.
Sosok manusia yang tengah duduk bersila di
dalam gumpalan sinar merah, yang memang Mahisa
Lodra atau Setan Selaksa Wajah, tampak bangkit ber-
diri perlahan. Kakek berwajah pemuda itu langsung
mengedarkan pandangan. Begitu melihat sosok Pende-
kar Bodoh, dia tertawa panjang bergelak.
"Ha ha ha...! Kita jumpa lagi, Bocah Gemblung!
Tentu masih segar bugar dalam ingatanmu kejadian di
Padang Angin Malaikat tempo hari. Kau memang ber-
hasil mempecundangi ku. Tapi, bagaimana kalau aku
menantangmu bertempur lagi esok hari di tempat yang
sama? Ha ha ha...!"
"Jahanam! Menyesal aku waktu itu tak meng-
hancurkan seluruh urat darahmu. Kiranya, sekarang
kau masih berlagak besar mulut di hadapanku!" geram
Pendekar Bodoh.
"Hmmm.... Kau belum menjawab pertanyaanku,
Bocah Gemblung! Bersediakah kau bila ku tantang
bertempur seribu jurus di Padang Angin Malaikat esok
hari?"
"Kenapa tak bersedia? Untuk meladeni orang
jahat macam kau, aku selalu punya waktu!" sambut
Seno, keras menggeram.
"Hati-hati, Bocah Bagus!" Setan Bodong men-
gingatkan. "Aku tahu betul siapa itu Mahisa Lodra! Dia
durjana culas yang punya selaksa akal licik! Jangan-
jangan dia hendak menjebakmu!"
Kembali Setan Selaksa Wajah tertawa bergelak.
Kata-kata Setan Bodong yang jelas menyindir dirinya
cuma dia tanggapi dengan gelengan kepala sambil te-
tap tertawa. Bola mata kakek berpakaian merah-merah
itu berbinar-binar penuh luapan kegembiraan. Dia ya-
kin benar bila siasat yang telah disusunnya akan ber-
jalan dengan lancar.
"Hei kau, Setan Bodong Setan!" seru Setan Se-
laksa Wajah kemudian, "Baik benar keberuntunganmu
hingga kau dapat keluar dari Lembah Rongga Laut!
Aku tahu..., gumpalan pusar yang telah melekat kem-
bali di perutmu itu menunjukkan bahwa ilmu kesak-
tianmu sudah kau miliki lagi. Oleh karenanya, datan-
glah kau bersama bocah gemblung itu ke Padang An-
gin Malaikat esok hari! Akan kuhadapi kalian berdua
sekaligus! Ha ha ha...!"
Untuk kesekian kalinya, Setan Selaksa Wajah
tertawa bergelak. Namun... mendadak, air muka kakek
bertubuh kekar itu berubah pucat. Bola matanya
membesar, dan tawanya pun langsung terhenti seketi-
ka.
"Astaga! Di mana 'Benteng Rajah Abadi'...?" lon-
jak si kakek, "Oh! Aku lupa membawanya! Oh! Pelupa
benar aku ini!"
"He he he...," Setan Bodong tertawa terkekeh-
kekeh melihat sikap Setan Selaksa Wajah yang tampak
kalut dan bingung. "Apa yang kau cari, Kerbau Dungu,
kaki-tangan si keparat Banyak Langkir?!" cibirnya.
"Nyawamu cuma satu! Kebetulan masih melekat di ba-
dan kotormu itu! Apa lagi yang kau cari?"
Setan Selaksa Wajah tak memperhatikan eje-
kan Setan Bodong. Dia terus meraba-raba kain ba-
junya. Tapi, tentu saja 'Benteng Rajah Abadi' tak dite-
mukannya. Benda berwujud bendera-bendera kecil
kuning itu memang lupa dia bawa.
"Celaka!" seru Setan Selaksa Wajah dalam hati,
"Bagaimana aku bisa menjalankan siasat yang telah ku
susun kalau aku tidak membawa 'Benteng Rajah Ab-
adi? Oh! Bagaimana ini?"
"Hei, Mahisa Lodra!" bentak Pendekar Bodoh.
"Kau datang tiba-tiba dan langsung menyemburkan
kata-kata kesombongan. Lagak-lagu mu tadi menun-
jukkan seakan kau telah memiliki kesaktian setinggi
dewa. Tap! sekarang...? Hemm.... Sikap yang kau tun-
jukkan sekarang ini persis seekor monyet yang telah
kehilangan ekornya! Hmmm.... Kau memang seekor
monyet, Mahisa Lodra! Seekor monyet yang harus di-
kubur hidup-hidup!"
Usai berkata, Pendekar Bodoh melesatkan tu-
buhnya seraya menerjang Setan Selaksa Wajah. Kare-
na Pendekar Bodoh amat benci pada Setan Selaksa
Wajah yang nyata-nyata memang seorang durjana li-
cik, pemuda itu langsung mengeluarkan salah satu ju-
rus terhebat yang berasal dari Kitab Sanggalangit.
Sambil mengerahkan ilmu peringan tubuh 'Lesatan
Angin Meniup Dingin', Pendekar Bodoh mengeluarkan
jurus 'Dewa Badai Menghitung Bintang Menyapa Bu-
lan'!
Maka dalam sekejap mata, tubuh Pendekar Bo-
doh seakan telah berubah menjadi segumpal asap
berwarna biru. Timbul tiupan angin yang menderu ga-
nas setiap murid Dewa Dungu itu melancarkan puku-
lan dan tendangan. Sementara, Setan Selaksa Wajah
yang masih kebingungan karena 'Benteng Rajah Ab-
adi'-nya tertinggal, bergerak ke sana-sini dengan
menggunakan ilmu peringan tubuhnya yang bernama
'Angin Pergi Tiada Berbekas'. Hingga, tubuh Pendekar
Bodoh dan Setan Selaksa Wajah hanya terlihat berupa
dua gumpal asap yang terus berlesatan dengan cepat.
"Kenapa kau tak membalas seranganku, Mo-
nyet Bau?!" sentak Pendekar Bodoh di sela-sela seran-
gannya.
"Hmmm.... Sengaja aku tak membalas! Bukan-
kah kau dengar tadi? Aku menantangmu bertempur
esok hari di Padang Angin Malaikat!" sahut Setan Se-
laksa Wajah.
"Kenapa mesti menunggu esok hari? Hari ini
juga aku harus dapat menghentikan semua kejaha-
tanmu! Hiahhh...!"
Memekik keras Pendekar Bodoh. Dia menye-
rang makin gencar. Kedua tangan dan kakinya tiada
henti mengirim serangan mematikan. Namun, tetap sa-
ja Setan Selaksa Wajah tak balas menyerang. Entah
apa yang ada di benak kakek berwajah pemuda itu.
"Baik! Baik! Kalau kau tak mau bertempur den-
gan jurus-jurus yang kau anggap picisan, aku tantang
kau mengadu ilmu pukulan!"
Usai berkata, Pendekar Bodoh melentingkan
tubuhnya beberapa tombak dari hadapan Setan Selak-
sa Wajah. Begitu mendarat di tanah, langsung dia per-
siapkan ilmu pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Langit'.
Di lain kejap, pergelangan tangan kanan murid Dewa
Dungu itu berubah warna menjadi kuning keemasan
yang menebarkan hawa amat dingin menusuk tulang.
Agaknya, Pendekar Bodoh mengeluarkan salah satu
bagian ilmu pukulan "Dewa Badai Rontokkan Langit'-
nya yang baru saja diberi nama 'Pukulan Inti Dingin'!
Setan Selaksa Wajah yang belum mengenal il-
mu pukulan itu tampak tercengang. Walau dia berdiri
sekitar lima tombak dari hadapan Pendekar Bodoh, ta-
pi hawa dingin yang menebar dari pergelangan tangan
pemuda remaja itu terasa hendak membekukan cairan
darahnya. Hingga, Setan Selaksa Wajah terlihat me-
nautkan jajaran giginya untuk menahan hawa dingin
yang memang hebat Luar biasa
"Aku tak mau bertempur sekarang, Bocah
Gemblung!" seru Setan Selaksa Wajah di antara rasa
kaget dan gentar. Suara kakek ini terdengar tak begitu
jelas karena dia berkata sambil menautkan gigi.
"Apa pun katamu, aku tetap akan menghenti-
kan kejahatanmu sekarang ini!" sahut Seno. "Kalau
kau tak mau mati konyol, segera keluarkan ilmu puku-
lan 'Pelebur Sukma'-mu!"
Terdiam Setan Selaksa Wajah.
Kakek berwajah pemuda itu tak mau memper-
siapkan ilmu pukulan andalannya. Tapi, diam-diam
dia mempertinggi kewaspadaan. Dia tak hendak me-
mapaki ilmu pukulan Seno dengan ilmu pukulan pula.
Bila nanti pemuda lugu itu melepas ilmu puku-
lannya, Setan Selaksa Wajah hanya akan bergerak
menghindar. Setan Selaksa Wajah ingin tahu seberapa
dahsyat akibat yang akan ditimbulkan oleh ilmu puku-
lan Seno. Dengan kata lain, Setan Selaksa Wajah ingin
mengukur kedahsyatan ilmu pukulan Pendekar Bodoh.
"Ayolah! Tunggu apa lagi, Mahisa Lodra?!" ben-
tak Pendekar Bodoh yang melihat Setan Selaksa Wajah
cuma diam. "Cepatlah kau persiapkan ilmu pukulan
'Pelebur Sukma'-mu!"
"Hmmm.... Kalau ingin segera membunuhku,
kenapa hanya gembar-gembor saja?" cibir Setan Selak-
sa Wajah.
"Jahanam!" geram Seno. "Baiklah kalau itu
maumu! Hiahhh...!"
Sambil menggembor keras, Pendekar Bodoh
melepas 'Pukulan Inti Dingin'-nya. Tapi, karena pemu-
da lugu itu tahu Setan Selaksa Wajah tak akan memapaki ilmu pukulannya dengan ilmu pukulan 'Pelebur
Sukma', dia cuma mengerahkan setengah bagian tena-
ga dalamnya. Pendekar Bodoh yakin, walau hanya
mengerahkan setengah bagian tenaga dalam, tubuh
Setan Selaksa Wajah pasti akan hancur menjadi ser-
buk halus bila tertimpa dengan telak. Apa yang telah
terjadi pada Iblis Pencabut Jiwa sudah cukup dijadi-
kan bukti kedahsyatan ilmu 'Pukulan Inti Dingin'.
Sesaat kemudian..., tampak lapisan salju ber-
warna kuning keemasan meluruk deras ke arah Setan
Selaksa Wajah. Namun, Setan Selaksa Wajah yang te-
lah mempersiapkan Ilmu peringan tubuh 'Angin Pergi
Tiada Berbekas' cepat sekali berkelit. Tubuh kakek
berpakaian merah-merah itu tiba-tiba lenyap berpin-
dah tempat.
Wusss...!
Blammm...!
Lapisan salju yang melesat dari telapak tangan
kanan Pendekar Bodoh hanya menerpa pepohonan dan
permukaan tanah. Diiringi ledakan keras menggelegar
dahsyat, batang-batang pohon yang tertimpa pukulan
jarak jauh Pendekar Bodoh langsung tumbang, dan
hancur luluh menjadi serbuk halus! Gumpalan tanah
tampak berhamburan ke mana-mana. Bongkah-
bongkah batu besar yang terletak di sekitar pusat le-
dakan berlontaran ke berbagai penjuru. Begitu jatuh
ke tanah, batu-batu itu langsung pecah berantakan
menjadi butiran pasir Sementara, lapisan salju ber-
warna kuning keemasan terlihat berlebaran. Hingga,
hawa siang hari di pinggir Hutan Saradan itu terasa
amat dingin menusuk!
"Astaga!" seru Setan Selaksa Wajah yang berha-
sil menghindari ancaman maut
Tubuh murid murtad Dewa Dungu itu tampak
terlapisi salju tipis yang berwarna kuning keemasan
pula. Padahal, dia berdiri tak kurang dari dua puluh
tombak dari pusat ledakan!
Namun, rasa gentar dan keterkejutan di hati
Setan Selaksa Wajah segera terkikis habis manakala
kakek itu melihat gumpalan sinar merah terang mele-
sat di angkasa menuju ke arahnya. Gumpalan itu me-
lesat dari arah tenggara, arah di mana Setan Selaksa
Wajah muncul tadi
"Aku yakin, di dalam gumpalan sinar merah itu
pasti terdapat 'Benteng Rajah Abadi'," pikir Setan Se-
laksa Wajah. "Bidadari Alam Kelam pasti mengirimkan
barang itu kepadaku dengan ilmu Tabir Pengirim Raga.
Aku harus bertindak cepat sebelum Pendekar Bodoh
menyerangku lagi!"
Mengikuti pikiran di benaknya, bergegas Setan
Selaksa Wajah meloncat tinggi untuk menyambar
gumpalan sinar merah yang masih melayang di udara.
Tapi....
Setan Bodong yang sedari tadi cuma diam,
tampak meloncat tinggi pula. Kakek gendut itu juga
ingin menyambar gumpalan sinar merah!
"Lewat ilmu tembus pandang ku, aku tahu
gumpalan sinar itu berisi 'Benteng Rajah Abadi'. Benda
berkekuatan sihir itu tak boleh jatuh ke tangan orang
jahat macam Mahisa Lodra!" pikir Setan Bodong.
Wutttt...!
Srattt..!
Tampak kemudian, gumpalan sinar merah yang
melayang di udara pecah menjadi dua bagian. Bung-
kusan kain hitam yang berada di dalam gumpalan si-
nar itu robek, dan isinya yang berupa bendera-bendera
kecil berwarna kuning jatuh bertebaran ke atas tanah!
"Jahanam kau, Setan Bodong!" maki Setan Selaksa Wajah, menyimpan geram kemerahan di hati.
Tak mau kehilangan kesempatan, kakek berwa-
jah pemuda itu bergegas memunguti bendera kuning
yang bertebaran di atas tanah. Namun, Setan Bodong
juga berbuat serupa! Maka, jadilah kedua kakek itu
berlomba mengadu kecepatan.
Dan.., ternyata hasilnya seimbang. Satan Se-
laksa Wajah berhasil memungut lima belas bendera
kuning. Setan Bodong juga mendapat hasil yang sama.
"Awasss...!" teriak Pendekar Bodoh tiba-tiba.
Pemuda remaja itu melihat Setan Selaksa Wajah hen-
dak membokong Setan Bodong.
Tapi tampaknya, Setan Bodong selalu bersikap
waspada. Dia cuma merundukkan sedikit kepalanya
untuk menghindari tendangan maut Setan Selaksa
Wajah. Sementara, Pendekar Bodoh yang menyimpan
dendam kesumat terhadap Setan Selaksa Wajah lang-
sung menerjang lagi!
"Kalian berdua memang Jahanam!" seru Setan
Selaksa Wajah.
Mengetahui keadaannya tidak menguntungkan,
mendadak kakek bertubuh kekar itu berkelebat lenyap
meninggalkan tempat. Namun sebelum pergi dia berka-
ta, "Kutunggu kalian berdua di Padang Angin Malaikat
esok hari! Tepat ketika matahari memayung di atas
kepala!"
Pendekar Bodoh hendak mengejar, tapi Setan
Bodong mencegah.
"Sudahlah! Untuk apa kita mengejarnya? Bu-
kankah dia menantang kita bertempur di Padan Angin
Malaikat esok hari?"
"Tapi...."
"Tak ada kata 'tapi'! Turuti saja apa kataku! Ki-
ta pikir dulu cara untuk melumpuhkan durjana itu!
Dia berbahaya sekali karena membawa 'Benteng Rajah
Abadi'...!"
"'Benteng Rajah Abadi'...? Apa itu?" tanya Seno,
tak mengerti.
"Bendera-bendera yang kubawa inilah," beri ta-
hu Setan Bodong. "Untung aku berhasil merampasnya
sebagian."
"Cuma bendera! Apa hebatnya?"
"Uh! Tolol benar kau! Walau cuma bendera, tapi
benda ini bisa memenjarakan raga dan roh seseorang
sampai kiamat!"
"Ah! Begitukah?"
Pendekar Bodoh nyengir kuda.
Setengah tak percaya.
* * *
DELAPAN
PADANG Angin Malaikat...
Wajah sang baskara muncul tersenyum di kaki
langit timur. Hangat sinarnya menyapa ramah, me-
nandakan hari telah berganti. Namun, walau cerah su-
asana pagi baru menampakkan diri, Setan Selaksa Wa-
jah telah duduk terpekur di tengah Padang Angin Ma-
laikat.
Kakek yang mampu merubah raut wajahnya
menjadi seorang pemuda tampan itu tak peduli pada
hembusan angin kencang yang terasa membeset kulit.
Rambut dan kain bajunya tampak berkibaran. Tapi, si
kakek tetap diam tertunduk tanpa bergeming sedikit
pun. Sorot matanya tajam menusuk, menatap bung-
kusan kain hitam yang di dalamnya terdapat dua
gumpal benda bulat.
Sejak fajar menyingsing tadi, Setan Selaksa Wa-
jah telah berada di hamparan tanah luas berpasir itu.
Ada seseorang yang tengah dinantikannya. Pendekar
Bodoh dan Setan Bodong? Ternyata tidak!
"Banyak Langkirrr...!" teriak Setan Selaksa Wa-
jah, menyebut nama kecil Raja Penyasar Sukma. "Aku
menunggumu sedari tadi di tempat ini! Tidakkah kau
ingin tahu akhir dari tugas yang kau beri kan...?"
Teriakan murid murtad Dewa Dungu itu mem-
bahana di seantero Padang Angin Malaikat. Butiran
pasir yang berada di hadapan si kakek tampak me-
nyembur tinggi ke angkasa. Dan, agaknya Setan Se-
laksa Wajah tak perlu menunggu terlalu lama lagi ka-
rena....
"Kaukah itu, Mahisa Lodra? Kenapa kau datang
sebelum waktu yang ku tentukan? Apakah kau begitu
pintar sehingga dapat menjalankan tugas lebih cepat?"
Lamat-lamat terdengar suara seorang lelaki
yang menyahuti teriakan Setan Selaksa Wajah. Menilik
dari nada tekanan dan warna suaranya, jelas sekali bi-
la yang menyahuti teriakan Setan Selaksa Wajah itu
adalah Banyak Langkir atau Raja Penyasar Sukma!
"Aku ingin kau segera datang ke hadapanku,
Banyak Langkir! Bukankah kau ingin melihat kepala
Pendekar Bodoh dan Setan Bodong?" teriak Setan Se-
laksa Wajah lagi.
Tepat di ujung kalimat si kakek, dari arah barat
melesat segumpal cahaya kuning. Lesatan segumpal
cahaya yang menimbulkan suara bergemuruh keras
itu menuju ke hadapan Setan Selaksa Wajah!
Bibir Setan Selaksa Wajah tersenyum tipis. Ma-
tanya tak berkedip menatap gumpalan cahaya kuning
yang turun perlahan sekitar tiga tombak dari hada
pannya. Anehnya, begitu menyentuh permukaan tanah
berpasir, gumpalan cahaya itu langsung lenyap. Seba-
gai gantinya, muncul seorang kakek berpakaian serba
kuning. Kulit wajah dan tubuhnya berwarna kuning
pula seperti dilumuri air perasan kunyit. Warna ram-
butnya juga demikian.
Kakek yang baru muncul itu duduk bersila di
atas lempengan batu pipih. Dan, saat dia mengelua-
rkan suara menggerendeng, lempengan batu yang di-
dudukinya langsung terangkat lagi ke udara. Hingga
tampak kemudian, kakek bertubuh padat berisi itu
duduk bersila di atas lempengan batu yang terus men-
gambang di udara!
Dia Raja Penyasar Sukma!
"Kau datang lebih cepat dari waktu yang ku
tentukan. Teriakan mu tadi menyiratkan bahwa kau
telah berhasil menjalankan tugas. Benarkah begitu,
Mahisa Lodra...?" ujar Raja Penyasar Sukma, menyeli-
dik.
"Kau lihat bungkusan kain hitam yang berada
di hadapanku ini, bukan?" sahut Setan Selaksa Wajah,
tetap duduk bersila di tempatnya. "Bukalah! Kau akan
segera tahu sendiri, aku berhasil menjalankan tugas
atau tidak...."
Raja Penyasar Sukma menatap tajam bungku-
san kain hitam yang berada di hadapan Setan Selaksa
Wajah. Lalu, dia meluruskan telunjuk jari tangan ka-
nannya. Dengan kekuatan tenaga dalamnya, dia hen-
dak membuka bungkusan kain hitam itu. Namun....
"Kau harus membukanya dengan kedua tan-
ganmu, Banyak Langkir!" cegah Satan Selaksa Wajah
seraya menyorongkan kedua telapak tangannya untuk
menutupi bungkusan kain hitam.
"Apa maksudmu?" dengus Raja Penyasar Sukma.
"Walau kau sangat membenci Pendekar Bodoh
dan Setan Bodong, tapi setelah mereka menjadi mayat,
apakah kau masih tetap menyimpan kebencian itu?"
ujar Setan Selaksa Wajah penuh kesungguhan. "Pen-
dekar Bodoh dan Setan Bodong adalah manusia-
manusia jantan yang bersikap amat ksatria. Tidakkah
kau ingin memberi penghormatan terakhir kepada me-
reka? Kebencian memang awal dari permusuhan. Tapi,
seorang musuh yang dapat menunjukkan sikap ksatria
layak diberi penghormatan.... Oleh karena itu, bukalah
bungkusan kain hitam yang berada di hadapanku ini
dengan kedua tanganmu, Banyak Langkir...."
Berpikir sejenak Raja Penyasar Sukma. Namun,
tak seberapa lama kemudian, kakek berpakaian serba
kuning itu menjentikkan kedua jempol kakinya ke
lempengan batu yang didudukinya. Lempengan batu
itu langsung melayang turun ke dekat bungkusan kain
hitam.
Setelah lempengan batu menyentuh permukaan
tanah berpasir, Raja Penyasar Sukma menjulurkan
kedua tangannya untuk membuka bungkusan kain hi-
tam. Sementara, Setan Selaksa Wajah tampak bering-
sut mundur dari hadapan Raja Penyasar Sukma.
Namun..., alangkah terkejutnya Raja Penyasar
Sukma. Bungkusan kain hitam yang disangkanya beri-
si kepala Pendekar Bodoh dan Setan Bodong ternyata
hanya berisi kepala dua ekor kerbau!
"Haram Jadah!" umpat Raja Penyasar Sukma
seraya mengangkat wajah.
Tapi, sosok Setan Selaksa Wajah tak tampak
lagi!
Setan Selaksa Wajah telah melentingkan tu-
buhnya sekitar lima tombak dari permukaan tanah.
Dan, ketika masih melayang di udara, kakek yang
punya seribu muslihat licik itu mengeluarkan 'Benteng
Rajah Abadi' yang disembunyikan di balik baju. Lalu....
Wuttt...!
Srat! Srat! Srat!
'Benteng Rajah Abadi' yang berupa bendera-
bendera kecil terbuat dari kain kuning dilontarkan
mengelilingi tubuh Raja Penyasar Sukma. Dan, karena
gerakan Setan Selaksa Wajah amat cepat luar biasa,
Raja Penyasar Sukma tak sempat berbuat apa-apa. Dia
baru menyadari keadaan saat gagang bambu lima be-
las bendera kuning telah amblas ke dalam tanah ber-
pasir, mengelilingi tubuhnya!
"Jahanam kau, Mahisa Lodra!" geram Raja Pe-
nyasar Sukma. "Kau telah menipuku! Apa pula yang
kau lakukan ini?!"
Mahisa Lodra yang telah mendarat sigap di ta-
nah, tertawa bergelak. "Ha ha ha...! Kau adalah manu-
sia yang tak tahu diri, Banyak Langkir! Dulu, aku ada-
lah sahabat baikmu! Tapi setelah kau berhasil mengu-
asai ilmu kesaktian yang berasal dari Kitab Tiga Dewa,
perbuatanmu sungguh-sungguh amat menyebalkan!
Kau main perintah seenak perutmu sendiri seakan aku
telah menjadi budakmu! Apa kau kira aku manusia
berotak bebal yang mau menuruti segala perintahmu?
Huh! Ketahuilah, Banyak Langkir..., saat ini aku telah
mengurung mu dengan 'Benteng Rajah Abadi'! Ha ha
ha...!"
Karena terlampau mendidih darah Raja Penya-
sar Sukma mendengar ucapan Setan Selaksa Wajah,
kakek berkulit kuning seperti warna kunyit itu sampai
tak bisa berkata-kata. Jajaran giginya saling bertautan
amat rapat, dan memperdengarkan suara gemelutuk
keras. Dengan rahang menggembung, dia menatap sosok Setan Selaksa Wajah penuh amarah meluap-luap!
"Banyak Langkir...," sebut Setan Selaksa Wa-
jah. "Sengaja aku membawakan mu kepala dua ekor
kerbau. Kau tahu apa maksudku? Hmmm.... Kerbau
adalah binatang yang amat tolol! Dan, ketololan ker-
bau itu adalah cermin dari ketololan mu! Ha ha ha...!"
Semakin menggelegak panas darah Raja Penya-
sar Sukma. Dadanya sampai sesak karena desakan
hawa amarah. Namun, yang bisa diucapkannya hanya-
lah kata-kata kotor yang tak seberapa jelas terdengar.
"Banyak Langkir...," sebut Setan Selaksa Wajah
lagi. "'Benteng Rajah Abadi' akan mengurung mu sam-
pai datangnya kiamat. Tapi, kau jangan khawatir. Ke-
pala dua ekor kerbau yang ada di dekatmu itu adalah
kerbau betina. Bila kau merasa kesepian, bolehlah kau
tumpahkan hasrat mu kepada mereka! Ha ha ha...!"
"Jahanam!" maki Raja Penyasar Sukma, keras
menggelegar. "Bagaimana mungkin kau bisa menda-
patkan 'Benteng Rajah Abadi'?! Kau pasti bersekongkol
dengan Bidadari Alam Kelam!"
"Aku tidak tolol seperti dirimu, Banyak Lang-
kir!" sahut Setan Selaksa Wajah. "Ada banyak jalan
untuk mewujudkan cita-cita. Ada banyak cara untuk
mewujudkan keinginan! Aku terlalu pandai untuk kau
jadikan budakmu! Aku terlalu pintar untuk kau perin-
tah seenak perutmu! Dan..., kenyataan telah membuk-
tikannya! Ha ha ha...!"
"Jahanam!"
Sambil mengumpat, Raja Penyasar Sukma me-
loncat untuk menyerang Setan Selaksa Wajah. Tapi,
tubuh kakek berpakaian serba kuning itu terpental ba-
lik, lalu jatuh berguling di sisi lempengan batu. Tubuh
Raja Penyasar Sukma benar-benar telah terkurung
oleh kekuatan gaib yang berasal dari 'Benteng Rajah
Abadi'!
"Banyak Langkir...," sebut Setan Selaksa Wajah
untuk kesekian kalinya. "Sebenarnya, 'Benteng Rajah
Abadi' dapat mengurung mu sampai maut menjemput
mu. Tapi, agar kau tak bosan menunggu datangnya
Malaikat Kematian, sebentar lagi akan datang dua
orang lelaki yang akan mewakili mencabut nyawamu!
Ha ha ha...!"
Sambil tertawa bergelak, Setan Selaksa Wajah
membalikkan badan seraya melangkah pergi....
"Jahanam!" geram Raja Penyasar Sukma.
Terdorong hawa amarah, Raja Penyasar Sukma
jadi lupa keadaan. Dia lancarkan pukulan jarak jauh
ke arah Satan Selaksa Wajah. Namun, selarik sinar
kuning yang melesat dari telapak tangan kanannya
membentur kekuatan gaib yang berasal dari 'Benteng
Rajah Abadi'. Akibatnya, selarik sinar kuning itu ter-
pental balik, dan membentur tubuh Raja Penyasar
Sukma sendiri.
Blarrr...!
Breees...!
Tubuh Raja Penyasar Sukma terpental, lalu
membentur kekuatan gaib yang mengelilinginya. Hing-
ga, tubuh kakek yang telah termakan tipu muslihat
Setan Selaksa Wajah itu terpental lagi, dan jatuh ber-
debam di sisi lempengan batu yang semula dijadikan-
nya sebagai tempat duduk.
"Argh...!"
Memekik kesakitan Raja Penyasar Sukma. Kain
bajunya hangus terbakar sebagian. Dari mulutnya me-
nyembur darah segar. Jelas bila dia menderita luka da-
lam.
Namun, tentu saja Raja Penyasar Sukma tak
mau menyerah begitu saja. Dia segera duduk bersemadi untuk menghimpun seluruh daya kekuatannya.
Sementara, sosok Setan Selaksa Wajah sudah
lenyap dari pandangan. Dan, perlahan namun pasti,
mentari mulai bergeser naik. Hari menjadi siang....
Sesaat kemudian, dua orang lelaki tampak ber-
jalan menuju tengah Padang Angin Malaikat. Yang sa-
tu seorang kakek gendut berkepala gundul licin, men-
genakan rompi dan celana pendek putih kusam. Pu-
sarnya berupa gumpalan daging sebesar buah terong
tua, dapat bergerak-gerak dengan sendirinya. Dan,
yang satu lagi seorang pemuda remaja berwajah tam-
pan, mengenakan pakaian biru-biru dengan ikat ping-
gang kain merah. Sorot mata si pemuda menyiratkan
keluguan dan kejujuran.
Mereka adalah Setan Bodong dan Pendekar Bo-
doh!
"Banyak Langkir...!" seru kedua orang itu saat
melihat sosok Raja Penyasar Sukma yang tengah du-
duk bersila.
Apa yang akan mereka perbuat?
SELESAI
Segera menyusul:
PENGEJARAN KE MASA SILAM
0 comments:
Posting Komentar