Lima Wajah
Seribu Dendam
* Copyright naskah ini di tangan penerbit LOKAJAYA,
hak cipta pengarang dilindungi undang-undang.
* Dilarang mengutip, tanpa seizin penerbit.
* Menterjemahkan karya ini dalam bahasa Asing, ha-
rus seizin penerbitnya lebih dahulu.
SATU
PELANGI di ujung bukit itu seperti melukis lan-
git setengah lingkaran... Mega-mega telanjang meman-
dang terpukau akan keindahannya. Mentari mengorak
senyum di lereng gunung, dengan sinarnya yang mulai
melemah. Sesaat lagi ia akan kembali keperaduan-
nya... Sementara lenguh kerbau-kerbau pak tani ter-
dengar di kejauhan. Beriring-iringan menuju pulang ke
kandang. Untuk esok kembali bekerja membajak sa-
wah. Kerja keras yang hanya berupa seonggok rumput,
namun cukup membuat mereka senang. Dan bekerja
giat membantu sang majikan. Gembala-gembala kecil
itu dengan tubuh lesu dan penat tiduran di atas pung-
gung kerbaunya. Sekali-kali masih terdengar canda
dan tawanya. Sementara jauh di belakang, orang-orang
tua mereka menyandang pacul, dan alat bajak, me-
langkah lunglai. Namun dengan semangat terpencang
di dada. Esok atau lusa kelak berharap panen akan le-
bih baik lagi.
Sebuah telaga kecil berair jernih di sisi sungai
yang berbatu-batu itu masih terdengar suara beberapa
gadis bersenda gurau. seperti enggan untuk beranjak
dari tempat mandi yang berair sejuk itu.
"Aku sudah ah, nanti kemalaman sampai di
rumah. Bisa-bisa aku kena marah..!" Berkata salah
seorang dari kelima gadis itu. Dan serta merta beran-
jak untuk menyambar pakaiannya. Gadis itu bernama
Sekar Tanjung. Gadis yang paling cantik di antara me-
reka. Melihat itu, yang lainnya pun bergegas naik ke
darat.
"Benar..! Terlalu asyik kita mandi sampai tak
sadar hari hampir gelap..!" Berkata salah seorang yang
terlihat lebih tua diantara mereka. Yang dua orang ter-
nyata masih juga bercanda, hingga salah seorang ber-
teriak :
"Awas, siapa yang paling belakang tentu akan
digondol hantu Sendang. Siapa yang dapat menolong?"
Terkejutlah keduanya, dan dengan berteriak sambil si-
lih pegangan mereka cepat-cepat beranjak ke darat.
Sampai-sampai salah seorang lupa dimana menaruh
pakaiannya. Tentu saja gadis-gadis lainnya jadi terta-
wa cekikikan saking lucunya melihat sang kawan yang
bertelanjang bulat, sibuk kesana-kemari mencari ba-
junya.
"Wah..! Pasti bajumu disembunyikan hantu
Sendang..!" Teriak kawannya.
"Ah, jangan main-main kau. Aku takut! Siapa
yang sembunyikan? Awas nanti kuhajar pantatnya..!"
Teriaknya sambil berjongkok kedinginan.
"Aku tidak tahu..!" Menyahut salah seorang.
"Aku juga tidak..! Berani sumpah. aku tidak
menyembunyikan! Berkata kawannya yang seorang la-
gi. Dan berturut-turut semuanya tak ada yang menge-
tahui dimana kawannya ini meletakkan pakaiannya.
Sekar Tanjung ternyata telah bergegas berangkat lebih
dulu setelah mengenakan pakaiannya. Empat pasang
mata segera beralih padanya.
"Eh... Sekar! Tunggu dulu. Apakah kau tahu
dimana Serandil meletakkan pakaiannya. Atau kau te-
lah menyembunyikannya..?!" Teriak Siti Jenang, gadis
yang paling tua itu. Sekar Tanjung menoleh, dan hen-
tikan tindakan kakinya.
"Aiii! Kalian jangan sembarangan menuduh
orang. Apa tidak terhanyut terbawa air..?" Menyahut
Sekar Tanjung.
"Aku benar-benar tak menyembunyikannya..!"
Tambahnya lagi. Sementara itu Serandil sudah mau
menangis. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Pa-
da saat itulah terdengar suara benda tercebur ke da-
lam air telaga atau Sendang. Semuanya jadi terkesiap.
Dan salah seorang berbisik:
"Celaka..!? Jangan-jangan hantu Sendang yang
mengganggu..!" Dan ia sudah mendahului lari dengan
wajah pucat bagai kertas. Tentu saja yang lainpun ber-
lari bubar ketakutan, tanpa menghiraukan lagi pada si
gadis yang masih bertelanjang bulat itu. Serandil ber-
teriak-teriak sambil menangis, berlari kesana kemari
kebingungan. Sementara kawan-kawannya sudah tak
kelihatan lagi. Akhirnya Serandil cuma bisa menelung-
kup menutup wajahnya dengan terisak-isak. Tak tahu
akan apa yang harus diperbuatnya.
Senja terus merayap... Cuaca berangsur-angsur
menjadi gelap. Beberapa orang laki-laki termasuk seo-
rang lelaki tua yang berada di bagian paling depan,
tampak berjalan dengan tubuh layu... Wajahnya me-
nampilkan kebingungan. Lelaki tua itu membawa se-
perangkat pakaian wanita. Tampaknya ia ayah dari si
gadis bernama Serandil itu.
"Aku bukan mengkhawatirkan akan adanya
hantu Sendang itu." Berkata laki-laki tua bernama Ke-
bo Pawon itu. Dan lanjutnya:
"Tapi yang ku khawatirkan adalah ulah perbua-
tan pemuda atau laki-laki iseng. Siapa tahu ia memang
bermaksud buruk terhadap anakku..!"
"Siapa kira-kira orang yang bapak curigai..!
Jangan khawatir, pasti akan kuberi hajaran dia.." Ber-
kata salah seorang bertubuh tegap. Usianya sekitar ti-
ga puluh tahun. Dialah yang bernama Telo Moyo. Bo-
leh dikatakan juga seorang jagoan di desa Blimbing
Wuluh itu. Namun laki-laki tua itu hanya terdiam. Pikirannya telah terbenam dalam keruwetan. Serandil
tak dapat dijumpai di sisi telaga. Bahkan sudah seke-
liling tempat itu diperiksa. Setiap semak lebat di sing-
kap dan dibabat, oleh keempat laki-laki muda yang tu-
rut serta bersamanya. Namun sosok tubuh Serandil
tak kelihatan. Ada dugaan ia tenggelam di telaga, na-
mun tak ada yang berani untuk menyelam. Ditambah
hari sudah gelap, dan suasana di tepi Sendang itu
memang agak seram. Akhirnya mereka pulang dengan
tangan hampa. Serandil lenyap tak berbekas...
Sepekan sudah berita tentang lenyapnya seo-
rang gadis di tepi telaga itu sudah menyebar ke pelba-
gai pelosok desa Blimbing Wuluh. Bahkan sampai pula
ke desa-desa lainnya. Serandil memang hilang secara
misterius. Bahkan mayatnya pun tak kelihatan. sean-
dainya ia tenggelam ke dalam Sendang. Dugaan se-
mentara orang adalah pada seorang pemuda bernama
Jembawan. Karena berbareng dengan lenyapnya Se-
randil. Pemuda bernama Jembawan, yang berasal dari
desa Nongko Jajar, yang tak berapa jauh dari desa
Blimbing Wuluh itupun ternyata lenyap. Beritanya ba-
ru diketahui oleh penduduk Blimbing Wuluh dua hari
kemudian... Telo Moyo beranggapan bahwa Jembawan-
lah yang telah membawa lari si gadis bernama Serandil
itu. Rasa simpatinya pada Kebo Pawon, membuat ia
bersama tiga orang kawannya segera melacak ke ber-
bagai tempat. Mencari jejak Jembawan dan Serandil.
Hampir setiap desa yang di jumpai mereka. tentu dita-
nyakan akan adanya sepasang sejoli yang menghilang
itu. Namun hampir semua yang ditanyai menggeleng-
kan kepala... Ketiga orang kawannya mengusulkan un-
tuk kembali saja. Terpaksa Telo Moyo tak dapat meno-
lak keputusan itu walaupun hatinya masih penasaran.
Namun ketika kembali ke desa Belimbing Wuluh. berita baru membuat mereka terkejut. Yaitu lenyapnya Se-
kar Tanjung, seorang gadis anak seorang Kuwu kem-
bali lenyap dengan misterius... Gemparlah keadaan de-
sa Belimbing Wuluh. Beberapa pemuda desa dikerah-
kan untuk melacak ke pelbagai tempat. Pak Kuwu
sendiri memimpin pelacakan itu. Pertama-tama yang
dituju adalah desa Nongko Jajar. Karena disana dike-
tahui seorang laki-laki bernama Jembawan, yang juga
telah menghilang tak berbekas. Tentu saja kedatangan
pak Kuwu yang bernama Bendoro Kelud itu, mendapat
sambutan yang kurang baik dari orang tua Jembawan.
Walaupun Jembawan adalah anak angkat, namun te-
tap sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
"Maaf. pak Kuwu..! Aku sendiri tak mengetahui
kemana anak itu pergi. Akupun tak mengetahui ten-
tang hubungannya dengan gadis-gadis dari desa Be-
limbing Wuluh. Apakah ada hubungannya peristiwa
hilangnya dua gadis itu dengan anakku..?" Aku sendiri
tak mengetahui..! Tapi janganlah asal menuduh saja
pada anak orang. Karena biarpun aku orang miskin,
aku punya harga diri. Aku mengenal betul watak
anakku. Kalau dia bersalah pasti aku yang akan
menghajarnya. Aku sendiri telah mengirim orang un-
tuk melacak kemana perginya si Jembawan itu..!" De-
mikianlah ujar Sugita. Tampak wajah laki-laki tua
yang berumur lima puluhan tahun itu merah padam.
Bendoro Kelud tak dapat berbuat apa-apa. Memang ia
tak mempunyai tuduhan kuat untuk dapat menyangka
Jembawanlah yang telah melarikan kedua gadis dari
desa Belimbing Wuluh itu. Dengan agak malu, segera
Bendoro Kelud meninggalkan desa Nongko Jajar. di
ikuti pemuda-pemuda desanya. Disaksikan beberapa
penduduk dengan bibir mencibir.
"Enak saja menuduh anak orang. Memangnya
anak orang apaan..?" Berkata salah seorang tetua di
desa itu sepeninggal pak Kuwu. Sementara Sugita sen-
diri tercenung dengan wajah murung. Ia sendiri sedang
memikirkan nasib Jembawan. Kemanakah gerangan
perginya anak itu..? Gumamnya dalam hati.
DUA
Tiga pekan sudah berlalu. Dan pencarian ketiga
orang itupun menemui jalan buntu. Tak seorangpun
yang mengetahui kemana lenyapnya satu pemuda dan
dua gadis dari dua desa itu...
Puncak Mahameru yang tersembul dibalik
awan itu bagaikan kepala raksasa yang tegak menju-
lang dengan megahnya. Mentari pagi masih merah di
ufuk timur. Pancarkan sinarnya yang masih lemah.
Namun sesaat demi sesaat terus menggelinding ke atas
dengan sinarnya yang kuning keemasan. Kicau bu-
rung-burung tampak semarak menyambut munculnya
si Raja Siang itu. Petani mulai kembali berangkat ke
sawah memanggul paculnya. Walaupun kekalutan itu
masih menghantui desa itu. namun mereka tetap ha-
rus bekerja demi hidupnya. Di kejauhan tampak seo-
rang gadis berjalan seenaknya. Pakaiannya berbeda
dengan pakaian gadis-gadis desa umumnya. Karena ti-
dak umum dikenakan oleh seorang gadis biasa. Baju
atasannya berwarna merah jambu. berlengan panjang.
Dengan ikat kepala yang juga berwarna merah jambu.
melambai-lambai ditiup angin pegunungan. Sedang
kan bagian bawahnya memakai celana pangsi berwar-
na hitam. Dengan sabuk terbuat dari kulit ular. Pada
kedua belah pinggangnya tampak tergantung dua
buah benda berbentuk aneh. Yaitu bentuknya seperti
payudara, yang tergantung pada seutas rantai pada
kedua belah pinggangnya. Sepasang kakinya memakai
sepatu rumput yang terbelit dengan seutas tali menja-
lin betisnya hingga sampai ke ujung celana pangs hi-
tam itu. Yang juga dibeliti oleh tali dari sepatu rumput
itu. Sepintas saja orang dapat mengenalnya, kalau ga-
dis itu adalah orang dari kalangan Rimba Persilatan.
Wajah gadis itu ternyata amat cantik. Walaupun tanpa
dipulas oleh pupur atau gincu. Alisnya lentik menju-
lang ke atas. Melengkung bagai bulan sabit. Wajahnya
bulat telur, dengan sepasang mata yang bening. Hi-
dung yang tak terlalu mancung. Sedangkan sepasang
bibirnya bagaikan gondawa. Dan seperti menampak-
kan senyuman menawan... Wajahnya menampilkan
seperti seorang gadis yang lugu. Namun ayu, dan
luwes. Sepintas saja orang memandang pasti tak akan
puas untuk memperhatikan lagi. Rambutnya panjang
terurai berwarna hitam legam. dan ikal bak mayang te-
rurai... Ternyata dialah RORO CENTIL si Pendekar
Wanita Pantai Selatan. Yang telah menginjakkan ka-
kinya didaerah itu. Langkahnya tidak terlalu cepat.
Bahkan kadang-kadang berhenti untuk melihat dan
mengagumi pemandangan alam disekitarnya. Angin
gunung yang lembut itu sesekali menyibak rambutnya,
membuat ikat kepala dan ujung bajunya melambai-
lambai diterpa angin.
"Roroooo..!" Sebuah suara telah memanggilnya
dari kejauhan. Segera ia palingkan wajahnya ke arah
suara itu. Tampak alisnya agak menyatu melihat seso-
sok tubuh dikejauhan yang bergerak mendatangi. Da-
lam beberapa kejap saja orang itu telah tiba di-
hadapan Roro Centil. Dan sudah lantas berkata lagi.
"Roro,! Kau ada disini..? Ujarnya dengan wajah
berseri-seri. Pemuda itu berwajah tidak terlalu tampan.
Memakai pakaian warna putih, tapi berperawakan ga-
gah. Sepasang matanya membersit tajam menatap Ro-
ro Centil.
"Haii..! Kau rupanya Ginanjar..! Angin apa yang
meniupmu sampai kemari..?" Bertanya Roro dengan
menampilkan wajah terkejut, juga kelihatan senang
sekali.
"Kaupun angin apa yang meniupmu sampai
kemari..?" Balik bertanya pemuda murid mendiang si
Pendekar Bayangan Bayu Seta itu, dengan mata tak
lepas menatap wajah ayu dihadapannya. Seperti ingin
rasanya ia untuk membelainya. Roro cuma tersenyum.
Diam-diam iapun menatap dan memperhatikan wajah
orang. Hingga dua pasang mata beradu saling tatap.
Ternyata sepasang mata si pemuda bernama Ginanjar
itu kalah dalam hal tatap-menatap. Karena sekonyong-
konyong hatinya jadi berdebaran tak keruan rasa.
Tenggorokannya entah mengapa, tahu-tahu terasa se-
perti kering. Ia cepat mengalihkan pandangannya ke
arah lain seraya alihkan pembicaraan.
"Pemandangan disini indah-indah, tentu saja
telah menarik perhatianmu untuk datang kemari, bu-
kankah begitu Roro? Karena akupun amat mengagumi
keindahan, makanya juga datang kemari.." Ujar Ginan-
jar, memancing pembicaraan. Karena ia tiba-tiba juga
kaku untuk bicara apa. Roro Centil kembali menam-
pakkan senyumnya. Tapi kali ini bibirnya terbuka le-
bar hingga menampakkan sederetan gigi yang putih
bersih bak sederet mutiara. Roro Centil tertawa kecil
sambil manggut-manggut dan berkata:
"Benar! Aku memang tertarik melihat peman-
dangan indah didaerah ini. Tapi juga tertarik dengan
kisah aneh yang beritanya terdengar dari desa sekitar
Gunung Slamet ini..!" Ginanjar palingkan kepalanya
menatap lagi pada si cantik.
"Kisah apakah itu..?" Berkata si pemuda den-
gan wajah serius.
"Kisah hilangnya dua orang gadis dan seorang
pemuda secara misterius dari kedua desa..!" Ujar Roro.
Sementara sepasang matanya memandang sekitarnya.
"Nah..! Itu ada sebuah dangau tempat mene-
duh. Mari kita kesana untuk mengobrol..!" Kata-
katanya sudah dibarengi dengan gerakkan tubuhnya
yang melesat ke arah bawah. Ginanjar segera mengiku-
tinya dengan rasa ingin tahu. Sebenarnya ia baru saja
tiba setelah berjalan semalam suntuk dari Lebak Ba-
rang mencari obat-obatan. Karena susahnya pengina-
pan dan desa. Ia terpaksa menginap diperjalanan. Na-
mun karena ingin cepat-cepat tiba di tempat yang ditu-
ju, ia telah melakukan perjalanan semalam suntuk.
Pagi subuh baru ia tiba di desa Baturaden. Beruntung
ada orang yang baik hingga ia bisa menumpang tidur
dalam beberapa kejap. Dan di saat ia keluar, matahari
baru menggelincir dari lereng Gunung Slamet. Saat ia
keluar untuk menghirup udara segar itulah, ia men-
jumpai Roro Centil.
Sebentar saja. kedua orang muda-mudi itu te-
lah duduk berhadapan di bawah gubuk kecil tempat
beristirahat para petani atau peladang itu. Segera Roro
Centil menuturkan apa yang telah didengarnya dari
seorang penduduk di sebuah desa, mengenai peristiwa
aneh itu.
"Aku beranggapan hal itu adalah bukan perbu-
atan pemuda bernama Jembawan itu. Pasti ada orang
lain yang memang sengaja memancing kekeruhan..!"
Tutur Roro Centil dengan pasti. Sementara Ginanjar
manggut-manggut dengan penuh perhatian. Tampak-
nya ia serius benar untuk mendengarkan penuturan
Roro itu namun sesungguhnya fikirannya entah mene-
rawang kemana. Karena bukan cerita itu yang ia dala-
mi, namun ia cuma memperhatikan gerak-gerik gadis
ayu dihadapannya. Dan bibir mungil itu yang terbuka
dan terkatup mempesonakan... Bahkan sekali-sekali
Ginanjar menelan ludah saking terpesonanya. Entah
dari mana tahu-tahu seekor lalat telah mampir ke mu-
lut pemuda itu, yang agak setengah terbuka.
"Ahk! Ahk!... Kurang ajar..!? Setan alas..!" Me-
maki Ginanjar sambil terbatuk-batuk. Namun rupanya
sang lalat telah masuk tertelan kedalam tenggorokan-
nya. Karuan saja Roro Centil jadi mengikik geli, hingga
terpingkal-pingkal saking lucunya. Wajah Ginanjar jadi
tampak merah karena malunya. Dan tiba-tiba saja ia
telah muntah-muntah karena tak tahan menahan rasa
mual diperutnya.
"Hi hi hi... hi hi.. Lucu sekali..! Makanya jangan
terlalu lebar buka mulutnya, jadi.. jadi... Hi hi hi... hi
hi...." Kembali Roro terpingkal-pingkal. Hingga gubuk
kecil itu bergoyang-goyang. Dasar memangnya dangau
itu sudah tua, maka tiba-tiba saja terdengar suara
berkreotan. Dan...
Brruaaak..! Robohlah dangau tua itu dengan
seketika. Roro Centil sudah melompat keluar. Namun
Ginanjar yang sedang mengurut-ngurut perutnya itu,
tak sempat lagi untuk memikirkan akan kejadian
mendadak itu. Hingga tak ampun lagi ia sudah tertin-
dih oleh tiang-tiang bambu dan atap alang-alang.
"Celaka..!?" Terpekik pemuda itu. Namun sudah
terlambat. Tubuhnya sudah teruruk oleh alang-alang.
Ketika muncul lagi wajahnya hampir tak terlihat kare-
na penuh dengan jerami. Karuan saja Roro Centil ter-
pingkal-pingkal saking lucunya. Menyadari akan kebo-
dohannya. tiba-tiba Ginanjar melesat cepat dari tempat
itu. Hingga sebentar saja ia sudah tak kelihatan. Roro
Centil segera hentikan tertawanya Mendadak kelucuan
itu segera sirna, melihat kepergian laki-laki dihada-
pannya.
"Aih. Roro..! Kau terlalu sekali sih menertawa-
kannya..!" Gumam Roro Centil.
Habis lucu sekali..! Aku terpaksa tak dapat me-
nahan tertawa..! Bantah hatinya. Akhirnya Roro cuma
bisa menatap ke arah mana kepergian pemuda yang
masih saudara seperguruannya itu ketika di lereng Ro-
gojembangan. Roro Centil menduga bahwa Ginanjar
pasti akan marah atau malu untuk menjumpai dia la-
gi, karena ditertawakan sampai keterlaluan. Sampai
nasib sial pagi-pagi sudah menyambangi. Sudah terte-
lan lalat, kerobohan atap gubuk lagi... Biarlah, nanti
aku akan cari dimana ia menginap. Aku yakin ia tidak
pergi buru-buru dari sekitar daerah ini. Dan aku akan
minta maaf..! Berfikir Roro Centil. Memikir demikian
Roro segera beranjak dari tempat itu.
Hari sudah menjelang tengah hari ketika Roro
tiba disebuah pasar. Sengaja ia berputar-putar di seki-
tar daerah itu untuk menyelidiki keadaan. Entah bebe-
rapa desa ia masuki. Untuk mencari dengar adanya
tanda-tanda yang dapat memberi petunjuk tentang hi-
langnya ketiga orang desa yang misterius itu. Ketika
menampak adanya sebuah rumah makan. Ia segera
memasuki. Rumah makan itu cukup besar. Dan agak-
nya hari itu banyak pengunjungnya. Sepasang mata
Roro mencari-cari tempat yang masih kosong. Tampak
ia tersenyum, karena disudut ruangan itu, masih ada
sebuah meja dengan dua kursi yang masih kosong. Se-
gera ia sudah beranjak kesana. Menampak adanya
pengunjung yang berwajah ayu ini, beberapa pasang
mata sudah lantas melotot kagum. Sampai-sampai
terdengar suara orang batuk-batuk, karena terselak
oleh sayur pedas yang masuk hidung. Keruan saja be-
berapa lelaki jadi berceloteh dengan kata-kata yang tak
enak.
"Hati-hati bung..!" Makanya mata jangan terlalu
lebar kalau melihat orang..!" Dan bermacam kata-kata
lainnya lagi, yang diselingi gelak tawa. Sedang kan Ro-
ro Centil sudah menggeser bangku untuk duduk, den-
gan diiringi seorang pelayan yang segera mendatangi
mejanya.
"Mau pesan apa nona..?" Berkata sang pelayan.
Tapi belum lagi Roro menyahut telah terdengar suara
dari meja sebelah depan.
"Eh, pelayan, kau keterlaluan... Coba kesini du-
lu..!" Pelayan tua itu cepat menoleh. Ternyata seorang
laki-laki brewok tengah menggapainya. Karena yang
menggapainya itu tampak melotot, tentu saja ia buru-
buru meninggalkan meja tamunya, untuk segera ter-
buru-buru beranjak. Namun masih sempat juga berka-
ta:
"Maaf, nona... Sebentar aku datang lagi..!"
"Coba kau lihat meja ini! Masak kotornya bu-
kan main. Apa begini caranya kau melayani tamu... ?"
Berkata si brewok dengan keras, sambil menunjuk pa-
da mejanya. Tentu saja tiga lelaki disekelilingnya jadi
senyum-senyum ditahan. Karena mereka tahu, si bre-
wok sengaja menumpahkan nasi dan sedikit sayur
yang diacak-acak di atas meja. "Apakah tadi kau tak
mengelap mejanya? Kalau aku tidak merasa lapar se-
kali sejak tadi aku tak mau duduk disini..!" Sambung-
nya lagi.
"Oh, maaf... Dan, aku tak melihatnya..!" Berka-
ta si pelayan, dan cepat-cepat mengambil kain untuk
mengelapnya. Tapi diam-diam hatinya memikir: Rasanya ada sesuatu yang aneh? Sementara si brewok
sudah lantas beranjak dari bangkunya.
"Biarlah aku pindah saja ke tempat yang lebih
baik..!" Berkata si brewok seraya berpesan untuk
membawakan minuman baru lagi ke pada sang pe-
layan. Tentu saja kata-kata itu dengan bisikan perla-
han. Roro tak palingkan wajahnya sedikitpun. Tapi di-
am-diam ia tersenyum. la sudah mengetahui akal
orang. Dan benar saja ternyata saat itu si brewok tam-
pak mendatangi mejanya. Menyeret kursi dan duduk
dibangku kosong dihadapan Roro Centil.
"Boleh aku duduk disini, ngng... nona..?" Ber-
kata si brewok sambil tersenyum-senyum. Sementara
sepasang matanya merayapi wajah orang dihadapan-
nya. Roro anggukkan kepala sambil matanya menatap
tajam pada si brewok. Laki-laki ini walaupun tam-
pangnya kasar, tapi cukup hormat juga dan tidak ku-
rang ajar.” Berfikir Roro.
"Pesan apa..?" Bertanya lagi si brewok setelah
berfikir sebentar.
"Belum sempat..!"
"Ooooh..!?" Laki-laki brewok itu menyongkan
mulutnya, hingga kumisnya yang berbulu kasar itu ja-
di ikut terbawa kedepan. Roro sengaja menahan dari
rasa gelinya, karena ia melihat orang itu agak lucu.
"Pelayan..!" Ia sudah keluarkan bentakannya
dengan suara keras. Hingga semua orang jadi menoleh
padanya. Tergopoh-gopoh sang pelayan yang memang
tengah melangkah kesana, jadi mempercepat jalannya
seperti setengah berlari. Namun kembali memperlam-
bat jalannya, kalau tak ingin gelas yang berisi kopi pa-
nas itu menjadi tumpah. Tampak si brewok geleng-
gelengkan kepala. seraya berkata:
"Kalau jadi jongos harus kerja dengan cepat
dan gesit. Jadi pengunjung tak kecewa..!" Si pelayan
tua itu hanya angguk anggukkan kepala.
"Non... nona pesan apa..?" Berkata si pelayan
setelah meletakkan segelas kopi yang dibawanya itu
dihadapan si lelaki brewok.
"Pesanlah apa saja yang kau mau, nona. Biar
nanti aku yang bayar..!" Si brewok sudah mendahului
berkata. Sementara tiga orang kawannya dimeja depan
terdengar tertawa geli tertahan. Tiba-tiba entah dari
mana telah terdengar suara suitan. Si brewok ini agak
melengak dan wajahnya berubah merah. Belum lagi ia
berbuat sesuatu telah terdengar tepukan ramai dari
meja disudut kanan, disertai teriakan...
"Hidup, Warok Brengos, si Pisau Terbang dari
Madura...!" Dan suara riuh tepukan tangan pun kem-
bali terdengar.
"Sayang pisaunya cuma tinggal satu..! Tumpul
lagi..!" Terdengar suara teriakan santar dengan suara
nyaring, dibarengi dengan suara mengikik tawa dari
dua orang wanita yang baru turun dari ruang atas. Ke-
ruan saja semua mata tertuju pada kedua wanita itu.
Mata Warok Brengos seperti mau melompat keluar me-
lihat siapa adanya kedua wanita itu.
"Perempuan-perempuan tengik itu selalu cari
gara-gara..." Menggumam si brewok, tapi ia kembali
duduk. Walaupun banyak orang tertawa mendengar
kata-kata yang agak kurang sopan itu.
"Maaf, nona... Rupanya disini banyak kecoa-
kecoanya yang mengganggu aku. Nanti selesai minum
akan kuberi pelajaran orang yang telah kurang ajar
itu..!" Eh.. Mana pelayan itu..? Apakah kau sudah pe-
san makanan, nona..?" Bertanya Warok Brengos den-
gan terkejut. Karena ia tak melihat ada pelayan disitu.
"Sudah..! Aku sudah pesan sejak tadi!" Menyahut Roro. Rupanya di saat suara teriakan den tepukan
macam-macam itu. Roro sudah bisiki ditelinga si pe-
layan untuk membawakan pesanannya. Dan sang pe-
layan segera pergi. Namun karena merasa mendongkol
pada para pengunjung di dalam kedai itu, ia sampai
tak melihat lagi kalau si pelayan sudah ngeloyor lewat
dihadapannya. Sementara itu, begitu dua wanita itu
turun. Segera saja dua buah kursi dikosongkan orang.
Dan seorang laki-laki yang usianya sekitar empat pu-
luh tahun, berpakaian mewah, tampak mengajaknya
bercakap-cakap. Diselingi gelak tawa cekikikan kedua
wanita itu... Dua orang yang ternyata adalah murid la-
ki-laki itu segera beranjak keluar. Diam-diam Roro
Centil terkejut juga. Sekilas saja ia sudah dapat perha-
tikan bahwa para pengunjung restoran atau boleh dibi-
lang kedai besar itu, adalah kebanyakan dari orang-
orang kaum Rimba Persilatan. Ada apakah mereka bi-
sa berkumpul di tempat ini..? Membatin Roro Centil.
Sambil menunggu hidangan, Warok Brengos sengaja
mengajak bercakap-cakap pada Roro dengan suara
agak keras. Dan lagak si laki-laki brewok ini mendadak
berubah seperti tak perduli pada semua orang yang
berada di situ.
"Nona pesan apa? Ko' lama sekali..? Berkata
Warok Brengos.
"Tentu saja, aku pesan seratus tusuk sate... Sa-
tu gelas kopi susu, dan dua piring nasi putih..!"
"Ha..! ?" Seratus tusuk.. ?! Apakah kau bisa
habiskan sebanyak itu... atau kau mau bawa pulang,
nona..?" Berkata Warok Brengos dengan kaget, hingga
sampai terlonjak dari kursinya. Diam-diam ia menghi-
tung uang dalam saku di benaknya. Mati aku..! Ua-
ngku tak cukup untuk membayar sebanyak itu..! Ber-
kata ia dalam hati. Roro agaknya telah memaklumi
akan kegelisahan orang. Maka ia sudah lantas mau
berkata.. tapi sudah terdengar suara orang yang berka-
ta:
"Jangan khawatir nona..! Aku yang bayar se-
mua termasuk kawanmu itu. Ha ha ha... baru seratus
tusuk sate sih bukan apa-apa..!" Dan terdengar geme-
rincing bunyi uang dalam kantung yang diguncang-
guncang. Ternyata yang berkata adalah laki-laki ber-
pakaian mewah disudut dekat tangga itu. Yang duduk
bertiga dengan dua wanita tadi. Wajah Warok Brengos
merah padam. Ia merasa terhina sekali. Apalagi diden-
garnya suara dua orang wanita yang tertawa cekikikan.
Membuat telinga si brewok jadi panas. Saat itu si pe-
layan telah datang dengan tergopoh-gopoh membawa
pesanannya. Dan dengan cepat segala pesanan Roro
sudah terhidang di atas meja.
Warok Brengos menelan ludahnya. Bau sate
kambing yang sedap itu telah merangsang hidungnya,
hingga terlihat kembang-kempis.
Roro meneguk sedikit kopi susunya. Lalu ber-
kata berbisik pada si brewok:
"Eh, sobat Warok..! Ayo kau santap makanan
gratis ini. Aku memang sengaja memesan sebanyak ini
untuk kita berdua.." Tentu saja suara Roro tak terden-
gar oleh siapa-siapa, karena Roro telah memperguna-
kan tenaga dalamnya, hingga cuma si brewok itu yang
mendengarnya. Mata si brewok jadi mendelik kaget,
karena hal itu di luar dugaannya. Tapi Roro sudah ke-
dipkan mata untuk jangan sungkan-sungkan. Tam-
paknya si brewok ini mengerti dengan tanda itu. Dan
tanpa komentar lagi ia sudah seret kursinya lebih de-
kat. Mencuci tangannya. Mengelapnya dengan serbet.
Dan tak ayal lagi langsung mengganyang santapan itu
tanpa malu-malu. Terdengarlah suara riuh tepuk tangan, dan teriakan-teriakan Disertai oleh gelak tawa
terpingkal-pingkal dari sekelilingnya. Namun Warok
Brengos sudah tak perduli lagi.
Setelah kenyang sampai beberapa kali berta-
hak. Warok Brengos mengurut-urut perutnya yang
buncit, terdengar ia berkata keras:
"He he he... Terimakasih sobat Guriswara..! Ka-
lau tidak karena nona ini, tak nantinya kau mentraktir
aku. Ha ha he he he..!" Terdengar beberapa orang me-
muji pada sikap si Brewok itu yang tanpa malu-malu
menyantap makanan yang justru tadinya ia yang mau
mentraktir orang... malah kini berbalik di traktir oleh
si laki-laki berpakaian mewah itu. Sementara ketiga
kawan si Brewok yang tadi semeja dengannya, tampak
seperti mengiri akan nasib orang. Yang sebentar saja
tampak sudah akrab dengan gadis cantik yang lugu
itu.
"Eh, terimakasih atas jasamu itu, nona..! Ngng..
kau sudah tahu namaku, tapi aku sendiri belum men-
genalmu. Kalau boleh tahu siapakah nona ini? Dan
akan kemana tujuannya?" Berbisik Warok Brengos.
"Ah, namaku sangat jelek. Apa perlu diberita-
hu..?" Berkata. Roro. Sementara suara teriakan yang
hingar bingar itu sudah lenyap lagi. Dan beberapa
orang sudah tampak keluar dari kedai besar itu.
"Memangnya kenapa ?" Apa khawatir aku
mengkambing hitamkan namamu ? Aku tak ada ber-
maksud jahat padamu nona. Percayalah! Aku orang
baik-baik..!" Berbisik si Brewok. Sementara sudut ma-
tanya menatap ke arah laki-laki bernama Guriswara.
yang mentraktir sate itu.
"Tapi kau harus hati-hati pada orang yang
membayarkan makananmu. Dia sudah kesohor hidung
belang terhadap wanita cantik..!" Bisik lagi Warok
Brengos. Roro cuma mengangguk-anggukkan kepala
sambil leletkan lidah. Dan basahkan bibirnya dengan
beberapa teguk air putih. Lalu keluarkan sapu tan-
gannya, untuk mengelap sepasang bibir mungil itu.
"Namaku Roro Centil..!" Segera Roro perkenal-
kan namanya dengan singkat.
"Tujuanku adalah mencari tahu tentang peris-
tiwa lenyapnya dua orang gadis dan satu pemuda ber-
nama Jembawan. Ketiga orang itu telah hilang secara
misterius... Sambung Roro dengan perlahan. Tampak
wajah Warok Brengos berubah kaget, dan tampaknya
ia terkejut sekali.
"Hah? Ja.. jadi nona adalah si Pendekar Wanita
Pantai Selatan itu..? Oh... Maafkan aku yang bodoh
ini, nona Pendekar. Tak tahu kalau Gunung Mahame-
ru berada didepan mata..!" Berkata Warok Brengos
sambil menjura hormat.
"Aih... sobat Warok, mengapa kau terlalu me-
nyanjung namaku? Aku jadi malu hati menerima hor-
matmu..! Tukas Roro dengan wajah tersenyum, namun
diam-diam ia terkejut juga karena nama Roro Centil
ternyata telah dikenal disetiap pelosok. Pada saat itu
ketiga dari kawan Warok Brengos telah menghampiri.
Sambil cenger-cengir merubung di kiri kanan dan be-
lakang si Brewok.
"He..Warok! Bagi-bagi aku kalau dapat rejeki,
jangan dimakan sendiri..!" Berbisik yang dibelakang.
Sementara yang dua orang tampak melihat Roro den-
gan kagum, seperti memandang sebuah boneka saja.
Tiba-tiba saja si Brewok bangkit dari kursinya, seraya
memberi isyarat untuk segera mengikutinya. Tentu sa-
ja ketiganya jadi terheran, dan dengan cepat mengiku-
tinya. Ketika tiba-tiba diluar...
"Hm, dengarlah kalian sobat-sobatku. Bicara
mu jangan terlalu kurang ajar. Apakah kau tak menge-
tahui kalau nona yang ada didekatku itu adalah si
Pendekar Wanita Pantai Selatan Roro Centil..?!" Ter-
nyata Warok Brengos telah bicara dengan suara keras.
"Hayo, segera kau minta maaf padanya..! Ber-
kata Warok lagi. Adapun ketiga orang kawannya jadi
terkejut bukan main mendengar penjelasan itu. Dan
tak lama kemudian mereka segera kembali ketempat
duduk Roro... Akan tetapi mereka jadi terkejut, karena
tahu-tahu bangku disudut itu telah tak ada orangnya.
Alias kosong. Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan itu
ternyata telah lenyap tak berbekas.
"Heh..?! Kemana nona Pendekar itu..? Wah!
Wah! Tentu sudah pergi dengan diam-diam. Agaknya
tak ingin banyak orang melakukan penghormatan pa-
danya. Enam orang yang berada dimeja sebelah kanan,
juga telah menghampiri. Ternyata keenamnya juga
termasuk kawan-kawan Warok Brengos.
"Apa kalian tak lihat kemana perginya Pendekar
Roro Centil, yang tadi duduk bersamaku..?" Bertanya
si Brewok.
"Entahlah... Tadi begitu kau keluar kami semua
melihat kearahmu. Ketika kami berpaling lagi, nona itu
telah lenyap..!" Menuturkan salah seorang.
"Hah..? Jadi dia Pendekar Wanita yang kesohor
aneh dan berkepandaian tinggi itu..? Menyesal tak se-
dari tadi kami tahu..." Berkata kedua dari enam orang
kawan si Warok Brengos. Gemparlah semua orang
yang berada direstoran. Masing-masing membicarakan
nona pengunjung yang telah lenyap itu. Bahkan ada
juga yang bercerita sempai berlebih-lebihan mengenai
kehebatan si Pendekar Wanita Pantai Selatan, Roro
Centil. Kemanakah perginya Roro Centil..? Ternyata di
saat Warok Brengos meninggalkan mejanya. Sebuah
benda melayang cepat sekali ke arah Roro Centil, dari
arah jendela. Dengan terkejut Roro menyambar cepat
dengan gerakan tangannya. Ternyata benda itu adalah
segulung kertas kecil yang bertulisan. Roro belum
membuka seluruhnya, tapi tubuhnya telah bergerak
melesat keluar dari jendela. Masih terlihat siapa yang
telah melemparkan benda itu. Yaitu sesosok tubuh
yang berkelebat cepat ke ujung pasar. Dan membaur
dengan simpang siurnya manusia yang berbelanja. Ro-
ro agak susah untuk menyusulnya. Dan ia benar-
benar telah kehilangan jejak. ketika lorong-lorong bun-
tu membuatnya kikuk untuk mengambil arah. Akhir-
nya ia melompat ke atas genting sebuah bangunan.
Dari sana ia dapat memandang ke sekelilingnya. Na-
mun tak ada tanda-tanda mencurigakan. Segera ia me-
lompat lagi kebawah. Dan berkelebat ketempat yang
agak sunyi. Disana ia perhatikan dulu keadaan seki-
tarnya. Baru ia membuka kertas kecil bertulisan itu.
Dan apa yang tertulis dikertas itu membuat ia terkejut.
RORO...! Aku telah menemui jejak tiga orang
aneh yang mencurigakan.
Pergilah ke arah sebelah barat. Disana dapat kau jum-
pai sebuah kuburan kuno yang besar.
Dihadapannya ada terdapat patung katak raksasa.
Hati-hatilah...!
GINANJAR
Demikianlah isi surat dikertas kecil itu. Roro
kerutkan keningnya. Dan segera remas surat kecil itu.
Hatinya membatin: Hm... Kiranya Ginanjar masih mau
juga turut membantuku. walaupun tak mau bertemu
muka. Tampak wajah Roro menampilkan senyuman-
nya. Dan tiba-tiba ia sudah berkelebat cepat mening
galkan tempat itu.
TIGA
Kuburan kuno di lereng Mahameru itu memang
sebuah tempat yang tersembunyi. Rimba belantara
dan bukit terjal terdapat disekelilingnya. Pelataran ku-
buran kuno itu ternyata amat luas. Berlantai putih.
namun agak kotor tak terawat. Sedang pada sisi sebe-
lah kanan terdapat patung seekor katak besar yang
tengah mengangakan mulutnya. Tiga sosok tubuh
tampak duduk bersila dihadapan patung katak yang
tampak menyeramkan itu. Dua orang wanita, yang sa-
tu adalah seperti seorang gadis yang sudah kadalu-
warsa, alias perawan tua. Sedang yang seorang lagi
adalah seorang gadis yang berwajah pucat. Sedangkan
orang ketiga adalah seorang pemuda yang cukup tam-
pan, umurnya sekitar dua puluh lima tahun. Ketiganya
tampak tengah bersemadi dengan khusuknya... Se-
mentara itu dari kejauhan tampak terlihat dua orang
telah berkelebat mendatangi kuburan kuno itu. He-
bat..! Ternyata kedua orang itu adalah orang cacad.
Yang seorang sebelah kakinya putus sebatas paha.
Dan pergunakan sebuah tongkat kayu untuk me-
nyangga tubuhnya. Namun ternyata dapat berlari den-
gan cepat seperti itu adalah luar biasa. Sedangkan
yang seorang lagi kedua belah lengannya yang bun-
tung. Tapi gerakan larinya tidak merasa menjadi ham-
batan baginya. Sebentar saja kedua sosok tubuh itu
telah tiba di pelataran makam yang luas itu. Ternyata
kedua manusia itu berwajah amat buruk, seperti bekas
terluka, Atau terkena goresan goresan senjata tajam.
Bahkan yang seorang lebih menyeramkan lagi. Karena
lubang hidungnya sudah growong. dan bibirnya terbe-
lah dua. Mendengar ada orang mendatangi, ketiga
orang yang tengah bersemadi itu segera membuka ma-
tanya. Si gadis kadaluwarsa itu terlebih dulu berdiri
dan menjura hormat pada kedua pendatang itu. Serta
beranjak menghampiri seraya berkata:
"Ah! Kakang Kala Munget dan Kala Wesi..! Ba-
gaimana dengan pengintai si pencari rumput itu? Apa-
kah kalian berhasil membunuhnya?" Salah seorang
tampilkan wajah kecewa, dan berkata dengan kesal:
"Bocah keparat itu berhasil lolos! Dia telah me-
nerjunkan dirinya ke sungai, hingga kami yang tak da-
pat berenang, terpaksa membiarkan ia melarikan diri
keseberang. Huh! Setan alas..!"
Tampak si gadis kedaluwarsa itu naikkan alis-
nya, dan menghela napas.
"Sayang..! Aku khawatir dia dapat membocor-
kan tempat rahasia kita... sebelum waktunya!" Berkata
si gadis kedaluwarsa itu.
"Hm, kapan kau bisa dapatkan kulit yang cocok
dengan kami? Rasanya aku sudah tak sabar lagi..!"
Berkata si bibir terbelah alias Kala Wesi. Tampak si
gadis kedaluwarsa itu tersenyum, dan sahutnya:
"Sabarlah, kakang! Tidak terlalu mudah menca-
ri ukuran wajah, dan darah yang sama seperti yang di
inginkan! Hari ini aku akan pergi mencarinya. Tapi aku
harus menunggu perintah ketua dulu..!"
"Aku harus segera menghadap beliau. Hal ini
harus kulaporkan dengan segera!" Berkata Kala Mun-
get yang berwajah seperti dicakar kuku-kuku tajam
tak keruan rupa.
"Ah! ? Jangan dulu, kakang Kala Munget..! Be-
liau sedang.. sedang.." Si gadis kadaluwarsa ini tak te-
ruskan kata-katanya, karena sekonyong-konyong wa
jahnya berubah merah.
"Sedang apa..?" Bertanya Kala Munget. Semen-
tara si bibir terbelah Kala Wesi tampak menyeringai
mulutnya. dan berkata:
"Sudahlah! Aku tahu..! Pokoknya sedang "Ber-
semadi". begitu! Iya kan..?" Si gadis kadaluwarsa ini
manggut-manggut dan menjelaskan lebih jauh bahwa
sang Ketua tidak mau diganggu. Pada saat itu kedua
laki-laki dan wanita yang duduk bersemadi itu telah
melompat menghampiri. Keduanya memang cukup
tampan dan cantik. Membuat Kala Munget dan Kale
Wesi jadi mengiri.
"Hm! Siti Jenang..! Kau harus dapatkan wajah
yang tampan untuk aku, dan adik Kala Wesi ini..! Ber-
kata Kala Munget.
"Hi hi hi... Jangan khawatir. Pasti tak lama lagi
akan kudapatkan. Asal kalian mau bersabar menung-
gu..!" Menyahuti si gadis kadaluwarsa, yang bernama
Siti Jenang. Selanjutnya mereka duduk bercakap-
cakap dengan suara perlahan. Entah apa yang dibica-
rakan. Namun sekali sekali Siti Jenang selalu merah
mukanya. Dan ketiga orang itu tertawa. Sementara itu
dibalik semak, enam sosok tubuh tengah mengintai
keempat orang yang sedang duduk bercakap-cakap
itu. Ternyata tak lain dari Telo Moyo. Jagoan dari desa
Belimbing Wuluh, bersama lima orang lainnya. Tapi
yang kedua orang tampaknya bukan orang sembaran-
gan. Karena kedua laki-laki itu memang dua tokoh
persilatan yang cukup punya nama dikalangan Rimba
persilatan. Sedangkan yang tiga orang lagi adalah
Bendoro Kelud. alias pak Kuwu desa Belimbing Wuluh.
Kebo Pawon. Dan Sugita, dari desa Nongko Jajar. Ter-
nyata pelacakan tentang lenyapnya tiga orang pendu-
duk desa Belimbing Wuluh dan desa Nongko Jajar terus dilakukan. Dua tokoh persilatan yang berilmu
tinggi itu adalah sahabat baik Telo Moyo. Yang sengaja
disambangi untuk mencari jejak ketiga orang yang hi-
lang secara misterius itu. Karena adanya berita baru
dari seorang penduduk yang membuka dua mayat te-
rapung disungai. Sayang mayat itu kulit mukanya te-
lah terkelupas mengerikan. Hingga tak dapat dipasti-
kan siapa adanya...
Telo Moyo yang penasaran segera mengajak tiga
orang yang kehilangan anak itu untuk membuktikan
siapa kedua mayat tersebut. Tapi dengan terlebih dulu
menghubungi kedua tokoh persilatan itu. Sayang, me-
reka tak dapat menemukan kedua mayat tersebut,
yang mungkin telah terhanyut. Namun pelacakan te-
rus dilakukan hingga ke hulu sungai, di lereng Gu-
nung. Kedua laki-laki tokoh Rimba Persilatan itu ter-
nyata mempunyai pendengaran yang hebat. Ia dapat
mengetahui adanya orang yang tengah berlari tak jauh
dihadapannya. Ternyata benarlah. Ketika ia berkelebat
untuk melihat. Ternyata seorang laki-laki dengan pa-
kaian basah kuyup tengah berlari tidak terlalu cepat
mendatangi. Orang itu ternyata Ginanjar adanya. Yang
baru saja berhasil meloloskan diri dari kejaran Kala
Munget dan Kala Wesi. Mengetahui orang-orang itu
adalah hendak mencari jejak tiga orang penduduk desa
yang hilang misterius, Ginanjar jadi terkejut. Karena ia
memang telah melihat ciri-ciri yang diberitahukan Ro-
ro mengenai ketiga orang yang hilang itu. Dan dua di-
antaranya ia dapat mengenali. Sayang pengintaiannya
telah diketahui oleh Kala Munget dan Kala Wesi... Gi-
nanjar yang memang tengah mencari rumput-rumput
obat-obatan di lereng Gunung itu. secara tak sengaja
telah menemukan sebuah kuburan kuno di tempat
tersembunyi itu. Kedua tokoh persilatan itu yang ternyata berjulukan Pendekar Kembar, jadi terkejut men-
dengar penuturan Ginanjar. Dan tanpa dapat dicegah
lagi. mereka berniat menyelidiki. Sedangkan Ginanjar
yang memang berniat menghapus malu terhadap Roro
Centil, menemukan jalan yang bagus. Ia segera menca-
ri si Pendekar Wanita Pantai Selatan itu. Dan berhasil
menjumpainya. Dan melalui jendela rumah makan itu,
ia melemparkan surat petunjuk padanya.
Demikianlah... Hingga keenam orang itu berha-
sil menemukan kuburan kuno di tempat yang tersem-
bunyi itu. Dan beberapa pasang mata segera meneliti
wajah-wajah kelima orang yang tengah duduk berca-
kap-cakap dipelataran makam kuno itu, dekat sebuah
patung seekor katak besar. Yang terlebih dulu bicara
adalah Kebo Pawon.
Sepasang matanya tak lepas dari wajah seorang
wanita yang duduk dekat si gadis kadaluwarsa itu.
"Ah..! ? Benar, tak salah. Gadis itu wajahnya
mirip benar dengan Serandil anak gadisku yang hilang
itu... Tapi, apakah benar dia..?" Desis Kebo Pawon per-
lahan. Sedangkan Sugita yang dari desa Nongko Jajar,
ternganga mulutnya karena ia telah melihat adanya
Jembawan. Anak laki-lakinya yang duduk bercakap-
cakap. Adapun Telo Moyo terkejut bukan main, karena
melihat adanya Siti Jenang, si gadis kadaluwarsa alias
perawan tua. Yang ternyata juga berada diantara me-
reka. Dan pak Kuwu alias Bendoro Kelud tampak ke-
cewa, karena tak dapat melihat adanya anak gadisnya
yang bernama Sekar Tanjung, di antara kelima orang
itu. Pendekar Dewa Kembar memberi isyarat pada
keempat orang kawannya agar hati-hati berbisik. dan
tidak terlalu gaduh. Akan tetapi Kebo Pawon sudah tak
dapat menahan sabarnya lagi... Tiba-tiba ia telah me-
lompat keluar dari tempat persembunyiannya seraya
berteriak:
"Serandiiiil! Oh! Serandil anakku..!" Dan den-
gan berlari-lari jatuh bangun ia merosot turun dari
tempat ketinggian itu untuk mendatangi kelima orang
itu. Pendekar Dewa Kembar dan yang lainnya jadi ter-
kejut. Namun sudah terlambat. Kebo Pawon telah tiba
di pelataran Kuburan Kuno itu. Tentu saja kelima wa-
jah yang sedang bercakap-cakap itu jadi terkesiap.
Dan serentak sudah melompat bangun.
"He!? Orang tua dari mana kau bisa datang ke
tempat ini?!" Bentak Kala Wesi. Namun Kebo Pawon
tak menghiraukan bentakan itu. Ia sudah berlari un-
tuk menubruk gadis disebelahnya Siti Jenang, berte-
riak dengan air mata bercucuran.
"Serandil..! Kau ada disini anakku..?" Tapi tiba-
tiba laki-laki tua itu jadi terhenyak. Dan menahan
langkahnya. Wajahnya menampakkan keraguan.
"Tubuhmu tampak berbeda anakku..? Dan mu-
ka mu agak pucat! Apakah kau bukan Serandil? Tapi..
tapi.." Kebo Pawon tak dapat meneruskan kata-
katanya. karena satu tendangan keras membuat tu-
buhnya terjungkal keluar pelataran. dengan teriakan
ngeri... Kurang ajar! Kau harus dibunuh mampus, be-
rani menginjakkan kaki ketempat ini..!" Bentak Kala
Wesi. Ternyata ia telah mengayunkan kakinya ke arah
dada laki-laki tua itu. Akibatnya ternyata amat menge-
rikan. Kebo Pawon terkapar ditanah dengan darah me-
nyembur dari mulutnya. Namun ia masih berusaha
bangkit. Bibirnya menyeringai menahan sakit sepasang
matanya mendelik menatap kelima orang di hadapan-
nya. Namun tak berapa lama ia sudah roboh kembali
ke bumi, untuk melepaskan nyawanya. Terkejutlah si
Pendekar Kembar dan ketiga orang di tempat persem-
bunyiannya. Perbuatan keji yang berlangsung didepan
mata itu, benar-benar membuat mereka tersentak ka-
get. Tentu saja hal demikian membuat kelima orang di
pelataran makam itu segera mengetahui adanya bebe-
rapa orang yang mengintai. Terdengarlah bentakan da-
ri Kala Munget. Tubuhnya sudah berkelebat cepat ke
arah tempat persembunyian mereka. Tidak itu saja.
Keempat orang kawannya sudah berkelebatan ketem-
pat itu. Kini lima pasang mata dari penghuni Kuburan
Kuno itu telah menatap dan menyapu wajah wajah
orang dihadapannya. Melihat Kala Munget dan Kala
Wesi yang bertubuh cacad, dan bertampang buruk itu,
terkejutlah si Pendekar Kembar. Sedari tadi iapun ten-
gah mengingat-ingat akan siapa adanya kedua orang
bertampak buruk yang menyeramkan itu. Adapun Su-
gita, laki-laki tua berbaju putih dari desa Nongko Jajar
segera terpekik melihat adanya Jembawan ditempat
itu.
"Jembawan..! Apakah kau tidak mengenali ayah
mu lagi, anakku..?" Teriaknya, walaupun sepintas ia
agak aneh menatap sikap anak laki-lakinya yang tam-
pak pucat itu. Lengannya menunjuk pada laki-laki
berbaju hitam yang tampan itu. Yang ditanya terse-
nyum kaku. Terdengar dengusan dari hidungnya.
Agaknya ia tak mau memberikan jawaban. Tapi pa-
lingkan wajahnya pada Siti Jenang disebelahnya.
"Hi hi hi... Agaknya kau orang tuanya laki-laki
yang bernama Jembawan..!" Berkata Siti Jenang. Dan
sambungnya lagi:
"Wajah kawanku ini memang mirip dan sama
dengan Jembawan anakmu, orang tua. Tapi sayang..
dia bukan Jembawan!" Telo Moyo melompat kedepan
dengan menghunus golok besar yang dibawanya. Wa-
jahnya menampilkan kemarahan Dan ia sudah mem-
bentak dengan suara keras...
"Siti Jenang..! Jangan kau main sandiwara. Apa
artinya semua ini..? Kau kira aku tak dapat mengena-
limu! Aku memang agak curiga dengan tindak tan-
dukmu..! Bukankah kau anak angkatnya Manguni ?
Asal-usulmu tidak jelas. Kau pernah akrab dengan pa-
ra gadis remaja. Dan sering mengajak mandi di Sen-
dang, di desa Belimbing Wuluh. Aku yakin kau pasti
terlibat dengan hilangnya tiga orang penduduk dari
kedua desa. Kini dua diantara orang yang hilang itu
ada disini..! Tapi adalah aneh kalau sampai keduanya
tak mengenali lagi kedua orang tuanya. Apakah artinya
semua ini..?"" Mulut Telo Moyo nyerocos tak terben-
dung. Memang orangnya berwatak kasar, dan bekas
seorang penjahat yang sudah kembali sadar. Siti Je-
nang tampak perlihatkan wajah tenang. Namun Kala
Wesi sudah membentak dan melangkah tiga tindak.
Clik! Clik! Dua buah pisau berkilatan telah ter-
sembul dari masing-masing ujung sepatunya, yang
terbuat dari besi. Tapi Siti Jenang telah cepat-cepat
berkata:
"Biarlah kuberikan penjelasan pada manusia
manusia yang bakal mampus ini, Kala Wesi.." Kala
Wesi palingkan kepala pada Siti Jenang. Terdengar ia
mendengus, namun segera melangkah lagi mundur
dua tindak.
"Hm. baik..! Aku akan jelaskan kalau kalian in-
gin mengetahui..! Aku memang telah menculik ketiga
orang dari dua desa di bawah bukit itu. Dua dianta-
ranya telah ku kuliti mukanya. Dan seperti kalian li-
hat. Kulit-kulit wajah kedua laki-laki dan wanita itu te-
lah terpasang pada orang-orang disebelahku.! Hi hi
hi.." Tutur Siti Jenang dengan suara tegas. Penjelasan
itu membuat semua orang dari pihak pelacak itu jadi
terkesiap. Adapun Sugita, orang tua Jembawan dari
desa Nongko Jajar itu seketika jadi mendeprok lemas.
Lututnya gemetaran. Sepasang matanya memancar be-
rapi-api. Dan tampak air bening mengalir turun dari
sepasang matanya yang sudah mulai menggayut ke-
bawah. Bendoro Kelud alias pak Kuwu tiba-tiba berte-
riak:
"Perempuan iblis..! Kau.. kau apakan anakku
Sekar Tanjung..?! Kau juga telah menguliti wajah-
nya..?!" Tubuh laki-laki yang masih tampak keker ini
tergetar hebat. Ia sudah melangkah dua tindak mena-
tap Siti Jenang.
"Hi hi hi... Sekar Tanjung tak akan dikuliti. Ka-
rena ia teramat cantik, dan diingini Ketua kami! kin se-
lama beliau masih menyukai, akan tetap hidup. Entah
kalau sudah bosan... Mungkin segera menyusul yang
lainnya ke Akhirat..!"
"Keparat..! Jadi dua mayat yang mengambang
di sungai itu adalah mayat dari Jembawan dan Seran-
dil..?!" Teriak si Pendekar Kembar hampir serentak.
"Hm..! Sudah kuduga. Aku memang mencurigai
asal-usulmu Siti Jenang. Entah kau ini sebangsa ma-
nusia ataukah iblis, dapat berbuat sekeji itu..!" Berkata
Telo Moyo. Dan ia sudah memberi isyarat pada si Pen-
dekar Kembar untuk menerjang.
"Hi hi hi... Aku hanya menjalankan perintah..!
Kami memang para iblis yang sebentar lagi akan men-
cabut nyawa kalian..!" Ujar Siti Jenang dengan wajah
sinis. Telo Moyo tak dapat menahan kemarahannya,
Dengan menggerung bagai harimau ia telah menerjang
si gadis kedaluwarsa itu. Disertai teriakannya...
"Kucincang tubuhmu perempuan setan..!" Dan
golok besarnya berkelebat membabat pinggang Siti Je-
nang. Namun sepasang tangan dari laki-laki berwajah
Jembawan itu telah bergerak menangkap. Terdengar
lah suara berdenting keras.
Trang..! Golok besar Telo Moyo bagai menghan-
tam benda keras. Hingga pada bagian yang tajamnya
telah gompal alias somplak lebar.
"Hah!?" Telo Moyo tersentak kaget. Dan mun-
dur dua tindakan. Sepasang matanya berganti-ganti
menatap senjatanya dan sepasang tangan laki-laki
berwajah Jembawan itu. Segera dapat diketahui kalau
sepasang tangan lawan, sebatas sikunya terbuat dari
besi. Yang memang mirip dengan tangan manusia,
namun agak kaku.
"He he he... Aku dijuluki si Kelelawar Besi! Dulu
kedua lenganku ini telah dihancurkan orang dari go-
longan putih. Aku tak dibunuh, tapi telah disiksa se-
tengah mati, yang menjadikan aku orang cacad seu-
mur hidup..! Dendamku takkan pernah habis sebelum
melenyapkan setiap golongan kaum putih. Dan orang
pertama akan kubunuh adalah kau Telo Moyo. Aku
mengenalmu dulu sebagai seorang perampok. Tapi
nyatanya kau telah berpindah golongan. Bagus.! Aku
akan buat kau menderita terlebih dulu seperti aku,
yang telah kehilangan kedua lenganku, dan rusaknya
wajahku..! He he he.." Berkata si laki-laki berwajah
Jembawan. Adapun Telo Moyo jadi terperanjat. Seketi-
ka wajahnya berubah pias.
"Hah!?" Apakah kau Sawunggeni..?" Teriak Telo
Moyo dengan suara tertahan.
"He he he... Benar! Nah! Bersiaplah kau untuk
segera merasakan saat sekaratmu!" Dan kali ini si ke-
lelawar Besi telah mendahului menerjang Telo Moyo
dengan terjangan ganas. Kakinya menjejak tanah, dan
tubuhnya melesat dengan lengan terpentang menyam-
bar tubuh laki-laki bekas perampok itu.
Trang! Trang! Telo Moyo melompat kesisi sambil
hantamkan dua serangan goloknya sekaligus Namun
lagi-lagi goloknya terpental balik. Dan kembali bertam-
bah gompalnya.
Saat ia gugup itu, tiba-tiba sebuah kepalan tin-
ju besi telah menghantam dadanya. Terbeliak Telo
Moyo bagaikan tak percaya, karena lengan si Kelelawar
Besi itu dapat mulur satu setengah depa. Ia tak sem-
pat berkelit lagi. Dan roboh terjungkal. Telo Moyo per-
dengarkan keluhannya. Namun sekejap ia telah bang-
kit lagi dengan terhuyung-huyung... Dan otot-ototnya
kembali tegang. Ia telah. dapat menahan dan memu-
lihkan lagi kekuatannya. Walau terasa dadanya agak
nyeri sedikit.
"He he he... Telo Moyo! Lebih baik kau serahkan
saja sepasang lenganmu itu untuk kuhancurkan..! Ke-
lelawar Besi mengejek dengan senyum iblis.
"Keparraaat!" Teriak Telo Moyo. Dan kembali ia
menerjang bagel kemasukan setan. Goloknya memba-
bat kiri dan kanan menabas pinggang lawan. Namun
kemana saja senjatanya berkelebat, selalu dapat ter-
tangkis oleh sepasang lengan besi si Kelelawar. Semen-
tara itu Pendekar Kembar telah mencabut pedangnya
dengan serentak. Dua sinar hijau segera terlihat dari
kedua benda ditangan si Pendekar Kembar. Kedua
manusia cacad berwajah buruk itu melompat mundur
tiga tumbak. Sepasang matanya menatap kedua pe-
dang bersinar hijau ditangan laki-laki berwajah hampir
serupa itu.
"Heh! Pedang Mustika Hijau..!" Desis Kala Mun-
get yang berkaki satu.
"Benar..! Sepasang pedang itulah yang telah
membuat cacad kaki dan tangan kita..! Desis Kala We-
si yang kedua tangannya buntung.
"He he he... bagus! Kalian pasti murid si Sepasang Rajawali Putih. Pucuk di cinta ulam tiba..! Kami
tak jauh-jauh lagi mencari musuh yang telah membuat
kami cacad seumur hidup!" Teriak Kala Wesi dengan
wajah semakin seram. Saat itu terdengar desisan sua-
ra Siti Jenang: dibarengi dengan gerakan tubuhnya
yang melompat mendekati kedua orang cacad itu.
"Awas hati-hati dengan lawanmu, kakang Kala
Munget dan Kala Wesi. Aku dapat lihat sepintas. tam-
paknya kedua wajah pendekar ini cocok dengan uku-
ran wajah kalian. Hati-hati jangan sampai rusak. Dan
jangan sampai terbunuh. Siapa tahu darahnya cocok
dengan darah kalian. Hi hi hi... Aku jadi tak payah-
payah mencarinya..!" Kala Munget dan Kala Wesi
manggut-manggut, dan tampak tersenyum menyerin-
gai.
"Ha ha ha... Boleh juga! Cukup tampan dan ke-
lihatan gagah!" Bisik Kala Munget pada saudaranya.
"Dan sepasang Padang Mustika Hijau itu bisa
jatuh ketangan kita..!" Bisik Kala Munget lagi. Wajah-
nya berseri girang.
"Betul! Hayo kita menangkapnya hidup-hidup!"
Berkata Kala Wesi. Dan ia sudah tarik keluar kedua
lengan jubahnya, yang terbelit dipinggang. Sementara
si Pendekar Kembar telah melompat dua tombak keha-
dapannya.
"Dua Siluman buntung..! Kiranya kalianlah
yang telah membantai habis orang-orang perguruan
Rajawali di Gunung Suket. Kami Gambir Anom dan
Gambir Sepuh memang murid dari Sepasang Rajawali
putih. Sayang kau terlalu pengecut. Dan bertindak keji
selagi tak ada kedua Guruku. Bagus..! Hari ini jangan
harap kau berdua dapat meloloskan diri..!" Akan tetapi
kata-kata si Pendekar Kembar tersebut telah disambut
dengan gelak tawa terpingkal-pingkal oleh Kala Munget dan Kala Wesi.
Sementara itu telah terdengar teriakan dari Telo
Moyo disebelah sana. Keadaan amat mengerikan. Ka-
rena kedua lengannya telah hancur terkena cekalan te-
lapak tangan besi si Kelelawar Besi.
"He he he... Kini biji matamu akan kukorek ke-
luar. Biar kau rasakan sakitnya..!" Teriak Sawunggeni
yang berwajah Jembawan itu. Dan kedua lengan be-
sinya terjulur ke arah Telo Moyo yang terkapar menge-
rang kesakitan. Tapi pada saat itu, telah berkelebat si-
nar hijau menyambar sepasang lengan keji itu.
Whusss! Sambaran pedang salah seorang dari si Pen-
dekar kembar itu menemui tempat kosong. Karena si
Kelelawar Besi telah menarik lagi sepasang lengannya.
Di lain pihak, Kala Wesi dan Kala Munget masing-
masing telah bergerak ke arah Pendekar Kembar. Men-
dengar bersyiurnya angin dibelakang punggung, Gam-
bir Anom yang baru saja menggagalkan niat keji si Ke-
lelawar Besi itu, segera balikkan tubuh. Ternyata Kala
Wesi telah pergunakan lengan jubahnya menyambar
pinggang. Dengan berteriak keras ia menghantam den-
gan pedang Hijaunya.
"Wesss! Kilatan sinar hijau berkelebat bagai
bayangan kilat. Namun lengan jubah Kala Wesi telah
berubah arah menyambar kaki. Kembali Gambir Anom
sambarkan pedangnya, sambil melompat tiga tombak.
Sebelah lengannya telah ia arahkan ke kepala Kale
Wesi. Segera menyambar angin keras yang disertai te-
naga dalam hebat. Kala Wesi cuma perdengarkan den-
gusan di hidung. Dan gunakan lengan jubahnya men-
gebut ke arah serangan pukulan lawan. Akibatnya ter-
dengar teriak tertahan Gambir Anom. Tenaga dalam-
nya ternyata jauh di bawah Kala Wesi dua tingkat. Tak
ampun lagi tubuhnya terlempar beberapa tombak.
Namun dengan berjumpalitan di udara, ia berhasil
menjejakkan kakinya kembali ke tanah. Sementara itu
Gambir Sepuh telah menyambuti serangan tongkat
bercagak Kala Munget. Hebat serangan Kala Munget.
Karena nyaris saja kedua kaki Gambir Sepuh terbabat
putus, kalau ia tak cepat menyelamatkan diri. Demi-
kianlah... sebentar saja suasana pertarungan berjalan
dengan seru dan tegang. Akan halnya Sugita dan Ben-
doro Kelud, mengetahui keadaan gawat. Segera diam-
diam menyelinap untuk menyelamatkan diri. Tak ada
keberanian dari kedua penduduk desa itu untuk maju
turut menempur. Karena tanpa kepandaian yang be-
rarti, samalah dengan mengantarkan nyawa saja. Akan
tetapi tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh kurus langs-
ing ke arah mereka. Dan kedua laki-laki tua itu per-
dengarkan teriakan ngeri... Tubuhnya terjungkal dua
tombak. Dan saat berikutnya kedua orang yang ma-
lang itu telah tewas seketika. Dengan kulit punggung
hangus bergambar telapak tangan. Ternyata si gadis
berwajah Serandil itu yang telah menghantamnya dari
belakang.
"Bagus adik Rimba Wengi.! Hi hi hi... Kalau tak
dibinasakan akan bertambah wabah ditempat kita ini."
Berkata Siti Jenang, yang juga telah kelebatkan tu-
buhnya ke tempat itu.
Sementara itu di dalam sebuah ruangan yang
remang-remang. Tampak dua sosok tubuh manusia
bergerak-gerak di atas sebuah batu persegi, beralas ti-
kar pandan. Yang berada di bagian atas ternyata ada-
lah sesosok tubuh wanita, berambut panjang. Walau-
pun keadaannya tidak begitu terang. Namun dapat ter-
lihat kalau wanita itu bertubuh padat dan berparas
cantik. Rambutnya terjuntai ke bawah. Ketika mengge-
rek-gerakkan kepala dan tubuhnya... Sementara yang
berada di bagian bawah adalah sesosok tubuh laki-laki
yang boleh dikatakan seperti orang tak berdaya. Kare-
na hanya tampak menggeliat geliat saja bagai merasa-
kan sesuatu. Sementara keluhan-keluhan terlontar da-
ri mulutnya dengan suara yang samar tidak begitu je-
las. Akan tetapi anehnya wanita di atasnya itu terisak-
isak hingga air matanya sampai bercucuran menetes
deras. Selang beberapa saat tampak gerakan tubuhnya
semakin perlahan... Dan jatuhlah ia terjerembab diser-
tai keluhannya. Sekonyong-konyong sepasang lengan
telah mendekapnya erat, hingga ia terasa sukar berna-
pas. Dan detik selanjutnya kedua tubuh itu telah sa-
ma-sama terdiam. Hanya desah menggebu itu yang
terdengar kian melirih.
Semilir angin dari lubang dinding ruangan yang
agak pengap itu menyeruak masuk. Hawa pengap itu
berubah agak sejuk. Perlahan-lahan wanita itu mero-
sot dari tubuh yang tergolek seperti mati itu. Seonggok
pakaian yang berada disudut batu persegi itu telah
disambarnya. Dan dengan cepat telah dikenakannya
kembali.
"He he he... Hebat! Jarang aku menjumpai ke-
hebatan semacam ini..! Kau cukup memuaskan hatiku
bocah ayu..!" Terdengar suara serak bercampur tawa
terkekeh. Dan laki-laki berkumis serta berjanggut yang
hampir semuanya memutih itu. bangkit dari batu per-
segi. Ternyata sepasang kakinya buntung sebatas lu-
tut. Tapi lebih aneh lagi adalah sepasang matanya mi-
rip mata Serigala. Dengan pinggiran yang cekung me-
nyipit. Melihat laki-laki itu telah bangun duduk. Si
wanita cepat mendekati. Tampak ia sempat menyeka
air matanya, dengan lengan bajunya.
"Sudahlah... Jangan menangis! Aku tak akan
membunuhmu selama kau mau melayaniku. Kelak
kau boleh tinggalkan tempat ini kalau aku sudah tak
membutuhkanmu lagi..!" Berkata laki-laki itu dengan
suara dingin. Sementara dengan menahan isaknya si
wanita memakaikan jubah si laki-laki itu, yang seperti
manja saja. Suara teriakan dan bentakan dari orang
yang bertarung diluar ruangan seperti tak dihiraukan-
nya. Kiranya mereka berada didalam ruangan bawah
tanah di Kuburan Kuno itu. Laki-laki ini adalah yang
berjulukan si Mata Iblis. Ketua dari kelima orang yang
tengah bertarung diluar itu.
"Heh heh heh... Murid-muridku dalam beberapa
gebrakan saja akan dapat menumpas tikus-tikus bu-
suk yang coba menyatroni kemari..!" Terdengar gu-
mamnya seorang diri.
EMPAT
Beralih sejenak pada perjalanan Roro Centil,
yang setelah mendapat petunjuk dari Ginanjar telah
berkelebat pergi dengan cepat. Namun baru antara tiga
puluhan kali kakinya menyentuh tanah. Pada sebuah
tempat yang datar. sesosok tubuh telah berkelebat
menghadang. Terpaksa Roro Centil hentikan tindakan-
nya. Dan segera dapat melihat siapa yang mengha-
dang. Ternyata tak lain dari si orang yang berpakaian
mewah, yang telah mentraktirnya makan sate bersama
Warok Brengos. Dari kata-kata si Brewok tadi ia dapat
mengetahui orang ini bernama Guriswara. Baru ia da-
pat menegasi wajahnya. Yang ternyata ia seorang laki-
laki seusia 40 tahun. Berkulit putih. Wajahnya licin
tanpa cambang bauk. Namun alisnya hitam tebal.
Dengan sepasang mata yang agak kemerahan menyo-
rot tajam. Bibirnya agak lebar. Dan wajahnya hampir
persegi empat. Anehnya laki-laki ini memakai kalung
mutiara seperti wanita. Bahkan juga sebelah anting
anting di telinganya. Ketika membuka ,segera tampak
barisan giginya yang besar-besar. Walau usianya su-
dah cukup larut. namun ia kelihatan masih sangat
muda.
"Ha ha ha... Kita belum sempat berkenalan,
mengapa anda terburu-buru untuk pergi nona Pende-
kar Pantai Selatan..?" Berkata Guriswara.
"Aku Guriswara..! Kaum persilatan memberiku
gelar si Pemabuk Dermawan..!" Boleh aku mengenalmu
lebih dekat, nona.. ngng... Roro Centil?" Berkata
Guriswara dengan kata-kata yang terdengarnya
amat memikat hati.
"Mengapa tidak boleh..? Julukanmu si Pema-
buk, apakah kau tukang mabuk?" Bertanya Roro.
Tampaknya Roro sengaja meladeni apa maunya orang.
Guriswara tertawa terbahak-bahak dan menyahuti:
"Ah..! Itu hanya julukan saja. Eh agaknya nona
Roro Terburu-buru. Apakah ada yang memang penting
harus ditemui..?" Bertanya Guriswara.
"Cukup penting juga. Tapi boleh aku menanya-
kan sesuatu pada anda, sobat Pemabuk?" Tampak si
Pemabuk Dermawan kerutkan alisnya. Sejenak benak-
nya memikir. Pertanyaan apakah yang akan diajukan
oleh nona Pendekar ini? Tapi ia sudah lantas berkata:
"Silahkan! Silahkan! Tanya apapun boleh..! Pas-
ti kujawab...!"
"Baiklah! Yang akan kutanyakan adalah masa-
lah sederhana? Yaitu.. Aku telah melihat di rumah
makan tadi banyak tokoh-tokoh persilatan. Entah dari
golongan mana saja? Dan ada apakah maka sampai
bisa berkumpul di tempat itu..?" Tanya Roro Centil.
Mendengar pertanyaan itu si Pemabuk Dermawan tertawa agak hambar.
"Hm... Sebenarnya pertemuannya itu masih la-
ma. Masih kira-kira satu bulan lagi. Namun beberapa
tokoh hitam maupun putih, telah berdatangan. Karena
hal yang menarik itu tentu saja mengundang perhatian
kaum persilatan..!"
"Pertemuan apakah..? Dan apanya yang mena-
rik..?" Tanya Roro dengan penasaran.
"Di puncak Gunung Mahameru akan diadakan
pertandingan adu kekuatan. Menurut berita yang
sampai ke telingaku. Pertandingan itu adalah untuk
menentukan siapa di antara kaum persilatan yang pal-
ing kuat. Dialah yang akan dijadikan pemimpin dari
kaum persilatan. Dengan tak mengecualikan golongan
apa saja. Hal semacam ini memang selalu diadakan se-
tiap dua puluh tahun sekali. Ketua dari kaum rimba
persilatan yang lama adalah Ki Dharma Tungga. Seo-
rang dari golongan kaum putih. Namun tak ada lagi
kabar beritanya sama sekali. Bahkan tak seorangpun
dari kaum rimba persilatan yang mengetahui dimana
dan kemana adanya Tokoh Sakti yang pernah menjadi
ketua kaum Rimba Persilatan itu. Sebagian orang
mengatakan Ki Dharma Tungga telah wafat." Roro
manggut-manggut mendengar penuturan si Pemabuk
Dermawan.
"Apakah masa jabatan Ketua Ki Dharma Tung-
ga telah habis, hingga diadakan lagi pertemuan untuk
pemilihan Ketua yang Baru..? Dan siapakah yang me-
nyelenggarakan untuk mengadakan pertemuan kaum
rimba Persilatan ini..?" Tanya Roro.
"Mengenai hal itu, aku tak mengetahui sama
sekali. Undangan itu disebarkan secara misterius dis-
ertai ancaman. Seandainya tidak hadir, tidak akan di-
akui sebagai orang Rimba Persilatan serta dianggap
pengecut! Dan bila tidak ada yang datang, maka si pe-
nyelenggara akan mengangkat dirinya menjadi ketua
Rimba Persilatan yang baru..!" Tutur Guriswara. Dan
selama memberikan penjelasan itu sepasang matanya
dengan rajin menatap setiap lekuk liku pada tubuh
sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Roro Centil ter-
pukau mendengar berita aneh itu, yang benar-benar ia
baru mendengarnya. Diam-diam ia membathin... Gila..!
Hal itu benar-benar bukan pertemuan resmi, karena
merupakan tantangan serta penghinaan terhadap
kaum Rimba Persilatan. Apa lagi si penyelenggara tak
mau memperkenalkan namanya... Pantas saja banyak
orang yang jadi penasaran untuk berdatangan kema-
ri..!? Pikir Roro.
"Baiklah. Terima kasih atas penjelasan anda
sahabat Pemabuk Dermawan..." Roro sudah akan me-
lanjutkan kata-katanya, namun Guriswara telah cepat
cepat memotong. "Ngng.. Nona Pendekar Pantai Sela-
tan... Nama besar anda telah membuat aku yang ren-
dah ini menjadi kagum. Ternyata lebih kagum lagi
memandang orangnya!" Mendengar kata-kata itu Roro
tersenyum. Ia sudah menduga akan hal itu. Dan su-
dah mengetahui siapa adanya Guriswara, dari peringa-
tan yang telah dibisikkan oleh Warok Brengos.
"Aih, sahabat Guriswara..! Anda terlalu meren-
dah. Apalah artinya kepandaianku? Orang terlalu me-
lebih-lebihkan diriku. Padahal aku sendiri merasa tak
enak hati..." Roro Centil menyahuti dengan suara da-
tar. Akan tetapi baru saja putus bicaranya sudah ber-
kelebat dua sosok tubuh ramping kehadapannya. Ter-
nyata yang datang adalah dua orang wanita. Yang satu
berbaju hijau dengan rambut dikepang dua. Sedang
yang seorang lagi bersanggul, dengan tusuk konde
yang berbentuk kipas. Berbaju ungu. Anehnya kedua
orang wanita itu menatap Roro seperti wajah orang
cemburu...
"Hm, inikah gerangan sang Pendekar Wanita
Pantai Selatan itu..? Ternyata cukup cantik juga..! Tapi
sayangnya bermata keranjang! Begitu muncul sudah
berkata tajam si wanita berbaju ungu itu. Sepasang
matanya bersinar tajam, dengan bibir tersenyum sinis.
Sedangkan yang berambut dikepang terus saja me-
nimpali.
"Baru saja kenalan sama si brewok Brengos. eh!
sekarang sudah mau menggaet lagi orang lain..!" Se-
mentara Guriswara tampaknya jadi serba salah, dan
menggaruk-garuk kepala. Adapun Roro Centil melihat
gelagat tidak baik itu bukannya membela diri. bahkan
tertawa mengikik geli.
"Hi hi hi... hi hi... Siapakah yang melarang
orang jatuh cinta..? Apakah kalian ini istri-istrinya si
Pemabuk Dermawan..?" Bertanya Roro. Hampir berba-
reng keduanya menyahuti:
"Kalau benar, mengapa kau tak lekas-lekas
menyingkir..?" Tukas si baju ungu.
"Apakah mengandalkan nama besar yang cuma
digembar-gemborkan pada cecunguk itu, telah mem-
buat kau besar kepala..?! Dan lantas dengan seenak-
nya saja sambar kiri sambar kanan..? Huh! Benar-
benar tak ada muka..!" Sambar si baju hijau yang
rambutnya dikepang dua. Roro terdiam sejenak seperti
berfikir, sementara ia lihat Guriswara tengah menatap
padanya. Tiba-tiba Roro Centil tersenyum dan ke-
dipkan matanya pada si laki-laki berbaju mewah itu.
Keruan saja kedua wanita itu jadi jengkel setengah ma-
ti.
"Heh! Sekarang aku tahu. Rupanya bukan
gayung yang mendekati gentong air, tapi gentong air
yang mendekati gayung. Pantas ia sampai melupakan
kami berdua. Rupanya kau telah memeletnya..!" Berka-
ta si baju hijau berkepang dua, dengan wajah semakin
memerah. Namun pada saat itu Roro Centil sudah be-
rujar:
"Sudahlah, kalau kalian menginginkan aku
menyingkir. Akupun secepatnya akan pergi..!" Sambil
berkata demikian Roro sudah langkahkan kaki untuk
beranjak dari situ. Tak dikira kedua wanita itu telah
membentak dengan garang.
"Tunggu..! Enak saja kau bicara! Sudah berte-
mu dan main mata pada laki orang. mana bisa urusan
bisa habis sampai disini..?!" Dan sekejap kedua wanita
itu telah melorot senjatanya dari pinggang.
"Kami si Dua Dewi Kenari ingin mencoba keli-
hayan senjata si Rantai Genit, yang katanya kesohor
itu..! Hi hi hi... Melihat dari sepasang senjatamu yang
menggiurkan mata laki-laki itu, sudah dapat dipasti-
kan kau seorang wanita kotor..!" Teriak si baju ungu
yang telah putarkan senjatanya. Yaitu tiga buah roda
bergigi. sebesar piling yang amat tipis. Terbuat dari ba-
ja putih yang berkilat-kilat. Akan tetapi pada saat ka-
ta-kata si Dewi Kenari baru saja habis, telah terdengar
makian dengan suara keras.
"Hai! Dewi Kenari! Apakah kalian berdua men-
ganggap diri sendiri orang baik-baik, dan bukan orang
kotor..?!" Teriakan itu dibarengi dengan munculnya se-
sosok tubuh yang berkelebat ketempat itu. Kedua wa-
nita ini melengak. dan palingkan kepala. Segera terli-
hat Warok Brengos, laki-laki brewok yang tadi berada
di rumah makan. Ternyata ia telah juga menyusul
sampai ketempat itu. Namun yang dipandang bahkan
membuang muka, dan tampak terlihat tampilkan wa-
jah girang melihat Roro Centil. seraya menjura dan
ucapkan kata...
"Nona Pendekar Roro, sebaiknya tak usah men-
gotorkan tangan, meladeni manusia-manusia macam
begini..!"
"Monyet sebrang pulau! Menyingkirlah kau...!"
Teriak salah seorang dari Dewi Kenari. Dan bersamaan
dengan bentakannya, sebuah kilatan menyambar ke-
pala. Ternyata roda baja itu telah menyerangnya.
TRINNG..! Lengan Warok Brengos bergerak. Ia
telah menangis dengan gagang pisau yang telah di ca-
butnya, seraya miringkan kepala ke samping. Senjata
itu terhantam balik. Dan sekejap telah disambut kem-
bali oleh si Dewi Kenari. Pada saat itu Roro Centil telah
berkelebat sepuluh tumbak. Begitu akhirnya mengin-
jak tanah, telah terdengar bentakan si Dewi Kenari,
yang telah juga melesat untuk menyusul.
"Mau kemana kau Roro Centil! Hayo mengadu
kekuatan denganku..!"
"Baik! Kalau kau memang menginginkan. Mana
kawanmu? Bertarung melawan sebelah Dewi mana
enak..! Bukankah kalian berjuluk Dua Dewi Kenari..?"
Ujar Roro. Seorang dari Dewi Kenari yang berkepang
itu ternyata tengah menerjang pada Warok Brengos.
Senjata yang dipergunakan adalah sebuah kipas baja,
berujung runcing. Namun agaknya si Brewok enggan
melayaninya. Hingga yang terlihat laki-laki itu cuma
mengelak saja kesana-kemari. Hal demikian ternyata
membuat si kepang dua yang bernama Sawur Seri itu
jadi membentak keras. Gerakan kipasnya jadi semakin
gencar. Terpaksa Warok gunakan pisaunya untuk me-
nangkis setiap serangan. Sementara Guriswara telah
lenyap entah kemana... Pada saat itu si Dewi Kenari
berbaju ungu yang bernama Kili Cantrik sudah menye-
rang Roro Centil dengan roda-roda bajanya.
"Awas serangan..!" Bentaknya. Dan dua buah
roda bergigi itu meluncur deras menyambar leher dan
pinggang.
Wessss! Wessss! Bersyiur angin tatkala kedua
benda itu dapat dielakkan Roro, dengan sedikit menge-
gos miringkan tubuh. Tapi tak urung beberapa lembar
rambut Roro terbabat putus. Terkejut juga si Pendekar
Wanita Pantai Selatan. Ia memang tak menyangka ka-
lau roda-roda baja itu dapat terhalau. Adapun puku-
lan-pukulan tangan kosong si Dewi Kenari, sengaja ia
papaki dengan mempergunakan sepertiga tenaga da-
lamnya untuk memapaki. Namun hal itu ternyata di-
luar dugaan membuat Roro terhuyung beberapa tin-
dak.
"Hi hi hi... Baru sebelah Dewi saja kau sudah
sempoyongan. Apalagi kalau kami maju bersama!"
Berkata Kili Cantrik dengan jumawa. Sementara se-
rangan-serangannya semakin gencar mengurung Roro.
Tapi diam-diam si Dewi Kenari ini terkejut dan kagum
juga, karena tampaknya Roro Centil dengan mudah sa-
ja dapat mengelakkan serangan ganasnya. Tapi ia ber-
girang hati juga, karena tenaga dalam lawan berada
dibawahnya. Berfikir Dewi Kenari.
"Ayo tunjukkan senjata Rantai Genit mu yang
lucu itu. Apakah kau mampu menghalau serangan-
ku..?" teriak Kili Cantrik. Tiba-tiba Roro Centil melom-
pat mundur tiga tombak. Sepasang matanya menatap
tajam pada si Dewi Kenari. Otaknya bekerja cepat saat
itu. Hm, jangan-jangan kejadian ini sudah diatur agar
memperlambat tujuan ke Kuburan Kuno itu. Berfikir
Roro. Karena sedari tadi tak menampak adanya Guris-
wara. Kalau ia berniat menyudahi pertarungan, den-
gan meninggalkannya... bisa saja ia perbuat. Tapi ia
akan mencoba sampai dimana kesombongan si Dewi
Kenari ini, dengan senjata Roda Bajanya. Saat itu Roro
sudah berkata keras:
"Baik! Agar kau tidak menyesal dan penasaran,
akan kupergunakan senjata si Rantai Genitku. Tepi
dengarlah kata-kataku Dewi Kenari..! Aku bukan dari
jenis manusia kotor seperti kalian!" Roro sudah melo-
loskan sebuah Rantai Genitnya, seraya berteriak: "Li-
hat serangan..!" Dan tubuhnya telah berkelebat ke
arah si Dewi Kenari. Sedang senjatanya diputar keras.
hingga menimbulkan suara berdengung seperti ratu-
san tawon. Dewi Kenari agak terkesiap. Tapi segera
lancarkan serangan kilat ke arah pinggang dan leher.
Sedang satu lagi ia pakai menerjang maju. Sebelah
lengan menghantam, sebelah lagi menyerang dengan
senjatanya... Aneh akibatnya. Dua roda Baja itu seperti
sehelai kertas melayang ke samping semua
seperti berkejaran. Dan terjangan Dewi Kenari
menemui tempat kosong, karena dengan berteriak ke
arah Roro kelebatkan tubuh. mengejar kedua roda.
Dengan melangkahi kepala Dewi Kenari setinggi tiga
tombak. Ternyata roda baja bergerak memutar kebela-
kang sang majikan. Namun sebelum si Dewi Kenari ba-
likkan tubuh untuk menangkap. Roro Centil telah
menghantam kedua benda itu dari atas.
TINGNG! TINGNG..! dan Bles! Hampir berba-
reng kedua roda itu telah meluncur kebawah. Dan am-
blas kedalam tanah. Dewi Kenari balikkan tubuh, dan
terkejutlah melihat senjatanya lenyap. Tiba-tiba ia me-
lompat mundur lima tombak. Begitu menjejakkan kaki,
ia segera berteriak:
"Sawur Sari..! Hayo kita pergi dari sini..!" Dan ia
sudah mendahului berkelebat. Sawur Sari yang tengah
menerjang Warok Brengos segera hentikan serangan.
Dan berkelebat menyusul kakaknya. Warok Brengos
tatap kedua wanita itu yang berkelebat pergi.
"Nona Roro...! Aiiih..!?" Teriak Warok Brengos
terkejut. Karena batu saja ia menoleh. Ketika melihat
ke arah Roro Centil, ternyata sudah tak ada ditempat-
nya lagi.
LIMA
"ROROOOOOOO...!" Suara itu terdengar dike-
jauhan lapat-lapat... Roro kertak gigi untuk segera
mempercepat larinya bagai terbang. Namun tetap saja
ia tak mampu menyusul sosok tubuh itu, yang berke-
lebat cepat bagaikan melebihi kecepatan angin. Namun
tetap Roro Centil semakin penasaran untuk menyusul.
Aku tak boleh sampai kehilangan jejak..! Gumamnya
mendesis. Beruntung ia telah mewarisi ilmu lari si
Pendekar Bayangan Bayu Seta. Hingga tanpa rasa le-
lah, tubuhnya terus meluncur bagai enak panah men-
gejar sosok tubuh dihadapannya... Ternyata dikala si
Dewi Kenari melarikan diri, Roro Centil tak mau ber-
lama-lama untuk segera meneruskan perjalanannya ke
lereng Gunung. Mencari kuburan Kuno, seperti yang
dikatakan Ginanjar dalam surat. Akan tetapi betapa
terkejutnya Roro, ketika melihat pemuda itu tengah
bertarung seru melawan seorang kakek tua renta, yang
berpakaian mirip pengemis. Roro tadinya berniat
membantu pemuda itu, tapi segera ia urungkan. Kare-
na sudah sejak lama sekali ia tak mengetahui, sampai
dimana kemajuan ilmu kedigjayaan saudara sepergu-
ruannya itu. Sang kakek pengemis tua renta itu me-
makai jubah putih yang sudah bertambalan di sana-
sini. Bahkan dibeberapa bagian telah sobek saking tu-
anya. Kelihatannya bagai orang yang tak bertenaga
sama sekali. Tapi ternyata mampu mengelakkan setiap
serangan pedang Ginanjar. Bahkan jenggotnya yang
putih memanjang terjuntai didagunya, dapat dibuat
sebagai senjata. Karena sekonyong-konyong dapat me-
negang. Serta mampu menghantam balik pedang pe-
muda itu. Hebat! Memuji Roro dalam hati dari tempat
persembunyiannya. Kini terlihatlah kehebatan permai-
nan pedang Pendekar lereng Rogojembangan itu. Roro
menahan napas ketika melihat segulung sinar perak
membungkus tubuh Ginanjar menjaga serangan si ka-
kek pengemis yang telah pergunakan tiga batang lidi
aren untuk menyerang lawan. Suara bersiutan terden-
gar semrawut mengacaukan telinga. Terlihat Ginanjar
mulai terpengaruh oleh suara yang mengganggu itu.
Tiba-tiba ia berteriak keras. Sebelah lengannya meng-
hantam dada sang kakek. Dapat dipastikan dada yang
tipis, dengan seketika akan remuk dihantam lengan
kekar pemuda Ginanjar. Namun aneh. Begitu meng-
hantam dada, terdengar Ginanjar keluarkan keluhan.
Sedang pedangnya yang telah siap membelah kepala
lawan itu jadi berhenti ditengah jalan. Apa yang terja-
di..? Kiranya tubuh Ginanjar telah berubah jadi kaku
dengan posisi menyerang... Segera saja tubuh itu lim-
bung untuk ambruk ke bumi. Roro Centil keluarkan
teriakan tertahan dan melompat keluar. Namun ber-
samaan dengan bergeraknya tubuh Roro. Sang kakek
telah menyambar tubuh pemuda itu. Dan sekejap telah
berada di atas bahunya.
"Hm, kau pasti si Roro Centil, bocah Pantai Se-
latan itu...! Mengapa tak sedari tadi kau bantu ka-
wanmu ini..?" Bertanya sang kakek tanpa palingkan
kepalanya. Terkejut Roro, belum melihat orangnya, ta-
pi telah mengetahui siapa dirinya. Aneh..!? Menggu-
mam Roro. Tapi ia sudah melompat untuk menghadang dihadapan pengemis itu.
"Kakek pengemis..! Apakah kesalahannya maka
ia kau totok sedemikian rupa ? Dan akan kau bawa ke
mana dia..?!" Bentak Roro. Melihat sang kakek itu su-
dah mau angkat kaki. Tapi sang kakek itu dengan wa-
jah tak berubah telah menyahuti:
"Huh! Apa perdulimu dengan segala urusanku?
Apakah dia kekasihmu...? Mengapa kau begitu
mengkhawatirkan sekali padanya..?" Tanya si kakek
pengemis. Seketika wajah Roro jadi berubah merah.
"Dia... dia.. saudara seperguruanku! Mengapa
kau harus melarangku, kalau aku mau mencegah mu
untuk membawanya!?" Ujar Roro dengan wajah meng-
kal.
"He he he... Dia mau ku kawinkan dengan cucu
perempuanku..! Nah! Kalau dia bukan kekasihmu,
minggirlah! Beri aku jalan..!" Berkata si pengemis tua
renta.
"Tidaaak! Aku tak mau kau kawinkan dengan
cucu perempuanmu!! Lepaskan aku..!" Tiba-tiba Gi-
nanjar berteriak. Namun tetap saja ia tak dapat ber-
geming sedikitpun. Terkejut Roro Centil mendengar-
nya. Entah mengapa hatinya jadi seperti orang kehi-
langan. Dan detak jantungnya terasa berdegup lebih
keras. Mau dikawinkan..? Sentak Roro dalam hati.
Disamping agak lucu. tapi juga aneh. Pikirnya... Men-
gapa mau mengawinkan cucu orang harus memaksa
orang untuk jadi menantunya..? Gila! Maki Roro di ba-
thin.
"Roroooo..! Tolonglah kau bunuh pengemis bau
ini! Aku tak mau kawin dengan cucu perempuannya.
Bisa-bisa aku ketularan bau..!" Teriak Ginanjar lagi.
Dalam hati Roro agak geli juga mendengar ucapan Gi-
nanjar. Tapi tampaknya pemuda itu benar-benar keta
kutan sekali. Sang kakek tiba-tiba tertawa terkekeh-
kekeh geli sekali. Hingga sampai tubuhnya terguncang
guncang.
"He he he... he he... Cucu perempuanku cantik
sekali. Dibanding dengan gadis didepanmu masih se-
belas kali lebih cantik. Kalau masalah bau sih sudah
umum. Pokoknya kau tak akan penasaran..!" Berkata
sang kakek sambil kembali terkekeh-kekeh. Panes hati
Roro Centil. Wajahnya tampak semakin merah hingga
melebihi merah bajunya. Tiba-tiba Roro gerakkan tan-
gan bertolak pinggang seraya berkata keras dengan
nada pedas:
"He! Kakek tua renta yang sudah mau masuk
liang kubur..! Apakah kau tidak dengar kalau dia tidak
mau? Walau cucu perempuanmu cantiknya 212 kali
lebih cantik dari diriku, kalau dia tetap tidak mau
apakah harus kau paksa..?!" Mendengar kata-kata Ro-
ro, Ginanjar berteriak lagi.
"Bagus Roro, dia memang tidak tahu malu.
Memaksa orang untuk kawin seenaknya. Aku tak akan
pernah jatuh cinta pada gadis lain Roro..! Karena aku..
aku hanya mencintaimu..!"
"Hah..! ?" Tersentak Roro Centil mendengar ka-
ta-kata Ginanjar. Seketika wajahnya menjadi dingin
bagai disiram air es... Tapi hatinya mendadak jadi ber-
gemuruh tak keruan rasa. Akan tetapi pada saat itu
terdengar suara sang kakek:
"Kurang ajar..! Kalau kau membandel akan ku
biarkan tubuhmu kaku sampai 100 tahun. Nah ming-
girlah bocah Centil..! Aku tak dapat merobah keputu-
sanku..! Sebelah lengan si kakek pengemis itu berge-
rak perlahan mendorong tubuh Roro. Tapi hebat aki-
batnya. Karena terdengar Roro Centil berseru kaget.
Tubuhnya telah terdorong mental sampai sepuluh
tombak. Dan bersamaan dengan itu, sang kakek telah
berkelebat pergi dengan cepat sekali.
"Roroooooooo..!" Teriak Ginanjar, dalam dukun-
gan si kakek pengemis. Namun tubuhnya telah di
bawa berkelebat bagai anak panah, melesat
semakin jauh. Terkesiap bukan main Roro melihat ke-
jadian itu. Serta merta tanpa harus berfikir lagi, Roro
Centil mengejar sang kakek berjenggot panjang itu...
Demikianlah! Hingga sampai Matahari condong ke se-
belah barat, Roro tetap tak dapat menyusul si kakek
pengemis itu. Yang jaraknya antara lima puluh tombak
dihadapannya. Entah berapa bukit dan lereng Gunung
telah terlewati. Namun sang kakek tidak juga memper-
lambat larinya. Dan Roro Centil tetap mengejar dibela-
kang.. Tetapi pada sebuah lereng curam, di mana di-
bawahnya mengalir sungai yang lebar. Kakek pengemis
itu menghentikan larinya. Bagus! Teriak Roro dalam
hati. Dan menambah kecepatan, Roro berkelebat me-
nyusul. Seraya berteriak.
"Kakek tua renta, akhirnya kau menyerah ju-
ga..!" Roro yang memang telah dapat menduga. pasti
sang kakek pengemis itu berhenti. Karena sungai lebar
telah berada didepan mata, dengan tepiannya yang cu-
ram. Sungai dihadapan itu adalah terusan sungai yang
tadi telah dilewati. Akan tetapi betapa terkejutnya Ro-
ro... Karena tahu-tahu bagaikan terbang tubuh si ka-
kek kurus itu melayang dari atas tebing curam itu ba-
gaikan seekor burung saja. Ringan bagaikan sehelai
bulu. Dan hinggap diseberang dengan selamat. Begitu
tubuh Roro melesat ketempat itu. Ia hanya dapati tem-
pat yang kosong.
"Heh heh heh... Ayo. Susul kemari! Masa murid
si Manusia Aneh Pantai Selatan tak mampu untuk ter-
bang..?" Ejek si kakek pengemis, di sisi seberang tebing. Wajah Roro tampak merah padam. Dipandangnya
kebawah, dimana air sungai deras mengalir. Dan tak
jauh dari kakinya terdengar suara bergemuruh tak
hentinya. Kiranya air sungai itu meluncur deras keba-
wah ketempat yang makin curam. Air terjun..!? Desis
Roro terkejut. Ketika ia pandang ke seberang, ternyata
tubuh sang kakek telah tak kelihatan lagi.
"Mampukah aku "terbang" kesana..?" Berkata
Roro pada dirinya sendiri. Murid si manusia Banci dari
Pantai Selatan ini sejenak tercenung... Tapi tiba-tiba
tertawa mengikik geli sekali.
"Hi hi hi... dasar bocah tolol.!" Roro memaki di-
rinya sendiri. Dan tiba-tiba tubuh Roro Centil telah
melayang "terbang" keseberang sungai yang bergaris
tengah kurang lebih delapan puluh tombak itu. Akan
tetapi baru sampai sepertiganya, atau kira-kira 50
tombak. tenaga lompatan Roro mengendur... Dan tak
ampun lagi melayanglah tubuh sang Pendekar Wanita
ini kebawah, yang berkedalaman 100 kaki dari atas
tebing. Dalam beberapa kali putaran tubuh di udara
itu segera sesaat lagi tubuh Roro yang meluncur deras
itu akan terbenam menghantam ke permukaan air
sungai.
BWUARRRRRRR..! Air menyemburat keras ke
atas. Menyibak permukaan dengan menimbulkan ge-
lombang dahsyat. Tubuh Roro terdorong balik ke atas.
Pada saat itulah Roro gunakan tenaga letikan tubuh-
nya untuk mengarah keseberang. Dengan beberapa
kali berjumpalitan diudara, ia akan segera tiba disebe-
rang dengan selamat. Akan tetapi tiba-tiba .... angin
dahsyat telah menghantam tubuhnya hingga kembali
ke tengah dan meluncur kebawah dengan deras. Han-
taman itu telah membuat seketika tulang persendian
tubuhnya menjadi lemas. Apa lagi ia telah mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya menghantam
permukaan air. Hingga Roro tak tahu lagi ia melayang
kemana... Tahu-tahu terasa tubuhnya sudah amblas
kedalam air. Dan suara mengguruh itu sekonyong-
konyong lenyap. Air sungai yang deras itu sekejap saja
telah menyeret tubuhnya masuk ke dalam air terjun
tanpa dapat di cegah lagi. Sekejap saja tubuh sang
Pendekar Pantai Selatan itu sudah tak kelihatan mun-
cul lagi dipermukaan air di bawah sana... Sementara
gemuruh air terjun tak putus-putusnya mengguruh
bagai suara angin Saloka. Dan diantara suara gemu-
ruh air terjun itu lapat-lapat terdengar suara tertawa
melengking tinggi. Tertawa puas atas kemenangannya.
"Hi hi hi... hi hi... Mampuslah kau Roro Centil!
Kini julukan Pendekar Wanita Pantai Selatan telah le-
nyap..! Tak ada lagi wanita yang akan menyaingi diri-
ku..! Hi hi hi.." Dan sesosok tubuh tersembul dari balik
batu di atas tebing. Seorang wanita berbaju hitam den-
gan simbul tengkorak didada, melihat kebawah tebing
dimana air terjun mengalir deras di bawahnya. Sebuah
Tombak berwarna hitam tergenggam ditangannya.
Kembali si wanita tertawa gelak-gelak diiringi kata-
kata, mendesis dari mulutnya.
"Hihi.. hihi.. hi hi... Dengan tombak Ratu Sima
di tanganku ini, aku pasti akan dapat menjadi Ketua
Kaum Rimba Persilatan. Benda ini memang lebih cocok
berada ditangan wanita seperti aku. Dan nama besar
Dewi Tengkorak akan menjulang tinggi di mata kaum
rimba hijau..!" Selesai berkata ia telah tancapkan ben-
da itu di sisinya. Sementara tangannya bertolak ping-
gang menatap air terjun yang mengguruh dibawahnya.
Seperti juga masih belum puas untuk melihat tempat
kematian sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Ter-
dengar ia menggumam perlahan.
"Hm. jurus pukulan yang telah kupergunakan
adalah jurus ke sembilan dari 10 Jurus Pukulan Ke-
matian si Dewa Tengkorak bekas suamiku..! Walaupun
ilmunya setinggi langit, tak nantinya ia dapat lolos dari
kematian..!" Terdengar si wanita menghela napas lega.
Tapi baru saja ia mau beranjak untuk meninggalkan
tempat itu...
"Oh... Saraswati..! Kucari-cari kemana saja kau
istriku..? Sebulan penuh aku rindu setengah mati.
Sampai tidur susah, karena belum mengantuk. Dan
makanpun tidak kepingin, karena belum lapar..! Kau
baik-baik saja istriku...?" Suara itu munculnya dari se-
sosok tubuh yang muncul dibelakang si Dewi Tengko-
rak. Secepat kilat si wanita telah balikkan tubuhnya.
Dan segera terlihat seorang laki-laki ganteng berusia
antara dua puluh enam tahun. Tengah mendatangi
dengan langkah lebar. Di bibirnya yang terbuka itu
tampak sebaris gigi yang putih rata. Ah..? Benar-benar
seorang laki-laki yang tampan... Membisik dihati si
Dewi Tengkorak. Tapi aneh sekali, mengapa ia me-
manggilku Saraswati dan menganggapku istrinya???....
Aneh! Apakah wajahku mirip dengan istrinya itu..? Pi-
kir si wanita. Tapi dengan sekali bergerak, ia telah tiba
dihadapan pemuda itu. terdengar bentakan dari mu-
lutnya:
"Pemuda sinting..! Aku bukan istrimu..!" Tom-
baknya meluncur deras ke arah leher pemuda itu.
Akan tetapi sedikitpun pemuda itu tak menggerakkan
tubuhnya untuk mengelak. Membuat si Dewi Tengko-
rak terkesiap. Dan sebelum ujung tombak itu menem-
bus kulit leher orang, tiba-tiba ia telah menahannya
kembali. Tampak si Dewi Tengkorak kerutkan kening-
nya. Sedangkan si pemuda dihadapannya cuma terta-
wa: "Ha ha ha... Adatmu masih saja tak berubah Saraswati. Walau tubuhku hancur luluhpun aku akan te-
tap mencintaimu. sampai dilobang kubur... Tapi aku
sudah tahu isi hatimu. Tak mungkin kau tega mem-
bunuhku. Kau hanya pura-pura saja!" Berkata si pe-
muda. Makin terngangalah mulut si Dewi Tengkorak.
Yang memang sejak tadi telah terbuka bibirnya.
"Eh, pemuda gagah..! Siapakah namamu? Bu-
kalah kedua matamu lebar-lebar. Aku bukan istrimu.
Aku si Dewi Tengkorak, bukan Saraswati..!" Teriak si
wanita dengan dada agak tergetar. Tatapan mata pe-
muda dihadapannya itu benar-benar menaklukan ha-
tinya. Akan tetapi jawabannya benar-benar membuat
ia tak bisa bicara apa-apa.
"Ha ha ha... Saraswati! Walau seribu kali kau
berganti nama, dan seribu kali kau mau menipuku,
kau tetaplah Saraswati. Sudahlah sayang... Lupakan
peristiwa lalu. Wajahmu yang ayu itu tak akan dapat
menipuku. Mana bisa kau katakan kau Dewi Tengko-
rak, atau peri marakahyangan segala..?Aku sudah tak
kuat menanggung rindu..." Dan tiba-tiba sebelum Dewi
Tengkorak menyadari akan apa yang bakal terjadi, len-
gan pemuda itu telah menyambar tubuhnya. Dan se-
bentar saja telah berada dalam pondongan pemuda
aneh itu. Tadinya si Dewi Tengkorak mau berontak,
tapi getaran hatinya telah mengalahkan semuanya.
Apa lagi tahu-tahu sepasang bibirnya telah disergap
cepat oleh si pemuda. Dan dilumat sampai ia megap-
megap. Hawa rangsangan yang sudah terpendam sejak
tadi itu segera saja ia salurkan... Dan iapun kembali
balas melumat sampai terpejam matanya karena nikmat...
ENAM
Mengguruhnya suara air terjun yang tak hen-
tinya itu menimbulkan gelombang besar di bawah sa-
na. Dimana tubuh Roro Centil terjerumus dalam kea-
daan mengkhawatirkan. Karena hantaman angin pu-
kulan yang dilancarkan si Dewi Tengkorak, telah
membuat tubuhnya lemas. Seluruh persendian tubuh-
nya lemah tak bertenaga. Hingga tanpa ampun ia ter-
benam dalam air yang bergulung-gulung. Dalam kea-
daan dibawa pusaran air itu, Roro benar-benar tak
berdaya... Saat kematian telah terpampang di depan
matanya. Pada saat itulah Roro teringat pada kisah
yang ia alami empat tahun yang lalu. Dimana ia juga
mengalami hal yang serupa. Yaitu megap-megap di da-
lam air. Dihempas gelombang dahsyat, di pantai Laut
Kidul. Dimana ombak Pantai Selatan telah menggulung
tubuhnya, saat ia terjatuh dari atas tebing karang...
Seketika membersit di hatinya, untuk berpantang mati
sebelum ajal. Ia harus berusaha menentang renggutan
maut sebelum kasip. Segera ia salurkan tenaga dalam-
nya dengan seksama keseluruh anggota tubuh. Walau
tiga-empat teguk air telah masuk ketenggorokannya.
Sedapat mungkin ia menahan pernapasannya agar ti-
dak menghirup air. Hingga dadanya terasa mau mele-
dak. Gelembung-gelembung air mulai keluar dari mu-
lutnya. Terpaksa ia menelan lagi dua teguk air... Tapi
ia telah berhasil memulihkan lagi kekuatan tubuhnya.
Dan dengan semangat baja ia telah enjot tubuhnya un-
tuk melambung ke atas permukaan. Akhirnya tersem-
bul juga Roro ke atas permukaan air bergelombang itu.
Segera ia tarik napas dalam-dalam. Lega nian pera-
saannya. Kesegaran kembali timbul. Dadanya yang sa
sak itu telah lenyap seketika. Dan berenanglah Roro
Centil menepi, terbawa hanyut agak ke hilir. Disana ia
menemukan tempat yang dangkal. Segera ia tiba ke
darat. Tampak Roro Centil duduk bersila di atas batu.
Menyempurnakan kekuatannya dengan bantuan tena-
ga dalam. Hingga selang beberapa saat. seluruh kekua-
tannya telah kembali pulih seperti sedia kala... Roro
bangkit berdiri. Dan tatap sekelilingnya. Gemuruh air
terjun itu masih terdengar. Dan memang tidak begitu
jauh. Terpaan angin dari arah bukit itu membuat ba-
junya berkibaran. Ternyata pakaiannya juga telah
kembali kering. Bersamaan dengan kepulihan kekua-
tan tubuhnya. Roro pandang air dihadapannya yang
mengalir deras. Seolah-olah terbayanglah kembali air
gelombang Pantai Selatan dihadapannya. Tiba-tiba bi-
birnya tampakkan senyumannya. Wajahnya berubah
cerah, bagaikan sekuntum bunga mawar dipagi hari...
Dan saat itu juga ia telah melesat ke tengah sungai, di-
iringi suara tertawa geli. Yang selanjutnya bagaikan
seorang Peri, Roro berlari-lari di atas air. Kembali me-
nuju ke hulu sungai. Sepasang kakinya cuma sekali
sekali menginjak permukaan air. dibarengi dengan
berkelebatnya tubuh sang dara, yang melompat-lompat
dengan gerakan ringan bagai sehelai daun... Ketika ti-
ba dekat air terjun itu. Roro Centil membelok kesisi.
Dari sana ia segera meniti tebing batu untuk naik ke
atas. Dan selang beberapa saat antaranya ia telah
kembali tiba di atas tebing. Suasana tampak lengang.
Hanya gemuruh air terjun itu saja yang terdengar di-
bawahnya.
"Heh! Siapakah yang telah membokongku itu..?
Apakah si kakek pengemis? Tapi suara tertawa
seorang wanita ada kudengar. Apakah yang menye-
rangku itu cucu perempuannya si kakek pengemis
itu.." Menggumam Roro. Sementara pandangan ma-
tanya menatap ke beberapa arah. Dan dilain kejap, ia
telah gerakkan tubuhnya untuk melesat kesatu arah
dihadapannya...
Saat itu senja menyelimuti alam sekitarnya.
Desah angin semilir yang menerjang daun-daun berin-
gin yang tak begitu tinggi, membuat hawa sejuk me-
nyentuh kulit. Sementara sang Mentari, tampak malu-
malu mengintip dari celah-celah dedaunan. Dikejau-
han terdengar suara Tekukur, yang sekali sekali me-
nyibak kelengangan....
Namun semua itu tak mengusik kedua insan
berlainan jenis yang tengah menikmati indahnya alam.
Gemuruh air terjun cuma samar-samar terdengar di
kejauhan. Yang sesekali tersamar dengan keluhan see-
kor kerbau milik petani, di lereng bukit. Sementara si
empunya kebun, tengah menancapkan sebuah tonggak
kayu yang roboh itu. Serta menekannya perlahan-
lahan... Kembali terdengar lenguh sang kerbau. Lalu
miringkan tubuhnya. Kemudian diam untuk tidur me-
ram. Dengan dengus napasnya seperti saling sahut-
sahutan...
Roro Centil berdiri bertolak pinggang. Sebentar-
sebentar ia palingkan kepala, tapi tatapannya tak per-
nah lepas dari hadapannya. Walaupun wajahnya se-
bentar merah sebentar kembali memutih. Tempat itu
memang tak berapa jauh dari tebing. Dari telapak kaki
yang masih ada bekas-bekasnya, ia dapat mengetahui.
kalau tak jauh dari situ ada dua manusia yang me-
nyembunyikan diri dibalik semak. Dibawah pohon
yang rindang... Aku harus tahu siapa kedua kunyuk
yang berada di bawah pohon itu..! Berfikir Roro Wa-
laupun yang tampak hanyalah dua pasang kaki yang
saling tumpang tindih. Namun cukup untuk membuat
wajahnya jadi terasa panas, seperti dipanggang mata-
hari sore. Tapi sepasang matanya jadi terbeliak lebar,
karena sebuah benda hitam panjang itu seperti men-
gingatkannya pada Pantai Selatan.
"Ah. itukah Tombak Pusaka Ratu Sima milik si
Dewa Tengkorak..?" Mendesis keluar suara dari mu-
lutnya tanpa disadari. Saat itulah kedua manusia di-
balik semak itu saling berlompatan keluar. Masing-
masing bergerak untuk menyambar pakaiannya. Tapi
Roro memanglah Roro. yang berwatak aneh... Sekali
lengannya bergerak. maka melayanglah tumpukan pa-
kaian itu untuk terbang jauh. Dan menyangsang dibe-
berapa ranting pohon yang tinggi. Kedua manusia itu
saling tatap. Dan alihkan pandangan pada Roro Centil
yang cuma senyum sinis menatap mereka. Bahkan be-
gitu lihat tampang si laki-laki, segera terdengar suara
tertawanya yang mengikik geli.
"Hi hi hi... Kiranya sobat Joko Sangit! Apakah
kau juga akan mengatakan wanita itu istrimu..?" Ber-
tanya Roro Centil. Adapun matanya tak lepas dari
tombak hitam yang tertancap itu. Tiba-tiba terdengar
suara tertawa si laki-laki. begitu lihat siapa dihada-
pannya. Dan sekonyong-konyong tubuhnya meluncur
"terbang" keudara. Dengan sekali berjumpalitan, ia te-
lah tiba didahan pohon. Dan selanjutnya telah me-
nyambar kembali pakaiannya. Sekejap ia telah me-
layang turun, dan lenyap dibalik semak. Diam-diam
Roro memuji kehebatan ilmu lompat Joko Sangit. Tapi
ketika ia berpaling ke arah si Dewi Tengkorak, ternyata
wanita itu telah berkelebat pergi menyelinap kebalik
pohon dengan menyambar cepat tombak hitamnya.
Roro keluarkan dengusan dihidung. Dan gerakkan tu-
buh untuk menyusulnya.
"He! Pencuri..! Kembalikan tombak Pusaka itu..!
Dan kau harus ceritakan darimana kau perolehnya..!"
Bentak Roro sambil berkelebat. Akan tetapi jawaban-
nya adalah sebuah hantaman itu amat serupa dengan
hantaman yang membuat tubuhnya terlempar ke air
terjun. Ia segera bergerak untuk mengelak. Dua batang
pohon sebesar paha dibelakangnya, roboh kena han-
taman angin pukulan dahsyat itu. Tak pelak lagi, pas-
tilah wanita ini yang telah mencelakaiku! Sentak Roro
dihati. Kasihan wanita itu. Tampaknya ia serba salah
karena tak dapat berdiri bebas dihadapan sang lawan.
Karena harus menutupi bagian-bagian tubuh terten-
tunya. Akan tetapi Roro Centil mana mau perduli?
Pendekar aneh ini lebih mengkhawatirkan nasib gu-
runya, Si Manusia Aneh Pantai Selatan. Yang telah
menutup diri di ruang Gua didasar tebing karang, Ti-
ba-tiba ia telah membentak:
"Hei! Manusia tengik! Apa yang kau lakukan
terhadap Guruku. Dan dari mana kau peroleh benda
itu..?Hmm... Kau rupanya yang telah membokongku,
ya..? Bagus! Kini dapat kau rasakan pembalasan dari
ku! Namun aku takkan membunuhmu sebelum kau
terangkan dulu apa yang telah terjadi..!" Setelah berfi-
kir sejenak, rupanya si Dewi Tengkorak mulai berani
untuk berdiri bebas tanpa harus malu-malu lagi. Kese-
lamatan jiwanya adalah lebih penting...! Dan dihada-
pan manusia sejenis, mengapa harus ragu-ragu atau
malu segala... Pikirnya. Segera ia lintangkan tombak
hitam di depan dada. Wajahnya tampilkan rasa benci
yang mendalam pada Roro. Dan ia sudah berkata den-
gan lantang.
"Huh! Roro Centil..! Mengapa kau tuduh aku
pencuri..? Benda ini adalah milik suamiku si Dewa
Tengkorak. Yang kudengar dari sementara orang, ada
lah kematiannya ditangan Gurumu. si Manusia Aneh
Pantai Selatan. Karena manusia banci itu memang ter-
gila-gila pada lelaki milikku itu. Tapi tak mendapat
sambutan si Dewa Tengkorak! Apakah dapat disalah-
kan kalau aku membalas dendam..? Dan kau murid si
banci tak tahu malu itu memang telah lama aku men-
carimu, untuk melenyapkannya dari dunia ini..!" "Dan
nama Dewi Tengkorak yang akan kembali tegak di
permukaan bumi ini. Menghapus nama besarmu sela-
ma ini...! Sambungnya lagi. Sampai disini Roro tak da-
pat menahan getaran hatinya untuk bertanya. dengan
wajah pucat pias.
"Jadi... Kau telah membunuhnya...?" Teriak Ro-
ro.
"Hihi..hihi... hi hi.. Bukan saja kubunuh mam-
pus orangnya. Tapi juga telah kurampas lagi benda
pusaka ini! Dan perlu kau ketahui... Ilmu-ilmu sakti
dari dalam tombak hitam inipun telah berhasil kupela-
jari dan ku kuasai sepenuhnya..!" Terkesiap Roro Cen-
til. Entah mengapa sekonyong-konyong terdengar jeri-
tan melengking tinggi, mengumandang keudara keluar
dari mulutnya. Lengkingan dari pedihnya hati yang
tiada terkira. Karena Gurunya yang amat dicintainya
itu, didengarnya telah tewas oleh manusia dihadapan-
nya. Hebat teriakan melengking panjang itu. karena si
Dewi Tengkorak harus menutup telinga kalau tak mau
pecah gendang telinga yang dimilikinya. Suasana kem-
bali lengang... Dan tampak sang Pendekar Wanita ter-
tunduk layu. menatap bumi. Beberapa tetes air bening
meluncur turun mengenai ujung jari kakinya. Akan te-
tapi pada saat itu. bersyiur angin deras menyambar
kepalanya.. Ternyata si Dewi Tengkorak telah lancar-
kan serangan ganas. Tombak hitamnya hanya bebera-
pa senti lagi di atas kepala.
PLAK..! Roro Centil telah menghantamkan tela-
pak tangannya dengan tenaga dalam yang hampir se-
paruh ia salurkan. Hebat akibatnya. Karena tampak si
Dewi Tengkorak berteriak tertahan. Tubuhnya terbawa
memutar beberapa kali. Walaupun benda itu tak terle-
pas dari tangannya, namun telapak tangannya telah
mengeluarkan darah...
"Kurang ajar..!" Teriak si Dewi Tengkorak. Na-
mun ia jadi terkejut karena sang lawan tak berada lagi
di hadapannya. Tiba-tiba terdengar suara mengikik se-
ram di sekelilingnya. Terlihat bayangan merah jambu
berkelebatan mengelilinginya. Namun sama sekali ia
tak dapat melihat bentuk tubuhnya. Sedangkan suara
tertawa mengikik menyeramkan itu bagai mendesing-
desing di daun telinganya. Entah mengapa tiba-tiba te-
rasa gentar hati si Dewi Tengkorak. Detak jantungnya
semakin cepat. Seirama dengan putaran kelebatan
bayangan merah jambu yang juga semakin lama se-
makin cepat. Dalam keadaan panik itu, ia telah lan-
carkan serangan semuanya. Berserabutan, menghajar
si bayangan... Hingga bertumbangan pohon-pohon se-
besar betis dan paha di sekelilingnya. Ketika tiba-
tiba...
Plak! Lengannya tergetar hebat. Dan tombak
pusaka itu telah terpental jauh menancap di sebatang
pohon. Terkejut bukan main Dewi Tengkorak. Baru sa-
ja ia gerakkan tubuh untuk menyambarnya. sekelebat
bayangan merah jambu itu telah mendahului me-
nyambar benda pusaka itu. Segera ia hantamkan tela-
pak tangannya. Namun cuma mengenai tempat ko-
song... Dan terdengar suara sesaat antaranya, ketika
dengan gerakan ringan Roro Centil jejakkan kaki tak
jauh di hadapannya.
"Hi hi hi.. Benda ini tak boleh jatuh ke tangan
siapa-siapa.! Ia milik Guruku.!" Berkata Roro. Yang
tampak wajahnya seperti orang bangun tidur. Ram-
butnya telah awut awutan. Sepasang matanya tampak
sayu... Dan senyumnya adalah senyum yang menggi-
riskan hati. Karena ternyata Roro tampak seperti orang
yang kurang waras. Pipinya bersimbah air mata. Na-
mun bibirnya tersenyum... Tampak aneh dan membuat
orang akan takut, karena mirip orang yang kesurupan.
Dewi Tengkorak mundur dua tindak, ketika dengan
tubuh terhuyung sang Pendekar Wanita Pantai Selatan
itu melangkah ke depan. Angin senja bersyiur agak ke-
ras, membuat rambut Roro menyibak berseliweran di-
dahinya. Roro memang tidak dapat dikatakan gadis
yang lugu dan ayu lagi saat itu. Karena ia memang
amat mirip dengan hantu perempuan yang cantik.
Namun amat menyeramkan. Bahkan ketika melangkah
lagi untuk mendekati si Dewi Tengkorak, tubuhnya
bergoyang-goyang bagai hantu arwah... Keringat dingin
mengalir deras di sekujur tubuh si wanita itu. Entah
mengapa ia jadi gentar. Bahkan untuk menggerakkan
kaki dan tangannya saja, terasa kaku bagai terbeleng-
gu. Pada saat itulah berkelebat bayangan putih. Yang
segera jejakkan kaki tiga tombak di sebelah kiri Roro.
Ternyata Joko Sangit. Kiranya sejak tadi ia telah men-
gikuti jalannya pertarungan. Tampaknya ia amat
mengkhawatirkan keadaan Roro Centil.
"Roro... Kau telah terluka dalam! Berikanlah
tombak pusaka itu padaku. Benda itu memang tak bo-
leh jatuh ketangan siapa-siapa. Aku akan memberi-
kannya pada Baginda Raja Kerajaan Medang. Karena
Sudan sepatutnya benda bersejarah itu menjadi milik
Kerajaan..! Percayalah! Walau kelakuan ku jelek, yang
suka main perempuan. Tapi aku tak dapat untuk ber-
buat kejahatan lain. Aku selalu menghormatimu sam
pai kapanpun. Berikanlah padaku Roro... Kelak bila
sudah beres urusan di puncak Mahameru, aku punya
banyak kisah yang menarik untuk kau dengarkan..!"
Berkata Joko Sangit dengan lemah lembut. Tampak
Roro Centil mengerutkan alisnya. Lalu tertawa.
"Apakah kau akan berikan lagi pada istrimu?
Atau untuk kau kangkangi sendiri benda ini.." Ber-
tanya Roro tanpa palingkan kepala.
"Ha ha ha... Joko Sangit tidak kemaruk pada
segala macam pusaka! Mengenai istriku ini. terserah-
lah kalau kau mau bikin mampus! Mana aku sudi me-
nolonginya." Berkata Joko Sangit, sambil tersenyum
pada si Dewi Tengkorak, yang tampak plototkan mata
saking gusarnya. Ternyata ia benar-benar telah kena
dikibuli si laki-laki ganteng bernama Joko Sangit itu.
Hingga ia mau menyerahkan tubuhnya bulat-bulat.
Tapi siapa mau salahkan? Karena ia juga mau. Men-
dengar kata-kata itu Roro Centil tertawa mengikik,
hingga sampai tubuhnya terguncang-guncang... Bah-
kan sampai-sampai Joko Sangit mundur beberapa
langkah. Gentar juga hatinya melihat Roro, yang seper-
ti setan perempuan dengan wajah beku bagai es. Dan
rambut yang beriapan. Roro memang telah bagaikan
seorang yang tidak waras. Tiba-tiba Sang Pendekar
Wanita ini perdengarkan. teriakan melengking pan-
jang... Membuat si Dewi Tengkorak terperangah. Tu-
buhnya yang tanpa busana itu tergetar hebat. Tapi ia
tak berusaha menutupi telinganya. Karana getaran su-
ara itu telah menggetarkan jantungnya. Hingga serasa
hilang sukmanya. tanpa ia tahu harus berbuat apa.
Dan pada saat itulah Roro Centil telah pentangkan se-
puluh jari tangannya. Menghantam ke depan. Bagai
dihempas angin taufan yang amat dahsyat. terdengar
teriakan tertahan si Dewi Tengkorak ketika tahu- tahu
tubuhnya terpental ke belakang lima tombak.
"Buk...! Tubuh bugil itu meluncur deras meng-
hantam batang pohon di belakangnya, dengan keki
terpentang ke atas. Dan pada detik itu juga. Meluncur
deras sebuah benda hitam panjang ke arah si Dewi
Tengkorak.
JROT..! Terdengar pekik panjang mengerikan,
ketika tombak pusaka Ratu Sima yang meluncur deras
itu, telah menancap tepat di pangkal paha si Dewi
Tengkorak. Joko Sangit cuma bisa menatap dengan
mulut ternganga. Kejadian itu begitu cepat. Dan di luar
dugaan sama sekali... Ketika ia berpaling ke arah Roro
Centil, ia hanya dapat melihat berkelebatnya bayangan
merah jambu. Yang dalam beberapa kejap saja telah
lenyap di kesamaran senja yang temaram.. Namun la-
pat-lapat masih terdengar suara di telinganya yang di-
barengi dengan gelak tertawa cekikikan yang memban-
gunkan bulu roma.
"Hi hi hi... hi hi... Silahkan kau bawa tombak
Pusaka itu. Joko Sangit! Tapi kalau kau coba-coba
mendustaiku, jangan harap aku akan membiarkan di-
rimu bergentayangan lagi di muka bumi ini..! Dan jan-
gan anggap lagi aku sahabatmu..." Joko Sangit terpaku
tak bergeming ditempatnya. Sukmanya seolah terbawa,
dengan kepergian si Pendekar Wanita Roro Centil.
Yang tak dapat dipastikan apakah ia sudah menjadi
orang yang tidak waras lagi. Selang sesaat terdengar
laki-laki itu menarik napas panjang. Seolah baru saja
terlepas dari amukan prahara badai taufan yang me-
nyesakkan dada. Ketika ia palingkan wajah ke arah si
Dewi Tengkorak, seketika bergidik tubuhnya. Karena
tubuh wanita bugil itu masih tergantung menempel di-
batang pohon, disangga tombak pusaka yang telah
memakunya di situ. Sedangkan posisi tubuhnya masih
tetap seperti tadi, yaitu dengan keadaan kaki teren-
tang. Sementara darah kental merembes turun dari se-
la-sela yang telah tertutup rapat oleh batang tombak
hitam... Walaupun seketika wajah Joko Sangit agak
memerah, dan terasa
panas, namun diam-diam ia ngeri juga dibuat-
nya. Di samping ia agak bingung. dengan cara bagai-
mana ia mencabut benda pusaka yang menancap begi-
tu..?
TUJUH
"ROROOOOOOOOO..! Tolonglah aku... Be-
baskan aku.. Bunuh si kakek pengemis bau ini! Aku
tak mau kawin dengan anak gadisnya. Aku tak akan
mau kawin dengan siapapun kalau tidak denganmu,
Roro..! Aku telah lama mencintaimu..." Ginanjar berte-
riak-teriak kalap. Tangan dan kakinya bergerak-gerak
menghantam kiri dan kanan. Akan tetapi amat kasi-
han bila melihatnya. Karena ia cuma bisa gerakkan ibu
jari kaki dan tangannya saja. Sedangkan dalam bayan-
gannya, ia telah mengamuk dan meronta dengan he-
bat... Pemuda itu terbaring pada sebuah pembaringan
dari batu beralas rumput kering dan jerami. Di atas
sehelai tikar yang sudah lusuh. Matahari yang tersem-
bul dari balik bukit itu. cuma mampu pancarkan sinar
menembus langit-langit kamar. Dan menerangi sedikit
bagian dalam ruangan Goa yang tersembunyi itu. Mu-
lut Goa yang cuma sedikit menganga itu agaknya pintu
masuk dari luar. Tapi di bagian. sebelah dalam, setelah
melewati lorong yang hanya muat untuk satu tubuh
manusia, terdapat ruangan yang luas. Bahkan disini
udara masuk cukup banyak. Karena tiga buah lubang
agak besar, menganga di setiap dindingnya. Kalau kita
coba melongok keluar lubang, akan ngeri melihatnya.
Karena di bawah sana adalah jurang yang amat dalam
sekali. Goa itu ternyata terletak di lereng tebing curam.
Untuk mendatangi Goa itu, tentu saja amat sulit bagi
manusia biasa. Atau bahkan orang yang ilmunya be-
lum mencapai tingkat tinggi, tak akan mampu me-
rayap kesana. Namun aneh... si pemuda Ginanjar itu
ternyata telah berada di dalam Goa misterius tersebut.
Siapa lagi yang membawanya kalau bukan si kakek
pengemis aneh itu.
Tebing terjal itu memang amat curam, dengan
di kiri dan kanannya jurang luas yang dalam terben-
tang luas. Burung-burung walet tampak berbondong-
bondong keluar dari lubang-lubang batu tebing. Sua-
ranya riuh bercicitan. Sedang di lubang lain binatang-
binatang ini berseliweran keluar masuk lubang dengan
suara berisik. Ketika mendengar suara teriakan pemu-
da itu, sesosok tubuh julurkan kepalanya dari sebuah.
Dan terdengar suaranya:
"Eh, bocah bandel! Kalau kau mau bersabar,
aku akan lepaskan kau..! Tapi kalau kau sanggup me-
nerima syaratnya!" Ginanjar berhenti berteriak. Kata-
kata itu terdengar bagai mendengung di telinganya. Ke-
tika ia membuka matanya, ia bagaikan orang linglung.
Karena sama sekali ia tak mengetahui ada di mana.
Ternyata ia telah mengigau. Karana barusan saja ia
terbangun dari tidurnya setelah semalam suntuk ia
terbaring di pembaringan itu. Keringatnya mengucur
deras dari dahinya. Setelah memulihkan ingatannya,
Ginanjar menyahuti:
"Berikan syaratnya kakek pengemis. Aku pasti
akan laksanakan, asal tak kau kawinkan aku dengan
cucu perempuanmu! Teriak Ginanjar. Akan tetapi terdengar suara tertawa si kakek geli sekali, terkekeh-
kekeh.
"He he heh heh heh. he he... Siapa yang punya
cucu perempuan? Kalaupun ada tak nantinya ku ka-
winkan denganmu. Tapi kau tetap takkan kubebaskan
sebelum kau penuhi janjimu..! Berkata si kakek. Men-
dengar kata-kata itu terbeliak sepasang mata
Ginanjar. Karena ternyata sang kakek aneh itu
cuma bergurau saja. Siapakah gerangan kakek aneh
yang berilmu tinggi itu..? Berfikir Ginanjar dengan se-
juta pertanyaan di benaknya. Tetapi diam-diam ia ber-
doa semoga si kakek itu bukan tokoh dari golongan ja-
hat.
DELAPAN
Beberapa pekan berlalu sudah... Puncak Ma-
hameru telah banyak didatangi tokoh-tokoh persilatan
dari berbagai pelosok. Mereka belum berkumpul se-
mua di atas puncak yang terasa berhawa panas itu.
Yang ditimbulkan dari hawa kawah itu Beberapa ke-
lompok tampak membuat tenda-tenda atau tempat
bermalam, di lereng-lereng gunung... Tentu saja tidak
semua dari mereka itu datang hanya untuk menonton
jalannya pertandingan. Apalagi undangan itu datang-
nya tidak resmi. Dan tak diketahui siapa yang telah
mengundangnya. Akan tetapi. tetap saja banyak yang
datang, karena disamping ingin mengetahui siapa ge-
rangan manusia yang telah bermulut besar itu. Yang
dengan berani, telah menyelenggarakan pertemuan be-
sar yang aneh itu. Juga kedatangan mereka adalah
mencari tahu tentang Ketua Rimba Hijau Ki Dharma
Tungga. Yang tak ada kabar beritanya sejak beberapa
tahun belakangan ini... Bahkan menurut perkiraan
beberapa tokoh tua kaum persilatan. yang sudah men-
gundurkan diri dari dunia Rimba Hijau, bahwa masa
jabatan Ketua Ki Dharma Tungga masih belum habis.
Dan segala sesuatunya haruslah seizin, atau sepenge-
tahuan sang Ketua atau wakil darinya. Yang tentunya
akan diadakan pertemuan diantara para tokoh pent-
ing, bilamana ada sesuatu perubahan mengenai hal-
hal memilih ketua baru sebelumnya. Tapi hal seperti
ini adalah benar-benar keterlaluan. Bahkan mengenai
siapa yang telah menyelenggarakan upacara saja, tak
diketahui. Sebenarnya untuk tidak datangpun tak ada
persoalan. Karena siapa tahu kalau hal itu adalah un-
tuk memancing kekacauan belaka. Namun sebagai
kaum Rimba Hijau, yang amat peka dengan segala se-
suatu kejadian aneh.. Membuat banyak juga yang ber-
datangan ke puncak Mahameru... Ternyata pada pun-
cak gunung itu, di lereng kawah ada terdapat tanah ra-
ta. Dimana di sekelilingnya telah tertancap tonggak-
tonggak kayu yang berbentuk melingkar. Walaupun
tak ada tanda-tanda bendera atau lambang. Namun
mereka dapat memastikan akan terbukti juga bahwa si
pengundang itu tidak main-main. Karena telah menye-
diakan tempatnya. Atau arena untuk suatu pertarun-
gan. Perhitungan waktu yang ditetapkan adalah den-
gan melihat bulan. Dimana di saat munculnya selarik
garis dilangit. Menandakan itulah waktunya diadakan
pertandingan untuk menentukan calon Ketua. Dan se-
belum masa bulan muncul itu, mereka harus sudah
berkumpul. Pertarungan cuma diadakan satu pekan.
Bila lewat waktu yang ditentukan, maka pemilihan ke-
tua telah berakhir. Saat waktu yang ditentukan tinggal
tiga hari lagi. Semua kaum persilatan yang datang,
menanti dengan hati berdebar. Ingin sekali mereka melihat siapa gerangan tokoh Rimba Hijau. yang telah be-
rani sembrono untuk mengadakan penyelenggaraan
pertemuan besar-besaran yang misterius itu.. Namun
dihari berikut, di saat waktu tinggal dua hari lagi.
Menjelang pagi, telah tertancap disekeliling tanah rata
itu berpuluh-puluh bendera MERAH dengan simbol li-
ma ekor Serigala. Kelima ekor Serigala-Serigala itu
cuma bergambar kepalanya saja. Dan berwarna putih.
Berbaris sepanjang bendera. namun di atas dasar war-
na hitam. yang berbentuk Serigala utuh dengan tu-
buhnya. Dan menjelang satu hari lagi. Di tengah tanah
rata itu telah terbentang sebuah kemah tertutup. Ber-
warna hitam. Sedangkan di atas kemah itu telah berdi-
ri tiang yang tinggi. Dengan bendera yang terlihat se-
puluh kali lebih besar, dari bendera-bendera yang ter-
dapat disekeliling tanah rata. Tak ada seorangpun dari
para pengunjung yang berani mengganggu atau me-
masuki tenda hitam itu. Bahkan kapan berdirinya ke-
mah itu saja tak ada yang tahu. Seandainya mungkin
ada, sudah pasti akan tutup mulut. Karena disamping
harus waspada akan setiap keributan. Karena diseke-
liling mereka bukan dari golongan lurus saja. Tokoh-
tokoh kaum hitam pun banyak yang berdatangan.
Khawatir. salah-salah sebelum di adakannya pertan-
dingan, nyawa sudah melayang siang-siang... Menje-
lang malam, di hari esok yang bakal dipastikan di ada-
kannya pertarungan untuk pemilihan Ketua. Hampir
semua dari pengunjung, tak ada yang berani tidur.
Bahkan tak bisa tidur. Karena mereka mengkhawatir-
kan akan hal-hal yang bisa saja terjadi setiap saat.
Menjelang tengah malam sekonyong-konyong terden-
gar suara melengking tinggi. Berkumandang di udara.
Seperti suara jeritan arwah yang mati penasaran. Atau
mirip raungan serigala... Membuat beberapa kelompok
dari para pengunjung, terperangah. Dengan puluhan
pasang mata melotot tak berkedip, menatap ke arena
yang sunyi lengang itu. Bahkan gelapnya malam mem-
buat mereka tak dapat melihat apa-apa di hadapan-
nya. Sesosok tubuh telah berkelebat cepat sekali me-
masuki tenda hitam, tanpa menimbulkan suara. Dan
selang sesaat, telah disusul oleh lima sosok bayangan
lainnya. Namun gelap pekatnya malam, membuat tak
seorangpun yang melihat. Suasana tetap sepi lengang
tak berubah. Hanya kepak sayap kelelawar, sekali se-
kali terdengar. Membuatnya terkesiap. dengan jantung
berdetak keras. Tapi mereka cuma bisa terdiam dan
memaki dalam hati.
Fajar pun menyingsing... Seakan-akan lama
sekali malam itu berlalu. Namun yang dinanti sebentar
lagi akan tiba. Tampak beberapa kelompok yang terpi-
sah-pisah itu mulai bergeser beringsut lebih dekat lagi,
ke sisi tanah datar yang dikelilingi bendera merah ke-
cil-kecil itu. Seperti tak sabar untuk segera melihat
siapa yang bakal muncul ditengah arena. Tenda hitam
itu masih tetap tertutup rapat. Tanpa seorangpun tahu
apa dan siapa didalamnya. Hingga Matahari mulai
menggelincir naik, suasana masih belum berubah.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan salah seorang
dari pengunjung yang agaknya sudah tak sabar lagi.
"Hoooiiiiii...! Yang berada di dalam tenda hitam!
Tampakkanlah siapa dirimu..! Agar kami tahu siapa
gerangan yang telah menyelenggarakan pertemuan gila
ini..!" Demikian teriakannya. Dan disambut dengan
gemuruh suara-suara di sekelilingnya. Seperti menye-
tujui tindakan berani yang telah diperbuatnya. Tapi
tampaknya tak ada seorangpun yang berani mengelua-
rkan suara.
Selang sesaat, tiba-tiba kain tenda hitam tersingkap. Dan dua sosok tubuh melompat keluar. Ke-
dua orang itu mengenakan jubah berwarna hijau. Wa-
jahnya tampak gagah dan masih muda-muda. Kedua-
nya menjura ketiga jurusan. Ternyata kedua orang itu
masing-masing bertubuh cacad. Yang seorang putus
sebelah kakinya. Dan yang seorang lagi putus kedua
tangannya. Salah seorang sudah buka suara:
"Saudara-saudara kaum Rimba Persilatan. Ka-
mi menghaturkan terima kasih atas kedatangan kalian
kemari. Hehe hehe... he he.... Mengenai hal pemilihan
Ketua, yang memang dirahasiakan ini, kami sanggup
menunjukkan bukti. Bahwa pertemuan yang kami
adakan bukanlah pertemuan gila..!" Selesai berkata,
kedua tubuh itu kembali melompat ke belakang. Dan
berdiri tegak di kiri kanan tenda. Detik berikutnya me-
lompat lagi dua sosok tubuh, laki-laki dan wanita. Dan
setelah menjura ketiga jurusan, kedua orang muda in-
ipun melompat mundur. Dan berdiri berjajar di kiri-
kanan tenda. Beberapa puluh pasang mata menatap
wajah-wajah keempat orang itu dengan tak berkedip.
Selang sesaat, telah melompat lagi keluar tenda. Kali
ini hanya seorang... Dia seorang wanita yang menyan-
dang dua pedang di belakang punggungnya. Dan sete-
lah menjura ketiga jurusan, wanita ini berkata lantang:
"Nah..! Adakah diantara kalian yang akan men-
gatakan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan gi-
la...?" Tampak ia palingkan kepala ketiga penjuru. Tapi
tampaknya tak ada seorangpun yang berani mengelua-
rkan suara. Selang sesaat si wanita sudah berkata lagi:
"Nah! Kalau begitu pertandingan akan segera di
mulai..! Silahkan siapa yang berani maju terlebih dulu!
Kami adalah terdiri dari lima orang. Bila diantara ka-
lian ada yang ingin maju seorang demi seorang. Akan
kami layani. Tetapi haruslah dapat mengalahkan kami
satu persatu. Yaitu dengan menembus pertahanan ba-
risan kelompok dari "Lima Serigala Malaikat". Sean-
dainya tak ada yang berani maju dengan seorang diri,
silahkan maju dengan sekelompok. Tapi tidak boleh le-
bih dari sepuluh orang. Nah. waktu telah tiba..!" Teriak
si wanita berpedang dua itu. Dan tiba-tiba ia telah ke-
luarkan sebuah benda dari saku bajunya. Benda itu
disulut dengan api. Setelah mundur lima tindak. Terli-
hat benda itu berbunyi mendesis, serta mengeluarkan
asap. Dan beberapa detik kemudian...
Whusssss...! Benda yang panjangnya sejengkal
itu meluncur keudara menimbulkan percikan api dan
asap tebal. Kira-kira 100 tombak terdengar bunyi leda-
kan keras.
DHUARRRR...! Benda itu telah meledak di ang-
kasa. Menimbulkan cahaya berwarna-warni sebesar
lingkaran tanah datar di bawahnya. Kemudian si wani-
ta itupun melompat mundur. Dan berdiri berjajar di
sebelah keempat kawannya. Beberapa saat mereka
menunggu orang pertama yang akan maju ke tengah
arena. Masing-masing para pengunjung tampak ter-
dengar bersuara riuh. Kepala-kepala mereka bergerak
kekiri-kekanan seperti ingin melihat siapa yang berani
maju. Tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh ke tengah
arena. Ternyata seorang laki-laki tua bertubuh gemuk.
Dengan perutnya yang buncit menggembung. Laki-laki
ini memakai jubah berwarna putih. Pada lehernya ter-
gantung seuntai tasbih dari perak. Dia lantas menjura
ke hadapan kelima wajah di hadapannya seraya berka-
ta:
"Maaf, kami datang mewakilkan diri dari partai
kami yaitu Partai Giri Manuk. Aku sendiri bergelar si
Tasbih Perak. Kedatanganku adalah ingin menanya-
kan, apakah dalam pertandingan ini tak disediakan
beberapa orang juri..? Karena mana mungkin suatu
pertandingan diadakan, tanpa adanya juri. Jadi siapa
yang dapat menentukan kalah menangnya..?" Suara si
gendut Tasbih Perak ini terdengar lantang, walau tam-
paknya ia berkata biasa saja. Pertanda ia bukan seo-
rang tokoh sembarangan. Apa lagi Partai Giri Manuk
sudah tersyiar keharuman namanya di Rimba Hijau.
Mendengar kata-kata si gendut itu, serentak terdengar
suara teriakan ramai, yang membenarkan ucapan atau
sanggahan itu. Akan tetapi kelima orang di hadapan-
nya telah melompat berbareng ke depan. Dan sekaligus
membentuk barisan pertahanan. Berbentuk kerucut.
Dengan paling depan adalah si wanita berpedang dua.
Terdengar ia berkata:
"Heh! Tasbih Perak! Penentuan juri adalah oleh
pihak kami sendiri. Tak usah pakai macam-macam
urusan rumit. Kalau kau sanggup menembus barisan
kami, dan menumbangkan kami satu persatu. Kau bo-
leh angkat dirimu menjadi Ketua..!" Si Tasbih Perak
tampak kerutkan kening. Sepasang alis lebat yang
hampir memutih semua itu mencuat ke atas. Ia sudah
lantas berkata: "Mana bisa ada peraturan begitu..? Ba-
gaimana kalau kalian berlaku curang...? Hal semacam
ini tak bisa dibenarkan!" Akan tetapi Siti Jenang telah
membentak.
"Segala keputusan adalah di tangan kami. Se-
mua pengunjung dapat dijadikan saksi. Kalau ada hal
kecurangan. kalian boleh memprotes..!"
"Huh! Benar-benar peraturan gila..!" Memaki si
Tasbih Perak. Dan ia sudah akan bergerak untuk me-
lompat keluar arena. Akan tetapi. sekali lompat si wa-
nita telah melompat menghadang. Seraya pentang ke-
dua tangannya, diiringi bentakan keras. "Tunggu Tas-
bih Perak! Kau sudah masuk ke dalam arena. Berarti
kau harus menghadapi kami. Bila kau mau keluar, si-
lahkan tinggalkan nyawamu..!" Dan keempat kawan
dari Lima Serigala Malaikat segera telah mengurung-
nya. Melengak si Tasbih Perak. Sepasang matanya jadi
mendelik gusar. Memandang sekeliling ia dapati wajah
wajah kaku yang menatap tajam padanya. Dan ketika
menatap si dua manusia cacad itu, hati si Tasbih Pe-
rak jadi tersentak. Wajah itu ia mengenalnya. Dan ia
sudah lantas berkata:
"He..!? Bukankah anda berdua si Pendekar
Kembar adanya..?" Terdengar suara tertawa sinis. Si
kaki buntung sebelah menyahuti.
"Wajah kami memang wajah si Pendekar Kem-
bar. Akan tetapi kami adalah Dua Siluman Gunung
Kawi, yang akan menumpas seluruh golongan kaum
putih. Kami telah menguliti kulit muka si pendekar
kembar tolol itu..!" Mendesis suara Kala Munget. Ter-
beliak mata si Tasbih Perak. Wajahnya menampilkan
kemarahan hebat.
"Kalau begitu kalian si Kala Munget dan Kala
Wesi adanya. Sungguh perbuatan biadab yang kalian
lakukan!" Dan ia sudah mencabut keluar Tasbih Pe-
raknya. Namun ia sudah membentak lagi dengan sua-
ra lantang:
"Baik. Lima Serigala Malaikat! Bentuklah bari-
san kalian! Aku orang pertama yang akan mewakili
perguruan dari Partai Giri Manuk. Tapi bukan untuk
menduduki jabatan Ketua, melainkan untuk menum-
pas lima iblis tengik yang gila pangkat..!" Tadinya Kala
Wesi sudah mau menerjang karena sudah tak sabar
untuk menghabisi orang. Akan tetapi telah diberi isya-
rat oleh Siti Jeneng. Karena hal itu akan di anggap pa-
ra pengunjung sebagai tindakan tak beraturan. Segera
saja telah berlompatan kelima Serigala Malaikat untuk
membentuk barisan. Kali ini susunan berubah. Kele-
lawar Besi berada didepan. Bagian belakang dua
orang, yaitu Kala Munget dan Kala Wesi. Dan dua
orang lagi agak melebar di belakang, adalah Siti Je-
nang dan Rimba Wengi. Siti Jenang telah mencabut
keluar sepasang pedang hijaunya, milik si Pendekar
Kembar Gambir Anom dan Gambir Sepuh. Kini semua
mata terpantang lebar di luar arena, untuk menyaksi-
kan pertarungan seru. Dengan hati berdebar. Si gen-
dut Tasbih Perak telah mundur dua tindak. Sepasang
matanya tampak merah bagai biji saga, ia sebagai seo-
rang tokoh tua kaum putih, benar-benar merasa terhi-
na kalau tak turun tangan menumpas kelima wajah ib-
lis di hadapannya. Segera saja ia berteriak keras, se-
raya menerjang dengan gerakan kilat. Tasbihnya ber-
kelebat menghantam. Sedangkan sebelah lengannya
bergerak memukul si Kelelawar Besi terdengar men-
dengus. Sepasang lengannya meluncur ke arah dada.
Sedang pukulan tasbihnya ia elakkan dengan miring-
kan kepala. Sementara pukulan sebelah lengannya ia
tak mengurusi, karena di belakang ada Kala Munget.
Terkejut bukan main si Tasbih Perak. Segera ia gerak-
kan tubuh menghindar ke samping. Kakinya bergerak
menyambut pukulan kedua lengan si Kelelawar. Ada-
pun hantaman Tasbih Peraknya mengenai tempat ko-
song. Namun pukulan lengannya telah disambut oleh
Kala Munget dengan gubatan ujung lengan jubahnya.
Kala Munget memang tak mempunyai lagi kedua len-
gan. Yang sudah putus sebatas siku. Namun dengan
ujung lengan jubahnya, ia telah mampu menahan se-
rangan lawan bahkan dapat menggubat lengan lawan.
Pada saat itulah si Kelelawar yang serangannya lolos,
mendapat sambutan terjangan kaki. Maka cepat bagai
kilat. Sepasang lengan besi itu telah berhasil menceng
keram kaki lawan. Terdengar teriakan parau si Tasbih
Perak. Dan di saat teriakannya belum lagi habis. Tu-
buhnya telah terlempar ke belakang barisan. Dalam
keadaan kaki hancur, tubuh si Tasbih Perak meluncur
deras, terbawa oleh sentakan lengan jubah Kala Mun-
get. Dibawah Siti Jenang telah menanti dengan sepa-
sang pedang hijaunya. Dan Rimba Wengi sudah siap
menghantam dengan telapak tangannya. Perlu diketa-
hui Rimba Wengi adalah yang dijuluki Siluman Tela-
pak Darah. Bila pukulannya mengenai dada atau
punggung, maka jangan harap manusia dapat berta-
han hidup. Karena sebelah lengannya telah mengan-
dung racun yang amat hebat. Dan juga bukan lengan
asli. Yaitu sebuah lengan palsu terbuat dari perunggu,
yang telah terendam dengan air racun selama bebera-
pa tahun. Dalam keadaan luka parah. karena sebelah
tulang kakinya hancur, si Tasbih Perak dapat melihat
berkelebatnya dua pedang hijau mengarah perut. Dan
di sebelah kiri telah siap sebuah lengan dengan tela-
paknya berwarna hitam untuk menghantam dada.
Terperangah ia seketika. Tiba-tiba ia gunakan tubuh-
nya untuk bersalto di udara. Kedua lengannya segera
ia gerakkan untuk menghantam. Terpaksa Rimba
Wengi berkelit menghindar. Dan Siti Jenang melompat
dua tindak. Detik berikutnya, dengan menggelinding-
kan tubuhnya berjungkir balik... ia telah berhasil lolos
dari serangan kelima Serigala Malaikat. Walaupun Kala
Wesi tak punya kesempatan untuk menyerang. Dengan
berdiri pada kedua lutut, si Tasbih Perak sudah siap
menanti serangan-serangan selanjutnya. Akan tetapi
sudah terdengar suara teriakan dari para pengunjung
diluar arena yang menyatakan kemenangan si Paderi
Tasbih Perak. Belum lagi reda suara riuh itu tahu-tahu
Tasbih Perak telah roboh terjungkal, untuk tidak berkutik lagi. Seketika suara riuh itu terhenti. Terdengar-
lah suara Siti Jenang dengan lantang diiringi suara
tertawanya.
"Hi hi hi... Apakah kalian mau mengangkat
orang mati untuk menjadi Ketua..!?" Dan serentak lima
orang dari luar arena masuk ke tengah, dengan ber-
lompatan. Kelima Serigala Malaikat menyingkir ke tepi.
Dan biarkan mereka menghampiri si Tasbih Perak
yang masih tertelungkup dengan sebelah kaki hancur.
Segera mereka memeriksa tubuh si paderi gendut itu.
Dan tampak seketika wajah mereka berubah pias. Ter-
nyata si Tasbih Perak benar-benar telah tewas... Tak
berayal lagi segera mereka menggotongnya cepat ke-
luar arena. Suara riuh kembali terdengar. ketika bebe-
rapa orang diluar arena mengerumuni mayat si Tasbih
Perak. Namun kelima orang yang mengangkutnya, se-
gera menggotong untuk meninggalkan arena.
Berturut-turut berkelebat delapan orang tokoh
persilatan maju ketengah arena, rata-rata mereka me-
nyandang pedang. Tanpa ayal lagi segera si Lima Seri-
gala kembali membentuk barisan. Dan saat berikutnya
kembali terjadi pertarungan seru. Delapan orang itu
adalah dari Partai Rajawali. Tentu saja mereka datang
bukan atas keinginan merebut kursi Ketua Rimba Hi-
jau. Karena mereka datang untuk membalas dendam.
Mereka adalah orang-orang atau murid utama dari
Partai Rajawali. Yang diutus oleh kedua gurunya si Se-
pasang Rajawali Putih. Untuk mengecek kebenaran
adanya pertemuan besar itu. Semua orang menahan
napas, ketika kelima Serigala Malaikat menerjang den-
gan ganas. Melancarkan serangan-serangan keji. Dua
orang menjerit tatkala lengan si Kelelawar Besi men-
cengkeram hancur sebelah kaki, dan sebelah lengan
dari kedelapan peserta. Di lain tempat, satu orang ber
teriak ngeri, karena dadanya tertembus tongkat berca-
gak Kala Wesi. Dan seorang terjungkal dengan kepala
remuk, oleh Rimba Wengi, dengan dada terpanggang
oleh dua bilah pedang hijau. Hanya dalam waktu tak
berapa lama, kedelapan murid utama Partai Rajawali
telah roboh. Serentak kelima Serigala Malaikat melom-
pat kedua sisi. Berarti telah mempersilahkan orang un-
tuk mengambil mayatnya. Segera beberapa orang maju
melompat, tapi bukan untuk mengambil mayat. Me-
lainkan menggempur kelima Serigala Malaikat.
"Iblis-iblis keji...! Bukan begini caranya untuk
pemilihan Ketua..!" Berteriak salah seorang. Ternyata
Warok Brengos yang telah maju melompat, diikuti
sembilan orang kawannya. Segera terjadi pertarungan
hebat. Mereka menerjang tanpa mau perduli lagi den-
gan segala macam aturan. Tapi hanya sekejap... Kare-
na telah terdengar teriakan-teriakan ngeri. Beberapa
tubuh telah terjungkal untuk tidak berkutik lagi.
Hanya tinggal lagi Warok Brengos dan dua kawannya.
Kematian beberapa kawannya itu memang aneh. kare-
na kelima Serigala belum melakukan pukulan, dan
cuma berkelebatan saja melompat untuk menyingkir.
Hal mana membuat Warok Brengos agak curiga den-
gan keadaan di dalam tenda. Tiba-tiba si Pisau Ter-
bang dari Madura itu telah kelebatkan tiga buah pi-
saunya. Membersit tiga benda halus menyambar tiga
buah pisau. Yang segera ketiga benda itu meluncur ba-
lik dengan cepat ke arah tiga orang itu. Dua dari ka-
wan Warok Brengos terjungkal roboh. Namun si Bre-
wok berhasil menangkap kembali senjatanya. Wajah-
nya seketika berubah pucat. Dan ia telah keluarkan te-
riakannya...
"Iblis-iblis licik..! Kalian sembunyikan orang di
dalam tenda untuk main bokong!" Akan tetapi sebelum
ia melompat keluar arena, si Brewok telah keluarkan
jeritan ngeri... Karana dua buah pedang hijau telah
menembus punggungnya. Seketika tubuhnya roboh
terguling. Dan berkelebatlah Siti Jenang. untuk kem-
bali mencabut senjatanya yang telah tertancap amblas
itu. Dan ia sudah berkata lantang...
"Saudara-saudara..! Manusia ini telah berani
memfitnah. Dan bertarung dengan tak beraturan! Su-
dah selayaknya kami membunuhnya mampus..!" Dan
teriaknya lagi.
"Nah..! Silahkan kalau ada yang mau maju la-
gi..!" Akan tetapi belasan orang tampak telah bergerak
meninggalkan arena. Bahkan juga diiringi dengan te-
riakan caci maki. Wajah-wajah mereka menampakkan
kegusaran. Akan tetapi pada saat itu berkelebat dua
sosok tubuh. Kedua orang itu berpakaian putih putih.
Ternyata kedua orang itu laki-laki dan wanita. Melihat
kemunculan kedua orang ini, Siti Jenang berkelebat
melesat tiga tombak di hadapannya. Seraya berkata
dengan nada dingin:
"Bagus..! Kiranya Sepasang Rajawali Putih ber-
kenan juga datang kemari! Hi hi hi... Apakah kalian
mengenali sepasang Pedang Mustika Hijau ini..?!" Ber-
kata Siti Jenang, seraya menunjukkan kedua bilah pe-
dang di kedua lengannya. Terkesiap sepasang Rajawali
Putih. Ia segera mengetahui benda itu milik siapa.
"Keparat..! Apa yang telah terjadi dengan kedua
murid kembar ku itu..?" Teriak si wanita. Sedang si la-
ki-laki tertegun menatap sepasang pedang hijau itu.
"Hihi... hihi... hi hi... Kedua murid kembar mu
si Pendekar Kembar itu telah kami kuliti kulit wajah-
nya. Dan orangnya telah kami bunuh mampus!" Teriak
Siti Jenang. Dan kembali melompat ke belakang.
"Setan laknat..!" Teriak si wanita. Dan ia sudah
hendak melompat menerjang. Akan tetapi telah diha-
langi oleh si laki-laki.
"Sabarlah istriku..! Jangan bertindak gegabah!
Mereka telah membentuk kelompok dari lima orang
yang berkepandaian tinggi!" Berkata si laki-laki. Akan
tetapi telah terdengar teriakan Siti Jenang kembali,
sementara kelima manusia berjulukan si Lima Serigala
Malaikat itu semakin maju mendekati.
"Hi hi hi... sepasang Rajawali Putih ternyata ra-
gu-ragu. Lebih baik serahkan saja jiwa kalian! Pende-
kar-pendekar macam kalian hanya menjadi perintang
saja bagi kami..!"
"Setan-setan laknat..! Majulah..!" Teriak si wa-
nita. Dan ia telah keluarkan senjatanya sepasang ca-
kar basi berbentuk kaki burung Rajawali. Adapun si
laki-laki mencabut keluar sebuah pedang tipis, beru-
jung melengkung bagai paruh burung.
"Hm... Hati-hatilah istriku..! Didalam tenda ada
manusia yang dapat pergunakan senjata rahasia un-
tuk membokong kita. Jangan kau sampai terpancing
olehnya..!" Wanita ini anggukkan kepala. Ia tidak lang-
sung menerjang, namun bersuit keras. Tiba-tiba mun-
cul seekor burung Rajawali raksasa, yang besarnya ti-
ga kali tubuh manusia. Ia sudah lantas memberi perin-
tah.
"Putih..! Kau hancurkan tenda itu. Dan kacau
barisannya..!"
SEMBILAN
Sesosok tubuh berlari cepat sekali bagaikan
anak panah lepas dari busurnya... beberapa anak sun-
gai telah dilompatinya. Bahkan lereng terjal dan lembah ngarai ia turuni, untuk kembali mendaki. Seperti
tak ada rasa lelah sama sekali tampaknya. Sosok tu-
buh itu susah dilihat bentuknya. Karena hanya bayan-
gan putih saja yang terlihat meluncur pesat... Ketika
tiba di lereng Mahameru. tampak ia berhenti. Ternyata
ia tengah mengatur pernapasan sejenak. Dengan ber-
tolak pinggang ia menatap ke arah puncak Mahameru.
Ternyata ia seorang pemuda gagah. Menyandang pe-
dang di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Ginanjar,
si pemuda murid mendiang Pendekar Bayangan Bayu
Seta. "Aku harus tiba di puncak sebelum terlambat,
dan banyak korban berjatuhan!" Mendesis keluar sua-
ra dari mulutnya. Tiba-tiba ia menyibak bajunya. Sege-
ra terlihat memancar sinar kemilau berwarna pelangi
dari sebuah benda yang tergantung di dadanya. Ter-
nyata benda itu adalah sebuah Medali Bentuknya bu-
lat sebesar piring kecil. Dengan ukiran indah dari emas
murni. Bertatahkan intan berlian di sekelilingnya. Se-
dang pada bagian tengahnya adalah batu pualam ber-
warna putih. Yang berkilatan terkena cahaya sinar ma-
tahari. Ginanjar perhatikan benda di tangannya. Sete-
lah menghela napas sejenak, segera ia tutup lagi ba-
junya. Kembali ditatapnya puncak Mahameru. Walau-
pun tampak keringat mengucur deras membasahi se-
kujur tubuhnya. tampak semangat tetap menyala di
sinar matanya. Dan kembali ia menggenjot tubuh un-
tuk berlari lagi mendaki lereng... Tapi baru tujuh-
delapan kali kakinya menindak, telah terdengar benta-
kan. Dan tiga sosok tubuh telah muncul di hadapan-
nya.
"Berikan benda itu pada kami, sobat muda..!
Dan silahkan kau teruskan perjalananmu..! Kami yang
akan mengantarkannya pada wakil Ketua Rimba Hi-
jau!" Ginanjar hentikan tindakannya. Sepasang matanya menyapu wajah tiga manusia dihadapannya.
Ternyata yang mencegat adalah si Dua Dewi dan Gu-
riswara si Pemabuk Dermawan. Tentu saja Ginanjar
jadi melengak. Menyesal ia telah mengeluarkan benda
itu dari balik bajunya. hanya untuk memandang akan
keindahannya.
"Hm. siapakah wakil dari Ketua Rimba Hijau..?"
Balik bertanya Ginanjar. Setelah terdiam sejenak, Gu-
riswara menyahuti.
"Kau akan dapat mengetahuinya nanti. Benda
itu tak boleh sampai orang dari lain golongan menge-
tahui, karena amat berbahaya. Aku mengkhawatirkan
keselamatannya. hingga akan mencemarkan nama wa-
kil dari Ketua Rimba persilatan lama..!" Ginanjar ke-
rutkan alisnya. Kata-kata itu sama juga dengan batu
yang tercebur ke laut, karena Ginanjar telah mengeta-
hui persoalan mengenai urusan pemilihan Ketua kaum
Rimba Hijau sampai ke akar-akarnya. Ia sudah lantas
berkata:
"Heh..! Begitukah..? Justru akulah wakil dari
Ketua kaum Rimba Hijau. Dan benda di tanganku ini
sebagai tandanya..!" Melengak seketika ketiga wajah
dihadapannya. Akan tetapi si Dewi Kenari telah mem-
bentak:
"Bagus..! Kalau begitu kau harus mampus ter-
lebih dulu..! Dan kami yang akan menggantikan seba-
gai wakilnya..!" Kata-katanya telah dibarengi dengan
terjangan dua Roda Baja yang meluncur deras ke arah
Ginanjar. Terkesiap pemuda ini, namun ia telah was-
pada. Sebelum kedua benda itu menyentuh tubuhnya,
ia telah berkelebat menghindar. Namun Sawur Sari te-
lah menerjang dengan pedangnya. Ginanjar gertak gi-
ginya. Alisnya naik ke atas. Wajahnya menampilkan
kemendongkolan hatinya. Namun sekejap ia telah cabut pedang pusakanya dari pinggang. Berkelebat sinar
perak...
Trang!. Terdengar teriakan tertahan si wanita.
Dan melompat mundur tiga tombak. Sambaran pedang
Ginanjar yang telah dibarengi dengan tenaga dalam
itu, ternyata telah membuat pedangnya terlempar pu-
tus. Pada saat itu juga telah melompat Guriswara. Ter-
nyata ia telah pergunakan dua kapak tipis, yang ia ke-
luarkan dari belakang punggung. Dua sinar berkelebat
menyilang kearahnya, dengan suara bersiutan. Terke-
jut juga Ginanjar. Dan gunakan pedang untuk me-
nangkis.
Trang..! Ginanjar terhuyung tiga langkah. Se-
dang Guriswara terpental tiga tombak. Ternyata kedua
senjata sama-sama senjata pusaka. Dan tenaga dalam
keduanya berbeda satu tingkat. Terkejut Guriswara.
karena tak menyangka tenaga dalam lawan berada di-
atasnya. Tak berayal lagi segera ia isyaratkan kedua
wanita untuk bantu mengurung. Ginanjar curahkan
perhatiannya. Selama satu bulan ia sudah mendapat
gemblengan dari si kakek pengemis, ternyata telah
membuat ilmu kepandaiannya maju pesat. Bahkan te-
naga dalamnya bertambah dua kali lipat. Ketiga manu-
sia itupun telah menerjang dengan berbareng. Dua ro-
da baja meluncur deras ke arah tenggorokan dan dada.
Dibarengi berkelebatnya dua kapak menyambar kaki.
Sawur Sari melompat tiga
tombak seraya lepaskan segenggam jarum be-
racun. Keringat dingin seketika merembes keluar dari
tengkuk si pemuda. Tubuhnya berputar bagai gasing
menimbulkan angin dahsyat. Seperti juga sekonyong-
konyong di hadapan ketiga penyerang itu telah terjadi
angin puyuh, yang membuat serangan senjata rahasia
Sawur Sari buyar. Kedua roda baja Kili Cantrik terpental balik. Adapun serangan kedua kapak Guriswara
menemui kegagalan, karena tubuhnya jadi terhuyung
kebelakang. Dan terpaksa ia meramkan sepasang ma-
tanya, karena debu dan pasir yang bergulung-gulung
itu menyambar muka. Ketiganya bergulingan mundur
dua tiga tombak. Ketiganya sudah berdiri lagi untuk
kembali menerjang... Akan tetapi tiba-tiba terdengar je-
ritannya... Tahu-tahu ketiga tubuh itu telah terjungkal
roboh. Ginanjar masih berdiri terpaku ditempatnya
dengan memandang heran. Tampak tiga tubuh itu
berkelojotan bagai ayam di sembelih. Lalu terdiam un-
tuk melepaskan nyawa... Pemuda ini putar kepala dan
tubuh ke beberapa arah. Akan tetapi ia tak melihat
siapa-siapa. Ketika ia coba memeriksa ketiga tubuh
itu, ternyata tiga buah lidi aren telah tertancap dimas-
ing-masing tenggorokannya. Tahulah ia bahwa orang
yang telah menolongnya adalah si kakek pengemis.
Alias Ki Dharma Tungga. Yang ternyata tiada lain dari
si Ketua Kaum Rimba Hijau.
"Guru..!" Teriak Ginanjar. Akan tetapi tak ada
sahutan disekelilingnya. Namun lapat-lapat terdengar
suara yang menitahkan agar cepat naik ke puncak
Mahameru. Pemuda ini tampilkan wajah girang... Dan
tak berayal lagi segera ia enjot tubuh dan segera berke-
lebat naik meniti lereng untuk selanjutnya lenyap dike-
rimbunan pepohonan...
SEPULUH
Prak..! Prak..! Terdengar suara hantaman ke-
ras, seperti suara segenggam sapu lidi yang dihantam-
kan ke pohon. Tampak berkelebat sebuah bayangan
merah jambu berseliweran di hutan pinus itu. Yang
sebentar-sebentar diiringi dengan bunyi keprekkan ke-
ras menghantam batang-batang pohon. Terdengar ter-
tawa cekikikan dimana bayangan merah jambu itu
berkelebatan. Sesosok tubuh itu tak terlihat jelas. Tapi
gerakannya cepat sekali. Hingga yang terlihat hanya
bayangan pakaiannya saja, berseliweran bagaikan
hantu siluman. Suara tertawanya membuat orang ber-
gidik seram, dan membangunkan bulu roma... Selang
sesaat tampak bayangan merah jambu itu keluar dari
rimbunnya pohon-pohon pinus. Dan melesat cepat ke
atas sebuah batu besar. Berbarengan dengan keluar-
nya sang tubuh itu, terdengarlah suara berkeriutan.
Disusul dengan gemuruh pepohonan yang tumbang.
Ternyata hutan pinus itu hampir separuhnya bertum-
bangan roboh... Suaranya bergemuruh. Tempat itu ba-
gaikan tengah dilanda gempa. Hanya beberapa kejap
saja tempat yang rimbun itu telah menjadi terang se-
paruhnya. Batang-batang pohon telah menjadi rebah.
bertumpangan saling tindih. Bagaikan baru saja di-
amuk oleh tangan raksasa. Ternyata pada setiap po-
hon, akan terlihat batang bagian tengahnya hancur...
Sosok tubuh di atas batu besar itu berdiri menatap
dengan tampilkan senyum aneh. Angin keras yang
membersit dari atas perbukitan, membuat rambutnya
yang panjang berkibaran tertiup angin. Tampaknya
wajah itu belum juga merasakan kepuasan. Dan tiba-
tiba saja ia telah melompat turun dari batu besar itu.
Tubuhnya membungkuk. Sepasang lengannya tiba-tiba
bergerak untuk mengangkat batu besar itu. Luar bi-
asa. Dan hampir tak masuk di akal. Karena gadis ber-
tubuh agak kurus, dengan pinggang yang ramping itu,
ternyata mampu mengangkat batu yang besarnya
hampir sebesar kerbau... Terdengar suara teriakan me-
lengking panjang. Dan tahu-tahu batu besar itu telah
melayang ke atas, kira-kira sepuluh kali tinggi manu-
sia. Saat selanjutnya di luar dugaan tubuh si gadis te-
lah meluncur pula, di saat batu besar itu berhenti se-
saat di udara... Berkelebat bayangan merah jambu ce-
pat sekali. Dan tiba-tiba...
PRAKK...! Ia telah gerakkan kepalanya untuk
menghantam batu besar itu dengan rambutnya. Selan-
jutnya melesat turun bagai anak panah. Begitu ia je-
jakkan kaki lagi, batu besar itu meluncur turun...
Akan tetapi telah menjadi hancur begitu jatuh kembali
ke tempat semula. Berubah menjadi serpihan serbuk
kecil-kecil. Barulah terdengar suara tertawa panjang
yang nyaring. Melengking tinggi membuat getaran-
getaran hebat. Hingga tampak bergoyang-goyang berja-
tuhan.... Ternyata gadis itu tak lain dari Roro Centil.
Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. Tingkah la-
kunya memang aneh. Akan sukar orang menjajaki ji-
wanya. Terkadang tampak wajahnya tampilkan ke-
gembiraan. Tapi terkadang juga menampilkan kesedi-
han yang amat luar biasa. Agaknya Roro telah menga-
lami goncangan jiwa yang amat hebat. Dan memang
demikianlah adanya... Sejak ia berlalu dari lereng teb-
ing dekat air terjun itu. Roro Centil bagaikan kesuru-
pan berlari cepat menuju Pantai Selatan. Meninggal-
kan Joko Sangit yang kebingungan untuk mencabut
Tombak Pusaka Ratu Sima yang menempel di tubuh si
wanita Dewi Tengkorak. Ia berlari dan berlari dengan
kecepatan bagai melebihi kecepatannya angin. Siang
berganti malam tanpa kenal istirahat. Dan tatkala de-
buran ombak Pantai Selatan itu telah samar-samar
terdengar di telinganya, barulah ia perlambat langkah-
nya. Pagi itu cuaca tak begitu bagus. Sedari pagi angin
keras dari laut, tak berhenti meniup. Ia singgah di se-
buah desa, untuk menangsal perut. Masih tersisa beberapa keping uang di sakunya. Adapun selebihnya
adalah tinggal sebuah Cincin berbatu merah delima
dan sepuluh buah gelang emas bertatahkan intan
permata. Dua cincin dan beberapa untai kalung lain-
nya peninggalan Gurunya itu, telah tak bersisa. Ia cu-
ma periksa sejenak kotak perhiasannya, lalu kembali
menyimpannya kebalik pakaian. Warung kecil diham-
piri. Dan menangsal perut seadanya. Pantai Selatan
memang sudah dekat. Namun semakin dekat, semakin
perlahan langkah Roro. Seolah ia merasa tak kuasa
untuk melangkah... Karena sudah terbayang jenazah
sang Guru yang sudah hampir setahun itu ia tinggal-
kan. Jenazah wanita yang sudah berusia lanjut. na-
mun masih tampak muda. Wanita itulah yang telah
menggemblengnya dengan segala keanehannya. Wa-
laupun sang Guru adalah manusia aneh. Karena ia
bukan laki-laki dan bukan juga perempuan, namun
Roro amat menghormati dan menyayanginya. Apa lagi
sejak ditinggalkan, sang Guru telah berniat menutup
diri di dalam ruang Goa di dasar tebing pantai selatan
itu. Dan dalam keadaan yang mengenaskan. Karena si
manusia aneh itu telah mencocok kedua lubang telin-
ganya, dengan kedua jari tangannya sendiri. Dan telah
keluar ucapan dari mulutnya untuk tidak mau men-
dengar, dan mencampuri lagi urusan Dunia Rimba Hi-
jau. Sang Guru cuma berteman dengan sebuah benda,
yaitu sebuah tombak hitam. Tombak Pusaka Ratu Si-
ma. Tapi benda itu telah ia lihat sendiri berada di tan-
gan si Dewi Tengkorak. Dan menurut keterangan wani-
ta yang telah dibunuhnya itu, sang Guru telah dibu-
nuhnya. Hancur luluh seketika perasaannya. Remuk
redam hatinya. Hingga dalam keadaan seperti kurang
waras, Roro berlari dan berlari... Namun semakin de-
kat nyatanya semakin lamban ia melangkah. Masih
terngiang kata-kata sang Guru yang mengatakan agar
tidak usah kembali lagi ke Pantai Selatan. Empat ta-
hun yang lalu sejak ia menutup lubang rahasia yang
menuju ke Ruangan Goa di bawah tebing karang itu.
Roro pun telah berniat untuk tak kembali lagi. Walau
kepergiannya juga dengan hati remuk redam. Roro
Centil memang bukan laki-laki. Sebagai seorang wani-
ta, tentu saja lebih peka dengan perasaannya. Hal itu-
lah yang membuat ia kembali berhenti melangkah.
Dan termangu-mangu menatap ke arah tebing pantai
Selatan. Akhirnya jatuh terduduk di atas batu. Lama ia
termangu di situ. Sementara air matanya tak hentinya
menetes, mengalir di kedua pipinya. Ternyata ia telah
terhanyut oleh kesedihan yang luar biasa. Tapi seketi-
ka ia jadi tersentak dari lamunannya. Ketika lapat-
lapat terdengar suara memanggilnya.
"Roro..!" Dan tampak sesosok tubuh berlari
mendatangi. Makin lama sosok tubuh itu semakin de-
kat. Dan beberapa kejap kemudian telah berada di ha-
dapannya. Ternyata yang datang tak lain dari Joko
Sangit adanya. Laki-laki itu menatap Roro dengan wa-
jah memelas. Terlihat ia memegang tombak hitam itu
di lengannya. Roro masih tetap membisu. Seperti tak
perduli akan kedatangan sahabatnya itu.
"Roro..! Sudah kuduga pasti kau akan ke Pantai
Selatan. Aku telah sejak pagi berkeliling di setiap teb-
ing pantai. Untuk mencarimu..! Ternyata kau berada
disini..." Berkata lirih Joko Sangit. Akan tetapi Roro
masih membisu, tak bergeming. Pandangannya mena-
tap kosong ke arah depan. Joko Sangit tahu orang se-
dang terpukul hatinya, segera mendekati lebih dekat.
Kembali ia berucap lirih...
Roro, aku memang mencarimu untuk memba-
wa pesan dari Gurumu, si Manusia Aneh itu..!" Mendengar kata-kata itu barulah Roro menoleh, dan tatap
wajah orang dalam-dalam.
"Pesan dari Guruku..?" Bertanya Roro dengan
kerutkan alisnya. Suaranya lirih agak serak. Namun
membersitkan rasa terkejut. Joko Sangit mengangguk.
Dan seraya berkata melanjutkan.
"Beliau aku temui dalam keadaan luka dalam
yang parah tiga bulan yang lalu. Sudah ku coba usa-
hakan menolong jiwanya. Namun sia-sia... Beliau te-
was dengan keadaan yang menyedihkan. Perlu kau ke-
tahui Roro... Beliau adalah adik seperguruan Guruku.
Guruku bernama Ki Jagur Wedha... Yang bergelar
Pendekar Gentayangan..!" Kembali Roro Centil melen-
gak. Baru sekarang Joko Sangit membuka riwayat di-
rinya. Tentu saja penuturan itu membuat Roro berha-
srat sekali mendengarnya. Joko Sangit meneruskan ce-
ritanya.
"Menurut penuturan beliau, yang telah menge-
royoknya adalah tiga orang wanita. Yang kesemuanya
adalah istri-istri si Dewa Tengkorak. Yang menurut ka-
bar telah tak ada di dunia ini lagi. Aku memang tengah
mencari Gurumu, karena mendapat tugas dari Guru-
ku. Yaitu mengundang beliau. untuk menghadiri per-
jamuan sederhana. Yaitu genap 100 tahun usia Guru-
ku Ki Jagur Wedha, di Gunung Kumbang. Walaupun
bergelar si Pendekar Gentayangan, ternyata guruku
sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah berjumpa
dengan gurumu si Manusia Aneh Pantai Selatan. Hing-
ga tak mengetahui kalau beliau telah mengangkat seo-
rang murid wanita, sejak empat tahun belakangan ini.
Yaitu kau sendiri. Aku pun baru mengetahui tentang
kau setahun yang lalu..." Tampak Joko Sangit menye-
ka peluhnya sebentar dan kembali meneruskan:
"Sayang aku terlambat datang dan hanya menjumpai beliau dalam keadaan tak berdaya. Namun ia
masih bisa memberi penjelasan tentang siapa yang te-
lah mengeroyoknya. Yaitu diantaranya si Dewi Tengko-
rak, yang telah berhasil kau bunuh..! Aku sendiri me-
mang tengah menyelidiki kemana perginya tiga wanita
itu. Dan kebetulan dapat menjumpai si Dewi Tengko-
rak. Memang akupun berniat untuk melenyapkan wa-
nita keji itu... namun, aku memang tak dapat terburu-
buru.." Sampai disini wajah Joko Sangit berubah me-
rah. Dan Roro cuma tersenyum sambil mencibirkan
bibir. Cepat-cepat Joko Sengit teruskan ceritanya...
"Gurumu wafat setelah memberikan pesan pada
mu..!" Sampai disini Joko Sangit tatap wajah Roro da-
lam-dalam. Hingga yang ditatap jadi kikuk.
"Apakah pesannya..?” Bentak Roro tiba-tiba.
Wajahnya membersitkan rasa ingin tahu. Akan tetapi
Joko Sangit telah menelan lagi kata-katanya. Terlalu
sukar ia untuk mengatakan. Dan cepat-cepat ia berka-
ta:
"Pesan itu tak dapat kukatakan sekarang..! Ma-
sih banyak waktu lain untuk aku mengatakannya pada
mu! Tapi dia ada memberikan sesuatu padamu.! Ber-
kata Joko Sangit. Dan keluarkan sebuah bungkusan
kecil dari kain sutera hitam.
"Aku tak tahu apa isinya...!" Katanya lagi, se-
raya memberikan benda itu pada Roro Centil. Segera
Roro sambuti benda itu. Dan buka isinya... Ternyata
adalah seikat daun lontar kering yang panjangnya se-
jengkal. Roro Centil tak mengerti apa artinya dengan
seikat daun lontar yang polos tanpa ada tanda-tanda
benda itu mengandung tulisan. Joko Sangit pun ke-
rutkan keningnya. Tapi ia telah tersenyum sambil ber-
kata:
"Gurumu adalah orang aneh..! Lain orang mana
bisa tahu akan keanehan Gurunya kalau bukan mu-
ridnya sendiri..!" Dan ia sudah bangkit berdiri. Serta
lanjutkan kata-katanya.
"Baiklah Roro, selesai sudah tugasku untuk
memberitahukan hal ini! Jenazah Gurumu telah ku
kebumikan di lubang dasar tebing karang itu juga..! Si-
lahkan kalau kau mau menengoknya. Tapi kulihat tadi
air laut telah pasang. Mungkin tempat itu terendam
air..! Nah, aku tak dapat berlama-lama. Karena harus
cepat-cepat mengantarkan benda pusaka ini ke Kera-
jaan Medang..!" Selesai berkata Joko Sangit segera be-
ranjak meninggalkan Roro Centil. Akan tetapi tiba-tiba
sudah terdengar suara gadis itu:
"Tunggu..! Kau belum beritahukan padaku,
siapa kedua orang lagi istri-istri si Dewa Tengkorak...!
Teriak Roro. Terhenyak Joko Sangit. Tapi sudah lantas
menyahuti.
"Keduanya bukan orang tanah Jawa! Mereka
orang dari seberang pulau... Kalau tak salah berjuluk
si Kupu-kupu Emas, dan seorang lagi adalah Peri Gu-
nung Dempo. Keduanya adalah orang-orang dari Pulau
Andalas...!" Selesai berkata. Joko Sangit telah berkele-
bat. Dan sekejap kemudian telah tak kelihatan lagi.
Roro termangu-mangu memandang ke depan. Kedua
nama itu akan selalu diingatnya. Untuk kelak suatu
saat ia akan pergi mencarinya. Kini ia termangu-
mangu memandangi setumpuk daun lontar itu. Dan
membolak-baliknya berulang-ulang. Namun tetap ia
tak dapat menemukan rahasia apa didalamnya. Kepin-
gan daun lontar itu terdiri dari tujuh belas ruas, Yang
kesemuanya polos. Lama ia termangu untuk meme-
cahkan rahasia tujuh belas daun lontar itu. Akhirnya
tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Gurunya. Seolah-
olah kembali terngiang di telinganya... "Roro... kau
memang seorang bocah tolol, tapi cerdik..!" Kata-kata
sang Guru itu membuat Roro tersenyum. Tapi juga
menampilkan wajah sedih. Karena sejak saat itu ia su-
dah kehilangan orang yang amat dicintainya. Benda itu
digenggamnya kuat-kuat. Seolah menggenggam lengan
Gurunya. Setetes air mata kembali jatuh berderai.
Membasahi daun lontar yang digenggamnya. Dipan-
danginya daun-daun itu dengan air mata bercucuran...
Akan tetapi tiba-tiba ia jadi terkejut. Ketika melihat
pada lembar teratas dari daun lontar yang basah oleh
air matanya, telah tersembul huruf-huruf kecil.
"Ah..!?" Tersentak Roro Centil. Dan tiba-tiba ia
telah berteriak kegirangan.
"Sekarang aku tahu..! Sekarang aku tahu..!"
Dan berkelebatlah tubuhnya meninggalkan tempat itu.
Diiringi suara tertawa aneh yang membangunkan bulu
roma.
Itulah kisah satu bulan belakangan ini. Dan ke-
tika sang Pendekar Wanita Roro Centil muncul lagi.
Ternyata ia telah menguasai satu ilmu hebat, dari sa-
lah satu jurus kepretan rambut yang luar biasa. Tentu
saja dari hasil mempelajari tulisan kecil-kecil, pada ke
tujuh belas daun lontar warisan gurunya itu. Yang diti-
tipkan Joko Sangit padanya...
Memandang pada batu sebesar kerbau yang
hancur berantakan itu Roro telah tertawa dengan sua-
ra nyaring. Suara tertawa yang telah menggetarkan
daun-daun hingga berjatuhan meluruk kebawah. Tapi
tiba-tiba ia telah hentikan tertawanya. Kembali tampak
ia tersenyum hambar. Karena telah timbul kesadaran
dihatinya, bahwa di atas langit, masih ada langit. Un-
tuk mencari kedua orang musuh besarnya di seberang
pulau tak dapat dilakukan terburu-buru. Karena ia be-
lum menamatkan pelajaran dari ke tujuh belas daun
lontar itu. Masih memerlukan beberapa waktu lagi un-
tuk mempelajarinya. Demikian pikir Roro Centil. Dan
segera saja ia teringat akan adanya pertemuan kaum
Rimba Hijau di puncak Mahameru. Sekelebat ia terin-
gat dengan pemuda Ginanjar. Akan tetapi ia merasa
yakin si kakek aneh itu bukanlah orang jahat. la mera-
sa yakin akan hal itu. Dan mengenai akan dikawin-
kannya si pemuda dengan cucu perempuannya, ia
berharap bukan bersungguh-sungguh. Saat selanjut-
nya tubuh Roro Centil telah berkelebat cepat sekali,
meninggalkan tempat itu. Hingga yang tampak hanya
bayangan merah jambu saja yang berkelebatan. Me-
mang Roro baru saja beristirahat, setelah menempuh
jarak jauh beberapa hari dari pantai Selatan. Puncak
Mahameru telah kelihatan dari kejauhan. Dan tampak
mengepulkan asap tipis yang membumbung ke langit.
SEBELAS
Kembali pada keadaan di puncak Mahameru.
Di mana seekor burung Rajawali telah menerjang ke
arah tanda hitam. Bersiyur angin deras laksana tau-
fan. Hingga kemah hitam itu roboh. Dan barisan keli-
ma Serigala Malaikat itu porak poranda. Sesosok tu-
buh wanita menyeruak keluar dari belakang tenda.
Ternyata seorang gadis cantik yang tadi membawa
nampan berisikan Medali. Wanita itu tak lain dari Se-
kar Tanjung. Yaitu gadis yang telah ditawan oleh si Ke-
tua misterius alias di Mata Iblis. Ketua dari si Lima Se-
rigala Malaikat. Yang belum juga menampakkan diri.
Wanita ini lari jatuh bangun. Sementara beberapa pa-
sang mata telah memperhatikannya. Empat orang ber-
baju coklat tiba-tiba telah menyergapnya. Dan membawanya keluar dari belakang arena, dengan cepat.
Gadis itu dilemparkan ke semak belukar. Dan sekejap
saja empat bilah pedang telah dicabut keluar dari ke-
rangkanya. Wanita itu ternganga... Dan ia jadi terpe-
rangah ketika keempat bilah pedang itu telah melun-
cur deras ke arahnya... akan tetapi empat butir batu
kecil telah membuat pedang keempat orang berbaju
coklat itu terpental. Sebuah bayangan merah jambu
berkelebat. Dan telah berada di hadapan keempat laki-
laki itu.
"Kurang ajar..! Mengapa kau tak membiarkan
kami membunuh manusia licik ini?"
"Dialah yang telah berbuat curang, membokong
para peserta dari dalam tenda..!" Dua bentakan ter-
dengar dari kedua orang berbaju coklat itu. Yang ter-
nyata adalah Empat Pendekar Kali Serayu. Akan tetapi
sosok tubuh di hadapannya cuma tersenyum, dan ber-
kata:
"Gadis ini bukanlah orang persilatan. Mana kin
ia dapat melepaskan bokongan segala macam.. ?" Dan
sambungnya lagi.
"Boleh kalian periksa, apakah dia menyimpan
senjata rahasia..?" Ternyata sosok tubuh berbaju me-
rah jambu itu tak lain dari Roro Centil. Adapun si ga-
dis itu tiba-tiba telah bangkit berdiri dan berkata sam-
bil terisak...
"Aku telah diculik dijadikan tawanan si manu-
sia buntung itu..! Oh, tolonglah aku, kakak..! Aku ta-
kut dibunuhnya..!" Gadis ini segera berlutut dihadapan
Roro, sambil menciumi kakinya. Roro cepat angkat tu-
buh si wanita, seraya berkata.
"Tenanglah, adik! Bukankah kau yang bernama
Sekar Tanjung, yang telah lenyap dua bulan yang lalu
dari desa Belimbing Wuluh..?" Wanita itu mengangguk.
"Kemana dua kawanmu lainnya?" Tanya Roro
lagi. Wajah gadis ini seketika jadi berubah pucat, dan
menyahuti.
"Keduanya telah... telah dikuliti wajahnya..!
Dan telah dibunuh oleh mereka. Hanya aku saja yang
tak dibunuh, karena aku dipaksa melayani nafsu iblis
si manusia buntung di dalam tenda itu..!" Suara gadis
itu terdengar gemetaran. Terkesiaplah wajah keempat
laki-laki pendekar Kali Serayu itu. Juga Roro Centil.
Pada saat itu terdengar suara teriakan di belakangnya.
"Roro.... Syukurlah kalau Pendekar Wanita
Pantai Selatan Roro Centil juga telah datang kemari.
Oh, gembira betul hatiku..!" Seorang pemuda baju pu-
tih
melompat ke tempat itu. Ternyata Ginanjar.
Adapun mendengar kata-kata Ginanjar yang baru tiba
itu, seketika wajah keempat Pendekar Kali Serayu jadi
pucat. Dan serentak saja mereka menjura dalam-
dalam pada Roro. Seraya salah seorang berkata:
"Mohon maaf sebesar-besarnya, nona Pendekar!
Kami empat Pendekar Kali Serayu menghaturkan hor-
mat. Kami sungguh-sungguh bermata buta, tak dapat
melihat kalau anda adalah nona Roro Centil, Mutiara
dari Pantai Selatan..!" Roro segera balas menjura. Akan
tetapi sesaat kemudian telah berkata:
"Empat Pendekar Kali Serayu, kalau kalian ber-
sedia. Tolonglah antarkan gadis ini pada orang tuanya,
di desa Belimbing Wuluh. Di kaki bukit di bawah le-
reng Gunung ini..!" Segera saja keempat Pendekar Kali
Serayu mengangguk hormat. Mereka tampak gembira,
karena dengan datangnya Pendekar Wanita Pantai Se-
latan ini, kericuhan pasti akan diakhiri. Dan segera sa-
ja mereka mohon diri, untuk segera membawa sang
gadis menuruni puncak Mahameru...
Setelah membuat roboh tenda, sang burung Ra-
jawali kembali menjauh. Sementara itu kedua orang
yang bergelar si Sepasang Rajawali Putih, segera me-
nempur kelima Serigala Malaikat. Terjadilah pertarun-
gan hebat. Ternyata keduanya juga mendapat bantuan
dari beberapa orang pendekar, untuk menerjang keli-
ma wajah seribu dendam itu. Akan tetapi tiba-tiba me-
luruk ratusan jarum berbisa ke arah para penerjang
itu. Tak ampun lagi beberapa batang tubuh roboh ter-
jungkal dengan teriakan ngeri.
"Keparat..! Awas! Hati-hati istriku..!" teriak laki-
laki pasangan si Rajawali Putih. Sang istri segera me-
lompat mundur. Dan kelima Serigala Malaikat kembali
membentuk barisan. Segera melesat sesosok tubuh
bertongkat aneh. Dengan ujung tongkatnya terdapat
berbentuk telapak Serigala sebesar piring. Dengan
enak saja ia telah hinggap di depan barisan kelima Se-
rigala Malaikat. Dialah si Mata Iblis. Ketua dari lima
wajah yang punya seribu dendam itu. Dengan enak sa-
ja ia duduk di atas telapak kaki Serigala di ujung tong-
katnya. Sebelah lengannya mengeluarkan sebuah ben-
da bersinar. Itulah sebuah Medali merah. Lambang
atas kekuasaan Ketua Rimba Hijau. Ia sudah kelua-
rkan bentakan keras.
"Kurang ajar..! Kalian mengapa tak mematuhi
peraturan..? Apakah mata kalian telah buta untuk ti-
dak menghargai lagi Lambang Ketua Rimba Hijau
ini...?!" Si Sepasang Rajawali Putih tersentak, dan
mundur ke belakang tiga tindak. Beberapa pendekar
lainnya dari tokoh putih yang berada dib elakang ke-
dua Tokoh Gunung Suket ini juga terperangah melihat
benda itu. Adapun sedari tadi sepasang mata si Sepa-
sang Pendekar selalu memperhatikan dua orang yang
bercacad kaki dan tangannya. Wajahnya amat mirip
dengan kedua orang muridnya. Yaitu Gambir Anom
dan Gambir Sepuh. Dan sepasang pedang Mustika Hi-
jaunya ada ditangan wanita tadi. Saat mereka terpe-
rangah itulah. Kala Wesi dan Kala Munget telah me-
nerjang kedua orang dihadapannya. Dan ketiga kawan
lainnya melompat dari kiri dan kanan. Kala itu juga
mendesir angin merah jambu, dan bayangan putih. Ke-
lima Serigala Malaikat terpental mundur tiga tombak.
Dan tongkat aneh si Mata Iblis bergoyang-goyang mau
roboh. Segera si Mata Iblis bergerak melompat mundur
satu tombak. Dengan tetap duduk di atas tongkatnya.
Semua mata segera dapat melihat siapa adanya kedua
sosok tubuh yang telah berada disitu. Tak lain, dan tak
bukan adalah Ginanjar dan Roro Centil.
"Pendekar Roro Centil dari Pantai Selatan..!?"
Terdengar suara dari beberapa orang dibela-
kang si Sepasang Rajawali Putih. Tentu saja hal itu
membuat si Mata Iblis dan Kelima Serigala Malaikat
jadi terkesiap. Lebih-lebih si Mata Iblis. Karena pende-
kar wanita di hadapannya inilah yang telah membu-
nuh si Setan Cebol muridnya.
"Bagus..! Sudah kuduga semua pentolan golon-
gan putih akan datang. Biarlah kelima orang murid ku
itu menumpas mu Sepasang Rajawali Putih! Aku akan
meremukkan kepala si bocah keparat ini..!"
WHUSSS..! Ia telah menerjang Roro dengan
tongkat telapak Serigala. Sang Pendekar Wanita hanya
tertawa sinis dan lompat ke samping delapan tombak.
Si Mata Iblis sudah menggerakkan tubuh untuk men-
gejar. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan
Ginanjar.
"Mata Iblis..! Ketua lama Rimba Hijau telah
memberi surat perintah kepada seluruh golongan
kaum putih untuk menangkapmu, beserta kelima Serigala Malaikat..!" Melotot mata si Mata Iblis. Namun
Ginanjar telah lemparkan segulung kain bertulisan ke-
hadapan si Mata Iblis. Sekali lengannya berkelebat.
benda itu telah disambarnya. Dan cepat dibaca. Selang
sesaat tampak kulit wajahnya jadi berubah merah.
"Kurang ajar..!" Jari tangan si Mata Iblis mere-
mas kain bertulisan itu, hingga hancur jadi bubuk.
Tapi belum lagi ia membentak Ginanjar... pemuda itu
telah keluarkan sebuah benda yang berkilauan... Itu-
lah Medali lambang kekuasaan Ketua Rimba Hijau
yang asli. Kini semua mata kembali terperangah meli-
hat ke arah benda yang dicekal pemuda itu. Tiga tokoh
tua tak dikenal berkelebat kedepan, seraya berkata:
"Kalau lambang ini aku kenal. Inilah lambang yang as-
li. Tak sembarangan Ki Dharma mencari wakil di-
rinya...!" Akan tetapi si Mata Iblis malah membentak,
seraya keluarkan Medalinya...
"Tidak..! Inilah lambang yang asli..!" Akan tetapi
pada saat itu meluncur deras sebuah lidi aren, tanpa
ada seorangpun yang mengetahui. dan...
Prak...! Medali di tangan si Mata Iblis hancur
berantakan. Dan satu suara terdengar berkumandang.
"Mata Iblis..! Aku telah mengangkat bocah itu
jadi wakil ku! Apakah kau masih mau coba mengelabui
mata kaum Rimba Hijau dengan Medali Palsu mu..?"
Terkesiap si Mata Iblis dan kelima Serigala Malaikat.
Seketika masing-masing putarkan kepala den tubuh
untuk melihat ke beberapa arah. Suara itu tak salah
lagi adalah suara Ki Dharma Tungga, Ketua Rimba Hi-
jau. Bukan itu saja, karena semua yang berada di
tempat itu juga terkesiap. Karena tak menyangka ka-
lau Ki Dharma Tungga masih hidup.
"Persetan..! Aku tak perduli siapa wakilmu
Dharma Tungga! Keluarlah! Aku akan adu jiwa dengan
mu..!" Teriak si Mata Iblis. Akan tetapi telah terdengar
suara tertawa nyaring, berkumandang, membuat telin-
ga jadi terngiang-ngiang. Suara yang mengandung te-
naga dalam hebat Hingga beberapa orang sudah menu-
tup telinganya. Dan terdengarlah suara lantang Roro
Centil:
"Mata Iblis..! Hayo hadapi aku. Bukankah kau
ingin remukkan kepalaku..?" Sepasang mata serigala si
Mata Iblis jadi menatap bersinar kearahnya. Sinar
yang mengandung kebencian hebat. Dan tubuhnya te-
lah berkelebat ke arah Roro.
"Bagus..! Aku hampir melupakanmu setan beti-
na..! Kau telah membunuh muridku si Setan Cebol!
Maka jangan harap kau dapat meloloskan diri lagi dari
tanganku!" Dan ia sudah menerjang Roro dengan
menggeram bagai serigala. Adapun si Lima Serigala
Malaikat telah buyar barisannya, karena Ginan-
jar dan sepasang Rajawali putih telah menerjang. Kala
Wesi dan Kala Munget berhadapan dengan sepasang
pendekar Gunung Suket itu.
"He he he... Sepasang Rajawali..! Mengapa kau
menempur muridmu sendiri?" Teriak Kala Munget, se-
raya kibaskan lengan jubahnya menyambar kepala la-
wan.
"Iblis terkutuk...! Kuhancurkan kepalamu. Bu-
kalah wajah muridku itu. Agar kami puas untuk
menghancurkan mukamu..!" Teriak si wanita Rajawali
Putih. Segera ia miringkan kepalanya, dan senjata Ca-
kar Rajawali nya meluncur mengarah jantung lawan.
Akan tetapi Kala Wesi dan Kala Munget telah meng-
hantamkan tongkat bercagaknya...
Trang..! Kedua senjata beradu. Dan keduanya
sama-sama terhuyung dua langkah kebelakang. Kala
Wesi segera berkata:
"Baiknya kau melawanku saja nyonya Rajawali
Putih. Aku ingin sekali membuntungi paha kakimu.
Siapa tahu bisa dibuat menyambung lagi sebelah kaki-
ku yang putus ini... He he he..!" Merah padam wajah si
wanita. Namun ia sudah harus menghadapi serangan
serangan Kala Wesi. Adapun Kala Munget segera me-
nerjang si laki-laki Rajawali Putih. Dan bersamaan
dengan itu berkelebat dua sinar hijau yang turut nim-
brung untuk membabat dari arah samping. Kiranya Si-
ti Jenang telah sambarkan dua bilah pedang hijaunya.
Namun Rajawali Putih bukan tokoh sembarangan. Ia
sudah putar tubuh untuk menghantam dengan angin
pukulan tangannya. Terpentalah kedua pedang itu.
Terkejut Siti Jenang. Segera ia berkelebat melompat
untuk menyambar kembali kedua senjatanya. Akan te-
tapi saat itu telah meluncur sebuah lidi aren yang me-
nyambar leher si wanita itu.
Tak ada daya untuk dapat mengelak lagi. Kare-
na datangnya tak mengeluarkan suara. Dan teramat
cepat. Terdengarlah jeritan Siti Jenang. Suaranya me-
leng king seperti mau menembus langit. Dan jatuhlah
ia ke bumi, dengan berkelojotan. Dan hanya sesaat...
Karena tak berapa lama ia sudah tak dapat memperta-
hankan nyawanya lagi. Tewaslah si wanita keji itu. Me-
lihat kematian mendadak itu Kala Munget dan Kala
Wesi jadi menggerung keras, dan mempergencar lagi
serangannya. Terjadilah pertarungan yang amat seru...
Sementara itu Ginanjar melayani si Kelelawar Besi
alias Sawung Geni. Dan seorang lagi adalah Rimba
Wengi alias Siluman Telapak Darah. Sebelah tangan
palsunya yang terbuat dari perunggu mengandung ra-
cun itu. menghantam ubun-ubun Ginanjar. Sedang si
Kelelawar Basi merentang sepasang lengannya. Hebat,
Sepasang lengan Kelelawar Besi bagaikan terlepas, meluncur satu setengah depa. Serangan ditujukan pada
sepasang kakinya. Lengah sedikit saja. akan hancurlah
tulang kaki pemuda itu. Akan tetapi Ginanjar telah
sampok kedua lengan itu hingga terpental balik. Se-
mentara lengan perunggu Rimba Wengi, dapat dielak-
kan dengan miringkan kepalanya. Dan sebelah ka-
kinya bantu menyampok serangan lengan ganas itu,
dengan pedangnya. Agaknya Rimba Wengi tak mau
adakan benturan. Segera ia tarik kembali serangan-
nya. Sementara Ginanjar segera membungkus tubuh-
nya dengan putaran pedangnya. Hingga yang tampak
hanyalah kilatan-kilatan sinar pedangnya saja. Namun
dengan serempak keduanya terus mengurung mencari
kelengahan lawan. Kita beralih pada Roro Centil, yang
tengah bertarung dengan si Mata Iblis. Roro Centil te-
lah keluarkan sepasang senjatanya si Rantai Genit.
Mendelik mata si Mata Iblis. Senjata yang berbentuk
payudara itu, tentu saja membuat sepasang mata laki-
laki hidung belang akan tertarik untuk memperhati-
kan. Beberapa terjangan dengan tongkat telapak Seri-
galanya telah berhasil dihindari sang lawan yang ma-
sih berusia muda itu. Walau di hatinya agak malu un-
tuk menghadapi seorang gadis. Apa lagi seorang gadis
yang tampaknya seperti orang mengantuk itu. Namun
setiap mengelakkan serangan dibarengi ejekan, atau
tertawa cekikikan. Benar-benar membuat darahnya ja-
di bergolak saking jengkelnya. Tiba-tiba tampak sepa-
sang mata si Mata Iblis mengeluarkan sinar merah.
Dan tubuhnya melangkah kebelakang dua tindak. Ro-
ro memang belum melakukan serangan selain menge-
lakkan setiap serangan yang datang. Kini melihat si
Mata Iblis menatap padanya dengan sinar mata me-
mancar merah. Terkesiap juga Roro Centil. Ia agak ter-
pengaruh, dan terpaku menatap sang lawan. Mata Iblis
gunakan kesempatan itu untuk membentak...
"Bocah tengik Roro Centil, berikan kedua senja-
ta itu padaku. He he he... Benda sebagus itu tak patut
di tanganmu. Itu senjata untuk permainan laki-laki..!"
Aneh... Tampaknya Roro tak berdaya. Sepasang ma-
tanya menatap tak berkedip pada si Mata Iblis. Tapi ia
tak julurkan kedua senjatanya. melainkan dijatuhkan
dekat kaki di hadapannya. Seraya berkata:
"Ambillah..! itu senjata palsu. Seperti juga Me-
dali yang kau tunjukkan tadi. Apakah kau tak ingin
sepasang senjata yang asli..?" Bertanya Roro. Dan
sambil tertawa mengikik ia telah buka belahan baju
bagian depannya. Segera saja terlihat dua buah bukit
kembar dengan tonjolan kedua putik pada ujungnya.
Itulah B.H. warisan gurunya, yang memang mirip den-
gan payudara asli. Ternganga mulut si Mata Iblis. Dan
tak terasa ia telah maju melompat tiga tindak.
"Kau mau yang ini..?" Nah..! Majulah lebih de-
kat..!" Berkata Roro Centil. Sementara sepasang ma-
tanya tetap menentang tatapan si Mata Iblis. Ternyata
diam-diam keduanya tengah mengadu ilmu bathin.
Dengan masing-masing saling tatap. Tampaknya si
Mata Iblis berusaha menahan pengaruh yang luar bi-
asa, yang tanpa disadari jantungnya berdetak keras.
Dan tampak ia berusaha untuk tidak melangkah maju.
Diam-diam sebelah lengannya telah ia siapkan untuk
menyerang dengan jarum-jarum beracunnya. Tiba-
tiba.. ia telah gerakkan tangannya merogoh saku ba-
junya. Dan detik berikutnya ia telah lepaskan ratusan
jarum berbisa ke arah Roro. Meluruk seketika benda-
benda halus itu bagaikan hujan ke arah tubuh Roro
yang bagian dadanya terbuka. Akan tetapi tiba-tiba
Roro telah gerakkan kepalanya. Segera menyambar
rambut Roro menghantam buyar jarum-jarum berbisa
itu, yang meluruk kembali ke arah si Mata Iblis. Terke-
siap bukan main si Mata Iblis Tentu saja ia tak me-
nyangkanya sama sekali. Dengan berteriak keras ia te-
lah kibaskan lengan jubahnya. Ratusan benda itu se-
ketika buyar. Tapi tak urung beberapa batang jarum
telah menembus sebelah lengannya. Terpekik si Mata
Iblis. Ia sudah melompat mundur tiga tombak. Tampak
tubuhnya tergetar hebat. Sekejap saja sebelah lengan-
nya telah menjadi terkulai tak dapat dipergunakan la-
gi. Wajahnya tampak menyeringai pucat. Akan tetapi ia
telah segera berteriak keras laksana guntur. Tongkat
telapak Serigalanya meluncur deras mengarah dada
lawan yang terbuka.
Roro cepat mengambil tindakan. Segera ia mi-
ringkan tubuh ke samping sampai melengkung ke be-
lakang. Loloskan sambaran itu. Akan tetapi sebelah
kakinya telah bergerak menyambar ke bawah pangkal
paha lawan.
Des..! Terdengar teriakan tertahan si Mata Iblis.
tubuhnya terlempar ke udara tiga tombak. Saat itulah
Roro telah sambar lagi sepasang senjatanya. Dan...
Swing..! Swing..! Kedua Rantai Genit telah ber-
gerak menyambar tubuh si Mata Iblis. Akan tetapi pa-
da saat itu berkelebat dua bayangan menerpa...
Trang! Trang! Serangan Roro berhasil digagal-
kan. Kiranya sepasang lengan si Kelelawar Besi yang
telah menyambar dengan cepat. Terkejut Roro Centil.
Ia rasakan benturan keras itu menggetarkan lengan-
nya. Segera ia melompat mundur dua tombak. Sepa-
sang lengannya telah selipkan kembali senjatanya ke-
sisi pinggang. Begitu tubuh si Mata Iblis hinggap di ta-
nah, ia telah gerakkan kedua telapak tangan menghan-
tam dengan pukulan tenaga dalam. Terlemparlah tu-
buh si Mata Iblis ke depan. Menyambar deras ke arah
si Kelelawar, yang tengah bentangkan sepasang len-
gannya. Saat itulah Roro berteriak.
"Tangkap..!" Aneh..! Getaran suara Roro telah
membuat Kelelawar Besi jadi terpengaruh. Dan secepat
kilat gunakan lengannya yang terbentang itu menang-
kap pinggang si Mata Iblis. Tapi bukannya menangkap.
melainkan mencengkeram. Terdengarlah saat itu juga
teriakan parau si Mata Iblis. Darah segar tampak
muncrat dari tubuhnya. Dalam keadaan tubuh seten-
gah terangkat. si Mata Iblis berkelojotan. Karena kedua
belah pinggangnya telah dicengkeram hancur. Tentu
saja tanpa sadar karena rasa sakit yang amat sangat,
senjata si Mata Iblis bergerak bagai kilat menghantam
kepala si Kelelawar Besi. Hingga tanpa ampun lagi re-
muklah kepala manusia itu. Namun sepasang lengan
besinya justru semakin kuat mencengkram kaku.
Hingga menembus robek pada bagian tengah perut si
Mata Iblis. Terpekik si Mata Iblis dengan suara bagai-
kan raungan serigala. Pekikkan itu dibarengi dengan
robohnya kedua tubuh itu saling tindih. Namun pekik
itu adalah pekik untuk yang terakhir. Karena seketika
tubuh si Mata Iblis terkulai. Dan menghembuskan na-
pas yang penghabisan. Menyusul si Kelelawar Besi
yang telah berangkat ke Akhirat terlebih dahulu... Ter-
dengar suara Roro Centil berteriak melengking tinggi.
Sementara di lain pihak, Kala Wesi telah terkapar tak
berkutik lagi. Dengan isi parut terburai, termakan sen-
jata Cakar Rajawali si wanita dari Sepasang Rajawali
Putih. Sedang Kala Munget menggeletak dengan leher
hampir putus... Adapun Ginanjar baru saja menan-
capkan Pedang Pusakanya di leher Rimba Wengi. Wa-
nita itu berkelojotan sejenak lalu tewas. Keadaan jadi
sunyi sejenak. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara te-
riakan bergemuruh. Ternyata puluhan pengunjung telah bersorak gegap gempita. Bahkan ada yang tengah
menari-nari kegirangan. Dan beberapa orang telah
membukai pakaiannya. Kemudian dilempar-lemparkan
ke udara. sambil berteriak-teriak gembira.
"Hidup Ki Dharma Tungga. Ketua Besar Kaum
Rimba Hijau..!"
"Hidup sepasang Rajawali Putih..! Sedang pada
kelompok lain terdengar...
"Hidup Roro Centil Pendekar Wanita Pantai Se-
latan..!" Saat itu juga angin bersyiur keras. Dan seekor
burung Rajawali telah turun menukik. Burung besar
ini mendarat di hadapan sepasang Rajawali Putih. Ber-
samaan dengan berkelebatnya sesosok tubuh kurus
kering. Yang tak lain dari si kakek Pengemis. Ginanjar
segera berteriak...
"Guru..!" Dan ia sudah melompat cepat keha-
dapan sang kakek. Semua orang jadi melengak. Karena
tak menyangka kalau pemuda wakil Ki Dharma Tung-
ga itu adalah murid dari si Kakek pengemis yang se-
lipkan segenggam sapu lidi aren di punggung. Bahkan
Roro pun jadi kerutkan alisnya. Tiga orang kakek
hampir seusia pengemis itu berlompatan seraya men-
jura hormat padanya.
"Maafkan kami yang tak mengetahui kedatan-
gan Ketua Rimba Hijau Ki Dharma Tungga ke tempat
ini..! Walau kami telah mengundurkan diri, namun te-
rimalah hormat kami..!" Berkata salah seorang. Tentu
saja semua yang hadir pun segera berlompatan meng-
hampiri, dan saling berebut menjura. Apa lagi bagi ge-
nerasi baru, yang belum pernah melihat wajah sang
Ketua Rimba Hijau itu. Seperti tak percaya dan tak
akan menyangka kalau orangnya adalah yang seperti
pengemis itu. Si Sepasang Rajawali Putih pun tak ke-
tinggalan untuk menghaturkan hormat. Namun Roro
Centil tetap tak beranjak dari tempatnya. Ternyata se-
pasang mata si kakek ini amat jeli. Ia sudah menyapa
Roro dengan tertawa.
"Heheheh... heh heh..heh...Bocah Centil..! Hayo
kita teruskan adu lari kita tempo hari! Aku berani ber-
taruh, sampai hari Kiamat pun kau tak akan dapat
mengejar untuk menyusulku..!" Dan tiba-tiba saja ia
telah totok tubuh Ginanjar. Keruan saja pemuda yang
tak menduganya itu jadi terkejut. Namun apa daya,
seketika saja tubuhnya telah berubah jadi kaku. Tahu-
tahu sepasang lengan telah menyambar tubuhnya, dan
dilarikan dengan cepat menuruti lereng Gunung.
"Tolooong..! Toloooong..! Roro! Tolonglah aku..!
Aku tak mau dikawinkan dengan cucu perempuan-
nya..!" Ginanjar telah berteriak-teriak. Roro sudah be-
ranjak akan mengejar. Akan tetapi tiba-tiba munculah
Joko Sangit, yang sudah lantas berkata:
"Roro..! Apakah kau sudah siap untuk menden-
garkan pesan mendiang Gurumu..?" Roro Centil meno-
leh sejenak pada Joko Sangit. Akan tetapi Cuma seje-
nak, karena tubuhnya sudah berkelebat menyusul si
kakek pengemis, yang membawa lari Ginanjar. Joko
Sangit jadi seperti terkesima. Dengan mulut ternganga
menatap ke arah berkelebatnya tubuh Roro Centil,
yang sebentar saja sudah lenyap. Akan tetapi lapat-
lapat masih terdengar di telinganya...
"Joko Sangit..! Simpanlah dulu pesan Guruku
itu. Aku belum siap untuk mendengarkannya.!" Pemu-
da ini jadi garuk-garuk kepala, dengan wajah tampak
bersemu merah. Tapi disudut bibirnya tersungging se-
nyuman. Ia pun segera menyelinap pergi. Semua yang
hadir cuma bisa tersenyum sambil menggeleng-
gelengkan kepalanya. Seorang kakek sudah lantas
berkata:
"Haiiih..! Ternyata Dunia Persilatan adalah
tempatnya segala macam manusia, dengan pelbagai
watak yang aneh aneh..!" Senja pun tiba. Prahara telah
berlalu Tampak seekor burung Rajawali meluncur pe-
sat meninggalkan puncak Mahameru. Dengan sepa-
sang penunggangnya, yang tampak arahkan pandan-
gan ke bawah. Puncak Mahameru masih tetap kepul-
kan asap tipis yang menjulur naik ke langit. Namun
agaknya sang Raksasa ini dapat bernapas lega. Karena
manusia-manusia yang telah mengganggu tidurnya itu
berangsur angsur pergi meninggalkannya. Ia memang
tampak amat lelah. Dan ia akan tidur lagi sampai 1000 tahun...
T A M A T
Jakarta. 27 Februari 1987
0 comments:
Posting Komentar