"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Jumat, 21 Februari 2025

RORO CENTIL EPISODE 5 WAJAH 1000 DENDAM

matjenuh khairil

 

Lima Wajah
Seribu Dendam
* Copyright naskah ini di tangan penerbit LOKAJAYA, 
hak cipta pengarang dilindungi undang-undang.
* Dilarang mengutip, tanpa seizin penerbit.
* Menterjemahkan karya ini dalam bahasa Asing, ha-
rus seizin penerbitnya lebih dahulu.

SATU

PELANGI di ujung bukit itu seperti melukis lan-
git setengah lingkaran... Mega-mega telanjang meman-
dang terpukau akan keindahannya. Mentari mengorak 
senyum di lereng gunung, dengan sinarnya yang mulai 
melemah. Sesaat lagi ia akan kembali keperaduan-
nya... Sementara lenguh kerbau-kerbau pak tani ter-
dengar di kejauhan. Beriring-iringan menuju pulang ke 
kandang. Untuk esok kembali bekerja membajak sa-
wah. Kerja keras yang hanya berupa seonggok rumput, 
namun cukup membuat mereka senang. Dan bekerja
giat membantu sang majikan. Gembala-gembala kecil 
itu dengan tubuh lesu dan penat tiduran di atas pung-
gung kerbaunya. Sekali-kali masih terdengar canda 
dan tawanya. Sementara jauh di belakang, orang-orang 
tua mereka menyandang pacul, dan alat bajak, me-
langkah lunglai. Namun dengan semangat terpencang 
di dada. Esok atau lusa kelak berharap panen akan le-
bih baik lagi.
Sebuah telaga kecil berair jernih di sisi sungai 
yang berbatu-batu itu masih terdengar suara beberapa 
gadis bersenda gurau. seperti enggan untuk beranjak 
dari tempat mandi yang berair sejuk itu.
"Aku sudah ah, nanti kemalaman sampai di 
rumah. Bisa-bisa aku kena marah..!" Berkata salah 
seorang dari kelima gadis itu. Dan serta merta beran-
jak untuk menyambar pakaiannya. Gadis itu bernama 
Sekar Tanjung. Gadis yang paling cantik di antara me-
reka. Melihat itu, yang lainnya pun bergegas naik ke 
darat.
"Benar..! Terlalu asyik kita mandi sampai tak 
sadar hari hampir gelap..!" Berkata salah seorang yang

terlihat lebih tua diantara mereka. Yang dua orang ter-
nyata masih juga bercanda, hingga salah seorang ber-
teriak :
"Awas, siapa yang paling belakang tentu akan 
digondol hantu Sendang. Siapa yang dapat menolong?" 
Terkejutlah keduanya, dan dengan berteriak sambil si-
lih pegangan mereka cepat-cepat beranjak ke darat. 
Sampai-sampai salah seorang lupa dimana menaruh 
pakaiannya. Tentu saja gadis-gadis lainnya jadi terta-
wa cekikikan saking lucunya melihat sang kawan yang 
bertelanjang bulat, sibuk kesana-kemari mencari ba-
junya.
"Wah..! Pasti bajumu disembunyikan hantu 
Sendang..!" Teriak kawannya.
"Ah, jangan main-main kau. Aku takut! Siapa 
yang sembunyikan? Awas nanti kuhajar pantatnya..!" 
Teriaknya sambil berjongkok kedinginan.
"Aku tidak tahu..!" Menyahut salah seorang.
"Aku juga tidak..! Berani sumpah. aku tidak 
menyembunyikan! Berkata kawannya yang seorang la-
gi. Dan berturut-turut semuanya tak ada yang menge-
tahui dimana kawannya ini meletakkan pakaiannya. 
Sekar Tanjung ternyata telah bergegas berangkat lebih 
dulu setelah mengenakan pakaiannya. Empat pasang 
mata segera beralih padanya.
"Eh... Sekar! Tunggu dulu. Apakah kau tahu 
dimana Serandil meletakkan pakaiannya. Atau kau te-
lah menyembunyikannya..?!" Teriak Siti Jenang, gadis 
yang paling tua itu. Sekar Tanjung menoleh, dan hen-
tikan tindakan kakinya.
"Aiii! Kalian jangan sembarangan menuduh 
orang. Apa tidak terhanyut terbawa air..?" Menyahut 
Sekar Tanjung.
"Aku benar-benar tak menyembunyikannya..!"

Tambahnya lagi. Sementara itu Serandil sudah mau 
menangis. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Pa-
da saat itulah terdengar suara benda tercebur ke da-
lam air telaga atau Sendang. Semuanya jadi terkesiap. 
Dan salah seorang berbisik:
"Celaka..!? Jangan-jangan hantu Sendang yang 
mengganggu..!" Dan ia sudah mendahului lari dengan 
wajah pucat bagai kertas. Tentu saja yang lainpun ber-
lari bubar ketakutan, tanpa menghiraukan lagi pada si 
gadis yang masih bertelanjang bulat itu. Serandil ber-
teriak-teriak sambil menangis, berlari kesana kemari 
kebingungan. Sementara kawan-kawannya sudah tak 
kelihatan lagi. Akhirnya Serandil cuma bisa menelung-
kup menutup wajahnya dengan terisak-isak. Tak tahu 
akan apa yang harus diperbuatnya.
Senja terus merayap... Cuaca berangsur-angsur 
menjadi gelap. Beberapa orang laki-laki termasuk seo-
rang lelaki tua yang berada di bagian paling depan, 
tampak berjalan dengan tubuh layu... Wajahnya me-
nampilkan kebingungan. Lelaki tua itu membawa se-
perangkat pakaian wanita. Tampaknya ia ayah dari si 
gadis bernama Serandil itu.
"Aku bukan mengkhawatirkan akan adanya 
hantu Sendang itu." Berkata laki-laki tua bernama Ke-
bo Pawon itu. Dan lanjutnya:
"Tapi yang ku khawatirkan adalah ulah perbua-
tan pemuda atau laki-laki iseng. Siapa tahu ia memang 
bermaksud buruk terhadap anakku..!"
"Siapa kira-kira orang yang bapak curigai..! 
Jangan khawatir, pasti akan kuberi hajaran dia.." Ber-
kata salah seorang bertubuh tegap. Usianya sekitar ti-
ga puluh tahun. Dialah yang bernama Telo Moyo. Bo-
leh dikatakan juga seorang jagoan di desa Blimbing 
Wuluh itu. Namun laki-laki tua itu hanya terdiam. Pikirannya telah terbenam dalam keruwetan. Serandil 
tak dapat dijumpai di sisi telaga. Bahkan sudah seke-
liling tempat itu diperiksa. Setiap semak lebat di sing-
kap dan dibabat, oleh keempat laki-laki muda yang tu-
rut serta bersamanya. Namun sosok tubuh Serandil 
tak kelihatan. Ada dugaan ia tenggelam di telaga, na-
mun tak ada yang berani untuk menyelam. Ditambah 
hari sudah gelap, dan suasana di tepi Sendang itu 
memang agak seram. Akhirnya mereka pulang dengan 
tangan hampa. Serandil lenyap tak berbekas...
Sepekan sudah berita tentang lenyapnya seo-
rang gadis di tepi telaga itu sudah menyebar ke pelba-
gai pelosok desa Blimbing Wuluh. Bahkan sampai pula 
ke desa-desa lainnya. Serandil memang hilang secara 
misterius. Bahkan mayatnya pun tak kelihatan. sean-
dainya ia tenggelam ke dalam Sendang. Dugaan se-
mentara orang adalah pada seorang pemuda bernama 
Jembawan. Karena berbareng dengan lenyapnya Se-
randil. Pemuda bernama Jembawan, yang berasal dari 
desa Nongko Jajar, yang tak berapa jauh dari desa 
Blimbing Wuluh itupun ternyata lenyap. Beritanya ba-
ru diketahui oleh penduduk Blimbing Wuluh dua hari 
kemudian... Telo Moyo beranggapan bahwa Jembawan-
lah yang telah membawa lari si gadis bernama Serandil 
itu. Rasa simpatinya pada Kebo Pawon, membuat ia 
bersama tiga orang kawannya segera melacak ke ber-
bagai tempat. Mencari jejak Jembawan dan Serandil. 
Hampir setiap desa yang di jumpai mereka. tentu dita-
nyakan akan adanya sepasang sejoli yang menghilang 
itu. Namun hampir semua yang ditanyai menggeleng-
kan kepala... Ketiga orang kawannya mengusulkan un-
tuk kembali saja. Terpaksa Telo Moyo tak dapat meno-
lak keputusan itu walaupun hatinya masih penasaran. 
Namun ketika kembali ke desa Belimbing Wuluh. berita baru membuat mereka terkejut. Yaitu lenyapnya Se-
kar Tanjung, seorang gadis anak seorang Kuwu kem-
bali lenyap dengan misterius... Gemparlah keadaan de-
sa Belimbing Wuluh. Beberapa pemuda desa dikerah-
kan untuk melacak ke pelbagai tempat. Pak Kuwu 
sendiri memimpin pelacakan itu. Pertama-tama yang 
dituju adalah desa Nongko Jajar. Karena disana dike-
tahui seorang laki-laki bernama Jembawan, yang juga 
telah menghilang tak berbekas. Tentu saja kedatangan 
pak Kuwu yang bernama Bendoro Kelud itu, mendapat 
sambutan yang kurang baik dari orang tua Jembawan. 
Walaupun Jembawan adalah anak angkat, namun te-
tap sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
"Maaf. pak Kuwu..! Aku sendiri tak mengetahui 
kemana anak itu pergi. Akupun tak mengetahui ten-
tang hubungannya dengan gadis-gadis dari desa Be-
limbing Wuluh. Apakah ada hubungannya peristiwa 
hilangnya dua gadis itu dengan anakku..?" Aku sendiri 
tak mengetahui..! Tapi janganlah asal menuduh saja 
pada anak orang. Karena biarpun aku orang miskin, 
aku punya harga diri. Aku mengenal betul watak 
anakku. Kalau dia bersalah pasti aku yang akan 
menghajarnya. Aku sendiri telah mengirim orang un-
tuk melacak kemana perginya si Jembawan itu..!" De-
mikianlah ujar Sugita. Tampak wajah laki-laki tua 
yang berumur lima puluhan tahun itu merah padam. 
Bendoro Kelud tak dapat berbuat apa-apa. Memang ia 
tak mempunyai tuduhan kuat untuk dapat menyangka 
Jembawanlah yang telah melarikan kedua gadis dari 
desa Belimbing Wuluh itu. Dengan agak malu, segera 
Bendoro Kelud meninggalkan desa Nongko Jajar. di 
ikuti pemuda-pemuda desanya. Disaksikan beberapa 
penduduk dengan bibir mencibir.
"Enak saja menuduh anak orang. Memangnya

anak orang apaan..?" Berkata salah seorang tetua di 
desa itu sepeninggal pak Kuwu. Sementara Sugita sen-
diri tercenung dengan wajah murung. Ia sendiri sedang 
memikirkan nasib Jembawan. Kemanakah gerangan 
perginya anak itu..? Gumamnya dalam hati.


DUA


Tiga pekan sudah berlalu. Dan pencarian ketiga 
orang itupun menemui jalan buntu. Tak seorangpun 
yang mengetahui kemana lenyapnya satu pemuda dan 
dua gadis dari dua desa itu...
Puncak Mahameru yang tersembul dibalik 
awan itu bagaikan kepala raksasa yang tegak menju-
lang dengan megahnya. Mentari pagi masih merah di 
ufuk timur. Pancarkan sinarnya yang masih lemah. 
Namun sesaat demi sesaat terus menggelinding ke atas 
dengan sinarnya yang kuning keemasan. Kicau bu-
rung-burung tampak semarak menyambut munculnya 
si Raja Siang itu. Petani mulai kembali berangkat ke 
sawah memanggul paculnya. Walaupun kekalutan itu 
masih menghantui desa itu. namun mereka tetap ha-
rus bekerja demi hidupnya. Di kejauhan tampak seo-
rang gadis berjalan seenaknya. Pakaiannya berbeda 
dengan pakaian gadis-gadis desa umumnya. Karena ti-
dak umum dikenakan oleh seorang gadis biasa. Baju 
atasannya berwarna merah jambu. berlengan panjang. 
Dengan ikat kepala yang juga berwarna merah jambu. 
melambai-lambai ditiup angin pegunungan. Sedang 
kan bagian bawahnya memakai celana pangsi berwar-
na hitam. Dengan sabuk terbuat dari kulit ular. Pada 
kedua belah pinggangnya tampak tergantung dua 
buah benda berbentuk aneh. Yaitu bentuknya seperti

payudara, yang tergantung pada seutas rantai pada 
kedua belah pinggangnya. Sepasang kakinya memakai 
sepatu rumput yang terbelit dengan seutas tali menja-
lin betisnya hingga sampai ke ujung celana pangs hi-
tam itu. Yang juga dibeliti oleh tali dari sepatu rumput 
itu. Sepintas saja orang dapat mengenalnya, kalau ga-
dis itu adalah orang dari kalangan Rimba Persilatan. 
Wajah gadis itu ternyata amat cantik. Walaupun tanpa 
dipulas oleh pupur atau gincu. Alisnya lentik menju-
lang ke atas. Melengkung bagai bulan sabit. Wajahnya 
bulat telur, dengan sepasang mata yang bening. Hi-
dung yang tak terlalu mancung. Sedangkan sepasang 
bibirnya bagaikan gondawa. Dan seperti menampak-
kan senyuman menawan... Wajahnya menampilkan 
seperti seorang gadis yang lugu. Namun ayu, dan 
luwes. Sepintas saja orang memandang pasti tak akan 
puas untuk memperhatikan lagi. Rambutnya panjang 
terurai berwarna hitam legam. dan ikal bak mayang te-
rurai... Ternyata dialah RORO CENTIL si Pendekar 
Wanita Pantai Selatan. Yang telah menginjakkan ka-
kinya didaerah itu. Langkahnya tidak terlalu cepat. 
Bahkan kadang-kadang berhenti untuk melihat dan 
mengagumi pemandangan alam disekitarnya. Angin 
gunung yang lembut itu sesekali menyibak rambutnya, 
membuat ikat kepala dan ujung bajunya melambai-
lambai diterpa angin.
"Roroooo..!" Sebuah suara telah memanggilnya 
dari kejauhan. Segera ia palingkan wajahnya ke arah 
suara itu. Tampak alisnya agak menyatu melihat seso-
sok tubuh dikejauhan yang bergerak mendatangi. Da-
lam beberapa kejap saja orang itu telah tiba di-
hadapan Roro Centil. Dan sudah lantas berkata lagi.
"Roro,! Kau ada disini..? Ujarnya dengan wajah 
berseri-seri. Pemuda itu berwajah tidak terlalu tampan.

Memakai pakaian warna putih, tapi berperawakan ga-
gah. Sepasang matanya membersit tajam menatap Ro-
ro Centil.
"Haii..! Kau rupanya Ginanjar..! Angin apa yang 
meniupmu sampai kemari..?" Bertanya Roro dengan 
menampilkan wajah terkejut, juga kelihatan senang 
sekali.
"Kaupun angin apa yang meniupmu sampai 
kemari..?" Balik bertanya pemuda murid mendiang si 
Pendekar Bayangan Bayu Seta itu, dengan mata tak 
lepas menatap wajah ayu dihadapannya. Seperti ingin 
rasanya ia untuk membelainya. Roro cuma tersenyum. 
Diam-diam iapun menatap dan memperhatikan wajah 
orang. Hingga dua pasang mata beradu saling tatap. 
Ternyata sepasang mata si pemuda bernama Ginanjar 
itu kalah dalam hal tatap-menatap. Karena sekonyong-
konyong hatinya jadi berdebaran tak keruan rasa. 
Tenggorokannya entah mengapa, tahu-tahu terasa se-
perti kering. Ia cepat mengalihkan pandangannya ke 
arah lain seraya alihkan pembicaraan.
"Pemandangan disini indah-indah, tentu saja 
telah menarik perhatianmu untuk datang kemari, bu-
kankah begitu Roro? Karena akupun amat mengagumi 
keindahan, makanya juga datang kemari.." Ujar Ginan-
jar, memancing pembicaraan. Karena ia tiba-tiba juga 
kaku untuk bicara apa. Roro Centil kembali menam-
pakkan senyumnya. Tapi kali ini bibirnya terbuka le-
bar hingga menampakkan sederetan gigi yang putih 
bersih bak sederet mutiara. Roro Centil tertawa kecil 
sambil manggut-manggut dan berkata:
"Benar! Aku memang tertarik melihat peman-
dangan indah didaerah ini. Tapi juga tertarik dengan 
kisah aneh yang beritanya terdengar dari desa sekitar 
Gunung Slamet ini..!" Ginanjar palingkan kepalanya

menatap lagi pada si cantik.
"Kisah apakah itu..?" Berkata si pemuda den-
gan wajah serius.
"Kisah hilangnya dua orang gadis dan seorang 
pemuda secara misterius dari kedua desa..!" Ujar Roro. 
Sementara sepasang matanya memandang sekitarnya.
"Nah..! Itu ada sebuah dangau tempat mene-
duh. Mari kita kesana untuk mengobrol..!" Kata-
katanya sudah dibarengi dengan gerakkan tubuhnya 
yang melesat ke arah bawah. Ginanjar segera mengiku-
tinya dengan rasa ingin tahu. Sebenarnya ia baru saja 
tiba setelah berjalan semalam suntuk dari Lebak Ba-
rang mencari obat-obatan. Karena susahnya pengina-
pan dan desa. Ia terpaksa menginap diperjalanan. Na-
mun karena ingin cepat-cepat tiba di tempat yang ditu-
ju, ia telah melakukan perjalanan semalam suntuk. 
Pagi subuh baru ia tiba di desa Baturaden. Beruntung 
ada orang yang baik hingga ia bisa menumpang tidur 
dalam beberapa kejap. Dan di saat ia keluar, matahari 
baru menggelincir dari lereng Gunung Slamet. Saat ia 
keluar untuk menghirup udara segar itulah, ia men-
jumpai Roro Centil.
Sebentar saja. kedua orang muda-mudi itu te-
lah duduk berhadapan di bawah gubuk kecil tempat 
beristirahat para petani atau peladang itu. Segera Roro 
Centil menuturkan apa yang telah didengarnya dari 
seorang penduduk di sebuah desa, mengenai peristiwa 
aneh itu.
"Aku beranggapan hal itu adalah bukan perbu-
atan pemuda bernama Jembawan itu. Pasti ada orang 
lain yang memang sengaja memancing kekeruhan..!" 
Tutur Roro Centil dengan pasti. Sementara Ginanjar 
manggut-manggut dengan penuh perhatian. Tampak-
nya ia serius benar untuk mendengarkan penuturan

Roro itu namun sesungguhnya fikirannya entah mene-
rawang kemana. Karena bukan cerita itu yang ia dala-
mi, namun ia cuma memperhatikan gerak-gerik gadis
ayu dihadapannya. Dan bibir mungil itu yang terbuka 
dan terkatup mempesonakan... Bahkan sekali-sekali 
Ginanjar menelan ludah saking terpesonanya. Entah 
dari mana tahu-tahu seekor lalat telah mampir ke mu-
lut pemuda itu, yang agak setengah terbuka.
"Ahk! Ahk!... Kurang ajar..!? Setan alas..!" Me-
maki Ginanjar sambil terbatuk-batuk. Namun rupanya 
sang lalat telah masuk tertelan kedalam tenggorokan-
nya. Karuan saja Roro Centil jadi mengikik geli, hingga 
terpingkal-pingkal saking lucunya. Wajah Ginanjar jadi 
tampak merah karena malunya. Dan tiba-tiba saja ia 
telah muntah-muntah karena tak tahan menahan rasa 
mual diperutnya.
"Hi hi hi... hi hi.. Lucu sekali..! Makanya jangan 
terlalu lebar buka mulutnya, jadi.. jadi... Hi hi hi... hi 
hi...." Kembali Roro terpingkal-pingkal. Hingga gubuk 
kecil itu bergoyang-goyang. Dasar memangnya dangau 
itu sudah tua, maka tiba-tiba saja terdengar suara 
berkreotan. Dan...
Brruaaak..! Robohlah dangau tua itu dengan 
seketika. Roro Centil sudah melompat keluar. Namun 
Ginanjar yang sedang mengurut-ngurut perutnya itu, 
tak sempat lagi untuk memikirkan akan kejadian 
mendadak itu. Hingga tak ampun lagi ia sudah tertin-
dih oleh tiang-tiang bambu dan atap alang-alang.
"Celaka..!?" Terpekik pemuda itu. Namun sudah 
terlambat. Tubuhnya sudah teruruk oleh alang-alang. 
Ketika muncul lagi wajahnya hampir tak terlihat kare-
na penuh dengan jerami. Karuan saja Roro Centil ter-
pingkal-pingkal saking lucunya. Menyadari akan kebo-
dohannya. tiba-tiba Ginanjar melesat cepat dari tempat

itu. Hingga sebentar saja ia sudah tak kelihatan. Roro 
Centil segera hentikan tertawanya Mendadak kelucuan 
itu segera sirna, melihat kepergian laki-laki dihada-
pannya.
"Aih. Roro..! Kau terlalu sekali sih menertawa-
kannya..!" Gumam Roro Centil.
Habis lucu sekali..! Aku terpaksa tak dapat me-
nahan tertawa..! Bantah hatinya. Akhirnya Roro cuma 
bisa menatap ke arah mana kepergian pemuda yang 
masih saudara seperguruannya itu ketika di lereng Ro-
gojembangan. Roro Centil menduga bahwa Ginanjar 
pasti akan marah atau malu untuk menjumpai dia la-
gi, karena ditertawakan sampai keterlaluan. Sampai 
nasib sial pagi-pagi sudah menyambangi. Sudah terte-
lan lalat, kerobohan atap gubuk lagi... Biarlah, nanti 
aku akan cari dimana ia menginap. Aku yakin ia tidak 
pergi buru-buru dari sekitar daerah ini. Dan aku akan 
minta maaf..! Berfikir Roro Centil. Memikir demikian 
Roro segera beranjak dari tempat itu.
Hari sudah menjelang tengah hari ketika Roro 
tiba disebuah pasar. Sengaja ia berputar-putar di seki-
tar daerah itu untuk menyelidiki keadaan. Entah bebe-
rapa desa ia masuki. Untuk mencari dengar adanya 
tanda-tanda yang dapat memberi petunjuk tentang hi-
langnya ketiga orang desa yang misterius itu. Ketika 
menampak adanya sebuah rumah makan. Ia segera 
memasuki. Rumah makan itu cukup besar. Dan agak-
nya hari itu banyak pengunjungnya. Sepasang mata 
Roro mencari-cari tempat yang masih kosong. Tampak 
ia tersenyum, karena disudut ruangan itu, masih ada 
sebuah meja dengan dua kursi yang masih kosong. Se-
gera ia sudah beranjak kesana. Menampak adanya 
pengunjung yang berwajah ayu ini, beberapa pasang 
mata sudah lantas melotot kagum. Sampai-sampai

terdengar suara orang batuk-batuk, karena terselak 
oleh sayur pedas yang masuk hidung. Keruan saja be-
berapa lelaki jadi berceloteh dengan kata-kata yang tak 
enak.
"Hati-hati bung..!" Makanya mata jangan terlalu 
lebar kalau melihat orang..!" Dan bermacam kata-kata 
lainnya lagi, yang diselingi gelak tawa. Sedang kan Ro-
ro Centil sudah menggeser bangku untuk duduk, den-
gan diiringi seorang pelayan yang segera mendatangi 
mejanya.
"Mau pesan apa nona..?" Berkata sang pelayan. 
Tapi belum lagi Roro menyahut telah terdengar suara 
dari meja sebelah depan.
"Eh, pelayan, kau keterlaluan... Coba kesini du-
lu..!" Pelayan tua itu cepat menoleh. Ternyata seorang 
laki-laki brewok tengah menggapainya. Karena yang 
menggapainya itu tampak melotot, tentu saja ia buru-
buru meninggalkan meja tamunya, untuk segera ter-
buru-buru beranjak. Namun masih sempat juga berka-
ta:
"Maaf, nona... Sebentar aku datang lagi..!"
"Coba kau lihat meja ini! Masak kotornya bu-
kan main. Apa begini caranya kau melayani tamu... ?" 
Berkata si brewok dengan keras, sambil menunjuk pa-
da mejanya. Tentu saja tiga lelaki disekelilingnya jadi 
senyum-senyum ditahan. Karena mereka tahu, si bre-
wok sengaja menumpahkan nasi dan sedikit sayur 
yang diacak-acak di atas meja. "Apakah tadi kau tak 
mengelap mejanya? Kalau aku tidak merasa lapar se-
kali sejak tadi aku tak mau duduk disini..!" Sambung-
nya lagi.
"Oh, maaf... Dan, aku tak melihatnya..!" Berka-
ta si pelayan, dan cepat-cepat mengambil kain untuk 
mengelapnya. Tapi diam-diam hatinya memikir: Rasanya ada sesuatu yang aneh? Sementara si brewok 
sudah lantas beranjak dari bangkunya.
"Biarlah aku pindah saja ke tempat yang lebih 
baik..!" Berkata si brewok seraya berpesan untuk 
membawakan minuman baru lagi ke pada sang pe-
layan. Tentu saja kata-kata itu dengan bisikan perla-
han. Roro tak palingkan wajahnya sedikitpun. Tapi di-
am-diam ia tersenyum. la sudah mengetahui akal 
orang. Dan benar saja ternyata saat itu si brewok tam-
pak mendatangi mejanya. Menyeret kursi dan duduk 
dibangku kosong dihadapan Roro Centil.
"Boleh aku duduk disini, ngng... nona..?" Ber-
kata si brewok sambil tersenyum-senyum. Sementara 
sepasang matanya merayapi wajah orang dihadapan-
nya. Roro anggukkan kepala sambil matanya menatap 
tajam pada si brewok. Laki-laki ini walaupun tam-
pangnya kasar, tapi cukup hormat juga dan tidak ku-
rang ajar.” Berfikir Roro.
"Pesan apa..?" Bertanya lagi si brewok setelah 
berfikir sebentar.
"Belum sempat..!"
"Ooooh..!?" Laki-laki brewok itu menyongkan 
mulutnya, hingga kumisnya yang berbulu kasar itu ja-
di ikut terbawa kedepan. Roro sengaja menahan dari 
rasa gelinya, karena ia melihat orang itu agak lucu.
"Pelayan..!" Ia sudah keluarkan bentakannya 
dengan suara keras. Hingga semua orang jadi menoleh 
padanya. Tergopoh-gopoh sang pelayan yang memang 
tengah melangkah kesana, jadi mempercepat jalannya 
seperti setengah berlari. Namun kembali memperlam-
bat jalannya, kalau tak ingin gelas yang berisi kopi pa-
nas itu menjadi tumpah. Tampak si brewok geleng-
gelengkan kepala. seraya berkata:
"Kalau jadi jongos harus kerja dengan cepat

dan gesit. Jadi pengunjung tak kecewa..!" Si pelayan 
tua itu hanya angguk anggukkan kepala.
"Non... nona pesan apa..?" Berkata si pelayan 
setelah meletakkan segelas kopi yang dibawanya itu 
dihadapan si lelaki brewok.
"Pesanlah apa saja yang kau mau, nona. Biar 
nanti aku yang bayar..!" Si brewok sudah mendahului 
berkata. Sementara tiga orang kawannya dimeja depan 
terdengar tertawa geli tertahan. Tiba-tiba entah dari 
mana telah terdengar suara suitan. Si brewok ini agak 
melengak dan wajahnya berubah merah. Belum lagi ia 
berbuat sesuatu telah terdengar tepukan ramai dari 
meja disudut kanan, disertai teriakan...
"Hidup, Warok Brengos, si Pisau Terbang dari 
Madura...!" Dan suara riuh tepukan tangan pun kem-
bali terdengar.
"Sayang pisaunya cuma tinggal satu..! Tumpul 
lagi..!" Terdengar suara teriakan santar dengan suara 
nyaring, dibarengi dengan suara mengikik tawa dari 
dua orang wanita yang baru turun dari ruang atas. Ke-
ruan saja semua mata tertuju pada kedua wanita itu. 
Mata Warok Brengos seperti mau melompat keluar me-
lihat siapa adanya kedua wanita itu.
"Perempuan-perempuan tengik itu selalu cari 
gara-gara..." Menggumam si brewok, tapi ia kembali 
duduk. Walaupun banyak orang tertawa mendengar 
kata-kata yang agak kurang sopan itu.
"Maaf, nona... Rupanya disini banyak kecoa-
kecoanya yang mengganggu aku. Nanti selesai minum 
akan kuberi pelajaran orang yang telah kurang ajar 
itu..!" Eh.. Mana pelayan itu..? Apakah kau sudah pe-
san makanan, nona..?" Bertanya Warok Brengos den-
gan terkejut. Karena ia tak melihat ada pelayan disitu.
"Sudah..! Aku sudah pesan sejak tadi!" Menyahut Roro. Rupanya di saat suara teriakan den tepukan 
macam-macam itu. Roro sudah bisiki ditelinga si pe-
layan untuk membawakan pesanannya. Dan sang pe-
layan segera pergi. Namun karena merasa mendongkol 
pada para pengunjung di dalam kedai itu, ia sampai 
tak melihat lagi kalau si pelayan sudah ngeloyor lewat 
dihadapannya. Sementara itu, begitu dua wanita itu 
turun. Segera saja dua buah kursi dikosongkan orang. 
Dan seorang laki-laki yang usianya sekitar empat pu-
luh tahun, berpakaian mewah, tampak mengajaknya 
bercakap-cakap. Diselingi gelak tawa cekikikan kedua 
wanita itu... Dua orang yang ternyata adalah murid la-
ki-laki itu segera beranjak keluar. Diam-diam Roro 
Centil terkejut juga. Sekilas saja ia sudah dapat perha-
tikan bahwa para pengunjung restoran atau boleh dibi-
lang kedai besar itu, adalah kebanyakan dari orang-
orang kaum Rimba Persilatan. Ada apakah mereka bi-
sa berkumpul di tempat ini..? Membatin Roro Centil. 
Sambil menunggu hidangan, Warok Brengos sengaja 
mengajak bercakap-cakap pada Roro dengan suara 
agak keras. Dan lagak si laki-laki brewok ini mendadak 
berubah seperti tak perduli pada semua orang yang 
berada di situ.
"Nona pesan apa? Ko' lama sekali..? Berkata 
Warok Brengos.
"Tentu saja, aku pesan seratus tusuk sate... Sa-
tu gelas kopi susu, dan dua piring nasi putih..!"
"Ha..! ?" Seratus tusuk.. ?! Apakah kau bisa 
habiskan sebanyak itu... atau kau mau bawa pulang, 
nona..?" Berkata Warok Brengos dengan kaget, hingga 
sampai terlonjak dari kursinya. Diam-diam ia menghi-
tung uang dalam saku di benaknya. Mati aku..! Ua-
ngku tak cukup untuk membayar sebanyak itu..! Ber-
kata ia dalam hati. Roro agaknya telah memaklumi

akan kegelisahan orang. Maka ia sudah lantas mau 
berkata.. tapi sudah terdengar suara orang yang berka-
ta:
"Jangan khawatir nona..! Aku yang bayar se-
mua termasuk kawanmu itu. Ha ha ha... baru seratus 
tusuk sate sih bukan apa-apa..!" Dan terdengar geme-
rincing bunyi uang dalam kantung yang diguncang-
guncang. Ternyata yang berkata adalah laki-laki ber-
pakaian mewah disudut dekat tangga itu. Yang duduk 
bertiga dengan dua wanita tadi. Wajah Warok Brengos 
merah padam. Ia merasa terhina sekali. Apalagi diden-
garnya suara dua orang wanita yang tertawa cekikikan.
Membuat telinga si brewok jadi panas. Saat itu si pe-
layan telah datang dengan tergopoh-gopoh membawa 
pesanannya. Dan dengan cepat segala pesanan Roro 
sudah terhidang di atas meja.
Warok Brengos menelan ludahnya. Bau sate 
kambing yang sedap itu telah merangsang hidungnya, 
hingga terlihat kembang-kempis.
Roro meneguk sedikit kopi susunya. Lalu ber-
kata berbisik pada si brewok:
"Eh, sobat Warok..! Ayo kau santap makanan 
gratis ini. Aku memang sengaja memesan sebanyak ini 
untuk kita berdua.." Tentu saja suara Roro tak terden-
gar oleh siapa-siapa, karena Roro telah memperguna-
kan tenaga dalamnya, hingga cuma si brewok itu yang 
mendengarnya. Mata si brewok jadi mendelik kaget, 
karena hal itu di luar dugaannya. Tapi Roro sudah ke-
dipkan mata untuk jangan sungkan-sungkan. Tam-
paknya si brewok ini mengerti dengan tanda itu. Dan 
tanpa komentar lagi ia sudah seret kursinya lebih de-
kat. Mencuci tangannya. Mengelapnya dengan serbet. 
Dan tak ayal lagi langsung mengganyang santapan itu 
tanpa malu-malu. Terdengarlah suara riuh tepuk tangan, dan teriakan-teriakan Disertai oleh gelak tawa 
terpingkal-pingkal dari sekelilingnya. Namun Warok 
Brengos sudah tak perduli lagi.
Setelah kenyang sampai beberapa kali berta-
hak. Warok Brengos mengurut-urut perutnya yang 
buncit, terdengar ia berkata keras:
"He he he... Terimakasih sobat Guriswara..! Ka-
lau tidak karena nona ini, tak nantinya kau mentraktir 
aku. Ha ha he he he..!" Terdengar beberapa orang me-
muji pada sikap si Brewok itu yang tanpa malu-malu 
menyantap makanan yang justru tadinya ia yang mau 
mentraktir orang... malah kini berbalik di traktir oleh 
si laki-laki berpakaian mewah itu. Sementara ketiga 
kawan si Brewok yang tadi semeja dengannya, tampak 
seperti mengiri akan nasib orang. Yang sebentar saja 
tampak sudah akrab dengan gadis cantik yang lugu 
itu.
"Eh, terimakasih atas jasamu itu, nona..! Ngng.. 
kau sudah tahu namaku, tapi aku sendiri belum men-
genalmu. Kalau boleh tahu siapakah nona ini? Dan 
akan kemana tujuannya?" Berbisik Warok Brengos.
"Ah, namaku sangat jelek. Apa perlu diberita-
hu..?" Berkata. Roro. Sementara suara teriakan yang 
hingar bingar itu sudah lenyap lagi. Dan beberapa 
orang sudah tampak keluar dari kedai besar itu.
"Memangnya kenapa ?" Apa khawatir aku 
mengkambing hitamkan namamu ? Aku tak ada ber-
maksud jahat padamu nona. Percayalah! Aku orang 
baik-baik..!" Berbisik si Brewok. Sementara sudut ma-
tanya menatap ke arah laki-laki bernama Guriswara. 
yang mentraktir sate itu. 
"Tapi kau harus hati-hati pada orang yang 
membayarkan makananmu. Dia sudah kesohor hidung 
belang terhadap wanita cantik..!" Bisik lagi Warok

Brengos. Roro cuma mengangguk-anggukkan kepala 
sambil leletkan lidah. Dan basahkan bibirnya dengan 
beberapa teguk air putih. Lalu keluarkan sapu tan-
gannya, untuk mengelap sepasang bibir mungil itu.
"Namaku Roro Centil..!" Segera Roro perkenal-
kan namanya dengan singkat.
"Tujuanku adalah mencari tahu tentang peris-
tiwa lenyapnya dua orang gadis dan satu pemuda ber-
nama Jembawan. Ketiga orang itu telah hilang secara 
misterius... Sambung Roro dengan perlahan. Tampak 
wajah Warok Brengos berubah kaget, dan tampaknya 
ia terkejut sekali.
"Hah? Ja.. jadi nona adalah si Pendekar Wanita 
Pantai Selatan itu..? Oh... Maafkan aku yang bodoh 
ini, nona Pendekar. Tak tahu kalau Gunung Mahame-
ru berada didepan mata..!" Berkata Warok Brengos 
sambil menjura hormat.
"Aih... sobat Warok, mengapa kau terlalu me-
nyanjung namaku? Aku jadi malu hati menerima hor-
matmu..! Tukas Roro dengan wajah tersenyum, namun 
diam-diam ia terkejut juga karena nama Roro Centil 
ternyata telah dikenal disetiap pelosok. Pada saat itu 
ketiga dari kawan Warok Brengos telah menghampiri. 
Sambil cenger-cengir merubung di kiri kanan dan be-
lakang si Brewok.
"He..Warok! Bagi-bagi aku kalau dapat rejeki, 
jangan dimakan sendiri..!" Berbisik yang dibelakang. 
Sementara yang dua orang tampak melihat Roro den-
gan kagum, seperti memandang sebuah boneka saja. 
Tiba-tiba saja si Brewok bangkit dari kursinya, seraya 
memberi isyarat untuk segera mengikutinya. Tentu sa-
ja ketiganya jadi terheran, dan dengan cepat mengiku-
tinya. Ketika tiba-tiba diluar...
"Hm, dengarlah kalian sobat-sobatku. Bicara

mu jangan terlalu kurang ajar. Apakah kau tak menge-
tahui kalau nona yang ada didekatku itu adalah si 
Pendekar Wanita Pantai Selatan Roro Centil..?!" Ter-
nyata Warok Brengos telah bicara dengan suara keras.
"Hayo, segera kau minta maaf padanya..! Ber-
kata Warok lagi. Adapun ketiga orang kawannya jadi 
terkejut bukan main mendengar penjelasan itu. Dan 
tak lama kemudian mereka segera kembali ketempat 
duduk Roro... Akan tetapi mereka jadi terkejut, karena 
tahu-tahu bangku disudut itu telah tak ada orangnya. 
Alias kosong. Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan itu 
ternyata telah lenyap tak berbekas.
"Heh..?! Kemana nona Pendekar itu..? Wah! 
Wah! Tentu sudah pergi dengan diam-diam. Agaknya 
tak ingin banyak orang melakukan penghormatan pa-
danya. Enam orang yang berada dimeja sebelah kanan, 
juga telah menghampiri. Ternyata keenamnya juga 
termasuk kawan-kawan Warok Brengos.
"Apa kalian tak lihat kemana perginya Pendekar 
Roro Centil, yang tadi duduk bersamaku..?" Bertanya
si Brewok.
"Entahlah... Tadi begitu kau keluar kami semua 
melihat kearahmu. Ketika kami berpaling lagi, nona itu 
telah lenyap..!" Menuturkan salah seorang.
"Hah..? Jadi dia Pendekar Wanita yang kesohor 
aneh dan berkepandaian tinggi itu..? Menyesal tak se-
dari tadi kami tahu..." Berkata kedua dari enam orang 
kawan si Warok Brengos. Gemparlah semua orang 
yang berada direstoran. Masing-masing membicarakan 
nona pengunjung yang telah lenyap itu. Bahkan ada 
juga yang bercerita sempai berlebih-lebihan mengenai 
kehebatan si Pendekar Wanita Pantai Selatan, Roro 
Centil. Kemanakah perginya Roro Centil..? Ternyata di 
saat Warok Brengos meninggalkan mejanya. Sebuah

benda melayang cepat sekali ke arah Roro Centil, dari 
arah jendela. Dengan terkejut Roro menyambar cepat 
dengan gerakan tangannya. Ternyata benda itu adalah 
segulung kertas kecil yang bertulisan. Roro belum 
membuka seluruhnya, tapi tubuhnya telah bergerak 
melesat keluar dari jendela. Masih terlihat siapa yang 
telah melemparkan benda itu. Yaitu sesosok tubuh 
yang berkelebat cepat ke ujung pasar. Dan membaur 
dengan simpang siurnya manusia yang berbelanja. Ro-
ro agak susah untuk menyusulnya. Dan ia benar-
benar telah kehilangan jejak. ketika lorong-lorong bun-
tu membuatnya kikuk untuk mengambil arah. Akhir-
nya ia melompat ke atas genting sebuah bangunan. 
Dari sana ia dapat memandang ke sekelilingnya. Na-
mun tak ada tanda-tanda mencurigakan. Segera ia me-
lompat lagi kebawah. Dan berkelebat ketempat yang 
agak sunyi. Disana ia perhatikan dulu keadaan seki-
tarnya. Baru ia membuka kertas kecil bertulisan itu. 
Dan apa yang tertulis dikertas itu membuat ia terkejut.
RORO...! Aku telah menemui jejak tiga orang
aneh yang mencurigakan.
Pergilah ke arah sebelah barat. Disana dapat kau jum-
pai sebuah kuburan kuno yang besar.
Dihadapannya ada terdapat patung katak raksasa.
Hati-hatilah...!
GINANJAR
Demikianlah isi surat dikertas kecil itu. Roro 
kerutkan keningnya. Dan segera remas surat kecil itu. 
Hatinya membatin: Hm... Kiranya Ginanjar masih mau 
juga turut membantuku. walaupun tak mau bertemu 
muka. Tampak wajah Roro menampilkan senyuman-
nya. Dan tiba-tiba ia sudah berkelebat cepat mening
galkan tempat itu.


TIGA


Kuburan kuno di lereng Mahameru itu memang 
sebuah tempat yang tersembunyi. Rimba belantara 
dan bukit terjal terdapat disekelilingnya. Pelataran ku-
buran kuno itu ternyata amat luas. Berlantai putih. 
namun agak kotor tak terawat. Sedang pada sisi sebe-
lah kanan terdapat patung seekor katak besar yang 
tengah mengangakan mulutnya. Tiga sosok tubuh 
tampak duduk bersila dihadapan patung katak yang 
tampak menyeramkan itu. Dua orang wanita, yang sa-
tu adalah seperti seorang gadis yang sudah kadalu-
warsa, alias perawan tua. Sedang yang seorang lagi 
adalah seorang gadis yang berwajah pucat. Sedangkan 
orang ketiga adalah seorang pemuda yang cukup tam-
pan, umurnya sekitar dua puluh lima tahun. Ketiganya 
tampak tengah bersemadi dengan khusuknya... Se-
mentara itu dari kejauhan tampak terlihat dua orang 
telah berkelebat mendatangi kuburan kuno itu. He-
bat..! Ternyata kedua orang itu adalah orang cacad. 
Yang seorang sebelah kakinya putus sebatas paha. 
Dan pergunakan sebuah tongkat kayu untuk me-
nyangga tubuhnya. Namun ternyata dapat berlari den-
gan cepat seperti itu adalah luar biasa. Sedangkan 
yang seorang lagi kedua belah lengannya yang bun-
tung. Tapi gerakan larinya tidak merasa menjadi ham-
batan baginya. Sebentar saja kedua sosok tubuh itu 
telah tiba di pelataran makam yang luas itu. Ternyata 
kedua manusia itu berwajah amat buruk, seperti bekas 
terluka, Atau terkena goresan goresan senjata tajam. 
Bahkan yang seorang lebih menyeramkan lagi. Karena

lubang hidungnya sudah growong. dan bibirnya terbe-
lah dua. Mendengar ada orang mendatangi, ketiga 
orang yang tengah bersemadi itu segera membuka ma-
tanya. Si gadis kadaluwarsa itu terlebih dulu berdiri 
dan menjura hormat pada kedua pendatang itu. Serta 
beranjak menghampiri seraya berkata:
"Ah! Kakang Kala Munget dan Kala Wesi..! Ba-
gaimana dengan pengintai si pencari rumput itu? Apa-
kah kalian berhasil membunuhnya?" Salah seorang 
tampilkan wajah kecewa, dan berkata dengan kesal:
"Bocah keparat itu berhasil lolos! Dia telah me-
nerjunkan dirinya ke sungai, hingga kami yang tak da-
pat berenang, terpaksa membiarkan ia melarikan diri 
keseberang. Huh! Setan alas..!"
Tampak si gadis kedaluwarsa itu naikkan alis-
nya, dan menghela napas.
"Sayang..! Aku khawatir dia dapat membocor-
kan tempat rahasia kita... sebelum waktunya!" Berkata 
si gadis kedaluwarsa itu.
"Hm, kapan kau bisa dapatkan kulit yang cocok 
dengan kami? Rasanya aku sudah tak sabar lagi..!" 
Berkata si bibir terbelah alias Kala Wesi. Tampak si 
gadis kedaluwarsa itu tersenyum, dan sahutnya:
"Sabarlah, kakang! Tidak terlalu mudah menca-
ri ukuran wajah, dan darah yang sama seperti yang di 
inginkan! Hari ini aku akan pergi mencarinya. Tapi aku 
harus menunggu perintah ketua dulu..!"
"Aku harus segera menghadap beliau. Hal ini 
harus kulaporkan dengan segera!" Berkata Kala Mun-
get yang berwajah seperti dicakar kuku-kuku tajam 
tak keruan rupa.
"Ah! ? Jangan dulu, kakang Kala Munget..! Be-
liau sedang.. sedang.." Si gadis kadaluwarsa ini tak te-
ruskan kata-katanya, karena sekonyong-konyong wa

jahnya berubah merah.
"Sedang apa..?" Bertanya Kala Munget. Semen-
tara si bibir terbelah Kala Wesi tampak menyeringai 
mulutnya. dan berkata:
"Sudahlah! Aku tahu..! Pokoknya sedang "Ber-
semadi". begitu! Iya kan..?" Si gadis kadaluwarsa ini 
manggut-manggut dan menjelaskan lebih jauh bahwa 
sang Ketua tidak mau diganggu. Pada saat itu kedua 
laki-laki dan wanita yang duduk bersemadi itu telah 
melompat menghampiri. Keduanya memang cukup 
tampan dan cantik. Membuat Kala Munget dan Kale 
Wesi jadi mengiri.
"Hm! Siti Jenang..! Kau harus dapatkan wajah 
yang tampan untuk aku, dan adik Kala Wesi ini..! Ber-
kata Kala Munget.
"Hi hi hi... Jangan khawatir. Pasti tak lama lagi 
akan kudapatkan. Asal kalian mau bersabar menung-
gu..!" Menyahuti si gadis kadaluwarsa, yang bernama 
Siti Jenang. Selanjutnya mereka duduk bercakap-
cakap dengan suara perlahan. Entah apa yang dibica-
rakan. Namun sekali sekali Siti Jenang selalu merah 
mukanya. Dan ketiga orang itu tertawa. Sementara itu 
dibalik semak, enam sosok tubuh tengah mengintai 
keempat orang yang sedang duduk bercakap-cakap 
itu. Ternyata tak lain dari Telo Moyo. Jagoan dari desa 
Belimbing Wuluh, bersama lima orang lainnya. Tapi 
yang kedua orang tampaknya bukan orang sembaran-
gan. Karena kedua laki-laki itu memang dua tokoh 
persilatan yang cukup punya nama dikalangan Rimba 
persilatan. Sedangkan yang tiga orang lagi adalah 
Bendoro Kelud. alias pak Kuwu desa Belimbing Wuluh. 
Kebo Pawon. Dan Sugita, dari desa Nongko Jajar. Ter-
nyata pelacakan tentang lenyapnya tiga orang pendu-
duk desa Belimbing Wuluh dan desa Nongko Jajar terus dilakukan. Dua tokoh persilatan yang berilmu 
tinggi itu adalah sahabat baik Telo Moyo. Yang sengaja 
disambangi untuk mencari jejak ketiga orang yang hi-
lang secara misterius itu. Karena adanya berita baru 
dari seorang penduduk yang membuka dua mayat te-
rapung disungai. Sayang mayat itu kulit mukanya te-
lah terkelupas mengerikan. Hingga tak dapat dipasti-
kan siapa adanya...
Telo Moyo yang penasaran segera mengajak tiga 
orang yang kehilangan anak itu untuk membuktikan 
siapa kedua mayat tersebut. Tapi dengan terlebih dulu 
menghubungi kedua tokoh persilatan itu. Sayang, me-
reka tak dapat menemukan kedua mayat tersebut, 
yang mungkin telah terhanyut. Namun pelacakan te-
rus dilakukan hingga ke hulu sungai, di lereng Gu-
nung. Kedua laki-laki tokoh Rimba Persilatan itu ter-
nyata mempunyai pendengaran yang hebat. Ia dapat 
mengetahui adanya orang yang tengah berlari tak jauh 
dihadapannya. Ternyata benarlah. Ketika ia berkelebat 
untuk melihat. Ternyata seorang laki-laki dengan pa-
kaian basah kuyup tengah berlari tidak terlalu cepat 
mendatangi. Orang itu ternyata Ginanjar adanya. Yang 
baru saja berhasil meloloskan diri dari kejaran Kala 
Munget dan Kala Wesi. Mengetahui orang-orang itu 
adalah hendak mencari jejak tiga orang penduduk desa 
yang hilang misterius, Ginanjar jadi terkejut. Karena ia 
memang telah melihat ciri-ciri yang diberitahukan Ro-
ro mengenai ketiga orang yang hilang itu. Dan dua di-
antaranya ia dapat mengenali. Sayang pengintaiannya 
telah diketahui oleh Kala Munget dan Kala Wesi... Gi-
nanjar yang memang tengah mencari rumput-rumput 
obat-obatan di lereng Gunung itu. secara tak sengaja 
telah menemukan sebuah kuburan kuno di tempat 
tersembunyi itu. Kedua tokoh persilatan itu yang ternyata berjulukan Pendekar Kembar, jadi terkejut men-
dengar penuturan Ginanjar. Dan tanpa dapat dicegah 
lagi. mereka berniat menyelidiki. Sedangkan Ginanjar 
yang memang berniat menghapus malu terhadap Roro 
Centil, menemukan jalan yang bagus. Ia segera menca-
ri si Pendekar Wanita Pantai Selatan itu. Dan berhasil 
menjumpainya. Dan melalui jendela rumah makan itu, 
ia melemparkan surat petunjuk padanya.
Demikianlah... Hingga keenam orang itu berha-
sil menemukan kuburan kuno di tempat yang tersem-
bunyi itu. Dan beberapa pasang mata segera meneliti 
wajah-wajah kelima orang yang tengah duduk berca-
kap-cakap dipelataran makam kuno itu, dekat sebuah 
patung seekor katak besar. Yang terlebih dulu bicara 
adalah Kebo Pawon.
Sepasang matanya tak lepas dari wajah seorang 
wanita yang duduk dekat si gadis kadaluwarsa itu.
"Ah..! ? Benar, tak salah. Gadis itu wajahnya 
mirip benar dengan Serandil anak gadisku yang hilang 
itu... Tapi, apakah benar dia..?" Desis Kebo Pawon per-
lahan. Sedangkan Sugita yang dari desa Nongko Jajar, 
ternganga mulutnya karena ia telah melihat adanya 
Jembawan. Anak laki-lakinya yang duduk bercakap-
cakap. Adapun Telo Moyo terkejut bukan main, karena 
melihat adanya Siti Jenang, si gadis kadaluwarsa alias 
perawan tua. Yang ternyata juga berada diantara me-
reka. Dan pak Kuwu alias Bendoro Kelud tampak ke-
cewa, karena tak dapat melihat adanya anak gadisnya 
yang bernama Sekar Tanjung, di antara kelima orang 
itu. Pendekar Dewa Kembar memberi isyarat pada 
keempat orang kawannya agar hati-hati berbisik. dan 
tidak terlalu gaduh. Akan tetapi Kebo Pawon sudah tak 
dapat menahan sabarnya lagi... Tiba-tiba ia telah me-
lompat keluar dari tempat persembunyiannya seraya

berteriak:
"Serandiiiil! Oh! Serandil anakku..!" Dan den-
gan berlari-lari jatuh bangun ia merosot turun dari 
tempat ketinggian itu untuk mendatangi kelima orang 
itu. Pendekar Dewa Kembar dan yang lainnya jadi ter-
kejut. Namun sudah terlambat. Kebo Pawon telah tiba 
di pelataran Kuburan Kuno itu. Tentu saja kelima wa-
jah yang sedang bercakap-cakap itu jadi terkesiap. 
Dan serentak sudah melompat bangun.
"He!? Orang tua dari mana kau bisa datang ke 
tempat ini?!" Bentak Kala Wesi. Namun Kebo Pawon 
tak menghiraukan bentakan itu. Ia sudah berlari un-
tuk menubruk gadis disebelahnya Siti Jenang, berte-
riak dengan air mata bercucuran.
"Serandil..! Kau ada disini anakku..?" Tapi tiba-
tiba laki-laki tua itu jadi terhenyak. Dan menahan 
langkahnya. Wajahnya menampakkan keraguan.
"Tubuhmu tampak berbeda anakku..? Dan mu-
ka mu agak pucat! Apakah kau bukan Serandil? Tapi.. 
tapi.." Kebo Pawon tak dapat meneruskan kata-
katanya. karena satu tendangan keras membuat tu-
buhnya terjungkal keluar pelataran. dengan teriakan 
ngeri... Kurang ajar! Kau harus dibunuh mampus, be-
rani menginjakkan kaki ketempat ini..!" Bentak Kala 
Wesi. Ternyata ia telah mengayunkan kakinya ke arah 
dada laki-laki tua itu. Akibatnya ternyata amat menge-
rikan. Kebo Pawon terkapar ditanah dengan darah me-
nyembur dari mulutnya. Namun ia masih berusaha 
bangkit. Bibirnya menyeringai menahan sakit sepasang 
matanya mendelik menatap kelima orang di hadapan-
nya. Namun tak berapa lama ia sudah roboh kembali 
ke bumi, untuk melepaskan nyawanya. Terkejutlah si 
Pendekar Kembar dan ketiga orang di tempat persem-
bunyiannya. Perbuatan keji yang berlangsung didepan

mata itu, benar-benar membuat mereka tersentak ka-
get. Tentu saja hal demikian membuat kelima orang di
pelataran makam itu segera mengetahui adanya bebe-
rapa orang yang mengintai. Terdengarlah bentakan da-
ri Kala Munget. Tubuhnya sudah berkelebat cepat ke 
arah tempat persembunyian mereka. Tidak itu saja. 
Keempat orang kawannya sudah berkelebatan ketem-
pat itu. Kini lima pasang mata dari penghuni Kuburan 
Kuno itu telah menatap dan menyapu wajah wajah 
orang dihadapannya. Melihat Kala Munget dan Kala 
Wesi yang bertubuh cacad, dan bertampang buruk itu, 
terkejutlah si Pendekar Kembar. Sedari tadi iapun ten-
gah mengingat-ingat akan siapa adanya kedua orang 
bertampak buruk yang menyeramkan itu. Adapun Su-
gita, laki-laki tua berbaju putih dari desa Nongko Jajar 
segera terpekik melihat adanya Jembawan ditempat 
itu.
"Jembawan..! Apakah kau tidak mengenali ayah 
mu lagi, anakku..?" Teriaknya, walaupun sepintas ia 
agak aneh menatap sikap anak laki-lakinya yang tam-
pak pucat itu. Lengannya menunjuk pada laki-laki 
berbaju hitam yang tampan itu. Yang ditanya terse-
nyum kaku. Terdengar dengusan dari hidungnya. 
Agaknya ia tak mau memberikan jawaban. Tapi pa-
lingkan wajahnya pada Siti Jenang disebelahnya.
"Hi hi hi... Agaknya kau orang tuanya laki-laki 
yang bernama Jembawan..!" Berkata Siti Jenang. Dan 
sambungnya lagi:
"Wajah kawanku ini memang mirip dan sama 
dengan Jembawan anakmu, orang tua. Tapi sayang.. 
dia bukan Jembawan!" Telo Moyo melompat kedepan 
dengan menghunus golok besar yang dibawanya. Wa-
jahnya menampilkan kemarahan Dan ia sudah mem-
bentak dengan suara keras...

"Siti Jenang..! Jangan kau main sandiwara. Apa 
artinya semua ini..? Kau kira aku tak dapat mengena-
limu! Aku memang agak curiga dengan tindak tan-
dukmu..! Bukankah kau anak angkatnya Manguni ? 
Asal-usulmu tidak jelas. Kau pernah akrab dengan pa-
ra gadis remaja. Dan sering mengajak mandi di Sen-
dang, di desa Belimbing Wuluh. Aku yakin kau pasti 
terlibat dengan hilangnya tiga orang penduduk dari 
kedua desa. Kini dua diantara orang yang hilang itu 
ada disini..! Tapi adalah aneh kalau sampai keduanya 
tak mengenali lagi kedua orang tuanya. Apakah artinya 
semua ini..?"" Mulut Telo Moyo nyerocos tak terben-
dung. Memang orangnya berwatak kasar, dan bekas 
seorang penjahat yang sudah kembali sadar. Siti Je-
nang tampak perlihatkan wajah tenang. Namun Kala 
Wesi sudah membentak dan melangkah tiga tindak.
Clik! Clik! Dua buah pisau berkilatan telah ter-
sembul dari masing-masing ujung sepatunya, yang 
terbuat dari besi. Tapi Siti Jenang telah cepat-cepat 
berkata:
"Biarlah kuberikan penjelasan pada manusia 
manusia yang bakal mampus ini, Kala Wesi.." Kala 
Wesi palingkan kepala pada Siti Jenang. Terdengar ia 
mendengus, namun segera melangkah lagi mundur 
dua tindak.
"Hm. baik..! Aku akan jelaskan kalau kalian in-
gin mengetahui..! Aku memang telah menculik ketiga 
orang dari dua desa di bawah bukit itu. Dua dianta-
ranya telah ku kuliti mukanya. Dan seperti kalian li-
hat. Kulit-kulit wajah kedua laki-laki dan wanita itu te-
lah terpasang pada orang-orang disebelahku.! Hi hi 
hi.." Tutur Siti Jenang dengan suara tegas. Penjelasan 
itu membuat semua orang dari pihak pelacak itu jadi 
terkesiap. Adapun Sugita, orang tua Jembawan dari

desa Nongko Jajar itu seketika jadi mendeprok lemas. 
Lututnya gemetaran. Sepasang matanya memancar be-
rapi-api. Dan tampak air bening mengalir turun dari 
sepasang matanya yang sudah mulai menggayut ke-
bawah. Bendoro Kelud alias pak Kuwu tiba-tiba berte-
riak:
"Perempuan iblis..! Kau.. kau apakan anakku 
Sekar Tanjung..?! Kau juga telah menguliti wajah-
nya..?!" Tubuh laki-laki yang masih tampak keker ini 
tergetar hebat. Ia sudah melangkah dua tindak mena-
tap Siti Jenang.
"Hi hi hi... Sekar Tanjung tak akan dikuliti. Ka-
rena ia teramat cantik, dan diingini Ketua kami! kin se-
lama beliau masih menyukai, akan tetap hidup. Entah 
kalau sudah bosan... Mungkin segera menyusul yang 
lainnya ke Akhirat..!"
"Keparat..! Jadi dua mayat yang mengambang 
di sungai itu adalah mayat dari Jembawan dan Seran-
dil..?!" Teriak si Pendekar Kembar hampir serentak.
"Hm..! Sudah kuduga. Aku memang mencurigai 
asal-usulmu Siti Jenang. Entah kau ini sebangsa ma-
nusia ataukah iblis, dapat berbuat sekeji itu..!" Berkata 
Telo Moyo. Dan ia sudah memberi isyarat pada si Pen-
dekar Kembar untuk menerjang.
"Hi hi hi... Aku hanya menjalankan perintah..! 
Kami memang para iblis yang sebentar lagi akan men-
cabut nyawa kalian..!" Ujar Siti Jenang dengan wajah 
sinis. Telo Moyo tak dapat menahan kemarahannya, 
Dengan menggerung bagai harimau ia telah menerjang 
si gadis kedaluwarsa itu. Disertai teriakannya...
"Kucincang tubuhmu perempuan setan..!" Dan 
golok besarnya berkelebat membabat pinggang Siti Je-
nang. Namun sepasang tangan dari laki-laki berwajah 
Jembawan itu telah bergerak menangkap. Terdengar


lah suara berdenting keras.
Trang..! Golok besar Telo Moyo bagai menghan-
tam benda keras. Hingga pada bagian yang tajamnya 
telah gompal alias somplak lebar.
"Hah!?" Telo Moyo tersentak kaget. Dan mun-
dur dua tindakan. Sepasang matanya berganti-ganti 
menatap senjatanya dan sepasang tangan laki-laki 
berwajah Jembawan itu. Segera dapat diketahui kalau 
sepasang tangan lawan, sebatas sikunya terbuat dari 
besi. Yang memang mirip dengan tangan manusia, 
namun agak kaku.
"He he he... Aku dijuluki si Kelelawar Besi! Dulu 
kedua lenganku ini telah dihancurkan orang dari go-
longan putih. Aku tak dibunuh, tapi telah disiksa se-
tengah mati, yang menjadikan aku orang cacad seu-
mur hidup..! Dendamku takkan pernah habis sebelum 
melenyapkan setiap golongan kaum putih. Dan orang 
pertama akan kubunuh adalah kau Telo Moyo. Aku 
mengenalmu dulu sebagai seorang perampok. Tapi 
nyatanya kau telah berpindah golongan. Bagus.! Aku 
akan buat kau menderita terlebih dulu seperti aku, 
yang telah kehilangan kedua lenganku, dan rusaknya 
wajahku..! He he he.." Berkata si laki-laki berwajah 
Jembawan. Adapun Telo Moyo jadi terperanjat. Seketi-
ka wajahnya berubah pias.
"Hah!?" Apakah kau Sawunggeni..?" Teriak Telo 
Moyo dengan suara tertahan.
"He he he... Benar! Nah! Bersiaplah kau untuk 
segera merasakan saat sekaratmu!" Dan kali ini si ke-
lelawar Besi telah mendahului menerjang Telo Moyo 
dengan terjangan ganas. Kakinya menjejak tanah, dan 
tubuhnya melesat dengan lengan terpentang menyam-
bar tubuh laki-laki bekas perampok itu.
Trang! Trang! Telo Moyo melompat kesisi sambil

hantamkan dua serangan goloknya sekaligus Namun 
lagi-lagi goloknya terpental balik. Dan kembali bertam-
bah gompalnya.
Saat ia gugup itu, tiba-tiba sebuah kepalan tin-
ju besi telah menghantam dadanya. Terbeliak Telo 
Moyo bagaikan tak percaya, karena lengan si Kelelawar 
Besi itu dapat mulur satu setengah depa. Ia tak sem-
pat berkelit lagi. Dan roboh terjungkal. Telo Moyo per-
dengarkan keluhannya. Namun sekejap ia telah bang-
kit lagi dengan terhuyung-huyung... Dan otot-ototnya 
kembali tegang. Ia telah. dapat menahan dan memu-
lihkan lagi kekuatannya. Walau terasa dadanya agak 
nyeri sedikit.
"He he he... Telo Moyo! Lebih baik kau serahkan 
saja sepasang lenganmu itu untuk kuhancurkan..! Ke-
lelawar Besi mengejek dengan senyum iblis.
"Keparraaat!" Teriak Telo Moyo. Dan kembali ia 
menerjang bagel kemasukan setan. Goloknya memba-
bat kiri dan kanan menabas pinggang lawan. Namun 
kemana saja senjatanya berkelebat, selalu dapat ter-
tangkis oleh sepasang lengan besi si Kelelawar. Semen-
tara itu Pendekar Kembar telah mencabut pedangnya 
dengan serentak. Dua sinar hijau segera terlihat dari 
kedua benda ditangan si Pendekar Kembar. Kedua 
manusia cacad berwajah buruk itu melompat mundur 
tiga tumbak. Sepasang matanya menatap kedua pe-
dang bersinar hijau ditangan laki-laki berwajah hampir 
serupa itu.
"Heh! Pedang Mustika Hijau..!" Desis Kala Mun-
get yang berkaki satu.
"Benar..! Sepasang pedang itulah yang telah 
membuat cacad kaki dan tangan kita..! Desis Kala We-
si yang kedua tangannya buntung.
"He he he... bagus! Kalian pasti murid si Sepasang Rajawali Putih. Pucuk di cinta ulam tiba..! Kami 
tak jauh-jauh lagi mencari musuh yang telah membuat 
kami cacad seumur hidup!" Teriak Kala Wesi dengan 
wajah semakin seram. Saat itu terdengar desisan sua-
ra Siti Jenang: dibarengi dengan gerakan tubuhnya 
yang melompat mendekati kedua orang cacad itu.
"Awas hati-hati dengan lawanmu, kakang Kala 
Munget dan Kala Wesi. Aku dapat lihat sepintas. tam-
paknya kedua wajah pendekar ini cocok dengan uku-
ran wajah kalian. Hati-hati jangan sampai rusak. Dan 
jangan sampai terbunuh. Siapa tahu darahnya cocok 
dengan darah kalian. Hi hi hi... Aku jadi tak payah-
payah mencarinya..!" Kala Munget dan Kala Wesi
manggut-manggut, dan tampak tersenyum menyerin-
gai.
"Ha ha ha... Boleh juga! Cukup tampan dan ke-
lihatan gagah!" Bisik Kala Munget pada saudaranya.
"Dan sepasang Padang Mustika Hijau itu bisa 
jatuh ketangan kita..!" Bisik Kala Munget lagi. Wajah-
nya berseri girang.
"Betul! Hayo kita menangkapnya hidup-hidup!" 
Berkata Kala Wesi. Dan ia sudah tarik keluar kedua 
lengan jubahnya, yang terbelit dipinggang. Sementara 
si Pendekar Kembar telah melompat dua tombak keha-
dapannya.
"Dua Siluman buntung..! Kiranya kalianlah 
yang telah membantai habis orang-orang perguruan 
Rajawali di Gunung Suket. Kami Gambir Anom dan 
Gambir Sepuh memang murid dari Sepasang Rajawali 
putih. Sayang kau terlalu pengecut. Dan bertindak keji 
selagi tak ada kedua Guruku. Bagus..! Hari ini jangan 
harap kau berdua dapat meloloskan diri..!" Akan tetapi 
kata-kata si Pendekar Kembar tersebut telah disambut 
dengan gelak tawa terpingkal-pingkal oleh Kala Munget dan Kala Wesi.
Sementara itu telah terdengar teriakan dari Telo 
Moyo disebelah sana. Keadaan amat mengerikan. Ka-
rena kedua lengannya telah hancur terkena cekalan te-
lapak tangan besi si Kelelawar Besi.
"He he he... Kini biji matamu akan kukorek ke-
luar. Biar kau rasakan sakitnya..!" Teriak Sawunggeni 
yang berwajah Jembawan itu. Dan kedua lengan be-
sinya terjulur ke arah Telo Moyo yang terkapar menge-
rang kesakitan. Tapi pada saat itu, telah berkelebat si-
nar hijau menyambar sepasang lengan keji itu. 
Whusss! Sambaran pedang salah seorang dari si Pen-
dekar kembar itu menemui tempat kosong. Karena si 
Kelelawar Besi telah menarik lagi sepasang lengannya. 
Di lain pihak, Kala Wesi dan Kala Munget masing-
masing telah bergerak ke arah Pendekar Kembar. Men-
dengar bersyiurnya angin dibelakang punggung, Gam-
bir Anom yang baru saja menggagalkan niat keji si Ke-
lelawar Besi itu, segera balikkan tubuh. Ternyata Kala 
Wesi telah pergunakan lengan jubahnya menyambar 
pinggang. Dengan berteriak keras ia menghantam den-
gan pedang Hijaunya.
"Wesss! Kilatan sinar hijau berkelebat bagai 
bayangan kilat. Namun lengan jubah Kala Wesi telah 
berubah arah menyambar kaki. Kembali Gambir Anom 
sambarkan pedangnya, sambil melompat tiga tombak. 
Sebelah lengannya telah ia arahkan ke kepala Kale 
Wesi. Segera menyambar angin keras yang disertai te-
naga dalam hebat. Kala Wesi cuma perdengarkan den-
gusan di hidung. Dan gunakan lengan jubahnya men-
gebut ke arah serangan pukulan lawan. Akibatnya ter-
dengar teriak tertahan Gambir Anom. Tenaga dalam-
nya ternyata jauh di bawah Kala Wesi dua tingkat. Tak 
ampun lagi tubuhnya terlempar beberapa tombak.
Namun dengan berjumpalitan di udara, ia berhasil 
menjejakkan kakinya kembali ke tanah. Sementara itu 
Gambir Sepuh telah menyambuti serangan tongkat 
bercagak Kala Munget. Hebat serangan Kala Munget. 
Karena nyaris saja kedua kaki Gambir Sepuh terbabat 
putus, kalau ia tak cepat menyelamatkan diri. Demi-
kianlah... sebentar saja suasana pertarungan berjalan 
dengan seru dan tegang. Akan halnya Sugita dan Ben-
doro Kelud, mengetahui keadaan gawat. Segera diam-
diam menyelinap untuk menyelamatkan diri. Tak ada 
keberanian dari kedua penduduk desa itu untuk maju 
turut menempur. Karena tanpa kepandaian yang be-
rarti, samalah dengan mengantarkan nyawa saja. Akan 
tetapi tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh kurus langs-
ing ke arah mereka. Dan kedua laki-laki tua itu per-
dengarkan teriakan ngeri... Tubuhnya terjungkal dua 
tombak. Dan saat berikutnya kedua orang yang ma-
lang itu telah tewas seketika. Dengan kulit punggung 
hangus bergambar telapak tangan. Ternyata si gadis 
berwajah Serandil itu yang telah menghantamnya dari 
belakang.
"Bagus adik Rimba Wengi.! Hi hi hi... Kalau tak 
dibinasakan akan bertambah wabah ditempat kita ini." 
Berkata Siti Jenang, yang juga telah kelebatkan tu-
buhnya ke tempat itu.
Sementara itu di dalam sebuah ruangan yang 
remang-remang. Tampak dua sosok tubuh manusia 
bergerak-gerak di atas sebuah batu persegi, beralas ti-
kar pandan. Yang berada di bagian atas ternyata ada-
lah sesosok tubuh wanita, berambut panjang. Walau-
pun keadaannya tidak begitu terang. Namun dapat ter-
lihat kalau wanita itu bertubuh padat dan berparas 
cantik. Rambutnya terjuntai ke bawah. Ketika mengge-
rek-gerakkan kepala dan tubuhnya... Sementara yang

berada di bagian bawah adalah sesosok tubuh laki-laki 
yang boleh dikatakan seperti orang tak berdaya. Kare-
na hanya tampak menggeliat geliat saja bagai merasa-
kan sesuatu. Sementara keluhan-keluhan terlontar da-
ri mulutnya dengan suara yang samar tidak begitu je-
las. Akan tetapi anehnya wanita di atasnya itu terisak-
isak hingga air matanya sampai bercucuran menetes 
deras. Selang beberapa saat tampak gerakan tubuhnya 
semakin perlahan... Dan jatuhlah ia terjerembab diser-
tai keluhannya. Sekonyong-konyong sepasang lengan 
telah mendekapnya erat, hingga ia terasa sukar berna-
pas. Dan detik selanjutnya kedua tubuh itu telah sa-
ma-sama terdiam. Hanya desah menggebu itu yang 
terdengar kian melirih.
Semilir angin dari lubang dinding ruangan yang 
agak pengap itu menyeruak masuk. Hawa pengap itu 
berubah agak sejuk. Perlahan-lahan wanita itu mero-
sot dari tubuh yang tergolek seperti mati itu. Seonggok 
pakaian yang berada disudut batu persegi itu telah 
disambarnya. Dan dengan cepat telah dikenakannya 
kembali.
"He he he... Hebat! Jarang aku menjumpai ke-
hebatan semacam ini..! Kau cukup memuaskan hatiku 
bocah ayu..!" Terdengar suara serak bercampur tawa 
terkekeh. Dan laki-laki berkumis serta berjanggut yang 
hampir semuanya memutih itu. bangkit dari batu per-
segi. Ternyata sepasang kakinya buntung sebatas lu-
tut. Tapi lebih aneh lagi adalah sepasang matanya mi-
rip mata Serigala. Dengan pinggiran yang cekung me-
nyipit. Melihat laki-laki itu telah bangun duduk. Si 
wanita cepat mendekati. Tampak ia sempat menyeka 
air matanya, dengan lengan bajunya.
"Sudahlah... Jangan menangis! Aku tak akan 
membunuhmu selama kau mau melayaniku. Kelak

kau boleh tinggalkan tempat ini kalau aku sudah tak 
membutuhkanmu lagi..!" Berkata laki-laki itu dengan 
suara dingin. Sementara dengan menahan isaknya si 
wanita memakaikan jubah si laki-laki itu, yang seperti
manja saja. Suara teriakan dan bentakan dari orang 
yang bertarung diluar ruangan seperti tak dihiraukan-
nya. Kiranya mereka berada didalam ruangan bawah 
tanah di Kuburan Kuno itu. Laki-laki ini adalah yang 
berjulukan si Mata Iblis. Ketua dari kelima orang yang 
tengah bertarung diluar itu.
"Heh heh heh... Murid-muridku dalam beberapa 
gebrakan saja akan dapat menumpas tikus-tikus bu-
suk yang coba menyatroni kemari..!" Terdengar gu-
mamnya seorang diri.


EMPAT


Beralih sejenak pada perjalanan Roro Centil, 
yang setelah mendapat petunjuk dari Ginanjar telah 
berkelebat pergi dengan cepat. Namun baru antara tiga 
puluhan kali kakinya menyentuh tanah. Pada sebuah 
tempat yang datar. sesosok tubuh telah berkelebat 
menghadang. Terpaksa Roro Centil hentikan tindakan-
nya. Dan segera dapat melihat siapa yang mengha-
dang. Ternyata tak lain dari si orang yang berpakaian 
mewah, yang telah mentraktirnya makan sate bersama 
Warok Brengos. Dari kata-kata si Brewok tadi ia dapat 
mengetahui orang ini bernama Guriswara. Baru ia da-
pat menegasi wajahnya. Yang ternyata ia seorang laki-
laki seusia 40 tahun. Berkulit putih. Wajahnya licin 
tanpa cambang bauk. Namun alisnya hitam tebal. 
Dengan sepasang mata yang agak kemerahan menyo-
rot tajam. Bibirnya agak lebar. Dan wajahnya hampir

persegi empat. Anehnya laki-laki ini memakai kalung 
mutiara seperti wanita. Bahkan juga sebelah anting 
anting di telinganya. Ketika membuka ,segera tampak 
barisan giginya yang besar-besar. Walau usianya su-
dah cukup larut. namun ia kelihatan masih sangat 
muda.
"Ha ha ha... Kita belum sempat berkenalan, 
mengapa anda terburu-buru untuk pergi nona Pende-
kar Pantai Selatan..?" Berkata Guriswara.
"Aku Guriswara..! Kaum persilatan memberiku 
gelar si Pemabuk Dermawan..!" Boleh aku mengenalmu 
lebih dekat, nona.. ngng... Roro Centil?" Berkata
Guriswara dengan kata-kata yang terdengarnya 
amat memikat hati.
"Mengapa tidak boleh..? Julukanmu si Pema-
buk, apakah kau tukang mabuk?" Bertanya Roro. 
Tampaknya Roro sengaja meladeni apa maunya orang. 
Guriswara tertawa terbahak-bahak dan menyahuti:
"Ah..! Itu hanya julukan saja. Eh agaknya nona 
Roro Terburu-buru. Apakah ada yang memang penting 
harus ditemui..?" Bertanya Guriswara.
"Cukup penting juga. Tapi boleh aku menanya-
kan sesuatu pada anda, sobat Pemabuk?" Tampak si 
Pemabuk Dermawan kerutkan alisnya. Sejenak benak-
nya memikir. Pertanyaan apakah yang akan diajukan 
oleh nona Pendekar ini? Tapi ia sudah lantas berkata:
"Silahkan! Silahkan! Tanya apapun boleh..! Pas-
ti kujawab...!"
"Baiklah! Yang akan kutanyakan adalah masa-
lah sederhana? Yaitu.. Aku telah melihat di rumah 
makan tadi banyak tokoh-tokoh persilatan. Entah dari 
golongan mana saja? Dan ada apakah maka sampai 
bisa berkumpul di tempat itu..?" Tanya Roro Centil. 
Mendengar pertanyaan itu si Pemabuk Dermawan tertawa agak hambar.
"Hm... Sebenarnya pertemuannya itu masih la-
ma. Masih kira-kira satu bulan lagi. Namun beberapa 
tokoh hitam maupun putih, telah berdatangan. Karena 
hal yang menarik itu tentu saja mengundang perhatian 
kaum persilatan..!"
"Pertemuan apakah..? Dan apanya yang mena-
rik..?" Tanya Roro dengan penasaran.
"Di puncak Gunung Mahameru akan diadakan 
pertandingan adu kekuatan. Menurut berita yang 
sampai ke telingaku. Pertandingan itu adalah untuk 
menentukan siapa di antara kaum persilatan yang pal-
ing kuat. Dialah yang akan dijadikan pemimpin dari 
kaum persilatan. Dengan tak mengecualikan golongan 
apa saja. Hal semacam ini memang selalu diadakan se-
tiap dua puluh tahun sekali. Ketua dari kaum rimba 
persilatan yang lama adalah Ki Dharma Tungga. Seo-
rang dari golongan kaum putih. Namun tak ada lagi 
kabar beritanya sama sekali. Bahkan tak seorangpun 
dari kaum rimba persilatan yang mengetahui dimana 
dan kemana adanya Tokoh Sakti yang pernah menjadi 
ketua kaum Rimba Persilatan itu. Sebagian orang 
mengatakan Ki Dharma Tungga telah wafat." Roro 
manggut-manggut mendengar penuturan si Pemabuk 
Dermawan.
"Apakah masa jabatan Ketua Ki Dharma Tung-
ga telah habis, hingga diadakan lagi pertemuan untuk 
pemilihan Ketua yang Baru..? Dan siapakah yang me-
nyelenggarakan untuk mengadakan pertemuan kaum 
rimba Persilatan ini..?" Tanya Roro.
"Mengenai hal itu, aku tak mengetahui sama 
sekali. Undangan itu disebarkan secara misterius dis-
ertai ancaman. Seandainya tidak hadir, tidak akan di-
akui sebagai orang Rimba Persilatan serta dianggap

pengecut! Dan bila tidak ada yang datang, maka si pe-
nyelenggara akan mengangkat dirinya menjadi ketua 
Rimba Persilatan yang baru..!" Tutur Guriswara. Dan 
selama memberikan penjelasan itu sepasang matanya 
dengan rajin menatap setiap lekuk liku pada tubuh 
sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Roro Centil ter-
pukau mendengar berita aneh itu, yang benar-benar ia 
baru mendengarnya. Diam-diam ia membathin... Gila..! 
Hal itu benar-benar bukan pertemuan resmi, karena 
merupakan tantangan serta penghinaan terhadap 
kaum Rimba Persilatan. Apa lagi si penyelenggara tak 
mau memperkenalkan namanya... Pantas saja banyak 
orang yang jadi penasaran untuk berdatangan kema-
ri..!? Pikir Roro.
"Baiklah. Terima kasih atas penjelasan anda 
sahabat Pemabuk Dermawan..." Roro sudah akan me-
lanjutkan kata-katanya, namun Guriswara telah cepat 
cepat memotong. "Ngng.. Nona Pendekar Pantai Sela-
tan... Nama besar anda telah membuat aku yang ren-
dah ini menjadi kagum. Ternyata lebih kagum lagi 
memandang orangnya!" Mendengar kata-kata itu Roro 
tersenyum. Ia sudah menduga akan hal itu. Dan su-
dah mengetahui siapa adanya Guriswara, dari peringa-
tan yang telah dibisikkan oleh Warok Brengos.
"Aih, sahabat Guriswara..! Anda terlalu meren-
dah. Apalah artinya kepandaianku? Orang terlalu me-
lebih-lebihkan diriku. Padahal aku sendiri merasa tak 
enak hati..." Roro Centil menyahuti dengan suara da-
tar. Akan tetapi baru saja putus bicaranya sudah ber-
kelebat dua sosok tubuh ramping kehadapannya. Ter-
nyata yang datang adalah dua orang wanita. Yang satu 
berbaju hijau dengan rambut dikepang dua. Sedang 
yang seorang lagi bersanggul, dengan tusuk konde 
yang berbentuk kipas. Berbaju ungu. Anehnya kedua

orang wanita itu menatap Roro seperti wajah orang 
cemburu...
"Hm, inikah gerangan sang Pendekar Wanita 
Pantai Selatan itu..? Ternyata cukup cantik juga..! Tapi 
sayangnya bermata keranjang! Begitu muncul sudah 
berkata tajam si wanita berbaju ungu itu. Sepasang 
matanya bersinar tajam, dengan bibir tersenyum sinis. 
Sedangkan yang berambut dikepang terus saja me-
nimpali.
"Baru saja kenalan sama si brewok Brengos. eh! 
sekarang sudah mau menggaet lagi orang lain..!" Se-
mentara Guriswara tampaknya jadi serba salah, dan 
menggaruk-garuk kepala. Adapun Roro Centil melihat 
gelagat tidak baik itu bukannya membela diri. bahkan 
tertawa mengikik geli.
"Hi hi hi... hi hi... Siapakah yang melarang 
orang jatuh cinta..? Apakah kalian ini istri-istrinya si 
Pemabuk Dermawan..?" Bertanya Roro. Hampir berba-
reng keduanya menyahuti:
"Kalau benar, mengapa kau tak lekas-lekas 
menyingkir..?" Tukas si baju ungu.
"Apakah mengandalkan nama besar yang cuma 
digembar-gemborkan pada cecunguk itu, telah mem-
buat kau besar kepala..?! Dan lantas dengan seenak-
nya saja sambar kiri sambar kanan..? Huh! Benar-
benar tak ada muka..!" Sambar si baju hijau yang 
rambutnya dikepang dua. Roro terdiam sejenak seperti 
berfikir, sementara ia lihat Guriswara tengah menatap 
padanya. Tiba-tiba Roro Centil tersenyum dan ke-
dipkan matanya pada si laki-laki berbaju mewah itu. 
Keruan saja kedua wanita itu jadi jengkel setengah ma-
ti.
"Heh! Sekarang aku tahu. Rupanya bukan 
gayung yang mendekati gentong air, tapi gentong air

yang mendekati gayung. Pantas ia sampai melupakan 
kami berdua. Rupanya kau telah memeletnya..!" Berka-
ta si baju hijau berkepang dua, dengan wajah semakin 
memerah. Namun pada saat itu Roro Centil sudah be-
rujar:
"Sudahlah, kalau kalian menginginkan aku 
menyingkir. Akupun secepatnya akan pergi..!" Sambil 
berkata demikian Roro sudah langkahkan kaki untuk 
beranjak dari situ. Tak dikira kedua wanita itu telah 
membentak dengan garang.
"Tunggu..! Enak saja kau bicara! Sudah berte-
mu dan main mata pada laki orang. mana bisa urusan 
bisa habis sampai disini..?!" Dan sekejap kedua wanita 
itu telah melorot senjatanya dari pinggang.
"Kami si Dua Dewi Kenari ingin mencoba keli-
hayan senjata si Rantai Genit, yang katanya kesohor 
itu..! Hi hi hi... Melihat dari sepasang senjatamu yang 
menggiurkan mata laki-laki itu, sudah dapat dipasti-
kan kau seorang wanita kotor..!" Teriak si baju ungu 
yang telah putarkan senjatanya. Yaitu tiga buah roda 
bergigi. sebesar piling yang amat tipis. Terbuat dari ba-
ja putih yang berkilat-kilat. Akan tetapi pada saat ka-
ta-kata si Dewi Kenari baru saja habis, telah terdengar 
makian dengan suara keras.
"Hai! Dewi Kenari! Apakah kalian berdua men-
ganggap diri sendiri orang baik-baik, dan bukan orang 
kotor..?!" Teriakan itu dibarengi dengan munculnya se-
sosok tubuh yang berkelebat ketempat itu. Kedua wa-
nita ini melengak. dan palingkan kepala. Segera terli-
hat Warok Brengos, laki-laki brewok yang tadi berada 
di rumah makan. Ternyata ia telah juga menyusul 
sampai ketempat itu. Namun yang dipandang bahkan 
membuang muka, dan tampak terlihat tampilkan wa-
jah girang melihat Roro Centil. seraya menjura dan

ucapkan kata...
"Nona Pendekar Roro, sebaiknya tak usah men-
gotorkan tangan, meladeni manusia-manusia macam 
begini..!"
"Monyet sebrang pulau! Menyingkirlah kau...!" 
Teriak salah seorang dari Dewi Kenari. Dan bersamaan 
dengan bentakannya, sebuah kilatan menyambar ke-
pala. Ternyata roda baja itu telah menyerangnya.
TRINNG..! Lengan Warok Brengos bergerak. Ia 
telah menangis dengan gagang pisau yang telah di ca-
butnya, seraya miringkan kepala ke samping. Senjata 
itu terhantam balik. Dan sekejap telah disambut kem-
bali oleh si Dewi Kenari. Pada saat itu Roro Centil telah 
berkelebat sepuluh tumbak. Begitu akhirnya mengin-
jak tanah, telah terdengar bentakan si Dewi Kenari, 
yang telah juga melesat untuk menyusul.
"Mau kemana kau Roro Centil! Hayo mengadu 
kekuatan denganku..!"
"Baik! Kalau kau memang menginginkan. Mana 
kawanmu? Bertarung melawan sebelah Dewi mana 
enak..! Bukankah kalian berjuluk Dua Dewi Kenari..?" 
Ujar Roro. Seorang dari Dewi Kenari yang berkepang 
itu ternyata tengah menerjang pada Warok Brengos. 
Senjata yang dipergunakan adalah sebuah kipas baja, 
berujung runcing. Namun agaknya si Brewok enggan 
melayaninya. Hingga yang terlihat laki-laki itu cuma 
mengelak saja kesana-kemari. Hal demikian ternyata 
membuat si kepang dua yang bernama Sawur Seri itu 
jadi membentak keras. Gerakan kipasnya jadi semakin 
gencar. Terpaksa Warok gunakan pisaunya untuk me-
nangkis setiap serangan. Sementara Guriswara telah 
lenyap entah kemana... Pada saat itu si Dewi Kenari 
berbaju ungu yang bernama Kili Cantrik sudah menye-
rang Roro Centil dengan roda-roda bajanya.

"Awas serangan..!" Bentaknya. Dan dua buah 
roda bergigi itu meluncur deras menyambar leher dan 
pinggang.
Wessss! Wessss! Bersyiur angin tatkala kedua 
benda itu dapat dielakkan Roro, dengan sedikit menge-
gos miringkan tubuh. Tapi tak urung beberapa lembar 
rambut Roro terbabat putus. Terkejut juga si Pendekar 
Wanita Pantai Selatan. Ia memang tak menyangka ka-
lau roda-roda baja itu dapat terhalau. Adapun puku-
lan-pukulan tangan kosong si Dewi Kenari, sengaja ia 
papaki dengan mempergunakan sepertiga tenaga da-
lamnya untuk memapaki. Namun hal itu ternyata di-
luar dugaan membuat Roro terhuyung beberapa tin-
dak.
"Hi hi hi... Baru sebelah Dewi saja kau sudah
sempoyongan. Apalagi kalau kami maju bersama!" 
Berkata Kili Cantrik dengan jumawa. Sementara se-
rangan-serangannya semakin gencar mengurung Roro. 
Tapi diam-diam si Dewi Kenari ini terkejut dan kagum 
juga, karena tampaknya Roro Centil dengan mudah sa-
ja dapat mengelakkan serangan ganasnya. Tapi ia ber-
girang hati juga, karena tenaga dalam lawan berada 
dibawahnya. Berfikir Dewi Kenari.
"Ayo tunjukkan senjata Rantai Genit mu yang 
lucu itu. Apakah kau mampu menghalau serangan-
ku..?" teriak Kili Cantrik. Tiba-tiba Roro Centil melom-
pat mundur tiga tombak. Sepasang matanya menatap 
tajam pada si Dewi Kenari. Otaknya bekerja cepat saat 
itu. Hm, jangan-jangan kejadian ini sudah diatur agar 
memperlambat tujuan ke Kuburan Kuno itu. Berfikir 
Roro. Karena sedari tadi tak menampak adanya Guris-
wara. Kalau ia berniat menyudahi pertarungan, den-
gan meninggalkannya... bisa saja ia perbuat. Tapi ia 
akan mencoba sampai dimana kesombongan si Dewi

Kenari ini, dengan senjata Roda Bajanya. Saat itu Roro 
sudah berkata keras:
"Baik! Agar kau tidak menyesal dan penasaran, 
akan kupergunakan senjata si Rantai Genitku. Tepi 
dengarlah kata-kataku Dewi Kenari..! Aku bukan dari 
jenis manusia kotor seperti kalian!" Roro sudah melo-
loskan sebuah Rantai Genitnya, seraya berteriak: "Li-
hat serangan..!" Dan tubuhnya telah berkelebat ke 
arah si Dewi Kenari. Sedang senjatanya diputar keras. 
hingga menimbulkan suara berdengung seperti ratu-
san tawon. Dewi Kenari agak terkesiap. Tapi segera 
lancarkan serangan kilat ke arah pinggang dan leher. 
Sedang satu lagi ia pakai menerjang maju. Sebelah 
lengan menghantam, sebelah lagi menyerang dengan 
senjatanya... Aneh akibatnya. Dua roda Baja itu seperti 
sehelai kertas melayang ke samping semua
seperti berkejaran. Dan terjangan Dewi Kenari 
menemui tempat kosong, karena dengan berteriak ke 
arah Roro kelebatkan tubuh. mengejar kedua roda.
Dengan melangkahi kepala Dewi Kenari setinggi tiga 
tombak. Ternyata roda baja bergerak memutar kebela-
kang sang majikan. Namun sebelum si Dewi Kenari ba-
likkan tubuh untuk menangkap. Roro Centil telah 
menghantam kedua benda itu dari atas.
TINGNG! TINGNG..! dan Bles! Hampir berba-
reng kedua roda itu telah meluncur kebawah. Dan am-
blas kedalam tanah. Dewi Kenari balikkan tubuh, dan 
terkejutlah melihat senjatanya lenyap. Tiba-tiba ia me-
lompat mundur lima tombak. Begitu menjejakkan kaki, 
ia segera berteriak:
"Sawur Sari..! Hayo kita pergi dari sini..!" Dan ia 
sudah mendahului berkelebat. Sawur Sari yang tengah 
menerjang Warok Brengos segera hentikan serangan. 
Dan berkelebat menyusul kakaknya. Warok Brengos


tatap kedua wanita itu yang berkelebat pergi.
"Nona Roro...! Aiiih..!?" Teriak Warok Brengos 
terkejut. Karena batu saja ia menoleh. Ketika melihat 
ke arah Roro Centil, ternyata sudah tak ada ditempat-
nya lagi.


LIMA


"ROROOOOOOO...!" Suara itu terdengar dike-
jauhan lapat-lapat... Roro kertak gigi untuk segera 
mempercepat larinya bagai terbang. Namun tetap saja 
ia tak mampu menyusul sosok tubuh itu, yang berke-
lebat cepat bagaikan melebihi kecepatan angin. Namun 
tetap Roro Centil semakin penasaran untuk menyusul. 
Aku tak boleh sampai kehilangan jejak..! Gumamnya 
mendesis. Beruntung ia telah mewarisi ilmu lari si 
Pendekar Bayangan Bayu Seta. Hingga tanpa rasa le-
lah, tubuhnya terus meluncur bagai enak panah men-
gejar sosok tubuh dihadapannya... Ternyata dikala si 
Dewi Kenari melarikan diri, Roro Centil tak mau ber-
lama-lama untuk segera meneruskan perjalanannya ke 
lereng Gunung. Mencari kuburan Kuno, seperti yang 
dikatakan Ginanjar dalam surat. Akan tetapi betapa 
terkejutnya Roro, ketika melihat pemuda itu tengah 
bertarung seru melawan seorang kakek tua renta, yang 
berpakaian mirip pengemis. Roro tadinya berniat 
membantu pemuda itu, tapi segera ia urungkan. Kare-
na sudah sejak lama sekali ia tak mengetahui, sampai 
dimana kemajuan ilmu kedigjayaan saudara sepergu-
ruannya itu. Sang kakek pengemis tua renta itu me-
makai jubah putih yang sudah bertambalan di sana-
sini. Bahkan dibeberapa bagian telah sobek saking tu-
anya. Kelihatannya bagai orang yang tak bertenaga

sama sekali. Tapi ternyata mampu mengelakkan setiap 
serangan pedang Ginanjar. Bahkan jenggotnya yang 
putih memanjang terjuntai didagunya, dapat dibuat 
sebagai senjata. Karena sekonyong-konyong dapat me-
negang. Serta mampu menghantam balik pedang pe-
muda itu. Hebat! Memuji Roro dalam hati dari tempat 
persembunyiannya. Kini terlihatlah kehebatan permai-
nan pedang Pendekar lereng Rogojembangan itu. Roro 
menahan napas ketika melihat segulung sinar perak 
membungkus tubuh Ginanjar menjaga serangan si ka-
kek pengemis yang telah pergunakan tiga batang lidi 
aren untuk menyerang lawan. Suara bersiutan terden-
gar semrawut mengacaukan telinga. Terlihat Ginanjar 
mulai terpengaruh oleh suara yang mengganggu itu. 
Tiba-tiba ia berteriak keras. Sebelah lengannya meng-
hantam dada sang kakek. Dapat dipastikan dada yang 
tipis, dengan seketika akan remuk dihantam lengan 
kekar pemuda Ginanjar. Namun aneh. Begitu meng-
hantam dada, terdengar Ginanjar keluarkan keluhan. 
Sedang pedangnya yang telah siap membelah kepala 
lawan itu jadi berhenti ditengah jalan. Apa yang terja-
di..? Kiranya tubuh Ginanjar telah berubah jadi kaku 
dengan posisi menyerang... Segera saja tubuh itu lim-
bung untuk ambruk ke bumi. Roro Centil keluarkan 
teriakan tertahan dan melompat keluar. Namun ber-
samaan dengan bergeraknya tubuh Roro. Sang kakek 
telah menyambar tubuh pemuda itu. Dan sekejap telah 
berada di atas bahunya.
"Hm, kau pasti si Roro Centil, bocah Pantai Se-
latan itu...! Mengapa tak sedari tadi kau bantu ka-
wanmu ini..?" Bertanya sang kakek tanpa palingkan 
kepalanya. Terkejut Roro, belum melihat orangnya, ta-
pi telah mengetahui siapa dirinya. Aneh..!? Menggu-
mam Roro. Tapi ia sudah melompat untuk menghadang dihadapan pengemis itu.
"Kakek pengemis..! Apakah kesalahannya maka
ia kau totok sedemikian rupa ? Dan akan kau bawa ke 
mana dia..?!" Bentak Roro. Melihat sang kakek itu su-
dah mau angkat kaki. Tapi sang kakek itu dengan wa-
jah tak berubah telah menyahuti:
"Huh! Apa perdulimu dengan segala urusanku? 
Apakah dia kekasihmu...? Mengapa kau begitu 
mengkhawatirkan sekali padanya..?" Tanya si kakek 
pengemis. Seketika wajah Roro jadi berubah merah.
"Dia... dia.. saudara seperguruanku! Mengapa 
kau harus melarangku, kalau aku mau mencegah mu 
untuk membawanya!?" Ujar Roro dengan wajah meng-
kal.
"He he he... Dia mau ku kawinkan dengan cucu 
perempuanku..! Nah! Kalau dia bukan kekasihmu, 
minggirlah! Beri aku jalan..!" Berkata si pengemis tua 
renta.
"Tidaaak! Aku tak mau kau kawinkan dengan 
cucu perempuanmu!! Lepaskan aku..!" Tiba-tiba Gi-
nanjar berteriak. Namun tetap saja ia tak dapat ber-
geming sedikitpun. Terkejut Roro Centil mendengar-
nya. Entah mengapa hatinya jadi seperti orang kehi-
langan. Dan detak jantungnya terasa berdegup lebih 
keras. Mau dikawinkan..? Sentak Roro dalam hati. 
Disamping agak lucu. tapi juga aneh. Pikirnya... Men-
gapa mau mengawinkan cucu orang harus memaksa 
orang untuk jadi menantunya..? Gila! Maki Roro di ba-
thin.
"Roroooo..! Tolonglah kau bunuh pengemis bau 
ini! Aku tak mau kawin dengan cucu perempuannya. 
Bisa-bisa aku ketularan bau..!" Teriak Ginanjar lagi. 
Dalam hati Roro agak geli juga mendengar ucapan Gi-
nanjar. Tapi tampaknya pemuda itu benar-benar keta

kutan sekali. Sang kakek tiba-tiba tertawa terkekeh-
kekeh geli sekali. Hingga sampai tubuhnya terguncang 
guncang.
"He he he... he he... Cucu perempuanku cantik 
sekali. Dibanding dengan gadis didepanmu masih se-
belas kali lebih cantik. Kalau masalah bau sih sudah 
umum. Pokoknya kau tak akan penasaran..!" Berkata 
sang kakek sambil kembali terkekeh-kekeh. Panes hati 
Roro Centil. Wajahnya tampak semakin merah hingga 
melebihi merah bajunya. Tiba-tiba Roro gerakkan tan-
gan bertolak pinggang seraya berkata keras dengan 
nada pedas:
"He! Kakek tua renta yang sudah mau masuk 
liang kubur..! Apakah kau tidak dengar kalau dia tidak 
mau? Walau cucu perempuanmu cantiknya 212 kali 
lebih cantik dari diriku, kalau dia tetap tidak mau 
apakah harus kau paksa..?!" Mendengar kata-kata Ro-
ro, Ginanjar berteriak lagi.
"Bagus Roro, dia memang tidak tahu malu. 
Memaksa orang untuk kawin seenaknya. Aku tak akan 
pernah jatuh cinta pada gadis lain Roro..! Karena aku.. 
aku hanya mencintaimu..!"
"Hah..! ?" Tersentak Roro Centil mendengar ka-
ta-kata Ginanjar. Seketika wajahnya menjadi dingin 
bagai disiram air es... Tapi hatinya mendadak jadi ber-
gemuruh tak keruan rasa. Akan tetapi pada saat itu 
terdengar suara sang kakek:
"Kurang ajar..! Kalau kau membandel akan ku 
biarkan tubuhmu kaku sampai 100 tahun. Nah ming-
girlah bocah Centil..! Aku tak dapat merobah keputu-
sanku..! Sebelah lengan si kakek pengemis itu berge-
rak perlahan mendorong tubuh Roro. Tapi hebat aki-
batnya. Karena terdengar Roro Centil berseru kaget. 
Tubuhnya telah terdorong mental sampai sepuluh

tombak. Dan bersamaan dengan itu, sang kakek telah 
berkelebat pergi dengan cepat sekali.
"Roroooooooo..!" Teriak Ginanjar, dalam dukun-
gan si kakek pengemis. Namun tubuhnya telah di
bawa berkelebat bagai anak panah, melesat 
semakin jauh. Terkesiap bukan main Roro melihat ke-
jadian itu. Serta merta tanpa harus berfikir lagi, Roro 
Centil mengejar sang kakek berjenggot panjang itu... 
Demikianlah! Hingga sampai Matahari condong ke se-
belah barat, Roro tetap tak dapat menyusul si kakek 
pengemis itu. Yang jaraknya antara lima puluh tombak 
dihadapannya. Entah berapa bukit dan lereng Gunung 
telah terlewati. Namun sang kakek tidak juga memper-
lambat larinya. Dan Roro Centil tetap mengejar dibela-
kang.. Tetapi pada sebuah lereng curam, di mana di-
bawahnya mengalir sungai yang lebar. Kakek pengemis 
itu menghentikan larinya. Bagus! Teriak Roro dalam 
hati. Dan menambah kecepatan, Roro berkelebat me-
nyusul. Seraya berteriak.
"Kakek tua renta, akhirnya kau menyerah ju-
ga..!" Roro yang memang telah dapat menduga. pasti 
sang kakek pengemis itu berhenti. Karena sungai lebar 
telah berada didepan mata, dengan tepiannya yang cu-
ram. Sungai dihadapan itu adalah terusan sungai yang 
tadi telah dilewati. Akan tetapi betapa terkejutnya Ro-
ro... Karena tahu-tahu bagaikan terbang tubuh si ka-
kek kurus itu melayang dari atas tebing curam itu ba-
gaikan seekor burung saja. Ringan bagaikan sehelai 
bulu. Dan hinggap diseberang dengan selamat. Begitu 
tubuh Roro melesat ketempat itu. Ia hanya dapati tem-
pat yang kosong.
"Heh heh heh... Ayo. Susul kemari! Masa murid 
si Manusia Aneh Pantai Selatan tak mampu untuk ter-
bang..?" Ejek si kakek pengemis, di sisi seberang tebing. Wajah Roro tampak merah padam. Dipandangnya 
kebawah, dimana air sungai deras mengalir. Dan tak 
jauh dari kakinya terdengar suara bergemuruh tak 
hentinya. Kiranya air sungai itu meluncur deras keba-
wah ketempat yang makin curam. Air terjun..!? Desis 
Roro terkejut. Ketika ia pandang ke seberang, ternyata 
tubuh sang kakek telah tak kelihatan lagi.
"Mampukah aku "terbang" kesana..?" Berkata 
Roro pada dirinya sendiri. Murid si manusia Banci dari 
Pantai Selatan ini sejenak tercenung... Tapi tiba-tiba 
tertawa mengikik geli sekali.
"Hi hi hi... dasar bocah tolol.!" Roro memaki di-
rinya sendiri. Dan tiba-tiba tubuh Roro Centil telah 
melayang "terbang" keseberang sungai yang bergaris 
tengah kurang lebih delapan puluh tombak itu. Akan 
tetapi baru sampai sepertiganya, atau kira-kira 50 
tombak. tenaga lompatan Roro mengendur... Dan tak 
ampun lagi melayanglah tubuh sang Pendekar Wanita 
ini kebawah, yang berkedalaman 100 kaki dari atas 
tebing. Dalam beberapa kali putaran tubuh di udara 
itu segera sesaat lagi tubuh Roro yang meluncur deras 
itu akan terbenam menghantam ke permukaan air 
sungai.
BWUARRRRRRR..! Air menyemburat keras ke 
atas. Menyibak permukaan dengan menimbulkan ge-
lombang dahsyat. Tubuh Roro terdorong balik ke atas. 
Pada saat itulah Roro gunakan tenaga letikan tubuh-
nya untuk mengarah keseberang. Dengan beberapa 
kali berjumpalitan diudara, ia akan segera tiba disebe-
rang dengan selamat. Akan tetapi tiba-tiba .... angin 
dahsyat telah menghantam tubuhnya hingga kembali 
ke tengah dan meluncur kebawah dengan deras. Han-
taman itu telah membuat seketika tulang persendian 
tubuhnya menjadi lemas. Apa lagi ia telah mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya menghantam 
permukaan air. Hingga Roro tak tahu lagi ia melayang 
kemana... Tahu-tahu terasa tubuhnya sudah amblas 
kedalam air. Dan suara mengguruh itu sekonyong-
konyong lenyap. Air sungai yang deras itu sekejap saja 
telah menyeret tubuhnya masuk ke dalam air terjun 
tanpa dapat di cegah lagi. Sekejap saja tubuh sang 
Pendekar Pantai Selatan itu sudah tak kelihatan mun-
cul lagi dipermukaan air di bawah sana... Sementara 
gemuruh air terjun tak putus-putusnya mengguruh 
bagai suara angin Saloka. Dan diantara suara gemu-
ruh air terjun itu lapat-lapat terdengar suara tertawa 
melengking tinggi. Tertawa puas atas kemenangannya.
"Hi hi hi... hi hi... Mampuslah kau Roro Centil! 
Kini julukan Pendekar Wanita Pantai Selatan telah le-
nyap..! Tak ada lagi wanita yang akan menyaingi diri-
ku..! Hi hi hi.." Dan sesosok tubuh tersembul dari balik 
batu di atas tebing. Seorang wanita berbaju hitam den-
gan simbul tengkorak didada, melihat kebawah tebing 
dimana air terjun mengalir deras di bawahnya. Sebuah 
Tombak berwarna hitam tergenggam ditangannya. 
Kembali si wanita tertawa gelak-gelak diiringi kata-
kata, mendesis dari mulutnya.
"Hihi.. hihi.. hi hi... Dengan tombak Ratu Sima 
di tanganku ini, aku pasti akan dapat menjadi Ketua 
Kaum Rimba Persilatan. Benda ini memang lebih cocok 
berada ditangan wanita seperti aku. Dan nama besar 
Dewi Tengkorak akan menjulang tinggi di mata kaum 
rimba hijau..!" Selesai berkata ia telah tancapkan ben-
da itu di sisinya. Sementara tangannya bertolak ping-
gang menatap air terjun yang mengguruh dibawahnya. 
Seperti juga masih belum puas untuk melihat tempat 
kematian sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Ter-
dengar ia menggumam perlahan.

"Hm. jurus pukulan yang telah kupergunakan 
adalah jurus ke sembilan dari 10 Jurus Pukulan Ke-
matian si Dewa Tengkorak bekas suamiku..! Walaupun 
ilmunya setinggi langit, tak nantinya ia dapat lolos dari 
kematian..!" Terdengar si wanita menghela napas lega. 
Tapi baru saja ia mau beranjak untuk meninggalkan 
tempat itu...
"Oh... Saraswati..! Kucari-cari kemana saja kau 
istriku..? Sebulan penuh aku rindu setengah mati. 
Sampai tidur susah, karena belum mengantuk. Dan 
makanpun tidak kepingin, karena belum lapar..! Kau 
baik-baik saja istriku...?" Suara itu munculnya dari se-
sosok tubuh yang muncul dibelakang si Dewi Tengko-
rak. Secepat kilat si wanita telah balikkan tubuhnya. 
Dan segera terlihat seorang laki-laki ganteng berusia 
antara dua puluh enam tahun. Tengah mendatangi 
dengan langkah lebar. Di bibirnya yang terbuka itu 
tampak sebaris gigi yang putih rata. Ah..? Benar-benar 
seorang laki-laki yang tampan... Membisik dihati si 
Dewi Tengkorak. Tapi aneh sekali, mengapa ia me-
manggilku Saraswati dan menganggapku istrinya???.... 
Aneh! Apakah wajahku mirip dengan istrinya itu..? Pi-
kir si wanita. Tapi dengan sekali bergerak, ia telah tiba 
dihadapan pemuda itu. terdengar bentakan dari mu-
lutnya:
"Pemuda sinting..! Aku bukan istrimu..!" Tom-
baknya meluncur deras ke arah leher pemuda itu. 
Akan tetapi sedikitpun pemuda itu tak menggerakkan 
tubuhnya untuk mengelak. Membuat si Dewi Tengko-
rak terkesiap. Dan sebelum ujung tombak itu menem-
bus kulit leher orang, tiba-tiba ia telah menahannya 
kembali. Tampak si Dewi Tengkorak kerutkan kening-
nya. Sedangkan si pemuda dihadapannya cuma terta-
wa: "Ha ha ha... Adatmu masih saja tak berubah Saraswati. Walau tubuhku hancur luluhpun aku akan te-
tap mencintaimu. sampai dilobang kubur... Tapi aku 
sudah tahu isi hatimu. Tak mungkin kau tega mem-
bunuhku. Kau hanya pura-pura saja!" Berkata si pe-
muda. Makin terngangalah mulut si Dewi Tengkorak. 
Yang memang sejak tadi telah terbuka bibirnya.
"Eh, pemuda gagah..! Siapakah namamu? Bu-
kalah kedua matamu lebar-lebar. Aku bukan istrimu. 
Aku si Dewi Tengkorak, bukan Saraswati..!" Teriak si 
wanita dengan dada agak tergetar. Tatapan mata pe-
muda dihadapannya itu benar-benar menaklukan ha-
tinya. Akan tetapi jawabannya benar-benar membuat 
ia tak bisa bicara apa-apa.
"Ha ha ha... Saraswati! Walau seribu kali kau 
berganti nama, dan seribu kali kau mau menipuku, 
kau tetaplah Saraswati. Sudahlah sayang... Lupakan 
peristiwa lalu. Wajahmu yang ayu itu tak akan dapat 
menipuku. Mana bisa kau katakan kau Dewi Tengko-
rak, atau peri marakahyangan segala..?Aku sudah tak 
kuat menanggung rindu..." Dan tiba-tiba sebelum Dewi 
Tengkorak menyadari akan apa yang bakal terjadi, len-
gan pemuda itu telah menyambar tubuhnya. Dan se-
bentar saja telah berada dalam pondongan pemuda 
aneh itu. Tadinya si Dewi Tengkorak mau berontak, 
tapi getaran hatinya telah mengalahkan semuanya. 
Apa lagi tahu-tahu sepasang bibirnya telah disergap 
cepat oleh si pemuda. Dan dilumat sampai ia megap-
megap. Hawa rangsangan yang sudah terpendam sejak 
tadi itu segera saja ia salurkan... Dan iapun kembali 
balas melumat sampai terpejam matanya karena nikmat...

ENAM

Mengguruhnya suara air terjun yang tak hen-
tinya itu menimbulkan gelombang besar di bawah sa-
na. Dimana tubuh Roro Centil terjerumus dalam kea-
daan mengkhawatirkan. Karena hantaman angin pu-
kulan yang dilancarkan si Dewi Tengkorak, telah 
membuat tubuhnya lemas. Seluruh persendian tubuh-
nya lemah tak bertenaga. Hingga tanpa ampun ia ter-
benam dalam air yang bergulung-gulung. Dalam kea-
daan dibawa pusaran air itu, Roro benar-benar tak 
berdaya... Saat kematian telah terpampang di depan 
matanya. Pada saat itulah Roro teringat pada kisah 
yang ia alami empat tahun yang lalu. Dimana ia juga 
mengalami hal yang serupa. Yaitu megap-megap di da-
lam air. Dihempas gelombang dahsyat, di pantai Laut 
Kidul. Dimana ombak Pantai Selatan telah menggulung 
tubuhnya, saat ia terjatuh dari atas tebing karang... 
Seketika membersit di hatinya, untuk berpantang mati 
sebelum ajal. Ia harus berusaha menentang renggutan 
maut sebelum kasip. Segera ia salurkan tenaga dalam-
nya dengan seksama keseluruh anggota tubuh. Walau 
tiga-empat teguk air telah masuk ketenggorokannya. 
Sedapat mungkin ia menahan pernapasannya agar ti-
dak menghirup air. Hingga dadanya terasa mau mele-
dak. Gelembung-gelembung air mulai keluar dari mu-
lutnya. Terpaksa ia menelan lagi dua teguk air... Tapi 
ia telah berhasil memulihkan lagi kekuatan tubuhnya. 
Dan dengan semangat baja ia telah enjot tubuhnya un-
tuk melambung ke atas permukaan. Akhirnya tersem-
bul juga Roro ke atas permukaan air bergelombang itu. 
Segera ia tarik napas dalam-dalam. Lega nian pera-
saannya. Kesegaran kembali timbul. Dadanya yang sa

sak itu telah lenyap seketika. Dan berenanglah Roro 
Centil menepi, terbawa hanyut agak ke hilir. Disana ia 
menemukan tempat yang dangkal. Segera ia tiba ke 
darat. Tampak Roro Centil duduk bersila di atas batu. 
Menyempurnakan kekuatannya dengan bantuan tena-
ga dalam. Hingga selang beberapa saat. seluruh kekua-
tannya telah kembali pulih seperti sedia kala... Roro 
bangkit berdiri. Dan tatap sekelilingnya. Gemuruh air 
terjun itu masih terdengar. Dan memang tidak begitu 
jauh. Terpaan angin dari arah bukit itu membuat ba-
junya berkibaran. Ternyata pakaiannya juga telah 
kembali kering. Bersamaan dengan kepulihan kekua-
tan tubuhnya. Roro pandang air dihadapannya yang 
mengalir deras. Seolah-olah terbayanglah kembali air 
gelombang Pantai Selatan dihadapannya. Tiba-tiba bi-
birnya tampakkan senyumannya. Wajahnya berubah 
cerah, bagaikan sekuntum bunga mawar dipagi hari... 
Dan saat itu juga ia telah melesat ke tengah sungai, di-
iringi suara tertawa geli. Yang selanjutnya bagaikan 
seorang Peri, Roro berlari-lari di atas air. Kembali me-
nuju ke hulu sungai. Sepasang kakinya cuma sekali 
sekali menginjak permukaan air. dibarengi dengan
berkelebatnya tubuh sang dara, yang melompat-lompat 
dengan gerakan ringan bagai sehelai daun... Ketika ti-
ba dekat air terjun itu. Roro Centil membelok kesisi. 
Dari sana ia segera meniti tebing batu untuk naik ke 
atas. Dan selang beberapa saat antaranya ia telah 
kembali tiba di atas tebing. Suasana tampak lengang. 
Hanya gemuruh air terjun itu saja yang terdengar di-
bawahnya.
"Heh! Siapakah yang telah membokongku itu..?
Apakah si kakek pengemis? Tapi suara tertawa 
seorang wanita ada kudengar. Apakah yang menye-
rangku itu cucu perempuannya si kakek pengemis

itu.." Menggumam Roro. Sementara pandangan ma-
tanya menatap ke beberapa arah. Dan dilain kejap, ia 
telah gerakkan tubuhnya untuk melesat kesatu arah 
dihadapannya...
Saat itu senja menyelimuti alam sekitarnya. 
Desah angin semilir yang menerjang daun-daun berin-
gin yang tak begitu tinggi, membuat hawa sejuk me-
nyentuh kulit. Sementara sang Mentari, tampak malu-
malu mengintip dari celah-celah dedaunan. Dikejau-
han terdengar suara Tekukur, yang sekali sekali me-
nyibak kelengangan....
Namun semua itu tak mengusik kedua insan 
berlainan jenis yang tengah menikmati indahnya alam. 
Gemuruh air terjun cuma samar-samar terdengar di 
kejauhan. Yang sesekali tersamar dengan keluhan see-
kor kerbau milik petani, di lereng bukit. Sementara si 
empunya kebun, tengah menancapkan sebuah tonggak 
kayu yang roboh itu. Serta menekannya perlahan-
lahan... Kembali terdengar lenguh sang kerbau. Lalu 
miringkan tubuhnya. Kemudian diam untuk tidur me-
ram. Dengan dengus napasnya seperti saling sahut-
sahutan...
Roro Centil berdiri bertolak pinggang. Sebentar-
sebentar ia palingkan kepala, tapi tatapannya tak per-
nah lepas dari hadapannya. Walaupun wajahnya se-
bentar merah sebentar kembali memutih. Tempat itu 
memang tak berapa jauh dari tebing. Dari telapak kaki 
yang masih ada bekas-bekasnya, ia dapat mengetahui. 
kalau tak jauh dari situ ada dua manusia yang me-
nyembunyikan diri dibalik semak. Dibawah pohon 
yang rindang... Aku harus tahu siapa kedua kunyuk 
yang berada di bawah pohon itu..! Berfikir Roro Wa-
laupun yang tampak hanyalah dua pasang kaki yang 
saling tumpang tindih. Namun cukup untuk membuat

wajahnya jadi terasa panas, seperti dipanggang mata-
hari sore. Tapi sepasang matanya jadi terbeliak lebar, 
karena sebuah benda hitam panjang itu seperti men-
gingatkannya pada Pantai Selatan.
"Ah. itukah Tombak Pusaka Ratu Sima milik si 
Dewa Tengkorak..?" Mendesis keluar suara dari mu-
lutnya tanpa disadari. Saat itulah kedua manusia di-
balik semak itu saling berlompatan keluar. Masing-
masing bergerak untuk menyambar pakaiannya. Tapi 
Roro memanglah Roro. yang berwatak aneh... Sekali 
lengannya bergerak. maka melayanglah tumpukan pa-
kaian itu untuk terbang jauh. Dan menyangsang dibe-
berapa ranting pohon yang tinggi. Kedua manusia itu 
saling tatap. Dan alihkan pandangan pada Roro Centil 
yang cuma senyum sinis menatap mereka. Bahkan be-
gitu lihat tampang si laki-laki, segera terdengar suara 
tertawanya yang mengikik geli.
"Hi hi hi... Kiranya sobat Joko Sangit! Apakah 
kau juga akan mengatakan wanita itu istrimu..?" Ber-
tanya Roro Centil. Adapun matanya tak lepas dari 
tombak hitam yang tertancap itu. Tiba-tiba terdengar 
suara tertawa si laki-laki. begitu lihat siapa dihada-
pannya. Dan sekonyong-konyong tubuhnya meluncur 
"terbang" keudara. Dengan sekali berjumpalitan, ia te-
lah tiba didahan pohon. Dan selanjutnya telah me-
nyambar kembali pakaiannya. Sekejap ia telah me-
layang turun, dan lenyap dibalik semak. Diam-diam 
Roro memuji kehebatan ilmu lompat Joko Sangit. Tapi 
ketika ia berpaling ke arah si Dewi Tengkorak, ternyata 
wanita itu telah berkelebat pergi menyelinap kebalik 
pohon dengan menyambar cepat tombak hitamnya. 
Roro keluarkan dengusan dihidung. Dan gerakkan tu-
buh untuk menyusulnya.

"He! Pencuri..! Kembalikan tombak Pusaka itu..! 
Dan kau harus ceritakan darimana kau perolehnya..!"
Bentak Roro sambil berkelebat. Akan tetapi jawaban-
nya adalah sebuah hantaman itu amat serupa dengan 
hantaman yang membuat tubuhnya terlempar ke air 
terjun. Ia segera bergerak untuk mengelak. Dua batang 
pohon sebesar paha dibelakangnya, roboh kena han-
taman angin pukulan dahsyat itu. Tak pelak lagi, pas-
tilah wanita ini yang telah mencelakaiku! Sentak Roro 
dihati. Kasihan wanita itu. Tampaknya ia serba salah 
karena tak dapat berdiri bebas dihadapan sang lawan. 
Karena harus menutupi bagian-bagian tubuh terten-
tunya. Akan tetapi Roro Centil mana mau perduli? 
Pendekar aneh ini lebih mengkhawatirkan nasib gu-
runya, Si Manusia Aneh Pantai Selatan. Yang telah 
menutup diri di ruang Gua didasar tebing karang, Ti-
ba-tiba ia telah membentak:
"Hei! Manusia tengik! Apa yang kau lakukan 
terhadap Guruku. Dan dari mana kau peroleh benda 
itu..?Hmm... Kau rupanya yang telah membokongku, 
ya..? Bagus! Kini dapat kau rasakan pembalasan dari 
ku! Namun aku takkan membunuhmu sebelum kau 
terangkan dulu apa yang telah terjadi..!" Setelah berfi-
kir sejenak, rupanya si Dewi Tengkorak mulai berani 
untuk berdiri bebas tanpa harus malu-malu lagi. Kese-
lamatan jiwanya adalah lebih penting...! Dan dihada-
pan manusia sejenis, mengapa harus ragu-ragu atau 
malu segala... Pikirnya. Segera ia lintangkan tombak 
hitam di depan dada. Wajahnya tampilkan rasa benci 
yang mendalam pada Roro. Dan ia sudah berkata den-
gan lantang.
"Huh! Roro Centil..! Mengapa kau tuduh aku 
pencuri..? Benda ini adalah milik suamiku si Dewa 
Tengkorak. Yang kudengar dari sementara orang, ada

lah kematiannya ditangan Gurumu. si Manusia Aneh 
Pantai Selatan. Karena manusia banci itu memang ter-
gila-gila pada lelaki milikku itu. Tapi tak mendapat 
sambutan si Dewa Tengkorak! Apakah dapat disalah-
kan kalau aku membalas dendam..? Dan kau murid si
banci tak tahu malu itu memang telah lama aku men-
carimu, untuk melenyapkannya dari dunia ini..!" "Dan 
nama Dewi Tengkorak yang akan kembali tegak di 
permukaan bumi ini. Menghapus nama besarmu sela-
ma ini...! Sambungnya lagi. Sampai disini Roro tak da-
pat menahan getaran hatinya untuk bertanya. dengan 
wajah pucat pias.
"Jadi... Kau telah membunuhnya...?" Teriak Ro-
ro.
"Hihi..hihi... hi hi.. Bukan saja kubunuh mam-
pus orangnya. Tapi juga telah kurampas lagi benda 
pusaka ini! Dan perlu kau ketahui... Ilmu-ilmu sakti 
dari dalam tombak hitam inipun telah berhasil kupela-
jari dan ku kuasai sepenuhnya..!" Terkesiap Roro Cen-
til. Entah mengapa sekonyong-konyong terdengar jeri-
tan melengking tinggi, mengumandang keudara keluar 
dari mulutnya. Lengkingan dari pedihnya hati yang 
tiada terkira. Karena Gurunya yang amat dicintainya 
itu, didengarnya telah tewas oleh manusia dihadapan-
nya. Hebat teriakan melengking panjang itu. karena si 
Dewi Tengkorak harus menutup telinga kalau tak mau 
pecah gendang telinga yang dimilikinya. Suasana kem-
bali lengang... Dan tampak sang Pendekar Wanita ter-
tunduk layu. menatap bumi. Beberapa tetes air bening 
meluncur turun mengenai ujung jari kakinya. Akan te-
tapi pada saat itu. bersyiur angin deras menyambar 
kepalanya.. Ternyata si Dewi Tengkorak telah lancar-
kan serangan ganas. Tombak hitamnya hanya bebera-
pa senti lagi di atas kepala.

PLAK..! Roro Centil telah menghantamkan tela-
pak tangannya dengan tenaga dalam yang hampir se-
paruh ia salurkan. Hebat akibatnya. Karena tampak si 
Dewi Tengkorak berteriak tertahan. Tubuhnya terbawa 
memutar beberapa kali. Walaupun benda itu tak terle-
pas dari tangannya, namun telapak tangannya telah 
mengeluarkan darah...
"Kurang ajar..!" Teriak si Dewi Tengkorak. Na-
mun ia jadi terkejut karena sang lawan tak berada lagi 
di hadapannya. Tiba-tiba terdengar suara mengikik se-
ram di sekelilingnya. Terlihat bayangan merah jambu 
berkelebatan mengelilinginya. Namun sama sekali ia 
tak dapat melihat bentuk tubuhnya. Sedangkan suara 
tertawa mengikik menyeramkan itu bagai mendesing-
desing di daun telinganya. Entah mengapa tiba-tiba te-
rasa gentar hati si Dewi Tengkorak. Detak jantungnya 
semakin cepat. Seirama dengan putaran kelebatan 
bayangan merah jambu yang juga semakin lama se-
makin cepat. Dalam keadaan panik itu, ia telah lan-
carkan serangan semuanya. Berserabutan, menghajar 
si bayangan... Hingga bertumbangan pohon-pohon se-
besar betis dan paha di sekelilingnya. Ketika tiba-
tiba...
Plak! Lengannya tergetar hebat. Dan tombak 
pusaka itu telah terpental jauh menancap di sebatang 
pohon. Terkejut bukan main Dewi Tengkorak. Baru sa-
ja ia gerakkan tubuh untuk menyambarnya. sekelebat 
bayangan merah jambu itu telah mendahului me-
nyambar benda pusaka itu. Segera ia hantamkan tela-
pak tangannya. Namun cuma mengenai tempat ko-
song... Dan terdengar suara sesaat antaranya, ketika 
dengan gerakan ringan Roro Centil jejakkan kaki tak 
jauh di hadapannya.
"Hi hi hi.. Benda ini tak boleh jatuh ke tangan

siapa-siapa.! Ia milik Guruku.!" Berkata Roro. Yang 
tampak wajahnya seperti orang bangun tidur. Ram-
butnya telah awut awutan. Sepasang matanya tampak 
sayu... Dan senyumnya adalah senyum yang menggi-
riskan hati. Karena ternyata Roro tampak seperti orang 
yang kurang waras. Pipinya bersimbah air mata. Na-
mun bibirnya tersenyum... Tampak aneh dan membuat 
orang akan takut, karena mirip orang yang kesurupan. 
Dewi Tengkorak mundur dua tindak, ketika dengan 
tubuh terhuyung sang Pendekar Wanita Pantai Selatan 
itu melangkah ke depan. Angin senja bersyiur agak ke-
ras, membuat rambut Roro menyibak berseliweran di-
dahinya. Roro memang tidak dapat dikatakan gadis 
yang lugu dan ayu lagi saat itu. Karena ia memang 
amat mirip dengan hantu perempuan yang cantik. 
Namun amat menyeramkan. Bahkan ketika melangkah 
lagi untuk mendekati si Dewi Tengkorak, tubuhnya 
bergoyang-goyang bagai hantu arwah... Keringat dingin 
mengalir deras di sekujur tubuh si wanita itu. Entah 
mengapa ia jadi gentar. Bahkan untuk menggerakkan 
kaki dan tangannya saja, terasa kaku bagai terbeleng-
gu. Pada saat itulah berkelebat bayangan putih. Yang 
segera jejakkan kaki tiga tombak di sebelah kiri Roro. 
Ternyata Joko Sangit. Kiranya sejak tadi ia telah men-
gikuti jalannya pertarungan. Tampaknya ia amat 
mengkhawatirkan keadaan Roro Centil.
"Roro... Kau telah terluka dalam! Berikanlah 
tombak pusaka itu padaku. Benda itu memang tak bo-
leh jatuh ketangan siapa-siapa. Aku akan memberi-
kannya pada Baginda Raja Kerajaan Medang. Karena 
Sudan sepatutnya benda bersejarah itu menjadi milik 
Kerajaan..! Percayalah! Walau kelakuan ku jelek, yang 
suka main perempuan. Tapi aku tak dapat untuk ber-
buat kejahatan lain. Aku selalu menghormatimu sam

pai kapanpun. Berikanlah padaku Roro... Kelak bila 
sudah beres urusan di puncak Mahameru, aku punya 
banyak kisah yang menarik untuk kau dengarkan..!" 
Berkata Joko Sangit dengan lemah lembut. Tampak 
Roro Centil mengerutkan alisnya. Lalu tertawa.
"Apakah kau akan berikan lagi pada istrimu? 
Atau untuk kau kangkangi sendiri benda ini.." Ber-
tanya Roro tanpa palingkan kepala.
"Ha ha ha... Joko Sangit tidak kemaruk pada 
segala macam pusaka! Mengenai istriku ini. terserah-
lah kalau kau mau bikin mampus! Mana aku sudi me-
nolonginya." Berkata Joko Sangit, sambil tersenyum 
pada si Dewi Tengkorak, yang tampak plototkan mata 
saking gusarnya. Ternyata ia benar-benar telah kena 
dikibuli si laki-laki ganteng bernama Joko Sangit itu. 
Hingga ia mau menyerahkan tubuhnya bulat-bulat. 
Tapi siapa mau salahkan? Karena ia juga mau. Men-
dengar kata-kata itu Roro Centil tertawa mengikik, 
hingga sampai tubuhnya terguncang-guncang... Bah-
kan sampai-sampai Joko Sangit mundur beberapa 
langkah. Gentar juga hatinya melihat Roro, yang seper-
ti setan perempuan dengan wajah beku bagai es. Dan 
rambut yang beriapan. Roro memang telah bagaikan 
seorang yang tidak waras. Tiba-tiba Sang Pendekar 
Wanita ini perdengarkan. teriakan melengking pan-
jang... Membuat si Dewi Tengkorak terperangah. Tu-
buhnya yang tanpa busana itu tergetar hebat. Tapi ia 
tak berusaha menutupi telinganya. Karana getaran su-
ara itu telah menggetarkan jantungnya. Hingga serasa 
hilang sukmanya. tanpa ia tahu harus berbuat apa. 
Dan pada saat itulah Roro Centil telah pentangkan se-
puluh jari tangannya. Menghantam ke depan. Bagai 
dihempas angin taufan yang amat dahsyat. terdengar 
teriakan tertahan si Dewi Tengkorak ketika tahu- tahu

tubuhnya terpental ke belakang lima tombak.
"Buk...! Tubuh bugil itu meluncur deras meng-
hantam batang pohon di belakangnya, dengan keki 
terpentang ke atas. Dan pada detik itu juga. Meluncur 
deras sebuah benda hitam panjang ke arah si Dewi 
Tengkorak.
JROT..! Terdengar pekik panjang mengerikan, 
ketika tombak pusaka Ratu Sima yang meluncur deras 
itu, telah menancap tepat di pangkal paha si Dewi 
Tengkorak. Joko Sangit cuma bisa menatap dengan 
mulut ternganga. Kejadian itu begitu cepat. Dan di luar 
dugaan sama sekali... Ketika ia berpaling ke arah Roro 
Centil, ia hanya dapat melihat berkelebatnya bayangan 
merah jambu. Yang dalam beberapa kejap saja telah 
lenyap di kesamaran senja yang temaram.. Namun la-
pat-lapat masih terdengar suara di telinganya yang di-
barengi dengan gelak tertawa cekikikan yang memban-
gunkan bulu roma.
"Hi hi hi... hi hi... Silahkan kau bawa tombak 
Pusaka itu. Joko Sangit! Tapi kalau kau coba-coba 
mendustaiku, jangan harap aku akan membiarkan di-
rimu bergentayangan lagi di muka bumi ini..! Dan jan-
gan anggap lagi aku sahabatmu..." Joko Sangit terpaku 
tak bergeming ditempatnya. Sukmanya seolah terbawa, 
dengan kepergian si Pendekar Wanita Roro Centil. 
Yang tak dapat dipastikan apakah ia sudah menjadi 
orang yang tidak waras lagi. Selang sesaat terdengar 
laki-laki itu menarik napas panjang. Seolah baru saja 
terlepas dari amukan prahara badai taufan yang me-
nyesakkan dada. Ketika ia palingkan wajah ke arah si 
Dewi Tengkorak, seketika bergidik tubuhnya. Karena 
tubuh wanita bugil itu masih tergantung menempel di-
batang pohon, disangga tombak pusaka yang telah 
memakunya di situ. Sedangkan posisi tubuhnya masih

tetap seperti tadi, yaitu dengan keadaan kaki teren-
tang. Sementara darah kental merembes turun dari se-
la-sela yang telah tertutup rapat oleh batang tombak 
hitam... Walaupun seketika wajah Joko Sangit agak 
memerah, dan terasa
panas, namun diam-diam ia ngeri juga dibuat-
nya. Di samping ia agak bingung. dengan cara bagai-
mana ia mencabut benda pusaka yang menancap begi-
tu..?


TUJUH


"ROROOOOOOOOO..! Tolonglah aku... Be-
baskan aku.. Bunuh si kakek pengemis bau ini! Aku 
tak mau kawin dengan anak gadisnya. Aku tak akan 
mau kawin dengan siapapun kalau tidak denganmu, 
Roro..! Aku telah lama mencintaimu..." Ginanjar berte-
riak-teriak kalap. Tangan dan kakinya bergerak-gerak 
menghantam kiri dan kanan. Akan tetapi amat kasi-
han bila melihatnya. Karena ia cuma bisa gerakkan ibu 
jari kaki dan tangannya saja. Sedangkan dalam bayan-
gannya, ia telah mengamuk dan meronta dengan he-
bat... Pemuda itu terbaring pada sebuah pembaringan 
dari batu beralas rumput kering dan jerami. Di atas 
sehelai tikar yang sudah lusuh. Matahari yang tersem-
bul dari balik bukit itu. cuma mampu pancarkan sinar 
menembus langit-langit kamar. Dan menerangi sedikit 
bagian dalam ruangan Goa yang tersembunyi itu. Mu-
lut Goa yang cuma sedikit menganga itu agaknya pintu 
masuk dari luar. Tapi di bagian. sebelah dalam, setelah 
melewati lorong yang hanya muat untuk satu tubuh 
manusia, terdapat ruangan yang luas. Bahkan disini 
udara masuk cukup banyak. Karena tiga buah lubang

agak besar, menganga di setiap dindingnya. Kalau kita 
coba melongok keluar lubang, akan ngeri melihatnya. 
Karena di bawah sana adalah jurang yang amat dalam 
sekali. Goa itu ternyata terletak di lereng tebing curam. 
Untuk mendatangi Goa itu, tentu saja amat sulit bagi 
manusia biasa. Atau bahkan orang yang ilmunya be-
lum mencapai tingkat tinggi, tak akan mampu me-
rayap kesana. Namun aneh... si pemuda Ginanjar itu 
ternyata telah berada di dalam Goa misterius tersebut. 
Siapa lagi yang membawanya kalau bukan si kakek 
pengemis aneh itu.
Tebing terjal itu memang amat curam, dengan 
di kiri dan kanannya jurang luas yang dalam terben-
tang luas. Burung-burung walet tampak berbondong-
bondong keluar dari lubang-lubang batu tebing. Sua-
ranya riuh bercicitan. Sedang di lubang lain binatang-
binatang ini berseliweran keluar masuk lubang dengan 
suara berisik. Ketika mendengar suara teriakan pemu-
da itu, sesosok tubuh julurkan kepalanya dari sebuah. 
Dan terdengar suaranya:
"Eh, bocah bandel! Kalau kau mau bersabar, 
aku akan lepaskan kau..! Tapi kalau kau sanggup me-
nerima syaratnya!" Ginanjar berhenti berteriak. Kata-
kata itu terdengar bagai mendengung di telinganya. Ke-
tika ia membuka matanya, ia bagaikan orang linglung. 
Karena sama sekali ia tak mengetahui ada di mana. 
Ternyata ia telah mengigau. Karana barusan saja ia 
terbangun dari tidurnya setelah semalam suntuk ia 
terbaring di pembaringan itu. Keringatnya mengucur 
deras dari dahinya. Setelah memulihkan ingatannya, 
Ginanjar menyahuti:
"Berikan syaratnya kakek pengemis. Aku pasti 
akan laksanakan, asal tak kau kawinkan aku dengan 
cucu perempuanmu! Teriak Ginanjar. Akan tetapi terdengar suara tertawa si kakek geli sekali, terkekeh-
kekeh.
"He he heh heh heh. he he... Siapa yang punya 
cucu perempuan? Kalaupun ada tak nantinya ku ka-
winkan denganmu. Tapi kau tetap takkan kubebaskan 
sebelum kau penuhi janjimu..! Berkata si kakek. Men-
dengar kata-kata itu terbeliak sepasang mata
Ginanjar. Karena ternyata sang kakek aneh itu 
cuma bergurau saja. Siapakah gerangan kakek aneh 
yang berilmu tinggi itu..? Berfikir Ginanjar dengan se-
juta pertanyaan di benaknya. Tetapi diam-diam ia ber-
doa semoga si kakek itu bukan tokoh dari golongan ja-
hat.


DELAPAN


Beberapa pekan berlalu sudah... Puncak Ma-
hameru telah banyak didatangi tokoh-tokoh persilatan 
dari berbagai pelosok. Mereka belum berkumpul se-
mua di atas puncak yang terasa berhawa panas itu. 
Yang ditimbulkan dari hawa kawah itu Beberapa ke-
lompok tampak membuat tenda-tenda atau tempat 
bermalam, di lereng-lereng gunung... Tentu saja tidak 
semua dari mereka itu datang hanya untuk menonton 
jalannya pertandingan. Apalagi undangan itu datang-
nya tidak resmi. Dan tak diketahui siapa yang telah 
mengundangnya. Akan tetapi. tetap saja banyak yang 
datang, karena disamping ingin mengetahui siapa ge-
rangan manusia yang telah bermulut besar itu. Yang 
dengan berani, telah menyelenggarakan pertemuan be-
sar yang aneh itu. Juga kedatangan mereka adalah 
mencari tahu tentang Ketua Rimba Hijau Ki Dharma 
Tungga. Yang tak ada kabar beritanya sejak beberapa

tahun belakangan ini... Bahkan menurut perkiraan 
beberapa tokoh tua kaum persilatan. yang sudah men-
gundurkan diri dari dunia Rimba Hijau, bahwa masa 
jabatan Ketua Ki Dharma Tungga masih belum habis. 
Dan segala sesuatunya haruslah seizin, atau sepenge-
tahuan sang Ketua atau wakil darinya. Yang tentunya 
akan diadakan pertemuan diantara para tokoh pent-
ing, bilamana ada sesuatu perubahan mengenai hal-
hal memilih ketua baru sebelumnya. Tapi hal seperti 
ini adalah benar-benar keterlaluan. Bahkan mengenai 
siapa yang telah menyelenggarakan upacara saja, tak 
diketahui. Sebenarnya untuk tidak datangpun tak ada 
persoalan. Karena siapa tahu kalau hal itu adalah un-
tuk memancing kekacauan belaka. Namun sebagai 
kaum Rimba Hijau, yang amat peka dengan segala se-
suatu kejadian aneh.. Membuat banyak juga yang ber-
datangan ke puncak Mahameru... Ternyata pada pun-
cak gunung itu, di lereng kawah ada terdapat tanah ra-
ta. Dimana di sekelilingnya telah tertancap tonggak-
tonggak kayu yang berbentuk melingkar. Walaupun 
tak ada tanda-tanda bendera atau lambang. Namun 
mereka dapat memastikan akan terbukti juga bahwa si 
pengundang itu tidak main-main. Karena telah menye-
diakan tempatnya. Atau arena untuk suatu pertarun-
gan. Perhitungan waktu yang ditetapkan adalah den-
gan melihat bulan. Dimana di saat munculnya selarik 
garis dilangit. Menandakan itulah waktunya diadakan 
pertandingan untuk menentukan calon Ketua. Dan se-
belum masa bulan muncul itu, mereka harus sudah 
berkumpul. Pertarungan cuma diadakan satu pekan. 
Bila lewat waktu yang ditentukan, maka pemilihan ke-
tua telah berakhir. Saat waktu yang ditentukan tinggal 
tiga hari lagi. Semua kaum persilatan yang datang, 
menanti dengan hati berdebar. Ingin sekali mereka melihat siapa gerangan tokoh Rimba Hijau. yang telah be-
rani sembrono untuk mengadakan penyelenggaraan 
pertemuan besar-besaran yang misterius itu.. Namun 
dihari berikut, di saat waktu tinggal dua hari lagi. 
Menjelang pagi, telah tertancap disekeliling tanah rata 
itu berpuluh-puluh bendera MERAH dengan simbol li-
ma ekor Serigala. Kelima ekor Serigala-Serigala itu 
cuma bergambar kepalanya saja. Dan berwarna putih. 
Berbaris sepanjang bendera. namun di atas dasar war-
na hitam. yang berbentuk Serigala utuh dengan tu-
buhnya. Dan menjelang satu hari lagi. Di tengah tanah 
rata itu telah terbentang sebuah kemah tertutup. Ber-
warna hitam. Sedangkan di atas kemah itu telah berdi-
ri tiang yang tinggi. Dengan bendera yang terlihat se-
puluh kali lebih besar, dari bendera-bendera yang ter-
dapat disekeliling tanah rata. Tak ada seorangpun dari 
para pengunjung yang berani mengganggu atau me-
masuki tenda hitam itu. Bahkan kapan berdirinya ke-
mah itu saja tak ada yang tahu. Seandainya mungkin 
ada, sudah pasti akan tutup mulut. Karena disamping 
harus waspada akan setiap keributan. Karena diseke-
liling mereka bukan dari golongan lurus saja. Tokoh-
tokoh kaum hitam pun banyak yang berdatangan. 
Khawatir. salah-salah sebelum di adakannya pertan-
dingan, nyawa sudah melayang siang-siang... Menje-
lang malam, di hari esok yang bakal dipastikan di ada-
kannya pertarungan untuk pemilihan Ketua. Hampir 
semua dari pengunjung, tak ada yang berani tidur. 
Bahkan tak bisa tidur. Karena mereka mengkhawatir-
kan akan hal-hal yang bisa saja terjadi setiap saat. 
Menjelang tengah malam sekonyong-konyong terden-
gar suara melengking tinggi. Berkumandang di udara. 
Seperti suara jeritan arwah yang mati penasaran. Atau 
mirip raungan serigala... Membuat beberapa kelompok

dari para pengunjung, terperangah. Dengan puluhan 
pasang mata melotot tak berkedip, menatap ke arena 
yang sunyi lengang itu. Bahkan gelapnya malam mem-
buat mereka tak dapat melihat apa-apa di hadapan-
nya. Sesosok tubuh telah berkelebat cepat sekali me-
masuki tenda hitam, tanpa menimbulkan suara. Dan 
selang sesaat, telah disusul oleh lima sosok bayangan 
lainnya. Namun gelap pekatnya malam, membuat tak 
seorangpun yang melihat. Suasana tetap sepi lengang 
tak berubah. Hanya kepak sayap kelelawar, sekali se-
kali terdengar. Membuatnya terkesiap. dengan jantung 
berdetak keras. Tapi mereka cuma bisa terdiam dan 
memaki dalam hati.
Fajar pun menyingsing... Seakan-akan lama 
sekali malam itu berlalu. Namun yang dinanti sebentar 
lagi akan tiba. Tampak beberapa kelompok yang terpi-
sah-pisah itu mulai bergeser beringsut lebih dekat lagi, 
ke sisi tanah datar yang dikelilingi bendera merah ke-
cil-kecil itu. Seperti tak sabar untuk segera melihat 
siapa yang bakal muncul ditengah arena. Tenda hitam 
itu masih tetap tertutup rapat. Tanpa seorangpun tahu 
apa dan siapa didalamnya. Hingga Matahari mulai 
menggelincir naik, suasana masih belum berubah. 
Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan salah seorang 
dari pengunjung yang agaknya sudah tak sabar lagi.
"Hoooiiiiii...! Yang berada di dalam tenda hitam! 
Tampakkanlah siapa dirimu..! Agar kami tahu siapa 
gerangan yang telah menyelenggarakan pertemuan gila 
ini..!" Demikian teriakannya. Dan disambut dengan 
gemuruh suara-suara di sekelilingnya. Seperti menye-
tujui tindakan berani yang telah diperbuatnya. Tapi 
tampaknya tak ada seorangpun yang berani mengelua-
rkan suara.
Selang sesaat, tiba-tiba kain tenda hitam tersingkap. Dan dua sosok tubuh melompat keluar. Ke-
dua orang itu mengenakan jubah berwarna hijau. Wa-
jahnya tampak gagah dan masih muda-muda. Kedua-
nya menjura ketiga jurusan. Ternyata kedua orang itu 
masing-masing bertubuh cacad. Yang seorang putus 
sebelah kakinya. Dan yang seorang lagi putus kedua 
tangannya. Salah seorang sudah buka suara:
"Saudara-saudara kaum Rimba Persilatan. Ka-
mi menghaturkan terima kasih atas kedatangan kalian 
kemari. Hehe hehe... he he.... Mengenai hal pemilihan 
Ketua, yang memang dirahasiakan ini, kami sanggup 
menunjukkan bukti. Bahwa pertemuan yang kami 
adakan bukanlah pertemuan gila..!" Selesai berkata, 
kedua tubuh itu kembali melompat ke belakang. Dan 
berdiri tegak di kiri kanan tenda. Detik berikutnya me-
lompat lagi dua sosok tubuh, laki-laki dan wanita. Dan 
setelah menjura ketiga jurusan, kedua orang muda in-
ipun melompat mundur. Dan berdiri berjajar di kiri-
kanan tenda. Beberapa puluh pasang mata menatap 
wajah-wajah keempat orang itu dengan tak berkedip. 
Selang sesaat, telah melompat lagi keluar tenda. Kali 
ini hanya seorang... Dia seorang wanita yang menyan-
dang dua pedang di belakang punggungnya. Dan sete-
lah menjura ketiga jurusan, wanita ini berkata lantang:
"Nah..! Adakah diantara kalian yang akan men-
gatakan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan gi-
la...?" Tampak ia palingkan kepala ketiga penjuru. Tapi 
tampaknya tak ada seorangpun yang berani mengelua-
rkan suara. Selang sesaat si wanita sudah berkata lagi:
"Nah! Kalau begitu pertandingan akan segera di 
mulai..! Silahkan siapa yang berani maju terlebih dulu! 
Kami adalah terdiri dari lima orang. Bila diantara ka-
lian ada yang ingin maju seorang demi seorang. Akan 
kami layani. Tetapi haruslah dapat mengalahkan kami

satu persatu. Yaitu dengan menembus pertahanan ba-
risan kelompok dari "Lima Serigala Malaikat". Sean-
dainya tak ada yang berani maju dengan seorang diri, 
silahkan maju dengan sekelompok. Tapi tidak boleh le-
bih dari sepuluh orang. Nah. waktu telah tiba..!" Teriak 
si wanita berpedang dua itu. Dan tiba-tiba ia telah ke-
luarkan sebuah benda dari saku bajunya. Benda itu 
disulut dengan api. Setelah mundur lima tindak. Terli-
hat benda itu berbunyi mendesis, serta mengeluarkan 
asap. Dan beberapa detik kemudian...
Whusssss...! Benda yang panjangnya sejengkal 
itu meluncur keudara menimbulkan percikan api dan 
asap tebal. Kira-kira 100 tombak terdengar bunyi leda-
kan keras.
DHUARRRR...! Benda itu telah meledak di ang-
kasa. Menimbulkan cahaya berwarna-warni sebesar 
lingkaran tanah datar di bawahnya. Kemudian si wani-
ta itupun melompat mundur. Dan berdiri berjajar di
sebelah keempat kawannya. Beberapa saat mereka 
menunggu orang pertama yang akan maju ke tengah 
arena. Masing-masing para pengunjung tampak ter-
dengar bersuara riuh. Kepala-kepala mereka bergerak 
kekiri-kekanan seperti ingin melihat siapa yang berani 
maju. Tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh ke tengah 
arena. Ternyata seorang laki-laki tua bertubuh gemuk. 
Dengan perutnya yang buncit menggembung. Laki-laki 
ini memakai jubah berwarna putih. Pada lehernya ter-
gantung seuntai tasbih dari perak. Dia lantas menjura 
ke hadapan kelima wajah di hadapannya seraya berka-
ta:
"Maaf, kami datang mewakilkan diri dari partai 
kami yaitu Partai Giri Manuk. Aku sendiri bergelar si 
Tasbih Perak. Kedatanganku adalah ingin menanya-
kan, apakah dalam pertandingan ini tak disediakan

beberapa orang juri..? Karena mana mungkin suatu 
pertandingan diadakan, tanpa adanya juri. Jadi siapa 
yang dapat menentukan kalah menangnya..?" Suara si 
gendut Tasbih Perak ini terdengar lantang, walau tam-
paknya ia berkata biasa saja. Pertanda ia bukan seo-
rang tokoh sembarangan. Apa lagi Partai Giri Manuk 
sudah tersyiar keharuman namanya di Rimba Hijau. 
Mendengar kata-kata si gendut itu, serentak terdengar 
suara teriakan ramai, yang membenarkan ucapan atau 
sanggahan itu. Akan tetapi kelima orang di hadapan-
nya telah melompat berbareng ke depan. Dan sekaligus 
membentuk barisan pertahanan. Berbentuk kerucut. 
Dengan paling depan adalah si wanita berpedang dua. 
Terdengar ia berkata:
"Heh! Tasbih Perak! Penentuan juri adalah oleh 
pihak kami sendiri. Tak usah pakai macam-macam 
urusan rumit. Kalau kau sanggup menembus barisan 
kami, dan menumbangkan kami satu persatu. Kau bo-
leh angkat dirimu menjadi Ketua..!" Si Tasbih Perak 
tampak kerutkan kening. Sepasang alis lebat yang 
hampir memutih semua itu mencuat ke atas. Ia sudah 
lantas berkata: "Mana bisa ada peraturan begitu..? Ba-
gaimana kalau kalian berlaku curang...? Hal semacam 
ini tak bisa dibenarkan!" Akan tetapi Siti Jenang telah 
membentak.
"Segala keputusan adalah di tangan kami. Se-
mua pengunjung dapat dijadikan saksi. Kalau ada hal 
kecurangan. kalian boleh memprotes..!"
"Huh! Benar-benar peraturan gila..!" Memaki si 
Tasbih Perak. Dan ia sudah akan bergerak untuk me-
lompat keluar arena. Akan tetapi. sekali lompat si wa-
nita telah melompat menghadang. Seraya pentang ke-
dua tangannya, diiringi bentakan keras. "Tunggu Tas-
bih Perak! Kau sudah masuk ke dalam arena. Berarti

kau harus menghadapi kami. Bila kau mau keluar, si-
lahkan tinggalkan nyawamu..!" Dan keempat kawan 
dari Lima Serigala Malaikat segera telah mengurung-
nya. Melengak si Tasbih Perak. Sepasang matanya jadi 
mendelik gusar. Memandang sekeliling ia dapati wajah 
wajah kaku yang menatap tajam padanya. Dan ketika 
menatap si dua manusia cacad itu, hati si Tasbih Pe-
rak jadi tersentak. Wajah itu ia mengenalnya. Dan ia 
sudah lantas berkata:
"He..!? Bukankah anda berdua si Pendekar 
Kembar adanya..?" Terdengar suara tertawa sinis. Si 
kaki buntung sebelah menyahuti.
"Wajah kami memang wajah si Pendekar Kem-
bar. Akan tetapi kami adalah Dua Siluman Gunung 
Kawi, yang akan menumpas seluruh golongan kaum 
putih. Kami telah menguliti kulit muka si pendekar 
kembar tolol itu..!" Mendesis suara Kala Munget. Ter-
beliak mata si Tasbih Perak. Wajahnya menampilkan 
kemarahan hebat.
"Kalau begitu kalian si Kala Munget dan Kala 
Wesi adanya. Sungguh perbuatan biadab yang kalian 
lakukan!" Dan ia sudah mencabut keluar Tasbih Pe-
raknya. Namun ia sudah membentak lagi dengan sua-
ra lantang:
"Baik. Lima Serigala Malaikat! Bentuklah bari-
san kalian! Aku orang pertama yang akan mewakili 
perguruan dari Partai Giri Manuk. Tapi bukan untuk 
menduduki jabatan Ketua, melainkan untuk menum-
pas lima iblis tengik yang gila pangkat..!" Tadinya Kala 
Wesi sudah mau menerjang karena sudah tak sabar 
untuk menghabisi orang. Akan tetapi telah diberi isya-
rat oleh Siti Jeneng. Karena hal itu akan di anggap pa-
ra pengunjung sebagai tindakan tak beraturan. Segera 
saja telah berlompatan kelima Serigala Malaikat untuk

membentuk barisan. Kali ini susunan berubah. Kele-
lawar Besi berada didepan. Bagian belakang dua 
orang, yaitu Kala Munget dan Kala Wesi. Dan dua 
orang lagi agak melebar di belakang, adalah Siti Je-
nang dan Rimba Wengi. Siti Jenang telah mencabut 
keluar sepasang pedang hijaunya, milik si Pendekar 
Kembar Gambir Anom dan Gambir Sepuh. Kini semua 
mata terpantang lebar di luar arena, untuk menyaksi-
kan pertarungan seru. Dengan hati berdebar. Si gen-
dut Tasbih Perak telah mundur dua tindak. Sepasang 
matanya tampak merah bagai biji saga, ia sebagai seo-
rang tokoh tua kaum putih, benar-benar merasa terhi-
na kalau tak turun tangan menumpas kelima wajah ib-
lis di hadapannya. Segera saja ia berteriak keras, se-
raya menerjang dengan gerakan kilat. Tasbihnya ber-
kelebat menghantam. Sedangkan sebelah lengannya 
bergerak memukul si Kelelawar Besi terdengar men-
dengus. Sepasang lengannya meluncur ke arah dada. 
Sedang pukulan tasbihnya ia elakkan dengan miring-
kan kepala. Sementara pukulan sebelah lengannya ia 
tak mengurusi, karena di belakang ada Kala Munget. 
Terkejut bukan main si Tasbih Perak. Segera ia gerak-
kan tubuh menghindar ke samping. Kakinya bergerak 
menyambut pukulan kedua lengan si Kelelawar. Ada-
pun hantaman Tasbih Peraknya mengenai tempat ko-
song. Namun pukulan lengannya telah disambut oleh 
Kala Munget dengan gubatan ujung lengan jubahnya. 
Kala Munget memang tak mempunyai lagi kedua len-
gan. Yang sudah putus sebatas siku. Namun dengan 
ujung lengan jubahnya, ia telah mampu menahan se-
rangan lawan bahkan dapat menggubat lengan lawan. 
Pada saat itulah si Kelelawar yang serangannya lolos, 
mendapat sambutan terjangan kaki. Maka cepat bagai 
kilat. Sepasang lengan besi itu telah berhasil menceng

keram kaki lawan. Terdengar teriakan parau si Tasbih 
Perak. Dan di saat teriakannya belum lagi habis. Tu-
buhnya telah terlempar ke belakang barisan. Dalam 
keadaan kaki hancur, tubuh si Tasbih Perak meluncur 
deras, terbawa oleh sentakan lengan jubah Kala Mun-
get. Dibawah Siti Jenang telah menanti dengan sepa-
sang pedang hijaunya. Dan Rimba Wengi sudah siap 
menghantam dengan telapak tangannya. Perlu diketa-
hui Rimba Wengi adalah yang dijuluki Siluman Tela-
pak Darah. Bila pukulannya mengenai dada atau 
punggung, maka jangan harap manusia dapat berta-
han hidup. Karena sebelah lengannya telah mengan-
dung racun yang amat hebat. Dan juga bukan lengan 
asli. Yaitu sebuah lengan palsu terbuat dari perunggu, 
yang telah terendam dengan air racun selama bebera-
pa tahun. Dalam keadaan luka parah. karena sebelah 
tulang kakinya hancur, si Tasbih Perak dapat melihat 
berkelebatnya dua pedang hijau mengarah perut. Dan 
di sebelah kiri telah siap sebuah lengan dengan tela-
paknya berwarna hitam untuk menghantam dada. 
Terperangah ia seketika. Tiba-tiba ia gunakan tubuh-
nya untuk bersalto di udara. Kedua lengannya segera 
ia gerakkan untuk menghantam. Terpaksa Rimba 
Wengi berkelit menghindar. Dan Siti Jenang melompat 
dua tindak. Detik berikutnya, dengan menggelinding-
kan tubuhnya berjungkir balik... ia telah berhasil lolos 
dari serangan kelima Serigala Malaikat. Walaupun Kala 
Wesi tak punya kesempatan untuk menyerang. Dengan 
berdiri pada kedua lutut, si Tasbih Perak sudah siap 
menanti serangan-serangan selanjutnya. Akan tetapi 
sudah terdengar suara teriakan dari para pengunjung 
diluar arena yang menyatakan kemenangan si Paderi 
Tasbih Perak. Belum lagi reda suara riuh itu tahu-tahu 
Tasbih Perak telah roboh terjungkal, untuk tidak berkutik lagi. Seketika suara riuh itu terhenti. Terdengar-
lah suara Siti Jenang dengan lantang diiringi suara 
tertawanya.
"Hi hi hi... Apakah kalian mau mengangkat 
orang mati untuk menjadi Ketua..!?" Dan serentak lima 
orang dari luar arena masuk ke tengah, dengan ber-
lompatan. Kelima Serigala Malaikat menyingkir ke tepi. 
Dan biarkan mereka menghampiri si Tasbih Perak 
yang masih tertelungkup dengan sebelah kaki hancur. 
Segera mereka memeriksa tubuh si paderi gendut itu. 
Dan tampak seketika wajah mereka berubah pias. Ter-
nyata si Tasbih Perak benar-benar telah tewas... Tak 
berayal lagi segera mereka menggotongnya cepat ke-
luar arena. Suara riuh kembali terdengar. ketika bebe-
rapa orang diluar arena mengerumuni mayat si Tasbih 
Perak. Namun kelima orang yang mengangkutnya, se-
gera menggotong untuk meninggalkan arena.
Berturut-turut berkelebat delapan orang tokoh 
persilatan maju ketengah arena, rata-rata mereka me-
nyandang pedang. Tanpa ayal lagi segera si Lima Seri-
gala kembali membentuk barisan. Dan saat berikutnya 
kembali terjadi pertarungan seru. Delapan orang itu 
adalah dari Partai Rajawali. Tentu saja mereka datang 
bukan atas keinginan merebut kursi Ketua Rimba Hi-
jau. Karena mereka datang untuk membalas dendam. 
Mereka adalah orang-orang atau murid utama dari 
Partai Rajawali. Yang diutus oleh kedua gurunya si Se-
pasang Rajawali Putih. Untuk mengecek kebenaran 
adanya pertemuan besar itu. Semua orang menahan 
napas, ketika kelima Serigala Malaikat menerjang den-
gan ganas. Melancarkan serangan-serangan keji. Dua 
orang menjerit tatkala lengan si Kelelawar Besi men-
cengkeram hancur sebelah kaki, dan sebelah lengan 
dari kedelapan peserta. Di lain tempat, satu orang ber

teriak ngeri, karena dadanya tertembus tongkat berca-
gak Kala Wesi. Dan seorang terjungkal dengan kepala 
remuk, oleh Rimba Wengi, dengan dada terpanggang 
oleh dua bilah pedang hijau. Hanya dalam waktu tak 
berapa lama, kedelapan murid utama Partai Rajawali 
telah roboh. Serentak kelima Serigala Malaikat melom-
pat kedua sisi. Berarti telah mempersilahkan orang un-
tuk mengambil mayatnya. Segera beberapa orang maju 
melompat, tapi bukan untuk mengambil mayat. Me-
lainkan menggempur kelima Serigala Malaikat.
"Iblis-iblis keji...! Bukan begini caranya untuk 
pemilihan Ketua..!" Berteriak salah seorang. Ternyata 
Warok Brengos yang telah maju melompat, diikuti 
sembilan orang kawannya. Segera terjadi pertarungan 
hebat. Mereka menerjang tanpa mau perduli lagi den-
gan segala macam aturan. Tapi hanya sekejap... Kare-
na telah terdengar teriakan-teriakan ngeri. Beberapa 
tubuh telah terjungkal untuk tidak berkutik lagi. 
Hanya tinggal lagi Warok Brengos dan dua kawannya. 
Kematian beberapa kawannya itu memang aneh. kare-
na kelima Serigala belum melakukan pukulan, dan 
cuma berkelebatan saja melompat untuk menyingkir. 
Hal mana membuat Warok Brengos agak curiga den-
gan keadaan di dalam tenda. Tiba-tiba si Pisau Ter-
bang dari Madura itu telah kelebatkan tiga buah pi-
saunya. Membersit tiga benda halus menyambar tiga 
buah pisau. Yang segera ketiga benda itu meluncur ba-
lik dengan cepat ke arah tiga orang itu. Dua dari ka-
wan Warok Brengos terjungkal roboh. Namun si Bre-
wok berhasil menangkap kembali senjatanya. Wajah-
nya seketika berubah pucat. Dan ia telah keluarkan te-
riakannya...
"Iblis-iblis licik..! Kalian sembunyikan orang di 
dalam tenda untuk main bokong!" Akan tetapi sebelum

ia melompat keluar arena, si Brewok telah keluarkan 
jeritan ngeri... Karana dua buah pedang hijau telah 
menembus punggungnya. Seketika tubuhnya roboh 
terguling. Dan berkelebatlah Siti Jenang. untuk kem-
bali mencabut senjatanya yang telah tertancap amblas 
itu. Dan ia sudah berkata lantang...
"Saudara-saudara..! Manusia ini telah berani 
memfitnah. Dan bertarung dengan tak beraturan! Su-
dah selayaknya kami membunuhnya mampus..!" Dan 
teriaknya lagi.
"Nah..! Silahkan kalau ada yang mau maju la-
gi..!" Akan tetapi belasan orang tampak telah bergerak 
meninggalkan arena. Bahkan juga diiringi dengan te-
riakan caci maki. Wajah-wajah mereka menampakkan 
kegusaran. Akan tetapi pada saat itu berkelebat dua 
sosok tubuh. Kedua orang itu berpakaian putih putih. 
Ternyata kedua orang itu laki-laki dan wanita. Melihat 
kemunculan kedua orang ini, Siti Jenang berkelebat 
melesat tiga tombak di hadapannya. Seraya berkata 
dengan nada dingin:
"Bagus..! Kiranya Sepasang Rajawali Putih ber-
kenan juga datang kemari! Hi hi hi... Apakah kalian 
mengenali sepasang Pedang Mustika Hijau ini..?!" Ber-
kata Siti Jenang, seraya menunjukkan kedua bilah pe-
dang di kedua lengannya. Terkesiap sepasang Rajawali 
Putih. Ia segera mengetahui benda itu milik siapa.
"Keparat..! Apa yang telah terjadi dengan kedua 
murid kembar ku itu..?" Teriak si wanita. Sedang si la-
ki-laki tertegun menatap sepasang pedang hijau itu.
"Hihi... hihi... hi hi... Kedua murid kembar mu 
si Pendekar Kembar itu telah kami kuliti kulit wajah-
nya. Dan orangnya telah kami bunuh mampus!" Teriak 
Siti Jenang. Dan kembali melompat ke belakang.
"Setan laknat..!" Teriak si wanita. Dan ia sudah

hendak melompat menerjang. Akan tetapi telah diha-
langi oleh si laki-laki.
"Sabarlah istriku..! Jangan bertindak gegabah! 
Mereka telah membentuk kelompok dari lima orang 
yang berkepandaian tinggi!" Berkata si laki-laki. Akan 
tetapi telah terdengar teriakan Siti Jenang kembali, 
sementara kelima manusia berjulukan si Lima Serigala 
Malaikat itu semakin maju mendekati.
"Hi hi hi... sepasang Rajawali Putih ternyata ra-
gu-ragu. Lebih baik serahkan saja jiwa kalian! Pende-
kar-pendekar macam kalian hanya menjadi perintang 
saja bagi kami..!"
"Setan-setan laknat..! Majulah..!" Teriak si wa-
nita. Dan ia telah keluarkan senjatanya sepasang ca-
kar basi berbentuk kaki burung Rajawali. Adapun si 
laki-laki mencabut keluar sebuah pedang tipis, beru-
jung melengkung bagai paruh burung.
"Hm... Hati-hatilah istriku..! Didalam tenda ada 
manusia yang dapat pergunakan senjata rahasia un-
tuk membokong kita. Jangan kau sampai terpancing 
olehnya..!" Wanita ini anggukkan kepala. Ia tidak lang-
sung menerjang, namun bersuit keras. Tiba-tiba mun-
cul seekor burung Rajawali raksasa, yang besarnya ti-
ga kali tubuh manusia. Ia sudah lantas memberi perin-
tah.
"Putih..! Kau hancurkan tenda itu. Dan kacau 
barisannya..!"


SEMBILAN


Sesosok tubuh berlari cepat sekali bagaikan 
anak panah lepas dari busurnya... beberapa anak sun-
gai telah dilompatinya. Bahkan lereng terjal dan lembah ngarai ia turuni, untuk kembali mendaki. Seperti 
tak ada rasa lelah sama sekali tampaknya. Sosok tu-
buh itu susah dilihat bentuknya. Karena hanya bayan-
gan putih saja yang terlihat meluncur pesat... Ketika 
tiba di lereng Mahameru. tampak ia berhenti. Ternyata 
ia tengah mengatur pernapasan sejenak. Dengan ber-
tolak pinggang ia menatap ke arah puncak Mahameru. 
Ternyata ia seorang pemuda gagah. Menyandang pe-
dang di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Ginanjar, 
si pemuda murid mendiang Pendekar Bayangan Bayu 
Seta. "Aku harus tiba di puncak sebelum terlambat, 
dan banyak korban berjatuhan!" Mendesis keluar sua-
ra dari mulutnya. Tiba-tiba ia menyibak bajunya. Sege-
ra terlihat memancar sinar kemilau berwarna pelangi 
dari sebuah benda yang tergantung di dadanya. Ter-
nyata benda itu adalah sebuah Medali Bentuknya bu-
lat sebesar piring kecil. Dengan ukiran indah dari emas 
murni. Bertatahkan intan berlian di sekelilingnya. Se-
dang pada bagian tengahnya adalah batu pualam ber-
warna putih. Yang berkilatan terkena cahaya sinar ma-
tahari. Ginanjar perhatikan benda di tangannya. Sete-
lah menghela napas sejenak, segera ia tutup lagi ba-
junya. Kembali ditatapnya puncak Mahameru. Walau-
pun tampak keringat mengucur deras membasahi se-
kujur tubuhnya. tampak semangat tetap menyala di
sinar matanya. Dan kembali ia menggenjot tubuh un-
tuk berlari lagi mendaki lereng... Tapi baru tujuh-
delapan kali kakinya menindak, telah terdengar benta-
kan. Dan tiga sosok tubuh telah muncul di hadapan-
nya.
"Berikan benda itu pada kami, sobat muda..! 
Dan silahkan kau teruskan perjalananmu..! Kami yang 
akan mengantarkannya pada wakil Ketua Rimba Hi-
jau!" Ginanjar hentikan tindakannya. Sepasang matanya menyapu wajah tiga manusia dihadapannya. 
Ternyata yang mencegat adalah si Dua Dewi dan Gu-
riswara si Pemabuk Dermawan. Tentu saja Ginanjar
jadi melengak. Menyesal ia telah mengeluarkan benda 
itu dari balik bajunya. hanya untuk memandang akan 
keindahannya.
"Hm. siapakah wakil dari Ketua Rimba Hijau..?" 
Balik bertanya Ginanjar. Setelah terdiam sejenak, Gu-
riswara menyahuti.
"Kau akan dapat mengetahuinya nanti. Benda 
itu tak boleh sampai orang dari lain golongan menge-
tahui, karena amat berbahaya. Aku mengkhawatirkan 
keselamatannya. hingga akan mencemarkan nama wa-
kil dari Ketua Rimba persilatan lama..!" Ginanjar ke-
rutkan alisnya. Kata-kata itu sama juga dengan batu 
yang tercebur ke laut, karena Ginanjar telah mengeta-
hui persoalan mengenai urusan pemilihan Ketua kaum 
Rimba Hijau sampai ke akar-akarnya. Ia sudah lantas 
berkata:
"Heh..! Begitukah..? Justru akulah wakil dari 
Ketua kaum Rimba Hijau. Dan benda di tanganku ini 
sebagai tandanya..!" Melengak seketika ketiga wajah 
dihadapannya. Akan tetapi si Dewi Kenari telah mem-
bentak:
"Bagus..! Kalau begitu kau harus mampus ter-
lebih dulu..! Dan kami yang akan menggantikan seba-
gai wakilnya..!" Kata-katanya telah dibarengi dengan 
terjangan dua Roda Baja yang meluncur deras ke arah 
Ginanjar. Terkesiap pemuda ini, namun ia telah was-
pada. Sebelum kedua benda itu menyentuh tubuhnya, 
ia telah berkelebat menghindar. Namun Sawur Sari te-
lah menerjang dengan pedangnya. Ginanjar gertak gi-
ginya. Alisnya naik ke atas. Wajahnya menampilkan 
kemendongkolan hatinya. Namun sekejap ia telah cabut pedang pusakanya dari pinggang. Berkelebat sinar 
perak...
Trang!. Terdengar teriakan tertahan si wanita. 
Dan melompat mundur tiga tombak. Sambaran pedang 
Ginanjar yang telah dibarengi dengan tenaga dalam 
itu, ternyata telah membuat pedangnya terlempar pu-
tus. Pada saat itu juga telah melompat Guriswara. Ter-
nyata ia telah pergunakan dua kapak tipis, yang ia ke-
luarkan dari belakang punggung. Dua sinar berkelebat 
menyilang kearahnya, dengan suara bersiutan. Terke-
jut juga Ginanjar. Dan gunakan pedang untuk me-
nangkis.
Trang..! Ginanjar terhuyung tiga langkah. Se-
dang Guriswara terpental tiga tombak. Ternyata kedua 
senjata sama-sama senjata pusaka. Dan tenaga dalam 
keduanya berbeda satu tingkat. Terkejut Guriswara. 
karena tak menyangka tenaga dalam lawan berada di-
atasnya. Tak berayal lagi segera ia isyaratkan kedua 
wanita untuk bantu mengurung. Ginanjar curahkan 
perhatiannya. Selama satu bulan ia sudah mendapat 
gemblengan dari si kakek pengemis, ternyata telah 
membuat ilmu kepandaiannya maju pesat. Bahkan te-
naga dalamnya bertambah dua kali lipat. Ketiga manu-
sia itupun telah menerjang dengan berbareng. Dua ro-
da baja meluncur deras ke arah tenggorokan dan dada. 
Dibarengi berkelebatnya dua kapak menyambar kaki. 
Sawur Sari melompat tiga
tombak seraya lepaskan segenggam jarum be-
racun. Keringat dingin seketika merembes keluar dari 
tengkuk si pemuda. Tubuhnya berputar bagai gasing 
menimbulkan angin dahsyat. Seperti juga sekonyong-
konyong di hadapan ketiga penyerang itu telah terjadi 
angin puyuh, yang membuat serangan senjata rahasia 
Sawur Sari buyar. Kedua roda baja Kili Cantrik terpental balik. Adapun serangan kedua kapak Guriswara 
menemui kegagalan, karena tubuhnya jadi terhuyung 
kebelakang. Dan terpaksa ia meramkan sepasang ma-
tanya, karena debu dan pasir yang bergulung-gulung 
itu menyambar muka. Ketiganya bergulingan mundur 
dua tiga tombak. Ketiganya sudah berdiri lagi untuk 
kembali menerjang... Akan tetapi tiba-tiba terdengar je-
ritannya... Tahu-tahu ketiga tubuh itu telah terjungkal 
roboh. Ginanjar masih berdiri terpaku ditempatnya 
dengan memandang heran. Tampak tiga tubuh itu 
berkelojotan bagai ayam di sembelih. Lalu terdiam un-
tuk melepaskan nyawa... Pemuda ini putar kepala dan 
tubuh ke beberapa arah. Akan tetapi ia tak melihat 
siapa-siapa. Ketika ia coba memeriksa ketiga tubuh 
itu, ternyata tiga buah lidi aren telah tertancap dimas-
ing-masing tenggorokannya. Tahulah ia bahwa orang 
yang telah menolongnya adalah si kakek pengemis. 
Alias Ki Dharma Tungga. Yang ternyata tiada lain dari 
si Ketua Kaum Rimba Hijau.
"Guru..!" Teriak Ginanjar. Akan tetapi tak ada 
sahutan disekelilingnya. Namun lapat-lapat terdengar 
suara yang menitahkan agar cepat naik ke puncak 
Mahameru. Pemuda ini tampilkan wajah girang... Dan 
tak berayal lagi segera ia enjot tubuh dan segera berke-
lebat naik meniti lereng untuk selanjutnya lenyap dike-
rimbunan pepohonan...


SEPULUH


Prak..! Prak..! Terdengar suara hantaman ke-
ras, seperti suara segenggam sapu lidi yang dihantam-
kan ke pohon. Tampak berkelebat sebuah bayangan 
merah jambu berseliweran di hutan pinus itu. Yang

sebentar-sebentar diiringi dengan bunyi keprekkan ke-
ras menghantam batang-batang pohon. Terdengar ter-
tawa cekikikan dimana bayangan merah jambu itu 
berkelebatan. Sesosok tubuh itu tak terlihat jelas. Tapi 
gerakannya cepat sekali. Hingga yang terlihat hanya 
bayangan pakaiannya saja, berseliweran bagaikan 
hantu siluman. Suara tertawanya membuat orang ber-
gidik seram, dan membangunkan bulu roma... Selang 
sesaat tampak bayangan merah jambu itu keluar dari 
rimbunnya pohon-pohon pinus. Dan melesat cepat ke 
atas sebuah batu besar. Berbarengan dengan keluar-
nya sang tubuh itu, terdengarlah suara berkeriutan. 
Disusul dengan gemuruh pepohonan yang tumbang. 
Ternyata hutan pinus itu hampir separuhnya bertum-
bangan roboh... Suaranya bergemuruh. Tempat itu ba-
gaikan tengah dilanda gempa. Hanya beberapa kejap 
saja tempat yang rimbun itu telah menjadi terang se-
paruhnya. Batang-batang pohon telah menjadi rebah. 
bertumpangan saling tindih. Bagaikan baru saja di-
amuk oleh tangan raksasa. Ternyata pada setiap po-
hon, akan terlihat batang bagian tengahnya hancur... 
Sosok tubuh di atas batu besar itu berdiri menatap 
dengan tampilkan senyum aneh. Angin keras yang 
membersit dari atas perbukitan, membuat rambutnya 
yang panjang berkibaran tertiup angin. Tampaknya 
wajah itu belum juga merasakan kepuasan. Dan tiba-
tiba saja ia telah melompat turun dari batu besar itu. 
Tubuhnya membungkuk. Sepasang lengannya tiba-tiba 
bergerak untuk mengangkat batu besar itu. Luar bi-
asa. Dan hampir tak masuk di akal. Karena gadis ber-
tubuh agak kurus, dengan pinggang yang ramping itu, 
ternyata mampu mengangkat batu yang besarnya 
hampir sebesar kerbau... Terdengar suara teriakan me-
lengking panjang. Dan tahu-tahu batu besar itu telah

melayang ke atas, kira-kira sepuluh kali tinggi manu-
sia. Saat selanjutnya di luar dugaan tubuh si gadis te-
lah meluncur pula, di saat batu besar itu berhenti se-
saat di udara... Berkelebat bayangan merah jambu ce-
pat sekali. Dan tiba-tiba...
PRAKK...! Ia telah gerakkan kepalanya untuk 
menghantam batu besar itu dengan rambutnya. Selan-
jutnya melesat turun bagai anak panah. Begitu ia je-
jakkan kaki lagi, batu besar itu meluncur turun... 
Akan tetapi telah menjadi hancur begitu jatuh kembali 
ke tempat semula. Berubah menjadi serpihan serbuk 
kecil-kecil. Barulah terdengar suara tertawa panjang 
yang nyaring. Melengking tinggi membuat getaran-
getaran hebat. Hingga tampak bergoyang-goyang berja-
tuhan.... Ternyata gadis itu tak lain dari Roro Centil. 
Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Tingkah la-
kunya memang aneh. Akan sukar orang menjajaki ji-
wanya. Terkadang tampak wajahnya tampilkan ke-
gembiraan. Tapi terkadang juga menampilkan kesedi-
han yang amat luar biasa. Agaknya Roro telah menga-
lami goncangan jiwa yang amat hebat. Dan memang 
demikianlah adanya... Sejak ia berlalu dari lereng teb-
ing dekat air terjun itu. Roro Centil bagaikan kesuru-
pan berlari cepat menuju Pantai Selatan. Meninggal-
kan Joko Sangit yang kebingungan untuk mencabut 
Tombak Pusaka Ratu Sima yang menempel di tubuh si 
wanita Dewi Tengkorak. Ia berlari dan berlari dengan 
kecepatan bagai melebihi kecepatannya angin. Siang 
berganti malam tanpa kenal istirahat. Dan tatkala de-
buran ombak Pantai Selatan itu telah samar-samar 
terdengar di telinganya, barulah ia perlambat langkah-
nya. Pagi itu cuaca tak begitu bagus. Sedari pagi angin 
keras dari laut, tak berhenti meniup. Ia singgah di se-
buah desa, untuk menangsal perut. Masih tersisa beberapa keping uang di sakunya. Adapun selebihnya 
adalah tinggal sebuah Cincin berbatu merah delima 
dan sepuluh buah gelang emas bertatahkan intan 
permata. Dua cincin dan beberapa untai kalung lain-
nya peninggalan Gurunya itu, telah tak bersisa. Ia cu-
ma periksa sejenak kotak perhiasannya, lalu kembali 
menyimpannya kebalik pakaian. Warung kecil diham-
piri. Dan menangsal perut seadanya. Pantai Selatan 
memang sudah dekat. Namun semakin dekat, semakin 
perlahan langkah Roro. Seolah ia merasa tak kuasa 
untuk melangkah... Karena sudah terbayang jenazah 
sang Guru yang sudah hampir setahun itu ia tinggal-
kan. Jenazah wanita yang sudah berusia lanjut. na-
mun masih tampak muda. Wanita itulah yang telah 
menggemblengnya dengan segala keanehannya. Wa-
laupun sang Guru adalah manusia aneh. Karena ia 
bukan laki-laki dan bukan juga perempuan, namun 
Roro amat menghormati dan menyayanginya. Apa lagi 
sejak ditinggalkan, sang Guru telah berniat menutup 
diri di dalam ruang Goa di dasar tebing pantai selatan 
itu. Dan dalam keadaan yang mengenaskan. Karena si 
manusia aneh itu telah mencocok kedua lubang telin-
ganya, dengan kedua jari tangannya sendiri. Dan telah 
keluar ucapan dari mulutnya untuk tidak mau men-
dengar, dan mencampuri lagi urusan Dunia Rimba Hi-
jau. Sang Guru cuma berteman dengan sebuah benda, 
yaitu sebuah tombak hitam. Tombak Pusaka Ratu Si-
ma. Tapi benda itu telah ia lihat sendiri berada di tan-
gan si Dewi Tengkorak. Dan menurut keterangan wani-
ta yang telah dibunuhnya itu, sang Guru telah dibu-
nuhnya. Hancur luluh seketika perasaannya. Remuk 
redam hatinya. Hingga dalam keadaan seperti kurang 
waras, Roro berlari dan berlari... Namun semakin de-
kat nyatanya semakin lamban ia melangkah. Masih

terngiang kata-kata sang Guru yang mengatakan agar 
tidak usah kembali lagi ke Pantai Selatan. Empat ta-
hun yang lalu sejak ia menutup lubang rahasia yang 
menuju ke Ruangan Goa di bawah tebing karang itu. 
Roro pun telah berniat untuk tak kembali lagi. Walau 
kepergiannya juga dengan hati remuk redam. Roro 
Centil memang bukan laki-laki. Sebagai seorang wani-
ta, tentu saja lebih peka dengan perasaannya. Hal itu-
lah yang membuat ia kembali berhenti melangkah. 
Dan termangu-mangu menatap ke arah tebing pantai 
Selatan. Akhirnya jatuh terduduk di atas batu. Lama ia 
termangu di situ. Sementara air matanya tak hentinya 
menetes, mengalir di kedua pipinya. Ternyata ia telah 
terhanyut oleh kesedihan yang luar biasa. Tapi seketi-
ka ia jadi tersentak dari lamunannya. Ketika lapat-
lapat terdengar suara memanggilnya.
"Roro..!" Dan tampak sesosok tubuh berlari 
mendatangi. Makin lama sosok tubuh itu semakin de-
kat. Dan beberapa kejap kemudian telah berada di ha-
dapannya. Ternyata yang datang tak lain dari Joko 
Sangit adanya. Laki-laki itu menatap Roro dengan wa-
jah memelas. Terlihat ia memegang tombak hitam itu 
di lengannya. Roro masih tetap membisu. Seperti tak 
perduli akan kedatangan sahabatnya itu.
"Roro..! Sudah kuduga pasti kau akan ke Pantai 
Selatan. Aku telah sejak pagi berkeliling di setiap teb-
ing pantai. Untuk mencarimu..! Ternyata kau berada 
disini..." Berkata lirih Joko Sangit. Akan tetapi Roro 
masih membisu, tak bergeming. Pandangannya mena-
tap kosong ke arah depan. Joko Sangit tahu orang se-
dang terpukul hatinya, segera mendekati lebih dekat. 
Kembali ia berucap lirih...
Roro, aku memang mencarimu untuk memba-
wa pesan dari Gurumu, si Manusia Aneh itu..!" Mendengar kata-kata itu barulah Roro menoleh, dan tatap 
wajah orang dalam-dalam.
"Pesan dari Guruku..?" Bertanya Roro dengan 
kerutkan alisnya. Suaranya lirih agak serak. Namun 
membersitkan rasa terkejut. Joko Sangit mengangguk. 
Dan seraya berkata melanjutkan.
"Beliau aku temui dalam keadaan luka dalam 
yang parah tiga bulan yang lalu. Sudah ku coba usa-
hakan menolong jiwanya. Namun sia-sia... Beliau te-
was dengan keadaan yang menyedihkan. Perlu kau ke-
tahui Roro... Beliau adalah adik seperguruan Guruku. 
Guruku bernama Ki Jagur Wedha... Yang bergelar 
Pendekar Gentayangan..!" Kembali Roro Centil melen-
gak. Baru sekarang Joko Sangit membuka riwayat di-
rinya. Tentu saja penuturan itu membuat Roro berha-
srat sekali mendengarnya. Joko Sangit meneruskan ce-
ritanya.
"Menurut penuturan beliau, yang telah menge-
royoknya adalah tiga orang wanita. Yang kesemuanya 
adalah istri-istri si Dewa Tengkorak. Yang menurut ka-
bar telah tak ada di dunia ini lagi. Aku memang tengah 
mencari Gurumu, karena mendapat tugas dari Guru-
ku. Yaitu mengundang beliau. untuk menghadiri per-
jamuan sederhana. Yaitu genap 100 tahun usia Guru-
ku Ki Jagur Wedha, di Gunung Kumbang. Walaupun 
bergelar si Pendekar Gentayangan, ternyata guruku 
sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah berjumpa 
dengan gurumu si Manusia Aneh Pantai Selatan. Hing-
ga tak mengetahui kalau beliau telah mengangkat seo-
rang murid wanita, sejak empat tahun belakangan ini. 
Yaitu kau sendiri. Aku pun baru mengetahui tentang 
kau setahun yang lalu..." Tampak Joko Sangit menye-
ka peluhnya sebentar dan kembali meneruskan:
"Sayang aku terlambat datang dan hanya menjumpai beliau dalam keadaan tak berdaya. Namun ia 
masih bisa memberi penjelasan tentang siapa yang te-
lah mengeroyoknya. Yaitu diantaranya si Dewi Tengko-
rak, yang telah berhasil kau bunuh..! Aku sendiri me-
mang tengah menyelidiki kemana perginya tiga wanita 
itu. Dan kebetulan dapat menjumpai si Dewi Tengko-
rak. Memang akupun berniat untuk melenyapkan wa-
nita keji itu... namun, aku memang tak dapat terburu-
buru.." Sampai disini wajah Joko Sangit berubah me-
rah. Dan Roro cuma tersenyum sambil mencibirkan 
bibir. Cepat-cepat Joko Sengit teruskan ceritanya...
"Gurumu wafat setelah memberikan pesan pada 
mu..!" Sampai disini Joko Sangit tatap wajah Roro da-
lam-dalam. Hingga yang ditatap jadi kikuk.
"Apakah pesannya..?” Bentak Roro tiba-tiba. 
Wajahnya membersitkan rasa ingin tahu. Akan tetapi 
Joko Sangit telah menelan lagi kata-katanya. Terlalu 
sukar ia untuk mengatakan. Dan cepat-cepat ia berka-
ta:
"Pesan itu tak dapat kukatakan sekarang..! Ma-
sih banyak waktu lain untuk aku mengatakannya pada 
mu! Tapi dia ada memberikan sesuatu padamu.! Ber-
kata Joko Sangit. Dan keluarkan sebuah bungkusan 
kecil dari kain sutera hitam.
"Aku tak tahu apa isinya...!" Katanya lagi, se-
raya memberikan benda itu pada Roro Centil. Segera 
Roro sambuti benda itu. Dan buka isinya... Ternyata 
adalah seikat daun lontar kering yang panjangnya se-
jengkal. Roro Centil tak mengerti apa artinya dengan 
seikat daun lontar yang polos tanpa ada tanda-tanda 
benda itu mengandung tulisan. Joko Sangit pun ke-
rutkan keningnya. Tapi ia telah tersenyum sambil ber-
kata:
"Gurumu adalah orang aneh..! Lain orang mana

bisa tahu akan keanehan Gurunya kalau bukan mu-
ridnya sendiri..!" Dan ia sudah bangkit berdiri. Serta 
lanjutkan kata-katanya.
"Baiklah Roro, selesai sudah tugasku untuk 
memberitahukan hal ini! Jenazah Gurumu telah ku 
kebumikan di lubang dasar tebing karang itu juga..! Si-
lahkan kalau kau mau menengoknya. Tapi kulihat tadi 
air laut telah pasang. Mungkin tempat itu terendam 
air..! Nah, aku tak dapat berlama-lama. Karena harus 
cepat-cepat mengantarkan benda pusaka ini ke Kera-
jaan Medang..!" Selesai berkata Joko Sangit segera be-
ranjak meninggalkan Roro Centil. Akan tetapi tiba-tiba 
sudah terdengar suara gadis itu:
"Tunggu..! Kau belum beritahukan padaku, 
siapa kedua orang lagi istri-istri si Dewa Tengkorak...! 
Teriak Roro. Terhenyak Joko Sangit. Tapi sudah lantas 
menyahuti.
"Keduanya bukan orang tanah Jawa! Mereka 
orang dari seberang pulau... Kalau tak salah berjuluk 
si Kupu-kupu Emas, dan seorang lagi adalah Peri Gu-
nung Dempo. Keduanya adalah orang-orang dari Pulau 
Andalas...!" Selesai berkata. Joko Sangit telah berkele-
bat. Dan sekejap kemudian telah tak kelihatan lagi. 
Roro termangu-mangu memandang ke depan. Kedua 
nama itu akan selalu diingatnya. Untuk kelak suatu 
saat ia akan pergi mencarinya. Kini ia termangu-
mangu memandangi setumpuk daun lontar itu. Dan 
membolak-baliknya berulang-ulang. Namun tetap ia 
tak dapat menemukan rahasia apa didalamnya. Kepin-
gan daun lontar itu terdiri dari tujuh belas ruas, Yang 
kesemuanya polos. Lama ia termangu untuk meme-
cahkan rahasia tujuh belas daun lontar itu. Akhirnya 
tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Gurunya. Seolah-
olah kembali terngiang di telinganya... "Roro... kau

memang seorang bocah tolol, tapi cerdik..!" Kata-kata 
sang Guru itu membuat Roro tersenyum. Tapi juga 
menampilkan wajah sedih. Karena sejak saat itu ia su-
dah kehilangan orang yang amat dicintainya. Benda itu 
digenggamnya kuat-kuat. Seolah menggenggam lengan 
Gurunya. Setetes air mata kembali jatuh berderai. 
Membasahi daun lontar yang digenggamnya. Dipan-
danginya daun-daun itu dengan air mata bercucuran... 
Akan tetapi tiba-tiba ia jadi terkejut. Ketika melihat 
pada lembar teratas dari daun lontar yang basah oleh 
air matanya, telah tersembul huruf-huruf kecil.
"Ah..!?" Tersentak Roro Centil. Dan tiba-tiba ia 
telah berteriak kegirangan.
"Sekarang aku tahu..! Sekarang aku tahu..!" 
Dan berkelebatlah tubuhnya meninggalkan tempat itu. 
Diiringi suara tertawa aneh yang membangunkan bulu 
roma.
Itulah kisah satu bulan belakangan ini. Dan ke-
tika sang Pendekar Wanita Roro Centil muncul lagi. 
Ternyata ia telah menguasai satu ilmu hebat, dari sa-
lah satu jurus kepretan rambut yang luar biasa. Tentu 
saja dari hasil mempelajari tulisan kecil-kecil, pada ke 
tujuh belas daun lontar warisan gurunya itu. Yang diti-
tipkan Joko Sangit padanya...
Memandang pada batu sebesar kerbau yang 
hancur berantakan itu Roro telah tertawa dengan sua-
ra nyaring. Suara tertawa yang telah menggetarkan 
daun-daun hingga berjatuhan meluruk kebawah. Tapi 
tiba-tiba ia telah hentikan tertawanya. Kembali tampak 
ia tersenyum hambar. Karena telah timbul kesadaran 
dihatinya, bahwa di atas langit, masih ada langit. Un-
tuk mencari kedua orang musuh besarnya di seberang 
pulau tak dapat dilakukan terburu-buru. Karena ia be-
lum menamatkan pelajaran dari ke tujuh belas daun

lontar itu. Masih memerlukan beberapa waktu lagi un-
tuk mempelajarinya. Demikian pikir Roro Centil. Dan 
segera saja ia teringat akan adanya pertemuan kaum 
Rimba Hijau di puncak Mahameru. Sekelebat ia terin-
gat dengan pemuda Ginanjar. Akan tetapi ia merasa 
yakin si kakek aneh itu bukanlah orang jahat. la mera-
sa yakin akan hal itu. Dan mengenai akan dikawin-
kannya si pemuda dengan cucu perempuannya, ia 
berharap bukan bersungguh-sungguh. Saat selanjut-
nya tubuh Roro Centil telah berkelebat cepat sekali, 
meninggalkan tempat itu. Hingga yang tampak hanya 
bayangan merah jambu saja yang berkelebatan. Me-
mang Roro baru saja beristirahat, setelah menempuh 
jarak jauh beberapa hari dari pantai Selatan. Puncak 
Mahameru telah kelihatan dari kejauhan. Dan tampak 
mengepulkan asap tipis yang membumbung ke langit.


SEBELAS


Kembali pada keadaan di puncak Mahameru. 
Di mana seekor burung Rajawali telah menerjang ke 
arah tanda hitam. Bersiyur angin deras laksana tau-
fan. Hingga kemah hitam itu roboh. Dan barisan keli-
ma Serigala Malaikat itu porak poranda. Sesosok tu-
buh wanita menyeruak keluar dari belakang tenda. 
Ternyata seorang gadis cantik yang tadi membawa 
nampan berisikan Medali. Wanita itu tak lain dari Se-
kar Tanjung. Yaitu gadis yang telah ditawan oleh si Ke-
tua misterius alias di Mata Iblis. Ketua dari si Lima Se-
rigala Malaikat. Yang belum juga menampakkan diri. 
Wanita ini lari jatuh bangun. Sementara beberapa pa-
sang mata telah memperhatikannya. Empat orang ber-
baju coklat tiba-tiba telah menyergapnya. Dan membawanya keluar dari belakang arena, dengan cepat. 
Gadis itu dilemparkan ke semak belukar. Dan sekejap 
saja empat bilah pedang telah dicabut keluar dari ke-
rangkanya. Wanita itu ternganga... Dan ia jadi terpe-
rangah ketika keempat bilah pedang itu telah melun-
cur deras ke arahnya... akan tetapi empat butir batu 
kecil telah membuat pedang keempat orang berbaju 
coklat itu terpental. Sebuah bayangan merah jambu 
berkelebat. Dan telah berada di hadapan keempat laki-
laki itu.
"Kurang ajar..! Mengapa kau tak membiarkan
kami membunuh manusia licik ini?"
"Dialah yang telah berbuat curang, membokong 
para peserta dari dalam tenda..!" Dua bentakan ter-
dengar dari kedua orang berbaju coklat itu. Yang ter-
nyata adalah Empat Pendekar Kali Serayu. Akan tetapi 
sosok tubuh di hadapannya cuma tersenyum, dan ber-
kata:
"Gadis ini bukanlah orang persilatan. Mana kin 
ia dapat melepaskan bokongan segala macam.. ?" Dan 
sambungnya lagi.
"Boleh kalian periksa, apakah dia menyimpan 
senjata rahasia..?" Ternyata sosok tubuh berbaju me-
rah jambu itu tak lain dari Roro Centil. Adapun si ga-
dis itu tiba-tiba telah bangkit berdiri dan berkata sam-
bil terisak...
"Aku telah diculik dijadikan tawanan si manu-
sia buntung itu..! Oh, tolonglah aku, kakak..! Aku ta-
kut dibunuhnya..!" Gadis ini segera berlutut dihadapan 
Roro, sambil menciumi kakinya. Roro cepat angkat tu-
buh si wanita, seraya berkata.
"Tenanglah, adik! Bukankah kau yang bernama 
Sekar Tanjung, yang telah lenyap dua bulan yang lalu 
dari desa Belimbing Wuluh..?" Wanita itu mengangguk.

"Kemana dua kawanmu lainnya?" Tanya Roro 
lagi. Wajah gadis ini seketika jadi berubah pucat, dan 
menyahuti.
"Keduanya telah... telah dikuliti wajahnya..! 
Dan telah dibunuh oleh mereka. Hanya aku saja yang 
tak dibunuh, karena aku dipaksa melayani nafsu iblis 
si manusia buntung di dalam tenda itu..!" Suara gadis 
itu terdengar gemetaran. Terkesiaplah wajah keempat 
laki-laki pendekar Kali Serayu itu. Juga Roro Centil. 
Pada saat itu terdengar suara teriakan di belakangnya.
"Roro.... Syukurlah kalau Pendekar Wanita 
Pantai Selatan Roro Centil juga telah datang kemari. 
Oh, gembira betul hatiku..!" Seorang pemuda baju pu-
tih
melompat ke tempat itu. Ternyata Ginanjar. 
Adapun mendengar kata-kata Ginanjar yang baru tiba 
itu, seketika wajah keempat Pendekar Kali Serayu jadi 
pucat. Dan serentak saja mereka menjura dalam-
dalam pada Roro. Seraya salah seorang berkata:
"Mohon maaf sebesar-besarnya, nona Pendekar! 
Kami empat Pendekar Kali Serayu menghaturkan hor-
mat. Kami sungguh-sungguh bermata buta, tak dapat 
melihat kalau anda adalah nona Roro Centil, Mutiara 
dari Pantai Selatan..!" Roro segera balas menjura. Akan 
tetapi sesaat kemudian telah berkata:
"Empat Pendekar Kali Serayu, kalau kalian ber-
sedia. Tolonglah antarkan gadis ini pada orang tuanya, 
di desa Belimbing Wuluh. Di kaki bukit di bawah le-
reng Gunung ini..!" Segera saja keempat Pendekar Kali 
Serayu mengangguk hormat. Mereka tampak gembira, 
karena dengan datangnya Pendekar Wanita Pantai Se-
latan ini, kericuhan pasti akan diakhiri. Dan segera sa-
ja mereka mohon diri, untuk segera membawa sang
gadis menuruni puncak Mahameru...

Setelah membuat roboh tenda, sang burung Ra-
jawali kembali menjauh. Sementara itu kedua orang 
yang bergelar si Sepasang Rajawali Putih, segera me-
nempur kelima Serigala Malaikat. Terjadilah pertarun-
gan hebat. Ternyata keduanya juga mendapat bantuan 
dari beberapa orang pendekar, untuk menerjang keli-
ma wajah seribu dendam itu. Akan tetapi tiba-tiba me-
luruk ratusan jarum berbisa ke arah para penerjang 
itu. Tak ampun lagi beberapa batang tubuh roboh ter-
jungkal dengan teriakan ngeri.
"Keparat..! Awas! Hati-hati istriku..!" teriak laki-
laki pasangan si Rajawali Putih. Sang istri segera me-
lompat mundur. Dan kelima Serigala Malaikat kembali 
membentuk barisan. Segera melesat sesosok tubuh 
bertongkat aneh. Dengan ujung tongkatnya terdapat 
berbentuk telapak Serigala sebesar piring. Dengan 
enak saja ia telah hinggap di depan barisan kelima Se-
rigala Malaikat. Dialah si Mata Iblis. Ketua dari lima 
wajah yang punya seribu dendam itu. Dengan enak sa-
ja ia duduk di atas telapak kaki Serigala di ujung tong-
katnya. Sebelah lengannya mengeluarkan sebuah ben-
da bersinar. Itulah sebuah Medali merah. Lambang 
atas kekuasaan Ketua Rimba Hijau. Ia sudah kelua-
rkan bentakan keras.
"Kurang ajar..! Kalian mengapa tak mematuhi 
peraturan..? Apakah mata kalian telah buta untuk ti-
dak menghargai lagi Lambang Ketua Rimba Hijau 
ini...?!" Si Sepasang Rajawali Putih tersentak, dan 
mundur ke belakang tiga tindak. Beberapa pendekar 
lainnya dari tokoh putih yang berada dib elakang ke-
dua Tokoh Gunung Suket ini juga terperangah melihat 
benda itu. Adapun sedari tadi sepasang mata si Sepa-
sang Pendekar selalu memperhatikan dua orang yang 
bercacad kaki dan tangannya. Wajahnya amat mirip

dengan kedua orang muridnya. Yaitu Gambir Anom 
dan Gambir Sepuh. Dan sepasang pedang Mustika Hi-
jaunya ada ditangan wanita tadi. Saat mereka terpe-
rangah itulah. Kala Wesi dan Kala Munget telah me-
nerjang kedua orang dihadapannya. Dan ketiga kawan 
lainnya melompat dari kiri dan kanan. Kala itu juga 
mendesir angin merah jambu, dan bayangan putih. Ke-
lima Serigala Malaikat terpental mundur tiga tombak. 
Dan tongkat aneh si Mata Iblis bergoyang-goyang mau 
roboh. Segera si Mata Iblis bergerak melompat mundur 
satu tombak. Dengan tetap duduk di atas tongkatnya. 
Semua mata segera dapat melihat siapa adanya kedua 
sosok tubuh yang telah berada disitu. Tak lain, dan tak 
bukan adalah Ginanjar dan Roro Centil.
"Pendekar Roro Centil dari Pantai Selatan..!?"
Terdengar suara dari beberapa orang dibela-
kang si Sepasang Rajawali Putih. Tentu saja hal itu 
membuat si Mata Iblis dan Kelima Serigala Malaikat 
jadi terkesiap. Lebih-lebih si Mata Iblis. Karena pende-
kar wanita di hadapannya inilah yang telah membu-
nuh si Setan Cebol muridnya.
"Bagus..! Sudah kuduga semua pentolan golon-
gan putih akan datang. Biarlah kelima orang murid ku 
itu menumpas mu Sepasang Rajawali Putih! Aku akan 
meremukkan kepala si bocah keparat ini..!"
WHUSSS..! Ia telah menerjang Roro dengan 
tongkat telapak Serigala. Sang Pendekar Wanita hanya 
tertawa sinis dan lompat ke samping delapan tombak. 
Si Mata Iblis sudah menggerakkan tubuh untuk men-
gejar. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan 
Ginanjar.
"Mata Iblis..! Ketua lama Rimba Hijau telah 
memberi surat perintah kepada seluruh golongan 
kaum putih untuk menangkapmu, beserta kelima Serigala Malaikat..!" Melotot mata si Mata Iblis. Namun 
Ginanjar telah lemparkan segulung kain bertulisan ke-
hadapan si Mata Iblis. Sekali lengannya berkelebat. 
benda itu telah disambarnya. Dan cepat dibaca. Selang 
sesaat tampak kulit wajahnya jadi berubah merah.
"Kurang ajar..!" Jari tangan si Mata Iblis mere-
mas kain bertulisan itu, hingga hancur jadi bubuk. 
Tapi belum lagi ia membentak Ginanjar... pemuda itu 
telah keluarkan sebuah benda yang berkilauan... Itu-
lah Medali lambang kekuasaan Ketua Rimba Hijau 
yang asli. Kini semua mata kembali terperangah meli-
hat ke arah benda yang dicekal pemuda itu. Tiga tokoh 
tua tak dikenal berkelebat kedepan, seraya berkata: 
"Kalau lambang ini aku kenal. Inilah lambang yang as-
li. Tak sembarangan Ki Dharma mencari wakil di-
rinya...!" Akan tetapi si Mata Iblis malah membentak, 
seraya keluarkan Medalinya...
"Tidak..! Inilah lambang yang asli..!" Akan tetapi 
pada saat itu meluncur deras sebuah lidi aren, tanpa 
ada seorangpun yang mengetahui. dan...
Prak...! Medali di tangan si Mata Iblis hancur 
berantakan. Dan satu suara terdengar berkumandang.
"Mata Iblis..! Aku telah mengangkat bocah itu 
jadi wakil ku! Apakah kau masih mau coba mengelabui 
mata kaum Rimba Hijau dengan Medali Palsu mu..?" 
Terkesiap si Mata Iblis dan kelima Serigala Malaikat. 
Seketika masing-masing putarkan kepala den tubuh 
untuk melihat ke beberapa arah. Suara itu tak salah 
lagi adalah suara Ki Dharma Tungga, Ketua Rimba Hi-
jau. Bukan itu saja, karena semua yang berada di
tempat itu juga terkesiap. Karena tak menyangka ka-
lau Ki Dharma Tungga masih hidup.
"Persetan..! Aku tak perduli siapa wakilmu 
Dharma Tungga! Keluarlah! Aku akan adu jiwa dengan

mu..!" Teriak si Mata Iblis. Akan tetapi telah terdengar 
suara tertawa nyaring, berkumandang, membuat telin-
ga jadi terngiang-ngiang. Suara yang mengandung te-
naga dalam hebat Hingga beberapa orang sudah menu-
tup telinganya. Dan terdengarlah suara lantang Roro 
Centil:
"Mata Iblis..! Hayo hadapi aku. Bukankah kau 
ingin remukkan kepalaku..?" Sepasang mata serigala si 
Mata Iblis jadi menatap bersinar kearahnya. Sinar 
yang mengandung kebencian hebat. Dan tubuhnya te-
lah berkelebat ke arah Roro.
"Bagus..! Aku hampir melupakanmu setan beti-
na..! Kau telah membunuh muridku si Setan Cebol! 
Maka jangan harap kau dapat meloloskan diri lagi dari 
tanganku!" Dan ia sudah menerjang Roro dengan 
menggeram bagai serigala. Adapun si Lima Serigala
Malaikat telah buyar barisannya, karena Ginan-
jar dan sepasang Rajawali putih telah menerjang. Kala 
Wesi dan Kala Munget berhadapan dengan sepasang 
pendekar Gunung Suket itu.
"He he he... Sepasang Rajawali..! Mengapa kau 
menempur muridmu sendiri?" Teriak Kala Munget, se-
raya kibaskan lengan jubahnya menyambar kepala la-
wan.
"Iblis terkutuk...! Kuhancurkan kepalamu. Bu-
kalah wajah muridku itu. Agar kami puas untuk 
menghancurkan mukamu..!" Teriak si wanita Rajawali 
Putih. Segera ia miringkan kepalanya, dan senjata Ca-
kar Rajawali nya meluncur mengarah jantung lawan. 
Akan tetapi Kala Wesi dan Kala Munget telah meng-
hantamkan tongkat bercagaknya...
Trang..! Kedua senjata beradu. Dan keduanya 
sama-sama terhuyung dua langkah kebelakang. Kala 
Wesi segera berkata:

"Baiknya kau melawanku saja nyonya Rajawali 
Putih. Aku ingin sekali membuntungi paha kakimu. 
Siapa tahu bisa dibuat menyambung lagi sebelah kaki-
ku yang putus ini... He he he..!" Merah padam wajah si 
wanita. Namun ia sudah harus menghadapi serangan 
serangan Kala Wesi. Adapun Kala Munget segera me-
nerjang si laki-laki Rajawali Putih. Dan bersamaan 
dengan itu berkelebat dua sinar hijau yang turut nim-
brung untuk membabat dari arah samping. Kiranya Si-
ti Jenang telah sambarkan dua bilah pedang hijaunya. 
Namun Rajawali Putih bukan tokoh sembarangan. Ia 
sudah putar tubuh untuk menghantam dengan angin 
pukulan tangannya. Terpentalah kedua pedang itu. 
Terkejut Siti Jenang. Segera ia berkelebat melompat 
untuk menyambar kembali kedua senjatanya. Akan te-
tapi saat itu telah meluncur sebuah lidi aren yang me-
nyambar leher si wanita itu.
Tak ada daya untuk dapat mengelak lagi. Kare-
na datangnya tak mengeluarkan suara. Dan teramat 
cepat. Terdengarlah jeritan Siti Jenang. Suaranya me-
leng king seperti mau menembus langit. Dan jatuhlah 
ia ke bumi, dengan berkelojotan. Dan hanya sesaat... 
Karena tak berapa lama ia sudah tak dapat memperta-
hankan nyawanya lagi. Tewaslah si wanita keji itu. Me-
lihat kematian mendadak itu Kala Munget dan Kala 
Wesi jadi menggerung keras, dan mempergencar lagi 
serangannya. Terjadilah pertarungan yang amat seru... 
Sementara itu Ginanjar melayani si Kelelawar Besi 
alias Sawung Geni. Dan seorang lagi adalah Rimba 
Wengi alias Siluman Telapak Darah. Sebelah tangan 
palsunya yang terbuat dari perunggu mengandung ra-
cun itu. menghantam ubun-ubun Ginanjar. Sedang si 
Kelelawar Basi merentang sepasang lengannya. Hebat, 
Sepasang lengan Kelelawar Besi bagaikan terlepas, meluncur satu setengah depa. Serangan ditujukan pada 
sepasang kakinya. Lengah sedikit saja. akan hancurlah 
tulang kaki pemuda itu. Akan tetapi Ginanjar telah 
sampok kedua lengan itu hingga terpental balik. Se-
mentara lengan perunggu Rimba Wengi, dapat dielak-
kan dengan miringkan kepalanya. Dan sebelah ka-
kinya bantu menyampok serangan lengan ganas itu, 
dengan pedangnya. Agaknya Rimba Wengi tak mau 
adakan benturan. Segera ia tarik kembali serangan-
nya. Sementara Ginanjar segera membungkus tubuh-
nya dengan putaran pedangnya. Hingga yang tampak 
hanyalah kilatan-kilatan sinar pedangnya saja. Namun 
dengan serempak keduanya terus mengurung mencari 
kelengahan lawan. Kita beralih pada Roro Centil, yang 
tengah bertarung dengan si Mata Iblis. Roro Centil te-
lah keluarkan sepasang senjatanya si Rantai Genit. 
Mendelik mata si Mata Iblis. Senjata yang berbentuk 
payudara itu, tentu saja membuat sepasang mata laki-
laki hidung belang akan tertarik untuk memperhati-
kan. Beberapa terjangan dengan tongkat telapak Seri-
galanya telah berhasil dihindari sang lawan yang ma-
sih berusia muda itu. Walau di hatinya agak malu un-
tuk menghadapi seorang gadis. Apa lagi seorang gadis 
yang tampaknya seperti orang mengantuk itu. Namun 
setiap mengelakkan serangan dibarengi ejekan, atau 
tertawa cekikikan. Benar-benar membuat darahnya ja-
di bergolak saking jengkelnya. Tiba-tiba tampak sepa-
sang mata si Mata Iblis mengeluarkan sinar merah. 
Dan tubuhnya melangkah kebelakang dua tindak. Ro-
ro memang belum melakukan serangan selain menge-
lakkan setiap serangan yang datang. Kini melihat si 
Mata Iblis menatap padanya dengan sinar mata me-
mancar merah. Terkesiap juga Roro Centil. Ia agak ter-
pengaruh, dan terpaku menatap sang lawan. Mata Iblis

gunakan kesempatan itu untuk membentak...
"Bocah tengik Roro Centil, berikan kedua senja-
ta itu padaku. He he he... Benda sebagus itu tak patut 
di tanganmu. Itu senjata untuk permainan laki-laki..!" 
Aneh... Tampaknya Roro tak berdaya. Sepasang ma-
tanya menatap tak berkedip pada si Mata Iblis. Tapi ia 
tak julurkan kedua senjatanya. melainkan dijatuhkan 
dekat kaki di hadapannya. Seraya berkata:
"Ambillah..! itu senjata palsu. Seperti juga Me-
dali yang kau tunjukkan tadi. Apakah kau tak ingin 
sepasang senjata yang asli..?" Bertanya Roro. Dan 
sambil tertawa mengikik ia telah buka belahan baju 
bagian depannya. Segera saja terlihat dua buah bukit 
kembar dengan tonjolan kedua putik pada ujungnya. 
Itulah B.H. warisan gurunya, yang memang mirip den-
gan payudara asli. Ternganga mulut si Mata Iblis. Dan 
tak terasa ia telah maju melompat tiga tindak.
"Kau mau yang ini..?" Nah..! Majulah lebih de-
kat..!" Berkata Roro Centil. Sementara sepasang ma-
tanya tetap menentang tatapan si Mata Iblis. Ternyata 
diam-diam keduanya tengah mengadu ilmu bathin. 
Dengan masing-masing saling tatap. Tampaknya si 
Mata Iblis berusaha menahan pengaruh yang luar bi-
asa, yang tanpa disadari jantungnya berdetak keras. 
Dan tampak ia berusaha untuk tidak melangkah maju. 
Diam-diam sebelah lengannya telah ia siapkan untuk 
menyerang dengan jarum-jarum beracunnya. Tiba-
tiba.. ia telah gerakkan tangannya merogoh saku ba-
junya. Dan detik berikutnya ia telah lepaskan ratusan 
jarum berbisa ke arah Roro. Meluruk seketika benda-
benda halus itu bagaikan hujan ke arah tubuh Roro 
yang bagian dadanya terbuka. Akan tetapi tiba-tiba 
Roro telah gerakkan kepalanya. Segera menyambar 
rambut Roro menghantam buyar jarum-jarum berbisa

itu, yang meluruk kembali ke arah si Mata Iblis. Terke-
siap bukan main si Mata Iblis Tentu saja ia tak me-
nyangkanya sama sekali. Dengan berteriak keras ia te-
lah kibaskan lengan jubahnya. Ratusan benda itu se-
ketika buyar. Tapi tak urung beberapa batang jarum 
telah menembus sebelah lengannya. Terpekik si Mata 
Iblis. Ia sudah melompat mundur tiga tombak. Tampak 
tubuhnya tergetar hebat. Sekejap saja sebelah lengan-
nya telah menjadi terkulai tak dapat dipergunakan la-
gi. Wajahnya tampak menyeringai pucat. Akan tetapi ia 
telah segera berteriak keras laksana guntur. Tongkat 
telapak Serigalanya meluncur deras mengarah dada 
lawan yang terbuka.
Roro cepat mengambil tindakan. Segera ia mi-
ringkan tubuh ke samping sampai melengkung ke be-
lakang. Loloskan sambaran itu. Akan tetapi sebelah 
kakinya telah bergerak menyambar ke bawah pangkal 
paha lawan.
Des..! Terdengar teriakan tertahan si Mata Iblis. 
tubuhnya terlempar ke udara tiga tombak. Saat itulah 
Roro telah sambar lagi sepasang senjatanya. Dan...
Swing..! Swing..! Kedua Rantai Genit telah ber-
gerak menyambar tubuh si Mata Iblis. Akan tetapi pa-
da saat itu berkelebat dua bayangan menerpa...
Trang! Trang! Serangan Roro berhasil digagal-
kan. Kiranya sepasang lengan si Kelelawar Besi yang 
telah menyambar dengan cepat. Terkejut Roro Centil. 
Ia rasakan benturan keras itu menggetarkan lengan-
nya. Segera ia melompat mundur dua tombak. Sepa-
sang lengannya telah selipkan kembali senjatanya ke-
sisi pinggang. Begitu tubuh si Mata Iblis hinggap di ta-
nah, ia telah gerakkan kedua telapak tangan menghan-
tam dengan pukulan tenaga dalam. Terlemparlah tu-
buh si Mata Iblis ke depan. Menyambar deras ke arah

si Kelelawar, yang tengah bentangkan sepasang len-
gannya. Saat itulah Roro berteriak.
"Tangkap..!" Aneh..! Getaran suara Roro telah 
membuat Kelelawar Besi jadi terpengaruh. Dan secepat 
kilat gunakan lengannya yang terbentang itu menang-
kap pinggang si Mata Iblis. Tapi bukannya menangkap. 
melainkan mencengkeram. Terdengarlah saat itu juga 
teriakan parau si Mata Iblis. Darah segar tampak 
muncrat dari tubuhnya. Dalam keadaan tubuh seten-
gah terangkat. si Mata Iblis berkelojotan. Karena kedua 
belah pinggangnya telah dicengkeram hancur. Tentu 
saja tanpa sadar karena rasa sakit yang amat sangat, 
senjata si Mata Iblis bergerak bagai kilat menghantam 
kepala si Kelelawar Besi. Hingga tanpa ampun lagi re-
muklah kepala manusia itu. Namun sepasang lengan 
besinya justru semakin kuat mencengkram kaku. 
Hingga menembus robek pada bagian tengah perut si 
Mata Iblis. Terpekik si Mata Iblis dengan suara bagai-
kan raungan serigala. Pekikkan itu dibarengi dengan 
robohnya kedua tubuh itu saling tindih. Namun pekik 
itu adalah pekik untuk yang terakhir. Karena seketika 
tubuh si Mata Iblis terkulai. Dan menghembuskan na-
pas yang penghabisan. Menyusul si Kelelawar Besi 
yang telah berangkat ke Akhirat terlebih dahulu... Ter-
dengar suara Roro Centil berteriak melengking tinggi. 
Sementara di lain pihak, Kala Wesi telah terkapar tak 
berkutik lagi. Dengan isi parut terburai, termakan sen-
jata Cakar Rajawali si wanita dari Sepasang Rajawali 
Putih. Sedang Kala Munget menggeletak dengan leher 
hampir putus... Adapun Ginanjar baru saja menan-
capkan Pedang Pusakanya di leher Rimba Wengi. Wa-
nita itu berkelojotan sejenak lalu tewas. Keadaan jadi 
sunyi sejenak. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara te-
riakan bergemuruh. Ternyata puluhan pengunjung telah bersorak gegap gempita. Bahkan ada yang tengah 
menari-nari kegirangan. Dan beberapa orang telah 
membukai pakaiannya. Kemudian dilempar-lemparkan 
ke udara. sambil berteriak-teriak gembira.
"Hidup Ki Dharma Tungga. Ketua Besar Kaum 
Rimba Hijau..!"
"Hidup sepasang Rajawali Putih..! Sedang pada 
kelompok lain terdengar...
"Hidup Roro Centil Pendekar Wanita Pantai Se-
latan..!" Saat itu juga angin bersyiur keras. Dan seekor 
burung Rajawali telah turun menukik. Burung besar 
ini mendarat di hadapan sepasang Rajawali Putih. Ber-
samaan dengan berkelebatnya sesosok tubuh kurus 
kering. Yang tak lain dari si kakek Pengemis. Ginanjar 
segera berteriak...
"Guru..!" Dan ia sudah melompat cepat keha-
dapan sang kakek. Semua orang jadi melengak. Karena 
tak menyangka kalau pemuda wakil Ki Dharma Tung-
ga itu adalah murid dari si Kakek pengemis yang se-
lipkan segenggam sapu lidi aren di punggung. Bahkan 
Roro pun jadi kerutkan alisnya. Tiga orang kakek 
hampir seusia pengemis itu berlompatan seraya men-
jura hormat padanya.
"Maafkan kami yang tak mengetahui kedatan-
gan Ketua Rimba Hijau Ki Dharma Tungga ke tempat 
ini..! Walau kami telah mengundurkan diri, namun te-
rimalah hormat kami..!" Berkata salah seorang. Tentu 
saja semua yang hadir pun segera berlompatan meng-
hampiri, dan saling berebut menjura. Apa lagi bagi ge-
nerasi baru, yang belum pernah melihat wajah sang 
Ketua Rimba Hijau itu. Seperti tak percaya dan tak 
akan menyangka kalau orangnya adalah yang seperti 
pengemis itu. Si Sepasang Rajawali Putih pun tak ke-
tinggalan untuk menghaturkan hormat. Namun Roro

Centil tetap tak beranjak dari tempatnya. Ternyata se-
pasang mata si kakek ini amat jeli. Ia sudah menyapa 
Roro dengan tertawa.
"Heheheh... heh heh..heh...Bocah Centil..! Hayo 
kita teruskan adu lari kita tempo hari! Aku berani ber-
taruh, sampai hari Kiamat pun kau tak akan dapat 
mengejar untuk menyusulku..!" Dan tiba-tiba saja ia 
telah totok tubuh Ginanjar. Keruan saja pemuda yang 
tak menduganya itu jadi terkejut. Namun apa daya, 
seketika saja tubuhnya telah berubah jadi kaku. Tahu-
tahu sepasang lengan telah menyambar tubuhnya, dan 
dilarikan dengan cepat menuruti lereng Gunung.
"Tolooong..! Toloooong..! Roro! Tolonglah aku..! 
Aku tak mau dikawinkan dengan cucu perempuan-
nya..!" Ginanjar telah berteriak-teriak. Roro sudah be-
ranjak akan mengejar. Akan tetapi tiba-tiba munculah 
Joko Sangit, yang sudah lantas berkata:
"Roro..! Apakah kau sudah siap untuk menden-
garkan pesan mendiang Gurumu..?" Roro Centil meno-
leh sejenak pada Joko Sangit. Akan tetapi Cuma seje-
nak, karena tubuhnya sudah berkelebat menyusul si 
kakek pengemis, yang membawa lari Ginanjar. Joko 
Sangit jadi seperti terkesima. Dengan mulut ternganga 
menatap ke arah berkelebatnya tubuh Roro Centil, 
yang sebentar saja sudah lenyap. Akan tetapi lapat-
lapat masih terdengar di telinganya...
"Joko Sangit..! Simpanlah dulu pesan Guruku 
itu. Aku belum siap untuk mendengarkannya.!" Pemu-
da ini jadi garuk-garuk kepala, dengan wajah tampak 
bersemu merah. Tapi disudut bibirnya tersungging se-
nyuman. Ia pun segera menyelinap pergi. Semua yang 
hadir cuma bisa tersenyum sambil menggeleng-
gelengkan kepalanya. Seorang kakek sudah lantas 
berkata:

"Haiiih..! Ternyata Dunia Persilatan adalah 
tempatnya segala macam manusia, dengan pelbagai 
watak yang aneh aneh..!" Senja pun tiba. Prahara telah 
berlalu Tampak seekor burung Rajawali meluncur pe-
sat meninggalkan puncak Mahameru. Dengan sepa-
sang penunggangnya, yang tampak arahkan pandan-
gan ke bawah. Puncak Mahameru masih tetap kepul-
kan asap tipis yang menjulur naik ke langit. Namun 
agaknya sang Raksasa ini dapat bernapas lega. Karena 
manusia-manusia yang telah mengganggu tidurnya itu 
berangsur angsur pergi meninggalkannya. Ia memang 
tampak amat lelah. Dan ia akan tidur lagi sampai 1000 tahun...



                          T A M A T


Jakarta. 27 Februari 1987




Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive