MAHESA KELUD
SIMO GEMBONG MENCARI
MATI
* Copyright naskah ini ditangan penerbit
LOKA-JAYA,hak cipta pengarang
dilindungi undang-undang.
* Dilarang mengutip, tanpa seijin
penerbit.
* Menterjemahkan karya ini dalam bahasa
Asing,tanpa seijin penerbitnya lebih
dahulu.
Awan berarak tinggi. Sesaat
menyelimuti puncak gunung
kemudian bergerak menjauh,
ditiup angin ke arah timur. Di dalam
pondok kayu beratap rumbia, letaki tua
itu duduk bersila. Kedua tangan
diletakkan diatas paha. Mata kanan
terpejam rapat sedang mata kiri yang
hanya merupakan rongga besar nyalang
menantang mengerikan. Janggutnya yang
hitam panjang bergoyang-goyang ditiup
angin yang masuk dari pintu. Dari batok
kepalanya yang ditutupi rambut kotor
awutan-awutan tampak mengepul asap hijau
aneh. Jelas orang tua ini tengah
bersemedi sambil mengerahkan tenaga
dalam yang sangat tinggi.
Ketika sekelompok awan datang lagi
menyelimuti puncak Gunung Kelud,orang
tua bertampang angker ini membuka mata
kanannya yang sejak tadi dipejamkan.
Ternyata mata ini berwarna sangat merah,
membuat wajahnya tambah menyeramkan
untuk dipandang.
Kemudian terdengar suaranya serak
besar ketika mulutnya terbuka.
"Syukur kau sudah kembali Mahesa.
Aku gembira!"Dan mata kanan yang merah
itu memandang tak berkedip pada sosok
tubuh pemuda yang duduk khidmat di
hadapannya.
"Muridku, kau berhasil mendapatkan
pedang Samber Nyawa?"
"Berhasil Embah."
"Bagus!" Mulut orang tua itu
menyunggingkan senyum.Tapi senyum ini
malah membuat tampang-nya tambah seram.
"Bagus sekali! Lalu apakah kau juga sudah
berhasil menemukan dan membunuh manu-sia
bernamaSimo Gembong?"
Sang murid —Mahesa Kelud— tidak
menjawab. Diperhatikannya sesaat tanda
hitam disiku tangan kanan orang tua itu.
Hatinya berdebar. Tanda itu adalah salah
satu dari ciri-ciri manusia yang namanya
barusan disebutkan oleh sang guru!
"Aku bertanya. Apakah kau sudah
berhasil menemukan manusia bernama Simo
Gembong dan membunuhnya ....?" Orang tua
itu kembali bertanya.
"Embah Jagatnata," sahut Mahesa
Kelud menyebut nama gurunya itu.
"Petunjuk-petunjuk yang saya dapatkan
masih kurang jelas. Saya memerlukan
tambahan petunjuk dari Embah
Air muka Embah Jagatnata tampak
berubah.
"Kalau begitu, percuma kau datang
kemari! Bukankah dulu sudah kuberi
ingat? Kau sekali kali tidak boleh
kembali kesini sebelum berhasil menemui
dan membunuh orang bernama Simo Gembong
itu?! Apa jawabmu Mahesa?!"
"Embah, hasil penyelidikan yang
saya dapat, membuat saya jadi bingung
sendiri," jawab Mahesa Kelud. Nama itu
adalah pemberian gurunya. Nama
sebenarnya pemuda ini adalah Panji
Ireng.
"Bingung?" Kening Embah Jagatnata
tampak berkerenyit. "Bingung
bagaimana?"
"Harap maafkan saya Embah.
Ciri-ciri orang bernama Simo Gembong itu
sangat sama dengan ciri-ciri Embah
sendiri.”
"Kalau begitu apakah kau sudah
berpendapat bahwa aku gurumu ini adalah
Simo Gembong itu?!"
"Walau kenyataan memberi petunjuk
demikian, tapi saya tidak berani
mengatakan begitu Embah. Saya tidak
dapat mempercayainya ..."
"Lalu kau berpegang pada yang mana.
Pada kenyataan atau pada jalan pikiranku
sendiri?!" tanyasang guru.
"Pada kedua-duanya Embah" sahut
Mahesa.
"Kalau kau memang berpegang pada
keduanya, lalu mengapa masih belum
berhasil menemui dan membunuh manusia
Simo Gembong itu?"
"Justru disitulah saya ingin
petunjuk lebih lanjut dari Embah, agar
tidak keliru mengambil keputusan."
Embah Jagatnata memandang pada
Mahesa dengan matanya yang cuma satu.
Asap kehijauan masih mengepul keluar
dari ubun-ubun kepalanya.
"Bodoh!" bentak orang tua itu
tiba-tiba. "Kau sudah lihat kenyataan!
Kau sudah lihat kesamaan ciri-ciri
antara aku dan Simo Gembong! Apakah kau
masih belum dapat menarik kesimpulan?!"
Sesaat pemuda itu terkesiap. Lalu:
"Kalau kesimpulan itu berbunyi bahwa
manusia bernama Simo Gembong adalah
Embah sendiri, lantas mengapa Embah
menyuruh saya turun gunung untuk
mencarinya dan membunuhnya?" Pemuda ini
benar-benar tidak mengerti.
Embah Jagatnata geleng-gelengkan
kepala.
"Akan kuterangkan, akan
kuterangkan," katanya kemudian. "Selama
puluhan tahun hidup, aku telah
melewatinya dengan percuma. Bahkan
dengan menanam dosa di sepanjang hari
kehidupanku itu. Aku berilmu tinggi. Tak
ada yang menandingi. Dengan ilmuku itu
aku berbuat apa yang aku mau. Membunuh!
Merampok! Memeras! Menculik
gadis-gadis, merusak kehormatannya.
Melarikan istri orang, memperkosanya.
Bahkan aku juga membunuh anak-anak! Tak
ada satu orangpun berani turun tangan
menghukumku! Aku semakin tua dan
dosa-dosaku yang selangit tembus itu
semakin karatan! Aku ingin mati! Ingin
mampus! Biar Tuhan menghukumku diliang
kubur. Tapi ajal tak kunjung sampai.
Malaikat maut masih belum mau datang!
Satu-satunya senjata yang sanggup
memisahkan nyawaku dengan jazadku adalah
pedang Samber Nyawa. Aku tak tahu dimana
senjata sakti itu berada. Karena itu
kusuruh kau mencarinya. Dan katamu kau
telah berhasil mendapatkan pedang itu.
Dimana kau temukan pedang itu Mahesa?"
"Di sebuah lembah bernama Lembah
Maut di Pulau Mayat. Tempat kediaman Dewi
Maut......."
"Dewi Maut......Ah, ternyata dia
masih hidup!"
Paras Embah Jagatnata tampak
memutih. Mata kanannya terpejam.
Berulang kali dia menarik nafas dalam.
"Aih, ternyata dia masih hidup.
Bagaimanakah keadaannya? Apakah dia
masih mendendam diriku? Ingin sekali aku
melihatnya. Sungguh tak disangka kalau
dia masih hidup dan masih memiliki
senjata itu...." Kata-kata itu diucapkan
Embah Jagatnata dalam hati sehingga
Mahesa Kelud tidak mendengarnya.
Keinginan untuk mati kini tiba-tiba saja
memudar dalam diri sanubari si orang tua.
"Embah," kata Mahesa. "Menurut Dewi
Maut, dengan pedang itu dia membabat
puntung telinga kananmu. Apa benar....?"
Embah Jagatnata mengangguk
perlahan. Hatinya terasa perih.
"Aku membuat segudang dosa besar
padanya. Dia ingin membalaskan sakit
hati. Kami berkelahi. Saat itu, puluhan
tahun silam tingkat kepandaian kami
masih sama. Namun dia memiliki pedang
Samber Nyawa. Aku tak sanggup
menghadapinya dan melarikan diri setelah
dia menabas buntung telinga kananku. Kau
bertemu muka dengan Dewi Maut. Bagaimana
keadaannya.... Atau kau sudah
membunuhnya?" Hati orang tua ini
mendadak berdebar.
"Tidak, saya tidak membunuhnya.
Keadaannya..... Dia hidup dialam
aneh..."
"Aneh bagaimana maksudmu?"
"Embah tahu perempuan itu seusia
Embah. Tapi wajahnya dan tubuhnya tetap
muda....."
"Aku tahu! Aku tahu! Pasti dia
mendapat man-tera awet muda itu dari
gurunya si Dewi Cabut Nyawa..."
"Memang begitu menurut
pengakuannya."
Embah Jagatnata geleng-gelengkan
kepala. Hasrat ingin bertemu dengan
perempuan itu semakin menyentak. Tapi
keinginan untuk mati yang sudah
dipanteknya dihadapan muridnya apakah
harus dibatalkan begitu saja? Dia tak
bakal punya muka terhadap Mahesa!
Setelah menghela nafas dalam, orang
tua ini berkata.
"Di hari-hari tuaku ini, dimasa
hampir masuk ke liang kubur terbit rasa
penyesalan dalam hatiku. Menyesal atas
segala kejahatan dan dosa tak berampun
yang telah kuperbuat. Aku ingin
cepat-cepat memper-tanggung jawabkan
semua itu dihadapan llahi. Tapi ajal tak
kunjung datang. Hidup dan batinku
tersiksa. Kau tahu Mahesa. Kau adalah
seorang anak manusia yang menjadi korban
kebejatanku!"
"Saya tidak mengerti Embah….." kata
Mahesa ketika sang guru menghentikan
penuturannya sejenak.
"Tentu kau tak mengerti muridku.
Tabahkan hatimu," jawab Embah Jagatnata.
"Ketahuilah, ibumu seorang perempuan
cantik dan hidup bahagia bersama ayahmu.
Ketika dia baru saja melahirkan kau yang
waktu itu berusia dua bulan, ibumu
kularikan. Ayahmu kubunuh. Juga paman
serta kakekmu. Juga mertuamu. Ibumu
kubawa kesebuah pondok di rimba
belantara. Disitu kugauli, kurusak
kehormatannya selama berminggu-minggu.
Kemudian kubunuh! Bejat! Aku terlalu
bejat. Dosa semacam itu merupakan dosa
tak berampun. Dan yang seperti itu bukan
hanya sekali kulakukan, tapi puluhan
kali. Puluhan gadis, anak istri orang
jadi korbanku!"
Mahesa Kelud merasakan sekujur
tubuhnya bergetar. Darahnya memanas dan
kuduknya mendadak menjadi dingin. Saat
itu terdengar kembali suara gurunya.
"Penyesalan selalu datang
terlambat. Ketika aku tahu bahwa kau
adalah anak perempuan yang dulu aku bunuh
maka aku berniat agar kelak kaulah yang
dapat membunuhku sebagai pembalasan atas
dosa-dosaku. Waktu itu kau sudah menjadi
seorang pemuda dan di ambil jadi anak
angkat oleh satu keluarga miskin di
kampung Sariwangi. Kau diberi nama Panji
Ireng oleh mereka. Suatu malam sehabis
kau menonton wayang golek, di bawah hujan
lebat kau kuhadang di Kali Brantas. Arus
sungai melemparkan kau ke dalam air.
Dalam keadaan pingsan kau kubawa kemari,
kuambil jadi murid, kudidik dan kuajari
berbagai ilmu silat serta kesaktian.
Semua itu agar kau punya bekal untuk
mencari pedang Samber Nyawa. Hanya
senjata itulah satu-satunya yang bisa
membunuhku, Senjata lain bisa melukaiku
tapi tak sanggup mematikan!"
Embah Jagatnata diam sejenak, baru
meneruskan.
"Kau pergi dan sekarang kembali
membawa pedang sakti itu. Hari ini adalah
hari kematianku Sampai disitu kembali
orang tua itu terdiam sesaat. Di-pelupuk
matanya yang hanya satu kembali
terbayang wajah Dewi Maut dan di lubuk
hatinya dia bertanya benarkah dia
menginginkan kematiannya hari itu? "Hari
ini adalah hari kematianku," mengulang
Embah Jagatnata yang kenyataannya adalah
Simo Gembong adanya. "Hari ini hari
pembalasan. Aku tahu kematianku di
tanganmu belum tentu dapat menebus semua
dosa-dosaku. Mahesa! Keluarkan pedang
Samber Nyawa, tetakkan ke batok
kepalaku. Cincang tubuhku sampai lumat.
Biar terbalas sakit hati kematian kedua
orang tuamu. Kematian semua orang yang
telah kubunuh dan kurusak kehidupannya!
Lakukan Mahesa! Sekarang!"
Meskipun hatinya menggeram dan
darahnya seperti terbakar
mendengar penuturan Embah
Jagatnata namun sampai saat itu Mahesa
Kelud tetap duduk tak bergerak.
"Kau tunggu apa lagi Mahesa?!"
"Tak mungkin Embah, tak mungkin saya
memenuhi permintaan Embah," akhirnya
terdengar jawaban si pemuda.
"Tapi aku telah membunuh ayahmu,
ibumu. Kau tak akan berdosa jika kau
membunuhku karena aku yang tanggung
semua dosa!" ujar sang guru.
"Mohon dimaafkan Embah jika saya
berpendapat bodoh. Tak ada manusia yang
bisa menanggung dosa manusia lainnya
dihadapan Tuhan. Apapun yang telah
terjadi tak mungkin saya harus membunuh
guru . . .."
Antara guru dan murid itu terjadl
perdebatan panjang yang mungkin tak akan
ada habisnya.
Jagatnata alias Simo Gembong
kehabisan kesabarannya. Dicabutnya
sebatang tongkat kecil dari pinggangnya
lalu berdiri seraya berkata: "Mari kita
keluar Aku tahu hatimu. Kau memang
kesatria murni. Keluar kan pedang Samber
Nyawa. Mari kita bertempur sampai kau
berkesempatan membunuhku secara
kesatria!"
Orang tua itu mendahului melangkah
ke luar pondok. Setelah lama menunggu
baru Mahesa Kelud menyusul.
"Cabut pedang Samber Nyawa itu!"
teriak Simo Gembong.
Mahesa menggerakkan tangannya. Tapi
yang dicabutnya bukan pedang Samber
Nyawa melainkan sebilah pedang merah.
Pedang Dewa. Melihat sosok senjata
mustika itu Simo Gembong menyeringai.
"Pedang Dewa," katanya mengenali.
"Pedang bagus. Merupakan satu dari
beberapa senjata langka dunia
persilatan. Tentu kau telah berguru pada
Suara Tanpa Rupa. Nasibmu baik Mahesa.
Tapi ketahuilah senjata itu hanya bisa
melukaiku. Tak dapat membunuhku.
Sekalipun kau melakukan seribu tusukkan
ke sekujur tubuhku!"
Sesaat sang murid berdiri bimbang.
"Kalau kau tak percaya mari kita
buktikan!" kata Embah Jagatnata.
Tubuhnya berkelebat ke depan.
Tongkat di tangankanan dipukulkan. Meski
benda ini kecil saja tapi derunya laksana
badai, menyambar ke arah leher Mahesa.
Pemuda ini cepat berkelit namun tak mau
membalas. Tongkat membalik, menggempur
ke arah dada, letak peredaran darah
besar. Ketika pemuda ini mengelak lagi
tahu-tahu terdengar suara berdentrang.
Pedang Dewa terpukul lepas oleh tongkat
sang guru! Sebelum senjata ini jatuh ke
tanah Mahesa cepat-cepat menangkap
hulunya lalu pemuda ini tegak termangu.
"Kau lihat sendiri muridku betapa
tidak berguna-nya pedang sakti itu.
Keluarkan pedang Samber Nyawa…..!"
Mahesa masukkan kembali Pedang Dewa
ke dalam sarung dibalik punggung. Di
tangan kanannya kemudian terlihat sinar
kuning terang. Ternyata pemuda ini telah
keluarkan Keris Ular Emas yang
didapatnya dari Dewi Ular.
"Aih, kau benar-benar bernasib baik
muridku. Tidak gampang mendapatkan Keris
Ular Emas itu! Senjata sakti yang sanggup
mematikan segala macam racun. Namun
untukku tetap tak ada manfaatnya.
Lihat…..!"
Tubuh Simo Gembong seperti seekor
burung elang. Melayang ke udara. Kakinya
menggempur lebih dulu. Mahesa meskipun
pegang keris sakti di tangan namun tak
berani memapaki serangan, mengambil
sikap mengelak. Tongkat kecil di tangan
sang guru menusuk ke kepala itu
sebenarnya adalah bayangan saja dari
tongkat yang asli. Sementara badan
tongkat yang asli meluncur deras ke bawah
dan plak!
Keris Ular Emas terlepas mental.
Sebelum jatuh kembali Mahesa cepat
menyambuti dan menyimpannya. Pemuda ini
berpikir-pikir, apakah benar Pedang Dewa
dan Keris Ular Emas itu tidak sanggup
menandingi sang guru. Apakah bukan
karena dia mengambil sikap bertahan dan
mengelak, sama sekali tidak mau balas
menyerang?
"Masih juga kau belum mau keluarkan
pedang Samber Nyawa itu Mahesa?!"
Perlahan-lahan Mahesa gerakkan
tangannya ke pinggang kiri. Sebuah benda
hitam tergulung seperti ikat pinggang
kini berada di tangan kanannya. Begitu
gulungan dibuka maka benda itu berubah
menjadi sebilah pedang yang memancarkan
sinar hitam legam!
Mata kanan Simo Gembong yang merah
membuka lebar, memandang tak berkedip
pada senjata di tangan Mahesa, kemudian
sinar matanya yang galak buas meredup dan
akhirnya terpejam.
"Senjata itu....." desisnya dalam
hati. "Pedang itu…..Palsu! Ternyata
palsu, bukan yang asli. Bentuk, sinarnya
memang hampir sama.....Tapi palsu.
Muridku telah tertipu. Hari
kematianku tak akan sampai.....!" Dan
dilubuk hati Simo Gembong kembali
menyusup perasaan yang ingin menolak
kematian. Dipelupuk matanya kembali
terbayang. wajah Dewi Maut. "Bagaimana
ini bisa terjadi? Bagaimana Mahesa hanya
dapatkan pedang yang palsu! Dan pemuda
itu agaknya tidak mengetahui hal ini.
Kasihan muridku ... Tapi aku tak ingin
mengecewakannya. Aku tak ingin membuat
dia merasa sia-sia ....!"
Perlahan-lahan mata kanan itu
membuka kembali.
Simo Gembong angsurkan kepalanya ke
arah Mahesa.
"Ayo Mahesa! Tebas leherku! Bacok
kepalaku! Cepat!"
Mahesa tak bergerak.
"Mahesa! Kau dengar perintahku?!"
Suara Simo Gembong menggeledek. Puncak
Gunung Kelud laksana bergetar.
"Tidak guru! Saya tidak bisa
melakukannya!? Kata Mahesa kemudian.
Ketika pemuda itu masih tak mau
bergerak maka menyeranglah Simo Gembong.
Tongkat di tangan sang guru berubah
laksana puluhan banyaknya dan menyerang
keberbagai bagian tubuh si pemuda hingga
mau mau Mahesa harus bertindak cepat
selamatkan diri. Sekali sekali dia
terpaksa pergunakan pedang hitam un tuk
membentengi diri. Kesempatan ini sengaia
diper guna kan Simo Gembong untuk
mengangsurkan tongkat-nya dalam gerakan
lebih perlahan hingga tongkat itu
terbabat putus oleh pedang hitam.
"Ayo Mahesa. Bacokkan pedangmu!
Tusukkan senjata itu!"
Tetap saja Mahesa mengambil sikap
mengelak dan mempertahankan diri.
Setelah bertempur puluhan jurus
terdengar Simo Gembong menggembor.
Bagaimanapun memaksa muridnya itu tak
akan mau membunuhnya. Tahu betul akan hal
ini si orang tua buang tongkatnya yang
buntung. Matanya tampak berapi-api,
rahangnya menggembung. Tiba-tiba dia
melompat ke muka, menerkam seperti
seekor harimau lapar. Kedua tangannya
cepat sekali mencekal lengan kanan
Mahesa Kelud. Sebelum pemuda ini tahu apa
yang hendak dilakukan gurunya, dengan
kekuatan luar biasa Simo Gembong tarik
tangan muridnya yang memegang pedang
kemuka, ke arah dadanya dan eras! Ujung
pedang Samber Nyawa terhunjam di
dadanya!
"Mahesa... Selamat tinggal
muridku!"
Mahesa tersentak kaget.
Dia lepaskan pegangan pada hulu
pedang dan cepat merangkul tubuh gurunya
sebelum jatuh terbanting ke tanah.
"Guru .... Embah .... Mengapa kau
senekad itu...." ujar Mahesa
terbata-bata. Sosok tubuh yang tak
bergerak dan bermandikan darah itu
dibopongnya ke dalam pondok.
dibaringkannya diatas balai-balai kayu.
Dipandanginya jenazah sang guru dengan
mata berkaca-kaca.
"Guru, Tuhan sendiri belum mau
menjatuhkan hukuman padamu. Mengapa kau
mengambil keputusan sendiri . . . .? Aku
memaafkan apapun yang telah kau lakukan
terhadap kedua orang tuaku. Semoga semua
orang mengambil sikap begitu...."
Kata-kata itu meluncur tersendat-sendat
dari mulut Mahesa. Perlahan-lahan dia
membalikkan tubuh, melangkah keluar
pondok.
Udara tampak mendung. Dalam
beberapa waktu lagi hujan akan turun.
Sebelum hujan turun sebaiknya dia
menyempurnakan jenazah gurunya. Sang
guru yang telah membunuh ayah dan ibunya,
yang telah membantai kakek serta
mertuanya. Guru yang telah memusnahkan
kehidupan keluarganya, tapi kepada siapa
dia tidak menaruh dendam kesumat barang
secuilpun.
Mahesa mulai menggali tanah di depan
pondok. Menyiapkan kubur untuk Embah
Jagatnata alias Simo Gembong. Setelah
lubang yang digali dirasakan cukup dalam
maka diapun masuk ke dalam pondok untuk
menjemput jenazah gurunya. Tapi baru
sampai diambang pintu, kedua kakinya
laksana dipantek. Kedua matanya
membeliak besar.
Jenazah sang guru yang tadi
dibaringkan diatas balai-balai kayu,
yang masih ditancapi pedang Samber Nyawa
lenyap!
"Embah!" seru Mahesa
Pemuda itu memeriksa seluruh pondok
kecil itu. Membalikkan balai-balai kayu.
Tapi jenazah sang guru bersama pedang
hitam tetap tidak ditemuinya.
"Apa yang terjadi?!" pikir Mahesa
sambil tegak tersandar ke dinding
pondok. "Seseorang mencuri mayat dan
pedang itu... ?"
Mahesa lari keluar pondok.
Menyelidik. Sama sekali tak ada
tanda-tanda kemunculan seseorang
dipuncak gunung itu. Menurutnya tak
mungkin ada seseorang sanggup mencuri
mayat dan pedang itu tanpa diketahuinya.
Setan sekalipun tak bakal sanggup
melakukannya! Tapi itulah kenyataan yang
terjadi. Pemuda itu duduk terperangah
ditepi lobang yang baru digalinya.
* * *
Apakah sebenarnya yang terjadi?
Sesaat sesudah tubuhnya dibaringkan
diatas balai-balai dan ditinggal keluar
pondok oleh Mahesa, mata kanan Simo
Gembong membuka. Kedua tangannya
bergerak mencabut pedang yang menancap
di dadanya. Darah masih mengucur deras
namun dengan melakukan beberapa kali
totokan darah itu serta merta berhenti
mengalir. Seperti orang baru bangun
tidur saja, manusia sakti ini sambil
memegang gulungan pedang di tangan kanan
melangkah ke pintu, keluar dari pondok
tanpa suara, tanpa diketahui oleh Mahesa
yang sibuk menggali lubang.
Seperti dikatakan sendiri oleh
Embah Jagatnata alias Simo Gembong,
berbagai senjata hanya bisa melukainya.
Tapi tak bisa membunuhnya. Satu-satunya
yang sanggup mematikannya ialah pedang
Samber Nyawa. Samber Nyawa yang asli.
Bukan yang palsu yang didapat Mahesa dan
yang tadi menusuk dadanya
Mahesa Kelud duduk termenung
ditikungan Kali Brantas,
dibawah pohon-pohon bambu.
Berbagai pikiran menyamak hati dan
kepalanya. Sampai saat itu masih belum
tersingkap apa sebenarnya yang terjadi
dengan jenazah gurunya Embah Jagatnata
alias Simo Gembong. Dalam pada itu dia
teringat pula pada Wulansari, istri yang
ditinggalkannya di puncak Gunung Muria.
Sangat rindu dia pada sang istri dan
ingin sekali cepat-cepat kembali ke
puncak Muria. Namun sebelum kabut
lenyapnya jenazah Embah Jagatnata dapat
disingkapkan, tak mungkin baginya
menemui Wulansari. Disamping itu
urusannya dengan Kemaladewi belum pula
selesai. Benarkah bayi yang ditemuinya
di Ujung Kulon itu anak hasil hubungannya
dengan gadis itu? Hubungan akibat
terjebak oleh manusia jahat Iblis
Buntung alias Sitaraga?
Dan terngiang ucapan Kemaladewi
ditelinga Mahesa sebelum gadis itu lari
bersama Raja Lutung dan bayinya.
"Dengar baik-baik, kelak bayi itu,
anakmu sendiri nanti di satu hari akan
membunuhmul Ingat itu! Anak sendiri yang
akan membunuh ayahnya!"
Mahesa Kelud usap wajahnya beberapa
kali. Kenapa jalan hidupnya penuh liku
seperti ini? Kenapa di dia tidak mati
tenggelam saja di Kali Brantas tempo
hari?! Pemuda itu seperti menyesali
nasib sendiri. Menyesali kenapa dia
harus lahir kedunia kalau hanya akan
menghadapi persoalan hidup yang begini
rumit.
"Orang muda, kesusahan apakah yang
membuat kau duduk termenung di tepi Kali
Brantas ini....?"
Tiba-tiba satu suara datang
menegur.
Astaga! Mahesa Kelud terkejut.
Saking begitu dalamnya dia tenggelam
dalam persoalan yang dihadapi sampai
tidak mendengar kedatangan orang.
Berpaling ke kiri Mahesa melihat seorang
lelaki berpakaian biru tegak memandang
padanya sambil tersenyum. Orang itu
memakai caping bambu yang lebar hingga
sebagian mukanya tertutup.
"Siapa kau, saudara?" tanya Mahesa.
Kembali orang itu tersenyum.
"Seperti kau, akupun kebetulan lewat
disini dan melihatmu duduk termenung.
Banyak persoalan rupanya?"
"Itu bukan urusanmu ...."
"Ah . . ah . . .! Tentu saja bukan
urusanku. Tapi ketahuilah. Aku seorang
juru ramal. Meski miskin tapi pandai
meramal
Mahesa diam saja seperti tak
perduli.
"Apakah kau tak mau diramal?"
Mahesa tetap diam. Malah sebenarnya
hendak berdiri dan melanjutkan
perjalanan tinggalkan orang itu.
"Apakah kau tidak ingin mengetahui
gambaran kehidupanmu dimasa datang?
Langkah, rezeki, jodoh dan maut.. ..?"
tanya orang yang mengaku peramal tadi.
"Empat hal itu hanya Tuhan yang
tahu!" kata Mahesa akhimya.
Sang peramal tertawa.
"Pengetahuan Tuhan memang sejagat
luasnya. Pengetahuan manusia tidak ada
sepersejutanya! Tapi apakah itu berarti
Tuhan menginginkan kita ummat manusia
menjadi orang bodoh dan hidup tanpa
usaha? Dengan belajar kita bisa
menemukan berbagai rahasia dalam
kehidupan ini. Termasuk pengetahuan
tentang masa depan kita. Apalagi kulihat
dirimu seperti diselimuti banyak
kesulitan. Jika kau tahu langkah masa
depanmu bukankah berarti kau bisa
melakukan sesuatu. Mencegah hal-hal yang
tak diingini....?"
Mahesa terdiam. Dalam hati dia
membenarkan juga ucapan juru ramal itu.
"Nah, kau tentu mau kuramal. Ulurkan
tangan kirimu. Kembangkan telapak
tanganmu ....*"
Perlahan-lahan Mahesa ulurkan
tangan kirinya dengan telapak dibuka
lebar-lebar.
Si juru ramal pegang tangan kiri
Mahesa dan men-dekatkan matanya seperti
meneliti guratan-guratan yang ada di
telapak tangan itu.
Tiba-tiba cepat sekali sang juru
ramal tekan urat besar di pergelangan
kiri Mahesa hingga pemuda ini
ire-rasakan sekujur tubuhnya seperti
ditusuk jarum. Dan belum sempat dia
berbuat sesuatu, tangan kanan orang
didepannya menyelinap menusuk ke dada
kiri. Detik itu juga tubuh pemuda ini
kaku tegang tak bisa bergerak tak dapat
lagi bersuara!
Mahesa hanya bisa merutuk
kebodohannya sendiri. Sebetulnya sejak
semula dia sudah curiga terhadap orang
tak dikenal yang muncul secara tiba-tiba
itu. Namun kini semua terlambat sudah.
"Siapa sebenarnya setan alas
pembongkong ini?!" tanya Mahesa dalam
hati.
Kelak pertanyaannya itu cukup lama
baru bias terjawab.
Si juru ramal bertepuk tiga kali.
Dari balik tikungan sungai muncul sebuah
gerobak ditarik seekor kuda coklat.
"Garda! Tolong aku menggotong orang
ini ke atas gerobak!" kata juru ramal
pada kusir kereta. Keduanya kemudian
menggotong tubuh Mahesa, dinaikkan ke
atas gerobak. Bagian atas gerobak itu
kemudian ditutup dengan kain lebar tebal
hingga ketika gerobak mulai bergerak
Mahesa tidak tahu kejurusan mana dia
dibawa. Saking jauhnya perjalanan pemuda
ini sempat tertidur diatas gerobak yang
dipacu kencang itu. Selama perjalanan
hanya dua kali kendaraan itu berhenti.
Dan selama itu dia sama sekali tidak
diberi minum maupun makan!
Ketika akhirnya gerobak itu
berhenti dan kain penutup dibuka, Mahesa
melihat langit gelap diatasnya tanda
saat itu malam hari. Kusir gerobak
menggotong tubuhnya bersama lelaki juru
ramal lalu membawanya masuk ke dalam
sebuah gedung. Mahesa terkejut ketika
dia kemudian mengenali gedung itu adalah
tempat kediaman bekas Adipati Suto
Nyamat yang tewas di tangan Wulandari.
Berarti dia berada di Madiun!
Mahesa dimasukkan ke dalam sebuah
kamar. Tak lama kemudian lelaki juru
ramal itu muncul kembali. Dia tegak
bertolak pinggang. Sesaat kemudian dia
membungkuk menggeledah tubuh Mahesa
hingga akhirnya menemukan Pedang Dewa
dan Keris Ular Emas.
"Senjata-senjata mustika....."
katanya tersenyum puas. Kedua senjata
itu kemudian dimasukkannya kedalam
sebuah lemari, ditutup dengan tumpukan
pakaian. Lalu si juru ramal kembali
mendekati Mahesa dan kali ini dia
bergerak melepaskan totokan jalan suara
pemuda itu. Begitu jalan suaranya pulih
Mahesa segera membuka mulut.
"Bagus! Jadi kau ternyata juru ramal
palsu. Dengar, jika kau berani mengambil
pedang dan keris itu, nyawamu tak akan
kuampuni!" Sang juru ramal tertawa.
Aneh!
Suara tawanya bukan lagi suara tawa
lelaki. Tapi suara tawa perempuan. Merdu
nyaring!
"Kau sendiri akan segera mampus!
Bagaimana bisa mengampuni nyawaku?!"
"Keparat! Siapa kau sebenarnya?!"
bentak Mahesa.
"Siapa aku? Sebentar lagi kau akan
lihat!"
Sang juru ramal palsu buka topi
capingnya dan lemparkan ke sudut kamar.
Rambutnya yang putih dijambaknya. Kini
kelihatan rambut lain dibawah rambut itu
dan berwarna hitam berkilat. Lalu dia
tarik lepas selembar kulit tipis dari
wajahnya. Ternyata wajah dibalik kulit
itu adalah wajah seorang gadis cantik
jelita.
"Kau!" seru Mahesa kaget.
Si gadis tersenyum.
"Sekarang kau tahu siapa aku!"
"Kau ... kau Retno! Puteri tunggal
Suto Nyamat!"
"Tepat sekali!" kata sang dara.
"Kenapa kau lakukan ini? Aku tidak
ada permusuhan denganmu!"
Sang dara tertawa panjang.
Tiba-tiba wajahnya yang cantik tampak
berubah buas.
"Tidak ada permusuhan katamu?
Ngacok! Dusta besar! Kau punya andil
segudang atas kematian ayahku!"
"Dia memang pantas mati sesuai
dengan dosanya yang setumpuk langit!
Lagi pula sahabatku yang membunuhnya!"
"Tidak sangka kau terlalu pengecut
mengakui keterlibatanmu! Apapun dalihmu
kematian ayahku menjadi tanggung
jawabmu! Sayang kawanmu yang perempuan
itu ... siapa namanya? Wulansari? Sayang
dia tak ada bersamamu. Tapi tak mengapa.
Lain waktu aku pasti berhasil
menangkapnya!"
"Apa yang hendak kau lakukan
terhadapku?"" tanya Mahesa.
"Coba kau terka. Atau kau ada usul
ingin mampus cara bagaimana?"
Mahesa merasakan tengkuknya dingin.
Dalam keadaan tertotok tak berdaya
seperti itu mudah sekali bagi Retno untuk
membunuhnya. Dan kalau memang nasibnya
harus mati di tangan gadis itu, diapun
tidak takut.
"Kalau kau memang ingin membunuhku,
lakukan dengan cepat!" kata Mahesa.
"Sebetulnya memang itu niatku sejak
kau dan kawanmu membunuh ayah. Tapi kalau
aku bisa mendapatkan keuntungan dari
kematianmu mengapa tidak kulakukan...?"
"Apa maksudmu?!" tanya Mahesa
penasaran.
"Aku akan menjual nyawamu pada
hartawan Prajadika!" sahut puteri Suto
Nyamat.
Hartawan Prajadika. Siapa manusia
ini. Mahesa coba mengingat-ingat. Dan
dia ingat. Hartawan itu seorang
terkemuka di Kotaraja yang dekat dengan
kalangan istana. Putera hartawan
tersebut, yang bernama Prajakuncara
adalah murid Niliman Toteng, seorang
tokoh silat sesat berkepandaian tinggi
bergelar Iblis Jangkung. Prajakuncara
mati di tangan Mahesa, dalam kamarnya
ketika hendak memperkosa Wulansari.
Kalau begitu sang hartawan mendendam
setengah mati terhadapnya dan inginkan
jiwanya sebagai pengganti kematian
puteranya. Kini Mahesa mengetahui apa
yang ada dalam benak Retno dan menjadi
latar belakang perbuatannya saat itu.
Di pintu terdengar ketukan.
"Masuk!" kata Retno tanpa berpaling
dari Mahesa yang terus diawasinya.
Pintu terbuka lalu tertutup
kembali. Dua oranr berpakaian serba biru
berbadan tinggi kekar masuk. Mereka
adalah hulubalang istana kelas tiga yang
saat itu mengenakan pakaian preman dan
menjalankan perintah seorang pejabat
tinggi istana untuk kepentingan hartawan
Prajadika.
"Kalian boleh membawa orang ini.
Tapi sesuai perjanjian serahkan dulu
uang imbalan!" berkata puteri Suto
Nyamat.
"Jangan kawatir den ayu Retno. Uang
sudah kami siapkan!" Lalu salah seorang
dari dua hulubalang itu mengeluarkan
sebuah kantong kain dari balik pakaian
birunya. Terdengar suara
bergemerincing. Retno menerima dan
memeriksa isi kantong itu. Dia tersenyum
puas dan melemparkan kantong itu ke dalam
lemari.
"Perjanjian dipenuhi. Silahkan bawa
orang itu."
"Den ayu Retno. Ada satu hal yang
ingin kami tanyakan….." berkata
hulubalang disebelah kanan.
"Tanyakan cepat!"
"Ketika kau pertama kali menangkap
pemuda ini, apakah kau juga menemui
sesuatu di tubuhnya? Menurut pengetahuan
kami dia memiliki lebih dari satu senjata
mustika ...."
"Soal senjata tidak termasuk dalam
perjanjian. Raden Mas Prajadika hanya
menginginkan nyawanya. Bukan yang
lain-lain. Lagi pula ketika kuperiksa,
aku tidak menemukan apa-apa padanya,"
menjelaskan Retno.
"Kalau memang begitu baiklah. Kami
akan membawanya dan minta diri...."
Lalu tubuh Mahesa digotong dan
dinaikkan ke atas sebuah kereta. Malam
itu juga dia dibawa ke gedung kediaman
Prajadika di Kotaraja.
Mahesa tidak takut apapun yang bakal
terjadi atas dirinya. Yang dicemaskannya
adalah Pedang Dewa dan Keris Ular Emas
yang telah dirampas oleh puteri Suto
Nyamat. Kalau senjata itu sampai jatuh ke
tangan manusia-manusia jahat tak
bertanggung jawab atau tokoh silat sesat
lainnya, maka akan celakalah dunia
persilatan!
Disamping itu pemuda ini juga merasa
heran, dari mana Retno mendapat
kepandaian menyamar dan menotok.
Setahunya gadis itu bukanlah seorang
yang pernah mendapat pengajaran ilmu
silat.
Kita tinggalkan dulu Mahesa
Kelud yang mengalami nasib
sial. Kita ikuti apa yang
kemudian dilakukan Simo Gembong alias
Embah Jagatnata begitu dia berhasil
menyelinap keluar dari pondok di puncak
Gunung Kelud.
Orang tua berwajah angker ini lari
secepat angin menuruni gunung ke arah
timur. Dia sama sekali tidak merasakan
perihnya luka bekas tusukan pedang
Samber Nyawa palsu di dadanya. Sepanjang
berlari senantiasa terbayang olehnya
wajah Dewi Maut, apapun yang terjadi dia
harus menemui perempuan itu. Ada dua
maksud terkandung dalam hati orang tua
ini. Pertama untuk menjajagi kemungkinan
hidup bersama. Selama hidupnya manusia
ini telah puluhan kali menculik anak
gadis dan istri orang. Namun harus
diakuinya Dewi Maut adalah perempuan
paling cantik yang pernah ditemui dan
kepada siapa sebenarnya hatinya
terpikat. Siapa tahu kini perempuan
itu-yang kabarnya awet muda— dapat
dibujuk melupakan kejadian masa lalu dan
hidup bersama. Kawin jadi, tanpa
nikahpun tak jadi apa!
Tujuan kedua ialah jika dia tidak
berhasil mem-bujuk Dewi Maut maka dia
akan minta agar perempuan itu
membunuhnya dengan pedang Samber Nyawa.
Karena jika dia memberikan pedang yang
palsu pada Mahesa berarti dia memiliki
pedang yang asli.
Namun setelah sekian tahun
mengucilkan diri di puncak Gunung Kelud,
tidak lagi mencampuri segala macam
urusan duniawi, kini setelah turun dari
puncak gunung itu memasuki kehidupan
dunia nyata apakah dia tidak akan
terpikat lagi untuk melakukan kejahatan
dan kebejatan seperti dimasa mudanya?
Disamping itu sekali dia diketahui
muncul kembali dalam dunia persilatan,
apakah sekian banyak manusia yang pernah
disakitinya dan mendendam sampai mati
akan berdiam diri saja? Hal ini tidak
pernah terpfkirkan oleh Simo Gembong.
Dia lari terus menuju ke timur. Tujuannya
adalah Pulau Mayat.
Siang itu, setelah dua hari dia
meninggalkan Gunung Kelud, Simo Gembong
sampai di Gucialit, sebuah desa subur di
kaki tenggara pegunungan Tengger.
Dimulut jalan yang menuju ke desa
perhatiannya terbagi pada serombongan
orang yang berpakaian serba bagus. Di
sebelah depan terdapat lima orang
membawa bendera-bendera besar..
Ke lima orang ini diikuti oleh
serombongan penabuh rebana dan alat-alat
bebunyian lainnya termasuk sebuah gong
besar. Disebelah belakang enam orang
lelaki bertubuh tegap memanggul sebuah
tandu yang dihias aneka warna gaba-gaba.
Dikiri kanan tandu dan dibagian
belakangnya melangkah selusin lelaki
bersenjata golok terhunus. Rupanya
mereka bertindak sebagai pengawal tandu.
Lalu menyusul beberapa orang lelaki dan
prempuan. Yang lelaki berpakaian bagus
rapi dan gagah, menyisipkan keris di
pinggang sedang para perempuan berdandan
cantik lengkap dengan perhiasan.
Perhatian Simo Gembong tidak
tertuju pada perempuan-perempuan cantik
yang melangkah dibarisan belakang itu.
Matanya yang hanya satu itu senantiasa
mengarah pada tandu. Di atas tandu yang
ditutup dengan kain merah muda tipis itu
duduk seorang gadis dalam pakaian
pengantin yang gemerlapan. Wajahnya
berseri-seri. Sebentar lagi dia akan
sampai di rumah pengantin pria, duduk
disandingkan dengan pemuda yang hari itu
bakal menjadi suaminya.
Simo Gembong beberapa kali mengusap
mukanya. Setan mulai merasuk hatinya.
Dicobanya menghindar bujukan iblis
dengan membayangkan Dewi Maut kekasihnya
dimasa muda. Namun yang lebih nyata
dihadapannya jauh lebih menawan. Tak
dapat lagi menahan goncangan jiwanya
yang selama ini tidak pernah menyentuh
kehidupan duniawi maka orang tua inipun
memapasi rombongan tersebut di sebelah
tengah, langsung melompat ke atas tandu.
Enam orang pemandu tandu tersentak
kaget ketika melihat satu bayangan cepat
sekali menyambar tubuh pengantin. Tandu
terjungkir balik. Sang pengantin
terdengar memekik. Dua belas pengawal
bertindak cepat. Pemimpinnya membentak
garang.
"Penculik keparat! Lepaskan
pengantin!"
Simo Gembong menyeringai. Mulutnya
komat kamit. Tanpa berkata apa-apa dia
berkelebat cepat tinggalkan tempat itu
yang serta merta menjadi gaduh. Tiga
pengawal di tambah pemimpinnya tadi
berusaha mencegah sambil membabatkan
golok masing-masing ke bagian bawah
tubuh Simo Gembong. Mereka tak berani
menghantam sebelah atas karena takut
akan mencelakai pengantin perempuan.
Empat serangan itu dielakkan Simo
Gembong dengan sangat mudah. Sebelum
lenyap dia masih sempat menghadiahkan
tumitnya ke dada pemimpin pengawal
hingga orang ini terhempas roboh muntah
darah!
Sejak peristiwa penculikan
pengantin di Gucialit itu mata dan
telinga rimba persilatan tiba-tiba saja
menjadi terbuka. Ciri-ciri si penculik
yang disebar dan dituturkan dari mulut ke
mulut jelas seperti ciri-ciri Simo
Gembong. Benarkah manusia ini muncul
kembali setelah sekian lama tak pernah
terdengar lagi kabar beritanya? Diduga
sudah mati benarkah dia masih hidup? Dan
kini muncul dengan membawa kejahatan
bejad masa lalunya? Mulai lagi menebar
angkara murka, menculik dan membunuh?!
Tampaknya bencana itulah yang bakal
melanda dunia persilatan kembali.
Buktinya korban pertama telah jatuh!
* * *
Hujan lebat baru saja berhenti. Di
dalam sebuah rumah kayu bertingkat yang
terletak di lereng sebuah bukit, di
tingkat atas dud.uk tiga orang tua
mengelilingi sebuah meja. Di atas meja
ada lampu minyak yang berkelap kelip
setiap kali angin datang meniupnya.
Lelaki yang duduk di ujung meja
sebelah kanan mengenakan pakaian serba
putih dan memakai sorban. Namanya Ki
Ampel Sampang. Dia adalah seorang
pengurus Pesantren Megasuryo yang
terletak di Sampang, Madura.
Di sebelah kirinya duduk kakek tua
berbadan kurus, mengenakan baju hitam
lengan panjang dan celana hitam sebatas
betis juga berwarna hitam. Dia memakai
destar hitam di kepalanya. Sepuluh jari
tangannya berkuku panjang dan berwarna
hitam legam. Orang tua inidikenal dengan
julukan Kelabang Hitam.
Lelaki ketiga yang duduk di hadapan
Kelabang Hitam memiliki wajah aneh
menyeramkan. Kepalanya seperti tidak
berdaging lagi dan tanpa rambut sama
sekali. Wajahnya hampir tidak ada beda
dengan sebuah tengkorak. Sepasang
matanya cekung. Dia mengenakan jubah
biru gelap. Di pinggangnya melilit
sebuah ikat pinggang besar terbuat dari
bangkai ular Sanca. Saat itu dialah yang
menjadi pimpinan dalam pembicaraan
karena diantara mereka bertiga memang
dialah yang di-ketahui paling tinggi
ilmu kepandaiannya. Namanya tak ada yang
tahu tapi julukannya menggetarkan rimba
persilatan yakni Datuk Ular Muka
Tengkorak.
"Jika kalian berdua setuju, kita
akan coba menghadang iblis bermata satu
itu di Lembah Suket. Karena jika benar
dia menuju ke timur pasti dia ingin
mencari kekasih la many a si Dewi Maut.
Dan pasti dia akan melewati Lembah itu.
Lembah yang penuh kenangan dimasa
mudanya
"Datuk Ular," Kelabang Hitam ganti
bicara. "Aku tahu pengetahuanmu tentang
tindak tanduk Simo Gembong luas sekali.
Hanya dapatkah kau menerang-kan apa
alasanmu bahwa dia pasti menuju ke
timur?"
"Aku menyokong pertanyaan sahabat
Datuk Ular," ikut berkata Ki Ampel
Sampang. "Lagi pula bukankah markas
tempat kediaman Dewi Maut di Pulau Mayat
diobrak abrik seorang pendekar muda dua
bulan berselang?"
Datuk Ular Muka Tengkorak
manggut-manggut beberapa kali. "Kalian
benar. Kita harus memperguna-kan
perhitungan yang matang. Agar tidak
membuang tenaga dan waktu." Sesaat dia
mengusap muka teng-koraknya lalu
meneruskan. "Turut penyelidikan, dari
salah seorang anak buah Dewi Maut yang
melarikan diri setelah kediamannya
dihancur luluhkan, ternyata Dewi Maut
tidak mati. Perempuan itu masih hidup.
Berarti pula dia akan menuju ke timur.
Apalagi sudah ada kenyataan bahwa saat
ini dia berada di antara Gunung Kelud dan
Lembah Suket. Terus terang segala
sesuatunya diatas perhitungan segala
kemungkinan. Kalau kita tidak berusaha
atau melakukan sesuatu, kemungkinan itu
tidak bakal menjadi kenyataan. Dan
berarti tak ada sesuatupun yang bisa kita
lakukan untuk mencegah angkara murka
Simo Gembong. Atau apakah kita harus
menunggu sampai banyak korban
berjatuhan?"
Tiba-tiba diluar sana terdengar
suara tawa mem-bahak membahana!
Para sahabat! Jangan lupakan aku!"
Bersamaan dengan lenyapnya ucapan
itu pintu ditingkat atas bangunan
terpentang lebar. Sesosok tubuh berjubah
merah berkelebat masuk. Jubahnya penuh
dengan gambar bunga-bunga yang semuanya
berwarna merah. Tiga orang tua yang ada
dalam ruangan, kalau tadi tersentak
kaget dan bersiap waspada, kini mereka
menarik nafas lega. Ternyata yang datang
adalah kawan sealiran.
"Pendekar Kembang Merah!" seru
Kelabang Hitam. "Kami gembira kau
muncul!"
"Makin banyak jumlah kita makin
baik!" kata Ki Ampel Sampang.
Datuk Ular Muka Tengkofak menarik
kursi dihadapannya dan mempersilahkan
Pendekar Kembang Merah duduk.
"Para sahabat, angin membawa kabar
pertemuan' ini padaku. Karenanya jangan
jengkel kalau aku datang tanpa
diundang!" berkata Pendekar Kembang
Merah.
Ki Ampel Sampang tersenyum. "Untuk
melakukan sesuatu kebaikan mengapa harus
menunggu undangan? Mari kita duduk dan
membicarakan masalah yang tengah kita
hadapi."
Maka dengan kedatangan anggota
baru, pertemuan itu diulang dan digodok
kembali. Keempatnya sepakat untuk
menghadang Simo Gembong di Lembah Suket.
Selesai perundingan Ki Ampel Sampang
berdiri.
"Kawan-kawan, aku mohon diri lebih
dulu. Ada seorang sahabat lama yang harus
kusambangi sebelum berangkat ke Suket.
Sampai bertemu pada hari yang ditentukan
disana….." Pengurus Pesantren Megasuryo
ini menjura lalu tinggalkan ruangan.
Tiga orang lainnya menjelang pagi baru
meinggalkan tempat tersebut.
LEMBAH SUKET
Lembah ini terletak antara kaki
Gunung Suket dan Gunung Raung.
Merupakan lembah subur tetapi
hampir tak pernah didatangi manusia,
apalagi untuk didiami. Disini, ditepi
sebuah telaga berair aneka warna akibat
pantulan pepohonan dan langit biru
diatasnya, terdapat sebuah bangunan kayu
yang sudah lapuk dimakan usia. Atapnya
banyak yang bocor. Dinding dan lantainya
banyak yang sudah dimakan bubuk atau
rayap. Daun jendela dan daun pintu pada
miring hampir tanggal. Bangunan yang
diselimuti debu dan sarang laba-laba itu
meskipun kecil tapi tampak angker.
Tiga orang itu berlindung dibalik
semak belukar rapat di tepi telaga di
seberang rumah kayu. Mereka tak banyak
bicara. Kalaupun harus bicara maka
mereka harus berbisik-bisik. Sesekali
terdengar burung berkicau atau gerakan
binatang melata yang menggeresek semak
belukar. Tiga pasang mata mereka tiada
henti-hentinya memandang ke arah
bangunan. Mereka berada di tempat itu
sejak dinihari tadi. Dan kini hari telah
pagi, matahari mulai naik.
Sampai matahari tinggi menjelang
tengah hari apa yang mereka tunggu masih
belum tampak. Merekaseperti mulai
gelisah. Salah seorang diantara
ketiganya yakni Pendekar Kembang Merah
berbisik: "Manusia angkara murka itu
belum muncul. Tetapi adalah mengherankan
mengapa sahabat kita Ki Ampel Sampang
masih belum datang?"
Datuk Ular Muka Tengkorak
sebenarnya sudah sejak tadi menindih
rasa was-wasnya. Bukan kawatir karena
Simo Gembong masih belum muncul, tapi
was-was karena Ki Ampel Sampang tidak
kunjung datang. Sebelum berpisah malam
itu, Ki Ampel Sampang me-ngatakan akan
menyambangi seorang sahabat lama. Kalau
hanya sekedar menyambangi, pasti saat
itu dia sudah sampai di Lembah Suket. Dia
memandang ke arah rumah kayu di seberang
sana. Dulu di rumah itulah Simo Gembong
pernah hidup bercinta mesra dengan Dewi
Maut. Sebagaimana sifat dan kebiasaan
Simo Gembong, cinta mesra itu hanya
tipuan busuk belaka. Setelah bosan maka
ditinggalkannya Dewi Maut
mentah-mentah. Dicari kian kemari
akhirnya Dewi Maut berhasil menemukan
Simo Gembong. Keduanya berkelahi puluhan
jurus. Dengan pedang Samber Nyawa di
tangan lawan, Simo Gembong tak berkutik
dan akhirnya melarikan diri setelah
kupingnya sebelah kanan ditabas puntung.
Seharusnya diharituanya Simo Gembong
menanam dendam terhadap perempuan itu.
Tetapi justru semakin dikenang, semakin
mendalam rasa sukanya.
"Datuk, berapa hari menurutmu kita
menunggu disini... ?" Kelabang Hitam
bertanya berbisik.
Datuk Ular merenung. Lalu menjawab:
"Sampai dua hari dimuka. Jika dia tidak
muncul kita langsung ke pantai timur.
Bila perlu menyeberang ke Pulau
Mayat....."
"Tapi, Pulau Mayat itu…..apakah
kita tahu jelas dimana letaknya?" tanya
Pendekar Kembang Merah.
"Aku bisa menduga dimana letaknya.
Berdasarkan keterangan anak buah Dewi
Maut yang melarikan diri. Sayang, kalau
dia berada bersama kita, kita tak akan
susah-susah mencari pulau itu ..."
Ketiganya berdiam diri. Kembali
tempat itu diselimuti kesunyian.
Mendadak ketiga orang itu serentak
berpaling saling pandang!
Jauh didalam kerapatan pepohonan di
belakang rumah kayu tiba-tiba terdengar
suara sesuatu. Suara berbunyian!
"Itu suara rehab!" bisik Pendekar
Kembang Merah.
"Ya .... ada seseorang menggesek
rebab," balas berbisik Datuk Ular.
Ketiga orang itu memasang telinga
dalam tegang.
"Mungkinkah itu Simo Gembong ....?"
ujar Kelabang Hitam.
"Aku menyangsikan," sahut Datuk
Ular. "Manusia sejahat Simo Gembong mana
tahu segala macam peralatan bebunyian.
Kita tunggu saja. Mungkin aku bisa
menduga siapa adanya pemain rebab itu
...."
Sementara itu suara rebab yang
semula digesek perlahan kini terdengar
mengalun semakin keras, tetapi lagu yang
diperdengarkannya bernada sedih
memilu-kan. Sejurus kemudian suara
alunan rebab itu dibarengi dengan suara
nyanyian. Yang menyanyi adalah seorang
perempuan!
Tiga tokoh silat dibalik semak
belukar kembali saling pandang. Pendekar
Kembang Merah membuka mulut hendak
mengatakan sesuatu tapi Datuk Ular Muka
Tengkorak cepat memberi isyarat seraya
berbisik: "Dengar saja nyanyian itu. Aku
rasa-rasa mulai mengenali siapa
orangnya."
Di utara Gunung Suket
Di selatan Gunung Raung
Di tengah-tengah lembah subur
Menghias danau indah berair bening
Rumah tua saksi bisu
Seribu dosa seribu dendam
Apakah saat pembalasan sudah
datang?
Di utara Gunung Suket
Di selatan Gunung Raung
Rumah tua saksi bisu
Tapi mengapa kalian menjadi buta
Mengapa kalian menjadi tuli
Tidak melihat apa yang terjadi
Tidak mendengar apa yang tak
bernafas lagi!
"Datuk....." bisik Kelabang Hitam
tak dapat
menahan hati. "Kira-kira kau tahu
siapa yang dimak-sudkan kalian oleh
penyanyi itu?"
"Juga apa yang dimaksudkannya
dengan yang tidak bernafas lagi?" ikut
bertanya Pendekar Kembang Merah.
Datuk Ular tak segara dapat
menjawab. Suara nyanyian dan alunan
rebab semakin memilukan.
.... Mengapa kalian menjadi buta
Mengapa kalian menjadi tuli
Tidak melihat apa yang terjadi
Tidak mendengar apa yang tak
bernafas lagi!
Buka mata pentang telinga
Melangkah datang jangan hanya
sembunyi!
Datuk Ular mengusap wajahnya. Dia
memandang pada dua sahabat didepannya.
"Nyanyian itu jelas ditujukan pada
kita....."bisiknya. "Kita harus
melakukan sesuatu….."
"Mendatangi penyanyi itu?" tanya
Pendekar Kembang Merah.
"Ya, tapi itu nanti. Yang perlu saat
ini kita harus memeriksa rumah tua itu
...."
"Maksudmu Simo Gembong sudah ada di
dalam rumah tua itu?"
"Tak dapat kupastikan. Mari kita
memeriksa!" jawab Datuk Ular lalu
memberi isyarat pada Pendekar Kembang
Merah dan Kelabang Hitam untuk
mengikutinya. Ketiganya melangkah
dengan hati-hati mendekati rumah tua di
tepi telaga. Mereka tak berani masuk.
Jika Simo Gembong benar ada di dalam maka
mereka akan menjadi sasaran empuk
pembokongan. Lewat jendela dan pintu
yang terbuka di sebelah depan mereka
dapat melihat sebagian ruangan di dalam
rumah kayu itu. Ketiganya kemudian
melangkah ke samping bangunan. Tepat
dijendela samping yang hampir tanggal
Datuk Ular dan dua kawannya melengak
kaget.
Di sana, di dalam rumah sesosok
tubuh berpakaian serba putih dengan
sorban hampir terjatuh dari kepalanya,
tampak tergantung telah jadi mayat
dengan lidah terjulur dan mata mencelet!
"Ki Ampel Sampang!" ujar Datuk Ular
dengan mulut bergetar.
Melupakan bahaya kalau sekiranya
Simo Gembong memang ada dalam bangunan
itu, Datuk Ular berkelebat masuk ke dalam
rumah lewat jendela. Kelabang Hitam dan
Pendekar Kembang Merah ikut melompat
masuk. Ketiganya segera menurunkan tubuh
Ki Ampel Sampang setelah terlebih
dulu memutuskan tali penggantung.
"Pasti Simo .Gembong yang melakukan
ini!" kata Datuk Ular.
"Berarti dia sudah ada di tempat
ini!" kata Pendekar Kembang Merah dan
memandang cepat berke tiling dengan
wajah tegang.
Mayat Ki Ampel Sampang mereka
baringkan dilantai rumah. Datuk Ular
memeriksa dengan cepat. Terdapat
beberapa tanda merah di kedua lengan
pengurus Pesantren Megasuryo itu.
Rupanya sebelumnya terjadi perkelahian.
Ketika dada pakaian putihnya dising-kap,
kelihatan tanda hitam di bagian kiri.
Itulah pukulan maut yang mematikan.
"Selagi sakarat tubuhnya
digantung!" kata Datuk Ular menarik
kesimpulan.
"Biadab!" kutuk Kelabang Hitam.
Di luar sana masih terdengar terus
suara alunan rebab dan nyanyian.
"Kalian berdua tunggui mayat ini
disini," kata Datuk Ular. "Aku akan
menemui penyanyi itu. Dia pasti tahu apa
yang telah terjadi.
Datuk Ular cepat melangkah ke pintu
belakang rumah. Namun sebelum sempat
mencapai pintu dari atap bangunan tua itu
terdengar suara tawa bergelak. Dilain
saat atap bangunan ambruk jebol dan
sesosok tubuh melayang turun.
"Simo Gembong! "seru ketiga orang
itu serempak.
Yang melompat turun itu memang
Simo Gembong, rambutnya
gondrong awut-awutan. Kedua
kakinya yang memakai akar bahar tegak
terkembang dalam kuda-kuda silat yang
kokoh. Hidungnya yang pesek kembang
kempis sedang mata kanannya tampak
melotot merah menyapu ketiga orang
dihadapannya. Dari mulutnya masih
mengumbar suara tawa. Begitu suara tawa
lenyap diapun membentak.
"Kalian sudah saksikan apa yang
terjadi?! Apakah kini masih punya nyali
untuk meneruskan rencana kalian?!"
"Manusia iblis! Kematian bukan
apa-apa bagi kami orang persilatan
golongan putih. Apalagi demi
menghancurkan angkara murka!" Yang
menjawab adalah Datuk Ular.
Simo Gembong tertawa mengekeh.
"Datuk Ular, Datuk Ular.... Nada
bicaramu seperti pemain sandiwara saja.
Kau hendak jadi pahlawan rupanya!"
Pendekar Kembang Merah maju
selangkah tapi segera dihardik.
"Berani lagi kau maju satu langkah,
selembar nyawamu akan minggat dari
tubuh!"
"Simo Gembong manusia keparat!"
balas mem-bentak Pendekar Kembang Merah.
"Dosamu selangit tembus! Hari ini kami
bertiga justru datang untuk mengambil
nyawamu!"
"Ha .. ha .. ha…..! Tadinya kalian
berempat, kini hanya tinggal tiga.
Sebentar lagi tumpas semua!"
Datuk Ular letakkan tangan kanannya
diatas kepala ular sanca yang jadi ikat
pinggangnya.
"Beberapa tahun lalu kalian
menculik murid-murid kami. Merusak
kehormatan mereka lalu membunuh mereka!
Beberapa lama mengucilkan diri ternyata
tidak membuat kau bertobat! Malah
sebulan lalu kau mulai mengganas
kembali. Menculik seorang pengantin di
desa Gucialit!"
"Lalu apa urusan kalian dengan
pengantin perempuan itu?!" sentak Simo
Gembong.
Kelabang Hitam buka pakaiannya di
bagian dada. Pada kulit dadanya yang
tersingkap kelihatan rajah gambar seekor
kelabang besar.
Simo Gembong menyeringai.
"Kenapa kau tidak buka celana
sekalian. Biar kulihat apakah dibawah
perutmu juga ada gambar kelabang jelek
itu!" kata Simo Gembong mengejek.
Kelabang Hitam mengelam dan membesi
mukanya. "Sahabat! Tak ada gunanya
bicara berlama-lama dengan manusia iblis
mata picak ini! Lebih cepat kita kirim
dia menemui teman-temannya di neraka
akan lebih baik!"
Habis berkata begitu Kelabang Hitam
melompat sambil menggapaikan tangan
kanannya yang berkuku panjang dan
mengandung racun jahat.
Sreeettt.....!
Tangan kanan Simo Gembong bergerak.
Sebuah benda yang tadi tergulung,
membuka panjang dan memancarkan sinar
hitam.
Kagetlah ketiga orang itu.
"Pedang Samber Nyawa!" seru
Pendekar Kembang Merah. Dia mengenali
senjata yang jadi buah bibir rimba
persilatan itu tapi tidak mengetahui
kalau senjata itu adalah pedang palsu
meskipun memancarkan sinar hitam pekat
yang menyeramkan.
Datuk Ular dan Kelabang Hitam ikut
tercekat. Ketiganya sama mengetahui.
Siapa yang memegang pedang Samber Nyawa
maka dia akan menguasai dunia
persilatan! Dan kini mereka menghadapi
lawan yang memiliki senjata luar biasa
itu!
Menghadapi kenyataan ini maka Datuk
Ular segera loloskan senjatanya dari
pinggang. Yakni bangkai ular sanca
besar. Kelabang Hitam alirkan seluruh
tenaga dalamnya pada kedua tangan hingga
jari-jari tangan sampai ke kuku
memancarkan sinar hitam. Pendekar
Kembang Merah susupkan tangan ke balik
pakaian. Sesaat kemudian selusin bunga
berwarna merah tampak tergenggam di
tangannya. Memang inilah senjata sang
pendekar. Sejenis bungayang terbuat dari
kertas, mengandung racun jahat dan
sanggup menghancurkan pohon atau batu
besar sekalipun!
"Majulah kalian bertiga sekaligus!
Jangan takut aku akan mencap kalian
sebagai pengeroyok-pengeroyok pengecut!
Dengan maju serentak lebih mudah dan
lebih cepat bagiku membantai kalian!"
Kata-kata Simo Gembong itu membakar
amarah ketiga tokoh silat dihadapannya.
Tanpa banyak bicara lagi Datuk Ular,
Kelabang Hitam dan Pendekar Kembang
Merah menyerbu serentak dari tiga
jurusan.
Sepuluh larik sinar hitam yang
memancar dari kuku Kelabang Hitam
menderu laksana sepuluh kelabang yang
menggapai mangsanya dalam kecepatan
kilat. Dari samping kiri sebuah kembang
kertas merah melesat mencari sasaran di
leher Simo Gembong. Lalu dari depan,
kepala ular sanca mati yang merupakan
senjata Datuk Ular membuat gerakan mem
beset dari kiri ke kanan, seperti hendak
membabat putus pinggang guru Mahesa
Kelud. itu.
Bagaimanapun Simo Gembong mengejek
dan memperhinakan ketiga lawannya tadi
namun dia tahu betul kalau tiga orang
yang dihadapinya itu benar-benar
memiliki kepandaian tinggi. Meskipun
jauh dari perasaan takut namun dia tak
mau bertindak ayal. Pedang Samber Nyawa
Palsu yang dialiri dengan lebih dari tiga
perempat tenaga dalamnya diputar
setengah lingkaran. Senjata itu menderu
memancarkan sinar hitam menggidikkan!
Tring!
Kembang merah yang menyerang dari
sebelah kiri hancur berantakan tapi
salah satu bagian pada mata padang di
tangan Simo Gembong menjadi gompal!
Pedang terus membabat ke arah kedua
tangan Kelabang Hitam, membabat putus.
Tapi saat itu yang punya tangan sudah
tarik pulang kedua tangannya, sambil
membuat lompatan jungkir balik Kelabang
Hitam layangkan tendangan kaki kiri ke
bawah perut lawan sementara dari atas
kedua tangannya kemudian kembali
menggapai ke batok kepala Simo Gembong.
Orang tua bermata satu itu tekuk
kedua lututnya. Sesaat kemudian tubuhnya
rebah ke belakang. Bukan saja sekaligus
dia menghindari tendangan serta cakaran
Kelabang Hitam, tetapi disaat yang sama
dia berhasil pula mengelakkan sambaran
senjata Datuk Ular. Sambil menggulingkan
diri di lantai lapuk, Simo Gembong
kembali babatkan pedang Samber Nyawa
Palsu ke arah lawannya terdekat yakni
Pendekar Kembang Merah.
Jengkel lemparan kembang mautnya
tadi dapat ditangkis lawan, Pendekar
Kembang Merah kini lemparkan dua bunga
merah beracun sekaligus. Lemparannya
kali ini bukan lemparan biasa karena dari
kedua bunga kertas itu tampak bertaburan
debu merah yang mengandung racun!
Simo Gembong kertakkan rahang. Dia
pukulkan tangan kirinya ke arah dua
kembang kertas. Hebat sekali! Dua
kembang kertas berikut debu beracunnya
membalik menghantam ke arah pemiliknya.
Pendekar Kembang Merah cepat merunduk.
Tapi sambaran debu
beracun masih sempat menghantam
jalan hafasnya. Masih untung dia cepat
menutup jalan nafas lalu melompat
menjauh sambil lepaskan lagi satu
kembang kertas.
Bangkai ular ditangan Datuk Ular
berkelebat menderu-deru. Senjata ini
setiap saat bisa berubah menjadi tongkat
keras atau seperti ular benaran yang
mematuk atau menelikung tubuh lawan.
Cakaran sepuluh kuku Kelabang Hitam
datang tiada henti. Setelah bertempur
lebih dari dua belas jurus kelihatannya
ketiga lawan itu mulai berhasil mendesak
Simo Gembong.
Sementara itu di belakang rumah
masih terdengar alunan rebab dan suara
orang menyanyi.
Pada jurus ke dua puluh tiga Simo
Gembong mempercepat gerakannya.
Sebentar saja dia berhasil keluar dari
himpitan serangan ketiga lawan.
Pedangnya telah beberapa kali dipakai
menangkis bunga kertas yang dilemparkan
Pendekar Kembang Merah. Akibatnya mata
pedang semakin banyak yang gompal. Me-
ngetahui hal ini Pendekar Kembang Merah
tambah bersemangat namun menjadi kawatir
ketika menyadari bahwa persediaan
senjata anehnya itu hanya tinggal empat
buah!
Datuk Ular kini tahu kalau pedang di
tangan Simo Gembong bukan benar-benar
pedang Samber Nyawa yang sakti. Pedang
asli tak mungkin akan gompal dihantam
bunga merah Pendekar Kembang Merah. Maka
semangat sang datuk jadi berkobar
kembali. Gempuran bangkai ular sancanya
semakin menggebu-gebu. Malah kini dia
semprotkan sejenis racun biru dari mulut
ular itu.
Kelabang Hitam berkelebat cepat dan
ganas kian kemari. Sepuluh jari
tangannya berkelebat tiada henti.
Demikian hebatnya serangan ketiga
orang itu namun mereka masih belum
sanggup merobohkan Simo Gembong.
Memasuki jurus ke empat puluh dua,
terjadilah gebrakan hebat. Kelabang
Hitam melihat kesempatan baik ketika
Simo Gembong sibuk menghadapi gempuran
senjata bangkai ular sanca sementara
bunga terakhir milik Pendekar Kembang
Merah meluncur ke arah batok kepala kakek
itu.
Karena menganggap serangan kembang
dan hantaman bangkai ular lebih
berbahaya maka Simo Gembong tidak begitu
ambil perhatian terhadap serangan
Kelabang Hitam yang datang dari kiri.
Dengan bacokan ganas serta pukulan
tangan kiri yang dahsyat dia melabrak
bunga merah terakhir dan membuat Datuk
Ular terpaksa mundur.
Ketika serangan sepuluh kuku
Kelabang Hitam datang Simo Gembong hanya
sempat miringkan tubuh. Tapi pinggangnya
tak mungkin diselamatkan. Dengan
menggembor marah kakek ini biarkan
pinggangnya terkena cakaran kuku-kuku
beracun itu. Dia tak perlu kawatir karena
saat itu dia membekal obat penawar racun
yang ampuh.
Bret... bret. .. !
Pinggang pakaian Simo Gembong robek
besar. Daging tubuhnya di bagian
pinggang tampak tergurat dalam. Luka dan
darah yang mengucur keluar kelihatan
bukannya merah tetapi berwarna hitam
tanda racun kuku Kelabang Hitam
benar-benar ganas.
Keberhasilannya menciderai lawan
membuat Kelabang Hitam berlaku ayal. Dia
tak sempat mengelak ketika kaki kanan
Simo Gembong berdesing dan mendarat
dipertengahan dadanya.
Kelabang Hitam mencelat, terhempas
ke dinding lapuk. Dinding ini jebol dan
tubuh Kelabang Hitam mental keluar
rumah, jatuh tergelimpang di tepi telaga
tanpa berkutik lagi. Isi dadanya di
sebelah dalam luluh lantak. Tokoh ini
mati dengan mata membeliak.
Simo Gembong mengekeh.
"Kalian sudah siap menyusul
Kelabang Hitam?" tanyanya mengejek.
Datuk Ular dan Pendekar Kembang
Merah tidak menyahut. Sang datuk lipat
gandakan kecepatan serangannya. Seluruh
tenaga dalam dikerahkan. Bangkai ular di
tangan kanannya menderu laksana badai.
Sebaliknya Pendekar Kembang Merah yang
kini tidak memiliki senjata lagi hanya
mampu meneruskan serangan dengan tangan
kosong. Jelas dia merupakan titik
kelemahan dari hujan serangan itu. Dan
hal ini diketahui benar oleh Simo Gembong
yang punya segudang pengalaman. Maka
diapun pusatkan serangan mematikan ke
arah lawan yang satu ini. Dalam satu
kesempatan dia lemparkan pedang Samber
Nyawa palsu di tangan kanannya ke arah
Pendekar Kembang Merah disaat pendekar
ini kehilangan keseimbangan akibat
pukulannya mengenai tempat kosong.
Pendekar Kembang Merah tak mungkin
berkelit. Datuk Ular tak mungkin
menolong kawannya karena saat yang sama
diapun harus selamatkan diri dari
hantaman tangan kiri Simo Gembong yang
dahsyat dengan jatuhkan diri. Angin
pukulan Simo Gembong menghantam dinding
rumah. Rumah tua itu semakin. hancur
berantakan dan atapnya miring ke kiri,
siap untuk roboh!
Paras Pendekar Kembang Merah
menjadi sepucat kain kafan. Dia sadar
nyawanya tak tertolong lagi. Simo
Gembong tertawa mengekeh. Pedang Samber
Nyawa hanya tinggal sejengkal lagi siap
menembus perut Pendekar Kembang Merah.
Tiba-tiba terdengar suara rebab
melengking tinggi menusuk liang telinga.
Dikejap yang sama berkiblat sinar putih
kekuningan. Begitu sinar ini menghantam
pedang Samber Nyawa maka senjata itu
mental patah dua
SIMO Gembong melompat mundur
dengan wajah kaget sekaligus
tegang. Datuk Ular hampir
keluarkan seruan tertahan sementara
Pendekar Kembang Merah melosoh lemas
karena hampir tak per-caya sesuatu telah
terjadi dan menyelamatkannya dari
kematian!
"Keparat! Siapa yang berani ikut
campur urusan orang!"
Sebagai jawaban sentakan itu
terdengar gesekan rebab, keras
melengking dan satu cahaya putih
kekuningan kembali menerpa. Simo Gembong
cepat jatuhkan diri. Sinar putih
kekuningan yang mengandung hawa panas
melabrak dinding rumah dibagian
satu-satunya yang masih utuh. Dinding
dan tiang-tiangnya hancur berantakan.
Atap yang kini tidak tersanggah langsung
amblas roboh. Empat sosok tubuh cepat
melesat keluar dari bangunan yang runtuh
itu. Tapi sampai diluar hanya tiga sosok
manusia yang kelihatan. Yakni Datuk
Ular, Pendekar Kembang Merah dan seorang
perempuan separuh baya berambut panjang
terurai berparas pucat yang tegak sambil
memegangi rebab dan alat penggeseknya.
Simo Gembong sendiri tidak kelihatan.
Lenyap!
"Bangsat itu kabur!" ujar Pendekar
Kembang Merah.
"Pengecut!" kertak Datuk Ular
geram. Lalu dia berpaling ke kiri dimana
perempuan berparas pucat berambut
terurai tegak berdiri memegang rebab.
"Dewi Rebab Kencana!" sapa sang
datuk. "Terima kasih kau telah mau
membantu ... ." Lalu sambil menjura dalam
dia melirik kepada Pendekar Kembang
Merah.
Pendekar Kembang Merah yang
mengerti maksud lirikan itu cepat-cepat
pula menjura seraya berkata: "Nama
besarmu sudah lama kudengar. Tidak
tahunya hari ini sekali muncul kau telah
selamatkan nyawaku. Aku tidak tahu
bagaimana harus mengucapkan terima kasih
.... "
Orang yang memegang rebab tidak
memberi jawaban apa-apa. Wajahnya yang
pucat juga tampak tak berubah, dingin
seperti tadi-tadi. Hal ini membuat Datuk
Ular dan Pendekar Kembang Merah menjadi
kikuk.
"Kita harus segera mengejar manusia
pengacut itu!" kata Datuk Ular.
Perempuan oergelar Dewi Rebab
Kencana tampak mendongak ke langit. Lalu
menggesek rebabnya, mengeluarkan suara
pendek pilu.
Manusia itu bukan pengecut! Jika dia
mau mudah saja baginya membunuh kita satu
persatu….."
Datuk Ular mengerling ke arah
Pendekar Kembang Merah.
"Dewi, apakah kau bisa memberi
petunjuk lebih lanjut?" tanya Pendekar
Kembang Merah.
Perempuan itu kembali menggesek
rebabnya, baru menjawab: "Jika dia pergi
berarti ada sesuatu yanglebih penting
yang harus dilakukannya....." Lalu dia
melangkah menghampiri pedang hitam yang
terletak di tanah. Pedang Samber Nyawa
yang tadi dilemparkan Simo Gembong dan
patah dua dihantam sinar putih
kekuningan yang menyambar keluar dari
tali-tali rebab sang dewi. Diambilnya
kedua patahan pedang. Sesaat dia
meneliti benda itu lalu mencampakkannya
ke tanah.
"Setahu kami dia dalam perjalanan ke
Pulau Mayat guna mencari kekasih lamanya
dimasa muda. Pasti saat ini dia menuju
kesana!" berkata Datuk Ular sambil
lilitkan senjatanya, bangkai ular sanca
ke pinggang.
Tanpa berkata apa-apa perempuan
memegang rebab balikkan tubuh dan
melangkah pergi.
"Manusia aneh..." desis Datuk Ular.
Melihat orang hendak pergi Pendekar
Kembang Merah cepat berkata:
"Dewi Rebab Kencana! Sekali lagi
terima kasih atas pertolonganmu
Tanpa berpaling perempuan bermuka
pucat itu menjawab: "Aku tidak merasa
menolong siapa-siapa. Simo Gembong punya
hutang tersendiri padaku. Yang harus
dibayarnya dengan darah dan nyawa....."
Lalu perempuan ini gesekkan rebabnya.
Terdengar suara me-lengking. Disusul
sambaran sinar putih kekuningan. Ketika
sinar itu lenyap sosok tubuhnyapun ikut
lenyap.
Datuk Ular geleng-geleng kepala
sementara Pendekar Kembang Merah hanya
tegak leletkan lidah.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang
Datuk?"
"Mengejar Simo Gembong ke Pulau
Mayat. Tapi jenazah Kelabang Hitam dan Ki
Ampel Sampang harus kita kuburkan dulu,"
sahut Datuk Ular.
* * *
"JADI ini tampang manusia yang
membunuh puteraku?!" ujar hartawan
Prajadika ketika Mahesa Kelud dibawa
kehadapannya. Dengan kedua tangan
terkepal dia maju mendekati. Tampangnya
sebuas harimau lapar. Lalu jotosannya
kiri kanan diayunkan berulang kali ke
wajah Mahesa hingga muka pemuda itu babak
belur. Darah mengucur dari hidung, mulut
dan pinggiran matanya. Mahesa menggeram
menahan sakit.
Prajadika baru berhenti memukul
setelah kedua tangannya terasa sakit.
Masih belum puas dia menyambar sebatang
tombak yang terletak di sudut ruangan.
Ketika dia hendak menambus perut Mahesa
dengan tombak ini, dua orang hulubalang
istana cepat mencegah.
"Lepaskan! Biar kubunuh bangsat ini
detik ini juga!" teriak Prajadika.
"Raden Mas, ingat apa rencana kita
semula?" berkata hulubalang di sebelah
kanan.
Kawannya ikut bicara: "Jika dibunuh
seperti keinginan Raden Mas bukankah
terlalu enak baginya? Bukankah Raden Mas
ingin dia mati sedikit demi sedikit?
Tersiksa agar dia dapat merasakan
bagaimana sakitnya hati Raden Mas
kematian putera?"
Dengan dada turun naik dan nafas
menyengal, hartawan Prajadika buang
tombaknya ke lantai. Kedua matanya
berapi-api.
"Masukkan dia kedalam sumur tua itu!
Jangan di-beri makan dan minum sampai dia
mampus kelaparan dan kehausan! Jangan
lupa tuangkan segayung air men-didih
setiap pagi biar tubuhnya melepuh dan
busuk!"
"Perintah kami jalankan Raden Mas."
"Satu hal! Jangan kalian lepaskan
totokan ditubuhnya!"
Kedua hulubalang itu tersenyum.
"Kami tidak sebodoh itu Raden Mas," kata
salah seorang dari mereka.
* * *
Di belakang gedung kediaman Raden
Mas Prajadika terdapat halaman luas.
Disitu ada sebuah sumur tua sedalam empat
meter yang mata airnya sudah kering.
Kesitulah dalam keadaan tertotok tubuh
Mahesa mereka lemparkan. Masih untuhg
pemuda ini jatuh ke dasar sumur dengan
kaki lebih dulu. Sempat kepalanya
mendarat lebih dulu celakalah dia.
"Bagaimana dengan air panas
mendidih?" tanya hulubalang pertama.
"Siapa yang mau memasak malam-malam
begini. Besok pagi saja kita guyur. Kalau
perlu tidak hanya satu gayung. Satu
ember!" jawab kawannya. Lalu keduanya
tinggalkan sumur tua itu.
Mahesa kerahkan tenaga dalamnya
sampai butir-butir keringat memercik
dikening. Dia berusaha melepaskan
totokan. Tapi sia-sia saja. Pemuda ini
heran dari mana puteri Suto Nyamat
mempelajari ilmu totokan yang sangat
lihay itu. Padahal dua tahun lalu gadis
itu tidak mempunyai kepandaian apa-apa.
Menghadapi kematian bukan satu hal yang
menakutkan bagi Mahesa. Tetapi yang saat
itu teringat olehnya adalah istrinya
—Wulansari—. Lalu bayi yang menurut
Kemaladewi adalah puteranya. Terbayang
wajah gurunya Karang Sewu dan Suara Tanpa
Rupa. Dia berusaha bersikap tabah. Tapi
tak urung air mata mengalir membasahi
pipinya. Dalam sumur tua yang gelap dan
dingin serta pengap itu, Mahesa tegak
pejamkan mata, berusaha bersemedi
menenangkan jiwa. Hanya itulah yang bisa
dilakukannya sementara menunggu saat
kematian yang datang merayap. Besok pagi
siksaan pertama akan dirasakannya.
Diguyur dengan air mendidih!
Hampir menjelang pagi, ketika udara
dingin mencucuk daging menembus tulang,
Mahesa Kelud merasakan sebuah benda
meluncur kebahu, terus turun kepunggung.
Dia tak mau membuka kedua matnya yang
terpejam. Sangkaannya benda yang
meluncur itu pastilah ular atau sejenis
binatang tanah yang berbisa. Biarlah
binatang itu mematuknya. Mati terkena
racun ular lebih baik dari pada mengalami
siksa. Tapi tak ada yang mematuk. Tak ada
yang menggigit walau benda itu masih
terus meluncur naik turun di
punggungnya.
Tiba-tiba bret! Pantat celananya
robek. Sesuatu menyangkut di ikat
pinggangnya. Kemudian perlahan-lahan,
sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat
keatas sampai akhirnya kepalanya muncul
ditepi bibir sumur. Mahesa membuka
matanya lebar-lebar menembus kegelapan
malam. Seseorang dilihatnya dengan susah
payah menarik tali yang barhubungan
dengan besi pengait yang dipakai untuk
menggeret tubuhnya ke atas. Dia tidak
dapat mengenali siapa adanya orang ini.
Tubuhnya ditarik keluar sumur. Baru saja
dibaringkan di tanah yang basah,
tiba-tiba dari arah bangunan terdengar
suara seseorang membentak.
"Hai! Siapa didekat sumur?!"
Bentakan disusul dengan
mendatanginya sesosok tubuh sambil
menghunus golok.
Orang yang menolong Mahesa Kelud
Jatuhkan diri ke balik sumur sambil
tangannya mencabut sebilah belati.
Ketika lelaki yang memegang golok
melangkah lebih dekat, secepat kilat
belati itu dilemparkannya.
"Heekk. .!"
Golok terlepas dari tangan. Orang
itu hanya sempat mengeluarkan suara
seperti ayam tercekik laiu roboh ke
tanah. Belati besar menancap di
lehernya!
Supitmantil!" seru Mahesa Kelud
ketika dalam gelap kemudian
dia mengenali siapa orang yang
menolongnya itu. Supitmantil silangkan
jari telunjuk di depart bibir memberi
isyarat agar Mahesa jangan bicara keras.
"Sahabat...” berbisik Mahesa.
"Kebaikanmu dimasa lalu masih belum
sempat kubalas, hutang budi belum
kulunaskan. Kini kau telah menanam budi
baru. Aku berhutang nyawa padamu Supit
"Kita harus segera keluar dari
sini," ujar Supitmantil. Pemuda inilah
dulu yang memberi keterangan kemana
Wulansari dilarikan ketika diculik oleh
Niliman Toteng alias Iblis Jangkung
(Baca Pedang Sakti Keris Ular Emas) Kini
kembali dia jadi tuan penolong.
"Ya, tapi aku tak bisa jalan. Aku
tertotok. Bisa-kah kau mendukungku...?"
"Tentu saja tapi kita harus
hati-hati. Dua hulubalang istana masih
ada di gedung sana..."
"Kalau begitu kau lepaskan
totokanku. Disini, disebelah dada!"
Supitmantil seorang pemuda yang
memiliki kepandaian silat cukup tinggi.
Ini karena dia berguru pada beberapa
tokoh silat kalangan istana. Namun dalam
soal ilmu totok menotok pemuda ini masih
belum matang. Maka Mahesa harus
membimbing memberi tahu bagaimana cara
yang ampuh untuk me lepaskan totokan
ditubuhnya. Setelah mencoba beberapa
kali baru Supitmantil berhasil. Namun
totokan itu belum pulih seluruhnya.
Terpaksa Mahesa duduk bersila dan
kerahkan tenaga dalamnya ke dada untuk
memusnahkan sisa-sisa totokan. Selagi
dia melakukan hal itu tiba-tiba melayang
dua buah obor besar. Benda ini menancap
di kiri kanan sumur hingga tempat itu
jadi terang benderang.
"Supitmantil! Bagus sekali
perbuatanmu!" terdengar bentakan marah.
Itu suara hartawan Prajadika.
Supitmantil berpaling. Ditangga
belakang gedung tampak tegak Raden Mas
Prajadika dengan bertolak pinggang.
Disebelahnya tegak dua lelaki berpakaian
biru, tinggi dan kekar. Mereka adalah dua
hulubalang istana kelas tiga yang
membawa Mahesa sebelumnya dari tempat
kediaman Suto Nyamat di Madiun.
"Celaka!" keluh Supitmantil. Dia
tidak takut terhadap hartawan yang
dianggapnya mempergunakan kedudukan dan
kekayaannya untuk berbuat sesuka hatinya
itu. Tapi dua hulubalang istana kelas
tiga itu adalah dua lawan berat. Satu
saja sulit bagi Supitmantil untuk
menghadapi. Kini mereka malah berdua!
Pemuda ini melirik pada Mahesa. Saat itu
Mahesa masih mengerahkan tenaga dalam
untuk memulihkan sisa totokan. Justru
disaat itu pula dua hulubalang istana
berkelebat, menerkam ke arah
Supitmantil.
Pemuda ini jatuhkan diri. Tendangan
yang mengarah ke batok kepalanya
berhasil dielakkan. Baru saja dia
bangkit berdiri hulubalang yang tadi
menyerang sudah menghantamkan jotosan ke
dadanya, Supitmantil menangkis dengan
lengan kiri dan balas memukul dengan
tinju kanan.
Dua lengan beradu. Supitmantil
mengeluh kesakitan. Lengan kirinya
laksana ditabas pedang sedang tinju '
kanannya hanya memukul angin.
"Gonto! Cepat kau ringkus pemuda
yang bersila itu! Yang satu ini biar aku
yang melumatkan!" Terdengar hulubalang
yang menyerang Supitmantil berseru. Maka
kawannya yang semula ikut menghantam
Supitmantil, kini melompat ke hadapan
Mahesa Kelud. Sikap duduk Mahesa
merupakan sasaran empuk untuk diserang.
Terdengar suara bersiur ketika kaki
kanan hulubalang bernama Gonto melesat
ke muka Mahesa Kelud, disaat pemuda ini
masih meramkan mata me-musnahkan totokan
di dadanya.
Pukulan yang mengenai angin membuat
Supitmantil terhuyung ke depan.
Akibatnya dadanya menjadi sasaran
terbuka. Tinju hulubalang kelas tiga itu
laksana palu godam melabrak dada
kanannya. Supitmantil keluarkan seruan
kesakitan. Tubuhnya mencelat dan
terkapar dekat sumur tua. Mulutnya
terasa panas dan asin. Ada darah yang
keluar dari saluran di dadanya tanda saat
itu dia menderita luka dalam yang pa rah
akibat hantaman lawan. Menahan sakit
Supitmantil berusaha berdiri. Dia tahu
apa artinya jika tubuhnya masih
tergeletak begitu rupa. Lawan akan
menghantamnya kembali dengan tendangan
atau pukulan maut.
Sambil bangkit Supitmantil cabut
sebilah belati besar dari balik
pinggangnya. Memang pemuda ini me-miliki
keahlian melempar senjata tajam. Tadi
telah dibuktikannya dengan sekali hantam
saja berhasil merobohkan pengawal
gedung. Tapi sekali ini orang yang
dihadapinya. bukan manusia jenis ronda
malam. Dengan mudah hulubalang istana
ini berhasil mengelakkan sambaran
belati. Dilain kejap dia sudah menerkam
Supitmantil. Lututnya menusuk ke perut
pemuda itu. Selagi Supitmantil terlipat
ke depan, kedua tangan-nya yang besar
kuat datang menyambar dan mencekik leher
si pemuda laksana japitan besi.
Supitmantil me-ronta-ronta. Tapi
kehabisan nafas membuat tenaganya
lumpuh. Tak mungkin lagi baginya
menyelamatkan diri. Matanya mendelik dan
lidahnya mulai menjulur.
Prakk!!!
Satu pekik kesakitan menggeledek.
Hulubalang Gonto melengak kaget
ketika Mahesa yang hendak ditendangnya
tiba-tiba melayang melewatinya lalu
melabrak temannya yang tengah mencekik
Supitmantil. Hulubalang ini terbanting
roboh ke tanah. Tulang belikatnya patah.
Cekikannya terlepas. Supitmantil
mereguk udara segar sebanyak-banyaknya.
Lalu selagi hulubalang itu terkapar tak
berdaya pemuda ini hunjamkan sebilah
belati ke dadanya. Sang hulubalang hanya
keluarkan keluhan pendek, kaki
menggelepar beberapa kali, setelah itu
diam tak ber-kutik lagi!
Melihat kematian kawannya Gonto
menggembor marah. Ditangan kanannya
tahu-tahu sudah tergenggam sebilah golok
besar. Sambil menerjang dia babatkan
goloknya ke arah leher Supitmantil. Tapi
setengah jalan seseorang menyambar
pinggangnya hingga hulubalang ini
terpuntir.
Wuutt!
Dia membabat ke arah Mahesa Kelud
yang menelikung pinggangnya namun satu
pukulan menghancurkan sambungan sikunya
hingga hulubalang ini meraung kesakitan.
Goloknya terlepas mental. Selagi meraung
kesakitan itu dirasakannya tubuhnya
terangkat lalu tiba-tiba sekali
dilemparkan kebawah. Kembali hulubalang
ini menjerit ketika mengetahui dirinya
dilemparkan ke dalam sumur tua, kepala ke
bawah kaki ke atas. Suara teriakannya
serta merta lenyap ketika batok
kepalanya menghantam dasar sumur tua
hingga pecah dan lehernya patah.
Nyawanya putus detik itu juga!
Supitmantil cepat datangi Mahesa
dan berkata: "Kita harus tinggalkan
tempat ini segera Mahesa
"Ya, tapi aku harus membayar hutang
dulu pada orang kaya itu!" sahut Mahesa.
Sekali lompat saja dia sudah berdiri
dihadapan Raden Mas Prajadika yang tegak
ketakutan di pintu belakang gedung. Dia
segara balikkan diri sambil berteriak
namun Mahesa jambak rambutnya, putar
tubuhnya hingga keduanya
berhadap-hadapan.
"Prajadika!" kata Mahesa. "Aku
membunuh puteramu bukan karena aku
manusia jahat buas! Tapi karena anakmu
memang pantas ditabas batang lehernya!
Dia kupancung ketika hendak memperkosa
seorang gadis!"
"Aku tidak percaya! Puteraku anak
baik-baik! Aku tidak percaya. Lepaskan
jambakanmu! Keparat...!!"
Plak!
Satu tamparan keras menghantam pipi
kanan hartawan itu hingga bibirnya pecah
dan tiga giginya tanggal. Prajadika
meraung kesakitan. Tubuhnya melintir.
Kalau saja rambutnya tidak dijambak
pasti sudah terkapar di tangga gedung.
"Itu hadiah dari gadis yang hendak
dirusak oleh puteramu!" kata Mahesa.
"Dan ini pembayar hutang tadi malam!"
Lalu Mahesa hantam muka Prajadika dengan
tinju kiri. Kembali orang ini meraung
kesakitan, tapi raungan itu segera
lenyap karena dirinya keburu pingsan.
Mahesa lepaskan jambakannya. Prajadika
tergelimpang di tangga batu. Hidungnya
hancur dan darah mengucur!
Di gedung sebelah depan terdengar
suara orang berlari. Beberapa
diantaranya meneriakkan sesuatu. Mahesa
memberi isyarat pada Supitmantil. Kedua
pemuda ini lompati tembok halaman
belakang. Ketika enam orang penjaga
gedung sampai disitu keduanya telah
lenyap dalam kegelapan.
Ketika ayam berkokok di kejauhan dan
langit di ufuk timur tampak kemerahan,
kedua pendekar itu sampai di sebuah anak
sungai berair dangkal tapi jernih. Baik
Mahesa maupun Supitmantil segera
menggulingkan diri di tebing sungai dan
merendam muka mereka yang berlepotan
darah.
"Seharusnya kubunuh orang kaya itu
...." kata Supitmantil beberapa saat
kemudian sambil menyisir rambutnya yang
basah dengan jari-jari tangan. "Dia
mengetahui pengkhianatanku. Kini aku
jadi orang buronan! Pasti Prajadika
meminta tokoh-tokoh istana untuk
menangkapku hidup atau mati!"
"Semua karena aku!" ujar Mahesa.
"Aku tidak menyesal menolongmu,"
kata Supitmantil yang tahu maksud
kata-kata Mahesa tadi.
"Sekarang apa yang hendak kau
lakukan?" tanya Mahesa.
"Jelas aku tak mungkin kembali ke
Kotaraja. Mungkin aku harus menempuh
hidup sepertimu. Mengembara sambil
menambah ilmu."
"Kalau begitu seandainya kau
tersesat ke utara maukah kau singgah di
puncak Muria. Istriku berada disana.
Namanya Wulansari. Kau pasti kenal dia
karena dialah gadis yang dulu berhasil
kuselamatkan dari kebejatan
Prajakuncara berkat pertolonganmu….."
"Apa yang harus kukatakan jika
bertemu?" tanya Supitmantil.
"Katakan bahwa aku da lam keadaan
baik. Aku akan segera pulang ke Muria
begitu beberapa urusanku selesai…."
Supitmantil mengangguk. "Aku akan
mampir menemui istrimu," katanya.
"Terima kasih sahabat. Sekarang ada
satu hal yang amat penting yang harus
kulakukan"
"Apa itu?"
"Dua senjata milikku dirampas
puteri Suto Nyamat. Untuk mendapatkan
kedua senjata itu nyawaku taruhannya.
Karenanya aku harus mengambilnya kembali
sekalipun mungkin kali ini aku harus
membunuh gadis itu! Sebelum kesana aku
perlu keterangan darimu..."
"Katakanlah….."
"Dua tahun lalu Retno hanya seorang
gadis cantik biasa yang tidak memiliki
kepandaian apa-apa. Tapi melihat
kemampuannya menotokku, pastilah dia
telah berguru pada seseorang. Mungkin
kau mengetahui siapa guru gadis itu dan
dimana kediamannya?"
Supitmantil menggeleng. "Sekali ini
aku tak bisa menolongmu Mahesa….."
"Tidak jadi apa," jawab Mahesa. Dia
merangkul Supitmantil sambil
mengucapkan terima kasih berulang kali.
"Jangan berterima kasih
terus-terusan Mahesa.
Kau lupa bahwa kaupun tadi
menyelamatkan jiwaku dari tangan
hulubalang istana itu!"
Mahesa Kelud hanya angkat bahu."Ada
ubi ada talas. Ada budi ada balas,"
katanya. "Selamat jalan Mahesa,"
"Selamat mengembara Supit. Sampai
ketemu...." Kedua sahabat itupun
berpisah, tepat ketika sang surya
menyembul di ufuk timur.
Begitu sampai di Madiun, Mahesa
Kelud langsung menuju rumah
kediaman Suto Nyamat. Saat itu
remang senja memasuki malam. Gedung
besar itu tampak sepi. Tak seorangpun
kelihatan. Setelah menunggu sambil
meneliti keadaan beberapa lamanya, baru
Mahesa menyelinap kedalam, terus me-
masuki kamar dimana dulu dia dijebloskan
oleh Retno sebelum diserahkan pada dua
hulubalang istana.
Lemari yang terkunci sekali dobrak
saja hancur berantakan pintunya. Mahesa
melemparkan semua pakaian yang ada dalam
lemari itu. Namun sampai lemari itu
menjadi kosong dia tidak menemukan Pe-
dang Dewa ataupun Keris Ular Emas.
"Celaka!" keluh Mahesa dalam hati.
Kemana harus dicarinya kedua senjata
mustika itu? Kemana harus dicarinya
puteri Suto Nyamat? Mahesa kemudian
menggeledah seluruh gedung. Tetap saja
dia tidak menemukan apa yang dicari.
Geram dan marah akhirnya Mahesa
lepaskan beberapa pukulan karang sewu
hingga dinding bangunan jebol besar dan
atap runtuh. Tiba-tiba pemuda ini
mendengar suara kuda meringkik. Dia
segera melompat ke halaman samping lewat
dinding yang jebol. Seorang lelaki
berdestar hitam dilihatnya melompat
turun dari kuda lalu lari menuju gedung.
Di ruangan depan langkahnya terhenti dan
terdengar suaranya.
"Gusti Allah! Tak ada gempa tak ada
badai! Kenapa bangunan ini jebol dan
ambruk?!"
Baru saja dia berkata begitu satu
tangan yang kuat mendadak dirasakannya
mencekal tengkuknya.
"Sis ... siapa.......?"
"Kau yang siapa?!" Mahesa
membentak. Lalu memutar tubuh orang itu
dengan keras hingga hampir terpelanting
jatuh.
Orang itu tampak ketakutan. Seperti
melihat hantu. Mulutnya terbuka tapi tak
ada kata-kata yang keluar.
"Kemana penghuni rumah ini dan kau
siapa?!" kembali Mahesa membentak.
"Rum ... rumah ini kosong. Tak ada
yang mendiami lagi. A .. aku ditugaskan
menjaga ... Tapi kenapa gedung ini
sekarang hancur seperti ini. Celaka,
matilah aku......"
"Siapa yang menugaskanmu menjaga
rumah ini?"
"Siapa? Pemiliknya tentu….."
"Siapa pemiliknya ...."
"Den ayu Retno Kumalasari . . . ."
jawab si penjaga.
"Dimana gadis itu sekarang ....?"
"Di rumah kekasihnya!"
"Bagus! Kau antarkan aku kesana!"
"Tapi......."
Plak!
Mahesa yang sudah tidak sabaran
langsung tampar pipi orang itu hingga
destarnya tercampak dan sesaat
pemandangannya gelap berkunang-kunang.
"Kau mau antarkan aku kesana atau
kutampar lagi hingga robek mulutmu?!"
"Aku . . . aku akan antarkan. Kau ini
siapa.....
Apa kau yang merusak bangunan
ini.....?"
Mahesa tak menjawab. Dia tarik
tengkuk penjaga itu dan mendorongnya
keras-keras hingga jatuh terguling di
tangga gedung!
* * *
Tempat yang dituju ternyata cukup
jauh di tenggara Madiun. Sepanjang
perjalanan Mahesa berusaha mendapat
keterangan dari penjaga yang
mengantarkannya. Meskipun tidak banyak
keterangan yang didapat tapi ada satu
yang sangat penting. Yaitu bahwa kekasih
Retno Kumalasari adalah juga gurunya
dalam ilmu pengobatan. Satu hal yang
tidak jelas bagi Mahesa ialah mengapa
puteri bekas Adipati itu walaupun
ayahnya sudah meninggal kini tidak
tinggal bersama ibunya yang tentunya
disatu gedung bagus— tetapi memilih diam
bersama kekasihnya di daerah terpencil.
Lapat-lapat dikejauhan terdengar
suara air men-deru. Suara air terjun. Si
penjaga melarikan kudanya ke arah suara
air itu. Mahesa menempel di belakang.
Disatu tempat ketinggian si penjaga
hentikan kuda dan menunjuk ke lembah yang
terletak di bawah mereka diselimuti
kegelapan. Orang ini menerangkan
disebelah kanan air terjun terdapat
sebuah kali. Di sebelah utara dekat
tikungan ada sebuah rumah kecil.
Disitulah Retno Kumalasari bersama
kekasihnya berada.
"Kau tahu apa akibatnya jika kau
memberi keterangan dusta?!" ujar Mahesa
seraya pegang dan tekan bahu si penunjuk
jalan.
"Demi Tuhan. Aku bersumpah! Gadis
itu pasti ada disana!"
"Siapa nama kekasihnya?"
"Pergola. Pergola apa aku tak
tahu..."
Mahesa melompat dari punggung kuda.
"Kau boleh pergi!" katanya. Tanpa
menunggu lebih lama orang itu segera
putar kudanya dan tinggalkan tempat itu
sekencang yang bisa dilakukannya.
* * *
Rumah kayu itu selain kecil juga
tampak tidak terurus. Di ruang depan
menyala sebuah pelita. Puteri Suto
Nyamat, Retno Kumalasari berbaring
diatas sehelai tikar sementara seorang
lelaki berambut tebal dan beralis mata
tebal hitam berusia sekitar empat puluh
tahun duduk di sebelahnya tengah membuka
ikatan sebuah kantong besar.
"Retno, sudah saatnya kau masuk
kedalam dan tidur. Besok pagi-pagi
sekali kita akan berangkat ke Kotaraja."
terdengar yang lelaki berkata. Dialah
Pergola.
Sepasang mata Retno menatap sayu ke
langit-langit diatasnya. Lalu ada senyum
aneh tersungging di bibirnya. "Aku tidak
akan mau tidur sebelum kau beri-kan
barang itu…..." katanya.
"Sudah cukup Retno. Terlalu banyak
kau bisa sakit..."
"Aku ingin menghisap lagi. Biar
sakit. Aku memang sudah sakit. Dan akan
lebih sakit jika tidak kau berikan..."
"Dengar, besok kita akan bicara
dengan pejabat tinggi istana mengenai
jual beli senjata-senjata mustika ini.
Aku kawatir kau masih dibawah pengaruh
barang itu dan bicara tak karuan
"Aku berjanji akan bersikap dan
bicara baik," jawab Retno lalu gulingkan
tubuhnya. Sesaat kemudian dia telah
memperbantal paha Pergola. Matanya
terpejam. Mulutnya ternganga dan
lidahnya yang merah basah setengah
terjulur.
Pergola geleng-geleng kepala dan
kecup bibir gadis itu lumat-lumat. Dia
mengeluarkan sebuah kotak kain dari
dalam saku pakaiannya. Dari dalam kotak
ini dikeluarkannya sehelai daun kering.
Di atas daun diletakkannya tembakau
kering yang dicampur sejenis obat. Lalu
daun kering tadi digulungnya hingga
berbentuk sebatang rokok. Rokok ini
kemudian disulutnya ke api pelita. Baru
saja rokok menyala Retno sudah menyam-
bar, lalu gulingkan diri ke sudut kamar,
duduk menjelepok disana dan sedot rokok
itu dalam-dalam hingga kedua pipinya
menjadi cekung. Asap rokok berbau aneh
dihembuskannya ke udara sementara kedua
mata-nya terbuka lebar tetapi kuyu dan
sayu.
"Betapa nikmatnya kakak.... Nikmat
sekali rokok ganja ini!" Dihisapnya lagi
rokok itu dalam-dalam. "Ahh…..Indah
sekali. Aku mulai melihat sesuatu yang
indah. Tidakkah kau ingin
menyaksikannya....." Dia angkat kedua
kakinya setinggi dada
hingga kainnya tersingkap. "Aku tak
bisa hidup tanpa rokok ini kakak. Kau
dengar itu kakak Pergola ....?"
"Eh, apakah' kau bisa hidup tanpa
aku?" tanya Pergola.
"Tentu saja tidak. Kau dan rokok ini
jadi satu. Datanglah kesini kakak. Peluk
aku, biar lebih nikmat rasanya menghisap
ganja ini."
Pergola tetap duduk di tempatnya.
Dia telah membuka ikatan kantong besar.
Dari dalam kantong itu dikeluarkannya
dua buah senjata yang sarungnya
memancarkan sinar kuning dan sinar
merah. Pedang Dewa dan Keris Ular Emas!
Retno melirik sebentar lalu
berkata: "Kau tak bosan-bosannya
memandangi benda itu. Jika kau me-mang
suka benda itu mengapa tidak turut
kataku? Belajar ilmu silat dan kau akan
jadi raja diraja dalam rimba
persilatan!"
Pergola tertawa. "Aku sudah terlalu
tua untuk belajar silat. Lagi pula apa
untungnya jadi raja diraja dunia
persilatan? Hidup tak tenang, musuh
banyak. Bukankah lebih baik dua senjata
mustika itu kita jual. Ditukar dengan
uang emas dan harta perhiasan? Kita akan
jadi kaya raya. Memiliki gedung bagus,
hidup mewah!"
Retno mencibir. "Aku bosan tinggal
di gedung bagus. Aku muak dengan hidup
mewah. Aku lebih suka tinggal disini
bersamamu. Asal saja kau selalu
menyediakan rokok ganja ini untukku. Hik
... hik ... hik!"
Siapakah sebenarnya lelaki bernama
Pergola itu?
Dulu dia tinggal di Magetan, putera
seorang ahli obat. Ayahnya memiliki
hubungan baik dengan banyak pejabat
tinggi yang sekaligus jadi langganannya.
Salah satu diantara langganannya Adipati
Suto Nyamat.
Ketika ahli obat itu meninggal
sekitar dua tahun lalu, Pergola yang
telah mewariskan hampir keseluruhan
kepandaian ayahnya melanjutkan
pekerjaan sang ayah. Hanya saja secara
diam-diam Pergola mempergunakan
kepandaiannya untuk maksud tidak baik
alias kejahatan.
Lelaki yang sudah lama menduda ini
menaruh hati terhadap puteri Suto Nyamat
yakni Retno. Hubungannya yang akrab
dengan keluarga itu membuat mudah
baginya mendekati si gadis. Dengan dalih
memberikan obat untuk menjaga kesehatan
serta agar tetap langsing dan wajah
berseri Pergola memberikan obat aneh
hingga si gadis ketagihan dan tak dapat
membebaskan diri lagi dari tangan
Pergola. Ketika Adipati Suto Nyamat
terbunuh hubungan Pergola dengan Retno
sudah tak ubah seperti suami istri saja.
Sang ibu yang tak dapat mencegah dan tak
berdaya berbuat apa akhirnya dalam
keadaan sakit-sakitan pulang ke rumah
orang tuanya di selatan. Bagi Pergola
justru ini yang diinginkannya. Retno
diboyongnya ke rumah di tepi sungai itu.
Gadis ini semakin lengket setelah
Pergola mengajarkannya menghisap rokok
daun ganja yang tembakaunya dibubuhi
obat terlarang.
Sejalan dengan kepandaiannya dalam
pangobatan. Pergola juga memiliki
keahlian dalam bidang ilmu menotok.
Sambil terus mengikat Retno dengan rokok
dan obat, kepada gadis ini diajarkannya
bagaimana cara me-notok hingga orang
dalam waktu sekejap tidak berdaya. Kaku
diam dan bisu! Karena pada dasarnya Retno
adalah seorang gadis yang cerdas maka
dalam waktu singkat dia sudah menguasai
ilmu itu
Pergola mengajarkan ilmu menotok
itu sebenarnya karena mempunyai tujuan
tertentu. Disamping ahli mengobati dan
menotok lelaki ini memiliki keahlian
lain yakni pengetahuan yang amat luas
tentang berbagai macam senjata mustika
atau senjata sakti yang ada di tanah
Jawa. Dia mampu mengingat diluar kepala
senjata-senjata yang terdapat
diberbagai Keraton di pulau Jawa ataupun
yang dimiliki para tokoh ternama
lainnya, termasuk tokoh-tokoh dunia
persilatan. Sejak lama dia berniat
memiliki beberapa dari senjata sakti
mandraguna tersebut. Bukan untuk
dimiliki, tapi untuk dijual dengan harga
tinggi. Diantara senjata-senjata yang
jadi incarannya adalah Pedang Dewa Dewi
yang selama ini tersimpan disebuah gua
tempat kediaman tokoh sakti Suara Tanpa
Rupa. Lalu Keris Ular Emas yang dikuasai
Dewi Ular dan yang ketiga Pedang Samber
Nyawa yang berada di sebuah pulau di
ujung Jawa Timur.
Pergola tengah menyusun rencana
bagaimana caranya mendapatkan ketiga
senjata itu ketika telinga-nya yang
tajam dan pengetahuannya yang luas
menyirap kabar bahwa Pedang Dewa dan
pasangannya Pedang Dewi tak ada lagi di
gua Suara Tanpa Rupa. Lalu Keris Ular
Emaspun telah berpindah tangan sedang
Pedang Samber Nyawa terakhir sekali
direbut oleh seorang pendekar gagah
bernama Mahesa Kelud. Ada petunjuk nyata
bahwa Pedang Dewa dan Keris Ular Emas
telah berada pula di tangan pendekar itu.
Maka Pergola menyusun rencana baru.
Retno Kumalasari diperalatnya untuk
mendapatkan senjata-senjata itu. Maka
diapun menyirap kabar dimana beradanya
Mahesa Kelud. Dan akhirnya Retno
berhasil memperdayai Mahesa. Bukan saja
dia berhasil mendapatkan Pedang Dewa dan
Keris Ular Emas, tapi dia juga berhasil
"menjual" tubuh pamuda itu pada hartawan
Prajadika yang menaruh dendam terhadap
Mahesa karena kematian puteranya!
"Kakak Pergola, rokokku habis….."
terdengar suara Retno bernada setengah
merengek.
"Aku minta lagi….." Kedua matanya
hampir terpicing.
"Cukup Retno. Kau harus tidur ....!"
jawab Pergola. Tangan kanannya bergerak
mencabut Pedang Dewa. Sinar merah
menerangi ruangan itu. "Senjata luar
biasa! Senjata yang akan membuatku jadi
kaya!"
Braak!
Baru saja Pergola berkata begitu
pintu rumah ter-pentang dan mental
berantakan. Mahesa Kelud tegak diambang
pintu.
"Senjata curian itu akan membuat kau
celaka Pergola! Bukan membuatmu jadi
kaya!" bentak Mahesa.
Pergola melompat dari duduknya,
siap dengan pedang sakti di tangan.
Retno, meskipun belum melihat orangnya
tapi telah mengenali suara pendekar itu.
Dengan cerdik dia segera menyambar Keris
Ular Emas. Tapi pengaruh obat dan rokok
membuat gerakannya menjadi lamban.
Mahesa bergerak lebih cepat mengambil
Keris Ular Emas yang terjatuh di lantai
sewaktu Pergola berdiri tadi. Bersamaan
dengan itu dia pergunakan tumitnya untuk
menendang Retno, tidak keras tapi cukup
membuat puteri Suto Nyamat itu terpekik
dan terpelanting ke samping.
Baru saja jari-jari tangan Mahesa
Kelud menyentuh Keris Ular Emas
tiba-tiba terdengar suara menderu. Sinar
merah yang terang berkiblat. Pedang Dewa
menyambar ganas ke arah pinggang
pendekar itu. Walaupun Pergola tidak
memiliki ilmu silat atau ilmu pedang,
namun serangan yang dilancarkannya
dengan senjata sakti itu tetap saja
merupakan serangan maut! Mahesa jatuhkan
diri ke lantai, hampir menabrak pelita.
Bacokan pedang lewat diatasnya.
"Pergola! Kalau kau serahkan pedang
itu secara baik-baik, aku tak akan
menyakitimu! Juga tidak akan menyakiti
kekasihmu!" ujar Mahesa. Saat itu dia
sudah tegak berdiri, antara Pergola dan
Retno.
Retno Kumalasari yang berdiri
dibelakangnya tanpa terlihat oleh Mahesa
memberikan isyarat rahasia lalu berseru:
"Kakak Pergola! Turuti katanya. Serahkan
pedang itu dan biarkan dia pergi!"
Pergola yang sudah melihat isyarat
yang diberikan Retno, semula kembali
hendak menyerang, tapi batalkan niatnya.
"Aku menyadari tingginya puncak
Merapi!" kata Pergola pula. "Meski
pedang sakti di tangan mana mungkin aku
bisa menang menghadapimu. Apalagi kau
memegang Keris Ular Emas. Ini, ambil
kembali pedangmu. Lalu pergilah dari
sini….."
Pergola angsurkan pedang dan
sarungnya. Pedang di tangan kanan sarung
di tangan kiri. Mahesa sisipkan Keris
Ular Mas ke pinggang lalu ulurkan tangan
untuk menerima senjata itu. Namun
sebelum sempat menyentuh senjata ataupun
sarungnya tiba-tiba, dalam gerakan luar
biasa sarung pedang berkelabat, ujungnya
menusuk ke dada kiri Mahesa.
"Bangsat curang....!" maki Mahesa.
Dia cepathindarkan tusukkan ujung sarung
pedang. Namun agak terlambat. Ujung
sarung itu masih sempat menusuk bahu
kanannya. Saat itu juga dia merasakan
tubuhnya sebelah kanan menjadi sangat
linu. Dia tak dapat menggerakkan tangan
kanan sedang kaki kanan terasa berat
untuk dilangkahkan seolah-olah
diganduli batu besar!
Menyangka lawannya lumpuh total
maka ahli obat itu angkat tangannya yang
memegang pedang tinggi-tinggi, lalu
ditetakkan sekencang-kencangnya ke
kepala Mahesa. Setengah jalan Pergola
tersentak kaget ketika melihat lawannya
tiba-tiba mengangkat tangan kiri dan
memukulkannya ke depan. Serangkum angin
luar biasa panasnya menderu. Mahesa
telah lepaskan pukulan inti api. Pergola
menjerit setinggi langit. Tubuhnya
mencelat menghantam dinding lalu roboh
ke lantai. Sebagian dada dan perutnya
hangus. Pedang Dewa jatuh tergeletak di
sampingnya.
"Kakak Pergola!" terdengar pekik
Retno Kumalasari lalu gadis ini lari
menubruk tubuh Pergola yang tidak
bergerak dan tak bernafas lagi.
Mahesa lepaskan totokan dibahunya
dengan tangan kiri lalu ambil Pedang Dewa
berikut sarungnya dan selipkan senjata
itu ke balik pakaiannya.
"Pembunuh! Pembunuh!" teriak Retno.
Hendak diterkamnya Mahesa. Tapi kali ini
si pemuda tidak punya rasa kasihan lagi.
Tamparannya mendarat pulang balik ke
muka gadis itu. Retno terhempas ke
lantai, meraung-raung,
memanggil-manggil kekasihnya. Darah
bercucuran dari bibirnya yang pecah!
Tiga orang gadis berbaju biru,
cantik-cantik semuanya,
menjura dihadapan Dewi Maut.
"Cepat katakan apa hasil penyelidikan
kalian?" Dewi Maut langsung bertanya.
Sejak markasnya dilabrak Mahesa Kelud
beberapa bulan lalu dia merasa masygul.
Pertama dia dan anak buahnya belum sempat
membenahi bangunan rahasia mereka yang
terletak di Lembah Maut. Kedua dia telah
sengaja menipu Mahesa dengan memberikan
pedang Samber Nyawa palsu. Hal ini
mungkin akan mendatangkan kelanjutan
yang tidak enak atau yang menyenangkan
hatinya. Yang tidak enak si pemuda akan
muncul kembali mengobrak abrik tempat
kediamannya bahkan kali ini mungkin mem-
bunuh anak buahnya. Yang menyenangkan
ialah dia dapat melihat wajah pemuda itu
kembali. Satu hal yang dirindukannya
sejak kedatangannya dulu. Hal ketiga
yang menimbulkan rasa kawatir dalam diri
sang dewi ialah minggatnya salah seorang
anak buahnya yakni empat Biru. Seperti
yang dilaporkan sembilan Biru ada
kecurigaan bahwa anak buah yang kabur itu
telah terpikat pada Mahesa dan melarikan
diri untuk dapat mengejar pemuda
tersebut.
Tiga Biru maju selangkah. Dia
memberi keterangan: "Ada dua orang
lelaki diketahui naik perahu dari pantai
Timur menuju kemari. Saya tidak
mengetahui siapa mereka
"Terangkan ciri-ciri keduanya!"
ujar Dewi Maut. Hatinya bertambah
masygul.
"Yang seorang kakek memiliki muka
seperti tengkorak. Berpakaian biru
gelap. Pada pinggangnya ada seeker ular
mati, besar sekali..."
Dewi Maut merenung. "Aku pernah
dengar tokoh silat dengan ciri-ciri
seperti itu. Tapi lupa nama atau
gelarnya. Bagaimana tampang lelaki yang
kedua?"
"Separuh baya. Berpakaian
bunga-bunga merah... ." jawab Tiga Biru.
"Pasti itu si Pendekar Kembang Merah
.... Kenapa orang-orang itu datang
kemari? Kalau tidak sengaja mencari mati
pasti ada sesuatu . . ." Dewi Maut
memandang pada anak buahnya yang kedua.
Sembilan Biru. Anak buah ini menerangkan
dia tidak berhasil mencari jejak kemana
perginya Empat Biru.
"Dan kau Lima Biru, apa hasil
penyelidikanmu?"
Lima Biru menjura dulu baru
menjawab. "Di luar pulau tak ada yang
dapat saya temukan. Tapi di dalam pulau
ada suatu keanehan. Di sebelah timur
Lembah Maut, sejak satu hari lalu selalu
terdengar suara orang menyanyi diiringi
gesekan rebab….”
Paras Dewi Maut berubah. Dia tegak
dari kursi besar empuk yangdidudukinya
lalu melangkah mundar mandir.
"Kalau benar Dewi Rebab Kencana yang
muncul sungguh luar biasa." Lalu dia
terdiam sesaat, baru ber-tanya: "Tidak
satupun dari kalian yang menyirap kabar
tentang pemuda bernama Mahesa Kelud
itu?"
"Tidak Dewi," jawab ketiga anak buah
itu hampir berbarengan.
"Dengar kalian bertiga. Untuk
sementara jangan ganggu orang yang
menyanyi dengan iringan rebab itu. Lima
Biru, kau pimpin lima orang
kawan-kawanmu dan berjaga-jaga
disepanjang pantai. Siang malam! Jangan
sampai dua tamu tak diundang itu lolos.
Dan kau Sembilan Biru, bersama dua
kawanmu tetap berjaga-jaga disini.
Karena alat-alat rahasia kita belum
seluruhnya terpasang rampung, agaknya
kita harus mempergunakan kekuatan dan
kepandaian. Laksanakan tugas!'"
Ketiga gadis itu menjura dan siap
berlalu ketika tiba-tiba anak buah
dengan panggilan Enam Biru muncul
membawa kabar baru.
"Dewi, mata-mata kita di daratan
memberi tahu ada seorang kakek bermuka
angker menuju kemari pagi tadi.
Mata-mata itu tak dapat mencegah, malah
dua kawannya tewas ditangan si kakek!"
"Bagaimana keangkeran tampang orang
itu?" tanya Dewi Maut.
"Matanya hanya satu, hidungnya
sangat pesek. Kuping sebelah kanan
sumplung. Kedua kakinya memakai gelang
bahar. Berjanggut tebal sampai ke
dada..."
"Tubuhnya kurus. . .?"
"Betul sekali Dewi."
"Ah......." seru sang dewi pendek
dan berusaha menenangkan darahnya yang
tersirap. "Dia berani datang lagi. Pasti
mengandalkan sesuatu ..." Lalu pada
ketiga anak buahnya yang terdahulu dia
memerintahkan untuk segera melaksanakan
tugas. Dewi Maut sendiri kemudian masuk
ke dalam sebuah ruangan batu yang
pintunya hanya bisa dibuka secara
rahasia dan sulit dilihat karena hampir
sama rata dengan dinding.
* * *
Malam gelap sekali dan dingin.
Tambah dingin menjelang memasuki
dinihari. Dibalik gundukan batu karang
di sebelah timur Pulau Mayat dua sosok
tubuh tampak mendekam. Keduanya hampir
tak banyak bergerak ataupun bicara.
Kalau bicara mereka berbisik-bisik.
Dikejauhan terdengar suara alunan rebab.
"Perempuan muka pucat itu ternyata lebih
cepat dari kita, Datuk," bisik lelaki
berpakaian kembang-kembang. Ternyata
keduanya adalah Datuk Ular Muka
Tengkorak dan Pendekar Kembang Merah.
"Tak jadi apa, yang penting kita
sampai disini lebih dulu dari si keparat
itu!"
"Apakah menurutmu Simo Gembong
belum sampai disini?" tanya Pendekar
Kembang Merah.
"Aku yakin. Walau dia sebelumnya
berada di depan kita tapi kita menempuh
jalan memotong dan....."
Ucapan Datuk Ular terhenti ketika
tiba-tiba terdengar bentakan garang.
"Dua manusia dibalik batu karang!
Jika kalian serahkan diri secara
baik-baik, kami akan mengampuni nyawa
kalian!"
Datuk Ular dan Pendekar Kembang
Merah terkejut. Mereka hampir tak
mendengar kedatangan orang tahu-tahu
sudah berada didekat sana dan membentak.
Keduanya palingkan kepala.
"Ah! Ternyata gadis-gadis cantik!"
ujar sang datuk sambil tertawa
menyeringai. "Kalian bertiga pasti anak
buah Dewi Maut…..!"
"Jika sudah tahu mengapa masih
banyak mulut!" Yang menjawab adalah
gadis paling ujung kanan. Dia bukan lain
Lima Biru bersama Tujuh Biru dan Tiga
Biru. "Kawan-kawan, mari kita tangkap
dua tikus tak diundang ini!"
"Hai! Tunggu dulu!" Kata Pendekar
Kembang Merah cepat. "Kami tidak ada
silang sengketa dengan kalian ataupun
Dewi Kalian. Mengapa hendak menangkap
kami? Apa kesalahan kami berdua?!"
Lima Biru mendengus. "Apa tidak tahu
peraturan? Siapa saja orang luar yang
berani injakkan kaki di Pulau Mayat
berarti mati! Masih untung kalian berdua
hanya kami tangkap! Soal nyawa nanti Dewi
yang memutuskan!"
"Alangkah hebatnya!" ujar Datuk
Ular seraya batuk-batuk." Kalian bertiga
seperti kurang pekerjaan. Sebaiknya
kembali ke tempat kediaman kalian. Tidur
dibawah selimut hangat. Malam-malam
begini berada diluaran bisa masuk
angin!"
"Tua bangka bermulut ceriwis!"
sentak Lima Biru. Dia memberi isyarat
pada dua kawannya. Ketiga gadis itu
langsung berkelebat ke arah Datuk Ular
dan Pendekar Kembang Merah.
Dua lelaki ini memang sudah lama
mendengar kehebatan Dewi Maut dan anak
buahnya. Kini menyak-sikan sendiri
mereka jadi terkejut. Gadis-gadis muda
dan cantik itu sebat sekali gerakan
mereka. Tangan kanan memukul, tangan
kiri berusaha menotok. Kalau tidak
berkelit dengan cepat, salah satu
serangan itu pasti akan menemui sasaran.
Ketika melihat lawan sanggup
menghindar kini Lima Biru dan dua
kawannya yang ganti terkejut. Jelas dua
orang ini memiliki kepandaian tinggi.
Maka didahului penyerangan.
Tujuh jurus menggempur
habis-habisan tanpa dapat merobohkan
lawan membuat Lima Biru dan dua kawannya
menyadari bahwa mereka tak bakal sanggup
menangkap dua orang itu hidup-hidup.
Diikuti oleh Tujuh Biru dan Tiga Biru,
Lima Biru cabut pedang hitamnya. Dengan
senjata di tangan mereka kembali
menyerbu. Tiga pedang membentuk tiga
buntalan sinar hitam yang menggidikkan
didalam gelapnya malam. Tekanan tiga
pedang membuat Datuk Ular dan Pendekar
Kembang Merah terdesak. Ternyata nama
Dewi Maut bukan satu nama kosong. Kalau
ingin selamat tak ada jalan lain. Datuk
Ular harus keluarkan pukulan-pukulan
sakti atau loloskan ikat pinggang ular
sancanya dan Pendekar Kembang Merah
harus siap dengan bunga kertasnya.
Di jurus ke sepuluh ketika serbuan
lawan tidak tertahankan lagi dua tokoh
silat ini terpaksa keluarkan senjata
masing-masing.
Disaat itulah terdengar suara tawa
mengekeh.
"Ha .. ha .. ha.! Dua manusia yang
katanya tokoh persilatan baru menghadapi
gadis-gadis bau kencur saja sudah kalang
kabut! Sangat memalukan!"
Baik Datuk Ular maupun Pendekar
Kembang Merah sama-sama tersentak kaget.
Suara tawa dan yang tadi bicara itu
adalah suaranya Simo Gembong. Berpaling
ke arah datangnya suara keduanya hanya
sempat melihat lenyapnya satu sosok
bayangan di dalam gelap.
"Tiga Biru!" sera Lima Biru. "Lekas
kejar orang itu! Beritahu kawan-kawan!"
Tiga Biru segera tinggalkan
kalangan pertempuran, mengejar kearah
lenyapnya suara tertawa tadi. Sambil
mengejar dia keluarkan suitan panjang.
Inilah tanda rahasia bagi tiga orang
kawannya yang berada di jurusan lain.
Setelah kedua lawan keluarkan
senjata sementara kepergian Tiga Biru
membuat Lima Biru kini hanya berdua saja
dengan Tujuh Biru, setelah terjadi
gebrak-an-gebrakan hebat dalam dua
jurus, anak buah Dewi Maut itu kini
merasakan bukan saja semua serangan
mereka jadi terbendung tapi serangan
balasan lawan membuat keduanya terpaksa
bertahan malah sejurus kemudian terdesak
hebat.
PEDATARAN PEMANCUNGAN
Nama yang menggidikkan ini
diberikan oleh Dewi Maut dan
sesuai dengan keadaannya.
Meskipun pedataran itu merupakan
lapangan luas berumput yang dikelilingi
pohon-pohon bunga, namun
disekelilingnya juga terdapat lebih dari
selusin tiang pembantaian. Pada
masing-masing tiang terpancang mayat
manusia. Ada yang masih baru, ada yang
sudah membusuk dan beberapa diantaranya
hanya tinggal jerangkong putih.
Simo Gembong memandangi tiang-tiang
kematian itu satu demi satu. Dia membalik
ketika dibelakangnya terdengar beberapa
sosok tubuh berkelebat. Di pedataran itu
kini tampak tujuh gadis berpakaian biru,
berpencaran dan jelas mengurungnya. Simo
Gembong menyeringai. Matanya yang cuma
satu berkilat-kilat. Sekian tahun
menguncilkan diri di puncak Gunung
Kelud, siapa yang tidak terpesona
melihat sekian banyak gadis cantik walau
jelas pandangan mata mereka membersitkan
sinar maut.
"Gadis gadis cantik! Mana Dewi
kalian. Cepat suruh dia datang kemari!"
kau tak layak memerintah kami.
Apalagi menyuruh Dewi datang kemari! Kau
tahu kematianmu sudah diujung mata?!"
Yang membuka suara adalah Tiga Biru.
Si mo Gembong tertawa mengekeh.
"Gadis secantikmu tak layak segalak
itu!"
"Lekas sebutkan nama atau gelarmu
sebelum nyawa lepas dari tubuhmu!"
"Kalian rupanya memang
manusia-manusia haus nyawa! Tapi
ketahuilah nyawa burukku tidak begitu
sedap untuk diteguk! Katakan pada Dewi
kalian aku Simo Gembong ingin bertemu dan
bicara dengannya!"
"Kentut busuk! Biar kepalamu kubuat
menggelinding dulu!" Tiga Biru cabut
pedang hitamnya lalu menerjang. Sinar
hitam menderu dalam gelapnya malam.
Simo Gembong masih tertawa
mengekeh. Tubuhnya berkelebat.
Terdengar seruan Tiga Biru. Gadis in
melompat mundur. Memandang ke dia hampir
tak percaya melihat pedang hitamnya
telah berpindah tangan. Kini dipegang
oleh Simo Gembong! Meskipun melihat
kenyataan bahwa orang tua kurus berambut
awut-awutan itu memiliki kepandaian luar
biasa tingginya namun Tiga Biru tidak
menaruh takut sama sekali. Dengan tangan
kosong dia kembali menyerbu. Enam gadis
lainnya kini tak tinggal diam. Mereka
serentak cabut padang dan menyerang.
"Tahan!"
Satu seruan lantang terdengar
membelah kegelapan malam.
Tujuh gadis baju biru cepat menahan
gerakan mereka begitu mengenali suara
tadi.
Sesosok tubuh tinggi semampai
berpakaian hijau tipis tegak di tengah
Pedataran Pemancungan. Dewi Maut! Dia
berdiri dengan kaki merenggang tangan di
pinggang.
"Puluhan tahun lalu kau melarikan
diri dariku. Melarikan diri dari
tanggung jawab secara pengecut! Malam
dingin begini tahu-tahu muncul kembali!
Apakah kau sudah bersiap sedia untuk mati
Simo Gembong…..?"
"Dewi Maut... Dewi Maut! Sajakmu
sungguh bagus. Ah! Aku tak boleh
memanggilmu dengan nama itu. Lebih layak
menyebut nama aslimu. Sutri.... Sutri!"
Paras Dewi Maut tampak berubah
ketika Simo Gembong menyebut namanya.
"Dengar Sutri, aku datang memang
untuk mati. Jika itu sudah takdirku! Tak
ada yang lebih nikmat dari pada kematian
.... Tapi sebelumnya aku ingin bicara
empat mata dulu denganmu!"
"Begitu?! Orang yang mau mampus
memang layak dikabulkan pemintaannya!"
jawab Dewi Maut. Lalu dia memberi isyarat
pada ketujuh anak buahnya.
"Dewi....." Tiga Biru menunjukkan
rasa kawatir.
"Jangan takut!" berkata sang dewi.
"Tua bangka rongsokan ini tampangnya
memang angker. Lagaknya selangit. Tapi
dia tak ada apa-apanya! Kalian boleh
pergi.....!"
Meskipun tetap kawatir akan
keselamatan dewi mereka namun Tiga Biru
dan kawan-kawannya terpaksa harus
mematuhi perintah pimpinannya itu. Kini
di Pedataran Pemancungan hanya Dewi Maut
tegak berhadap-hadapan, terpisah
sejarak sepuluh langkah.
"Lekas katakan apa maumu!" kata Dewi
Maut.
"Aku ingin memperlihatkan bahwa
bagaimanapun aku adalah manusia yang
bisa bertanggung jawab ...."
"Maksudmu?!"
"Dalam sisa hidupku, aku ingin
tinggal bersamamu disini atau dimana
saja sebagai suami istri....!" Simo
Gembong bicara blak-blakan.
"Jadi itu tanggung jawab yang kau
maksudkan!"
"Betul sekali Sutri….."
Sutri alias Dewi Maut mendongak ke
langit gelap lalu tertawa panjang.
"Tanggung jawabmu sudah basi Simo
Gembong! Dosamu tak mungkin terampunkan
dengan cara apapun! Lagi pula aku
berpikir-pikir, apakah kau pernah
berkaca sebelum datang kemari dan bicara
melantur seperti ini?"
Paras Simo Gembong kelihatan
menjadi merah.
"Matamu cuma satu, hidungmu pesek,
kupingmu sumplung. Dan hatimu lebih
jahat dari iblis kepala seribu! Apakah
kau cukup pantas tinggal bersamaku?!
Jangan mimpi Simo. Atau kau mabok? Atau
ada niat keji di balik maksudmu itu ...."
"Tidak ada niat keji apapun. Aku
benar-benar ingin melupakan masa lalu
dan ingin menempuh hidup baik-baik
"Ah, ternyata kaupun pandai
bersajak. Tapi sajakmu itu sayang, tak
laku disini! Malam ini malaikat maut siap
menjemput nyawa anjingmu!"
Dendam kesumat Dewi Maut yang pernah
dirusak kehidupannya dimasa muda lalu
ditinggalkan begitu saja, rupanya tak
mungkin dihapus dengan maksud dan janji
muluk.
"Kalau memang begitu katamu, akupun
sudah siap untuk mati!" kata Simo
Gembong. Lalu maju dua langkah. "Aku tahu
kau memiliki pedang Samber Nyawa yang
asli. Keluarkan senjata itu. Gorok
batang leherku! Kau puas dan akupun
terlepas dari siksa batin puluhan
tahun!"
Dari balik pinggang pakaian
hijaunya Dewi Maut keluarkan sebuah
benda berbentuk gulungan. Ketika
gulungan ini dibuka . .. sret!
Membersitlah sinar hitam pekat
menggidikkan. Sebilah pedang angker kini
tergenggam di tangan Dewi Maut. Senjata
ini demikian tipisnya dan
bergoyang-goyang tiada henti, sulit
dilihat mana badannya yang asli dan mana
yang bayangan belaka!
"Aku sudah siap!" kata Simo Gembong
dan maju lagi dua langkah.
Dewi Maut juga melangkah mendekat.
Pedang Samber Nyawa melintang di depan
dada. Ketegangan menggantung di udara
malam yang dingin mencucuk sungsum.
Justru saat itulah tiba-tiba dua
sosok tubuh ber-kelebat dan satu
bentakan nyaring terdengar.
"Nyawa Simo Gembong adalah milik
kami!"
Sesaat kemudian Datuk Ular Muka
Tengkorak dan Pendekar Kembang Merah
sudah berada di Pedataran Pemancungan.
Sebelumnya mereka telah berhasil
merobohkan Lima Biru dan Tujuh Biru.
"O ladalah! Dua ekor monyet ini
rupanya!" kata Simo Gembong ketika
mengenali dua tokoh silat itu dalam
gelapnya malam. Dia sengaja menyebut
mereka sebagai dua ekor monyet karena
jengkel. "Aku mengampuni nyawa kalian
waktu pertempuran di Lembah Suket!
Sekarang malah menyusul kemari.
Benar-benar minta mampus!"
Pendekar Kembang Merah bertonjolan
rahangnya mendengar ucapan Simo Gembong
yang merendahkan itu. Sebaliknya Datuk
Ular cepat menyahuti sambil tak lupa
mengumbar tawa mengejek.
"Simo Gembong manusia durjana! Kami
datang justru mengejarmu yang secara
pengecut melarikan diri dari Lembah
Suket!"
"Bagus! Kalau kalian merasa diri
sebagai jago silat kelas satu terima
salam hormatku ini!"
Simo Gembong lambaikan kedua
tangannya ke depan. Perlahan saja. Tapi
dari telapak tangan kiri kanan menderu
angin dahsyat berwarna hitam!
Baru saja dua sinar pukulan itu
menghantam setengah jalan tiba-tiba
terdengar suara rebab digesek keras
melengking langit menembus kegelapan
malam dingin.
Sinar putih kekuningan yang
mengembang seperti kipas berkiblat.
Sesaat Pedataran Pemancungan terang
benderang. Lalu des! des! Dua larik sinar
hitam dari telapak tangan Simo Gembong
terpapas lebur berantakan. Beberapa
seruan kaget terdengar. Simo Gembong
tampak miring tubuhnya ke kiri tapi dia
cepat mengimbangi diri dan pasang
kuda-kuda baru. Di sebelah kanan
pedataran tampak seorang perempuan
berambut panjang tergerai, berwajah
pucat. Dia memegang alat penggesek di
tangan kanan dan rebab di tangan kiri.
Perempuan ini tampak terhuyung-huyung ke
belakang. Ketika dia hampir jatuh
terduduk di rumput cepat dia melompat
jungkir balik di udara lalu tegak kembali
diatas kedua kakinya. Sepasang matanya
memandang tak berkesip ke arah Simo
Gembong.
"Ah, mengapa perempuan ini muncul
lagi disini," diam-diam Simo Gembong
mengeluh.
"Dewi Rebab Kencana!" seru Datuk
Ular menyebut julukan perempuan bermuka
pucat. "Terima kasih, kau lagi-lagi
menolong kami. Hanya saja mohon
dimaafkan. Biarkan kami menyelesaikan
urusan dengan manusia durjana bermata
satu itu!"
Perempuan yang memegang rebab
mendengus. "Apapun urusan kalian aku
tidak perduli. Darah dan nyawanya adalah
bagianku!" Lalu alat penggesek di
tangannya meluncur diatas tali-tali
rebab. Terdengar suara rebab melengking
yang disusul dengan kiblatan sinar putih
kekuningan. Kali ini lebih hebat, lebih
panas dan lebih terang. Menghantam ke
arah Simo Gembong!
"Manusia-manusia tolol! Kalian
datang tidak pada waktu yang tepat!
Biarkan aku menyelesaikan urusan dengan
Dewi Maut!" teriak Simo Gembong seraya
melompat tiga tombak ke atas. Dari atas
dia memukul dengan tangan kanan ke bawah.
Angin sedahsyat badai menerpa.
Buum!
Pedataran berumput itu laksana
dilanda gampa. Para tokoh silat yang ada
disitu berlompatan berserabutan. Ketika
muncratan pukulan-pukulan sakti itu
lenyap tampak Dewi Rebab Kencana duduk
bersila di rumput. Rebab dan
penggeseknya terletak di atas pangkuan.
Dadanya turun naik, wajahnya tambah
pucat dan rambutnya yang panjang
awut-awutan. Jelas dia tengah mengatur
jalan nafas dan peredaran darah dari
gejolak hebat akibat bentrokan pukulan
jarak jauh yang mengandung tenaga dalam
tinggi. Di seberang sana Simo Gembong
tampak tersandar ke salah satu tiang
pemancungan. Rahangnya menggembung.
Matanya yang cuma satu membeliak besar.
Terlebih ketika dilihatnya Dewi Rebab
Kencana perlahan-lahan berdiri sambil
pegang rebab dan penggeseknya.
"Dewi Rebab! Datuk Ular dan Pendekar
Kembang Merah! Kalian bertiga pantas
dihukum mati karena telah masuk ke Pulau
Mayat tanpa izinku! Tapi mengingat
akupun punya persoalan dengan kakek
buruk ini, jika kalian mau meninggalkan
tempat ini dengan segara maka nyawa
kalian aku ampunkan!"
"Kalau kita semua mempunyai urusan
yang sama, mengapa tidak saling berebut
cepat berbuat pahala menamatkan riwayat
manusia biang racun malapataka ini?!"
ujar Datuk Ular.
Dewi Rebab menggesek rebabnya,
keras melengking. Tanda dia setuju
dengan ucapan Datuk Ular. Pendekar
Kembang Merah tidak berkata apa-apa,
tapi diapun ikut setuju dan diam-diam
sudah kerahkan tenaga dalam ke tangan
kanan dan tangan kiri menyelinap me-
ngambil senjatanya yaitu kembang kertas
warna merah. Sebelum Dewi Maut dapat
mencegah ketiga tokoh silat itu sudah
menyerbu Simo Gembong. Kawatir
kedahuluan ketiganya, Dewi Maut yang
sejak tadi telah memegang pedang Samber
Nyawa akhirnya menyerbu pula ke tengah
kalangan pertempuran. Sinar hitam
menggidikkan yang mengeluarkan deru
angin panas berkelebat di udara ketika
pedang sakti itu membabat. Badan pedang
berubah menjadi puluhan. Sulit diterka
mana yang asli dan mana bayangannya!
Dua bunga kertas merah menyambar
ganas ke perut dan batok kepala Simo
Gembong. Ikat pinggang berupa ular sanca
besar ditangan Datuk Ular menderu
membabat ke pinggang dan sinar putih
kekuningan yang keluar dari tali-tali
rebab yang digesek bersiur dahsyat
melabrak kakek bertubuh kurus itu!
Simo Gembong berteriak keras. Putus
asa karena Sutri alias Dewi Maut menolak
untuk hidup bersama. Disamping itu dia
juga marah melihat kenyataan dirinya
menjadi bulan-bulanan pengeroyokan.
Namun suara teriakan Simo Gembong
yang dahsyat itu ternggelam dalam satu
bentakan menggeledek yang datang dari
ujung timur Pedataran Pemancungan. Semua
serangan punah berantakan!
"Manusia-manusia pengecut!
Beraninya main keroyok! Benar-benar
memalukan!"
Segulungan asap putih datang
membuntal. Udara di pedataran berumput
itu mendadak sontak menjadi dingin luar
biasa. Semua yang ada disitu menggigil.
Pendekar Kembang Merah goyah lututnya
dan jatuh tersungkur. Datuk Ular komat
kamit entah membaca mantera apa.
Tubuhnya menggeletar. Dewi Rebab Kencana
menggigil, berusaha bertahan agar tidak
melosoh ke tanah. Dewi Maut pegang Pedang
Samber Nyawa erat-erat dan salurkan hawa
panas dari pedang itu ke dalam tubuhnya.
Namun tak urung tetap saja dia merasa
kedinginan. Simo Gembong tegak
tergontai-gontai. Matanya yang besar
merah tampak membeliak. Tapi dia tidak
merasa dingin. Jelas pukulan asap putih
dingin itu tidak ditujukan padanya! Tapi
tak dapat dia menduga. Kawan atau
lawankah yang datang ini? Di saat dia
sudah kepingin cepat-cepat mati mengapa
masih ada saja yang hendak menolongnya?
Asap putih dingin perlahan-lahan
sirna meninggalkan kabut tipis. Dibalik
asap tipis itu kelihatan tegak sesosok
tubuh tinggi kekar, berpakaian putih
dengan baju terbuka hingga tampak
dadanya yang penuh dengan otot.
"Mahesa!" seru Simo Gembong ketika
dia mengenali siapa adanya orang itu.
Dewi Maut tersentak kaget. Mendadak
saja hatinya gembira berbunga-bunga.
Benarkah pemuda yang dirindukannya itu
yang tegak dibalik kabut putih tipis itu?
Embah!" seru si pemuda seraya
melompat ke hadapan gurunya
dan tegak dengan sikap
melindungi.
Embah Jagatnata alias Simo Gembong
sesaat masih terkesiap namun kemudian
terdengar suara tawa-nya panjang.
"Muridku! Aku gembira kau datang!
Tapi aku tidak senang kau turun tangan
menolongku! Aku kagum melihat kau
memiliki ilmu pukulan sakti bernama Api
Salju tadi! Muridku, biarkah aku mati
ditangan orang-orang ini! Untuk menebus
semua dosaku. Termasuk dosaku padamu!
Dosa membunuh ayah dan ibumu!"
"Embah, saya telah melupakan hal itu
...." kata Mahesa.
"Bagus! Terima kasih muridku. Tapi
ada yang tak bakal melupakan. Yakni
hukuman Tuhan! Jika kau merasa masih
muridku, patuh padaku, pergi ke ujung
lapangan sana! Biarkan orang-orang ini
membantaiku di pedataran rumput ini!"
"Sebagai murid saya tak bisa
berlepas tangan membiarkan mereka
membunuh Embah!"
"Jangan keras kepala! Turut
perintahku!" Simo Gembong tampak marah.
Mahesa tetap tegak ditempatnya.
Kedua matanya memandang ke arah
orang-orang yang siap mengeroyok
gurunya. Simo Gembong diam-diam
mengetahui apa yang ada dalam benak
pemuda itu. Maka dia cepat berkata.
"Mahesa, dengar! Apapun yang mereka
lakukan terhadapku jangan sekali-kali
kau mendendam pada mereka!"
Datuk Ular, Dewi Rebab Kencana dan
Pendekar Kembang Merah hampir tak dapat
mempercayai kalau yang muncul itu adalah
seorang pemuda yang diaku murid oleh Simo
Gembong. Jika gurunya jahat apakah sang
murid juga jahat? nyatanya sang murid
memiliki kepandaian yang tidak berada
dibawah tingkat kepandaian gurunya.
Apakah dia berkeras kepala untuk
membantu Simo Gembong?
Sebaliknya Dewi Maut tidak
perdulikan siapapun adanya Mahesa.
Melihat wajah pemuda itu kembali
hilanglah kerinduannya selama ini.
Selintas pikiran muncul dibenaknya.
Serangkum senyum menyungging dibibirnya
yang merah mungil. Dia berpaling pada
Simo Gembong dan berkata: "Tua bangka
durjana! Aku bisa melupakan dendam
kesumatku terhadapmu dan mengampuni
selembar nyawa busukmu. Asal saja kau mau
membujuk muridmu untuk tinggal disini,
di Pulau Mayat ini!"
Paras Mahesa Kelud tampak menjadi
sangat merah. Datuk Ular, Dewi Rebab dan
Pendekar Kembang Merah sama memandang ke
arahnya.
"Eh, apa katamu Sutri. .. .?!" ujar
Simo Gembong seraya memandang pulang
balik pada Mahesa dan Dewi Maut. "Ha ...
ha ... ha .. ! Rupanya kau sudah jatuh
cinta pada muridku! Ha.. ha.. ha..!
Pantas tak ada tempat lagi untukku
dihatimu!" Meskipun mulutnya tertawa
tapi hati dan batin Simo Gembong
benar-benar terpukul. Kemungkinan hidup
bersama dengan perempuan yang pernah
dirusak kemudian dicintainya itu sudah
tertutup. Apalagi yang kini dicarinya
selain kematian?! Dia memandang
berkeliling. "Siapa yang ingin
membunuhku, bunuhlah! Mahesa, jangan
kecewakan hatiku dihari terakhir hidupku
ini! Menyingkir ke tepi pedataran!"
Mahesa merasakan tenggorokannya
tercekik. Dengan .langkah gontai dia
berjalan ke tepi pedataran berumput.
Saat itulah Datuk Ular dan Pendekar Kern
bang Merah pergunakan kesempatan. Ikat
pinggang ular sanca menderu. Kembang
kertas merah melesat. Disaat yang sama
Dewi Rebab gesek rebabnya. Sinar putih
kekuningan menyambar ke arah perut Simo
Gembong.
Tubuh orang tua itu mencelat ketika
sinar putih menghantam perutnya. Belum
sempat mencelat jauh, kepala ular
menggebuk punggungnya hingga dia
terbanting ke bawah. Disaat itu pula
kembang kertas yang sekeras kepingan
besi itu menancap di dadanya! Jelas
sekali terlihat Simo Gembong tidak
berusaha menghindar atau balas
menyerang. Dia biarkan dirinya menjadi
sasaran tiga serangan itu. Tubuhnya
terkapar di tanah. Tapi dia bangkit
kembali sambil menyeringai. Darah
mengucur dari dadanya yang ditancapi
kembang kertas. Tulang-tulang iganya
dibarisan belakang kiri hancur oleh
gebukan senjata Datuk Ular dan sinar
putih yang menghantam dadanya membuat
dada itu hangus. Darah kental kelihatan
mengucur di sela bibirnya.
"Embah!" pekik Mahesa.
"Tetap ditempatmu!" teriak Embah
Jagatnata alias Simo Gembong. Dia
melangkah ke hadapan Dewi Maut.
"Sutri.....Mereka bisa menggebukku
sampai hancur! Mereka bisa mencincang
tubuh kasarku! Tapi aku tak akan mati!
Nyawaku tak akan lepas! Hanya pedang di
tanganmu itu yang sanggup membunuhku!
Tusukkan ke dadaku Sutri! Tusukkan!"
"Jangan dengar ucapannya Dewi!"
Mahesa berteriak dari tepi pedataran.
Sesaat Dewi Maut menjadi ragu.
Kata-kata siapa yang harus diikutinya.
Sebaliknya Simo Gembong yakin bahwa
perempuan itu akan mengikuti ucapan
Mahesa. Tak ada jalan lain. Simo Gembong
menerkam ke depan. Dewi Maut terpekik.
Tubuhnya mencelat dan jatuh terhampar di
rumput. Pedang Samber Nyawa tertarik
lepas dari genggamannya. Ketika dia
meman-dang ke depan senjata sakti itu
sudah berada dalam tangan Simo Gembong.
"Embah! Jangan!" teriak Mahesa
menggeledek. Dia memburu. Tapi Simo
Gembong lebih cepat. Pedang Samber Nyawa
ditusukkannya ke dadanya. Persis seperti
kejadian di puncak Gunung Kelud tempo
hari. Tapi sekali ini yang menancap di
dadanya adalah pedang Samber Nyawa yang
asli.
Terdengar suara aneh dari
tenggorokan Simo Gembong. Suara seperti
kerbau disembelih. Darah membusah
dimulutnya, mengucur dari luka didada.
Matanya yang merah membeliak besar.
Mahesa cepat cabut pedang Samber Nyawa
dari dada gurunya. Tubuh Simo Gembong
rebah menelentang ke tanah. Mahesa
merangkulnya.
"Embah…..Embah!"
Tapi sang guru tak menjawab. Tidak
bergerak dan tak bernafas lagi.
Benar-benar mati.
Dewi Maut melangkah mendekat.
Dipungutnya , Pedang yang tergeletak di
rumput. "Dia sudah mati Mahesa. Gurumu
sudah mati...." terdengar perempuan itu
berkata. Mahesa hanya bisa tundukkan
kepala. Disampingnya terdengar Dewi Maut
membentak.
"Dewi Rebab! Datuk Ular! Pendekar
Kembang Merah! Kalian tak punya
kepentingan apa-apa lagi disini! Pergi
sebelum aku merubah keputusan untuk
me-ngampuni nyawa kalian!"
Datuk Ular berpaling pada Pendekar
Kembang Merah. Keduanya saling
mengangguk. "Memang, tak ada perlunya
kami berlama-lama disini!" Lalu keduanya
cepat-cepat tinggalkan tempat itu.
Dewi Maut berpaling pada Dewi Rebab
Kencana.
Yang dipandang tersenyum tawar lalu
gesek rebabnya. Kali ini tak ada sinar
dahsyat yang berkiblat. Hanya bunyi yang
keras tapi bernada pilu. Begitu bunyi itu
lenyap, Dewi Rebab juga ikut lenyap dari
tempat tersebut.
Dewi Maut bertepuk tiga kali. Tujuh
anak buahnya segera muncul.
"Urus mayat kakek itu," katanya pada
mereka.
"Baik Dewi!" Tujuh gadis cantik
berpakaian biru menyahut berbarengan.
'Tidak!" tiba-tiba terdengar suara
Mahesa. "Aku sendiri yang akan mengurus
mayat guru! Jangan ada yang berani
menyentuh jenazahnya!"
Dewi Maut termangu sesaat. Lalu
berkata: "Jika itu maumu, akupun tidak
melarang. Hanya saja kau harus
menguburkannya di pulau ini!"
Mahesa tak menyahut. Didukungnya
jenazah Simo Gembong yang selama ini
hanya dikenalnya dengan nama Embah
Jagatnata. Ditepi pantai dia berhenti,
memandang ke tengah laut sementara hari
mulai terang dan di timur langit
kelihatan mulai merah. Dewi Maut yang
sejak tadi mengikutinya bersama tujuh
anak buahnya tegak di belakangnya.
Ketika Mahesa menurunkan jenazah Simo
Gembong, Dewi Maut memberi isyarat. Dua
orang anak buah Dewi Maut yakni Tiga Biru
dan Dua Biru meletakkan alat-alat
penggali disamping Mahesa yakni pacul
dan linggis. Keduanya kemudian mundur ke
tempat semula.
Tanpa berkata apa-apa Mahesa ambil
pacul itu lalu mulai menggali kubur untuk
gurunya. Dewi Maut mengambil linggis.
Sesaat dia tegak memandangi Mahesa.
Ketika Mahesa mengangkat kepalanya,
pandangan mereka bertemu.
"Kalau kau memang ingin membantu,
mulailah," kata Mahesa.
Dewi Maut tersenyum lebar. Dia
segera mengambil linggis dan masuk ke
dalam lobang yang telah digali Mahesa.
Tiga Biru memandang pada kawan-kawannya.
"Tak ada pekerjaan untuk kita
disini," katanya. Lalu ketujuh gadis itu
segera tinggalkan tempat tersebut.
Mahesa dan Dewi Maut terus menggali
sementara sang surya sudah menyembul di sebelah timur
TAMAT
0 comments:
Posting Komentar