"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Jumat, 29 November 2024

MAHESA KELUD EPISODE MENCARI MATI DI BANTEN

MAHESA KELUD EPISODE MENCARI MATI DI BANTEN

 SATU


WULANSARI sampai di Magetan 

selewatnya tengah malam. Anak 

perempuan dalam dukungannya tertidur 

nyenyak. Dari jauh kelihatan ada dua 

orang pengawal berjaga-jaga di pintu 

gerbang. Memasuki kota malam-malam 

begitu pasti akan mengundang 

kecurigaan. Apalagi dia seorang 

perempuan dan membawa seorang anak 

kecil. Kalau sampai dua pengawal 

menggeledahnya dan menge-nali siapa 

adanya anak perempuan yang dibawanya 

pasti urusan menjadi panjang. Bukan 

mustahil dia segera ditangkap.

Menghadapi dua pengawal itu tentu 

saja bukan satu perkara besar bagi 

murid Si Cakar Setan yang 

berkepandaian tinggi ini. Namun yang

penting baginya ialah masuk ke dalam 

kota tanpa ada yang mengetahui. Maka 

sebelum mencapai pintu gerbang kota 

gadis itu mengambil jalan berputar. Di 

satu tempat yang sunyi dan gelap 

Wulansari melompati tembok kota. Dalam 

kegelapan malam gadis ini bergerak 

cepat, menyelinap rhenuju gedung 

Kadipaten.

Beberapa orang penjaga tegak di 

pintu depan gedung. Dua orang lainnya 

meronda sekeliling gedung. Setelah 

melihat kesempatan baik Wulansari 

melompati tembok gedung Kadipaten,


masuk ke halaman dalam. Semua pintu 

dan jendela gedung Kadipaten dalam 

keadaan terkunci. Di sebelah dalam 

hanya ada satu nyala lampu samar-samar 

di bagian tengah gedung.

Wulansari pergunakan 

kepandaiannya. Hampir tanpa suara dia 

mencongkel sebuah jendela. Begitu 

jendela berhasil dibukanya dengan 

cepat dia melompat masuk ke dalam ge-

dung. Karena tidak mengenal seluk 

beluk tempat itu dengan sendirinya 

Wulansari tidak mengetahui di mana 

letak kamar tidur Adipati Lor 

Bentulan. Selagi dia merasa bimbang, 

pada saat dia hendak melangkah 

mendadak dari balik sebuah tiang besar 

muncul seorang pengawal. Orang ini 

rupanya bertugas sendirian di dalam 

gedung. Begitu melihat Wulansari dia 

segera angkat tombaknya, siap untuk 

menusuk dan siap untuk berteriak.

Wulansari cepat bertindak. Sekali 

berkelebat saja gadis ini berhasil 

menotok leher si pengawal hingga orang 

ini menjadi kaku dan tegang, tak bisa 

bersuara tak bisa bergerak. Dia 

tertegun seperti patung dengan mata 

mendelik dan tangan ke atas mengangkat 

tombak. Hanya sepasang matanya yang 

masih mampu berputar-putar.

"Lekas kau beritahu dimana kamar 

tidur Adipati Lor Bentulan!" kata


Wulansari. "Beritahu dengan isyarat 

matamu!"

Mula-mula pengawal itu hanya 

memandang melotot pada si gadis. 

Wulansari cekik lehernya hingga 

mukanya menjadi pucat dan nafasnya 

sesak. "Cepat beritahu atau kuremukkan 

batang lehermu!"

Sepasang bola mata si pengawal 

bergerak ke kanan beberapa kali. 

Wulansari mengikuti arah lirikan dua 

mata orang itu. Di ujung kanan ruangan 

memang dilihatnya ada sebuah pintu 

besar terbuat dari kayu berukir. Tanpa 

tunggu lebih lama gadis ini segera 

melangkah cepat menuju pintu itu. 

Sekali lagi dia pergunakan kepandaian 

untuk membuka pintu itu lalu 

menyelinap masuk ke dalam.

Di tengah kamar tidur yang besar 

itu terletak sebuah pembaringan 

tertutup kelambu. Dua orang terbaring 

pulas di atasnya. Yang satu 

mengeluarkan suara mengorok. Inilah 

sosok Bupati Magetan Lor Bentulan. Di 

sebelahnya terbaring sang istri. Walau 

perempuan ini tertidur nyenyak namun 

dari raut wajahnya jelas kelihatan dia 

sangat letih dan cemas sepanjang hari-

hari lenyapnya anak perempuannya.

Perlahan-lahan Wulan 

menyingkapkan tirai kelambu. Lalu 

dengan hati-hati sekali anak perempuan 

yang ada dalam dukungannya diba


ringkannya di antara ke dua orang 

tuanya. Setelah memandang dengan puas 

dan tersenyum cepat-cepat Wulansari 

tinggalkan kamar itu, keluar dari 

dalam gedung dan lenyap melompati

tembok sebelah timur gedung.

Keesokan paginya istri Lor 

Bentulan terbangun lebih dulu. Ketika 

dia membalikkan badan dan membuka mata 

terkejutlah perempuan ini. Digosoknya 

sepasang matanya berulang kali.

"Bermimpikah aku ini...?" 

perempuan itu bertanya pada dirinya 

sendiri ketika pandangannya membentur 

sosok anak perempuannya yang tertidur 

pulas di sebelahnya. Perempuan ini 

ulurkan tangan kanannya untuk mengusap 

wajah anak itu. Pada saat itulah sang 

anak bergerak. Istri Lor Bentulan 

terpekik.

Gedung Kadipaten menjadi heboh di 

pagi buta itu. Lor Bentulan dan 

istrinya merasa sangat bersyukur 

kepada Tuhan atas kembalinya anak 

mereka.

"Pasti gadis itu..." desis Lor 

Bentulan sambil mengusap-usap kepala 

anaknya.

"Sayang dia tidak menemui 

kita.... Sepertinya dia tidak mau kita 

membalas jasa dan budi baiknya ini..." 

berucap istri sang Adipati dengan air 

mata berderai. Lalu dipeluk dan 

diciumnya anaknya berulang-ulang.


Di bawah teriknya sorotan sinar 

matahari kelihatan seorang kakek-kakek 

tua renta berambut putih berlari 

sangat cepat mendaki bukit Jatiluwak. 

Tubuhnya kurus kerlng, tinggal kulit 

pembalut tulang. Dia hanya mengenakan 

sehelai celana hitam dan sehelai kain 

sarung terselempang di dadanya. 

Melihat kepada umur dan kecepatan 

larinya yang laksana angin itu maka 

jelaslah bahwa kakek ini memiliki ilmu 

yang sangat tinggi.

Ketika kedua matanya yang sipit 

itu melihat pondok papan jauh di muka 

sana maka berteriaklah dia: "Warok! 

Aku datang...!" Kakek ini hanya 

menggerakkan kedua bibirnya sedikit 

saja, tapi suara teriakannya itu 

terdengar hampir ke seantero bukit! 

Dapat dibayangkan bagaimana kehebatan 

tenaga dalamnya. Dalam sekejapan mata 

saja dia sudah sampai di hadapan 

pondok papan itu dan berdiri dengan 

terheran-heran. Biasanya kalau dia 

berteriak seperti tadi, maka Warok 

Kate pasti sudah berdiri menyambut 

kedatangannya di ambang pintu. Tak ada 

suara jawaban. Dia melangkah ke 

hadapan pintu yang terbuka. Tiba-tiba 

terkejutnya orang tua ini bukan main 

karena dari pintu beterbanganlah 

beberapa ekor gagak hitam sambil 

mengoak-oak. Pada saat itu pula hidung 

si kakek mencium bau busuk dari dalam


pondok. Dengan cepat dia masuk ke 

dalam.

Langkah orang tua ini terhenti 

serta merta ketika kedua matanya 

meinbentur sosok tubuh yang 

tergelimpang di lantai di hadapannya. 

"Warok!" pekik kakek ini melengking 

tinggi dan berlutut di hadapan mayat 

Warok Kate yang masih dapat 

dikenalinya meski keadaan mayat itu 

sudah sangat rusak busuk dan 

berlubang-lubang habis digerogoti 

burung-burung pemakan mayat!

"Warok! Warok...! Setan! Bedebah! 

Siapa yang melakukan ini?! Siapa? 

Siapa...?!" teriak si kakek 

menggeledek sampai suaranya 

menggetarkan pondok papan itu dan 

terdengar menggema ke hutan di 

belakang sana. "Warok! Katakan, 

siapa!" teriaknya lagi seperti orang 

gila ka-rena sampai kiamat pun mayat 

yang sudah busuk itu tak akan bisa 

menjawab. Sambil menghentak-hentakkan 

kedua kakinya maka mulailah kakek ini 

menangis tersedu-sedu. Kadang-kadang 

suara tangisnya seperti suara tangis 

seorang perempuan yang kematian suami, 

kadang-kadang seperti suara tangis 

anak kecil. Namun satu hal dapat 

disimpulkan, bagaimanapun gayanya sua-

ra tangisan si kakek ini pastilah 

kematian Warok Kate sangat menyedihkan


hatinya disamping menimbulkan 

kemarahan tentunya!

Tiba-tiba suara tangisnya 

terhenti mendadak sontak. Kedua 

matanya yang sipit membuka lebar lalu 

cepat-cepat dia membungkuk mengambil 

sebuah benda hijau yang menarik 

perhatiannya. Ditelitinya benda itu 

sejurus ddii segera diketahuinya bahwa 

benda itu tak lain daripada patahan 

ujung keris hijau yang dulu 

diberikannya kepada Warok Kate! 

Mendidihlah amarah kakek itu.

"Keparat! Laknat terkutuk! 

Rasakan pembalasanku! Manusia atau 

setan sekali pun aku tidak takut! 

Muridku dibunuh! Keris hijau

pemberianku dibikin patah! Dibikin 

sumpung! Kelak akan kupatahkan batang 

leher manusia itu! Siapa?! Siapa yang 

melakukan ini semua?!" Kakek-kakek ini 

melangkah ke pintu. Kedua tangannya 

diletakkan di pinggang. Pandangannya 

beringas. "Hai setan bukit! Jin hutan 

dan seribu satu makhluk kasar serta 

halus yang mendiami bukit Jatiluwak 

ini! Jawab! Siapa yang membunuh 

muridku?! Siapa yang menghinakan 

senjata warisanku?! Jawab...!"

Tapi hanya gema dari suaranya 

yang merupakan jawaban. Kakek-kakek 

itu melangkah ke hadapan sebuah pohon. 

"Hai pohon!" katanya keras. "Katakan, 

siapa yang membunuh Warok Kate! Siapa


yang menghinakan keris warisanku itu! 

Katakan siapa?!"

Tentu saja mana mungkin pohon itu 

bisa memberikan jawaban! Dan 

penasaranlah si kakek. "Hai jawab! Apa 

kau bisu?! Sialan! Kau tak mau jawab 

ya? Mampuslah!" Bersamaan dengan itu 

tangan kanannya bergerak dan "buk". 

Pohon besar itu tumbang kena hantaman 

tangan!

Kemudian kelihatanlah orang tua 

renta kurus itu berlari menuruni 

bukit. Sambil lari tiada henti-

hentinya dia berteriak melengking 

tinggi. "Siapa...! Siapa...! Akan 

kupatahkan batang lehernya! Akan 

kukorek jantungnya! Rasakan 

pembalasanku! Rasakan!"

Siapakah kakek-kakek aneh yang 

seperti orang gila ini? Dia tak lain 

adalah guru Warok Kate yang diam di 

gunung Karang. Nama aslinya Sumo 

Parereg. Tapi dalam kalangan 

persilatan dia lebih dikenal dengan 

nama julukan "Si Suling Maut" dan 

merupakan seorang tokoh persilatan 

yang ditakuti di daerah utara. Gelaran 

aneh yang diberikan kepadanya itu 

adalah karena dia memiliki sebuah 

senjata ampuh yaitu berupa sebuah 

suling. Melihat kepada tingkah lakunya 

tadi nyatalah bahwa otaknya tidak 

waras. Dan memang guru dari Warok Kate 

ini agak sinting alias setengah gila!


Tapi meskipun demikian dalam llmu 

silat jangan main-main dengan dia.

Julukannya sebagai "Si Suling Maut" 

bukan julukan kosong belaka.

Dia lari terus dan mencapai kaki 

bukit. DI hadapannya berjalan seorang 

laki-laki separuh baya, bertopi 

anyaman bambu dan membawa sebuah 

pacul. Nyatalah bahwa dia seorang 

petani.

"Hai orang yang menyandang pacul! 

Berhenti dulu!" teriak Si Suling Maut. 

Waktu dia berteriak itu jaraknya 

dengan si petani masih kira-kira dua 

ratus langkah. Tapi sebelum 

teriakannya selesai dia sudah berdiri 

di hadapan si petani!

"Hai, kau petani ya?! Ayo 

katakan, siapa?! Cepat, siapa?!"

Ditanya seperti itu sudah barang 

tentu si petani jadi terheran-heran. 

Dipandangnya kakek-kakek berambut 

putih di hadapannya itu mulai dari 

kepala sampai ke kaki. Tak pernah dia 

melihat manusia tua ini sebelumnya.

"Sialan! Kau bisu atau tuli?! Aku 

tanya siapa?!" bentak Si Suling Maut.

"Orang tua, kau ini bertanyakan 

siapa...?"

"Kunyuk! Aku tanya siapa malahan 

menanya siapa!" maki si kakek. "Ayo 

katakan siapa! Kau pasti tahu!"

Orang tua ini pasti gila, pikir 

si petani. Karenanya cepat-cepat dia


angkat kaki tapi bahunya ditarik. "Aku 

tanya siapa, mengapa pergi?!" tanya Si 

Suling Maut makin marah.

"Orang tua, aku tidak mengerti 

maksud pertanyaanmu."

Si kakek membesarkan kedua 

matanya. "Bodoh! Aku tanya siapa yang 

membunuh muridku, siapa yang membunuh 

Warok Kate! Ayo jawab!"

"Tak tahu aku. Aku juga tak 

pernah dengar nama Warok Kate," jawab 

petani itu.

"Kurang ajar! Kau dusta, kau 

pasti tahu!

Ayo, katakan siapa?!" hardik Si 

Suling Maut seraya mencekal leher 

pakaian orang itu.

Gemaslah si petani. Dikibaskannya 

lengan si kakek. "Orang tua, 

minggirlah!"

"Bangsat! Kau tahu tapi tidak mau 

kasih tahu ya?! Terima ini dan 

mampuslah!"

Bersamaan dengan itu si kakek 

menghan-tamkan tangan kirinya ke topi 

si petani. Tak ampun lagi petani itu 

mental jauh dan melingkar di tanah. 

Topi bambu melesak masuk ke dalam 

kepalanya yang hancur dipukul! Tentu 

saja nyawanya sudah melayang pada 

detik itu juga.

Sambil berteriak melengking-

lengking kakek sinting itu berlari 

lagi. Akhirnya dia memasuki sebuah


kampung yang terletak tak jauh di kaki 

bukit. Seorang pemuda yang kebetulan 

berada di tepi jalan menghentikan 

langkahnya dengan terheran-heran 

ketika melihat munculnya seorang 

kakek-kakek kurus kering dengan 

berlari laksana angin dan berteriak-

teriak seperti orang gila. Dia jadi 

terkejut ketika tahu-tahu saja si 

kakek yang tadi dilihatnya masih di 

ujung jalan. Kini sudah berada di 

hadapannya dan menudingkan jari 

telunjuk tangan kirinya tepat-tepat ke 

hidungnya.

"Orang muda, kau pasti tahu! Ayo, 

katakan siapa?!"


DUA


KEDUA mata pemuda itu terbuka 

lebar-lebar. Dengan penuh tanda tanya 

dia meneliti si kakek dari ujung 

rambut sampai ke kaki. Tadi dia telah 

melihat bagaimana kakek ini sangat 

cepat larinya dan dia maklum pasti 

orang tua itu memiliki ilmu lari 

hebat, tapi agaknya berotak miring. 

Karenanya pemuda ini tidak bertindak 

gegabah. Dia tersenyum dan balik 

bertanya: "Siapa yang tengah kau cari-

cari, orang tua?"

"Ah! Kalau aku tahu tidak tanya 

padamu sompret! Ayo katakan siapa?!"


Pemuda itu tersenyum lagi. 

"Mengapa kau cari orang itu, Kakek?"

"Pemuda edan! Apa kau tidak tahu 

kalau dia telah membunuh muridku? Ayo 

katakan, siapa!"

Si pemuda kini mulai mengerti apa 

yang membuat kakek-kakek kurus kering 

ini jadi beringas. Dia menjawab: 

"Sayang, Kakek... orang itu sudah 

pergi jauh! Kau terlambat."

Si Suling Maut menghentakkan kaki 

kanannya ke tanah. Si pemuda menjadi 

sangat terkejut ketika melihat ke 

tanah bekas hentakan kaki itu karena 

kini tanah tersebut menjadi berlubang 

sampai sedalam sepuluh senti! Meremang 

bulu tengkuknya. Cepat-cepat dia 

berkata: "Harap dimaafkan, Kakek. 

Sebenarnya aku tidak tahu apa-apa. Kau 

cobalah minta keterangan pada orang 

lain!"

"Pemuda rendah tukang tipu! Tadi 

kau bilang dia sudah pergi jauh! 

Sekarang kau bilang tidak tahu apa-

apa! Rupanya tidak tahu siapa aku huh? 

Berani mempermainkan? Ini bagianmu!"

"Buk!"

Tubuh pemuda itu melintir lalu 

roboh ke tanah. Perutnya robek lebar 

kena tendang kaki kanan si kakek sakti 

dan nyawanya melayang!

"Rasakan! Itu bagiannya manusia 

yang suka menipu!"


Sementara itu mendengar suara 

orang membentak-bentak, beberapa orang 

penduduk yang tinggal di sekitar sana 

segera keluar hen-dak melihat apa yang 

terjadi. Mereka jadi terkejut ketika 

melihat bagaimana seorang tua renta 

tengah menendang seorang pemuda pen-

duduk kampung sampai pemuda itu 

terjungkal roboh dan mati. Mereka 

segera lari ke tempat kejadian itu.

"Ha... ha! Bagus! Ada banyak 

orang kini! Hai kalian orang kampung 

mari sini dekat-dekat! Aku mau tanya!" 

seru si kakek sinting.

Tentu saja orang-orang kampung 

sesudah-nya melihat kebuasan orang itu 

tidak berani datang mendekat. Mereka 

berdiri memperhatikan dari jauh. Dua 

orang di antaranya menggotong mayat si 

pemuda ke dalam satu rumah.

"Hai! Orang-orang kampung apa 

kalian tuli tidak dengar kalau 

dipanggil?!" seru Si Suling Maut. 

"Sini semuanya, aku mau tanya!"

Tetapi tak ada seorang yang mau 

datang. Maka naiklah darah si kakek 

sinting ini. Tubuhnya berkelebat ke 

muka dan banyak orang berpekikan. 

Tahu-tahu dua penduduk kampung sudah 

kena dijambak rambutnya dengan tangan 

kiri kanan! "Ayo, katakan di mana 

orang itu, cepat!"

Orang yang dijambak di tangan 

kanan merintih kesakitan. "Orang tua,


lepaskan aku!" "Tidak! Katakan di mana 

orang itu!" "Orang itu siapa?!"

"Pura-pura tidak tahu hah?! 

Pemuda tadi mengatakan dia berada di 

sini! Ayo, di mana kalian sembunyikan 

dia!"

Orang yang dijambak di tangan 

kiri membuka mulut, "Orang tua, kalau 

kau mau melepaskan jambakanmu, aku 

akan terangkan padamu...."

"Tidak bisa, kalau kulepas kau 

pasti lari! Ayo kalian terangkan siapa 

orang itu? Mana dia! Cepat!" Kedua 

orang tersebut merintih kesakitan 

karena jambakan pada rambut mereka 

semakin keras dan sakitnya bukan main!

"Orang tua, kami tidak 

menyembunyikan siapa-siapa di kampung 

ini. Aduh lepaskan...."

"Benar-benar kalian berani omong 

kosong terhadapku! Manusia-manusia 

busuk pendusta, rasakan!"

"Brakk!"

Kedua kepala penduduk kampung itu 

diadu satu sama lain sampai 

mengeluarkan suara mengerikan. 

Keduanya mati dengan kepala pecah!

Sementara itu orang-orang kampung 

yang lain menjadi heboh. Maka 

buncahlah seluruh isi kampung. Di 

mana-mana terdengar orang berteriak-

teriak.

"Awas! Ada orang gila mengamuk!"



"Awas orang mengamuk! Masuk ke 

dalam rumah!"

"Amuk! Amuk!"

Dalam sekejap mata seluruh 

kampung menjadi sunyi senyap. Semua 

orang masuk ke rumah masing-masing dan 

memalang pintu serta jendela. Siapa 

yang mau cari urusan dengan seorang 

gila yang tengah mengamuk?!

Tiba-tiba dari kelokan jalan 

kelihatan berlari dengan cepat seorang 

laki-laki berbadan pendek tegap, 

berpakaian bagus dan memakai blangkon. 

Dari caranya berlari jelaslah bahwa 

dia seorang yang memiliki ilmu juga 

meskipun belum mencapai tingkat 

tinggi.

"Hai, kau! Kemari!" perintah si 

orang tua.

Laki-laki itu menghentikan 

langkahnya. Dia adalah Jiwosuto, 

kepala kampung. Diam-diam kepala 

kampung ini merasa ngeri juga melihat 

keangkeran tampang si kakek di 

hadapannya. Dia tahu bahwa dia tengah 

berhadapan dengan seorang yang 

mengamuk dan otaknya tengah dikuasai 

setan, karenanya tak berani bertindak 

ceroboh.

"Saudara tua," kata si kepala 

kampung, "Ada apakah? Agaknya kau 

tengah mencari se-seorang?" suaranya 

lemah lembut.


"Hem... kau manusia tahu diri, 

ya? Ha... ha! Memang benar, aku tengah 

mencari seseorang."

"Kalau aku boleh tanya, siapakah 

seseorang itu?" bertanya lagi 

Jiwosuto.

Si kakek memencongkan mulutnya. 

Tampangnya merengut buruk. "Aku tidak 

tahu seseorang itu, justru aku datang 

ke sini untuk menanyakan siapa dia. 

Tapi penduduk kampung menipuku, 

mempermainkanku!"

Dalam hatinya kepala kampung itu 

menjadi bingung juga, si orang tua ini 

tengah mencari seseorang, tapi siapa 

yang dicarinya itu tidak tahu! 

"Saudara tua, kalau kau bisa 

menerangkan bagaimana tampang orang 

yang kau cari, mungkin aku bisa tahu 

siapa dia...."

"Huh!" dengus si kakek. "Aku 

tidak perlu tampangnya! Aku perlu 

nyawanya! Mengerti?!"

"Mengerti saudara tua, tapi mana 

mungkin mencari seseorang tanpa tahu 

siapa dia bahkan tidak kenal 

wajahnya...."

"Ah, kau bicara pandai, manusia 

pendek. Tapi aku tahu, kau juga sama 

saja dengan yang Iain-Iain! Kau hendak 

mempermainkanku! Hendak menipuku! Ayo, 

katakan siapa dia dan di mana dia 

sekarang?!"


Celaka, orang tua ini benar-benar 

sudah gila sehingga tak mau mengerti, 

kata Jiwosuto dalam hatinya. Meskipun 

demikian dia berusaha

juga mengajukan pertanyaan, 

"Saudara tua….."

"Sudah-sudah! Jangan panggil aku 

dengan sebutan itu! Jangan banyak 

mulut! Katakan saja di mana kau 

sembunyikan dia, cepat!"

"Orang tua, kau dengarlah baik-

baik. Penduduk kampung tidak 

menyembunyikan siapa-siapa di sini. 

Orang yang kau cari-cari itu mungkin 

tidak lari ke sini...."

"Nah, nah... betul! Betul! Kau 

juga betul seorang penipu rupanya! 

Nasibmu tidak lebih baik dari yang 

lain-lainnya, penipu!" Si orang tua 

melompat ke muka. Tangan kirinya 

bergerak cepat mengirimkan serangan ke 

kepala Jiwosuto. Tapi kali ini dia 

kecele karena serangannya dapat 

dielakkan si kepala kampung. Jiwosuto 

sendiri meskipun dia dapat mengelakkan 

serangan ganas mematikan itu tapi 

terkejutnya bukan main ketika dia 

merasakan angin pukulan yang menyambar 

ke kepalanya, deras, dingin dan tajam! 

Kini dia mengerti bahwa kakek gila itu 

adalah seorang berkepandaian tinggi! 

Ketika dia diserang lagi dengan lebih 

ganas dia cepat mengelak dan berlaku 

hati-hati tapi tiada diduga sama


sekali, begitu serangannya mengenai 

tempat kosong, si kakek menjejakkan 

kedua kakinya dan tahu-tahu kini 

serangannya berbalik cepat tiada 

sanggup dikelit oleh kepala kampung 

yang hanya memiliki ilmu silat tingkat 

rendahan saja!

"Buk," Tubuh kepala kampung itu 

terpelanting. Bahu kirinya yang kena 

terpukul remuk dan lumpuh! Sakitnya 

bukan main! Meskipun keadaannya sudah 

terluka berat dan memaklurni bahwa si 

kakek gila bukan tandingannya serta 

niscaya dalam beberapa gebrakan dia 

segera mati konyol di tangan lawan, 

namun kepala kampung ini nyatanya 

bukan seorang berjiwa pengecut. 

Sebagai kepala kampung, dia mempunyai 

jiwa kesatria yang bertanggung jawab 

terhadap isi dan penduduk kampungnya. 

Kalau bukan dia yang akan melawan 

kakek gila yang tengah mengamuk itu, 

siapa lagi yang akan diandalkan? Kalau 

dia mati, matinya tidak mati percuma, 

tapi mati dalam membela rakyat, mati 

terpuji.

Dari balik pinggangnya Jiwosuto 

menge-luarkan seutas tali yang 

panjangnya kurang sedikit dari dua 

meter. Baginya tali ini bukan saja 

merupakan sebuah senjata yang sangat 

diandalkan, namun juga merupakan 

sebuah alat yang sekaligus dapat 

dipakainya untuk menangkap dan


mengikat orang-orang jahat yang 

mengganggu keamanan kampung. Namun 

menghadapi si kakek sakti, mana bisa 

senjata macam begituan dipakai? Dalam 

satu gebrakan saja si kakek sakti 

berhasil merampas tali tersebut. 

Sambil tertawa bekakakan kemudian Si 

Suling Maut memakai tali itu untuk 

mencambuk si kepala kampung. Pakaian 

Jiwosuto hancur robek-robek. Kulit 

dada dan punggungnya yang kena 

dihantam talinya sendiri bergurat-

gurat dalam. Tubuhnya basah oleh 

darah. Dalam kehabisan tenaga dan 

nafas serta terlalu banyak 

mengeluarkan darah akhirnya kepala 

kampung itu rubuh ke tanah. Tanpa 

memicingkan mata sedikit pun, si kakek 

mengangkat kaki kanannya tinggi-

tinggi, siap ditendangkan ke kepala 

Jiwosuto yang menggeletak tak berdaya 

itu. Ketika tendangan yang keras itu 

hampir mencapai sasarannya setengah 

jengkal lagi, tahu-tahu melayanglah 

sebutir batu kecil yang tepat 

menghantam tulang kering kaki kanan si 

kakek!

Meskipun itu cuma sebuah batu 

kecil, tapi karena dilempar dengan 

memakai tenaga dalam maka kaki yang 

kurus dari si kakek terdorong ke 

samping. Kepala Jiwosuto selamat 

sedang si kakek dengan menahan sakit 

memutar tubuh nya sambil memaki.


"Setan alas! Siapa yang berani-

beranian melempar kakiku?!"


TIGA


SEPASANG mata si kakek sakti 

membuka lebar lalu menyipit kembali 

ketika melihat beberapa langkah dari 

hadapannya berdiri seorang pemuda 

bertampang keren, berbadan tegap. 

Pemuda iniiah tadi yang telah me-

lempar kaki si kakek dan menyelamatkan 

nyawa Jiwosuto.

"Pemuda keblinger! Kau sudah 

bosan hidup ya?!" hardik Si Suling 

Maut.

"Orang tua keji, pembunuh 

manusia-manusia tidak berdosa, kau 

angkat kakilah dari sini sebelum 

darahku naik ke kepala!"

Kedua mata si Suling Maut semakin 

menyipit. Sesaat kemudian meledaklah 

tertawa bekakakan kakek-kakek ini. 

"Kalau kau tidak gila, tentu kau sudah 

sinting berani bicara seperti itu 

padaku! Tapi aku senang pada pemuda 

yang punya nyali dan berilmu tinggi! 

Dengar pemuda, sebelum aku pecahkan 

kepalamu, kau sudah tahu siapa aku?!"

"Mengapa tidak?!" tukas si pemuda 

pula. "Kau seorang kakek-kakek berilmu 

tinggi sakti tapi berotak miring 

sehingga membunuh penduduk kampung 

yang tidak berdosa tanpa me-ngenal


belas kasihan sama sekali! Puas akan 

jawabanku itu?!"

Maka marahlah si Suling Maut. 

Mukanya merah sekali, dan hampir tidak 

terlihat dia melompat ke muka. Tangan 

kiri kanan terpentang di kedua sisi 

menghantam kejurusan kepala dan dada 

si pemuda. Serangan ganas ini 

menimbulkan angin yang deras.

Si pemuda siang-siang sudah 

memiringkan tubuh. Jotosan yang 

mengarah kepala lewat. Dengan tangan 

kirinya dia coba menghantam sambungan 

siku si kakek namun dengan lihaynya 

tangan si kakek lebih cepat bergerak 

dan kini serangannya turun sedemikian 

rupa, menyerang ke perut si pemuda. 

Pemuda ini tahu bahwa tenaga dalam 

lawan mungkin tidak berada di 

bawahnya, tak berani menyambut se-

rangan itu dengan lipatan lutut 

melainkan melompat ke samping sambil 

melepaskan pukulan jarak jauh tangan 

kiri. Si Suling Maut juga tak mau 

menganggap enteng pukulan jarak jauh 

pemuda itu, cepat-cepat pula dia 

geserkan tubuh berkelit, lalu melompat

jauh kebelakang.

Dipandangnya pemuda itu dengan 

tampang yang angker menggidikkan. "Aku 

tahu... ha-ha... aku tahu! Aku tahu 

kini, pasti kau orangnya! Pasti kau 

yang melakukan! Ha... ha! Dicari-cari 

tidak bertemu, tahu-tahu kini datang


sendiri mengantar nyawa! Bagus, bagus 

sekali! Bersiaplah untuk mampus anak 

muda!"

Pemuda itu tak mengerti apa 

maksud kata-kata si kakek, tapi dia 

tidak bisa memikir lebih lama karena 

saat itu lawannya kembali melancarkan 

serangan dahsyat. Gerakan tubuhnya 

dalam menyerang kali ini sangat 

berubah, sangat cepat dan tempat-

tempat yang diserang adalah tempat-

tempat yang lemah dari badan si pemuda 

sedangkan serangan yang bertubi-tubi

itu sukar pula di duga! Si pemuda 

berkelebat cepat dan memperhitungkan 

dengan hati-hati setiap gerakannya. 

Sedikit saja dia berbuat ceroboh pasti 

jotosan lawan akan menghantam tubuhnya 

atau kena tergebuk lengan si kakek 

yang membabat kian kemari tak ubahnya 

seperti sayap seekor burung raksasa!

Beberapa jurus berlalu dan 

membuat si kakek menjadi penasaran 

karena dia belum juga berhasil 

merobohkan lawannya. Diiringi dengan 

bentakan-bentakan keras menggeledek 

yang disertai kekuatan tenaga dalam 

yang sangat tinggi untuk mengacaukan 

gerakan lawan, si kakek menggenjot 

tubuh dan gerakannya kini tak ubah 

seperti bayang-bayang saja! Si pemuda 

menjadi sibuk, dadanya bergetar oleh 

bentakan-bentakan keras lawan. Cepat-

cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya


agar jangan terpengaruh bentakan-

bentakan tersebut. Namun demikian dia 

terdesak hebat sampai akhirnya dadanya 

kena juga dihantam jotosan si kakek. 

Pemuda ini mental ke belakang beberapa 

langkah tapi cepat mengimbangi 

tubuhnya dan mengatur jalan nafasnya 

yang terasa sesak serta mengerahkan 

tenaga dalam ke dada yang sakit.

Di lain pihak si kakek sendiri 

diam-diam merasa terkejut ketika 

melihat bagaimana pukulan dahsyatnya 

itu hanya mengakibatkan si pemuda 

terhuyung-huyung saja, sama sekali 

tidak roboh! Meskipun tangan kanannya 

sendiri yang tadi dipakai meninju 

tidak terasa sakit tapi kulit tangan 

itu kelihatan kemerahan.

"Orang muda bernyali besar, siapa 

namamu dan kau murid orang sakti 

mana?!" tanya si Suling Maut dengan 

mengertakkan gigi-giginya.

"Ha... ha, kau benar-benar ingin 

tahu guru dan namaku atau hanya untuk 

mengumpulkan tenaga mengatur nafas 

belaka, orang tua?!" ejek si pemuda.

"Keparat! Kau tahu, terhadap 

manusia-manusia yang gegabah 

memperlihatkan sedikit ilmunya aku 

tidak tenang tidur jika membunuhnya 

tanpa mengetahui nama serta gurunya!"

"Jangan bicara terlalu besar 

orang tua gila! Namaku Jaliteng. Kalau 

kau mau tahu siapa guruku kau lihat


saja jari-jari tangan dan kakiku!" 

Pada detik si kakek memperhatikan 

jari-jari tangan dan kaki pemuda itu 

maka pada saat itu puia tubuh si 

pemuda sudah melesat ke muka. Jari-

jari tangannya terpentang lebar 

laksana cakar burung garuda dan 

menyerang dengan dahsyat. Si kakek 

cepat-cepat menghindarkan diri.

Melihat kuku-kuku panjang itu dia 

tahu kini murid siapa adanya lawannya 

dan maklum bahwa kuku-kukunya yang 

panjang itu berbahaya karena 

mengandung racun!

"Pemuda sombong, jangan kira aku 

akan takut kalau mengetahui kau adalah 

muridnya Si Cakar Setan! Kalau gurunya 

bisa dibikin mampus oleh seseorang, 

mengapa muridnya tidak?!"

Mendidih amarah si pemuda 

mendengar gurunya diejek demikian 

rupa. Dia segera me-ngirimkan serangan 

berintikan ilmu silat yang gerakan-

gerakannya tak ubah seperti setan yang 

mencakar mangsanya. Sibuk juga si 

kakek menghadapi serangan hebat itu 

namun se-sudah beberapa jurus matanya 

yang tajam segera melihat di mana 

kelemahan-kelemahan dari ilmu silat 

lawannya. Sebagai tokoh per-silatan 

yang terkenal di daerah utara, si 

kakek yang berjuluk "Si Suling Maut" 

itu telah men-dapat kabar tentang 

kematian Si Cakar Setan.


Diserang sedemikian rupa si kakek 

ganda tertawa bergelak. Bukan main 

geramnya Jaliteng melihat bagaimana 

ilmu silat warisan gurunya yang sangat 

diandalkan cuma diganda tertawa oleh 

lawan. Dipercepatnya gerakannya, namun 

sia-sia belaka. Malahan kini dia 

terdesak hebat. Tubuh si kakek seperti 

lenyap dari pemandangannya dan tahu-

tahu "buk!" Jaliteng mental ke 

belakang, hampir jatuh duduk kalau dia 

tidak segera berjumpalitan! Pemuda ini 

merasakan bahunya sangat sakit. Ketika 

dia melirik ternyata pakaian di bahu 

kirinya robek dan daging bahu itu 

merah menggembung. Pukulan lawan yang 

dahsyat itu tidak saja mengakibatkan 

luka dalam, tapi sekaligus merupakan 

totokan yang lihay sehingga tangan 

kirinya kini menjadi lumpuh dan 

berdirinya pun miring!

Tapi keberanian pemuda itu patut 

dikagumi. Tanpa memperdulikan keadaan 

dirinya yang sudah teriuka hebat serta 

tangan kiri yang lumpuh, dicabutnya 

keris berkeiuk tujuh pemberian gu-

runya! Dengan senjata ini maka 

mulailah dia melancarkan serangan 

kembali.

Sambil mengelak ke samping si 

Suling Maut tertawa mengejek, "Ha... 

ha... benda apa yang kau keluarkan 

itu? Pisau dapur agaknya?! Memalukan


sekali, murid seorang jago silat 

senjatanya cuma sebuah pisau dapur!"

"Orang tua sedeng! Buka matamu 

lebar-lebar agar dapat membedakan mana 

pisau dan mana keris!" bentak Jaliteng 

dengan sangat gusar karena, keris 

pusakanya dikatakan pisau dapur! 

Seperti banteng terluka murid Si Cakar 

Setan ini mengamuk. Permainan kerisnya 

memang patut dipuji, tapi menghadapi 

si Suling Maut, pemuda ini tidak

berdaya. Beberapa gebrakan saja dia 

sudah terdesak bahkan dengan 

mempergunakan dua jari tangan kanannya 

si kakek sakti memperlihatkan 

kelihayannya, menjepit keris di tangan 

Jaliteng!

Pemuda itu tak berani mengadu 

kekuatan untuk menarik senjatanya. Mau 

tak mau dia terpaksa menyerahkan keris 

itu kepada lawan untuk menghindarkan 

pukulan tenaga dalam lawan yang jauh 

lebih tinggi. Si kakek tertawa 

bergelak ketika dia berhasil merampas 

senjata tersebut.

"Ha... ha.... Keris buruk, keris 

butut! Lihat Jaliteng, eh... namamu 

Jaliteng, benar? Nah lihat Jaliteng, 

sebentar lagi dengan senjatamu sendiri 

aku akan habisi nyawamu! Warok Kate 

muridku... kau tenang-tenanglah di 

alam baka, sebentar lagi aku gurumu 

akan menamatkan riwayat manusia yang 

telah membunuhmu!"


"Iblis tua!" maki Jaliteng. "Aku 

tidak pernah membunuh manusia bernama 

Warok Kate! Bahkan namanya pun baru 

kudengar hari ini?!"

"Ha... ha! Jangan ngelindur, 

pemuda! Sudah mau mampus masih hendak 

berdusta?!"

Suling Maut menyerang dengan 

panas. Jaliteng berhasil mengelakkan 

serangan yang per-tama ini, namun 

serangan kedua dan ketiga yang 

terpaksa ditangkisnya dengan tangan 

kanan membuat telapak tangannya itu 

menjadi robek-robek berlumuran darah 

dihantam ujung kerisnya sendiri! 

Kemudian satu tusukan lagi pada bahu 

kanannya. Kini pemuda itu benar-benar 

tidak berdaya. Dia hanya bisa memper-

gunakan kedua kakinya untuk melompat 

kian kemari mengelakkan serangan keris 

yang bertubi-tubi. Kedua tangannya tak 

bisa dipergunakan lagi karena sudah 

terluka berat dan lumpuh! Dia tahu 

bahwa ajalnya sudah di depan mata, 

tapi tidak mau lari! Lebih baik mati 

secara kesatria dari pada lari 

menyelamatkan diri sebagai seorang 

pengecut!

Tiba-tiba terdengar suara aneh 

menggema menggetarkan gendang-gendang 

anak telinga! Suara ini adalah suara 

tertawa manusia tapi diselingi oleh 

auman seperti seekor harimau. Bukan 

Jaliteng saja yang terkejut mendengar


suara ini, si kakek sakti pun demikian 

pula. Keduanya sama memalingkan kepala 

dan kelihatanlah seorang nenek-nenek 

bermuka aneh menyeramkan. Mukanya yang 

berkulit keriput itu berwarna kuning 

bergurat-gurat coklat, rambutnya putih 

sehingga tampangnya tak ubah seperti 

seekor harimau siluman! Nenek ini ber 

tubuh bongkok dan pada tangan kirinya 

tergenggam sebuah tongkat besi yang 

sangat berat tapi yang dibawa oleh si 

nenek dengan seenaknya saja seakan-

akan tongkat besi itu hanya sebuah 

ranting kering saja! Nenek ini me-

ngenakan pakaian berbentuk jubah 

seorang resi meskipun dia bukan resi. 

Warna pakaiannya ini biru gelap 

sehingga menambah keangkeran yang ada 

pada dirinya.

"Ha... ha, iblis tua gila! Apa 

tidak malu berkelahi dengan pemuda 

hijau bertangan kosong dan tak 

berdaya?!" ujar si nenek dengan 

tertawa tinggi dan mengeluarkan suara 

mengaum aneh. Air muka si Suling Maut 

tampak berubah. Namun cepat-cepat dia 

menjura kepada si nenek.

"Kalau aku yang bodoh ini tidak 

salah lihat, agaknya aku berhadapan 

dengan si nenek sakti dari pantai 

utara yang dijuluki Harimau Betina?"

"Ha... ha! Bagus, rupanya matamu 

masih awas dan bisa mengenaliku! Eh 

iblis tua berjuluk si Suling Maut, aku


tanya mengapa kau berkelahi dengan 

pemuda yang sudah tidak ada daya itu?! 

Jawab!"

"Jangan salah sangka, Harimau 

Betina. Pemuda ini telah 

mempermainkanku, dia bicara dusta dan 

dia telah membunuh muridku si Warok 

Kate...."

Si nenek tertawa melengking lalu 

mengaum. Jaliteng yang berdiri di 

sebelah sana merasa ngeri juga melihat 

tampang dan suara tertawa yang seperti 

auman harimau itu. Di samping itu, 

pemuda ini juga sangat terkejut ketika 

mengetahui bahwa kedua manusia-manusia 

tua renta yang ada di hadapannya saat 

itu ternyata adalah tokoh-tokoh 

persilatan berilmu tinggi, yang lebih 

tinggi dari gurunya sendiri yaitu Si 

Cakar Setan!

Si Harimau Betina mengangkat 

tongkatnya ke muka. Dari tongkat besi 

yang amat berat itu keluarlah pukulan 

angin yang menghantam ke jurusan si 

kakek. Suling Maut cepat menghindar 

namun tak urung tubuhnya masih kena 

terpukul sampai terhuyung-huyung. 

Jaliteng sendiri yang berdiri jauh

dari kakek itu merasakan sambaran 

angin yang deras dan membuatnya 

menggigil.

"Suling Maut, kau angkat kakilah 

dari sini! Sebenarnya kita masih ada 

urusan lama yang harus diselesaikan,


tapi aku berbaik hati untuk 

menangguhkannya sampai lain 

kesempatan! Ayo pergi cepat!" Sekali 

lagi si nenek menggerakkan tongkatnya.

Suling Maut melompat ke samping 

dan menjawab: "Harimau Betina, sangat 

kuhargakan kemurahan hatimu itu. Tapi 

ketahuilah, urusanku dengan pemuda ini 

belum selesai. Kuharap kau tidak 

mencampurinya...."

"Iblis tua, gila! Dikasih hati 

mau minta kaki! Nah, terima kakiku 

ini!" Serentak dengan itu, disertai 

suara mengaum tubuh si nenek sangat 

cepatnya melesat ke muka. Suling Maut 

melompat berkelit tapi gerakan kaki si 

nenek seperti dapat diulur dan 

tendangannya bersarang di pinggul 

kakek itu sampai dia terpelanting 

jatuh duduk di tanah!

"Setan Betina!" maki si Suling 

Maut sangat marah. Mukanya merah 

sekali. "Kau kira aku tidak punya 

nyali melayanimu sampai seribu 

jurus?!" Maka dia menyerbu ke muka 

dengan mempergunakan keris milik 

Jaliteng. Dengan mengaum keras, si

nenek sakti membabatkan tongkat 

besinya. Keris di tangan Suling Maut 

patah dua sedang laki-laki tua itu 

sendiri merasakan betapa tangannya 

tergetar hebat dan kesemutan sampai ke 

bahu! Si kakek berkelebat cepat dan 

mengeluarkan senjatanya yang sangat


diandalkan yaitu sebuah seruling yang 

terbuat dari besi hitam.

"Ha, ha!" si nenek tertawa 

bergelak. "Rup-nya kau sudah membuat 

suling baru pengganti sulingmu yang 

aku hancurkan tempo hari?! Bagus, 

majulah aku ingin lihat keampuhan 

mainan anak-anak itu!"

Penuh geram karena senjatanya 

dicela mainan anak-anak, Si Suling 

Maut segera mengirimkan tendangan kaki 

kanan ke arah lawan, bersamaan dengan 

itu suling di tangan kanannya menotok 

deras ke arah tenggorokan sedang 

tangan kiri yang terpentang laksana 

sayap burung menggebuk dari samping! 

Sungguh hebat serangan ini. Tapi 

anehnya si nenek muka harimau 

menghadapi serangan ini dengan ter-

tawa. Tongkat besinya diputar 

sedemikian rupa membabat ke muka dan 

tangan kanan menyelinap di bawah 

lengan kiri lawan.

"Buk!"

"Tring!"

Dua suara itu terdengar hampir 

bersamaan. Si Suling Maut mental ke 

belakang sedang suling di tangan 

kanannya patah dua! Nafas laki tua ini 

megap-megap karena dadanya yang 

terpukul sakit dan sesak. Mukanya 

pucat laksana mayat. Tidak diduganya, 

sesudah satu tahun tidak bertemu tahu-

tahu kepandaian si nenek muka kuning


ini jauh lebih tinggi. Mulanya dia 

menduga bahwa selama satu tahun itu 

dia akan sanggup menandinginya, tapi 

kini setelah bertemu ternyata dia 

masih jauh di bawah angin!

"Harimau Betina, kalau kali ini 

aku terpaksa mengundurkan diri jangan 

kira bahwa aku akan melupakan semua 

perlakuanmu! Aku bersumpah untuk 

membunuhmu dan semua murid-muridmu!" 

Tubuh si Suling Maut berkelebat dan 

tahu-tahu tubuh Jaliteng sudah berada 

di atas bahu kirinya.

"Hai! Iblis tua, mau bawa lari ke 

mana pemuda itu?!" seru si nenek muka 

kuning bergurat-gurat coklat. Dia 

menggereng dan didahului oleh suara 

mengaum tubuhnya melesat ke muka 

menyusul si Suling Maut yang melarikan 

Jaliteng.

Kakek-kakek itu kertakkan gigi 

ketika dia tahu bahwa si Harimau 

Betina mengejarnya. Dipercepatnya 

larinya namun sesaat kemudian si nenek 

berhasil menyusulnya. Tongkat besi 

membabat ke arah kaki si Suling Maut 

membuat kakek-kakek itu terpaksa 

melompat, namun sebelum lompatannya 

itu sampai setengahnya, tongkat lawan 

sudah menyambar pula di atas 

kepalanya. Ketika dia memiringkan 

kepala, tongkat itu menyerang tangan 

kirinya yang memegang tubuh Jaliteng. 

Untuk menyelamatkan tangan kiri itu


dari kehancuran, Suling Maut terpaksa 

melepaskan pegangannya pada tubuh si 

pemuda. Kelihatan si nenek bergerak 

cepat. Tangan kirinya diulur ke muka 

sedang tongkat besi membabat ke perut 

si Suling Maut. Ketika kakek-kakek ini 

berusaha untuk mengelak maka tahu-tahu 

tubuh Jaliteng sudah berpindah tangan 

dan kini berada di atas bahu kiri si 

Harimau Betina!

Dengan gemas si Suling Maut 

menyerang ke muka, tapi dia tak 

berdaya karena lawannya memutar 

tongkat dengan sebat lalu berkelebat 

dan sudah melesat jauh meninggalkan 

tempat itu membawa tubuh Jaliteng!

"Iblis betina!" teriak si Suling 

Maut. "Rasakan pembalasanku nanti!"

Jaliteng yang berada dalam 

keadaan teriuka parah di antara sadar 

dan tiada menjadi terheran-heran 

ketika mengetahui bahwa dirinya dibawa 

lari oleh si nenek sakti yang dijuluki 

si Harimau Betina itu.

"Nenek, kau mau bawa aku ke 

manakah?"

"Anak muda, jangan banyak 

cerewet. Kau ikut sajalah...."

Pemuda itu hendak bertanya lagi, 

tapi di-rasakannya sesuatu menekan 

pangkal lehernya membuat dia tidak 

sadar apa-apa lagi. Si nenek sambil 

lari telah menotok urat darah dan urat 

dagunya!


EMPAT


KITA tinggalkan dulu si nenek 

sakti yang membawa lari Jaliteng. Mari 

kita ikuti pula perjalanan Mahesa 

Kelud, pemuda yang mendapat dua tugas 

dari gurunya Embah Jagatnata yaitu 

mencari Simo Gembong dan mencari 

pedang sakti bernama Samber Nyawa. 

Belum satu pun dari kedua tugas itu 

berhasil dilaksanakannya, dalam 

perjalanan turun gunung dia sudah 

dihadapkan ke pelbagai macam urusan 

dan bahaya maut yang membawanya sampai 

bertemu dan berguru dengan si orang

tua aneh Suara Tanpa Rupa, bersama-

sama dengan Wulansari. Waktu ditolong 

di gua iblis dulu oleh Karang Sewu,

tokoh persilatan ini telah memberikan 

pula dua tugas kepada Mahesa Kelud 

yaitu menghambakan diri ke Kesultanan 

Banten dan mencari Dewi Maut.

Ketika dia disuruh mengembara ke 

daerah barat oleh Suara Tanpa Rupa, di 

samping pemuda ini merasa menyesal dan 

sedih karena dia telah melanggar 

larangan gurunya itu, tapi diam-diam 

dia jadi bergembira juga karena dengan 

disuruhnya dia ke barat berada sambil 

terus mencari keterangan tentang 

pedang Samber Nyawa dan manusia Simo 

Gembong, sekaligus dia bisa pergi ke 

Banten.


Sebagai satu kerajaan Islam maka 

Banten menjadi musuh dari kerajaan 

Pajajaran di se-belah selatan yang 

masih menganut agama Hindu.

Perang-perang perbatasan tiada 

terhitung lagi banyaknya, bahkan 

perang besar-besaran yang meminta 

korban ribuan nyawa tahun belakangan 

ini telah pecah sampai dua kali! Namun 

tak ada pihak yang kalah ataupun yang 

menang. Masing-masing pihak yang 

mempunyai pendekar-pendekar sakti 

tulang punggung yang diandalkan sama 

menarik diri mundur setelah korban 

berjatuhan tiada terhitung lagi. Pe-

rang berhenti untuk beberapa lamanya, 

tapi dendam kesumat berkecamuk di hati 

para pimpinan kedua kerajaan itu. Dan 

ujung dari ini tidak dapat tidak 

adalah peperangan juga! Sebelum ada 

ketentuan siapa yang menang siapa yang 

kalah, siapa yang akan berkuasa dan 

siapa yang dijajah, maka antara Banten 

dan Pajajaran akan tetap berkobar api 

peperangan yang tiada kunjung padam.

Untuk memiliki pendekar-pendekar 

gagah dan tangguh dalam menghadapi 

Pajajaran maka Banten menempuh 

berbagai jalan. Satu diantaranya 

adalah dengan mengadakan sayembara. 

Demikianlah, pada suatu hari petugas-

petugas istana dengan mengendarai kuda 

berkeliling kerajaan mengumumkan 

sayembara itu. Kepada siapa-siapa yang


memiliki kepandaian tinggi, terutama 

para pemuda, dianjurkan untuk 

mengikuti sayembara mengadu ilmu 

silat. Kepada orang tertangguh yang 

keluar sebagai juara nanti bukan saja 

akan diberi hadiah sebuah keris dari 

Sultan tapi juga akan diangkat sebagai 

Kepala Balatentara Kerajaan! Tentu 

saja maka berduyun-duyunlah para 

pemuda-pemuda gagah dan orang-orang 

sakti di dalam kerajaan bahkan di luar 

kerajaan Banten datang untuk mengikuti 

sayembara itu. Di depan langkan istana 

terdapat kesibukan-kesibukan karena di 

sanalah akan dibuat panggung besar di 

mana sayembara adu ketinggian ilmu 

akan dilangsungkan.

Pagi-pagi, pada hari yang telah 

ditentukan maka ramailah seluruh 

penduduk kerajaan dari berbagai 

pelosok datang membanjiri kotaraja 

untuk menyaksikan sayembara hebat itu! 

Adu jotos secara terbuka memang baru 

kali ini diadakan di Banten, karenanya 

kesempatan ini tidak disia-siakan, 

bahkan tak sedikit kaum ibu yang turut 

hadir. Pengikut sayembara berjumlah 

dua puluh empat orang. Rata-rata 

adalah pemuda-pemuda tegap berilmu 

kepandaian tinggi. Cuma beberapa saja 

yang sudah agak berumur. Kedua puluh 

empat orang ini duduk di bagian 

panggung sebelah muka, di bagi atas 

dua rombongan. Setiap pengikut


sayembara dari rombongan pertama telah 

ditentukan lawannya yaitu seorang dari 

rombongan kedua. Dengan demikian akan 

terbentuk dua belas pasangan yang akan 

bertempur satu lawan satu. Kesemuanya 

sekaligus bertempur di atas panggung 

yang luas itu. Pemenang-pemenang dari 

dua belas pasang itu akan dipecah pula 

menjadi dua sehingga nantinya akan 

bertempur enam pasangan. Enam pasangan 

itu dipecah pula menjadi tiga pasang. 

Tiga pemenang terakhir diharuskan 

menghadapi lawan satu demi satu sampai 

akhirnya didapat ketentuan siapa yang 

menang.

Ketika Sultan Banten muncul maka 

ramailah tempik sorak orang banyak 

mengelu-elukannya. Di hadapan Sultan, 

di atas sebuah meja terletak sebuah 

nampan yang ditutup dengan sehelai 

kain sutera putih. Di bawah kain 

sutera putih ini terietaklah keris 

hadiah yang akan diserahkan kelak 

kepada pemenang sayembara. Gong 

dicanang orang maka melompatlah 

keduapuluh empat pengikut sayembara ke 

atas panggung dengan gaya dan sikapnya 

masing-masing. Sorak sorai penonton 

riuhnya bukan main seakan-akan hendak 

runtuh langit di atas halaman istana 

itu! Kedua puluh empat pengikut 

sayembara berbaris memanjang lalu 

menjura memberi hormat kepada Sultan. 

Sultan Hasanuddin melambaikan


tangannya. Gong dipukul lagi dan kali 

ini masing-masing pengikut sayembara 

mencari lawan-lawannya yang sudah 

ditentukan. Setelah mereka saling 

berhadap-hadapan maka untuk ketiga 

kalinya terdengar suara gong dan 

dimulailah sayembara baku hantam 

memperebutkan hadiah keris dan 

kedudukan tinggi. Orang banyak 

berteriak tiada hentinya melihat 

bagaimana di atas panggung dua belas 

pasang manusia tengah adu jotos 

mengeluarkan kepandaian masing-masing 

untuk merobohkan lawan mencari 

kemenangan. Tak dapat dikatakan 

pasangan mana yang paling hebat dan 

seru perkelahiannya. Kalau dilihat 

pasangan yang di sebelah ujung kiri

yang bertanding dengan sangat cepat 

dan dahsyat, maka pasangan yang di 

ujung sana lebih mengagumkan lagi, 

kemudian yang di sebelah ujung kanan 

lebih mendebarkan pula... demikian 

seterusnya.

Yang pertama sekali merobohkan 

lawannya adalah laki-laki berpakaian 

hijau tua di bagian panggung sebelah 

kanan. Siapakah laki-laki yang begitu 

hebat ini sehingga mengalahkan 

lawannya dengan melemparkannya keluar 

panggung hanya dalam beberapa gebrakan 

saja?! Melihat kepada umurnya dia 

bukan seorang pemuda lagi. Umurnya 

lebih dari empat puluh dan tampangnya


buruk. Sebenarnya bukanlah suatu hai 

yang aneh kalau laki-laki ini bisa 

mengalahkan lawannya bahkan dilempar 

keluar panggung dalam beberapa 

gebrakan saja karena dia adalah Unang 

Gondola, murid seorang resi sakti di 

puncak gunung Halimun! Sebenarnya 

Unang Gondola bukanlah pengikut 

sayembara yang datang untuk 

mendapatkan hadiah keris serta 

kedudukan tinggi saja, tapi lebih dari 

itu dia adalah utusan rahasia Prabu 

Sedah, Raja Pajajaran!

Ketika didapat kabar bahwa Banten 

mengadakan sayembara untuk memilih 

orang-orang cakap yang akan didudukkan 

dalam jabatan tinggi, maka Prabu Sedah 

segera menyuruh pembantu-pembantunya 

mencari seorang yang tangguh sakti dan 

berilmu tinggi guna diutus ke Banten. 

Utusan ini harus berhasil memenangkan 

sayembara. Dan kalau itu sudah 

terlaksana adalah satu hal yang mudah 

saja lagi untuk memusnahkan Banten, 

lebih mudah dari memasukkan benang ke 

dalam lobang jarum! Sayang sekali di 

Pajajaran tidak terdapat pemuda 

berilmu benar-benar tinggi yang dapat

diandalkan untuk menjadi utusan dan 

memenangkan sayembara. Akhirnya 

dipilihlah Unang Gondola, murid resi 

Mintaraya di puncak gunung Halimun. 

Meskipun dia sudah berumur hampir 

setengah abad namun ketinggian ilmunya


memang bisa diandalkan sehingga Prabu 

Sedah dan orang-orang Pajajaran tidak 

ragu-ragu lagi bahwa Unang Gondola 

akan keluar sebagai pemenang dan 

jabatan Kepala Balatentara Banten bisa 

jatuh ke tangannya!

Demikianlah dengan memakai nama 

samaran murid resi sakti ini berangkat 

ke Banten dan mengikuti sayembara. 

Tidak percuma dia menjadi utusan 

rahasia Pajajaran karena hanya dalam 

beberapa gebrakan saja dia berhasil 

merubuhkan lawannya. Tempik sorak 

ditujukan kepadanya ketika dia 

melompat turun dari atas panggung, 

kembali ke tempat duduknya dan 

menyaksikan pasangan-pasangan lainnya 

yang masih terus baku hantam.

Beberapa saat kemudian satu demi 

satu menyusul peserta-peserta 

dirobohkan. Ada yang terbanting ke 

lantai panggung, ada yang melingkar 

pingsan kena hantaman lawan dan ada 

pula yang dilempar keluar dari atas 

panggung! Tak lama kemudian maka 

selesailah babak penyisihan pertama 

itu. Dua belas orang roboh kalah dan 

dua belas lainnya sebagai pemenang.

Setelah diadakan istirahat 

beberapa lamanya terdengarlah gong 

dicanang orang. Dua belas orang 

melompat ke atas panggung, mencari 

lawan masing-masing diiringi sorak-

sorai orang banyak. Masing-masing


peserta sayembara mengeluarkan ilmu 

simpanan mereka, berusaha untuk 

bertahan, mendesak dan merobohkan 

lawan, sampai akhirnya keluar lagi 

enam orang pemenang. Seperti tadi, 

Unang Gondola adalah peserta yang 

pertama sekali merobohkan lawannya. 

Lawannya yang kedua ini sama saja 

nasibnya dengan yang pertama tadi, 

yaitu dipukul pada pelipisnya 

sementara lawan itu berdiri nanar, 

maka Unang Gondola melemparkannya 

keluar panggung!

Kini akan segera dimulai babak 

ketiga. Tiga pasangan saling berhadap-

hadapan. Gong berbunyi dan pertempuran 

dimulai. Mata para pe-nonton lebih 

banyak ditujukan kepada Unang Gondola 

yang karena kehebatannya jadi 

dikagumi. Pertarungan kali ini sungguh 

hebat karena kalau ketiga pasang itu 

berhasil melalui babak penyisihan 

pertama dan kedua berarti ilmu mereka 

sudah mencapai tingkat tinggi.

Unang Gondola berhadapan dengan 

lawan seorang pemuda bertubuh tinggi 

besar, sedang dia sendiri pendek dan

agak kurus. Tapi tubuh yang tinggi 

besar itu bukan apa-apa bagi Unang 

Gondola. Dengan ilmunya yang tinggi 

dipermainkannya pemuda itu sehingga si 

pemuda tak ubahnya seperti seorang 

bodoh yang terhuyung kian kemari, 

melompat ke sana melompat ke sini


menangkap seekor kodok nakal! Dua 

jurus berlalu. Mengetahui bahwa 

tingkat kepandaian lawan berada jauh 

di bawahnya maka sekali saja dia 

menggerakkan tangan kanannya ke kening 

pemuda itu, lawannya terjerongkang 

mental ke belakang. Saat itu tanpa 

menunggu lebih lama Unang segera 

mencekal leher dan ikat pinggang si 

pemuda, maksudnya hendak dilemparkan 

keluar panggung. Tapi si pemuda yang 

sudah kena terpukul itu dengan cepat 

mencekal leher Unang Gondola ketat 

sekali!

"Keparat!" maki Unang Gondola 

dalam hati. Digesernya letak kedua 

kakinya. Tubuhnya merunduk sedikit, 

siku kanannya menyodok ke iga sedang 

dengan tangan kirinya dijambaknya 

rambut lawan lalu tubuh pemuda itu 

dengan mengeluarkan bentakan 

menggeledek dibantingnya ke lantai!

"Krak!" Salah satu dari lantai 

papan patah dan tubuh si pemuda tidak 

bergerak lagi. Kepalanya pecah, tulang 

lehernya patah dan beberapa tulang 

iganya hancur! Inilah korban nyawa 

pertama di antara para peserta. 

Sementara orang banyak bertempik sorak 

menyambut kemenangan Unang Gondola 

maka Sultan Banten berpaling ke 

samping, ke arah Patih Sumapraja.


"Paman Patih, siapakah laki-laki 

baju hijau yang begitu hebat itu...?" 

tanya Sultan.

"Saya sendiri tidak tahu, Sultan. 

Tunggulah saya tanyakan pada ketua 

sayembara." Sang Patih mendekati 

seorang laki-laki yang menjadi ketua 

sayembara itu, setelah bicara sebentar 

lalu kembali kepada Sultan dan 

menerangkan: "Laki-laki itu bernama 

Kuntawirya, ilmunya mo-mang hebat dan 

agaknya dialah yang akan keluar 

sebagai pemenang."

Sultan mengangguk. "Melihat 

kepada umurnya yang sudah agak lanjut 

memang tidak aneh kalau dia memiliki 

ilmu kepandaian yang begitu tinggi. 

Tapi aku tidak senang melihat cara dia 

melekatkan tangan sampai lawannya 

menghembuskan nafas penghabisan 

seperti itu!"

"Benar, Sultan," sahut Patih 

Sumapraja. "Tapi ini adalah risiko 

setiap sayembara adu silat."

Sultan melihat kembali ke 

panggung. Saat itu hanya tinggal dua 

pasang peserta lagi dan masing-masing 

mereka bertempur mati-matian untuk 

dapat merobohkan lawannya. Akhirnya 

peserta kedua roboh menyusul peserta 

ketiga dan kini tinggallah tiga 

pemenang satu di antaranya adalah 

Unang Gondola. Sebelum ketiga orang 

ini menghadapi lawan satu demi satu


secara segi tiga maka diadakan 

istirahat yang lama sekali. Namun 

akhirnya suara gong menggema juga dan 

untuk kesekian kalinya terdengar pula 

tempik sorak orang banyak.

Tiba-tiba tempik sorak itu 

menjadi terhenti karena orang banyak 

melihat Unang Gondola melambai-

lambaikan tangannya. Penonton 

bertanya-tanya apa yang hendak 

diperbuat laki-laki berbaju hijau tua 

ini.

Unang Gondola kelihatan melangkah 

ke ujung belakang panggung lalu 

menjura dan ber-kata dengan suara 

keras: "Sultan Banten Yang Mulia, 

seperti kita lihat bersama, saat ini 

ter dapat tiga orang pemenang, satu di 

antaranya adalah saya sendiri. Ini

berarti bahwa kami akan bertanding 

secara segitiga. Menurut pendapat saya 

yang bodoh ini, pertandingan cara 

segitiga itu disamping akan memakan 

waktu lama, juga kemenangan yang 

dicapai tidak bersifat murni adanya 

karena lawan pertama atau kedua yang 

sudah lelah nanti akan dihadapkan de-

ngan lawan ketiga yang masih segar 

bugar. Dari itu, Sultan Yang Mulia, 

bilamana Sultan tidak keberatan saya 

akan mengajukan usul yaitu sebaiknya 

saya menghadapi mereka berdua 

sekaligus. Kalau saya kalah, saya akan 

turun panggung dan mereka boleh


melanjutkan pertandingan satu lawan 

satu!"

"Hem... sombong benar orang ini," 

kata Sultan tidak senang. "Tapi 

biarlah, sesuai dengan kesombongannya 

aku akan izinkan dia menghadapi dua 

lawan sekaligus!" Sultan kemudian 

melambaikan tangannya. Inilah suatu 

tanda bagi orang banyak bahwa 

permohonan si baju hijau disetujui 

Sultan. Meskipun banyak orang bersorak 

mendengar keputusan itu tapi banyak 

pula yang tidak bersenang hati melihat 

kecongkakan orang yang menganggap 

remeh dua orang peserta sayembara 

lainnya. Dan memang yang paling sakit 

hati dan paling merasa dihina adalah 

kedua pemuda itu. Diam-diam kedua 

pemuda ini saling melirik dan 

tersenyum. Ini satu tanda bahwa mereka 

sama-sama bertekad bulat untuk 

menghajar habis-habisan Unang Gondola, 

manusia bermuka buruk yang congkak 

itu!

Gong dipukul. Pemuda yang dua 

orang segera berpencar. Unang Gondola 

tersenyum mengejek dan maju satu 

langkah. Sambil bertolak pinggang dia 

menantang: "Ayo, pemuda-pemuda keren. 

Kalian mulailah! Serang aku!"

Tapi baik pemuda yang memakai 

baju putih maupun yang memakai baju 

ungu tidak bergerak. Mereka hanya 

menjawab tantangan itu dengan balas


senyum mengejek, membuat Unang Gondola 

menjadi beringas. Tiba-tiba dengan 

bentakan menggeledek, laki-laki ini 

menyerbu ke muka. Tangan dan kakinya 

terpentang di kedua sisi. Gerakan yang 

hebat ini mengeluarkan siuran angin 

deras. Blong Ijo, pemuda berpakaian 

ungu melihat bagian dada lawan 

terbuka, sambil berkelit ke samping 

dia menggebuk ke arah dada Unang 

Gondola sedang dari samping yang lain, 

Karnadipa, si pemuda baju putih sambil 

melompat ke samping coba menotok 

tulang-tulang iga lawannya. Namun baik 

serangan Unang Gondola maupun serangan

kedua lawannya sama-sama mengenai 

tempat kosong. Blong Ijo dan Karnadipa 

cepat membalik dan dengan serentak 

mereka mengirimkan serangan kembali, 

keduanya mengarah ke punggung Unang 

Gondola. Karena serangan itu 

sedemikian cepatnya sedang Unang 

Gondola membelakangi kedua lawannya 

dapatlah dipastikan oleh orang banyak 

bahwa laki-laki sombong itu akan jatuh 

menelungkup ke lantai panggung terkena 

hantaman dua tinju lawan yang keras!

Tapi justru dalam gebrakan kedua 

inilah Unang Gondola memperlihatkan 

kehebatannya. Laksana seekor burung 

elang, laki-laki ini kelihatan menukik 

dengan kepala ke arah lantai panggung. 

Bersamaan dengan itu kedua telapak 

tangannya ditempelkan di panggung se


dang dua kakinya melesat ke belakang 

menghantam ke jurusan tubuh kedua 

lawannya, laksana tendangan seekor 

kuda jantan liar yang tengah mengamuk! 

Gerakan ini bukan suatu gerakan yang 

mudah, apalagi dalam keadaan diserang 

lawan sekaligus dua orang dari be-

lakang! Namun semuanya itu dilakukan 

oleh Unang Gondola dengan cepat dan 

lihay sekali! Dapatlah dibayangkan 

bagaimana tingginya ilmu yang diwarisi 

laki-laki ini dari gurunya Resi 

Mintaraya.

Baik Karnadipa maupun Blong Ijo 

terkejutnya bukan main melihat 

serangan aneh ini tetapi sangat 

berbahaya! Cepat-cepat mereka melompat 

ke samping. Blong Ijo sambil mengelak 

coba menangkap kaki Unang Gondola 

dengan kedua tangannya. Tapi seperti 

kaki kiri laki-laki itu bermata maka 

sebelum maksud Blong Ijo kesampaian 

tiba-tiba cepat sekali kaki tersebut 

bergerak dan bagian tumitnya turun 

deras menghantam ke bagian bawah perut 

Blong Ijo!

Blong Ijo melipat lutut kanannya. 

Bentrokan antara lutut dan kaki tidak 

bisa dihindarkan lagi. Tubuh Blong Ijo 

terhuyung-huyung beberapa langkah. 

Lututnya sakit sekali. Di sebelah sana 

dengan jungkir balik Unang Gondola 

berdiri kembali di atas kedua kakinya 

tapi terpaksa harus berkelebat cepat


karena saat itu Karnadipa, lawannya 

yang seorang lagi datang me-lancarkan 

serangan dan serangan ini dengan mudah 

dapat dielakkan. Bukan main ramainya 

pekik sorak orang banyak melihat 

pertandingan dua lawan satu yang hebat 

itu. Seorang penduduk kotaraja 

meleletkan lidahnya sambil ber-kata: 

"Laki-laki hijau itu memang hebat 

ilmunya, sayang dia agak sombong!"

Kembali Unang Gondola berada di 

tengah-tengah kedua orang lawannya. 

Blong Ijo yang berada paling dekat 

tiba-tiba melancarkan pukulan tangan 

kanan ke arah lambung sedang

berbarengan dengan itu Karnadipa 

mengirimkan kaki kanannya ke iga Unang 

Gondola. Murid Resi Mintaraya ini 

miringkan tubuhnya ke samping. Begitu 

jotosan Blong Ijo lewat segera jari-

jari tangan kanannya yang dipentang 

dan dilipat lurus menyelinap ke bawah 

lengan. Serangan yang dilancarkannya 

ini dilakukan dengan memiringkan tubuh 

sehingga sekaligus mengelakkan 

tendangan yang ditujukan ke iganya!

"Duk!" Jotosan lipatan jari-jari 

tangan Unang Gondola menghantam bawah 

ketiak Blong Ijo dengan sangat

tepatnya, tak kuasa dielakkan oleh 

pemuda baju ungu itu. Tubuhnya mental 

jauh. Sebuah tulang iganya patah dan 

tubuh dalamnya terluka parah. Unang 

Gondola menyeringai mengejek. Tapi



seringainya ini hilang dengan serta 

merta laksana direnggutkan setan 

tatkala dari samping kiri, tiada 

diduganya sama sekali Karnadipa 

berkelebat dengan sangat cepat. Dengan 

pinggirantelapak tangan kanannya 

Karnadipa berhasil menghantam pangkal 

tengkuk Unang Gondola.

Pukulan pinggiran tapak tangan 

ini merupakan pukulan amat ampuh dan 

benar-benar diandalkan oleh Karnadipa. 

Tapi betapa terkejutnya ketika 

menyaksikan bagaimana Unang Gondola 

hanya terhuyung-huyung beberapa 

langkah ke muka. Setelah mengalirkan 

tenaga dalamnya ke bagian yang 

terpukul tiba-tiba

Unang membalikkan tubuhnya dengan 

cepat. Karnadipa yang masih terheran-

heran karena tak percaya, tak sanggup 

mengelakkan kepalan tangan kanan yang 

dahsyat dari Unang Gondola yang 

menghantam pelipisnya. Pemuda ini 

terjungkal ke belakang dengan 

pandangan gelap berkunang-kunang. Pada 

saat itu Unang Gondola sudah melompat 

pula ke muka. Tangan kanannya 

menjambak rambut Karnadipa lalu 

diputar dan "krak!" Terdengar suara 

patahan tulang leher. Berapa orang 

perempuan yang menyaksikan dan 

mendengar suara patahnya tulang leher 

itu memekik dan menutup muka mereka 

dengan kedua tangan.


Ketika jambakan dilepas, tubuh 

Karnadipa yang sudah tidak bernyawa 

itu melosoh ke lantai dan tanpa ragu-

ragu Unang Gondola menendangnya sampai 

keluar panggung, jatuh jauh di 

belakang orang banyak!

Di sebelah sana kelihatan Blong 

Ijo bangkit berdiri perlahan- lahan. 

Tubuhnya miring dan mukanya pucat 

akibat luka dalam yang hebat. Unang 

Gondola melangkah mendekati pemuda Ini 

dengan senyum mengejek. "Orang muda, 

kau menyerahlah dan nyawamu akan 

selamat!"

Biong ijo murid seorang pendekar 

berhati kesairia, meskipun sadar bahwa 

dirinya terluka hebat dan tak akan 

sanggup meiawan musuh tangguh itu, 

namun kata-kata menyerah tidak dia 

kenal dalam hidupnya!

"Menyerah?!" desis pemuda itu. 

"Aku lebih baik mampus daripada 

menyerah!"

"Manusia tolol! Dikasih kehidupan 

maunya mampus!" ketus Unang Gondola, 

tubuhnya bergerak ke kanan mengirimkan 

pukulan tangan kiri ke kepala lawan. 

Blong Ijo menunduk, dengan tangannya 

yang sebelah kanan pemuda ini 

mengirimkan pukulan jarak jauh. Tapi 

karena bagian tubuhnya sudah terluka 

maka pukulan tenaga dalam ini tidak 

ada artinya bahkan tangannya yang 

dipakai memukul kena dicengkeram oleh


Unang Gondola. Sesaat kemudian 

terdengar bentakan laki-laki itu dan 

semua mata melihat bagaimana tubuh 

Blong Ijo melesat ke udara, jatuh di 

luar panggung dan mati! Maka hiruk 

pikuklah halaman istana itu oleh suara 

sorak-sorai orang banyak. Unang 

Gondola melambai-lambaikan tangannya 

penuh bangga. Hatinya sangat gembira 

dan puas. Bukan saja dia sudah 

berhasil mengalahkan dua lawannya 

sekaligus, tapi lebih dari itu sebagai 

utusan rahasia yang dipercaya oleh 

Prabu Pajajaran dia berhasil 

menjalankan tugasnya dengan baik. Dia 

menang, dia akan menerima hadiah 

keris. Tapi keris itu tidak penting, 

yang lebih penting adalah dia akan 

menjadi Kepala Balatentara Banten! 

Kalau jabatan tinggi itu bisa 

dipegangnya dengan sangat empuk. Maka 

untuk selanjutnya apa yang menjadi 

cita-cita Raja dan rakyat Pajajaran 

pasti mudah pula terlaksana yaitu 

menghancurkan Banten! Menyamaratakan 

Banten dengan tanah!

Diam-diam meskipun kagum akan 

ketinggian ilmu silat Unang Gondola 

tapi dalam hatinya Sultan tidak begitu 

senang terhadap laki-laki itu. Rasa

tidak senang ini adalah dikarenakan 

sikap Unang Gondola yang congkak serta 

kejam. Sebenarnya dia bisa mengalahkan 

lawan-lawannya tadi tanpa membunuhnya!


Tapi kenyataan yang sudah terjadi tak 

bisa dirobah lagi.

Dari langkan istana terdengar 

seruan: "Saudara pemenang, diharap 

menghadap Sultan Banten untuk menerima 

ucapan selamat dan menerima hadiah 

keris kerajaan!"

Diiringi tempik sorak Unang 

Gondola melangkah ke hadapan Sultan 

dan menjura. Seorang gadis cantik 

dayang-dayang istana mengangkat nampan 

di mana keris hadiah terletak. Sultan 

berdiri dan membuka kain penutup 

nampan maka kelihatanlah sebilah keris 

yang keseluruhannya terbuat dari perak 

putih, sangat bagus ukiran-ukiran 

sarung dan gagang-nya serta 

memancarkan sinar menyilaukan mata. 

Sultan mengambil keris perak tersebut 

dan menyerahkannya kepada Unang 

Gondola seraya berkata: "Orang gagah, 

keris ini kuberikan padamu karena kau 

telah memenangkan sayembara yang 

diadakan dan juga sekaligus merupakan 

lambang pengangkatanmu sebagai Kepala 

Balatentara Banten!"

Kalimat yang diucapkan oleh 

Sultan tersebut tidak keras tetapi 

karena suasana sunyi senyap maka 

hampir semua orang dapat mendengarnya 

dan sesudah itu maka kembali terdengar 

tempik sorak gegap gempita.

"Terima kasih, Sultan Yang 

Mulia," kata Unang Gondola sambil


menerima keris perak itu. Dia turun 

dari langkan istana dan kembali ke 

panggung. Keris perak yang di 

tangannya diacung-acungkannya ke atas, 

dengan penuh bangga diperlihatkannya 

kepada orang banyak. Tiba-tiba, hampir 

tidak terlihat oleh mata karena sangat 

cepatnya, sesosok bayangan putih me-

lompat naik ke atas panggung. Unang 

Gondola terdengar mengeiuarkan suara 

seruan tertahan dan keris perak yang 

dipegangnya terlepas lenyap dari 

tangannya!


LIMA


SEMUA orang termasuk Sultan 

sendiri menjadi sangat terkejut ketika 

melihat bagaimana kini di atas 

panggung, beberapa langkah dari 

hadapan Unang Gondola berdiri seorang 

laki-laki bertampang keren berpakaian 

putih-putih sederhana sekali. Yang 

membuat semua orang lebih-lebih 

terkejutnya ialah karena keris perak 

yang tadi dipegang oleh Unang Gondola 

kini berada di tangan si orang asing.

Bergetar tubuh Unang Gondola 

karena mendidih darahnya. Kedua 

matanya menyorot garang. Dia maju ke 

hadapan laki-laki gagah tak 

dikenalnya. Seraya membentak dia 

bertanya: "Manusia rendah! Apa kau 

punya dua nyawa sampai berani membuat


kekejian terhadapku di depan ribuan 

manusia dan di hadapan Sultan?!"

Orang berpakaian putih-putih 

mengeiuarkan suara tertawa mengejek. 

"Baju hijau, di hadapanku tak usah 

bicara sombong! Jangan terlalu girang 

bahwa kau akan menjadi Kepala 

Balatentara Banten! Aku juga mempunyai 

hak untuk jabatan itu...!"

"Keparat edan! Kalau kau tidak 

mengembalikan keris itu dan turun dari 

panggung ini, kupecahkan kepalamu!"

"Heh! Sobat, tidak semudah itu 

memecahkan kepalaku!" balas si baju 

putih.

Karena tidak dapat menahan sabar 

lagi, Unang Gondola segera melompat 

menyerbu! Tapi serangan yang penuh 

keganasan ini dengan mudah dapat 

dielakkan oleh si baju putih. Dari 

langkan istana terdengar suara 

memerin-ah. Tahan!"

Unang Gondola yang hendak 

menyerang kembali segera menghentikan 

gerakannya dan memaiingkan kepala ke 

arah Sultan. "Pemuda asing baju putih! 

Kau yang bertindak lancang menghina 

calon Kepala Balatentara Banten 

diharap maju ke hadapan Sultan untuk 

mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"

Mendengar itu, tanpa ragu-ragu, 

si baju putih melangkah ke hadapan 

Sultan Banten dan menjura. "Orang 

lancang, kau siapa yang berani


menimbulkan kekacauan ini?!" tanya 

Sultan dengan nyaring.

Si baju putih tersenyum, dia 

menjura sekali lagi, baru menjawab: 

"Sultan, agaknya terlalu dibesar-

besarkan kalau dikatakan saya datang 

ke sini untuk mengacau. Terus terang 

saja kedatanganku ke sini justru untuk 

menyelamatkan Banten dari mala petaka 

besar!"

Terkejut sekali semua orang dan 

Sultan Banten mendengar jawaban yang 

berani dari laki-laki itu. Apa lagi 

mendengar kalimat yang terakhir yaitu 

bahwa dia datang justru untuk 

menyelamatkan Banten dari malapetaka 

besar!

Sultan dan Patih Sumapraja saling 

berpandangan. Kemudian terdengar suara 

bertanya yang datang dari Sultan 

Banten. "Jawab pertanyaanku tadi dan 

apa maksud kata-katamu bahwa kau

datang untuk menyelamatkan Banten dari 

malapetaka besar?!"

Tentang diri saya, Sultan, 

kiranya tidak penting. Saya seorang 

gunung yang bodoh, bernama Tirta, Guru 

saya bernama Ki Balangnipa, diam di 

Gunung Gede...." Sampai di situ orang 

bernama Tirta ini melirik ke samping 

dan melihat bagaimana air muka Unang 

Gondola menjadi berubah ketika dia 

menyebutkan nama gurunya. Untuk daerah 

barat nama Ki Balangnipa sebagai tokoh


silat memang terkenal dan disegani. Di 

puncak Gunung Gede tokoh kenamaan ini 

mendirikan sebuah perguruan. Kalangan 

istana Banten sendiri termasuk Sultan 

dan Patih juga pernah mendengar nama 

Ki Balangnipa itu.

Tirta melanjutkan kata-katanya 

kembali. "Mengenai malapetaka besar 

yang saya katakan itu, akan saya 

terangkan nanti. Lebih dahulu saya 

jelaskan bahwa saya datang ke sini 

juga mempunyai maksud lain yaitu untuk 

mengikuti sayembara....."

"Sayembara sudah selesai dan 

sudah di-menangkan oleh saudara 

berbaju hijau tua bernama Kuntawirya 

itu!" kata Patih Sumapraja.

Tirta menganggukkan kepala dan 

mengulum senyum. "Saya mengerti dan 

saya akui saya datang terlambat karena 

kabar tentang adanya sayembara 

tersebut baru kemarin dulu saya 

dengar. Tapi meskipun demikian, dengan 

segala kerendahan hati saya mohon agar 

Sultan mengizinkan saya untuk tetap 

mengambil bagian meskipun sudah 

terlambat...."

"Orang gunung tidak tahu diri!" 

terdengar suara memaki dari samping 

panggung. Ini adalah suaranya 

Kuntawirya. "Sayembara telah selesai 

apa kau tak punya muka dan tidak tahu 

main?!"


Tirta menyeringai, "Aku tidak 

bicara denganmu saudara, tapi dengan 

Sultan Banten!"

Merahlah paras buruk dari 

Kuntawirya alias Unang Gondola. Tirta 

berpaling pada Sultan Hasanuddin

kembali dan membuka mulut: "Ketahuilah 

Sultan, bila Sultan mengizinkan saya 

untuk ambil bagian dalam sayembara ini 

maka sekaligus saya diberikan jalan 

untuk menolong Banten dari malapetaka 

besar itu...."

Di samping sana Kuntawirya maju 

ke muka, "Sultan," katanya seraya 

mengangkat tangan kanan ke atas. "Demi 

keadilan aku minta agar orang sinting 

ini diperintahkan turun dari atas 

panggung. Atau perlukah aku 

menendangnya dari sini?!"

Sultan Banten tak bisa memberikan 

jawaban dengan segera. Orang yang 

mengaku bernama Tirta itu datang 

terlambat dan memang tidak bisa lagi 

untuk ambil bagian dalam sayembara 

yang sudah selesai. Tapi Sultan 

memaklumi pula bahwa manusia Tirta ini 

bukan orang sembarangan, berilmu 

tinggi bahkan mungkin lebih tinggi 

dari Kuntawirya sendiri! Gunung Gede 

letaknya tidak dekat dari Banten dan 

kalau Tirta berhasil sampai ke Banten

dalam tempo dua hari sebagaimana yang 

diterangkannya, dapat dibayangkan ilmu 

lari macam mana yang dimilikinya. Di


samping itu tadi Tirta telah pula 

memperiihatkan kehebatannya yaitu 

merampas keris perak yang berada di 

tangan Kuntawirya, si calon Kepala 

Balatentara Banten! Apakah seorang 

yang akan menjadi Kepala Balatentara 

Banten bisa dipreteli begitu saja? 

Lagi pula mengingat sikap Kuntawirya 

yang pongah itu maka semakin 

bimbanglah hati Sultan Banten ini.

"Bagaimana pendapatmu, Paman 

Patih?" tanya sang Sultan tanpa 

berpaling pada Patih Sumapraja.

Patih ini, yang tahu kalau Sultan 

berada dalam kebimbangan segera 

menjawab, "Agaknya tidak ada salahnya 

bilamana Kuntawirya diuji lebih dahulu 

dengan orang baju putih itu, Sultan."

Sultan melambaikan tangan 

kirinya. 'Tirta, kau kuizinkan untuk 

bertanding dengan Kuntawirya. Jika kau 

kalah kau harus menghambakan diri 

kepada Kuntawirya! Dan kau Kuntawirya, 

ini suatu ujian bagimu. Buktikanlah 

bahwa kau memang benar-benar bukan 

seorang Kepala Balatentara Banten yang

mengecewakan. Sebaliknya jika kalah 

maka kau akan menduduki jabatan 

sebagai wakil Tirta, Wakil Kepala 

Balatentara!"

Gusarlah Kuntawirya mendengar 

keputusan ini. "Apakah tidak ada 

kebenaran dan ke-adilan di Banten 

ini?!" tanyanya sambil memandang


berkeliling. Kedua matanya kemudian 

menatap tepat-tepat kepada Sultan. 

"Sultan, tadi Sultan sendiri yang 

telah memberikan keris itu kepada 

saya, Sultan sendiri yang memutuskan 

bahwa saya telah menjadi Kepala 

Balatentara Banten! Apakah keputusan 

tersebut dapat diubah sedemikian enak 

dan mudahnya, seperti membalikkan 

telapak tangan? Alangkah memalukannya! 

Terlebih lagi mengingat itu adalah 

keputusan seorang Raja, seorang 

Sultan!"

Air muka Sultan tampak memerah. 

Patih Sumapraja membuka mulutnya dan 

berkata dengan suara keras. 

"Kuntawirya, jangan bicara sembrono 

terhadap Sultan Banten! Sultan Banten 

berhak membuat segala macam keputusan 

dan berhak pula merubah keputusan Itu 

bilamana dianggapnya perlu! Bila kau 

tidak punya nyali melawan orang yang 

bernama Tirta itu, turunlah dari 

panggung!"

Bergetar kedua tinju Kuntawirya 

alias Unang Gondola ketika mendengar 

kata-kata Sumapraja bahwa dia tidak 

punya nyali untuk menghadapi Tirta! 

"Patih Banten!" katanya dengan suara 

tak kalah keras. "Buruk-buruk begini, 

tapi sepuluh manusia macam orang gu-

nung ini masih sanggup aku hadapi!"

"Kalau begitu pertandingan bisa 

dimulai!" kata Patih Sumapraja pula.


Dia melambaikan tangannya dan 

terdengarlah suara gong meng-gema.


ENAM



TANPA menunggu lebih lama 

Kuntawirya segera menyerang Tirta. 

Dari angin pukulan dan tendangan yang 

datang dengan sekaligus Tirta maklum 

bahwa lawannya tidak enteng, tapi 

kalau tadi dia sanggup merampas keris 

perak maka walau bagaimanapun tingkat 

kepandaian Kuntawirya masih berada di 

bawahnya. Dia melompat menjauh ke tepi 

panggung dan berseru: "Sultan, harap 

dimaafkan kalau perbuatan saya ini 

lancang. Tapi adalah lebih baik kalau 

keris perak murni ini untuk sementara 

diletakkan kembali di tempatnya 

semula!" Bersamaan dengan itu Tirta 

menggerakkan tangannya. Keris yang 

tadi dipegangnya melesat ke udara dan 

jatuh di atas nampan di hadapan 

Sultan. Tanpa menimbulkan suara barang 

sedikit pun! Semua mata memandang tak 

percaya. Sultan sangat kagum dengan 

kehebatan Tirta ini dan segera 

berkata: "Hadapi lawanmu, Tirta."

Pada saat datang sambaran angin 

dari belakangnya, Tirta cepat 

menggeser tubuh ke samping. Jotosan 

tangan kanan yang berbahaya dari 

Kuntawirya lewat di dekat kepalanya.


Sambil menekuk lutut Tirta menyodok 

bagian yang lowong di pinggang lawan. 

Tapi Kuntawirya tidak bodoh. Dengan 

memiringkan tubuh sedikit saja dia 

berhasil mengelakkan serangan itu. 

Serentak dengan gerakannya ini maka 

kaki kirinya membabat ke bawah perut 

Tirta sedang lututnya sekaligus 

memapaki sodokan lawan! Namun sodokan 

Tirta ke pinggangnya itu cuma serangan 

tipuan belaka karena dengan cepat 

Tirta menarik pulang tangannya dan 

sebagai gantinya kini tangan 

kanannyalah yang meluncur ke pangkal 

leher Kuntawirya! Dalam keadaan 

seperti itu tidak memungkinkan bagi 

Kuntawirya alias Unang Gondola untuk 

merundukkan kepala mengelak serangan 

Tirta. Dia membuang diri ke belakang. 

Untuk menghindari jotosan lawan 

mengenai dadanya, laki-laki ini 

mempergunakan tinju kanannya pula 

untuk menyambut. Dua kepalan saling 

beradu dengan dahsyat di udara. Maka 

kelihatanlah Kuntawirya terhuyung-

huyung jauh ke belakang sedang Tirta 

hanya beberapa langkah saja! Ramailah 

pekik sorak orang yang banyak melihat 

pertandingan yang hebat ini!

Kuntawirya terkejutnya bukan main 

ketika melihat bagaimana kulit 

tangannya yang tadi beradu dengan 

kepalan lawan kini menjadi biru 

bengkak. Untuk selanjutnya dia tidak


berani lagi mengadu kekuatan cara itu 

dengan Tirta. Memaklumi bahwa tenaga 

dalam Tirta tidak berada di bawahnya, 

maka dengan mengandalkan kegesitan dan 

kecepatan gerakannya Kuntawirya segera 

melancarkan serangan bertubi-tubi. Dia 

harus tidak memberikan kesempatan pada 

lawannya, karena sekali lawan kena 

mendesak, akan payah bagi dia untuk 

menghadapi. Namun kecepatan dan 

kegesitan murid Resi Mintaraya itu tak 

ada artinya bagi Tirta. Bahkan 

demikian juga ketika Kuntawirya 

mengeluarkan ilmu simpanannya yang 

sangat diandalkan, Tirta seakan-akan 

tahu seluk-beluk ilmu silat yang 

dimainkan lawannya itu! Beberapa kali 

tubuh Tirta berkelebat seperti lenyap 

dan pada permulaan jurus ke empat saja 

Kuntawirya dipaksa berkenalan dengan 

lutut kiri Tirta. Tubuh Kuntawirya 

mental, hampir jatuh duduk di lantai 

panggung dan pada saat ini pula datang 

lagi serangan tendangan maut dari 

Tirta. Dengan jungkir balik murid Resi 

Mintaraya berusaha mengelakkan 

serangan itu, namun celakanya begitu 

dia berdiri di atas kedua kakinya 

kembali tahu-tahu sudah datang pula 

serangan yang sangat cepat dari 

lawannya, tak sanggup dielakkan! Satu-

satunya jalan adalah menangkis dengan 

lengan kanan. Namun serangan jotosan 

tangan kanan Tirta meskipun tertuju ke


kepala sasaran sebenarnya adalah 

tulang iga lawan. Dengan sendirinya 

Kuntawirya tertipu!

"Krak!" Tulang iga Kuntawirya 

patah. Tubuhnya mental dan roboh tak 

sadarkan diri di atas panggung!

Seperti hendak runtuh langit di 

atas halaman istana itu ketika 

terdengar tempik sorak yang tiada 

hentinya dari penonton pertandingan 

menyambut kemenangan Tirta, yang 

demikian hebatnya sehingga Kuntawirya 

yang berilmu tinggi dapat dibereskan 

dalam tempo lima jurus saja!

Tirta melambai-lambaikan 

tangannya. Setelah sorak-sorai orang 

banyak mereda maka dia berpaling 

kepada Sultan Hasanuddin. "Sultan Yang 

Mulia, sekarang tiba saatnya bagi saya 

untuk menerangkan malapetaka besar 

yang saya katakan tadi." Tirta

menunjuk ke tubuh Kuntawirya yang 

menggeletak pingsan di atas panggung. 

"Sultan Yang Mulia, mungkin Sultan dan 

seluruh rakyat Banten yang hadir di 

sini tidak tahu siapa manusia ini 

adanya. Sultan dan semua orang di sini 

cuma mengenalnya, dengan nama 

Kuntawirya! Tapi itu adalah nama palsu 

belaka, Sultan. Manusia ini sebenarnya 

bernama Unang Gondola! Utusan rahasia 

Prabu Sedah dari Pajajaran, murid...."

Sampai di situ Tirta tidak dapat 

meneruskan kata-katanya karena dengan


sangat tiba-tiba, dari jurusan kiri 

melesat bayangan biru. Dan bersamaan 

dengan itu terdengar suara "pess". Di 

atas panggung mengepul asap putih 

tebal serta berbau busuk. Tubuh Tirta 

dan Kuntawirya tidak kelihatan sama 

sekali, tertutup oleh asap tebal itu. 

Gaduhlah semua orang melihat kejadian 

itu. Beberapa saat berlalu. Sedikit 

demi sedikit asap tebal mulai menipis. 

Kemudian samar-samar kelihatanlah 

Tirta duduk bersila di lantai panggung 

tidak bergerak-gerak. Kedua matanya 

terpejam seperti seseorang yang tengah 

bersemadi. Pemuda ini tengah 

mengerahkan tenaga batinnya untuk 

menolak serangan asap putih yang busuk 

dan jahat yang hendak merobohkannya! 

Sesudah asap aneh itu hilang sama 

sekali dari atas panggung maka bahwa 

tubuh Kuntawirya yang tadi menggeletak 

pingsan di atas panggung kini sudah 

tidak ada lagi, hilang lenyap! Semakin 

gaduhlah orang banyak sedang pihak 

kalangan istana termasuk Sultan 

sendiri disamping keheranan juga 

merasa cemas.

Apakah sesungguhnya yang terjadi? 

Waktu Tirta bicara menerangkan tentang 

Siapa sesungguhnya Kuntawirya maka 

dari bawah panggung melesat sesosok 

bayangan biru. Ini tak lain adalah 

sosok tubuh dari Resi Mintaraya, guru 

Unang Gondola alias Kuntawirya yang


tengah menyamar itu! Sambil melompat 

ke atas panggung si resi sakti 

mengeluarkan senjata rahasianya yaitu 

berupa asap tebal yang busuk sehingga 

ketika mata semua orang tak melihat 

apa-apa, tertutup oleh asap tebal itu, 

dengan cepat Resi Mintaraya membopong 

tubuh muridnya dan berkelebat 

meninggalkan tempat itu! Bagaimana 

pula resi sakti ini sampai di kotaraja 

Banten? Sewaktu muridnya dikirim 

menjadi utusan rahasia Sang Prabu 

Sedah, Raja Pajajaran, maka diam-diam 

Mintaraya mengikuti perjalanan 

muridnya. Unang Gondola adalah murid 

yang paling disayangi oleh sang resi. 

Dia memaklumi bahwa di Banten bukan 

sedikit terdapat orang-orang sakti, 

tokoh-tokoh terkenal dunia persilatan, 

yang mungkin akan mencelakai muridnya 

itu meskipun sang murid juga mempunyai 

ilmu kepandaian tinggi. Karenanya 

diam- diam Mintaraya mengikuti 

perjalanan muridnya itu. Dan ketika 

tadi dengan mata kepalanya sendiri 

dilihatnya Unang dirobohkan lawan 

serta hendak dibuka kedok rahasia 

siapa dia sebenarnya maka tidak 

menunggu lebih lama lagi Mintaraya 

segera melompat ke atas panggung 

menolong muridnya seraya melepaskan 

senjata rahasia berupa asap tebal yang 

busuk. Senjata rahasia ini 

dilepaskannya dengan dua maksud.


Pertama untuk menutupi agar tidak 

seorang pun melihat dia mengangkat 

tubuh Unang Gondola sehingga bisa 

berlalu tanpa banyak kesukaran dan 

kedua adalah untuk membunuh Tirta. 

Namun untungnya Tirta memiliki ilmu 

batin yang kuat sehingga berhasil 

menolak bahaya keracunan dengan duduk 

bersila dan menutup kelima panca 

inderanya. Adapun orang banyak yang 

berada di sekitar panggung cepat-cepat 

menjauhkan diri ketika membaui asap

busuk sehingga mereka juga terhindar 

dari keracunan.

Perlahan-lahan Tirta membuka 

kedua matanya. Dia memandang 

berkeliling dan melihat betapa orang 

banyak yang tadi berkerubung di 

sekitar panggung kini berdiri menjauhi 

panggung. Sedang di langkan istana 

orang-orang kalangan istana yang tadi 

duduk sampai ke dekat tepi panggung 

kini juga kelihatan menjauh sampai ke 

tempat duduk Sultan dan para 

hulubalang! Tirta berdiri dan 

melangkah ke hadapan Sultan, dia sudah 

maklum kalau tubuh Unang Gondola sudah 

tidak ada lagi di atas panggung.

"Sultan, harap dimaafkan kalau 

saya telah berlaku lengah sehingga 

manusia biang malapetaka itu berhasil 

dibawa lari orang dari sini. Sepanjang 

sepengetahuan saya, satu-satunya 

manusia yang mempunyai ilmu asap


beracun itu adalah Resi Mintaraya dari 

gunung Halimun dan tak lain adalah 

seorang Resi jahat yang menjadi guru 

Unang Gondola!"

Air muka Sultan Banten kelihatan 

pucat. Kemudian dengan berusaha 

mengulum senyum dia berkata: "Tak apa 

Tirta. Walau bagaimanapun kau tetap 

telah menyelamatkan Banten dari 

malapetaka besar. Jika kau tidak 

muncul di sini, dan manusia Kuntawirya 

itu berhasil menduduki jabatan Kepala 

Balatentara, maka celakalah Kerajaan 

Banten! Tirta, kau majulah. Terimalah 

keris perak ini...."

Di hadapan Sultan Hasanuddin 

Tirta menjura lalu mengulurkan 

tangannya menerima keris perak yang 

berukir indah itu. Dan untuk kesekian 

kalinya, suasana yang tadi sunyi 

senyap diliputi ketegangan yang 

menggidikkan kini pecah dirobek oleh 

suara tempik sorak orang banyak.


TUJUH



HARI itu di istana diadakan 

sidang penting. Turut hadir di 

antaranya adalah Raden Mas Tirta, yang 

sudah diangkat sejak setahun yang lalu 

menjadi Kepala Balatentara Banten dan

kepadanya diberikan gelaran Raden Mas. 

Sidang kali ini khusus membicarakan


mengenai penyelundup-penyelundup dan 

mata-mata Pajajaran yang semakin 

menjadi-jadi menyusup ke Banten. 

Berbagai kerugian telah ditimbulkan

oleh penyusup-penyusup itu. Gudang 

padi di beberapa tempat dibakar, 

tangul- tanggul air dibobol dan lain 

sebagainya,sebegitu jauh baru satu 

orang pelaku yang dapat ditangkap dan 

dihukum,Selain itu masih ada belasan 

orang lagi berkeliaran.

Seorang pemuda berpakaian 

sederhana kelihatan mundar-mandir di 

halaman luas hadapan istana. Dia 

bergerak di antara orang banyak yang 

lalu-lalang sehingga tidak menjadi 

kecurigaan para pengawal. Namun 

sesungguhnya pemuda ini seorang mata-

mata Pajajaran juga adanya. Dia 

langsung dikirim, atas kehendak Prabu 

Sedah, Raja Pajajaran. Namanya Ismaya. 

Meskipun masih muda tapi tangkas dan 

tinggi ilmunya, cuma satu tingkat 

kalahnya di bawah Unang Gondola. Mata-

mata Pajajaran yang seorang ini 

mendapat tugas istimewa dari Prabu 

Sedah yaitu mencari berita-berita 

penting dari kalangan orang-orang 

istana Banten yang bisa "dibeli" dan 

menimbulkan kekacauan huru-hara di 

Kotaraja untuk melemahkan Banten dari 

dalam!

Demikianlah, hari itu ketika 

diketahuinya bahwa di istana sedang


diadakan sidang penting maka Ismaya 

segera menuju ke sana. Tapi sidang 

kali ini dijaga keras oleh para 

pengawal sehingga ismaya tidak dapat 

menyusup mencari berita. Bukan main 

kesalnya pemuda ini. Dia mundar mandir 

dan kedua kakinya mulai terasa pegal. 

Apa yang harus dikerjakannya? Sidang 

sudah berjalan sejak pagi dan tentu 

tak beberapa lama lagi akan segera 

selesai sedang dia masih juga belum 

berhasil mendapatkan keterangan barang 

sedikitpun! Dalam kebingungannya, 

pemuda mata-mata itu akhirnya 

pandangannya membentur seekor kerbau 

jantan besar, bertanduk runcing 

melengkung, berkulit bersih mengkilap. 

Di leher binatang ini tergantung 

telong-telong yang terbuat dari perak 

sedang di atas punggungnya terkembang 

sehelai permadani berkembang-kembang 

indah. Pada ujung ekornya diberi 

rumbai-rumbai kuning. Kerbau jantan 

ini tak lain adalah binatang 

kesayangan peliharaan Pangeran, putra

Sultan Banten. Kepada sang Pangeran, 

binatang ini penurut dan mengerti 

sekali. Namun bukan itu saja yang 

membuat Pangeran sayang kepadanya. Ada 

pula sebab yang lain yaitu bahwa 

binatang ini dulu pada suatu ketika 

pernah menyelamatkan Pangeran dari 

bahaya maut diterkam harimau di tepi 

hutan.


Melihat binatang ini, maka 

timbullah pikiran jahat di otak Ismaya 

yaitu sesuai dengan tugasnya 

mengacaukan dan menimbulkan huru-hara 

di Banten. Dengan tersenyum buruk pe-

muda ini melangkah ke balik sebuah 

pohon. Diambilnya sebutir batu kecil. 

Dari dalam sabuknya dikeluarkannya 

sejenis bubuk lalu batu kecil tadi 

digosoknya dengan bubuk tersebut. 

Bubuk ini adalah sejenis obat 

perangsang yang membuat manusia atau 

binatang bisa menjadi mengamuk seperti 

orang gila atau kemasukan setan! 

Kerbau besar itu melangkah perlahan-

lahan dengan tegapnya sambil memamah 

rumput hijau yang ada dalam mulutnya. 

Ismaya memandang dulu berkeliling. 

Melihat tak ada satu orang pun di 

dekat-dekat sana yang memperhatikannya 

maka dengan segera dilemparkannya 

butiran batu kecil tadi ke arah hidung 

kerbau Pangeran.

Seperti suara geledek yang tiba-

tiba, demikianlah keras serta 

panjangnya kuak kerbau tersebut. 

Hidungnya mendengus-dengus. Ini 

menambah mudah bubuk rangsangan 

bekerja.

Kerbau itu menguak lagi sekeras-

kerasnya lalu mengangkat kedua kaki 

mukanya ke atas sedang ekornya 

berputar-putar gesit laksana sebuah 

cambuk! Kedua mata binatang itu yang


tadi putih bening kini kelihatan 

menjadi merah laksana saga. Dan ketika 

di hadapannya muncul sebuah kereta 

istana yang membawa barang-barang 

perbekalan dapur, ditarik oleh dua 

ekor kuda hitam, tak ayal lagi kerbau 

yang sudah menjadi gila dan jalang itu 

berlari menyongsong! Sambil 

mengeluarkan suara menguak yang 

dahsyat ditanduknya kedua ekor kuda 

kereta tersebut. Kuda kereta meringkik 

tinggi lain roboh bermandikan darah. 

Keretanya sendiri terbalik dan barang-

barang perbekalan yang dibawa 

berhamburan.

Kusir kereta melompat dari kereta 

yang terbalik itu, tapi karena gugup 

telah melompat ke hadapan kerbau yang

tengah menggila sehingga dengan 

sendirinya diapun menjadi korban 

ditanduk pada perutnya sehingga 

ususnya berbusaian! Melihat kejadian 

itu maka orang yang lalu-lalang di 

muka istana segera lari menjauh sambil 

berteriak-teriak: "Kerbau mengamuk!"

"Awas kerbau mengamuk!"

"Kerbau Pangeran mengamuk! Lari! 

Awas ditanduk!"

Beberapa orang prajurit 

bersenjatakan tom-bak yang mengawal di 

dekat situ segera turun tangan. Namun 

mereka pun disapu semuanya hingga 

roboh mandi darah oleh kerbau yang 

mengamuk itu dan diinjak-injak


kepalanya! Penjinak kuda dan orang 

yang biasa mengurus kerbau Pangeran 

Jusuf ini dipanggil dimintakan bantuan 

mereka. Orang-orang inipun tidak ber-

daya bahkan menerima nasib sama, 

menemui ajal ditanduk! Dalam waktu 

kurang dari sepuluh menit saja sudah 

delapan korban berkaparan di halaman 

luas itu. Jerit orang ramai semakin 

menjadi-jadi disertai ringkik kuda dan 

diatasi oleh suara menguak kerbau yang 

mengamuk itu sendiri! Kotaraja menjadi 

puncak heboh! Meskipun semua orang 

takut dan ngeri mendengar kejadian itu 

tapi banyak di antara mereka yang 

datang berlari-lari ke sana untuk 

menyaksikan kejadian itu dengan mata 

kepala sendiri dari kejauhan, dari 

balik-balik pohon atau dari balik-

balik bangunan.

Beberapa orang prajurit datang 

lagi. Ada yang mencoba mendekati 

binatang ini dari belakang, tapi roboh 

konyol kena tendangan kaki. Dua orang 

yang datang dari muka dengan serentak 

menangkap tanduk sang kerbau. Binatang 

ini menguak dan sekali saja dia 

menggerakkan kepalanya maka 

berpentalanlah kedua prajurit itu. 

Yang satu segera meregang nyawa karena 

tersambar tanduk di dadanya sedang 

yang satu lagi masih sempat 

menyelamatkan diri. Tapi nasibnya 

tidak lebih baik dari kawannya tadi.


Kerbau gila itu mengejarnya dengan 

cepat lalu menanduknya dari belakang!

Dalam keadaan yang kacau balau 

itu beberapa orang prajurit dengan 

takut-takut berani melemparkan tombak 

mereka dari jauh. Tiga batang tombak 

meleset. Dua batang menancap di 

tengkuk dan di pinggul. Kerbau itu 

menguak memperlihatkan gigi-giginya 

yang besar-besar lalu lari ke arah 

prajurit-prajurit yang menombaknya 

itu, untung saja prajurit-prajurit ini 

sudah lebih dahulu angkat langkah 

seribu. Darah keluar dari luka kena 

tombak di tubuh kerbau. Binatang ini 

menggeser-geserkan badannya ke tembok 

istana sehingga salah satu dari tombak 

yang menancap di tubuhnya patah. Bagi 

seekor binatang yang sedang mengamuk 

menggila maka terluka akan menambah 

gila amuknya. Demikian juga dengan 

kerbau kesayangan Pangeran ini. 

Beberapa orang korban lagi jatuh di 

kalangan rakyat.

Dari gardu istana mendadak 

kelihatan berlari seorang kepala 

prajurit berpangkat rendah. Di 

tangannya tergenggam sebuah keris dan 

prajurit yang masih muda ini segera 

menerjang binatang itu. Tumit kaki 

kanannya menghantam tengkuk kerbau 

dari samping. Kerbau yang terhuyung-

huyung seketika lalu membalik dengan 

cepat dan menanduk. Gesit sekali


gerakan kepala prajurit itu sehingga 

dia berhasil mengelakkan serangan maut 

tersebut dan bahkan menghunjamkan 

kerisnya ke kening kerbau. Binatang 

itu menguak. Kedua kakinya naik ke 

atas, ekornya menyabat buas dan dia 

membalikkan tubuhnya dengan dahsyat. 

Gerakan yang tiba-tiba ini hampir saja 

mencelakai prajurit muda tersebut. Dia 

menjatuhkan diri dan bergulingan di 

tanah. Kerbau yang mengamuk memburu 

dan menanduk tapi pemuda itu berguling 

lagi sehingga yang ditanduk hanyalah 

tanah halaman istana! Tanah itu 

berlobang besar!

Melihat apa kini yang terjadi di 

muka istana yaitu perkelahian maut 

antara seorang kepala prajurit muda 

dengan kerbau yang mengamuk gila, maka 

semakin banyaklah orang datang 

berkerumun ke sana. Prajurit-prajurit 

yang tadinya hendak menghujani 

binatang itu dengan tombak jadi 

terkesiap dan tanpa menyadari mereka 

ikut pula menonton dari kejauhan! 

Manusia lawan binatang, ini memang 

satu tontonan yang luar biasa! Lupa 

orang banyak itu kini betapa ngerinya 

korban-korban yang berkaparan di se-

kitar halaman luas itu!

Seorang pengawal yang tahu akan 

tugasnya segera lari ke dalam istana 

dan memberi laporan pada Sultan. 

Pangeran Yusuf terkejut sekali


mendengar bahwa kerbau peliharaan yang 

sangat disayanginya itu tengah 

mengganas mengamuk dan telah membunuh 

beberapa orang prajurit serta rakyat. 

Sidang dihentikan Pangeran orang yang 

nomer satu keluar dari istana dan 

tanpa menyadari bahaya dia lari ke 

halaman.

"Aduh kerbauku! Kenapa kau jadi 

begini? Kerbauku sayang...!" seru 

Pangeran seraya berlari ke arah 

binatang yang kini mandi darah karena 

tusukan-tusukan keris di tangan kepala 

prajurit tadi. Kalau dulu dipanggil 

seperti itu sang kerbau yang mengerti 

dan penurut pasti akan datang dan 

menjilat-jilat tangan Pangeran. Tapi 

dalam keadaan mengamuk mana dia 

perduli sama sang Pangeran?! Kerbau 

itu menyerudukkan tanduknya ke perut 

sang Pangeran! Orang banyak menjerit! 

Pasti berbusaian usus Pangeran itu. 

Namun dengan sangat gesit sekali, 

kepala prajurit tadi mendahului 

gerakan sang kerbau. Dengan tangan 

kirinya ditariknya lengan Pangeran.

"Maaf Pangeran! Sebaiknya 

menghindarlah! Kerbau ini mengamuk 

gila, tak bisa dibikin jinak sekalipun 

oleh Pangeran sendiri!"

Pangeran terguling di tanah. 

Pakaiannya kotor oleh debu dan darah. 

Kepala prajurit tadi begitu 

menyelamatkan Pangeran segera me


ngirimkan tendangan ke tengkuk kerbau. 

Binatang ini terhuyung-huyung dan 

melenguh lalu menyabatkan ekornya ke 

muka kepala prajurit itu tapi meleset. 

Tanpa disadari orang banyak yang 

tadinya ngeri melihat amukan kerbau 

itu kini karena saking asyiknya 

melihat perkelahian antara manusia dan 

binatang itu jadi bersorak-sorak! 

Sorak-sorai yang gegap gempita ini 

menelan suara teriakan Pangeran dari 

ujung sana yang tiada henti-hentinya 

berteriak: "Jangan bunuh kerbauku! 

Jangan bunuh kerbauku!"

Beberapa tusukan keris ampuh pada 

kepala agaknya masih belum melemahkan 

binatang yang mengamuk itu malahan dia 

menggila lebih dahsyat. Sambil 

mengelak gesit kian kemari kepala 

prajurit tiada henti-hentinya 

menusukkan kerisnya. Namun 

kegesitannya itu merupakan satu kesia-

siaan belaka ketika kaki kirinya 

tergelincir oleh licinnya darah yang 

bertebaran di tanah. Tak ampun lagi 

tubuhnya terpelanting ke belakang dan 

bersamaan dengan itu si kerbau 

menyerudukkan tanduk menyerangnya. 

Orang banyak yang menonton dari 

kejauhan tidak mengetahui betapa 

sesungguhnya kepala prajurit itu 

tengah diancam bahaya maut. Mereka 

mengira bahwa dia cuma melakukan satu 

gerakan menjatuhkan diri untuk


menghindari serangan binatang gila

itu. Namun di antara sekian banyaknya 

pasang mata yang menyaksikan masih ada 

seorang manusia yang memaklumi bahwa 

sesungguhnya kepala prajurit itu sudah 

dikejar maut di depan mata! Tanpa 

menimbulkan perhatian orang-orang di 

dekatnya, laki-laki yang juga masih 

muda ini menggerakkan tangannya. Tak 

terlihat karena kecil dan cepatnya 

maka melayanglah sebutir batu yang 

menghantam dengan tepat ke mata kiri 

kerbau itu. Binatang ini menguak 

tinggi. Matanya pecah dan kepalanya 

terdorong ke samping sehingga 

tanduknya hanya menghantam tanah! 

Kepala prajurit itu melompat dengan 

cepat. Orang bersorak gemuruh. Tak 

satu pun di antara mereka yang melihat 

lemparan batu itu tapi tidak demikian 

halnya dengan si kepala prajurit yang 

telah tertolong jiwanya. Kepala 

prajurit ini sambil melompat tadi 

masih sempat melihat gerakan tangan 

penolongnya!

Kini prajurit itu tidak main-main 

lagi. Tubuhnya berkelebat dan kerisnya 

menusuk kepala kerbau berulang kali. 

Lambat laun binatang itu menjadi lemas 

juga. Tubuhnya limbung terhuyung-

huyung sedang suara menguaknya tidak 

sedahsyat tadi lagi. Akhirnya robohlah 

binatang itu ke tanah tanpa nyawa! 

Menggemuruh sorak-sorai orang banyak.


Seorang pengawal datang berlari 

menyongsong kepala prajurit yang 

tangkas dan berjasa besar itu. 

"Saudara," kata prajurit ini. "Kau 

dipanggil menghadap oleh Sultan."

Sebelum melangkah kepala prajurit 

itu mendekati penolongnya tadi 

terlebih dahulu dan berkata berbisik: 

"Sahabat, kau jangan kemana-mana. 

Tunggu aku di sini."

Pemuda berpakaian putih-putih 

serba sederhana itu tersenyum dan 

menganggukkan kepala. Kepala prajurit 

tadi datang menghadap Sultan yang 

menyambutnya dengan gembira: "Aku 

bangga mempunyai seorang prajurit 

sepertimu ini. Siapakah namamu?"

"Nama saya Ekawira, Sultan," 

jawab kepala prajurit itu pula.

"Hemm, dengar Ekawira. Mulai hari 

ini kuberi gelar Raden Mas kepadamu! 

Karena jasamu yang tiada ternilai, 

karena kau telah menyelamatkan 

puteraku dari amukan kerbau itu dan 

sekaligus juga telah menyelamatkan 

korban-korban yang pasti akan jatuh, 

maka mulai hari ini pula kuangkat kau 

menjadi Kepala Pengawal Istana! Harap 

jabatan itu kau terima dengan hati 

puas dan jalankan tugasmu dengan 

baik!"

Ekawira menjura: 'Terima kasih, 

Sultan. Akan saya jalankan tugas 

dengan sebaik-baiknya," katanya dengan


hati sangat gembira karena tiada 

menduga akan diberikan pangkat 

kedudukan sedemikian tingginya.

Sultan Banten melambaikan 

tangannya kepada seorang pegawai 

rumahtangga istana dan berkata pada 

orang ini: "Berikan kepadanya pakaian 

angkatan sebagai Kepala Pengawal Is-

tana." Kemudian Sultan berpaling pada 

Ekawira, "Raden Mas Ekawira, tukarlah 

pakaianmu. Jika sudah selesai segera 

kembali ke sini untuk mengikuti sidang 

yang tadi belum selesai."

Ekawira menjura. Parasnya 

kelihatan kemerahan karena itulah 

untuk pertama kalinya dalam hidupnya 

dia dipanggil orang dengan gelar 

"Raden Mas" dan oleh Sultan pula! 

Semua orang juga merasa gembira 

melihat pengangkatan Kepala Pengawal 

Istana itu. Memang kalau melihat 

kepandaian dan jasa yang telah 

diperbuat laki-laki muda itu sudah 

sepantasnya dia diberikan jabatan 

tersebut. Namun agaknya akan salah 

kalau kita katakan "semua" orang 

merasa gembira karena rupanya ada 

salah satu di antara mereka yang 

merasa tidak senang dengan 

pengangkatan itu. Orang ini tak lain 

adalah Raden Mas Tirta, Kepala 

Balatentara Banten! Me-ngapa pula dia 

ini tidak senang? Ini tak lain ialah 

karena sejak diangkat menjadi Kepala


Balatentara maka sifat-sifat baik dari 

Tirta lama kelamaan hilang satu demi 

satu, berganti dengan sifat dengki iri 

hati, gila hormat dan gila kemewahan, 

sehingga setiap ada seseorang baru 

yang diberi pangkat tinggi, meskipun 

masih berada di bawahnya namun karena 

rasa dengkinya, dia jadi tak ubahnya 

seperti cacing kepanasan!

Seiesai sidang, Raden Mas Ekawira 

meminta diri karena ada urusan yang 

harus diselesaikannya. Cepat-cepat dia 

keluar dari istana. Hatinya cemas 

kalau pemuda yang telah menolongnya 

tadi sudah pergi karena kelewat lama 

menunggu. Tapi nyatanya pemuda itu ma-

sih ada di ujung halaman istana, 

menanti di bawah sebatang pohon 

beringin yang sangat rindang dan 

teduh. Dengan tersenyum Raden Mas 

Ekawira menghampiri pemuda itu.

"Sahabat, aku berhutang nyawa 

kepadamu. Namamu siapa dan kau datang 

.dari mana?" Sambil bertanya itu Raden 

Mas Ekawira meletakkan tangan kanannya 

di pundak kiri si pemuda. Pemuda ini 

merasakan betapa tangan yang 

diletakkan di atas pundaknya laksana 

beban yang beratnya ratusan kati. Dia 

maklum bahwa laki-laki itu tengah 

menguji kekuatannya. Diam-diam si 

pemuda mengerahkan tenaga dalamnya 

dari pusar terus ke pundak kiri. Dan 

Ekawira jadi terkejut ketika merasakan


betapa pundak itu tidak tergetar sama 

sekali bahkan dia tak ubahnya seperti 

memegang satu kepingan batu karang 

yang keras membaja!

Pemuda itu tersenyum: "Aku cuma 

seorang dusun saja Raden, yang 

kebetulan datang melihat-lihat ke 

Kotaraja ini dan turut menyaksikan 

kegaduhan karena kerbau mengamuk tadi 

itu...."

Ekawira menarik tangannya dengan 

cepat ketika bagaimana pundak yang 

masih dipegangnya itu mendadak 

mengeluarkan hawa dingin sekali yang 

membuat tulang-tulang tangannya sampai 

terasa ngilu! "Sahabat! Rupanya kau 

bukan orang sembarangan. Katakan 

namamu!"

"Namaku Mahesa Kelud, Raden Mas," 

jawab si pemuda.

"Gurumu siapa?"

"Ah, saya cuma berguru pada 

seorang jago silat kampungan, Raden 

Mas. Apalah artinya," sahut Mahesa.

"Hem, tak usah merendah, Mahesa. 

Kalau kau cuma belajar pada guru silat 

kampungan mengapa kau membawa-bawa 

pedang segala?" ujar Raden Mas Ekawira 

seraya melirik ke punggung si pemuda 

di belakang mana tersembul gagang 

sebuah pedang berwarna merah dan 

berumbai-rumbai. "Baiklah kalau kau 

tak mau menerangkan siapa gurumu," 

kata Ekawira tak hendak mendesak.


'Tapi katakanlah, apakah kedatanganmu 

ke Banten ini disertai maksud yang 

baik?"

"Justru aku datang ke sini adalah 

untuk menghambakan diri, Raden Mas. 

Kudengar terlalu banyak penyusup-

penyusup Pajajaran yang menimbulkan 

huru-hara di Kotaraja ini."

"Bagus sekali, Mahesa!" kata 

Raden Mas Ekawira dengan gembira. 

"Memang orang-orang macam kau inilah 

yang sangat dibutuhkan oleh Banten. 

Dengar Mahesa, aku baru saja diangkat 

menjadi Kepala Pengawal Istana oleh 

Sultan! Secara jujur dan terus terang 

kukatakan pangkat tinggi itu kudapat 

adalah berkat bantuanmu. Di samping 

itu aku maklum pula bahwa kau berilmu 

tinggi yang mungkin lebih tinggi 

dariku. Kalau kau suka, aku tidak 

ragu-ragu untuk mengambilmu jadi 

pembantuku, Mahesa Kelud!"

"Terima kasih, Raden Mas. Kalau 

tawaran itu memang diajukan dengan 

hati jujur dan kepercayaan, saya 

bersedia menerimanya dan sekali lagi 

saya menghaturkan terima kasih," jawab 

Mahesa Kelud.

Saat itu lewatlah seorang 

berpakaian bagus. Raden Mas Ekawira 

berpaling. Yang datang ternyata adalah 

Raden Mas Tirta, Kepala Balatentara 

Banten. "Eh, Dimas Ekawira. Kukira 

siapa. Hem, Dimas aku turut


mengucapkan selamat atas 

pengangkatanmu menjadi Kepala Pengawal 

istana. Tak kusangka di antara kepala 

prajuritku ada seseorang yang 

berkepandaian demikian tingginya. 

Agaknya kau memiliki keris pusaka yang 

ampuh, Dimas?"

Raden Mas Ekawira cepat-cepat 

menjura karena dia maklum dengan siapa 

dia berha-dapan. "Terima kasih atas 

ucapan selamat itu Raden Mas Tirta."

Raden Mas Tirta melirik pada 

Mahesa Kelud. "Eh, siapakah pemuda ini 

Dimas, mengapa kau bercakap-cakap 

dengan pemuda dusun macam beginian?"

"Oh, saya lupa menerangkan. Dia 

adalah pembantu saya yang barusan saya 

angkat, Raden Mas."

"Hemmm... pembantumu?" desis 

Raden Mas Tirta seraya meneliti Mahesa 

Kelud dengan pandangan mengejek. Yang 

dipandang cuma senyum-senyum saja 

namun kedua matanya memandang dengan 

menyorot tajam pada Kepala Balatentara 

Banten itu. Ketika Raden Mas Tirta 

menatap ke mata pemuda ini, dia 

membuang muka dengan sikap mencemooh 

padahal hatinya tergetar dan sesuatu 

hal yang tidak dapat dimengerti 

membuat dia tak sanggup balas menatap 

tantangan mata Mahesa itu!

Raden Mas Tirta berpaling pada 

Ekawira, "Baiklah Dimas, dalam 

kedudukanmu yang baru ini kau akan


banyak berhubungan denganku. Mudah-

mudahan kita bisa bekerja sama dalam 

pengabdian kita kepada kerajaan."

"Mudah-mudahan, Raden Mas."

"Nah, aku pergi sekarang."

"Baik Raden Mas."

Sesudah Kepala Balatentara Banten 

itu berlalu maka Ekawira menepuk bahu 

Mahesa Kelud. "Dimas, marilah. Sultan 

telah memberikan tempat kediaman baru 

untukku. Kebetulan aku memang belum 

beristeri sehingga kita bisa tinggal 

sama-sama di sana."

"Terima kasih. Kau baik hati 

sekali Raden Mas."



DELAPAN



SESUNGGUHNYA keadaan bisa membuat 

sifat manusia yang baik menjadi buruk 

dan yang tadinya buruk menjadi baik. 

Misalnya seseorang yang tadinya 

miskin. Dalam kemiskinan dan penuh 

duka derita kehidupannya dia lebih 

dekat kepada Tuhan. Taat beribadat, 

suka menolong sesama manusia, tinggi 

budi rendah hati. Tapi ketika dia 

menjadi seorang kaya raya, berharta 

banyak dan ber-pangkat tinggi, lupalah

dia bahwa dulunya dia seorang miskin 

sengsara. Kehidupan yang mewah menutup

matanya terhadap segala kebaikan. 

Kalau waktu miskin dulu dia tidak


kenal dengan segala macam minuman 

keras, maka kini dia sangat gemar 

dengan minuman macam begituan, kalau 

selagi hidup sengsara dulu dia tidak 

kenal perjudian, maka kini dia setelah 

kaya raya dan berpangkat, judi macam 

mana yang tidak diketahuinya? Kalau 

dulu isterinya cuma satu dan dia tidak 

kenal paras yang cantik jelita atau 

tubuh yang indah menggiurkan, maka 

kini gundik-selir peliharaannya 

bertebaran di mana-mana, hampir tidak 

terhitung jumlahnya. Terhadap orang 

miskin tidak memandang sebelah mata, 

lupa dia bahwa dulu dia juga manusia 

macam begituan. Tak ada lagi sifat 

hati welas asih dan penolong! Meski 

harta sudah banyak, pangkat sudah 

tinggi tapi dia selalu digerayangi 

setan dengki dan nafsu tamak bila 

melihat seorang lain hidup senang dan 

menduduki pangkat yang tinggi pula! 

Perumpamaan di atas itu rupanya benar 

terjadi atas diri Tirta, yang sudah 

hampir setahun lamanya mendapat gelar 

Raden Mas dan mendapat pangkat tinggi 

sebagai Kepala Bala tentara Banten. 

Sikap dan sifatnya jauh berbeda dari 

dahulu, laksana siang dengan malam 

laksana putih di atas hitam!

Sesudah pertemuan dengan Raden 

Mas Ekawira serta Mahesa Kelud tadi, 

dia langsung menuju ke tempat 

kediamannya. Kedatangan-nya disambut


oleh isterinya yang pertama yaitu 

Ratnawati. Kalau kita katakan isteri 

pertama, maka berarti ada pula yang 

kedua dan ketiganya! Memang 

demikianlah adanya! Ternyata pangkat 

yang tinggi dan harta yang melimpah 

telah pula membuat Tirta menjadi 

seorang laki-laki mata keranjang doyan 

perempuan! Isteri sahnya ada tiga, 

tapi selir atau gundiknya ada lima. 

Kedelapan perempuan yang rata-rata 

masih muda belia belasan tahun itu 

tinggal serumah, diberi kamar dan 

perlengkapannya masing-masing! Jumlah 

delapan itu baru yang kita ketahui 

dengan jelas saja, jadi belum 

terhitung perempuan-perempuan yang 

menjadi peliharaannya yang kabarnya 

tersebar di setiap kampung yang ada di 

Banten!

Melihat tampangnya yang asam, 

seperti cuka, melihat kerut muka yang 

seperti parutan tahulah para isteri 

dan gundik-gundiknya bahwa ada sesuatu 

kejadian yang tidak menyenangkan hati 

Raden Mas Tirta. Kalau sudah begitu di 

antara perempuan-perempuan itu tidak 

ada yang berani mendekat kecuali sang 

isteri pertama Ratnawati! Perempuan 

ini pada takut karena kalau sedang 

marah-marah sikap Raden Mas Tirta 

kasarnya bukan main. Dari mulutnya 

menyemprot kata-kata kasar dan kotor


bahkan tak jarang pula dia melekatkan 

kaki tangannya!

"Kangmas, agaknya ada sesuatu 

yang terjadi?" tanya Ratnawati.

"Ah, kalian orang-orang perempuan 

jangan ikut campur urusanku! Pergi 

sana, tak usah menggangguku!" kata 

Raden Mas Tirta kasar dan keras.

Ratnawati tersenyum simpul. Dia 

sudah biasa dengan semprotan macam 

begituan. "Aih, kangmas Tirta. Kau ini 

bicara seperti aku dan yang lain-

lainnya itu bukan isteri-isteri 

kangmas saja. Katakanlah ada apa, 

kangmas?" tanya Ratnawati dengan manja 

dan lemah lembut seraya mencium pipi 

suaminya. Kalau sudah begini agak 

dingin hati Raden Mas Tirta sedikit. 

Namun suaranya tetap keras ketika 

berkata: "Sialan Sultan Hasanuddin 

itu!"

"Sialan bagaimana, kangmas?" 

tanya Ratna-wati.

"Coba kau pikir, masakan seorang 

kepala prajurit rendahan karena 

membunuh seekor kerbau gila mengamuk 

saja diangkat menjadi Kepala Pengawal 

Istana! Sialan tidak?!"

"Siapakah kepala prajurit yang 

kejatuhan bintang terang itu, 

kangmas?" tanya Ratnawati pula.

"Si keparat Ekawira! Malahan dia 

dapat gelar Raden Mas pula! Kunyuk 

benar!"


"Hemmm..." gumam Ratnawati sambil 

menggeleng-gelengkan kepala. "Memang 

tidak pantas kalau prajurit rendah 

macam dia diangkat untuk jabatan yang 

demikian tingginya. Tapi yah, apa mau 

dikata? Sultan berhak menjalankan apa 

maunya. Lagi pula kangmas, menurut 

isterimu yang bodoh ini kurasa itu 

tidak akan memberi pengaruh yang buruk 

bagimu. Sebagai Kepala Balatentara 

Banten bukankah dia berada di 

bawahmu?"

"Benar, tapi aku tetap tidak 

senang dia menduduki jabatan itu! Biar 

aku jadi Kepala Balatentara namun 

dalam segala urusan mengenai istana, 

aku harus berhubungan dengan dia, 

harus berunding, tak dapat lagi 

mengambil keputusan sendiri!"

"Itu memang betul, kangmas. Tapi 

kita lihat sajalah. Manusia macam 

Ekawira itu mana becus memegang 

jabatan sedemikian tingginya. Dalam 

waktu satu minggu saja dia pasti akan 

digeser atau diperhentikan!" membujuk 

Ratnawati.

Hati Raden Mas Tirta agak 

terhibur sedikit mendengar kata-kata 

isterinya itu. "Dan kau tahu, Ratna," 

kata laki-laki itu pula, "Mentang-

mentang sudah berpangkat tinggi kini, 

si Ekawira itu mengangkat seorang 

pembantu! Seorang pemuda dusun yang 

tolol! Dasar, begitulah kalau orang


goblok berpangkat tinggi, pembantunya 

pun dari kalangan tolol! Mereka 

seharusnya jadi penggembala-

penggembala kerbau atau tukang 

bersihkan kandang kuda istana!"

Ratnawati tertawa cekikikan 

mendengar ucapan suaminya itu, tapi 

tertawa yang cuma dibuat-buat. Saat 

itu muncul seorang pengawal.

"Keparat!" maki Raden Mas Tirta. 

"Ada apa kau tidak dipanggil datang 

menghadap?"

"Maaf Raden Mas. Tapi di luar ada 

seorang tamu yang hendak bertemu 

dengan Raden Mas. Dia mengaku bernama 

Jaka Luwak."

Kalau saja pengawal itu tidak 

menyebutkan nama Jaka Luwak cepat-

cepat tentu pipinya sudah kena 

tamparan Raden Mas Tirta. Siapakah 

gerangan manusia bernama Jaka Luwak

yang begitu memberi pengaruh kepada 

sang Kepala Balatentara Banten ini? 

Jaka Luwak adalah saudara atau 

tepatnya kakak seperguruan dari Tirta.

"Hem... Jaka Luwak katamu? Kalau 

begitu suruh dia masuk, langsung 

antarkan kepadaku! Cepat!"

"Kangmas, siapakah orang yang 

bernama Jaka Luwak itu?" tanya 

Ratnawati.

Raden Mas Tirta tertawa bergelak. 

"Dia adalah kakak seperguruanku, 

Ratna. Ilmunya lebih tinggi dan lebih


lihay dariku! Kalau dia mau kusuruh 

menetap di sini, dia bisa diharapkan 

menjadi pembantu dan tulang 

punggungku!"

Tak lama kemudian dengan diantar 

oleh pengawal tadi maka masuklah 

seorang pemuda berkulit kuning 

berbadan tegap dan bertam-pang keren. 

Dia memelihara kumis kecil yang 

menambah kegagahan parasnya.

"Kakang Jaka Luwak, silahkan 

duduk. Tak sangka kau akan datang 

menemuiku. Bagai-mana kabar guru?" 

tanya Raden Mas Tirta.

Pemuda bernama Jaka Luwak itu 

berdiri dengan bertolak pinggang. Dia 

melirik pada Ratnawati, dua isteri 

lainnya dan gundik-gundik adik 

seperguruannya lalu menggeleng-geleng-

kan kepalanya. "Bukan main dimas, kau 

sudah hebat sekali rupanya, sehingga 

tidak mau melihat kami saudara-

saudaramu di gunung Gede. Kalau aku 

bertemu denganmu di tengah jalan dalam 

pakaian kebesaran ini, pasti aku tak 

akan mengenalimu! Tentang guru, beliau 

ada baik. Beliaulah yang menyuruh aku 

datang ke sini untuk rnendampingimu."

"Bagus dan syukur kakang Jaka 

Luwak. Memang seorang yang berilmu 

tinggi sepertimu sangat dibutuhkan di 

Banten ini!"

Jaka Luwak mengambil tempat duduk 

di hadapan adik seperguruannya. Raden


Mas Tirta berpaling pada Ratnawati dan 

berkata: "Ratna, kau dan yang lain-

lainnya segera siapkan makan siang! 

Aku akan makan sama-sama kakak 

seperguruanku ini!" Beberapa orang 

gundik Raden Mas Tirta melirik genit 

pada pemuda yang baru datang dan 

bertampang gagah itu. Sedang Jaka 

Luwak sendiri tengah memperhati-kan 

Ratnawati karena memang perempuan 

inilah yang paling cantik daripada 

yang lain-lainnya.

Jaka Luwak berpaling kepada adik 

seperguruannya lalu berkata: "Dimas, 

waktu aku ke sini aku membawa seorang 

tawanan."

"Seorang tawanan?" tanya Raden 

Mas Tirta seraya mengerutkan 

keningnya.

Jaka Luwak mengangguk. "Aku 

berada di pinggir kotaraja tengah 

berlari menuju ke sini. Tiba-tiba 

kulihat seorang pemuda berlari cepat. 

Sikap dan tampangnya mencurigakan. 

Kukejar dia dan kutegur. Eh, tak hujan 

tak angin tahu-tahu dia menyerangku. 

Aku segera turun tangan dan 

merobohkannya dalam dua jurus. Kutotok 

urat kakinya agar tidak lari lalu 

kupaksa dia untuk memberi keterangan. 

Ternyata dia seorang mata-mata 

Pajajaran dan mengaku bernama Ismaya. 

Dia juga mengakui bahwa dialah yang 

telah melempar kerbau Pangeran dengan


sebutir batu yang dibubuhi obat 

perangsang sehingga binatang itu 

menjadi gila dan mengamuk! Bangsat 

Pajajaran itu ada di luar sekarang."

"Sebaiknya bawa dia ke sini, 

kakang," kata Raden Mas Tirta. Dia 

menyembunyikan rasa terkejutnya ketika 

mendengar keterangan Jaka Luwak tadi 

bahwa kakak seperguruannya ini telah 

menawan seorang mata-mata Pajajaran. 

Jaka Luwak berdiri dan keluar. Tak 

lama kemudian dia masuk lagi dengan 

menyeret sesosok tubuh pemuda yang 

mukanya babak belur bekas pukulan. 

Pemuda ini dihempaskan ke lantai.

"Kakang, tolong kau lepaskan 

totokannya," kata Raden Mas Tirta.

Jaka Luwak memandang dengan tak 

mengerti pada Kepala Balatentara 

Banten itu namun tanpa banyak tanya 

dia segera melepaskan totokan tawanan 

itu.

"Namamu Ismaya?" tanya Raden Mas 

Tirta.

Tawanan itu mengangguk dan duduk 

men-jelepok di lantai.

"Kau mata-mata Pajajaran?!" 

"Betul!" jawab Ismaya tanpa ragu-ragu 

ataupun takut.

"Kau tahu apa artinya kalau 

dirimu ditawan seperti saat ini?!" 

tanya Raden Mas Tirta.

"Mengapa tidak? Tapi aku tidak 

takut! Kalau orang-orang Banten hendak


membunuhku, hendak menggaritung atau 

mencincang ataupun hendak membakarku 

hidup-hidup aku tidak takut! Aku akan 

mati tapi puluhan mata-mata Pajajaran 

masih banyak bertebaran di sini dan 

ratusan lagi akan terus menyusup 

sampai akhirnya Banten sama rata 

dengan tanah! Aku tidak takut mati 

karena Sang Prabu telah memberikan 

hadiah yang tiada ternilai bagiku dan 

jaminan kehidupan untuk tujuh 

turunanku! Salah satu di antara hadiah 

yang aku terima dari Sang Prabu adalah 

keris...." Dari balik pinggangnya 

Ismaya mengeluarkan sebuah keris yang 

keseluruhan-nya terbuat dari emas 

murni, gagangnya berbentuk kepala 

burung garuda yang pada kedua matanya 

dihiasi dengan butiran berlian sebesar 

jagung!

Jaka Luwak dan Raden Mas Tirta 

kagum bukan main melihat keris yang 

indah itu. Saat itu terdengar pula 

suara Ismaya kembali: "Saudara-

saudara, kalian berdua tentunya orang-

orang berkepandaian tingi. Orang-orang 

semacam kalian sangat dibutuhkan oleh 

Sang Prabu. Kalau...."

"Tutup mulutmu keparat!" bentak 

Jaka Luwak. Tapi kembali pemuda ini 

jadi terheran-heran ketika dilihatnya 

adik seperguruannya melambaikan tangan 

dan berkata: "Biarkan saja dia bicara 

terus kakang."


"Orang-orang semacam kalian," 

meneruskan Ismaya. "sangat dibutuhkan 

oleh Sang Prabu. Kalau kalian mau 

berpihak kepada Pajajaran dan membantu 

Pajajaran dalam menghancur-kan Banten, 

pasti kalian akan dihadiahi harta 

benda dan kekayaan serta jaminan hidup 

yang jauh lebih besar serta mewah 

dariku. Ini bukan omong kosong belaka 

mengingat Pajajaran jauh lebih kaya 

dari Banten."

Seperti yang sudah diterangkan 

sebelumnya sejak dia menjabat pangkat 

Kepala Balatentara Banten maka Raden 

Mas Tirta telah menjadi buruk dan 

jahat, busuk dan iri hati, tamak serta 

loba gila harta dan wanita! Di samping 

itu dia juga cerdik sekali. Mendengar 

keterangan mata-mata Pajajaran itu 

diam-diam di hatinya timbullah maksud 

untuk mengeduk keuntungan yang 

sebesar-besarnya.

"Hmm... Ismaya," gumam Raden Mas 

Tirta. "Apakah kau masih ingin hidup?"

"Sernua orang ingin hidup. Bahkan 

mayat-mayat dalam kuburpun akan 

berkata demikian, kalau saja mereka 

bisa bicara," jawab Ismaya.

Raden Mas Tirta memencongkan 

mulutnya dan mendengus. "Dengar 

Ismaya. Dari Sultan Banten aku sudah 

menerima kemewahan hidup dan berbagai 

hadiah yang tiada ternilai harganya. 

Jika hari ini kau kulepaskan dan kau


kembali ke Pajajaran untuk memberikan 

laporan kepada Rajamu maka katakanlah 

kepadanya bahwa aku, Kepala 

Balatentara Banten akan bersedia 

membantunya dengan diam-diam asal 

kepadaku kelak akan dijanjikan 

kedudukan sebagai Patih Pajajaran!"

"Ah, kalau cuma pangkat itu yang 

Raden Mas kehendaki dari Sang Prabu 

Pajajaran, soal mudah, Raden Mas. 

Keinginanmu pasti terkabul!" sahut 

Ismaya.

"Bagus, aku menjadi Patih 

Pajajaran dan Banten ada di bawah 

kekuasaanku," menambahkan Raden Mas 

Tirta.

"Mudah, itu soal mudah. Aku akan 

sampaikan kepada Sang Prabu," 

meyakinkan Ismaya.

"Nah, kau kulepaskan sekarang. 

Tapi keris emas itu tinggalkan di sini 

sebagai jaminan."

"Dengan senang hati Raden Mas. 

Dan saya menghaturkan terima kasih 

karena Raden Mas telah melepaskan dan 

memperlakukan saya dengan baik." Mata-

mata Pajajaran itu menjura lalu 

memutar tubuh dan meninggalkan tempat 

itu.

Demikianlah, Raden Mas Tirta, 

Kepala Balatentara Banten itu telah 

menentukan dirinya sebagai pengkhianat 

besar, sebagai musuh dalam selimut. 

Ini lain tidak disebabkan karena nafsu


tamaknya, gila terhadap harta dan 

pangkat tinggi sehingga lupa kalau 

bukan karena Sultan Banten tidak akan 

mungkin dia mendapat ke-dudukan empuk 

dan terhormat seperti saat itu, dan 

ini pun masih kurang pula baginya!



SEMBILAN



MALAM itu di tempat kediaman 

Raden Mas Tirta diadakan pesta. Suatu 

pesta malam yang tidak mengundang 

siapa-siapa. Pesta ini diadakan untuk 

menyambut kedatangan kakak 

seperguruannya dan kedua sebagai 

upacara selamat atas dimulainya perse-

kutuannya dengan Raja Pajajaran di 

mana dia pasti akan dijadikan Patih! 

Bergelas-gelas minuman keras masuk ke 

perut Raden Mas Tirta sampai akhirnya 

Kepala Balatentara Banten itu menjadi 

mabuk dan terkapar tak sadarkan diri 

di atas kursi besar di ruang tengah. 

Jaka Luwak hanya tersenyum-senyum saja 

melihat adik seperguruannya yang gila 

pangkat itu. Sekali-kali mata pemuda 

ini melirik ke pintu-pintu kamar yang 

berleret-leret di sebelah sana. Saat 

itu telah larut tengah malam dan para 

isteri serta gundik Raden Mas Tirta 

sudah tertidur di masing-masing kamar 

mereka.


Jaka Luwak memandang pada adik 

seperguruannya sejurus lalu berdiri 

mendekati laki-iaki itu dan menotoknya 

pada dada kanan. Totokan ini akan 

cukup membuat Raden Mas Tirta yang tak 

sadarkan diri itu untuk berada terus 

dalam keadaan seperti itu selama 

beberapa jam. Kemudian Jaka Luwak 

melangkah ke pintu kamar di ujung 

kiri. Dia tahu inilah kamar Ratnawati 

karena tadi dilihatnya perempuan itu 

masuk ke sini dan tak keluar-keluar 

lagi. Dia mengetuk, tidak keras tapi 

cukup jelas terdengar oleh orang yang 

berada di dalam.

"Siapa?" terdengar suara 

bertanya. Suara Ratnawati.

"Aku, dik Ratna," sahut Jaka 

Luwak. Suaranya bergetar karena 

disertai dengan tenaga dalam untuk 

mempengaruhi perempuan cantik muda 

belia itu.

Ratnawati yang terbaring di atas 

tempat tidur merasakan dadanya 

berdebar. Sejak pertemuannya pertama 

kali dengan kakak seperguruan suaminya 

itu dia memang sudah tertarik karena 

secara kenyataan Jaka Luwak jauh lebih 

gagah dari Tirta dan kulitnya kuning 

bersih pula. Sambil memegangi pakaian 

tidurnya yang terbuka lebar di bagian 

dada, Ratnawati turun dari atas tempat 

tidur. Dirapikannya dulu letak 

rambutnya di muka kaca rias lalu dia


melangkah ke pintu. Pintu terbuka 

sedikit dan perempuan itu memunculkan 

parasnya yang jelita. "Ada apa, Kakang 

Jaka?"

Mau tak mau Jaka Luwak menjadi 

gugup melihat paras cantik tersebut 

yang berada sangat dekat dengan 

kepalanya sehingga dia dapat merasakan 

hembusan nafas harurn Ratnawati. Dari 

celah daun pintu jelas dilihatnya 

bahwa Ratnawati saat itu hanya memakai 

baju tidur yang tipis sehingga samar-

samar dibawah sorotan lampu terang di 

ruang tengah dapat terlihat kulit 

tubuhnya yang putih mulus. Ini 

menambah rangsangan yang ada di diri

Jaka Luwak. Darah panas pemuda ini 

mengalir cepat-cepat

"Maafkan kalau aku mengganggu 

tidurmu, dik Ratna...."

"Oh, tak apa Kakang Jaka, saya 

memang belum tidur. Ada apakah? Mana 

kangmas Tirta?" tanya Ratnawati pula.

"Itulah Dik Ratna," sahut Jaka 

Luwak seraya menuding ke ruang tengah. 

"Dimas Tirta terlalu banyak minum 

sehingga mabuk dan tak sadarkan diri. 

Kini terbaring di kursi besar sana. 

Apakah perlu kutolong bopong ke kamar 

ini?"

"Ah, tidak usahlah," jawab 

Ratnawati. "Siapa yang sudi tidur 

dengan suami bau minuman seperti dia."


Jaka Luwak tersenyum. Memang dia 

sudah duga bahwa perempuan Itu akan 

menjawab demikian. "Apakah dimas Tirta 

sering dan suka mabuk-mabuk seperti 

saat ini?" tanyanya.

"Sering sekali. Dulunya dia tak 

pernah menyentuh minuman macam 

begituan tapi sekarang sudah demikian 

candunya."

Jaka Luwak menggeteng-gelengkan 

kepalanya Dia memancing: "Dik Ratna 

rnungkin kau sudah mau tidur. Biar aku 

mengundurkan diri" saja...."

Semalaman ini tak bisa mataku 

dipejamkan. Dari tadi aku cuma 

berbaring saja. Kurasa ada baiknya 

kalau kita bercakap-cakap di dalam. 

Sebagai seorang ahli silat yang 

kepandaiannya lebih tinggi dari 

kangmas Tirta sendiri tentu kau banyak 

pengalaman dan kisah-kisah luar 

biasa."

"Ah, aku cuma orang gunung biasa 

saja, Dik Ratna," jawab Jaka Luwak. 

Hatinya gembira sekali mendengar 

ajakan itu. Tapi Jaka Luwak yang 

cerdik ini tidak segera memperlihatkan 

rasa girangnya itu. "Dik Ratna, kalau 

kita bicara di dalam sana, bagaimana 

jika diketahui isteri-isteri dan selir 

dimas Tirta nanti?"

"Mereka sudah pada tidur semua. 

Kalaupun ada yang tahu mereka tidak 

akan berani meng-adu. Lagi pula apa


yang harus ditakutkan? Bukankah kita 

cuma bicara-bicara saja?" Perempuan 

itu tersenyum. Senyum manis yang mem-

buat dada Jaka Luwak semakin 

menggelora. Ketika Ratnawati membuka 

daun pintu lebih lebar tanpa ragu-ragu 

dia segera masuk. Pintu ditutupkan 

kembali. Kamar itu berbau harum 

semerbak. Di kamar ini terdapat sebuah 

meja yang dikelilingi oleh sebuah 

kursi panjang dan dua buah kursi 

kecil. Jaka Luwak sengaja duduk di 

kursi yang panjang. Dan hati pemuda 

ini semakin bergetar, darahnya semakin 

panas merangsang ketika Ratnawati 

dengan beraninya mengambil tempat 

duduk pula di sudut yang lain dari 

kursi panjang. Karena perempuan ini 

memakai baju tidur yang tipis sehingga 

dalam jarak dekat seperti itu Jaka 

Luwak dapat melihat pakaian dalamnya 

yang berwarna merah jambu.

"Kakang Jaka Luwak, harap 

dimaafkan kalau saya menerimamu dengan 

pakaian tidur seperti ini," kata 

Ratnawati seraya melontarkan satu 

lirikan tajam kegenitan.

"Sayalah yang salah karena 

bertamu waktu orang hendak tidur!" 

jawab Jaka Luwak seakan-akan menyesali 

diri.

'Tapi tak apa-apa, bukankah saya 

yang mengundangmu masuk ke sini?" dan 

kedua orang itu sama-sama tertawa.


Jaka Luwak kemudian bercerita 

tentang kehidupan di Gunung Gede 

selama dia menuntut berbagai ilmu 

kepada gurunya Ki Balangnipa. "Tentang 

pengalaman, aku masih belum ada Dik 

Ratna, karena aku baru saja turun 

gunung dan langsung disuruh guru 

kemari," kata Jaka Luwak mengakhiri 

ceritanya. Kemudian dia bertanya: 

"Sudah berapa lamakah kau berumah 

tangga dengan dimas Tirta, dik Ratna?"

"Belum ada satu tahun Kakang 

Jaka."

"Kalau begitu masih belum 

mendapatkan anak?"

"Sampai sekarang belum," jawab 

Ratnawati seraya mengusap perutnya 

dengan tangan kiri. Tapi karena tangan 

kirinya itu tadi dipakai untuk

memegang pakaiannya di atas dada maka 

kini belahan pakaiannya jadi terbuka 

dan kelihatanlah dadanya yang putih 

membusung. Untuk sejurus lamanya Jaka 

Luwak terpesona oleh keindahan yang 

baru pertama kali dilihatnya itu. 

Kedua pipi Ratnawati kelihatan 

memerah. Perempuan ini cepat-cepat 

mempergunakan tangan kanannya untuk 

menutup kembali pakaiannya yang 

terbuka.

"Dik Ratna," kata Jaka Luwak 

pula. "Hidupmu dengan dimas Tirta 

tentu bahagia sekali bukan?"


"Ya, apalah arti kebahagiaan 

seorang isteri orang berpangkat yang 

dimadu, kakang Jaka?" ujar perempuan

itu.

Tapi dimas Tirta tentu sangat 

sayang kepadamu."

Isteri Raden Mas Tirta 

menganggukkan kepala. "Namun terus 

terang saja, saya tidak mencintainya, 

kakang Jaka."

Jaka Luwak menjadi heran 

mendengar ucapan itu. Keningnya 

berkerut. "Ah, aku benar-benar tidak 

mengerti dik Ratna. Kalau kau tidak 

cinta, mengapa bersuamikan dia?"

"Soalnya terpaksa, kakang Jaka."

"Terpaksa bagaimana?"

"Dulunya saya seorang anak petani 

di desa Mantrinan, tak jauh dari tepi 

timur kotaraja. Suatu hari Raden Mas 

Tirta datang ke sana untuk melihat-

lihat dan mengatur pertahanan Banten 

terhadap serangan-serangan orang-orang 

Pajajaran dan bertemu dengan saya yang 

kebetulan hendak mengantarkan nasi 

untuk ayah di sawah. Sehari sesudah 

itu maka datanglah utusan Raden Mas 

Tirta menemui ayah. Utusan ini datang 

untuk melamar saya dan membawa barang-

barang yang banyak tiada terkira. Saya 

tidak cinta kepadanya karena saya 

sudah maklum bagaimana cara hidup 

pembesar berpangkat tinggi macam dia. 

Tapi siapa yang berani menolak lamaran


itu? Kalau ditolak, salah-salah bisa 

membawa kesulitan. Tak ada jalan lain 

bagi ayah ibu dan juga saya sendiri 

dari pada menerima lamaran."

"Hem... begitu?" desis Jaka Luwak 

sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. 

"Orang tuamu sekarang di mana?"

"Tetap tinggal di desa. Tapi 

kehidupan mereka sudah dijamin oleh 

kerajaan. Sudah dibikinkan rumah bagus 

dan segala keperluan hidup tinggal 

tahu ada."

"Nah, orang tuamu bahagia, kaupun 

hidup mewah di sini, apalagi?"

"Hidup mewah belum tentu berarti 

bahagia, kakang Jaka," jawab

Ratnawati. "Bagaimana akan bahagia 

kalau suami tukang mabuk seperti itu 

dan kita tidak pula cinta 

kepadanya...."

"Ya, memang dapat dimaklumi," 

kata Jaka Luwak.

"Oh, tidak kakang Jaka Luwak. 

Aneh, memang.

"Kau sendiri apakah juga doyan 

minum, kakang Jaka?" tanya Ratnawati.

"Kalau aku doyan minum tentu aku 

sudah terkapar pula di kursi seperti 

suamimu," sahut Jaka Luwak.

"Syukurlah, aku memang tidak suka 

pada orang peminum!"

"Kalau begitu rupanya kau suka 

padaku karena aku tidak senang minuman 

keras?" tanya Jaka Luwak bergurau.


"Kakang ini pandai menggoda," 

kata Ratnawati dengan paras merah dan 

tersipu-sipu. Tapi dalam hatinya 

perempuan muda ini tidak dapat 

berdusta bahwa dia memang menyukai 

pemuda gagah itu.

"Dik Ratna malam sudah larut...."

"Dan kalau sudah larut memangnya 

kenapa?" tanya Ratnawati dengan manja 

seraya senyum genit.

Berdebar dada Jaka Luwak dan dia 

menggeser duduknya. Dengan beraninya 

dipegangnya tangan Ratnawati lalu 

berkata: "Malam telah larut dan kau 

harus tidur sedang aku harus 

meninggalkan tempat ini, bukankah de-

mikian?"

"Kakang Jaka, mengapa terburu-

buru benar? Saya sungguh- sungguh 

belum mengantuk," Jawab perempuan itu 

seraya mempermain kan jari-jari tangan 

si pemuda yang membuatnya semakin 

menggelora.

"Kau cantik sekali, Ratna," bisik 

Jaka Luwak seraya membelai pipi 

perempuan itu.

Ratnawati menundukkan kepala. 

"Aduh, jangan menggoda kakang Jaka. 

Kau tahu, di antara isteri-isteri dan 

para selir kangmas Tirta akulah yang 

paling jelek!"

"Hemmm... malahan sebaliknya, 

Ratna. Kau yang kulihat paling cantik, 

paling jelita...."


Air muka Ratnawati kemerah-

merahan. "Benarkah itu, kakang Jaka?"

"Mengapa tidak?" sahut Jaka Luwak 

seraya memegang dagu perempuan itu dan 

mengangkat kepalanya. Ratnawati 

tersenyum kepadanya dan memejamkan 

kedua matanya. Senyum dan pejaman mata 

yang mengundang. Dengan penuh nafsu 

Jaka Luwak menarik tubuh perempuan itu 

lalu dipeluknya erat-erat.

"Kakang Jaka, kaupun pemuda 

paling gagah yang pernah kutemui..." 

bisik Ratnawati lirih. Jaka Luwak 

memeluk tubuh yang indah lembut itu 

lebih erat. Ciumannya menjalar mulai 

dari pangkal leher sampai ke seluruh 

muka Ratnawati dan diakhiri dengan 

pertemuan sepasang bibir mereka penuh 

kehangatan. Karena saat itu Ratnawati 

melingkarkan kedua tangannya ke leher 

si pemuda maka pakaian tidurnya jadi 

terbuka lepas. Dada dan perut 

Ratnawati kelihatan dengan jelas. 

Berkobar birahi Jaka Luwak,nafsunya 

menggelora dan kedua tangannya itu 

menggerayang ke setiap pelosok tubuh 

mulus tersebut. Ratnawati merintih 

halus kegelian.

"Ratna... aku... aku suka sekali 

padamu. Aku senang padamu..." bisik 

Jaka Luwak. Pikirannya membumbung

laksana sudah berada di kayangan saja 

saat itu.


"Hanya suka dan senang saja, 

kakang Jaka?" bisik Ratnawati pula.

"Tidak... tidak hanya itu 

manisku. Aku juga... aku juga cinta 

padamu."

"Oh, kakang Jaka. Inilah yang aku 

harap-harapkan selama ini...." 

Ratnawati menyelinapkan kepala ke dada 

pemuda itu. Tiba-tiba Jaka Luwak 

berdiri. Nafas pemuda itu sudah 

memburu.

"Ada apa, kakang Jaka?" tanya 

Ratnawati.

Pemuda itu tidak menjawab 

melainkan menggerakkan kedua tangannya 

dan tahu-tahu tubuh perempuan itu 

sudah ada di dalam dukungannya. 

"Kakang Jaka kau ini... kukira ada apa 

berdiri dengan tiba-tiba," kata 

Ratnawati tersenyum mesra dan 

memandang dengan kedua bola matanya 

yang mulai menguyu tanda nafsu juga 

telah membakar dirinya. "Kau kuat 

sekali bisa mendukungku. Tapi kakang, 

kau mau bawa aku ke mana?"

Jaka Luwak tersenyum. Hidungnya 

kembang kempis. Dia melangkah membawa 

Ratnawati ke atas tempat tidur.

"Kakang Jaka, kau ternyata nakaL 

Aku masih belum mengantuk. Mengapa 

dibawa ke tempat tidur?" ujar 

Ratnawati sambil mencubit lengan Jaka 

Luwak. "Kakang Jaka aku...." Isteri 

pertama Kepala Balatentara Banten itu


tak dapat meneruskan ucapannya karena 

saat itu bibirnya telah ditindih bibir 

Jaka Luwak. Penuh nafsu perempuan yang 

memang jarang dijamah oleh suaminya 

itu pejamkan kedua matanya. Lalu 

dirasakannya tubuhnya dibaringkan di 

atas tempat tidur. Lalu terasa jari-

jari tangan Jaka Luwak membuka 

pakaiannya.

Malam itu pengkhianatan telah 

dilakukan oleh kakak seperguruan Raden 

Mas Tirta. Sang istri telah berbuat 

serong. Apapun alasannya dosa besar 

ini kelak akan mendapat ganjaran 

sangat pedih dari Yang Maha Kuasa.



                     TAMAT



Segera Menyusul!!!!!


PETAKA DI PUNCAK HALIMUN

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive