"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Senin, 11 November 2024

WIRO SABLENG EPISODE SENANDUNG KEMATIAN

Senandung Kematian



 “Aku tahu keris pusaka itu ada padamu!” kata Wiro. 

“Otakmu culas! Mulutmu busuk! Kalau kau menuduh aku memiliki keris itu, silahkan 

ambil sendiri!” kata Damar Wulung. 

Tiba-tiba Sutri Kaliangan melompat ke hadapan Damar Wulung. “Atas nama 

Kerajaan aku harap kau menyerahkan Keris Naga Kopek padaku!” 

Damar Wulung tertawa bergelak “Ini satu lagi gadis sesat kena tipu daya Pendekar 

Sableng! Aku menghormati dirimu sebagai Puteri Patih Kerajaan. Jika kau mau 

berlaku adil, mengapa tidak menangkap Wiro yang jelas-jelas adalah buronan 

Kerajaan?!” 

“Aku tidak mau tahu hal dia buronan atau bukan. Serahkan Keris Naga Kopek 

padaku!” bentak Sutri. 

“Ha….ha! Rupanya kau termasuk di barisan para gadis cantik yang jatuh cinta pada 

Pendekar Geblek itu!” 

“Sreett!” 

Sutri Kaliangan keluarkan pedangnya dari dalam sarung.


SATU


Puncak Gunung Gede tampak berdiri gagah dan indah, hijau kebiruan di bawah 

siraman sinar sang surya. Walau sinar itu cukup terik tapi di atas gunung udara terasa 

sejuk. Dari puncak gunung kemanapun mata diarahkan, terbentang pemandangan 

yang indah. Namun semua keindahan itu tidak terlihat, bahkan tidak terasa oleh tiga 

orang gadis cantik yang saat itu di arah timur puncak gunung. 

 Di satu pedataran, tak jauh dari sebuah pondok kayu, tiga orang gadis duduk 

bersimpuh mengelilingi sebuah kubur. Hanya beberapa tombak di sebelah kiri terlihat 

pula sebuah makam yang masih merah tanahnya, ditancapi papan nisan bertuliskan 

“DI SINI BERISTIRAHAT UNTUK SELAMANYA PENDEKAR 212 WIRO 

SABLENG.” 

 Tiga gadis seperti tenggelam dalam kesedihan tapi juga dendam amarah. 

Sebelumnya rombongan mereka berjumlah empat orang. Mereka dalam perjalanan ke 

Gunung Gede untuk menyelidik makam ketiga dalam usaha mencari Pendekar 212 

Wiro Sableng yang mereka cintai. Di satu tempat hujan lebat turun menghalangi. 

Rombongan terpaksa berhenti. Menjelang dini hari sewaktu hujan reda dan mereka 

siap melanjutkan perjalanan mendaki gunung, mendadak diketahui bahwa salah satu 

dari mereka yakni gadis jelita dari Andalas, cucu Tuga Gila yang dikenal dengan 

nama Puti Andini, bergelar Dewi Payung Tujuh lenyap tak diketahui ke mana 

perginya. 

 Tiga gadis yakni Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini mencari 

habis-habisan, bahkan kemudian menunggu sambil mengharap Puti Andini akan 

muncul. Tapi sampai sang mentari menyembulkan diri gadis itu tak kunjung datang. 

Tak mungkin menunggu dalam ketidak pastian, tak ada waktu menanti lebih lama, 

akhirnya tiga gadis melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Gede tanpa Puti 

Andini. 

 Di arah timur puncak gunung, Bidadari Angin Timur dan kawan-kawannya 

menemukan pondok kediaman Eyang Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro 

Sableng. Pondok kosong. Dari keadaan luar dan bagian dalam jelas pondok itu tak 

pernah dihuni sejak lama. Tiga gadis melanjutkan penyelidikan. Di satu pedataran tak 

jauh dari pondok kayu mereka menemukan sebuah makam bertanah merah. Inilah 

makam ketiga yang tengah mereka cari dan selidiki. Namun mereka bukan cuma 

menemukan makam jahanam itu, tetapi juga satu pemdangan yang sangat keji 

menusuk mata. Tiga gadis sempat menjerit keras, jatuh berlutut, bertangisan. Kalau 

saja mereka bukan gadis-gadis gagah yang memiliki kepandaian tinggi, dalam 

keadaan seperti itu pasti telah roboh pingsan! 

 Di belakang kepala makam yang ada papan nisannya, menancap sebuah tiang 

besar. Di tiang inilah sosok kawan mereka Puti Andini, berada dalam keadaan terikat. 

Pakaiannya penuh robek, bagian tubuhnya yang tersingkap penuh luka. Darah di 

mana-mana, mulai dari kepala sampai kaki. Puti Andini mereka temukan dalam 

keadaan tak bernyawa lagi. Jenazah gadis malang itu segera diturunkan dari tiang, 

diurus sebisanya lalu dikuburkan di salah satu bagian halaman. 

 Kesunyian mencekam. Sesekali terdengar suara siuran angin dan daun-daun 

atau reranting yang bergesek.


Untuk beberapa lamanya tiga orang gadis itu duduk bersimpuh di depan tanah 

merah makam Puti Andini. Tak ada yang bicara sampai akhirnya Anggini membuka 

mulut. Suaranya bergetar. 

 “Sahabatku Puti Andini. Aku bersumpah untuk mencari siapa yang telah 

berlaku keji terhadapmu. Aku bersumpah membalaskan sakit hati kematianmu.” 

 Ratu Duyung ulurkan tangan kanannya. Memegang tanah makam lalu berkata 

“Aku Ratu Duyung, ikut bersumpah untuk membalaskan dendnam kematian sahabat 

Puti Andini.” 

 “Membalaskan sakit hati dendam kesumat sahabat kita memang merupakan 

satu kewajiban. Namun kita tidak boleh larut terlalu lama.” Berkata Bidadari Angin 

Timur. Matanya kelihatan bengkak dan merah. Rambutnya yang pirang acak-acakan. 

Pakaian kotor penuh tanah. Dua temannya tidak lebih baik dari keadaannya. “Kita 

harus melakukan sesuatu!” 

 Bidadari Angin Timur berdiri, berpaling ke arah makam yang ada papan 

nisannya lalu berkata “Saatnya kita menyelidik. Saatnya kita membongkar makam itu. 

Siapkan peralatan! Apa saja! Kayu, potongan bambu, pecahan batu!” 

 Ratu Duyung dan Anggini segera pula berdiri. 

 “Tidakkah kita lebih baik menunggu, siapa tahu Eyang Sinto Gendeng pemilik 

kawasan ini muncul? Hingga kelak nanti kita tidak dituduh berlaku gegabah 

melakukan sesuatu tanpa ijin di tempatnya?” yang berkata adalah Ratu Duyung 

sambil berpaling pada Anggini seolah minta pertimbangan atas ucapannya tadi. 

 “Maksudmu baik, tapi jangan lupa. Waktu kita tidak banyak,” menyahuti 

Bidadari Angin Timur. “Selain itu salah seorang dari kita telah jadi korban. Dan kita 

telah menguburkannya di tempat ini tanpa ada kemungkinan untuk meminta ijin pada 

pemilik kawasan ini. Kemudian, bukan mustahil, malah aku yakin saat ini diri kita 

juga tengah diintai bahaya! Kalau lambat bertindak kita semua bisa celaka! Selain itu 

kita harus segera mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Pendekar 212. 

Walau nenek muka seram bernama Gondoruwo Patah Hati itu bilang telah bertemu 

dengan Wiro yang menyatakan bahwa pendekar itu masih hidup, tapi itu tidak boleh 

menghambat kita untuk menghentikan penyelidikan.” Habis berkata begitu Bidadari 

Angin Timur melangkah mendekati makam berpapan nisan, yakni makam ketiga dari 

serangkaian kejadian aneh yang dialami para gadis cantik itu sejak beberapa waktu 

belakangan ini. 

 “Kawan-kawan, apakah kalian ada menaruh duga siapa kiranya manusia 

durjana yang telah membunuh Puti Andini?” Anggini, murid Dewa Tuak yang oleh 

sang guru pernah ingin dijodohkan dengan Wiro keluarkan ucapan. 

 “Sebelum dibunuh, Puti Andini telah diperlakukan secara mesum…..”kata 

Anggini dengan suara perlahan. “Aku ingin sekali mengetahui siapa manusia laknat 

terkutuk itu!” 

 Bidadari Angin Timur mendongak, pejamkan mata. Dia ingat keterangan Puti 

Andini apa yang telah diucapkan dan dilakukan Damar Wulung atas dirinya sewaktu 

mereka berada di kuil. Gadis ini usap rambutnya yang pirang, membuka matanya 

kembali lalu berkata. 

 “Dugaan bisa banyak. Tapi aku menaruh wasangka, pemuda bernama Damar 

Wulung itulah yang telah melakukan kekejian ini. mungkin sekali dia masih 

penasaran karena tidak berhasil mencelakai Ratu Duyung. Malam tadi agaknya dia 

tidak memilih-milih. Siapa saja yang didapat itu yang dicelakainya. Dan Puti Andini 

bernasib malang. Dia yang jadi korban!” Bidadari Angin Timur menghela nafas 

panjang. “Sudah, kita tak perlu banyak bicara. Saatnya membongkar makam!” 

 “Tunggu! Ada satu hal ingin kukatakan!” Ratu Duyung tiba-tiba berkata


“Apa?” Bidadari Angin Timur dan Anggini bertanya hampir berbarengan. 

 “Sewaktu jenazah Puti Andini kita urus dan kita kebumikan, aku sempat 

memeriksa. Bukankah sahabat kita ini membekal sebilah pedang mustika sakti?” 

 “Benar!” Bidadari Angin Timur membenarkan ucapan Ratu Duyung. 

 “Tapi senjata itu tidak ada padanya…..” berucap Ratu Duyung. 

 Bidadari Angin Timur terdiam, tidak menunjukkan rasa terkejut. Ini membuat 

heran dua gadis lainnya. Namun keganjilan itu segera tersingkap sewaktu dara 

berambut pirang itu berkata “Terus terang, aku sendiri sebenarnya juga memeriksa 

jenazah Puti Andini. Kau benar Ratu Duyung. Pedang Naga Suci 212 tidak ada pada 

Puti Andini.” 

 “Berarti ada yang mencuri!” ujar Anggini. 

 “Aku yakin sekali si pencuri adalah juga si pembunuh Puti Andini. Benar-

benar biadab! Sangat kurang ajar!” 

 Bidadari Angin Timur kepalkan tinjunya. Diam sesaat dalam geram tiba-tiba 

Bidadari Angin Timur berkata “Aku ingat sesuatu. Pedang sakti itu, bukankah senjata 

itu mempunyai satu keanehan? Tidak sembarangan orang bisa menyentuhnya. Konon 

hanya seorang gadis yang masih suci yang bisa memegang senjata itu. Lalu si 

pemegang juga harus tidak memiliki niat jahat. Ingat peristiwa beberapa waktu lalu? 

Eyang Sinto Gendeng pernah hendak menguasai Pedang Naga Suci 212. Tapi telapak 

tangannya yang memegang pedang hangus melepuh!” 

 “Kalau begitu yang mencuri senjata tersebut adalah seorang gadis!” kata 

Anggini. Pandangan matanya ditujukan berganti-ganti pada Bidadari Angin Timur 

dan Ratu Duyung. 

 Melihat cara memandang Anggini, Bidadari Angin Timur merasa tidak enak 

lalu berkata “Sahabatku Anggini, jangan menduga yang bukan-bukan. Aku tidak 

mencuri pedang sakti itu!” 

 “Aku juga tidak!” berkata Ratu Duyung. 

 “Demikian pula aku!” ujar Anggini. Sambil tersenyum dia bertanya “Lalu 

siapa yang mengambilnya?” 

 Tak ada yang menjawab. 

 Anggini membuka mulut kembali. “Mungkin aku keliru. Tapi salah satu di 

antara kita telah mengambil pedang itu. Bukankah senjata sakti itu berbentuk 

gulungan seperti gulungan ikat pinggang. Jadi mudah saja menyembunyikannya.” 

 Wajah Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung menjadi merah. Dengan 

menahan amarah Bidadari Angin Timur berkata “Anggini, ucapanmu sungguh 

lancang! Dalam keadaan seperti ini jangan sampai terjadi perpecahan di antara kita. 

Kau seolah menuduh salah satu dari kami berdua yang mencuri sementara kau sendiri 

suci dari perbuatan mencuri!” 

 Anggini tersenyum. Dipegangnya tangan Bidadari Angin Timur seraya 

berkata “Maafkan ucapanku. Tidak ada maksud di hatiku menuduh kalian…..” 

 “Aku tetap yakin sipencuri adalah orang yang membunuh Puti Andini,” kata 

Bidadari Angin Timur. “Besar kemungkinan dia seorang perempuan yang masih suci. 

Tapi saat ini untuk sementara kita lupakan dulu pedang mustika itu. Kita harus segera 

membongkar makam ketiga ini.” 

 Tanpa banyak bicara lagi di bawah pimpinan Bidadari Angin Timur, dengan 

peralatan seadanya, antara lain nisan papan bahkan tak jarang mempergunakan tangan 

mereka yang halus, tiga gadis itu segera membongkar makam ketiga. Ini bukan 

pekerjaan gampang, tapi dibanding dengan menggali kubur untuk Puti Andini tadi, 

membongkar makam terasa lebih gampang dan lebih cepat. Apa lagi mereka 

mempergunakan tenaga biasa maka dalam waktu singkat makam telah terbongkar


sampai sepertiga kedalamannya. Semakin dalam digali, semakin mencekam perasaan 

ketiga gadis itu. Apa yang bakal mereka temukan di dalam makam ketiga ini? Apa 

lagi-lagi hanya secarik surat yang memberitahu bahwa mereka ditunggu di makam 

keempat? 

 Mendadak Anggini hentikan gerakan tangannya menggali makam. Tubuhnya 

ditarik ke belakang. Matanya membesar. 

 “Ada apa?” bisik Ratu Duyung tegang. 

 “Aku merasa tanah makam bergerak. Ada sesuatu yang hidup di dalam kubur 

ini!” jawab Anggini dengan berbisik pula. 

 “Kalau begitu hati-hati. Siapkan tenaga dalam,” mengingatkan Ratu Duyung. 

 “Ratu, coba kau kerahkan Ilmu Menembus Pandang. Kau pasti bisa melihat 

benda apa yang mendekam di dalam makam ini,” bisik Bidadari Angin Timur. 

 Mendengar ucapan itu Ratu Duyung segera alirkan tenaga dalamnya ke mata. 

Mata dikedipkan dua kali. Samar-samar Ratu Duyung melihat sesuatu. Dia lipat 

gandakan aliran tenaga dalam ke mata. Begitu penglihatannya lebih jelas gadis ini jadi 

tercekat. Dia tidak bisa percaya. Maka dia kerahkan ilmu kesaktian yang disebut

Menyirap Detak Jantung. Dengan ilmu ini Ratu Duyung sanggup merasakan detak 

jantung seseorang di kejauhan. “Kalau mahluk di dalam makam itu memang mahluk 

hidup, pasti aku akan merasakan detak jantungnya. Kecuali dia setan jejadian…..” 

Ratu Duyung tahan nafas, pasang telinga. Sesaat kemudian dia merasakan ada 

debaran di dadanya. Lalu telinganya menangkap suara detakan jantung. Datangnya 

dari dalam makam! Serta merta Ratu Duyung berteriak. 

 “Cepat keluar dari kubur! Ada mahluk hidup di dalam sana!” 

 Sambil berteriak Ratu Duyung melesat ke atas. Berbarengan dengan itu dia 

cepat menarik tangan kiri Anggini dan mendorong Bidadari Angin Timur ke kanan.


DUA


Perempuan tua yang duduk di depan lampu minyak itu memandang dengan muka 

masam pada pemuda di hadapannya. Mulut komat-kamit. Dari dalam mulut itu 

dikeluarkannya segumpal susur. Mulutnya dipencongkan sesaat sebelum dia bertanya. 

 Melihat susur itu si pemuda jadi ingat akan gurunya. Sang guru paling doyan 

mempermainkan susur sirih dan tembakau di dalam mulutnya. Kini entah di mana 

gurunya itu berada. Mungkin sudah saatnya dia menyambangi di tempat kediamannya. 

 “Anak muda,” berucap perempuan tua di hadapan si pemuda. “Aku belum 

pernah melihat tampangmu sebelumnya. Kau bukan penduduk sini. Kau 

menyusahkan orang saja. Ada keperluan apa malam-malam begini mengganggu 

diriku? Apakah kau tidak bisa menunggu sampai besok pagi?” 

 Pemuda di hadapannya menggaruk rambut lalu tersenyum. “Maafkan aku Nek. 

Aku datang dari jauh. Waktuku sempit. Mohon jangan marah dulu…..” 

 Karena orang bersikap sopan dan bicara halus, perempuan tua itu kendur rasa 

jengkelnya. Susurnya hendak dimasukkan ke dalam mulut kembali tapi tak jadi. “Ah, 

aku tadi bicara agak kasar. Jangan-jangan kau datang minta tolong karena istrimu 

hendak melahirkan. Betul begitu?!” 

 Si pemuda tersentak lalu tertawa bergelak. 

 “Huss! Malam-malam bagini tertawa seenaknya! Kau mau mengundang setan 

lewat kesasar masuk ke rumahku?!” 

 “Nek, namaku Wiro. Aku belum punya istri! Tak ada perempuan yang hamil 

atau bunting! Aku datang untuk keperluan lain. Aku tahu kau memang dukun beranak. 

Tapi kata orang kau yang bernama Nyi Supi juga pengurus jenazah di kawasan sini. 

Jenazah orang-orang perempuan.” 

 “Hemmm….. Mataku masih ngantuk. Aku mau meneruskan tidur. Bilang 

cepat apa keperluanmu. Apa kau datang membawa jenazah untuk aku urusi?” 

 “Nek, Nyi Supi, kau masih ingat peristiwa kematian Kinasih, istri Raden Mas 

Sura Kalimarta juru ukir Keraton? Aku mendapat keterangan kau yang mengurus dan 

memandikan jenazah perempuan itu.” 

 Muka keriput si nenek berubah mendengar disebutkan dua nama itu. “Aku tak 

mau mengingat-ingat kedua orang yang sudah mati itu. Apalagi Kinasih. Mengerikan 

sekali! Seumur hidup aku belum pernah mengurus dan memandikan jenazah seperti 

jenazah perempuan malang itu.” Nyi Supi diam sesaat lalu bertanya “Eh, apakah kau 

punya hubungan saudara dengan kedua orang itu?” 

 Wiro menggeleng. 

 “Lalu kenapa tanya-tanya?” Nyi Supi kelihatan heran. 

 “Nyi Supi, coba kau ingat. Apa betul di kening jenazah Kinasih ada guratan 

angka 212?” 

 “Aku tidak mau mengingat-ingat lagi. Seram sekali! Sejak peristiwa itu aku 

sering kedatangan mimpi buruk…..” 

 “Tolong nek, aku butuh keteranganmu. Benar ada guratan 212 di kening istri 

juru ukir Keraton itu?” 

 Nyi Supi akhirnya anggukkan kepala. “Kematian yang aneh. Tega-teganya ada 

orang membuat guratan seperti itu. Entah apa maksud dan artinya. Tapi bagiku itu 

tidak terlalu seram. Dibanding…..” 

 “Dibanding apa?” tanya Wiro ketika si nenek hentikan ucapannya. 

 “Terlalu ngeri…….”


“Tak usah takut Nek. Ceritakan saja,” ujar Wiro. 

 “Sekujur tubuh Kinasih. Penuh luka-luka terkuak. Bukan bekas sayatan atau 

tusukan senjata tajam. Tapi luka-luka bekas gigitan. Terutama di bagian dada. Salah 

satu putting susunya hampir tanggal. Darah di mana-mana. Waktu memandikan aku 

benar-benar tidak tega…..” 

 “Gigitan itu, menurutmu apakah gigitan manusia atau binatang buas?” tanya 

Wiro pula. 

 “Ya pasti gigitan manusia! Gigitan orang yang merusak kehormatannya. 

Masakan binatang bisa menggigit dan menggurat angka! Kau ini bagaimana? 

Tanyanya seperti orang tolol saja!” 

 Wiro tertawa. 

 “Terima kasih Nek, aku berterima kasih kau mau memberi keterangan. Kini 

aku baru percaya kalau di kening mayat Kinasih memang ada guratan tiga angka. 

Tadinya aku mengira cuma cerita yang dibuat-buat belaka. Terima kasih Nek. Aku 

tidak akan mengganggumu lebih lama. Aku minta diri….” 

 “Hemmmm…..” Nyi Supi bergumam. “Sudah pergi sana. Aku mau 

meneruskan tidur…..” 

 Wiro tersenyum. Dia usap-usap pipi peot si nenek seraya berkata. “Teruskan 

tidurmu Nek. Semoga kali ini mimpimu bagus-bagus.” Wiro melangkah pergi. 

 Entah usapan tadi entah karena hal lain, yang jelas si nenek tiba-tiba ingat 

sesuatu. 

 “Wiro, tunggu,” Nyi Supi memanggil. 

 Murid Sinto Gendeng hentikan langkah, memutar tubuh. 

 “Ya, Nek. Ada apa?” 

 Nyi Supi lambaikan tangan, memberi isyarat aga Wiro lebih mendekat. Begitu 

Wiro sampai di hadapannya perempuan tua ini berkata “Ada satu hal perlu 

kuceritakan. Mungkin ada artinya bagimu. Ketika jenazah Kinasih aku mandikan, 

tangan kanannya dalam keadaan mengepal. Karena sudah kaku, susah untuk 

diluruskan, apa lagi dibuka. Tapi karena di celah-celah jarinya yang mengepal kulihat 

ada benda seperti secarik kain hitam, aku jadi berpikir. Jangan-jangan benda dalam 

genggaman Kinasih itu ada sangkut pautnya dengan kematian dirinya. Dibantu 

seorang teman aku berhasil membuka genggaman jari-jari tangan kanan Kinasih. 

Benar, benda yang digenggamannya itu ternyata adalah secarik robekan kain hitam. 

Nah itu saja yang aku ingin sampaikan padamu…..” 

 Wiro terdiam. Berpikir-pikir. 

 “Nyi Supi, robekan kain hitam itu, apakah kau masih menyimpannya?” 

 “Ah, kejadiannya sudah cukup lama. Aku tak ingat lagi. Tapi mungkin masih 

ada. Tolong bawakan lampu minyak itu ke dalam…..” 

 Di ruang dalam, di bawah penerangan lampu minyak yang dibawa oleh Wiro, 

Nyi Supi memeriksa di beberapa tempat. Dia tidak menemukan benda yang dicarinya. 

 “Mungkin kau menyimpan di kamar tidurmu,” kata Wiro. 

 “Tidak, benda seperti itu tidak akan pernah kusimpan di kamar tidurku!” Si 

nenek pejamkan mata seolah berpikir. “Di sumur!” tiba-tiba si nenek berseru. 

“Robekan kain itu semula kusimpan di balik setagen. Ketika mau mandi di sumur 

setagem kulepas. Kain hitam tercampak, kupungut lalu kusempilkan….. Anak muda, 

ayo ikut aku ke sumur.” 

 Benar apa yang dikatakan Nyi Supi, robekan kain itu memang disempilkan di 

atas bambu melintang dinding kajang pelindung tempat mandi. Kain itu 

diserahkannya pada Wiro. Ketika Wiro memperhatikan, kain itu ternyata tidak cuma 

berwarna hitam. Tapi ada warna-warna lain yakni biru dan garis-garis merah


“Nyi Supi, kukira robekan kain ini tidak ada gunanya bagimu. Atau kau masih 

mau menyimpannya?” 

 “Buat apa?” uajr si nenek. Wiro masukkan robekan kain itu ke balik 

pakaiannya. “Sekali lagi terima kasih Nek. Aku minta diri…..” Nyi Supi menjawab 

dengan menguap lebar. 

 Hari masih pagi. Gedung Kepatihan nampak sunyi. Sejak Patih Selo 

Kaliangan sakit berat beberapa waktu lalu suasana di Gedung Kepatihan sepi-sepi saja. 

Beberapa orang tabib dan ahli pengobatan kabarnya telah berdatangan berusaha 

mengobati sang patih. Namun sebegitu jauh keadaannya belum menunjukkan 

kesembuhan. Racun yang mengidap di dalam tubuhnya baru sedikit bisa dikeluarkan. 

Di atas pembaringan Patih Kerajaan itu tergolek lumpuh. Tubuhnya yang tadinya 

besar tegap kelihatan kurus. Untungnya dia masih mampu membuka mulut untuk 

berkata-kata walaupun dengan suara tidak terlalu keras. 

 Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya (Makam Ketiga) terjadi 

penyergapan untuk kesekian kalinya oleh orang-orang Kerajaan terhadap Pendekar 

212 Wiro Sableng. Penyergapan itu dipimpin sendiri pleh Patih Selo Kaliangan, 

dibantu oleh beberapa tokoh silat Istana berkepandaian tinggi, sementara Pendekar 

212 didampingi oleh nenek sakti sahabat barunya berjuluk Gondoruwo Patah Hati. 

 Penyergapan bukan saja gagal tetapi Patih Selo Kaliangan malah ditimpa 

celaka besar. Gondoruwo Patah Hati berhasil menangkap salah satu dari dua ular yang 

jadi senjata tokoh silat berjuluk Setan Bertongkat Ular. Binatang berbisa ini kemudian 

dimasukkan ke dalam celana Patih Kerajaan. Akibatnya patukan ular berbisa yang 

bersarang satu jengkal di bawah pusarnya, sang Patih keracunan berat. Sekujur 

tubuhnya diserang demam panas. Beberapa hari kemudian dia jatuh lumpuh. 

Beberapa orang pandai telah berusaha menolong memberikan pengobatan. Namun 

sang Patih masih jauh dari kepulihan. Konon, jika penyakitnya terlambat diobati, 

walau kelumpuhannya bisa disembuhkan namun dia akan menderita penyakit lemah 

syahwat seumur hidup. Sejak peristiwa itu Pendekar 212 Wiro Sableng dan 

Gondoruwo Patah Hati dinyatakan sebagai buronan, harus ditangkap hidup atau mati. 

Sementara Setan Bertongkat Ular karena takur melenyapkan diri entah ke mana. 

 Di dalam kamar saat itu Patih dan pelayan tengah menunggu beberapa pelayan 

lain yang setiap pagi datang untuk membersihkan dan memandikan patih Selo 

Kaliangan. Tapi lain yang ditunggu lain yang muncul. Dua orang pengawal yang 

biasa berjaga-jaga di depan pintu laksana dilabrak topan mencelat masuk ke dalam 

kamar, bergelundungan di lantai, mencoba bangkit, tapi tak mampu dan hanya 

melingkar di lantai sambil mengerang kesakitan. Yang satu pegangi perut, sedang 

temannya menekap hidung dan mulutnya yang berdarah. 

 Belum habis kejut Patih Kerajaan dan pelayan di dalam kamar, tiba-tiba 

seorang pemuda berpakaian serba putih, berambut gondrong berkelebat masuk dan 

tahu-tahu sudah berdiri di samping ketiduran Patih Kerajaan. 

 Mata membelalak Patih Selo Kaliangan serta merta mengenali siapa adanya 

orang yang tegak di sampng tempat tidurnya. Langsung mulutnya berteriak. 

 “Kau! Buronan jahanam! Berani mati masuk ke tempat ini! Pelayan! Panggil 

pasukan! Tangkap orang ini! pengawal!” 

 Pelayan di sudut kamar yang sejak tadi sudah terlonjak kaget dan bangkit 

berdiri tanpa tunggu lebih lama segera lari ke pintu. Namun baru tiga langkah


bergerak tubuhnya mendadak kaku. Satu totokan jarak jauh yang menusuk 

punggungnya membuat dia tertegun tak bergerak dan tak bersuara di samping pintu. 

 Amarah besar membuat tubuh Patih Selo Kaliangan menggigil. Dia berusaha 

bangkit, mencoba menggerakkan tangan untuk menghantam. Tapi sia-sia saja. 

Kelumpuhan membuat dia tetap terhenyak di atas tempat tidur. Tak ada hal lain yang 

bisa diperbuat Patih Kerajaan ini selain mulai berteriak minta pertolongan. Namun 

suara teriakannya lenyap begitu sehelai sapu tangan kotor miliknya sendiri 

disumpalkan pemuda berambut gondrong ke mulutnya. 

 Enak saja si gondrong ini duduk di tepi ranjang lalu berkata “Patih Selo 

Kaliangan, aku Wiro Sableng datang menemuimu untuk membuat perjanjian. Aku 

akan menawarkan penyembuhan atas dirimu jika kau mau memberi tahu di mana aku 

bisa menemukan Iblis Kepala Batu Alis Empat alias Iblis Kepala Batu Pemasung Roh. 

Dia telah menculik sahabatku, seorang gadis bernama Bunga dan memasukkannya ke 

dalam sebuah guci. Jika kau mau menolong hingga aku bisa membebaskan sahabatku 

itu, aku berjanji akan mengobati penyakitmu.” 

 Habis berkata begitu Pendekar 212 Wiro Sableng melepaskan sapu tangan 

yang disumpalkannya ke mulut Patih Kerajaan. “Kau sudah mendengar apa yang aku 

ucapkan. Aku ingin mendengar jawabanmu!” 

 “Manusia jahanam! Aku lebih baik menerima kematian sekarang juga dari 

pada membuat perjanjian denganmu! Umurmu tidak akan lama! Orang-orangku akan 

segera menangkapmu. Tiang gantungan sudah lama menunggumu!” 

 Murid Sinto Gendeng menyeringai. 

 “Orang mati saja kalau bisa bicara kepingin hidup lagi. Kau yang masih hidup 

malah buru-buru minta mati! Kau lupa bahwa penyakitmu akan membawa 

kesengsaraan seumur hidup sebelum ajalmu benar-benar datang. Aku kawatir kau tak 

sanggup menanggung kesengsaraan. Kau bisa jadi gila! Kasihan. Tapi kalau itu 

pilihanmu, apa boleh buat!” 

 “Pembunuh terkutuk! Pencuri keris pusaka Kerajaan! Aku tidak takut mati! 

Aku akan mati tanpa penyesalan asalkan lebih dulu menyaksikan mayatmu kaku di 

tiang gantungan!” 

 “Patih, aku bukan pembunuh seperti yang kau tuduhkan! Aku juga bukan 

pencuri Keris Kiai Naga Kopek!” 

 Saking marahnya mendengar ucapan Wiro, Patih Selo Kaliangan membuang 

ludah. “Siapa percaya ucapan manusia bejat sepertimu! Kau tahu, bukan cuma dirimu 

yang bakal menerima hukuman berat! Kerajaan telah memutuskan untuk meminta 

pertanggung jawaban gurumu si Sinto Gendeng!” 

 Wiro terkejut mendengar ucapan Patih Selo Kaliangan itu. “Pada waktunya 

aku akan memberikan bukti-bukti padamu siapa sebenarnya pembunuh Kinasih dan 

suaminya si juru ukir. Juga siapa yang telah menjarah Keris Pusaka Keraton. Tapi 

satu hal aku tidak suka! Guruku Eyang Sinto Gendeng tidak ada sangkut pautnya 

dengan semua kejadian ini. Jika orang-orang Kerajaan sampai berani menyentuh 

selembar rambutnya, pembalasanku tidak tanggung-tanggung. Gedung Kepatihan ini 

akan kusama ratakan dengan tanah. Kalau perlu gedung bangunan Istana juga akan 

kubuat amblas sampai ke perut bumi!” 

 “Manusia sombong terkutuk! Beraninya kau mengancam!” maki Patih Selo 

Kaliangan. Lalu dia berteriak. “Pengawal!” 

 Wiro berdiri. Selagi berpikir apa yang hendak dilakukannya untuk memaksa 

Patih Kerajaan tiba-tiba satu bayangan kuning berkelebat. Ada angin dahsyat 

menyambar menebar hawa dingin. Tak mau berlaku ayal Wiro segera melompat 

hindarkan diri. Ketika memandang ke depan kagetlah murid Sinto Gendeng. Yang


barusan menyerangnya ternyata seorang dara berwajah cantik, berambut sangat hitam 

di gulung di atas kepala. Di pinggangnya dara ini membekal sebilah pedang yang 

sarungnya berukir, ditabur batu-batu aneka warna.


TIGA


Setelah pandangi dara cantik itu sesaat Wiro berseru “Aha! Tidak disangka Patih 

Kerajaan punya pengawal seorang gadis cantik! Dara jelita siapa namamu?!” 

 “Ayah! Siapa pemuda gondrong lancang kurang ajar ini?!” Gadis berpakaian 

kuning bertanya. Ternyata dia adalah puteri Patih Selo Kaliangan. 

 “Sutri! Hati-hati! Pemuda itu adalah Wiro Sableng, buronan Kerajaan! Lekas 

panggil pengawal! Siapkan pasukan! Kurung gedung Kepatihan! Jangan sampai lolos. 

Dia harus ditangkap hidup atau mati!” Patih Selo Kaliangan berteriak. 

 Sepasang mata gadis jelita membelalak. Wajahnya berubah. Tangan kanannya 

langsung bergerak ke pinggang menghunus pedang. Melihat hal itu, Selo Kaliangan 

yang tahu kalau Wiro bukan tandingan puterinya kembali berteriak agar Sutri segera 

meninggalkan tempat itu, memanggil para pengawal. Tetapi setelah sirap kagetnya 

mengetahui siapa adanya pemuda di hadapannya itu, Sutri bukannya pergi malah 

membentak. 

 “Jadi ini manusia kurang ajar yang mencelakai ayahku! Bagus! Kau datang 

sengaja mencari mati! Biar tanganku sendiri menjatuhkan hukuman! Lihat pedang!” 

 Baru selesai berucap satu sinar putih sudah bertabur di depan hidung Pendekar 

212. Itulah kilapan cahaya pedang baja putih di tangan puteri sang Patih. 

 Dari sambaran angin sewaktu pertama kali gadis ini memasuki ruangan 

Pendekar 212 maklum kalau puteri Patih Kerajaan itu memiliki ilmu meringankan 

tubuh cukup tinggi serta tenaga dalam yang dapat diandalkan. Kini dalam jurus 

pertama serangan pedangnya si gadis seolah hendak membelah kepalanya mulai dari 

ubun-ubun sampai ke dagu! Benar-benar serangan pertama yang mematikan! 

 Wiro cepat bergerak hindarkan serangan lawan. 

 “Wuuuutttt!” 

 Pedang baja putih melanda tempat kosong. Membuat Sutri terkejut besar. 

Serangan pertama yang dilancarkannya tadi itu dia sengaja mengeluarkan jurus ketiga 

dari ilmu pedangnya yang disebut “Membelah Rembulan Di Puncak Langit.” Jarang 

lawan bisa selamat dengan mudah. Tapi ternyata Wiro enak saja bisa menghindar 

padahal untuk mendalami jurus ketiga itu dia telah menghabiskan waktu lebih dari 

satu tahun! 

 Didahului jeritan melengking keras, Sutri kembali menggebrak. Pedangnya 

berubah menjadi taburan cahaya putih dan tebaran hawa dingin. Tubuh Pendekar 212 

tenggelam dalam buntalan cahaya putih. Pakaian dan rambutnya berkibar-kibar 

terkena sambaran senjata lawan. Melihat kehebatan serangan lawan, apalagi si gadis 

kelihatannya begitu nekad, murid Sinto Gendeng tak mau berlaku ayal. Tapi melihat 

kecantikan sang dara muncul niat untuk mempermainkan. 

 Setelah lima jurus Wiro di desak habis-habisan bahkan ujung lengan kiri 

bajunya sempat dimakan pedang lawan, Wiro mulai bergerak aneh. Tubuhnya 

melompat kian kemari. Setiap lompatan selalu dilakukannya melintasi tempat tidur 

Patih Kerajaan terbaring. Hal ini dianggap kurang ajar dan keterlaluan oleh Sutri apa 

lagi oleh Patih Kerajaan. Ayah dan anak memaki habis-habisan. 

 Sutri mengamuk. Pedangnya menderu laksana air bah. Mengejar ke mana saja 

Wiro berkelebat. Tapi dia harus bertindak hati-hati agar tiap tusukan atau bacokan 

senjatanya tidak salah arah hingga bisa mencelakai ayahnya sendiri. 

 Gilanya, dalam melompat menghindarkan serangan pedang, tak jarang Wiro 

mengangkat kaki atau tangan Patih Selo Kaliangan, dipergunakan untuk menangkis


serangan pedang. Sutri yang tidak mau ayahnya celaka tentu saja terpaksa menarik 

atau menahan serangan, penuh geram berteriak memaki. 

 “Pengecut tengik!” teriak Surti marah. “Jangan pergunakan tubuh ayahku 

sebagai tameng penangkis!” 

 Wiro tertawa bergelak. Lalu menyambar sebilah tombak pajangan di sudut 

kamar. 

 “Aku mengikuti apa maumu!” kata Wiro seraya menyeringai dan 

mengacungkan tombak. 

 Sutri kertakkan rahang. Tanpa banyak bicara dia melompat. Tangan kanan 

diputar dan pedang baja putih kembali bertabur. Wiro pergunakan tombak untuk 

menangkis. 

 “Trang! Trang! Trang!” 

 Tiga kali terdengar suara berdentrangan. 

 Wiro keluarkan seruan tertahan. Tombak di tangannya kini tinggal kutungan 

sepanjang dua jengkal. Ujung sebelah atas putus tiga kali dibabat pedang baja putih di 

tangan Sutri! 

 “Hebat! Ilmu pedangmu sungguh luar biasa!” Pendekar 212 memuji. “Sayang 

aku tidak punya banyak waktu melayanimu!” 

 “Buronan terkutuk! Kau mau lari ke mana!” bentak Sutri ketika melihat Wiro 

enak saja melangkah ke arah pintu. Karenanya bagitu sang pendekar lewat di 

hadapannya pedang di tanan kanannya langsung dibabatkan ke pinggang sang 

pendekar. 

 “Ah! Putus pinggangku!” seru Wiro seolah kaget ketakutan. Tapi sambil 

menyeringai. Tubuhnya meliuk ke samping. Tangan kanan cepat mencekal 

pergelangan si gadis, diputar demikian rupa hingga pedang terlepas dari cekalan Sutri. 

Lalu settt! Pedang baja putih itu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya! 

 Patih Kerajaan seperti tidak percaya melihat apa yang terjadi. Untuk 

mempelajari ilmu pedang itu puterinya digemlbleng oleh dua tokoh silat terkenal dan 

memakan waktu lebih dari lima tahun. Kini sang puteri hanya dijadikan bulanan 

main-mainan oleh buronan terhukum mati itu! 

 Sutri sendiri hendak menggerung saking marah dan malunya. Di hadapannya 

Pendekar 212 enak saja menyeringai dan berucap. 

 “Gadis cantik sepertimu jangan terlalu nekad main pedang!” Konyolnya habis 

berkata begitu Wiro lantas mencolek dagu si gadis. 

 Patih Kerajaan berteriak marah. 

 “Lancang kurang ajar!” teriak Sutri Kaliangan. 

 “Bukkk!” satu jotosan melanda perut Wiro. 

 Sakitnya lumayan. Tapi bukannya mengeluh kesakitan murid Sinto gendeng 

malah ulurkan tangan kanan mengusap pipi Sutri Kaliangan. 

 “Kurang ajar!” 

 “Bukkkk!” 

 Untuk kedua kalinya pukulan keras mendarat di perut Wiro. Pemuda ini 

menyeringai dan kembali tangannya menjaili mengusap wajah si gadis. 

 Marah besar Sutri kembali hendak menjotos perut pemuda itu untuk ketiga 

kalinya. Tapi kawatir pipinya bakal diusap lagi, pukulan ke arah perut dibatalkan, 

diganti kini dengan jotosan keras ke arah wajah Pendekar 212. Jotosan kali ini 

mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam. Jangankan kepala Wiro, kepala seekor 

kerbaupun bisa amblas! 

 Wiro tertawa bergelak. Sebelum pukulan si gadis mendarat di mukanya, 

dengan cepat dia merunduk, mencolek pinggang Sutri. Selagi gadis ini terpekik marah


dan kegelian lalu memaki panjang pendek, sambil senyum-senyum murid Sinto 

Gendeng berkelebat ke pintu. 

 Tapi gerakan Pendekar 212 tertahan. Senyum lenyap dari mulutnya. Di 

ambang pintu beberapa orang bertampang garang menutup jalan. 

 “Ah, mereka lagi!” ujar Wiro sambil menggaruk kepala. “Kalau mereka 

menyerbu dan aku bertahan di kamar ini, tipis harapanku untuk lolos.” Melirik ke 

samping dilihatnya Sutri telah menghunus pedang bajanya kembali. Wiro garuk 

kepala sekali lagi. Tiba-tiba dia melompat ke kepala tempat tidur Patih Selo 

Kaliangan. 

 “Jahanam kurang ajar! Apa yang kau lakukan?!” Patih Kerajaan berteriak. 

Sutri memburu. Namun gadis ini dan juga semua orang yang ada di depan pintu 

kamar terpaksa menyingkir ketika Wiro mengangkat bagian kepala tempat tidur di 

mana Patih Kerajaan terbaring, lalu mendorong tempat tidur itu menerobos kurungan 

orang-orang di pintu. 

 Di luar kamar Wiro lepaskan ujung kepala tempat tidur yang dipegangnya 

hingga tempat tidur itu terbanting keras ke bawah. Selagi Sutri berusaha menahan 

tubuh ayahnya agar tidak jatuh terbanting ke lantai, Wiro pergunakan kesempatan 

untuk meninggalkan tempat itu. Namun lima orang berkelebat cepat dan 

mengurungnya dengan rapat. 

 Kelima orang ini merupakan musuh lama karena mereka bukan lain adalah 

dedengkot tokoh silat Kerajaan yakni Hantu Muka Licin Bukit Tidar, Jalak Kumboro

alias Pendekar Keris Kembar, lalu Tumenggung Cokro Pambudi. Orang keempat 

adalah Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara dan yang kelima Ki Sepuh Item. Wiro 

mengira Iblis Kepala Batu Alis Empat juga berada di situ, ternyata momok yang telah 

memasung Bunga itu tak kelihatan. 

 Ki Sepuh Item berdiri paling dekat. Kakek tinggi kerempeng berkulit hitam 

gosong ini memandang penuh geram pada Pendekar 212. Dendamnya terhadap Wiro 

memang bukan alang kepalang. Bukan saja karena nyawanya hampir dilalap oleh 

Wiro sewaktu terjadi perkelahian hebat di puncak bukit the Karangmojo tempo hari, 

tapi juga karena Wirolah yang telah menamatkan riwayat muridnya dengan ilmu 

Membelah Bumi Menyedot Arwah. Dirinya sendiri kalau tidak ditolong oleh Adisaka 

pasti akan mengalami kematian mengerikan dengan cara yang sama. (baca Episode 

“Gondoruwo Patah Hati”) 

 “Kalian berlima, tua bangka tidak tahu diri! Masih berani unjukkan diri jual 

tampang! Rupanya kalian memang musti digebuk sampai benar-benar tahu rasa!” 

 Ki Sepuh Item unjukkan wajah garang lalu bersama Hantu Muka Licin dia 

keluarkan suara tawa bergelak. 

 “Nyawa sudah di ujung tenggorokan! Masih saja bersikap sombong kurang 

ajar!” memaki Hantu Muka Licin. 

 “Para tokoh!” tiba-tiba Patih Selo Kaliangan berteriak. “Tidak perlu bicara 

bertutur cakap dengan pemuda buronan jahana itu! bunuh dia sekarang juga!” 

 Lima tokoh silat berkepandaian tinggi segera bergeak, menebar mengatur 

kedudukan untuk menyerang. Sutri, puteri sang Patih tak tinggal diam. Dia melompat 

ke samping Si Bisu, pedang baja putih melintang di depan dada. 

 “Bunuh!” teriak Patih Selo Kaliangan tidak sabaran.



EMPAT


Tongkat tulang putih berlubang di tangan Ki Sepuh Item menderu ke depan, 

mengeluarkan suara bising merobek gendang-gendang telinga serta semburan angin 

dingin laksana tusukan jarum yang tidak kelihatan! Kalau tangan kanan melancarkan 

serangan dengan tongkat tulang putih yang berbahaya, tak kalah bahayanya si kakek 

muka gosong ini juga pergunakan tangan kirinya. Di tangan ini dia memiliki ilmu 

yang disebut Kaca Hantu. Konon tangan ini diisi sejenis susuk. Jika tenaga dalam 

dikerahkan maka telapak tangan akan mengeluarkan sinar berkiblat. Bila lawan 

terkena serangan sinar, pandangannya akan menjadi gelap buta kesilauan. Wiro 

sebelumnya sudah pernah menghadapi Ki Sepuh Item serta merta angkat tangan 

kirinya untuk melindungi mata dari ulmu Kaca Hantu itu. 

 Serangan yang datang berbarengan dengan hantaman tongkat dan silaunya 

Kaca Hantu adalah sambaran pedang baja putih di tangan Sutri Kaliangan. Gadis ini 

menyerbu tak kepalang tanggung. Lancarkan dua tusukan dan satu kali bacokan 

dalam gebrakan pertama. 

 Orang ketiga yang ikut menghujani Pendekar 212 dengan serangan adalah 

Keris Kembar Jalak Kumboro. Waktu terjadi perkelahian besar di puncak bukit teh 

tempo hari dia telah kehilangan satu dari dua kerisnya sementara salah satu tangannya 

mengalami cidera berat. Saat itu dengan tangan masih dibalut dia menyerang Wiro 

mempergunakan keris dan sebilah senjata berbentuk kelewang pendek yang 

memancarkan sinar redup kehitaman pertanda senjata ini mengidap racun jahat. 

 Tumenggung Cokro Pambudi sebenarnya tidak punya silang sengketa apa-apa 

dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun tokoh istana ini ingin berbuat pahala 

membalaskan sakit hati Patih dan menjalankan perintah. Di samping itu dia merasa 

bertanggung jawab atas lolosnya pemuda yang mencuri keris pusaka Kiai Naga 

Kopek. Jika dia bisa ikut membekuk Pendekar 212 paling tidak rasa kecewa Sri 

Baginda terhadapnya bisa berkurang. Senjata yang dipergunakan sang Tumenggung 

adalah sebilah golok panjang berbetuk segi empat. 

 Si Bisu Pencabu Nyawa Tanpa Suara, kakek aneh yang hidungnya dicanteli 

anting-anting, berkepala botak warna kuning keluarkan suara haha-huhu. Setelah itu 

dengan gerakan kilat tapi tanpa keluarkan suara sama sekali dia melompat memasuki 

kalangan pertempuran. Kakek ini tidak membekal senjata. Yang jadi andalannya 

adalah sepuluh kuku jari kakinya yang berwarna hitam panjang. Belasan lawan 

berkepandaian tinggi telah menjadi korban keganasan sepuluh kuku jari kakinya itu. 

karena dia mempergunakan kuku jari kaki sebagai senjata, maka gerakan silatnya 

tampak aneh tapi sangat berbahaya. Dia lebih banyak bergerak setengah tinggi badan, 

merunduk bahkan kadang-kadang berguling di tanah. Setiap serangan tidak 

mengeluarkan suara atau siuran angin sedikitpun. Tahu-tahu korban sudah bersimbah 

darah, tubuh atau muka robek besar disambar kuku jari kaki! 

 Orang keenam, yang paling dahsyat melancarkan serangan adalah Hantu 

Muka Licin Bukit Tidar. Dendamnya terhadap Wiro tak akan habis-habis seumur 

hidup. Bukan saja karena telah dipermalukan yaitu ditelanjangi di depan orang 

banyak tapi juga karena penasaran tak sanggup menghabisi Wiro dengan Jarum 

Perontok Syaraf. Seperti diceritakan sebelumnya Bunga, gadis cantik dari alam roh 

telah menyelamatkan Pendekar 212 dari racun jarum maut itu. (baca Episode “Roh 

Dalam Keraton”)


Dalam Episode “Gondoruwo Patah Hati” diceritakan bagaimana senjata paling 

diandalkan oleh Hantu Muka Licin yakni rumbai-rumbai ikat pinggang kuning yang 

sanggup melesatkan jarum beracun telah dimusnahkan oleh Pendekar Kipas Pelangi. 

Sementara dia masih belum mendapat senjata pengganti yang bisa diandalkan maka 

Hantu Muka Licin Bukit Tidar pergunakan kesaktian dua ujung lengan jubahnya yang 

bisa mengeluarkan asap kelabu mengandung racun tak kalah jahatnya dengan racun 

Jarum Perontok Syaraf. Sebelumnya ilmu serangan asap ini juga telah dibuat tak 

berdaya oleh Pendekar Kipas Pelangi. Saat ini Pendekar 212 hanya seorang diri 

hingga Hantu Muka Licin Bukit Tidar merasa yakin dia dan kawan-kawan kali ini 

akan sanggup menghabisi Wiro. Memang dalam keadaan seperti itu sulit dibayangkan 

bagaimana murid Sinto Gendeng akan mampu menghadapi enam serangan maut yang 

datang berseribut cepat untuk membantainya! 

 Serangan lawan yang lebih dulu sampai adalah hantaman asap kelabu beracun 

yang keluar dari ujung lengan jubah Hantu Muka Licin Bukit Tidar. Wiro begitu 

mencium bau yang tidak enak segera menutup jalan pernafasannya. 

 Enam penyerang keluarkan seruan tertahan ketika mereka menyangka 

serangan masing-masing akan mencapai sasaran tiba-tiba ada cahaya terang 

menyilaukan berkiblat disertai suara gaungan dahsyat yang menggetarkan seantero 

tempat! 

 “Awas! Kapak Maut Naga Geni 212!” Seseorang berteriak memberitahu. 

 “Bukkk!” Orang yang barusan berteriak menjerit keras begitu satu jotosan 

tangan kiri melanda dadanya. Darah menyembur dari mulutnya dan sosoknya 

terpental lalu terjengkang di lantai. Orang ini adalah Tumenggung Cokro Pambudi 

yang sebelumnya telah menyerbu Wiro dengan satu bacokan golok, tapi berhasil 

dielakkan dan dia sendiri harus menerima hantaman jotosan tangan kiri di bagian 

dadanya. 

 Bersamaan dengan itu ada hawa panas melanda dan trang-trang! Dua 

bentrokan senjata terjadi di udara. Dua mulut terpekik keras. Satu sosok mencelat 

menjauhkan diri, mengerang pendek, tersandar ke dinding bangunan. 

 “Bunuh! Habisi pemuda keparat itu!” Patih Selo Kaliangan berteriak dari 

samping pilar besar di mana dia disandarkan oleh puterinya. 

 Saat iu Sutri telah keluar dari kalangan pertempuran dengan muka pucat pasi. 

Pedang baja masih tergenggam di tangannya tapi sudah buntung dan bagian yang 

masih berada dalam pegangannya kelihatan hitam hangus mengepulkan asap! 

 Orang kedua di pihak Kerajaan yang bernasib malang lagi-lagi adalah 

Pendekar Keris kembar Jalak Kumboro. Kerisnya yang tinggal satu mental hancur 

entah kemana sedang kelewang pendek masih berada dalam pegangannya tapi seperti 

pedang baja Sutri, senjata itu kelihatan buntung dan hangus hitam mengeluarkan asap. 

Jalak Kumboro sendiri tegak terhuyung-huyung dengan muka pucat, berusaha 

mengatur jalan darahnya yang menjadi kacau akibat kejut dan rasa ngeri yang amat 

sangat! 

 Di bagian lain Pendekar 212 Wiro Sableng tampak tegak tersandar ke dinding 

bangunan. Celananya robek besar di bagian paha dan ada noda darah pertanda di balik 

robekan ada luka cukup parah. Tubuh Wiro kelihatan bergetar seperti orang 

menggigil. Rahangnya menggembung dan keningnya mengerenyit menahan sakit. 

Apa yang terjadi? 

 Ketika enam serangan datang menerjang dirinya, Wiro bergerak cepat 

mencabut kapak sakti dan pergunakan tangan kiri untuk menghantam. Dia berhasil 

membuat mental Tumenggung Cokro Pambudi dengan jotosan telak di dada, 

membabat putus pedang baja putih di tangan Sutri lalu menghancurkan kelewang dan


keris di tangan Sepasang Keris Kembar. Selain itu Wiro juga berhasil selamatkan 

kepalanya dari pukulan tongkat tulang putih di tangan Ki Sepuh Item yang 

dihantamkan ke kepalanya. Namun bagaimanapun cepat dan hebatnya gerak Pendekar 

212 menghadapi serangan enam orang lawan, tetap saja dia kebobolan. 

 Setelah melindungi matanya dari sambaran Kaca Hantu Ki Sepuh Item yang 

menyilaukan, menggebrak tiga lawan, Wiro tidak mampu menghindarkan diri dari 

serangan aneh yang dilancarkan Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara. Dia hanya 

sempat bergerak mundur setengah langkah sebelum lima kuku hitam jari kaki kanan 

kakek berkepala kuning botak ini menggurat robek paha celananya, membuat 

koyakan luka pada kedua pahanya. Darah langsung mengucur. Racun kuku mulai 

bekerja, membuat tubuhnya panas tapi dia sendiri merasa dingin menggigil. 

 Sadar bahaya yang dihadapinya, Wiro melompat menjauhi enam lawan. Dia 

bersandar ke dinding bangunan, menotok dua urat besar pangkal paha kiri kanan. 

 Patih Selo Kaliangan kembali berteriak. Saat itu adalah kesempatan paling 

baik untuk menghabisi Pendekar 212. 

 “Hantu Muka Licin, Ki Sepuh Item, Bisu Pencabut Nyawa! Habisi pemuda 

itu!” 

 Seperti sang Patih, tiga orang yang diteriaki itu sama menyadari memang saat 

itulah kesempatan paling baik untuk membunuh Pendekar 212. Ketiganya serta merta 

menggebrak maju. Wiro yang sudah maklum bahaya besar yang mengancamnya, 

pindahkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke tangan kiri. Dengan tangan kanan dia lalu 

lepaskan pukulan Sinar Matahari, mengerahkan hempir seluruh kekuatan tenaga 

dalamnya! 

 Ledakan dahsyat menggelegar. Beberapa bagian bangunan Kepatiha, termasuk 

sebagian kamar tidur Patih Selo Kaliangan ambruk. Asap menggebubu, hawa panas 

menebar membakar. Ketika asap lenyap, debu hilang dan pemandangan terang 

kelmbali, kelihatan beberapa orang berkaparan di lantai di depan kamar. 

 Yang pertama tentu saja sang Patih sendiri. Dia tergeletak di lantai. Pakaian 

merahnya hangus. Tak jauh dari situ terkapar Ki Sepuh Item, mengerang menggeliat-

geliat. Kulitnya yang hitam kelihatan semakin hitam. Rambut, kumis dan janggutnya 

yang tadinya putih kini berubah menjadi hitam. Dari mulutnya keluar suara erangan 

halus. Matanya setengah terpejam. 

 Hanya beberapa langkah di samping Ki Sepuh Item, berlutut sosok Hantu 

Muka Licin Bukit Tidar. Mulut berkomat kamit. Jubah kelabunya hangus di bagian 

bahu kiri sampai ke pinggang. Mukanya pucat. Untuk beberapa lama dia berlutut tak 

bergeark, mengatur jalan darah dan hawa sakti dalam tubuhnya sambil matanya 

mengawasi ke arah Pendekar 212. 

 Tumenggung Cokro Pambudi tergeletak tidak sadarkan diri dekat tangga 

menuju ke taman. Sementara Sutri masih bisa selamatkan diri karena ketika ledakan 

dahsyat terjadi dia terlindung di balik satu tiang besar. Walau kemudian tiang ini 

roboh, si gadis masih bisa melompat selamtkan diri. 

 Yang paling malang lagi-lagi adalah Pendekar Keris Kembar Jalak Kumboro. 

Orang ini berada paling dekat dengan pusat ledakan. Tubuhnya melesat ke atas, 

kepala menghantam langit-langit bangunan tepat pada sanding batu yang keras. 

Ketika tubuhnya jatuh ke lantai dia tak berkutik lagi. Nyawanya lepas, kepala pecah! 

 Yang masih bertahan dan kelihatannya tidak mengalami cidera apa-apa adalah 

kakek botak bisu Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara. Sambil keluarkan suara haha-

huhu dia gulingkan tubuhnya ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat itu 

terduduk bersila di lantai. Di sebelah bawah pakaiannya berlepotan darah. Di bagian 

atas kelihatan beberapa robekan. Darah mengucur dari sela bibir dan liang telinganya.


Dadanya mendenyut sakit! Dia bersyukur tadi ketika melancarkan pukulan Sinar 

Matahari dia mengerahkan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Hingga ketika 

lawan sama-sama menghantam dengan gempuran tenaga dalam, dia masih bisa 

bertahan walau saat itu rasanya nyawanya entah berada di mana. Dalam keadaaan 

seperti itu dia melihat Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara berguling ke arahnya 

sambil membabatkan kaki kanannya yang berkuku panjang. 

 Wiro ingin sekali pergunakan kapak saktinya untuk membabat kaki lawan. 

Namun dia memilih lebih baik menghindar dan mempergunakan kecerdikan karena 

saat itu beberapa lawan sudah mulai bangkit, bergerak ke arahnya. 

 Wiro jatuhkan diri ke lantai. Kaki kanan Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara 

menderu di atas punggungnya. Selagi kakek botak kepala kuning itu bergulingan 

Wiro melompat ke arah Sutri. Dengan satu gerakan cepat gadis ini ditotoknya lalu 

dipanggul di bahu kiri. Kapak Naga Geni 212 ditempelkan ke leher putri Patih 

Kerajaan itu. 

 “Jahanam berani mati! Lepaskan puteri Patih Kerajaan!” teriak Ki Sepuh Item. 

 Wiro meludah ke lantai. Ludahnya bercampur darah. 

 “Siapa yang inginkan gadis ini silahkan maju! Satu langkah ada yang berani 

bergerak kepala gadis ini akan menggelinding di lantai!” 

 Pendekar 212 mengancam. 

 Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara dan Hantu Muka Licin tidak perduli. 

Keduanya siap hendak menyerbu. Tapi patih Selo Kaliangan berteriak. Bagaimanapun 

dia tidak ingin melihat puteri kesayangannya menemui kematian di tangan Wiro. 

 “Tahan serangan! Buronan jahanam! Berani kau melukai puteriku…..” 

 “Patih Kerajaan, aku sudah memberitahu bukan aku pembunuh Kinasih dan 

suaminya. Juga bukan aku yang mencuri Keris Kiai Naga Kopek!” 

 “Tapi kau telah membunuh beberapa tokoh silat Istana! Buktinya kau lihat 

sendiri saat ini! Pendekar Keris Kembar Jalak Kumboro menemui ajal akibat 

keganasanmu!” 

 “Siapapun para tokoh silat Istana yang menemui ajalnya, itu semua menjadi 

tanggung jawabmu! Mereka terlalu tolol untuk mau mengikuti perintahmu yang 

keliru!” menukas Wiro. “Patih Selo Kaliangan, aku akan membawa anak gadismu! 

Dia akan aku jadikan jaminan sampai kau memberitahu di mana sarang kediaman 

Iblis Kepala Batu Pemasung Roh!” 

 Habis berkata begitu Wiro putar tubuhnya, melangkah menuruni tangga lalu 

berkelebat ke arah pintu gerbang sebelah timur gedung Kepatihan. Tak ada yang 

bergerak apa lagi mencegah. Patih Selo Kaliangan hanya bisa kepalkan dua tinjunya 

berulang kali. 

 “Patih, seharusnya kau biarkan kami menghajar pemuda buronan itu!” kata Ki 

Sepuh Item. 

 Patih Selo Kaliangan terdiam, lalu gelengkan kepala. “Keselamatan anakku 

lebih dari segala-galanya!” 

 “Apa dengan membiarkan dirinya diboyong begitu rupa, kau merasa yakin 

anak gadismu akan benar-benar selamat?” ujar Hantu Muka Licin Bukit Tidar. 

“Bagaimana kalau murid Sinto Gendeng keparat itu menggagahi anakmu? 

Memperkosanya?!” 

 Berubahlah wajah Patih Selo Kaliangan. Diremas-remasnya rambutnya sendiri. 

“Hantu Muka Licin …..” kata sang Patih dengan suara bergetar.”Kumpulkan semua 

tokoh silat yang ada! Kejar jahanam penculik puteriku itu! Aku ingin melihat dia kaku 

di tiang gantungan sebelum matahari tenggelam!” kata sang Patih setengah berteriak.


“Jangan kawatir, perintah Patih akan kami lakukan!” kata Hantu Muka Licin. 

“Kami bukan cuma mengejar pemuda itu seorang. Tapi juga buronan satunya. Nenek 

keparat berjuluk Gondoruwo Patah Hati!”


LIMA


Pendekar 212 Wiro Sableng memperlambat larinya, memasang telinga lalu 

menyelinap ke balik satu pohon besar. Sutri, puteri Patih Kerajaan yang ada di 

panggulan bahu kirinya seperti tidur karena di tengah jalan Wiro telah membungkam 

jalan suara gadis itu agar tidak berteriak-teriak. 

 Sejak beberapa lama meninggalkan Kotaraja, berlari ke arah timur Wiro 

merasa ada yang mengikutinya di sebelah belakang. Dia yakin saat itu para tokoh silat 

Kerajaan atas perintah Patih Selo Kaliangan akan melakukan pengejaran. Tapi orang 

yang mengikutinya saat itu agaknya bukan tokoh silat Istana. Dia seorang diri dan 

caranya mengikuti terasa aneh. Dekat di sebelah belakang tapi tidak mau 

menunjukkan diri. 

 Di satu tempat yang penuh ditumbuhi pohon-pohon besar Wiro menyelinap ke 

balik sebuah pohon, menunggu dan mengintai siapa adanya si penguntit. Lama 

ditunggu orang itu tak kunjung muncul. Padahal tadi jelas berada tak berapa jauh di 

belakangnya. Selagi Wiro berpikir apakah di akan terus menunggu, menyelidik atau 

meninggalkan saja tempat itu tiba-tiba terdengar suara tertawa mengekeh. 

 “Pendekar 212 Wiro Sableng, hendak kau apakan gadis culikan itu?!” 

 Wiro terkejut. Dia seperti mengenali suara yang barusan menegur. Tapi belum 

yakin benar. “Siapa yang barusan bertanya. Harap unjukkan diri.” 

 Kembali ada suara tawa mengekeh. Lalu ada sambaran angin halus di atas 

kepalanya. Wiro cepat mendongak. Satu sosok berpakaian serba hitam melayang 

turun dari atas pohon besar. 

 “Ning Intan Lestari! Hah! Kau rupanya yang menguntit diriku!” kata Wiro. 

Dia merasa gembira karena sejak pertemuannya tempo hari yaitu ketika si nenek 

membantu menyelamatkannya dari sergapan orang-orang Kerajaan, dia memang ingin 

sekali bertemu lagi dengan nenek ini. (baca Episode “Makam Ketiga”) 

 Nenek berambut kelabu bermuka seram yag berdiri di hadapan Wiro 

menyeringai. “Aku jadi malu sendiri mendengar kau menyebut nama asliku!” berucap 

si nenek. Lalu dia geleng-gelengkan kepala. “Sulit kupercaya. Tidak kusangka murid 

Sinto Gendeng yang tersohor alim itu kiranya suka juga menculik gadis cantik! 

Hendak kau apakan anak gadis orang?!” Si nenek yang lebih dikenal dengan julukan 

Gondoruwo Patah Hati berkata lalu tertawa cekikikan. 

 “Aku bukan pemuda alim Nek. Tapi aku tidak punya maksud jahat terhadap 

gadis ini!” jawab Wiro. 

 “Amboi! Amboi!” Gondoruwo Patah Hati berucap dan lagi-lagi keluarkan 

tawa mengikik. “Seorang pemuda menculik gadis jelita di siang bolong! Berucap 

tiada niat jahat! Tapi kalau setan mendekam di dalam dada, turun ke bawah perut, 

siapa bisa menduga apa yang akan terjadi?!” 

 “Nek, kau tahu siapa adanya gadis ini?” tanya Wiro. 

 “Tentu saja aku tahu. Karena aku sudah menguntitmu sejak kau kabur dari 

Kotaraja! Gadis itu adalah puteri Patih Selo Kaliangan. Kau membuat urusan tambah 

jadi kapiran anak muda! Perlu apa kau menculik gadis itu?” 

 Wiro garuk-garuk kepalanya. Ketika dia hendak bicara si nenek berikan 

isyarat dengan gerakan tangan. 

 “Aku mendengar suara derap kaki kuda di kejauhan. Orang-orang Kerajaan 

pasti tengah melakukan pengejaran. Tidak aman berlama-lama di tempat ini. Mari 

ikuti aku. Ada satu tempat baik untuk bersembunyi.” Dalam gelapnya malam


Gondoruwo Patah Hati berkelebat ke arah barat. Wiro mengikuti. Kali ini dia tidak 

bisa berlari terlalu cepat karena dua kakinya yang luka terasa sakit dan nafasnya cepat 

sesak akibat pengaruh racun kuku kaki Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara yang 

masih mengendap dalam aliran darahnya. 

 Hanya beberapa saat Wiro dan Gondoruwo Patah Hati meninggalkan kawasan 

berpohon besar itu, serombongan pasukan berkuda dari Kotaraja melintas dengan 

cepat. Di depan sekali kelihatan Ki Sepuh Item dan si botak berjuluk Si Bisu Pencabut 

Nyawa Tanpa Suara. 

 Tempat yang dikatakan Gondoruwo Patah Hati itu adalah sebuah tebing batu 

berbentuk cegukan dalam tikungan sebuah sungai, tersembunyi di balik kerimbunan 

pohon-pohon bambu. Wiro membaringkan Sutri di tanah yang kering. Si gadis yang 

tidak bisa bicara tak bisa bergerak hanya bisa memandang Wiro dengan sorotan mata 

garang. 

 “Aku perhatikan gerak-gerikmu tidak seperti biasa. Kau terluka……” si nenek 

bertanya sambil memandang bagian paha celana Wiro. 

 Pendekar 212 mengangguk. 

 “Apa yang terjadi?’ 

 “Aku dikeroyok habis-habisan ketika mendatangi Patih Selo Kaliangan di 

gedung Kepatihan. Salah seorang pengeroyok, kakek botak berjuluk Si Bisu Pencabut 

Nyawa Tanpa Suara berhasil melukai dua pahaku dengan kuku kakinya. 

 “Kuku itu beracun……” 

 “Aku tahu. Aku telah menotok aliran darahku, menghentikan aliran racun. 

Tapi rasa sakit pada luka belum lenyap. Tubuhku terasa dingin, padahal kalau 

dipegang rasanya panas……” 

 “Kau mencari penyakit. Perlu apa kau jual tampang masuk ke gedung 

Kepatihan?!” tanya si nenek. 

 “Siapa yang jual tampang?!” jawab Wiro agak kesal tapi kemudian tertawa 

lebar. “Ingat ceritaku tempo hari? Tentang gadis sahabatku yang dipasung 

dimasukkan ke dalam guci oleh Iblis Kepala Batu? Aku butuh keterangan mengenai 

mahluk keparat itu. Patih Kerajaan pasti tahu di mana beradanya.” 

 “Anak muda, kadang-kadang kau cerdik, kadang-kadang malah bodoh! Apa 

kau kira Patih Kerajaan akan mau begitu saja memberitahu kepadamu di mana 

beradanya orang yang kau cari! Padahal sang Patih mendendam setengah mati 

terhadapmu, terhadap kita berdua.” 

 “Aku katakan padanya, jika dia memberitahu dan aku bisa menyelamatkan 

sahabatku, aku akan menolong mengobati penyakit yang dideritanya.” 

 “Lagakmu! Racun ular berbisa yang mendekam dalam tubuh Patih itu sulit 

obatnya……” 

 “Aku tahu Nek, tapi dengan petunjuk Tuhan aku yakin bisa menolong. Asal 

sang Patih juga mau menolongku.” 

 Si nenek tertawa. “Kau benar-benar tolol! Apa kau kira Patih itu mau 

memberitahu di mana beradanya orang yang kau cari? Pasti tidak! Lantas kau malah 

menculik puterinya untuk dijadikan jaminan!” 

 “Bukan itu saja alasanku. Aku terpaksa menculik gadis itu agar bisa lolos dari 

gedung Kepatihan,” menerangkan Wiro “Selain itu ada satu hal penting telah 

kuberitahu pada Patih Kerajaan yaitu bahwa aku bukan pembunuh Kinasih dan 

suaminya. Aku juga bukan orang yang mencuri keris pusaka keraton Keris Kiai Naga 

Kopek. Bila tiba saatnya akan kubuktikan pada Patih itu siapa orang-orang yang 

bertanggung jawab atas semua kejadian itu.”


Gondoruwo Patah Hati terdiam. Dia teringat pada pertemuannya dengan 

Adisaka, muridnya yang sesat, yang selama ini gentayangan melakukan berbagai 

kejahatan dengan memakai nama Damar Wulung. Sebenarnya saat itu dia ingin 

memberitahu pada Wiro bahwa dia telah bertemu dengan Damar Wulung dan bahwa 

Damar Wulung adalah muridnya. Bahwa dia telah punya niat untuk menghukum sang 

murid, namun Adisaka alias Damar Wulung sempat melarikan diri. Entah mengapa 

mulutnya tak sampai berucap dan suara hatinya tidak pula keluar. Keterangan itu 

tidak disampaikannya kepada Wiro. Si nenek mengusap wajahnya, menyembunyikan 

perasaan. 

 “Apa kau telah bertemu dengan bocah bernama Naga Kuning?” Gondoruwo 

Patah Hati alihkan pembicaraan. 

 Wiro menggeleng. “Kau sendiri, apakah sudah bertemu dengan Adisaka, 

muridmu itu?” 

 Gondoruwo Patah Hati terdiam. Hatinya bimbang, apa akan diberitahu atau 

tidak. Seperti Wiro akhirnya dia juga gelengkan kepala. 

 Wiro keluarkan Kapak Maut Naga Geni 212 dari balik pakaian. Setelah 

mengerahkan tenaga dalamnya, senjata sakti itu diletakkan di atas kedua pahanya 

yang terluka. Seperti diketahui Kapak Maut Naga Geni 212 merupakan senjata sakti 

mandraguna yang memiliki kemampuan untuk memusnahkan racun jahat. 

 Wiro merasa ada hawa panas menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Menyusul 

muncul aliran hawa dingin. Gondoruwo Patah Hati melihat apa yang terjadi di 

hadapannya. Mula-mula sekujur tubuh Wiro tampak bergetar. Lalu tubuh itu basah 

oleh keringat. Dua mata kapak sakti yang tadinya putih berkilat kini menjadi redup 

kehitam-hitaman. Racun jahat dalam tubuh Pendekar 212 telah berpindah, tersedot 

masuk ke dalam dua mata kapak sakti. Getaran di tubuh Wiro berkurang. Dengan 

tangan kanannya Wiro mengangkat Kapak Naga Geni 212 lalu merapal sesuatu. 

Ketika dia meniup, cahaya hitam redup yang melekat di mata kapak serta merta 

lenyap. 

 “Senjata luar biasa!” si nenek memuji kagum. Dari balik pakaian hitamnya dia 

mengeluarkan dua butir benda putih. Diberikannya kepada Wiro. “Telan. Lukamu 

pasti sembuh dalam waktu satu hari…..” 

 “Terima kasih Nek,” kata Wiro. Dia tidak segera menelan obat itu. tapi 

memperhatikannya beberapa ketika. “Obat apa ini, Nek? Tahi kambing?” 

 “Tahi kambing moyangmu! Tahi kambing mana ada yang putih!” 

 “Oo, mungkin ini tahi onta!” kata Wiro pula. Dia tertawa gelak-gelak lalu dua 

butir obat itu dimasukkannya ke dalam mulut. 

 Gondoruwo Patah Hati melirik pada sosok Sutri yang tergolek di tanah. Lalu 

dia berpaling pada Wiro. “Walau tempat ini aman, kita tidak bisa terus-terusan berada 

di sini. Apa yang hendak kau lakukan?” 

 Wiro merenung memikir jawab. Dia memandang seputar cegukan tebing batu. 

Begitu pandangannya sampai pada sosok Sutri, pemuda ini berucap “Aku akan 

membebaskan puteri Patih Kerajaan itu. Aku rasa tak ada guna aku menahannya lebih 

lama. Dia tidak ada sangkut paut dengan semua yang terjadi. Tidak adil kalau aku 

menyengsarakannya.” 

 Sejak tadi Sutri yang berada dalam keadaan tak bisa bergerak tak bisa bersuara 

telah mendengar semua percakapan Wiro dan nenek muka setan. Dia tidak mengira 

bakal mendengar ucapan seperti yang tadi dikeluarkan Wiro. Kalau sebelumnya dia 

merasa sangat benci dan marah terhadap pemuda ini, kini perasaan itu sedikit demi 

sedikit menjadi pupus


Gondoruwo Patah Hati mengangguk-angguk. “Itu perbuatan ksatria. Kau 

masih bisa mencari cara lain untuk menolong sahabatmu gadis dari alam roh itu. 

sekarang ada satu hal yang ingin kuberitahu kepadamu. Beberapa waktu lalu aku 

bertemu dengan empat orang gadis kekasihmu!” 

 “Nek, kau jangan bergurau! Aku tidak punya kekasih. Apa lagi sampai empat 

orang!” ujar Wiro sambil garuk-garuk kepala. Dia lunjurkan kedua kakinya. Luka 

pada dua pahanya masih belum kering namun rasa sakit telah jauh berkurang. 

 Gondoruwo Patah Hati tertawa cekikikan. “Jangan berpura-pura. Kau tidak 

senang rahasiamu diketahui puteri Patih itu hah? Walah, jangan-jangan benar 

dugaanku. Kau telah berubah pikiran. Jatuh cinta pada gadis yang kau culik itu?! Lalu 

berpura-pura jadi pemuda baik-baik, belum punya kekasih! Hik…..hik…..hik!” Si 

nenek memandang ke arah Sutri. “Hemmmmm…… Aku tidak menyalahkan kalau 

kau kecantol pada puteri Patih ini. Wajahnya cantik, rambut hitam, tubuh bagus mulus. 

Hik…hik….hik!” 

 Wajah Sutri Kaliangan menjadi merah mendengar kata-kata nenek muka setan 

itu sementara Wiro tertawa gelak-gelak sambil garuk-garuk kepala. 

 “Kau tak percaya aku bertemu dengan empat gadis cantik kekasihmu?” 

 “Katakan, siapa saja mereka itu Nek,” jawab Wiro. 

 “Yang pertama seorang dara berbadan wangi semerbak, berambut pirang. 

Namanya Bidadari Angin Timur. Nah…..nah, kulihat dua matamu menjadi besar!” Si 

nenek tertawa cekikikan lalu tempelkan telapak tangan kirinya ke dada Wiro. “Nah, 

nah! Jantungmu berdebar lebih keras! Hik…hik….hik! Gadis kedua bermata biru. 

Pakai mahkota kecil di kepalanya. Pakaiannya ketat, tubuhnya bagus. Dia dikenal 

dengan sebutan Ratu Duyung! Yang ketiga, berkulit putih berbadan montok. Gadis ini 

kabarnya sudah dijodohkan dengan dirimu. Namanya Anggini, cucu Dewa Tuak. 

Kekasihmu yang keempat bernama Puti Andini, cantik tanpa dandanan, dikenal 

dengan julukan Dewi Payung Tujuh!” 

 Wiro ternganga. Garuk kepala lantas bertanya. “Di….. dimana kau bertemu 

dengan mereka, Nek? 

 “Nah, apa kataku! Kini kau tak dapat lagi menyembunyikan perasaan! 

Hik…hik….hik!” 

 Gondoruwo Patah Hati lalu menuturkan kisah pertemuannya dengan empat 

gadis itu. Dimulai dengan kejadian diculiknya Ratu Duyung. (baca Episode 

sebelumnya berjudul “Makam Ketiga”) 

 “Ah tidak kusangka kau telah berjada besar menyelamatkan Ratu Duyung dari 

malapetaka keji. Nek, apa kau sempat mengetahui siapa manusia terkutuk yang 

melakukan perbuatan keji itu?” 

 Gondoruwo Patah Hati berdusta. Dia gelengkan kepala. “Orang itu berhasil 

melarikan diri. Kepandaiannya tinggi. Sayang aku tidak bisa meringkusnya….” Si 

nenek ucapkan kedustaan itu dengan perasaan hati penuh ganjalan. 

 “Mengenai empat gadis itu, kau tahu di mana mereka sekarang berada? 

Mungkin mereka memberitahu atau mengatakan sesuatu?” Wiro bertanya. 

 “Setahuku mereka tengah dalam perjalanan menuju Gunung Gede.” 

 Wiro terkejut mendengar jawaban si nenek. “Menuju Gunung Gede? Ada apa 

di sana? Apakah Eyang Guru sakit. Atau…..” 

 “Wiro, turut apa yang aku dengar, empat gadis itu telah berusaha keras 

mencarimu sejak dua tahun silam. Belakangan ini terjadi satu peristiwa besar. Mereka 

menyirap kabar bahwa kau telah menemui kematian. Anehnya jenazahmu 

dimakamkan di tiga tempat. Pada dua makam pertama mereka tidak menemukan apa-

apa. Kecuali surat-surat aneh….” Si nenek lalu menuturkan apa yang diketahuinya


tentang Makam Setan Pertama dan Makam Setan Kedua. “Makam Setan Ketiga ada 

di puncak Gunung Gede. Itu sebabnya empat gadis tadi berangkat ke sana…..” 

 “Aneh, siapa yang menyebar kabar kalau aku sudah mati? Dikubur di salah 

satu makam. Tapi kepergianku ke Negeri Latanahsilam selama dua tahun memang 

bisa menimbulkan berbagai prasangka. Ada orang yang sengaja memanfaatkan hal 

ini…..” Wiro membatin, menggaruk kepala lalu bertanya. 

 “Kau tidak memberitahu bahwa kita pernah bertemu, yang menyatakan bahwa 

diriku masih hidup?” tanya Wiro 

 “Aku memberitahu. Tapi mungkin mereka tidak sepenuhnya percaya pada 

ucapan nenek muka setan sepertiku ini.” 

 “Aku punya dugaan ada seseorang mengatur semua ini. Aku punya firasat 

mereka berempat dalam bahaya!” 

 Wiro berdiri. Dia mengerenyit karena gerakan yang tiba-tiba membuat dua 

pahanya yang luka terasa sakit. 

 “Nek, aku terpaksa meninggalkanmu. Aku harus segera ke Gunung Gede.” 

 Si nenek berkomat kamit. Wiro mendekati sosok Sutri. Dia membungkuk lalu 

berkata “Maafkan kalau aku telah menyusahkanmu. Kau boleh kembali ke Kotaraja. 

Walau ada urusan besar antara aku dengan ayahmu, harap tidak ada dendam di antara 

kita. Karena yang membuat ayahmu celaka bukan diriku, bukan juga nenek itu. tapi 

seekor ular berbisa! Ular itu milik tokoh silat Istana berjuluk Setan Bertongkat Ular. 

Orang itu melenyapkan diri begitu saja.” Wiro tersenyum lalu jari-jari tangannya 

bergerak meleaps totokan di tubuh si gadis. Begitu totokannya lepas Sutri Kaliangan 

melompat bangkit. Tangan kanannya bekerja. 

 “Bukkkk!” 

 Wiro terpental, jatuh terjengkang di tanah. Jotosan tangankanan Sutri 

Kaliangan bersarang telak di dadanya. Sakitnya bukan main namun sang pendekar 

masih bisa tersenyum sambil usap-usap dadanya. Wiro merangkak di tanah, 

berpegangan pada kaki Gondoruwo Patah Hati yang ada di hadapannya lalu mencoba 

bangkit berdiri. Sambil bergerak bangkit tangannya menarik sedikit bagian bawah 

pakaian hitam si nenek. Seperti dulu, dia melihat sepasang betis yang putih, mulus 

dan bagus. Bukan layaknya betis seorang nenek seusia Gondoruwo Patah Hati. Ini 

adalah satu keanehan yang menjadi tanda tanya besar bagi Wiro namun dalam 

keadaan seperti itu tidak mungkin diungkapkannya. 

 Terbungkuk-bungkuk Wiro berkata pada Sutri yang tadi menjotos dadanya. 

“Terima kasih. Aku telah menerima hukuman darimu. Apa cukup sebegitu saja atau 

masih ada tambahan yang lain?” 

 Paras cantik puteri Patih Kerajaan itu mengelam merah. Dia maju dua langkah. 

Tangan kanan terkepal namun pukulan tidak dilayangkan. Wiro menunggu. Si gadis 

tetap tidak bergerak. 

 “Kau gadis baik!” Wiro memuji. “Aku harap kau bisa mengerti. Silang 

sengketa antara aku, maksudku aku dan nenek ini dengan ayahmu adalah satu kesalah 

pahaman besar dari pihak Kerajaan. Aku tidak membunuh Kinasih dan suaminya. 

Aku juga tidak mencuri Keris Kiai Naga Kopek. Mudah-mudahan dalam waktu dekat 

aku bisa mengungkapkan siapa yang betanggung jawab atas semua kejadian itu.” 

Wiro berpaling pada Gondoruwo Patah Hati. “Nek, aku terpaksa meninggalkanmu. 

Terima kasih obat tahi ontamu tadi! Mudah-mudahan mujarab!” 

 Si nenek muka setan tertawa mengekeh. 

 “Tunggu!” 

 Tba-tiba Sutri Kaliangan berteriak. Wiro yang sudah berada di luar cegukan 

tebing batu hentikan langkahnya dan berpaling. Sekali melompat puteri Patih Selo


Kaliangan itu telah berada di hadapan sang pendekar. Tangan kanannya yang masih 

membentuk tinju terpentang di depan dada. 

 “Ada apa? Kau belum puas menggebukku?” tanya murid Sinto Gendeng 

sambil berlaku waspada. 

 “Aku hanya mau memberitahu,” berucap si gadis dengan suara perlahan. 

“Tempat kediaman Iblis Kepala Batu Alis Empat di sebuah pohon besar, di dekat air 

terjun Jurangmungkung……” 

 Tentu saja Pendekar 212 WS tercengang tidak mengira si gadis akan 

mengeluarkan ucapan seperti itu. Kalau ayahnya, Patih Kerajaan tidak mau 

memberitahu mengapa kini tiba-tiba sang puteri memberitahu? Sebelumnya si gadis 

begitu nekad hendak membunuhnya. Kini malah menunjukkan itikad baik seperti itu. 

benar-benar sulit dipercaya. Wiro garuk-garuk kepala lalu tersenyum. 

 “Kau pasti menduga aku menipu atau menjebakmu. Terserah, mau percaya 

atau tidak. Aku hanya menginginkan kesembuhan ayahku!” Sutri Kaliangan rupanya 

bisa menerka ketidak percayaan dalam diri Wiro. Si gadis balikkan badan. 

 “Tunggu! Tentu saja aku percaya pada keteranganmu dan aku mengucapkan 

terima kasih,” kata Wiro. “Tapi air terjun Jurangmungkung yang kau katakan itu baru 

sekali ini aku mendengar. Di mana letaknya…..?’ tanya Wiro. Dia hanya berpura-pura 

karena sebenarnya dia sudah tahu di mana letak air terjun Jurangmungkung itu. Wiro 

hanya ingin menguji karena bukan mustahil si gadis memang hendak menipu dirinya. 

Sebelumnya Sutri marah besar dan ingin membunuhnya. Kini mengapa sang dara 

berubah pikiran dan bersikap baik padanya. 

 “Tempat itu tidak jauh dari Mojogedang, arah timur laut Karanganyar.” 

Menerangkan Sutri. 

 “Terima kasih. Kalau aku boleh tanya mengapa kau memberitahu? Padahal 

ayahmu sebelumnya tak mau mengatakan.” 

 “Apa pertanyaan itu perlu kujawab?” balik bertanya putri Patih itu. “Malah 

kini aku menagih janji. Bukankah kau berkata pada ayahku akan mengobatinya jika 

diberitahu tempat kediaman Iblis Kepala Batu?’ 

 “Janji akan kupenuhi. Namun ada beberapa urusan penting yang harus aku 

selesaikan. Ayahmu sanggup bertahan cukup lama…..” 

 “Kalau dia menemui kematian sebelum kau sempat menolongnya, berarti kau 

punya hutang nyawa. Yang cuma bisa kau lunasi dengan nyawamu sendiri….” 

 Wiro menggaruk kepala lalu berkata “Baik. Baik. Nenek jelek menjadi saksi 

ucapanku. Biar nyawaku tebusan nyawa ayahmu jika dia sampai menemui kematian.” 

 “Sialan. Enak saja kau bicara bilang aku nenek jelek!” kata Gondoruwo Patah 

Hati sambil bersungut-sungut. 

 Wiro tertawa. “Nek, apa kau lupa. Dulu aku pernah bilang. Wajahmu mungkin 

seperti setan tapi hatimu lebih baik dari bidadari.” Si nenek membuang muka, 

memendang ke jurusan lain. Tapi Wiro tahu kalau si nenek berbunga-bunga hatinya 

dikatakan sebaik bidadari. “Nek, aku pergi dulu. Kalau aku bertemu Naga Kuning, 

aku akan beritahu kau mencarinya….” 

 Gondoruwo Patah Hati jadi kaget. “Aku tidak mencarinya. Aku……” 

 “Kalau begitu, bagaimana jika aku bertemu Rana Suwarte, akan kukatakan 

padanya kau kangen daningin bertemu!” 

 “Kupecahkan batok kepalamu jika berani melakukan itu!” kata GP setengah 

berteriak. 

 Tangan kanannya yang berkuku panjang diangsurkan ke depan seolah mau 

mencakar si pemuda. Wiro cepat menghindar lalu sambil tertawa bergelak dia


tinggalkan tempat itu. Seperti diketahui Rana Suwarte adalah kakek yang hendak 

dijodohkan dengan dirinya oleh ayah angkatnya Kiai Gede Tapa Pamungkas. 

 Tinggal berdua dengan Sutri, Gondoruwo Patah Hati tatap wajah si gadis 

sambil hatinya bertanya-tanya, apakah gadis ini tahu kalau dialah yang memasukkan 

ular berbisa ke dalam celana Patih Kerajaan hingga ayah si gadis kini menderita sakit 

berat. 

 Tiba-tiba Sutri berkata. “Aku tahu, kau yang menjadi biang sebab sakitnya 

ayahku. Saat ini ingin sekali aku membunuhmu! Tapi aku masih bisa bersabar. Tapi 

kalau Pendekar 212 WS tidak menepati janji, tidak mampu menyembuhkan penyakit 

ayahku, setelah dia maka kau akan ikut menerima kematian.” 

 Si nenek runcingkan mulutnya lalu bertanya. “Mengapa kau mau bersikap 

baik dan sabar padaku? Apa karena kau telah jatuh hati pada pemuda sahabatku tadi?’ 

 “Mulutmu lancang sekali!” Sutri membentak dengan wajah merah. 

 Gondoruwo Patah Hati tertawa. “Aku pernah muda sepertimu. Aku tahu betul 

rasa hati orang muda. Tidak ada yang melarang seorang gadis menyukai seorang 

pemuda. Tapi dalam hal diriku, kau punya empat saingan berat. Empat gadis yang 

mencintai Pendekar 212 semua cantik-cantik!” Si nenek tertawa panjang lalu 

tinggalkan tempat itu. 

 “Tua bangka geblek. Dari julukannya saja aku tahu dia memendam banyak 

kepahitan di masa mudanya. Pasti gara-gara urusan cinta! Mungkin dengan orang 

bernama Rana Suwarte itu. Rana Suwarte adalah kakek yang iktu bergabung dengan 

pasukan Kerajaan dalam mencari Wiro dan nenek muka setan itu.” Sutri memandang 

berkeliling. Apa yang akan dilakukannya? Ke mana dia akan pergi? Kembali ke 

gedung Kepatihan? Atau diam-diam mengiktui Wiro? Setelah bimbang sebentar 

akhirnya Sutri memilih kembali ke Kotaraja. Bagaimanapun juga gadis ini 

mengawatirkan sakit ayahny


ENAM


Kembali ke puncak Gunung Gede. Di dalam liang makam ketiga yang baru 

setengahnya mereka gali, sambil berteriak memperingatkan bahwa ada mahluk hidup 

di dalam makam, Ratu Duyung melesat ke atas. Tangan kiri Anggini ditariknya 

sedang dengan tangan kanan sosok Bidadari Angin Timur didorongnya kuat-kuat. 

 Apa yang kemudian terjadi sungguh tidak terduga dan mengejutkan. Makam 

itu bergetar lalu tanah yang belum tergali muncrat ke atas. Bersamaan dengan itu dua 

tangan menyembul dari dalam liang kubur, mencuat ke udara, menghantam keras. 

 Dari tangan sebelah kanan menderu sinar kuning, hitam dan merah. Tangan 

sebelah kiri tidak memancarkan cahaya, namun deru sambaran angin keras dan dingin. 

Karena berada paling bawah di dalam kuburan maka dua pukulan itu dengan 

sendirinya menyambar ke arah sosok Anggini. 

 “Anggini awas!” tariak Ratu Duyung. dia lipat gandakan tenaga untuk 

menarik lengan Anggini. Anggini sendiri cepat kerahkan tenaga dalam dan ilmu 

meringankan tubuh, mengayunkan tubuh melesat ke atas. Namun bagaimanapun 

kuatnya tarikan Ratu Duyung, bagaimanapun cepatnya Anggini melompat selamatkan 

diri ke atas, dia hanya mampu menyelamatkan diri dari pukulan sebelah kanan yang 

memancarkan cahaya merah, kuning dan hitam. 

 “Bukkk!” 

 Satu jeritan merobek udara. 

 Tubuh Anggini mencelat sampai dua tombak. Ratu Duyung dan Bidadari 

Angin Timur yang berhasil keluar selamatkan diri dari dalam makam sama-sama 

terpekik. Dua gadis ini serta merta menyambuti tubuh Anggini hingga tidak terbating 

ke tanah. Wajah cantik cucu Dewa Tuak itu kelihatan pucat. Matanya setengah 

terpejam kuyu. Dari dela bibirnya mengucur darah. 

 Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung cepat menggotong Anggini lalu 

membaringkan gadis itu di samping pondok kayu. Mereka berusaha menolong namun 

perhatian keduanya terpecah oleh suara tawa bergelak dari arah makam ketiga. Ketika 

mereka sama palingkan kepala ke arah makam itu, tiba-tiba satu sosok melesat keluar. 

Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung memandang terbeliak. 

 Orang yang keluar dari dalam liang makam itu mengenakan baju dan celana 

hitam. Di sebelah atas dia mengenakan sehelai mantel berwarna hitam. Keningnya 

diikat dengan sehelai kain merah. Ketika dia berdiri dengan kaki merenggang dan 

berkacak pinggang, di dada pakaiannya kelihatan gambar gunung berwarna biru 

dengan latar belakang matahari warna merah serta garis-garis pancaran sinar yang 

juga berwarna merah. 

 “Pangeran Matahari!” Dua gadis keluarkan ucapan hampir berbarengan. 

 “Tapi…..” ujar Bidadari Angin Timur kemudian sambil memegang lengan 

Ratu Duyung. Sepasang matanya terus memandangi si mantel hitam tak berkesip. 

 “Tapi wajahnya bukan wajah Pangeran Matahari!” kembali Bidadari Angin 

Timur keluarkan suara. “Orang ini mempunyai ilmu bisa mendekam di dalam tanah. 

Setahuku Pangeran Matahari tidak memiliki ilmu itu.” 

 “Aneh. Tapi siapapun dia adanya, dia pasti bangsat yang berada di belakang 

semua kejadian ini. Sejak dari makam pertama, makam kedua dan kini makam ketiga. 

Jelas dia memang ounya rencana jahat. Untuk mencelakai kita!” 

 “Tapi mengapa kita? Kita tidak ada permusuhan dengannya!” ujar Bidadari 

Angin Timur.


“Musuh besarnya memang Pendekar 212. Tapi otak jahatnya punya seribu 

akal. Bukankah keparat satu ini yang dijuluki Pangeran Segala Cerdik, Segala Akal, 

Segala Ilmu, Segala Licik, Segala Congkak?!” 

 “Jahanam betul!” rutuk Bidadari Angin Timur. “Aku akan menemui bangsat 

itu. Membuat perhitungan dengannya! Lekas tolong Anggini. Totok jalan darahnya. 

Dia cidera berat di sekitar dada. Nyawanya dalam bahaya. Kalau tidak lekas ditolong 

kita bisa-bisa kehilangan dirinya.” 

 “Aku akan menolong sebisaku. Kau hadapi orang itu. Hati-hati.” Ratu Duyung 

merasa kawatir. Jika orang itu benar Pangeran Matahari, sanggupkah Bidadari Angin 

Timur menghadapnya? 

 Bidadari Angin Timur mengangguk. Sekali melesat, gadis ini sudah berdiri 

tujuh langkah di hadapan orang bermantel hitam yang tegak di tepi makam ketiga. 

 “Manusia keparat! Siapa kau?!” bentak Bidadari Angin Timur. 

 Yang ditanya pandangi wajah cantik jelita di hadapannya sesaat lalu 

mendongak danmenghirup udara dalam-dalam. “Hemmmm….. Tubuh memancarkan 

bau wangi. Rambut pirang, wajah jelita. Kau tidak mengenali diriku. Tapi aku tahu 

siapa dirimu. Bukankah kau dara jelita yang tersohor di delapan penjuru angin itu? 

Yang bernama Bidadari Angin Timur?” 

 Bidadari Angin Timur terkejut ketika mengetahui orang mengenali dirinya. 

“Jadi kau biang racun jahanam di balik munculnya tiga makam setan! Manusia 

keparat! Apa maksudmu melakukan semua itu?! Apa kau terlalu pengecut 

memperkenalkan diri?! Ingat, kau telah mencelakai temanku! Aku tidak segan-segan 

membunuhmu!” 

 Orang bermantel hitam tertawa gelak-gelak. 

 “Gadis cantik, yang namanya Bidadari itu selalu bersifat welas asih dan lemah 

lembut. Tapi kau mengapa begini galak dan malah mengancam hendak 

membunuhku? Ah, ingin sekali aku tahu bagaimana nikmatnya mati di tangan 

seorang bidadari! Ha….ha……ha!”. Habis tertawa orang bermantel lalu meramkan 

mata, pasang dada seolah menunggu minta digebuk. 

 “Jahanam! Kau minta mati! Aku berikan kematian padamu!” teriak Bidadari 

Angin Timur. Gadis ini salurkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan. 

 Seperti diketahui Bidadari Angin Timur memiliki gerakan luar biasa cepatnya. 

Hampir tidak kelihatan tangan kanan yang sudah diisi tenaga dalam penuh itu, yang 

sanggup menjebol tembok tebal menghancurkan batu besar melesat ke arah muka 

orang bermantel hitam. 

 Yang diserang tenang-tenang saja, malah sambil tertawa bergelak dan bertolak 

pinggang dia sengaja menanti datangnya hantaman Bidadari Angin Timur! 

 Hanya satu jengkal lagi jotosan Bidadari Angin Timur akan menghancurkan 

mukanya, tiba-tiba orang bermantel tekuk sepasang lutut, rundukkan kepala dan dua 

tangannya dipukulkan ke depan. Satu mengarah dada, satu mencari sasaran di perut 

Bidadari Angin Timur. 

 “Pukulan Dua Singa Berebut Matahari! Murid jahanam! Kau pernah punya 

niat membunuhku! Aku tidak rela kau pergunakan ilmu itu!” 

 Satu seruan keras menggeledek di puncak gunung. Satu auman menggelegar 

dahsyat lalu satu bayangan merah berkelebat. Dua larik angin menderu, satu 

mendorong Bidadari Angin Timur hingga terjajar jauh ke kiri satunya lagi membuat 

orang bermantel hitam tersurut tiga langkah. Bidadari Angin Timur selamat dari dua 

pukulan maut, berdiri setengah tertegun dengan muka pucat. Memandang ke depan 

dia melihat satu mahluk aneh berdiri di antara dia dengan orang bermantel hitam. 

Mahluk ini memiliki tubuh tinggi besar seperti manusia. Tapi kepalanya tertutup


rambut merah berjingkrak. Ketika Bidadari sempat melihat sepasang matanya, gadis 

ini jadi merinding. Mata itu memiliki bola mata pipih berwarna kelabu, seperti mata 

binatang! Bidadari Angin Timur tak dapat memastikan apakah mahluk ini manusia 

betulan atau manusia seetengah binatang, menyerupai singa? 

 “Pangeran Miring! Kaukah ini?!” Tiba-tiba mahluk menyerupai singa 

menegur. Tapi kemudian wajahnya menunjukkan bayangan rasa heran. Dalam hati 

dia berkata “Sosok dan pakaiannya memang dia. Tapi mengapa wajahnya berubah? 

Mungkinkah dia…..” 

 Orang bermantel hitam tampak kaget tapi hanya sebentar. Dia layangkan 

pandangan dingin, rahang menggembung. 

 “Kau tidak menjawab berarti kau memang Pangeran Miring yang kabur dari 

jurang di Teluk Penanjung! Akhirnya kutemui juga kau! Jangan harap bisa lolos! Saat 

ini juga kau harus ikut aku ke Teluk!” 

 Orang yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Miring keluarkan suara 

mendengus. Lalu meludah ke tanah. 

 “Singo Abang! Kau datang mencari mati! Aku akan tamatkan riwayatmu 

dengan ilmu yang kau ajarkan padaku! Terima kematianmu!” Begitu ucapannya 

selesai orang bermantel hitam langsung hantamkan dua tangannya ke depan. Seperti 

tadi menyerang Bidadari Angin Timur, kembali dia keluarkan pukulan Dua Singa 

Berebut Matahari. Hanya kali ini pukulan maut tersebut dilancarkan dengan tenaga 

dalam lebih dahsyat! 

 Mahluk berambut merah yang diserang keluarkan suara mengaum. Lalu balas 

memukul. Pada saat itu pula satu bayangan putih melesat di udara. Menyusul satu 

bentakan. 

 “Apa yang terjadi di tempat ini?! Siapa berani berlaku kurang ajar mengotori 

puncak Gunung Gede tempat kediaman Eyang Sinto Gendeng?!” 

 Begitu bentakan lenyap satu gelombang angin dahsyat topan prahara melabrak 

tempat itu. Lalu bummm! Tiga tenaga dalam tinggi saling bentrokan. Puncak Gunung 

Gede laksana mau meledak. Pasir dan debu beterbangan ke udara. Daun-daun 

pepohonan luruh ke tanah. Terdengar suara mengaum. Ada yag berteriak kaget. 

Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung keluarkan seruan tertahan. 

 Dalam gelapnya pemandangan akibat tebaran debu dan pasir terdengar suara 

mengaum lalu bentakan garang. 

 “Pangeran Miring! Kau mau kabur ke mana!” 

 Satu bayangan merah berkelebat di dekat Ratu Duyung. Satu suara berucap. 

“Berikan obat ini pada gadis yang cidera.” Suara lenyap, bayangan merah ikut lenyap. 

 Samar-samar kelihatan dua sosok berkelebat ke arah timur. Ketika udara 

terang kembali ternyata orang yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Miring dan 

sosok mahluk setengah manusia setengah singa yang tadi ada di tempat itu kini 

lenyap tak kelihatan lagi! Yang ada di depan sana adalah sosok seorang pemuda 

gagah berambut gondrong, berpakaian putih kotor, mengenakan celana robek besar di 

bagian paha. Dadanya tampak turun naik akibat bentrokan tenaga dalam yang hebat. 

 “Wiro!” Ratu Duyung dan Bidadari Angin Timur sama-sama berseru. Sama-

sama tak percaya pada pemandangan mereka karena siapa menduga Pendekar 212 

akan muncul di tempat itu



TUJUH


Pendekar 212 WS melompat mendekati Bidadari Angin Timur. “Wiro, aku seperti 

tak percaya……” kata si gadis. Ada rasa haru dalam kegembiraan hatinya. Saat itu 

ingin sekali dia memeluk orang yang selama ini dirinduinya. Kalau saja di tempat itu 

tidak ada Ratu Duyung dan Anggini tidak dalam keadaan cidera berat mungkin dia 

sudah melakukan hal itu. paling tidak memegangi tangan si pemuda. 

 Murid Sinto Gendeng tersenyum. Dipegangnya bahu Bidadari Angin Timur. 

Sentuhan tangan itu bagi si gadis merupakan satu kebahagiaan yang tidak dapat 

dilukiskan dengan kata-kata. Diremasnya jari-jari tangan Wiro yang memegang 

bahunya. “Aku…. Maksudku kami mencarimu di mana-mana. Kami mencarimu 

hampir di setengah tanah Jawa. Kami mendatangi dua makam aneh. Ini makam 

ketiga……” 

 “Aku sudah mendengar cerita tentang dua makam itu. Agaknya aku datang 

terlambat.” Wiro memandang ke arah Ratu Duyung yang saat itu pura-pura 

menyibukkan diri menolong Anggini yang tergeletak di tanah. Sebenarnya hatinya 

tak sanggup menahan cemburu ketika melihat Wiro memegang bahu Bidadari Angin 

Timur dan Bidadari Angin Timur memegang jari-jari tangan pemuda itu. Dirinya 

merasa seperti tidak diacuhkan, seolah dia tidak ada di tempat itu. Murid Sinto 

Gendeng memaklumi perasaan Ratu Duyung. 

 Wiro turunkan tangannya dari bahu Bidadari Angin Timur. Diikuti si gadis dia 

melangkah cepat ke tempat Anggini tergeletak. 

 “Ratu Duyung,” tegur Wiro. Dibelainya rambut gadis itu lalu duduk di 

sebelahnya. Kini Bidadari Angin Timur yang dirayapi rasa cemburu. “Anggini….” 

Wiro pegang lengan Anggini. Masih terasa denyutan nadinya walau agak lemah. Dua 

mata Anggini terbuka sedikit. Samar-samar dia melihat wajah sang pendekar. Ada 

rasa tak percaya. Dua mata terbuka membesar. 

 “Wiro…..” hanya ucapan perlahan menyebut nama si pemuda yang keluar dari 

mulut Anggini. Lalu kepala cucu Dewa Tuak ini terkulai. Matanya terkatup. Bidadari 

Angin Timur dan Ratu Duyung berseru kaget karena menyangka Anggini telah 

menghembuskan nafas terakhir. Dan gadis ini merangkuli tubuh Anggini. Ratu 

Duyung mulai sesenggukan. 

 “Tak perlu kawatir. Dia cuma pingsan,” kata Wiro yang masih memegang dan 

merasakan denyutan di lengan Anggini. Wiro lalu memeriksa keadaan Anggini 

dengan cepat. Ketika dia menyingkapkan sedikit pakaian si gadis di bagian dada 

kelihatan tanda merah kebiruan. “Dia menderita luka dalam cukup parah.” Wiro 

segera menotok beberapa jalan darah di tubuh Anggini lalu kerahkan hawa sakti, 

dialirkan ke dalam tubuh si gadis. “Apa yang terjadi?!” tanya Wiro kemudian. 

 Ratu Duyung memandang pada Bidadari Angin Timur, memberi tanda dengan 

anggukan kepala agar Bidadari Angin Timur saja yang memberi keterangan. Bidadari 

Angin Timur lalu menuturkan semua kejadian sejak mereka mulai menjejakkan kaki 

di tempat itu. 

 Wiro merasakan dadanya sesak. Matanya memandang terbeliak ke arah kubur 

di seberang sana. “Puti Andini……” katanya serak. “Puti Andini…..mati? Ya Tuhan. 

Apa yang terjadi? Siapa yang membunuhnya?” Wiro berdiri, tinggalkan tiga gadis itu, 

melangkah menuju makam di mana Puti Andini dikubur. Dia pegangi tanah merah 

kuburan. Matanya dipejamkan. Sekujur tubuh bergetar.


“Tuhan, umur manusia memang kuasaMu. Tetapi aku tidak rela Puti Andini 

menemui kematian seperti ini. Aku bersumpah akan menghancurkan kepala manusia 

yang melakukan perbuatan keji biadab ini! Puti Andini…… Ah…..” Saat itu semua 

peristiwa yang dialaminya di pelupuk mata Pendekar 212 WS. Sepasang mata sang 

pendekar kelihatan berkaca-kaca. “Puti Andini, aku banyak sekali berhutang budi 

padamu. Bahkan berhutang nyawa. Belum sempat aku membayar semua itu, kini kau 

telah tiada. Ya Tuhan, dia gadis baik….. Mengapa kau panggil dia secepat ini……?’ 

 Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung sama berlinang air mata mendengar 

desah ucapan Pendekar 212. Wiro berpaling pada kedua gadis itu. Suaranya serak. 

 “Katakan siapa yang membunuh Puti Andini? Kalian tahu siapa orangnya?’ 

 “Kami tidak dapat memastikan,” jawab Bidadari Angin Timur. “Tapi ada 

dugaan pelakunya adalah orang yang sebelumnya mendekam dalam makam ketiga.” 

 “Siapa?! Siapa orangnya? Bagaimana ciri-cirinya?!” tanya Wiro. 

 “Dia berpakaian serba hitam. Mengenakan mantel hitam. Ada ikat kepala kain 

merah di keningnya…..” menjelaskan Ratu Duyung. 

 “Di dada bajunya ada gambar gunung biru dan matahari merah,” 

menambahkan Bidadari Angin Timur. 

 “Apa?!” Wiro tersentak kaget sampai terlonjak berdiri. Dua matanya terbeliak, 

tak berkesip pandangi dua gadis di depannya. “Hanya ada satu manusia yang 

mengenakan pakaian seperti itu. Si jahanam Pangeran Matahari!” Wiro berkata 

setengah berteriak. Dua tangan dikepalkan dan dua kakinya tiba-tiba melesak ke 

dalam tanah sampai mata kaki! “Aku akan mencari jahanam itu sampai ke neraka 

sekalipun!” 

 “Wiro,” kata Bidadari Angin Timur. “Tadinya aku dan Ratu Duyung memang 

mengira orang itu adalah Pangeran Matahari. Tapi cuma pakaiannya saja yang sama. 

Wajahnya bukan wajah Pangeran Matahari …..” 

 “Apa?! Mana mungkin orang dengan ciri-ciri pakaian seperti itu bukan 

Pangeran Matahari. Aku tahu dia masih hidup! Aku menemuinya di Teluk Penanjung 

beberapa waktu lalu.” 

 “Kami berdua tak mungkin keliru. Kami pernah melihat Pangeran Matahari 

sebelumnya…..” kata Bidadari Angin Timur. 

 “Suaranya yang angkuh, nada tertawanya, sama dengan Pangeran Matahari. 

Tapi wajahnya…..” menyambung Ratu Duyung. 

 “Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan Pangeran jahanam itu di pinggir 

jurang di Teluk Penanjung. Malam gelap, tapi aku masih bisa mengenalinya. Dia 

muncul dengan muka cacat. Hidung bengkok, salah satu pipi melesak, mata kiri 

terbenam…..” 

 “Orang bermantel hitam itu berwajah mulus. Tak ada cacat sedikitpun…..” 

kata Bidadari Angin Timur. “Tapi wajah itu bukan wajah Pangeran Matahari.” 

 “Sewaktu di Teluk Penanjung, dia mungkin punya maksud hendak 

membunuhku. Tapi mendadak muncul satu mahluk berambut merah menghajarnya.” 

 “Aneh,” kata Ratu Duyung. 

 “Apa yang aneh?” tanya Wiro. 

 “Sewaktu orang bermantel hitam itu lancarkan serangan menghantam Bidadari 

Angin Timur tiba-tiba muncul seorang tinggi besar berambut merah. Sosoknya 

sebelah atas seperti singa. Dia mengeluarkan suara mengaum. Mahluk ini memanggil 

si mantel hitam dengan sebutan Pangeran Miring. Dua orang itu siap saling hantam, 

ketika tiba-tiba kau muncul. Entah mengapa si mantel hitam kemudian melarikan diri. 

Dikejar oleh si rambut merah. Keduanya kemudian lenyap.”


“Mahluk berambut merah. Tadi aku melihatnya hanya sekelebatan. Agaknya 

dia memang mahluk yang sama yang muncul di tepi jurang Teluk Penanjung.” Kata 

Wiro pula. 

 “Mahluk itu menyebut si mantel hitam dengan nama Pangeran Miring, murid 

jahanam,” berkata Bidadari Angin Timur. 

 “Pangeran Miring?” Wiro berpikir. “Aku yakin dia memang Pangeran 

Matahari.” 

 “Pangeran Miring menyebut mahluk berambut merah Singo Abang,” kata 

Ratu Duyung pula. 

 “Samar-samar mereka berkelebat ke arah timur. Aku rasa aku harus mengejar 

mereka sekarang juga…..” Walau berkata begitu namun Wiro tetak tak bergerak di 

tempatnya. Beberapa hal muncul dalam benaknya. Dia tak mungkin meninggalkan 

Anggini dalam keadaan seperti itu. 

 Ratu Duyung mendekati Wiro, memperlihatkan satu bungkusan kain kecil lalu 

berkata. “Sebelum pergi, mahluk berambut merah itu memberikan benda ini padaku 

disertai pesan agar obat ini berikan pada Anggini.” 

 Wiro mengambil bungkusan itu, memeriksa isinya. Di dalam bungkusan 

ternyata ada bubuk warna merah. Wiro menciumnya. Bubuk itu ternyata tidak berbau. 

Wiro ambil sedikit lalu meletakkannya di ujung lidah. Aneh, bubuk ini tawar tidak 

ada rasa sama sekali namun begitu menyentuh lidah ada hawa sejuk memasuki rongga 

mulut Wiro lalu menyusul rasa hangat di bagian dadanya. Keraguan Wiro lenyap. 

 “Bidadari, di sebelah sana ada sebuah sumur tua. Pergi ke sana, ambil air 

sumur secukupnya. Campur bubuk ini dengan air. Sebagian minumkan pada Anggini, 

sisanya usapkan di bagian dadanya yang cidera.” (Mengenai orang bernama Singo 

Abang riwayatnya dapat dibaca dalam Episode pertama berjudul “Kembali Ke Tanah 

Jawa.”) 

 Bidadari segera hendak melakukan apa yang dikatakan Wiro itu. Namun 

sebelum berlalu dia bertanya. “Kau sendiri mau ke mana?” 

 “Aku segera pergi tapi aku mau mencari sesuatu dulu di dalam pondok,” 

jawab Pendekar 212. 

 “Wiro, kau menghilang selama dua tahun. Kau ke mana saja, apa yang kau 

lakukan?” 

 “Bidadari Angin Timur, panjang ceritanya. Nanti suatu ketika akan 

kuceritakan pada kalian. Lekas carikan air……” 

 Begitu Bidadari Angin Timur berlalu, sementara Ratu Duyung menunggui 

Anggini, Wiro bergegas masuk ke dalam pondok kayu. Berada dalam pondok itu 

berbagai kenangan di masa lalu ketika dia tinggaldi tempat itu bersama Eyang Sinto 

Gendeng terbayang d pelupuk mata Pendekar 212. Dia tersenyum, gelengkan kepala, 

menggaruk-garuk dan memandang berkeliling. Perabotan di dalam pondok itu masih 

yang dulu-dulu juga. Balai-balai kayu beralaskan tikar butut, meja kayu miring dan 

sebuah kursi reot. Lalu sebuah gentong air besar dekat pintu belakang. Di atas 

penutup gentong ada sebuah gayung tempurung kelapa. Debu menutupi semua yang 

ada di dalam pondok itu. Sarang laba-laba kelihatan hampir di setiap sudut. 

 “Mudah-mudahan Eyang Sinto tidak memindahkan benda itu dari tempatnya 

yang lama….” Wiro membatin lalu dia melangkah mendekati gentong tanah di dekat 

pintu. Gentong itu berisi air sampai setengahnya. Perlahan-lahan Wiro menggeser 

gentong ke kiri. Lalu mengambil gayung tempurung kelapa. Dengan gagang gayung 

dia mulai menggali tanah bekas gentong terletak. Baru menggali sedalam satu jengkal, 

gagang gayung menyentuh satu benda keras. Wiro berdebar. Dia pergunakan dua 

tangannya untuk menggali dan menyibakkan tanah sampai akhirnya dia menemukan


sebuah kotak kayu besi hitam. Wiro keluarkan kotak itu, meletakkannya di atas balai-

balai kayu lalu membukanya. 

 Di dalam kotak itu kelihatan satu kitab tebal yang demikian tuanya nyaris jadi 

bubuk. Pada bagian atas kitab tertulis. “Seribu Macam Ilmu Pengobatan.” 

 Kitab ilmu pengobatan ini adalah pemberian Kiai Bangkalan yang sempat 

dicuri oleh seoerang tokoh jahat rimba persilatan Pulau Andalas. Karena tidak 

mungkin membawa kitab berharga itu ke mana-mana Wiro menyerahkannya pada 

Eyang Sinto Gendeng. Oleh sang guru kitab disimpan begitu rupa, dimasukkan dalam 

kotak kayu besi tahan air lalu ditimbun di dalam pondok dan ditutup dengan gentong 

besar. (Mengenai riwayat kitab ilmu pengobatan itu serta kisah Kiai Bangkalan harap 

baca serial Wiro Sableng berjudul Banjir Darah Di Tambun Tulang) 

 “Terima kasih Tuhan, terima kasih Eyang Sinto. Ternyata kitab ini masih ada 

di sini.” Wiro merasa sangat bersyukur. Dengan hati-hati dia membuka halaman demi 

halaman. Debu mengepul setiap dia membalik satu halaman. Lama sekali, entah 

berapa puluh halaman telah dibaliknya akhirnya Wiro menemukan apa yang dicarinya. 

Dia mulai membaca, perlahan-lahan, hati-hati, kata demi kata agar tidak ada yang 

terlewatkan. Dia membaca sampai tiga kali lalu kembali membalik halaman yang 

dicarinya. Seperti tadi Wiro membaca perlahan, hati-hati, kata demi kata, sampai tiga 

kali. Setelah merenung sesaat sambil pejamkan mata Wiro menutup kitab itu. 

memasukkannya ke dalam kotak kayu besi hitam. Kotak ini dimasukkannya kembali 

ke dalam lobang di tanah, lalu lobang ditimbun. Terakhir sekali gentong tanah 

diletakkan di atas timbunan tanah. Murid Sinto Gendeng sama sekali tidak 

mengetahui kalau semua apa yang dilakukannya di dalam pondok telah diintai 

seseorang lewat celah dinding kajang. 

 Ketika Wiro keluar dari pondok, didapatnya Bidadari Angin Timur dan Ratu 

Duyung dengan mempergunakan sehelai daun tengah meminumkan bubuk merah 

yang telah dicampur air ke mulut Anggini. Sisa obat pemberian mahluk bernama 

Singo Abang itu kemudian diborehkan di dada Anggini yang cidera. 

 “Aku ingat sesuatu,” berucap Bidadari Angin Timur. “Sewaktu orang 

bermantel itu keluar dari dalam liang makam dan lancarkan dua pukulan, salah satu 

pukulannya memancarkan sinar hitam, merah dan kuning. Apakah itu tidak cukup 

menjadi pertanda bahwa dia memang Pangeran Matahari?” 

 “Pukulan memancarkan sinar merah, kuning dan hitam! Itu memang ciri-ciri 

pukulan Pangeran Matahari,” ujar Wiro. “Tunggu, apakah kalian memperhatikan jari 

kelingking orang itu?” 

 Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung sama menggeleng. “Ada apa dengan 

jari kelingkingnya?” bertanya Bidadari Angin Timur. 

 “Jari kelingking Pangeran Matahari sebelah kiri buntung. Itu akibat gigitan 

Dewi Merak Bungsu beberapa tahun lalu.” (Baca serial Wiro Sableng berjudul 

“Kutunggu Di Pintu Neraka”) 

 “Wayang, kami tidak memperhatikan,” kata Ratu Duyung. 

 “Wiro, semua orang tahu, Pangeran Matahari adalah musuh bebuyutanmu. 

Tetapi mengapa dia sengaja mencelakai kami. Tidak berani menantangmu secara 

ksatria?” 

 Wiro sesaat pandangi wajah cantik Bidadari Angin Timur, lalu menjawab. 

“Orang-orang golongan hitam rimba persilatan punya jalan pikiran jahat seperti ini. 

Salah satu cara untuk menghancurkan lawan adalah dengan membunuh orang-orang 

yang sangat dekat dengannya arau dikasihinya. Itu sebabnya, sebelum sampai pada 

tujuan utamanya untuk menyingkirkan diriku, dia sengaja menjebak untuk


menghabisi kalian. Aku yakin bukan cuma Anggini yang hendak dicelakainya tapi 

kalian semua. Puti Andini korban pertama….” 

 “Mengenai kematian Puti Andini memang berat dugaan kami manusia 

bermantel itu yang membunuhnya. Tapi sebelum sampai ke sini kami hampir menjadi 

korban kebejatan seorang pemuda mengaku bernama Damar Wulung.” Menerangkan 

Ratu Duyung. “Aku malah sempat diculiknya. Kalau seorang nenek berjuluk 

Gondoruwo Patah Hati tidak menyelamatkan diriku, mungkin saat ini aku juga sudah 

menemui ajal. Paling tidak ditimpa aib besar….” Secara singkat Ratu Duyung 

menceritakan peristiwa di kuil tempo hari. 

 “Damar Wulung?!” Sepasang mata Pendekar 212 membesar. “Manusia satu 

itu, dia tidak kalah jahat dengan Pangeran Matahari. Dialah yang telah mencuri Keris 

Kiai Naga Kopek, pusaka Keraton. Dia juga kuduga terlibat dalam beberapa kejahatan 

dan pembunuhan. Kalau urusanku dengan Pangeran Matahari selesai, aku akan 

mencari manusia bejat satu itu.” Wiro diam sebentar lalu melanjutkan. “Kalian tahu, 

aku dan nenek berjuluk Gondoruwo Patah Hati itu menjadi buronan Kerajaan.” Wiro 

lantas menuturkan rangkaian kejadian sampai Patih Kerajaan menderita sakit berat 

akibat patukan ular. 

 “Aku ingat satu hal. Nenek berjuluk Gondoruwo Patah Hati pernah 

menerangkan bahwa Damar Wulung itu hanya nama palsu belaka. Orangnya 

sebenarnya bernama Adisaka….” 

 Wiro terkejut. “Adisaka?” ulangnya sambil menatap Ratu Duyung lekat-lekat. 

“Kau mendengar sendiri dia berkata begitu?” 

 “Betul. Menurut Gondoruwo Patah Hati nama Damar Wulung sebenarnya 

adalah Adisaka…..” 

 “Kalian tahu…..” suara Pendekar 212 terdengar bergetar. “Nenek itu pernah 

mengatakan padaku kalau Adisaka adalah murid yang tengah dicari-carinya. Berarti 

Damar Wulung adalah muridnya!” Wiro tepuk keningnya sendiri. “Pantas! Terakhir 

sekali aku bertemu dengan dia, katika aku menanyakan apakah dia telah bertemu 

dengan Adisaka, nenek itu kelihatan seperti ada anjalan….” 

 “Berarti dia sudah tahu kebejatan muridnya…..” 

 “Ada satu hal yang menjadi pertanyaan. Orang bermantel hitam itu mampu 

mendekam di dalam makam. Berarti dia memiliki satu ilmu kesaktian langka. 

Setahuku Pangeran Matahari tidak memiliki ilmu seperti itu….. Kalian berdua, 

Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung, aku ingin bersama kalian lebih lama di 

tempat ini. apa lagi Anggini sedang cidera. Namun mengejar manusia bermantel yang 

disebut Pangeran Miring itu lebih penting lagi. Aku yakin dia adalah Pangeran 

Matahari.” 

 Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung jadi terdiam. 

 “Kalian jangan kecewa. Untuk sementara tetap di sini sampai Anggini sembuh. 

Ada satu obat baru yang harus kalian berikan padanya. Di sebelah selatan puncak 

gunung ini ada lereng yang ditumbuhi alang-alang berdaun biru. Ambil akarnya, 

tumbuk, peras dan minumkan pada Anggini….” 

 Wiro membungkuk, mengusap wajah Anggini, memegang pundak Ratu 

Duyung dan Bidadari Angin Timur. 

 “Wiro, kalau kami ingin menemuimu, di mana kami harus mencari?” Ratu 

Duyung bertanya. 

 “Ada banyak hal yang harus aku kerjakan,” jawab Pendekar 212. “Salah satu 

tujuanku adalah air terjun Jurangmungkung, di dekat Mojogedang. Mungkin aku akan 

berada di sana sekitar dua minggu dari sekarang.” 

 “Kalau begitu kami akan menemuimu di sana,” kata Bidadari Angin Timu


Wiro mengangguk. “Aku pergi, jaga diri kalian baik-baik. Tolong 

Anggini…..” Wiro membalikkan badan hendak tinggalkan tempat itu. namun 

gerakannya terhenti ketika tiba-tiba telinganya menangkap satu suara. Suara Anggini. 

 “Wiro, jangan pergi dulu…..” 

 Wiro memutar badannya kembali lalu membungkuk. “Ada apa Anggini?” 

tanya Wiro sambil memegang tangan gadis itu. Anggini susupkan jari-jari tangannya 

ke sela-sela jari tangan Wiro dan merasakan satu kehangatan serta kebahagiaan tiada 

tara. 

 “Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu. Amanat seseorang….” 

Berucap Anggini. Tangannya ditarik dari genggaman Wiro, lalu mengambil sesuatu 

dari balik pakaian ungunya. Benda itu diletakkannya di atas telapak tangan Wiro lalu 

jari-jari tangan si pemuda digenggamnya seraya mulutnya berucap. “Pemiliknya 

meminta aku menyerahkan benda itu padamu…..” 

 Perlahan-lahan Wiro tarik tangan kanannya sambil membuka genggaman jari-

jarinya. Wajah Pendekar 212 langsung berubah haru. Matanya berkaca-kaca. Yang 

ada dalam genggamannya saat itu adalah sehelai bunga kenanga kering. 

 “Bunga….Suci….” bisik Wiro dalam hati. Anggini anggukkan kepala 

perlahan. Wiro hendak bertanya kapan kembang kenanga itu diberikan Bunga, tapi 

dilihatnya Anggini sudah mengatupkan mata. Wiro menarik nafas dalam, bangkit 

berdiri dan tinggalkan tempat itu. 

 “Sebenarnya banyak hal yang perlu kita bicarakan dengan Wiro. Tapi…..” 

Ratu Duyung menarik nafas dalam. 

 “Aku juga kecewa. Dua tahun dia menghilang begitu saja. Tadi dia menyebut 

air terjun Jurangmungkung. Setahuku itu empat angker yang jarang didatangi manusia. 

Ada keperluan apa Wiro ke sana.” Bidadari Angin Timur berkata sambil memandang 

ke arah lenyapnya Wiro. 

 “Aku melihat sikap gerak geriknya aneh. Entah apa yang terjadi dengan 

dirinya. Dia seperti menanggung banyak beban.” Kata Ratu Duyung pula. 

 “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” ujar Bidadari Angin Timur. Gadis 

ini pejamkan mata. “Kurasa kita juga harus meninggalkan tempat ini.” 

 “Kemana?” tanya Ratu Duyung. 

 “Mengejar Wiro. Aku ingin membunuh dengan tanganku sendiri manusia 

dajal Pangeran Miring itu. Paling tidak ikut menyaksikan kematiannya.” 

 “Lalu bagaimana dengan Anggini?” tanya Ratu Duyung. Hatinya ikut tergerak 

untuk mengejar Wiro. 

 “Kita cari dulu alang-alang biru…..” Bidadari Angin Timur hentikan 

ucapannya. “Alang-alang biru,” katanya kemudian mengulang. “Seumur hidup aku 

belum pernah melihat alang-alang berwarna biru. Bagaimana kalau di lereng selatan 

kita tidak menemukannya?” 

 “Kita harus percaya pada Wiro. Dia bertahun-tahun tinggal di sini. Pasti dia 

tahu betul kalau di lereng selatan Gunung Gede memang ada tumbuhan itu. Dan 

punya khasiat untuk menyembuhkan luka dalam yang dialami Anggini. 

 “Ratu Duyung, kau tinggal di sini menjaga Anggini. Biar aku yang mencari 

alang-alang itu. Selesai mengobati Anggini kita akan buat tandu. Kita usung dia 

sampai ke tempat kita meninggalkan gerobak. Setelah itu kita berangkat mengejar 

Wiro.” 

 “Kawan-kawan….” Tiba-tiba terdengar suara Anggini membuat dua gadis 

terkejut. Mereka melihat dua mata Anggini masih terpejam namun mulutnya bicara. 

“Kalian berdua pergi saja. Tak apa aku sendirian di tempat ini. satu dua hari aku 

bakalan sembuh. Nanti aku akan menyusul kalian.”


Ratu Duyung pegang lengan Anggini, Bidadari Angin Timur usap rambut 

gadis itu. “Tidak Anggini, apapun yang terjadi kita tetap bersama-sama. Apalagi 

dalam keadaan dirimu seperti ini.” kata Bidadari Angin Timur. 

 “Lagi pula Wiro telah berpesan agar kami merawatmu baik-baik. Kami akan 

membuatkan sebuah tandu untukmu. Kita sama-sama meninggalkan tempat ini…..” 

 Dari mata Anggini yang terpejam itu meluncur keluar butir-butir air mata.


DELAPAN


Mentari jauh condong ke barat. Tak lama lagi senja akan datang. Sutri yang 

dalam perjalanan pulang merasa tidak perlu berlari cepat. Kotaraja hanya tinggal 

dekat. Paling lambat bersamaan dengan turunnya malam dia sudah sampai kembali di 

Gedung Kepatihan. 

 Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara derap kaki kuda. Gadis ini segera 

menepi. Tapi kuda dan penunggangnya malah berhenti di depan Sutri Kaliangan. 

 Kuda itu berwarna coklat. Ada bagian yang berwarna putih di hidungnya. 

Penunggangnya seorang pemuda berbadan tegap, memiliki wajah cakap. Sesaat 

pemuda ini menatap wajah Sutri Kaliangan lalu turun dari kudanya, melangkah ke 

hadapan Sutri. Untuk beberapa lama dia masih pandangi wajah si gadis. Membuat 

Sutri merasa tidak senang dan hendak mendamprat. Namun tiba-tiba si pemuda 

membungkuk hormat seraya berkata. 

 “Kalau tidak salah saya menduga, bukankah saya berhadapan dengan Den 

Ayu Sutri Kaliangan, puteri Patih Kerajaan?” 

 “Aku memang Sutri Kaliangan, puteri Patih Kerajaan. Kau siapa?” 

 “Nama saya Damar Wulung. Harap maafkan, sebenarnya saya mengikuti Den 

Ayu sejak keluar dari rimba belantara tadi. Berjalan jauh seorang diri, sungguh 

berbahaya bagi keselamatan Den Ayu. Mengapa tidak membawa pengawal? Bahkan 

Den Ayu sama sekali tidak naik kereta atau menunggang kuda.” 

 “Kau sengaja mengikutiku. Apa ada maksud yang tidak baik?” Walau hatinya 

kini tertarik pada ketampanan wajah si pemuda namun Sutri bersikap hati-hati. 

 Si pemuda tertawa lebar. “Kalau saya berniat jahat, mengapa menunggu 

sampai sekian lama? Den Ayu, Kotaraja memang tidak seberapa jauh lagi. Tapi kalau 

saya boleh menolong…..” 

 “Hemmmm, pertolongan apa bisa kau berikan?” 

 “Saya hanya memiliki kuda ini. Den Ayu boleh menungganginya sampai ke 

gedung Kepatihan. Saya akan mengikuti dari belakang.” 

 “Terima kasih. Aku tidak memerlukan kudamu.” 

 Damar Wulung tersenyum. “Pertolongan saya memang tidak ada artinya. 

Tidak saya sesalkan Den Ayu sampai menolak. Saya senang dapat bertemu dan 

bertutur cakap dengan Den Ayu. Saya mohon diri. Maafkan saya mendeahului Den 

Ayu…..” Habis berkata begitu si pemuda sentakkan tali kekang kudanya. 

 “Tunggu, apakah kau orang Kotaraja atau penduduk sekitar sini?” sutri 

Kaliangan bertanya. 

 “Ah, saya cuma pemuda tani. Desa saya tak jauh dari sini,” jawab Damar 

Wulung. Ini adalah satu kedustaan belaka. “Saya dalam perjalanan menuju Kotaraja. 

Ingin menyambangi makam kakaknya ibu. Waktu beliau meninggal saya tidak sempat 

melayat.” Ini adalah kedustaan kedua. 

 “Siapa kakak Ibumu itu?” 

 “Nyi Kinasih, istri mendiang Raden Mas Sura Kalimarta, juru ukir Keraton.” 

Ini merupakan kedustaaan ketiga. “Keluarga kami dalam kesedihan mendalam. Kedua 

orang itu menemui kematian secara tidak terduga. Sama-sama mati dibunuh orang. 

Mungkin Den Ayu sudah mendengar peristiwanya. Konon sang pembunuh adalah 

seorang pendekar bernama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 

212.


Sutri Kaliangan terdiam. Dia memang telah mendengar peristiwa pembunuhan 

atas diri dua suami istri itu. 

 “Maafkan saya, apakah ucapan saya ada yang menyinggung Den Ayu?” 

betanya Damar Wulung ketika melihat gadis di hadapannya terdiam cukup lama. 

 “Tak ada ucapanmu yang menyinggung. Justru kalau aku boleh memberitahu, 

sore tadi aku hampir saja memecahkan kepala manusia bernama Wiro Sableng itu!” 

 Damar Wulung unjukkan wajah terkejut. “Den Ayu, terkejut sekali saya 

mendengar ucapan Den Ayu. Kalau saya boleh mendengar ceritanya…..” 

 Sutri Kaliangan merasa tidak ada salahnya dia menceritakan apa yang telah 

terjadi. 

 “Benar-benar manusia bejat kurang ajar! Dia telah mencelakai Ayahanda Den 

Ayu, lalu meculik Den Ayu pula! Setahu saya pasukan Kerajaan mencari pemuda itu. 

Tapi saya ingin membunuhnya dengan tangan saya sendiri. Sehabis dari Kotaraja, 

saya akan mendatangi tikungan sungai itu, mencari jejak pendekar jahanam itu!” 

 “Mungkin dia tak ada lagi di tempat itu. Dia mungkin sudah pergi ke satu 

tempat…..” kata Sutri pula. 

 “Mungkin Den Ayu mengetahui ke mana dia pergi? Mungkin dia mengatakan 

pada Den Ayu?’ tanya Damar Wulung. 

 Polos saja Sutri Kaliangan menjawab. “Air terjun Jurangmungkung, dekat 

Mojogedang, tak jauh di arah timur Karanganyar. Aku rasa dia tengah menuju ke 

sana.” 

 “Terima kasih Den Ayu mau memberitahu,” Damar Wulung membungkuk 

hormat. “Sekarang karena kita sama-sama ke Kotaraja, apakah saya tak boleh berbuat 

baik? Saya pinjamkan kuda coklat saya pada Den Ayu. Saya akan mengikuti dari 

belakang. Saya tidak tahu ilmu berlari cepat, jadi saya harap Den Ayu tidak 

membedal kuda itu terlalu cepat.” Si pemuda berkata sambil mengulum senyum. 

 Melihat orang bicara begitu sopan menunjukkan sikap baik akhirnya lembut 

juga hati puteri Patih Kerajaan itu. “Baiklah, aku terima kebaikanmu.” Lalu tanpa 

basa basi lagi Sutri yang memang cekatan dalam menunggang kuda melompat naik ke 

atas punggung kuda coklat itu. Baru saja dia duduk di atas punggung kuda tiba-tiba 

Damar Wulung melesat dan tahu-tahu sudah duduk pula di atas kuda di belakang 

Sutri. Tentu saja gadis itu jadi terkejut. 

 “Hai! Tadi kau bilang akan mengikuti dari belakang. Kini mengapa ikutan 

naik?!” 

 “Tak usah kawatir Den Ayu. Kudaku ini cukup kuat! Dia bisa membawa kita 

sama-sama ke Kotaraja dengan cepat.” Tangan kiri Damar Wulung menyelinap ke 

depan merangkul pinggang Sutri Kaliangan. 

 “Pemuda kurang ajar! Akhirnya kau menunjukkan belangmu! Kau mau 

menipuku! Pasti punya maksud keji!” 

 Sutri Kaliangan hujamkan siku kanannya ke perut Damar Wulung. Ketika si 

pemuda bergerak mengelak, Sutri segera melompat turun. Tapi cepat sekali tangan 

kanan Damar Wulung mencekal pinggangnya. Lalu di saat yang sama tangan kiri 

menotok dua urat besar di dada dan punggung si gadis. Saat itu juga Sutri merasakan 

sekujur tubuhnya kaku lumpuh, tak bisa bergerak tak mampu keluarkan suara. 

 Damar Wulung tertawa bergelak. Sekali dia sentakkan tali kekang, kuda 

coklat itu menghambur ke depan namun di saat yang sama empat kuda hitam besar 

melompat menghadang jalan. Empat kuda kemudian menyebar, jelas mengurung kuda 

coklat tunggangan Damar Wulung. 

 “Kurang ajar! Kalian siapa?!” bentak Damar Wulung.


Empat penunggang kuda hitam yang sama-sama mengenakan pakaian serba 

hitam, bertampang galak, serta membekal golok besar di pinggang, keluarkan tawa 

bergelak. 

 “Beberapa waktu lalu kau mengerjai, menipu dan membunuh Warok Mata Api 

dan kawan-kawannya. Cukup lama kami mencari, hari ini kami berhasil menemuimu. 

Ternyata kau membawa seorang gadis culikan! Serahkan gadis itu. Sesudah itu kau 

juga harus menyerahkan nyawamu! Ha….ha…..ha!” 

 Penunggan kuda yang barusan bicara tertawa bergelak memperlihatkan 

barisan gigi-gigi yang putih kilat karena dilapisi perak! 

 “Manusia-manusia jahanam! Kalian siapa? Apa hubungan kalian dengan 

Warok Mata Api?!” Damar Wulung kembali membentak. 

Penunggang kuda di samping kiri si gigi perak membuka mulut. Matanya 

cuma satu. Rambutnya awut-awutan, cambang bawuk meranggas liar. “Sobat, orang 

bertanya sebaiknya diberitahu siapa kita ini adanya. Syukur-syukur dia tidak sampai 

kencing di celana! Ha…ha….ha!” 

 Si gigi perak menyeringai. Sambil letakkan tangan kirinya di atas dada dia 

berkata “Aku dikenal dengan nama Warok Gigi Perak. Di samping kiriku yang 

bermata satu Warok Mata Picak. Di sebelah kanan Warok Tangan Api. Di belakang 

sana berkepala botak Warok Kepala Besi. Kami adalah para dedengkot Alas Roban, 

kawan-kawan Warok Mata Api yang kau tipu dan kau bunuh beberapa waktu lalu! 

Kami datang untuk minta nyawamu sebagai tebusan nyawa sobat kami Warok Mata 

Api!” 

 Damar Wulung pernah mendengar nama empat Warok itu. Mereka rata-rata 

memiliki kepandaian tinggi. Yang paling berbahaya ialah Warok Tangan Api. Walau 

dia tidak merasa jerih namun kalau mereka bergabung untuk membalaskan dendam, 

keadaan benar-benar tidak menguntungkan bagi dirinya. (Kisah penipuan dan 

pembunuhan atas Warok Mata Api oleh Damar Wulung bisa dibaca dalam Episode 

sebelumnya berjudul “Roh Dalam Keraton”) 

 “Empat Warok, kalian salah menyangkal! Aku bukan pembunuh Warok Mata 

Api! Pembunuhnya adalah Wiro Sableng Pendekar 212! Saat ini aku justru tengah 

mengejar bangsat itu. Dia baru saja menculik gadis ini! Untung aku berhasil 

menyelamatkannya. Kalian mau tahu siapa gadis ini? Dia adalah puteri Patih 

Kerajaan!” 

 Empat Warok sama kerenyitkan kening, saling pandang lalu sama tertawa 

bergelak. Warok Kepala Besi usap-usap kepalanya yang botak plontos lalu berkata. 

 “Benar apa yang dikatakan orang. Bangsat muda bernama Damar Wulung itu 

licin seperti belut, cerdik seperi ular! Kau kira kami mudah saja kau tipu dengan 

mulut busukmu?!” 

 Warok Mata Picak memandang liar dengan matanya yang satu, lalu ikut bicara 

“Kalau kau memang penyelamat gadis itu, mengapa dia berada dalam keadaan tak 

bisa bicara tak bisa bergerak? Siapa yang menotoknya?!” 

 Damar Wulung tak bisa menjawab. 

 Warok Mata Picak kembali bersuara lantang. “Dua orang anak buahku lewat 

di tempat kejadian tak lama setelah kau membantai Warok Mata Api dan anak 

buahnya. Salah seoerang anak buah Warok Mata Api ditemukan dalam keadaan 

sekarat, sebelum mati masih sempat memberitahu bahwa Warok Mata Api dan 

kawan-kawannya mati dibunuh oleh seorang pemuda bernama Damar Wulung. Dia 

memberitahu namamu, mengatakan bahwa kau menunggangi seekor kuda coklat yang 

ada warna puttih di hidungnya! Manusia jahanam, apa kau masih mau berkilah 

mencari dalih?


Warok Gigi Perak menyeringai. “Damar Wulung, kami sudah lama 

mengintaimu. Kami tahu semua apa yang terjadi di tempat ini! Kau bisa menipu 

Warok Mata Api, tapi jangan mengira bisa memperdayai kami berempat! Warok 

Tangan Ap, lekas kau rampas gadis itu!” 

 Mendengar ucapan Warok Gigi Perak, Warok Tangan Api gerakkan tangan 

kanannya. 

 “Wussss!” 

 Satu kobaran lidah api menderu ke arah Damar Wulung. Kejut pemuda ini 

bukan kepalang. Jarak mereka terpisah sekitar dua tombak, tapi lidah api menderu 

laksana kilat dan tahu-tahu sudah menyambar di depan hidungnya!


SEMBILAN


Sambil membentak keras Damar Wulung miringkan diri ke samping lalu jatuhkan 

diri ke tanah. Lidah api menderu hanya satu jengkal di sisinya, panas membakar 

pinggang pakaian kuningnya. Dengan tangan kanannya dia menepuk-nepuk 

pakaiannya hingga api yang membakar serta merta padam. Didahului suara 

menggembor marah, begitu dua kakinya menginjak tanah dia hantamkan tangan 

kanan ke arah Warok Tangan Api. Dari tangan Damar Wulung memancarkan dinar 

biru! 

 Dua kuda meringkik keras. 

 Yang pertama kuda coklat milik Damar Wulung. Binatang ini yang ketakutan 

melihat lidah api serangan Warok Tangan Api meringkik keras, sambil naikkan dua 

kaki depannya ke atas. Tak ampun Sutri yang berada dalam keadaan kaku di 

punggungnnya, jatuh ke samping. Saat itu Warok Gigi Perak cepat melesat dari 

kudanya, menyambar tubuh si gadis lalu membawanya ke tempat aman. 

 Kuda kedua yang meringkik kemudain jatuh tergelimpang di tanah adalah 

kuda milik Warok Tangan Api. Binatang ini menggeliat melejang-lejang lalu terkapar 

tak berkutik lagi, mati dengan kepala pecah akibat pukulan aneh yang tadi dilepaskan 

Damar Wulung. Bagian kepala yang hancur berwarna membiru dan mengepulkan 

asap. 

 Warok Tangan Api bergidik. Kalau dia tadi tidak lekas menghambur dari 

kudanya, pastilah dirinyalah yang jadi korban. 

 “Pukulan Batunaroko!” kejut Warok Gigi Perak begitu mengenali pukulan 

yang membunuh kuda Warok Tangan Api tu. “Setahuku pukulan itu hanya dimiliki 

oleh nenek sakti berjuluk Gondoruwo Patah Hati. Salama ini si nenek tidak ada 

permusuhan dengan para Warok Alas Roban. Juga tidak terdengar dia pernah 

mempergunakan pukulan Batunaroko karena terlalu ganas. Pemuda satu ini siapa dia? 

Apa muridnya? Terlalu berbahaya! Kalau tidak segera dihabisi bisa menimbulkan 

malapetaka!” 

 Tiga Warok lainnya juga sama terkejut. Terutama Warok Tangan Api. 

Mukanya sampai pucat. Dia memberi tanda pada kawan-kawannya. Lalu berteriak. 

 “Jaring Golok Iblis!” 

 Empat Warok melesat ke arah Damar Wulung. 

 “Srett! Srett! Srett! Srett! 

 Selagi melayang di udara empat golok dihunus keluar dari sarung. Empat 

Warok memegang golok di tangan kiri. Ternyata mereka kidal semua. Lalu empat 

cahaya berkilauan disertai deru angin keras berkiblat di udara. Empat cahaya 

membentuk empat garis panjang yang saling besilangan seperti jaring lalu secara aneh 

menderu ke arah Damar Wulung. Inilah jurus ilmu golok yang disebut Jaring Golok 

Iblis. Jangankan seorang lawan, dua orangpun jika sampai diterjang serangan ini akan 

sulit selamatkan diri. 

 Damar Wulung belum pernah mendengar jurus maut serangan golok empat 

Warok Alas Roban itu. Namun dari cahaya yang keluar serta melihat bagaimana 

empat cahaya membetuk jaring menderu siap melibasnya Damar Wulung tak mau 

berlaku ayal. Secepat kilat dia menghantam. Dua cahaya biru menyambar. “Praak! 

Praak!” 

 “Breett! Breeettt!”


Dua jeritan merobek udara. Dua tubuh mencelat dan terjengkang tak bernyawa. 

Lalu ada suarakudadipacu meninggalkan tempat itu. 

 Warok Gigi Perak tegak tertegun, perlahan-lahan memutar kepala, 

memandang berkeliling. Mata membelalak, tengkuk terasa dingin. Warok Mata Picak 

dan Warok Kepala Besi dilihatnya menggeletak di tanah dengan kepala hancur. 

 “Pukulan Batunaroko….” Desis Warok Gigi Perak dengan suara bergetar. 

Lagi-lagi menyebut nama pukulan yang mengerikan itu. 

 Di sampingnya Warok Tangan Api berdiri tergontai-gontai sambil 

memandang ke arah kejauhan sementaa kobaran api di tangan kanannya mengecil lalu 

padam. Rupanya tadi sewaktu melihat lawan melarikan diri, melesat keluar dari jaring 

cahaya empat golok, dia segera mengejar dengan pukulan sakti yang sanggup 

mengeluarkan lidah api. Hanya sayang Damar Wulung telah melompat ke atas 

punggung kuda coklatnya dan menggebrak binatang itu kabur dari tempat tersebut. 

 Warok Gigi Perak dan Warok Tangan Api setengah menggerung menyaksikan 

kematian dua sahabat mereka. Di bagian lain Sutri Kaliangan tak berani membuka 

mata karena ngeri menyaksikan apa yang terjadi hanya beberapa langkah di 

hadapannya. 

 “Warok Kepala Besi, Warok Mata Picak, kami berdua akan membalaskan 

kematianmu! Kami bersumpah akan mencincang pemuda bernama Damar Wulung 

itu…..” Warok Gigi Perak berpaling pada Warok Tangan Api. “Tak jauh dari sini ada 

jurang batu. Hanya itu tempat terbaik buat jenazah dua kawan kita ini.” 

 Warok Tangan Api mengangguk perlahan. Dia berpaling ke arah Sutri lalu 

bertanya. “Apa yang akan kita lakukan terhadap gadis itu?” 

 Sutri serta merta buka kedua matanya begitu mendengar dirinya disebut-sebut. 

Rasa takut membuat sekujur tubuhnya bergetar dan mukanya pucat tak berdarah. 

Siapa tidak takut berada di tangan para perampok hutan Roban. Apa lagi saat itu 

mereka baru saja mengalami kejadian hebat. Dua kawan mereka menemui ajal. 

 Warok Gigi Perak menyeringai lalu lepaskan dua totokan di tubuh Sutri. 

Begitu dirinya bebas gadis ini segera hendak melompat larikan diri tapi lengannya 

dicekal Warok Gigi Perak. 

 “Jangan! Lepaskan!” jerit Sutri. 

 “Jangan berteriak! Jawab pertanyaanku! Apa betul kau puteri Patih Selo 

Kaliangan?” tanya Warok Gigi Perak. 

 “Kalau sudah tahu janga berani kurang ajar! Lepaskan tanganku!” teriak Sutri 

sambil meronta tapi tak sanggup lepaskan cekalan orang. 

 “Kami Warok Alas Roban memang kejam, membunuh orang sama dengan 

membunuh lalat! Tapi kamu tidak menyakiti kaum perempuan. Itu satu pantangan 

besar! Dengar, kami tidak akan menyakitimu. Kau boleh kembali ke Kotaraja 

sebelum malam tiba. Tapi kami butuh keterangan….” Warok Gigi Perak lepaskan 

cekalan di lengan Sutri. Puteri Patih itu hampir tak percaya mendengar ucapan sang 

Warok danusap-usap lengannya yang tadi dicekal. “Kau boleh pergunakan salah satu 

dari dua kuda itu untuk pulang ke Kotaraja. Tapi jawab dulu pertanyaanku. Kau tahu 

kira-kira ke mana bangsat bernama Damar Wulung itu melarikan diri?” 

 Sutri menggeleng. “Aku …..aku tidak tahu. Tapi…..” 

 “Tapi apa?” tanya Warok Tangan Api. 

 “Mungkin dia menuju air terjun Jurangmungkung.” 

 “Air terjun Jurangmungkung dekat Mojogedang?” tanya Warok Gigi Perak. 

 “Benar…


“Ada keperluan apa bangsat itu ke sana? Setahuku tak satu manusiapun mau 

datang ke situ. Itu tempat banyak roh gentayangan. Kematian bisa terjadi semudah 

angin beritup.” 

 “Pemuda itu punya permusuhan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. 

Kemungkinan besar dia mencari Pendekar 212 di tempat itu…..” 

 “Pendekar 212 Wiro Sableng!” uajr Warok Gigi Perak. Tiba-tiba 

ditangkapnya pinggang Sutri. Gadis ini lalu dilemparkannya ke atas punggung kuda 

milik Warok Kepala Besi. “Berangkatlah ke Kotaraja sebelum malam tiba!” 

 Lega dada Sutri. Dia merasa tidak percaya. Tadi dia mengira Warok bergigi 

perak itu hendak melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadapnya. Ternyata dia 

dinaikkan ke atas kuda dan disuruh pergi. Tanpa banyak menunggu lagi Sutri segera 

menggebrak kuda besar itu. 

 Tak selang berapa lama setelah lenyapnya Sutri Kaliangan dan perginya dua 

Warok dengan membawa mayat dua kawannya, dari balik satu gundukan tanah yang 

membentuk bukit kecil, muncullah seekor kuda putih. Penunggangnya seorang nenek 

berambut kelabu, berpakaian serba hitam dan bermuka setan. Si nenek yang bukan 

lain adalah Gondoruwo Patah Hati berulang kali menarik nafas dalam dan gelengkan 

kepala. 

 “Pukulan Batunaroko….” Katanya perlahan. “Ganas sekali. Kalau yang jadi 

korban bangsa perampok seperti dua orang tadi mungkin aku masih bisa menerima. 

Tapi jika yang menemui ajal adalah para pendekar golongan putih, atau orang-orang 

tidak bedosa? Menyesal aku telah mengajarkan ilmu itu padanya. Anak itu, apapun 

yang terjadi aku harus bisa membawanya kembali ke pertapaan. Kalau dia melawan 

aku terpaksa menguras ilmu yang dimilikinya. Berarti dia akan menderita lumpuh 

seumur-umur.” 

 Gondoruwo Patah Hati memandang ke arah kejauhan, ke arah lenyapnya 

Damar Wulung. “Dia menuju ke timur. Apa yang dicarinya di sana?” si nenek 

menghela nafas panjang sekali lagi lalu sentakkan tali kekang kuda putihnya. 

 Di bawah sinar kuning sang surya yang hendak tenggelam Damar Wulung 

memacu kuda coklatnya. Baju kuningnya robek di bahu kiri dan dada kanan akibat 

sambaran golok. Bahu kirinya tidka cidera tapi kulit dadanya sempat digores ujung 

golok Warok Gigi Perak. Kaki kirinya terasa panas. Ketika dia memandang ke bawah 

pemuda ini merutuk. Ujung kaki celana kirinya kelihatan hangus. Kakinya sendiri 

kemerah-merahan sampai sebatas mata kaki. Sewaktu ia melompat ke punggung kuda, 

Warok Tangan Api masih sempat mengejar dengan serangan lidah api dan mengenai 

kaki kirinya. Untung cidera yang dialaminya ringan saja. Rasa sakit juga tak seberapa. 

Namun rasa dendamnya terhadap dua Warok yang masih hidup itu laksana bara 

menyala. Kelak jika tugas dari Dewi Ular yaitu menangkap Pendekar 212 Wiro 

Sableng selesai dilaksanakannya, dia akan mencari dua Warok itu dan membunuh 

keduanya tanpa ampun lagi!


Gerobak berhenti di depan kedai besar di persimpangan jalan. Saat itu tengah 

hari tepat. Kedai penuh oleh pengunjung yang sedang makan. 

 “Biar aku yang turun,” kata Anggini. “Kedua kakiku ini seperti kaku, tiduran 

terus dari kemarin.” 

 “Tapi kau masih sakit,” ujar Bidadari Angin Timur. 

 “Siapa bilang. Selama perjalanan kalian berdua telah menjadi tabibku yang 

hebat. Memberi segala macam obat. Luka dalamku sudah mulai pulih, hanya badan 

masih terasa sedikit lemah. Mungkin kebanyakan tidur. Jadi itu sebabnya aku perlu 

jalan-jalan sedikit.” Anggini tersenyum lalu turun dari gerobak. Pertama kali 

menginjak tanah dia agak terhuyung. Bidadari Angin Timur cepat memeluk bahunya. 

“Tidak apa-apa, aku cukup kuat.” Kata Anggini pula. “Jadi aku harus beli apa? Tiga 

nasi bungkus?” 

 “Ratu Duyung, kau tetap di gerobak. Biar aku menemani Anggini,” berkata 

Bidadari Angin Timur. 

 Kehadiran dua gadis centik di dalam kedai yang hampir seluruh 

pengunjungnya adalah laki-laki tentu saja menarik perhatian. Mereka yang tengah 

lahap makan menunda menyuap atau menelan makanan dalam mulut, tak mau 

melewati pemandangan bagus itu. Namun melihat pakaian serta gerak-gerik kedua 

gadis itu, tak ada yang berani mengganggu. Mereka maklum dua gadis jelita itu 

adalah orang-orang rimba persilatan. Semua orang meneruskan makan masing-masing 

sambil sesekali larak lirik. 

 Di sudut kedai, seorang lelaki ang ada parut bekas luka di pipi kirinya dan 

tengah lahap menyantap makanan tiba-tiba tak bisa menelan nasi di dalam mulut. 

Tidak seperti yang lain-lain yang menikmati kecantikan wajah dua gadis, lelaki satu 

ini malah tampak ketakutan. Sambil memalingkan kepala ke jurusan lain dia cepat-

cepat meneguk minumannya. Ketika hendak berdiri tak sengaja tangannya menyentuh 

gelas tanah hingga jatuh di lantai, mengeluarkan suara pecah yang menarik perhatian, 

termasuk Anggini dan Bidadari Angin Timur. Dua gadis ini berpaling memperhatikan. 

Lelaki tadi cepat-cepat menuju bagian belang kedai, lalu keluar dari pintu samping. 

 “Orang berpakaian hitam tadi…..,” bisik Anggini. “Yang mukanya ada cacat. 

Aku pernah melihatnya. Coba kau ingat-ingat.” 

 “Dia seperti ketakutan melihat kita. Aku ….. Aku ingat! Dia adalah salah 

seorang anggota rampok yang membegal kita sewaktu dalam perjalanan menuju 

Gunung Gede. Tapi seingatku semua anggota rampok itu termasuk pemimpin mereka 

yang berjuluk Sepasang Gada Besi, habis dibantai oleh pemuda jahanam bernama 

Damar Wulung. Bagaimana dia kini bisa hidup kembali?” 

 “Ini satu hal menarik. Bidadari, kau selesaikan pesanan kita. Aku akan 

mengejar orang itu.” Tak banyak menunggu Anggini segera melompat ke pintu 

samping. Seperti terbang dara yang baru sembuh sakit enak saja melompati meja 

panjang di mana banyak orang sedang menyantap makanan. 

 Ketika Anggini sampai di halaman samping, dia jadi tertawa lebar. Di 

halaman itu dilihatnya Ratu Duyung tengah menjambak lelaki berpakaian hitam 

bermuka cacat yang tengah dikejarnya. Orang ini berteriak-teriak minta ampun. 

 “Jangan berteriak terlalu keras. Nanti makanan yang barusan masuk dalam 

perutmu keluar semua!” kata Anggini. Dia berpaling pada Ratu Duyung.”Sahabat kau 

rupanya telah mengenali siapa dia.” 

 Ratu Duyung mengangguk. “Anak buah kelompok rampok Sepasang Gada 

Besi yang tempo hari menghadang kita. Mungkin juga dia kaki tangan Damar 

Wulung!”


“Kami kira kau sudah mati dibantai Damar Wulung saat itu. Ternyata masih 

hidup. Kami ingin tahu bagaimana ceritanya” tanya Anggini. 

 “Aku…….aku berpura-pura mati. Setelah semua orang pergi aku lari 

selamatkan diri. Aku …..ampun! Aku tidak bermaksud jahat. Damar Wulung menipu 

kami!” 

 Anggini dan Ratu Duyung saling pandang. 

 “Menipu bagaimana?” satu suara bertanya. Ternyata Bidadari Angin Timur 

yang baru saja keluar dari kedai. Yang ditanya tak menjawab. Dia tampak sangat 

ketakutan. 

 “Kalau kau tidak bisa membuka mulut, biar aku tolong membukakan!” kata 

Bidadari Angin Timur. Lalu dia cabut satu pohon kecil. Akar pohon ini 

disodokkannya ke mulut si muka parut. Tentu saja orang ini jadi ketakutan dan buru-

buru membuka mulut. 

 “Ampun, jangan! Biar aku bicara. Sebelu kami menghadangmu, Damar 

Wulung sudah ada perjanjian dengan pimpinan kami. Kami hanya pura-pura 

merampokmu, lalu Damar Wulung pura-pura menolong kalian….” 

 Bidadari Angin Timur berpaling pada dua sahabatnya dan berkata “Dugaanku 

tempo hari bahwa Damar Wulung memang berkomplot dengan kelompok rampok itu 

kini terbukti benar. Sayang sahabat kita Puti Andini sudah tidak ada untuk 

menyaksikan kebenaran dugaanku….” Bidadari Angin Timur gebukkan batang pohon 

ke kaki orang itu.”Sudah, pergi sana! Lain kali kupergoki kau melakukan kejahatan, 

kutambah cacat di mukamu!” 

 Terpincang-pincang kesakitan bekas anak buah rampok pimpinan Sepasang 

Gada Besi itu tinggalkan tempat tersebut. Sementara orang banyak mulai berkumpul 

untuk melihat apa yang terjadi, ketiga gadis sudah berada dalam gerobak, melanjutkan 

perjalanan. 

 Pagi itu di gedung Kepatihan masih tampak sepi. Namun sepagi itu Sutri 

Kaliangan telah menghadap ayahnya. 

 “Saya mendengar ayah mengirim pasukan besar dan beberapa tokoh silat 

Istana ke kawasan air terjun Jurangmungkung untuk menangkap Pendekar 212 Wiro 

Sableng.” 

 Di atas pembaringan, Patih Kaliangan kerenyitkan kening, menatap wajah 

anak gadisnya lalu berkata ”Pagi ini aku tak ingin diganggu. Pergilah, nanti saja 

kembali lagi ke sini.” 

 “Saya menyesal telah memberitahu bahwa Pendkar 212 berada di 

Jurangmungkung. Padahal maksud saya memberi tahu agar ayah yakin bahwa dia 

akan mencarik obat penyembuh untuk sakit ayah.” 

 Selo Kaliangan tersenyum getir. “Dosa manusia itu dan si Gondoruwo Patah 

Hati sangat besar! Hanya kematian yang bisa menghapuskan kesalahan mereka. 

Adalah aneh kau berubah jalan pikiran. Sepertinya kau ingin membela orang yang 

telah mencelakai ayahmu dan menimbulkan musibah besar pada Kerajaan. Sebagai 

puteri Patih Kerajaan seharusnya kau membela Kerajaan. Lebih dari itu kau wajib 

membela aku ayahmu!” 

 “Bagi saya kesembuhan ayah adalah paling utama. Jika ayah berhasil 

disembuhkan sesuai janji Pendekar 212 pada saya, apa yang nanti ayah mau lakukan 

terhadapnya terserah ayah…..


“Sutri, aku tak ingin bicara lebih lama. Pergilah. Panggil ibumu….” 

 Sutri termenung sejurus lalu gadis ini keluar dari dalam kamar ayahnya. 

Bukan untuk menemui ibunya tapi pergi ke kandang kuda, menyuruh perawat kuda 

untuk menyiapkan kuda tunggangannnya. 

 “Pagi-pagi begini Den Ayu mau berkuda ke mana?” tanya orang tua perawat 

kuda. 

 “Bapak kuda, aku tidak bisa mengatakan padamu mau pergi ke mana. Aku tak 

ingin kau memberitahu pada ayah atau ibu. Atau siapapun. Bapak mengerti?” 

 “Saya mengerti Den Ayu, saya mengerti.” Orang tua itu mengangguk.


SEPULUH


Matahari baru saja tersembul di ufuk timur. Udara masih terasa dingin. Walau 

luka di kedua pahanya boleh dikatakan telah sembuh namun Pendekar 212 berlari 

dengan berbagai beban pikiran di benaknya. Sejak dua hari lalu dia kehilangan jejak 

Pangeran Matahari yang tengah dikejarnya. Selain itu pikirannya tak bisa lepas dari 

menolong Bunga yang dipasung oleh Iblis Kepala Batu Alis Empat dalam sebuah 

guci perak. Sejak kehilangan jejak Pangeran Matahari Wiro memutuskan langsung 

saja menuju Mojogedang di mana terletaknya air terjun Jurangmungkung. Lalu dia 

juga harus mencari obat untuk penyembuhan bagi Patih Selo Kaliangan. 

 Dalam kesunyian pagi yang hanya ditandai suara kicau-kicau burung tiba-tiba 

murid Sinto Gendeng mendengar suara orang bersiul di depannya. Suara siulan itu 

membawakan lagu yang tak pernah didengar Wiro sebelumnya. Orang yang bersiul 

agaknya enar-benar menikmati lagu yang dibawakannya karena lagu itu terus diulang-

ulang. 

 Dari lari biasa Wiro kerahkan ilmu Kaki Angin. Tak selang berapa lama dia 

telah dapat melihat orang yang bersiul di depannya. Orang ini mengenakan pakaian 

biru. 

 “Sepertinya aku mengenal orang itu….. “ kata Wiro dalam hati. 

 Orang yang bersiul rupanya sudah tahu kalau dia orang berlari mendatangi 

dari belakang. Dia hentikan larinya dan berbalik. Ternyata dia seorang pemuda 

berwajah tampan, rambut berkilat disisir licin dan ada kumis kecil rapi di atas 

bibirnya. Wiro segera mengenali pemuda ini yang bukan lain adalah Adimesa alias 

Pendekar Kipas Pelangi. Kedua orang yang sudah saling mengenal itu langsung saja 

bertegur sapa lalu bicara panjang lebar. Namun dalam hati Pendekar 212 saat itu ada 

satu ganjalan besar. 

 “Sahabatku Wiro, hal apakah yang membawamu jauh sampai ke sini?” 

bertanya Adimesa. 

 “Aku tengah mengejar seseorang. Ingat peristiwa yang kita alami di jurang 

Telung Penanjung?” 

 “Pangeran Matahari?” 

 “Tepat sekali!”Wiro lalu menceritakan apa yang telah terjadi di puncak 

Gunung Gede. 

 “Pangeran keparat itu agaknya memang sudah saatnya harus disingkirkan. 

Kalau tidak rimba persilatan tanah Jawa tidak akan tenteram…..” 

 “Sayang aku kehilangan jejaknya,” kata Wiro pula. “Namun aku ada 

keperluan lain di Mojogedang. Kau pernah mendengar seorang tokoh silat jahat 

berjuluk Iblis Kepala Batu Alis Empat alias Iblis Kepala Batu Pemasung Roh?” 

 “Manusia yang kau sebutkan itu tidak lebih baik dari Pangeran Matahari. 

Punya sifat aneh. Suka menggauli mahluk-mahluk dari alam gaib…..” 

 “Kalau begitu keselamtan Bunga sangat terancam….” Ujar Wiro. 

 “Siapa Bunga?” 

 Wiro lalu menceritakan kejadia menyangkut diri Bunga, gadis cantik dari alam 

roh itu. 

 “Selama ini aku hanya mendengar segala kejahatan yang diklakukan orang itu. 

jika kepergianmu ke Mojogedang ada sangkut pautnya dengan kejahatan yang 

dilakukan orang itu, aku ingin sekali ikut bersamamu.”


“Terima kasih. Pertolonganmu tempo hari belum dapat aku balas, kini kau 

hendak menanam budi baru. Aku merasa malu walau sangat senang mendengar kau 

mau ikut bersamaku.” Saat itu ganjalan yang ada dalam hati Pendekar 212 muncul 

kembali membuat dia merasa tidak enak. Wiro ingat pada keterangan Ratu Duyung 

sewaktu di Gunung Gede. Menurut gadis itu nenek muka setan Gondoruwo Patah 

Hati pernah mengatakan bahwa Damar Wulung sebenarnya bernama Adisaka. 

Sedangkan menurut Pendekar Kipas Pelangi yang bernama Adimesa, Adisaka itu 

adalah kakaknya yang selama belasan tahun tidak pernah diketahuinya lagi di mana 

beradanya. Dua bersaudara itu terpisah ketika terjadi bencana alam. Mereka hampir 

menemui ajal dalam kebakaran hutan akibat letusan Gunung Merapi kalau tidak 

ditolong oleh dua orang sakti. Adimesa diselamatkan oleh kakek sakti bernama Ki 

Riku Pulungan. Pemuda ini kemudian muncul dalam rimba persilatan dengan julukan 

Pendekar Kipas Pelangi. Sedang kakaknya yaitu Adisaka diselamatkan oleh si nenek 

muka setan Gondoruwo Patah Hati. Adisaka kemudian diketahui memakai nama 

palsu yaitu DW dan melakukan perbagai kejahatan sebagai akibat terjebak oleh Dewi 

Ular. (Mengenai riwayat Adimesa dan Adisaka harap baca Episode pertama berjudul 

“Kembali Ke Tanah Jawa.”) 

 “Bagaimana aku harus mengatakan pada sahabatku ini,” kata Pendekar 212 

dalamhati, “Bahwa kakaknya adalah manusia yang selama ini gentayangan berbuat 

kejahatan keji, merampok dan membunuh, memperkosa. Bahwa kakaknya itu adalah 

yang menjarah senjata pusaka Keraton yaitu Keris Kiai Naga Kopek.” 

 “Pendekar Kipas Pelangi, sebaiknya kita bercakap-cakap sambil melanjutkan 

perjalanan menuju Mojogedang.” 

 Pendekar Kipas Pelangi setuju. Kedua pemuda itu lalu lari berdampingan 

menuju ke utara. 

 Ketika suara siulan Pendekar Kipas Pelangi menggema pagi itu, Damar 

Wulung alias Adisaka yang tertidur nyenyak di bawah sebuah pohon besar 

berbantalkan punggung kuda coklat terbangun. Dia menggosok matanya, memasang 

telinga lalu melompat bangun. 

 “Suara siulan itu. Sama dengan siulan yang kudengar malam dulu itu. Dia 

memandang ke timur, ke arah datangnya suara siulan itu. “Sekali ini aku harus 

menemukan orang itu! Dia pasti Adimesa adikku! Pasti! Tidak ada yang tahu lagu itu 

selain aku dan dia. Adimesa adikku! Akhirnya kutemui juga kau!” 

 Karena suara siulan itu terdengar tidak seberapa jauh, Damar Wulung merasa 

tidak perlu menunggangi kuda. Binatang itu ditinggalkannya saja di bawah pohon. 

Setengah berlari dia bergerak ke arah datangnya suara siulan. Tapi tiba-tiba satu 

bayangan hitam berkelebat di hadapannya. Lalu satu suara dengan nada congkak 

bertanya “Apakah ini arah jalan menuju air terjun Jurangmungkung di 

Mojogedang?!” 

 Damar Wulung merasa tersinggung. Orang sudah menghadang jalannya lalu 

bertaya congkak begitu rupa tanpa basa basi, tanpa menegur dengan panggilan 

saudara, ki sanak atau bagaimana lumrahnya. Murid Gondoruwo Patah Hati ini siap 

hendak mendamprat namun ketka dia memperhatikan pakaian dan wajah orang di 

hadapannya, Damar Wulung jadi tersentak kaget. Setelah diam sejenak dia 

sunggingkan seringai.


“Dunia begini luas, para pendekar begitu banyak. Tapi aku tidak buta. 

Bukankah kau menusianya yang berjuluk Pangeran Matahari?” 

 Orang berpakaian serba hitam dan berikat kepala kain merah di hadapan 

Damar Wulung balas menyeringai lalu dongakkan kepala. “Dunia begini luas, 

pendekar begitu banyak…..” orang itu mengulang ucapan Damar Wulung, “Namun 

siapa diriku dikenal orang di mana-mana. Ha…ha….ha! sebaliknya, apakah aku perlu 

bertanya siapa kau adanya? Kurasa tidak perlu. Cepat jawab saja pertanyaanku tadi!” 

 “Aku tahu kalau Pangeran Matahari itu dikenal sebagai Pangeran Segala 

Congkak. Tapi aku beritahu padamu, jangan congkak di hadapanku! Lekas 

membungkuk memberi hormat! Karena sudah tiba saatnya kau membalas segala 

budiku di masa lalu!” 

 Sepasang mata orang berpakaian hitam yang memang Pangeran Matahari 

adanya membesar, menatap tak berkedip pandangi wajah Damar Wulung sambil 

menindih rasa terkejut dan juga amarah. Dari hidungnya dia keluarkan suara 

mendengus. 

 “Hari masih pagi. Tapi aku sudah bertemu orang gila hormat tak tahu 

juntrungan! Pangeran Matahari tidak pernah membungkuk kepada siapapun! Dan 

jangan berani menyebut segala macam budi! Budi apa yang pernah aku terima 

darimu!” 

 “Ingat nama Bagus Srubud?!” Damar Wulung bertanya, membuat terkejut 

Pangeran Matahari dan dua matanya tampak tambah membesar. Lalu sang Pangeran 

membentak. 

 “Kau siapa?!” 

 “Aku tuan besar yang telah memberikan kenikmatan dan juga pertolongan 

padamu. Apa tidak pantas kalau aku menyuruhmu membungkuk memberi hormat?!” 

 “Kurang ajar! Jangan bicara berteka-teki. Lekas katakan siapa kau adanya! 

Aku Pangeran Matahari tidak terlalu perduli pada segala macam budi! Jadi jangan 

mengira aku tidak mau menggebukmu bahkan membunuhmu jika kau membuat aku 

sampai marah besar!” 

 “Tenang Pangeran, jangan kesusu, jangan lekas marah. Kesusu dan kemarahan 

kadang-kadang membuat orang tidak bisa berpikir, susah mengingat kejadian masa 

lalu. Tapi aku tahu kau juga dijuluki Pangeran Segala Cerdik. Masih ingat sorga 

bernama Kinasih?!” 

 Pangeran Matahari tercengang. 

 “Bagus Srubud, aku yang memberikan nama itu padamu. Sorga bernama 

Kinasih, aku juga yang emberikan perempuan cantik itu padamu…..” 

 Rasa kaget Pangeran Matahari semakin bertambah-tambah. “Kau…..!” 

 “Masih ingat seperangkat pakaian petinggi Keraton dan tiga buah topeng tipis 

terbuat dari getah pohon latek?! Aku yang memberikan pakaian dan topeng itu 

padamu. Satu dari tiga topeng itu kini sudah kau kenakan di wajahmu! Apakah tidak 

pantas kau membungkuk memberi hormat. Karena hari ini adalah hari di mana kau 

harus membalas semua budi besarku itu!” 

 “Aku ingat semua itu! Tapi saat itu, kau tidak menunjukkan diri. Dan aku 

yakin yang bicara padaku, yang memberikan pakaian serta topeng bukan kau tapi 

adalah guruku Si Muka Mayat alias Setan Muka Pucat!” 

 Damar Wulung tersenyum. 

 “Percuma kau dijuluki Pangeran Segala Cerdik. Gurumu sudah lama mati, 

mana ada orang mati bisa memberikan sorga berupa perempuan cantik. Mana ada 

orang mati bisa memberikan pakaian bagus dan topeng untuk menutupi wajahmu


yang cacat! Pangeran Matahari, aku beritahu padamu jangan kepongahan dan 

kecongkaan membuat otakmu jadi tumpul!” 

 Mengembang rahang Pangeran Matahari mendengar semua ucapan pemuda 

berpakaian kuning itu. “Pemuda baju kuning! Siapapun kau adanya jangan berani 

menghina guruku!” 

 “Menghina! Gurumu sudah mati. Itu kenyataan. Apa menghina kalau 

kukatakan dia sudah mati? Ha….ha…..ha! Sejak kau dihantam musuh besarmu 

Pendekar 212 hingga jatuh masuk ke dalam jurang, kepala terbentur, muka cacat, 

otakmu rupanya memang jadi tidak karuan. Tidak salah kalau orang yang 

menolongmu yaitu Singo Abang menyebutmu Pangeran Miring! Ha….ha…..ha!” 

 “Diam!” bentak Pangeran Matahari. Tangan kanannya diangkat ke atas. “Aku 

bisa membunuhmu semudah membalikkan telapak tangan!” 

 “Begitu?” Damar Wulung tersenyum. “Kau mau membunuhku dengan 

pukulan apa? Pukulan Gerhana Matahari? Atau Telapak Matahari, atau Merapi 

Meletus? Mungkin juga dengan pukulan Dua Singa Berebut Matahari?” 

 Kejut Pangeran Matahari bukan alang kepalang. Orang mengetahui semua 

pukulan andalan yang dimiliinya. Dua tangan diangkat ke atas, bergetar menahan 

marah dan juga karena ada tenaga dalam yang dialirkan. Suaranya ikut bergetar ketika 

berkata. “Lekas katakan , siapa kau adanya! Lekas!” 

 “Namaku Damar Wulung! Aku tidak punya waktu lama. Dengar, aku tahu kau 

tengah dalam perjalanan menuju air terjun Jurangmungkung. Kita punya tujuan sama. 

Kita juga punya musuh yang sama. Pendekar 212 Wiro Sableng. Mengapa tidak 

bekerja sama menghabisi manusia satu itu?!” 

 “Kalau aku sanggup membunuhnya dengan tangan sendiri perlu apa minta 

bantuan manusia culas sepertimu!” 

 “Kau menyebut culas pada orang yang telah menolongmu! Kau masih 

bercongkak diri bisa menghabisi Pendekar 212 Wiro Sableng dengan tangan sendiri. 

Jangan terllau congkak Pangeran. Kau tidak tahu siapa saja yang bakal muncul di 

tempat itu. selamat tinggal Pangeran congkak! Mungkin ini kali terakhir aku 

melihatmu dalam keadaan hidup! Ha…ha….ha!” 

 “Jahanam, buktikan dulu kemampuanmu!” teriak Pangeran Matahari marah 

lalu melompat ke hadapan Damar Wulung seraya lancarkan satu pukulan tangan 

kosong. Damar Wulung cepat menghindar sambil menangkis. Dia tahu Pangeran 

Matahari hendak menjajagi tenaga dalamnya. 

 “Bukkk!” 

 Dua lengan beradu keras di udara. Dua pemuda itu sama-sama keluarkan 

seruan tertahan. Tubuh masing-masing terlontar sampai satu tombak. Pangeran 

Matahari terkapar jatuh punggung. Damar Wulung terguling di tanah. Dengan cepat 

Pangeran Matahari bangkit berdiri. Otak cerdiknya bekerja. Sang Pangeran ulurkan 

tangan, membantu Damar Wulung berdiri sambil berucap “Kematian untuk Pendekar 

212!” 

 “Kematian untuk Pendekar 212!” jawab Damar Wulung. Lalu dia memberi 

isyarat agar Pangeran Matahari mengikutinya. Dia berkelebat ke arah di mana tadi dia 

mendengar suara siulan. Namun sampai di tempat itu dia tidak menemukan siapa-

siapa. Anehnya dia melihat ada jejak dua orang di tanah. Damar Wulung berpaling 

pada Pangeran Matahari dan berkata. 

 “Musuh besar kita sudah dalam perjalanan menuju air terjun Jurangmungkung. 

Jika kita berangkat sekarang, paling lambat awal malam kita akan tiba di sana!” 

 Damar Wulung mengangguk.


“Tadi kau mengatakan bukan cuma Wiro Sableng yang berada di tempat itu. 

Sebaiknya kita memasuki kawasan air terjun setelah malam tiba. Dalam gelap kita 

bisa bertindak leluasa tanpa diketahui musuh….” 

 Damar Wulung tersenyum lalu mengambil kudanya. “Kuda ini cukup kuat 

membawa kita berdua sampai ke desa terdekat. Di situ kita bisa mendapatkan seekor 

kuda untuk tunganganmu!” Kedua orang itu lalu melompat naik ke atas kuda coklat.


SEBELAS


Malam merayap mendekati akhirnya. Di kawasan air terjun Juangmungkung 

kegelapan masih menggantung. Suara gemuruh curahan air terjun yang kemudian 

jatuh di atas batu-batu cadas hitam berlumut merupakan satu-satunya suara yang 

terdengar abadi di tempat itu. 

 Kiri kanan tepian Kali Mungkung, menjelang air terjun ditumbuhi sederetan 

pohon berdaun rimbun. Di tengah kali tampak beberapa batu hitam muncul di 

permukaan air membentuk sosok-sosok seperti orang mendekam menunggu sesuatu. 

 Sampai menjelang pagi tidak kelihatan gerakan atau sesuatu terjadi. Di salah 

satu pohon yang tumbuh di tepi kiri Kali Mungkung, pada tiga cabang besar yang 

saling berdekatan, tiga orang mendekam dalam bayang-bayang gelap dan kerimbunan 

daun. Mereka dalah Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini. 

 

 Sementara itu di dalam rumah kayu di atas pohon besar, Pendekar 212 Wiro 

Sableng dan Pendekar Kipas Pelangi yang menyelinap masuk menemui rumah itu 

dalam keadaan kosong. Orang yang mereka cari yakni si pemilik rumah Iblis Kepala 

Batu Alis Empat alias Iblis Kepala Batu Pemasung Roh yang telah menjebloskan 

Bunga ke dalam sebuah guci, tak ada di tempat kediamannya itu. Di dalam rumah 

hanya ada sehelai tikar butut dan belasan guci, semua terbuat dari tanah liat. 

 “Jahanam Iblis Kepala Batu Pemasung Roh itu. mungkin sekali dia sudah tahu 

kedatangan kita ke sini lalu kabur lebih dahulu!” kata murid Sinto Gendeng penuh 

geram sambil mengepalkan tinju. 

 “Menurutmu, gadis bernama Bunga itu dimasukkan ke dalam guci. Di sini ada 

belasan guci. Mungkin……” 

 Wiro gelengkan kepala dan memotong ucapan Pendekar Kipas Pelangi. 

“Guci-guci itu semua terbuat dari tanah liat. Guci tempat Bunga disekap terbuat dari 

perak. Guci perak itu tak ada di sini….” 

 “Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Pendekar Kipas Pelangi. 

 “Keluar daru rumah jahanam ini, menyelidik keadaan di luar,” jawab Wiro 

lalu menambahkan. “Sebelum keluar aku ingin menghancurkan tempat ini lebih 

dulu!” Lalu Pendekar 212 angkat tangan kanannya. Tangan itu sebatas siku ke atas 

berubah menjadi putih seperti perak. Ketika tangan itu dihantamkan berkiblatlah 

cahaya putih, panas penyilaukan. Itulah pukulan Sinar Matahari! 

 Di atas sebatang pohon di seberang kali, dua orang yang mendekam di balik 

kerimbunan dedaunan dan gelapnya malam menjelang pagi saling berbisik-bisik. 

Yang satu, yang berpenampilan sebagai seorang kakek, berkata “Aku mulai gamang. 

Kakiku gemeteran sejak tadi. Aku tak tahan lagi. Mau beser….” 

 “Sial, mau beser, mau kencing ya kencing saja!” menyahuti orang yang diajak 

berbisik yaitu seorang bocah berambut jabrik berpakaian hitam. 

 Sementaa di sebelah timur kelihatan saputan cahaya terang pertanda tak lama 

lagi fajar akan segera menyingsing. 

 “Di sini? Di pohon ini?”


“Apa kau mau turun dulu, kencing di bawah pohon lalu naik lagi ke sini? 

Gelo!” 

 “Tapi bagaimana kalau kencingku mengguyur dua orang di cabang pohon di 

bawah kita?!” 

 “Anggap saja mandi pagi. Paling tidak cuci muka! Hik…hik…..hik!” 

 “Setan, jangan tertawa. Kencingku tambah tak tertahankan…..” 

 Pada saat itulah rumah kayu di atas pohon besar hancur berantakan. Kakek di 

atas pohon tersentak kaget. 

 “Celaka! Ngocor sudah kencingku! Uhh….” 

 Di bawah pohon orang yang keningnya kecipratan air kencing mula-mula 

merasa heran. Bagaimana mungkin, tak ada hujan ada air jatuh dari atas dan terasa 

hangat. Dirabanya keningnya, dalam gelap dia coba memperhatikan jari-jari 

tangannya yang basah. Lalu hidungnya mencium bau itu. Bau pesing air kencing. 

Kencing binatang? Apa ada binatang di atas pohon sana? Dia mendongak. Justru saat 

itu kembali ada air jatuh dari atas. Kali ini malah memasuki mulutnya! 

 “Jahanam keparat!” maki orang ini. “Ini kencing manusia, bukan binatang! 

Siapa berani mengencingiku! Kurang ajar!” Orang itu mengusap mulutnya lalu 

meludah berulang-ulang. 

 “Pangeran, ada apa?” tiba-tiba orang di sebelahnya bertanya. 

 “Ada orang mengencingiku di atas sana! Aku akan menyelidik ke atas!” jawab 

orang yang dipanggil dengan sebutan Pangeran yang bukan lain Pangeran Matahari 

adanya. 

 “Tunggu, jangan lakukan itu. Rencana yang sudah kita susun bisa kacau….” 

Kata sang teman yang adalah Damar Wulung alias Adisaka. 

 “Tapi mulutku dikencingi!” jawab Pangeran Matahari mata mencorong marah, 

rahang menggembung, pelipis bergerak-gerak. 

 “Pangeran, aku barusan melihat ada dua bayangan melesat turun dari rumah 

yang hancur. Sesuai rencana, aku siap menyanyikan senandung itu. Harap kau 

menahan diri!” kata Adisaka pula. 

 Di atas pohon yang lain Anggini berkata. “Sebentar lagi pagi akan datang. 

Satu malam suntuk kita berada di tempat ini. Saatnya kita menyelidik. Ratu Duyung 

harap kau segera menerapkan Ilmu Menembus Pandang. Ada dua orang melayang 

keluar dari rumah yang hancur di atas pohon. Keduanya melesat ke pohon di seberang 

sana. Mungkin salah seorang di antaranya Wiro? 

 Ratu Duyung mengangguk. Tanpa banyak menunggu gadis bermata biru ini 

segera saja arahkan pandangannya ke atas pohon di pinggir kali. Namun sebelum 

sempat Ratu Duyung mengerahkan ilmu kesaktiannya itu tiba-tiba di atas salah satu 

pohon di seberang kali terdengar suara orang menyanyi. 

 Kaliurang desa tercinta 

 Terletak di kaki Gunung Merapi 

 Di sana kami dilahirkan 

 Alamnya indah penduduknya ramah 

 

 Kami anak desa 

 Bangun pagi sudah biasa 

 Hawa dingin tidak terasa 

 Kerja di sawah membuat sehat


Kerja di ladang membuat kuat 

 Kami anak desa 

 Rajin membantu orang tua 

 Menolong Ibu di rumah 

 Membantu Ayah di sawah 

 

 Kami anak desa 

 Tidak lupa sembahyang mengaji 

 Rendah hati dan tinggi budi 

 Selalu unjukkan jiwa satria 

 

 Tiga gadis di atas pohon sama terkejut dan saling pandang. 

 “Gila, siapa pula yang menyanyi pagi buta di tempat begini rupa?” berucap 

Bidadari Angin Timur. 

 “Yang menyanyi suaranya jelas orang dewasa. Tapi senandungnya adalah lagu 

anak-anak….” Berkata Anggini. 

 “Aku akan menyelidik ke arah pepohonan di seberang sana. Suara nyanyian 

itu datang dari situ,” kata Ratu Duyung lalu terapkan Ilmu Menembus Pandang. Tapi 

belum sempat dia melihat sosok orang di atas pohon terdengar pula suara orang 

bernyanyi. Bait-bait yang disenandungkannya sama dengan yang tadi dinyanyikan 

orang di atas pohon di seberang kali. 

 “Tambah aneh!” kata Bidadari Angin Timur. “Kini ada satu lagi orang gila 

menyanyikan lagu sama! Apakah ini merupakan satu tanda rahasia atau jawaban dari 

senandung pertama? Tapi kalau orang kedua menyanyi sebagai jawaban senandung 

orang pertama, mengapa kata-kata dalam setiap bait yang dinyanyikan sama?” 

 “Jangan dulu pecahkan keanehan itu, sahabatku!” kata Anggini. “Sebaiknya 

lekas kau menyelidiki siapa orang-orang itu.” 

 “Baik, akan segera aku lakukan,” jawab Ratu Duyung. 

 Tapi lagi-lagi sang Ratu terkesima, tak jadi menerapkan Ilmu Menembus 

Pandang karena mendadak di seberang kali ada orang berteriak. “Orang yang 

bernyanyi di seberang kali! Apakah kau bernama Adimesa?!”


DUA BELAS


Tak ada jawaban. Hanya deru air terjun yang terdengar. Namun tiba-tiba ada 

teriakan balasan. “Kakak Adisaka! Kaukah yang diseberang sana?!” 

 Dua pekik keras menggema di pagi buta itu. Lalu dari atas dua pohon yang 

berseberangan di kiri kanan Kali Mungkung tiba-tiba melesat dua sosok, berkelebat 

laksana bayangan, pertanda keduanya memiliki kepandaian tinggi. 

 “Adimesa! Adikku!” 

 “Kakak Adisaka!” 

 Dua orang yang berkelebat dari dau pohon berseberangan, bertemu di udara, 

saling rangkul. Lalu melesat di pinggiran kiri Kali Mungkung, membuat gerakan 

berputar dan berjungkir balik di udara, di lain saat mendarat di tepi kali, masih dalam 

keadaan berpelukan. Satu berpakaian serba biru, satunya berbaju kuning bercelana 

hitam. 

 “Kakak Adisaka! Benarkah ini kau?!” bertanya orang berpakaian serba biru 

yakni Adimesa yang dikenal dengan julukan Pendekar Kipas Pelangi. Dia seperti tak 

percaya. Sepasang matanya pandangi pemuda berbaju kuning di hadapannya mulai 

dari kepala sampai ke kaki lalu dipeluknya kembali. Matanya berkaca-kaca. 

 “Adikku, aku memang Adisaka! Kakakmu! Siapa yang tahu nyanyian Kami 

Anak Desa itu kecuali kita berdua?! Adimesa adikku. Belasan tahun kita berpisah…..” 

 “Kakak, tadinya aku mengira tak ada harapan lagi bertemu denganmu. Namun 

Tuhan Maha Besar. Denan Karunia-Nya kita akhirnya dipertemukan juga. Terima 

kasih Tuhan. Terima kasih Gusti Allah…..” 

 “Seorang sahabat yang panjang akal memberitahu. Jika kau ingin menguji 

bahwa kau ada di tempat ini mengapa aku tidak mengeluarkan senandung yang sering 

ktia nyanyikan di masa kanak-kanak di desa dulu? Anjurannya itu masuk akal. Aku 

menyanyi keras-keras. Kau mendengar dan memberikan sambutan dengan menyanyi 

pula! Dan kita akhirnya bertemu!” 

 “Sahabatmu si panjang akal itu tentu seorang yang memiliki kepandaian 

tinggi…..” 

 “Kau akan terkejut kalau mengetahui siapa dia! Aku akan mempertemukannya 

denganmu…..” Tiba-tiba untuk pertama kali Adisaka menyadari apa tujuan 

sebenarnya berada di tempat itu. Yaitu untuk menangkap Wiro hidup-hidup sesuai 

perintah Dewi Ular. Tapi saat itu dia juga ingin tahu bagaimana adiknya bisa muncul 

di tempat itu. “Adikku, bagaimana kau bisa berada di tempat ini?” 

 “Panjang ceritanya. Kalau aku boleh bertanya Kakak sendiri berada di sini 

bagaimana pula kisahnya?’ 

 Adimesa memandang berkeliling. 

 Saat itu keadaan sudah terang-terang tanah. Walau agak samar-samar namun 

tiga gadis di atas pohon segera mengenali salah satu dari dua pemuda yang tadi saling 

berpelukanitu. Bidadari Angin Timur yang membuka mulut lebih dulu. 

 “Pemuda berpakaian kuning itu, bukankah dia keparat bernama Damar 

Wulung? Asli bernama Adisaka sesuai keterangan Gondoruwo Patah Hati?!” 

 “Tidak salah! Dia memang jahanam keji yang menculik dan hampir 

menodaiku!” ucap Ratu Duyung. 

 “Kalau begitu kita tunggu apa lagi!” kata Anggini. 

 Tiga gadis cantik siap hendak melesat turun dari atas pohon di tepi kali tapi 

serta merta urungkan niat mereka karena tiba-tiba ada dua orang melesat dari pohon


di kiri kanan Kali Mungkung. Kejut tiga gadis ini bukan alang kepalang ketika 

mengenali siapa adanya kedua orang itu. yang berdiri di samping Damar Wulung 

dengan sikap congkak pongah sambil bertolak pinggang bukan lain adalah Pangeran 

Miring alias Pangeran Matahari. Sedang yang tegak di sebelah Adimesa alias 

Pendekar Kipas Pelangi adalah Pendekar 212 Wiro Sableng! 

 Rasa keterkejutan bercampur heran melanda orang-orang yang ada di tempat 

itu. Sekaligus rasa tegang ikut menggantung di udara. Kalau Wiro terkejut dan heran 

melihat Pangeran Matahari muncul bersama Damar Wulung maka Damar Wulung 

sendiri kaget dan heran melihat adiknya Adimesa muncul bersama Pendekar 212 

Wiro Sableng. Berlainan dengan Pangeran Matahari, walau hatinya sebenarnya risau 

namun dia tetap unjukkan sikap congkak. 

 Murid Sinto Gendeng perhatikan sosok berpakaian hitam dengan gambar 

matahari merah di dada serta mantel hitam di punggung. Pakaian itu adalah pakaian 

Pangeran Matahari. “Betul apa yang dikatakan tiga gadis itu. Pakaiannya jelas 

pakaian Pangeran Matahari. Tapi wajahnya bukan wajah pangeran keparat itu!” Wiro 

membatin. Lalu dengan cepat matanya bergeark memperhatikan tangan kiri orang. 

Pendekar 212 menyeringai. Jari tangan kiri si baju hitam ternyata buntung! “Kelainan 

wajah bangsat durjana ini. Dia pasti mengenakan topeng tipis!” Wiro lalu menggertak 

dengan suara keras. 

 “Pangeran Matahari! Kau boleh sembunyi di balik topeng menutupi muka 

cacatmu! Tapi jangan kira kau bisa menipuku! Jangan harap bisa sembunyi dan lolos 

dari dosa besar. Kau telah merusak kehormatan dan membunuh Puti Andini! Kau juga 

adalah pembunuh Kinasih, istri jruu ukir Keraton!” 

 Pangeran Matahari berkacak pinggang, dongakkan kepala lalu tertawa 

bergelak. “Dasar manusia sableng. Matahari belum lagi muncul penuh, kau sudah 

mengigau di hadapanku!” 

 “Aku ada bukti robekan pakaianmu dalam genggaman tangan korban!” dari 

balik pakaiannya Wiro keluarkan robekan kain hitam yang didapatnya dari Nyi Supi. 

“Sekarang kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan terkutuk itu 

dengan nyawamu sendiri!” 

 Sekilas sepasang mata Pangeran Matahari memancarkan cahaya angker. 

“Membuktikan pembunuhan dengan secarik kain butut! Sungguh naif! Bisa saja kau 

sendiri yang telah memperkosa dan membunuh perempuan itu. Lalu mencari sepotong 

kain yang sama dengan pakaianku dan memfitnah diriku! Busuk! Buktinya di kening 

Kinasih kau sengaja mengguratkan angka 212 dengan kukumu! Untuk apa? Untuk 

menunjukkan kehebatan yang congkak dan keji?!” Pangeran Matahari meludah ke 

tanah. Bertolak pinggang, mendongak ke langit yang mulai terang lalu kembali 

tertawa gelak-gelak. 

 Wiro menyeringai lalu ikut-ikutan tertawa. Suara tawanya demikian keras, 

menindih suara tawa Pangeran Matahari dan deru air terjun. Tanah terasa bergetar. 

Begitu hentikan tawanya Wiro berkata lantang. 

 “Pangeran Matahari, kau memang dikenal sebagai Pangeran Segala Cerdik, 

Segala Licik, Segala Akal, Segala Congkak, Segala Ilmu! Tapi ada kalanya orang 

cerdik berlaku lebih goblok dari orang tolol. Ada kalanya orang licik terpeleset oleh 

kelicikannya sendiri. Sering orang yang panjang akal jadi pendek akal karena 

kehabisan akal! Ha….ha! Banyak orang beilmu jadi bodoh dalam kecongkakannya. 

Dan semua itu kini terjadi dengan dirimu! Kau mengatakan ada guratan angka 212 di 

kening Kinasih. Bagaimana kau tahu hal itu padahal kau tidak melihat sendiri 

jenazahnya! Bagaimana kau tahu angka 212 itu digurat dengan kuku, kalau bukan kau


sendiri yang melakukannya? Pangeran Miring, kau terjebak oleh kelicikanmu sendiri! 

Ha….ha….ha!” 

 Rahang Pangeran Matahari menggembung. Pelipisnya bergerak-gerak. 

Sekujur tubuhnya terasa panas karena sadar kalau dirinya memang terjebak. Buru-

buru dia membuka mulut hendak melabrak. Tapi saat itu mendadak ada suara angin 

menerpa, satu bayangan kuning berkelebat disusul dengan suara orang berseru. 

 “Aku mewakili Patih Kerajaan! Aku menjadi saksi semua pembicaraan! 

Kawasan air terjun Jurangmungkung telah dikurung dua ratus perajurit!” 

 Semua orang yang ada di tempat itu menjadi kaget. Memandang ke arah kiri 

kali mereka melihat seorang gadis berpakaian ringkas warna kuning berdiri di situ. 

Wajah cantik, rambut hitam digulung di atas kepala. Sebilah pedang baru melintang 

di pinggangnya. 

 Bagaimana puteri Patih Kerajaan itu berada di tempat tersebut? Seperti 

diceritakan sebelumnya Sutri merasa kecewa besar ketika mengetahui ayahnya 

mengirim beberapa tokoh silat Istana dan pasukan besar untuk menangkap Wiro. 

Dengan menunggang kuda gadis ini tinggalkan Gedung Kepatihan, berangkat menuju 

Mojogedang. Karena dia sendirian dan mengambil jalan pintas. Sutri berhsail 

mendahului rombongan pasukan Kerajaan. 

 “Sutri!” ujar Wiro sambil garuk-garuk kepala begitu mengenali siapa adanya 

gadis itu. dia memandang berkeliling. Saat itu hari mulai terang. Dia tidak melihat 

pasukan Kerajaan sekitar tempat itu karena pasukan memang masih cukup jauh di 

sebelah selatan. 

 Sutri Kaliangan terus saja memandang ke jurusan Damar Wulung dan 

Pangeran Matahari. Tanpa berpaling pada Pendekar 212 gadis ini berkata “Wiro apa 

kau masih mau bicara? Aku mewakili Patih Kerajaan menjadi saksi semua apa yang 

terjadi di tempat ini!” 

 Wiro masih garuk-garuk kepala. Dari ucapan dan gerak-gerik si gadis agaknya 

puteri Patih Kerajaan ini berada di pihaknya. 

 Di atas pohon, tiga gadis memperhatikan Sutri Kaliangan. Mereka kagum 

melihat sikap gagah gadis berpakaian kuning itu. Tapi begitu menyadari kecantikan 

sang dara, Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini diam-diam dirayapi rasa 

cemburu. 

 “Kau tahu, siapa adanya gadis itu?” berbisik Anggini. 

 Ratu Duyung menggeleng. 

 “Katanya dia mewakili Patih Kerajaan. Apakah memang ada seorang dara 

jelita dalam jajaran pasukan Kerajaan atau pasukan Kepatihan?” ujar Bidadari Angin 

Timur pula. Lalu menambahkan “Dari sikap dan cara bicaranya sepertinya dia telah 

mengenal Wiro.” 

 Tiga gadis di atas pohon terdiam, hanya mata masing-masing memandang ke 

bawah sana. 

 Di pinggir kali Damar Wu;ung rangkapkan dua tangan di depan dada. Dia 

merasa tidak enak. Jika Sutri, puteri Patih Kerajaan itu sampai membongkar 

kebejatannya maka dia bisa berabe. Gadis satu ini harus segera disingkirkan. 

Bagaimana caranya? Damar Wulung memutar otak. Di depannya Pendekar 212 

tampak sunggingkan seringai mengejek ke arah Pangeran Matahari lalu berucap 

lantang. 

 “Pangeran comberan! Ada yang memberimu nama Pangeran Miring. Kurasa 

itu memang pantas! Tapi sungguh aneh. Kau juga pernah memakai nama Bagus 

Srubud! Mengaku petinggi dari Keraton. Keraton mana?! Ha….ha…..ha!”


Damar Wulung terkejut ketika Wiro menyebut nama Bagus Srubud karena dia 

pernah memakai nama itu dan dia pula yang tempo hari menyuruh Pangeran Matahari 

mempergunakan nama itu. Bagaimana Wiro bisa menerka? Atau memang Wiro sudah 

tahu banyak? Sekilas Damar Wulung melirik ke arah Pangeran Matahari yang saat itu 

membuka mulut menyahuti ucapan Wiro. 

 “Pendekar 212, murid sableng nenek gendeng dari Gunung Gede! Selama ini 

kau tolol-tolol saja. Kini rupanya sudah pandai bicara! Malah bicara sombong! 

Belasan kali kau sesumbar hendak membunuhku! Nyatanya sampai hari ini aku masih 

hidup! Ha….ha……ha!”. Dengan cerdik, Pangeran Matahari yang sudah bisa 

membaca keadaan menyambung ucapannya. “Aku sendirian saja kau tak pernah 

sanggup menghadapi. Apalagi saat ini aku bersama Damar Wulung, murid GPH, 

apakah kau masih punya nyali, bicara sombong hendak menghabisiku?!” 

 “Wiro! Jangan takut! Biar Pangeran keparat itu membawa selusin teman kami 

bertiga siap membantumu!” 

 Satu suara melengking keras di tempat itu. lalu tiga bayangan berkelebat dari 

atas pohon. Sesaat kemudian Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini telah 

berdiri di kiri kanan Wiro. Pendekar Kipas Pelangi Adimesa selain terkagum-kagum 

melihat kemunculan tiga gadis itu, juga jadi terheran-heran. 

 “Tiga dara cantik! Luar biasa!” Pendekar Kipas Pelangi berkata dalam hati. 

“Inikah para gadis yang dikabarkan mencintai Wiro?” Pemuda berkumis rapi ini 

melirik pada Bidadari Angin Timur. Mungkin rambutnya yang pirang menimbulkan 

daya tarik terhadap sang dara dibanding dua gadis lainnya. 

 Rasa kagum dan heran Pendekar Kipas Pelangi serta merta berubah menjadi 

rasa kaget ketika tiba-tiba Ratu Duyung melompat ke hadapan Adisaka, membentak 

sambil menuding. 

 “Damar Wulung manusia jahanam! Jangan jual tampang tak berdosa di 

hadapan kami! Kami bertiga sudah tahu kebejatanmu! Kau pernah hendak 

memperkosaku! Kau juga telah mencuri cermin sakti milikku! Manusia sepertimu 

sudah saatnya ditumpas!” 

 Damar Wulung terkesima sampai surut satu langkah mendapat dampratan tak 

terduga itu. Dia cepat buka mulut untuk berkilah, tapi saat itu gadis berbaju kuning 

sambil cabut pedang dan melintangkan itu di depan dada melompat ke hadapannya 

dan bicara keras. 

 “Damar Wulung! Aku Sutri Kaliangan puteri Patih Kerajaan! Memberi 

kesaksian bahwa kau juga pernah hendak menculik diriku secara keji!” 

 Anggini yang sejak tadi menahan diri melompat pula ke hadapan Pangeran 

Matahari. “Kau membunuh Puti Andini! Kau mencideraiku! Ditambah seribu satu 

kejahatan yang telah kau perbuat, hari ini pintu neraka telah terbuka lebar-lebar 

untukmu!” 

 Pangeran Matahari dengan sikap pongah rangkapkan dua tangan di depan 

dada lalu tertawa membahak. “Dara berpakaian ungu, aku tahu kau muridnya Dewa 

Tuak. Yang konon dijodohkan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng! Kasihan kalau 

dirimu sampai jadi pasangan pemuda edan itu. Bukankah lebih baik ikut aku saja? 

Ha….ha……ha!” 

 “Pangeran Miring!” bentak Wiro. “Binatang saja kalau pandai bicara pasti 

menolak menjadi pendampingmu! Apa lagi murid Dewa Tuak ini!” 

 Pangeran Matahari menyeringai. “Pendekar 212, jangan cepat cemburu! 

Sungguh memalukan dan pengecut sekali! Ternyata dalam kesombonganmu kau 

berlindung di balik tiga gadis cantik! Ha…..ha….!”


“Pangeran Miring, kau boleh mengatakan diriku pengecut. Tapi kalau aku 

boleh bertanya mengapa kau melindungi dirimu di balik sehelai topeng? Kau takut 

setan neraka mengenalimu? Atau takut karena terlalu banyak musuh?!” 

 “Aku Pangeran Matahari tidak pernah mengenal kata takut!” jawab Pangeran 

Matahari sambil bertolak pinggang. Padahal sebenarnya saat itu dia tengah 

menghitung-hitung kekuatan. Berdua dengan Damar Wulung apakah dia sanggup 

menghadapi Wiro Sableng dan tiga gadis cantik yang diketahuinya berkepandaian 

tinggi itu? Lalu pemuda berpakaian biru berkumis kecil bernama Adimesa berjuluk 

Pendekar Kipas Pelangi itu, berada di pihak manakah dia? 

 Sementara itu Pendekar Kipas Pelangi sendiri yang sejak tadi menahan rasa 

keterkejutannya mendengar semua pembicaraan yang berlangsung, mendekati Wiro 

dan bertanya. “Sahabat Wiro, apakah ucapan gadis bermata biru tentang kakakku 

benar adanya?” 

 “Sahabatku,” jawab Wiro. “Kau boleh tidak percaya pada ucapan Ratu 

Duyung. Tapi jika Sutri Kaliangan puteri Patih Kerajaan ikut bicara tentang kakakmu, 

apakah kau masih tidak percaya?” Wiro tatap wajah pemuda itu sesaat sambil 

menduga-duga, jika pecah perkelahian hebat di tempat itu, di pihak manakah pemuda 

ini akan berpihak? Dia hanya seorang sahabat, tetapi Adisaka alias Damar Wulung 

adalah kakaknya sedarah sedaging. Wiro kemudian melanjutkan ucapannya. 

“Sebenarnya sejak aku ketahui Damar Wulung adalah Adisaka, mengingat 

persahabatan kita, apa lagi kau pernah menyelamatkan diriku, ada satu ganjalan besar 

dalam hatiku. Aku tak tega memberitahu semua perbuatan jahat saudaramu itu. Kini 

kau sudah mengetahui sendiri dari orang lain……” 

 “Adimesa! Jangan pecaya mulut keji Pendekar 212!” tiba-tiba Adisaka alias 

Damar Wulung berteriak. “Aku justru selama ini mengejarnya untuk diseret ke 

haapan arwah Dewi Ular yang telah dibunuhnya!” 

 “Pendekar Kipas Pelangi,” kata Wiro, “Menyesal sekali aku katakan, kakakmu 

itulah yang menjarah rombongan pembawa harta Keraton beberapa waktu lalu. Bukan 

saja jatuh beberapa korban tak berosa, tapi dia merampas Keris Kiai Naga Kopek. 

Aku menerima apesnya, kena dituduh sebagai pencuri keris pusaka itu!” 

 “Penipu busuk! Kau memutar balik kenyataan! Kaulah yang telah membunuh 

para perampok hutan Roban pimpinan Warok Mata Api. Kau juga yang menjarah 

harta perhiasan, uang emas dan Keris Kiai Naga Kopek. Kini kau tuduh aku yang 

melakukan!” teriak Damar Wulung menggeledek. 

 Wiro menggeram dan memaki dalam hati mendengar kata-kata beracun 

Damar Wulung itu. Kalau saja Kinasih masih hidup, dia bisa menjadi saksi atas 

keterlibatan langsung Damar Wulung dalam peristiwa perampokan harta benda milik 

Kerajaan. 

 “Benar, aku tahu sekali ceritanya!” Pangeran Matahari menimpali. “Keris Kiai 

Naga Kopek memang dijarah oleh Pendekar 212 Wiro Sableng! Kini pasukan 

Kerajaan mencarinya karena sudah dicap sebagai buronan!” 

 “Sahabat Wiro, bagaimana ini? Mana yang benar…..?” Pendekar Kipas 

Pelangi bertanya. 

 “Adimesa, aku tahu pemuda itu adalah kakakmu! Kau mungkin lebih 

mempercayai dirinya dari pada aku. Tapi aku akan segera membuktikan bahwa Keris 

Kiai Naga Kopek memang ada padanya. Saat ini senjata itu diselipkan di pinggang 

kiri sebelah belakang…..” 

 “Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Pendekar Kipas Pelangi. 

 “Aku barusan menerapkan Ilmu Menembus Pandang


Semakin bingung Pendekar Kipas Pelangi. Dia berpaling pada kakaknya. 

“Kakak Adisaka, benarkah…..” 

 “Adimesa! Kau adikku! Kau percaya padanya atau padaku? Kau berada di 

pihak siapa? Lekas berdiri di sebelahku! Perlu apa kau berdampingan dengan jahanam 

keparat itu!” 

 “Kakak, aku ingin kejujuranmu. Benarkah…..?” 

 Damar Wulung menggeram marah. Dia dorong dada adiknya hingga Adimesa 

terjajar hampir jatuh. Wiro cepat menahan tubuh Adimesa hingga pemuda ini tak 

sampai jatuh ke tahah. 

 “Damar Wulung! Aku harap kau segera menyerahkan Keris Kiai Naga Kopek 

untuk aku kembalikan pada Kerajaan!” 

 Damar Wulung kerenyitkan kening mendengar kata-kata Wiro itu. “Kau mau 

jadi pahlawan kesiangan? Padahal kau sebenarnya seorang buronan! Hendak berbuat 

jasa pada Kerajaan agar segala dosamu diampuni? Ha….ha….ha!” 

 “Aku tahu keris pusaka itu ada padamu. Kau sisipkan di pinggang sebelah kiri 

belakang!” kata Wiro pula. Sebelumnya Wiro telah menerapkan Ilmu Menembus 

Pandang hingga dia mampu melihat kalau senjata pusaka Keraton itu yang memang 

tersisip di pinggang belakang Damar Wulung. Selain itu Wiro juga melihat sebuah 

benda bulat berkilat terselip di bagian depan perut Damar Wulung. Benda ini adalah 

cermin sakti milik Ratu Duyung yang dicuri Damar Wulung sewaktu menculik gadis 

bermata biru itu. 

 “Otakmu culas! Mulutmu busuk! Kalau kau menuduh aku memiliki keris itu, 

silahkan ambil sendiri!” kata Damar Wulung. 

 “Atas nama Kerajaan aku harap kau menyerahkan Keris Naga Kopek 

padaku!” Tiba-tiba Sutri Kaliangan melompat ke hadapan Damar Wulung. 

Damar Wulung tertawa bergelak “Ini satu lagi gadis sesat kena tipu daya 

Pendekar Sableng! Aku menghormati dirimu sebagai Puteri Patih Kerajaan. Jika kau 

mau berlaku adil, mengapa tidak menangkap Wiro yang jelas-jelas adalah buronan 

Kerajaan?!” 

“Aku tidak mau tahu hal dia buronan atau bukan. Serahkan Keris Naga Kopek 

padaku!” bentak Sutri. 

“Ha….ha! Rupanya kau termasuk di barisan para gadis cantik yang jatuh cinta 

pada Pendekar Geblek itu!” 

“Sreett!” 

Sutri Kaliangan keluarkan pedangnya dari dalam sarung. Tangan kiri 

melintangkan pedang di depan dada sementara tangan kanan diangsurkan ke arah 

Damar Wulung. 

“Kalau kau inginkan keris yang tak ada padaku, apakah ini berarti sebenarnya 

kau inginkan diriku?!” ujar Damar Wulung lalu tertawa bergelak. Pangeran Matahari 

ikut-ikutan tertawa. 

Saat itulah satu suara membentak menggetarkan seantero tempat. 

“Adisaka! Serahkan Keris Kiai Naga Kopek pada puteri Patih Kerajaan. Dan 

kau ikut aku ke pertapaan!”


TIGA BELAS


Belum habis kejut Damar Wulung tahu-tahu seorang nenek bermuka seram, 

berpakaian hitam telah berdiri di hadapannya, memandang dengan garang. Sesaat 

nenek ini melirik ke arah Wiro dan Ratu Duyung, dua orang yang telah dikenalnya 

dan pernah ditolongnya. 

 Di atas pohon kakek bermata jereng, berkuping lebar dan bau pesing yang 

bukan lain adalah Setan Ngompol tusukkan sikutnya ke pinggang bocah breambut 

jabrik dan berkata. “Naga Kuning, melihat nenek seram itu aku ingat ceritamu. Apa 

dia Gondoruwo Patah Hati, asli bernama Ning Intan Lestari?” 

 Naga Kuning mengangguk. Matanya memandangi si nenek tak lepas-lepas. 

Sambil pencongkan mulutnya Setan Ngompol kembali berkata “Kalau cuma nenek 

lampir seperti itu perlu apa kau sukai. Padahal masih banyak perempuan yang bisa 

kau gaet. Janda muda bertebaran di mana-mana….” 

 Naga Kuning tertawa lebar. “Dia bukan sembarang nenek. Kalau sudah kau 

lihat wajahnya……” 

 “Dari tadi aku sudah melihat wajahnya. Kurasa, maaf bicara, pantatku masih 

lebih bagus dari mukanya. Hik…hik…..hik!” habis tertawa kakek ini langsung 

kucurkan air kencing. 

 “Kakek sial…..” maki Naga Kuning lalu meremas paha Setan Ngompol 

hingga kakek ini terpekik kesakitan dan makin mancur air kencingnya. 

 “Guru…..!” ujar Damar Wulung seraya membungkuk hormat. 

 “Aku tak perlu segala basa-basi sopan santun! Lakukan apa yang barusan aku 

katakan. Serahkan senjata pusaka Keraton pada puteri Patih Kerajaan. Setelah itu kau 

ikut aku! Cepat!” 

 “Guru, aku…..” 

 Gondoruwo Patah Hati tampak mulai hilang kesabarannya. Saat itulah 

Pangeran Matahari mendekati Damar Wulung dan membisikkan sesuatu. Ketika sang 

guru mendatanginya, Damar Wulung cepat membungkuk seraya berkata “Guru, kalau 

memang itu maumu, aku menurut saja. Keris Kiai Naga Kopek tidak ada padaku. Aku 

siap menuruti perintah, mengikutimu ke pertapaan…..” 

 “Enak betul!” berteriak Ratu Duyung. Gadis ini segera melompat ke hadapan 

Damar Wulung. 

 “Mana bisa begitu!” berseru Bidadari Angin Timur. Sekali bergerak dia sudah 

berada tiga langkah di hadapan pemuda yang pernah hampir menodainya. 

 Melihat hal ini Pangeran Matahari tak tingal diam, dia melompat 

mendampingi Damar Wulung. Anggini yang menaruh dendam paling besar terhadap 

sang Pangeran segera maju menghadang gerakan orang. 

 Adimesa, alias Pendekar Kipas Pelangi sesaat tampak bingung. Namun di lain 

saat pemuda ini cepat bergerak mendapingi kakaknya. 

 Melihat gerakan Pendekar Kipas Pelangi, Wiro segera maju lalu berdiri di 

samping Gondoruwo Patah Hati, menghadap ke arah Pangeran Matahari dan Damar 

Wulung. 

 Sutri Kaliangan tak tinggal diam. Gadis ini ikut maju. Pedangnya yang telah 

terhunus ditukik ke tanah. Jika dikehendaki senjata ini bisa mencuat membabat ke 

atas, membelah tubuh Damar Wulung!


“Kalian semua dengar! Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah!” tiba-

tiba Gondoruwo Patah Hati berseru keras. Dia lalu memandang pada Ratu Duyung 

dan Pendekar 212 Wiro Sableng. Lalu berkata “Kita bersahabat. Bukan aku 

mengungkit segala budi pertolongan di masa lampau. Tapi apakah hal itu tidak bisa 

menjadi pertimbangan kalian berdua untuk menghentikan semua ini? Aku tahu 

muridku punya dosa dan kesalahan besar. Itu sebabnya aku membawanya kmbali ke 

pertapaan untuk dihukum!” 

 Ratu Duyung memandang pada Wiro. Pendekar 212 jadi garuk-garuk kepala. 

 “Adisaka! Jika keris pusaka Keraton itu memang tidak ada padamu, jangan 

banyak cingcong! Ikuti aku sekarang. Tinggalkan tempat ini!” 

 “Ning Intan Lestari!” tiba-tiba ada suara dari atas pohon. “Maksudmu baik. 

Tapi muridmu pergunakan maksudmu untuk mencari kesempatan. Meloloskan diri 

dari pertanggungan jawab semua kejahatan yang pernah dibuatnya!” 

 Gondoruwo Patah Hati tersentak kaget ada orang yang menyebut nama aslinya. 

Dia rasa-rasa mengenali suara itu. Ini membuat si nenek jadi bergetar dadanya. Dia 

ingin kepastian lalu berteriak. “Siapa yang bicara?! Mengapa tidak berani unjukkan 

diri?!” 

 Baru saja suara si nenek lenyap, dari atas sebuah pohon melayang turun sosok 

seorang anak kecil berambut jabrik berpakaian hitam. Di belakangnya mengikuti 

sosok seorang tua menebar bau pesing. 

 “Jahanam kurang ajar! Pasti tua bangka itu yang mengencingi mulutku!” rutuk 

Pangeran Matahari. Dia segera hendak mendekati Setan Ngompol namun niatnya 

dibatalkan ketika dilihatnya Damar Wulung memberi isyarat agar dia jangan 

meninggalkan tempat. 

 “Naga Kuning! Setan Ngompol!” seru murid Sinto Gendeng. 

 Naga Kuning cibirkan mulut sedang Setan Ngompol lambaikan tangan sambil 

senyum-senyum cengengesan. Naga Kuning memandang pada Gondoruwo Patah Hati. 

“Nek, apakah ucapanku tadi salah?’ 

 Setelah melihat siapa yang ada di hadapannya dan bicara padanya si nenek 

jadi salah tingkah. “Naga Kuning …..” katanya perlahan. “Jadi dugaanku tidak 

meleset. Anak ini memang dia adanya…..” 

 Si bocah dekati Gondoruwo Patah Hati dan berkata. “Kita sudah sama-sama 

tua, mengapa mencampuri urusan orang-orang muda? Biar saja mereka 

menyelesaikan urusan mereka.” 

 “Mana bisa begitu, Gunung?” ujar si nenek. 

 Naga Kuning tersenyum mendengar si nenek menyebut nama aslinya. “Kau 

masih ingat namaku itu. Cuma sayang, agaknya saat ini kita tidak berada di pihak 

yang sama…..” 

 Gondoruwo Patah Hati sesaat tampak sedih. 

 “Intan, jika kau hanya menuruti kemauanmu sendiri, harap kau melihat 

sekelilingmu. Saat ini dua sisi kali sudah dikurung rapat. Kita berada di tengah-

tengah.” 

 Gondoruwo Patah Hati terkejut mendengar ucapan Naga Kuning. Dia 

memandang berkeliling dan jadi lebih terkejut. Ternyata tempat itu memang telah 

dikurung oleh banyak sekali perajurit Kerajaan. Beberapa orang tampak menunggangi 

kuda besar. Mereka adalah para tokoh silat Istana. Dua dari orang-orang berkuda ini 

melompat turun dari tunggangannya lalu melangkah cepat ke tempat di mana 

Gondoruwo Patah Hati dan yang lain-lainnya berada. Di sebelah kanan adalah 

Tumenggung Cokro Pambudi. Di sampingnya melangkah cepat sosok berjubah 

kelabu Hantu Muka Licin Bukit Tid


Tumenggung Cokro Pambudi, diikuti Hantu Muka Licin berhenti tepat di 

hadapan Damar Wulung. Melirik ke samping sang Tumenggung melihat Sutri 

Kaliangan, membuatnya kaget. Bagaimana gadis ini bisa berada di tempat ini, pikir 

Tumenggung Cokro. Lalu dia menuding ke arah Damar Wulung. 

 “Pemuda bernama Damar Wulung! Kau orangnya yang tempo hari datang ke 

tempat kediamanku membawa harta Kerajaan serta Keris Kiai Naga Kopek yang 

dijarah. Kau memberikan keris itu padaku seolah hendak berbuat jasa besar pada 

Kerajaan. Tapi ternyata senjata itu palsu! Hanya sarungnya saja yang asli! Mana keris 

yang asli? Serahkan padaku!” 

 “Tumenggung, aku tak ingat apakah aku pernah berkunjung ke rumahmu,” 

jawab Damar Wulung licik. “Tapi jika kau mencari Keris Kiai Naga Kopek, tanyakan 

pada Pendekar 212. Dialah yang mencuri pusaka Keraton itu! Seharusnya dia yang 

segear kau tangkap. Bukankah dia buronan Kerajaan? Dan nenek ini, dia juga 

buronan Kerajaan!” 

 Gondoruwo Patah Hati kaget besar, tidak menyangka muridnya akan bicara 

seperti itu. 

 “Kurang ajar!” maki Pendekar 212 Wiro Sableng. “Aku akan perlihatkan di 

mana keris itu beradanya!” Lalu sekali berkelebat Wiro melompat ke arah Damar 

Wulung. Tangannya menyambar ke pinggang si pemuda. 

 “Sebelum kau sentuh tubuhku, biar kusentuh dulu kapalamu!” bentak Damar 

Wulung. Tangan kanannya memancarkan cahaya biru lalu dihantamkan ke arah 

kepala Pendekar 212. 

 “Pukulan Batunaroko!” seru Gondoruwo Patah Hati. “Adisaka! Aku 

mengharamkan kau mempergunakan pukulan itu!” 

 “Kalau begitu biar aku kemgalikan kepadamu!” teriak Damar Wulung. 

Tanagnnya sebelah kiri bergerak. Seperti tangan kanan yang dihantamkan ke kepala 

Wiro, tangan kiri yang dipukulkan ke kepala si nenek memancarkan sinar biru. Ini 

satu pertanda bahwa Damar Wulung melancarkan pukulan maut bernama Batunaroko

yang sangat dahsyat. Jangankan kepala manusia, batu karangpun akan amblas hancur 

terkena pukulan ini! Mengapa pemuda ini menjadi nekad dan tega hendak membunuh 

gurunya sendiri? Lain tidak karena dia merasa tak akan bisa lolos dari tangan si nenek. 

Cepat atau lambat, tidak sekarang, nanti-nanti orang tua itu pasti akan terus mengejar 

dan menjatuhkan hukuman atas dirinya. 

 Gondoruwo Patah Hati terkesiap kaget. Tidak menyangka kalau sang murid 

akan menjatuhkan tangan jahat terhadapnya. Hanya tinggal sejengkal pukulan itu 

akan menghancurkan kepalanya dia masih saja melotot diam terkesima. Tiba-tiba satu 

tangan menarik pinggangnya. Tubuh si nenek terbetot ke kiri. 

 “Bertahun-tahun kau menghabiskan waktu mencariku, berusaha 

menyingkapkan teka teki rasa antara ktia. Kini mengapa bersikap seperti mau bunuh 

diri di depan mata?!” Orang yang menarik si nenek keluarkan ucapan. Gondoruwo 

Patah Hati segera palingkan kepala. 

 “Gunung….. Terima kasih. Aku barusan memang berlaku ayal. Pertemuan ini, 

perbuatan muridku, semua membuat aku jadi kacau pikiran dan berat perasaan……” 

 Naga Kuning turunkan tubuh si nenek ke tanah. Sambil senyum-senyum dia 

berkata. “Biarkan orang-orang itu menyelesaikan urusan mereka. Kita yang tua-tua 

kali ini terpaksa hanya memperhatikan…..” 

 “Gunung, bagaimana kau tahu aku Ning Intan Lestari?” 

 “Huss! Nanti saja kita bicarakan hal itu….” Jawab Naga Kuning. 

 “Tidak, aku ingin mendengar jawabanmu sekarang juga!” kata si nenek pula.


Naga Kuning tertawa. “Kau masih saja seperti dulu. Tidak sabaran, keras hati 

dan tegas!” 

 “Aku memang tidak pernah berubah, Gunung.” 

 “Aah…. Syukurlah. Baik, aku memberitahu. Sejak pertemuan kita yang 

pertama di Banyuanget dulu itu, Aku menemui Kiai Gede Tapa Pamungkas. Berusaha 

mendapatkan keterangan. Dia tidak bicara banyak. Tapi dari sikapnya itu aku justru 

mengetahui kalau nenek muka setan berjuluk Gondoruwo Patah Hati itu sebenarnya 

memang adalah Ning Intan Lestari …..” 

 Baru saja Naga Kuning berkata begitu tiba-tiba satu bayangan biru berkelebat 

disertai terdengarnya ucapan lantang. “Berdua-duaan bermesraan dikala maut 

gentayangan mencari kematian, sungguh perbuatan mahluk-mahluk pendek pikiran!” 

 Gondoruwo Patah Hati dan Naga Kuning cepat berpaling. Di hadapan mereka 

berdiri seorang kakek berwajah jernih, berpakaian ringkas. 

 “Rana Suwarte…..” ucap Naga Kuning dan si nenek hampir berbarengan. 

Kakek ini adalah orang yang mencintai Gondoruwo Patah Hati sejak masa muda 

remaja tapi si nenek tidak dapat menerima cinta Rama Suwarte karena hatinya telah 

tertambat pada Gunung alias Naga Kuning. Sampai-sampai Rana Suwarte meminta 

pertolognan Kiai Gede Tapa Pamungkas yang adalah ayah angkat si nenek, tetap saja 

perempuan itu tidak bisa menerima kehadiran Rana Suwarte sebagai pendamping 

dirinya. Penolakan ini telah menimbulkan dendam luar biasa dalam diri Rana Suwarte 

terhadap Naga Kuning. Jika dia tidak bisa mendapatkan Ning Intan Lestari maka 

Naga Kuning juga tidak akan mendapatkan perempuan itu. Rana Suwarte menyusun 

rencana untuk melenyapkan Naga Kuning. Salah satu caranya ialah denan bergabung 

dengan orang-orang Kerajaan. (Riwayat lebih jelas mengenai Ning Intan Lestari harap 

baca Episode sebelumnya berjudul “Gondoruwo Patah Hati”) 

 Sutri Kaliangan yang sudah merasa bahwa perkelahian hebat akan segera 

terjadi di tempat itu, berseru keras. “Atas nama Patih Kerajaan harap semua tokoh 

silat Istana jangan mencampuri urusan di tempat ini!” 

 Tumenggung Cokro Pambudi dan Hantu Muka Licin hentikan langkah mereka 

mendekati Damar Wulung. 

 “Den Ayu Sutri, saya rasa kau tidak punya wewenang mengeluarkan ucapan 

itu….” berkata Tumenggung Cokro Pambudi. 

 Dari balik pakaian kuningnya Sutri Kaliangan mengeluarkan selembar kertas 

dan memperlihatkannya pada Tumenggung Cokro Pambudi. Tapi kertas itu 

diperlihatkan hanya dari jauh. 

 “Ini wewenang yang diberikan oleh Patih Kerajaan padaku! Apakah Paman 

Tumenggung berani membantah?” Sutri menggertak. Padahal surat itu palsu belaka! 

 Hantu Muka Licin Bukit Tidar yang sebenarnya sudah letih mengurusi perkara 

seperti ini dan lebih suka bersenang-senang di Kotaraja berbisik. “Tumenggung 

Cokro, sebaiknya kita mengundurkan diri saja, kembali bergabung dengan pasukan. 

Perlua apa bersusah payah? Kalau Keris Kiai Naga Kopek itu memang ada pada 

pemuda bernama Damar Wulung, bukankah lebih baik kita mempergunakan tangan 

orang lain untuk mendapatkannya?” 

 Setelah berpikir cepat Tumenggung Cokro akhirnya menjawab. “Benar juga. 

Mari kita menjauh, kembali ke pasukan. Tapi kita tetap harus mengurung kawasan 

ini!” 

 Kalau dua tokoh Istana itu mengundurkan diri, lain halnya dengan Rana 

Suwarte. Kakek bermuka jernih yang dilanda cinta dibarengi dendam membara ini 

melesat ke arah Naga Kuning.


“Budak keparat! Salah satu di antara kita harus disingkirkan dai muka bumi 

ini!” Habis berkata begitu Rana Suwarte langsung lancarkan satu tendangan ke dada 

si bocah. 

 Setan Ngompol yang sejak tadi diam saja, melihat Naga Kuning diserang serta 

merta memotong gerakan Rana Suwarte. 

 “Tua bangka edan! Tidak tahu malu beraninya melawan anak kecil! Aku 

lawanmu!” bentak Setan Ngompol lalu tertawa bergelak dan serrrr, kucurkan air 

kencing. 

 “Sobatku mata jereng bau pesing!” kata Naga Kuning. “Siapa bilang aku anak 

kecil? Pasang mata kalian baik-baik!” 

 Si bocah berambut jabrik putar-putar lehernya. Kepala digoyang-goyangkan. 

Tiba-tiba ada asap tipis mengepul dari batok kepala anak itu. ketika dia mengusap 

wajahnya satu kali, wajah itu berubah menjadi wajah seorang tua berambut putih, alis 

dan kumis serta janggut putih. Sosoknya juga bukan sosok anak kecil lagi tapi 

berubah besar menjadi sosok orang tua. Gondoruwo Patah Hati terkesiap. Puluhan 

tahun dia tidak pernah melihat ujud asli orang yang dikasihinya itu. sepasang matanya 

berkaca-kaca. 

 Setan Ngompol kaget bukan kepalang. Kakek ini memang sudah tahu kalau 

Naga Kuning sebenarnya adalah seorang tua berusia hampir seratus dua puluh tahun. 

Tapi selama ini dia belum pernah melihat wajah dan sosok asli sahabatnya yang selalu 

konyol itu. 

 “Gila! Kau ini mahluk jejadian atau apa…..” kata Setan Ngompol sambil 

pegangi bagian bawah perutnya yang tambah gencar mengucurkan air kencing. 

 Lain halnya dengan Rana Suwarte. Kakek bermuka jernih ini serta merta 

menjadi pucat. “Kiai Paus Samudera Biru…..” ucapnya dengan suara gemetar. 

Tendangannya jadi tertahan. Nyalinya untuk meneruskan perkelahian jadi leleh. 

Selama ini dia hanya tahu kala Naga Kuning itu ujudnya adalah seorang kakek yang 

jadi saingannya dalam memperebutkan cinta Ning Intan Lestari. Dia tidak mengetahui 

kalau si kakek sebenarnya adalah orang berjuluk Kiai Paus Samudera Biru yang 

memiliki kesaktian jauh di atasnya. Untuk tidak kehilangan muka Rana Suwarte buru-

buru berkata. “Tugasku sebenanya mengejar dan menangkap Pendekar 212 Wiro 

Sableng. Gunung, urusan kita biar diselesaikan kemudian hari saja.” Lalu Rana 

Suwarte tinggalkan tempat itu, kembali bergabung dengan para tokoh silat Istana 

lainnya. 

 Kiai Paus Samudera Biru hendak mengejar tapi cepat dicegah oelh Ning Intan 

Lestari. “Tak usah dikejar Gunung. Aku lebih suka kita cepat-cepat meninggalkan 

tempat ini….” 

 “Aku setuju saja. Dengan dua syarat,” jawab Kiai Paus Samudera Biru. 

“Pertama kita tunggu sahabatku Wiro menyelesaikan urusannya dengan Damar 

Wulung dan Pangeran Matahari. Kedua aku ingin agar kau membuka dan membuang 

topeng tipis yang selama ini selalu menutupi wajah aslimu yang cantik…..” 

 “Astaga,” kejut si nenek muka setan. “Bagaimana kau tahu?” 

 Naga Kuning alias Kiai Paus Samudera Biru hanya tersenyum. Sambil 

kedipkan mata dia berkata. “Aku seorang Kiai, apa pantas berdampingan dengan 

setan perempuan. Padahal setan perempuan itu sebenarnya seorang perempuan 

secantik bidadari?” 

 Ning Intan Lestari menahan tawa cekikikan. Tangan kirinya menyambar 

mencubit lengan orang yang dicintainya tu.


EMPAT BELAS


Kembali pada perkelahian awal antara Pendekar 212 Wiro Sableng dengan Damar 

Wulung. Ketika melihat tangan kanan lawan yang memukul memancarkan cahaya 

biru, murid Eyang Sinto Gendeng itu segera maklum kalau Damar Wulung 

melancarkan satu pukulan sangat berbahaya. Karena yang diincar adalah kepala, 

maka berarti pukulan itu sangat mematikan! Apa lagi tadi dia mendengar Gondoruwo 

Patah Hati berseru agar Damar Wulung tidak mempergunakan ilmu pukulan yang 

disebut batunaroko itu. 

 Dengan cepat Wiro geser kuda-kuda kedua kakinya, rundukkan kepala lalu 

dari bawah kirimkan pukulan tangkisan. Dia sengaja memilih bagian lengan lawan 

yang tidak berwarna biru. Begitu terjadi bentrokan dua lengan dia akan keluarkan 

ilmu Koppo, yaitu ilmu menghancurkan tulang yang didapatnya dari Nenek Neko. 

(Baca serial WS berjudul “Sepasang Manusia Bonsai”) 

 “Bukkk!” Dua lengan beradu di udara mengeluarkan suara keras. Damar 

Wulung berseru kaget ketika dapatkan dirinya mencelat ke udara setinggi satu tombak 

membuat Wiro tidak bisa mengirimkan serangan lanjutan dengan ilmu Koppo. Wiro 

sendiri terempas ke bawah, hampir jatuh duduk di tanah kalau tidak cepat 

menopangkan tangan kirinya. 

 Bentrokan lengan itu menyadarkan Damar Wulung bahwa tenaga dalam 

Pendekar 212 tidak berada di bawahnya, juga tidak berada di bawah Pangeran 

Matahari yang telah dijajalnya sebelumnya. Walau hatinya agak tergetar tapi selama 

hanya Wiro yang dihadapinya dia merasa yakin akan dapat menghabisi lawan. Maka 

Damar Wulung keluarkan jurus-jurus ilmu silatnya yang paling hebat sementara 

kedua tangan sudah dipasangi aji kesaktian pukulan Batunaroko! 

 Lima jurus pertama Wiro masih sanggup mengimbangi lawan sambil sesekali 

susupkan serangan balasan. Namun dua kepalan Damar Wulung yang sangat 

mematikan itu membuat Wiro tidak bisa bergerak leluasa karena dia harus berlaku 

sangat hati-hati. Meleset perhitungan sedikit saja dan salah satu tinju lawan mengenai 

dirinya, celekalah dia. Untuk membentengi diri dari serbuan Damar Wulung yang 

kelihatan kalap ingin cepat-cepat menghabisi dirinya, Wiro keluarkan jurus-jurus ilmu 

silat orang gila yang dipelajarinya dari Tua Gila, dipadu dengan jurus-jurus silat 

langka dari Kitab Putih Wasiat Dewa. Jurus Tangan Dewa Menghantam Matahari, 

Tangan Dewa Menghantam Batu Karang, Tangan Dewa Menghantam Rembulan

serta Tangan Dewa Menghantam Air Bah keluar silih berganti. Lama-lama Damar 

Wulung mulai kewalahan. Dia berusaha keras agar salah satu jotosannya mampu 

mendarat di tubuh atau kepala lawan. Tapi usahanya sia-sia saja karena gerakan-

gerakan pertahanan dan serangan lawan tidak terduga. Apalagi dia tidak mungkin 

mengerahkan tenaga dalam secara terus menerus pada dua tangannya karena akan 

menguras seluruh tenaganya. 

 Memasuki jurus ketiga puluh Damar Wulung terdesak hebat. Keringat 

membasahi pakaiannya. Tengkuknya terasa dingin. Beberapa kali serangan lawan 

hampir bersarang di tubuhnya. Ketika memasuki jurus tiga puluh empat, Damar 

Wulung robah permainan silatnya. Kalau sebelumnya dia mengandalkan dua kepalan, 

kini secara tak terduga sepasang kakinya ganti memegang peranan. Pada jurus ketiga 

puluh delapan tendangannya berhasil melanda perut Pendekar 212! Tak ampun lagi 

tubuh Wiro terlipat lalu terjerembab ke depan. Saat itu tangan kanan Damar Wulung


datang menderu ke arah keningnya. Tangan itu memancarkan cahaya biru terang 

pertanda Damar Wulung sengaja mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. 

 Wiro tak punya kesempatan untuk mengelak. Tangan kirinya memegangi 

perut yang terasa seperti jebol amblas! Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri 

adalah mempergunakan tangan kanan untuk menangkis. Sekali ini mungkin Wiro 

tidak mampu menangkis dengan memukul lengan lawan yang tidak berwarna biru. 

Jika hal itu sampai terjadi berarti dia akan dihantam pukulan Batunaroko! 

 Setan Ngompol terkencing-kencing begtu melihat dan menyadari bahaya yang 

dihadapi Wiro. Kakek bermata jereng ini siap melompat memasuki kalangan 

perkelahian dengan melancarkan jurus “Setan Ngompol Mengencingi Langit.” Namun 

sebelum maksudnya kesampaian di depan sana telah terjadi sesuatu yang hebat! 

 Hanya satu kejapan mata lagi dua tangan akan beradu, Pendekar 212 Wiro 

Sableng tiup tangan kanannya. Di permukaan telapak tangan yang terkepal serta 

merta muncul gambar kepala harimau putih bermata hijau. Itulah gambar harimau 

Datuk Rao Bamato Hijau, harimau gaib pelindung Wiro. 

 “Bukkk!” 

 Dua jotosan beradu di udara. 

 Pukulan Batunaroko yang dilancarkan Damar Wulung baku hantam dengan

Pukulan Harimau Dewa yang dilepaskan Pendekar 212 Wiro Sableng. 

 Jeritan setinggi langit, merobek deru air terjun melesat keluar dari mulut 

Damar Wulung. Tubuhnya terpental ke udara lalu terguling-guling di tanah. Sebuah 

benda bulat berkilau tersembul dari pakaiannya lalu jatuh ke tanah. Ternyata cermin 

sakti milik Ratu Duyung. Melihat cermin miliknya tergeletak di tanah Ratu Duyung 

cepat mengambilnya. 

 Wiro sendiri mengeluh keras, terhenyak jatuh duduk di tanah dan ketika dia 

memperhatikan tangan kanannya ternyata beberapa jari tangan itu telah terkelupas 

kulitnya dan mengepulkan asap ke biru-biruan. Sesaat tanan kanannya terasa kaku, 

aliran darah tak karuan dan dada mendenyut sesak. 

 Damar Wulung sendiri tangan kanannya tidak berbentuk tangan lagi. Sampai 

sebatas lengan tangan itu hancur mengerikan, mengepulkan asap kebiru-biruan. 

 Bagaimanapun kemarahan Gondoruwo Patah Hati terhadap muridnya itu 

namun si nenek tidak tega melihat cidera derita yang dialami Damar Wulung. Dia 

hendak memburu sang murid. Tapi Kiai Paus Samudera Biru alias Naga Kuning alias 

Gunung memegang lengannya seraya berkata “Intan, apapun yang terjadi dengan 

muridmu ikhlaskan saja. Mungkin semua itu merupakan hukuman atas segala 

perbuatannya di masa lalu…..” 

 Begitu berdiri Wiro segera mengejar ke arah Damar Wulung yang sambil 

menggerung kesakitan berusaha bangun. Damar Wulung baru setengah duduk ketika 

Wiro sampai dan susupkan tanan kirinya ke arah pinggang pemuda itu. Tangannya 

menyentuh sesuatu, segera diambil. Ternyata sebilah keris bergagang emas. Keris 

Kiai Naga Kopek! 

 Ketika Wiro mengejar Damar Wulung dan gerakkan tangannya, Adimesa alias 

Pendekar Kipas Pelangi mengira Wiro hendak menghabisi saudaranya itu. 

Bagaimanapun juga, siapa orangnya yang berdiam diri saja melihat saudaranya 

sedarah sedaging hendak dihabisi musuh. Dengan gerakan kilat Adimesa keluarkan 

kipas saktinya dari balik baju. 

 Kipas dibuka. Sambil diarahkan pada Wiro, Adimesa masih punya hari baik 

untuk berteriak memberi ingat. 

 “Wiro! Lihat serangan!” 

 Kipas sakti digerakkan. Tujuh sinar pelangi berkiblat.


“Wuuuuusss!” 

 Di depan sana Pendekar 212 yang telah memegang Keris Kiai Naga Kopek 

jatuhkan diri ke tanah. Sebagian tubuhnya terlindung di belakang sosok Damar 

Wulung. Pada saat itulah tujuh sinar pelangi datang melabrak! Tubuh Wiro dan tubuh 

Damar Wulung mencelat sampai dua tombak lalu jatuh bergedebukan di tanah. Kalau 

Wiro masih bisa bangkit berdiri walau sekujur tubuhnya terasa bergetar, namun 

Damar Wulung tetap terkapar di tanah. Pakaiannya hancur, sekujur badannya 

kelihatan memar. Dari hidung, mulut dan liang telinga darah mengucur. 

 Pendekar Kipas Pelangi keluarkan gerungan keras. 

 “Kakak Adisaka!” jeritnya lalu lari dan jatuhkan diri di samping sosok 

saudaranya itu. di tempatnya berdiri Gondoruwo Patah Hati hanya bisa tundukkan 

kepala dan teteskan air mata. 

 “Kakak! Aku…..aku tak bermaksud mencelakaimu! Aku…. Gusti Allah, aku 

telah membunuh kakakku sendiri! Besar sekali dosaku!” Terisak-isak Adimesa peluki 

tubuh kakaknya. “Kakak….. Kakak Adisaka, jangan mati Kak!” Adimesa letakkan 

kepala kakaknya di atas pangkaun, membelai rambut lalu mengusap darah yang 

membasahi wajah kakaknya. 

 Wiro masih tegak memegangi Keris Kiai Naga Kopek, setengah tertegun. 

Mukanya pucat, Sutri Kaliangan tahu-tahu berdiri di hadapannya. 

 “Wiro, kau berhasil membuktikan bahwa dirimu bukan pencuri keris pusaka 

ini….” 

 Wiro mengangguk perlahan. “Senjata pusaka sakti in menyelamatkan aku dari 

serangan kipas sakti Pendekar Kipas Pelangi.” Wiro memandang sesaat ke arah sosok 

Adisaka yang tergolek di atas pangkuan adiknya. Lalu dia ulurkan tangan, 

menyerahkan keris emas itu kepada Sutri. “Aku minta bantuanmu untuk menyerahkan 

keris pusaka ini pada Sri Baginda di Istana. Jangan lupa menceritakan semua apa 

yang terjadi di tempat ini.” 

 Sutri Kaliangan mengangguk. 

 “Masih ada satu hutangku padamu. Mengobati sakit ayahmu. Selesai urusan 

gila di tempat ini aku akan berusaha melunasi hutang itu. aku sudah tahu obatnya, 

tinggal mencari saja.” 

 “Aku percaya kau tak akan ingkat janji,” kata puteri Patih Kerajaan itu. Keris 

Kiai Naga Kopek disimpannya di balik pakaian kuningnya lalu gadis ini menemui 

tiga gadis lainnya. 

 Pangeran Matahari menjadi kaget. Dia sedang asyik menyaksikan perkelahian 

antara Wiro dengan Damar Wulung ketika beberapa orang berkelebat dan tahu-tahu 

empat gadis cantik telah mengurung dirinya yaitu Bidadari Angin Timur, Anggini, 

Ratu Duyung dan Sutri Kaliangan. 

 Tapi dasar licik dan panjang akal, sang Pangeran sunggingkan senyum. 

“Empat gadis cantik, kalian mau berbuat apa? Mau bicara, mengajakku ke satu tempat 

untuk bersenang-senang? Hemmm….. tempat ini memang kurang pantas untuk kita. 

Ha….ha…..ha!” 

 “Pangeran keparat!” bentak Ratu Duyung. “Banyak arwah menunggumu di 

alam barzah!” 

 “Sudah mau mampus masih bicara ngaco!” damprat Bidadari Angin Timur. 

 Anggini tidak banyak bicara. Gadis ini loloskan selendang ungunya. 

Selendang ini adalah senjata andalannya. Dengan pengerahan tenaga dalam benda 

yang lembut ini bisa menjadi sekukuh tombak atau pentungan, bisa juga berubah 

setajam pedang. Sutri Kaliangan yang sejak tadi sudah memegang pedang telanjang 

mendatangi dari samping kiri. Ratu Duyung siap menggebrak dengan cermin saktinya.


“Wah…..wah! Kalian empat gadis cantik mau mengeroyokku? Apa tidak 

salah tempat dan waktu? Bagaimana kalau kalian mengeroyokku di atas ranjang saja 

nanti?! Ha…ha….ha!” 

 “Manusia jahanam!” teriak Anggini. 

 “Laknat terkutuk!” teriak Sutri Kaliangan. 

 Pangeran Matahari masih terus tertawa-tawa. “Empat gadis mengeroyokku, 

sungguh luar biasa! Mari mendekat. Ayo serang! Aku ingin seklai menjamah tubuh 

kalian!” 

 Empat gadis keluarkan suara merutuk marah lalu tanpa banyak bicara lagi 

mereka segera menyerbu Pangeran Matahari. Ternyata yang menyerang sang 

Pangeran bukan cuma empat gadis itu karena tiba-tiba entah dari mana datangnya satu 

mahluk tinggi besar berambut merah berwajah singa telah melesat ke dalam kalangan 

pertempuran dan ikut menyerang. Mahluk ini bukan lain adalah Singo Abang, yang 

pernah menyelamatkan Pangeran Matahari dan juga mengambilnya sebagai murid. 

 Pangeran Matahari tahu gelagat. Empat gadis yang menyerangnya, di balik 

kecantikan dan keelokan lekuk tubuh mereka tersimpan ilmu silat tinggi, tersembunyi 

kesaktian dahsyat mematikan. Apalagi kini muncul Singo Abang, sang guru yang 

berubah menjadi musuh besarnya. Lalu di sebelah sana Pendekar 212 Wiro Sableng 

dilihatnya melangkah mendatangi. 

 “Pengeroyok licik! Lihat serangan!” Pangeran Matahari berteriak. Dua tangan 

dihantamkan ke depan, membuka serangan balasan. Dia lancarkan pukulan Dua Singa 

Berebut Matahari. Lalu susul dengan pukulan Gerhana Matahari. Anehnya serangan 

itu tidak diarahkan pada lima lawannya tapi dihantamkan ke tanah kering di pinggiran 

kali serta sederetan pohon. 

 Suara pohon tumbang menggemuruh. Daun-daun yang rontok begitu banyak, 

menutupi pemandangan. Ditambah dengan tanah dan pasir yang bermuncratan ke 

udara. Pinggiran Kali Mungkung di saat matahari baru terbit itu menjadi gelap. 

 “Jahanam kurang ajar!” Pendekar 212 memaki. Dia sudah tahu apa yang 

hendak dilakukan Pangeran Matahari. Tangan kanannya bergerak melepas pukulan 

Sinar Matahari. Dalam udara gelap satu cahaya putih berkiblat dan panas melabrak ke 

arah Pangeran Matahari. Namun serangan Wiro agak terlambat. Sekejapan sebelum 

pukulan sakti itu berkiblat terdengar suara benda mencebur masuk kali. Wiro 

mengejar. Dia hanya sempat melihat sekilas sosok Pangeran Matahari di ujung kali, 

lalu lenyap dibawa arus air yang turun deras ke bawah membentuk air terjun. 

 

 Sosok Adisaka tergeletak tidak bergerak di atas pangkuan Adimesa. Matanya 

terbuka, tapi pandangannya kosong. Perlahan-lahana mulutnya yang sejak tadi 

terkancing terbuka sedikit. Matanya bergerak sayu, manatap wajah adiknya. Lalu dari 

mulut Adisaka keluar suara nyanyian. 

 Kaliurang desa tercinta 

 Terletak di kaki Gunung Merapi 

 Di sana kami dilahirkan 

 Alamnya indah penduduknya ramah 

 Nyanyi yang disenandungkan Adisaka tidak terlalu keras, tapi cukup jelas 

didengar semua orang yang ada di tempat itu. ketika dia mulai menyanyikan bait 

kedua, Adimesa dengan air mata berlinang ikut bernyanyi bersama kakaknya. 

 Kami anak desa 

 Bangun pagi sudah biasa


Hawa dingin tidak terasa 

 Kerja di sawah membuat sehat 

 Kerja di ladang membuat kuat 

 Memasuki bait ketiga suara Adisaka mulai perlahan lalu lenyap sama sekali. 

Dia batuk-batuk beberapa kali. Dari mulutnya keluar darah segar. Dia masih 

memaksakan hendak meneruskan senandung yang belum selesai dinyanyikan. Namun 

matanya tertutup, mulut terkancing. Kepala terkulai. 

 Suara nyanyian Adimesa ikut lenyap, berganti dengan suara tangis mengiringi 

kepergian sang kakak. 

 

                                   TAMAT



Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive