"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Senin, 11 November 2024

WIRO SABLENG EPISODE BADIK SUMPAH DARAH

 

Badik Sumpah Darah


BADIK SUMPAH DARAH
HANYA SEKEJAPAN LAGI DUA GOLOK AKAN MEMBABAT LEHER DAN PERUT LOH GATRA, TIBA-
TIBA TERDENGAR SUARA SIULAN. LALU DUA BENDA HITAM SEBESAR UJUNG IBU JARI TANGAN
MELESAT DI UDARA. DAN!
"CROSSS!"
"CROSSS!"
DUA ORANG MENJERIT KERAS. SAMA-SAMA JATUHKAN GOLOK MEREKA. SAMA-SAMA
PEGANGI MATA KANAN. DARAH MENGUCUR DARI MATA KANAN MEREKA, MEMBASAHI PIPI DAN
JARI-JARI TANGAN! TIDAK SANGGUP MENAHAN SAKIT, DUA ORANG INI JATUHKAN DIRI DI
TANAH, MERAUNG SAMBIL BERGULINGAN.
LELAKI BERNAMA GONDO BERBALIK. MEMANDANG MELOTOT KE ARAH LOH GATRA YANG
MASIH TERDUDUK DENGAN MUKA PUCAT BERSIMBAH DARAH DI BAGIAN DADA.
"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN MONYET INGUSAN KEPARAT INI YANG MELAKUKAN. AKU
LIHAT SENDIRI. DIA DALAM KEADAAN TIDAK BERDAYA! LALU SIAPA?!"
GONDO MEMANDANG BERKELILING.
"HAH?!"
PANDANGANNYA TIBA-TIBA MEMBENTUR SOSOK SEORANG PEMUDA YANG DUDUK ENAK-
ENAKAN DI ATAS SERUMPUNAN SEMAK BELUKAR. DI ATAS SEMAK BELUKAR! GONDO
KERENYITKAN KENING. MANA ADA ORANG BISA DUDUK DI ATAS SEMAK BELUKAR KALAU TIDAK
MEMILIKI ILMU MERINGANKAN TUBUH LUAR BIASA!

SATU

KADIPATEN Temanggung masih dalam suasana berkabung. Dua minggu lalu Adipati Jalapergola
berpulang meninggal dunia setelah mengalami sakit selama hampir satu bulan, meninggalkan Nyi
Larasati, seorang istri yang cantik dan masih muda. Umbul-umbul hitam tanda perkabungan kelihatan di
mana-mana, terutama sepanjang jalan menuju gedung Kadipaten.
Hari itu menjelang sang surya tenggelam, lima penunggang kuda meninggalkan Temanggung,
memacu tunggangan mereka ke arah timur di mana terletak kawasan rimba belantara Kulonprogo. Empat
dari lima penunggang kuda itu berseragam prajurit Kadipaten. Orang ke lima seorang tua berpakaian putih
sederhana. Di bawah blangkon yang bertengger di kepalanya menjulai rambut panjang berwarna putih.
Misai serta janggutnya juga telah memutih. Orang tua ini adalah Ki Sarwo Ladoyo, yang telah
mengabdikan diri pada Dua Adipati sebagai sesepuh penasihat Kadipaten Temanggung.
Setelah beberapa lama menyusuri pinggiran hutan Kulonprogo, di satu tempat rombongan lima orang
itu membelok ke kiri, masuk ke dalam hutan. Bergerak sejauh belasan tombak, prajurit di sebelah depan
yang bertindak sebagai penunjuk jalan mengangkat tangan kiri memberi tanda lalu hentikan kudanya.
Begitu kuda berhenti, prajurit ini ganti angkat tangan kanan, menunjuk ke atas pohon besar beberapa
tombak di depan rombongan. Lima kepala sama mendongak.
Di atas pohon, pada cabang paling rendah tergantung sosok seorang lelaki muda, berpakaian bagus.
Dua matanya terkatup sementara lidah agak terjulur. Melihat keadaan muka dan tubuhnya yang sudah
membengkak, ditambah bau busuk yang menebar, paling tidak sosok orang itu sudah tergantung lebih
dari satu hari.
"Gusti Allah," Ki Sarwo Ladoyo mengucap, Kalau tidak melihat sendiri sulit aku bisa percaya.
Prameswara, cucu Pangeran Alit, mati menggantung diri."
Sesaat setelah memperhatikan tubuh yang tergantung itu, Ki Sarwo Ladoyo turun dari kudanya. Dia
memeriksa keadaan sekitar pohon. Setelah merasa cukup dia memberi perintah pada empat prajurit.
"Kalian turunkan jenazah itu. Minta bantuan penduduk desa terdekat. Cari gerobak atau apa saja
untuk mengangkutnya. Bawa langsung ke Kotaraja. Aku mendahului kembali ke Temanggung. Kita
bertemu di Kotaraja, di tempat kediaman Pangeran Alit."
* * *
DARI hutan Kulonprogo Ki Sarwo Ladoyo tidak langsung ke Kotaraja tapi mampir dulu di Temanggung,
menemui Nyi Larasati.
"Nyi Lara, saya datang memberi tahu. Raden Prameswara, cucu Pangeran Alit ditemui mati
menggantung diri dalam hutan Kulonprogo."
Wajah cantik Nyi Larasati yang masih diselimuti kedukaan sama sekali tidak berubah. Dia menatap
orang tua di hadapannya itu dengan pandangan kosong.
Ki Sarwo segera berucap. "Maafkan saya Nyi. Saya tahu Nyi Lara masih dalam keadaan berkabung.
Tidak ingin diganggu dengan segala kejadian seperti ini. Namun jika saya hubungkan kematian Raden
Prameswara dengan kematian Raden Tambak Suryo satu minggu yang lalu, saya merasa ada sesuatu di
balik kematian kedua orang pemuda gagah itu."
Nyi Larasati masih menatap kosong, namun mulutnya terbuka. "Ada sesuatu di balik kematian dua
orang pemuda itu. Sesuatu apakah gerangan Ki Sarwo?"
"Hanya beberapa hari setelah Adipati Jalapergola berpulang, kedua orang itu pernah mengirimkan
utusan untuk melamar Nyi Lara..."
Nyi Larasati mengangguk perlahan. "Itu benar. Bagi saya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu
adab dan sopan santun. Tanah makam Adipati masih merah, mereka sudah berani menyampaikan
pinangan. Sungguh keterlaluan..."
"Nyi Lara, apakah Nyi Lara tidak merasa heran? Dua orang yang pernah meminang Nyi Lara sama-
sama menemui kematian. Raden Tambak Suryo mati lebih dulu. Mayatnya ditemukan dekat jurang Bangil
dengan kepala hampir terbelah. Tersiar kabar bahwa pemuda itu jadi korban keganasan perampok yang
memang sering malang melintang di sekitar jurang Bangil. Namun, ketika mayatnya ditemukan, kalung
emas besar masih tergantung di lehernya. Tiga buah cincin emas berbatu permata mahal masih ada di
jari-jari tangannya. Lalu satu kantong kecil berisi uang juga tak tersentuh dari sabuk besar yang melilit di
pinggangnya. Jika memang dia mati dibunuh perampok mengapa semua harta perhiasan dan uang itu
tidak dijarah?"
"Ki Sarwo, apa yang barusan Ki Sarwo katakan itu memang merupakan suatu keanehan. Liku

apakah keanehan juga terjadi dengan kematian Raden Prameswara?" Bertanya Nyi Larasati.
"Waktu saya memeriksa sekitar pohon tempat tergantungnya Raden Prameswara, saya melihat
beberapa hal. Di tanah sekitar pohon terdapat banyak jejak ladam kuda. Lebih dari hanya seekor kuda.
Paling tidak ada tiga ekor kuda berada di tempat itu sebelumnya. Berarti ada orang lain selain Raden
Prameswara. Lalu cabang pohon tempat cucu Pangeran Alit itu tergantung, cukup tinggi. Saya tidak yakin
ada orang yang mau bersusah payah mencari kematian dirinya sendiri. Selain itu setiap orang yang putus
asa dan melakukan bunuh diri pasti ada sebab musababnya. Saya tidak bisa percaya kalau Raden
Prameswara bunuh diri karena kecewa berat pinangannya ditolak oleh Nyi Lara."
"Menurut Ki Sarwo ada sesuatu di balik kematian ke dua orang itu, apakah Ki Sarwo sudah
mengetahui apa sesuatu itu?"
"Saya punya dugaan, ke dua pemuda itu sengaja dibunuh. Mungkin oleh orang yang sama..."
"Kalau memang demikian, hal itu perlu diselidiki. Perlu pembuktian. Atau mungkin Ki Sarwo sudah
bisa menduga siapa orangnya?" tanya Nyi Larasati pula.
"Saya belum mengetahui siapa orangnya Nyi. Tapi saya kira-kira bisa menduga si pembunuh tidak
suka ke dua orang itu meminang Nyi Lara. Dengan kata lain si pembunuh tidak sudi Nyi Lara kawin
dengan dua pemuda itu."
Setelah berdiam diri beberapa lamanya Nyi Lara akhirnya berkata. "Ki Sarwo, saya masih letih. Saya
ingin istirahat dulu. Saya harap Ki Sarwo mau menyelidiki kematian ke dua pemuda itu, jika memang ada
apa-apanya."
"Akan saya lakukan Nyi," jawab Ki Sarwo Ladoyo seraya bangkit berdiri.
Pada saat itulah seorang pengawal Kadipaten masuk, memberi tahu ada tamu ingin menemui Nyi
Larasati.
"Siapa orangnya?" bertanya Ki Sarwo Ladoyo.
"Adipati Jatilegowo dari Salatiga," menerangkan pengawal.
Ki Sarwo Ladoyo berpaling pada Nyi Larasati. "Ada keperluan apa Adipati Salatiga itu berkunjung ke
mari? Bukankah tempo hari dia telah datang untuk menyampaikan rasa duka citanya?"
Nyi Larasati tidak bisa menjawab.
"Apakah Nyi Lara bersedia menemuinya?" tanya Ki Sarwo.
"Saya sangat letih. Ingin istirahat. Tapi jika tamu datang dari jauh tidak dilayani, kawatir yang
bersangkutan salah penafsiran. Asal tidak terlalu lama, saya tidak keberatan menerimanya."
Ki Sarwo mengangguk lalu memberi isyarat pada pengawal. Tak lama kemudian pengawal itu
kembali masuk ke ruangan mengiringi seorang lelaki bertubuh tinggi besar, berwajah gagah tapi garang.
Kumis tebal melintang kelihatan berkilat karena selalu dipoles dengan minyak kayu wangi. Walau dia
seorang Adipati namun dia tidak mengenakan pakaian kebesaran Adipati. Pakaiannya kain tebal berwarna
biru gelap dihias sulaman burung garuda berwarna kuning di dada kiri. Di keningnya melintang secarik ikat
kepala kain merah. Di lehernya tergantung seuntai kalung emas besar berbentuk rantai. Sebuah gelang
emas juga berbentuk rantai menghias lengan kirinya. Rambutnya yang panjang tebal menjulai sampai ke
kuduk. Inilah Jatilegowo, Adipati Salatiga yang sering dikatakan sebagai Adipati Urakan.
Sebagai tuan rumah yang baik Ki Sarwo Ladoyo segera memberi hormat dan menegur tamunya.
Adipati Jatilegowo membalas penghormatan itu tapi bukan ditujukan pada si orang tua, melainkan
langsung pada Nyi Larasati, bahkan memandang ke arah Ki Sarwopun Adipati itu tidak. Ini membuat si
orang tua menjadi tersinggung, kentara dari perubahan wajahnya.
"Saya Jatilegowo, menyampaikan salam hormat rakyat Salatiga. Kami, sebagaimana penduduk di sini
masih ikut berkabung atas berpulangnya Adipati Jalapergola," berucap lelaki tinggi besar itu sambil
matanya secara kurang ajar menatap wajah cantik jelita Nyi Larasati.
"Terima kasih. Adipati dan rakyat Salatiga telah memberikan perhatian begitu besar," menyahuti Nyi
Larasati. "Kalau saya boleh tahu, ada keperluan apakah Adipati mengunjungi kami di sini?"
"Ada sesuatu yang hendak saya sampaikan." Jawab Adipati Salatiga.
"Oo, silahkan. Apa yang hendak Adipati sampaikan?" ujar Nyi Larasati.
"Kalau boleh, saya hanya mau bicara empat mata dengan Nyi Lara." .
Janda Adipati Temanggung itu agak tercengang mendengar ucapan tamunya. Sebaliknya Ki Sarwo
Ladoyo kembali tersinggung karena dirinya lagi-lagi dianggap sepi. Orang hanya mau bicara kalau dia
tidak ada di tempat itu.
"Adipati," kata Nyi Larasati pula. "Ki Sarwo Ladoyo telah puluhan tahun mengabdi di Kadipaten
Temanggung. Saya menganggapnya sebagai ayah sendiri. Tak ada rahasia yang perlu disembunyikan.
Adipati tidak perlu meragukan kepercayaan atas dirinya."
"Bagi saya ini bukan menyangkut kepercayaan. Jika saat ini Nyi Lara tidak berkenan bicara empat
mata dengan saya, saya sanggup menunggu. Lain waktu saya akan kembali ke sini."
Nyi Lara memandang pada Ki Sarwo. Yang dipandang tetap berdiri tenang. Janda Adipati Jalapergola
itu kemudian berpaling pada tamunya. Dia sudah banyak mendengar sifat Adipati yang disebut Adipati

Urakan ini. "Saat ini saya kurang enak badan. Jika Adipati tidak bersedia bicara tidak jadi apa. Tapi saya
tidak menjanjikan apakah nanti saya masih punya kesempatan untuk menemui Adipati."
Ki Sarwo Ladoyo menyambungi ucapan Nyi Larasati. "Nyi Lara, sebaiknya mari saya antar masuk ke
dalam. Saya tidak ingin dalam masa berkabung ini Nyi Lara sampai jatuh sakit pula..."
Merasa terpojok, Adipati Salatiga itu menjadi geram. Rahangnya menggembung, pelipisnya bergerak-
gerak. "Sebagai tamu memang seharusnya saya menghormati kemauan tuan rumah. Baiklah, tak jadi apa
saya bicara di hadapan Ki Sarwo. Mungkin ada baiknya ada pihak ke tiga yang mendengar dan
menyaksikan pembicaraan ini. Nyi Lara, saya datang untuk memberi tahu bahwa saya ingin meminang Nyi
Lara. Karena ini permintaan baik, saya harap Nyi Lara tidak menolak. Sesuatu yang baik seyogyanya
dilaksanakan secepat mungkin."
* * *

DUA

KESUNYIAN yang tidak enak menyelimuti ruangan besar di mana ke tiga orang itu berada. Baik Ki Sarwo,
apa lagi Nyi Lara tidak menyangka kedatangan Adipati Salatiga itu adalah untuk melamar. Siapa yang
akan mengira, Adipati berusia empat puluh tahun yang telah punya dua istri itu datang untuk meminang.
Rasa tidak enak menyamaki diri Nyi Lara. Ini kali ke tiga ada lelaki ingin melamarnya. Padahal suaminya
berpulang masih belum empat puluh hari. Dua orang terdahulu yang mengajukan lamaran walau adalah
dua pemuda yang belum beristri itupun sudah dianggap keterlaluan. Kini Adipati Salatiga ini lebih gila lagi.
Bukan saja melamar di saat orang masih berkabung tapi bahkan dirinya sudah punya dua istri!
"Ki Sarwo. Saya percayakan Ki Sarwo untuk menjawab maksud Adipati Salatiga ini."
Mendengar ucapan Nyi Lara, Jatilegowo cepat memotong.
"Saya berurusan langsung dengan Nyi Lara, mengapa Nyi Lara mempergunakan orang lain untuk
menjawab? Saya tidak melamar orang tua ini!"
Ki Sarwo Ladoyo untuk kedua kalinya berubah wajahnya.
Karena orang keliwat memaksa, Nyi Lara menjadi tidak senang. "Jawaban Ki Sarwo adalah sama
dengan jawaban saya pribadi. Jika Adipati tidak sudi mendengar, saya tidak memaksa."
Untuk kedua kalinya Adipati Jatilegowo dipojokkan. Dengan geram dia berkata. "Orang tua, baiklah!
Aku ingin mendengar apa jawaban Nyi Lara yang disampaikan lewat mulutmu!"
Ki Sarwo memandang dulu pada Nyi Lara. Setelah janda muda ini anggukkan kepala memberi
isyarat, si orang tua lalu berkata. "Nyi Lara merasa mendapat kehormatan dengan maksud baik Adipati
hendak meminangnya. Namun jangan Adipati berprasangka keliru. Saat ini Nyi Lara masih dalam suasana
berkabung. Mendiang Adipati Jalapergola belum empat puluh hari berpulang. Selain itu belum terniat
dalam hati Nyi Lara untuk mencari pengganti almarhum Adipati Jalapergola."
Tanpa berpaling pada Ki Sarwo, Adipati Salatiga berkata. "Nyi Lara, saya mengerti sekali semua
jawaban yang Nyi Lara sampaikan. Bagi saya sudah jelas bahwa setelah empat puluh hari nanti, Nyi Lara
akan bersedia untuk bersanding dengan saya di pelaminan."
Terkejutlah Nyi Lara mendengar kata-kata Jatilegowo itu. Dia memandang pada Ki Sarwo. Orang tua
ini cepat berucap. "Adipati, jangan salah menafsir. Bukan berarti setelah empat puluh hari Nyi Lara akan
bersedia menerima pinangan Adipati. Entah sampai kapan. Nyi Lara belum terpikir untuk mencari
pengganti suaminya. Sebelumnya telah dua orang mengajukan pinangan. Raden Tambak Suryo, putera
bangsawan Ki Harto Jembangan. Lalu Raden Prameswara, cucu Pangeran Alit. Dua-duanya ditolak.
Kemudian mungkin Adipati telah mendengar apa yang telah terjadi dengan dua pemuda itu. Mereka
menemui kematian. Raden Tambak Suryo dibunuh di tepi jurang. Kepalanya terbelah. Raden Prameswara
mati gantung diri..."
"Orang tua! Kau jangan menakut-nakuti diriku!" Tiba-tiba Adipati Jatilegowo membentak.
"Menakut-nakuti bagaimana maksud Adipati?" tanya Ki Sarwo Ladoyo.
"Tua bangka licik! Kau sengaja menceritakan kematian dua pemuda yang melamar Nyi Lara.
Bukankah kau hendak memberi kesan jika aku berani mengajukan lamaran, aku kelak akan menemui ajal
pula? Mati dibunuh orang!"
"Adipati," kata Ki Sarwo. "Soal ajal seseorang adalah urusannya Gusti Allah. Kalau manusia bisa
menghindar, mengapa tidak berusaha?"
"Hemm... begitu?" ujar Jatilegowo. "Aku sekarang jadi punya dugaan jangan-jangan dua pemuda itu
jadi korban orang-orang Kadipaten Temanggung yang tidak ingin melihat Nyi Lara mencari pengganti
mendiang Adipati Jalapergola. Orang tua, aku akan menyelidiki kematian dua pemuda itu. Aku berharap
kau tidak terlibat. Tapi jika nanti memang ketahuan kau yang punya pekerjaan, aku akan melapor ke
Kotaraja. Atau mungkin juga aku akan menempuh jalan pintas. Mematahkan batang lehermu dengan
tanganku sendiri!"
Walau ucapan Jatilegowo merupakan tuduhan yang sangat menyinggung perasaan, namun Ki Sarwo
Ladoyo sunggingkan seringai dan berkata. "Adipati, waktumu sudah habis. Nyi Lara ingin segera masuk
untuk istirahat. Jawab dari maksudmu sudah jelas. Nyi Lara belum memikirkan soal perkawinan..."
"Nyi Lara, aku berharap kau mempertimbangkan kembali pinanganku. Hari ini aku datang secara
baik-baik. Jika aku kembali lagi aku ingin tetap secara baik-baik. Tapi jika lamaranku sampai ditolak,
jangan salahkan diriku jika aku melakukan hal-hal yang tidak baik. Aku punya banyak kawan di Kotaraja.
Mereka mendukung penggabungan Kadipaten Salatiga dan Kadipaten Temanggung di mana aku kelak
akan menjadi Adipatinya." Jatilegowo untuk pertama kalinya berpaling pada Ki Sarwo dan menuding
dengan telunjuk kirinya. "Orang tua, aku punya dugaan kuat. Kau berada di balik kematian dua pemuda
yang melamar Nyi Lara! Cepat atau lambat aku akan membuktikan!" Adipati Salatiga itu memandang pada

Nyi Lara dan berkata. "Saya akan kembali ke sini setelah empat puluh hari perkabungan..."
"Adipati," Nyi Larasati yang sejak tadi berdiam diri karena tidak tahan akhirnya berkata. "Saya tidak
mengharapkan kedatangan Adipati. Setelah empat puluh hari ataupun setelah seratus atau dua ratus hari.
Saya tidak menginginkan lagi pertemuan dengan Adipati, kapan atau di manapun. Saya ingin menegaskan
ucapan Ki Sarwo. Saya tidak bisa menerima pinangan Adipati..."
"Apa karena saya sudah punya dua istri hingga Nyi Lara menolak?"
"Bukan, bukan karena itu. Saya hanya belum terpikir untuk menikah lagi..."
"Ketika Adipati Jalapergola berpulang usianya hampir enam puluh tahun. Jauh lebih tua dari saya
yang baru tiga puluh tahun. Di usia saya yang lebih muda, dengan kedudukan yang akan menjulang tinggi,
saya bisa memberikan kebahagiaan tak terhingga pada Nyi Lara."
Nyi Lara menggeleng. "Kebahagiaan tidak selamanya terletak pada usia, harta atau pangkat tinggi.
Malah usia yang terlalu belia terkadang membawa bencana karena cupak dangkalnya jalan pikiran."
Jatilegowo menyeringai. Tampangnya mengelam mendengar ucapan Nyi Larasati. "Nyi Lara,"
katanya, "saya hanya memperingatkan. Mudah-mudahan Nyi Lara mau memikirkan kembali niat baik
saya. Jika Nyi Lara berani menolak, saya tidak segan-segan untuk menjadikan gedung Kadipaten ini sama
rata dengan tanah. Semua orang yang berani menentang maksud saya akan menemui ajal secara
mengenaskan!" Habis berkata begitu dengan tubuh bergetar karena menahan geram, Jatilegowo
hunjamkan tumit kirinya.
"Braakkk!"
Lantai batu pualam hancur berantakan, melesak membentuk lobang besar sedalam satu jengkal!
Nyi Larasati menjerit kaget. Ki Sarwo Ladoyo berteriak marah. "Adipati Jatilegowo! Apa yang kau
lakukan?! Beraninya kau merusak bangunan Kadipaten!"
"Orang tua! Masih untung lantai ini yang kubuat berlobang! Bukan batok kepalamu!" tukas Adipati
Jatilegowo seraya keluarkan suara mendengus.
Ki Sarwo melangkah ke hadapan Adipati Salatiga itu. Sambil menunjuk ke arah pintu dia membentak.
"Keluar! Jangan berani lagi menginjakkan kaki di tempat ini!"
Jatilegowo tertawa bergelak. "Orang tua, aku sudah lama mendengar nama besarmu yang konon
dijuluki Pendekar Badai Pesisir Selatan. Kurasa sekarang saatnya yang tepat untuk menjajal
kehebatanmu!"
"Kau membeli aku menjual! Siapa takut!" Ki Sarwo Ladoyo keluarkan ucapan keren. Sekali berkelebat
tubuhnya berubah menjadi bayangan putih, melesat ke luar pintu ruangan. Di lain kejap sosoknya sudah
berada di halaman depan gedung Kadipaten, tegak kaki merenggang dua tangan dirangkap di atas dada.
Adipati Urakan Jatilegowo tak mau kalah. Dua kakinya digerakkan. Saat itu juga laksana terbang
tubuhnya menghambur ke halaman gedung Kadipaten. Ketika hendak melayang turun dia tidak langsung
jatuhkan diri di tanah tapi kaki kanannya sengaja dihunjamkan ke kepala Ki Sarwo Ladoyo. Orang tua ini
yang sudah berlaku waspada cepat miringkan kepala. Dua kaki tetap tak bergerak menjejak tanah tapi
tangan kanan menyambar ke atas.
"Wuutt!"
Kalau tidak cepat Jatilegowo mengibaskan kakinya menghindari pukulan, kaki kanan itu pasti akan
remuk dimakan pukulan Ki Sarwo Ladoyo.,
Sambil tertawa bergelak Adipati Urakan dari Salatiga itu tegak berkacak pinggang. "Orang tua, aku
yang muda ingin menjajal sampai di mana kehebatan pukulan Badai Pesisir Selatan. Aku siap menerima
pukulan!" Tangan yang berkacak pinggang perlahan-lahan diturunkan ke samping.
"Manusia sombong takabur! Kau meminta aku memberi!"
Ki Sarwo Ladoyo palangkan dua lengan di depan dada, membuat dua kali gerakan sambil kerahkan
tenaga dalam. Saat itu juga seolah turun dari langit, menggelegar suara angin membadai, berputar
laksana gasing, terlihat oleh mata menyusup masuk ke dalam tangan kanan Ki Sarwo yang telah
membentuk kepalan. Ketika kepalan itu dipukulkan ke arah Adipati Salatiga, suara menderu dahsyat
melabrak ganas. Tubuh Jatilegowo bergetar lalu bergoyang keras, tapi dua kakinya masih tetap menjejak
tanah.
Ki Sarwo terkesiap melihat kejadian itu. Selama ini jika musuh dihantam demikian rupa pasti akan
mencelat mental dengan sekujur tubuh hancur memar. Tapi Jatilegowo masih sanggup bertahan, bahkan
dua kakinya tidak bergerak dari tanah yang dipijaknya. Mulut Ki Sarwo berkomat-kamit. Tenaga dalam
dialirkan penuh ke tangan kanan. Untuk ke dua kalinya dia menghantam.
"Byuurrr!"
Gelombang angin badai melabrak. Jatilegowo bertahan sambil melintangkan dua telapak tangan di
depan dada menyambuti pukulan Badai Pesisir Selatan yang kali ini memang bukan olah-olah
dahsyatnya. Dia kerahkan tenaga dalam. Tak urung dua kakinya terangkat ke atas. Ini membuat
Jatilegowo terkejut, cepat dia kerahkan seluruh tenaga dalam lain dorongkan dua tangan ke depan. Inilah
pukulan yang disebut Dua Gunung Meroboh Langit.

Dua pukulan sakti mengandung tenaga dalam tinggi beradu dahsyat. Ki Sarwo terpental, jatuh
terbanting dan tergeletak di tangga gedung Kadipaten. Blangkonnya mencelat mental entah ke mana.
Rambutnya yang putih kelihatan berjingkrak kaku. Dari sela-sela rambut mengepul asap tipis. Ki Sarwo
mencoba bangkit. Baru setengah tegak dia muntahkan darah segar. Orang tua ini cepat jatuhkan diri,
duduk bersila. Atur jalan nafas dan peredaran darah. Di kejauhan dia mendengar suara gelak Jatilegowo.
Adipati ini melompat ke atas kudanya, tinggalkan halaman Kadipaten diikuti tiga orang pengawal. Dadanya
terasa sesak. Dia memang masih bisa tertawa tapi di sela bibirnya ada darah kental menetes. Dua
lengannya mendadak bengkok dan kaku. Belum sampai dua puluh tombak memacu kuda dia terbatuk-
batuk, semburkan darah segar, pemandangannya gelap, tubuhnya rebah ke atas punggung kuda.
Pingsan! Kalau tidak lekas ditolong oleh para pengawal, tubuhnya akan roboh terbanting ke tanah.
* * *

TIGA

BERPERAHU di Kali Tuntang memang nyaman. Selain air kali tenang, sejuk jernih, pemandangan di kiri
kanan kali juga indah. Siang itu mentari sering tersembunyi di balik gumpalan awan tebal hingga udara
tidak terasa panas. Di atas air kali yang tenang, meluncur sebuah perahu. Penumpangnya seorang lelaki
separuh baya berkumis lebat, duduk di bagian belakang perahu, bertindak sebagai pendayung merangkap
juru kemudi. Di depan si kumis ini duduk perempuan berbaju kembang-kembang. Dia adalah pelayan yang
saat itu tengah mengipas bara api pembakar ikan segar di atas sebuah pembakaran besar yang
diletakkan di lantai perahu. Harumnya daging yang dipanggang menyebar ke mana-mana. Tiga bungkus
nasi dengan lalapan dan sambal siap disantap, tinggal menunggu matangnya ikan yang sedang
dipanggang. Di bagian depan perahu duduk seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh tiga
tahun, berwajah cantik jelita, murah senyum, mengenakan pakaian jingga. Rambut kecoklatan diikat
dengan sehelai setangan di atas kepala hingga wajahnya yang bujur telur terlihat mulus menawan. Sambil
menikmati pemandangan indah di kiri kanan Kali Tuntang, mulutnya yang mungil perlahan-lahan
menyanyikan sebuah tembang. Dari pancaran wajahnya jelas perempuan ini benar-benar menikmati
semua keindahan yang ada di sepanjang kali yang dilewati. Jarang-jarang dia berada dalam keadaan
seperti ini. Karena itu dia benar-benar ingin memuaskan hati.
"Paman Rejo, saya ingin kita mampir dulu di Telaga Pening. Pemandangannya indah, ikannya besar-
besar..."
Lelaki berkumis di bagian belakang perahu tersenyum. "Jeng Ayu Kemuning, Paman mau-mau saja
mengikuti keinginan Jeng Ayu, tapi khawatir kita kemalaman. Kalau Adipati Jatilegowo lebih dulu kembali
ke Kadipaten, Paman dan Bi Suti bisa kena damprat habis-habisan. Jeng Ayu tahu sendiri kalau Adipati
sudah marah. Tangan dan kaki bisa melayang ke mana-mana."
Perempuan muda bernama Sri Kemuning tersenyum. "Adipati tidak akan pulang malam ini. Paling
cepat besok pagi. Dia ada urusan besar di Temanggung."
"Paman tahu kalau Adipati ke Temanggung. Tapi tidak tahu urusannya. Mungkin Jeng Ayu
mengetahui. Ah, lupakan ucapan Paman. Tidak sepantasnya Paman mau tahu urasan Adipati, suami Jeng
Ayu."
"Tidak apa-apa. Saya tahu mengapa dia ke Temanggung. Saya suka kalau Paman Rejo dan Bi Supi
mengetahui. Urusan Adipati Jatilegowo ke Temanggung adalah untuk melamar janda Adipati Temanggung
yang konon kabarnya cantik sekali. Bernama Larasati."
Paman Rejo dan Bi Supi sama-sama terkejut mendengar kata-kata Sri Kemuning.
"Adipati mau kawin lagi? Paman hampir tak bisa percaya mendengar ucapan Jeng Ayu," kata Rejo
sambil memandang pada Bi Supi.
"Memang, siapa yang bisa percaya. Adipati sudah punya dua istri. Masih mencari istri lagi. Istri ketiga.
Nanti kalau masih tidak puas cari lagi istri ke empat, ke lima. Bisa-bisa sampai sepuluh. Dasar mata
keranjang. Itu sebabnya setiap dia tidak ada, saya ingin bersenang-senang. Di gedung Kadipaten walau
semuanya tersedia dan serba mewah, namun hati rasanya tertekan. Nasib saya punya suami Adipati, tapi
Adipati galak dan mata keranjang! Beberapa kali saya coba kabur dari gedung Kadipaten, tapi para
pengawal selalu menemukan saya dan membawa saya kembali ke Kadipaten. Kalau sudah begitu
tempelengan datang seperli hujan. Padahal kalau Adipati membunuh saya, rasanya saya lebih suka.
Kalau sudah mati, bebas sudah dari semua kepahitan hidup ini."
"Jeng Ayu," kata Bi Supi. "Tidak baik menyesali nasib. Semua itu sudah takdir dari Gusti Allah. Saat
ini Jeng Ayu bernasib seperti ini, siapa tahu lain hari ada perubahan."
"Ya... ya... ya. Takdir. Mungkin begitu," kata Sri Kemuning. "Tapi selama saya jadi istri Adipati
Jatilegowo rasanya nasib saya tidak akan pernah berubah."
Sunyi sebentar.
"Bi Supi, perut saya sudah lapar. Ikannya sudah matang?" Sri Kemuning bertanya.
"Siap untuk disantap Jeng. Saya ambilkan nasi, lalap dan sambalnya. Kita makan di atas perahu atau
turun ke darat?"
"Rasanya lebih sedap makan di atas perahu saja," jawab Sri Kemuning.
Ketiga orang itu lalu membuka bungkusan nasi masing-masing. Belum sempat mereka menyuap,
tiba-tiba di sekeliling perahu yang meluncur perlahan mengikuti arus air kali yang tenang itu bermunculan
empat kepala. Empat wajah ganas basah kuyup menyeringai. Empat golok angker berkilat ikut
menyembul.
Bi Supi menjerit kesakitan. Sri Kemuning menutup mulut menahan pekik sedang Paman Rejo
terkesiap kaget. Jangan-jangan empat orang itu adalah gerombolan penjahat.

"Siapa kalian?!" bentak Paman Rejo sambil melintangkan kayu pendayung di depan dada. Matanya
melirik pada sebilah golok besar yang ada di lantai perahu di ujung kakinya.
"Siapa kami?!" orang di samping perahu sebelah kanan menyeringai. Seperti kawan-kawannya orang
ini berambut gondrong, wajah tertutup kumis dan cambang bawuk basah. "Kawan-kawan! Apakah kita
perlu menerangkan siapa kita?! Ha... ha... ha!"
Empat orang itu tertawa bergelak.
Orang yang muncul di bagian depan perahu memandang mendelik pada Sri Kemuning lalu berseru.
"Kawan-kawan! Rejeki kita besar sekali hari ini. Lihat, ada gadis cantik jelita duduk di depan perahu!"
Orang yang berseru tidak mengetahui dan menyangka bahwa Sri Kemuning masih seorang gadis.
Mendengar seruan itu, tiga orang lainnya yang berada di bagian belakang dan samping kiri kanan segera
bergerak ke bagian depan perahu.
"Ah..." Ketiganya sama keluarkan suara berdecak kagum. Salah seorang di antaranya bermata belok
dan menjadi pimpinan berkata. "Wajah cantik, kulit mulus. Dandanan kalung, gelang, giwang dan cincin
emas! Lengkap sudah! Aku akan mengambil bagianku lebih dulu! Kalian boleh antri menunggu!" Habis
bicara si mata belok lalu perintahkan temannya mendorong perahu ke pinggir kali.
"Tunggu! Kalian siapa?! Kalian mau berbuat apa?!" Dari belakang perahu Rejo berteriak sambil
berdiri. Sebilah golok tergenggam di tangan kanannya.
"Bangsat goblok! Berani cari penyakit!" Orang bermuka burik berteriak marah lalu babatkan goloknya
ke kaki Rejo. Lupa kalau dirinya berada di atas perahu, Rejo melompat selamatkan kaki. Akibatnya perahu
bergoyang keras. Di udara Rejo kehilangan keseimbangan. Masih untung dia jatuh melintang di badan
perahu, tidak kecebur ke dalam kali. Saat itu si muka burik kembali ayunkan goloknya. Entah mengapa dia
tidak membabat, tapi pergunakan gagang golok untuk memukul kening Rejo. Orang ini langsung pingsan
dengan kening robek mengucurkan darah. Bi Supi dalam puncak ketakutannya terkulai di lantai perahu,
ikutan pingsan. Tinggal Sri Kemuning sendirian. Istri Adipati Salatiga ini menjerit ketakutan.
"Aku istri Adipati Jatilegowo dari Salatiga! Jika kalian berani berbuat jahat terhadapku kepala kalian
berempat akan dipancung!"
Empat orang yang tengah mendorong perahu ke pinggir kali jadi saling pandang, sama terkejut
mendengar teriakan Sri Kemuning. Di antara mereka ada yang tidak percaya. Si mata belok yang jadi
pimpinan kemudian malah tertawa bergelak. "Kalau kau memang istri Adipati Salatiga, kami akan
mendapat untung berlipat ganda. Kami akah bersenang-senang dulu dengan dirimu lalu minta tebusan
uang pada suamimu!" Si mata belok usap betis Sri Kemuning. Perempuan ini mengelak, coba menendang
kepala orang dengan kakinya tapi meleset.
Perahu akhirnya sampai ke pinggir kali. Si mata belok naik ke atas perahu, tiga temannya memegangi
perahu agar tidak goyang.
"Jangan sentuh! Pergi!" teriak Sri Kemuning.
Si mata belok keluarkan suara berdecak berulang kali, mata memandang Sri Kemuning dari kepala
sampai ke kaki seperti mau menelanjangi, dia geleng-gelengkan kepala tanda kagum. Tiba-tiba dia
menyergap. Sri Kemuning tenggelam dalam rangkulannya. Puas menciumi perempuan itu dia melompat
ke daratan sambil memanggul Sri Kemuning. Di pinggir kali saat itu berdiri seorang pemuda berpakaian
putih, tertawa lebar ketika melihat si mata belok melangkah ke arahnya sambil membopong Sri Kemuning.
Melihat pemuda itu timbul harapan dalam diri Sri Kemuning karena menyangka dirinya akan mendapat
pertolongan. Tapi dia jadi lemas ketika mendengar ucapan si pemuda.
"Sobat mata belok, aku sudah lama menunggu di sini! Si cantik itu tentu hendak kau serahkan
padaku! Kalau aku sudah puas nanti kuberikan padamu!"
"Ya Tuhan, pemuda itu rupanya pimpinan empat orang jahat ini!" kata Sri Kemuning dalam hati.
Namun dia jadi heran ketika mendengar penjahat yang membopongnya membentak garang.
"Bangsat gondrong! Siapa kau!"
Tiga kawan si mata belok yang masih berada dalam kali serta merta melesat ke daratan sambil
menghunus golok.
"Kawasan Kali Tuntang adalah wilayah kekuasaanku! Apa salah kalau aku meminta agar kalian
menyerahkan si cantik jelita itu padaku? Seharusnya aku menggebuk kalian karena berani berbuat
kejahatan tanpa sepengetahuanku!" Pemuda itu menyeringai, basahi bibir dengan ujung lidah lalu ulurkan
dua tangan seolah siap menerima tubuh Sri Kemuning.
"Burik! Bunuh pemuda gila ini!" teriak si mata belok.
"Akan kucincang!" teriak penjahat yang mukanya penuh dengan bercak-bercak hitam. Golok di
tangan Si Burik membabat deras ke arah dua tangan si pemuda yang terulur.
Laksana kilat dua tangan yang hendak dibabat putus ditarik lalu kaki kanan si pemuda bergerak.
"Bukkk!"
Satu tendangan mendarat telak ke perut Si Burik. Tak ampun penjahat ini mencelat mental lalu jatuh
kecebur ke dalam air. Sesaat kelihatan dia megap-megap sambil berusaha berenang ke pinggir kali,

namun sosoknya kemudian tenggelam tak muncul lagi! Tiga penjahat mendelik kaget, tidak mengira
pemuda yang disangka berotak miring itu ternyata punya ilmu silat tinggi.
Sambil menyeringai si pemuda kembali ulurkan dua tangannya ke arah si mata belok.
"Mata belok, kau masih belum mau menyerahkan si cantik itu padaku! Tunggu apa lagi?"
"Jahanam kurang ajar!" Si belok totok urat besar di pangkal leher Sri Kemuning. Tubuh Sri Kemuning
yang kini menjadi kaku tak bisa bergerak itu, diturunkan lalu disandarkan ke sebatang pohon. Si belok
mencabut goloknya. Mata beloknya berkilat mencorong mengerikan.
"Pemuda edan! Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa! Aku Suto Menggolo! Akulah penguasa Kali
Tuntang mulai dari hulu sampai ke hilir! Siapa berani berlaku kurang ajar, nyawa imbalannya!"
Suto Menggolo kepala penjahat itu memberi tanda pada dua temannya. Tiga orang penjahat yang
memang sudah sejak lama malang melintang di sepanjang Kali Tuntang itu segera menyerbu. Tiga golok
berkelebat ganas di udara mencari sasaran di kepala, dada dan pinggang si pemuda.
Pemuda yang diserang keluarkan suitan keras. Tubuh menghuyung, kepala merunduk. Golok
pertama lewat berdesing sejari di atas rambutnya. Golok kedua yang membabat ke dada juga tak
mengenai sasaran karena dengan membuat satu gerakan aneh si pemuda berhasil selamatkan diri. Golok
ketiga menyambar ke pinggang, tak sempat mencapai sasaran karena lengan si penyerang keburu
dimakan tendangan kaki kanan.
"Kraaak!" Tulang lengan patah. Golok mental ke udara. Si pemuda melompat menyambar golok
seraya kakinya sekali lagi bekerja menendang dada orang hingga menyusul kawannya, terlempar kecebur
masuk ke dalam kali.
Suto Manggolo dan anak buahnya yang tinggal satu heran dan kecut melihat apa yang terjadi. Tidak
masuk di akal, mereka yang sudah punya segudang pengalaman bisa dibuat tak berdaya dengan
beberapa gebrakan saja oleh seorang pemuda tak dikenal. Suto Menggolo tidak mau cari penyakit. Jelas
pemuda itu seorang pendekar dari rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi. Dari pada babak
belur hancur-hancuran lebih baik pergunakan akal.
"Orang muda, kalau kau inginkan istri Adipati itu silahkan ambil! Aku hanya akan mengambil
perhiasannya!" Suto Menggolo bergerak ke pohon besar di mana Sri Kemuning tadi disandarkannya
dalam keadaan tertotok.
"Mana bisa begitu! Aku justru inginkan ke dua-duanya. Si cantik berikut perhiasannya! Kau boleh
mengambil kentutnya saja! Ha... ha... ha!"
Mendengar ucapan si pemuda menggelegaklah amarah Suto Menggolo. Rasa kecutnya lenyap.
Darah naik ke kepala. Mata membeliak tambah besar. Golok di tangan kanan bersuit di udara, lenyap
berubah menjadi kilatan maut, menyambar ke arah tenggorokan si pemuda. Dari samping anak buah Suto
Menggolo ikut menggebrak. Dua golok besar bertabur di udara. Rupanya pimpinan dan anak buah
penjahat Kali Tuntang ini sengaja keluarkan jurus-jurus maut mereka. Mau tak mau pemuda yang jadi
bulan-bulanan serangan harus berlaku hati-hati. Dua jurus terdesak hebat. Jurus ke tiga dia mulai
membuka serangan. Gerakannya aneh, seperti sempoyongan, seperti orang mabok, terkadang
mendorong lawan seenaknya. Lalu tertawa-tawa seperti orang kerasukan. Merasa dipermainkan, dua
orang penjahat kertakkan rahang, memperhebat serangan mereka. Tapi sampai tubuh mereka mandi
keringat, tak satupun serangan mereka mampu mengenai lawan. Gagang golok terasa licin oleh basahan
keringat. Kalau diteruskan senjata itu bisa-bisa terlepas dari genggaman.
"Cukup!" tiba-tiba di jurus ke dua belas si pemuda berteriak. Tubuhnya melesat ke depan. Tangan
kanannya berputar seperti titiran. Itulah jurus yang dinamakan "Kincir Padi Berputar".
"Plaakk!"
Anak buah Suto Menggolo menjerit keras ketika mukanya dilabrak tamparan keras yang membuat
mulutnya kucurkan darah. Tiga buah gigi rontok!
Belum lepas jerit kesakitan keluar dari mulutnya, satu sodokan siku menghantam rusuknya.
"Kraaakk!" Dua tulang iga patah. Penjahat itu megap-megap sempoyongan lalu jatuh terkapar
mengerang menggeliat-geliat.
Tinggal sendirian Suto Menggolo putus nyalinya. Kepala rampok itu tak ingat lagi muka cantik, tubuh
mulus dan perhiasan yang melekat di tubuh Sri Kemuning. Dia cepat memutar tubuh siap melarikan diri,
namun lawan tak memberi kesempatan. Sebelum penjahat Kali Tuntang itu merat, tulang tunggirnya
keburu dimakan tendangan. Suto Menggolo menjerit keras. Tubuhnya mencelat, tersungkur di tebing kali.
Dia coba bangkit berdiri tapi pemandangannya gelap. Dia tak bisa melihat apa-apa. Selain itu dua kakinya
mendadak lumpuh. Suto Menggolo melosoh di tanah, mengerang tak berkeputusan.
Si pemuda melangkah ke pohon besar. Sepasang mata Sri Kemuning membeliak ketakutan. Walau
totokan Suto Menggolo membuat tubuhnya kaku tapi jalan suaranya masih terbuka. Istri Adipati Salatiga
ini keluarkan suara keras.
"Jangan berani berlaku kurang ajar padaku! Aku istri Adipati Salatiga!"
Si pemuda sesaat hentikan langkah, pandangi wajah cantik jelita itu lalu tertawa lebar. "Kau begini

muda, cantik rupawan. Tadinya aku mengira kau masih seorang gadis remaja. Bunga indah di tengah
belantara. Tidak tahunya sudah jadi istri orang. Beruntung sekali Adipati Salatiga punya istri secantik ini!
Tapi mengapa dia kurang perhatian membiarkan istri cantik jelita berkeliaran seorang diri!"
"Berkeliaran! Memangnya aku kerbau atau sapi!" Sri Kemuning membentak.
Si pemuda tertawa tergelak-gelak. "Aku orang desa," katanya. "Jadi tidak tahu mempergunakan
bahasa yang baik!" Pemuda itu mendekat, ulurkan tangannya.
"Kau mau berbuat apa! Jangan berani menyentuh tubuhku!"
Si pemuda masih tertawa-tawa.
"Aku cuma mau melepaskan totokan di tubuhmu," katanya.
"Alasan! Awas! Jangan tanganmu berani menyentuh tubuhku!"
Si pemuda garuk-garuk kepala. "Kalau kau tidak mau kusentuh dengan tangan, baiklah. Aku akan
pergunakan cara lain untuk membuka totokan di lehermu. Cara ini mungkin lebih kau suka!"
Lalu tidak terduga, tiba-tiba si pemuda rundukkan kepalanya. Mulutnya mengecup urat besar di
pangkal leher Sri Kemuning di bagian mana Suto Menggolo tadi menotoknya. Begitu totokan yang
membuat sekujur tubuhnya punah, Sri Kemuning meraba lehernya. Ada rasa aneh menjalari sekujur
auratnya, yang selama ini tidak pernah dirasakannya. Dia seolah terkesiap dalam satu kenikmatan.
Namun begitu sadarkan diri, Sri Kemuning berteriak marah, wajahnya bersemu merah. Dia pukulkan dua
tangannya ke dada si pemuda.
"Pemuda kurang ajar! Aku...!" Sri Kemuning kembali hendak memukul. Namun dua lengannya cepat
dicekal oleh si pemuda.
"Tunggu! Apa aku salah?! Aku cuma menuruti kemauanmu!" kata si pemuda. "Kau bilang tidak boleh
menyentuh tubuhmu dengan tanganku! Apa aku salah kalau menyentuhmu dengan bibirku?!"
"Kurang ajar! Lepaskan tanganku!"
Si pemuda tersenyum dan lepaskan pegangannya pada dua tangan Sri Kemuning.
"Nah, sudah kulepaskan. Sekarang apa lagi? Mau bibir lagi?!"
"Manusia kurang ajar! Sinting! Aku akan laporkan perbuatan kurang ajarmu pada Adipati!"
"Aku senang kalau sampai di penjara. Asal penjaraku di Kadipaten berdampingan dengan kamar
tidurmu dan ada pintu rahasianya! Ha... ha... ha! Selamat tinggal orang cantik!"
"Pemuda sinting! Jangan berani melarikan diri!"
Si pemuda garuk-garuk kepala. Saat itu Rejo dan Bi Supi telah sadar dari pingsan mereka, dengan
susah payah keduanya turun dari perahu, naik ke tebing kali. Rejo melangkah sambil pegangi kepalanya
yang luka. Bi Supi berjalan terbungkuk-bungkuk. Keduanya sampai di tempat di mana Sri Kemuning
berada bersama seorang pemuda.
"Jeng Kemuning, siapa pemuda itu? Apa yang terjadi di tempat ini?" Rejo memandang berkeliling.
Pikirannya masih belum jernih.
"Ah, ini suamimu?" Si pemuda tiba-tiba bertanya.
"Edan! Enak saja asal bicara!" hardik Sri Kemuning. "Orang ini adalah pembantu kepercayaanku!"
"Oo... Maaf, aku kira dia Adipati Salatiga suamimu," ujar si pemuda sambil senyum-senyum dan
garuk-garuk kepala. "Sekarang kau sudah aman. Ada dua pembantu menemanimu. Lekas pulang,
sebentar lagi matahari akan tenggelam. Dan ingat, lain kali jangan suka berkeliaran ke mana-mana..."
"Kurang ajar! Aku bukan sapi! Bukan kerbau!" teriak Sri Kemuning.
"Aku tahu, aku tahu!" jawab pemuda itu lalu kedipkan mata, lambaikan tangan dan tinggalkan tempat
itu.
"Jeng Ayu Sri Kemuning, siapa pemuda itu? Kembali Rejo bertanya.
"Saya tidak tahu, Paman. Semula saya sangka dia pimpinan empat penjahat di kali tadi. Ternyata
tidak..." Lalu Sri Kemuning menuturkan apa yang terjadi sewaktu Rejo dan Bi Supi masih pingsan di atas
perahu.
"Jeng Ayu, jika benar pemuda itu telah menolong Jeng Ayu, seharusnya Jeng Ayu tidak bersikap
kasar padanya..."
"Tapi dia..." Sri Kemuning tidak meneruskan ucapannya. Tangan kanannya berulang kali
dipergunakan mengelus pangkal leher yang tadi dikecup si pemuda sewaktu melepaskan totokan.
"Sayang, kita tidak tahu siapa adanya pemuda itu. Tidak tahu namanya..." Rejo berkata dan kembali
pegangi keningnya yang luka dan benjut. Dia terdiam sebentar. Lalu berkata lagi. "Paman ingat sesuatu.
Sekilas tadi ketika dada bajunya tersingkap Paman lihat ada jarahan tiga angka di dadanya..."
"Angka apa Paman?" tanya Sri Kemuning.
"Angka 212," jawab Rejo.
"Angka 212? Apa artinya itu?"
"Paman tidak tahu artinya. Paman cuma tahu, pendekar dengan angka pengenal 212 itu adalah
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng..."
"Wiro Sableng?" ujar Sri Kemuning lalu secercah senyum muncul di bibirnya yang mungil.

"Ya, namanya Wiro Sableng. Di masa lalu, dia dan juga gurunya banyak membantu Kerajaan."
"Wiro Sableng," gumam Sri Kemuning. "Hemm... pantas..." jari-jari tangannya mengelus leher di
bekas kecupan si pemuda.
"Pantas? Pantas apa maksud Jeng Ayu?"
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Sri Kemuning masih mengulum senyum.
Dalam hati Paman Rejo berkata. "Aneh, tadi dia marah besar pada pemuda itu. Sekarang mengapa
senyum-senyum seolah-olah ada rasa suka?"
* * *

EMPAT

SOSOK tua Ki Sarwo Ladoyo terbaring di atas ranjang, dalam sebuah kamar yang terletak jauh di
halaman belakang bangunan Kadipaten Temanggung. Tubuh itu nyaris hampir sama rata dengan
pembaringan. Sejak menderita luka dalam akibat bentrokan kekuatan hawa sakti dengan Jatilegowo
hampir sebulan lalu, orang tua sesepuh Kadipaten Temanggung itu tak pernah lagi meninggalkan tempat
tidur. Sakit yang menyerang dadanya, membuat nafasnya sesak berkepanjangan tak pernah dapat
disembuhkan. Beberapa orang tabib telah didatangkan. Berbagai macam obat telah diberikan namun sakit
Ki Sarwo Ladoyo tidak berkurang, apa lagi disembuhkan. Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. Hanya
sepasang mata orang tua ini yang masih kelihatan tegar, berusaha bertahan hidup dengan sisa-sisa
semangat yang ada.
Seorang pemuda berwajah cakap duduk bersila di samping tempat tidur. Selama Ki Sarwo sakit,
pemuda ini sering menjagainya. Melayani keperluan si orang tua, memberikan obat atau memberikan
minum. Pemuda ini bernama Loh Gatra dan dia adalah cucu tunggal yang sangat disayangi oleh Ki Sarwo
Ladoyo.
Loh Gatra mengusap kening kakeknya. Lalu bertanya. "Kakek Sarwo, apakah kau ingin minum?"
Tak ada jawaban. Lalu mata Ki Sarwo bergerak sedikit ke kiri. Itu sudah cukup sebagai pertanda bagi
Loh Gatra bahwa kakeknya memang ingin minum. Pemuda ini mengambil selembar daun sirih dari atas
sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Daun sirih ditekuk lalu disiram dengan air putih dari dalam
sebuah kendi tanah. Setetes demi setetes air yang ditampung di atas daun sirih itu dimasukkan Loh Gatra
ke mulut kakeknya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Di ambang pintu berdiri Nyi Larasati didampingi seorang pembantu
perempuan. Loh Gatra cepat berdiri, meletakkan daun sirih di atas meja lalu membungkuk hormat. Sesaat
Nyi Larasati menatap ke arah si pemuda. Sebelumnya mereka sudah sering bertemu. Dalam setiap
pertemuan Loh Gatra selalu menunjukkan sikap hormat hingga lambat laun menimbulkan rasa suka di hati
Nyi Larasati terhadap pemuda ini. Apa lagi Loh Gatra adalah cucu tunggal pembantu kepercayaannya.
Nyi Larasati melangkah masuk ke dalam kamar. Pembantu tetap berdiri di ambang pintu. Di tepi
pembaringan janda cantik itu tegak sesaat memandangi wajah dan sosok Ki Sarwo dengan hati sedih
haru.
"Ki Sarwo, harap dimaafkan. Saya terpaksa kembali mengganggu dalam sakitmu. Keadaan gawat."
"Nyi Lara, saya minta diri keluar ruangan. Mungkin Nyi Lara ingin bicara berdua saja dengan Kakek."
Loh Gatra berucap seraya siap melangkah menuju pintu.
"Tidak usah, tetap saja di sini. Lebih baik jika kau juga mengetahui keadaan yang akan saya
bicarakan dengan Kakekmu," kata Nyi Larasati.
"Dengan izin Nyi Lara saya akan tetap berada di sini," kata Loh Gatra seraya membungkuk.
"Nyi Lara..." Ki Sarwo berucap. Suaranya sangat perlahan, hampir-hampir tidak terdengar. Karenanya
Nyi Lara lebih mendekat ke tepi tempat tidur. "Katamu keadaan mulai gawat. Apa yang terjadi?"
"Adipati Jatilegowo. Pagi tadi dia mengirimkan utusan. Memberi tahu sekaligus mengingatkan bahwa
minggu depan tepat empat puluh hari berpulangnya Adipati Jalapergola. Pada hari ke empat puluh satu
dia akan berangkat dari Salatiga untuk menyampaikan pinangan. Dia akan membawa sejumlah besar
pasukan. Jika saya menolak, Kadipaten Temanggung akan ditumpasnya, sama rata dengan tanah."
"Manusia sesat itu..." ujar Ki Sarwo Ladoyo. "Sudah punya istri dua, apa tidak cukup? Nyi Lara, apa
yang bisa saya bantu? Nyi Lara tahu sendiri keadaan saya."
"Saya mohon maaf kalau menyusahkan Ki Sarwo. Saya tidak takut menghadapi ancaman Adipati
Jatilegowo. Tapi saya sangat takut rakyat akan menderita. Minggu lalu saya sudah mengirimkan utusan ke
Kotaraja. Tapi utusan itu tak pernah kembali. Belakangan saya ketahui utusan itu dihadang di tengah jalan
lalu dibunuh."
"Pasti Jatilegowo yang punya pekerjaan!" kata Ki Sarwo.
"Saya juga menduga begitu," jawab Nyi Lara,
"Berarti di gedung Kadipaten ini ada musuh dalam selimut yang memberi tahu pada Jatilegowo apa
yang hendak kita lakukan. Kita harus berhati-hati Nyi Lara. Sangat berhati-hati."
"Ki Sarwo, jika saya menolak Jatilegowo pasti akan melaksanakan niatnya..."
"Nyi Lara, apakah Nyi Lara bermaksud hendak menerima pinangan orang itu?" tanya Ki Sarwo,
Wajah Nyi Lara tampak kemerahan. Dia melirik ke samping ke arah Loh Gatra yang sejak tadi
memandanginya. Ditatap oleh Nyi Lara, si pemuda cepat tundukkan kepala.
"Apapun yang terjadi saya tidak akan menerima pinangan Jatilegowo. Harus ada sesuatu yang bisa
kita lakukan. Itu sebabnya saya datang ke sini. Meminta petunjuk Ki Sarwo."

"Satu minggu lagi. Waktu kita tidak banyak..." Mata cekung Ki Sarwo menerawang menatap langit-
langit kamar.
"Bagaimana kalau saya sendiri yang berangkat ke Kotaraja?" Nyi Lara tiba-tiba bertanya.
"Jangan, terlalu bahaya... Kita harus mencari satu atau dua orang yang bisa menghadapi Jatilegowo
dan menahan maksud gilanya. Tapi siapa?"
"Untuk keselamatan Nyi Lara, saya bersedia mengorbankan jiwa raga..." Mendadak Loh Gatra
keluarkan ucapan.
Nyi Lara berpaling pada pemuda itu. "Terima kasih atas kesetiaanmu Loh Gatra..." kata Nyi Lara dan
dalam hati dia bertanya-tanya apakah pemuda ini sanggup menghadapi Jatilegowo yang memiliki ilmu
tinggi?
"Loh Gatra," Ki Sarwo membuka suara. "Aku tahu kau pernah berguru pada seorang sakti di Goa
Blorong. Namun tingkat ilmumu masih belum sanggup menghadapi Adipati Jatilegowo itu. Ada satu hal
yang bisa kau lakukan. Mendekatlah ke sini. Aku akan mengatakan sesuatu..."
Loh Gatra mendekat, lalu duduk di samping tempat tidur. Kepalanya didekatkan ke kepala kakeknya.
"Pergilah ke bukit kapur di selatan Gunung Merbabu. Cari seorang kakek buta yang biasa dipanggil
dengan sebutan Kakek Segala Tahu. Minta bantuannya untuk mencari tahu di mana beradanya Pendekar
212 Wiro Sableng. Jika dia memberi tahu, kau harus mencari pendekar itu dan sebelum satu minggu kau
sudah membawanya ke sini. Ini pekerjaan berat, bukan mustahil kau tidak sanggup melakukan. Apa lagi
Pendekar 212 Wiro Sableng tidak mudah ditemukan. Tapi kau harus berusaha. Kita semua harus
berusaha."
"Tugas dari Kakek akan saya laksanakan," kata Loh Gatra pula. "Jika diizinkan saya akan berangkat
sekarang juga."
"Kau boleh pergi setelah Nyi Lara memberi izin," kata Ki Sarwo.
"Saya memberi izin," ujar Nyi Larasati pula. "Tapi tunggu sampai saya menyelesaikan pembicaraan
dengan kakekmu." Nyi Lara lalu berpaling pada si orang tua di atas pembaringan. "Ki Sarwo, tidak
sembarang orang bakal sanggup menghadapi Jatilegowo. Saya pernah merenung mencari jalan keluar
untuk menghadapi manusia satu itu. Muncul satu kaul dalam hati saya. Siapa saja laki-laki yang sanggup
membunuh Adipati sesat itu, asalkan dia orang baik-baik, saya akan mengambilnya sebagai suami."
Ki Sarwo terdiam beberapa lamanya mendengar ucapan Nyi Lara itu. Sesaat kemudian baru dia
berkata. "Nyi Lara, mohon maafmu. Saya rasa keliru mempunyai kaul seperti itu."
"Waktu mengucap kaul di dalam hati, pikiran saya sangat kacau dan takut. Saya memohon pada
Gusti Allah. Saat itulah kaul saya terucap di dalam hati. Ki Sarwo, apa yang menjadi kaul saya tidak perlu
disebarluaskan secara terbuka, cukup disampaikan pada orang-orang tertentu saja. Tapi saya tidak akan
melakukan apa-apa jika Ki Sarwo tidak menyetujui. Ki Sarwo jauh luas pengalaman dari saya. Saya tidak
mengganggu Ki Sarwo lebih lama. Saya pergi..."
Nyi Lara memegang tangan kurus Ki Sarwo lalu melangkah ke pintu. Setelah tinggal berdua dalam
kamar itu bersama cucunya, Ki Sarwo berkata.
"Loh Gatra cucuku. Berapa usiamu sekarang?"
"Dua puluh empat," jawab Loh Gatra sambil hatinya bertanya-tanya mengapa kakeknya menanyakan
usianya.
"Berarti kau beberapa tahun lebih tua dari Nyi Larasati. Kau mendengar apa yang tadi diucapkan Nyi
Lara. Apakah kau berniat untuk membantu Nyi Lara memenuhi kaulnya?"
Loh Gatra terkejut mendengar pertanyaan kakeknya itu. Si pemuda tersenyum lalu berkata. "Nyi Lara
cantik sekali. Saya memang suka padanya. Tapi saya tahu diri siapa saya. Jika bersangkutan dengan kaul
saya tak berani menjawab. Seperti Kakek katakan tadi, Jatilegowo bukan tandingan saya."
"Kau tak usah kawatir, aku akan memberikan satu senjata sakti mandra guna padamu. Kau bisa
menghadapi Jatilegowo dengan senjata itu... Tapi yang penting kau lebih dulu harus berangkat mencari
Kakek Segala Tahu, harus menemukan Pendekar 212 Wiro Sableng."
"Selama saya pergi, siapa yang akan menjaga dan merawat Kakek?" tanya Loh Gatra.
"Gusti Allah," jawab si orang tua. Sementara sang cucu memandang wajahnya dengan air muka
keheranan, Ki Sarwo Ladoyo tersenyum, lalu pejamkan dua matanya.
* * *

LIMA

KAWASAN selatan Gunung Merbabu luas sekali. Namun hanya ada satu bukit kapur di situ. Berarti tidak
sulit bagi Loh Gatra untuk mencarinya. Hari itu, lewat tengah hari, di bawah terik sinar sang surya, di
kejauhan Loh Gatra telah melihat bukit itu, putih membujur dari timur ke barat. Tanpa memperdulikan rasa
letih si pemuda segera memacu kudanya. Untuk mencapai bukit kapur itu dia harus menempuh satu rimba
belantara lalu melewati daerah berbatu-batu, baru sampai ke bukit kapur.
Walau tidak perduli keletihan yang mendera tubuh, namun Loh Gatra sangat memperhatikan kuda
tunggangannya. Karenanya sebelum memasuki rimba belantara Loh Gatra berusaha mencari mata air
untuk memberi minum binatang itu. Ketika dia naik ke punggung kuda untuk meneruskan perjalanan tiba-
tiba entah dari mana munculnya, tiga penunggang kuda telah mengurungnya. Tiga ekor kuda tunggangan
itu bertubuh besar kokoh, bersih tanda terawat dan memiliki pelana bagus. Namun hal ini tidak
terperhatikan oleh si pemuda. Loh Gatra pemuda sopan walau memiliki kepandaian silat cukup tinggi
namun nyaris tidak punya pengalaman. Dia menganggap semua orang itu baik dan bersahabat. Maka
dengan tersenyum dia menyapa.
"Tiga sahabat. Kalian datang dari mana dan mau menuju ke mana? Ada sesuatu yang bisa kulakukan
untuk kalian?"
Menegur orang dengan sopan disertai senyum, Loh Gatra jadi kaget ketika salah seorang dari tiga
penunggang kuda malah membentak dengan garang.
"Pemuda ingusan kami datang dari neraka! Memang ada sesuatu yang bisa kau lakukan! Yaitu bunuh
diri!"
Dua lelaki lainnya tertawa bergelak. Loh Gatra ternganga heran. Ada tiga orang tak dikenal
menyuruhnya bunuh diri. Apa dia berhadapan dengan orang gila? Tapi bagaimana mungkin ada tiga
orang gila sekaligus!
"Sobatku, monyet bau kencur ini agaknya tidak punya senjata. Biar kupinjamkan golok agar dia bisa
menggorok lehernya sendiri!"
Orang yang bicara lalu cabut golok yang tergantung di leher kuda. Golok telanjang ini kemudian
dilemparkan ke arah Loh Gatra. Cucu Ki Sarwo ini jadi serba salah. Kalau dia tidak menyambuti golok,
senjata yang dilemparkan itu akan mengenai dan melukai tubuhnya. Kalau dia menyambuti, orang
mengira dia memang mau saja disuruh bunuh diri.
Mau tak mau Loh Gatra akhirnya gerakkan tangan kanan menangkap gagang golok.
"Ha... ha! Lihat! Kawan-kawan! Monyet itu menangkap golok yang kulemparkan. Berarti dia memang
rela mau bunuh diri!"
"Tiga sahabat, antara kita tidak ada permusuhan, mengapa kalian mempermainkan diriku?" tanya Loh
Gatra. Dia majukan kudanya lalu ulurkan golok. "Ini golokmu, ambil kembali."
"Ha... ha... ha!" Orang yang punya golok bukannya mengambil tapi malah tertawa bergelak. "Kawan-
kawan! Jika dia tidak mau bunuh diri, biar aku menunjukkan bagaimana caranya mampus! Ha... ha... ha!"
Lelaki yang tadi melemparkan golok renggutkan senjata itu dari pegangan Loh Gatra. Ketika dia
hendak membacok, Loh Gatra berseru sambil tekap kepalanya.
"Tunggu! Apa salahku?! Mengapa kalian mau membunuhku?!"
Orang yang hendak membacok tahan gerakannya. Dengan ujung lidahnya dia jilat badan golok lalu
berkata. "Kau layak mampus karena berserikat dengan orang-orang yang hendak mencelakai Adipati
Jatilegowo dari Salatiga!"
"Kalau begitu, apakah kalian ini orang-orang Kadipaten Salatiga?" tanya Loh Gatra.
"Ha... ha! Bedebah ingusan ini cerdik juga akalnya!"
"Dengar," kata Loh Gatra. "Aku tidak berserikat dengan siapapun. Aku tidak punya maksud hendak
mencelakai Adipati Salatiga."
"Begitu? Lalu saat ini kau tengah menuju ke mana?!"
Loh Gatra tak menjawab.
Yang menjawab malah kawan orang tadi. "Bukankah kau tengah dalam perjalanan ke bukit kapur?
Mencari seorang bernama Kakek Segala Tahu?! Bukankah kau ditugaskan untuk mencari seorang
pendekar yang bisa membunuh Adipati Jatilegowo?!"
Loh Gatra terkejut mendengar brondongan pertanyaan itu. Jika tiga orang ini benar dari Kadipaten
Salatiga, bagaimana mereka bisa tahu bahwa dia tengah dalam perjalanan menuju bukit kapur, mencari
kakek Segala Tahu dan mencari seorang pendekar untuk dimintai bantuan menghadapi Adipati
Jatilegowo. Mungkin benar sekali dugaan kakeknya bahwa ada musuh dalam selimut di gedung
Kadipaten.

"Monyet ingusan! Mengapa kau mendadak menjadi bisu tak bisa bicara? Apa barusan ditampar setan
gagu?! Hah?!"
"Dia tak mau bunuh diri! Biar aku yang mempesiangi dirinya!" Lelaki paling kanan cabut golok yang
tersisip di pinggang lalu langsung dibacokkan ke kepala Loh Gatra. Cucu Ki Sarwo Ladoyo ini cepat
rundukkan kepala sambil tarik tali kekang kuda menjauhi penyerangnya. Gagal menghantam sasaran
pada gebrakan pertama, orang tadi memburu dengan serangan berikutnya. Dengan cekatan kembali Loh
Gatra mengelak sambil menjauh. Dua teman si penyerang jadi marah. Keduanya melompat dari kuda
masing-masing. Dua golok berdesing di udara. Melihat gelagat bakal menerima celaka begini rupa Loh
Gatra segera meluncur turun dari atas kuda. Sambil turun kaki kirinya bergerak menendang menghantam
pangkal leher kuda salah seorang penyerang.
"Kraaakkk!" Tulang leher kuda itu remuk. Binatang tinggi besar ini meringkik keras, angkat dua kaki
depan. melemparkan penunggangnya lalu lari seperti kesetanan namun beberapa belas langkah di depan
sana roboh ke tanah!
Tiga penghadang tersentak kaget. Tidak mengira pemuda yang mereka anggap masih ingusan itu
memiliki ilmu silat tinggi. Loh Gatra sendiri setengah terheran-heran. Tidak menyangka dia punya
kemampuan sanggup menghantam kuda lawan. Karena selama ini dia hampir tidak pernah berkelahi.
Namun dia tidak bisa berpikir panjang. Saat itu tiga orang yang mengeroyoknya kembali lancarkan
serangan. Dikeroyok tiga hanya mengandalkan tangan kosong bagaimanapun sebat dan cepatnya
gerakan Loh Gatra, pemuda yang tidak berpengalaman ini akhirnya terdesak hebat. Bahu kiri pakaiannya
robek besar dimakan ujung golok salah seorang pengeroyok. Dia merasa perih dan terkejut ketika melihat
ada darah merembes membasahi pakaiannya. Dia terluka!
Rasa kawatir akan keselamatan dirinya mulai menyelinap Loh Gatra. Tapi bila dia ingat tugas besar
yang tengah dijalaninya, demi Nyi Larasati yang diam-diam memang dikaguminya, pemuda ini kembali
bersemangat. Dia kerahkan seluruh kepandaian. Keluarkan jurus-jurus terhebat dari ilmu silatnya. Satu
kali dia berhasil menjotos dada salah seorang lawan hingga terpental, terguling di tanah. Begitu bangkit
terbungkuk-bungkuk, Loh Gatra melihat di mulut orang itu ada lelehan darah! Melihat darah lawan
keberanian Loh Gatra laksana disulut. Dia mengamuk. Tubuhnya berkelebat cepat. Gerakan enteng.
Tendangan dan jotosannya tidak terduga. Namun lagi-lagi dia kalah pengalaman.
Setelah menggebrak tiga lawan sampai enam jurus, memasuki jurus selanjutnya Loh Gatra mulai
keteteran. Tenaga laksana terkuras. Gerakan-gerakan mulai melemah. Serangannya mengendur, daya
pertahanan ambruk.
"Wuuuttttt!"
Golok lawan berkelebat di udara.
"Breettt!"
Dada pakaian Loh Gatra robek besar Pemuda ini cepat melompat mundur dan dapatkan pakaiannya
di bagian dada basah merah oleh darah. Sesaat kemudian baru dia merasa sakit yang amat sangat. Loh
Gatra melangkah mundur, mukanya pucat. Dua lawan melompat sambil babatkan golok. Satu ke leher,
satu ke arah perut. Loh Gatra mundur. Berusaha selamatkan diri. Tapi salah satu kakinya tertekuk. Dia tak
punya kesempatan lagi untuk mengelak selamatkan diri. Dia hanya bisa terduduk pasrah, menunggu
kematian dengan mata membeliak.
Hanya sekejapan lagi dua golok akan membabat leher dan perut cucu Ki Sarwo Ladoyo itu, tiba-tiba
terdengar suara siulan. Lalu dua benda hitam sebesar ujung ibu jari tangan melesat di udara. Dan!
"Croosss!"
"Croosss!"
Dua orang penyerang menjerit keras. Sama-sama jatuhkan golok mereka. Sama-sama pegangi mata
kanan. Darah mengucur dari mata kanan mereka, membasahi pipi dan jari-jari tangan! Tidak sanggup
menahan sakit, dua orang ini jatuhkan diri di tanah, meraung sambil bergulingan! Kawannya yang tidak
tahu apa-apa terkejut heran melihat dua kelakuan temannya itu. Apa yang terjadi?
"Kalian kenapa? Jawul! Ronggo! Kalian kenapa?" Orang itu berteriak lalu dekati temannya yang
bernama Jawul. Dia angkat tangan yang dipakai menutupi mata kanan. Ternyata mata itu telah pecah.
Sebuah benda hitam melesak di sebelah dalam rongga. Ketika dia memeriksa kawannya yang satu lagi,
hal yang sama ditemukan.
"Gondo! Bunuh! Bunuh pemuda itu! Dia memecahkan mataku!" kata Ronggo lalu kembali
menggerung kesakitan.
Lelaki bernama Gondo berbalik. Memandang melotot ke arah Loh Gatra yang masih terduduk dengan
muka pucat, bersimbah darah di bagian dada.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin monyet ingusan keparat ini yang melakukan. Aku lihat sendiri, dia
dalam keadaan tidak berdaya! Lalu siapa?!" Gondo memandang berkeliling.
"Hah?!"
Pandangannya tiba-tiba membentur sosok seorang pemuda yang duduk enak-enakan di atas

serumpunan semak belukar. Di atas semak belukar! Gondo kerenyitkan kening. Mana ada orang bisa
duduk di atas semak belukar kalau tidak memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi luar biasa! Gondo buka
matanya lebar-lebar. Seperti tidak percaya apa yang dilihatnya.
Loh Gatra yang melihat Gondo mendelik besar tapi tidak ditujukan ke arahnya dan sejak tadi ikut
bingung sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dua penyerangnya, palingkan kepala ke belakang,
memandang ke arah yang dilihat Gondo. Seperti Gondo dia juga terkejut ketika melihat ada pemuda
duduk di atas semak belukar sambil makan buah jamblang. Dan ketika memandang padanya pemuda tak
dikenal itu tertawa lebar, malah lambaikan tangan.
Pemuda itu berpakaian serba putih. Rambut gondrong sebahu. Di tangan kirinya ada setangkai buah
jamblang. Mulut termonyong-monyong asyik menyantap buah jamblang masak manis sampai
mengeluarkan suara menyiplak. Lagaknya seperti tidak melihat Gondo di tempat itu.
Gondo cekal gagang golok besarnya erat-erat. Sekali lompat dia sudah berada di depan semak
belukar.
"Bangsat tengik! Siapa kau!" hardik Gondo. Orang yang ditanya semburkan biji jamblang yang ada di
dalam mulutnya.
"Plaak!"
Biji jamblang mendarat di kening Gondo. Gondo menjerit kesakitan, pegangi keningnya yang benjut
dan kucurkan darah. Loh Gatra melengak. Kalau menyembur biasa tidak mungkin kepala orang dibuat
cidera begitu rupa. Semburan buah jamblang itu pasti disertai kandungan tenaga dalam tinggi. Siapa
adanya pemuda gondrong itu. Sekarang Loh Gatra menyadari kalau pemuda itulah yang tadi telah
menyelamatkan dirinya dari dua golok maut dengan cara menghantam mata kanan Jawul dan Ronggo
dengan buah jamblang hingga pecah!
Amarah Gondo tidak terbendung lagi. Golok di tangan kanannya berkelebat, menyambar ke pinggang
pemuda yang duduk di atas belukar.
"Eit! Tunggu dulu sobatku!"
Pemuda di atas belukar berseru. Kaki kanannya nyelonong ke depan menekan dada Gondo hingga
gerak serangan Gondo tertahan dan sambaran goloknya tidak mengenai sasaran, lewat setengah jengkal
di depan dada si pemuda. Ketika pemuda itu dorongkan kakinya dengan keras, tak ampun lagi Gondo
terjajar ke belakang, jatuh terjengkang di tanah.
"Luar biasa... benar-benar luar biasa!" kata Loh Gatra dengan mata mendelik. "Untuk bisa duduk di
atas belukar itu saja bukan sembarang orang bisa melakukan. Apalagi melancarkan gerakan serangan
berupa tendangan! Hebat! Siapa orang itu? Masih muda tapi punya ilmu selangit tembus!"
Di atas semak belukar si gondrong kembali menyiplak makan buah jamblang. Saat itu Gondo yang
tadi jatuh terjengkang, melompat bangun, siap hendak menyerbu dengan golok di tangan.
"Jahanam! Kucincang tubuhmu!" teriak Gondo.
Si gondrong menyembur. Biji buah jamblang melesat keluar dari mulutnya.
"Pletaaakkk!"
Gondo terpekik. Bibirnya pecah. Satu gigi depannya patah dihantam biji jamblang!
"Salah sendiri! Aku bilang tunggu, masih terus menyerang!" si gondrong di atas belukar berkata. "Hai!
Tadi kau tanya aku ini siapa? Biar kujawab dulu! Aku datang dari neraka! Aku ingin kau melakukan
sesuatu! Yaitu bunuh diri!"
Gondo melengak dan jadi beringas. Apa yang diucapkan pemuda gondrong itu adalah sama dengan
apa yang dikatakannya pada Loh Gatra tadi.
"Setan alas! Makin cepat kau mampus makin baik!" Gondo putar goloknya hingga keluarkan suara
berkesiuran.
"Hebat juga!" seru pemuda di atas belukar. Kepalanya bergerak kian kemari, tubuhnya digoyang
miring ke kiri kanan mengelakkan sambaran senjata lawan. Lalu tiba-tiba bukk!
Satu jotosan mendarat di dagu Gondo. Bersamaan dengan itu goloknya direnggut orang. Gondo
masih sanggup berdiri. Namun tubuhnya bergoyang limbung. Hantaman keras pada dagunya bukan saja
membuat tulang dagu itu retak tapi juga menyebabkan kepalanya kini jadi pencong miring! Di atas belukar
si gondrong masih duduk menyantap jamblang sedang golok milik Gondo kini ada di tangan kanannya.
Ketika Gondo melihat pemuda di atas belukar tiba-tiba mengenjot tubuh melayang turun ke tanah,
putuslah nyalinya. Terlebih lagi ketika dia menyadari bahwa dua kawannya, Jawul dan Ronggo ternyata
tidak ada lagi di tempat itu, sudah kabur sejak tadi-tadi!
"Gila! Aku tak mau mati berdiri jadi setan penasaran di tempat ini!" rutuk Gondo dalam hati lalu cepat
putar tubuh, siap untuk kabur.
"Mau buron? Boleh saja! Tapi perlihatkan dulu siapa dirimu sebenarnya!"
Golok di tangan si gondrong berkelebat. Gondo menjerit, mengira tubuhnya akan terkutung-kutung
dimakan senjatanya sendiri.
"Breettt... breett... breeett!"

Terdengar suara robeknya pakaian berkali-kali. Tubuh Gondo menggigil, mukanya seputih kain kafan.
Loh Gatra melengak ternganga melihat bagaimana sambaran-sambaran golok di tangan pemuda
gondrong merobek pakaian Gondo. Kalau dia tidak mengenakan pakaian lain di bawah pakaiannya yang
robek itu, pasti saat itu dia akan telanjang bugil. Dan Loh Gatra terkejut besar ketika melihat pakaian yang
dikenakan Gondo di balik pakaiannya yang robek ternyata seragam perwira pengawal Kadipaten Salatiga!
"Ha... ha! Monyet besar ini ternyata terlepas dari Kadipaten Salatiga!" kata si gondrong pula. "Siapa
yang memerintah kalian bertiga membunuh pemuda itu?!"
"Tidak ada, tidak ada yang memerintah..." jawab Gondo.
"Lidahmu perlu kubuntungi agar tidak bicara ngaco!" Si gondrong membuat gerakan hendak
menyusupkan ujung golok ke mulut Gondo. Perwira Kadipaten Salatiga ini jadi ketakutan.
"Ampun, jangan... Aku... Kami... kami diperintah oleh Adipati Jatilegowo..." Gondo akhirnya mengaku.
"Bagus," si gondrong manggut-manggut. "Sekarang aku mau lihat, kau ini monyet jantan atau betina!"
Si gondrong mendekati Gondo yang kembali jadi ketakutan setengah mati.
"Kau... kau mau apa? Jangan bunuh! Ampun! Jangan!" Gondo menjerit.
Tangan yang memegang golok bergerak dua kali.
"Brett! Breett!"
Pinggang celana Gondo putus. Celana di bagian bawah perut robek besar lalu merosot ke bawah
menyingkapkan auratnya.
"Ha... ha! Ternyata kau monyet jantan!" Si gondrong tertawa bergelak. "Tapi aku bisa membuatmu
jadi monyet betina!"
"Ampun! Jangan!"
"Mau burungmu aku robah jadi kue apem?!" Si gondrong membentak sambil angkat golok di tangan
kanan.
Gondo tahu apa yang hendak dilakukan si gondrong. Kalau burungnya ditebas putus dan licin. Dia
benar-benar bisa berubah jadi monyet betina!
"Ampun! Jangan!" teriak Gondo. Dalam takutnya Gondo yang sebenarnya memang perwira muda
Kadipaten Salatiga, anak buah Adipati Jatilegowo ini jatuhkan diri di tanah, berguling, melompat lalu kabur
langkah seribu. Si gondrong tidak mengejar, hanya berkacak pinggang tertawa-tawa.
Loh Gatra yang sadar kalau dirinya telah diselamatkan orang segera lari ke hadapan pemuda
gondrong, jatuhkan diri berlutut di tanah.
"Raden... Kakak Raden, aku Loh Gatra mengucapkan terima kasih. Kau telah menolongku. Kau telah
menyelamatkan jiwaku."
"Hus! Raden, Kakak Raden! Omongan apa itu?!" kata si gondrong lalu campakkan golok milik Gondo
ke tanah.
"Aku tak tahu harus memanggilmu apa. Tapi aku harus mengucapkan terima kasih. Lalu kalau boleh
aku ingin menjadi muridmu!"
"Menjadi muridku? Ha... ha... ha!" Si gondrong tertawa dan garuk-garuk kepala. "Masih muda sudah
ngaco! Sahabat, aku ingin tahu mengapa orang-orang Kadipaten Salatiga yang menyamar itu ingin
membunuhmu?"
"Ini ada sangkut paut dengan tugas yang diberikan Nyi Larasati," jawab Loh Gatra.
"Nyi Larasati? Siapa dia?"
"Dia randa mendiang Adipati Temanggung. Dia dan kakekku Ki Sarwo Ladoyo menugaskan aku
mencari Kakek Segala Tahu, lalu mencari seorang pendekar berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni
212..."
"Hemm... mengapa kau harus mencari dua orang itu?" tanya si gondrong.
"Kadipaten Temanggung dalam keadaan gawat. Ada ancaman besar dari Jatilegowo Adipati Salatiga.
Gara-gara Nyi Lara menolak pinangannya. Kakak, biar aku ceritakan semuanya padamu." Lalu Loh
Gatrapun bercerita panjang lebar.
"Tugasmu cukup berat Loh Gatra." kata si gondrong. "Tidak mudah mencari Kakek Segala Tahu.
Kalau dicari sampai sepuluh tahunpun mungkin tidak ketemu. Tapi kalau tidak dicari dia kadang-kadang
muncul sendiri..."
"Bagaimana dengan Pendekar 212 Wiro Sableng?" tanya Loh Gatra.
"Uhh! Apalagi dia! Namanya saja sableng. Lebih sulit dicarinya dari Kakek Segala tahu. Sudah,
daripada susah-susah tapi tak berhasil lebih baik kau kembali saja ke Temanggung."
"Kembali ke Temanggung? Aku lebih baik menemui ajal daripada kembali dengan tangan hampa!"
jawab Loh Gatra. "Kakak, apakah kau mengenal Pendekar 212? Mungkin bisa bantu mencari dan
membawanya ke Temanggung dalam waktu beberapa hari ini?"
Si gondrong tertawa lalu geleng-gelengkan kepala. Dia membalikkan tubuh membelakangi Loh Gatra.
Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sesuatu. Entah apa yang dilakukannya, tidak terlihat oleh Loh
Gatra, si gondrong ini kemudian mengambil sehelai daun lebar. Daun itu dilipat-lipatnya, ditusuk dengan

ranting kecil lalu diberikan pada Loh Gatra. Terheran-heran Loh Gatra menerima daun itu. Belum sempat
dia bertanya si gondrong berkata.
"Serahkan daun itu pada Nyi Larasati. Jangan kau sekali-kali berani membukanya di tengah jalan.
Ingat, yang boleh membuka bungkusan daun hanya Nyi Larasati."
"Kakak, di dalam lipatan daun ini pasti ada benda berharga. Kalau aku boleh bertanya benda apakah
adanya?"
"Sudah, tak perlu bertanya. Kalau Nyi Lara membukanya kau akan melihat sendiri. Sekarang jangan
membuang waktu. Lekas kembali ke Temanggung."
"Tapi bagaimana nanti..." Ucapan Loh Gatra terputus. Dia hanya merasakan siuran angin serta
berkelebatnya bayangan putih. Ketika memandang ke depan, astaga! Pemuda gondrong itu tak ada lagi di
hadapannya. Loh Gatra pandangi lipatan daun yang dipegangnya. Hati kecilnya mendorong-dorong agar
dia membuka lipatan daun, melihat benda yang ada di dalamnya. Namun jiwa besarnya memegang
amanat kepercayaan orang membuat dia tidak mau melakukan hal itu.
"Pemuda gondrong itu, ilmunya tinggi sekali. Mungkin lebih tinggi dari Pendekar 212 Wiro Sableng.
Tololnya aku ini. Mengapa tadi tidak kuminta saja bantuannya, kuajak ke Temanggung?!" Loh Gatra
memukul-mukul keningnya sendiri berulang kali.
* * *

ENAM

MALAM itu seorang diri di atas pembaringan Sri Kemuning tak bisa memejamkan mata. Adipati Jatilegowo
belum kembali dari perjalanannya ke Temanggung. Mungkin besok baru pulang. Kejadian di Kali Tuntang
siang tadi tidak mau pupus dari ingatan Sri Kemuning. Dan wajah pemuda berambut gondrong yang
menurut Paman Rejo bernama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar 212 setiap saat terbayang di pelupuk
matanya. Sesekali istri termuda Adipati Salatiga ini mengusap lehernya. Kalau sudah begitu dia turun dari
pembaringan, melangkah dan berdiri di depan kaca besar. Memandang memperhatikan tanda kemerahan
di pangkal leher. Bekas kecupan Pendekar 212 Wiro Sableng. Sudah berulang kali diusapnya, dibasahi
dengan air, namun tanda kemerahan itu tak mau hilang. Akhirnya Sri Kemuning membiarkan saja. Ada
satu kenangan indah setiap dia meraba lehernya atau melihat tanda kemerahan itu di kaca. Seumur hidup
belum pernah ada lelaki mengecup lehernya begitu rupa, tidak juga suaminya. Kecupan Pendekar 212
seolah membakar tubuhnya, membuat darahnya laksana mendidih.
Sri Kemuning kembali baringkan diri di atas tempat tidur, menggeliat beberapa kali lalu usap kembali
lehernya.
"Pemuda itu, dia ternyata orang baik. Kalau tidak dia yang menyelamatkan entah sudah jadi apa aku
saat ini. Wiro... apakah aku bisa bertemu lagi denganmu?" Sri Kemuning berkata-kata sendiri dalam hati.
Jari-jarinya yang halus mengusap tanda kemerahan di pangkal leher. Tangan itu lalu turun ke dada,
menyusup ke balik pakaian tidurnya yang tipis. Matanya terpejam. Dia membayangkan jari-jari tangan itu
bukan jari-jari tangannya, tapi jari-jari tangan Wiro. Dia meremas dan mendesah sendiri. Tiba-tiba dia
dikejutkan oleh langkah-langkah berat dan cepat. Lalu pintu kamar terbuka.
Sosok tinggi besar Jatilegowo muncul di ambang pintu. Tidak seperti yang diperkirakan Sri Kemuning,
sang Adipati kembali lebih cepat.
"Kangmas Jati," sapa Sri Kemuning seraya turun dari pembaringan menyambut suaminya. "Kangmas
pasti letih. Saya akan meminta pelayan menyiapkan air untuk bersiram. Makanan dan..."
"Tidak usah," jawab Jatilegowo. Di wajahnya memang tidak terlihat bayangan keletihan, melainkan
gejolak nafsu. "Saat ini aku ingin kau dan Sumini melayaniku. Aku sudah memberitahu pelayan, menyuruh
dia datang ke kamar ini."
Mendengar ucapan suaminya itu Sri Kemuning hanya bisa tundukkan kepala, Dulu ketika pertama
kali dia dan istri tua sang Adipati diperlakukan seperti itu, Sri Kemuning menolak karena merasa
diperlakukan seperti binatang. Akibatnya dia ditampar dipukuli. Berkali-kali Sri Kemuning berusaha
melarikan diri, tetapi selalu tertangkap kembali. Kalau sudah begitu gebukan datang bertubi-tubi. Akhirnya
perempuan yang dikawini Jatilegowo dalam usia delapan belas tahun itu hanya bisa pasrah. Mula-mula
dia masih malu dan menangis setiap harus melayani nafsu aneh sang Adipati. Tapi lama-lama tak bisa
berbuat lain. Apalagi Sumini, madunya berulang kali memberi nasihat agar mengikuti saja kemauan suami
mereka.
"Daripada muka rusak badan remuk, lebih baik menurut saja. Nasib kita punya suami seorang
pejabat tinggi, seorang Adipati. Tapi dia tidak lebih dari seekor binatang buas. Yang akan menelan kita jika
kita menolak apa saja permintaannya." Begitu kata Sumini ketika satu saat mereka berada berduaan.
Sementara menunggu kedatangan istri tuanya yang usianya terpaut empat tahun dengan Sri
Kemuning, sang Adipati tak dapat menahan gejolak nafsunya. Ini memang aneh. Pertemuan dengan Nyi
Larasati yang membuatnya terpaksa menahan marah besar, kini hendak dilampiaskan terhadap ke dua
istrinya. Tanpa belaian kasih sayang sama sekali, benar-benar seperti binatang Adipati Jatilegowo
merangkul tubuh Sri Kemuning dengan kasar. Sri Kemuning merasa seperti tulang-tulangnya mau hancur.
Nafasnya sesak, tak dapat menyembunyikan wajahnya dari ciuman bertubi-tubi. Tiba-tiba seperti disengat
kala jengking, Adipati Jatilegowo tersentak. Dipegangnya bahu istrinya kuat-kuat, matanya membeliak
memandang ke pangkal leher Sri Kemuning.
"Ada tanda merah di lehermu!" kata Jatilegowo. Kecurigaan dan cemburu membuat matanya yang
besar berkilat-kilat laksana dikobari api. "Waktu aku pergi tanda itu tidak ada! Tanda apa ini?!"
Sri Kemuning terkejut, tak dapat menyembunyikan perubahan wajahnya.
Jatilegowo mengguncang tubuh Sri Kemuning. "Jawab! tanda apa ini? Apa penyebabnya sampai ada
tanda ini di lehermu? Jawab!"
"A... ada serang... serangga menggigit saya Kangmas," jawab Sri Kemuning gagap.
"Hemmmm... Serangga berambut hitam berkaki dua! Jangan dusta! Kupecahkan kepalamu! Katakan
siapa yang menggigit lehermu!"
"Tidak ada Kangmas. Tidak ada orang yang menggigit leher saya," jawab Sri Kemuning. Jawaban ini
sebenarnya tidak dusta. Karena Pendekar 212 memang hanya mengecup leher perempuan itu, tidak

menggigit. Tapi karena kecupan itu disertai sedotan tenaga dalam agar dapat memusnahkan totokan di
leher Sri Kemuning, akibatnya di leher itu muncul tanda kemerah-merahan yang tidak akan hilang dalam
waktu satu dua hari.
Tamparan pertama mendarat di pipi Sri Kemuning. Perempuan itu terlempar ke atas tempat tidur.
Menjerit kesakitan. Jatilegowo menjambak rambutnya. "Kalau kau tidak mau bicara, atau bicara dusta
padaku, akan kusiram mukamu dengan air panas!"
Sri Kemuning tentu saja ketakutan setengah mati mendengar ancaman itu. Dengan menangis dia
menceritakan apa yang terjadi ketika dia berperahu di Kali Tuntang.
"Perempuan liar! Jadi kalau aku tidak ada di Kadipaten kau masih saja suka menyelinap keluar
mencari kesenangan sendiri!" Tamparan kedua melanda muka Sri Kemuning. Kali ini membuat sudut
bibirnya pecah hingga darah mengucur. Tubuhnya terguling di lantai kamar. Kaki kanan Jatilegowo
bergerak hendak menendang punggung Sri Kemuning. Saat itulah pintu terbuka dan ada suara
perempuan berseru.
"Kangmas, jangan!"
Yang masuk adalah Sumini, istri pertama Adipati Jatilegowo. Perempuan ini jatuhkan diri di atas
tubuh Sri Kemuning, melindungi madunya itu. "Saya mohon Kangmas, jangan sakiti dia. Kasihani Sri
Kemuning. Kasihani kami berdua. Kami adalah istri-istri Kangmas. Kami ingin berbakti pada Kangmas, tapi
jangan perlakukan kami seperti ini..." Sumini berkata setengah meratap. Matanya basah oleh air mata,
terlebih ketika Sri Kemuning memeluk merangkulnya. Dua perempuan ini saling bertangisan.
"Perempuan-perempuan sial! Tidak tahu diuntung!" teriak Jatilegowo marah. Dia melangkah ke pintu.
Pintu itu bukan dibukanya baru keluar dari kamar, tapi ditendangnya hingga hancur berantakan. Melalui
pintu yang hancur jebol dia melangkah keluar. Mulutnya kembali merutuk. "Pendekar 212 jahanam! Aku
sudah lama mendengar kalau kau pendekar mata keranjang! Tapi berani menyentuh istriku berarti
mampus! Mampus!" Jatilegowo pukulkan tangan kanannya ke telapak tangan kiri. Ketika melewati sebuah
kursi kayu jati, kakinya menendang hingga kursi itu mental, hancur berantakan.
* * *
NYI LARASATI merasa heran ketika melihat Loh Gatra kembali lebih cepat dari yang diduganya. Dia juga
kaget melihat bahu kiri dan dada pakaian si pemuda robek serta ada noda darah.
"Loh Gatra, apa yang terjadi. Pakaianmu robek, tubuhmu penuh luka. Kau berhasil menemui Kakek
Segala Tahu, Pendekar 212 Wiro Sableng?"
"Maafkan saya Nyi Lara. Saya gagal tapi..." Pemuda ini lalu menuturkan peristiwa yang dialaminya
menjelang akan sampai ke bukit kapur.
Lama Nyi Lara terdiam mendengar cerita Loh Gatra. Dari kantong perbekalannya si pemuda
mengeluarkan daun yang diberikan pemuda berambut gondrong yang telah menyelamatkannya. Daun itu
diserahkan pada Nyi Lara seraya berkata. "Ini daun yang diberikan pemuda itu. Dia minta saya
memberikan pada Nyi Lara..."
Nyi Lara tidak segera menerima bungkusan daun itu. Dia memandangi saja, seperti bimbang atau
juga kawatir.
"Apa isinya?" tanya Nyi Lara kemudian.
"Saya tidak tahu. Pemuda itu melarang saya membuka bungkusan..." jawab Loh Gatra
"Orang-orang suruhan Adipati Jatilegowo. Menghadang dan hendak membunuhmu. Adipati itu
ternyata memang biadab, jahat sekali..." ujar Nyi Larasati. Lalu menyambung ucapannya. "Aneh, orang
menyelamatkan nyawamu. Tapi kau tidak tahu namanya. Dan dia menyerahkan bungkusan daun ini tanpa
kau tahu apa isinya..."
"Maafkan saya Nyi Lara. Saya terpaksa mengikuti apa kemauan pemuda itu. Saya yakin dia berniat
baik. Saya harap Nyi Lara suka menerima bungkusan daun ini. Saya, saya juga ingin tahu apa isinya..."
Nyi Lara akhirnya ulurkan tangan menerima bungkusan daun. Bungkusan itu diletakkannya di atas
pangkuan. Lalu dengan hati-hati ditariknya ranting kecil yang dipergunakan sebagai buhul penutup daun.
Setelah itu perlahan-lahan dibukanya lipatan daun. Dua pasang mata, mata Nyi Lara dan mata Loh Gatra
sama-sama terbuka lebar. Di dalam bungkusan daun itu ternyata hanya ada secarik kain putih yang sudah
lusuh. Bagian tengah kain berlubang, membentuk deretan tiga buah angka. Angka 212!
"Dua satu dua..." ujar Loh Gatra dengan suara agak bergetar.
"Berarti..." Nyia Lara bangkit dari kursi. "Kita temui Kakekmu."
Ke dua orang itu masuk ke dalam kamar dimana Ki Sarwo Ladoyo terbaring sakit.
"Kau telah kembali, Loh Gatra?" tegur Ki Sarwo. Matanya membesar ketika melihat noda darah dan
pakaian cucunya yang penuh robek.
"Saya tidak apa-apa Kek," kata Loh Gatra yang tahu kekhawatiran kakeknya.
Nyi Lara memperlihatkan kain putih yang dipegangnya pada si orang tua, lalu menyuruh Loh Gatra

menceritakan secara singkat apa yang telah dialaminya.
"Tuhan Maha Kuasa, Maha Besar..." kata Ki Sarwo dan secara aneh dirinya yang sedang sakit
seolah mendapat kekuatan hingga sanggup bangkit dan duduk di tempat tidur. "Orang... pemuda
berambut gondrong yang memberikan kain ini, dia... dia adalah Pendekar 212 Wiro Sableng! Dia sengaja
melubangi kain ini dengan jarinya, dengan kekuatan hawa sakti yang ada padanya, mengirimkan kepada
kita, sebagai satu pertanda bahwa dia akan menolong kita. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Gusti Allah!"
Ki Sarwo mencium kain itu berulang kali lalu menyerahkannya pada Nyi Lara. "Simpan baik-baik kain ini
Nyi Lara. Simpan baik-baik..."
* * *

TUJUH

DI SATU tebing batu, di kaki Gunung Lompo batang, sosok kakek berambut biru berminyak duduk bersila
tidak bergerak. Sepasang matanya menatap ke arah matahari tenggelam namun mata itu dalam keadaan
terpejam. Di kening si kakek melilit seuntai tali aneh berbentuk jalin. Konon tali itu terbuat dari usus anak
muda yang meninggal jejaka.
Di pangkuan orang tua ini tertelentang seorang pemuda berwajah cakap yang nyaris hampir tidak
berpakaian sama sekali. Seperti si kakek dua mata pemuda ini juga terpejam, tubuh tak bergerak. Di kiri
kanan si kakek, di atas tebing batu terdapat dua tumpuk batu hampir sebesar-besar kepalan.
Sinar sang surya mulai memudar kuning pertanda siap bergerak memasuki ufuk tenggelamnya. Di
langit sebelah timur serombongan burung besar berjumlah dua puluh empat ekor melayang terbang.
Dalam waktu dekat burung-burung itu akan melintas di atas tebing batu dimana si kakek yang memangku
pemuda berada.
Satu seringai menyeruak di mulut si kakek berambut biru berminyak. Mulutnya terbuka sedikit.
Suaranya mengucap perlahan.
"Saatnya memberi makan anak-anak di hutan Bantaeng."
Dua tangan orang tua itu bergerak ke samping, ke arah batu-batu sebesar kepalan. Matanya tetap
terpejam. Pada saat rombongan burung besar lewat tepat di atasnya dua tangan kakek ini bergerak cepat
sekali, silih berganti. Di udara terdengar suara menguik. Dua puluh empat burung besar yang disambar
lemparan baru terjungkal, melayang jatuh ke kaki Gunung Lompobatang sebelah selatan dimana
terbentang rimba belantara Bantaeng.
Luar biasa! Selain jarak burung-burung itu jauh di udara, si kakek melempar dengan mata terpejam.
Dan tidak seekor burungpun yang luput!
Sesaat kemudian dari arah rimba belantara itu terdengar suara lolongan-lolongan aneh. Antara suara
raungan anjing dan jeritan manusia. Siapa saja yang sempat mendengar pasti akan mengkirik dingin
kuduknya. Tapi si kakek di atas tebing batu malah menyeringai. Dua tangannya yang tadi melempar
digosok-gosokkan satu sama lain. Lalu perlahan-lahan tangan ini bergerak turun ke atas tubuh pemuda
yang ada di pangkuannya, satu di dada, satu tepat di atas pusar. Begitu dua tangan menempel, pemuda di
atas pangkuan buka sepasang matanya, menatap sesaat pada si kakek yang juga telah membuka
matanya yang sejak tadi dipejamkan. Si kakek tersenyum. Pemuda itu balas tersenyum. Dua tangan si
kakek bergerak perlahan, mengusap. Yang kiri ke arah atas, yang kanan ke arah bawah. Si pemuda
mengeluarkan desah lirih panjang.
"Kekasihku Bontolebang, apakah kau merasa bahagia saat ini?" Si kakek bertanya.
"Kakek Sarontang, saya merasa bahagia, bahagia sekali..."
Si kakek tersenyum. Dua tangannya bergerak lebih cepat. Desah pemuda bernama Bontolebang
semakin keras. Tiba-tiba si kakek hentikan gerakan dua tangannya. Di langit sebelah timur dia melihat
seberkas cahaya. Cepat dia pejamkan mata, merapal sesuatu. Tubuhnya bergetar, wajahnya keringatan.
"Kek, Kakek Sarontang, mengapa kau berhenti? Ada apa?"
Bontolebang buka dua matanya. Melihat keadaan si kakek dia tidak berani mengganggu. Sesaat
kemudian Sarontang buka matanya.
"Kekasihku, ada urusan sangat penting. Aku harus menemui seseorang. Kau tunggu aku di Goa
Nipanipa. Aku akan menemuimu dalam waktu tiga hari."
Mendengar ucapan si kakek, Bontolebang segera turun dari pangkuan orang tua itu. Sebelum pergi
Sarontang memeluk si pemuda erat-erat. Di lain saat dia sudah berkelebat lenyap dari tebing batu.
* * *

MENJELANG tenggelamnya sang surya Telaga Malakaji diselimuti kesunyian. Udara dingin karena
sejak siang tadi hujan turun berkepanjangan. Kabut menutupi sebagian permukaan dan pinggiran telaga.
Kakek berambut biru Sarontang hentikan kudanya di pinggir timur telaga. Dia sudah acap kali datang
ke tempat itu. Namun sekali ini dalam udara buruk begitu rupa dia tidak mau tersesat. Dia memperhatikan
seputar telaga sampai pandangannya membentur nyala api kecil di kejauhan.
"Pasti itu nyala api pembakaran besi di pondok saudaraku." Sarontang menarik tali kekang kudanya.
Telaga Malakaji tidak seberapa besar tapi jalan liar sepanjang tepian dihalang oleh semak belukar dan
batu-batu besar hingga cukup lama baru Sarontang sampai ke pondok tujuannya. Lewat pintu pondok
yang terbuka Sarontang melihat saudaranya tengah khusuk melakukan sholat Magrib. Sementara
menunggu orang selesai sembahyang Sarontang melihat-lihat ke tempat pengecoran besi dimana
saudaranya menghabiskan sebagian dari umurnya bekerja di tempat itu membuat segala macam senjata
bertuah.
Di atas sebuah lempengan besi tebal, dekat api pengecor Sarontang melihat bilahan besi hitam
kebiru-biruan. "Saudaraku Daeng Wattansoppeng sudah mulai malas rupanya. Dua bulan silam ketika aku
datang ke sini, bentuk besi biru itu tidak banyak berbeda dengan yang kulihat sekarang..."
Kakek dari Gunung Lompobatang ini membungkuk hendak mengambil bilahan besi biru itu.
Mendadak di belakangnya terdengar suara orang mendehem disusul ucapan memberi salam.
"Assalammu'alaikum."
Sarontang tarik tangannya lalu berbalik sambil membalas salam. Di hadapannya berdiri seorang tua
berwajah jernih, berjubah merah, memiliki rambut, kumis dan janggut putih menjela dada.
"Saudaraku Sarontang, kau datang tidak sesuai dengan janji," orang tua berjubah merah menegur
tapi sambil melontar senyum.
"Aku tahu Daeng," jawab Sarontang. "Apakah aku tidak boleh mengunjungi saudara sendiri? Lagipula
ada sesuatu yang membuat aku cepat-cepat datang ke sini."
Daeng Wattansoppeng, si kakek berjubah merah dengan masih tersenyum berkata. "Saudaraku
Sarontang, sebaiknya sebelum kita meneruskan percakapan, pergilah sholat dulu."
"Ah, pakaianku tidak bersih..." jawab Sarontang.
Kakek bernama Daeng Wattansoppeng tahu kalau Sarontang hanya mencari-cari alasan. Maka
diapun berkata. "Kau tahu Sarontang. Sembahyang itu bukan cuma merupakan tiang agama. Tapi juga
mencegah seseorang dari berbuat yang tidak baik, menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Aku khawatir
jangan-jangan kau masih saja menjalani hidup keliru itu. Benar?"
"Manusia dilahirkan sama. Tapi alam menjadikan aku seperti ini. Apa mau dikata," jawab Sarontang
lalu menghela nafas panjang.
"Sarontang, kau yang membuat ulah. Jangan salahkan alam. Kau tahu alam ini diselimuti kemurnian
dan serba suci. Manusia menjadikannya busuk dengan berbagai macam maksiat. Aku masih terus
berharap dan selalu berdoa agar kau meninggalkan hidup sesat itu. Umur kita tinggal berapa lagi kita tidak
tahu. Mengapa tidak lekas-lekas bertobat?"
Wajah Sarontang kelihatan menjadi marah. "Daeng Wattansoppeng, aku berharap kita tidak
membicarakan perihal diriku. Apapun yang aku lakukan menjadi tanggung jawabku. Segala dosa ada di
pundakku..."
"Aku selalu berharap dan berdoa agar kau bisa berubah, saudaraku." Sambil berkata Daeng
Wattansoppeng memasukkan batu-batu hitam ke dalam perapian. Batu-batu ini menyerupai batu bara.
Memiliki daya panas sepuluh kali dari kayu biasa.
"Aku berterima kasih untuk doamu itu. Daeng, aku sengaja datang kesini menyalahi perjanjian karena
aku melihat pertanda yang aku hubungkan dengan mimpi. Orang yang kita tunggu agaknya akan muncul
lebih cepat. Minggu ini akan ada kapal merapat di Teluk Bantaeng. Mungkin ada kabar..."
"Lalu apa yang bisa aku lakukan untukmu Sarontang?" tanya Daeng Wattansoppeng.
"Bisakah kau menyelesaikan badik itu lebih cepat?"
"Satu bulan? Satu minggu...?"
"Satu hari kalau kau memang sanggup!" jawab Sarontang.
Kakek berjubah merah tertawa. "Sarontang saudaraku. menolong saudara sendiri besar pahalanya.
Aku akan lakukan apa yang bisa kulakukan untukmu. Tapi apakah kau mau menerima segala perjanjian
yang pernah kita bicarakan dulu?"
"Jangan khawatir. Aku akan menghormati perjanjian itu. Namun tanpa melibatkan si calon penerima,
rasanya perjanjian itu akan kurang sempurna." Jawab Sarontang.
"Betul, tapi satu hal perlu aku ingatkan kembali. Perjanjian yang aku maksudkan itu bukan cuma
sekedar perjanjian. Lebih tepat kalau dikatakan sumpah darah."
"Sumpah darah! Aku tahu betul hal itu Daeng." kata Sarontang sambil anggukkan kepala.
Daeng Wattansoppeng mengambil bilahan besi biru dari atas lempengan besi tebal dengan tangan

kirinya. Sambil membungkuk dan tersenyum pada saudaranya kakek ini mengucapkan Basmallah lalu
seperti acuh tak acuh dia ulurkan tangan kanan, susupkan jari-jarinya ke dalam tumpukan batu yang
menyala. Sarontang kerenyitkan kening. Ketika Daeng Wattansoppeng menarik tangan kanannya, tangan
itu sampai sebatas ujung telapak telah berubah menjadi bara menyala!
"Luar biasa... Benar-benar luar biasa!" kata Sarontang dalam hati.
Sambil duduk di atas tikar pandan dengan tangan kanan yang membara panas Daeng
Wattansoppeng mulai membentuk bilahan besi hitam kebiruan yang dipegang di tangan kiri. Besi itu
mengepulkan asap panas. Sedikit demi sedikit bilahan besi biru berubah menjadi bentuk kasar sebilah
badik tak bertangkai.
"Sarontang, untuk saat ini hanya sampai disini aku bisa berbuat. Masih butuh waktu untuk
memperhalus badik ini. Lalu perlu waktu lagi untuk mengisinya. Dan tambahan waktu lagi untuk
memendamkan tuba ke dalamnya. Lalu membuat gagangnya..."
"Soal gagang kau tak usah kawatir. Aku sudah menyiapkan gagangnya. Dari gading asli..." Dari balik
pakaiannya Sarontang mengeluarkan sebuah benda berupa gagang senjata terbuat dari gading asli.
Daeng Wattansoppeng tersenyum. "Rupanya kau membantu tidak kepalang tanggung. Apakah kau
bisa datang lagi tiga minggu dari sekarang?"
"Terima kasih Daeng, aku akan datang tepat pada waktu yang kau katakan..."
Daeng Wattansoppeng angkat tangan kanannya yang masih merah menyala. Dia membaca sesuatu
dalam hati lalu meniup. Tangan yang merah menyala itu berubah, kembali ke bentuk semula.
Sarontang geleng-gelengkan kepala. "Terkadang aku bersombong diri. Seolah di dunia ini cuma aku
yang memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi. Tapi melihat apa yang baru kau lakukan, aku merasa kecil di
hadapanmu. Benar ujar-ujar yang diucapkan orang di tanah Jawa. Di atas langit masih ada langit lain."
Daeng Wattansoppeng tersenyum. "Kita manusia ini bisanya apa? Dibanding dengan kuasa dan
kemampuan Tuhan kita bukan apa-apa. Kalau Tuhan memberikan sedikit kepandaian pada kita, kita wajib
bersyukur kepadaNya dan mempergunakan kepandaian itu untuk kebaikan, terutama menolong sesama."
* * *

DELAPAN

RENCANA Ki Sarwo Ladoyo untuk mengungsikan Nyi Larasati keluar dari Temanggung terpaksa
dibatalkan. Seorang mata-mata memberitahu bahwa delapan penjuru Kadipaten Temanggung telah
dikurung oleh ratusan prajurit Kadipaten Salatiga. Rupanya Adipati Jatilegowo dengan cerdik telah
sengaja mengirimkan sejumlah besar pasukan untuk mengurung Temanggung, lima hari sebelum dia
sendiri datang memunculkan diri. Pasukan ini hanya tinggal menanti kedatangan sang Adipati dan siap
menunggu perintah penyerbuan.
Siang itu suasana di gedung Kadipaten Temanggung sangat mencekam. Itulah hari Adipati
Jatilegowo akan muncul. Di dalam kamar Ki Sarwo Ladoyo yang belum sembuh benar dari luka dalamnya,
duduk di tepi tempat tidur. Di depannya berdiri Loh Gatra. Dari bawah bantal orang tua itu keluarkan
sebilah keris bersarung perak. Gagangnya yang juga terbuat dari perak berbentuk ukiran kepala ayam
aneh. Keris ini memancarkan cahaya redup pertanda merupakan satu senjata sakti mandraguna.
"Cucuku Loh Gatra, ini senjata yang pernah kusebutkan padamu. Ini Keris Ki Tumbal Bekisar.
Berasal dari Kerajaan Blambangan, diwariskan padaku melalui dua Raja terakhir. Dengan senjata in! kau
bisa menghadapi Adipati Jatilegowo. Kau pasti berhasil mengalahkannya. Karenanya jangan tunggu
sampai dia memberi aba-aba pada pasukannya untuk menyerbu. Tantang dia bertempur satu lawan satu.
Jika dia berhasil dibunuh, para pengikutnya pasti tidak berani meneruskan rencana jahat mereka
menghancurkan Kadipaten Temanggung."
Ki Sarwo berikan keris itu pada cucunya yang diterima Loh Gatra dengan tangan bergetar.
"Sisipkan di pinggangmu, sebelah belakang. Lindungi dengan pakaian agar tidak terlihat orang."
Selesai Loh Gatra menyisipkan Keris Ki Tumbal Bekisar di pinggangnya sebelah belakang, sang
kakek minta dipapah menuju serambi depan gedung Kadipaten di mana sesuai permintaannya sebuah
kursi telah disediakan untuknya, diletakkan menghadap ke tangga gedung.
Di halaman puluhan prajurit pengawal melakukan penjagaan. Di luar tembok halaman sekitar dua
ratus prajurit bersiap siaga. Berdasarkan penyelidikan beberapa mata-mata Kadipaten Temanggung yang
disebar sampai ke pelosok, didapat petunjuk bahwa paling lambat siang itu Adipati Salatiga dan orang-
orangnya akan memasuki Temanggung, pasti langsung menuju gedung Kadipaten.
Saat demi saat berlalu dengan tegang. Walau di dalam dan di luar tembok Kadipaten terdapat banyak
prajurit namun suasana terasa sunyi. Tak selang berapa lama kesunyian itu dipecahkan oleh suara
genderang di kejauhan.
Loh Gatra mendekati Ki Sarwo Ladoyo. "Mereka datang Kek."
Ki Sarwo mengangguk.
Tak lama kemudian Nyi Larasati, diapit oleh Domas Tunggul dan Akik Pranata, dua orang perwira
Kadipaten keluar menuju serambi gedung. Ki Sarwo Ladoyo segera berdiri seraya berkata.
"Nyi Lara, lebih baik Nyi Lara tetap berada di dalam gedung. Jika pertempuran tidak terhindarkan, Nyi
Lara bisa..."
"Ki Sarwo, saya sengaja ingin berada di tempat ini. Untuk menyaksikan bagaimana kita memberi
pelajaran pada Adipati tidak tahu diri itu." Menjawab Nyi Larasati lalu melirik pada Loh Gatra. Pemuda ini
bungkukkan badan dan berkata.
"Nyi Lara, saya siap mengorbankan raga dan nyawa demi keselamatan Nyi Lara..."
"Terima kasih Loh Gatra. Jasa pengabdianmu tidak akan aku lupakan..." kata Nyi Lara, menimbulkan
semangat besar di dada si pemuda.
Di kejauhan suara genderang semakin keras terdengar. Saat itulah tiba-tiba di pintu gerbang gedung
Kadipaten muncul seorang pemuda bertubuh gemuk luar biasa, mata besar belok, muka lucu segar
kemerahan dan tubuh keringatan. Di atas kepalanya bertengger sebuah peci kupluk. Si gemuk ini
mengenakan baju terbalik. Yaitu bagian depannya yang berkancing justru ada di sebelah punggung.
Sehelai kain sarung tersandang di bahu, melintang di depan dada. Di tangan kirinya orang ini memegang
sebuah kipas kertas. Sambil menyengir ha-ha he-he dia berjalan dan kipas-kipas wajahnya yang
keringatan.
Di luar sana puluhan, bahkan ratusan prajurit Kadipaten melakukan pengawalan ketat, bagaimana
manusia sebesar itu bisa lolos?
Para prajurit yang berada di halaman dalam gedung Kadipaten segera berlari menghadang, tapi
seperti dilabrak topan, setiap mendekat mereka terhuyung-huyung ke belakang. Yang berani memaksa
terpental jatuh duduk.
Nyi Gatra ternganga, Ki Sarwo kerenyitkan kening. Dua perwira Kadipaten bersiap waspada.
"Pendekar 212 Wiro Sableng..." ujar Nyi Larasati.

"Bukan, orang itu bukan Pendekar 212 Wiro Sableng," kata Loh Gatra cepat. "Pendekar 212 yang
saya temui tidak gemuk begitu. Rambutnya gondrong sebahu. Tidak pakai peci hitam. Tidak punya kipas
kertas..."
"Lalu siapa dia?" tanya Nyi Larasati terheran-heran.
Ki Sarwo tak bisa menjawab. Loh Gatra apa lagi. Dua perwira di kiri kanan Nyi Lara bungkam tapi
terus mengawasi si gemuk dengan pandangan tak berkedip.
"Dukk... dukk... dukk... dukkkk!"
Setiap langkah yang dibuat si gemuk mengeluarkan suara, menggetarkan tanah halaman. Enak saja
orang ini melangkah ke satu pohon besar di sisi kiri serambi gedung, lalu duduk menjelepok di tanah,
bersandar ke batang pohon sambil berkipas-kipas. Selusin prajurit mengelilinginya. Tapi tak ada yang
berani berbuat sesuatu.
"Panasnya hari ini! Aku haus, aku lapar..." Si gemuk buka peci kupluknya. Tangan kiri menggaruk
rambut, tangan kanan memegang peci sambil ditengadahkan, memandang ke arah orang-orang yang ada
di serambi.
"Dalam gedung besar dan mewah ini, pasti ada air sejuk dan makanan lezat. Apakah aku bisa
menikmati? Aduh, panasnya hari. Aku haus... aku lapar." Si gemuk ulurkan kopiah hitamnya.
"Pengemis sinting," kata perwira Kadipaten bernama Domas Tunggul. "Akik, kau urus orang gila itu.
Usir dia keluar tembok gedung Kadipaten. Kalau tak mau pergi, perintahkan para prajurit menggotong,
lemparkan ke luar halaman!"
Ki Sarwo Ladoyo hendak melarang tapi Akik Pranata, perwira Kadipaten itu telah melesat ke
halaman. Para prajurit yang mengurung si gendut di bawah pohon segera memberi jalan.
"Pemuda sinting!" Aki Pranata membentak. "Kadipaten sedang menghadapi urusan besar! Jangan
kau berani menambah perkara!"
"Perwira, aku... aku Kakekmu ini tidak berniat mengganggu, apa lagi mencari perkara! Aku hanya
haus dan lapar. Jika kau sudi memberi sekendi air putih dan sepiring nasi, Kakekmu ini akan sangat
berterima kasih..." Si gendut lalu ulurkan kopiah kupluknya.
Sepasang mata Akik Pranata mendelik besar. Jelas-jelas si gendut itu seorang pemuda berusia
sekitar dua puluhan. Mengapa dia memperbasakan dirinya sebagai seorang kakek? Dan sejak kapan dia
punya kakek seperti ini?!
"Dasar sinting!" hardik Akik Pranata. "Pergi mengemis di tempat lain! Angkat kaki dari sini! Atau aku
suruh pasukan melemparkanmu ke luar tembok Kadipaten. Biar dicincang orang-orang Salatiga!"
"Kualat... kualat!" kata si gendut sambil usap mukanya yang keringatan dan tenggerkan kembali
kopiah bututnya di atas kepala. "Kualat kau menyebut kakekmu ini sinting. Apalagi sampai melemparkan
aku keluar sana..." Si gendut julurkan dua kakinya, sandarkan punggung ke batang pohon. "Sudahlah,
kalau kau tidak mau memberi air dan makanan, biar aku berteduh di bawah pohon ini, melepaskan lelah.
Mohon jangan diganggu. "Lalu si gendut pejamkan mata sambil tangan kirinya menggoyang-goyang kipas
kertas.
"Pasukan!" teriak Akik Pranata. "Gotong dan lemparkan orang gila ini keluar halaman Kadipaten!"
Enam orang prajurit segera bergerak cepat hendak menggotong si gendut. Tapi baru saja mendekat
ke enamnya terhuyung-huyung lalu jatuh duduk di tanah. Si gemuk acuh saja, seperti tidak ada kejadian
apa-apa terus saja pejamkan mata berkipas-kipas.
Di serambi gedung Kadipaten Ki Sarwo geleng-geleng kepala. Nyi Lara semakin tercengang. Loh
Gatra tercekat, ada merasa lucu juga, sedang Domas Tunggul kepalkan tinju tanda jengkel.
Akik Pranata jadi marah. Dia ambil golok yang tersisip di pinggang salah seorang prajurit. Maksudnya
hendak menggetok kepala si gendut dengan gagang golok. Kalau dibikin pingsan lebih dulu nanti akan
mudah menggotong dan melemparkannya ke luar halaman. Namun sebelum maksudnya itu dilakukan
suara genderang menggema keras di pintu gerbang Kadipaten. Perhatian jadi terpecah. Puluhan prajurit
Kadipaten berjubalan di pintu gerbang namun tidak berbuat sesuatu sebelum mendapat perintah.
Di ambang pintu gerbang, lima orang penabuh genderang berdiri di depan kuda besar tunggangan
Adipati Salatiga Jatilegowo. Kuda ini diberi hiasan-hiasan kebesaran. Jatilegowo sendiri mengenakan
pakaian kebesaran Adipati, lengkap dengan topi tinggi berwarna hitam dengan umbai-umbai kuning
keemasan. Di kiri kanan mengapit dua orang perwira, lalu di sebelah belakang ada seorang tua
berpakaian dan memakai sorban putih. Disamping orang tua ini kelihatan seorang perwira yang dari
pakaiannya kentara kalau dia adalah perwira dari Kotaraja.
Begitu suara genderang menggema keras, si gemuk di bawah pohon serta merta buka sepasang
matanya yang sejak tadi terpejam. Sekilas dia memandang ke arah pintu gerbang, lalu settt! Hampir tak
dapat dipercaya. Orang luar biasa gemuk itu melayang enteng ke depan pintu gerbang, lalu menari-nari,
berjoget ria mengikuti suara gebrakan lima genderang. Dadanya yang gembrot dan perutnya yang buncit
bergoyang-goyang. Pantatnya diogel-ogel. Sesekali kopiah hitam butut di kepala dilemparkan ke atas,
ditangkap, dilemparkan lagi. Kalau saja saat itu bukan dalam suasana tegang mencekam karena orang

tahu sewaktu-waktu bisa terjadi pertempuran di tempat itu, melihat tingkah si gendut itu, sulit orang
menawan tawa.
Di atas punggung kuda Adipati Jatilegowo membelalak besar. Rahangnya menggembung dan
mukanya kelam memerah. Dia mengira si gendut sinting itu sengaja dipergunakan untuk menyambut
sekaligus menghinanya.
"Jahanam kurang ajar! Orang-orang Temanggung berani menghinaku! Menyambut kedatanganku
dengan orang gila seperti ini!" Geraham sang Adipati bergemelatakan. Dia mengangkat tangan. Suara
tambur serta merta berhenti.
"Hai! Kenapa berhenti?!" Si gendut berseru, memandang ke arah lima pemain tambur, sementara
pantatnya masih menyonggeng, "Terus! Terus! Ayo terus!"
Adipati Jatilegowo tak dapat lagi menahan marahnya. Dia sentakkan tali kekang kuda. Begitu kuda
maju, kaki kanannya menendang ke arah batok kepala si gendut. Si gendut seperti tak acuh kenakan topi
kupluknya kembali. Bersamaan dengan gerakannya itu, satu gelombang angin bersiur deras. Kaki kanan
Adipati Jatilegowo seperti dipagut tangan yang tak kelihatan. Hawa dingin aneh mendadak menjalar dari
kaki sampai ke ubun-ubun, membuat tubuhnya yang tinggi besar itu menggigil, geraham bergemeletakan.
Jatilegowo cepat kerahkan tenaga dalam, tapi sial, tubuhnya malah semakin keras terbetot ke bawah
dan tak ampun lagi jatuh dari kuda. Masih untung dia bisa membuat gerakan berjumpalitan hingga tidak
jatuh bergedebukan di tanah. Ketika dia memandang ke depan dengan marah beringas, si gemuk
dilihatnya tak ada lagi di hadapannya. Pemuda itu sudah duduk kembali di bawah pohon besar sambil
berkipas-kipas!

SEMBILAN

KINI semua orang tahu, pemuda gendut itu bukan orang sinting biasa tapi seorang berkepandaian tinggi
yang punya sifat konyol atau mungkin juga sengaja menutupi ketinggian ilmunya dengan berpura-pura
bersikap seperti orang kurang waras. Orang-orang Kadipaten Temanggung walau tidak ada yang
dicederai tetap saja merasa kawatir. Lain halnya dengan Adipati Jatilegowo yang merasa sangat dihina
dan marah besar karena dirinya dipermainkan oleh pemuda gendut berpeci kupluk itu.
"Adipati," salah seorang dari dua perwira pengiring berkata. "Serahkan si gendut gila itu pada kami.
Sementara kami mengawasi harap Adipati segera menemui tuan rumah sesuai rencana."
Mendengar ucapan pembantunya itu Adipati Jatilegowo jadi agak mengendur amarahnya. Dia
memberi isyarat pada orang tua berpakaian dan bersorban putih serta lelaki berdandanan perwira dari
Kotaraja. Kepada seorang prajurit kepala dia berkata. "Jangan bergerak sebelum aku beri tanda."
Adipati Salatiga itu diringi perwira Kotaraja dan orang tua bersorban putih kemudian melangkah
menuju gedung Kadipaten, berhenti di depan anak tangga pertama. Ki Sarwo segera mengenali, orang
berpakaian perwira Kotaraja itu adalah Ki Ageng Suranyala.
Sikap Jatilegowo seperti dulu, tidak memandang sebelah mata pada Ki Sarwo Ladoyo, menganggap
seolah orang tua itu tidak ada di depannya. Dia menatap Nyi Larasati sebentar, tersenyum sedikit lalu
berkata.
"Nyi Lara, aku datang memenuhi janji."
"Maaf Adipati, saya merasa tidak ada janji apa-apa di antara kita." menyahuti Nyi Lara.
Adipati Jatilegowo tertawa lebar. "Aku tidak akan berdebat denganmu Nyi Lara. Aku juga bersedia
melupakan penyambutan yang sangat menghina yang baru kau suguhkan..."
"Mengenai si gendut sinting itu," menengahi Ki Sarwo Ladoyo. "Kamipun tidak kenal padanya."
"Ki Sarwo," lelaki berpakaian perwira dari Kotaraja bernama Ki Ageng Suranyala bersuara untuk
pertama kalinya. "Aku tahu kau orang jujur. Tapi mengapa kali ini bicara dusta! Orang sinting itu berada di
dalam halaman gedung Kadipaten. Sudah ada di sini sebelum kami datang! Aneh kalau kau berkata tidak
kenal padanya!"
"Ki Ageng, tidak usah perdulikan orang gila itu," kata Adipati Jatilegowo. Lalu dia kembali
memandang pada Nyi Lara dan berkata.
"Empat puluh hari telah lewat. Suka atau tidak suka, hari ini adalah hari kenyataan, hari perjanjian.
Aku datang untuk meminangmu. Bersamaku saat ini, aku membawa serta Ki Tumapel Babadsara, kadi
dari Wonosegoro yang bertindak selaku penghulu dan akan menikahkan kita."
Semua orang yang ada di serambi gedung Kadipaten tentu saja terkejut mendengar ucapan
Jatilegowo itu. Sang Adipati tidak main-main. Dia datang membawa serta penghulu untuk menikahkannya
dengan Nyi Larasati.
Ki Sarwo mendehem beberapa kali lalu berkata. "Adipati Jatilegowo, pinanganmu tidak pernah
diterima dan disetujui oleh Nyi Lara, bagaimana mungkin melakukan pernikahan?"
"Orang tua!" kata Jatitegowo dengan mata besar mencorong. "Aku tidak ada urusan denganmu! Kau
seharusnya bersyukur tidak kubunuh habis dalam bentrokan tempo hari!" Jatilegowo palingkan muka ke
arah Nyi Lara kembali. "Nyi Lara, kurasa kau tidak akan berlaku bodoh menolak pernikahan kita hari ini.
Tetapi jika kau keras kepala, saat ini aku membawa tiga ratus prajurit. Gedung Kadipaten ini sudah
terkurung. Para pengawal dan prajurit Kadipaten tidak akan sanggup membendung kami. Puluhan bahkan
ratusan korban akan jatuh. Aku tidak akan ragu-ragu meratakan Kadipaten Temanggung sama rata
dengan tanah. Namun sebelum itu terpaksa aku lakukan, ada baiknya kalian mendengar Ki Ageng
Suranyala membacakan surat perintah dari Patih Kerajaan."
Adipati Jatilegowo anggukkan kepala, memberi isyarat pada lelaki berpakaian perwira Kerajaan di
samping kanannya. Orang ini, Ki Ageng Suranyala membuka satu gulungan kertas yang sejak tadi
dipegangnya. Dari bentuk dan warna kertas Ki Sarwo Ladoyo tahu kalau kertas itu adalah kertas yang
biasa dipakai untuk surat-surat Kerajaan. Dengan lantang Ki Ageng Suranyala membacakan isi surat.
"Surat Perintah. Patih Kerajaan Pertama, atas nama Kerajaan dengan ini memerintahkan. Perintah
Pertama. Memerintahkan penangkapan atas diri Ki Sarwo Ladoyo dan segera dibawa ke Kotaraja. Yang
bersangkutan dicurigai sebagai pelaku, sekurang-kurangnya terlibat atas kematian dua orang pemuda
yaitu Raden Tambak Suryo dan Raden Prameswara. Perintah Kedua. Ditujukan pada Nyi Larasati, janda
almarhum Adipati Temanggung Jalapergola. Dengan meninggalnya Adipati tersebut maka Nyi Larasati
tidak berhak lagi menempati atau tinggal di gedung Kadipaten Temanggung. Untuk itu, kepadanya
diberikan waktu selama tujuh hari dari saat pembacaan Surat Perintah ini, agar segera meninggalkan
gedung Kadipaten dan tidak diperkenankan membawa barang-barang yang bukan miliknya pribadi. Atas

nama Kerajaan. Patih Kerajaan. Tertanda: Selo Kaliangan."
Selesai Ageng Suranyala membacakan surat, suasana di tempat itu diselimuti kesunyian. Sesaat
kemudian kesunyian baru meledak oleh teriakan Loh Gatra.
"Fitnah! Fitnah busuk! Kakekku tidak berbuat jahat. Beliau tidak membunuh Raden Prameswara dan
Raden Tambak Suryo!"
Ageng Suranyala memperhatikan Loh Gatra lalu bertanya pada Adipati Jatilegowo.
"Siapa pemuda itu?"
"Namanya Loh Gatra. Dia cucu Ki Sarwo..."
"Pemuda yang mungkin menjadi sainganmu dalam mendapatkan Nyi Lara?" ujar Ageng Suranyala
sambil tersenyum.
"Jangan bicara yang membuatku tidak senang. Tugasmu sudah selesai membacakan Surat Perintah.
Mundur ke belakangku!"
Ageng Suranyala tersenyum tapi dia memang jerih terhadap Adipati Salatiga ini, maka tanpa banyak
bicara dia ikuti perintah, mundur dua langkah.
"Nyi Lara," tiba-tiba Jatilegowo keluarkan ucapan. "Seperti aku katakan dulu, aku punya banyak
teman di Kotaraja. Jika kau menerima pernikahan kita hari ini maka aku bisa membuat Surat Perintah itu
untuk tidak diberlakukan..."
Di atas kursi, Ki Sarwo Ladoyo angkat tangan kirinya. "Ki Ageng Suranyala," kata Ki Sarwo.
"Setahuku Patih Kerajaan Selo Kaliangan dalam keadaan sakit. Bagaimana dia mungkin membuat dan
menandatangi Surat Perintah itu? Ki Ageng, apa aku boleh melihat surat itu?" (Mengenai riwayat sakitnya
Patih Selo Kaliangan, harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Kembali ke Tanah Jawa" terdiri dari 6
Episode)
"Ki Sarwo, sebagai orang terhukum kau tidak punya hak dan tidak layak bicara!" membentak Adipati
Jatilegowo.
"Justru seorang tertuduh dan terhukum punya hak untuk bicara dan membela diri! Kerajaan adalah
tempat mencari keadilan hukum! Bukan untuk mencelakakan warga! Apa yang dituduhkan dalam Surat
Perintah itu masih harus dibuktikan!" Loh Gatra berkata setengah berteriak.
"Pemuda bau kencur! Jangan banyak bicara! Kalau perlu kaupun akan kupenjarakan dengan tuduhan
membantu kakekmu membunuh dua pemuda itu!"
"Semua ini akal licikmu karena Nyi Lara menolak pinanganmu!" teriak Loh Gatra.
"Ha... ha! Cucu Ki Sarwo sudah pandai bicara besar seperti kakeknya. Pengawal! Tangkap pemuda
itu!" perintah Jatilegowo.
Seorang perwira dan lima orang prajurit segera bergerak. Dari pihak Kadipaten Temanggung, perwira
Domas Tunggul dan dua belas prajurit segera pula bergerak menghalangi orang-orang Jatilegowo.
"Tunggu!" tiba-tiba ada orang berseru dari bawah pohon besar. Itu bukan bentakan biasa karena
membuat tanah dan pohon besar bergetar, telinga mengiang dan dada berdenyut. Ternyata yang berseru
adalah si gendut sinting. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, sisipkan kipas di ketiak kiri lalu sett! Sekali
berkelebat sosoknya yang besar gembrot itu melayang ke udara, melewati prajurit-prajurit Salatiga yang
mengurungnya.
Sesaat kemudian dia sudah berada di pertengahan tangga gedung Kadipaten. Selagi semua orang
melongo melihat kejadian itu si gendut membuka peci hitam kupluknya, membungkuk sambil
mengayunkan peci dari kiri ke kanan, memberi hormat ke arah Nyi Lara, Ki Sarwo dan Loh Gatra.
"Nyi Lara," ucap si gendut dengan suara dibikin-bikin semerdu mungkin dan mulut dikecil-kecilkan.
"Jika Nyi Lara, memang tak sudi mengambil si kumis melintang muka sangar itu menjadi suami Nyi Lara,
apakah Nyi Lara sudi mengambil patik yang hina buruk dan sebatang kara ini sebagai pengganti suami
yang hilang? Hik... hik, apa iya Nyi Lara sudi? Hik... hik!" Habis berkata begitu si gendut ini lalu petatang
peteteng memperagakan diri, kepala dimiringkan. pantat diogel-ogel, dada dibusungkan lalu perut yang
buncit dikedut-kedut. Tak lupa mata dikedip-kedipkan.
"Suit... suittt!"
Entah dari mana datangnya begitu si gendut tadi selesai berucap terdengar dua kali suara suitan.
Sepasang mata si gedut berputar-putar. Beberapa orang berusaha mencari sumber suitan tapi tak
berhasil. Suara suitan itu seolah datang dari berbagai jurusan.
Walau saat itu keadaan tegang mencekam, tapi banyak orang tak dapat lagi menahan diri mendengar
ucapan dan melihat lagak si gendut. Ledakan tertawa terdengar dimana-mana, terutama dari orang-orang
Kadipaten Temanggung.
"Bedebah kurang ajar!" Jatilegowo tak dapat menahan diri. "Makan tendanganku!" Lalu dia melompat
ke tangga gedung. Kaki kanan menderu ke punggung si gendut yang masih petatang-peteteng jual lagak.
Kalau tendangan itu mengenai sasarannya, punggung si gendut bukan saja akan remuk, tubuhnya akan
mencelat mental. Tapi hebatnya tanpa berpaling ke belakang si gendut gerakkan tangan kirinya. Tahu-
tahu tangan itu berhasil menangkap pergelangan kaki Adipati Jatilegowo lalu diangkat tinggi-tinggi

sehingga sang Adipati terpaksa mengimbangi diri agar tidak jatuh. Dalam marah dan malu amat sangat,
Adipati Jatilegowo gerakkan tangan kiri dan kanan, siap melepas pukulan Dua Gunung Meroboh Langit.
Ini adalah pukulan sakti yang jarang musuh sanggup menghadapi. Salah satu contohnya adalah Ki Sarwo
Ladoyo. Sampai saat itu si orang tua masih menderita luka dalam yang parah. Tapi Adipati Jatilegowo
menjadi heran ketika dia dapatkan tak bisa menggerakkan dua tangan. Malah dari kakinya yang dipegang
si gendut terasa ada hawa dingin mengalir. Saat itu juga sekujur tubuhnya seolah berubah menjadi es.
kaku dingin luar biasa!
"Nyi Lara, patik menunggu jawaban. Percayalah, sekalipun Nyi Lara menolak, patik tidak akan
meratakan Kadipaten Temanggung sama rata dengan tanah seperti ancaman si kumis melintang muka
binyawak ini!"
"Bangsat jahanam! Kau minta mati! Lepaskan kakiku!" teriak Adipati Jatilegowo.
"Huss diam!" kata si gendut sambil melintangkan jari tangan di depan mulut. "Aku tidak bicara
denganmu, binyawak hutan!"
Ki Sarwo Ladoyo geleng-geleng kepala. Loh Gatra tercekam heran. Semua orang ikut heran dalam
ketegangan.
Hanya Nyi Lara yang tersenyum. Walau mungkin kemunculan si gendut ini menjengkelkan banyak
orang termasuk dirinya, namun diam-diam Nyi Lara merasa, si gendut aneh dan lucu konyol seperti orang
sinting dan tak tahu diri ini adalah seorang berhati baik di samping memiliki kepandaian tinggi dan
agaknya berada di pihaknya. Maka Nyi Larapun berkata.
"Sahabatku gendut, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Jujur saja aku tak bisa memenuhi
permintaanmu." Nyi Larasati akhirnya keluarkan ucapan.
"Ah, patik suka orang jujur. Terima kasih atas penolakanmu. Patik yang buruk ini harus tahu diri. Kau
sebut patik ini sebagai sahabat saja sudah senang rasanya. Terima kasih, Nyi Lara. Semoga Nyi Lara
menemukan jodoh yang baik. Patik mohon diri, kembali ke bawah pohon!"
"Settt!" si gendut goyangkan tubuhnya. Sosok gemuk itu melesat di udara dan di lain saat dia sudah
kelihatan kembali di bawah pohon, duduk menjelepok di tanah sambit berkipas-kipas. Tapi kali ini matanya
tidak dipejamkan, malah melirik kian kemari. Dalam hati dia membatin. "Suara siulan tadi. Dua kali...
Susah kuketahui dari mana asal datangnya. Seolah datang dari empat jurusan. Hemmm... mudah-
mudahan saja memang dia. Tapi setahuku dia tidak punya ilmu mengacaukan suara seperti itu..."
Kembali pada Adipati Jatilegowo. Si gendut sudah kembali duduk di bawah pohon, berkipas-kipas.
Tapi anehnya sang Adipati masih tertegak di anak tangga gedung Kadipaten, kaki kiri berdiri lurus di atas
tangga, kaki kanan naik ke atas seperti saat tadi ditahan oleh si gendut. Tubuh Adipati itu kelihatan
bergetar, kulitnya berubah memutih. Sekujur badannya dilanda hawa dingin yang hebat hingga
mengeluarkan asap tipis. Dari mulutnya terdengar suara "Uuhh... uhhh..." berulang kali diseling kutuk
serapah panjang pendek!
Ki Ageng Suranyala dalam kagetnya melihat keadaan sang Adipati segera lari menaiki tangga.
"Adipati, apa yang terjadi?!" Perwira Kotaraja itu bertanya. Dipegangnya bahu Jatilegowo. Tangan itu
tersentak. Bahu sang Adipati dingin luar biasa, seolah telah berubah jadi es!
"Ki Ageng, lekas bantu aku! Alirkan hawa panas ke punggungku. Cepat!"
Mendengar ucapan Jatilegowo Ki Ageng Suranyala segera letakkan dua telapak tangan di punggung
Jatilegowo lalu kerahkan tenaga dalam untuk mengalirkan hawa panas. Asap mengepul dari punggung
yang ditempeli dua telapak tangan. Ki Ageng Suranyala memang dikenal sebagai perwira yang memiliki
tenaga dalam tinggi, satu tingkat di atas Adipati Jatilegowo. Tubuhnya bergetar ketika dia merasa hawa
dingin yang hendak di tumpas malah merembet, menjalar masuk ke dalam tubuhnya. "Celaka!" keluhnya
dalam hati.
"Adipati! Tak ada jalan lain! Hawa dingin tak mungkin ditumpas. Aku terpaksa harus memukul
punggungmu agar hawa panas bisa menembus masuk!"
"Suittt... suiitt!"
Tiba-tiba kembali terdengar suara siulan keras.
"Jahanam! Siapa yang bersuit itu!" Jatilegowo memaki.
Ki Ageng Suranyala tarik dua tangannya ke belakang. Tenaga dalam dikerahkan habis! Lalu dia
memukul.
"Bukk! Bukkk!"
Asap kelabu mengepul dari punggung yang dipukul. Adipati Jatilegowo tersungkur ke depan lalu jatuh
ke bawah tangga. Topi tingginya tanggal, tercampak ke tanah. Ki Ageng Suranyala terpental, terguling ke
bawah tangga. Ketika sama-sama jatuh di tanah, kedua orang itu bergeletakan satu di atas satu di bawah.
Hidung Adipati Jatilegowo mendarat di pipi Ageng Suranyala.
Di bawah pohon si gendut tiba-tiba berjingkrak dan tertawa gelak-gelak sambil menunjuk-nunjuk ke
arah dua orang yang jatuh tumpang tindih.
"Adipati! Rupanya kau suka mencium laki-laki. Ha... ha! Jangan-jangan kau punya kelainan! Pantas

Nyi Lara tidak suka padamu! Ha... ha...!"
Amarah menggelegak di dada Adipati Jatilegowo. Dia melompat dan berteriak pada orang-orangnya.
"Kurung gendut jahanam itu! Jangan sampai lolos! Aku akan menanggalkan kepalanya dengan
tanganku sendiri!" Masih dalam kobaran amarah Adipati Salatiga itu berpaling pada Nyi Larasati.
"Nya Lara, janda keparat tak tahu diri! Pasti kau dan jahanam tua Sarwo Ladoyo mengatur semua ini.
Kau menyuruh si gendut jahanam itu membokongku!" Saat itu hawa dingin di tubuh Jatilegowo telah
lenyap. "Kalau aku terpaksa tidak mendapatkanmu, tidak jadi apa. Tapi tidak seorang lainpun bisa
memperistrikanmu! Terima kematianmu!" Jatilegowo angkat dua tangannya.
Ki Sarwo Ladoyo terkejut. Dari gerakan orang dia segera tahu kalau Adipati Jatilegowo benar-benar
hendak membunuh Nyi Larasati. Karena serangan yang hendak dilancarkannya adalah pukulan maut Dua
Gunung Meroboh Langit.
Di atas kursi Ki Sarwo Ladoyo segera berkata pada cucunya. "Loh Gatra, saatnya kau turun tangan!"
Mendengar perintah kakeknya itu Loh Gatra segera melompat ke hadapan Adipati Jatilegowo.
* * *

SEPULUH

DIHADANG orang Adipati Jatilegowo jadi tambah menggelegak amarahnya. Apalagi yang menghadang
adalah pemuda yang dianggapnya bau kencur dan dicemburuinya sebagai hendak merebut Nyi Lara.
"Bocah jahanam! Kau memang minta mampus!"
Jatilegowo menggeram. Tubuhnya berkelebat sambil tangan kanannya bergerak. Cepat sekali
jotosan mautnya menggebuk ke arah batok kepala si pemuda. Serangan yang dilancarkan sang Adipati
bukan pukulan "Dua Gunung Meroboh Langit." Mungkin Adipati ini mengira untuk menghabisi bocah tengik
satu ini tidak perlu mengeluarkan pukulan saktinya itu, cukup pukulan biasa dengan pengerahan setengah
kekuatan tenaga dalam.
Tapi alangkah kagetnya Jatilegowo ketika tiba-tiba di depannya bersiur angin deras disertai
berkiblatnya cahaya berkilauan.
"Breett!"
Jatilegowo terpekik kaget, cepat melompat mundur dan dapatkan ujung lengan kanan bajunya
hangus, robek besar. Memandang ke depan dilihatnya Loh Gatra tegak memegang sebilah keris
memancarkan sinar putih, terbuat dari perak murni.
Ageng Suranyala perwira Kotaraja terkesiap. Dia mengenali senjata di tangan si pemuda. "Keris
Tumbal Bekisar!" serunya tertahan.
Saat itu kejut Adipati Jatilegowo telah sirna. Dia mendengar apa yang barusan diucapkan Ageng
Suranyala. Dia pernah mendengar kehebatan senjata mustika itu. Ageng Suranyala cepat mendekati sang
Adipati dan berbisik.
"Keris di tangan pemuda itu tidak bisa dibuat main. Adipati harus bisa merampas keris atau
membunuh si pemuda dengan cepat. Jangan tunggu lebih lama. Langsung pergunakan pukulan Dua
Gunung Meroboh Langit. Tenaga dalam penuh. Satu arahkan ke dada si pemuda, satu tujukan pada keris
yang dipegangnya!" Habis membisiki Ageng Suranyala cepat menjauh, tak mau jadi korban keganasan
Keris Tumbal Bekisar.
Melihat gerak gerik Ageng Suranyala, Loh Gatra maklum kalau lawannya tengah menyiapkan satu
serangan dahsyat. Karenanya sebelum Adipati Jatilegowo menyerang, pemuda itu cepat mendahului. Dia
menyergap sambil mengirimkan serangan berantai. Satu tusukan dua kali babatan.
"Bagus, maju lebih dekat! Maju lebih dekat!" teriak Jatilegowo. Lalu duajangannya dihantamkan ke
depan.
"Wusss! Wusss!"
Dua gelombang angin melanda Loh Gatra.
"Pukulan Dua Gunung Meroboh Langit! Loh Gatra! Awas!" teriak Ki Sarwo memberi ingat cucunya.
Saat itu Loh Gatra telah melompat, membuang diri ke samping. Pukulan yang mengarah dada
berhasil dihindarkan. Tapi serangan yang menghantam ke tangan kanan, melabrak telak Keris Tumbal
Bekisar.
Letupan keras disertai pancaran bunga api menjulang ke udara. Keris Tumbal Bekisar kepulkan asap
putih. Kalau keris ini bukan merupakan senjata sakti mandraguna niscaya begitu dihantam pukulan "Dua
Gunung Meroboh Langit" akan hancur, paling tidak bengkok tak karuan. Keris boleh ampuh tapi Loh Gatra
yang memegang senjata itu ternyata tak sanggup menahan hebatnya hantaman pukulan. Tubuhnya
terpental sampai satu tombak.
Nyi Larasati terpekik. Ki Sarwo terlonjak di kursinya.
Loh Gatra merasa tangan kanannya berat dan kaku. Dadanya mendenyut sakit. Ketika dia berusaha
bangkit, muka pucat kaki tertekuk, dari mulutnya kelihatan lelehan darah. Hantaman lawan melukai
tubuhnya sebelah dalam. Masih untung Loh Gatra memegang keris sakti hingga sebagian kekuatan
pukulan Jatilegowo terbendung. Kalau tidak pasti saat itu nyawanya sudah amblas dengan tubuh hancur!
Namun Loh Gatra belum terlepas dari bahaya maut. Lawan yang melihat dirinya berada dalam keadaan
tak berdaya seperti itu kembali menghantam melepas pukulan. "Dua Gunung Meroboh Langit" dengan
tangan kiri kanan sekaligus!
"Celaka cucuku!" seru Ki Sarwo Ladoyo. Kakek yang masih belum sembuh dari luka dalamnya ini
melompat dari kursi. Dorongkan dua tangan ke arah Jatilegowo. Namun dari samping kiri Ageng
Suranyala, perwira dari Kotaraja tak tinggal diam. Begitu Ki Sarwo bergerak dia segera melompat sambil
kirimkan satu jotosan ke dada si orang tua.
Ilmu kepandaian Ageng Suranyala maupun tingkat tenaga dalamnya tidak berada di atas Ki Sarwo.
Namun sesepuh Kadipaten Temanggung itu masih berada dalam keadaan cedera berat. Karenanya
begitu dia menangkis pukulan lawan dengan tangan kiri, Ki Sarwo langsung terhuyung. Selagi dia

berusaha mengimbangi diri jotosan berikutnya yang dilancarkan Ageng Suranyala bersarang tepat di
dadanya.
"Bukkk!"
Ki Sarwo terpental. Darah menyembur dari mulutnya. Nyi Larasati kembali terpekik. Dua perwira
Kadipaten Temanggung Domas Tunggul dan Akik Pranata tak tinggal diam. Domas Tunggul cepat
menolong Ki Sarwo sedang Akik Pranata melompat ke hadapan Ageng Suranyala. Antara keduanya
segera terjadi perkelahian kosong. Jurus-jurus pertama perkelahian tampak seimbang, namun jurus-jurus
berikutnya Akik Pranata mulai terdesak. Setelah menerima beberapa pukulan keras, Akik Pranata
terpaksa cabut kelewang yang tersisip di pinggangnya. Melihat lawan menghunus senjata Ageng
Suranyala segera pula mencabut pedangnya. Pertempuran antara ke dua orang ini kembali berkecamuk
seru, ditonton oleh pasukan ke dua belah pihak.
Pukulan "Dua Gunung Meroboh Langit" menderu dahsyat ke arah Loh Gatra, tak mampu ditangkis
tak mungkin dielakkan. Loh Gatra hanya bisa melintangkan Keris Tumbal Bekisar di depan dada.
Di bawah pohon besar si gendut berseru keras melihat pukulan maut yang tak dapat dielakkan Loh
Gatra itu. Tangannya yang memegang kipas siap bergerak namun dia kedahuluan oleh sambaran cahaya
putih menyilaukan disertai menggebuhnya hawa panas, memapas pukulan Dua Gunung Meroboh Langit.
"Pukulan Sinar Matahari!" teriak si gendut di bawah pohon.
"Bummm! Bummmm!"
Dua ledakan dahsyat menggelegar. Halaman dan bangunan gedung Kadipaten bergetar. Tanah dan
pasir berhamburan ke udara.
Loh Gatra jatuh terduduk di kaki tangga. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Pada
tanah halaman Kadipaten dia melihat dua buah lobang besar kehitaman. Di seberang sana Adipati
Jatilegowo berdiri seperti patung. Mukanya pucat pasi. Lututnya tertekuk. Perlahan-lahan lelaki tinggi
besar ini jatuh berlutut di tanah. Dia sadar sesuatu terjadi dengan dirinya. Maka dia cepat duduk bersila
atur jalan darah dan pernafasan.
Ketika Loh Gatra alihkan pandangan ke arah pintu gerbang, kagetlah pemuda ini. Kaget bercampur
gembira. Di tiang tinggi pintu gerbang sebelah kanan, duduk seorang pemuda berambut gondrong,
uncang-uncang kaki seenaknya sambil menyantap buah jamblang.
"Pendekar 212," ujar Loh Gatra.
Di serambi gedung Kadipaten Nyi Larasati yang juga telah melihat orang di atas tiang pintu gerbang
itu ikut berucap. "Pendekar 212. Dia pasti Pendekar 212..."
Kehadiran si gondrong di atas pintu gerbang serta merta menarik perhatian semua orang yang ada di
sana.
"Pendekar 212 anak edan!" si gendut di bawah pohon berteriak pada pemuda di atas pintu gerbang.
"Kau makan apa?! Jangan makan sendirian!"
"Aku makan jamblang! Dut, gendut! Kau mau?!" jawab si gondrong yang memang Pendekar 212 Wiro
Sableng adanya.
"Mau... mau! Sudah lama aku tidak makan jamblang!"
"Ambil sendiri ke sini!" teriak Wiro.
"Ah, aku malas jalan ke sana! Lemparkan saja!" jawab si gendut lalu dongakkan kepala dan buka
mulutnya lebar-lebar.
Wiro Sableng menyeringai. Tangannya bergerak. Tiga buah jamblang melesat di udara, satu persatu
kemudian masuk ke dalam mulut si gendut. Si gendut segera melahapnya sampai mengeluarkan suara
menyiplak keras. Habis menelan buah jamblang itu dia lalu tertawa gelak-gelak. "Enak... enak..." katanya.
Di atas pintu gerbang Pendekar 212 Wiro Sableng ikutan tertawa gelak-gelak. Membuat semua orang
tambah terheran-heran melihat tingkah dua manusia aneh itu tapi juga dibuat jadi senyum-senyum.
"Sahabatku Bujang Gila Tapak Sakti!" murid Sinto Gendeng berseru. "Lama tidak bertemu. Ada
urusan apa kau di tempat ini?!"
"Lama tidak bertemu! Aku dengar kau sudah empat kali kawin!"
"Sialan!" maki Wiro.
Si gendut tertawa mengekeh.
"Kata orang ada gula ada semut. Dimana ada perempuan cantik disitu si gendut ini ada! Ha-ha...!"
Pemuda gendut berkopiah kupluk ternyata adalah pendekar aneh yang dikenal dengan sebutan Bujang
Gila Tapak Sakti. Dia tertawa gelak-gelak sambil menundingkan ibu jarinya ke arah Nyi Larasati yang
berdiri di serambi gedung Kadipaten. (Mengenai riwayat Bujang Gila Tapak Sakti silahkan baca serial Wiro
Sableng berjudul "Bujang Gila Tapak Sakti.")
Pendekar 212 Wiro Sableng melirik ke arah serambi gedung lalu tertawa lebar. Diam-diam dia
mengagumi kecantikan Nyi Larasati. Nyi Larasati sendiri seperti harap-harap cemas. Dia memang
mengharapkan kemunculan Pendekar 212 untuk menolongnya. Tapi mana dia menduga kalau sang
pendekar ternyata sama sintingnya dengan si gendut di bawah pohon. Apakah orang-orang

berkepandaian tinggi itu memang sinting semua pikir Nyi Lara.
"Hai Wiro!" Bujang Gila Tapak Sakti berseru sambil berkipas-kipas. "Tadinya aku mau melamar Nyi
Lara yang cantik itu. Tapi dapat saingan sama si kumis melintang muka kadal itu!" Bujang Gila Tapak
Sakti menunjuk ke arah Adipati Jatilegowo. "Untungnya Nyi Lara tidak suka pada si muka kadal itu.
Disuruh pulang eh malah mengancam mau meratakan Kadipaten Temanggung sama rata dengan tanah
dan mau membunuh Nyi Lara. Apa tidak edan?!"
Di tempatnya duduk bersila Adipati Jatilegowo langsung mendidih amarahnya begitu mengetahui
pemuda gondrong di atas pintu gerbang adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Dia kerahkan tenaga dalam
penuh, melompat bangkit. Tampang mengelam, rahang menggembung dan dua tinju terkepal.
"Pendekar 212 jahanam! Kau berani berbuat mesum dengan istriku! Turun dari pintu gerbang itu!"
"Waladalah!" Bujang Gila Tapak Sakti berseru kaget. "Wiro, hebat juga kau sekarang. Suka
mengganggu istri orang!"
"Enak saja! Main tuduh sembarangan!"
"Pendekar 212 turun!" teriak Jatilegowo sambil maju dua langkah.
"Aku lagi enak makan jamblang! Kalau kau mau naik saja kesini!"
"Keparat sinting setan alas!" teriak Jatilegowo berang besar. Dia gerakkan dua tangannya melepas
pukulan Dua Gunung Meroboh Langit.
"Wuttt... wuttttt!"
"Braaakkk! Byaarrrr!"
Pintu gerbang Kadipaten Temanggung hancur berantakan. Selusin sosok bergeletakan di sekitar
pintu gerbang yang hancur. Mereka adalah para prajurit Kadipaten Temanggung dan Kadipaten Salatiga
yang tak sempat selamatkan diri dari pukulan Dua Gunung Meroboh Langit yang tadi dilepaskan
Jatilegowo. Pendekar 212 sendiri tidak kelihatan. Si gondrong tak kelihatan, apa sudah jadi mayat dan
terkapar di antara sosok-sosok hancur para prajurit? Semua mata mencari-cari, termasuk Jatilegowo
sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak. Mula-mula cuma satu, lalu dibarengi oleh suara tawa
lainnya. Ketika semua orang memandang ke bawah pohon, ternyata Pendekar 212 Wiro Sableng sudah
berada di sana, saling memegang bahu dengan si gendut Bujang Gila Tapak Sakti dan tertawa gelak-
gelak.
Adipati Jatilegowo benar-benar merasa dihina dipermainkan. Dia melompat ke bawah pohon.
"Pendekar 212! Aku mengadu jiwa dengan kau! Bangsat!"
Jotosan keras menderu ke arah kepala Wiro. Murid Sinto Gendeng cepat menyingkir.
"Bujang Gila, kau tolong orang-orang Kadipaten Temanggung yang bertempur di sekitar tangga. Biar
kadal ini aku yang menghadapi..."
"Wiro, tangkap dia hidup-hidup. Kadal berkumis macam dia mungkin enak dibuat pepes!" jawab
Bujang Gila Tapak Sakti. Sambil tertawa mengekeh dia melompat ke arah serambi gedung kadipaten
dimana terjadi perkelahian seru antara Akik Pranata dan Domas Tunggul melawan Ageng Suranyala dan
seorang perwira Kadipaten Salatiga.
Setelah selamatkan kepalanya dari jotosan Jatilegowo, Wiro bersikap seenaknya, sandarkan diri ke
batang pohon dan rangkapkan dua tangan di atas dada lalu berkata.
"Adipati, sebaiknya kau dan orang-orangmu kembali saja ke Salatiga. Nyi Lara tidak suka
bersuamikan orang macammu. Sebagai laki-laki seharusnya kau malu dan tahu diri. Setahuku kau sudah
punya dua istri. Muda-muda dan cantik-cantik. Jika tak dapat Nyi Lara, kau bisa cari yang lain..."
"Bangsat gondrong! Mulut kotormu biar kusumpal dengan ini!" teriak Jatilegowo. Kembali pukulannya
menderu. Wiro cepat mengelak.
"Braaakkk!"
Pukulan Jatilegowo menghantam pohon di belakang Pendekar 212 hingga hancur, patah, lalu
tumbang dengan suara menggemuruh. Luar biasa, jarang Wiro melihat ada pukulan begitu hebat hingga
sanggup menumbangkan pohon besar. Serangan Jatilegowo datang bertubi-tubi. Dua jurus pertama murid
Sinto Gendeng dibuat kalang kabut dan harus andalkan kecepatan untuk mengelakkan pukulan dan
tendangan lawan.
Jurus ke tiga sampai ke lima Wiro masih bisa bertahan. Pada jurus ke enam dia terpaksa keluarkan
jurus-jurus ilmu silat orang gila. Tapi serangan lawan laksana air bah. Apa lagi pukulan-pukulan yang
dilancarkan Adipati Salatiga itu adalah pukulan Dua Gunung Meroboh Langit yang sangat berbahaya.
Melihat Wiro keluarkan jurus silat aneh, Jatilegowo tak mau kalah. Dia segera rubah jurus-jurus
silatnya. Setiap pukulan yang dilancarkan disertai aji kesaktian Dua Gunung Meroboh Langit. Hal ini
sangat berbahaya bagi Wiro. Jika tubuh apalagi kepalanya sampai terkena pukulan lawan, nyawanya tak
akan tertolong.
Wiro kerahkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. Kelebatannya laksana bayang-bayang.
Jatilegowo mengejar terus. Wiro bertahan dan sesekali ganti menyerang. Dia ingin menangkap Adipati ini

hidup-hidup. Beberapa kali dia berusaha menotok urat besar di leher dan dada lawan tapi Jatilegowo yang
sudah bisa membaca apa yang hendak dilakukan Wiro mempercepat gerakannya. Di jurus ke dua puluh
dia membuat gerakan tipuan dan berhasil susupkan satu tendangan keras ke pinggul kiri Wiro

SEBELAS

PENDEKAR 212 terpental sampai dua tombak. Dia menggigit bibir sendiri menahan sakit. Pinggulnya
serasa hancur. Ketika dia bangkit berdiri tubuhnya kelihatan miring ke kiri.
"Sobatku, nasibmu malang nian! Jangan-jangan akibat kebanyakan makan jamblang!" Bujang Gila
Tapak Sakti meledek lalu tertawa gelak-gelak. Sebelumnya perhatian semua orang tertuju pada
pertempuran antara Wiro dengan Jatilegowo. Ketika Bujang Gila berseru tadi, sebagian dari orang-orang
itu berpaling dan jadi kaget tapi juga merasa lucu. Ternyata saat itu Bujang Gila Tapak Sakti enak-enakan
duduk sambil berkipas-kipas di atas tumpukan dua sosok tubuh yang berada dalam keadaan tertotok.
Kedua orang yang dijadikan bantalan dudukan itu adalah Ageng Suranyala dan seorang perwira
pembantu yang sebelumnya bertempur melawan orang-orang Kadipaten Temanggung. Si gendut yang
pemalas itu mana mau berkelahi berpanjang-panjang. Dua kali berkelebat dia berhasil menotok lawan, lalu
ditumpuk, dijadikan dudukan! Setiap tertawa tubuh Bujang Gila Tapak Sakti bergoncang-goncang. Dua
orang yang jadi dudukannya merasa seperti dihimpit batu besar ratusan kati, merintih tak berkeputusan.
Murid Sinto Gendeng tidak perdulikan ejekan Bujang Gila. Masih menahan sakit tendangan, di depan
sana Adipati Jatilegowo dilihatnya kembali melancarkan pukulan Dua Gunung Meroboh Langit. Sepasang
tangannya bergetar dan memancarkan cahaya redup pertanda serangannya kali ini dilakukan dengan
pengerahan seluruh tenaga dalam serta kekuatan hawa sakti yang dimilikinya.
Dua lutut Pendekar 212 menekuk. Kaki menjejak tanah. Di lain saat tubuhnya melesat ke udara. Dua
tangan menghantam berbarengan. Tangan kiri melepas pukulan Tangan Dewa Menghantam Air Bah
untuk membentengi diri dari serangan lawan sedang tangan kanan melancarkan pukulan Tangan Dewa
Menghantam Tanah. Dua pukulan sakti ini didapat Wiro dari Datuk Rao Basaluang Ameh melalui Kitab
Putih Wasiat Dewa. Begitu melepas dua pukulan dengan cerdik Wiro segera berpindah tempat dengan
cara berjungkir balik di udara sehingga dia terhindar dari terpaan berbahaya angin pukulan yang masih
mengandung tenaga dalam dahsyat. Lain halnya dengan Jatilegowo. Ketika angin pukulan berbalik, dia
hanya sempat membungkuk. Angin pukulan berdesing, memang hanya melesat lewat di atas kepalanya,
namun dua kakinya melesak ke dalam tanah sampai satu jengkal, dada mendenyut sakit, pemandangan
berkunang. Aliran darah tersendat kacau!
Beradunya dua pukulan sakti membuat halaman Kadipaten laksana dilanda gempa. Atap serambi
gedung Kadipaten runtuh. Loh Gatra cepat membawa kakeknya dan Nyi Larasati ke tempat aman. Di
halaman belasan orang jatuh berkaparan termasuk penghulu Tumapel Babadsara. Malah sorban orang
tua ini sampai tanggal dan bergulingan di tanah! Kuda-kuda meringkik keras. Tanah, pasir dan debu
bertaburan menutupi pemandangan. Saat itulah Jatilegowo melihat ada bayangan putih berkelebat lalu
merasakan sambaran angin di wajahnya. Ada hawa dingin di bagian hidung. Dia meraba dengan tangan
kiri dan tersentak kaget. Hidungnya tak ada lagi! Apa yang terjadi?
Ketika tanah, pasir dan debu surut dan pemandangan terang kembali, Tumapel Babadsara yang
tengah berusaha bangkit dan tak sengaja memandang ke arah Adipati Jatilegowo jadi terkesiap kaget.
"Astaga! Adipati, apa yang terjadi. Hidungmu..."
Jatilegowo kembali meraba hidungnya, meraba dan mengusap pulang balik. Tapi hidung itu memang
sudah tidak ada di tempat semestinya. Adipati berteriak tak karuan. Semua orang kini memandang
padanya. Heran ada, kasihan ada, lucu juga ada. Bujang Gila Tapak Sakti tertawa gelak-gelak. Saat itu
Pendekar 212 telah berdiri di sebelahnya, ikut-ikutan tertawa. Dari balik pakaian dia keluarkan buah
jamblang, dibagi separuh pada Bujang Gila Tapak Sakti. Sambil menyantap jamblang manis itu keduanya
terus saja tertawa-tawa.
"Usap terus sampai tua!" seru si gendut. "Sayang tak ada cermin. Adipati Jatilegowo, apa tidak tahu
kalau hidungmu sudah amblas, berpindah ke jidat? Ha... ha... ha!"
Adipati Jatilegowo kaget setengah mati. Ketika dia meraba keningnya, mukanya yang garang jadi
pucat pasi. Benar apa yang dikatakan si gendut. Hidungnya telah pindah dan kini menempel di kening.
Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi? Siapa yang punya perbuatan?!
"Ha... ha!" Bujang Gila Tapak Sakti tertawa geli. "Kau apakan si muka kadal itu? llmu apa yang kau
pergunakan sampai bisa memindah hidung besarnya ke jidat?! Ha... ha... ha! Eh sobatku jahil! Dari mana
kau dapat ilmu itu."
Seperti diketahui, ketika tersesat ke Negeri Latanahsilam, dari nenek sakti bernama Luhkentut alias
Luhpingitan dan bergelar Hantu Selaksa Angin Wiro telah mendapat ilmu kesaktian bernama Menahan
Darah Memindah Jasad. Dengan ilmu ini Wiro bisa memindahkan bagian tubuh orang ke mana saja yang
diinginkannya. (Baca kisah petualangan Wiro di negeri 1200 tahun silam mulai dari Episode "Bola Bola
Iblis.")

Pendekar 212 menyengir dan garuk-garuk kepala. "Kau mau hidung si kadal itu kupindah ke
jidatmu?!"
"Tobat! Tampangku sudah jelek. Kalau ditambah satu hidung lagi di jidatku ampun! Mukaku akan
lebih jelek dari kadal benaran! Ha... ha...!"
Orang-orang Kadipaten Salatiga jadi geger. Mereka tak ingat lagi maksud kedatangan semula ke
Temanggung yakni untuk menyerbu. Semua memperhatikan Adipati mereka tanpa bisa berbuat suatu
apa.
"Pendekar 212 jahanam! Dia mengerjai aku! Harus kubunuh dia sekarang juga!" Adipati Jatilegowo
menggeram. Tangannya masih mengusap muka dan hidung. Darah mendidih. Didahului teriakan dahsyat
Jatilegowo melompat ke hadapan Wiro. Dua tangan menghantamkan pukulan Dua Gunung Meroboh
Langit.
Wiro semburkan biji jamblang di mulutnya. "Edan! Si kadal ini masih galak rupanya!"
"Dia benar-benar minta kubikin jadi ikan pepes!" Bujang Gila Tapak Sakti berkata. "Wiro, kalau kita
bunuh si kadal ini bisa jadi urusan dengan Kerajaan. Bagaimana kalau kita gembosi saja ilmu
kesaktiannya yang sangat berbahaya itu!"
"Apa kita mampu, Dut?! Kalau serangannya tembus kita berdua yang jadi ikan pepes!"
"Kalau kita mati, kita mati terhormat! Dalam membela kebenaran dan keadilan!"
"Enak saja kau bicara. Aku masih ingin hidup!" tukas Wiro.
"Ya, ya! Karena kau banyak kekasih!" jawab Bujang Gila Tapak Sakti lalu sambil tertawa bergerak
menyongsong serangan Jatilegowo. Dia berseru.
"Kau tangan kanan, aku tangan kirinya! Kau hawa panas aku hawa dingin!" Habis berkata begitu
Bujang Gila Tapak Sakti angkat tangan kirinya menyambut jotosan tangan kiri Adipati Jatiiegowo. Tangan
kiri itu mengeluarkan hawa dingin luar biasa, berubah putih dan mengepulkan asap kebiru-biruan.
Menurut riwayatnya Bujang Gila Tapak Sakti pernah dipendam selama bertahun-tahun di puncak
maha dingin Gunung Mahameru. Dari situlah dia mendapatkan ilmu kesaktian berupa kandungan hawa
sakti dingin. Konon ilmu "Angin Es" yang dimiliki Pendekar 212 warisan gurunya Eyang Sinto Gendeng
masih kalah hebat dengan ilmu yang dimiliki Bujang Gila Tapak Sakti.
Wiro tak bisa berbuat lain. Serangan Jatilegowo sudah menderu ke arahnya. Dia segera kerahkan aji
"Pukulan Sinar Matahari." Tangan kanannya serta merta berubah menjadi putih laksana perak.
Berlawanan dengan tangan kiri Bujang Gila Tapak Sakti yang mengeluarkan hawa sangat dingin maka
tangan kanan Wiro menghampar hawa sangat panas.
Ki Ageng Suranyala yang saat itu masih dalam keadaan tertotok dan berada di bawah himpitan tubuh
perwira Kadipaten Salatiga dan sempat melihat apa yang terjadi serta merta berteriak memberi ingat.
"Adipati! Lekas menyingkir! Berbahaya!" Tapi dalam amarah begitu rupa Jatilegowo mana mau
mendengar seruan Ageng Suranyala. Dua tangannya meneruskan menghantamkan pukulan Dua Gunung
Meroboh Langit. Dua tangan memukul, dua tangan lainnya menyambuti. Masing-masing disertai aliran
tenaga dalam tinggi dan ilmu kesaktian luar biasa.
"Bukkk!" "Bukkk!"
Empat tangan beradu di udara. Dua cahaya berkiblat. Satu putih menyilaukan dan panas, satunya
lagi putih kebiruan dan dingin.
"Mati aku!" Bujang Gila Tapak Sakti yang sosoknya ratusan kati itu mencelat tiga tombak,
menggelundung di tanah di depan kaki tangga gedung Kadipaten. Ki Sarwo pejamkan mata, mengira si
gendut itu sudah menemui ajal. Loh Gatra keluarkan seruan tertahan. Nyi Larasati yang satu-satunya
menghambur mendatangi ke bawah tangga.
"Pendekar... Saudara, kau tak apa-apa?"
Sosok gemuk Bujang Gila Tapak Sakti berdiri terhuyung-huyung. Nafasnya menguik-nguik seperti
orang bengek. Hidungnya kembang kempis. Mukanya merah sekali. Tapi dia masih bisa tersenyum dan
kedipkan matanya.
"Terima kasih Nyi Lara, kau ada perhatian terhadap diri patik yang buruk ini." Si gendut tertawa lebar,
kedipkan lagi matanya lalu batuk-batuk. Dari mulutnya keluar darah.
"Kau terluka!" ujar Nyi Lara kaget. Bujang Gila Tapak Sakti seka mulutnya. Tangannya kelihatan
merah oleh darah. Lalu sambil tertawa dia berkata.
"Ah, ini bukan darah. Tapi gula aren. Tinggal mencari getuknya saja. Ha-ha... ha!"
Nyi Lara geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa orang terluka dalam seperti itu masih sempat-
sempatnya bergurau. Dia berpaling ke kiri, ke arah dimana Pendekar 212 tadi terlempar dan saat itu
tengah duduk bersila di tanah, mata terpejam, mengatur jalan nafas dan aliran darah. Mukanya pucat.
Tangan kanannya kaku dan kelihatan membengkak kemerahan. Dari sela bibirnya meleleh darah. Nyi
Lara cepat mendatangi Wiro, melihat hal ini si gendut Bujang Gila mencibir.
"Patik cemburu... Patik cemburu!" katanya berulang kali lalu tertawa mengekeh dan bangkit berdiri
sambil pegangi perut gendutnya.

"Pendekar 212, Wiro..." Nyi Lara hendak memegang bahu Wiro, bahkan saat itu hendak memeluk
sang pendekar. Tapi dia sadar dan segera membatalkan niat itu.
Wiro buka sepasang matanya. "Saya tak apa-apa. Sebaiknya Nyi Lara kembali ke dalam gedung.
Semuanya telah berakhir, tapi hal tak terduga bisa saja terjadi..."
Nyi Lara mengangguk. Karena tak tahu mau berkata apa lagi dia kembali ke serambi gedung. Di
bagian lain dari halaman gedung, puluhan prajurit Kadipaten Salatiga mengelilingi Adipati mereka yang
saat itu tergeletak di tanah. Tangan kanannya menghitam seperti hangus. Sebaliknya tangan kiri putih
memucat. Kedua tangan itu sama-sama mengepulkan asap. Yang kanan mengepulkan asap panas, yang
kiri asap berhawa dingin. Dari mulut Jatilegowo keluar erang tak berkeputusan. Dua matanya terpentang
lebar seperti orang siap sekarat. Di dalam tubuhnya, aliran darahnya berkecamuk aneh. Ada hawa panas
dan hawa dingin membuatnya seolah disayat-sayat dari kepala sampai ke kaki. Darah berlelehan dari
mulutnya. Mukanya yang garang sangat tampak mengerikan, apa lagi tanpa hidung dan hidung yang ada
kini melekat di kening.
"Aku... aku perintahkan kembali... kembali ke Salatiga..." Ucapan itu keluar tersendat-sendat dari
mulut Jatilegowo. Adipati ini kemudian minta tolong dipapah bangun. Begitu berdiri, matanya mencorong
beringas. Pandangannya garang menerpa Nyi Lara, Pendekar 212 dan Bujang Gila Tapak Sakti.
"Orang-orang Temanggung. Ingat baik-baik! Aku akan kembali untuk membuat perhitungan dengan
kalian!"
Bujang Gila Tapak Sakti tertawa gelak-gelak. Sambil menunjuk-nunjuk pada Jatilegowo dia berkata.
"Cara perhitungan itu bagaimana? Satu ditambah satu sama dengan dua atau..."
"Sobatku Bujang Gila!" Pendekar 212 Wiro Sableng memotong. "Aku rasa dia tak mungkin lagi
berhitung satu tambah satu sama dengan dua. Tapi kini menurut dia pasti satu tambah satu sama dengan
dua setengah! Ha... ha... ha!"
Rahang Adipati Jatilegowo menggembung. Tubuhnya terbakar oleh amarah dan dendam kesumat
luar biasa. "Aku bersumpah akan membunuh kalian semua! Semua!" Lalu tubuhnya terkulai lemah. Para
prajurit segera menggotongnya meninggalkan halaman gedung Kadipaten. Bujang Gila Tapak Sakti
lepaskan totokan di tubuh Ageng Suranyala dan perwira muda Salatiga yang tadi dijadikannya bantalan
dudukan. Walau ada rasa dendam dan marah tapi ke dua orang ini tanpa berani berbuat atau berucap apa
segera tinggalkan tempat itu. Tinggal kini si orang tua Tumapel Babadsara. Dia tidak segera pergi tapi
melangkah dan memandang kian kemari seperti mencari-cari sesuatu. Bujang Gila Tapa Sakti dekati
orang tua ini. Dari balik punggung pakaiannya dia keluarkan sebuah benda putih yang ternyata adalah
sorban milik Tumapel Babadsara.
"Orang tua, apa kau mencari ini?" tanya Bujang Gila Tapak Sakti.
Tumapel Babadsara berpaling. Melihat sorban putihnya di tangan orang segera dia hendak
mengambil, tapi Bujang Gila Tapa Sakti cepat tarik tangannya. Dia tanggalkan kopiah butut kupluk di
kepalanya dan kenakan sorban putih.
"Kita tukaran, ya? Kau ambil peciku ini. Aku ambil sorbanmu!" kata Bujang Gila Tapak Sakti pula.
"Aku sudah tua, jangan bergurau," kata Tumapel Babadsara pula.
"Sudah tua... sudah tua. Aku lebih tua darimu, tahu! Kau pantas memanggil Kangmas padaku! Ha...
ha... ha!"
"Kembalikan sorbanku," pinta Tumapel Babadsara.
Bujang Gila Tapak Sakti ambil sorban di atas kepalanya. Sorban itu diulurkannya, ketika si orang tua
hendak mengambil, Bujang Gila tarik tangannya lalu tertawa gelak-gelak. "Aku akan kembalikan
sorbanmu, tapi kau harus mau meluluskan satu permintaanku..."
"Permintaan apa?" tanya Tumapel Babadsara dengan perasaan jengkel.
"Kau harus menikahkan aku dengan Nyi Lara!"
Si orang tua tercengang, memandang ke arah Nyi Lara di serambi gedung Kadipaten yang jadi
terkejut pula mendengar kata-kata si gendut itu. Pendekar 212 sendiri ikut melengak. Dia ulurkan tangan
kiri. Telapak tangan diletakkan di atas kening si gendut lalu sambil tersenyum dia berkata, "Panas, pantas
sintingnya angot lagi! Ha... ha... ha! Kek, kalau kau nanti menemukan kerbau bunting, kau boleh
menikahkan sobatku ini dengan kerbau itu. Ha... ha... ha!"
"Kalian berdua sama sablengnya!" Tumapel Babadsara memaki marah lalu dengan kesal dia
memutar tubuh tinggalkan tempat itu.
"Hai! Kek! Sorbanmu!" teriak Bujang Gila Tapak Sakti.
Tumapel Babadsara tidak menjawab, berpalingpun tidak. Dia melangkah terus ke arah kudanya.
Bujang Gila Tapak Sakti geleng-geleng kepala. "Sudah tua masih gede ambegnya," katanya. Lalu
tangannya bergerak melemparkan sorban. Sorban putih itu melesat berputar-putar di udara lalu melayang
turun dan tepat jatuh di atas kepala Tumapel Babadsara!

DUA BELAS

SIANG itu Gunung Lompobatang diselimuti mendung tebal. Tapi hujan tak kunjung turun dan sang surya
tidak muncul menampakkan diri. Orang tua bernama Sarontang duduk tak bergerak di tebing batu. Mata
terpentang, telinga dipasang. Dia sudah menangkap suara ladam kaki-kaki kuda di kejauhan. Hatinya
lega. Orang yang ditunggu tak lama lagi akan segera datang. Perlahan-lahan Sarontang pejamkan mata.
Tangan kanan mengusap-usap tali berbentuk jalin yang melilit keningnya.
Tak selang berapa lama dua penunggang kuda muncul di tebing batu itu. Di sebelah depan seorang
pemuda berpakaian dan berdestar biru, di sebelah belakang seorang lelaki tinggi besar yang bukan lain
adalah Jatilegowo, Adipati Salatiga. Dia mengenakan kain kepala warna merah yang menutup sampai di
kening. Si pemuda segera turun dari kudanya menemui Sarontang.
"Kakek," pemuda berbaju biru berkata. "Saya membawa orang jemputan dari tanah Jawa yang
berlabuh di Teluk Bantaeng."
Tanpa membuka matanya Sarontang berkata. "Kekasihku Bontolebang, kau telah melaksanakan
tugas dengan baik. Kau boleh pergi. Tunggu aku di Gua Nipanipa."
Si pemuda berpaling pada orang yang dibawanya ke tempat itu, lalu naik ke atas kuda. Jatilegowo
hendak menanyakan sesuatu tapi Bontolebang sudah berlalu. Perlahan-lahan Adipati Salatiga ini turun
dari kudanya. Dia berdiri di hadapan si orang tua dan berucap.
"Saya Jatilegowo, Adipati Salatiga Tanah Jawa. Apakah saya berhadapan dengan kakek sakti
bernama Sarontang?"
"Benar sekali. Tamu yang telah lama ditunggu dan datang dari jauh. Aku adalah Sarontang."
Perlahan-lahan Sarontang membuka ke dua matanya yang sejak tadi terpejam. Mata itu mendadak
membesar, kening mengerenyit dan mulut ternganga terkesiap.
"Wajahmu tidak seperti yang kulihat dalam mimpi sambung rasa. Hidungmu... Jatilegowo, apa yang
terjadi dengan hidungmu?"
Jatilegowo mengusap hidungnya yang licin gerumpung. "Seorang pendekar gila Tanah Jawa tapi
berkepandaian tinggi mencelakai saya. Hidung saya dipindahkannya ke kening." Habis berkata begitu
Jatilegowo membuka kain ikatan kepalanya.
Kembali mata Sarontang membesar dan kening mengerenyit ketika melihat di kening tamunya
memang menempel daging berbentuk hidung.
"Tidak pernah aku mendengar, apa lagi melihat ilmu kesaktian aneh yang bisa memindah bagian
tubuh manusia ke tempat lain seperti ini. Jatilegowo, siapa pendekar berkepandaian tinggi yang kau
maksudkan itu?"
"Namanya Wiro Sableng. Dia bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212."
Sarontang terlonjak kaget. Dia bangkit berdiri dan tegak berhadap-hadapan dengan Jatilegowo. "Aku
tidak mengira kalau pendekar itu yang melakukan. Kau akan mengalami kesulitan seumur hidup jika dia
yang kau jadikan lawan. Aku pernah mendengar kehebatan pemuda itu dari para pelaut Mengkasar yang
sering pergi ke Tanah Jawa."
"Orang tua, saya kecewa mendengar kata-katamu," ujar Jatilegowo pula. "Jauh-jauh saya
menyeberang lautan. Datang ke Tanah Makasar, Tanah Bugis yang katanya gudang orang pandai,
gudang segala macam ilmu. Ki Sulung Kertogomo, orang yang memberi petunjuk begitu yakin bahwa kau
akan mampu menolong saya. Tapi barusan mendengar ucapanmu, saya jadi punya dugaan bahwa nama
Pendekar 2t2 Wiro Sableng menggetarkan hatimu. Apakah juga menggetarkan Tanah Makasar?"
Sarontang tersenyum. "Jatilegowo. Orang pandai ada dimana-mana. Setiap ada yang hebat, ada
yang lebih hebat. Begitu seterusnya. Aku tidak malu mengatakan bahwa di negeri ini ilmu kepandaianku
tidak seberapa dibanding dengan para tokoh lainnya. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa menolongmu.
Selain itu, ada seorang lain yang bakal membantumu."
Jatilegowo terdiam sebentar. Lalu berkata. "Perihal senjata badik yang saya inginkan itu, apakah
saya akan mendapatkannya?"
"Senjata itu telah disiapkan. Kau akan mendapatkannya. Aku akan mengantarkanmu pada orang
sakti yang membuatnya..."
"Apakah senjata itu akan memberi kekebalan pada saya seperti yang diterangkan oleh Ki Sulung
Kertogomo?"
Sarontang mengangguk. "Apa yang kau minta akan terpenuhi. Tapi ada satu hal harus kau ingat.
Pemberian badik itu adalah merupakan satu perjanjian. Perjanjian antara kau dengan aku. Lalu pemberian
badik itu juga merupakan satu persumpahan. Persumpahan antara kau dengan orang yang memberikan.
Badik itu adalah Badik Sumpah Darah..."

"Apapun perjanjian dan sumpah yang perlu saya angkat, akan saya lakukan." Jawab Jatilegowo.
"Satu hal ingin saya tanyakan. Apakah orang sakti pembuat Badik Sumpah Darah itu mampu mengangkat
hidung di kening saya, mengembalikannya ke tempat semula?"
"Aku tidak bisa menjawab. Kau bisa tanyakan langsung nanti pada orang pandai itu."
"Siapa orang pandai itu. Dimana dia sekarang?" tanya Jatilegowo.
"Namanya Daeng Wattansoppeng. Dia adalah saudaraku sendiri. Dia diam di Telaga Malakaji, di kaki
selatan Gunung Lompobatang ini..."
"Kapan saya bisa menemuinya?"
"Dalam satu dua hari ini kita akan turun gunung. Aku akan membawamu padanya..."
"Mengapa tidak berangkat sekarang saja? Saya tak bisa meninggalkan Tanah Jawa terlalu lama."
"Kalau menurut keinginanku, akupun mau cepat-cepat berada di tanah Jawa. Apakah Patih Kerajaan
Selo Kaliangan masih terbaring sakit?"
"Bagaimana kau tahu sakitnya Patih Kerajaan?" balik bertanya Jatilegowo.
"Itulah alam terkembang. Berita baik berita buruk dilayangkan angin kemana-mana..." jawab
Sarontang sambil tersenyum.
"Orang tua, jadi kita tak bisa berangkat sekarang?" Jatilegowo mendesak.
"Segala sesuatunya telah diatur. Kita harus melakukan sesuatu ketentuan. Tidak lebih tidak kurang.
Harap kau bisa bersabar. Aku akan memberi makan anak-anak di Hutan Bantaeng terlebih dulu..."
Jatilegowo tak sempat bertanya. Sarontang gerakkan tangan kiri kanan mengambil batu-batu yang
bertumpukan di sampingnya lalu dilemparkan ke udara ke arah serombongan burung-burung besar yang
melayang tepat di atas puncak Gunung Lompobatang. Terdengar suara menguik tak berkeputusan.
Jatilegowo mendongak ke langit. Dia menyaksikan bagaimana puluhan burung besar dihantam lemparan
batu, lalu melayang jatuh ke kaki gunung. Di kaki gunung yang diselimuti rimba belantara itu kemudian
terdengar suara lolongan aneh. Seperti raungan binatang dan pekik jerit manusia. Kalau sebelumnya
Jatilegowo merasa kagum akan kehebatan si orang tua, kini diam-diam tengkuknya terasa dingin.
Mulutnya tak bisa menahan untuk bertanya.
"Orang tua, siapa yang kau maksudkan dengan anak-anak di Hutan Bantaeng itu. Saya mendengar
suara lolongan. suara pekik jerit aneh di bawah sana..."
Sarontang usap rambut birunya yang berminyak lalu tersenyum. "Satu ketika, jika kau ada
kesempatan kau akan melihat mereka. Mereka adalah anak-anak yang aku bawa dari Tanah Jawa, anak-
anak yang aku lindungi dan sebaliknya mengawal diriku siang malam."
Jatilegowo merasa heran mendengar ucapan Sarontang. Lalu dia ingat sesuatu. "Masih ada satu hal
yang ingin saya tanyakan," katanya. Si orang tua tersenyum dan anggukkan kepala. "Ketika saya sampai
di sini, kau memanggil pemuda bernama Bontolebang yang menjemput saya di teluk dan mengantar saya
ke sini dengan sebutan kekasihku. Saya tidak mengerti."
Sarontang tertawa perlahan. Dia usap-usap dua tangannya. "Kelak kau akan mengerti." Lalu
Sarontang duduk bersila di tebing batu. Dia menatap lekat-lekat ke wajah Jatilegowo lalu berucap.
"Sekarang aku harap kau menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhmu."
Terkejutlah Adipati Salatiga ini mendengar kata-kata si orang tua. "Orang tua, apa saya tidak salah
mendengar?"
"Kau tidak salah mendengar, aku tidak salah berucap Tanggalkan semua pakaianmu. Kalau sudah
berbaring di atas pangkuanku."
Jatilegowo balas menatap si orang tua. "Kau tidak bergurau, tidak main-main...?"
"Aku tidak bergurau, juga tidak main-main," jawab Sarontang.
"Untuk apa aku harus membuka pakaian dan berbaring di pangkuanmu?"
Sarontang mendongak lalu tertawa panjang. "Itu adalah salah satu dari perjanjian yang harus kau
lakukan demi mendapatkan Badik Sumpah Darah!"
"Gila!" rutuk Jatilegowo dalam hati. "Perjanjian aneh. Sebelumnya kau tidak menerangkan, tidak
mengatakan janji itu..."
"Perjanjian aku yang membuat. Aku hanya akan memberitahu dan mengucapkan. Kau hanya tinggal
melaksanakan. Itu ketentuan dan aturan yang berlaku. Semua apa yang aku katakan tidak sulit untuk
melakukan. Apa susahnya membuka pakaian. Bukankah begitu?"
"Aneh, manusia aneh!" kata Jatilegowo dalam hati. Namun saat itu keanehan juga telah menyungkupi
dirinya. Semakin lama dia menatap wajah orang tua yang duduk bersila di hadapannya, semakin bergetar
hatinya. Lalu Jatilegowo mengusap matanya sampai berulang kali. Wajah tua itu mendadak berubah
menjadi wajah seorang perempuan muda berparas jelita. Mirip-mirip paras Nyi Larasati yang digilainya.
Sarontang tersenyum.
Entah sadar entah tidak Jatilegowo balas tersenyum. Lalu perlahan-lahan tangannya bergerak
membuka pakaiannya. Di kejauhan terdengar suara lolongan aneh. Di balik sebuah batu besar seorang
pemuda memperhatikan apa yang terjadi. Pemuda ini adalah Bontolebang, sang kekasih Sarontang yang

rupanya tidak segera meninggalkan tempat itu, tapi bersembunyi di balik batu besar dan mengintai.
Dalam hati Bontolebang berkata. "Lima tahun aku menunggu untuk mendapatkan ilmu yang
dijanjikan. Orang asing berwajah aneh itu agaknya akan mendapatkan apa yang dimintanya lebih cepat
dari diriku. Pak Tua Sorentang berlaku licik padaku. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menemui
Kakek Daeng Wattansopeng. Badik Sumpah Darah itu harus jadi milikku!"
Bontolebang tinggalkan tempat persembunyian, berlari cepat ke tempat dimana dia meninggalkan
kudanya.

                                     TAMAT

Episode Berikutnya

MAYAT PERSEMBAHAN


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive