"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Minggu, 08 Desember 2024

PENDEKAR BODOH EPISODE MUSLIHAT SANG DURJANA

PENDEKAR BODOH EPISODE MUSLIHAT SANG DURJANA

 Hak cipta dan copy right

pada penerbit di bawah lindungan

undang-undang

Dilarang mengcopy atau memperbanyak seba-

gian atau seluruh isi buku ini

tanpa izin tertulis dari penerbit



SATU


PADANG Angin Malaikat... 

Hanya orang gila atau orang yang sudah bosan 

hidup, berani menginjakkan kaki di tanah luas berpa-

sir yang senantiasa siap merenggut nyawa siapa pun 

itu. Tiupan angin kencang tiada henti menerbangkan 

butiran pasir ke sana-sini. Butiran pasir itu sudah cu-

kup mampu untuk membeset kulit dan membutakan 

mata. Suara gemuruh yang ditimbulkan sudah cukup 

mampu pula untuk memecahkan gendang telinga. Ke-

ganasan Padang Angin Malaikat yang tak pernah mau 

bersahabat dengan makhluk hidup, masih ditambah 

lagi dengan seringnya muncul putaran angin puting 

beliung.

Apabila putaran angin ganas itu muncul, bong-

kah batu sebesar gajah pun akan terbawa melayang 

berputar-putar lalu terlontar jauh. Begitu mendarat di 

tanah, bongkah batu itu akan langsung pecah berkep-

ing-keping. Apalagi, tubuh manusia yang cuma terdiri 

dari susunan tulang dan daging empuk!

Namun anehnya, di tengah Padang Angin Ma-

laikat yang sedang tersiram sinar mentari pagi, tampak 

sebentuk kepala manusia yang tak bergeming sedikit 

pun walau angin bertiup amat kencang. Tubuh bagian 

bawah orang itu menancap ke dalam tanah sampai se-

batas leher. Rambutnya riap-riapan dan selalu berki-

bar karena dipermainkan tiupan angin.

Dia seorang lelaki berusia sekitar enam puluh 

tahun. Tapi..., wajahnya yang sudah keriputan sesekali 

berubah menjadi wajah seorang pemuda dua puluh li-

ma tahunan. Sesekali pula, berubah menjadi wajah


Melihat kehebatan lelaki yang bisa berubah-

ubah itu, siapa lagi dia kalau bukan Mahisa Lodra 

atau Setan Selaksa Wajah!

Dan agaknya, dalam menjalani siksa yang amat 

menyakitkan itu, salah satu ilmu Mahisa Lodra yang 

bernama 'Selaksa Wajah Berganti-ganti' bekerja tanpa 

disadarinya. Mahisa Lodra sendiri tak tahu kalau wa-

jahnya senantiasa berubah-ubah.

Ketika wajah lelaki itu berubah menjadi wajah 

aslinya, wajah seorang kakek-kakek enam puluh ta-

hunan, mendadak kelopak matanya terbuka. Dengan 

sinar mata nyalang, ditatapnya sang baskara yang ba-

ru terbit di ufuk timur. Diedarkannya pandangan ke 

depan. Badai terus mengganas di Padang Angin Malai-

kat yang luas seakan tiada bertepi....

Setan Selaksa Wajah sama sekali tak takut bu-

tiran pasir yang beterbangan akan membutakan ma-

tanya. Dia terus mengedarkan pandangan dan terus 

mengedarkan pandangan....

"Jahanam kau, Banyak Langkir!" geram murid 

murtad Dewa Dungu itu. "Kau siksa aku seperti ini..., 

kau buat aku menderita seperti ini..., apa kau lupa 

bahwa aku pernah menanam budi baik kepadamu? Di 

antara kita pernah terjalin tali persahabatan..., kenapa 

kau lupakan persahabatan itu? Berkali-kali kau mem-

perlakukan aku sebagai budakmu! Berkali-kali kau 

berbuat sewenang-wenang terhadapku! Namun..., per-

buatanmu kali ini benar-benar amat kelewatan! Bina-

tang laknat kau, Banyak Langkir! Kalau kau tidak se-

gera membebaskan aku, seribu setan akan mencabik-

cabik tubuhmu! Kalau aku mati karena siksa ini, roh-

ku yang penasaran akan terus mengejarmu ke mana 

pun kau pergi!"

Saat mengumpat dan berteriak, butiran pasir


yang berada di hadapan Setan Selaksa Wajah tampak 

menyembur ke depan, lalu berhamburan karena ter-

tiup angin yang muncul dari mulut si kakek. Agaknya, 

Setan Selaksa Wajah menyertai ucapannya dengan ali-

ran tenaga dalam.

Namun..., rentetan kata kakek berambut riap-

riapan itu segera lenyap tertelan suara gemuruh angin 

yang terus bertiup di Padang Angin Malaikat. Tak ada 

orang lain yang muncul. Justru dari belakang Setan 

Selaksa Wajah tampak putaran angin puling beliung! 

Wesss

"Wuahhh...!"

Memekik parau Setan Selaksa Wajah. Kepa-

lanya yang menyembul ke permukaan tanah terasa 

amat pening luar biasa, bagai terhantam palu godam. 

Putaran angin puting beliung yang menimpa, memelin-

tir lehernya. Andai kakek itu tidak mempunyai kekua-

tan tenaga dalam tingkat tinggi, dapat dipastikan bila 

lehernya akan putus, dan kepalanya akan terbawa pu-

taran angin puting beliung!

"Setan alas kau, Banyak Langkirrr...!" teriak Se-

tan Selaksa Wajah, keras menggelegar.

Kakek itu berusaha menahan rasa sakit yang 

mendera kepala dan sekujur tubuhnya. Dia melam-

piaskan kekesalan dan hawa amarahnya dengan berte-

riak mengumpat-umpat. Sumpah serapah dan kata-

kata kotor segera tertumpah dari mulutnya.

Namun, sosok Banyak Langkir atau Raja Pe-

nyasar Sukma tetap tak muncul. Maka, semakin me-

muncaklah amarah Setan Selaksa Wajah. Darahnya 

menggelegak naik sampai ke ubun-ubun. Hingga, air 

mukanya menjadi merah-padam.

Tanpa sadar, dia mengeluarkan ilmu 'Selaksa 

Wajah Berganti-ganti'. Akibatnya, sebentar dia berwajah kakek-kakek, sebentar dia berwajah pemuda tam-

pan, lalu berwajah gadis cantik, kemudian menjadi ka-

kek-kakek lagi! Seiring berlalunya waktu, wajah murid 

murtad Dewa Dungu itu terus berganti dan berubah-

ubah tiada henti...

"Jahanam kau, Banyak Langkirrr...!" geram Se-

tan Selaksa Wajah untuk kesekian kalinya. "Jika aku 

benar-benar akan mati karena siksa ini aku bersum-

pah..., rohku yang penasaran akan terus mengejarmu 

ke mana pun kau pergi! Rohku tak akan pernah puas 

sebelum mencongkel keluar kedua biji matamu! Rohku 

tak akan pernah tenang sebelum bisa membetot jan-

tungmu! Rohku akan terus penasaran sebelum bisa 

mencabik-cabik tubuhmu! Aku bersumpah...! Aku ber-

sumpah...! Semoga selaksa setan dan iblis mau mem-

bantuku mewujudkan sumpahku ini! Keparat kau, 

Banyak Langkirrr...!"

Sambil berteriak-teriak, Setan Selaksa Wajah 

menghimpun seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Ke-

dua tangan dan kakinya yang berada di dalam tanah 

berusaha digerakkan. Dia hendak keluar dari tanah 

berpasir yang menimbun tubuhnya. Tapi..., tenaga da-

lamnya seperti membentur satu kekuatan gaib mana 

dahsyat yang tak dapat dilawan. Kedua tangan dan 

kakinya tak dapat digerakkan. Itu berarti, tubuhnya 

pun tak dapat dikeluarkan dari dalam tanah!

Sementara, tiupan angin kencang terus meng-

hajar kepala Setan Selaksa Wajah yang menyembul ke 

permukaan tanah. Angin puting beliung yang beberapa 

kali muncul turut menghajar pula! Walau si kakek 

memiliki daya tahan tubuh yang kuat luar biasa, tapi 

kalau didera rasa sakit terus-terusan, maka semakin 

melemahlah daya tahannya.

Hingga di lain kejap, butiran pasir mulai me


nancap di kulit wajah kakek itu. Titik-titik darah ke-

luar lewat lubang-lubang yang terbentuk.

Tentu saja, rasa sakit semakin menyiksa. Pe-

rih... pedih tiada terkira! Perlahan..., kesadaran Setan 

Selaksa Wajah mulai lenyap. Kepalanya yang semula 

tegak, kini tampak jatuh tertunduk tiada daya....

Gemuruh suara angin terus terdengar.

Gendang telinga pekak terhajar....

***

Di bagian lain Padang Angin Malaikat.... Di se-

la-sela tiupan angin kencang yang menerbangkan buti-

ran pasir, terlihat gumpalan cahaya kuning yang terus 

melayang dan berputar-putar di angkasa. Setiap gum-

palan cahaya yang amat menyilaukan mata itu melesat 

berpindah tempat, timbul suara berdesing keras seper-

ti suara puluhan pedang yang disabetkan bersamaan.

Bongkah-bongkah batu yang dilontarkan puta-

ran angin puting beliung langsung meledak hancur 

saat mendekati gumpalan cahaya kuning itu. Hingga 

suara gemuruh angin di Padang Angin Malaikat kerap

ditimpali suara ledakan keras. Bongkah-bongkah batu 

yang telah pecah menebar ke berbagai penjuru. Na-

mun, tak jarang di antara bongkah-bongkah batu yang 

membentur gumpalan cahaya kuning hancur luluh 

menjadi debu yang kemudian lenyap begitu saja ter-

bawa tiupan angin!

Tiba-tiba..., gumpalan cahaya kuning yang 

mempunyai daya penghancur dahsyat itu melesat ce-

pat ke timur, menuju ke tempat Mahisa Lodra yang se-

dang menjalani siksa. Kalau bongkah batu yang amat 

keras saja bisa hancur menjadi debu, bisa dibayang-

kan akibat yang akan diterima Setan Selaksa Wajah


apabila gumpalan cahaya kuning itu menerpa kepala si 

kakek.... 

Wusss...! 

Werrr...!

Lesatan cahaya kuning ternyata berhenti seki-

tar lima tombak dari hadapan Setan Selaksa Wajah. 

Sementara, Setan Selaksa Wajah yang mendengar sua-

ra lesatan benda aneh cuma membuka sedikit kelopak 

matanya. Namun, wajah si kakek yang kebetulan se-

dang berupa wajah seorang pemuda dua puluh lima 

tahunan langsung menegang. Jelas sekali bila dia ten-

gah menyimpan geram kemarahan di hati. Dengan ke-

lopak mata yang sedikit terbuka, rahang si kakek tam-

pak menggembung hingga berbentuk balok persegi. 

Dari mulutnya keluar suara desis keras yang merupa-

kan wujud kemarahannya. Kulit wajahnya yang telah 

ternoda cairan darah terlihat sangat mengerikan!

"Setan alas kau, Banyak Langkirrr...!" umpat 

Setan Selaksa Wajah kemudian, keras menggelegar.

Umpatan kakek yang sudah tak berdaya itu 

tersahuti suara dengus penasaran. Tepatnya berasal 

dari gumpalan cahaya kuning.

Sesaat kemudian, gumpalan cahaya yang men-

gambang di udara itu berputar di tempat. Putarannya 

amat cepat. Selain memperdengarkan suara gemuruh 

keras, juga menimbulkan tiupan angin kencang.

Memekik parau Setan Selaksa Wajah. Anak-

anak rambutnya yang berkibar terasa hendak menge-

lupas kulit kepalanya. Kulit wajahnya pun terasa se-

makin perih bagai diiris-iris sebilah pisau tajam!

"Jahanam kau, Banyak Langkirrr...!" teriak Se-

tan Selaksa Wajah untuk kesekian kalinya. "Lepaskan 

aku! Lepaskan aku, keparattt...!"

Tepat di ujung suara teriakan Setan Selaksa


Wajah, mendadak putaran cahaya kuning berhenti. La-

lu, gumpalan cahaya itu bergerak ke bawah..., dan 

langsung lenyap manakala menyentuh permukaan ta-

nah!

Namun sebagai gantinya, di tempat mendarat-

nya gumpalan cahaya itu muncul sesosok tubuh ma-

nusia!

Anehnya, badai yang tengah melanda Padang 

Angin Malaikat reda perlahan-lahan, hingga akhirnya 

suasana menjadi sunyi lengang. Angin hanya bertiup 

semilir. Butiran pasir pun tak lagi beterbangan.

Bola mata Setan Selaksa Wajah melotot besar, 

menatap sosok manusia yang berada di hadapannya 

dengan segudang dendam kemarahan meluap-luap....

Sosok manusia yang baru muncul itu ternyata 

seorang kakek berpakaian serba kuning. Kulit wajah 

dan tubuhnya berwarna kuning pula seperti dilumuri 

air perasan kunyit. Demikian juga dengan rambutnya. 

Hebatnya, lelaki tua itu tengah duduk bersila di atas 

lempengan batu pipih yang terus mengambang di uda-

ra!

Dia Banyak Langkir atau Raja Penyasar Sukma!

"Hmmm.... Berkali-kali kau mengumpat dan 

meneriaki ku dengan sumpah serapah mu. Mestinya 

sekarang ini juga aku harus memecahkan batok kepa-

lamu, Mahisa Lodra...," ujar Raja Penyasar Sukma 

dengan suara berat menggeram, menyimpan kemara-

han pula.

"Bedebah!" semprot Setan Selaksa Wajah. "Ka-

lau berani kau melakukan itu, rohku yang penasaran 

akan membalas semua perbuatan kejimu ini!" 

"Ha ha ha...!" Raja Penyasar Sukma tertawa 

bergelak-gelak. Lempengan batu yang didudukinya 

bergerak turun-naik. "Siapa takut pada ancamanmu


itu, Mahisa Lodra? Kalau aku berniat membunuh 

orang, tak pernah aku berpikir apa pun akibatnya! 

Namun..., hmmm... aku masih mau mengampuni nya-

wamu...."

"Jahanam! Andai benar apa yang kau katakan, 

cepatlah kau keluarkan aku dari siksa ini!"

"Ha ha ha...!" Raja Penyasar Sukma tertawa la-

gi. "Sabar! Sabar dulu, Mahisa Lodra! Siksa yang ten-

gah kau rasakan ini sebenarnya amat pantas kau te-

rima! Karena, kau benar-benar telah mengecewakan 

aku! Kodok Wasiat Dewa gagal kau serahkan kepada-

ku! Entah berada di tangan siapa benda ajaib itu seka-

rang...."

"Jangan banyak mulut, Keparat! Segera kelua-

rkan aku!" desak Setan Selaksa Wajah.

"Sabar! Sabar dulu, Mahisa Lodra! Aku tahu 

kau telah mencuri batu mustika 'Menembus Laut Ber-

napas Dalam Air' milikku. Aku tahu kini batu mustika 

itu berada di tangan Pendekar Bodoh! Dan..., tahukah 

kau, Mahisa Lodra, bocah geblek itu telah masuk ke 

Lembah Rongga Laut?"

Setan Selaksa Wajah terdiam. Mendengar uca-

pan Raja Penyasar Sukma, tiba-tiba hatinya berdebar-

debar tak karuan. Debar-debar itu mampu mengalah-

kan rasa sakit yang tengah menderanya.

"Ketahuilah, Mahisa Lodra...," lanjut Raja Pe-

nyasar Sukma. "Pendekar Bodoh bukan saja berhasil 

menyelamatkan Kemuning yang kau sekap di Lembah 

Rongga Laut, bocah geblek itu juga berhasil membawa 

pergi Setan Bodong! Bahkan, ilmu kesaktian guruku 

itu dapat pula dia kembalikan...! Semua ini karena ke-

salahanmu, Mahisa Lodra...!"

Kulit wajah Raja Penyasar Sukma semakin 

menguning. Bola matanya menatap berapi-api. Bahunya naik-turun terbawa desakan hawa amarah di 

dada.

Kontan debar-debar di hati Setan Selaksa Wa-

jah semakin terasa. Dia tak berani membayangkan 

apabila Raja Penyasar Sukma benar-benar akan me-

mecahkan batok kepalanya. Hingga untuk beberapa 

lama, Setan Selaksa Wajah yang didera rasa takut cu-

ma dapat memejamkan mata dengan mulut terkunci 

rapat. Geram kemarahannya sudah tak terlihat lagi. 

Semua kata-kata kotor dan sumpah serapahnya tak 

terdengar pula.

"Mahisa Lodra...!" sebut Raja Penyasar Sukma 

kemudian. "Buka matamu lebar-lebar! Buka akal piki-

ranmu baik-baik! Melihat kesalahanmu yang demikian 

besar, hukuman yang kujatuhkan ini amatlah pantas 

kau terima! Bahkan, mestinya aku membiarkan dirimu 

berada di tempat ini sampai mati! Tapi..., kupikir jika 

aku membunuhmu, tak ada manfaat apa-apa yang 

kudapatkan. Oleh karena itu, aku masih mau membe-

rikan kesempatan. Biarlah kali ini kau kuampuni. Ta-

pi..., dengan satu syarat! Buka telingamu lebar-lebar. 

Mahisa Lodra! Setelah kau kubebaskan, bunuh Pende-

kar Bodoh dan Setan Bodong! Tiga hari lagi, aku me-

nantimu di tempat ini. Kau jangan lagi mengecewakan 

aku! Kau harus datang dengan membawa kepala me-

reka!"

Usai berkata, Raja Penyasar Sukma melu-

ruskan telunjuk jari tangan kanannya ke bawah. Sela-

rik sinar kuning tiba-tiba melesat! 

Cusss...! 

Setan Selaksa Wajah memejamkan mata penuh 

rasa takut dan ngeri. Dia menyangka Raja Penyasar 

Sukma hendak memecahkan batok kepalanya.

Ternyata tidak. Selarik sinar kuning yang melesat dari ujung jari telunjuk Raja Penyasar Sukma cu-

ma menerpa permukaan tanah di depan kepala Setan 

Selaksa Wajah. Dan tiba-tiba, dari dalam tanah ter-

dengar suara mendesis keras seperti ada ratusan ular 

yang tengah meleletkan lidah....

"Astaga...!" kejut Setan Selaksa Wajah. Kakek 

berwajah seorang pemuda itu merasakan tubuhnya te-

rangkat. Permukaan tanah terkuak, dan muncullah 

tubuh si kakek yang semula terbenam sebatas leher....

Satu pemandangan mengerikan segera terlihat. 

Ternyata, tubuh Setan Selaksa Wajah berada di dalam 

mulut seekor binatang raksasa bertubuh panjang tak 

berkaki.

Binatang melata yang besar tubuhnya melebihi 

batang pohon kelapa itu berkulit putih kemerahan dan 

dilapisi lendir. Rupanya, dia seekor cacing raksasa!

Swosss...! 

"Wuahhh...!"

Setan Selaksa Wajah memekik panjang saat tu-

buhnya disemburkan keluar dari mulut cacing raksa-

sa. Dan, ketika tubuh si kakek jatuh bergulingan, cac-

ing raksasa itu bergerak cepat, masuk kembali ke ta-

nah!

"Aku selamat! Aku selamat!" seru Setan Selaksa 

Wajah, girang bukan main.

Murid murtad Dewa Dungu itu mengedarkan 

pandangan ke segenap penjuru. Namun, sosok Raja 

Penyasar Sukma sudah tak tampak lagi.

Tersentak Setan Selaksa Wajah manakala men-

dengar bisikan Raja Penyasar Sukma yang dikirim 

dengan menggunakan ilmu pengirim suara dari jarak 

jauh....

"Ingat, Mahisa Lodra! Jangan buat kesalahan 

lagi! Kau hanya punya waktu tiga hari! Bawa kepala


Pendekar Bodoh dan Setan Bodong ke hadapanku!"

Setan Selaksa Wajah mendesah panjang.

Tugas teramat berat datang menghadang....

* * *

DUA



SEJAK langit baru tercipta. 

Dan, bumi baru terbentuk. 

Manusia tak pernah berhenti 

Membuka mata dan hati 

Lebih lebar....

Namun, rahasia alam tak pernah dapat terkuak 

Rahasia Tuhan tak pernah dapat terjangkau

Oleh akal pikiran manusia...

Memang....

Ada banyak kejadian yang tak pernah bisa di-

mengerti manusia

Sering kali kekuasaan dan segala hiasan dunia

Membuat manusia lupa

Pada kodratnya sebagai manusia

Lupa diri dan berlaku seenaknya

Bukan cermin hidup manusia di dunia

Kesenangan adalah awal dari kesusahan

Kebahagiaan adalah awal dari penderitaan

Tuhan menciptakan dua 'teman' bagi hidup ma-

nusia

Di dunia

Orang hidup pasti mati

Ada budi, ada balas

Maka, manusia mesti pandai-pandai membawa 

diri

Walau rahasia alam tak pernah dapat terkuak 

Walau rahasia Tuhan tak pernah dapat terjang-

kau

Setiap perbuatan pasti ada akibat dan balasan 

Yang baik akan menerima pahala 

Yang jahat akan menerima dosa

Dan....

Salah satu dosa besar adalah....

Durhaka kepada orangtua

Pemuda remaja berpakaian biru-biru itu terke-

siap. Dengan kening berkerut rapat, dia mengedarkan 

pandangan. Kepalanya menengok ke kanan dan ke ki-

ri. Lalu, dia cengar-cengir penuh rasa kecewa. Sosok 

orang yang dicarinya tak dapat ditemukan.

"Hmmm.... Jelas sekali bila kata-kata terakhir 

dari syair tadi sengaja menyindir diriku...," pikir si pe-

muda. "Apakah si pelantun syair itu tahu kalau aku 

akan membuat perhitungan dengan ayah kandungku 

sendiri?" 

Saat berpikir-pikir, wajah tampan pemuda ting-

gi tegap itu jadi tampak kebodoh-bodohan. Sinar keju-

juran dan keluguan semakin terpancar dari sorot ma-

tanya.

Dia cengar-cengir lagi. Sambil terus mengedar-

kan pandangan, kakinya terayun. Dimasukinya Hutan 

Saradan yang sunyi lengang. Disibaknya semak belu-

kar yang menghadang. Dia yakin bila orang yang ten-

gah dicarinya berada di antara jajaran pohon jati di da-

lam hutan itu. 

"He, Ksatria Seribu Syair...!" teriak si pemuda 

yang tak lain Seno Prasetyo atau Pendekar Bodoh. 

"Ksatria Seribu Syair...! Kenapa kau lari setelah meli-

hat diriku?! Aku jadi semakin yakin bila kau memang


seorang pengecut! Keluarlah! Ada satu urusan yang 

harus segera kuselesaikan denganmu!"

Teriakan pemuda berambut panjang tergerai itu 

membahana panjang. Satwa-satwa hutan tersentak 

kaget. Mereka langsung lari berserabutan karena gen-

dang telinga mereka terasa pekak. Agaknya, Pendekar 

Bodoh menyertai teriakannya dengan aliran tenaga da-

lam. 

Namun, teriakan pemuda lugu itu cuma tersa-

huti lambaian daun jati yang tertiup angin. Tak ada 

orang lain yang muncul. 

Kembali Seno mengayunkan langkah. Terus 

dimasukinya Hutan Saradan yang cukup luas. Dia te-

tap yakin bila orang yang tengah dicarinya berada di 

dalam hutan itu. Tapi..., belum seberapa jauh kakinya

melangkah, lamat-lamat terdengar sebuah syair lagi....

Bila orang terlalu menuruti isi hati 

Tanpa berpikir untung dan ruginya

Apa akibatnya yang akan didapat?

Tak lebih dari penyesalan di kelak hari 

Berpikir sebelum bertindak 

Adalah salah satu ciri orang bijaksana 

Hati-hati dalam bersikap

Patut dikerjakan setiap manusia

Waspada di setiap tempat

Akan banyak mendatangkan manfaat

Karena tak sabaran, bergegas Seno mengempos 

tenaga. Dikerahkannya ilmu peringan tubuh 'Lesatan 

Angin Meniup Dingin' ajaran Dewa Dungu.

Hingga, tubuh pemuda remaja itu berubah 

menjadi segumpal asap yang melesat cepat di antara 

jajaran pohon jati. Tiupan angin yang ditimbulkan


membuat sulur-sulur semak belukar tercabut dari da-

lam tanah, lalu melayang berhamburan ke kanan-kiri.

Seno baru menghentikan lesatan tubuhnya se-

telah sampai di sebidang tanah cukup luas. Dua ba-

tang pohon jati kering tampak tergeletak di tanah. 

Dan..., di salah satu batang pohon jati yang tumbang 

karena tiupan badai itu, Seno melihat seorang lelaki 

berpakaian putih-putih dengan ikat pinggang kain bi-

ru. Wajahnya tertutup sebuah topeng yang terbuat dari 

baja putih.

"Ksatria Topeng Putih...," deals Pendekar Bo-

doh, menyebut gelar lelaki bertopeng yang telah dike-

nalnya.

"Ya. Aku memang Ksatria Topeng Putih, Se-

no...," sahut lelaki bertopeng seraya melangkah meng-

hampiri Pendekar Bodoh. "Air mukamu tampak keruh. 

Aku tahu pikiranmu kusut. Tentu ada masalah yang 

membuatmu jadi bingung. Karena masalah yang ada di 

benakmu itukah kau memasuki hutan jati ini, Seno?"

Ksatria Topeng Putih yang sebenarnya tak lain 

dari Ksatria Seribu Syair merubah nada dan warna su-

aranya. Berbeda dengan ketika memakai gelar Ksatria 

Seribu Syair, kali ini suara lelaki setengah baya itu 

terdengar lebih berat dan berwibawa. Dia memang be-

lum mau membuka jatidirinya kepada Pendekar Bo-

doh. Oleh karenanya, Ksatria Topeng Putih mengguna-

kan ilmu 'Mengganti Suara Merubah Getaran' agar jati 

dirinya tak diketahui oleh pemuda lugu itu. 

Sementara, Pendekar Bodoh yang tengah men-

cari Ksatria Seribu Syair terlihat nyengir kuda. Untuk 

beberapa lama, dia tak bisa membuka suara. Namun, 

dari sorot matanya, jelas sekali bila dia berkeinginan 

mengetahui wajah asli Ksatria Topeng Putih.

"Siapa Paman sebenarnya...?" tanya Seno, lirih.


"Memangnya ada apa?" Ksatria Topeng Putih 

balik bertanya.

Seno nyengir lagi.

Ksatria Topeng Putih tersenyum.

"Aku tahu kau baru keluar dari Lembah Rongga 

Laut," ujar lelaki bertopeng itu kemudian. "Kau telah 

berhasil menyelamatkan Kemuning, bukan? Tapi, ke-

napa gadis itu tidak bersamamu sekarang ini?"

"Berkat bantuan Ratu Perut Bumi dan Paman 

juga, aku memang telah berhasil menyelamatkan Ke-

muning. Tapi, gadis itu ku tinggalkan karena dia telah 

berjumpa dengan Dewi Pedang Halilintar gurunya. Se-

mentara, aku pun harus menyelesaikan urusanku 

sendiri...," sahut Pendekar Bodoh.

"Hmmm.... Begitu? Kalau boleh aku tahu, uru-

san apa itu?" tanya Ksatria Topeng Putih.

"Aku tengah mencari seorang lelaki bergelar 

Ksatria Seribu Syair," jawab Seno, terus terang. "Apa-

kah Paman tadi melihat lelaki yang kucari itu lewat di 

hutan ini?"

"Aku tak melihat siapa-siapa, kecuali dirimu 

dan diriku sendiri, Seno...," beri tahu Ksatria Topeng 

Putih. "Melihat sikapmu ini, sepertinya kau menyim-

pan rasa tak suka pada orang yang kau cari itu. Kena-

pa?"

Mendengar pertanyaan Ksatria Topeng Putih, 

Seno terdiam. Tapi setelah berpikir-pikir, dia berkata, 

"Karena Paman pernah menanam budi kepadaku, ku-

pikir tak ada jeleknya apabila aku berterus terang ke-

pada Paman. Ketahuilah, Paman, Ksatria Seribu Syair 

adalah ayah kandungku...."

Terharu tiba-tiba Ksatria Topeng Putih men-

dengar pengakuan Seno. Ingin rasanya dia memeluk 

Seno saat itu juga. Sebagai seorang ayah, tentu saja


Ksatria Topeng Putih menyimpan rasa kasih dan rindu 

terhadap putra tunggalnya yang telah lama berpisah.

Namun, cepat Ksatria Topeng Putih menekan 

keinginan itu. Pertemuannya dengan Seno tidak pada 

waktu yang tepat. Seno yang masih hijau dan amat lu-

gu tentu belum matang dalam berpikir dan menentu-

kan sikap. Seno pasti menganggap kesengsaraan dan 

penderitaan hidup Ibunya semata-mata hanya karena 

perbuatan Ksatria Seribu Syair. Dengan kata lain, Se-

no belum dapat berpikir jauh, bahwa seseorang tak 

mungkin dengan sengaja membuat sengsara orang 

yang amat dicintainya. Seperti apa yang pernah dila-

kukan Ksatria Topeng Putih atau Ksatria Seribu Syair 

terhadap mendiang ibunya Seno, Dewi Ambarsari.

"Menilik dari nada suaramu, aku semakin yakin 

bila kau memang menyimpan rasa tak suka terhadap 

ayah kandungmu sendiri, Seno...," ujar Ksatria Topeng 

Putih kemudian. "Ada perkara apa gerangan? Dan, apa 

yang akan kau perbuat jika kau telah berjumpa den-

gan ayahmu itu?"

Seno tak menjawab. Walau dalam dirinya ter-

simpan rasa kagum dan hormat, tapi tatapannya ter-

hadap Ksatria Topeng Putih tampak menyelidik.

"Maafkan aku andai pertanyaanku tadi tak ber-

kenan di hatimu...," ucap Ksatria Topeng Putih yang 

merasa tak enak melihat tatapan Seno.

"Aku juga minta maaf, Paman...," sahut Pende-

kar Bodoh. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Pa-

man. Masalah yang Paman tanyakan itu terlalu priba-

di...."

"Hmmm.... Kau tak menjawab pun, tak jadi 

apa. Kau tak perlu meminta maaf. Tapi ingat, seperti 

yang dulu pernah kukatakan padamu..., pandai-

pandailah kau dalam menggunakan otak untuk menimbang dan berpikir. Jangan sampai kau menyesal di 

akhir perbuatanmu...."

"Ya! Ya, aku akan mengingat nasihat Paman," 

sambut Pendekar Bodoh. "Tapi, Paman..., apakah Pa-

man tadi juga mendengar rentetan kata syair yang be-

rasal dari dalam hutan ini?"

Ksatria Topeng Putih mengangguk. Tak ingin 

dia berbohong. Yang mengucapkan kata-kata syair tadi 

memang dia sendiri. Tentu saja dia turut mendengar-

nya.

"Aku yakin, si pelantun syair itu adalah Ksatria 

Seribu Syair," ujar Pendekar Bodoh. "Tapi..., benarkah 

Paman tidak melihat orang lain di dalam hutan ini?"

"Sudah kukatakan tadi, aku tidak melihat sia-

pa-siapa kecuali dirimu dan tentu saja diriku sendiri," 

jawab Ksatria Topeng Putih.

Lelaki bertubuh tinggi tegap itu tetap tak ber-

bohong. Namun, Pendekar Bodoh yang belum tahu 

Ksatria Topeng Putih adalah Ksatria Seribu Syair, 

mengartikan lain ucapan lelaki yang sengaja menyem-

bunyikan jatidirinya itu.

"Sayang..., sayang sekali...," desis Seno akhir-

nya. "Sejak tadi malam, aku mengejar orang itu. Tapi 

jerih payahku tampaknya akan sia-sia belaka...."

Setelah berpikir-pikir sejenak, Seno menatap 

sosok Ksatria Topeng Putih penuh selidik lagi. "Walau 

sekilas, aku dapat melihat bila Ksatria Seribu Syair 

memakai pakaian putih-putih seperti pakaian yang 

kenakan ini, Paman. Potongan tubuhnya pun persis 

sama dengan potongan tubuh Paman. Jangan-jangan 

Paman adalah...."

"Aku tahu jalan pikiranmu, Seno," sela Ksatria 

Topeng Putih. "Potongan tubuh dan warna pakaian bi-

sa sama. Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan...."

"Ah! Kalau begitu, maafkan aku, Paman...," 

ucap Pendekar Bodoh yang merasa keliru menyangka 

orang.

"Sudahlah. Tak jadi apa...," sergap Ksatria To-

peng Putih. "Semoga Tuhan selalu bersamamu, Seno. 

Aku yakin, di kelak kemudian hari kau akan dapat 

menemukan Ksatria Seribu Syair.... Aku juga punya 

urusan penting, Seno. Aku tak dapat menemanimu la-

gi...."

Usai berkata, Ksatria Topeng Putih menjejak 

tanah seraya berkelebat pergi.

"Tunggu...!" cegah Pendekar Bodoh.

Namun, sosok Ksatria Topeng Putih keburu hi-

lang dari pandangan Pendekar Bodoh. Lelaki bertopeng 

itu terus berlari mengerahkan seluruh kemampuan il-

mu peringan tubuhnya. Rasa galau dan kalut mener-

jang hati sanubarinya.

Walau dia telah berlari sekuat tenaga, sosok 

Pendekar Bodoh terus membayang di kelopak ma-

tanya. Bayangan pemuda itu semakin membuat ha-

tinya pedih teriris-iris. Perasaan bersalah semakin ber-

kuasa dalam dirinya.

"Maafkan aku, Seno...," ucap Ksatria Topeng 

Putih dalam hati. "Aku belum dapat membuka jati di-

riku sebenarnya kepadamu. Untuk beberapa lama, le-

bih baik kau tetap mengenalku sebagai Ksatria Topeng 

Putih...."

Lelaki bertopeng itu mendesah panjang. Rasa 

sedih terus menyerang....

* * *


TIGA


KAKEK berperut gendut itu berdiri celingukan 

di tepi hutan. Dengan tatapan matanya, dia berusaha 

menembus rimbunan semak belukar yang tumbuh 

subur di antara jajaran pohon jati. Namun, berkali-kali 

kakek bertubuh tinggi besar itu mendesah panjang se-

raya menggerutu panjang-pendek.

"Kelebatan bayangan bocah itu menghilang di 

sekitar sini. Mungkinkah dia masuk ke hutan?" tanya 

si kakek kepada dirinya sendiri. "Bagaimana kalau aku 

turut masuk? Tapi..., kalau dia tidak kutemukan, bu-

kankah aku hanya akan membuang-buang waktu sa-

ja?"

Kakek yang wajahnya tampak jenaka itu me-

langkah tiga tindak ke depan. Dia celingukan lagi. Dis-

ibaknya sulur-sulur semak belukar yang menutupi 

pandangan. Tapi, segera dia mendesah panjang lagi. 

Gerutuan yang keluar dari mulutnya menyembur tiada 

henti.

Tertimpa sinar mentari, kepala si kakek yang 

gundul tampak berkilat karena terlapisi air keringat. 

Tubuhnya yang tambun hanya terbungkus rompi dan 

celana pendek berwarna putih kusam. Sehingga, pe-

rutnya yang gendut terlihat menonjol ke depan. Aneh-

nya, si kakek memiliki pusar yang berupa gumpalan 

daging sebesar buah terong tua! Gumpalan daging itu 

berwarna merah dan dapat bergerak-gerak seperti see-

kor binatang!

Melihat wujud lahir si kakek, siapa lagi dia ka-

lau bukan Setan Bodong!

Plok! Plok!

Mendadak, Setan Bodong menepak kepalanya


sendiri seraya merutuk, "Huh! Kenapa aku bisa jadi 

amat tolol seperti ini?! Kalau cuma berdiri celingukan, 

bukankah sama artinya dengan membuang-buang 

waktu pula?! Ah! Apa boleh buat! Aku harus masuk! 

Aku harus masuk!"

Mengikuti pikiran di benaknya, kakek yang ba-

ru keluar dari Lembah Rongga Laut itu melangkah ce-

pat, memasuki Hutan Saradan yang telah terbentang 

di depan matanya. Namun tiba-tiba..., dia melonjak 

kaget. Indera pendengarannya yang tajam menangkap 

suara berisik yang muncul dari dalam hutan.

"Aku mendengar suara langkah kaki manusia," 

kata hati Setan Bodong. "Mungkinkah dia?"

Dengan kening berkerut rapat, Setan Bodong 

berjalan mengendap-endap. Dipergunakannya ilmu pe-

ringan tubuh agar langkah kakinya tak mengeluarkan 

suara.

Hebat sekali kakek itu!

Sulur-sulur semak belukar yang terinjak ka-

kinya sama sekali tak melengkung ataupun putus. 

Agaknya, ilmu peringan tubuh Setan Bodong sudah 

mencapai taraf sempurna. Dia mampu merubah berat 

tubuhnya menjadi seringan kapas.

Mendadak, Setan Bodong tertawa terkekeh-

kekeh. "He he he.... Dia sudah kutemukan! He he he.... 

Aku harus membuatnya melonjak kaget setengah mati 

dulu, baru aku melaksanakan rencana yang telah ku

susun. He he he...."

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Setan Bodong 

mengintip dari balik semak belukar. Di antara jajaran 

pohon jati ternyata ada seorang pemuda remaja sedang 

berjalan gontai. Pemuda berwajah tampan itu menge-

nakan pakaian biru-biru dengan ikat pinggang kain 

merah.


Dia Seno Prasetyo atau Pendekar Bodoh!

Karena sedang berpikir-pikir dengan benak ku-

sut, Seno jadi tidak waspada. Dia tak tahu kalau di-

rinya tengah diintip orang. Bahkan, indera pendenga-

rannya yang biasanya amat tajam pun tak dapat me-

nangkap suara tawa Setan Bodong. Hingga di lain ke-

jap....

"Astaga...!"

Seno berseru kaget. Tatapan matanya jadi nya-

lang. Puluhan ular tiba-tiba muncul dari balik semak 

belukar, merayap cepat menuju ke arahnya! Dan..., 

langsung mengepung!

Ular-ular yang tampak ganas itu mendesis-

desis dengan lidah melelet keluar. Bola mata mereka 

berkilat menatap penuh nafsu membunuh. Kulit tubuh 

mereka yang beraneka warna menambah rasa ngeri di 

hati Seno!

Tak mau mati konyol dikeroyok puluhan ular 

berbisa, bergegas Seno menggerakkan tangan kanan-

nya untuk mencabut Tongkat Dewa Badai yang terselip 

di ikat pinggangnya. Namun tanpa diketahui oleh Se-

no, dari belakang pemuda itu melesat seekor ular po-

hon!

Sssttt...!

"Ih...!"

Terkejut setengah mati Pendekar Bodoh. Perge-

langan tangan kanannya tiba-tiba telah terbelit seekor 

ular berkulit hijau berkilat. Dan..., ular pohon sepan-

jang satu depa itu berusaha membelit tangan Pendekar 

Bodoh yang lainnya.

Tentu saja Pendekar Bodoh tak mau membiar-

kan hat itu terjadi. Sambil menekan rasa jijik dan nge-

ri, dia menarik tangan kirinya ke belakang. Lalu, dia 

kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk


membentengi tubuhnya dengan ilmu kebal 'Perisai De-

wa Badai'!

"Astaga...!"

Seno berseru kaget lagi. Ternyata, dia tak 

mampu menghimpun tenaga dalamnya. Dan..., itu be-

rarti ilmu 'Perisai Dewa Badai' tak dapat pula dia kelu-

arkan! Padahal, ular pohon yang telah membelit tan-

gan kanannya mulai bergerak ganas. Moncongnya ter-

buka lebar memperlihatkan dua taring runcing berki-

lat! 

"Mati aku! Mati aku!" desah Seno dengan pera-

saan kalut tak karuan.

Puluhan ular yang bergerak di permukaan ta-

nah sudah mulai pula membelit kedua kaki Seno. 

Ular-ular pohon yang terdapat di antara mereka tam-

pak melesat, dan langsung membelit tubuh bagian atas 

sang pendekar!

Tampak kemudian, tubuh murid Dewa Dungu 

itu benar-benar dikerumuni oleh puluhan ular berane-

ka jenis! 

Pendekar Bodoh berteriak keras penuh rasa 

ngeri. Dia memberontak sekuat tenaga. Berkali-kali dia 

berusaha mengeluarkan ilmu 'Perisai Dewa Badai' un-

tuk membuat tubuhnya kebal. Tapi..., kekuatan tenaga 

dalamnya benar-benar telah lenyap entah ke mana!

Seno jadi sulit bernapas ketika belitan ular-ular 

itu semakin kuat. Tulang-belulang tubuh Seno mulai 

mengeluarkan suara berkerutukan karena hendak re-

muk!

Anehnya, puluhan ular yang sedang membelit 

dan mengepung Pendekar Bodoh itu tak mau mema-

tuk. Sebagian di antara mereka malah hanya bergerak 

mengitari tubuh Pendekar Bodoh yang berdiri ter-

huyung-huyung.


"He he he.... Kau pergi tanpa berpamitan dulu 

kepadaku. Itulah akibatnya! He he he...."

Tiba-tiba, Setan Bodong muncul dari persem-

bunyiannya. Tenang-tenang dia melangkah mengham-

piri Seno. Beberapa ekor ular yang masih melata di ta-

nah langsung diraupnya seraya diselempangkan di ke-

dua bahunya

"He he he..." tawa kekeh Setan Bodong."Sudah! 

Sudah, Kawan! Lepaskan bocah itu!"

Di ujung kalimat Setan Bodong, mendadak 

ular-ular yang tengah membelit tubuh Pendekar Bodoh 

langsung mengendorkan belitannya. Lalu, perlahan 

mereka turun ke tanah dan menghampiri Setan Bo-

dong!

"Kalian memang amat penurut. Terima kasih. 

Terima kasih...."

Sambil berkata demikian, Setan Bodong me-

raup lagi beberapa ekor ular yang berada di dekatnya. 

Ular-ular itu lalu diselempangkan pula ke kedua ba-

hunya.

Pendekar Bodoh yang sudah terbebas dari beli-

tan ular tampak membelalakkan mata penuh rasa tak

percaya. "Apa... apa yang kau lakukan, Pak Tua...?" 

tanyanya, tergagap.

"He he he...," Setan Bodong tertawa lagi. "Kau 

terkejut, bukan? Kau kaget, bukan? He he he.... Itulah 

hukuman ku! Kenapa kau meninggalkan aku tanpa 

pamit?"

Seno tersurut mundur beberapa langkah saat 

melihat Setan Bodong berjalan menghampirinya. Jelas 

sekali bila murid Dewa Dungu itu masih merasa ngeri 

melihat ular-ular yang bergelantungan di leher dan 

bahu Setan Bodong.

"Kau jangan mendekatiku, Pak Tua...," pinta


Seno sambil mengangkat kedua tangannya.

Setan Bodong geleng-geleng kepala seraya ter-

tawa terkekeh-kekeh lagi. Namun, melihat sorot mata 

Pendekar Bodoh yang benar-benar menyiratkan rasa 

ngeri, kakek gendut itu lalu menurunkan ular-ular 

yang bergelantungan di tubuhnya.

"Hayo! Sekarang, kalian harus pergi! Hayo! 

Hayo! Pergi semua!"

Setan Bodong mengusir dengan mengibas-

ngibaskan kedua telapak tangannya. Puluhan ular 

yang masih melata di permukaan tanah menatap sosok 

Setan Bodong sebentar, lalu mereka membalikkan ba-

dan seraya merayap lenyap ke balik semak belukar.

"Kau... kau... Kenapa kau mempermainkan 

aku, Pak Tua?!" tegur Seno dengan mata melotot.

Kentara sekali bila murid Dewa Dungu itu ma-

rah karena merasa dilecehkan. Dia tahu kalau ular-

ular yang membelutnya tadi atas perintah Setan Bo-

dong. Padahal, Setan Bodong baru ditolongnya keluar 

dari Lembah Rongga Laut, termasuk mengembalikan 

ilmu kesaktian kakek gendut itu yang lenyap akibat 

ulah Raja Penyasar Sukma. (Baca serial Pendekar Bo-

doh dalam episode: "Ksatria Seribu Syair").

Melihat Pendekar Bodoh memelototinya, Setan 

Bodong malah tertawa lagi. "He he he.... Aku tahu jalan 

pikiranmu, Bocah Bagus. Kau menganggap aku manu-

sia yang tak tahu membalas budi, bukan? Hmmm.... 

Jangan salah mengerti dulu. Justru kedatanganku ini 

hendak berbuat baik kepadamu...."

"Tapi..., kenapa kau mempermainkan aku?! 

Ular-ular itu amat menjijikkan...!" sembur Pendekar 

Bodoh.

"Apa yang kulakukan tadi sudah pantas kau te-

rima. Bukankah kau pergi dariku tanpa pamit? Dan,


perlakuanmu itu membuatku tersinggung!" kilah Setan 

Bodong.

"Aku tak punya waktu untuk berpamitan kepa-

damu, Pak Tua!" bentak Seno. "Aku harus mengejar 

seseorang!"

"Ksatria Seribu Syair? Hmmm.... Lupakan dulu 

urusanmu dengan orang itu. Apakah kau belum tahu 

kalau tenaga dalammu telah lenyap?"

Seno terdiam.

Pemuda remaja itu merasakan kebenaran kata-

kata Setan Bodong. Tenaga dalamnya memang telah 

lenyap. Hal itu terbukti saat dia tak dapat menerapkan 

ilmu 'Perisai Dewa Badai'.

"Kau tentu mempunyai sebuah ilmu pukulan 

yang menjadi andalanmu," ujar Setan Bodong kemu-

dian. "Untuk memastikan apakah tenaga dalammu te-

lah lenyap atau tidak, cobalah kau keluarkan ilmu pu-

kulanmu itu...."

"Tak perlu!" tolak Seno. "Aku sudah tahu kalau 

tenaga dalamku telah lenyap."

"Tapi, tetaplah kau turuti kata-kataku!" desak

Setan Bodong.

"Aku tak sudi!" tolak Seno lagi, mulai naik pi-

tam.

Setan Bodong geleng-geleng kepala seraya ter-

tawa terkekeh. Lalu dia berkata, "Kau turuti saja apa 

kataku! Akan kutunjukkan suatu hal kepadamu!"

"Boleh! Boleh!" terima Seno kemudian. "Tapi, 

kalau aku dapat menghimpun tenaga dalamku, jangan 

menyesal kalau kepalamu yang gundul itu kubuat pe-

cah berantakan!"

Setan Bodong menyambut ucapan Seno dengan 

tertawa panjang terkekeh-kekeh. Dia tak berucap lagi. 

Kepalanya cuma mengangguk-angguk.


Pendekar Bodoh yang masih kesal mendengus 

gusar. Dicobanya untuk mengeluarkan ilmu pukulan 

'Dewa Badai Rontokkan Langit'. Tapi..., tenaga dalam-

nya benar-benar telah lenyap. Ilmu pukulan yang be-

rasal dari Kitab Sanggalangit itu tak dapat dikelua-

rkannya!

"Kenapa bisa begin!? Kenapa bisa begini?" seru 

Seno, tak mengerti.

"Aku akan menjelaskan apa yang telah terjadi 

pada dirimu. Tapi tidak di tempat ini...," sahut Setan 

Bodong seraya berkelebat keluar dari Hutan Saradan.

Seno nyengir kuda sejenak. Namun, bergegas 

dia mengekor langkah Setan Bodong....

***

Di tepi Hutan Saradan, Setan Bodong tertawa 

terkekeh-kekeh melihat Pendekar Bodoh tampak ke-

payahan. Napas pemuda remaja itu memburu dan ter-

dengar ngos-ngosan. Kulit wajahnya memerah dengan 

peluh berlelehan....

Namun..., saat langkah Pendekar Bodoh telah 

dekat, Setan Bodong terkesiap. Hidungnya mencium 

aroma wangi kayu cendana. Aroma yang menebar dari 

kain baju Pendekar Bodoh itu membuat kepala Setan 

Bodong jadi pening.

"Hmmm.... Baju bocah itu mengandung kekua-

tan 'Penakluk Wanita'. Bila kain bajunya terkena air 

keringat akan menebarkan aroma wangi yang bisa 

membuat wanita lupa daratan...," pikir Setan Bodong. 

"Hmmm.... Untung aku lelaki. Kalau tidak, pastilah 

aku akan jatuh tak berdaya dalam pelukannya...."

Setan Bodong menggeleng-geleng seraya men-

gerahkan tenaga dalam untuk melindungi kepalanya


dari rasa pening. Sementara, Pendekar Bodoh yang te-

lah berdiri di hadapan Setan Bodong tampak terbatuk-

batuk karena terlalu memaksakan diri untuk menge-

luarkan tenaga.

"Aku... aku.... Kenapa aku bisa seperti ini...?" 

ujar Seno di antara dengus nafasnya yang memburu. 

"Ilmu peringan tubuhku turut hilang. Apa... apa yang 

telah terjadi...?"

"Sabar! Atur jalan nafasmu dulu," sahut Setan 

Bodong.

Seno menarik napas panjang beberapa kali. 

Disekanya peluh yang membasahi wajahnya. Tak lama 

kemudian, tubuh pemuda tampan itu terasa lebih se-

gar.

"Kau ingat ketika aku mengeluarkan batu mus-

tika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' dari dalam 

perutmu, Seno?" tanya Setan Bodong kemudian. 

"Ya! Ya..., aku ingat, Pak Tua," jawab Seno.

"Untuk mengeluarkan batu mustika itu, aku te-

lah memukul tengkukmu dengan 'Tenaga Inti Es Biru'. 

Kau ingat?"

"Ya! Aku juga ingat! Kenapa?"

"Tahukah kau, Seno, bila Kodok Wasiat Dewa 

yang telah kau telan mempunyai satu kekuatan luar 

biasa yang bersifat panas?"

Seno menggeleng.

Karena Setan Bodong tak langsung memberi 

penjelasan atas sesuatu yang telah terjadi pada di-

rinya, pemuda berambut panjang tergerai itu memben-

tak, "Jangan bertele-tele, Pak Tua! Cepat katakan, ba-

gaimana aku bisa menjadi seperti ini?! Apakah puku-

lanmu pada tengkuk ku kemarin itu sengaja untuk 

membuatku celaka?!"

"Uts! Jangan seenaknya main tuduh, Bocah


Bagus...," tegur Setan Bodong. "Kalau aku punya niat 

mencelakakanmu, bagaimana aku bisa keluar dari 

Lembah Rongga Laut?"

"Lalu, kenapa tenaga dalamku bisa lenyap?" 

buru Seno, tak sabaran.

"Ketahuilah, Bocah Bagus, sebelum tengkukmu 

ku pukul dengan 'Tenaga Inti Es Biru' yang bersifat 

dingin, dalam tubuhmu telah tersimpan tenaga lain 

yang bersifat panas. Tenaga panas itu berasal dari Ko-

dok Wasiat Dewa yang kau telan..." tutur Setan Bo-

dong. (Agar lebih jelas dalam mengikuti jalan cerita ini, 

silakan simak serial Pendekar Bodoh dalam episode: 

"Ratu Perut Bumi" dan "Ksatria Seribu Syair").

Seno cuma diam. Tak tahu arti ucapan Setan 

Bodong.

"Ketika kau ku pukul dengan 'Tenaga Inti Es 

Biru', sebuah tenaga yang bersifat dingin masuk ke tu-

buhmu. Tenaga dingin itu lalu bentrok dengan tenaga 

panas yang berasal dari Kodok Wasiat Dewa...," lanjut 

Setan Bodong.

"Lalu?" kejar Seno sambil menggaruk pantatnya 

yang tiba-tiba terasa amat gatal.

"Bentrokan tenaga yang berlainan sifat itu 

membuat tenaga dalam yang telah kau miliki lenyap 

perlahan-lahan...."

"Ah! Begitukah...?"

"Ketika masih berada di dalam Lembah Rongga 

Laut, kau belum merasa kalau tenaga dalammu telah 

berkurang. Tapi sekarang ini, kau sudah tahu sendiri, 

bukan?"

Pendekar Bodoh nyengir kuda beberapa lama.

"Celaka! Aku benar-benar celaka!" desah murid 

Dewa Dungu itu kemudian. "Aku belum dapat menye-

lesaikan kewajibanku, kenapa aku harus menerima


nasib seperti ini...?" 

Lalu, Pendekar Bodoh mendongak. Ditatapnya 

langit biru yang ditebari awan perak. Di atas sana, dia 

seakan dapat melihat sosok Ibunya yang telah mening-

gal.

"Ibu...," sebut pemuda lugu itu, tetap mendon-

gak. "Maafkan aku, Bu.... Entah kapan aku dapat 

membalaskan sakit hati Ibu.... Aku kini tak punya ke-

kuatan apa-apa lagi, Bu. Maafkan aku, Bu...."

Melihat Pendekar Bodoh berkata-kata seorang 

diri, Setan Bodong tertawa geli.

"He he he.... kau ini aneh, Bocah Bagus.... Di 

atas langit sana tidak ada orang! Siapa yang kau ajak 

bicara? Jangan-jangan otakmu sudah tak waras...."

"Aku tidak gila!" bentak Seno tiba-tiba. "Gara-

gara kau, aku jadi seperti ini!"

"Uts! Jangan naik darah dulu! Aku justru ingin 

menolongmu!" cetus Setan Bodong.

"Mengembalikan tenaga dalamku?"

"Tentu saja!"

"Bagaimana bisa?" 

"Tentu saja bisa!"

"Kalau begitu, cepat lakukan!"

"He he he.... Jangan keburu nafsu! Itu tak baik! 

Bersabarlah! Semua pasti beres. He he he...."

Seno nyengir kuda lagi.

Tapi, dia percaya bila Setan Bodong benar-

benar akan dapat mengembalikan tenaga dalamnya....

Namun..., benarkah Setan Bodong dapat diper-

caya? Apakah kakek gendut yang banyak akal itu tidak 

sedang menjalankan siasat liciknya untuk memper-

dayai sang pendekar?

* * *


EMPAT



SETELAH memulihkan keadaan tubuhnya dan 

mengatasi pula luka dalamnya, Setan Selaksa Wajah 

bergegas menuju ke Lembah Dewa-Dewi. Dia hendak 

menemui seorang tokoh sakti bergelar Bidadari Alam 

Kelam. Setan Selaksa Wajah hendak meminta uluran 

tangan anggota Komplotan Lembah Dewa-Dewi itu un-

tuk membantu menyelesaikan persoalan yang tengah 

dihadapinya.

Lembah Dewa-Dewi adalah sebuah tempat be-

rupa dataran berbatu-batu yang amat tersembunyi. 

Terletak di dekat muara sebuah sungai yang berarus 

deras. Kecuali anggota Komplotan Lembah Dewa-Dewi, 

tak seorang pun tokoh rimba persilatan yang tahu le-

tak tempat itu. Sebab, selain keadaan alamnya yang 

tak bersahabat dengan manusia, Lembah Dewa-Dewi 

juga dipagari dengan suatu benteng kekuatan gaib 

yang sulit ditembus. Benteng kekuatan gaib ciptaan 

Bidadari Alam Kelam itu dapat menyesatkan setiap 

manusia yang datang, bahkan bisa mendatangkan an-

caman kematian. Oleh karenanya, kaum rimba persila-

tan cuma dapat mendengar keberadaan Lembah Dewa-

Dewi tanpa pernah tahu di mana letak tempat itu se-

benarnya. 

"Kalau Bidadari Alam Kelam bersedia menuruti 

apa yang kuinginkan, aku yakin semuanya akan berja-

lan dengan baik...," gumam Setan Selaksa Wajah. 

"Mudah-mudahan perempuan itu masih menyimpan 

rasa hatinya terhadapku, sehingga aku dapat meman-

faatkan ilmu kepandaiannya...."

Sambil berkata-kata dengan dirinya sendiri, Se-

tan Selaksa Wajah menggerak-gerakkan tongkat bambu ke dalam air sungai untuk menjaga keseimbangan 

rakit yang menopang tubuhnya. Kakek yang telah me-

rubah raut wajahnya menjadi seorang pemuda tampan 

itu mengarahkan pandangan lurus ke depan. Namun, 

tak jarang dia mengedarkan pandangan ke kanan-kiri 

sungai.

Di pinggir aliran sungai yang menuju ke Lem-

bah Dewa-Dewi itu banyak terdapat bongkah-bongkah 

batu besar. Dan, di sela-sela bongkah batu yang ter-

samar sulur-sulur semak belukar itu terdapat ratusan 

ular bertubuh kecil pipih berwarna putih berkilat. Se-

bagian di antara mereka tampak berenang mengam-

bang di permukaan air. Walau gerakan mereka terlihat 

lemah dan tampak amat jinak, jangan dikira ular-ular 

itu tidak berbahaya. Siapa pun yang terpatuk atau ter-

pagut jangan harap masih dapat melihat mentari esok 

hari. Patukan atau pagutan ular-ular itu mengandung 

bisa yang amat mematikan. Semua korbannya, baik 

manusia maupun binatang lain, akan mati seketika 

dengan cairan darah mengering dan jantung membe-

ku.

Oleh karena itulah, Setan Selaksa Wajah tam-

pak berhati-hati sekali saat menggerakkan tongkat 

bambunya. Selain untuk mengatur keseimbangan dan 

arah laju rakit, tongkat bambu kakek berpakaian me-

rah-merah itu juga digunakan untuk mengusir ular-

ular putih yang mencoba mendekati. Namun, sering 

kali Setan Selaksa Wajah memukul hancur tubuh ular-

ular itu karena mereka telanjur membelit balok-balok 

kayu rakit si kakek.

Semakin mendekati Lembah Dewa-Dewi, arus 

sungai semakin deras. Hingga, Setan Selaksa Wajah 

tak perlu lagi mendorong rakitnya dengan tongkat 

bambu. Tongkat bambu si kakek cuma digunakan untuk mengatur arah laju rakit agar tidak membentur 

bongkah batu besar ataupun tersangkut sulur-sulur 

semak belukar.

Namun sesaat kemudian, air muka Setan Se-

laksa Wajah terlihat menegang. Arus sungai mendadak 

berubah amat deras luar biasa. Akibatnya, rakit yang 

ditumpangi Setan Selaksa Wajah melesat cepat, bagai 

lesatan anak panah yang lepas dari busur!

Walau telah berkali-kali menempuh perjalanan 

sulit seperti itu, tapi kali ini Setan Selaksa Wajah me-

rasa khawatir juga. Dia tak dapat mengendalikan laju 

rakitnya lagi. Hingga di lain kejap, rakit si kakek mem-

bentur bongkah batu besar yang menyembul di tengah 

aliran sungai!

Brakkk..,!

"Haram jadah!"

Sambil mengumpat gusar, Setan Selaksa Wajah 

melentingkan tubuhnya ke atas. Saat masih melayang 

di udara, kakek berwajah pemuda dua puluh lima ta-

hunan itu dapat melihat rakitnya yang telah pecah be-

rantakan. Tapi, sebagai seorang tokoh tua yang sudah 

matang pengalaman, dia tak menjadi panik atau gu-

gup. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh 

'Angin Pergi Tiada Berbekas', dia bersalto di udara tiga 

kali. Lalu, dia mendaratkan sepasang kakinya di salah 

satu balok kayu pecahan rakit.

"Hihhh...!"

Byarrr...

Setan Selaksa Wajah mengalirkan beberapa ba-

gian kekuatan tenaga dalam ke tangan kanannya. Dia 

tancapkan tongkat bambunya ke dasar sungai untuk 

menghentikan luncuran balok kayu yang ditumpan-

ginya. Tapi..., tongkat bambu sepanjang tiga depa itu 

langsung melengkung karena membentur bongkah batu yang terdapat di dalam air sungai!

Mendengus gusar Setan Selaksa Wajah.

Sambil menjaga keseimbangan tubuh, sekali 

lagi kakek berpakaian merah-merah itu menancapkan 

tongkat bambunya ke dasar sungai. Kali ini usaha si 

kakek berhasil. Tongkat bambu menancap ke tanah di 

dasar sungai. Laju balok kayu yang menopang tubuh 

Setan Selaksa Wajah langsung terhenti.

Namun..., karena arus sungai teramat deras, 

tongkat bambu yang menahan luncuran balok kayu 

penopang tubuh Setan Selaksa Wajah tampak meleng-

kung, lalu patah menjadi dua. Akibatnya, balok kayu 

pecahan rakit meluncur lagi, mengikuti arus sungai. 

Tubuh Setan Selaksa Wajah yang berdiri di atasnya 

kontan terhuyung-huyung hendak jatuh tercebur ke 

dalam sungai. 

"Setan alas!"

Kata-kata kotor segera menyembur dari mulut 

Setan Selaksa Wajah. Dengan mengeluarkan seluruh 

daya kemampuannya, dia berusaha menjaga keseim-

bangan tubuhnya agar tidak jatuh dari balok kayu. 

Dan ternyata, murid murtad Dewa Dungu itu memiliki 

keseimbangan tubuh yang cukup hebat. Dia dapat 

berdiri tegak walau balok kayu yang ditumpanginya 

meluncur amat cepat mengikuti arus sungai yang de-

ras luar biasa

Sebentar kemudian satu pemandangan aneh 

terlihat. Luncuran balok kayu yang ditumpangi Setan 

Selaksa Wajah berhenti tiba-tiba. Padahal, air sungai 

terus mengalir deras. Agaknya, balok kayu pecahan 

rakit itu tertahan oleh benteng kekuatan yang tak ka-

sat mata!

Setan Selaksa Wajah yang masih berdiri tegak 

di atas balok kayu pecahan rakit tidak terkejut atau


pun menjadi panik. Justru dia merasa girang. Kakek 

bertubuh kekar itu tahu kalau dirinya telah berada di 

dekat Lembah Dewa-Dewi yang menjadi tujuan keda-

tangannya.

Sejenak, lelaki yang rambutnya diikat dengan 

kain merah itu mengarahkan pandangan ke depan. Di 

sisi kanan aliran sungai terlihat kabut tebal yang ber-

gerak membubung tiada henti. Aneh! Matahari telah 

naik tinggi, tapi kenapa di tempat itu masih terdapat 

kabut tebal? 

Namun, Setan Selaksa Wajah merasa tak meli-

hat keanehan apa-apa. Dia tahu kalau kabut yang di-

lihatnya adalah kabut gaib ciptaan Bidadari Alam Ke-

lam yang berguna untuk menutupi Lembah Dewa-Dewi 

agar tidak mudah dimasuki orang luar.

Andai ada orang berhasil menembus benteng 

gaib buatan Bidadari Alam Kelam yang melintang di 

aliran sungai, orang itu tetap akan menemui kesulitan 

untuk dapat memasuki Lembah Dewa-Dewi. Kabut 

yang menutupi tempat itu bukan saja membuat pan-

dangan jadi terhalang hingga menyesatkan langkah, 

tapi juga mengandung suatu hawa aneh yang bila ter-

hirup terus-menerus akan membuat saluran napas ja-

di buntu. Dan, kalau saluran napas seseorang sudah 

buntu, tentu saja kematianlah akibatnya.

"Manisku, Bidadari Alam Kelam...!" seru Setan 

Selaksa Wajah, keras menggelegar, "Bukalah 'Gerbang 

Kelam'-mu, Manisku! Ini aku yang datang..., Setan Se-

laksa Wajah!"

Teriakan kakek berwajah pemuda itu memba-

hana beberapa lama, mengalahkan suara gemuruh 

arus sungai yang deras. Tapi, balok kayu yang meno-

pang tubuh si kakek tetap tertahan oleh benteng ke-

kuatan gaib yang melintang di aliran sungai. Bidadari


Alam Kelam pun tak menampakkan diri.

Setan Selaksa Wajah yang pada dasarnya 

punya sifat tak sabaran dan lekas naik darah, mengge-

rendeng penuh rasa gusar. Sekali lagi, dia berteriak le-

bih keras....

"Aku yang datang, Manisku Bidadari Alam Ke-

lam...! Cepat buka 'Gerbang Kelam'-mu...!"

Mencoba bersabar Setan Selaksa Wajah bebe-

rapa saat. Namun, yang menyambutnya cuma rasa ke-

cewa belaka. Benteng gaib ciptaan Bidadari Alam Ke-

lam tetap tak terbuka. Juga, tak ada sosok manusia 

lain yang muncul. Hanya gemuruh arus sungai yang 

menyahuti teriakan Setan Selaksa Wajah.

"Hmmm.... Tak dapat aku menunggu terlalu 

lama," dengus si kakek, "Lebih baik benteng kekuatan 

gaib ini kuhancurkan saja!"

Mengikuti pikiran di benaknya, Setan Selaksa 

Wajah mengalirkan kekuatan tenaga dalam ke tangan 

kanannya. Di lain kejap, pergelangan tangan kanan 

kakek berpakaian merah-merah itu berubah warna 

menjadi biru berkeredapan. Agaknya, Setan Selaksa 

Wajah hendak menghancurkan benteng kekuatan gaib 

Bidadari Alam Kelam dengan pukulan 'Pelebur Sukma'!

"Hiahhh...!"

Blarrr...! 

Sambil menggembor keras, Setan Selaksa Wa-

jah menghentakkan telapak tangan kanannya ke de-

pan. Selarik sinar biru yang menebarkan hawa panas 

luar biasa langsung melesat tanpa dapat dibendung la-

gi.

Namun..., sinar biru yang keluar dari telapak 

tangan Setan Selaksa Wajah itu tak dapat menjebol 

benteng kekuatan gaib Bidadari Alam Kelam. Pukulan 

'Pelebur Sukma' hanya mampu menciptakan lidah


lidah api biru yang menebar ke berbagai penjuru. Li-

dah-lidah api itu berpentalan setelah membentur ben-

teng tak kasat mata yang melintang di aliran sungai.

"Haram jadah! Setan alas!"

Mengumpat-umpat Setan Selaksa Wajah. Ter-

paksa kakek berwajah pemuda itu menggerakkan ba-

lok kayu yang ditumpanginya ke sana-sini untuk 

menghindari hujan lidah api. Setan Selaksa Wajah 

mesti mengerahkan tenaga dalamnya lagi. Karena, un-

tuk dapat menggerakkan balok kayu yang ditumpan-

ginya, dia harus melawan arus sungai yang teramat 

deras. 

Geram kemarahan murid murtad Dewa Dungu 

itu terus terdengar. Kembali dia alirkan kekuatan te-

naga dalam ke tangan kanannya. Hendak dia kelua-

rkan pukulan 'Pelebur Sukma' tingkat tertinggi.

Namun sebelum Setan Selaksa Wajah melaksa-

nakan niatnya, tiba-tiba terdengar suara seorang wani-

ta....

"Dari dulu, kau tetap saja tak berubah, Mahisa 

Lodra.... Tak dapatkah kau bersabar sebentar saja?"

Mendengar suara itu, mata Setan Selaksa Wa-

jah kontan berbinar. Dia tarik lagi kekuatan tenaga da-

lam yang telah dialirkan ke tangan kanannya.

"Manisku, Bidadari Alam Kelam...," sebut si Ka-

kek. "Siapa yang bisa bersabar bila harus menunggu di 

tempat menggiriskan seperti ini? Cepatlah kau buka 

'Benteng Kelam'-mu ini! Ada sesuatu yang harus kubi-

carakan denganmu!"

"Tunggulah sebentar! Aku sedang melakukan 

sesuatu yang tak bisa ku tinggalkan...," sahut suara 

wanita yang berasal dari tempat berkabut tebal di se-

belah kanan depan aliran sungai.

Menggerendeng marah Setan Selaksa Wajah.


Karena tak mau menunggu, kakek keras kepala 

itu mempersiapkan kembali pukulan 'Pelebur Sukma'-

nya. Dalam sekejap mata, pergelangan tangan kanan si 

kakek berubah warna lagi menjadi biru berkeredapan.

"Dasar keras kepala!"

Suara wanita yang muncul dari balik kabut ter-

dengar membentak. Sebelum Setan Selaksa Wajah me-

lepaskan pukulan 'Pelebur Sukma' untuk kedua ka-

linya, mendadak balok kayu yang menopang tubuh si 

kakek terseret arus ke depan. Itu berarti benteng gaib 

ciptaan Bidadari Alam Kelam telah terbuka.

Tapi..., Setan Selaksa Wajah malah terhantam 

keterkejutan seraya memekik parau. Tubuh si kakek 

tiba-tiba terangkat lepas dari balok kayu yang ditum-

panginya!

Tubuh murid Dewa Dungu itu tersedot masuk 

ke balik gumpalan kabut! Untuk beberapa lama, jerit 

ngeri Setan Selaksa Wajah membahana panjang.... 

Lembah Dewa-Dewi….

Di sisi kanan altar pemujaan, berdiri kokoh se-

buah patung manusia berkepala kerbau. Patung yang 

terbuat dari batu pualam itu besarnya dua kali lipat 

tubuh manusia dewasa. Namun, karena dipahat dalam 

keadaan duduk bersila, tingginya jadi terlihat cuma 

sekitar enam kaki.

Suasana ruang pemujaan yang hening terpecah 

manakala terdengar suara orang merapal mantera-

mantera. Si perapal mantera itu adalah seorang wanita 

cantik bertubuh sintal montok. Mengenakan pakaian

kuning-merah yang dipenuhi pernik-pernik gemerlap. 

Rambutnya yang hitam panjang digelung ke atas den-

gan hiasan tiga tusuk konde emas bermata intan. Sepuluh jari tangannya yang lentik tampak memegang 

sebuah gelas emas berukir.

Wanita itulah yang disebut sebagai Bidadari 

Alam Kelam!

Sementara Bidadari Alam Kelam merapal man-

tera-mantera, belasan lelaki-perempuan yang berdiri di 

belakang wanita itu terlihat tengah menyanyikan lagu 

pujaan. Namun, lagu pujaan yang dinyanyikan orang-

orang berjubah dan berkerudung hitam itu tak karuan 

kalimatnya, seperti orang menggumam yang tak jelas 

apa maksudnya. Nada lagunya pun naik-turun tak 

menentu. Hanya anehnya, walau tak enak didengar, 

tapi suara belasan orang itu bisa serempak bersa-

maan.

Di bagian lain, tetap di ruang pemujaan, Setan 

Selaksa Wajah tampak berdiri di sudut ruangan. Si 

kakek Cuma menatap apa yang tengah dilakukan Bi-

dadari Alam Kelam dan para pengikutnya, tanpa ber-

buat apa-apa. Tapi, dilihat dari sorot matanya, jelas bi-

la Setan Selaksa Wajah sudah tak sabaran lagi untuk 

segera menyampaikan apa yang ada di benaknya ke-

pada Bidadari Alam Kelam.

Bagaimana Setan Selaksa Wajah bisa berada di 

tempat itu?

Beberapa saat tadi, ketika benteng gaib yang 

melintang di aliran sungai dibuka oleh Bidadari Alam 

Kelam, Setan Selaksa Wajah tak dapat menahan tu-

buhnya yang tersedot sebuah kekuatan tak kasat mata 

yang muncul dari balik kabut. Kekuatan gaib yang ter-

cipta dari ilmu ‘Penarik Raga’ Bidadari Alam Kelam itu 

membawa tubuh Setan Selaksa Wajah masuk ke ruang 

pemujaan di sebuah Istana yang terletak di Lembah 

Dewa-Dewi. Namun, karena Bidadari Alam Kelam tak 

mau menunda-nunda lagi upacara persembahannya,


wanita itu membiarkan Setan Selaksa Wajah berdiri 

terlongong bengong di sudut ruangan.

Dan tampaknya, Setan Selaksa Wajah pun tak 

mau mengganggu Bidadari Alam Kelam walau kesaba-

rannya sudah hampir habis. Sebagai sesama anggota 

Komplotan Lembah Dewa-Dewi, Setan Selaksa Wajah 

tahu benar sifat dan tabiat Bidadari Alam Kelam. Apa-

bila wanita cantik itu tengah melakukan upacara per-

sembahan, dia tak mau diganggu oleh siapa pun. Ka-

lau diganggu, dia bisa berubah ganas dan bisa mem-

bunuh siapa saja yang berada di dekatnya.

Sesaat kemudian, Bidadari Alam Kelam berhen-

ti merapal mantra. Belasan orang berjubah dan berke-

rudung hitam yang berdiri di belakang wanita cantik 

itu turut menghentikan nyanyian mereka. Sementara, 

Setan Selaksa Wajah mendesah terus. Dengan tatapan 

matanya yang tajam menusuk, kakek berwajah pemu-

da itu seakan menyuruh Bidadari Alam Kelam untuk 

menyelesaikan upacara persembahannya.

“Wahai kau Dewa Langit, penguasa alam kege-

lapan…, sampailah saatnya aku memberikan kepada-

mu sebuah persembahan berupa darah bayi yang baru 

lahir…,” ucap Bidadari Alam Kelam seraya mengangkat 

gelas di tangannya tinggi-tinggi.

Suara wanita bertubuh amat menggiurkan itu 

terdengar penuh getaran, dan seakan dapat membawa 

orang ke suatu tempat di alam sihir. Belasan orang 

berjubah dan berkerudung hitam terdengar menyanyi-

kan lagu pujaan lagi. Tapi, kali ini terdengar lebih pe-

lan dan hampir tidak terdengar.

“Setelah ku persembahkan apa yang kau minta, 

dapatkah nanti kau tetap menjadikan aku sebagai wa-

kil jagat gelap di dunia, wahai kau Dewa Langit…!”

ucap Bidadari Alam Kelam lagi.


Usai berkata, wanita berkulit kuning langsat itu 

mendekatkan gelas yang tercekal sepuluh jari tangan-

nya ke kepala patung yang disebut sebagai Dewa Lan-

git.

Terdengar suara mendesis seperti bara api ter-

siram air saat cairan darah segar yang berada di dalam 

gelas ditumpahkan ke kepala Dewa Langit. Aneh! Cai-

ran darah segar itu langsung mengering! Lalu…, tubuh 

Dewa Langit yang hanya berupa batu pualam tampak 

bergetar!

“Ha ha ha…!” Bidadari Alam Kelam tertawa ber-

gelak. “Rupanya kau sangat menyukai persembahan 

ku ini, wahai kau Dewa Langit…. Di antara kita me-

mang harus terjalin satu hubungan timbal balik. Aku 

menjadikan mu sebagai raja Junjungan ku di mana 

aku akan selalu menuruti permintaanmu. Dan seba-

liknya, kau harus terus menambah kekuatanku agar 

aku dapat menjadi wakil jagat gelap yang perkasa di 

dunia ini! Ha ha ha…!”

Sambil tertawa bergelak-gelak, Bidadari Alam 

Kelam mengangkat telapak tangan kanannya. Belasan 

orang berjubah dan berkerudung hitam langsung me-

langkah keluar dari ruang pemujaan.

“Ada urusan apa kau datang kemari?” tanya 

Bidadari Alam Kelam kepada Setan Selaksa Wajah, 

tanpa membalikkan badan.

“Tentu saja ada urusan penting,” jawab Setan 

Selaksa Wajah.

“Urusan apa?”

“Kita bicara di tempat lain saja.”

Bidadari Alam Kelam diam beberapa lama. La-

lu, tanpa menatap sosok Setan Selaksa Wajah yang 

berdiri di sisi kirinya, dia membalikkan badan seraya 

melangkah keluar. Sementara, Setan Selaksa Wajah


langsung mengekor langkah wanita berpakaian gemer-

lapan itu.

“Aku butuh bantuanmu, Manisku Bidadari 

Alam Kelam…,” ujar Setan Selaksa Wajah sesampai di 

ruangan lain.

Kakek yang telah merubah raut wajahnya men-

jadi seorang pemuda tampan itu duduk berhadapan 

meja dengan Bidadari Alam Kelam. Ruangan yang me-

reka tempati tampak remang-remang karena terletak di 

bagian dalam istana. Dua buah lampu yang menggan-

tung di atap ruangan sengaja tak dinyalakan.

“Aku butuh bantuanmu, Manisku…,” ulang Se-

tan Selaksa Wajah.

Bidadari Alam Kelam tetap tak menyahuti.

Wanita berparas cantik menawan itu Cuma di-

am menatap wajah tampan Setan Selaksa Wajah. Ten-

tu saja Setan Selaksa Wajah jadi tak enak hati karena 

tatapan Bidadari Alam Kelam tampak menyelidik.

“Kenapa kau menatap ku seperti ini?” tegur si 

kakek kemudian. Suaranya terdengar datar tanpa te-

kanan. Rupanya, murid murtad Dewa Dungu ini takut 

menyinggung perasaan Bidadari Alam Kelam.

“Hmmm…. Setelah lama tak berjumpa, tam-

paknya kau sengaja ingin pamer kepandaian di hada-

panku, Mahisa Lodra…,” ujar Bidadari Alam Kelam.

“Tidak!” sahut Setan Selaksa Wajah, cepat. “Un-

tuk apa aku pamer kepandaian di hadapanmu? Mak-

sud kedatanganku ini Cuma satu, yaitu meminta ban-

tuanmu,”

Tersenyum tipis Bidadari Alam Kelam. “Kau da-

tang tidak seperti dulu lagi,” katanya. “Raut wajahmu 

kali ini amat tampan…. Agaknya, ilmu ‘Selaksa Wajah 

Berganti-ganti’ yang kau miliki telah dapat kau sempurnakan.”

“Terima kasih atas pujian mu. Kulihat raut wa-

jahmu pun bertambah cantik. Bentuk tubuhmu juga 

bertambah menggiurkan. Hmmm…. Aku tahu umurmu 

tak berbeda jauh denganku. Hebat sekali ilmu ‘Meng-

ganti Kulit Sempurnakan Bentuk’ yang kau miliki, Ma-

nisku…. Tapi, kedatanganku ini bukan untuk membi-

carakan perihal ilmu semacam itu. Aku benar-benar 

membutuhkan bantuanmu, Manisku Bidadari Alam 

Kelam….”

“Hmmm…. Sedari tadi kau menyebut gelarku 

dengan sangat mesra. Apakah bantuan yang kau bu-

tuhkan itu berhubungan dengan tubuhku atau ilmu 

kepandaianku?”

Bidadari Alam Kelam tersenyum manis. Na-

mun, tatapan matanya tetap tajam menyelidik. Setan 

Selaksa Wajah yang sempat terpesona oleh senyuman 

wanita cantik itu cepat mengusir debar-debar di ha-

tinya.

“Bertahun-tahun kita menjadi sepasang keka-

sih. Bertahun-tahun pula kita mereguk kebahagiaan 

bersama…,” ucap Setan Selaksa Wajah. “Mengingat 

hubungan kita yang teramat dekat itu, aku yakin kau 

akan bersedia menuruti apa yang kuinginkan. Bua-

tkan aku ‘Benteng Rajah Abadi’….” 

Bidadari Alam Kelam geleng-geleng kepala.

“Hmmm…. Tidak mudah membuat rajah pe-

nyekap orang sampai mati itu. Kalau tidak untuk tu-

juan yang amat penting, mana aku mau….”

“Kau harus mau!” sergap Setan Selaksa Wajah.

“Kau hendak memaksa?”

“Tidak! Tapi…, aku harus membunuh dua 

orang tokoh yang punya ilmu kesaktian hebat luar bi-

asa. Mereka adalah Pendekar Bodoh dan Setan Bodong!”


“Pendekar Bodoh? Siapa itu?”

“Dia seorang tokoh muda yang baru muncul di 

rimba persilatan. Walau masih muda belia, ilmu ke-

saktiannya sudah sangat sulit diukur! Aku pernah di-

pecundanginya!”

“Hmmm…. Begitu? Lalu, kenapa Setan Bodong 

harus dibunuh pula? Bukankah guru sang pemimpin 

itu telah disekap di Lembah Rongga Laut? Kakek gen-

deng itu sudah tak punya ilmu kesaktian lagi! Apa un-

tungnya dia dibunuh?”

“Pendekar Bodoh telah membawanya keluar da-

ri Lembah Rongga Laut. Bahkan, orang tua ceriwis itu 

telah mendapatkan ilmu kesaktiannya lagi!”

“Hmmm…. Begitu? Lalu, apa urusannya den-

ganku?”

“Kau harus membantuku, Manisku. Sang pe-

mimpin memerintahkan aku membunuh mereka. Dan, 

aku Cuma diberi waktu tiga hari!”

“Ha ha ha…!” mendadak Bidadari Alam Kelam 

tertawa bergelak. “Siapa yang percaya pada bualan 

mu, Mahisa Lodra?! Aku tahu kau amat membenci 

sang pemimpin! Kenapa kau tiba-tiba berubah amat 

penurut seperti ini?”

“Terpaksa! Hanya karena terpaksa! Aku tak 

mau mati konyol!” sahut Setan Selaksa Wajah penuh 

kesungguhan. “Oleh karena itu, kau harus mau mem-

bantuku, Manisku. Buatkan aku ‘Benteng Rajah Ab-

adi’….”

“Kalau aku menolak?”

“Kau harus mau! Aku mohon!”

“Kalau aku menolak permohonan mu?”

Terdiam Setan Selaksa Wajah.

Murid murtad Dewa Dungu itu jadi bingung 

mendengar tolakan Bidadari Alam Kelam. Namun, dia


tak kurang akal. Perlahan dia beringsut dari kursi 

yang didudukmya. Lalu….

“Kau cantik sekali, Manisku….”

Sambil berkata demikian, Setan Selaksa Wajah 

menerkam tubuh Bidadari Alam Kelam. Langsung di-

lumatnya bibir wanita cantik itu….

Sementara, Bidadari Alam Kelam tampak 

menggelinjang merasakan ciuman ganas Setan Selaksa 

Wajah. Wanita cantik itu semakin menggelinjang kuat 

manakala jemari tangan Setan Selaksa Wajah bermain 

nakal di sekitar dadanya.

“Uh! Kau! Apa yang kau lakukan?”

Bidadari Alam Kelam masih mencoba menegur. 

Tapi anehnya, wanita cantik itu membiarkan saja je-

mari tangan Setan Selaksa Wajah yang terus bermain 

nakal di sekitar dadanya. Bahkan, dia pun tampak 

menikmati benar ciuman si kakek.

Hingga di lain kejap, tubuh sintal Bidadari 

Alam Kelam telah tergeletak di atas lantai. Sementara, 

Setan Selaksa Wajah berusaha menanggalkan pakaian 

wanita cantik itu satu persatu….

* * *

LIMA



KALAU memang bisa mengembalikan tenaga 

dalamku, kenapa tidak segera kau lakukan?" desak 

Pendekar Bodoh. "Malah tampaknya, kau hendak 

mengulur-ulur waktu.... Aku percaya kepadamu, Pak 

Tua. Tapi, Jangan buat aku penasaran seperti ini...."

"He he he...," tawa kekeh Setan Bodong. "Sabar-

lah! He he he.... Perlu kukatakan dulu kepadamu...,

setelah aku berhasil mengembalikan tenaga dalammu, 

kau akan punya dua macam ilmu pukulan dahsyat! 

Yang satu bersifat dingin, dan yang satunya lagi bersi-

fat panas luar biasa!"

"Benarkah itu?" seru Pendekar Bodoh, melonjak 

girang.

"He he he.... Aku tak bohong! He he he.... Tapi, 

ada syaratnya...." 

"Apa?"

Setan Bodong cuma tertawa. Seno nyengir ku-

da.

Pemuda lugu itu tak tahu apa yang ada di be-

nak Setan Bodong. Namun, dia tetap percaya bila Se-

tan Bodong bermaksud baik kepadanya. Hanya saja, 

dia menjadi tak sabaran setelah melihat si kakek terus 

tertawa beberapa lama.

"Kenapa kau tertawa terus, Pak Tua? Ayolah! 

Cepat katakan apa syarat yang kau minta...," desak 

Pendekar Bodoh kemudian.

Setan Bodong masih saja tertawa terkekeh-

kekeh. Pusarnya yang berupa gumpalan daging tam-

pak bergerak-gerak tiada henti. Namun, setelah meli-

hat tatapan Pendekar Bodoh yang penuh pengharapan, 

akhirnya dia berkata

"Aku tak mau kehilangan ilmu kesaktian untuk 

kedua kalinya. Aku tak mau menjadi orang lemah yang 

tak bisa apa-apa! Batu mustika 'Menembus Laut Ber-

napas Dalam Air' masih kau bawa?"

"Kau minta batu itu?" sahut Seno, kebodoh-

bodohan. "Untuk apa?"

"Jawab dulu pertanyaanku!"

"Ya! Ya, batu mustika itu masih kubawa!"

"Berikan kepadaku!"

"Untuk apa?"


"He he he...," Setan Bodong tertawa lagi. "Kalau 

ada orang mencopot lagi pusar ku, Ilmu kesaktianku 

akan hilang selama-lamanya...."

"Begitukah? Tapi..., apa hubungannya batu 

mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' dengan 

pusar mu?" 

"Kecuali senjata pusaka, tak sebilah pun senja-

ta tajam yang dapat memotong pusar ku. Tapi..., kalau 

ada orang menempelkan batu mustika 'Menembus 

Laut Bernapas Dalam Air' ke tengkuk ku, pusar ku

akan langsung copot! Oleh karena itu, aku harus me-

musnahkan batu mustika itu" 

"Begitukah?"

"Ya! Sekarang, berikan batu mustika yang ku-

minta itu!"

Pendekar Bodoh menggaruk-garuk pantatnya 

yang terasa gatal. Lalu, dia nyengir kuda beberapa la-

ma. Ditatapnya wajah Setan Bodong lekat-lekat. Men-

dadak, hati pemuda remaja itu jadi ragu. Apakah Se-

tan Bodong tak akan menipunya?

"He he he.... Aku bisa membaca jalan pikiran-

mu, Bocah Bagus...," ujar Setan Bodong sambil tertawa 

terkekeh-kekeh. "Jangan khawatir! Aku tak akan me-

nipumu. Serahkan saja batu mustika yang kuingin-

kan, baru nanti kau kubantu mengembalikan tenaga 

dalam...."

"Benar kau tak akan menipuku?" tanya Seno 

untuk menegaskan.

Setan Bodong tertawa lagi.

Pendekar Bodoh menatap lekat wajah kakek 

berkepala gundul licin itu. Karena mudah percaya pa-

da orang lain walau orang itu baru dikenalnya, Pende-

kar Bodoh mengangguk saat melihat Setan Bodong 

menadahkan telapak tangan kanan ke arahnya. Tanpa


curiga sama sekali, dia keluarkan batu mustika 

'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' yang tersimpan 

di balik kain bajunya. Dengan raut wajah yang terlihat 

amat lugu, Seno menyerahkan batu mustika berben-

tuk limas segi tiga berwarna biru itu kepada Setan Bo-

dong!

Dan..., begitu menerima batu mustika yang se-

benarnya milik Raja Penyasar Sukma itu, Setan Bo-

dong langsung tertawa bergelak-gelak. Kedua bola ma-

tanya berbinar-binar penuh rasa gembira. Karena ta-

wanya sangat panjang, perutnya yang gendut tampak 

bergoyang-goyang beberapa lama. Gumpalan pusarnya 

pun bergerak mengibas-ngibas tiada henti.

"Pak Tua! Kau jangan tertawa terus!" tegur 

Pendekar Bodoh. "Apa yang kau minta sudah kuberi-

kan. Sekarang, kau harus menepati..."

Kalimat Pendekar Bodoh terpotong oleh suara 

gelak tawa Setan Bodong yang tiba-tiba terdengar lebih 

keras.

"Ha ha ha...! Akulah orang yang paling berun-

tung di dunia ini! Akulah orang yang paling berbahagia 

di dunia ini! Ha ha ha...!"

"Pak Tua!" tegur Pendekar Bodoh lagi, tapi Se-

tan Bodong tak mempedulikannya.

"Ha ha ha...! Batu ini kuhancurkan saja! Ya! 

Batu ini kuhancurkan saja! Ha ha ha...!"

Sambil tertawa bergelak-gelak, Setan Bodong 

meletakkan batu mustika 'Menembus Laut Bernapas 

Dalam Air' ke permukaan bongkah batu yang kebetu-

lan berada di dekatnya. Sementara, Seno cuma mena-

tap apa yang dilakukan kakek itu tanpa berbuat apa-

apa. Beberapa kali dia menggaruk pantatnya yang te-

rasa amat gatal sambil cengar-cengir seperti orang tak 

waras.


Sesaat kemudian, mulut Setan Bodong menge-

luarkan suara mendengung seperti suara sekelompok 

lebah sedang terbang. Seno tetap cengar-cengir saja 

saat melihat seluruh kulit tubuh Setan Bodong beru-

bah warna menjadi merah seperti warna buah tomat 

matang. Dan, gumpalan pusar Setan Bodong yang juga 

telah berubah warna tiba-tiba berdiri tegak, sehingga 

bagian ujungnya menyentuh dada si kakek. Lalu....

Sambil berjongkok, Setan Bodong mengangkat 

telapak tangan kanannya tinggi-tinggi di atas kepala. 

Di lain kejap, pergelangan tangan kanan si kakek dis-

elubungi lidah-lidah api merah yang panas menyala-

nyala!

Wuttt...!

Blarrr...!

Timbul ledakan keras menggelegar saat Setan 

Bodong menghantamkan telapak tangan kanannya ke 

batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air'. 

Batu mustika itu langsung hancur luluh menjadi ser-

buk halus yang tak mungkin dapat disatukan lagi. 

Bongkah batu yang dijadikan tumpuan turut hancur 

luluh. Pecahannya yang berupa serbuk lebih halus 

langsung menebar ke berbagai penjuru.

"Ha ha ha...! Kini, tak akan ada manusia yang 

dapat mencopot pusar ku! Ha ha ha...!"

Ketika tertawa, perlahan kulit tubuh Setan Bo-

dong berubah warna menjadi warna aslinya. Lidah-

lidah api yang menyelubungi pergelangan tangan si 

kakek juga lenyap perlahan. Gumpalan pusarnya pun 

tak lagi berdiri tegak. Gumpalan Paging sebesar buah 

terong tua itu menggantung kembali, tapi tetap terus 

bergerak-gerak tiada henti. 

"Lekaslah, Pak Tua...," desak Pendekar Bodoh 

yang melihat Setan Bodong masih saja tertawa panjang.

"Ha ha ha...! Ya! Kini, aku akan menepati janji

ku!" sahut Setan Bodong di antara derai tawanya. "Du-

duklah bersila!"

"Untuk apa?" tanya Pendekar Bodoh, amat lu-

gu.

"Kau mau mendapatkan kembali tenaga da-

lammu atau tidak?!" bentak Setan Bodong.

"Eh! Ya! Ya!"

Walau belum tahu apa maksud perintah Setan 

Bodong, Send duduk bersila juga. Sementara, Setan 

Bodong langsung melangkah di belakang pemuda lugu 

itu.

"Tarik napas dalam-dalam!"

"Ya!"

Saat Pendekar Bodoh menarik napas dalam, 

Setan Bodong berjongkok. Tiba-tiba..., kedua pergelan-

gan tangan kakek gendut itu diselubungi sinar merah 

yang amat menyilaukan! Lalu....

Buk! Buk! Buk! 

"Hk! Uh! Hoekkk...!"

Tiga kali Setan Bodong menghantam punggung 

Pendekar Bodoh! 

Pada hantaman ketiga, tubuh Pendekar Bodoh 

yang tengah duduk bersila tampak melesat ke depan 

sejauh dua tombak. Wajah murid Dewa Dungu itu 

langsung memucat dengan bola mata melotot besar.

Gumpalan darah berwarna hitam pekat me-

nyembur dari mulutnya!

***

Dengan keringat membanjir, Setan Selaksa Wa-

jah merayap bangkit dari atas tubuh Bidadari Alam Ke


lam. Kakek berwajah pemuda itu langsung membetul-

kan letak bajunya yang kedodoran. Sementara, Bida-

dari Alam Kelam masih terbaring di lantai. Kelopak 

matanya tertutup rapat.

Namun, dilihat dari raut wajah dan senyum 

yang mengembang di bibirnya, jelas sekali bila wanita 

bertubuh sintal montok itu merasa amat puas dan se-

nang.

"Bangunlah! Kita harus bicara lagi, Manisku...," 

pinta Setan Selaksa Wajah, berjongkok di sisi kiri Bi-

dadari Alam Kelam.

Namun, Bidadari Alam Kelam tetap diam tak 

bergeming. Kelopak matanya pun tetap tak terbuka.

Setan Selaksa Wajah berjongkok seraya men-

cium kening wanita cantik itu. "Bangunlah, Sayang...," 

bisiknya. "Kau tahu kalau aku dalam kesulitan, bu-

kan?"

Mendengar bisikan itu, Bidadari Alam Kelam 

menekuk lutut kanannya ke atas. Dan mendadak..., 

dia merengkuh bahu Setan Selaksa Wajah seraya men-

jatuhkan kepala kakek itu di atas dadanya.

"Hmmm..." 

"Ahhh...."

Merasakan sentuhan lembut kenyal pada kulit 

wajahnya, Setan Selaksa Wajah lupa sejenak pada per-

soalan yang tengah dihadapinya. Aroma harum yang 

menebar dari tubuh Bidadari Alam Kelam membuat 

aliran darahnya kembali berdesir aneh.

Mengikuti gejolak hasratnya yang tiba-tiba 

menggebu lagi, Setan Selaksa Wajah kembali menelu-

suri tubuh wanita cantik itu.

"Semakin tua..., kau semakin perkasa saja, 

Mahisa Lodra...," desis Bidadari Alam Kelam di antara 

dengus nafasnya yang memburu.


Setan Selaksa Wajah tak menyahuti. Bibirnya 

sibuk mengulum dan mencium. Hingga, napas kedua 

anak manusia berlainan jenis itu semakin terdengar 

memburu.

Namun mendadak, tatkala Bidadari Alam Ke-

lam sampai pada puncak gejolak hasratnya, Setan Se-

laksa Wajah melepas pelukan. Lalu, kakek bertubuh 

kekar itu merayap bangkit lagi.

"Kenapa?" tanya Bidadari Alam Kelam, tak 

mengerti.

"Aku bisa memenuhi keinginanmu kapan saja 

kau mau, tapi...."

Kalimat Setan Selaksa Wajah terpotong. Bida-

dari Alam Kelam menarik tangan kanan si kakek dan 

meletakkannya di atas dadanya.

"Ah! Dengar kata-kataku, Sayang...," bisik Se-

tan Selaksa Wajah, menarik tangan kanannya dengan 

lembut. "Aku sedang mengemban tugas yang maha be-

rat. Tak seharusnya aku bersenang-senang seperti 

ini...."

"Aku akan membantumu..., asal kau tunjukkan 

dulu keperkasaan mu sekali lagi...," desak Bidadari 

Alam Kelam, mendesis membuka bibir.

Namun, Setan Selaksa Wajah cuma mencium 

keningnya. "Kau buatkan aku 'Benteng Rajah Abadi', 

Sayang.... Setelah aku menyelesaikan tugas, sampai 

seratus kali pun aku mau menuruti apa maumu...."

"Tidak! Aku ingin saat ini juga!"

Tiba-tiba, Bidadari Alam Kelam membentak se-

raya bangkit duduk. Direngkuhnya bahu Setan Selak-

sa Wajah. Dia berusaha menjatuhkan tubuh kakek itu 

ke dalam pelukannya. Tapi, tubuh Setan Selaksa Wa-

jah diam tak bergeming, kaku seperti patung batu.

"Sudah kukatakan, jika aku telah menyelesai


kan tugas, sampai seratus kali pun aku mau menuruti 

kemauanmu. Akan kubuat kau merintih tiada henti.... 

Akan kubawa jiwamu terbang melayang ke angkasa 

luas tak bertepi.... Tapi, itu nanti, setelah aku menye-

lesaikan tugas...!?" 

Bidadari Alam Kelam terdiam. Dia lepaskan ce-

kalan tangannya pada bahu Setan Selaksa Wajah.

"Benarkah itu?" tanya Bidadari Alam Kelam, 

sedikit ragu.

"Kapan aku pernah berbohong kepadamu? Se-

telah Pendekar Bodoh dan Setan Bodong ku binasa-

kan, aku akan tinggal di Lembah Dewa-Dewi ini sela-

ma kau inginkan...."

Mendengar kalimat Setan Selaksa Wajah yang 

penuh kesungguhan itu, Bidadari Alam Kelam terdiam 

lagi. Ditatapnya lekat-lekat wajah si kakek.

"Kau bisa memegang kata-kataku...," janji Se-

tan Selaksa Wajah.

"Hmmm.... Baiklah. Tapi, andai kau berbohong, 

kau akan tahu sendiri akibatnya!" sambut Bidadari 

Alam Kelam seraya mengancam.

Bersorak girang Setan Selaksa Wajah dalam ha-

ti saat melihat Bidadari Alam Kelam membetulkan le-

tak bajunya.

Setelah pakaian Bidadari Alam Kelam terlihat 

rapi kembali, wanita cantik itu berdiri mematung. Usai 

berpikir-pikir, Bidadari Alam Kelam berjalan menuju 

ke ruang pemujaan.

Tanpa berkata apa-apa, Setan Selaksa Wajah 

mengekor langkah wanita bertubuh sintal montok itu. 

Setan Selaksa Wajah berjalan dengan mulut terkunci 

rapat bagai kerbau dicocok hidungnya. 

Sesampai di ruang pemujaan, Bidadari Alam 

Kelam mengambil bendera-bendera kecil dari dalam


peti besi yang terletak di sudut ruangan. Lebar bende-

ra yang terbuat dari kain kuning itu tak lebih besar da-

ri telapak tangan. Bidadari Alam Kelam menghitung-

nya sampai jumlah tiga puluh.

Tanpa berkata apa-apa pula, Bidadari Alam Ke-

lam menata ketiga puluh bendera kain yang melekat di 

sebatang lidi bambu itu ke atas altar. Setan Selaksa 

Wajah menatap sambil tersenyum senang saat melihat 

Bidadari Alam Kelam membuat tulisan rajah di permu-

kaan kain bendera.

Sesaat kemudian, setelah kain-kain bendera se-

lesai ditulisi rajah semua, Bidadari Alam Kelam mun-

dur dua langkah. Ditatapnya patung Dewa Langit be-

berapa lama, lalu dia berkata....

"Wahai kau Dewa Langit..., penguasa alam ke-

gelapan, bantu aku membuat 'Benteng Rajah Abadi'. 

Aku percaya..., dengan kekuatan hitam yang kau mili-

ki, 'Benteng Rajah Abadi' yang kubuat akan mempu-

nyai kekuatan dahsyat..., yang amat sulit ditembus! 

Ya! Aku percaya!"

Di ujung kalimat Bidadari Alam Kelam, menda-

dak Dewa Langit yang hanya berupa patung batu ber-

wujud manusia berkepala kerbau tampak bergetar tu-

buhnya!

Bidadari Alam Kelam melangkah dua tindak ke 

depan seraya meraup tiga puluh bendera kuning yang 

terletak di atas altar. Lalu, wanita cantik bertubuh sin-

tal montok itu melangkah menghampiri Dewa Langit. 

Tiga puluh bendera yang tercekal di kedua tangannya, 

dia dekatkan ke hadapan patung batu pualam itu.

Lama sekali Bidadari Alam Kelam merapal man-

tera-mantera. Setan Selaksa Wajah yang berdiri di de-

kat pintu menjadi tak sabaran. Berkali-kali kakek ber-

wajah pemuda itu mendesah dan mengepal tinju.


Tapi..., bibir Setan Selaksa Wajah langsung ter-

senyum senang manakala melihat patung Dewa Langit 

bergetar lagi. Lalu....

Cusss...! 

Srattt...!

Dari kedua mata Dewa Langit melesat seberkas 

cahaya merah terang. Menerpa tiga puluh bendera 

yang tercekal erat di kedua tangan Bidadari Alam Ke-

lam. Aneh! Tulisan rajah pada kain bendera yang se-

mula berwarna hitam, karena memang ditulis dengan 

tinta hitam, tiba-tiba berubah menjadi merah darah!

"Terima kasih! Terima kasih, wahai kau Dewa 

Langit...," ujar Bidadari Alam Kelam sambil membung-

kuk hormat. "Kau telah menyalurkan kekuatan hi-

tammu ke 'Benteng Rajah Abadi' yang kubuat. Aku 

percaya! Aku percaya bila tiga puluh bendera ini akan 

membuat kekuatan dahsyat yang amat sulit ditembus!"

"Sudah selesai, Manisku Bidadari Alam Kelam?" 

tanya Setan Selaksa Wajah, melangkah menghampiri.

Bidadari Alam Kelam tak menjawab. Dia me-

langkah keluar, kembali ke ruang remang-remang yang 

terletak di sisi kanan ruang pemujaan. Setan Selaksa 

Wajah mengekor lagi.

Sesaat kemudian, kedua bola mata Setan Se-

laksa Wajah tampak berbinar-binar. Kakek bertubuh 

kekar itu menatap Bidadari Alam Kelam yang tengah 

membungkus tiga puluh bendera kuning dengan kain 

lebar berwarna hitam. Bungkusan bendera-bendera 

yang disebut sebagai 'Benteng Rajah Abadi' itu lalu di-

letakkan di atas meja.

"Telah ku turuti apa yang menjadi permin-

taanmu. Ingat janjimu!" seru Bidadari Alam Kelam.

"Satu lagi!" sahut Setan Selaksa Wajah seraya 

berjalan mendekati. "Aku tak tahu di mana Pendekar


Bodoh dan Setan Bodong sekarang ini. Dengan 

'Mustika Terawang'-mu kau pasti bisa menunjukkan di 

mana mereka berada...."

"Cari sendiri!" bentak Bidadari Alam Kelam ti-

ba-tiba.

Namun, walau wajah cantik wanita itu berubah 

ketus dengan sorot mata tajam menusuk, tapi dia ter-

senyum dalam hati. Dia sedang menjalankan akal bu-

lusnya untuk dapat membuat Setan Selaksa Wajah ja-

tuh ke dalam pelukannya lagi.

"Ah! Kenapa kau marah, Manisku...," sahut Se-

tan Selaksa Wajah. "Aku cuma waktu tiga hari. Kalau 

harus mencari-cari, pasti akan banyak membuang 

waktu. Apakah kau tidak ingin aku segera kembali ke 

tempat ini? Apakah kau tidak ingin.... Hmmm...."

Setan Selaksa Wajah memeluk erat tubuh Bi-

dadari Alam Kelam. Dilumatnya bibir wanita cantik itu 

beberapa lama. Namun, cepat dia melepas ciumannya 

saat Bidadari Alam Kelam balas memeluk dan men-

cium. 

"Kenapa?" tanya Bidadari Alam Kelam, kecewa.

"Cukuplah! Kalau aku sudah dapat menjalan-

kan tugas, aku tak akan pernah mengecewakan mu," 

ujar Setan Selaksa Wajah. "Tunjukkan aku di mana 

Pendekar Bodoh dan Setan Bodong berada...."

Bidadari Alam Kelam menarik napas panjang, 

berusaha mengusir rasa kecewanya. Setelah menatap 

lekat wajah Setan Selaksa Wajah, dia melangkah men-

dekati lemari berukir. Dari dalam lemari yang bersan-

dar di dinding ruangan itu, dia mengeluarkan sebuah 

bola kristal berwarna putih bening, dan langsung dile-

takkan di atas meja. 

"Nah! Begitu! Kau memang seorang kekasih 

yang amat baik, Manisku...," ujar Setan Selaksa Wajah


dengan senyum senang mengembang di bibir. Bidadari 

Alam Kelam tak menyahuti. Wanita cantik itu mengu-

sap-usap bola kristalnya yang disebut sebagai 'Mustika 

Terawang'. Setelah merapal mantera-mantera, dia ber-

kata.... 

"Pendekar Bodoh.... Apakah dia seorang pemu-

da remaja bertubuh tinggi tegap, mengenakan pakaian 

biru-biru dengan ikat pinggang kain merah?"

"Ya! Tepat sekali! Di ikat pinggangnya terselip 

sebatang tongkat pendek berwarna putih!" sahut Setan 

Selaksa Wajah. 

"Hmmm.... Ya! Dia berada di pinggir Hutan Sa-

radan!" 

"Lalu, Setan Bodong?"

"Juga berada di sana! Entah apa yang dilaku-

kan kedua orang itu...," ujar Bidadari Alam Kelam, te-

rus menatap bola kristalnya. "Tapi tampaknya..., Pen-

dekar Bodoh baru saja memuntahkan gumpalan darah 

mati..." 

"Aku harus ke sana sekarang!" sahut Setan Se-

laksa Wajah seraya menyambar bungkusan bendera 

yang terletak di dekat bola kristal.

"Hei! Tunggu!" cegah Bidadari Alam Kelam.

"Aku harus segera pergi...!"

"Tidak!"

"Ah! Kau jangan begitu, Manisku..."

Bibir Bidadari Alam Kelam tersenyum aneh.

Tiba-tiba, wanita bertubuh sintal montok itu 

menerkam Setan Selaksa Wajah. Karena tak menyang-

ka, Setan Selaksa Wajah tak dapat mengelak.

Tampak kemudian, tubuh Setan Selaksa Wajah 

terhuyung-huyung, lalu jatuh telentang di atas lantai. 

Dan... Bidadari Alam Kelam yang tak dapat memen-

dam gejolak hasratnya langsung menggumuli tubuh


kekar kakek berwajah pemuda tampan itu.

Setan Selaksa Wajah jadi sulit bernapas saat 

Bidadari Alam Kelam melumat bibirnya penuh nafsu. 

Namun, dia tak berani berlaku kasar. Dia tahu benar 

ilmu kesaktian Bidadari Alam Kelam yang tak bisa di-

anggap remeh. Kalau wanita cantik itu marah, justru 

Setan Selaksa Wajah akan mendapat kesulitan besar.

"Uh! Hep! Aku harus pergi, Sayang...," ujar Se-

tan Selaksa Wajah saat ciuman Bidadari Alam Kelam 

mengendor.

"Kau boleh pergi! Tapi..., aku ingin merasa-

kan... hmmm... sekali lagi. Ayolah!"

Tak dapat menolak Setan Selaksa Wajah ketika 

Bidadari Alam Kelam menanggalkan bajunya. Semen-

tara, melihat wajah cantik dan tubuh sintal Bidadari 

Alam Kelam, hasrat kelelakian si kakek pun bangkit 

kembali.

Dan..., bergumullah mereka di atas lantai yang 

dingin. Mereka saling peluk, saling cium..., berusaha 

terbang ke puncak kenikmatan....

"Kau... kau harus berjanji, Sayang...," bisik Se-

tan Selaksa Wajah di antara dengue nafasnya yang 

memburu. "Dengan ilmu gaib 'Tabir Pengirim Raga', 

kau harus membawaku pergi ke hadapan Pendekar 

Bodoh dan Setan Bodong!"

"Ya! Ya!" sahut Bidadari Alam Kelam tanpa pikir 

panjang.

Kedua anak manusia berlainan jenis itu berge-

lut lagi.

Mengikuti desakan nafsu birahi....

* * *


ENAM


HUK! Huk! Ap... apa yang kau lakukan padaku 

Pak Tua...?!" tegur Pendekar Bodoh dengan muka pu-

cat.

Pemuda itu hendak bangkit, tapi dia jatuh ter-

duduk lagi. Tubuhnya malah terasa amat lemas. Sete-

lah batuk-batuk beberapa lama, kembali gumpalan da-

rah hitam pekat menyembur dari mulutnya!

"Huk! Hoekkk...! Ap... apa kau hendak membu-

nuhku, Pak Tua?!"

Pendekar Bodoh menegur lagi. Tubuhnya tam-

pak terbungkuk-bungkuk karena menahan batuk. Se-

mentara, Setan Bodong yang baru saja menghantam 

punggung murid Dewa Dungu itu tampak tertawa ter-

kekeh-kekeh.

"He he he.... Tunggulah beberapa saat! Kau 

akan segera...."

"Sampai ke neraka!" 

Tiba-tiba, terdengar suara keras membentak 

yang menyahuti ucapan Setan Bodong. Ternyata, dari 

balik jajaran pohon jati telah muncul dua orang kakek 

yang sama-sama mengenakan pakaian kuning-hitam. 

Namun, yang seorang bertubuh kurus tinggi, dan yang 

satunya lagi bertubuh gemuk bulat. Wajah mereka 

tampak garang dengan sorot mata yang menyiratkan 

kekejaman.

Mereka adalah Dua Iblis Dari Gunung Batur. 

Yang kurus terkenal dengan julukan Iblis Perenggut 

Roh, dan yang gemuk biasa disebut Iblis Pencabut Ji-

wa!

Si Pendekar Bodoh Seno Prasetyo membelalak-

kan mata penuh rasa heran. Bagaimana mungkin Dua


Iblis Dari Gunung Batur berani muncul di hadapan-

nya? Tempo hari, bukankah dua kakek jahat itu telah 

dihajarnya sampai kapok? Bahkan, dua tulang Iga Iblis 

Perenggut Roh telah dibuat patah! (Tentang peristiwa 

ini, baca serial Pendekar Bodoh dalam episode : "Setan 

Selaksa Wajah").

"Ha ha ha...!" tertawa bergelak si kurus Iblis Pe-

renggut Roh. "Bocah geblek! Melihat matamu yang ter-

belalak lebar itu, aku bisa menduga apa yang ada di 

hatimu! Kau tentu heran melihat aku segar bugar se-

perti ini. Aku adalah anggota Komplotan Lembah De-

wa-Dewi. Dan, tentu saja Raja Penyasar Sukma tak 

mau membiarkan anak buahnya menderita luka. Den-

gan ilmu kesaktian sang pemimpinku itu, dua tulang 

igaku yang kau patahkan tempo hari telah dapat dipu-

lihkannya! Ha ha ha...!"

"Lalu... lalu apa maksud kedatanganmu ini?" 

tanya Seno, tergagap. Pemuda lugu ini tentu saja me-

rasa khawatir mengingat keadaan tubuhnya yang tak 

memungkinkan untuk dibuat bertempur.

"Hmmm.... Selain mematahkan tulang iga adik 

seperguruanku, tempo hari kau juga menyiksaku den-

gan ilmu totokanmu! Hmmm.... Maksud kedatangan 

kami ini tak lain hanya untuk mencabut nyawamu!" 

sahut si gemuk Iblis Pencabut Jiwa.

"Dan... ha ha ha...!" Iblis Perenggut Roh tertawa 

bergelak lagi. "Aku tahu kau baru muntah darah! Aku 

tahu ada sesuatu yang tak beres di dalam tubuhmu! 

Hmmm.... Agaknya, riwayatmu hanya cukup sampai di 

sini!"

Semakin memucat wajah Seno saat melihat 

Dua Iblis Dari Gunung Batur melangkah bersamaan 

mendekatinya. Seno menoleh ke belakang. Ditatapnya 

Setan Bodong dengan seribu tanda tanya dan seribu


pengharapan. Tapi..., Setan Bodong cuma tertawa ter-

kekeh-kekeh. Si kakek sama sekali tak bergeming dari 

tempatnya berdiri walau melihat jiwa Seno dalam ba-

haya!

"Jahanam kau, Pak Tua!" geram Seno pada Se-

tan Bodong. "Rupanya, kau Iblis culas yang sengaja 

hendak mencelakakan aku!"

"He he he...," tawa kekeh Setan Bodong. "Kau 

jangan melihatku, Bocah Bagus! Lihatlah ke depan! 

Kedua orang itu benar-benar hendak membunuhmu!"

Tepat di ujung kalimat Setan Bodong, Dua Iblis 

Dari Gunung Batur menerjang bersamaan. Tak tang-

gung-tanggung lagi, mereka langsung mengeluarkan 

ilmu pukulan 'Merenggut Roh Mencabut Jiwa' yang 

menjadi ilmu andalan mereka.

Kepala Seno langsung pening saat mencium 

bau anyir darah yang menebar dari pergelangan tan-

gan Dua Iblis Dari Gunung Batur. Namun sebelum ke-

palan tangan kedua kakek itu mengenal sasaran, cepat 

Seno beringsut ke samping. 

"Astaga!"

Berseru kaget Seno.

Pemuda itu merasakan tubuhnya melesat ce-

pat. Dia tak menyangka sama sekali bila ilmu 'Lesatan 

Angin Meniup Dingin' telah dapat dikeluarkannya lagi. 

Hingga akibatnya, pukulan Dua Iblis Dari Gunung Ba-

tur hanya mengenai tempat kosong.

"Jahanam! Walau baru muntah darah, agaknya 

kau masih dapat bergerak cepat," dengus Iblis Pereng-

gut Roh. "Tapi, jangan keburu girang dulu! Malaikat 

kematian tetap akan menjemput nyawamu hari ini ju-

ga!"

Sambil menggembor keras, kakek kurus itu 

menerjang lagi. Kali ini dia gunakan jurus 'Mencari


Roh Mengirim ke Neraka'! 

Iblis Pencabut Jiwa turut menerjang dengan ju-

rus yang sama. Kedua kakek itu tetap menyertai se-

rangannya dengan ilmu pukulan 'Merenggut Roh Men-

cabut Jiwa'. Maka, bau anyir darah yang menebar dari 

kedua pergelangan tangan mereka semakin tercium 

menusuk hidung!

Mengetahui dirinya terkepung bahaya maut, 

bergegas Seno bangkit berdiri. Murid Dewa Dungu itu 

berseru heran lagi. Tubuhnya terasa amat ringan. 

Bahkan, terasa lebih ringan dari biasanya!

"Ilmu peringan tubuhku telah kembali!" ujar 

Seno kepada dirinya sendiri seraya melentingkan tu-

buhnya ke atas.

Menggeram gusar Dua Iblis Dari Gunung Batur. 

Mereka terus menerjang semakin gencar. Na-

mun, mereka tetap tak dapat menyentuh tubuh Pen-

dekar Bodoh yang berkelebatan amat cepat

"Hei, Bocah Bagus!" teriak Setan Bodong tiba-

tiba. "Kau tahu kalau mereka orang jahat, bukan? Ke-

napa malah kau ajak bermain-main? Cobalah ilmu pu-

kulanmu! Buat mereka jera seumur hidup!"

Seperti tak mendengar teriakan Setan Bodong, 

Pendekar Bodoh terus berkelebatan menghindari se-

rangan Dua Iblis Dari Gunung Batur tanpa balas me-

nyerang. Namun, diam-diam pemuda lugu itu mencoba 

mengalirkan kekuatan tenaga dalam ke kedua perge-

langan tangannya.

"Astaga!"

Kembali Seno berseru kaget. Kekuatan tenaga 

dalamnya tiba-tiba telah kembali seperti sediakala, dan 

dapat dialirkan pula ke kedua tangannya.

Tapi, terus saja Pendekar Bodoh terhantam ke-

terkejutan. Kedua pergelangan tangannya mendadak


berubah warna berlainan. Yang kiri berwarna putih 

berkilat, sementara yang kanan berwarna kuning kee-

masan!

"Ya, Tuhan...," sebut Seno sambil menghindari 

serangan Dua Iblis Dari Gunung Batur. "Bila aku men-

geluarkan ilmu pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Lan-

git', kedua pergelangan tanganku akan berubah warna 

menjadi putih berkilat. Tapi..., kenapa tangan kananku 

kali ini berwarna kuning keemasan? Oh! Apa yang te-

lah terjadi pada diriku?"

Karena terus tergeluti perasaan heran, Seno ja-

di kurang waspada. Pemuda remaja itu terkejut seten-

gah mati saat melihat kepalan tangan kanan Iblis Pe-

renggut Roh telah berada di dekat kepalanya. Semen-

tara, Iblis Pencabut Jiwa melancarkan tendangan amat 

cepat ke dadanya

"Mati kau!" seru Dua Iblis Dari Gunung Batur, 

bersamaan.

Dengan wajah pucat, terpaksa Seno menghen-

takkan kedua tangannya yang telah berubah warna. 

Karena tak mau menjatuhkan tangan maut, Seno cu-

ma mengeluarkan seperempat bagian tenaga dalam-

nya. Namun...

Wesss...!

Dari telapak tangan kiri Seno melesat lidah-

lidah api putih yang menebarkan hawa panas luar bi-

asa. Dan, dari telapak tangan kanannya, keluar lapi-

san salju berwarna kuning keemasan. Lapisan salju itu 

menebarkan hawa sangat dingin yang sanggup mem-

bekukan cairan apa pun!

Karena lesatan pukulan jarak jauh itu amat ce-

pat tiada terkira, Dua Iblis Dari Gunung Batur tak 

sempat mengelak lagi. Hingga....

Blarrr...!


"Wuahhh...!"

Diiringi jerit panjang menyayat hati, tubuh Dua 

Iblis Dari Gunung Batur terlontar cepat ke angkasa. 

Dan ketika jatuh ke tanah, tubuh kedua kakek itu 

hanya tinggal kerangka tulangnya saja!

Tulang-belulang tubuh Iblis Pencabut Jiwa 

yang tertimpa lapisan salju kuning keemasan tampak 

diselubungi bunga-bunga salju berwarna serupa. Se-

baliknya, tulang-belulang Iblis Perenggut Roh yang ter-

timpa lidah-lidah api putih berkilat tampak terbakar 

beberapa lama!

"Aku telah membunuh orang! Aku telah mem-

bunuh orang!" seru Pendekar Bodoh, kaget setengah 

mati.

Bagaimanapun, pemuda lugu itu tak bermak-

sud menjatuhkan tangan maut terhadap Dua Iblis Dari 

Gunung Batur. Oleh karenanya, dia tadi hanya menge-

luarkan seperempat bagian tenaga dalamnya. Na-

mun..., kenapa akibat yang diterima Dua Iblis Dari 

Gunung Batur begitu menggiriskan?

"Apa yang terjadi padaku, Pak Tua?" tanya 

Pendekar Bodoh kemudian kepada Setan Bodong. Se-

tan Bodong tak menjawab. Kakek gendut itu cuma ter-

tawa terkekeh-kekeh. "Pak Tua!" bentak Seno. "Aku 

bertanya! Kau dengar atau tidak?!"

"He he he.... Mendengar atau tidak, kau mau 

apa?" Satan Bodong malah balik bertanya.

"Uh! Kalau terus berdekatan denganmu, lama-

lama rasanya aku bisa gila!"

"Gila! He he he.... Kalau kau jadi itu malah ba-

gus! Dunia ini sudah gila! Jika para penghuninya turut 

gila, tak akan ada lagi kejahatan! Semua orang akan 

sibuk memikirkan keadaannya sendiri yang sudah gila! 

He he he...!"


"Ngawur!" bentak Seno lagi. "Aku tak mau gila! 

Kaulah sendiri yang gila! Tapi, jika kau masih waras, 

cobalah jawab pertanyaanku, Pak Tua!"

"Bagaimana mungkin aku bisa menjawab per-

tanyaanmu kalau sekarang ini aku sudah gila!"

"Uh!"

Kesal sekali hati Pendekar Bodoh mendengar 

ucapan Setan Bodong yang berbelit-belit. Ingin rasanya 

Pendekar Bodoh menampar mulut si kakek yang amat 

nyinyir. Ingin rasanya Pendekar Bodoh menjitak kepala 

si kakek yang gundul licin. Tapi, dia tak melakukan 

keinginannya itu. Apa yang baru dialaminya, ketika 

bertempur dengan Dua Iblis Dari Gunung Batur, me-

nunjukkan bahwa Setan Bodong tidak menipunya. Si 

kakek benar-benar dapat mengembalikan kekuatan 

tenaga dalamnya. Oleh karena itu, untuk apa dia me-

nyakiti orang yang telah menolongnya?

Namun, melihat sikap Setan Bodong yang mirip 

orang tak waras, Pendekar Bodoh tak dapat menahan 

rasa sebal dan kesalnya. Karena pertanyaannya tak 

pernah terjawab, Pendekar Bodoh bermaksud pergi 

meninggalkan kakek gendut itu.

"Eh! Eh! Tunggu!" cegah Setan Bodong. 

Terhenti langkah Seno seketika. Ditatapnya wa-

jah Setan Bodong lekat-lekat. Kali ini wajah kakek 

yang hanya mengenakan rompi dan celana pendek pu-

tih kusam itu tampak penuh kesungguhan.

"Ada apa?" tanya Seno, sedikit ketus. 

"Kau belum memberi nama dua ilmu pukulan 

barumu," ujar Setan Bodong, tak main-main.

"Hmmm.... Yah! Aneh sekali! Kenapa tiba-tiba 

ilmu pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Langit' yang 

kumiliki bisa jadi dua bagian?" ujar Seno, lirih seperti 

menggumam.


"Kau ingin tahu apa jawabnya?" cetus Setan 

Bodong, tak tertawa-tawa lagi.

"Tentu saja!" sambut Seno, melonjak girang. 

"Aku tadi menghantam punggungmu berapa 

kali?"

"Tiga kali."

"Dengar baik-baik!"

"Apa?"

"Hantaman pertama berguna untuk membuka 

beberapa aliran darahmu yang tersekat oleh gumpalan 

darah mati."

"Hantaman yang kedua?"

"Hantaman yang kedua untuk memisahkan te-

naga dingin yang berasal dari 'Tenaga Inti Es Biru', 

yang ku masukkan ke tubuhmu ketika kita masih be-

rada di Lembah Rongga Laut?"

"Dipisahkan? Dipisahkan dengan apa?"

"Uh! Tolol benar kau! Tentu saja dipisahkan da-

ri tenaga panas yang bersumber dari benda ajaib Ko-

dok Wasiat Dewa, yang telah lebih dulu kau telan!"

"Begitukah? Hmmm.... Ya! Ya! Aku mengerti. 

Lalu, hantaman yang ketiga untuk apa?"

"Kau pikir dulu! Kira-kira untuk apa?"

"Hmmm.... Untuk apa, ya?"

Seno memutar otak. Beberapa kali dia nyengir 

kuda. Beberapa kali pula dia menarik celananya yang

melorot. Wajahnya jadi tampak amat lugu dan kebo-

doh-bodohan.

"Hmmm.... Apa, ya?" desis Seno.

Sesaat kemudian, murid Dewa Dungu itu tam-

pak terlongong bengong menatap wajah Setan Bodong.

"He he he...," tawa kekeh Setan Bodong. "Ru-

panya, kau benar-benar pemuda tolol!"

"Huh! Aku tidak tolol! Kau yang tolol!" bentak


Seno tiba-tiba, tak mau dikatakan tolol.

"He he he.... Kalau tidak tolol, kenapa kau tidak 

tahu apa yang telah terjadi pada dirimu sendiri?"

"Oh! Iya, ya?! Aku memang tolol...," desis Seno 

lagi. "Tapi tidak! Aku tidak tolol! Walau aku dikatakan 

orang sebagai Pendekar Bodoh, tapi aku tetap tak mau 

dikatakan tolol! Aku memang tidak tolol!"

"He he he...," Setan Bodong tertawa terkekeh-

kekeh, panjang sekali. Lalu katanya, "Terserah apa ka-

tamu! Tapi, sudah tahu jawabannya atau belum?"

"Apa?"

"Huh! Dasar tolol!" 

"Aku tidak tolol!"

Melihat air muka Pendekar Bodoh yang tiba-

tiba menegang, Setan Bodong tertawa panjang lagi. 

Namun, si kakek tak hendak mempermainkan pemuda 

lugu itu.

"Ketahuilah, Bocah Bagus...," kata Setan Bo-

dong kemudian. "Hantaman ketiga yang bersarang te-

pat di tengah punggungmu kumaksudkan untuk 

membangkitkan kekuatan dua tenaga dalam yang ber-

beda sifat, yang telah ku pisahkan. Sekaligus untuk 

mengeluarkan gumpalan darah mati yang mengganggu 

peredaran darahmu!"

"Ooo, begituuu...," Seno mengangguk-angguk.

"Apa tadi nama Ilmu pukulanmu?" tanya Setan 

Bodong.

"'Dewa Badai Rontokkan Langit'," jawab Seno, 

tetap mengangguk-angguk.

"Nama ilmu pukulan itu masih bisa kau pakai. 

Tapi, untuk membedakan mana yang bersifat panas 

dan mana yang bersifat dingin, kau bisa pakai nama 

'Pukulan Inti Panas' dan 'Pukulan Inti Dingin'. Bagaimana?"


"'Pukulan Inti Panas'? 'Pukulan Inti Dingin'?" 

desis Pendekar Bodoh sambil menggaruk-garuk pan-

tat, yang entah gatal entah tidak.

"Bagaimana?"

"Sebentar! Ku pikirkan dulu!"

***

"Sekarang, antarkan aku ke hadapan Pendekar 

Bodoh dan Setan Bodong," pinta Setan Selaksa Wajah, 

keringat masih berlelehan di sekujur tubuhnya.

Bidadari Alam Kelam tak menjawab.

Wanita cantik itu sibuk merapikan pakaiannya.

"Aku sudah menuruti apa maumu. Bergegaslah 

kau keluarkan ilmu 'Tabir Pengirim Raga', Manisku Bi-

dadari Alam Kelam...," desak Setan Selaksa Wajah.

"Hmmm.... Kupikir..., ada baiknya bila kau 

tinggal di sini selama dua hari...," sahut Bidadari Alam 

Kelam, pelan sekali.

"Tidak! Jelas itu tidak mungkin, Manisku...," to-

lak Setan Selaksa Wajah. "Waktuku sangat singkat!"

"Pikirlah baik-baik! Kalau kau mau tinggal di 

sini dua hari lagi, berarti kau masih punya waktu satu 

hari untuk membinasakan Pendekar Bodoh dan Setan 

Bodong. Tapi, kau jangan khawatir tak akan dapat 

menjalankan tugas. Aku bersedia membantumu!"

Terdiam Setan Selaksa Wajah. Apa yang dika-

takan Bidadari Alam Kelam jelas merupakan satu ta-

waran amat bagus. Setan Selaksa Wajah tahu benar 

ketinggian ilmu kesaktian Bidadari Alam Kelam. Bila 

bekerja bahu-membahu dengan wanita cantik itu, Se-

tan Selaksa Wajah yakin semuanya akan berjalan lan-

car. Tapi..., ada sesuatu yang mengusik pikiran si kakek.


"Sebenarnya, aku ingin sekali menerima tawa-

ran wanita cantik itu...," pikir Setan Selaksa Wajah. 

"Tapi, dia tidak tahu kalau aku tengah menyusun se-

buah siasat. Karena aku tak mau ada orang yang tahu 

siasat ku itu, terpaksa sekali aku menolak tawaran 

baik Bidadari Alam Kelam...."

"Kenapa kau diam, Mahisa Lodra?" tegur Bida-

dari Alam Kelam yang melihat Setan Selaksa Wajah 

berdiri termenung.

"Hmmm.... Kau amat baik, Manisku...," sahut 

Setan Selaksa Wajah. "Aku tak mau membuatmu ber-

susah payah memeras tenaga. Biarlah aku sendiri 

yang melaksanakan tugas dari sang pemimpin. Seka-

rang ini, kau cukup membantu menghadapkan aku 

pada Pendekar Bodoh dan Setan Bodong."

"Jadi, kau menolak tawaranku?"

"Bukan begitu, Manisku. Cuma orang gila yang 

akan menolak tawaran baikmu. Hanya saja kau mesti 

tahu..., aku tak mau kehilangan waktu banyak-banyak 

dalam melaksanakan tugas. Aku ingin selekasnya 

membunuh Pendekar Bodoh dan Setan Bodong! Kalau 

hari ini juga aku dapat membunuh mereka, bukankah 

kau akan segera bertemu lagi denganku, Sayang?"

Bidadari Alam Kelam tampak berpikir-pikir. 

Namun, tak seberapa lama kemudian, dia berkata, 

"Baik! Baik, ku hadapkan kau pada Pendekar Bodoh 

dan Setan Bodong saat ini juga! Tapi..., setelah berha-

sil membinasakan mereka, kau harus segera kembali 

ke tempat ini! Ingat janjimu! Jika ingkar, kau akan ce-

laka!"

"Ya! Ya!" sambut Setan Selaksa Wajah. Nada 

suaranya tak jelas menyiratkan apa. Entah senang, 

atau malah takut mendengar ancaman Bidadari Alam 

Kelam.


"Duduklah bersila!" perintah Bidadari Alam Ke-

lam kemudian.

Setan Selaksa Wajah menatap wajah cantik Bi-

dadari Alam Kelam sejenak, lalu mengikuti perintah 

wanita bertubuh sintal montok itu tanpa berkata apa-

apa.

Begitu Setan Selaksa Wajah duduk bersila, Bi-

dadari Alam Kelam mengangkat kedua tangannya se-

raya menengadahkan wajah.

"Wahai kau Dewa Langit..., kau tentu tahu 

keinginanku," ujar Bidadari Alam Kelam dengan suara 

bergetar. "Aku ingin memindahkan tubuh orang ini ke 

pinggir Hutan Saradan. Dengan ilmu 'Tabir Pengirim 

Raga', terlaksanalah keinginanku!"

Selesai berkata, mendadak di kedua telapak 

tangan Bidadari Alam Kelam muncul gumpalan sinar 

berwarna merah terang. Perlahan namun pasti, gum-

palan sinar itu membesar dan terus membesar....

Wusss...!

Gumpalan sinar merah yang berada di atas te-

lapak tangan Bidadari Alam Kelam dilontarkan ke tu-

buh Setan Selaksa Wajah. Gumpalan sinar itu lang-

sung menyelubungi tubuh si kakek. Dan..., perlahan-

lahan tubuh kakek berwajah pemuda itu terangkat da-

ri permukaan lantai!

"Pergilah ke hadapan Pendekar Bodoh dan Se-

tan Bodong!"

Sambil berseru demikian, Bidadari Alam Kelam 

menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan. 

Serangkum angin pukulan meluruk deras!

Wesss...!

Serangkum angin pukulan itu tepat menerpa 

tubuh Setan Selaksa Wajah yang telah terselubungi 

gumpalan sinar merah! Di lain kejap, tubuh si kakek


tampak melesat cepat, keluar dari Lembah Dewa-

Dewi....

"Uh! Walau tubuhnya masih perkasa, rupanya 

Mahisa Lodra telah jadi kakek-kakek pikun!" ujar Bi-

dadari Alam Kelam tiba-tiba.

Perlahan wanita berpakaian gemerlapan itu 

memungut bungkusan kain hitam yang terletak di atas 

meja. Bungkusan berisi 'Benteng Rajah Abadi' Itu 

agaknya lupa dibawa oleh Setan Selaksa Wajah.

"Hmmm.... Aku bermaksud baik pada Mahisa 

Lodra. 'Benteng Rajah Abadi' ini sebaiknya kusampai-

kan kepada Mahisa Lodra dengan ilmu 'Tabir Pengirim 

Raga'...."

Berpikir demikian, Bidadari Alam Kelam men-

gangkat lagi kedua tangannya seraya menengadahkan 

wajah. Setelah berkata-kata dengan raja junjungan il-

mu hitamnya yang bernama Dewa Langit, di kedua te-

lapak tangan wanita cantik itu segera muncul gumpa-

lan sinar merah terang.

Di lain kejap, 'Benteng Rajah Abadi' melayang 

keluar dari Lembah Dewa-Dewi. Menyusul lesatan tu-

buh Setan Selaksa Wajah!

* * *

TUJUH



WALAH... walah! Mengambil keputusan tentang 

nama saja, lama benar kau berpikir!" seru Setan Bo-

dong, mencetuskan rasa tak sabaran. 

"Uh! Rupanya, kaulah yang tolol, Pak Tua!" sa-

hut Pendekar Bodoh, membentak. "Menentukan nama 

itu tidak mudah! Nama seseorang, nama julukan, atau

nama apa saja, akan dibawa sampai mati, Pak Tua!

Menentukan nama tidak boleh sembarangan! Tidak bo-

leh asal bunyi! Pokoknya, tidak boleh asal-asalan!" 

"Ya! Ya, aku mengerti! Tapi, nama yang kuberi-

kan pada dua ilmu pukulanmu tadi, apakah kelihatan 

asal-asalan?"

Berkerut kening si pemuda lugu Seno Prasetyo. 

"Hmmm.... 'Pukulan Inti Panas'...? 'Pukulan Inti 

Dingin'...?" desisnya, mengulang nama pemberian Se-

tan Bodong.

"Apakah kedua nama itu terdengar asal-

asalan?" sahut Setan Bodong menatap wajah Seno le-

kat-lekat. 

"Eh! Iya, ya...! Kedua nama itu enak didengar 

dan amat sesuai dengan sifat ilmu pukulanku. Baik-

lah! Aku menerimanya, Pak Tua!"

"Huh! Mengambil keputusan begitu saja mema-

kan waktu sekian lama! Apalagi nanti kalau mengam-

bil keputusan tentang masalah penting! Bisa-bisa du-

nia keburu kiamat baru kau dapat menentukan sikap!" 

sambut Setan Bodong dengan menggerutu.

"Ya! Ya! Aku memang lambat berpikir!" sahut 

Seno, jengkel.

"Sekarang aku mau pergi ke suatu tempat, kau 

ikut atau tidak?" cetus Setan Bodong kemudian.

"Ke mana?"

"Padang Angin Malaikat!" 

"Padang Angin Malaikat?" 

"Ya!"

"Untuk apa?" 

"Kau telah mendengar nama Raja Penyasar 

Sukma, bukan?"

Seno mengangguk.

"Aku hendak menghukum murid murtad ku


itu!"

"Kalau begitu, aku ikut!" seru Seno, tegas. "Aku 

juga ingin membuat perhitungan dengan manusia ja-

hat itu! Dia telah membunuh ibuku!"

"Ibumu? Bagaimana ceritanya?"

"Ah! Lain waktu saja kuceritakan! Aku ingin 

menemui Banyak Langkir secepatnya! Ayolah, Pak 

Tua!" desak Seno, menyebut nama kecil Raja Penyasar 

Sukma. 

Setan Bodong mengangguk gembira. Jika Pen-

dekar Bodoh ikut bersamanya, dia yakin urusan den-

gan Raja Penyasar Sukma akan lebih mudah dibe-

reskan. Namun ketika dia menjejak tanah untuk sege-

ra berkelebat pergi, Pendekar Bodoh mencegah.

"Tunggu dulu, Pak Tua!" 

"Ada apa lagi?"

"Aku harus menguburkan kerangka Dua Iblis 

Dari Gunung Batur!"

"Peduli amat!"

"Jangan begitu, Pak Tua! Walau mereka orang 

jahat, mereka tetap manusia juga. Mereka pantas 

mendapat perlakuan seperti manusia pada umumnya. 

Mayat mereka walau telah menjadi tulang-belulang, 

harus tetap dikuburkan!"

Mendadak, Setan Bodong tertawa terkekeh-

kekeh. "He he he.... apanya yang mesti dikuburkan? 

Apa kau bisa? Lihat itu!"

Tersentak kaget Seno seketika. Tulang-belulang 

kerangka Dua Iblis Dari Gunung Batur ternyata telah 

ambyar menjadi serbuk halus, yang segera lenyap ter-

tiup angin!

"Ya, Tuhan...," sebut Seno. "Kenapa aku bisa 

memiliki ilmu pukulan yang amat kejam seperti itu?"

"Tolol!" sentak Setan Bodong. "Ilmu pukulanmu


tidak kejam, tapi dahsyat!" 

"Apa bedanya?"

"Jelas berbeda! Tergantung untuk tujuan apa 

kau menggunakan ilmu pukulanmu itu! Kalau kau 

menggunakannya untuk mengumbar nafsu jahat, 

orang boleh mengatakan ilmu pukulanmu itu kejam 

karena si empunya memang kejam. Kalau tidak, ya ti-

dak!"

Seno nyengir kuda.

Tak seberapa paham ucapan Setan Bodong. 

"Ayo, berangkat!" ajak Setan Bodong kemudian 

"Ke mana?"

"Uh! Selain tolol, rupanya kau juga pikun! Bu-

kankah kita hendak ke Padang Angin Malaikat?"

"Oh, iya ya.... Baiklah kita berangkat.... Heh?!

Apa Itu?" 

Bola mata Pendekar Bodoh melotot besar. Pe-

muda lugu itu menatap tak berkedip segumpal sinar

merah terang yang melesat dari tenggara. Lebih terke-

jut lagi Pendekar Bodoh manakala tahu bila gumpalan 

sinar bergaris tengah satu depa itu menuju ke arah-

nya!

"Ya, Tuhan...," sebut Seno seraya melompat ke 

belakang. 

Setan Bodong yang berdiri di dekat Seno turut 

melompat ke belakang. Walau kakek gendut itu juga 

terhantam keterkejutan, tapi dia bisa bersikap lebih 

tenang. Bola matanya tak sampai melotot besar. Jauh 

berbeda dengan Pendekar Bodoh yang lugu. Mulut si 

pemuda tampak ternganga lebar. Dan, tatapannya pun 

jelas menyiratkan rasa giris.

Wusss...!

Ssshhh...! 

Gumpalan sinar yang dilihat Pendekar Bodoh


dan Setan Bodong mendarat perlahan di permukaan 

tanah. Setelah mengeluarkan suara mendesis seperti 

desis puluhan ular sedang meleletkan lidah, gumpalan 

sinar itu meredup. Dan,.., di dalamnya tampak sesosok 

tubuh manusia!

"Mahisa Lodra...!" seru Pendekar Bodoh, benar-

benar kaget.

Sosok manusia yang tengah duduk bersila di 

dalam gumpalan sinar merah, yang memang Mahisa 

Lodra atau Setan Selaksa Wajah, tampak bangkit ber-

diri perlahan. Kakek berwajah pemuda itu langsung 

mengedarkan pandangan. Begitu melihat sosok Pende-

kar Bodoh, dia tertawa panjang bergelak.

"Ha ha ha...! Kita jumpa lagi, Bocah Gemblung! 

Tentu masih segar bugar dalam ingatanmu kejadian di 

Padang Angin Malaikat tempo hari. Kau memang ber-

hasil mempecundangi ku. Tapi, bagaimana kalau aku 

menantangmu bertempur lagi esok hari di tempat yang 

sama? Ha ha ha...!"

"Jahanam! Menyesal aku waktu itu tak meng-

hancurkan seluruh urat darahmu. Kiranya, sekarang 

kau masih berlagak besar mulut di hadapanku!" geram 

Pendekar Bodoh.

"Hmmm.... Kau belum menjawab pertanyaanku, 

Bocah Gemblung! Bersediakah kau bila ku tantang

bertempur seribu jurus di Padang Angin Malaikat esok 

hari?" 

"Kenapa tak bersedia? Untuk meladeni orang 

jahat macam kau, aku selalu punya waktu!" sambut 

Seno, keras menggeram.

"Hati-hati, Bocah Bagus!" Setan Bodong men-

gingatkan. "Aku tahu betul siapa itu Mahisa Lodra! Dia 

durjana culas yang punya selaksa akal licik! Jangan-

jangan dia hendak menjebakmu!"


Kembali Setan Selaksa Wajah tertawa bergelak. 

Kata-kata Setan Bodong yang jelas menyindir dirinya 

cuma dia tanggapi dengan gelengan kepala sambil te-

tap tertawa. Bola mata kakek berpakaian merah-merah 

itu berbinar-binar penuh luapan kegembiraan. Dia ya-

kin benar bila siasat yang telah disusunnya akan ber-

jalan dengan lancar.

"Hei kau, Setan Bodong Setan!" seru Setan Se-

laksa Wajah kemudian, "Baik benar keberuntunganmu 

hingga kau dapat keluar dari Lembah Rongga Laut! 

Aku tahu..., gumpalan pusar yang telah melekat kem-

bali di perutmu itu menunjukkan bahwa ilmu kesak-

tianmu sudah kau miliki lagi. Oleh karenanya, datan-

glah kau bersama bocah gemblung itu ke Padang An-

gin Malaikat esok hari! Akan kuhadapi kalian berdua 

sekaligus! Ha ha ha...!"

Untuk kesekian kalinya, Setan Selaksa Wajah 

tertawa bergelak. Namun... mendadak, air muka kakek 

bertubuh kekar itu berubah pucat. Bola matanya 

membesar, dan tawanya pun langsung terhenti seketi-

ka. 

"Astaga! Di mana 'Benteng Rajah Abadi'...?" lon-

jak si kakek, "Oh! Aku lupa membawanya! Oh! Pelupa 

benar aku ini!"

"He he he...," Setan Bodong tertawa terkekeh-

kekeh melihat sikap Setan Selaksa Wajah yang tampak 

kalut dan bingung. "Apa yang kau cari, Kerbau Dungu, 

kaki-tangan si keparat Banyak Langkir?!" cibirnya. 

"Nyawamu cuma satu! Kebetulan masih melekat di ba-

dan kotormu itu! Apa lagi yang kau cari?"

Setan Selaksa Wajah tak memperhatikan eje-

kan Setan Bodong. Dia terus meraba-raba kain ba-

junya. Tapi, tentu saja 'Benteng Rajah Abadi' tak dite-

mukannya. Benda berwujud bendera-bendera kecil


kuning itu memang lupa dia bawa.

"Celaka!" seru Setan Selaksa Wajah dalam hati, 

"Bagaimana aku bisa menjalankan siasat yang telah ku 

susun kalau aku tidak membawa 'Benteng Rajah Ab-

adi? Oh! Bagaimana ini?"

"Hei, Mahisa Lodra!" bentak Pendekar Bodoh. 

"Kau datang tiba-tiba dan langsung menyemburkan 

kata-kata kesombongan. Lagak-lagu mu tadi menun-

jukkan seakan kau telah memiliki kesaktian setinggi 

dewa. Tap! sekarang...? Hemm.... Sikap yang kau tun-

jukkan sekarang ini persis seekor monyet yang telah 

kehilangan ekornya! Hmmm.... Kau memang seekor 

monyet, Mahisa Lodra! Seekor monyet yang harus di-

kubur hidup-hidup!"

Usai berkata, Pendekar Bodoh melesatkan tu-

buhnya seraya menerjang Setan Selaksa Wajah. Kare-

na Pendekar Bodoh amat benci pada Setan Selaksa 

Wajah yang nyata-nyata memang seorang durjana li-

cik, pemuda itu langsung mengeluarkan salah satu ju-

rus terhebat yang berasal dari Kitab Sanggalangit. 

Sambil mengerahkan ilmu peringan tubuh 'Lesatan 

Angin Meniup Dingin', Pendekar Bodoh mengeluarkan 

jurus 'Dewa Badai Menghitung Bintang Menyapa Bu-

lan'!

Maka dalam sekejap mata, tubuh Pendekar Bo-

doh seakan telah berubah menjadi segumpal asap 

berwarna biru. Timbul tiupan angin yang menderu ga-

nas setiap murid Dewa Dungu itu melancarkan puku-

lan dan tendangan. Sementara, Setan Selaksa Wajah 

yang masih kebingungan karena 'Benteng Rajah Ab-

adi'-nya tertinggal, bergerak ke sana-sini dengan 

menggunakan ilmu peringan tubuhnya yang bernama 

'Angin Pergi Tiada Berbekas'. Hingga, tubuh Pendekar 

Bodoh dan Setan Selaksa Wajah hanya terlihat berupa


dua gumpal asap yang terus berlesatan dengan cepat.

"Kenapa kau tak membalas seranganku, Mo-

nyet Bau?!" sentak Pendekar Bodoh di sela-sela seran-

gannya.

"Hmmm.... Sengaja aku tak membalas! Bukan-

kah kau dengar tadi? Aku menantangmu bertempur 

esok hari di Padang Angin Malaikat!" sahut Setan Se-

laksa Wajah.

"Kenapa mesti menunggu esok hari? Hari ini 

juga aku harus dapat menghentikan semua kejaha-

tanmu! Hiahhh...!" 

Memekik keras Pendekar Bodoh. Dia menye-

rang makin gencar. Kedua tangan dan kakinya tiada 

henti mengirim serangan mematikan. Namun, tetap sa-

ja Setan Selaksa Wajah tak balas menyerang. Entah 

apa yang ada di benak kakek berwajah pemuda itu. 

"Baik! Baik! Kalau kau tak mau bertempur den-

gan jurus-jurus yang kau anggap picisan, aku tantang 

kau mengadu ilmu pukulan!"

Usai berkata, Pendekar Bodoh melentingkan 

tubuhnya beberapa tombak dari hadapan Setan Selak-

sa Wajah. Begitu mendarat di tanah, langsung dia per-

siapkan ilmu pukulan 'Dewa Badai Rontokkan Langit'. 

Di lain kejap, pergelangan tangan kanan murid Dewa 

Dungu itu berubah warna menjadi kuning keemasan 

yang menebarkan hawa amat dingin menusuk tulang. 

Agaknya, Pendekar Bodoh mengeluarkan salah satu 

bagian ilmu pukulan "Dewa Badai Rontokkan Langit'-

nya yang baru saja diberi nama 'Pukulan Inti Dingin'!

Setan Selaksa Wajah yang belum mengenal il-

mu pukulan itu tampak tercengang. Walau dia berdiri 

sekitar lima tombak dari hadapan Pendekar Bodoh, ta-

pi hawa dingin yang menebar dari pergelangan tangan 

pemuda remaja itu terasa hendak membekukan cairan


darahnya. Hingga, Setan Selaksa Wajah terlihat me-

nautkan jajaran giginya untuk menahan hawa dingin 

yang memang hebat Luar biasa

"Aku tak mau bertempur sekarang, Bocah 

Gemblung!" seru Setan Selaksa Wajah di antara rasa 

kaget dan gentar. Suara kakek ini terdengar tak begitu 

jelas karena dia berkata sambil menautkan gigi.

"Apa pun katamu, aku tetap akan menghenti-

kan kejahatanmu sekarang ini!" sahut Seno. "Kalau 

kau tak mau mati konyol, segera keluarkan ilmu puku-

lan 'Pelebur Sukma'-mu!"

Terdiam Setan Selaksa Wajah.

Kakek berwajah pemuda itu tak mau memper-

siapkan ilmu pukulan andalannya. Tapi, diam-diam 

dia mempertinggi kewaspadaan. Dia tak hendak me-

mapaki ilmu pukulan Seno dengan ilmu pukulan pula.

Bila nanti pemuda lugu itu melepas ilmu puku-

lannya, Setan Selaksa Wajah hanya akan bergerak 

menghindar. Setan Selaksa Wajah ingin tahu seberapa 

dahsyat akibat yang akan ditimbulkan oleh ilmu puku-

lan Seno. Dengan kata lain, Setan Selaksa Wajah ingin 

mengukur kedahsyatan ilmu pukulan Pendekar Bodoh.

"Ayolah! Tunggu apa lagi, Mahisa Lodra?!" ben-

tak Pendekar Bodoh yang melihat Setan Selaksa Wajah 

cuma diam. "Cepatlah kau persiapkan ilmu pukulan 

'Pelebur Sukma'-mu!" 

"Hmmm.... Kalau ingin segera membunuhku, 

kenapa hanya gembar-gembor saja?" cibir Setan Selak-

sa Wajah.

"Jahanam!" geram Seno. "Baiklah kalau itu 

maumu! Hiahhh...!" 

Sambil menggembor keras, Pendekar Bodoh 

melepas 'Pukulan Inti Dingin'-nya. Tapi, karena pemu-

da lugu itu tahu Setan Selaksa Wajah tak akan memapaki ilmu pukulannya dengan ilmu pukulan 'Pelebur 

Sukma', dia cuma mengerahkan setengah bagian tena-

ga dalamnya. Pendekar Bodoh yakin, walau hanya 

mengerahkan setengah bagian tenaga dalam, tubuh 

Setan Selaksa Wajah pasti akan hancur menjadi ser-

buk halus bila tertimpa dengan telak. Apa yang telah 

terjadi pada Iblis Pencabut Jiwa sudah cukup dijadi-

kan bukti kedahsyatan ilmu 'Pukulan Inti Dingin'.

Sesaat kemudian..., tampak lapisan salju ber-

warna kuning keemasan meluruk deras ke arah Setan 

Selaksa Wajah. Namun, Setan Selaksa Wajah yang te-

lah mempersiapkan Ilmu peringan tubuh 'Angin Pergi 

Tiada Berbekas' cepat sekali berkelit. Tubuh kakek 

berpakaian merah-merah itu tiba-tiba lenyap berpin-

dah tempat.

Wusss...!

Blammm...!

Lapisan salju yang melesat dari telapak tangan 

kanan Pendekar Bodoh hanya menerpa pepohonan dan 

permukaan tanah. Diiringi ledakan keras menggelegar 

dahsyat, batang-batang pohon yang tertimpa pukulan 

jarak jauh Pendekar Bodoh langsung tumbang, dan 

hancur luluh menjadi serbuk halus! Gumpalan tanah 

tampak berhamburan ke mana-mana. Bongkah-

bongkah batu besar yang terletak di sekitar pusat le-

dakan berlontaran ke berbagai penjuru. Begitu jatuh 

ke tanah, batu-batu itu langsung pecah berantakan 

menjadi butiran pasir Sementara, lapisan salju ber-

warna kuning keemasan terlihat berlebaran. Hingga, 

hawa siang hari di pinggir Hutan Saradan itu terasa

amat dingin menusuk!

"Astaga!" seru Setan Selaksa Wajah yang berha-

sil menghindari ancaman maut

Tubuh murid murtad Dewa Dungu itu tampak


terlapisi salju tipis yang berwarna kuning keemasan 

pula. Padahal, dia berdiri tak kurang dari dua puluh 

tombak dari pusat ledakan!

Namun, rasa gentar dan keterkejutan di hati 

Setan Selaksa Wajah segera terkikis habis manakala 

kakek itu melihat gumpalan sinar merah terang mele-

sat di angkasa menuju ke arahnya. Gumpalan itu me-

lesat dari arah tenggara, arah di mana Setan Selaksa 

Wajah muncul tadi

"Aku yakin, di dalam gumpalan sinar merah itu 

pasti terdapat 'Benteng Rajah Abadi'," pikir Setan Se-

laksa Wajah. "Bidadari Alam Kelam pasti mengirimkan 

barang itu kepadaku dengan ilmu Tabir Pengirim Raga. 

Aku harus bertindak cepat sebelum Pendekar Bodoh 

menyerangku lagi!"

Mengikuti pikiran di benaknya, bergegas Setan 

Selaksa Wajah meloncat tinggi untuk menyambar 

gumpalan sinar merah yang masih melayang di udara. 

Tapi....

Setan Bodong yang sedari tadi cuma diam, 

tampak meloncat tinggi pula. Kakek gendut itu juga 

ingin menyambar gumpalan sinar merah!

"Lewat ilmu tembus pandang ku, aku tahu 

gumpalan sinar itu berisi 'Benteng Rajah Abadi'. Benda 

berkekuatan sihir itu tak boleh jatuh ke tangan orang 

jahat macam Mahisa Lodra!" pikir Setan Bodong.

Wutttt...!

Srattt..!

Tampak kemudian, gumpalan sinar merah yang 

melayang di udara pecah menjadi dua bagian. Bung-

kusan kain hitam yang berada di dalam gumpalan si-

nar itu robek, dan isinya yang berupa bendera-bendera 

kecil berwarna kuning jatuh bertebaran ke atas tanah!

"Jahanam kau, Setan Bodong!" maki Setan Selaksa Wajah, menyimpan geram kemerahan di hati.

Tak mau kehilangan kesempatan, kakek berwa-

jah pemuda itu bergegas memunguti bendera kuning 

yang bertebaran di atas tanah. Namun, Setan Bodong 

juga berbuat serupa! Maka, jadilah kedua kakek itu 

berlomba mengadu kecepatan.

Dan.., ternyata hasilnya seimbang. Satan Se-

laksa Wajah berhasil memungut lima belas bendera 

kuning. Setan Bodong juga mendapat hasil yang sama.

"Awasss...!" teriak Pendekar Bodoh tiba-tiba. 

Pemuda remaja itu melihat Setan Selaksa Wajah hen-

dak membokong Setan Bodong.

Tapi tampaknya, Setan Bodong selalu bersikap 

waspada. Dia cuma merundukkan sedikit kepalanya 

untuk menghindari tendangan maut Setan Selaksa 

Wajah. Sementara, Pendekar Bodoh yang menyimpan 

dendam kesumat terhadap Setan Selaksa Wajah lang-

sung menerjang lagi!

"Kalian berdua memang Jahanam!" seru Setan 

Selaksa Wajah.

Mengetahui keadaannya tidak menguntungkan, 

mendadak kakek bertubuh kekar itu berkelebat lenyap 

meninggalkan tempat. Namun sebelum pergi dia berka-

ta, "Kutunggu kalian berdua di Padang Angin Malaikat 

esok hari! Tepat ketika matahari memayung di atas 

kepala!"

Pendekar Bodoh hendak mengejar, tapi Setan 

Bodong mencegah.

"Sudahlah! Untuk apa kita mengejarnya? Bu-

kankah dia menantang kita bertempur di Padan Angin 

Malaikat esok hari?"

"Tapi...."

"Tak ada kata 'tapi'! Turuti saja apa kataku! Ki-

ta pikir dulu cara untuk melumpuhkan durjana itu!


Dia berbahaya sekali karena membawa 'Benteng Rajah 

Abadi'...!"

"'Benteng Rajah Abadi'...? Apa itu?" tanya Seno, 

tak mengerti.

"Bendera-bendera yang kubawa inilah," beri ta-

hu Setan Bodong. "Untung aku berhasil merampasnya 

sebagian."

"Cuma bendera! Apa hebatnya?"

"Uh! Tolol benar kau! Walau cuma bendera, tapi 

benda ini bisa memenjarakan raga dan roh seseorang 

sampai kiamat!"

"Ah! Begitukah?"

Pendekar Bodoh nyengir kuda.

Setengah tak percaya.

* * *

DELAPAN



PADANG Angin Malaikat... 

Wajah sang baskara muncul tersenyum di kaki 

langit timur. Hangat sinarnya menyapa ramah, me-

nandakan hari telah berganti. Namun, walau cerah su-

asana pagi baru menampakkan diri, Setan Selaksa Wa-

jah telah duduk terpekur di tengah Padang Angin Ma-

laikat.

Kakek yang mampu merubah raut wajahnya 

menjadi seorang pemuda tampan itu tak peduli pada 

hembusan angin kencang yang terasa membeset kulit. 

Rambut dan kain bajunya tampak berkibaran. Tapi, si 

kakek tetap diam tertunduk tanpa bergeming sedikit 

pun. Sorot matanya tajam menusuk, menatap bung-

kusan kain hitam yang di dalamnya terdapat dua

gumpal benda bulat.

Sejak fajar menyingsing tadi, Setan Selaksa Wa-

jah telah berada di hamparan tanah luas berpasir itu. 

Ada seseorang yang tengah dinantikannya. Pendekar 

Bodoh dan Setan Bodong? Ternyata tidak!

"Banyak Langkirrr...!" teriak Setan Selaksa Wa-

jah, menyebut nama kecil Raja Penyasar Sukma. "Aku 

menunggumu sedari tadi di tempat ini! Tidakkah kau 

ingin tahu akhir dari tugas yang kau beri kan...?" 

Teriakan murid murtad Dewa Dungu itu mem-

bahana di seantero Padang Angin Malaikat. Butiran 

pasir yang berada di hadapan si kakek tampak me-

nyembur tinggi ke angkasa. Dan, agaknya Setan Se-

laksa Wajah tak perlu menunggu terlalu lama lagi ka-

rena....

"Kaukah itu, Mahisa Lodra? Kenapa kau datang 

sebelum waktu yang ku tentukan? Apakah kau begitu 

pintar sehingga dapat menjalankan tugas lebih cepat?"

Lamat-lamat terdengar suara seorang lelaki 

yang menyahuti teriakan Setan Selaksa Wajah. Menilik 

dari nada tekanan dan warna suaranya, jelas sekali bi-

la yang menyahuti teriakan Setan Selaksa Wajah itu 

adalah Banyak Langkir atau Raja Penyasar Sukma!

"Aku ingin kau segera datang ke hadapanku, 

Banyak Langkir! Bukankah kau ingin melihat kepala 

Pendekar Bodoh dan Setan Bodong?" teriak Setan Se-

laksa Wajah lagi.

Tepat di ujung kalimat si kakek, dari arah barat 

melesat segumpal cahaya kuning. Lesatan segumpal 

cahaya yang menimbulkan suara bergemuruh keras 

itu menuju ke hadapan Setan Selaksa Wajah!

Bibir Setan Selaksa Wajah tersenyum tipis. Ma-

tanya tak berkedip menatap gumpalan cahaya kuning

yang turun perlahan sekitar tiga tombak dari hada


pannya. Anehnya, begitu menyentuh permukaan tanah 

berpasir, gumpalan cahaya itu langsung lenyap. Seba-

gai gantinya, muncul seorang kakek berpakaian serba 

kuning. Kulit wajah dan tubuhnya berwarna kuning 

pula seperti dilumuri air perasan kunyit. Warna ram-

butnya juga demikian.

Kakek yang baru muncul itu duduk bersila di 

atas lempengan batu pipih. Dan, saat dia mengelua-

rkan suara menggerendeng, lempengan batu yang di-

dudukinya langsung terangkat lagi ke udara. Hingga 

tampak kemudian, kakek bertubuh padat berisi itu 

duduk bersila di atas lempengan batu yang terus men-

gambang di udara!

Dia Raja Penyasar Sukma!

"Kau datang lebih cepat dari waktu yang ku 

tentukan. Teriakan mu tadi menyiratkan bahwa kau 

telah berhasil menjalankan tugas. Benarkah begitu, 

Mahisa Lodra...?" ujar Raja Penyasar Sukma, menyeli-

dik.

"Kau lihat bungkusan kain hitam yang berada 

di hadapanku ini, bukan?" sahut Setan Selaksa Wajah, 

tetap duduk bersila di tempatnya. "Bukalah! Kau akan 

segera tahu sendiri, aku berhasil menjalankan tugas 

atau tidak...."

Raja Penyasar Sukma menatap tajam bungku-

san kain hitam yang berada di hadapan Setan Selaksa 

Wajah. Lalu, dia meluruskan telunjuk jari tangan ka-

nannya. Dengan kekuatan tenaga dalamnya, dia hen-

dak membuka bungkusan kain hitam itu. Namun....

"Kau harus membukanya dengan kedua tan-

ganmu, Banyak Langkir!" cegah Satan Selaksa Wajah 

seraya menyorongkan kedua telapak tangannya untuk 

menutupi bungkusan kain hitam.

"Apa maksudmu?" dengus Raja Penyasar Sukma.

"Walau kau sangat membenci Pendekar Bodoh 

dan Setan Bodong, tapi setelah mereka menjadi mayat, 

apakah kau masih tetap menyimpan kebencian itu?" 

ujar Setan Selaksa Wajah penuh kesungguhan. "Pen-

dekar Bodoh dan Setan Bodong adalah manusia-

manusia jantan yang bersikap amat ksatria. Tidakkah 

kau ingin memberi penghormatan terakhir kepada me-

reka? Kebencian memang awal dari permusuhan. Tapi, 

seorang musuh yang dapat menunjukkan sikap ksatria 

layak diberi penghormatan.... Oleh karena itu, bukalah 

bungkusan kain hitam yang berada di hadapanku ini 

dengan kedua tanganmu, Banyak Langkir...."

Berpikir sejenak Raja Penyasar Sukma. Namun, 

tak seberapa lama kemudian, kakek berpakaian serba 

kuning itu menjentikkan kedua jempol kakinya ke 

lempengan batu yang didudukinya. Lempengan batu 

itu langsung melayang turun ke dekat bungkusan kain 

hitam.

Setelah lempengan batu menyentuh permukaan 

tanah berpasir, Raja Penyasar Sukma menjulurkan 

kedua tangannya untuk membuka bungkusan kain hi-

tam. Sementara, Setan Selaksa Wajah tampak bering-

sut mundur dari hadapan Raja Penyasar Sukma.

Namun..., alangkah terkejutnya Raja Penyasar 

Sukma. Bungkusan kain hitam yang disangkanya beri-

si kepala Pendekar Bodoh dan Setan Bodong ternyata 

hanya berisi kepala dua ekor kerbau!

"Haram Jadah!" umpat Raja Penyasar Sukma 

seraya mengangkat wajah.

Tapi, sosok Setan Selaksa Wajah tak tampak 

lagi!

Setan Selaksa Wajah telah melentingkan tu-

buhnya sekitar lima tombak dari permukaan tanah.


Dan, ketika masih melayang di udara, kakek yang 

punya seribu muslihat licik itu mengeluarkan 'Benteng 

Rajah Abadi' yang disembunyikan di balik baju. Lalu....

Wuttt...!

Srat! Srat! Srat!

'Benteng Rajah Abadi' yang berupa bendera-

bendera kecil terbuat dari kain kuning dilontarkan 

mengelilingi tubuh Raja Penyasar Sukma. Dan, karena 

gerakan Setan Selaksa Wajah amat cepat luar biasa, 

Raja Penyasar Sukma tak sempat berbuat apa-apa. Dia 

baru menyadari keadaan saat gagang bambu lima be-

las bendera kuning telah amblas ke dalam tanah ber-

pasir, mengelilingi tubuhnya!

"Jahanam kau, Mahisa Lodra!" geram Raja Pe-

nyasar Sukma. "Kau telah menipuku! Apa pula yang 

kau lakukan ini?!"

Mahisa Lodra yang telah mendarat sigap di ta-

nah, tertawa bergelak. "Ha ha ha...! Kau adalah manu-

sia yang tak tahu diri, Banyak Langkir! Dulu, aku ada-

lah sahabat baikmu! Tapi setelah kau berhasil mengu-

asai ilmu kesaktian yang berasal dari Kitab Tiga Dewa, 

perbuatanmu sungguh-sungguh amat menyebalkan! 

Kau main perintah seenak perutmu sendiri seakan aku 

telah menjadi budakmu! Apa kau kira aku manusia 

berotak bebal yang mau menuruti segala perintahmu? 

Huh! Ketahuilah, Banyak Langkir..., saat ini aku telah 

mengurung mu dengan 'Benteng Rajah Abadi'! Ha ha 

ha...!"

Karena terlampau mendidih darah Raja Penya-

sar Sukma mendengar ucapan Setan Selaksa Wajah, 

kakek berkulit kuning seperti warna kunyit itu sampai 

tak bisa berkata-kata. Jajaran giginya saling bertautan 

amat rapat, dan memperdengarkan suara gemelutuk 

keras. Dengan rahang menggembung, dia menatap sosok Setan Selaksa Wajah penuh amarah meluap-luap!

"Banyak Langkir...," sebut Setan Selaksa Wa-

jah. "Sengaja aku membawakan mu kepala dua ekor 

kerbau. Kau tahu apa maksudku? Hmmm.... Kerbau 

adalah binatang yang amat tolol! Dan, ketololan ker-

bau itu adalah cermin dari ketololan mu! Ha ha ha...!"

Semakin menggelegak panas darah Raja Penya-

sar Sukma. Dadanya sampai sesak karena desakan 

hawa amarah. Namun, yang bisa diucapkannya hanya-

lah kata-kata kotor yang tak seberapa jelas terdengar.

"Banyak Langkir...," sebut Setan Selaksa Wajah 

lagi. "'Benteng Rajah Abadi' akan mengurung mu sam-

pai datangnya kiamat. Tapi, kau jangan khawatir. Ke-

pala dua ekor kerbau yang ada di dekatmu itu adalah 

kerbau betina. Bila kau merasa kesepian, bolehlah kau 

tumpahkan hasrat mu kepada mereka! Ha ha ha...!"

"Jahanam!" maki Raja Penyasar Sukma, keras 

menggelegar. "Bagaimana mungkin kau bisa menda-

patkan 'Benteng Rajah Abadi'?! Kau pasti bersekongkol 

dengan Bidadari Alam Kelam!"

"Aku tidak tolol seperti dirimu, Banyak Lang-

kir!" sahut Setan Selaksa Wajah. "Ada banyak jalan 

untuk mewujudkan cita-cita. Ada banyak cara untuk 

mewujudkan keinginan! Aku terlalu pandai untuk kau 

jadikan budakmu! Aku terlalu pintar untuk kau perin-

tah seenak perutmu! Dan..., kenyataan telah membuk-

tikannya! Ha ha ha...!" 

"Jahanam!"

Sambil mengumpat, Raja Penyasar Sukma me-

loncat untuk menyerang Setan Selaksa Wajah. Tapi, 

tubuh kakek berpakaian serba kuning itu terpental ba-

lik, lalu jatuh berguling di sisi lempengan batu. Tubuh 

Raja Penyasar Sukma benar-benar telah terkurung 

oleh kekuatan gaib yang berasal dari 'Benteng Rajah


Abadi'!

"Banyak Langkir...," sebut Setan Selaksa Wajah 

untuk kesekian kalinya. "Sebenarnya, 'Benteng Rajah 

Abadi' dapat mengurung mu sampai maut menjemput

mu. Tapi, agar kau tak bosan menunggu datangnya 

Malaikat Kematian, sebentar lagi akan datang dua 

orang lelaki yang akan mewakili mencabut nyawamu! 

Ha ha ha...!"

Sambil tertawa bergelak, Setan Selaksa Wajah 

membalikkan badan seraya melangkah pergi....

"Jahanam!" geram Raja Penyasar Sukma.

Terdorong hawa amarah, Raja Penyasar Sukma 

jadi lupa keadaan. Dia lancarkan pukulan jarak jauh 

ke arah Satan Selaksa Wajah. Namun, selarik sinar 

kuning yang melesat dari telapak tangan kanannya 

membentur kekuatan gaib yang berasal dari 'Benteng 

Rajah Abadi'. Akibatnya, selarik sinar kuning itu ter-

pental balik, dan membentur tubuh Raja Penyasar 

Sukma sendiri.

Blarrr...!

Breees...!

Tubuh Raja Penyasar Sukma terpental, lalu 

membentur kekuatan gaib yang mengelilinginya. Hing-

ga, tubuh kakek yang telah termakan tipu muslihat 

Setan Selaksa Wajah itu terpental lagi, dan jatuh ber-

debam di sisi lempengan batu yang semula dijadikan-

nya sebagai tempat duduk.

"Argh...!" 

Memekik kesakitan Raja Penyasar Sukma. Kain 

bajunya hangus terbakar sebagian. Dari mulutnya me-

nyembur darah segar. Jelas bila dia menderita luka da-

lam.

Namun, tentu saja Raja Penyasar Sukma tak 

mau menyerah begitu saja. Dia segera duduk bersemadi untuk menghimpun seluruh daya kekuatannya.

Sementara, sosok Setan Selaksa Wajah sudah 

lenyap dari pandangan. Dan, perlahan namun pasti, 

mentari mulai bergeser naik. Hari menjadi siang....

Sesaat kemudian, dua orang lelaki tampak ber-

jalan menuju tengah Padang Angin Malaikat. Yang sa-

tu seorang kakek gendut berkepala gundul licin, men-

genakan rompi dan celana pendek putih kusam. Pu-

sarnya berupa gumpalan daging sebesar buah terong 

tua, dapat bergerak-gerak dengan sendirinya. Dan, 

yang satu lagi seorang pemuda remaja berwajah tam-

pan, mengenakan pakaian biru-biru dengan ikat ping-

gang kain merah. Sorot mata si pemuda menyiratkan 

keluguan dan kejujuran.

Mereka adalah Setan Bodong dan Pendekar Bo-

doh!

"Banyak Langkir...!" seru kedua orang itu saat 

melihat sosok Raja Penyasar Sukma yang tengah du-

duk bersila.

Apa yang akan mereka perbuat? 



                       SELESAI



Segera menyusul:


PENGEJARAN KE MASA SILAM


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive