SATU
DALAM kegelapan dan dinginnya udara malam, Djaka
Tua tambatkan kudanya di batang pohon kelapa.
Debur ombak serta deru tiupan angin laut selatan
terdengar sambung-menyambung tak berkeputusan. Lelaki
berusia lebih setengah abad ini memandang dulu ke arah
laut luas sebelum melangkah menuju gundukan batu
membentuk bukit terjal setinggi sepuluh tombak dan
panjang hampir tigaratus kaki di samping kirinya. Walau
sebelumnya cuma satu kali datang ke tempat itu namun
Djaka Tua masih ingat jalan yang harus diambil. Di malam
gelap tidak mudah menyusuri lamping bukit batu terjal
serta licin terkikis angin mengandung garam. Sesekali dia
dikejutkan oleh suara kepak sayap kelelawar yang terbang
rendah.
Djaka Tua adalah pembantu di rumah seorang pejabat
tinggi yang diam di pinggiran Kotaraja. Nama sebenarnya
Akik Sukro namun karena sampai usia limapuluh tahun
lebih dia belum beristri, teman-teman memanggilnya Djaka
Tua. Tidak kawinnya Akik Sukro mungkin karena cacat yang
dideritanya sejak kecil yaitu dia memiliki sebuah punuk di
belakang leher sehingga tidak ada perempuan yang suka
padanya walau sehari-hari dia adalah seorang lelaki baik
budi pekerti dan tutur bicaranya.
Langkah Djaka Tua terhenti ketika hidungnya mencium
bau kemenyan. Ada rasa merinding namun juga rasa lega
karena bau kemenyan itu menandakan tanda orang yang
dicarinya berada di dalam goa di lamping bukit sebelah
bawah. Untuk mencapai goa yang dikenal dengan nama
Goa Girijati itu bukan hal yang mudah. Sekali kaki terpe–
leset tak ampun lagi Djaka Tua akan jatuh dari lamping
bukit batu, ditunggu hamparan batu-batu cadas lancip di
bawah sana.
Bau kemenyan semakin santar. Sejarak duapuluh
langkah di depannya Djaka Tua melihat satu cegukan di
bukit batu. Di dalam cegukan samar-samar ada cahaya tak
begitu terang, membersit keluar dari satu lobang besar
yang merupakan mulut sebuah goa. Walaupun jaraknya
cuma duapuluh langkah namun karena harus berhati-hati
maka cukup lama Djaka Tua baru berhasil mencapai
cegukan batu dan berdiri di hadapan mulut goa.
Di dalam goa Djaka Tua melihat sebuah pedupaan,
mengepulkan asap tipis menebar bau kemenyan. Benda
merah menyala dalam pedupaan adalah sejenis batu bara
langka yang dapat bertahan hidup sampai tujuhratus hari.
Dua langkah di belakang pedupaan, duduk bersila seorang
lelaki berpakaian dan ikat kepala hitam dengan wajah
tertutup rambut panjang awut-awutan, kumis serta jenggot
dan cambang bawuk meranggas lebat. Dua kelopak mata
yang tertutup tampak merah seolah mata itu ada nyala api
di sebelah dalam. Dua tangan bersilang di atas dada. Dari
ubun-ubun, telinga kanan dan dua lobang hidung
mengepul keluar asap tipis kehitaman.
Untuk beberapa lamanya Djaka Tua tertegun di mulut
goa. Enam bulan lalu dia mengantarkan orang itu ke goa.
Kini keadaannya jauh berobah, kotor dan angker menggi–
dikkan. Sementara berdiri Djaka Tua menjadi bingung.
Bagaimana cara memberi tahu kehadirannya pada orang
yang tengah bersemedi. Tadinya dia hendak berdehem
atau batuk-batuk. Namun Djaka Tua sadar, mengganggu
dan memutus semedi orang adalah merupakan satu
pantangan besar. Agaknya tak ada jalan lain. Dia harus
menunggu sampai orang itu menyelesaikan semedinya.
Tapi berapa lama dia harus menunggu?
Ternyata tiga hari tiga malam berada di tempat itu,
orang di dalam goa jangankan menghentikan semedi,
bergerak sedikitpun tidak. Djaka Tua mulai gelisah. Perse–
diaan makanan yang dibawanya hampir habis. Pagi hari
keempat bukan saja makanan sudah habis, malah Djaka
Tua diserang demam. Tubuhnya menggigil panas dingin.
Terhuyung-huyung Djaka Tua bangkit berdiri. Dia mengam–
bil keputusan untuk segera saja meninggalkan tempat itu.
Di dalam goa orang yang bersemedi masih tetap tak ber–
gerak, sepasang mata masih terpejam.
Tidak mau ambil perduli lagi, Djaka Tua segera melang–
kah pergi.
Baru menindak dua langkah, sekonyong-konyong dari
dalam goa terdengar suara orang berucap. “Anak manusia
bernama Djaka Tua, kembali! Cepat datang menghadap di
depanku!”
Langkah Djaka Tua tersurut. Dia tahu yang bicara itu
adalah orang di dalam goa. Tapi mengapa suaranya
berubah besar dan serak. Djaka Tua melihat sepasang
mata orang yang bersemedi masih tetap terpicing.
“Matanya masih terpejam. Tapi dia mengenali diriku.
Agaknya dia telah mendapatkan satu ilmu kesaktian.”
Begitu pikirnya. “Tumenggung Bandoro Wira Bumi, saya
Djaka Tua sudah berada di hadapanmu.”
Ternyata orang yang bersemedi adalah seorang
tumenggung, seorang pejabat tinggi Kerajaan.
“Djaka Tua, kau berani mengganggu semediku. Lebih
dari itu bukankah kau hanya kuperkenankan datang pada
hari tujuh bulan ketujuh? Kau muncul satu purnama lebih
cepat!”
Sangat ketakutan Djaka Tua rundukkan diri hingga
keningnya menyentuh lantai goa.
“Maafkan saya, Tumenggung. Kalau tidak ada hal yang
luar biasa penting saya tidak akan berani datang menemui
Tumenggung di tempat ini. Sebenarnya saya disuruh da–
tang jauh hari sebelumnya. Namun saya takut melanggar
perintah...”
“Bicara mulutmu seperti anus yang keluarkan kentut!”
maki sang Tumenggung. “Apa saat ini kau tidak melanggar
perintah?”
“Maafkan saya Tumenggung.” Djaka Tua membungkuk
berulang kali.
Tumenggung Bandoro Wira Bumi tangkap punuk Djaka
Tua lalu ditarik ke atas dan dilempar ke dinding goa. Rasa
sakit akibat tubuh yang membentur dinding batu bukan
apa-apa bagi Djaka Tua dibanding dengan rasa takutnya.
“Katamu ada hal luar biasa penting. Kuharap penting–
nya sama dengan harga nyawamu! Kau tahu apa hukuman
bagi orang yang berani mengganggu semediku?”
Wajah Djaka Tua jadi pucat. Dengan gagap dia menya–
huti. “Tahu, saya tahu sekali Tumenggung...” jawab Djaka
Tua. Suaranya kelu seolah lidahnya mendadak menjadi
pendek.
“Apa?!” sentak sang Tumenggung dengan dua mata
masih terpejam.
“Mati...” jawab Djaka Tua dengan suara serak.
Kepala Tumenggung Bandoro Wira Bumi mengangguk
perlahan beberapa kali. Mulut sunggingkan seringai
angker.
“Katakan berita luar biasa apa yang hendak kau sam–
paikan padaku!”
“Mohon maaf Tumenggung. Saya Ingin memberi tahu
kabar gembira kalau Nyi Ayu Retno Mantili telah melahir–
kan seorang bayi perempuan beberapa hari lalu. Tepatnya
hari Kemis Pahing, malam hari menjelang ba’dal Isya...”
Kalau ada petir menyambar di depan hidungnya saat
itu, tidak demikian terkejutnya Tumenggung Bandoro Wira
Bumi ketika mendengar ucapan Djaka Tua. Tubuh bergetar.
Asap biru mengepul keluar dari ubun-ubun, hidung dan
telinga. Matanya yang sekian lama terpejam mendadak
sontak terbuka membeliak, kelihatan merah menyala
laksana ada kobaran api. Mulut yang terkancing terbuka
dan satu makian dahsyat keluar, membuat seantero goa
batu bergetar.
“Jahanam! Tidaakkkk...!”
Djaka Tua yang dalam keadaan tubuh panas dingin
karena demam tersurut kaget. Bukan saja kaget karena
teriakan yang begitu keras, tetapi juga kaget melihat
Tumenggung marah sekali. Padahal seharusnya dia
bergembira kalau dirinya telah dikaruniai seorang puteri
oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
“Apa yang terjadi dengan diri Tumenggung? Ilmu apa
sebenarnya yang sedang dituntut orang ini? Aku melihat
pikirannya seperti sudah berubah.” Ucapan itu muncul
dalam hati Djaka Tua.
“Djaka Tua, kau sudah puluhan tahun ikut bersamaku,
menjadi pembantu kepercayaan di rumahku. Kau sadar
apa yang barusan kau ucapkan? Kau tidak berdusta, tidak
sedang menyebar kebohongan?”
Dalam herannya mendengar kata-kata sang Tumeng–
gung, Djaka Tua cepat menjawab.
“Saya sudah menjadi hamba sahaya sejak ayahanda
Tumenggung masih hidup. Bagaimana mungkin saya
berani berkata dusta, bicara bohong?”
“Ketika aku memilih meninggalkan Retno Mantili enam
bulan lalu, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
kehamilan. Dia tidak pernah mengatakan padaku kalau dia
tengah mengandung. Bagaimana mungkin kini kau datang
membawa berita bahwa perempuan itu telah melahirkan
seorang bayi perempuan? Setan mana yang menghamili–
nya?”
“Maaf Tumenggung kalau saya berani mengatakan
bahwa Nyi Retno Mantili adalah seorang gadis desa yang
sangat sederhana pikiran serta ilmu pengetahuannya.
Mungkin saja dia tidak tahu kalau dirinya sedang hamil
ketika Tumenggung meninggalkannya.”
“Djaka Tua! Kau membawa kabar malapetaka bagi
diriku! Sekarang kau ikut aku!”
“I... ikut ke mana, Tumenggung?”
“Menemui Nyai Tumbal Jiwo!”
“Nyai Tumbal Jiwo?! Siapa itu, Tumenggung?”
“Jangan banyak mulut! Jangan banyak tanya! Kau akan
lihat sendiri nanti!” teriak Tumenggung Bandoro Wira Bumi.
Sekali tangannya bergerak dia sudah mencekal leher Djaka
Tua. Lalu seperti membembeng anak kucing begitulah dia
membawa Djaka Tua keluar goa. Manusia biasa, seperti
kejadiannya dengan Djaka Tua sewaktu datang tadi, akan
mengalami kesulitan dan harus berhati-hati berjalan di
lamping bukit batu itu. Tapi sang Tumenggung melangkah
cepat bahkan berlari.
Djaka Tua kemudian merasakan tubuhnya berada di
atas kuda, dipacu seperti dikejar setan. Dia tidak tahu mau
dibawa ke mana. Dia tidak tahu siapa itu Nyai Tumbal Jiwo.
Di dalam dirinya yang didera demam panas dingin itu kini
semakin menggunung rasa takut.
DUA
TENGGUNG Wira Bumi hentikan kudanya bersa–
maan dengan mulai turunnya hujan rintik-rintik. Djaka
Tua tidak tahu saat itu berada di mana. Siksa yang
mendera tubuhnya yang panas dingin karena serangan
demam kini bertambah. Sekujur badan terasa sakit, sam–
bungan tulang-belulang seperti bertanggalan. Ketika dia
berusaha mengangkat kepala, tiba-tiba Wira Bumi cekal
lehernya. Tubuh Djaka Tua terangkat lalu bluk! Lelaki ber–
usia setengah abad itu dilempar dari atas kuda, jatuh
bergedebuk di atas tanah. Djaka Tua mengerang. Tulang
punggungnya serasa hancur, sakit bukan main.
“Dosa kesalahan apa yang telah aku perbuat hingga
menerima azab seperti ini?” keluh perjaka tua itu dalam
hati. Dia angkat kepala, memandang berkeliling. Dia meli–
hat gundukan-gundukan tanah, banyak sekali. Walau
malam begitu gelap dan rintikan hujan semakin membesar
namun Djaka Tua menyadari di mana dia berada saat itu.
Pekuburan! Tengkuknya langsung dingin. Jangan-jangan
dia hendak dikubur hidup-hidup di tempat itu.
Tumenggung Wira Bumi melompat turun dari kuda.
Sepasang matanya yang merah memandang garang ke
arah pembantunya. Asap kehitaman mengepul dari ubun-
ubun, dua liang telinga serta lobang hidung dan mulutnya.
“Berdiri cepat! Ikuti aku!”
Terhuyung-huyung menahan sakit, dingin dan juga
lapar, Djaka Tua berdiri lalu melangkah mengikuti Wira
Bumi yang berjalan cepat di depannya. Pada arah yang
dituju sang Tumenggung, Djaka Tua melihat sebuah kubu–
ran. Keadaannya berbeda dibanding dengar puluhan
kuburan yang bertebaran di tempat itu.
Kuburan yang satu ini onggokan tanahnya lebih padat
dan tinggi. Di atas tanah makam merah ada tebaran
kembang melati. Sebuah pohon kemboja bercabang tujuh
tumbuh di kepala kuburan. Antara pohon kemboja dan
bagian atas kuburan menggantung sesaput halimun.
Seperti kebanyakan kuburan-kuburan lain, kuburan ini
tidak memiliki batu atau papan nisan. Justru pada bagian
tanah yang seharusnya ditancap nisan terletak sebuah
pedupaan mengepulkan asap bau kemenyan. Asap pedu–
paan mengepul bergelung ke atas, menembus lapisan
halimun, menebar di sela-sela cabang, ranting serta deda–
unan pohon kemboja membentuk satu pemandangan yang
membuat orang jadi mengkirik.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi Tumenggung Wira
Bumi dan Djaka Tua akan sampai di hadapan kuburan
mendadak satu bayangan putih berkelebat disertai suara
membentak. “Siapa berani mendatangi makam Nyai Tum–
bal Jiwo malam buta begini tanpa ijinku?!”
Kalau Djaka Tua langsung hentikan langkah, maka
Tumenggung Wira Bumi terus saja berjalan sambil balas
membentak.
“Kuncen Ki Balang Kerso, apa matamu bertambah buta
tidak mengenali diriku?”
Bayangan putih yang kemudian berdiri di hadapan
Tumenggung Wira Bumi ternyata adalah seorang kakek
berambut putih riap-riapan, memelihara kumis tebal serta
janggut putih menjulai dada, pakaiannya pun serba putih.
Yang tidak sedap dilihat dari orang tua ini adalah kedua
matanya yang gembung besar sehingga kelihatan tetutup
buta walau nyatanya dia bisa melihat jelas keadaan di
sekitarnya. Ini terbukti dari gerakannya yang berkelebat
gesit ketika munculkan diri tadi.
“Ah, sampeyan Tumenggung Wira Bumi rupanya.”
Berucap sang kuncen. Suaranya bergetar seperti orang
menahan dingin. “Adalah aneh, sampeyan datang sebelum
hari perjanjian.”
Tumenggung Wira Bumi menyeringai. “Dunia ini
memang penuh keanehan. Terkadang keanehan itu
berakhir pada kematian!”
Kakek serba putih yang jadi penjaga makam tertawa
mengekeh. “Aku selalu gembira jika ada orang bicara soal
kematian. Siapa tahu aku bakal dapat rejeki besar malam
ini. Tambah satu lagi makam yang bakal aku urus! Hik...
hik... hik!”
“Kuncen Balang Kerso, sejak lama aku tidak suka
dirimu. Jangan membuat aku jadi muak dan muntahkan
darah kematian di atas batok kepalamu! Masuklah ke alam
roh dan beritahu kalau aku ingin bertemu Nyai.”
“Begitu?” Ki Balang Kerso berkata sambil rangkapkan
dua tangan di depan dada. “Kuharap kau tidak lupa aturan
di tempat ini.”
“Kuncen keparat...”
“Huss! Jangan bicara kotor di sini kalau tak mau
mulutmu pencong dan jadi bisu sampai kiamat!” Ki Balang
Kerso membentak dan mengancam.
“Kuncen sombong! Aku siap mengikuti aturanmu! Dulu
aku mengalahkanmu. Rupanya kau belum kapok! Kali ini
aku bukan saja akan mempecundangimu sekali lagi, tapi
sekaligus memberi pelajaran padamu! Kuburan di tempat
ini akan bertambah satu lagi!”
Kuncen Balang Kerso tertawa gelak-gelak. Dua kakinya
digeser. Luar biasa sekali. Saat itu juga tubuhnya meng–
apung dua jengkal ke atas. Dua kaki tidak menginjak tanah
lagi!
Kalau Djaka Tua terkesiap melihat sosok Kuncen yang
bisa mengapung itu, tidak demikian halnya dengan sang
Tumenggung.
“Ilmu kuno Roh Berjalan di Atas Makam! Tololnya kau
mau memamerkan di depanku!” ucap Wira Bumi
mengejek. Sekali dia mendengus asap hitam mengepul ke
wajah sang Kuncen. Karena tidak menduga diserang
dengan asap, si penjaga makam sempat gelagapan ter–
batuk-batuk. Di lain kejap didahului bentakan keras kakek
ini berkelebat lenyap. Lalu, bukk... bukkk!
Tubuh besar Tumenggung Wira Bumi terpental hampir
satu tombak ke depan, tersungkur di atas sebuah kuburan
tua.
Balang Kerso tertawa mengekeh. “Tumenggung, per–
cuma Nyai mengirimmu juga ke Goa Girijati! Ilmu apa yang
kau dapat? Ternyata kau masih goblok-goblok juga!”
Walau sempat tertawa dan mengejek namun diam-diam
kuncen penjaga makam Nyai Tumbal Jiwo itu merasa
kaget. Dua jotosan yang tadi dihantamkannya ke punggung
Wira Bumi ternyata tidak mendatangkan cidera sama
sekali! Padahal, jangankan tubuh manusia, pohon atau
tembok batu saja bisa patah dan jebol!
“Dia sudah memiliki ilmu kesaktian baru. Aku harus
berhati-hati...”
“Tua bangka pengecut! Beraninya menyerang dari
belakang!” rutuk Tumenggung Wira Bumi.
Kuncen Balang Kerso ganda tertawa. Tubuhnya masih
mengapung di udara. “Apa kau lupa kalau roh itu genta–
yangan di mana-mana. Serangannya pun datang dari
mana-mana!”
“Kalau begitu biar kau kujadikan roh gentayangan
benaran saat ini juga!”
Habis keluarkan ucapan Wira Bumi meniup ke depan.
Asap hitam menggebu ke sekujur kepala dan tubuh kuncen
penjaga makam. Sosok sang Tumenggung lenyap. Balang
Kerso cepat berkelebat karena dia tahu di balik asap itu
akan datang serangan ganas. Betul saja, saat itu juga sang
kuncen melihat dua tangan menderu sebat. Dia palangkan
satu lengan di depan kepala sementara kaki kanan men–
cuat deras ke depan, kirimkan satu tendangan.
Balang Kerso terkesiap ketika dua tangan yang menye–
rangnya tiba-tiba lenyap dan tendangannya hanya menge–
nai udara kosong. Belum habis rasa terkesiapnya tiba-tiba,
bukkk!, kraaakk!
Orang tua berambut putih penjaga makam menjerit.
Tubuhnya terpental lima langkah, terbanting jatuh di atas
sebuah kuburan. Dua tangan terkulai ke samping tak ber–
daya. Muka seputih kain kafan, darah mengucur dari sela
bibir, nafas megap-megap karena dada yang sesak serta
tulang iga yang patah!
“Pukulan Di Balik Asap Roh Mencari Pahala...” ucap
kuncen Balang Kerso, mengenali jurus pukulan yang tadi
dilancarkan Tumenggung Wira Bumi. “Dia sudah menda–
patkan ilmu itu. Untung Nyai masih melindungiku. Kalau
tidak aku...” Belum sempat Balang Kerso selesaikan
ucapannya tiba-tiba Tumenggung Wira Bumi sudah berada
di depannya.
“Saatnya kau berubah jadi roh benaran!” ucap Wira
Bumi geram. Lalu tinju kanannya menderu ke arah batok
kepala sang kuncen.
“Pukulan Tangan Roh Memberi Rahmat...” Balang
Kerso hanya bisa keluarkan ucapan. Dia tak mampu
menangkis ataupun mengelak selamatkan kepala. Sesaat
lagi kepala kuncen akan hancur dihantam pukulan Wira
Bumi, tiba-tiba tanah kuburan bergerak-gerak, lalu desss...
desss... desss! Terdengar suara mendesis keras tiga kali
berturut-turut. Saat itu juga tanah kuburan terbelah
menganga. Didahului dengan kepulan asap merah satu
bayangan merah melesat keluar dari dalam liang kubur.
Satu suara menggema angker menggidikkan.
“Wira Bumi, jangan bunuh dia! Dia telah menerima
pelajarannya!”
Di tempatnya tegak berdiri, Djaka Tua tertegun ngeri
dan terduduk di tanah.
Mengenali suara orang, Tumenggung Wira Bumi cepat
jatuhkan diri lalu berputar ke arah kuburan. Di situ berdiri
satu sosok nenek keriput yang keadaannya serba merah.
Mulai dari muka yang angker keriput sampai rambut yang
panjang riap-riapan serta pakaian berupa kain yang dise–
lempangkan di tubuh merah, tinggi tapi agak bungkuk.
“Nyai Tumbal Jiwo, maafkan diriku kalau telah berbuat
kesalahan.” Wira Bumi keluarkan ucapan lalu bersujud dan
tak berani bangkit.
Si nenek Nyai Tumbal Jiwo berpaling ke arah kuncen
Balang Kerso yang saat itu masih tergeletak tak berdaya
megap-megap di atas sebuah kuburan. Makhluk yang
keluar dari liang lahat ini angkat tangan kirinya. Selarik
sinar merah mencuat keluar dari telapak tangan dan
menyapu ke seluruh permukaan kepala serta tubuh
kuncen.
“Balang Kerso! Cideramu sudah sembuh! Bangun dan
pergilah!” si nenek berucap. Ketika mulutnya terbuka
kelihatan lidah dan deretan gigi berbentuk caling berwarna
merah.
Luar biasa! Saat itu juga tubuh Balang Kerso bergerak.
Dia bisa bangkit berdiri seolah tidak ada bagian tubuhnya
yang cidera. Sebelum tinggalkan tempat itu, kuncen susun
sepuluh jari di depan kening, membungkuk sambil
berucap. “Terima kasih Nyai... Terima kasih kau telah
menyembuhkan diriku.” Sang kuncen lalu bergerak pergi
namun dia tidak sungguhan tinggalkan tempat itu melain–
kan bersembunyi di balik sebatang pohon besar dalam
kegelapan malam.
Setelah Balang Kerso berlalu Nyai Tumbal Jiwo alihkan
perhatian pada Wira Bumi yang sampai saat itu masih
bersujud di tanah.
“Bangun Wira Bumi! Katakan apa urusanmu sampai
kau berani muncul sebelum hari perjanjian. Apa kau tidak
sadar asap hitam masih mengepul dari batok kepalamu,
masih keluar dari dua liang telinga, mulut dan lobang
hidungmu? Tanda kau belum menyerap seluruh ilmu
kesaktian yang kau semedikan di Goa Girijati karena kau
belum merampungkan jumlah hari pertapaanmu!”
“Maaf Nyai, saya mengerti sekali. Namun di luar
pengetahuanku satu perkara besar telah terjadi.”
“Hemmm, begitu? Siapa lelaki berpunuk yang menjele–
pok di tanah itu?” Sang Nyai goyangkan kepala ke arah
Djaka Tua.
“Dia pembantuku Nyai. Dia yang memberi tahu tentang
terjadinya perkara besar itu.”
“Perkara besar! Katakan padaku apa gerangan adanya
perkara besar itu!”
“Mohon maaf dan ampunmu Nyai. Istriku yang ketiga
Nyi Retno Mantili telah melahirkan seorang bayi perem–
puan beberapa hari lalu...”
“Apa?!” Nyai Tumbal Jiwo berteriak keras. Sepasang
matanya bersitkan dua larik cahaya merah seperti sem–
buran lidah api. “Kutuk sesuai sumpah akan jatuh atas
dirimu Wira Bumi! Kau berlaku fatal! Kau harus membayar
mahal untuk kelalaian itu...”
“Aku mengerti Nyai, aku mohon maaf dan ampunmu.”
“Untuk kutuk dan sumpah tidak ada maaf dan peng–
ampunan. Kalau istrimu melahirkan beberapa hari lalu,
ketika kau meninggalkannya enam bulan lalu apakah kau
tidak tahu kalau dia tengah hamil?”
“Aku benar-benar tidak tahu, Nyai. Kau tahu Nyai, Retno
Mantili tubuhnya kecil halus. Aku tidak bisa melihat peru–
bahan pada tubuhnya. Dia tidak menceritakan padaku
kalau sedang mengandung. Dia perempuan desa yang
bodoh. Usianya belum mencapai enambelas ketika aku
menikahinya...”
“Tutup mulutmu Wira Bumi! Dulu kau datang padaku
untuk meminta berkah keselamatan, ilmu kesaktian, harta
serta kedudukan. Semua permintaanmu aku kabulkan asal
kau mau mengangkat sumpah! Sekarang ucapkan kembali
sumpahmu itu! Agar liang lahat, langit dan bumi
mendengar! Hujan, turunlah lebih besar!”
Mendadak hujan yang tadi rintik-rintik berubah menjadi
lebat. Wira Bumi menggigil. Entah karena kedinginan entah
karena ketakutan.
Tiba-tiba makhluk serba merah itu hentakkan kakinya
ke tanah kuburan. Puluhan bunga melati yang menebar di
atas makam melesat ke arah Wira Bumi. Tumenggung
menjerit kesakitan ketika bunga-bunga melati itu menan–
cap dan melukai tubuhnya. Empatbelas di kepala, selebih–
nya menancap di sekujur dada, perut dan paha.
Darah memercik di wajahnya yang kotor serta mem–
basahi pakaian hitam.
“Masih untung aku hanya menancapkan kembang
melati itu di permukaan kulitmu! Seharusnya aku masuk–
kan tembus ke dalam benak, dada dan isi perutmu...”
“Maafkan aku Nyai!.”
“Wira Bumi! Sekarang lekas kau ulangi sumpah yang
pernah kau ucapkan dulu di tempat ini!”
Tenggorokan Tumenggung Wira Bumi bergerak naik
turun. Dia menatap ke arah Nyai Tumbal Jiwo seolah minta
dikasihani. Namun si nenek balas menatap dengan delik–
kan mata, membuat Wira Bumi jadi ciut nyalinya dan
segera membuka mulut.
“Aku anak manusia bernama Wira Bumi. Disaksikan roh
penghuni kuburan Kebonagung, aku bersumpah. Bilamana
salah seorang istriku atau salah seorang saudara kan–
dungku melahirkan seorang bayi, maka musnahlah semua
usahaku untuk mendapatkan keselamatan, ilmu kesaktian,
harta serta kedudukan. Kecuali jika aku menebus dengan
kedua mataku atau aku membunuh bayi itu dengan
tanganku sendiri atau melalui seorang suruhan...”
Habis mengucapkan sumpah itu kembali sekujur Wira
Bumi menggigil. Dia merasa sangat lemas hingga jatuh
berlutut.
“Berdiri!” hardik Nyai Tumbal Jiwo.
Wira Bumi kerahkan tenaga, perlahan-lahan bangkit
berdiri.
“Bagus! Otakmu masih belum kering untuk mengingat
semua sumpah itu!” Nyai Tumbal Jiwo keluarkan ucapan
lalu tertawa panjang. “Sekarang aku tanya padamu anak
manusia! Tebusan mana yang akan kau berikan? Dua
matamu atau nyawa anakmu?”
“Aku...”
“Kau tak bisa menjawab. Kau bimbang! Aku benci pada
manusia munafik sepertimu. Minggat dari hadapanku! Kau
akan kehilangan semua yang kau minta!” Nyai Tumbal Jiwo
tampak marah dan pelototkan mata merahnya ke arah
sang Tumenggung.
“Nyai..., aku... aku tidak mungkin menebus kesalahan
dengan menyerahkan kedua mataku...”
“Jadi?!” bentak si nenek. “Bagaimana caramu meme–
nuhi sumpah?”
Hujan tambah lebat. Sesekali kilat menyambar hingga
kawasan pekuburan untuk sekejapan mata terang ben–
derang. Di kejauhan terdengar suara raungan anjing.
“Aku, aku memilih membunuh bayi itu, Nyai...”
“Kau akan melakukan dengan tanganmu sendiri atau
menyuruh orang lain?!” tanya Nyai Tumbal Jiwo ingin
kepastian.
“Aku akan menyuruh orang lain...”
“Orang lain. Hmmm... siapa orangnya?!”
Tumenggung Wira Bumi terdiam. Perlahan-lahan dia
putar kepala. Memandang berkeliling mata membentur
Djaka Tua. Pembantu yang sejak tadi berada di tempat itu
dan mendengar semua pembicaraan jadi tersirap pucat
ketika melihat majikannya memandang ke arahnya.
“Dia, dia orangnya yang akan membunuh bayi itu!” kata
Wira Bumi sambil tudingkan telunjuk tangan kiri tepat-tepat
ke arah Djaka Tua.
Djaka Tua terduduk pucat di tanah. Kagetnya seperti
disambar petir.
“Demi Tuhan, demi Gusti Allah, jangan saya Tumeng–
gung. Jangan saya...” kata Djaka Tua sambil jatuhkan diri
menyembah berulang kali.
Nyai Tumbal Jiwo tertawa mengekeh.
“Wira Bumi, kau terpaksa mencari orang lain untuk
membunuh bayi itu. Pembantu tak berguna ini lebih baik
kau habisi saat ini juga.”
“Nyai, apa perintahmu akan aku laksanakan. Djaka
Tua, kau tak mengenal budi. Kau layak menerima kema–
tian!”
Wira Bumi melangkah cepat mendekati pembantunya
yang masih menyembah-nyembah ketakutan. Bagaimana–
pun tentu saja Djaka Tua sangat takut menghadapi kema–
tian. Apalagi dibunuh begitu rupa. Ketika Tumenggung Wira
Bumi angkat tangan kanan siap untuk menggebuk batok
kepalanya, pembantu ini berteriak.
“Ampun Tumenggung, jangan bunuh diriku. Saya akan
laksanakan perintahmu. Saya akan bunuh bayi itu...” Habis
berucap begitu Djaka Tua menangis keras.
Sreettt!
Nyai Tumbal Jiwo keluarkan sebuah benda dari balik
pakaiannya yang berupa selempang kain merah. Benda itu
dilemparkan ke hadapan Djaka Tua, menancap di tanah.
Ketika Wira Bumi memperhatikan kagetnya bukan alang
kepalang. Benda yang menancap di tanah adalah sebilah
golok besar bersarung. Golok itu adalah miliknya sendiri
yang digantung dan dipajang di dinding kamar tidurnya.
Sungguh aneh. Mengapa tahu-tahu senjata itu bisa berada
di tangan Nyai Tumbal Jiwo?
Si nenek tertawa panjang.
“Wira Bumi, bagiku tidak ada yang sulit. Kalau meng–
ambil sesuatu yang berada di tempat jauh bisa aku
lakukan, mengambil jiwa seseorang sama mudahnya
bagiku! Hik... hik... hik!”
Si nenek tiba-tiba hentikan tawa. Dia memandang
melotot pada Djaka Tua.
“Dengan golok itu kau harus memancung leher bayi
yang dilahirkan Retno Mantili! Selesai kau lakukan letak–
kan kembali golok di tempat semula, di dinding dalam
kamar Tumenggung Wira Bumi. Kelak aku akan datang
untuk memeriksa apakah kau telah melakukan tugasmu
atau tidak. Kau mengerti manusia berpunuk?!”
“Sa... saya mengerti...” Djaka Tua ketakutan setengah
mati.
“Lain dari itu!” kata Nyai Tumbal Jiwo pula. “Sebagai
bukti kau harus membawa kutungan kepala bayi itu ke
tempat ini, letakkan di atas makam! Kau dengar manusia
berpunuk?!”
“Saya dengar...,” jawab Djaka Tua dengan suara meng–
gigil.
“Sekarang ambil golok itu. Tinggalkan tempat ini! Kau
harus melakukan tugasmu dalam tiga hari. Paling lambat
hari kelima kepala bayi itu sudah ada di sini! Bungkus
dengan kain hitam!”
Dengan tangan gemetar Djaka Tua cabut golok dari
tanah. Ketika dia memutar diri untuk berlalu si nenek
membentak.
“Tunggu!”
Djaka Tua menahan langkah dan berpaling.
“Apakah bayi perempuan yang dilahirkan itu sudah
diberi nama oleh ibunya?”
Djaka Tua gelengkan kepala lalu cepat-cepat tinggalkan
tempat itu. Saking takutnya dia lari begitu saja, padahal
kudanya yang tadi ditunggangi Tumenggung Wira Bumi ada
di dekat sana.
Hanya sesaat setelah Djaka Tua tinggalkan pekuburan
Nyai Tumbal Jiwo berkata.
“Wira Bumi, kalau pembantumu sudah melaksanakan
tugasnya, untuk menjaga rahasia kau harus menghabisi
manusia berpunuk itu. Kau mengerti?”
Wira Bumi mengangguk.
“Menurutku kau juga harus menghabisi Retno Mantili!”
Kembali sang Tumenggung anggukkan kepala.
Nyai Tumbal Jiwo tertawa lalu berteriak.
“Hujan! Aku tidak memerlukanmu lagi!”
Luar biasa! Keanehan kembali terjadi. Hujan yang turun
lebat perlahan-lahan mereda dan akhirnya berhenti sama
sekali.
“Wira Bumi, kembalilah ke Goa Girijati. Teruskan tapa–
mu yang masih bersisa satu purnama. Kalau asap hitam
tidak lagi mengepul dari ubun-ubun, liang telinga, hidung
dan mulutmu itu pertanda kau boleh menyelesaikan tapa–
mu karena ilmu kesaktian yang kau inginkan telah menyatu
dalam dirimu. Kau bakal mendapatkan apa yang kau
minta. Keselamatan, kesaktian, harta dan jabatan. Mung–
kin juga seorang istri ditambah beberapa gundik. Hik...
hik... hik!”
“Terima kasih Nyai. Aku pergi sekarang...”
“Tidak, aku yang akan pergi lebih dulu.” jawab si nenek
lalu tertawa panjang.
Dess... dess... dess!
Terdengar suara mendesis tiga kali. Sosok merah Nyai
Tumbal Jiwo berubah jadi asap lalu melesat masuk ke
dalam liang lahat. Begitu ujudnya lenyap, tanah kubur yang
tadi bertebaran berantakan kini kembali bertaut memben–
tuk gundukan merah! Jauh di dalam perut bumi suara tawa
si nenek masih terdengar gaungnya. Asap putih yang tadi
menyelimuti pohon kemboja perlahan-lahan sirna. Udara
terasa mencucuk dingin.
Tumenggung Wira Bumi usapkan tengkuknya yang
basah oleh air hujan. Melangkah cepat ke arah kuda milik
Djaka Tua dan menggebrak binatang itu tinggalkan peku–
buran Kebonagung.
TIGA
D Tua sampai di gedung tempat kediaman Nyi
Retno Mantili, istri Tumenggung Wira Bumi, keeso–
kan harinya tak lama setelah matahari tenggelam.
Begitu sampai dan bertemu dengan Nyi Retno dia langsung
jatuhkan diri, menangis keras.
Nyi Retno dan beberapa pelayan tentu saja terheran-
heran.
“Aki...” begitu Nyi Retno memanggil Djaka Tua, “Apa
yang terjadi dengan dirimu? Aku menyuruhmu menemui
Tumenggung di Goa Girijati. Apakah sudah kau lakukan?
Apa kabar yang kaubawa dari suamiku?”
“Sudah Nyi Retno, sudah...” jawab Djaka Tua. Pemban–
tu ini lalu meratap keras. “Saya tak bisa melakukannya.
Tidak mungkin... Maafkan saya Nyi Retno. Maafkan saya...
Ampun Nyi Retno, ampun Tuhan!” Pembantu itu lalu
menangis menggerung-gerung.
“Aki, kau ini kenapa?” tanya Nyi Retno semakin heran
sementara bayi yang digendongnya tiba-tiba menjerit keras
dan menangis. Nyi Retno terpaksa membawa masuk bayi–
nya ke dalam kamar. Sebelum masuk ke kamar, perem–
puan bertubuh halus ini berkata kepada salah seorang
pelayan perempuan. “Aku akan menyusui bayiku di kamar.
Tanyakan pada Aki apa yang terjadi dengan dirinya. Kulihat
sekujur tubuhnya bergetar. Jangan-jangan dia kemasukan
makhluk halus dari kawasan pantai selatan. Kalau betul
cari orang pandai mengobatinya. Selain itu, aku melihat dia
seperti menyembunyikan sesuatu di balik kain sarungnya.”
Ketika masuk ke dalam kamar tidur, entah mengapa
Nyi Retno Mantili memandang ke salah satu dinding.
Perempuan itu berpikir-pikir lalu unjukkan wajah terkejut.
Dia ingat betul. Di dinding tergantung sebilah golok besar
milik Tumenggung. Kini dinding berada dalam keadaan
polos. Golok besar lenyap!
“Golok itu... Bagaimana bisa lenyap kalau tidak ada
yang mencuri. Siapa pelakunya?” Nyi Retno bertanya-tanya
pada diri sendiri.
Karena harus menyusui bayinya dan menunggu sampai
bayi perempuan itu tertidur lelap, cukup lama berada
dalam kamar baru Nyi Retno keluar. Ketika dia keluar, di
bagian gedung sebelah belakang tengah terjadi kehebo–
han. Pelayan yang datang ke kamar Djaka Tua untuk
mengantar minuman jahe panas menemui kamar dalam
keadaan kosong.
“Kabur! Pasti dia sudah kabur. Pasti dia yang mencuri
golok besar milik Tumenggung yang dipajang di dinding
kamar.” Nyi Retno memberi tahu para pelayan. “Ingat
ketika tadi aku mengatakan dia seperti menyembunyikan
sesuatu di balik kain sarungnya?”
“Aneh, Djaka Tua barusan saja datang. Bagaimana
sempat-sempatnya dia masuk ke kamar mencuri golok?
Padahal Nyi Retno hampir selalu berada di kamar,” kata
seorang pelayan.
Seorang pelayan lain menyatakan rasa tidak percaya–
nya. “Sulit dipercaya Djaka Tua begitu berani dan lancang
mencuri barang milik Tumenggung. Dia sudah puluhan
tahun bekerja di sini. Malah sejak ayahanda Kanjeng
Tumenggung masih hidup.”
“Kalau kalian tidak percaya, ikut aku. Beberapa di
antara kalian pernah masuk kamar tidurku. Tahu di mana
golok itu digantung. Lihat sendiri nanti!”
Nyi Retno Mantili mendahului berjalan menuju kamar
tidurnya. Begitu pintu dibuka menjeritlah istri ketiga
Tumenggung Wira Bumi ini. Bayi perempuan yang diting–
galkannya di atas ranjang dalam keadaan tidur pulas kini
sudah tak ada lagi di situ!
“Bayiku!” jerit Nyi Retno. “Anakku diculik orang!”
“Lihat!” Seorang pelayan lelaki berseru menunjuk ke
dinding kiri. Di situ ada sebuah jendela dalam keadaan
terpentang lebar. Nyi Retno langsung melosoh jatuh, ter–
guling pingsan di lantai. Para pelayan berpekikan.
Malam itu juga kejadian di gedung kediaman Tumeng–
gung Wira Bumi segera tersiar ke berbagai penjuru ping–
giran Kotaraja. Keesokan harinya berita itu telah sampai di
Gedung Kepatihan. Patih Kerajaan segera membentuk
kelompok pasukan untuk menyelidik dan melakukan
pencarian di dalam Kotaraja, bahkan sampai jauh keluar
Kotaraja. Namun jejak si penculik bayi tidak ditemukan.
Djaka Tua yang dicurigai sebagai penculik raib seperti
ditelan bumi!
Ketika sang patih berusaha menemui Nyi Retno,
perempuan ini berada dalam keadaan terbaring di tempat
tidur. Wajahnya pucat. Mata nyalang, hanya sesekali
berkedip. Diajak bicara mulutnya tetap terkancing. Tak ada
suara yang keluar.
Hari demi hari keadaan Nyi Retno semakin menyedih–
kan. Dia tidak pernah meninggalkan kamar, tidak pernah
turun dari atas ranjang. Rambut, wajah dan tubuhnya kotor
karena tidak pernah mandi. Sesekali dia menjerit, kadang-
kadang meratap panjang dan menangis tersedu-sedu.
Selama itu tidak ada satupun makanan mengisi perutnya.
Untuk minum saja dengan susah payah pelayan hanya bisa
membasahi bibirnya dengan air. Para pelayan di gedung itu
semakin khawatir ketika hari ketujuh Nyi Retno Mantili
menunjukkan gejala aneh yaitu suka menyanyi. Kata atau
syair apa yang diucapkan dalam nyanyian tidak jelas.
Seseorang mengatakan sudah saatnya kedua orang tua Nyi
Retno yang diam di Wonosari diberi tahu keadaan puteri–
nya. Dua orang anggota pasukan Kepatihan yang diper–
bantukan di gedung kediaman Tumenggung dengan suka
rela melakukan tugas itu. Namun sebelum mereka kembali
telah terjadi lagi satu hal yang mengggegerkan.
Suatu tengah malam, ketika dua orang pelayan yang
menunggui Nyi Retno tertidur karena keletihan, seperti
mayat hidup Nyi Retno Mantili turun dari ranjang. Dalam
keadaan mata terpejam dia melangkah tanpa suara,
membuka pintu kamar.
Keesokan paginya seisi gedung geger. Nyi Retno Mantili
lenyap! Usaha untuk mencari sia-sia belaka. Usaha untuk
menghubungi Tumenggung Wira Bumi tidak dapat dilaku–
kan karena hanya Djaka Tua yang tahu ke mana perginya
sang Tumenggung. Padahal pembantu itu sendiri telah
terlebih dulu raib tak tentu rimbanya.
***
Kembali pada malam hari lenyapnya bayi perempuan
Nyi Retno Mantili dari gedung kediaman Tumenggung Wira
Bumi.
Djaka Tua berlari sambil mendukung bayi yang dibun–
talnya dalam kain sarung. Pembantu ini tak tahu mau
menuju ke mana. Dia berlari sepembawa kakinya saja.
Dalam dirinya hanya ada satu keinginan yaitu menye–
lamatkan sang bayi. Demi Tuhan, apapun yang terjadi dia
tidak akan membunuh bayi tak berdosa itu.
“Tobat Gusti Allah. Mengapa Tumenggung sampai
menuntut ilmu sesat itu. Ke mana aku harus membawa
dan menyelamatkan bayi ini? Aku punya saudara tua di
Donorojo. Aku harus membawa bayi ini ke sana. Tapi
bagaimana kalau makhluk roh bernama Nyai Tumbal Jiwo
itu mengetahui. Ya Tuhan, mohon petunjukMu bagaimana
aku bisa menyelamatkan bayi ini.” Pembantu ini jadi
bingung dan bertambah bingung ketika udara malam
berubah buruk. Angin bertiup kencang dan hujan mulai
turun. Mula-mula kecil saja namun makin lama bertambah
lebat. Bayi dalam gendongan mulai menangis. Dalam
bingungnya Djaka Tua berteduh di bawah sebatang pohon.
Namun kerimbunan daun pohon tidak dapat menahan
curahan air hujan yang begitu lebat.
“Aku harus mencari tempat berlindung. Kalau sampai
kebasahan bayi ini bisa sakit. Tuhan tolong kami...” Kilat
menyambar. Untuk sesaat keadaan di tempat itu jadi
terang benderang. Walau sekilas, mata Djaka Tua masih
sempat melihat satu gundukan tanah berbatu-batu sejarak
duabelas langkah di hadapannya. Di samping kiri gundu–
kan tanah ada sebuah lobang besar membentuk goa. Tidak
pikir panjang lagi Djaka Tua segera lari masuk ke dalam
goa. Selain tinggi ternyata goa itu cukup lapang dan dalam.
Djaka Tua duduk bersandar rapat-rapat ke dinding goa
sebelah dalam agar tidak terkena tampiasan air hujan.
Walau kini terlepas dari kebasahan air hujan, namun Djaka
Tua masih tetap bingung karena bayi yang ada dalam
buntalan kain sarung masih terus menangis.
“Mungkin dia haus. Ya Tuhan, akan aku beri minum apa
bayi ini?” keluh Djaka Tua sambil menepuk-nepuk bahu si
bayi. Tiba-tiba bayi dalam dukungannya memekik keras.
“Cah Ayu, berhentilah menangis. Aku tak tahu harus
berbuat bagaimana. Jangan menangis nak. Cep... ceeppp.”
Saat itu entah dari mana datangnya, kabut tipis muncul
menutupi setengah ketinggian mulut goa. Memperhatikan
keanehan ini mendadak tenggorokan lelaki berpunuk ini
seolah tercekik. Mata mendelik dan tubuhnya semakin
dirapatkan ke dinding. Walau dalam goa gelap namun
Djaka Tua masih bisa melihat cukup jelas bagaimana saat
itu muncul satu sosok orang tua berpakaian selempang
kain putih. Demikian tingginya orang ini kepalanya tertutup
rambut putih hampir menyondak bagian atas goa. Di
tangan kiri dia memegang sebatang tongkat kayu putih.
Sepasang matanya walau memandang lembut pada Djaka
Tua tapi lelaki ini tetap merasa ketakutan, membuat
sekujur tubuhnya jadi menggigil. Semula dia menyangka
yang muncul ini nenek angker Nyai Tumbal Jiwo, roh
penghuni makam Kebonagung.
“Siapa...?” Tanya Djaka Tua beranikan diri dengan
suara bergetar sambil matanya berusaha memperhatikan
ke arah belakang orang tua berselempang kain putih. Dia
mendengar suara hembusan nafas berat di belakang sana
namun dia tidak melihat apa atau siapa yang ada di
belakang kakek itu karena pandangannya tetutup kabut.
Sesekali ada kilapan dua titik besar berwarna hijau. Djaka
Tua tambah merinding.
“Sahabat dalam goa...” Orang di mulut goa menyapa.
Suaranya halus dan panggilan sahabat membuat Djaka
Tua jadi tenteram sedikit. Namun ucapan berikutnya
membuat pembantu di gedung Tumenggung Wira Bumi ini
menjadi tersirap darahnya. “Serahkan bayi itu padaku.”
“Tidak! Apapun yang terjadi bayi ini tidak akan kuserah–
kan padamu! Tidak pada siapapun!” Jawab Djaka Tua
setengah berteriak.
Orang tua di depan goa tersenyum.
“Kalau kau terus mempertahankan bayi itu, dalam
waktu satu hari satu malam dia akan menemui ajal karena
kelaparan dan kehausan. Bukankah kau menginginkan dia
tetap hidup?”
“Tentu, tentu aku menginginkannya tetap hidup. Itu
sebabnya aku melarikan bayi ini. Tapi untuk menyerahkan–
nya padamu, tidak!”
“Maksudmu baik sekali. Tapi mau kau apakan bayi itu?
Kau tak mampu merawatnya.”
“Lalu, apa kau mampu? Aku tidak mau menyerahkan–
nya padamu. Aku tidak kenal dirimu. Jangan-jangan kau
kawannya Nyai Tumbal Jiwo!”
Kakek berambut putih tertawa.
“Sahabat, dengar baik-baik. Maksud kita berdua sama-
sama luhur. Ingin bayi itu selamat dari kematian akibat
ilmu sesat yang sedang dituntut ayahnya...”
“Eh, bagaimana kau tahu?” Djaka Tua heran.
“Sudahlah, Allah akan memberi berkah dan rahmat
atas perbuatan baik yang kau lakukan. Aku akan mem–
bawa bayi itu, akan merawatnya baik-baik...”
“Akan kaubawa ke mana bayi ini?”
“Ke satu tempat yang baik dan aman. Dia berjodoh
denganku. Tidakkah kau perhatikan bahwa saat ini dia
tidak menangis lagi?”
Djaka Tua perhatikan bayi dalam bedungan kain
sarung. Anak perempuan itu memang tidak menangis lagi
bahkan tampak tertidur pulas.
“Bagaimana...?”
Djaka Tua menatap orang tua di hadapannya beberapa
lama. Dia kini seperti menyadari orang ini bukan manusia
sembarangan. Perlahan-lahan dia berdiri.
“Kalau kau sia-siakan anak ini, biarlah Tuhan akan
mengutukmu sampai hari kiamat!”
Si orang tua tersenyum lalu menyahuti.
“Tuhan tidak pernah mengutuk hambaNya yang berbuat
baik. Yang jahat saja masih diberi petunjuk dan dikasiha–
ni.” Ketika orang tua berselempang kain putih mengulur–
kan tangan, walau masih ada keraguan namun Djaka Tua
ulurkan pula tangannya menyerahkan si bayi.
“Apakah anak ini sudah bernama?”
Djaka Tua gelengkan kepala.
“Kalau begitu biar kita berdua memberikan nama
padanya. Ken Permata. Kau setuju, sahabat?”
“Aku menurut saja. Kurasa nama itu bagus sekali,” kata
Djaka Tua pula.
Orang tua berpakaian selempang kain putih tersenyum
lalu berkata.
“Sahabat, aku melihat sebilah golok bersarung di balik
pakaianmu. Senjata itu tak ada gunanya bagimu. Serahkan
padaku...” Djaka Tua terperangah sambil meraba pinggang
pakaiannya. “Orang tua ini luar biasa aneh. Apa matanya
bisa menembus melihat golok yang tersembunyi di balik
bajuku?” Dia coba memperhatikan sepasang mata orang di
hadapannya namun karena gelap dia tidak dapat melihat
jelas.
“Golok ini milik Tumenggung Wira Bumi. Aku tidak
mungkin menyerahkannya padamu...”
“Aku tahu. Dengan senjata itu pula dia diperintahkan
untuk menggorok batang leher bayi tak berdosa itu. Betul?”
Djaka Tua terdiam.
“Sahabat, senjata itu sudah menjadi senjata terkutuk.
Karena merupakan bagian dari perjanjian sesat di hadapan
roh. Senjata itu tidak boleh berkeliaran bebas di luaran.”
“Orang tua, kau rupanya tahu banyak kejadian di
pemakaman Kebonagung. Siapa kau sebenarnya?”
Bertanya Djaka Tua.
“Sudahlah, aku hanya minta kau menyerahkan golok itu
padaku. Selama senjata itu ada di tanganmu kau tak bakal
merasa tenteram. Selain itu aku khawatir ada yang akan
berusaha merampasnya dari tanganmu.” Djaka Tua
kembali terdiam. Akhirnya dia mengalah. Tangannya
menyelinap ke balik pakaian mengeluarkan golok besar
bersarung lalu menyerahkannya pada si orang tua.
“Sebelum aku pergi, harap kamu mau menghadap ke
dinding.” Sebenarnya Djaka Tua hendak menanyakan apa
maksud kakek itu menyuruhnya menghadap ke dinding.
Namun entah mengapa dia ikut saja permintaan orang.
Begitu Djaka Tua menghadap dinding goa sebelah dalam,
si orang tua angkat tangan kirinya yang memegang tongkat
kayu putih. Tongkat diusapkan ke punggung Djaka Tua
yang ada tonjolannya sambil berucap. “Semoga Tuhan
memberikan rahmat dan perlindungan padamu.” Satu
cahaya putih keluar dari tongkat yang diusapkan.
Untuk beberapa lamanya Djaka Tua masih tegak berdiri
menghadap ke dinding. Lama-lama karena orang tua di
belakangnya tidak mengeluarkan ucapan lagi, Djaka Tua
palingkan kepala dan berbalik.
Ternyata orang tua berselempang kain putih tadi tak
ada lagi di tempat itu. Sementara terheran-heran Djaka Tua
merasa tubuhnya menjadi enteng dan dia mampu berdiri
tegak. Tak sengaja tangannya mengusap ke punggung.
Astaga! Punuk yang selama limapuluh tahun menempel di
punggungnya kini lenyap entah ke mana. Tidak percaya
Djaka Tua mengusap berulang kali. Masih tidak percaya dia
buka bajunya lalu mengusap punggung. Bagian tubuhnya
itu kini memang rata, tak ada lagi tulang dan daging yang
menonjol. Akhirnya lelaki itu jatuh berlutut di lantai goa,
Mulutnya berulang kali mengucap. “Allah Maha Besar.
Terima kasih Tuhan... Terima kasih.” Djaka Tua lalu ber–
sujud syukur di lantai goa.
EMPAT
HARI pasar di Imogiri selalu ramai oleh orang yang
berbelanja. Seorang lelaki penjual mainan sejak tadi
memperhatikan seorang anak perempuan usia
belasan tahun yang tegak di depan deretan barang daga–
ngannya. Anak perempuan itu bertubuh kecil. Wajahnya
sebenarnya cantik dan pakaian yang dikenakan bukan
jenis pakaian orang kebanyakan. Namun sekujur tubuh
mulai dari rambut sampai ke ujung kaki yang tidak mema–
kai kasut kelihatan penuh daki sedang pakaian lusuh kotor
menebar bau tidak sedap.
“Anak,” pedagang mainan menyapa. “Dari tadi saya
lihat anak berdiri memperhatikan ke arah sini. Apakah
anak ingin membeli sesuatu? Kalau tidak harap jangan
berdiri di depan sini. Kalau anak berdiri di depan dagangan
saya, akan menghalangi orang lain yang akan membeli.”
Anak perempuan itu tidak menjawab. Melainkan
menatap sayu pada si pedagang mainan lalu tampak air
mata menetes membasahi kedua pipinya yang kotor.
Pedagang mainan dan istri yang ada di sebelahnya
karuan saja jadi tertegun heran. “Bu-ne, aku menegur baik-
baik. Kenapa dia menangis? Apa salah ucapanku atau
kasar suaraku?” bisik si pedagang pada istrinya.
“Kasihan anak perempuan ini. Usianya masih sangat
muda tapi keadaannya begini rupa. Aku kira otaknya
kurang waras,” jawab sang istri.
Perempuan muda yang menangis usap air matanya.
Tiba-tiba dia berkata, “Bapak, Ibu, aku suka boneka-
boneka itu...”
Di antara barang mainan yang dijual si pedagang
memang terdapat sederetan boneka kayu yang halus dan
bagus sekali buatannya. Semua boneka perempuan.
“Kalau anak suka, silahkan pilih yang mana.” Kata
pedagang mainan pula.
“Saya tidak punya uang,” jawab anak perempuan itu
dengan suara parau menahan tangis.
Setelah berbisik-bisik dengan istrinya lelaki pedagang
mainan berkata, “Nak, kau boleh ambil satu boneka. Tak
usah membayar.”
Anak perempuan itu menatap tercengang pada suami
istri pedagang mainan. “Sungguh?” tanyanya tak percaya.
Suami istri pedagang mainan itu mengangguk.
Anak perempuan itu tercenung lalu tawa lebar menye–
ruak di bibirnya. Sambil menyanyi-nyanyi kecil dia perha–
tikan enam buah boneka satu per satu.
“Yang mana ya wajahnya sama dengan anakku?”
Ucapan anak perempuan itu membuat sepasang suami
istri jadi saling pandang.
“Nah, aku ambil yang ini saja. Dia mirip anakku. Ram–
but hitam lebat, mata bagus, bibir mungil, pipi merah, alis
kereng. Bapak, Ibu, aku ambil yang ini, boleh?”
“Boleh, ambil saja,” jawab istri pedagang mainan.
“Terima kasih... terima kasih,” kata anak perempuan itu
berulang kali sambil membungkuk-bungkuk lalu berjing–
krak-jingkrak seperti anak kecil kegirangan. “Gusti Allah
akan membalas kebaikan Ibu dan Bapak berdua.”
“Anak, kalau boleh bertanya, apakah situ sudah punya
anak?”
“Ssstttt... Jangan keras-keras bertanyanya. Aku
memang sudah punya anak. Tapi anakku hilang dicolong
orang...”
“Ooo...”
Setelah membungkuk sekali lagi dan layangkan senyum
lebar, anak perempuan itu lalu membawa boneka perem–
puan yang dipilihnya. Dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi.
Boneka didekapkan ke dada. Sesekali diayun-ayun seperti
menggendong bayi benaran. Sepanjang jalan yang dilalui–
nya semua orang memperhatikan. Ada yang merasa heran,
lebih banyak yang merasa iba. Semuda itu sudah mende–
rita penyakit jiwa.
“Kasihan...” kata istri pedagang mainan itu pada
suaminya. “Kelihatannya dia seperti anak perempuan baik-
baik. Masih sangat muda. Mungkin lebih muda dari anak
perempuan kita. Heran, apa yang membuat dia jadi begitu.
Apa benar dia punya anak dicuri orang?” Tiba-tiba istri
pedagang mainan itu melihat sesuatu, “Pak-ne!”
“Ada apa?” sang suami bertanya kaget. “Ada barang
kita yang hilang?!”
Istri pedagang mainan melangkah ke depan jejeran
barang dagangan. Dia mengambil sesuatu di dekat deretan
boneka kayu. Sebuah benda berkilat diperlihatkannya pada
suaminya. Melihat benda yang dipegang istrinya karuan
saja sang suami jadi terkejut.
“Uang perak! Bagaimana bisa ada di situ? Uang siapa?”
Si pedagang mengambil uang perak dan memperhatikan
dengan mata tak berkesip.
“Mana aku ngerti. Wong tahu-tahu sudah ada di sini.
Pak, uang ini cukup untuk memborong seluruh dagangan
kita.”
“Betul, Bu. Coba periksa. Siapa tahu masih ada lagi.”
“Jangan rakus begitu Pak. Aku punya dugaan. Jangan-
jangan perempuan muda tadi yang meletakkan uang perak
ini.”
“Tapi tadi dia bilang tidak punya uang.”
“Dia itu orang aneh. Bisa saja bilang tidak punya uang.
Buktinya...”
“Jangan-jangan dia itu malaikat yang menyaru jadi
gembel tidak waras.” Kata sang suami lalu cepat-cepat
masukkan uang perak itu ke dalam koceknya, takut hilang
dan takut berubah jadi daun seperti kejadian aneh yang
pernah didengarnya.
***
Perempuan pedagang cita dan kain panjang itu ber–
tubuh gemuk gembrot. Muka bulat berminyak. Hidung
besar tapi pesek nyaris sama rata dengan pipi. Matanya
yang sudah belok memandang melotot pada anak perem–
puan bertubuh kecil yang tegak di depannya sambil meng–
ayun-ayun boneka kayu seperti mengayun seorang bayi.
Mulut digembungkan lalu dia membentak.
“Jembel bau! Kowe mau apa berdiri di situ! Lekas pergi
atau aku guyur dengan air selokan!”
Anak perempuan yang dipanggil jembel bau tersenyum
lalu berkata. “Aku ingin kain panjang itu. Untuk gendongan
bayiku ini.” Sambil berkata dia terus ayun-ayunkan boneka
kayunya seperti mengayun-ayun bayi benaran.
“Kalau mau beli perlihatkan dulu uangmu!” bentak
pedagang kain.
“Siapa bilang aku mau beli. Wong aku tidak punya
uang. Mau minta...!”
“Perempuan setan! Dasar sinting. Aku jualan, bukan
tukang pemberi derma! Menyingkir dari hadapanku!”
Pedagang kain jadi marah. Dia gulung sehelai kain sarung
butut lalu kepretkan ke muka orang.
Cepat-cepat anak perempuan bertubuh dan berpakaian
kotor rundukkan kepala. Boneka yang dipegangnya dide–
kapkan ke dada. Sambil melangkah mundur dia berkata.
“Biyungku gembrot kau galak sekali. Kalau tidak mau
bersedekah ya sudah... Anakku sayang,” anak perempuan
itu ciumi wajah boneka. “Orang tidak mau memberi kain
bedongan kita harus sabar. Kau jangan cengeng.” Lalu
anak perempuan itu melangkah pergi sambil menyanyi-
nyanyi kecil dan peluk bonekanya. “Anakku, jangan
menangis. Di dunia ini memang ada orang baik, ada orang
jahat. Ada orang pemurah ada orang pelit. Hiii...”
Tak selang berapa lama anak perempuan yang
dianggap gembel sinting itu lenyap dari keramaian,
pedagang cita bertubuh gemuk berteriak heboh.
“Kainku! Kain panjangku hilang satu! Tadi masih ada di
sini!” Perempuan gemuk ini lari sana lari sini lalu mengejar
ke arah lenyapnya jembel yang membawa boneka tadi.
Namun yang dikejar sudah lenyap entah ke mana.
***
Tengah hari panas begitu, berada di sungai kecil berair
dangkal dan jernih terasa nyaman sekali. Yang tidak
diduga, pada tikungan sungai berpohon rindang yang
selama ini selalu diselimuti kesunyian saat itu terdengar
suara nyanyian perempuan.
Tidurlah tidur wahai anakku
Jangan cengeng jangan menangis
Ayahmu sedang pergi jauh
Ibu ingin kau menjadi anak manis.
Tidurlah tidur wahai anakku
Tidur dalam pelukan ibu
Jangan bertanya tentang ayahmu
Karena tak seorangpun tahu
Orang yang menyanyi itu duduk berjuntai di atas sebuah
batu di pinggir sungai. Dua kaki dimasukkan ke dalam air
yang jernih dan sejuk. Di pangkuannya terlipat sehelai kain
panjang yang masih baru. Di atas kain panjang terbaring
sebuah boneka anak perempuan mungil.
Sambil bernyanyi orang itu usap-usap kepala boneka
sementara air mata mengucur jatuh ke pipi. Dialah perem–
puan muda yang dianggap masih anak-anak dan dihadiah–
kan boneka oleh penjual mainan di Pasar Imogiri. Dia pula
anak perempuan yang mengambil sehelai kain panjang
jualan perempuan gemuk di pasar yang sama. Dan dia
bukan lain adalah Nyi Retno Mantili, istri Tumenggung Wira
Bumi yang telah berubah ingatan akibat lenyapnya bayi
yang baru beberapa hari dilahirkannya.
Satu kali Nyi Retno Mantili hentikan nyanyian.
“Anakku jangan menangis. Ah kau pasti haus. Mari ibu
susukan dulu. Ceeppp... Ayo jangan nangis lagi.” Nyi Retno
buka dada pakaiannya. Boneka kecil lalu dirapatkan ke
dada kiri. Sepertinya dia benar-benar tengah menyusui
boneka yang dianggapnya sebagai bayi itu.
Tak lama kemudian kembali nyanyian perempuan
malang itu menggema di tikungan sungai. Sesekali terhenti
oleh suara isak tangis menyayat hati.
Entah telah berapa puluh kali nyanyian itu dilantunkan
diulang-ulang. Seperti tidak menyadari kalau hari telah
rembang petang. Cahaya sang surya yang panas garang
kini berubah lembut.
Tidurlah tidur wahai anakku
Jangan cengeng jangan menangis
Ayahmu sedang pergi jauh
Ibu ingin kau menjadi anak manis
Ketika Nyi Retno hendak melantunkan bait berikut
nyanyiannya, sekonyong-konyong ada suara lain mendahu–
lui. Irama nyanyiannya sama namun dua bait terakhir
berikut dua bait tambahan berbeda syairnya.
Tidurlah tidur wahai anakku
Tidur dalam pelukan ibu
Jika kau mau ikut bersamaku
Mudah-mudahan panjang umurmu
Selamat perjalanan hidupmu
Karena Yang Maha Pengasih melindungi dirimu
Nyi Retno Mantili keluarkan suara tercekat. Takut akan
dirampas orang, boneka kayu diangkat dan didekapkan ke
dada. Memandang ke depan Nyi Retno Mantili melihat
seorang tua yang wajahnya tertutup janggut putih menjulai
panjang, memelihara kumis serta janggut panjang yang
juga berwarna putih.
Mula-mula memang Nyi Retno tampak ketakutan.
Namun sesaat kemudian mulutnya menyeruakkan senyum
disusul suara tawa.
“Hik... hik... Malaikat dari mana begitu muncul pandai
pula bernyanyi.”
Orang tua yang dipanggil malaikat tersenyum sambil
usap janggutnya.
“Anak, kau begitu asyik menyanyi. Apakah tidak
menyadari kalau sebentar lagi sang surya akan tenggelam,
senja akan datang disusul munculnya malam?”
Suara orang tua itu perlahan saja sikap dan air
mukanya tenang.
“Kalau sang surya tenggelam memangnya kenapa?
Kalau senja datang memangnya kenapa? Tapi kalau
malam datang, nah itulah saatnya aku dan bayiku akan
mandi di sungai yang jernih sejuk ini. Karena itu aku harap
kau segera berlalu dari tempat ini. Tidak pantas seorang
lelaki berada di dekat tempat perempuan mandi.”
“Ada tempat mandi yang lebih baik dan lebih terlindung.
Kalau kau memang mau mandi, ikutlah bersamaku.”
“Iiihhh! Enak saja kau mau mengajakku mandi! Anakku,
ada seorang kakek cabul di tempat ini. Mari kita pergi
mencari tempat mandi yang lain di sebelah hilir.” Habis
berkata begitu Nyi Retno Mantili lilitkan kain panjang ke
tubuhnya sebelah atas lalu boneka diselipkan di belakang
punggung.
“Anak, kalau kau pergi ke hilir sungai, ada bahaya
menunggumu di sana...” Si orang tua memberitahu.
“Jangan menakuti diriku dan anakku!” Ujar Nyi Retno.
“Aku tidak menakuti. Justru memberi ingat...”
“Kalau begitu aku akan pergi ke arah hulu sungai.” kata
Nyi Retno pula.
“Di arah itu ada bahaya lebih besar menantimu.”
“Ihhh... Biar aku masuk hutan saja kalau begitu,” kata
Nyi Retno Mantili lalu melangkah cepat ke arah pepohonan
lebat di tepi sungai di sebelah depannya.
Si orang tua kembali tersenyum dan usap janggutnya
lalu melangkah ke hadapan Nyi Retno Mantili.
“Anak, kalau kau tak percaya ucapanku, tunggulah
barang beberapa lama di tempat ini. Kau akan mengetahui
bahwa aku tidak berdusta...”
“Kek, siapa percaya pada dirimu. Pergilah, aku ingin
menyanyi menidurkan bayiku.” Lalu Nyi Retno melangkah
mondar mandir di tepi sungai sambil melantunkan
nyanyian.
Tidurlah tidur wahai anakku
Jangan cengeng jangan menangis
Ayahmu sedang pergi jauh
Ibu ingin kau menjadi anak manis
Tidurlah tidur wahai anakku
Tidur dalam pelukan ibu
Jangan bertanya...
Belum selesai Nyi Retno menyanyikan lagunya tiba-tiba
dari arah rimba belantara yang lebat redup terdengar suara
berdesir. Daun-daun pepohonan bergesek mengeluarkan
suara aneh di telinga. Semak belukar bergoyang-goyang. Di
lain saat satu bayangan merah berkelebat. Di lain kejap
berdirilah satu sosok angker mengerikan di depan Nyi
Retno Mantili. Membuat perempuan muda yang telah
kehilangan otak warasnya ini berteriak keras, menunjuk-
nunjuk ke depan.
“Setan merah kesasar dari neraka! Kau mau merampas
bayiku! Kau mau menculik bayiku! Pergi... pergiiii!”
LIMA
SOSOK serba merah di depan Nyi Retno Mantili yang
bukan lain adalah Nyai Tumbal Jiwo tertawa cekiki–
kan. “Perempuan sinting! Ucapanmu benar sekali.
Aku datang dari neraka untuk membawamu pergi ke sana!”
“Iiihhh! Siapa sudi ikut bersamamu!” ucap Nyi Retno.
“Anakku, ayo kita lekas pergi dari tempat ini! Ada setan
hantu merah. Iihhh ngerinya!”
“Setan perempuan! Jangan berani beranjak dari
tempatmu!” bentak Nyai Tumbal Jiwo. Jari telunjuk tangan
kanannya dijentikkan ke arah Nyi Retno. Selarik angin
menderu sebat. Inilah totokan jarak jauh yang ganas
bernama Jari Pembungkam Roh.
Sebelum angin totokan sampai di tubuh Nyi Retno
Mantili, orang tua berambut putih panjang cepat berkele–
bat menghalangi. Dia angkat tangan kiri, kembangkan
telapak tangan. Tangan itu bergetar keras ketika totokan
jarak jauh menerpa. Seperti menangkap sesuatu orang tua
itu rapatkan jari-jari tangan. Lalu sambil dibuka dia meniup-
kan tangannya seraya berkata. “Ilmu jahat, kembali ke
majikanmu!”
Nyai Tumbal Jiwo berteriak kaget dan marah ketika ilmu
totokannya dikembalikan orang.
“Keparat setan alas! Beraninya kau mencampuri
urusanku!” Sekali nenek dari alam roh ini kibaskan tangan
kanannya, totokan yang membalik menyerang dirinya buyar
mengeluarkan suara dess! Membuat dirinya terjajar ke
belakang satu langkah. Hal ini terjadi karena sewaktu
mengembalikan angin totokan, kakek berambut putih
panjang menjulai menyertakan sedikit tenaga dalam.
“Tua bangka jahanam! Wajahmu boleh kau tutup
dengan rambut putihmu. Jangan mengira aku tidak
mengenal siapa dirimu!”
“Nyai Tumbal Jiwo,” kata kakek berambut putih dan
berpakaian selempang kain putih. Suaranya tenang dan
perlahan saja. “Kau sudah lama meninggalkan dunia fana.
Mengapa masih mau gentayangan seperti ini?”
Rambut merah si nenek yang awut-awutan langsung
berjingkrak. Mata merah mendelik seperti bara api.
Marahnya bukan main.
“Kiai Gede Tapa Pamungkas! Aku mau gentayangan ke
mana aku suka, apa urusanmu?”
Orang tua yang dipanggil Kiai Gede Tapa Pamungkas
tersenyum. “Aku hanya mengingatkan. Kalau terlalu lama
dalam dunia nyata aku khawatir kau tersesat dan tak bisa
kembali ke dalam alam rohmu.”
“Kakek setan! Aku tidak perlu nasihatmu! Kau sendiri
yang bermukim di dasar telaga jauh di puncak Gunung
Gede mengapa bisa berkeliaran sampai ke sini?!”
“Aku hadir di sini karena memang sengaja menunggu
kedatanganmu. Kau telah membuat sengsara perempuan
bernama Nyi Retno Mantili ini. Sekarang kau malah punya
niat lebih jahat hendak membunuhnya! Setelah mati dan
jadi roh gentayangan bukannya kau bertobat malah masih
tega-teganya menebar malapetaka.”
Nenek serba merah pencongkan mulut. Lalu dia men–
dongak sambil umbar tawa cekikikan. “Ah, jadi kau punya
maksud hendak menghalangiku! Nyalimu besar sekali!”
Nyai Tumbal Jiwo berdecak beberapa kali, golang-goleng
kepala lalu sambung ucapannya. “Aku tanya dulu. Apakah
saat ini kau membawa nyawa cadangan? Hik... hik... hik!
Apa kau lupa bahwa kekuatan roh dari alam gaib berada
jauh di atas kekuatan alam manusia penghuni dunia serba
fana ini?”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. “Di dunia ini
tidak ada yang lebih kuat. Kecuali kekuatan yang dimiliki
Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Siapa saja berani meng–
hadapiNya akan hancur lebur. Termasuk kau!”
Nyai Tumbal Jiwo luruskan tubuhnya yang bungkuk lalu
tertawa mengekeh. Sepasang mata menyala. Ketika
tertawa kelihatan lidah serta giginya yang berwarna merah.
Lalu sambil usap-usap dadanya yang kurus ceper, makhluk
dari liang kubur ini berkata.
“Aku pikir-pikir ada baiknya juga perbuatanmu meng–
hadangku di tempat ini. Kau sudah terlalu lama hidup di
dunia. Tubuhmu sudah bau tanah. Kalau kau mendesak
mencegah apa yang akan aku lakukan, dengan senang hati
aku akan menunjukkan jalan ke pintu neraka untukmu!”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tertawa perlahan. Kembali
dia mengusap janggut putihnya lalu membungkuk. “Terima
kasih kau mau berbaik hati. Aku memang belum tahu jalan
menuju pintu neraka. Ada baiknya kau menuntun agar aku
tidak tersesat. Ha... ha... ha...” Sambil tertawa Kiai Gede
Tapa Pamungkas melirik ke arah Nyi Retno Mantili yang
tengah mengayun-ayun boneka kayu sambil menyanyi-
nyanyi kecil. Orang tua ini kibaskan jenggot panjangnya.
“Nyi Retno, jangan ke mana-mana. Tetap di tempatmu!”
ucap sang Kiai. Saat itu juga dari ujung jenggotnya melesat
satu cahaya putih. Gerakan Nyi Retno mengayun-ayun
boneka mendadak sontak terhenti. Sekujur tubuhnya
terselubung kabut putih.
“Aduh anakku, mengapa ibumu jadi tidak bisa ber–
gerak?” seru Nyi Retno. “Hai, jangan kau menangis...”
Sekujur tubuh Nyi Retno yang masih terbungkus kabut
putih menjadi kaku tak bisa bergerak namun dia masih
bisa keluarkan suara.
Melihat apa yang dilakukan Kiai Gede Tapa Pamungkas
Nyai Tumbal Jiwo sunggingkan seringai mengejek.
“Kabut Dewa Pelindung Raga! Kau kira aku tak bisa
menembus ilmu picisan itu?! Lihat!”
Sambil membentak Nyai Tumbal Jiwo jentikkan lima jari
tangannya ke arah Nyi Retno.
“Mampus kau perempuan sinting!”
Wutt... wutt... wutt... wutt... wutt!
Lima larik sinar merah berkiblat. Melesat deras meng–
hantam tubuh Nyi Retno yang terbungkus kabut putih.
Tarr... tarr... tarr... tarr... tarr!
Lima letusan dahsyat menggelegar di tikungan sungai.
Percikan api bertebaran ke udara. Nyi Retno terpekik.
Walau pukulan sakti Lima Jari Akhirat membuat tubuh Nyi
Retno Mantili terpental dan masuk ke dalam sungai dang–
kal, tersandar ke sebuah batu, namun pukulan itu tidak
mampu menembus kabut putih yang membungkus hingga
perempuan muda malang itu tetap dalam keadaan sela–
mat. Bahkan tubuhnya serta tubuh boneka kayu tidak
sedikitpun basah terkena air!
Dua orang sakti itu sama-sama terkejut.
Nyai Tumbal Jiwo telah meyakini ilmu pukulan Lima Jari
Akhirat lebih dari duapuluh tahun. Selama ini tidak ada
seorang lawanpun bisa selamat dari serangannya. Kalau
pun mampu bertahan hidup sekujur tubuhnya akan cacat
melepuh seperti terpanggang dan tak akan sembuh
seumur hidup. Nenek makhluk dari alam roh ini sudah
lama mendengar nama besar Kiai Gede Tapa Pamungkas
dan juga tahu kalau kakek sakti dari puncak Gunung Gede
ini memiliki ilmu yang disebut Kabut Dewa Pelindung Raga.
Tidak dinyana hari itu dia bertemu dan menyaksikan
kehebatan ilmu membentengi diri yang tak sanggup
ditembus pukulan Lima Jari Akhirat. Diam-diam si nenek
jadi bergeming juga.
Di lain pihak Kiai Gede Tapa Pamungkas juga merasa
kaget. Walau serangan lima larik sinar merah si nenek
tidak sanggup menembus ilmu Kabut Dewa Pelindung
Raga, namun dengan membuat Nyi Retno Mantili terpental
sudah cukup bukti bahwa nenek jahat itu tidak bisa
dipandang enteng. Nenek jahat ini benar-benar ingin
menghabisi perempuan muda malang dan tak berdosa itu.
“Kalau makhluk satu ini dibiarkan terus berkeliaran,
bakal celaka rimba persilatan tanah Jawa,” begitu sang
Kiai membatin. Maka dia membuat satu kali lompatan dan
kini hanya terpisah sepejangkauan tangan dari hadapan si
nenek.
Walau nyalinya agak ciut namun Nyai Tumbal Jiwo
pandai menyembunyikan. Nenek ini membentak lantang.
“Perlu apa kau mendekati diriku! Aku melihat ada maksud
mesum dalam matamu! Kau tertarik padaku?!”
Wajah klimis di balik juntaian rambut, kumis dan
janggut lebat Kiai Gede Tapa Pamungkas tampak berubah
merah mendengar ucapan Nyai Tumbal Jiwo.
“Kiai! Lekas menyingkir dari hadapanku! Tinggalkan
tempat ini! Jangan kau berani menyentuh tubuh istri
Tumenggung itu. Apalagi berani membawanya! Hari ini aku
masih mau memberi pengampunan padamu! Tapi lain
waktu jika kau berani unjukkan muka di depanku, aku tak
segan-segan merampas jiwamu. Kau akan aku kirim ke
alam roh. Di situ kau akan menjadi budak hamba sahaya–
ku! Pergi!”
Nyai Tumbal Jiwo dorongkan dua tangan ke arah si
kakek.
Kiai Gede Tapa Pamungkas mendengar ada suara
bergemuruh seperti dua batu besar menggelinding deras
ke arahnya. Sambaran angin panas menderu membuat
tubuh sang Kiai tergontai-gontai.
“Pukulan Angin Roh Pengantar Kematian!” ucap Kiai
Gede Tapa Pamungkas mengenali serangan lawan. Dia
pernah mendengar kehebatan pukulan ini. Walau tidak
gentar menghadapi namun kakek sakti dari telaga di
puncak Gunung Gede ini cepat melesat ke atas sampai
satu tombak. Angin pukulan lawan menderu lewat,
menghantam tebing sungai di seberang sana hingga
terbongkar longsor!
Nyai Tumbal Jiwo terkesiap kaget, tidak menyangka
lawan bisa lolos dari serangan mautnya tadi. Dia lebih
terkejut lagi ketika merasakan dada kirinya berdenyut.
Ketika dia menunduk memperhatikan, makhluk dari liang
kubur ini langsung menjerit. Dia tidak merasakan sama
sekali tidak menyadari kapan lawan melancarkan serangan
balik. Namun saat itu dada kirinya tahu-tahu kelihatan
menggembung merah.
“Tua bangka cabul! Beraninya kau menyentuh aurat
terlarangku!” teriak si nenek. Padahal yang diserang dan
disentuh Kiai Gede Tapa Pamungkas adalah bagian bahu
kiri di bawah tulang belikat. Namun akibatnya meng–
gembung sampai membengkakkan payudara kiri si nenek
yang tadinya rada ceper.
“Jahanam! Lari ke mana kau!” teriak Nyai Tumbal Jiwo.
Dia melompat mengejar ke tepi sungai. Namun terlambat.
Kiai Gede Tapa Pamungkas telah berada jauh di sebelah
sana, lari sambil menggendong Nyi Retno Mantili. Seperti
berlari di atas tanah, begitulah dia berlari di atas air sungai
menuju ke hulu.
“Jahanam pengecut!” maki si nenek. Kemudian dia
memperhatikan dada kirinya yang melembung merah. Lalu
dia tertawa sendiri. “Sayang, cuma yang kiri yang menjadi
besar. Kalau dua-duanya. Hik... hik... hik. Aku akan lebih
montok dari perawan.” Terbungkuk-bungkuk Nyai Tumbal
Jiwo tinggalkan tempat itu. Sesekali diusapnya dada kirinya
yang mendenyut sakit. Mulut keluarkan ucapan. “Kiai Gede
Tapa Pamungkas. Aku tidak rela kau buat jadi mainan
seperti ini. Kelak aku akan ganti membuatmu jadi barang
mainanku! Kalau aku tidak sanggup menembus ilmu
kesaktianmu, jangan kau kira aku tidak sanggup
menembus imanmu! Hik... hik... hik!”
Mengenai Kiai Gede Tapa Pamungkas, kakek sakti yang
diam di dalam telaga di puncak timur Gunung Gede
kisahnya dapat dibaca dalam serial Wiro Sableng episode
“Pedang Naga Suci 212” . Sang Kiai adalah guru dari Sinto
Weni alias Sinto Gendeng dan Sukat Tandika alias Tua Gila.
Kepada kedua muridnya itu dia mewariskan sebilah
senjata berbentuk kapak yakni Kapak Naga Geni 212 dan
Pedang Naga Suci 212. Ternyata Sinto Weni bukan cuma
mengambil kapak sakti, dia juga membawa serta Pedang
Naga Suci 212 dan menyembunyikannya di satu tempat.
Pedang ini kemudian dipercayakan dan diserahkan pada
Puti Andini. Setelah hancurnya 113 Lorong Kematian dan
meninggalnya Puti Andini untuk kedua kali, pedang
ditemukan. Pendekar 212 minta agar senjata mustika itu
diserahkan pada Sinto Gendeng namun ditolak oleh Kiai
Gede Tapa Pamungkas. Sang Kiai membawa senjata itu
kembali ke puncak Gunung Gede.
ENAM
SJAK pagi angin barat bertiup kencang. Deburan
ombak di pantai selatan bergemuruh tiada henti. Di
dalam goa Girijati Tumenggung Wira Bumi bersujud di
hadapan Nyai Tumbal Jiwo.
“Cukup, sudah saatnya kau harus pergi meninggalkan
goa ini. Semua yang kau minta padaku ada yang telah
kesampaian dan ada yang bakal menjadi kenyataan. Yang
telah kesampaian kini kau memiliki ilmu kesaktian tinggi.
Tidak sembarang orang sanggup mengalahkanmu, yang
akan menjadi kenyataan ialah keselamatan, kedudukan
atau jabatan serta harta melimpah ruah. Sekarang bangkit
dan duduk di hadapanku!”
Tumenggung Wira Bumi segera bangun dari sujudnya
lalu duduk bersila di depan makhluk alam roh yang serba
merah mulai dari rambut sampai ke kaki. Nenek ini
kembangkan tangan kanannya yang sejak tadi digenggam.
Ternyata dalam genggamannya ada tiga helai daun sirih,
tujuh kuntum bunga melati dan sebongkah kecil
kemenyan.
Setelah bunga melati dan kemenyan dimasukkan ke
dalam lipatan tiga helai daun sirih, si nenek menyerahkan
lagi pada Tumenggung Wira Bumi. “Malam ini malam
Jum’at Legi. Saat yang paling baik dan ampuh untuk
menyantap sirih, melati dan kemenyan. Kunyah lumat-
lumat dan telan!”
Tumenggung Wira Bumi lakukan apa yang
diperintahkan Nyai Tumbal Jiwo. Si nenek memperhatikan
sambil mulutnya komat-kamit melafalkan sesuatu. Setelah
menelan sirih, melati dan kemenyan, Tumenggung Wira
Bumi merasa tubuhnya menjadi enteng hangat dan seolah
berubah besar. Kepala menyondak langit-langit goa. Tubuh
si nenek dilihatnya menjadi kecil.
“Tumenggung, sirih kembang melati dan kemenyan
yang barusan kau telan menjadi kunci segala ilmu
kesaktian yang telah kau dapatkan. Seumur hidup ilmu itu
akan mendekam dalam dirimu.” Setelah diam dan
menatap wajah sang Tumenggung beberapa ketika, si
nenek berwajah angker merah keriputan melanjutkan
ucapan. “Saat ini aku menyampaikan satu kabar buruk
padamu. Beberapa waktu lalu aku berhasil menyirap lewat
pendengaran dan penglihatan jarak jauh di mana
beradanya Nyi Retno Mantili...” Si nenek perhatikan wajah
Wira Bumi. Wajah sang Tumenggung sama sekali tidak
berubah ketika nama istrinya disebut. “Aku berhasil
menemuinya di satu tempat. Maksudku akan kubawa
menemuimu untuk kau habisi sesuai sumpahmu tempo
hari. Aku ingin urusan satu ini bisa tuntas lebih cepat.
Namun tidak disangka muncul seorang kakek sakti
bernama Kiai Gede Tapa Pamungkas. Dia berhasil
menghalangi niatku. Dia kemudian melarikan diri dan
istrimu bersamanya. Aku yakin dia menuju puncak Gunung
Gede. Setahuku dia diam di sebuah telaga. Urusan dendam
kesumat dengan kakek ini biar aku yang membereskan.
Karena aku gagal membunuh, sesuai perjanjian kau tetap
harus membunuh istrimu. Kau harus pergi ke puncak
Gunung Gede. Kau dan aku kini mengetahui bahwa
pembantumu Djaka Tua tidak melaksanakan perintah. Dia
tidak membunuh bayi yang dilahirkan Nyi Retno. Di mana
dia sekarang berada, juga bayimu tidak diketahui. Seperti
ada satu kekuatan melindungi dirinya. Menjadi tugasmu
mencari kedua orang itu dan membunuh mereka!”
“Bagaimana dengan golok besar yang harus aku pakai
untuk menggorok leher bayi?” tanya Tumenggung Wira
Bumi pula.
“Senjata itu raib. Mungkin ada pada Djaka Tua. Kau
harus mendapatkan golok itu karena memiliki tuah setelah
menjadi bagian dari perjanjianmu! Kau boleh membunuh
anak perempuan dan istrimu tanpa mempergunakan golok
itu.”
“Semua perintah Nyai akan saya lakukan.” Wira Bumi
membungkuk dalam-dalam lalu berdiri.
“Sebelum Kau kembali ke gedung kediamanmu di
Kotaraja, kau harus berendam dulu di dalam laut sana
sampai matahari tenggelam. Setelah itu baru berangkat ke
Kotaraja. Tapi ingat, kau tidak boleh masuk ke dalam
gedung kediamanmu sebelum lewat tengah malam. Dan
untuk masuk ke dalam gedung, kau harus lewat pintu
belakang. Jangan sekali-kali masuk melalui pintu depan.
Kau mengerti, Tumenggung?”
“Aku mengerti Nyai. Terima kasih atas semua
petunjukmu. Terima kasih banyak atas semua yang telah
kau berikan padaku. Kelak aku akan kembali menemuimu
untuk membalas budi baikmu.”
“Kau tak perlu bersusah payah mencariku. Perjanjian
antara kita sudah cukup. Namun ada satu hal yang harus
kau lakukan sebelum pergi...”
“Aku mengerti. Nyai minta saya berendam dalam air
laut..”
Si nenek tersenyum, “Sebelum mandi berendam air
laut, kau harus mandi berendam keringat lebih dulu. Hal ini
harus kau laksanakan setiap saat aku membutuhkan.” Si
nenek hentikan ucapan. Sepasang mata memandang
merah berkilat pada Tumenggung Wira Bumi yang bertubuh
kekar besar itu.
“Tumenggung, aku minta kau melayaniku sebelum
pergi. Puluhan tahun di dalam liang kubur rasanya sungguh
menyebalkan.”
Kejut Tumenggung Wira Bumi bukan alang kepalang.
Sama saja dia mendengar suara halilintar di depan mata!
Habis berkata si nenek langsung saja buka pakaiannya
berupa kain merah yang melilit di tubuh. Tumenggung Wira
Bumi melangkah mundur. Wajahnya tampak gelap melihat
sosok bugil si nenek. Dia memperhatikan, payudara Nyai
Tumbal Jiwo sebelah kiri ternyata sangat besar sedang
yang sebelah kanan datar nyaris licin.
“Nyai, hal ini tidak termasuk dalam perjanjian...”
Si nenek menyeringai, mata dikedipkan.
“Justru ini adalah patri indah dari perjanjian kita yang
aku sebut Perjanjian Dengan Roh.”
“Nyai, aku mohon...”
“Tujuh bulan kau tidak menggauli perempuan. Apa
otakmu tidak jadi buntu? Apa dadamu tidak serasa
rengkah? Apa urat-urat aliran darahmu serasa tidak
terbakar?! Lihat tubuhku, apa kau tidak tertarik?”
“Nyai, aku...”
Si nenek tempelkan tubuhnya ke tubuh Tumenggung
Wira Bumi. Dua tangan merangkul erat. Sang Tumenggung
merasakan tubuhnya panas bergetar. Dalam penglihatan–
nya si nenek telah berubah menjadi seorang dara secantik
bidadari.
Nyai Tumbal Jiwo tertawa panjang ketika Tumenggung
Wira Bumi balas memeluk lalu dengan penuh nafsu
membaringkannya di lantai goa.
“Kiai Gede Tapa Pamungkas, giliranmu akan tiba...”
Ucap si nenek yang tidak sempat lagi terdengar oleh
Tumenggung Wira Bumi akibat nafsu yang telah membakar
sekujur tubuhnya.
***
Dua belas purnama setelah bentrokan antara Kiai Gede
Tapa Pamungkas dengan Nyai Tumbal Jiwo. Di tepi sebuah
telaga di bagian timur puncak Gunung Gede, Nyi Retno
asyik bermain-main dengan boneka kayu yang dalam
ketidakwarasannya menganggap sebagai bayi atau
anaknya. Sesekali terdengar suaranya tertawa senang.
Lain ketika dia menyanyi-nyanyi kecil. Lalu sesekali dia
meratap menangis.
Dari bagian lain pinggiran telaga, Kiai Gede Tapa
Pamungkas melangkah mendatangi.
“Nyi Retno aku gembira melihat kau senang sekali pagi
ini. Kau tertawa-tawa, kau menyanyi. Apakah kau sudah
memberi makan anakmu yang lucu itu?”
“Kiai,” ucap Nyi Retno yang saat itu rambut, tubuh dan
pakaiannya kelihatan bersih. Badannya tampak jauh lebih
gemuk berisi dibanding pertama kali Kiai Gede Tapa
Pamungkas membawanya ke tempat itu setahun lalu.
Kulitnya bersih dan lebih putih. “Untung kau memberi
ingat! Pagi ini aku memang belum memberinya makan. Ibu
macam apa aku ini. Ah, kasihan anakku...”
Dari sebuah kantong kain yang tergantung di pung–
gungnya Nyi Retno mengeluarkan sendok kayu. “Anak, ayo
makan dulu. Makan yang banyak agar kau gemuk dan
sehat.” Nyi Retno lalu menggerak-gerakkan tangan kanan–
nya yang memegang sendok seolah tengah mengaduk
makanan. Lalu sendok itu didekatkannya ke mulut boneka
kayu. Demikian dilakukannya berulang-ulang. “Makan yang
banyak. Biar gemuk dan sehat,” katanya setiap kali dia
membuat gerakan seperti menyuapi.
Kiai Gede Tapa Pamungkas memperhatikan dengan
perasaan haru. Dia mampu memberi kesembuhan pada
sosok lahir perempuan yang usianya belum mencapai
tujuhbelas tahun itu. Dia mampu mewariskan beberapa
ilmu kesaktian. Namun ada satu hal yang sangat
dirisaukannya. Walau Nyi Retno nampak patuh dan selalu
memperhatikan apa yang diucapkannya, namun dia tak
pernah mampu mengembalikan jalan pikiran Nyi Retno
Mantili kembali waras seperti semula.
“Nyi Retno, sudah berapa usia anakmu sekarang?”
bertanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.
“Kalau aku tidak salah menghitung sudah satu tahun.
Eh, apa iya? Nah, mana tua anakku dengan Kiai?”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. “Anak, sudah
satu tahun kau masih belum memberinya nama...”
Nyi Retno menatap sang Kiai lalu memandang boneka
kayu sambil usap-usap kepalanya. Wajahnya tampak sedih.
Air mata mengucur membasahi pipi.
“Kiai, aku memang sudah menyiapkan sebuah nama
untuk anakku ini. Tapi takut nanti ayahnya tidak setuju.
Aku pikir biar ketemu ayahnya dulu. Cuma aku tidak tahu di
mana mencari ayah anakku ini.”
“Kalau kau memang sudah punya calon nama, ya
sudah disebut saja. Soal apakah ayahnya nanti setuju apa
tidak, biar itu urusan nanti. Nyi Retno, siapa nama yang
sudah kau siapkan itu?”
“Mmmm... Kemuning.” Jawab Nyi Retno Mantili pula.
“Singkat tapi bagus.”
“Sejak kecil aku suka pohon kemuning. Buahnya bisa
dipakai untuk mengkilapkan kuku.”
“Mulai hari ini kita akan memanggil anak itu Kemuning.
Nama bagus, nama bagus...”
Nyi Retno angkat boneka yang dipegangnya tinggi-tinggi
lalu menciumnya berulang kali. Lalu dia berpaling pada Kiai
Gede Tapa Pamungkas.
“Kiai, kau pernah bilang. Satu ketika aku boleh
meninggalkan tempat ini. Kapan? Hari ini, besok, lusa...?”
“Sebetulnya aku tetap ingin kau berada di sini sampai
keadaan di luar benar-benar aman bagimu dan puteri
kecilmu itu.”
“Aman bagaimana Kiai? Apa masih ada orang jahat
yang ingin membunuhku? Nenek rambut merah yang di
sungai dulu? Aku tidak takut.”
Kiai Gede Tapa Pamungkas memandang wajah Nyi
Retno penuh kagum. “Ternyata ingatannya ke masa
lampau masih cukup jernih. Semoga Tuhan memberi
kesembuhan padanya...”
“Kiai, bukankah Kiai telah membekali diriku dengan
berbagai ilmu kesaktian? Selain itu ke mana aku pergi
bukankah Kiai akan mengikuti, menjagaiku, melindungi
anakku. Kau harus menganggap anak ini sebagai cucumu,
Kiai!”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. Sambil
mengusap kepala Nyi Retno orang tua ini berkata. “Tentu
saja. Tentu saja anakmu itu sudah kuanggap cucu sendiri.
Namun aku tidak mungkin selalu ada bersamamu...”
“Kalau begitu aku boleh pergi sendiri ke mana aku
suka. Aduh, senangnya...” Nyi Retno Mantili tertawa girang,
berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil.
“Belum saatnya Nyi Retno. Tunggulah beberapa lama
lagi,” kata Kiai Gede Tapa Pamungkas dengan hati masgul.
“Kiai, kau jahat! Kau pembohong! Aku benci padamu!”
ucap Nyi Retno lalu lari ke dekat pohon.
Si orang tua mendatanginya, membujuk sambil
membelai rambutnya. Dia sering mengusap kepala dan
membelai rambut Nyi Retno sambil mengerahkan hawa
sakti. Maksudnya untuk memberi kesembuhan, agar
pikiran Nyi Retno kembali waras. Namun kesembuhan itu
tidak kunjung datang.
“Nyi Retno, aku akan masuk ke dalam telaga sebentar.
Tunggu di sini.”
“Ya, aku akan tunggu di sini. Anakku mulai rewel.
Mungkin dia haus...” Jawab Nyi Retno Mantili.
Begitu si orang tua beranjak dari hadapannya, dia buka
pakaiannya di bagian atas lalu dekatkan bibir boneka ke
dadanya.
Kiai Gede Tapa Pamungkas melangkah ke arah telaga
yang airnya selalu bergemericik seolah mendidih. Sampai
di tepi telaga dia tidak berhenti melainkan terus saja
berjalan. Luar biasa! Ternyata kakek ini mampu berjalan di
atas air! Tepat di tengah telaga tiba-tiba besss! Sosok si
orang tua raib ke dalam telaga. Air telaga muncrat sampai
setinggi dua tombak. Tak selang berapa lama Kiai Gede
Tapa Pamungkas muncul keluar dari dalam telaga. Di
tangannya dia membawa sebuah benda bergulung seperti
sabuk. Benda ini bukan lain adalah Pedang Naga Suci 212.
Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya,
episode berjudul “Kematian Kedua”, senjata sakti ini
muncul di atas perut Puti Andini alias Yang Mulia Sri
Paduka Ratu yang saat itu telah menemui kematiannya
yang kedua. Pendekar 212 Wiro Sableng coba mengambil
namun dia kedahuluan Kiai Gede Tapa Pamungkas yang
mendadak muncul di tempat itu. Selaku pemilik pedang dia
mengambil senjata tersebut dan menyimpan sampai ada
seseorang yang layak memegangnya. Agaknya hari itu Kiai
Gede Tapa Pamungkas merasa telah menemukan orang
yang cocok untuk diserahi pedang mustika itu. Yaitu Nyi
Retno Mantili. Namun darah orang tua ini agak berdesir
ketika melihat Nyi Retno Mantili tak ada lagi di bawah
pohon di tepi telaga. Hatinya jadi tidak enak. Dia berteriak
memanggil berulang kali. Tak ada jawaban. Seluruh
kawasan timur puncak Gunung Gede diselidiki. Nyi Retno
Mantili raib tanpa bekas.
Kiai Gede Tapa Pamungkas kembali ke telaga. Duduk di
bawah pohon di mana Nyi Retno terakhir kali duduk
menyusukan anaknya. Gulungan Pedang Naga Suci 212
diletakkan di haribaan.
“Ilmu Di Dalam Kabut Mengunci Diri. Dia pasti
pergunakan ilmu yang aku ajarkan itu untuk kabur dan
menghilang...” Sang Kiai tarik nafas dalam. Lama orang
sakti ini tercenung. Kemudian senyum menyeruak di
bibirnya. “Kalau benar dia menggunakan ilmu itu untuk
menghindari kejaranku, berarti lagi-lagi satu kenyataan
bahwa otak dan jalan pikirannya masih memiliki bagian-
bagian kewajaran.” Kiai Gede Tapa Pamungkas memang
sengaja mengajarkan ilmu kesaktian untuk melenyapkan
diri itu pada Nyi Retno agar dapat melindungi diri bila
sewaktu-waktu ada orang hendak berbuat jahat
terhadapnya. Kini ilmu itu justru dipergunakan untuk
menyiasati dirinya. Orang tua ini mengusap janggut
panjangnya berulang kali sementara rambut putih menjulai
menutupi sebagian wajahnya. Wajah itu tampak tersenyum
kembali.
“Kalau dia ingat akan ilmu itu lalu mempergunakannya,
berarti ada jalan pikiran serta kesadaran dalam benaknya.
Ya Tuhan, lindungilah anak itu ke manapun dia pergi...”
Kiai Gede Tapa Pamungkas pejamkan mata. Belum
berapa lama mata itu terpejam mendadak telinganya
mendengar suara derap banyak kaki kuda dipacu
mendatangi ke arah telaga.
TUJUH
WAU sepasang mata tertutup namun karena
memiliki kesaktian tinggi sulit dijajagi, Kiai Gede
Tapa Pamungkas dapat menduga berapa orang
saja yang datang dan berada di sekitar pohon besar di
bawah mana dia duduk bersandar. Lima orang penunggang
kuda berada dalam satu kelompok. Orang keenam, juga
menunggang kuda berhenti di depan kelompok lima orang.
Kiai Gede Tapa Pamungkas terus saja picingkan mata.
“Orang tua, aku sudah tahu kau tidak tidur. Jadi tidak
perlu berpura-pura,” satu suara besar dan keras memecah
kesunyian di tepi telaga.
Mendengar teguran orang, Kiai Gede Tapa Pamungkas
segera maklum kalau yang barusan bicara adalah seorang
yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia juga merasakan
dari nada suara itu yang bicara berada dalam ketidak–
sabaran, dan memandang penuh kebencian padanya.
Maka tanpa bergerak dan buka kedua mata, Kiai Gede
Tapa Pamungkas berkata.
“Tiada yang sangat memalukan dalam hidup ini selain
kepura-puraan. Tamu gagah, berpakaian kebesaran
Kerajaan, yang baru datang dari jauh bersama lima
pengiring, kadang-kadang beban hati dan pikiran membuat
seseorang hanya bisa memejamkan mata. Sebaliknya ada
orang yang beban hati dan pikiran yang selalu menghantui
dirinya membuat dia tak bisa memicingkan mata. Kedua
orang itu tidak menjalankan kepura-puraan. Contohnya kau
dan aku saat ini. Tamu gagah dengan hiasan bintang
tersemat di belangkon warna biru, jika ucapanku tadi keliru
harap jangan diambil hati.”
Penunggang kuda di sebelah depan dan lima pengiring
jadi terkesiap dan tatap wajah si orang tua lekat-lekat.
Hatinya berucap, “Sungguh luar biasa. Matanya dalam
keadaan terpejam. Tapi tahu kalau aku mengenakan
pakaian kebesaran Kerajaan, diantar oleh lima pengawal.
Tahu warna belangkonku. Tahu pula hiasan bintang perak
yang tersemat di belangkonku. Tidak bisa tidak. Dia
memang orang yang aku cari. Ciri-cirinya sesuai dengan
yang dikatakan Nyai.”
“Orang tua, aku senang kau mengetahui aku datang
dari jauh, bisa menduga siapa diriku. Apakah engkau yang
dipanggil orang dengan nama Kiai Gede Tapa Pamung–
kas?”
“Tamu dari jauh, jika kau datang untuk mencariku, aku
mengucapkan selamat datang di puncak Gunung Gede.”
Kiai Gede Tapa Pamungkas ambil benda bergulung di
atas pangkuannya, buka kedua mata lalu berdiri. Dia kini
melihat jelas si penunggang kuda bersama lima pengiring–
nya. Keadaan mereka tidak berbeda dengan apa yang tadi
diucapkannya dengan mata terpejam. Sang Kiai sudah bisa
menduga siapa adanya tamu yang datang bersama lima
pengawal ini.
Begitu mendengar ucapan Kiai Gede Tapa Pamungkas
lelaki bertubuh besar, berpakaian mewah dengan belang–
kon biru di atas kepala membuat gerakan sangat enteng.
Kalau tadi dia masih berada di punggung kuda maka kini
hanya sekejapan mata saja dia sudah berdiri di hadapan
sang Kiai. Keluarbiasaan ini tentu saja tidak lepas dari
perhatian Kiai Gede Tapa Pamungkas.
“Orang gagah, jarang sekali tamu berkunjung ke tempat
ini. Kedatanganmu tentu membawa satu hal penting.
Harap kau suka memberi tahu. Selain itu apakah kau tidak
ingin memperkenalkan diri lebih dulu?”
“Namaku Wira Bumi. Aku Bendahara Kerajaan...”
“Ah, tidak sangka hari ini aku mendapat kehormatan
dikunjungi seorang petinggi Kerajaan. Kalau aku tidak
salah menduga, bukankah jabatan itu belum selang berapa
lama dipercayakan pada Yang Mulia?”
Kening Bendahara Wira Bumi yang sebelumnya adalah
Tumenggung tampak mengerenyit. Ucapan orang dirasa–
kannya mulai menyinggung, tidak enak. Namun karena
punya kepentingan Wira Bumi terpaksa menahan diri dan
bertanya. “Orang tua, bagaimana kau tahu kalau aku baru
saja memangku jabatan itu?”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. “Lekuk belang–
kon biru Yang Mulia masih bagus. Hiasan bintang perak
tampak berkilat. Kelepak pakaian Yang Mulia sangat rapi.
Kalau aku salah menduga harap dimaafkan.”
Wira Bumi balas tersenyum.
“Sebagai yang punya tempat, kalau memang ada yang
hendak dibicarakan, aku mengundang Yang Mulia Benda–
hara untuk duduk bicara di sawung sebelah sana.”
Wira Bumi perhatikan sebuah bangunan kecil tanpa
dinding di pinggir timur telaga yang dikatakan si orang tua.
“Aku lebih suka kita bicara di sini saja.” kata Wira Bumi
yang dulu Tumenggung dan kini jabatannya telah naik
setingkat Bendahara Kerajaan.
“Dengan senang hati. Katakanlah maksud kedatangan
Yang Mulia,” ujar Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.
“Aku mencari seorang perempuan. Masih teramat
muda. Usianya belum mencapai tujuhbelasan. Namanya
Nyi Retno Mantili. Dikabarkan selama ini dia berada di
tempat ini bersamamu.”
“Nyi Retno Mantili,” ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas
mengulang menyebut nama itu. “Kabar yang didapat Yang
Mulia benar sekali adanya. Hanya sayang, saat ini Nyi
Retno Mantili sudah tidak ada lagi di sini.”
“Kiai, apa maksudmu dengan ucapan itu?” tanya Wira
Bumi. Dia menatap tajam-tajam ke wajah sang Kiai yang
sebagian tertutup rambut panjang putih menjulai.
“Aku memberitahu perempuan yang dicari tidak ada lagi
di tempat ini.”
Wira Bumi memandang seputar telaga, memperhatikan
sawung lalu kembali berpaling pada orang tua di depannya.
Pejabat tinggi Kerajaan ini mulai merasa gusar. “Kiai, aku
menaruh curiga kau berdusta padaku.”
“Kedustaan adalah permainan setan. Aku tidak suka
dengan setan. Berarti aku tidak berdusta. Nyi Retno Mantili
pergi hanya beberapa saat sebelum Yang Mulia dan para
pengiring muncul di tempat ini.”
“Dia pergi dengan siapa? Sendirian?”
“Dia pergi bersama Kemuning,” jawab Kiai Gede Tapa
Pamungkas.
“Kemuning? Siapa Kemuning?” tanya Wira Bumi
dengan muka berubah dan dada bergetar.
“Puterinya yang berumur satu tahun...”
Perubahan dan bahkan rasa terkejut kelihatan tambah
jelas pada wajah Wira Bumi.
“Yang Mulia Bendahara, kau tak usah terkejut. Anak
satu tahun bernama Kemuning itu hanyalah sebuah
boneka kayu yang manis, tapi sangat disayang oleh Nyi
Retno seperti anak sungguhan.”
“Kiai, aku merasa kau tengah mempermainkan diriku.
Nyi Retno Mantili mempunyai seorang anak perempuan,
manusia hidup, bukan boneka kayu!” kata Wira Bumi.
Rahangnya menggembung. Pelipis bergerak-gerak. “Kiai,
harap kau mau menceritakan bagaimana Nyi Retno bisa
berada di tempat ini.
Dengan tenang dan sambil tersenyum Kiai Gede Tapa
Pamungkas berkata. “Kau bisa muncul di tempat ini, tentu
ada yang memberi petunjuk. Apakah masih perlu aku
memberi keterangan? Bukankah makhluk roh sesat
bernama Nyai Tumbal Jiwo itu yang telah memberi tahu
pada Yang Mulia Bendahara?”
Tampang Wira Bumi tampak menjadi merah. Sekali lagi
dia memandang ke arah keliling telaga dan sawung.
Kemudian berpaling pada lima pengawal dan memberi
perintah. “Periksa sekeliling telaga. Termasuk sawung itu.
Selidiki kalau ada jalan atau tempat rahasia. Jika kalian
tidak menemukan apa-apa bakar sawung itu!”
Dua alis Kiai Gede Tapa Pamungkas naik ke atas. Orang
tua ini hanya tersenyum mendengar perintah yang diucap–
kan Wira Bumi. Dia tidak mengatakan sesuatu atau
berusaha mencegah. Tenang saja dia memperhatikan lima
pengawal sang pejabat tinggi Kerajaan memeriksa
kawasan telaga. Orang tua ini masih tetap tak bergerak di
tempatnya ketika para pengawal mulai membakar sawung.
Dalam waktu singkat bangunan di tepi telaga yang terbuat
dari kayu yang telah lapuk itu lumat tak berbentuk lagi.
“Kasihan, bangunan tempat aku bersembahyang dan
memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa kini telah
menjadi debu.” Ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas cukup
keras dan terdengar oleh Wira Bumi.
Bendahara Kerajaan ini melangkah ke hadapan si
orang tua. “Kiai, katakan di mana kau menyembunyikan
Nyi Retno dan puterinya!”
“Agaknya Yang Mulia Bendahara tadi kurang
mendengar dan memperhatikan. Bukankah aku sudah
menerangkan bahwa Nyi Retno Mantili meninggalkan
tempat ini bersama puterinya yang boneka itu hanya
beberapa ketika sebelum Yang Mulia datang ke tempat
ini.”
“Aku tidak perlu keterangan tentang boneka jahanam
itu! Aku menanyakan Nyi Retno Mantili dan anak
perempuannya!” teriak Wira Bumi.
“Yang Mulia, aku sudah memberi keterangan yang aku
tahu. Jangan keliwat memaksa karena aku tidak
berdusta...”
“Cukup!” hardik Wira Bumi. Dia berpaling pada lima
orang pengawalnya. “Pengawal! Tangkap orang tua ini!
Kalau melawan bunuh!”
“Aahh...” Sang Kiai rangkapkan dua tangan di depan
dada. “Seorang pejabat tinggi Kerajaan, yang punya
kekuasaan, begitu mudahnyakah menyuruh menangkap
bahkan membunuh orang tua sepertiku?”
Walau ucapannya menyindir namun wajah Kiai Gede
Tapa Pamungkas dihiasi senyum.
Lima pengawal yang rata-rata bertubuh tinggi besar
segera mengepung Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sang Kiai
menyambut dengan ucapan, “Aku tahu kalian hanya
menjalankan perintah. Karena itu aku tidak akan berlaku
kasar.” Habis berkata begitu sosok Kiai Gede Tapa
Pamungkas melesat ke atas hingga orang-orang yang
hendak meringkusnya hanya menangkap udara kosong.
Kelima pengawal ini, termasuk Wira Bumi melihat
bagaimana tubuh orang tua sakti itu melayang di udara,
turun di telaga dan berjalan di permukaan air!
“Tua bangka sombong! Kau kira aku takut dengan
peragaan ilmu kesaktianmu itu!” Kata Wira Bumi. Sekali
melesat tahu-tahu dia telah berada dan berdiri pula di atas
air telaga, menghadang langkah Kiai Gede Tapa
Pamungkas.
Seperti telah diketahui, setelah bersemedi di Goa
Girijati untuk mendapatkan ilmu kesaktian dari Nyai
Tumbal Jiwo, salah satu ilmu yang diperoleh Wira Bumi
adalah ilmu berdiri dan berjalan di atas air yang disebut
Kaki Roh Melanglang Air. Kalau ilmu ini dipergunakan
untuk berlari, maka kecepatan larinya di atas rata-rata ilmu
lari lain yang ada di rimba persilatan ataupun ilmu lari yang
disebut Seribu Kaki Menipu Jarak milik seorang sakti
berjuluk Si Katai Bisu dan telah lama menemui kematian.
(Baca serial Wiro Sableng berjudul “Rahasia Lukisan
Telanjang” ).
Kalau lima pengawal Wira Bumi terkagum-kagum
melihat kehebatan pimpinan mereka, tidak demikian
halnya dengan Kiai Gede Tapa Pamungkas. Dengan tenang
dan masih penuh hormat dia berkata, “Yang Mulia, tak
sengaja kau berdiri tepat di tengah telaga. Tempat itu
adalah alur jalanku masuk menuju kediamanku di dalam
telaga. Aku mohon kau beranjak dari situ.”
Wira Bumi tertawa. “Kau takut menabrakku, Kiai? Aku
tak akan menyingkir dari tempat ini sebelum kau memberi
tahu di mana Nyi Retno Mantili dan puterinya kau
sembunyikan. Selain itu ada satu persoalan yang harus kau
pertanggungjawabkan. Kau telah berlaku kurang ajar
terhadap guruku. Kau telah berani meraba aurat
terlarangnya!”
Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum lalu geleng-
geleng kepala. “Kalau di darat aku bicara kau tak percaya,
mari kita bicara di dalam air. Udara di atas sini agak panas.
Di dalam air suasananya penuh kesejukan,” kata Kiai
penghuni telaga di puncak timur Gunung Gede itu.
Wira Bumi sembunyikan rasa terkejutnya mendengar
ucapan sang Kiai. Tantangan orang tua itu tak mungkin
dilayaninya. Walau dia mampu berdiri dan berjalan di atas
air, tapi masuk ke dalam air untuk bicara berlama-lama dia
tidak mempunyai ilmu kepandaian karena memang tidak
dimiliki dan tidak diajari oleh Nyai Tumbal Jiwo. Karenanya,
ketika dua kaki Kiai Gede Tapa Pamungkas meliuk masuk
ke dalam air telaga, dengan cepat Wira Bumi melesat di
permukaan air. Kaki sebelah kanan menendang ke arah
dada si orang tua.
Tendangan kaki Wira Bumi datangnya lebih cepat dari
gerak meluncur tubuh Kiai Gede Tapa Pamungkas ke
dalam air. Wira Bumi menyeringai karena sesaat lagi
tendangannya pasti akan menghancur remuk bahkan bisa
membunuh Sang Kiai. Namun dengan tenang lawan
dilihatnya angkat tangan kiri. Telapak dikembang ke arah
datangnya tendangan. Saat itu juga Wira Bumi merasa ada
satu kekuatan dengan daya dorong luar biasa menghan–
tam ke arah kaki kanannya yang menendang. Bendahara
Kerajaan ini berteriak keras ketika merasa kaki kanannya
seolah kaku, tak bisa digerakkan lagi! Cepat dia kerahkan
hawa sakti. Begitu kepala sang Kiai hampir lenyap dari
permukaan air telaga, Wira Bumi menghantam dengan
satu tendangan lagi, kali ini dengan kaki kiri.
Serangan Wira Bumi kalah cepat dengan gerakan
masuknya sosok Kiai Gede Tapa Pamungkas ke dalam air.
Tiba-tiba Bendahara Kerajaan ini merasa ada tangan yang
mencekal pergelangan kaki kirinya. Sebelum dia bisa
membebaskan diri tahu-tahu kakinya dibetot keras sekali.
Tak ampun pejabat tinggi ini amblas masuk ke dalam
telaga!
Di dalam air, Wira Bumi berusaha lepaskan kakinya dari
cekalan Kiai Gede Tapa Pamungkas sambil tangan kanan
melepaskan pukulan sakti bernama Angin Roh Pengantar
Kematian. Ilmu ini adalah salah satu dari sekian banyak
yang didapat Wira Bumi dari Nyai Tumbal Jiwo. Air telaga
menggemuruh seolah ada benda raksasa menggelinding
dan berubah panas.
Di bagian bawah air telaga bersibak hebat. Di sebelah
atas air muncrat sampai setinggi dua tombak. Untuk
beberapa saat telaga dan kawasan seanteronya bergetar
seperti digoyang gempa.
“Luar biasa,” ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas dalam
hati. “Manusia satu ini telah menguasai ilmu kesaktian
perempuan alam roh itu cepat sekali.” Sang Kiai segera
dorongkan tangan kanan ke atas sementara tangan kiri
masih mencekal pergelangan kaki Wira Bumi. Bendahara
Kerajaan ini terkejut besar ketika suara menggelinding
membalik ke arahnya. Tubuhnya serta-merta menjadi
panas. Selain itu nafasnya mulai megap-megap karena
memang dia tidak punya kekuatan atau ilmu bertahan
lama dalam air. Tekanan udara panas yang begitu kuat
membuat perlahan-lahan darah mulai mengucur dari
telinga dan hidung. Pemandangan mata mulai menggelap
dan air mulai masuk ke dalam mulut.
“Wira Bumi, ini satu peringatan bagimu. Jika kau masih
berani unjukkan diri di kawasan ini atau berani mencelakai
Nyi Retno Mantili, aku akan membuat dirimu masuk liang
kubur bersatu dengan gurumu Nyai Tumbal Jiwo! Sekarang
pergilah!”
Wira Bumi mendengar suara mengiang di telinganya.
Cekalan pada pergelangan kaki kiri lepas. Tubuhnya
melesat ke atas permukaan air telaga. Begitulah
keadaannya. Kekuatan roh yang sangat ganas dan dahsyat
di permukaan bumi pada umumnya tidak punya daya di
dalam air.
Setelah keluarkan ancaman Kiai Gede Tapa
Pamungkas yang tak punya niat memperpanjang urusan
apalagi niat jahat untuk membunuh segera melepaskan
cekalannya di kaki orang. Sosok Wira Bumi yang berada
dalam keadaan pingsan naik mengapung ke atas.
Lima orang pengawal berseru kaget ketika tadi melihat
sosok atasan mereka lenyap masuk ke dalam air. Tiga di
antara mereka yang pandai berenang siap terjun ke dalam
telaga. Namun niat itu menjadi batal sewaktu menyaksikan
munculnya sosok Wira Bumi yang kemudian mengapung di
permukaan air. Sebagian muka dan kepalanya tertutup
darah. Tiga pegawal segera mencebur masuk ke dalam air
lalu berenang membawa tubuh Wira Bumi yang berada
dalam keadaan pingsan di tepi telaga.
DELAPAN
RATAP tangis menyayat hati yang keluar dari rumah
kayu berdinding kajang di pinggir ladang membuat
seseorang yang tengah berkelebat laksana terbang
hentikan lari. Saat itu hujan turun rintik-rintik. Orang ini
tegak membelakangi serumpun pohon bambu, mengena–
kan baju menyerupai kebaya panjang selutut dan celana
ringkas. Baik baju maupun celana sama terbuat dari bahan
bagus dan berwarna biru gelap. Sesaat orang ini mendo–
ngak ke langit lalu menatap ke arah pintu rumah kayu yang
terpentang. Rambut panjang hitam kusut masai menjela
sepinggang. Ratapan itu, ada dua orang yang meratap. Dia
bisa merasakan. Ada satu malapetaka besar menimpa
penghuni rumah kayu.
Sang surya belum lama tenggelam. Udara yang buruk
membuat kegelapan yang datang lebih cepat menyelimuti
kawasan desa pertanian di mana rumah kayu itu berada.
Memperhatikan ke arah rumah kayu, melihat pintu yang
terpentang lebar, orang berpakaian biru segera menda–
tangi. Langkahnya langsung terhenti ketika dia sampai di
ambang pintu rumah.
Seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun
tenggelam dalam pelukan seorang perempuan separuh
baya yang menangis menggerung-gerung. Anak perempuan
ini nyaris tidak berpakaian dan ada noda darah di kepala,
bahu serta perutnya. Sekali memperhatikan saja orang
berpakaian serba biru di ambang pintu sudah maklum
kalau anak perempuan itu tidak bernyawa lagi.
Di atas sebuah ranjang kayu beralas tikar, terbujur
seorang gadis. Lehernya ke bawah tertutup sehelai kain.
Hanya wajahnya yang tersembul kelihatan. Wajah ini penuh
tanda siksaan, luka dan noda darah. Seorang lelaki
berambut putih memeluki dan meratapi si gadis yang
seperti gadis kecil satunya, sudah menjadi mayat.
Jerit tangis suami istri petani di dalam rumah kayu
membuat tetangga terdekat datang berlarian. Namun
mereka tidak bisa masuk ke dalam rumah karena di pintu
terhalang oleh sosok orang berpakaian biru bagus yang
ternyata adalah seorang nenek bermuka putih pucat dan
tidak satu orangpun mengenal siapa dia adanya.
“Bu-ne Pipit, apa yang terjadi?” seorang tetangga
perempuan bertanya sambil ulurkan kepala coba melihat
ke dalam rumah.
Perempuan yang ditanya tidak menjawab, terus saja
meratapi anak perempuan delapan tahun yang ada dalam
pelukannya.
“Suami istri petani, ada kejadian apa di rumah ini?”
Nenek berpakaian biru bagus keluarkan ucapan, ajukan
pertanyaan. Suaranya perlahan tapi jelas.
Suami istri petani Kartosumekto kenal baik dengan
semua tetangga. Saking dekatnya mereka sampai tahu dan
mengenali suara masing-masing. Kali ini mendengar suara
orang yang mereka tidak kenal, istri petani angkat
wajahnya sedikit, menatap ke arah nenek di ambang pintu
lalu menangis kembali. Sang suami, lelaki berambut putih
juga angkat kepala, memandang ke arah si nenek. Agak
lama dia memandangi sebelum membuka mulut, berucap
dengan suara lirih.
“Nenek muka putih, aku tidak kenal kau. Kau bukan
penduduk sini. Siapa...?”
“Aku seorang pengelana Hamba Tuhan yang kebetulan
lewat di sini. Aku mendengar suara orang meratap. Siapa
tahu aku bisa menolong...”
Mendengar ucapan nenek tak dikenal di ambang pintu,
suami istri petani menggerung keras. Dalam musibah yang
sudah jatuh menimpa apa artinya lagi pertolongan?
Pertolongan macam apapun tidak akan membuat kedua
anak gadis yang mereka cintai bisa hidup kembali.
“Tidak mungkin. Semua sudah terjadi. Dua anakku
sudah jadi korban!” Kartosumekto berkata setengah
berteriak lalu kembali menggerung.
“Tenang, sabarkan hatimu, kuatkan iman. Tawakal
kepada Tuhan...”
“Kami petani miskin. Selama ini tidak pernah lupa
Tuhan! Tapi mengapa Gusti Allah menjatuhkan percobaan
begini berat, yang kami tidak bisa menanggungnya. Apa
dosa kesalahan kami?!”
Nenek berpakaian biru berambut awut-awutan tampak
terdiam mendengar ratapan si petani. Wajahnya yang putih
pucat seperti membeku. “Bapak, tolong ceritakan apa yang
terjadi dengan dua anakmu.”
“Mereka diperkosa lalu dibunuh!”
Kepala si nenek terangkat, wajah kaku membesi. Pen–
duduk yang ada di depan rumah tampak kaget dan takut.
“Kau tahu siapa pelakunya?” perempuan tua di ambang
pintu ajukan pertanyaan.
“Siapa lagi kalau bukan makhluk bernama Hantu
Pemerkosa!”
Semua tetangga yang berada di tempat itu menjadi
geger. Wajah mereka tambah menunjukkan rasa takut
amat sangat. Terlebih mereka yang punya anak gadis. Satu
per satu mereka tinggalkan tempat itu, kembali ke rumah
masing-masing.
“Hantu Pemerkosa...” Nenek berpakaian biru
mengulang dalam hati. “Ini kali kedua aku mendengar
nama itu. Apa benar ada hantu yang bisa memperkosa?”
“Bapak,” si nenek dekati tempat tidur, “Kau melihat
perwujudan Hantu Pemerkosa itu?”
Si petani menggeleng. “Ketika aku kembali ke rumah
malam ini, dua anak perempuanku sudah tewas. Sebe–
lumnya sudah ada seorang gadis di desa ini yang juga
diperkosa dan dibunuh.”
“Kalau makhluk itu dijuluki Hantu Pemerkosa pasti
ujudnya mengerikan. Pasti ada yang pernah melihat
wajahnya. Aku harus menyelidik sebelum dia lari jauh.”
Kata nenek baju biru muka putih dalam hati.
“Bapak, aku turut berduka atas musibah yang kau
alami. Sedikit pemberian ini mungkin bisa membantu
meringankan bebanmu.” Si nenek lalu letakkan sekeping
uang perak di atas ranjang.
“Nenek, kau... kau ini siapa?” tanya Kartosumekto.
Namun perempuan tua berpakaian bagus biru itu telah
berkelebat lenyap. Di luar rumah hujan rintik-rintik mulai
berubah menjadi lebat.
***
Pagi itu udara segar dan cerah sekali. Langit nyaris tak
berawan. Bahkan sang surya terasa nyaman menyentuh
permukaan kulit. Setan Ngompol berjalan mengikuti Wiro
sambil mengomel.
“Hampir seratus hari kita malang-melintang kian kemari
mencari gadis berambut pirang itu. Jauh-jauh berada di sini
sekarang kau ingin kita kembali ke jurang yang ada air
terjunnya itu. Mengapa? Bukankah kau sudah menyelidik
sampai ke dasar jurang dan kau tidak menemukan
manusia atau setan sekalipun di tempat itu.”
“Kek, aku punya perasaan aneh.” jawab Pendekar 212.
“Walau aku sudah masuk ke dasar jurang, menyelidik
dengan mempergunakan ilmu Meraga Sukma segala, aku
memang tidak menemukan gadis yang kita cari. Namun...”
“Namun apa?” ujar Setan Ngompol dengan mulut
dimonyongkan. “Apa kau tidak melihat kemungkinan.
Keterangan serta tanda-tanda yang diberikan Wulan Srindi
pada kita mengenai Bidadari Angin Timur bisa saja
berlainan dengan kejadian sebenarnya. Melihat bagaimana
kecintaannya padamu, keinginannya menjadi murid Dewa
Tuak serta perseteruan diam-diam antara dia dan Bidadari
Angin Timur, bisa saja Wulan Srindi mengarang cerita.
Siapa tahu Bidadari Angin Timur memang tidak berada di
dalam jurang yang ada air terjunnya itu. Dia sengaja
membuat cerita untuk menarik perhatianmu. Agar dia bisa
dekat denganmu.”
Wiro jadi garuk-garuk kepala mendengar kata-kata si
kakek.
“Dengar anak sableng,” Setan Ngompol lanjutkan
ucapan. “Aku tidak mau ikut kamu jauh-jauh pergi ke
jurang itu kembali.”
“Kalau begitu kita berpisah di sini,” kata Wiro pula yang
membuat kakek tukang ngompol itu terdiam sambil
pegangi perut menahan kencing.
Melihat orang bimbang Wiro tersenyum. “Sebenarnya
kalau ada Ratu Duyung kita bisa meminta bantuannya.”
“Bantuan bagaimana?” tanya Setan Ngompol pula.
“Ilmu Menembus Pandang yang diberikannya padaku,
ilmu Meraga Sukma yang aku dapat dari Nyi Roro Manggut
tidak mampu menjajagi di mana beradanya Bidadari Angin
Timur. Ratu Duyung masih punya dua ilmu lagi yang bisa
digunakan untuk mengetahui ada tidaknya orang atau
makhluk hidup di dalam jurang itu. Ilmu pertama yakni
mengandalkan cermin sakti bulat yang kau sudah pernah
melihatnya. Jika dengan cermin sakti itu masih tidak bisa
tembus, maka dengan ilmu kedua bernama Menyirap
Detak Jantung pasti dia bisa mengetahui ada tidaknya
makhluk hidup di dalam jurang.”
“Gadis cantik bermata biru itu...” ucap Setan Ngompol.
“Budinya tinggi, hatinya baik. Aku ingat bagaimana dia
pernah memberikan ilmu padaku untuk bisa bertahan lama
di dalam air.” Tiba-tiba si kakek hentikan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Wiro.
“Kita berdua sudah jadi orang tolol! Kalau memang
hanya Ratu Duyung yang mampu membantu, mengapa kita
tidak pergi mencarinya di pantai selatan?”
“Hal itu memang ada dalam benakku. Tapi kejadian dia
pergi begitu saja dengan berkata dusta padamu bahwa
penguasa pantai selatan meminta dia datang, terus terang
aku jadi tidak enak hati. Dia punya ganjalan tertentu
terhadapku.”
“Di dalam kesulitan begini rupa segala perasaan hati
dan ganjalan tidak perlu dipikirkan. Bukankah gurumu
Sinto Gendeng pernah mengajarkan ujar-ujar jangan
perasaan mengacaukan pikiran? Kau tidak mau minta
bantuan gadis alam roh bernama Bunga. Kau tidak suka
minta pertolongan Ratu Duyung. Sementara kau tidak
mampu melakukan semuanya seorang diri.”
“Pintarnya kau ngomong!” tukas Wiro. “Apakah kau
sendiri pernah mengatur jalan pikiran dan perasaanmu?
Kalau memang bisa mengapa kau ngompol terus-
terusan?!”
Setan Ngompol tertawa mengekeh hingga kucurkan air
kencing. “Apa hubungan antara pikiran, perasaan dan
ngompol! Kalau aku ngompol itu suka-sukaku sendiri.”
Wiro tersenyum dan garuk-garuk kepala. Pada saat
itulah mendadak ada suara orang bernyanyi, suara
perempuan.
Kemuning jangan cengeng
Anak kecil jangan menangis
Aku tahu kau haus dan lapar
Sabar jangan menangis
Sebentar lagi pasti ada air
Sebentar lagi pasti ada makanan
Ibu tahu kau rindu pada kakekmu
Ibu tahu kau kangen pada ayahmu
Kemuning sabar jangan menangis
Ayahmu memang jauh
Namun satu saat kita pasti bertemu
Setan Ngompol dan Pendekar 212 Wiro Sableng saling
pandang. Si kakek tekap bagian bawah perutnya. Meman–
dang berkeliling dia berkata. “Setahuku kawasan ini tidak
ada demit atau jin pelayangan...”
“Jin atau demit mana pandai bernyanyi,” kata Wiro.
“Kalau memang manusia kita belum melihat orangnya.
Suaranya seperti masih anak-anak. Jangan-jangan tuyul
perempuan. Aduh aku jadi kepingin kencing!” kata Setan
Ngompol sambil cepat-cepat pegangi bagian bawah
perutnya. Serr! Kencingnya keburu muncrat!
“Datangnya dari balik pohon besar yang menghadap ke
lembah sana,” ucap Wiro. “Sebaiknya kita teruskan saja
perjalanan. Jangan mengganggu orang. Kalau jin dan demit
betulan mati kau dicekiknya, Kek!”
“Tunggu, aku penasaran mau lihat bagaimana raut
wajahnya, bagaimana sosok dirinya,” kata Setan Ngompol
pula. “Ayo kita jalan berputar agar bisa melihat dari
samping kanan.”
Wiro terpaksa mengikuti maunya si kakek.
Dari balik serumpun semak belukar lebat di samping
kanan pohon besar, Setan Ngompol dan Wiro melihat
seorang perempuan duduk sambil memangku sebuah
boneka. Sementara menyanyi dia usap-usap kepala
boneka seperti mengusap anak sungguhan. Perempuan ini
begitu mudanya hingga seperti masih anak gadis belasan
tahun.
“Wiro,” bisik Setan Ngompol. “Melihat rambut yang
awut-awutan kotor tak karuan, baju dekil begitu rupa,
wajah penuh debu, kaki tidak berkasut, menyanyi
memangku boneka, menurutmu apakah perempuan muda
itu waras otaknya?”
“Aku tidak bisa menduga. Kasihan sekali kalau semuda
itu otaknya terganggu,” jawab Wiro.
“Wiro! Astaga. Lihat dia membuka bajunya. Dia
mendekatkan kepala boneka kayu ke dada. Seperti ibu
mau menyusui anak. Oala putihnya...” Habis keluarkan
ucapan, serrr! Tidak tahan Setan Ngompol kucurkan air
kencing.
Suara Setan Ngompol yang memang agak keras sempat
terdengar oleh perempuan muda di bawah pohon yang
bukan lain adalah Nyi Retno Mantili.
“Ssshhh, anakku, ada orang,” ucapnya dan cepat-cepat
merapatkan baju di sebelah dada lalu bangkit berdiri.
Namun gerakannya tertahan ketika tiba-tiba satu sosok
hitam tinggi besar mengerikan berkelebat dan tegak di
hadapannya. Nyi Retno Mantili terpekik, kaget dan takut
namun kemudian tertawa cekikikan.
Di balik semak belukar, Wiro Sableng dalam kejutnya
menatap terkesima tak berkesip. Setan Ngompol
terkencing-kencing. Tangan kiri menekap aurat sebelah
bawah, tangan kanan pegangi lengan Wiro.
SEMBILAN
ORANG tinggi besar yang berdiri di depan Nyi Retno
Mantili memiliki wajah mengerikan seperti setan
karena penuh cacat bekas guratan luka. Rambut
kelabu awut-awutan panjang sepundak. Pakaian sebentuk
jubah panjang berwarna kelabu. Dua tangan memakai sa–
rung kain berwarna hitam. Sekujur tubuh orang ini tampak
bergetar, sepasang mata memandang berkilat, hembusan
nafas memburu panas. Ada gelegak niat jahat terkutuk
menguasai dirinya yang saat itu ingin dilampiaskan.
“Kemuning, jangan menangis. Aku tahu kau takut pada
setan di depanmu. Aneh siang terang begini rupa ada
setan kesasar.” Nyi Retno usap-usap dada boneka kayu
lalu meneruskan gerakannya hendak berdiri yang tadi
tertahan. Namun si muka setan ulurkan tangan menekan
bahu kiri Nyi Retno Mantili.
“Anakku, setan ini rupanya hendak berbuat jahat pada
kita.” kata Nyi Retno lalu tertawa cekikikan. Sekali dia
goyangkan bahu, tangan kiri yang ada di pundaknya
terpental ke atas. Orang di hadapan Nyi Retno tersurut satu
langkah, dalam hati merasa terkejut. Sentakan yang dibuat
perempuan berotak tidak waras itu mengandung tenaga
dalam cukup tinggi.
Ketika orang mundur satu langkah, kesempatan ini
dipergunakan Nyi Retno Mantili untuk segera berdiri. Dia
tegak dengan tangan kanan bertolak pinggang, tangan kiri
memegang boneka kayu, diarahkan pada orang di
depannya. Seolah boneka itu adalah senjata atau tameng
pelindungnya.
“Kelihatan seperti gila, tapi berbahaya. Di balik debu
yang mengotori mukanya ada satu wajah cantik. Hmmm...
ada satu kenikmatan aneh luar biasa kalau aku bisa
melampiaskan nafsuku yang terpendam selama ini!
Dengan yang sudah-sudah aku tidak mampu. Melihat yang
satu ini hasratku menyala luar biasa. Siapa bilang aku
kehilangan kejantanan! Kesembuhan telah datang atas
diriku.” Sekujur tubuh orang ini kembali bergetar keras.
Hembusan nafasnya semakin kencang dan panas.
“Nama anakmu Kemuning? Nama bagus. Aku terharu
mendengar nyanyianmu tadi. Bolehkah aku menggendong
anakmu barang sebentar?”
Nyi Retno Mantili tertawa geli. “Ada setan punya
perasaan. Mau menggendong anakku. Hik... hik... hik!
Siapa tahu kau setan penculik!” Lalu perempuan ini
membentak. “Pergi, jangan berani mendekat!”
Orang bermuka seram malah melangkah mendekati
dan ulurkan tangan. Gerakannya seperti hendak meng–
ambil boneka kayu namun tiba-tiba plaakk! Tangannya
yang terulur daratkan satu tamparan keras ke pipi Nyi
Retno. Perempuan ini terpekik. Tubuhnya melintir lalu
terbanting, jatuh terlentang di tanah. Darah mengucur di
sudut bibir. Boneka kayu masih ada dalam genggaman
tangan kiri. Walau sakit yang diderita bukan alang
kepalang namun Nyi Retno malah sunggingkan senyum.
Getaran di tubuh orang bertopeng semakin menjadi-jadi.
Dalam pada itu dia merasa heran. Orang lain pasti cidera
berat dan pingsan dihajar tamparannya. Namun perem–
puan tidak waras bertubuh kecil ini ternyata mempunyai
daya tahan kuat sekali. Tiba-tiba orang ini menyergap
kembali. Tangannya bergerak. Breett! Nyi Retno tak sempat
menghindar. Dada pakaiannya robek besar. Auratnya
tersingkap. Perempuan ini menjerit keras.
Di balik semak belukar Wiro pegang bahu Setan
Ngompol. “Kita tidak bisa tinggal diam. Makhluk jahanam
itu jelas hendak memperkosa perempuan gila yang
memegang boneka!”
Setan Ngompol yang sibuk pegangi bagian bawah perut
sebaliknya berkata. “Tunggu, aku punya firasat jahanam itu
tidak bakal mampu melaksanakan niat jahatnya. Selain itu
aku melihat ada orang sembunyi di balik pohon besar
sana. Kita jangan keluar dulu...”
Orang berwajah setan kembali ulurkan tangan. Kali ini
yang diincar adalah pakaian sebelah bawah Nyi Retno.
Rahang menggembung, geraham bergemeletakan. Saat
itulah tiba-tiba tubuh Nyi Retno mencelat ke atas dan di
lain kejap sungguh luar biasa, dia sudah berdiri di salah
satu cabang pohon besar di bawah mana dia duduk
sebelumnya.
Kalau Wiro dan Setan Ngompol sama-sama terkesiap
melihat kejadian tak terduga itu, lain halnya dengan orang
bermuka setan. Nafsu bejat yang menguasai dirinya
membuat dia tidak lagi membaca keadaan dan menilai
kemampuan orang. Sekali jejakkan kaki ke tanah tubuhnya
melesat sebat ke atas pohon.
Di atas cabang pohon, Nyi Retno Mantili berseru.
“Kemuning anakku! Ada orang jahat hendak mencelakai
ibumu! Apakah kau akan berdiam diri saja?!” Habis berkata
begitu Nyi Retno pencet pinggang boneka kayu yang
dipegangnya di tangan kiri. Kejap itu juga dari dua mata
boneka kayu melesat keluar dua larik cahaya putih. Cepat
sekali cahaya ini menyambar ke arah dada orang di bawah
pohon. Sesaat lagi akan mencapai sasaran tiba-tiba dua
cahaya lenyap. Orang yang diserang tersentak kaget dan
ragu bertindak.
Bukkk! Bukkk!
Cahaya yang lenyap ternyata telah berubah menjadi
dua pukulan dahsyat menghantam dada orang dengan
telak. Inilah ilmu pukulan yang disebut Sepasang Cahaya
Batu Kumala yang didapat Nyi Retno dari Kiai Gede Tapa
Pamungkas. Tak ampun lagi, didahului satu jeritan keras
tubuh orang yang tengah melayang ke atas pohon ini
terpental ke bawah. Mulut semburkan darah segar. Tubuh
jatuh bergedebuk, tertelungkup di tanah.
“Luar biasa!” ucap Wiro.
Setan Ngompol menimpali. “Seumur hidup baru kali ini
aku melihat ilmu kesaktian berbentuk cahaya yang
berubah menjadi gebukan. Siapa yang bisa menduga!
Astaga! Wiro! Lihat! Perempuan di atas pohon lenyap!”
Murid Sinto Gendeng memandang ke arah cabang
pohon. Memang benar, perempuan tidak waras yang
memegang boneka tak ada lagi di cabang pohon. Yang
kelihatan di sana hanya kabut putih samar-samar. Untuk
melenyapkan diri meninggalkan tempat itu dan tidak
mungkin dikejar siapapun, Nyi Retno Mantili pergunakan
ilmu Di Dalam Kabut Mengunci Diri yang juga dipelajarinya
dari Kiai Gede Tapa Pamungkas di puncak timur.
Tertelungkup di tanah perlahan-lahan si muka setan
berambut kelabu bergerak bangun. Tangan kiri bersarung
tangan hitam menyeka noda darah di dagu.
“Perempuan edan! Kulumat tubuhmu!” teriaknya marah
sekali. Lalu dia melesat ke udara, berjungkir balik satu kali
dan akhirnya tegak berdiri di tanah. Tangan kanan
diarahkan ke cabang pohon di mana Nyi Retno Mantili tadi
berada. Jelas dia hendak melepaskan satu pukulan tangan
kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Namun
gerakannya tertahan karena orang yang hendak dihantam
tak ada lagi di atas pohon sana.
“Perempuan keparat! Lari ke mana kau?!” teriak orang
bertopeng sambil memandang berkeliling siap meng–
hantam sekaligus juga ada rasa khawatir kalau dirinya
akan dibokong.
“Kau yang keparat!” Satu suara membentak. Suara
perempuan.
“Wiro lihat!” ucap Setan Ngompol yang berada bersama
Pendekar 212 di balik serumpunan lebat semak belukar.
Dia menunjuk ke cabang pohon di mana Nyi Retno Mantili
sebelumnya berada.
Saat itu di atas cabang pohon berdiri seorang nenek
berwajah putih angker, berambut hitam sepinggang, ber–
pakaian serba biru. Pandangan matanya menyorot ke arah
orang bermuka cacat penuh guratan luka, dua tangan
dirangkap di atas dada.
“Perempuan kecil yang memegang boneka tadi telah
berubah menjadi seorang nenek angker!” kata Setan
Ngompol sementara Pendekar 212 garuk-garuk kepala tapi
memperhatikan dengan mata tidak berkesip.
“Kalau memang dia berubah, seharusnya masih
memegang boneka. Nenek di atas pohon tidak memegang
boneka...” Ucap Wiro kemudian.
“Mungkin sudah dimasukkan dalam saku pakaian, atau
disimpan di mana,” jawab Setan Ngompol.
Di atas cabang pohon nenek muka putih tiba-tiba
tudingkan telunjuk tangan kiri ke arah si muka setan.
“Kau!” teriaknya. Suara nyaring menggeledek. “Kemarin
petang kau berada di desa Kaligesing. Memperkosa
seorang gadis kecil serta kakaknya lalu membunuh
keduanya! Sebelumnya kau juga telah melakukan per–
buatan keji serupa atas diri perempuan di beberapa desa.
Hantu Pemerkosa! Akui perbuatanmu dan aku akan
memberikan kematian sedikit lebih nyaman bagimu!”
Mendongak ke atas pohon mula-mula orang yang
dituding kelihatan terperangah heran. Namun kemudian
dia keluarkan suara tawa bergelak. “Tua bangka di atas
pohon! Lagakmu seperti malaikat yang serba tahu apa
yang telah aku lakukan! Kau menyebutku Hantu
Pemerkosa. Sungguh satu kehormatan besar! Kalau saja
kau berusia muda, walau jelek aku masih mau
menidurimu! Ha... ha... ha!” Habis tertawa gelak-gelak si
muka setan membentak. “Nenek muka putih! Apakah kau
jejadian dari perempuan yang tadi membawa boneka?!”
Perempuan tua di atas pohon dongakkan kepala. “Aku
bicara lain, kau bicara lain! Aku sudah memberi kesem–
patan. Sayang kau menyia-nyiakan. Kematian memang
harus merupakan akhir mengenaskan bagi manusia bejat
sepertimu!”
Dari mulut si nenek kemudian keluar suara raungan
keras dan panjang seperti suara lolongan serigala di rimba
belantara. Walau saat itu pagi hari dan matahari bersinar
terang tak urung Wiro dan Setan Ngompol merasa
merinding juga.
Sebaliknya si muka setan angkat tangan kanan lalu
dipukulkan ke atas pohon. Tiga larik sinar menderu ganas.
Tiga cahaya berkiblat. Di atas pohon suara raungan si
nenek lenyap. Tangan kiri dipentang, telapak mengembang
diarahkan ke bawah pohon. Tangan kanan bergerak
menyingkapkan baju biru di bagian perut. Kelihatan perut
putih disertai pusar yang menonjol bodong. Serentak
dengan itu lima jari tangan kiri membuat gerakan
meremas. Sesaat kemudian selarik sinar biru gelap mele–
sat keluar dari pusar bodong itu, menghantam ke arah tiga
larik cahaya pukulan sakti yang dilepaskan orang di bawah
pohon.
Bumm! Buumm! Buumm!
Tiga dentuman dahsyat menggelegar. Pohon besar
berderak-derak. Tanah bergetar. Di udara lidah api ber–
percikan. Tiga larik sinar pukulan sakti musnah. Si muka
setan menjerit keras. Tubuh terpental dan jatuh punggung
terbanting ke tanah. Lengan kirinya putus kena disambar
sinar biru yang keluar dari pusar bodong si nenek muka
putih di atas pohon.
Sekali lagi perempuan tua itu pentang tangan kirinya.
Ketika dia kembali hendak menyibakkan baju biru di
bagian perut tiba-tiba ada suara mengiang masuk ke
dalam telinga kirinya.
“Nyi Bodong, di mana kau. Lekas kembali!”
Gerakan nenek muka putih tertahan. “Kiai, saya tengah
melakukan satu kebajikan. Menghabisi seorang pemer–
kosa...”
“Nyi Bodong, perbuatanmu sangat terpuji. Namun aku
sudah mengingatkan. Jangan keluar ke mana-mana sebe–
lum kau merampungkan ilmu yang akan aku wariskan!”
“Kiai, aku sudah membuktikan sendiri. Walau belum
rampung tapi aku sanggup menghajar si pemerkosa itu...”
“Nyi Bodong, jangan nakal. Turut apa kataku! Lekas
kembali! Aku khawatir ada orang mengikuti. Aku merasa–
kan selain kau dan si pemerkosa ada dua orang lain
bersembunyi di tempat itu. Mereka mungkin orang baik,
tapi bisa juga punya maksud jahat...”
“Dengan ilmu Pusar Pusara yang Kiai berikan, saya
tidak takut menghadapi siapapun.”
“Nyi Bodong, dalam rimba persilatan, takabur adalah
langkah pertama dari kekalahan. Ingat hal itu baik-baik.
Sekarang cepat laksanakan perintah. Bertindak selalu hati-
hati, penuh waspada. Kalau sampai ada orang yang tahu di
mana kau berada semua urusan bisa jadi tak karuan.
Lekas kembali!” suara mengiang kembali memberi perin–
tah pada nenek muka putih yang dipanggil dengan sebutan
Nyi Bodong.
“Kiai, saya mohon maafmu. Bukan niat saya untuk
berlaku takabur. Saya hanya merasa bangga mendapat
kepercayaan Kiai hingga diwarisi ilmu kesaktian. Saya
segera kembali.” Nenek muka putih memandang ke bawah
pohon.
“Hantu Pemerkosa! Sayang aku ada kepentingan lain.
Kali ini lenganmu yang aku bikin buntung. Lain kali kalau
bertemu, batang lehermu yang akan aku tebas!”
Didahului suara tawa cekikikan keras dan panjang
nenek di atas pohon melesat lenyap. Di satu tempat ketika
dia siap untuk berkelebat ke arah timur, tiba-tiba dua orang
muncul di depannya. Si nenek terkesiap kaget. Ingat akan
ucapan jarak jauh yang disampaikan sang Kiai. Wajahnya
yang putih berubah menjadi merah.
“Dua manusia jelek! Kalian seperti sengaja mengha–
dang. Kalau kalian berani berbuat macam-macam, kalian
akan celaka!” Walau jelas membentak pada dua orang
yang ada di hadapannya namun si nenek palingkan
wajahnya yang merah ke arah lain seolah melecehkan.
Dua orang yang barusan muncul yang bukan lain
adalah Pendekar 212 Wiro Sableng dan Setan Ngompol
untuk beberapa ketika hanya bisa tertegun melongo.
Sepasang mata si nenek mengerling. Wajahnya yang
merah kembali berubah putih. Lalu sekali balikkan diri
nenek aneh ini lenyap laksana ditelan bumi.
“Sialan kita dibilang dua manusia jelek!” Setan
Ngompol mengumpat. “Kalau bertemu sekali lagi aku yakin
bisa merayunya. Akan aku buat dia bertekuk lutut, tergila-
gila dan memuji aku sebagai kakek ganteng di seantero
jagat!”
Wiro tersenyum. “Kek, aku perhatikan gerakannya
benar-benar seperti setan. Berkelebat lenyap. Membalik
hilang! Apa tadi kau memperhatikan bagaimana muka
putih nenek itu berubah merah sewaktu dia melihat kita?”
“Merah berarti jengah. Aih, mungkin saja dia terpesona
malu-malu melihat kegantengan diriku!” kata Setan Ngom–
pol lalu tertawa gelak-gelak sambil pegangi bagian bawah
perutnya.
“Aku ingin mengejarnya!” kata Wiro. Saat itu seperti ada
yang menggerakkan hati sang pendekar.
“Buat apa?!” tanya Setan Ngompol, “Kau tertarik pada
pusarnya yang putih bodong? Ha... ha... ha! Jangan
membuat aku cemburu! Terus terang kalau bisa dan ada
kesempatan aku ingin menghisap pusar itu! Ha... ha... ha!
Pasti sedap dan siapa tahu aku bisa dapat sari ilmunya!
Ha... ha... ha!” Setan Ngompol terpingkal-pingkal dan tentu
saja sambil kucurkan air kencing.
“Kek, ikuti aku!” kata Wiro seraya berlari ke tempat di
mana orang bermuka setan terkapar dalam keadaan
tangan kiri buntung akibat disambar sinar biru yang keluar
dari pusar bodong nenek berwajah putih itu.
Namun sosok si muka setan berjubah kelabu tak ada
lagi di tempat itu.
“Kabur!” ucap Setan Ngompol.
“Kutungan lengannya juga lenyap. Tadi aku lihat jatuh
di sebelah sini.” ujar Wiro. “Aku menaruh curiga...”
“Curiga bagaimana?” tanya Setan Ngompol.
“Ketika orang berjubah kelabu melancarkan serangan
ke arah nenek muka putih di atas pohon, pukulan tangan
kosongnya melesatkan tiga sinar. Kuning, hitam dan
merah. Aku ingat sekali Pangeran Matahari memiliki ilmu
pukulan sakti bernama Gerhana Matahari yang meman–
carkan sinar tiga warna seperti itu. Mungkin...”
“Mungkin saja makhluk seram tadi memang dia,” kata
Setan Ngompol. “Tapi suaranya berbeda dengan suara
keparat itu. Rambutnya kelabu, lalu wajahnya mengapa
bisa cacat mengerikan seperti itu?”
“Ketika rumah kayu di Seratus Tigabelas Lorong
Kematian hancur lebur kita tidak menemukan mayat
Pangeran Matahari. Aku yakin dia masih hidup. Bangsat
secerdik Pangeran Matahari, satu hari dia bisa bertukar
sepuluh wajah...”
“Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?
Meneruskan perjalanan ke jurang seperti rencana semula.
Atau mengejar manusia muka setan yang disebut Hantu
Pemerkosa itu. Atau mencari tahu ke mana kaburnya si
nenek yang punya pusar bodong putih berkilat?”
Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepala.
“Nenek muka putih tadi,” kata Wiro pula. “Menurutmu
apakah dia benar berubah bentuk dari perempuan muda
yang membawa boneka kayu?”
“Aku punya dugaan begitu,” jawab Setan Ngompol. “Aku
lebih suka kita mencarinya daripada kembali ke jurang
atau mengejar makhluk muka setan itu.”
Wiro kembali menggaruk kepala. “Jika manusia muka
setan berjubah kelabu itu memang Pangeran Matahari,
berarti perempuan muda membawa boneka memiliki
kepandaian luar biasa. Tidak sembarang orang mampu
menghajar sang Pangeran seperti itu. Lalu jika dia memang
hendak menghajar Pangeran Matahari mengapa harus
berubah ujud menjadi nenek-nenek segala? Perempuan
aneh. Ilmunya juga aneh.”
“Nah, kau bingung kan? Juga bingung kita mau menuju
ke mana?” Setan Ngompol tertawa. “Sudah ikuti saja aku.”
Lalu kakek ini tarik tangan murid Sinto Gendeng.
SEPULUH
KA telusuri dulu apa yang terjadi dengan Wulan
Srindi, murid Perguruan Silat Lawu Putih yang telah
diperkosa dua orang dari Keraton Kaliningrat yaitu
Kuntorando dan Pekik Ireng. Setelah melarikan diri dari
Jatilandak yang sebenarnya telah menolongnya, gadis itu
lari masuk ke dalam rimba belantara sambil berteriak-
teriak tiada henti. Peristiwa dahsyat yang menimpa dirinya
telah membuat jiwa dan pikiran gadis ini rusak hebat.
Keadaannya tidak beda dengan orang yang terganggu
ingatan.
Di satu bagian rimba belantara redup karena ditumbuhi
pohon besar berdaun lebat, selagi berlari kencang tanpa
arah sambil menjerit tiada henti, tiba-tiba satu tangan
panjang aneh seperti belalai gajah menjulai dari atas
pohon, menggelung pinggang Wulan Srindi. Saat itu juga
suara jeritan si gadis lenyap. Seperti ada yang menarik,
tubuh Wulan Srindi melesat ke atas pohon, lalu dibawa
berlari dari satu pohon ke pohon lain hingga akhirnya
lenyap di antara kelebatan dedaunan. Jatilandak yang
berusaha mengejar gadis ini kehilangan arah.
Di atas sebatang pohon, entah dari mana datangnya
mendadak muncul seekor ular besar berkulit hijau bermata
merah, kepala mendongak, mulut terbuka, meluncur di
atas dahan siap mematuk batok kepala Wulan Srindi.
Hanya tinggal dua jengkal kepala ular terpisah dari
kepala si gadis sekonyong-konyong ada suara menyembur.
Wusss!
Bau menyengat hidung menghampar. Ular besar men–
desis lalu byaaarr! Kepala binatang ini hancur bertaburan.
Tubuh ular seberat hampir seratus limapuluh kati ini sesaat
bergelung melingkar, bergelantungan di dahan pohon lalu
perlahan-lahan merosot ke bawah dan jatuh bergedebuk di
tanah. Di atas pohon terdengar suara tawa mengekeh lalu
menyusul orang menenggak minuman penuh lahap.
Glukk... glukk... glukk!
Wulan Srindi buka mulut hendak memaki. Tetapi mulut
itu tak bisa digerakkan dan tak ada suara yang bisa
dikeluarkan. Mata si gadis mendelik besar melihat wajah
merah seram orang yang memangku dirinya.
“Cah Ayu, berkulit hitam manis! Kau mau bicara apa?
Biar aku buka dulu jalan suaramu” Orang seram meneguk
cairan di dalam sebuah kendi. Lalu cairan ini disemburkan
ke leher Wulan Srindi. Saat itu juga totokan pada urat
besar di leher yang membuat Wulan Srindi tak bisa bicara
terbuka musnah. Si muka seram berkulit merah tertawa.
“Nah, sekarang bicaralah sesukamu Cah Ayu!”
Begitu totokan lepas, mulut bisa digerakkan dan jalan
suara kembali terbuka langsung Wulan Srindi menghambur
ucapan keras dan kasar. “Setan, dedemit, hantu keparat!
Lepaskan! Turunkan tubuhku ke tanah! Beraninya kau
memangkuku! Kau mau berbuat apa membawaku ke atas
pohon! Kau mau memperkosaku?! Lepaskan! Turunkan
aku ke tanah!” Habis berkata begitu Wulan Srindi hendak
berteriak namun mulutnya cepat ditekap orang.
Orang yang duduk memangku Wulan Srindi di cabang
pohon tertawa mengekeh.
“Kalau saja kejadian ini puluhan tahun lalu ketika aku
masih muda remaja, mungkin aku akan tergiur melakukan
apa yang kau katakan tadi! Memangku gadis secantikmu,
tubuh nyaris bugil, ha... ha... ha siapa tahan!”
“Jahanam! Kalau kau tidak segera melepaskan dan
menurunkan aku ke tanah, aku bersumpah menggeragot
lehermu, menghisap darahmu!”
“Wah, wah... wah! Kau bukan gadis sejahat itu! Dengar,
aku akan membawamu ke satu tempat yang aman. Di situ
kau bisa menerangkan apa yang telah terjadi pada dirimu!”
“Setan alas! Siapa sudi ikut denganmu!” teriak Wulan
Srindi membuat orang yang memangkunya geleng-geleng
kepala.
“Pikiranmu sedang kacau. Aku bisa menduga. Ada satu
kejadian dahsyat menimpamu! Tidak ada salahnya kau
ikutan minum agar pikiranmu bisa tenang kembali!”
“Setan, kau mau memberikan racun apa padaku?!
Tidak apa! Aku lebih baik mati daripada hidup tersiksa
seumur-umur!” teriak Wulan Srindi ketika dia melihat
sebuah kendi tanah berwarna hitam didekatkan ke
mulutnya.
“Aku bukan setan, bukan demit, bukan hantu. Aku
adalah iblis! Iblis! Kau dengar?! Ha... ha... ha! Ayo buka
mulutmu lebar-lebar. Minum biar banyak!”
Wulan Srindi merasa ada jari-jari tangan menekan
lehernya, membuat dia terpaksa membuka mulut. Lalu dari
dalam kendi hitam mengucur cairan menebar bau keras
menyengat pernafasan. Wulan Srindi merasa mulutnya
seperti disengat api ketika cairan itu melewati tenggo–
rokannya. Dia berusaha menyemburkan, berusaha memaki
namun semakin banyak cairan panas masuk ke dalam
mulut. Dada serasa terbakar, kening mendenyut sakit,
pandangan mata sebentar terang sebentar gelap. Bahkan
dia merasa sepasang matanya seperti mau melompat
keluar. Wajahnya yang berkulit hitam manis kelihatan
sangat merah. Dari tenggorokan keluar suara glek, glek,
glek sementara dada yang tidak tertutup bergerak naik
turun. Dalam keadaan seperti itu, akibat minuman sangat
keras yang masuk ke dalam perut akhirnya Wulan Srindi
kehilangan ingatan, jatuh pingsan. Orang yang memang–
kunya tertawa mengekeh. Kendi kosong dibuang, tubuh
Wulan Srindi diletakkan di bahu kiri. Sekali berkelebat dia
sudah berada di tanah lalu melarikan si gadis ke arah
utara.
***
Ketika siuman dari pingsan, Wulan Srindi dapatkan
dirinya terbaring di atas ranjang kayu beralaskan tikar
jerami. Memandang berkeliling ternyata dia berada dalam
sebuah kamar berdinding kayu. Di kaki ranjang, ada
seperangkat pakaian terdiri dari baju dan celana panjang
berwarna biru pekat. Wulan sadar keadaan dirinya yang
nyaris telanjang. Tanpa pikir panjang dia segera ambil
pakaian di tepi ranjang dan cepat mengenakannya.
Pakaian itu terdiri dari sehelai celana panjang ringkas serta
baju berbentuk kebaya dalam selutut.
Selesai berpakaian Wulan melangkah ke sebuah
jendela terbuka di dinding kiri ruangan. Begitu memandang
keluar gadis ini melengak kaget. Betapa tidak. Dia
dapatkan bangunan di mana dia berada saat itu ternyata
terletak di atas satu pohon tinggi dan besar. Tak jauh dari
seberang sana ada satu pohon besar. Di pohon itu terdapat
pula sebuah bangunan kayu. Wulan melihat ada pintu dan
jendela dalam keadaan tertutup.
Wulan sekali lagi memandang seputar ruangan.
Ternyata di situ juga ada sebuah pintu. Cepat-cepat pintu
dibukanya dan si gadis keluarkan suara tertahan karena
begitu pintu terbuka dia langsung berhadapan dengan
tempat kosong. Kalau sebelumnya ada orang tinggal di situ
bagaimana dia naik dan turun? Wulan tidak melihat tangga
dan alat lain yang bisa dipakai untuk turun ke tanah.
“Gila! Rumah di atas pohon. Bagaimana aku bisa
berada di sini?!” Wulan Srindi berpikir. Kemudian malah
tertawa dan menjerit. Pikirannya kacau. Dia coba lagi
mengingat-ingat. Ada seorang lelaki bermuka seperti
dedemit, mencekokkan minuman keras ke dalam
mulutnya.
“Makhluk seram yang mengaku iblis itu, di mana dia?
Mungkin dalam bangunan di pohon sana? Pasti dia
sengaja menyekapku di sini!” Wulan Srindi tegak terdiam.
Memandang ke bawah, tengkuknya terasa gamang.
Beberapa saat kemudian air mata meluncur di pipinya.
Tiba-tiba gadis ini menjerit, lalu duduk di salah satu sudut
rumah kayu menekapi wajah yang kotor dan pucat. Dia
menjerit sampai suaranya parau. Begitu dia tak mampu
lagi menjerit kini berganti suara tangisnya yang terdengar
berkepanjangan menyayat hati.
Wulan Srindi tidak sadar berapa lama dia dalam
keadaan seperti itu. Gadis ini baru hentikan tangis ketika
mendadak dia mendengar ada orang bersiul-siul diseling
tawa bergelak. Wulan berdiri. Melangkah ke pintu,
memandang ke bawah. Di antara kerapatan cabang dan
ranting serta daun pohon dia melihat seorang bermuka
seram seperti setan, bertubuh gemuk pendek melangkah
sambil bersiul-siul. Kulit muka dan tubuhnya tampak
merah. Sambil berjalan sesekali dia meneguk minuman
yang ada dalam kendi hitam. Orang ini mengenakan baju
longgar dan celana komprang hitam. Di pinggangnya melilit
sebuah ikat pinggang besar digelantungi selusin kendi
hitam. Sebagian sudah kosong sebagian lagi masih terisi
penuh minuman keras terbuat dari ketan kesukaannya.
Langkahnya aneh, huyung kiri oleng kanan. Terkadang
seperti mau terjerembab jatuh ke depan, sesekali seperti
mau terjengkang ke belakang. Keadaannya tidak beda
dengan orang tengah mabuk berat.
“Dedemit muka merah! Dia yang mencekoki dengan
minuman celaka itu! Selagi aku tidak sadar jangan-jangan
dia telah melakukan perbuatan keji atas diriku!” ucap
Wulan Srindi. “Biar mampus dia sekarang!”
Wulan Srindi meraba pakaiannya. Seperti diketahui
sebagai murid Perguruan Lawu Putih dia pernah membekal
sejenis senjata rahasia berbentuk bulat berduri, terbuat
dari tembaga kuning yang disebut Elmaut Kuning. Meraba
sekujur lekuk pakaiannya tentu saja Wulan tidak menemu–
kan lagi senjata rahasia itu. “Sial! Hilang di mana?!” Wulan
memaki sendiri. Rahang menggembung. Sepasang mata
berkilat tak berkesip ke bawah sana. Tiba-tiba gadis ini
angkat tangan kanannya. Didahului jeritan keras tangan itu
dihantamkan ke bawah, ke arah orang gemuk pendek yang
tengah berjalan sambil bersiul-siul dan sesekali meneguk
minuman keras dalam kendi tanah warna hitam. Satu
gelombang angin dahsyat menderu dari rumah kayu di atas
pohon.
Wusss! Kraak! Braak!
Ranting-ranting pohon berpatahan. Tiga dahan hancur
dan dedaunan luruh beterbangan. Wulan Srindi telah
melepas satu pukulan mengandung tenaga dalam tinggi
disebut Menyapu Bukit Menjebol Lembah.
“Hai! Setan alas dari mana berani membokongku?!”
Teriak si gemuk pendek di bawah pohon. Walau tubuhnya
tampak huyung seperti orang mabuk namun begitu ada
serangan ganas menyambar tubuh itu meliuk ke depan
seperti mau jatuh. Angin pukulan sakti lewat di atas pung–
gung. Si muka merah seram teguk minuman dalam kendi.
Byaarrr!
Tanah di samping kiri orang gemuk pendek berwajah
seram merah terbongkar membentuk satu lobang besar
berwarna hitam! Orang ini tertawa bergelak lalu sambil
meneguk minuman keras dalam kendi sepasang matanya
melirik ke atas pohon.
“Hekk!”
Orang berwajah seram ini keluarkan suara tercekik.
“Oala, Cah Ayu! Kau rupanya yang punya pekerjaan
nakal! Awas akan aku puntir telingamu! Kalau perlu aku
gebuk pantatmu!”
Habis berkata begitu si gemuk berkulit merah ini
gantungkan kendi hitam ke pinggang lalu sekali berkelebat
tubuhnya melesat ke arah rumah di atas pohon!
Di depan pintu rumah di atas pohon Wulan Srindi
menjerit keras lalu tubuhnya melayang ke bawah. Tangan
kiri mendekap dada, tangan kanan yang dalam keadaan
mengepal diarahkan pada orang gemuk pendek yang
melesat dari arah berlawanan. Sesaat lagi pasti akan
terjadi tabrakan hebat antara kedua orang itu!
“Oala, anak edan! Apa yang kau lakukan?! Kau mau
mati barengan apa?! Ha... ha... ha!”
SEBELAS
HANYA sepejangkauan lagi dua orang itu akan berta–
brakan hebat di udara, tiba-tiba sosok si gemuk
muka seram meliuk miring ke kanan. Tangan kirinya
secara aneh berubah panjang, menggelung pinggang
Wulan Srindi. Berbarengan dengan itu jari-jari tangan
kanan menotok urat besar di punggung. Saat itu juga
sekujur tubuh Wulan Srindi menjadi kaku. Kini nanya
mulutnya saja yang mampu berteriak-teriak.
Sampai di dalam rumah kayu di atas pohon, si gemuk
muka merah bercelana komprang hitam lemparkan Wulan
Srindi hingga terduduk di sudut ruangan.
“Manusia muka setan! Lepaskan totokan di tubuhku!
Aku ingin membunuhmu!”
Orang yang dimaki ambil kendi hitam lalu meneguk
isinya dengan lahap sampai berlelehan di dagu dan
membasahi baju sementara dua matanya mengawasi
Wulan Srindi.
“Kenapa kau ingin membunuhku?!” tanya si gemuk
sambil menyeka mulut.
“Sewaktu aku pingsan kau pasti telah mencabuliku!”
Kendi hitam di tangan si gemuk melesat ke depan.
Braakkk! Kendi remuk hancur di dinding hanya satu jengkal
di atas kepala Wulan Srindi. Pecahan kendi bertaburan dan
minuman keras membasahi rambut, wajah dan sebagian
pakaiannya. Si gadis terdiam namun kemudian tertawa
cekikikan.
“Edan! Baru sekali ini aku menghadapi orang edan!
Perempuan lagi! Kalau hati tidak kasihan, kalau tidak ingin
menolong, perduli setan aku mau mengurusi!”
Wulan Srindi hentikan tawanya. Dua matanya menatap
garang ke arah si gemuk pendek bermuka merah.
“Kau kasihan?! Ingin menolong?! Mau mengurusi?!
Hik... hik... hik! Manusia bermuka wajar saja hatinya bisa
sejahat setan! Apalagi kau yang punya muka setan! Hatimu
pasti sejahat iblis!”
“Cah Ayu! Ucapanmu membuat aku tersinggung. Cukup
aku melihatmu sampai di sini!” Orang itu ambil satu kendi
yang tergantung di pinggang. Minum bergelegukan. Masih
tinggal setengah kendi dibanting ke lantai. Lalu dia
melangkah ke pintu.
“Hik... hik! Setan bisa juga ngambek!”
Ucapan Wulan Srindi membuat si gemuk hentikan
langkah dan berpaling. Lalu tertawa gelak-gelak. Si muka
merah ini rupanya punya sifat lekas marah tapi cepat pula
baik.
“Manusia muka kepiting rebus. Kau ini siapa
sebenarnya?” bertanya Wulan Srindi.
“Aku manusia gelandangan! Tukang mabuk!”
“Sebelumnya kau bilang dirimu adalah iblis!” kata
Wulan Srindi pula.
“Kau boleh menyebut aku apa saja! Asal jangan
menuduh aku yang bukan-bukan!”
“Hik... hik... Dirimu mengingatkan aku pada guruku!”
“Siapa gurumu? Kau sendiri...”
“Kau akan terkejut kalau tahu siapa guruku. Apalagi
tahu siapa diriku!”
“Cah Ayu, seumur hidup tidak ada satu manusia yang
bisa membuat aku terkejut! Hanya satu hal yang bisa
membuat aku terkejut!”
“Hik... hik! Apa?!” tanya Wulan Srindi pula.
“Kalau minuman keras sari ketan kedoyananku tak ada
lagi di dunia! Ha... ha... ha!” Si gemuk ini hendak
mengambil satu kendi yang masih penuh berisi minuman
keras namun tak jadi. “Eh, kau belum menerangkan siapa
gurumu, siapa dirimu.”
“Aku adalah murid kakek sakti berjuluk Dewa Tuak!”
Wajah merah si gemuk pendek kelihatan tambah
merah.
“Nah, sekarang kau ternyata bisa kubuat terkejut! Hik...
hik... hik!”
“Siapa bilang aku terkejut?!” jawab orang di hadapan
Wulan Srindi lalu sambung ucapannya. “Aku tahu kau
dusta. Karena rimba persilatan tahu kalau manusia
berjuluk Dewa Tuak cuma punya seorang murid. Kalau tak
salah bernama Anggini. Padahal, tidak banyak diketahui
orang, sebenarnya selain Anggini kakek itu juga punya
murid lain. Perempuan, aku lupa namanya. Tapi yang jelas
bukan kau!”
“Kau bisa saja mengarang cerita. Yang jelas banyak
peristiwa terjadi dalam rimba persilatan. Selama ini
rupanya kau tidak pernah menyimak kabar. Kau mungkin
hanya sibuk dengan kendi hitammu itu. Kau pasti terkejut
kalau aku katakan diriku adalah jodoh dunia akhirat
Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Sinto Gendeng dari
Gunung Gede!”
“Jodoh dunia akhirat Pendekar 212 Wiro Sableng!”
mengulang si muka seram berkulit merah dengan kening
mengerenyit lalu tertawa mengekeh. Ternyata manusia
satu ini memang sulit dibikin terkejut. “Ngacok! Kau bicara
apa Cah Ayu! Semua orang tahu kalau pendekar yang kau
sebutkan sudah dijodohkan dengan Anggini. Hanya saja
perjodohan itu memang tidak ketahuan juntrungannya
sampai saat ini...”
“Karena tidak ketahuan juntrungan itulah maka Sinto
Gendeng memutuskan aku pengganti Anggini untuk jodoh
muridnya,” potong Wulan Srindi dengan wajah senyum-
senyum.
“Cah Ayu, jangan kau menganggap aku ini makhluk
tolol. Jangan kau kira aku tidak kenal dengan Pendekar
212!”
“Kalau begitu kelak kau bisa kujadikan saksi
pernikahanku. Hik... hik... hik! Kau bersedia bukan?”
“Ngacok! Lebih baik kau ceritakan apa yang terjadi
dengan dirimu.”
“Apa yang terjadi dengan diriku?” Wulan Srindi terdiam.
Lalu butir-butir air mata perlahan-lahan meluncur turun ke
pipinya.
“Oala, kok malah mewek, nangis?”
“Aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi. Terlalu
keji, terlalu memalukan.”
“Kalau kau mau cerita siapa tahu aku bisa menolong.”
“Aku tidak butuh pertolonganmu...”
“Kau sudah menerima sebagian dari pertolonganku,”
kata si muka merah sambil senyum-senyum.
“Kau mau minta imbalan?!”
“Jangan bicara ngacok lagi, Cah Ayu.”
“Aku korban kebejatan dua manusia biadab...” Wulan
Srindi ingin menekap wajahnya dengan kedua tangan.
Namun karena masih dalam keadaan tertotok hal itu tak
bisa dilakukan. Gadis malang ini akhirnya hanya bisa
berteriak, lalu menggerung menangis. Setelah tangisnya
reda dan terus dibujuk oleh si gemuk pendek bermuka
seram merah akhirnya Wulan menuturkan apa yang telah
dialaminya beberapa waktu lalu.
Beberapa saat setelah Wulan Srindi menceritakan
nasib malangnya, si gemuk pendek bertanya. “Dua orang
yang merusak kehormatanmu itu, kau tahu namanya?”
“Tidak.”
“Menurutku keduanya berseragam pakaian hitam. Pada
dada kiri baju mereka ada sulaman benang kuning rumah
joglo serta dua keris saling bersilang.”
“Benar.” jawab Wulan Srindi. “Kau mengenal siapa
mereka?”
“Keraton Kaliningrat. Mereka adalah orang-orang dari
Keraton Kaliningrat.” Menerangkan si gemuk pendek muka
seram merah.
“Aku belum pernah mendengar nama keraton itu. Di
mana letaknya?” tanya Wulan Srindi pula.
“Yang disebut Keraton Kaliningrat hanyalah nama saja.
Keraton yang berbentuk gedung tak pernah ada. Keraton
itu bisa saja ada di kawasan utara atau muncul di barat.
Bisa di selatan atau di timur. Tergantung di mana para
tokoh dan anggotanya saat itu berada. Biasanya hanya
untuk beberapa lama lalu berpindah lagi ke tempat lain...”
“Manusia-manusia Keraton Kaliningrat apakah mereka
itu merupakan manusia-manusia jahanam jahat atau...”
“Setahuku mereka adalah kaum pemberontak. Bebe–
rapa orang rimba persilatan berkepandaian tinggi ikut
bergabung dengan mereka. Kebanyakan dari mereka
hanya berkepandaian biasa-biasa saja. Namun mereka
memiliki ilmu kebal, tahan pukulan tak mempan senjata
tajam.”
“Kau tahu kelemahan ilmu mereka?”
Si gemuk pendek tertawa lebar. “Aku tahu maksud
pertanyaanmu. Kau punya niat untuk balas dendam.”
“Sampai jadi bangkai dan mendekam di liang kubur pun
aku tetap akan membalaskan dendam kesumat sakit hati.”
Si gemuk ambil sebuah kendi, meneguk isinya sampai
mukanya tambah merah. “Jika bertemu lagi dengan kedua
orang pemerkosa itu, kau masih mengenali tampang
mereka?”
“Pasti. Salah satu dari mereka sempat aku gigit dagu–
nya. Gigitan itu pasti meninggalkan cacat di wajahnya.”
“Cah Ayu, kalau kau ingin balas dendam biar aku
memoles dirimu lebih dulu. Aku butuh seratus hari untuk
melakukannya...”
“Apa maksudmu?” tanya Wulan Srindi curiga.
Yang ditanya cuma tertawa, teguk lagi minuman keras
dalam kendi. Tiba-tiba cairan dalam mulut disemburkan ke
wajah dan tubuh Wulan Srindi. Si gadis menjerit. Wajah
dan sebagian tubuhnya terasa panas seperti terbakar. Si
gemuk menyembur sekali lagi. Aneh, kalau tadi terasa
panas kini Wulan Srindi merasa wajah dan badannya
menjadi dingin sejuk. Namun gadis itu belum menyadari
kalau saat itu kulit wajah, tangan dan dua kakinya telah
berubah putih.
DUA BELAS
JALAN tanah yang melewati rimba belantara Ngluwer,
merupakan jalan pintas terdekat yang menghubungi
daerah selatan dengan kawasan utara sampai ke
Mungkid dan Magel sudah lama tidak dilewati orang.
Terutama para pedagang. Mereka lebih suka memilih jalan
berputar di sebelah timur melewati kaki Gunung Merapi.
Walau lebih jauh setengah hari perjalanan namun lebih
aman. Belakangan ini hutan Ngluwer telah menjadi sarang
sekelompok perampok jahat. Mereka bukan saja mem–
begal harta benda orang yang lewat di situ, tapi juga tak
segan-segan membunuh para korban.
Siang itu di pinggiran hutan sebelah barat ada serom–
bongan orang berkuda terdiri dari sembilan orang. Delapan
orang berkulit kuning, bermata sipit, mengenakan topi
merah dan pakaian berbentuk jubah bagus berkilat juga
berwarna merah. Beberapa di antara mereka memelihara
kumis panjang menjulai. Selain itu kedelapan orang ini
membekal sebatang tombak yang ujungnya berbentuk
pisau besar, tergantung di depan pelana. Orang kesembi–
lan seorang penduduk asli, agaknya bertindak sebagai
penunjuk jalan.
Ada satu keanehan pada rombongan delapan orang
asing ini. Empat orang membawa tambur, empat orang lagi
membawa terompet. Setiap menempuh jalan sejarak tiga–
ratus tombak mereka berhenti. Yang membawa tambur
segera memukul tambur. Yang membawa terompet segera
pula meniup terompet masing-masing. Setelah cukup lama
memainkan peralatan bebunyian itu rombongan melanjut–
kan perjalanan. Sekitar tigaratus tombak di muka mereka
berhenti lagi lalu melakukan hal yang sama, memukul
tambur meniup terompet.
Siapakah sebenarnya rombongan aneh ini? Terutama
delapan orang asing itu? Mereka adalah awak kapal milik
seorang pedagang dari daratan Cina yang beberapa waktu
lalu dijarah barang bawaannya ketika diduga merapat di
Tuban, ternyata kemudian diketahui berlabuh di Moro–
demak. Dari sekian banyak barang yang dirampas, satu di
antaranya adalah yang sangat berharga yaitu sebuah
kantong kulit berisi candu dan madat. Penjarahan kapal
dagang itu agaknya telah disiapkan dan diatur sedemikian
rupa. Tujuan utama para perampok sebenarnya memang
adalah madat seberat lebih dari 50 kati. Dua orang
perampok yang menyamar sebagai perajurit Kerajaan yaitu
Surojantra dan Jaliteng berhasil melarikan kantong kulit
berisi madat itu. Kedua perampok ini sebenarnya adalah
kaki tangan kaum pemberontak yang tengah mencari dana
dan dikenal dengan sebutan orang-orang Keraton Kali–
ningrat.
Seperti diceritakan dalam episode sebelumnya, Kitab
Seribu Pengobatan, Surojantra dan Jaliteng menemui ajal
di tangan Pangeran Matahari. Madat satu kantong
kemudian jatuh ke tangan Rakadanu dan Galirenik yang
punya tugas untuk mendapatkan madat tersebut. Mereka
adalah orang-orang Keraton Kaliningrat. Namun sebelum
sempat kembali ke markas, keduanya menemui ajal di
tangan murid kembar Hantu Malam Bergigi Perak. Madat
satu kantong besar kini berada di tangan si nenek sakti
bermuka angker itu. Sementara dua orang dari Keraton
Kaliningrat lainnya, Kuntorandu dan Pekik Ireng, yang
diperintahkan untuk mengamankan madat, tidak berhasil
menemui dua temannya. Malah kemudian mereka bertemu
Wulan Srindi dan memperkosa gadis itu.
Rombongan delapan awak kapal dagang Cina yang
berlabuh di Morodemak mendapat perintah untuk mencari
dan menemukan kembali madat yang telah dijarah. Di
bawah pimpinan nakhoda Long Cie mereka membawa
seorang penunjuk jalan sekaligus juru bahasa. Sang
penunjuk jalan yang bernama Amangrejo mengetahui kalau
sejak beberapa lama rimba belantara Ngluwer telah
menjadi sarang perampok ganas. Dengan dugaan bahwa
para perampok hutan inilah yang telah merampas kantong
berisi madat, maka Amangrejo membawa rombongan awak
kapal Cina ke kawasan itu. Karena tidak tahu pasti di mana
letak sarang para penjahat maka mereka pergunakan
siasat untuk memancing dan menarik perhatian. Yaitu
mereka sengaja menabuh tambur dan meniup terompet.
Setelah hampir setengah harian mundar-mandir di ping–
giran rimba belantara Ngluwer pancingan mereka akhirnya
berhasil juga.
Di satu tempat selain kerasnya rombongan memukul
tambur dan meniup terompet, tiba-tiba dari dalam hutan
terdengar suara suitan-suitan nyaring saling berbalasan
dari beberapa penjuru. Tak berselang berapa lama muncul
duabelas orang berpakaian dan berikat kepala kuning
pekat. Tampang garang, rata-rata memelihara cambang
bawuk liar. Sekali bergerak keduabelas orang ini telah
mengurung rombongan orang asing penabuh tambur
peniup terompet.
Amangrejo segera turun dari kudanya. Sementara
delapan awak kapal dari Cina tetap di atas kuda masing-
masing. Amangrejo membungkuk beberapa kali lalu kelu–
arkan ucapan. Penunjuk jalan ini sadar sekali kalau saat
itu dia tengah berhadapan dengan kelompok perampok
yang bisa menilai nyawa manusia tidak lebih berharga dari
seekor kodok dalam comberan.
“Salam hormat dan persahabatan untuk para kerabat
dari hutan Ngluwer. Mohon tanya siapakah yang bertindak
sebagai pimpinan dari para kerabat di sini?!”
Duabelas orang yang mengurung rombongan berkuda
hampir semua bertubuh tinggi besar dan galak. Namun
yang maju ke arah Amangrejo justru adalah seorang ber–
tubuh pendek, berkumis dan bercambang bawuk lebat tapi
berkepala botak plontos. Sepasang mata berwarna merah
namun juling. Hingga walau tampak galak tapi ada lucunya
juga. Amangrejo agak bingung. Jelas orang melangkah ke
hadapannya namun pandangan matanya tertuju ke jurusan
lain!
“Kami adalah orang-orang hutan Ngluwer tidak butuh
penghormatan kalian. Kami tidak merasa ada persaha–
batan antara kita!” Si pendek bermata juling keluarkan
ucapan. Walau pendek namun suaranya besar serak. Dia
bicara sambil dua tangan diletakkan di pinggang dan
sepasang mata juling memandang berputar.
Mendengar ucapan orang yang tidak bersahabat
Amangrejo cepat-cepat membungkuk. “Ah, harap maafkan
kalau kedatangan kami mengganggu ketenangan para
sahabat.”
Si pendek bermata juling goyangkan kepala ke arah
depan penunggang kuda di belakang Amangrejo.
“Siapa delapan monyet bermata sipit berdandan bagus
ini?! Apakah rombongan pengamen dari negeri seberang,
membawa tambur dan terompet segala?!”
“Mereka adalah awak kapal dagang dari Tiongkok.
Mereka ingin mencari keterangan tentang satu kantong
candu yang lenyap dijarah di pelabuhan Morodemak...”
“Mencari keterangan atau ingin menuduh kami yang
merampok candu itu? Bicara yang jelas!” Bentak si juling
pendek.
“Dengar, kami datang hanya untuk mencari keterangan.
Kalau para sahabat tahu, orang-orang ini bersedia mene–
bus candu itu dengan barang-barang perhiasan senilai satu
setengah kali harga candu.”
Si pendek juling pencongkan mulut. Dia memandang
berkeliling pada sebelas temannya. Keduabelas orang itu
kemudian tertawa tergelak-gelak.
“Kau yang jadi kacung orang asing!” si jereng menuding
pada Amangrejo. “Siapa namamu?!”
“Nama saya Amangrejo.”
“Amangrejo! Kalau dirimu cuma seorang kacung
penunjuk jalan, kami tidak heran kau berlaku tolol! Tapi
jangan berani membagi ketololan pada kami orang-orang
hutan Ngluwer! Kalau kalian membawa perhiasan yang
harganya satu setengah kali nilai candu, coba katakan
apakah ada manusia yang lebih tolol dari kalian di kolong
langit ini?!”
Ucapan si pendek berkepala botak itu disambut gelak
tawa kawan-kawannya yang sebelas orang.
“Amangrejo, kami masih mau berbaik-baik denganmu.
Coba perlihatkan dulu barang-barang perhiasan yang
kalian bawa.”
Amangrejo berpaling pada rombongan orang-orang
berjubah merah lalu bicara dalam bahasa Cina. Salah satu
dari delapan orang asing yang menunggang kuda dan
memelihara kumis panjang menjulai yang bukan lain
adalah nakhoda Long Cie menyahuti. Amangrejo lalu
berpaling kembali ke arah si pendek botak.
“Menurut nakhoda Long Cie, pimpinan awak kapal, dia
akan memperlihatkan perhiasan itu, bahkan akan membe–
rikan pada kerabat setelah dia melihat dan menerima
candu.”
Tampang si botak tampak menggembung merah.
“Katakan pada keparat mata sipit itu! Aku Surah Nenggolo
pimpinan orang-orang hutan Ngluwer di tempat ini! Di sini
berlaku peraturan kami. Mulutku hukumku! Jika dia tidak
suka dan tidak mau ikut aturan kami silahkan pergi. Tapi
dia tetap harus menyerahkan semua barang perhiasan
yang dibawa. Atau mereka semua menukar dengan
meninggalkan nyawa!”
Amangrejo menyampaikan apa yang dikatakan si botak
pendek. Waktu bicara mata kirinya dikedipkan. Long Cie
mengangguk lalu bicara pada dua temannya. Dua orang itu
mengeluarkan masing-masing satu peti kayu dari kantong
pelana masing-masing lalu turun dari kuda dan meletakkan
dua peti di tanah, beberapa langkah di hadapan Surah
Nenggolo.
“Bagus,” kata si gemuk botak pula. “Sekarang suruh
semua orang itu turun dari kuda mereka.”
Permintaan itu diteruskan Amangrejo pada Long Cie.
Bagi nakhoda kapal, ini adalah suatu permintaan aneh. Dia
memutuskan untuk tetap berada di atas kuda namun
menyuruh turun lima anak buah kapal yang masih duduk di
atas kuda. Kelima orang ini gantungkan tambur dan
terompet mereka di leher kuda masing-masing lalu turun
ke tanah.
Surah Nenggolo perhatikan Long Cie beberapa lama
lalu mendekati seorang anak buahnya dan berbisik. “Sipit
satu itu agaknya punya otak cerdik pandangan tajam. Jika
terjadi keributan kau harus membunuhnya lebih dulu.”
Setelah itu Surah Nenggolo menyuruh dua orang anak
buahnya yang lain membuka penutup peti kayu yang
tergeletak di tanah.
Begitu tutup dua peti terbuka menghamburlah delapan
ekor ular kobra dan langsung menyerang ke arah para
perampok. Surah Nenggolo dan sebelas anak buahnya jadi
kalang kabut. Dua orang kena dipatuk ular kobra menjerit
keras, roboh ke tanah, kelojotan beberapa ketika lalu kaku
tak bergerak lagi.
Surah Nenggolo berteriak seperti anjing melolong.
Seperti kesurupan dia berkelebat kian kemari, menabas,
membacok dengan golok besarnya ke arah ular-ular kobra
besar. Beberapa anak buahnya datang membantu. Seben–
tar saja delapan ular kobra bergeletakan mati di tempat itu.
Kini perhatian Surah Nenggolo dan sisa sembilan anak
buahnya tertuju pada rombongan awak kapal dagang Cina.
“Jahanam keparat! Kucincang kalian semua!” teriak
Surah Nenggolo. Tubuhnya berkelebat enteng. Delapan
dari sembilan anak buahnya ikut menghambur. Golok
besar di tangan kanan diputar sebat menghadapi tujuh
orang awak kapal yang telah turun ke tanah dan menyerbu
dengan bersenjatakan golok panjang. Amangrejo sendiri
kabur berlindung di tempat yang aman.
Pertempuran berlangsung hebat tapi cepat. Setelah
membuat beberapa kali gebrakan enam orang awak kapal
dagang Cina yang bersenjatakan golok berseru kaget
ketika tusukan dan bacokan senjata mereka sama sekali
tidak mempan terhadap tubuh lawan. Senjata masing-
masing seperti membal malah ada yang sampai terlepas
mental. Selagi mereka terkejut dan takut Surah Nenggolo
dan anak buahnya dengan cepat membalas serangan.
Kurang dari dua jurus, keenam orang awak kapal dagang
itu berkaparan di tanah. Darah mengucur dari luka-luka
mengerikan yang menguak di kepala, dada dan perut!
Sementara itu anak buah yang tadi dibisiki Surah
Nenggolo dengan golok di tangan melesat ke arah nakhoda
Long Cie yang saat itu masih duduk di atas kuda. Goloknya
berkelebat ke perut Long Cie. Awak kapal ini sentakkan tali
kekang kuda, berkelit ke kiri. Ketika lawan menyerang
kembali Long Cie sudah memegang sebatang tombak.
Traangg!
Tombak dan golok beradu di udara. Anak buah Surah
Nenggolo berseru kaget ketika dapatkan senjatanya terle–
pas mental dari genggaman. Selagi tubuhnya melayang ke
tanah, tombak di tangan Long Cie menusuk deras ke
depan.
Craass!
Tombak bermata seperti pisau besar itu menembus
dada anak buah Surah Nenggolo. Orang ini hanya bisa
keluarkan keluhan pendek. Mulut menganga mata men–
delik. Long Cie lepas tombaknya. Tubuh yang sekarat di
ujung tombak jatuh terbanting ke tanah.
Surah Nenggolo menggembor marah. Bersama bebe–
rapa anak buahnya dia segera mengejar Long Cie yang
tengah memutar tunggangannya.
“Serang kudanya!” Teriak Surah Nenggolo.
Tiga golok besar melesat di udara. Satu menyambar ke
arah kepala kuda, satu ke kaki, satu lagi ke jurusan perut.
Dengan sigap Long Cie cabut golok panjang di balik
punggung. Senjata itu diputar untuk melindungi diri dan
kuda tunggangannya.
Traang! Traang! Traang!
Terdengar tiga kali suara berdentrangan. Tiga golok
yang dilemparkan anak buah Surah Nenggolo mental, satu
di antaranya patah dua. Surah Nenggolo nekad memburu.
Dia sama sekali tidak menyerang nakhoda itu tapi berusa–
ha membabat salah satu kaki kuda. Namun Long Cie lebih
cepat. Sambil membungkuk dia babatkan golok besar di
tangan kanannya dengan deras ke dada pemimpin rampok
hutan Ngluwer ini.
Breett!
Dada pakaian Surah Nenggolo robek besar. Manusia
botak pendek ini cepat jatuhkan diri ke tanah. Sesaat
mukanya tampak pucat ketika dilihatnya nakhoda kapal
dagang Cina itu memutar kuda. Surah Nenggolo cepat
lemparkan golok besarnya ke arah Long Cie. Namun satu-
satunya awak kapal dagang yang hidup ini masih bisa
selamatkan diri dengan menjatuhkan diri sama rata di
punggung kuda. Golok yang dilempar Surah Nenggolo
melesat hanya seujung kuku di atas punggung Long Cie.
Selain mempunyai jabatan sebagai nakhoda kapal dagang
rupanya Long Cie juga mempunyai kepandaian silat
lumayan.
“Keparat jahanam! Aku bersumpah akan mencarimu di
Morodemak!” teriak Surah Nenggolo marah besar. Si botak
usap mukanya beberapa kali. “Bangsat satu itu tidak mau
turun dari kudanya. Apakah dia...” Tiba-tiba sudut mata
Surah Nenggolo melihat semak belukar di depan sana
bergerak. Dia segera hantamkan pukulan tangan kosong.
Angin deras menderu.
Braaakk!
Semak belukar terbongkar hancur. Satu jeritan ter–
dengar. Ketika Surah Nenggolo melompat dan menyelidik
ke balik semak belukar dia menemukan Amangrejo sudah
jadi mayat dengan darah masih mengucur dari mulut.
“Keparat pengkhianat! Mau-mauan jadi kaki tangan
orang asing! Sekarang rasakan sendiri!” Si botak ludahi
mayat Amangrejo lalu pergi menemui anak buahnya yang
kini tinggal sembilan orang.
“Kita harus menemui pimpinan. Orang Cina sudah tahu
kalau kelompok kita yang menjarah candu. Padahal candu
celaka itu entah berada di mana sekarang! Aku akan
berangkat duluan. Siapa di antara kalian yang bisa
menunggang cepat memilih kuda yang ditinggalkan orang
Cina itu. Ikut aku!”
Surah Nenggolo melompat ke atas seekor kuda besar.
Ketika dia hendak menggebrak binatang itu tiba-tiba
seorang anak buahnya berteriak. “Surah! Lihat! Di atas
pohon!”
TIGA BELAS
SURAH Nenggolo mendongak, memandang ke atas
pohon yang ditunjuk anak buahnya. Di atas dahan
paling tinggi, duduk berjuntai seorang perempuan
berpakaian biru berwajah putih. Pinggangnya dililit satu
ikat pinggang kulit besar. Pada ikat pinggang ini tergantung
lima buah kendi kecil berwarna hitam. Kendi keenam
berada di tangan kiri. Sambil duduk ongkang-ongkang kaki
perempuan berpakaian biru teguk minuman keras yang
ada dalam kendi hitam hingga wajahnya berubah kemera–
han. Sesekali dia sunggingkan seringai ke arah orang-orang
di bawah pohon.
“Hanya seorang perempuan muda kurang ingatan, perlu
apa diurusi!” seorang anak buah Surah Nenggolo bernama
Jantring keluarkan ucapan.
“Kau hanya melihat dengan mata, tidak pakai otak!”
damprat Surah Nenggolo. “Dia bukan gadis sinting biasa.
Dia punya kepandaian. Kalau tidak bagaimana bisa berada
di atas pohon, menenggak minuman dalam kendi. Kita
harus menyelidik. Jangan-jangan dia mata-mata Kerajaan.
Jantring, coba kau naik ke atas pohon. Paksa perempuan
itu turun ke tanah!”
Jantring merasa menyesal keluarkan ucapan. Namun
karena ini adalah perintah atasan maka segera saja dia
jejakkan kaki ke tanah. Tubuhnya melesat ke atas pohon.
“Ooo... ooo! Siapa yang mengundangmu naik ke atas
pohon?!” Perempuan yang duduk di cabang pohon teguk
cairan dalam kendi. Ketika Jantring hampir mencapai
dahan pohon di mana dia berada tiba-tiba si muka putih ini
semburkan cairan dalam mulutnya.
Wusss!!!
Jantring tidak menduga akan mendapat serangan
seperti itu. Dia coba menggapai cabang pohon di sebelah
kiri sekaligus berusaha melindungi muka dengan tangan
yang lain dari semburan cairan berbau sangat menyengat.
Tapi gagal. Semburan cairan mengenai mukanya. Rampok
hutan Ngluwer ini terpental dan menjerit setinggi langit.
Suara jeritan itu tersentak putus ketika tubuhnya jatuh
bergedebuk di tanah. Surah Nenggolo dan anak buahnya
cepat mendatangi. Semua mengerenyit ngeri ketika meli–
hat bagaimana wajah Jantring nyaris tak bisa dikenali lagi.
Hancur hangus penuh lubang.
Di atas pohon, perempuan berwajah putih tertawa
panjang cekikikan.
Amarah si botak bermata juling Surah Nenggolo mele–
dak melihat kematian Jantring. Didahului satu teriakan
dahsyat dia hendak melesat menyerbu ke atas pohon.
Namun salah seorang anak buahnya cepat menahan,
memegang lengannya lalu berbisik.
“Perempuan aneh itu berada di atas pohon. Kalau
diserang... lihat apa yang terjadi pada Jantring.” Ucapan si
anak buah membuat Surah Nenggolo sadar akan sesuatu.
Dengan mata berkilat dia ambil golok yang ada di tangan
dua orang anak buahnya. Lalu dua senjata ini dilemparkan
ke atas pohon. Tapi orang yang jadi sasaran serangan
ternyata tidak ada lagi di dahan tempat tadi dia duduk. Dua
golok menembus dedaunan, melesat di udara kosong.
Suara cekikikan kembali menggema di dalam rimba
belantara. Mau tak mau selain terperangah Surah Neng–
golo dan anak buahnya jadi merinding juga.
“Botak pendek! Apa matamu sudah buta?! Aku berada
di sini! Mengapa menyerang tempat kosong?! Hik... hik...
hik!”
Para perampok hutan Ngluwer jadi terkejut geger ketika
mereka melihat perempuan yang tadi diserang dengan
golok ternyata memang telah berpindah ke pohon lain dan
duduk tertawa-tawa di salah satu cabang pohon.
“Kalian sungguh tidak berbudi! Aku mau mengundang
minum. Kalian malah menyerang!”
“Perempuan muka putih! Setan atau apapun kau
adanya! Jangan jual lagak di atas pohon! Turun ke sini!”
teriak Surah Nenggolo sambil menjambak sendiri cambang
bawuknya saking kesal.
Orang yang diteriaki tertawa panjang.
“Apakah aku cantik hingga kau menganggap aku jual
lagak?!” Perempuan di atas pohon liukkan badan hingga
sebagian pinggang dan perutnya tersingkap menggairah–
kan. Dia kemudian menatap ke arah Surah Nenggolo lalu
meneguk minuman keras dalam kendi hitam. Setelah usap
lelehan cairan di sekitar bibirnya dia berkata dengan suara
keras. “Botak pendek! Kau minta aku turun ke tanah! Aku
malah mau mengundangmu naik ke atas pohon biar aku
suguhi minuman sedap yang membuat badan jadi segar,
mata nyalang, pikiran lepas, dada lapang! Hik... hik... hik!
Apa kau dan anak buahmu malu-malu menerima unda–
nganku?! Apakah aku tidak cukup cantik dan menggiurkan
untuk duduk berhangat-hangat berdampingan dengan
kalian di atas pohon ini? Hik... hik... hik!”
Mendengar ucapan orang yang menyuruh mereka naik
ke atas pohon Surah Nenggolo dan anak buahnya yang kini
tinggal delapan orang saling pandang. Salah seorang dari
mereka membisiki. “Surah, jangan-jangan perempuan di
atas pohon itu tahu...”
“Kita harus menyelidik siapa dia adanya. Lalu mem–
bunuhnya!” Surah Nenggolo potong ucapan anak buahnya.
Dia memandang ke atas pohon lalu berkata dengan suara
keras. “Perempuan muda...”
“Perempuan muda!” orang di atas pohon mengulang
ucapan Surah Nenggolo dengan suara keras lantang. “Kau
memanggil aku perempuan muda. Apakah menurutmu aku
ini tidak gadis lagi?! Kurang ajar! Jangan kau berani
menghina!” Habis berteriak perempuan ini keluarkan suara
menggerung seperti menangis.
Melihat orang bersikap aneh, Surah Nenggolo cepat
berkata. “Gadis cantik di atas pohon, harap maafkan kalau
aku salah memanggil dirimu. Juga terima kasih atas
undangan minum. Namun aku rasa dahan pohon itu terlalu
sempit untuk kami sembilan orang! Bagaimana kalau kau
saja yang turun ke sini! Mari kita bicara. Siapa tahu aku
bisa melupakan kematian tiga anak buahku dan kita bisa
bersahabat!”
Perempuan muka putih berpakaian biru gelap di atas
pohon tertawa panjang. Agaknya dia senang dipanggil
gadis cantik. Dia tutup tawanya dengan berkata. “Bagus
juga. Ternyata kau bukan manusia bangsa pendendam.
Aku pikir mungkin kita memang bisa bersahabat! Aku
penuhi permintaanmu. Aku segera turun!” Habis keluarkan
ucapan perempuan itu gerakkan tangan kirinya.
Kraakk!
Dahan pohon sebesar paha manusia patah, melayang
jatuh ke tanah. Perempuan muka putih menyusul turun.
Ketika dia sampai di bawah kakinya tidak langsung
menginjak tanah, tapi bertumpu pada patahan dahan
pohon. Tubuhnya tegak tak bisa diam. Bergoyang huyung
ke kiri ke kanan, sesekali oleng ke depan atau ke
belakang. Keadaannya tidak beda orang mabok.
Melihat orang berdiri tidak menginjak tanah, Surah
Nenggolo dan semua anak buahnya saling pandang.
“Hai! Sesuai permintaan aku sudah turun. Sekarang
kenapa kalian kelihatan seperti bengong?! Mari kita
minum-minum...” Perempuan muka putih angkat
tangannya yang memegang kendi hitam.
Surah Nenggolo maju dua langkah. Dia tidak berani
terlalu dekat dengan perempuan yang berdiri di atas dahan
pohon. Sebaliknya orang yang didatangi memandang lekat-
lekat. Pertama ke arah dada pakaian kuning Surah
Nenggolo yang robek besar akibat sambaran pedang Long
Cie tadi. Dia melihat di balik pakaian kuning di sebelah
luar, di bagian dalam kepala rampok ini mengenakan
pakaian lain berwarna hitam. Pandangan kedua diarahkan
pada wajah Surah Nenggolo.
“Tampangmu lucu! Ternyata matamu jereng! Hik... hik...
hik! Pantas tadi kau keliru melakukan serangan! Hai aku
bisa mengobati mata julingmu. Dicongkel yang kiri dipindah
ke kanan, yang kanan dipindah ke kiri. Mau?”
Rahang Surah Nenggolo menggembung. Walau marah
dan jengkel namun dia jawabi ucapan orang dengan
tenang.
“Sekarang kita telah menjadi sahabat. Boleh-boleh saja
kita bicara lucu-lucuan. Apakah kami boleh tahu siapa
gerangan nama sahabat, apakah juga punya gelar atau
julukan gagah dalam rimba persilatan? Selama ini kami
terlalu lama mendekam dalam hutan hingga tidak tahu
kalau ada tokoh-tokoh baru rimba persilatan yang
bermunculan. Harap sahabat kami gadis cantik sudi
memberi tahu.”
Perempuan muka putih mendongak lalu tertawa
panjang. “Yang namanya rampok itu tentu saja selalu
mendekam dalam hutan. Kalau ada mangsa, baru muncul
seperti tadi kau dan anak buahmu membantai orang-orang
Cina.”
Tampang Surah Nenggolo tampak merah mendengar
ucapan yang mengejek itu.
“Eh, tadi kau tanya nama dan gelarku. Menurutmu apa
nama yang bagus dan gelar yang pantas untukku?”
Mendengar pertanyaan orang Surah Nenggolo jadi
kesal. Namun dia berlaku cerdik dan alihkan pembicaraan.
“Sahabat, aku lihat sedari tadi kau hanya berdiri di atas
dahan pohon. Mengapa tidak turun ke tanah agar kita bisa
segera menikmati minuman yang kau tawarkan?”
“Hai, apa kau tidak melihat kasut kakiku masih baru?
Aku tidak mau mengotori alas kaki baru ini!” jawab
perempuan muka putih sambil angkat salah satu kakinya.
Ternyata dia memang mengenakan kasut yang masih baru
sebagai alas kedua kakinya.
“Kau juga tetap tidak mau memberi tahu siapa dirimu
pada kami kawan-kawan barumu?”
“Tidak ada perlunya. Kalian mau ikutan minum atau
tidak?”
“Sahabat, jika kau menyembunyikan siapa dirimu, kami
menaruh curiga. Jangan-jangan kau adalah mata-mata
yang dikirim Kerajaan!” Kata Surah Nenggolo pula.
“Ah, kalau kau punya kecurigaan seperti itu berarti kau
tidak sebenarnya jujur ingin bersahabat denganku!
Manusia jereng atau juling sepertimu ini tidak bisa
dipercaya! Hik... hik! Sekarang terpaksa aku membatalkan
niat mengundang kalian minum. Lebih baik aku minum
sendiri!”
Gluk... gluk... gluk.
Selagi si gadis asyik meneguk minuman keras dalam
kendi Surah Nenggolo memberi tanda pada delapan anak
buahnya. Pada tiga anak buah yang terdekat dia berkata.
“Serang sampai dia turun dari atas dahan. Jaga jarak. Hati-
hati semburan minuman keras. Jangan sampai kena
digebuk.” Tanpa banyak menunggu delapan orang anak
buah Surah Nenggolo, empat bersenjata golok, empat
mengandalkan tangan kosong segera menyerbu.
“Kurang ajar! Benar-benar tidak berbudi! Mula-mula
katanya bersahabat. Lalu menaruh curiga. Sekarang malah
menyerang!” Si muka putih berteriak marah. Satu
sambaran golok yang mengarah kepalanya ditangkis
dengan kendi di tangan kiri. Kendi hancur berantakan.
Orang yang menyerang terpekik ketika satu tendangan
menghantam dan membobol perutnya. Darah menyembur
dari mulut, sebagian memercik mengotori kaki kanan
perempuan muka putih. Perempuan ini berteriak marah.
“Jahanam kurang ajar! Kau memecahkan kendiku! Kau
mengotori kasut baruku! Mampus semua!” Dalam kemara–
hannya perempuan itu melesat setinggi satu tombak ke
udara. Korban kedua jatuh ketika lagi-lagi kaki si muka
putih berkelebat kirimkan tendangan yang membuat
pecahnya kepala salah seorang anggota rampok hutan
Ngluwer.
Pada waktu perempuan itu melesat ke arah Surah
Nenggolo cepat pergunakan kesempatan menendang
dahan kayu yang tergeletak di tanah hingga terpental jauh.
Ketika lawan melayang turun dan jejakkan kaki di
tanah, Surah Nenggolo berteriak. “Sekarang!” Dengan
sebilah golok di tangan bersama anak buahnya yang kini
bersisa enam orang Surah Nenggolo menyerbu perempuan
muka putih. Serangan dari tujuh penjuru ini yang disebut
jurus Menjepit Bumi Membantai Gunung sungguh ganas
luar biasa. Sasaran serangan tak mungkin selamatkan diri.
Namun apa yang terjadi? Ketika tujuh lawan menyerbu
secepat kilat perempuan muka putih luncurkan tubuh ke
bawah. Dia menyelinap di antara kaki-kaki lawannya sambil
pukulkan tangan kiri kanan.
Bukkk! Buukkk!
Dua anggota rampok terpental dan jatuh terbanting ke
tanah. Namun cepat bangkit kembali.
“Bangsat perempuan! Jangan kabur!” teriak Surah
Nenggolo.
“Siapa kabur! Aku di sini! Hik... nik... hik!”
Terdengar jawaban disusul tawa cekikikan.
Gluk... gluk... gluk!
Semua kepala dipalingkan. Surah Nenggolo melihat
perempuan muka putih itu ternyata berdiri dengan tangan
kiri di pinggang, mulut meneguk minuman keras dalam
kendi hitam sementara sepasang mata mengawasi dua
orang anggota rampok yang tadi berhasil digebuknya.
Hebatnya perempuan ini tidak langsung berdiri di tanah
tapi tegak di atas mayat salah seorang awak kapal dagang
Cina! Seperti tadi tubuhnya tampak terhuyung-huyung kian
kemari.
EMPAT BELAS
MELIHAT semua yang terjadi, salah seorang anak
buah Surah Nenggolo dekati pimpinannya dan
berbisik, “Surah, lebih baik kita menghindar saja.
Melawan perempuan sinting tapi berkepandaian tinggi kita
bisa habis semua.”
“Tutup mulutmu! Aku yang mengatur perintah! Bukan
kau!” semprot Surah Nenggolo. “Aku masih penasaran.
Kita serang sekali lagi dengan jurus Langit Terang
Memancung Rembulan. Cari senjata! Apa saja!”
Semua anggota rampok segera mengambil tombak dan
golok yang bergeletakan banyak di tanah. Masing-masing
kini memegang dua senjata termasuk sang pemimpin.
Sementara perempuan muka putih masih asyik-asyikan
meneguk minuman keras dalam kendi hitam. Didahului
teriakan keras dari Surah Nenggolo, tujuh pasang tangan
bergerak. Empatbelas senjata melesat ke udara, mengarah
sasaran, mulai dari kepala sampai ke betis perempuan
muka putih.
Tiba-tiba dalam satu kecepatan sulit dibayangkan,
orang yang diserang seperti tumbang jatuh punggung ke
tanah. Sementara lebih dari selusin senjata menyambar
ganas kurang setengah jengkal dari atas tubuhnya, si muka
putih gulingkan diri di tanah. Sambil berguling tangan kiri
lepaskan satu pukulan tangan kosong, mulut semburkan
minuman keras. Dua orang anak buah Surah Nenggolo
menjerit. Kedua–nya roboh ke tanah, melejang-lejang
kelojotan. Empat kawan mereka diam terpaku, kaget dan
mulai leleh nyali masing-masing.
“Jahanam kurang ajar! Aku mengadu jiwa denganmu!”
teriak Surah Nenggolo marah besar. Tubuhnya melesat
mengejar perempuan muka putih yang masih bergulingan
di tanah. Tangan kanan menghantam dua kali berturut-
turut ke arah punggung.
“Mati kau!” teriak Surah Nenggolo.
Buumm! Bumm! Byaarr! Byaarr!
Dua letusan keras menggelegar. Di tanah kelihatan dua
lobang besar. Asap hitam mengepul. Di balik asap
terdengar tawa cekikikan. Tiba-tiba sebuah kendi hitam
melayang ke arah kepala Surah Nenggolo. Kepala rampok
ini menangkis dengan pukulan tangan kiri. Kendi hancur
berantakan. Kendi itu ternyata kosong.
“Botak jereng! Aku di sini!”
Surah Nenggolo berpaling ke belakang. Saat itu juga
satu pukulan keras menghantam dadanya. Manusia
bertubuh pendek ini terpental sampai dua tombak, tapi
segera bangun tanpa cidera sedikitpun.
“Hemmm... aku sudah menduga,” ucap perempuan
muka putih sambil menyeringai. Dia maju selangkah. Kaki
kiri diselipkan ke punggung mayat awak kapal dagang Cina
yang tergeletak di tanah. Begitu kaki itu digerakkan ke atas
dan sosok mayat melesat di udara ke arah Surah Nenggolo
dan anak buahnya berdiri, perempuan muka putih cepat
melompat. Sesaat kemudian dia telah berdiri di atas mayat
awak kapal dagang yang meluncur di udara.
Dalam kagum dan juga rasa kecut yang mulai
membayangi dirinya, Surah Nenggolo berikan perintah
pada anak buahnya. “Kalian serang mayatnya. Perempuan
keparat itu serahkan padaku!”
Empat anggota rampok yang sebenarnya sudah ciut
nyalinya namun takut pada pimpinan mereka terpaksa
menghambur maju dan lancarkan serangan ke arah mayat
yang dipakai tumpangan untuk meluncur. Sementara
Surah Nenggolo angkat tangan kanan. Tangan itu tampak
bergetar hebat dan berubah warna menjadi kehitaman.
Kepala perampok ini memang punya satu pukulan sakti
disebut Wesi Kala Item. Pukulan sakti ini mengandung
racun sangat jahat. Lawan yang hanya terkena sapuan
anginnya saja pasti akan cidera kulitnya dan cacat
sengsara seumur hidup.
Empat pukulan keras menghantam mayat awak kapal
hingga dagingnya remuk dan tulang-tulang berderak patah.
Tubuh perempuan yang berada di atas sosok mayat
kelihatan oleng seperti mau jatuh ke tanah.
“Hai, aku pinjam kepalamu!” teriak si muka putih lalu
blek! Enak saja kaki kirinya hinggap di kepala salah
seorang rampok. Bersamaan dengan itu dia tarik lepas
sebuah kendi. Sambil meneguk minuman keras dalam
kendi kaki kanannya mencari sasaran kepala perampok
yang berdiri paling dekat. Tak ampun lagi rampok ini
terpental melintir dan terkapar di tanah dengan rahang
rengkah.
Wuss!
Cahaya hitam berkiblat dari tangan Surah Nenggolo
yang melepas pukulan Wesi Kala Item. Perempuan muka
putih bergumam. Mulutnya terbuka menyembur minuman
keras.
Dess! Dess! Buum!
Satu letupan keras menggema di tempat itu, meng–
goncang rimba belantara Ngluwer. Surah Nenggolo tutupi
muka dengan kedua tangan. Mulut berteriak keras. Tubuh
terjengkang di tanah. Dua tangannya tampak hangus dan
ada bercak-bercak hitam.
“Celaka!” ucap kepala rampok ini dengan muka pucat.
Racun Wesi Kala Item yang dilepas, akibat semburan
minuman keras lawan ternyata berbalik mengenai kedua
tangannya sendiri.
Tawa cekikikan mengumbar di udara. Putuslah nyali
kepala rampok hutan Ngluwer ini walau di depan sana
dilihatnya perempuan muka putih terhuyung-huyung lalu
jatuh berlutut di tanah akibat letupan keras tadi.
Ketika Surah Nenggolo menghambur kabur tinggalkan
tempat itu, tiga orang anak buahnya yang masih hidup
telah minggat lebih dulu. Dua orang yang hancur kakinya
hanya bisa mengerang merasakan sakit amat sangat.
“Hik... hik! Botak mata jereng! Enak saja mau kabur!
Tunggu dulu! Ada yang akan aku tanyakan padamu!”
Surah Nenggolo percepat lari, masuk ke dalam hutan.
Namun kakinya seperti dipantek ketika mendadak di
depan sana sosok perempuan muka putih tahu-tahu
muncul menghadang. Tubuh terhuyung-huyung, mulut
menyeringai. Kepala rampok ini segera memutar arah lari.
Lagi-lagi dia terperangah karena perempuan tadi sudah
ada di hadapannya dan sekali tangannya bergerak baju
kuning yang dikenakannya robek besar. Seperti tadi yang
dilihat dan diduga perempuan muka putih ternyata di balik
baju kuning, kepala rampok ini mengenakan sehelai
pakaian hitam. Pada dada kiri ada sulaman benang kuning
rumah joglo dan sepasang keris bersilang. Melihat sulaman
ini perempuan muka putih berteriak keras, mata mendelik
seperti memandang setan!
“Benar dugaanku! Kau orang Keraton Kaliningrat.”
Secepat kilat jari telunjuk tangan kanan perempuan muka
putih menusuk kelopak mata kanan Surah Nenggolo.
“Dengar, matamu akan aku cungkil jika kau tidak
menjawab apa yang aku tanyakan!”
“Jangan! Ampuni selembar jiwaku! Aku akan jawab apa
saja yang kau tanyakan!” Kepala rampok itu tampak
sangat ketakutan. Tubuh menggigil, wajah seputih kertas.
“Di mana sarangmu! Di mana Keraton Kaliningrat?!”
“Aku... sarang kami di dalam rimba belantara. Selalu
berpindah-pindah. Sejak beberapa lama ini kami
menjadikan hutan Ngluwer sebagai markas...”
“Bagus! Sekarang katakan di mana letak Keraton
Kaliningrat. Apa letaknya sama dengan sarangmu?”
“Yang namanya Keraton Kaliningrat tak ada ujud tak
ada bentuk. Letaknya bisa di mana saja!”
“Bangsat juling! Siapa percaya ucapanmu!” Tusukan jari
di kelopak mata kanan semakin dalam, menembus kulit
hingga darah mulai mengucur. Surah Nenggolo menahan
sakit setengah mati. Dia merasa bola matanya seperti mau
melompat keluar.
“Aku tidak berdusta. Kau boleh mencungkil mataku!
Kau boleh membunuhku tapi kau tidak akan mendapat
jawaban lain.”
“Begitu?” si muka putih menyeringai. “Kalau begitu
antarkan aku ke tempat di mana terakhir kali beradanya
Keraton Kaliningrat!”
“Percuma saja. Kau tidak akan menemukan siapa-siapa
di tempat itu.”
“Hemmm...” Si muka putih bergumam, berpikir-pikir.
“Gadis cantik, aku mohon kau mengampuni selembar
jiwaku. Aku bersumpah benar-benar tidak tahu apa-apa
mengenai Keraton Kaliningrat. Dalam jajaran mereka aku
tak lebih dari seorang kacung.”
“Kau seorang kacung? Kasihan sekali. Hik... hik.
Baiklah, aku akan mengampuni selembar nyawamu. Jika
kau bertemu dengan orang-orang Keraton Kaliningrat
katakan bahwa kita bersahabat. Sekarang ulurkan tangan
kananmu. Aku ingin berjabatan tangan denganmu!”
“Ah, kau baik sekali. Terima kasih...” Surah Nenggolo
jatuhkan diri berlutut dan membungkuk berulang kali. Lalu
dia angkat tangan kanan, siap untuk menyalami.
Tiba-tiba sebuah kendi hitam berkelebat, lalu praakkk!
Surah Nenggolo menjerit setinggi langit. Tangan kanannya
mulai dari jari sampai ke pergelangan hancur!
Si muka putih tertawa bergelak lalu dorong dada Surah
Nenggolo dengan kaki kiri hingga orang ini terguling jatuh.
“Tangan yang memiliki ilmu setan harus dihancurkan.
Sekarang pergilah, aku tidak suka melihat tampangmu!”
Susah payah Surah Nenggolo berdiri, terbungkuk-
bungkuk menahan sakit lalu lari masuk ke dalam hutan
Ngluwer secepat yang bisa dilakukannya. Perempuan muka
putih tersenyum. Dia menunggu sebentar lalu melesat ke
atas sebatang pohon besar.
***
Hutan Ngluwer ternyata luas sekali. Setelah matahari
menggelincir ke barat Surah Nenggolo baru sampai ke
tempat yang ditujunya. Tempat itu adalah sebuah danau
kecil, dikelilingi pohon-pohon besar. Sosok dan dedaunan
pohon yang berbagai ragam membuat air danau seperti
berwarna ketika sinar matahari memantul ke permukaan
air.
Di pinggir danau ada beberapa tanah yang agak
terbuka. Di sini berdiri tiga buah bangunan beratap rumbia.
Dua agak kecil dan berdinding, satunya besar tapi tanpa
dinding. Di bangunan besar tampak banyak orang duduk
mengelilingi sebuah meja panjang terbuat dari bambu.
Di kepala meja sebelah kanan duduk seorang lelaki
berusia sekitar empatpuluh tahun, berwajah cakap,
memiliki kening tinggi dan alis tebal. Rambut tebal panjang
sebahu. Dibanding semua orang yang ada di tempat itu dia
satu-satunya yang berpakaian bagus dan mewah. Di kiri
kanan meja duduk duabelas orang yang rata-rata telah
berusia lebih dari setengah abad. Di antara mereka, raut
wajah serta pakaian jelas menunjukkan sebagai orang
rimba persilatan. Satu-satunya perempuan yang hadir di
tempat itu adalah seorang nenek berhidung seperti paruh
burung kakak tua, bermata dingin berwarna kelabu. Di
sebelah luar sekitar empatpuluh orang bertubuh tegap,
berpakaian dan ikat kepala hitam tegak berjaga-jaga. Di
dada kiri baju yang mereka kenakan tertera sulaman
kuning rumah joglo dan dua keris bersilang.
Lelaki di kepala meja sebelah kanan berkeliling lalu
bertanya. “Keluarga seperjuangan yang hadir, apakah
pertemuan bisa dimulai?”
Ada yang menganggukkan kepala, banyak yang berkata
mengiyakan.
“Terima kasih. Terima kasih saudara-saudara seper–
juangan bisa hadir dalam pertemuan Keraton Kaliningrat
yang ke sembilanbelas ini. Seperti yang sudah-sudah
Ayahanda Kanjeng Pangeran Sri Paku Jagatnata meminta
saya mewakili diri beliau.”
“Pangeran Muda, apakah Kanjeng Pangeran Sri Paku
Jagatnata berada dalam keadaan baik?” seorang peserta
pertemuan bertanya.
“Tentu saja.” Lelaki yang dipanggil Pangeran Muda
menjawab sambil anggukkan kepala. “Ayahanda berkirim
salam untuk semua saudara seperjuangan. Ada beberapa
hal penting yang akan kita bicarakan. Pertama perihal
madat asal kapal dagang Cina yang sampai saat ini tidak
diketahui di mana beradanya. Dua orang kerabat kita
tewas. Dua orang lagi kembali dengan tangan hampa.
malah membawa musibah. Hal kedua...”
Belum sempat Pangeran Muda meneruskan ucapannya
tiba-tiba di kejauhan terdengar satu jeritan keras. Lalu
suara orang berlari. Tak lama kemudian muncullah satu
sosok pendek seorang lelaki berkepala botak, bercambang
bawuk lebat. Dia langsung masuk ke dalam bangunan
pertemuan. Nafas mengengah, dada turun naik. Muka
sepucat kain kafan. Ada luka di mata kanan yang membuat
bola matanya seperti hendak meloncat keluar. Tangan
kanannya yang hancur dan berlumuran darah setengah
kering diletakkan di atas meja. Tubuh terhuyung-huyung.
Kalau tidak lekas dipegang orang niscaya akan jatuh
terkapar di tanah. Pertemuan menjadi geger. Seorang
cepat mendekati si botak, mengurut beberapa bagian
tubuhnya sambil alirkan hawa sakti dan tenaga dalam,
memberi kekuatan. Si botak ini lalu didudukkan di sebuah
kursi.
“Surah Nenggolo! Apa yang terjadi dengan dirimu?!
Mana anak buahmu?!” Lelaki di kepala meja kanan
bertanya. Suara bergetar menahan perasaan.
“Delapan orang menemui ajal. Tiga kabur entah ke
mana. Saya mohon maafmu...”
“Jangan dulu bicara soal maaf! Cepat jelaskan apa yang
terjadi!” Pangeran Muda di ujung meja membentak.
Ketakutan sekali Surah Nenggolo yang kepala rampok
hutan Ngluwer itu menuturkan apa yang terjadi.
“Seorang perempuan muda berotak miring! Membawa
minuman keras! Dia yang punya pekerjaan. Dan kau tidak
tahu siapa dia adanya! Keterlaluan! Memalukan.”
Pangeran Muda marah sekali. Dia bicara sampai terlonjak
berdiri dari kursinya. Lelaki ini kemudian berpaling pada
nenek berhidung seperti burung kakak tua. Walau dia satu-
satunya perempuan di tempat itu, agaknya dia memiliki
wibawa cukup tinggi hingga dijadikan tempat bertanya.
“Ni Serdang Besakih, saya ingin mengirimkan orang kita
ke perbatasan. Mungkin perempuan sinting itu masih
berada di sekitar sana. Namun saya perlu pendapatmu
lebih dulu.”
“Pangeran Muda, kelihatannya kita menemui seekor
ikan besar. Aku setuju kita mengirimkan orang. Jika boleh
aku yang pergi mencari bersama beberapa orang saudara
seperjuangan. Saudara-saudara yang berpakaian seragam
boleh menyusul untuk mengawasi keadaan. Bagaimana
pendapatmu?”
“Pendapatku Nek, kau tak perlu susah-susah mencari.
Aku sudah ada di sini!”
Tiba-tiba satu suara terdengar.
Semua orang dalam bangunan sama mendongak ke
atas atap karena suara orang yang bicara datang dari arah
sana. Bersamaan dengan itu mendadak atap bangunan
yang terbuat dari rumbia jebol. Satu sosok berpakaian biru
disertai suara tawa mengikik melayang turun ke bawah,
berdiri di atas meja! Bau minuman keras mengampar
menusuk hidung.
“Dia orangnya!” teriak Surah Nenggolo sambil menun–
juk dengan tangan kiri. Semua orang yang ada di tempat
itu menjadi geger! Lalu suasana berubah hening seperti di
pekuburan.
TAMAT
Episode Berikutnya: NYI BODONG
0 comments:
Posting Komentar