..👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Kamis, 23 Januari 2025

DEWA LINGLUNG EPISODE RAKSASA GUNUNG BROMO

Raksasa Gunung Bromo

 

SATU

Siang itu Matahari seperti enggan keluar dari tem-

pat persembunyiannya dibalik mega kelabu. Cuaca tak 

begitu cerah. Akan tetapi tak ada tanda-tanda bakal 

turun hujan. Dari kejauhan tampak berdiri megah se-

buah gunung yang menjulang tinggi. Bagian puncak-

nya tertutup lapisan awan dan kabut. Itulah Gunung 

BROMO.

Di keteduhan cuaca dan lembabnya udara siang itu 

ternyata telah berlangsung upacara pernikahan yang 

dilakukan secara sederhana sekali, yaitu di puncak 

gunung Bromo yang sunyi mencekam. Agak jauh dari 

kawah yang senantiasa bergolak di lereng puncak gu-

nung itu tampak sebuah rumah batu beratap ilalang. 

Seorang kakek tua renta berjubah putih lusuh tampak 

duduk menghadap keluar dengan bersila di atas tikar 

pandan. Di hadapannya dua orang remaja seorang ga-

dis dan seorang pemuda duduk bersimpuh dengan 

menundukkan kepala.

Di dekat kedua remaja itu duduk pula seorang laki-

laki tua berkepala botak tanpa rambut, tampaknya dia 

seorang pendeta. Dan di belakang sepasang remaja itu 

duduk mengantuk seorang laki-laki bertubuh tinggi 

besar bertelanjang dada.

Kakek tua renta berjubah putih lusuh itu adalah 

yang bernama Ki DWIPA MORGHANA, seorang laki-laki 

tua yang berilmu tinggi. Di dunia persilatan kakek ini 

dikenal dengan gelar si Kelana dari Gunung Himalaya. 

Puluhan tahun silam nama gelarnya pernah membuat 

gempar kaum rimba persilatan karena ketinggian ilmu 

serta sepak terjang manusia dari wilayah India ini. En-

tah sejak kapan dia bercokol di puncak gunung Bromo 

dan mempunyai tiga orang murid. Nyatanya ketiga mu


ridnya itu telah berguru hampir enam tahun.

“Nah, muridku AYU RUMPI dan PANDALA...! kini 

kalian telah resmi menjadi suami isteri!” berkata Ki 

Dwipa Morghana dengan menarik napas lega selesai 

upacara pernikahan kedua remaja muridnya itu.

“Kuharap kalian dapat hidup rukun dan saling me-

nyayangi. Jagalah baik-baik nama perguruan, dan 

berbuatlah kebajikan. Semoga Tuhan yang Maha Kua-

sa merestui mu...!” demikian Ki Dwipa Morghana me-

nutup wejangannya. Dan berakhirlah upacara itu. Ayu 

Rumpi dan Pandala saling tatap, tapi cepat-cepat Ayu 

Rumpi menunduk tanpa secuil senyum pun terukir di 

bibirnya. Pandala mengangkat muka memandang pada 

gurunya.

“Guru...! seperti telah kami rencanakan, selesai 

pernikahan kami segera akan turun gunung. Kami 

mohon do’a restumu, guru...!”

Sejenak Ki Dwipa Morghana tercenung. Lengannya 

bergerak mengelus jenggotnya yang panjang menjun-

tai.

“Sebenarnya aku menginginkan kalian menetap di 

puncak gunung Bromo ini...! Tapi, aku tak dapat mela-

rang jika kalian akan turun gunung. Aku sendiri telah 

mengambil keputusan untuk segera kembali ke Pun-

cak Himalaya”

“Lalu siapa yang akan tetap tinggal di puncak Bro-

mo ini?” kata Pandala. Laki-laki bertubuh tinggi besar 

bagai raksasa yang duduk di belakang Ayu Rumpi dan 

Pandala walaupun matanya terpejam dan tidur men-

dengkur, tapi telinganya mendengar semua percaka-

pan itu. Dia menggeliat dan tanpa membuka matanya 

segera menyahut.

“Biarlah aku yang menunggu puncak Bromo!”

Pandala dan Ayu Rumpi menoleh. “Apakah kau tak 

ingin turun gunung, KEBO GAWUK?” bertanya Ki Dwi


pa Morghana.

“Tidak, guru! Di puncak Bromo ini tenang penuh 

kedamaian. Tidak seperti di bawah sana yang ramai, 

tapi penuh kemelut! Disini aku bisa tidur pulas tanpa 

ada yang mengganggu...!”

Mendengar jawaban muridnya itu Ki Dwipa Mor-

ghana tertawa gelak-gelak, lalu ujarnya. “Aku tak me-

maksakan kehendak murid-muridku. Asalkan kalian 

tetap memegang teguh tujuan perguruan kita, yaitu 

berpihak pada kebenaran!”

“Tapi, guru...!” menukas Pandala. “KEBO GAWUK 

kerjanya hanya tidur, percuma saja dia mempelajari 

ilmu-ilmu kedigjayaan....”

“Apakah tidur itu suatu hal yang melanggar aturan 

perguruan? Guru telah memberi ijin padaku, mengapa 

kakang Pandala usil dengan kesenangan orang? Silah-

kan kalian turun gunung. Biarlah aku yang menetap di 

puncak Bromo ini...” sahut Kebo Gawuk tanpa mem-

buka matanya.

“Ya, aku telah memberi ijin. Biarlah dia berbuat apa 

yang dia sukai. Bilakah kalian akan berangkat?” tanya 

Ki Dwipa Morghana seraya menatap pada Pandala dan 

Ayu Rumpi.

“Sekarang juga, guru...!” sahut Ayu Rumpi setelah 

sesaat menatap Pandala. Pandala mengangguk. “Be-

nar, guru. Kami akan turun gunung sekarang juga!” Ki 

Dwipa Morghana mengangguk.

“Baiklah! Persiapkan apa yang akan kalian bawa. 

Aku merestui mu berdua!”

“Terima kasih, Guru...!” sahut kedua remaja ini 

hampir berbareng. Kemudian bangkit berdiri dan be-

ranjak masuk ke bilik mereka. Tak lama keduanya ke-

luar lagi setelah mengemaskan pakaian tak lupa me-

nyisipkan senjata mereka ke balik baju di pinggang. 

Kemudian keduanya mohon diri.


“Ya, berangkatlah, semoga Tuhan selalu melindungi 

kalian!” berkata kakek itu. Pandala dan Ayu Rumpi tak 

menunggu lebih lama lagi, segera beranjak keluar dari 

pondok itu. Dan dengan cepat segera berkelebat me-

lompat menuruni lereng Bromo. Ki Dwipa Morghana 

menatapnya hingga sosok kedua muridnya lenyap...

“Kebo Gawuk! tugasmu adalah mengantarkan ba-

pak pendeta ini sampai ke rumahnya!” berkata Ki Dwi-

pa Morghana. Kebo Gawuk membuka matanya.

“Baik, guru...!”

“Terima kasih atas budi kebaikanmu, pak pendeta. 

Semoga Tuhan membalasnya...” Ki Dwipa Morghana 

menjura pada si pendeta yang telah bangkit berdiri da-

ri duduknya.

“Tak ada yang amat ku senangi selain perbuatan 

baik. Semoga Tuhan selalu melindungimu” sahut si 

pendeta dengan tersenyum.

Pendeta tua yang diminta pertolongan oleh Dwipa 

Morghana itu pun mohon diri. Kemudian dengan dian-

tar oleh Kebo Gawuk segera menuruni lereng Bromo. 

Ki Dwipa Morghana mengantarnya sampai ke pintu 

pondok. Kakek tua ini memandangi kepergian mereka 

hingga tak kelihatan lagi. Sesaat lamanya Ki Dwipa 

Morghana tercenung di pintu pondok. Pelahan terden-

gar suara helaan nafasnya. Dan dia berkata lirih.

“Akupun akan segera pergi meninggalkan puncak 

Bromo ini...”

Kakek ini memasuki ruangan pondoknya di mana 

lebih dari lima tahun dia telah menggembleng ketiga 

muridnya.

Kakek yang arif ini terpaksa menikahkan kedua 

orang muridnya karena melihat adanya tanda-tanda 

dan sering dia memergoki kedua muridnya itu diam-

diam sama-sama telah jatuh hati. Untuk menghindari 

hal-hal yang tak diinginkan, dia memanggil Pandala



dan Ayu Rumpi dan menanyakan sejelas-jelasnya.

Di hadapan sang guru kedua murid itu tak dapat 

menyangkal dan mengakui dengan jujur bahwa mere-

ka sama-sama menyinta. Akhirnya Ki Dwipa Morghana 

turun gunung untuk mencari seorang pendeta guna 

meresmikan kedua muridnya itu menjadi pasangan 

suami-istri.

***

Matahari semakin condong ke bawah gunung. Si-

narnya tetap redup bahkan mulai berkurang. Ki Dwipa 

Morghana tak menunggu sampai muridnya kembali 

dari mengantar sang pendeta. Karena dia telah memu-

tuskan untuk segera berangkat meninggalkan puncak 

gunung Bromo. Kembali ke India.

Beberapa saat kemudian Ki Dwipa Morghana telah 

berdiri di luar pondok. Sejenak memandang ke sekitar 

puncak Bromo. Namun tak lama segera dia memutar 

tubuh. Dan detik selanjutnya yang terlihat adalah 

bayangan putih yang berkelebat cepat sekali. Tahu-

tahu sosok tubuh Ki Dwipa Morghana alias si Pengela-

na dari gunung Himalaya itu telah lenyap.

***

DUA

Dua tahun kemudian sejak peristiwa itu, empat so-

sok tubuh berkelebat cepat mendaki lereng Bromo. Da-

ri gerakan-gerakan keempat orang itu dapat diketahui 

kalau mereka adalah empat orang yang berkepandaian 

tinggi. Entah siapa gerangan mereka dan ada kepen-

tingan apa mendaki gunung Bromo sepagi itu?

Ternyata mereka adalah empat laki-laki berpakaian


serba hitam. Usia mereka hampir rata-rata sekitar tiga 

puluhan tahun. Gerakan-gerakan mereka mendaki 

amat gesit, bagaikan gerakan empat ekor kijang. Kira-

kira dua kali penanak nasi, keempat orang baju kun-

ing itu telah sampai di puncak Bromo.

“Itu pesanggrahannya!!” berkata seorang yang ber-

tubuh tinggi kurus. Lengannya menunjuk ke arah sisi 

kawah.

“Mari kita kesana!” Segera keempat laki-laki baju 

kuning itu berlompatan mendekati pondok satu-

satunya yang terpencil di puncak Bromo itu.

Tiba di depan pesanggrahan tua itu si laki-laki ber-

tubuh tinggi kurus mengangkat kedua tangannya 

memberi isyarat agar berhenti. Matanya menatap ke 

arah pintu pondok yang terbuka.

“Sobat penghuni puncak Bromo, kami Empat Iblis 

Clurit Hitam datang mau menemuimu!” si laki-laki 

jangkung pentang suara. Kemudian mereka menunggu 

jawaban. Keadaan sunyi mencekam seperti tiada tan-

da-tanda pondok tua itu berpenghuni. Setelah menanti 

beberapa saat, agaknya si jangkung mulai tak sabar. 

Kembali dia berteriak. “Hai, penghuni puncak Bromo! 

Kami datang membawa sepucuk surat dari saudara

seperguruanmu, PANDALA!”

Terdengar suara berat dan parau seperti suara 

orang yang baru bangun dari tidur. “Hoaaeeem...! Su-

rat dari PANDALA?”

Suara itu membuat terkejut ke empat orang ini, ka-

rena suara tersebut bukan datang dari arah pondok. 

Tapi dari dalam kawah Bromo. Tak ayal keempatnya 

segera berlompatan ke arah sisi kawah gunung itu.

Tampak sesosok tubuh tinggi besar mirip raksasa 

duduk di atas sebuah batu besar menyandarkan 

punggungnya di lereng kawah. Dibawahnya adalah la-

har panas yang mendidih dan mengepulkan asap se


perti kabut.

Keempat orang ini hampir-hampir tak percaya pada 

penglihatannya. Jangankan untuk berada di tengah 

kawah yang sedemikian panasnya, berdiri di tepi pun-

cak kawah saja hawa panas telah membuat mereka 

tersurut mundur. Akan tetapi laki-laki itu tampak 

enak-enakan tidur di atas batu di pertengahan kawah, 

membuat empat pasang mata laki-laki ini jadi terbela-

lak heran juga takjub.

“Hi, kalian Empat Iblis Clurit Hitam bacakan saja-

lah apa isi surat dari Pandala itu...!” kata Kebo Gawuk 

tanpa membuka matanya.

Keempat laki-laki baju kuning ini saling pandang 

dengan kawannya. Tapi si jangkung kurus ini segera 

memberi isyarat pada salah seorang kawannya.

“Pindo, kau bacalah surat itu!”

Laki-laki bertubuh agak pendek namun kekar yang 

bernama Pindo itu segera keluarkan secarik kertas 

kain dari balik bajunya. Kemudian membuka lembaran 

kertas kain itu. Akan tetapi baru saja Pindo mau 

membaca, tiba-tiba bersyiur angin keras yang mem-

buat terlepas kertas kain itu dari tangannya.

Pindo melompat untuk menyambar dengan sebat. 

Akan tetapi kertas itu makin membumbung dan me-

layang jatuh ke dalam kawah.

Pucat seketika wajah keempat orang ini. Dilihatnya 

Kebo Gawuk masih enak-enak tidur seperti tak menge-

tahui apa yang barusan terjadi. Kertas surat itu terus 

melayang dan lenyap masuk ke dalam kawah.

Si laki-laki jangkung menunjukkan wajah berang. 

Dia tahu si manusia raksasa itulah yang telah menye-

babkan terlepasnya kertas surat itu. Kekuatan angin 

biasa tak mungkin bisa menerbangkan benda itu. Apa 

lagi datangnya syiuran angin dari dalam kawah. “Kebo 

Gawuk! mengapa kau lakukan hal ini?” teriaknya ke


ras. “Kami jauh-jauh datang kemari untuk menyam-

paikan surat itu, mengapa kau menjatuhkannya ke da-

lam kawah?”

“Hehehe... sebaiknya kalian terangkan saja apa 

maksud si Pandala! Kukira kalian telah mengetahui 

apa isinya!” menyahut Kebo Gawuk dengan menyengir 

lalu membuka matanya.

“Hm, baiklah!” sahut si jangkung yang bernama Ra-

kenca. Walau hatinya agak mendongkol, tapi Rakenca 

segera angkat bicara.

“Adipati PANDALA menitahkan kau untuk turun 

gunung dan menghadapnya. Kami akan mengantar 

kau ke tempat beliau!”

“Si Pandala telah menjadi Adipati?” sentak Kebo 

Gawuk dengan mata membelalak.

“Sudah hampir satu tahun Raden Pandala menjabat 

sebagai Adipati Bangil!” menjelaskan Rakenca.

“Apakah maksudnya menyuruhku menghadap?” 

tanya Kebo Gawuk.

“Haha... Kebo Gawuk! Apakah kau akan tetap men-

jadi penghuni puncak Bromo menunggui lahar yang 

tak ada gunanya? Kehidupan senang dan pangkat 

tinggi telah disediakan untukmu. Raden Pandala san-

gat membutuhkan tenagamu!”

Sejenak Kebo Gawuk tercenung. Matanya menatap 

kepulan asap lahar. Bibirnya bergumam. “Kehidupan 

senang? Pangkat tinggi? Hm, aku tak tertarik dengan 

semua itu!”

“Kebo Gawuk! alangkah bodohnya kau jika menolak 

tawaran itu! Raden Pandala telah berbaik hati memba-

gi kesenangan, dan masih tak melupakan pada sauda-

ra seperguruannya. Kalau di dunia ini ada orang yang 

tak ingin kehidupan senang itulah kau!” berkata Ra-

kenca.

“Heh! aku sudah cukup senang berada di puncak


Bromo ini. Katakan pada si Pandala bahwa aku meno-

lak tawarannya! Nah! segera kalian angkat kaki dari 

sini!” Selesai berkata lengan Kebo Gawuk mengibas. 

Angin panas menggebu menyambar ke arah empat la-

ki-laki ini. Terkesiap si Empat Iblis Clurit Hitam. Den-

gan sebat mereka berlompatan menghindar.

Sesaat keempatnya saling pandang. Sungguh mere-

ka tiada mengira akan penolakan Kebo Gawuk. Akhir-

nya Rakenca memberi isyarat untuk segera meninggal-

kan tempat itu. Tak lama si Empat Iblis Clurit Hitam 

telah berkelebatan menuruni lereng Bromo. Mereka 

kembali dengan hati kecewa dan masygul karena tak 

berhasil membawa si penghuni puncak Bromo turun 

gunung.

Sementara itu di Kadipaten, Raden Pandala sang 

Adipati Bangil tampak baru saja keluar dari dalam 

pendopo gedung kadipaten. Tampaknya dia akan be-

pergian, karena seekor kuda telah disiapkan oleh seo-

rang prajurit di halaman gedung. Melihat kemunculan 

Raden Pandala, prajurit itu dengan membungkukkan 

tubuh segera menyurut mundur.

Raden Pandala menepuk-nepuk kuda tunggangan-

nya yang berbulu putih berkilat-kilat. Kuda putih itu 

perdengarkan suara meringkik pelahan lalu menden-

gus-dengus mencium lengan laki-laki ini. Raden Pan-

dala tersenyum seraya mengelus-elus kepala kuda ke-

sayangannya. Kemudian dia melompat ke punggung 

binatang itu.

“Tutup pintu gapura, dan tak seorangpun tetamu 

yang dibolehkan masuk!” berkata sang Adipati seraya 

menoleh pada si prajurit. “Katakan aku sedang keluar! 

Mungkin nanti sore aku baru kembali!”

“Dawuh, Gusti! Perintah segera akan hamba laksa-

nakan!” menyahut prajurit itu dengan membungkuk. 

Raden Pandala tanpa berkata apa-apa lagi terus men


geprak kudanya dan membedal keluar meninggalkan 

gedung Kadipaten.

Prajurit ini bergegas menghampiri dua penjaga pin-

tu gerbang. Setelah bercakap-cakap sejenak, kedua 

prajurit itu segera menutup pintu gerbang gedung Ka-

dipaten dan menguncinya dengan palang pintu.

“Akan kemanakah Kanjeng Gusti Adipati?” tanya 

salah seorang prajurit penjaga pintu gerbang pada pra-

jurit tadi.

“Entahlah! beliau tak berkata apa-apa padaku...!” 

sahut prajurit ini yang menjadi orang kepercayaan Ra-

den Pandala. Lalu ketiganyapun bercakap-cakap.

***

TIGA

Raden Pandala memacu kuda tunggangannya den-

gan cepat menuju ke arah selatan. Akan tetapi dia tak 

melewati jalan yang biasa dipergunakan orang.

Melainkan mengambil jalan dengan melintasi hutan 

lebat.

Entah kemana tujuan Raden Pandala, tampaknya 

dia akan menemui seseorang yang bersangkutan den-

gan urusan pribadinya.

Setelah melintasi hutan kemudian kuda membelok 

ke arah sisi bukit.

Melalui jalanan yang terjal dan berkelok-kelok se-

penanak nasi kemudian Raden Pandala telah tiba di 

satu tempat yang di kiri kanannya penuh dengan po-

hon jati. Di ujung jalan yang dilaluinya terdapat jalan 

yang membelok ke kanan. Tapi Raden Pandala tak me-

nuruti jalanan itu. Melainkan menerobos jalan setapak 

ke arah semak belukar. Ternyata dibalik belukar itu



terdapat sebuah sungai.

Suara air menyibak mencabik keheningan tatkala 

kaki-kaki kuda Raden Pandala melintasi sungai berair 

dangkal itu. Keadaan di hutan kecil itu tampak begitu 

lengang. Baru saja Raden Pandala sampai ke daratan, 

beberapa sosok tubuh bermunculan dari balik semak.

“Oh, kiranya Gusti Raden Pandala...!” berkata salah 

seorang dari laki-laki berbaju warna gelap itu. Lalu 

menjura diikuti kawan-kawannya.

“Selamat datang, Raden!” sapa laki-laki yang baru-

san berkata.

“Hm,... apakah Gusti mu ada dikediamannya?” 

tanya Raden Pandala.

“Kebetulan. Hari ini beliau ada di rumah!” sahut la-

ki-laki itu. “Mari Raden! kami jalan terlebih dahulu”

Enam laki-laki itu dengan gerakan cepat segera 

mendahului berkelebatan dengan gerakan gesit. Per-

tanda mereka rata-rata memiliki ilmu-ilmu silat.

“Haih! AYU RUMPI...! Entah sampai kapan kau te-

tap bertahan pada pendirianmu? Bagaimana kalau 

sampai semua usaha dan jerih payah ku tak berhasil?” 

menggumam Raden Pandala.

Lalu menyusul keenam laki-laki tadi dengan lang-

kah kuda yang dijalankan pelahan.

Sebuah rumah yang berbentuk pesanggrahan tak 

seberapa besar, tampak berada di tempat agak keting-

gian. Dikelilingi rumpun bambu. Sekitar tempat itu 

bersih seperti memang dijaga kerapiannya. Ketika 

langkah kaki kuda Raden Pandala semakin mendekat 

ke arah pondok itu, dari dalam pintu pondok muncul 

sesosok tubuh wanita berpakaian warna kuning. Kepa-

lanya terbungkus selendang warna hitam yang menu-

tupi sebagian wajahnya.

Sejenak Raden Pandala tertegun memandang, dan 

menghentikan langkah kudanya. “Ayu Rumpi...!” Suara


Raden Pandala memecah kesunyian.

“Hm! Silahkan masuk Adipati Bangil!” Hanya itu 

yang diucapkan wanita berkerudung hitam ini. Kemu-

dian tubuhnya kembali menyelinap masuk ke dalam 

pondok. Raden Pandala melompat turun dari kudanya. 

Lalu menuntunnya ke sisi pondok dan mengikatkan 

tali kendali pada sebatang pohon yang tumbuh di situ.

Sejenak sebelum melangkah masuk, Raden Pandala 

memutar pandangan, seperti mencari keenam laki-laki 

tadi. Tapi entah kemana lenyapnya enam laki-laki itu 

seperti pada waktu-waktu dia berkunjung ke tempat 

itu, tak sepotong batang-batang hidungpun yang keli-

hatan.

Lambat-lambat Raden Pandala melangkahkan kaki 

memasuki pondok pesanggrahan itu...

“Silahkan duduk Raden Pandala!” suara Ayu Rumpi 

memagut kelengangan. Gadis berkerudung ini tetap 

tak menampakkan keseluruhan wajahnya yang seba-

gian tertutup kerudung hitamnya. Dia telah duduk di

ujung tikar pandan dengan sorotan mata tajam mena-

tap Raden Pandala.

Raden Pandala masih tetap berdiri menatapnya. 

Gurat-gurat wajahnya menampakkan ketuaan. Karena 

selama ini Pandala telah bekerja keras. Kerja keras 

yang dilakukan demi terwujudnya harapan yang 

menggebu didadanya.

Semua itu demi wanita yang berada di hadapannya. 

Yaitu AYU RUMPI istrinya.

“Hm! Untuk keempat kalinya kau datang kemari 

menemuiku semenjak kau diangkat menjadi Adipati 

Bangil. Apakah kau masih tetap akan membujuk ku, 

Pandala?” Ayu Rumpi membuka percakapan.

Pandala henyakkan pantatnya ke tikar. Lalu terden-

gar dia menghela napas.

“Ayu Rumpi! kita sudah menjadi suami istri. Bahkan aku masih ingat ketika kita menikah di hadapan 

seorang pendeta tua puncak Bromo...” berkata Panda-

la.

“Ya! akupun masih ingat!” menukas Ayu Rumpi. 

“Tetapi masih ingat pulakah kau pada syarat yang ku 

ajukan sebelum pernikahan? Aku akan bersatu pada-

mu sebagaimana lazimnya suami istri, akan tetapi bila 

kau telah berhasil merebut kekuasaan Kerajaan!” desis 

wanita ini dengan mata menyorot tajam menatap Pan-

dala.

“Kau baru berhasil menjabat sebagai seorang Adipa-

ti. Masih jauh dengan apa yang aku harapkan!” sam-

bung Ayu Rumpi.

“Apakah jabatan itu tidak cukup untuk kita bersa-

tu, Ayu...?”

Ayu Rumpi menggeleng. “Jangan coba-coba kau me-

rayu ku lagi, Pandala! Sekali putih tetap putih, sekali 

hitam tetaplah hitam! Kau masih punya waktu satu 

tahun lagi sesuai dengan waktu yang aku janjikan! 

Berhasil tidaknya hal itu tergantung dengan nasibmu!”

Pandala tercenung beberapa saat. Lagi-lagi dia 

menghela napas seperti melepaskan beban berat yang 

menindih dadanya.

“Sungguh tak kusangka kau telah menjerumuskan 

aku pada perbuatan rendah! Perbuatan kotor yang tak 

sesuai dengan cita-cita guru kita!” berkata parau Ra-

den Pandala.

“Menjerumuskan mu?” desis Ayu Rumpi. Tampak 

wajahnya berubah merah. Sepasang alisnya terjungkat 

naik. Dari sepasang matanya yang membinar itu dapat 

diketahui kalau Ayu Rumpi tersinggung marah.

“Ya! kau telah menjerumuskan aku dengan syarat 

gila itu!” bentak Pandala yang tak dapat menahan pe-

rasaan marahnya. Sebaliknya Ayu Rumpi malah terta-

wa geli, membuat mata Raden Pandala membelalak.


“Hihihi... sungguh tak kusangka calon suamiku ter-

nyata seorang yang berotak dungu! Hihihi... benar-

benar lucu dan amat menggelikan!”

“Tutup mulutmu, Ayu! Aku suamimu! bukan calon!”

Bentakan Pandala membuat Ayu Rumpi berhenti 

tertawa. Wajahnya berubah merah lagi. Matanya me-

natap Pandala dengan pandangan dingin.

“Heh! tanpa adanya syarat yang bersedia kau penu-

hi itu aku memang mutlak istrimu! Apakah kau mau 

mengingkari janjimu dengan dalih pernikahan itu? Pa-

da dasarnya memang benar! Tapi kenyataannya adalah 

tidak demikian...!”

Jawaban Ayu Rumpi membuat sang Adipati Bangil 

ini membungkam mulut tanpa dapat berkata sepatah-

pun. “Kau... kau memang keras kepala, Ayu...! Tak ada 

sedikitpun kebijaksanaan bersemayam di hatimu!” 

Hanya kata-kata itu yang diucapkan. Tapi itupun di-

ucapkannya dalam hati.

“Kukira tak ada lagi yang harus kita bicarakan. 

Nah, segeralah kau tinggalkan tempat ini! Maafkan ka-

lau kata-kataku terlalu tajam. Bukan maksudku 

menghinamu, tetapi semua itu agar dapat kau menger-

ti. Aku masih tetap menunggumu dengan setia sampai 

usaha dan perjuangan mu berhasil! Ya! satu tahun la-

gi! Pergunakanlah waktu itu sebaik-baiknya, Pandala! 

Kau dapat menyusun kekuatan untuk segera melaku-

kan pemberontakan. Membunuh Raja dan merebut 

kekuasaan!”

Raden Pandala tak menyahut. Dia bangkit berdiri 

dengan wajah kaku membesi. Pintu kamar dihantam-

nya hingga hancur berkepingan. Agaknya Pandala te-

lah melepaskan kekesalan hatinya karena lagi-lagi dia 

menemui jalan buntu untuk mengajak istrinya bersatu 

dan tinggal di kadipaten.

Tanpa memperdulikan enam laki-laki anak buah


Ayu Rumpi yang tahu-tahu bermunculan di halaman 

pesanggrahan, Pandala menghampiri kudanya. Dua 

orang melompat masuk ke pesanggrahan. Agaknya me-

reka telah mendengar suara bergedubrakan dan 

mengkhawatirkan keselamatan majikannya. Tapi Ayu 

Rumpi telah muncul di pintu pesanggrahan. Kedua la-

ki-laki itu menarik napas lega.

“Biarkan dia pergi!” berkata gadis ini, ketika melihat 

empat laki-laki anak buahnya bersikap mengurung 

Raden Pandala.

Tanpa membuang waktu Raden Pandala segera me-

lompat ke punggung kudanya. Lalu membedalnya me-

ninggalkan tempat itu. Ayu Rumpi dan keenam anak 

buahnya mengawasi sampai kuda putih itu lenyap.

***

EMPAT

Sepeninggal Adipati Bangil, Ayu Rumpi berkemas 

mengganti pakaiannya dengan pakaian persilatan. Ke-

rudung hitam yang tadi digunakan untuk menutupi 

wajahnya dibelitkan di pinggang. Kemudian keluar dari 

dalam pondok pesanggrahan.

“Perbaikilah pintu kamarku! Aku akan pergi agak 

lama. Mungkin satu pekan. Ingat pesanku. Kalian tak 

kuperbolehkan meninggalkan tempat ini. Jaga tempat 

ini jangan sampai orang luar mengetahui tempat raha-

sia kita!” Keenam anak buah wanita ini mengangguk.

“Siap ketua! Jangan khawatir! kami akan menjaga 

tempat ini sebaik-baiknya. Dan pintu kamar yang ru-

sak itu pasti sudah selesai kami perbaiki bila ketua 

kembali nanti!”

Ayu Rumpi tersenyum dan mengangguk. “Bagus!


Nah! aku berangkat!”

Selesai berkata murid Ki Dwipa Morghana ini berke-

lebat pergi meninggalkan tempat tersembunyi itu.

Cepat sekali gerakan gadis ini. Dalam beberapa saat 

saja dia telah berada di sisi bukit. Dia berhenti sejenak 

untuk menatapkan matanya ke beberapa arah. Seperti 

khawatir ada orang lain yang menguntitnya.

Ayu Rumpi perdengarkan suara tertawa kecil seraya 

menggumam.

“Tampaknya Pandala merubah niatnya semula. Dia 

marah karena aku tetap pada pendirianku! Tapi aku 

belum yakin, apakah dia membatalkan niatnya untuk 

memberontak? Karena kudengar dia telah mulai 

menghimpun kekuatan dengan mengumpulkan tokoh-

tokoh aliran hitam seperti si Empat Iblis Clurit Hitam 

dan lain-lain.

“Hihihi... akan kulihat, apakah dia mempunyai ke-

mampuan?”gumamnya lagi. “Hm, aku harus menemui 

“dia”! aku sudah terlalu rindu padanya...” berkata Ayu 

Rumpi dalam hati.

Kemudian dengan gerakan bagai burung walet, lin-

cah sekali gadis itu berkelebat meninggalkan sisi bukit.

Seorang laki-laki kira-kira berumur tiga puluh lima 

tahun lebih tampak duduk di atas sebuah batu di le-

reng gunung. Pemandangan di tempat itu amat me-

nyenangkan dan menyejukkan hati. Tenang, sunyi dan 

tampak penuh kedamaian. Apalagi saat itu terdengar 

suara seruling bernada lembut mendayu-dayu meng-

gugah perasaan ditingkah oleh suara air terjun yang 

lapat-lapat terdengar di kejauhan.

Suara seruling itu berasal dari benda yang ditiup 

laki-laki ini. Bentuk seruling itu agak aneh, karena 

hanya mempunyai empat buah lubang. Dan laki-laki 

ini meniupnya dengan sebelah tangan. Empat anak ja-

rinya bergerak lincah menutup dan membuka empat


buah lubang itu, sedangkan ibu jari tangannya berada 

di bagian bawah benda yang ditiupnya. Walau nadanya 

agak aneh, tapi mengalunkan suara lembut yang ke-

dengarannya amat syahdu.

Laki-laki setengah umur ini walau kelihatan agak 

tua, tapi memiliki wajah tampan dan gagah. Rambut-

nya ikal. Panjangnya hampir sebatas bahu. Selintas 

dapat dilihat bahwa laki-laki ini memiliki wajah yang 

penuh dengan cambang bauk lebat. Tapi agaknya dia 

selalu mencukurnya, tapi justru membuat laki-laki ini 

lebih muda dan tampan.

Tiba-tiba nada serulingnya terhenti. Sepasang ma-

tanya yang tadi terpejam, kini terbuka. Kepalanya di-

miringkan sedikit seperti ada suara yang mencuriga-

kan yang telah didengarnya. Tiba-tiba tubuhnya men-

celat ke udara. Dan lenyap ditelan rimbunnya pepoho-

nan. Dari gerakan melayang itu dapat diketahui bahwa 

dia seorang laki-laki yang cuma memiliki sebelah len-

gan...

Sesosok tubuh melompat keluar dari balik semak. 

Ternyata si laki-laki peniup seruling aneh itu telah 

mengetahui adanya seseorang yang bersembunyi di 

sekitar tempat itu. Siapa gerangan orang ini? Kiranya 

tak lain dari Ayu Rumpi.

“Ah...! mengapa dia selalu menghentikan suara se-

rulingnya dan melenyapkan diri setiap aku datang? 

Aku belum puas memandangi wajahnya....”

Berkata Ayu Rumpi dalam hati. Tampak gadis ini 

seperti kecewa.

“Dia pasti mengetahui kedatanganku. Ya! dia pasti 

telah mengetahui...! Dan aku yakin laki-laki itu adalah 

“dia”...!” menggumam Ayu Rumpi. Tiga kali sudah Ayu 

Rumpi datang ke tempat ini. Dan setiap kali dia sem-

bunyi di tempat itu untuk mendengarkan suara alu-

nan seruling laki-laki itu serta memperhatikan wajah


nya. Entah apa yang telah membuat gadis ini seperti 

tergila-gila pada sang peniup seruling. Akan tetapi dia 

tak berani terang-terangan berhadapan muka atau 

menghampiri. Ternyata suatu peristiwa masa silam te-

lah tersimpan kuat di lubuk hati Ayu Rumpi. Peristiwa 

yang amat sukar dilupakan! Peristiwa apakah itu?

Dimana-mana perang memang suatu hal yang amat 

dibenci! Karena perang pulalah hingga dia harus kehi-

langan segala-galanya, pada masa perebutan kekua-

saan, rakyat banyak yang menjadi korban. Diantara

korban peperangan itu keluarga Ayu Rumpi termasuk 

salah satu dari sekian banyak korban perang. Orang 

tuanya mati terbunuh. Desa terbakar musnah! Dan dia 

hidup sebatang kara tanpa sanak saudara. Ayu Rumpi 

pada waktu itu baru berusia kira-kira empat belas ta-

hun.

Dalam keadaan sengsara Ayu Rumpi berhasil lolos 

dari tangan-tangan jahat yang mau menjamahnya. Da-

lam keadaan sengsara menahan lapar juga tidur yang 

tiada menentu dia berjumpa dengan seorang laki-laki 

yang juga korban dari keganasan perang. Seorang pe-

muda tanggung yang bernama PANDALA.

Merekapun segera bersahabat. Tapi dimana-mana 

bahaya selalu mengancam.

Pandala yang diharapkan dapat menjaganya, ter-

nyata berjiwa pengecut. Disamping tak memiliki ilmu 

kepandaian juga tak mempunyai nyali besar. Hingga 

dia cuma bisa melarikan diri ketika tiga orang peram-

pok jahat tergiur pada kecantikan wajah Ayu Rumpi 

yang masih berusia belasan tahun dan boleh dikata-

kan seorang gadis kecil.

Untunglah pada saat itu muncul seseorang yang te-

lah menolongnya. Dan menghajar ketiga manusia dur-

jana itu. Ayu Rumpi masih ingat. Ketika itu si tiga ma-

nusia jahat tersebut telah dibuntungi masing-masing


sebelah lengannya. Dan dia ingat benar, si penolong-

nya itupun cuma berlengan satu.

Tak terkirakan rasa terimakasih Ayu Rumpi pada 

sang penolong. Ayu Rumpi dan Pandala dibawa ke 

tempat kediamannya. Itulah tempat di lereng gunung 

yang sunyi dan berpemandangan indah. Ayu Rumpi 

dan Pandala memohon pada laki-laki itu untuk dijadi-

kan muridnya. Tapi dia menolak, namun menjanjikan 

akan membawa mereka kepada seorang kakek sakti di 

puncak gunung Bromo.

Pandala tampak gembira, tapi Ayu Rumpi seperti 

enggan berpisah dengan laki-laki penolongnya yang 

disebutnya dengan panggilan Paman JOKO. Suatu pe-

rasaan aneh telah tersimpan di hati sanubari Ayu 

Rumpi. Perasaan aneh itu adalah seperti perasaan 

yang dimiliki seorang gadis remaja. Hal yang belum se-

suai dengan usia Ayu Rumpi pada waktu itu.

Akan tetapi memang tidaklah aneh bagi orang-orang 

desa pada masa itu. Usia sedemikian bagi seorang ga-

dis desa sudah dapat dikatakan cukup dewasa...

Rasa terimakasih atas pertolongan sang Paman Jo-

ko pada dirinya telah menimbulkan rasa simpati yang 

amat dalam di hati Ayu Rumpi. Dan rasa simpati itu 

ternyata menimbulkan benih-benih cinta di hati si ga-

dis cilik. Walaupun dia cuma mengenal cinta itu seba-

gai rasa kasih sayang, tanpa embel-embel lain. Dia me-

rasa kasihan pada sang paman Joko yang hidup sendi-

ri dan wajahnya selalu tampak murung. Itulah sebab-

nya dia enggan dan tak mau berpisah. Karena ingin 

membalas budi dengan apa yang bisa dilakukannya.

Namun paman Joko bersikeras untuk membawanya 

ke puncak Bromo. Terpaksa Ayu Rumpi harus menu-

ruti keinginan paman Joko untuk menetap dan bergu-

ru dengan kakek sakti itu. Perpisahan itu diiringi de-

raian air mata di pipi sang gadis kecil.


“Paman Joko, setelah selesai berguru, aku akan 

mencarimu. Apakah kau masih akan tinggal di lereng 

gunung itu?”

“Haih, anak manis...! sudahlah! Kalau Tuhan men-

gizinkan tentu kita dapat bertemu lagi. Kau belajarlah 

yang rajin. Dan tak usah memikirkan apa-apa...” sahut 

paman Joko dengan tertawa dan membelai rambutnya.

Demikianlah kisah yang dialami Ayu Rumpi. Lebih 

dari lima tahun dia berguru, tak disangka-sangka di-

am-diam Pandala telah lama jatuh hati pada dirinya. 

Dengan berbagai cara, Pandala membujuk dan merayu 

untuk meruntuhkan hati Ayu Rumpi. Pergaulan sela-

ma lima tahun lebih itu agak melupakan ingatan Ayu 

Rumpi pada sang paman Joko. 

Di luar kesadaran mereka telah mengadakan hu-

bungan seperti suami-istri.

“Aku kan menikahi mu, Ayu...! sudahlah! Hapuslah 

air matamu...” kata Pandala menghibur gadis saudara 

seperguruannya itu.

Ayu Rumpi menjawab ketus, seraya menyeka air 

matanya.

“Baik! aku bersedia menjadi istrimu! Tapi aku tak 

mau bersuamikan seorang pengecut seperti perbua-

tanmu dahulu!” saat itu dia teringat akan kepengecu-

tan Pandala pada masa lima tahun yang silam. Men-

gingat masa lalu itu, Ayu Rumpi teringat pula pada 

Paman Joko yang telah menolongnya. Tak kuat mena-

han perasaan hatinya yang hancur, gadis ini menangis 

terisak-isak.

“Sudahlah, Ayu...! maafkan aku! Tentu aku tak se-

pengecut dahulu. Bukankah kini aku telah dewasa? 

Dan aku telah pula memiliki ilmu kepandaian!” hibur 

Pandala. Ayu Rumpi menatap Pandala tajam-tajam. 

Tangisnya mendadak berhenti.

“Hem, sanggupkah kau untuk membuktikannya?”


“Aku akan membuktikannya kelak!” jawab Pandala 

tegas.

“Bagus! Nah! buktikanlah nanti setelah kita turun 

gunung! Aku menginginkan kau merebut kekuasaan 

Kerajaan! Aku dendam pada orang-orang kerajaan. Ga-

ra-gara mereka aku harus kehilangan kedua orang tu-

aku!”

Walau hatinya tersentak, tapi Pandala tersenyum 

seraya menepuk dada.

“Baik! aku akan membuktikannya! kau lihatlah saja 

nanti, Ayu...!” Akan tetapi dalam hatinya dia berkata. 

“Haha... itu soal nanti! Yang penting aku telah menda-

patkan segala-galanya dari dirimu...”

Demikianlah, awal dari persengketaannya dengan 

Pandala. Hingga walaupun mereka telah diresmikan 

menjadi suami istri di puncak Bromo, pada kenya-

taannya mereka hidup terpisah selama dua tahun.

Pandala dengan kepandaiannya memutar lidah, 

disamping memiliki kecerdasan juga ilmu yang tinggi 

berhasil menjadi seorang kepala prajurit di Kota Raja. 

Suatu hal yang amat kebetulan, Adipati Bangil yang 

bernama Kertosono wafat. Karena tak ada yang meng-

gantikan, Raja yang telah mengetahui kecerdasan Pan-

dala juga ketinggian ilmunya merasa pemuda itu dapat 

dipercaya dan diandalkan untuk menjadi pengganti 

Adipati Kertosono.

Begitulah! Akhirnya Pandala diangkat menjadi Adi-

pati Bangil. Dan nama Pandala pun dibubuhi embel-

embel di depannya yaitu Raden Pandala.

Adapun Ayu Rumpi entah bagaimana caranya, dia 

telah menjadi seorang ketua dari enam orang anak 

buah yang sebenarnya adalah kaum perampok yang 

telah dikalahkan. Yang akhirnya menganggap Ayu 

Rumpi sebagai ketua mereka.


LIMA

Ya! aku yakin dia Paman JOKO! Walaupun kini wa-

jahnya bersih tanpa brewok, tapi aku masih mengena-

li. Ah, tanpa kumis dan brewok lebat itu justru paman 

Joko tampak lebih muda dan tampan...” gumam Ayu 

Rumpi. “Aneh! Apakah aku telah jatuh cinta padanya?” 

berkata Ayu Rumpi dalam hati. Dan seketika wajahnya 

berubah merah dan terasa panas. Tubuhnya tergetar 

dan terasa lemas persendiannya.

Ayu Rumpi memang tak dapat mendustai dirinya 

sendiri bahwa dia telah jatuh hati pada sang Paman 

Joko sejak pertama kali dia berjumpa.

“Sedang menanti siapakah anda, nona...?”

Mendadak satu teguran halus terdengar di bela-

kangnya membuat dia terkejut dan secepat kilat balik-

kan tubuh. Sepasang mata dara ini membelalak ham-

pir tak percaya. Ternyata sang paman Joko itu telah 

berdiri di tempat itu. Wajah yang gagah itu menatap-

nya tajam-tajam dan seulas senyum tampak di kedua 

sudut bibirnya.

“Pa... paman JOKO...! Oh, benarkah kau... kau pa-

man Joko?” sentaknya dengan suara tergagap mengge-

letar.

“Haih! sudah kuduga, kau pasti Ayu Rumpi si gadis 

cilik yang manis dari puncak Bromo!” berkata laki-laki 

ini dengan berseru kagum. “Haha... aku sungguh tak 

menyangka. Sudah tiga kali kau mengintai aku di tem-

pat ini di saat aku meniup seruling. Benar apa yang 

kau katakan, anak manis! aku memang paman Joko! 

hahaha...”

Membelalak mata Ayu Rumpi. Dan seketika itu ju-

ga... “Paman JOKO...!” teriak Ayu Rumpi tersendat. 

Dan detik itu juga dia telah melompat seraya memeluk


sang “paman” ini dengan kegembiraan meluap-luap.

Siapakah sebenarnya paman Joko ini? Nama sebe-

narnya adalah JOKO SANGIT (Tokoh ini muncul pada 

kisah serial: Roro Centil, yang pernah dijuluki si Ninja 

Edan Lengan Tunggal).

Peristiwa kemelut asmara dengan sang pendekar 

wanita Pantai Selatan, membuat Joko Sangit seperti 

mengasihkan diri dan tak pernah muncul di dunia 

rimba hijau, sejak lima tahun yang lalu.

Joko Sangit tak dapat mengelak dari pelukan gadis 

itu, karena dia tahu Ayu Rumpi tengah mencurahkan 

kegembiraannya.

“Paman Joko, ternyata Tuhan mengizinkan kita un-

tuk bertemu lagi...” bisik Ayu Rumpi dengan terharu 

penuh kegembiraan.

“Ya, ya! kita memang harus bersyukur karena ma-

sih diberi umur panjang!” sahut Joko Sangit seraya 

mengusap-usap punggung gadis itu. Tapi diam-diam 

Joko Sangit secara pelahan mendorong tubuh gadis itu 

agar melepaskan pelukannya. Terasa darahnya berde-

sir karena Ayu Rumpi bukan lagi gadis kecil, akan te-

tapi seorang gadis yang sudah dewasa.

“Paman Joko...! aku... aku tak akan meninggalkan 

kau lagi, paman...” berkata Ayu Rumpi setelah mele-

paskan pelukannya. Dalam mengucap demikian jelas 

kedengaran suara Ayu Rumpi tergetar. Air matanya 

tampak menggenang di kedua pelupuk mata.

“Hei? mengapa?” Joko Sangit terheran mendengar 

kata-kata gadis itu. 

“Guru telah kembali ke puncak Himalaya. Pandala 

telah berada di Kota Raja menjadi seorang Adipati di 

sana. Dan Kebo Gawuk menetap di puncak bromo.” 

sahut Ayu Rumpi. “Aku hidup seorang diri! Sebatang 

kara! Aku telah berhutang budi sedalam lautan pada-

mu. Biarlah aku menemani paman Joko, agar paman


tak selalu murung. Kau akan menerimaku, bukan?”

Joko Sangit jadi garuk-garuk kepala tidak gatal 

mendengar kata-kata Ayu Rumpi. Tapi mau tak mau 

dia tertawa berderai.

“Hahaha... kalau sekedar menemani aku tak kebe-

ratan, tapi kau sudah bukan gadis kecil lagi, Ayu 

Rumpi...! Dan bulan dimuka mungkin aku akan me-

ninggalkan wilayah ini”

“Oh!? paman Joko mau kemana?” sentak Ayu Rum-

pi terkejut.

“Haha... aku akan ke utara, dan terus ke utara. 

Mungkin sampai menemui lautan es yang tak pernah 

dikunjungi manusia...” sahut Joko Sangit sambil ter-

tawa. Akan tetapi jelas suara tertawanya mengandung 

kepiluan. Tampaknya dia sengaja menutupi dengan 

wajah cerah.

“Aku akan ikut, paman Joko!” berkata gadis ini.

“Ha? tempat itu amat jauh sekali!”

“Tak perduli! walaupun sampai ke dasar bumi, aku 

tak mau berpisah denganmu, paman Joko...” sahut 

Ayu Rumpi dengan menatap dalam-dalam Joko Sangit.

“Kau..?” tertegun Koko Sangit hampir tak percaya 

pada pendengarannya. Tapi kemudian laki-laki yang 

juga dijuluki si Pendekar Lengan Tunggal ini segera 

berkata. “Eh, anak manis! ingin kulihat ilmu kepan-

daianmu selama kau belajar di puncak Bromo. Hayo, 

segera tunjukkan padaku. Tentu kau telah memiliki 

jurus-jurus pukulan yang hebat!”

“Hem, tentu saja akan kutunjukkan, paman 

sayang...!” seru Ayu Rumpi dengan gembira. 

“Bagus! Nah, coba kau serang aku!”

“Menyerangmu?” Ayu Rumpi naikkan alisnya.

“Ya! mengapa? apakah kau khawatir aku terluka?” 

tanya Joko Sangit. Ayu Rumpi tersenyum. 

“Tidak! Aku yakin ilmumu jauh berada di atas ke


pandaianku!” sahut si gadis seraya memasang kuda-

kuda. Selanjutnya.... “Maaf, paman!”

Seraya berkata Ayu Rumpi segera menyerang den-

gan jurus pukulannya.

Hantaman pukulan Ayu Rumpi ternyata menghan-

tarkan hawa panas.

Pukulan itu diarahkan ke dada. Akan tetapi tiba-

tiba dibelokkan ke tempat kosong, karena Joko Sangit 

tak bereaksi untuk menangkis atau menghindar.

“Haha... seranglah sungguh-sungguh, nona manis!” 

berkata Joko Sangit. Tentu saja wajah Ayu Rumpi ber-

semu merah. Dia memang agak ragu untuk menyerang 

sungguh-sungguh. Hatinya merasa tak tega bila dia 

berbuat kurang ajar menyerangnya. Ayu Rumpi cepat 

merobah posisi, dan tak ayal lagi langsung menyerang 

dengan jurus-jurus pukulan warisan Ki Dwipa Morg-

hana. Diam-diam Joko Sangit terkejut melihat seran-

gan-serangan berbahaya dara itu. Tapi dengan segera 

dia membendung pertahanan dengan gerakan seperti 

orang mabuk. Ternyata tiga serangan beruntun gadis 

itu dengan mudah dapat dihindarkan.

“Jurus yang hebat!” puji Joko Sangit.

“Jurus menghindar mirip orang mabuk mu juga he-

bat, paman!”

Tiba-tiba Joko Sangit mendadak berkelebat ke ha-

dapan gadis itu. Ujung lengan bajunya meluncur ke 

arah pinggang Ayu Rumpi. “Awas! jaga seranganku!” 

teriak Joko Sangit. Terkejut Ayu Rumpi. Namun di de-

tik itu dia buang tubuhnya ke samping. Tapi justru 

sambaran angin keras meluncur berbareng dengan 

meluncurnya ujung lengan baju Joko Sangit yang ba-

gai bermata mengejar sasaran.

Hebat gerakan menghindar dara itu. Di saat yang 

kritis karena serangan-serangan gencar Joko Sangit, 

tiba-tiba dengan gerakan lincah Ayu Rumpi menotol


tanah dengan ujung kakinya. Detik itu juga tiba-tiba 

tubuhnya meletik ke udara. Loloslah sambaran puku-

lan dan serangan ujung lengan baju Joko Sangit yang 

telah siap menggubat pinggangnya.

Dengan dua kali bersalto di udara, Ayu Rumpi me-

luncur turun dua tombak di hadapan Joko Sangit. 

Tampak kedua lengan dara itu mengembang hingga 

mirip burung alap-alap raksasa yang hinggap di tanah.

“Haha... hebat! hebat! Jurus apakah yang kau gu-

nakan itu, Ayu Rumpi?” memuji Joko Sangit dengan 

kagum.

“Itulah jurus Menggunting Mega menghindar Ba-

dai!” seru gadis itu.

“Nama jurus yang bagus sekali! Kukira cukuplah, 

Ayu Rumpi!” ujar Joko Sangit. Selesai berkata tiba-tiba 

Joko Sangit balikkan tubuh dan berkelebat lenyap dari 

hadapan gadis itu.

“Paman Joko...!?” sentak dara ini terkesiap. “Jangan 

tinggalkan aku!” Selanjutnya dengan berteriak cemas 

Ayu Rumpi melompat mengejar ke arah lenyapnya 

bayangan tubuh Joko Sangit. Tiba-tiba...

“Kena!” Terkejut gadis ini tiada alang-kepalang ka-

rena tahu-tahu tubuhnya telah disambar oleh sebuah 

lengan yang memeluk pinggangnya. Karena saat itu dia 

dalam keadaan melompat, tentu saja tak ampun dua 

tubuh yang saling beradu itu sama-sama jatuh bergu-

lingan.

Ketika berhenti berguling betapa terkejutnya dara 

itu karena yang memeluk pinggangnya tak lain dari 

sang “paman”.

“Paman Joko...” bergetar suara Ayu Rumpi. Sepa-

sang matanya membulat menatap Joko Sangit dengan 

pandangan membinar-binar. Ternyata Joko Sangit 

sendiri juga tengah menatapnya dengan tatapan aneh.

“Ayu Rumpi...! katakanlah! apakah maksudmu se


benarnya dengan ucapanmu itu?” tanya Joko Sangit 

tanpa melepaskan pelukannya.

“Paman Joko...! aku... aku mencintaimu...” desah 

Ayu Rumpi dengan suara menggetar. Telinga Joko 

Sangit bergerak-gerak. Pandangan matanya kian 

membinar. Benarkan apa yang telah didengarnya? Se-

lama lebih dari lima tahun dia telah menutup diri dile-

reng gunung sunyi.

Api cintanya pada Roro Centil sang Pendekar Wani-

ta Pantai Selatan telah padam. Selama itu hatinya 

membeku, bahkan hampir mati!

Kini tiba-tiba muncul seorang gadis muda belia 

yang baru meningkat dewasa. Seorang gadis yang den-

gan tulus tanpa kebutaan telah menyatakan cinta ter-

hadap dirinya. Sungguh hampir tak masuk diakal. Dia 

merasa telah cukup tua. Perbedaan usia dengan gadis 

ini jaraknya hampir separuh dari usianya.

Kejujuran dan ketulusan hati Ayu Rumpi dapat ter-

baca melalui pandangan matanya. Tegakah dia meno-

lak dan mengecewakan gadis itu? gairah hidupnya se-

perti bangkit lagi. Kekecewaan yang dalam yang telah 

membekukan hatinya terhadap wanita kembali men-

cair.

“Ayu Rumpi...! kau... kau sungguh-sungguh?” uca-

pannya tersendat parau.

Gadis itu mengangguk. Selanjutnya bagai digerak-

kan oleh kekuatan gaib yang tak mampu mereka me-

nolaknya, Joko Sangit mendekap dara itu erat-erat. 

Ayu Rumpi balas memeluk. Dan, dua bibirpun menya-

tu saling kecup.

Lama... lama mereka tenggelam dalam alunan ge-

lombang cinta yang menghanyutkan. Ayu Rumpi se-

perti merasakan tubuhnya melayang di atas awan nan 

putih lembut. Begitu menyejukkan. Begitu damai dan 

tenteram.


Namun akhirnya mereka tersadar dari kegelapan 

yang nyaris membawa mereka kian hanyut oleh arus 

gelombang asmara. Joko Sangit melepaskan dekapan-

nya. Lalu bangkit berdiri. Ayu Rumpi seperti tersadar 

dari mimpi indah yang membawa sukmanya melayang-

layang.

Diapun bangkit berdiri. Dirapikannya rambutnya 

dengan seribu satu perasaan bahagia membaur di lu-

buk hati.

Sesaat kemudian dengan bergandengan tangan ke-

duanya tampak meninggalkan tempat itu. Diiringi desi-

ran angin pegunungan yang menyibak dedaunan...

***

ENAM

Raden Pandala memacu kudanya bagai dikejar se-

tan. Hatinya benar-benar kecewa pada sikap dan pen-

dirian Ayu Rumpi. Peperangan berkecamuk di hatinya. 

Dia merasa telah berhutang budi pada Mapatih Kunco-

ro yang telah membantunya hingga dia berhasil men-

duduki jabatan Adipati. Patutkah dia berkhianat? Dia 

memang telah mulai menyusun kekuatan rahasia un-

tuk melakukan pemberontakan. Akan tetapi Raden 

Pandala mulai ragu-ragu untuk meneruskan niatnya. 

Peperangan akan berkobar lagi. Dan korban-korban 

akan banyak berjatuhan.

“Tidak! aku tak boleh meneruskan “perjuangan” 

edan ini! Orang tuaku tewas terbunuh karena korban 

peperangan. Haruskah aku memunculkan perang baru 

lagi yang akan membuat banyak orang menderita? Ra-

kyat dalam keadaan aman sentosa. Perang yang dahu-

lu adalah pertikaian antara dua orang bersaudara yang


merebutkan kekuasaan yang sah. Akan tetapi akibat-

nya rakyat yang harus menjadi korban!” Raden Panda-

la memberhentikan kudanya. Dia termangu-mangu 

memandang hamparan hutan luas. Hutan itu telah di-

rencanakan Mapatih Kuncoro untuk ditebas. Akan di-

jadikan ladang pertanian demi kemakmuran dan kese-

jahteraan rakyat. Haruskah dia menggagalkan cita-cita 

yang mulia itu? Haruskah dia menggagalkan harapan 

rakyat?

“Tidak! aku harus menghentikan rencana pembe-

rontakan ini. Aku tak akan mengorbankan rakyat 

hanya karena seorang perempuan!” Raden Pandala 

mengambil kepastian. Wajahnya tampak jernih, “ya! 

aku tak akan merobah lagi keputusanku. Persetan 

dengan Ayu Rumpi!” gumamnya dengan menggertak 

gigi. Lalu menjalankan kudanya lambat-lambat.

“Aku harus bertindak cepat membubarkan orang-

orang rahasiaku sebelum hal ini diketahui Mapatih 

Kuncoro dan bocor ke telinga orang-orang Kerajaan!” 

berkata dalam hati Raden Pandala.

“Bagaimana kalau salah seorang dari mereka mem-

bocorkan rahasiaku?”

Wajah Raden Pandala tampak berubah tegang. 

Kembali dia menghentikan kudanya. Tampaknya dia 

tengah berpikir keras. Hal itu tidak main-main.

Karena dapat menyeret dirinya ke tiang gantungan!

“Tak ada jalan lain! terpaksa aku harus mele-

nyapkan mereka!” desis sang Adipati ini. Tampaknya 

Raden Pandala telah mendapat keputusan untuk 

menggunakan caranya sendiri untuk menutup rahasia. 

Segera dia memacu kudanya untuk segera kembali ke 

Kadipaten.

Baru saja kuda tunggangannya melintasi hutan le-

bat, mendadak beberapa sosok tubuh muncul dari 

arah lereng bukit. Raden Pandala hentikan kudanya


menatap ke arah mereka.

“Raden...! ah, kebetulan kami menjumpai mu di 

tempat ini!” teriak salah seorang yang sekejap kemu-

dian telah tiba dihadapannya. Ternyata mereka tak 

lain dari si Empat Iblis Clurit Hitam. Diam-diam hati 

Pandala amat girang melihat kemunculan empat orang 

ini, karena mereka adalah salah satu kelompok orang 

rahasianya.

“Ya! sungguh kebetulan sekali!” sahut Pandala se-

raya melompat turun dari punggung si Putih. Empat 

Iblis Clurit hitam ini ditugaskan untuk mengajak Kebo 

Gawuk saudara seperguruannya turun gunung. Tu-

juannya adalah akan mengangkat dia menjadi seorang 

Kepala Prajurit kadipaten. Disamping itu Pandala san-

gat membutuhkan tenaganya untuk mencapai cita-cita 

merebut kekuasaan kelak. Dia sudah menduga bahwa 

watak Kebo Gawuk yang keras akan sukar untuk dibu-

juk. Hingga tidak tak heran kalau si Empat Iblis Clurit 

Hitam kembali tanpa si penunggu puncak Bromo itu. 

Tapi dia pura-pura mengerutkan keningnya.

“Hem, kalian kembali cuma berempat. Mana adik 

seperguruanku?” tanyanya. Rakenca menjura seraya 

berkata. “Sayang sekali, Raden! Kebo Gawuk menolak 

untuk turun gunung. Kami sudah berusaha membu-

juk, tapi tampaknya pendiriannya tak dapat digoyah-

kan. Bahkan surat dari Raden telah diterbangkan ke

dalam kawah!” Raden Pandala tercenung sejenak men-

dengar laporan Rakenca. Kemudian menghela napas.

“Yah, sudahlah! aku tak dapat memaksa orang yang 

tidak mau!” berkata Raden Pandala.

“Bagaimana kalau hamba saja yang menggantikan, 

Raden Adipati?” Rakenca memberanikan diri berkata. 

“Hamba akan bekerja sebaik-baiknya agar segera ter-

capai cita-cita raden. Dengan menjabat sebagai kepala 

Prajurit, hamba akan mudah bergerak dan menyelun


dup ke Istana...!” sambung Rakenca.

“Bagus! usulmu baik sekali, Rakenca! ah, mengapa 

kau baru mengatakannya sekarang?” berkata Raden 

Pandala dengan tersenyum seraya menghampiri. Lalu 

menepuk-nepuk pundak Rakenca.

“Apakah usul hamba diterima, Raden?” tanya Ra-

kenca dengan hati berdebar.

“Haha... sebenarnya aku memang berniat mengang-

katmu. Aku sudah dapat menduga Kebo Gawuk pasti 

menolak tawaranku itu! sahut Pandala.

“Jadi hamba diterima? Oh, terima kasih! terima ka-

sih, Raden!” terbungkuk-bungkuk Rakenca menjura. 

Hatinya girang bukan main mendengar kata-kata sang 

Adipati. Dengan masih menyimpan senyum, raden 

Pandala mengangguk-angguk. Mendadak... ya! menda-

dak sekali! Tiba-tiba lengan Raden Pandala meraba hu-

lu kerisnya yang disisipkan di pinggangnya. Dan sece-

pat kilat dihunjamkan ke dada Rakenca diiringi benta-

kan keras. “Baik! kau jadilah kepala prajurit di Akhi-

rat!”

Darah menyembur ketika keris raden Pandala dis-

entakkan. Membeliak mata Rakenca. Wajahnya menye-

ringai kesakitan. Akan tetapi cuma beberapa kejap.

Dengan diiringi suara erangan sekarat. Tubuh Ra-

kenca roboh terjungkal.

Tiga dari Empat Iblis clurit Hitam terkejut bukan 

kepalang. Mereka terperangah dengan mata membela-

lak seperti tidak percaya pada penglihatannya.

Pada detik itu tahu-tahu Pandala telah berkelebat 

ke arah mereka seraya membentak. “Kalian pun harus 

dilenyapkan!”

Cahaya kilatan keris berwarna kuning membelah 

udara. Satu jeritan kembali terdengar, dibarengi den-

gan robohnya sesosok tubuh salah seorang dari mere-

ka yang tak sempat menyelamatkan diri lagi karena


keris Pandala telah mengoyak lehernya.

Dua orang ini melompat mundur dengan wajah pu-

cat pias. Secepat kilat mereka telah mencabut senjata 

Clurit Hitamnya.

“Heh! kalian tak akan dapat meloloskan diri dari 

maut!” membentak Pandala dengan wajah membesi 

menatap dua orang ini.

“Apa salah kami? Mengapa kau... kau bertindak se-

perti ini?” tergagap Pindo dengan mata membeliak se-

perti melihat setan.

Pandala tertawa menyeringai. “Aku telah mengga-

galkan rencana kita semula untuk memberontak! Ka-

rena khawatir kalian membuka mulut yang bisa mem-

bahayakan diriku, terpaksa aku harus melenyapkan 

orang-orang rahasiaku, termasuk kalian!” sambung 

Pandala.

“Keparat! kaulah yang harus dilenyapkan!” meng-

gembor marah laki-laki bernama Pindo ini. Serentak 

kedua anggota dari Empat Iblis Clurit Hitam ini mener-

jang Pandala. Serangan kedua orang ini yang masing-

masing menggunakan sepasang clurit tak dapat diang-

gap main-main. Karena sekali Pandala berlaku ayal, 

jiwanya akan melayang, atau setidak-tidaknya kulitnya 

akan tersayat.

Akan tetapi yang dihadapi bukan orang sembaran-

gan. Karena Pandala adalah murid seorang kakek sakti 

yang berilmu amat tinggi, yaitu Ki Dwipa Morghana 

alias si Pengelana dari puncak Himalaya. Dengan sebat 

Pandala menghindar dari serangan-serangan ganas 

itu. Kedua Iblis Clurit Hitam sudah maklum akan ke-

hebatan ilmu kedigjayaan lawannya. Segera mereka 

merobah serangan dengan menggunakan ilmu-ilmu 

andalan mereka. Serangan-serangan dahsyat segera 

mengurung Pandala. Empat bayangan clurit hitam sal-

ing susul membayangi Pandala kemana dia bergerak.



“Terus cecar dia, Maruksa! jangan beri kesempatan 

pada manusia keparat ini!” teriak Pindo. Semakin gen-

carlah serangan-serangan kedua Iblis Clurit Hitam 

mencecar nyawa Pandala. Karena kalau mereka tak 

dapat membunuhnya, justru merekalah yang akan di-

habisi nyawanya oleh Adipati itu. Tampaknya Pandala 

agak terdesak. Berkali-kali kerisnya berbenturan den-

gan senjata kedua lawannya. Akan tetapi sepasang 

senjata Maruksa dan Pindo tak terlepas dari tangan 

mereka.

Enam belas jurus telah lewat. Tiba-tiba Pandala 

membentak keras.

“Cukuplah aku mengulur waktu memperpanjang 

umur kalian!”

Ternyata Pandala cuma berpura-pura terdesak. Ka-

rena diam-diam dia telah memperhitungkan saat di-

mana dia akan menghabisi nyawa kedua lawannya. Ti-

ba-tiba.... Whuk! Whuk! Sepasang lengan Pandala 

menghantam ke depan. Serangan kilat itu membuat 

terkejut dua orang ini. Dia tak menyangka dengan ge-

rakan lawan melompat ke belakang melampaui tubuh 

mereka, Pandala akan menyerang dengan mendadak. 

Justru mereka baru saja membalikkan tubuh.

Sambaran angin panas bagaikan uap lahar tak da-

pat mereka hindari. Detik itu juga kedua Iblis Clurit 

Hitam itu perdengarkan jeritan menyayat hati. Tubuh 

mereka terlempar bergulingan. Senjata-senjata mereka 

terlempar ke udara. Tanpa sempat sekarat lagi kedua-

nya telah melepaskan nyawa seketika itu juga. Tampak 

baju mereka pada bagian dada hangus terbakar. Kulit 

dada mereka mengelupas dan bau sangit merambah 

udara. Ternyata isi dada merekapun turut hangus! Ra-

den Pandala gerakkan sebelah lengannya untuk men-

jumput keris yang terselip di kedua baris giginya. Lalu 

memasukkan kembali ke dalam serangkanya di pinggang.

“Hm, selesailah sebagian dari tugasku!” gumam 

Pandala. Sejenak dia memperhatikan mayat ke empat 

laki-laki itu yang berkaparan. Pandala segera menyeret 

satu persatu mayat-mayat itu dan dilemparkannya da-

lam semak belukar. Kemudian dengan bergegas Panda-

la menghampiri kudanya. Beberapa saat kemudian

kuda putih yang ditunggangi Adipati Bangil telah 

membedal cepat meninggalkan tempat itu....

***

TUJUH

Dua hari kemudian di wilayah sebelah barat Kota 

Raja melintas serombongan pasukan Kerajaan. Ternya-

ta mereka iring-iringan yang membawa tandu, dikawal 

oleh dua puluh orang prajurit yang dipimpin oleh seo-

rang Tumenggung yang mengendarai seekor kuda ber-

warna hitam.

Ketika melintasi sisi sebuah hutan mendadak ber-

munculan beberapa sosok tubuh menghadang. Tentu 

saja membuat pasukan Kerajaan ini tersentak kaget. 

Nyatalah kalau yang menghadang itu adalah para beg-

al. Dua orang berbaju kuning dan belasan orang lain-

nya mengenakan pakaian warna hitam. Tampang-

tampang mereka tak lewat sedap dipandang mata.

“Hahaha... kalian boleh lewat terus. Akan tetapi 

tinggalkan tandu itu disini!” berkata salah seorang 

dengan mengumbar tawa berkakakan.

“Kurang ajar! siapa kalian?” bentak Tumenggung ini 

dengan wajah sebentar pucat sebentar merah padam.

“Hm, kau tentunya Tumenggung Kandilaga!” kata si 

baju kuning yang bertubuh jangkung, berwajah lancip


dengan kumis ceriwis. Laki-laki ini sebelah kakinya 

disambung dengan besi runcing untuk pengganti ka-

kinya yang buntung.

“Aku memang Tumenggung Kandilaga yang tengah 

mengawal Ndoro Ayu permaisuri Sultan Sepuh!” sahut 

laki-laki berusia empat puluhan tahun ini dengan sua-

ra santar. “Kalian sungguh kurang ajar berani mem-

begal di siang bolong!”

Si baju kuning ini melirik ke arah tandu dengan se-

nyum menyeringai. Lalu menoleh pada kawannya yang 

berbaju kuning pula, tapi berikat kepala merah. Sesaat 

keduanya sama-sama tertawa terbahak-bahak.

Empat prajurit penggotong tandu letakkan tan-

dunya ke tanah. Lalu mencabut senjata siap mengha-

dapi segala kemungkinan. Dua puluh orang prajurit 

lainnya tak berlaku ayal, segera berlompatan menjaga 

di sekitar tandu. Dari dalam tandu sebuah kepala ter-

sembul. Sebuah wajah cantik dari seorang wanita mu-

da memandang keluar dengan wajah pucat pias.

“Oh!? apakah yang terjadi?” sentak wanita permai-

suri Sultan Sepuh. “Tenanglah Ndoro Ayu! Pembegal-

pembegal tengik tak tahu adat ini segera akan kami 

ringkus!” berkata Tumenggung Kandilaga.

“Hahaha... rejeki besar bagi kita, kawan-kawan. 

Dengan kita menawan permaisuri Sultan Sepuh, tentu 

tak sedikit tebusan yang bakal kita terima!” berkata si 

baju kuning dengan tertawa menyeringai.

“Keparat! kalian harus dibuat mampus!” bentak 

Tumenggung Kandilaga, seraya memberi aba-aba un-

tuk menerjang.

Puluhan prajurit Kerajaan serta-merta meluruk ke 

arah pengepung dari para begal itu. Dan sekejap saja 

terjadilah pertempuran seru. Suara bentakan dan be-

radunya senjata-senjata tajam membisingkan anak te-

linga. Suasana sunyi di sisi hutan itu sekejap saja te


lah berubah ramai dan menjadi kancah pertarungan 

adu jiwa.

Dua laki-laki baju kuning itu melompat ke hadapan 

Tumenggung Kandilaga.

“Kau tengah berhadapan dengan Dua Setan dari 

Utara, Tumenggung Kandilaga! Haha... sebaiknya kau 

serahkan saja Ndoro Ayu-mu kepada kami. Kau tak-

kan sampai kehilangan nyawamu!” berkata laki-laki 

ini. Dia bernama Sosro Kemplu dan yang satu lagi ada-

lah adiknya yang bernama Kunto.

“Edan! kau kira aku sebangsa pengecut?” bentak 

Tumenggung ini seraya melompat dari punggung kuda. 

Sret! dia telah mencabut klewang panjangnya.

“Haha.. adikku! kau hadapi Tumenggung tolol ini. 

Biar aku yang merampas perempuan istana itu!” ujar 

Sosro Kemplu dengan tertawa lebar. Kemudian melom-

pat ke arah tandu. Empat orang prajurit menghadang, 

dan langsung menerjangnya dengan tusukan tombak. 

Akan tetapi sekali dia menggerakkan tangannya, 

keempat prajurit itu menjerit ngeri. Dan terjungkal ro-

boh ketika empat buah benda kecil bersinar kuning 

meluncur dari kibasan tangan Sosro Kemplu. Nyatalah 

si Iblis dari Utara ini telah menggunakan senjata raha-

sia untuk menyerang keempat prajurit itu.

Sementara itu prajurit lainnya tengah bertarung 

dengan belasan orang yang rata-rata berkepandaian 

tinggi. Lima orang prajurit sudah terjungkal roboh 

mandi darah. Belasan orang itu terus merangsak para 

prajurit dengan serangan-serangan ganas.

Beberapa prajurit yang melihat Sosro Kemplu men-

dekati tandu segera menerjang beringas. Walau mereka 

telah melihat empat kawannya roboh tak bernyawa, 

akan tetapi agaknya semangat bertempur mereka amat 

luar biasa. Mereka adalah prajurit-prajurit yang berani 

mati demi tugas yang dibebankan dipundak mereka.


“Heh! kalian mencari mati!” bentak Sosro Kemplu den-

gan mendengus.

Laki-laki baju kuning ini tak sempat menggunakan 

senjata rahasianya karena tiga ujung tombak telah me-

luncur untuk memanggang tubuhnya. Dengan gerakan 

gesit dia melompat menghindari tusukan. Ujung ka-

kinya hinggap di mata tombak lawan. Gerakan Sosro 

Kemplu cepat sekali. Di detik itu kedua lengannya 

menghantam ke bawah. Prak! Prak! Dua prajurit tanpa 

sempat berteriak lagi terjungkal roboh dengan batok 

kepala hancur.

Tentu saja membuat prajurit yang satu ini terperan-

gah kaget. Sebelum dia bertindak lebih lanjut, samba-

ran angin keras telah menyambar dadanya. Prajurit ini 

rasakan dadanya bagai dihantam palu godam. Dengan 

jeritan menyayat hati dia terjungkal roboh. Tulang da-

danya ambrol terkena pukulan Sosro Kemplu yang be-

risi tenaga dalam dahsyat.

Sementara itu Tumenggung Kandilaga tengah berta-

rung dengan seru melawan Kunto. Adik seperguruan 

Sosro Kemplu inipun bukan lawan yang enteng, kare-

na sekejapan saja Tumenggung Kandilaga telah terde-

sak hebat. Senjata klewang panjangnya hampir-hampir 

tak sempat dipergunakan. Karena Kunto terus mence-

carnya dengan hantaman-hantaman ganas!

Suatu ketika Tumenggung ini tak dapat lagi mem-

pertahankan diri dari gempuran lawan. Senjata kle-

wangnya terlepas, ketika mempergunakan menangkis 

pukulan lawan yang hanya menggunakan tangan ko-

song. Tapi sebelah tangan Kunto ternyata lengan palsu 

yang terbuat dari besi.

Buk! hantaman berikutnya membuat Tumenggung 

ini terjungkal bergulingan. Pucat pias wajah laki-laki 

abdi Kerajaan ini. Dadanya serasa remuk dan sakitnya 

bukan alang kepalang. Untunglah dia mengenakan ba


ju lapis dari besi tipis dibalik bajunya. Akan tetapi te-

tap saja membuat Tumenggung ini mengerang kesak-

tian.

Sementara itu dilihatnya para prajurit telah banyak 

yang tewas. Cuma tinggal kurang lebih sebelas orang. 

Keadaan amat mengkhawatirkan, karena keselamatan 

permaisuri Sultan Sepuh terancam. Pada saat itulah 

tiba-tiba terdengar suara bentakan menggelegar.

“Begal-begal keparat! hentikan pembantaian kalian!”

Bentakan yang menggetarkan tanah itu membuat 

begal terkesiap, termasuk si Dua Iblis dari Utara. Se-

rentak mereka melompat mundur. Sesosok tubuh ting-

gi besar bagaikan raksasa layaknya tahu-tahu telah 

muncul di tempat itu. Membelalak mata Kunto dan So-

sro Kemplu.

“Heh! siapa kamu manusia raksasa?” bentak Sosro 

Kemplu.

Orang ini tiada lain dari Kebo Gawuk. Entah bagai-

mana manusia penunggu puncak Bromo ini tahu-tahu 

telah turun gunung. Padahal Empat Iblis Clurit Hitam 

tak berhasil membujuknya untuk meninggalkan pun-

cak Bromo. Mendengar dirinya disebut manusia raksa-

sa, Kebo Gawuk tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha.. haha... kau para begal picisan ingin men-

getahui diriku? Akulah yang bergelar Raksasa Gunung 

Bromo!” berkata Kebo Gawuk. Sosro Kemplu dan Kun-

to krenyitkan keningnya mendengar gelar yang baru 

didengarnya itu. “Raksasa Gunung Bromo?” sentak 

Sosro Kemplu dengan melangkah mundur.

“Di puncak Bromo kudengar bersemayam seorang 

kakek kosen yang bernama Ki Dwipa Morghana? Apa-

kah kau muridnya?” tanyanya.

“Benar! Syukurlah kalau kau sudah mengetahui!” 

sahut Kebo Gawuk.

“Heh! orang bodoh! kau mencampuri urusan yang



akan menyulitkan saudara seperguruanmu sendiri!” 

berkata Sosro Kemplu.

“Menyulitkan saudara seperguruanku sendiri? Apa 

maksudmu?”

“Karena apa yang kami lakukan ini adalah...” belum 

sempat Sosro Kemplu meneruskan kata-katanya, tiba-

tiba laki-laki ini menjerit ngeri dan roboh terjungkal 

dengan dada hangus terbakar. Tentu saja hal itu 

membuat semua yang berada di tempat itu jadi terke-

jut. Tahu-tahu sesosok tubuh mengenakan pakaian hi-

tam telah muncul di tempat itu. Sosok tubuh ini mem-

bungkus wajahnya dengan topeng yang hanya me-

nyembulkan sepasang matanya saja.

Kunto memburu ke arah saudara seperguruannya. 

Ketika memeriksa ternyata nyawa Sosro Kemplu telah 

melayang. Melihat keadaan tak menguntungkan, Kun-

to berkelebat melarikan diri. Hal itu segera diikuti ka-

wan-kawannya. Namun jerit-jerit mengerikan segera 

terdengar. Empat orang dari para begal itu terjungkal 

roboh dengan punggung hangus!

“Siapa kau sebenarnya?” bentak Kunto. Sepasang 

lengannya siap melancarkan serangan. 

“Aku adalah malaikat yang akan mencabut nyawa-

mu!” sahut si manusia bertopeng dengan suara dingin.

“Keparat!” teriak Kunto seraya silangkan lengannya. 

Lalu.. Whuk! Whuk! Dua pukulan tenaga dalam dilan-

carkan sekaligus. Brak! sebatang pohon tumbang ter-

kena angin pukulannya yang dahsyat. Akan tetapi se-

rangan itu lolos. Karena dengan mudah si manusia 

bertopeng telah menghindarkan diri.

Beberapa senjata rahasia meluruk bagai hujan ke 

arah si orang bertopeng. Dengan gesit lawannya yang 

misterius ini kibaskan lengannya menghantam buyar 

senjata-senjata maut itu. Pertarungan berlalu bebera-

pa jurus. Tampaknya kehebatan lawan Kunto berada


dua tingkat di atas kepandaiannya. Ketika dua puku-

lan beradu, Kunto menjerit keras. Tubuhnya terlempar 

beberapa tombak.

Kebo Gawuk terpaku ditempatnya dengan benak 

penuh pertanyaan. “Siapakah orang bertopeng ini?” 

berkata dia dalam hati. Kunto mengerang parau me-

megangi dadanya yang terasa remuk akibat beradunya 

tenaga dalam. Di saat itu selarik sinar ungu telah me-

nyambar lagi. Menjerit si Iblis dari Utara ini. Dan ro-

boh tak berkutik lagi. Nyawanya telah melayang ke 

Akhirat.

Sementara itu Kebo Gawuk telah dapat mene-

waskan tiga pembegal. Dua orang diantara mereka 

berhasil lolos. Si Raksasa Gunung Bromo ini sengaja 

tak mengejar. “Yang dua itu biarlah hidup. Mudah-

mudahan mereka dapat insyaf dan menjadi orang 

baik-baik!” gumam Kebo Gawuk. Lalu balikkan tubuh 

untuk kembali ke tempat para prajurit tadi.

Langkahnya terhenti karena tiba-tiba si orang ber-

topeng muncul di hadapannya. “Hm, kau sudah ber-

hasil membereskannya?” berkata orang ini dengan ma-

ta berkilat menatap Kebo Gawuk.

“Tiga orang itu telah mampus. Tapi yang dua mela-

rikan diri!”

“Mengapa kau tak mengejarnya? Penjahat-penjahat 

itu harus ditumpas sampai keakar-akarnya!” berkata si 

orang bertopeng dengan suara dingin.

Mendelik mata Kebo Gawuk. “Heh! aku sengaja 

membiarkan mereka hidup, siapa tahu mereka dapat 

sadar kembali menjadi orang baik-baik! Kalau kau 

mau membunuhnya kejarlah sendiri!” berkata Kebo 

Gawuk dengan ketus. Dia merasa diperintah orang 

bertopeng itu. Hal ini amat menyinggung perasaannya.

Tertegun si manusia bertopeng ini. Tampaknya dia 

maklum akan adat orang tinggi besar ini. Segera dia


alihkan pembicaraan.

“Baiklah, tak mengapa. Tapi sebaiknya kau tak 

usah menemui orang-orang kerajaan itu!”

“Apa perdulimu pula dengan urusanku? Menemui 

atau tidak bukan urusanmu!” sahut Kebo Gawuk se-

makin ketus. Diam-diam dia memperhatikan perawa-

kan dan mengira-ngira wajah di balik topeng hitam itu. 

Laki-laki ini tampak jadi serba salah. Saat itu Kebo 

Gawuk telah berkata.

“Eh, kau membungkus wajahmu dengan kain hitam 

itu apakah tampangmu jelek? Mengapa kau tak te-

rang-terangan saja?”

“Aku...” si orang bertopeng tak meneruskan kata-

katanya. Karena detik itu juga dia telah gerakkan len-

gannya secepat kilat ke arah leher Kebo Gawuk. Se-

rangan mendadak itu tak diduga sama sekali oleh Ke-

bo Gawuk. Ditambah dia belum banyak pengalaman 

karena hampir selama dua tahun dia mengeram di 

puncak gunung Bromo.

Dengan mengeluh pendek dia roboh terguling... Se-

kali lagi si orang bertopeng ulurkan lengannya. Dan 

Kebo Gawuk tak berkutik lagi dalam keadaan tertotok 

tubuhnya berikut pula urat suaranya. Itulah ilmu to-

tok yang amat lihai. Hingga Kebo Gawuk cuma bisa 

melototkan mata dengan dada serasa meledak karena 

marah.

“Bagus! kau hanya akan merintangi aku saja, Kebo 

Gawuk!” berdesis si orang bertopeng. Lalu berkelebat 

lenyap dari pandangan mata si manusia raksasa dari 

gunung Bromo.

***

DELAPAN

Matahari tepat berada di atas kepala ketika siang 

itu seorang pemuda berpakaian gombrong menyan-

dang buntalan di punggung melewati sebuah sisi hu-

tan dengan bersiul-siul kecil. Pemuda berambut ikal 

gondrong ini merasa seperti orang yang paling senang 

di dunia. Karena dia seperti tak memusingkan urusan 

hidup. Terkadang dia melangkah seenaknya. Terka-

dang pula dia melompat-lompat bagai seekor kera. Se-

mentara mulutnya tak hentinya bersiul. Siapa adanya 

pemuda ini tiada lain adalah Nanjar si Dewa Linglung.

Tiba-tiba dia berhenti bersiul. Hidungnya mengen-

dus-endus. Rupanya Nanjar mencium sesuatu yang 

berbau busuk.

“He? bau apakah ini? sungguh tak sedap!” gerutu 

Nanjar seraya putar pandangannya ke beberapa arah. 

Dia mulai melangkah menurutkan penciumannya. Bau 

busuk semakin santar. Terpaksa dia menutup hidung.

Ketika menyibak semak belukar hampir saja dia ter-

loncat karena terperanjatnya. Beberapa sosok mayat 

bertumpukan disemak-semak dalam keadaan membu-

suk. “Ha!? mayat-mayat siapakah ini?” sentaknya se-

raya menyurut mundur. Matanya membelalak melihat 

mayat-mayat yang sudah dimakan ulat dan dikerumu-

ni lalat itu.

Ketika melangkah ke belakang, kakinya menginjak 

sebuah benda. Cepat dia menjumputnya. Ternyata se-

buah Clurit dari besi hitam.

“Hm! ini pasti salah satu senjata milik mayat-mayat 

itu. pikir Nanjar. “Apakah mayat-mayat ini adalah 

mayat-mayat si Empat Iblis Clurit Hitam?” sentak Nan-

jar menerka.

Dengan sebelah lengan masih menutupi hidung,


Nanjar membolak-balik senjata Clurit itu. Tampaknya 

dia merasa yakin bahwa keempat mayat itu adalah 

mayat si Empat Iblis Clurit Hitam.

Dilemparkannya Clurit itu ke balik semak. Lalu 

berkelebat pergi dari tempat yang berbau busuk itu.

“Hm, tentu di tempat itu telah terjadi pertarungan 

yang menewaskan empat manusia tokoh hitam itu...” 

pikir Nanjar. Dia meneruskan langkahnya menembus 

hutan. “Entah siapa orangnya yang telah bentrok den-

gan keempat orang itu! Huh! perduli apa dengan kema-

tian mereka? toh mereka hanya orang-orang jahat. 

Pantaslah kalau mampus dibunuh orang. Kudengar di 

wilayah barat empat orang itu banyak membuat onar 

dengan berbagai kejahatan!” Akhirnya Nanjar melupa-

kan keempat mayat yang ditemuinya di tengah jalan 

itu.

Beberapa saat antaranya dengan melompat-lompat 

dari dahan ke dahan tak ubahnya bagai seekor kera, 

Nanjar terus menembus hutan lebat itu. Dan baru 

berhenti ketika tiba di sebuah lereng gunung.

Suara air terjun di kejauhan terdengar mengguruh. 

Nanjar berdiri merenung beberapa saat. Di matanya 

terbayang air jernih yang mengalir diantara batu-batu.

“Ah, kalau mandi di tempat itu tentu akan segar tu-

buhku! Udara begini panas! Selesai mandi aku akan 

tidur. Menjelang sore bangun tidur baru aku pergi cari 

makanan untuk mengisi perut...” kata Nanjar dalam 

hati.

Setelah mengambil keputusan segera dia berkelebat 

dari tempat itu.

Suara gemuruh air terjun semakin santar. Dari ba-

lik semak yang rapat di depannya sudah terlihat air 

jernih yang mengalir gemericik.

Baru saja dia akan menuruni jalan menuju ke arah 

sungai itu mendadak Nanjar hentikan langkahnya dan


menahan napas. Karena saat itu terdengar suara ter-

tawa cekikikan dari arah sungai. Suara seorang pe-

rempuan yang ditimbal oleh suara laki-laki.

“Ah, ada yang sedang mandi rupanya...”

Nanjar urungkan niatnya. Karena diam-diam dia 

berniat untuk mengetahui siapa adanya mereka yang 

tengah mandi dan bergurau itu.

Dari balik rumpun yang rapat Nanjar mengintip.

Pemandangan di depan matanya membuat dia se-

makin menahan napas... Karena tampak seorang gadis 

dalam keadaan telanjang bulat tengah saling bergurau 

bermain air dengan seorang laki-laki yang cuma berdiri 

di tepi sungai. Laki-laki itu usianya sekitar tiga puluh 

lima tahun. Dia berdiri memeluk pundaknya seperti 

enggan untuk terjun ke air. Tapi gadis itu dengan ter-

tawa mengikik menyembur-nyemburkan air ke arah-

nya.

“Hayo buka celana mu! Hihihi... mengapa berdiri sa-

ja? Airnya sejuk!” teriak si gadis. Walau gadis itu me-

rendam tubuhnya sampai sebatas dada, tapi bayangan 

tubuhnya yang polos tak dapat tidak terlihat dari atas 

air.

Mata Nanjar semakin membulat. Sebagai seorang 

pemuda mana hal semacam itu di lewatkan begitu sa-

ja? Apa lagi gadis itu berparas cantik dan bertubuh pu-

tih serta mempunyai bentuk tubuh yang bagus.

Karena terus menerus disembur dengan air terpak-

sa laki-laki itu melompat terjun ke dalam sungai tanpa 

membuka celananya lagi. Cuma bajunya saja yang se-

jak tadi telah dibukanya.

Gadis itu tampak girang sekali. Merekapun bersen-

da gurau dengan berkejar-kejaran. Pemandangan itu 

mengingatkan Nanjar pada sepasang sejoli yang tengah 

memadu kasih. “Entah laki-laki itu suaminya ataukah 

hanya kawannya saja?” pikir Nanjar.


Suara cekikikan gadis itu berhenti ketika lengan si 

laki-laki berhasil menangkap pinggang si dara cantik. 

Tampaknya gadis itu tak berusaha meronta. Dua pa-

sang mata mereka saling tatap. Hati Nanjar semakin 

berdebar. Matanya semakin membulat tak berkedip.

“Ah...” Nanjar cepat-cepat memalingkan muka keti-

ka kedua insan berlainan jenis itu saling kecup.

Sementara tubuh mereka saling peluk dengan erat. 

Tubuh sang gadis menggeliat-geliat dalam dekapan la-

ki-laki itu. Sementara lawan jenisnya tampak semakin 

bersemangat. Kejap berikutnya si laki-laki telah me-

mondong tubuh polos gadis itu ke balik batu besar.

Entah apa yang dilakukan. Karena yang tampak 

kemudian hanya dua pasang kaki mereka saja yang 

kelihatan bergerak-gerak diantara sela-sela batu.

Dia mengenali siapa adanya laki-laki tersebut yaitu 

si Pendekar Lengan Tunggal Joko Sangit. Tapi siapa 

adanya gadis itu Nanjar tak mengetahui.

“Sialan...!” maki Nanjar dalam hati. “Edan!” ma-

kinya lagi. “Tapi salahku sendiri mengapa mengintip 

orang sedang bercintaan?” gerutunya.

Lalu tanpa menoleh ke belakang lagi Nanjar berke-

lebat dari tempat itu...

“Hah!? lagi-lagi mayat!” sentak Nanjar terperanjat. 

Karena dihadapannya terlihat berkaparan mayat-

mayat. Kali ini Nanjar benar-benar terkejut karena 

mayat-mayat yang bergelimpangan itu adalah mayat 

para prajurit Kerajaan. Akan tetapi membaur pula di-

antara mayat-mayat itu beberapa sosok mayat orang 

biasa. Diantara bangkai manusia yang berserakan itu 

terlihat sebuah tandu yang tergelimpang. Nanjar ter-

sentak seraya melompat menghampiri.

Benaknya berpikir keras untuk menduga apa yang 

telah terjadi.

Sesosok mayat yang berpakaian berbeda dari mayat


prajurit Kerajaan dihampiri Nanjar. Ternyata itulah 

mayat Tumenggung Kandilaga. Tak jauh didekatnya 

seekor kuda tergelimpang dengan kepala remuk. Tak 

berapa jauh dari mayat Tumenggung itu terkapar pula 

mayat Sosro Kemplu salah seorang dari si Dua Iblis 

dari Utara.

“Apakah yang telah terjadi?” pikir Nanjar dengan 

kerutkan kening.

“Agaknya telah terjadi pertarungan di tempat ini 

yang meminta korban kedua belah pihak!” kata Nanjar 

dalam hati. “Tapi tandu itu kosong! Dugaanku tak 

mungkin tandu itu berisi barang berharga karena dida-

lamnya ada tempat duduk. Setidak-tidaknya para pra-

jurit ini tengah mengawal seorang putri atau mungkin 

juga seorang permaisuri Raja. Karena tandu kebanya-

kan digunakan untuk membawa perempuan lemah!”

Satu hal yang membuat Nanjar agak memperhati-

kan adalah luka bekas pukulan yang telah menghan-

guskan isi dada. Diantaranya mayat orang Kerajaan 

yang diperkirakan Nanjar adalah seorang Kepala Pra-

jurit. Dan mayat si laki-laki baju kuning.

“Akan kuperiksa lagi sekitar tempat ini! apakah ma-

sih ada mayat-mayat lainnya?” desis Nanjar dengan 

wajah keruh. Lalu berkelebat ke beberapa arah. Benar 

saja, dia menjumpai mayat seorang laki-laki yang juga 

berbaju kuning. Kematiannya dengan keadaan yang 

sama. Yaitu dengan dada berikut isinya hangus!

“Hm, pukulan tenaga dalam yang hebat! Entah sia-

pa manusianya yang melakukan!” gumam Nanjar ter-

tegun. Tiba-tiba telinganya mendengar suara aneh se-

perti orang mengeluh. Tersentak si Dewa Linglung. 

Dengan memasang pendengaran Nanjar mencari tahu 

dari arah mana suara itu.

Ketika dia melompat ke balik semak, tersentak Nan-

jar ketika melihat sesosok tubuh tinggi besar dalam


keadaan terkapar. Nafasnya kembang kempis dapat di-

lihat jelas dari perutnya yang bergerak-gerak.

Siapa adanya orang tinggi besar ini tiada lain dari si 

Raksasa Gunung Bromo, alias kebo Gawuk yang dalam 

keadaan tertotok.

Sepintas saja Nanjar sudah mengetahui keadaan 

orang itu. Segera dia berjongkok dan membebaskan to-

tokan itu. Begitu merasai dirinya bebas dari pengaruh 

totokan, Kebo Gawuk melompat bangun.

“Oh, oh...! terima kasih atas pertolonganmu, sobat!” 

Kebo Gawuk menatap orang di hadapannya. Nanjar 

tersenyum. “Siapakah kau dan apa yang telah terjadi?” 

tanya Nanjar seraya melompat berdiri.

“Aku...aku... orang-orang menyebutku si Raksasa 

Gunung Bromo!” sahut Kebo Gawuk tanpa menye-

butkan namanya. “Si orang bertopeng hitam itu telah 

menotok ku! Setan keparat! kemana perginya kunyuk 

itu?” Kebo Gawuk melompat berdiri, kepalanya dipa-

lingkan ke beberapa arah, sementara matanya memu-

tari sekitar tempat itu mencari-cari si manusia berto-

peng. Tentu saja orang yang dicarinya telah tak berada 

di tempat itu.

“Siapakah kau, sobat?” tanya Kebo Gawuk dengan 

menatap tajam pada Nanjar. 

“Namaku Nanjar! Secara tak sengaja aku lewat di 

tempat ini! Aku melihat banyak sekali mayat-mayat 

dari orang kerajaan juga beberapa mayat lain. Kemu-

dian aku menjumpai kau di tempat ini. Apakah sebe-

narnya yang telah terjadi?” bertanya si Dewa Linglung.

Kebo Gawuk merenung sejenak seperti memulihkan 

ingatannya. Lalu segera menceritakan apa yang telah 

terjadi dan dialaminya. “Entah siapa orang bertopeng 

hitam itu. Tapi aku seperti mengenali suaranya...” ber-

kata Kebo Gawuk mengakhiri ceritanya.

“Apakah kau mengetahui apa isi tandu yang dibawa


laskar Kerajaan itu?” tanya Nanjar.

“Ya! tandu itu berisi seorang perempuan, yaitu per-

maisuri Sultan Sepuh!” sahut Kebo Gawuk. “Walau 

aku tak melihatnya, tapi dari pembicaraan orang Kera-

jaan itu dengan si Dua Iblis dari Utara serta konco-

konconya aku mengetahui siapa adanya orang yang 

berada di dalam tandu...”

“Tepat dugaanku!” sahut Nanjar.

“He? kau melihat disana ada tandu?” tanya Kebo 

Gawuk tiba-tiba.

“Ya! sebuah tandu yang terbalik dan kosong!” sahut 

Dewa Linglung.

Kebo Gawuk tak menunggu jawaban Nanjar lebih 

lanjut. Dia telah melompat dari tempatnya berdiri. 

“Aku akan melihatnya!” teriak Kebo Gawuk.

Nanjar mengikuti di belakang laki-laki “raksasa” itu. 

Diam-diam Nanjar memuji kagum melihat gerakan si 

Raksasa Gunung Bromo walaupun bertubuh berat dan 

tinggi besar tapi gerakannya begitu ringan. Pertanda 

memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Ta-

pi siapakah si orang bertopeng itu yang dapat mempe-

cundanginya? pikir Nanjar. Dia mulai menerka bahwa 

luka-luka pada mayat dua orang berbaju kuning yang 

menurut si Raksasa Gunung Bromo adalah si dua Iblis 

dari utara serta seorang abdi Kerajaan yang dianggap 

Nanjar adalah seorang Kepala Prajurit, adalah si orang 

bertopeng itu yang membunuhnya.

Membelalakkan mata Kebo Gawuk melihat di antara 

mayat-mayat yang berserakan itu terdapat mayat Tu-

menggung Kandilaga. Padahal dia mengetahui Tu-

menggung itu dalam keadaan selamat. Dan masih ber-

sisa pula kira-kira sebelas orang prajurit Kerajaan dari 

dua puluh orang yang mengawal tandu.

“Ini pasti perbuatan si orang bertopeng!” sentak Ke-

bo Gawuk dengan mata mendelik dan gigi gemeretuk


karena gusarnya. “Heh! mengapa dia membunuhi 

orang-orang Kerajaan? Padahal tadinya dia justru me-

nolong mereka dari tangan para begal-begal itu!” ber-

kata si Raksasa Gunung Bromo.

Nanjar beranjak mendekati. “Akupun menduga dia 

yang telah membunuh orang ini yang kusangka seo-

rang Kepala prajurit! Kiranya seorang Tumenggung...”

“Apakah kau mengenali pukulan semacam ini?” 

tanya Nanjar menyambung kata-katanya. “Kulihat dua 

mayat yang mengenakan baju kuning yang kau kata-

kan adalah si Dua Iblis dari Utara, telah mengalami 

pukulan yang sama seperti ini”

“Heh! inilah jurus pukulan Candrageni!” terkejut 

Kebo Gawuk hampir melompat karena terkejutnya. 

“jadi.... jadi... si manusia bertopeng itu adalah...” 

WHUUUK!

Angin panas menggebubu tiba-tiba menghantam ke 

arah mereka. Nanjar terperanjat. Pendengarannya yang 

peka ternyata telah dapat menangkap gerakan kaki se-

seorang yang mendekati. Diam-diam Nanjar telah ber-

sikap waspada.

Ketika merasai sambaran angin panas yang ganas 

ke arah punggung, dengan kecepatan kilat Nanjar 

mendorong tubuh Kebo Gawuk disertai teriakan. 

“Awas! serangan gelap!” Sementara dia sendiri segera 

berkelebat menghindarkan diri dengan melompat ke 

samping.

BLANG!

Tanah menyemburat hangus! Tubuh si Raksasa 

Gunung Bromo terhuyung beberapa tombak. Jenazah 

Tumenggung Kandilaga turut terlempar dengan men-

gerikan karena tak ubahnya bagai potongan arang 

yang berserpihan.

Akan tetapi Kebo Gawuk selamat dari maut. Demi-

kian pula Nanjar.


“Iblis keji! pengecut licik!” bentak Nanjar seraya me-

lompat ke arah samping. WHUUT! lengannya meng-

hantam melontarkan pukulan dahsyat. Hawa dingin 

menebar. Sesosok bayangan cepat sekali telah berkele-

bat dari semak belukar yang hancur bagai diamuk 

prahara angin salju!

“Iblis pengecut! jangan lari!” kembali Nanjar mem-

bentak keras.

Tubuhnya melesat mengejar bayangan sosok tubuh 

itu.

Jarak sosok tubuh di depan Nanjar cuma kira-kira 

empat atau lima tombak. Segera dia mengetahui kalau 

sosok tubuh itu mengenakan pakaian serba hitam. 

Bahkan kepala dan wajahnya terbungkus kain hitam. 

Akan tetapi cuma beberapa kejap saja. Karena tiba-

tiba lengan orang itu mengibas ke belakang. Menyam-

barlah uap berwarna ungu ke arahnya.

Dengan sebat Nanjar kibaskan lengannya untuk 

menampar buyar uap itu.

Akan tetapi dia telah kehilangan jejak. Manusia 

misterius itu lenyap tak ketahuan kemana arahnya.

Nanjar tak berani bertindak gegabah karena jelas 

orang itu memiliki ilmu yang amat tinggi. Terpaksa dia 

urungkan niatnya untuk mengejar. Kebo Gawuk mun-

cul dengan napas memburu.

“Kemana iblis pengecut itu?” teriaknya.

“Dia sudah kabur!” sahut Nanjar.

“Setan keparat! dia pasti si orang bertopeng!” berka-

ta Kebo Gawuk.

“Dan dugaanku takkan meleset. Dia pasti si PAN-

DALA! pantas dia menutupi mukanya dengan topeng! 

Tapi mengapa dia mau membunuhku?” gerutu si Rak-

sasa Gunung Bromo.

“Pandala? Siapakah orang yang kau maksudkan 

itu?”


Kebo Gawuk tak segera menjawab, tapi terdengar 

dia menghela napas.

“Nanti akan kuceritakan padamu. Marilah kita ting-

galkan tempat ini. Salah-salah kita yang dituduh 

membunuhi orang-orang Kerajaan!” kata Kebo Gawuk 

Nanjar mengangguk. Kemudian keduanya bergegas 

meninggalkan sisi hutan itu.

Dari keterangan Kebo Gawuk, Nanjar mengetahui 

kalau Pandala adalah seorang Adipati yang bergelar 

Raden Pandala. Dan masih saudara seperguruan laki-

laki tinggi besar itu. Kebo Gawuk menceritakan juga 

tentang saudara perguruannya yang lain yaitu berna-

ma Ayu Rumpi yang telah diperistrikan Pandala.

Dengan petunjuk berharga itu si Dewa Linglung 

mau tak mau harus turut campur dengan peristiwa 

tersebut. Karena hal itu menyangkut soal kejahatan. 

Disamping dia ingin mengetahui apa sebenarnya diba-

lik ketelengasan Pandala? Mengapa Adipati itu mem-

bunuh orang-orang Kerajaan? Bahkan mau mele-

nyapkan saudara seperguruannya sendiri!

Kebo Gawuk telah bertekad akan menumpas siapa-

pun yang bertindak jahat, tak perduli orang itu adalah 

saudara seperguruannya sendiri.

“Sungguh tak kusangka Pandala akan menempuh 

jalan sesat! Apakah yang diinginkan dengan semua 

itu? Bukankah dia telah hidup senang dengan jabatan 

sebagai Adipati seperti yang kudengar dari Empat Iblis 

Clurit Hitam?” berkata dalam hati si Raksasa Gunung 

Bromo. Kebo Gawuk merasa ada sesuatu hal yang tak 

wajar. Keempat orang yang menamakan dirinya Empat 

Iblis Clurit Hitam itu jelas empat tokoh golongan hi-

tam. Tak mungkin seorang Adipati akan berhubungan 

dengan empat orang penjahat. Anehnya empat manu-

sia itu telah tewas seperti yang diceritakan Nanjar.

Termangu-mangu Kebo Gawuk dengan pertanyaan


memenuhi benaknya.

***

SEMBILAN

BRAK!

Pandala menghantam meja diruangan kamarnya 

hingga papan kayu jati itu hancur berkepingan. “Kepa-

rat! urusan jadi semakin kacau!” berdesis sang Adipati 

Bangil ini. “Aku tak dapat berdiam lebih lama di ge-

dung kadipaten ini! Semua ini gara-gara Ayu Rumpi si 

perempuan keparat itu!”

Pandala hempaskan tubuhnya ke pembaringannya 

yang besar. Pikirannya kusut.

“Heh! terpaksa aku menghabisi nyawa Tumenggung 

Kandilaga dan para pengawalnya. Akan tetapi tak 

sampai hati aku membunuh Ndoro Ayu permaisuri 

Sultan Sepuh... “ gumamnya pelahan. Di ruang ma-

tanya terbayang peristiwa tadi siang yang telah dilaku-

kannya, di saat dia membunuh Tumenggung Kandilaga 

dan menghabisi nyawa para prajurit pengawal tandu 

setelah menotok Kebo Gawuk hingga tak berdaya. Ke-

mudian dengan cepat dia menekap mulut sang per-

maisuri yang menjerit ketakutan. Dan membawanya 

berkelebat pergi dari tempat itu.

Permaisuri Sultan Sepuh yang bernama Pujayanti 

itu disembunyikan di suatu tempat rahasia.

Kemudian dengan bergegas dia kembali ke Kadipa-

ten. Untuk menghindari berjumpa dengan orang-orang 

Kerajaan dia mengambil jalan memutar. Akan tetapi ti-

ba-tiba Pandala teringat pada Kebo Gawuk yang telah 

ditotoknya. Khawatir saudara seperguruannya itu da-

pat membocorkan rahasia, Pandala mengambil kepu-

tusan untuk membunuhnya sekalian.


Sayang niatnya tak terlaksana, karena Kebo Gawuk 

telah dibebaskan si Dewa Linglung. Jurus maut yang 

bernama Candrageni digunakan untuk menghabisi 

nyawa Nanjar dan Kebo Gawuk. Tapi serangan itu lu-

put. Terpaksa dia menyingkirkan diri, karena diketa-

huinya pemuda yang telah menolong Kebo Gawuk itu 

berilmu tinggi.

Hal itulah yang membuat pikirannya menjadi resah.

“Siapakah laki-laki kumal bertampang bodoh yang 

menolong Kebo Gawuk itu?” desis Pandala seraya me-

lompat berdiri. Agak lama dia merenung. Tapi segera 

mengambil keputusan. “Tak ada jalan selain aku sege-

ra angkat kaki dari tempat ini. Cepat atau lambat kha-

bar tewasnya Tumenggung Kandilanga dan para praju-

ritnya serta lenyapnya permaisuri akan terdengar ke 

telinga orang-orang istana!” 

Berpikir demikian tak berayal lagi segera Pandala 

bergegas mengenakan pakaian hitamnya. Tak lupa 

membungkus wajahnya dengan topeng yang telah be-

berapa kali dia pergunakan. Kemudian membuntal peti 

uang dan seperangkat perhiasan. Dengan melalui jalan 

rahasia yang menembus ke belakang gedung kadipa-

ten, Pandala lenyap di kegelapan malam...

Tanpa diketahuinya sesosok tubuh yang bersem-

bunyi dibalik rumpun di belakang gedung telah mem-

buntutinya.

Ternyata Nanjar adanya. Dia baru saja berniat men-

cari jalan untuk memasuki gedung Kadipaten itu mela-

lui jalan belakang, setelah bersusah payah mencari 

dimana adanya gedung Kadipaten Adipati Bangil itu.

“Bagus! Orang yang kucari justru muncul sendiri. 

Hm, mau kemanakah dia?” berkata Nanjar dalam hati 

seraya berkelebat dengan gerakan hati-hati agar tak 

menimbulkan suara, menyusul si manusia bertopeng. 

Dan terus menguntitnya.


***

Di Istana, Sultan Sepuh tampak mondar-mandir di

ruang pendopo dengan wajah cemas. Rombongan pra-

jurit Kerajaan di bawah pimpinan Tumenggung Kandi-

laga yang mengawal permaisurinya hingga malam tiba 

belum juga muncul. Seharusnya sore tadi telah tiba di

istana.

Usul Mapatih Kuncoro untuk mengirim sepasukan 

prajurit menyusul rombongan yang terlambat itu dite-

rima. Segera dia mengutus Senopati Bayurana dengan 

membawa tiga puluh orang prajurit. Dikhawatirkan 

ada terjadi apa-apa di tengah perjalanan.

“Ya, Tuhan...! Semoga tak terjadi apa-apa dengan 

permaisuri ku...”

Menggumam Sultan Sepuh. Kemudian beranjak 

masuk ke ruangan dalam, tapi kemudian keluar lagi. 

Matanya menatap keluar pagar Istana. Tak sabar ra-

sanya dia menunggu kemunculan sang permaisuri 

atau setidak-tidaknya berita secepatnya mengenai 

keadaan istrinya Pujayanti. Agak menyesal dia membe-

ri izin pada sang permaisurinya untuk mengunjungi 

kedua orang tuanya di Telo Sari. Padahal dia dapat 

mengutus orang agar besannya itu datang saja ke Is-

tana.

Tapi dia juga menyesali dirinya karena selalu me-

nunda-nunda keinginan sang permaisuri untuk mem-

buatkan sebuah gedung di dekat Istana, untuk tempat 

tinggal besannya. Hal itu ditundanya karena pada 

saat-saat ini dia sedang sibuk memikirkan langkah-

langkah baru demi memajukan rakyat agar kemakmu-

ran benar-benar dapat tercapai dan dirasakan oleh se-

genap rakyat.

Pada saat itulah terdengar derap kaki kuda mema-

suki halaman Istana. Dua orang perwira Kerajaan me


lompat dari punggung kuda. Lalu bergegas mengham-

piri pintu Istana. Sultan Sepuh setengah melompat 

berlari menyongsong.

“Cepat katakan! Berita apa yang kalian bawa? Ba-

gaimana dengan Ndoro Ayu Pujayanti permaisuri ku? 

Kemana gerangan Tumenggung Kandilaga?”

Sultan Sepuh memberondong kedua perwira kera-

jaan itu dengan pertanyaan-pertanyaan. Dengan agak 

gugup salah seorang segera melapor.

“Ampun Kanjeng Gusti Sultan! telah ditemukan oleh 

gusti Senopati, para prajurit pengawal Ndoro Ayu Per-

maisuri dalam keadaan tak bernyawa. Semua prajurit 

tewas termasuk Tumenggung Kandilaga!”

“Hah!? apa katamu?” sentak Sultan Sepuh terpe-

ranjat. “Lalu... lalu bagaimana dengan istriku?”

“Tandu dalam keadaan kosong. Tak dijumpai tanda-

tanda adanya jenazah Gusti Ndoro Ayu Permaisuri. 

Saat ini Gusti Senopati dan para prajurit tengah mela-

caknya.”

Pucatlah seketika wajah Sultan Sepuh.

“Tumenggung Kandilaga dan para prajuritnya te-

was? Tandu kosong? Dan istriku... istriku lenyap? Oh, 

Tuhan...” Kalau tak cepat dua perwira itu menahan 

tubuhnya, tentu Sultan Sepuh sudah jatuh menggelo-

so karena begitu terkejutnya mendengar berita itu.

Mapatih Kuncoro muncul. Dia segera memburu ke 

arah Sultan Sepuh.

“Tenang Kanjeng Gusti Sultan! Hamba telah mengi-

rim sepasukan prajurit untuk membantu mencari jejak 

gusti Ayu Permaisuri...” hiburnya. Kemudian mema-

pahnya menuju ruangan dalam istana. Beberapa em-

ban segera menyongsong untuk bantu memayang. 

Keadaan di dalam istana jadi sibuk. Para emban itu 

memapah Sultan Sepuh ke dalam kamarnya...

Sementara itu Senopati Bayurana dan prajuritnya


terus melakukan pencarian. Melacak sekitar hutan un-

tuk mencari jejak sang Permaisuri. Ketika muncul pa-

sukan yang dibawa oleh Tumenggung Suromangun 

atas perintah Mapatih Kuncoro, keadaan sekitar wi-

layah hutan itu semakin ramai. Puluhan obor yang te-

lah dipasang membuat cuaca berubah menjadi terang 

benderang.

Akan tetapi pelacakan mereka sia-sia. Tak ada tan-

da-tanda atau ditemukannya mayat permaisuri Sultan 

Sepuh. Senopati Bayurana segera memerintahkan un-

tuk segera menghentikan pencarian itu.

“Cukuplah para tamtama! Pencarian akan dite-

ruskan besok pagi!” teriak Senopati tua ini. Para praju-

ritpun segera menghentikan pelacakan itu.

“Semua berkumpul! Dan bersiap-siap untuk kemba-

li ke Istana!” teriak Senopati memberi aba-aba. Tu-

menggung Suromangun turut berteriak-teriak meni-

tahkan untuk segera menghentikan pekerjaan mereka.

Tak lama rombongan para prajurit Kerajaan itu se-

gera berbaris dan meninggalkan tempat itu...

***

SEPULUH

“Paman Joko....! kau tunggulah aku disini. Aku 

hanya akan mengambil sesuatu di tempat Kediaman-

ku. Setelah itu kita segera berangkat ke utara...”

Ayu Rumpi memeluk kekasihnya Joko Sangit alias 

si Pendekar Lengan Tunggal dengan penuh perasaan. 

Pagi itu begitu cerah. Matahari bersinar terang tanpa 

segumpal awanpun yang menghalangi.

“Dan, kita tak akan berpisah lagi...” sambung Joko 

Sangit.


“Sungguhkah kata-katamu, paman Joko Sangit...?”

Laki-laki berlengan tunggal itu mengangguk. “Aku 

telah mendapatkan seorang gadis cantik yang telah 

membangkitkan gairah hidupku, mengapa aku harus 

membohongimu, adik manis?” Tak ada kebahagiaan 

yang begitu besar dirasakan seorang gadis bila dipuji 

dirinya cantik. Ayu Rumpi mendekap laki-laki itu kuat-

kuat serasa tak akan dilepaskan lagi.

“Oh, paman Joko...” desisnya penuh kebahagiaan.

Namun segera Ayu Rumpi melepaskan pelukannya. 

“Nah, paman Joko. Tunggulah disini. Sebentar aku 

akan kembali lagi...” Selesai berkata, Ayu Rumpi balik-

kan tubuh dan berkelebat pergi dari tempat itu dengan 

gerakan cepat.

Joko Sangit menatap bayangan sosok tubuh gadis 

itu hingga lenyap.

Terdengar laki-laki ini menghela napas, seraya 

menggumam.

“Haih! Dunia memang aneh. Sesuatu yang diha-

rapkan terkadang tak menjadi kenyataan. Akan tetapi 

apa yang tak diharapkan justru terjadi...”

Alangkah terkejutnya Ayu Rumpi ketika memasuki 

halaman pondok tempat kediamannya mendapatkan 

enam sosok tubuh anak buahnya telah berkaparan 

menjadi mayat. Niatnya kembali kemari adalah untuk 

mengambil sebuah kotak kecil berisi perhiasan yang 

akan di bawahnya. Sekalian membubarkan anak 

buahnya karena dia akan pergi jauh tak kembali lagi. 

Akan tetapi keenam laki-laki anak buahnya itu telah 

tewas.

“Oh, siapakah yang melakukan perbuatan ini?” sen-

taknya terkejut. Ketika memeriksa ke dalam pondok, 

Ayu Rumpi mendapatkan sesosok tubuh wanita muda 

tergolek di pembaringan dalam keadaan menangis tan-

pa mengeluarkan suara. Wanita muda itu mengenakan


pakaian keraton.

“Siapakah kau?” tanya Ayu Rumpi seraya melompat 

menghampiri. Akan tetapi wanita itu tak mampu bica-

ra, selain matanya saja yang membelalak penuh air 

mata. Tahulah Ayu Rumpi kalau wanita muda itu da-

lam keadaan tertotok.

Tak berlaku ayal segera Ayu Rumpi membebaskan 

wanita muda itu dari pengaruh totokan. Melihat di-

rinya terbebas, wanita muda itu merangkul Ayu Rumpi 

dengan terisak-isak menangis. Sebagai seorang wanita 

yang juga mempunyai perasaan yang sama, mau tak 

mau tersentuh juga hati Ayu Rumpi.

Dia balas memeluk wanita itu dan menghiburnya 

dengan kata-kata ramah.

“Sudahlah, kau sudah selamat. Hentikan tangismu, 

kakak...! Ceritakanlah apa yang telah terjadi dan siapa 

yang membawamu ke tempat ini? Dan kau ini siapa-

kah?” tanya Ayu Rumpi ketika tangis wanita muda itu 

agak mereda. 

“Terima kasih sebelumnya atas pertolonganmu, 

adik...! Sesuatu telah terjadi dan menimpa diriku...” 

berkata wanita muda itu, kemudian segera menutur-

kan peristiwa yang dialaminya.

“Jadi kau... kau gusti Kanjeng Permaisuri Sultan 

Sepuh?” sentak Ayu Rumpi terperanjat. Seketika wa-

jahnya berubah pucat. Wanita muda itu mengangguk. 

Wajah Ayu Rumpi sebentar merah sebentar pucat. Ha-

tinya tergetar dengan lutut terasa dilolosi tulang-

tulangnya. “Orang bertopeng itu pasti PANDALA! Pas-

ti!” sentaknya dalam hati. “Dia telah memulai pembe-

rontakannya. Oh, apa yang harus kulakukan? Semua 

ini karena diriku! Akulah yang menghembuskan asap 

pemberontakan padanya! Tapi aku cuma berniat mem-

permain dia dengan persyaratan itu! Aku memben-

cinya! Aku dendam padanya. Karena dia telah mereng


gut kesucian ku...”

Ayu Rumpi merasakan kepalanya menjadi berat. 

Dia melangkah terhuyung ke tepi jendela. Jantungnya 

serasa berhenti berdenyut. Dia sungguh tak menyang-

ka kalau Pandala benar-benar membuktikan ucapan-

nya seperti yang di ucapkan di puncak Gunung Bromo.

“Tidak! aku sungguh-sungguh tak mengharapkan 

hal itu. Bahkan aku mengira dia tak akan punya kebe-

ranian. Mungkin juga dia akan tewas terlebih dulu se-

belum hal yang memang tak kuharapkan itu terlaksa-

na! Bahkan... AKU sendiri yang akan membunuhnya!”

***

SEBELAS

Tiba-tiba Ayu Rumpi balikkan tubuhnya dan mena-

tap pada sang Permaisuri Sultan Sepuh. Wajahnya 

semakin pucat. Nafasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba 

Ayu Rumpi jatuhkan dirinya untuk berlutut di hada-

pan wanita itu seraya berkata dengan suara terisak.

“Gusti Permaisuri...oh, maafkanlah hamba yang tak 

mengetahui dengan siapa hamba berhadapan. Dan 

hamba telah berbuat lancang di hadapan Gusti Per-

maisuri...” Melihat Ayu Rumpi berlutut dihadapannya, 

cepat-cepat wanita muda permaisuri Sultan Sepuh 

membangunkan.

“Sudahlah, adik. Jangan terlalu banyak peradatan. 

Aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu...!” 

ujar Dewi Wijayanti.

Pada saat itulah terdengar suara ringkik kuda di-

iringi derap kaki-kaki kuda mendatangi ke arah pon-

dok. Hati Ayu Rumpi tersentak. Dia telah melompat 

berdiri. Sekejap saja dia telah mengetahui siapa yang


datang.

“Pandala!” sentaknya dalam hati. Ayu Rumpi tiba-

tiba telah melompat keluar dari pondok pesanggrahan 

itu.

Si penunggang kuda putih itu ternyata si laki-laki 

bertopeng. Tapi Ayu Rumpi telah mengetahui kalau 

orang itu adalah Pandala. Kemunculan Ayu Rumpi 

agak membuat Pandala terkejut. Kalau saja tak men-

genakan topeng akan terlihat parasnya yang berubah.

“Perempuan keparat! Pucuk di cinta ulam tiba!” 

bentak Pandala. “Bagus! Aku memang menginginkan 

kemunculanmu. Karena saat ini juga aku segera akan 

mengirim nyawamu ke Neraka!”

“Membunuhku?” Ayu Rumpi kerenyitkan kening-

nya. “Hm, apakah aku tak salah dengar?” tanya Ayu 

Rumpi.

“Ya! Karena aku sudah tak memerlukan kau lagi! 

Aku telah mendapatkan seorang perempuan pengganti 

mu yang akan kujadikan istriku!”

“Hm, kau akan membawa kabur Gusti Permaisuri 

Sultan Sepuh?”

“Tepat katamu! Aku telah terlanjur jadi buronan Ke-

rajaan! Semua ini karena gara-gara ulah mu dengan 

persyaratan gila itu!” menyahut Pandala dengan suara 

dingin.

“Persyaratan gila?” tukas Ayu Rumpi. “Hihihi... kita 

memang orang-orang gila, Pandala! Karena hawa naf-

sumu yang gila itu hingga aku harus menyerahkan ke-

sucian ku padamu! Karena kegilaan mu itu aku ter-

paksa harus menikah dengan seorang yang tak kucin-

tai! Tahukah kau Pandala? Aku telah mencintai seseo-

rang yang tak dapat kusebutkan namanya. Dan aku 

telah bersumpah untuk mencarinya setelah aku turun 

gunung. Kesucian ku hanya akan kuberikan padanya!”

Berkata Ayu Rumpi dengan tersenyum pahit. Lalu


sambungnya.

“Tapi karena nafsu gilamu, aku telah ternoda! Mus-

nah sudah harapanku! Semua itulah yang menyebab-

kan aku mengajukan persyaratan gila, dan aku me-

mang akan membuatmu gila karena kau berkeyakinan 

kau tak akan berhasil memenuhi keinginanku yang se-

sungguhnya tak kuharapkan. Karena aku mengha-

rapkan kematianmu sebagai penebus kegilaan mu!” 

Sampai disini Ayu Rumpi menghentikan kata-katanya. 

Dia menghela napas sejenak. Lalu sambungnya, kare-

na melihat Pandala cuma terpaku mematung seperti 

tak mampu menggerakkan bibirnya.

“Sebenarnya aku mau menyudahi urusan dendam 

itu! Lebih dari dua tahun kita hidup secara terpisah. 

Hal itu sudah cukup untuk membebaskan aku dari 

ikatan suami-istri. Bahkan aku telah cukup terhibur 

karena aku telah menemukan orang yang kucintai. 

Aku telah cukup merasa berbahagia dan melupakan 

dendam ku padamu! Tapi sayang....! aku tak dapat 

berdiam diri dengan apa yang akan kau lakukan! Aku 

harus melindungi Gusti Permaisuri dari keinginan gi-

lamu!”

Selesai berkata Ayu Rumpi gerakkan lengannya 

mencabut senjata pedang pendek yang terselip di ping-

gangnya. “Dan terpaksa aku harus mempertahankan 

nyawaku karena kau mau membunuhku!” sambung 

Ayu Rumpi dengan senyum sinis. Pandala tertawa ta-

war. Lalu melompat turun dari punggung kuda.

“Siapakah orang yang kau cintai itu, Ayu...?” tanya 

Pandala dengan suara dingin. 

“Tak perlu kau mengetahui! Dia kini tengah me-

nungguku. Karena aku segera akan pergi jauh ke uta-

ra!”

Tampaknya Pandala belum membuat reaksi untuk 

segera bertarung. Dia menghela napas seperti mengha


lau sesuatu yang mengganjal didadanya. Matanya me-

natap tajam Ayu Rumpi. Kemudian menengadah me-

natap langit, dan berkata datar. 

“Pergilah kau temui kekasihmu itu, Ayu...! Pergilah! 

Capailah kebahagiaan yang telah kau dapatkan itu! 

Aku tak akan membunuhmu...” ujarnya pelahan.

Terhenyak Ayu Rumpi. Tapi segera dia menyambar-

nya dengan kata-kata tajam. “Hem, kau menyuruh aku 

pergi agar tak ada yang menghalangimu membawa ka-

bur Gusti Permaisuri, bukan? Heh! jangan harap niat-

mu akan terlaksana!” 

“Aku akan mengembalikannya ke Istana!” sahut 

Pandala lirih. Kata-kata Pandala cukup membuat Ayu 

Rumpi tertegun. Tapi gadis ini segera membentak.

“Aku tak percaya kata-katamu Pandala! Jangan co-

ba-coba kau mengelabui ku.”

“Kau harus percaya!” teriak Pandala menegur. Tiba-

tiba lengan Pandala bergerak mendorong ke depan. 

Angin keras bersyiur membuat tubuh Ayu Rumpi ter-

huyung. Di detik itu juga Pandala telah berkelebat me-

lompat ke arah pintu pondok.

Akan tetapi terjadilah sesuatu yang tak terduga, ka-

rena tiba-tiba tubuh Pandala terlempar bergulingan di-

iringi teriakan menyayat hati.

Membelalak mata Ayu Rumpi melihat sesosok tu-

buh melompat keluar dari dalam pondok pesanggra-

han memburu ke arah Pandala yang terguling-guling di 

tanah.

Siapa adanya orang itu tiada lain dari Kebo Gawuk.



                              TAMAT

https://matjenuhkhairil.blogspot.com



Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive