"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Kamis, 28 November 2024

MAHESA KELUD EPISODE FITNAH BERDARAH

MAHESA KELUD EPISODE FITNAH BERDARAH

 SATU


MAHESA Kelud letakkan sebuah batu be-

sar di kepala makam di mana jenazah kakek sakti 

bernama Karang Sewu dikebumikan nya. Dia me-

narik nafas dalam, duduk bersila di depan ma-

kam. Sambil pandangi makam bertanah merah 

itu murid Embah Jagatnata dari gunung Kelud ini 

berucap dalam hati.

"Karang Sewu, walau pertemuan kita begi-

tu singkat namun aku sudah menganggap dirimu 

sebagai guru dan kakek sendiri. Jenazahmu me-

mang sudah aku urus dan aku kebumikan. Ma-

nusia iblis yang telah membunuhmu telah pula 

aku habisi riwayatnya. Tapi budi dan hutang 

nyawa yang aku tanam atas dirimu rasanya tidak 

akan lunas sampai kapanpun. Aku berdoa den-

gan segala derita yang telah aku alami selama 

bertahun-tahun kiranya Gusti Allah akan membe-

rikan tempat yang sebaik-baiknya bagimu di ak-

hirat."

Mahesa Kelud angkat kedua tangannya ke 

atas berdoa dan memohon khidmat kepada Yang 

Maha Kuasa untuk Karang Sewu yang bukan saja 

telah menyelamatkan dirinya dari Gua Iblis tapi 

juga telah memberikan satu ilmu kesaktian yang 

luar biasa.

Sebelum masuk ke dalam gua Mahesa ter-

lebih dulu membuat sebuah obor. Lorong demi lo-

rong dilaluinya. Di satu lorong ditemuinya tiga


pintu batu karang. Dengan mempergunakan pu-

kulan sakti "Karang Sewu" Mahesa Kelud meng-

hantam bobol ketiga pintu itu. Ruangan di da-

lamnya pengap dan sempit. Tiga ruangan berupa 

penjara batu itu ternyata kosong.

Mahesa menelusuri sebuah lorong lagi. 

Udara di sini terasa panas. Di ujung lorong yang 

buntu terdapat satu ruangan berbentuk segi tiga. 

Di sini terdapat tiga pintu terbuat dari batu. Ma-

hesa memilih pintu sebelah tengah. Sekali han-

tam saja pintu batu itu berderak lalu runtuh ke 

lantai gua. Bau busuk serta merta menusuk hi-

dung Mahesa Kelud. Dia maju tiga langkah sambil 

angkat obor di tangan kirinya tinggi-tinggi. Bulu 

kuduknya langsung merinding.

Sesosok tubuh yang hanya merupakan je-

rangkong tetapi masih ditempeli gumpalan-

gumpalan daging yang telah membusuk serta di-

geragoti belatung terkapar di salah satu sudut 

ruangan.

"Manusia malang ini pasti salah satu dari 

lima pendekar yang telah menerima Surat Kema-

tian seperti yang telah diceritakan Karang Sewu," 

membatin Mahesa Kelud. Sambil geleng-geleng 

kepala dia tinggalkan tempat itu. Ketika dua pintu 

batu lagi dibobolnya dia menemui dua sosok je-

rangkong yang telah mengering. Agaknya dua 

korban keganasan si Nenek Iblis ini menemui ajal 

bertahun-tahun lebih lama dibanding dengan 

yang pertama tadi.

Mahesa mula-mula tak mengerti mengapa


Karang Sewu bisa mempertahankan diri sampai 

sepuluh tahun sedang ketiga manusia yang su-

dah tinggal tulang belulang itu tidak? Disuluhinya 

kamar sempit tersebut dengan teliti. Akhirnya ja-

waban didapatnya. Tiga kamar di mana ketiga 

manusia itu terpenjara terletak jauh dari sungai 

sehingga udara yang panas sama sekali tidak 

membuat adanya lumut yang dapat dimakan pa-

da dinding-dinding kamar batu karang!

"Untung saja si Karang Sewu dan aku di-

penjarakan di lorong dekat sungai. Kalau tidak...," 

tegak bulu kuduk pendekar muda itu. "Tapi di 

mana gerangan dua orang lainnya?" dia bertanya-

tanya dalam hati. Masih ada empat lorong gelap 

yang belum diselidiki Mahesa Kelud. Satu demi 

satu lorong itu dijelajahinya. Di lorong yang ke-

dua ditemuinya satu kerangka manusia. Kamar-

kamar sempit di lorong ketiga tidak berpenghuni. 

Lorong yang keempat kini. Udara agak sejuk, ini 

tanda bahwa lorong itu juga berada dekat sungai. 

Kalau saja ada manusia yang dipenjarakan di si-

ni, mungkin masih hidup, pikir Mahesa.

Pintu Karang yang pertama didobraknya. 

Kosong. Pintu kedua dipukulnya bobol. Dia me-

nyeruak masuk ke dalam dan undurkan langkah 

ketika melihat sesuatu yang bergerak di sudut 

ruangan.

Mahesa terkejut apakah yang dilihatnya ini 

manusia atau setan. Kulitnya putih bulai dan 

sangat pucat. Rambutnya juga putih seperti ka-

pas. Kedua matanya yang cekung berputar liar.


Dia lindungi kedua matanya ini dengan belakang 

tangan dari silaunya api obor. Perlahan-lahan 

makhluk ini berdiri sambil berpegangan ke dind-

ing. Ternyata dia seorang manusia juga adanya. 

Tawanan si Nenek Iblis! Keadaan tubuhnya me-

nyedihkan dan nyaris tanpa pakaian.

"Kawan atau lawankah yang datang ini?" 

tanya orang yang tubuhnya kurus kering dan 

berkulit putih bulai serta pucat, tinggal kulit 

pembalut tulang saja.

Mahesa menjauhkan obornya dari mata 

orang tua yang kesilauan itu. "Jangan khawatir," 

katanya. "Aku sahabat baik yang datang untuk 

menolongmu. Kau siapa?"

Tawanan tua itu nampak bimbang. "Kalau 

kau kaki tangannya si Nenek Iblis, lebih baik bu-

nuh aku cepat!" katanya.

Mahesa gelengkan kepala. "Tadinya aku ju-

ga seorang tawanan...." 

"Seseorang yang pernah menjadi tawanan 

si Nenek Iblis keadaan tubuhnya tidak akan se-

pertimu! Lagi pula tak ada satu manusia berilmu 

tinggi pun sanggup bebaskan diri dari dinding-

dinding karang tebal yang mengurungnya!"

"Sebaiknya mari kita keluar dari sini. Aku 

akan terangkan segala-galanya padamu nanti,"

ujar Mahesa seraya putar tubuhnya.

"Tunggu," terdengar suara tawanan itu ke-

tika dilihatnya Mahesa hendak berlalu. Si pemuda 

palingkan kepala. "Kau tahu, aku lima belas ta-

hun lebih dikurung di sini oleh si Nenek keparat.


Kekuatanku seakan-akan punah. Aku tidak bisa 

jalan."

Mahesa memperhatikan tubuh laki-laki 

yang sangat kurus dan telanjang di hadapannya 

itu. Kedua kakinya kecil sekali, hampir sebesar 

tongkat! Mahesa dekati orang itu lalu memapah-

nya. Beberapa lama kemudian mereka sampai di 

luar. Orang yang dipapah Mahesa Kelud meme-

jamkan matanya kesilauan oleh sinar matahari. 

Mahesa membawanya ke bawah sebatang pohon. 

Lama sekali baru orang ini sanggup membuka 

kedua matanya. Itupun masih dengan menyipit-

nyipit.

"Pemuda, kau siapa? Aku berhutang nyawa 

padamu."

"Sudah kukatakan tadi aku adalah seorang 

tawanan si Nenek Iblis juga. Namaku Mahesa Ke-

lud."

"Bagaimana kau bisa lolos?"

"Karang Sewu menolong aku."

"Siapa? Karang Sewu...?! Mana dia seka-

rang?" tanya orang itu dengan nada sangat terke-

jut.

"Dia sudah mendahului kita. Sejak sepuluh 

tahun yang lalu dia kena ditipu dan dipenjarakan 

oleh si Nenek Iblis di gua itu," menerangkan Ma-

hesa Kelud.

"Tidak mungkin! Mustahil! Tidak ada satu 

penjarapun yang sanggup mengurung jago silat 

itu! Kau tahu apa artinya Karang Sewu!"

"Mulanya aku juga berpendapat seperti


kau. Tapi kemudian si Karang Sewu menerangkan

padaku bahwa ketika dia dipukul secara pengecut 

yaitu tiba-tiba, maka dalam keadaan pingsan tak 

sadar diri si Nenek Iblis membacok putus kedua 

tangan dan kakinya. Jadi meskipun dia mempu-

nyai ilmu Karang Sewu, tapi percuma saja karena 

tangan ataupun kakinya tak bisa dipergunakan."

"Benar-benar terkutuk perempuan iblis itu! 

Aku sudah bertekad bulat, bila saja aku sanggup 

membebaskan diri atau ada yang menolongku ke-

luar dari gua maut itu aku akan adu nyawa den-

gan si Nenek Iblis!"

"Kurasa itu sudah tak perlu lagi," kata Ma-

hesa Kelud dengan tersenyum. Dia menunjuk 

jauh ke muka sana, ke arah pepohonan.

Orang itu mengikuti jari telunjuk si pemu-

da dan sambil berpegangan ke batang pohon di 

belakangnya dia berdiri. Sesosok tubuh yang te-

lanjang dan berkulit keriputan, berambut putih 

jarang menggeletak di tanah tak bergerak-gerak. 

Tubuh si Nenek Iblis!

"Siapa yang telah membunuhnya?!" tanya 

orang itu.

"Kebenaran," jawab Mahesa tidak mau ton-

jolkan diri.

"Kebenaran?"

"Ya. Kebenaran akan selalu membunuh ke-

jahatan. Itu suatu hukum yang tidak tertulis...."

Orang itu tertawa. Untuk pertama kalinya 

saat itu baru dia menyadari bahwa dirinya tidak 

berpakaian sama sekali. Dia duduk ke tanah dan


melipatkan kedua kaki untuk menutupi bagian 

tubuhnya. "Harap maafkan keadaanku," katanya. 

"Selama lima belas tahun dikurung, pakaianku 

hancur luluh menjadi bubuk."

"Tak apa-apa. Nanti kita bisa mencari be-

berapa potong pakaian untukmu. Kau tahu apa 

yang terjadi dengan tawanan-tawanan lainnya 

yang berjumlah empat orang?"

"Mereka masih hidup?"

"Mati semua."

"Tapi mereka bisa makan lumut di dinding 

karang itu...."

"Mereka dipenjarakan dilorong yang jauh 

dari sungai. Dinding karang yang mengurung me-

reka tidak menghasilkan lumut. Kita, aku, kau 

dan si Karang Sewu masih beruntung terpenjara 

di lorong dekat sungai. Kalau tidak nasib kita sa-

ma dengan empat tokoh silat itu. Mati secara 

mengenaskan, jadi jerangkong lapuk!"

Orang tua di hadapan Mahesa Kelud 

menghela nafas panjang. Dia berpaling. Saat itu-

lah sepasang matanya membentur gundukan ta-

nah merah.

"Kuburan siapa itu? Kelihatannya masih 

baru sekali," si orang tua bertanya.

"Makam Karang Sewu. Orang yang telah 

menolong kita..." jawab murid Embah Jagatnata.

Mendengar keterangan Mahesa itu si orang 

tua kumpulkan seluruh kekuatannya lalu dengan 

beringsut dia mendekati makam Karang Sewu. Di 

depan makam dia membungkuk dalam memberi


penghormatan.

"Aku tidak bisa membalas budi jasamu. 

Aku hanya bisa mendoakan agar Tuhan memberi 

tempat yang terbaik bagimu di akhirat..." kata si 

orang tua pula dengan suara tersendat. Dia ber-

paling pada Mahesa. Saat itu Mahesa berkata.

"Kasihan kakek sakti itu. Rupanya Nenek 

Iblis mengetahui kalau Karang Sewu telah menga-

jarkan pukulan sakti Karang Sewu padaku agar 

aku bisa lolos. Waktu itu aku sedang bersiap-siap 

untuk keluar dari dalam penjara batu. Tahu-tahu 

perempuan iblis itu sudah menyelinap masuk ke 

dalam penjara Karang Sewu dan langsung mem-

bunuh orang tua yang tidak berdaya itu!" Kini 

Mahesa yang menarik nafas panjang. "Orang tua," 

katanya pada orang yang duduk di depan makam 

Karang Sewu itu. "Kau masih belum terangkan 

siapa kau adanya."

"Aku orang jauh.... Datang ke sini tak ta-

hunya hanya untuk mencari mati. Aku berasal 

dari tanah Bugis. Namaku Ulong Jamber. Suatu 

hari sekitar lima belas tahun yang lalu aku men-

dengar kabar selentingan tentang adanya delapan 

helai surat rahasia yang dilayangkan dari Gua Ib-

lis ini. Bukan aku sombong, tapi begitulah. Tanah 

Bugis penuh dengan jago-jago silat dan orang-

orang sakti. Mereka semua menyeberang ke tanah 

Jawa ini untuk dapatkan surat itu. Tapi aku lebih 

beruntung. Aku berhasil paling dulu menda-

patkan salah satu dari delapan surat itu. Di ten-

gah jalan, dalam perjalanan ke sini aku dihadang


beberapa tokoh silat. Mereka memaksa aku me-

nyerahkan surat. Bentrokan tak dapat dihindar-

kan. Semua menemui ajal di tanganku. Tapi tak 

tahunya Nenek Iblis penghuni Goa ini menipuku. 

Aku jauh-jauh datang untuk mendapatkan Cam-

buk Iblis yang menurut isi surat siapa yang me-

milikinya pasti akan merajai dunia persilatan de-

lapan penjuru angin. Namun nasib yang kutemui 

adalah dipenjarakan sampai belasan tahun. Un-

tung saja ada kau, kalau tidak mungkin untuk 

seumur hidup aku akan disekap di ruang batu 

karang itu! Aku berhutang nyawa padamu, Mahe-

sa."

"Kau salah. Bukan padaku Ulong Jamber 

tapi pada Karang Sewu. Dan aku juga berhutang 

nyawa serta budi padanya...."

"Mahesa Kelud, kau beruntung memiliki 

ilmu pukulan Karang Sewu itu. Kau punya hara-

pan besar akan merajai dunia persilatan. Ten-

tunya kau sudah dapatkan Cambuk Iblis itu," ka-

ta Ulong Jamber.

Si pemuda tersenyum pahit. "Tentang 

Cambuk Iblis itu..." katanya, "Cerita kosong bela-

ka!"

"Cerita kosong bagaimana?" tanya Ulong 

Jamber tak mengerti.

"Si Nenek Iblis sengaja menyebarkan dela-

pan helai surat rahasia untuk menarik orang-

orang dari kalangan persilatan agar datang ke si-

ni, ke guanya, untuk dibunuh! Sedang maksud 

utamanya ialah memancing seorang jago tua ber


nama Simo Gembong yang tak lain adalah bekas 

kekasihnya sewaktu masih gadis." Untuk lebih je-

las bagi Ulong Jamber maka Mahesa Kelud ke-

mudian tuturkan kisah riwayat hidup si Nenek Ib-

lis yang didengarnya dari Karang Sewu. Ulong 

Jamber tak habisnya geleng-gelengkan kepala be-

gitu selesai mendengarkan penuturan Mahesa.

"Simo Gembong bukan seorang manusia 

yang mudah untuk dipancing," kata Ulong Jamb-

er pula.

"Kau kenal dia dan di mana beradanya se-

karang?" tanya Mahesa Kelud.

"Semua orang di dunia persilatan tak ada 

yang tak pernah dengar nama itu. Simo Gembong 

pernah menggetarkan dunia persilatan bahkan 

dianggap sebagai raja rimba persilatan secara ti-

dak resmi. Kalau si Nenek Iblis ingin balaskan 

sakit hatinya dan kalau sekiranya Simo Gembong 

berhasil dipancingnya, maka sangat kecil ke-

mungkinan bahwa si Nenek Iblis akan sanggup 

melayani jago tua itu sampai sepuluh jurus seka-

lipun! Tapi anehnya sekitar lima tahun belakan-

gan ini Simo Gembong hilang lenyap begitu saja. 

Meskipun namanya tetap menggetarkan kalangan 

persilatan namun tidak satu orangpun tahu di 

mana dia berada...."

"Mungkin sudah mati?" ujar Mahesa Kelud. 

Ulong Jamber gelengkan kepala.

"Mustahil sesudah tahunan begini kalau 

dia mati tak ada satu manusiapun yang tahu. 

Yang menyulitkan ialah sepanjang pengetahuan


dia tidak pernah mempunyai seorang muridpun 

sehingga sukar dicari jalan untuk mengikuti je-

jaknya. Semasa hidupnya karena kelakuannya 

yang buruk dia banyak punya musuh. Dia tukang 

mainkan anak gadis orang bahkan juga isteri 

orang. Dia perusak rumah tangga orang. Tapi se-

tiap orang yang sakit hati dan mendendam kepa-

danya tidak berdaya berbuat suatu apa ketika 

mereka mengetahui siapa adanya orang yang me-

reka hadapi yaitu Simo Gembong. Seorang raja si-

lat yang tak bisa dilawan meskipun dengan dike-

royok oleh lima pendekar silat kelas utama!"

"Sulit juga kalau begitu...." desis Mahesa 

Kelud.

"Apa yang sulit, anak muda?" tanya Ulong 

Jamber.

"Ulong, aku berterus terang padamu. Aku 

belum lama turun gunung. Ketika dilepas oleh 

gurukku aku dibekali dua tugas berat. Yang per-

tama mencari pedang bernama Samber Nyawa 

dan yang kedua mencari serta membunuh Simo 

Gembong dengan pedang itu...."

Ulong Jamber termenung seraya kedua 

matanya yang mulai biasa dengan sinar matahari 

memandang ke kejauhan. "Tentang pedang 

Samber Nyawa itu tidak bisa dipastikan kebena-

ran adanya. Seribu satu cerita mengenai keheba-

tan pedang ini tersebar ke pelbagai penjuru na-

mun di mana adanya itu senjata tak satu manu-

sia pun yang tahu. Kau bilang tadi bahwa kau di-

tugaskan oleh gurumu untuk mencari Simo Gem


bong. Kalau aku boleh tahu Mahesa, siapa guru-

mu adanya?"

"Embah Jagatnata. Beliau diam di puncak 

gunung Kelud. Kau kenal padanya barangkali?"

Ulong Jamber gelengkan kepala. "Dia tentu 

seorang yang berilmu sangat tinggi. Tapi sayang 

aku baru kali ini dengar nama itu. Sebagai mu-

ridnya kau tentu punya ilmu tinggi pula, Mahesa.

Ditambah lagi dengan pukulan Karang Sewu yang 

kau dapat dari Karang Sewu. Namun demikian 

untuk menghadapi Simo Gembong dalam menja-

lankan tugas gurumu itu nanti hati-hatilah. Se-

lama hidupnya Simo Gembong tidak pernah men-

jadi seorang pecundang!"

"Aku tahu, mudah-mudahan aku berhasil 

menemui pedang Samber Nyawa. Bila tidak, aku 

tetap akan lakukan tugas guruku sekalipun un-

tuk berhasilnya aku harus bayar dengan nyawa."

"Kau seorang murid yang patuh, Mahesa. 

Gurumu tentu sangat menyayangimu," kata 

Ulong Jamber pula. Dia berdiri dan berkata: "Se-

belum senja datang sebaiknya kita masuk ke da-

lam gua kembali untuk mencari secarik pakaian 

yang dapat menutupi tubuhku. Aku tak bisa 

kembali ke Bugis dengan telanjang seperti ini...."

Mahesa berdiri. Obor yang tadi dipadam-

kan kini dihidupkan kembali. Kedua orang itu 

masuk ke dalam gua. Menjelang senja mereka 

sudah keluar dan Ulong Jamber tampak memakai 

sehelai kain hitam. Kain ini milik si Nenek Iblis. 

Bagi Ulong Jamber adalah jauh lebih baik mema


kai kain perempuan yang dibencinya itu daripada 

harus bertelanjang bulat.

"Malam ini sebaiknya kita bermalam saja di 

sini. Besok pagi kau lanjutkan perjalanan dan 

aku sendiri akan kembali ke Bugis."

Mahesa Kelud mengangguk menyetujui 

usul Ulong Jamber itu. Pemuda ini segera menca-

ri kayu dan ranting-ranting kering untuk mem-

buat perapian.



DUA


PERLAHAN-LAHAN api perapian mulai pa-

dam. Mulut gua di mana kedua orang itu terbar-

ing diliputi kegelapan. Sesosok tubuh bergerak 

seperti melayang-layang mendekati Mahesa Kelud 

yang tengah terbaring tidur dengan nyenyaknya. 

Sebagai orang berilmu tinggi yang punya naluri 

tajam biasanya jika ada orang yang melangkah di 

dekatnya, walau bagaimana pun nyenyaknya ti-

dur Mahesa Kelud akan terbangun dengan cepat. 

Tapi kali ini anehnya tidak demikian adanya. 

Apakah makhluk yang mendekati si pemuda, be-

rilmu lebih tinggi sehingga baik telinga maupun 

naluri perasaan Mahesa tidak sanggup menang-

kap suara kaki-kakinya yang melangkah?

Sosok tubuh itu berlutut di hadapan Ma-

hesa Kelud, tiba-tiba dia ulurkan kedua tangan-

nya ke arah leher si pemuda. Jari-jarinya yang 

kurus-kurus panjang mencekik dan meronta. Ke


dua matanya membuka besar dan membentur sa-

tu wajah yang menyeramkan di atasnya. "Mam-

pus! Mampuslah kau pemuda terkutuk." kata 

makhluk itu.

Mahesa yang sudah menyengal nafasnya 

dengan sekuat tenaga menghantamkan lututnya 

ke tubuh makhluk yang mencekiknya itu. Tapi 

tumitnya seperti mengenai angin kosong. Diper-

gunakannya tangan kanannya untuk memukul. 

Lagi-lagi dia hanya menghantam tempat kosong. 

Tanpa pikir panjang si pemuda yang untung saja 

masih belum kehilangan akalnya itu segera gu-

lingkan diri ke samping. Cekikan pada lehernya 

terlepas. Dengan cepat Mahssa bangkit berdiri!

Betapa terkejutnya pemuda ini ketika meli-

hat siapa yang berdiri di hadapannya saat itu.

Tak lain si Nenek Iblis! Ada keanehan yang men-

gerikan pada diri makhluk itu. Wajahnya lebih 

mengerikan sedang tubuhnya seperti meliuk-liuk 

tak ubahnya laksana api pelita yang dihembus 

angin. Ketika dia melihat kaki itu sama sekali ti-

dak menyentuh tanah maka maklumlah kini Ma-

hesa Kelud dengan siapa dia berhadapan saat itu. 

Yang dilihatnya memang berwujud si Nenek Iblis 

yang tadi siang dibunuhnya, tapi sebenarnya 

hanya merupakan roh halusnya. Roh halus yang 

jahat atau jelasnya setan jadi-jadian!

Di malam yang sunyi dan dingin itu tiba-

tiba terdengar suara tawa cekikikan makhluk di 

hadapan Mahesa. Tubuhnya bergerak mendekati 

pemuda itu, melangkah tanpa kaki menginjak


bumi, seperti orang yang pandai melayang. Kedua 

tangannya terulur ke muka dan senantiasa men-

garah ke batang leher Mahesa. Si pemuda mun-

dur.

"Jangan lari Mahesa! Kau telah bunuh aku. 

Sekarang mari ikut sama-sama aku ke lobang ne-

raka! Hi... hi... hi!"

"Pergi!" bentak si pemuda seraya hantam-

kan tangan kanannya ke muka. Tapi yang dipu-

kulnya hanya udara kosong. Tubuh makhluk 

yang di hadapannya meliuk-liuk dan semakin de-

kat. Mahesa memukul lagi. Dia tahu bahwa tin-

junya itu pasti sudah sampai di sasarannya tapi 

yang dipukulnya tetap saja udara kosong karena 

memang tubuh yang dipukulnya itu bukan tubuh 

kasar melainkan roh halus yang jahat!

Mahesa cepat melompat ke samping ketika 

setan si Nenek Iblis hendak mencekik lehernya. 

Dia meloncat lagi menjauh kira-kira sepuluh 

langkah. Setan jahat di hadapannya memutar tu-

buh dan mengejar. Mahesa maklum bahwa mak-

hluk seperti itu tak bisa dihadapi dengan ilmu 

kasar. Cepat-cepat ini pemuda sedekapkan kedua 

tangannya di muka dada. Kedua matanya dipe-

jamkan dan dalam hatinya dia mulai semedi 

membaca mantera. Setan perempuan jahat itu 

sampai di hadapan Mahesa Kelud dan segera 

mencekik leher si pemuda. Mahesa tak bergerak 

barang sedikit pun!

"Kau harus ikut aku ke neraka Mahesa! 

Harus ikut. Hi... hi... hi... hi...!" Mendadak suara


tertawa cekikikan makhluk halus ini menjadi ter-

henti dan berganti dengan jeritan yang melolong 

setinggi langit! Tangannya yang mencekik terlepas 

dan kelihatan berubah menjadi asap! Makhluk ini 

menjerit terus dan mundur. Perlahan-lahan Ma-

hesa membuka kedua matanya. Pandangannya 

yang tajam menyorot ke makhluk di hadapannya. 

Kedua tangan yang bersedekap di muka dada di-

buka dan kini mengembang dengan telapak-

telapak yang terpentang. Dari telapak tangan itu 

keluar angin sangat panas, menderu keras ke 

arah tubuh halus dari si Nenek Iblis. Inilah ilmu 

api yang berhasil dikuasai oleh Mahesa Kelud 

dengan sempurna ketika dia digembleng dipuncak 

gunung Kelud tempo hari oleh Embah Jagatnata.

"Tidak! Jangan.... Ampun!" terdengar jeri-

tan setan Nenek Iblis.

Mahesa membuka mulutnya, "Makhluk ha-

lus, kembali ke tempat dari mana kau datang. 

Jangan gentayangan...."

"Tidak... ya... ya... aku kembali. Ampun!" 

"Kembali cepat!"

Makhluk dihadapannya melayang meliuk-

liuk ke arah pepohonan di mana di tempat yang 

kegelapan terbujur mayat si Nenek iblis. Di hada-

pan mayat ini makhluk tadi berhenti. Tubuhnya 

perlahan-lahan, sedikit demi sedikit berubah 

menjadi kepulan asap tipis yang sesaat demi se-

saat hilang lenyap dihembus angin malam yang 

dingin.

Perlahan-lahan Mahesa Kelud menurunkan


kedua tangannya yang terpentang lebar. Dis-

ekanya keningnya yang basah dengan keringat. 

Diaturnya jalan nafas dan jalan darahnya. Sesu-

dah itu dia melangkah ke tempat di mana dia tadi 

tidur. Di sebelah sana dilihatnya Ulong Jamber 

pulas nyenyak. Apa yang telah terjadi tidak dike-

tahuinya. Jeritan-jeritan makhluk halus tadi sa-

ma sekali tidak sampai kepada pendengarannya 

karena memang makhluk itu tidak bermaksud 

mencelakakannya tapi mencelakakan Mahesa Ke-

lud. Sampai hari pagi, sampai ketika langit di se-

belah timur mulai terang oleh singsingkan fajar, 

sesudah peristiwa mengerikan malam itu maka 

Mahesa Kelud tidak tidur barang sedikitpun. Dia 

duduk bersandar ke mulut gua. 

Sesaat kemudian dilihatnya tubuh Ulong 

Jamber bergerak tanda orang ini sudah bangun 

dari tidurnya.



TIGA


AHESA KELUD keluar dari dalam sungai 

berair sejuk serta bening itu. Tubuhnya terasa se-

gar sehabis mandi. Dengan bernyanyi-nyanyi kecil 

dia melangkah ke tempat di mana dia meninggal-

kan pakaiannya. Di bawah pakaian itu diletak-

kannya pedang milik si Cakar Setan. Dia tak per-

lu khawatir akan dilihat atau dipergoki orang ka-

rena bagian sungai di mana dia berada saat itu 

adalah bagian yang ter sunyi, lagi pula hari masih


sangat pagi. Selesai berpakaian maka pedang si 

Cakar Setan disisipkannya di belakang punggung 

dan dia segera melangkah hendak berlalu. Namun 

satu suara membentak serta merta membuat ini 

pemuda hentikan langkahnya.

"Maling busuk pembunuh keji, jangan pergi 

dulu!"

Suara itu keras tetapi halus seperti suara 

perempuan. Mahesa memutar tubuhnya dan me-

mandang berkeliling. Tak ada satu orangpun yang 

dilihatnya. Dia jadi terheran-heran. Suara siapa 

tadi itu, pikirnya. Tiba-tiba dari sebatang pohon 

tak jauh di hadapannya melayang turun sesosok 

tubuh berbaju kuning. Dan di hadapan Mahesa 

Kelud kini berdirilah seorang gadis berparas jelita. 

Kulitnya putih. Dia memakai pakaian laki-laki 

berwarna kuning. Pakaiannya ini menambah keje-

litaannya. Rambutnya yang hitam disanggul di 

atas kepala, dihiasi sekuntum bunga mawar kun-

ing. Meskipun pandangannya menyorot dan be-

ringas penuh kebencian pada Mahesa Kelud tapi 

justru inilah yang membuat parasnya jadi tambah 

cantik. Mau tak mau pemuda kita dibuat terpeso-

na juga jadinya. Dari bentuk pakaian yang dike-

nakan oleh gadis itu Mahesa maklum bahwa si 

baju kuning ini adalah seorang gadis dari dunia 

persilatan. Tadi dia telah pula menyaksikan ba-

gaimana ketika melayang turun tubuh si gadis 

tak ubahnya seperti seekor burung dan waktu 

kedua kakinya menyentuh tanah tidak sedikit su-

ara pun yang kedengaran.


"Gadis berbaju kuning, siapakah orang 

yang kau maki dengan kata-kata maling busuk 

dan pembunuh keji tadi...?" tanya Mahesa Kelud.

Si gadis mengeluarkan suara mendengus 

dari hidungnya. "Dasar pemuda edan, masih ti-

dak tahu diri! Cis!" 

Mahesa Kelud menaikkan kedua alis ma-

tanya. "Aku edan katamu? Edan bagaimana...? 

Aneh! Baru kali ini bertemu muka tahu-tahu aku 

sudah dicap pemuda edan! Memangnya kenapa?"

"Kalau kau tidak edan tentu kau tak akan 

berlaku pura-pura tidak mengerti bahwa kaulah 

yang menjadi maling busuk dan pembunuh keji 

itu!" tukas si gadis ketus.

"Nah... nah... sekarang makin banyak gela-

ran atas diriku. Pemuda edan, maling busuk dan 

pembunuh keji. Kalau ada pemuda edan tentu 

ada pemuda benar. Kalau ada maling busuk tentu 

ada maling harum dan kalau ada pembunuh keji 

tentu ada pembunuh terhormat...," Mahesa terta-

wa. 

Ini membuat si gadis baju kuning di hada-

pannya jadi naik darah.

"Pemuda criwis...!"

"Oh tambah satu lagi gelaranku?!"

"Diam! Tutup mulutmu!" bentak si gadis 

penuh gusar.

"Baik. Aku akan tutup mulut!" kata Mahe-

sa Kelud pula sambil katupkan bibirnya rapat-

rapat.

Si gadis semakin gemas. Dia maju satu


langkah. "Akui terus terang bahwa kaulah bang-

satnya yang telah membunuh Cakar Setan, men-

curi surat rahasia dan pedang Naga Kuning! Ayo 

akui!"

Mahesa Kelud bungkam seribu bahasa. 

Kedua bibirnya masih terkatup rapat.

"Ayo mengakulah!" 

Mahesa masih diam.

"Kurang ajar! Jawab atau kau mau mam-

pus lebih cepat?!"

"Kau ini bagaimana? Mana bisa aku men-

jawab kalau tadi kau suruh aku menutup mulut 

rapat-rapat? Kau suruh aku tutup mulut?!"

Saking gemasnya si gadis baju kuning 

mendengar kata-kata Mahesa Kelud itu dia sam-

pai hentakkan kaki ke tanah.

"Kupecahkan mulutmu! Tidak tahu kau 

berhadapan dengan siapa? Aku muridnya si Ca-

kar Setan yang akan mencabut nyawamu karena 

telah membunuh guruku!"

"Oh, jadi aku berhadapan dengan murid 

seorang pendekar ternama? Ah, mengapa tidak 

bilang dari tadi?" Mahesa Kelud menjura memberi 

penghormatan. Diperlakukan seperti itu si gadis 

baju kuning menjadi semakin penasaran. Wajah-

nya yang cantik jelita menjadi sangat merah.

"Kembalikan pedang Naga Kuning itu pa-

daku cepat!"

Mahesa memperhatikan jari-jari tangan si 

gadis. Jari-jari itu berkuku panjang tapi bagus 

dan rapi tanda mendapat rawatan yang baik.


"Pedang itu tidak ada padaku," kata si pe-

muda menjawab pertanyaan murid Cakar Setan 

tadi.

"Jangan dusta!" bentak si gadis. "Aku lihat 

sendiri senjata itu kau sisipkan di batik pung-

gungmu sehabis mandi tadi!"

"Hem..." gumam Mahesa Kelud. "Jadi kau 

telah mengintip aku mandi?" Si pemuda mengu-

lum senyum. "Seumur hidupku baru kali ini ku-

ketahui ada gadis yang suka mengintip pemuda 

mandi. Biasanya pemudalah yang suka mengintip 

seorang gadis sedang mandi. Rupanya dunia su-

dah terbalik kini heh?!"

Air muka murid Cakar Setan menjadi me-

rah untuk kesekian kalinya. "Pemuda rendah! 

Kau benar-benar menghina! Rasakan ini!" Dengan 

serentak si baju kuning menyerbu ke muka men-

girimkan satu jotosan tangan kanan ke dada Ma-

hesa Kelud.

Merasakan angin pukulan yang keras, Ma-

hesa Kelud cepat-cepat menggeser kedua kakinya 

dan mengelak. Jotosan yang hebat lewat. Begitu 

tinjunya mengenai tempat kosong si gadis dengan 

serentak membalik dan kini tinju kirinya yang 

melayang ke muka, rendah mengarah lambung 

Mahesa Kelud. Pemuda itu melompat ke samping. 

Dengan gusar si gadis lancarkan serangan susu-

lan yakni berupa tendangan kaki kanan ke se-

langkangan Mahesa. Murid Embah Jagatnata ti-

dak mau konyol. Serangan lawannya tidak main-

main dan dengan cepat dia melompat ke atas se


raya kembangkan kedua kakinya. Kalau dia mau, 

sambil melompat itu dia bisa mengirimkan satu 

serangan balasan ke kepala si gadis tapi entah 

mengapa Mahesa tidak mau melakukannya. De-

mikianlah selama beberapa jurus Mahesa Kelud 

senantiasa melayani si gadis dengan mengelak te-

rus-terusan, tak mau menyerang.

"Manusia rendah?! Mengapa mengelak sa-

ja? Apa kau ingin mampus tanpa perlawanan?!" 

gertak si gadis baju kuning.

"Dengar sahabat...."

"Cis! Jangan panggil aku sahabat! Aku bu-

kan sahabatmu! Aku ingin jiwamu, tahu? Ini! 

Mampuslah!" Murid si Cakar Setan mengirimkan 

serangan lagi, lebih dahsyat dari yang tadi. Kedua 

tinju menghantam ke muka, ke dada dan ke ke-

pala Mahesa Kelud. Sambil lompatkan diri dia 

dengan serentak kirimkan pula tendangan kaki 

kiri ke perut lawan.

Mahesa rundukkan kepala. Jotosan lawan 

lewat. Serangan yang mengarah dada ditangkis-

nya dengan bentengan lengan sedang tendangan 

kaki si gadis ditunggunya dengan lipatan lutut ki-

ri. Murid si Cakar Setan - karena Mahesa Kelud 

terus-terusan bersikap bertahan - dengan sendi-

rinya sama sekali tidak mengetahui betapa ting-

ginya tenaga dalam lawannya. Untuk mengadu 

kakinya dengan lutut lawan memang dia tidak be-

rani tapi hantaman tangan kanannya tetap dite-

ruskan. 

"Buuukk!"


Lengan si gadis beradu keras dengan len-

gan Mahesa Kelud. Si gadis terkejutnya bukan 

main. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa 

langkah ke belakang sedang lengannya terasa 

sangat sakit. Ketika dilihatnya ternyata kulit len-

gannya menjadi kemerah-merahan.

Mahesa Kelud berdiri dengan tersenyum. 

"Gadis baju kuning," katanya, "Dari pada berke-

lahi tak tentu ujung pangkal sebaiknya mari kita 

bicara baik-baik. Apa yang kau ingini?"

"Siapa sudi bicara dengan manusia rendah, 

maling busuk dan pembunuh keji seperti kau! 

Kau boleh bicara dengan setan kuburan nanti!" 

Dari balik pinggangnya gadis itu mengeluarkan 

sesuatu. Mahesa memperhatikan ingin tahu apa 

yang diambil lawannya. Ternyata sehelai selen-

dang berwarna kuning.

"Senjata apa pula ini?" pikir Mahesa Kelud 

dalam hatinya.

"Pemuda edan, bersiaplah untuk mampus! 

Agar kau mati tidak penasaran katakanlah dulu 

siapa namamu!"

"Kalau kau tanya namaku, Mahesa Kelud. 

Itulah. Sebaliknya namamu siapa gadis baju kun-

ing...?"

"Namaku tanyakanlah nanti pada setan 

kuburan," jawab si gadis dan melompat ke muka 

seraya kebutkan selendang kuning yang di tangan 

kanannya.

Mahesa Kelud cepat-cepat menghindarkan 

diri ketika dia merasakan sambaran angin dingin


dan tajam keluar dari selendang kuning tersebut. 

Matanya terasa agak perih. Pemuda ini bertindak 

hati-hati kini. Selendang di tangan si gadis meru-

pakan senjata ampuh. Bisakah dia terus-terusan 

mengambil sikap bertahan, pikir Mahesa.

"Gadis baju kuning, dengarlah! Mari kita 

bicara secara baik-baik dulu. Aku...."

Sssret...! Selendang kuning menyambar 

ganas ke mukanya. Mahesa melompat mundur. 

Lawannya mengejar dengan melompat. Dia ke-

butkan selendangnya sekali lagi dan bersamaan 

dengan itu jari-jari tangan kirinya yang berkuku 

panjang diacungkannya ke depan coba mengoyak 

dada Mahesa Kelud. Melihat serangan ganas ini si 

pemuda membuang diri ke samping kanan. Tan-

gan kanannya bergerak coba merampas selen-

dang di tangan si gadis. Tapi dengan cerdik murid 

Cakar Setan putar selendang itu dan kini turun 

membabat ke arah perut Mahesa Kelud.

Untuk kesekian kalinya murid Embah Ja-

gatnata hindarkan diri dengan melompat. Seran-

gan tangan kiri lawannya ditangkisnya dengan 

lengan kanan. Si gadis yang memaklumi keting-

gian tenaga dalam lawan tidak berani lagi untuk 

mengadakan bentrokan. Cepat-cepat dia tarik pu-

lang tangan kirinya dan sebagai ganti dia sorong-

kan lututnya ke muka seraya melompat ke atas. 

Melihat datangnya lutut lawan, Mahesa berkelit 

ke samping kiri tapi gerakannya ini disambut oleh 

si gadis dengan sambaran selendang. Walau se-

lama ini dia senantiasa mengambil sikap bertahan


maka serangan yang dahsyat itu sukar juga bagi 

Mahesa untuk mengelak tanpa mengirimkan se-

rangan. Sekedar mengelak saja dia sanggup tapi 

masih ada kemungkinan sambaran selendang 

akan mampir di tubuhnya. Meskipun dia tidak 

sampai hati untuk balas menyerang terhadap la-

wannya yang cantik jelita itu namun Mahesa Ke-

lud juga tidak mau kena dicelakai.

Sambil elakkan serangan lutut dia merun-

duk dan kirimkan jotosan tangan kiri ke arah 

sambungan siku tangan yang memegang selen-

dang dari si gadis.

Di lain pihak si gadis menyadari bahwa se-

lendangnya akan berhasil mencari sasaran di 

muka lawan namun untuk itu kemungkinan be-

sar sambungan sikunya akan kena dipreteli. Dia 

tidak mau untung-untungan. Dia maklum kekua-

tan tenaga dalam yang tersembunyi di balik joto-

san Mahesa Kelud. Karenanya dia cepat-cepat ta-

rik pulang tangan kanannya yang memegang se-

lendang. Jotosan tangan kiri Mahesa jadi menge-

nai tempat kosong. Si pemuda tidak mau merugi 

begitu saja. Tangan kirinya di putar dengan cepat 

sedemikian rupa dan tahu-tahu balik menyambar 

ke arah selendang.

Murid si Cakar Setan yang tahu maksud 

lawannya yaitu hendak merampas selendang ti-

dak berdiam diri. Kaki kanannya bekerja, menen-

dang ke pinggul Mahesa Kelud. Mahesa cepat-

cepat membentengi tubuhnya dengan lipatan lu-

tut kiri tapi dengan kecepatan yang luar biasa si


gadis tarik pulang kaki kanannya dan sebaliknya 

kini kaki kirinyalah yang menendang. Diam-diam 

Mahesa Kelud mengagumi juga kehebatan silat 

lawannya.

Tangan kirinya yang tadi terulur untuk me-

rampas selendang ditariknya dengan cepat. Tu-

buhnya miring ke kiri untuk hindarkan tendan-

gan kaki lawan yang tak terduga. Celakanya wak-

tu memiringkan tubuh itu salah satu kaki Mahe-

sa Kelud terpeleset. Meskipun dia sanggup men-

gelakkan tendangan tersebut namun tak urung 

pakaiannya kena terserempet.

"Brett!"

Pakaian si pemuda robek besar. Mahesa 

Kelud memaki dalam hatinya. Dia melompat men-

jauh. "Gadis baju kuning," kata Mahesa. "Aku 

tanya untuk penghabisan kalinya, kau mau bica-

ra dulu secara baik-baik atau tidak?!"

"Pemuda sedeng! Apa kau tuli dan tidak 

dengar kata-kataku tadi bahwa aku tidak sudi bi-

cara dengan kau?!"

"Dengar, gadis sombong! Aku tidak mau 

cari urusan dengan kau...,"

"Sesudah kau curi pedang guruku, sesu-

dah kau curi surat rahasia itu dan sesudah kau 

bunuh beliau kau bilang tidak mau cari urusan? 

Terkutuk! Pengecut!"

"Aku tidak melakukan itu semua! Bukan 

aku! Aku akan terangkan padamu...."

"Persetan dengan keteranganmu! Ringkas 

kata kau harus mampus di tanganku!" si gadis


maju ke muka beberapa langkah.

"Gadis keras kepala!" maki Mahesa. "Orang 

sudah mengalah masih saja hendak lampiaskan 

nafsu amarahnya. Baik, majulah! Aku tak segan-

segan lagi untuk main-main dengan kau. Silah-

kan mulai...!" Dan pemuda ini bersiap memasang 

kuda-kuda baru.



EMPAT



SI GADIS baju kuning melangkah maju 

mendekati pemuda yang menjadi lawannya itu. 

Diparasnya yang cantik jelita terbayang rasa ke-

bencian yang amat sangat. Ini cukup menyatakan 

bahwa dia memang bertekad bulat untuk habisi 

nyawa Mahesa Kelud. Lima langkah dari hadapan 

lawannya, murid si Cakar Setan lompatkan diri. 

Tubuhnya melesat. Bersamaan dengan itu dia 

hantamkan kaki kirinya ke arah dada. Mahesa 

berkelit ke samping sambil mengirimkan jotosan 

tangan kanan ke muka si gadis. Dengan sangat 

gesit gadis baju kuning itu memutar tubuhnya di 

udara. Jotosan si pemuda lewat dengan mengelu-

arkan suara angin bersiuran. Tanpa menunggu 

sampai kedua kakinya menjejak tanah si gadis 

yang tadi tendangannya hanya mengenai tempat 

kosong ini kembali pergunakan kaki kanan untuk 

menendang sedang selendang di tangan kanannya 

berkelebat ke kepala Mahesa Kelud.

Mahesa Kelud merunduk. Tubuhnya dimi


ringkan ke samping sedikit. Begitu tendangan la-

wannya lewat dia melompat dengan kedua tangan 

terulur ke muka coba hendak menangkap ping-

gang lawannya. Tapi si gadis tidak bodoh. Cepat 

dia lipatkan lutut kanan dan hantamkan ke kepa-

la Mahesa. Melihat ini Mahesa cepat-cepat tarik 

pulang tangannya. Seperti satu pohon besar yang 

tumbang, murid Embah Jagatnata jatuhkan di-

rinya ke tanah, lalu bergulingan. Dan sambil ber-

gulingan ini dia berusaha menangkap kaki kiri si 

gadis yang menjejak tanah. Tapi lebih cepat, den-

gan gesit si gadis melompat ke atas dan kebutkan 

selendangnya. Kebutan selendang hanya menge-

nai tempat kosong karena Mahesa sudah berlalu 

dan beberapa saat kemudian pemuda ini sudah 

berdiri di sebelah sana dengan bertolak pinggang. 

Diam-diam pemuda ini mengagumi kehebatan la-

wannya.

"Ilmu silatmu hebat, baju kuning!" memuji 

Mahesa Kelud. "Cuma sayang, mengapa kau ke-

ras kepala, tidak mau mendengar keterangan 

orang lebih dahulu?!"

"Jangan bermulut besar. Terima ini!" Si ga-

dis memutarkan selendang kuningnya di atas ke-

pala. Terdengar suara angin menderu. Tiba-tiba 

selendang itu melayang turun dengan deras ke 

arah pundak kanan Mahesa Kelud. Dengan te-

nang pemuda ini menyingkir ke samping kiri. Ti-

dak terduga sambaran selendang dengan cepat 

berubah dan kini memapas ke perut Mahesa Ke-

lud. Pemuda ini melompat ke belakang, si gadis


memburu. Pada saat inilah Mahesa kelihatan 

berkelebat cepat dan tahu-tahu dia lenyap dari 

pandangan si gadis!

Murid si Cakar Setan penasaran. Dia ger-

takkan gerahamnya karena menyangka si pemu-

da yang menjadi musuh besarnya itu mele-

nyapkan diri alias kabur ambil langkah seribu. 

Tapi alangkah terkejutnya ketika di belakangnya 

dia dengar suara orang yang diiringi suara terta-

wa mengejek. "Jangan kebingungan baju kuning! 

Aku ada di sini!"

Dengan cepat si gadis balikkan tubuh dan 

di hadapannya dilihat Mahesa Kelud berdiri berto-

lak pinggang, mengulum senyum mengejek. Men-

didih darah gadis ini. Dengan cepat dia melompat 

ke muka dan kebutkan selendangnya. Tapi lagi-

lagi dia dibikin kecele karena serangannya itu 

cuma mengenai tempat kosong.

"Aku di sini, di sampingmu! Mengapa me-

nyerang angin?!"

"Pemuda rendah! Tunggulah! Sebentar lagi 

kupecahkan kepalamu!" bentak si gadis.

"Ah! Dari tadi kau cuma bilang sebentar la-

gi, sebentar lagi! Tapi buktinya kosong semua. 

Percuma kau jadi murid si Cakar Setan!"

"Setan alas! Jangan hina guruku!" Dengan 

amarah meluap si gadis baju kuning kirimkan se-

rangan berantai yang cepat. Tubuhnya berkele-

bat. Tinju kiri, kebutan selendang dan tendangan 

kaki datang ganti berganti bahkan tak jarang se-

cara berbarengan, bertubi-tubi seperti hujan!


Namun semua serangan itu, semua ilmu kepan-

daian yang dipelajarinya selama tahunan pada 

gurunya, sedikitpun tidak membawa hasil! Mahe-

sa Kelud yang menjadi lawan gerakannya jauh le-

bih cepat dari dia sendiri sehingga tubuh si pe-

muda seakan-akan lenyap. Tak terasa lagi kedua-

nya telah bertempur dua puluh jurus lebih!

Si gadis baju kuning menghentikan seran-

gannya dengan tiba-tiba. Dia berdiri sembilan 

langkah di hadapan Mahesa Kelud. Diaturnya ja-

lan nafas serta aliran darahnya dengan cepat se-

dang kedua matanya menyorot ganas pada si pe-

muda. Mahesa tetap berdiri di tempat dengan te-

nang dan masih saja mengulum senyum. Meski-

pun dia tahu bahwa murid si Cakar Setan itu ber-

tekad bulat untuk habisi nyawanya. Namun un-

tuk membenci dan melakukan serangan balasan 

yang dapat membuat cedera pada si gadis dia ti-

dak sampai hati. Karena itu sengaja dipermain-

mainkannya murid Cakar Setan itu.

Mahesa memperhatikan bagaimana si gadis 

memindahkan selendang kuning yang di tangan 

kanannya ke tangan kiri. Kemudian tangan kanan 

itu bergerak ke balik punggung. Dan sebatang 

pedang berwarna putih berkilauan kena sinar ma-

tahari kini tergenggam di tangan tersebut. Diam-

diam Mahesa Kelud terkejut juga melihat senjata 

ini. Tapi dengan tersenyum dia berkata: 

"Aha.... Seorang murid pendekar ternama 

tidaklah malu sampai memakai dua senjata un-

tuk menghadapi seorang lawan yang bertangan


kosong?!"

"Terhadap manusia busuk sepertimu tidak 

usah pakai segala peradatan persilatan! Yang 

penting kau harus mampus! Habis perkara!" ben-

tak si gadis.

Habis membentak begitu tubuhnya me-

lompat ke muka. Pedang di tangan kanan mema-

pas ke kepala, selendang kuning menyambar ke 

dada sedang tendangan kaki kanan menghantam 

ke bawah perut! Benar-benar rangkaian serangan 

luar biasa dahsyat dan mematikan! Ketiga seran-

gan itu mengeluarkan angin tajam yang bersi-

uran. 

"Trang!"

Terdengar suara beradunya senjata. Si ga-

dis merasakan tangan kanannya yang memegang 

pedang tergetar keras. Selendangnya menghan-

tam tempat kosong, demikian juga tendangannya. 

Dan sesaat kemudian di muka sana dilihatnya 

Mahesa Kelud jungkir balik lantas berdiri dengan 

cepat, memasang kuda-kuda sedang di tangan 

kanannya sudah tergenggam sepucuk pedang 

berwarna kuning. Pedang Naga Kuning! Si gadis 

sampai tidak dapat melihat sama sekali bagaima-

na cepatnya si pemuda mengambil pedang terse-

but.

Melihat pedang gurunya di tangan lawan 

semakin memuncaklah amarah si gadis. Tak me-

nunggu lebih lama lagi dia segera menyerang 

kembali. Dua tubuh berkelebat cepat. Pedang pu-

tih dan selendang kuning menggempur pedang


kuning. Tapi gempuran itu menemui jalan buntu 

karena si pemegang pedang kuning pagi-pagi su-

dah putar senjatanya sedemikian rapat sehingga 

tidak memberikan kesempatan sama sekali bagi 

lawannya.

Ketika dia kena didesak hebat, diam-diam 

si gadis memaklumi bahwa sampai seratus jurus 

di muka, meskipun dia keluarkan semua ilmu 

simpanannya namun dia tak akan sanggup 

menghadapi lawannya. Hatinya meradang karena 

dia tidak bisa menuntut balas melepaskan sakit 

hatinya terhadap pemuda ini yang diketahuinya 

sebagai pembunuh gurunya, yang telah mencuri 

pedang Naga Kuning dan surat rahasia! Sudah 

lama dia kuntit pemuda ini. Ketika bertemu ter-

nyata dia tidak sanggup menghadapinya!

Si gadis akan merasa sangat penasaran bi-

la dia tidak sanggup sekurang-kurangnya untuk 

memberikan sedikit hajaran pada lawannya yang 

tangguh itu. Lantas saja dia menyerang kembali. 

Dia keluarkan satu tipuan hebat yang oleh gu-

runya digelari dengan "undur-undur" menyeret 

mangsa. Pedang dan selendang berputar siam, 

berdengung suaranya tak ubahnya seperti sepa-

sang undur-undur di dalam lobang yang tengah 

menjebak seekor semut atau binatang kecil lain-

nya. Mahesa Kelud kagum juga dengan kehebatan 

serangan ini. Dia putar pedangnya ke arah dada, 

antara siuran selendang dan pedang lawan, tapi 

mendadak sontak serangan si gadis berubah den-

gan sangat cepat. Namun demikian pemuda ber


kepandaian tinggi ini tidak menjadi gugup. Dia 

geser kedua kakinya. Tubuhnya miring ke kanan. 

Ujung pedang dikirimkannya ke tenggorokan la-

wan tapi tidak terus untuk menusuk melainkan 

diputarkan seperti gasing. Angin keras yang ke-

luar dari ujung pedang itu menutup lobang hi-

dung si gadis, membuat nafasnya menjadi sengal! 

Cepat-cepat dia papaskan pedangnya pada senja-

ta lawan.

"Trang!"

Untuk kesekian kalinya senjata masing-

masing beradu keras mengeluarkan suara nyaring 

dan memercikkan bunga api. Dalam saat yang 

sama untuk menghindarkan lawan mengirimkan 

serangan susulan, si gadis kebutkan selendang-

nya ke muka si pemuda tapi tidak diduganya sa-

ma sekali tangan kiri Mahesa Kelud bergerak ce-

pat dan berhasil memegang ujung selendangnya! 

Si gadis terkejut, kini terjadilah hal yang mene-

gangkan.

Pedang masing-masing yang tadi- saling 

beradu kini masih menempel satu sama lain den-

gan ketat. Dorong mendorong terjadi. Sementara 

itu tangan-tangan kiri mereka saling tarik-tarikan 

selendang kuning! Si gadis kerahkan tenaga da-

lamnya yang ampuh pada kedua tangannya. Na-

mun dengan sangat cepat tenaga dalam lawan 

yang lebih hebat berhasil mendorong tenaga da-

lamnya. Keringat dingin bercucuran di wajah si 

baju kuning itu. Sebaliknya di lain pihak Mahesa 

Kelud cuma senyum-senyum. Dia dapat memasti


kan bahwa selendang si gadis akan kena diram-

pasnya. Mengetahui bahwa tenaga dalamnya be-

rada jauh di bawah si pemuda maka cepat-cepat 

murid Cakar Setan lepaskan selendangnya. Dia 

terpaksa lakukan ini. Kehilangan selendang ada-

lah lebih baik daripada dia harus mendapatkan 

kerusakan hebat dalam bagian tubuhnya akibat 

bentrokan dengan tenaga dalam lawan. Dengan 

satu lompatan cepat gadis itu kemudian mundur 

ke belakang. Selendangnya kini berada dalam 

tangan Mahesa Kelud.

"Pemuda terkutuk! Kalau aku terpaksa ha-

rus pergi saat ini jangan sangka aku mengaku ka-

lah terhadapmu! Satu hari aku akan datang lagi 

untuk menyelesaikan perhitungan kita saat ini!"

Mahesa Kelud tertawa. Ketika dilihatnya 

gadis itu memutar tubuh, dia berseru. "Hai, baju 

kuning! Mengapa cepat-cepat? Ini selendangmu, 

ambillah kembali!" Tapi si gadis tidak perdulikan 

seruan itu. Dia lari dengan mempergunakan ilmu 

lari cepat "kijang dewa".

Mahesa Kelud menggeleng-gelengkan kepa-

lanya. Selendang kuning yang di tangan kirinya 

diputar-putarkan di atas kepala lalu dilepas den-

gan tiba-tiba. Meskipun cuma sehelai selendang 

dari kain biasa namun orang yang melemparkan-

nya bertenaga dalam tinggi maka selendang itu 

melesat laksana anak panah ke arah si gadis. Mu-

rid si Cakar Setan terkejut bukan main ketika 

merasakan suatu benda menyambar ke lehernya. 

Ketika diraba dan dilihatnya ternyata benda itu


adalah selendang sendiri yang tadi kena dirampas 

Mahesa dan kini melingkar di lehernya. Sambil la-

ri terus dia menoleh ke belakang dan dilihatnya 

Mahesa Kelud melambaikan tangan sambil se-

nyum-senyum. Si gadis geramnya bukan main. 

Dia meludah ke tanah dan lari terus. Mahesa Ke-

lud bimbang seketika sebelum dia ambil keputu-

san. Dengan cepat pedang Naga Kuning di tan-

gannya dimasukkannya ke balik punggung pa-

kaian lalu dengan mempergunakan ilmu lari "kaki 

angin" dia segera susul gadis itu. Dia tidak tahu 

bahwa tindakannya ini akan melibatkannya pada 

suatu peristiwa besar dikemudian hari.


LIMA


GADIS berbaju kuning, murid almarhum si

Cakar Setan tidak tahu kalau dirinya diikuti 

orang. Dia lari terus dengan cepat. Kira-kira bebe-

rapa ratus tombak di belakangnya menyusul Ma-

hesa Kelud. Pemuda ini kalau mau bisa susul si 

gadis tapi dia ingin tahu ke mana si cantik terse-

but pergi maka dia mengejar diam-diam. Meski la-

rinya cepat namun tidak sedikitpun mengelua-

rkan suara. Bahkan kedua kakinya itu seakan-

akan tidak pernah menyentuh tanah.

Ketika sampai kesatu puncak bukit hari 

sudah rembang petang. Jauh di kaki bukit sebe-

lah timur kelihatan sebuah kampung. Gadis yang 

dibuntutinya lari ke jurusan kampung ini dan


Mahesa mengikuti terus. Agaknya telah terjadi se-

suatu di kampung ini. Si gadis menghilang di ba-

lik kelokan jalan. Waktu Mahesa sampai di kelo-

kan jalan maka di ujung sana, di hadapan sebuah 

rumah kajang beratap rumbia kelihatanlah bebe-

rapa sosok tubuh manusia bergelimpangan.

Si gadis baju kuning terkejut bukan main. 

Dia hentikan larinya di hadapan manusia yang 

bergelimpangan itu. Mukanya menjadi pucat pasi. 

Semua orang yang menggeletak di tanah sudah 

tidak bernyawa lagi. Di tubuh mereka kelihatan 

bekas tusukan-tusukan serta bacokan-bacokan 

senjata tajam. Pakaian mereka basah oleh darah! 

Tanpa menunggu lebih lama si gadis segera me-

mutar tubuhnya dan lari ke dalam rumah.

Begitu dia menghilang di balik pintu maka 

Mahesa Kelud sampai pula di hadapan manusia-

manusia yang terbujur di tanah itu. Dan belum 

lagi beberapa lama dia berdiri di sana maka dari 

dalam rumah di dengarnya suara jeritan melengk-

ing.

"Ibu...!"

Mahesa terkejut. Kedua alis matanya me-

naik. Dia memandang ke arah rumah. Terdengar 

lagi suara jeritan perempuan memanggil ibunya. 

Dengan segera pemuda ini berlari masuk ke da-

lam rumah tersebut. Di sini pemandangan lebih 

mengerikan lagi. Gadis baju kuning tadi dilihat-

nya memangku mayat seorang perempuan sepa-

ruh baya yang pakaiannya bermandikan darah. 

Bahu kirinya hampir putus oleh bacokan senjata.


Si gadis baju kuning seperti orang gila meng-

goyang-goyang tubuh yang sudah tidak bernafas 

itu sambil tiada hentinya menangis dan memang-

gil-manggil ibu... ibu....

"Ibu... apa yang telah terjadi? Siapa yang 

melakukan semua ini? Siapa?! Ibu, katakanlah!" 

si gadis goyang-goyangkan lagi mayat perempuan 

itu.

"Ibumu tak akan bisa menjawab.... Kasihan 

dia, baringkan di atas balai-balai sana dan jangan 

digoyang-goyang seperti itu...."

Seperti mendengar suara halilintar, demi-

kianlah terkejutnya si gadis ketika mendengar 

suara tersebut. Dia putarkan kepala dengan cepat 

dan pandangannya membentur sosok tubuh Ma-

hesa Kelud. Serta merta dibaringkannya kepala 

ibunya di lantai lalu gadis ini melompat bangkit. 

Seraya cabut pedangnya dia memaki.

"Pemuda keparat! Berani-beranian kau iku-

ti aku?! Bangsat! Kau benar-benar minta mam-

pus! Terima ini." Bersamaan dengan itu si gadis 

segera babatkan pedangnya ke arah kepala Mahe-

sa Kelud. Dengan cepat Mahesa Kelud menghin-

dar ke samping. Dia berkata: 

"Gadis baju kuning, urusan kita bisa di-

tunda dulu. Sebaliknya mari kita urus mayat 

ibumu dan usut apa yang telah terjadi serta siapa 

yang telah melakukan ini semua."

Si gadis begitu serangannya mengenai 

tempat kosong segera hendak melayang lagi, tapi 

ketika mendengar kata-kata yang diucapkan Mahesa Kelud tadi yang dirasakannya memang be-

tul, maka dia menjadi bimbang. Pedangnya yang 

tadi naik ke atas siap untuk dibacokkan perla-

han-lahan diturunkan ke sisinya. Kaki tangan 

serta sekujur tubuhnya menjadi lemas. Pada detik 

itulah terdengar satu suara yang sangat pelahan, 

antara terdengar dan tiada yang sama-sama men-

gejutkan si gadis dan Mahesa Kelud.

"Benar, Wulan.... Apa yang dikatakan pe-

muda itu memang benar...."

Mahesa dan si gadis sama memutar kepala 

dan terdengarlah jerit si gadis: "Paman Menggala! 

Kau...!" Gadis itu melompat dan menjatuhkan di-

rinya di sudut rumah di mana terhantar seorang 

laki-laki tua berambut putih. Keadaannya lebih 

menderita dari ibu si gadis. Pakaiannya penuh 

darah dan luka-luka bekas tusukan pedang serta 

golok. Dikarenakan dia memiliki ilmulah yang 

menolongnya sampai saat itu masih sanggup ber-

nafas, meskipun dengan sengal-sengal megap 

tanda umurnya tidak akan lama lagi.

"Paman! Apa yang terjadi? Siapa yang me-

lakukan semua ini...?!"

Di kala ajal hendak meregang, laki-laki tua 

itu masih bisa melontarkan sekelumit senyum 

pada keponakannya. "Syukur, syukur kau datang 

Wulan. Dengar Wulan... yang melakukan ini ada-

lah Adipati Suto Nyamat beserta kaki-kaki tan-

gannya Lima Brahmana sesat.... Mereka...." 

Kulon Menggala cuma bisa bicara sampai 

di situ. Kepalanya terkulai dan nyawanya me


layang meninggalkan raga.

Seperti orang gila si gadis menjerit dan 

menghunus kembali pedangnya yang tadi sudah 

disarungkan. Dia lari ke pintu: "Suto Nyamat ke-

parat! Kucincang kau...!"

Mahesa Kelud cepat pegang lengan kiri ga-

dis itu. "Wulan," katanya. "Ingat jangan bertindak 

ceroboh dan gila seperti ini!"

Sebagai jawaban Wulansari menyerang 

pemuda itu dengan hebatnya. Mahesa berkelebat 

cepat. Pedang di tangan gadis menghantam dind-

ing kajang di sampingnya dan bobol besar. Si ga-

dis memburunya dan kirimkan serangan ganas 

untuk kedua kalinya. Kali ini Mahesa Kelud ber-

tindak cepat. Sekali dia menggerakkan tangan 

kanannya maka dia sudah berhasil merampas 

pedang Wulansari.

"Wulan! Ingatlah...!"

Nafas si gadis memburu. Dadanya turun 

naik. Dia memandang ke pedangnya yang kini be-

rada di tangan Mahesa Kelud, lalu memutar tu-

buh dan menangis sesenggukan. Mahesa menjadi 

kebingungan tak tentu apa yang diperbuat. Seju-

rus kemudian dia keluar dari rumah dan masuk 

ke rumah tetangga yang terdekat. Di dalam ru-

mah ini seorang nenek-nenek ditemuinya tengah 

memeluk dua orang anak yang masih kecil-kecil, 

mungkin sekali cucunya. Diparas si nenek yang 

tua keriputan jelas terbayang rasa ketakutan 

yang amat sangat. Nenek dan cucu-cucunya sama 

terkejut dan membelalak ketika melihat ada orang


masuk. Mereka menyangka Mahesa adalah kaki 

tangan Adipati yang kejam buas.

"Nenek, tak usah takut. Orang-orang jahat 

itu sudah pergi semua. Di luar sana, di jalanan, 

banyak mayat-mayat bergelimpangan. Tolonglah 

bantu aku memberitahukan tetangga-tetangga 

agar kita semua bisa mengurus jenazah-jenazah 

tersebut."

Si nenek memandangi Mahesa Kelud seju-

rus lamanya kemudian mengangguk. Tak lama 

kemudian setelah dipanggil, penduduk-penduduk 

kampung yang tadinya mendekam di dalam ru-

mah masing-masing baru datang berbondong-

bondong. Maka hebohlah isi kampung itu. Ada 

yang menjerit, ada yang menangis ketika melihat 

sanak saudara atau anak-anak mereka yang mati 

bergelimpangan di jalan akibat kekejaman Adipati 

Suto Nyamat dan kaki-kaki tangannya. Jenazah-

jenazah yang tak berdosa itu diangkat dan dibawa 

ke rumah masing-masing. Mahesa dengan ban-

tuan beberapa orang penduduk segera mengurus 

jenazah ibu dan paman Wulansari. Sementara 

semua orang sibuk hanya gadis itu sendiri duduk 

bingung tak tahu apa yang hendak diperbuat. Se-

kujur tubuhnya lemah lunglai tiada daya namun 

di dalam hatinya berkobar dendam kesumat yang 

tiada taranya. Sejak dia diambil murid oleh si Ca-

kar Setan, maka selama beberapa tahun dia tidak 

pernah bertemu atau menyambangi ibu serta pa-

mannya itu. Ketika dia baru punya kesempatan 

untuk datang menjenguk tahu-tahu yang ditemuinya hanyalah ibu serta pamannya yang ten-

gah meregang nyawa! Ayah dia juga sudah tidak 

punya karena dibunuh oleh bangsat-bangsat Ka-

dipaten tukang fitnah ketika dia masih kecil. Kini 

dia menyadari bahwa dia hidup sebatang kara di 

dunia ini, yatim piatu tidak punya ayah tidak 

punya ibu. Mengingat ini kembali Wulansari me-

nangis tersedu-sedu.



ENAM



SEBELUM kisah dilanjutkan sebaiknya le-

bih dulu kita buka lembaran riwayat hidup ke-

luarga Wulansari di masa lampau. Ayah gadis ini 

bernama Jarot Singgih, berasal dari keturunan 

orang kebanyakan juga. Tapi ketika dia menjabat 

kedudukan sebagai orang besar yaitu menjadi 

wakil Bupati Madiun dan ditambahkan gelar ke-

padanya maka dia kemudian disebutkan orang 

Raden Mas Jarot Singgih. Tak selang berapa lama 

Bupati Madiun meninggal dunia. Sebagai wakil 

maka dengan sendirinya Raden Mas Jarot Singgih 

yang akan memangku jabatan Bupati Madiun. 

Tapi malang akan tiba, malapetaka akan datang 

maka muncullah seorang tukang fitnah besar!

Pada masa itu yang memerintah di Pajang 

adalah Pangeran Adiwijaya. Daerah kekuasan Pa-

jang sangat luas sehingga Adiwijaya tak bisa me-

neliti dan memperhatikan daerah-daerah yang 

jauh yang berada di bawah tangannya. Untuk ini


maka diangkatlah beberapa orang Bupati di kota-

kota besar seperti Tuban, Gresik, Pati, Demak, 

Pemalang, Blitar, Banyumas, Kedu, serta Madiun. 

Bagaimana sifat dan cara Bupati-bupati itu men-

jalankan tugas tidak pula diperhatikan oleh Adi-

wijaya. Segala sesuatunya dipercayakan kepada 

mereka, diserahkan kepada mereka, termasuk 

urusan mengenai keamanan dan kesejahteraan 

rakyat. Justru inilah yang kemudian menimbul-

kan munculnya golongan-golongan penjilat tu-

kang fitnah, berhati busuk bermulut penghasut. 

Mereka ini adalah segolongan pembesar-pembesar 

yang dekat dengan Sri Baginda Pangeran Adiwi-

jaya yang tak segan-segan memeras bahkan men-

gorbankan nyawa rakyat untuk mengeruk keun-

tungan sendiri. Mereka juga tidak segan-segan 

melancarkan fitnah terhadap kawan sendiri demi 

mendapatkan pangkat tinggi dan kedudukan em-

puk!

Adiwijaya, sebagai seorang raja muda sama 

sekali tidak menyadari bahwa banyak dari pem-

besar-pembesar istana yang dekat dengan dia 

adalah manusia-manusia kintel penjilat dan pem-

fitnah serta korup!

Salah seorang dari pembesar yang terma-

suk golongan seperti yang kita sebutkan di atas 

itu adalah Suto Nyamat. Sebagai seorang yang ra-

pat dengan Sri Baginda maka oleh raja Pajang itu 

dia pernah dijanjikan untuk diberikan jabatan se-

bagai seorang Bupati. Setelah ditunggu lama ma-

sih juga belum ada pengangkatan dari Baginda.


Kemudian terbetiklah kabar bahwa Bupati Ma-

diun meninggal dunia. Ini suatu kesempatan be-

sar bagi Suto Nyamat untuk menjadi pengganti. 

Tapi celakanya Baginda memutuskan bahwa Ja-

rot Singgih, yang dulu menjadi wakil Bupati Ma-

diun yang akan diangkat sebagai pengganti. Bu-

kan main geramnya Suto Nyamat. Lagi pula me-

mang dia sudah lama dengki iri hati terhadap Ja-

rot Singgih karena Jarot Singgih terkenal sebagai 

seorang pembesar jujur dan baik.

Suto Nyamat mencari akal. Mau tidak mau 

dia harus menjadi Bupati Madiun dan singkirkan

Jarot Singgih. Maka dilancarkannya lah fitnah 

busuk beracun. Pada masa itu memang terdapat 

banyak Bupati-bupati yang menentang dan mem-

berontak terhadap Raja Pajang Adiwijaya. Suatu 

hari datanglah Suto Nyamat menghadap Adiwi-

jaya memberikan laporan yang tak lain dari pada 

fitnah belaka. Diterangkannya bahwa Jarot Sing-

gih diam-diam tengah menyusun balatentara ber-

siap-siap untuk memberontak kepada Pajang. 

Adiwijaya tidak menyelidiki kebenaran laporan itu 

dan celakanya dia percaya saja bahkan memberi-

kan wewenang kepada Suto Nyamat untuk me-

numpas kaum pemberontak Madiun itu dan me-

nangkap Jarot Singgih.

Dengan sepasukan besar balatentara kera-

jaan maka berangkatlah Suto Nyamat ke Madiun. 

Hari itu Madiun banjir darah. Penduduk yang tak 

berdosa dibunuhi. Adipati Jarot Singgih yang dis-

uruh tangkap hidup-hidup juga dibunuh tanpa


kemanusiaan oleh Suto Nyamat. Adipati ini atau 

ayah Wulansari mati secara mengerikan. Tubuh-

nya penuh dengan bacokan pedang serta golok 

dan tusukan tombak. Wajahnya hancur luluh tak 

bisa dikenali! Masih untung bagi isteri sang Adi-

pati yang sempat lari menyelamatkan diri bersa-

ma anaknya dan seorang kakak laki-lakinya yaitu 

Menggala. Ketiga orang ini bersembunyi dan diam 

di satu rumah kecil di kampung yang terletak di 

kaki bukit subur. Kaki-kaki tangan Suto Nyamat 

terus mencari mereka tapi tidak berhasil mene-

mukan. Suto Nyamat berhasil mencapai cita-

citanya. Dia diangkat oleh Adiwijaya menjadi Bu-

pati Madiun. Tapi seisi Madiun tahu bahwa kursi 

kebesaran Kadipaten yang didudukinya berlumur 

dengan darah Jarot Singgih dan darah rakyat je-

lata yang dibunuhnya tanpa dosa, karena ingin 

jabatan dan kuasa semata!

Menggala, paman Wulansari kenal baik 

dengan pendekar kenamaan yang digelari si Ca-

kar Setan. Ketika Menggala hendak menyerahkan 

keponakan satu-satunya itu kepada pendekar ter-

sebut, ibu Wulansari melarang keras.

"Wulan seorang perempuan, Mas. Tak per-

lu segala macam ilmu begituan," kata perempuan 

itu.

Menggala tertawa mendengar ucapan adik-

nya. "Justru karena dia seorang perempuanlah 

maka dia lebih perlu belajar silat. Kau tahu, du-

nia ini kini penuh dengan manusia-manusia jahat 

berhati kotor! Kau agaknya tidak ingat, karena tidak punya kepandaian silatlah sampai suamimu 

menemui ajalnya di tangan Suto Nyamat keparat 

itu! Aku ingin melihat keponakanku menjadi seo-

rang yang perkasa meskipun dia cuma seorang 

perempuan! Lagipula selama Suto keparat itu ma-

sih hidup, maka selama itu pula kaki-kaki tan-

gannya akan mencari kita, berarti selama itu pula 

bahaya tetap mengancam kita...."

"Kalau aku boleh tanya, Mas," memotong 

ibu Wulansari. "Mengapa kau sendiri sebagai laki-

laki tidak belajar ilmu silat?"

"Itu adalah kesalahan orang tua kita sendi-

ri yang tak mau menyerahkan kita pada seorang 

pandai atau seorang guru," jawab Menggala.

"Jika demikian mengapa tidak kau saja ki-

ni yang pergi berguru pada si Cakar Setan itu?"

Laki-laki itu tersenyum. "Jika ingin belajar 

ilmu silat luar dalam harus sedari kecil. Sudah 

tua dan ubanan serta sakit-sakitan sepertiku ini 

mana bisa? Otot-otot sudah pada kaku, tenaga 

sudah kendor!"

Akhirnya ibu Wulansari mengalah. Maka 

diantarlah Wulansari ke tempat kediaman si Ca-

kar Setan. Sejak itu, selama bertahun-tahun 

sampai menjadi seorang gadis muda remaja Wu-

lansari menjadi salah seorang murid pendekar 

kenamaan si Cakar Setan.

* * *

Sesudah semua jenazah termasuk jenazah


ibu Wulansari dan pamannya dikebumikan, maka 

dari beberapa orang penduduk, gadis yang ma-

lang itu serta Mahesa Kelud mendapat keterangan 

mengenai peristiwa berdarah yang melanda kam-

pung mereka itu.

Menjelang tengah hari, serombongan pasu-

kan berkuda memasuki kampung Banjaran, 

kampung Wulansari. Rombongan ini tak lain ada-

lah pasukan Kadipaten yang dipimpin langsung 

oleh Adipati Suto Nyamat. Bersama mereka terli-

hat pula lima orang berjubah putih berkepala bo-

tak yang tak lain dari pada Lima Brahmana sesat 

yang cukup menggetarkan dunia persilatan kare-

na ilmu mereka yang hebat. Maksud mereka da-

tang ke kampung Banjaran itu ialah untuk me-

nangkap Menggala, paman Wulansari atau kakak 

laki-laki dari ibu si gadis. Rupanya Adipati Suto 

Nyamat berhasil juga mencari tahu di mana ber-

sembunyinya sisa-sisa keluarga mendiang Raden 

Mas Jarot Singgih. Dan baginya, selama sisa-sisa 

keluarga Jarot Singgih masih hidup maka ini ada-

lah merupakan bahaya besar. Keluarga itu harus 

ditumpas dimusnahkan sebelum mereka angkat 

senjata untuk balas dendam. Suto Nyamat kemu-

dian mengajak Lima Brahmana berkepala botak 

untuk membantu dia membikin beres Menggala.

Pasukan Kadipaten Madiun di bawah pim-

pinan Suto Nyamat membanjir memasuki rumah 

kecil di mana Menggala dan adik perempuannya 

tinggal. Menggala melawan mati-matian ketika dia 

hendak di tangkap. Maka terjadilah pertempuran


yang dahsyat. Di samping Suto Nyamat sendiri 

memiliki ilmu yang tinggi maka kelima Brahmana 

yang mendampinginya adalah lebih berbahaya la-

gi. Tentu saja mereka semua bukan tandingan 

Menggala, ditambah pula dengan prajurit-prajurit 

Kadipaten yang rata-rata juga memiliki kepan-

daian silat. Meskipun demikian, Menggala beru-

saha bertahan bahkan coba mengirimkan seran-

gan balasan kepada musuh-musuhnya itu.

Tapi sia-sia belaka. Di antara kecamuknya

suara senjata maka terdengarlah suara jeritan 

melengking yang menyayat hati. Jeritan seorang 

perempuan! Menggala meloncat mundur dan pa-

lingkan kepala. Bukan main terkejutnya pendekar 

tua itu ketika melihat adik kandungnya menggele-

tak di lantai rumah dalam keadaan mandi darah. 

Bahu kirinya hampir putus akibat babatan pe-

dang seorang prajurit Kadipaten. Melihat ini maka 

mengamuklah Menggala. Golok besar yang men-

jadi senjatanya membacok kepala prajurit yang 

membunuh adiknya sampai terbelah dua!

"Kurung rapat!" teriak Suto Nyamat ketika 

melihat Menggala mengamuk seperti banteng ter-

luka dan keluarkan ilmu simpanannya. Tak sam-

pai beberapa jurus di muka maka akhirnya ro-

bohlah Menggala.

Orang-orang kampung Banjaran yang me-

lihat peristiwa itu yang menyangka bahwa manu-

sia-manusia jahat yang datang itu adalah gerom-

bolan rampok segera lari ke rumah Menggala un-

tuk memberikan bantuan. Akan tetapi maksud


suci mereka ini harus mereka bayar dengan kor-

bankan nyawa. Pasukan-pasukan Kadipaten Ma-

diun bukan lawan mereka, apalagi Suto Nyamat 

serta kelima Brahmana.

Meskipun manusia-manusia penimbul ma-

lapetaka itu sudah lama pergi tapi orang-orang 

kampung masih saja bersembunyi di rumah mas-

ing-masing karena ketakutan, terutama kaum pe-

rempuan serta anak-anak.



TUJUH



SIANG berganti dengan malam. Terang be-

rubah menjadi gelap. Di dalam rumah Wulansari 

suasana berkabung kelihatan dengan nyata. 

Sampai saat itu Mahesa Kelud masih berada di 

sana diantara para tetangga yang datang menjen-

guk. Meskipun dia berada lama di rumah tersebut 

tapi boleh dikatakan Mahesa tidak bicara barang 

sepatahpun dengan Wulansari. Diam-diam pemu-

da itu perhatikan si gadis. Meskipun parasnya ki-

ni kuyu dan kedua matanya sembab karena me-

nangis namun kecantikan asli yang dimiliki Wu-

lansari tetap terlihat dengan nyata. Tak jarang ke-

tika tengah memperhatikan Wulansari, si gadis 

memandang pula kepadanya sehingga sepasang 

mata mereka saling beradu. Dan kalau sudah be-

gitu Wulansari cepat-cepat membuang muka.

"Apakah dia masih membenciku...?" tanya


Mahesa Kelud dalam hati

Di malam di mana suasana berkabung itu, 

tiada terduga datanglah seorang tamu perkasa. 

Begitu sosok tubuh si tamu muncul di ambang 

pintu maka berteriaklah Wulansari: "Kakek...!" 

Gadis ini bangkit dari duduknya dan lari menu-

bruk tamu yang baru datang lalu memeluknya 

dan menangis tersedu-sedu. 

"Kakek Sentot... malapetaka menimpa ki-

ta." kata si gadis dengan terputus-putus antara 

sedu sedannya. "Ibu serta paman mati di bunuh 

bangsat Suto Nyamat!"

Si kakek usap-usap rambut gadis itu lalu 

membimbingnya kembali ke tempat duduk. "Aku 

tahu... aku tahu cucuku," kata si kakek sambil 

memandang berkeliling. Mahesa memperhatikan 

orang ini. Perawakannya sedang, meskipun sudah 

tua tapi masih kekar. Kedua matanya kecil na-

mun tajam sedang rambutnya yang seharusnya 

sudah putih tapi kelihatan masih hitam. Kemu-

dian terdengar suara si kakek kembali, "Sudahlah 

Wulan, apa yang sudah berlalu biar berlalu. Yang 

harus kita pikirkan adalah persoalan mendatang. 

Walau bagaimanapun kita harus bikin perhitun-

gan dengan Suto Nyamat serta kaki-kaki tangan-

nya. Tapi kita harus sadari pula bahwa Suto 

Nyamat dan kawan-kawannya bukan orang sem-

barangan. Karena itu Wulan, kau harus ikut ke 

tempat kediamanku di hutan Bangil untuk kube-

rikan tambahan ilmu silat. Pelajaran yang kau te-

rima dari si Cakar Setan masih belum berarti untuk dipakai menghadapi Suto Nyamat serta ka-

wan-kawannya. Suto Nyamat sendiri mungkin 

masih mampu kita hadapi, tapi kawan-

kawannya.... Mereka rata-rata orang-orang pandai 

tingkat tinggi!"

"Tapi kakek... tanah kubur ibu dan paman 

masih merah. Tidak tega bagi saya untuk me-

ninggalkannya." ujar Wulansari sambil menyeka 

air matanya.

"Aku dapat mengerti kau punya perasaan 

cucuku dan aku bangga punya cucu seperti kau. 

Tapi untuk diam lebih lama di sini bisa berba-

haya. Jika Suto Nyamat dan kawan-kawannya 

mengetahui bahwa ada turunan Jarot Singgih 

yang masih hidup, mereka pasti akan bunuh 

kau...."

"Ucapan kakekmu itu memang benar, Wu-

lan. Kau harus menyingkir dari sini sampai tiba 

saatnya untuk balas dendam...." kata satu suara 

pula.

Si gadis palingkan kepala ketika menden-

gar suara itu dan parasnya yang jelita berubah 

dengan seketika menjadi bengis ketika dia melihat 

siapa adanya orang yang bicara.

"Pemuda tidak tahu diri!" bentaknya seraya 

melompat dan cabut pedangnya dari balik pung-

gung. Orang banyak yaitu para tetangga yang be-

rada di ruangan menjadi terkejut dan singkirkan 

diri. "Apa urusanmu maka kau masih mendekam 

di sini?! Jangan ambil tampang dan jual muka di 

hadapan orang banyak!"


Wulansari papaskan pedangnya ke muka 

Mahesa Kelud. Orang-orang perempuan berpeki-

kan sedang si pemuda cepat-cepat hindarkan diri 

ke samping. Si kakek juga tidak kurang terkejut 

ketika melihat cucunya mencabut pedang dan 

menyerang seorang pemuda bertampang keren 

yang ada di ruangan tersebut.

"Wulan! Tahan! Apa-apaan kau ini...!" seru 

si kakek. Dan dengan satu lompatan yang cepat 

serta enteng tahu-tahu dia sudah berada di hada-

pan si gadis.

"Kakek, minggirlah!" teriak Wulansari. "Kau 

tidak tahu siapa adanya pemuda laknat itu!"

"Siapa dia?!" tanya Sentot Bangil.

"Dialah yang telah membunuh si Cakar Se-

tan, guruku! Dia juga merupakan maling besar 

pencuri pedang Naga Kuning serta surat rahasia 

milik guru!"

Mendengar ini Sentot Bangil terkejutnya 

bukan main. Dia segera mencabut senjatanya 

yakni sebatang golok panjang berhulu perak. Ka-

kek dan cucu kemudian melangkah ke hadapan 

Mahesa Kelud.

"Orang tua, biarkan aku bicara dulu!" kata 

Mahesa cepat.

"Tutup mulut busukmu, keparat! Sebentar 

lagi kepalamu akan pisah dengan badan!" sem-

prot Wulansari dan untuk kedua kalinya dia ki-

rimkan serangan pedang putihnya yang kini me-

nusuk ke dada kiri Mahesa.

Untuk kedua kalinya pula si pemuda men


gelak cepat menghindarkan serangan itu. Si gadis 

yang sudah naik pitam dengan ganas melancar-

kan serangan susulan. Karena ruangan itu sempit 

dengan jungkir balik Mahesa Kelud masih sang-

gup menyelamatkan diri dari serangan yang me-

matikan itu.

"Kakek!" seru Mahesa sekali lagi. "Tahan 

cucumu yang kalap itu! Biarkan aku bicara dulu!"

* * *

Melihat bagaimana Mahesa Kelud dengan 

cekatan berhasil menyelamatkan diri dari seran-

gan cucunya yang berbahaya tadi maka diam-

diam si kakek menjadi kagum. Pemuda ini ten-

tunya murid seorang sakti berilmu tinggi, pikir-

nya. Rupanya antara si pemuda dan Wulansari 

ada sesuatu yang tidak beres. Dia pegang bahu 

cucunya dan berkata, 

"Wulan, tahan dulu seranganmu, biarkan 

dia bicara!"

"Kakek Sentot! Perlu apa mendengarkan 

manusia pembunuh dan maling bejat ini?!" tukas 

Wulansari.

"Cucumu salah sangka kakek!" kata Mahe-

sa pula. "Karena itu biar aku terangkan segala-

galanya!"

"Jangan perdulikan dia! Dia pendusta be-

sar!" teriak si gadis.

Si kakek tarik tubuh cucunya ke belakang 

lalu berkata pada Mahesa: "Bicaralah apa yang


kau mau bicarakan. Tapi bila omonganmu hanya 

dusta dan palsu belaka, kau harus mampus di 

ujung golokku, mengerti?!"

"Sebelum aku beri keterangan, bolehkan 

aku tahu dengan siapa aku berhadapan?" tanya 

Mahesa.

Si kakek menyeringai. Hatinya mulai terta-

rik dengan pemuda yang tahu peradatan ini. 

"Anak muda," katanya, "Orang-orang memanggil 

aku Pendekar Budiman. Kau boleh panggil aku 

dengan sebutan itu...."

Mau tak mau Mahesa Kelud menjadi terke-

jut ketika mendengar gelar yang dikatakan si ka-

kek itu. Ketika masih digembleng oleh Embah Ja-

gatnata sang guru pernah menerangkan kepa-

danya bahwa di hutan Bangil diam seorang kakek 

sakti yang pada masa mudanya pernah mengela-

na di delapan penjuru angin untuk memberikan 

pertolongan pada rakyat jelata yang ke susahan 

dan tertindas, untuk membasmi manusia-

manusia jahat yang bertebaran di sana sini. Ka-

rena itu dia kemudian mendapat gelaran "Pende-

kar Budiman". Dan tak disangka sama sekali ka-

lau kini Mahesa berhadapan dengan jago tua yang 

namanya pernah menghiasi halaman emas dari 

kalangan dunia persilatan itu.

Cepat-cepat si pemuda menjura beri hor-

mat seraya berkata: "Harap dimaafkan kalau aku 

telah bertindak gegabah. Tak tahunya tengah 

berhadapan dengan seorang gagah!"

Sentot Bangil alias Pendekar Budiman


menjadi lebih tertarik. Dia balas bertanya: "Kau 

sendiri siapa, anak muda? Kau datang dari mana 

dan siapa gurumu?"

Mahesa Kelud tersenyum: "Namaku Mahe-

sa Kelud, aku datang dari gunung Kelud dan 

hanya seorang pemuda gunung yang bodoh...."

Sementara itu Wulansari yang menjadi ge-

mas karena kakeknya bicara ramah tamah den-

gan musuh besarnya segera putar tubuh dan per-

gi duduk ke tempatnya semula.

Sentot Bangil yang tahu kalau pemuda itu 

merendahkan diri tak mau bertanya lebih lanjut. 

Dia berkata: "Aku menunggu keteranganmu Ma-

hesa."

Si pemuda memandang berkeliling, melirik 

sekilas pada Wulansari baru membuka mulut. 

"Pendekar Budiman, aku tidak menyalahkan ka-

lau cucumu salah sangka terhadapku. Jika sean-

dainya aku menjadi murid si Cakar Setan dan 

menemui seseorang lain yang berada dalam kea-

daanku, maka aku pasti akan tuduh orang lain 

itu sebagai pembunuh dan maling busuk! Tapi 

dengan adanya kesempatan bagiku untuk mem-

berikan keterangan kuharap segala sesuatunya 

nanti akan menjadi jernih...."

Mahesa Kelud kemudian memberikan kete-

rangan mulai dia melihat nyala pelita yang keluar 

dari sebuah pondok... menemui si Cakar Setan 

tengah meregang nyawa... sampai kepada per-

tempuran dengan Warok Kate.

"Satu soal kini menjadi jelas bagi Pendekar


dan cucumu bahwa bukan aku tapi Warok Kate-

lah yang telah membunuh si Cakar Setan," ujar 

Mahesa.

"Kau bisa saja jual omongan kosong di ha-

dapan kami!" tukas Wulansari tiba-tiba. "Siapa 

tahu bahwa kaulah yang membunuh guru dan 

Warok Kate datang untuk membantu dia tapi tak 

sanggup hadapi kau!"

Merahlah air muka Mahesa Kelud menden-

gar kata-kata itu. Tapi dia berusaha untuk mene-

nangkan diri. Dia berkata: "Demi kehormatanku 

aku bersumpah bahwa aku tidak memberikan ke-

terangan palsu kepada kalian!"

Pendekar Budiman yang sementara itu 

berdiam diri saja kini angkat bicara, mengajukan 

pertanyaan : "Lantas, kalau bukan kau yang 

membunuh si Cakar Setan, apa perlunya kau curi 

pedang Naga Kuning milik laki-laki itu. Dan men-

gapa kau ambil pula surat rahasia yang ada di 

dalam pedang?!"

"Sudahlah, kakek Sentot!" memotong Wu-

lansari sambil berdiri dari duduknya. "Mengapa 

kita harus bicara panjang lebar dengan cecunguk 

ini! Kita bereskan saja dia saat ini juga!"

Bukan main jengkelnya Mahesa Kelud di-

katakan "cecunguk" seperti itu. Untung saja dia 

masih sanggup tahan hati. Kalau saja yang men-

gatainya itu bukan Wulansari seorang gadis jelita, 

tapi seorang laki-laki, tak perduli siapapun 

adanya, pasti dia sudah melompat ke muka dan 

tampar mulutnya.




DELAPAN



TANPA menoleh pada cucunya, Pendekar 

Budiman dari hutan Bangil berkata: "Duduklah 

kembali ke tempatmu, Wulan. Kita dengar dulu 

keterangan dan jawabannya. Jika memang dia 

bukan manusia yang bisa dipercaya dia tak akan 

bisa lari dari ujung golokku!" Si kakek melintang-

kan senjatanya di muka dada dan berkata pada 

Mahesa: "Jawab pertanyaanku tadi, anak muda."

,"Dua pertanyaanmu itu, yang jelas men-

gandung tuduhan juga merupakan persoalan-

persoalan yang harus kujernihkan." sahut Mahe-

sa Kelud. "Kuambil pedang Naga Kuning milik si 

Cakar Setan bukanlah dengan maksud mencuri, 

tapi untuk maksud lain yaitu menghindarkan 

agar jangan senjata sakti itu jatuh ke tangan 

orang-orang yang tak bertanggung jawab. Bukan 

tak mungkin Warok Kate kembali ke pondok si 

Cakar Setan dan mengambil senjata tersebut. Ji-

ka sampai demikian tentu nama si Cakar Setan 

dan murid-muridnya akan menjadi ternoda dalam 

kalangan persilatan. Lalu kuambil pedang itu. 

Aku yakin suatu ketika aku akan bertemu dengan 

salah seorang murid si Cakar Setan, mungkin ju-

ga Jaliteng. Dan kalau itu kejadian nanti, aku 

akan kembalikan pedang tersebut kepadanya...."

"Aku adalah seorang murid si Cakar Se-

tan!" berkata Wulansari dengan suara keras.


"Mengapa ketika aku minta senjata tersebut kau 

tidak mau berikan?!"

"Sebelum aku jawab pertanyaanmu," sahut 

Mahesa pula. "Aku akan ajukan satu pertanyaan 

lebih dahulu. Kalau kau seorang pendekar yang 

mengerti peradatan tata tertib sesama orang per-

silatan, apakah ketika kau meminta senjata ter-

sebut kau telah memakai peradatan? Bahkan kau 

telah menyerang aku tanpa memberikan kesem-

patan untuk memberikan penjelasan!"

"Oh, jadi aku harus berlutut dan menyem-

bah atau meratap minta dikasihani padamu lalu 

baru kau mau berikan itu pedang? Cis! Sampai 

pisah kepala dengan badan aku tidak akan sudi!" 

kata Wulansari.

"Siapa yang suruh kau harus berlutut dan 

menyembah atau meratap?!" balik bertanya Ma-

hesa Kelud. Pertanyaan ini membuat Wulansari 

menjadi merah kulit mukanya sampai ke telinga. 

"Yang aku inginkan ialah agar kau mengenal se-

dikit tata tertib sesama orang persilatan, tahu pe-

radatan dan tahu menghormati, apalagi kau seo-

rang gadis...."

"Sudah! Tutup mulutmu!" bentak Wulansa-

ri dengan gemasnya.

Dengan mempersabar hatinya Mahesa 

memalingkan kepalanya kepada si kakek tua 

Pendekar Budiman. "Mengenai surat rahasia itu, 

memang aku juga yang mengambilnya, kutemui 

dalam gagang pedang Naga Kuning...." Mahesa 

kemudian memberikan keterangan lagi yaitu melanjutkan keterangannya yang pertama tadi. Dice-

ritakannya bagaimana dia sampai ke Gua Iblis, 

lalu menjadi tawanan si Nenek Iblis, ditolong oleh 

Karang Sewu sampai akhirnya dia bisa menyela-

matkan diri dari gua maut tersebut sesudah 

membereskan si Nenek Iblis.

Si orang tua yang mendengarkan keteran-

gan Mahesa Kelud manggut-manggut sedang Wu-

lansari tetap bermuka asam dan tak acuh. Berka-

ta Pendekar Budiman: "Kalau kisahmu tidak satu 

kedustaan belaka, maka itu adalah satu kisah 

yang hebat sekali! Kalau aku boleh tanya, Mahe-

sa, apa perlumu kemudian mengikuti cucuku 

sampai ke sini...?"

Mahesa menjadi gugup. Dia terdiam tak bi-

sa berikan jawaban sedang air mukanya kelihatan 

berubah menjadi semu merah. Untung saja dia 

lekas mendapat akal dan memberikan jawaban 

untuk menutup rasa malunya. "Aku ingin meya-

kinkan bahwa dia adalah benar-benar murid si 

Cakar Setan sehingga jika seandainya aku mem-

berikan pedang Naga Kuning itu nanti kepadanya, 

aku tidak akan kesalahan tangan."

Si kakek tua yang sudah punya pengala-

man hidup puluhan tahun tersenyum mendengar 

jawaban pemuda itu. "Sekarang kau sudah yakin 

bahwa cucuku adalah benar-benar muridnya si 

Cakar Setan?"

Mahesa anggukkan kepala.

"Kalau begitu kembalikanlah pedang itu," 

kata Pendekar Budiman pula.


Tanpa ragu-ragu Mahesa Kelud mengambil 

pedang Naga Kuning yang tersisip di belakang 

punggungnya dan memberikan senjata itu kepada 

si kakek. Pendekar Budiman menggelengkan ke-

palanya dan berkata: "Berikanlah langsung pe-

dang ini kepada orang yang berhak meneri-

manya."

Mahesa Kelud jadi terkesiap mendengar 

kata-kata itu. Dia goyangkan pedang yang di tan-

gannya maksudnya untuk memaksa si kakek agar 

dia saja yang berikan pedang tersebut kepada cu-

cunya tapi lagi-lagi Pendekar Budiman gelengkan 

kepalanya seraya mengulum sekelumit senyum. 

Dengan muka tebal kemudian Mahesa melangkah 

ke hadapan Wulansari.

"Wulan," kata ini pemuda dengan suara 

agak kikuk. Untuk pertama kalinya dia berdiri 

sedekat itu dengan si gadis sehingga dia lebih je-

las dapat melihat bagaimana kehalusan kulit ser-

ta kecantikan wajahnya. "Wulan terimalah pedang 

Naga Kuning ini kembali!"

Si gadis bangkit dari duduknya secara tiba-

tiba. Dirampasnya dengan kasar pedang Naga 

Kuning dari tangan si pemuda. Secepat kilat sen-

jata itu kemudian dicabutnya dan dipakai untuk 

menyerang Mahesa Kelud.

Meskipun si pemuda mempunyai ilmu 

tinggi serta gesit setiap gerakannya, namun dis-

erang tak terduga serta jarak mereka sangat de-

kat sekali maka dia tak punya kesempatan untuk 

mengelak. Mahesa Kelud masih coba membuang


diri namun tak urung bahu kirinya kena dimakan 

oleh ujung pedang. Pakaiannya robek sedang ku-

litnya luka dan berdarah.

"Wulan!" seru Sentot Bangil seraya melom-

pat ke hadapan cucunya ketika si gadis hendak 

menyerang untuk kedua kalinya. Dicekalnya tan-

gan Wulansari dan dirampasnya pedang Naga 

Kuning dari tangan gadis itu.

"Mengapa kau serang dia, Wulan? Dia pe-

muda baik!"

"Dia pendusta besar! Aku tidak percaya 

padanya! Dia pembunuh guruku!" kata Wulansari 

pula dengan suara keras tetapi parau. Dari kedua 

matanya yang bening keluar butiran-butiran air 

mata. Gadis ini memutar tubuhnya dan lari ke-

luar rumah.

Sementara itu Mahesa Kelud berdiri ter-

sandar ke dinding di belakangnya. Tangan ka-

nannya memegangi bahunya yang terluka. Meski-

pun lukanya tidak besar dan tidak banyak men-

geluarkan darah namun karena pedang yang di-

pakai melukainya adalah sebuah pedang yang 

ampuh tak urung pemuda itu kerenyitkan kening 

menahan keperihan. Dia kerahkan tenaga dalam-

nya ke bagian tubuh yang terluka itu. Si kakek 

Pendekar Budiman datang menghampirinya den-

gan cepat lalu memapahnya ke sebuah balai-balai 

kayu.

* * * *


Malam telah larut dan udara tambah din-

gin. Namun sampai saat itu Wulansari masih saja 

duduk di bawah pohon di luar rumahnya. Dia 

masih seseduan dan matanya kembali menjadi 

balut karena menangis. Bila dia teringat pada 

ayahnya, ibu serta paman dan gurunya yang ke-

semua orang-orang yang dikasihinya itu telah tia-

da maka kembali berderailah air matanya.

Dalam keadaan pikiran yang kacau balau 

itu maka teringatlah dia pada Mahesa Kelud, pe-

muda yang sejak ditemuinya pertama kali diben-

cinya setengah mati. Namun sesudah kejadian 

tadi, sesudah dia menyerang pemuda itu sampai 

terluka pada bahunya, diam-diam jauh di lubuk 

hatinya dia merasakan satu penyesalan.

Seperti seseorang yang bicara, maka Wu-

lansari mendengarkan suara hatinya berkata: 

"Wulan... bukan pemuda itu yang tak tahu diri, 

tapi kau. Bukan pemuda itu yang jahat, tapi kau. 

Mengapa kau serang dia? Mengapa kau lukai dia? 

Mengapa kau lukai hatinya padahal dia berlaku 

jujur dan baik terhadapmu? Dia telah terangkan 

bahwa bukan dia yang membunuh gurumu... dia 

telah terangkan tentang surat rahasia itu, surat 

rahasia yang pasti membawa bencana terhadap-

mu... jika seandainya surat itu jatuh ke tangan-

mu, maka kaulah yang akan ditimpa malapetaka. 

Secara tidak langsung dia telah selamatkan jiwa-

mu dari renggutan maut di Gua Iblis dengan 

mempertaruhkan nyawanya sendiri: Wulan... kau 

berdosa besar telah menyakiti hati pemuda itu.


Kau berdosa besar karena telah menyerang dan 

melukainya ketika dia kembalikan pedang itu pa-

damu dengan hati yang jujur.... Mengapa kau 

berbuat demikian? Apakah kau tidak pernah 

mendapat ajaran agar berbudi kepada setiap 

orang yang baik? Apakah kau bukannya murid 

pendekar Cakar Setan... apakah kau bukannya 

anak Jarot Singgih... apakah kau lupa bahwa kau 

adalah cucu Pendekar Budiman... apakah kau 

akan lunturkan nama baik keluargamu dengan 

perbuatanmu yang tak tahu membalas budi itu? 

Kau salah Wulan... salah. Kau jahat... ya, kau ja-

hat! Kau harus minta maaf pada pemuda itu... 

kau harus minta maaf kepadanya!"

Mendengar suara hatinya yang sangat 

nyaring terdengar pada kedua telinganya maka 

semakin berderaian air mata Wulansari dan se-

makin besar rasa penyesalan yang melekat di kal-

bunya. Tapi bukan mustahil kalau semua kete-

rangannya adalah dusta belaka untuk menyem-

bunyikan maksud jahatnya...." kata si gadis da-

lam hati.

Maka menjawablah hati kecil Wulansari. 

"Jangan bodoh, Wulan. Kalau dia seorang jahat 

dia tidak akan membantu menyelesaikan jenazah 

ibu serta pamanmu. Kalau dia orang jahat nis-

caya sesudah kau bikin cedera padanya dia akan 

balas dendam kepadamu saat itu juga. Kau harus 

sadar Wulan, harus insyaf...!"

Angin dingin bertiup lirih. Perlahan-lahan 

si gadis berdiri dan melangkah menuju ke rumah.


Di atas balai-balai ruang tengah dilihatnya ka-

keknya tertidur pulas dan nyenyak. Setelah mem-

perhatikan orang tua itu sejurus Wulansari ke-

mudian melangkah menuju ke pintu yang tertu-

tup dari sebuah kamar di dalam mana, di atas 

sebuah balai-balai bambu yang dialasi tikar pan-

dan putih terbaring tubuh Mahesa Kelud.

Pemuda ini segera terbangun dari tidurnya 

dan bukakan sedikit kedua matanya ketika dia 

mendengar suara langkah-langkah kaki di dalam 

rumah. Lain orang mungkin tidak akan dengar 

suara tersebut tapi Mahesa yang sudah berilmu 

tinggi tidak demikian adanya. Pemuda itu terkejut 

ketika didengarnya langkah-langkah kaki tersebut 

berhenti di depan pintu kamarnya. Dalam kea-

daan tubuh tetap terbaring dia segera bersiap-

siap. Kemudian dilihatnya pintu kamar itu terbu-

ka dan seseorang masuk ke dalam. Melihat siapa 

adanya orang yang masuk ini, Mahesa Kelud 

menjadi lebih terkejut. Kedua matanya ditu-

tupkan kembali, berbuat pura-pura tidur tapi ke-

waspadaannya dipertinggi. Hatinya bertanya-

tanya apa maksud orang ini datang kepadanya.

"Saudara," terdengar suara orang itu. Ha-

lus dan bergetar. "Tak usah berpura-pura tidur."

"Apa perlumu datang ke kamar ini? Ingin 

menghabisi nyawaku? Kalau demikian lakukan-

lah segera!" kata Mahesa Kelud tanpa membuka-

kan kedua matanya.

"Tidak saudara. Aku datang untuk memin-

ta maaf...."


Mahesa kaget dan membuka kedua ma-

tanya lebar-lebar 

"Minta maaf...?" tanyanya seperti orang 

yang tak percaya atas pendengarannya. Wulansa-

ri menganggukkan kepalanya dan menunduk. 

Pemuda itu tersenyum sinis. "Beberapa saat yang 

lalu kau begitu membenciku, beberapa saat yang 

lalu kau bertekad bulat untuk habisi nyawaku, 

dan adalah aneh kalau tahu-tahu kini kau datang 

meminta maaf. Apakah yang telah terjadi agaknya 

eh...?!"

"Aku menyadari bahwa aku salah dan telah 

menyakiti hatimu bahkan menyerang dan melu-

kaimu. Karena itu aku minta maaf. Itupun kalau 

kau sudi. Kalau tidak, tak apa-apa..." Wulansari 

memutar tubuhnya hendak berlalu.

"Tunggu dulu," kata Mahesa cepat. Pemuda 

ini bangun dan duduk di tepi balai-balai bambu. 

Dipandangnya gadis yang berdiri di hadapannya 

itu beberapa lamanya lalu berkata: "Lupakanlah 

segala kejadian yang lewat. Itu merupakan pelaja-

ran bagimu untuk masa mendatang. Kau habis 

dari mana tadi?"

"Di luar, duduk sendirian di bawah po-

hon...." jawab gadis itu dengan tundukkan kepala.

"Mengapa duduk di sana dan tidak pergi 

tidur?

"Tidak apa-apa...."

Mahesa Kelud kemudian baru ingat bahwa 

di dalam rumah itu cuma ada satu kamar tidur 

dan dua balai-balai. Balai-balai yang pertama di


pakai oleh Sentot Bangil sedang yang satu lagi ia-

lah yang berada dalam kamar itu yang tadi ditidu-

rinya. Mahesa menatap lagi si gadis. "Kau tentu 

letih dan mengantuk..." katanya seraya berdiri. 

"Tidurlah di sini, aku bisa cari tempat lain...."

Si gadis angkat kepala. "Tapi saudara...."

"Ah tak usah panggil saudara segala. Sebut 

saja namaku, Mahesa." potong pemuda itu.

"Tapi kau... tapi kau masih sakit, Ma... 

Mahesa. Jangan pikirkan aku, kau perlu tidur 

dan istirahat."

"Siapa bilang aku masih sakit?" ujar Mahe-

sa Kelud. "Aku sudah sembuh!" 

"Luka dibahumu?"

"Ah, cuma luka kecil saja. Tak apa-apa."

"Mahesa...."

"Ya?"

"Kau masih belum memaafkan aku...."

Si pemuda menatap paras gadis itu. Kare-

na Wulansari tidak lagi menundukkan kepalanya 

maka pandangan mereka jadi saling bertemu. 

Wulan cepat-cepat kembali menundukkan kepa-

lanya sedang Mahesa berkata: "Kalau aku sudah 

bersedia melupakan hal yang telah lewat, berarti 

aku sudah memberi maaf kepadamu, Wulan...."

"Terima kasih Mahesa..." kata Wulansari. 

Untuk pertama kalinya Mahesa Kelud kemudian 

melihat gadis itu tersenyum kepadanya, satu se-

nyum yang manis sekali.

"Nah, kau tidurlah dengan nyenyak. Besok 

pagi-pagi sekali aku akan minta diri untuk melanjutkan perjalanan."

Meskipun si gadis berusaha untuk me-

nyembunyikan rasa terkejutnya ketika mendengar 

kata-kata Mahesa Kelud itu, tapi si pemuda ma-

sih dapat mengetahuinya. Diam-diam dia jadi he-

ran.

"Mahesa, apakah kau membenci padaku?" 

tanya Wulansari pula. 

"Tidak. Mengapa...." 

"Marah mungkin?" 

"Juga tidak."

"Mengapa kau terburu-buru pergi? Sebe-

narnya kemanakah tujuanmu?"

"Ada beberapa urusan atau tepatnya bebe-

rapa tugas yang aku harus laksanakan."

"Tugas apakah?" tanya Wulansari ingin ta-

hu.

"Tugas dari guruku, ah tak usah kau tahu. 

Malam telah larut kau sudah ngantuk dan harus 

tidur."

"Aku tak ngantuk, Mahesa. Aku ingin den-

gar keteranganmu," memohon si gadis.

Mahesa tatap paras jelita itu sejurus. "Lain

kali sajalah Wulan...."

"Lain kali kapan. Bukankah besok kau 

akan pergi... Mahesa?"

Pemuda itu berdiri dengan bimbang. Dia 

buang jauh-jauh perasaannya yang bukan-bukan 

terhadap gadis itu dan berkata, "Lain kali masih 

ada kesempatan, Wulan. Aku harus pergi seka-

rang. Kau tidurlah...."


Dengan kecewa Wulansari merebahkan di-

rinya di atas balai-balai bambu di mana sebelum-

nya Mahesa Kelud berbaring. Di luar sana si pe-

muda tak habis pikir apa yang telah menyebab-

kan gadis itu menjadi berubah ramah terhadap-

nya. Apa hanya karena kesadaran belaka bahwa 

dia memang bukan orang yang membunuh gu-

runya...? Atau mungkin...? Pemuda itu mengge-

lengkan kepalanya.



SEMBILAN


KEESOKAN paginya.... Mahesa Kelud su-

dah berkemas-kemas untuk berangkat. Dite-

muinya Sentot Bangil alias Pendekar Budiman 

yang saat itu tengah bicara dengan Wulansari di 

dalam rumah.

"Pendekar Budiman," kata Mahesa me-

manggil si kakek dengan gelarnya. "Aku minta diri 

karena harus pergi sekarang...."

"Pergi? Mengapa cepat-cepat? Kau mau 

pergi ke mana, Mahesa?" tanya si kakek.

"Aku sendiri sebenarnya tidak tahu harus 

pergi ke mana. Tapi aku mempunyai beberapa tu-

gas untuk dilaksanakan."

"Tugas apa agaknya?" 

Mahesa tak segera menjawab. Dia melirik 

pada Wulansari yang berada di sampingnya. Me-

lihat ini si kakek tua segera berkata pula: "Tak


apa kalau kau tak mau menerangkan tugas-

tugasmu itu, Mahesa...."

"Biarlah aku terangkan agar puas hatimu. 

Lagi pula Wulansari memang pernah menanya-

kannya," kata pemuda itu. Lalu dia terangkan 

empat buah tugas yang dipikulkan di atas pun-

daknya yaitu mencari pedang Samber Nyawa dan 

manusia bernama Simo Gembong. Tugas-tugas 

ini adalah dari gurunya Embah Jagatnata. Kemu-

dian dua tugas yang lain yakni menghambakan 

diri di kesultanan Banten dan mencari Dewi Maut 

yang berdiam di Lembah Maut.

Si kakek geleng-gelengkan kepalanya. "Dari 

ke empat tugas yang harus kau laksanakan itu 

cuma tugas menghambakan diri di Banten yang 

sedikit ringan. Yang tiga lainnya terus terang saja 

aku mungkin belum mampu melaksanakannya. 

Tapi untung kau sudah diambil murid oleh si Ka-

rang Sewu. Dengan ilmu pukulan yang ampuh itu 

kau punya harapan besar untuk bisa melaksana-

kan tugasmu dengan baik. Kalau kau tanyakan 

tentang Simo Gembong, itu adalah satu hal yang 

aku tidak tahu banyak. Aku memang sering den-

gar nama pendekar sakti itu, tapi tak tahu apa 

yang telah terjadi dengan dirinya. Entah masih 

hidup, entah sudah mati. Dia hilang lenyap begitu 

saja. Tentang Lembah Maut, kalau aku tidak sa-

lah terletak di ujung timur tanah Jawa ini, yaitu 

di bekas kerajaan Blambangan. Kemudian pedang 

Samber Nyawa.... Dulu dari seorang pengemis 

aneh aku mendapat keterangan bahwa pedang



yang menjadi pembicaraan menarik bagi orang-

orang di kalangan persilatan itu tersembunyi di 

sebuah pulau. Aku sendiri tidak dapat memper-

cayai apakah senjata sakti luar biasa tersebut 

memang benar-benar ada. Karenanya keterangan 

pengemis tadi tidak aku perdulikan, tiada aku la-

kukan penyelidikan...."

"Terima kasih... terima kasih atas keteran-

ganmu, Pendekar Budiman...."

"Mahesa, kau selalu saja panggil aku den-

gan gelar itu. Tak usah pakai peradatan terha-

dapku. Panggil saja dengan kakek Sentot seba-

gaimana yang dilakukan oleh Wulansari!" kata 

Sentot Bangil dengan tersenyum. "Tentang mak-

sudmu untuk pergi, memang kami tidak bisa me-

nahan ataupun melarang kau. Namun mengingat 

bahwa kau sudah memberikan pertolongan pada 

cucuku, aku mohon janganlah tanggung-

tanggung. Untuk menghadapi bangsat-bangsat 

Kadipaten Madiun seperti Suto Nyamat, Lima 

Brahmana dan lain sebagainya, memang tenaga 

kami berdua masih belum bisa diandalkan. Apa-

lagi jika sekiranya nanti Suto Nyamat berhasil 

membeli hulubalang-hulubalang raja untuk me-

lindunginya."

"Kakek Sentot, kalau kau mengharapkan 

bantuanku, aku bersedia dengan hati ikhlas. Tapi 

terus terang saja, aku sendiri tidak punya ilmu 

apa-apa..." ujar Mahesa Kelud.

"Kau selalu saja rendahkan diri, Mahesa. 

Aku senang padamu. Ketahuilah bahwa tidak


sembarang orang sanggup memiliki ilmu pukulan 

Karang Sewu yang dahsyat itu. Terus terang saja 

kurasa ilmuku belum tentu berada di atas ilmu-

mu. Namun meskipun demikian kutawarkan pa-

damu untuk ikut bersama-sama Wulan ke tem-

patku di hutan Bangil. Kita harus mengadakan 

persiapan sebelum melakukan balas dendam ter-

hadap Suto Nyamat dan kaki tangannya. Itupun 

kalau kau sudi, mengingat belum satu pun tugas 

yang dipikulkan di pundakmu yang kau laksana-

kan...."

Mahesa Kelud termenung sejurus. Dipikir-

kannya tawaran si kakek itu baik-baik. Agaknya 

hitung-hitung untuk menambah pengalaman ti-

dak ada salahnya kalau ia terima tawaran si ka-

kek ini. Kalau perlu dia juga bersedia menjadi 

murid dari si Pendekar Budiman.

Pemuda itu menjura. "Terima kasih kakek 

Sentot. Kalau memang itu yang kakek tawarkan, 

saya tidak berkeberatan."

Sentot Bangil tertawa. Ditepuk-tepuknya 

pundak pemuda itu. Mahesa merasakan pundak-

nya seperti ditekan oleh ribuan kilo barang berat. 

Dia maklum bahwa si kakek tengah menguji te-

naganya. Diam-diam dia alirkan tenaga dalam ke 

bahunya yang ditepuk-tepuk. Sentot Bangil men-

jadi terkejut ketika merasakan bagaimana tan-

gannya yang dipakai menepuk menjadi seperti ke-

semutan. Cepat-cepat dia tarik tangannya kemba-

li.

"Bagus... bagus Mahesa. Mari Wulan, kita


berangkat sekarang juga..." kata Sentot Bangil 

pula.

Setelah pamitan dengan seisi kampung 

Banjaran maka Wulansari, Sentot Bangil dan Ma-

hesa Kelud dengan mempergunakan ilmu lari 

masing-masing segera berangkat menuju hutan 

Bangil. Sebagai seorang pendekar yang sudah 

mendapat nama tenar di dunia persilatan ternya-

ta ilmu silat Sentot Bangil memang mengagum-

kan. Jurus-jurus tipu yang belum diketahui Ma-

hesa dan Wulansari, segera dipelajari oleh kedua 

muda mudi ini dengan bersungguh-sungguh. Ti-

dak terasa lagi maka enam bulan lebih berlalu. 

Antara Mahesa - Wulansari sementara mereka be-

lajar pada Sentot Bangil, terjalin satu persahaba-

tan yang erat. Persahabatan itu mungkin bukan 

persahabatan lagi namanya karena masing-

masing pihak sama-sama merasakan sesuatu 

yang baik Mahesa Kelud apalagi Wulansari belum 

berani mengutarakan nya secara berterus terang. 

Cuma dari sikap dan pandangan mata masing-

masing dapatlah dilihat bahwa kedua pendekar 

muda ini saling memendam rasa. Sentot Bangil 

yang mengetahui hal ini diam-diam merasa gem-

bira. Dia sayang pada cucunya Wulansari dan 

suka kepada Mahesa Kelud, seorang pemuda ga-

gah, berhati rendah, tinggi budi dan berilmu yang 

tak bisa dianggap enteng, cukup dapat diandal-

kan. Karena kedua muda remaja ini sama-sama 

sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, ditambah 

pula dengan ajaran-ajaran yang diberikan oleh


Sentot Bangil, maka sesudah enam bulan kepan-

daian yang mereka miliki kini telah dapat dipasti-

kan akan sanggup untuk menghadapi Suto Nya-

mat dan anjing-anjing kaki tangan Kadipaten 

lainnya.

Sore itu, di dalam hutan Bangil yang jarang 

kaki manusia luar menginjaknya, sehabis berlatih 

Mahesa Kelud dan Wulansari dipanggil oleh Sen-

tot Bangil.

Kedua orang itu menjura di hadapan si ka-

kek lalu duduk bersila dengan khidmat. "Murid-

muridku," berkata Sentot Bangil. "Kini telah tiba 

bagi kalian untuk meninggalkan hutan Bangil dan 

ini guna mencari musuh besar kita!"

Mendengar ini bukan main senangnya hati 

Wulansari. "Kakek, saat untuk membalaskan 

dendam kesumat ini memang sudah lama aku 

tunggu-tunggu. Kapan kami berdua boleh be-

rangkat?" tanya gadis yang bernyali besar itu. 

"Bukan kami, Wulan tapi kita," kata si kakek sak-

ti pula dengan tersenyum. "Aku sebagai kakek 

dan gurumu tidak akan lepas tangan begitu saja. 

Aku akan pergi bersama kalian untuk mencari 

bangsat Suto Nyamat dan Lima Brahmana itu."

Mahesa Kelud dan Wulansari menjadi 

gembira mendengar ini. Kemudian terdengar sua-

ra Sentot Bangil berkata: "Siapkanlah segala se-

suatunya malam ini karena kita akan berangkat 

besok pagi-pagi sekali."

Malam itu Wulansari boleh dikatakan 

hampir tak bisa tidur karena mengingat bahwa


besok pagi dia bersama Mahesa dan kakeknya 

Sentot Bangil akan mencari musuh besarnya yai-

tu Adipati Suto Nyamat serta kaki-kaki tangan-

nya. Menjelang dinihari baru gadis ini bisa pe-

jamkan mata. Tapi itu pun tidak lama karena se-

belum fajar menyingsing dia sudah bangun dan 

bersama Sentot Bangil serta Mahesa Kelud keti-

ganya segera meninggalkan hutan Bangil. Pada 

punggung ketiga orang itu kelihatan menonjol ga-

gang-gagang senjata. Sentot Bangil membawa go-

lok panjangnya. Wulansari pedang putih pembe-

rian gurunya sedang Mahesa Kelud yang memang 

sejak turun gunung tidak mendapatkan senjata 

apa-apa dari Embah Jagatnata oleh Wulansari di-

beri pinjam pedang Naga Kuning milik mendiang 

gurunya. Boleh dikatakan selama dalam perjala-

nan ketiga orang itu berhenti hanya untuk makan 

minum saja. Mereka sengaja mencari jalan yang 

jarang ditempuh manusia, lewat lembah-lembah, 

menerobos hutan belantara dan mendaki serta 

menuruni bukit-bukit.

Beberapa hari kemudian akhirnya sampai-

lah ketiga orang yang hendak menuntut balas itu 

ke Madiun. Di kadipaten Madiun saat itu Adipati 

Suto Nyamat tengah mengadakan pesta mengun-

dang beberapa orang kawan-kawan karibnya yai-

tu jago-jago silat yang lihay dan berilmu tinggi. 

Dan kebetulan sekali, di antara para tamu yang 

hadir terdapat pula Lima Brahmana sesat. Jadi 

Wulansari dan kawan-kawannya tidak perlu lagi 

susah-susah mencari musuh-musuh besar mereka tersebut. Saat itu malam hari.

"Kita harus berhati-hati," kata Sentot Ban-

gil pada kedua muridnya. "Pengawal-pengawal 

Kadipaten rata-rata memiliki ilmu yang cukup 

dapat diandalkan. Disamping itu jika Suto Nya-

mat mengadakan pesta, tentu tamu-tamunya bu-

kan dari kalangan biasa. Karena itu kita tidak bi-

sa lewat jalan biasa. Kita ambil jalan memutar 

dan lompati tembok...."

Demikianlah ketiga orang tersebut dalam 

kegelapan malam bergerak mengendap-endap 

dengan cepat menuju tembok belakang dan den-

gan mempergunakan ilmu mengentengi tubuh 

mereka dengan mudah sekali melompati tembok 

Kadipaten. Sebelum masuk ke dalam pekarangan 

Sentot Bangil menyelidik lebih dahulu. Ketika di-

lihatnya tidak ada satu orang pun maka dia sege-

ra memberi isyarat pada murid-muridnya. Ketiga 

orang tersebut seperti burung saja layaknya, tan-

pa menimbulkan suara barang sedikit pun me-

layang turun.

Tapi tak terduga dari sudut rumah besar 

bagian belakang terdengar suara bentakan: "Siapa 

di sana?!"

Tanpa menunggu lebih lama Wulansari 

berkelebat ke arah datangnya suara. Pedang pu-

tihnya sudah tergenggam di tangan. Di hadapan-

nya berdiri seorang pengawal Kadipaten. Wulan-

sari segera tusukkan pedangnya. Pengawal itu 

serta merta roboh. Bersama Sentot Bangil dan 

Mahesa Kelud, Wulansari kemudian bergerak


mendekati pintu belakang lalu mengintip. Ternya-

ta pintu belakang tersebut berhubungan dengan 

dapur. Pelayan-pelayan tengah sibuk dan bau 

makanan yang harum merembas menusuk hi-

dung.

Ketiganya pindah ke samping rumah besar 

dan sampai di sebuah jendela yang terbuka. Di 

luar suasana gelap sedang di dalam terang bende-

rang sehingga kalau pun ada orang di bagian da-

lam akan sukar untuk mengetahui mereka yang 

berada di tempat gelap lewat jendela itu.

Di hadapan sebuah meja panjang dan be-

sar duduklah berkeliling beberapa orang laki-laki. 

Sentot Bangil meneliti siapa-siapa saja mereka ini 

adanya. Di kepala meja, sebagai tuan rumah du-

duklah Adipati Suto Nyamat mengenakan pakaian 

kebesarannya yaitu pakaian Bupati. Matanya be-

sar garang, keningnya lebar, berkumis tebal me-

lintang serta meliuk pada kedua ujungnya. Dari 

tampangnya ini jelas terbayang kebengisannya. 

Pada pinggang kiri dan kanan Suto Nyamat tersi-

sip masing-masing sebuah golok panjang. Inilah 

senjata yang sangat diandalkan oleh sang Bupati. 

Memang ilmu sepasang goloknya itu sudah men-

capai tingkat kepandaian yang tinggi.

Kemudian di sekeliling meja besar itu du-

duk pula lima orang berkepala botak dan mema-

kai jubah putih. Mereka ini tak lain adalah Lima 

Brahmana yang tersilau oleh harta benda serta 

uang yang dijejalkan Suto Nyamat kepada mereka 

sehingga meskipun tadinya mereka adalah orang


orang suci tapi sesat kena dibujuk dan diambil 

oleh sang Adipati menjadi tangan kanannya.

Namun dari sekian banyaknya tamu-tamu 

yang hadir, yang paling menarik perhatian Sentot 

Bangil ialah seorang laki-laki bertubuh tinggi, 

mengenakan jubah hitam gelap. Rambutnya yang 

berwarna kelabu diikat ke atas membentuk kun-

cir. Tadinya dia adalah seorang resi dari kerajaan 

Blambangan. Namun karena kehidupannya tidak 

sesuai dengan sifat dan kelakuan seorang suci 

maka dia diusir meninggalkan Blambangan, baju 

resinya yang tadi berwarna putih ditukarnya den-

gan warna hitam gelap. Melihat orang ini diam-

diam Sentot Bangil jadi terkejut. Dia maklum, me-

lihat kepada pakaian serta sikap dan pandangan 

matanya saja, orang ini pasti memiliki ilmu tinggi 

sekali.



SEPULUH



TANPA memalingkan kepalanya kepada 

Mahesa Kelud dan Wulansari, Sentot Bangil ber-

kata: "Dengar kalian berdua dan perhatikan ke 

sana. Yang pakai baju bagus itu dan duduk di 

kepala meja adalah Suto Nyamat. Dia sangat ahli

dengan senjatanya berupa sepasang golok. Ke-

mudian lima orang yang berkepala botak dan ber-

jubah putih. Mereka inilah Lima Brahmana sesat. 

Mereka juga bersenjatakan golok. Di samping itu 

mereka memiliki senjata rahasia berupa pisau


pisau bengkok yang berbahaya sekali. Dengan 

pedang di tangan, bilamana mereka maju satu-

satu tak akan berarti apa-apa, tapi jika mereka 

maju berbarengan dan menyerang dengan seren-

tak hebatnya bukan main. Kita harus hati-hati. 

Kemudian manusia berkuncir dan pakai jubah hi-

tam itu! Inilah yang paling...."

Tapi sampai di situ, Wulansari tidak dapat 

lagi menahan hatinya. Dengan tidak sabar dia 

melompat ke muka. Tubuhnya melesat lewat jen-

dela dan sesaat kemudian dia sudah berada di 

ruangan di mana Suto Nyamat dan para tamu 

tersebut berada.

"Bangsat-bangsat rendah! Pembunuh-

pembunuh terkutuk! Saat kematian kalian sudah 

tiba! Aku datang untuk menuntut balas!"

Tidak ada satu orang pun di ruangan ten-

gah Kadipaten itu yang tidak terkejut ketika men-

dengar suara Wulansari yang menggeledek itu. 

Dan jadi lebih terkejut lagi ketika mereka lihat 

bahwa yang datang adalah seorang dara jelita.

Suto Nyamat kemudian berdiri. Sambil 

menyeringai dan puntir-puntir ujung kumisnya 

dengan tangan kiri dia berkata: "Eh... eh... eh. 

Gadis cantik dari mana yang datang kesasar ke 

sini? Kalau ingin turut pesta silahkan duduk!"

"Adipati keparat!" maki Wulansari. "Tak ta-

hu ajal sudah di depan hidung masih bicara ceri-

wis! Kau lihat pedang di tangan kananku ini?!"

"Eh, galak juga rupanya. Tapi tunggulah, 

aku akan cubit pipimu yang montok itu!" Adipati


Suto Nyamat tanpa ragu-ragu maju ke hadapan 

gadis itu untuk laksanakan niatnya. Tapi dia jadi 

terkejut ketika dengan secepat kilat pedang putih 

di tangan kanan Wulansari berkelebat ke arah 

lengannya yang terulur. Cepat-cepat Bupati Ma-

diun ini tarik pulang tangannya dan melompat 

mundur beberapa langkah dengan muka berang.

"Gadis gila! Kau siapakah...?!" tanya Suto 

Nyamat membentak.

"Aku adalah anak Jarot Singgih yang kau 

fitnah dan kau bunuh secara kejam. Aku adalah 

kemenakan dari Menggala! Kau dengar?!"

Suto Nyamat menyembunyikan rasa terke-

jutnya ketika mendengar keterangan si gadis itu. 

Tak pernah disangkanya kalau saat itu masih hi-

dup seorang turunan Jarot Singgih. Dia menduga

bahwa keluarga manusia yang dibencinya itu su-

dah musnah masuk liang tanah. "Gadis bernyali 

besar," kata Suto Nyamat. "Dengarlah, kau me-

mang cantik. Tapi jangan jual tam-pang di sini. 

Aku tidak segan-segan mengirim kau ke neraka 

guna menghadap ayah serta pamanmu!"

"Keparat! Mampuslah!" teriak Wulansari 

dan serentak dengan itu dia melompat ke hada-

pan musuh besarnya mengirimkan serangan.

Merasakan derasnya angin sambaran pe-

dang, Suto Nyamat segera cabut kedua golok pan-

jangnya dan tangkis senjata lawan dengan gerak 

berputar sedemikian rupa sehingga dalam satu 

kali bentrokan saja dia bermaksud akan berhasil 

menjepit senjata lawan serta merampasnya! Tapi


bukan main terkejutnya Bupati Madiun ini kare-

na tak terduga, begitu pedangnya terjepit di anta-

ra dua golok lawan maka dengan kecepatan yang 

luar biasa Wulansari meluncurkan senjatanya ke 

bawah dengan deras dan kirimkan satu tusukan 

dahsyat ke dada Suto Nyamat. Adipati ini segera 

melompat ke belakang untuk selamatkan da-

danya.

Meskipun dia tahu bahwa dengan seorang 

diri gadis ini sanggup dihadapinya, tapi untuk 

membakar hati para tamunya maka berkatalah 

Suto Nyamat pada mereka: "Saudara-saudara, 

mungkin di antara kalian ada yang lupa siapa 

adanya Jarot Singgih dan Menggala. Mereka ada-

lah gembong manusia dajal yang tempo hari hen-

dak memberontak pada Kerajaan. Dan ini adalah 

anak serta keponakan pemberontak itu! Suatu ja-

sa besar terhadap Kerajaan bilamana kita berhasil 

menangkapnya hidup-hidup!"

Dengan darah mendidih Wulansari mengi-

rimkan serangan ganas. Suto Nyamat berkelit. Si 

gadis susul dengan serangan yang lebih dahsyat 

dan satu jurus di muka maka kelihatanlah betapa 

Adipati Madiun itu terdesak hebat. Melihat ini 

Lima Brahmana yang menjadi kaki tangan Suto 

Nyamat segera cabut golok masing-masing dan 

menghadang si gadis.

Wulansari kertak gigi. Pada saat itu mele-

sat sesosok tubuh ke dalam dengan senjata di 

tangan. 

"Anjing-anjing Kadipaten! Di mana muka


kalian, tidak malu mengeroyok seorang gadis?!"

Yang berkata dengan membentak dan 

mengejek ini tak lain adalah Mahesa Kelud yang 

kemudian dengan pedang Naga Kuning di tangan 

dia segera menerjang ke arah Lima Brahmana. 

Mengetahui bahwa Mahesa Kelud sudah berada di 

sampingnya, bersemangatlah Wulansari. Gadis ini 

putar pedangnya dengan deras sampai mengelua-

rkan suara menderu. Meskipun Suto Nyamat dan 

kelima manusia berkepala botak itu bukan orang-

orang sembarangan, tapi menghadapi dua pende-

kar muda murid-murid pendekar-pendekar sakti 

maka mereka segera kena didesak.

Para tamu terkejut sangat melihat bagai-

mana tuan rumah dan kelima Brahmana sampai 

terdesak sedemikian rupa oleh dua anak muda 

yang belum pernah dikenal kepandaiannya dalam 

kalangan persilatan! Tanpa menunggu lebih lama 

mereka segera cabut senjata dan membantu ka-

wan-kawan mereka. Yang masih tetap duduk di 

tempatnya dengan tenang adalah resi yang berju-

bah hitam dan berkuncir. Sambil memperhatikan 

pertempuran yang terjadi di depan matanya dia 

meneguk tuak yang terhidang di meja.

Dikeroyok oleh lebih sepuluh orang yang 

semuanya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, 

lama-lama Mahesa Kelud dan Wulansari menjadi 

sibuk dan terdesak.

Bukan main girangnya Suto Nyamat. Da-

lam sejurus dua jurus di muka dia dan kawan-

kawan tentu akan dapat membekuk batang leher


kedua pemuda itu. "Ha... ha! Anak-anak kecil 

yang masih belum pandai cebok sendiri hendak 

coba-coba bikin urusan! Rasakan kalau kalian 

sudah kena dibekuk sesaat lagi...!"

Di tengah-tengah pertempuran yang hebat 

itu di saat mana kedua pendekar muda tadi ter-

desak hebat ke pojok ruangan besar maka tahu-

tahu dari jendela melayanglah dengan gerakan 

enteng seorang laki-laki tua yang tak lain daripa-

da Sentot Bangil alias Pendekar Budiman adanya.

"Suto Nyamat durjana! Kau dan kawan-

kawan jangan lekas merasa menang dan pentang 

bacot besar! Layani aku!"

Sentot Bangil memutar golok panjangnya. 

Dia bergerak di antara Mahesa Kelud dan Wulan-

sari. Belum sampai satu jurus, salah seorang 

pengeroyok sudah dapat dibikin roboh mandi da-

rah! Bukan main terkejutnya Suto Nyamat meli-

hat kehebatan jago tua yang baru datang ini. Dia 

segera mundur. Di lain pihak Wulansari dan Ma-

hesa Kelud kembali dapat mendesak lawan-lawan 

mereka dan dalam tempo yang singkat segera me-

robohkan masing-masing satu lawan. Sentot Ban-

gil yang ilmunya lihay dengan gerakan cepat 

meyakinkan untuk kedua kalinya goloknya me-

minta korban lagi.

Pada saat inilah, tanpa menunggu lebih 

lama resi berjubah hitam segera berdiri dari kur-

sinya dan dengan sekali membuat gerakan tahu-

tahu tubuhnya sudah berdiri di hadapan Sentot 

Bangil!



SEBELAS



SENTOT BANGIL kertak gigi melihat siapa 

yang menghadang di hadapannya.

"Ho... ho! Rupanya si Pendekar Budiman 

yang menjadi biang runyam membawa anak-anak 

itu kemari!" kata resi berjubah hitam. Dia tertawa 

dengan nada mengejek.

Meskipun dia tahu bahwa musuh yang di 

hadapannya ini bukan seorang baik-baik, tapi se-

bagai orang persilatan yang tahu diri dan tidak 

cuma mendapat gelar Pendekar Budiman maka 

Sentot Bangil menjura memberi hormat.

"Kalau tak salah aku tengah berhadapan 

dengan Waranganaya Toteng yang dulu menjadi 

resi di Blambangan, benar?!"

Si jubah hitam tertawa dan busungkan da-

da. "Bagus, bagus!" katanya. "Rupanya kau yang 

sudah tua masih bisa kenali orang. Mari kita 

main-main sedikit Pendekar Budiman!"

"Soal main-main soal mudah, Waranga-

naya," sahut Bangil. "Sebelumnya aku ingin tanya 

dulu, apakah kau punya mulut sudah kena ter-

sumpal harta dan uang Adipati keparat itu se-

hingga kau terbujuk dan menjadi kaki tangan-

nya?!"

"Kalau kau tanya soal itu, itu bukan uru-

sanmu! Aku mau malang, aku mau melintang 

siapa yang mau perduli?!"



Sentot Bangil tersenyum sinis. "Pantas saja 

kau diusir dari Blambangan Waranganaya...."

"Manusia monyet!" maki Waranganaya 

sambil kebutkan ujung berumbai-rumbai dari 

ikat pinggang jubah hitamnya.

Dengan cepat Sentot Bangil menghindar ke 

samping karena dari kedua ujung rumbai-rumbai 

itu keluar angin panas yang menyerang ke arah-

nya dengan deras. Melihat ini maka Waranganaya 

tertawa bergelak. "Baru begitu saja kau sudah 

meliuk seperti cacing kepanasan, Pendekar!" Sang 

resi enjot tubuh dan lancarkan serangan ganas.

Meskipun Sentot Bangil orang yang sudah 

berpengalaman dan dapat nama harum di dela-

pan penjuru angin namun menghadapi Waranga-

naya boleh dikatakan dia tidak dapat berkutik. 

Hampir setiap saat resi itu mengebutkan rumbai-

rumbai ikat pinggang jubahnya. Sambil menye-

rang dia tidak hentinya tertawa bekakakan. Ter-

tawanya ini bukan pula tertawa biasa tapi men-

gandung tenaga dalam yang tinggi sekali dan 

maksudnya adalah untuk mengacaukan setiap 

gerakan lawan. 

Meskipun Sentot Bangil sudah kerahkan 

semua ilmu simpanannya namun dia tetap dibi-

kin tak berdaya. Di lain pihak kedua orang mu-

ridnya Mahesa dan Wulansari sudah terkurung 

pula. Mahesa Kelud berkali-kali pergunakan pu-

kulan tangan kirinya yang mengandung aji Ka-

rang Sewu yang ampuh itu namun sia-sia belaka 

karena setiap dia mengirimkan satu serangan dia


dipaksa mundur untuk tangkis tiga atau empat 

serangan lawan

Sentot Bangil tahu bahwa jika mereka ber-

tahan sampai beberapa jurus di muka maka me-

reka pasti akan kena dicelakai oleh bangsat-

bangsat Kadipaten itu.

Dengan cepat maka berserulah jago tua ini: 

"Murid-muridku! Kalian larilah! Biar aku sendiri 

yang hadapi mereka!"

Mendengar perintah sang guru itu, meski-

pun dengan hati berat namun Mahesa Kelud dan 

Wulansari segera mematuhinya. Mereka putar 

pedang masing-masing dengan sebat dan begitu 

para pengeroyok mundur, keduanya segera me-

lompat ke jendela. Sebelum melarikan diri Wulan 

berpaling menengok guru atau kakeknya. Gadis 

itu menjerit keras karena pada saat itu dilihatnya 

si kakek rebah ke lantai terkena sambaran rum-

bai-rumbai ikat pinggang Waranganaya Toteng. 

Dalam keadaan yang kritis itu, Sentot Bangil 

sambil tergelimpang ke lantai masih berusaha 

memapaskan golok panjangnya ke arah kaki Wa-

ranganaya. Dengan cepat resi ini melompat ke 

atas dan sambil melompat kaki kirinya bergerak 

menendang kepala Sentot Bangil. Kembali terden-

gar suara menjerit Wulansari. Tubuh Sentot Ban-

gil terlempar beberapa tombak dengan kepala re-

muk!

Di luar sana Wulansari memutar tubuh 

dan melompat kembali ke jendela seraya berte-

riak: "Resi jahanam! Aku mengadu jiwa dengan


kau!"

"Wulan!" seru Mahesa Kelud seraya tarik 

lengan si gadis dengan cepat. "Jangan bertindak 

bodoh! Mereka bukan lawan kita. Kita bisa saja 

nekad tapi pasti lebih banyak ruginya. Lain kali 

kita mencari mereka untuk membuat perhitun-

gan!"

Si gadis kibaskan tangan Mahesa yang 

memegang lengannya dan berusaha menariknya 

dari kalangan perkelahian.

"Mahesa!" bentak Wulansari. "Kau ini seo-

rang jantan atau banci pengecut! Kau biarkan 

guru menemui ajal begitu rupa?! Kalau kau mau 

kabur silahkan! Aku tidak gentar menghadapi se-

tan-setan itu sendirian!"

"Jangan gegabah Wulan!" balas Mahesa 

dengan suara tak kalah kerasnya. "Pergunakan 

otak sehatmu! Jangan biarkan amarah mendidih 

dan hati panas mencelakaimu! Kalau kita mati 

berarti untuk selamanya kita tidak bakal sanggup 

membalas dendam terhadap bangsat-bangsat Ka-

dipaten itu! Lagi pula apa kau tak ingat akan mu-

suh besarmu si Warok Kate? Mari!"

Dalam keadaan genting seperti itu akhirnya 

Wulansari bisa disadarkan. Sepasang muda mudi 

itu segera putar tubuh, melarikan diri dalam ke-

gelapan malam, kembali ke hutan Bangil.

Sesampainya di hutan Bangil beberapa hari 

kemudian, dalam keadaan letih Wulansari jatuh-

kan diri di depan pondok. Di sini si gadis menan-

gis sejadi-jadinya. Mahesa coba membujuk dan


menghibur gadis itu tiada putus-putusnya.

"Kau tak merasakan bagaimana beratnya 

kehilangan orang tua itu..." kata Wulansari di an-

tara isak tangisnya.

"Apa yang ada dalam hatimu sama dengan 

yang aku rasakan Wulan. Ini namanya hidup 

yang penuh cobaan dan tantangan. Cobaan dan 

tantangan tidak seharusnya membuat kita jadi 

lemah serta lupa diri. Justru cobaan dan tantan-

gan dijadikan cambuk untuk menggembleng diri 

sendiri menjadi lebih tabah dan kukuh hati. Jalan 

hidup kita sebagai orang-orang persilatan me-

mang berputar di situ...."

Wulansari terdiam. Lama gadis ini terme-

nung. Perlahan-lahan entah dia sadar atau tidak 

Wulansari sandarkan kepalanya ke dada Mahesa 

Kelud. Si pemuda belai rambut gadis ini penuh 

kasih sayang. Belaiannya turun ke pipi si gadis. 

Lalu perlahan-lahan hidungnya didekatkan men-

cium kepala Wulansari. Ketika gadis itu menen-

gadah Mahesa mencium sepasang matanya yang 

bagus dan masih basah.

Wulansari merangkulkan kedua tangannya 

ke leher Mahesa Kelud lalu berbisik lirih.

"Mahesa, jangan tinggalkan diriku. Kau sa-

tu-satunya kini tempat aku bergantung...."

"Kita berdua ditakdirkan senasib sepe-

nanggungan. Jadi kita tak akan berpisah apa pun 

yang terjadi..." balas Mahesa Kelud.

Wulansari merasa bahagia sekali menden-

gar ucapan pemuda itu. Ditariknya kepala Mahesa hingga wajah mereka saling bersentuhan. Keti-

ka Mahesa mengecup bibirnya Wulansari memba-

las penuh kehangatan. Suasana mesra itu dapat 

menghibur Wulansari serta membuatnya sesaat 

melupakan apa yang mereka alami.



                              TAMAT



















Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive