"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Kamis, 28 November 2024

MAHESA KELUD EPISODE DEWI PEDANG DELAPAN PENJURU ANGIN

MAHESA KELUD EPISODE DEWI PEDANG DELAPAN PENJURU ANGIN

 SATU


HARI masih pagi, matahari belum naik 

tinggi, butiran-butiran embun pada dedaunan 

masih kelihatan di sana sini, berkilau-kilauan 

laksana intan berlian karena sorotan sang surya.

Mahesa Kelud berdiri di ambang pintu be-

lakang rumah di hutan Bangil itu.

"Wulan," katanya memanggil. Gadis yang 

dipanggil datang dan berdiri disampingnya. Tidak 

seperti biasanya kali ini si gadis berdiri dengan 

agak kikuk. Mungkin karena teringat pada peris-

tiwa kemarin malam yaitu saat dimana mereka 

berkasih mesra bercumbu-cumbuan. 

"Pagi yang indah bukan, Wulan?" 

Si Gadis anggukkan kepala.

"Bagaimana kalau kita berlatih memperda-

lam ilmu pedang yang diajarkan oleh mendiang 

kakekmu?" 

"Baiklah, Mahesa. Aku akan ambil pedang-

ku," kata si gadis dan masuk ke dalam.

Mahesa yang berdiri menunggu di ambang 

pintu belakang memasang telinganya. Lapat-lapat 

didengarnya suara krasak krisik di kejauhan. De-

tik demi detik suara itu semakin jelas tanda se-

makin dekat. Mahesa tahu benar bahwa suara 

yang didengarnya itu adalah suara semak belukar

dan tanaman-tanaman rendah disibakkan orang. 

Dan benar saja, ketika dia putar kepala ke sebe-

lah kirinya maka terlihatlah semak belukar lebat


di sebelah sana tersingkap dan muncullah satu 

kepala berkuncir. Manusia ini memakai jubah hi-

tam dan di belakangnya menyusul beberapa 

orang yang memakai jubah putih dan berkepala 

botak! Mahesa Kelud terkejutnya bukan main ke-

tika melihat keenam manusia yang muncul dari 

balik semak-semak itu. Dia serasa tidak percaya. 

Mereka tak lain adalah resi Waranganaya dan Li-

ma Brahmana sesat.

Cepat-cepat Mahesa berlindung ke balik 

dinding dekat pintu. Tapi Waranganaya Toteng 

keburu melihatnya. Dan berserulah resi itu: "Ka-

wan-kawan! Kita berhasil menemui mereka! Aku 

barusan lihat bangsat yang laki-laki tadi di am-

bang pintu rumah itu! Mari kita bereskan mereka 

sebelum keduanya kabur!"

Di dalam rumah....

"Wulan!"

"Ya, Mahesa...." Wulansari keluar dari da-

lam kamar dengan pedang di tangan. Melihat air 

muka pemuda itu dia jadi terkejut. "Ada apa?" ta-

nyanya.

"Tinggalkan rumah ini cepat! Resi bangsat 

dan Lima Brahmana itu datang ke sini! Mereka 

berhasil mengetahui tempat kita! Kita tak akan 

sanggup melawan mereka. Mari lari sebelum ter-

lambat!"

Kedua orang itu kemudian meninggalkan 

rumah, lari lewat pintu muka. Waranganaya dan 

kawan-kawannya yang baru saja hendak mengu-

rung rumah, begitu melihat kedua orang tersebut


melarikan diri segera mengejar sambil berteriak: 

"Manusia-manusia ingusan! Menyerahlah dan 

berlutut di hadapan kami! Kalian tidak akan bisa 

lari jauh!"

Mahesa Kelud dan Wulansari tidak menga-

cuhkan peringatan itu. Mereka mempercepat lari 

masing-masing sambil bergandengan tangan. 

Keenam pengejar berhasil mereka tinggalkan jauh 

di belakang. Sebenarnya bukan ilmu lari kedua 

anak muda ini yang membuat mereka bisa me-

ninggalkan jauh para pengejarnya tapi adalah ka-

rena mereka tahu seluk beluk keadaan dalam hu-

tan belantara itu sehingga sementara Waranga-

naya dan Lima Brahmana masih sibuk menyibak-

nyibakkan semak belukar yang menghalang da-

lam pengejaran mereka, Wulan dan Mahesa su-

dah jauh di depan mereka.

Tapi kedua murid Pendekar Budiman ini 

tidak bisa lama meninggalkan musuh-musuh me-

reka. Begitu mereka keluar dari hutan belantara 

maka membentanglah sebuah lembah terbuka 

yang menurun.

"Celaka!" kata Mahesa Kelud. "Di tempat 

terbuka ini mereka pasti bisa menyusul kita! Per-

cepat larimu, Wulan!"

Benar saja, ketika keduanya baru menuru-

ni bagian leguk dari lembah itu maka keenam 

pengejarnya keluar dari dalam hutan. Waranga-

naya Toteng berada paling depan sekali. Ini mem-

buktikan bahwa ilmu larinya lebih tinggi dari pa-

da kelima Brahmana yang menyusul di belakang


nya. Lima Brahmana itu segera mengeluarkan 

senjata rahasia mereka yaitu berupa pisau-pisau 

pendek berkeluk serta mengandung racun mema-

tikan. Lima pisau kemudian meluncur pesat ke 

arah kedua muda mudi yang lari menyelamatkan 

diri itu.

Mahesa Kelud dan Wulansari mencabut 

pedang masing-masing dan sambil lari mereka 

memutar senjata itu di belakang punggung. Keli-

ma pisau berkeluk kena tertangkis tapi anehnya 

begitu kena benturan pedang segera berbalik dan

menyerang kembali! Inilah kehebatan senjata ra-

hasia Lima Brahmana itu!

Kedua muda mudi ini terkejut bukan main. 

Dengan serta merta mereka jatuhkan diri dan 

bergulingan di lembah yang menurun itu! Untung 

saja lembah itu menurun sehingga dengan bergu-

lingan menyelamatkan diri dari lima senjata raha-

sia itu mereka sekaligus berhasil memperjauh diri 

dari para pengejarnya.

Melihat kelima kambratnya sudah kelua-

rkan senjata rahasia maka Waranganaya Toteng 

tidak tinggal diam. Dia segera kebutkan ujung-

ujung berumbai ikat pinggang jubah hitamnya. 

Meskipun Mahesa Kelud dan Wulansari berada 

lebih dari seratus langkah di mukanya namun 

kedua orang ini terpaksa harus menghindarkan 

diri dengan cepat karena angin pukulan berba-

haya yang keluar dari rumbai-rumbai itu berhasil 

mencapai mereka dan terasa panas.

"Celaka Wulan! Cepat atau lambat kita pas


ti tertawan oleh mereka!" kata Mahesa sambil te-

rus lari dengan terhuyung-huyung.

"Tuhan! Embah Jagatnata tolong kami...!" 

teriak Mahesa Kelud menyebut nama Tuhan dan 

nama gurunya.

"Ayah! Tolonglah anakmu ini! Tolong kami," 

seru Wulansari.

Dan pada saat itu terjadilah sesuatu kea-

nehan yang luar biasa! Entah dari mana datang-

nya tahu-tahu muncullah seekor anak rusa. Bina-

tang ini berlari cepat sambil melompat-lompat 

dan menghalang-halangi larinya keenam pengejar 

itu.

"Binatang keparat!" maki Waranganaya 

dengan geram sambil menendang binatang itu 

dengan kaki kanannya. Tapi dengan gerakan me-

lompat yang lucu jenaka, anak rusa itu berhasil 

menghindarkan tendangan maut sang resi. Bina-

tang itu kemudian melompat-lompat pula di ha-

dapan kelima Brahmana sehingga lari keenam 

orang itu menjadi kacau balau dibuatnya.

Sambil terus mengejar, keenam orang itu 

terpaksa sibuk menyingkirkan anak rusa yang 

senantiasa menghalangi lari mereka. Tapi bina-

tang kecil ini terus lompat sradak sruduk kian 

kemari sampai akhirnya karena gemas, salah seo-

rang dari kelima Brahmana cabut goloknya dan 

memapasi tubuh si rusa. Binatang ini berkelit lu-

cu lalu menyerempet kaki si Brahmana sampai 

Brahmana itu hampir saja jatuh terserimpung.

Sementara itu Mahesa dan Wulansari su


dah jauh di ujung lembah dan mereka sama 

menghentikan lari ketika dari jauh melihat ba-

gaimana keenam pengejar mereka lompat sana 

lompat sini karena lari mereka selalu dihalang 

dan diserimpung oleh seekor anak rusa. Mahesa 

dan Wulan saling berpandangan. Tiba-tiba pemu-

da itu berseru.

"Lihat! Binatang itu lari ke sini!"

Benar saja. Rusa itu lebih cepat larinya da-

ri pada Waranganaya dan Lima Brahmana yang 

saat itu kembali mengejar Mahesa dan Wulansari. 

Boleh dikatakan dalam beberapa kejapan mata 

saja anak rusa itu sudah berada di hadapan ke-

dua muda mudi ini. Binatang ini melompat-

lompat lalu lari masuk ke dalam hutan! Melihat 

bagaimana binatang kecil ini tadi sanggup meng-

halangi larinya keenam orang-orang sakti itu

bahkan mempermainkan mereka maka baik Ma-

hesa maupun Wulan sama-sama memaklumi 

bahwa ada suatu keanehan pada binatang ini 

yang menyatakan bahwa dia bukanlah binatang 

sembarangan. Karenanya tanpa ragu-ragu ketika 

anak rusa itu melompat ke kiri dan lari masuk 

hutan kedua orang tersebut segera mengikutinya.

Tiba-tiba anak rusa itu menyelinap di anta-

ra semak-semak yang lebat, dan menghilang. Ma-

hesa Kelud serta Wulansari berdiri di hadapan 

semak-semak itu kebingungan dan saling pan-

dang. Di belakang mereka sementara itu Waran-

ganaya Toteng dan Lima Brahmana sudah dekat 

pula. Dengan ujung pedangnya Wulansari menyi


bakkan rerumputan semak belukar itu dan satu 

seruan terdengar keluar dari mulut gadis ini.

"Mahesa, lihat!"

Tak terduga sama sekali di hadapan mere-

ka saat itu, begitu semak belukar disibakkan ter-

lihatlah mulut sebuah gua! Mahesa Kelud berpal-

ing ke belakang. Waranganaya Toteng dan Lima 

Brahmana tambah dekat. Tanpa pikir panjang 

Mahesa Kelud segera tarik lengan Wulansari dan 

keduanya masuk ke dalam gua yang gelap itu.

"Kalau kita harus mati di dalam gua ini, bi-

arlah kita mati bersama!" ujar Mahesa Kelud. 

Bersama Wulansari dia melangkah mengendap-

endap. Ternyata gua itu semakin ke dalam sema-

kin besar dan anehnya tambah ke dalam tambah 

terang. Tahu-tahu mereka sampai di satu ruan-

gan berdinding batu karang empat persegi. Ruan-

gan ini bersih sekali. Di sini tidak terdapat nyala 

api ataupun pelita atau sinar matahari yang ma-

suk dari luar tapi anehnya ruangan tersebut te-

rang benderang! Dan lebih aneh lagi karena di 

sudut sana, di atas sebuah batu karang yang pu-

tih bersih, duduklah anak rusa tadi sambil me-

mandang kepada mereka dan kedip-kedipkan ma-

tanya yang kecil jernih.

"Mahesa..." bisik Wulansari sambil meme-

gang lengan pemuda disampingnya. "Kurasa bina-

tang ini bukan binatang sungguhan, tapi binatang 

jadi-jadian. Mungkin...."

Suara si gadis terpotong dengan serta mer-

ta ketika di luar sana, dari mulut gua terdengar


suara yang keras. "Anak cucu pemberontak! Ka-

lian keluarlah baik-baik. Kalau tidak kalian akan 

berkubur di dalam gua ini!" Yang berteriak ini 

adalah Waranganaya Toteng.

"Celaka! Mereka berhasil mengetahui per-

sembunyian kita, Mahesa...."

"Diamlah," bisik Mahesa. "Siapa tahu me-

reka tidak benar-benar pasti bahwa kita berada di 

sini."

"Bangsat-bangsat kecil!" terdengar lagi sua-

ra Waranganaya Toteng. "Jangan bikin kami 

orang menjadi tidak sabar! Keluar dengan aman, 

kalian akan selamat! Cepatlah!"

Mahesa dan Wulansari tegak di tempat 

masing-masing tanpa bergerak. Kemudian dari 

mulut gua terdengar suara bersiuran seperti ca-

pung terbang. Sebuah pisau melayang ke jurusan 

mereka. Mahesa Kelud pergunakan pedangnya 

untuk menyampok senjata rahasia itu. Tapi begi-

tu disampok segera pisau berkeluk ini berputar 

dan kali ini melakukan serangan kedua. Wulan-

sari babatkan pedangnya dan pisau itu mental ke 

samping. Sunyi seketika. Anak rusa itu masih sa-

ja duduk di tempatnya tadi yaitu di atas batu ka-

rang putih dengan tenang sambil menjilat-jilat 

kakinya.

Di luar gua resi Waranganaya Toteng men-

jadi geram karena kedua anak muda itu masih 

juga belum mau keluar. Dia segera genggam 

ujung ikat pinggang jubahnya dan kebutkan ke 

dalam gua. Angin pukulan yang keras dan panas


melesat bersiuran. Di dalam gua, di ruangan batu 

karang empat segi Mahesa Kelud serta Wulansari 

dengan cepat melompat ke samping menghindar-

kan pukulan tenaga dalam yang dahsyat itu. Ka-

rena pukulan tersebut tidak mengenai sasaran-

nya maka terus menyambar ke pojok ruangan di 

mana anak rusa itu duduk

"Hai, awas!" teriak Mahesa Kelud memberi 

ingat pada sang rusa. Jangankan seekor rusa, 

seorang manusiapun bila terkena sambaran angin 

pukulan ujung rumbai-rumbai ikat pinggang ju-

bah tersebut bisa mati, dan buktinya sudah dili-

hat oleh Mahesa atas diri Pendekar Budiman alias 

Sentot Bangil. Tapi inilah suatu kejadian aneh 

yang hampir tak dapat dipercaya oleh kedua 

orang tersebut. Ketika angin pukulan yang dah-

syat itu menyambar ke arahnya, tiba-tiba si anak 

rusa berdiri di atas batu karang putih dan me-

lompat-lompat kian kemari. Lompatannya itu ti-

dak beda dengan lagak sikap lompatan seekor 

anak rusa biasa tapi yang anehnya ialah bagai-

mana dari gerakan lompatannya itu melesat ke-

luar satu kekuatan tenaga yang sangat dahsyat, 

berputar-putar bergelombang dan memukul kem-

bali angin pukulan rumbai-rumbai ikat pinggang 

Waranganaya Toteng! Di kejauhan di mulut gua 

terdengar suara seruan-seruan tertahan. Baik ke 

Lima Brahmana maupun Waranganaya Toteng 

sendiri sama-sama meloncat menghindar ke 

samping gua, tidak mau ambil resiko terluka oleh 

angin pukulannya sendiri yang dikembalikan!


Butiran-butiran keringat dingin bepercikan 

di kening Waranganaya Toteng. Disamping terke-

jut dia juga menjadi sangat heran. Ada apakah di 

dalam gua itu sampai tenaga pukulannya yang 

dahsyat yang tak pernah satu orang pun sebe-

lumnya sanggup menahan kini dikembalikan se-

demikian rupa bahkan hampir saja mencela-

kainya? Dengan rasa tak percaya sang resi berdiri 

kembali di depan gua dan kebutkan rumbai-

rumbai. Ikatan jubah hitamnya. Hal yang sama 

terjadi lagi! Dari dalam gua keluar sambaran an-

gin sangat keras. Sang resi cepat menghindar ke 

samping tapi tak urung jubah hitamnya masih 

kena serempetan angin dahsyat itu dan robek!

Muka Waranganaya Toteng pucat pasi se-

perti mayat. Bulu tengkuknya meremang dan ke-

ringat dingin membasahi sekujur badannya. Meli-

hat ini salah seorang dari Lima Brahmana segera 

bertanya: "Ada apakah Waranganaya? Parasmu 

pucat sekali!"

Sebagai orang yang sudah berilmu tinggi 

dan ditakuti lawan serta disegani kawan maka 

tentu saja Waranganaya Toteng merasa malu un-

tuk menerangkan hal yang sebenarnya. Maka 

menjawablah dia: "Tidak ada apa-apa. Kedua 

bangsat kecil itu tentu sudah mampus dan ber-

kubur di dalam gua. Mari kita tinggalkan tempat 

ini!"


DUA


DI DALAM gua.... Mahesa Kelud dan Wu-

lansari kini menjadi benar-benar yakin bahwa 

anak rusa itu bukan binatang biasa, mungkin 

malaikat atau seorang sakti luar biasa yang me-

rubah diri menjadi seekor anak rusa. Mengingat 

pula bahwa binatang kecil itulah yang telah me-

nyelamatkan nyawa mereka dari serangan Wa-

ranganaya Toteng maka tanpa ragu-ragu kedua-

nya segera menjura dan berlutut di hadapan anak 

rusa itu.

Pada saat itulah terdengar satu suara 

menggema dan menggetarkan empat dinding ka-

rang di ruangan itu. "Berdiri... berdirilah anak-

anak muda! Jangan menyembah pada rusa itu, 

pun jangan menyembah pada manusia atau ma-

laikat karena hanya Tuhanlah satu-satunya ke-

pada siapa seluruh umat menyembah. Berdiri!"

Mahesa Kelud dan Wulansari berdiri den-

gan cepat. Suara yang mereka dengar adalah sua-

ra seorang laki-laki tapi orangnya sama sekali ti-

dak terlihat. Kedua anak muda ini memandang 

berkeliling. Di ruangan yang terang itu hanya me-

reka dan sang anak rusa saja yang ada dan bina-

tang ini tampak duduk sambil menjilat-jilat ka-

kinya. Di ruangan itu juga tidak terdapat celah-

celah yang memungkinkan timbulnya dugaan 

bahwa suara tersebut keluar dari celah-celah itu. 

Kedua orang ini menjadi bingung.

"Jangan khawatir anak-anak muda... jan-

gan takut. Kalian berada di tempat yang aman.


Aku sudah lama menunggu kalian. Syukur kalian 

datang saat ini, syukur sekali!"

Mahesa memandang berkeliling tapi orang 

yang bicara tetap tidak kelihatan. Mungkin rusa 

itu yang bicara, pikirnya, tapi ketika diperhatikan 

si binatang masih tetap duduk di atas batu ka-

rang putih seraya menjilat-jilat kakinya.

"Suara tanpa rupa, siapakah engkau? 

Mengapa tidak mau memperlihatkan diri?" tanya 

Mahesa.

"Belum saatnya kau harus tahu siapa aku, 

anak muda. Belum saatnya aku memperlihatkan 

diri..." terdengar suara jawaban menggema di da-

lam ruangan batu karang yang terang dan bersih 

itu.

"Apakah engkau malaikat, suara tanpa ru-

pa?" tanya Wulansari.

Terdengar suara tertawa bergelak. "Tidak... 

aku bukan malaikat, aku bukan setan ataupun 

jin. Aku adalah manusia juga, manusia biasa tak 

beda dengan kalian...."

Mahesa berpikir, kalau yang bicara ini 

memang benar manusia adanya maka pasti dia 

adalah seorang sakti luar biasa. Mahesa Kelud in-

gat waktu dia dipenjarakan di gua batu karang si 

Nenek Iblis. Saat itu dia bersebelahan tempat 

dengan Karang Sewu. Mereka dipisahkan oleh 

dinding karang yang tebal seperti dinding karang 

yang ada di hadapannya kini. Pada saat Karang 

Sewu bicara padanya, suara orang sakti itu hanya 

terdengar perlahan tapi kini suara yang didengar


nya sangat jelas, menggema bahkan menggetar-

kan ruangan itu. Inilah suatu tanda bahwa orang 

yang berbicara kesaktiannya luar biasa dan jauh 

lebih tinggi dari kesaktian Karang Sewu!

Mahesa menjura dan berkata: "Suara tanpa 

rupa, kau telah menolong kami dari bahaya maut. 

Kami yang rendah ini menghaturkan ribuan teri-

ma kasih...."

Terdengar lagi suara tertawa. "Jangan 

ucapkan terima kasih padaku. Anak rusa itulah 

yang telah menolongmu, bukan aku...."

Mahesa dan Wulansari memandang pada 

binatang yang duduk di atas batu karang putih. 

Rusa ini memandang pula pada mereka dan men-

gedip-ngedipkan matanya. Mahesa dan si gadis 

tersenyum lalu anggukkan kepala. Binatang itu 

seperti seorang anak kecil yang kegirangan me-

lompat-lompat di atas batu karang lalu duduk lagi 

seperti semula.

"Suara tanpa rupa," kata Mahesa, "Kami 

rasa kau cukup maklum apa yang telah terjadi 

atas diri kami sehingga kami terpaksa berani-

beranian datang mengotori tempatmu yang suci 

ini."

"Tidak apa... tidak apa. Aku memang suruh 

anak rusa peliharaanku itu untuk membawa ka-

lian masuk ke sini. Kalau kalian merasa letih, ka-

lian duduklah!"

Mahesa menggamit tangan Wulansari dan 

kedua orang itu lantas duduk di atas lantai batu 

karang yang putih bersih. Maka sesudah itu terdengar pula suara menggema dari orang sakti 

yang tidak terlihat itu. 

"Anak-anak muda, aku sudah lama me-

nunggu kedatangan kalian di sini. Siapakah nama 

kalian?"

"Aku Mahesa Kelud," menerangkan si pe-

muda.

Terdengar suara tertawa,

"Suara tanpa rupa, ada apakah kau terta-

wa?" bertanya Mahesa Kelud.

"Tidak apa-apa, aku cuma tertawa men-

dengar nama yang kau sebutkan itu...."

Si pemuda merasa gelisah. Apakah orang 

sakti itu mengetahui namaku yang sebenarnya, 

pikir Mahesa.

"Anak gadis, kau sendiri namamu siapa?"

"Aku Wulansari, suara tanpa rupa...."

"Bagus, bagus. Nama kalian gagah-gagah. 

Sesuai dengan rupa dan budi kalian, kalian pan-

tas menjadi muridku. Itulah sebabnya kutunggu-

tunggu kalian...."

Mendengar kata-kata itu Mahesa Kelud 

dan Wulansari gembiranya bukan main. Betapa-

kan tidak karena mereka akan diangkat menjadi 

murid oleh seorang sakti luar biasa! Segera kedu-

anya menjura memberi hormat.

"Terima kasih, guru. Kami berdua mengha-

turkan terima kasih yang sebesar-besarnya..." ka-

ta Mahesa.

Sang guru yang tidak kelihatan itu menge-

luarkan suara tertawa. "Kalian berdua jangan cepat-cepat menjadi gembira. Untuk dapat menjadi 

muridku sebelumnya kalian harus kucoba lebih 

dahulu! Aku ingin tahu sampai di mana keting-

gian ilmu yang kau dapat dari guru-gurumu sebe-

lumnya! Berdirilah!"

Mahesa dan Wulansari berdiri dengan pa-

tuh. Keduanya berpandang-pandangan dan ber-

tanya-tanya dalam hati. Kalau orang sakti itu 

hendak menguji mereka, bagaimanakah caranya? 

Dia sendiri tidak kelihatan. Kedua orang ini me-

nunggu dengan hati berdebar.

Kemudian terdengar suara: "Joko Cilik! 

Kau ujilah mereka!"

Mahesa dan Wulansari sama-sama terke-

jut. Mereka menyangka bahwa saat itu ke dalam 

gua telah masuk seorang lain bernama Joko Cilik 

yang akan menguji mereka. Tapi sampai saat itu 

mereka berdua serta anak rusa tersebut yang ada 

di sana.

Tiba-tiba anak rusa di atas batu karang 

putih melompat ke hadapan Mahesa Kelud. Kaki 

mukanya yang sebelah kanan memanjang lurus 

ke samping. Pemuda ini terkejut karena samba-

ran kaki binatang itu, meskipun kecil, tapi men-

geluarkan angin dingin yang tajam dan deras. Ce-

pat-cepat Mahesa berkelit ke samping. Sedang si 

anak rusa pada saat itu kelihatan meliukkan tu-

buhnya dan kini dia melesat ke hadapan Wulan-

sari. Gadis ini yang tidak kalah terkejutnya cepat-

cepat melompat mundur. Hampir saja pakaiannya 

kena disambar ujung kaki anak rusa itu!


Begitu dua kaki mukanya menginjak lantai 

gua, anak rusa tersebut segera memutar tubuh. 

Lalu dengan mengandalkan kekuatan kaki bela-

kang dia melompat kembali ke arah Mahesa Ke-

lud. Lompatannya ini seperti tadi juga merupakan 

satu serangan hebat. Cepat-cepat si pemuda ber-

kelit

"Mahesa, Wulansari..." terdengar suara 

menggema dalam gua. "Mengapa kalian diam sa-

ja? Layanilah Joko Cilik, anak rusa peliharaanku 

itu!"

Mahesa dan Wulansari sama terkejut dan 

saling pandang karena tidak menyangka sama 

sekali bahwa si anak rusa itulah yang bernama 

Joko Cilik dan lebih tidak percaya lagi kalau bina-

tang kecil inilah yang harus mereka hadapi seba-

gai ujian dari orang sakti yang akan mengangkat 

mereka menjadi murid! Maka ketika binatang itu 

menyerang kembali, Mahesa Kelud dan Wulansari 

segera bersiap-siap. Untuk lima jurus lamanya 

kedua muda mudi itu terus-terusan bersikap ber-

tahan. Karena walaupun mereka tahu bahwa 

anak rusa itu bukan binatang sembarangan, tapi 

untuk turun tangan melancarkan serangan, me-

reka tidak sampai hati dan ragu-ragu.

"Ayo, anak-anak muda! Mengapa kalian 

mengelak terus?! Jangan ragu-ragu, layani Joko 

Cilik sebagaimana mestinya!" terdengar suara 

memerintah.

Kini Mahesa dan Wulansari tidak ragu-

ragu lagi. Kedua orang itu segera melancarkan serangan dengan ilmu silat tangan kosong. Sungguh 

lucu kelihatannya, dua orang anak muda berke-

pandaian tinggi berkelahi mengeroyok seekor 

anak rusa yang berkelebat ke sana sini menge-

lakkan setiap serangan mereka. Tahu-tahu dua 

puluh jurus sudah berlalu dan sampai saat itu 

baik Mahesa Kelud maupun Wulansari masih be-

lum berhasil "menyentuh" tubuh Joko Cilik ba-

rang satu kalipun! Benar-benar binatang luar bi-

asa anak rusa ini.

"Bagus Joko Cilik! Tak sia-sia kau jadi bi-

natang piaraanku. Mahesa, Wulansari cabut pe-

dang kalian!"

Mendengar perintah itu, kedua anak muda 

tersebut segera menghunus pedang masing-

masing. Tubuh mereka berkelebat cepat, dua pe-

dang bersiuran bergulung-gulung menyerang dan 

mengurung si anak rusa dari segala penjuru. Tapi 

jangankan untuk melukainya, bahkan pedang itu 

tidak berhasil menyentuh sedikitpun tubuh anak 

rusa ini padahal Mahesa dan Wulansari sudah 

kerahkan semua ilmu kepandaian bahkan tak ja-

rang serangan-serangan pedang mereka dibarengi 

dengan pukulan-pukulan tangan kiri berisi tena-

ga dalam yang tinggi. Tapi laksana seorang yang 

tengah "akrobat", anak rusa itu melompat kian 

kemari, jungkir sana jungkir sini, menyeruduk 

dan menyelinap di antara kedua penyerangnya 

bahkan tak jarang melesat tinggi melancarkan se-

rangan dahsyat dari atas ke kepala kedua orang 

itu!


"Cukup Joko Cilik!"

Anak rusa itu melompat tinggi mengelak-

kan sambaran pedang Mahesa Kelud dan tahu-

tahu... beberapa saat kemudian dia sudah duduk 

kembali di atas batu karang putih di seberang sa-

na dan mulai menjilat-jilat kakinya!

Mahesa Kelud dan Wulansari berdiri den-

gan tubuh keringatan. Hati mereka sangat kecewa 

dan malu karena lebih dari lima puluh jurus me-

reka mengeroyok binatang kecil itu tapi jangan-

kan untuk mengalahkannya, menghadiahkan sa-

tu pukulanpun mereka tidak sanggup! Bagaimana 

pula nanti mereka akan menghadapi jago-jago 

Kadipaten Madiun musuh besar mereka?! Men-

gingat sampai ke sini Wulansari menjadi putus 

asa dan rasanya mau saja dia melemparkan pe-

dangnya ke arah anak rusa yang duduk di atas 

batu karang itu.

"Anak-anak muda," terdengar suara yang 

menggetarkan ruangan. "Kalau kalian tidak ber-

hasil mengalahkan Joko Cilik, itu bukan berarti 

bahwa ilmu yang kalian miliki masih rendah dan 

tak ada artinya! Tidak sekali-sekali. Sebelum ka-

lian, pernah seorang pertapa sakti tersesat ke sini 

dan berhadapan dengan Joko Cilik. Mereka ber-

tempur seru, sesudah dua puluh jurus dan perta-

pa itu tidak sanggup mengalahkan Joko Cilik, dia 

lantas menjura lalu meninggalkan tempat ini den-

gan sangat malu. Mahesa, Wulansari.... Kalian 

tak usah kecewa. Ilmu silat tangan kosong dan 

ilmu pedang kalian memang belum mencapai


tingkat yang tinggi, tapi itu sudah cukup untuk 

menjadi dasar bagiku dalam menggembleng ka-

lian...!"

Mendengar itu maka senanglah hati kedua 

muda mudi tersebut. Ruangan batu karang empat 

persegi itu bergema kembali oleh suara si orang 

sakti yang berupa perintah pada anak rusa peli-

haraannya.

"Joko Cilik, untuk sementara tugasmu su-

dah selesai. Kau kembalilah ke dalam hutan!"

Binatang kecil itu berdiri lurus-lurus den-

gan hanya mempergunakan kedua kaki bela-

kangnya di atas batu karang putih. Lalu tak 

ubahnya seperti seorang manusia dia memben-

tangkan dua kaki mukanya ke samping dan me-

runduk, lantas turun dari atas batu itu dan me-

lompat-lompat di hadapan Mahesa serta Wulan-

sari untuk akhirnya lari dengan cepat meninggal-

kan gua. Wulansari senyum-senyum melihat ke-

jenakaan binatang itu.

"Mahesa Kelud, Wulansari... kalian duduk-

lah di kiri kanan batu karang putih yang licin itu. 

Dan dengarlah apa yang aku akan katakan selan-

jutnya...." Setelah Mahesa Kelud dan Wulansari 

duduk di tempat yang diperintahkan maka suara 

tanpa rupa itu terdengar pula. "Anak-anak muda, 

aku adalah manusia biasa tak ubahnya seperti 

kalian. Untuk sementara aku tidak bisa memper-

lihatkan diri pada kalian. Aku tidak mempunyai 

nama karena memang ketika aku dilahirkan ke 

dunia ini aku masih belum diberi nama oleh kedua orang tuaku sedangkan mereka keburu me-

ninggal dunia. Meskipun begitu, aku tidak kebe-

ratan jika kalian memanggilku seperti yang kalian 

sebut tadi yaitu Suara Tanpa Rupa. Mulai hari ini 

aku angkat kalian menjadi murid-muridku. Aku 

tidak mempunyai ilmu apa-apa dan tidak akan 

mengajarkan kepandaian apa-apa kepada kalian. 

Tapi padaku, di gua batu karang ini, ada sepa-

sang pedang sakti. Senjata-senjata ini akan aku 

berikan kepada kalian dan senjata-senjata inilah 

yang akan memberi pelajaran pada kalian mas-

ing-masing tanpa dituntun, tanpa diajar, sampai 

akhirnya kalian berdua memiliki ilmu pedang 

yang bernama "Dewa-Dewi Pedang Delapan Pen-

juru Angin". Sepasang pedang itulah yang akan 

membimbing kalian untuk memiliki kepandaian 

tersebut dan juga memberikan tambahan tenaga 

dalam yang ampuh. Dan seandainya kalian sudah 

berhasil memiliki ilmu pedang yang hebat itu 

nanti, beberapa hal harus kalian ingat betul-

betul. Pertama, jangan menjadi sombong atau 

congkak dengan ilmu yang kalian miliki. Kedua, 

ketahuilah bahwa di atas langit ada lagi langit 

yang lebih tinggi, di atas setiap orang yang pandai 

akan selalu ada lagi seorang lain yang lebih pan-

dai, demikianlah seterusnya. Ketiga atau yang te-

rakhir, pergunakanlah ilmu tersebut untuk ke-

baikan karena bilamana dipakai untuk kejahatan 

ilmu itu sendiri yang akan menyerang kalian! Ka-

lian dengar pesanku itu...?"

"Dengar, guru..." kata Mahesa Kelud dan


Wulansari hampir bersamaan.

"Bagus. Mahesa, kau angkatlah batu ka-

rang putih dan licin di sampingmu."

Pemuda itu berdiri dan melangkah ke ha-

dapan batu karang putih di mana anak rusa tadi 

sebelumnya duduk. Batu ini diangkatnya, berat-

nya bukan main. Dengan mengerahkan tenaga 

dalamnya baru dia berhasil mengangkatnya ke 

samping. Pada dasar batu karang itu kelihatanlah 

tumpukan pasir halus berwarna sangat merah. 

Sampai di situ maka terdengarlah suara si orang 

sakti. "Mahesa dan Wulansari, dengar dahulu. Bi-

lamana kalian sudah menguasai ilmu Dewa Pe-

dang Delapan Penjuru Angin, ambillah pasir me-

rah tersebut, masukkan dalam dua buah kantong 

kulit dan kalian bisa mempergunakannya sebagai 

senjata rahasia bernama - Pasir Terbang - Nah 

Mahesa kini kau galilah pasir merah tersebut, 

singkirkan baik-baik ke tepi. Gali sampai akhir-

nya kau menemui sesuatu...."

Dengan mempergunakan sepuluh jari-jari 

tangannya Mahesa Kelud menggali pasir merah 

itu. Makin ke dalam digalinya pasir galian sema-

kin merah sedang lubang galian terang benderang 

oleh pancaran sinar merah aneh yang keluar dari 

dasar pasir merah. Akhirnya jari-jari tangan pe-

muda itu menyentuh sesuatu yang runcing lancip 

dan memancarkan sinar merah.

"Guru, saya menemukan sesuatu benda 

berujung lancip dan mengeluarkan sinar merah," 

menerangkan Mahesa.


"Bagus, kau tariklah benda itu keluar!"

Mula-mula Mahesa Kelud mempergunakan 

tangan kanannya untuk menarik benda itu, tapi 

tak berhasil. Dengan bantuan tangan kiri dan 

dengan mengerahkan seluruh kekuatannya ak-

hirnya pemuda itu berhasil juga menarik keluar 

benda tersebut. Begitu benda ini keluar dari da-

lam lobang pasir maka memancarlah sinar merah 

yang menyilaukan mata! Ternyata yang berada di 

tangan Mahesa Kelud saat itu adalah sebilah pe-

dang panjang yang dari ujungnya yang lancip 

sampai ke gagangnya yang berukir indah berwar-

na memancarkan sinar merah menyilaukan.

"Sudah Mahesa...?" terdengar Suara Tanpa 

Rupa bertanya. "Sudah, guru."

"Apa kini yang tergenggam di tanganmu?"

"Sebilah pedang mustika berwarna merah," 

jawab Mahesa Kelud.

"Bagus! Kau memang berjodoh untuk me-

miliki Pedang Dewa itu. Coba kau pegang pada 

bagian hulunya."

Mahesa pegang gagang pedang merah itu 

dengan tangan kanannya. Mendadak terasa satu 

hawa panas mengalir ke tangannya, terus menja-

lar ke seluruh tubuh mulai dari ujung kaki sam-

pai ke ujung rambut. Demikian panasnya hawa 

aneh ini sampai Mahesa hampir-hampir tak sang-

gup memegang terus pedang sakti itu.

"Apa kau merasa adanya aliran hawa pa-

nas menjalar ke seluruh tubuhmu Mahesa?" Sua-

ra Tanpa Rupa bertanya.


"Benar guru. Saya hampir tak sanggup ber-

tahan. Panas sekali. Tangan saya seperti dipang-

gang," menjelaskan Mahesa Kelud.

"Jangan dilepas. Bertahan terus. Sebentar 

lagi hawa panas akan berganti dengan hawa se-

juk...."

Mendengar ucapan sang guru Mahesa kua-

tkan diri, bertahan sampai sekujur tubuhnya ba-

sah oleh keringat. Ternyata betul. Perlahan-lahan 

hawa panas meredup lalu sirna. Kini terasa ada 

aliran hawa sejuk masuk ke tubuhnya.

"Kurasa sekarang ada hawa sejuk mema-

suki tubuhmu...."

"Benar guru," jawab Mahesa. Saat itu dira-

sakannya secara aneh tubuhnya menjadi segar 

bugar. Otot-otot dan urat-uratnya bergetar ken-

cang. Satu kekuatan aneh yang dahsyat kini 

mendekam dalam tubuhnya!

"Mahesa muridku," terdengar Suara Tanpa 

Rupa berucap. "Ketahuilah, aliran panas tadi ma-

suk ke tubuhmu untuk memusnahkan segala ke-

kotoran jasmani dan rohani yang masih bersa-

rang dalam dirimu. Sesudah semua itu disingkir-

kan dan dirimu seolah menjadi kosong maka ma-

suklah aliran sejuk ke dalam tubuhmu. Ini adalah 

aliran yang membawa kekuatan lahir batin serta 

kekuatan tenaga dalam yang sangat ampuh. Ma-

hesa sekarang coba masukkan ujung pedang ke 

dalam lobang sampai batas gagangnya. Tunggu 

seketika kemudian tarik ke atas..."

Mahesa menurut. Ketika pedang itu dita


riknya kembali ternyata senjata ini sudah memili-

ki sarung merah berukir indah!

"Nah, kau minggirlah Mahesa. Wulan, kini 

giliranmu. Gali pasir merah itu selanjutnya sam-

pai kau juga menemui ujung runcing sebatang 

pedang merah."

Seperti Mahesa Kelud tadi maka Wulansari 

melakukan apa yang diperintahkan gurunya. Be-

lum lama menggali ditemui ujung sebilah pedang 

lancip. Dengan kedua tangannya si gadis menarik 

senjata itu ke atas. Ternyata pedang ini juga ber-

warna merah dan bentuknya tiada beda dengan 

yang sudah menjadi milik Mahesa. Waktu dipe-

gang pada gagangnya terasa hawa panas mengalir 

yang disusul oleh hawa dingin sejuk. Kemudian 

Suara Tanpa Rupa menyuruh Wulansari mema-

sukkan ujung pedang ke dalam lubang dan ketika 

dicabut senjata itu sudah bersarung.

"Murid-muridku," terdengar suara si orang 

sakti. "Keluarkan pedang yang tadi kalian bawa 

ke sini dan masukkan ke dalam lubang lalu tim-

bun dengan pasir merah itu. Senjata itu tidak ka-

lian pergunakan lagi dan biarlah dia hancur di 

dalam tanah...."

Mahesa mencabut pedang Naga Kuning se-

dang Wulan mengeluarkan pedang putih warisan 

gurunya. Kedua senjata itu satu demi satu dima-

sukkan ke dalam lubang lalu ditimbun dengan 

pasir dan ditutup dengan batu karang licin seperti 

sediakala. Selesai mereka mengerjakan itu maka 

terdengar pula suara sang guru.


"Murid-muridku, sekarang dua pedang 

mustika sakti itu sudah berada di tangan kalian 

dan menjadi milik kalian. Sepintas lalu kedua pe-

dang itu bentuknya sama tiada beda. Tapi yang 

menjadi milik Wulansari yaitu Pedang Dewi, ada-

lah satu jari lebih pendek dari milikmu, Mahesa. 

Dengan berlatih serta mempergunakan pedang 

itu, maka setingkat demi setingkat kalian akan 

memiliki ilmu pedang yang hebat sampai akhir-

nya mencapai tingkat teratas yaitu yang kunama-

kan Dewa-Dewi Pedang Delapan Penjuru Angin. 

Ilmu pedang itu, bila kalian pergunakan bersama-

sama menghadapi musuh, niscaya sukar dicari 

tandingannya. Tapi bila dipergunakan sendiri-

sendiri juga tidak kalah hebatnya dan khusus un-

tukmu, Wulan, kau boleh ganti nama ilmu pe-

dang itu menjadi Dewi Pedang Delapan Penjuru 

Angin. Kemudian satu pantangan harus kalian 

ingat baik-baik yaitu selama kalian belajar di sini 

sekali-sekali tidak boleh meninggalkan gua!"

"Tapi guru..." kata Wulansari sambil me-

mandang berkeliling, "Jika kami tidak diperke-

nankan keluar dari gua ini, bagaimana kami ma-

kan?"

"Wulan, ingatanmu ke perut saja!" kata 

Suara Tanpa Rupa dengan tertawa bergelak. "Tapi 

muridku, kalian tak usah khawatir. Joko Cilik 

akan datang ke sini setiap hari membawakan 

buah-buahan segar untuk kalian.... Nah sekarang 

kau tak perlu bicara panjang lebar lagi. Kalian 

berdirilah berhadap-hadapan untuk mulai melatih diri!"

Meskipun guru mereka itu tidak kelihatan 

sama sekali tapi Mahesa dan Wulansari sama-

sama menjura memberi hormat lalu mencabut 

pedang masing-masing. Anehnya pedang itu kini 

terasa sangat enteng. Dan bukan itu saja, bahkan 

tubuh serta tindakan kaki mereka juga menjadi 

enteng pula. Dan ketika mereka sama-sama men-

gangkat pedang suatu kekuatan gaib yang dah-

syat seakan-akan membimbing tangan mereka. 

Sesaat kemudian kedua murid Suara Tanpa Rupa 

itupun bertempurlah memulai latihan yang per-

tama. Tubuh mereka berkelebat laksana bayang-

bayang. Pedang mereka mengeluarkan sinar me-

rah bergulung-gulung dan menimbulkan angin 

keras sehingga di dalam gua itu kedengarannya 

seperti ada ribuan tawon yang mendengung!


TIGA


TAK terasa lagi satu tahun berlalu. Mahesa 

Kelud dan Wulansari sudah sama-sama mengua-

sai ilmu pedang yang hebat itu. Suatu hari ma-

suklah Joko Cilik ke dalam gua. Saat itu Mahesa 

dan Wulansari tengah berlatih ilmu pedang. Anak 

rusa itu masuk ke dalam dengan berlari cepat te-

tapi kaki belakangnya sebelah kiri pincang. Kedua 

murid Suara Tanpa Rupa menghentikan latihan 

mereka dan berlari mendapatkan Joko Cilik yang 

duduk di atas batu karang licin dan menjilat-jilat


kakinya yang pincang.

"Joko Cilik! Apa yang terjadi dengan kau?!" 

seru Mahesa. Ketika diperhatikannya kaki kiri se-

belah belakang anak rusa itu ternyata terlepas 

persendian tulangnya.

"Pasti ada manusia-manusia jahat mence-

derainya!" kata Wulansari. Gadis ini berlutut. 

Dengan jari-jarinya yang halus dipertemukannya 

kembali persendian kaki yang terlepas itu. Joko 

Cilik menjilat-jilat lengan Wulansari tanda men-

gucapkan rasa terima kasihnya.

Sementara itu Mahesa Kelud yang memang 

merasa yakin akan kata-kata Wulansari tadi yaitu 

bahwa ada manusia yang mencelakai binatang 

peliharaan gurunya segera meninggalkan ruangan 

empat persegi dan berlari ke mulut gua. Dia lupa 

akan pantangan gurunya yaitu selama berada di 

dalam gua sekali-kali tidak boleh keluar!

Dan benar saja. Begitu Mahesa sampai di 

mulut gua maka kelihatanlah belasan manusia 

tengah menyibakkan semak belukar lebat yang 

menutupi mulut gua. Orang-orang ini terkejutnya 

bukan main. Salah seorang yang bertampang ke-

ren membuka mulutnya. 

"Eh... eh... kita mencari anak rusa tahu-

tahu yang muncul manusia. Lucu! Hai orang mu-

da, kau manusia sungguh atau jin siluman?!" 

Orang ini adalah Braja Kunto, kepala pasukan 

pengawal Kadipaten Madiun dan dia adalah anak 

murid Waranganaya Toteng, si resi jahat yang du-

lu bersama Lima Brahmana pernah berurusan


dengan Mahesa serta Wulansari sampai kedua 

anak muda tersebut yang masa itu masih belum 

mempunyai ilmu yang cukup tinggi untuk meng-

hadapi mereka terpaksa lari menyelamatkan diri. 

Mahesa sendiri tidak tahu kalau dia berhadapan 

dengan murid musuh besarnya. Dia cuma tahu 

dari pakaian orang-orang yang dihadapan itu 

bahwa mereka adalah pengawal-pengawal Kadipa-

ten.

"Setan busuk kesasar!" semprot Mahesa 

Kelud pada Braja Kunto. "Kalau bicara jangan 

seenak perutmu! Kalian datang ke sini mau apa?"

Dengan sikap gagah Braja Kunto lipatkan 

tangan di muka dada dan renggangkan kaki. "Si-

luman bermulut besar, kami datang ke sini untuk 

mencari seekor anak rusa buruan! Tapi kalau 

anak rusa itu sudah lari, kami rasa kaupun cu-

kup enak dagingnya untuk dipanggang!"

"Manusia rendah! Jadi kalian yang mence-

lakai anak rusa itu?!"

Saat itu Wulansari sudah berada pula di 

mulut gua. Dia terkejut melihat Mahesa Kelud 

tengah berhadap-hadapan dengan belasan orang 

berpakaian prajurit. Di lain pihak, Braja Kunto 

dan kawan-kawannya tidak pula kurang terkejut-

nya ketika melihat ada seorang gadis jelita berdiri 

dihadapan mereka.

Kunto mengulum senyum. "Tak sangka ada 

gadis cantik diam di gua ini! Sayang sekali, men-

gapa tidak tinggal di kota? Aku bersedia membe-

rikan satu kamar dengan tempat tidur yang em


puk dalam rumahku untukmu gadis manis!"

"Manusia rendah! Jangan kau bicara sem-

barangan terhadap adikku!" memperingatkan 

Mahesa Kelud. Sebegitu jauh pemuda ini masih 

bisa menahan kesabarannya.

"Ho... ho! Jadi gadis ini adikmu? Bagus se-

kali kalau begitu sehingga aku tak perlu susah-

susah mencari walinya untuk mengajukan lama-

ran!" Semua orang tertawa kecuali Mahesa dan 

Wulan. Si gadis sendiri menjadi merah mukanya 

ketika mendengar kata-kata Braja Kunto itu.

"Manusia tidak tahu peradatan, berlalulah 

dari sini sebelum aku naik darah!" memperin-

gatkan Mahesa Kelud.

"He... he, kunyuk ini terlalu banyak mulut! 

Kau masuklah kembali ke dalam gua dan cuci 

kaki, tidur!" kata Braja Kunto mengejek. Bersa-

maan itu tangan kirinya dipakai mendorong Ma-

hesa Kelud ke dalam gua. Dia mendorong sambil 

kerahkan tenaga dalam yang tinggi, maksudnya 

dengan sekali dorong saja pemuda itu akan men-

tal terguling masuk ke dalam gua. Tapi alangkah

terkejutnya murid Waranganaya Toteng ini, ketika 

dengan kecepatan luar biasa Mahesa Kelud berke-

lit ke samping dan mengirimkan jotosan yang ke-

ras ke bawah ketiak laki-laki itu. Cepat-cepat Bra-

ja Kunto tarik pulang tangannya. Dari angin pu-

kulan lawan, kepala pasukan Kadipaten ini segera 

maklum bahwa lawannya memiliki tenaga dalam 

yang jauh lebih tinggi dari padanya dan yang tak 

akan mungkin bisa dihadapinya dengan seorang


diri. Maka berteriaklah anak murid Waranganaya 

Toteng ini.

"Kawan-kawan! Keroyok!"

Serentak dengan itu belasan pengawal-

pengawal Kadipaten segera menyerbu kedua mu-

rid Suara Tanpa Rupa itu. Braja Kunto dan anak-

anak buahnya terlalu sombong dan menyangka 

bahwa hanya Mahesa Kelud sendirilah yang be-

rilmu tinggi, tapi tak dinyana tak diduga ketika 

melihat Wulansari berkelebat cepat dan dalam sa-

tu gebrakan saja berhasil membikin mental roboh 

seorang prajurit, mereka menjadi hati-hati dan 

segera mengeluarkan senjata.

Mahesa Kelud setahun yang lalu tidak sa-

ma dengan Mahesa Kelud sesudah digembleng 

oleh si orang tua sakti tanpa nama. Dengan satu 

bentakan keras dia kirimkan sebuah jotosan yang 

tak terelakkan ke dada Braja Kunto. Kepala pa-

sukan Kadipaten ini menjerit keras dan terlempar 

jauh. Dadanya sesak. Cepat-cepat dia alirkan te-

naga dalamnya ke bagian yang terpukul. Prajurit-

prajurit anak buahnya menjadi panik dan ngeri. 

Golok-golok maut di tangan mereka menderu kian 

kemari mencari sasaran di tubuh kedua lawan 

tapi tak satupun yang berhasil. Sementara itu 

Mahesa dan Wulansari berhasil membuat dua 

orang pengeroyoknya menggeletak di tanah bah-

kan si gadis yang meskipun saat itu membawa 

pedang mustika di punggungnya tapi belum mau 

mempergunakannya berhasil merampas pedang 

salah satu pengeroyok. Dengan pedang di tangan


maka mengamuklah gadis ini.

Nyali Braja Kunto menjadi lumer. Mengha-

dapi lawan yang bertangan kosong dia dan ka-

wan-kawan sudah dibikin sibuk serta panik bah-

kan telah banyak jatuh korban, apalagi kini meli-

hat Wulansari mempergunakan pedang pula! Ga-

dis ini tidak tanggung-tanggung. Meskipun pe-

dangnya bukan pedang mustika namun waktu 

dia mengeluarkan ilmu pedang yang diajarkan 

oleh gurunya si Suara Tanpa Rupa maka berpeki-

kanlah beberapa orang pengeroyoknya yang kena 

tersambar pedang!

Untuk memberi aba-aba lari. Braja Kunto 

merasa malu terhadap anak buahnya sendiri. 

Apalagi mengingat dia adalah anak murid seorang 

resi berilmu tinggi dan ditakuti! Namun untuk 

melawan terus kedua pendekar muda yang ber-

kepandaian jauh lebih tinggi itu, dia sudah tidak 

punya nyali tak punya harapan. Akhirnya dia 

mendapat akal juga. Dia berseru: "Tahan!" dan 

bersamaan itu melompat keluar dari kalangan 

pertempuran, anak-anak buahnya mengikuti.

Mahesa dan Wulansari yang tahu tata cara 

persilatan segera pula menghentikan gerakan me-

reka tapi mereka menanti dengan waspada. Mere-

ka maklum bahwa bangsat-bangsat Kadipaten itu 

punya seribu satu macam akal dan tipuan yang 

busuk!

Braja Kunto maju satu langkah ke hada-

pan Mahesa Kelud dan menjura hormat.

"Saudara-saudara yang gagah," katanya,


"Harap maafkan kami. Terus terang kami akui ke-

salahan dan tidak tahu diri sampai berani turun 

tangan terhadap saudara-saudara yang gagah. 

Sekali lagi maaf. Dan bila saudara-saudara tidak 

keberatan sudilah memberitahukan nama sauda-

ra-saudara berdua kepada kami."

Wulansari menyeringai mengejek. "Huh, ti-

dak perlu kami kasih tahu nama pada manusia-

manusia macam kalian! Berlalulah cepat dari ha-

dapanku!"

Braja Kunto geramnya bukan main. Tapi 

dia tidak berani bertindak gegabah lagi. Dia 

memberi isyarat pada anak-anak buahnya. Den-

gan membawa kawan-kawan mereka yang luka-

luka parah maka berlalulah pasukan pengawal 

Kadipaten itu di bawah pimpinan Braja Kunto.

Mahesa memegang lengan Wulansari dan 

kedua orang itu kemudian masuk ke dalam gua 

kembali. Begitu mereka sampai di ruang batu ka-

rang empat persegi maka terdengarlah suara guru 

mereka menggema.

"Sayang... sayang sekali... sayang seka-

li____"

Mahesa Kelud dan Wulansari saling pan-

dang tak mengerti. Keduanya masih belum sadar 

kalau mereka sudah melanggar pantangan sang 

guru. "Murid-muridku, sayang sekali.... Kalian 

baru satu tahun berada di sini tapi kalian sudah 

melanggar laranganku, padahal ilmu pedang ka-

lian belum mencapai tingkat kesempurnaan, pa-

dahal ilmu dalam dan batin kalian belum mencapai tingkat teratas! Sayang... sayang sekali murid-

muridku...."

Terkejutlah kedua orang itu. Mereka segera 

menjura. "Guru!" seru Mahesa. "Harap maafkan 

kami karena telah keluar dari gua dan melanggar 

larangan guru! Sebenarnya kami tidak punya 

maksud demikian. Tapi Joko Cilik dikejar-kejar 

bahkan dicelakai oleh bangsat-bangsat Kadipaten! 

Kami tak senang kalau tidak turun tangan...!"

"Itu bukan alasan.... Itu bukan alasan mu-

rid-muridku. Kenyataannya kalian sudah melang-

gar larangan...."

"Guru, ampunilah kesalahan kami," kata 

Wulansari seraya tundukkan kepala dengan air 

mata berlinang-linang.

"Tidak ada kesalahan yang harus diampu-

ni, muridku," jawab Suara Tanpa Rupa. "Yang ada 

hanyalah larangan yang telah dilanggar. Manusia 

luaran telah melihat kalian berdua. Dan dalam 

tempo yang singkat puluhan kaki-kaki tangan 

Kadipaten berilmu tinggi akan datang ke sini 

mencari kalian. Karena itu sebelum terlambat ka-

lian pergilah dari sini...."

"Guru," kata Mahesa, "demi kesalahan 

yang kami telah buat, kami berani mengadu nya-

wa untuk menghadapi mereka."

"Tidak Mahesa, ini belum lagi saatnya. Ka-

lau kataku kalian harus pergi, kalian lakukan! 

Kau Wulansari, pergilah ke timur dan kau Mahe-

sa, pergilah ke barat. Satu tahun kemudian baru 

kalian datang lagi ke sini. Dan selama waktu itu


kalian sekali-kali jangan bikin urusan dengan 

Adipati Suto Nyamat ataupun kaki-kaki tangan-

nya. Jauhi mereka untuk sementara."

"Tapi guru, mereka adalah musuh besar 

kami," kata Wulansari

"Tak perduli siapapun mereka adanya!" ja-

wab Suara Tanpa Rupa.

Mahesa dan Wulansari segera maklum 

bahwa guru mereka sangat kecewa karena mere-

ka telah melanggar larangan. "Guru," kata Mahe-

sa, "sebelum pergi murid inginkan beberapa pen-

jelasan. Mudah-mudahan guru sudi menerang-

kannya. Apakah guru pernah kenal atau dengar 

tentang manusia bernama Simo Gembong...?"

"Aku tidak suruh kau bertanya, Mahesa. 

Tapi suruh kau dan Wulansari segera berangkat 

dari sini. Pertanyaanmu lain kali kujawab! Nah, 

pergilah...!"

"Harap maafkan, guru. Kami pergi seka-

rang," kata Mahesa. Kedua murid Suara Tanpa 

Rupa itu menjura sekali lagi, menganggukkan ke-

pala pada Joko Cilik yang berbaring di atas batu 

karang licin lalu keluar.

Sampai di luar gua, kedua orang itu berdiri 

berhadap-hadapan dan untuk beberapa lamanya 

tidak bisa berkata apa-apa. Mahesa melihat ba-

gaimana kedua mata Wulansari berkaca-kaca. 

Pemuda itu maju satu langkah dan memegang 

bahu si gadis. "Wulan, tak usah menangis. Mari 

sama kita tabahkan hati dan kuatkan jiwa. Ini 

adalah kesalahan yang kita harus tanggung. Kau


dalam pengembaraan hati-hatilah. Kalau kau 

sampai ke sini lebih dahulu nantikan aku...."

Butiran-butiran air mata jatuh berderai 

membasahi pipi merah Wulansari. Gadis ini me-

meluk tubuh Mahesa dan menyandarkan kepa-

lanya ke dada si pemuda yang bidang. "Tapi Ma-

hesa..." katanya perlahan dan sayu, "satu tahun 

itu lama sekali. Aku tak sanggup berpisah sekian 

lama denganmu. Aku... aku mencintaimu, Mahe-

sa...." 

Berdebar dada si pemuda ketika menden-

gar pengakuan terus terang dari gadis yang dipe-

luknya itu. Selama berhubungan mereka memang 

sudah sama-sama merasakan satu perasaan me-

sra, yang tak sanggup mereka utarakan satu sa-

ma lain. Tapi di saat perpisahan itu, semua baru-

lah diucapkan, diiringi dengan seseduan serta air 

mata.

"Tidak, Wulan... satu tahun tidak lama. 

Kau harus sanggup. Satu tahun berpisah untuk 

bertemu lagi di sini. Aku juga mencintaimu, Wu-

lan..." bisik Mahesa Kelud.

Gadis itu menengadah. Air matanya berde-

raian. Mahesa dengan hati penuh haru menyeka 

butiran-butiran air mata yang membasahi pipi 

Wulansari dan mencium kedua matanya.

"Mahesa, benarkah...? Benarkah kau juga 

mencintaiku...?"

"Ya, Wulan. Aku sangat mencintaimu. Su-

dah lama ini kurasakan tapi baru sekarang, di 

saat berpisah ini kusampaikan padamu. Semoga


dalam pengembaraan hati-hatilah. Kalau kau 

sampai ke sini lebih dahulu nantikan aku...."

Butiran-butiran air mata jatuh berderai 

membasahi pipi merah Wulansari. Gadis ini me-

meluk tubuh Mahesa dan menyandarkan kepa-

lanya ke dada si pemuda yang bidang. "Tapi Ma-

hesa..." katanya perlahan dan sayu, "satu tahun 

itu lama sekali. Aku tak sanggup berpisah sekian 

lama denganmu. Aku... aku mencintaimu, Mahe-

sa...." 

Berdebar dada si pemuda ketika menden-

gar pengakuan terus terang dari gadis yang dipe-

luknya itu. Selama berhubungan mereka memang 

sudah sama-sama merasakan satu perasaan me-

sra, yang tak sanggup mereka utarakan satu sa-

ma lain. Tapi di saat perpisahan itu, semua baru-

lah diucapkan, diiringi dengan seseduan serta air 

mata.

"Tidak, Wulan... satu tahun tidak lama. 

Kau harus sanggup. Satu tahun berpisah untuk 

bertemu lagi di sini. Aku juga mencintaimu, Wu-

lan..." bisik Mahesa Kelud.

Gadis itu menengadah. Air matanya berde-

raian. Mahesa dengan hati penuh haru menyeka 

butiran-butiran air mata yang membasahi pipi 

Wulansari dan mencium kedua matanya.

"Mahesa, benarkah...? Benarkah kau juga 

mencintaiku...?"

"Ya, Wulan. Aku sangat mencintaimu. Su-

dah lama ini kurasakan tapi baru sekarang, di 

saat berpisah ini kusampaikan padamu. Semoga


cinta kita masing-masing memberikan ketabahan 

dalam pengembaraan kita selama satu tahun 

mendatang...."

Mendengar itu Wulansari memeluk tubuh 

Mahesa Kelud erat-erat, seakan-akan tak hendak 

dilepaskannya lagi pemuda itu. Mahesa mencium 

rambut si gadis berulang-ulang dan kemesraan 

itu dilanjutkan dengan sepasang bibir yang saling 

kecup penuh kehangatan.

"Wulan...."

"Ya, Mahesa...."

"Aku harus pergi sekarang adikku...." Wu-

lansari melepaskan pelukannya. "Kuatkan hati-

mu, Wulan. Sampai bertemu kekasih...."

Mahesa memutar tubuhnya, dan sekali dia 

berkelebat maka dia sudah berada jauh. Wulan-

sari membetulkan letak rambutnya. Dipandan-

ginya tubuh orang yang dikasihinya itu di kejau-

han untuk penghabisan kalinya, lalu dengan pe-

nuh ketabahan dia berkelebat pula meninggalkan 

tempat itu.


EMPAT



DI ANTARA sekian banyaknya daerah di 

kadipatenan yang berada di bawah kuasa Raja 

Pajang, salah satu di antaranya ialah Magetan. 

Magetan hanya sebuah kota kecil, tapi apa yang 

membuat kota kecil ini lebih menonjol dan ter-

kenal namanya ialah karena daerahnya yang


subur, penduduknya yang rajin serta ramah baik 

budi dan hasil alamnya yang tumpah ruah. Boleh 

dikatakan tidak ada seorang petani miskin pun di 

sana. Tukang minta-minta jarang terlihat, kalau 

pun ada maka biasanya adalah pendatang dari 

daerah-daerah lain di sekitar Magetan. Hasil upeti 

yang diterima Raja Pajang setahun sekali dari 

Magetan, jika dibandingkan dengan tiga daerah 

kadipaten lainnya yang dijumlahkan sekaligus 

maka masih lebih tinggi dan lebih banyak upeti 

dari Magetan, demikianlah kayanya daerah itu. 

Kemudian ada pula hal lain yang menggembira-

kan. Yaitu bahwa Bupati Magetan yang bernama 

Lor Bentulan adalah seorang Bupati yang cakap, 

baik serta ramah. Seluruh penduduk Magetan 

suka pada Bupati ini. Justru kejujuran dan bim-

bingan yang tak segan-segan diberikan oleh Lor 

Bentulanlah yang menambah tumpah ruahnya 

segala hasil kekayaan yang ada di Magetan. Dan 

bukan rahasia lagi kalau banyak Bupati-Bupati 

lain yang diam-diam merasa iri terhadap kecaka-

pan Lor Bentulan ini, padahal kalau dilihat kepa-

da umur, Lor Bentulan belum lagi mencapai em-

pat puluh tahun tapi sudah pandai mengatur de-

mikian rupa sehingga tingkat kehidupan rakyat 

yang berada di bawahnya menjadi tinggi, rakyat 

hidup aman makmur tenteram sejahtera.

Suatu malam yang gelap tanpa bulan tan-

pa bintang, di ruang tengah Kadipaten yang besar 

dan terang duduklah Adipati Lor Bentulan ber-

sama isteri dan anak tunggal mereka, seorang gadis cilik berumur sembilan tahun. Mereka tengah 

asyik bercakap-cakap ketika tiba-tiba saja ke 

ruangan itu melompat enam orang berewokan, 

bertampang buas. Yang lima, bertubuh besar-

besar dan tegap, mereka segera mengurung ketiga 

beranak itu. Salah satu diantaranya dengan kece-

patan luar biasa tahu-tahu sudah melintangkan 

bagian goloknya yang tajam ke batang leher Adi-

pati Lor Bentulan! Isteri sang Adipati yang hendak 

berteriak segera ditekap mulutnya demikian juga 

anak tunggalnya.

Orang yang keenam berdiri dekat pintu. 

Tangan kanannya menekan hulu golok panjang 

yang tersisip di pinggang. Tangan kirinya ternyata 

buntung. Berbeda dengan lima orang lainnya ma-

ka yang satu ini bertubuh pendek kate serta bo-

tak. Tapi melihat kepada sikapnya berdiri di pintu 

itu maka tahulah kita bahwa dialah yang menjadi 

pemimpin dari kelima manusia-manusia tinggi 

besar gondrong dan berewokan. Kemudian meli-

hat pula kepada tampang-tampang mereka dapat 

diduga bahwa mereka bukan orang baik-baik dan 

tentu pula datang bukan dengan maksud baik!

Orang yang bertangan buntung, berkepala 

botak serta berbadan pendek kate maju ke muka, 

ke hadapan Adipati Lor Bentulan. Di bibirnya 

yang tebal tersungging satu seringai mengejek. 

Manusia kate ini tak lain adalah Warok Kate, ke-

pala rampok dari bukit Jatiluwak yang telah 

membunuh si Cakar Setan yaitu guru Wulansari 

dalam memperebutkan surat rahasia.


Meskipun tahu bahwa dia tengah berhada-

pan dengan satu gerombolan orang-orang jahat, 

namun dengan menguasai dirinya sedapat mung-

kin, Lor Bentulan bertanya tenang: "Saudara-

saudara, kalian siapa dan punya maksud apa da-

tang ke tempatku ini?"

Seringai di mulut Warok Kate semakin 

memburuk. "Adipati Lor Bentulan, aku senang 

melihat kau masih mau bicara pakai peradatan 

dan juga senang karena kau ingin tahu siapa ka-

mi adanya. Aku Warok Kate dari bukit Jatilu-

wak...." Kepala rampok menyeringai kembali keti-

ka melihat bagaimana air muka Lor Bentulan 

menjadi berubah terkejut ketika mendengar na-

manya. Dia menggoyangkan kepalanya kepada 

kelima orang di sekelilingnya dan berkata: "Mere-

ka adalah anak-anak buahku yang juga menjadi 

murid-muridku."

"Kalian datang untuk maksud apa...?" 

tanya Lor Bentulan meskipun sembilan di antara 

sepuluh dia sudah yakin apa tujuan keenam 

orang itu datang ke tempatnya.

"Sebelum aku beri tahu maksud kedatan-

gan kami terlebih dahulu kau harus ingat satu 

hal baik-baik, Adipati. Jika kau berani memban-

tah atau menolak segala apa yang aku kata dan 

perintahkan, ketahuilah bahwa aku Warok Kate, 

kepala rampok dari Jatiluwak tidak segan-segan 

untuk pisahkan kepalamu dengan badan!"

Menggigillah tubuh Lor Bentulan ketika 

mendengar itu, isteri serta anaknya terlebih lagi.


"Kalau kalian datang untuk merampok segala 

uang dan harta kekayaan yang ada silahkan. Am-

bil semua yang ada, aku tidak akan melawan! Ta-

pi kalian harus ingat pula, sekali aku berteriak 

memanggil pengawal, kalian semua akan tertang-

kap hidup-hidup atau mati konyol di ruangan 

ini!"

Warok Kate tertawa bergelak. "Berteriaklah 

sampai kau muntah darah! Pasti tak ada satu 

orang pengawalmu pun yang muncul. Anak-anak 

buahku sudah membereskan mereka terlebih da-

hulu!"

Terkejutlah Lor Bentulan. Mukanya menja-

di pucat pasi. Dia tak bisa berkata apa-apa. Wa-

rok Kate meletakkan tangan kanannya di atas 

bahu kiri Adipati itu sambil kerahkan tenaga da-

lam. Lor Bentulan merasakan betapa bahunya 

seperti ditekan oleh satu karung berat ratusan 

kati dan tubuhnya menjadi terhuyung. Sebagai 

seorang bangsawan yang baik serta jujur, Lor 

Bentulan tidak pernah belajar ilmu silat atau pun 

ilmu-ilmu kebathinan. Selama dia hidup baik dan 

jujur serta ramah kepada semua orang, dia mera-

sa dirinya aman, tak punya musuh, sehingga dia 

merasa pula tidak perlu menuntut atau mempela-

jari segala macam ilmu kepandaian. Menghadapi 

kejadian saat itu, diam-diam Bupati Magetan ini 

menyesali diri.

"Warok Kate, kalau kau dan anak buahmu 

hendak merampok, lakukanlah. Sesudah itu ber-

lalu dengan cepat. Jangan ganggu kami lebih lama..." kata Lor Bentulan.

Warok Kate melepaskan pegangannya. 

Tangan kanannya kembali menekan hulu golok. 

"Lor Bentulan dengarlah! Aku datang ke sini bu-

kan untuk merampok...!"

Bupati itu menjadi heran. "Lalu...?" ta-

nyanya sambil mengerling kepada isteri dan 

anaknya. Hatinya menjadi gentar ketika terpikir 

olehnya mungkin rampok-rampok itu datang un-

tuk menculik isterinya atau anaknya lalu meme-

ras.

"Kami datang untuk membuat perjanjian 

dengan kau, begitulah secara halusnya! Atau ka-

lau kau tidak mengerti bahasa halus baiklah ku-

jelaskan. Mulai saat ini ke atas, kau harus turut 

segala ketentuan yang aku perintahkan, kau ha-

rus lakukan demi nyawamu dan nyawa anak iste-

rimu...."

"Ketentuan atau perintah apakah yang aku 

harus jalankan?" tanya Lor Bentulan.

"Daerah Magetan ini daerah yang kaya 

raya, bukan?"

Lor Bentulan tidak mengerti apa maksud 

pertanyaan ini. Tapi dia mengangguk perlahan. 

"Bagus," ujar Warok Kate. "Petani-petani dan se-

mua penduduk di sini juga semua orang-orang 

kaya, bukan?" 

Lor Bentulan mengangguk lagi. Warok Kate 

tertawa senang. "Nah, sekarang kau dengar baik-

baik. Mulai besok terhadap semua penduduk di 

sini, terutama petani-petani serta pedagang


pedagang kaya kau harus tarik pajak penghasilan 

sepuluh kali lipat dari yang sudah-sudah! Kau 

dengar...?" 

"Warok Kate...?"

"Sialan!" maki kepala rampok berkepala bo-

tak itu. "Aku tanya kau dengar apa tidak malahan 

bicara seenaknya. Kau dengar...?"

"Dengar. Tapi...."

"Tapi apa?!" bentak Warok Kate.

"Tapi ini adalah pemerasan, aku...."

"Tak perduli pemerasan atau apapun yang 

kau namakan. Aku ingin tahu, kau mau laksana-

kan perintahku itu atau tidak?"

"Tidak mungkin Warok. Tidak mungkin. ini 

adalah pemerasan dan melanggar aturan pajak 

kerajaan yang sudah ditentukan Sri Baginda...."

"Persetan dengan peraturan Sri Baginda. 

Sekalipun setan yang bikin peraturan harus tun-

duk pada peraturanku! Mengerti?!"

"Aku mengerti Warok, tapi tak mungkin 

aku laksanakan. Tak bisa...."

"Apa yang tidak bisa?!"

"Semua orang, seluruh rakyat Magetan ini 

akan mencap aku sebagai Bupati tukang peras. 

Bupati jahat dan tidak jujur! Daripada dicap 

orang macam begituan lebih baik mati!"

"Hem...." gumam Warok Kate. "Jadi kau ti-

dak takut mati, Lor Bentulan?!"

"Tidak, bunuhlah!"

Warok Kate menyeringai. Golok Besar di 

tangan anak buahnya yang saat itu masih melintang di leher Lor Bentulan ditekannya dengan 

tangan kanannya sedikit. Bagian yang tajam dari 

senjata ini mengiris kulit leher sang Adipati, 

membuat dia meringis kesakitan. Tapi dengan ta-

bah dia berkata: "Teruskan Warok aku sudah bi-

lang aku tidak takut mati!"

Kepala rampok itu mengangguk-anggukkan 

kepalanya lalu berkata: "Kau memang mungkin 

tidak takut mati, Lor Bentulan. Tapi kami punya 

cara lain untuk memaksamu tunduk! Coba kau 

lihat pertunjukan ini sebentar...."

Warok Kate melangkah ke hadapan anak 

perempuan Lor Bentulan. Dijambaknya rambut 

anak itu lalu ditamparnya. Gadis cilik umur sem-

bilan tahun ini tentu saja menjerit kesakitan dan 

menangis.

Melihat anaknya diperlakukan demikian, 

naiklah darah Lor Bentulan. Dikibaskannya tan-

gan anak buah Warok Kate yang memegang golok. 

Dia melompat ke muka: "Rampok keparat! Jangan 

sakiti anakku!"

Tapi lompatan Adipati ini baru setengah sa-

ja ketika anak buah Warok Kate yang tadi tan-

gannya dikibaskan menghantam dadanya dengan 

satu jotosan keras. Bupati Magetan itu terbanting 

kembali ke kursinya. Dadanya sakit dan napas-

nya sesak. "Sekali lagi kau berani memaki pe-

mimpin kami, kucincang anak dan isterimu di 

depan kau punya mata!"

Mendidihlah amarah Lor Bentulan. Tapi 

apa daya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Baginya


untuk mati di tangan rampok-rampok itu bukan 

apa-apa, tapi kalau anak isterinya harus pula 

menjadi korban, dia harus berpikir dua kali!

"Bagaimana Adipati, masih coba hendak 

melawan?" tanya Warok Kate mengejek.

Sang Adipati tidak menyahut. 

"Nah, kalau kau tak ingin anak isterimu 

mampus, sebaiknya dengar kata-kataku. Mulai 

besok kau harus ambil pajak sepuluh kali lipat 

atas semua penduduk di daerah ini! Sesudah ha-

silnya terkumpul, kau boleh sisihkan bagian yang 

harus kau serahkan pada raja sedang lebihnya, 

tidak kurang satu peser pun harus kau berikan 

kepada kami! Dengar?"

Lor Bentulan mengangguk. Kini dia mak-

lum, kalau Warok Kate dan anak-anak buahnya 

datang untuk merampok, harta kekayaannya 

yang banyak memang masih belum berarti apa-

apa dibandingkan dengan hasil pemerasan pajak 

yang diperintahkannya! Bupati ini mengutuk da-

lam hati.

"Dan pajak itu. Adipati..." terdengar kemba-

li suara Warok Kate, "Kau harus pungut dua kali 

dalam satu bulan!"

"Warok Kate, kau keterlaluan! Untuk pajak 

yang sebesar itu satu kali dalam sebulan belum 

tentu rakyat Magetan sanggup membayarnya, 

apalagi sampai dua kali!" kata Lor Bentulan.

"Aku tidak tanyakan sanggup atau tidak-

nya, Adipati! Tapi aku perintahkan kau untuk 

melaksanakannya!"


"Gila!"



LIMA


RAMPOK yang memegang golok hendak 

meninju Adipati itu dengan tangan kirinya tapi 

dicegah oleh Warok Kate. Kepala rampok ini 

membuka mulut kembali. "Sebagai jaminan bah-

wa kau akan mengikuti perintahku, kelima anak 

buahku ini kutempatkan di sini! Kepada setiap 

orang yang bertanya kau harus terangkan bahwa 

mereka adalah pengawal-pengawal tambahan 

yang didatangkan dari kotaraja! Dan untuk jami-

nan bahwa kau tidak akan melaporkan hal ini 

kepada orang-orang di kotaraja, maka anak pe-

rempuanmu kubawa ke bukit Jatiluwak!"

"Tidak bisa, Warok! Anak itu harus tetap 

berada di sini bersamaku!" tutur Lor Bentulan.

"Tidak ada satu orang pun boleh memban-

tah kehendakku, Adipati. Jika kau ingin anakmu 

selamat, lakukan apa yang kukatakan. Dan sela-

ma kau patuh serta tunduk kepada kami tak 

usah khawatir tentang dia! Pungut pajak itu mu-

lai besok. Hasil yang pertama selambat-lambatnya 

harus sudah kuterima minggu depan! Ada yang 

kurang jelas bagimu?"

Lor Bentulan tidak bisa menjawab saking 

cemas dan geram. Cemas terhadap keselamatan 

anak perempuannya dan geram terhadap perbua-

tan terkutuk rampok-rampok bejat itu. Dengan


satu gerakan cepat kemudian Warok Kate tahu-

tahu telah menotok jalan darah di leher anak pe-

rempuan Lor Bentulan lalu anak yang sudah ke-

jang tak sadarkan diri itu diletakkannya di bahu 

kirinya. Dia memandang berkeliling pada kelima 

anak buahnya dan berkata: "Kerjakan tugasmu 

dengan baik. Siapa saja yang bertindak mencuri-

gakan atau berani berlaku gegabah, jangan ragu-

ragu untuk menggorok batang lehernya!"

Kelima anak buah Warok Kate menjura 

dan kepala rampok itu kemudian melompat lewat 

jendela, menghilang dalam kegelapan malam.

Tak lama sesudah Warok Kate pergi, lima 

orang prajurit pengawal Kadipaten segera siuman 

dari pingsan masing-masing. Mereka sama terke-

jut ketika mendapati diri mereka terbujur di ha-

laman muka Kadipaten. Mereka kemudian ingat 

bahwa malam itu waktu mengadakan pengawalan 

tahu-tahu datanglah lima orang bertubuh besar 

menyerang mereka. Dalam beberapa gebrakan sa-

ja mereka semua kena dirobohkan! Kelima pen-

gawal itu segera berdiri dan masuk ke dalam ge-

dung Kadipaten karena mereka khawatir kalau 

terjadi apa-apa. Betapa terkejutnya para pengawal 

ini ketika melihat di ruangan tengah kadipaten 

lima orang berbadan besar, berewokan dan ber-

muka kejam buas yang berdiri dalam satu lingka-

ran mengurung Adipati Lor Bentulan.

"Manusia-manusia siluman kotor!" bentak 

salah seorang dari mereka yang menjadi kepala 

pengawal, "Kalian bikin apa di sini?!"


"Anjing Kadipaten, jangan bicara besar! 

Kurobek mulutmu nanti!" balas membentak anak 

buah Warok Kate.

Kepala pengawal menjadi geram dihinakan 

seperti itu. Dia memberi isyarat pada keempat 

kawannya. Kelimanya kemudian segera menyer-

bu. Terjadilah pertempuran seru. Meskipun pen-

gawal-pengawal tersebut sama memiliki ilmu ke-

pandaian yang tinggi, terutama kepala pengawal, 

tapi menghadapi murid-murid Warok Kate mereka 

tidak bisa berkutik. Mereka hanya bisa bertahan 

sepuluh jurus. Sesudah itu satu demi satu mere-

ka roboh ke lantai menjadi korban sambaran go-

lok perampok-perampok. Ketika korban ketiga ja-

tuh maka berteriaklah Lor Bentulan, "Tahan!" Ta-

dinya dia sengaja berdiam diri karena mengharap 

bahwa para pengawalnya akan sanggup mengha-

jar manusia-manusia jahat itu tapi kenyataannya 

adalah kebalikannya.

Dua orang pengawal yang masih hidup 

yang memang sudah tidak punya nyali untuk 

meneruskan perkelahian itu karena tahu bahwa 

lawan-lawan mereka lebih tinggi kepandaiannya, 

ditambah lagi saat itu mereka hanya tinggal ber-

dua, segera melompat mundur.

"Adipati, suruh pengawal-pengawalmu 

yang masih hidup itu keluar dari sini..." perintah 

seorang rampok.

Lor Bentulan segera memberi isyarat pada 

kedua pengawal. "Tunggu dulu!" kata seorang 

rampok yang lain. "Seret ketiga mayat kawan


kawanmu itu keluar dari sini!" Maka mayat tiga 

pengawal yang telah menjadi korban itu pun di-

bawa keluar.

Keesokan harinya, pagi-pagi, Adipati Lor 

Bentulan diiringi oleh lima anak buah Warok Kate 

yang saat itu memakai pakaian-pakaian kepraju-

ritan pengawal Kadipaten menuju ke alun-alun 

Magetan. Di sini, karena sebelumnya sudah dis-

iarkan dari mulut ke mulut, maka berkumpullah 

penduduk Magetan, terutama kaum tani dan pe-

dagang. Sebelumnya memang rakyat Magetan su-

dah sering disuruh berkumpul di alun-alun untuk 

mendengarkan pengumuman-pengumuman atau 

penerangan-penerangan. Karenanya tak ada ter-

pikir di dalam benak mereka bahwa mereka akan 

mendengar kabar yang mengejutkan!

Mula-mula alun-alun yang penuh oleh ma-

nusia itu menjadi sunyi senyap ketika Lor Bentu-

lan menjelaskan bahwa mulai hari itu akan dita-

rik pajak yang besarnya sepuluh kali lipat dari 

yang sebelumnya dan harus dibayar dua kali da-

lam sebulan! Tapi sesaat kemudian maka ramai-

lah alun-alun Magetan oleh ratusan suara manu-

sia. Semua orang menjadi terkejut dan tidak per-

caya akan putusan itu. Setengahnya menggerutu 

memaki bahkan ada pula yang mulai mencap 

bahwa Adipati Lor Bentulan seorang pemimpin 

pemeras rakyat! Di kalangan rakyat, walaupun 

berbagai tanggapan mereka, namun satu hal yang 

tidak bisa mereka mengerti ialah bagaimana dan 

mengapa sampai Adipati Lor Bentulan yang selama ini merupakan seorang yang jujur dan baik 

serta bijaksana bahkan tak jarang turun tangan 

untuk membantu rakyat kecil kini mengambil 

tindakan sewenang-wenang, menindas rakyat 

dengan pajak yang begitu tinggi?! Namun terpikir 

pula oleh rakyat banyak itu bahwa di dunia ini 

segala sesuatu tidak bersifat kekal, semuanya su-

atu waktu pasti mengalami perubahan. Demikian 

juga dengan sifat diri manusia, seorang pemim-

pin! Kalau dulu seorang pemimpin berhati jujur, 

maka suatu saat bisa berubah menjadi jahat bu-

suk, kalau dulu seorang pemimpin baik hati dan 

pemurah, maka suatu ketika bisa menjadi penin-

das dan pemeras rakyat.

Empat bulan kemudian, seperti siang den-

gan malam, seperti hitam di atas putih, terbalik 

seratus delapan puluh derajat demikianlah terja-

dinya perbedaan di daerah Magetan. Petani-petani 

kaya jatuh miskin. Jangankan untuk menjual ha-

sil sawah ladang mereka ke pasar, untuk dima-

kan sendiripun sudah tidak mencukupi. Peda-

gang-pedagang menutup kedai mereka karena tak 

ada lagi barang yang bisa dijual. Rakyat yang du-

lu hidup sederhana dan bahagia kini menjadi 

sangat tertekan. Sawah ladang berubah menjadi 

padang rumput dan alang-alang. Pasar menjadi 

sunyi senyap. Magetan kini diliputi oleh seribu 

satu macam kemiskinan. Kemiskinan lahir dan 

kemiskinan bathin! Ini disebabkan tak lain adalah 

akibat penarikan pajak yang tinggi dan sewenang-

wenang oleh Adipati Lor Bentulan. Dan selama itu


tidak satu orang pun yang tahu kalau sang Adipa-

ti melakukan itu semua adalah karena terpaksa, 

dibawah ancaman golok maut kelima anak buah 

Warok Kate. Rakyat cuma tahu bahwa Lor Bentu-

lan kini adalah seorang Adipati jahat, pemimpin 

busuk tukang tindas rakyat! Semua itu diterima 

Lor Bentulan dengan hati hancur. Kalau tidak ku-

rang-kurang iman mungkin dia dan isterinya su-

dah menjadi gila memikirkan semua persoalan, 

terutama keselamatan anak mereka yang dibawa 

oleh Warok Kate.

Keadaan tubuh kedua suami isteri itu se-

makin hari semakin kurus dan kuyu. Lor Bentu-

lan kalau tidak perlu tak pernah keluar dari ge-

dung Kadipaten. Bagaimana dia bisa melihat na-

sib kehidupan rakyatnya yang kini sangat mende-

rita sengsara itu. Bahkan tidak jarang kalau dia 

berpapasan di tengah jalan dengan seorang pen-

duduk, penduduk tersebut memalingkan kepala 

membuang muka! Dan ini masih untung, karena 

ada pula yang sampai tidak segan-segan untuk 

meludah di hadapannya. Ya, seluruh isi Magetan 

sudah menjadi sangat benci pada Adipati yang 

dulu mereka hormati dan mereka sanjung-

sanjung itu!


ENAM


SEKARANG marilah kita ikuti perjalanan

Wulansari setelah dilepas oleh gurunya si Suara 

Tanpa Rupa karena gadis ini bersama saudara 

seperguruannya yaitu Mahesa Kelud telah me-

langgar pantangan. Karena Magetan adalah kota 

yang terdekat maka kota ini menjadi tujuannya 

pertama. Sekeluarnya dia dari hutan belukar 

yang lebat maka di hadapannya terbentang sa-

wah-sawah luas tapi yang kini hanya merupakan 

dataran-dataran kering bertanah keras retak-

retak serta di sana sini ditumbuhi rumput dan 

alang-alang liar. Gadis ini menjadi heran. Saat itu 

adalah menjelang musim hujan dimana seharus-

nya para petani mulai menyebar bibit menanam 

padi baru. Dan ketika dia memasuki pinggiran 

kota, dia jadi heran lagi karena ladang dan ke-

bun-kebun yang mustinya sarat dengan sayur 

mayur kini tertutup oleh semak belukar.

Sekeluarnya dia dari hutan belukar yang 

lebat maka di hadapannya terbentanglah sawah-

sawah luas tapi yang kini hanya merupakan data-

ran-dataran kering bertanah keras retak-retak 

serta di sana sini ditumbuhi rumput dan alang-

alang liar.

"Apakah orang-orang di sini pemalas se-

mua...?" pikir Wulansari sambil terus berlari me-

nuju ke pusat kota. Di sepanjang jalan dilihatnya 

gubuk-gubuk reyot beratap rumbia. Untuk tidak 

menarik perhatian orang-orang, gadis ini meng-

hentikan larinya dan berjalan biasa. Setiap orang 

yang ditemuinya laki perempuan dan anak-anak, 

rata-rata bertubuh kurus berparas cekung memucat. Orang-orang itu memandang memperhati-

kannya dengan sepasang mata mereka yang kuyu 

tiada bercahaya.

Wulan melewati sebuah tanah lapang yang 

di tepi-tepinya terdapat kedai-kedai buruk. 

"Mungkin ini dulunya adalah pasar," pikir si ga-

dis. "Tetapi mengapa tidak satu pedagang pun 

yang kelihatan? Kedai-kedai kosong melompong 

bahkan pasar sunyi senyap...."

Saat dia mencapai tepi kota, hari sudah 

senja. Begitu dia masuk kota maka malam yang 

gelap menyambut kedatangannya dan seluruh pe-

losok kota sunyi sepi. Tidak sepotong manusia 

pun yang kelihatan! Keheranan Wulansari sema-

kin menjadi-jadi sementara itu perutnya yang se-

jak pagi tadi baru berisi beberapa buah-buahan 

yang dipetiknya di dalam hutan kini terasa sakit 

memilin minta diisi. Tapi seperti sudah disaksi-

kannya tidak ada satu kedai pun yang dibuka.

Tiba-tiba dari tikungan jalan di depannya 

kelihatan berlari seorang laki-laki separuh baya. 

Begitu berhadapan Wulansari segera menegur: 

"Bapak, ada apakah kau berlari seperti seseorang 

yang dikejar-kejar...?"

Laki-laki itu ketika melihat yang bertanya 

adalah seorang gadis cantik jelita segera berhenti. 

Matanya melirik ke hulu pedang yang tersembul 

di balik punggung Wulansari lalu menjawab: 

"Nak, aku lari bukan karena dikejar-kejar, tapi 

karena barusan menjumpai mayat yang sudah 

rusak di tepi kota sebelah sana! Di dalam hutan!"


Wulansari terkejut. "Mayat? Mayat siapa?" 

tanyanya.

"Mayat Sukropringgo...."

"Sukropringgo itu siapa...?"

Laki-laki itu hendak mengomel karena di-

tanya terus-terusan seperti itu sedang napasnya 

yang megap-megap karena berlari masih belum 

teratur. Tapi melihat bahwa Wulansari adalah 

seorang gadis asing, dia dapat memaklumi lalu 

menjawab: "Sukro adalah seorang pemuda yang 

telah bertekad bulat hendak pergi ke kotaraja gu-

na melaporkan segala penindasan yang terjadi di 

sini. Kenyataannya, sebelum pergi dia sudah di-

bunuh di tengah jalan. Pasti ini pekerjaannya 

Adipati Lor Ben...." Mendadak sampai di situ 

orang tersebut menghentikan keterangannya. Dia 

memandang berkeliling dengan paras pucat, se-

perti orang yang takut kalau-kalau ada orang lain 

yang mendengar keterangannya itu tadi. Dia ber-

paling kepada Wulansari. "Anak, aku tak bisa 

memberi keterangan lebih lanjut. Kalau anak 

buah Lor Bentulan mengetahuinya pasti aku bisa 

celaka...!" Cepat-cepat laki-laki itu memutar tu-

buh dan meninggalkan tempat itu. Wulansari 

yang berseru memanggil-manggilnya tidak di-

acuhkan. Gadis ini mengangkat bahu lalu mene-

ruskan perjalanannya. Perutnya terasa sakit lagi.

Di hadapan sebuah rumah panjang gadis 

ini berhenti. Melihat kepada bentuk bangunan-

nya, mungkin ini adalah rumah sewaan atau pen-

ginapan. Wulansari segera mengetuk pintu depan.


Tak lama kemudian seorang laki-laki tua keluar 

membukakan pintu. Digosoknya matanya. Dita-

tapnya gadis yang di hadapannya lalu bertanya. 

"Anak, kau ada keperluan apa...?"

"Kalau aku tidak salah duga bukankah ini 

rumah penginapan?" tanya Wulansari.

"Benar, Nak. Tapi sudah sejak empat bulan 

yang lewat tidak dibuka lagi," jawab si orang tua.

"Memangnya ada apa?"

"Kami tidak sanggup membayar pajak..,."

"Tapi daripada kosong saja bukankah lebih 

baik disewakan satu kamar padaku. Besok pagi 

aku akan meneruskan perjalanan...."

Orang tua itu tertawa. Tertawa getir yang 

menyatakan kepahitan hidup. "Kata-katamu me-

mang betul daripada kosong lebih baik disewa-

kan. Tapi sewa yang aku terima hanyalah seper-

sepuluh daripada pajak yang harus aku bayarkan 

nanti kepada Bupati di sini!"

Terkejutlah Wulansari mendengar keteran-

gan itu. "Orang tua... kalau kau bisa memberikan 

keterangan yang lebih lengkap atas apa yang su-

dah terjadi di kota ini...."

Pemilik penginapan yang bangkrut itu 

menggelengkan kepala. "Bukan aku tidak bisa... 

tapi tidak berani. Kau carilah keterangan pada 

orang lain. Tapi kurasa tidak ada satu orang pun 

yang berani. Sekali kaki tangan Lor Bentulan 

mengetahuinya, pasti celaka...." Sampai disitu 

orang tua itu menutupkan pintu cepat-cepat dan 

menghilang. Wulansari teringat pada mayat Sukropringgo lalu dengan perut yang masih keron-

congan dia berlalu dari situ. Dia mendatangi be-

berapa rumah penduduk untuk menumpang 

menginap. Tapi tidak satu orang pun yang me-

nerimanya. Bukan karena mereka tidak mau me-

nolong atau tidak kasihan pada gadis itu tapi ada-

lah karena mereka takut ketahuan oleh kaki-kaki 

tangan Lor Bentulan. Adipati Magetan yang mere-

ka cap sebagai Adipati bejat tukang tindas! Jan-

gankan untuk minta menumpang, bicara panjang 

pun memberi keterangan tidak ada yang berani. 

Wulan meneruskan lagi perjalanannya dan tahu-

tahu dia sudah berada di pinggiran kota.

"Celaka, di mana aku menginap?" Dia me-

mandang berkeliling. Di situ banyak pohon-pohon 

besar dengan cabang-cabangnya besar pula. Satu 

akal didapatnya. Tentang mau di mana tidur kini 

dia tidak khawatir. Kalaupun tak ada yang mau 

memberinya menumpang bermalam dia bisa tidur 

di cabang pohon yang besar itu. Tapi bagaimana 

dengan perutnya yang keroncongan dan makin 

lama makin memilin?

Tengah dia berdiri kebingungan ini tiba-

tiba dilihatnya seorang laki-laki tua berjalan ter-

bungkuk-bungkuk dengan pertolongan sebuah 

tongkat. Di bahunya yang kurus tersandang se-

buah bungkusan. Pakaiannya penuh dengan 

tambalan-tambalan. Tambalan-tambalan ini tidak 

cukup untuk menutupi robekan-robekan yang 

masih banyak terdapat di sana sini.

"Orang tua," tegur Wulansari, "Kau mau ke


mana?"

Orang tua bongkok itu memutar kepalanya 

dengan perlahan. Mukanya keriputan dan ce-

kung. Kedua matanya yang sipit memandang 

sayu tapi agak membesar sedikit ketika melihat 

siapa yang berdiri di hadapannya. Dia balik ber-

tanya, "Gadis cantik, kau siapakah dan dari mana 

malam-malam begini berada di sini?"

"Aku orang asing yang kemalaman dalam 

perjalanan dan tengah mencari tempat mengi-

nap...."

Orang tua bongkok itu menggelengkan ke-

palanya.

"Susah, nak. Susah.... Masa ini susah ba-

gimu untuk menginap. Rumah penginapan di ko-

ta sudah lama ditutup karena pemiliknya tidak 

sanggup bayar pajak. Penduduk bukan tidak mau 

menolongmu, tapi kehidupan mereka demikian 

menyedihkan ditambah lagi dengan kejahatan 

orang-orang Kadipaten...."

"Itulah sebabnya, orang tua, mengapa aku 

berdiri bingung di sini karena tidak tahu ke mana 

aku harus pergi sedangkan perutku sejak pagi bo-

leh dikatakan belum masuk apa-apa...."

"Kasihan... kasihan nasibmu, Nak," kata si 

orang tua sambil meneliti Wulansari dari ujung 

rambut sampai ke kaki. "Tapi nak, bila kau tak 

keberatan bermalam di gubukku, kau boleh ikut 

sama-sama...."

Wulansari menjura. "Terima kasih, tapi ka-

lau akan menimbulkan kesusahan biarlah tidak,


orang tua...."

"Tidak, tak apa-apa. Hari sudah malam, 

kau seorang gadis pula. Gubukku memang sem-

pit, biar kalau kau mau tidur bersempit-sempit."

"Terima kasih, Bapak Tua," kata Wulansari 

dengan sangat gembira.



TUJUH


GUBUK orang tua itu kecil dan reyot. Dind-

ing kajangnya sudah bolong-bolong demikian pula 

atapnya yang dari rumbia sehingga bintang-

bintang di langit dapat dilihat dengan jelas. Wu-

lansari duduk di atas sebuah kursi tua sedang si 

orang tua duduk di atas balai-balai bambu yang 

dialasi dengan tikar pandan yang sudah robek-

robek. Di sampingnya duduk pula seorang pe-

rempuan tua, isterinya.

"Anak, siapakah namamu?" bertanya si pe-

rempuan tua.

Gadis itu memberitahukan namanya, lalu 

tanpa diminta dia memberi keterangan mengapa 

sampai dia berada di Magetan. Laki-laki tua men-

gangguk-anggukkan kepalanya. 

"Pantas..." katanya. "Mula-mula aku mera-

sa heran mengapa gadis secantikmu ini malam-

malam berada di tengah jalan yang gelap dan 

sunyi. Tak tahunya kau seorang gadis persilatan 

yang tengah diberi tugas mengembara oleh guru-

mu." Si orang tua kemudian menerangkan bahwa


dulunya dia adalah seorang petani yang hidup se-

derhana dan bahagia tapi kemudian jatuh miskin 

bersama ratusan penduduk Magetan lainnya aki-

bat pemerasan yang dilakukan oleh Adipati Lor 

Bentulan, serta pembantu-pembantunya. Karena 

tak ada mata pencaharian yang bisa didapat ma-

ka terpaksa menjadi pengemis, mengharapkan be-

las kasih orang lain. Si orang tua mengakhiri ke-

terangannya dengan kalimat: "Ketika kau bertemu 

dengan aku di tengah jalan tadi, aku barusan ha-

bis dari desa terdekat, pulang mengemis. Sial se-

kali hari ini, uang sepeser pun tidak dapat, cuma 

dua kaleng beras itu pun beras menir pula sedang 

berjalan dari pagi sampai malam. Tapi itu sudah 

lebih dari cukup, sudah syukur Tuhan masih 

memberi rezeki...."

"Tapi Pak Tua," ujar Wulansari, "Kalau ha-

rus mengemis mengapa jauh-jauh ke desa lain? 

Di sini kurasa masih bisa diharapkan belas kasi-

han orang lain."

Si orang tua tertawa. "Sebagaimana yang 

kuterangkan padamu yaitu semua orang di sini 

sudah pada sangat miskin. Juga karena memikir-

kan nasib sendiri-sendiri dan keluarga, mana 

mungkin harus kasihan dan memikirkan hendak 

menolong orang lain...?"

Wulansari menarik napas dalam. "Apakah 

sebabnya Bupati daerah ini sampai bertindak se-

wenang-wenang memungut pajak tinggi semena-

mena?"

"Itulah satu pertanyaan yang tak kunjung


bisa didapatkan jawaban oleh setiap penduduk di 

sini," sahut si orang tua. "Tapi Wulan, apa yang 

tidak mungkin berubah di atas dunia ini? Bila 

kehendak Tuhan berlaku, orang yang kemarin 

baik hari ini bisa menjadi jahat. Orang yang ma-

lam ini jujur, besok bisa menjadi tukang tipu, 

pemimpin yang dulu dipercaya dan disanjung-

sanjung bisa menjadi tukang tindas dan tukang 

peras...."

"Kata-katamu itu benar belaka, Pak...." ka-

ta Wulansari pula.

Si orang tua berpaling pada isterinya. "Bu, 

tamu kita ini sangat lapar. Masaklah beras menir 

yang dua kaleng itu, biar kita bisa makan sama-

sama...." Si orang tua berpaling pada Wulansari 

dan meneruskan, "Tapi maaf saja Wulan, kami ti-

dak punya apa-apa selain sambal...."

"Itu pun sudah ribuan terima kasih, Ba-

pak. Dan kalau tidak keberatan, biarlah aku yang 

tolong memasakkan."

"Oh, jangan Nak. Sebagai tamu walau ba-

gaimanapun kami harus hormati kau," kata si pe-

rempuan tua.

Sebelum perempuan itu masuk ke dalam 

suaminya bertanya: "Kemana anak kita, bu?"

Sang isteri yang sudah berdiri duduk kem-

bali di ujung balai-balai. "Itulah pak. Sukropring-

go tak bisa lagi menahan hati. Sudah bulat te-

kadnya untuk melaporkan apa-apa yang terjadi di 

sini ke kotaraja. Dia pergi pagi tadi...."

Sang suami menggeleng-gelengkan kepa


lanya. "Besar bahayanya, terlalu besar! Tapi me-

mang bila perbuatan-perbuatan Adipati Lor Ben-

tulan didiamkan saja tidak dilaporkan ke kotaraja 

akan lebih menambah penderitaan lagi. Biarlah 

Bu, kita doakan saja semoga berhasil. Aku bang-

ga punya anak seperti dia...."

Ketika mendengar perempuan tua itu me-

nyebut-nyebut nama Sukropringgo, terkejutlah 

Wulansari. Bukankah Sukropringgo pemuda yang 

mayatnya ditemui di dalam hutan sebagaimana 

diterangkan oleh laki-laki separuh baya yang ber-

papasan di tengah jalan waktu baru saja mema-

suki Magetan?

"Pak Tua," kata Wulansari, "Apakah pemu-

da yang bernama Sukropringgo itu anakmu?"

"Benar sekali. Rupanya kau kenal dengan 

dia?"

"Tidak Pak Tua, tapi...."

"Tapi apa wulan...?" tanya laki-laki tua itu 

dengan gelisah ketika melihat air muka si gadis 

berubah.

"Tapi..." dan Wulansari menerangkan ba-

gaimana dia tadi ketika baru memasuki kota telah 

bertemu dengan seorang laki-laki yang membawa 

kabar tentang mayat seorang pemuda bernama 

Sukropringgo yang ditemui di dalam hutan. Men-

dengar itu maka menjeritlah si perempuan tua 

dan rubuh pingsan. Kalau tidak lekas Wulansari 

melompat niscaya perempuan itu terguling ke ta-

nah. Wulansari membaringkannya di atas balai-

balai. Tubuh Pak Sukropinggo sendiri bergetar.


Kedua matanya yang sipit berkaca-kaca dan me-

nangislah orang tua itu sambil tiada henti-

hentinya menyebut-nyebut nama anaknya. Tiba-

tiba dia berdiri. Pandangan matanya liar dan ga-

lak. Di dinding tersisip sebuah parang. Benda ini 

segera diambilnya dan melangkah ke pintu. Ama-

rahnya yang mendidih membuat dia lupa bahwa 

di hadapannya saat itu ada Wulansari.

"Bapak, kau mau ke mana?!" tanya Wulan-

sari sambil menghadang di ambang pintu.

"Minggir! Minggirlah Wulan! Biar aku cin-

cang kepala Adipati Lor Bentulan itu sampai lu-

mat! Pasti dia yang membunuh anakku, seku-

rang-kurangnya yang kasih perintah!"

Dengan tangan kirinya Wulansari meme-

gang lengan orang tua itu sambil alirkan tenaga 

dalamnya agar si orang tua tenang dan dapat 

menguasai diri. "Dengar pak tua, kejantananmu 

sebagai laki-laki sangat aku kagumi. Tetapi sadar-

lah, dengan seorang diri dan bersenjatakan pa-

rang mana mungkin kau bisa melampiaskan 

amarahmu terhadap Adipati keparat itu. Apalagi 

di sana terdapat pengawal-pengawal yang berke-

pandaian tinggi!"

Sesaat kemudian si orang tua sadar dan 

mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh Wulan-

sari adalah benar. Perlahan-lahan dia mundur 

dan duduk di balai-balai. Kembali seperti tadi dia 

menangis tersedu-sedu. "Ya Tuhan... apa yang 

harus aku lakukan? Anakku dibunuh orang! Tu-

han, turunkanlah kutuk dan hukumanmu atas


manusia-manusia keparat itu!"

Terharu sekali Wulansari mendengar kata-

kata orang tersebut. Dia ingat bagaimana dia 

sendiri juga kehilangan ayah, kehilangan ibu, ka-

kek dan gurunya. Semua orang yang dikasihi itu 

mati dibunuh orang. Tapi kematian seorang anak 

kandung tentu akan lebih parah lagi deritanya. 

Tak terasa kedua mata si gadis jadi berkaca-kaca. 

Dia melangkah ke hadapan si orang tua dan ber-

kata: "Pak tua, mengenai urusanmu dengan Adi-

pati keparat itu biar aku yang selesaikan. Sebaik-

nya kau segeralah minta bantuan tetangga untuk 

mengambil dan mengurus mayat anakmu yang 

kini berada di dalam hutan di tepi kota."

Mendengar itu si orang tua menghentikan 

tangisnya. Dipandangnya Wulansari dengan sikap 

seolah-olah baru kali itulah dia melihatnya. "Wu-

lan.. anak, aku percaya bahwa kau bukan gadis 

sembarangan. Aku bersyukur kalau kau bisa 

membalaskan sakit hatiku pada Adipati keparat 

itu. Tapi Nak, kau masih belum makan...."

Saat itu, sesudah mengetahui apa yang ter-

jadi di Magetan serta nasib malang yang menimpa 

seorang tua, rasa lapar di diri Wulansari serta 

merta menjadi hilang lenyap. Sebagai seorang 

manusia yang mempunyai kepandaian silat, yang 

menuntut ilmu tinggi demi untuk menolong yang 

lemah dan membasmi kaum durjana penimbul 

malapetaka maka dia merasa semua persoalan 

yang terjadi di Magetan adalah menjadi tanggung 

jawabnya untuk diselesaikan!


"Pak Tua, aku pergi sekarang," kata Wu-

lansari. Dan gadis ini segera melompat menuju ke 

pintu.

Pintu gerbang Kadipaten yang besar dan 

tertutup dijaga oleh dua orang pengawal. Pengaw-

al yang dua ini adalah sisa pengawal-pengawal 

yang tempo hari dibunuh oleh kelima anak buah 

Warok Kate. Keduanya segera memalangkan tom-

bak masing-masing ketika Wulansari muncul di 

hadapan mereka. Melihat kepada tampang-

tampang mereka yang licin dan kurus itu, tak 

percaya si gadis bahwa mereka adalah kaki-kaki 

tangan yang kejam dan berhati busuk dari Adipati 

Lor Bentulan. Dan justru rasa tidak percaya in-

ilah yang menyelamatkan jiwa kedua pengawal 

tersebut. Dengan satu gerakan yang hampir tidak 

kelihatan karena demikian cepatnya, Wulansari 

telah menotok jalan darah di leher dan di dada 

mereka sehingga mereka kini menjadi berdiri den-

gan tubuh kaku tegang serta gagu. Kalau tidak 

diperhatikan secara teliti mereka tak ubahnya se-

perti pengawal yang tengah melakukan tugas, pa-

dahal mereka sudah kaku tak pandai bergerak 

dan bisu!

Dengan mudah Wulansari membuka pintu 

gerbang lalu terus ke dalam. Pintu gedung Kadi-

paten ternyata tertutup. Wulansari coba mendo-

rong tapi rupanya pintu itu dikunci dari dalam. 

Segera si gadis mengetuk beberapa kali. Tak lama 

kemudian pintu itu terbuka dan muncul satu ke-

pala berambut gondrong, berkumis melintang, berewokan dan bertampang buruk serta kejam 

buas. Orang ini bertubuh tinggi besar memakai 

pakaian keprajuritan dan begitu membuka pintu 

segera hendak membentak, tapi ketika melihat 

ternyata seorang dara jelita yang berdiri di tangga 

Kadipaten, maka dia segera tersenyum simpul. 

Meskipun sudah tersenyum namun parasnya te-

tap saja buruk dan membayangkan kekejaman!

"E... e... eee, gadis cantik. Kau siapa ma-

lam-malam begini datang ke Kadipaten? Manusia 

jadi-jadiankah atau bidadari yang turun dari 

kayangan...?"

Meskipun hatinya gemas mendengar per-

tanyaan itu namun Wulansari menjawab dengan 

tenang dan sabar: "Pengawal, aku ingin bertemu 

dengan Adipati Lor Bentulan...."

"Hendak bertemu dengan Adipati Lor Ben-

tulan? Malam-malam begini...? Ada maksud apa-

kah?!"

"Satu urusan penting yang hanya bisa di-

katakan langsung kepadanya," jawab Wulansari.

"Hemm..." menggumam prajurit pengawal 

itu yang tak lain daripada salah seorang anak 

buah Warok Kate adanya. "Gadis cantik, kau 

tunggulah di sini sebentar. Aku akan beritahu 

kedatanganmu pada Adipati dan menanyakan 

apakah dia bisa menerimamu atau tidak."

Pintu tertutup. Tak lama kemudian terbu-

ka kembali dan si manusia tinggi besar bertam-

pang buruk muncul sambil berkata cengar cengir: 

"Adipati bersedia menerimamu. Silahkan masuk."


Pintu dibukakan lebar-lebar dan Wulansari ma-

suk ke dalam gedung.

Mereka sampai ke sebuah ruang tengah 

yang terang benderang oleh lampu. Di atas se-

buah kursi kayu jati berukir Indah duduklah seo-

rang laki-laki berpakaian rapi dan bagus. Tubuh-

nya kurus, pakaian bagus yang dipakainya itu 

nyata sekali agak kebesaran untuknya.

Wulansari tahu bahwa orang ini belum lagi 

mencapai umur lima puluh tapi raut wajahnya 

yang pucat tiada cahaya itu menjadikan parasnya 

seperti orang sudah berumur lebih dari setengah 

abad. Dengan sepasang matanya yang cekung 

kuyu dia memandang kepada Wulansari. Kalau 

diambil perumpamaan maka laki-laki ini tak 

ubahnya seperti sebuah pelita yang menyala tapi 

hampir kehabisan minyak!

Tiba-tiba paras laki-laki itu mendadak be-

rubah menjadi kasar dan garang. Matanya yang 

cekung melotot keluar dan rahang-rahangnya ber-

tonjolan. Ini suatu hal yang tak bisa dimengerti 

oleh si gadis.

"Gadis asing! Kau siapakah yang datang 

malam-malam begini menggangguku?!" tanyanya 

dengan suara keras.

"Harap dimaafkan kalau kedatanganku 

mengganggu ketenteraman serta mengotori ge-

dungmu yang indah mewah ini, Adipati. Aku me-

mang orang asing di sini dan justru hal-hal yang 

serba asinglah yang membawa aku sampai ke ge-

dungmu ini!"


Adipati Lor Bentulan mengerenyitkan ke-

ningnya. "Katakan kau punya maksud apa!"

"Aku datang untuk bertanyakan apakah 

tanggung jawabmu sebagai Adipati atau sebagai 

pemimpin di sini atas kehidupan, keamanan dan 

kesejahteraan rakyat daerah ini?!"

Mendadak terjadi lagi perubahan pada air 

muka Lor Bentulan. Seperti yang mula-mula dili-

hat Wulansari maka kini kembali paras laki-laki 

itu menjadi pucat pasi sedang pandangan ma-

tanya yang tadi garang kembali menjadi kuyu! Ki-

ni tahulah si gadis kalau perubahan sikap dan air 

muka tadi hanyalah satu kepura-puraan belaka.

"Gadis aneh! Kau manusia atau siluman?!"

"Aku sama dengan kau, Adipati. Sama-

sama manusia! Cuma kau seorang manusia ber-

hati kejam dan tukang tindas rakyat!"

"Gadis asing! Sebelum aku menjadi marah 

sebaiknya kau berlalu dari hadapanku!" mempe-

ringatkan Lor Bentulan.

Wulansari mengeluarkan suara menden-

gus. "Aku baru mau pergi bila kau berjanji untuk 

merubah aturan-aturan pajakmu menjadi seperti 

empat bulan yang lalu, dan memperhatikan kehi-

dupan rakyat Magetan yang kini sangat menderita 

sengsara karena diperas dan disedot darahnya 

olehmu!"

"Jangan bicara sebagai seorang pahlawan 

di hadapanku!" bentak Adipati itu dengan geram-

nya. "Apapun yang kulakukan bukan menjadi 

urusanmu! Kau orang lain mengapa ikut cam


pur?!"

Si gadis tertawa mengejek. "Adipati, apakah 

kau buta dengan keadaan hidup rakyatmu yang 

menderita sengsara dewasa ini? Apakah kau tidak 

mendengar bagaimana kaum ibu meratap dan 

anak-anak bertangisan karena perut mereka me-

rintih kelaparan? Apakah kau lupa bahwa kau ju-

ga dulunya berasal dari seorang rakyat? Apakah 

kau lupa bahwa kalau bukan karena rakyat tidak 

mungkin kau akan enak-enakan duduk ongkang-

ongkang di kursi kebesaranmu itu, menikmati hi-

dup mewah dari hasil memeras dan menindas...."

"Sudah! Cukup!" teriak sang Adipati seraya 

berdiri dari kursinya. "Kau keluarlah baik-baik 

dari sini atau kusuruh para pengawal menyeret-

mu!"

Dengan sepasang matanya yang tajam Wu-

lansari menatap kedua mata laki-laki itu. Mera-

sakan sorotan mata tersebut Lor Bentulan menja-

di bergidik dan bungkam.

"Perbuatanmu sudah keterlaluan, Adipati. 

Kekejamanmu sudah melampaui batas. Bukan 

saja kau tindas rakyat banyak, kau suruh mereka 

mati kelaparan tapi bahkan juga kau bunuh seo-

rang pemuda yang hendak melaporkan kejahatan 

dan kebusukanmu kepada Sri Baginda di kotara-

ja!"

"Apa...? Apa?!" tanya Adipati itu dengan 

sangat terkejut.

"Ah, tak usah pura-pura terkejut Lor Ben-

tulan! Bukankah kau yang membunuh Sukro


pringgo?!"

"Sukropringgo, pemuda itu?! Tidak, demi 

Tuhan aku tidak membunuhnya!"

"Baik, kalau kau bilang bukan kau yang 

membunuhnya. Tapi jangan mungkir bahwa kau-

lah yang menyuruh bunuh pemuda tersebut dan 

itu adalah sama saja. Tanganmu tetap berlumur 

dosa dan darah!"

"Itu pun tidak! Aku tak pernah menyuruh 

siapa-siapa untuk membunuhnya! Sukropringgo 

memang pernah datang kepadaku. Tapi aku cuma 

peringatkan agar dia jangan membuat-buat uru-

san. Hanya itu! Hanya itu yang kulakukan! Kau 

pasti dusta!"

"Aku bukan manusia pendusta atau penipu 

macam kau! Seorang yang telah melihat mayat 

pemuda itu dengan mata kepalanya sendiri telah 

menerangkan padaku!"

Air muka Lor Bentulan semakin pucat.

"Akuilah terus terang, Adipati...."

Pada saat itu dari pintu yang terbuka seca-

ra tiba-tiba di ruang tengah itu berloncatan lah

keluar lima orang laki-laki bertubuh tinggi besar, 

bertampang galak, berewokan serta berambut 

gondrong. Mereka berpakaian prajurit pengawal 

Kadipaten tetapi sebenarnya tak lain daripada 

anak-anak buah kepala rampok Warok Kate. Di 

tangan masing-masing tergenggam golok besar. 

"Adipati! Mengapa bicara panjang lebar dengan 

gadis iblis ini?! Biar kami bereskan dia!" kata sa-

lah seorang dari mereka.


Adipati Lor Bentulan berdiri dengan lutut 

goyah tubuh menggigil. Suaranya gemetar ketika 

bertanya pada orang yang bicara tadi: "Rampung, 

kau... kau apakan Sukropringgo...?"

Anak buah Warok Kate yang bernama 

Rampung menyeringai buruk. "Ah itu urusan 

yang bisa kita bicarakan kemudian, Adipati. Yang 

penting sekarang membereskan gadis ini!"

"Tidak bisa! Katakan dulu Rampung, kalian 

yang membunuh Sukropringgo?! Kalian sudah 

melampaui batas! Kalian sudah sangat keterla-

luan. Kalian rampok-rampok hina dina tukang 

peras! Bunuhlah aku! Aku sudah tidak sanggup 

lagi... tidak sanggup!"

"Adipati edan! Kau lupa bahwa kau cuma 

punya satu nyawa!" Rampung melompat ke hada-

pan Lor Bentulan. "Mampuslah!" bentaknya se-

raya membabatkan golok besarnya ke kepala Adi-

pati Magetan itu.

Tapi dengan lompatan yang lebih cepat dan 

lihay, Wulansari mendorong bahu Lor Bentulan. 

Meskipun dorongan yang dilakukannya kelihatan 

lemah saja tapi tubuh Adipati itu mental terguling 

ke samping kursinya. Kepalanya selamat dari 

hantaman golok besar. Senjata itu men-darat di 

kursi kayu jati yang menjadi hancur berkepingan! 

Ketika Rampung hendak memburu Adipati itu 

maka Wulansari sudah berdiri di hadapannya.

"Gadis siluman! Minggir kalau tidak mau 

mampus!"

Wulansari menyeringai. "Jadi kalian ru


panya tidak lain daripada rampok-rampok tukang 

peras berpakaian pengawal?! Srigala-srigala jahat 

berbulu domba?! Jangan kira kalian bisa angkat 

kaki dari sini hidup-hidup!"

Rampung tolakkan tangan kirinya di ping-

gang. "Nyalimu terlalu besar, gadis rendah! Kau 

terimalah ini!" Rampung itu menyerang dengan 

golok besarnya.

"Nak, kau hati-hatilah," terdengar suara 

Adipati Lor Bentulan yang saat itu sudah berdiri 

dan menghindar ke sudut ruangan. "Mereka ram-

pok jahat berkepandaian tinggi!"

Dengan memiringkan tubuhnya sedikit 

Wulansari berhasil mengelakkan sambaran golok 

Rampung. Salah seorang kawan rampok ini ke-

mudian berseru; "Rampung, untuk menghadapi 

gadis seperti dia mengapa pakai golok segala? 

Tangkap dia hidup-hidup agar bisa kita pakai 

bergantian!"

Mendengar ini Rampung menghentikan se-

rangannya. Dia tertawa bekakakan lalu sambil 

masukkan goloknya kembali ke sarungnya dia 

berkata: "Benar kau benar! Memang sayang kalau 

kulitnya yang halus mulus itu sampai terluka!" 

Dengan tangan kosong Rampung maju ke muka. 

Saat itu Wulansari kelihatan berkelebat. Ram-

pung terkejut dan melompat mundur, untung sa-

ja dia berlaku hati-hati kalau tidak tentu perut-

nya sudah kena tendangan si gadis! Namun se-

rangan yang dilakukan oleh Wulansari sebenar-

nya adalah serangan sambilan saja karena yang


ditujunya adalah rampok yang tadi bicara kurang 

ajar!

"Bukk!"

Suatu pukulan yang keras itu disusul oleh 

suara jeritan melengking. Rampok yang bermulut 

kotor rebah ke lantai dengan kepala pecah! Se-

mua orang jadi terkejut!

"Gadis jahanam!" teriak Rampung dengan 

geram. Tapi hatinya bergidik juga melihat keheba-

tan Wulansari. "Kau benar-benar minta dicin-

cang!" Rampok ini mencabut goloknya kembali

dan menyerang dengan ganas ke arah si gadis. 

Dengan cekatan Wulansari mengelak. Golok 

Rampung mengenai tempat kosong. Dengan ge-

ram dan penasaran rampok ini mengirimkan se-

rangan beruntun. Golok besarnya menderu dan 

berkilauan ditimpa sinar lampu. Rupanya nama 

Warok Kate sebagai kepala rampok yang mengge-

tarkan di daerah selatan bukan nama kosong be-

laka. Permainan golok muridnya tinggi dan lihay. 

Meskipun senjata itu besar namun gerakan-

gerakan serangan yang dilakukan Rampung en-

teng dan cepat serta bertubi-tubi. Ini sekaligus 

membuktikan bahwa tenaga dalam rampok ini 

sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Sinar 

goloknya seakan mengurung Wulansari dari pel-

bagai jurusan.

Tapi baik Rampung maupun kawan-

kawannya tidak tahu dengan gadis mana mereka 

berhadapan. Dengan bertangan kosong Wulansari 

berkelebat kian kemari dan tahu-tahu satu jotosannya menghantam dada Rampung membuat 

rampok ini melintir dan jatuh duduk di lantai. 

Rampung cepat bergulingan untuk menjaga diri 

dari serangan lawan yang mungkin akan dilan-

carkan. Setelah berdiri kembali cepat-cepat dia 

mengatur jalan napas dan darahnya. Tenaga da-

lamnya dialirkan ke dadanya yang kena dipukul. 

Sesudah sakit di dadanya pulih kembali dengan 

cepat dia berteriak: "Kawan-kawan! Mari kita ke-

royok perempuan iblis ini!"

Bersamaan dengan itu tiga golok besar ke-

luar dari sarungnya. Kini empat rampok bertubuh 

tinggi besar dengan golok maut di tangan melom-

pat ke muka mengurung Wulansari dalam kedu-

dukan setengah lingkaran.

Menghadapi salah seorang dari rampok-

rampok yang mempunyai Ilmu golok tinggi den-

gan tangan kosong cukup berbahaya bagi si ga-

dis, apalagi kalau dia dikeroyok empat orang. 

Namun demikian Wulansari tetap tenang dan 

waspada sementara Lor Bentulan berkali-kali ber-

teriak memberi peringatan agar dia berhati-hati.

"Gadis rendah!" bentak Rampung.

"Keluarkanlah senjatamu!"

"Untuk menghadapi bangsat rendah ma-

cam kailan tidak perlu pakai senjata segala. Maju-

lah!"

Dihina seperti itu keempat rampok tersebut 

menjadi marah! Mereka serentak melancarkan se-

rangan gencar. Dari samping kiri, samping kanan 

dan dua orang dari muka. Sekali saja tubuh gadis


itu berkelebat maka terdengarlah jerit seorang 

pengeroyoknya. Rampok Ini melompat mundur 

sambil tiada henti-hentinya mengeluh kesakitan 

karena sambungan siku tangan kanannya telah 

kena dihantam oleh lawan sampai putus!

Rampung dan dua kawannya kertakkan gi-

gi. Mereka memutar golok masing-masing dengan 

cepat dan mengeluarkan ilmu golok tingkat ter-

tinggi yang mereka warisi dari guru mereka si Wa-

rok Kate.

Dengan bentakan keras maka menerjan-

glah Rampung ke muka. Golok besarnya me-

nyambar deras ke dada Wulansari. Si gadis me-

lompat ke samping. Serangan lawan mengenai 

tempat kosong. Wulansari menggeser kaki ka-

nannya dan serentak dengan itu kaki kirinya me-

nendang ke arah Rampung. Rampok ini tidak me-

nangkis melainkan melompat mundur dan ber-

samaan dengan itu kawannya yang di belakang 

memapaskan goloknya ke kaki si gadis. Terpaksa 

gadis ini menarik pulang kakinya dengan cepat. 

Tapi dari samping kiri kemudian melompat ram-

pok ketiga mengirimkan serangan golok ke ping-

gang!

Wulansari berkelit ke kanan. Tangan ka-

nannya memukul ke muka. Meskipun jotosannya 

ini berhasil dielakkan tapi tak urung angin puku-

lan membuat kedua mata rampok yang diserang 

menjadi perih. Cepat-cepat dia menghindar dan 

dua kawannya yang lain kini memapaki Wulansa-

ri dari samping kiri dan samping kanan. Sambil


mengirim tinju kiri kanan ke arah lawannya, ga-

dis itu melompat ke muka tapi saat itu rampok 

ketiga tadi sudah membabat pula dengan golok-

nya dari jurusan ini. Agaknya disinilah kehebatan 

permainan "golok ular" yang diandalkan mereka.

Dengan teriakan melengking Wulansari 

berkelebat di udara di antara ketiga lawannya. 

Rampok-rampok itu mengira bahwa golok mereka 

masing-masing sudah sama-sama membacok tu-

buh si gadis. Tapi alangkah terkejutnya mereka 

ketika "trang"! Senjata mereka sendiri yang saling

beradu dengan senjata kawan! Sebelum mereka 

habis dari terkejutnya tiba-tiba "buk"! salah seo-

rang dari rampok-rampok itu terguling ke tanah 

karena dalam lengahnya telah kena pukul bahu 

kirinya oleh Wulansari! Untung saja rampok ini 

memiliki tenaga dalam yang cukup lumayan. Ka-

lau tidak tentu saat itu tulang bahunya sudah pa-

tah atau terluka berat di dalam. Meskipun dengan 

tubuh miring dia masih dapat bangkit berdiri.

Ketiga orang itu membentuk barisan "golok 

ular" kembali. Kini mereka sama mempercepat ge-

rakan sehingga tubuh mereka benar-benar tak 

ubahnya seperti seekor ular yang meliuk-liuk kian 

kemari. Sayang mereka cuma bertiga. Kalau ber-

lima tentu kehebatan permainan golok ciptaan 

guru mereka tersebut tidak mengecewakan.



DELAPAN


SAMPAI saat itu Wulansari dengan gera-

kan-gerakannya yang gesit masih saja menghada-

pi lawan-lawannya dengan tangan kosong! Di 

samping ini menimbulkan kegeraman di hati 

Rampung dan kawan-kawannya mereka juga 

menjadi penasaran. Sebelumnya jika mereka 

mengeroyok lawan, sekurang-kurangnya dalam 

lima jurus mereka sudah sanggup merobohkan-

nya. Tapi saat ini jangankan merobohkan, mem-

buat segores luka pun mereka tidak sanggup 

bahkan untuk mendesak saja tidak bisa. Apalagi 

mengingat lawan mereka saat itu adalah seorang 

gadis pula, seorang perempuan!

Tubuh Wulansari seperti bayang-bayang di 

antara sambaran-sambaran golok ketiga lawan-

nya. Tiba-tiba 'breet!" Suara ini disusul oleh suara 

keluhan kesakitan. Rampung melompat ke bela-

kang. Mukanya memutih pucat. Pakaiannya di 

bagian dada robek besar sedang pada kulit da-

danya terlihat lima guratan luka! Inilah ilmu ca-

karan Wulansari yang dinamai "cakar setan" yang 

dipelajari dari gurunya. Meski belum mencapai 

tingkat kesempurnaan tapi akibatnya cukup ber-

bahaya. Rampung merasa perih dan gatal-gatal. 

Cepat-cepat dikerahkannya tenaga dalamnya ke 

bagian yang terluka, tapi malahan luka cakaran 

itu semakin bertambah gatal!

"Iblis betina!" bentak Rampung dengan 

amarah mendidih. "Hari ini aku mengadu jiwa 

dengan kau!" Tubuhnya melesat ke muka dan go-

lok besar di tangannya berputar dahsyat. Ini ada


lah permainan golok tunggal yang mempunyai ju-

rus-jurus aneh yang juga dipelajarinya dari gu-

runya si Warok Kate. Melihat kawan mereka men-

geluarkan ilmu tersebut rampok yang dua lagi se-

gera menyerbu pula. Dalam mengirimkan seran-

gan-serangan dahsyat itu. Rampung tiada henti-

hentinya mempergunakan tangan kirinya untuk 

dipakai menggaruk lukanya yang gatal-gatal.

Jika seandainya yang mereka layani hanya-

lah seorang musuh enteng, maka dapat dipasti-

kan bahwa ketiga rampok itu akan merobohkan 

lawan mereka dalam beberapa gebrakan saja. Ta-

pi kini mereka berhadapan dengan murid si Ca-

kar Setan yang juga pernah mendapat gemblen-

gan dari seorang sakti bernama Suara Tanpa Ru-

pa sehingga ketiganya jadi mati kutu. Di satu ju-

rus, ketiga rampok itu menyerang secara bersa-

maan. Golok Rampung berkelebat ke arah leher. 

Kawannya yang seorang lagi membabatkan senja-

tanya ke pinggang sedang yang ketiga dengan 

membungkuk memapas ke arah kedua kaki Wu-

lansari! Jika serangan mereka ini berhasil dapat-

lah dibayangkan betapa tubuh gadis cantik jelita 

itu akan terpotong menjadi empat bagian.

Tapi percuma saja Wulansari menjadi mu-

rid si Cakar Setan, percuma dia mengeram di gua 

batu karang selama satu tahun berguru pada si 

orang tua aneh Suara Tanpa Rupa kalau seran-

gan ini tidak bisa dielakkannya! Untuk menghin-

darkan kedua kakinya dari serangan golok lawan 

yang merunduk gadis ini melompat ke atas. Bersamaan dengan lompatan itu dia membuang diri 

ke belakang. Gerakannya ini membuat lehernya 

selamat dari tebasan golok Rampung sedang den-

gan mempergunakan kaki kanannya untuk me-

nendang sambungan siku rampok ketiga yang 

menyerang ke arah pinggang, dia berhasil pula 

menghancurkan serangan tersebut karena lawan-

nya cepat-cepat menarik tangan yang memegang 

golok. Rampok ini maklum kehebatan tendangan 

itu dan tak mau ambil resiko. Di sudut ruangan 

sementara itu Adipati Lor Bentulan berdiri dengan 

mata terbuka lebar hampir tidak pernah berkesip-

kesip melihat perkelahian yang luar biasa hebat-

nya itu.

Begitu kedua kakinya menyentuh lantai 

kembali, Wulansari melompat ke samping dan 

merunduk menjangkau golok besar milik rampok 

yang pertama kali dirobohkannya yaitu yang tadi 

bicara kurang ajar. Sebenarnya dengan tangan 

kosong pun Wulansari bisa melayani ketiga ram-

pok-rampok bejat itu. Tapi dia sudah muak dan 

tak mau main-main lebih lama. Dia ingin sekali 

mencoba keampuhan pedang mustika pemberian 

gurunya Suara Tanpa Rupa yang kini tersisip di 

balik punggungnya. Tapi dia ingat pula pesan 

orang tua itu yakni bahwa pedang sakti tersebut 

tidak boleh dipakai sembarangan dan baru dike-

luarkan dalam menghadapi musuh yang benar-

benar tangguh serta dalam keadaan jiwa teran-

cam.

Melihat si gadis kini berdiri dengan golok di


tangan, ketiga rampok itu menjadi bergidik. Den-

gan tangan kosong saja mereka tidak sanggup 

melayani si jelita itu, apalagi kini dengan bersen-

jatakan golok! Rampung memberi isyarat kedipan 

mata pada kedua temannya. Dengan serentak ke-

tiga rampok itu berlompatan ke jendela.

Terdengar suara tertawa meninggi Wulan-

sari. "Manusia-manusia bedebah! Kalian mau lari 

ke mana?!" Sekali gadis ini berkelebat maka men-

derulah golok di tangannya dan terdengar tiga su-

ara jeritan kesakitan seolah menjadi satu. Ram-

pung terjungkal ke belakang. Lehernya hampir 

putus terbabat golok di tangan Wulansari. Darah 

menyembur keluar. Rampok kedua terhuyung 

sambil memegangi dadanya yang terluka berat 

kena disambar ujung golok yang terus menembus 

jantungnya. Tubuh rampok ini kemudian tergul-

ing di lantai tanpa nyawa. Rampok ketiga berdiri 

berputar-putar seperti babi celeng dengan meme-

gangi perutnya yang robek besar dengan usus 

berbusai mengerikan akibat tendangan kaki ka-

nan Wulansari yang jari-jarinya berkuku panjang!

Wulansari memandang pada empat sosok 

tubuh tanpa nyawa yang bergelimpangan di lantai 

yang penuh dengan darah berbau amis. Tiba-tiba 

dia teringat bahwa jumlah lawannya tadi adalah 

lima orang. Kemana yang satu lagi? Dia meman-

dang berkeliling. Pada saat itu Lor Bentulan me-

langkah ke hadapannya dan berlutut.

"Gadis cantik... kau malaikat atau...."

"Berdirilah Adipati," kata Wulansari dengan


cepat. "Kemana bangsat yang seorang lagi?"

"Dia telah melarikan diri lewat pintu bela-

kang," menerangkan Lor Bentulan dengan masih 

berlutut. Parasnya masih tetap pucat ketakutan.

"Berdirilah Adipati. Aku...."

Tiba-tiba pintu di sebelah sana terbuka le-

bar dan puluhan manusia yang membawa berba-

gai macam senjata di tangan, mulai dari kayu 

pentungan sampai ke pedang, mulai dari pisau 

sampai ke golok, masuk menyerbu dengan berte-

riak-teriak. Mereka tak lain adalah penduduk Ma-

getan yang ketika mendengar suara hiruk pikuk 

di dalam gedung Kadipaten segera mengetahui 

bahwa tengah terjadi perkelahian di sana. Seseo-

rang mengintip melalui celah pintu setelah terle-

bih dahulu terheran-heran melihat dua pengawal 

pintu gerbang yang berdiri kaku bisu! Orang ini 

menyaksikan bagaimana seorang gadis cantik jeli-

ta dengan tangan kosong tengah berkelahi me-

layani empat pengawal Kadipaten, bahkan salah 

seorang diantaranya sudah rebah di lantai! Nyata 

bahwa gadis ini seorang yang gagah. Maka orang 

tadi segera menerangkan kejadian itu pada selu-

ruh penduduk dan akhirnya beramai-ramai pen-

duduk Magetan segera menyerbu ke gedung Ka-

dipaten karena memang sudah sejak lama mereka 

menahan dendam dan sakit hati yang berkaratan 

terhadap Adipati Lor Bentulan dan anak-anak 

buahnya.

Ketika mereka menyerbu masuk, orang-

orang itu melihat bagaimana Lor Bentulan dengan


muka pucat pasi berlutut di hadapan Wulansari 

yang menggenggam sebilah golok besar di tangan. 

Mereka menyangka bahwa Adipati penindas ra-

kyat itu tengah berlutut minta ampun!

Salah seorang dari mereka, yang paling de-

pan sekali berteriak: "Gadis gagah! Serahkan Adi-

pati laknat itu pada kami! Dia harus mampus di 

tangan kami!"

"Kami akan cincang dia sampai lumat!" te-

riak yang lain.

Lor Bentulan melompat bangun dengan ke-

takutan. Dia berdiri di belakang Wulansari. "Ga-

dis gagah, tolonglah aku! Orang-orang itu pasti 

akan membunuh aku! Mereka tidak tahu apa 

yang sesungguhnya terjadi atas diriku...."

"Adipati tukang peras! Jangan sembunyi di 

balik gadis itu, pengecut!" teriak seorang pendu-

duk yang memegang kelewang.

Wulansari cepat maju ke muka. "Saudara-

saudara," katanya dengan suara keras serta 

mempergunakan tenaga dalam agar dapat mem-

pengaruhi dan menguasai orang banyak yang ada 

di ruangan itu. "Kalian memang pantas membalas 

dendam membalaskan sakit hati kalian yang di-

pendam selama berbulan-bulan. Tapi ketahuilah 

bahwa semua kesalahan yang dilakukan oleh 

Adipati itu adalah di luar kemampuannya, karena 

terpaksa...."

Orang yang memegang kelewang memotong 

dengan suara lantang, "Gadis gagah, kau orang 

asing di sini sehingga tidak tahu siapa adanya


bangsat yang berdiri di belakangmu itu! Tukang 

peras! Tukang tindas! Biang racun penyebab pen-

deritaan kami penduduk Magetan! Pembunuh...!"

Seorang penduduk maju. Di tangannya ter-

genggam sebuah tombak. Dia menatap paras si 

gadis dengan beringasan. "Orang asing, sebaiknya 

minggirlah! Kalau kau coba-coba untuk melin-

dungi Adipati itu, kami yang ada di sini tidak se-

gan-segan turun tangan!"

"Turun tangan soal mudah, saudara," sa-

hut Wulansari. "Tapi sebelumnya, yang penting 

adalah kalian harus mendengar dan mengetahui 

dulu kenyataan yang ada agar kalian tidak kesa-

lahan tangan!" Gadis ini berpaling pada Lor Ben-

tulan lalu berkata: "Terangkan semuanya kepada 

mereka. Aku sendiri juga belum mengerti jelas 

persoalannya...."

Mula-mula melihat kepada paras pendu-

duk yang galak beringas dan mata-mata mereka 

yang buas menyorot, serta melihat pula kepada 

berbagai senjata yang mereka pegang Adipati Lor 

Bentulan merasa bimbang karena dia takut akan 

diserang dengan tiba-tiba. Tapi nyawanya tergan-

tung pada apa yang harus diterangkannya itu. 

Lagi pula dia percaya bahwa gadis yang ada di 

dekatnya akan melindunginya. Ditabahkannya 

hatinya. Dan melangkahlah Adipati ini ke muka. 

Suaranya gemetar ketika berbicara.

"Saudara-saudara.... Kalau kalian men-

ganggap aku sebagai tukang peras dan tukang 

tindas...."


"Bukan menganggap, tapi memang kenya-

taan kau Adipati tukang tindas dan tukang pe-

ras!" teriak seorang penduduk dari sudut ruan-

gan.

Merahlah air muka Lor Bentulan menden-

gar ucapan itu. Jakun-jakunnya turun naik bebe-

rapa kali lalu dibukanya mulutnya kembali. "Aku 

tidak menyalahkan kalian kalau kalian menu-

duhkan demikian karena begitulah yang kalian 

lihat dengan mata serta kepala kalian. Tapi apa 

sesungguhnya yang menjadi latar belakang men-

gapa aku berbuat begitu tidak seorang pun di an-

tara kalian yang tahu...."

"Ah! Kami lebih dari tahu!" tukas seorang 

penduduk.

Tanpa mengacuhkan ejekan itu Adipati Lor 

Bentulan berkata: "Kalian lihat empat pengawal 

yang menggeletak di lantai ini? Apakah kalian ta-

hu bahwa mereka sesungguhnya bukanlah pen-

gawal-pengawal tambahan sebagaimana yang 

pernah kuterangkan dulu, yang didatangkan dari 

Kotaraja?" Tidak ada seorang pun membuka sua-

ra karena masing-masing penduduk menjadi ter-

heran dan bertanya-tanya siapa adanya kalau be-

gitu keempat manusia tersebut. Lor Bentulan me-

lanjutkan, "Sesungguhnya mereka adalah ram-

pok-rampok bejat yang memerasku untuk mela-

kukan segala penindasan di Magetan ini!"

Mendengar itu maka hebohlah orang-orang 

yang ada di ruangan Kadipaten yang besar terse-

but. "Tapi kau mungkin dusta, Lor Bentulan!" teriak seorang tua.

Sang Adipati gelengkan kepala. "Suatu ma-

lam mereka datang berlima ke sini, berenam den-

gan pemimpin mereka, seorang manusia kate be-

rilmu tinggi bernama Warok Kate dari bukit Jati-

luwak...."

Membeliak kedua mata Wulansari karena 

terkejut mendengar nama tersebut. "Siapa?! Wa-

rok Kate katamu, Adipati...?"

Adipati Magetan itu berpaling pada si ga-

dis. "Ya, namanya Warok Kate, seorang kepala 

rampok yang buas serta lihay. Agaknya kau kenal 

bangsat itu?"

"Aku cuma kenal nama tak kenal muka. 

Warok Kate adalah manusia terkutuk yang mem-

bunuh guruku!" Terkejutlah semua orang, teru-

tama Lor Bentulan. Wulansari mengepalkan tinju 

kirinya. Sebagaimana yang diceritakan sebelum-

nya, Warok Kate adalah pembunuh si Cakar Se-

tan guru Wulansari. "Teruskan keteranganmu, 

Adipati."

Lor Bentulan meneruskan. Diterangkannya 

bagaimana Warok Kate memerintahkan kepa-

danya agar menarik pajak sepuluh kali lipat dari 

yang sudah-sudah dan hasil dari pajak tersebut 

harus diserahkan kepadanya dua kali dalam se-

bulan. Bilamana dia tidak menjalan perintah itu 

maka nyawanya, nyawa isteri dan anaknya akan 

dikirim ke neraka! Disamping dia tidak berdaya 

apa-apa karena memang tidak punya ilmu ke-

pandaian silat maka dia juga tidak bisa mengirimkan laporan ke Kotaraja demi keselamatan 

anak isterinya. Satu-satunya jalan mau tak mau 

ialah menuruti apa yang diperintahkan Warok 

Kate kepadanya. Tak lupa Lor Bentulan mene-

rangkan bahwa rampok-rampok itulah yang 

membunuh Sukropringgo di dalam hutan karena 

pemuda tersebut bermaksud melaporkan ke Kota-

raja atas apa-apa yang terjadi di Magetan. Sewak-

tu sang Adipati menerangkan itu, suasana dalam 

gedung sunyi sepi diselimuti oleh keharuan. Ka-

lau tadi masih ada diantara penduduk yang berte-

riak dan mengejek, kini masing-masing sama me-

nutup mulut. Dalam hati mereka timbullah rasa 

menyesal dan kasihan terhadap Adipati itu.

Lor Bentulan menutup keterangannya den-

gan kata-kata: "Keempat rampok ini sudah me-

nemui ajalnya, seorang lolos dan kalian tahu apa 

artinya ini. Dia pasti lari ke tempat gurunya si 

Warok Kate sedang anak perempuanku sampai 

saat ini berada di tangan kepala rampok itu! Pasti 

kepala anakku sudah ditebas!" Lor Bentulan me-

nutup muka dengan kedua tangannya.

Wulansari merasa sangat terharu. "Adipa-

ti," katanya. "Tentang nasib anakmu tak usah 

khawatir. Aku akan tolong dia sekalian menyele-

saikan urusan dengan Warok Kate!"

Lor Bentulan menurunkan kedua tangan-

nya dan memandang pada si gadis. "Terima kasih, 

aku percaya kau mau menolong, gadis gagah. Ta-

pi, sudah terlambat. Sudah kasip! Rampok yang 

seorang itu sudah keburu lari dan memberitahu


kan pada Warok Kate apa yang terjadi di sini...."

"Jangan pikirkan itu. Mudah-mudahan aku 

bisa menyusulnya ke bukit Jatiluwak," ujar Wu-

lansari. Gadis ini tersenyum dan menganggukkan 

kepalanya ke arah orang banyak, lalu sekali tu-

buhnya berkelebat ke arah jendela maka lenyap-

lah dia!

Selama beberapa saat ruangan besar itu 

tenggelam dalam kesunyian bahkan tidak satu 

orang pun yang bergerak. Kemudian kelihatanlah 

penduduk yang memegang kelewang maju ke ha-

dapan Lor Bentulan. 

"Adipati," katanya. "Harap dimaafkan kare-

na kami semuanya telah menuduh demikian ja-

hatnya terhadapmu dan harap dimaklumi. Segala 

apa yang terjadi mungkin sudah kehendak Tu-

han. Mudah-mudahan gadis gagah itu berhasil 

membawa anakmu kembali ke sini. Dan meski-

pun sudah terlambat, kau izinkanlah kami untuk 

melepaskan sakit hati kami selama ini!"

Laki-laki itu memutar tubuhnya dan me-

langkah ke mayat perampok yang terdekat. Kele-

wang di tangannya bergerak beberapa kali, bertu-

bi-tubi membacok tubuh rampok itu. Melihat itu, 

semua penduduk kota yang hadir di sana seperti 

dirasuk oleh satu kekuatan gaib, kekuatan yang 

timbul dari sakit hati dan dendam yang berbulan-

bulan, dengan senjata masing-masing segera 

membacok, menikam, menusuk, mementung, 

menginjak-injak keempat mayat rampok tersebut 

sampai akhirnya tubuh mereka dari kepala sam


pai kaki tak tentu rupa lagi, hancur luluh dan 

lumat! Darah membasahi lantai ruangan tersebut 

bau amis menusuk hidung!



SEMBILAN


SEPERTI orang dikejar setan, rampok yang 

seorang ini berlari pontang panting di malam ge-

lap gulita. Sebentar saja dia sudah jauh mening-

galkan Magetan. Namun demikian rasa khawatir-

nya tak mau hilang, sekali-sekali dia menoleh ke 

belakang, takut kalau-kalau gadis itu mengejar-

nya. Disamping itu, sambil lari tiada henti-

hentinya dia merintih kesakitan karena sambun-

gan sikunya yang terlepas kena jotosan lawan. 

Dia lari terus dan ketika dinihari baru berhenti. 

Inipun karena napasnya sudah megap-megap se-

dang lututnya goyah kelelahan. Pakaiannya basah 

oleh keringat.

Dia duduk menjelepok di tanah bersandar 

ke sebatang pohon coba mengatur jalan napasnya 

kembali. Diperhatikannya siku kanannya. Daging 

di bagian siku itu kelihatan bengkak menggem-

bung dan sakitnya bukan main. Ketika fajar mu-

lai menyingsing cepat-cepat dia berdiri dan lari 

lagi meneruskan perjalanannya. Bukit Jatiluwak 

terletak jauh di utara gunung Lawu. Dua hari dua 

malam baru dia sampai ke sana. Tenaganya boleh 

dikatakan sudah mendekati titik akhir. Bukit 

yang ditumbuhi pohon-pohon jati yang rapat itu


didakinya dengan merangkak. Ini pun dilakukan-

nya dengan susah payah karena tangan kanan-

nya yang sakit tidak bisa dipergunakan sama se-

kali. Hanya kekerasan hati dan juga ingin cepat-

cepat mengadu kepada gurunyalah maka dia ak-

hirnya sampai juga ke pondok papan itu.

Pintu didorongnya, ternyata tidak dikunci. 

Dia masuk ke dalam. Manusia kate berkepala bo-

tak dan berewokan yang tengah duduk di atas se-

buah bantalan yang tak lain dari Warok Kate 

adanya menjadi terkejut ketika melihat seseorang 

masuk ke tempatnya dan merangkak seperti see-

kor anjing pincang kaki mukanya. Dan rasa terke-

jut kepala rampok ini menjadi tambah lagi ketika 

mengetahui manusia yang merangkak itu adalah 

muridnya sendiri!

"Sangkrong!" seru Warok Kate seraya me-

lompat dari duduknya. "Apa yang terjadi dengan 

dirimu. Mengapa kau merangkak seperti anj-

ing...."

Tiba-tiba "bruk!" Tubuh anak buahnya itu 

jatuh tergelimpang di hadapannya karena kehabi-

san napas dan kelelahan. Lidahnya terjulur ke 

muka.

"Kurang ajar! Pekerjaan siapa itu huh?!" 

kata Warok Kate ketika melihat siku kanan anak 

buahnya yang bengkak. Dia berlutut dengan ce-

pat dan dengan beberapa kali meraba saja dia su-

dah memaklumi bahwa sambungan siku murid-

nya itu telah terlepas. Warok Kate menotok urat 

darah Sangkrong di beberapa bagian lalu dengan


cekatan mempertemukan kembali sambungan si-

ku kanan Sangkrong yang sebelumnya terlepas. 

Setelah bantu mengalirkan tenaga dalamnya ke 

tubuh sang murid maka siumanlah Sangkrong.

"Sangkrong! Cepat duduk dan atur jalan 

napas serta darahmu," perintah Warok Kate.

Si murid yang menyadari bahwa dirinya 

habis mendapat cedera segera mengerjakan apa 

yang diperintahkan gurunya. Dia duduk di lantai 

pondok dengan bersila, mengatur jalan napas dan 

darah serta mengalirkan hawa tenaga dalamnya 

ke lengan kanan. Beberapa saat kemudian ram-

pok ini merasakan kesehatannya pulih kembali, 

cuma daging bekas pukulan di sekitar siku tan-

gan kanannya masih agak kemerahan tapi sudah 

tidak sakit lagi. Kemudian rampok Ini cepat-cepat 

berlutut di depan pemimpin atau gurunya itu se-

raya berkata: "Guru, harap dimaafkan kalau mu-

rid terpaksa datang ke sini...."

"Sudah, sudah!" memotong Warok Kate. 

"Katakan cepat mengapa kau datang ke sini dan 

siapa yang mencelakaimu!"

"Guru, Kadipaten Magetan kedatangan seo-

rang gadis liar berilmu tinggi. Saya dan kawan-

kawan tidak sanggup melawannya. Masih untung 

saya bisa melarikan diri, kawan-kawan yang lain 

mati semua di tangan gadis itu...."

Bukan main terkejutnya si kepala rampok 

itu. "Apa Sangkrong?! Kawan-kawanmu mati se-

mua? Mati di tangan seorang gadis?" Tak percaya 

Warok Kate akan keterangan muridnya itu.


"Sangkrong! Kau bicara edan atau sinting?!"

"Ampun guru, murid tidak edan dan tidak 

pula sinting. Murid tidak dusta...." Sangkrong 

kemudian menerangkan apa yang terjadi di Kadi-

paten Magetan dua hari yang lalu.

"Kurang ajar! Benar-benar kurang ajar!" ru-

tuk Warok Kate. "Masakan empat orang muridku 

yang berilmu tinggi sampai dapat dikalahkan 

bahkan dibunuh oleh seorang lawan, oleh seorang 

gadis pula! Percuma! Benar-benar bikin aku ma-

lu! Percuma jadi murid-muridku. Kau juga per-

cuma Sangkrong!" Bersamaan dengan itu me-

layanglah kaki kanan Warok Kate menendang 

Sangkrong sampai si murid terhantar di lantai.

"Ampun guru," kata si murid sambil berlu-

tut kembali. "Bukan kami hendak merendahkan 

kepandaian yang guru ajarkan kepada kami, tapi 

gadis itu tinggi ilmunya, sangat hebat."

"Tutup mulutmu monyet!" bentak Warok 

Kate. Dia masuk ke dalam sebuah kamar dan ke-

tika keluar dikempitannya terdapat seorang anak 

perempuan berumur sembilan tahun, anak tung-

gal Adipati Magetan.

"Sangkrong kau ikut aku! Kita ke Magetan 

sekarang juga. Kita cari gadis liar itu sekalian 

menebas batang leher Lor Bentulan!"

Warok Kate melangkah menuju ke pintu 

dan muridnya mengikut di belakang. Mendadak 

pintu di muka mereka terbuka lebar dan sesosok 

tubuh masuk. Si kepala rampok, lebih-lebih 

Sangkrong, kagetnya bukan main.


"Warok Kate, kau tak usah susah-susah 

pergi ke Magetan. Aku sudah berdiri di hadapan-

mu. Bukankah kau barusan bilang hendak men-

cari aku?"

"Guru!" seru Sangkrong dengan suara ge-

metar. "Inilah dia iblis betina itu!"

Kedua mata Warok Kate memandang melo-

tot. Hampir tak dapat dipercaya kalau gadis yang 

masih muda belia serta cantik jelita inilah yang 

telah membunuh keempat orang anak buahnya 

yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tidak 

rendah! Tiba-tiba meledaklah tawa manusia kate 

berkepala botak itu. "Jadi inikah manusianya 

yang telah membunuh murid-muridku? Benar-

benar membuat aku jadi kepingin jatuh cinta! 

Ha... ha... ha...!"

"Manusia rendah!" bentak Wulansari. "Ti-

dak tahu ajal sudah di depan mata masih bicara 

besar!"

"Aduh, memang benar galak rupanya," kata 

Warok Kate dengan menyeringai. "Gadis jelita, 

kau berlututlah di hadapanku dan katakan bah-

wa kau bersedia menjadi isteriku! Dengan demi-

kian aku bersedia memberi ampun padamu!"

"Bedebah! Kurobek mulutmu!" bentak Wu-

lansari dengan geram. Tubuhnya melesat ke mu-

ka dan tangan kanannya yang berkuku panjang 

menyambar ke mulut Warok Kate.

Kepala rampok ini terkejut melihat seran-

gan dahsyat yang disertai angin pukulan keras. 

Cepat-cepat dia melompat jauh ke belakang. Kini


dia maklum bahwa keterangan Sangkrong tidak 

kosong belaka. Matanya melirik ke arah jari-jari 

tangan si gadis. Dia lupa-lupa ingat bahwa dulu 

pernah seorang lawan menyerangnya dengan cara 

seperti Ku. Kuku-kuku yang rapi tapi panjang da-

ri Wulansari mengingatkan Warok Kate pada 

orang itu, tapi dia masih belum merasa pasti. 

Anak perempuan yang ada dalam kempitannya 

dilemparkannya ke pojok pondok. Anak itu berge-

rak tidak merintih pun tidak. Wulansari menjadi 

cemas karena dia yakin anak tersebut adalah 

anak Adipati Lor Bentulan. Apakah sudah mati, 

pikir Wulansari.

"Sangkrong!" terdengar suara Warok Kate 

menyebut nama muridnya dengan cepat karena 

saat itu dilihatnya Wulansari bersiap-siap hendak 

melancarkan serangan kedua. "Coba kau layani 

gadis liar ini beberapa jurus! Aku ingin lihat sam-

pai di mana kepandaiannya!" Sebenarnya Warok 

Kate menyuruh muridnya menghadapi Wulansari 

diam-diam dia mempunyai maksud tertentu. Da-

lam beberapa jurus bertempur dia ingin melihat 

gerakan-gerakan ilmu silat gadis itu, apakah sa-

ma gerakannya dengan ilmu silat orang yang di-

maksudkannya.

Sangkrong jadi terkejut mendengar kata-

kata gurunya tadi. Dia sudah lihat dengan mata 

kepala sendiri bagaimana kawan-kawannya yang 

empat orang mati konyol di tangan gadis itu, bah-

kan dia sudah merasa sendiri bagaimana sam-

bungan sikunya dijotos dibikin terlepas, kini dia


disuruh melawan, dengan seorang diri pula! Ber-

diri bulu tengkuk rampok Ini. Tapi kalau tidak di-

patuhinya kata-kata Warok Kate yang berupa pe-

rintah guru kepada seorang murid, dia lebih cela-

ka lagi!

Dengan tangan gemetar Sangkrong menca-

but golok besarnya. Senjata itu diputar-putarnya 

di atas kepala dan sesaat kemudian dia melompat 

ke muka melancarkan serangan hebat.

"Warok Kate pengecut! Mengapa suruh 

anak buahmu melayaniku?! Aku tidak ada uru-

san dengan dia!" hardik Wulansari. Tubuhnya 

berkelebat dan "buk!" Sangkrong menjerit setinggi 

langit. Tubuhnya mental, melingkar di lantai dan 

mati di situ juga karena tulang dadanya hancur 

dan melesak ke dalam kena tendangan tumit kaki 

kanan si gadis yang bergerak saking cepatnya 

hampir tidak kelihatan!

Berubahlah air muka Warok Kate melihat 

kematian muridnya yang cuma dalam satu gebra-

kan saja. Tangan kanannya menekan hulu golok 

panjang yang tersisip di pinggangnya. "Gadis ke-

parat! Kau cepatlah berlutut minta ampun, sebe-

lum aku merubah niat memisahkan kepalamu 

dari badanmu yang indah mulus itu!"

"Bangsat rendah! Kau yang harus berlutut 

di hadapanku agar lebih mudah kuhancurkan ba-

tok kepalamu!"

"Jangan bicara sombong gadis sinting!"

"Kau yang bermulut besar harus serahkan 

nyawamu padaku hari ini. Kau membunuh guru


ku si Cakar Setan!"

Warok Kate mundur selangkah. Apa yang 

diduganya benar! Ternyata gadis itu memang mu-

rid si Cakar Setan. "Hm... jadi kau muridnya si 

Cakar Setan?! Bagus! Kalau kau memang ingin 

menyusul gurumu itu di neraka, aku tidak segan-

segan menunjukkan jalan ke neraka!"

"Srett!" Warok Kate mencabut golok pan-

jangnya. "Kau lihat senjata ini?" katanya menye-

ringai. "Dengan inilah gurumu kubikin konyol! 

Dan kau muridnya sekarang juga minta cepat-

cepat mampus!" Kepala rampok ini dengan ganas 

mengirimkan serangan berupa tusukan ujung go-

lok yang deras ke dada Wulansari. Gadis ini 

menggerakkan tubuhnya ke samping dengan ce-

pat. Ujung golok berputar arah kini menusuk ke 

pinggang. Wulansari miringkan tubuh namun go-

lok yang di tangan lawannya kini menebas ke 

arah kedua kaki dengan sangat cepatnya!

Sebagai seorang kepala rampok yang dita-

kuti ternyata ketinggian ilmu Warok Kate bukan 

suatu hal yang kosong belaka. Kalau dia sanggup 

membunuh si Cakar Setan, guru Wulansari, ma-

ka dapat diukur tingkat ketinggian ilmu silatnya! 

Dengan serangan berantai susul menyusul itu 

Warok Kate bermaksud akan merobohkan lawan-

nya dalam sekali gebrakan saja tapi dia jadi terke-

jut ketika dengan gerakan-gerakan gesit lawannya 

berhasil mengelakkan semua serangan itu. Warok 

Kate memutar goloknya lebih cepat. Angin deras 

bersiuran. Tubuhnya bergerak kian kemari dan


golok panjangnya membabat simpang siur.

Sungguh hebat permainan golok manusia 

kate ini, Wulansari terpaksa harus berkelebat ce-

pat jika tidak mau tubuhnya tersambar senjata 

lawan yang ganas. Kedua orang ini tak ubahnya 

seperti dua bayang-bayang saja. Dua puluh jurus 

lewat tak terasa. Dengan penasaran Warok Kate 

merubah permainan goloknya. Gerakan-gerakan 

dan serangan-serangan senjatanya kini berubah 

aneh dan sangat membahayakan Wulansari kare-

na setiap saat dia mengelak, senjata lawan senan-

tiasa mengikuti arah geraknya pula! Gulungan si-

nar golok Warok Kate mengurung gadis belia ini 

dari segenap penjuru dan mau tak mau membuat 

dia mulai terdesak!

Ketika si gadis melompat untuk mengelak-

kan serangan dahsyat yang mengarah ke da-

danya, celakanya kaki kirinya menginjak mayat 

Sangkrong sehingga tak ampun lagi tubuhnya ter-

jungkal ke muka. Dan pada saat yang sama pula 

golok Warok Kate menyambar dari muka!

"Mampuslah kau!" teriak Warok Kate gem-

bira karena dia maklum bahwa serangannya itu 

pasti akan menebas batang leher lawannya, atau 

paling kurang goloknya akan membabat dada! 

Namun semua yang di luar dugaan kepala ram-

pok ini terjadi!

Melihat bahaya besar mengancam nya-

wanya dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke 

kaki kiri yang masih memijak lantai, Wulansari 

menjatuhkan dirinya ke lantai sambil mempergunakan tekanan kaki kiri untuk melesat ke muka. 

Golok lawan lewat kurang dari setengah jengkal di 

atas kepalanya. Sebelum Warok Kate habis terke-

jutnya dan sebelum kepala rampok ini sempat 

melancarkan serangan susulan maka Wulansari 

menggulingkan tubuhnya ke arah kaki lawan.

"Bret!" Bersamaan dengan terdengarnya 

suara robekan pakaian itu maka tubuh si manu-

sia kate mental ke atas! Waktu bergulingan tadi, 

dengan kecepatan luar biasa Wulansari telah 

mempergunakan kuku-kuku jari tangan kirinya 

untuk mencakar betis lawannya sedang tangan 

kanan menghantam ke kaki Warok Kate yang lain 

dan kedua serangan ini berhasil baik! Kaki celana 

hitam kepala rampok itu robek besar menjela-jela 

ke lantai sedang kulit betisnya terluka oleh tiga 

cakaran jari-jari tangan. Luka itu terasa perih dan 

gatal-gatal. Namun dengan mengerahkan tenaga 

dalamnya yang tinggi maka rasa sakit dan gatal-

gatal itu dalam sekejapan mata bisa dikuasainya 

lalu hilang.

"Bangsat hina dina!" maki kepala rampok 

itu dengan tampang beringas. Kedua matanya ke-

lihatan merah menyorot. Dia sangat terkejut me-

lihat kehebatan gadis ini dan menjadi ragu-ragu 

apakah benar Wulansari murid si Cakar Setan. 

Kalau benar, bagaimana mungkin muridnya sam-

pai sehebat ini sedang gurunya si Cakar Setan 

berhasil dibunuhnya?! Dan lebih gila lagi karena 

sampai saat itu Wulansari masih melayaninya 

dengan tangan kosong! "Gadis iblis! Kau murid


siapa sebenarnya?!"

"Di saat ajalmu hendak minggat ke neraka 

tak usah banyak tanya, manusia rendah!" bentak 

Wulansari.

Mendidih amarah Warok Kate. Dia melom-

pat ke muka dan mulailah dia mengeluarkan se-

gala ilmu simpanannya yang paling diandalkan 

dengan jurus-jurus serangan yang mematikan! 

Wulansari dibikin sibuk kini! Tubuh gadis ini 

berkelebat kian kemari namun bahaya terkena 

sambaran senjata lawan sangat besar. Ketika dia 

kepepet ke pojok pondok, gadis ini segera menge-

luarkan selendang kuningnya.

"Ha... ha! Kau punya senjata simpanan ju-

ga rupanya!" ejek Warok Kate dengan tertawa le-

bar waktu melihat lawannya mengeluarkan senja-

ta yang hanya berupa sebuah selendang terbuat 

dari kain halus berwarna kuning. "Maju, majulah 

iblis betina biar kutebas ujung selendang itu se-

dikit demi sedikit!"

Jawaban dari Wulansari adalah kebutan 

selendang di tangan kirinya yang menyerang ke-

pala Warok Kate. Kepala rampok yang tadi men-

ganggap remeh senjata lawan jadi terkejut karena 

dia dapat merasakan angin pukulan yang dingin 

tajam dari selendang itu. Dengan memutarkan go-

lok di muka kepala dia melompat ke samping. Ki-

ni dia tidak mau main-main lagi, dan segera men-

girimkan serangan beruntun! Kedua orang men-

geluarkan segala kepandaiannya untuk meroboh-

kan lawan. Golok panjang di tangan kanan Warok


Kate bergulung-gulung dan mengirimkan seran-

gan-serangan ganas mematikan sedang selendang 

di tangan kiri Wulansari mengebut kian kemari

seperti seekor ular kuning yang senantiasa me-

mapaki serangan lawan.

Satu kali selendang itu dengan lihaynya 

berhasil membelit ujung pedang laksana satu je-

pitan besi sehingga pedang itu tidak akan mung-

kin lagi terlepas! Dengan mengerahkan tenaga da-

lamnya yang tinggi, Warok Kate bermaksud hen-

dak merobohkan lawan sampai terluka berat ba-

gian tubuh sebelah dalamnya dan bersamaan 

dengan itu menarik goloknya dari lilitan selen-

dang! Tapi terkejutnya kepala rampok itu bukan 

main ketika dirasakannya bagaimana tenaga da-

lamnya terpukul mundur oleh tenaga dalam la-

wan. Celaka, pikir Warok Kate. Tidak dinyana te-

naga dalam gadis muda belia itu lebih tinggi dari 

yang dimilikinya! Tapi Warok Kate tidak mau me-

nyerah demikian saja, apalagi kalau harus kehi-

langan goloknya, kena dirampas lawan.

Dengan mempergunakan tenaga dalam la-

wannya yang ada dalam lilitan selendang untuk 

menahan berat tubuhnya maka dengan satu ben-

takan menggeledek kepala rampok itu mengayun-

kan kedua kakinya ke muka. Kaki kiri ke arah 

tenggorokan sedang kaki kanan ke pusar Wulan-

sari! Melihat ini si gadis cepat mengelak ke samp-

ing dan terpaksa melepaskan selendangnya yang 

melilit golok. Meskipun tadinya dia akan berhasil 

merampas senjata lawan tapi menghindarkan dua


tendangan yang berbahaya itu adalah lebih pent-

ing lagi.

Merasakan goloknya terlepas dari lilitan se-

lendang, dengan jungkir balik di udara kepala 

rampok itu membebatkan senjatanya ke perut 

Wulansari membuat gadis ini terpaksa membatal-

kan serangan selendang yang tadi hendak dilan-

carkannya. Warok Kate mengamuk hebat. Wulan-

sari tidak mau kalah, tubuhnya berkelebat cepat 

dan selendang kuningnya senantiasa menyerang 

bagian-bagian tubuh yang lemah dari lawan se-

dang tangan kanannya tiada henti-hentinya men-

girimkan pukulan-pukulan jarak jauh yang am-

puh atau kadang-kadang serangan berupa caka-

ran burung elang! Meski pun setiap serangan se-

lendang yang mengarah kepalanya dapat dielak-

kan oleh Warok Kate tapi tak urung kedua ma-

tanya lama-lama menjadi sakit juga oleh samba-

ran angin selendang itu. Untung saja kepala ram-

pok ini sudah tinggi ilmu dalamnya sehingga dia 

masih sanggup menahan rasa perih itu.

Entah berapa puluh jurus pula sudah ber-

lalu. Dan mulailah kelihatan bahwa Warok Kate 

berada di atas angin kini. Untuk beberapa la-

manya Wulansari hanya sanggup bertahan, tidak 

berdaya untuk balas menyerang. Dari bertahan 

akhirnya gadis ini mulai didesak. Ujung selen-

dangnya sudah beberapa kali kena dipapas senja-

ta lawan! Melihat ini, tanpa menunggu lebih lama 

Wulansari segera mengeluarkan pedang mustika 

pemberian gurunya si orang tua sakti Suara Tanpa Rupa! Si kepala rampok bertubuh kate itu jadi 

terkejut ketika melihat gulungan sinar merah me-

nyambar dahsyat ke arahnya. Dia melompat 

mundur beberapa langkah dan jadi bergidik keti-

ka melihat bagaimana lawannya kini menggeng-

gam sebuah pedang mustika berwarna merah 

yang sinarnya menyilaukan mata! Tapi dia tak bi-

sa meneliti senjata itu lebih lama karena dengan 

sangat tiba-tiba si gadis sudah menyerangnya.

Dengan pedang Dewi di tangan Wulansari 

maka kini keadaan pertempuran jadi berbalik se-

ratus delapan puluh derajat! Meremang bulu 

tengkuk Warok Kate melihat sambaran-sambaran 

pedang yang mengeluarkan angin panas bersi-

uran. Keringat dingin kelihatan jelas membasahi 

kepalanya yang botak itu! Dia terdesak hebat. Se-

tiap dia mengelak, setiap kali pula lawannya men-

girimkan serangan yang tiada terduga dengan 

sangat cepatnya. Permainan golok Warok Kate ja-

di kacau balau. Di samping itu dia tidak berani 

menangkis senjata lawan dengan goloknya karena 

maklum bahwa pedang di tangan si gadis adalah 

sebuah pedang mustika sakti yang tajamnya bu-

kan main!

Namun ketika pedang merah itu menyam-

bar sangat dekat dan deras ke arah lehernya, tia-

da jalan lain bagi Warok Kate dia terpaksa mem-

pergunakan goloknya untuk dipakai menangkis.

"Trang!"

Warok Kate mengeluarkan seruan terta-

han. Goloknya terbabat puntung, ujungnya menancap di dinding papan. Dengan masih meng-

genggam goloknya yang sumpung kepala rampok 

ini melompat menjauhi lawan. Mukanya pucat 

pasi seperti mayat.

"Ayo monyet botak! Mengapa menjauh? 

Apa kau takut mampus?!" ejek Wulansari.

Dengan darah mendidih Warok Kate me-

lemparkan senjatanya yang sumpung ke arah si 

gadis. Lemparan ini bukan lemparan biasa saja 

karena disertai hantaman tenaga dalam. Ujung 

yang puntung dari golok melesat deras ke arah 

batang leher Wulansari. Sekali saja gadis ini 

menggerakkan pedang merahnya maka golok 

yang dilemparkan kepadanya patah dua dan luar 

biasanya, patahan golok ini kini berbalik menye-

rang Warok Kate!

Kepala rampok itu jadi terkesiap. Tapi me-

nyadari bahaya yang mengancamnya, cepat-cepat 

dia melompat ke samping dan dia selamat dari se-

rangan patahan goloknya sendiri!



SEPULUH



MELIHAT lawannya kini tidak bersenjata 

lagi, Wulansari segera hendak menyarungkan pe-

dangnya kembali, tapi niatnya ini dibatalkan keti-

ka dengan tiba-tiba Warok Kate dilihatnya meng-

gerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu di tan-

gan itu kini tergenggam sebilah keris berwarna hi-

jau gelap. Dari warna keris di tangan lawan ini


Wulansari maklum bahwa senjata itu mengan-

dung racun jahat mematikan!

Oleh Warok Kate sendiri keris hijau itu 

sangat diandalkan sekali karena merupakan wa-

risan gurunya yang masa itu masih hidup dan di-

am di gunung Karang. Sebelumnya tidak pernah 

satu lawan pun sanggup menghadapi keampuhan 

keris tersebut. Kalau tidak mati pasti menderita 

luka di dalam yang hebat dan sukar dicari obat-

nya. Kini dengan memegang keris hijau tersebut 

di tangan kanan, nyali kepala rampok ini menjadi 

besar dan dia yakin akan dapat merobohkan Wu-

lansari dalam beberapa jurus saja meskipun gadis 

ini memiliki pedang mustika sakti!

Dengan penuh keyakinan akan menang, 

Warok Kate menyerbu ke muka. Kerisnya me-

nyambar mengeluarkan cahaya hijau dan angin 

dingin. Wulansari tidak tinggal diam. Segera pe-

dang merah di tangannya diputar bergulung-

gulung untuk memapaki senjata dan serangan 

lawan. Untuk beberapa jurus lamanya keris di 

tangan Warok Kate masih dapat melayani pedang 

pusaka di tangan si gadis. Namun kemudian keli-

hatanlah bagaimana gulungan sinar merah men-

gurung sinar hijau. Dan dalam beberapa kali ben-

trokan senjata yang menimbulkan bunga api keris 

hijau itu menjadi gompal-gompal sedang Warok 

Kate merasakan tangannya tergetar keras dan 

panas! Maklumlah dia kini bahwa keris hijaunya 

sama sekali tidak sanggup menandingi pedang 

lawan. Karenanya dia tidak berani lagi untuk bentrokan senjata.

Namun dalam keadaan terdesak hebat, da-

ri pada kehilangan nyawa, terpaksa dia memper-

gunakan keris pusaka gurunya itu untuk dipakai 

menangkis pedang lawan. Sedikit demi sedikit ke-

ris hijau itu menjadi pendek dan dalam satu ben-

trokan hebat, menjadi patah dua! Untuk kedua 

kalinya tampang kepala rampok ini menjadi pucat 

pasi. Dia cepat melompat ke belakang namun ter-

lambat. Lebih cepat dari gerakannya itu, pedang 

merah di tangan Wulansari yang tadi membuat 

keris hijaunya patah dua kini membalik deras. 

Warok Kate berusaha menangkis dengan patahan 

keris tapi tangannya diangkat terlalu tinggi. Maka 

terdengarlah jeritan setinggi langit dari kepala 

rampok itu dan tiga benda mental ke udara. Ben-

da pertama adalah tangan kanan Warok Kate 

yang terbabat puntung sebatas lengan, benda ke-

dua keris hijaunya yang sudah puntung dan ben-

da ketiga adalah kepalanya yang botak seperti bo-

la itu, yang terpisah dari badannya karena pedang 

Wulansari begitu memapas lengan terus memba-

bat ke leher Warok Kate!

Seperti sebuah bola saja layaknya, kepala 

Warok Kate menggelinding di lantai mengham-

burkan darah kental. Wulansari memasukkan 

pedang pusaka itu kembali ke sarungnya. Dia bo-

leh merasa bangga dalam hatinya. Dengan mem-

pergunakan pedang sakti itu dan memainkan ju-

rus-jurus rendah saja dari ilmu "Dewi Pedang De-

lapan Penjuru Angin", dia berhasil merobohkan


lawannya. Gadis ini kemudian berlutut dan me-

mandang ke utara lalu berkata perlahan: "Guru, 

manusia yang telah membunuhmu telah mere-

gang nyawa hari ini! Sakit hati guru terbalas su-

dah, semoga arwahmu berada dalam ketenangan 

di alam baka."

Habis berkata demikian Wulansari berdiri 

dan cepat-cepat melangkah ke pojok pondok di 

mana anak perempuan Adipati Lor Bentulan ter-

bujur. Wulan berlutut dan meneliti. Ternyata 

anak perempuan itu cuma ditotok jalan darahnya 

sehingga tubuhnya kaku tak sadarkan diri. Sege-

ra si gadis mempergunakan jari-jari tangannya 

untuk melepaskan totokan itu. Si anak perem-

puan siuman. Mula-mula ia merintih lalu mem-

buka matanya.

"Ibu..." katanya hampir tidak kedengaran. 

Kasihan anak ini. Wulansari yang berlutut di 

sampingnya disangka ibunya. Tubuh anak ini ku-

rus dan parasnya pucat. Rupanya tidak dirawat 

oleh Warok Kate sebagaimana mestinya, maklum-

lah merawat seorang anak yang tak lebih dari pa-

da tawanan belaka! Wulansari mendudukkan 

anak itu di lantai. Dia tersenyum dan mengusap 

rambutnya.

"Adik kecil, tak usah takut. Namamu sia-

pa?" tanya Wulansari sambil senyum dan mengu-

sap kepala anak perempuan itu.

Si anak tak segera menjawab. Ditatapnya 

paras Wulansari lama sekali. Kemudian dia me-

mandang berkeliling. Wulansari sengaja berlutut


merapat ke tubuh anak itu hingga dia tidak dapat 

melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dalam 

ruangan. Kemudian terdengar si anak mulai me-

nangis terisak-isak.

"Ah, kau anak manis mengapa menangis? 

Kan sudah besar. Mari kita pergi dari sini. Aku 

akan antarkan kau kembali ke rumahmu di Ma-

getan...." Wulan menarik tangan anak itu lalu 

mendukungnya. Sekali dia menggerakkan ke dua 

kakinya maka dia sudah melesat keluar dari pon-

dok. Mula-mula anak Adipati Lor Bentulan Ku 

merasa takut dan gamang dibawa berlari sedemi-

kian cepatnya. Pohon-pohon yang dilewati seolah-

olah terbang. Namun lama-lama sesudah biasa, 

dia mulai merasa enak malah tertawa-tawa. Se-

tiap dia melewati tempat berpemandangan indah 

anak ini merasa gembira sekali. Dia seperti ber-

tamasya dengan menunggang seekor kuda.


                            TAMAT


Segera menyusul!!!

MAHESA KELUD PEDANG SAKTI KERIS ULAR 

EMAS Dengan judul: 


MENCARI MATI DI BANTEN









































Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive