SATU
WULANSARI sampai di Magetan
selewatnya tengah malam. Anak
perempuan dalam dukungannya tertidur
nyenyak. Dari jauh kelihatan ada dua
orang pengawal berjaga-jaga di pintu
gerbang. Memasuki kota malam-malam
begitu pasti akan mengundang
kecurigaan. Apalagi dia seorang
perempuan dan membawa seorang anak
kecil. Kalau sampai dua pengawal
menggeledahnya dan menge-nali siapa
adanya anak perempuan yang dibawanya
pasti urusan menjadi panjang. Bukan
mustahil dia segera ditangkap.
Menghadapi dua pengawal itu tentu
saja bukan satu perkara besar bagi
murid Si Cakar Setan yang
berkepandaian tinggi ini. Namun yang
penting baginya ialah masuk ke dalam
kota tanpa ada yang mengetahui. Maka
sebelum mencapai pintu gerbang kota
gadis itu mengambil jalan berputar. Di
satu tempat yang sunyi dan gelap
Wulansari melompati tembok kota. Dalam
kegelapan malam gadis ini bergerak
cepat, menyelinap rhenuju gedung
Kadipaten.
Beberapa orang penjaga tegak di
pintu depan gedung. Dua orang lainnya
meronda sekeliling gedung. Setelah
melihat kesempatan baik Wulansari
melompati tembok gedung Kadipaten,
masuk ke halaman dalam. Semua pintu
dan jendela gedung Kadipaten dalam
keadaan terkunci. Di sebelah dalam
hanya ada satu nyala lampu samar-samar
di bagian tengah gedung.
Wulansari pergunakan
kepandaiannya. Hampir tanpa suara dia
mencongkel sebuah jendela. Begitu
jendela berhasil dibukanya dengan
cepat dia melompat masuk ke dalam ge-
dung. Karena tidak mengenal seluk
beluk tempat itu dengan sendirinya
Wulansari tidak mengetahui di mana
letak kamar tidur Adipati Lor
Bentulan. Selagi dia merasa bimbang,
pada saat dia hendak melangkah
mendadak dari balik sebuah tiang besar
muncul seorang pengawal. Orang ini
rupanya bertugas sendirian di dalam
gedung. Begitu melihat Wulansari dia
segera angkat tombaknya, siap untuk
menusuk dan siap untuk berteriak.
Wulansari cepat bertindak. Sekali
berkelebat saja gadis ini berhasil
menotok leher si pengawal hingga orang
ini menjadi kaku dan tegang, tak bisa
bersuara tak bisa bergerak. Dia
tertegun seperti patung dengan mata
mendelik dan tangan ke atas mengangkat
tombak. Hanya sepasang matanya yang
masih mampu berputar-putar.
"Lekas kau beritahu dimana kamar
tidur Adipati Lor Bentulan!" kata
Wulansari. "Beritahu dengan isyarat
matamu!"
Mula-mula pengawal itu hanya
memandang melotot pada si gadis.
Wulansari cekik lehernya hingga
mukanya menjadi pucat dan nafasnya
sesak. "Cepat beritahu atau kuremukkan
batang lehermu!"
Sepasang bola mata si pengawal
bergerak ke kanan beberapa kali.
Wulansari mengikuti arah lirikan dua
mata orang itu. Di ujung kanan ruangan
memang dilihatnya ada sebuah pintu
besar terbuat dari kayu berukir. Tanpa
tunggu lebih lama gadis ini segera
melangkah cepat menuju pintu itu.
Sekali lagi dia pergunakan kepandaian
untuk membuka pintu itu lalu
menyelinap masuk ke dalam.
Di tengah kamar tidur yang besar
itu terletak sebuah pembaringan
tertutup kelambu. Dua orang terbaring
pulas di atasnya. Yang satu
mengeluarkan suara mengorok. Inilah
sosok Bupati Magetan Lor Bentulan. Di
sebelahnya terbaring sang istri. Walau
perempuan ini tertidur nyenyak namun
dari raut wajahnya jelas kelihatan dia
sangat letih dan cemas sepanjang hari-
hari lenyapnya anak perempuannya.
Perlahan-lahan Wulan
menyingkapkan tirai kelambu. Lalu
dengan hati-hati sekali anak perempuan
yang ada dalam dukungannya diba
ringkannya di antara ke dua orang
tuanya. Setelah memandang dengan puas
dan tersenyum cepat-cepat Wulansari
tinggalkan kamar itu, keluar dari
dalam gedung dan lenyap melompati
tembok sebelah timur gedung.
Keesokan paginya istri Lor
Bentulan terbangun lebih dulu. Ketika
dia membalikkan badan dan membuka mata
terkejutlah perempuan ini. Digosoknya
sepasang matanya berulang kali.
"Bermimpikah aku ini...?"
perempuan itu bertanya pada dirinya
sendiri ketika pandangannya membentur
sosok anak perempuannya yang tertidur
pulas di sebelahnya. Perempuan ini
ulurkan tangan kanannya untuk mengusap
wajah anak itu. Pada saat itulah sang
anak bergerak. Istri Lor Bentulan
terpekik.
Gedung Kadipaten menjadi heboh di
pagi buta itu. Lor Bentulan dan
istrinya merasa sangat bersyukur
kepada Tuhan atas kembalinya anak
mereka.
"Pasti gadis itu..." desis Lor
Bentulan sambil mengusap-usap kepala
anaknya.
"Sayang dia tidak menemui
kita.... Sepertinya dia tidak mau kita
membalas jasa dan budi baiknya ini..."
berucap istri sang Adipati dengan air
mata berderai. Lalu dipeluk dan
diciumnya anaknya berulang-ulang.
Di bawah teriknya sorotan sinar
matahari kelihatan seorang kakek-kakek
tua renta berambut putih berlari
sangat cepat mendaki bukit Jatiluwak.
Tubuhnya kurus kerlng, tinggal kulit
pembalut tulang. Dia hanya mengenakan
sehelai celana hitam dan sehelai kain
sarung terselempang di dadanya.
Melihat kepada umur dan kecepatan
larinya yang laksana angin itu maka
jelaslah bahwa kakek ini memiliki ilmu
yang sangat tinggi.
Ketika kedua matanya yang sipit
itu melihat pondok papan jauh di muka
sana maka berteriaklah dia: "Warok!
Aku datang...!" Kakek ini hanya
menggerakkan kedua bibirnya sedikit
saja, tapi suara teriakannya itu
terdengar hampir ke seantero bukit!
Dapat dibayangkan bagaimana kehebatan
tenaga dalamnya. Dalam sekejapan mata
saja dia sudah sampai di hadapan
pondok papan itu dan berdiri dengan
terheran-heran. Biasanya kalau dia
berteriak seperti tadi, maka Warok
Kate pasti sudah berdiri menyambut
kedatangannya di ambang pintu. Tak ada
suara jawaban. Dia melangkah ke
hadapan pintu yang terbuka. Tiba-tiba
terkejutnya orang tua ini bukan main
karena dari pintu beterbanganlah
beberapa ekor gagak hitam sambil
mengoak-oak. Pada saat itu pula hidung
si kakek mencium bau busuk dari dalam
pondok. Dengan cepat dia masuk ke
dalam.
Langkah orang tua ini terhenti
serta merta ketika kedua matanya
meinbentur sosok tubuh yang
tergelimpang di lantai di hadapannya.
"Warok!" pekik kakek ini melengking
tinggi dan berlutut di hadapan mayat
Warok Kate yang masih dapat
dikenalinya meski keadaan mayat itu
sudah sangat rusak busuk dan
berlubang-lubang habis digerogoti
burung-burung pemakan mayat!
"Warok! Warok...! Setan! Bedebah!
Siapa yang melakukan ini?! Siapa?
Siapa...?!" teriak si kakek
menggeledek sampai suaranya
menggetarkan pondok papan itu dan
terdengar menggema ke hutan di
belakang sana. "Warok! Katakan,
siapa!" teriaknya lagi seperti orang
gila ka-rena sampai kiamat pun mayat
yang sudah busuk itu tak akan bisa
menjawab. Sambil menghentak-hentakkan
kedua kakinya maka mulailah kakek ini
menangis tersedu-sedu. Kadang-kadang
suara tangisnya seperti suara tangis
seorang perempuan yang kematian suami,
kadang-kadang seperti suara tangis
anak kecil. Namun satu hal dapat
disimpulkan, bagaimanapun gayanya sua-
ra tangisan si kakek ini pastilah
kematian Warok Kate sangat menyedihkan
hatinya disamping menimbulkan
kemarahan tentunya!
Tiba-tiba suara tangisnya
terhenti mendadak sontak. Kedua
matanya yang sipit membuka lebar lalu
cepat-cepat dia membungkuk mengambil
sebuah benda hijau yang menarik
perhatiannya. Ditelitinya benda itu
sejurus ddii segera diketahuinya bahwa
benda itu tak lain daripada patahan
ujung keris hijau yang dulu
diberikannya kepada Warok Kate!
Mendidihlah amarah kakek itu.
"Keparat! Laknat terkutuk!
Rasakan pembalasanku! Manusia atau
setan sekali pun aku tidak takut!
Muridku dibunuh! Keris hijau
pemberianku dibikin patah! Dibikin
sumpung! Kelak akan kupatahkan batang
leher manusia itu! Siapa?! Siapa yang
melakukan ini semua?!" Kakek-kakek ini
melangkah ke pintu. Kedua tangannya
diletakkan di pinggang. Pandangannya
beringas. "Hai setan bukit! Jin hutan
dan seribu satu makhluk kasar serta
halus yang mendiami bukit Jatiluwak
ini! Jawab! Siapa yang membunuh
muridku?! Siapa yang menghinakan
senjata warisanku?! Jawab...!"
Tapi hanya gema dari suaranya
yang merupakan jawaban. Kakek-kakek
itu melangkah ke hadapan sebuah pohon.
"Hai pohon!" katanya keras. "Katakan,
siapa yang membunuh Warok Kate! Siapa
yang menghinakan keris warisanku itu!
Katakan siapa?!"
Tentu saja mana mungkin pohon itu
bisa memberikan jawaban! Dan
penasaranlah si kakek. "Hai jawab! Apa
kau bisu?! Sialan! Kau tak mau jawab
ya? Mampuslah!" Bersamaan dengan itu
tangan kanannya bergerak dan "buk".
Pohon besar itu tumbang kena hantaman
tangan!
Kemudian kelihatanlah orang tua
renta kurus itu berlari menuruni
bukit. Sambil lari tiada henti-
hentinya dia berteriak melengking
tinggi. "Siapa...! Siapa...! Akan
kupatahkan batang lehernya! Akan
kukorek jantungnya! Rasakan
pembalasanku! Rasakan!"
Siapakah kakek-kakek aneh yang
seperti orang gila ini? Dia tak lain
adalah guru Warok Kate yang diam di
gunung Karang. Nama aslinya Sumo
Parereg. Tapi dalam kalangan
persilatan dia lebih dikenal dengan
nama julukan "Si Suling Maut" dan
merupakan seorang tokoh persilatan
yang ditakuti di daerah utara. Gelaran
aneh yang diberikan kepadanya itu
adalah karena dia memiliki sebuah
senjata ampuh yaitu berupa sebuah
suling. Melihat kepada tingkah lakunya
tadi nyatalah bahwa otaknya tidak
waras. Dan memang guru dari Warok Kate
ini agak sinting alias setengah gila!
Tapi meskipun demikian dalam llmu
silat jangan main-main dengan dia.
Julukannya sebagai "Si Suling Maut"
bukan julukan kosong belaka.
Dia lari terus dan mencapai kaki
bukit. DI hadapannya berjalan seorang
laki-laki separuh baya, bertopi
anyaman bambu dan membawa sebuah
pacul. Nyatalah bahwa dia seorang
petani.
"Hai orang yang menyandang pacul!
Berhenti dulu!" teriak Si Suling Maut.
Waktu dia berteriak itu jaraknya
dengan si petani masih kira-kira dua
ratus langkah. Tapi sebelum
teriakannya selesai dia sudah berdiri
di hadapan si petani!
"Hai, kau petani ya?! Ayo
katakan, siapa?! Cepat, siapa?!"
Ditanya seperti itu sudah barang
tentu si petani jadi terheran-heran.
Dipandangnya kakek-kakek berambut
putih di hadapannya itu mulai dari
kepala sampai ke kaki. Tak pernah dia
melihat manusia tua ini sebelumnya.
"Sialan! Kau bisu atau tuli?! Aku
tanya siapa?!" bentak Si Suling Maut.
"Orang tua, kau ini bertanyakan
siapa...?"
"Kunyuk! Aku tanya siapa malahan
menanya siapa!" maki si kakek. "Ayo
katakan siapa! Kau pasti tahu!"
Orang tua ini pasti gila, pikir
si petani. Karenanya cepat-cepat dia
angkat kaki tapi bahunya ditarik. "Aku
tanya siapa, mengapa pergi?!" tanya Si
Suling Maut makin marah.
"Orang tua, aku tidak mengerti
maksud pertanyaanmu."
Si kakek membesarkan kedua
matanya. "Bodoh! Aku tanya siapa yang
membunuh muridku, siapa yang membunuh
Warok Kate! Ayo jawab!"
"Tak tahu aku. Aku juga tak
pernah dengar nama Warok Kate," jawab
petani itu.
"Kurang ajar! Kau dusta, kau
pasti tahu!
Ayo, katakan siapa?!" hardik Si
Suling Maut seraya mencekal leher
pakaian orang itu.
Gemaslah si petani. Dikibaskannya
lengan si kakek. "Orang tua,
minggirlah!"
"Bangsat! Kau tahu tapi tidak mau
kasih tahu ya?! Terima ini dan
mampuslah!"
Bersamaan dengan itu si kakek
menghan-tamkan tangan kirinya ke topi
si petani. Tak ampun lagi petani itu
mental jauh dan melingkar di tanah.
Topi bambu melesak masuk ke dalam
kepalanya yang hancur dipukul! Tentu
saja nyawanya sudah melayang pada
detik itu juga.
Sambil berteriak melengking-
lengking kakek sinting itu berlari
lagi. Akhirnya dia memasuki sebuah
kampung yang terletak tak jauh di kaki
bukit. Seorang pemuda yang kebetulan
berada di tepi jalan menghentikan
langkahnya dengan terheran-heran
ketika melihat munculnya seorang
kakek-kakek kurus kering dengan
berlari laksana angin dan berteriak-
teriak seperti orang gila. Dia jadi
terkejut ketika tahu-tahu saja si
kakek yang tadi dilihatnya masih di
ujung jalan. Kini sudah berada di
hadapannya dan menudingkan jari
telunjuk tangan kirinya tepat-tepat ke
hidungnya.
"Orang muda, kau pasti tahu! Ayo,
katakan siapa?!"
DUA
KEDUA mata pemuda itu terbuka
lebar-lebar. Dengan penuh tanda tanya
dia meneliti si kakek dari ujung
rambut sampai ke kaki. Tadi dia telah
melihat bagaimana kakek ini sangat
cepat larinya dan dia maklum pasti
orang tua itu memiliki ilmu lari
hebat, tapi agaknya berotak miring.
Karenanya pemuda ini tidak bertindak
gegabah. Dia tersenyum dan balik
bertanya: "Siapa yang tengah kau cari-
cari, orang tua?"
"Ah! Kalau aku tahu tidak tanya
padamu sompret! Ayo katakan siapa?!"
Pemuda itu tersenyum lagi.
"Mengapa kau cari orang itu, Kakek?"
"Pemuda edan! Apa kau tidak tahu
kalau dia telah membunuh muridku? Ayo
katakan, siapa!"
Si pemuda kini mulai mengerti apa
yang membuat kakek-kakek kurus kering
ini jadi beringas. Dia menjawab:
"Sayang, Kakek... orang itu sudah
pergi jauh! Kau terlambat."
Si Suling Maut menghentakkan kaki
kanannya ke tanah. Si pemuda menjadi
sangat terkejut ketika melihat ke
tanah bekas hentakan kaki itu karena
kini tanah tersebut menjadi berlubang
sampai sedalam sepuluh senti! Meremang
bulu tengkuknya. Cepat-cepat dia
berkata: "Harap dimaafkan, Kakek.
Sebenarnya aku tidak tahu apa-apa. Kau
cobalah minta keterangan pada orang
lain!"
"Pemuda rendah tukang tipu! Tadi
kau bilang dia sudah pergi jauh!
Sekarang kau bilang tidak tahu apa-
apa! Rupanya tidak tahu siapa aku huh?
Berani mempermainkan? Ini bagianmu!"
"Buk!"
Tubuh pemuda itu melintir lalu
roboh ke tanah. Perutnya robek lebar
kena tendang kaki kanan si kakek sakti
dan nyawanya melayang!
"Rasakan! Itu bagiannya manusia
yang suka menipu!"
Sementara itu mendengar suara
orang membentak-bentak, beberapa orang
penduduk yang tinggal di sekitar sana
segera keluar hen-dak melihat apa yang
terjadi. Mereka jadi terkejut ketika
melihat bagaimana seorang tua renta
tengah menendang seorang pemuda pen-
duduk kampung sampai pemuda itu
terjungkal roboh dan mati. Mereka
segera lari ke tempat kejadian itu.
"Ha... ha! Bagus! Ada banyak
orang kini! Hai kalian orang kampung
mari sini dekat-dekat! Aku mau tanya!"
seru si kakek sinting.
Tentu saja orang-orang kampung
sesudah-nya melihat kebuasan orang itu
tidak berani datang mendekat. Mereka
berdiri memperhatikan dari jauh. Dua
orang di antaranya menggotong mayat si
pemuda ke dalam satu rumah.
"Hai! Orang-orang kampung apa
kalian tuli tidak dengar kalau
dipanggil?!" seru Si Suling Maut.
"Sini semuanya, aku mau tanya!"
Tetapi tak ada seorang yang mau
datang. Maka naiklah darah si kakek
sinting ini. Tubuhnya berkelebat ke
muka dan banyak orang berpekikan.
Tahu-tahu dua penduduk kampung sudah
kena dijambak rambutnya dengan tangan
kiri kanan! "Ayo, katakan di mana
orang itu, cepat!"
Orang yang dijambak di tangan
kanan merintih kesakitan. "Orang tua,
lepaskan aku!" "Tidak! Katakan di mana
orang itu!" "Orang itu siapa?!"
"Pura-pura tidak tahu hah?!
Pemuda tadi mengatakan dia berada di
sini! Ayo, di mana kalian sembunyikan
dia!"
Orang yang dijambak di tangan
kiri membuka mulut, "Orang tua, kalau
kau mau melepaskan jambakanmu, aku
akan terangkan padamu...."
"Tidak bisa, kalau kulepas kau
pasti lari! Ayo kalian terangkan siapa
orang itu? Mana dia! Cepat!" Kedua
orang tersebut merintih kesakitan
karena jambakan pada rambut mereka
semakin keras dan sakitnya bukan main!
"Orang tua, kami tidak
menyembunyikan siapa-siapa di kampung
ini. Aduh lepaskan...."
"Benar-benar kalian berani omong
kosong terhadapku! Manusia-manusia
busuk pendusta, rasakan!"
"Brakk!"
Kedua kepala penduduk kampung itu
diadu satu sama lain sampai
mengeluarkan suara mengerikan.
Keduanya mati dengan kepala pecah!
Sementara itu orang-orang kampung
yang lain menjadi heboh. Maka
buncahlah seluruh isi kampung. Di
mana-mana terdengar orang berteriak-
teriak.
"Awas! Ada orang gila mengamuk!"
"Awas orang mengamuk! Masuk ke
dalam rumah!"
"Amuk! Amuk!"
Dalam sekejap mata seluruh
kampung menjadi sunyi senyap. Semua
orang masuk ke rumah masing-masing dan
memalang pintu serta jendela. Siapa
yang mau cari urusan dengan seorang
gila yang tengah mengamuk?!
Tiba-tiba dari kelokan jalan
kelihatan berlari dengan cepat seorang
laki-laki berbadan pendek tegap,
berpakaian bagus dan memakai blangkon.
Dari caranya berlari jelaslah bahwa
dia seorang yang memiliki ilmu juga
meskipun belum mencapai tingkat
tinggi.
"Hai, kau! Kemari!" perintah si
orang tua.
Laki-laki itu menghentikan
langkahnya. Dia adalah Jiwosuto,
kepala kampung. Diam-diam kepala
kampung ini merasa ngeri juga melihat
keangkeran tampang si kakek di
hadapannya. Dia tahu bahwa dia tengah
berhadapan dengan seorang yang
mengamuk dan otaknya tengah dikuasai
setan, karenanya tak berani bertindak
ceroboh.
"Saudara tua," kata si kepala
kampung, "Ada apakah? Agaknya kau
tengah mencari se-seorang?" suaranya
lemah lembut.
"Hem... kau manusia tahu diri,
ya? Ha... ha! Memang benar, aku tengah
mencari seseorang."
"Kalau aku boleh tanya, siapakah
seseorang itu?" bertanya lagi
Jiwosuto.
Si kakek memencongkan mulutnya.
Tampangnya merengut buruk. "Aku tidak
tahu seseorang itu, justru aku datang
ke sini untuk menanyakan siapa dia.
Tapi penduduk kampung menipuku,
mempermainkanku!"
Dalam hatinya kepala kampung itu
menjadi bingung juga, si orang tua ini
tengah mencari seseorang, tapi siapa
yang dicarinya itu tidak tahu!
"Saudara tua, kalau kau bisa
menerangkan bagaimana tampang orang
yang kau cari, mungkin aku bisa tahu
siapa dia...."
"Huh!" dengus si kakek. "Aku
tidak perlu tampangnya! Aku perlu
nyawanya! Mengerti?!"
"Mengerti saudara tua, tapi mana
mungkin mencari seseorang tanpa tahu
siapa dia bahkan tidak kenal
wajahnya...."
"Ah, kau bicara pandai, manusia
pendek. Tapi aku tahu, kau juga sama
saja dengan yang Iain-Iain! Kau hendak
mempermainkanku! Hendak menipuku! Ayo,
katakan siapa dia dan di mana dia
sekarang?!"
Celaka, orang tua ini benar-benar
sudah gila sehingga tak mau mengerti,
kata Jiwosuto dalam hatinya. Meskipun
demikian dia berusaha
juga mengajukan pertanyaan,
"Saudara tua….."
"Sudah-sudah! Jangan panggil aku
dengan sebutan itu! Jangan banyak
mulut! Katakan saja di mana kau
sembunyikan dia, cepat!"
"Orang tua, kau dengarlah baik-
baik. Penduduk kampung tidak
menyembunyikan siapa-siapa di sini.
Orang yang kau cari-cari itu mungkin
tidak lari ke sini...."
"Nah, nah... betul! Betul! Kau
juga betul seorang penipu rupanya!
Nasibmu tidak lebih baik dari yang
lain-lainnya, penipu!" Si orang tua
melompat ke muka. Tangan kirinya
bergerak cepat mengirimkan serangan ke
kepala Jiwosuto. Tapi kali ini dia
kecele karena serangannya dapat
dielakkan si kepala kampung. Jiwosuto
sendiri meskipun dia dapat mengelakkan
serangan ganas mematikan itu tapi
terkejutnya bukan main ketika dia
merasakan angin pukulan yang menyambar
ke kepalanya, deras, dingin dan tajam!
Kini dia mengerti bahwa kakek gila itu
adalah seorang berkepandaian tinggi!
Ketika dia diserang lagi dengan lebih
ganas dia cepat mengelak dan berlaku
hati-hati tapi tiada diduga sama
sekali, begitu serangannya mengenai
tempat kosong, si kakek menjejakkan
kedua kakinya dan tahu-tahu kini
serangannya berbalik cepat tiada
sanggup dikelit oleh kepala kampung
yang hanya memiliki ilmu silat tingkat
rendahan saja!
"Buk," Tubuh kepala kampung itu
terpelanting. Bahu kirinya yang kena
terpukul remuk dan lumpuh! Sakitnya
bukan main! Meskipun keadaannya sudah
terluka berat dan memaklurni bahwa si
kakek gila bukan tandingannya serta
niscaya dalam beberapa gebrakan dia
segera mati konyol di tangan lawan,
namun kepala kampung ini nyatanya
bukan seorang berjiwa pengecut.
Sebagai kepala kampung, dia mempunyai
jiwa kesatria yang bertanggung jawab
terhadap isi dan penduduk kampungnya.
Kalau bukan dia yang akan melawan
kakek gila yang tengah mengamuk itu,
siapa lagi yang akan diandalkan? Kalau
dia mati, matinya tidak mati percuma,
tapi mati dalam membela rakyat, mati
terpuji.
Dari balik pinggangnya Jiwosuto
menge-luarkan seutas tali yang
panjangnya kurang sedikit dari dua
meter. Baginya tali ini bukan saja
merupakan sebuah senjata yang sangat
diandalkan, namun juga merupakan
sebuah alat yang sekaligus dapat
dipakainya untuk menangkap dan
mengikat orang-orang jahat yang
mengganggu keamanan kampung. Namun
menghadapi si kakek sakti, mana bisa
senjata macam begituan dipakai? Dalam
satu gebrakan saja si kakek sakti
berhasil merampas tali tersebut.
Sambil tertawa bekakakan kemudian Si
Suling Maut memakai tali itu untuk
mencambuk si kepala kampung. Pakaian
Jiwosuto hancur robek-robek. Kulit
dada dan punggungnya yang kena
dihantam talinya sendiri bergurat-
gurat dalam. Tubuhnya basah oleh
darah. Dalam kehabisan tenaga dan
nafas serta terlalu banyak
mengeluarkan darah akhirnya kepala
kampung itu rubuh ke tanah. Tanpa
memicingkan mata sedikit pun, si kakek
mengangkat kaki kanannya tinggi-
tinggi, siap ditendangkan ke kepala
Jiwosuto yang menggeletak tak berdaya
itu. Ketika tendangan yang keras itu
hampir mencapai sasarannya setengah
jengkal lagi, tahu-tahu melayanglah
sebutir batu kecil yang tepat
menghantam tulang kering kaki kanan si
kakek!
Meskipun itu cuma sebuah batu
kecil, tapi karena dilempar dengan
memakai tenaga dalam maka kaki yang
kurus dari si kakek terdorong ke
samping. Kepala Jiwosuto selamat
sedang si kakek dengan menahan sakit
memutar tubuh nya sambil memaki.
"Setan alas! Siapa yang berani-
beranian melempar kakiku?!"
TIGA
SEPASANG mata si kakek sakti
membuka lebar lalu menyipit kembali
ketika melihat beberapa langkah dari
hadapannya berdiri seorang pemuda
bertampang keren, berbadan tegap.
Pemuda iniiah tadi yang telah me-
lempar kaki si kakek dan menyelamatkan
nyawa Jiwosuto.
"Pemuda keblinger! Kau sudah
bosan hidup ya?!" hardik Si Suling
Maut.
"Orang tua keji, pembunuh
manusia-manusia tidak berdosa, kau
angkat kakilah dari sini sebelum
darahku naik ke kepala!"
Kedua mata si Suling Maut semakin
menyipit. Sesaat kemudian meledaklah
tertawa bekakakan kakek-kakek ini.
"Kalau kau tidak gila, tentu kau sudah
sinting berani bicara seperti itu
padaku! Tapi aku senang pada pemuda
yang punya nyali dan berilmu tinggi!
Dengar pemuda, sebelum aku pecahkan
kepalamu, kau sudah tahu siapa aku?!"
"Mengapa tidak?!" tukas si pemuda
pula. "Kau seorang kakek-kakek berilmu
tinggi sakti tapi berotak miring
sehingga membunuh penduduk kampung
yang tidak berdosa tanpa me-ngenal
belas kasihan sama sekali! Puas akan
jawabanku itu?!"
Maka marahlah si Suling Maut.
Mukanya merah sekali, dan hampir tidak
terlihat dia melompat ke muka. Tangan
kiri kanan terpentang di kedua sisi
menghantam kejurusan kepala dan dada
si pemuda. Serangan ganas ini
menimbulkan angin yang deras.
Si pemuda siang-siang sudah
memiringkan tubuh. Jotosan yang
mengarah kepala lewat. Dengan tangan
kirinya dia coba menghantam sambungan
siku si kakek namun dengan lihaynya
tangan si kakek lebih cepat bergerak
dan kini serangannya turun sedemikian
rupa, menyerang ke perut si pemuda.
Pemuda ini tahu bahwa tenaga dalam
lawan mungkin tidak berada di
bawahnya, tak berani menyambut se-
rangan itu dengan lipatan lutut
melainkan melompat ke samping sambil
melepaskan pukulan jarak jauh tangan
kiri. Si Suling Maut juga tak mau
menganggap enteng pukulan jarak jauh
pemuda itu, cepat-cepat pula dia
geserkan tubuh berkelit, lalu melompat
jauh kebelakang.
Dipandangnya pemuda itu dengan
tampang yang angker menggidikkan. "Aku
tahu... ha-ha... aku tahu! Aku tahu
kini, pasti kau orangnya! Pasti kau
yang melakukan! Ha... ha! Dicari-cari
tidak bertemu, tahu-tahu kini datang
sendiri mengantar nyawa! Bagus, bagus
sekali! Bersiaplah untuk mampus anak
muda!"
Pemuda itu tak mengerti apa
maksud kata-kata si kakek, tapi dia
tidak bisa memikir lebih lama karena
saat itu lawannya kembali melancarkan
serangan dahsyat. Gerakan tubuhnya
dalam menyerang kali ini sangat
berubah, sangat cepat dan tempat-
tempat yang diserang adalah tempat-
tempat yang lemah dari badan si pemuda
sedangkan serangan yang bertubi-tubi
itu sukar pula di duga! Si pemuda
berkelebat cepat dan memperhitungkan
dengan hati-hati setiap gerakannya.
Sedikit saja dia berbuat ceroboh pasti
jotosan lawan akan menghantam tubuhnya
atau kena tergebuk lengan si kakek
yang membabat kian kemari tak ubahnya
seperti sayap seekor burung raksasa!
Beberapa jurus berlalu dan
membuat si kakek menjadi penasaran
karena dia belum juga berhasil
merobohkan lawannya. Diiringi dengan
bentakan-bentakan keras menggeledek
yang disertai kekuatan tenaga dalam
yang sangat tinggi untuk mengacaukan
gerakan lawan, si kakek menggenjot
tubuh dan gerakannya kini tak ubah
seperti bayang-bayang saja! Si pemuda
menjadi sibuk, dadanya bergetar oleh
bentakan-bentakan keras lawan. Cepat-
cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya
agar jangan terpengaruh bentakan-
bentakan tersebut. Namun demikian dia
terdesak hebat sampai akhirnya dadanya
kena juga dihantam jotosan si kakek.
Pemuda ini mental ke belakang beberapa
langkah tapi cepat mengimbangi
tubuhnya dan mengatur jalan nafasnya
yang terasa sesak serta mengerahkan
tenaga dalam ke dada yang sakit.
Di lain pihak si kakek sendiri
diam-diam merasa terkejut ketika
melihat bagaimana pukulan dahsyatnya
itu hanya mengakibatkan si pemuda
terhuyung-huyung saja, sama sekali
tidak roboh! Meskipun tangan kanannya
sendiri yang tadi dipakai meninju
tidak terasa sakit tapi kulit tangan
itu kelihatan kemerahan.
"Orang muda bernyali besar, siapa
namamu dan kau murid orang sakti
mana?!" tanya si Suling Maut dengan
mengertakkan gigi-giginya.
"Ha... ha, kau benar-benar ingin
tahu guru dan namaku atau hanya untuk
mengumpulkan tenaga mengatur nafas
belaka, orang tua?!" ejek si pemuda.
"Keparat! Kau tahu, terhadap
manusia-manusia yang gegabah
memperlihatkan sedikit ilmunya aku
tidak tenang tidur jika membunuhnya
tanpa mengetahui nama serta gurunya!"
"Jangan bicara terlalu besar
orang tua gila! Namaku Jaliteng. Kalau
kau mau tahu siapa guruku kau lihat
saja jari-jari tangan dan kakiku!"
Pada detik si kakek memperhatikan
jari-jari tangan dan kaki pemuda itu
maka pada saat itu puia tubuh si
pemuda sudah melesat ke muka. Jari-
jari tangannya terpentang lebar
laksana cakar burung garuda dan
menyerang dengan dahsyat. Si kakek
cepat-cepat menghindarkan diri.
Melihat kuku-kuku panjang itu dia
tahu kini murid siapa adanya lawannya
dan maklum bahwa kuku-kukunya yang
panjang itu berbahaya karena
mengandung racun!
"Pemuda sombong, jangan kira aku
akan takut kalau mengetahui kau adalah
muridnya Si Cakar Setan! Kalau gurunya
bisa dibikin mampus oleh seseorang,
mengapa muridnya tidak?!"
Mendidih amarah si pemuda
mendengar gurunya diejek demikian
rupa. Dia segera me-ngirimkan serangan
berintikan ilmu silat yang gerakan-
gerakannya tak ubah seperti setan yang
mencakar mangsanya. Sibuk juga si
kakek menghadapi serangan hebat itu
namun se-sudah beberapa jurus matanya
yang tajam segera melihat di mana
kelemahan-kelemahan dari ilmu silat
lawannya. Sebagai tokoh per-silatan
yang terkenal di daerah utara, si
kakek yang berjuluk "Si Suling Maut"
itu telah men-dapat kabar tentang
kematian Si Cakar Setan.
Diserang sedemikian rupa si kakek
ganda tertawa bergelak. Bukan main
geramnya Jaliteng melihat bagaimana
ilmu silat warisan gurunya yang sangat
diandalkan cuma diganda tertawa oleh
lawan. Dipercepatnya gerakannya, namun
sia-sia belaka. Malahan kini dia
terdesak hebat. Tubuh si kakek seperti
lenyap dari pemandangannya dan tahu-
tahu "buk!" Jaliteng mental ke
belakang, hampir jatuh duduk kalau dia
tidak segera berjumpalitan! Pemuda ini
merasakan bahunya sangat sakit. Ketika
dia melirik ternyata pakaian di bahu
kirinya robek dan daging bahu itu
merah menggembung. Pukulan lawan yang
dahsyat itu tidak saja mengakibatkan
luka dalam, tapi sekaligus merupakan
totokan yang lihay sehingga tangan
kirinya kini menjadi lumpuh dan
berdirinya pun miring!
Tapi keberanian pemuda itu patut
dikagumi. Tanpa memperdulikan keadaan
dirinya yang sudah teriuka hebat serta
tangan kiri yang lumpuh, dicabutnya
keris berkeiuk tujuh pemberian gu-
runya! Dengan senjata ini maka
mulailah dia melancarkan serangan
kembali.
Sambil mengelak ke samping si
Suling Maut tertawa mengejek, "Ha...
ha... benda apa yang kau keluarkan
itu? Pisau dapur agaknya?! Memalukan
sekali, murid seorang jago silat
senjatanya cuma sebuah pisau dapur!"
"Orang tua sedeng! Buka matamu
lebar-lebar agar dapat membedakan mana
pisau dan mana keris!" bentak Jaliteng
dengan sangat gusar karena, keris
pusakanya dikatakan pisau dapur!
Seperti banteng terluka murid Si Cakar
Setan ini mengamuk. Permainan kerisnya
memang patut dipuji, tapi menghadapi
si Suling Maut, pemuda ini tidak
berdaya. Beberapa gebrakan saja dia
sudah terdesak bahkan dengan
mempergunakan dua jari tangan kanannya
si kakek sakti memperlihatkan
kelihayannya, menjepit keris di tangan
Jaliteng!
Pemuda itu tak berani mengadu
kekuatan untuk menarik senjatanya. Mau
tak mau dia terpaksa menyerahkan keris
itu kepada lawan untuk menghindarkan
pukulan tenaga dalam lawan yang jauh
lebih tinggi. Si kakek tertawa
bergelak ketika dia berhasil merampas
senjata tersebut.
"Ha... ha.... Keris buruk, keris
butut! Lihat Jaliteng, eh... namamu
Jaliteng, benar? Nah lihat Jaliteng,
sebentar lagi dengan senjatamu sendiri
aku akan habisi nyawamu! Warok Kate
muridku... kau tenang-tenanglah di
alam baka, sebentar lagi aku gurumu
akan menamatkan riwayat manusia yang
telah membunuhmu!"
"Iblis tua!" maki Jaliteng. "Aku
tidak pernah membunuh manusia bernama
Warok Kate! Bahkan namanya pun baru
kudengar hari ini?!"
"Ha... ha! Jangan ngelindur,
pemuda! Sudah mau mampus masih hendak
berdusta?!"
Suling Maut menyerang dengan
panas. Jaliteng berhasil mengelakkan
serangan yang per-tama ini, namun
serangan kedua dan ketiga yang
terpaksa ditangkisnya dengan tangan
kanan membuat telapak tangannya itu
menjadi robek-robek berlumuran darah
dihantam ujung kerisnya sendiri!
Kemudian satu tusukan lagi pada bahu
kanannya. Kini pemuda itu benar-benar
tidak berdaya. Dia hanya bisa memper-
gunakan kedua kakinya untuk melompat
kian kemari mengelakkan serangan keris
yang bertubi-tubi. Kedua tangannya tak
bisa dipergunakan lagi karena sudah
terluka berat dan lumpuh! Dia tahu
bahwa ajalnya sudah di depan mata,
tapi tidak mau lari! Lebih baik mati
secara kesatria dari pada lari
menyelamatkan diri sebagai seorang
pengecut!
Tiba-tiba terdengar suara aneh
menggema menggetarkan gendang-gendang
anak telinga! Suara ini adalah suara
tertawa manusia tapi diselingi oleh
auman seperti seekor harimau. Bukan
Jaliteng saja yang terkejut mendengar
suara ini, si kakek sakti pun demikian
pula. Keduanya sama memalingkan kepala
dan kelihatanlah seorang nenek-nenek
bermuka aneh menyeramkan. Mukanya yang
berkulit keriput itu berwarna kuning
bergurat-gurat coklat, rambutnya putih
sehingga tampangnya tak ubah seperti
seekor harimau siluman! Nenek ini ber
tubuh bongkok dan pada tangan kirinya
tergenggam sebuah tongkat besi yang
sangat berat tapi yang dibawa oleh si
nenek dengan seenaknya saja seakan-
akan tongkat besi itu hanya sebuah
ranting kering saja! Nenek ini me-
ngenakan pakaian berbentuk jubah
seorang resi meskipun dia bukan resi.
Warna pakaiannya ini biru gelap
sehingga menambah keangkeran yang ada
pada dirinya.
"Ha... ha, iblis tua gila! Apa
tidak malu berkelahi dengan pemuda
hijau bertangan kosong dan tak
berdaya?!" ujar si nenek dengan
tertawa tinggi dan mengeluarkan suara
mengaum aneh. Air muka si Suling Maut
tampak berubah. Namun cepat-cepat dia
menjura kepada si nenek.
"Kalau aku yang bodoh ini tidak
salah lihat, agaknya aku berhadapan
dengan si nenek sakti dari pantai
utara yang dijuluki Harimau Betina?"
"Ha... ha! Bagus, rupanya matamu
masih awas dan bisa mengenaliku! Eh
iblis tua berjuluk si Suling Maut, aku
tanya mengapa kau berkelahi dengan
pemuda yang sudah tidak ada daya itu?!
Jawab!"
"Jangan salah sangka, Harimau
Betina. Pemuda ini telah
mempermainkanku, dia bicara dusta dan
dia telah membunuh muridku si Warok
Kate...."
Si nenek tertawa melengking lalu
mengaum. Jaliteng yang berdiri di
sebelah sana merasa ngeri juga melihat
tampang dan suara tertawa yang seperti
auman harimau itu. Di samping itu,
pemuda ini juga sangat terkejut ketika
mengetahui bahwa kedua manusia-manusia
tua renta yang ada di hadapannya saat
itu ternyata adalah tokoh-tokoh
persilatan berilmu tinggi, yang lebih
tinggi dari gurunya sendiri yaitu Si
Cakar Setan!
Si Harimau Betina mengangkat
tongkatnya ke muka. Dari tongkat besi
yang amat berat itu keluarlah pukulan
angin yang menghantam ke jurusan si
kakek. Suling Maut cepat menghindar
namun tak urung tubuhnya masih kena
terpukul sampai terhuyung-huyung.
Jaliteng sendiri yang berdiri jauh
dari kakek itu merasakan sambaran
angin yang deras dan membuatnya
menggigil.
"Suling Maut, kau angkat kakilah
dari sini! Sebenarnya kita masih ada
urusan lama yang harus diselesaikan,
tapi aku berbaik hati untuk
menangguhkannya sampai lain
kesempatan! Ayo pergi cepat!" Sekali
lagi si nenek menggerakkan tongkatnya.
Suling Maut melompat ke samping
dan menjawab: "Harimau Betina, sangat
kuhargakan kemurahan hatimu itu. Tapi
ketahuilah, urusanku dengan pemuda ini
belum selesai. Kuharap kau tidak
mencampurinya...."
"Iblis tua, gila! Dikasih hati
mau minta kaki! Nah, terima kakiku
ini!" Serentak dengan itu, disertai
suara mengaum tubuh si nenek sangat
cepatnya melesat ke muka. Suling Maut
melompat berkelit tapi gerakan kaki si
nenek seperti dapat diulur dan
tendangannya bersarang di pinggul
kakek itu sampai dia terpelanting
jatuh duduk di tanah!
"Setan Betina!" maki si Suling
Maut sangat marah. Mukanya merah
sekali. "Kau kira aku tidak punya
nyali melayanimu sampai seribu
jurus?!" Maka dia menyerbu ke muka
dengan mempergunakan keris milik
Jaliteng. Dengan mengaum keras, si
nenek sakti membabatkan tongkat
besinya. Keris di tangan Suling Maut
patah dua sedang laki-laki tua itu
sendiri merasakan betapa tangannya
tergetar hebat dan kesemutan sampai ke
bahu! Si kakek berkelebat cepat dan
mengeluarkan senjatanya yang sangat
diandalkan yaitu sebuah seruling yang
terbuat dari besi hitam.
"Ha, ha!" si nenek tertawa
bergelak. "Rup-nya kau sudah membuat
suling baru pengganti sulingmu yang
aku hancurkan tempo hari?! Bagus,
majulah aku ingin lihat keampuhan
mainan anak-anak itu!"
Penuh geram karena senjatanya
dicela mainan anak-anak, Si Suling
Maut segera mengirimkan tendangan kaki
kanan ke arah lawan, bersamaan dengan
itu suling di tangan kanannya menotok
deras ke arah tenggorokan sedang
tangan kiri yang terpentang laksana
sayap burung menggebuk dari samping!
Sungguh hebat serangan ini. Tapi
anehnya si nenek muka harimau
menghadapi serangan ini dengan ter-
tawa. Tongkat besinya diputar
sedemikian rupa membabat ke muka dan
tangan kanan menyelinap di bawah
lengan kiri lawan.
"Buk!"
"Tring!"
Dua suara itu terdengar hampir
bersamaan. Si Suling Maut mental ke
belakang sedang suling di tangan
kanannya patah dua! Nafas laki tua ini
megap-megap karena dadanya yang
terpukul sakit dan sesak. Mukanya
pucat laksana mayat. Tidak diduganya,
sesudah satu tahun tidak bertemu tahu-
tahu kepandaian si nenek muka kuning
ini jauh lebih tinggi. Mulanya dia
menduga bahwa selama satu tahun itu
dia akan sanggup menandinginya, tapi
kini setelah bertemu ternyata dia
masih jauh di bawah angin!
"Harimau Betina, kalau kali ini
aku terpaksa mengundurkan diri jangan
kira bahwa aku akan melupakan semua
perlakuanmu! Aku bersumpah untuk
membunuhmu dan semua murid-muridmu!"
Tubuh si Suling Maut berkelebat dan
tahu-tahu tubuh Jaliteng sudah berada
di atas bahu kirinya.
"Hai! Iblis tua, mau bawa lari ke
mana pemuda itu?!" seru si nenek muka
kuning bergurat-gurat coklat. Dia
menggereng dan didahului oleh suara
mengaum tubuhnya melesat ke muka
menyusul si Suling Maut yang melarikan
Jaliteng.
Kakek-kakek itu kertakkan gigi
ketika dia tahu bahwa si Harimau
Betina mengejarnya. Dipercepatnya
larinya namun sesaat kemudian si nenek
berhasil menyusulnya. Tongkat besi
membabat ke arah kaki si Suling Maut
membuat kakek-kakek itu terpaksa
melompat, namun sebelum lompatannya
itu sampai setengahnya, tongkat lawan
sudah menyambar pula di atas
kepalanya. Ketika dia memiringkan
kepala, tongkat itu menyerang tangan
kirinya yang memegang tubuh Jaliteng.
Untuk menyelamatkan tangan kiri itu
dari kehancuran, Suling Maut terpaksa
melepaskan pegangannya pada tubuh si
pemuda. Kelihatan si nenek bergerak
cepat. Tangan kirinya diulur ke muka
sedang tongkat besi membabat ke perut
si Suling Maut. Ketika kakek-kakek ini
berusaha untuk mengelak maka tahu-tahu
tubuh Jaliteng sudah berpindah tangan
dan kini berada di atas bahu kiri si
Harimau Betina!
Dengan gemas si Suling Maut
menyerang ke muka, tapi dia tak
berdaya karena lawannya memutar
tongkat dengan sebat lalu berkelebat
dan sudah melesat jauh meninggalkan
tempat itu membawa tubuh Jaliteng!
"Iblis betina!" teriak si Suling
Maut. "Rasakan pembalasanku nanti!"
Jaliteng yang berada dalam
keadaan teriuka parah di antara sadar
dan tiada menjadi terheran-heran
ketika mengetahui bahwa dirinya dibawa
lari oleh si nenek sakti yang dijuluki
si Harimau Betina itu.
"Nenek, kau mau bawa aku ke
manakah?"
"Anak muda, jangan banyak
cerewet. Kau ikut sajalah...."
Pemuda itu hendak bertanya lagi,
tapi di-rasakannya sesuatu menekan
pangkal lehernya membuat dia tidak
sadar apa-apa lagi. Si nenek sambil
lari telah menotok urat darah dan urat
dagunya!
EMPAT
KITA tinggalkan dulu si nenek
sakti yang membawa lari Jaliteng. Mari
kita ikuti pula perjalanan Mahesa
Kelud, pemuda yang mendapat dua tugas
dari gurunya Embah Jagatnata yaitu
mencari Simo Gembong dan mencari
pedang sakti bernama Samber Nyawa.
Belum satu pun dari kedua tugas itu
berhasil dilaksanakannya, dalam
perjalanan turun gunung dia sudah
dihadapkan ke pelbagai macam urusan
dan bahaya maut yang membawanya sampai
bertemu dan berguru dengan si orang
tua aneh Suara Tanpa Rupa, bersama-
sama dengan Wulansari. Waktu ditolong
di gua iblis dulu oleh Karang Sewu,
tokoh persilatan ini telah memberikan
pula dua tugas kepada Mahesa Kelud
yaitu menghambakan diri ke Kesultanan
Banten dan mencari Dewi Maut.
Ketika dia disuruh mengembara ke
daerah barat oleh Suara Tanpa Rupa, di
samping pemuda ini merasa menyesal dan
sedih karena dia telah melanggar
larangan gurunya itu, tapi diam-diam
dia jadi bergembira juga karena dengan
disuruhnya dia ke barat berada sambil
terus mencari keterangan tentang
pedang Samber Nyawa dan manusia Simo
Gembong, sekaligus dia bisa pergi ke
Banten.
Sebagai satu kerajaan Islam maka
Banten menjadi musuh dari kerajaan
Pajajaran di se-belah selatan yang
masih menganut agama Hindu.
Perang-perang perbatasan tiada
terhitung lagi banyaknya, bahkan
perang besar-besaran yang meminta
korban ribuan nyawa tahun belakangan
ini telah pecah sampai dua kali! Namun
tak ada pihak yang kalah ataupun yang
menang. Masing-masing pihak yang
mempunyai pendekar-pendekar sakti
tulang punggung yang diandalkan sama
menarik diri mundur setelah korban
berjatuhan tiada terhitung lagi. Pe-
rang berhenti untuk beberapa lamanya,
tapi dendam kesumat berkecamuk di hati
para pimpinan kedua kerajaan itu. Dan
ujung dari ini tidak dapat tidak
adalah peperangan juga! Sebelum ada
ketentuan siapa yang menang siapa yang
kalah, siapa yang akan berkuasa dan
siapa yang dijajah, maka antara Banten
dan Pajajaran akan tetap berkobar api
peperangan yang tiada kunjung padam.
Untuk memiliki pendekar-pendekar
gagah dan tangguh dalam menghadapi
Pajajaran maka Banten menempuh
berbagai jalan. Satu diantaranya
adalah dengan mengadakan sayembara.
Demikianlah, pada suatu hari petugas-
petugas istana dengan mengendarai kuda
berkeliling kerajaan mengumumkan
sayembara itu. Kepada siapa-siapa yang
memiliki kepandaian tinggi, terutama
para pemuda, dianjurkan untuk
mengikuti sayembara mengadu ilmu
silat. Kepada orang tertangguh yang
keluar sebagai juara nanti bukan saja
akan diberi hadiah sebuah keris dari
Sultan tapi juga akan diangkat sebagai
Kepala Balatentara Kerajaan! Tentu
saja maka berduyun-duyunlah para
pemuda-pemuda gagah dan orang-orang
sakti di dalam kerajaan bahkan di luar
kerajaan Banten datang untuk mengikuti
sayembara itu. Di depan langkan istana
terdapat kesibukan-kesibukan karena di
sanalah akan dibuat panggung besar di
mana sayembara adu ketinggian ilmu
akan dilangsungkan.
Pagi-pagi, pada hari yang telah
ditentukan maka ramailah seluruh
penduduk kerajaan dari berbagai
pelosok datang membanjiri kotaraja
untuk menyaksikan sayembara hebat itu!
Adu jotos secara terbuka memang baru
kali ini diadakan di Banten, karenanya
kesempatan ini tidak disia-siakan,
bahkan tak sedikit kaum ibu yang turut
hadir. Pengikut sayembara berjumlah
dua puluh empat orang. Rata-rata
adalah pemuda-pemuda tegap berilmu
kepandaian tinggi. Cuma beberapa saja
yang sudah agak berumur. Kedua puluh
empat orang ini duduk di bagian
panggung sebelah muka, di bagi atas
dua rombongan. Setiap pengikut
sayembara dari rombongan pertama telah
ditentukan lawannya yaitu seorang dari
rombongan kedua. Dengan demikian akan
terbentuk dua belas pasangan yang akan
bertempur satu lawan satu. Kesemuanya
sekaligus bertempur di atas panggung
yang luas itu. Pemenang-pemenang dari
dua belas pasang itu akan dipecah pula
menjadi dua sehingga nantinya akan
bertempur enam pasangan. Enam pasangan
itu dipecah pula menjadi tiga pasang.
Tiga pemenang terakhir diharuskan
menghadapi lawan satu demi satu sampai
akhirnya didapat ketentuan siapa yang
menang.
Ketika Sultan Banten muncul maka
ramailah tempik sorak orang banyak
mengelu-elukannya. Di hadapan Sultan,
di atas sebuah meja terletak sebuah
nampan yang ditutup dengan sehelai
kain sutera putih. Di bawah kain
sutera putih ini terietaklah keris
hadiah yang akan diserahkan kelak
kepada pemenang sayembara. Gong
dicanang orang maka melompatlah
keduapuluh empat pengikut sayembara ke
atas panggung dengan gaya dan sikapnya
masing-masing. Sorak sorai penonton
riuhnya bukan main seakan-akan hendak
runtuh langit di atas halaman istana
itu! Kedua puluh empat pengikut
sayembara berbaris memanjang lalu
menjura memberi hormat kepada Sultan.
Sultan Hasanuddin melambaikan
tangannya. Gong dipukul lagi dan kali
ini masing-masing pengikut sayembara
mencari lawan-lawannya yang sudah
ditentukan. Setelah mereka saling
berhadap-hadapan maka untuk ketiga
kalinya terdengar suara gong dan
dimulailah sayembara baku hantam
memperebutkan hadiah keris dan
kedudukan tinggi. Orang banyak
berteriak tiada hentinya melihat
bagaimana di atas panggung dua belas
pasang manusia tengah adu jotos
mengeluarkan kepandaian masing-masing
untuk merobohkan lawan mencari
kemenangan. Tak dapat dikatakan
pasangan mana yang paling hebat dan
seru perkelahiannya. Kalau dilihat
pasangan yang di sebelah ujung kiri
yang bertanding dengan sangat cepat
dan dahsyat, maka pasangan yang di
ujung sana lebih mengagumkan lagi,
kemudian yang di sebelah ujung kanan
lebih mendebarkan pula... demikian
seterusnya.
Yang pertama sekali merobohkan
lawannya adalah laki-laki berpakaian
hijau tua di bagian panggung sebelah
kanan. Siapakah laki-laki yang begitu
hebat ini sehingga mengalahkan
lawannya dengan melemparkannya keluar
panggung hanya dalam beberapa gebrakan
saja?! Melihat kepada umurnya dia
bukan seorang pemuda lagi. Umurnya
lebih dari empat puluh dan tampangnya
buruk. Sebenarnya bukanlah suatu hai
yang aneh kalau laki-laki ini bisa
mengalahkan lawannya bahkan dilempar
keluar panggung dalam beberapa
gebrakan saja karena dia adalah Unang
Gondola, murid seorang resi sakti di
puncak gunung Halimun! Sebenarnya
Unang Gondola bukanlah pengikut
sayembara yang datang untuk
mendapatkan hadiah keris serta
kedudukan tinggi saja, tapi lebih dari
itu dia adalah utusan rahasia Prabu
Sedah, Raja Pajajaran!
Ketika didapat kabar bahwa Banten
mengadakan sayembara untuk memilih
orang-orang cakap yang akan didudukkan
dalam jabatan tinggi, maka Prabu Sedah
segera menyuruh pembantu-pembantunya
mencari seorang yang tangguh sakti dan
berilmu tinggi guna diutus ke Banten.
Utusan ini harus berhasil memenangkan
sayembara. Dan kalau itu sudah
terlaksana adalah satu hal yang mudah
saja lagi untuk memusnahkan Banten,
lebih mudah dari memasukkan benang ke
dalam lobang jarum! Sayang sekali di
Pajajaran tidak terdapat pemuda
berilmu benar-benar tinggi yang dapat
diandalkan untuk menjadi utusan dan
memenangkan sayembara. Akhirnya
dipilihlah Unang Gondola, murid resi
Mintaraya di puncak gunung Halimun.
Meskipun dia sudah berumur hampir
setengah abad namun ketinggian ilmunya
memang bisa diandalkan sehingga Prabu
Sedah dan orang-orang Pajajaran tidak
ragu-ragu lagi bahwa Unang Gondola
akan keluar sebagai pemenang dan
jabatan Kepala Balatentara Banten bisa
jatuh ke tangannya!
Demikianlah dengan memakai nama
samaran murid resi sakti ini berangkat
ke Banten dan mengikuti sayembara.
Tidak percuma dia menjadi utusan
rahasia Pajajaran karena hanya dalam
beberapa gebrakan saja dia berhasil
merubuhkan lawannya. Tempik sorak
ditujukan kepadanya ketika dia
melompat turun dari atas panggung,
kembali ke tempat duduknya dan
menyaksikan pasangan-pasangan lainnya
yang masih terus baku hantam.
Beberapa saat kemudian satu demi
satu menyusul peserta-peserta
dirobohkan. Ada yang terbanting ke
lantai panggung, ada yang melingkar
pingsan kena hantaman lawan dan ada
pula yang dilempar keluar dari atas
panggung! Tak lama kemudian maka
selesailah babak penyisihan pertama
itu. Dua belas orang roboh kalah dan
dua belas lainnya sebagai pemenang.
Setelah diadakan istirahat
beberapa lamanya terdengarlah gong
dicanang orang. Dua belas orang
melompat ke atas panggung, mencari
lawan masing-masing diiringi sorak-
sorai orang banyak. Masing-masing
peserta sayembara mengeluarkan ilmu
simpanan mereka, berusaha untuk
bertahan, mendesak dan merobohkan
lawan, sampai akhirnya keluar lagi
enam orang pemenang. Seperti tadi,
Unang Gondola adalah peserta yang
pertama sekali merobohkan lawannya.
Lawannya yang kedua ini sama saja
nasibnya dengan yang pertama tadi,
yaitu dipukul pada pelipisnya
sementara lawan itu berdiri nanar,
maka Unang Gondola melemparkannya
keluar panggung!
Kini akan segera dimulai babak
ketiga. Tiga pasangan saling berhadap-
hadapan. Gong berbunyi dan pertempuran
dimulai. Mata para pe-nonton lebih
banyak ditujukan kepada Unang Gondola
yang karena kehebatannya jadi
dikagumi. Pertarungan kali ini sungguh
hebat karena kalau ketiga pasang itu
berhasil melalui babak penyisihan
pertama dan kedua berarti ilmu mereka
sudah mencapai tingkat tinggi.
Unang Gondola berhadapan dengan
lawan seorang pemuda bertubuh tinggi
besar, sedang dia sendiri pendek dan
agak kurus. Tapi tubuh yang tinggi
besar itu bukan apa-apa bagi Unang
Gondola. Dengan ilmunya yang tinggi
dipermainkannya pemuda itu sehingga si
pemuda tak ubahnya seperti seorang
bodoh yang terhuyung kian kemari,
melompat ke sana melompat ke sini
menangkap seekor kodok nakal! Dua
jurus berlalu. Mengetahui bahwa
tingkat kepandaian lawan berada jauh
di bawahnya maka sekali saja dia
menggerakkan tangan kanannya ke kening
pemuda itu, lawannya terjerongkang
mental ke belakang. Saat itu tanpa
menunggu lebih lama Unang segera
mencekal leher dan ikat pinggang si
pemuda, maksudnya hendak dilemparkan
keluar panggung. Tapi si pemuda yang
sudah kena terpukul itu dengan cepat
mencekal leher Unang Gondola ketat
sekali!
"Keparat!" maki Unang Gondola
dalam hati. Digesernya letak kedua
kakinya. Tubuhnya merunduk sedikit,
siku kanannya menyodok ke iga sedang
dengan tangan kirinya dijambaknya
rambut lawan lalu tubuh pemuda itu
dengan mengeluarkan bentakan
menggeledek dibantingnya ke lantai!
"Krak!" Salah satu dari lantai
papan patah dan tubuh si pemuda tidak
bergerak lagi. Kepalanya pecah, tulang
lehernya patah dan beberapa tulang
iganya hancur! Inilah korban nyawa
pertama di antara para peserta.
Sementara orang banyak bertempik sorak
menyambut kemenangan Unang Gondola
maka Sultan Banten berpaling ke
samping, ke arah Patih Sumapraja.
"Paman Patih, siapakah laki-laki
baju hijau yang begitu hebat itu...?"
tanya Sultan.
"Saya sendiri tidak tahu, Sultan.
Tunggulah saya tanyakan pada ketua
sayembara." Sang Patih mendekati
seorang laki-laki yang menjadi ketua
sayembara itu, setelah bicara sebentar
lalu kembali kepada Sultan dan
menerangkan: "Laki-laki itu bernama
Kuntawirya, ilmunya mo-mang hebat dan
agaknya dialah yang akan keluar
sebagai pemenang."
Sultan mengangguk. "Melihat
kepada umurnya yang sudah agak lanjut
memang tidak aneh kalau dia memiliki
ilmu kepandaian yang begitu tinggi.
Tapi aku tidak senang melihat cara dia
melekatkan tangan sampai lawannya
menghembuskan nafas penghabisan
seperti itu!"
"Benar, Sultan," sahut Patih
Sumapraja. "Tapi ini adalah risiko
setiap sayembara adu silat."
Sultan melihat kembali ke
panggung. Saat itu hanya tinggal dua
pasang peserta lagi dan masing-masing
mereka bertempur mati-matian untuk
dapat merobohkan lawannya. Akhirnya
peserta kedua roboh menyusul peserta
ketiga dan kini tinggallah tiga
pemenang satu di antaranya adalah
Unang Gondola. Sebelum ketiga orang
ini menghadapi lawan satu demi satu
secara segi tiga maka diadakan
istirahat yang lama sekali. Namun
akhirnya suara gong menggema juga dan
untuk kesekian kalinya terdengar pula
tempik sorak orang banyak.
Tiba-tiba tempik sorak itu
menjadi terhenti karena orang banyak
melihat Unang Gondola melambai-
lambaikan tangannya. Penonton
bertanya-tanya apa yang hendak
diperbuat laki-laki berbaju hijau tua
ini.
Unang Gondola kelihatan melangkah
ke ujung belakang panggung lalu
menjura dan ber-kata dengan suara
keras: "Sultan Banten Yang Mulia,
seperti kita lihat bersama, saat ini
ter dapat tiga orang pemenang, satu di
antaranya adalah saya sendiri. Ini
berarti bahwa kami akan bertanding
secara segitiga. Menurut pendapat saya
yang bodoh ini, pertandingan cara
segitiga itu disamping akan memakan
waktu lama, juga kemenangan yang
dicapai tidak bersifat murni adanya
karena lawan pertama atau kedua yang
sudah lelah nanti akan dihadapkan de-
ngan lawan ketiga yang masih segar
bugar. Dari itu, Sultan Yang Mulia,
bilamana Sultan tidak keberatan saya
akan mengajukan usul yaitu sebaiknya
saya menghadapi mereka berdua
sekaligus. Kalau saya kalah, saya akan
turun panggung dan mereka boleh
melanjutkan pertandingan satu lawan
satu!"
"Hem... sombong benar orang ini,"
kata Sultan tidak senang. "Tapi
biarlah, sesuai dengan kesombongannya
aku akan izinkan dia menghadapi dua
lawan sekaligus!" Sultan kemudian
melambaikan tangannya. Inilah suatu
tanda bagi orang banyak bahwa
permohonan si baju hijau disetujui
Sultan. Meskipun banyak orang bersorak
mendengar keputusan itu tapi banyak
pula yang tidak bersenang hati melihat
kecongkakan orang yang menganggap
remeh dua orang peserta sayembara
lainnya. Dan memang yang paling sakit
hati dan paling merasa dihina adalah
kedua pemuda itu. Diam-diam kedua
pemuda ini saling melirik dan
tersenyum. Ini satu tanda bahwa mereka
sama-sama bertekad bulat untuk
menghajar habis-habisan Unang Gondola,
manusia bermuka buruk yang congkak
itu!
Gong dipukul. Pemuda yang dua
orang segera berpencar. Unang Gondola
tersenyum mengejek dan maju satu
langkah. Sambil bertolak pinggang dia
menantang: "Ayo, pemuda-pemuda keren.
Kalian mulailah! Serang aku!"
Tapi baik pemuda yang memakai
baju putih maupun yang memakai baju
ungu tidak bergerak. Mereka hanya
menjawab tantangan itu dengan balas
senyum mengejek, membuat Unang Gondola
menjadi beringas. Tiba-tiba dengan
bentakan menggeledek, laki-laki ini
menyerbu ke muka. Tangan dan kakinya
terpentang di kedua sisi. Gerakan yang
hebat ini mengeluarkan siuran angin
deras. Blong Ijo, pemuda berpakaian
ungu melihat bagian dada lawan
terbuka, sambil berkelit ke samping
dia menggebuk ke arah dada Unang
Gondola sedang dari samping yang lain,
Karnadipa, si pemuda baju putih sambil
melompat ke samping coba menotok
tulang-tulang iga lawannya. Namun baik
serangan Unang Gondola maupun serangan
kedua lawannya sama-sama mengenai
tempat kosong. Blong Ijo dan Karnadipa
cepat membalik dan dengan serentak
mereka mengirimkan serangan kembali,
keduanya mengarah ke punggung Unang
Gondola. Karena serangan itu
sedemikian cepatnya sedang Unang
Gondola membelakangi kedua lawannya
dapatlah dipastikan oleh orang banyak
bahwa laki-laki sombong itu akan jatuh
menelungkup ke lantai panggung terkena
hantaman dua tinju lawan yang keras!
Tapi justru dalam gebrakan kedua
inilah Unang Gondola memperlihatkan
kehebatannya. Laksana seekor burung
elang, laki-laki ini kelihatan menukik
dengan kepala ke arah lantai panggung.
Bersamaan dengan itu kedua telapak
tangannya ditempelkan di panggung se
dang dua kakinya melesat ke belakang
menghantam ke jurusan tubuh kedua
lawannya, laksana tendangan seekor
kuda jantan liar yang tengah mengamuk!
Gerakan ini bukan suatu gerakan yang
mudah, apalagi dalam keadaan diserang
lawan sekaligus dua orang dari be-
lakang! Namun semuanya itu dilakukan
oleh Unang Gondola dengan cepat dan
lihay sekali! Dapatlah dibayangkan
bagaimana tingginya ilmu yang diwarisi
laki-laki ini dari gurunya Resi
Mintaraya.
Baik Karnadipa maupun Blong Ijo
terkejutnya bukan main melihat
serangan aneh ini tetapi sangat
berbahaya! Cepat-cepat mereka melompat
ke samping. Blong Ijo sambil mengelak
coba menangkap kaki Unang Gondola
dengan kedua tangannya. Tapi seperti
kaki kiri laki-laki itu bermata maka
sebelum maksud Blong Ijo kesampaian
tiba-tiba cepat sekali kaki tersebut
bergerak dan bagian tumitnya turun
deras menghantam ke bagian bawah perut
Blong Ijo!
Blong Ijo melipat lutut kanannya.
Bentrokan antara lutut dan kaki tidak
bisa dihindarkan lagi. Tubuh Blong Ijo
terhuyung-huyung beberapa langkah.
Lututnya sakit sekali. Di sebelah sana
dengan jungkir balik Unang Gondola
berdiri kembali di atas kedua kakinya
tapi terpaksa harus berkelebat cepat
karena saat itu Karnadipa, lawannya
yang seorang lagi datang me-lancarkan
serangan dan serangan ini dengan mudah
dapat dielakkan. Bukan main ramainya
pekik sorak orang banyak melihat
pertandingan dua lawan satu yang hebat
itu. Seorang penduduk kotaraja
meleletkan lidahnya sambil ber-kata:
"Laki-laki hijau itu memang hebat
ilmunya, sayang dia agak sombong!"
Kembali Unang Gondola berada di
tengah-tengah kedua orang lawannya.
Blong Ijo yang berada paling dekat
tiba-tiba melancarkan pukulan tangan
kanan ke arah lambung sedang
berbarengan dengan itu Karnadipa
mengirimkan kaki kanannya ke iga Unang
Gondola. Murid Resi Mintaraya ini
miringkan tubuhnya ke samping. Begitu
jotosan Blong Ijo lewat segera jari-
jari tangan kanannya yang dipentang
dan dilipat lurus menyelinap ke bawah
lengan. Serangan yang dilancarkannya
ini dilakukan dengan memiringkan tubuh
sehingga sekaligus mengelakkan
tendangan yang ditujukan ke iganya!
"Duk!" Jotosan lipatan jari-jari
tangan Unang Gondola menghantam bawah
ketiak Blong Ijo dengan sangat
tepatnya, tak kuasa dielakkan oleh
pemuda baju ungu itu. Tubuhnya mental
jauh. Sebuah tulang iganya patah dan
tubuh dalamnya terluka parah. Unang
Gondola menyeringai mengejek. Tapi
seringainya ini hilang dengan serta
merta laksana direnggutkan setan
tatkala dari samping kiri, tiada
diduganya sama sekali Karnadipa
berkelebat dengan sangat cepat. Dengan
pinggirantelapak tangan kanannya
Karnadipa berhasil menghantam pangkal
tengkuk Unang Gondola.
Pukulan pinggiran tapak tangan
ini merupakan pukulan amat ampuh dan
benar-benar diandalkan oleh Karnadipa.
Tapi betapa terkejutnya ketika
menyaksikan bagaimana Unang Gondola
hanya terhuyung-huyung beberapa
langkah ke muka. Setelah mengalirkan
tenaga dalamnya ke bagian yang
terpukul tiba-tiba
Unang membalikkan tubuhnya dengan
cepat. Karnadipa yang masih terheran-
heran karena tak percaya, tak sanggup
mengelakkan kepalan tangan kanan yang
dahsyat dari Unang Gondola yang
menghantam pelipisnya. Pemuda ini
terjungkal ke belakang dengan
pandangan gelap berkunang-kunang. Pada
saat itu Unang Gondola sudah melompat
pula ke muka. Tangan kanannya
menjambak rambut Karnadipa lalu
diputar dan "krak!" Terdengar suara
patahan tulang leher. Berapa orang
perempuan yang menyaksikan dan
mendengar suara patahnya tulang leher
itu memekik dan menutup muka mereka
dengan kedua tangan.
Ketika jambakan dilepas, tubuh
Karnadipa yang sudah tidak bernyawa
itu melosoh ke lantai dan tanpa ragu-
ragu Unang Gondola menendangnya sampai
keluar panggung, jatuh jauh di
belakang orang banyak!
Di sebelah sana kelihatan Blong
Ijo bangkit berdiri perlahan- lahan.
Tubuhnya miring dan mukanya pucat
akibat luka dalam yang hebat. Unang
Gondola melangkah mendekati pemuda Ini
dengan senyum mengejek. "Orang muda,
kau menyerahlah dan nyawamu akan
selamat!"
Biong ijo murid seorang pendekar
berhati kesairia, meskipun sadar bahwa
dirinya terluka hebat dan tak akan
sanggup meiawan musuh tangguh itu,
namun kata-kata menyerah tidak dia
kenal dalam hidupnya!
"Menyerah?!" desis pemuda itu.
"Aku lebih baik mampus daripada
menyerah!"
"Manusia tolol! Dikasih kehidupan
maunya mampus!" ketus Unang Gondola,
tubuhnya bergerak ke kanan mengirimkan
pukulan tangan kiri ke kepala lawan.
Blong Ijo menunduk, dengan tangannya
yang sebelah kanan pemuda ini
mengirimkan pukulan jarak jauh. Tapi
karena bagian tubuhnya sudah terluka
maka pukulan tenaga dalam ini tidak
ada artinya bahkan tangannya yang
dipakai memukul kena dicengkeram oleh
Unang Gondola. Sesaat kemudian
terdengar bentakan laki-laki itu dan
semua mata melihat bagaimana tubuh
Blong Ijo melesat ke udara, jatuh di
luar panggung dan mati! Maka hiruk
pikuklah halaman istana itu oleh suara
sorak-sorai orang banyak. Unang
Gondola melambai-lambaikan tangannya
penuh bangga. Hatinya sangat gembira
dan puas. Bukan saja dia sudah
berhasil mengalahkan dua lawannya
sekaligus, tapi lebih dari itu sebagai
utusan rahasia yang dipercaya oleh
Prabu Pajajaran dia berhasil
menjalankan tugasnya dengan baik. Dia
menang, dia akan menerima hadiah
keris. Tapi keris itu tidak penting,
yang lebih penting adalah dia akan
menjadi Kepala Balatentara Banten!
Kalau jabatan tinggi itu bisa
dipegangnya dengan sangat empuk. Maka
untuk selanjutnya apa yang menjadi
cita-cita Raja dan rakyat Pajajaran
pasti mudah pula terlaksana yaitu
menghancurkan Banten! Menyamaratakan
Banten dengan tanah!
Diam-diam meskipun kagum akan
ketinggian ilmu silat Unang Gondola
tapi dalam hatinya Sultan tidak begitu
senang terhadap laki-laki itu. Rasa
tidak senang ini adalah dikarenakan
sikap Unang Gondola yang congkak serta
kejam. Sebenarnya dia bisa mengalahkan
lawan-lawannya tadi tanpa membunuhnya!
Tapi kenyataan yang sudah terjadi tak
bisa dirobah lagi.
Dari langkan istana terdengar
seruan: "Saudara pemenang, diharap
menghadap Sultan Banten untuk menerima
ucapan selamat dan menerima hadiah
keris kerajaan!"
Diiringi tempik sorak Unang
Gondola melangkah ke hadapan Sultan
dan menjura. Seorang gadis cantik
dayang-dayang istana mengangkat nampan
di mana keris hadiah terletak. Sultan
berdiri dan membuka kain penutup
nampan maka kelihatanlah sebilah keris
yang keseluruhannya terbuat dari perak
putih, sangat bagus ukiran-ukiran
sarung dan gagang-nya serta
memancarkan sinar menyilaukan mata.
Sultan mengambil keris perak tersebut
dan menyerahkannya kepada Unang
Gondola seraya berkata: "Orang gagah,
keris ini kuberikan padamu karena kau
telah memenangkan sayembara yang
diadakan dan juga sekaligus merupakan
lambang pengangkatanmu sebagai Kepala
Balatentara Banten!"
Kalimat yang diucapkan oleh
Sultan tersebut tidak keras tetapi
karena suasana sunyi senyap maka
hampir semua orang dapat mendengarnya
dan sesudah itu maka kembali terdengar
tempik sorak gegap gempita.
"Terima kasih, Sultan Yang
Mulia," kata Unang Gondola sambil
menerima keris perak itu. Dia turun
dari langkan istana dan kembali ke
panggung. Keris perak yang di
tangannya diacung-acungkannya ke atas,
dengan penuh bangga diperlihatkannya
kepada orang banyak. Tiba-tiba, hampir
tidak terlihat oleh mata karena sangat
cepatnya, sesosok bayangan putih me-
lompat naik ke atas panggung. Unang
Gondola terdengar mengeiuarkan suara
seruan tertahan dan keris perak yang
dipegangnya terlepas lenyap dari
tangannya!
LIMA
SEMUA orang termasuk Sultan
sendiri menjadi sangat terkejut ketika
melihat bagaimana kini di atas
panggung, beberapa langkah dari
hadapan Unang Gondola berdiri seorang
laki-laki bertampang keren berpakaian
putih-putih sederhana sekali. Yang
membuat semua orang lebih-lebih
terkejutnya ialah karena keris perak
yang tadi dipegang oleh Unang Gondola
kini berada di tangan si orang asing.
Bergetar tubuh Unang Gondola
karena mendidih darahnya. Kedua
matanya menyorot garang. Dia maju ke
hadapan laki-laki gagah tak
dikenalnya. Seraya membentak dia
bertanya: "Manusia rendah! Apa kau
punya dua nyawa sampai berani membuat
kekejian terhadapku di depan ribuan
manusia dan di hadapan Sultan?!"
Orang berpakaian putih-putih
mengeiuarkan suara tertawa mengejek.
"Baju hijau, di hadapanku tak usah
bicara sombong! Jangan terlalu girang
bahwa kau akan menjadi Kepala
Balatentara Banten! Aku juga mempunyai
hak untuk jabatan itu...!"
"Keparat edan! Kalau kau tidak
mengembalikan keris itu dan turun dari
panggung ini, kupecahkan kepalamu!"
"Heh! Sobat, tidak semudah itu
memecahkan kepalaku!" balas si baju
putih.
Karena tidak dapat menahan sabar
lagi, Unang Gondola segera melompat
menyerbu! Tapi serangan yang penuh
keganasan ini dengan mudah dapat
dielakkan oleh si baju putih. Dari
langkan istana terdengar suara
memerin-ah. Tahan!"
Unang Gondola yang hendak
menyerang kembali segera menghentikan
gerakannya dan memaiingkan kepala ke
arah Sultan. "Pemuda asing baju putih!
Kau yang bertindak lancang menghina
calon Kepala Balatentara Banten
diharap maju ke hadapan Sultan untuk
mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"
Mendengar itu, tanpa ragu-ragu,
si baju putih melangkah ke hadapan
Sultan Banten dan menjura. "Orang
lancang, kau siapa yang berani
menimbulkan kekacauan ini?!" tanya
Sultan dengan nyaring.
Si baju putih tersenyum, dia
menjura sekali lagi, baru menjawab:
"Sultan, agaknya terlalu dibesar-
besarkan kalau dikatakan saya datang
ke sini untuk mengacau. Terus terang
saja kedatanganku ke sini justru untuk
menyelamatkan Banten dari mala petaka
besar!"
Terkejut sekali semua orang dan
Sultan Banten mendengar jawaban yang
berani dari laki-laki itu. Apa lagi
mendengar kalimat yang terakhir yaitu
bahwa dia datang justru untuk
menyelamatkan Banten dari malapetaka
besar!
Sultan dan Patih Sumapraja saling
berpandangan. Kemudian terdengar suara
bertanya yang datang dari Sultan
Banten. "Jawab pertanyaanku tadi dan
apa maksud kata-katamu bahwa kau
datang untuk menyelamatkan Banten dari
malapetaka besar?!"
Tentang diri saya, Sultan,
kiranya tidak penting. Saya seorang
gunung yang bodoh, bernama Tirta, Guru
saya bernama Ki Balangnipa, diam di
Gunung Gede...." Sampai di situ orang
bernama Tirta ini melirik ke samping
dan melihat bagaimana air muka Unang
Gondola menjadi berubah ketika dia
menyebutkan nama gurunya. Untuk daerah
barat nama Ki Balangnipa sebagai tokoh
silat memang terkenal dan disegani. Di
puncak Gunung Gede tokoh kenamaan ini
mendirikan sebuah perguruan. Kalangan
istana Banten sendiri termasuk Sultan
dan Patih juga pernah mendengar nama
Ki Balangnipa itu.
Tirta melanjutkan kata-katanya
kembali. "Mengenai malapetaka besar
yang saya katakan itu, akan saya
terangkan nanti. Lebih dahulu saya
jelaskan bahwa saya datang ke sini
juga mempunyai maksud lain yaitu untuk
mengikuti sayembara....."
"Sayembara sudah selesai dan
sudah di-menangkan oleh saudara
berbaju hijau tua bernama Kuntawirya
itu!" kata Patih Sumapraja.
Tirta menganggukkan kepala dan
mengulum senyum. "Saya mengerti dan
saya akui saya datang terlambat karena
kabar tentang adanya sayembara
tersebut baru kemarin dulu saya
dengar. Tapi meskipun demikian, dengan
segala kerendahan hati saya mohon agar
Sultan mengizinkan saya untuk tetap
mengambil bagian meskipun sudah
terlambat...."
"Orang gunung tidak tahu diri!"
terdengar suara memaki dari samping
panggung. Ini adalah suaranya
Kuntawirya. "Sayembara telah selesai
apa kau tak punya muka dan tidak tahu
main?!"
Tirta menyeringai, "Aku tidak
bicara denganmu saudara, tapi dengan
Sultan Banten!"
Merahlah paras buruk dari
Kuntawirya alias Unang Gondola. Tirta
berpaling pada Sultan Hasanuddin
kembali dan membuka mulut: "Ketahuilah
Sultan, bila Sultan mengizinkan saya
untuk ambil bagian dalam sayembara ini
maka sekaligus saya diberikan jalan
untuk menolong Banten dari malapetaka
besar itu...."
Di samping sana Kuntawirya maju
ke muka, "Sultan," katanya seraya
mengangkat tangan kanan ke atas. "Demi
keadilan aku minta agar orang sinting
ini diperintahkan turun dari atas
panggung. Atau perlukah aku
menendangnya dari sini?!"
Sultan Banten tak bisa memberikan
jawaban dengan segera. Orang yang
mengaku bernama Tirta itu datang
terlambat dan memang tidak bisa lagi
untuk ambil bagian dalam sayembara
yang sudah selesai. Tapi Sultan
memaklumi pula bahwa manusia Tirta ini
bukan orang sembarangan, berilmu
tinggi bahkan mungkin lebih tinggi
dari Kuntawirya sendiri! Gunung Gede
letaknya tidak dekat dari Banten dan
kalau Tirta berhasil sampai ke Banten
dalam tempo dua hari sebagaimana yang
diterangkannya, dapat dibayangkan ilmu
lari macam mana yang dimilikinya. Di
samping itu tadi Tirta telah pula
memperiihatkan kehebatannya yaitu
merampas keris perak yang berada di
tangan Kuntawirya, si calon Kepala
Balatentara Banten! Apakah seorang
yang akan menjadi Kepala Balatentara
Banten bisa dipreteli begitu saja?
Lagi pula mengingat sikap Kuntawirya
yang pongah itu maka semakin
bimbanglah hati Sultan Banten ini.
"Bagaimana pendapatmu, Paman
Patih?" tanya sang Sultan tanpa
berpaling pada Patih Sumapraja.
Patih ini, yang tahu kalau Sultan
berada dalam kebimbangan segera
menjawab, "Agaknya tidak ada salahnya
bilamana Kuntawirya diuji lebih dahulu
dengan orang baju putih itu, Sultan."
Sultan melambaikan tangan
kirinya. 'Tirta, kau kuizinkan untuk
bertanding dengan Kuntawirya. Jika kau
kalah kau harus menghambakan diri
kepada Kuntawirya! Dan kau Kuntawirya,
ini suatu ujian bagimu. Buktikanlah
bahwa kau memang benar-benar bukan
seorang Kepala Balatentara Banten yang
mengecewakan. Sebaliknya jika kalah
maka kau akan menduduki jabatan
sebagai wakil Tirta, Wakil Kepala
Balatentara!"
Gusarlah Kuntawirya mendengar
keputusan ini. "Apakah tidak ada
kebenaran dan ke-adilan di Banten
ini?!" tanyanya sambil memandang
berkeliling. Kedua matanya kemudian
menatap tepat-tepat kepada Sultan.
"Sultan, tadi Sultan sendiri yang
telah memberikan keris itu kepada
saya, Sultan sendiri yang memutuskan
bahwa saya telah menjadi Kepala
Balatentara Banten! Apakah keputusan
tersebut dapat diubah sedemikian enak
dan mudahnya, seperti membalikkan
telapak tangan? Alangkah memalukannya!
Terlebih lagi mengingat itu adalah
keputusan seorang Raja, seorang
Sultan!"
Air muka Sultan tampak memerah.
Patih Sumapraja membuka mulutnya dan
berkata dengan suara keras.
"Kuntawirya, jangan bicara sembrono
terhadap Sultan Banten! Sultan Banten
berhak membuat segala macam keputusan
dan berhak pula merubah keputusan Itu
bilamana dianggapnya perlu! Bila kau
tidak punya nyali melawan orang yang
bernama Tirta itu, turunlah dari
panggung!"
Bergetar kedua tinju Kuntawirya
alias Unang Gondola ketika mendengar
kata-kata Sumapraja bahwa dia tidak
punya nyali untuk menghadapi Tirta!
"Patih Banten!" katanya dengan suara
tak kalah keras. "Buruk-buruk begini,
tapi sepuluh manusia macam orang gu-
nung ini masih sanggup aku hadapi!"
"Kalau begitu pertandingan bisa
dimulai!" kata Patih Sumapraja pula.
Dia melambaikan tangannya dan
terdengarlah suara gong meng-gema.
ENAM
TANPA menunggu lebih lama
Kuntawirya segera menyerang Tirta.
Dari angin pukulan dan tendangan yang
datang dengan sekaligus Tirta maklum
bahwa lawannya tidak enteng, tapi
kalau tadi dia sanggup merampas keris
perak maka walau bagaimanapun tingkat
kepandaian Kuntawirya masih berada di
bawahnya. Dia melompat menjauh ke tepi
panggung dan berseru: "Sultan, harap
dimaafkan kalau perbuatan saya ini
lancang. Tapi adalah lebih baik kalau
keris perak murni ini untuk sementara
diletakkan kembali di tempatnya
semula!" Bersamaan dengan itu Tirta
menggerakkan tangannya. Keris yang
tadi dipegangnya melesat ke udara dan
jatuh di atas nampan di hadapan
Sultan. Tanpa menimbulkan suara barang
sedikit pun! Semua mata memandang tak
percaya. Sultan sangat kagum dengan
kehebatan Tirta ini dan segera
berkata: "Hadapi lawanmu, Tirta."
Pada saat datang sambaran angin
dari belakangnya, Tirta cepat
menggeser tubuh ke samping. Jotosan
tangan kanan yang berbahaya dari
Kuntawirya lewat di dekat kepalanya.
Sambil menekuk lutut Tirta menyodok
bagian yang lowong di pinggang lawan.
Tapi Kuntawirya tidak bodoh. Dengan
memiringkan tubuh sedikit saja dia
berhasil mengelakkan serangan itu.
Serentak dengan gerakannya ini maka
kaki kirinya membabat ke bawah perut
Tirta sedang lututnya sekaligus
memapaki sodokan lawan! Namun sodokan
Tirta ke pinggangnya itu cuma serangan
tipuan belaka karena dengan cepat
Tirta menarik pulang tangannya dan
sebagai gantinya kini tangan
kanannyalah yang meluncur ke pangkal
leher Kuntawirya! Dalam keadaan
seperti itu tidak memungkinkan bagi
Kuntawirya alias Unang Gondola untuk
merundukkan kepala mengelak serangan
Tirta. Dia membuang diri ke belakang.
Untuk menghindari jotosan lawan
mengenai dadanya, laki-laki ini
mempergunakan tinju kanannya pula
untuk menyambut. Dua kepalan saling
beradu dengan dahsyat di udara. Maka
kelihatanlah Kuntawirya terhuyung-
huyung jauh ke belakang sedang Tirta
hanya beberapa langkah saja! Ramailah
pekik sorak orang yang banyak melihat
pertandingan yang hebat ini!
Kuntawirya terkejutnya bukan main
ketika melihat bagaimana kulit
tangannya yang tadi beradu dengan
kepalan lawan kini menjadi biru
bengkak. Untuk selanjutnya dia tidak
berani lagi mengadu kekuatan cara itu
dengan Tirta. Memaklumi bahwa tenaga
dalam Tirta tidak berada di bawahnya,
maka dengan mengandalkan kegesitan dan
kecepatan gerakannya Kuntawirya segera
melancarkan serangan bertubi-tubi. Dia
harus tidak memberikan kesempatan pada
lawannya, karena sekali lawan kena
mendesak, akan payah bagi dia untuk
menghadapi. Namun kecepatan dan
kegesitan murid Resi Mintaraya itu tak
ada artinya bagi Tirta. Bahkan
demikian juga ketika Kuntawirya
mengeluarkan ilmu simpanannya yang
sangat diandalkan, Tirta seakan-akan
tahu seluk-beluk ilmu silat yang
dimainkan lawannya itu! Beberapa kali
tubuh Tirta berkelebat seperti lenyap
dan pada permulaan jurus ke empat saja
Kuntawirya dipaksa berkenalan dengan
lutut kiri Tirta. Tubuh Kuntawirya
mental, hampir jatuh duduk di lantai
panggung dan pada saat ini pula datang
lagi serangan tendangan maut dari
Tirta. Dengan jungkir balik murid Resi
Mintaraya berusaha mengelakkan
serangan itu, namun celakanya begitu
dia berdiri di atas kedua kakinya
kembali tahu-tahu sudah datang pula
serangan yang sangat cepat dari
lawannya, tak sanggup dielakkan! Satu-
satunya jalan adalah menangkis dengan
lengan kanan. Namun serangan jotosan
tangan kanan Tirta meskipun tertuju ke
kepala sasaran sebenarnya adalah
tulang iga lawan. Dengan sendirinya
Kuntawirya tertipu!
"Krak!" Tulang iga Kuntawirya
patah. Tubuhnya mental dan roboh tak
sadarkan diri di atas panggung!
Seperti hendak runtuh langit di
atas halaman istana itu ketika
terdengar tempik sorak yang tiada
hentinya dari penonton pertandingan
menyambut kemenangan Tirta, yang
demikian hebatnya sehingga Kuntawirya
yang berilmu tinggi dapat dibereskan
dalam tempo lima jurus saja!
Tirta melambai-lambaikan
tangannya. Setelah sorak-sorai orang
banyak mereda maka dia berpaling
kepada Sultan Hasanuddin. "Sultan Yang
Mulia, sekarang tiba saatnya bagi saya
untuk menerangkan malapetaka besar
yang saya katakan tadi." Tirta
menunjuk ke tubuh Kuntawirya yang
menggeletak pingsan di atas panggung.
"Sultan Yang Mulia, mungkin Sultan dan
seluruh rakyat Banten yang hadir di
sini tidak tahu siapa manusia ini
adanya. Sultan dan semua orang di sini
cuma mengenalnya, dengan nama
Kuntawirya! Tapi itu adalah nama palsu
belaka, Sultan. Manusia ini sebenarnya
bernama Unang Gondola! Utusan rahasia
Prabu Sedah dari Pajajaran, murid...."
Sampai di situ Tirta tidak dapat
meneruskan kata-katanya karena dengan
sangat tiba-tiba, dari jurusan kiri
melesat bayangan biru. Dan bersamaan
dengan itu terdengar suara "pess". Di
atas panggung mengepul asap putih
tebal serta berbau busuk. Tubuh Tirta
dan Kuntawirya tidak kelihatan sama
sekali, tertutup oleh asap tebal itu.
Gaduhlah semua orang melihat kejadian
itu. Beberapa saat berlalu. Sedikit
demi sedikit asap tebal mulai menipis.
Kemudian samar-samar kelihatanlah
Tirta duduk bersila di lantai panggung
tidak bergerak-gerak. Kedua matanya
terpejam seperti seseorang yang tengah
bersemadi. Pemuda ini tengah
mengerahkan tenaga batinnya untuk
menolak serangan asap putih yang busuk
dan jahat yang hendak merobohkannya!
Sesudah asap aneh itu hilang sama
sekali dari atas panggung maka bahwa
tubuh Kuntawirya yang tadi menggeletak
pingsan di atas panggung kini sudah
tidak ada lagi, hilang lenyap! Semakin
gaduhlah orang banyak sedang pihak
kalangan istana termasuk Sultan
sendiri disamping keheranan juga
merasa cemas.
Apakah sesungguhnya yang terjadi?
Waktu Tirta bicara menerangkan tentang
Siapa sesungguhnya Kuntawirya maka
dari bawah panggung melesat sesosok
bayangan biru. Ini tak lain adalah
sosok tubuh dari Resi Mintaraya, guru
Unang Gondola alias Kuntawirya yang
tengah menyamar itu! Sambil melompat
ke atas panggung si resi sakti
mengeluarkan senjata rahasianya yaitu
berupa asap tebal yang busuk sehingga
ketika mata semua orang tak melihat
apa-apa, tertutup oleh asap tebal itu,
dengan cepat Resi Mintaraya membopong
tubuh muridnya dan berkelebat
meninggalkan tempat itu! Bagaimana
pula resi sakti ini sampai di kotaraja
Banten? Sewaktu muridnya dikirim
menjadi utusan rahasia Sang Prabu
Sedah, Raja Pajajaran, maka diam-diam
Mintaraya mengikuti perjalanan
muridnya. Unang Gondola adalah murid
yang paling disayangi oleh sang resi.
Dia memaklumi bahwa di Banten bukan
sedikit terdapat orang-orang sakti,
tokoh-tokoh terkenal dunia persilatan,
yang mungkin akan mencelakai muridnya
itu meskipun sang murid juga mempunyai
ilmu kepandaian tinggi. Karenanya
diam- diam Mintaraya mengikuti
perjalanan muridnya itu. Dan ketika
tadi dengan mata kepalanya sendiri
dilihatnya Unang dirobohkan lawan
serta hendak dibuka kedok rahasia
siapa dia sebenarnya maka tidak
menunggu lebih lama lagi Mintaraya
segera melompat ke atas panggung
menolong muridnya seraya melepaskan
senjata rahasia berupa asap tebal yang
busuk. Senjata rahasia ini
dilepaskannya dengan dua maksud.
Pertama untuk menutupi agar tidak
seorang pun melihat dia mengangkat
tubuh Unang Gondola sehingga bisa
berlalu tanpa banyak kesukaran dan
kedua adalah untuk membunuh Tirta.
Namun untungnya Tirta memiliki ilmu
batin yang kuat sehingga berhasil
menolak bahaya keracunan dengan duduk
bersila dan menutup kelima panca
inderanya. Adapun orang banyak yang
berada di sekitar panggung cepat-cepat
menjauhkan diri ketika membaui asap
busuk sehingga mereka juga terhindar
dari keracunan.
Perlahan-lahan Tirta membuka
kedua matanya. Dia memandang
berkeliling dan melihat betapa orang
banyak yang tadi berkerubung di
sekitar panggung kini berdiri menjauhi
panggung. Sedang di langkan istana
orang-orang kalangan istana yang tadi
duduk sampai ke dekat tepi panggung
kini juga kelihatan menjauh sampai ke
tempat duduk Sultan dan para
hulubalang! Tirta berdiri dan
melangkah ke hadapan Sultan, dia sudah
maklum kalau tubuh Unang Gondola sudah
tidak ada lagi di atas panggung.
"Sultan, harap dimaafkan kalau
saya telah berlaku lengah sehingga
manusia biang malapetaka itu berhasil
dibawa lari orang dari sini. Sepanjang
sepengetahuan saya, satu-satunya
manusia yang mempunyai ilmu asap
beracun itu adalah Resi Mintaraya dari
gunung Halimun dan tak lain adalah
seorang Resi jahat yang menjadi guru
Unang Gondola!"
Air muka Sultan Banten kelihatan
pucat. Kemudian dengan berusaha
mengulum senyum dia berkata: "Tak apa
Tirta. Walau bagaimanapun kau tetap
telah menyelamatkan Banten dari
malapetaka besar. Jika kau tidak
muncul di sini, dan manusia Kuntawirya
itu berhasil menduduki jabatan Kepala
Balatentara, maka celakalah Kerajaan
Banten! Tirta, kau majulah. Terimalah
keris perak ini...."
Di hadapan Sultan Hasanuddin
Tirta menjura lalu mengulurkan
tangannya menerima keris perak yang
berukir indah itu. Dan untuk kesekian
kalinya, suasana yang tadi sunyi
senyap diliputi ketegangan yang
menggidikkan kini pecah dirobek oleh
suara tempik sorak orang banyak.
TUJUH
HARI itu di istana diadakan
sidang penting. Turut hadir di
antaranya adalah Raden Mas Tirta, yang
sudah diangkat sejak setahun yang lalu
menjadi Kepala Balatentara Banten dan
kepadanya diberikan gelaran Raden Mas.
Sidang kali ini khusus membicarakan
mengenai penyelundup-penyelundup dan
mata-mata Pajajaran yang semakin
menjadi-jadi menyusup ke Banten.
Berbagai kerugian telah ditimbulkan
oleh penyusup-penyusup itu. Gudang
padi di beberapa tempat dibakar,
tangul- tanggul air dibobol dan lain
sebagainya,sebegitu jauh baru satu
orang pelaku yang dapat ditangkap dan
dihukum,Selain itu masih ada belasan
orang lagi berkeliaran.
Seorang pemuda berpakaian
sederhana kelihatan mundar-mandir di
halaman luas hadapan istana. Dia
bergerak di antara orang banyak yang
lalu-lalang sehingga tidak menjadi
kecurigaan para pengawal. Namun
sesungguhnya pemuda ini seorang mata-
mata Pajajaran juga adanya. Dia
langsung dikirim, atas kehendak Prabu
Sedah, Raja Pajajaran. Namanya Ismaya.
Meskipun masih muda tapi tangkas dan
tinggi ilmunya, cuma satu tingkat
kalahnya di bawah Unang Gondola. Mata-
mata Pajajaran yang seorang ini
mendapat tugas istimewa dari Prabu
Sedah yaitu mencari berita-berita
penting dari kalangan orang-orang
istana Banten yang bisa "dibeli" dan
menimbulkan kekacauan huru-hara di
Kotaraja untuk melemahkan Banten dari
dalam!
Demikianlah, hari itu ketika
diketahuinya bahwa di istana sedang
diadakan sidang penting maka Ismaya
segera menuju ke sana. Tapi sidang
kali ini dijaga keras oleh para
pengawal sehingga ismaya tidak dapat
menyusup mencari berita. Bukan main
kesalnya pemuda ini. Dia mundar mandir
dan kedua kakinya mulai terasa pegal.
Apa yang harus dikerjakannya? Sidang
sudah berjalan sejak pagi dan tentu
tak beberapa lama lagi akan segera
selesai sedang dia masih juga belum
berhasil mendapatkan keterangan barang
sedikitpun! Dalam kebingungannya,
pemuda mata-mata itu akhirnya
pandangannya membentur seekor kerbau
jantan besar, bertanduk runcing
melengkung, berkulit bersih mengkilap.
Di leher binatang ini tergantung
telong-telong yang terbuat dari perak
sedang di atas punggungnya terkembang
sehelai permadani berkembang-kembang
indah. Pada ujung ekornya diberi
rumbai-rumbai kuning. Kerbau jantan
ini tak lain adalah binatang
kesayangan peliharaan Pangeran, putra
Sultan Banten. Kepada sang Pangeran,
binatang ini penurut dan mengerti
sekali. Namun bukan itu saja yang
membuat Pangeran sayang kepadanya. Ada
pula sebab yang lain yaitu bahwa
binatang ini dulu pada suatu ketika
pernah menyelamatkan Pangeran dari
bahaya maut diterkam harimau di tepi
hutan.
Melihat binatang ini, maka
timbullah pikiran jahat di otak Ismaya
yaitu sesuai dengan tugasnya
mengacaukan dan menimbulkan huru-hara
di Banten. Dengan tersenyum buruk pe-
muda ini melangkah ke balik sebuah
pohon. Diambilnya sebutir batu kecil.
Dari dalam sabuknya dikeluarkannya
sejenis bubuk lalu batu kecil tadi
digosoknya dengan bubuk tersebut.
Bubuk ini adalah sejenis obat
perangsang yang membuat manusia atau
binatang bisa menjadi mengamuk seperti
orang gila atau kemasukan setan!
Kerbau besar itu melangkah perlahan-
lahan dengan tegapnya sambil memamah
rumput hijau yang ada dalam mulutnya.
Ismaya memandang dulu berkeliling.
Melihat tak ada satu orang pun di
dekat-dekat sana yang memperhatikannya
maka dengan segera dilemparkannya
butiran batu kecil tadi ke arah hidung
kerbau Pangeran.
Seperti suara geledek yang tiba-
tiba, demikianlah keras serta
panjangnya kuak kerbau tersebut.
Hidungnya mendengus-dengus. Ini
menambah mudah bubuk rangsangan
bekerja.
Kerbau itu menguak lagi sekeras-
kerasnya lalu mengangkat kedua kaki
mukanya ke atas sedang ekornya
berputar-putar gesit laksana sebuah
cambuk! Kedua mata binatang itu yang
tadi putih bening kini kelihatan
menjadi merah laksana saga. Dan ketika
di hadapannya muncul sebuah kereta
istana yang membawa barang-barang
perbekalan dapur, ditarik oleh dua
ekor kuda hitam, tak ayal lagi kerbau
yang sudah menjadi gila dan jalang itu
berlari menyongsong! Sambil
mengeluarkan suara menguak yang
dahsyat ditanduknya kedua ekor kuda
kereta tersebut. Kuda kereta meringkik
tinggi lain roboh bermandikan darah.
Keretanya sendiri terbalik dan barang-
barang perbekalan yang dibawa
berhamburan.
Kusir kereta melompat dari kereta
yang terbalik itu, tapi karena gugup
telah melompat ke hadapan kerbau yang
tengah menggila sehingga dengan
sendirinya diapun menjadi korban
ditanduk pada perutnya sehingga
ususnya berbusaian! Melihat kejadian
itu maka orang yang lalu-lalang di
muka istana segera lari menjauh sambil
berteriak-teriak: "Kerbau mengamuk!"
"Awas kerbau mengamuk!"
"Kerbau Pangeran mengamuk! Lari!
Awas ditanduk!"
Beberapa orang prajurit
bersenjatakan tom-bak yang mengawal di
dekat situ segera turun tangan. Namun
mereka pun disapu semuanya hingga
roboh mandi darah oleh kerbau yang
mengamuk itu dan diinjak-injak
kepalanya! Penjinak kuda dan orang
yang biasa mengurus kerbau Pangeran
Jusuf ini dipanggil dimintakan bantuan
mereka. Orang-orang inipun tidak ber-
daya bahkan menerima nasib sama,
menemui ajal ditanduk! Dalam waktu
kurang dari sepuluh menit saja sudah
delapan korban berkaparan di halaman
luas itu. Jerit orang ramai semakin
menjadi-jadi disertai ringkik kuda dan
diatasi oleh suara menguak kerbau yang
mengamuk itu sendiri! Kotaraja menjadi
puncak heboh! Meskipun semua orang
takut dan ngeri mendengar kejadian itu
tapi banyak di antara mereka yang
datang berlari-lari ke sana untuk
menyaksikan kejadian itu dengan mata
kepala sendiri dari kejauhan, dari
balik-balik pohon atau dari balik-
balik bangunan.
Beberapa orang prajurit datang
lagi. Ada yang mencoba mendekati
binatang ini dari belakang, tapi roboh
konyol kena tendangan kaki. Dua orang
yang datang dari muka dengan serentak
menangkap tanduk sang kerbau. Binatang
ini menguak dan sekali saja dia
menggerakkan kepalanya maka
berpentalanlah kedua prajurit itu.
Yang satu segera meregang nyawa karena
tersambar tanduk di dadanya sedang
yang satu lagi masih sempat
menyelamatkan diri. Tapi nasibnya
tidak lebih baik dari kawannya tadi.
Kerbau gila itu mengejarnya dengan
cepat lalu menanduknya dari belakang!
Dalam keadaan yang kacau balau
itu beberapa orang prajurit dengan
takut-takut berani melemparkan tombak
mereka dari jauh. Tiga batang tombak
meleset. Dua batang menancap di
tengkuk dan di pinggul. Kerbau itu
menguak memperlihatkan gigi-giginya
yang besar-besar lalu lari ke arah
prajurit-prajurit yang menombaknya
itu, untung saja prajurit-prajurit ini
sudah lebih dahulu angkat langkah
seribu. Darah keluar dari luka kena
tombak di tubuh kerbau. Binatang ini
menggeser-geserkan badannya ke tembok
istana sehingga salah satu dari tombak
yang menancap di tubuhnya patah. Bagi
seekor binatang yang sedang mengamuk
menggila maka terluka akan menambah
gila amuknya. Demikian juga dengan
kerbau kesayangan Pangeran ini.
Beberapa orang korban lagi jatuh di
kalangan rakyat.
Dari gardu istana mendadak
kelihatan berlari seorang kepala
prajurit berpangkat rendah. Di
tangannya tergenggam sebuah keris dan
prajurit yang masih muda ini segera
menerjang binatang itu. Tumit kaki
kanannya menghantam tengkuk kerbau
dari samping. Kerbau yang terhuyung-
huyung seketika lalu membalik dengan
cepat dan menanduk. Gesit sekali
gerakan kepala prajurit itu sehingga
dia berhasil mengelakkan serangan maut
tersebut dan bahkan menghunjamkan
kerisnya ke kening kerbau. Binatang
itu menguak. Kedua kakinya naik ke
atas, ekornya menyabat buas dan dia
membalikkan tubuhnya dengan dahsyat.
Gerakan yang tiba-tiba ini hampir saja
mencelakai prajurit muda tersebut. Dia
menjatuhkan diri dan bergulingan di
tanah. Kerbau yang mengamuk memburu
dan menanduk tapi pemuda itu berguling
lagi sehingga yang ditanduk hanyalah
tanah halaman istana! Tanah itu
berlobang besar!
Melihat apa kini yang terjadi di
muka istana yaitu perkelahian maut
antara seorang kepala prajurit muda
dengan kerbau yang mengamuk gila, maka
semakin banyaklah orang datang
berkerumun ke sana. Prajurit-prajurit
yang tadinya hendak menghujani
binatang itu dengan tombak jadi
terkesiap dan tanpa menyadari mereka
ikut pula menonton dari kejauhan!
Manusia lawan binatang, ini memang
satu tontonan yang luar biasa! Lupa
orang banyak itu kini betapa ngerinya
korban-korban yang berkaparan di se-
kitar halaman luas itu!
Seorang pengawal yang tahu akan
tugasnya segera lari ke dalam istana
dan memberi laporan pada Sultan.
Pangeran Yusuf terkejut sekali
mendengar bahwa kerbau peliharaan yang
sangat disayanginya itu tengah
mengganas mengamuk dan telah membunuh
beberapa orang prajurit serta rakyat.
Sidang dihentikan Pangeran orang yang
nomer satu keluar dari istana dan
tanpa menyadari bahaya dia lari ke
halaman.
"Aduh kerbauku! Kenapa kau jadi
begini? Kerbauku sayang...!" seru
Pangeran seraya berlari ke arah
binatang yang kini mandi darah karena
tusukan-tusukan keris di tangan kepala
prajurit tadi. Kalau dulu dipanggil
seperti itu sang kerbau yang mengerti
dan penurut pasti akan datang dan
menjilat-jilat tangan Pangeran. Tapi
dalam keadaan mengamuk mana dia
perduli sama sang Pangeran?! Kerbau
itu menyerudukkan tanduknya ke perut
sang Pangeran! Orang banyak menjerit!
Pasti berbusaian usus Pangeran itu.
Namun dengan sangat gesit sekali,
kepala prajurit tadi mendahului
gerakan sang kerbau. Dengan tangan
kirinya ditariknya lengan Pangeran.
"Maaf Pangeran! Sebaiknya
menghindarlah! Kerbau ini mengamuk
gila, tak bisa dibikin jinak sekalipun
oleh Pangeran sendiri!"
Pangeran terguling di tanah.
Pakaiannya kotor oleh debu dan darah.
Kepala prajurit tadi begitu
menyelamatkan Pangeran segera me
ngirimkan tendangan ke tengkuk kerbau.
Binatang ini terhuyung-huyung dan
melenguh lalu menyabatkan ekornya ke
muka kepala prajurit itu tapi meleset.
Tanpa disadari orang banyak yang
tadinya ngeri melihat amukan kerbau
itu kini karena saking asyiknya
melihat perkelahian antara manusia dan
binatang itu jadi bersorak-sorak!
Sorak-sorai yang gegap gempita ini
menelan suara teriakan Pangeran dari
ujung sana yang tiada henti-hentinya
berteriak: "Jangan bunuh kerbauku!
Jangan bunuh kerbauku!"
Beberapa tusukan keris ampuh pada
kepala agaknya masih belum melemahkan
binatang yang mengamuk itu malahan dia
menggila lebih dahsyat. Sambil
mengelak gesit kian kemari kepala
prajurit tiada henti-hentinya
menusukkan kerisnya. Namun
kegesitannya itu merupakan satu kesia-
siaan belaka ketika kaki kirinya
tergelincir oleh licinnya darah yang
bertebaran di tanah. Tak ampun lagi
tubuhnya terpelanting ke belakang dan
bersamaan dengan itu si kerbau
menyerudukkan tanduk menyerangnya.
Orang banyak yang menonton dari
kejauhan tidak mengetahui betapa
sesungguhnya kepala prajurit itu
tengah diancam bahaya maut. Mereka
mengira bahwa dia cuma melakukan satu
gerakan menjatuhkan diri untuk
menghindari serangan binatang gila
itu. Namun di antara sekian banyaknya
pasang mata yang menyaksikan masih ada
seorang manusia yang memaklumi bahwa
sesungguhnya kepala prajurit itu sudah
dikejar maut di depan mata! Tanpa
menimbulkan perhatian orang-orang di
dekatnya, laki-laki yang juga masih
muda ini menggerakkan tangannya. Tak
terlihat karena kecil dan cepatnya
maka melayanglah sebutir batu yang
menghantam dengan tepat ke mata kiri
kerbau itu. Binatang ini menguak
tinggi. Matanya pecah dan kepalanya
terdorong ke samping sehingga
tanduknya hanya menghantam tanah!
Kepala prajurit itu melompat dengan
cepat. Orang bersorak gemuruh. Tak
satu pun di antara mereka yang melihat
lemparan batu itu tapi tidak demikian
halnya dengan si kepala prajurit yang
telah tertolong jiwanya. Kepala
prajurit ini sambil melompat tadi
masih sempat melihat gerakan tangan
penolongnya!
Kini prajurit itu tidak main-main
lagi. Tubuhnya berkelebat dan kerisnya
menusuk kepala kerbau berulang kali.
Lambat laun binatang itu menjadi lemas
juga. Tubuhnya limbung terhuyung-
huyung sedang suara menguaknya tidak
sedahsyat tadi lagi. Akhirnya robohlah
binatang itu ke tanah tanpa nyawa!
Menggemuruh sorak-sorai orang banyak.
Seorang pengawal datang berlari
menyongsong kepala prajurit yang
tangkas dan berjasa besar itu.
"Saudara," kata prajurit ini. "Kau
dipanggil menghadap oleh Sultan."
Sebelum melangkah kepala prajurit
itu mendekati penolongnya tadi
terlebih dahulu dan berkata berbisik:
"Sahabat, kau jangan kemana-mana.
Tunggu aku di sini."
Pemuda berpakaian putih-putih
serba sederhana itu tersenyum dan
menganggukkan kepala. Kepala prajurit
tadi datang menghadap Sultan yang
menyambutnya dengan gembira: "Aku
bangga mempunyai seorang prajurit
sepertimu ini. Siapakah namamu?"
"Nama saya Ekawira, Sultan,"
jawab kepala prajurit itu pula.
"Hemm, dengar Ekawira. Mulai hari
ini kuberi gelar Raden Mas kepadamu!
Karena jasamu yang tiada ternilai,
karena kau telah menyelamatkan
puteraku dari amukan kerbau itu dan
sekaligus juga telah menyelamatkan
korban-korban yang pasti akan jatuh,
maka mulai hari ini pula kuangkat kau
menjadi Kepala Pengawal Istana! Harap
jabatan itu kau terima dengan hati
puas dan jalankan tugasmu dengan
baik!"
Ekawira menjura: 'Terima kasih,
Sultan. Akan saya jalankan tugas
dengan sebaik-baiknya," katanya dengan
hati sangat gembira karena tiada
menduga akan diberikan pangkat
kedudukan sedemikian tingginya.
Sultan Banten melambaikan
tangannya kepada seorang pegawai
rumahtangga istana dan berkata pada
orang ini: "Berikan kepadanya pakaian
angkatan sebagai Kepala Pengawal Is-
tana." Kemudian Sultan berpaling pada
Ekawira, "Raden Mas Ekawira, tukarlah
pakaianmu. Jika sudah selesai segera
kembali ke sini untuk mengikuti sidang
yang tadi belum selesai."
Ekawira menjura. Parasnya
kelihatan kemerahan karena itulah
untuk pertama kalinya dalam hidupnya
dia dipanggil orang dengan gelar
"Raden Mas" dan oleh Sultan pula!
Semua orang juga merasa gembira
melihat pengangkatan Kepala Pengawal
Istana itu. Memang kalau melihat
kepandaian dan jasa yang telah
diperbuat laki-laki muda itu sudah
sepantasnya dia diberikan jabatan
tersebut. Namun agaknya akan salah
kalau kita katakan "semua" orang
merasa gembira karena rupanya ada
salah satu di antara mereka yang
merasa tidak senang dengan
pengangkatan itu. Orang ini tak lain
adalah Raden Mas Tirta, Kepala
Balatentara Banten! Me-ngapa pula dia
ini tidak senang? Ini tak lain ialah
karena sejak diangkat menjadi Kepala
Balatentara maka sifat-sifat baik dari
Tirta lama kelamaan hilang satu demi
satu, berganti dengan sifat dengki iri
hati, gila hormat dan gila kemewahan,
sehingga setiap ada seseorang baru
yang diberi pangkat tinggi, meskipun
masih berada di bawahnya namun karena
rasa dengkinya, dia jadi tak ubahnya
seperti cacing kepanasan!
Seiesai sidang, Raden Mas Ekawira
meminta diri karena ada urusan yang
harus diselesaikannya. Cepat-cepat dia
keluar dari istana. Hatinya cemas
kalau pemuda yang telah menolongnya
tadi sudah pergi karena kelewat lama
menunggu. Tapi nyatanya pemuda itu ma-
sih ada di ujung halaman istana,
menanti di bawah sebatang pohon
beringin yang sangat rindang dan
teduh. Dengan tersenyum Raden Mas
Ekawira menghampiri pemuda itu.
"Sahabat, aku berhutang nyawa
kepadamu. Namamu siapa dan kau datang
.dari mana?" Sambil bertanya itu Raden
Mas Ekawira meletakkan tangan kanannya
di pundak kiri si pemuda. Pemuda ini
merasakan betapa tangan yang
diletakkan di atas pundaknya laksana
beban yang beratnya ratusan kati. Dia
maklum bahwa laki-laki itu tengah
menguji kekuatannya. Diam-diam si
pemuda mengerahkan tenaga dalamnya
dari pusar terus ke pundak kiri. Dan
Ekawira jadi terkejut ketika merasakan
betapa pundak itu tidak tergetar sama
sekali bahkan dia tak ubahnya seperti
memegang satu kepingan batu karang
yang keras membaja!
Pemuda itu tersenyum: "Aku cuma
seorang dusun saja Raden, yang
kebetulan datang melihat-lihat ke
Kotaraja ini dan turut menyaksikan
kegaduhan karena kerbau mengamuk tadi
itu...."
Ekawira menarik tangannya dengan
cepat ketika bagaimana pundak yang
masih dipegangnya itu mendadak
mengeluarkan hawa dingin sekali yang
membuat tulang-tulang tangannya sampai
terasa ngilu! "Sahabat! Rupanya kau
bukan orang sembarangan. Katakan
namamu!"
"Namaku Mahesa Kelud, Raden Mas,"
jawab si pemuda.
"Gurumu siapa?"
"Ah, saya cuma berguru pada
seorang jago silat kampungan, Raden
Mas. Apalah artinya," sahut Mahesa.
"Hem, tak usah merendah, Mahesa.
Kalau kau cuma belajar pada guru silat
kampungan mengapa kau membawa-bawa
pedang segala?" ujar Raden Mas Ekawira
seraya melirik ke punggung si pemuda
di belakang mana tersembul gagang
sebuah pedang berwarna merah dan
berumbai-rumbai. "Baiklah kalau kau
tak mau menerangkan siapa gurumu,"
kata Ekawira tak hendak mendesak.
'Tapi katakanlah, apakah kedatanganmu
ke Banten ini disertai maksud yang
baik?"
"Justru aku datang ke sini adalah
untuk menghambakan diri, Raden Mas.
Kudengar terlalu banyak penyusup-
penyusup Pajajaran yang menimbulkan
huru-hara di Kotaraja ini."
"Bagus sekali, Mahesa!" kata
Raden Mas Ekawira dengan gembira.
"Memang orang-orang macam kau inilah
yang sangat dibutuhkan oleh Banten.
Dengar Mahesa, aku baru saja diangkat
menjadi Kepala Pengawal Istana oleh
Sultan! Secara jujur dan terus terang
kukatakan pangkat tinggi itu kudapat
adalah berkat bantuanmu. Di samping
itu aku maklum pula bahwa kau berilmu
tinggi yang mungkin lebih tinggi
dariku. Kalau kau suka, aku tidak
ragu-ragu untuk mengambilmu jadi
pembantuku, Mahesa Kelud!"
"Terima kasih, Raden Mas. Kalau
tawaran itu memang diajukan dengan
hati jujur dan kepercayaan, saya
bersedia menerimanya dan sekali lagi
saya menghaturkan terima kasih," jawab
Mahesa Kelud.
Saat itu lewatlah seorang
berpakaian bagus. Raden Mas Ekawira
berpaling. Yang datang ternyata adalah
Raden Mas Tirta, Kepala Balatentara
Banten. "Eh, Dimas Ekawira. Kukira
siapa. Hem, Dimas aku turut
mengucapkan selamat atas
pengangkatanmu menjadi Kepala Pengawal
istana. Tak kusangka di antara kepala
prajuritku ada seseorang yang
berkepandaian demikian tingginya.
Agaknya kau memiliki keris pusaka yang
ampuh, Dimas?"
Raden Mas Ekawira cepat-cepat
menjura karena dia maklum dengan siapa
dia berha-dapan. "Terima kasih atas
ucapan selamat itu Raden Mas Tirta."
Raden Mas Tirta melirik pada
Mahesa Kelud. "Eh, siapakah pemuda ini
Dimas, mengapa kau bercakap-cakap
dengan pemuda dusun macam beginian?"
"Oh, saya lupa menerangkan. Dia
adalah pembantu saya yang barusan saya
angkat, Raden Mas."
"Hemmm... pembantumu?" desis
Raden Mas Tirta seraya meneliti Mahesa
Kelud dengan pandangan mengejek. Yang
dipandang cuma senyum-senyum saja
namun kedua matanya memandang dengan
menyorot tajam pada Kepala Balatentara
Banten itu. Ketika Raden Mas Tirta
menatap ke mata pemuda ini, dia
membuang muka dengan sikap mencemooh
padahal hatinya tergetar dan sesuatu
hal yang tidak dapat dimengerti
membuat dia tak sanggup balas menatap
tantangan mata Mahesa itu!
Raden Mas Tirta berpaling pada
Ekawira, "Baiklah Dimas, dalam
kedudukanmu yang baru ini kau akan
banyak berhubungan denganku. Mudah-
mudahan kita bisa bekerja sama dalam
pengabdian kita kepada kerajaan."
"Mudah-mudahan, Raden Mas."
"Nah, aku pergi sekarang."
"Baik Raden Mas."
Sesudah Kepala Balatentara Banten
itu berlalu maka Ekawira menepuk bahu
Mahesa Kelud. "Dimas, marilah. Sultan
telah memberikan tempat kediaman baru
untukku. Kebetulan aku memang belum
beristeri sehingga kita bisa tinggal
sama-sama di sana."
"Terima kasih. Kau baik hati
sekali Raden Mas."
DELAPAN
SESUNGGUHNYA keadaan bisa membuat
sifat manusia yang baik menjadi buruk
dan yang tadinya buruk menjadi baik.
Misalnya seseorang yang tadinya
miskin. Dalam kemiskinan dan penuh
duka derita kehidupannya dia lebih
dekat kepada Tuhan. Taat beribadat,
suka menolong sesama manusia, tinggi
budi rendah hati. Tapi ketika dia
menjadi seorang kaya raya, berharta
banyak dan ber-pangkat tinggi, lupalah
dia bahwa dulunya dia seorang miskin
sengsara. Kehidupan yang mewah menutup
matanya terhadap segala kebaikan.
Kalau waktu miskin dulu dia tidak
kenal dengan segala macam minuman
keras, maka kini dia sangat gemar
dengan minuman macam begituan, kalau
selagi hidup sengsara dulu dia tidak
kenal perjudian, maka kini dia setelah
kaya raya dan berpangkat, judi macam
mana yang tidak diketahuinya? Kalau
dulu isterinya cuma satu dan dia tidak
kenal paras yang cantik jelita atau
tubuh yang indah menggiurkan, maka
kini gundik-selir peliharaannya
bertebaran di mana-mana, hampir tidak
terhitung jumlahnya. Terhadap orang
miskin tidak memandang sebelah mata,
lupa dia bahwa dulu dia juga manusia
macam begituan. Tak ada lagi sifat
hati welas asih dan penolong! Meski
harta sudah banyak, pangkat sudah
tinggi tapi dia selalu digerayangi
setan dengki dan nafsu tamak bila
melihat seorang lain hidup senang dan
menduduki pangkat yang tinggi pula!
Perumpamaan di atas itu rupanya benar
terjadi atas diri Tirta, yang sudah
hampir setahun lamanya mendapat gelar
Raden Mas dan mendapat pangkat tinggi
sebagai Kepala Bala tentara Banten.
Sikap dan sifatnya jauh berbeda dari
dahulu, laksana siang dengan malam
laksana putih di atas hitam!
Sesudah pertemuan dengan Raden
Mas Ekawira serta Mahesa Kelud tadi,
dia langsung menuju ke tempat
kediamannya. Kedatangan-nya disambut
oleh isterinya yang pertama yaitu
Ratnawati. Kalau kita katakan isteri
pertama, maka berarti ada pula yang
kedua dan ketiganya! Memang
demikianlah adanya! Ternyata pangkat
yang tinggi dan harta yang melimpah
telah pula membuat Tirta menjadi
seorang laki-laki mata keranjang doyan
perempuan! Isteri sahnya ada tiga,
tapi selir atau gundiknya ada lima.
Kedelapan perempuan yang rata-rata
masih muda belia belasan tahun itu
tinggal serumah, diberi kamar dan
perlengkapannya masing-masing! Jumlah
delapan itu baru yang kita ketahui
dengan jelas saja, jadi belum
terhitung perempuan-perempuan yang
menjadi peliharaannya yang kabarnya
tersebar di setiap kampung yang ada di
Banten!
Melihat tampangnya yang asam,
seperti cuka, melihat kerut muka yang
seperti parutan tahulah para isteri
dan gundik-gundiknya bahwa ada sesuatu
kejadian yang tidak menyenangkan hati
Raden Mas Tirta. Kalau sudah begitu di
antara perempuan-perempuan itu tidak
ada yang berani mendekat kecuali sang
isteri pertama Ratnawati! Perempuan
ini pada takut karena kalau sedang
marah-marah sikap Raden Mas Tirta
kasarnya bukan main. Dari mulutnya
menyemprot kata-kata kasar dan kotor
bahkan tak jarang pula dia melekatkan
kaki tangannya!
"Kangmas, agaknya ada sesuatu
yang terjadi?" tanya Ratnawati.
"Ah, kalian orang-orang perempuan
jangan ikut campur urusanku! Pergi
sana, tak usah menggangguku!" kata
Raden Mas Tirta kasar dan keras.
Ratnawati tersenyum simpul. Dia
sudah biasa dengan semprotan macam
begituan. "Aih, kangmas Tirta. Kau ini
bicara seperti aku dan yang lain-
lainnya itu bukan isteri-isteri
kangmas saja. Katakanlah ada apa,
kangmas?" tanya Ratnawati dengan manja
dan lemah lembut seraya mencium pipi
suaminya. Kalau sudah begini agak
dingin hati Raden Mas Tirta sedikit.
Namun suaranya tetap keras ketika
berkata: "Sialan Sultan Hasanuddin
itu!"
"Sialan bagaimana, kangmas?"
tanya Ratna-wati.
"Coba kau pikir, masakan seorang
kepala prajurit rendahan karena
membunuh seekor kerbau gila mengamuk
saja diangkat menjadi Kepala Pengawal
Istana! Sialan tidak?!"
"Siapakah kepala prajurit yang
kejatuhan bintang terang itu,
kangmas?" tanya Ratnawati pula.
"Si keparat Ekawira! Malahan dia
dapat gelar Raden Mas pula! Kunyuk
benar!"
"Hemmm..." gumam Ratnawati sambil
menggeleng-gelengkan kepala. "Memang
tidak pantas kalau prajurit rendah
macam dia diangkat untuk jabatan yang
demikian tingginya. Tapi yah, apa mau
dikata? Sultan berhak menjalankan apa
maunya. Lagi pula kangmas, menurut
isterimu yang bodoh ini kurasa itu
tidak akan memberi pengaruh yang buruk
bagimu. Sebagai Kepala Balatentara
Banten bukankah dia berada di
bawahmu?"
"Benar, tapi aku tetap tidak
senang dia menduduki jabatan itu! Biar
aku jadi Kepala Balatentara namun
dalam segala urusan mengenai istana,
aku harus berhubungan dengan dia,
harus berunding, tak dapat lagi
mengambil keputusan sendiri!"
"Itu memang betul, kangmas. Tapi
kita lihat sajalah. Manusia macam
Ekawira itu mana becus memegang
jabatan sedemikian tingginya. Dalam
waktu satu minggu saja dia pasti akan
digeser atau diperhentikan!" membujuk
Ratnawati.
Hati Raden Mas Tirta agak
terhibur sedikit mendengar kata-kata
isterinya itu. "Dan kau tahu, Ratna,"
kata laki-laki itu pula, "Mentang-
mentang sudah berpangkat tinggi kini,
si Ekawira itu mengangkat seorang
pembantu! Seorang pemuda dusun yang
tolol! Dasar, begitulah kalau orang
goblok berpangkat tinggi, pembantunya
pun dari kalangan tolol! Mereka
seharusnya jadi penggembala-
penggembala kerbau atau tukang
bersihkan kandang kuda istana!"
Ratnawati tertawa cekikikan
mendengar ucapan suaminya itu, tapi
tertawa yang cuma dibuat-buat. Saat
itu muncul seorang pengawal.
"Keparat!" maki Raden Mas Tirta.
"Ada apa kau tidak dipanggil datang
menghadap?"
"Maaf Raden Mas. Tapi di luar ada
seorang tamu yang hendak bertemu
dengan Raden Mas. Dia mengaku bernama
Jaka Luwak."
Kalau saja pengawal itu tidak
menyebutkan nama Jaka Luwak cepat-
cepat tentu pipinya sudah kena
tamparan Raden Mas Tirta. Siapakah
gerangan manusia bernama Jaka Luwak
yang begitu memberi pengaruh kepada
sang Kepala Balatentara Banten ini?
Jaka Luwak adalah saudara atau
tepatnya kakak seperguruan dari Tirta.
"Hem... Jaka Luwak katamu? Kalau
begitu suruh dia masuk, langsung
antarkan kepadaku! Cepat!"
"Kangmas, siapakah orang yang
bernama Jaka Luwak itu?" tanya
Ratnawati.
Raden Mas Tirta tertawa bergelak.
"Dia adalah kakak seperguruanku,
Ratna. Ilmunya lebih tinggi dan lebih
lihay dariku! Kalau dia mau kusuruh
menetap di sini, dia bisa diharapkan
menjadi pembantu dan tulang
punggungku!"
Tak lama kemudian dengan diantar
oleh pengawal tadi maka masuklah
seorang pemuda berkulit kuning
berbadan tegap dan bertam-pang keren.
Dia memelihara kumis kecil yang
menambah kegagahan parasnya.
"Kakang Jaka Luwak, silahkan
duduk. Tak sangka kau akan datang
menemuiku. Bagai-mana kabar guru?"
tanya Raden Mas Tirta.
Pemuda bernama Jaka Luwak itu
berdiri dengan bertolak pinggang. Dia
melirik pada Ratnawati, dua isteri
lainnya dan gundik-gundik adik
seperguruannya lalu menggeleng-geleng-
kan kepalanya. "Bukan main dimas, kau
sudah hebat sekali rupanya, sehingga
tidak mau melihat kami saudara-
saudaramu di gunung Gede. Kalau aku
bertemu denganmu di tengah jalan dalam
pakaian kebesaran ini, pasti aku tak
akan mengenalimu! Tentang guru, beliau
ada baik. Beliaulah yang menyuruh aku
datang ke sini untuk rnendampingimu."
"Bagus dan syukur kakang Jaka
Luwak. Memang seorang yang berilmu
tinggi sepertimu sangat dibutuhkan di
Banten ini!"
Jaka Luwak mengambil tempat duduk
di hadapan adik seperguruannya. Raden
Mas Tirta berpaling pada Ratnawati dan
berkata: "Ratna, kau dan yang lain-
lainnya segera siapkan makan siang!
Aku akan makan sama-sama kakak
seperguruanku ini!" Beberapa orang
gundik Raden Mas Tirta melirik genit
pada pemuda yang baru datang dan
bertampang gagah itu. Sedang Jaka
Luwak sendiri tengah memperhati-kan
Ratnawati karena memang perempuan
inilah yang paling cantik daripada
yang lain-lainnya.
Jaka Luwak berpaling kepada adik
seperguruannya lalu berkata: "Dimas,
waktu aku ke sini aku membawa seorang
tawanan."
"Seorang tawanan?" tanya Raden
Mas Tirta seraya mengerutkan
keningnya.
Jaka Luwak mengangguk. "Aku
berada di pinggir kotaraja tengah
berlari menuju ke sini. Tiba-tiba
kulihat seorang pemuda berlari cepat.
Sikap dan tampangnya mencurigakan.
Kukejar dia dan kutegur. Eh, tak hujan
tak angin tahu-tahu dia menyerangku.
Aku segera turun tangan dan
merobohkannya dalam dua jurus. Kutotok
urat kakinya agar tidak lari lalu
kupaksa dia untuk memberi keterangan.
Ternyata dia seorang mata-mata
Pajajaran dan mengaku bernama Ismaya.
Dia juga mengakui bahwa dialah yang
telah melempar kerbau Pangeran dengan
sebutir batu yang dibubuhi obat
perangsang sehingga binatang itu
menjadi gila dan mengamuk! Bangsat
Pajajaran itu ada di luar sekarang."
"Sebaiknya bawa dia ke sini,
kakang," kata Raden Mas Tirta. Dia
menyembunyikan rasa terkejutnya ketika
mendengar keterangan Jaka Luwak tadi
bahwa kakak seperguruannya ini telah
menawan seorang mata-mata Pajajaran.
Jaka Luwak berdiri dan keluar. Tak
lama kemudian dia masuk lagi dengan
menyeret sesosok tubuh pemuda yang
mukanya babak belur bekas pukulan.
Pemuda ini dihempaskan ke lantai.
"Kakang, tolong kau lepaskan
totokannya," kata Raden Mas Tirta.
Jaka Luwak memandang dengan tak
mengerti pada Kepala Balatentara
Banten itu namun tanpa banyak tanya
dia segera melepaskan totokan tawanan
itu.
"Namamu Ismaya?" tanya Raden Mas
Tirta.
Tawanan itu mengangguk dan duduk
men-jelepok di lantai.
"Kau mata-mata Pajajaran?!"
"Betul!" jawab Ismaya tanpa ragu-ragu
ataupun takut.
"Kau tahu apa artinya kalau
dirimu ditawan seperti saat ini?!"
tanya Raden Mas Tirta.
"Mengapa tidak? Tapi aku tidak
takut! Kalau orang-orang Banten hendak
membunuhku, hendak menggaritung atau
mencincang ataupun hendak membakarku
hidup-hidup aku tidak takut! Aku akan
mati tapi puluhan mata-mata Pajajaran
masih banyak bertebaran di sini dan
ratusan lagi akan terus menyusup
sampai akhirnya Banten sama rata
dengan tanah! Aku tidak takut mati
karena Sang Prabu telah memberikan
hadiah yang tiada ternilai bagiku dan
jaminan kehidupan untuk tujuh
turunanku! Salah satu di antara hadiah
yang aku terima dari Sang Prabu adalah
keris...." Dari balik pinggangnya
Ismaya mengeluarkan sebuah keris yang
keseluruhan-nya terbuat dari emas
murni, gagangnya berbentuk kepala
burung garuda yang pada kedua matanya
dihiasi dengan butiran berlian sebesar
jagung!
Jaka Luwak dan Raden Mas Tirta
kagum bukan main melihat keris yang
indah itu. Saat itu terdengar pula
suara Ismaya kembali: "Saudara-
saudara, kalian berdua tentunya orang-
orang berkepandaian tingi. Orang-orang
semacam kalian sangat dibutuhkan oleh
Sang Prabu. Kalau...."
"Tutup mulutmu keparat!" bentak
Jaka Luwak. Tapi kembali pemuda ini
jadi terheran-heran ketika dilihatnya
adik seperguruannya melambaikan tangan
dan berkata: "Biarkan saja dia bicara
terus kakang."
"Orang-orang semacam kalian,"
meneruskan Ismaya. "sangat dibutuhkan
oleh Sang Prabu. Kalau kalian mau
berpihak kepada Pajajaran dan membantu
Pajajaran dalam menghancur-kan Banten,
pasti kalian akan dihadiahi harta
benda dan kekayaan serta jaminan hidup
yang jauh lebih besar serta mewah
dariku. Ini bukan omong kosong belaka
mengingat Pajajaran jauh lebih kaya
dari Banten."
Seperti yang sudah diterangkan
sebelumnya sejak dia menjabat pangkat
Kepala Balatentara Banten maka Raden
Mas Tirta telah menjadi buruk dan
jahat, busuk dan iri hati, tamak serta
loba gila harta dan wanita! Di samping
itu dia juga cerdik sekali. Mendengar
keterangan mata-mata Pajajaran itu
diam-diam di hatinya timbullah maksud
untuk mengeduk keuntungan yang
sebesar-besarnya.
"Hmm... Ismaya," gumam Raden Mas
Tirta. "Apakah kau masih ingin hidup?"
"Sernua orang ingin hidup. Bahkan
mayat-mayat dalam kuburpun akan
berkata demikian, kalau saja mereka
bisa bicara," jawab Ismaya.
Raden Mas Tirta memencongkan
mulutnya dan mendengus. "Dengar
Ismaya. Dari Sultan Banten aku sudah
menerima kemewahan hidup dan berbagai
hadiah yang tiada ternilai harganya.
Jika hari ini kau kulepaskan dan kau
kembali ke Pajajaran untuk memberikan
laporan kepada Rajamu maka katakanlah
kepadanya bahwa aku, Kepala
Balatentara Banten akan bersedia
membantunya dengan diam-diam asal
kepadaku kelak akan dijanjikan
kedudukan sebagai Patih Pajajaran!"
"Ah, kalau cuma pangkat itu yang
Raden Mas kehendaki dari Sang Prabu
Pajajaran, soal mudah, Raden Mas.
Keinginanmu pasti terkabul!" sahut
Ismaya.
"Bagus, aku menjadi Patih
Pajajaran dan Banten ada di bawah
kekuasaanku," menambahkan Raden Mas
Tirta.
"Mudah, itu soal mudah. Aku akan
sampaikan kepada Sang Prabu,"
meyakinkan Ismaya.
"Nah, kau kulepaskan sekarang.
Tapi keris emas itu tinggalkan di sini
sebagai jaminan."
"Dengan senang hati Raden Mas.
Dan saya menghaturkan terima kasih
karena Raden Mas telah melepaskan dan
memperlakukan saya dengan baik." Mata-
mata Pajajaran itu menjura lalu
memutar tubuh dan meninggalkan tempat
itu.
Demikianlah, Raden Mas Tirta,
Kepala Balatentara Banten itu telah
menentukan dirinya sebagai pengkhianat
besar, sebagai musuh dalam selimut.
Ini lain tidak disebabkan karena nafsu
tamaknya, gila terhadap harta dan
pangkat tinggi sehingga lupa kalau
bukan karena Sultan Banten tidak akan
mungkin dia mendapat ke-dudukan empuk
dan terhormat seperti saat itu, dan
ini pun masih kurang pula baginya!
SEMBILAN
MALAM itu di tempat kediaman
Raden Mas Tirta diadakan pesta. Suatu
pesta malam yang tidak mengundang
siapa-siapa. Pesta ini diadakan untuk
menyambut kedatangan kakak
seperguruannya dan kedua sebagai
upacara selamat atas dimulainya perse-
kutuannya dengan Raja Pajajaran di
mana dia pasti akan dijadikan Patih!
Bergelas-gelas minuman keras masuk ke
perut Raden Mas Tirta sampai akhirnya
Kepala Balatentara Banten itu menjadi
mabuk dan terkapar tak sadarkan diri
di atas kursi besar di ruang tengah.
Jaka Luwak hanya tersenyum-senyum saja
melihat adik seperguruannya yang gila
pangkat itu. Sekali-kali mata pemuda
ini melirik ke pintu-pintu kamar yang
berleret-leret di sebelah sana. Saat
itu telah larut tengah malam dan para
isteri serta gundik Raden Mas Tirta
sudah tertidur di masing-masing kamar
mereka.
Jaka Luwak memandang pada adik
seperguruannya sejurus lalu berdiri
mendekati laki-iaki itu dan menotoknya
pada dada kanan. Totokan ini akan
cukup membuat Raden Mas Tirta yang tak
sadarkan diri itu untuk berada terus
dalam keadaan seperti itu selama
beberapa jam. Kemudian Jaka Luwak
melangkah ke pintu kamar di ujung
kiri. Dia tahu inilah kamar Ratnawati
karena tadi dilihatnya perempuan itu
masuk ke sini dan tak keluar-keluar
lagi. Dia mengetuk, tidak keras tapi
cukup jelas terdengar oleh orang yang
berada di dalam.
"Siapa?" terdengar suara
bertanya. Suara Ratnawati.
"Aku, dik Ratna," sahut Jaka
Luwak. Suaranya bergetar karena
disertai dengan tenaga dalam untuk
mempengaruhi perempuan cantik muda
belia itu.
Ratnawati yang terbaring di atas
tempat tidur merasakan dadanya
berdebar. Sejak pertemuannya pertama
kali dengan kakak seperguruan suaminya
itu dia memang sudah tertarik karena
secara kenyataan Jaka Luwak jauh lebih
gagah dari Tirta dan kulitnya kuning
bersih pula. Sambil memegangi pakaian
tidurnya yang terbuka lebar di bagian
dada, Ratnawati turun dari atas tempat
tidur. Dirapikannya dulu letak
rambutnya di muka kaca rias lalu dia
melangkah ke pintu. Pintu terbuka
sedikit dan perempuan itu memunculkan
parasnya yang jelita. "Ada apa, Kakang
Jaka?"
Mau tak mau Jaka Luwak menjadi
gugup melihat paras cantik tersebut
yang berada sangat dekat dengan
kepalanya sehingga dia dapat merasakan
hembusan nafas harurn Ratnawati. Dari
celah daun pintu jelas dilihatnya
bahwa Ratnawati saat itu hanya memakai
baju tidur yang tipis sehingga samar-
samar dibawah sorotan lampu terang di
ruang tengah dapat terlihat kulit
tubuhnya yang putih mulus. Ini
menambah rangsangan yang ada di diri
Jaka Luwak. Darah panas pemuda ini
mengalir cepat-cepat
"Maafkan kalau aku mengganggu
tidurmu, dik Ratna...."
"Oh, tak apa Kakang Jaka, saya
memang belum tidur. Ada apakah? Mana
kangmas Tirta?" tanya Ratnawati pula.
"Itulah Dik Ratna," sahut Jaka
Luwak seraya menuding ke ruang tengah.
"Dimas Tirta terlalu banyak minum
sehingga mabuk dan tak sadarkan diri.
Kini terbaring di kursi besar sana.
Apakah perlu kutolong bopong ke kamar
ini?"
"Ah, tidak usahlah," jawab
Ratnawati. "Siapa yang sudi tidur
dengan suami bau minuman seperti dia."
Jaka Luwak tersenyum. Memang dia
sudah duga bahwa perempuan Itu akan
menjawab demikian. "Apakah dimas Tirta
sering dan suka mabuk-mabuk seperti
saat ini?" tanyanya.
"Sering sekali. Dulunya dia tak
pernah menyentuh minuman macam
begituan tapi sekarang sudah demikian
candunya."
Jaka Luwak menggeteng-gelengkan
kepalanya Dia memancing: "Dik Ratna
rnungkin kau sudah mau tidur. Biar aku
mengundurkan diri" saja...."
Semalaman ini tak bisa mataku
dipejamkan. Dari tadi aku cuma
berbaring saja. Kurasa ada baiknya
kalau kita bercakap-cakap di dalam.
Sebagai seorang ahli silat yang
kepandaiannya lebih tinggi dari
kangmas Tirta sendiri tentu kau banyak
pengalaman dan kisah-kisah luar
biasa."
"Ah, aku cuma orang gunung biasa
saja, Dik Ratna," jawab Jaka Luwak.
Hatinya gembira sekali mendengar
ajakan itu. Tapi Jaka Luwak yang
cerdik ini tidak segera memperlihatkan
rasa girangnya itu. "Dik Ratna, kalau
kita bicara di dalam sana, bagaimana
jika diketahui isteri-isteri dan selir
dimas Tirta nanti?"
"Mereka sudah pada tidur semua.
Kalaupun ada yang tahu mereka tidak
akan berani meng-adu. Lagi pula apa
yang harus ditakutkan? Bukankah kita
cuma bicara-bicara saja?" Perempuan
itu tersenyum. Senyum manis yang mem-
buat dada Jaka Luwak semakin
menggelora. Ketika Ratnawati membuka
daun pintu lebih lebar tanpa ragu-ragu
dia segera masuk. Pintu ditutupkan
kembali. Kamar itu berbau harum
semerbak. Di kamar ini terdapat sebuah
meja yang dikelilingi oleh sebuah
kursi panjang dan dua buah kursi
kecil. Jaka Luwak sengaja duduk di
kursi yang panjang. Dan hati pemuda
ini semakin bergetar, darahnya semakin
panas merangsang ketika Ratnawati
dengan beraninya mengambil tempat
duduk pula di sudut yang lain dari
kursi panjang. Karena perempuan ini
memakai baju tidur yang tipis sehingga
dalam jarak dekat seperti itu Jaka
Luwak dapat melihat pakaian dalamnya
yang berwarna merah jambu.
"Kakang Jaka Luwak, harap
dimaafkan kalau saya menerimamu dengan
pakaian tidur seperti ini," kata
Ratnawati seraya melontarkan satu
lirikan tajam kegenitan.
"Sayalah yang salah karena
bertamu waktu orang hendak tidur!"
jawab Jaka Luwak seakan-akan menyesali
diri.
'Tapi tak apa-apa, bukankah saya
yang mengundangmu masuk ke sini?" dan
kedua orang itu sama-sama tertawa.
Jaka Luwak kemudian bercerita
tentang kehidupan di Gunung Gede
selama dia menuntut berbagai ilmu
kepada gurunya Ki Balangnipa. "Tentang
pengalaman, aku masih belum ada Dik
Ratna, karena aku baru saja turun
gunung dan langsung disuruh guru
kemari," kata Jaka Luwak mengakhiri
ceritanya. Kemudian dia bertanya:
"Sudah berapa lamakah kau berumah
tangga dengan dimas Tirta, dik Ratna?"
"Belum ada satu tahun Kakang
Jaka."
"Kalau begitu masih belum
mendapatkan anak?"
"Sampai sekarang belum," jawab
Ratnawati seraya mengusap perutnya
dengan tangan kiri. Tapi karena tangan
kirinya itu tadi dipakai untuk
memegang pakaiannya di atas dada maka
kini belahan pakaiannya jadi terbuka
dan kelihatanlah dadanya yang putih
membusung. Untuk sejurus lamanya Jaka
Luwak terpesona oleh keindahan yang
baru pertama kali dilihatnya itu.
Kedua pipi Ratnawati kelihatan
memerah. Perempuan ini cepat-cepat
mempergunakan tangan kanannya untuk
menutup kembali pakaiannya yang
terbuka.
"Dik Ratna," kata Jaka Luwak
pula. "Hidupmu dengan dimas Tirta
tentu bahagia sekali bukan?"
"Ya, apalah arti kebahagiaan
seorang isteri orang berpangkat yang
dimadu, kakang Jaka?" ujar perempuan
itu.
Tapi dimas Tirta tentu sangat
sayang kepadamu."
Isteri Raden Mas Tirta
menganggukkan kepala. "Namun terus
terang saja, saya tidak mencintainya,
kakang Jaka."
Jaka Luwak menjadi heran
mendengar ucapan itu. Keningnya
berkerut. "Ah, aku benar-benar tidak
mengerti dik Ratna. Kalau kau tidak
cinta, mengapa bersuamikan dia?"
"Soalnya terpaksa, kakang Jaka."
"Terpaksa bagaimana?"
"Dulunya saya seorang anak petani
di desa Mantrinan, tak jauh dari tepi
timur kotaraja. Suatu hari Raden Mas
Tirta datang ke sana untuk melihat-
lihat dan mengatur pertahanan Banten
terhadap serangan-serangan orang-orang
Pajajaran dan bertemu dengan saya yang
kebetulan hendak mengantarkan nasi
untuk ayah di sawah. Sehari sesudah
itu maka datanglah utusan Raden Mas
Tirta menemui ayah. Utusan ini datang
untuk melamar saya dan membawa barang-
barang yang banyak tiada terkira. Saya
tidak cinta kepadanya karena saya
sudah maklum bagaimana cara hidup
pembesar berpangkat tinggi macam dia.
Tapi siapa yang berani menolak lamaran
itu? Kalau ditolak, salah-salah bisa
membawa kesulitan. Tak ada jalan lain
bagi ayah ibu dan juga saya sendiri
dari pada menerima lamaran."
"Hem... begitu?" desis Jaka Luwak
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Orang tuamu sekarang di mana?"
"Tetap tinggal di desa. Tapi
kehidupan mereka sudah dijamin oleh
kerajaan. Sudah dibikinkan rumah bagus
dan segala keperluan hidup tinggal
tahu ada."
"Nah, orang tuamu bahagia, kaupun
hidup mewah di sini, apalagi?"
"Hidup mewah belum tentu berarti
bahagia, kakang Jaka," jawab
Ratnawati. "Bagaimana akan bahagia
kalau suami tukang mabuk seperti itu
dan kita tidak pula cinta
kepadanya...."
"Ya, memang dapat dimaklumi,"
kata Jaka Luwak.
"Oh, tidak kakang Jaka Luwak.
Aneh, memang.
"Kau sendiri apakah juga doyan
minum, kakang Jaka?" tanya Ratnawati.
"Kalau aku doyan minum tentu aku
sudah terkapar pula di kursi seperti
suamimu," sahut Jaka Luwak.
"Syukurlah, aku memang tidak suka
pada orang peminum!"
"Kalau begitu rupanya kau suka
padaku karena aku tidak senang minuman
keras?" tanya Jaka Luwak bergurau.
"Kakang ini pandai menggoda,"
kata Ratnawati dengan paras merah dan
tersipu-sipu. Tapi dalam hatinya
perempuan muda ini tidak dapat
berdusta bahwa dia memang menyukai
pemuda gagah itu.
"Dik Ratna malam sudah larut...."
"Dan kalau sudah larut memangnya
kenapa?" tanya Ratnawati dengan manja
seraya senyum genit.
Berdebar dada Jaka Luwak dan dia
menggeser duduknya. Dengan beraninya
dipegangnya tangan Ratnawati lalu
berkata: "Malam telah larut dan kau
harus tidur sedang aku harus
meninggalkan tempat ini, bukankah de-
mikian?"
"Kakang Jaka, mengapa terburu-
buru benar? Saya sungguh- sungguh
belum mengantuk," Jawab perempuan itu
seraya mempermain kan jari-jari tangan
si pemuda yang membuatnya semakin
menggelora.
"Kau cantik sekali, Ratna," bisik
Jaka Luwak seraya membelai pipi
perempuan itu.
Ratnawati menundukkan kepala.
"Aduh, jangan menggoda kakang Jaka.
Kau tahu, di antara isteri-isteri dan
para selir kangmas Tirta akulah yang
paling jelek!"
"Hemmm... malahan sebaliknya,
Ratna. Kau yang kulihat paling cantik,
paling jelita...."
Air muka Ratnawati kemerah-
merahan. "Benarkah itu, kakang Jaka?"
"Mengapa tidak?" sahut Jaka Luwak
seraya memegang dagu perempuan itu dan
mengangkat kepalanya. Ratnawati
tersenyum kepadanya dan memejamkan
kedua matanya. Senyum dan pejaman mata
yang mengundang. Dengan penuh nafsu
Jaka Luwak menarik tubuh perempuan itu
lalu dipeluknya erat-erat.
"Kakang Jaka, kaupun pemuda
paling gagah yang pernah kutemui..."
bisik Ratnawati lirih. Jaka Luwak
memeluk tubuh yang indah lembut itu
lebih erat. Ciumannya menjalar mulai
dari pangkal leher sampai ke seluruh
muka Ratnawati dan diakhiri dengan
pertemuan sepasang bibir mereka penuh
kehangatan. Karena saat itu Ratnawati
melingkarkan kedua tangannya ke leher
si pemuda maka pakaian tidurnya jadi
terbuka lepas. Dada dan perut
Ratnawati kelihatan dengan jelas.
Berkobar birahi Jaka Luwak,nafsunya
menggelora dan kedua tangannya itu
menggerayang ke setiap pelosok tubuh
mulus tersebut. Ratnawati merintih
halus kegelian.
"Ratna... aku... aku suka sekali
padamu. Aku senang padamu..." bisik
Jaka Luwak. Pikirannya membumbung
laksana sudah berada di kayangan saja
saat itu.
"Hanya suka dan senang saja,
kakang Jaka?" bisik Ratnawati pula.
"Tidak... tidak hanya itu
manisku. Aku juga... aku juga cinta
padamu."
"Oh, kakang Jaka. Inilah yang aku
harap-harapkan selama ini...."
Ratnawati menyelinapkan kepala ke dada
pemuda itu. Tiba-tiba Jaka Luwak
berdiri. Nafas pemuda itu sudah
memburu.
"Ada apa, kakang Jaka?" tanya
Ratnawati.
Pemuda itu tidak menjawab
melainkan menggerakkan kedua tangannya
dan tahu-tahu tubuh perempuan itu
sudah ada di dalam dukungannya.
"Kakang Jaka kau ini... kukira ada apa
berdiri dengan tiba-tiba," kata
Ratnawati tersenyum mesra dan
memandang dengan kedua bola matanya
yang mulai menguyu tanda nafsu juga
telah membakar dirinya. "Kau kuat
sekali bisa mendukungku. Tapi kakang,
kau mau bawa aku ke mana?"
Jaka Luwak tersenyum. Hidungnya
kembang kempis. Dia melangkah membawa
Ratnawati ke atas tempat tidur.
"Kakang Jaka, kau ternyata nakaL
Aku masih belum mengantuk. Mengapa
dibawa ke tempat tidur?" ujar
Ratnawati sambil mencubit lengan Jaka
Luwak. "Kakang Jaka aku...." Isteri
pertama Kepala Balatentara Banten itu
tak dapat meneruskan ucapannya karena
saat itu bibirnya telah ditindih bibir
Jaka Luwak. Penuh nafsu perempuan yang
memang jarang dijamah oleh suaminya
itu pejamkan kedua matanya. Lalu
dirasakannya tubuhnya dibaringkan di
atas tempat tidur. Lalu terasa jari-
jari tangan Jaka Luwak membuka
pakaiannya.
Malam itu pengkhianatan telah
dilakukan oleh kakak seperguruan Raden
Mas Tirta. Sang istri telah berbuat
serong. Apapun alasannya dosa besar
ini kelak akan mendapat ganjaran
sangat pedih dari Yang Maha Kuasa.
TAMAT
Segera Menyusul!!!!!
PETAKA DI PUNCAK HALIMUN
0 comments:
Posting Komentar