Malam hari di pantai Losari. Walau angin bertiup cukup kencang dan udara dingin,
air laut tampak tenang. Sejak senja sebuah kapal kayu besar berbendera merah
bergambar naga hitam telah melego jangkar di perairan Tanjung Losari. Pada saat
malam bertambah gelap karena bulan separuh lingkaran tertutup awan, dari pintu di
lambung kapal sebelah kanan keluar dua orang bertubuh tinggi tegap, berpakaian dan
berikat kepala serba putih. Orang pertama masih muda, bertampang keren, berkumis kecil.
Di sampingnya berdiri seorang lelaki berusia lanjut, kakek memelihara janggut dan kumis
menjulai sampai di bawah dagu, berwarna hitam karena dicat. Kedua orang ini sama-sama
memiliki alis tinggi mencuat, bermata sipit dan berkulit kuning.
Saat itu sebuah tangga telah terpasang, menghubungi pintu di kapal dengan sebuah
sampan yang sejak petang hari telah merapat di perut kapal kayu. Sampan ini ditunggui
seorang pendayung berpakaian hitam. Orang tua di pintu kapal berpaling pada lelaki muda
di sampingnya.
“Ingat rencana. Begitu sampai di daratan tukang perahu itu harus kau habisi! Kita
tidak mau ada seorangpun saksi hidup dalam urusan ini! Kau mengerti Siauw Cie?” Lelaki
muda berkumis kecil yang dipanggil dengan nama Siauw Cie anggukkan kepala. Lalu
berkata.
“Silahkan Bun enghiong. “ (enghiong = orang gagah/panggilan kehormatan).
Orang tua she Bun mundur satu langkah. “Kau turun duluan,” katanya. Kedua orang
ini bicara dalam bahasa Cina.
Siauw Cie kencangkan buhul kain putih ikat kepala lalu tidak menunggu lebih lama
tanpa menuruni tangga langsung saja melompat, melayang masuk ke dalam sampan. Ketika
dua kakinya menginjak lantai sampan, perahu kecil ini sedikitpun tidak oleng. Satu
pertanda bahwa Siauw Cie memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Hal ini
diperhatikan oleh pemilik sampan dengan berdecak penuh kagum.
Hanya sesaat setelah Siauw Cie berada di atas sampan, orang tua bernama Bun Pek
Cuan melesat pula ke bawah. Ternyata dia memiliki gerakan lebih sebat serta ilmu
meringankan tubuh lebih andal dibanding Siauw Cie. Ini terlihat selain sampan tidak
bergerak, sampan kayu kecil ini juga tidak diberati dan tidak turun masuk ke dalam air laut.
Di atas sampan kedua orang Cina itu tidak duduk melainkan tetap berdiri.
Begitu dua orang berpakaian serba putih sudah berada di atas sampan serta melihat
isyarat anggukan kepala dari Siauw Cie, pemilik sampan yang sejak tadi menunggu segera
kali memperhatikan tangan Siauw Cie menyapu air dan sampan melesat kencang, pemilik
perahu akhirnya letakkan dayung di atas pangkuan dan hanya duduk tertawa-tawa.
Jauh di tepi pantai terlihat satu nyala api. Sampan diarahkan menuju cahaya itu. Tak
lama kemudian mereka memasuki arah timur Tanjung Losari dan akhirnya merapat di
daratan. Di situ telah menunggu seorang yang membawa sebuah lentera kecil. Nyala api
lentera inilah yang tadi terlihat dari tengah laut. Tak jauh dari situ kelihatan tiga ekor kuda
tengah merumput.
Bun Pek Cuan melompat ke darat lebih dulu. Di atas sampan Siauw Cie dekati
pemilik perahu sambil tangannya mengeruk saku pakaian. Mengira akan menerima bayaran
pemilik perahu langsung ulurkan tangan kanan dengan telapak terkembang. Tapi yang
keluar dari dalam saku Siauw Cie bukannya uang bayaran melainkan dua buah jari lurus
sekeras besi.
“Bett!”
Sekali hantam saja tanpa suara tubuh pemilik sampan terkulai roboh di lantai
sampan. Pada kening kelihatan dua buah lobang mengucurkan darah! Siauw Cie angkat
orang yang telah jadi mayat itu lalu dicemplungkan ke dalam laut.
Orang yang membawa lentera kecil tidak melihat apa yang terjadi di atas sampan
karena selain. hal itu berlangsung sangat cepat dan tanpa suara, pandangannya terhalang
oleh sosok tinggi besar Bun Pek Cuan. . Bun Pek Cuan mendatangi lelaki yang membawa
lentera. Lalu berkata. “Namaku Hantu Putih. Kami orang-orang perjanjian. Kami datang
membekal kata sandi Malam Gelap. Beritahu namamu, ucapkan kata sandi. “ ternyata Bun
Pek Cuan panda) berbahasa daerah setempat walau tidak begitu lancar.
Lelaki berpakaian hitam yang memegang lentera kecil membungkuk sedikit.
“Namaku Hantu Hitam. Kata sandiku Laut Dingin. “
Saat itu Siauw Cie sudah berada di samping Bun Pek Cuan. “Bagaimana, apakah
enghiong sudah memeriksa?”
“Nama dan kata sandinya cocok. Dia memang orang kita,” jawab Bun Pek Cuan.
Lelaki bernama samaran Hantu Hitam campakkan lentera ke laut lalu melangkah ke arah
tiga ekor kuda yang tengah merumput.
*
* *
Perkuburan Karangsembung terletak di barat daya Tanjung Losari. Selain udara gelap
dan dingin, kabut aneh yang tak biasanya muncul kini terlihat mengambang di beberapa
sudut tanah pemakaman, membuat suasana terasa menggidikkan. Lapat-lapat di kejauhan
terdengar suara rentak kaki kuda mendatangi. Tak lama kemudian seolah setan di malam
buta, dari kegelapan tampak tiga ekor kuda dan tiga penunggang melompat pagar rendah
batas timur tanah pekuburan. Di depan sekali adalah lelaki berpakaian hitam si Hantu
Malam. Di belakangnya menyusul Bun Pek Cuan dan Siauw Cie.
Setelah berputar-putar beberapa kali di tanah pekuburan yang cukup luas itu, mereka
sampai di hadapan sebuah makam. Makam yang mereka datangi masih baru. Ini terlihat
dari gundukan tanah yang masih merah dan berbagai macam bunga masih segar bertebaran
di atas gundukan tanah makam
“Kuburan ini tidak ada papan atau batu nisan. Apa kau yakin ini kuburan yang kita
tuju?” Siauw Cie bertanya pada Hantu Hitam, mempergunakan bahasa setempat.
“Kubur ini memang sengaja tidak diberi tanda. Tapi sahabat berdua tidak perlu
khawatir. Sejak pagi orang-orangku telah mengawasi pekuburan ini. “
“Pasti ini kuburannya Nyi Inten Kameswari?” tanya Bun Pek Cuan.
“Kami tidak mau kesalahan membuat urusan,” menimpali Siauw Cie.
“Pasti! Seribu pasti!” jawab Hantu Hitam meyakinkan.
“Kapan jenazah Nyi Inten dimakamkan?”
“Menjelang sore tadi. . . “
“Bisa kita gali sekarang?” tanya Bun Pek Cuan.
“Bisa. . . “ jawab Hantu Hitam.
“Kita butuh tenaga dan peralatan,” berkata Siauw Cie.
“Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan. “ Hantu Hitam lalu keluarkan suara
suitan dua kali. Dari kegelapan malam melompat keluar dua lelaki berpakaian hitam-hitam
bertubuh kekar. Masing-masing membawa pacul dan obor yang belum dinyalakan. Hantu
Hitam memberi isyarat. Dua orang yang barusan datang segera menyalakan obor lalu
ditancapkan pada kuburan di kiri kanan makam baru. Tempat itu kini jadi terang
benderang. Selanjutnya ke dua orang ini dengan cepat menggali makam yang menurut
Hantu Hitam adalah makam Nyi Inten Kameswari.
Cukup lama menggali akhirnya jenazah ditemukan lalu dinaikkan ke atas.
Dibaringkan di tanah. Keadaannya masih utuh, terbungkus kain kafan yang dilumuri tanah
liat.
“Bun enghiong, jenazah sudah siap. . . . “ berkata Siauw Cie. Orang tua berkumis
menjulai anggukkan kepala. Lalu dia jongkok di samping jenazah. Lima jari tangan kanan
Bun Pek Cuan mengusap dan meraba bagian pinggang lalu pindah ke arah perut. Lima jari
tangan orang tua ini mendadak tampak bergetar.
“Siauw Cie, aku sudah menemukan letaknya yang tepat,” ucap Bun Pek Cuan
setengah berbisik.
“Silahkan Bun enghiong melanjutkan. Saya akan memagari tempat ini,” jawab Siauw
Cie. Lalu dia dongakkan kepala, sepasang mata dipejamkan dan dua tangan direntang di
depan dada dengan telapak mengembang. “Enghiong, keadaan aman. . . “
“Sett. . . sett. . . . sett. . . sett. . . sett!”
Di bawah nyala dua api obor, di atas kain kafan putih tibatiba satu persatu secara
aneh lima jari tangan Bun Pek Cuan melesat panjang, berwarna hitam dengan lima kuku
terpentang mencuat seperti ujung-ujung pisau putih berkilat, luar biasa tajam!
Hantu Hitam merasa tengkuknya dingin sementara dua orang yang tadi menggali
kuburan berdiri dengan muka pucat dan sama tersurut dua langkah. Sesuatu yang
mengerikan akan terjadi!
“Wuttt!”
Tibatiba tangan kanan Bun Pek Cuan menghunjam ke bawah. Menembus tepat di
perut jenazah Nyi Inten Kameswari.
“Brettt!” kain kafan robek.
Di kejauhan terdengar suara raungan anjing. Suasana terasa tambah tegang
menggidikkan.
Tangan kanan Bun Pek Cuan amblas hampir sebatas siku
Serta merta kain kafan putih kotor dibasahi darah. Pergelangan tangan Bun Pek Cuan
membuat putaran ke kiri dan ke kanan. Tak selang berapa lama perlahan-lahan tangan itu
diangkat kembali. Keadaannya berlumuran darah. Di dalam genggaman tangan si orang tua
kelihatan dua buah benda putih kekuningan berbentuk kubus. Dengan tangan kirinya Bun
Pek Cuan mengambil satu kantong kulit kecil warna hitam dari balik pakaian. Dua buah
benda putih kekuningan dimasukkan ke dalam kantong lalu kantong kulit hitam
dimasukkan kembali ke balik pakaian.
“Sett. . . . sett. . . sett. . . . sett. . . sett!”
Satu persatu jari tangan kanan Bun Pek Cuan mengerut ke bentuk asal. Lima benda
berbentuk pisau di ujung jari lenyap. Begitu juga darah yang sebelumnya berselepotan di
tangan ikut sirna.
“Hantu Hitam” lekas perintahkan dua orang itu mengubur jenazah kembali,” kata
Bun Pek Cuan sementara Siauw Cie masih tegak mendongak, mata terpejam dua tangan
mengambang.
Tak lama setelah jenazah dimasukkan Kembali ke Hang lahat dan tanah kuburan
ditimbun, Bun Pek Cuan membuka mulut. “Padamkan obor! Suruh mereka pergi. “
Setelah memberikan sejumlah uang. Hantu Malam menyuruh dua penggali makam
meninggalkan tempat itu. Hantu Hitam ambil dua buah obor yang menancap di atas dua
kuburan lalu membantingkan ke tanah hingga apinya padam. Sesaat kemudian Siauw Cie
rendahkan kepala, buka dua mata yang terpejam dan turunkan dua tangan yang
mengembang. Dia memberi isyarat kedipan mata pada Bun Pek Cuan lalu berkelebat pergi.
“Sahabat muda itu, mengapa dia pergi duluan?” tanya Hantu Hitam pada Bun Pek
Cuan.
“Dia hanya memeriksa keadaan sekitar sini. Untuk memastikan semua dalam
keadaan aman. “ Jawab Bun Pek Cuan.
“Tugasku sudah selesai. Aku juga ingin pergi. Harap sahabat tua memberikan
bayaran. “
“Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan satu bayaran besar untukmu,” jawab Bun
Pek Cuan sambil tertawa. Dia memberi isyarat agar Hantu Hitam datang mendekat. Beg itu
Hantu Hitam maju dua langkah, Bun Pek Cuan bukan memberikan uang, justru tangan
kirinya melesat dalam satu jotosan luar biasa cepat dan keras.
“Bukk!”.
Hantu Hitam menjerit. Suara jeritannya lenyap berbarengan dengan semburan darah
dari mulut. Tubuh terjengkang, muka mengkeret dan mata mendelik.
Tak lama kemudian Siauw Cie muncul kembali.
“Beres?” tanya Bun Pek Cuan.
Siauw Cie mengangguk. “Dua tukang gali itu sudah ku habisi. Sebaiknya kita segera
kembali ke kapal. “
Dua orang berpakaian serba putih melompat ke atas kuda lalu memacu tunggangan
masing-masing ke arah Tanjung Losari. Jauh sebelum tengah malam keduanya sudah
sampai di tepi pantai, melompat turun dan berjalan cepat ke arah sampan di atas pasir. Di
langit bulan setengah lingkaran tersibak dari balik awan gelap, membuat suasana di tepi
pantai menjadi lebih terang. Begitu sampai di samping sampan, Bun Pek Cuan dan Siauw
Cie sama-sama terkejut. Langkah masing-masing tertahan, dua kaki laksana dipantek. Di
dalam perahu saat itu berbaring melunjur seorang lelaki gemuk berambut putih sebahu,
berpakaian jubah bagus warna hijau, lengkap dengan topi tinggi warna merah. Baik topi,
rambut, tubuh maupun pakaian si gemuk ini tampak basah kuyup. Satu-satunya benda
yang masih dalam keadaan kering adalah sebuah hudtim (kebutan) warna ungu di tangan
kanan yang berwarna hitam. Kebutan ini dikipas-kipaskan di depan wajahnya yang bulat.
Udara di pantai selain dingin juga ada tiupan angin. Sementara sekujur tubuhnya basah
kuyup. Namun si gemuk di dalam perahu kelihatan seperti kepanasan. Ketika menyeringai
tampak deretan gigi besar-besar berwarna merah seperti dilumuri darah.
“Hek Chiu Mo!” seru Bun Pek Cuan dan Siauw Cie berbarengan. Kedua orang ini
dalam kejut masing-masing segera saja bersikap waspada penuh. (Hek Chiu Mo = Iblis
Tangan Hitam) Mereka bukannya kenal lagi dengan si gemuk bertangan hitam ini. Hek Chiu
Mo adalah salah seorang momok golongan hitam dirimba persilatan Tionggoan (Tiongkok)
bagian selatan. Dia diketahui memiliki tiga senjata ganas. Pertama hudtim ungu di tangan
kanan yang sanggup menghancurkan batu sebesar gajah. Lalu tangan kanan berwarna hitam
yang juga memiliki daya penghancur luar biasa. Dan ketiga adalah semburan ludah
berwarna merah yang mampu menembus setiap bagian tubuh lawan!
Bagaimana manusia satu ini tahu-tahu berada di tempat ini? Memandang ke tengah
lautan Bun Pek Cuan dan Siauw Cie tidak melihat kapal lain selain kapal kayu besar yang
sebelumnya mereka tumpangi.
“Siauw Cie,” bisik Bun Pek Cuan. “Ada yang membocorkan rahasia perjalanan kita. “
Orang yang berbaring di dalam sampan menyeringai. Kelihatan deretan gigi-gigi
besar berwarna merah seperti dilumuri darah. Mulut terbuka. Suaranya perlahan sekali,
tidak sesuai dengan keadaan kepala dan tubuhnya yang besar gemuk.
“Jangan heran. Kita menumpang kapal yang sama. Tapi datang ke pantai ini aku
lebih suka berenang dari pada naik perahu seperti kalian. “
Bun Pek Cuan batuk-batuk lalu berkata.
“Sungguh satu pertemuan tidak diduga tidak disangka!” ucap Bun Pek Cuan.
Si gemuk dalam perahu gelengkan kepala.
“Kau dan temanmu boleh menganggap begitu. Namun bagiku ini satu pertemuan
yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Sejak kita masih sama-sama berada di Tionggoan.
“
Melihat gelagat tidak baik Siauw Cie berkata.
“Hek Chiu Mo, kami tak punya waktu banyak. Kami harus segera kembali ke kapal.
Kau mau ikut sama-sama?” Siauw Cie berkata sambil memberi isyarat kedipan mata pada
Bun Pek Cuan.
Si gemuk dalam perahu perlahan-lahan bangkit dan duduk. Tangan kanannya yang
berwarna hitam masih mengipas-ngipaskan hudtim. “Perahu sekecil ini tidak mungkin
dimuati kita bertiga. Lagi pula aku tidak punya niat buru-buru kembali ke kapal. “
“Kalau begitu harap kau sudi keluar dari perahu. Kami akan mempergunakan perahu
itu untuk kembali ke kapal,” kata Bun Pek Cuan pula.
“Tentu saja. . . . tentu saja,” jawab Hek Chiu Mo. Lalu sekali bergerak tubuhnya yang
gemuk melesat ke udara. Ketika turun ke pasir, kepalanya menjejak. menempel pasir pantai
lebih dulu. Dua kaki melejang-lejang, mulut keluarkan suara tertawa. Si gemuk kemudian
melesat ke udara, ketika turun kembali, kali ini kakinya dengan enteng menginjak pasir.
“Sudan lama tidak bersalto, aku sampai salah. Kepala turun duluan. . . . Ha. . . ha. . .
ha. “ Si gemuk melucu. Namun bagi Bun Pek Cuan dan Siauw Cie jelas orang ini sengaja
memperlihatkan kepandaian. Tanpa banyak menunggu kedua orang ini segera hendak
masuk ke dalam perahu.
“Dua sahabat, sebelum pergi ada sesuatu yang ingin kutanyakan. “ Tibatiba Hek Chiu
Mo berkata, membuat Bun Pek Cuan dan Siauw Cie dengan jengkel terpaksa hentikan
langkah.
“Kami ingin cepat. Maaf saat ini tidak bisa berjawab tanya denganmu. Nanti saja
diteruskan kalau bertemu di Tionggoan. “ kata Bun Pek Cuan.
“Ah, sayang sekali. Kalian ingin cepat, akupun terburu-buru . Agar adil bagaimana
kalau aku tidak akan mengizinkan kalian pergi dari sini!”
“Apa maksud orang gagah Hek Chiu Mo?” tanya Bun Pek Cuan.
“Maksudku begini!”
Habis berkata begitu Hek Chiu Mo tendangkan kaki kanannya. Sekali menendang
sampan kayu di atas pasir pantai mencelat hancur berkeping-keping.
“Aku tahu kalian tak bisa berenang. Jadi tak mungkin kembali ke kapal. Ha. . . ha. . .
ha!” Hek Chiu Mo tertawa perlahan. Air liurnya yang berwarna merah bercucuran ke dagu.
*
* *
DUA
Melihat perbuatan si gemuk Hek Chiu Mo menghancurkan sampan, marahlah
Bun Pek Cuan dan Siauw Cie. “Hek Chiu Mo!” hardik Bun Pek Cuan. “Selama ini
tak ada silang sengketa diantara kita! Hari ini jauh dari negeri sendiri, kau sengaja M
mencari lantai terjungkat!”
Hek Chiu Mo tertawa perlahan. Hudtim di tangan kanan terus dikipas-kipaskan di
depan wajahnya yang gemuk berkeringat.
“Bun Pek Cuan, kalau kakimu yang pincang, jangan mengatakan lantai yang
terjungkat. Ucap kata dan tindak sikapmu sombong sekali. Aku hanya ingin bicara sesuatu,
tapi kau menolak seolah kau tengah ditagih hutang saja.
Ha. . . ha. . . ha!” Dalam soal bicara Iblis Tangan Hitam memang dikenal paling nomor
satu di Tionggoan.
“Hek Chiu Mo, sebaiknya kau berterus terang saja. Katakan apa yang kau inginkan
dari kami!” Kata Siauw Cie walau sebenarnya dia dan juga Bun Pek Cuan sudah bisa
menduga apa yang diinginkan tokoh silat golongan hitam di hadapannya itu.
“Orang sudah bertanya, wajib aku menjawab,” ucap Hek Chiu Mo. Lalu tangan
kirinya ditudingkan ke arah pinggang pakaian Bun Pek Cuan. “Aku inginkan dua buah
benda yang kau simpan di balik pakaianmu. Dalam sebuah kantong kulit berwarna hitam.
Apa ucapanku sudah jelas?!”
“Aku tidak memiliki kantong kulit hitam di balik pakaianku. Bagaimana mungkin
aku memberikan padamu?” ujar Bun Pek Cuan pula.
Mendengar ucapan itu, Hek Chiu Mo tersenyum.
“Tidak sangka orang yang punya nama besar sepertimu pandai pula berdusta!” Ucap
Hek Chiu Mo.
“Hek Chiu Mo, harap kau tidak, mengada-ada!” Siauw Cie ikut bicara.
“Aku Hek Chiu Mo ini orang sederhana. Bersikap selalu lemah lembut. Dalam setiap
urusan tidak suka bertindak keras. Apakah hal itu tidak bisa jadi bahan pertimbangan kalian
berdua?”
“Kau membuang waktu kami saja!” Suara Bun Pek Cuan mulai keras.
“Waktuku juga sudah banyak terbuang,” menyahuti Hek Chiu Mo. Suaranya tetap
perlahan. Hudtim di tangan kanan terus dikipas-kipas.
“Siauw Cie!” kata Bun Pek Cuan kesal. “Mari kita tinggalkan orang aneh satu ini!”
Hek Chiu Mo menyeringai. “Apakah aneh kalau aku meminta barang yang bukan
milikmu?!”
“Barang apa?!” bentak Siauw Cie.
Lagi-lagi si gemuk Hek Chiu Mo sunggingkan senyum.
“Baiklah, kalau kalian tak mau memberikan biar aku mengambil sendiri!”
Habis bekata begitu tubuh gemuk Hek Chiu Mo melangkah ke arah Bun Pek Cuan.
Hudtim di tangan kanan dikebut.
“Wutt!”
Selarik sinar ungu yang keluar dari kebutan menerpa ganas ke arah wajah Bun Pek
Cuan. Tahu akan kedahsyatan senjata di tangan lawan, Bun Pek Cuan cepat menghindar
sambil jauhkan kepala sementara kaki kanannya tahu-tahu melesat ke arah perut Hek Chiu
Mo. Siauw Cie tak tinggal diam. Dari samping tangan kanannya dengan dua jari terpentang
lurus menusuk ke arah leher Iblis Tangan Hitam.
Tubuh gemuk Hek Chiu Mo bergerak lentur menghindari dua serangan lawan.
Hudtim ungu kembali dikebutkan. Lingkaran cahaya ungu berbentuk setengah Ijngkaran
membeset udara.
Bun Pek Cuan berseru kaget dan melompat mundur dengan muka pucat. Kumis
kirinya yang menjulai ke bawah dagu terbabat putus kena sambaran kebutan hingga'
tampangnya jadi lucu dan membuat Hek Chiu Mo tertawa mengekeh.
“Bun Pek Cuan, aku sudah memberi peringatan. Apa kau masih belum mau
menyerahkan benda yang aku minta?!”
“Kau bekerja untuk siapa? Siapa yang menyuruhmu mendapatkan benda itu?!” tanya
Siauw Cie tanpa menyadari kalau pertanyaannya itu memberi kesan bahwa benda yang
dicari dan diingini Hek Chiu Mo memang ada padanya atau pada Bun Pek Cuan.
“Tak ada yang memerintah. Aku bekerja untuk diri sendiri!” jawab Hek Chiu Mo.
“Bagus! Kalau begitu kami tidak akan susah-susah memberi tahu tuanmu bahwa kau
sudah menemui ajal di negeri orang” kata Siauw Cie pula. Lalu orang ini melesat ke depan.
Sepuluh jari tangan membeset lurus, lebih keras dari besi. Siauw Cie memiliki ilmu
kuntauw yang disebut Sepuluh Jari Besi. Sesuai namanya ke sepuluh jari tangan Siauw Cie
bisa berubah lurus dan sekeras besi. Setiap jurus yang dilancarkan sangat ganas mematikan.
Bun Pek Cuan tak kalah ganas. Dari balik pakaian putihnya dia hunus sebuah golok yang
dalam malam gelap menebar cahaya hijau angker.
Baik Bun Pek Cuan maupun Siauw Cie yang masih muda adalah orang-orang rimba
persilatan yang disegani. Tingkat kepandaian mereka telah banyak kali membuat
kegemparan di daratan Cina. Cahaya golok hijau di tangan Bun Pek Cuan bertabur ganas
mengeluarkan hawa dingin. Yang diserang adalah bagian tubuh lawan mulai dari leher ke
bawah. Sementara sepuluh jari besi Siauw Cie berkelebat mencari sasaran mulai dari leher
sampai kepala. Walau dua orang ini punya nama besar karena ilmu silatnya yang tinggi
namun Hek Chiu Mo merupakan dedengkot golongan hitam yang sudah dikenal dan
ditakuti di delapan penjuru rimba_ persilatan Tionggoan, terutama di bagian selatan.
Kebutan ungu menderu memapas dan menangkis serangan golok hijau Bun Pek
Cuan serta melindungi kepalanya dari tusukan jari-jari besi Siauw Cie. Tiga jurus berlalu
cepat dan jelas terlihat dua lawan yang dihadapi Iblis Tangan Hitam mulai kewalahan.
Beberapa kali kebutan ungu membentur badan golok di tangan Bun Pek Cuan. Bukan saja
golok dan tangan Bun Pek Cuan jadi tergetar hebat, tetapi bagian tajam dari mata golok
hijau itu gompal di tiga tempat! Siauw Cie sendiri kalau tidak berlaku sigap dua kali tangan
kirinya hampir kena hantaman hudtim. Walau dia mampu selamatkan tangan tetap saja
ujung lengan kiri baju putihnya hangus kehitaman dan robek besar.
“Bun Pek Cuah, kau mau serakan benda itu hidup-hidup atau minta mati lebih
dulu?!” Hek Chiu Mo memperingatkan sekaligus mengancam.
Sebagai jawaban Bun Pek Cuan berteriak. “Iblis gendut keparat! Kau rupanya yang
sudah bosan hidup! Lihat golok!”
“Wuttt!”
Golok di tangan Bun Pek Cuan berkelebat dalam jurus bernama Langit Meratap Bumi
Menangis. Sinar hijau bertabur.
“Breet
Dada jubah hijau yang dikenakan Hek Chiu Mo robek besar. Kulit dadanya ikut
tergores sepanjang satu jengkal hingga mengucurkan darah. Ternyata keberhasilan Bun Pek
Cuan menciderai lawan harus dibayar mahal. Karena pada saat yang hampir bersamaan
hudtim di tangan Hek Chiu Mo menyambar dari samping.
“Praakk!”
Kepala bagian kiri Bun Pek Cuan hancur mengerikan. Orang tua ini mengerang satu
kali lalu roboh ke pasir pantai tak berkutik lagi!
Melihat kematian sahabat tuanya Siauw Cie berteriak marah dan mengamuk. Dia
keluarkan jurus-jurus silat simpanannya hingga beberapa kali Hek Chiu Mo berseru kaget
dan bergerak sebat menghindar dari serangan ganas yang selalu mengarah leher dan kepala.
Setelah didesak selama hampir empat jurus, kini giliran Iblis Tangan Hitam ganti
menggempur. Hudtim ungu bersuit-suit di udara. “
Siauw Cie bertahan mati-matian untuk selamatkan diri. Karena serangan lawan
semakin ganas, Siauw Cie memutar otak. Dia berpikir lebih baik selamatkan diri sambil
berusaha mengambil kantong kulit yang ada di balik pakaian Bun Pek Cuan dari pada
menemui ajal percuma di tangan Iblis Tangan Hitam.
Didahului satu bentakan keras Siauw Cie lantas kebutkan lengan baju sebelah kanan.
Dari bawah jubah melesat tiga senjata rahasia berbentuk pisau terbang beracun.
“Licik sekali!” ucap Hek Chiu Mo lalu kebutkan hudtim ungu.
“Wuttt!”
Tiga pisau terbang bermentalan dan luruh ke tanah.
Sewaktu lawan menangkis serangan tiga senjata rahasianya, Siauw Cie pergunakan
kesempatan mengambil kantong kulit hitam yang ada di balik pinggang pakaian Bun Pek
Cuan. Dengan merobek pinggang baju Bun Pek Cuan, Siauw Cie segera menemukan
kantong kulit itu. Namun sebelum dia sempat menyentuh tahu-tahu Hek Chiu Mo sudah
ada di hadapannya. Hudtim ungu dikibaskan ke arah tangan kanan Siauw Cie.
“Kraaakk!”
Siauw Cie seperti disambar petir, menjerit setinggi langit. Tangan kanannya hancur
mulai dari ujung jari sampai ke pergelangan! Nyali Siauw Cie pun putus. Kalau tadi dia
berusaha selamatkan kantong kulit, sekarang yang lebih penting adalah selamatkan
nyawanya. Tidak pikir lebih lama Siauw Cie jatuhkan diri, berguling di pasir lalu melompat
dan berkelebat melarikan diri dari tempat itu.
“Manusia-manusia tolol. Memilih mati secara konyol!” kata Hek Chiu Mo pula seraya
melangkah mendekati mayat Bun Pek Cuan. Pada pinggang pakaian yang robek tersingkap,
dia melihat sebuah kantong kulit hitam. Dengan cepat dia ambil kantong itu. Tali pengikat
dibuka, isinya dituangkan ke telapak tangan kiri. Benda yang ada di dalam kantong kulit itu
ternyata adalah dua buah dadu putih kekuningan, terbuat dari gading, dihias mata dadu
berwarna merah.
Hek Chiu Mo menyeringai, masukkan dua buah dadu kembali ke dalam kantong
kulit hitam. Kantong ini kemudian dimasukkan ke dalam saku di sebelah kiri jubah hijau.
Hek Chiu Mo menatap ke langit. “Aku harus segera kembali ke kapal,” ucapnya
dalam hati. Pada saat hendak melangkah tibatiba dia mendengar sambaran angin di
samping kiri. Cepat Hek Chiu Mo palingkan diri. Alangkah terkejutnya lelaki gemuk ini
ketika melihat seseorang duduk menjelepok di tepi pasir. Orang ini ternyata adalah nenek
berambut kelabu, bermulut perot dan memiliki sepasang mata warna merah yang menatap
tajam tak berkesip ke arah Hek Chiu Mo. Daun telinga ditindis dengan giwang terbuat dari
tulang-tulang jari manusia. Cipratan ombak membuat rambut kelabu serta jubah kuning
yang dikenakannya basah kuyup.
“Manusia aneh. Urusan tidak enak. Dia berdiri di jalur berenangku arah ke kapal.
Sengaja menghalangi. Dia bukan orang dari Tionggoan. . . “
Tibatiba nenek di atas pasir acungkan tangan kanan ke arah Hek Chiu Mo. Tangan
kiri menepuk-nepuk pinggang. Lalu mulutnya berteriak.
“Serahkan padaku dua dadu di dalam kantong kulit!. “ Celakanya Hek Chiu Mo tidak
tahu bahasa setempat. Tapi dari gerak isyarat orang dia tahu kalau si nenek inginkan dua
dadu yang ada di kantong kiri jubah hijau. Tokoh silat berbadan gemuk ini gelengkan
kepala, goyang-goyang tangan kiri sedang tangan kanan di lambai-lambaikan ke samping
memberi tanda agar si nenek pergi dari situ.
Nenek yang duduk di atas pasir pantai balas menggeleng. Tangan kanan
dilambaikan, memberi isyarat agar Hek Chiu Mo mendatanginya!
Tidak mau mencari urusan membuang waktu Hek Chiu Mo lari sepanjang tepi pasir.
Di satu tempat setelah cukup jauh dari nenek aneh itu dia akan mencebur masuk laut dan
berenang menuju kapal. Si nenek tidak tinggal diam. Dalam sikap masih duduk tubuhnya
naik ke atas sejarak satu jengkal, lalu melayang ke kiri mengikuti arah lari Hek Chiu Mo!
Tokoh silat golongan hitam dari Tionggoan ini hentikan lari. Tubuh si nenek berhenti pula
melesat dan turun duduk kembali di atas pasir. Kejut Hek Chiu Mo bukan alang-kepalang.
Seumur hidup baru kali ini dia melihat ada orang memiliki kepandaian seperti itu.
Sementara Hek Chiu Mo masih diselimuti perasaan heran, seperti tadi nenek berjubah
kuning berteriak agar Hek Chiu Mo serahkan benda yang dimintanya.
Setelah diam sejenak, mencari akal akhirnya Hek Chiu Mo keluarkan kantong kulit
hitam dari saku jubah sebelah kiri. Benda ini diacungkan tinggi-tinggi ke udara dan
digoyang-goyang sambil tangan kanannya yang memegang kebutan memberi tanda agar si
nenek mendatangi. Begitu si nenek mendekat akan dihantamnya dengan kebutan serta
pukulan tangan kiri.
Nenek mata merah berambut kelabu tidak terpancing. Dia tetap berada di tempatnya
duduk dan kembali berteriak agar Hek Chiu Mo menyerahkan kantong kulit. Wajahnya kini
tampak garang pertanda dia mulai marah.
“Gendut! Berikan kantong kulit itu padaku. Lemparkan kesini! Aku akan memberi
jalan bagimu untuk berenangi kembali ke kapal!”
Walau tidak tahu bahasa yang diucapkan orang tapi Hek Chiu Mo cukup mengerti
apa kemauan si nenek.
“Aku sudah mau memberi. Tapi kau tidak mau mengambil! Perduli setan!” Tokoh
silat dari Tionggoan selatan ini masukkan kantong kulit ke dalam saku jubah kembali. Lalu
dengan sangat tibatiba tangan kiri yang berwarna hitam itu memukul ke depan.
Berbarengan dengan itu kebutan di tangan kanan ikut dihantamkan. Sinar hitam dan cahaya
ungu menyambar nenek di tepi laut.
Pasir pantai laksana digusur topan berhamburan ke udara, meninggalkan lobang
dalam dan panjang. Air laut membentuk ombak besar, muncrat ke udara setinggi tiga
tombak! Nenek di atas pasir menjerit keras. Ketika air laut surut dan pasir luruh ke pantai
kembali, perempuan tua itu tak kelihatan lagi.
Hek Chiu Mo sunggingkan seringai. Dia menyangka si nenek sudah amblas ke dalam
laut dan menemui ajal. Tapi alangkah terkejutnya tokoh golongan hitam daratan Cina
selatan ini ketika mendadak terdengar suara tawa cekikikan. Datangnya dari tiga arah
sekaligus!
*
* *
TIGA
Memandang ke depan Hek Chiu Mo melihat nenek rambut kelabu bermata merah
berdiri tegak di atas pasir tidak kurang suatu apa. Malah berdiri sambil berkacak
pinggang dan sunggingkan seringai sinis.
“Luar biasa! Ilmu apa yang dimiliki manusia ini hingga jangankan mati, ciderapun
dia tidak dihantam dua serangan saktiku!” pikir Iblis Tangan Hitam. Sebenarnya nenek
jubah hitam tidak memiliki kemampuan untuk adu kekuatan dan menangkis langsung dua
serangan lawan. Dia bisa selamatkan diri karena memiliki daya gerak yang sangat cepat
ditambah ilmu meringankan tubuh luar biasa tinggi.
Yang kemudian membuat Hek Chiu Mo terlonjak kaget adalah ketika berpaling ke
kanan. Beberapa langkah di arah itu berdiri nenek yang sama, berjubah kuning, rambut
kelabu mata merah, beranting-anting tulang jari manusia dan bertolak pinggang sambil
menyeringai.
“Gila! Bagaimana bisa jadi dua?!”
Belum habis kejut Hek Chiu Mo sudut mata sebelah kiri menangkap sesuatu. Cepat si
gemuk ini berpaling dan! Astaga! Di arah ini lagi-lagi dia melihat seorang nenek berambut
kelabu bermata merah berjubah kuning lengkap dengan anting-anting tulang! Jadi ada tiga
nenek yang sama! Bagaimana mungkin?
“Aku berhadapan dengan setan perempuan berilmu tinggi, punya kepandaian sihir!”
pikir Hek Chiu Mo.
Tibatiba nenek di sebelah depan berteriak. Tangan kiri ditepuk-tepukkan ke
pinggang.
Dua nenek di kiri kanan melakukan hal yang sama! Berteriak sambil menepuk
pinggang kiri.
“Serahkan dadu!” teriak nenek di sebelah depan.
“Serahkan dadu!” Dua nenek lainnya ikutan berteriak.
“Ilmu setan harus dihadapi dengan ilmu setan!” Hek Chiu Mo rangkapkan dua
tangan di depan dada. Tubuh mengeluarkan sekilas sinar. Lalu sosok itu berubah menjadi
lebih besar dan lebih tinggi. Hudtim ungu di tangan kanan ikut membesar. Di atas
kepalanya yang mengenakan topi merah mencuat sepasang tanduk. Muka yang tadi gemuk
polos kini ditumbuhi cambang bawuk dan jenggot serta kumis meranggas. Sepasang
matanya mendelik besar berwarna hitam. Ketika menyeringai kelihatan deretan gigi-gigi
besar serta lidah basah dengan cairan merah! Sepuluh kuku jari tangan mencuat panjang,
memancarkan cahaya redup menggidikkan. Hek Chiu Mo ternyata punya kepandaian
merubah diri menjadi raksasa! Didahului suara menggembor Hek Chiu Mo melompat ke
arah nenek rambut kelabu yang ada di sebelah depan. Tangan kanan kebutkan hudtim,
tangan kiri lepaskan pukulan jarak jauh mengandung tenaga dalam tinggi. Sinar ungu dan
lima larik cahaya hitam berkiblat!
Nenek rambut kelabu mata merah di sebelah depan tertawa melengking.
“Raksasa jejadian! Siapa takut! Di hutan Roban aku punya selusin mahluk macam
beginian! Hik. . . hik. . . hik!” Nenek ini lalu tertawa panjang
Dua nenek lainnya ikut keluarkan suara tawa yang sama. Tiga nenek kemudian
melompat setinggi dua tombak, selamatkan diri dari dua serangan lawan lalu laksana kilat
berkelebat lancarkan serangan balasan.
“Bukk! Bukk! Bukkk!”
“Desss!”
Dua jotosan keras mendarat di dada Hek Chiu Mo. Satu tendangan melanda perutnya
yang buncit! Hek Chiu Mo hanya geliatkan badan . seperti tidak merasa sakit sedikitpun.
Sebaliknya salah seorang dari tiga nenek rambut kelabu yaitu yang sebelah kiri hanya
tertawa mengekeh sewaktu hudtim ungu mengemplang kepalanya! Padahal kepala manusia
biasa seperti yang terjadi dengan Bun Pek Cuan pasti akan hancur dihantam kebutan itu.
“Gila! tidak mempan! Aku harus bisa menggebuk yang asli! Kalau tidak aku bisa
celaka! Tapi yang mana nenek yang asli?!”
Sementara si gemuk dari Tionggoan selatan itu kebingungan, tiga nenek menjerit
keras dan serempak kembali menyerang. Hek Chiu Mo kebutkan hudtim. Cahaya ungu
setengah lingkaran melindungi dirinya. Sementara tangan kiri siap melancarkan pukulan
tangan kosong ke arah depan, dari tanduk di kepalanya mencuat dua larik sinar biru,
melesat k arah nenek di sebelah kiri dan kanan!
Dua nenek yang diserang lagi-lagi keluarkan suara jeritan dan teruskan gempuran.
Tapi serangan mereka terhalang oleh sambaran hudtim. Kini mereka malah disambar dua
larik sinar biru. Nenek di sebelah kanan melesat ke udara selamatkan diri. Yang sebelah kiri
hancur tercabik-cabik dan kepulkan asap begitu kena hantaman sinar biru. Namun cabikan
tubuh itu menyatu lagi dan kembali ke ujud semula!
“Yang depan atau yang kanan!” pikir Hek Chiu Mo lalu tangan kiri keluarkan cahaya
hitam, menyambar ke arah nenek di sebelah depan sementara dari tanduk di atas kepala
mencuat kembali dua larik sinar biru yang menggebubu ke arah nenek di sebelah kanan.
Tidak terduga nenek sebelah kiri yang tadi telah tercabik-cabik tibatiba melesat sebat dan
tahu-tahu telah berada dua langkah dengan tangan kanan melepas satu jotosan dahsyat.
Hek Chiu Mo segera sorongkan kepala. Dua tanduk aneh menusuk dada nenek yang
melepas jotosan. Si nenek terpental, keluarkan pekik kesakitan. Tapi keadaannya tidak
cidera sedikitpun. Padahal tembok batu setebal dua kaki sanggup dihantam jebol oleh
sepasang tanduk itu.
Ketika melihat dua sinar biru menderu ke arahnya, nenek sebelah kanan cepat
melesat ke udara. Dalam keadaan melayang dia lepas dua pukulan tangan kosong yang
memancarkan sinar kemerahan. Hek Chiu Mo keluarkan suara menggembor lalu
menyembur. Cairan merah kental menyambar menangkis dua sinar kemerahan pukulan
tangan kosong nenek di sebelah kanan dan terus melabrak ke arah sasaran. Nenek satu ini
berteriak keras. Muka dan pakaiannya di sebelah penuh berselomotan cairan merah. Namun
yang membuat Hek Chiu Mo jadi kaget ialah nenek ini tidak mengalami cidera sedikitpun.
Padahal semburan ludah berdarah yang dilakukannya tadi sanggup membuat patah batang
pohon dan menghancurkan gundukan batu besar!
Kini Hek Chiu Mo sadar bahwa mahluk asli berupa nenek rambut kelabu itu adalah
yang berada di sebelah depannya dan yang barusan dihantam dengan pukulan tangan kiri.
Kalau pukulan dahsyat itu sempat menyambar ke arah lawan, namun si nenek sebelah
depan masih bisa menghindar dengan jatuhkan diri ke tanah. Lalu dalam keadaaan
tengkurap nenek ini menyeringai, goyangkan kepala. Saat itu juga dua larik sinar merah
berkiblat keluar dari sepasang mata, langsung menyambar ke arah leher dan perut Hek Chiu
Mo. Tokoh golongan hitam Tionggoan selatan ini keluarkan pekikan pendek lalu
tergelimpang di tanah. Lehernya nyaris putus sementara perut robek besar. Sosoknya yang
tadi berbentuk setengah raksasa perlahan-lahan menciut ke bentuk asal.
Menyaksikan Hek Chiu Mo menemui ajal, nenek yang tadi melepaskan dua sinar
merah dari matanya cepat mendatangi untuk mengambil kantong kulit hitam yang
tersembul di pinggang. Namun mendadak satu bayangan putih menyambar kantong kulit
itu lalu kabur ke balik semak belukar.
“Jahanam kurang ajar! Siapa berani mati!” teriak si nenek lalu angkat dua tangan ke
atas dan berteriak pada dua nenek di depannya.
“Kejar! Bunuh!”
Dua nenek yang diberi perintah serta merta melesat ke arah semak belukar
melakukan pengejaran. Tak selang berapa lama dua nenek itu kembali muncul. Yang
sebelah kanan melangkah sambil menenteng kepala manusia yang bukan lain adalah kepala
Siauw Cie. Nenek di sebelah kiri membawa kantong kulit hitam. Begitu sampai di hadapan
nenek pertama, nenek di sebelah kanan campakkan kutungan kepala hingga menggelinding
di atas pasir pantai. Nenek pertama angkat kaki, menahan kepala yang menggelinding.
“Eyang Sepuh Kembar Tilu! Dia pencurinya!”
Nenek yang dipanggil dengan sebutan Eyang Sepuh Kembar Tilu menyeringai.
“Ternyata orang asing dari kapal. Eh, bukankah dia yang sebelumnya telah dihajar oleh si
gendut itu?” Kaki si nenek menendang. Kutungan kepala mencelat masuk ke dalam laut.
“Eyang Sepuh, kantongnya. . . “ kata nenek di samping kiri seraya mengulurkan
kantong hitam yang dipegangnya. Sepasang mata Eyang Sepuh berkilat-kilat. Isi kantong
diperiksa. Setelah memasukkan kantong kulit ke balik dada pakaian, Eyang Sepuh angkat
tangan kanan di atas kepala. Dua mata menatap ke arah dua nenek di hadapannya yang
memiliki ujud sama dengan dirinya. Dari ujung-ujung jari tangan Eyang Sepuh Kembar Tilu
mengepul asap tipis. Si nenek berucap perlahan.
“Kalian berdua pulanglah!”
Saat itu juga dua nenek yang menyerupai ujud Eyang Sepuh serta merta lenyap
laksana ditelan angin malam!
Bersamaan dengan menghilangnya dua nenek rambut kelabu tiba-tiba terdengar
suara tepukan tangan disusul ucapan.
“Eyang Sepuh Kembar Tilu! Pertunjukkan yang sangat mengagumkan. Tidak sia-sia
aku datang dari jauh untuk menyaksikan!”
“Wehhh!” Si nenek rambut kelabu mata merah dongakkan kepala ke langit, agak
heran. Dalam hati dia bekata. “Suaranya sedikit lain. Tapi hanya dia yang tahu. . . “
“Raden Kumalasakti, aku tidak mengira kalau Raden sudi hadir di tempat ini. “
“Karena barang yang dicari sudah didapat, harap Eyang Sepuh menyerahkan
padaku. “
“Tentu, tentu saja. . . “ kata Eyang Sepuh Kembar Tilu lalu melangkah ke arah
datangnya suara. Dari kegelapan keluar seorang penunggang kuda, berpakaian serba hitam,
mengenakan topi kain yang bagian depannya ada cadar tipis hingga wajah orang ini tidak
kelihatan. Di sebelah belakang ada dua penunggang kuda lagi, juga berpakaian hitam tapi
tidak mengenakan topi, bercadar
Pada jarak satu langkah di samping nenek rambut kelabu, penunggang kuda
bercadar berhenti. Dia mengambil kantong kulit hitam yang dikeluarkan si nenek dari balik
dada pakaian. Setelah menimang-nimang kantong itu sebentar dia berkata.
“Hadiah dan bayaran untukmu dapat kau ambil besok pagi di tempat perjanjian di
selatan Losari! Kerjamu bagus! Aku akan tambahkan beberapa hadiah! Misalnya anting
tulang di dua telingamu itu. Layak diganti dengan anting emas!”
“Terima kasih Raden,” jawab si nenek. Sambil membungkuk dan mengulum senyum
dia ikuti kepergian tiga penunggang kuda. Dia menunggu sebentar lalu berkelebat Ke arah
lenyapnya ke tiga orang itu.
Selewat tengah malam, Raden Kumalasakti dan dua pengiring sampai di desa kecil
bernama Cangkring. Di jalan masuk menuju desa terdapat sebuah kedai minuman yang
selalu buka sampai larut malam, walaupun pada masa itu keadaan di kawasan tersebut
tjdak begitu aman, banyak orang jahat berkeliaran.
Melihat kemunculan tiga orang tak dikenal berpakaian serba hitam dan salah seorang
diantara mereka mengenakan cadar, semua pengunjung yang ad a di dalam kedai cepat-
cepat membayar lalu tinggalkan tempat itu. Mereka menduga ke tiga orang yang barusan
masuk ke dalam kedai adalah kawanan begal. Dari pada cari perkara lebih baik cepat-cepat
pergi.
Pemilik kedai dan istrinya , yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai macam
tamu, berusaha tenang saja melayani ke tiga orang yang barusan datang. Dengan cepat
mereka menyuguhkan minuman bandrek panas, singkong, ubi dan pisang rebus hangat.
Setelah meneguk minuman, lelaki bercadar keluarkan kantong kulit hitam yang
diberikan Eyang Sepuh Kembar Tilu. Dua temannya memperhatikan. Ketika isi kantong
digulir di meja, kaget ke tiga orang itu bukan alang kepalang. Dua benda yang tergeletak di
atas meja bukannya yang seperti mereka duga. Bukan dua buah dadu putih tetapi dua buah
batu hitam!
“Kurang ajar! Kita kena ditipu!” teriak orang bercadar sambil menggebrak meja
hingga minuman dan makanan yang ada di atas meja melesat berhamburan!
“Kita kembali! Cari nenek sialan itu! Akan aku gorok batang lehernya!”
Tiba-tiba dari sudut kedai yang agak gelap terdengar suara tawa cekikikan.
“Kalian tidak usah jauh-jauh mencari. Aku ada di sini!”
EMPAT
Tiga kepala dipalingkan. Tiga pasang mata memandang mendelik ke arah salah satu
sudut kedai yang agak gelap. Disitu memang tampak duduk Eyang Sepuh Kembar
Tilu, si nenek berambut kelabu bermata merah. Amarah lelaki bercadar bukan alang
kepala. Dia ambil dua buah batu dan kantong kulit hitam yang tercampak di lantai. Lalu
melompat ke hadapan si nenek dan bantingkan dua buah batu serta kantong kulit hitam
hingga melesak ke dalam kayu meja!
“Ck. . . ck. . . ckkk!”? Si nenek decakkan mulut. “Pertunjukkan hebat! Tapi aku tidak
tertarik. Hik. . . hik. . . hik!”
“Tua bangka penipu!” teriak lelaki bercadar. “Lekas berikan dua buah dadu itu
padaku!
Dan aku akan mengampuni selembar nyawa anjingmu!”
Si nenek ganda tertawa mendengar ucapan orang.
“Aku tidak akan menipumu kalau kau tidak menipuku lebih dulu! Kau inginkan dua
buah dadu? Silahkan ambil!”
Si nenek ulurkan tangan kiri yang tinggal kulit pembalut tulang lalu usap dua buah
batu yang melesak di papan meja. Ketika tangan diangkat dua buah batu hitam telah
berubah menjadi dua buah dadu putih bermata merah.
“Nah, nah. . . Kenapa pada melongo?!” Eyang Sepuh Kembar Tilu tertawa mengekeh
melihat Raden Kumalasakti dan dua anak buahnya tegak ternganga menyaksikan apa yang
terjadi. Tiba-tiba lelaki bercadar ini jentikan ibu jari dan jari tengah tangan kirinya.
“Klik!”
Dua lelaki berpakaian hitam di samping meja langsung gerakkan tangan.
“Srett! Srett!”
Dua golok berkilat keluar dari sarungnya, terus dibacokkan ke arah nenek rambut
kelabu yang duduk di belakang meja.
“Dua monyet hitam! Kenapa kalian jadi kalap?! Terima bagianmu!”
Sosok nenek rambut kelabu lenyap. Ketika papan meja hancur dilanda bacokan dua
golok, dari bawah kolong meja melesat dua tangan. Dua lelaki berpakaian serba hitam
menjerit keras. Golok terlepas, tubuh mencelat mental, jatuh malang melintang di atas kursi
kayu. Setelah menggelepar-gelepar keduanya terkapar tak berkutik lagi. Tubuh bagian
bawah perut hancur. Darah menggenangi lantai kedai!
Lelaki bercadar berteriak marah. Sambil tangannya menghunus golok, kaki kanan
menendang hingga meja kayu yang sudah hancur kini mental berkeping-keping. Namun si
nenek rambut kelabu tak kelihatan!
“Jahanam! Mau lari kemana?!” teriak orang bercadar dan bergerak ke arah pintu.
“Aku masih di sini. Apa matamu sudah buta?! Hik. . . hik. . . hik!”
“Setan alas!”
Orang bercadar babatkan golok besar di tangan kanan ke arah datangnya suara.
Namun serangan ini tertahan begitu satu tangan mencekal pergelangan yang memegang
golok. Orang bercadar menjerit kesakitan ketika tangannya dipuntir lalu badannya didorong
ke tiang kedai hingga tiang itu patah dan membuat atap nyaris roboh.
“Hik. . . hik! Beraninya kau menipuku! Kau bukan Raden Kumalasakti!” “Brett!”
Nenek rambut kelabu betot cadar hitam yang menutupi wajah orang. Ketika cadar
tersingkap kelihatan satu wajah hitam berhidung lebar pesek dan bopeng! Hidung lebar
pesek itu tampak bengkok patah dan mengucurkan darah.
“Pengemis Muka Bopeng dari Karangkoneng!” si nenek berseru. Lalu decakkan lidah.
“Ilmu kepandaian baru sedengkul, beraninya kau mempermainkan diriku!”
“Nenek setan! Biar hari ini aku mengadu jiwa denganmu!” Habis berkata begitu lelaki
muka bopeng layangkan satu jotosan keras dengan tangan kiri. Yang di arah adalah bagian
dada si nenek. Kalaupun tidak bisa menghabisi lawan paling tidak dia hams dapat
menghancurkan dua buah dadu yang diketahuinya disimpan si nenek di batik dada
pakaian.
Untuk kalangan rimba persilatan di perbatasan Jawa sebelah barat dan Jawa sebelah
tengah nama Pengemis Muka Bopeng dari Karangkoneng memang cukup ditakuti. Konon
dia memiliki anggota hampir dua ratus orang yang berkeliaran mengemis sambil berbuat
kejahatan dan terkadang melakukan hal-hal tak senonoh terhadap kaum perempuan. Walau
sudah punya nama besar namun untuk menghadapi Eyang Sepuh Kembar Tilu pengemis
bopeng ini belum bisa menandingi.
Sebelum jotosannya mampu menyentuh dada lawan tiba-tiba si nenek tangkap
tangan kiri lelaki itu lalu kreek. . . kreek. . . kreek. Jari-jari tangan Pengemis Muka Bopeng
hancur berpatahan. Pengemis Muka Bopeng menjerit setinggi langit.
“Tanganmu akan aku hancurkan sampai ke bahu. . . “ ucap si nenek. “Kecuali kau
memberi tahu siapa yang menyuruhmu memainkan sandiwara tolol ini!” “Kreek. . .
kreekkk”
Tangan si nenek naik ke atas, kini mulai menghancurkan telapak tangan Pengemis
Bopeng. Untuk kesekian kalinya lelaki ini menjerit kesakitan. Tibatiba Pengemis Muka
Bopeng tarik kepalanya ke belakang lalu dengan nekat kepala ini dibenturkan ke kepala si
nenek. Dua kepala beradu keras. “Praakk!”
Si nenek terhuyung ke belakang, keluarkan tawa mengikik. Pengemis Muka Bopeng
begitu kepalanya beradu langsung terbanting ke belakang lalu roboh ke lantai. Kening
rengkah mengerikan. Darah membasahi muka yang bopeng, mata mendelik. Tubuh
menggeliat satu kali lalu diam tak berkutik lagi.
Eyang Sepuh Kembar Tilu usap-usap keningnya lalu perhatikan mayat Pengemis
Muka Bopeng seketika. Sambil gelengkan kepala nenek berambut kelabu ini berkata. “Aneh,
dia lebih suka bunuh diri dari pada membuka rahasia. Agaknya ada seseorang yang
ditakutinya dibalik semua perbuatannya. “ Si nenek memandang berkeliling. Ternyata di
dalam kedai yang porak poranda itu hanya tinggal dia sendirian. Semua tamu dan juga
suami istri pemilik kedai tak kelihatan lagi. Si nenek melangkah ke arah dapur. Dalam
sebuah ceret besar dari tanah dia menemukan minuman air jahe yang masih panas karena
belum lama diseduh. Enak saja si nenek kucurkan minuman itu ke dalam mulut dan
meneguknya dengan lahap. Sebelum pergi dia letakkan sekeping kecil perak di atas meja
dapur. Walau ganas tapi rupanya dia masih punya hati nurani untuk mengganti kerusakan
di kedai itu.
Di sebuah ruangan di dalam kapal kayu besar yang mengapung di perairan Tanjung
Losari. Malam tambah larut, tambah gelap dan tiupan angin laut menjelang pagi terasa
semakin dingin.
Di pintu ruangan terdengar langkah kaki lalu suara pintu diketuk.
Tiga buah lilin besar yang ada dalam ruangan serta merta padam oleh lambaian
tangan seorang perempuan bercadar yang duduk di kursi, dekat sebuah jendela.
“Masuk!” perempuan di atas kursi keluarkan ucapan.
Pintu ruangan membuka berderik. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar berdiri di
ambang pintu. Dia tidak segera masuk, tapi tegak dulu berdiam diri untuk menyesuaikan
pandangan matanya dalam kegelapan. Sesaat kemudian baru dia masuk ke dalam ruangan,
itupun tidak jauh.
Hanya dua langkah dari ambang pintu orang ini berhenti. Setelah terlebih dulu
membungkuk baru dia membuka mulut.
“Kiang Loan Nio Nikouw, saya Tek It Hui, nakhoda kapal Naga Hitam. Datang
menghadap memberi laporan. “ Tek it Hui tidak meneruskan ucapannya, menunggu
tanggapan orang yang duduk di atas kursi.
“Sampaikan laporanmu, nakhoda. “
“Semua orang yang turun ke darat, satupun belum ada yang kembali Saat ini hampir
pagi. Saya menunggu, putusan yang akan Kiang Loan Nio Nikouw ambil. Apakah terus
menunggu atau kita segera berangkat saja. “ (Nikouw = panggilan terhadap Paderi
perempuan)
Perempuan bercadar di atas kursi memandang keluar jendela. Setelah
memperhatikan keadaan di luar sana dia berkata. “Kita sudah memberi waktu lebih dari
cukup. Seharusnya salah satu dari mereka sudah kembali paling lambat sekitar tengah
malam. Sekarang menjelang pagi. Aku punya firasat mereka semua gagal menjalankan
tugas. “
“Berarti kita tak perlu menunggu, berangkat sekarang juga. Atau Kiang Loan Nio
Nikouw berubah pikiran. Ingin turun sendiri ke darat?”
Kiang Loan Nio Nikouw alihkan kepala dari jendela kapal. Lalu menghela nafas
dalam. “Aku pernah mendengar ketinggian ilmu kepandaian serta kehebatan ilmu kesaktian
orang-orang di tanah Jawa. Tapi apa mereka begitu perkasanya hingga tokoh kang ouw
sehebat Bun Pek Guan, Tong Siauw Chie dan Hek Chiu Mo menemui kegagalan? Mungkin
sekali mereka saat ini sudah menemui ajal semua. . . . “ Paderi perempuan itu berpaling
pada nakhoda kapal yang tegak dalam kegelapan. (kangouw= rimba persilatan Tiongkok)
“Aku ingin sekali menjajaki tanah Jawa. Tapi tidak sekarang. Kita akan datang lagi
dalam waktu cepat. Pasti. Nakhoda It Hui, kau ingat nama pendekar tanah Jawa yang
pernah diberi tahu oleh Wakil Ketua Siauw Lim pay. sebelum kita berangkat?”
Nakhoda kapal Naga Hitam berpikir sejenak. “Kalau saya tidak salah mengingat
namanya Wie Lo Sab Leng. . . “
“Nama aneh. Terdiri dari empat kata. Apakah Wie itu she nya atau apa?”
Nakhoda It Hui tertawa. “Setahu saya orang Jawa tidak pakai she. “
“Kau yakin nama depannya Wie, bukan Lie?”
“Saya yakin sekali Loan Nio Nikouw. “
Paderi perempuan yang wajahnya tertutup cadar mengangguk.
“Nakhoda, ada baiknya kita segera berangkat sekarang saja, ingat, jangan meniupkan
peluit. Sampai kapal merapat di Tionggoan aku harap tidak seorangpun menggangguku. “
“Saya mengerti Loan Nio Nikouw. “
Nakhoda Tek It Hui membungkuk dalam-dalam. Lalu melangkah ke pintu. Begitu lelaki itu
lenyap di balik pintu dan pintu kembali ditutup, perempuan yang dipanggil sebagai paderi
segera berdiri dari kursi. Dari dalam sebuah lemari kecil dia mengeluarkan dua buah benda.
Pertama sebuah tas kecil, satunya sebuah papan seluncur. Dengan cepat dia mengeluarkan
seperangkat pakaian ringkas warna merah lalu berganti pakaian. Selesai bersalin tas kecil
digantungkan di punggung. Masih mengenakan cadar yang menutupi kepala dan wajah dia
membuka jendela lalu menyelinap ke luar. Untuk beberapa lama Loan Nio Nikouw
bergelantungan di sanding jendela. Lalu papan seluncur dilempar ke bawah. Begitu papan
mengapung di permukaan air laut, paderi perempuan ini lepaskan pegangannya pada
sanding jendela. Tubuhnya melayang dalam gelap. Beberapa saat kemudian kaki kanannya
telah mendarat di atas papan seluncur. Begitu kaki kiri dimasukkan ke dalam air dan dikibas
ke belakang, papan seluncur melesat di permukaan air laut.
*
* *
Ditemukannya tiga mayat fang Cina di pantai, satu diantaranya tanpa kepala
menimbulkan kehebohan besar di Losari dan daerah sekitarnya. Kehebohan itu jadi
bertambah hebat setelah penduduk mengetahui pula adanya tiga mayat tak dikenal di
pantai Losari serta tiga mayat di kedai minuman Akang Punten. Tiga mayat itu ternyata
adalah Pengemis Muka Bopeng Dari Karangkoneng bersama dua anak buahnya. Sementara
itu menjelang siang di tepi pantai terlihat mengapung sesosok mayat yang kemudian
diketahui adalah Supri, seorang nelayan. Kehebohan tidak sampai di situ. Penjaga
pekuburan di Karangsembung memberitahu terjadinya pembongkaran atas makam Nyi
Inten Kameswari.
Setelah mendapat cukup; banyak keterangan dari anak buahnya Kepala Pasukan
Kadipaten Losari Rayi Jantra menghadap Adipati Raden Seda Wiralaga untuk memberi
laporan. Rayi Jantra seorang1 lelaki bertubuh tinggi tegap, memelihara kumis dan jenggot.
tipis. Sebenarnya Losari hanyalah sebuah kota pantai yang kecil tidak pantas kalau di sana
ada seorang Adipati. Namun karena letaknya yang sangat strategis di kawasan perbatasan
maka Kerajaan di timur sengaja menempatkan seorang Adipati di sana. Maksudnya tiada
lain adalah untuk mengawasi Kerajaan di barat. Sebenarnya Losari masih merupakan
daerah di bawah kekuasaan Kerajaan di barat. Namun karena Kerajaan di barat begitu
lemah maka wilayah tersebut tidak sempat terjangkau dan diperhatikan sebagaimana
mestinya. Akibatnya penduduk di sana merasa lebih dekat pada orang-orang di timur. Hal
ini tidak disia-siakan oleh Kerajaan di timur. Maka mereka menempatkan seorang Adipati di
Losari. Dibawah Adipati Seda Wiralaga Losari maju pesat. Baik di bidang pertanian, nelayan
maupun perdagangan. Banyak kapal-kapal asing yang berlabuh di tanjung untuk
menurunkan barang dagangan sekaligus mengangkut hasil bumi penduduk termasuk
beberapa hasil pertambangan.
“Kematian Pengemis Muka Bopeng dan dua anak buahnya, apakah sudah diketahui
siapa pembunuhnya?” tanya Adipati Seda Wiralaga.
“Menurut pemilik warung pembunuh adalah seorang nenek berambut kelabu,
sepasang mata merah dan berjubah kuning. Akang Punten mengaku baru satu kali itu
melihat orang tersebut. “ Menerangkan Kepala Pasukan.
“Dari ciri-ciri itu bisa diduga si pembunuh adalah orang rimba persilatan. . . “ kata
Adipati Losari sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis. “Tujuh orang
menemui ajal di hari yang sama. Menurutku semua kejadian ini ada sangkut pautnya
dengan kapal Cina yang muncul di perairan Tanjung Losari. Bagaimana pendapatmu Rayi
Jantra?”
“Semua orang menduga demikian, Adipati,” jawab Kepala Pasukan.
“Lain kali, jika ada lagi kapal asing muncul di Tanjung Losari, langsung memberi
tahu padaku. Jangan baru melapor setelah ada kejadian seperti ini. “
“Mohon maaf atas kelalaian saya ini Adipati. “
“Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, tambah jumlah pasukan di
semenanjung. “
“Akan segera saya lakukan Adipati. “
“Mengenai kejadian aneh di pekuburan Karangsembung, apa saja yang kau ketahui?”
tanya Adipati Seda Wiralaga.
“Penjaga pekuburan menemukan tanda-tanda makam Nyi Inten Kameswari
dibongkar orang lalu ditimbun kembali.
Perempuan ini meninggal dan dikubur kemarin sore. Kejadian ini diberi tahu pada
Anom Miharja, suami Nyi Inten. Pagi itu Anom Miharja mendatangi pekuburan
Karangsembung. Makam Nyi Inten dibongkar. Jenazah ditemukan masih dibungkus kain
kafan. Namun perutnya robek besar. Padahal menurut suami Nyi Inten dan disaksikan
banyak orang, sewaktu dikubur jenazah dan kain kafan istrinya dalam keadaan utuh!”
“Jika perut jenazah dirobek berarti seseorang mengambil sesuatu dari dalam perut
itu. . . “ ucap Adipati Seda Wiralaga sambil usap tengkuknya yang mendadak terasa dingin.
“Mengambil apa, Adipati?” tanya Rayi Jantra pula.
“Mungkin mengambil jantung, hati atau isi perutnya yang lain. . . . “
“Tapi untuk apa orang tega-teganya melakukan hal itu, Adipati?”
Adipati Losari terdiam sesaat. Lalu berkata memuji. “Itu pertanyaan bagus. Kau tahu
Rayi, sekarang ini jaman edan. Banyak orang edan menuntut ilmu edan yang punya syarat-
syarat edan!” Sang Adipati terdiam lagi seketika, baru kemudian menyambung ucapannya.
“Kau tahu rumah kediaman Anom Miharja. Temui dia. Suruh datang menghadapku. Kita
perlu keterangan. Mungkin dia tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan jenazah istrinya.
Seumur hidup baru kali ini aku mendengar ada makam dibongkar, jenazah dijarah isi
perutnya!”
“Saya minta izin berangkat sekarang juga, Adipati. “ Kepala pasukan membungkuk
memberi hormat lalu undur diri dari hadapan sang Adipati.
Rumah kediaman Raden Anom Miharja terletak di desa Babakan, pinggiran selatan
Losari, berupa sebuah gedung mewah besar dengan halaman luas. Ketika Kepala Pasukan
Rayi Jantra sampai di gedung itu bersama dua orang anak buahnya, kelihatan banyak orang
berkerumun di pintu gerbang.
“Ada apa ramai-ramai di sini?” tanya Rayi Jantra.
“Raden Anom Miharja mati gantung diri di kandang kuda,” jawab seseorang.
Mendengar keterangan orang Kepala Pasukan Kadipaten Losari ini bersama dua
perajurit segera masuk ke dalam terus menuju halaman belakang dimana terdapat sebuah
kandang kuda besar. Di tempat ini lebih banyak lagi orang yang berkerumun. Melihat siapa
yang datang orang banyak segera memberi jalan.
Kandang kuda di belakang gedung mewah itu besar sekali. Terbuat dari kayu dan
bangunannya tampak kukuh. Bisa memuat enam kuda sekaligus. Saat itu tidak seekor kuda
pun tampak di dalam kandang. Di bagian tengah kandang ada satu balok besar melintang.
Pada balok ini terikat seutas tali besar. Ujung lain dari tali menjirat di leher seorang lelaki
bertubuh gempal yang hanya mengenakan celana putih tanpa baju. Sepasang mata mencelet
seperti hendak melompat keluar dari rongganya, lidah terjulur. Keseluruhan wajah yang
mengerikan itu membayangkan satu perasaan takut. Tubuh yang tergantung itu adalah
Anom Miharja, suami Nyi Inten Kameswari.
Kepala Pasukan Rayi Jantra memperhatikan. Pada dada kiri Anom Miharja ada satu
lebam berwarna merah kebiruan. Di bawah dua kaki Anom Miharja yang tergantung
setinggi orang duduk tidak terdapat apa-apa, misal kursi atau meja.
Tiga orang pelayan, satu lelaki dua perempuan, duduk menjelepok di tanah,
menangis terisak-isak. Rayi Jantra meminjam golok salah seorang anak buahnya lalu
menebas putus tali yang menjirat leher Anom Miharja.
Ketika meninggalkan gedung besar, kembali ke tempat mereka menambatkan kuda
itu, Rayi Jantra berkata pada dua anak buahnya. “Aku tidak yakin Anom Miharja mati
karena bunuh diri. Di dalam kandang tidak kelihatan alat bantu tumpuan kaki yang biasa
dipergunakan orang gantung diri. Jika bangsawan kaya raya itu memanjat dulu ke atas atap,
mengikat tali ke balok, menjirat leher lalu terjun ke bawah rasanya tak masuk akal.
Kalaupun memang itu dilakukannya, lehernya akan tanggal, kepala putus karena balok di
atas atap kandang kuda tinggi sekali dudukannya dan bobot tubuh Anom Miharja lebih
seratus lima puluh kati beratnya. Yang membuat aku curiga ada tanda merah di dada
kirinya. Tepat di arah jantung! Aku punya dugaan, Anom Miharja dibunuh lebih dulu baru
digantung. Apa pendapat kalian?”
“Kami berdua perajurit bodoh, tapi jalan pikiran kami kira-kira sama dengan Raden,”
jawab perajurit di sebelah kiri.
Perajurit sebelah kanan menimpali. “Saya tidak melihat alasan apa sampai Raden
Anom Miharja nekat bunuh diri. Harta kekayaan melimpah, istri cantik”
“Kalian pernah mendengar cerita kalau Anom Miharja tidak pernah kawin secara
syah dengan Nyi Inten Kameswari?” tanya Rayi Jantra.
“Ya, kami pernah mendengar itu,” jawab salah seorang dari dua perajurit sambil
melepas ikatan tali kekang kuda tunggangan Kepala Pasukan yang ditambat pada sebatang
pohon.
“Lalu apa kalian juga pernah mendengar pergunjingan orang, dari mana Anom
Miharja mendapatkan semua harta kekayaannya? Dia bukan juragan nelayan, atau
pedagang besar. . . . “
“Setahu saya dia punya sawah puluhan bidang. “ “Itu benar. Tapi ada banyak petani
di Losari ini yang punya banyak sawah. Sampai saat ini mereka hidup secukupnya kalau
tidak mau dikatakan masih saja tetap miskin. “ Kata Kepala Pasukan pula lalu naik ke
punggung kudanya. Dia tidak segera menjalankan tunggangannya itu malah. bertanya pada
dua anak buahnya. “Lalu dari mana sumber semua kekayaan melimpah ruah Anom
Miharja?”
“Kami tidak berani menduga, Raden,” jawab dua perajurit hampir berbarengan.
“Kalian punya cerita apa tentang Nyi Inten Kameswari?” “Banyak cerita yang saya
dengar, tapi saya tidak berani menyampaikan,” jawab perajurit bertubuh tinggi langsing
bernama Jumena.
“Kalau kau bicara tak ada yang mendengar. Ayo, ceritalah sambil jalan. Aku atasan
kalian. Ceritamu tidak akan aku sampaikan pada siapa-siapa jika itu yang kalian
khawatirkan. “ Kepala Pasukan Losari lalu menarik tali kekang kuda. Binatang itu tidak lari,
hanya melangkah perlahan didampingi dua kuda perajurit di sebelah kiri kanan. Perajurit
Jumena akhirnya bercerita. “Banyak orang tahu kalau Nyi Inten Kameswari sudah berusia
lanjut. Lebih dari lima puluhan. Ada dugaan malah dia lebih tua dari Raden Anom. Tapi
raut wajah dan keadaan tubuhnya tetap awet muda, bagus dan mulus. Konon dia banyak
mengenal dan berhubungan dengan para pejabat Kerajaan di barat maupun di timur.
Diantara para pejabat tinggi itu banyak yang tergila-gila padanya. Raden Anom kabarnya
sudah tahu kalau istrinya kerap berselingkuh dengan beberapa pejabat terutama yang dari
timur. Namun dia seperti acuh tidak perduli. Konon dari hubungan tidak baik itu Nyi In ten
banyak menerima hadiah. “
Rayi Jantra tersenyum mendengar cerita anak buahnya itu. Dia ulurkan tangan kiri
menepuk-nepuk bahu Jumena. “Kau perajurit baik. Banyak pengetahuan. Aku akan
mengusulkan pada Adipati agar pangkatmu dinaikkan satu tingkat. “
“Terima kasih, Raden. Terima kasih. . . . “ Jumena bungkukkan dada berulang kali. Ketiga
orang itu kemudian sama menggebrak kuda masing-masing meninggalkan tempat itu.
*
* *
LIMA
Penghujung malam menjelang pagi. Pendekar 212 Wiro Sableng yang tertidur lelap di
sebuah dangau dikejutkan oleh suara ribut ha-hu ha-hu. Murid nenek sakti Sinto
Gendeng dari Gunung Gede ini terbangun kaget. Baru saja dia hendak mengusap
mata tibatiba. “Braakk!”
Satu tubuh berjubah kuning jatuh tergeletak menelentang di atas lantai dangau
terbuat dari bambu. Wiro memperhatikan dengan penuh kejut dan juga kuduk merinding. Si
jubah kuning ternyata adalah sosok Seorang nenek berambut kelabu bermata merah.
Sepasang telinga ditancapi anting terbuat dari tulang jari manusia. Dua mata merah itu
tampak mendelik mengerikan seperti mau melompat dari sarangnya. Pada kening nenek tak
dikenal Wiro ini menempel sehelai daun. Ada darah meleleh dari sudut bibir. Dadanya
turun naik dan dari mulut serta hidung keluar suara menyengal tak berkeputusan.
“ha-hu ha-hu ha-hu!”
Wiro berpaling ke samping. Astaga! Kaget Pendekar 212 bukan alang kepalang. Di
pinggir dangau berdiri dua nenek yang ujudnya sama dengan yang tergeletak di atas lantai
dangau. Dari mulut keduanya tiada henti keluar suara ha-hu ha-hu. Sementara sepasang
mata dua nenek ini kelihatan basah berkaca-kaca. Tiga nenek dengan pakaian dan wajah
yang sama! Manusia sungguhan atau setan kembar tiga, pikir Wiro.
“Siapa kalian?!” tanya Pendekar 212. “ha-hu ha-hu ha-hu!”
Dua nenek kembar kembali keluarkan suara ha-hu ha-hu. Kali ini sembari tangan
menunjuk-nunjuk ke arah nenek yang tergeletak di lantai dangau.
“ha-hu ha-hu!” Wiro menirukan sambil garuk kepala. “Kalian ini bicara apa? Mau
memberi tahu apa? Kalian berdua gagu?!”
“ha-hu ha-hu. . . “ Dua nenek usap air mata yang berlelehan di pipi mereka lalu
seperti tadi kembali menunjuk dengan tangan kanan ke arah nenek di atas dangau
sementara tangan kiri menepuk kening masing-masing. Mula-mula Wiro masih tidak
mengerti apa yang hendak disampaikan oleh dua nenek gagu ini. Setelah berpikir lagi dan
menggaruk kepala Wiro menyeringai. Dia memperhatikkan dua nenek menepuk kening
sambil menunjuk-nunjuk. Lalu memandang pada nenek satunya yang tergeletak di atas
dangau.
“Ah, yang kalian maksudkan daun di kening nenek itu?” “ha-hu ha-hu!” Dua nenek
anggukkan kepala berulang kali.
Wiro membungkuk. “Aneh, ada orang sekarat keningnya ditempeli daun. “ Wiro
ambil daun yang menempel di kening si nenek. Dua nenek di samping dangau buru-buru
menjauh, wajah membersitkan ketakutan. Wiro memperhatikan.
“Daun pohon mengkudu. Aneh, mengapa kalian seperti ketakutan melihat daun ini?”
tanya Wiro lalu pura-pura hendak menyapukan daun ke tubuh dua nenek.
“ha-hu ha-hu!” Dua nenek menjerit dan mundur menjauh. “Heran, cuma sehelai
daun, mengapa pada ketakutan seperti melihat setan kepala tujuh?!”
Pada saat daun mengkudu yang menempel di keningnya diambil Wiro, nenek yang
tergeletak di lantai dangau keluarkan suara seperti orang mengorok. Dua mata bergerak liar.
Mulut yang. penuh darah terbuka. Suaranya serak. “
Aku dikhianati! Aku dikhianati. .
“Nek, siapa yang mengkhianatimu? Kekasihmu?!” tanya Wiro.
“Jangan bergurau! Aku dalam keadaan sekarat!”
Wiro berpaling pada dua nenek berpakaian dan berwajah sama.
“Dua nenek gagu itu apamu?”
“Aku dikhianati. . . . Dua buah dadu. . . . Aku dikhianati. “
Wiro menggaruk kepala.
“Nek, kau dikhianati dua buah dadu? Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin. . . ?”
“Aku mendengar suara, tidak melihat orangnya. Mendekatlah. Jika kau penolongku,
maka seribu berkah akan menjadi bagianmu. . . “
Wiro geleng-geleng kepala. Tapi dia dekatkan juga kepalanya ke depan wajah si
nenek. Dua mata merah berputar sebelum menatap ke arah Pendekar 212. Saat itu di timur
fajar telah menyingsing. Keadaan di dalam dangau dan sekitarnya terang-terang tanah. Si
nenek memperhatikan wajah Wiro.
“Haa “ Si nenek tank nafas panjang. “Aku dikhianati. . . “
“Siapa yang mengkhianatimu, Nek?”
“Aku tidak tahu. Daun mengkudu. . . . Orang itu tahu kelemahanku. Dengar anak
muda. Dari wajahmu aku tahu kau orang baik dan punya kepandaian. Tolong aku mencari
pembunuh itu dan dapatkan kembali dua buah dadu yang dirampasnya dariku. . . “
Wiro tertegun dan jauhkan kepalanya dari wajah si nenek.
“Nek, kau ini siapa sebenarnya? Dua nenek yang ha-hu ha-hu itu apamu?” bertanya
Wiro.
“Aku Eyang Sepuh Kembar Tilu. Dua nenek itu adalah kembaranku. Daun
mengkudu yang kau pegang, lekas musnahkan, kubur dalam tanah. Jangan sampai
tersentuh dua nenek kembaranku itu. “
Wiro perhatikan daun mengkudu yang dipegangnya. Lalu memenuhi permintaan si
nenek dia bantingkan daun itu hingga amblas masuk ke dalam tanah di samping dangau.
“Kau orang hebat. . . . Terima kasih kau telah menolongku,” si nenek rambut kelabu
berucap. “Jalanku lapang sekarang. Dua kembaranku aku titipkan padamu. Mereka akan
muncul jika kau panggil. Mereka akan terbebas dari penyakit gagu jika pembunuhku
menemui ajal. Ingat, cari pembunuhku dan dapatkan dua buah dadu. Selain itu jika kau
punya kesempatan, carilah seorang gadis bernama Nyai Rara Santang. “
“Nyai Rara Santang? Siapa dia?” tanya Wiro.
“Sudahlah, aku pergi sekarang. Ingat, aku menitipkan dua kembaranku padamu. . . “
“Jangan Nek. Mengurus diri sendiri saja aku sudah susah. Apa lagi mengurus dua
nenek kembaranmu itu. . . . “
“ha-hu ha-hu,” dua nenek kembar maju dua langkah dan jatuhkan diri di hadapan
Pendekar 212. Wajah mereka menunjukkan minta welas asih.
“Wah, urusan berabe ini!” ucap Wiro sambil garuk kepala.
Nenek di atas dangau menyeringai. Dari tenggorokannya keluar suara mengorok.
“Aku pergi sekarang. . . “ ucapnya perlahan. Lalu mulutnya terkancing, dua matanya
perlahan-lahan menutup.
Dua nenek kembar menggerung keras.
“ha-hu ha-hu ha-hu”
Diam-diam Wiro merasa kasihan juga pada dua nenek kembar gagu itu. Seperti
diketahui sebelumnya dua nenek kembar jejadian itu bisa bicara dan tidak gagu. Namun
akibat malapetaka yang menimpa kakak kembar mereka yaitu Eyang Sepuh Kembar Tilu,
maka keduanya secara aneh mendadak menjadi gagu.
“Dua nenek kembar, sebentar lagi hari akan siang. Bawa jenazah kembaranmu ini.
Kuburkan di tempat yang baik. “
“ha-hu ha-hu ha-hu” Dua nenek kembar menggangguk-angguk lalu kembali jatuhkan
diri. Salah seorang dari mereka tibatiba bangkit. Dia menunjuk-nunjuk dengan tangan
kirinya ke arah jenazah nenek di atas dangau. Lalu dengan tangan yang sama dia menunjuk-
nunjuk ke tangan kanannya sendiri. Hal ini dilakukannya berulang kali sampai akhirnya
Wiro mengerti dan memperhatikan tangan kanan Eyang Sepuh Kembar Tilu.
Ternyata lima jari tangan kanan si nenek dalam keadaan tergenggam. Sepertinya ada
sesuatu dalam pegangan si nenek. Wiro buka lima jari yang tergenggam. Dia menemukan
sebuah benda bulat pipih berwarna hitam, terbuat dari sejenis kayu hitam berbau harum.
“Kancing baju. . . . “ucap Wiro. Benda itu kemudian disodorkannya pada nenek
sebelah kanan. Si nenek gelengkan kepala, goyang-goyangkan tangan kiri sementara tangan
kanan menunjuk-nunjuk ke arah Wiro.
“Nek, kau menyuruh aku menyimpan kancing kayu ini. Buat apa?”
“ha-hu ha-hu ha-hu. . . “ Dua nenek bungkukkan diri berulang kali di hadapan Wiro.
Sepasang mata mereka tampak basah. Keduanya terisak-isak.
“Sudah. . . sudah. Baik, akan kusimpan kancing sialan ini!” kata Wiro pula lalu
memasukkannya ke dalam kantong di kiri celana putihnya. “Sekarang lekas kalian bawa
jenazah nenek kembaran kalian ini. Aku minta jangan sekali-kali mengikuti
kemana aku pergi!”
“ha-hu ha-hu ha-hu!” Dua nenek usap wajah masing-masing. Saat itu juga keduanya
berubah menjadi sepasang perempuan muda berwajah cantik.
Wiro terperangah melihat apa yang terjadi namun kemudian dia tertawa bergelak,
“Kalian berdua, dengar baik-baik. Aku tidak mau diikuti bukan karena kalian dua nenek
jelek. Sekalipun kalian bisa berubah jadi dua gadis cantik, aku tetap tidak mau diganggu.
Tidak mau kalian ikuti!”
“ha-hu ha-hu ha-hu”
“Sekarang aku minta kalian pergi. “
“ha-hu ha-hu ha-hu!” Dua nenek kembali membungkuk-bungkuk lalu turunkan
jenazah Eyang Sepuh Kembar Tilu dari atas dangau. Salah seorang dari mereka memanggul
jenazah kemudian bersama kembarannya dia tinggalkan tempat itu.
Wiro duduk di pinggiran lantai dangau.
“Makhluk-makhluk aneh. . . . “ katanya sambil geleng-geleng kepala. “Nenek rambut
kelabu menyuruh aku mencari pembunuhnya serta dua buah dadu yang dirampas. Enak
saja! Apa urusan dan sangkut pautku? Aku disuruh pula mencari seorang bernama Nyai
Rara Santang. Siapa dia itu? Cucu nenek bernama Eyang Sepuh Kembar Tilu itu?”
*
* *
Tak jauh di selatan Losari terdapat sebuah bukit batu yang oleh penduduk sekitarnya
disebut Bukit Batu Bersuling. Nama ini diberikan karena pada bagian puncak bukit ada dua
buah dinding batu berbentuk lurus pipih yang saling terpisah hanya sejarak satu jari. Bila
angin dari laut bertiup, celah batu yang sempit itu mengeluarkan suara seperti tiupan
seruling. Suara ini oleh penduduk terdengar dan dirasakan aneh hingga lama kelamaan
Bukit Batu Bersuling dianggap angker dan hampir tak ada orang yang mendatangi.
Malam itu, dibawah hujan rintik-rintik seorang penunggang kuda memacu
tunggangannya menuju Bukit Batu Bersuling. Di kaki bukit sebelah timur terdapat sebuah
bangunan luas beratap rumbia tanpa dinding. Keadaan gelap dan sepi. Baru saja orang yang
datang menginjakkan kaki di tanah, dari tiga arah kegelapan melompat keluar tiga orang
bercelana hitam bertelanjang dada. Masing-masing mencekal golok besar yang walaupun
keadaan gelap namun saking tajamnya masih tampak berkilauan. Tiga golok diangkat ke
atas, siap untuk membacok dan membabat. Orang bercelana hitam di sebelah tengah
membentak. Rambutnya yang panjang dikuncir ke belakang berwarna merah.
“Siapa?!”
“Apa matamu buta tidak mengenali diriku?!” Orang yang dibentak balas
menghardik. Tiga pasang mata membesar memperhatikan. Orang yang datang mengenakan
pakaian ringkas warna biru gelap. Kepala dan wajah tertutup caping bambu. Tiga prang
bertelanjang dada tidak mengenali orang yang datang dari dandanannya namun mereka
rasa-rasa mengenal suara.
“Raden Kumalasakti. . . ?”
“Hemmm. . . “ Orang bercaping keluarkan suara bergumam dan buka caping diatas
kepala.
Melihat wajah orang, tiga lelaki bertelanjang dada segera sarungkan golok masing-
masing lalu membungkuk setengah berlutut. Yang tadi membentak cepat-cepat berkata.
“Saya Kuncir Merah. Mewakili Ki Beringin Reksa, Wakil Kepala Pengawal di tempat
ini. Saya dan dua teman mohon maaf Raden Kumalasakti. Kami tidak mengenali. Tidak
biasanya Raden berdandan seperti ini. “
“Aku tidak marah. Perbuatan kalian pertanda kalian selalu siap siaga. Waspada
menjaga segala kemungkinan. Belakangan ini keadaan di luaran agak gawat. Banyak orang-
orang pandai menemui ajal. Itu sebabnya aku perlu menyamar, waspada berjaga-jaga.
Bagaimana keadaan di sini?”
Kuncir Merah dan dua kawannya luruskan badan kembali.
“Semua baik-baik Raden. Hanya saja kami berada dalam keadaan sedikit gelisah.
Sejak meninggalnya Bandar Agung dua minggu lalu di tempat ini sama sekali tidak ada
kegiatan. Tidak ada yang datang. Dua minggu kami tidak menerima upah. Selain itu para
gadis yang biasa menghibur sudah sering mendesak akan meninggalkan tempat ini. “
“Aku mengerti kegelisahan kalian. Itu sebabnya aku datang membawa kabar baik.
Kita akan segera mendapatkan Bandar Agung yang baru. “
“Terima kasih Raden. Kami sangat berbesar hati mendengar berita ini. Kalau kami
boleh tahu kapan Bandar Agung baru akan datang dan kapan tempat ini akan dibuka
kembali?”
“Lisa malam, tepat pada saat bulan empat belas hari memancar. “ jawab orang
bernama Raden Kumalasakti. Lalu dia meneruskan ucapan. “Apa kalian sudah mendengar
kabar bahwa Pengemis Muka Bopeng Karangkoneng Kepala Pengawal di tempat ini telah
menemui ajal? Mati dibunuh orang di warung minuman Akang Punten satu minggu lalu. “
Kuncir Merah dan dua temannya tampak terkejut. Ketiganya gelengkan kepala
“Kuncir Merah, jika kau bekerja bagus aku akan mengusulkan pada Bandar Agung
agar kau mendapat jabatan yang lebih tinggi. “
Kuncir Merah membungkuk sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.
“Raden Kumalasakti, jika benar tempat ini akan dibuka kembali lusa malam, ijinkan
kami memberi tahu teman-teman yang lain serta para gadis penghibur. Kami akan
membersihkan semua ruangan. Mematut semua perabotan. Mempersiapkan dan memeriksa
peralatan termasuk semua senjata orang berpakaian dan berikat kepala hitam telah
mengurungnya.
“Manusia kesasar dari mana berani mati menyusup ke tempat ini!”
Satu bentakan menggeledek disertai berkelebatnya empat golok besar. Orang yang
diserang cepat melompat ke atas sebuah tembok batu.
Melihat serangan mereka gagal, secara serentak empat orang berpakaian hitam yang
juga adalah para pengawal tempat tersebut kembali menyerbu. Empat golok berkesiuran di
udara.
“Traang. . traang. . . traang. . . . traang!”
Empat kali suara berkerontang memecah kesunyian. Empat tangan yang memegang
golok tergetar hebat. Empat penyerang sama-sama bersurut satu langkah.
“Lihat pakaiannya!”
Tibatiba salah seorang empat penyerang berseru. Tiga kawannya memperhatikan.
Ternyata orang yang mereka serang dan saat itu masih berdiri di atas tembok batu
memegang sebilah tombak pendek, mengenakan pakaian penuh tambalan.
“Katakan apa hubunganmu dengan Pengemis Muka Bopeng Dari Karangkoneng!”
Orang di atas tembok menyeringai. “Aku Pengemis Siang Malam Dari Cisanggarung.
Pengemis Muka Bopeng adalah pimpinanku. Kabar kematiannya membuat aku datang
kesini untuk melakukan penyelidikan!”
“Beraninya kau menyelidik! Walau Pengemis Muka Bopeng salah seorang pimpinan
di tempat ini, tapi itu tidak berarti kau boleh menyusup berbuat lancang!”
Orang berpakaian penuh tambalan dan mengaku Pengemis Siang Malam Dari
Cisanggarung mendengus. “Pembunuhan atas diri Pengemis Muka Bopeng ada sangkut
pautnya dengan tempat ini! Jangan kalian berani melarangku melakukan penyelidikan. Aku
akan menghabisi siapa saja yang coba menghalangi!”
“Anak kucing berani datang ke sarang harimau!” Empat orang berpakaian hitam
menyergap. Empat golok kembali berkelebat. Lagi-lagi terdengar suara berdentangan ketika
Pengemis Siang Malam menangkis dengan tombak pendek. Merasa terdesak di atas tembok,
sang pengemis melompat turun sambil lancarkan serangan ganas dalam jurus Raja
Pengemis Minta Sedekah!
Hanya terdengar dua kali suara beradunya senjata karena dua dari empat lelaki
berpakaian serba hitam yang tadi menyerang kini kelihatan terhuyung huyung. Yang satu
sambil pegangi lehernya yang terluka besar dan kucurkan darah akibat sambaran ujung
tombak. Tubuhnya kemudian roboh ke tanah. Satunya lagi menggerung keras sebelum
terbanting tertelentang dengan muka berlumuran darah. Keningnya rengkah dihajar tombak
Pengemis Siang Malam! Dua lelaki berpakaian hitam lainnya serta merta jadi ciut nyali
mereka dan tak berani lanjutkan serangan. Malah keduanya melangkah mundur menjauhi
lawan. Tibatiba pintu rahasia di dinding terbuka.
“Ada apa ribut-ribut di tempat ini?!”
Yang membentak adalah Kuncir Merah yang muncul bersama delapan anak buahnya.
Ketika melihat dan mengenali Pengemis Siang Malam berdiri sambil melintangkan tombak
berdarah di depan dada langsung Kuncir Merah menghardik.
“Apa kematian pimpinanmu membuat kau jadi orang tolol dan nekad membuat
keributan di tempat ini?!”
“Pembunuh pimpinanku adalah orang dalam sini. Aku datang untuk menyelidik dan
minta nyawanya!”
“Pengemis kurang ajar! Enak saja kau menuduh! Biar aku robek dulu mulutmu!”
teriak Kuncir Merah. Namun sebelum dia berkelebat menyerang semua anak buahnya
sudah mendahului. Sepuluh orang menggempur Pengemis Siang Malam Dari
Cisanggarung. Walau dia sanggup bertahan dan sesekali membalas serangan para
pengeroyok, namun sang pengemis menyadari tidak ada gunanya berlama-lama melayani
orang-orang itu karena dia punya dugaan, pembunuh pimpinannya tidak ada di tempat itu.
Sementara itu sepuluh penyerang walaupun berada di tingkat pengawal biasa namun
rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan terus berusaha mengurung serta mendesak lawan.
Lima jurus dimuka Kuncir Merah yang melihat anak buahnya masih tidak mampu
menghajar lawan yang cuma seorang itu, dengan jengkel, didahului suara bentakan keras
melesat masuk dalam kalangan pertempuran. Gelombang serangan kini bertambah hebat
melanda Pengemis Siang Malam Tapi orang ini tidak punya niat lagi menghadapi lawan
yang begitu banyak. Setelah mengirimkan satu serangan kilat yang merobek dada salah
seorang lawannya, Pengemis Siang Malam segera berkelebat tinggalkan tempat itu.
“Pengemis keparat! Kau mau kabur kemana?!” Kuncir Merah mengejar sambil lepas satu
pukulan tangan kosong. Namun orang yang dikejar dan diserang telah lenyap dalam
kegelapan malam. Malah mendadak ada serangan balasan berupa angin dahsyat yang
membuat Kuncir Merah terhuyung dan cepat menyingkir ke samping.
Kuncir Merah geram sekali. Pimpinan di tempat itu pasti akan mendampratnya.
“Pengemis Siang Malam jelas-jelas menjadi musuh besar kita. Kita harus mengirim
orang untuk mencari dan menghabisinya sebelum dia membuka rahasia apa yang
berlangsung di tempat ini! Kalau Ki Beringin Reksa atau Raden Kumalasakti datang, aku
akan melaporkan apa yang terjadi” Ucap Kuncir Merah dengan rahang menggembung dan
tangan kanan terkepal.
“Aku tahu dimana sarang manusia keparat itu,” kata salah seorang anak buah Kuncir
Merah.
“Bagus! Bangsat itu harus mati sebelum tempat ini dibuka kembali!” kata Kuncir
Merah pula.
*
* *
ENAM
Sang surya hampir tenggelam di ufuk barat ketika sepuluh orang berpakaian hitam
berkelebat di tikungan kali Cisanggarung tak jauh dari sebuah desa kecil bernama
Luragung. Mereka mendekam di balik semak belukar di tebing kali sambil mata
menatap ke arah sebuah rumah panggung berbentuk panjang sepuluh tombak di depan
sana. Masing-masing membawa obor yang belum dinyalakan. Sepuluh orang ini adalah para
pengawal dari bangunan yang disebut Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga yang terletak di
Bukit Batu Bersuling.
Sementara itu di dalam sebuah ruangan besar di atas rumah panggung, seorang lelaki
berambut tebal riap-riapan, berjanggut dan berkumis lebat, berpakaian dekil penuh
tambalan, duduk bersila di depan sebuah pendupaan yang baranya mulai meredup padam.
Di atas pendupaan tergeletak melintang sebuah senjata berupa tombak pendek. Orang ini
bukan lain adalah Pengemis Siang Malam, yang malam lalu menyerbu ke Bukit Batu
Bersuling untuk menuntut balas kematian pimpinannya yaitu Pengemis Muka Bopeng Dari
Karangkoneng.
Di ruangan yang sama agak jauh dan merapat ke dinding, duduk delapan orang
perempuan muda beserta lima orang anak-anak berusia antara empat dan enam tahun.
Semua memperhatikan tanpa berani bergerak ataupun keluarkan suara atas apa yang tengah
dilakukan Pengemis Siang Malam. Tiga dari delapan perempuan adalah istri sang pengemis
sedang lima lainnya adalah istri-istri dari anak buahnya yang tinggal bersama di rumah
panggung panjang itu. Dua anak perempuan yang ada di situ adalah anak Pengemis Siang
Malam dan tiga orang lagi adalah anak dari dua anak buahnya.
Pengemis Siang Malam saat itu tengah bersamadi bagi kesejahteraan roh
pimpinannya. Selain itu dia punya firasat akan terjadi sesuatu sebagai akibat penyerbuannya
ke Bukit Batu Bersuling. Selesai bersamadi, masih dalam keadaan duduk bersila Pengemis
Siang Malam memanggil istrinya yang paling tua.
“Kau dan yang lain-lainnya segera tinggalkan rumah ini lewat pintu dan tangga di
sebelah belakang. Pergi ke lembah di seberang telaga. Tunggu di sana. Jika aku tidak datang
pergilah ke Lebakwangi ke tempat guruku. “
Istri tertua Pengemis Siang Malam anggukkan kepala lalu menemui perempuan-
perempuan yang ada di ruangan dan memberi tahu apa yang harus segera mereka lakukan.
Kembali ke tikungan pinggir kali Cisanggarung.
Belum lama sepuluh orang berpakaian serba hitam sembunyi dibalik semak belukar
tibatiba beberapa kali suitan nyaring merobek kesunyian senja. Lima orang lelaki berambut
gondrong, berkumis dan berjanggut liar serta mengenakan pakaian penuh tambalan melesat
keluar dari kolong rumah panggung. Masing-masing mencekal sebilah golok. Mereka
adalah anak buah Pengemis Siang Malam. Salah seorang dari mereka, yang bertubuh
gempal pendek dan berdiri paling depan berteriak.
“Berani datang berani unjukkan tampang! Bersembunyi adalah sikap orang yang
datang membawa niat jahat tapi berlaku pengecut! Apa kalian takut kami mau minta uang
receh sedekahan?!”.
“Pengemis-pengemis kotor bau! Kalian tidak pantas menyambut kedatangan kami
Pergi!” Dari arah kali terdengar suara sahutan. Lalu set. . . set. . . set! Di udara berlesatan
banyak sekali senjata rahasia berbentuk pisau terbang!
Lima orang berpakaian penuh tambalan berteriak kaget sekaligus marah. Yang
bertubuh gempal cepat melompat setinggi satu tombak sambil sapukan golok ke depan. Tiga
kawannya mengikuti. Terdengar suara bedentrangan berulang kali ketika sekian banyak
pisau terbang beradu dan mental dibabat golok empat anggota Pengemis Siang Malam.
Pengemis ke lima terlambat menangkis, tak sempat cari selamat. Sebuah pisau
terbang menancap telak di tenggorokannya. Orang ini keluarkan suara seperti ayam
dipotong. Ketika tubuhnya terbanting rebah ke tanah, darah masih mengucur dari lehernya
yang ditancapi pisau terbang!
Sepuluh orang berpakaian serba hitam masih tetap tak bergerak di balik semak
belukar. Saat itu di halaman rumah panggung telah berdiri tiga orang lelaki. Yang pertama
berpakaian hitam, berambut panjang dikuncir. Dia bukan lain adalah si Kuncir Merah, salah
seorang pimpinan pengawal di Rumah Seribu Rejeki Seribu Sorga. Orang kedua kurus
tinggi, berjubah hijau gombrong memiliki rambut aneh. Rambut ini menyerupai daun pohon
beringin berwarna hijau berkilat. Dia adalah Ki Beringin Reksa, Wakil Kepala Pengawal
Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga. Dialah tadi yang melemparkan belasan pisau terbang dari
pinggir kali dan menewaskan. Orang ke tiga adalah Raden Kumalasakti, salah satu orang
penting dari Rumah Seribu Rejeki Seribu Sorga. Sikapnya kelihatan agak sombong. Dia
berdiri dengan wajah menyeringai dan dua tangan dirangkap di atas dada.
Melihat salah seorang teman mereka tewas, empat orang anggota Pengemis Siang
Malam berteriak marah dan langsung menyerbu ke arah tiga orang yang berdiri di depan
mereka. Begitu empat pengemis menyerang, Raden Kumalasakti berteriak. “Bakar!”
“Blepp!”
Sepuluh obor yang berada di tangan sepuluh orang di balik semak belukar serentak
menyala. Kesepuluh orang ini kemudian melompat keluar dari tempat persembunyian
mereka lalu lari ke arah rumah panggung. Lima obor di lempar ke atas atap. Lima lagi
dipakai menyulut lantai rumah. Sebentar saja rumah yang terbuat dari kayu itu telah
dilamun api.
Di atas rumah, Pengemis Siang Malam mengambil tombak pendek di atas pendupaan
lalu melompat. “Braakk!”
Sekali tendang salah satu jendela rumah yang tertutup hancur berantakan. Tubuh
sang pengemis melesat Keluar jendela yang jebol. Pada saat dia injakkan kaki di tanah,
tibatiba di bagian belakang rumah panggung terdengar pekik perempuan dan jeritan anak-
anak. Pengemis Siang Malam tersentak kaget. Setelah api berkobar ternyata anak istrinya
serta perempuan-perempuan lain bersama anak-anak mereka baru mencapai tangga!
Tanpa pikir panjang Pengemis Siang Malam segera balikkan diri dan lari ke arah
tangga. Namun gerakannya tertahan. Seorang berjubah dan berambut aneh hijau
menghadang! Ki Beringin Reksa!
“Aku senang sekali mendengar suara jeritan-jeritan itu! Sebentar lagi aku akan
mencium harumnya bau daging manusia terpanggang! Ha. . . ha. . . ha!” Ki Beringin Reksa
keluarkan ucapan lalu tertawa bergelak.
“Keparat jahanam!” teriak Pengemis Siang Malam. Tak ada jalan lain. Untuk dapat
menolong perempuan dan anak-anak itu dia harus menyingkirkan orang di hadapannya
lebih dahulu.
“Wuttt!”
Tombak pendek di tangan Pengemis Siang Malam menderu keluarkan hawa dingin,
membabat ke arah dada Ki Beringin Reksa. Orang yang diserang ganda tertawa. Dia
kebutkan lengan kanan jubah hijaunya. Dari ujung lengan itu menghambur keluar angin
deras, menyerang arah lengan kanan Pengemis Siang Malam.
“Desss!”
Pengemis Siang Malam menggigit bibir menahan sakit ketika angin pukulan
menghantam lengannya. Tombak pendek bergetar keras hampir terlepas. Setelah keluarkan
gerungan keras Pengemis Siang Malam kembali menyerang dengan tombak pendeknya. Ki
Beringin Reksa tertawa bergelak. Rambutnya yang berbentuk daun beringin berjingkrak
mengembang, mengepulkan asap kehijauan, aneh mengerikan. Saking geramnya Pengemis
Siang Malam hantamkan senjatanya ke kepala lawan. “Traangg!”
Luar biasa! Tombak pendek itu seperti memukul benda terbuat dari besi atos. Kaget
Pengemis Siang Malam bukan olah-olah dan terpaksa bertindak mundur.
Sementara itu di bagian belakang rumah hanya tujuh perempuan dan empat orang
anak yang berhasil menuruni tangga dan selamat dari kobaran api, Satu perempuan yaitu
istri kedua Pengemis Siang Malam dan seorang anak perempuan yang juga adalah anak
Pengemis Siang Malam terkurung di bagian belakang rumah. Jeritan menyayat hati
terdengar tidak berkeputusan. Dalam keadaan sesaat lagi kedua orang itu akan dilahap
kobaran api tibatiba satu bayangan merah berkelebat di keremangan senja. Tak lama
kemudian istri dan anak perempuan Pengemis Siang Malam sudah berada di halaman
belakang, berkumpul bersama perempuan dan anak-anak lainnya.
“Mana orang yang menolongku tadi?” istri; kedua Pengemis Siang Malam bertanya.
memandang berkeliling dengan wajah masih pucat sambil memeluki anak perempuannya
yang terus menangis.
“Kami tidak melihat ada orang menolongmu. Kau tahu-tahu sudah ada di sini,”
seorang perempuan menyahuti.
“Aneh, jelas-jelas ada orang berpakaian merah mendukung diriku dan anakku. . . “
“Sudah, tak perlu diributkan. Mari, kita hams cepat-cepat pergi ke telaga!” berkata
istri tua Pengemis Siang Malam.
Ketika perempuan dan anak-anak itu hendak meninggalkan tempat tersebut dengan
penuh rasa takut, tibatiba seorang berambut merah yang dikuncir menangkap anak
perempuan istri kedua Pengemis Siang Malam. Si Kuncir Merah!
“Jika kalian berani pergi dari sini aku gorok leher anak ini!” teriak Kuncir Merah
membuat semua perempuan jadi mati ketakutan dan tak berani bergerak tak berani bersuara
sementara anak-anak mulai bertangisan.
Kembali pada perkelahian antara Ki Beringin Reksa dengan Pengemis Siang Malam.
Tiga jurus berlalu sangat cepat dan semua serangan tombak sang pengemis hanya
menyambar tempat kosong.
Di bagian lain Raden Kumalasakti dengan tangan kosong hadapi empat orang anak
buah Pengemis Siang Malam yang menyerbu dengan golok. Dua kali menggebrak, kaki
kanan Raden Kumalasakti berhasil menendang perut salah seorang pengeroyoknya. Orang
ini mencelat mental semburkan darah. Golok yang terlepas dan melayang di udara cepat
disambar Raden Kumalasakti. Dengan senjata ini dia kemudian menghajar tiga
pengeroyoknya satu persatu hingga menemui ajal.
Sambil menyeringai Raden Kumalasakti bantingkan golok ke tanah hingga amblas
sampai ke gagang. Lelaki ini perhatikan perkelahian antara Ki Beringin Reksa dengan
Pengemis Siang Malam. Untuk beberapa jurus lamanya Ki Beringin Reksa kelihatan agak
terdesak. Lawan rupanya mengeluarkan jurus-jurus andalnya. Serangan tombak laksana
curahan air hujan. Raden Kumalasakti tahu kalau Ki Beringin Reksa bukanlah lawan
Pengemis Siang Malam. Sebentar lagi pengemis itu akan dihajar babak belur sebelum
nyawanya dihabisi. Namun Raden Kumalasakti ingin menyelesaikan semua urusan di
tempat itu secara cepat.
“Pengemis edan! Semua anak buahmu sudah mampus! Kalau kau tidak segera
serahkan diri, orangku akan menggorok leher anak perempuan itu!”
Teriakan Raden Kumalasakti membuat Pengemis Siang Malam terkejut besar. Dia
melompat mundur menjauhi Ki Beringin Reksa. Memandang ke arah belakang rumah dia
melihat sepuluh orang berpakaian hitam mengurung anak istrinya bersama perempuan dan
anak-anak lain. Seorang berambut merah dikuncir menjambak rambut seorang anak
perempuan berusia enam tahun dengan tangan kiri sementara tangan kanan
membelintangkan sebilah golok di leher si anak.
Dan anak perempuan ini adalah anaknya sendiri!
“Jahanam!” teriak Pengemis Siang Malam. Amarahnya mendidih. Dia melompat ke
arah Kuncir Merah.
“Cukup sampai di situ! Berani lebih dekat putus leher anakmu!” Kuncir Merah
mengancam.
Dua kaki Pengemis Siang Malam goyah. Sekujur tubuhnya lemas. Dia jatuh berlutut
di tanah.
“Jangan bunuh anakku! Aku bersedia menyerah asal kalian membebaskan semua
perempuan dan anak-anak itu!”
Raden Kumalasakti dan Ki Beringin Reksa melangkah dekati Pengemis Siang Malam.
Raden Kumalasakti jambak rambut pengemis itu. . “Kau telah membunuh orang-orangku.
Aku tidak akan mengampuni selembar nyawamu!”
“Aku rela kalian bunuh. Tapi bebaskan perempuan dan anak-anak itu! Mereka tidak
punya salah dan dosa apa-apa. “ Jawab Pengemis Siang Malam.
“Siapa mau mendengar ucapanmu! Jika kau memang sudah pasrah mampus aku tak
perlu menunggu lebih lama!”
Raden Kumalasakti angka tangan kanannya yang dikepal. Tangan ini tampak
bergetar tanda telah dialiri tenaga dalam tinggi. Jangankan kepala manusia, batu besarpun
bisa hancur jika kena pukul.
Sadar orang tetap akan membunuh dirinya dan tidak akan
mengampunkan anak istrinya, Pengemis Siang Malam mengadu jiwa. Tombak pendek yang
masih tergenggam di tangan kanannya ditusukkan ke perut Raden Kumalasakti.
“Praaakk!”
Pukulan Raden Kumalasakti menghantam batok kepala Pengemis Siang Malam
hingga pecah. Namun sebelum menerima kematian, hampir bersamaan dengan gerakan
lawan, pengemis itu masih sempat menancapkan tombak pendeknya ke perut orang lalu
merobek perut itu hingga darah muncrat dan isinya berbusaian mengerikan.
Raden Kumalasakti menjerit setinggi langit.
“Bunuh semua perempuan dan anak-anak itu!” teriak Raden Kumalasakti. Dia
berusaha menahan isi perutnya yang terbongkar namun dirinya keburu limbung,
pemandangan berubah gelap. Tubuhnya yang tinggi besar roboh menimpa sosok Pengemis
Siang Malam. Kedua orang ini menemui ajal saling bertindihan!
Melihat kematian Raden Kumalasakti, Ki Beringin Reksa berteriak marah. Dia
mengangkat tangan ke arah Kuncir Merah.
“Bunuh mereka semua!”
Kuncir Merah menggembor. Tangannya yang memegang golok bergerak sebat. Sesaat
kemudian lelaki ini keluarkan raungan keras. Tubuhnya terhuyung, golok di tangan kanan
terlepas. Dua mata pecah dan di keningnya kelihatan sebuah lobang sebesar. Darah
membasahi muka orang ini yang kemudian tergelimpang jatuh di tanah. Tiga batu sebesar
telur burung dara telah menghantam kepalanya. Siapa yang melakukan?!
Delapan perempuan berpekikan. Lima anak termasuk yang tadi hendak digorok
menjerit menangis.
Sepuluh lelaki berpakaian hitam berseru kaget. Ki Beringin Reksa juga terkejut besar.
Ada orang pandai telah membunuh Kuncir Merah! Siapa?
Belum habis kejut orang-orang dari Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga itu tibatiba
dalam udara yang mulai gelap melayang seorang berpakaian serba putih. Di tangan kiri dia
memegang sebuah obor menyala sementara tangan kanan berturut-turut melepas dua
pukulan tangan kosong. Jeritan riuh memenuhi tempat itu ketika dua orang lelaki
berpakaian serba hitam terjungkal dengan kepala pecah sementara enam lainnya melolong
kesakitan sambil pegangi muka mereka yang telah hangus disundut obor! Dua orang yang
tidak cidera serta merta menyerbu orang berpakaian putih dengan serangan golok. Namun
gerakan lelaki di sebelah kiri tertahan begitu mukanya ditusuk obor sementara temannya
mencelat disambar tendangan!
“Bangsat berpakaian putih! Siapa kau!” Teriak Ki Beringin Reksa marah sekali. Dia
melompat ke hadapan orang berpakaian putih. Rambutnya yang hijau berbentuk daun
beringin berjingkrak dan kepulkan asap hijau. Saat itu walau cuma dia yang masih
tertinggal dari rombongan penyerang dari Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga namun dia tidak
merasa gentar. Orang yang dibentak sunggingkan seringai. Mulut dipencongkan, tangan kiri
menggaruk kepala. Jelas sudah pemuda ini bukan lain Pendekar 212 Wiro Sableng. Wirolah
tadi yang membuat Kuncir Merah mati konyol dengan lemparan tiga buah batu. Wiro
campakkan obor ke tanah. Lalu berkata.
“Aku hanya pengelana tolol yang kebetulan lewat dan tak suka melihat kebiadaban
terjadi di depan mata! Kalau hanya tua bangka sama tua bangka yang berbunuhan aku tidak
perduli. Tapi kalau sampai perempuan dan anak-anak mau dibantai, apa tidak edan?!”
Dua mata Ki Beringin Reksa memandang melotot penuh selidik. Orang yang berdiri
di hadapannya adalah seorang pemuda berambut gondrong sebahu, bertubuh kekar,
mengenakan pakaian dan ikat kepala putih. Dia belum pernah melihat pemuda ini
sebelumnya.
“Kalau cuma pengelana tolol mengapa berani mati mencampuri urusan orang? Bicara
dan lagakmu seperti pendekar besar saja! Sudah bosan hidup apa?!”
Wiro tertawa. Lalu sambil membungkuk seolah merendahkan diri padahal sikapnya
mengejek, dia berkata.
“Aduh, nyawaku cuma satu. Kalau aku dibunuh dimana kira-kira aku bisa mencari
nyawa cadangan?!”
“Jahanam kurang ajar! Kau kira bisa menipu aku? Aku tahu kau berpura-pura tolol!
Katakan siap kau sebenarnya. Aku tidak pernah membunuh prang tanpa tahu siapa
dirinya!”
“Aku lahir tidak bernama. . . “ Jawab Wiro.
“Setan alas!” Ki Beringin Reksa marah sekali. Dia maju mendekati si pemuda sambil
kebutkan ujung lengan jubah sebelah kanan.
“Wuttt!”
Serangkum angin dashyat yang punya daya penghancur ganas menderu ke arah
Wiro.
“Oala!” si pemuda tampak seperti kelabakan. Tunggang-langgang dia selamatkan
diri. Tapi mulutnya tetap saja menyunggingkan senyum seringai.
Ki Beringin Reksa tidak memberi hati. Dia tahu saat itu tengah berhadapan dengan
orang berkepandaian tinggi yang punya kelakuan aneh. Dia susul serangannya dengan
menghantamkan dua tangan sekaligus. Dua larik angin memancarkan cahaya hijau berkiblat
ke arah Pendekar 212. Inilah ilmu pukulan sakti yang disebut Sepasang Setan Hijau.
Wiro keluarkan siulan nyaring. Melesat ke udara sambil tangan kiri mematahkan
sepotong ranting. Pada saat melayang turun tangan kanan dihantamkan ke bawah dua kali
berturut-turut, melepas pukulan Tameng Sakti Menerpa Hujan.
“Dess! Dess!”
Dua larik sinar hijau serangan Ki Beringin Reksa musnah. Orang dari Istana Seribu
Rejeki Seribu Sorga yang punya jabatan Wakil Kepala Pengawal ini berseru kaget. Dia tidak
bisa percaya dua pukulan saktinya yang selama ini tidak pernah gagal dibuat musnah begitu
rupa! Cepat dia kirimkan serangan susulan dengan mengebutkan lengan kiri jubah hijau.
Tujuh pisau terbang melesat di udara, mengarah ketujuh bagian tubuh Pendekar 212 mulai
dan kepala sampai ke bagian bawah perut!
Wiro berjumpalitan di udara. Ranting kayu di tangan kiri disapukan melindungi
tubuh. Terdengar suara berderak enam kali. Enam pisau terbang runtuh ke tanah. Pisau
ketujuh lolos.
“Breettt!”
Pakaian putih Wiro robek di bagian bahu kanan.
“Sialan!”
Maki murid Sinto Gendeng. Tangan kirinya bergerak ke depan luar biasa cepat.
Sepasang mata Ki Beringin Reksa mendelik jereng ketika ujung ranting di tangan si
pemuda yang kini tinggal pendek akibat berpatahan saat berbenturan dengan pisau terbang
tahu-tahu telah menempel di puncak hidungnya. Ki Beringin Reksa merasakan ujung
ranting itu bergetar dan memancarkan hawa panas.
“Kau mau membunuhku, lakukan saja!” Ki Beringin Reksa menantang. Di wajahnya
sama sekali tidak ada bayangan rasa takut. ''
Si gondrong tertawa.
“Saat ini aku belum mau membunuhmu! Terima ini dulu!”
Tangan kiri yang memegang ranting bergerak cepat sekali.
“Breett. . . . breett!”
Jubah hijau Ki Beringin Reksa robek di dua belas tempat. Jubah itu akhirnya jatuh ke
tanah, membuat Ki Beringin berdiri nyaris telanjang.
“Ha. . . ha! Walau butut untung kau masih pakai celana kolor! Kalau tidak burung
tekukurmu past! sudah kelihatan! Ha. . . ha. . . ha!” Wiro tertawa gelak-gelak.
Ki Beringin Reksa marah luar biasa. Asap hijau sampai mengepul dari ubun-ubunnya.
Tibatiba terdengar suara bergemuruh. Dan terjadilah satu hal yang hebat. Sosok tubuh Ki
Beringin Reksa berubah menjadi batang kayu besar. Dari kepalanya mencuat dua puluh
cabang kayu ditumbuhi lebat daun-daun hijau. Laksana tangan raksasa, dua puluh cabang
kayu menyambar ke arah pemuda berambut gondrong lalu menjepit dan meremas
tubuhnya. Hantu Beringin!
*
* *
TUJUH
Ilmu yang dikeluarkan Ki Beringin Reksa disebut Hantu Beringin. Selain aneh juga
merupakan satu-satunya ilmu kesaktian di rimba persilatan tanah Jawa pada masa itu.
Tubuhnya berubah menjadi pohon beringin besar dengan dua puluh cabang merupakan
tangan yang bisa melakukan apa saja.
Wiro kaget luar biasa. Seumur hidup baru kali ini dia melihat ilmu kesaktian begini
dahsyat. Ketika pohon besar itu bergeser ke arahnya dan dua puluh cabang berdaun lebat
laksana tangan setan menyambar, sebelum tubuhnya dicabik-cabik atau diremas hancur
Wiro segera lepaskan pukulan Tangan Dewa Menghantam Batu Karang yaitu pukulan sakti
yang didapatnya dari Datuk Rao Basaluang Ameh. Namun tangan kanan yang hendak
memukul keburu dilibat cabang-cabang pohon sementara lehernya juga sudah terjirat.
Dalam keadaan tak berdaya dan sulit bernafas begitu rupa Wiro pergunakan tangan kiri
untuk menjebol lawan. Kali ini dengan pukulan Sinar Matahari. Namun lagi-lagi dua cabang
pohon menjerat tangan sebelah kiri itu. Sementara belasan cabang melibat tubuhnya mulai
dari leher sampai ke dada, pinggang, perut dan kaki!
“Greeekkk!” Libat jerat cabang pohon semakin kencang. Pendekar 212 Wiro Sableng
agaknya tidak bakal lolos dari kematian yang sangat mengerikan.
Hanya sesaat lagi leher si pemuda akan remuk, dua tangan hancur, dada, perut dan
dua kaki ringsek, tiba-tiba satu bayangan merah berkelebat. Disusul menyambarnya sinar
merah yang berkiblat bertubi-tubi, menebar hawa dingin angker disertai suara mendesis
aneh.
“Craass! Craasss!”
Luar biasa! Dua puluh cabang pohon yang melibat dan meremas Wiro terbabat putus!
Raungan dahsyat menggelegar di tempat itu. Pohon beringin besar dengan dua puluh
cabang serta daun-daunnya yang lebat lenyap. Yang kelihatan kini adalah sosok Ki Beringin
Reksa dalam ujud aslinya, hanya mengenakan celana kolor. Dua tangan buntung, leher
cabik, dada dan perut penuh robekan luka. Darah menutupi sekujur badan. Tubuh itu
terhuyung sebentar lalu limbung dan jatuh tertelungkup, hampir menimpa Wiro kalau dia
tidak cepat berguling menjauh. Walau selamat keadaan murid Sinto Gendeng ini tampak
babak belur. Baju robek-robek, goresan luka di muka dan di tubuh. Darah mengucur dari
telinga kiri yang luka.
“Siapa yang menolongku?” ucap si pemuda. Menoleh ke kiri dia masih sempat
melihat satu bayangan merah berkelebat lenyap ke arah kali. Lalu ada suara benda meluncur
di permukaan air. Wiro cepat berdiri hendak mengejar. Namun dari arah ujung rumah yang
terbakar terdengar teriakan perempuan.
“Jangan tinggalkan kami! Tolong!”
Gerakan Wiro jadi tertahan. Sesaat dia merasa bimbang. Namun akhirnya dia
mendatangi kelompok perempuan dan anak-anak yang ketakutan setengah mati. Begitu
Wiro sampai di hadapan orang-orang itu, mereka semua jatuhkan diri. Ada yang menangis,
ada yang mengucapkan terima kasih terbata-bata.
“Ibu-ibu ini siapa? Orang-orang berpakaian penuh tambalan itu apa kalian?”
Salah seorang dari delapan perempuan memberi tahu bahwa mereka adalah istri-istri
dari Pengemis Siang Malam dan lima anak buahnya.
“Raden telah menolong kami. Apakah Raden masih mau membantu mengantar kami
ke tempat yang aman?”
“Orang-orang yang melakukan penyerangan itu, siapa mereka?”
“Kami tidak tahu. Suami-suami kami memang bukan orang baik-baik, banyak
musuh.”
“Tapi hendak membunuh perempuan dan anak-anak sungguh luar biasa keterlaluan.
Pasti mereka punya dendam kesumat besar. . . “
“Pagi tadi, suami kami Pengemis Siang Malam mengatakan dia tengah menyelidiki
satu urusan rahasia besar. . . “
“Rahasia besar? Rahasia apa?”
“Kami tidak tahu. Suami kami tidak menjelaskan. “
“Raden kami mohon Raden mau mengantar kami sampai di desa Luragung. Di desa
itu kami mungkin bisa minta bantuan penduduk untuk mengurus jenazah suami-suami
kami. Kalau kami tidak mendapatkan pertolongan karena kami dianggap orang-orang jahat
maka kami terpaksa meneruskan perjalanan menuju Lebakwangi. “ Yang bicara adalah istri
kedua Pengemis Siang Malam.
“Ibu-ibu punya seseorang yang bisa diminta bantuannya di Lebakwangi?”
“Guru tua suami kami tinggal di sana. “
“Siapa, namanya?” Wiro ingin tahu. . “Raja Pengemis Delapan Mata Angin. “
Wiro garuk-garuk kepala.
“Ada Pengemis Siang Malam. Sekarang ada Raja Pengemis. Jangan-jangan ada juga
Ratu Pengemisnya. “ ucap Wiro dalam hati. Sebenarnya dia masih penasaran hendak
mengejar si pakaian merah yang telah menolongnya tadi. Tapi tak tega meninggalkan
delapan perempuan dan lima anak kecil. Setelah meratapi jenazah suami masing-masing
delapan perempuan serta lima anak kecil tinggalkan tempat itu. Sambil berjalan Wiro masih
juga menduga-duga siapa adanya sang penolong.
“Aku hanya melihat sekelebatan. Dari pakaian dan bau tubuhnya agaknya dia
seorang perempuan. Bidadari Angin Timur atau Ratu Duyung jelas bukan. Orang itu
berpakaian merah. Bersenjata golok atau pedang.
Menolong tapi lantas pergi begitu saja. Aneh. Hemmm. . . . mungkin si penolong
orang bernama Rara Santang itu?”
“Kalau kami boleh bertanya Raden yang telah menolong kami ini siapakah adanya?”
Perempuan yang berjalan di samping Wiro bertanya. Dia adalah istri tua Pengemis Siang
Malam.
Si pemuda tak segera menjawab. Mungkin tengah menimbang-nimbang. Akhirnya
dia berkata juga.
“Namaku Wiro, jangan panggil aku Raden. Lagi pula bukan aku sendiri yang
menolong. Ada orang lain. Cuma heran sehabis menolong dia pergi begitu saja. Kita semua
berhutang nyawa padanya. . . “
Wiro kemudian mengambil dua anak yang paling kecil lalu menggendongnya di
tangan kiri kanan. Wiro ingat sesuatu lalu berpaling pada ibu-ibu di sampingnya. “Ada
yang tahu atau pernah mendengar seorang bernama Rara Santang?”
Mula-mula tak ada yang menjawab. Kemudian istri pertama Pengemis Siang Malam
ajukan pertanyaan. “Mengapa Raden menanyakan orang itu?”
“Seorang sahabat minta aku menemuinya. “
“Rara Santang, lengkapnya Nyai Mas Rara Santang. Dia adalah puteri Prabu
Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, jauh di pedalaman sebelah barat”
“Hemmm. . . . “ Wiro bergumam dan berpikir. “Ada apa nenek Sepuh Kembar Tilu
meminta aku mencari puteri raja itu? Apa kehidupan di Jawa sebelah barat ini lebih banyak
anehnya dari di timur?”
Menjelang tengah malam rombongan itu sampai di desa Luragung. Mereka menemui
kepala desa. Kepala desa yang baik hati walau kemudian tahu siapa adanya perempuan dan
anak-anak itu bersedia juga menolong. Sebelum Wiro pergi, delapan orang perempuan
loloskan perhiasan yang mereka miliki seperti kalung, gelang, anting-anting serta cincin,
dikumpul jadi satu, dibungkus dalam sehelai selendang lalu diberikan pada Wiro.
“Buat apa?” tanya Pendekar 212 .
“Buat Raden. Mungkin itu tidak sebanding sebagai balas jasa Raden yang telah
menyelamatkan nyawa kami dan anak-anak. Namun hanya itu yang bisa kami berikan. “
Wiro tertawa.
“Terima kasih, tapi aku menolong tanpa pamrih. Lagi pula mana mungkin aku
seorang lelaki pakai kalung, gelang, cincin dan anting-anting. Ha. . . ha. . . ha. . . . !”
“Kalau begitu berikan pada istri atau kekasih Raden. . . . “ Istri pertama Pengemis
Siang Malam mendesak.
Wiro kembali tertawa.
“Aku tidak punya istri. Kekasihku banyak. Yang mana yang mau dikasih? Dikasih
yang satu yang lain cemburu. Ha. . . ha. . . ha!”
“Tapi Raden, kami minta dengan sangat. . . . “
Perempuan yang bicara tidak meneruskan ucapan karena saat itu Pendekar 212 sudah
berkelebat lenyap di kegelapan malam.
Berjalan meninggalkan desa Luragung ingatan Wiro kembali pada orang yang telah
menolongnya.
“Menolong lalu kabur. Benar-benar aneh. . . . “ ucap sang pendekar dalam hati.
Tibatiba dia mendengar suara ha-hu. ha-hu ha-hu di belakangnya. Wiro hentikan langkah
dan berpaling. Dua nenek kembar rambut kelabu jubah kuning berdiri di hadapannya.
Kembaran Eyang Sepuh Kembar Tilu. Keduanya membungkuk lalu salah seorang
menyerahkan sebuah bungkusan.
“Kalian mengikutiku! Aku sudah bilang jangan sekali-kali berani mengikutiku!”
“ha-hu ha-hu. . . . “
“Apa ini?” tanya Wiro sambil memandang pada bungkusan yang disodorkan.
“ha-hu ha-hu!” Dua nenek menepuk-nepuk bahu dan dada. Lalu yang disebelah
kanan menunjuk-nunjuk dengan tangan kiri ke arah Wiro sementara tangan kanan digaris-
gariskan ke dada, perut dan pantatnya.
“Ya. . . ya aku mengerti. Kalian mau bilang bajuku kotor, banyak robekan. Lalu
kenapa?”
“ha-hu ha-hu. “ Dua nenek gagu kembali menunjuk-nunjuk Wiro. Lalu yang satu
menunjuk pantatnya sendiri berulang kali.
Wiro berpaling ke belakang, angsur ke depan celananya di bagian pantat. Astaga.
Ternyata disitu ada robekan besar yang membuat tubuhnya sebelah bawah belakang
tersingkap lebar. Robekan ini adalah akibat libatan cabang beringin jejadian Ki Beringin
Reksa.
“Gendeng! Bagaimana aku bisa tidak tahu kalau pantatku melongo begini?!” ucap
Wiro dalam hati mengomel sendiri. “Perempuan-perempuan itu pasti melihat. Tapi tidak
memberi tahu!”
“ha-hu ha-hu!”
Nenek rambut kelabu sebelah kanan kembali menyodorkan bungkusan. Wiro
mengambil lalu memeriksa isinya. Ternyata sehelai baju dan celana putih.
“Ah. . . . . “ sang pendekar jadi menyesal kalau tadi membentak-bentak dua nenek.
Ternyata mereka berniat baik. Memberikan pakaian pengganti baju dart celananya yang
kotor dan penuh robek. Wiro tertawa.
“ha-hu ha-hu. “
“Terima kasih. Kalian berdua ternyata berhati baik. Tapi kalian dapat dari mana
pakaian ini? Pasti kalian curi!”
“Hik. . . hik. . . hik!”
Dua nenek jejadian tertawa cekikikan.
“Sekali lagi terima kasih. Kalian boleh pergi. . . “
“ha-hu ha-hu. . . “ Dua nenek membungkuk dan tertawa girang. Keduanya balikkan
badan.
“Tunggu dulu,” tibatiba Wiro berkata. “Kalian pasti telah lama mengikutiku. Kalian
pasti melihat semua kejadian di tepi kali. “
“ha-hu ha-hu. “
“Kalian melihat orang yang menolongku?”
“ha-hu ha-hu. “ Dua nenek mengangguk-angguk.
“Berpakaian merah?”
“ha-hu ha-hu. “ Dua nenek kembali mengangguk-angguk. Lalu menepuk-nepuk
pakaian masing-masing, kemudian acungkan jempol.
“Hemm. . . . Maksud kalian pakaiannya bagus?”
“ha-hu ha-hu. “
“Perempuan?”
“ha-hu ha-hu. “
“Bagaimana wajahnya?” tanya Wiro lagi.
Dua nenek gelengkan kepala lalu dua tangan diusapkan ke wajah.
“Ah. . . . Maksud kalian orang itu memakai topeng?”
Dua nenek kembali gelengkan kepala lalu kali ini tangan diusap-usap di depan wajah.
“Aku mengerti. Orang itu tidak kelihatan wajahnya karena memakai penutup muka
atau cadar”
“ha-hu ha-hu. “ Dua nenek mengangguk berulang kali
“Orang itu telah menyelamatkan jiwaku. Sehabis menolong pergi begitu saja. Kalian
tahu kemana perginya?”
Dua nenek menunjuk ke arah timur.
“Terima kasih, kalian sudah banyak menolong. Sekarang kalian silahkan pergi. Aku
mau berganti pakaian. Awas, jangan berani mengintip. “
Dua nenek tertawa cekikikan lalu berkelebat pergi. “ha-hu ha-hu. . . ha-hu ha-hu. “
*
* *
Malam bulan purnama empat belas hari. Cahaya rembulan cukup terang jatuh di
bumi hingga tiga orang lelaki menunggang kuda dapat memacu tunggangan masing-masing
dengan kencang. Di satu tempat mereka berhenti. Kuda ditambat ke pohon lalu ketiganya
melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Arah yang dituju adalah kaki Bukit Batu
Bersuling sebelah timur. Setelah lari cukup lama mereka sampai di satu bangunan besar
tanpa dinding beratap rumbia.
“Raden,” lelaki di samping kiri berbisik. Namanya Meneng. “Di sini biasanya para
tamu meninggalkan kuda mereka. “
Orang yang dipanggil Raden yang adalah Rayi Jantra, Kepala Pasukan Kadipaten
Losari meneliti, memandang berkeliling.
“Sepi, tak ada siapa-siapa. Menurutmu malam ini akan dilakukan pembukaan. . . . “
“Keadaannya memang terasa aneh. Setahu saya seharusnya. . . “
“Mana gedung dibawah bukit batu yang disebut Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga. “
“Ikuti saya. . . . . “ ucap Meneng.
Dipimpin orang yang agaknya banyak tahu keadaan di tempat itu, ketiganya
melangkah cepat di sepanjang jalan yang diapit dua dinding batu setinggi dua tombak
hingga akhirnya mereka sampai di hadapan sebuah rumah panggung. Meneng memeriksa
dinding batu sebentar lalu menekan sebuah alat rahasia. Sebuah pintu membuka. Dia
memberi tanda pada dua orang di belakangnya untuk mengikuti. Ketika pintu rahasia itu
menutup kembali, Rayi Jantra berlaku cerdik. Sudut bawah pintu diganjalnya dengan
sebuah balok yang ada di lantai ruangan. Bukan saja dia berhasil menahan tertutupnya
pintu, tapi sekaligus memungkinkan cahaya masuk ke ruangan dimana dia berada sehingga
dia cukup mampu melihat keadaan di tempat itu.
“Sepi, tak ada orang. Ruangan ini kosong. Meneng, kau yakin kita tidak datang ke
tempat yang salah?”
Orang bernama Meneng menjawab. “Tidak Raden, saya yakin sekali ini tempatnya.
Tapi mengapa keadaan berubah. Sunyi, gelap. Tak ada orang. Padahal malam ini saya
mendapat kabar pembukaan malam judi pertama akan dilakukan
“Seharusnya kita membawa obor,” kata Rayi Jantra.
“Jangan khawatir, kami akan menerangkan ruangan untuk kalian!”
Mendadak ada suara orang lalu ruangan gelap itu berubah jadi terang benderang.
Ternyata ada sepuluh lampu minyak besar di tempat itu. Yang menyala hanya lima yaitu di
empat sudut dan di tengah ruangan. Di ruangan yang terang itu terlihat enam orang lelaki
berpakaian hitam. Wajah mereka tampak seram karena selain hitam hangus juga ada luka di
sekitar mulut, hidung dan sepasang mata. Ke enam orang ini adalah para pengawal Istana
Seribu Rejeki Seribu Sorga yang malam kemarin diselomoti Pendekar 212 Wiro Sableng
muka mereka dengan obor di tempat kediaman Pengemis Siang Malam. Ke enam orang ini
berdiri dengan golok di tangan. Mereka semua tidak menyebabkan Rayi Jantra merasa
gentar. Namun yang membuatnya jadi tercekat adalah sosok kakek berjubah biru gelap yang
tegak tak bergerak bersidekap tangan di anak tangga terbawah dari sebuah tangga batu
yang menghubungkan ruangan itu dengan ruangan di sebelah atas bangunan. Tengkuknya
memiliki bulu seperti bulu pada leher kuda. Dua kaki yang tersembul di balik jubah bukan
berbentuk kaki manusia tapi seperti kaki kuda lengkap dengan ladam besinya!
“Ki Sentot Balangnipa alias Si Kuda Iblis. Bagaimana tokoh silat istana Kerajaan di
timur ini bisa berada di tempat ini?” pikir Rayi Jantra.
“Rayi Jantra! Datang di tempat orang tanpa diundang. Muncul setengah menyusup!
Gerangan apa maksudnya? Padahal seorang Kepala Pasukan Kadipaten seharusnya tahu
sopan santun peradatan!”
Yang keluarkan suara adalah kakek bernama Ki Sentot Balangnipa alias Si Kuda Iblis.
Walau hatinya tidak enak namun sebagai salah seorang pemegang kuasa di Losari,
dengan tenang Rayi Jantra unjukkan sikap hormat. Dia membungkuk lebih dulu sebelum
menjawab.
“Ki Sentot, harap maafkan kalau kedatanganku mengganggu ketenteramanmu, Aku
tidak tahu kalau kau ada kepentingan di tempat ini. Aku datang ke sini untuk melakukan
penyelidikan sesuai dengan wewenang dan tugasku. “
“Hemm, begitu. . . ?” Ki Sentot Balangnipa menyeringai. Waktu mulutnya terbuka
kelihatan deretan gigi serta lidahnya yang menyerupai kuda. “Apakah tugas kedatanganmu
ke tempat ini atas sepengetahuan atasanmu, Adipati Seda Wiralaga?”
“Aku memang tidak memberi tahu padanya. “ Jawab Rayi Jantra terlalu polos.
“Luar biasa! Ada bawahan yang bertindak tanpa sepengetahuan atasannya. “ Ki
Sentot Balangnipa geleng-geleng kepala. “Rayi Jantra, apa yang hendak kau selidiki secara
lancang di tempat orang?!”
“Aku mendapat laporan tempat ini adalah sarang besar perjudian. Semua orang tahu
perjudian adalah hal yang terlarang!”
“Hebat luar biasa tugasmu, Rayi Jantra! Lalu saat ini apakah kau melihat ada orang
yang berjudi di tempat ini? Apakah kau juga melihat benda-benda alat perjudian?”
“Memang tidak ada orang tidak ada peralatan judi. Aku punya dugaan keras semua
sudah disingkirkan sebelum aku datang di tempat ini. Dan kalau aku boleh bertanya, adalah
hal sangat mengherankan seorang tokoh silat Istana di timur ada di tempat ini! Apa kau bisa
menjelaskan?!”
Ki Sentot Balangnipa menyeringai lagi.
“Tetamu tak diundang menanyai perihal tuan rumah! Sungguh tidak sopan! Meneng,
kau cepat kemari!”
Lelaki bernama Meneng, yang datang bersama Rayi Jantra serta merta melompat dan
berdiri di samping Ki Sentot Balangnipa.
“Jahanam keparat! Meneng! Ternyata kau seekor ular kepala dual Beraninya kau
menipu mengkhianatiku!” teriak Rayi Jantra marah sekali.
Sementara Meneng berdiri cengengesan Ki Sentot Balangnipa berteriak.
“Anak-anak. Bunuh dua orang itu!”
*
* *
DELAPAN
Enam lelaki bermuka hangus dan mencekal golok menyerbu ke arah Kepala Pasukan
Kadipaten Losari dan anak buahnya. Rayi Jantra sadar, baginya hanya ada satu
pilihan. Menghabisi semua orang itu atau menemui ajal di tempat itu. Sejak lama dia
pernah mendengar tentang berlangsungnya perjudian besar-besaran di satu tempat rahasia
sekitar Bukit Batu Bersuling. Selain sebagai tempat judi, gedung itu juga dipakai untuk
tempat berbuat mesum. Konon gedung tersebut diberi nama Istana Seribu Rejeki Seribu
Sorga dan dikawal kuat oleh sejumlah orang berkepandaian tinggi termasuk para tokoh
silat. Selain dipakai sebagai tempat judi dan perbuatan cabul, gedung itu juga diduga keras
telah menjadi pusat pertemuan rahasia beberapa pejabat tinggi Kerajaan di timur dalam
rangka menguasai Kerajaan di barat.
Sebagai seorang Kepala Pasukan tentu saja Rayi Jantra memiliki kepandaian yang
diandaikan. Sekali menggebrak dia berhasil menghantam roboh salah seorang penyerang
lalu merampas goloknya. Dengan senjata itu Rayi Jantra kemudian menghajar lima
penyerang lainnya. Tiga roboh mandi darah! Ketika dia hendak menghabisi yang dua orang
lagi tibatiba satu sosok tubuh melayang dan jatuh tepat di hadapan Rayi Jantra.
Begitu diperhatikan ternyata orang itu adalah Meneng. Tergelimpang di lantai
ruangan dengan leher patah, lidah setengah menjulur dan mata mendelik.
Di seberang sana Ki Sentot Balangnipa keluarkan suara tertawa seperti kuda
meringkik.
“Rayi Jantra! Jika kau menyerah dan masuk ke dalam kelompokku, aku akan
mengampuni selembar nyawamu!”
Kepala Pasukan Kadipaten Losari itu maklum ucapan lawan hanya merupakan satu
tipuan belaka.
“Tawaranmu cukup menarik. Boleh aku minta penjelasan kelompok macam apa yang
kau pimpin?”
“Kau tidak perlu tahu kelompok macam apa atau apa yang kami lakukan. Yang jelas
hanya dengan kerja ringan setiap bulan kau menerima upah besar. Kalau kau ingin hiburan,
tinggal memilih perempuan yang kau sukai. “
“Hemm. . . begitu? Aku bisa menduga. Komplotan yang kau maksudkan itu adalah
komplotan perbuatan judi serta perbuatan mesum!”
Ki Sentot Balangnipa tertawa mengekeh.
“Mulutmu lancar juga mengeluarkan ocehan. Rasa-rasanya kau jenis manusia yang
lebih suka mati konyol dari pada mendapat kesenangan!”
Rayi Jantra berbisik pada anak buah di sampingnya.
“Lebak, lekas tinggalkan tempat ini! Kembali ke Losari. Beri tahu Adipati Soda
Wiralaga apa yang terjadi di sini!”
Perajurit Kadipaten bernama Lebak tidak tunggu lebih lama segera menghambur ke
arah pintu yang terbuka karena diganjal balok. Ki Sentot Balangnipa hantamkan kaki kirinya
yang berbentuk kaki kuda ke lantai ruangan. Satu gelombang angin keras menderu ke arah
pintu. Balok kayu yang mengganjal hancur berkeping-keping. Pintu rahasia terbuat dari
batu itu menutup dengan mengeluarkan suara keras.
“Jangankan manusia, setan sekalipun tak bakal bisa lolos dari tempat ini!”
Didahului umbaran suara ringkikan kuda Ki Sentot Balangnipa melompat ke arah
Rayi Jantra. Kaki kanannya menendang mencari sasaran di dada orang. Kepala Pasukan
Kadipaten Losari ini cepat menyingkir ke kiri. Begitu tendangan lewat dia membacok
dengan golok besar di tangan kanan. Sementara itu dua orang bermuka hangus telah
menyerbu Lebak.
“Traangg!”
Golok yang membacok kaki kanan Ki Sentot Balangnipa seperti menghantam besi
mengeluarkan suara berdentrangan disertai memerciknya bunga api. Tidak mempan! Ki
Sentot Balangnipa alias Si Kuda Iblis kembali tertawa meringkik. Sementara Rayi Jantra
terbelalak melihat golok di tangannya gompal besar. Serta merta dia campakkan golok ke
lantai lalu dari balik pinggangnya Kepala Pasukan Kadipaten Losari ini hunus senjata tajam
yang mengeluarkan cahaya kuning berkilauan. Senjata ini adalah sebilah kujang berbentuk
kepala burung bermata lima terbuat dari emas murni yang dipadu dengan batu keramat
dari Gunung Salak dan baja putih dari Banten.
“Ha ha! Kujang Emas Kiai Pasundan, keramat pusaka Kerajaan Pajajaran! Bagaimana
bisa berada di tanganmu? Pasti kau curi!” Ki Sentot Balangnipa berseru. Walau dia tidak
gentar melihat senjata itu namun wajahnya agak berubah. Dia pernah mendengar kehebatan
senjata sakti itu. “Aku harus dapatkan senjata itu! Harus!” Kakek ini menggeram.
“Kiai Pasudan adalah pemberian Pangeran Cakrabuana putera Prabu Siliwangi dari
Kerajaan Pajajaran. Dengan senjata ini aku ditugaskan untuk menumpas begundal-begundal
dari timur yang hendak mengacau di tanah Pasundan bahkan punya niat jahat hendak
merebut kekuasaan. Salah satu begundal itu adalah kau sendiri!”
Ki Sentot Balangnipa tertawa bergelak mendengar ucapan Rayi Jantra.
“Usia masih hijau! Tubuh masih bau kencur! Kencingpun belum lempang! Tapi sudah
bermimpi mau jadi pahlawan besar! Aku mau lihat sampai dimana kehebatan senjata di
tanganmu!”
Habis bekata begitu Si Kuda Iblis kebutkan lengan kanan jubah birunya, lalu
menyusul tubuhnya melesat ke depan. Salah satu kaki menendang dahsyat.
Rayi Jantra membentak keras. Dia melesat ke atas setinggi satu tombak. Senjata di
tangan tanah dikiblatkan. Selarik sinar kuning menderu dahsyat.”
“Craass!”'
Kuda Iblis berteriak keras. Rambut tebal menyerupai rambut kuda di kuduknya
terbabat putus dan mengepulkan asap. Kejut tokoh silat dari timur ini bukan alang
kepalang. Ternyata Kujang Emas Kiai Pasundan benar-benar merupakan senjata luar biasa
yang tidak bisa dibuat main. Kakek ini goyangkan dua bahunya. Tahu-tahu di tangan
kanannya sudah terpegang dua buah tali kulit menyerupai tali kekang kuda. Begitu dua
tangan menggebrak, tali kekang di tangan kanan melesat ke arah kaki sedang tali kekang di
sebelah kiri menyambar ke arah Kujang Emas Kiai Pasundan. Dua gerakan tali kekang ini
mengeluarkan suara laksana petir menyambar.
Rayi Jantra berseru kaget ketika kaki kanannya kena dijirat tali kekang. Begitu Ki
Sentot Balangnipa menyentakkan tali kekang itu tak ampun lag! Kepala pasukari Kadipaten
Losari itu langsung roboh terbanting jatuh punggung. Dalam keadaan seperti itu tali kekang
satunya yang menyambar ke arah tangan kanan Rayi Jantra berhasil melibat Kujang Emas
Kiai Pasundan.
“Dess! Craasss!”
Ki Sentot Balangnipa menduga begitu menarik tali kekang dia akan berhasil
merampas senjata sakti di tangan lawan. Ternyata tali kekangnya yang putus!
“Kurang ajar!” maki Ki Sentot Balangnipa. “Kalau manusia satu ini tidak dihabisi dan
senjata itu tidak dirampas, bisa berbahaya!” Karenanya selagi Rayi Jantra berusaha bangkit
si kakek langsung menggebrak. Sekali melompat dia hantamkan tali kekang yang putus
sementara kaki kanan menendang mencari sasaran di kepala lawan.
“Blaarrr!”
Karena berusaha menyelamatkan kepalanya dari tendangan kaki lawan, Rayi Jantra
tidak sempat menghindari serangan tali kekang. Tali kekang yang berobah menjadi cambuk
mendarat di tubuh Rayi Jantra. Pakaiannya robek besar di bagian dada. Luka mengepulkan
asap dan mengucurkan darah membelintang di dada. Sementara itu tendangan Si Kuda iblis
yang tidak menemui sasaran telah membuat jebol dinding batu di samping Rayi Jantra.
“Manusia iblis keparat! Terima kematianmu!” teriak Rayi Jantra. Kujang di tangan
kanan ditusukkan dari jarak jauh ke arah Ki Sentot Balangnipa. Dari ujung senjata sakti itu
melesat satu cahaya kuning yang laksana kilat dengan cepat menggulung sekujur tubuh Si
Kuda Iblis!
Dalam keadaan hampir tak berdaya Ki Sentot Balangnipa kerahkan seluruh kekuatan
tenaga dalam serta hawa sakti yang dimilikihya. Dua tangan menggapai ke depan.
Kepalanya berubah menjadi kepala kuda sungguhan. Didahului suara meringkik dia
berteriak keras.
“Bummm!”
Satu ledakan besar menggelegar di ruangan batu di bawah Bukit Batu Bersuling itu.
Rayi Jantra terlempar ke dinding ruangan, semburkan darah dari mulut. Ki Sentot
Balangnipa sendiri merasa goncangan hebat melanda tubuhnya. Dengan cepat dia kuasai
diri lalu menyergap I a wan, lagi-lagi dengan tendangan kaki kanan. Sekali ini dalam
keadaan terluka hebat di dalam Rayi Jantra tak sanggup mengelak atau menangkis.
Dadanya remuk dimakan tendangan, tubuhnya terpuruk ke sudut ruangan. Dalam keadaan
siap meregang nyawa Kepala Pasukan Kadipaten Losari ini masih sanggup melakukan
sesuatu. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir dia keluarkan ucapan.
“Kiai. . . . Balaskan sakit hatiku. Lakukan sesuatu Kalau sudah kembalilah ke
Pakuan.”
“Tring!”
Kujang emas terlepas dari tangan Rayi Jantra. Jatuh ke lantai. Di kejap lain senjata
sakti itu tibatiba melesat ke arah Ki Sentot Balangnipa yang berdiri hanya beberapa langkah
dari sosok Rayi Jantra yang tergelimpang di lantai.
Ki Sentot cepat menangkis dengan kebutkan ujung jubah lengan kiri. Kujang Emas
Kiai Pasundan terpental. Namun hebatnya senjata ini membalik, melesat dan crasss!
Menancap di mata kanan si kakek!
Ki Sentot Balangnipa alias Si Kuda Iblis meraung setengah mati.
“Craasss!”
Kujang sakti melesat keluar dari mata kanan, berputar-putar dalam ruangan,
berusaha mencari jalan keluar. Seolah mempunyai otak untuk berpikir dan mata untuk
melihat, senjata sakti ini sadar kalau tak ada sedikit ronggapun dalam ruangan itu yang bisa
dilewati. Tiba-tiba gagang kujang mengepulkan asap. Senjata ini kemudian melesat ke arah
dinding sebelah kiri. Ruangan batu bergetar hebat sewaktu Kujang Emas Kiai Pasundan
menjebol tembus dinding batu, melesat di kegelapan malam dan lenyap dari pemandangan.
Ki Sentot Balangnipa tekap mata kanannya yang hancur dengan tangan kiri. Darah
berlelehan. Dengan tangan kanan dia membuat beberapa totokan di sebelah dada dan leher.
Darah berhenti mengucur dari luka di mata kanan namun ada rasa panas membuat
wajahnya seolah dipanggang. Racun senjata! Untung dia telah membuat beberapa totokan.
Mata kiri yang masih utuh mendelik memperhatikan lobang besar di dinding ruangan.
Menoleh ke kiri dia melihat dua anak buahnya yang berwajah hangus baru saja menghabisi
Lebak. Ki Sentot Balangnipa berteriak.
“Kalian berdua! Singkirkan semua mayat jahanam di ruangan ini. Buang ke dalam
jurang!”
*
* *
Dalam kenyenyakan tidurnya Pangeran Walang Sungsang yang juga dikenal dengan
sebutan Pangeran Cakrabuana tersentak bangun oleh suara desiran halus disusul suara
berkerontang.
Putera Mahkota Kerajaan Pajajaran ini duduk di tepi tempat tidur. Matanya
menangkap selarik cahaya kuning. Berpaling ke samping dia melihat sebuah senjata
tergeletak di atas meja kecil terbuat dari batu pualam, memancarkan cahaya kuning.
“Kujang Emas Kiai Pasundan. . . . “ ucap Pangeran Cakrabuana. Cepat senjata sakti
itu diambil dan diperhatikan. “Ada noda darah. Sesuatu telah terjadi dengan Raden Rayi
Jantra. “
Cepat-cepat Pangeran Cakrabuana mengenakan pakaian lalu memanggil seorang
perajurit.
“Beritahu pengawal Sang Prabu. Katakan saya ingin menemui Raja saat ini juga. Ada
urusan sangat penting. “
Tak lama kemudian Prabu Siliwangi menemui puteranya di sebuah ruangan di dalam
Istana Pakuan.
“Ada apa anakku?” menyapa Sang Prabu.
Pangeran Cakrabuana terlebih dulu memberi salam takzim sambil membungkuk
dalam-dalam.
“Ananda mohon maaf karena telah berani berlaku tidak sopan membangunkan
Ayahanda. Ada satu hal penting yang hendak Ananda sampaikan. “
Dengan hati-hati Pangeran Cakrabuana keluarkan Kujang Emas Kiai Pasundan dan
meletakkannya di atas meja kayu kecil di hadapan sang ayah.
Sang Prabu perhatikan senjata itu, menarik nafas panjang, mengusap dagu yang
ditumbuhi janggut putih rapi klimis lalu berkata. “Bukankah ini senjata sakti yang pernah
Ananda berikan pada Raden Rayi Jantra, orang kepercayaan kita di perbatasan? Kujang
Emas Kiai Pasundan?”
“Betul sekali Ayahanda,” jawab Pangeran Cakrabuana.
“Senjata sakti keramat kerajaan ini kembali secara gaib di ruang ketiduran Ananda.
Agaknya telah terjadi sesuatu dengan Raden Rayi Jantra. “
Sang Prabu anggukkan kepala.
“Kalau tidak dalam perkara besar, Rayi Jantra tidak akan mengeluarkan senjata sakti
ini. “ Pangeran Cakrabuana menambahkan.
Sang Prabu angkat tangan kanannya. Telapak tangan dikembang di atas senjata sakti
itu. Kujang mengeluarkan cahaya kuning lebih terang, bergerak turun naik antara meja dan
telapak tangan. Perlahan-lahan Sang Prabu tarik tangan kanannya. Lalu berkata.
“Noda darah ini bukan darah Rayi Jantra. Namun belum tentu orang kita itu masih
dalam keadaan selamat. Ayahanda khawatir, dia sudah tewas. Anakku, apa yang hendak
kita lakukan sekarang?”
Pangeran Cakrabuana susun sepuluh jari di atas kepala lalu berkata. “Sudah sejak
lama Ananda dan Adinda Nyai Mas Rara Santang ingin menyambangi Guru di Gunung Jati.
Mungkin ini saat yang tepat untuk melakukan sekaligus menyelidiki apa yang terjadi
dengan Rayi Jantra. “
Prabu Sliwangi terdiam merenung seketika.
“Akhir-akhir ini banyak kabar yang Ayahanda terima mengenai kegiatan orang-
orang di Kerajaan Timur. Terutama sejak kita tidak mau lagi menyerahkan upeti kepada
mereka. Mereka melupakan adat sopan santun, berdiri sama tinggi duduk sama rendah.
Mereka tidak memandang sebelah mata terhadap Pajajaran. Malah punya niat jahat hendak
menguasai Kerajaan ini. Ayahanda mengizinkan kalian berdua anak-anak untuk pergi ke
Gunung Jati. Tapi ingat. Berlakulah sangat hati-hati. Bawa pengawal sebanyak mungkin. . .
“
“Ayahanda, jika diizinkan seperti yang sudah-sudah Ananda hanya berangkat berdua
saja dengan Adinda Rara Santang. Kami berdua berjanji akan berlaku hati-hati. . . “
“Kalau itu mau Ananda baiklah. Tapi sekali-kali jangan berlaku sombong dan takabur
atas kepandaian dan kesaktian yang kalian berdua miliki. Dan jangan lupa, di setiap desa
yang kalian lalui berikan sejumlah bantuan. Tekanan orang-orang di timur belakangan ini
banyak membuat rakyat menderita.”
“Terima kasih alas izin Ayahanda. Besok Ananda akan menemui Adinda Rara
Santang. Paling lambat siang had kami berdua sudah meninggalkan Pakuan. Dan seperti
sebelumnya tidak ada satu orangpun yang mengetahui kepergian Ananda berdua selain
Ayahanda. “
Sang Prabu anggukkan kepala. “Sampaikan salam takzim Ayahanda pada Guru
Ananda di Gunung Jati. Dan sebelum pergi Ayahanda ingin saat ini juga Ananda menemui
Panembahan Anyar Pandanarum. Beliau sudah uzur. Namun rasanya beliau tidak akan
mengalami kesulitan untuk membuatkan sarung baru bagi Kujang Emas Kiai Pasundan.
Tidak baik senjata sakti itu dibiarkan dalam keadaan tak bersarung. . . “
“Ananda akan menemui Panembahan itu,” jawab sang putera. Lalu Pangeran
Cakrabuana membungkuk dalam-dalam, mencium tangan Sang Prabu dan tinggalkan
ruangan itu.
SEMBILAN
Dua minggu setelah penyusupan Rayi Jantra, Kepala Pasukan Kadipaten Losari ke
Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga. Bangunan luas tak berdinding beratap rumbia di
kaki timur Bukit Batu Bersuling dipenuhi puluhan ekor kuda. Dua puluh orang
berpakaian hitam bersenjata golok berseliweran berjaga-jaga. Di atas dua dinding batu yang
mengapit sebuah jalan dua orang berjubah biru berdiri tegak mengawasi keadaan
sekitarnya. Lalu pada satu cabang pohon besar dan gelap di ujung jalan seorang berpakaian
ringkas warna hijau mendekam memegang sebilah gada besi. Sesekali terdengar suara
seperti tiupan suling dari celah dua batu pipih di puncak bukit. Terkadang kesunyian
ditingkah oleh suara gemboran kuda.
Gedung rahasia yang disebut Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga yang terletak tepat di
bawah bukit batu, dari luar keadaannya tersamar dibalik pepohonan lebat dan sepi. Namun
di dalam, di bagian bawah yang mewah dan terang benderang puluhan orang tamu yang
semuanya mengenakan cadar merah tampak mengelilingi sebuah meja besar empat persegi.
Meja ini dilapisi beluderu hijau. Pada setengah bagian dari meja yakni ujung sebelah kanan
terdapat garis-garis membentuk dua belas kotak besar berangka 1 sampai 12. Setengah
bagian meja ujung kiri berbentuk kotak empat persegi.
Di ujung kiri meja berdiri seorang perempuan cantik berkulit putih. Rambut
disanggul rapi mengenakan pakaian berbentuk kemben. Bagian atas dari kemben ini
demikian rendahnya hingga dua payudara besar putih menyembul dan bergoyang-goyang
setiap si cantik ini membuat gerakan. Di bawah pinggang, kain kemben dipotong kiri kanan
demikan rupa hingga menyingkapkan betis indah dan paha putih. Sekitar dua puluh gadis-
gadis cantik berdandanan dan berpakaian sama mondar-mandir di ruangan itu, melayani
para tamu. Sementara pada tiga sudut ruangan disediakan berbagai macam minuman serta
makanan yang boleh disantap para tamu sesukanya.
Di sudut ke empat dua orang pemuda tampan memetik kecapi dan menabuh
gendang, mengiringi nyanyian seorang sinden cantik bertubuh montok.
Di ujung meja sebelah kiri, di samping sebelah kanan duduk seorang lelaki bertubuh
tinggi besar, mengenakan jubah mewah warna ungu dengan wajah ditutup cadar juga
berwarna ungu sementara di atas kepalanya bertengger sebuah destar terbuat dari kain
beluderu tebal berwarna merah. Di sebelah depan destar ini tersemat sebuah batu permata
berwana hijau dengan ikatan suasa berkilat. Inilah Sang Bandar Agung yang merupakan
pucuk pimpinan tertinggi di Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga.
Setelah suasana cukup hangat Bandar Agung bangkit dari kursinya, bertepuk tiga
kali. Begitu semua orang berpaling padanya dan suara tetabuhan serta nyanyian sinden
berhenti maka diapun siap memberi sambutan. Suaranya besar parau. Pertama sekali dia
memperkenalkan diri bahwa dia adalah Bandar Agung yang baru, menggantikan Bandar
Agung lama yang telah mengundurkan diri. Kemudian dia mengucapkan terima kasih atas
kedatangan para tamu sekaligus menyampaikan permohonan maaf karena dibukanya
kembali tempat itu mundur jauh dari jadwal yang sudah ditentukan. Satu dan lain hal
disebutkan karena pihak pengelola Istana ingin memberi pelayanan yang lebih baik
termasuk menjamin keselamatan serta kerahasiaan para tamu yang datang.
Bandar Agung juga memberi tahu bahwa seperti di masa lalu, Istana Seribu Rejeki
Seribu Sorga dibuka mulai matahari tenggelam setiap malam Rabu dan malam Sabtu sampai
tengah hari keesokannya. Bilamana keadaan memungkinkan jumlah hari akan ditambah
menjadi tiga hari.
“Jadikanlah malam pertama ini semeriah mungkin Cari rejeki dan kesenangan
sebanyak-banyaknya. Pasang taruhan para kerabat di nomor yang tepat. Seperti ketentuan
terdahulu setiap nomor yang menang akan dibayar dua kali jumlah pasangan. Bagi para
tamu dan kerabat yang mungkin ingin terlebih dulu menghilangkan rasa haus atau rasa
lapar silahkan mereguk minuman dan menyantap makanan. Sementara bagi yang ingin
lebih dulu berhibur diri silahkan memilih seorang Kembang Istana dan bersenang-senang di
kamar yang telah disediakan di lantai atas. Bagi mereka yang sudah ingin mendapatkan
rejeki besar silahkan mendatangi meja. Permainan segera akan kita mulai. “
Habis berkata begitu Bandar Agung kembali ke tempat duduknya di samping kanan
meja dadu. Dibagian bawah meja dadu, agak lebih rendah terdapat sebuah meja besar
dipenuhi
uang perak dan uang emas serta batangan perak dan batangan emas.
Suara petikan kecapi dan tabuhan kembali terdengar. Gadis cantik di ujung kiri meja
judi angkat dua tangan ke atas. Ketiaknya tampak putih bersih dan berminyak oleh keringat
Dua tangan itu digoyang-goyang membuat sepasang buah dadanya ikut bergerak turun
naik. Lalu tangan diturunkan di atas sanding meja judi. Begitu dua tangan dikembang
tampak dua buah dadu putih kekuningan bermata merah. Sesaat kemudian dua buah dadu
digenggam kembali, digoyang-goyang dengan gerakan menggairahkan mengikuti alunan
kecapi dan gendang.
“Pasang. . . . Pasang taruhan sebanyak-banyaknya!” si gadis berseru sambil liukkan
pinggul dan goyangkan dada. Para tamu yang berada di sekitar meja dadu segera
meletakkan taruhan masing-masing di atas nomor yang mereka anggap akan menang.
Gadis cantik terus mengguncang dadu dalam dua dekapan tangan.
“Semua sudah memasang? Ayo tambah lagi! Pasti menang!”
Setelah semua nomor di atas meja dipenuhi pasangan para tamu penjudi gadis cantik
turunkan dua tangan. Lalu dua dadu dalam genggaman dilemparkan ke dalam kotak kayu
pada ujung kiri meja. Dadu bergulir berkerontangan. Di balik cadar, sepasang mata Bandar
Agung dengan cepat memperhatikan pasangan para tamu.
Di dalam kotak di atas meja setelah bergulir dua buah dadu berhenti diam. Dadu
pertama berhenti pada mata 3 sedang dadu kedua berhenti pada angka 5. pemenang
adalah yang memasang pada nomor 8. Dan saat itu jelas terlihat nomor 8 adalah nomor yang
paling banyak pemasangnya. Para pemenang bersorak gembira. Bandar Agung segera
membayar pasangan pemenang yakni dua kali jumlah taruhan yang dipasang.
“Selamat! Selamat!” ucap Bandar Agung berulang kali. Permainan dilanjutkan.
Mereka yang menang dengan bersemangat menambah pasangan taruhan pada angka-angka
yang mereka anggap akan memberi keberuntungan.
Suara kecapi semakin keras, suara gendang bertalu-talu, nyanyian sang sinden
bertambah merdu. Gadis pengocok dadu menggeliat-geliatkan pinggang. Pinggulnya yang
lebar melenggak lenggok. Dadanya bergoncang naik turun.
“Pasang lagi! Selamat untuk yang barusan menang! Pasang lebih banyak! Kali ini
keberuntungan bagi yang kalah! Pasang, pasang!”
Setelah semua nomor di atas meja dadu diisi taruhan, gadis pengocok dadu angkat
dua tangannya tinggi-tinggi. Seorang tamu yang tidak tahan gairah melihat keindahan
ketiak si gadis ditambah payudaranya yang montok dan menyembul keluar, turunkan
cadarnya sedikit lalu enak saja hidung dan mulutnya menciumi ketiak si gadis. Gadis cantik
terpekik tapi tidak marah. Bandar Agung tertawa gelak-gelak. Para tamu bersorak riuh.
Gadis yang mengguncang dadu turunkan dua tangan. Dua buah dadu bergulir di
dalam kotak kayu. Masing-masing menunjukkan mata 2 dan 4. Jadi yang menang adalah
para pemasang di nomor 6. Salah satu pemenang justru lelaki yang tadi mencium ketiak
gadis pengocok dadu.
“Ha. . ha! Ketiak pembawa rejeki!” seorang tamu berteriak.
Lalu ada yang berseru. “Cium lagi! Cium lagi!” Tamu pemenang mengambil bayaran
taruhan yang diserahkan oleh Bandar Agung yaitu berupa delapan uang emas. Satu keping
uang etnas kemudian dimasukkannya ke balik dada gadis pengocok dadu. Rupanya
ciumannya tadi membuat rangsangan besar pada dirinya. Orang ini mendekati Bandar
Agung dan berkata.
“Bandar Agung, apakah aku boleh membawa gadis ini untuk beristirahat barang
sebentar di lantai atas?”“
“Tentu saja! Tentu saja! Bawalah ke atas! Selamat bersenang-senang. Kalau sudah
puas jangan lupa kembali ke sini. Seribu Rejeki menunggu di meja dadu. Ha. . . ha. . . ha!”
Tanpa menunggu lebih lama tamu tadi segera menarik lengan gadis pengocok dadu.
Si gadis menurut saja malah sambil senyum-senyum. Bandar Agung tepukkan tangan tiga
kali. Seorang gadis segera datang menggantikan gadis tadi.
Di dalam kamar di lantai atas tamu yang membawa gadis cantik pengocok dadu
begitu menutup pintu langsung memeluk si gadis dan menciumi wajah, leher dan tentu saja
ketiaknya sehingga si gadis menggeliat kegelian.
“Aku suka ketiakmu. Bersih putih dan enak baunya. Ha. . . ha. . . ha. Siapa namamu?”
“Saya Ningrum. Saya merasa senang Raden Mas mau membawa saya ke sini.
Bolehkan saya menanggalkan pakaian sekarang juga?”
“Biar aku yang membuka pakaianmu. “
“Ahh. . . “ Gadis cantik itu menggeliat. “Apakah Raden Mas tidak akan membuka
cadar merah yang menutupi wajah? Rasanya akan lebih mesra bila kita bisa saling bertatap
muka. “
Sang tamu segera tanggalkan cadar kain merah yang menutupi wajahnya. Sepasang
mata Ningrum membesar ketika mengenali orang di hadapannya.
“Saya merasa mendapat kehormatan besar. Saya tidak menyangka kalau tamu yang
gagah dan dermawan ini adalah Raden Mas Karta Suminta , Adipati dari Brebes. . . “
Lelaki berkumis dan bercambang bawuk tebal itu tertawa lebar. Tangannya dengan
cepat bergerak menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh Ningrum.
“Dengar, setelah bersenang-senang ada tugas untukmu. Dan kau akan mendapat
bayaran berlipat ganda. “
Ningrum membelai cambang bawuk Karta Suminta.
“Tugas apa gerangan, Raden Mas? Jangan berikan saya tugas yang sulit-sulit. Berikan
tugas yang mudah dan enak-enak. Hik. . . hik. . hik”
“Seseorang akan menemuimu besok pagi. Dia membawa satu bungkusan berisi
racun, Tugasmu adalah menyerahkan racun itu pada seseorang yang akan datang
mengambil bungkusan pada sore hari. Kau mengerti, Ningrum?”
“Saya mengerti, Raden Mas. Ternyata tugas yang Raden Mas berikan tidak sulit. “
Jawab Ningrum sambil layangkan senyum genit lalu baringkan diri di atas ranjang
sementara Karta Suminta mulai membuka pakaiannya.
Kembali ke lantai bawah. Gadis pengganti pengocok dadu memiliki geliatan dan
goyangan tubuh tak kalah merangsang dari tadi yang bernama Ningrum, Saat itu sambil
menggoyang-goyangkan pinggul dia mengguncang dua buah dadu. Di atas kursi Bandar
Agung memperhatikan pasangan para tamu.
Setelah itu tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku jubah ungu. Gadis cantik
melemparkan dua buah dadu ke dalam kotak kayu di atas meja. Dua buah dadu bergulir.
Lalu berhenti pada mata 3 dan 6. Berarti para pemenang adalah pemasang di angka 9.
Ternyata pemasang di nomor itu hanya dua orang dan dalam jumlah kecil. Yaitu hanya dua
keping uang emas dan empat keping uang perak. Sementara di nomor yang lain puluhan
keping uang emas dan perak jadi taruhan, termasuk dua batangan emas lantak di angka 7
dan 12.
Bandar Agung dengan cepat meraup semua pasangan yang kalah dan membayar
pasangan di nomor pemenang.
“Pasang. . . . pasang!” seru gadis pengocok dadu. “Selagi masih siang! Selagi pintu
rejeki terbuka lebar! Pasang, pasang!” Dua buah dadu dimasukkan ke balik dada.
Pakaiannya diusap-usap lalu dua buah dadu dikeluarkan kembali. Para tamu bersorak riuh
dan jadi tambah bersemangat.
*
* *
Lenyapnya Rayi Jantra Kepala Pasukan Kadipaten bersama dua perajurit Lebak dan
Meneng menimbulkan kehebohan di Losari. Adipati Seda Wiralaga memerintah seluruh
jajarannya untuk menyelidik. Malah dalam dua kali pemberangkatan rombongan penyelidik
dia ikut serta turun tangan. Mata-mata disebar ke berbagai pelosok. Namun hampir dua
puluh hari dimuka, misteri raibnya ke tiga orang itu tetap tidak terpecahkan. Adipati belum
mengambil keputusan guna mencari pengganti Rayi Jantra. Untuk sementara jabatan dan
tugas. Kepala Pasukan Kadipaten dirangkap oleh sang Adipati sendiri.
Pada hari ke lima hilangnya Kepala Pasukan dan dua perajurit, dari pintu gerbang
selatan Losari seorang lelaki memacu kudanya dengan cepat. Orang ini adalah perajurit
Jumena. Perajurit ini benar-benar merasa sangat kehilangan atasannya. Salah satu alasan
yang membuat dia sangat berduka adalah karena Rayi Jantra pernah akan menaikkan
pangkatnya satu tingkat. Kini dengan lenyap dan diduga sudah meninggalnya sang atasan,
tak ada harapan bagi Jumena untuk mendapat kenaikan pangkat. Sementara penyelidikan
dan pencarian terhadap ketiga orang itu boleh dikata sudah dihentikan, namun perajurit
Jumena secara sendirian masih terus melakukan pelacakan.
Tanpa arah pasti yang dituju, pagi itu Jumena telah melewati perbatasan ke arah
timur. Perajurit ini baru sadar dia telah memasuki wilayah timur setelah perjalanannya
terhenti di hadapan Kali Kabuyutan. Jumena turun dari kudanya. Sementara binatang itu
menuruni tebing dan minum air kali, Jumena duduk di sebuah batu. Keadaan di tempat itu
terasa sejuk nyaman. Sesekali terdengar suara kicau burung.
Jumena turun ke kali. Membasahi wajah dengan air bening sejuk hingga dirinya
merasa segar. Duduk kembali di atas batu sambil memperhatikan kudanya. Sadar kalau saat
itu dia telah melewati perbatasan dan berada di wilayah sebelah timur, perajurit ini berpikir.
“Selama ini penyelidikan lenyapnya Raden Rayi Jantra hanya dilakukan di daerah
barat. Apa salahnya aku menghabiskan waktu sehari dua untuk menyelidik kawasan
sebelah timur perbatasan ini. “ Berpikir begitu Jumena tarik tali kekang kuda. Ketika dia
hendak menunggangi binatang itu tak sengaja dia memandang ke langit arah timur.
Sekumpulan burung hitam tampak berputar-putar di udara lalu sambil menguik melayang
turun. Tak lama kemudian muncul lagi membumbung ke udara. Hal ini diperhatikan
Jumena terjadi berulang kali.
“Ada sesuatu di arah timur sana yang menarik perhatian puluhan burung hitam itu.”
Akhirnya Jumena memutuskan untuk menyelidik. Dia segera menggebrak
tunggangannya.
Semakin jauh ke timur semakin jelas Jumena melihat bentuk dan jenis puluhan
burung itu.
“Burung hitam pemakan bangkai!”
Kuduk sang perajurit mendadak terasa dingin. Kudanya dipacu semakin kencang.
Tapi jalan yang ditempuh semakin sulit. Selain mendaki juga terhalang oleh semak belukar
dan bebatuan. Di satu tempat Jumena terpaksa hentikan kuda dan turun. Hidungnya
mendadak mencium bau sangat busuk. Di pohon-pohon sekitarnya dia melihat banyak lalat
menempel dan beterbangan. Jumena melangkah ke arah tanah ketinggian sampai akhirnya
dia terpaksa berhenti karena di depannya menghadang sebuah jurang batu.
Jumena menatap ke langit lalu pandangannya mengikuti burung-burung hitam yang
menukik ke bawah. Ketika perajurit ini memperhatikan dasar jurang, kejutnya. bukan alang
kepalang walau sebelumnya dia sudah menduga-duga.
Meski cukup terjal namun jurang batu itu tidak seberapa dalam hingga Jumena bisa
melihat cukup jelas lebih dari delapan mayat bergeletak di dasar jurang. Ada yang
terpentang di atas batu, ada yang terselip diantara bebatuan. Semua dalam keadaan sangat
rusak, menebar bau busuk. Malah ada yang hanya tinggal tulang belulang memutih
dibawah terik sinar matahari.
“Aku punya firasat. Jangan-jangan salah satu dari mayat itu adalah mayat Raden Rayi
Jantra. Ya Tuhan, mudah-mudahan firasatku salah. “
Setelah menutup hidungnya dengan sehelai sapu tangan, perajurit Jumena dengan
hati-hati menuruni jurang terjal. Burung-burung hitam pemakan mayat menguik keras
seolah marah keberadaan mereka di sana yang tengah menyantap makanan diganggu oleh
kemunculan Jumena. Burung-burung itu melesat ke udara, terbang berputar-putar. Hanya
beberapa ekor saja yang masih memberanikan diri melayang turun untuk mencungkil sisa-
sisa daging busuk pada sekian banyak mayat di dasar jurang.
Jumena sampai di dasar jurang. Dengan perasaan ngeri dan jijik memperhatikan
sosok mayat satu persatu. Ada enam mayat yang tidak dikenalnya.
“Mudah-mudahan Raden Rayi tidak menemui nasib malang di tempat ini. . . . “ ucap
Jumena. Namun kuduknya jadi merinding dan matanya terpentang lebar ketika
memperhatikan sesosok mayat yang terselip di antara dua buah batu besar agak jauh di
bawah sana. Dari pakaiannya saja dia sudah bisa menduga bahwa mayat itu adalah mayat
Rayi Jantra. Jumena berusaha mencapai mayat tapi sulit.
Jumena naik ke satu batu cadas, jongkok memperhatikan ke arah antara dua buah
batu besar. Perhatiannya dipusatkan pada kepala mayat. Walau kepala itu sudah hancur
namun dalam bimbangnya Jumena kini bukan cuma menduga, tapi yakin mayat itu adalah
mayat atasannya. Jumena merasa kepalanya pusing dan perutnya mual. Dia tidak mungkin
mengeluarkan mayat Rayi Jantra yang sudah sangat rusak dari sela batu apa lagi
membawanya ke atas jurang.
“Raden, maafkan diriku yang tidak bisa menyelamatkan jenazahmu. . . “ Habis
berkata begitu seperti dikejar setan Jumena kembali naik ke atas jurang. Tubuhnya mandi
keringat.
Sampai di tepi jalan perajurit ini jatuhkan diri berlutut, menghambur tangis.
Keluarkan ratapan.
“Raden Rayi Jantra, dosa apa yang telah kau perbuat sehingga ada orang tega
membunuh dan membuang mayatmu ke jurang? Siapa pembunuhnya! Siapa?!” Jumena
berteriak-teriak sambil meninju-ninju tanah.
Tibatiba ada suara menegur.
“Seorang perajurit tidak pantas menangis! Perajurit, apa yang terjadi di sini?”
Jumena hentikan tangis, angkat kepala. Dia melihat sosok seorang pemuda berdestar
dan berpakaian putih, rambut panjang sebahu, berdiri di hadapannya.
“Jahanam!” Jumena berteriak seperti orang kalap. “Pasti kau pembunuhnya! Paling
tidak kau kaki tangan pembunuh!”
Jumena loloskan golok besar di pinggang lalu tanpa pikir panjang lagi dia melompat
bangkit dan membacok ke arah kepala orang!
Sebelum golok besar mendarat di sasaran, satu tangan kukuh dengan cepat mencekal
pergelangan tangan kanan Jumena. Sekali tangan itu memuntir golok terlepas, Jumena
terhuyung lalu jatuh terduduk di tanah.
*
* *
SEPULUH
“Aku bertanya baik-baik. Mengapa kau malah hendak membacokku?”
Orang yang hendak dibacok yakni pemuda berambut gondrong yang bukan lain
adalah Pendekar 212, bertanya.
Jumena terduduk lemas di tanah. Menatap Wiro masih dalam keadaan setengah
kalap. Ketika amarahnya mengendur dengan suara perlahan dia berkata.
“Aku tidak berniat jahat . . Aku kalap karena atasanku dibunuh orang dan mayatnya
dibuang ke jurang!”
“Siapakah atasanmu?”
“Raden Rayi Jantra. Kepala Pasukan Kadipaten Losari. “
“Kau adalah perajurit wilayah barat, mengapa berada di wilayah timur?” tanya Wiro.
“Aku dalam mencari atasanku. Sejak lima hari lalu dia raib bersama dua perajurit.
Seluruh kawasan di barat telah diselidiki. Raden Rayi tidak ditemukan. Akhirnya aku
mencoba masuk ke wilayah ini. Ternyata tidak sia-sia. Mayatnya kutemukan di dasar
jurang.”
“Aku lihat di sini mayat di jurang berjumlah lebih dari delapan orang. Mayat siapa
yang lainnya?”
“Dua adalah perajurit Lebak dan Meneng. Yang lain aku tidak bisa menduga.”
Setelah diam sebentar perajurit Jumena bertanya. “Pemuda Kau sendiri siapakah?”
“Aku dalam perjalanan ke Gunung Gede. Kebetulan saja lewat di tempat ini. “
“Namamu?” tanya Jumena lagi.
Wiro tertawa. Dia balik bertanya.
“Kalau sampai Kepala Pasukan Kadipaten dibunuh orang lalu mayatnya dibuang di
jurang sana, apakah kau bisa menduga siapa yang berbuat keji. Lalu apa latar belakang
kejahatan ini?”
Jumena gelengkan kepala.
“Banyak hal yang aku tidak ketahui. Di kawasan barat, terutama di Kadipaten Losari
akhir-akhir ini banyak kejadian. Semua berujung pada kematian. “
“Perajurit, ceritamu menarik. Apa kau mau menjelaskan. apa saja yang telah terjadi?”
tanya Wiro.
“Aku tidak mau bercerita. Aku tidak kenal siapa dirimu. Bukan mustahil kau adalah
mata-mata orang timur. “
Wiro tertawa.
“Aku bukan mata-mata. Kalau kau bercerita siapa tahu aku bisa menolong. “
“Tidak, aku tidak akan bercerita. “ Jawab Jumena. “Silahkan kau melanjutkan
perjalanan. Gunung Gede masih jauh dari sini. “
“Kau betul, Gunung Gede masih jauh dari sini. Aku melihat seekor kuda besar di
sebelah sana. Pasti milikmu. Aku rasa kau mau berbaik hati meminjamkan kuda itu untuk
tungganganku ke Gunung Gede. “
“Jadi rupanya kau seorang penjahat! Seorang begal!” Teriak Jumena marah.
Wiro tertawa.
“Aku hanya mau meminjam. Jika kau tidak sudi aku tidak memaksa,” jawab Wiro
lalu tinggalkan tempat itu. Belum jauh dia berjalan didengarnya perajurit tadi lari
mengejarnya dan berseru.
“Tunggu! Jika kau memang ingin penjelasan, aku bersedia menceritakan!”
“Hemm. . . Begitu? Baiklah. Aku akan mendengarkan. “ Jawab Wiro lalu duduk di
tepi jalan.
Perajurit Jumena bercerita mulai dengan kematian Nyi Inten Kameswari yang
makamnya kemudian dibongkar orang. Ketika jenazah diperiksa kembali ditemukan
perutnya dalam keadaan robek besar. Lalu menyusul kematian Anom Miharja, suami Nyi
Inten yang dikabarkan bunuh diri. Jumena tidak lupa menceritakan ditemukannya beberapa
mayat orang Cina yang diduga adalah orang-orang rimba persilatan Tiongkok. Lalu
kematian Pengemis Muka Bopeng dan seorang tokoh silat bernama Eyang Sepuh Kembar
Tilu. Kejadiannya di warung Akang Punten di desa Cangkring. Sebelum mati Eyang Sepuh
didengar menyebut-nyebut nama Raden Kumalasakti. Lalu diceritakan pula ditemukannya
beberapa mayat penduduk setempat.
“Siapa Raden Kumalasakti itu?” tanya Wiro.
“Seorang masih muda tapi memiliki kepandaian tinggi, Punya banyak hubungan
dengan para tokoh di barat dan di timur. “
“Menurutmu, kematian Raden Rayi Jantra ada sangkut pautnya dengan semua
pembunuhan yang terjadi?” Bertanya Wiro.
“Aku tidak bisa menduga. Bisa saja begitu. Satu hal kuketahui, sebelum tewas Raden
Rayi Jantra tengah menyelidiki asal usul kekayaan keluarga Anom Miharja dan istrinya Nyi
Inten. “
“Ceritamu tambah menarik. Kalau Anom Miharja dan Nyi Inten sakit hati karena
dirinya diselidiki, tak mungkin mereka yang membunuh Rayi Jantra. Turut ceritamu kedua
orang itu telah mati lebih dulu. “
“Kau tadi mengatakan ingin menolong. Bagaimana caramu mau menolong?” Jumena
kini yang bertanya.
Wiro keluarkan kancing hitam dari kayu yang didapatnya dari Eyang Sepuh Kembar
Tilu lalu memperlihatkan pada Jumena.
“Kancing kayu ini. Kau tahu kira-kira siapa punya pakaian memakai kancing seperti
ini?”
“Itu kancing baju jas tutup. Semua orang kaya, para bangsawan dan pejabat tinggi
jika mereka mempunyai jas tutup pasti kancingnya seperti itu. “ Jawab Jumeha. “Dari mana
kau mendapatkan kancing itu?”
“Kutemukan di satu tempat,” jawab Wiro berdusta. Seperti diketahui kancing itu
didapatnya tergenggam di tangan Eyang Sepuh Kembar Tilu sewaktu nenek aneh itu
menemui kematian dibunuh seseorang yang tidak diketahui siapa adanya. Lalu Wiro
berkata, setengah memancing. “Kalau sampai banyak orang asing datang ke Losari pasti ada
seseorang atau sesuatu yang sangat penting dan berharga yang mereka cari. Apa lagi
mereka sampai menemui ajal begitu rupa. Lalu jika dihubungkan dengan rentetan kematian
beberapa tokoh silat seperti Eyang Sepuh Kembar Tilu, Raden Kumalasakti dan Pengemis
Muka Bopeng yang menyaru menjadi Raden Kumalasakti. Mungkin banyak lagi tokoh atau
orang yang telah menemui kematian tapi tidak kau ketahui. Apakah kau tidak mengira
semua itu ada kaitannya satu sama lain?”
“Aku Jumena, seorang perajurit rendah. Akalku tidak sampai pada menghubung-
hubungkan semua hal yang terjadi. Hanya saja sewaktu terjadi perkelahian antara Pengemis
Muka Bopeng dan Eyang Sepuh Kembar Tilu di warung Akang Punten, kabarnya Pengemis
Muka Bopeng memaksa si nenek menyerahkan sesuatu barang. “ “Barang apa?” tanya Wiro.
“Dua buah dadu. “ Jawab Jumena. “Dua buah dadu?” Wiro menggaruk kepala. “Hanya
gara-gara dua buah dadu saja saling berbunuhan?! Edan betul! Tapi….”
Wiro tidak meneruskan ucapannya. Hidungnya mencium semerbak bau harum.
Padahal dari arah jurang masih santar bau busuknya mayat.
“Hemmm. . . . Aku pernah mencium bau harum ini sebelumnya. Tapi dimana. . . . “
Murid Sinto Gendeng lagi-lagi menggaruk kepala. Wiro memandang berkeliling. Sunyi, tak
ada suara, tak ada orang tak ada gerakan. Wiro perhatikan sebuah dinding batu tak seberapa
lebar namun cukup tinggi menjulang ke udara. Kalau ada orang yang sembunyi dan diam-
diam melakukan pengintaian, maka balik lamping batu itu adalah tempat yang paling baik.
Tidak menunggu lebih lama, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang
andal Pendekar 212 melompat tinggi ke udara, melesat dan di lain saat dua kakinya telah
menginjak bagian atas dinding batu yang ternyata cukup lebar dan rata. Wiro memandang
ke bawah. Dia melihat satu bayangan merah berkelebat cepat menuruni lereng batu.
“Hai!”
Wiro berteriak. Bayangan merah lenyap dari pemandangan. Luar biasa. Tempat
dimana dia berada serta lereng batu terjal di bawah sana berjarak hampir dua puluh tombak.
Namun si bayangan merah mampu menuruni lereng dengan cepat dan lenyap dalam
sekejapan mata. Bukan saja gerakannya cepat sekali tapi ilmu meringankan tubuhnya juga
luar biasa. Bidadari Angin Timur yang memiliki kecepatan seperti kilat mungkin
kepandaiannya masih satu tingkat di bawah si bayangan merah tadi.
“Pasti dia lagi!” ucap Wiro. Lalu murid Sinto Gendeng ini berteriak. “Dua nenek
kembar, apa kau ada di sini?!”
Saat itu juga terdengar suara ha-hu ha-hu. Dua nenek kembar rambut kelabu jubah
kuning muncul. Keduanya membungkuk di hadapan Wiro.
“Kalian melihat orang yang kabur di bawah sana?”
“ha-hu ha-hu!”
“Apa dia orang yang sama. Yang dulu pernah mengintai diriku?!”
“ha-hu ha-hu!”
“Kejar dia sampai dapat. Kalau sudah ditemui beritahu padaku dan antar aku ke
tempat dimana dia berada!”
“ha-hu ha-hu!”
Dua nenek kembar membungkuk lalu berkelebat lenyap dari tempat itu, melayang
laksana terbang ke jurusan lenyapnya bayangan merah. Wiro berpaling ke arah Jumena.
“Aku harus pergi. Nanti kita bertemu lagi!”
“Katanya. mau menolong. Malah pergi. . . . “ Jumena mengomel.
Tidak seperti si bayangan merah atau dua nenek aneh, untuk sampai ke lereng bukit
batu di bawah Sana Wiro memerlukan satu lompatan antara. Berlari cukup jauh malah
sampai sang surya tepat di ubun-ubun kepala dia masih belum berhasil mengejar orang
berpakaian merah. Sementara dua nenek kembar tak satupun yang muncul. Sambil lari
sesekali Wiro kerahkan ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung
namun tetap saja dia tidak dapat menjajagi dimana beradanya orang yang dikejar.
Menjelang petang Wiro akhirnya capai sendiri dan hentikan pengejaran.
Malam hari Wiro menemukan sebuah candi kecil yang keadaannya sudah sangat
rusak. Untung ada bagian atap yang masih cukup baik untuk dipakai berlindung dari
embun dingin. Wiro memutuskan untuk bermalam di candi ini. Perutnya terasa lapar. Selagi
dia mencari tempat yang baik dan bersih untuk berbaring tibatiba terdengar suara derap
kaki kuda, keras dan cepat sekali. Wiro memperhatikan dari balik dinding candi.
Dalam kegelapan malam kelihatan dua penunggang kuda coklat memacu
tunggangan mereka ke arah candi. Sementara di sebelah belakang mengejar enam orang
yang juga menunggang kuda.
Begitu sampai di depan candi, dua penunggang kuda coklat yang berpakaian dan
berdestar biru segera berhenti. Kuda dilepas dan keduanya cepat menyelinap ke dalam
candi. Wiro memperhatikan, dua orang ini masih sangat muda-muda. Wajah mereka sama-
sama tampan. Yang bertubuh kecil halus berkumis tipis rapi. Kelihatannya mereka pemuda
baik-baik. Tampang pedagang mereka tidak punya. Mungkin murid atau santri pesantren
yang beberapa diantaranya memang terdapat di daerah itu. Mungkin juga mereka dua
orang putera ningrat bangsawan yang kemalaman di jalan. Kedua orang ini masing-masing
membekal bungkusan besar di punggung.
Enam penunggang kuda pengejar berhenti di samping candi dengan suara
menggemuruh. Debu mengepul ke udara. Ke enam orang ini mengenakan baju penuh
tambalan. Dengan gerakan sebat cepat mereka melompat masuk ke dalam candi.
“Dua tikus putih! Apa kalian lebih suka mencari mati dari menyerahkan harta
benda?!” Salah seorang dari enam lelaki yaitu yang paling besar tubuhnya berteriak. Golok
besar berkilat dimelintangkan di atas dada. Rambut hitam lebat, muka kotor coreng-moreng,
kumis melintang, berewok dan janggut meranggas kasar. Satu keanehan pada diri orang ini,
sepasang mata lebih banyak putihnya. Bola mata hanya merupakan satu titik kecil berwarna
hitam. Lima temannya keadaannya hampir tidak beda. Hanya saja yang lima ini tidak
memiliki mata seperti si tinggi besar tadi.
“Meong. . . “
Tibatiba ada suara kucing mengeong. Sesaat kemudian satu sosok berpakaian putih
melesat di udara dan berdiri di tembok candi. Sambil bertolak pinggang orang ini berkata.
“Tak ada tikus di sini. Yang ada kucing meong. Aku!” “
Enam orang lelaki berpakaian penuh tambalan melengak kaget. Tapi cuma sebentar.
Keenamnya menggebor marah. Yang paling depan membentak keras.
“Kalau tidak ada tikus kucing meongpun jadi!” Lalu orang ini melompat ke depan
babatkan golok besarnya ke kaki orang di atas tembok yang bukan lain adalah Pendekar 212
Wiro Sableng.
“Ah kalian pasti pengemis apes. Tidak gablek sedekahan siang tadi, malam hari jadi
nekad!”
Sekali melompat Wiro telah berada di udara. Waktu melayang turun dia sengaja
injakkan kaki kiri lebih dulu di atas kepala orang yang paling besar baru jejakkan kaki di
lantai candi. Marah orang ini diperlakukan seperti itu bukan alang kepalang. Seumur hidup
baru kali itu ada orang yang berlaku sangat kurang ajar, berani menginjak kepalanya. Dia
berteriak pada anak buahnya yang lima orang.
“Cari dua tikus itu! Jarah harta benda mereka! Bunuh jika melawan! Aku akan
mencincang kucing meong satu ini! Tidak ada satu orangpun boleh berlaku kurang ajar
terhadap Pengemis Mata Putih!”
Orang yang mengaku Pengemis Mata Putih melompat ke atas tembok. Di saat yang
sama sambil tertawa bergelak Wiro melompat ke lantai candi.
“He. . he! Bagaimana ini! Kau ke atas, aku ke bawah! Ha. . . ha. . . ha!”
Pendekar 212 melirik ke samping lalu berkelebat tinggalkan Pengemis Mata Putih.
“Bukk! Bukk!”.
Dua lelaki berpakaian tambalan yang hendak menyergap ke sudut candi dimana
beradanya dua pemuda tampan berpakaian biru tadi mencelat mental dan keluarkan jeritan
keras. Golok terlepas jatuh. Keduanya terkapar di lantai candi, megap-megap muntah darah.
Tiga temannya serta merta berbalik ke arah Wiro dan kiblatkan golok masing-masing dalam
jurus luar biasa cepat dan ganas!
Pendekar 212 mainkan jurus Benteng Topan Melanda Samudera. Dua tangan dikipas
ke depan.
“Wutt! Wuutt!”
“Aahhhhh!”
Tiga lelaki baju tambalan mengerang keras. Ketiganya terpental. Satu menghantam
dinding candi hingga roboh. Dua lainnya terbanting ke halaman candi! Satu melejang-lejang
kesakitan satunya tak berkutik lagi karena patah leher.
“Singgg!”
Satu golok besar menyambar ke arah batang leher Pendekar 212. Datangnya dari
samping. Wiro cepat merunduk. Sambil jatuhkan diri dan bersitekan dengan dua tangan ke
lantai candi, kaki kirinya menendang ke belakang dalam jurus Kilat Menyambar Puncak
Gunung.
“Duukkk!”
Gerak serangan seperti kuda menendang itu mendarat di dada Pengemis Mata Putih
yang tadi membacok dengan ganas. Tubuhnya yang besar hanya bergontai sebentar lalu.
mulutnya keluarkan suara tawa bergelak. Sambil pukul-pukul dadanya sendiri dia berkata
menantang.
“Pemuda gondrong kau boleh pukul bagian tubuhku yang kau suka! Kau boleh
keluarkan senjata! Bacok dan tusuk dimana kau senang!”
“Hemmm. . . . rupanya kau punya ilmu kebal hingga berlaku pongah menantang!
Tapi apakah kau merasa lebih hebat dari Pengemis Muka Bopeng dan Pengemis Siang
Malam yang telah menemui kematian?!”
Kejut Pengemis Mata Putih bukan alang kepalang. “Kau bicara apa?!” hardik
Pengemis Mata Putih. Pengemis Muka Bopeng dan Pengemis Siang Malam adalah dua adik
seperguruannya.
“Sebaiknya kau bersama anak buahmu pergi menghadap gurumu Si Raja Pengemis
di Lebakwangi. Bertobat minta ampun atas semua perbuatan sesat kalian. Diniati jadi
pengemis malah jadi rampok!”
Mendengar kata-kata Wiro, Pengemis Mata Putih menggerung.
“Jika dua saudara seperguruanku tewas, berarti kau yang membunuh mereka!”
Dengan golok di tangan Pengemis Mata Putih menerjang ke depan. Golok besar
berkilat berubah seolah menjadi belasan banyaknya. Membabat, membacok dan menusuk
dengan mengeluarkan angin dingin serta suara berdesing. Pengemis Mata Putih keluarkan
jurus andalnya yang disebut Pengemis Siang Minta Berkah, Pengemis Malam Minta Sesajen.
''Breett!”
Baju Pendekar 212 robek di bagian bahu. Pakaian putih itu tampak kemerahan tanda
kulit bahu Wiro ikut terluka. Dari sudut candi terdengar satu suara pekikan. Walau bahunya
terasa perih, Pendekar 212 menyeringai sambil tepuk-tepuk bahu yang luka.
“Kucing meong! Baru bahumu yang aku sayat! Sekarang giliran lehermu! Lihat
golok!” Didahului bentakan keras tubuh besar Pengemis Mata Putih melompat. Goloknya
bersiuran, menabur tiga serangan sekaligus. Yaitu membabat ke pinggang lalu membacok ke
kepala dan terakhir sekali yang merupakan serangan sebenarnya adalah menusuk ke leher!
“Serangan hebat! Jaga kepalamu!” teriak Wiro sambil menghindar.
Pengemis Mata Putih terkesiap. Suara lawan datang dari empat jurusan. Mana yang
sungguhan dan mana yang palsu? Belum mampu dia memastikan tiba-tiba buukkk! Batok
kepalanya digebuk orang!
Pengemis Mata Putih tersungkur di tanah. Mengerang sebentar, mata terjereng-jereng
lalu bangkit lagi! Pendekar 212 melengak kaget setengah mati. Tadi dia berhasil menipu
lawan dengan ilmu Empat Penjuru Menebar Suara. Ilmu ini didapatnya dari Datuk Tanpa
Bentuk Tanpa Ujud yang merupakan guru Hantu Selaksa Angin (Baca serial Wiro Sableng di
Latanahsilam) Selagi lawan kebingungan Wiro kemudian menghantam ubun-ubun orang
dengan pukulan Tangan Dewa Menghantam Tanah. Pukulan yang bisa menghancurkan
batu besar itu ternyata tidak mampu memecahkan kepala Pengemis Mata Putih!
“Gila! Ilmu kebalnya benar-benar luar biasa! Aku harus mencari kelemahannya!
Sebaiknya aku lebih dulu mencecar dengan serangan.” Wiro lalu kerahkan tenaga dalam
dan ilmu meringankan tubuh. Tubuhnya berkelebat seolah berubah jadi bayang-bayang.
Tangan dan kakinya melesat kian kemari, menendang dan menggebuk. Beberapa dari
serangannya itu bersarang dengan telak di tubuh lawan. Namun tetap saja Pengemis Mata
Putih bergeming, tidak berhasil dirobohkan apa lagi dicederai. Sebaliknya serangan golok
sang pengemis semakin bertubi-tubi dan berbahaya. Wiro memutuskan untuk menghantam
lawan dengan pukulan Sinar Matahari.
“Kelemahan orang itu adalah pada matanya. Jika kau bisa menciderai satu saja dari
dua matanya, sekali pukul saja dia akan ambruk menemui ajal!”
Tibatiba Wiro mendengar suara halus di telinga kirinya. Dia tidak berusaha mencari
tahu siapa yang mengirimkan ucapan jarak jauh itu namun langsung saja melakukan
serangan mengincar dua mata lawan. Setelah mendesak Pengemis Mata Putih tiga jurus
berturut-turut Wiro akhirnya berhasil menjotos mata kiri lawannya dengan jurus pukulan
Membuka Jendela Memanah Matahari.
“Crooss!”
Mata kiri Pengemis Mata Putih hancur! Orang ini langsung melosoh ke tanah,
menjerit tiada henti. Wiro jambak rambutnya dengan tangan kanan. Ketika tangan kiri
hendak dihantamkan ke muka orang ada orang mencegah dengan mengirimkan suara.
“Jangan bunuh orang itu!”
Wiro lepaskan jambakan. Pengemis Mata Putih jatuh terduduk di tanah, berlutut dan
meratap minta ampun.
“Aku mengaku kalah! Ampuni selembar nyawaku! Aku siap untuk bertobat!”
Pergilah! Bawa teman-temanmu yang masih hidup. Awas jika kemudian hari aku
menemuimu masih berbuat jahat!”
Pengemis Mata Putih membungkuk-bungkuk berulang kali. Ternyata ada empat
orang anak buahnya yang masih hidup walau dua diantaranya luka parah.
Setelah Pengemis Mata Putih dan empat anak buahnya pergi membawa serta mayat
seorang teman mereka Wiro berpaling ke sudut kiri candi dimana dua pemuda cakap
berpakaian biru berdiri dengan wajah menunjukkan rasa lega, lepas dari malapetaka.
Pemuda yang bertubuh lebih besar segera mendatangi Wiro.
“Aku dan adikku menghaturkan banyak terima kasih dan bersyukur pada Yang
Maha Kuasa. Kalau sahabat tidak menolong, entah apa jadinya kami. berdua. “
Wiro menggaruk kepala. Sekali lihat saja dia tidak percaya kalau dua pemuda tampan
dan halus ini tidak memiliki ilmu kepandaian. Mereka sembunyikan kehebatan dibalik sikap
merendah dan lemah lembut. Maka Wiro lalu menjawab.
“Kalau tidak tadi salah satu diantara sahabat yang memberi tahu kelemahan
pengemis itu, rasanya saat ini aku sudah jadi mayat terkutung-kutung. “
Pemuda yang bertubuh lebih kecil dan berkumis rapi mendatangi.
“Ilmu silat, ilmu meringankan tubuh serta tenaga dalam saudara sungguh
mengagumkan. Boleh saya bertanya siapa saudara ini dan murid siapa gerangan adanya?”
Wiro tersenyum.
“Sahabat keliwat memuji. Kalau saya boleh bertanya, sahabat berdua datang dari
mana dan mau menuju ke mana?”
“Kami orang pedalaman. Aku Panjirama, adikku bernama Ariadarma. Kami dalam
perjalanan ke utara. Di tengah jalan dihadang dan dikejar oleh Pengemis Mata Putih
bersama anak buahnya. Untung kami bertemu dengan sahabat. Sebelum sampai di sini kami
tidak henti-hentinya melihat bencana, malah mengalaminya sendiri. “
Ariadarma menyambung ucapan sang kakak. “Sebelumnya kami melewati beberapa
desa. Penduduk disana tengah meratapi bencana yang mereka alami. Air sungai yang
melalui desa mereka diracuni orang. Ikan mati mengambang. Ternak banyak yang menemui
ajal. Bahkan penduduk yang minum air sungai, walau telah dimasak masih mati
keracunan. Diperlukan waktu berminggu-minggu sebelum racun larut hanyut ke muara.
Penduduk beberapa desa itu sudah lama menderita. Kini malah jadi tambah sengsara. . . “
“Ini pasti pekerjaan orang-orang di timur. Orang-orang di barat sudah terlalu lama
banyak mengalah. “ Kata Panjirama pula.
Wiro perhatikan pemuda berkumis yang berdiri di depannya. Dia garuk-garuk
kepala lalu tersenyum dan berkata.
“Kalian berdua pasti kecapaian. Kalian perlu istirahat. Perjalanan ke utara masih jauh.
Candi rusak ini terlalu sempit untuk kita bertiga. Apa lagi aku tidak ingin menganggu
kehadiran kalian berdua. Aku tak berani menduga, namun bukan mustahil kalian adalah
sepasang kekasih yang sedang berkelana secara menyamar. . . “
Kaget dua kakak adik berwajah tampan itu bukan main. , “Aku tidak mengerti
maksud sahabat,” kata pemuda bernama Panjirama.
Wiro membungkuk lalu masih sambil senyum-senyum dia tinggalkan candi itu.
“Heran,” kata Panjirama. “Bagaimana dia sampai berkata kita adalah sepasang
kekasih yang sedang berkelana secara menyamar. . . “
“Ucapan itu hanya punya satu arti,” sahut Ariadarma, sang adik. “Dia tahu kalau
Adinda perempuan. Luar biasa, bagaimana dia bisa tahu?”
“Sayang dia keburu pergi. Padahal pendekar seperti dia yang kita perlukan di
kemudian hari. “ Kata Panjirama pula.
Sementara itu Pendekar 212 Wiro Sableng berjalan sambil senyum-senyum.
“Berkumis tapi pakai kalung emas dan punya payudara. Ha. . . ha. . . ha. . . “ Bagaimana
Wiro tahu kalau Ariadarma adalah seorang perempuan? Tidak lain karena kejahilannya
juga. Dia memperhatikan pemuda berkumis itu sambil mengerahkan ilmu Menembus
Pandang. Padahal Ratu Duyung telah berpesan bahwa ilmu tersebut tidak boleh
dipergunakan untuk niat nakal atau jahat.
“ha-hu ha-hu. . . “
Wiro hentikan langkah.
“Nenek kembar?”
Satu bayangan kuning berkelebat dan salah seorang dari dua nenek kembar rambut
kelabu jubah kuning muncul berdiri di hadapan Wiro.
“ha-hu ha-hu!” si nenek keluarkan suara gagu sambil tangan kiri menunjuk-nunjuk
dirinya sedang tangan menunjuk ke arah kejauhan.
“Kau dan kembaranmu sudah menemui orang berpakaian merah itu?” tanya Wiro.
Nenek rambut kelabu mengangguk berulang kali.
“Ha hu ha-hu!”
“Kalau begitu antarkan aku ke sana. “
“ha-hu ha-hu!” ucap si nenek.
“ha-hu ha-hu!” Wiro menirukan sambil menepuk pantat si nenek.
“Uuuhh. . . “ Walau hanya mahluk jejadian, namun tepukan di pantatnya membuat si
nenek terangsang juga dan tubuhnya mendadak sontak berubah menjadi seorang
perempuan muda cantik jelita.
“Jangan coba merayuku! Baru pantat belakang yang aku tepuk sudah mau
menggoda. Bagaimana kalau aku tepuk pantatmu yang depan!” kata Pendekar 212 pula
sambil senyum-senyum. “Ayo jalan!”
Perempuan cantik itu tertawa lebar. Kedip-kedipkan matanya lalu ujudnya kembali
seperti semula yaitu sosok nenek rambut kelabu.
“Ha-hu ha-hu
TAMAT
Episode berikutnya :
SI CANTIK DARI TIONGGOAN
Hak cipta dan copyright milik Alm. Bastian Tito
Wiro Sableng telah terdaftar pada Departemen Kehakiman Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek dibawah nomor 004245
“Mengenang Alm. Bastian Tito”
Pengarang Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
0 comments:
Posting Komentar