"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Jumat, 29 November 2024

MAHESA KELUD EPISODE LUTUNG GILA

MAHESA KELUD EPISODE LUTUNG GILA

 SATU


LANGIT di ufuk timur kelihatan terang 

tanda matahari mulai keluar dari peraduan tempat

tenggelamnya, tanda pagi akan segera datang, 

tanda malam berganti dengan siang. Dua kekasih 

itu berada di sebuah kali, tengah membersihkan 

muka masing-masing. Di belakang mereka 

terdapat tebing tinggi dan pada tebing ini terletak 

sebuah jalan tanah berdebu yang berkelok meliku 

sesuai dengan kelok-liku kali kecil tersebut

Mahesa Kelud tengah melangkah 

mendekati Wulansari sambil mengeringkan 

mukanya dengan sehelai sapu tangan ketika 

dikejauhan didengarnya gemeletak roda kereta 

dan suara tapak-tapak kaki kuda banyak sekali. 

Kedua orang ini sama memutar kepala. Di ujung 

sana, di jalan di atas mereka kelihatan sebuah 

kereta ditarik oleh dua ekor kuda hitam. Di 

sekeliling kereta ini kira-kira lima orang memacu 

kuda tunggangan masing-masing dan mereka 

mengenakan pakaian putih-putih.

Semakin dekat rombongan tersebut, 

semakin berdebar hati kedua orang ini. Melihat 

kepada bagusnya kereta pasti kendaraan ini milik 

seorang hartawan atau bangsawan. Bisa jadi pula


milik seorang pejabat tinggi kerajaan. Yang 

menarik perhatian Mahesa Kelud serta Wulansari

ialah lima manusia yang menunggangi kuda di 

sekeliling kereta! Kelimanya berkepala botak dan 

mengenakan jubah putih!

Wulan dan Mahesa saling pandang 

beberapa detik lamanya.

Jika memang dia bersama kaki-kaki 

tangannya..." desis Wulansari.

"Kuharap memang dia," sahut Mahesa. 

"Ayo Wulan, tunggu apa lagi! Bersiaplah!" Mahesa 

Kelud membungkuk. Di sepanjang tepi kali itu 

terdapat banyak batu-batu hitam sebesar tinju. 

Mahesa Kelud mengambil sebanyak-banyaknya. 

Wulansari segera maklum apa yang dilakukan 

kekasihnya dan mengambil pula batu-batu 

tersebut sebanyak yang bisa dipegangnya. 

Sementara rombongan di atas sana bergerak juga 

semakin dekat, kedua orang ini merangkak 

diantara alang-alang sungai, bergerak ke atas 

jalanan!

Rombongan makin dekat. Makin dekat. 

Debu jalanan beterbangan menggebu.... 

"Sekarang Wulan!" seru Mahesa. Dan....

Selusin batu-batu hitam sebesar kepalan 

tangan melesat mendesing ke arah kaki-kaki ke 

tujuh ekor kuda yang tengah berlari cepat di jalan


berdebu menurun itu! Kejap itu juga terdengar 

ringkik meninggi langit dari ke tujuh binatang 

tersebut! Kuda kereta seperti tertarung dan 

melosoh ke muka, menghempaskan kereta yang 

ditarik ke samping! Kuda-kuda lain mengalami 

nasib sama. Kaki-kaki mereka, sekitar sambungan 

siku patah tulangnya kena dihantam batu-batu 

hitam yang dilemparkan oleh dua pendekar muda 

yang sembunyi di balik alang-alang membuat 

binatang-binatang tersebut rebah bergulingan, 

melemparkan penunggang-penunggangnya!

Salah seorang dari penunggang kuda itu 

hampir saja terlempar ke dalam sungai di bawah 

tebing curam. Namun dengan kelihayan yang 

mengagumkan dia jungkir balik di udara hingga 

sesaat kemudian tubuhnya selamat dan berdiri 

tegak di tanah di atas kedua kakinya!

"Bangsat-bangsat rendah yang bersembunyi 

di balik alang-alang, keluarlah untuk menerima 

mampus!" teriak salah seorang dari lima manusia 

berjubah putih, berkepala botak. Serentak dengan 

itu tangan kanannya bergerak dan sebuah pisau 

terbang melesat ke arah persembunyian Mahesa 

Kelud dan Wulansari! Kedua orang ini terkejut 

sekali dan cepat-cepat melompat keluar dari 

persembunyian mereka seraya mencabut pedang 

sakti masing-masing!


Sementara itu pintu kereta yang terhampar 

miring di tepi jalan terbuka dan sesosok tubuh 

berpakaian bagus keluar! Manusia ini tidak lain 

dari pada Suto Nyamat adanya! Dan kelima orang 

berjubah putih berkepala botak itu adalah kaki-

kaki tangannya Suto Nyamat. Lima Brahmana 

yang tempo hari membantu Suto Nyamat ketika 

diserang sampai terbunuhnya Pendekar Budiman 

Kakek Wulansari dan guru Wulansari serta 

Mahesa Kelud.

Betapa terkejutnya Suto Nyamat melihat 

kedua muda-mudi itu! Namun rasa terkejutnya 

disembunyikan. Dan memang dia tak perlu merasa 

khawatir karena bersamanya ada lima orang jago-

jago silat kawakan yang setiap saat akan selalu 

sedia mengorbankan jiwa raga untuk 

keselamatannya!

"Kalian rupanya huh! Kali ini jangan kira 

kalian bisa angkat kaki hidup-hidup dari sini! 

Kalian harus tinggalkan nyawa kalian di sini!" kata 

Suto Nyamat dengan membentak.

Mahesa Kelud tertawa mengejek. "Agaknya 

kau tengah melarikan diri, Suto Nyamat! Apakah 

tidak enak tinggal di kotaraja...?"

"Mana bisa enak!" menimpali Wulansari, 

bila malaikat maut membuntutinya terus-terusan!" 

Kelima manusia berjubah putih yang berdiri saling


berdekatan ini segera mengenali siapa adanya 

kedua orang di hadapan mereka tersebut. 

Brahmana yang paling tua, yang tadi 

melemparkan pisau terbang kepada Mahesa dan 

Wulansari mengeluarkan suara tertawa bergerak.

"Ha... ha....! Rupanya tikus-tikus pengecut 

yang dulu melarikan diri kini sengaja datang 

mengantarkan nyawa! Bagus sekali!"'Sambil 

berkata demikian dia memberi isyarat pada 

keempat saudaranya. Seperti dulu, saat inipun 

kelimanya menganggap remeh terhadap sepasang 

pendekar ini, meski diam-diam mereka agak ngeri 

juga melihat kilauan sinar pedang merah di tangan 

Wulansari dan Mahesa Kelud!

Sementara itu Suto Nyamat sudah cabut 

sepasang golok panjangnya namun masih tetap 

mengambil posisi di belakang kelima Brahmana 

tersebut. Ini cukup menjadi kenyataan betapa 

kecutnya nyali manusia ini!

Tiba-tiba dengan serentak, dengan 

kecepatan luar biasa lima Brahmana itu gerakkan

tangan mereka dan sepuluh pisau berkeluk 

terbang ke arah Wulansari dan Mahesa Kelud!

Dua sinar merah membabat di udara. 

Terdengar kemudian suara, trang... trang... trang" 

berulang kali. Seperti ranting-ranting kayu yang 

dipatahkan, demikianlah pisau-pisau terbang


tersebut berjatuhan ke tanah! Sebenarnya pisau 

terbang kelima Brahmana tersebut mempunyai 

kehebatan tertentu yakni akan berputar membalik 

dan menyerang untuk kedua kalinya bila 

ditangkis! Tapi kali ini senjata-senjata tersebut 

hilang sama sekali keampuhannya, dibikin 

terkutung dua semuanya oleh tebasan pedang 

mustika sakti di tangan Wulansari dan Mahesa 

Kelud!

Dengan tertawa mengejek Mahesa Kelud 

berkata: "Ha... ha! Hari ini agaknya Lima Brah-

mana mendapat malu besar karena senjata-senjata 

yang sangat mereka andalkan kini hanya seperti 

ranting-ranting kering tiada gunanya!"

Tapi rasa malu itu tak akan mereka rasakan 

lama, Mahesa," ujar Wulansari, karena sebentar 

lagi mereka akan segera minggat ke neraka!"

Muka Lima Brahmana itu kelihatan merah 

sekali karena malu dan amarah yang meluap. Tapi 

mereka juga terkejut melihat kelihayan kedua anak 

muda ini karena kini nyatalah bahwa ilmu 

keduanya jauh lebih tinggi dari dua tahun yang 

lampau, bahkan pedang-pedang yang meman-

carkan sinar merah di tangan keduanya itu tak bisa 

tidak pasti senjata mustika sakti!

Dengan membentak garang Brahmana 

tertua melompat ke muka diikuti oleh empat


saudaranya. Suto Nyamat sebenarnya lebih 

menyukai mempergunakan kesempatan itu untuk 

larikan diri. Tapi dia takut akan benar-benar hilang 

muka, dicap sebagai pengecut kelas wahid!

Demikianlah maka tujuh golok panjang, 

lima di tangan Si Lima Brahmana dan sepasang 

lagi di tangan Suto Nyamat menyerbu menyerang 

kedua pendekar itu dari tujuh penjuru! Mahesa 

dan Wulansari putar senjata mereka dengan sebat 

sampai suaranya menderu. Keduanya bukan

menangkis tapi sebaliknya balas menyerang 

dengan mempergunakan jurus "seribu dewa 

mengamuk."

Bergidik keenam penyerang tersebut meli-

hat sinar merah bergulung dan mengeluarkan 

angin panas. Mereka tahan serangan dan mundur 

beberapa langkah. Lima Brahmana itu memiliki 

ilmu permainan golok tersendiri yang memang 

patut dikagumi. Tapi dengan adanya Suto Nyamat 

bersama mereka saat itu maka kelimanya menjadi 

kurang leluasa!

Karenanya Brahmana yang tertua berkata:

"Raden Mas Suto Nyamat, kau menghindarlah! 

Untuk menebas batang-batang leher tikus-tikus 

kecil ini serahkan saja pada kami!"

Ini memang maunya Suto Nyamat. Cepat-

cepat dia melompat ke belakang kalangan


pertempuran bahkan kemudian melarikan diri! 

Dengan penasaran Wulansari ambil sebuah batu 

sebesar empu jari dan lemparkan ke arah Suto 

Nyamat. Di saat itu Lima Brahmana menyerbu ke 

arah Wulan namun dengan cekatan Mahesa Kelud 

membendung serangan yang dahsyat itu sehingga 

kekasihnya terlindung, sedang di muka sana Suto 

Nyamat yang sedang berlari cepat tiba-tiba 

berhenti tertegun dan tak bergerak lagi! Tubuhnya 

kaku mematung karena urat besar dipunggungnya 

sudah kena ditotok oleh batu yang dilemparkan 

oleh Wulansari tadi!

Kedua pendekar itu kemudian sama 

melancarkan serangan ke arah lawan. Saat itu 

Lima Brahmana sudah mengatur barisan, 

memanjang ke belakang dengan Brahmana tertua 

di paling depan, menyusul Brahmana nomer dua, 

ketiga dan seterusnya. Pedang sakti Mahesa Kelud 

dan Wulansari dengan sendirinya membabat pada 

si botak paling muka ini. Tapi si botak tertua 

dengan cepat lompat ke samping menjauhi 

serangan kedua lawan tersebut! Brahmana kedua 

kini yang menyambut serangan sepasang 

pendekar ini! Dia angkat goloknya tinggi-tinggi 

seperti mau menangkis. Tapi ini juga hanya 

gerakan tipuan belaka karena dengan sangat cepat 

kemudian dia melompat ke samping menjauhi


serangan lawan sedang Brahmana adiknya, yaitu 

yang ketiga dalam barisan melompat menghadang 

ke muka! Dan Brahmana ketiga ini memang benar-

benar menangkis sepasang pedang lawan itu! Di 

saat terdengar suara "trang" dan di saat bunga api 

berpijaran maka dua Brahmana yang terdahulu 

bergerak memencar. Brahmana-brahmana yang 

dua lainnya di belakang memencar pula! Se-

mentara saudara mereka yang seorang tengah 

menangkis serangan Mahesa dan Wulansari, maka 

keempatnya serentak menyerang! Bukan saja 

kedua pendekar itu terkurung di tengah-tengah, 

tapi juga sekaligus diserang dari empat jurusan! Di 

sinilah letak kehebatan permainan golok ciptaan 

kelima Brahmana tersebut!

Meski terjepit demikian rupa, seperti tak ada lagi 

jalan keluar namun dalam detik-detik yang 

menegangkan itu baik Mahesa maupun Wulansari 

berlaku tenang. Percuma mereka jadi murid Si 

Suara Tanpa Rupa selama dua tahun, percuma 

mereka memiliki sepasang pedang sakti dan 

percuma mereka memiliki ilmu. Dewa Pedang 

Delapan Penjuru Angin" jika serangan begitu saja 

tak sanggup mereka tanggulangi!

Dengan kerahkan tenaga dalamnya, Mahesa 

Kelud membentak menggeledek sedang Wulansari 

melengking tinggi, membuat anak-anak telinga


kelima orang itu seperti mau pecah dan sekaligus 

mempengaruhi dan mengacaukan penyerangan 

mereka! Di saat itulah Wulansari dan Mahesa 

Kelud sama menjatuhkan diri ke tanah sambil 

memutar pedang mereka laksana dua titiran

membabat ke perut lima penyerangnya!

Lima Brahmana terkejut bukan main. Golok 

mereka hampir beradu satu sama lain jika tidak 

cepat ditarik pulang kembali! Demikian pula 

kelimanya harus melompat ke belakang untuk 

menyelamatkan perut masing-masing! Tapi adalah 

di luar dugaan mereka apa yang terjadi 

selanjutnya!

Begitu menjatuhkan diri dengan membabat-

kan pedang maka Mahesa Kelud dan Wulansari 

memecah dua. Wulansari berguling di bawah kaki-

kaki musuhnya ke sebelah kanan sedang Mahesa 

Kelud ke samping kiri. Sehingga ketika Brahmana-

brahmana tersebut melompat menjauhi sambaran 

pedang, sesungguhnya kedua pemuda-pemudi itu 

telah lebih dahulu pula melewati mereka! Dan 

malanglah nasib dua Brahmana yang kebetulan 

melompat ke jurusan mana kedua lawan mereka 

berguling! Belum lagi kedua kaki mereka menjejak 

tanah maka pedang Wulansari dan Mahesa Kelud 

sudah menyambar dengan ganasnya!

Kedua Brahmana itu melolong setinggi


langit! Yang satu bahunya terbacok sampai ke 

tulang punggung sedang Brahmana yang kedua 

hampir putus lehernya oleh tebasan pedang! 

Keduanya rebah ke tanah. Yang tertebas pangkal 

lehernya segera mati di situ juga sedang 

saudaranya masih bisa kelojotan seketika tapi 

menyusul meregang nyawa pula!

Marahlah ketiga Brahmana lainnya! Dengan 

bentakan-bentakan dahsyat, didahului oleh se-

rangan pisau terbang ketiganya menyerbu me-

nyerang! Kedua murid Suara Tanpa Rupa me-

lompat jauh ke kiri-kanan mengelakkan serangan 

pisau terbang dan sambaran golok lawan. 

Kemudian keduanya menyerbu kembali! Kini 

sebaliknya, ketiga Brahmana itulah yang terkurung 

di tengah! Betapapun mereka bertiga 

mengeluarkan segala kepandaian dan ilmu-ilmu 

simpanan yang mereka andalkan namun 

menghadapi sepasang pedang mustika sakti yang 

dipegang oleh dua pendekar gagah serta 

dimainkan dalam jurus-jurus yang sama sekali 

aneh bagi mereka, maka terdesaklah ketiga 

Brahmana tersebut!

Keringat dingin membasahi jubah serta 

kepala mereka yang botak sehingga kepala-kepala 

itu berkilat-kilauan ditimpa sinar matahari yang 

tengah naik!


Dua tahun lalu mereka boleh dongak kepala 

dan busungkan dada ketika menghadapi Mahesa 

Kelud serta Wulansari yang datang menyerbu ke 

gedung kadipaten Madiun! Tapi kali ini mereka 

benar-benar mati kutu, apalagi sesudah dua orang 

dari mereka menemui ajal! Mereka benar-benar 

terdesak hebat dan sudah sama memberi isyarat 

untuk melarikan diri, tapi kesempatan untuk itu 

sama sekali tidak ada! Dua gulungan sinar merah 

mengurung mereka, jika mereka lengah atau salah 

tindak sedikit saja tak ayal lagi nasib mereka akan 

sama dengan dua orang saudara mereka 

terdahulu!

Tak ada harapan lagi untuk kabur, tak ada 

harapan untuk bisa selamatkan diri serta nyawa. 

Namun demikian mereka bertahan juga mati-

matian, sambil berharap siapa tahu ada kawan-

kawan mereka dari kotaraja lewat di situ! Tapi 

harapan tinggal harapan! Maut datang lebih 

dahulu! Korban ketiga yang harus meregang 

nyawa adalah Brahmana tertua yang paling lihay. 

Lengan kanannya terbabat puntung oleh pedang 

Mahesa Kelud. Tangan yang masih menggenggam 

golok panjang mental ke udara bersama senjata 

tersebut, sungguh mengerikan! Meski berada 

dalam kesakitan luar biasa serta darah yang 

memuncrat dari urat nadi yang putus-putus


namun dengan tangan kirinya Brahmana tua ini 

masih bisa lemparkan tiga pisau terbangnya 

sekaligus kepada Mahesa Kelud! Pemuda ini putar 

pedangnya! Pada detik ketiga pisau terbang

tersebut buntung berantakan maka pada saat itu 

pula Mahesa Kelud menusukkan pedangnya ke 

dada si Brahmana!


DUA


BRAHMANA tersebut masih coba untuk 

membuang diri ke samping namun sia-sia belaka 

karena tubuhnya sudah "disate" lebih dahulu oleh 

pedang merah di tangan Mahesa Kelud! Brahmana 

ini mengeluh pendek. Ketika pedang dicabut 

tubuhnya rebah dan sebelum tubuhnya mencium 

tanah, nyawanya sudah melayang! Dua Brahmana 

yang masih hidup, yang dilayani oleh Wulansari 

sudah memuncak ketakutan mereka! Keduanya 

segera ambil langkah seribu sambil melemparkan 

empat buah pisau terbang!

Dengan tertawa meninggi Wulansari 

mengelakkan empat pisau tersebut. Tangan kirinya 

kemudian bergerak cepat ke kantong kecil di 

pinggangnya, di mana tersimpan pasir merah


panas!

"Kalian mau lari ke neraka?!" ujar gadis itu.

Nah, pergilah!"

Ratusan pasir kecil-kecil melesat ke arah 

kedua Brahmana yang lari pontang panting itu! 

Mereka maklum kalau tengah diserang dengan 

senjata rahasia, lalu keduanya segera putarkan 

golok panjang mereka di belakang punggung! 

Namun hanya sebahagian kecil saja dari pasir-

pasir tersebut yang sanggup mereka bikin mental 

dengan sambaran golok sedang sebagian besar 

lainnya tetap saja menyerang tubuh mereka, 

menembus jubah putih mereka di bagian 

punggung, masuk ke dalam daging dan terus larut 

dalam aliran darah!

Mula-mula mereka hanya merasakan sedikit 

nyeri! Mereka lari terus! Kemudian rasa nyeri 

hilang, kini berganti dengan rasa panas yang 

selangkah demi selangkah semakin menjadi-jadi 

panasnya. Wulansari sendiri sesudah melepaskan 

senjata rahasianya tidak terus mengejar. Dia sudah 

maklum apa yang bakal terjadi dengan diri kedua 

orang Brahmana tersebut, karenanya dia berdiri 

saja memperhatikannya!

Ketika keduanya sampai ke jalan yang 

mendaki maka lari mereka mulai tertatih-tatih dan 

akhirnya terhenti sama sekali! Kemudian kelihatan


bagaimana tubuh Brahmana-Brahmana ini berdiri 

terhuyung dan akhirnya rebah ke jalanan, 

menggelinding ke bawah. Yang satu tertahan oleh 

semak belukar di tepi jalan, yang satu lagi 

terguling ke tebing dan jatuh ke sungai!

Tamatlah riwayat kelima Brahmana yang 

menjadi kaki tangan Suto Nyamat itu. Suto Nya-

mat sendiri masih berdiri dalam keadaan tubuh 

kaku mematung di tengah jalan sebelah sana!

Wulansari memandang kepada Mahesa 

Kelud. Pemuda ini menganggukkan kepalanya 

dan berkata: "Dia, bagianmu, Wulan."

Kedua mata gadis itu bersinar aneh. Dia 

melangkah mendekati tubuh Suto Nyamat. Kini 

tibalah saatnya untuk membuat perhitungan de-

ngan manusia berhati setan pembunuh laknat! 

Yang telah membunuh ayah bundanya, yang telah 

membunuh kakeknya serta pamannya, yang 

menyebar fitnah di sana sini serta memeras rakyat 

habis-habisan semasa dia tinggal di Madiun dulu!

Gadis ini siap mempergunakan jari-jari 

tangannya untuk melepaskan totokan di pung-

gung Suto Nyamat. Tapi betapa jijiknya dia 

menyentuh tubuh manusia ini! Tubuh musuh 

besarnya! Dia membungkuk mengambil batu dan 

melemparkan batu tersebut ke punggung Suto 

Nyamat hingga detik itu juga terlepaslah totokan


Suta Nyamat. Begitu sadarkan diri laki-laki ini 

segera hendak melarikan diri namun di ha-

dapannya telah menghadang Wulansari dengan 

pedang merah di tangan! Dia berpaling ke 

belakang. Di belakangnya kelihatan berdiri pula 

Mahesa Kelud! Dia maklum bahwa dia sudah 

terkurung di tengah-tengah! Tak bisa lari! Hatinya 

kecut! Lututnya gemetar! Lebih-lebih ketika 

menyaksikan dengan mata kepala sendiri tubuh 

empat Brahmana yang menggeletak di jalanan! 

Menggigil tubuh Suto Nyamat! Merinding bulu 

tengkuknya! Ajal sudah di depan mata! Malaikat 

maut segera siap mencabut nyawanya!

Suto Nyamat berpaling kepada Mahesa Ke-

lud lalu kembali memandang pada Wulansari. 

"Kalian berdua! Dengar!" katanya. Suaranya keras 

tapi gemetar dan aneh, laksana suara yang keluar 

dari liang kubur! "Biarkan aku meninggalkan 

tempat ini! Biarkan aku kembali ke kotaraja dan 

bebaskan anakku yang kalian culik!"

Alangkah enaknya!" kata Wulansari dengan 

nada mengejek.

"Aku akan berikan apa saja yang kalian 

minta!" jawab Suto Nyamat.

'Apa saja?!"

Ya, apa saja! Uang, harta, pokoknya apa saja 

asal kau kabulkan permintaanku!" jawab Suto


Nyamat penuh harapan.

Wulansari memandang kepada Mahesa Ke-

lud. Kedua orang ini saling tersenyum. Harapan

Suto Nyamat semakin besar.

Baiklah Suto Nyamat, kami kabulkan 

permintaanmu. Tapi kami tidak mau uangmu," 

kata Wulansari.

"Lantas, pakaian bagus, emas berlian?"

"Tidak, bukan itu," sahut Wulansari.

"Apa kalau begitu...?"

"Kami inginkan nyawamu. Suto Nyamat!"

"Oh... tidak! Jangan!"

Wulansari maju selangkah demi selangkah 

dengan pedang di tangan. Tidak! Ampun....! Aku 

akan berikan apa saja! Apa saja!" teriak Suto 

Nyamat dengan paras pucat pasi laksana mayat 

dan sambil mundur ke belakang!

"Cabut senjatamu, manusia durjana!" bentak 

Wulansari.

Tidak! Ampun, tobat aku...."

"Cabut senjatamu, kataku!"

Laki-laki itu mundur terus sampai akhirnya 

tubuhnya membentur badan Mahesa Kelud yang 

berdiri di belakangnya. Suto Nyamat terkejut. 

"Pemuda...!" katanya sambil menjauhkan 

diri berlutut di hadapan Mahesa Kelud. 

"Tolong aku... tolong aku...!" Saking


takutnya Suto Nyamat sampai berlaku begitu, 

merengek bahkan menangis seperti anak kecil!

Mahesa Kelud menyeringai. Dia gerakkan 

kedua kakinya sampai Suto Nyamat terguling 

ditanah, sementara itu Wulansari sudah berdiri di 

hadapannya. Ujung pedang merah yang runcing 

tajam meluncur mendekati lehernya dan berhenti 

satu jari di atas leher itu! Dalam ketakutannya, 

Suto Nyamat benar-benar menangis seperti anak 

kecil kini! Ini membuat Wulansari semakin muak 

dan jijik benci setengah mati pada ini manusia! 

Namun meskipun dendamnya sudah berurat-urat, 

meski amarahnya sudah meluap membakar dada 

dan kesempatan untuk menghabisi nyawa musuh 

besarnya itu hanya tinggal menekankan ujung 

pedangnya saja... tapi jiwa satria masih tetap 

dipegangnya! Pantang bagi gadis berhati jantan ini 

untuk membunuh seorang musuh yang berada 

dalam keadaan tak berdaya dan tanpa senjata!

"Bangun Suto Nyamat! Cabut senjatamu!"

Tenggorokan laki-laki itu kelihatan turun 

naik. Tubuhnya menggigil.

Tidak... jangan! Ampun...."

"Kau tidak mau bangun?!" bentak Wulansari 

dan ujung pedangnya menempel di kulit leher 

Suto Nyamat.

Pedang merah di tangan gadis itu bergerak.


Tring!" Kancing baju paling atas pakaian kebesaran 

Suto Nyamat, yang terbuat dari perak putus, 

menggelinding di tanah.

"Berdiri!"

Suto Nyamat masih menangis menelentang 

di tanah.

Kancing perak kedua putus! Lalu yang ke-

tiga, menyusul yang keempat. Kini dada laki-laki 

itu yang berbulu jadi tersingkap dan kelihatanlah 

tulang-tulang dada dan iganya turun naik sesuai 

tarikan-tarikan napasnya yang menyesak! Namun 

manusia ini masih saja tetap tak bergerak di 

tempatnya. Wulansari sudah hilang kesabarannya. 

Ujung pedang bergerak perlahan menyilang di atas 

kulit dada Suto Nyamat! Laki-laki ini 

mengerenyitkan kulit mukanya, merintih diantara 

tangisnya. Kulit dadanya terasa perih dan panas! 

Dia masih tetap berbaring seperti itu dan 

Wulansari membuat silang kedua kini sehingga 

dikulit dada laki-laki itu terlihat guratan tanda kali 

yang besar dan panjang. Kini Suto Nyamat tak 

tahan lagi akan rasa perih dan panas yang 

menjalari dadanya. Dia berguling. Pakaiannya 

yang bagus kotor oleh debu! Kemudian 

kelihatanlah manusia itu berdiri perlahan.

Terjadi perubahan pada paras Suto Nyamat. 

Parasnya yang sebelumnya pucat pasi laksana


mayat kini merah mengelam tanda bahwa rasa 

sakit yang dideritanya membuat timbulnya rasa 

amarah yang meluap! Suto Nyamat memang 

benar-benar marah kini, benar-benar naik pitam! 

Kedua tangannya bergerak mencabut golok 

panjangnya, dengan muka beringas dia memutar 

tubuh ke hadapan Wulansari! Memang justru 

inilah yang diharapkan si gadis! Pancingnya 

dengan membuat sakit tubuh lawan ternyata 

berhasil baik.

"Ayo manusia durjana, majulah!"

Suto Nyamat maju selangkah demi selang-

kah. Nyatalah bahwa rasa takutnya benar-benar 

lenyap. Dia menggereng seperti seekor singa dan 

memang tampangnya seperti singa! Dengan 

bentakan dahsyat tiba-tiba dia melompat ke muka. 

Pedangnya menyambar dari kiri dan dari kanan, 

ke arah kepala Wulansari! Si gadis rundukkan diri 

dan pergunakan pedangnya untuk membabat 

perut lawan! Suto Nyamat memang tidak rendah 

kepandaiannya! Kehebatan sepasang permainan 

pedangnya sangat diandalkan dan lihay! Namun 

menghadapi Wulansari tentu saja dia ketinggalan 

jauh!

Laki-laki ini turunkan kedua goloknya dengan 

sebat, maksudnya menangkis pedang lawan 

sekaligus menjepit senjata tersebut dengan kedua


golok panjangnya! Tapi apa lacur! Wulansari 

sudah melompat ke samping dan dari samping 

gadis ini pergunakan ujung pedangnya untuk 

memukul senjata lawan! 

'Trang!"

Golok di tangan kiri Suto Nyamat mental ke 

udara, membuat laki-laki itu tertegun seketika tapi 

kemudian menyerbu lagi dengan garang! Tapi 

tentu saja kini kehebatan permainan golok laki-laki 

ini jadi semakin tidak berarti karena senjatanya 

cuma tinggal satu! Dua kali saja Wulansari 

menggerakkan pedang merahnya maka "cras!" 

bahu kanan Suto Nyamat terbabat puntung!

Laki-laki ini menjerit keras. Tubuhnya 

huyung dan menggigil oleh rasa sakit yang amat 

sangat dan oleh hawa panas dari pedang merah.

"Keparat!" maki Suto Nyamat. 'Tebaslah 

batang leherku! Bunuh!"

Wulansari tertawa mengejek. Tadi kau be-

gitu takut mampus Suto Nyamat, seperti sudah 

melihat bagaimana gelapnya dalam kubur! 

Sekarang kau ingin lekas-lekas mati, apakah sudah 

terlihat bidadari yang hendak menyambutmu di 

sorga...?"

"Bunuhlah!" teriak Suto Nyamat sementara 

rangsangan hawa panas mulai tak tertahankan lagi 

meski dia kerahkan tenaga dalamnya.


"Sekarang kau belum boleh mati, Suto Nya-

mat, mungkin sebentar lagi," kata Wulansari. 

"Kau masih memiliki tangan kiri yang bisa 

dipergunakan untuk memungut golok itu!"

Suto Nyamat mengigit bibir menahan 

geram dan rasa sakit. Di hadapannya, di atas tanah 

menggeletak dua batang golok panjang miliknya 

yang tadi dibikin mental oleh Wulansari. Kedua 

senjata itu saling berdekatan. Suto Nyamat mem-

bungkuk dan mengambil salah satu dari golok 

tersebut. Tiba-tiba senjata ini dilemparkannya ke 

arah Wulansari! Selagi si gadis pergunakan 

pedangnya untuk menangkis golok yang 

dilemparkan lawan maka Suto Nyamat segera 

ambil golok kedua dan menyerbu!

Serangan ini memang hebat dan cepat tapi 

sama sekali tidak membuat yang diserang menjadi 

bingung ataupun gugup! Tadinya Wulansari 

hendak pergunakan pedang untuk menangkis 

golok yang dilemparkan itu, tapi ketika sudut 

matanya melihat lawan mengambil golok kedua 

dan menyerbu maka dengan cepat gadis ini 

ulurkan tangan kiri. Pada detik dia berhasil 

menangkap hulu golok panjang maka saat itu pula 

dia pergunakan pedangnya menangkis serangan. 

Suto Nyamat sendiri tiada menduga kalau 

lawannya secepat itu memapaki serangannya


sehingga meskipun hatinya gentar melihat sam-

baran pedang Wulansari namun dia tak punya 

kesempatan untuk menarik pulang serangannya!

Dua senjata saling beradu. Golok panjang

Suto Nyamat patah dua dan mental! Sejurus 

kemudian terdengar lolong laki-laki itu karena 

pedang di tangan Wulansari terus menerus 

menyambar ke dadanya! Tulang dada Suto 

Nyamat jebol, dua tulang iganya amblas! Dia 

terhuyung-huyung kebelakang, kedua bola 

matanya berputar dan membeliak. Sedetik 

kemudian tubuhnya terguling ke tanah, mati!

Wulansari memandang kepada tubuh mu-

suh besarnya itu, sejurus kemudian dia berlari 

mendapatkan Mahesa Kelud dan memeluk tubuh 

pemuda itu, lalu menyembunyikan kepalanya di 

dalam dekapan Mahesa lalu menangis tersedu-

sedu. Mahesa membelai rambut kekasihnya. la 

tahu bahwa gadis itu menangis karena haru bahwa 

dengan tangannya sendiri dan dengan mata 

kepalanya sendiri dia menyaksikan kematian Suto 

Nyamat, manusia yang telah menjadi biang celaka 

penyebab kematian ayah bunda, paman serta 

kakeknya.

"Wulan," bisik Mahesa Kelud. "Kau hebat 

sekali, dapat mengalahkannya...."

Tangis gadis itu semakin kencang dan ke


dua tangannya digelungkan di leher Mahesa 

Kelud. Mahesa membimbing kekasihnya ke tepi 

jalan di mana terletak sebuah pohon rindang dan 

duduk di sana. Wulan menyembunyikan 

kepalanya dalam pangkuan Mahesa Kelud. Bagi

keduanya suasana seperti itu tidak lagi merupakan 

suasana sedih atau haru, tapi berganti dengan 

suasana penuh kemesraan.

Akhirnya tangis gadis itu mereda juga. De-

ngan selendang kuningnya disekanya kedua 

matanya.

"Kenapa tidak nangis lagi...?" tanya Mahesa 

Kelud menggoda.

"Aduh!" pekik pemuda ini kemudian karena 

paha kirinya dicubit. "E... e... eee, sudah nangis 

mencubit orang pula! Lucu!"

"Kau yang lucu!"

"Aku? Lucu mengapa?" tanya Mahesa Ke-

lud.

"Kau tidak tahu!"

"Apa yang tidak tahu...?"

Gadis itu menyeka mukanya kembali, 

duduk bersandar ke batang pohon di samping 

Mahesa Kelud lalu berkata: "Ada satu rahasia lucu 

yang kau tidak tahu."

"Heh... katakanlah."

Wulansari tertawa geli. Dia baru saja hen


dak membuka mulutnya yang mungil itu ketika 

tiba-tiba terdengar satu suara tertawa berkakakan 

disusul dengan suara bentakan keras!

"Alangkah hebatnya! Habis membunuh lalu 

bercumbu!"

Mahesa Kelud dan Wulansari terkejutnya

bukan main. Keduanya bangkit dengan cepat dan

melihat dua manusia berdiri kira-kira lima belas 

langkah di hadapan mereka! Yang satu masih 

muda belia, berpakaian perang. Yang kedua 

seorang perempuan bertubuh tinggi, bermuka 

hitam berhidung bengkok dan berjubah merah! 

Yang muda adalah Braja Kunto, murid 

Waranganaya Toteng yang waktu di Madiun 

tempo hari menjadi Kepala Pasukan Pengawal 

Kadipaten dan pernah bertempur melawan 

Wulansari serta Mahesa Kelud di sekitar gua 

tempat kediaman guru mereka Si Suara Tanpa 

Rupa. Adapun perempuan jangkung berjubah 

merah, tiada lain daripada Niliman Toteng! Dialah 

tadi yang bicara membentak dan tertawa 

bekakakan!

Sewaktu Suto Nyamat meninggalkan kota-raja 

maka Niliman Toteng menyuruh Lima Brahmana 

itu pergi bersama Suto Nyamat sedang dia akan 

menyusul kemudian karena dia sedang menunggu 

adiknya yaitu Waranganaya Toteng untuk satu


urusan penting. Tapi tunggu punya tunggu 

Waranganaya Toteng tidak muncul, yang datang 

adalah murid adiknya yakni Braja Kunto, 

membawa kabar bahwa gurunya tidak bisa datang 

karena ada satu persoalan penting di lain tempat. 

Dengan kesal Niliman Toteng ajak keponakan 

muridnya itu sama-sama menyusul Suto Nyamat 

dan rombongan. Mereka tak perlu berlari cepat 

dan tak perlu merasa khawatir melepas Suto 

Nyamat bersama lima orang tersebut karena nama 

Lima Brahmana sudah dikenal dalam dunia 

persilatan sebagai tokoh-tokoh yang ditakuti 

karena tinggi ilmu-nya!

Namun betapa terkejutnya kedua orang ter-

sebut, lebih-lebih Niliman Toteng, ketika mereka 

sampai di jalan yang menurun itu, keduanya 

menemui dua sosok mayat di tengah jalan yang tak 

lain dua orang dari Lima Brahmana!

Dan ketika mereka memandang ke bawah, 

kelihatanlah kereta milik Suto Nyamat terhampar 

di tengah jalan bersama beberapa ekor kuda. 

Keduanya berlari ke sana! Di sini mereka harus 

menyaksikan lagi empat sosok mayat yaitu tiga 

mayat Brahmana dan yang satu mayat Suto 

Nyamat!

Kedua orang ini menggeram menyaksikan 

hal tersebut. Wulansari dan Mahesa Kelud sendiri


yang berada dalam suasana berkasih sayang penuh 

kemesraan tidak mengetahui kedatangan kedua 

orang ini sampai akhirnya Niliman Toteng melihat 

keduanya di bawah pohon!

Paras Mahesa dan Wulansari jadi merah 

malu karena mendengar bentakan Niliman Toteng 

tadi. Mereka tidak takut terhadap Braja Kunto dan 

tahu bahwa kepandaian murid Waranganaya

Toteng itu masih jauh di bawah mereka karena 

mereka pernah menjajalnya dahulu! Tapi 

kehadiran Niliman Toteng di situ.... Benar-benar 

mengejutkan hati kedua teruna ini!

Sementara itu Braja Kunto sudah mencabut 

senjatanya berupa sebuah ruyung dan melangkah

mendekati Wulansari. "Ha... ha, gadis begini manis 

tak disangka berhati jahat seperti setan! Sanggup 

membunuh sesama manusia! Ini cukup alasan

bagiku untuk memecahkan kepalamu! Tapi aku 

Braja Kunto masih punya hati kemanusiaan, 

serahkan dirimu dan ikut aku ke kotaraja! Tinggal 

bersamaku! Makan bersamaku, tidur bersamaku! 

Ha... ha... ha!"

"Manusia kunyuk! Kubeset mulut 

busukmu!" bentak Wulansari seraya cabut 

pedangnya dan menyerbu ke muka.

Di saat yang sama, Niliman Toteng sudah 

mengeluarkan stagennya dan melangkah ke


hadapan Mahesa Kelud!



TIGA



JANGAN mengira bahwa kau akan bisa me-

larikan diri lagi seperti malam tadi, tikus kecil!" 

kata Niliman Toteng.

"Iblis Jangkung," menyahut Mahesa Kelud. 

"Bicaramu selalu besar! Sudahkah baik luka 

sambaran pedang kawanku malam tadi? Dan 

Sudahkah dijahit robekan pada jubah merahmu?! 

Kalau belum aku bersedia menunggu sampai 

lukamu sembuh dan sampai kau selesai menjahit 

jubahmu yang robek!"

Darah Niliman Toteng naik ke kepala 

mendengar penghinaan ini. Dengan segera dia me-

nyerbu ke muka!

Mahesa Kelud maklum bahwa lawannya se-

orang yang tangguh. Makanya begitu Niliman 

Toteng lancarkan serangan stagen merah, pemuda 

itu segera cabut pedang dan memapak serangan 

lawan dengan sabetan yang mematikan! 

Perempuan tua bermuka hitam itu memutar 

senjatanya sampai mengeluarkan angin bersiuran. 

Ujung stagen lewat di bawah sambaran pedang 

dan menyambar tajam ke bagian bawah perut


Mahesa Kelud? Murid Suara Tanpa Rupa ini 

melompat ke samping seraya membalikkan mata 

pedang membabat kepungan Niliman Toteng! 

Seperti Wulansari, dalam tenaga dalam dan ilmu 

mengentengi tubuh Mahesa Kelud masih jauh 

berada di bawah Niliman Toteng. Tapi dengan 

pedang merah sakti di tangan dia tak perlu 

khawatir akan dicelakai oleh lawannya.

Di lain pihak pertempuran antara Wulansari 

dengan Braja Kunto berjalan sangat tidak 

seimbang sekali! Murid Waranganaya Toteng 

meskipun dalam dua tahun terakhir ini telah 

mendapat gemblengan yang lebih ulet dari 

gurunya, namun menghadapi gadis lawannya 

yang memainkan jurus-jurus ilmu pedang "Dewi 

Delapan Penjuru Angin" tak urung menjadi dibikin 

sangat repot! Berkali-kali Braja Kunto 

mengeluarkan seruan tertahan karena dada atau 

perut ataupun hidungnya hampir saja "dicium" 

ujung pedang lawan! Braja Kunto mempercepat 

gerakannya tapi sia-sia belaka. Ujung-ujungnya, 

pedang sakti di tangan Wulansari berhasil juga 

menghantam pinggul kirinya! Luka besar 

menyemburkan darah. Tulang pinggul sampai ke 

paha hampir putus! Braja Kunto yang berbadan 

gemuk itu rebah ke tanah laksana pohon kelapa

tumbang. Tubuhnya berkelejotan seketika. Begitu


hawa panas beracun pedang sakti lawannya 

menjalar ke jantung. Braja Kunto terpaksa 

pasrahkan nyawanya di situ juga!

Melihat murid adiknya mati mengenaskan 

begitu rupa, Niliman Toteng segera cabut senjata 

aneh berbentuk sapu ijuk dari punggung jubahnya. 

Sekali dia putar senjata tersebut maka dari sela-

sela ijuk-ijuk hitam tebal itu melesat puluhan 

jarum hitam yang suaranya menggebu laksana 

tawon mengamuk! Jarum-jarum hitam beracun ini 

menyerang Mahesa Kelud mulai dari arah kaki 

sampai ke kepala!.

Mahesa tahu bahwa dalam keadaan 

sesingkat itu sukar baginya untuk menangkis 

serangan jarum. Meskipun dia putar pedang 

saktinya, belum tentu semua jarum bisa disapu. 

Karenanya tak ayal lagi Mahesa jatuhkan diri ke 

tanah dan berguling ke arah lawannya! Niliman 

Toteng kaget sekali waktu melihat bagaimana 

sambil mengelak lawannya berguling ke arahnya 

dan membabatkan pedang ke kakinya! Cepat-cepat 

Niliman melompat dan arah lompatannya sengaja 

mendekati Wulansari untuk sekaligus melancarkan 

serangan pula!

Si gadis yang tidak menduga akan diserang

secara mendadak oleh lawan yang tengah dihadapi 

kakak seperguruannya segera putar pedang. Tapi


terlambat! Ujung stagen merah telah melilit 

lengannya, terus sampai ke hulu pedang! Niliman 

segera betot stagen dan kebutkan sapu ijuknya ke 

arah Mahesa Kelud yang datang menyerang dari 

samping. Wulansari tahu bahwa kalau tarikan 

keras stagen lawan balas dengan sentakan keras 

pula maka pasti lengannya akan tanggal. Untuk 

kedua kalinya gadis ini terpaksa serahkan pedang 

kepada lawan demi selamatkan diri!

Niliman Toteng tertawa mengekeh. 

Stagennya dililitkan ke pinggang kembali dan kini 

dengan pedang sakti milik Wulansari di tangan Si 

Iblis Jangkung ini segera menyerang kedua muda 

teruna itu! Mahesa mengeluarkan jurus-jurus 

teratas dari ilmu. "Dewa Pedang". Tapi percuma 

saja karena Niliman Toteng kini juga memiliki 

pedang sakti yang dapat menandingi pedang di 

tangan Mahesa bahkan setiap saat dia tak ragu-

ragu mempergunakan pedang itu untuk beradu 

senjata!

Wulansari gemasnya bukan main. Tangan-

nya bergerak ke sisi pakaian kuningnya "Perem-

puan Iblis! Mampuslah!" teriaknya. Ratusan 

butiran pasir merah menderu seperti angin 

punting beliung, menyambar ke arah Niliman 

Toteng!

Perempuan bermuka hitam ini pergunakan


pedang milik Wulansari yang kini menjadi 

andalannya untuk menyapu serangan pasir-pasir 

merah itu! Tapi kali ini dia salah perhitungan. 

Meski kedua senjata tersebut, pedang dan pasir 

merah sama-sama berasal dari satu guru sakti, 

namun untuk menyelamatkan diri dari serangan 

pasir-pasir merah tidak cukup dengan putaran 

pedang saja jika tidak disertai gerakan melompat 

ke samping untuk mengelak! Enam butir pasir 

menembus jubah merah Niliman Toteng, masuk ke 

dalam pori-pori kulitnya dan mengalir bersama 

aliran darah!

Perempuan tua itu merasa tubuhnya 

diserang hawa panas, segera maklum bahwa sen-

jata rahasia lawan sudah masuk ke dalam tu-

buhnya. Dikerahkannya tenaga dalamnya yang 

sangat tinggi. Hawa panas berkurang sedikit. Sapu 

ijuknya dikebutkan ke arah kedua lawannya. 

Sementara Mahesa dan Wulansari sibuk dengan 

jarum-jarum hitam tersebut maka dia pergunakan 

kesempatan untuk menotok urat darah besar di 

badan sebelah kirinya. Untuk kedua kalinya dalam 

jurus itu Niliman Toteng kebutkan sapu ijuknya. 

Jarum-jarum hitam melesat lagi ke arah Mahesa 

dan Wulansari. Kali ini kedua orang itu tidak 

tinggal diam. Mereka menggerakkan tangan kiri. 

Ratusan butir pasir merah melayang ke arah


jarum-jarum hitam dan bentrokan hebat di udara. 

Betapapun hebatnya jarum-jarum hitam itu namun 

menghadapi butiran-butiran pasir merah panas, 

maka laksana bubuk gergaji, jarum-jarum itu 

patah-patah dan luluh ke tanah!

Niliman Toteng tidak kecewa senjata 

rahasianya dikalahkan demikian rupa. Yang 

penting baginya adalah mendapatkan kesempatan 

untuk menyelamatkan nyawanya dari pasir-pasir 

beracun yang sudah mengindap di darahnya. 

Perempuan tua ini memang hebat. Ujung hulu 

pedang dipergunakannya untuk memukul da-

danya sendiri. Dia terhuyung-huyung ke belakang 

lalu batuk dan muntah darah berbuku-buku! 

Segera dia lepaskan totokan pada urat darah di sisi 

kiri tubuhnya dan mengatur jalan darah serta 

pernafasannya dengan cepat. Dengan demikian

terlepaslah dia dari bahaya kematian keracunan 

butiran-butiran pasir merah yang dilepaskan 

Wulansari tadi!

"Hik... hik... hik...!" tiba-tiba terdengar ter-

tawa cekikik tertahan-tahan. Sejurus kemudian 

berkelebatlah satu bayangan putih dan tahu-tahu 

seorang berjubah putih berbadan bungkuk berdiri 

kira-kira beberapa langkah dari Niliman Toteng.

Dia seorang perempuan tua bermuka hitam, kaki 

kanannya buntung dan dia memegang sebuah


tongkat besi yang besar. Kedua matanya besar 

serta merah. Hidungnya bengkok dan tidak 

mempunyai alis. Bibir bawahnya yang tebal 

kelihatan menjelewer ke bawah waktu dia tertawa 

itu! Siapa adanya perempuan tua ini tidak lain dari 

Sitaraga alias Iblis Puntung yang dulu telah 

memberi obat perangsang terhadap Mahesa Kelud 

dan Kemaladewi sehingga kedua muda mudi ini 

melakukan perbuatan tidak senonoh tanpa mereka 

sadari!

Di samping terkejut melihat kemunculan 

yang tiba-tiba dari manusia penimbul malapetaka 

ini, kemarahan Mahesa Kelud juga jadi mendidih 

karena inilah manusia yang dulu berminggu-

minggu dicarinya untuk ditamatkan riwayatnya! 

Tapi belum habis rasa kejut pemuda ini, sekelebat 

kemudian muncul pula seorang lain di tempat itu. 

Waranganaya Toteng! Agaknya kini lengkaplah 

musuh-musuh Wulansari dan Mahesa Kelud! 

Sitaraga alias Iblis Putung memang datang ke 

tempat itu bersama-sama Waranganaya. Tapi 

karena si perempuan tua itu memiliki ilmu lari 

yang lebih ampuh maka Waranganaya ketinggalan 

jauh di belakangnya dan dia sampai duluan.

Wulansari merasa ngeri juga melihat si pun-

tung kaki ini. Dia bergerak mendekati kakak 

seperguruannya. Mahesa Kelud sendiri sudah bisa


menyimpulkan jika Sitaraga datang ber-sama 

dengan Waranganaya Toteng, maka pastilah 

mereka kawan sepihak! Pemuda ini mengeluh 

dalam hatinya. Niliman dan Waranganaya Toteng 

mungkin masih bisa mereka hadapi, tapi dengan 

adanya Sitaraga, kecil sekali harapan untuk dapat

membalaskan sakit hati dan dendam kesumat 

sekaligus kepada ketiga manusia-manusia 

terkutuk. Bahkan mungkin mereka terpaksa harus 

serahkan nyawa di tempat itu, apalagi pedang 

sakti Wulansari sudah dirampas pula oleh Niliman 

Toteng! Apa yang ada dipikiran Mahesa Kelud 

tidak terpikir dan tidak terasa oleh Wulansari 

karena memang gadis ini tidak tahu manusia 

macam bagaimana adanya Sitaraga alias Iblis 

Puntung!

Sitaraga masih juga tertawa-tawa. "Banyak 

gunung tinggi menjulang! Banyak manusia 

berilmu tinggi berumur lanjut berpengalaman 

selautan luas! Tapi mengapa melayani bocah yang 

masih bau amis sampai dibikin muntah darah?! 

Hik... hik... hik!"

Jika dilihat kulit muka yang hitam dan hidung 

yang bengkok dari Niliman Toteng, maka banyak 

persamaan tampangnya dengan tampang Sitaraga. 

Mendengar tertawa dan ucapan mengejek dari 

Sitaraga itu maka Niliman Toteng putarkan kepala


dengan muka cemberut.

"Sitaraga! Kentut kau!" makinya. Datang-

datang sudah mengejek!" Kemudian Resi ini 

melihat adiknya. "Eh kau juga ada di sini, Wara-

nganaya?! Kau juga kentut! Apa kalian datang ke 

sini untuk mentertawai aku?!"

Iblis Puntung tidak perdulikan ucapan Nili-

man Toteng, Niliman, kau tahu siapa itu pemuda 

yang menjadi lawanmu?" Dalam bicara, sejak tadi 

Sitaraga tidak memandang kepada Mahesa Kelud 

ataupun Wulansari. Kepalanya tetap menghadap 

kepada Niliman.

"Sitaraga," ujar Waranganaya Toteng, "inilah 

dia gembong-gembong anak pemberontak yang 

aku terangkan tempo hari! Yang pakai baju kuning 

itu anaknya Jarot Singgih, biang pemberontak dari 

Madiun yang sudah mampus!"

"Resi keparat! Kubeset mulutmu!" bentak 

Wulansari ketika mendengar Waranganaya Toteng 

hinakan ayahnya yang sudah tiada. Gadis ini 

hendak menyerbu ke muka tapi cepat lengannya 

dicekal Mahesa Kelud.

"Hik... hik... hik. Kalian hanya tau itu, kalian 

hanya tahu bahwa mereka adalah gembong-

gembong pemberontak! Tapi kalian tidak tahu 

lebih dari itu! Yang laki-laki adalah pemuda 

hidung belang yang pernah datang membawa


seorang gadis cantik ke goaku dan berbuat kotor di 

sana sampai dua hari dua malam! Hik...hik... hik!"

Terkejut Wulansari laksana halilintar 

menggeledek di kedua anak telinganya ketika 

mendengar ucapan Sitaraga tersebut. Dipalingkan-

nya kepalanya kepada Mahesa Kelud. Hatinya 

berdebar keras waktu melihat bagaimana pemuda 

kekasihnya itu air mukanya menjadi merah gelap.

"Perempuan laknat!" bentak Mahesa Kelud. 

Dia sudah lupakan sama sekali kehadiran Wu-

lansari di sampingnya saat itu karena amarah yang 

meluap. 

"Kalau tidak karena kau yang berhati iblis, 

semua kekotoran itu tidak akan terjadi."

Sitaraga masih tetap tidak memandang ke-

pada Mahesa Kelud.

"Hik... hik. Kau bisa cari alasan palsu untuk 

buang malu! Apakah gadis di sampingmu itu juga 

hendak kau bawa ke goaku? Hendak kau tidur....? 

Hik... hik... hik!"

Amarah Mahesa Kelud sudah tidak 

tertahankan lagi. 

"Manusia jahanam, hari ini aku mengadu 

jiwa dengan kau!" 

Tanpa memperdulikan lagi betapa Sitaraga 

adalah seorang tokoh persilatan yang ilmunya 

sangat tinggi, lebih tinggi dari Waranganaya dan


Niliman Toteng maka dengan pedang merah di 

tangan pemuda ini menerjang ke arah Sitaraga!

Yang diserang kelihatannya acuh tak acuh

saja. Bahkan masih tertawa cekikikan dan me-

mandang ke jurusan Niliman Toteng. Angin 

sambaran pedang Mahesa Kelud sudah bersiuran. 

Niliman yang berdiri tak jauh dari Sitaraga dapat 

merasakan panasnya hawa sambaran pedang sakti 

tersebut tapi Sitaraga masih saja seperti seorang 

tua yang berlagak pilon!

Dia membuka mulutnya yang berbibir 

dower bergusi ompong. "Kasihan... kasihan 

mereka yang tidak tahu tingginya gunung...."

Tiba-tiba perempuan berkaki puntung ini 

kebutkan ujung lengan kiri jubah putihnya. Satu 

gelombang angin yang dahsyat sekali laksana 

topan menghantam ke arah Mahesa Kelud. Sekejap 

kemudian kelihatanlah pemuda itu mental sampai 

tiga tombak ke belakang! Terguling di tanah tapi 

cepat berdiri kembali dengan pedang sakti masih 

tetap di tangan. Mahesa merasakan tubuhnya 

mulai dari kaki sampai ke ubun-ubun tergetar 

hebat dan panas dingin. Pemandangannya 

berkunang, lututnya seperti mau copot. Cepat-

cepat dilapatkannya mantera penguat diri yang 

diajarkan gurunya Suara Tanpa Rupa dan 

dialirkannya tenaga dalamnya serta diatur jalan


napas dan darahnya.

Ketika Mahesa Kelud menyerbu menyerang 

Sitaraga maka Wulansari tidak pula tinggal diam. 

Dia melompat dan menyerang Waranganaya 

Toteng, musuh besar kepada siapa dendamnya 

berurat berakar karena inilah manusia kaki tangan 

Suto Nyamat yang dulu membunuh guru 

merangkap kakeknya yakni Sentot Bangil alias 

Pendekar Budiman.

Waranganaya Toteng mulanya anggap sepi 

serangan tangan kosong gadis ini karena dua 

tahun yang lewat dia pernah saksikan kepandaian 

Wulansari yang masih sangat rendah waktu 

menyerang ke gedung Kadipaten Madiun. Tapi 

kali ini Resi dari Blambangan itu salah duga. 

Wulansari dua tahun yang lalu tidak sama dengan 

yang dihadapinya hari ini! Ketika jubah hitamnya 

dibagian dada robek besar terkena sambaran 

cakaran kuku-kuku tangan kiri lawannya, 

berubahlah parasnya menjadi pucat. Cepat-cepat 

dia melompat ke samping dan kebutkan rumbai-

rumbai ikatan jubahnya. Angin panas menyambar 

keras menyerang Wulansari.

Yang diserang berkelit cepat, sambil 

mengeluarkan satu jerit melengking dan dengan 

gunakan gerakan "rajawali sakti menyambar 

mangsa" tahu-tahu dia, sudah berada di belakang


Resi tersebut dan "buk!" Tepisan tapak kanannya 

mendarat di punggung Waranganaya Toteng. Resi 

itu mendudu ke muka hampir jatuh menelungkup 

jika dia tidak pergunakan kedua ujung tangannya 

untuk jungkir balik dengan gerakan yang 

dinamakan "kodok selamatkan diri dari patilan

ular." Waktu berdiri kembali tubuhnya tak bisa 

lempang sedang punggungnya mendenyut sakit 

bukan main!

"Niliman dan Waranganaya! Kalian kakak 

beradik sama saja begoknya! Minggir saja biar aku 

yang layani bocah-bocah bau pesing ini!" kata 

Sitaraga. Perempuan bungkuk berkaki puntung ini 

pergunakan satu kakinya berjingkat-jingkat. 

Tongkat besi di tangan kanan diputar tak menentu, 

bolak balik naik turun, sebentar menyamping 

sebentar ke atas dan sebentar menusuk ke muka.

Meski tongkat yang berat itu diputar tidak 

karuan, namun sambaran sambaran angin yang 

dikeluarkannya laksana badai dan tongkat tersebut 

seperti-menjadi puluhan banyaknya.

Sitaraga kebutkan lagi ujung lengan jubah-

nya. Mahesa dan Wulansari berlompatan 

kesamping lalu balas menyerang. Mahesa dengan 

sambaran pedang sedang Wulansari dengan 

butiran-butiran pasir merah beracun!

Sitaraga menyambut serangan ini dengan


tertawa cekikikan mengejek. Sambaran angin 

tongkat membuat semua senjata rahasia butiran 

pasir merah mental. Serangan pedang sakti 

Mahesa Kelud dielakkan dengan mudah sekali 

oleh si Iblis Puntung ini. Kemudian dengan segala 

kedahsyatan yang ada tubuh Sitaraga kelihatan 

mengapung di udara. Gerakannya sebat dan lihay. 

Ujung tongkat sekaligus memapak ke kepala 

kedua lawannya! Kalau si gadis cepat-cepat 

merunduk dan melompat mundur selamatkan 

kepala maka Mahesa Kelud pergunakan pedang 

saktinya untuk menangkis! 

"Trang!"

Bunga api berpijar terang. Gelombang hawa 

menggebu ke udara. Pedang merah di tangan 

Mahesa Kelud mental! Tangan pemuda itu tergetar 

hebat kesemutan dan ngilu sakit! Dalam kejapan 

gebrakan yang hebat itu Sitaraga membuat satu 

gerakan aneh dan entah bagaimana, kemudian 

tahu-tahu kaki kiri yang berkulit hitam itu sudah 

mencelat ke dada Wulansari sedang ujung tongkat 

besi menotok ke ubun-ubun Mahesa Kelud!

Bagaimanapun cepatnya kedua orang itu 

membuat gerakan untuk mengelak, namun sia-sia 

belaka, akan tetapi kalah cepat dari datangnya 

serangan maut! Tak ada daya untuk menangkis, 

tak ada daya untuk mengelak. Sambaran angin


serangan saja sudah menggigilkan tubuh kedua 

muda-mudi tersebut dan dalam sekejap mata lagi 

pastilah keduanya akan meregang nyawa 

mengerikan! Sitaraga sudah ketawa cekikikan 

karena dia sudah maklum bahwa kedua lawannya 

tak punya daya lagi untuk menghindar dari 

serangannya.

Tapi ajal di tangan Yang Satu. Tinggi 

gunung ada lagi yang lebih tinggi. Di luar langit 

ada langit.

"Bum!"

Terdengar satu ledakan dahsyat melanglang 

udara. Tanah sekitar situ bergetar. Sinar putih 

panas menyilaukan mata lewat di atas kepala 

Mahesa Kelud dan Wulansari. Sitaraga mencelat 

menjauh dan berseru nyaring. Jubah putihnya 

berubah menjadi hitam. Hangus! Sedang 

Waranganaya Toteng dan Niliman Toteng menjerit 

setinggi langit seperti mereka melihat setan-setan 

yang menakutkan, lalu roboh ke tanah tanpa 

nyawa! Tubuh dan pakaian keduanya hangus serta 

mengepulkan asap berbau daging terpanggang!

Pada waktu yang bersamaan terdengar 

suara memerintah.

"Murid-muridku, kalian minggirlah!"


EMPAT


DUA kekasih sama terkejut melihat 

peristiwa hebat itu. Mereka buru-buru melompat 

menjauh. Keduanya kemudian melihat seorang 

laki-laki yang sangat tua sekali, berambut putih 

laksana salju di puncak gunung yang panjangnya 

sampai ke bahu, berselempang kain putih. 

Mukanya licin bersih, kumis serta janggut dan alis 

matanya putih seperti rambutnya. Di pundak 

kirinya duduk seenaknya seekor anak rusa! 

Mahesa dan Wulansari sebelumnya tak pernah 

melihat orang tua itu. Tapi keduanya mengenali 

suara si orang tua itu juga mengenali anak rusa 

yang di pundak laki-laki itu! Dengan serta merta 

dua kekasih ini berlutut di tanah.

"Guru!" seru mereka haru dan gembira. Si 

orang tua berselempang kain putih tidak hiraukan 

mereka melainkan berdiri memandang melotot 

pada Sitaraga.

"Kakek-kakek sedeng! Kau sudah bosan 

hidup?!" bentak Sitaraga.

Si orang tua, cuma ganda tertawa mende-

ngar kata-kata Iblis Puntung itu. Dia membuka 

mulut berkata. Dan kata-katanya ini merupakan 

serangkaian Syair


“Percuma tingginya gunung

Bila meletus akan merata

Jika ilmu di tangan manusia berotak linglung

Badan sendiri yang akan celaka."

Geramlah Sitaraga mendengar syair ejekan

itu. Tampangnya membesi kaku. "Orang tua, kau 

siapa?" tanyanya membentak.

"Siapa aku....? 

Ha... ha! 

Sitaraga dengar syair ku dan kau akan tahu 

siapa aku," kata orang tua berambut putih itu.

Langit tinggi tiada bertiang. 

Tinggi luas tidak terukur 

Sepuluh tahun di dalam Hang 

Sepuluh tahun diduga tidur 

Muncul kembali ditanya orang 

Tapi tetap tidak bernama

Terkejutlah Sitaraga mendengar syair itu,

terutama bait yang terakhir. Maklum dia kini

dengan siapa dia berhadapan. Kakek-kakek 

dihadapannya itu tiada lain dari si Suara Tanpa 

Rupa yang sudah sejak sepuluh tahun tak pernah 

muncul dalam dunia persilatan! Bulu tengkuk


Sitaraga diam-diam menggerinding, lebih-lebih 

waktu dia menunduk sedikit dan melihat jubah 

putihnya yang sudah hangus!

Perempuan Iblis itu dongakkan kepala. Dia 

tertawa untuk hilangkan kegentarannya. 

"Tak sangka hari ini akan berhadapan 

dengan Suara Tanpa Rupa. Tak sangka yang sudah 

diduga mati, muncul dan hidup kembali. Ini 

mengingatkan aku pada cerita lama. 

Hik... hik... hik...."

Anehnya saat itu baik Mahesa Kelud maupun 

Wulansari sama melihat bagaimana paras guru 

mereka mendadak sontak berubah jadi merah 

menyala waktu mendengar ucapan Sitaraga tadi. 

Dan lebih merah lagi ketika mendengar ucapan 

Sitaraga selanjutnya: "Alangkah sialnya, guru dan 

murid sama saja malang nasibnya! 

Hik... hik... hik."

Dosamu tak berampun Sitaraga! Tertawa 

puaskan hatimu karena kelak mulutmu akan 

tersumpal dan tertindih tanah pekuburan!" kata 

Suara Tanpa Rupa pula.

"Hik... hik... hik..." 

Sitaraga kebutkan ujung lengan jubah 

tangan kirinya. Gelombang hawa yang keras 

dahsyat menyambar ke arah Suara Tanpa Rupa. 

Serentak dengan itu Sitaraga melompat pula ke


muka dengan putaran tongkat besinya dalam

gerakan-gerakan yang tidak teratur.

Suara Tanpa Rupa tidak bergerak 

sedikitpun. Pada saat sambaran angin dan ujung 

tongkat sampai ke mukanya, barulah orang sakti 

ini menggerakkan kedua tangannya. Dari tangan 

lebih hebat lagi, tubuh Sitaraga mental, terguling 

di tanah! 

Sedang tongkat besinya sudah berpindah ke 

tangan kiri Suara Tanpa Rupa!

Mahesa Kelud dan Wulansari kaget dan sa-

ling pandang, sama kagum melihat kehebatan 

guru mereka. Keduanya tahu bahwa gerakan yang 

dibuat oleh si orang tua sakti adalah jurus-jurus 

yang pernah diajarkannya kepada mereka, tapi 

yang tentu saja sudah mencapai tingkat 

kesempurnaan. Cuma memang pukulan yang 

mengeluarkan sinar putih menyilaukan itu tak 

pernah sebelumnya mereka terima dari si Suara 

Tanpa Rupa, dan ini membuat Mahesa maupun 

Wulansari menjadi kecewa, mengapa gurunya 

tidak mengajarkan ilmu pukulan hebat tersebut!

Di muka sana Sitaraga kelihatan berdiri di 

atas satu kakinya dengan terhuyung-huyung. 

Tubuhnya mengepul. Matanya melotot 

menggidikkan dan tampangnya mengerikan 

sekali. Suara tertawanya kini tidak lagi cekikikan


tertahan-tahan tapi mengekeh panjang! Kedua 

tangannya dikepalkan ke muka dada, mulutnya 

komat-kamit. Kemudian kelihatanlah bagai-mana 

kedua kepalan tersebut dari hitam berubah 

menjadi biru.

"Mampus!" teriak Sitaraga melengking. Dua 

sinar biru melesat menyambar Suara Tanpa Rupa. 

Mahesa dan Wulansari terpaksa menjauh karena 

sinar biru ini dinginnya bukan main menggigilkan 

tubuh mereka! Suara Tanpa Rupa menunggu 

dengan tenang. Dia angkat tangan kanannya, 

diputar beberapa kali lalu dihantamkan ke muka! 

Maka kelihatanlah gelombang panjang sinar putih 

panas bergulung-gulung mengurung dua sinar 

biru. Seperti terseret maka dua sinar biru 

gerakannya tertahan-tahan lalu ketika keam-

puhannya menjadi lumer sama sekali maka sinar 

biru berbalik memukul kembali ke arah Sitaraga, 

disusul oleh hantaman sinar putih!

Sitaraga jatuhkan diri. Tapi sebagian dari 

tubuhnya sudah tersambar hawa pukulan sendiri 

dan hawa sinar putih lawan. Tubuhnya terguling, 

menghempas ke kiri dan ke kanan! Segala 

kekuatan yang ada di kerahkannya. Iblis Puntung 

ini memang hebat karena meski sebagian dari 

tubuhnya sudah hangus dan luka lumpuh namun 

dia masih bisa berdiri dan melangkah berjingkat


jingkat mendekati Suara Tanpa Rupa yang sejak 

tadi tiada sedikitpun bergerak dari tempat 

berdirinya, demikian juga anak rusa yang berada 

di atas pundaknya!

Jingkat demi jingkat Sitaraga makin dekat 

ke hadapan Suara Tanpa Rupa. Kedua tangan-nya 

terpentang. Dia menjerit keras dan menggapai. 

Suara Tanpa Rupa gerakkan tangan kirinya yang 

memegang tongkat.

"Krak!"

Senjata makan tuan! Tulang lengan kiri Sita-

raga patah urat-uratnya berputusan, patahan 

lengan putus dan mental, darah menyembur! 

Sitaraga melolong seperti serigala lapar di malam 

buta. Tubuhnya melintir miring. Suara Tanpa 

Rupa membungkuk sedikit dan hantamkan 

tongkat besi untuk kedua kalinya! Kini lengan 

kanan Sitaraga yang menjadi korban. Perempuan 

berhati Iblis ini mengeluarkan lolongan lagi, lebih-

seram dari semula. Suara lolongnya terhenti 

dengan serta merta ketiga tongkat besi yang 

dilemparkan Suara Tanpa Rupa menghancurkan 

tulang dadanya, menembus tubuhnya! Tubuh 

Sitaraga laksana kertas melayang bersama tongkat 

besi itu dan jatuh di tebing sungai, menggelinding 

ke bawah, masuk ke dalam sungai! Air sungai 

kelihatan merah dan tubuh manusia iblis itu


sedikit demi sedikit tenggelam ke dasar sungai 

oleh beratnya tongkat besi.

Mahesa dan Wulansari telah banyak me-

nyaksikan kematian manusia dalam berbagai 

bentuk dan cara. Tapi kematian Sitaraga yang

mereka lihat dengan mata kepala sendiri itu 

sungguh menggidikkan. Untuk beberapa detik 

lamanya kedua mata mereka masih saja me-

mandang ke arah sungai di mana mayat Sitaraga 

tenggelam dan berkubur di dasar sungai!

Kedua kekasih itu kemudian sadar. Mereka 

berdiri dan berlutut di hadapan Suara Tanpa Rupa. 

Orang tua sakti itu tegak tak bergerak, kedua 

matanya terpejam. Joko Cilik, anak rusa yang 

berada di pundaknya juga tidak bergerak-gerak.

"Guru," kata Mahesa. "kami murid-

muridmu menghaturkan rasa syukur serta terima 

kasih. Kalau tidak guru datang, pastilah kami 

sudah menjadi korban Sitaraga. Kami murid-

muridmu juga merasa gembira sekali karena inilah 

untuk pertama kalinya sesudah tahunan kami 

dapat bertemu muka dengan guru. Untuk 

selanjutnya kami mohon petunjuk guru."

Untuk beberapa lamanya kesunyian 

menyelubung. Udara di tempat itu masih saja 

berbau daging mayat Waranganaya dan Niliman 

Toteng yang hangus terpanggang. Suara Tanpa


Rupa tidak bergerak di tempatnya, kedua 

matanyapun masih terpejam. Kedua muridnya 

menunggu dengan tekurkan kepala.

Sesaat kemudian baru orang tua tersebut 

bukakan mata dan bibirnya bergerak. "Mahesa dan 

Wulan, murid-muridku. Semua yang kau saksikan 

di sini hari ini menjadi satu peringatan yang harus 

tidak kalian lupakan yaitu betapa kejahatan itu 

akhirnya akan hancur di ujung jalan kebenaran. 

Bahwa betapa akhirnya segala ilmu yang tinggi 

bagaimanapun jika dipakai untuk kejahatan 

akhirnya akan musnah tiada arti dihancurkan oleh 

kebaikan. Ini juga suatu pertanda bahwa segala 

apapun yang ada di dunia ini akan berakhir 

dengan seungguk tanah. Ilmu yang kalian miliki 

masih belum apa-apa, kalian masih harus banyak 

berlatih agar mencapai tingkat sesempurna 

mungkin. Sesempurna mungkin kataku karena 

tidak ada satu manusiapun yang sempurna betul-

betul dalam segala hal di atas dunia ini! Ilmunya 

Sitaraga juga masih belum apa-apa. Demikian juga 

dengan ilmuku sendiri. Semua ilmu berdasar dan 

bersumber pada satu sumber, satu asal yaitu Yang 

Kuasa! Bisakah kita melawan atau menantang 

kepada sumber ilmu itu? Kepada keMaha Besaran 

Yang Satu itu...?"

Tidak guru," jawab Mahesa dan Wulansari


Suara Tanpa Rupa anggukkan kepala. "Ingat 

semua itu baik-baik, murid-muridku. Langkah 

manusia di ujung nasib, nasib manusia di ujung 

langkah. Pertemuan kita cukup sampai di sini. 

Penghabisan kali, mungkin ada yang kalian 

tanyakan...?"

Mahesa Kelud teringat akan kata-kata Sita* 

raga tadi. "Alangkah sialnya, guru dan murid sama 

saja malang nasibnya!" Apakah yang dimaksud 

Sitaraga dengan ucapan tersebut? Mengapa paras 

gurunya kelihatan merah sekali waktu mendengar 

kata-kata Sitaraga, apakah hal yang terjadi antara 

dia dengan Kemaladewi pernah pula terjadi atas 

gurunya? Tak berani Mahesa berpikir sejauh itu. 

Meski dia kepingin tahu tapi kecut hatinya untuk 

ajukan pertanyaan. Dia tahu itu adalah urusan 

pribadi gurunya. Dan kalaupun memang Sitaraga 

pernah mencelakai gurunya maka sang guru 

sudah selesaikan urusannya dengan perempuan 

berhati iblis itu!

"Jika tidak ada pertanyaan, aku akan 

pergi...."

"Guru," kata Mahesa cepat. 

"Ya?"

"Kami tadi telah menyaksikan bagaimana 

guru mengeluarkan pukulan-pukulan yang 

menimbulkan sinar putih menyilaukan ketika


menghadapi Sitaraga. Kalau kami boleh tanya, 

ilmu pukulan apakah namanya itu...?"

"Dan bolehkah kami mempelajarinya?" 

meneruskan bertanya Wulansari. 

Suara Tanpa Rupa lukiskan senyum di 

sudut bibirnya. 

"Pukulan itu bernama pukulan Api-Salju. 

Dinamakan demikian karena mengeluarkan sinar 

putih yang menyilaukan mata. Ilmu pukulan 

tersebut mempunyai dua hawa yang dahsyat yaitu 

panas laksana api tapi juga dapat menimbulkan 

hawa dingin laksana salju di puncak gunung. 

Kalian berdua jangan kecil hati. Waktu di goa 

tempo hari aku memang tidak mengajarkan pada 

kalian karena ilmu ini memang tidak boleh 

diajarkan, tapi harus dituntut langsung kepada 

sumbernya...."

"Kami mohon petunjuk guru untuk 

dapatkan ilmu pukulan itu," ujar Mahesa Kelud.

"Kalian berdua pergilah ke selatan," berkata 

Suara Tanpa Rupa. "Sampai akhirnya kalian 

temukan sebuah telaga mendidih berair putih se-

perti salju. Itulah sumber ilmu pukulan Api Salju. 

Kalian pergilah ke sana. Jika kalian berdua 

bernasib baik, kalian akan dapatkan ilmu itu. Tapi 

bila kalian bernasib malang, mungkin kalian akan 

tinggalkan nyawa di situ!"


Terkejutlah kedua murid tersebut. Mahesa hendak 

bertanya, namun saat itu sang guru sudah 

kelebatan tubuh dan lenyap dari pandangan 

mereka! Kejut mereka belum lagi habis ketika 

keduanya menyaksikan bagaimana tanah bekas 

tempat menjejak kedua kaki guru mereka kelihatan 

melesak sampai satu jengkal lebih!

Perlahan-lahan Wulansari berdiri dari 

berlututnya, Dia melangkah mendekati mayat Nili-

man Toteng dan mengambil pedangnya. Senjata 

sakti tersebut dimasukkanya kembali ke dalam 

sarung di balik punggung.

"Wulan, mari kita tinggalkan tempat ini," 

terdengar suara Mahesa.

Si gadis balikkan tubuh. Pandangannya 

meneliti paras kekasihnya. Tak pernah sebelumnya 

Mahesa dipandang demikian rupa. Ini membuat 

pemuda itu jadi terheran.

"Ada apa kau pandang aku demikian rupa, 

Wulan?" tanya Mahesa.

"Kakak," suara gadis itu bergetar. "Apakah 

ucapan Sitaraga tadi benar adanya?"

Berdebar jantung si pemuda dengarkan itu 

pertanyaan. Lututnya menggoyah. "Ucapan 

Sitaraga yang mana maksudmu, Wulan?" tanya 

Mahesa pura-pura. Dia melangkah dan berdiri 

dekat-dekat di hadapan kekasihnya.


"Bahwa... bahwa kau pernah datang ke 

goanya... membawa seorang gadis cantik 

dan...dan... benarkah itu, Mahesa?"

Pemuda itu coba tekan perasaannya. Terjadi 

kobaran peperangan dalam kalbunya. Apakah 

akan dikatakannya bahwa ucapan perempuan Iblis 

itu dusta belaka atau diterangkannya saja dengan 

jujur dan terus-terang?

"Panjang ceritanya, adikku," kata Mahesa 

pada akhirnya. "Tapi biar aku terangkan 

padamu...."

"Jadi, jadi ucapan Sitaraga itu betul!?!" 

"Betul, tapi...."

Wulansari jatuhkan diri ke tanah. Mukanya 

ditutup dengan kedua tangan. Dia menangis 

tersedu-sedu. Mahesa letakkan tangan kanannya di 

atas bahu gadis itu. "Wulan, kau jangan salah 

sangka. Semuanya itu...."

"Sudah diam!" bentak Wulansari tiba-tiba 

seraya berdiri. Matanya yang basah oleh air mata 

memandang beringas pada Mahesa. Saking 

terkejutnya dibentak seperti itu, si pemuda sampai 

undur langkah! "Mulai detik ini, aku bukan 

adikmu lagi! Bukan kekasihmu! Putus segala 

hubungan antara kita! Kau laki-laki bejat, hidung 

belang! Kotor!"

Serentak dengan itu Wulansari putar tubuh


dan lari meninggalkan tempat itu. Mahesa 

termangu beberapa kejapan mata. Lalu dia 

bergerak lari menyusul.

"Wulan! Tunggu!" teriaknya. Tapi gadis itu 

malah mempercepat larinya. Di satu tempat 

akhirnya Mahesa berhasil mengejar gadis tersebut

dan memegang lengannya.

"Wulan, dengar! Jangan kesusu dan salah 

duga. Aku akan terangkan bagaimana peristiwa itu 

terjadi...."

Wulansari tarik tangannya. "Jangan sentuh 

tubuhku, pemuda kotor! Lepaskan!"

"Wulan kau...!"

"Lepaskan!"

"Tidak!"

"Kurang ajar! Manusia macammu ini lebih 

pantas mampus!"

"Sret!" Gadis itu cabut pedangnya dan 

"bret!" Pakaian putih Mahesa Kelud robek besar di 

bagian dada. Pemuda itu dalam terkejutnya dan 

karena gerakan Wulansari sangat cepat sampai dia

tak sanggup mengelak. Masih untung ujung 

pedang hanya merobekkan pakaiannya.

Mahesa melompat menjauh. "Wulan, 

sadarlah!"

"Diam! Jangan panggil namaku!" bentak si 

gadis kalap. Dia menyerang dengan ganas,


mengeluarkan jurus ilmu "Pedang Dewi" yang pa-

ling ampuh!" Mahesa dibikin kalang kabut, 

berkelebat repot kian kemari. Tubuhnya terbung-

kus oleh gulungan sinar pedang merah sakti yang 

meniupkan angin membadai! Pemuda ini 

mengeluh. Bertangan kosong demikian rupa 

bagaimanapun lihaynya dia menghadapi gadis 

yang tengah marah itu namun cepat atau lambat 

pasti dirinya akan kena celaka juga!

"Wulan, sadarlah! Mari kita bicara dulu! 

Sitaraga...."

"Keparat! Kau lebih pantas mampus, 

kataku!" Gadis itu memperhebat serangannya!

Sejak tadi Mahesa terus-terusan mengelak. 

Keadaan semakin kepepet. Dengan susah pa-yah 

akhirnya dia bisa keluar dari gulungan pedang dan 

melompat jauh. Pemuda itu juga sudah kalap.

"Wulan! Jika kau mau membunuhku, 

baiklah! Mungkin itu pantas kuterima sebagai 

balas dosa yang kuperbuat! Tapi bila aku sudah 

mati kelak, kau akan tahu bahwa semuanya itu 

bukan kehendakku. Aku ditipu oleh...."

"Hidung belang! Jangan bicara ngaco!" 

potong Wulansari. Dia menerjang. Pedangnya 

bersiuran dalam gerakan "menembus ombak 

membelah gelombang," memapas kearah kepala 

Mahesa Kelud.


Mahesa tidak bergerak sedikitpun. Kedua 

matanya dipejamkan. Pemuda ini sudah siap 

untuk terima nasib. Melihat sikap ini, sekilas

kesadaran memancar di kepala Wulansari! Dia 

kertakkan geraham dan membuat gerakan cambuk 

emas lewati rembulan!" Tebasan pedang berubah 

arah dan lewat dengan segala kehebatannya 

setengah jengkal di atas kepala Mahesa Kelud! 

Pemuda itu masih menunggu. Ketika itu 

terdengarlah suara tangisan Wulansari mengga-

gahi telinganya. Terdengar pula suara pedang 

yang dibuang ke tanah.

Tanpa bukakan kedua matanya berkatalah 

Mahesa Kelud. "Mengapa kau urungkan niatmu 

untuk membunuh aku, Wulan? Teruskanlah! Aku 

laki-laki hidung belang. Manusia kotor. Teramat 

pantas untuk lekas-lekas mampus! Teruskanlah, 

Wulan! Aku memang manusia berdosa!"

Tangis gadis itu semakin keras. Akhirnya 

Mahesa Kelud membuka kedua matanya kembali 

dan memandang kepada Wulansari dengan hati 

haru campur kecewa. Rasa kasih sayang kemudian 

membuat pemuda itu melangkah mendekati 

kekasihnya dan mengambil pedang yang 

menggeletak di tanah lalu menuntun Wulansari ke 

sebuah batu besar di tepi jalan dan 

mendudukkannya di sana. Mahesa menunggu


sampai tangis gadis itu mereda.

Sesudah tangis Wulansari mulai mereda 

maka Mahesa segera menuturkan peristiwa besar 

yang telah menimpa dirinya akibat kejahatan 

terkutuk dari Sitaraga alias Iblis Buntung itu! Pada 

akhir keterangannya Mahesa bertanya. "Kau kini 

percaya padaku, Wulan?"

Gadis itu mengangguk di antara isakannya. 

Mahesa menyeka butiran-butiran air mata yang 

basah menderai di pipi lembut kekasihnya.

"Mahesa...."

"Ya, adikku?"

"Kau... kau mau maafkan aku? Tadi aku 

sudah bicara kasar dan...."

Mahesa menutup bibir gadis itu dengan 

silangan jari telunjuk. "Orang kalap dan marah bisa 

berbuat dan berkata apa saja. Aku sudah maafkan 

kau adik...."

Wulansari sembunyikan kepalanya di dada 

pemuda itu. "Kau tidak marah, Mahesa...?"

'Tidak," bisik Mahesa ke telinga kekasihnya. 

Lalu mencium belakang telinga gadis tersebut.

"Bagaimana kalau Kemaladewi dan 

gurunya mencarimu?"

"Ya... bagaimana," desis si pemuda dalam 

hati. Dia berdiam diri tak bisa berikan jawaban 

beberapa lamanya. Kemudian sambil membimbing


berdiri dia berkata: "Biarlah tak usah kita bicarakan 

lebih lanjut persoalan itu. Ingat pesan guru. Mari 

kita pergi ke selatan...."


LIMA



MALAM pekat menggelap. Jari di depan 

matapun tidak kelihatan! Hujan mencurah deras 

seperti dituang dari langit. Angin dahsyat 

membawa udara dingin menusuk sumsum 

menyembilu. Guntur menggelegar bilangan kali. 

Penghuni hutan yaitu binatang-binatang buas 

gelisah dalam buruknya cuaca. Harimau 

mengaum, singa menggereng, gajah lari melanda 

semak dan merobohkan pepohonan. Serigala 

melolong. Gorila memekik dahsyat. Ular 

menggelung mendesis. Sejak pagi tadi udara 

seperti itu, hujan tiada hentinya. Air sungai 

meluber membanjiri daerah yang dilewati arusnya. 

Samudera menggelombang. Malam masih lama 

sampai pada paginya dan hujan juga tidak hendak 

akan berhenti, terus mengucur bumi, seperti 

seorang mabok yang terus juga membasahi 

rangkumannya dengan arak dan tuak!

Tiada malam sengeri itu. Udara dingin, 

angin keras. Pemandangan mata tertutup oleh air


hujan lebat serta kepekatan. Bila kilat menyambar, 

alam terang sekejap lalu gelap menyelubung 

kembali! Sekali lagi kilat menyambar maka 

sekelebatan kelihatanlah dua manusia berlari ke 

jurusan selatan. Siapakah keduanya yang begitu 

gila malam-malam demikian berada di udara 

terbuka yang sangat buruk, dikala angin memba-

dai, hujan menderas?

Kilat menyambar lagi. Hanya sekejapan 

mata tapi itu sudah cukup untuk melakukan 

penelitian bagi sepasang mata yang tajam yang 

kebetulan memandang ke bawah lembah.

"Mahesa! Lihat di bawah sana!"

Mahesa Kelud putarkan kepala. Tapi sinar 

kilat sudah lenyap dan pemandangan tertutup 

kembali oleh kegelapan. "Apa yang kau lihat 

Wulan?!"

"Telaga berair putih!"

Pemuda itu terkejut dan cekal lengan ke-

kasihnya.

"Kau tidak salah lihat?!"

"Pasti tidak."

"Kalau begitu... mari!"

Keduanya lari lagi di bawah lebatnya hujan. 

Suara lari mereka menderu memapasi angin. Bila 

kilat menyambar lagi maka keduanya sudah

sampai ke tepi telaga. Cukup sekejapan mata saja


yaitu ketika kilat menyambar tadi maka mereka 

sudah dapat melihat keadaan telaga dan 

sekitarnya. Telaga itu tidak seberapa luas. Airnya 

putih seperti salju. Dan anehnya dari dalam telaga 

tersebut mengepul asap putih. Air hujan seperti 

tidak sanggup untuk menembus kepulan asap 

tersebut. Dan bila tanah-tanah leguk di sekitar 

lembab itu sudah pada luber dan banjir oleh air 

hujan yang menyanak maka air telaga sama sekali 

tetap tidak bertambah, tidak membanjir! Berdiri di 

tepi telaga tersebut, Mahesa Kelud dan Wulansari 

dapat merasakan hawa panas yang memancar dari 

dalam telaga! Inilah suatu keajaiban yang sukar 

dipercaya. Bahwasanya di tengah malam yang 

buta dingin, udara seperti salju menyembilu, air 

hujan turun deras menggebubu, telaga itu sama 

sekali tidak menjadi ikut tertelan hawa dingin, 

bahkan sebaliknya mengeluarkan kepulan asap 

panas! Kalau tadi tubuh kedua kekasih itu basah 

kuyup oleh air hujan maka air hujan itu kini 

bercampur baur dengan butiran-butiran keringat! 

Baik Mahesa maupun Wulansari terpaksa undur 

sampai sepuluh langkah menjauhi tepian telaga!

Mahesa Kelud memasang telinganya tajam-

tajam ketika Wulansari di sampingnya menyentuh 

lengannya dan membisik. "Kau dengar suara 

sesuatu, Mahesa?"


"Ya" sahut pemuda itu dengan berbisik 

pula. "Suara orang menyanyi.... Aneh!"

Memang adalah aneh bila di malam begitu rupa 

ada seseorang menyanyi!

Mahesa memandang ke arah telaga dan berkata: 

"Suara nyanyian itu datang dari dalam telaga!" 

katanya kemudian.

"Betul. Tapi tidak mungkin bila ada sese-

orang di dalam telaga itu. Diam di sana dan 

menyanyi pula!"

"Tapi suara nyanyian itu memang datang 

dari sana!"

Keduanya berdiam diri pasang telinga. 

Mula-mula suara nyanyian itu hanya lapat-lapat 

kedengarannya karena suara air hujan yang deras 

dan angin yang membadai. Ketika suara hujan 

serta angin itu mengendur sedikit maka suara 

nyanyian agak menjelas.

"Bila hujan meninggi langit 

Bila angin membadai laut 

Bila gelap memekat malam 

Duniapun menjadi gila 

Manusia menjadi edan 

Mengapa gila? 

Tidak tahu...

Mengapa edan...?


Tidak tahu... 

Mungkin inginkan ilmu 

Mungkin inginkan nama 

Mungkin antarkan nyawa..."

Suara nyanyian baitnya berakhir sampai di 

situ untuk kemudian di ulang lagi dari bait 

pertama: "Bila hujan meninggi langit... Bila angin 

membadai laut..." dan seterusnya sampai berulang 

kali.

"Mahesa," bisik Wulansari. "Mungkinkah 

nyanyian itu ditujukan kepada kita...?"

"Boleh jadi," sahut si pemuda.

"Apa yang kita lakukan?"

"Tunggu saja sampai hari terang."

Beberapa lama kemudian...

Hembusan angin mulai pelahan. Dinginnya 

udara mulai berkurang, derasnya hujan mulai 

mereda. Di ufuk timur kelihatan seberkas sinar 

terang tanda surya dalam waktu singkat akan 

segera munculkan diri, tanda siang akan 

menggantikan malam. Sejak malam tadi suara nya-

nyian diulang-ulang itu tiada kunjung berhenti. 

Anehnya ketika pantulan pertama sinar mata-hari 

menyentuh atas telaga maka mendadak sontak 

hilang lenyaplah suara nyanyian. Air telaga yang 

putih laksana salju itu membuih mendidih,


menggelagak menggejolak, seakan-akan di bawah, 

di dasar telaga menyala api besar. Kepulan asap 

menjadi-jadi dan panasnya udara di sekitar telaga 

tiada tertahankan sehingga Mahesa dan Wulansari 

terpaksa mundur lagi menjauh dan berlindung di 

balik batang kayu besar!

Didahului oleh suara jeritan panjang 

membelah langit maka tiba-tiba kelihatanlah air te-

laga muncrat ke atas sampai tujuh tombak 

tingginya! Sedetik kemudian ke tepi telaga melom-

pat satu makhluk aneh seram. Tubuhnya tinggi 

sekali, hampir mencapai dua setengah meter. 

Tidak selembar pakaianpun yang dikenakannya. 

Sekujur tubuh mulai dari kepala sampai ke kaki 

tertutup oleh bulu-bulu panjang dan tebal 

berwarna putih mengapas. Hidung dan mulutnya 

sama sekali tidak kelihatan oleh tebal panjangnya 

bulu-bulu itu. Hanya sepasang matanya yang 

besar merah memandang menyorot menyeramkan. 

Mahesa dan Wulansari yang sembunyi di balik 

pohon tidak dapat memastikan apakah makhluk 

aneh tersebut seorang manusia, atau raksasa, atau 

binatang atapun setan penghuni telaga! Juga 

apakah makhluk ini yang menyanyi semalam-

malaman tadi?

Makhluk aneh dongakkan kepala ke langit. 

Sinar matahari memantul di kedua matanya yang


merah seram. Lalu terdengarlah suaranya 

menyanyi.

Pohon besar banyak gunanya 

Daun rindang burung bersarang 

Batang besarnya untuk kayu papan 

Ranting keringnya untuk kayu api 

Manusia serendah lipas 

Ingin unjukkan nyali besar

Tapi sembunyi di balik pohon

Makhluk aneh itu tiba-tiba angkat tangan 

kanannya lalu dipukulkan ke muka. Serangkum 

sinar putih, setiup angin dahsyat melesat menyi-

laukan mata ke pohon besar di balik mana Mahesa 

Kelud dan Wulansari berlindung!

"Bum!"

"Krak!"

Pohon besar itu patah batangnya dan 

tumbang dengan menimbulkan suara hebat sekali. 

Kedua kekasih berlompatan jungkir balik 

selamatkan diri. Keringat dingin mengucur di 

kening mereka yang kini berkulit pucat.

"Makhluk aneh? Mengapa menyerang 

kami?!" tanya Mahesa.

Makhluk itu tertawa keras. Suara 

tertawanya mengandung tenaga dalam luar biasa


hebatnya sehingga tanah bergetar dan daun-daun 

pohon bergemerisikan! "Kalian kunyuk-kunyuk 

yang terlalu berani! Kalian andalkan apa datang 

mengotori tempatku?"

Mahesa cepat menjura. "Harap maafkan 

kalau kami mengganggu ketenteramanmu, makh-

luk gagah...."

"Jangan memuji!" bentak makhluk itu.

"Makhluk aneh, kami murid-muridnya 

Suara Tanpa Rupa!" berkata Wulansari. Dia 

berharap sang guru adalah dikenal baik oleh 

makhluk tersebut.

"Aku tidak tanya!" semprot si makhluk. "Ta-

hu apa akibatnya datang ke tepi telaga ini?!"

"Kami tidak bermaksud buruk. Kami...."

"Kunyuk! Aku tanya tahu akibat datang ke 

telaga ini?!"

'Tidak," jawab Mahesa.

Makhluk aneh tertawa keras. "Mampus 

direbus dalam telaga mendidih!" Detik 

berakhirnya ucapannya itu maka tubuhnya lenyap 

dari pemandangan. Tahu-tahu Mahesa dan 

Wulansari merasakan tengkuk mereka dicekal oleh 

jari-jari tangan yang kuat dan besar-besar serta 

berbulu. Terdengar suara tertawa si makhluk aneh. 

Tubuh sepasang kekasih itu kemudian dilem-

parkan ke dalam air telaga putih yang mendidih


dan mengepulkan asap! Mahesa dan Wulansari 

menjerit keras. Keduanya tahu bahwa tamatlah

segera riwayat mereka.

"Byur!" "Byur!" Tubuh mereka susul 

menyusul masuk ke dalam air telaga!

Aneh di balik aneh! Apa yang terjadi nyatanya 

tidak sebagaimana yang diduga kedua orang 

tersebut. Air telaga putih yang mendidih 

menggejolak, mengepulkan asap putih berhawa 

panas nyatanya sejuk dingin! Mahesa Kelud dan 

Wulansari berenang di tepi telaga. Tapi kali ini 

terjadi lagi keanehan. Karena bagaimanapun 

mereka coba berenang mencapai tepi telaga tapi 

tetap tidak berhasil. Keduanya berenang lurus ke 

muka. Menurut pikiran mereka dan memang 

semestinya begitu, pasti mereka akan mencapai 

tepi telaga dalam waktu yang singkat. Namun 

nyatanya keduanya hanya berputar-putar di situ-

situ juga seakan-akan telaga kecil itu adalah satu 

samudera raya yang luas, tiada berujung tiada 

bertepi!

Mereka mulai lemas. Napas menyengal dan 

tenaga mengendur. Mahesa coba andalkan ilmu 

mengentengi tubuhnya untuk membuat lompatan 

ke udara, tapi seperti ada tenaga kuat aneh 

menahan gerakan kedua kakinya ke atas hingga 

dia tak sanggup membuat lompatan tersebut!


Sementara kedua kekasih itu mati-matian be-

renang ke sana-sini untuk mencapai tepi telaga 

maka si makhluk aneh Api Salju tiada hentinya 

mengeluarkan suara nyanyian. Baik Mahesa 

maupun Wulansari tidak sempat lagi untuk 

dengarkan atau ambil perhatian akan apa yang 

dinyanyikan Api Salju itu. Keduanya sibuk 

berusaha untuk selamatkan diri dari telaga berair 

dingin seperti salju! Sehabis daya sehabis usaha 

keduanya kini tak sanggup lagi berenang bahkan 

menggerakkan tubuhpun tidak dapat! Kaki, 

tangan, sekujur tubuh mereka dingin kaku, kejang! 

Dan perlahan-lahan tubuh mereka amblas ke 

dalam air sedingin salju itu.

"Wulan!" seru Mahesa ketika air sudah men-

capai lehernya. "Umur kita hanya sampai di sini 

rupanya!"

"Aku tidak penasaran mati di sampingmu, 

kakak!" sahut Wulansari. Kedua matanya basah 

oleh air mata dan tubuhnyapun lenyap di telan air.

Mahesa meramkan mata, tak sanggup dia 

menyaksikan lenyapnya kepala kekasihnya itu. 

Sebentar kemudian tubuhnya sendiripun amblas 

pula menyusul!



ENAM



KITA tinggalkan dahulu dua kekasih yang 

amblas ke dasar telaga itu. Entah keduanya masih 

dapat hidup, entah mereka akan berkubur di situ. 

Kita kembali pada seorang gadis jelita yang 

hidupnya telah dirusakkan oleh kebejatan hati dan 

kebusukan budi Si Iblis Buntung Sitaraga, yaitu 

Kemaladewi, murid Dewa Tongkat dari Lembah 

Rotan.

Sejak hari perpisahannya dengan Mahesa 

Kelud, sejak hari kembalinya gadis itu ke tempat 

kediaman gurunya maka sikap dirinya jauh 

berbeda dari sebelumnya. Kemala yang dahulu 

merupakan seorang gadis riang gembira, suka ter-

tawa banyak bicara, sering melucu, kini berubah 

menjadi seorang gadis pendiam. Sepanjang hari 

senantiasa dia mengurung diri di dalam kamarnya. 

Kalau tidak gurunya memanggil, dia tidak keluar. 

Bicarapun tidak banyak dan dia baru membuka 

mulut jika ditanya. Perubahan sikap ini tentu saja 

diketahui oleh Dewa Tongkat. Sang guru menduga 

bahwa muridnya gadis remaja itu tengah 

memikirkan dan melamuni seorang perjaka, 

seorang pemuda. Biasa demikian keadaannya jika 

seorang gadis tertambat hati di mabuk asmara!


Memang benar bahwa Kemaladewi tengah 

memikirkan perjaka. Memang betul! bahwa gadis 

itu tengah lamunkan seorang pemuda! Hari 

berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan 

berganti bulan. Dunia ciptaan Tuhan berputar juga 

terus, siang berganti malam, malam digantikan 

siang. Sudah empat kali bulan purnama muncul 

tapi orang yang diharap datang tak kunjung 

muncul! Mahesa Kelud tidak menampakkan diri! 

Kegelisahan Kemaladewi tidak dapat diperkirakan 

karena merasakan perubahan yang terjadi pada 

dirinya. Dia sering muntah-muntah. Dia gemar 

pada makanan yang asam-asam! Dan hari kehari 

dirasakannya betapa perutnya tambah membesar. 

Dirasakannya betapa di dalam perut itu ada 

sesuatu yang bernafas, yang berjiwa, yang 

bergerak! Dia tahu dia hamil! Inilah yang 

dicemaskan dan digelisahkannya sepanjang hari! 

Kandungannya bertambah besar juga sedang 

Mahesa Kelud, ayah dari anak yang dikandungnya 

itu tiada kunjung muncul!

Berapa lama lagikah dia bisa menunggu? 

Berapa lama lagikah dia dapat menyimpan 

keadaan rahasia dirinya itu pada gurunya? 

Hampir setiap malam gadis ini tiada dapat 

picingkan matanya. Hampir setiap malam dia 

selalu menangis mengenang nasibnya yang


malang dan mengingat Mahesa yang tak kunjung 

datang. Dia hampir-hampir putus asa. Kalau saja 

tidak ingat kepada Tuhan maulah rasanya dia 

menggorok leher menikam dada, bunuh diri!"

Bulan yang kelima kandungannya semakin 

besar dan semakin kentara. Kemaladewi, tak tahu 

lagi apa yang diperbuatnya. Akhirnya, di satu 

malam buta, secara diam-diam gadis itu melarikan 

diri dari pondok gurunya. Tak tahu ke mana dia 

harus pergi membawa untung perasaannya tak

tahu dia kemana akan melangkahkan kaki 

membawa nasib malangnya!

Dua bulan dia berkeliling ke pelbagai 

penjuru mencari Mahesa Kelud. Dan dalam dua 

bulan itu kandungannya sudah membesar juga. 

Keadaan gadis ini sangat menyedihkan sekali. Dan 

tak sanggup lagi dia melanjutkan perjalanan. Suatu 

hari berhentilah Kemaladewi di tengah hutan. Dia 

duduk menjelepok di bawah sebatang pohon dan 

menangis tersedu mengenangi nasibnya yang 

malang itu.

Mendadak terdengar suara mengaum!

Kemaladewi terkejutnya bukan main dan 

turunkan kedua tangannya yang menutupi muka. 

Sepuluh tombak dihadapannya, diantara 

rerumputan semak belukar muncul kepala seekor 

harimau besar. Mulutnya menguak lebar


memperlihatkan gigi serta taringnya yang panjang 

besar dan runcing! Suara aumannya menggetarkan 

rimba raya. Menggerinding bulu tengkuk gadis itu. 

Dia segera hendak berdiri karena yakin bahwa 

dalam sekejapan mata lagi pasti binatang buas itu 

akan melompat menerkamnya! Tapi mendadak 

sontak niatnya untuk selamatkan diri itu 

dibatalkannya! Kemala teringat pada nasib dirinya! 

Dalam keadaan serba menderita lahir dan bathin 

seperti itu, apalagi gunanya hidup? Mahesa Kelud,

manusia yang dicarinya dan bertanggung jawab 

tidak kunjung bertemu. Dari pada terus hidup 

menanggung malu memiliki anak tanpa ayah 

bukankah sebaiknya dia biarkan saja harimau itu 

mengoyak-ngoyak tubuhnya? Bukankah lebih baik 

mati dan bukankah memang sudah sejak lama dia 

kepingin mati?!

Gadis itu duduk kembali tenang-tenang. Si 

raja hutan buka mulutnya lebar-lebar dan meng-

aum. Kedua kaki mukanya diulurkan panjang-

panjang sedang kepalanya merunduk. Binatang ini 

menggereng lalu melompat! Kemaladewi 

pejamkan mata. Dia rela menerima nasib demikian

dari pada hidup terus!

Raja hutan yang lapar buas itu baru saja 

membuat setengah lompatan ketika setiup angin 

laksana badai menghantamnya dari samping kiri!


Harimau itu mengaum dahsyat. Tubuhnya mental 

dan terguling di tanah sampai beberapa tombak 

jauhnya. Dan bersamaan dengan itu terdengar 

suara tertawa berkekehan disusul dengan ucapan-

ucapan.

"Biung... bah! Ciluk! Ada kucing... eh kucing 

besar hendak makan tikus... eh tikus besar. Biung... 

biung! Ciluk, baaa...!!!" Sehabis ucapan itu 

terdengar suara langkah menggetarkan tanah!

Menyadari adanya hal yang aneh terjadi di 

hadapannya saat itu, Kemaladewi segera buka 

matanya! Apa yang dilihatnya hampir tak dapat 

dipercaya. Makhluk aneh melangkah besar-besar

dihadapannya. Tubuhnya sebatas leher ke bawah 

tak ubahnya seperti seekor lutung besar, berbulu 

hitam tebal. Sebaliknya mukanya adalah muka 

manusia muda berparas gagah meskipun 

rambutnya panjang sampai ke bahu dan awut-

awutan! Setiap langkah yang dibuat makhluk 

setengah manusia setengah lutung ini 

menggetarkan tanah dan menimbulkan angin. 

Debu dan pasir beterbangan!

Di samping kiri kelihatan harimau tadi te-

ngah siap pula hendak melompat. Yang dise-

rangnya kini adalah makhluk aneh tersebut. Ha-

rimau melompat. Makhluk aneh melangkah terus 

acuh tak acuh. Tapi dari kaki kanannya melesat


angin tendangan sekuat topan. Tubuh harimau 

besar yang mengapung di udara mental dan kali 

ini tak ampun lagi, kepalanya pecah!

Kejut Kemaladewi bukan alang kepalang. 

Pastilah makhluk aneh ini memiliki kesaktian he-

bat luar biasa. Tanpa pikir panjang lagi gadis yang 

tengah hamil delapan bulan itu tegak dan jatuhkan 

diri di hadapan si makhluk. Karena tak tahu harus 

memanggil apa maka Kemaladewi berlutut dan 

menjura. Tapi makhluk tersebut tidak acuhkan dia 

melainkan melangkah terus seenaknya.

"Krak... krak... krak!" Tubuh harimau mati 

yang terpijak oleh kedua kakinya berpatahan 

tulang-tulangnya! Selewatnya mayat harimau 

makhluk itu balikkan tubuh dan melangkah lagi ke 

jurusan Kemala, lewati gadis itu, kemudian 

membalik lagi dan begitulah dia mondar-mandir 

sampai beberapa kali.

Pada kali yang keempat makhluk itu lewat

di depannya, Kemaladewi segera menjura dan 

berkata: "Saudara penolong, terima kasih atas 

pertolonganmu...."

Makhluk itu melangkah terus seenaknya. 

"Eh, siapa tolong siapa...? Biung... biung... Ciluk!"

"Kau, kau telah menolong aku dari 

terkaman harimau itu!" sahut Kemaladewi.

"Eee... eh. Kucing mau makan tikus tapi


keburu mampus! Biung... biung!" Makhluk itu me-

langkah terus. Karena dia terus menerus me-

langkah di tempat yang sama maka mayat harimau 

yang menggeletak di tanah lama-lama menjadi 

hancur sama rata dengan tanah!

Kemaladewi tak habis heran melihat sikap 

orang itu. Bukan saja keadaan tubuhnya aneh, tapi 

gerak gerik dan kata-katanya pun aneh atau lebih 

tepatnya seperti lagak seorang gila.

"Saudara penolong, kau siapakah?" tanya 

Kemaladewi beranikan diri.

"Biung... biung ciluk! Baaa....! Siapa tanya 

siapa?!"

"Aku Kemaladewi...."

Makhluk itu tertawa aneh, lama dan 

panjang. Dia masih juga melangkah mundar-

mandir.

"Biung... biung, mengapa perutmu 

melendung?!"

Paras gadis itu menjadi merah karena malu.

"Eee... mengapa pipimu menjadi merah se-

perti bulan empat belas hari? Biung! Biung!"

Kemaladewi menggigit bibir. Kalau saja bu-

kan makhluk aneh ini yang telah menolongnya 

tadi dari terkaman harimau maulah dia mencaci 

maki dan mendampratnya habis-habisan!

"Dewikemala," kata si makhluk


menyebut nama gadis itu dengan terbalik! "Biung! 

Kau belum menjawab mengapa pipimu merah!"

"Saudara penolong, aku berhutang nyawa 

padamu. Tapi aku tak suka kalau kau bicara 

kurang ajar!" kata Kemaladewi.

Makhluk itu melangkah terus mundar-man-

dir dan tertawa dalam-dalam. "Aku kurang ajar? 

Memang kurang ajar! Biung! Mulutku harus 

ditampar!" Dia menggerakkan tangan kanannya. 

"Plak!" Tamparannya membuat parasnya yang 

gagah jadi merah.

Dugaan Kemaladewi bahwa makhluk aneh 

ini berotak miring alias gila semakin besar. Dia 

coba mengingat-ingat. Menurut gurunya dalam 

dunia persilatan ada beberapa tokoh sakti berotak 

miring. Diantaranya yang bernama Orang gila, 

Setan Sedeng, dan Tua Edan. Yang manakah 

makhluk yang disaksikannya saat itu?

"Saudara, apakah kau bukannya Setan Se-

deng?" tanya Kemaladewi.

"Tobat biung!" Makhluk itu tertawa gelak-

gelak. "Apakah parasku seperti setan?"

"Tidak memang..." mengakui gadis itu.

"Apakah aku sedeng?"

"Aku tidak tahu...."

"Goblok!"

"Siapa yang goblok?!" tanya Kemaladewi.


"Aku!" 

Dan makhluk itu tertawa. Kemaladewi juga 

jadi tertawa geli. 

"Eeee biung! Kenapa ketawa?!"

Kemaladewi berdiri.

"Eee, kau mau ke mana Dewikemala?"

"Namaku Kemaladewi, bukan 

Dewikemala!" ujar si gadis.

"Biung, mau ke mana!"

"Meneruskan perjalanan!" jawab gadis itu. 

Sebenarnya dia berdiri hanya letih berlutut.

"Berjalan ke mana?"

Kemala tak menyahut karena memang dia 

tak tahu harus pergi ke mana. Si makhluk lewat 

lagi untuk kesekian kalinya dihadapannya. 

"Eeee... perutmu melendung. Kau bunting 

ya?!"

"Aku tidak suka bicara macam begituan!"

"Kenapa tidak, biung!"

"Sudah!"

"Oooooo, kau marah ya? Nanti lekas tua!"

"Biar tua!"

"Nanti cepat mati!"

"Aku memang mau mati!"

"Biung! Tidak kasihan anakmu yang di 

dalam perut?!"

Kemaladewi terkesiap. Mulutnya terkunci.


Tiba-tiba makhluk aneh menangis. 

Tangisnya sedih mendalam merawankan hati 

menyayat jantung. Tidak sadar, ingat pada 

nasibnya sendiri, tanpa terasa lagi Kemaladewi 

mulai pula mengisak. Si makhluk hentikan 

tangisnya.

"Kenapa kau terisak?" tanyanya. "Aku 

menyakitimu, ciluk?!"

Kemala menggeleng. Dia memutar tubuh-

nya dan melangkah meninggalkan tempat itu.

"Eeeee... tunggu, kau mau kemana biung?!"

Si gadis melangkah terus tak acuhkan 

pertanyaan si makhluk gila. Makhluk itu hentikan 

langkah dengan terpaksa dan memburu. 

"Dewikemala, kau... tunggu dulu." Diulurkannya 

tangannya yang berbulu memegang bahu gadis 

itu. Kemala balikkan tubuh. "Jangan sentuh!" 

teriaknya marah.

Makhluk itu tarik tangannya cepat-cepat. 

Parasnya pucat tanda dia takut sekali akan ke-

marahan Kemaladewi. 

"Kau mau apa!"

"Biung... aku... aku tanya mau ke mana 

kau?"

"Ada urusan apa?!"

"Aku ingin ikut bersamamu...."

Gadis itu terkejut sekali "Gila!"


"Aku memang gila ciluk!" mengakui si 

makhluk. Ucapannya pelahan. Nada dan parasnya 

rawan, menyedih. Diam-diam si gadis merasa hiba 

terhadapnya.

"Mengapa kau ingin ikut denganku, 

saudara?"

"Karena aku kasihan pada kau dan...."

"Dan apa?"

"Dan aku suka padamu. Aku ingin dekat-

dekat padamu...."

Merah wajah si gadis. Tangannya 

dipentang. "Plak!" Tamparannya mendarat di pipi 

makhluk tersebut. Anehnya si makhluk cuma 

tundukkan kepala. Ketika dia angkat kepala, 

kelihatanlah matanya berkaca-kaca. Tanpa berkata 

apa-apa, tanpa tunjukkan sikap otak miringnya, 

dia putar tubuh dan melangkah meninggalkan 

tempat itu.

Kemaladewi termangu. "Hai tunggu!" 

Serunya tiba-tiba. Makhluk itu hentikan langkah. 

"Kalau aku ajak kau, kau mau turuti segala 

perintahku?" Yang ditanya mengangguk. "Kau 

berjanji tidak akan berbuat kurang ajar?" Makhluk 

itu mengangguk lagi. "Namamu siapa?"

"Lutung Gila."

"Baik, kau boleh ikut aku Lutung Gila."

Lutung Gila tertawa gembira dan bertepuk


tangan serta berjingkrak-jingkrak seperti anak 

kecil. Tiba-tiba dia hentikan semua perbuatannya 

itu. "Tapi, bagaimana dengan suamimu, ciluk! 

Tentu dia cemburu dan marah bila melihat kita 

jalan sama-sama...."

"Aku tidak punya suami."

Lutung Gila melongo bengong. "Biung 

ciluk! Kalau kau tak punya suami bagaimana... ba-

gaimana perutmu... ah! Aku tidak mengerti!"

"Lain hari aku terangkan padamu, Lutung 

Gila." Kemala terkesiap sejurus, mengapa dia

menjanjikan hal itu kepada makhluk aneh? "Nah 

Lutung Gila, mari kita pergi."

"Mari. Kemana kita...?"

Sebenarnya gadis itu sendiri tak tahu ke

mana harus pergi. Dia berpikir-pikir. "Kita mencari 

dua manusia dajal!" katanya kemudian.

"Biung! Dua manusia dajal? Siapakah 

ciluk?!"

"Pernah dengar tentang seorang perempuan 

jahat berjuluk Iblis Buntung?"

"Pernah. Mengapa dia?"

Karena percaya pada Lutung Gila, Kemala 

tak malu-malu lagi menuturkan secara singkat 

perbuatan jahat Si Iblis Buntung alias Sitaraga. 

Lutung Gila menarik napas dalam dan golengkan 

kepala. "Iblis Buntung bukan lawan enteng ciluk!


Tempatnya tidak tetap. Aku tidak remehkan kau, 

tapi sepuluh manusia macammu bisa dilalapnya 

mentah-mentah!"

Kemaladewi mengkerutkan kening. Apa 

yang diucapkan Lutung Gila memang benar. Tiba-

tiba dia mendapat akal. "Kalau begitu percuma kau 

ikut aku jika nanti tak mau menolong!"

"Biung! Maksudku bukan demikian ciluk. 

Baa...! Untukmu aku berani taruhkan nyawa! Tapi 

sebelum mencari musuhmu itu sebaiknya kau ikut 

aku ke tempatku!"


TUJUH



PERLU apa aku pergi ke sana! Tidak sudi! 

"Icuh... icuh! Tempatku memang buruk! Kotor! Tak 

pantas didatangi gadis macammu! Tapi kalau kau 

tahu di sana ada siapa, kau pasti mau datang!"

Kemaladewi jadi tertarik. "Memangnya ada 

siapa di tempatmu?" tanya gadis ini. "Ada 

Raja Lutung." 

"Siapa dia?"

"Kawan dan guruku! Kau tahu ciluk! 

Ilmunya banyak. Kalau kau ke sana kau pasti 

diberinya pengajaran dan kita bisa berlatih!"


Kemaladewi semakin tertarik. Dia sudah 

menyaksikan kehebatan makhluk gila ini tadi. 

Kalau Raja Lutung adalah gurunya tentu Raja 

Lutung seorang yang luar biasa dahsyatnya, 

banyak ilmu dan sakti!

"Biung ciluk...! Kau mau pergi...?"

Gadis ini masih berpikir-pikir.

"Kalau kau dapat ilmu dari kawanku, kau 

pasti bisa kalahkan Sitaraga? Dan kau pasti bisa 

mencari itu pemuda yang tidak bertanggung 

jawab. Kau suka pergi, ciluk...?!"

"Aah..." Lutung Gila tertawa lebar. Parasnya 

menarik sekali cuma sayang keadaan tubuhnya 

yang seperti binatang itu. "Tempatku memang 

jauh. Di pulau Bawean! Di tengah Laut. Tapi kau 

tak usah khawatir, aku sedia menggendong kau ke 

sana ciluk. Man,..."

"Cis! Siapa sudi digendong sama kau!" tukas 

Kemaladewi menjauh.

"Dengan jalan kaki sampai kiamat kita baru 

sampai ke sana ciluk!"

"Aku sanggup berlari," sahut Kemaladewi.

"Eeeee... perutmu yang gendut itu mau 

dikemanakan? Kau mau anakmu memberojot di 

tengah jalan...."

"Lutung Gila! Jaga mulutmu!" bentak Ke-

mala.


"Ayo, kau larilah, biar aku ikuti dari bela-

kang!" kata Kemaladewi.

"Icuh... icuh! Jangankan lari, melangkahpun 

aku kau belum tentu bisa mengejar Ciluk!" kata 

Lutung Gila. Makhluk itu putar tubuhnya dan 

melangkah. Anehnya, Kemala melihat jelas bahwa 

Lutung Gila hanya membuat tak lebih dari lima 

langkah, tapi tahu-tahu sudah berada lebih dari 

lima belas tombak di muka sana! Kemala segera 

lari menyusul. Namun betapapun dia kerahkan 

tenaga dalamnya, betapapun dia keluarkan ilmu 

lari ajaran gurunya Si Dewa Tongkat tetap saja dia 

tak bisa menyusul. Lutung Gila yang melangkah 

seenaknya, tapi tetap saja dia ketinggalan sampai 

dua tiga puluh tombak di belakang! Sialnya 

Lutung Gila melangkah itu sambil tiada hentinya 

menyanyi!

Nafas Kemaladewi menyengal. Perutnya

sakit. Dia terpaksa hentikan larinya. "Lutung Gila!" 

serunya. Tunggu!"

Lutung Gila menghentikan langkahnya dan 

membalik. "Biung, ada apa?! serunya bertanya.

"Larimu terlalu cepat...!"

"Eeee... siapa bilang aku lari? Hik... hik!"

Kemaladewi melangkah ke hadapan Lutung 

Gila. 

"Eee... kenapa hidungmu kembang kempis,


kenapa pipimu merah, kenapa parasmu megap-

megap dan kenapa kau keringatan, ciluk?!"

"Kenapa... kenapa! Kau yang lari terlalu 

cepat!"

"Aku tidak lari, ciluk!"

"Lari atau tidak tapi kau tinggalkan aku!" 

ujar Kemaladewi.

"Icuh... icuh! Lutung Gila tadi sudah bilang 

agar digendong tapi kau keras kepala mau lari!

Kenapa salahkan Lutung Gila? Baaa...?!"

Gadis itu menggigit bibirnya terdiam. 

"Baiklah, kau boleh gendong aku," katanya 

kemudian dengan malu-malu.

"Na... na... naaa... coba dari tadi! Kan kau 

tidak letih ciluk!" Lutung Gila tertawa geli. Sekali 

tangannya bergerak maka tubuh Kemaladewi 

sudah berada di pundak kanannya. "Pegang 

rambutku erat-erat, ciluk!"

Kemaladewi memegang rambut Lutung 

Gila. Sekali makhluk itu enjotkan kaki ke tanah 

maka tubuhnya pun melesat laksana panah lepas 

dari gendewanya. Ilmu lari Lutung Gila luar biasa 

bukan main! Kemala hampir-hampir tak dapat 

melihat dengan jelas setiap pohon-pohon atau 

benda apa saja yang mereka papasi. Daun-daun 

pohon bergemeresikan. Ranting-ranting bergoya-

ngan. Debu dan pasir menggebubu beterbangan di


belakang. Gadis itu tak ubahnya merasakan seperti 

duduk melayang di atas punggung seekor burung 

besar, dibawa terbang!

Mereka tiba di tepi pantai. "Ciluk, kau tentu 

letih. Istirahatlah dahulu!" kata Lutung Gila sambil 

menurunkan Kemaladewi dari atas pundaknya.

"Lutung Gila, mengapa kau terus-terusan 

panggil aku dengan ciluk, ciluk!" tanya Kemala-

dewi seraya betulkan letak pakaiannya di bagi-an 

perut.

"Itu baaa... itu kemauanku!"

"Kemauan tinggal kemauan. Tapi apa 

artinya ciluk?"

"Artinya? Eeee... tidak tahu!"

Gadis itu geleng-gelengkan kepalanya. 

Waktu didukung di atas bahu tadi, sepanjang 

perjalanan dia telah menyaksikan dari dekat paras 

Lutung Gila. Kegagahan makhluk setengah 

manusia setengah lutung itu ternyata tidak 

mengecewakan hati si gadis.

Sikap dan tutur katanya yang lucu, meski 

kadangkala kurang ajar menggemaskan tapi 

semuanya itu diliputi kejujuran.

"Dewikemala...."

"Lagi-lagi kau panggil namaku terbalik!" 

tukas Kemaladewi.

"Memangnya dibalik tidak bagus ciluk?"


"Sudahlah jangan bicara ngaco! Mari kita 

teruskan perjalanan."

"Letihmu sudah hilang?!"

"Siapa bilang aku letih?!"

"He... he." Lutung Gila menyeringai. Barisan 

gigi-giginya rata dan putih berkilat. Dia menunjuk 

ke tengah lautan. "Kau lihat pulau di ujung sana 

itu?" Kemala mengangguk. "Kesanalah tujuan kita, 

pulau Bawean. Mari...." Lutung Gila hendak 

menaikkan gadis itu ke atas bahunya kembali.

"Eh, tunggu dulu, Lutung Gila."

Lutung Gila kerenyitkan kening. "Baaa... 

kau malu lagi digendong ya?! Tadi kenapa mau?!"

Tidak... tidak malu," sahut si gadis meski-

pun parasnya kemerahan.

"Biung... Icuh icuh! Kalau pipimu kemerah-

an, parasmu tambah cantik ciluk!"

"Plak!" Tamparan Kemaladewi jatuh di pipi 

Lutung Gila.

Anehnya kali ini Lutung Gila tertawa keras 

dan senang. "Sudah dua kali... sudah dua kali!"

"Apa yang sudah dua kali?!" tanya Kemala.

"Sudah dua kali kau tampar aku, aduh 

biung!"

"Kau mau ditampar lagi?!"

"Mau eh tidak! Hi... hik... hik!" Lutung Gila 

tertawa geli. Si gadis menggigit bibir menahan


gelaknya. "Sudahlah ciluk, mari kita berangkat."

"Lutung Gila, dengan apa kita ke pulau itu?"

"Baa... dengan apa tanyamu? Dengan kaki 

tentunya ciluk!"

"Lutung Gila, biar otakmu miring tapi 

jangan terus-terusan bicara main-main denganku!"

memperingatkan Kemaladewi karena merasa 

diperolokkan.

"Biung! Siapa mainkan siapa?"

"Kau! Masakan menyeberangi lautan de-

ngan jalan kaki?!"

"Habis?!"

"Dengan perahu tentunya!"

Lutung Gila tertawa gelak-gelak. "Kau 

belum tahu siapa Lutung Gila. Ah, marilah!" 

Disambarnya pinggang Si gadis, dinaikkannya ke 

atas pundak. Lalu berlarilah dia menghambur laut!

Apa yang dilihat Kemaladewi benar-benar 

hampir tak masuk diakalnya. Dari gurunya me-

mang dia pernah dengar semacam ilmu yang bisa 

dipergunakan untuk jalan atau lari di atas air. Tapi 

baru hari inilah dia menyaksikan ilmu luar biasa 

tersebut! Dengan mendukung Kemaladewi di atas 

pundaknya, Lutung Gila berlari cepat di atas 

permukaan air laut, memapasi gelombang-

gelombang kecil yang menggulung menuju tepi 

pantai, air laut bermuncratan di kiri kanan dan di


belakang kedua kakinya!

"Lutung Gila! Kau hebat sekali!" memuji 

gadis itu tanpa sadarnya.

Lutung Gila tertawa girang dipuji demikian rupa. 

Larinya dipercepat. "Aku tidak hebat, Lutung Gila 

tidak hebat! Ada lagi yang lebih hebat. Kawanku Si 

Raja Lutung! Dan dia pasti ajarkan berbagai ilmu 

kepadamu ciluk!" "Betul, Lutung Gila?"

"Betul... benar... sungguh... pasti! Biung 

icuh!"

Kemaladewi girang sekali mendengar itu. 

Pastilah dia akan memiliki ilmu kepandaian yang 

luar biasa. Pastilah dia akan dapat menuntut balas 

terhadap Sitaraga dan pastilah dia akan 

berhadapan dengan Mahesa Kelud untuk minta 

pertanggung jawab pemuda itu! Sejak duka derita 

melanda dirinya, sejak kehancuran hati 

menimpanya, sejak keputusasaan menyelubungi-

nya maka sesungguhnya sejak saat itulah rasa 

rindu, rasa kasih sayangnya terhadap Mahesa 

Kelud, pemuda yang pernah dicintainya, berubah 

menjadi rasa benci yang berkobar menyala, 

mendendam berurat berakar! Sitaraga biang racun 

penyebab bahala menghancurkan hidupnya dan 

Mahesa Kelud pemuda pengecut rendah budi 

tidak berani bertanggung jawab atas 

perbuatannya! Mahesa dan Sitaraga adalah sama


saja! Demikianlah Kemaladewi mencap kedua 

orang tersebut!

Akhirnya mereka sampai juga ke pulau 

Bawean. "Oho, kita sudah sampai ciluk. Kita 

langsung ke goa!" kata Lutung Gila pula. Dia lari 

disela-sela pepohonan dan baru berhenti di ha-

dapan sebuah mulut goa yang besar sekali!

"Icuh... icu...! Raja Lutung... kawanku... 

guruku, aku Lutung Gila kembali. Icuh icuh!" kata 

Lutung Gila seraya turunkan Kemaladewi ke 

tanah.

Sesosok tubuh setinggi tiga meter keluar 

dari dalam goa. Inilah Raja Lutung. Tubuhnya 

benar-benar seekor lutung dari kepala sampai ke 

kaki. Menggerindil bulu kuduk Kemaladewi 

melihat binatang ini, lebih-lebih ketika Raja Lutung 

memekik tinggi membuka mulut lebar-lebar 

memperlihatkan gigi-gigi serta taringnya yang 

besar panjang dan runcing!

"Icuh... icuh! Dewi... Raja Lutung tertawa 

menyambut kedatanganmu. Beri hormat ke-

padanya!"

Kemaladewi menjura. Raja Lutung 

memekik lagi melengking. Mau pecah rasanya 

anak telinga oleh pekikan yang dahsyat itu! Tiba-

tiba Raja Lutung menerjang ke muka menyerang 

Kemaladewi! Dalam terkejutnya gadis itu masih


sempat hindarkan diri. Tubuhnya menggelinding 

terkena sambaran angin serangan! Untungnya dia 

bisa membuat gerakan yang tidak membahayakan 

kandungannya. Sesaat kemudian dalam langkah 

grabak-grubuk tak karuan Raja Lutung menyerang 

lagi!

"Icuh... icuh! Haaa...! Dewi... kau untung... 

kau untung! Apa kataku! Lihat, kawanku tengah

mengajarkan ilmu pukulan tangan kosong! Ayo 

perhatikan gerakan kaki dan tangannya! Tirukan, 

kau pasti bisa!"

Kemaladewi meskipun kaget dan terheran 

tapi mengikuti juga apa yang dikatakan Lutung 

Gila. Serangan grabak-grubuk yang dilakukan oleh 

Raja Lutung tidak cepat, mudah diperhatikan dan 

ditiru. Dalam dua tiga kali saja Kemaladewi yang 

memang berotak cerdas sudah dapat melakukan 

gerakan-gerakan seperti yang dibuat Raja Lutung, 

bahkan ketika gerakannya dipercepat, maka 

beberapa jurus ilmu pukulan aneh itu sudah bisa 

difahaminya! Lutung Gila riang sekali dan 

bertepuk-tepuk tangan!

"Baaa... yah... bagus! Hup... Icuh! Boaa... 

biung, kau hebat ciluk!"

Demikianlah, nasib yang malang melintang 

telah membawa Kemaladewi anak murid Dewa 

Tongkat ke pulau Bawean dimana diam seekor


lutung sakti, dengan siapa kemudian gadis itu 

mendapat segala macam pengajaran ilmu aneh 

luar biasa, yang jarang ada tandingannya dalam 

dunia persilatan di masa itu!



DELAPAN



SIAPAKAH sebenarnya Lutung Gila? Di 

Ujung Kulon berdiam seorang Empu sakti 

bernama Empu Sora. Nama tokoh ini dalam 

kalangan dunia persilatan dikenal sebagai tokoh 

golongan putih. Empu Sora mempunyai beberapa 

orang murid. Seorang di antaranya adalah 

Jayengrana. Pemuda ini berparas cakap dan paling 

disayangi oleh Empu Sora. Tapi dasar di dunia ini 

bisa terjadi apa saja yang diluar dugaan dan 

kehendak manusia, maka pada suatu hari 

Jayengrana, telah membuat satu kesalahan besar, 

melanggar pantangan perguruan, memberi malu 

Empu Sora. Sesudah mendapat hukuman yang 

setimpal dengan perbuatannya, yaitu digebuk 

seribu kali mulai dari kepala sampai ke ujung kaki 

maka Jayengrana diusir dari perguruan! Gebukan-

gebukan hukuman yang diterima pemuda itu 

membawa akibat yang tidak baik. Beberapa urat 

syarafnya putus rusak. Otaknya geger. Hingga


pemuda gagah berilmu tinggi itupun menjadi 

miring otaknya.

Hampir satu tahun lamanya dia malang 

melintang di rimba hijau, menimbulkan kejadian-

kejadian yang menggemparkan dunia persilatan. 

Sampai pada suatu hari di tengah rimba raya yang 

tiada tembus sinar matahari Jayengrana 

menemukan seekor lutung besar berada dalam 

keadaan terluka parah akibat patokan ular hijau 

berbisa! Jika tidak segera mendapat obat maka da-

lam tempo tiga hari tamatlah riwayat binatang itu! 

Meskipun berotak miring, tapi segala pengajaran 

gurunya sama sekali tidak dilupakan oleh Jayeng-

rana. Dia tahu betul bahwa bila seseorang dipatuk 

ular hijau, satu-satunya obat ialah dengan 

memamah dan mengunyah lidah ular hijau yang 

penuh racun itu. Antara racun yang dimamah dan 

racun yang mengalir dari liang luka akan terjadi 

bentrokan saling gempur hingga akhirnya racun 

itu akan lumpuh sendiri dan orang atau binatang 

yang tadi dipatuk akan sembuh!

Satu hari satu malam lamanya Jayengrana 

mencari ular hijau. Akhirnya sore hari kedua dia 

berhasil juga menemukan seekor binatang ter-

sebut. Ketika dia kembali keadaan lutung rak-sasa 

itu sudah payah sekali. Jayengrana segera 

masukkan lidah ular hijau ke dalam mulut


binatang itu.

"Kunyah! Kunyah! Telan... telan!" kata 

Jayengrana berulang-ulang. Sang lutung rupanya 

tahu pula apa yang dikatakan Jayengrana dan 

memapak lidah ular hijau dalam mulutnya. Bina-

tang itu kemudian jatuh pingsan. Tapi keesokan 

paginya lukanyapun sembuhlah!

Ternyata lutung besar itu bukanlah binatang 

biasa! Jayengrana bersahabat baik dengannya dan 

suatu hari pemuda sinting itu dibawanya ke pulau 

Bawean dan disinilah Jayengrana diajarkannya 

berbagai macam ilmu aneh yang jarang kelihatan 

dalam kalangan persilatan!

Oleh Raja Lutung, Jayengrana diberikan 

sejenis pakaian yang terbuat dari kulit lutung. Pa-

kaian itulah yang dikenakan Jayengrana dan tak 

pernah dilepas-lepaskannya! Jayengrana sering 

meninggalkan pulau Bawean, mengelana membuat 

kegegeran di kalangan dunia persilatan. Lambat 

laun diapun dikenal dengan julukan Lutung Gila!

Enam bulan berlalu.

Di pulau Bawean telah lahir seorang anak 

laki-laki. Anak Kemaladewi. Anak yang berumur

beberapa bulan itu dinamakan Lutung Bawean. 

Yang sangat menyedihkan dan mengiris hati 

Kemaladewi ialah bila dia melihat paras oroknya 

karena paras orok tersebut sama sekali dengan


paras Mahesa Kelud. Hidungnya, matanya, 

bibirnya... semakin besar semakin jelas lagi 

persamaan-persamaan itu!

Suatu hari Kemaladewi menggendong Lu-

tung Bawean di tepi pasir pulau. Dia memandang 

ke tengah lautan. Lutung Gila tegak disampingnya. 

Kemala yang telah tahu riwayat Lutung Gila, 

bertanya pada Lutung Gila.

"Lutung Gila, kau ingat janjimu tempo hari 

bahwa kau akan patuh dan menurut setiap 

perintahku?"

"Icuh biung! Tentu saja!" jawab Lutung Gila. 

"Memangnya kau mau suruh aku apa, ciluk?"

"Dengar baik-baik, Lutung Gila. Kau harus 

berjanji padaku bahwa kepada siapapun kau harus 

katakan bahwa aku adalah istrimu."

Kedua mata Lutung Gila melotot besar. 

Mukanya memucat. Lalu dia tertawa terbahak-

bahak. "Dunia sudah terbalik agaknya! Icuh-icuh! 

Kau atau aku yang gila, Dewi? Kau yang sinting 

atau aku yang sedeng? Icuh biung!" Dia tertawa 

lagi panjang-panjang.

"Lutung Gila!" bentak Kemaladewi.

Lutung Gila terkejut dan hentikan tertawanya. Dia 

jadi ketakutan sendirinya waktu melihat paras 

Kemaladewi yang membayangkan kemarahan.

"Kau mau turut kataku atau tidak, Lutung


Gila?!"

"Ma... mau, eh tapi Dewi. Aduh biung!"

"Tapi apa?! Kau mau membantah ya?!

"Tidak ciluk! Biung, biung. Baiklah... baiklah 

Dewi. Kepada semua orang akan kukatakan 

bahwa... bahwa kau adalah mertuaku... eru...M

Meskipun geli, Kemala hampir tak dapat 

menahan kejengkelannya. "Bukan mertua, tapi 

istrimu! Tahu?!"

"Ya... yaaa. Pada semua orang, juga pada jin 

laut sekalipun akan kukatakan bahwa kau adalah 

istriku. Naaaah kau puas ciluk?"

"Belum!"

Lutung Gila kerenyitkan kening.

"Dengar. Bila ada orang yang bertanya-

tanya anak siapa Lutung Bawean ini maka kau 

harus jawab dia adalah anakmu. Mengerti?!"

"Tobat biung!" seru Lutung Gila. Dia 

mundur beberapa langkah dan memandang penuh 

heran pada Kemaladewi. "Mana mungkin ciluk! 

Mana mungkin aku Lutung Gila bisa beranak! Aku 

laki-laki, pasti semua orang tidak mau percaya! 

Tobat biung! Tobat biung! Siapa sedia dibilang jadi 

banci? Laki-laki beranak! Tobat!"

"Eee Lutung Gila! Jangan ngaco! Bukan kau 

yang beranak tapi aku. Aku istrimu dan anak ini 

adalah anakmu dilahirkan dariku! Jelas?!"


"Aduh biung... susah! Susah kalau begini! 

ujar Lutung Gila.

"Susah! Susah! Apa yang disusahkan?! Bi-

lang saja kau tidak mau patuhi perintah!" semprot 

Kemaladewi.

"Icuh... tidak... tidak. Tapi... aduh baiklah 

Dewi. Baik! Aku turut kata-katamu. Tobat biung...! 

Tobat!"

Lembah Rotan...

Menghilangnya Kemaladewi, murid satu-

satunya dari Dewa Tongkat sangat merusuhkan 

hati orang tua sakti tersebut. Tak tahu dia kemana 

gadis itu pergi dan apa yang menyebabkannya 

pergi namun dia maklum bahwa ada sesuatu 

peristiwa besar yang terjadi atas diri muridnya itu. 

Beberapa bulan sudah berlalu maka Dewa Tongkat 

mendengar kabar bahwa muridnya itu berada di 

pulau Bawean, kawin dengan Lutung Gila dan 

sudah punya anak! Alangkah marahnya Dewa 

Tongkat. Kesalahan yang dibuat Kemaladewi 

sudah lebih dari takaran. Pertama, melarikan diri 

pergi tanpa pamit. Kedua kawin tanpa seizinnya 

selaku guru dan yang diperlaki teryata manusia 

berotak miring. Lutung Gila! Belum ada satu tahun 

gadis itu meninggalkan lembah Rotan, lalu tahu-

tahu sudah beranak! Pastilah sebelum kawin Ke-

maladewi telah berbuat mesum dengan Lutung


Gila... atau mungkin juga dengan lain laki-laki! 

Sebagai tokoh persilatan yang dihormati dan 

disegani lawan serta kawan, mau diletakkan ke 

mana mukanya? Kemaladewi telah memberi malu 

besar yang tiada terkirakan! Akhirnya bulatlah 

tekad Dewa Tongkat untuk berangkat ke pulau 

Bawean, pergi untuk menghukum murid yang 

telah berlaku kurang ajar, memberi malu nama 

besarnya!

Beberapa hari kemudian Dewa Tongkat sampai ke 

sebuah bukit kecil. Di bawahnya kelihatan pasir

menghitam dan di muka sana membentanglah 

lautan luas. Nun jauh di tengah laut samar-samar 

kelihatan sebuah pulau. Pulau Bawean. Dengan 

gunakan ilmu larinya yang hebat Dewa Tongkat 

turuni lereng bukit. Dalam tempo yang singkat 

orang tua ini sudah sampai di tepi laut. Di tengah 

memandang berkeliling mencari-cari perahu 

penyeberangan ketika di lereng bukit dimana dia 

tadi berada kelihatan satu sosok tubuh manusia 

berpakaian hijau lari menuruni bukit. Diam-diam 

Dewa Tongkat harus mengakui kehebatan ilmu 

lari manusia itu dan tahu bahwa dia ketinggalan 

satu dua tingkat. Dalam beberapa kejapan mata 

saja manusia baju hijau sudah sampai di hadapan 

Dewa Tongkat! Ternyata si baju hijau seorang tua 

renta yang seumur dengan dia sendiri. Dan


terkejutlah Dewa Tongkat ketika dia mengenali 

siapa adanya orangtua itu. Buru-buru dia menjura 

menghormat.

"Ah daratan membentang laut meluas. Na-

sib manusia diatur kodrat. Tak sangka hari ini aku 

akan bertemu muka dengan Empu Sora, tokoh 

ternama di dunia persilatan."

Orang tua baju hijau yang ternyata adalah 

Empu Sora guru Lutung Gila tertawa lebar dan 

balas menjura. "Betul sekali sahabatku. Nasib 

manusia diatur kodrat. Tapi gerangan angin 

apakah yang membawa Dewa Tongkat ke tepi 

pantai sunyi ini?"

Dewa Tongkat silangkan tangan di muka 

dada. Parasnya yang tua kelihatan masygul. 

"Persoalan yang menusuk mata, kabar yang 

mencucuk telinga, berita yang menjengahkan 

muka, itulah yang membawa aku sampai ke sini, 

sahabat. Dan sungguh kebetulan sekali kita ber-

temu di sini."

Empu Sora sudah maklum apa yang mem-

bawa Dewa Tongkat ke tepi pantai selatan itu.

Dia berkata: "Dewa Tongkat, agaknya 

peristiwa yang samalah yang menemukan kita 

disini. Bukankah kau bermaksud ke pulau Bawean 

untuk menemui muridmu yang kabarnya kawin 

dengan muridku si Jayengrana yang kini bernama


Lutung Gila itu?"

"Ah, tepat sekali! Tepat sekali Empu Sora," 

sahut Dewa Tongkat. "Kita orang tua-tua mana 

bisa berlepas tangan diberi malu demikian rupa? 

Tokoh-tokoh dunia persilatan pastilah mengejek 

kita sebagai manusia-manusia tua renta yang 

pikun!"

Empu Sora manggut-manggut beberapa la-

manya. "Benar sahabatku. Muridku Jayengrana 

perbuatannya sudah keliwat batas! Dulu dia 

melanggar perintah melampaui pantangan, 

memberi malu perguruanku. Setelah digebuk dan

diusir bukannya dia menjadi ingat dan tobat tapi 

malah malang melintang di rimba raya, merampok 

dan membunuh! Lalu kini dia buat lagi hal-hal 

yang mencemarkan namaku dan nama perguruan! 

Sudah keliwat pantas bila kita yang tua datang 

kepadanya untuk memberi hajaran!"

"Ah, senang sekali aku mendengar bahwa 

kau juga bermaksud ke pulau Bawean menemui 

muridmu. Maksud sama, tujuan sama bukankah 

sebaiknya kita juga pergi sama-sama...?"

"Suatu kehormatan," sahut Empu Sora.

"Marilah kita kemudik sana mencari perahu

penyeberangan," kata Dewa Tongkat pula.

"Sahabatku, mengapa susah-susah pergi 

jauh-jauh hanya untuk mencari perahu buruk?


Disini banyak perahu!" sahut Empu Sora.

Belum habis rasa heran Dewa Tongkat akan 

kata-kata Empu Sora maka dari balik jubah 

hijaunya Empu Sora sudah keluarkan sebilah 

pedang hijau. Sinar matahari berkilauan di mata 

pedang. Sekali senjata itu berkelebat maka 

sebatang pohon kelapa yang berada di dekat situ 

terbabat puntung! Belum lagi bagian yang puntung 

tumbang ke atas pasir maka pedang hijau 

kelihatan bergerak sebat kian ke mari 

menimbulkan suara angin berisik dan seketika 

kemudian maka tahu-tahu di atas pasir sudah 

terletak sebuah perahu! Di sekitar perahu 

bertebaran potongan-potongan kecil batang-batang 

kelapa!

Terkejutlah Dewa Tongkat melihat 

kelihayan Empu Sora. Dengan jujur dia menjura 

dan memuji. "Ah, rupanya kehebatan nama Empu 

Sora di dunia persilatan bukan kosong belaka! 

Dewa Tongkat yang rendah memuji dengan 

sejujurnya!"

Empu Sora batuk-batuk dan masukkan pe-

dangnya kembali ke balik punggung jubah hijau. 

"Nah Dewa Tongkat, mari kita berangkat!" kata-

nya. Serentak dengan itu perahu dari batang 

kelapa ditendangnya dengan kaki kiri sampai

mental ke atas air laut. Dia menjejakkan kedua


kakinya, tubuhnya melayang. Ketika mendarat di 

atas perahu, sedikitpun perahu batang kelapa itu 

tidak bergoyang! Bukan main hebatnya ilmu 

mengentengi tubuh Empu Sora. Dewa Tongkat 

tidak mau kalah. Dia segera susul melompat. Juga 

perahu tidak bergoyang ketika kedua kakinya 

mendarat di bagian belakang.

Sambil cabut tongkat rotan berkeluknya 

berkatalah Dewa Tongkat. "Aku yang rendah 

biarlah duduk di belakang mendayung dan 

memegang kemudi!" Dia celupkan tongkatnya ke 

dalam air laut. Sekali benda itu digerakkannya ke 

belakang maka laksana topan menghembus 

demikianlah dahsyatnya perahu tersebut meluncur 

ke muka membelah gelombang. Air laut 

bermuncratan di kiri kanan. Empu Sora berdiri 

dengan rangkapkan tangan di bagian muka 

perahu. Dewa Tongkat hanya menggerakkan 

tongkat rotannya lima enam kali. Sejurus 

kemudian perahu itupun sudah menggeser tepi 

pasir di pulau Bawean. Diam-diam Empu Sora 

memuji akan kehebatan senjata serta tenaga dalam 

Si Dewa Tongkat. Kedua orang tua sakti itu 

kemudian segera melompat ke daratan.

Lutung Gila gembira sekali. Dia melangkah 

mundar-mandir menyanyi dan mengayun-ayun 

orok laki-laki di dalam badungannya:


Ke atas langit tujuh lapis

Ke bawah bumi tujuh lapis

Dalam dunia seribu keanehan terjadi

Tidak bersuami dapat beranak

Tidak beristri punya orok

Baa... ciluk!"

Lutung Gila dekatkan kepalanya ke muka 

sang bayi. Bayi berumur beberapa bulan lalu itu 

tertawa merdu dan Lutung Gila melangkah lagi 

mundar mandir, menyanyi dan menimang Lutung 

Bawean.

"Ke atas langit tujuh lapis.

Ke bawah...."

Suara nyanyian Lutung Gila terhenti 

dengan serta merta ketika dari samping datang 

satu suara bertanya. "Jayengrana, apa yang kau 

buat di tempat ini?!"

Lutung Gila terkejut. Dia hentikan langkah 

dan putar kepala. Kedua matanya membelalak, 

mulutnya menganga dan parasnya pucat. "bi... 

biung.... Siapa tanya siapa?!"

"Jayengrana, kau lupa aku gurumu! Empu 

Sora...."

Lutung Gila tiba-tiba tertawa bekakakan 

sampai Lutung Bawean yang ada di dalam


bandungannya terkejut dan menangis. "Namaku 

bukan Jayengrana! Aku Lutung Gila! Dan Lutung 

Gila tidak berguru pada kakek-kakek buruk 

macam si Jubah hijau! Hik... hik! Ciluk... baaaa...."

Dewa Tongkat mengerling kepada Empu 

Sora dan melihat bagaimana paras orang tua baju 

hijau itu menjadi marah. Kalau saja tidak 

menyadari bahwa muridnya itu sudah berobah 

otaknya pastilah segera Empu Sora melekatkan 

tamparan ke mulut Jayengrana alias Lutung Gila!

Empu Sora masih dapat menahan hati. Dia 

bertanya, "Lutung Gila anak siapa yang kau 

timang itu?"

Eh... ada apa kau tanyatanya anak? Awas

kalau kau mau rampas dia!" Baa... ciluk!"

Empu Sora dan Dewa Tongkat saling 

berpandangan dan melongo.

"Eeee Lutung Gila," kata Dewa Tongkat. "Se-

jak kapan kau beranak?!"

"Biung... biung! Orang tua sedeng! Siapa 

bilang aku beranak! Dunia bisa kiamat bila ada 

laki-laki beranak. Ini orok istriku!"

"Dimana dia sekarang?!" tanya Dewa Tong-

kat gusar.

"Dia siapa, orang tua buruk?!"

"Kemaladewi."

"Biung! Perlu apa kau tanya-tanya istriku?


Pergi sana!" Lutung Gila tendangkan kaki 

kanannya ke muka. Baik Dewa Tongkat maupun 

Empu Sora buru-buru menghindar ke samping. 

Keduanya sama-sama terkejut karena dari kaki 

kirinya Lutung Gila itu melesat angin tendangan 

yang sangat dahsyat tajam menyembilu tulang! 

Empu Sora tak habis pikir dari mana muridnya 

mendapatkan ilmu tendangan yang demikian 

hebatnya itu!

Kesabaran Empu Sora yang ditahan-tahan 

mulai mendekati batas habisnya. "Lutung Gila!" 

bentaknya. "Katakan yang betul, benar-benar itu 

anakmu dan kau sudah punya istri?!"

"Eeee biung! Siapa bicara dusta!" jawab Lu-

tung Gila acuh tak acuh dan terus juga menimang-

nimang Lutung Bawean yang saat itu sudah 

berhenti tangisnya.

"Kau murid edan!"

"Aku memang edan. Habis perkara!" . "Kau

murid murtad!" semprot Empu Sora. "Kawin tanpa 

minta izin dan memberitahu pada guru lebih 

dulu!"

"Kau bukan guruku orang tua buruk! Kau 

yang buat aku murtad! Baa... ciluk!"

Dewa Tongkat sementara itu memandang 

berkeliling mencari-cari di mana adanya 

Kemaladewi, muridnya.


Kesabaran Empu Sora habis sudah dan 

berganti dengan kemarahan. Dia angkat tangan 

kanannya untuk menghajar murid yang sinting itu 

tapi niatnya dibatalkan karena dia takut kesalahan 

tangan mengenai bayi yang ada di dalam 

dukungan Lutung Gila.

Kalau Empu Sora khawatir sebaliknya 

Lutung Gila malah tertawa panjang.

"Eee biung?! Kenapa tidak jadi 

memukulku?!"

Empu Sora menyumpah dalam hati.

"Jayangrana! Kau harus ikut aku sekarang 

juga ke Ujung Kulon!" bentaknya.

"Jangan ngaco orang tua! Aku bukan anak 

atau pacarmu mau diajak-ajak! Ujun Hik... hik... 

hik, dimana itu?! Biung... biung!'

"Kau berani membantah perintahku 

Jayengrana?!"

"Icu biung! Namaku bukan Jayengrana 

Lutung Gila!"

"Terserah siapapun namamu! Setan atau 

iblis sekalipun! Kau harus ikut perintahku! Aku 

gurumu!"

"Orang tua jelek! Dulu kau yang 

menggebuk aku sampai otakku miring! Betul....? 

Atau aku yang dulu menggebukmu sampai 

otakmu keblinger? Hik... hik... hik! Icuh biung


Empu Sora terkesiap mendengar ucapan 

Lutung Gila itu. Walau hatinya panas tapi 

pikirannya jadi kacau. Mungkin dia harus 

meninggalkan tempat itu sebelum terjadi hal yang 

tak diingini. Dia bisa saja membunuh Lutung Gila 

sesuai dengan segala dosa yang telah diperbuat-

nya. Tapi dia juga bisa dibunuh oleh murid gila 

dan murtad itu!



                            TAMAT


Segera menyusul!!!


TELAGA API SALJU

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive