"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Minggu, 19 Januari 2025

MESTIKA LIDAH NAGA BAGIAN 5

Mestika Lidah Naga

 

MESTIKALIDAH NAGA

5

Karya: Panjidarma

Copyright naskah ini di tangan penerbit LOKAJAYA 

Hak cipta pengarang dilindungi undang-undang


BLAAAAR...!Pintu depan rumah Subali hancur be-

rantakan. Dan seorang ‘pemuda’ berpakaian serba 

hitam, dengan rambut panjang tergerai, berdiri di am-

bang pintu yang dihancurkan itu.

Subali terpucat-pucat, gemetaran dan memberani-

kan diri menatap ‘pemuda’ yang tak lain dari Nyi Tiwi 

itu. “Me... Megamendung...! Ma... masih adakah yang 

harus hamba lakukan untuk Andika?”

“Sahabatku diculik,” sahut Nyi Tiwi dingin. “Kau 

yang menculiknya, bukan?”

“Sa... sahabat yang mana?” Subali tampak bingung 

dan takut.

Nyi Tiwi tidak menjawab dengan kata-kata, melain-

kan dengan langkah cepat menuju pintu demi pintu 

yang berada di rumah besar itu. Dan Subali hanya be-

rani memandangnya dengan lutut gemetaran terus.

Blaar... blaaar... blaaaar!

Setiap pintu yang tertutup, dihancurkan begitu saja 

oleh Nyi Tiwi. Namun ia tidak menemukan Rangga di 

segenap pelosok rumah Subali.

Setelah yakin bahwa Rangga tidak ada di rumah 

megah itu, Nyi Tiwi kembali menghampiri Subali, den-

gan pandangan berapi-api. “Kau akan tahu akibatnya 

kalau berani mempermainkanku! Katakan sekarang, di 

mana sahabatku itu?”

Subali menjatuhkan diri, berlutut di depan Nyi Tiwi, 

dan berkata tergagap, “Duh, Megamendung...! Ham-

ba... tidak berani mem... membohongi Andika... hamba 

baru saja membersihkan lantai yang bersimbah darah 

itu... bagaimana mungkin hamba bisa menculik saha-

bat Andika segala?”

“Kau yakin bahwa anak buahmu tidak melakukan-

nya?” Nyi Tiwi tetap bersikap mengancam.

“Tunggu,” kata Subali, “akan hamba tanyakan pada


mereka. Kalau ada salah seorang di antara mereka 

yang berani bertindak selancang itu, hari ini juga 

hamba akan menjatuhkan hukuman mati padanya!”

“Baik,” sahut Nyi Tiwi. “Aku tunggu di sini. Dan I-

ngat... jangan berani macam-macam!”

Bergegas Subali keluar dari rumahnya. Melangkah 

dengan cepat ke arah pasar pelelangan ikan. Di situ ia 

mengumpulkan anak buahnya. Di situ ia menanyai 

anak buahnya satu per satu.

Dan Nyi Tiwi menunggu di rumah Subali, dengan 

hati resah. Resah sekali.

Tak lama kemudian, Subali datang lagi, diiringi oleh 

salah seorang kaki tangannya.

“Bagaimana?” tanya Nyi Tiwi tak sabar.

“Tidak ada seorang pun di antara anak buah hamba 

yang melakukan penculikan,” sahut Subali. “Kalau An-

dika tidak percaya, silakan periksa seluruh Kundina 

ini. Atau...”

Belum lagi selesai Subali bicara, tiba-tiba Nyi Tiwi 

berkelebat dan lenyap dari pandangan.

Subali hanya tercengang-cengang dibuatnya.

“Juragan,” kata anak buah Subali, “siapa sebenar-

nya perempuan tadi?”

Subali terperangah. Kata ‘perempuan’ yang di-

ucapkan oleh anak buahnya, menyadarkan Subali pa-

da satu hal. Ya, sejak tadi aku tidak memperhatikan-

nya... dia seorang perempuan! Tapi... ah... mungkin-

kah ada perempuan yang memiliki ilmu sedahsyat itu?

Lalu Subali menjawab pertanyaan anak buahnya, 

“Matamu kurang awas. Laki-laki kau sebut perempu-

an.”

“Tapi... rambutnya, bulu matanya, bibirnya, pi-

pinya, pinggulnya, suaranya... ah... mungkinkah ada 

lelaki yang memiliki semuanya itu?” gumam anak


buah Subali. “Atau... hihihi... mungkin juga dia seo-

rang banci.”

Plaaak! Tiba-tiba saja Subali menampar anak 

buahnya, sambil membentak, “Kamu jangan ngomong 

sembarangan tentang orang tadi! Dia bisa mengha-

biskan delapan nyawa manusia dalam sekejap mata, 

tahu?!”

“I... iya, Juragan...” lelaki itu memegangi pipinya 

yang kena tampar tadi.

Sementara itu, Nyi Tiwi sedang duduk termangu di 

atas perahu layar yang baru dibelinya dari Subali. Se-

pasang matanya yang tadi memancarkan pandangan 

berapi-api, kini tampak sayu... bahkan mulai basah.

Hati Nyi Tiwi perih sekali saat itu. Ia telah berusaha 

susah-payah untuk mencapai Kundina. Ia memiliki 

semangat yang menggelegak untuk mengobati kelum-

puhan Rangga. Ia sudah bertekad bulat untuk berlayar 

ke Nusa Aheng, yang kata gurunya amat berbahaya, 

demi Rangga tercinta. Untuk itu pula ia membeli se-

buah perahu layar. Tapi setelah perahu itu dimilikinya, 

Rangga lenyap begitu saja. Betapa tak perih hati Nyi 

Tiwi dibuatnya?!

Pikir Nyi Tiwi saat itu, “Tampaknya Subali tidak 

membohongiku. Lalu siapa yang menculik Kang Rang-

ga dari sampan itu? Apakah ada pihak lain yang ingin 

menolongnya secara diam-diam... ataukah justru ada 

pihak yang ingin membinasakannya?”

Pikiran yang terakhir itu, membuat Nyi Tiwi bergidik 

sendiri. Ia memang mencintai Rangga. Dan kini, sete-

lah Rangga lenyap begitu saja, ia semakin sadar bahwa 

ia sangat mencintai pemuda itu.

Tapi ke mana Rangga sebenarnya?

Untuk menjawabnya, kita perlu kembali ke saat-

saat Nyi Tiwi berada di rumah Subali, sebelum Nyi Tiwi


membunuh delapan orang anak buah Subali. Karena 

pada saat itulah terjadinya peristiwa yang tak terduga-

duga itu.

***

Sebuah perahu merapat ke tepi muara Cigelung. Ti-

ga orang lelaki berada di dalam perahu yang datang 

dari daerah mudik itu.

Secara kebetulan perahu itu merapat di dekat sam-

pan yang berisi Rangga. Dan salah seorang lelaki dari 

perahu yang baru datang itu, melihat Rangga.

“Sttt... tengok...! Bukankah lelaki yang terlentang di 

sampan itu sedang dicari-cari oleh Gusti Aria?” bisik 

lelaki itu pada kedua kawannya.

Kedua kawan lelaki itu menoleh dan terbelalak. La-

lu...

“Benar! Dialah lelaki yang bernama Rangga itu!”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Kita sergap dia... mudah-mudahan saja dia masih 

lumpuh seperti tempo hari!”

Ketiga lelaki itu bergerak cepat, berlompatan ke atas 

sampan yang berisi Rangga.

Seandainya Rangga tidak sedang mengalami kelum-

puhan, tentu dengan mudah Rangga bisa membe-

baskan diri dari sergapan ketiga lelaki itu, karena me-

reka hanya lelaki-lelaki berilmu ‘pasaran’. Namun da-

lam keadaan lumpuh seperti itu, Rangga tak berdaya... 

benar-benar tak berdaya.

Dan dengan mudahnya ketiga lelaki itu membawa 

Rangga ke atas perahunya. Kemudian, perahu itu mu-

dik lagi ke arah hulu Cigelung.

Begitu cepat ketiga lelaki itu mendayung pera-

hunya, sehingga dalam tempo singkat saja mereka te-

lah jauh meninggalkan muara Cigelung.


Rangga terlalu yakin bahwa Nyi Tiwi akan segera 

menolongnya. Itulah yang membuatnya diam saja. Ber-

teriak pun tidak.

Tapi ternyata Nyi Tiwi tidak datang juga. Dan pera-

hu yang membawanya itu, melaju terus ke arah sela-

tan.

Sambil mendayung perahu mereka, ketiga lelaki itu 

bercakap-cakap terus.

“Kita akan mendapat hadiah besar dari Gusti Aria.”

“Ya, mungkin kita akan diberi pangkat tinggi dalam 

laskar Tegalinten.”

“Tapi aku tidak begitu tertarik bekerja sebagai ang-

gota laskar. Masih enakan bekerja di dapur istana.”

“Huuu... dasar kerjamu tukang makan!”

“Bukan begitu soalnya. Setelah perempuan cantik 

itu diangkat menjadi senapati, aku jadi ngeri sendiri 

membayangkannya.”

“Kenapa ngeri?”

“Kau lihat sendiri waktu dia menghukum prajurit 

yang keluyuran tengah malam itu, kan?! Hanya de-

ngan menyentuhkan ujung telunjuknya, leher prajurit 

yang malang itu putus! Bagaimana kalau hal seperti 

itu menimpa kita?”

Tiba-tiba Rangga ikut bicara. “Kalian sudah tahu 

bahwa Senapati Prabayani itu seorang wanita berhati 

iblis, tapi kalian justru mau diperbudak olehnya!”

Salah seorang lelaki penculik itu menoleh dengan 

mata melotot. “Siapa suruh kamu ikut-ikutan bicara, 

heh?!”

Ucapan itu dibarengi dengan tendangan keras ke 

arah pinggang Rangga.

Tapi, sebelum kaki lelaki itu menyentuh pinggang 

Rangga, tiba-tiba saja dari daratan sebelah timur mele-

sat sesosok tubuh berpakaian serba hitam dan menge


nakan topeng hitam pula... demikian cepatnya lompa-

tan manusia berpakaian serba hitam itu, sehingga ta-

hu-tahu si lelaki yang hendak menendang Rangga tadi 

terjungkal ke dalam air, tanpa mengetahui sebabnya 

secara pasti... byuuuuuuur...!

Kedua lelaki lainnya mengalami nasib yang sama. 

Tanpa mengetahui sebabnya secara pasti, tahu-tahu 

mereka sudah berceburan ke dalam air... byuuur... 

byuuuurrrr!

Sebelum sempat ketiga lelaki itu memunculkan ke-

pala mereka di atas permukaan air Cigelung, tahu-

tahu Rangga sudah lenyap... dibawa ‘terbang’ ke arah 

timur!

“Hai... apa sebenarnya yang telah terjadi tadi?!” seru 

salah seorang lelaki yang sudah berhasil memuncul-

kan kepalanya di atas air.

“Entahlah... rasanya aku seperti ditubruk oleh ben-

da keras... lalu tubuhku terpental ke dalam sungai 

dan... hai... orang yang kita bawa tadi sudah hilang!”

“Ke mana dia?”

Ketiga lelaki itu naik ke atas perahu mereka, mene-

ngok ke sekeliling mereka, dengan kebingungan. Rang-

ga memang telah lenyap dari perahu mereka.

***

Rangga tahu bahwa ia sedang dibawa berlari cepat

oleh seseorang. Berilmu tinggi. Pada mulanya Rangga 

mengira bahwa yang sedang membawanya itu Nyi Tiwi. 

Namun ketika Rangga berkata, “Bukalah topengmu, 

Nyi. Sekarang kita sudah berada di dalam hutan.”, ma-

nusia berpakaian serba hitam itu tertawa, “Hahaha-

ha... mengapa kau memanggilku dengan sebutan Nyi? 

Aku bukan perempuan, Rangga.”

Rangga mengernyit. Ya, pikirnya, suara orang ini je


las bukan suara Nyi Tiwi. Jelas orang ini lelaki. Tapi... 

rasa-rasanya aku pernah mengenal suaranya... di ma-

na ya?

Rangga berpikir terus, sementara manusia berpa-

kaian serba hitam itu membawanya berlari terus ke 

arah timur, semakin jauh memasuki hutan.

Dan tiba-tiba saja Rangga teringat sesuatu, apakah 

aku tidak salah dengar? Suara orang ini... mirip sekali 

suara Gusti Aria Lumayung! Tapi... kalau dinilai dari 

gerakan larinya, jelas orang ini memiliki ilmu yang le-

bih tinggi daripada Nyi Tiwi. Lalu... mungkinkah Gusti 

Aria Lumayung memiliki ilmu yang begini hebatnya?

Pikir Rangga lagi, Aku pernah terjebak mengenai pe-

nilaian terhadap Nyi Tiwi. Tadinya aku menyangka jan-

da muda itu cuma wanita biasa, tapi ternyata dia mu-

rid Kidangkancana. Lalu... mungkinkah Gusti Aria 

Lumayung pun menyembunyikan kepandaiannya se-

perti Nyi Tiwi?

Tak kuasa menahan rasa penasarannya, Rangga la-

lu bertanya, “Apakah aku sedang bersama Gusti Aria 

Lumayung?”

Tiba-tiba saja manusia berpakaian serba hitam itu 

menghentikan larinya, meletakkan Rangga di atas 

rumput, lalu membuka topengnya sambil tertawa re-

nyah, “Hahahaaa... engkau memang memiliki pancain-

dra yang sangat tajam, Rangga.”

Dan ternyata orang itu benar-benar Aria Lumayung!

Lalu kata pangeran itu lagi, “Hanya saja engkau te-

lah melupakan sesuatu. Dahulu aku pernah meminta-

mu untuk tidak memanggilku dengan sebutan gusti 

lagi, karena aku sudah melepaskan diri dari belenggu 

istana yang memuakkan itu. Sekarang aku sudah 

menjadi pengembara biasa, yang tetap menganggapmu 

sebagai sahabatku. Panggillah aku dengan sebutan Ka


kang Lumayung saja. Panggilan akrab itu justru mem-

buatku nyaman.”

“Tapi... ah... kau... kau... ah... sungguh mataku ini 

buta, tidak mengira Gusti, eh, Kakang berilmu tinggi 

seperti ini,” cetus Rangga malu. Karena segera teringat 

peristiwa beberapa bulan yang lalu, peristiwa ketika 

Rangga menolong Aria Lumayung dari sergapan Lo-

drawaja dan Prabalaya itu. Pikir Rangga kini, “Sebe-

narnya kalau aku tidak turun tangan pun saat itu, 

pangeran ini pasti bisa menyelamatkan diri. Tapi aku 

memang sok pahlawan... berlagak ingin menolong 

orang yang justru tidak memerlukan pertolonganku.”

Seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh 

Rangga, Aria Lumayung berkata, “Sudahlah, jangan 

pikirkan lagi masa yang telah berlalu. Dahulu aku 

pernah berhutang budi padamu, karena kau telah me-

nyelamatkanku dari sergapan Prabalaya dan orang-

orang dari golongan hitam itu. Maka wajarlah kalau 

sekarang aku pun ingin berusaha menolongmu.”

“Ah... jangan sebut-sebut lagi pertolongan itu, Ka-

kang. Tanpa kutolong pun, Kakang pasti bisa membe-

baskan diri saat itu,” bantah Rangga makin malu.

Aria Lumayung tersenyum, berkata, “Aku mengagu-

mi ilmu dan keberanianmu. Kebetulan pula sekarang 

kita mempunyai tujuan yang sama. Kau mau berlayar 

ke Nusa Aheng, bukan?”

“Ka... Kakang tahu itu?” Rangga terheran-heran.

Aria Lumayung mengangguk. “Ya, racun jahat yang 

telah bersarang di tubuhmu, hanya bisa disembuhkan 

oleh Bagawan Suwandarama. Tapi murid Kidangkan-

cana itu tidak akan mampu membawamu berlayar ke 

Nusa Aheng. Itulah sebabnya, aku terpaksa ikut cam-

pur... demi kesembuhanmu, sahabat.”

“Jadi...?”



“Perahu layarku sudah menunggu di pantai. Kita

harus berlayar hari ini juga, mumpung angin selatan 

sedang bertiup ke utara.”

Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Aria Lumayung 

menggendong Rangga dan berlari secepat angin ke 

arah utara.

Ketika mereka tiba di pantai yang sunyi, di mana 

sebuah perahu layar sudah menunggu, Rangga terin-

gat pada Nyi Tiwi yang tertinggal di Kundina.

“Kakang... bagaimana dengan murid Kidangkancana 

itu? Apakah dia harus kutinggalkan begitu saja?”

“Ya.” Aria Lumayung mengangguk. “Sebaiknya dia 

tak usah tahu bahwa kita akan berlayar ke Nusa 

Aheng. Kalau dia tahu, dia pasti akan memaksa ikut. 

Dan hal itu justru akan menyulitkan kita, karena pu-

lau yang akan kita tuju bukan pulau biasa.”

“Tapi... kasihan wanita itu. Dia... dia pasti mencari-

cariku.”

“Nanti saja, kalau kau sudah sembuh, kau bisa 

mencarinya, sekaligus minta maaf padanya.”

Rangga tidak mendebat lagi.

Dan tak lama kemudian, perahu layar itu mulai me-

laju ke tengah samudera.

***

Sementara itu, di pantai sebelah barat, di dekat 

muara Cigelung, Nyi Tiwi masih tercenung di atas pe-

rahu layarnya. Ia seakan-akan tak tahu lagi apa yang 

harus dilakukannya.

Ah, pikirnya, semua yang kulakukan ini sia-sia be-

laka! Di mana Kang Rangga berada sekarang? Kalau 

dia memang diculik oleh seseorang, apakah penculik 

itu kawan atau lawan?

Kalau yang menculiknya itu pihak kawan, pasti


Kang Rangga akan minta bertemu dulu denganku. 

Ya... pasti yang menculik Kang Rangga itu pihak la-

wan. Lalu siapa pihak lawan itu?

Tiba-tiba saja Nyi Tiwi bangkit. Bergumam, “Siapa 

lagi kalau bukan anak-anak Prabaseta itu? Hmm... 

seandainya mereka yang menculik Kang Rangga... aku 

harus mengadu jiwa dengan mereka!”

Dan tiba-tiba saja tubuh Nyi Tiwi melesat ke arah 

selatan, meninggalkan perahu layarnya begitu saja!

***

SENJA temaram di kotaraja Tegalinten. Angin tak 

berhembus sedikit pun. Jalan sunyi. Lengang. Kota 

itu laksana kota mati.

Tepi gelanggang ksatrian tampak hidup. Tigapuluh 

prajurit pilihan sedang mendapat gemblengan khusus 

dari Senapati Prabayani, disaksikan dengan sungguh-

sungguh oleh Aria Pamungkas.

Ketigapuluh prajurit pilihan itu, sedang berlatih il-

mu barisan ‘Yudhapaksi’, yakni semacam gerakan ba-

risan khusus untuk diterjunkan ke medan perang, se-

bagai barisan ‘elite’ dan sangat terlatih.

Senapati Prabayani memang hebat. Walaupun dila-

hirkan dalam keluarga sesat, lalu berkecimpung di du-

nia sesat pula, namun ternyata ia menguasai ilmu pe-

rang tingkat tinggi yang bisa diandalkan.

Barisan Yudhapaksi yang terdiri dari tigapuluh 

orang itu, dibagi dalam enam kelompok yang diiba-

ratkan burung elang, masing-masing kelompok terdiri 

dari lima prajurit. Kelompok pertama diibaratkan kepa-

la elang dengan senjata pedang dan perisai. Kelompok 

kedua dan ketiga diibaratkan sebagai sayap kanan dan 



sayap kiri burung elang, dengan bersenjatakan tombak 

dan perisai. Kelompok keempat diibaratkan sebagai 

tubuhnya, dengan bersenjatakan trisula (tombak ber-

mata tiga). Kelompok kelima dan keenam diibaratkan 

sebagai kakinya, dengan bersenjatakan keris di tangan 

kanan dan pecut di tangan kiri.

Barisan Yudhapaksi ini merupakan barisan terpadu 

dan tunjang-menunjang. Bila pihak musuh menyerang 

salah satu kelompok, maka kelompok-kelompok lain-

nya pasti menerjang pihak musuh, dengan gerakan 

dan senjata yang berlainan. Hal itu, selain berbahaya 

bagi musuh, juga akan sangat membingungkan.

Baru lima hari Senapati Prabayani menggembleng 

barisan Yudhapaksi itu. Tapi hasilnya benar-benar 

membuat Aria Pamungkas tercengang.

“Engkau memang patut menjadi senapatiku,” bisik 

Aria Pamungkas sambil memperhatikan gerakan-

gerakan barisan Yudhapaksi itu. “Tapi... apakah mere-

ka sudah bisa diuji sekarang juga?”

Senapati Prabayani tersenyum genit dan menyahut, 

“Mari kita buktikan keampuhan mereka, Gusti Aria.”

Kemudian Senapati Prabayani turun dari panggung 

kehormatan. Menghampiri prajurit-prajurit yang terga-

bung dalam barisan Yudhapaksi. Lalu berseru, “Cu-

kup!”

Barisan Yudhapaksi kontan menghentikan gerakan 

mereka, lalu mengalihkan perhatian kepada senapati 

Prabayani.

Lalu kata Senapati Prabayani lantang, “Gusti Aria 

ingin melihat hasil latihan kalian selama lima hari ini. 

Apakah kalian sanggup menempuh ujian yang mem-

bahayakan keselamatan kalian?”

“Sangguuuup...!” sahut para anggota barisan Yud-

hapaksi serempak.



Senapati Prabayani menoleh ke arah Aria Pamung-

kas. “Gusti Aria, apakah Gusti merelakan kelima ekor 

harimau yang baru ditangkap kemarin untuk bahan 

ujian?”

“Ya,” Aria Pamungkas mengangguk.

Senapati Prabayani lalu memanggil seorang prajurit 

yang bertugas menjaga pintu ksatrian. Kata Senapati 

Prabayani, “Gotong kandang-kandang harimau yang 

lima ekor itu ke sini.”

“Baik, Kanjeng Senapati,” sahut prajurit itu, yang 

lalu bergegas melaksanakan tugasnya.

Tak lama kemudian, beberapa orang prajurit datang 

sambil menggotong lima buah kandang besi, berisi li-

ma ekor harimau yang garang-garang.

Aria Pamungkas memperhatikan semuanya itu de-

ngan jantung berdebar-debar. Sementara Senapati 

Prabayani memberi ‘pengarahan’ kepada seluruh ang-

gota barisan Yudhapaksi.

“Anggaplah kelima harimau itu sebagai musuh ka-

lian. Dan memang mereka akan menyerang kalian de-

ngan caranya masing-masing, karena sejak kemarin 

mereka tidak diberi makan. Ingatlah... mereka akan 

menyerang secara tidak beraturan. Dan kalian harus 

berpikir cepat, bergerak cepat dan menghabiskan me-

reka secepat mungkin! Siap semua...!”

Senapati Prabayani memberi aba-aba kepada para 

prajurit yang berada di dekat kandang-kandang hari-

mau itu, supaya pintu-pintunya mulai dibuka.

Begitu pintu-pintu kandang terbuka, berlompatan-

lah kelima ekor harimau itu ke tengah gelanggang ksa-

trian, dengan aumannya yang dahsyat dan mengeri-

kan, dalam remang-remangnya udara senja!

Kelima ekor harimau itu memang lapar sekali keli-

hatannya. Dengan garangnya mereka menerjang baris


an Yudhapaksi dari sana-sini.

Namun apa yang terjadi?

Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... 

delapan... sembilan... ya... dalam sembilan hitungan 

saja, barisan Yudhapaksi berhasil menyergap kelima 

ekor harimau itu... membuat kelima ekor harimau itu 

kebingungan... dan pada hitungan kesembilan, kelima 

ekor harimau itu sudah menjadi potongan-potongan 

daging mentah yang berserakan di atas rumput ge-

langgang ksatrian itu!

Aria Pamungkas bertepuk tangan spontan. “Bagus! 

Bagus!”

Dan Senapati Prabayani membubarkan barisan Yu-

dhapaksi, karena hari sudah semakin gelap. Kemudian 

melangkah ke arah panggung kehormatan, pada saat 

Aria Pamungkas mulai berani turun dari panggung itu. 

Waktu harimau-harimau itu masih hidup tadi, Aria 

Pamungkas memang takut-takut juga dibuatnya.

Aria Pamungkas menepuk bahu Senapati Prabaya-

ni. Dan berbisik perlahan, “Jika kita memiliki sepuluh 

barisan yang seperti itu, dengan mudah kita akan me-

runtuhkan Tanjunganom.”

Senapati Prabayani mengerling dan menyahut, “Ja-

ngankan sepuluh barisan. Seribu barisan bisa kita 

buat. Asalkan biayanya tersedia, hamba bisa mencip-

takan anak-anak barisan Yudhapaksi.”

“Anak-anak barisan Yudhapaksi?!” Aria Pamungkas 

terheran-heran.

“Ya,” Senapati Prabayani mengangguk. “Ketigapuluh 

prajurit yang sudah hamba gembleng itu, akan kita 

umpamakan sebagai induknya. Lalu mereka akan di-

tugaskan untuk menurunkan ilmu mereka kepada ke-

lompok-kelompok baru yang akan dibentuk nanti. Ma-

ka akan lahirlah barisan-barisan Yudhapaksi baru...


yang akan senantiasa siap untuk melaksanakan cita-

cita Gusti Aria.”

Aria Pamungkas tercengang dan larut dalam khaya-

lannya. Ya, pikirnya, dengan tigapuluh orang saja Se-

napati Prabayani telah mampu membentuk barisan 

yang demikian hebatnya. Lalu kalau aku membentuk 

seratus kelompok yang masing-masing terdiri dari ti-

gapuluh orang dan digembleng dengan ilmu Yudha-

paksi... oh... aku akan menjadi penguasa tak terkalah-

kan di daratan ini!

Lalu, tergerailah tawa Aria Pamungkas. “Hahaha-

haaa... engkau memang hebat, Senapati!”

Sebenarnya masih ada yang ingin dibicarakan oleh 

Aria Pamungkas, khusus mengenai rencana penyerbu-

annya ke Tanjunganom. Namun karena hal itu masih 

sangat dirahasiakannya, ia mengajak Senapati Pra-

bayani berunding di dalam ruangan tertutup itu... 

ruangan yang hanya dipakai untuk hal-hal yang raha-

sia saja sifatnya.

Dan setelah berada di dalam ruangan tertutup itu, 

Aria Pamungkas berkata, “Kalau cita-citaku terwujud, 

aku akan mengangkatmu sebagai Mahasenapati.”

Dengan sikap genit, Senapati Prabayani menyahut, 

“Hamba tidak mengincar kedudukan itu.”

Aria Pamungkas tercengang dan menatap wajah Se-

napati Prabayani dengan pandangan curiga. “Lantas 

kedudukan apa yang kau inginkan?”

Tiba-tiba saja Senapati Prabayani menjatuhkan diri, 

berlutut di depan Aria Pamungkas dan mengelus betis 

putra mahkota itu, sambil berdesis, “Pribadi Gustilah 

yang hamba dambakan.”

Dada Aria Pamungkas terasa lega kembali. Lalu bi-

birnya menyunggingkan senyum aneh. Dan desisnya, 

“Engkau harus membuktikan pengabdianmu terlebih


dahulu. Tentang diriku, sebagaimana engkau tahu, 

sampai saat ini aku masih belum beristri. Jadi sebe-

narnya tidak ada persoalan.”

Senapati Prabayani yang pada dasarnya memang 

selalu haus lelaki, terlebih lagi kali ini lelaki yang diin-

carnya seorang putra mahkota, lalu memperlihatkan 

kelebihannya dalam menyeret lelaki ke dalam kobaran 

birahinya. Ketika elusan itu berpindah ke dada sang 

Putra Mahkota, Senapati Prabayani berdesis, “Sebaik-

nya kita menghilangkan rasa curiga-mencurigai di an-

tara kita berdua. Hamba telah memperlihatkan seba-

gian pengabdian hamba. Lalu bagaimana caranya su-

paya hamba percaya bahwa Gusti Aria tidak akan 

mencampakkan hamba di kemudian hari?”

“Maksudmu?” Aria Pamungkas terpaksa menahan 

napasnya. Aneh memang, kali ini elusan Senapati Pra-

bayani terasa begitu merangsang. Dan Aria Pamungkas 

tidak sadar bahwa salah satu urat penting di tubuh-

nya, telah mendapat tekanan lembut... tekanan yang 

membuat birahinya naik!

“Hamba takut kalau cita-cita Gusti Aria telah terca-

pai, justru Gusti Aria akan mencampakkan hamba de-

ngan cara yang belum hamba ketahui. Karena itu, 

hamba ingin agar Gusti Aria memberikan keyakinan 

pada diri hamba, bahwa Gusti Aria akan selalu mem-

butuhkan hamba,” desis Senapati Prabayani sambil 

mengelus terus urat khusus di tubuh Aria Pamungkas 

itu. Tampaknya Senapati Prabayani sudah tak sabar 

lagi menunggu ‘kemurahan’ sang Putra Mahkota, yang 

selama ini tetap menolak ajakan halusnya. Padahal 

Senapati Prabayani sudah sangat merindukannya... 

sudah sangat membayangkannya, tentang betapa in-

dahnya digauli oleh seorang putra raja yang berwajah 

tampan seperti Aria Pamungkas.



Dan Aria Pamungkas belum sadar bahwa ia sedang 

berada di ambang perangkap Senapati Prabayani. Pe-

rangkap yang berusaha menyeretnya ke alam dewasa... 

alam yang belum pernah dirasakannya!

Memang di situlah letak kelainan Aria Pamungkas. 

Bahwa ia sudah cukup dewasa. Bahwa ia selalu me-

nyimpan rencana-rencana besar mengenai negerinya. 

Bahwa ia memiliki kekuasaan yang serba memungkin-

kan untuk mendapatkan gadis secantik apa pun. Tapi 

ia justru belum pernah merasakan bagaimana hangat-

nya tubuh perempuan yang sebenarnya.

Aria Pamungkas memang mengutamakan tahta dan 

kekuasaan di atas segala-galanya. Ia bahkan berang-

gapan bahwa wanita bisa melumpuhkan ambisinya. 

Hal itu diperkuat oleh salah satu nasihat Selir 

Dayangwaru (ibunya) yang pernah berkata, “Jangan 

dulu memikirkan perempuan sebelum engkau diresmi-

kan sebagai raja Tegalinten, anakku, ingatlah... wanita 

seringkali membuat lelaki lupa pada tujuan awalnya, 

lupa pada cita-citanya dan lupa pada segala-galanya. 

Karena itu, berhati-hatilah setiap kali engkau berha-

dapan dengan perempuan, anakku. Terlebih lagi kalau 

perempuan itu cantik. Karena seringkali kecantikan 

seorang perempuan merupakan senjata ampuh untuk 

melumpuhkan tekad seorang lelaki. Kelak, bila engkau 

sudah menjadi raja di negeri ini, seribu perempuan 

pun akan kau dapatkan dengan mudah. Tapi seka-

rang, jangan dulu memikirkannya. Setiap kali berha-

dapan dengan seorang perempuan cantik, ingatlah, 

bahwa kecantikan perempuan itu akan mampu mem-

binasakan cita-citamu!”

Itulah sebabnya, setiap kali pandangan lelaki Aria 

Pamungkas tertumbuk pada kecantikan wajah dan ke-

indahan tubuh seorang perempuan, sesering itu pula


sang Putra Mahkota menekannya dengan: Tidak! Aku 

sedang melihat racun yang akan membinasakan se-

mangat politikku! Aku tidak boleh tertarik olehnya! Ti-

dak boleh!

Dan, begitulah... Aria Pamungkas memang sering 

mengumpankan gadis-gadis cantik, untuk membujuk 

para bangsawan yang dibutuhkannya. Beberapa adipa-

ti yang tunduk di bawah kekuasaan Tegalinten, se-

ringkali mendapatkan ‘hadiah’ seperti itu. Tapi untuk 

Aria Pamungkas sendiri? Tidak. Aria Pamungkas tidak 

mau menyentuh seorang gadis pun! Aria Pamungkas 

menganggap perempuan sebagai musuh cita-citanya!

Dan kali ini, meskipun Senapati Prabayani sangat 

menguasai ilmu tentang urat-urat penting di tubuh 

manusia, namun ia tidak dapat menguasai jiwa dan 

ambisi Aria Pamungkas. Ia tidak dapat menguasai to-

lakan batin Aria Pamungkas yang seakan-akan berte-

riak lantang: Jangan! Jangan kau lakukan itu! Ingat 

pesan ibumu! Ingat! Jangan kau ganggu semangatmu 

dengan sesuatu yang belum kau ketahui! Tekan ha-

sratmu! Tekan!!!

Dan tiba-tiba saja Aria Pamungkas mendorong dada 

Senapati Prabayani, sambil berkata, “Kalau cita-citaku 

sudah tercapai, apa pun yang kau inginkan akan ku-

penuhi, asalkan jangan minta singgasana raja saja. 

Percayalah, aku tidak akan melupakan jasa-jasa setiap 

orang yang pernah mendukung rencanaku. Tapi jan-

gan kau minta sesuatu yang tidak mungkin kuberikan 

sekarang.”

Senapati Prabayani memeluk lutut Aria Pamungkas, 

sambil berdesis setengah merintih, “Hamba menggilai 

Gusti Aria. Oh... berilah hamba kesempatan untuk 

memperoleh kehangatan malam ini juga. Marilah kita 

persatukan diri kita menjadi bagian yang tak terpisah


kan lagi. Dan... jangan biarkan hamba merana, Gusti.”

Namun Aria Pamungkas justru menganggap malam 

itu sebagai malam penuh bahaya. Maka dengan halus 

ia mengusap pipi Senapati Prabayani, sambil berkata, 

“Kurasa lebih baik kita berpisah dulu. Besok kita lan-

jutkan lagi perundingan kita.”

Kemudian Aria Pamungkas meninggalkan ruang itu. 

Meninggalkan Senapati Prabayani bersama kekecewa-

annya yang sedalam lautan.

Tak lama kemudian Senapati Prabayani pun me-

ninggalkan ruangan itu, dengan kepala tertunduk, de-

ngan hasrat yang masih membara, dengan sejuta a-

ngan-angan yang tak tersalurkan.

Senapati Prabayani melangkah lesu di lorong sebe-

lah selatan puri Aria Pamungkas. Di sebelah barat lo-

rong itu terdapat balai prajurit, sementara sebelah ti-

murnya terdapat gelanggang ksatrian yang beberapa 

saat yang lalu dipakai untuk menguji barisan Yudha-

paksi. Puri Senapati Prabayani sendiri terletak di sebe-

lah selatan gelanggang ksatrian.

Ketika melewati pintu balai prajurit, senapati Pra-

bayani melihat seorang prajurit sedang jaga malam, 

lengkap dengan tombak di tangannya. Dan... tiba-tiba 

saja Senapati Prabayani teringat pengalamannya wak-

tu berada di istana Adipati Natajaya dahulu. Pengala-

man tentang ‘keok’-nya Adipati Natajaya yang mem-

buat Prabayani kesal dan kecewa, yang membuat Pra-

bayani penasaran dan lalu memanggil seorang penjaga 

yang bernama Citro. Ya, Senapati Prabayani masih in-

gat benar peristiwa di istana Adipati Kawahsuling itu. 

Peristiwa yang mengerikan bagi orang lain, tapi justru 

membuat Prabayani tersenyum-senyum sendiri.

Lalu, pikir Senapati Prabayani, apakah sekarang 

aku harus melakukan hal yang sama seperti waktu berada di Kawahsuling dahulu?! Prajurit yang sedang 

bertugas menjaga balai prajurit itu... masih remaja dan 

lumayan tampannya. Tapi sekarang aku telah menjadi 

seorang senapati! Tidak! Aku tidak boleh melunturkan 

wibawaku sendiri di dalam lingkungan istana ini! Aku 

harus menahan diri! Ya, aku harus menahan gejolakku 

sendiri!

Lalu Senapati Prabayani bergegas menuju purinya 

yang terletak di sebelah selatan gelanggang ksatrian 

itu.

Tapi setibanya di dalam purinya, hasrat Senapati 

Prabayani laksana air mendidih... meluap-luap... men-

desir-desir tak terkendalikan!

Hal itu memang sangat dimungkinkan oleh ilmu se-

sat yang dimiliki oleh Senapati Prabayani. Ilmu yang di 

satu pihak menimbulkan kekuatan, namun di lain pi-

hak menimbulkan beberapa dampak buruk. Dan salah 

satu dampak buruk itu, adalah gejolak birahi yang su-

lit dikendalikan dan sangat menyiksa!

Menurut pengalaman Senapati Prabayani sendiri, 

hasrat berlebihan itu hanya bisa diredakan oleh lela-

ki—tentu. Terlebih lagi kalau lelaki itu digilainya. Dan 

kini wanita berhati iblis itu menggilai Aria Pamungkas. 

Namun ia tidak berhasil mendapatkannya.

Dan kini ia membayangkannya. Membayangkannya 

terus. Membayangkan hangatnya berada dalam pelu-

kan dan gelutan sang Putra Mahkota. Dan khayalan 

itu membuatnya jadi seperti orang gila. Menggelinjang-

gelinjang sendiri di atas peraduannya. Menggelepar-

gelepar dan terpejam-pejam.

Lalu, ketika ia tak kuasa lagi menanggungnya, ia 

tak peduli lagi dengan kewibawaannya yang tadi hen-

dak dipertahankannya. Ia bergegas keluar dari pu-

rinya. Bergegas melangkah ke pintu balai prajurit.


Menghampiri penjaga pintu balai prajurit yang masih 

terhitung remaja itu.

Lalu...

“Siapa namamu?”

“Parta, Gusti.”

“Berapa orang yang menjaga balai prajurit malam 

ini?”

“Hanya hamba sendiri, Gusti.”

“Ikut aku.”

“Baik, Gusti.”

Dan penjaga balai prajurit bernama Parta itu men-

gikuti langkah Senapati Prabayani, menuju puri di se-

belah selatan gelanggang ksatrian itu.

Dan Senapati Prabayani mulai membayangkan se-

suatu yang gila, seperti yang pernah dilakukannya di 

istana Adipati Natajaya dahulu. Senapati Prabayani 

sudah bertekad untuk melakukan hal yang sama. Dan 

itu membuatnya tersenyum sendiri waktu ia tiba di 

depan pintu purinya.

Tetapi... senyum itu mendadak lenyap. Matanya 

agak terpicing. Dan dahinya berkerut.

Rupanya telinga Senapati Prabayani yang sudah sa-

ngat terlatih itu, mendengar sesuatu di sebelah timur 

sana. Mendengar suara teriakan-teriakan dari arah 

penjara!

Senapati Prabayani tidak jadi memasuki purinya. Ia 

juga membatalkan maksudnya tentang penjaga berna-

ma Parta itu. Kini ia bahkan sungguh-sungguh menge-

luarkan instruksi: “Bangunkan prajurit-prajurit yang 

ada dan perintahkan mereka agar segera menyelidiki 

apa yang sedang terjadi di dalam penjara sana!”

“Baik, Gusti!” Parta bergegas menuju asrama praju-

rit istana yang terletak di sebelah barat puri Senapati 

Prabayani, tanpa mengetahui bahwa tadi ia diajak oleh


sang Senapati dengan maksud ‘istimewa’.

Dan Senapati Prabayani hilir-mudik di depan puri-

nya. Suara teriakan-teriakan itu makin jelas di telinga-

nya. Membuatnya bertanya-tanya: Apa yang sedang 

terjadi di dalam penjara itu? Nah... aku mendengar 

bunyi yang mirip dengan bunyi robohnya tembok! Ah... 

aku harus menyelidikinya sendiri! Aku tidak bisa men-

gandalkan prajurit-prajurit goblok itu!

Dan tiba-tiba saja tubuh Senapati Prabayani berke-

lebat ke arah timur... melesat dengan pesatnya, mele-

wati pintu belakang istana, lalu seakan-akan terbang 

ke arah bangunan penjara yang terletak di sebelah ti-

mur istana Raja Tegalinten.

***

MEMANG sedang terjadi sesuatu di dalam penjara 

Tegalinten. Seseorang berpakaian serba hitam de-

ngan rambut panjang terurai, mengamuk secara mem-

babi buta di dalam penjara. Setiap pintu dirobohkan. 

Benteng penjara pun dijebolkan lewat tendangan-ten-

dangannya yang disertai kekuatan gaib yang dahsyat.

Orang yang sedang mengamuk itu, adalah Nyi Tiwi.

Nyi Tiwi sengaja datang ke kotaraja, hanya untuk 

mencari Rangga. Dan ia lalu teringat lagi ketika ia ber-

hasil membebaskan Rangga dari dalam penjara... inga-

tan mana lalu membuatnya geram dan kalap... lalu 

menerjang pintu gerbang penjara... menyerbu masuk 

ke dalamnya, setelah merobohkan beberapa penjaga, 

lalu memeriksa sel demi sel dengan jalan menghancur-

kan pintu-pintunya!

Dalam amarahnya yang tak terkendalikan, Nyi Tiwi 

jadi demikian garangnya. Setelah mengetahui bahwa 


Rangga tidak disekap di dalam penjara itu, ia men-

gambil balok kayu besar dari dekat pintu gerbang. Lalu 

dengan balok kayu itu, ia menjebolkan benteng penja-

ra... blaaaaar!

Beberapa penjaga yang berusaha menyergap Nyi Ti-

wi, justru menjadi sasaran amukan murid Kidangkan-

cana itu. Dalam tempo singkat saja mereka berjatu-

han, lalu bergelimpangan di dekat benteng yang dije-

bolkan itu, dalam keadaan tak bernyawa lagi!

Tak puas dengan itu saja, Nyi Tiwi lalu mengerah-

kan tenaga gaibnya, menyertai tendangan-

tendangannya ke arah benteng penjara, sehingga ben-

teng yang sudah jebol itu lalu roboh di sana-sini.

Pada saat itulah beberapa tahanan mempergunakan 

kesempatan untuk melarikan diri ke luar benteng pen-

jara. Dan Nyi Tiwi tak peduli dengan mereka. Nyi Tiwi 

hanya peduli satu hal: Rangga... Rangga... di mana 

Kang Rangga sekarang berada?

Kemudian Nyi Tiwi memandang ke arah barat sana. 

Ke arah istana Raja Tegalinten yang tampak bende-

rang.

Mungkin dia disekap di sana, pikir Nyi Tiwi, aku ha-

rus menyelidikinya ke dalam istana!

Tapi, sebelum sempat Nyi Tiwi melangkah, tiba-tiba 

berkelebat sesosok tubuh ke depannya.

Senapati Prabayani!

Nyi Tiwi tersenyum dingin melihat kedatangan Se-

napati Prabayani itu. Dan Senapati Prabayani sendiri 

tampak berhati-hati, karena sudah menduga bahwa 

tamu tak diundang itu bukan orang berilmu rendah.

“Siapa kau dan apa tujuanmu merusak penjara?” 

tanya Senapati Prabayani sambil memperhatikan Nyi 

Tiwi yang tersorot sinar bulan.

“Aku mencari sahabatku yang bernama Rangga,”


sahut Nyi Tiwi tetap dengan sikap dingin.

“Rangga?!” Senapati Prabayani terperanjat.

“Ya. Kalau ternyata dia disekap di dalam kotaraja 

ini, aku akan membuat perhitungan dengan caraku 

sendiri!” Nyi Tiwi mengakhiri ucapannya dengan lom-

patan jauh ke sebelah barat, dengan maksud hendak 

memeriksa ke dalam istana.

Tapi Senapati Prabayani mengejarnya. “Tunggu! 

Kau sudah merusak penjara dan membunuhi penja-

ganya, lantas sekarang enak saja mau melarikan diri?!”

Seruan Senapati Prabayani itu diikuti dengan ber-

taburannya serbuk halus ke arah punggung Nyi Tiwi. 

Rupanya Senapati Prabayani sudah demikian kesal-

nya, sehingga belum apa-apa langsung menyerang Nyi 

Tiwi dengan serbuk racun yang sangat jahat. Jika ser-

buk itu menyentuh punggung Nyi Tiwi, walaupun 

hanya sebulir, dapat dipastikan bencana hebat akan 

menimpa murid Kidangkancana itu.

Tapi ternyata Nyi Tiwi sudah sangat terlatih dalam 

menghadapi serangan seperti itu. Nalurinya pun tajam 

sekali. Sehingga begitu serbuk-serbuk itu hampir me-

nyentuh punggungnya, tiba-tiba saja tubuh Nyi Tiwi 

melesat ke udara... cukup tinggi, kira-kira dua kali 

tinggi tubuh manusia. Namun pada saat itu pula Se-

napati Prabayani bergerak secepat kilat, melepaskan 

selendang sutranya ke udara, disertai dengan mantra 

Layon Ngincir. Dan selendang sutra itu berpusing de-

ngan cepat, menyerbu ke arah Nyi Tiwi yang masih be-

rada di udara.

Lagi-lagi Nyi Tiwi mempertunjukkan kebolehannya 

sebagai murid Kidangkancana. Ketika ia masih mela-

yang di udara dan melihat serangan selendang sutra 

yang dibarengi dengan mantra Layon Ngincir itu, tiba-

tiba saja tubuhnya membelok ke selatan... lalu melejit


ke arah Senapati Prabayani dan... plaaak... tendangan 

keras mendarat di bawah dagu Senapati Prabayani, 

membuat wanita berhati iblis itu terpental dan ter-

jungkal ke tanah, diikuti oleh jatuhnya pula selendang 

sutra itu ke tanah (karena pemusatan pikiran pemilik-

nya sudah buyar).

Tak cukup dengan itu saja, ketika Senapati Pra-

bayani sedang berusaha bangkit, Nyi Tiwi mengirimkan 

tendangan susulan secara beruntun, ke pinggang Se-

napati Prabayani, ke dada, ke bahu, ke dagu dan ke 

selangkangan... dessss, blug, plasss, deppp, kraaak...!

Seandainya tendangan itu hanya tendangan biasa, 

tentu saja Senapati Prabayani tidak akan merasa ke-

sakitan. Tapi tendangan murid Kidangkancana, benar-

benar bukan tendangan biasa, melainkan tendangan 

yang disertai tenaga gaib... tenaga yang mampu men-

jebolkan pintu penjara!

Senapati Prabayani memekik... lalu memuntahkan 

darah segar.

“Perempuan iblis seperti kau musti mampus!” ben-

tak Nyi Tiwi sambil mengirimkan pukulan maut ke 

arah dada Senapati Prabayani.

Pukulan maut Nyi Tiwi itu merupakan bagian dari 

jurus ‘Antareja Nepak Bumi’, yakni semacam ‘tepukan’ 

kedua belah tangan, dengan disertai pengerahan tena-

ga gaib. Hantaman ini sangat berbahaya dan mampu 

menghancurkan batu sekeras apa pun! Bisa dibayang-

kan apa yang akan terjadi jika kedua telapak tangan 

Nyi Tiwi berhasil menghantam dada Senapati Prabaya-

ni.

Namun sebelum kedua tangan Nyi Tiwi mencapai 

sasarannya, tiba-tiba saja janda muda itu teringat sa-

lah satu pesan gurunya: Jangan menghantam lawan 

yang sudah tak berdaya!


Dan seketika itu pula Nyi Tiwi membatalkan mak-

sudnya dengan menarik kembali tangannya, sambil 

memperhatikan Senapati Prabayani yang sedang da-

lam keadaan tak sadarkan diri itu.

“Kalau aku hendak membinasakan perempuan iblis 

ini, aku harus menunggunya sampai siuman kembali,” 

pikir Nyi Tiwi.

Tapi, sebelum Senapati Prabayani siuman, tiba-tiba 

saja sesosok tubuh melesat dari arah utara. Dan de-

ngan sangat terkejut Nyi Tiwi melompat sambil jungkir 

balik ke arah timur. Hal itu dilakukan oleh Nyi Tiwi, 

karena ia merasakan datangnya angin pukulan yang 

terarah ke urat kematian di lehernya!

Ketika Nyi Tiwi sudah berdiri tegak kembali, tam-

paklah di hadapannya... seorang lelaki tua berperawa-

kan cebol dengan dua buah tongkat kayu di tangan-

nya. Nyi Tiwi belum mengenal siapa lelaki cebol yang 

baru datang itu. Tapi melihat dari gerakannya yang 

hampir tak disadari oleh Nyi Tiwi tadi, bisa dipastikan 

bahwa lelaki cebol itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. 

Dan Nyi Tiwi bisa memastikan, bahwa lelaki cebol yang 

kedua tangannya memegang tongkat kayu itu seorang 

tokoh yang kejam, karena datang-datang langsung 

menyerang ke arah urat kematian!

Sementara itu, Senapati Prabayani sudah sadar 

kembali, kemudian duduk dengan sikap bersemadi, 

untuk memulihkan kekuatannya. Luka dalam yang di-

timbulkan oleh tendangan Nyi Tiwi tadi memang cukup 

parah. Tapi Senapati Prabayani sudah tahu benar ba-

gaimana caranya mengobati diri sendiri dalam keadaan 

seperti itu.

***

“Siapa kau? Aku merasa belum pernah berurusan


dengan manusia kate macam kau!” bentak Nyi Tiwi de-

ngan penuh kewaspadaan, karena yakin bahwa orang 

yang sedang dihadapinya itu sangat tangguh.

Lalu terdengar suara orang cebol itu, dingin dan 

menyeramkan. “Heheheheee... siapa bilang aku manu-

sia kate? Lihatlah... siapa yang lebih tinggi... kau atau 

aku?”

Tiba-tiba saja lelaki cebol itu memperlihatkan suatu 

kebolehan yang tak pernah Nyi Tiwi lihat sebelumnya... 

tubuh lelaki cebol itu mendadak seperti karet yang bi-

sa melar... menjadi tinggi kurus, dengan kepala gepeng 

pula!

Nyi Tiwi terkesima, karena baru sekali itu ia me-

nyaksikan pertunjukan ilmu yang demikian anehnya. 

Namun ia pun segera teringat salah satu pesan gu-

runya: Ingatlah... pada saat kau melihat sesuatu yang 

tidak masuk di akal, seringkali hal seperti itu hanya ti-

puan penglihatan untuk menyesatkanmu. Kalau kau 

mengalami hal seperti itu, pusatkan pandanganmu ke 

arah keningnya, sambil memaparkan ajian Tulak Kala. 

Jika terlihat titik merah muncul di tengah dahinya, be-

rarti kau telah berhasil mengusir tipuan penglihatan 

yang menyesatkan itu!

Dan kini Nyi Tiwi berusaha menjalankan pesan gu-

runya, dengan memusatkan pandangan ke arah kening 

lelaki cebol yang sudah menjadi tinggi itu, sambil me-

maparkan ajian Tulak Kala secara diam-diam.

Tapi lelaki itu tetap tampak tinggi dan titik merah 

yang ditunggu-tunggu oleh Nyi Tiwi tetap tak mau 

muncul di dahinya.

Bahkan ketika Nyi Tiwi masih memusatkan pandang-

annya ke arah kening lelaki itu, tiba-tiba saja lelaki itu 

membentak, “Hai, kenapa kau jadi melamun?!”, dis-

usul dengan gerakan yang aneh... gerakan dengan lengan memanjang... memanjang dengan cepatnya, seper-

ti karet ditarik... lalu... plok... tangan yang memanjang 

itu menghantam dada Nyi Tiwi dengan telak, dan 

membuat murid Kidangkancana itu terjungkal roboh, 

sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Saat itulah Senapati Prabayani bangkit dan mem-

bungkukkan badannya di depan lelaki yang bisa mem-

buat tubuhnya seperti karet itu.

“Kalau tidak salah, aku yang rendah ini sedang ber-

hadapan dengan Kakek Manusagara yang bergelar Bang-

kong Laut Kulon,” kata Senapati Prabayani.

Rrrtttt... tubuh lelaki itu menjadi pendek kembali! 

Lalu terdengar suaranya, “Hahahahaaa... matamu 

memang tajam! Engkau anak Prabaseta, bukan?”

“Betul. Sudah sering ayahku bercerita tentang ke-

hebatan Kakek Manusagara. Namun baru sekaranglah 

aku sempat bertemu dengan orangnya. Gusti Aria Pa-

mungkas pasti senang sekali menjamu Kakek di ista-

na.”

“Tidak,” lelaki cebol itu menggeleng. “Aku tak punya 

urusan dengan istana. Aku hanya ingin memaksa Ki-

dangkancana supaya muncul dari tempat persembu-

nyiannya, dengan jalan merobohkan muridnya ini.”

Lelaki cebol itu menunjuk ke arah Nyi Tiwi yang 

masih tergeletak dalam keadaan tak sadar.

Senapati Prabayani terperanjat. “Dia murid Kidang-

kancana?!”

“Ya,” lelaki cebol itu mengangguk.

Senapati Prabayani menggumam, “Pantas... ilmunya 

hebat sekali.”

Lelaki bernama Manusagara itu mendengus di hi-

dung. Dan katanya, “Tidak... dia masih mentah. Yang 

hebat itu gurunya. Hmmm... beberapa hari lagi dia

pasti muncul di Tegalinten ini.”


Senapati Prabayani bisa menebak dengan cepat, 

bahwa lelaki cebol berilmu tinggi itu punya ‘urusan 

lama’ dengan Kidangkancana. Dan dengan cepat pula 

Senapati Prabayani berpikir, “Ilmunya begitu tinggi... 

mengapa aku tidak memanfaatkannya? Bukankah saat 

ini aku sering direpotkan oleh lawan-lawan tangguh?”

Lalu kata Senapati Prabayani, “Kalau Kakek tidak 

berkeberatan, aku akan menyekap murid Kidangkan-

cana ini di dalam penjara bawah tanah. Kemudian 

akan kusuruh anak buahku untuk menyiarkan berita 

ke mana-mana, bahwa murid Kidangkancana telah ku-

tangkap. Dengan jalan itu, Kidangkancana akan mun-

cul secepat mungkin di Tegalinten. Bukankah keingi-

nan Kakek juga begitu?”

Lelaki tua bernama Manusagara itu tertawa terge-

lak-gelak. “Hahahahahaaa... memang itulah yang ku-

harapkan!”

“Jadi Kakek setuju dengan rencanaku?”

“Ya, mungkin itulah jalan terbaik.”

“Dan Kakek mau menunggu di istana sampai Ki-

dangkancana muncul?”

Lelaki cebol itu berpikir sesaat, lalu, “Baiklah... aku 

akan tinggal di istana... dan kau membutuhkan sesua-

tu dariku, bukan?”

Senapati Prabayani tersipu, dan pikirnya, “Gila. Ma-

nusia dari laut barat ini bukan hanya hebat ilmu ke-

digjayannya, tapi juga tajam nalurinya! Tapi untuk apa 

aku berpura-pura? Aku memang membutuhkan ma-

nusia cebol berilmu dahsyat ini!”

Maka dengan sikap manis yang dibuat-buat, Sena-

pati Prabayani menyahut, “Memang benar. Kurasa ti-

dak ada manusia yang tidak membutuhkan tokoh sak-

ti seperti Kakek. Dan untuk itu, aku akan menyedia-

kan makanan kegemaran Kakek... panggang hati harimau, bukan?!

Lelaki cebol itu terbelalak. “Kau tahu makanan ke-

gemaranku segala macam?! Hahahahaaa... ini baru co-

cok namanya! Ayo sekap murid Kidangkancana itu dan 

bawa aku ke istana!”

***

KITA tinggalkan dulu Nyi Tiwi yang nasibnya masih 

merupakan tanda tanya, untuk kembali mengikuti 

Rangga dan Aria Lumayung yang sedang menempuh 

pelayaran di laut utara.

Sudah tiga hari tiga malam mereka berada di tengah 

lautan yang luas itu. Seperti yang Rangga katakan pa-

da suatu saat: “Sudah tiga hari tiga malam kita ber-

layar. Berarti kalau angin tetap berhembus dengan 

baik, kita akan tiba di pantai Nusa Aheng lima hari la-

gi.”

“Dari mana kau tahu waktu pelayaran secara tepat 

begitu?” tanya Aria Lumayung dengan senyum.

“Aku mendengarnya dari Kidangkancana ketika se-

dang memberi petunjuk pada muridnya yang kuting-

galkan di Kundina itu.”

Aria Lumayung mengernyit. Lalu katanya, “Sebenar-

nya Kidangkancana terlalu ceroboh membiarkan mu-

ridnya hendak berlayar ke Nusa Aheng.”

“Maksud Kakang?”

“Nusa Aheng terlalu berbahaya untuk dilayari oleh 

orang yang belum berpengalaman di laut. Bahkan kita 

sendiri belum tentu mampu mencapai Nusa Aheng 

nanti. Yah... kita serahkan saja semuanya pada Yang 

Maha Kuasa.”

Rangga terdiam. Memandang lautan yang mahaluas 


dengan terawangan melayang-layang.

Pada saat itu Rangga duduk bersandar di buritan, 

setelah ditolong terlebih dahulu oleh Aria Lumayung, 

dengan jalan mengikat pinggangnya supaya jangan 

sampai jatuh (karena kelumpuhan Rangga membuat-

nya seolah-olah tak bertulang lagi).

“Kakang Lumayung,” kata Rangga, “kalau boleh aku 

tahu, siapa sebenarnya guru Kakang?”

Aria Lumayung yang sedang memegang tongkat 

kemudi, menoleh, memandang ke laut lepas, lalu ka-

tanya, “Aku tidak punya guru.”

Rangga yang pernah dilarang menyebut-nyebut na-

ma gurunya, lalu mengira bahwa guru Aria Lumayung 

pun melarang memperkenalkannya. Maka kata Rang-

ga, “Guru Kakang melarang namanya disebut-sebut, 

bukan?”

“Tidak,” sahut Aria Lumayung. “Aku memang tidak 

punya guru, kecuali sebuah kitab yang kutemukan se-

cara tak disengaja.”

“Kitab?!”

“Ya, kitab itulah yang memberiku pelajaran tentang 

banyak hal... antara lain tentang ilmu kedigjayan.”

Rangga tercengang. Lalu tanyanya, “Kalau boleh 

aku tahu, bagaimana kejadiannya sehingga Kakang 

menemukan kitab itu?”

“Panjang juga ceritanya Rangga. Tapi baiklah... 

akan kuceritakan semuanya, karena kau pernah ber-

janji untuk merahasiakan segala hal yang menyangkut 

diriku, bukan?!”

“Ya, ceritakanlah. Aku bukan sebangsa manusia 

yang cepat bocor mulut, Kakang.”

Aria Lumayung lalu menceritakannya.

***

Sebagaimana telah diceritakan terdahulu, Aria Lu-

mayung dilahirkan dari Selir Sawitri. Masa kecil seo-

rang putra raja, tentu saja menyenangkan. Demikian 

pula dengan Aria Lumayung. Setiap kebutuhannya se-

lalu terpenuhi. Dan para pelayan istana selalu siap un-

tuk menunggu perintah atau keinginannya.

Tapi anehnya, Aria Lumayung justru merasa bosan 

dengan semuanya itu. Bosan dengan kehidupan serba 

dilayani, serba dipenuhi dan serba dihormati. Aria Lu-

mayung bahkan sering berkhayal, betapa nikmatnya 

kalau ia bisa membebaskan diri dari segala ikatan is-

tana, lalu lepas ke alam bebas untuk menikmati kehi-

dupan tanpa tatakrama dan basa-basi.

Aria Lumayung pun sering berpikir, “Rasanya aku 

terlalu mudah mendapatkan segalanya di dalam istana 

ini. Padahal kemudahan-kemudahan seperti ini justru 

akan membuatku bodoh.”

Merasa bosan pada kehidupan yang serba dilayani 

dan serba protokoler, Aria Lumayung lalu sering me-

ninggalkan istana secara diam-diam. Tanpa diketahui 

oleh siapa pun, Aria Lumayung sering berjalan cukup 

jauh, sampai ke tepi Cigelung. Di tepi sungai itu ia se-

ring melamun sendiri. Membayangkan dirinya bukan 

sebagai anak raja, melainkan anak rakyat jelata yang 

harus belajar bekerja sejak kecil sekali. Dan ‘tamasya 

rahasia’ itu lalu menjadi kebiasaannya.

Secara diam-diam pula ia mulai mengenal seorang 

pengail ikan bernama Japra, yang sering ditemuinya 

sedang memancing di tepi sungai Cigelung. Setiap kali 

meninggalkan istananya secara diam-diam, Aria Lu-

mayung selalu menanggalkan pakaian kebangsawa-

nannya, lalu mengenakan pakaian yang lazim dipakai 

oleh anak rakyat biasa. Begitu pula waktu pertama ka-

linya ia berkenalan dengan Japra, ia tidak mengenakan pakaian kebangsawanannya itu, sehingga Japra 

tidak mengira bahwa anak tanggung yang sering men-

gajaknya bercakap-cakap itu putra seorang raja.

Pada saat itu usia Aria Lumayung kira-kira duabe-

las tahun, sementara Japra sudah berusia delapanbe-

las tahun. Maka wajarlah kalau Aria Lumayung me-

manggil Japra dengan sebutan ‘Kang’, sementara Ja-

pra memanggil Aria Lumayung dengan sebutan ‘Jang’ 

saja. Dan toh Aria Lumayung tidak merasa tersinggung 

dipanggil dengan sebutan ‘pasaran’ seperti itu, bahkan 

sebaliknya Aria Lumayung merasa senang dengan 

panggilan akrab itu. Senang pula dengan perlakuan 

Japra yang tak pernah memakai tatakrama dan basa-

basi.

Persahabatan Aria Lumayung dengan Japra, mem-

buat putra raja itu jadi ikut-ikutan gemar memancing 

ikan di tepi Cigelung. Dan memang Aria Lumayung se-

ringkali memperoleh kenikmatan khusus dari kegema-

ran barunya itu. Bahwa ketika pancingnya tersambut, 

ia bisa merasakan getaran nikmat itu, getaran yang se-

ringkali membuatnya tertawa riang... yang justru sulit 

didapatkan di dalam istana yang hanya menciptakan 

suasana sungguh-sungguh itu.

Seperti yang diungkapkannya di depan Japra pada 

satu hari: “Rasanya kalau pancing kita sudah terkait 

ke mulut ikan, hati kita senang sekali, ya Kang?”

“Tentu saja,” sahut Japra saat itu. “Apalagi kalau 

ikannya besar, wah... nikmatnya bukan main.”

Berlainan dengan Japra, yang selalu membawa pu-

lang hasil pancingannya, Aria Lumayung selalu mem-

bakar ikan-ikan yang terpancing olehnya, lalu mela-

hapnya di tepi Cigelung itu juga. Dan Aria Lumayung 

merasa nikmat... nikmat sekali melahap ikan hasil pan-

cingannya sendiri.



Japra memang pernah menanyakan hal itu: “Kena-

pa ikannya tak pernah dibawa pulang, Jang? Kan lu-

mayan buat teman nasi.”

“Ah,” sahut Aria Lumayung, “ibuku nggak senang 

makan ikan, Kang. Enakan juga dimakan di sini.”

Japra percaya saja bahwa ibunya ‘si Ujang’ tidak 

senang makan ikan, sehingga ikan hasil pancingan ‘si 

Ujang’ tidak pernah dibawa pulang. Padahal, tentu saja 

Aria Lumayung tidak perlu membawa pulang ikan-ikan 

hasil pancingannya, karena di dalam istana terlalu ba-

nyak makanan mewah yang jauh lebih enak daripada 

ikan bakar. Selain daripada itu, Aria Lumayung pun 

pasti akan ditegur oleh ibunya, jika ia pulang ke istana 

sambil menjinjing-jinjing ikan.

Pernah Japra menanyakan di mana rumah Aria 

Lumayung dan siapa orang tuanya. Aria Lumayung 

menjawab bahwa ia tinggal di Tegalinten dan orang tu-

anya seorang pedagang. Jawaban itu pun dipercayai 

oleh Japra.

Demikianlah, hari demi hari berlalu dengan pesat-

nya. Tanpa terasa, Aria Lumayung mulai remaja.

Setelah remaja, Aria Lumayung semakin leluasa me-

ninggalkan istana. Pembatasan-pembatasan terhadap 

putra raja yang telah menanjak dewasa, tidak terlalu 

banyak lagi. Bahkan Prabu Suriadikusumah setengah 

menganjurkan putra-putranya yang telah remaja, un-

tuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di luar 

istana.

Persahabatan Aria Lumayung dengan Japra berlan-

jut terus. Mereka tetap sering berjumpa di tepi Cige-

lung. Mereka tetap sering memancing ikan di situ, te-

tap sering bercakap-cakap dan berkelakar.

Sampailah pada satu hari...

Aria Lumayung datang ke tepi Cigelung, ketika Japra sudah duluan tiba di sana.

“Wah, aku kesiangan. Sudah banyak dapat ikannya, 

Kang?” tanya Aria Lumayung sambil melirik ke arah 

korang Japra (korang = tempat ikan yang terbuat dari 

anyaman bambu).

“Ah, nasibku sedang sial, Jang. Sejak masih gelap 

aku sudah duduk di sini. Yang kudapat bukannya 

ikan, malah yang begituan,” Japra menyentuhkan 

ujung kakinya ke sebuah benda berlumuran lumpur.

“Apa ini?” Aria Lumayung mendekati benda yang di-

tunjukkan oleh Japra tadi.

“Kitab,” sahut Japra. “Tapi nggak tahu kitab apa, 

soalnya aku buta aksara. Hanya barang sialan itu yang 

menyangkut di kailku hari ini.”

Aria Lumayung memungut benda itu. Membersih-

kan lumpur yang melumurinya, dengan jalan mence-

lupkannya berkali-kali ke dalam air Cigelung. Benar-

benar sebuah kitab yang lembaran demi lembarannya 

terbuat dari kulit.

Aria Lumayung sangat tertarik oleh kitab kuno itu. 

Walaupun sudah sulit dibacanya, namun Aria Lu-

mayung masih bisa membaca tulisan pada sampul ki-

tab kuno itu. Di situ tertulis judul ‘Dasadaya’ (Sepuluh 

Kekuatan).

Aria Lumayung langsung tertarik oleh kitab kuno 

itu. Maka katanya, “Kalau Kang Japra tidak membu-

tuhkannya, kitab ini buat aku saja, ya Kang?”

Japra mengangguk acuh. “Ambillah. Aku sih nggak 

butuh kitab-kitaban. Bacanya juga nggak bisa.”

***

Seandainya Japra pandai membaca, mungkin tidak 

akan semudah itu ia memberikan kitab Dasadaya ter-

sebut. Karena kitab itu jauh lebih berharga daripada



ikan-ikan yang Japra cari tiap hari.

Pada mulanya Aria Lumayung sendiri tidak menya-

dari betapa berharganya kitab itu. Maka setibanya di 

dalam purinya, kitab itu diletakkan begitu saja di ba-

wah peraduannya

Beberapa minggu kemudian, barulah Aria Lu-

mayung mulai membaca isi kitab itu.

Tulisan di dalam kitab itu merupakan hasil pahatan 

di atas lembaran kulit yang sudah disamak. Sehingga 

walaupun kelihatannya kitab itu sudah cukup tua, 

Aria Lumayung masih bisa membacanya.

Pada halaman pertama tertulis kalimat:

Barangsiapa menemukan kitab ini,

berarti jodohnya sudah pasti,

untuk memiliki isi demi isi,

yang terdapat di sini.

Dan takkan diberi izin,

memperlihatkannya pada orang lain.

Juga menurunkan kembali ilmu,

yang terdapat dalam kitab ini,

merupakan pantangan utama,

terkecuali jika ia telah lulus

dalam ujian akhir di Nusa Aheng.

Jika ilmu Dasadaya sudah termiliki,

kitab ini harus dibakar

sampai menjadi abu,

dan abunya harus terminum habis,

supaya mukjizat Dasadaya melekat

dan menyatu dengan dirinya.

Selain dilarang menurunkan kembali

ilmu Dasadaya pada orang lain,

barangsiapa hendak menguasai isi kitab ini,

harus mematuhi tiga larangan utama:


Satu, kalau ia lelaki,

ia dilarang tertarik pada wanita,

kalau ia wanita,

ia dilarang tertarik pada lelaki.

Dua, ia dilarang tertarik pada tahta.

Tiga, ia dilarang tertarik pada harta.

Pelanggaran terhadap larangan-larangan itu,

adalah bibit kematian bagi dirinya,

karena semua ilmu yang dimilikinya,

akan menjadi api yang membakar jiwa,

akan menjadi topan yang merobohkan batin,

akan menjadi racun yang membinasakan.

Jika ia ragu dan tak mampu mematuhi

setiap peraturan pencipta ilmu Dasadaya,

ia harus membuang kitab ini ke Cigelung

sebelum bencana datang padanya.

Pertimbangkan dulu semasak mungkin

sebelum mengambil ilmu Dasadaya,

karena tiada jalan lain baginya.

Untuk menguasai ilmu Dasadaya

harus mematuhi tata-tertibnya.

***

Pada mulanya Aria Lumayung takut sendiri setelah 

membaca tulisan pada halaman pertama itu, sehingga 

pikirnya, “Lebih baik kubuang saja kitab ini ke Cige-

lung kembali. Ancaman-ancamannya mengerikan se-

kali!”

Tapi darah remajanya... ya, darah remaja yang 

mengalir di tubuh Aria Lumayung, membuat putra raja 

itu penasaran. Terlebih lagi setelah membaca tulisan 

pada baris paling bawah di halaman pertama, yang 

berbunyi: Barang yang baik, mahal harganya. Ilmu


yang baik, berat syaratnya.

Ya, pikir Aria Lumayung selanjutnya, syarat-syarat 

yang berat begitu, tentu diimbali oleh sesuatu yang be-

sar. Sesuatu yang sulit didapatkan. Tapi... apa sebe-

narnya yang bisa kupetik dari kitab ini?

Berhari-hari Aria Lumayung memikirkannya. Se-

mentara kitab itu disimpannya di dalam sebuah kotak, 

tanpa keberanian untuk membacanya.

Sampailah pada suatu malam, Aria Lumayung sea-

kan-akan mendengar bisikan gaib di telinganya: Baca-

lah kitab itu... bacalah! Kalau kitab itu terjatuh ke ta-

ngan orang lain, niscaya malapetaka akan melanda ne-

geri ini!

Seperti tertarik oleh daya gaib yang sangat kuat, 

Aria Lumayung membulatkan tekadnya pada malam 

itu juga: “Aku harus membacanya! Aku harus mengu-

asainya! Dan aku sudah siap untuk menerima syarat-

syaratnya!”

***

“Jadi, kitab itukah yang membuat Kakang Lu-

mayung memiliki ilmu demikian tingginya?” tanya 

Rangga ketika Aria Lumayung menghentikan penutu-

rannya.

“Ya,” sahut Aria Lumayung. “Namun menyesal seka-

li, aku tidak dapat menceritakannya lebih lanjut, kare-

na dilarang oleh penulis kitab itu. Bahkan sebenarnya 

baru sekaranglah aku menceritakan perihal kitab itu 

pada orang lain.”

“Gusti Prabu tidak mengetahuinya?”

“Tidak. Di istana, tidak ada seorang pun yang kube-

ritahu perihal kitab itu. Ibuku sendiri pun tidak per-

nah kuberitahu. Yah... sampai ibuku menutup mata, 

aku tetap merahasiakan apa sebabnya aku tidak ber


sedia kawin dengan gadis mana pun.”

“Ibu Kakang Lumayung sudah meninggal?”

“Ya, beliau meninggal setahun yang lalu. Dan sebe-

lum meninggal, beliau berkali-kali memintaku untuk 

segera kawin. Dan aku terpaksa menghibur keresahan 

beliau dengan kata-kata palsu... dengan kata-kata, 

bahwa aku belum menemukan gadis yang sesuai de-

ngan keinginanku. Padahal sebenarnya aku telah 

mengikat perjanjian dengan kitab pusaka itu... kitab 

yang begitu sulit dipelajari dan baru selesai kupahami, 

setelah sepuluh tahun lamanya.”

“Sepuluh tahun?!” Rangga terperangah. “Jadi Ka-

kang menekuni kitab itu selama sepuluh tahun?”

“Ya,” Aria Lumayung mengangguk. “Baru tiga bulan 

yang lalu aku berhasil menyelesaikan pelajaran yang 

terdapat di dalamnya.”

“Oh ya... tadi Kakang mengatakan bahwa di dalam 

kitab pusaka itu terdapat kalimat yang menyatakan 

bahwa ujian akhir Kakang harus dilaksanakan di Nusa 

Aheng! Jadi... apakah penulis kitab itu Bagawan Su-

wandarama?”

“Itulah yang aku tidak tahu,” sahut Aria Lumayung. 

“Di dalam kitab itu sama sekali tidak tercantum nama 

Bagawan Suwandarama. Jadi aku sendiri belum tahu 

apa hubungan sang Bagawan dengan kitab pusaka itu. 

Yang jelas, sekarang kita punya satu tujuan. Itulah se-

babnya aku membawamu dalam pelayaran ini.”

“Tapi... apakah Kakang tidak melanggar larangan 

dengan membawaku dalam pelayaran ini?”

“Kurasa tidak. Karena menolong sesama manusia, 

merupakan hal yang paling dianjurkan dalam kitab 

itu. Dan... ah... bersiap-siaplah... kita akan mulai me-

masuki perairan yang penuh bahaya...!”

Aria Lumayung menghentikan percakapan itu, karena dilihatnya ombak setinggi pohon kelapa bergulung-

gulung di sebelah utara sana. Dalam tempo singkat sa-

ja perahu layar itu mulai terjebak ke dalam kepungan 

ombak yang makin lama makin mengganas.

Langit pun mendadak mendung. Guruh mulai ter-

dengar di kejauhan. Dan udara mulai buram.

Hujan turun bersama badai. Dan perahu itu tak 

ubahnya setangkai daun kering, terombang-ambing ke 

sana ke mari.

Aria Lumayung sibuk sendiri menggulung layar. 

Sementara Rangga hanya memejamkan matanya. Pa-

srah.

Aria Lumayung berusaha sekuat tenaga untuk me-

nyelamatkan perahu itu dari amukan ombak dan ba-

dai. Namun keadaan di laut tidaklah sama dengan di 

darat.

Dan pada suatu saat, ombak setinggi bukit menggu-

lung perahu layar itu... sampai lenyap dari permukaan 

air!

***

Ketika perahu layar itu ditelan ombak yang begitu 

menggunung, Rangga mengira dirinya sudah akan ma-

ti di dasar samudra. Tapi ternyata perahu layar itu 

masih sempat muncul lagi ke permukaan laut, kemu-

dian datang hantaman ombak yang begitu kencang 

dan... braaaaaaasssssshhhhhh...! Badan perahu itu 

pecah berantakan!

Rangga masih sempat mendengar pekikan Aria Lu-

mayung: “Ranggaaa..!”

Rangga tidak bisa menyahut, karena tubuhnya 

tenggelam lagi ke dalam laut. Setelah itu, Rangga tidak 

ingat apa-apa lagi.

Tidak ingat apa-apa lagi.



Dan ketika sadar kembali, Rangga mendapatkan di-

rinya sedang terapung-apung di tengah samudra, de-

ngan tubuh masih terikat di sebilah papan... papan 

yang berasal dari buritan perahu!

Rangga berusaha menoleh ke kanan kirinya, sambil 

berteriak sekeras-kerasnya, “Kakang Lumayuuuung...! 

Kakang Lumayuuuung...!”

Tidak ada sahutan. Hanya desir dan gemuruh om-

bak yang terdengar.

Akhirnya Rangga terdiam, dalam kebingungan yang 

hampir melewati batasnya. Tanpa menyadari bahwa ia 

baru saja tersadar setelah tiga hari tiga malam dalam 

keadaan pingsan dan terkatung-katung di tengah lau-

tan!

Dan kini, ketika Rangga sedang mencari-cari Aria 

Lumayung dengan sudut matanya, tiba-tiba datang la-

gi ombak menggunung... menelan tubuh Rangga ber-

sama papannya ke dalam laut... jauh ke dalam laut... 

dan Rangga tidak ingat apa-apa lagi.

Rangga tidak tahu bahwa tubuhnya seperti disedot 

ke dasar laut... tidak pula tahu bahwa tubuhnya mulai 

tiba di dasar laut, kemudian memasuki mulut lubang 

yang menganga lebar... dan membenam terus ke dalam 

lubang itu!

Rangga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada di-

rinya. Padahal sesuatu yang dahsyat sedang dialami di 

bawah sadarnya. Bahwa tubuhnya seperti dihisap oleh 

suatu kekuatan dari pusar bumi... yang membuatnya 

meluncur pesat sekali di dalam lubang di dasar sa-

mudra... lebih cepat dari anak panah yang dilepaskan 

dari busurnya!

Tubuh Rangga meluncur... meluncur terus dalam 

kecepatan yang sangat tinggi... meluncur terus di da-

lam lubang yang seakan tak ada ujungnya itu.


Pasti Rangga terkejut sekali jika ia tahu bahwa ja-

rak yang telah ditempuhnya di dalam lubang itu, jauh 

lebih panjang daripada jarak yang telah ditempuhnya 

dalam pelayaran bersama Aria Lumayung beberapa 

hari yang lalu!

Dan Rangga meluncur di dalam lubang itu selama 

dua hari dua malam, dalam keadaan tak sadar.

Lalu terjadilah sesuatu yang juga tidak disadari oleh 

Rangga sendiri. Bahwa kali ini tubuhnya seperti dido-

rong ke atas, setelah melewati belokan lubang yang 

menekuk kurang lebih sembilan puluh derajat.

Dan... tiba-tiba saja tubuh Rangga ‘dimuntahkan’ 

ke daratan pantai yang diselimuti kabut... daerah pan-

tai yang sangat sunyi dan dingin.

***

KEHADIRAN Manusagara di istana Tegalinten, me-

rupakan angin segar bagi Senapati Prabayani. Ka-

rena hanya Senapati Prabayani sendiri yang sadar, be-

tapa tangguhnya lawan-lawan yang harus dihadapinya 

kelak. Hal itu tergambar dalam pikiran sang Senapati. 

“Orang-orang kuat mendadak bermunculan di Tegalin-

ten. Pemuda bernama Rangga itu, jelas tidak boleh di-

bawa main-main, sementara aku belum tahu juga sia-

pa gurunya. Dan sekarang muncul pula perempuan 

berpakaian laki-laki itu, yang katanya murid Kidang-

kancana. Jelas aku akan menghadapi lawan-lawan be-

rat, karena dengan sendirinya, guru Rangga dan guru 

perempuan itu akan ikut campur dan menjadi lawan-

lawanku yang berat... terlalu berat!”

“Maka,” pikir Senapati Prabayani lagi, “Kehadiran 

Kakek Manusagara, merupakan hal yang menggembirakan bagiku. Karena tampaknya manusia setengah si-

luman itu mampu menghadapi Kidangkancana sekali-

pun. Aku harus membujuknya dengan segala daya, 

supaya ia bersedia tetap tinggal di istana ini, karena 

aku sangat membutuhkannya. Menurut cerita yang 

pernah kudengar dari ayahku, tidaklah sulit untuk 

menjadi sahabat Kakek Manusagara. Manusia yang bi-

sa mengubah-ubah tubuhnya seperti karet itu, hanya 

menggemari dua hal... panggang hati harimau... dan 

gadis-gadis cantik! Kalau kedua hal itu bisa kusuguh-

kan secara berkala, pasti dia akan kerasan tinggal di 

istana ini!”

Ketika hal itu disampaikan kepada Aria Pamungkas, 

pada mulanya sang Putra Mahkota menolaknya. “Ba-

gaimana mungkin istanaku mau dijadikan sarang 

makhluk yang punya kegemaran mengerikan begitu?! 

Tidak. Kalau membutuhkan dukungan dari orang-

orang kuat, carilah orang-orang yang waras saja. Jan-

gan meminta bantuan manusia sinting dan menjijik-

kan begitu.”

Tapi Senapati Prabayani berkata, “Gusti Aria belum 

tahu siapa manusia setengah siluman itu, sehingga 

begitu meremehkan usul hamba.”

“Manusia setengah siluman?!” Aria Pamungkas ter-

perangah.

“Benar, Gusti Aria,” Senapati Prabayani mengang-

guk dengan senyum. “Manusagara dilahirkan dari wa-

nita siluman yang menguasai laut barat, sementara 

ayahnya seorang bajak laut yang paling ditakuti pada 

zamannya.”

Aria Pamungkas bahkan tambah ngeri mendengar 

keterangan Senapati Prabayani itu.

Tapi Senapati Prabayani membentangkan rencana-

nya lebih lanjut.


“Manusagara tidak usah ditampilkan di depan 

umum. Hamba bisa menyekap dia dalam puri khusus, 

asalkan keinginan-keinginannya terpenuhi. Dengan 

demikian, kita mempunyai pendukung yang sangat 

tangguh, yang mampu menghadapi pendekar-pendekar 

kelas satu di negeri ini. Dia memang hebat sekali, Gus-

ti Aria. Apa salahnya kita memakai dia sebagai tokoh 

di balik layar? Bukankah saat ini Gusti Aria sedang 

membutuhkan bantuan sebanyak-banyaknya untuk 

mewujudkan rencana besar itu?”

Banyak lagi yang dikatakan oleh Senapati Prabayani 

untuk membujuk Aria Pamungkas, supaya mau mene-

rima kehadiran Manusagara di dalam istana. Dan ak-

hirnya Aria Pamungkas berkata, “Baiklah, urusan itu 

kuserahkan padamu. Tapi kuminta kehadiran dia ti-

dak menimbulkan kegemparan di negeri ini.”

“Beres, Gusti Aria. Hamba akan menempatkannya 

di dalam ruangan rahasia yang berdampingan dengan 

puri hamba itu,” sahut Senapati Prabayani senang.

“Satu hal yang harus kau ingat,” kata Aria Pamung-

kas, “jangan kau serahkan gadis-gadis istana kepada 

manusia setengah siluman itu.”

“O, tidak... tidak! Gusti Aria tak usah cemas tentang 

hal itu. Hamba tahu pasti gadis mana saja yang boleh 

dijadikan mangsa Manusagara. Bahkan kalau perlu, 

hamba akan mengirimkan orang-orang khusus ke Tan-

junganom, untuk menculiki gadis-gadis di sana dan...”

“Haaa!” Sergah Aria Pamungkas, “Itu rencana ba-

gus! Aku setuju sepenuhnya! Tanjunganom kita bikin 

resah dulu dengan bermacam-macam cara, barulah 

kemudian kita laksanakan rencana besar itu...!”

Senang sekali Senapati Prabayani mendengar perse-

tujuan Aria Pamungkas itu. Karena sesungguhnya ia 

sangat berkepentingan dengan kehadiran Manusagara


di istana Tegalinten.

Ya, sebenarnya Senapati Prabayani punya tujuan 

khusus terhadap Manusagara, sehingga ia mati-matian 

mengusulkan agar manusia setengah siluman itu di-

tempatkan di istana Tegalinten.

Terlepas dari tujuan-tujuan ekspansional Aria Pa-

mungkas, sebenarnya Senapati Prabayani ingin memi-

liki ilmu Manusagara yang dijuluki ‘Bangkong Laut Ku-

lon’ itu.

Setelah mendapatkan persetujuan dari Aria Pa-

mungkas, bergegas Senapati Prabayani menjumpai 

Manusagara.

“Kakek akan mendapat perlakuan istimewa di sini,” 

kata Senapati Prabayani. “Setiap hari Kakek akan 

mendapat hidangan panggang hati harimau yang di-

masak oleh jurumasak-jurumasak istana. Selain dari-

pada itu, setiap bulan purnama, tiga orang gadis can-

tik akan dipersembahkan kepada Kakek, untuk dimili-

ki sepuasnya.”

Manusia cebol itu terbelalak, lalu berjingkrak-jing-

krak seperti orang gila. “Heheheheheeeeee... rupanya 

aku sedang bernasib baik! Heheheheheeee...!”

“Tapi...” tiba-tiba saja Manusagara menghentikan 

jingkrakannya, “tadi kau bilang bahwa aku akan disu-

guhi tiga gadis cantik di setiap bulan purnama.”

“Betul, Kek,” sahut Senapati Prabayani.

“Dan itu berarti bahwa aku boleh tinggal lebih dari 

sebulan di dalam istana yang menyenangkan ini?!”

“Iya, Kakek boleh tinggal selama-lamanya di istana 

ini. Syaratnya hanya satu... aku harus diangkat seba-

gai muridmu.”

Manusia cebol itu terperanjat. “Apa?! Engkau ingin 

diangkat sebagai muridku?!”

“Betul,” sahut Senapati Prabayani. “Kakek tidak


berkeberatan, bukan?!”

Manusagara terdiam, tidak mau menjawab.

Datanglah dua orang pelayan istana, membawa hi-

dangan khusus yang dipersiapkan secara kilat: pang-

gang hati harimau!

“Adududuuuuh... ,” Manusagara mengendus-endus 

seperti kucing mencium bau ikan, “ini tidak salah la-

gi... ini bau makanan kegemaranku! Oh... Oh... oh...”

Senapati Prabayani tersenyum dan berkata, “Me-

mang benar. Hidangan seperti itu akan selalu kami hi-

dangkan untuk Kakek, asalkan Kakek mengerti apa 

yang kuinginkan.”

Tanpa basa-basi lagi, Manusagara menyerbu baki 

berisi panggang hati harimau itu. “Heheheheeee... aku 

tidak tahan lagi... tidak tahan lagi!”

Manusagara melahap panggang hati harimau itu, 

dengan bercipak-cipak seperti anjing. Kedua pelayan 

itu bergidik dibuatnya, lalu cepat-cepat berlalu.

Senapati Prabayani tidak demikian. Ia bahkan terse-

nyum-senyum menyaksikan lahapnya Manusagara 

menyantap panggang hati harimau itu.

Hal seperti itu tidak aneh bagi Senapati Prabayani, 

yang memang berasal dari golongan hitam. Bahkan 

menyantap hati manusia pun, merupakan hal yang 

‘biasa-biasa saja’ baginya.

“Cepak, cepak, nyem-nyem-nyemmm... baru sekali 

ini aku merasakan panggang hati harimau yang begini 

lezatnya... nyemmm.. nyemmm.. epak. , epak... hehe-

heee... enak sekali... sedap sekali,” desis Manusagara 

yang tampak begitu asyik melahap panggang hati ha-

rimau itu.

“Ya,” sahut Senapati Prabayani. “Engkau sudah mu-

lai makan hidangan istana. Dan itu berarti bahwa eng-

kau sudah menyetujui permintaanku, bukan?!”


“Ah... jangan ganggu dulu kenikmatanku. Soal yang 

begituan nanti saja kita bicarakan lagi,” gumam Manu-

sagara dengan mulut penuh dan berminyak-minyak.

“Baiklah. Makan dulu sekenyangmu, barulah nanti 

kita bicarakan urusan kita,” kata Senapati Prabayani 

sambil tersenyum-senyum.

“Hmmm... enak sekali... enak sekali...”

“Tentu saja. Yang membuat panggang hati harimau 

itu bukan orang biasa, melainkan jurumasak-juruma-

sak pilihan istana. Tentu saja hasil kerja mereka ter-

jamin enaknya.”

“Yayaya... kalau dipikir enak juga jadi raja, ya? Tiap 

hari bisa makan apa saja yang digemarinya. Tapi, 

wah... pusing juga jadi raja. Tiap hari harus memikir-

kan rakyatnya... tiap hari harus memikirkan ini dan 

itu. Tidak. Tidak. Aku tak mau jadi raja.”

“Memang tidak enak jadi raja,” kata Senapati Pra-

bayani. “Yang enak itu tinggal di istana, mendapat su-

guhan lezat tiap hari, mendapat suguhan gadis-gadis 

cantik tiap bulan purnama...”

“Hahahahaa... kau ngomong soal itu lagi!” sergah 

Manusagara yang telah menghabiskan hidangan isti-

mewanya. “Kau seperti mau memerasku! Tapi baik-

lah... begini saja... aku tidak mau mengikatkan diriku 

dengan segala macam murid-muridan. Aku akan me-

nurunkan beberapa ilmu Laut Kulon padamu. Tapi 

aku tidak mau jadi gurumu, dan kau pun tidak usah 

menjadi muridku.”

Gembira sekali hati Senapati Prabayani mendengar 

ucapan Manusagara itu. Pikirnya, “Memang tidak perlu 

mengangkatnya sebagai guruku. Yang terpenting, aku 

bisa menguras ilmunya!”

“Bagaimana dengan murid Kidangkancana itu?” ta-

nya Manusagara tanpa menyeka bibirnya yang berlepotan lemak harimau.

“Dia sudah disekap dalam ruang tahanan berlapis 

besi. Dia tidak akan mampu berontak...”

“Bukan itu maksudku,” potong Manusagara. “Apa-

kah kau sudah menyebarkan berita tentang tertang-

kapnya murid Kidangkancana?”

“Sudah,” sahut Senapati Prabayani. “Kurasa dua ti-

ga hari lagi berita itu sudah tersebar ke seluruh wi-

layah Kerajaan Tegalinten.”

“Bagus,” Manusagara mengangguk-angguk. “Kalau 

berita itu sudah terdengar oleh Kidangkancana... hm... 

Kidangkancana akan muncul di Tegalinten, untuk meng-

adakan perhitungan denganku!”

“Tapi... apa tidak ada jalan lain?” tanya Senapati 

Prabayani.

“Jalan lain bagaimana maksudmu?” Manusagara 

balik bertanya.

“Dengan ilmumu yang tinggi, murid Kidangkancana 

itu bisa dijadikan kawan kita, bukan?”

Manusagara terbelalak dan berseru, “Otakmu ce-

merlang sekali! Hahahahaaaa... aku akan melakukan 

sesuatu yang sangat menyakitkan hati Kidangkancana! 

Aku akan membuat muridnya menjadi musuhnya! Ayo 

antarkan aku ke tempat tahanan perempuan itu!”

***

Nyi Tiwi disekap di dalam ruangan kecil berdinding 

besi. Kedua kaki dan kedua tangannya terbelenggu 

rantai besi yang sangat kuat.

Tampaknya Senapati Prabayani tidak mau main-

main dengan tawanannya yang satu ini. Nyi Tiwi di-

anggap sebagai lawan yang sangat berbahaya, karena 

Senapati Prabayani sendiri pernah merasakan betapa 

hebatnya ilmu murid Kidangkancana itu.


Ketika Nyi Tiwi siuman dan menyadari dirinya ber-

ada di dalam ruang tahanan berdinding besi, ia beru-

saha untuk memberontak... berusaha memutuskan 

rantai pembelenggu itu dengan tenaga gaibnya.

Tapi Nyi Tiwi tidak kuat melakukannya. Salah satu 

urat penting di tubuhnya, telah ‘diamankan’ oleh Ma-

nusagara, sehingga Nyi Tiwi tidak bisa mengerahkan 

tenaga gaibnya secara sempurna.

Lalu, Nyi Tiwi hanya bisa berteriak-teriak dalam ge-

ramnya. “Lepaskan aku! Lepaskaaaaaaan! Perempuan 

iblis! Lepaskan aku!”

Tapi akhirnya Nyi Tiwi bosan sendiri, karena teria-

kan-teriakannya tidak ada yang mendengarkan. Bah-

kan lalu pikirnya, “Untuk apa aku berteriak-teriak se-

perti anak kecil? Bukankah lebih baik diam sambil 

memikirkan cara untuk membebaskan diri?!”

Nyi Tiwi menghentikan teriakannya, lalu mulai ber-

pikir, mencari akal untuk membebaskan diri.

Nyi Tiwi berpikir dan berpikir terus.

Dan ketika seorang penjaga lewat ke depan pintu 

ruang penyekapan itu, tiba-tiba saja Nyi Tiwi menemu-

kan akal baru. Nyi Tiwi tersenyum sendiri. Lalu me-

manggil penjaga itu dengan suara dimerdu-merdukan, 

“Kang... tolonglah buka belenggu ini, sebentar saja... 

aku tak tahan kepingin kencing, nih.”

“Kencing saja di situ,” sahut si Penjaga. “Kenapa ha-

rus membuka belenggu segala macam?”

“Ah, jangan samakan aku dengan tahanan laki-laki, 

Kang. Aku kan wanita... bagaimana mungkin bisa ken-

cing di mana saja seperti anjing.”

Penjaga itu malah tertawa. “Hahahahaaa...! Kau pi-

kir aku ini anak kecil yang mudah saja ditipu mentah-

mentah?! Hihihihi... mau kayak anjing kek, kayak babi 

kek, terserah. Pokoknya aku tidak mau membuka belenggumu. Kalau mau kencing, kencing sajalah di si-

tu!”

“Penjaga sialan!” umpat Nyi Tiwi. “Kusumpahin deh 

kamu, kalau bini kamu mau melahirkan, biar susah 

nongolnya itu bayi!”

Kebetulan penjaga itu punya istri yang sedang ha-

mil pertama kalinya. Maka dengan sangat cemas ia 

melongokkan kepalanya ke pintu ruang tahanan Nyi 

Tiwi, sambil bertanya tergagap, “A... apa? Apa ka... ka-

tamu tadi?”

Sahut Nyi Tiwi, “Kamu bikin orang susah kencing! 

Mangkanya kusumpahin kamu... kalau bini kamu mau 

melahirkan, kudoakan biar susah keluarnya itu bayi 

yang ada di dalam perut kamu! Ngerti nggak?!”

“Ah... jangan suka mendoa-doakan yang buruk be-

gitu sama orang lain, Nyi,” penjaga itu gemetaran dan 

membuka pintu besi dengan gugup.

Dengan tangan gemetaran pula, diambilnya anak 

kunci yang tergantung di ikat pinggangnya, untuk 

membuka kunci belenggu Nyi Tiwi.

Tapi... dasar penjaga itu malang nasibnya. Baru sa-

ja anak kunci itu hendak dimasukkan ke dalam gem-

boknya, tiba-tiba... ya... tiba-tiba saja ia memekik. 

“Aaaa...!”

Penjaga itu terkulai, ambruk, berkelojot dan mele-

paskan nyawanya, dengan punggung hangus tersengat 

racun!

Dan Senapati Prabayani berdiri di ambang pintu, 

sambil berdesis dingin, “Itulah hukuman bagi prajurit 

yang melanggar tata-tertib!”

Nyi Tiwi yang maklum bahwa penjaga itu dibunuh 

oleh Senapati Prabayani, lalu mengutuk, “Perempuan 

iblis! Nyawa manusia seakan-akan hanya barang ma-

inan bagimu!”


Senapati Prabayani menyahut dengan senyum di-

ngin, “Tidak ada yang perlu kau herankan, Nyi. Seben-

tar lagi kau juga akan sama kerasnya dengan aku. Hi-

hihi...! Kita memang akan menjadi sahabat kental.”

“Cuhhh!” Nyi Tiwi meludah ke lantai. “Siapa sudi 

menjadi sahabat betina iblis seperti kamu?”

Pandangan Nyi Tiwi berapi-api. Seakan-akan ingin 

membakar Senapati Prabayani.

Namun tiba-tiba saja sebuah tangan yang panjang... 

demikian panjangnya... mengulur dengan cepatnya da-

ri pintu... dan... plok... telapak tangan itu membekap 

muka Nyi Tiwi, sehingga murid Kidangkancana itu ge-

lagapan... tapi lalu terkulai lemas dan tidak sadarkan 

diri!

Tangan yang bisa memanjang seperti karet itu lalu 

kembali memendek. Dan muncullah seorang lelaki ce-

bol di ambang pintu: Manusagara.

“Sudah?!” desis Senapati Prabayani setengah berbi-

sik.

“Belum,” sahut Manusagara, “Aku baru membuat-

nya pingsan saja.”

Manusagara melangkah maju. Memeriksa wajah Nyi 

Tiwi sesaat. Lalu gumamnya, “Cantik sekali murid Ki-

dangkancana ini.”

“Hihihiii... kau naksir?” cetus Senapati Prabayani 

geli.

Manusagara menyeringai dan menyahut, “Kita lihat-

lihat dulu keadaannya nanti.”

Kemudian manusia cebol yang dapat mengubah-

ubah tubuhnya itu duduk bersila di depan Nyi Tiwi 

yang masih pingsan.

Senapati Prabayani mundur beberapa langkah, ka-

rena ia tahu bahwa Manusagara hendak mengerahkan 

kesaktiannya.


Memang benar, Manusagara menyimpan kedua ta-

ngannya di dada, sambil berkomat-kamit membacakan 

mantra.

Dan... tiba-tiba saja sekujur tubuh Manusagara me-

ngepulkan uap hijau... menyerubung ke atas kepala-

nya ... berkumpul di situ menjadi sebuah bulatan uap 

hijau... dan bulatan uap hijau itu lalu melayang perla-

han-lahan ke arah Nyi Tiwi!

Bola uap hijau itu ‘hinggap’ di atas kepala Nyi Tiwi... 

lalu menyelinap ke balik rambutnya yang hitam lebat... 

dan meresap ke dalam kulit kepalanya!

Senapati Prabayani terpaku menyaksikan pertunju-

kan ilmu manusia cebol itu. Dan semakin terpaku ke-

tika disaksikannya wajah Nyi Tiwi mulai membiru... 

menghitam... lalu mengepulkan uap putih!

Tubuh Nyi Tiwi menggigil hebat. Wajahnya membiru 

kembali. Lalu menjadi coklat... lalu menjadi merah pa-

dam... memudar sedikit demi sedikit... dan akhirnya 

kembali seperti biasa, kembali berwarna kuning lang-

sat.

Manusagara menghentikan pembacaan mantranya, 

kemudian melirik ke arah Senapati Prabayani sambil 

tersenyum.

“Sudah?” tanya Senapati Prabayani perlahan.

Manusagara mengangguk dengan senyum aneh. 

“Sebentar lagi dia akan siuman,” desisnya. “Kemudian 

dia akan menjadi pengikut kita yang sangat setia.”

“Bagaimana dengan ilmunya yang didapat dari Ki-

dangkancana?” tanya Senapati Prabayani.

“Dia tidak akan kehilangan ilmunya. Dia hanya 

akan kehilangan pendiriannya, lalu semata-mata men-

gikuti pendirian kita,” sahut Manusagara sambil mem-

perhatikan wajah Nyi Tiwi.

“Jadi, kita bisa memanfaatkan kehebatannya seba


gai murid Kidangkancana?”

“Ya. Kita bisa meminta apa saja darinya... termasuk 

nyawanya!”

Tiba-tiba Nyi Tiwi membuka matanya perlahan. Me-

lirik ke arah Senapati Prabayani, tanpa sorot dendam 

lagi, lalu melirik ke arah Manusagara... dengan se-

nyum di bibir!

Sambil tersenyum-senyum pula Manusagara meme-

gang rantai pembelenggu Nyi Tiwi.

Dan... tring... triiiing... tring... triiing... rantai yang 

membelenggu anggota badan Nyi Tiwi putus begitu sa-

ja. Bebaslah Nyi Tiwi dari belenggu itu.

Senapati Prabayani bersiap-siap, takut kalau Manu-

sagara gagal menguasai jiwa Nyi Tiwi, yang tentu saja 

akan membuat Nyi Tiwi galak lagi. Tapi ternyata tidak. 

Nyi Tiwi jadi tampak begitu jinak. Bangkit sambil 

menggosok-gosok matanya, seperti baru habis tidur.

Dan tanya Manusagara, “Murid Kidangkancana! 

Siapa namamu sebenarnya?”

“Tiwi,” sahut yang ditanya, jinak.

“Engkau tahu siapa yang berdiri di depanmu itu?” 

tanya Manusagara lagi sambil menunjuk ke arah Se-

napati Prabayani.

“Gusti Senapati,” sahut Nyi Tiwi terlontar begitu sa-

ja.

“Apakah kau menganggapku sebagai musuhmu?” 

tanya Senapati Prabayani,

Nyi Tiwi menjawab, “Tidak”, dengan gelengan kepa-

la.

“Kita memang bersahabat,” kata Senapati Prabayani 

sambil menepuk bahu Nyi Tiwi.

“Ya,” Nyi Tiwi mengangguk. “Kita memang bersaha-

bat.”

“Musuh besarmu Kidangkancana, Tiwi!” bentak Manusagara, membuat Nyi Tiwi terperanjat.

Tapi lalu Nyi Tiwi menjawab dengan suara aneh, 

“Ya, musuh besarku adalah Kidangkancana!”

“Hahahahaaa... bagus... bagus! Kidangkancana 

memang harus dihancurkan!” Manusagara tertawa ter-

gelak-gelak.

“Ya, Kidangkancana harus dihancurkan!” Nyi Tiwi 

mengepalkan tangannya, seolah olah sedang meremas 

sesuatu yang lunak.

Manusagara melirik ke arah Senapati Prabayani, 

sambil berdesis perlahan, “Apakah kau masih me-

nyangsikanku?”

“Tidak,” Senapati Prabayani menggeleng. “Tentu sa-

ja tidak. Aku percaya, engkau memang seorang tokoh 

yang hebat,.. benar-benar hebat.”

Manusagara menyeringai dan berdesis lagi, “Lalu 

kenapa kau tidak segera meninggalkanku? Kenapa 

mayat penjaga ini tidak segera disingkirkan?”

Senapati Prabayani bergegas menyeret mayat penja-

ga itu ke luar ruang tahanan. Dan pada waktu kembali 

lagi ke ruangan kecil itu, dilihatnya Manusagara te-

ngah menanggalkan pakaian Nyi Tiwi!

Senapati Prabayani tergagap berkata, “Kau... kau 

harus kutinggalkan di sini?”

Manusagara menjawab setengah membentak, “Iya! 

Bukankah tadi aku sudah mengatakannya? Hehehe-

heee... Tubuh yang begini indah... sayang sekali kalau 

kubiarkan begitu saja... heheheheheee...”

Dan Nyi Tiwi tak ubahnya robot pada zaman seka-

rang... yang dengan patuh mengikuti kehendak Manu-

sagara!

Senapati Prabayani bergegas meninggalkan tempat 

tahanan itu, sambil tersenyum-senyum sendiri. Pikir-

nya, “Mampus kau, Tiwi! Sekarang kau harus meladeni


kegilaan kakek-kakek cebol yang tetap doyan gadis 

remaja itu! Hihihihihi... aku yang haus lelaki ini pun, 

tidak akan mau meladeni lelaki cebol dan tua bangka 

seperti Manusagara. Tapi murid Kidangkancana itu... 

hihihihi... salahnya sendiri, cari gara-gara di Tegalin-

ten!”

***

RANGGA menggosok-gosok sepasang matanya dan 

menoleh ke kanan kirinya.

“Oh... di mana aku berada kini?” Rangga bangkit 

dan lalu terkejut sendiri. “Hai! Kakiku tidak lumpuh 

lagi! Tanganku juga! Oh... apakah aku sudah berada di 

akhirat? Ya... bagaimana mungkin anggota badanku 

bisa pulih kembali tanpa ada yang mengobatiku?”

Rangga hampir yakin bahwa dirinya sudah mati, la-

lu dibangkitkan kembali di alam kekal. Terlebih lagi se-

telah ia memandang ke alam di sekitarnya... alam yang 

begitu ganjil dan samar-samar, karena di sana-sini ter-

selimuti kabut.

Rangga berada di daerah pantai. Tapi dilihatnya 

laut tidak berombak sedikit pun, sehingga tampaknya 

seperti hamparan kaca yang mahaluas saja. Dan keti-

ka pandangannya teralih ke daratan, dilihatnya bukit-

bukit karang berbentuk kerucut, yang setiap puncak-

nya tampak berkilauan.

Sunyi. Sunyi sekali alam di sekitar Rangga saat itu. 

Dan semakin yakinlah Rangga bahwa dirinya sudah 

berada di akhirat. “Ya, pasti aku sudah berada di alam 

kekal. Karena kulihat laut tiada berombak, kabut 

menghalangi pandangan, bukit-bukit karang berpun-

cak permata, tiada suara apa-apa... ah... apakah aku 


berada di sorga?”

Tapi, tiba-tiba saja pandangan Rangga tertumbuk 

ke sebilah papan dan seutas tali di dekat kakinya. 

Rangga membungkuk dan mengamati kedua macam 

benda itu.

Lalu kata Rangga dalam hatinya, “Ah... papan ini 

pasti berasal dari perahu layar Kakang Lumayung! 

Ya... tali ini pun bekas pengikat tubuhku di buritan 

perahu itu! Lalu... mungkinkah benda-benda seperti 

ini terbawa ke akhirat?”

Dalam penasarannya, Rangga lalu mencubit lengan-

nya sendiri. Terasa sakit. Lalu dicubitnya pula pipinya. 

Juga terasa sakit.

“Kalau begitu, mungkin aku masih hidup... mung-

kin aku masih berada di dunia... tapi di mana? Ya.. di 

mana aku berada sekarang ini?” pikir Rangga sambil 

melangkah ke arah daratan.

Dan lagi-lagi ia menemukan sesuatu yang baru kali 

ini disadarinya. Bahwa pasir yang diinjaknya, bukan 

pasir biasa, melainkan pasir yang gemerlapan... tak 

ubahnya hamparan permata yang tak terhitung lagi 

banyaknya!

Maka pikir Rangga lagi, “Seandainya aku masih hi-

dup, mengapa alam yang tampak di sekitarku ini serba 

aneh? Hai... mungkinkah aku berada di Nusa Aheng? 

Bukankah Kidangkancana pernah bercerita bahwa Nu-

sa Aheng itu penuh dengan keajaiban dan sesuai de-

ngan namanya?!”

Lalu Rangga mengingat-ingat lagi ucapan Kidang-

kancana yang pernah didengarnya: “Sesuai dengan 

namanya, Nusa Aheng tidak bisa dikunjungi oleh sem-

barangan manusia. Bahkan burung-burung laut pun 

tidak berani terbang ke dekat pulau itu.”

Rangga lalu memperhatikan keadaan di sekitarnya


secara lebih seksama lagi. Memang tidak tampak ada-

nya kehidupan di sekitarnya. Tak ada burung camar, 

tak ada angin, tak ada ombak... tak ada apa-apa selain 

kesunyian yang sangat mencekam... kesunyian yang 

mulai membangkitkan bulu roma Rangga.

Dan dinginnya, bukan main. Padahal setahu Rang-

ga, daerah-daerah pantai yang pernah dikunjunginya, 

selalu berhawa panas.

***

Ketika Rangga masih terheran-heran memperhati-

kan alam di sekitarnya, tiba-tiba dilihatnya sesuatu di 

angkasa sana... sesuatu yang berwarna merah dan 

tengah menukik ke arah dirinya!

“Burung?!” seru Rangga dalam hati. “Hai... mung-

kinkah ada burung sebesar itu?”

Memang benar. Yang tengah menukik ke arah 

Rangga itu seekor burung berwarna merah muda, ben-

tuknya mirip burung elang, dengan ukuran tubuh 

yang tidak lebih kecil daripada seekor kuda!

Burung raksasa itu adalah makhluk bernyawa per-

tama yang Rangga lihat di daratan serba ganjil itu. Dan 

yang sangat mengejutkan, adalah bahwa burung itu 

langsung menyerang Rangga dengan kepakan sayap-

nya yang panjangnya kurang lebih lima depa!

“Kaaaaak...!” burung itu mengeluarkan pekikan 

nyaring, ketika dilihatnya serangannya tak mengenai 

sasaran, karena Rangga masih sempat bersalto ke be-

lakang. Dan sebuah kerucut karang hancur, terkena 

pukulan burung yang meleset itu.

“Gila,” pikir Rangga. “Pukulan sayapnya begitu 

kuat! Terjangannya pun begitu cepat dan terarah! 

Apakah burung raksasa ini memiliki ilmu?”

Rangga yang yakin bahwa dengan pulihnya kelum


puhannya bisa mengerahkan segala ilmu yang dimili-

kinya, lalu bersiap-siap untuk menghadapi serangan 

burung itu selanjutnya.

Dan burung itu benar-benar menerjangnya lagi, di-

barengi dengan pekikan yang bergema ke seluruh dae-

rah pantai itu. “Koooaaaaaakhhh...!”

Terjangan burung raksasa itu benar-benar berbaha-

ya. Kedua sayapnya tertekuk ke depan, seperti lengan 

yang hendak mencengkeram, sementara kedua ka-

kinya membentuk serangan seperti tendangan. Rangga 

mencoba menghadapinya dengan mengerahkan tenaga 

gaibnya. Karena pikirnya, burung itu tidak mungkin 

dihadapi dengan kegesitan, karena burung itu bisa 

terbang dengan sangat pesatnya ke mana saja ia mau. 

Maka menurut pikir Rangga, satu-satunya jalan untuk 

menghadapi burung raksasa itu, adalah dengan men-

gerahkan tenaga gaibnya. Dan jika kaki atau sayap bu-

rung itu bersentuhan dengan tangan Rangga, akan ter-

jadi tolakan batin yang dahsyat, untuk menjatuhkan 

burung itu.

Namun ternyata Rangga keliru. Ketika kaki burung 

raksasa itu hendak menghantam muka Rangga, lalu 

Rangga menangkap pergelangan kaki burung itu sam-

bil mengerahkan tenaga gaibnya, yang terjadi justru 

sebaliknya, Rangga terpental ke belakang... dan am-

bruk di atas pasir yang gemerlapan itu!

“Luar biasa!” seru Rangga dalam hati. “Burung itu 

bahkan memiliki tenaga batin yang begitu dahsyat!”

Namun diam-diam Rangga pun memuji jiwa burung 

itu. Karena ketika Rangga terlentang dan sedang beru-

saha bangkit kembali, burung raksasa itu menunggu-

nya sambil berdiri di salah satu puncak kerucut ka-

rang.

Maka sambil bangkit, Rangga berseru, “Engkau bukan hanya terlatih dan perkasa, tapi juga memiliki jiwa 

ksatria! Ayo kita lanjutkan permainan kita!”

Burung itu seperti mengerti apa yang Rangga kata-

kan. Begitu Rangga siap menghadapi segala kemung-

kinan, burung itu terbang lagi... menerjang dengan pe-

satnya... kali ini dengan kedua kaki terjulur jauh ke 

muka, sementara sepasang sayapnya menekuk ke be-

lakang.

Rangga sudah tahu betapa hebatnya tenaga kedua 

kaki bercakar tajam itu. Maka kali ini Rangga tidak be-

rani menyambut dengan telapak tangannya lagi. Begitu 

kedua kaki burung itu hampir menyentuh muka Rang-

ga, secepat kilat Rangga bersalto ke belakang, dengan 

kaki kanan menendang ke atas... menghantam tulang 

ekor burung itu dengan kerasnya.

Tapi... lagi-lagi Rangga terpental dan ambruk... se-

mentara burung itu sudah hinggap di puncak kerucut 

karang, sambil menunggu Rangga bangkit kembali.

Pikir Rangga, “Inilah lawan terberat yang pernah 

kuhadapi! Jauh lebih berat daripada Prabaseta dan ke-

dua anaknya!”

Namun Rangga tak mau kapok. Ia bahkan penasa-

ran sekali, karena burung itu seakan-akan sedang me-

latihnya.

Lalu Rangga bangkit kembali, sambil memusatkan 

segenap pancaindranya, untuk menghadapi terjangan 

burung itu selanjutnya.

Burung raksasa itu menerjang lagi... kali ini dengan 

kaki dan sayap di belakang, sementara patuknya terju-

lur jauh ke depan.

Kali ini Rangga tidak berusaha menyambut seran-

gan dengan tangan atau kakinya lagi, melainkan de-

ngan gerakan yang sangat indah melompat ke udara... 

tinggi sekali... lebih tinggi daripada burung itu!


Maksud Rangga, begitu burung itu sudah berada di 

bawahnya, ia akan menjatuhkan diri ke bawah dan 

akan berusaha ‘memeluk’ leher burung itu dari atas.

Tapi burung itu ternyata cerdik sekali. Begitu meli-

hat bentuk gerakan Rangga sewaktu hendak melompat 

ke udara, burung itu seperti yang mengerti ke mana 

Rangga hendak bergerak nanti.

Maka... begitu kaki Rangga hampir menjepit leher 

burung itu, tiba-tiba burung itu menarik kepalanya, 

sehingga lehernya menjadi sangat pendek dan hampir 

tidak kelihatan, dan Rangga melayang jatuh di depan 

kepala burung itu, lalu... tahu-tahu keadaan menjadi 

terbalik... sepasang kaki burung itu yang menjepit leh-

er Rangga dari atas!

Rangga memberontak dengan segala daya yang di-

milikinya, karena jepitan kaki burung itu terasa laksa-

na cengkeraman baja. Namun burung itu justru mem-

bawa Rangga terbang ke tengah daratan... jauh ke pe-

dalaman... sementara Rangga hanya bisa bersiap-siap, 

kalau-kalau burung itu menjatuhkannya di tempat 

yang berbahaya.

Pikir Rangga, “Burung ini sudah mengalahkanku! 

Aku memang tak berdaya dibuatnya! Lalu ke mana 

aku mau dibawanya kini?”

***

Ternyata burung perkasa itu meletakkan Rangga 

dengan lembut di atas daratan penuh lumut hijau, di 

depan seorang lelaki tua yang memiliki sepasang tan-

duk di kepalanya!

Lelaki tua itu duduk di atas batu pipih berwarna 

merah jambu, yang bentuknya mirip piring raksasa. 

Dan yang membuat Rangga terheran-heran, adalah 

bahwa di belakang lelaki tua itu tampak seekor kuda


berbulu putih bersih dan memiliki sepasang sayap di 

punggungnya!

Tampaknya burung raksasa itu hanya bertugas 

‘menjemput’ Rangga. Setelah meletakkan Rangga di 

depan kakek-kakek bertanduk itu, burung raksasa itu 

pun terbang lagi dan lenyap di kejauhan.

Lalu terdengar suara lelaki tua itu... begitu lembut 

tapi sangat berwibawa, “Berlayar ke Nusa Aheng dalam 

keadaan lumpuh, memang sesuatu yang luar biasa. 

Keluarbiasaan itulah yang membuatku lain dari bi-

asanya, sehingga engkau kubiarkan mencapai daratan 

ini. Tapi yang paling menarik, adalah bahwa engkau 

memiliki ilmu sang Sekarpadma. Dan secara kebetu-

lan, sang Sekarpadma pernah menjadi istriku. Itulah 

sebabnya kelumpuhanmu kusembuhkan.”

Rangga terkejut. Pikirnya, “Kalau begitu, kakek-ka-

kek ini jauh lebih tua daripada guruku sendiri! Ya, bu-

kankah dia pernah menjadi suami sang Sekarpadma? 

Dan bukankah sang Sekarpadma itu ibu angkat Rama 

Guru?”

Lalu Rangga menjatuhkan diri, bersimpuh di depan 

piring raksasa yang dijadikan tempat duduk lelaki tua 

bertanduk itu, sambil berkata, “Hamba memang murid 

anak angkat sang Sekarpadma. Hamba menghaturkan 

terima kasih atas pertolongan yang telah hamba teri-

ma, sehingga hamba sembuh dari kelumpuhan hamba. 

Kalau boleh hamba bertanya, apakah hamba sedang 

berhadapan dengan Bagawan Suwandarama?”

Di luar dugaan Rangga, kakek-kakek bertanduk itu 

menggeleng sambil menjawab, “Bukan. Aku hanya 

penjaga pertapaan sang Bagawan. Karena itu, kau ti-

dak perlu membahasakan dirimu hamba.”

“Lalu, siapakah nama Kakek?” tanya Rangga.

Lelaki tua yang memiliki sepasang tanduk di kepalanya itu, memejamkan matanya sesaat. Lalu jawab-

nya, “Dahulu waktu aku masih muda, orang-orang 

memanggilku Jaka Munding. Mungkin karena kedua 

tanduk di kepalaku ini. Tapi sekarang nama itu sudah 

dilupakan orang. Dan sang Bagawan memanggilku de-

ngan sebutan Astrabaya.”

Tiba-tiba lelaki tua bertanduk itu berkata dengan 

tergesa-gesa, “Sekarang, cepatlah pulang. Jangan me-

nunggu sampai sang Bagawan marah.”

Dan kakek-kakek bertanduk itu bertepuk tangan ti-

ga kali. Lalu burung raksasa berwarna merah muda itu 

muncul secara tiba-tiba di belakang Rangga.

Dan kata kakek-kakek bertanduk itu, “Jambon! An-

tarkan orang ini ke tempat asalnya!”

Lalu... batu berbentuk piring raksasa yang dijadi-

kan tempat duduk lelaki tua bertanduk itu, tiba-tiba 

saja terangkat ke udara... melayang perlahan dan mau 

meninggalkan Rangga.

Cepat-cepat Rangga bertanya, “Kakek Astrabaya! 

Apakah Kakek tahu bagaimana nasib putra raja Tegal-

inten yang bernama Aria Lumayung? Dia berlayar ber-

samaku ke sini, tapi sekarang...” pertanyaan Rangga 

terhenti di tengah jalan, karena kakek-kakek bertan-

duk itu telah lenyap di kejauhan, bersama piring rak-

sasanya.

Rangga kecewa, lalu menoleh ke belakang, ke arah 

burung raksasa itu... yang kini tampak jinak sekali... 

mendekam di depan Rangga.

Rangga memberanikan diri memegang tengkuk bu-

rung itu, sambil bertanya, “Namamu Jambon?”

Burung itu mengangguk!

Senang sekali Rangga dibuatnya. Lalu tanya Rangga 

lagi, “Engkau mau mengantarkan aku pulang, bukan?”

Burung itu mengangguk lagi. Dan Rangga tertawa


senang, “Hahahaaa... aku senang sekali padamu, 

Jambon. Marilah... antarkan aku pulang...!”

Rangga naik ke atas punggung burung yang sudah 

tampak patuh itu.

Burung itu siap untuk terbang. Tapi tiba-tiba terde-

ngar seruan... “Tunggu!”

Rangga menoleh ke arah datangnya suara itu. Ka-

kek Astrabaya muncul lagi di depannya, bersama pir-

ing raksasanya.

“Masih adakah yang ingin Kakek sampaikan pada-

ku?” tanya Rangga.

Kakek Astrabaya mengangguk dan berkata, “Sang 

Bagawan berkenan menerimamu sebagai tamu. Ayo 

Jambon, bawa tamu kita ke pertapaan sang Bagawan!”

Burung itu lalu terbang ke arah utara, membawa 

Rangga di punggungnya. Kakek Astrabaya mengiku-

tinya dari belakang, bersama piring raksasanya. Se-

mentara kuda putih bersayap itu pun terbang di samp-

ing Kakek Astrabaya.

Benak Rangga saat itu penuh tanda-tanya: Seperti 

apa Bagawan Suwandarama itu? Penjaga pertapaan-

nya saja sudah begitu saktinya, apalagi sang Bagawan 

sendiri. Dan... apa yang dikehendakinya dariku? Apa-

kah Kakang Aria Lumayung berada di sana?

Burung yang membawa Rangga itu terbang terus ke 

arah utara. Dan akhirnya Rangga melihat sebuah ba-

ngunan menjulang tinggi, terbuat dari bebatuan ber-

warna putih bersih, yang puncaknya diselimuti kabut 

tebal.

Rangga yang sudah tahu bahwa si Jambon mengerti 

bahasa manusia, lalu berbisik ke telinga burung rak-

sasa itu, “Bangunan yang seperti candi itu tempat per-

tapaan sang Bagawan?”

Burung bernama Jambon itu mengangguk. Lalu


menukik dan mendarat di depan pintu gerbang ban-

gunan yang penuh dengan ukiran halus itu.

***

RANGGA terpaku di depan kuil yang terbuat dari 

batu pualam putih laksana kapal itu, dengan pera-

saan takjub sekali. Kuil itu bukan hanya tinggi menju-

lang (dan bahkan puncaknya terselimuti kabut, se-

hingga tidak terlihat dari bawah) melainkan juga indah 

sekali. Setiap batu pualam yang dibuat untuk memba-

ngun kuil itu, diukir secara halus sekali, sehingga tak 

ubahnya kain yang disulam.

Di depan kuil pualam itu, terdapat sebuah kolam 

kecil, dengan air mancur alamiah yang memancar de-

ngan lembut, menimbulkan bunyi gemerisik perlahan 

yang menyejukkan perasaan.

Kakek Astrabaya memegang bahu Rangga sambil 

berkata perlahan, “Cucilah dulu kakimu di kolam itu, 

baru kemudian menghadap sang Bagawan.”

Rangga mematuhi petunjuk lelaki tua bertanduk 

itu. Dicucinya kedua telapak kakinya sebersih-

bersihnya di kolam kecil berair bening itu. Kemudian 

mengikuti langkah Kakek Astrabaya memasuki kuil.

Wangi dupa tersiar ke hidung Rangga, membuat le-

laki muda itu tertunduk dengan perasaan yang lain 

dari biasanya. Ada semacam perasaan tenang dan 

nyaman yang luar biasa di dalam hatinya.

Dan akhirnya Rangga melihat seorang lelaki tua... 

tua sekali... dengan rambut yang telah memutih selu-

ruhnya, dengan pakaian brahmana yang serba putih, 

di dalam ruangan yang serba putih pula. Itulah Baga-

wan Suwandarama, penghuni Nusa Aheng yang penuh 


keajaiban.

Bagawan Suwandarama duduk di atas batu berukir, 

berbentuk bunga teratai yang sedang mekar, dengan 

mata terpejam dalam posisi bersemadi.

Rangga pun ikut-ikutan bersimpuh di belakang Ka-

kek Astrabaya.

Lalu kata Kakek Astrabaya, “Pemuda ini sudah da-

tang menghadap, untuk menunggu perkenan sang Ba-

gawan.”

Bagawan Suwandarama tetap memejamkan mata-

nya. Tidak bergerak sedikit pun. Mulutnya pun tetap 

terkatup rapat-rapat. Tapi anehnya... terdengar suara 

dari arah sang Bagawan. “Namamu Rangga, bukan?!”

Rangga terkejut dan cepat-cepat menjawab, “Benar, 

Eyang Bagawan.”

Bibir sang Bagawan tetap terkatup. Tapi lagi-lagi 

terdengar suara dari arah dirinya. “Engkau sedang ter-

libat dalam pertentangan dengan orang-orang istana 

Tegalinten. Tapi itu bukan urusanku. Aku sudah tidak 

mau ikut campur lagi dengan hal-hal keduniawian.”

Hening sesaat. Lalu terdengar lagi suara sang Ba-

gawan, “Aku memanggilmu semata-mata untuk soal 

anakmu yang telah dimasuki sukma Naga Taksaka.”

Rangga terkejut sekali. Dan sebelum sempat Rangga 

bertanya, Bagawan Suwandarama sudah mendahului 

menjelaskannya.

“Anak yang dikandung oleh istrimu, lebih dari tiga 

tahun yang lalu, dirasuki oleh sukma Naga Taksaka. 

Tujuan Naga Taksaka hanya ingin mengasuh salah sa-

tu cucunya yang baru menetas di bawah permukaan 

Tilugalur. Itulah sebabnya, anakmu sekarang sangat 

bersahabat dengan cucu Naga Taksaka itu.

“Sepintas lalu keadaan itu tidak berbahaya. Namun 

sesungguhnya malapetaka sedang mengancam, bukan


hanya di Tilugalur dan sekitarnya, melainkan juga di 

wilayah Tegalinten dan sekitarnya. Bahkan sekarang 

pun sudah mulai berjatuhan korban keganasan anak-

mu yang telah bersekutu dengan cucu Naga Taksaka 

itu. Tilugalur telah menjadi desa mati. Tak seorang 

pun bisa menginjakkan kakinya di sana, karena di ba-

wah desa itu bersemayam anakmu yang sudah berse-

kutu dengan cucu Naga Taksaka.

“Tidak ada yang bisa menjinakkan anakmu itu, ke-

cuali engkau sendiri, karena darah yang mengalir di 

dalam tubuhnya, adalah darahmu... meskipun suk-

manya sudah berbaur dengan sukma Naga Taksaka.

“Sekarang ia masih bersemayam di bawah permu-

kaan Tilugalur. Tapi tak lama lagi ia akan mulai berke-

liaran mencari mangsa. Ia membutuhkan tujuhratus 

nyawa manusia dalam sebulan. Dapat kau bayangkan, 

berapa banyak korban yang akan jatuh dalam seta-

hun?!

“Engkau tidak perlu membunuh anakmu itu, terlalu 

dahsyat bagi manusia biasa.

“Kewajibanmu adalah... jinakkan anak itu dengan 

segala dayamu, supaya ia tidak lagi memangsa manu-

sia. Berilah ia makan sebanyak-banyaknya pada tiap 

bulan purnama, karena ia hanya membutuhkan ma-

kan sebulan sekali. Berilah ia nasihat, bahwa bagai-

manapun juga ia bertubuh manusia, sehingga tidaklah 

layak baginya untuk memangsa manusia lagi.”

Bagawan Suwandarama menghentikan kata-

katanya sesaat, sementara Rangga masih tercengang-

cengang.

Rupanya Bagawan Suwandarama bukan diam sem-

barang diam. Getaran batinnya melayang jauh... me-

manggil makhluk-makhluk aneh yang menghuni pulau 

ajaib itu. Ya... beberapa saat kemudian, Rangga sema


kin terpanar ketika dilihatnya tujuh orang gadis cantik 

datang dengan kaki tidak menginjak lantai kuil, karena 

ketujuh gadis itu memiliki sayap yang sangat mirip sa-

yap kupu-kupu!

Salah satu gadis bersayap itu membawa kotak pan-

jang, lalu mempersembahkannya kepada Bagawan 

Suwandarama.

Kemudian ketujuh gadis bersayap itu terbang lagi, 

meninggalkan kuil Bagawan Suwandarama dan kotak 

panjang yang baru dipersembahkannya itu.

Suasana menjadi hening beberapa saat.

Kemudian Bagawan Suwandarama membuka kelo-

pak matanya perlahan. Dan... Rangga cepat-cepat me-

nunduk, tidak kuat bertatapan dengan mata Bagawan 

Suwandarama yang begitu cemerlang, seakan-akan 

memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan.

Bagawan Suwandarama memandang ke arah kotak 

panjang yang dipersembahkan oleh gadis-gadis bersa-

yap tadi. Lalu katanya, “Tugas yang berat membutuh-

kan sarana yang baik. Karena itu kuberikan pedang 

Saptaraga ini padamu, supaya engkau tidak terlalu su-

lit melaksanakan tugas-tugasmu. Tapi ingat... pedang 

ini hanya bisa digunakan manakala hatimu lurus. Pe-

dang ini akan mengerti sendiri kapan ia harus diguna-

kan dan kapan tidak boleh digunakan. Dan tentang 

ilmu pedangnya sendiri, engkau bisa mempelajarinya 

dari kitab kecil yang ada di dalam kotak ini.”

Bagawan Suwandarama mengulurkan tangannya, 

menyerahkan kotak panjang itu kepada Rangga. Dan 

Rangga menyambutnya dengan tangan bergetar.

Bagawan Suwandarama memejamkan matanya 

kembali. Lalu terdengar lagi suaranya.

“Engkau telah memiliki dasar yang cukup kuat, 

berkat gemblengan Kudawulung. Karena itu engkau tidak akan terlalu sulit mempelajari ilmu pedang Sapta-

raga. Sekali lagi... ingatlah... bahwa tugas utamamu, 

adalah menjinakkan anakmu. Dan engkau jangan me-

rasa kecewa jika melihat bentuk anakmu lain dengan 

anak-anak lainnya. Kalau kau berhasil membimbing-

nya ke jalan yang benar, anakmu akan sangat bergu-

na. Memang hal itu sangat sulit. Tapi bukan tidak 

mungkin.

“Satu hal lagi,” lanjut sang Bagawan, “cucu Naga 

Taksaka memiliki mestika di bawah lidahnya. Dan 

mestika itu hanya bisa diambil dengan pedang yang 

kau pegang sekarang.”

Akhirnya sang Bagawan berkata, “Pulanglah seka-

rang ke puncak Gunung Limagagak. Aku percaya, Ku-

dawulung akan membimbingmu. Dan jangan turun 

dari puncak gunung itu sebelum engkau menguasai 

ilmu pedang Saptaraga sepenuhnya.”

Kepada Kakek Astrabaya, Bagawan Suwandarama 

berkata, “Astrabaya, relakanlah si Jambon untuk me-

nemani Rangga, sampai tugasnya selesai.”

Setelah berkata demikian, lenyaplah Bagawan Su-

wandarama dari pandangan. Pertanda bahwa sang Ba-

gawan tidak mau diganggu lagi.

Rangga melirik ke arah Kakek Astrabaya. Dan lelaki 

tua bertanduk itu memberi isyarat, mengajak Rangga 

keluar.

Setibanya di depan kuil, Kakek Astrabaya berkata, 

“Jangan kau buka kotak itu sebelum tiba di puncak 

Gunung Limagagak. Pelajari dulu ilmu pedangnya, ba-

rulah kemudian kau sentuh pedangnya.”

Kemudian Kakek Astrabaya menghampiri si Jambon 

yang sedang mendekam di depan kuil. Dielusnya leher 

burung raksasa itu sambil berkata, “Sang Bagawan 

menitahkan kau untuk menemani Rangga, sampai tu


gasnya selesai. Mungkin kau juga bisa membantu 

Rangga dalam mempelajari ilmu pedang Saptaraga. 

Kuharap kau mematuhi tugas ini sebaik-baiknya.”

“Kaaak...!” Burung itu mengeluarkan suara, seolah-

olah mengiyakan perintah Kakek Astrabaya.

Kemudian Kakek Astrabaya menepuk bahu Rangga, 

sambil berkata, “Selamat jalan, Rangga. Mudah-

mudahan kau berhasil menjalankan tugasmu. Nasib-

mu memang baik. Kaulah orang pertama yang dibiar-

kan datang ke Nusa Aheng ini dan dibiarkan berlalu 

tanpa gangguan.”

Rangga berlinang-linang air mata waktu naik ke 

atas punggung burung raksasa itu. Lalu tanyanya ter-

sendat, “A... apakah aku boleh datang legi ke sini ke-

lak?”

Lelaki bertanduk itu tersenyum dan menyahut, 

“Tergantung nasibmu, Rangga. Tapi... mudah-

mudahan saja kita masih bisa bertemu lagi.”

Si Jambon mulai berdiri. Menghentakkan kakinya 

ke bumi, lalu... brrrrrrr... terbanglah burung raksasa 

itu ke angkasa, bersama Rangga di punggungnya.

Tanpa terasa, air mata Rangga bercucuran dengan 

derasnya. Aneh memang. Hanya sebentar ia berada di 

Nusa Aheng yang penuh misteri dan keajaiban itu, tapi 

hatinya seakan melekat di sana... seakan berat sekali 

meninggalkannya.

***

KEADAAN di puncak Gunung Limagagak sangat 

berbeda dengan keadaan di Nusa Aheng. Tidak ada 

hal-hal yang ajaib di puncak gunung tempat perse-

mayaman Kudawulung itu. Satu-satunya hal yang sama dengan Nusa Aheng, hanyalah kabutnya... ya... se-

perti di Nusa Aheng, puncak Gunung Limagagak pun 

hampir selalu diselimuti kabut tebal yang sulit ditem-

bus sinar matahari.

Begitu pula di pagi yang dingin itu, puncak Gunung 

Limagagak tidak terlihat dari kejauhan, karena terlin-

dung oleh kabut yang begitu tebal.

Namun di pagi yang dingin itu, seorang gadis cantik 

sedang bersemadi di atas sebuah batu besar, dengan 

wajah pucat-pasi seakan tak berdarah lagi. Itulah Ni-

lamsari, putri mendiang Adipati Wiralaga.

Telah diceritakan terdahulu, bahwa Nilamsari ber-

hasil diterima menjadi murid Kudawulung, setelah ga-

dis cantik itu memaksa Kudawulung dengan caranya 

sendiri.

Ternyata Nilamsari bukan hanya sangat berseman-

gat untuk menerima gemblengan dari Kudawulung, 

melainkan juga sangat berbakat!

Kudawulung sendiri terkejut ketika dilihatnya ke-

majuan yang dicapai oleh Nilamsari dari hari ke hari, 

begitu pesat... bahkan jauh lebih pesat daripada waktu 

pertama kalinya Rangga mendapat gemblengan di 

puncak Gunung Limagagak dahulu!

Tentu saja Kudawulung gembira sekali melihat ke-

nyataan itu. Guru mana yang tidak senang melihat 

muridnya bisa menyerap pelajaran dengan sangat ce-

patnya?

Kudawulung yang tadinya tidak begitu bersemangat 

menerima Nilamsari sebagai muridnya, lalu jadi seba-

liknya. Ia seakan-akan berpacu dengan waktu, ingin 

membuat Nilamsari secepatnya menyerap segala ilmu 

yang dimilikinya.

Kudawulung tidak bertepuk sebelah tangan. Nilam-

sari menghayati setiap pelajaran yang diterimanya dengan sungguh-sungguh, lalu melatih diri setekun 

mungkin, tanpa mengenal lelah. Hampir tidak ada 

waktu yang dibuang percuma. Setiap kali ada kesem-

patan, Nilamsari melatih diri setekun-tekunnya. Ter-

kadang semalam suntuk ia terjaga, untuk menghapal-

kan kembali setiap pelajaran yang diterima pada siang

harinya.

Ketekunan dan kesungguhan Nilamsari, tentu 

membawa hasil yang memadai. Maka tidaklah berlebi-

han kalau Kudawulung berkata pada satu hari, “Eng-

kau memang hebat, Nilamsari. Dalam tempo tiga bulan 

saja, engkau telah berhasil mencapai apa yang diteku-

ni oleh Rangga selama tiga tahun! Hahahahaaa... si 

Rangga pasti terkejut sekali kalau melihat apa yang te-

lah kau capai sekarang. Kurasa engkau sekarang telah 

setingkat dengan Rangga! Hahahahaaaa... dia pasti 

terkejut melihat kemajuanmu!”

Jika mendengar gurunya mengucapkan nama Rang-

ga, aneh, hati Nilamsari berdenyut dan berdesir. Tam-

paknya Nilamsari sudah menyimpan perasaan khusus 

terhadap kakak seperguruannya itu. Dan Nilamsari be-

rusaha menyembunyikannya di depan gurunya. Na-

mun terkadang ia nyeletuk juga, menanyakan soal 

Rangga dengan tarikan wajah khusus... tarikan wajah 

garis yang sedang merindukan seseorang!

Seperti pada suatu hari...

“Lama juga Kang Rangga di Tegalinten, ya Rama 

Guru.”

“Ya, mungkin ada sesuatu yang harus dihadapinya 

dengan sungguh-sungguh, sehingga ia belum sempat 

pulang ke sini.”

“Apakah dia pasti pulang ke sini?”

“Pasti... pasti! Tapi, hai... tampaknya kau terlalu 

memikirkan dia, heh?! Apa sebenarnya yang kau rasa



kan sekarang?”

“Ah, ti... tidak. Tidak ada perasaan apa-apa...!”

“Hahahahaaaa... Nilamsari... Nilamsari! Aku juga 

pernah muda dulu, seperti kau sekarang. Apakah kau 

pikir aku tidak tahu apa yang tersimpan di dalam hati-

mu sekarang?”

“Ma... maksud Rama Guru?”

“Kau merindukannya, bukan?”

“Mmm... bukankah wajar kalau aku merindukan 

seseorang yang pernah menolongku?”

“Iya... iya! Tapi kerinduanmu itu lain... bukan rin-

dunya seorang manusia kepada orang lain yang per-

nah menolongnya! Hahahahaaa... mata tuaku tidak 

dapat kau tipu, Nilamsari. Engkau merindukan Rangga 

dengan perasaan yang istimewa.”

“Perasaan istimewa bagaimana Rama Guru ini?”

“Perasaan cinta! Kau mencintai Rangga, bukan?”

“Ah, Rama Guru...”

“Ayolah... akui saja, tak usah malu-malu. Kau men-

cintai Rangga?”

“Ah... aku kan seorang perempuan, Rama Guru. 

Sedangkan perempuan itu, sifatnya seperti... seperti... 

ah... tidak tahulah!”

Demikianlah. Dengan tersipu-sipu, akhirnya Nilam-

sari mengakui lewat sorot matanya, bahwa sesungguh-

nya ia telah mencintai Rangga. Bahwa cinta itu telah 

tumbuh sejak pandangan pertama di tepi Sungai Cige-

lung.

Memang Nilamsari tidak pernah bicara secara te-

rang-terangan kepada gurunya, bahwa ia mencintai 

Rangga. Tapi sorot matanya saja sudah cukup meya-

kinkan gurunya, bahwa ia mencintai Rangga.

Walaupun begitu, Nilamsari tidak mau terlarut da-

lam perasaan rindunya. Setiap kali kerinduan itu datang, cepat-cepat ia berusaha mengalihkannya, dengan 

jalan berlatih dan berlatih terus.

Dan tampaknya hal itu dijadikan cambuk bagi Ni-

lamsari, untuk melatih dirinya secara luar biasa.

Demikian pula di pagi yang dingin itu, Nilamsari 

sudah bersemadi, untuk memulai latihannya. Kudawu-

lung memang menganjurkan agar Nilamsari bersemadi 

dulu sebelum memulai latihannya. Dan itu ditaati oleh 

Nilamsari, disaksikan oleh gurunya maupun tidak.

Demikian pula pagi itu. Walaupun Kudawulung ti-

dak ada di puncak Gunung Limagagak, sejak kemarin 

siang, Nilamsari tetap mematuhi anjuran gurunya. Ni-

lamsari melakukan semadi dahulu sebelum memulai 

latihannya.

Tapi pagi itu lain. Baru saja Nilamsari selesai ber-

semadi dan hendak memulai latihannya, tiba-tiba Ku-

dawulung datang dan berseru, “Nilamsari! Jangan lati-

han dulu! Aku membawa berita penting untukmu!”

Nilamsari membatalkan latihannya. Lalu duduk di 

depan gurunya.

“Rupanya aku terlalu asyik mendidikmu di sini,” ka-

ta Kudawulung, “sehingga aku tidak tahu bahwa di Ka-

wahsuling telah terjadi sesuatu yang semakin mence-

maskan.”

“Maksud Rama Guru?”

“Adipati Natajaya telah mati.”

“Oh!” Nilamsari memegang kedua belah pipinya. 

Namun sinar matanya memperlihatkan sesuatu yang 

berarti... suatu kepuasan yang masih disembunyikan. 

Betapa tidak. Adipati Natajaya telah menghancurkan 

kehidupan orang tuanya. Dan pernah pula berusaha 

menghancurkan kehidupan Nilamsari sendiri.

“Kenyataan itu memang baik,” kata Kudawulung, 

“engkau tidak perlu mempergunakan ilmumu untuk


membalas dendam. Hukum karma telah mendahului 

dendammu, sehingga Adipati Natajaya sudah mati se-

belum kau membunuhnya.”

“Tapi,” lanjut Kudawulung, “keadaan di Kawahsul-

ing sekarang, justru tambah parah. Inilah yang sangat 

kupikirkan.”

“Bertambah parah?” tanya Nilamsari hampir tak 

terdengar.

“Ya,” Kudawulung mengangguk. “Adipati yang baru 

diangkat oleh kerajaan, justru lebih jahat daripada 

Adipati Natajaya. Jauh lebih jahat.”

“Siapa yang menjadi adipati sekarang?”

“Prabalaya... anak seorang tokoh golongan hitam 

yang sangat jahat. Bisa dipastikan, dalam tempo sing-

kat saja rakyat Kawahsuling akan menderita dibuat-

nya.”

“Lalu... apakah kita harus turun tangan, Rama Gu-

ru?”

“Tidak,” Kudawulung menggeleng. “Kurasa Rangga 

sedang berusaha untuk mengatasi hal itu. Tapi... aku 

sendiri heran... di mana dia berada sekarang?”

“Kemarin Rama Guru hanya menyelidik ke Kawah-

suling saja?”

“Ya,” Kudawulung mengangguk. “Tapi firasatku 

berkata bahwa di Tegalinten pun dia tidak ada. Dan... 

hai... rupanya kita kedatangan seorang tamu agung!”

Kudawulung menunjuk ke arah selatan, ke arah 

seorang lelaki tua yang mengenakan pakaian dari kulit 

kijang berwarna kuning keemasan. Itulah Kidangkan-

cana!

“Hahahahaaa... setelah bertahun-tahun mencarimu, 

baru sekarang aku tahu bahwa Kudawulung bersem-

bunyi di puncak gunung ini,” kata Kidangkancana 

sambil menyimpan kedua tangan di dadanya, sebagai


tanda penghormatan terhadap Kudawulung.

Kudawulung menyahut, “Kalau Kidangkancana sung-

guh-sungguh mencariku, tentu tidak akan sulit me-

nemukanku. Dan tampaknya baru hari inilah Kidang-

kancana bersungguh-sungguh mencariku. Hahaha-

haaaa... silakan duduk, sahabat! Angin apa sebenar-

nya yang meniupmu ke mari?”

Kidangkancana duduk di atas sebuah batu besar. Ia 

tidak langsung menjawab pertanyaan Kudawulung, 

melainkan melirik ke arah Nilamsari dan tanyanya, 

“Siapa gadis ini?”

“Muridku,” sahut Kudawulung sambil menoleh ke 

arah Nilamsari dan berkata. “Ayo bersimpuhlah di de-

pan sahabat gurumu, Nilamsari.”

Dengan patuh Nilamsari bersimpuh di hadapan Ki-

dangkancana. Membuat lelaki tua renta itu tertawa 

tergelak-gelak. “Hahahahahaaaa...! Rupanya Kudawu-

lung secara diam-diam sudah membangun perguruan 

di puncak Gunung Limagagak ini! Hebat! Hebat! Sudah 

berapa orang muridmu sekarang? Yang aku tahu saja, 

salah seorang muridmu bernama Rangga, bukan?”

Kudawulung terperanjat. “Dari mana Andika menge-

tahuinya?”

Kidangkancana menghela napas, lalu jawabnya, 

“Muridmu datang ke tempatku, dibawa oleh muridku. 

Kasihan muridmu itu. Dia dalam keadaan lumpuh 

yang sangat gawat, sehingga aku sendiri tidak mampu 

menyembuhkannya.”

“Lumpuh?!” Kudawulung hampir tak percaya pada 

keterangan tamunya. Soalnya ia sudah tahu benar sia-

pa Rangga dan apa saja yang telah diajarkannya pada 

lelaki muda itu.

“Benar,” sahut Kidangkancana. “Muridmu telah di-

rasuki racun Prabaseta yang terbaru. Dan keadaannya


benar-benar gawat, sehingga terpaksa aku membiar-

kan muridku membawanya ke Nusa Aheng.”

“Nusa Aheng?!” Kudawulung terkejut lagi.

Kidangkancana menghela napas. “Ya... hmm... ju-

stru inilah yang ingin kutanyakan padamu... khusus-

nya tentang keadaan muridku itu.”

“Maksud Andika?”

“Sampai sekarang muridku belum pulang. Dan aku 

tidak akan terlalu cemas seandainya aku tidak mende-

ngar berita aneh itu. Tapi belakangan ini aku mende-

ngar berita tentang muridku, yang katanya sudah ter-

tangkap oleh anak si Prabaseta. Inilah yang membua-

tku heran, tidak percaya tapi cemas juga. Aku memang 

yakin benar bahwa muridku tidak akan bisa dikalah-

kan oleh anak-anak Prabaseta. Mangkanya sulit bagi-

ku untuk mempercayai berita itu. Terlebih lagi setelah 

ingat bahwa muridku justru sedang bersama murid-

mu. Oh ya... apakah muridmu sudah pulang?”

“Belum,” Kudawulung menggeleng.

“Nah,” wajah Kidangkancana cerah lagi. “Kalau be-

gitu jelaslah bahwa berita yang kudengar itu hanya 

isapan jempol belaka. Hmm... aku tak tahu apa mak-

sud orang-orang menyebarkan berita itu...”

“Tunggu,” potong Kudawulung. “Bagaimana cerita-

nya sehingga muridku bisa bersama-sama dengan mu-

rid Andika?”

Kidangkancana menjawab sambil tertawa terkekeh-

kekeh. “Heheheee... biasa... anak muda!”

“Biasa bagaimana?” Kudawulung semakin heran.

“Mereka saling mencintai. Itu saja soalnya. Maklum-

lah, muridku cantik, muridmu tampan... ya begitulah 

akhirnya, saling jatuh cinta dan... hahahahahaaaa... 

Andika juga pernah muda dulu, bukan?”

Diam-diam rona wajah Nilamsari berubah.


“Jadi murid Andika itu perempuan?” tanya Kuda-

wulung.

“Iya,” Kidangkancana mengangguk. “Muridku seo-

rang janda muda yang manis dan memenuhi syarat 

untuk merebut hati lelaki. Kurasa wajar saja kalau 

Rangga terpikat olehnya, demikian pula sebaliknya....”

Belum lagi habis Kidangkancana bicara, tiba-tiba 

saja Nilamsari bangkit dan berlari meninggalkan tem-

pat itu... dengan air mata bercucuran!

“Hai, kenapa muridmu itu?” Kidangkancana terhe-

ran-heran.

Kudawulung menghela napas panjang, lalu bahkan 

balik bertanya, “Apakah Andika yakin bahwa muridku 

jatuh cinta pada muridmu?”

Kidangkancana tidak menjawab.

***

Dan jauh di balik sebuah pohon rindang sana, Ni-

lamsari memandang ke arah timur, dengan pandangan 

hampa, dengan mata basah kuyup.

Kata-kata Kidangkancana tadi terngiang-ngiang te-

rus di telinga putri mendiang Adipati Wiralaga itu: mu-

ridku cantik, muridmu tampan... akhirnya saling jatuh 

cinta... muridku seorang janda muda yang manis dan 

memenuhi syarat untuk merebut hati lelaki... wajar sa-

ja kalau Rangga terpikat olehnya...!

O, betapa pilunya hati Nilamsari mendengar itu se-

mua!

Dan pikir Nilamsari, “Ternyata mencintai seorang le-

laki itu tidak semudah lamunanku! Selama ini aku be-

gitu yakin bahwa Rangga akan datang, lalu aku akan 

mencurahkan isi hatiku secara terang-terangan pada-

nya! Tapi... mungkinkah aku bisa mengatakannya, se-

dangkan aku tahu bahwa ia sudah mencintai perempuan lain?”

***

Ketika Nilamsari sudah mencucurkan air mata di 

bawah pohon rindang itu, Kudawulung dan Kidang-

kancana masih melanjutkan percakapan mereka.

Kata Kidangkancana, “Jadi jelas bahwa muridku 

masih bersama-sama muridmu. Dan berita itu jelas 

ngawur.”

“Andika belum menjawab pertanyaanku,” sergah 

Kudawulung. “Apakah Andika yakin bahwa Rangga 

mencintai murid Andika?”

“Hai, apakah pertanyaan itu harus kujawab? Ba-

gaimana mungkin aku bisa tahu isi hati orang yang 

berjumpa juga baru satu kali?!” sahut Kidangkancana 

sambil tersenyum-senyum.

Kudawulung mau berkata bahwa ia sangat berke-

pentingan dengan jawaban Kidangkancana, karena 

merasa kasihan kepada Nilamsari (yang ia tahu sudah 

menyimpan perasaan khusus terhadap Rangga), tapi, 

baru saja Kudawulung membuka mulutnya, tiba-tiba 

Kidangkancana menengadah sambil menunjuk ke arah 

langit dan berseru, “Hai! Apa itu?”

Kudawulung ikut menengadah. Memperhatikan titik 

kecil di atas langit, yang makin lama makin membe-

sar... makin menukik... makin jelas!

***

Titik yang membesar dan menjadi jelas itu, tak lain 

dari Rangga dan burung raksasa dari Nusa Aheng.

Kudawulung dan Kidangkancana, adalah dua orang 

tokoh kelas tinggi. Namun tak urung mereka terpanar 

ketika melihat burung raksasa itu mendarat di puncak 

Gunung Limagagak, kemudian Rangga turun dari 

punggungnya.


Rangga bergegas menghampiri gurunya dan ber-

simpuh di depannya. “Muridmu menghaturkan sem-

bah bakti, Rama Guru.”

Kemudian Rangga menoleh ke arah Kidangkancana 

dan sedikit terkejut melihat kehadiran guru Nyi Tiwi 

itu.

Baik Kidangkancana maupun Kudawulung, pada 

mulanya hanya tercengang-cengang. Lalu melirik ke 

arah burung raksasa berbulu merah muda itu. Lalu 

melirik ke arah kotak panjang yang berada dalam pe-

lukan Rangga.

Dan akhirnya, dengan tak sabar lagi Kidangkancana 

bertanya, “Mana muridku? Engkau bersama-sama dia, 

bukan?”

Agak gugup Rangga menjawabnya, “Aku... aku... 

m... meninggalkannya di Kundina. Mungkin dia... 

mungkin....”

Belum lagi habis Rangga bicara, Kidangkancana 

membentaknya, “Manusia keparat! Apa sebenarnya 

yang telah kau lakukan terhadap muridku?”

Rangga berusaha menenangkan dirinya, dan men-

jawab, “Sudah kukatakan tadi... Nyi Tiwi kutinggalkan 

di Kundina... karena aku dibawa oleh Aria Lumayung 

ke...”

“Bohong!” bentak Kidangkancana. “Pasti engkau 

sudah mengkhianatinya, karena engkau tidak bersedia 

mengawininya!”

“Tidak... tidak!” tolak Rangga. “Bukan begitu per-

soalannya! Pada saat itu, aku diculik oleh orang-orang 

Tegalinten, kemudian ditolong oleh Aria Lumayung 

dan... dan... Nyi Tiwi terpaksa kutinggalkan, karena 

Aria Lumayung tidak bersedia mengajaknya... lalu...”

“Omong kosong!” hardik Kidangkancana sambil me-

ngeluarkan senjatanya... seutas cemeti yang terbuat


dari anyaman benang emas!

Glaaaaar...! Cemeti itu dihentakkan ke udara dan 

menimbulkan suara menggelegar.

Kidangkancana melirik ke arah Kudawulung, sambil 

berkata, “Hari ini terpaksa aku melupakan persahaba-

tanku denganmu, untuk menghukum muridmu yang 

jahanam ini!”

(Bersambung)



Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive