oke selamat mendownload dan bermain semoga bermanfaat
Wassalam warahmatullahi wabarokatu
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
oke selamat mendownload dan bermain semoga bermanfaat
Wassalam warahmatullahi wabarokatu
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu
Kali ini matjenuh Khairil mau berbagi koleksi ebook yang sangat populer pada masa nya.. ebook jaman sekarang sangat jarang sekali bercerita tentang yang seram seram ya..karena jaman sekarang kalau yang seram itu di anggap mitos..nah kali ini saya mau bagikan ebook karya terbaik dari Abdullah Harahap
Yuk menuju link download nya
👇👇👇👇
1.Penunggu Jenazah - Abdullah Harahap.pdf
2.Misteri Lemari Antik - Abdullah Harahap.pdf Jeritan Pintu Kubur - Abdullah Harahap.pdf
3.Misteri Perawan Kubur - AbdullahHarahap.pdf
4.Manekin - Abdullah Harahap.pdf
5.Abdullah Harahap - Manusia Kera.pdf
6.Misteri Anak Anak Iblis - Abdullah Harahap.pdf
7.Misteri Gadis Bergaun Putih - Abdullah Harahap.pdf
8.Abdullah Harahap - Penghuni Lembah Jayagiri 1.pdf
9.Misteri Lembah Hantu - Abdullah Harahap.pdf
10.Misteri Putri Peneluh.pdf Kekasih Dari Kubur - Abdullah Harahap.pdf
11.Penghisap Darah - Abdullah Harahap.pdf
12.Sumpah Leluhur - Abdullah Harahap.pdf
13.Sumpah Berdarah - Abdullah Harahap.pdf
14.Tarian Iblis - Abdullah Harahap.pdf
15.Pewaris Iblis - Abdullah Harahap.pdf
16.Wajah Wajah Setan - Abdullah Harahap.pdf
17.Manusia Serigala - Abdullah Harahap.pdf
Selamat Membaca
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu
1
GENANGAN air yang berwarna hijau lumut bu-
kan bentangan telaga ataupun danau air tawar. Ge-
nangan air itu memang ciptaan manusia, dan manusia
menamakannya 'empang' alias 'tambak'. Ikan-ikan di-
pelihara dalam empang tersebut, dibesarkan tanpa di-
didik apa pun, agar kelak jika besar bisa menjadi san-
tapan lezat bagi pemeliharanya,
Empang itu ada di bagian belakang dari bebe-
rapa bangunan yang dinamakan padepokan. Padepo-
kan di kaki Gunung Mercapada hanya ada satu, yaitu
padepokan dari sebuah perguruan silat yang bernama
Perguruan Tapak Syiwa. Empang itu agaknya sengaja
di bangun untuk kesibukan para murid perguruan
seusai latihan; menangkap ikan dengan tangan kosong
lalu membakarnya untuk dijadikan santapan mereka.
Karenanya, di atas empang dibangun sebuah
dangau, rumah separo dinding tanpa perabot apa pun
kecuali tikar, istilah sekarang 'Gazebo'. Gunanya bu-
kan untuk rapat kilat, tapi sekadar untuk duduk san-
tai menikmati kecipaknya tarian ikan-ikan di empang
sambil melepas telah agar tak dihinggapi penyakit
stress bagi para murid perguruan.
Tetapi di ujung pagi itu, ternyata sudah sejak
fajar telah duduk seorang lelaki tua berjubah putih.
Lelaki berambut pendek abu-abu dengan ikat kepala
putih itu duduk bersila di atas dangau itu, meman-
dang ke arah munculnya sang mentari pagi.
Dalam usianya yang mencapai sekitar tujuh
puluh tahun lebih, lelaki berjenggot pendek warna
abu-abu itu tampak masih bisa duduk tegak, menam-
pakkan sisa kegagahan masa mudanya. Dia adalah
guru besar, sekaligus Ketua Perguruan Tapak Syiwa
yang dikenal dengan nama si Mulut Guntur alias
Eyang Wirata. Pandangan matanya yang masih tajam
menampakkan ketegasannya bersikap dan selalu men-
gutamakan kebenaran dan keadilan. Kewibawaannya
memancarkan kharisma yang membuat dirinya dis-
egani oleh para muridnya.
Dalam kebisuan pagi, suara alam mulai diusik
oleh langkah-langkah tegap dari pemuda tampan ber-
pakaian serba putih dengan ikat pinggang kain merah.
Kedua pemuda berbaju buntung itu mempunyai ram-
but sampai panjang; lurus sepundak. Kedua pemuda
itu juga mempunyai postur tubuh yang sama-sama ga-
gah, kekar, dan gempal walau ototnya yang sampai
bertonjolan seperti binaragawan. Keduanya mempu-
nyai potongan tubuh yang sama, pakaian sama, wajah
tampan yang sama pula dan senyumnya pun juga sa-
ma-sama menawan bagi para gadis. Mereka berdua ti-
dak lain adalah Raka Pura dan Soka Pura alias si Pen-
dekar Kembar.
Setelah memberi hormat, kedua Pendekar
Kembar itu dipersilakan duduk oleh si Mulut Guntur.
Mereka duduk bersila, saling berhadapan dengan si
Mulut Guntur. Sementara pedang kristal yang menjadi
senjata Pendekar Kembar itu sama-sama diletakkan di
samping mereka; Raka di samping kiri, Soka di samp-
ing kanan. Karena sehari-harinya mereka memang se-
lalu menyelipkan pedang pusaka yang bernama Pe-
dang Tangan Malaikat itu di pinggang masing-masing:
Raka di pinggang kiri dan Soka di pinggang kanan.
"Apa benar, Eyang Wirata memanggil kami ber-
dua?" tanya Raka Pura.
"Kunto Aji mengatakan demikian, karenanya
kami datang kemari, Eyang!" timpal Soka, si Pendekar
Kembar bungsu.
"Benar. Pagi ini aku sengaja mengutus Kunto
Aji, muridku, untuk memanggil kalian. Karena setelah
ku pikir-pikir sejak kemarin malam hingga sekarang,
ku putuskan untuk membeberkan rahasia yang kalian
inginkan itu."
Wajah kedua pemuda kembar itu segera beru-
bah menjadi ceria. Masing-masing ketampanan mereka
di hiasi dengan senyum kegembiraan yang terpendam.
Mereka saling beradu pandang sebentar dalam se-
nyum, kemudian Raka Pura menghembuskan napas
panjang sebagai napas kelegaan.
"Sebelumnya kami haturkan terima kasih atas
kesediaan Eyang Mulut Guntur dalam membantu ka-
mi; mengetahui rahasia Bambu Gading Mandul itu."
Si Mulut Guntur hanya manggut-manggut
sambil pandangi kedua pemuda kembar secara ber-
gantian. Rupanya selama dua hari tinggal di Perguruan
Tapak Syiwa itu, Pendekar Kembar selalu membujuk
kepada si Mulut Guntur agar mau membeberkan raha-
sia Bambu Gading Mandul. Tetapi pada mulanya si ju-
bah putih itu tak mau membeberkannya demi kesela-
matan kedua pemuda kembar dari Gunung Merana
itu.
Pendekar Kembar memang mencari Bambu
Gading Mandul yang hanya tumbuh satu batang dan
hanya ada di Lereng Gunung Mercapada. Bambu sakti
itu akan digunakan oleh Pendekar Kembar untuk me-
lumpuhkan kekejian si anak Iblis; Darah Kula, yang
mempunyai ilmu Pancawarsa, yaitu sebuah ilmu yang
membuat Darah Kula selalu bangkit kembali dari ke-
matiannya setelah lima tahun.
Darah Kula adalah manusia titisan iblis yang
selalu membutuhkan darah perawan sebagai kekua-
tannya. Beberapa gadis diculik dan dijual kepada Da-
rah Kula oleh para sekutunya, sehingga dunia persila-
tan menjadi heboh atas hilangnya para gadis tersebut.
Menurut Resi Bayakumba, yang pernah dua kali mem-
bunuh Darah Kula sepanjang hidupnya, si Penguasa
Bukit Maut itu hanya bisa mati selama-lamanya jika
ilmu Pancawarsa-nya telah lenyap. Bambu Gading
Mandul itulah senjata yang dapat dipakai untuk mele-
nyapkan ilmu Pancawarsa tersebut, (Baca serial Pen-
dekar Kembar dalam episode: "Pemburu Mahkota Da-
ra").
Tetapi bambu ajaib yang hanya tumbuh satu
batang dan tak ada duanya di seluruh pelosok bumi
mana pun juga itu, adalah bukan sembarang bambu
yang bisa dijamah orang. Bambu tersebut tumbuh di
tanah keramat yang ada di lereng Gunung Mercapada.
Menurut penjelasan Kirana, murid si Mulut Guntur,
tanah keramat yang bernama Kubangan Berdarah itu
telah banyak memakan korban nyawa manusia. Siapa
pun yang mendekati tanah keramat itu dijamin pasti
tewas tanpa sungkan-sungkan lagi. Di sana ada sesua-
tu yang menunggu nyawa manusia untuk di santap-
nya, dan sesuatu itu adalah sebuah misteri yang tak
diketahui oleh siapa pun. Menurut Kirana, hanya gu-
runya yang mengetahui rahasia misteri tersebut, (Baca
serial Pendekar Kembar dalam episode: "Tumbal Asma-
ra Buta").
Sebab itulah, Pendekar Kembar mendesak se-
kaligus membujuk si Mulut Guntur untuk membekali
perjalanan mereka dengan rahasia tersebut. Tetapi
mengingat bahaya besar yang dapat mencelakakan
Pendekar Kembar, dan si Mulut Guntur tak ingin ke-
dua murid sahabatnya itu binasa di tanah keramat itu,
maka ia semula tak ingin membeberkan rahasia miste-
ri Kubangan Berdarah. Namun setelah melalui berba-
gai pertimbangan, akhirnya Mulut Guntur memu-
tuskan bahwa rahasia itu harus dibeberkan di depan
Pendekar Kembar, sebelum kedua pemuda tampan itu
nekat pergi ke Kubangan Berdarah tanpa bekal penge-
tahuan tentang rahasia tempat tersebut.
"Sudah lama kudengar tentang kekejaman si
manusia sesat Darah Kula itu. Tapi baru sekarang ku-
dengar tentang rahasia kelemahannya," ujar si Mulut
Guntur. "Tak kusangka ia dapat binasa selama-
lamanya jika dilukai dengan Bambu Gading Mandul.
Tetapi seperti yang sudah kukatakan kepada kalian,
bukan hal yang mudah mendapatkan Bambu Gading
Mandul itu. Nyawa kalian yang menjadi taruhannya."
"Kami sudah siap pertaruhkan nyawa demi
hancurnya kekejaman si Darah Kula itu, Eyang," sahut
Soka Pura.
Si Mulut Guntur manggut-manggut kecil, me-
rasa yakin dengan keberanian dan kebulatan tekad
kedua pemuda kembar itu. Dalam hatinya ia menyim-
pan kebanggaan terhadap ketegaran Raka dan Soka,
karena ia sangat mengagumi jiwa-jiwa penuh kebera-
nian seperti yang dimiliki oleh Pendekar Kembar terse-
but.
"Perlu kalian ketahui, sebelum kalian nanti
mendekati sebatang bambu kuning yang tumbuh lurus
tanpa cabang dan tanpa anak bambu lainnya, yaitu
yang dinamakan Bambu Gading Mandul, kalian akan
berhadapan dengan lawan yang tak bisa kalian lihat,
tak bisa kalian jamah, dan tak bisa kalian serang. Te-
tapi lawan kalian itu dapat melihat dan melukai kalian.
Dengan cepat ia akan membunuh kalian tanpa ampun
lagi."
"Siapa lawan yang akan kami hadapi nanti,
Eyang Wirata?"
"Dia bernama: Dedengkot Iblis!"
Secara tak sadar, Raka dan Soka sama-sama
menggumamkan nama itu, selain merasa asing dengan
nama tersebut, juga mencatat nama itu dalam ingatan
masing-masing.
"Siapa sebenarnya si Dedengkot Iblis itu,
Eyang?" tanya Raka semakin ingin tahu.
"Dia adalah si penjaga bambu tersebut. Il-
munya bukan saja tinggi, tapi juga sangat mematikan.
Tak pernah ada orang yang bisa pulang dengan sela-
mat jika sudah mendekati tanah Kubangan Berdarah.
Dedengkot Iblis akan membunuh siapa pun yang men-
dekati tanah di sekitar Bambu Gading Mandul tanpa
pandang bulu. Maut yang dikirimkan tak pernah dike-
tahui oleh siapa pun yang berada di sekitar tanah Ku-
bangan Berdarah itu."
Si Mulut Guntur sengaja hentikan ucapannya
sesaat. Ia perhatikan wajah-wajah tampan di depan-
nya. Ternyata tak satu pun yang kelihatan berwajah
cemas atau gelisah. Kedua wajah tampan itu sama-
sama tampak tenang, tak ada rasa gentar sedikit pun
pada diri mereka.
"Dedengkot iblis sebenarnya seorang ksatria da-
ri sebuah kerajaan di pegunungan Tibet. Dia adalah
seorang perwira perang yang tangguh. Setiap negeri
yang didatangi selalu ditaklukkan dengan mudah
olehnya. Tetapi pada suatu saat, ia berhadapan den-
gan prajurit dari negeri Sebarang Samudera. Ternyata
ia dapat dikalahkan oleh perwira perang dari negeri
tersebut. Ia pun melarikan diri ke tanah Jawa, berusa-
ha menambah ilmunya untuk lakukan balas dendam.
Maka ia pun berjumpa dengan sosok Raja Iblis yang
menjelma menjadi manusia. Akhirnya ia menjadi pen-
gikut si Raja Iblis dengan menyerap kesaktian si Raja
Iblis...."
"Maksudnya, Raja Iblis ayahnya si Darah Kula
itu, Eyang?" potong Soka dengan rasa ingin tahunya
tak tertahan lagi.
"Benar. Pada waktu itu, Raja Iblis mau membe
rikan kesaktiannya kepada sang perwira perang terse-
but dengan perjanjian, harus mau menjadi pengikut
setianya. Perjanjian itu disetujui, maka jadilah perwira
perang tersebut sebagai pengikut setia Raja Iblis yang
berjuluk Dedengkot Iblis. Setelah ia berhasil membalas
dendam kepada lawannya yang dulu, ia ditugaskan
oleh si Raja Iblis untuk menjaga Bambu Gading Man-
dul."
"Mengapa bambu itu harus dijaga, Eyang?"
tanya Raka Pura setelah si Mulut Guntur hentikan
ucapannya beberapa saat.
"Aku tak Jelas apa alasan si Raja Iblis menjaga
bambu itu. Setahuku, Bambu Gading Mandul dapat
dipakai untuk menolak dan melumpuhkan kekuatan
sihir. Mungkin karena kesaktian itulah, Raja Iblis yang
mempunyai ratusan ilmu sihir itu perlu menaruh seo-
rang penjaga di Kubangan Berdarah agar tak seorang
pun memiliki bambu tersebut."
"Mengapa tidak dicabutnya saja? Atau dihan-
curkan sekalian, biar tak jadi perintang bagi ilmu si-
hirnya si Raja Iblis?" ujar Soka Pura kepada Raka, tapi
kata-kata itu sebenarnya ditujukan kepada si Mulut
Guntur.
Maka si jubah putih itu pun menjawabnya den-
gan suara pelan berkesan ragu, "Mungkin sudah dila-
kukan, tapi Raja Iblis tak berhasil cabut atau hancur-
kan bambu itu!"
Pendekar Kembar saling manggut-manggut da-
lam gumam kecil.
"Kudapatkan keterangan tentang jadi diri si
Dedengkot Iblis Itu dari nenek ku." sambut si Mulut
Guntur. "Sebab nenek ku pernah menjadi istri De-
dengkot Iblis, sebelum lelaki itu menjadi pengikut Raja
iblis."
"Oooo...," gumam kedua pemuda kembar itu
semakin jelas.
"Ketika suaminya menjadi pengikut iblis, nenek
segera lari dan tak mau menjadi istrinya lagi. Akhirnya
beliau menikah dengan kakekku, sampai lahirlah ibu-
ku dan seterusnya lahir pula diriku. Sebab itu, aku
adalah satu-satunya orang yang dapat menginjakkan
kaki di tanah Kubangan Berdarah tanpa kehilangan
nyawa, sebab Dedengkot Iblis tahu bahwa aku adalah
cucunya Nyai Prabawinih."
"Kalau begitu, Eyang bisa mengambil Bambu
Gading Mandul itu tanpa celaka?!"
Mulut Guntur gelengkan kepala sambil me-
mandang Soka Pura.
"Dedengkot iblis tak akan mengusik ku selama
aku tidak mengusik bambu itu. Tapi jika aku ikut
mengusik Bambu Gading Mandul, maka ia tak akan
tinggal diam. Pasti aku akan dibunuhnya pula."
"Ooo...," Raka menggumam agak keras. "Lalu,
bagaimana cara mengalahkan si Dedengkot Iblis itu,
Eyang?!"
Soka menimpali, "Apakah Nyai Prabawinih
mengetahui kelemahan Dedengkot Iblis itu, Eyang?"
Mulut Guntur tarik napas panjang. Sepertinya
ada sesuatu yang berat diucapkannya, namun ia tam-
pak pula memaksakan diri untuk mengungkapkan di
depan Pendekar Kembar. Agaknya sesuatu yang ingin
diungkapkan itulah rahasia yang selama ini disimpan
rapat-rapat oleh si Mulut Guntur.
"Nenek ku pernah berpesan padaku, bahwa aku
tak boleh membunuh Dedengkot Iblis karena hal itu
sama saja membunuh cinta nenek kepada Dedengkot
Iblis. Walau cinta itu sudah lama terkubur di dasar ha-
ti nenek ku, tapi nenek tetap tak ingin keturunannya
bermusuhan dengan si Dedengkot Iblis."
"Lalu, tentang rahasia kelemahannya itu ba
gaimana, Eyang?" desak Soka Pura yang menyadari
bahwa si Mulut Guntur sedikit berbelit-belit dalam
menjawab pertanyaan tadi karena rasa bimbang dalam
hatinya. Dengan desakan itu, maka Soka berharap ke-
bimbangan itu musnah dari dalam hati si Mulut Gun-
tur.
"Kami perlu mengetahui kelemahan tersebut
sebelum nantinya kami berdua akan dibunuh oleh si
Dedengkot Iblis, Eyang!" Raka pun ikut mendesak, ka-
rena Raka segera tanggap maksud desakan adik kem-
barnya tadi.
"Nenek ku memang pernah memberi tahu raha-
sia kelemahan si Dedengkot Iblis...."
Baru berkata demikian, tiba-tiba tubuh si Mu-
lut Guntur terhempas kuat bagai diterjang badai san-
gat kencang. Tubuh itu terhempas membentur dinding
dangau yang terbuat dari kepang itu. Brruuus...!
Byuuurrr...!
Mulut Guntur jatuh ke dalam empang tanpa bi-
sa menjaga keseimbangan tubuhnya. Tentu saja hal
itu sangat mengejutkan Pendekar Kembar yang serta
merta menyambar pedang masing-masing dan bangkit
berdiri beradu punggung. Tetapi ketika mata mereka
sudah memandang dengan lebar-lebar di sekelilingnya,
mereka tidak melihat bayangan apa pun yang dapat
dicurigai sebagai penyebab terhempasnya tubuh si Mu-
lut Guntur. Bahkan angin pun berhembus dengan ka-
lem, nyaris tak membuat rambut Pendekar Kembar
bergerak meriap.
"Tak ada angin tak ada bayangan apa pun,
mengapa Eyang Wirata terlempar begitu saja?!" bisik
Raka Pura kepada adiknya.
"Cepat bantu Eyang Wirata naik ke daratan,
aku akan mencari apa penyebabnya!" perintah sang
adik. Namun sebelum Raka Pura bertindak, ternyata
tubuh si Mulut Guntur telah melesat cepat bagai
bayangan berkelebat dari perairan empang ke daratan,
wuuut, jleeg...! Suara geram kejengkelannya terdengar
samar-samar.
"Kurang ajar...!"
"Eyang, apa yang terjadi?! Bagaimana keadaan
Eyang?! Eyang baik-baik saja?!" cecar Raka yang sege-
ra menghampirinya.
Mulut Guntur basah kuyup dari kepala sampai
kaki. Matanya memandang tajam ke sekeliling. Raka
Pura tak berani ajukan tanya lagi, karena ia tahu wa-
jah si Mulut Guntur sedang menahan kemarahan. So-
ka Pura segera melompat dari dangau dan berdiri di
samping kanan si Mulut Guntur. Wuuut, jleeg...!
"Ada yang menyerangku!" ujar si Mulut Guntur
bernada geram hingga terdengar pelan.
"Siapa orangnya, Eyang?! Aku tak melihat sia-
pa-siapa di sekitar sini!" ujar Soka Pura dengan tetap
memandang penuh waspada. Tangan kirinya sudah
bersiap mencabut pedang beningnya itu untuk hadapi
lawan sewaktu-waktu.
"Rupanya percakapan kita tadi didengar oleh si
Dedengkot Iblis!" bisik si Mulut Guntur kepada Soka,
tapi Raka pun yang ada di samping kanannya juga
mendengar bisikan tersebut, sehingga Raka juga ikut
terperanjat seperti ekspresi wajah adiknya. Bahkan
mereka sempat saling pandang dengan tegang.
"Maksud Eyang... orang yang menyerang Eyang
adalah si Dedengkot Iblis itu?!" bisik Soka inginkan
kepastian.
Sebelum si Mulut Guntur menjawab, tiba-tiba
angin berhembus ke satu arah. Hembusan angin ken-
cang yang hanya sekelebat itu datang dari arah kiri
Raka Pura. Padahal sekitar tiga tombak dari arah kiri
Raka Pura terbentang pagar bumi yang mengelilingi
padepokan tersebut.
Wuuus...! Raka Pura pun cepat tanggap terha-
dap cuaca yang tak wajar itu. ia segera sentakkan ke-
dua tangannya dalam keadaan menggenggam ke arah
datangnya angin tak wajar itu. Suuut...! Maka keluar-
lah tenaga dalam yang cukup besar dari kedua tangan
yang menggenggam itu. Wuuus...!
Jurus 'Tangan Batu' tersebut ternyata tidak sia-
sia. Hembusan hawa padat dari tenaga dalamnya Pen-
dekar Kembar sulung itu bagaikan menghantam sesu-
atu yang besar dan empuk. Buuuhk...! Di susul den-
gan suara orang tersentak tertahan, seperti ditendang
perutnya.
"Heeekhh...!" ... Bruuusk...! Tanaman hias se-
tinggi lutut menjadi rusak. Sesuatu telah jatuh me-
nimpa tanaman tersebut. Dan sesuatu itu ternyata
adalah sesosok tubuh gemuk berwajah lebar seperti
martabak dibentangkan di atas penggorengan. Kemun-
culan sosok gemuk itu membuat si Mulut Guntur ter-
peranjat, demikian pula Pendekar Kembar yang masih
merasa asing dengan penampilan tokoh perempuan
gemuk berwajah lebar itu.
"Bedebah!!" maki perempuan gemuk yang nya-
ris seperti gentong itu. Ia segera bangkit dengan ma-
tanya yang tajam memandang Raka Pura. Suara ge-
ramnya bercampur dengan nada kesakitan yang dita-
han mati-matian.
"Bocah ingusan mau berlagak jadi jagoan di de-
panku, hah?!!" bentaknya setelah berdiri tegak. Raka
Pura undurkan diri hingga sejajar dengan si Mulut
Guntur.
Beberapa murid si Mulut Guntur yang melihat
kemunculan perempuan gemuk itu segera bergegas in-
gin menyergapnya. Tapi sang Guru segera mengangkat
tangan, memberi isyarat agar para murid tidak mende
kati tempat itu.
Soka Pura segera berpindah tempat dekati ka-
kaknya.
"Raka, itu manusia atau karung beras gancet?!"
"Ssstt...!" Raka hanya mendesis pelan.
"Bukan begitu, aku benar-benar kaget melihat
kemunculannya yang gemuknya sebesar itu. Agaknya
ia cocok jadi kekasihmu, Raka!"
"Sekali lagi brisik, kutampar mulutmu, Soka!"
hardik Raka Pura dengan suara berbisik. Raka tak ter-
tarik dengan kelakar adiknya, karena ia ingin pu-
satkan perhatian kepada si Mulut Guntur yang tampak
sedikit tegang walau tetap maju dua langkah mengha-
dapi perempuan bertubuh besar dan gemuk itu.
"Rupanya kaulah orangnya yang tadi menye-
rangku dari jauh, Kecubung Manis?!"
"Yahh... memang aku yang menyerangmu, Mu-
lut Guntur!" jawab perempuan berusia sekitar empat
puluh lima tahun itu.
"Gila!" bisik Soka kepada kakaknya. "Orang
makan buah kecubung separo saja bisa edan tiga hari
tiga malam. Kalau makan kecubung sebesar itu, edan-
nya berapa bulan, ya?"
"Diamlah, Soka!" bentak sang kakak dalam bi-
sikan Kecubung Manis berkata lagi, "Sengaja kubung-
kam mulutmu agar tidak sembarangan bicara tentang
rahasia kelemahan si Dedengkot Iblis, karena seha-
rusnya kau hanya boleh bicara padaku! Orang lain tak
boleh mengetahuinya! Lebih-lebih bocah-bocah ingu-
san macam si kembar itu! Mereka tak boleh tahu raha-
sia tersebut, Mulut Guntur!"
Eyang Wirata sunggingkan senyum tipis, agak-
nya sengaja memberikan kesan sinis kepada tamu tak
diundang itu. Si Mulut Guntur bagai tak hiraukan ka-
ta-kata perempuan gemuk itu. Ia bahkan mengecam
perempuan tersebut dengan nada datar dan berkesan
kalem.
"Terlalu lancang kau berani memasuki padepo-
kanku tanpa permisi, Kecubung Manis!" "Persetan
dengan penilaianmu! Aku sudah tak sabar membujuk
mu dari tahun ke tahun, Mulut Guntur! Sekarang aku
harus memaksamu agar kau bicara tentang rahasia
kelemahan si Dedengkot Iblis! Dan ingat...!" jarinya
yang besar diacungkan kuat-kuat."... kau hanya boleh
bicara padaku tentang rahasia itu, Mulut Guntur! Jika
kau beberkan rahasia itu di depan orang lain, maka
jangan salahkan diriku jika padepokanmu ini berubah
menjadi lautan api dalam sekejap!"
"Edan! Dia berani mengancam begitu?!" gumam
Soka lirih didengar oleh Raka yang tetap tenang itu.
"Berarti ilmunya cukup tinggi! Pukulan jarak jauhnya
yang tidak bisa diketahui datangnya oleh Eyang Wirata
sudah merupakan bukti bahwa perempuan seperti ga-
jah bengkak itu memang berilmu tinggi, Raka! Hati-
hati jika nanti kita harus melawannya, jangan sampai
kena cium olehnya! Bisa hangus pipimu, Raka!"
"Diamlah kau, Cerewet!" hardik Raka lagi den-
gan suara berkasak-kusuk. Soka Pura sembunyikan
senyum gelinya sambil melengos ke arah lain. Namun
pandangan matanya segera diarahkan kembali ke wa-
jah perempuan gemuk berbaju ketat tanpa lengan
warna hitam dengan celananya yang punya warna sa-
ma hitamnya itu.
"Nafas ku jadi sesak melihatnya terus-
menerus," ujar Soka membatin. "Ukuran baju dan ce-
lananya bisa dipakai untuk bikin pakaian tiga orang.
Ya, ampuun... perempuan kok bisa segemuk itu, ma-
kanannya apa kira-kira?! Jangkrik atau bekicot racun,
ya?!"
Tiba-tiba Kecubung Manis berseru kepada Mu
lut Guntur, "Sekarang juga kau harus ikut aku ke
tempat yang sepi dan beri tahukan padaku rahasia itu!
Kau tak bisa bohong lagi padaku, Mulut Guntur! Du-
gaanku dari semula telah terbukti, bahwa kau pasti
tahu rahasia kelemahan si Dedengkot Iblis itu!"
Perempuan gemuk yang rambutnya dikonde
bundar seperti sarang burung itu segera melangkah
dekati si Mulut Guntur. Kedua matanya membelalak
lebar, menampakkan keangkerannya walau sebenar-
nya justru membuatnya tampak lucu di hati Soka Pu-
ra.
"Cepat ikut aku, Mulut Guntur! Jangan sampai
ku gunakan kekerasan untuk membuka mulutmu
yang tua itu!" sambil ia tetap maju mendekati Mulut
Guntur. Yang didekati hanya diam saja, memandang
tanpa gerak sedikit pun. Mulut Guntur bagai tak pedu-
likan keadaan tubuh dan pakaiannya yang basah
kuyup itu.
"Perlukah kutangani, Eyang?" bisik Raka Pura
dari belakang Mulut Guntur. Namun sebelum Mulut
Guntur kasih jawaban, tiba-tiba sekelebat bayangan
menerjang Kecubung Manis dari belakang.
Weess...!
*
* *
2
MULUT Guntur dan Pendekar Kembar terkejut
melihat seseorang menyerang Kecubung Manis dari be-
lakang. Serangan itu bagaikan badai menerjang pung-
gung si perempuan gemuk berdada membusung besar.
Buuuhk...!
Anehnya terjangan keras itu tidak membuat
Kecubung Manis tersungkur ke depan atau terjungkal,
ia hanya tersentak setengah langkah ke depan, kemu-
dian segera berbalik pandangi si penyerang. Sedang-
kan si penyerang justru terpental mundur dan jatuh
terduduk. Ia bagaikan habis menerjang sebongkah ba-
tu gunung yang sukar ditumbangkan.
"Bocah sangit! Heeah...!"
Kecubung Manis ingin sentakkan tangan ka-
nannya dalam keadaan telapak tangan terbuka. Tapi
Mulut Guntur segera kelebatkan tangan kirinya den-
gan dua jari mengeras lurus bagaikan sebilah pisau in-
gin dilemparkan. Wuuut...!
Dari ujung kedua jari itu keluarkan cahaya me-
rah kecil seperti sebutir merica. Sinar merah itu kenai
punggung telapak tangan Kecubung Manis yang ingin
dihantamkan ke arah si penyerangnya. Deesss...!
"Aaoooww...!!" Kecubung Manis memekik keras,
suaranya menggema. Pekikan itu disertai dengan sen-
takan tubuh yang melompat ke samping dan tangan-
nya buru-buru diturunkan, dipegangi dengan tangan
sebelahnya. Ia menyeringai kesakitan, seperti habis
disengat kala jengking.
"Mundur, Kirana!" perintah si Mulut Guntur
kepada gadis penyerang tadi, yang ternyata adalah Ki-
rana, muridnya sendiri.
Gadis yang naksir Raka Pura itu segera mende-
kati Raka dengan pandangan mata tertuju kepada si
Kecubung Manis. Sementara itu, geram Kecubung Ma-
nis yang ditujukan kepada Kirana segera terhenti oleh
langkah Mulut Guntur yang menghalangi muridnya
sambil berseru kepadanya.
"Rupanya kau memang perlu kuberi pelajaran
biar tahu adat sedikit, Kecubung Manis!"
"Muridmu telah menyerangku dengan tidak jan
tan, Mulut Guntur!"
"Dia memang bukan murid jantan!" jawab Mu-
lut Guntur. "Dia murid perempuan. Jika kau merasa
jantan, kau hanya akan berhadapan denganku, Kecu-
bung Manis!"
"Bagus!" seru Kecubung Manis sambil melu-
ruskan tangannya yang tadi seperti tersengat kala
jengking itu. Agaknya ia sudah bisa mengatasi rasa
sakitnya dan bersiap lakukan pertarungan dengan si
Mulut Guntur.
"Kau pun perlu dihajar biar tahu bahwa aku
benar-benar membutuhkan rahasia itu, Mulut Gun-
tur!"
Tunjukkan seberapa butuhnya kau terhadap
rahasia itu!" tantang si Mulut Guntur dengan suara te-
tap bernada wibawa. Sementara itu ia sempatkan ber-
paling sebentar kepada Raka Pura yang berada bersa-
ma adik kembarnya dan Kirana.
"Menjauhlah kalian!"
Kirana segera mundur hingga ke depan dangau.
Raka Pura dan adik kembarnya mengikuti Kirana.
"Siapa sebenarnya perempuan bengkak itu, Ki-
rana?" tanya Soka Pura.
"Dia orang Telaga Wengur, Ketua Perguruan Se-
rampang Mayat!" jawab Kirana sambil memperhatikan
pertentangan antara gurunya dengan Kecubung Manis.
"Mengapa ia sangat memaksa Eyang Wirata un-
tuk membuka rahasia kelemahan Dedengkot Iblis?"
"Karena ia juga menghendaki bambu sakti itu.
Salah seorang muridnya terkena kutukan dari Nyai
Rempah Arum, musuh bebuyutannya. Kutukan itu tak
akan bisa sirna jika tidak diobati dengan mandi air re-
busan Bambu Gading Mandul. Karena itu, berkali-kali
Kecubung Manis membujuk dan mendesak Eyang
Guru agar memberi tahu rahasia kelemahan Dedeng
kot Iblis. Tapi Eyang Guru tak pernah mau bicara dan
selalu berlagak tidak tahu menahu tentang rahasia
tersebut. Sampai akhirnya... sekarang ia sudah tak bi-
sa menahan kesabaran lagi dan lakukan desakan den-
gan cara kasar. Padahal sebelumnya kami tak pernah
bentrok dengan pihak Perguruan Serampang Mayat!"
"O, begitu...?!" Raka Pura yang menggumam
dan manggut-manggut.
"Kecubung Manis adalah cucu dari mendiang
Eyang Tayangon."
"Eyang Tayangon itu siapa?"
"Kakaknya Eyang Wirata yang mewariskan se-
luruh ilmunya kepada Kecubung Manis."
"O, kalau begitu ilmu yang dimiliki Eyang Wira-
ta kalah tua dengan ilmu yang dimiliki Kecubung Ma-
nis?"
"Ya, memang begitu menurut pengakuan Eyang
Guru!" ujar Kirana, gadis cantik bergigi gingsul itu.
Percakapan mereka terhenti seketika, Raka Pu-
ra yang ingin ajukan tanya terpaksa batal, karena me-
reka segera terperangah melihat Kecubung Manis ber-
tepuk tangan satu kali. Plaak..,! Tepukan tangannya
memancarkan sinar hijau ke arah si Mulut Guntur.
Claap...!
Sinar hijau lebar itu bagai menyambar tubuh si
Mulut Guntur yang kurus. Namun sinar itu segera di-
tahan dengan sentakan telapak tangan kanan si Mulut
Guntur yang disentakkan ke depan dan keluarkan si-
nar hijau pula, namun warna hijaunya lebih muda dari
sinar hijaunya Kecubung Manis. Claap...! Blaaarrr...!
Mulut Guntur terpental mundur, jatuh berlutut
dengan satu kaki. Telapak tangannya berasap dan ber-
getar. Pada saat itu, Kecubung Manis melompat me-
nerjang Mulut Guntur dengan kecepatan tinggi, seperti
asap hitam berkelebat nyaris tak terlihat. Wuuut...!
Blaap...! Mulut Guntur bagaikan menghilang.
Tahu-tahu ia sudah berdiri di sisi lain, di belakang Ke-
cubung Manis. Sedangkan perempuan besar itu ta-
pakkan kakinya ke tanah kosong. Jleeg...! Duuurr...!
Bumi bergetar karena pijakan kakinya yang bertubuh
besar itu. Kecubung Manis segera palingkan wajah dan
menjadi makin berang melihat Mulut Guntur berdiri
delapan langkah di belakangnya.
"Keparat kau! Jangan lari ke mana-mana kalau
kuserang, Tolol!" bentak Kecubung Manis dengan sua-
ra mengerang ganas.
Ia segera mengangkat kedua tangannya yang
berlengan besar dan membuat seorang lelaki akan me-
rinding jika membayangkan pelukannya itu. Kedua
tangannya segera bertepuk di atas kepala. Ploook...!
Claap, claap, claap...! Sinar hijau keluar lagi, kail ini
berlapis-lapis dengan panjang dan lebar sinar seperti
taplak meja.
Mulut Guntur pun keluarkan sinar tandingan
dari telapak tangan kanannya yang berjari rapat se-
mua dan disodokkan lurus ke depan bagai menusuk
udara. Dari tangan itu keluar sinar merah muda yang
melebar dan beruntun. Clap, clap, clap...!
Blegar, blegar, blegaar...!
Dentuman besar terjadi secara beruntun dan
menggetarkan alam sekelilingnya. Air empang sempat
bergolak bagaikan diguncang gempa. Atap rumbia pa-
da dangau sempat merosot pada bagian salah satu si-
sinya karena getaran tersebut cukup kuat. Bahkan
Kirana nyaris terpelanting jatuh diterjang ge-
lombang getar dari ledakan beruntun tadi. Untung
punggungnya segera ditarik oleh tangan Raka Pura,
sehingga gadis cantik berompi merah saga itu tak jadi
jatuh tercebur ke empang.
"Heeaaaahh...!!"
Kecubung Manis berteriak dengan mulut tern-
ganga lebar dan tubuh melompat menerjang lawan.
Sedangkan si Mulut Guntur pun berteriak panjang
sambil lakukan lompatan serupa menyambut kehadi-
ran lawannya.
"Heeaahhh...!!"
Blaaar, blarr...! Blegaaarrr...!
"Aaooww...!" suara pekik kesakitan itu datang
dari mulut Raka Pura dan Soka Pura. Mereka berdua
segera menutup telinga masing-masing sambil sedikit
membungkuk, karena gendang telinga mereka bagai
ditusuk dengan linggis begitu mendengar teriakan me-
reka yang bertarung.
Rupanya mereka yang bertarung sama-sama
keluarkan jurus berupa getaran gelombang suara yang
mempunyai kekuatan tenaga dalam menyerupai gele-
dek di siang hari belong. Getaran suara itu bisa meme-
cahkan gendang telinga bagi orang yang berilmu ren-
dah. Tetapi bagi yang berilmu tinggi hanya akan rasa-
kan sakit, gendang telinganya seperti ditusuk dengan
benda tajam. Sedangkan bagi para murid si Mulut
Guntur, getaran suara seperti itu tidak membuat me-
reka menjadi kesakitan, karena mereka sudah dibekali
ilmu tenaga dalam pelapis gendang telinga yang dapat
bekerja dengan sendirinya Jika mendengar getaran su-
ara yang menyerupai geledek murka itu.
Tetapi dari kejadian yang mengejutkan itu, ada
hal yang lebih mengejutkan lagi, yaitu pertemuan ke-
dua tokoh sakti yang melambung di udara. Kecubung
Manis dan Mulut Guntur saling beradu telapak tangan
di udara. Hingga ledakan menggelegar terjadi ketika
cahaya merah menyebar dari adu telapak tangan di
udara itu.
Biaaammm...!
Tubuh mereka sama-sama terpental mundur.
Mulut Guntur melayang-layang kehilangan keseim-
bangan tubuh, sedangkan Kecubung Manis masih
sempat melambung dalam gerakan berjungkir balik di
udara dengan lincahnya.
Wuk, wuk, wuk...!
Tab, tab, tab...!
Kaki si Kecubung Manis menyentak-nyentak
pada tiap pendaratan di atas daun-daun tanaman
hias. Rupanya ia juga mempunyai ilmu peringan tubuh
yang cukup tinggi, sehingga tubuh besarnya itu mam-
pu melayang seringan kapas dan melesat ke sana-sini
dengan lincahnya.
Jreeg...! Kecubung Manis akhirnya hinggap di
atas pagar bumi yang mengelilingi padepokan tersebut.
Sementara, si Mulut Guntur jatuh membentur salah
satu pohon rindang di pojokan. Namun ia masih mam-
pu menggeliat bangun dengan mulut dan hidung su-
dah mulai berdarah.
"Guru...?!" sentak Kirana kaget dan tegang me-
lihat gurunya berdarah. Tapi ia sedikit lega setelah
memperhatikan ke arah Kecubung Manis, ternyata pe-
rempuan besar itu lebih banyak keluarkan darah dari
telinga, hidung, dan mulutnya.
"Keparat busuk kau, Mulut Guntur! Aku terlu-
ka karena pukulanmu! Awas...! Akan kubalas luka ini
lebih parah lagi di lain waktu! Uuhkk...!" Kecubung
Manis terbungkuk dan memuntahkan darah lagi dari
mulutnya.
Kirana menggeram dengan wajah penuh kema-
rahan. Tangannya segera menyambar cambuk yang
merupakan senjata andalannya itu. Namun sebelum
cambuk dilecutkan, Kecubung Manis telah melesat
pergi dari atas pagar tinggi itu bagaikan menghilang
tanpa bekas lagi. Weess...!
"Raka, Eyang Wirata terluka parah!" seru Soka
Pura yang segera berkelebat hampiri si Mulut Guntur.
Raka Pura pun bergegas menghampirinya dengan te-
gang. Para murid Perguruan Tapak Syiwa ikut berkele-
bat hampiri gurunya yang terluka.
"Bawa ke ruang husada!" seru Kunto Aji, pe-
muda tampan berpakaian loreng macan yang dijuluki
si Bocah Loreng itu.
Mereka bergegas membawa Eyang Wirata ke
ruang husada alias ruang penyembuhan. Kirana sem-
pat berkata kepada Raka Pura, karena memang ia sela-
lu didampingi oleh si Pendekar Kembar sulung itu.
"Kalau bukan Eyang Guru, mungkin sudah te-
was karena jurus mautnya si Kecubung Manis! Ia telah
menggunakan jurus 'Tapak Neraka' yang sangat ber-
bahaya bagi jantung lawannya."
"Tapi kulihat tadi, si Kecubung Manis juga ter-
luka parah," ujar Raka Pura.
"Ya, karena Eyang Guru menggunakan jurus
'Tapak Dewata' yang lebih tinggi dari 'Tapak Neraka'.
Jika bukan Kecubung Manis, tentu orang itu sudah
hancur menjadi serpihan arang!"
Melihat keadaan si Mulut Guntur sangat
mengkhawatirkan; wajah pucat, mata terbeliak putih,
darah mengalir terus dari hidung dan mulut, dan wa-
jah menjadi pucat pasi seperti mayat, maka Raka Pura
segera ambil inisiatif untuk lakukan pengobatan sece-
patnya. Jurus 'Sambung Nyawa' yang terkenal ampuh
untuk penyembuhan segera digunakan oleh Pendekar
Kembar sulung.
Di depan para murid Perguruan Tapak Syiwa,
pengobatan itu dilakukan oleh Raka dengan menem-
pelkan tangannya ke telapak tangan Mulut Guntur.
Tangan Raka segera memancarkan cahaya ungu pen-
dar-pendar. Cahaya ungu itu segera meresap dan
membuat tubuh Mulut Guntur menjadi bercahaya un
gu sama.
Walaupun tangan Raka sudah dilepaskan dari
telapak tangan Mulut Guntur, namun tubuh Pak Tua
itu masih memancarkan cahaya ungu yang mencen-
gangkan tiap murid perguruan tersebut. Bagi Kirana,
hal itu bukan sesuatu yang aneh lagi, sebab ia pernah
diobati dengan cara seperti itu oleh Raka Pura.
Setelah cahaya ungu pendar-pendar itu padam,
Mulut Guntur mulai bisa bernapas dengan lega. Wa-
jahnya tidak sepucat tadi. Bahkan kini ia menjadi se-
gar, sepertinya tak pernah mengalami luka berbahaya
sedikit pun. Waktu yang relatif singkat dalam penyem-
buhan tersebut membuat para murid saling berdecak
dan berkasak-kusuk mengagumi ilmu si Pendekar
Kembar. Walaupun mereka pernah melihat Pendekar
Kembar obati luka pada Kunto Aji, namun rasa kagum
mereka masih belum ada habisnya.
"Aku berhutang nyawa pada kalian," ujar Mulut
Guntur setelah para murid pergi dan Pendekar Kembar
kembali duduk bersila di depan Ketua Perguruan Ta-
pak Syiwa itu.
"Kalau tak segera tertolong, nyawaku bisa am-
blas akibat pukulan 'Tapak Neraka'-nya si Kecubung
Manis tadi! Untung kalian masih ada di sini."
"Lupakanlah apa yang sudah kami lakukan ta-
di, Eyang," ujar Raka Pura sambil tersenyum-senyum
malu. "Kami hanya lakukan apa yang kami bisa laku-
kan. itu bukan hal yang hebat dan berlebihan, Eyang."
"Kalian terlalu merendah. Tapi aku sangat ka-
gum dengan jiwa kalian."
"Kalau boleh kami ingin tahu, apa sebab Eyang
tidak beberkan rahasia kelemahan Dedengkot Iblis ke-
pada Kecubung Manis?" sela Soka Pura. "Bukankah
menurut Kirana, ilmunya Kecubung Manis masih satu
aliran dengan ilmu silat di sini?"
"Memang. Tapi dia mempunyai niat lain dalam
memiliki Bambu Gading Mandul itu. Bukan saja untuk
melawan kutukan yang menimpa seorang muridnya,
tapi juga akan digunakan untuk memperbudak kaum
lelaki."
Kedua pemuda kembar itu saling berkerut dahi
dalam memandang si Mulut Guntur. Akhirnya Soka
Pura ajukan tanya kepada Mulut Guntur dengan suara
pelan seperti orang menggumam heran.
"Memperbudak kaum lelaki...?! Maksudnya ba-
gaimana itu, Eyang?"
"Bambu Gading Mandul dapat untuk menun-
dukkan kaum lelaki. Seorang perempuan yang mem-
bawa sepotong Bambu Gading Mandul walau sebesar
kelingking. akan menyebarkan pengaruh gaib melalui
matanya. Pengaruh gaib itu dapat membuat kaum le-
laki tunduk dengan segala perintahnya, termasuk pe-
rintah melayani kemesraan di atas ranjang."
"Oooo...," kedua pemuda kembar itu tak senga-
ja menggumam bersama.
"Apakah pengaruh gaib itu juga dimiliki oleh
seorang lelaki yang membawa sepotong bambu terse-
but, Eyang?"
"Tidak!" Mulut Guntur gelengkan kepala. "Bam-
bu Gading Mandul adalah bambu yang tercipta dari
kelingking bidadari yang terpotong saat terjadi pertem-
puran di kayangan. Kelingking itu jatuh ke bumi dan
tumbuh sebagai bambu tunggal tanpa anak bambu.
Begitulah kepercayaan leluhur ku tentang Bambu Gad-
ing Mandul. Karenanya, hanya kaum perempuan yang
bisa mempunyai pengaruh kekuatan gaib tersebut ter-
hadap lawan jenisnya."
Pendekar Kembar sama-sama angguk-
anggukkan kepala sambil menggumam kecil. Mereka
baru tahu khasiat lain dari Bambu Gading Mandul itu,
sebab ketika Resi Bayakumba jelaskan tentang bambu
tersebut, tak ada penjelasan tentang kekuatan daya
pikat itu. Agaknya si Mulut Guntur lebih banyak tahu
tentang Bambu Gading Mandul daripada Resi Baya-
kumba.
Raka dan Soka semakin penasaran ingin da-
patkan bambu tersebut. Bukan saja karena ingin ka-
lahkan kekuatan si Darah Kula, namun juga penasa-
ran ingin melihat seperti apa yang mempunyai kekua-
tan aneh tersebut. Hal itu membuat semangat mereka
untuk pergi ke Kubangan Berdarah semakin tinggi.
Tetapi ternyata ada pihak lain yang menentang
niat tersebut. Orang yang tidak setuju dengan perjala-
nan Pendekar Kembar ke Kubangan Berdarah tak lain
adalah gadis cantik yang salah satu giginya bertumpuk
alias 'gingsul' itu. Siapa lagi gadis gingsul berlesung
pipit jika bukan Kirana, si murid tercantik dari bebe-
rapa murid perempuannya Mulut Guntur.
"Aku akan merintangi langkah kalian jika ka-
lian nekat pergi ke tanah Kubangan Berdarah!" ancam
Kirana dengan wajah cemberut.
"Mengapa kau berubah sikap menjadi penen-
tang langkahku, Kirana?! Semula kau mendukungku
dan bahkan membawaku kepada gurumu agar menda-
pat petunjuk untuk pergi ke sana. Tapi mengapa kau
sekarang menjadi perintang ku?!"
"Karena aku tak ingin kau binasa di tangan si
Dedengkot Iblis itu, Raka! Aku takut kehilangan diri
mu!" jawab Kirana dengan nada suara tandas dan te-
gas.
Hati yang tertawan oleh ketampanan dan ke-
lembutan Raka Pura membuat Kirana nekat memprok-
lamirkan diri sebagai perintang utama bagi perjalanan
sang Pendekar Kembar. Bahkan ia berkata dengan le-
bih tegas lagi di depan Raka dan Soka. "Lebih baik aku
mati lebih dulu daripada melihat kau dihancurkan
oleh si Dedengkot Iblis! Karena itu, jika kalian tetap in-
gin berangkat ke Kubangan Berdarah, kalian harus bi-
sa langkahi mayatku dulu!"
"Heh, heh, heh...! Belum tahu dia...?!" ujar Soka
sambil nyengir kepada kakaknya.
Tapi wajah Raka Pura pun menjadi kendur,
seakan ia tak berani teruskan langkahnya jika Kirana
melarang sekeras itu.
"Baiklah, kalau kemauanmu begitu, aku tak
akan berangkat ke sana!" ujar Raka kepada Kirana.
Hal itu membuat Soka Pura menjadi terperangah te-
gang.
"Kau gila, Raka?!"
"Aku tak ingin Kirana memusuhi ku, Soka!"
"Hei...?l Mengapa hatimu yang selama ini dingin terha-
dap perempuan, sekarang menjadi selembek bubur sa-
gu begitu, Raka?!"
"Terserah apa katamu. Yang jelas, jika kau in-
gin nekat berangkat, berangkatlah sendiri. Aku akan
tetap bersama Kirana di sini!"
"Edan tujuh turunan kau ini!" gerutu Soka Pu-
ra dengan napas memburu karena mulai dihinggapi
kemarahan atas keputusan sang kakak. Soka Pura
menjadi gusar sekali.
Sementara itu, Mulut Guntur menatap curiga
pada kasak-kusuk mereka bertiga. Sang Guru segera
mendekatinya. Namun sebelum ajukan tanya, Kirana
sudah perdengarkan suaranya yang tegas lebih dulu.
"Eyang Guru, kalau Eyang Guru mengatakan
rahasia itu kepada Pendekar Kembar, aku akan keluar
dari perguruan ini!"
"Kirana?! Ada apa dengan dirimu?!"
Kirana tidak menjawab, ia segera pergi dengan
wajah cemberut. Pendekar Kembar menatap si Mulut
Guntur yang terbengong kebingungan hadapi ancaman
murid cantiknya itu.
*
* *
3
SIKAP lemah Raka yang sepertinya cenderung
memihak keputusan Kirana ternyata hanya sebuah
siasat saja. Sang gadis sempat merasa lega dan ber-
bunga indah mendengar Raka Pura lebih baik menyu-
ruh adik kembarnya pergi sendiri ketimbang ia harus
menentang keputusan Kirana.
Tetapi dalam kenyataannya, esok pagi sebelum
matahari terbit, kedua pemuda kembar itu akhirnya
nekat tinggalkan Perguruan Tapak Syiwa. Di saat Ki-
rana masih tertidur nyenyak, mereka sudah berangkat
menuju Kubangan Berdarah, sesuai dengan arah yang
pernah ditunjukkan oleh Kirana, sebelum gadis itu be-
rubah keputusan.
Tentu saja Kirana yang menaruh hati kepada
Raka Pura itu merasa kehilangan dan menjadi kelaba-
kan setelah mengetahui Pendekar Kembar sudah ting-
galkan padepokan. Ia segera temui gurunya dengan
gusar. Wajah cantiknya sudah dilipat-lipat sepagi itu.
"Guru, apa yang telah Guru lakukan terhadap
Pendekar Kembar?!"
Mulut Guntur berlagak bingung. "Maksudmu
apa bertanya begitu, Kirana?!"
"Mereka telah pergi dari padepokan! Mereka ti-
dak ada di kamarnya, Guru!"
"O, tentu saja begitu. Sebab mereka telah pu-
lang ke Gunung Merana!"
"Guru pasti telah mengatakan rahasia kelema-
han Dedengkot Iblis, sehingga mereka berdua pergi ke
Kubangan Berdarah!" tegas Kirana dalam menuduh.
Sang Guru kalem saja. "Tidak. Aku tidak men-
gatakan rahasia itu!"
"Guru berani bersumpah?!"
"Aku berani bersumpah, aku tidak mengatakan
rahasia kelemahan Dedengkot Iblis!"
"Lalu, mengapa mereka pergi tinggalkan pade-
pokan tanpa pamit padaku?!"
Sang Guru masih kalem, sedikit angkat bahu
tanda pasrah.
"Tapi mereka pamit padaku, Kirana. Mereka
pulang ke Gunung Merana, karena mereka kecewa
dengan sikapmu yang ingin menguasai mereka."
Kirana mulai surutkan kecemberutannya. Wa-
jah itu berubah menjadi murung, sepertinya penuh
sesal yang menyedihkan. Sang Guru hanya pandangi
muridnya dengan kedua tangan bersidekap di dada.
"Aku tahu kau menaruh hati pads Raka Pura,
Kirana!"
"Guru...," Kirana angkat wajah dukanya setelah
menunduk sesaat.
"Ya, aku tahu kau mulai jatuh cinta kepada
seorang pemuda. Tapi tidak semestinya kau menge-
kang ruang gerak pemuda itu. Seorang lelaki cende-
rung mundur dari seorang gadis jika gadis itu tak
punya pengertian dan kesadaran terhadap apa yang
dihadapi oleh seorang lelaki."
"Guru, aku hanya tak ingin kehilangan Raka
Pura!" ucap Kirana dengan suara mulai parau. "Aku ti-
dak ingin Raka Pura tewas di tangan penjaga tanah
Kubangan Berdarah itu, Guru!"
"Tanpa sadar kau telah menganggap Raka le-
mah, meremehkan kemampuannya, merendahkan il
munya, dan yang lebih berbahaya lagi... kau telah
mematahkan semangat dan keberanian seorang pen-
dekar seperti Raka Pura itu!"
"Aku... aku mencintainya, Guru," ucap Kirana
semakin parau, karena kali ini ia benar-benar menitik-
kan air mata dukanya di depan sang Guru. Ia tak se-
gan-segan lagi ungkapkan isi hati yang sebenarnya
demi memberikan alasan atas sikapnya yang menjadi
penentang langkah Pendekar Kembar itu. Sang Guru
yang cukup bijak dan berkharisma tinggi itu akhirnya
hanya memeluk sang murid cantik, mengusap rambut
sang murid dengan penuh kelembutan dan kasih
sayang.
"Kau tak perlu cemas, Kirana! Kecemasanmu
sama saja harapan celaka pada diri Raka Pura! Yakin-
lah, bahwa mereka tak akan temui halangan apa pun,
tak akan alami celaka apa pun, dan akan kembali ke
padepokan kita setelah urusan mereka selesai." Kirana
tarik diri dan pandangi gurunya.
"Jadi benar mereka ke tanah keramat itu,
Guru?!"
"Apakah kau tidak percaya dengan jawabanku
yang tadi, Kirana?!"
Kirana diam tertegun dalam kebimbangan. Se-
harusnya Kirana mengatakan, "Ya, aku tidak percaya
dengan jawabanmu yang tadi, Guru!" Maka saat itu
sang Guru akan berkata, "Bagus. Kau memang pantas
untuk tidak percaya." Kemudian sang Guru pasti akan
menjelaskan hal yang sebenarnya.
Karena kepergian Pendekar Kembar bukan tan-
pa pamit kepada siapa pun. Justru atas saran si Mulut
Guntur mereka berangkat sebelum para murid bangun
di pagi hari. Mulut Guntur memang tidak mengatakan
rahasia tersebut. Tapi ia menulis rahasia kelemahan
Dedengkot Iblis pada sesobek kain putih. Kain itu di
berikan kepada Pendekar Kembar sebagai bekal men-
galahkan Dedengkot Iblis di tanah Kubangan Berda-
rah.
"Aku hanya bisa membekali kalian sesobek kain
ini," ujarnya kepada kedua pemuda kembar itu. "Ada
beberapa hal yang ku tulis pada kain ini. Tapi bacalah
setelah kalian jauh dari padepokan!"
Sebab itulah, Mulut Guntur berani bersumpah
bahwa ia tidak 'mengatakan' rahasia tersebut, karena
ia hanya 'menulis' rahasia tersebut di atas selembar
kain putih. Sebab itu pula, Pendekar Kembar bergegas
menuju ke Kubangan Berdarah dengan semangat dan
keberanian semakin tinggi.
Mulut Guntur sempat berpesan, "Potonglah ba-
gian ujung dari pohon Bambu Gading Mandul itu se-
cukupnya saja. Kekuatan sakti bambu itu terletak pa-
da bagian ujung. Semakin pucuk, semakin besar ke-
kuatan saktinya."
"Baik, Eyang. Kami akan memotong sekitar dua
jengkal bagian pucuk bambu itu," ujar Raka Pura.
"Dan ingat... jangan sampai jatuh ke tangan pe-
rempuan, karena perempuan yang memegang bambu
itu, ia akan dapat jadikan kalian budaknya saat itu ju-
ga!"
"Kami akan perhatikan pesan ini, Eyang!"
"Oh... hampir ku lupa," sergah Mulut Guntur
sebelum Pendekar Kembar melangkah pergi. "Hancur-
kan atau bakar sampai habis kain putih yang kuti-
tipkan pada kalian itu, jika kalian sudah selesai mem-
baca tulisan yang ada di dalamnya!"
"Balk, Eyang!" jawab Raka yang sudah mendu-
ga apa isi tulisan dalam kain putih tersebut.
Tetapi Soka Pura masih belum paham apa yang
di maksud dengan tulisan dalam kain putih tersebut.
Ia menyangka tulisan itu berupa sebaris atau dua ba
ris mantra yang harus dihafalkan. Karenanya, rasa pe-
nasaran Soka membuatnya mendesak Raka untuk
membaca tulisan dalam kain putih itu.
"Kita sudah cukup jauh dari padepokan! Men-
gapa tidak kita baca sekarang saja tulisan dalam kain
putih yang ada padamu itu, Raka?!"
Raka Pura tertawa pelan. "Rupanya sejak tadi
hati mu gelisah karena rasa penasaran terhadap tuli-
san dalam kain putih ini, Soka?!"
"Memang begitu. Kau tahu, daya ingat ku tak
sebaik daya ingat mu. Aku harus punya cukup waktu
untuk menghafalkan mantra tersebut."
Raka Pura hentikan langkah. "Kain putih ini
bukan berisi mantra."
"Lalu berisi apa?"
"Penjelasan tentang rahasia kelemahan si De-
dengkot Iblis!" bisik Raka Pura pelan sekali.
"Dari mana kau yakin begitu?!"
"Firasat ku mengatakan begitu. Sebab menu-
rutku, Eyang Wirata tak mungkin melepas kepergian
kita ke Kubangan Berdarah jika ia benar-benar tidak
membekali kita dengan rahasia tersebut. Tentunya be-
liau juga tak ingin kita celaka di tangan si penjaga Ku-
bangan Berdarah itu!"
"Hmmrn...," Soka manggut-manggut sesaat.
"Kita baca sekarang saja tulisan dalam kain putih itu!"
Raka Pura tengok kanan-kiri sebentar. Ia tak
ingin ada pihak lain yang turut membaca rahasia ter-
sebut. Setelah merasa aman, mereka segera memba-
canya bersama dalam hati.
"Jangan biarkan kakimu menyentuh tanah.
Pukulan tanpa amarah dan kebencian akan kenai sa-
saran dengan telak. Buanglah sampan pada tempat-
nya."
Soka Pura tersenyum geli begitu selesai mem
baca tulisan tersebut.
"Kalimat terakhir mengandung makna usil,"
ujarnya kepada Raka.
Sang kakak pun akhirnya tersenyum geli juga.
Soka tambahkan kata, "Mestinya dilengkapi pula den-
gan kalimat 'Jagalah kebersihan, peliharalah lingkun-
gan'...."
Raka semakin geli. "Ada-ada saja. Kenapa tidak
ditulis pula kalimat yang berbunyi 'Hemat pangkal
kaya, rajin pangkal pandai'? Biar tambah konyol seka-
lian."
Tawa si bungsu agak memanjang. Tapi tawa itu
segera reda setelah Raka Pura berujar dengan nada se-
rius.
"Eh, tapi mungkin saja kalimat terakhir ini
punya arti tersendiri?!"
"Maksudmu bukan sekadar anjuran main-
main?"
"Ya. Coba kau renungkan dua kalimat di atas-
nya ini. Selalu kaki kita tak boleh sentuh tanah dalam
melawannya, kita juga tak boleh memukul dengan hat
diliputi kemarahan dan kebencian. Ditambah lagi...
'buanglah sampah pada tempatnya' mungkin berarti:
kuburkan mayatnya setelah kita berhasil membunuh-
nya."
"Jika tidak dikuburkan apakah ia akan bangkit
lagi?"
"Barangkali saja begitu maksud kalimat terak-
hir ini."
Setelah mereka termenung sebentar, Soka Pura
segera suruh kakaknya untuk hancurkan secarik kain
putih itu. Raka Pura menghancurkannya dengan gu-
nakan jurus 'Cakar Matahari', yang mampu membakar
kain tersebut hingga menjadi abu dalam sekejap, mela-
lui sinar putih berbentuk pisau yang keluar dari tela
pak tangan. Dan langkah pun mereka teruskan sambil
membicarakan tentang rahasia tersebut dengan suara
bisik.
Lereng Gunung Mercapada mulai dirayapi ka-
but setipis sutera. Hutan di lereng itu mulai bercampur
pohon-pohon bambu hijau. Semakin menuju ke arah
puncak semakin banyak tanaman bambu bergerombol.
Padahal si Mulut Guntur pernah berkata, "Jika
kalian sudah temukan hutan tanpa tanaman lain ke-
cuali tanaman bambu, maka itu berarti kalian sudah
sampai di tanah keramat yang dinamakan Kubangan
Berdarah. Carilah di sekitar tempat itu sebatang pohon
bambu kuning yang tumbuh lurus bagai ingin me-
nombak langit...."
Raka Pura mencekal lengan adik kembarnya,
sehingga langkah mereka sama-sama terhenti. Tanpa
bicara apa pun, Raka Pura memandang ke satu arah
yang segera diikuti oleh pandangan mata Soka. Ter-
nyata mereka menemukan kerangka manusia yang
tergeletak di bawah segerombol pohon bambu hijau.
Mereka pun
mendekatinya. Bulu kuduk mulai berdiri ketika
angin berhembus lebih kencang dari saat sebelumnya.
"Kerangka ini sudah kering dan tak tersisa da-
gingnya sedikit pun. Berarti kerangka ini sudah cukup
lama tergeletak di sini," ujar Raka Pura dengan suara
lirih.
"Mungkin kita sudah memasuki perbatasan
Kubangan Berdarah," bisik Soka Pura sambil mengu-
sap tengkuk kepalanya yang merinding.
"Kurasa kerangka ini sebagai peringatan bagi
kita agar mulai berhati-hati dan lebih waspada lagi.
Maut mengancam di depan langkah kita, Soka!"
"Aku sudah siap hadapi maut dalam bentuk
apa pun!" tegas Soka Pura. Kini ia mencabut pedang
bersama sarung pedangnya dari selipan pinggang ka-
nan. Pedang itu ditenteng dengan tangan kanan, agar
se-waktu-waktu mudah dicabut dengan tangan kiri,
karena Soka Pura adalah pendekar bertangan kidal.
Mereka mulai melangkah di antara semak-
semak pohon bambu hijau. Tanah di sekitar tempat itu
berumput tipis dan tampak merah kehitam-hitaman.
Warna merah kering itu tidak menyeluruh, namun
membentuk semacam kelompok tersendiri. Bahkan
dedaunan rumput pun banyak yang berwarna merah
kering. Bau amis tercium samar-samar, menandakan
tempat itu adalah tempat yang banyak diguyur oleh
darah yang kini telah mengering.
Tulang kerangka manusia semakin banyak me-
reka jumpai di sana-sini. Pemandangan di sekitar tem-
pat itu bertambah menyeramkan, seperti ladang pem-
bantaian. Tentu saja naluri Pendekar Kembar mulai
mengatakan bahwa mereka telah berada di Kubangan
Berdarah yang berarti juga sudah mulai dekat dengan
tempat tumbuhnya Bambu Gading Mandul.
"Soka, pertajam rasamu, gunakan indera kee-
nam untuk menangkap datangnya bahaya sewaktu-
waktu," bisik Raka Pura. Sang adik hanya menggu-
mam pendek dan pelan, matanya memandang ke sana-
sini dengan tajam dan penuh waspada.
Beberapa langkah kemudian, mereka temukan
tanaman bambu biru kehitaman. Bambu wulung.
Bambu-bambu itu tumbuh lurus secara sendiri-
sendiri, tidak menggerombol seperti bambu-bambu hi-
jau lainnya. Tanah di sekitar tempat itu semakin ber-
bau amis darah dan cukup memualkan perut. Kerang-
ka manusia lebih banyak berserakan di sana-sini.
Langkah mereka pun terhenti untuk perhatikan kea-
daan pemandangan yang menyeramkan itu.
"Aku merasa seperti...."
Belum selesai Raka Pura bicara, tiba-tiba tu-
buhnya bagai disambar kuda terbang dari arah kiri.
Bruuus...! Raka Pura terpekik pendek dengan tubuh
terlempar menabrak Soka di samping kanannya.
Brruuuk...!
"Aahk...!"
Setan belang! Apa-apaan kau ini, Raka?!" ben-
tak Soka Pura sambil mengusap-usap pelipisnya yang
membentur batu saat terbanting ke kanan. Ia menye-
ringai kesakitan sambil perhatikan kakaknya yang wa-
jah kirinya memar membiru. Raka Pura tak bisa mem-
beri penjelasan apa pun, karena lehernya terasa seper-
ti habis dipenggal dengan sebatang besi. Sakitnya bu-
kan kepalang.
Soka Pura bangkit dengan memendam rasa he-
ran.
"Apa yang...."
Belum selesai Soka ucapkan kata, tiba-tiba da-
danya bagaikan disodok memakai kayu dolken dengan
keras. Buuhk...!
"Haahhk...!" Soka Pura mendelik dan terlempar
ke belakang dalam keadaan mata terpejam menahan
rasa sakit. Tulang dadanya terasa patah dan nafasnya
tersumbat oleh remukan tulang dada itu. Ia jatuh ter-
kapar dengan tubuh tersentak-sentak karena sukar
bernafas. Darah segar mengalir dari mulut Soka, mele-
leh ke pipi kanan.
"Dia telah menyerang kita, Soka...!!" seru Raka
Pura yang suaranya kontan menjadi serak, sambil ber-
siap melakukan perlawanan dengan mencabut pe-
dangnya. Namun pandangan mata si Pendekar Kembar
sulung itu tak bisa menangkap gerakan apa pun di se-
kitarnya, kecuali daun-daun bambu yang tertiup an-
gin.
"Majulah kau sekarang juga, Dedengkot Iblis!"
seru Raka Pura dengan berang. Pedang Tangan Malai-
kat yang terbuat dari kristal bening mulai memancar-
kan bias sinar ungu samar-samar. Pedang itu segera
dimainkan untuk hadapi lawan yang tak bisa dilihat
dengan mata telanjang.
Namun sebelum ia dapat menduga ke mana ge-
rakan si Dedengkot Iblis itu, tiba-tiba seberkas sinar
merah seperti telur burung berekor panjang segera me-
lesat dari arah belakangnya. Slaaap...! Pada waktu itu,
Soka Pura sempat melihat kakaknya dalam ancaman
bahaya sinar merah tersebut. Maka dengan susah
payah Soka pun berseru sambil menggeliat bangkit
terhuyung-huyung.
"Awas belakaaaang...!"
Raka Pura segera sentakkan kakinya dan tu-
buh pun melambung ke atas dalam gerakan bersalto.
Wuuuk, wuuuk...! Ternyata gerakannya yang melam-
bung itu melebihi ketinggian sinar merah yang me-
layang, sehingga tubuhnya lolos dari terjangan sinar
tersebut. Tetapi sinar merah itu ganti mengarah kepa-
da Soka Pura dengan membelok ke kiri sedikit. Seakan
sinar merah itu mempunyai nyawa dan mampu mem-
buru lawannya yang lain. Slaaap...!
Dengan sisa tenaga yang ada, Soka Pura segera
melompat ke samping dalam gerakan tubuh tegak lu-
rus namun berputar bagai baling-baling. Weees...!
Pedang kristal yang segera dicabut dari sa-
rungnya itu ditebaskan bagai menampel telur merah
berekor panjang. Sinar merah tersebut terkena kibasan
pedang, tepat di bagian pertengahan lebar pedang.
Blaaaarrr...!
Ledakan cukup dahsyat terjadi saat sinar me-
rah mirip telur burung itu pecah dihantam Pedang
Tangan Malaikat. Tetapi gelombang ledakannya me-
nyentak kuat ke berbagai penjuru, membuat tubuh
Raka Pura terpelanting ke arah lain dan jatuh tanpa
keseimbangan tubuh. Brruuuk...!
Raka Pura bingung sekali melihat adiknya ter-
lempar sendiri. Ia tak bisa melihat di mana lawannya
berada, padahal ia sudah siapkan jurus 'Nenek Petir'
dengan pedangnya untuk menyerang lawan.
"Jangan sampai kakimu menyentuh tanah...?!"
gumam Raka Pura dalam hati mengingat-ingat kalimat
pemberian si Mulut Guntur itu.
Serta-merta Raka Pura melompat ke samping,
ke arah dua pohon bambu yang tumbuh bersebelahan
dalam jarak sekitar satu langkah. Wuuut...! Begitu
masuk ke pertengahan jarak kedua bambu itu, kedua
kakinya segera merentang hingga menapak pada ke-
dua pohon bambu tersebut. Zeeb...!
Kini kedua kaki Pendekar Kembar sulung tidak
menapak di tanah. Kedua pohon bambu itu sedikit
doyong ke samping karena dipakai pijakan kedua kaki
Raka. Pedang pun segera dimainkan dalam sekelebat,
Wiik, wiik, wiik...!
Gerakan tangan berpedang berhenti dalam po-
sisi ujung pedang mengarah ke depan dan kedua tan-
gan menggenggam gagang pedang di atas telinga ka-
nan. Mata Pendekar Kembar sulung masih jelalatan
mencari di mana musuhnya berada.
Ternyata ia menemukan sesosok tubuh jang-
kung berambut putih yang panjangnya sepunggung.
Tubuh kurus berjubah merah kusam dengan cela-
nanya yang merah juga itu mempunyai sepuluh jari
berkuku panjang dan hitam. Sosok itu sedang melang-
kah hampiri Soka Pura dengan santainya. Padahal
saat itu Soka Pura baru saja bangkit dari jatuhnya dan
sedang kebingungan mengarahkan pedangnya.
"Dia di samping kirimu, Soka!!" seru Raka den-
gan wajah tegang.
"Kaki jangan menyentuh tanah!" sambung Raka
secepatnya.
Pendekar Kembar bungsu segera ingat tulisan
dalam kain putih tadi. Dengan cepat ia melompat ke
kanan dan tancapkan pedangnya ke tanah. Jruub...!
Wut, jleeg...!
Soka Pura berdiri di atas gagang pedang den-
gan kedua tangan mengembang bagai sayap seekor bu-
rung bangau. Jari-jarinya menguncup rapat, siap di-
pakai menangkis serangan lawan. Ketika itu pula, So-
ka Pura segera dapat melihat sosok jangkung berwajah
kurus dengan mata kecil yang cekung dan kulit berke-
rut-kerut. itulah sosok wajah si Dedengkot Iblis yang
hanya bisa dilihat jika kaki Soka tidak menyentuh ta-
nah.
Seandainya pada saat Pendekar Kembar tadi
sama-sama melayang karena terjangan lawan dalam
keadaan membuka matanya, maka mereka akan dapat
melihat sosok Dedengkot Iblis. Tapi karena tadi mereka
terlempar dan melayang dalam keadaan mata terpejam
menahan rasa sakit, maka mereka tak sempat melihat
sosok wujud lawannya.
Dedengkot Iblis hentikan langkah seketika. Ia
bagaikan terkejut melihat lawannya berdiri di atas ga-
gang pedang dengan menggunakan jurus peringan tu-
buh yang cukup tinggi. Dedengkot Iblis juga menatap
Raka Pura yang ada di belakangnya, dan menjadi he-
ran melihat Raka berdiri di antara kedua pohon bambu
wulung tanpa menginjak tanah.
"Kami dapat melihat rupa mu yang keriputan,
Dedengkot Iblis!" seru Soka Pura sambil nafasnya ma-
sih terhela dengan berat.
Dedengkot Iblis mundur dari pertengahan jarak
antara Raka dan Soka. Matanya yang liar dan ganas
itu memandang ke arah kanan-kirinya dengan gerakan
cepat. Kedua tangannya merenggangkan jemari hingga
kuku-kuku panjangnya yang runcing itu tampak me-
mancarkan cahaya biru berlompatan, bagaikan cahaya
petir yang siap menyambar ke mana-mana.
"Bangsat!" geram Dedengkot Iblis. "Turun ka-
lian dari tempat masing-masing dan hadapilah aku!"
"Kami lupa caranya turun!" sahut Soka Pura
dengan konyol. "Jika kau memang merasa hebat, ma-
julah kemari dan seranglah aku!"
"Kami tak akan menapakkan kaki di tanah, De-
dengkot Iblis! Karena kau tak berani tampakkan diri
jika kami menapakkan kaki ke tanah!" timpal Raka Pu-
ra sambil sama-sama menahan rasa sakitnya.
"Keparat! Mau apa kalian sebenarnya?!"
"Mencari sepotong Bambu Gading Mandul!" te-
gas Raka Pura.
"Bangsat tengik kalian! Ku kuras darah kalian!
Heeeaaah...!"
Kedua tangan Dedengkot Iblis menyentak ke
kanan-kiri dalam keadaan jari-jarinya membentuk ca-
kar terbuka. Dari jari-jari itu melesat sinar-sinar biru
berkerilap bagaikan pasukan petir menerjang Pendekar
Kembar. Craalaaap...! Weerss...!
Raka Pura sentakkan pedangnya ke depan den-
gan sedikit diputar. Maka dari ujung pedangnya keluar
sinar ungu yang ikut bergerak memutar seperti obat
nyamuk. Claap...! Dan sinar ungu itu menjadi perisai
yang menahan serangan sinar-sinar biru berkelok-
kelok itu. Trat, taaar...! Blegaaarr...!
Ledakan lebih dahsyat dari yang pertama terja-
di dengan menyebarkan gelombang sentakan amat
kuat. Ledakan itu terjadi akibat benturan kedua sinar.
Pohon-pohon bambu menjadi patah dan sebagian
tumbang bersama akar-akarnya. Tubuh Raka Pura
sendiri terlempar ke arah belakang dengan gerakan
melayang-layang sambil membentur-bentur bambu-
bambu yang masih belum sempat tumbang atau pa-
tah.
Sementara itu, Soka Pura menahan napas dan
menyentakkan kakinya di atas gagang pedang. Wuut,
Wuuut...! Dalam sekejap tubuhnya telah meluncur
tinggi karena ia menggunakan jurus peringan tubuh
yang dinamakan jurus 'Badai Terbang'. Akibatnya, li-
ma sinar birunya Dedengkot iblis tak satu pun kenal
tubuh Soka Pura. Sinar-sinar biru itu menghantam
pohon bambu di belakang Soka dan membuat bambu-
bambu itu hancur menjadi serbuk halus yang beter-
bangan bersama asap bercampur kabut lereng gu-
nung.
Jegaaaarrr...!
"Heeeeaaaaat...!!"
Raka Pura menggunakan jurus Jalur Badai'
yang mempunyai kecepatan gerak melebihi kecepatan
badai yang paling cepat. Pedang Tangan Malaikat ma-
sih di genggam dengan ujungnya mengarah ke dada si
Dedengkot Iblis. Dalam keadaan melayang cepat begi-
tu, Raka Pura tetap dapat melihat di mana lawannya
berdiri.
Dedengkot Iblis terkejut melihat lawannya ber-
gerak cepat bagaikan badai mengganas. Ia tak sempat
hindari diri dari terjangan ujung pedang Pendekar
Kembar sulung. Maka dengan cepat ia sentakkan tan-
gan kanannya ke depan dalam keadaan telapak tangan
terbuka dan memancarkan sinar merah bara. Telapak
tangan itu dipakai menahan ujung pedang yang me-
nerjangnya.
Blegaaarrr...! Dedengkot Iblis tak tahu bahwa
pedang kristal milik Pendekar Kembar dapat lukai la-
wan dalam jarak tiga langkah tanpa menyentuh tubuh
lawan. Akibatnya, sebelum pedang itu menyentuh te
lapak tangannya, ternyata kekuatan sakti pedang telah
menghujam telapak tangan yang menyala merah bara
itu. Maka terjadilah ledakan yang dahsyat pula, mem-
buat tubuh Dedengkot Iblis terlempar sejauh sepuluh
langkah lebih.
Wrrees...! Prak, prak, prak...! Brruus...! Bebera-
pa batang bambu wulung yang tumbuh tegak itu patah
seketika diterjang tubuh Dedengkot Iblis yang terlem-
par melayang kuat itu. Sementara, kaki Raka Pura se-
gera hinggap di atas tonggak bambu dengan tetap per-
gunakan ilmu peringan tubuhnya. Hatinya sempat
menyimpan rasa heran dan kagum melihat Dedengkot
Iblis masih bisa berdiri walau wajahnya bagai tercabik-
cabik penuh darah akibat terkena gelombang ledakan
tadi.
"Kalau bukan berilmu tinggi, sudah hancur tu-
buh gaib orang itu!" gumam hati Raka Pura sambil me-
lirik adiknya yang telah mencabut pedangnya dari ta-
nah dalam keadaan melayang turun dari udara. Soka
pun segera melompat dan berdiri di atas tonggak bam-
bu berjarak tiga langkah dari samping kakak kembar-
nya.
"Serang bersama dengan jurus 'Lidah Dewa'!"
ujar Soka membisik. Raka Pura tak menjawab tapi se-
tuju dengan rencana adiknya.
Dedengkot Iblis menendang sebatang bambu
yang telah patah dan tumbang akibat terjangan tu-
buhnya tadi. Trak...! Bambu itu melayang di udara dan
ia segera melompat, maka kedua kakinya pun mena-
pak pada batang bambu itu. Ia melayang bagaikan di-
bawa terbang oleh sebatang bambu wulung ke arah
lawannya.
Pendekar Kembar segera sentakkan Pedang
Tangan Malaikat ke arah depan. Dari ujung-ujung pe-
dang mereka keluar sinar ungu lurus. Kedua sinar itu
menyatu di depan dan menerjang si Dedengkot Iblis.
Claaap...! Blaaas...!
"Hahh...?!" Raka Pura dan adiknya terbelalak
heran dengan mata mendelik. Ternyata sinar ungu
yang menyatu dan biasanya bisa membuat lawan men-
jadi arang seketika itu juga, ternyata tidak mampu lu-
kai tubuh Dedengkot Iblis. Penyatuan sinar ungu yang
merupakan Jurus 'Lidah Dewa' itu hanya menembus
tubuh Dedengkot Iblis bagaikan menembus bayangan
di udara. Sementara arang yang diserang masih me-
luncur cepat dengan bambu terbangnya.
"Pencar...!" teriak Raka Pura. Kedua Pendekar
Kembar itu segera melompat ke samping kanan-kiri,
sehingga lawannya menerjang tempat kosong. Namun
angin terjangannya mengandung hawa panas yang da-
pat membuat tubuh melepuh seketika.
"Aaow...!" Raka Pura memekik kesakitan, len-
gannya sempat menjadi hitam hangus seperti habis di
sambar petir. Sedangkan sang adik yang melompat le-
bih jauh dan lebih cepat dalam keadaan selamat.
Hanya rasakan hawa panas menyengat yang menyam-
bar punggungnya.
Weezz...! Weezz...! Soka Pura melompat ke ke-
dua arah dengan gerakan jurus 'Jalur Badai'-nya. Da-
lam sekejap ia sudah berada di samping kakaknya
kembali. "Bagaimana lukamu?!"
"Masih bisa ku atasi!" jawab Raka dengan ce-
pat. "Hilangkan rasa benci dan amarah! Mungkin den-
gan cara begitu kita bisa lukai tubuh iblis itu!"
Soka Pura membenarkan dalam gumam pen-
dek, karena ia pun segera ingat tulisan dalam kain pu-
tih pemberian si Mulut Guntur itu. Maka ia dan ka-
kaknya segera tarik napas dalam-dalam dan mene-
nangkan gemuruh permusuhan dalam hatinya. Untuk
lakukan hal itu, mereka sengaja lari menjauh beberapa
langkah untuk memperoleh banyak waktu dalam me-
nenangkan rasa permusuhan dalam hati mereka.
Tapi tanpa disengaja, gerakan menjauh mereka
ternyata telah membuat mereka berada sekitar sepu-
luh langkah dari tumbuhnya sebatang bambu kuning
yang tegak dan lurus bagai ingin menombak langit.
"Bambu itu, Raka...!" sentak Soka Pura dengan
hati berdebar-debar. Raka pun segera memandang pe-
nuh ketegangan.
"Kurasa itulah yang dinamakan Bambu Gading
Mandul!" ujar Raka. "Tebang pucuknya, aku akan me-
nahan serangan si iblis itu!" sambil Raka mulai me-
mandang ke arah Dedengkot Iblis yang berwajah te-
gang dalam gerakan melayang di atas sebatang bambu.
"Jangan kau sentuh bambu itu jika ingin sela-
mat. Keparat!!" teriak Dedengkot iblis dengan luka ca-
bikan di wajah membuatnya lebih menyeramkan.
"Aku mohon izinmu, Pak Tua!" seru Raka Pura
sambil melayang dengan pergunakan kecepatan jurus
'Jalur Badai'. Ia menyongsong gerakan cepat si De-
dengkot Iblis yang telah mengangkat kedua tangannya
dan di telapak tangan itu telah tampak sinar bundar
warna biru sebesar telur ayam kampung. Entah kam-
pung mana.
Wuuuzzz...! Slaaap...!
Sementara itu, Soka Pura melesat ke arah
bambu kuning yang tumbuh secara tunggal itu. Bam-
bu itu memang tumbuh lurus dengan pucuknya me-
runcing bagaikan ujung jari berkuku indah. Pantas ji-
ka bambu itu diyakini oleh leluhurnya si Mulut Guntur
sebagai bambu jelmaan dari jari kelingking bidadari
yang putus karena peperangan di kayangan.
Tanpa pedulikan kakaknya bertarung menahan
si dedengkot Iblis, Soka Pura segera melesat tapakkan
kakinya di tanah sekitar Bambu Gading Mandul itu.
Ternyata bambu itu tumbuh pada tanah yang menge-
luarkan asap seperti kabut. Asap itu merembes dari
kedalaman tanah dan mengelilingi bambu itu bagai
mengurungnya.
"Celaka! Asap beracun?!" gumam hati Soka Pu-
ra ketika mencium bau tidak sedap yang makin me-
nyesakkan pernapasan. Ia terpaksa mundur beberapa
langkah.
*
* *
4
ASAP beracun itu sempat membuat mata Soka
Pura berkunang-kunang dan paru-parunya panas se-
kali, seperti terbakar. Namun Pendekar Kembar bung-
su segera mencoba sempatkan diri salurkan hawa
murni dan tenaga inti gaibnya untuk menawarkan ra-
cun yang telah terhirup itu.
Sementara itu, Raka Pura bertarung mati-
matian melawan Dedengkot Iblis yang berusaha mele-
paskan serangan ke arah Soka Pura. Pukulan jarak
jauh Dedengkot Iblis selalu dipatahkan oleh jurus-
jurus mautnya Pendekar Kembar sulung, sehingga ter-
jadi ledakan dahsyat beberapa kali yang menggun-
cangkan alam sekitarnya. Sampai beberapa saat, Raka
Pura belum bisa lukai si Dedengkot Iblis selain hanya
menahan serangan dan menggagalkan gerakan De-
dengkot Iblis yang ingin menuju ke Bambu Gading
Mandul.
Raka pun sesekali memandang ke arah adiknya
yang masih belum juga menebang bambu tersebut.
Akhirnya ia berseru kepada sang adik sambil melayang
bagaikan terbang, menerjang Dedengkot Iblis yang in-
gin berkelebat menyerang Soka. "Cepat lakukan, So-
kaaa...!!"
Jurus 'Sambung Nyawa' ternyata berhasil atasi
asap beracun yang dihirup Soka Pura. Bahkan bebera-
pa luka dan rasa sakit Pendekar Kembar bungsu itu
berhasil dilenyapkan oleh jurus 'Sambung Nyawa'-nya.
Ketika terdengar seruan Raka tadi, keadaan Soka Pura
sudah cukup segar. Ia segera berlari menjauhi bambu
tersebut.
Beberapa langkah kemudian, Soka berhenti
dan kembali berlari ke arah bambu tersebut dengan
gunakan sentakan kaki yang membuatnya melesat ke
atas. Jurus 'Badai Terbang' digabungkan dengan jurus
'Jalur Badai', sehingga dalam waktu singkat ia sudah
berada tak jauh dari kakaknya. Rupanya sang kakak
terkena pukulan maut si Dedengkot Iblis. Dadanya
menjadi hitam dan kepulkan asap kebiru-biruan. Soka
Pura segera menyambar tubuh kakaknya yang lim-
bung hendak jatuh tersungkur itu. Wees...!
Tanpa pedulikan teriakan murka Dedengkot Ib-
lis, Soka Pura membawa lari Raka jauhi tempat itu.
Sementara si Dedengkot Iblis terbelalak sesaat melihat
Bambu Gading Mandul telah menjadi arang dengan si-
sa asap dan api yang masih tampak samar-samar. Ia
pun segera berpaling memandang kepergian Pendekar
Kembar.
"Heeeeaaaahhh...!!!" .
Dedengkot Iblis berteriak keras-keras lepaskan
murkanya. Bum! berguncang hebat, pohon-pohon
tumbang bagai dilanda kiamat, langit terang menjadi
mendung seketika, seakan matahari tak diizinkan ber-
sinar lagi. Tanah bergerak makin kuat dan mengalami
keretakan di beberapa tempat, membentuk celah da-
lam yang mengepulkan asap dan memancarkan ca
haya bara api dari kedalaman bumi.
Krak, krak, wuuurs...! Blaaar...! Blegaaar...!
Bruuuk...!
Bumi menjadi gaduh oleh teriakan maut si De-
dengkot Iblis yang berlari mengejar Pendekar Kembar.
Kecepatan geraknya menyamai kecepatan jurus 'Jalur
Badai'-nya Soka Pura, sehingga dalam beberapa waktu
saja, jarak mereka mulai dekat. Soka Pura sengaja
menggunakan batang-batang pohon bambu untuk
menjejakkan kakinya. Dengan begitu ia tetap dapat
melihat sampai di mana pengejaran Dedengkot Iblis,
sebab kakinya tak menyentuh tanah.
"Kembalikaaaaann...! Kembalikaaaaann...!"
Setiap teriakan Dedengkot Iblis mengandung
getaran maut yang mematahkan pohon-pohon bambu
wulung dan bahkan menjebolkan serumpun bambu hi-
jau di sekitar mereka. Soka Pura tetap melarikan diri
sambil memanggul Raka. Ia butuh tempat aman untuk
sembuhkan kakaknya lebih dulu, setelah itu dapat
berhadapan dengan lawannya lagi. Sebab menurutnya,
Raka Pura dalam ancaman luka maut yang dapat me-
renggut nyawa jika tidak segera diobati. Tubuh si Pen-
dekar sulung sudah sedingin es balok, itu menanda-
kan ajalnya hampir tiba.
Tetapi Dedengkot Iblis kini lakukan pengejaran
sambil melepaskan pukulan-pukulan maut bersinar
biru. Sinar-sinar itu sempat menghantam sebongkah
batu yang ada di depan Soka Pura. Batu tersebut pe-
cah menjadi debu dalam sekejap dengan timbulkan
suara menggelegar memekakkan telinga. Soka Pura
terpaksa bergerak zig-zig dalam pelariannya agar tak
terkena sinar-sinar birunya Dedengkot iblis.
WUUZ, WUUZ, WUUZ, WUUZ,..!
Clap, clap, clap, clap, clap...!
Pendekar Kembar bungsu sempat terperanjat
dan merasa heran ketika ekor matanya menangkap ge-
rakan sinar lain yang datang dari arah timur. Sinar-
sinar birunya si Dedengkot Iblis ternyata dihantam
dengan sinar-sinar kuning emas patah-patah yang
muncul dari sisi timur.
Duaar, blaar, blegaar, blaar, jegaar...!
Gunung Mercapada bagaikan mau meletus dari
pertengahan lerengnya. Guncangan hebat terjadi, sea-
kan gunung itu akan tenggelam ke dasar bumi. Tentu
saja alam sekitarnya menjadi rusak, pohon-pohon se-
makin banyak yang tumbang dan tanah retak terjadi di
mana-mana. Ledakan-ledakan dahsyat itu pun sempat
membuat langit bagai dilapisi cahaya merah secara be-
runtun, yang tentu saja dapat dirasakan oleh pendu-
duk di sekitar kaki Gunung Mercapada itu.
Soka Pura tetap berlari terus tanpa menginjak
tanah, hanya sesekali ia berpijak pada tanah jika tak
mendapat tempat pijakan lainnya. Sedangkan Dedeng-
kot Iblis tetap mengejarnya dengan gerakan dan seran-
gan membabi buta. Suara teriakan liarnya menggema
panjang karena saling menyusul. Alam benar-benar
menjadi gaduh dan mengerikan bagi orang awam.
Tiba-tiba Soka Pura terpaksa hentikan lang-
kahnya karena ia merasa dihadang oleh seseorang
yang berdiri di atas pucuk ilalang. Orang itu sempat
melepaskan pukulan bersinar kuning emas dari kedua
jari tangan kirinya yang mengeras itu. Rupanya dialah
yang memiliki pukulan bersinar emas dan menghan-
curkan sinar-sinar birunya Dedengkot Iblis. Orang itu
adalah seorang perempuan berusia sekitar empat pu-
luh tahun dengan wajah separo bayanya yang masih
cantik memukau.
"Larilah ke barat, akan ku tahan dia di sini!"
ujar perempuan berjubah ungu sutera itu kepada Soka
Pura.
Pendekar Kembar bungsu tertegun sekejap, lalu
segera sadar bahwa perempuan itu berbicara padanya.
Maka dengan cepat ia melesat ke arah barat sesuai an-
juran perempuan yang belum dikenal itu. Wuuuz...!
Blaar, blaar...! Duubs...! Perempuan berjubah
ungu sutera itu berhasil lepaskan pukulan ke arah
Dedengkot Iblis dengan tenang, tanpa kesan marah
dan bermusuhan. Tentu saja dapat melihat sosok si
Dedengkot Iblis karena ia berdiri di atas pucuk ilalang,
bukan menapakkan kakinya ke tanah. Sementara itu,
Soka Pura sempat menengok sebentar ke belakang dan
melihat Dedengkot Iblis terlempar ke belakang dengan
hempasan sangat kuat.
"Siapa perempuan itu?! Rupanya dia tahu ba-
gaimana caranya menghadapi Dedengkot Iblis?!" pikir
Soka sambil lanjutkan pelariannya.
Ternyata arah yang ditunjukkan oleh perem-
puan cantik berjubah ungu itu memang mempunyai
makna besar bagi Pendekar Kembar. Soka temukan
sebuah gua bercelah sempit. Ia segera bawa masuk
kakaknya ke gua tersebut, lalu cepat-cepat lakukan
penyembuhan menggunakan jurus 'Sambung Nyawa',
karena keadaan Raka Pura sudah sangat parah dan
tak bisa lakukan penyembuhan sendiri.
Dalam waktu beberapa saat saja, rona pucat di
wajah Raka Pura sudah mulai pudar dan menjadi se-
gar kembali. Namun rasa lemas masih diderita oleh
Pendekar Kembar sulung itu. Sang adik merasa lega
hingga hembuskan napas panjang-panjang.
Sambil meletakkan pedang milik kakaknya
yang tadi sempat disambar dengan tangan kiri, dijadi-
kan satu dengan pedangnya, Soka Pura pun berkata
kepada sang kakak yang sudah bisa melihat dengan
normal.
"Jangan ke mana-mana dulu. Tetaplah di sini,
aku akan bantu perempuan itu lumpuhkan si Dedeng-
kot Iblis!"
Raka Pura menerima pedangnya di atas dada
dan digenggam ala kadarnya. Jari tangan belum bisa
menggenggam pedang terlalu kuat. Bahkan suaranya
masih terdengar lemah dan pelan.
"Perempuan yang mana maksudmu?"
"Entah. Kurasa kita memang belum mengenal-
nya."
"Bambu itu bagaimana?'
Soka Pura tidak menjawab, hanya tersenyum
sambil perlihatkan bambu kuning yang diselipkan pa-
da ikat pinggangnya itu.
"Oh, ternyata kau berhasil, Soka!" Raka terse-
nyum tipis.
"ini pekerjaan ringan, pasti berhasil." ujar Soka
sedikit sombongkan diri dalam canda.
"Hati-hati dengan bambu itu! Jangan sampai di
sambar orang lain!"
"Tenang sajalah kau!"
Setelah memaksakan diri agar tampak sedikit
sombong di depan kakaknya, Soka Pura pun berkele-
bat keluar gua untuk membantu pertarungan perem-
puan berjubah ungu melawan Dedengkot Iblis. Ketika
Soka tiba di tempat pertarungan itu, ternyata perem-
puan berjubah ungu sudah terkapar dengan mulut
berbusa merah. Busa merah itu adalah darah yang ke-
luar akibat pukulan maut si Dedengkot Iblis. Tentu sa-
ja saat itu si perempuan tidak melihat apa yang akan
dilakukan oleh Dedengkot iblis.
Tapi Soka Pura melihatnya karena ia hentikan
langkah di atas sebatang pohon jati kering yang sudah
lama tumbang. Soka Pura melihat si Dedengkot Iblis
mengangkat sebongkah batu berukuran sebesar anak
sapi. Batu itu ingin dihantamkan ke tubuh si perem
puan yang terkapar kesakitan.
"Gawat...!!" Soka Pura terkejut, lalu segera ber-
kelebat menyambar Dedengkot Iblis dalam gerakan
meluncur lurus dengan pedang kristalnya mengarah
ke depan. Wuuuzz...!
Hembusan angin aneh dirasakan oleh Dedeng-
kot iblis, sehingga ia segera berpaling dan melihat da-
tangnya bahaya. Serta-merta batu yang sudah diang-
katnya itu dilemparkan ke arah Soka Pura. Wuuut...!
Tapi pedang kristal yang tampaknya mudah pecah itu
bergerak cepat menebas beberapa kali. Angin tebasan-
nya membuat batu itu terbelah menjadi beberapa ba-
gian dan saling berjatuhan sebelum menyentuh ujung
pedang.
Slaaap...! Soka Pura menerjang Dedengkot Iblis
yang terperangah heran itu. Ujung pedangnya meng-
hujam dada si Dedengkot iblis. Tapi pedang itu bagai
menembus bayangan, dan tubuh Soka Pura sendiri
bagaikan menerjang gumpalan asap. Rupanya si Pen-
dekar Kembar bungsu masih belum bisa membuang
kemarahannya dan rasa permusuhan masih ada da-
lam hatinya, sehingga ia belum bisa menyentuh atau
melukai si Dedengkot iblis. Sementara itu, Dedengkot
iblis dapat dengan mudah melukai lengan Soka dengan
kibasan tangannya. Kuku-kuku tajam itu merobek ku-
lit dan daging lengan Soka Pura, timbulkan empat luka
yang segera menghitam dan berasap serta berbusa bu-
suk. Cras...!
"Aoow...!" Soka Pura memekik. Ia segera jatuh
terhempas di semak-semak. Namun segera bangkit
dan ingat tentang rahasia kelemahan lawannya yang
ditulis Mulut Guntur pada secarik kain putih tadi.
"Aku harus hilangkan rasa marah ku dan ke-
bencian ku. Aku harus menganggapnya sebagai saha-
bat yang sedang berlatih ilmu kanuragan dengan ku!"
pikir Soka Pura sambil melompat ke atas pohon agar
kakinya tak menyentuh tanah. Wuuz...! Jleeg...!
"Geeerrhh...!" Dedengkot iblis mengerang sadis.
Ia juga berada di atas pohon seberang. Wajahnya yang
tadi terluka akibat pertarungan di hutan bam-
bu, kini kian tampak memborok, membuat wajahnya
bertambah menyeramkan. Rambutnya yang putih me-
riap acak-acakan itu dibiarkan tertipu angin, sebagian
menutupi wajah kirinya. Kukunya yang hitam runcing
masih memancarkan sinar biru berkelok-kelok yang
saling berlompatan dari jari yang satu ke jari yang lain.
"Kembalikan bambu itu!" geramnya dengan ma-
ta kecil yang tajam tertuju pada sepotong bambu kun-
ing di pinggang Soka.
Pendekar Kembar bungsu sengaja tersenyum.
"Kau bercanda, Kawan. Kalau mau bikin sate,
jangan pakai bambu ini! Pakailah bambu yang lain!"
"Jahanam kau! Sekali lagi ku ingatkan, kemba-
likan bambu itu padaku, atau kuhabisi nyawamu se-
perti yang lain?!"
"Nyawaku tak akan habis, Kawan! Aku punya
persediaan lima nyawa. Yang satu nyawa kucing. He,
he, he, he...!"
Soka Pura sengaja bercanda konyol. Bukan un-
tuk memancing kemarahan Dedengkot iblis, namun
untuk menghibur hatinya agar tidak merasakan kema-
rahannya dan untuk membuang niatnya yang ingin
membalas kekalahan Raka Pura, sang kakak. Dengan
bicara konyol begitu, Soka menjadi geli sendiri dan ti-
dak merasa sedang berhadapan dengan lawan berba-
haya.
"Sekarang juga, habislah riwayatmu, Bocah Ke-
parat! Heeeeaa...."
"Hei, tunggu dulu!" sergah Soka Pura. "Aku
akan kembalikan bambu ini padamu dengan satu sya
rat!"
Kata-kata yang meluncur cepat dari mulut So-
ka berhasil hentikan gerakan kedua tangan Dedengkot
Iblis yang sudah terangkat ke atas dan ingin mele-
paskan pukulan jarak tujuh langkah itu. Dedengkot
Iblis hanya menggeram panjang sambil menunggu
ucapan Soka selanjutnya. Rupanya ia juga ingin tahu
syarat yang dimaksud lawannya.
"Bambu Gading Mandul ini akan kuserahkan
padamu, jika kau sebutkan siapa perempuan tercantik
di muka bumi ini?"
"Persetan dengan pertanyaanmu! Heaaah...!"
Dua sinar biru lurus melesat dari telapak tan-
gan Dedengkot iblis. Soka Pura menghindarinya den-
gan melompat ke dahan lain.
"Hyaaaah...!" Soka melompat dengan berteriak
dengan nada canda. Dua sinar biru itu menghantam
dahan pohon dan dahan pohon itu lenyap tak berbe-
kas. Bahkan serbuknya pun tak tersisa. Namun hal itu
tidak dipedulikan oleh Pendekar Kembar bungsu. Ia
lebih memperhatikan lawannya yang segera menerjang
ke arahnya ketika ia sudah berdiri kokoh di dahan
yang baru.
"Heaaaahhh...!"
Dedengkot Iblis bermaksud menerjang Soka
Pura dengan cakar siap merobek leher. Tetapi si Pen-
dekar Kembar bungsu itu segera tebaskan pedangnya
pada saat tubuh Dedengkot Iblis melayang di udara
dalam jarak tiga langkah darinya. "Eiit... mau ke mana,
Kek?" Wess, wess...!
Dua angin tebasan mempunyai ketajaman me-
lebihi pedang mana pun. Salah satu angin tebasan
yang dilakukan dengan bercanda itu berhasil kenal tu-
buh lawan yang sulit ditumbangkan itu. Crass...!
"Ahhk...!" Dedengkot iblis memekik tertahan dengan
mata mendelik, karena ia tak sangka kalau anak muda
itu bisa melukai tubuhnya. Dada kanannya robek
sampai ke perut kiri. Ia pun jatuh ke bumi dengan
timbulkan suara berdebam seperti nangka jatuh dari
pohon bersama pencurinya.
Bluuuk...!
"Ahaaa..., rupanya kau sudah tidak dalam ben-
tuk bayangan lagi, Kakek Pikun!" seru Soka Pura sam-
bil tertawa girang. Ia pun meluncur turun dengan te-
riakan seperti anak kecil main terjun-terjunan.
"Yihuuuii...! Awas dewa tampan turun ke bu-
mi!"
Jleeg...! Soka Pura daratkan kaki ke tanah, tapi
ia masih tetap bisa melihat sosok Dedengkot Iblis yang
sedang bergegas bangkit. Berarti sang lawan kini bisa
dilihat dengan mata telanjang walau kaki menyentuh
tanah. Rupanya kesaktian Dedengkot iblis ada yang
sirna akibat terkena tebasan Pedang Tangan Malaikat
itu. Kesaktian yang sirna itu tak lain adalah ilmu 'Iblis
Bayangan' yang biasanya hanya dapat dilihat jika
orang itu tidak menapakkan kakinya ke tanah.
Tentu saja hal itu membuat Dedengkot iblis se-
dikit gentar. Bahkan ketika Soka Pura menggodanya
dengan bentakan keras dan berlagak ingin maju me-
nyerang bersama pedangnya, Dedengkot Iblis cepat
lompat mundur dan menggeragap tegang.
"Hiaaah...! Heh, heh, heh, heh...! Takut, ya?!"
ledek Soka sambil cengar-cengir, menjaga rasa hatinya
agar tetap ceria dan tak merasa marah.
Sementara itu, perempuan berjubah ungu yang
terluka parah itu berusaha bangkit, namun ia tak
mampu. Tubuhnya jatuh terkulai kembali, namun kali
ini posisinya seperti duduk bersandar di bawah seba-
tang pohon. Matanya memperhatikan Soka dan De-
dengkot Iblis dari jarak lima langkah di sebelah kanan
Pendekar Kembar bungsu.
Dedengkot iblis sengaja tidak lakukan seran-
gan, karena ia masih harus kerahkan tenaga gaibnya
untuk mengobati luka koyak di dada sampai perut itu.
Dengan menahan nafasnya, luka tersebut bergerak
mengatup sendiri dan akhirnya menjadi rapat kembali
seperti tak pernah terkena sabetan pedang siapa pun.
Hanya saja, kain jubah dan pakaian dalamnya yang
berwarna merah tua itu tetap robek membekas sabetan
pedang.
Sebenarnya hati Soka merasa kagum melihat
luka itu terkatup rapat dalam waktu singkat. Namun
rasa kagumnya tak ditonjolkan, bahkan dijadikan ba-
han bercandaan baginya.
"Hebat lho... luka selebar itu bisa rapat kemba-
li. Siapa yang menjahitnya, Kawan?!"
"Bangkai busuk! Terimalah Jurus Getar Ku-
bur'-ku ini. Heeeaa...."
"Ee, eh, eh... tunggu dulu!" sergah Soka dengan
canda. "Kau belum jawab pertanyaanku tadi: siapa pe-
rempuan tercantik di muka bumi ini?!"
Dedengkot Iblis tak jadi lepaskan jurus 'Getar
Kubur'-nya, walau tangan kiri sudah diangkat ke atas
dan tangan kanannya menyilang di dada. Ia hanya
menggeram penuh murka mendengar pertanyaan yang
di anggapnya konyol sekali itu.
"Kalau kau bisa menjawab, kuserahkan sepo-
tong bambu sakti ini!" sambil Soka Pura sengaja pa-
merkan dua jengkal bambu kuning yang ujungnya
runcing seperti kuku berjari lentik itu. Dedengkot Iblis
mulai pertimbangkan tindakannya.
"Ayo, sebutkan...! Siapa menurutmu perem-
puan tercantik di dunia?!" desak Soka Pura sambil ia
sendiri berpikir, siapa nama yang akan disebutkan se-
bagai jawabannya nanti. "Kirana? Bulan Berkabut?
Purbawenih? Ah... percuma, dia tidak kenal dengan
gadis-gadis itu, mana mungkin dia percaya kalau ja-
wabanku nanti benar?" pikir Soka Pura dalam selintas.
Lalu ia mendengar Dedengkot Iblis berseru
dengan suara geram, "Kau benar-benar keparat, Bocah
Tengik!! Hhhhrrmmm...!"
"Boleh saja kau bilang aku keparat, tapi lebih
keparat lagi manusia yang tidak tahu siapa perempuan
tercantik dl dunia ini! Alangkah malang nasibnya jika
sampai tak tahu," pancing Soka sambil tetap menjaga
hatinya agar selalu riang.
"Tidak ada perempuan tercantik dl muka bumi
ini, Jahanam!" bentak Dedengkot iblis.
"Ada saja!" Jawab Soka dengan lagak bercanda.
"Kalau begitu kau tak boleh meminta kembali bambu
ini!"
"Hhhhrrmm...! Persetan dengan pendapatmu
tentang perempuan tercantik di dunia! Aku tidak bu-
tuh perempuan! Aku butuh bambu itu harus kau se-
rahkan padaku!"
"Eh, eh... tunggu sebentar!" sergah Soka Pura
melihat Dedengkot Iblis ingin lepaskan serangannya.
Pada saat itu tiba-tiba ia teringat semua nama yang in-
gin di pakai bahan candaan di depan lawannya itu.
"Kau boleh menyerangku dan merebut bambu
ini, tapi kau harus tahu, bahwa perempuan tercantik
di dunia ini adalah Nyai Prabawinih!"
"Hahhh...?!" Dedengkot Iblis terkejut, matanya
terbelalak seketika begitu mendengar nama bekas is-
trinya disebutkan oleh Pendekar Kembar bungsu. Ke-
dua tangan yang mengeras menjadi kendur, kakinya
yang sedikit merenggang dan merendah menjadi tegak.
Ia pun mundur dua langkah dengan wajah semakin te-
gang.
Soka Pura sendiri sebenarnya tak menyangka
kalau nama yang disebutkan dapat membuat Dedeng-
kot Iblis menjadi seperti ketakutan begitu. Namun rasa
herannya itu tetap tersimpan dalam hati, dan Soka Pu-
ra sengaja sunggingkan senyum angkuh dengan sikap
sengaja dibuat sombong.
"Kenapa kau kaget, hah?! Apakah karena nama
Nyai Prabawinih adalah bekas istrimu, lalu kau kaget?
Terkenang masa lalu? Menjadi terharu?! Uuh... kuno
itu!"
"Siapa kau sebenarnya?!" suara Dedengkot Iblis
menjadi bergetar, nafasnya terdengar dihela dengan
berat, matanya masih terbelalak tegang.
"Katakan, siapa kau sebenarnya hingga men-
genal nama bekas istriku tercinta itu?!"
"Aku keturunan Nyai Prabawinih," Jawab Soka
sambil memancing reaksi lawan. Ternyata lawan se-
makin terkejut dan menegang.
"Kau...?! Kau dan saudara kembar mu tadi ke-
turunan Prabawinih?!" gumam Dedengkot iblis kian je-
las bergetar suaranya.
"Ya, kami keturunan Nyai Prabawinih, tapi en-
tah keturunan ke berapa dan entah bagaimana jalur
silsilahnya. Kau tak perlu bertanya, karena aku akan
bingung menjawab. Hanya saja, setahuku, perempuan
tercantik itu adalah Nyai Prabawinih!"
Hati Soka bertanya, "Benar apa tidak, ya? Jan-
gan-jangan Nyai Prabawinih sama buruknya dengan
wajah si Dedengkot Iblis itu?!"
Soka pun terkesiap melihat ketegangan De-
dengkot Iblis menjadi mengendur semua. Bahkan pan-
dangan mata si pengikut Raja Iblis itu tertuju ke arah
lain, bagai sedang menerawang masa lalunya. Di wajah
sangar itu, kini tampak segumpal penyesalan dan ke-
haruan bermukim di sana. Rupanya rasa cintanya ke-
pada Nyai Prabawinih telah membuat hati Dedengkot
Iblis menjadi luluh dan rasa manusiawinya timbul
kembali. Dan Soka Pura sengaja membiarkan orang itu
hanyut dalam kenangan masa lalunya.
"Praba.... Prabawinih...," ucapnya datar dan pe-
lan. Ia segera menyingkapkan rambutnya yang meriap
di wajah sambil menarik nafas dalam-dalam. Soka Pu-
ra perdengarkan suaranya dengan hati-hati.
"Apakah kau masih inginkan bambu ini, dan
ingin membunuhku?!"
Seet...! Wajah si Dedengkot iblis berpaling cepat
dan menyentak kuat ke arah Soka Pura. Hati pemuda
itu sempat tersentak kaget dan sedikit grogi, namun
dapat segera diatasi. Sepasang mata kecil si Dedengkot
Iblis menatap tajam sekali membuat Soka Pura sempat
salah tingkah dan menggenggam pedang kuat-kuat,
bersiap hadapi serangan sewaktu-waktu. Dada si De-
dengkot Iblis tampak bergerak naik turun, menanda-
kan nafasnya mulai memburu karena suatu rasa yang
terpendam dalam hatinya.
Tiba-tiba kedua tangan Dedengkot Iblis meng-
genggam kuat-kuat, kepalanya mendongak dan berse-
ru keras sekali.
"Prabaaaaaaaaaa...!!"
Soka Pura mundur beberapa langkah dengan
mendekap telinganya. Suara berseru itu mendatang-
kan angin badai yang bergemuruh memekakkan telin-
ga. Pepohonan menjadi bergetar dan daun-daun ber-
guguran. Badal yang datang bagai memutar-mutar di
sekeliling tempat itu, membuat dahan-dahan pohon
patah dan tumbang berserakan.
Pendekar Kembar bungsu yang berpaling me-
munggungi lawannya segera menahan diri terhadap
hembusan angin kencang yang memutar, seperti put-
ing beliung. Kedua kakinya merendah menjaga ke-
seimbangan tubuh. Salah satu kakinya menghentak
hentak ke bumi dengan pelan. Dug, dug, dug...! Dan
angin badai itu pun menjadi reda secara sedikit demi
sedikit. Rupanya Pendekar Kembar mempunyai satu
ilmu aneh yang dapat dipakai untuk meredakan badai
sekencang apa pun. Ilmu itu dinamakan jurus 'Gugah
Jinak', yaitu dengan menghentakkan kaki ke bumi be-
berapa kali, maka badai pun akan jinak dan menjadi
reda secepatnya.
Pada saat badai mereda, Soka Pura menjadi
terperanjat kaget, karena Dedengkot iblis telah lenyap
dari pandangan mata. Ia tak melihat saat Dedengkot
Iblis pergi dengan kecepatan tinggi bertepatan dengan
datangnya angin badai yang bergerak memutar seperti
puting beliung itu. Tapi si perempuan berjubah ungu
sutera itu melihat ke mana arah kepergian Dedengkot
iblis. Hanya saja ia tak dapat bertindak apa-apa.
Rupanya Dedengkot iblis diliputi duka yang
mengharu ketika mengenang bekas istrinya itu. Rasa
penyesalan atas perpisahan dengan Nyai Prabawinih
membuatnya tak tahan berhadapan dengan pemuda
yang mengaku keturunan Prabawinih. Ia pun akhirnya
tak mau peduli lagi dengan sepotong Bambu Gading
Mandul yang ada pada diri Pendekar Kembar. Ia berlari
membuang dukanya, menyelinap di kerimbunan hutan
untuk atasi rasa sesalnya.
Sementara itu, Soka Pura mulai dapat bernapas
lebih lega lagi, karena merasa yakin bahwa lawannya
yang sulit ditumbangkan itu telah pergi dan tak akan
merebut sepotong bambu di pinggangnya itu. Sean-
dainya Dedengkot Iblis muncul lagi dengan persoalan
yang sama, maka Soka sudah menemukan kunci ke-
lemahan lawannya yang paling utama, yaitu dengan
menyebut nama Nyai Prabawinih.
Kini pandangan mata Soka Pura tertuju pada
perempuan berjubah ungu sutera yang terdengar me
rintih dan batuk-batuk kecil. Sebelum ia mendekat,
hatinya bertanya-tanya lebih dulu pada diri sendiri.
"Siapa perempuan itu sebenarnya?! Mengapa ia
membantuku menyerang Dedengkot iblis?! Kurasa ia
punya maksud tertentu, sehingga ia berani pertaruh-
kan nyawanya dalam menghadapi Dedengkot iblis. Oh.
agaknya lukanya sangat parah. Kasihan, kalau tak se-
gera terobati ia bisa kehilangan nyawanya."
Soka Pura pun segera hampiri perempuan ber-
tubuh sintal dan berdada sekal. Rambutnya yang di
konde dengan sisa rambut berjuntai ke belakang se-
perti ekor kuda itu membuat wajah separo bayanya
tampak cantik menawan. Tahi lalat di sudut dagu ka-
nan juga membuat daya tarik tersendiri bagi lawan je-
nisnya.
Sayang usianya jauh lebih tua dari Soka Pura,
sehingga Soka sempat canggung dalam berhadapan
dengannya. Ketika Soka sudah ada di dekat perem-
puan itu, bau cendana tercium tajam dan menciptakan
debar-debar nakal dalam dada Soka. Bau wangi cen-
dana itu timbul dari senjata kipasnya yang diberi war-
na emas. Senjata kipas itu masih tergenggam di tangan
kanan dalam keadaan terkatup. Rupanya ia tadi
menggunakan senjata itu untuk melawan Dedengkot
Iblis, namun tak berhasil membentengi dirinya hingga
terkena serangan berbahaya dari lawan yang memang
tangguh dan berilmu tinggi itu.
"Boleh aku menolongmu, Bibi?" ujar Soka Pura
sambil merendahkan badan di samping perempuan
itu. Tapi perempuan itu justru meredupkan matanya
dengan napas tersentak pelan. Mulutnya ternganga
bagai ingin hembuskan nafas terakhir. Soka Pura te-
gang dan buru-buru mengguncang tubuh berkulit
kuning langsat itu.
"Bibi, ehh.... Nyai... eh, anu... Jangan mati du
lu! Bertahanlah, Jangan mati dulu. Aku belum tahu
siapa kau sebenarnya, Bi... eh, Nyai... eh... anu...." So-
ka Pura geragapan sendiri.
Mata perempuan itu makin redup, tubuhnya
terasa semakin dingin dan wajahnya kian pucat seperti
mayat. Bibirnya yang sensual itu membiru dengan ber-
cak-bercak darah di sekitarnya.
"Aku harus segera salurkan hawa murni dan
tenaga inti gaib ke dalam tubuhnya. Tapi... dapatkah
Jurus 'Sambung Nyawa'-ku menolong jiwa yang sudah
kehabisan nyawa ini?!' pikir Soka Pura dengan cemas
dan panik.
*
* *
5
PEREMPUAN berjubah ungu sutera itu nasib-
nya sedang mujur. Penyembuhan yang dilakukan Soka
Pura belum terlambat. Ternyata jurus 'Sambung Nya-
wa' si Pendekar Kembar bungsu itu masih bisa atasi
luka parah yang menghanguskan separo jantung si pe-
rempuan.
Dalam keadaan antara sadar dan tidak, perem-
puan jubah ungu sutera itu rasakan hawa hangat me-
nempel di dadanya. Hawa hangat itu bermula dari sen-
tuhan telapak tangan Soka yang memancarkan cahaya
pijar ungu. Walaupun sebenarnya sentuhan tangan
Soka itu berbau sedikit nakal, karena yang digenggam
adalah gumpalan bukit kiri si perempuan yang menu-
rut Soka, masih tergolong kencang dan berisi itu, tapi
tindakan tersebut tak bisa disalahkan.
Jurus 'Sambung Nyawa' hanya bisa dilakukan
jika telapak tangan Pendekar Kembar menempel pada
kulit tubuh si pasien tanpa penghalang kain selembar
benang pun. Sebenarnya bisa saja dilakukan pada
pergelangan tangan atau telapak tangan si perempuan
jubah ungu itu. Tapi karena Pendekar Kembar bungsu
itu memang nakal dan usil, maka ia sengaja tempelkan
telapak tangannya pada gumpalan daging sekal di ba-
gian dada kiri si perempuan jubah ungu. Perempuan
itu memang merasakan sentuhan tangan tersebut,
namun karena keadaannya sangat lemah, bagai kehi-
langan seluruh tenaganya, maka ia hanya bisa mem-
biarkan hal itu terjadi.
Walaupun kini perempuan itu telah sadar dan
menjadi sehat seperti sediakala, bahkan tubuhnya te-
rasa lebih segar dari sebelumnya, namun ia tetap tak
bisa menuntut tindakan nakal tangan pemuda tampan
berhidung mancung itu. Toh karena sentuhan tangan
itulah yang membuat nyawanya tidak jadi bablas ke
neraka. Si perempuan berpendapat, "Mungkin memang
begitulah cara penyembuhannya; harus melalui payu-
dara!" Maka ia pun segera lupakan persoalan itu dan
menganggap tak ada niat nakal di hati si pemuda ga-
gah tersebut.
"Kalau saja kau tak kembali lagi, kurasa seka-
rang aku sudah mati dibunuh Dedengkot Iblis," ujar
perempuan itu sambil merapikan pakaiannya.
Pendekar Kembar bungsu nyengir, merasa risi
mendengar sanjungan yang diungkapkan secara tak
langsung itu.
"Bagaimana aku harus memanggilmu? Bibi
atau Nona?" tanya Soka Pura seakan ingin mengalih-
kan pembicaraan agar si perempuan tidak lanjutkan
sanjungannya tadi.
"Kurasa kau memang belum mengenaliku. Tapi
para tokoh di rimba persilatan mengenaliku sebagai
Nyai Rempah Arum. Karena aku adalah guru merang-
kap ketua di Perguruan Sayap Camar."
"Nyai Rempah Arum...?" gumam hati Soka. "Se-
pertinya nama itu pernah kudengar dari mulut Kirana.
Kalau tak salah Nyai Rempah Arum adalah musuh be-
buyutannya si gajah bengkak; Kecubung Manis?!
Hmm... sebaiknya ku tanyakan kebenaran dugaan ku
ini!"
Nyai Rempah Arum membenarkan dugaan So-
ka. Matanya yang masih tampak bening dan sedikit
berkesan jalang itu menatap Soka tak berkedip. Tata-
pan mata itu menimbulkan getaran aneh di hati Pen-
dekar Kembar bungsu, walau mulut si perempuan
yang telah dibersihkan dari darah itu berkata tak se-
suai dengan tatapan matanya.
"Memang benar apa yang dikatakan sahabatmu
bernama Kirana itu. Kecubung Manis adalah musuh-
ku, karena memang ia selalu memusuhi perguruanku.
Kecubung Manis selalu mengincar murid-murid pria
ku, dan akulah penghalang utama yang selalu meng-
gagalkan niatnya, memikat murid pria ku dengan pak-
sa untuk melayani asmaranya."
"Ooo, Jadi persoalannya itu?!" "Salah satu mu-
ridnya ada yang terkena kutukan ku: badannya bersi-
sik seperti ular. Tak heran jika ia selalu berusaha
mendesak gurunya Kirana; si Mulut Guntur, untuk
mendapatkan rahasia kelemahan si Dedengkot iblis,
karena Kecubung Manis ingin mendapatkan Bambu
Gading Mandul itu untuk memudarkan pengaruh ku-
tukanku terhadap muridnya."
"Rupanya kau juga kenal dengan Eyang Mulut
Guntur, Nyai?!"
"Tentu saja aku mengenalnya," ujar perempuan
itu sambil lepaskan pandangan ke arah lain.
"Mulut Guntur mempunyai kakak bernama
Eyang Tayangon. Aku adalah muridnya Eyang Tayan-
gon yang selalu bersaing dengan cucunya; si Kecubung
Manis."
"Ooo... jadi kau muridnya mendiang Eyang
Tayangon?!" gumam Soka sambil manggut-manggut.
"Aku mengetahui kelemahan si Dedengkot iblis
setelah belum lama ini kutemukan kitab kuno milik
mendiang guruku. Di dalam kitab kuno itu kutemukan
tulisan tangan Eyang Tayangon yang berisi tentang ra-
hasia kelemahan Dedengkot Iblis."
"Pantas kau tahu bagaimana cara menyerang-
nya dan melihat wujudnya."
"Kalau saja kitab kuno itu kutemukan sejak
dulu, tentu sudah sejak dulu pula aku datang kemari
untuk melawan Dedengkot Iblis. Sayang sekali kitab
kuno itu kutemukan di gua bekas tempat bertapa
mendiang guruku, sehingga baru sekarang aku bisa
datang ke tanah Kubangan Berdarah tadi."
"Apakah maksud kedatanganmu juga ingin
mendapatkan Bambu Gading Mandul?"
"Benar!" Jawab Nyai Rempah Arum dengan te-
gas, matanya menatap Soka kembali dengan tajam,
namun punya kelembutan tersendiri yang hanya bisa
dirasakan oleh hati Soka Pura.
"Ada dua kepentingan dalam upaya ku menda-
patkan bambu itu. Pertama, aku harus melenyapkan
Bambu Gading Mandul agar tak menjadi lawan ilmu
kutukanku. Dengan lenyapnya Bambu Gading Mandul,
maka siapa pun tak akan bisa lepas dari ilmu kutukan
ku. Hanya aku yang bisa melepaskannya."
"Rupanya ilmu itu menjadi andalanmu. Menga-
pa tak kau lakukan kepada Dedengkot iblis saat kau
melawannya tadi?"
"Ilmu itu tak mempan untuknya. Ia mempunyai
lapisan tenaga gaib cukup tinggi, hingga ilmu 'Sabda
Kutuk' tak bisa mengenainya. Karena aku sibuk meng-
gunakan jurus 'Sabda Kutuk' akibatnya aku terkena
tendangan kakinya yang menghanguskan bagian da-
lam tubuhku tadi."
Soka Pura tertawa kecil. Gagang pedang yang
sudah disarungkan dan kini terselip di pinggang ka-
nan, dipakai sandaran lengan kanannya. Sementara
itu, dua jengkal bambu kuning berujung runcing itu
terselip di pinggang kiri. Tangan kiri Soka selalu siap
menahan bambu itu jika Nyai Rempah Arum ingin me-
nyerobotnya.
"Karena itu," ujar sang Nyai Cantik. "Dengan
rendah hati dan memohon kerelaanmu, kuminta se-
rahkan-lah bambu di pinggangmu itu kepadaku. Aku
tak ingin bambu itu menjadi penghalang ilmu kutukan
ku. Lebih tak rela lagi jika bambu itu jatuh ke tangan
si Kecubung Manis!"
"Nanti dulu," sergah Soka Pura sebelum Nyai
Rempah Arum lanjutkan kata. "Jelaskan dulu kepen-
tingan mu yang kedua. Karena kau tadi bilang, punya
dua kepentingan dalam upayamu mendapatkan Bam-
bu Gading Mandul ini, Nyai."
"Kurasa kau tak perlu tahu kepentinganku
yang kedua itu, karena itu menyangkut urusan priba-
diku dengan seseorang!" tegas sang Nyai. "Sekali lagi
ku mohon dengan hormat, berikan bambu itu padaku.
Aku berjanji akan membalas budi baikmu dengan ke-
baikan yang setimpal jika kau mau memberikan bam-
bu itu padaku."
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang
muncul dari belakang Nyai Rempah Arum.
"Jangan berikan bambu itu!"
Sang Nyai cepat-cepat berpaling ke belakang,
tapi Soka Pura hanya tersenyum kalem, karena orang
yang muncul itu adalah kakaknya sendiri.
Raka Pura yang sudah sehat kembali itu me-
langkah dekati adik kembarnya dengan pandangan
mata tetap tertuju pada Nyai Rempah Arum. Pandan-
gan mata itu berkesan sinis, sehingga Nyai Rempah
Arum menjadi dongkol terhadap kemunculan Pendekar
Kembar sulung. Namun dalam hatinya ia tetap mena-
han kedongkolan itu, karena ia mengakui kehebatan
ilmu kedua pemuda kembar tersebut. Jika si Dedeng-
kot Iblis saja bisa dilukai oleh pedang Soka, berarti ke-
dua pemuda kembar itu mempunyai ilmu yang tidak
bisa di anggap remeh. Ia harus hati-hati berhadapan
dengan Pendekar Kembar.
Raka Pura perdengarkan suaranya lagi bernada
ketus itu. Sementara si bungsu masih tersenyum-
senyum menertawakan keberangan kakaknya dalam
hati.
"Kau pikir bambu itu adalah bambu sembaran-
gan?! Seenaknya kau ingin memintanya dari adikku?
Bambu itu adalah nyawa kami, Nyai! Jika kau ingin
memilikinya, berarti kau harus bertarung melawan
kami!"
Nyai Rempah Arum tak mau kalah ketus. Se-
nyumnya pun mengembang dengan sinis sekali.
"Bertarung melawan kalian bukan hal yang su-
lit bagiku! Aku tahu, kalian pasti si Pendekar Kembar
yang sedang jadi bahan pembicaraan para tokoh di
rimba persilatan. Tetapi jika aku ditantang untuk ber-
tarung melawan kalian, hmmm.... Nyai Rempah Arum
pantang mundur selangkah dalam menghadapi siapa
pun!"
Soka Pura menyerobot pembicaraan sebelum
kakaknya berkata lagi.
"Ehmm..., Nyai, perkenalkan ini kakak kembar
ku: Raka Pura, namanya."
Raka melirik adiknya karena kesal tak jadi bi
cara. Sang adik tetap cengar-cengir dengan konyol,
membuat sang kakak semakin jengkel kepadanya. So-
ka Pura makin merapat pada kakaknya dan berbisik
pelan.
"Jangan galak-galak kepada orang yang telah
ikut membantu kita dalam mendapatkan bambu ini!
Kalau tadi tak ada dia, aku tak akan punya kesempa-
tan untuk menyembuhkan lukamu. Kita berdua
mungkin sudah menjadi abu."
"Setiap ada perempuan cantik tak peduli tua
atau muda, kau selalu melarangku untuk bersikap te-
gas. Apakah kau tak sadar kalau kecantikan itu dapat
membuat dirimu celaka? Dasar buaya sawah!" gerutu
Raka Pura sambil bersungut-sungut.
"Pendekar Kembar, kalau aku mau bermaksud
jahat kepada kalian, sudah dari tadi kurampas bambu
itu dengan cara bagaimanapun. Tapi aku tidak ber-
maksud tak balk kepada kalian. Aku memintanya den-
gan penuh kerendahan hati, karena aku sangat mem-
butuhkan bambu itu!" ujar Nyai Rempah Arum. "Kalau
aku tidak sangat perlu dengan benda itu, kurasa lebih
baik aku pulang dan tidur nyenyak di rumahku! Tak
perlu aku keluyuran sampai di tempat ini bertaruh
nyawa melawan Dedengkot Iblis. Jika aku tidak sangat
membutuhkan bambu itu, untuk apa ku lindungi ka-
lian saat kalian dikejar-kejar oleh Dedengkot iblis!"
"Benar juga kata-katanya itu, Raka."
"Benar Juga, benar juga...! Sadarkah kau bah-
wa sekarang kita menghadapi lawan yang pandai me-
rayu?!" gertak Raka dalam nada membisik. "Sebaiknya
tinggalkan saja perempuan itu! Lupakan segala bujuk
rayunya! Kau ini memang punya kelas teri, sedikit ke-
na angin surga sudah blingsatan dan rapuh!"
"Kalau hatiku rapuh, sudah sejak tadi ku cium
dia dan kuserahkan bambu ini!" gerutu Soka dengan
sedikit cemberut. Kemudian ia menatap sang Nyai
kembali dengan senyum ramah dipaksakan mekar di
bibirnya.
"Nyai Rempah Arum, sepertinya kau benar-
benar membutuhkan bambu ini. Barangkali aku punya
kebijaksanaan lain padamu, jika kau mau jelaskan ke-
pentinganmu yang kedua itu. Tanpa penjelasan yang
sebenarnya, mungkin aku tetap tak akan serahkan
bambu ini, atau tak mau pinjamkan bambu ini pada-
mu."
Nyai Rempah Arum tarik napas panjang. Sete-
lah diam sesaat, ia perdengarkan suaranya yang ber-
nada tegas itu.
"Kubutuhkan bambu itu untuk melawan seseo-
rang secara pribadi, karena utusannya sudah berani
menangkap murid kesayanganku: si Merak Jelita.
Orang itu berilmu tinggi, dan kelemahannya hanya jika
dilukai dengan Bambu Gading Mandul!"
Soka Pura dan kakaknya saling pandang den-
gan curiga.
"Siapa orang yang kau maksud itu, Nyai?!"
tanya Soka.
"Darah Kula!"
Jawaban tegas sang Nyai membuat Pendekar
kembar terperanjat terang-terangan. Kejap kemudian
Soka Pura sunggingkan senyumnya kembali, Raka Pu-
ra kendurkan ketegangannya, membuang sikap sinis-
nya kepada sang Nyai.
"Maksudmu, Darah Kula si Penguasa Bukit
Maut itu, Nyai?" ujar Raka.
"Benar!" jawab sang Nyai lebih semangat. "Apa-
kah kalian juga mengenainya?!"
"Bukan saja mengenalnya, Nyai," ujar Soka.
"Justru kami berusaha dapatkan Bambu Gading Man-
dul ini hanya semata-mata untuk membunuh si Darah
Kula...."
Soka pura segera jelaskan maksudnya dari aw-
al pertemuannya dengan Bunga Dewi, di mana saat itu
Bunga Dewi si gadis pencuri itu, akan dijual kepada
Darah Kula untuk dijadikan santapan si manusia pen-
gisap darah perawan tersebut. Darah Kula adalah anak
Raja Iblis yang mempunyai ilmu 'Pancawarsa', di mana
ia selalu bangkit lagi dari kematiannya setelah melalui
masa lima tahun. Kematian itu dapat abadi, ilmu
'Pancawarsa'-nya dapat lenyap, jika tubuhnya dilukai
dengan Bambu Gading Mandul. Dan Pendekar Kembar
merasa harus segera bertindak tumbangkan si Darah
Kula itu, agar para gadis di muka bumi tidak habis bi-
nasa dihirup darahnya oleh si Penguasa Bukit Maut
itu, (Baca serial Pendekar Kembar dalam episode:
"Pemburu Mahkota Dara").
Setelah tertegun sesaat, Nyai Rempah Arum
hembuskan napas panjang, karena hatinya merasakan
kelegaan yang cukup dalam.
"Tak kusangka kita punya tujuan yang sama,
Pendekar Kembar. Seandainya ku tahu tujuan kalian
sebelumnya, kurasa tak mungkin aku harus membu-
juk-bujuk seperti tadi."
"Maafkan atas kekasaran sikapku tadi, Nyai,"
ujar Raka Pura yang mulai tampak bersahabat. Soka
Pura tertawa kecil dan bicara kepada kakaknya.
"Makanya jangan mudah punya praduga buruk
terhadap orang yang belum kita kenal dengan jelas."
Nyai Rempah Arum segera berkata, "Sebaiknya
kita segera menuju ke Bukit Maut, sebelum segala se-
suatunya menjadi terlambat. Aku harus selamatkan
Merak Jelita, sebelum darahnya terhirup habis oleh
kerakusan si Darah Kula itu!"
"Kurasa memang itulah gagasan yang terbaik,
Nyai!" ujar Raka Pura, kemudian ia mengawali me
langkah tinggalkan tempat itu untuk menuju ke Bukit
Maut.
Mereka bukan sekadar melangkah selayaknya
orang pergi ke pasar, namun langkah yang mereka gu-
nakan adalah langkah cepat dengan dibantu ilmu pe-
ringan tubuh yang mereka miliki. Jurus 'Jalur Badai
yang digunakan Pendekar Kembar tak bisa disamai ke-
cepatannya oleh Nyai Rempah Arum. Karenanya, Soka
Pura sedikit kurangi kecepatan jurus tersebut, sehing-
ga ia dapat melangkah berdampingan dengan sang
Nyai cantik itu, sedangkan Raka Pura berkelebat lebih
cepat di depan mereka, seakan menjadi penunjuk jalan
bagi mereka yang dl belakangnya.
"Hoi, tak bisakah kalian lebih cepat lagi?" seru
Raka Pura agak jengkel karena Soka dan Nyai Rempah
Arum seperti orang pacaran. Mereka berdua melang-
kah sambil lakukan obrolan yang sesekali hadirkan
tawa, membuat Raka jadi gemas sendiri.
"Kalau saat itu Kirana ada bersamaku, mung-
kin aku tak merasa jengkel mendengar tawa mereka di
belakang," ujar Raka Pura dalam hatinya. Bayangan
wajah Kirana yang cantik berlesung pipit dan bergigi
gingsul itu mulai menari-nari dalam benak Raka. Rasa
ingin bertemu dengan gadis itu membuat Raka Pura
tak sabar ingin lekas sampai di Bukit Maut dan sele-
saikan persoalan di Sana secepatnya.
Bayangan Kirana itu membuat Raka Pura men-
jadi sedikit lengah. Ia tak melihat ada sepasang mata
yang menunggunya dari balik semak di bawah pohon
besar, depan langkahnya. Sepasang mata itu segera
melepaskan pukulan tanpa sinar ke pinggang Raka
sewaktu Raka melintasi jalanan depan semak bawah
pohon besar tersebut.
Dess...!
"Uhk...!" Raka Pura tersentak dengan suara lirih. Pinggangnya seperti disodok dengan toya besi. Se-
suatu yang terasa menyodoknya itu ternyata sebuah
jurus totokan dari jarak jauh. Akibatnya, Raka Pura ja-
tuh terjungkal ke semak-semak di depannya. Si pemi-
lik sepasang mata berbulu lentik itu segera menyam-
bar tubuh Raka dan membawanya ke tempat persem-
bunyian sebelum Soka dan Nyai Rempah Arum tiba di
tempat Itu.
Wuut, wees...!
Naluri sang adik kembar mulai memberikan fi-
rasat tak enak dalam hatinya. Langkah pun dihentikan
dan membuat Nyai Rempah Arum merasa heran.
"Ada apa, Soka?"
"Ke mana kakakku tadi?"
"Mungkin dia sudah Jauh dari kita. Sebaiknya
kita susul secepatnya!"
"Tidak. Hatiku menjadi tak enak. Pasti ada se-
suatu yang tak beres pada Raka," gumam Soka sambil
memandang clingak-clinguk di tempat hilangnya Raka.
Nyai Rempah Arum berkerut dahi dan tak be-
rani membantah lagi. Ia tahu hubungan batin sepa-
sang anak kembar sangat peka dan cukup kuat. Jika
yang satu mendapat bahaya, maka yang satunya akan
merasa gelisah dan resah.
"Kecepatan gerak Raka tak mungkin melebihi
sejauh pandangan mataku, Nyai! Jika ia masih berge-
rak di depan sana, pasti terjangkau oleh pandangan
mata ku, Nyai!"
"Kalau begitu kita cari saja dia di sekitar tempat
sini!" ujar sang Nyai yang akhirnya mempercayai fira-
sat buruk Soka Pura.
Mereka tidak tahu bahwa Raka saat itu sudah
berada di bawah empat pohon rindang yang menaungi
semak-semak ilalang. Di tengah semak ilalang itu ter-
dapat tanah kosong bertanaman rumput pendek. Di si
tulah Raka Pura dibaringkan oleh seorang perempuan
yang menggeledahnya.
Keadaan Raka yang terkena totokan melum-
puhkan itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa,
namun ia masih sadar atas apa yang terjadi pada di-
rinya. Matanya masih bisa memandang jelas wajah pe-
rempuan yang menggagahinya seperti sedang mencari
sesuatu pada tubuhnya.
"Sial! Aku salah comot! Ternyata pemuda yang
satunya yang menyelipkan bambu kuning tadi!" gerutu
perempuan bertubuh besar dan gemuk yang tak lain
adalah si Kecubung manis itu. Rupanya ia sudah ber-
hasil atasi luka parahnya akibat pertarungannya den-
gan si Mulut Guntur kemarin. Tanpa dibantu ramuan
peninggalan kakeknya, Kecubung Manis tak mungkin
dapat cepat sembuh dengan hanya mengandalkan ha-
wa sakti yang di salurkan ke tengah lukanya.
Rupanya tanpa di sengaja, Kecubung Manis
yang ingin membalas kekalahannya kepada Mulut
Guntur itu telah mendengar percakapan antara Pen-
dekar Kembar dengan Nyai Rempah Arum. Percakapan
itu membuatnya menunda kepergiannya ke padepokan
Perguruan Tapak Syiwa. Ia melihat bambu kuning ter-
selip di pinggang Soka Pura. Lalu berusaha mengincar
bambu itu dengan menghadang langkah mereka.
Sayang sekali ia salah duga, Raka Pura yang di-
lumpuhkan dengan jurus totokan jarak jauhnya itu di
sangka Soka Pura. Maka ketika ia menggeledah tubuh
Raka, ia merasa kecele karena Bambu Gading Mandul
tidak ditemukan di tubuh Raka.
Perempuan segemuk gajah bengkak itu akhir-
nya duduk melonjor dengan garuk-garuk lengannya. Ia
merasa dongkol sekali atas tindakannya yang salah cu-
lik itu. Matanya memandang sengit kepada Raka Pura
yang tak bisa bicara apapun, selain hanya memandang
lurus ke langit dalam keadaan telentang.
"Setan belang! Gara-gara wajah mereka kem-
bar, aku jadi salah culik begini! Seharusnya tadi ku-
perhatikan dulu pinggang pemuda ini, apakah menye-
lipkan bambu kuning apa tidak," ujar si Kecubung
Manis.
"Ternyata pemuda yang menyelipkan bambu
kuning di pinggangnya adalah yang berjalan bersama
si keparat Rempah Arum itu! Sial! Benar-benar sial na-
sib ku hari ini dan hari kemarin!"
Kecubung Manis diam beberapa saat, berusaha
mengatasi rasa kecewanya yang menjengkelkan hati
itu. Wajah tampan Raka Pura dipandanginya terus,
sampai akhirnya timbul getaran indah di dalam ha-
tinya.
"Ganteng sekali anak ini. Bibirnya ranum se-
perti bibir seorang perawan," ucapnya pelan seperti bi-
cara pada diri sendiri. Raka Pura mendengar ucapan
itu, dan ia hanya bisa rasakan kecemasan serta ke-
jengkelan dalam hatinya tanpa bisa lakukan tindakan
apa pun.
"Ternyata kau cukup menawan hati ku, Bocah
Bagus. Badanmu kekar sekali...," sambil tangan Kecu-
bung Manis mengusap-usap dada Raka. Baju yang su-
dah dibuka saat menggeledah mencari bambu kuning
itu semakin dilebarkan. Tangan perempuan gemuk itu
merayapi dada hingga perut Raka Pura dengan senyum
berseri-seri.
"Buat tambal kekecewaan ku, apa salahnya jika
kita berbulan madu sebentar? Hik. hik. hik. hik...!"
"Mati aku! Mampuslah aku kalau begini!!" ge-
ram Raka Pura dalam hatinya. Ia berusaha mengge-
rakkan salah satu anggota tubuhnya, tapi tak bisa sa-
ma sekali.
Kecubung Manis merangkak di samping Raka
Pura. Senyumnya yang berbibir lebar dipamerkan ba-
gai peragawati unjuk kemesraan. Tapi buat Raka, se-
nyum itu adalah bencana besar yang akan menim-
panya. Lebih-lebih setelah tangan Kecubung Manis
mengusap-ngusap wajah Raka dengan jari menyentuh-
nyentuh bibir.
Raka semakin muak dan ingin menjerit kuat-
kuat, sayang tak mampu di lakukan.
"Ooh... Lama-lama kau menggairahkan juga,
Bocah Bagus!" ujar Kecubung Manis dengan suara
mendesah, nafasnya mulai terdengar tak beraturan.
"Oh. Aku tak tahan jika membiarkan bibirmu
terlalu lama kena angin. Takut melempem dan tak se-
gar lagi. Hik hik hik..."
Kecubung Manis pun segera dekatkan wajah.
Dengus nafasnya terasa menyembur panas di wajah
Raka. Maklum, lubang hidungnya termasuk lebar se-
perti knalpot bajaj. Tapi Raka tak bisa berbuat apa-
apa.
Ketika bibirnya dikecup oleh Kecubung Manis,
Raka pun hanya bisa merasakan lumatan yang disertai
pagutan-pagutan kencang. Pemuda itu hanya dapat
mengeluh benci dalam hatinya.
Kecubung Manis bertambah gairahnya ketika
dapat melumat bibir pemuda tampan sekehendak ha-
tinya. Tubuhnya segera menelungkup di atas tubuh
Raka Pura. Ciumannya yang mengganas menelusuri
tubuh itu dari mulut sampai ke perut.
"Ooh. Indah sekali bercinta dengan pemuda se-
kekar dirimu. Pasti kau mampu ku ajak berlayar se-
jauh-jauhnya. Pasti kau mampu bertahan untuk tidak
menyerah lebih dulu sebelum aku merasa puas, bu-
kan? Hik, hik, hik..."
Tangan perempuan itu merayap kembali sete-
lah melepaskan ikat pinggang Raka. Tangan itu mene
lusup ke dalam dan meremas lembut.
"Oh, ya... aku lupa. Tentu saja kau tidak bisa
'berdiri' karena seluruh uratmu ku lumpuhkan. Tapi
jangan kuatir, aku bisa melepaskan totokan ku pada
bagian tertentu agar kita bisa berbulan madu. Hek,
hek, hek, hek..."
Kecubung Manis segera lakukan totokan di ke-
dua pangkal paha Raka dengan dua jarinya yang men-
geras. Des, des...! Maka kaki Raka dapat bergerak se-
dikit. Gerakan lebih banyak berpusat pada bagian lain
yang sangat diharapkan untuk menjadi kokoh oleh Ke-
cubung Manis Maka tangan perempuan itu pun se-
makin nakal, semakin menggoda agar Raka Pura
bangkit dengan kekokohannya.
"Nah, betul kan apa kataku...! Hik, hik, hik..."
Kecubung Manis kegirangan ketika harapannya men-
jadi kenyataan. Ia sengaja memandang dengan mata
terbelalak
"Wow...! Hebat sekali kau sebenarnya, Bocah
Bagus! Hmm... aku tak sabar ingin segera merasakan
kehebatanmu ini, Bocah Bagus! Hik, hik, hik, hik...!"
Kecubung Manis segera melepasi pakaiannya
sambil tertawa cekikikan. Gerakannya terburu-buru
pertanda tak sabar lagi; ingin segera dapatkan kehan-
gatan asmaranya.
"Ya, ampun...!" ucap hati Raka Pura ketika ma-
tanya melihat sosok gajah bengkak tanpa selembar be-
nang pun. Nafasnya menjadi sesak sekali melihat kea-
daan lawan jenisnya seperti itu.
"Ini perempuan apa babi kegemukan? Tinggal
di beri kecap, persisi babi panggang kau ini!" ujar Raka
namun hanya dalam hati saja.
Kecubung Manis cekikikan terus. Dadanya
yang bukan saja montok namun tergolong bengkak
dengan ujung seperti kelereng kusam itu di sodorkan
ke mulut Raka Pura. Tentu saja mulut itu tak bisa
memagut karena urat pada mulut Raka ikut lumpuh.
"Oh, kau tak bisa memagutnya, Bocah Bagus?
Kalau begitu biar kupagut saja bibirmu sambil kita
nikmati kehangatan ini, Oouhh... hmmm..."
Kecubung Manis melumat bibir Raka kembali.
Nafas Raka menjadi semakin berat, karena tubuh ge-
muk besar itu menindihnya dengan gerakan ganas.
Tangan kiri Kecubung Manis menggapai bawah, beru-
saha memapankan perahunya yang akan meluncur ke
samudera cinta.
Tetapi sebelum segalanya benar-benar mapan,
tiba-tiba tubuh gemuk besar berdada bengkak itu ter-
guling ke samping dengan sentakan keras. Kecubung
Manis rasakan kepalanya seperti di sambar dengan se-
bongkah batu sebesar anak kambing. Praakk...!
"Aaahhh...!!" Ia memekik sambil terguling-
guling.
Pandangan matanya menjadi berkunang-
kunang, telinganya mengucurkan darah. Ia segera sa-
dar ada yang menerjangnya dengan tendangan keras
bertenaga dalam. Maka dengan kerahkan tenaga pe-
nahan sakit, ia pun segera bangkit dan hadapi si pe-
nerjang tadi.
Ternyata Soka Pura dan Nyai Rempah Arum
sudah ada di samping Raka. Tendangan tadi datang-
nya dari Nyai Rempah Arum, musuh bebuyutannya.
"Perempuan liar!" kecam sang Nyai sambil me-
lompat melintasi tubuh Raka dan kakinya menjejak
kuat ke dada Kecubung Manis yang baru saja ingin
berdiri.
Bueehk...!
"Ujjkk...!" Kecubung Manis terlempar ke semak-
semak. Mulutnya sampai semburkan darah ketika me-
nerima jejakkan Nyai Rempah Arum.
Rupanya sang Nyai tidak hanya sekedar me-
nyingkirkan tubuh Kecubung Manis dari atas tubuh
Raka tadi, namun berusaha untuk membuat lawannya
tumbang tak berkutik. Karenanya, Nyai Rempah Arum
mengejar Kecubung Manis ke dalam semak-semak dan
menghajar perempuan gemuk bugil itu di sana.
Gusrak, gusrak, gusrak...!
"Aah...! Aoow...! Bangsat kau.. aaah...!" Soka
Pura tertawa kecil mendengar Kecubung Manis dihajar
oleh Nyai Rempah Arum. Kejap berikutnya ia baru sa-
dar kalau kakaknya perlu segera di pulihkan. Melihat
keadaan Raka yang diam tak berkutik sedikit pun, So-
ka yakin sang kakak terkena totokan yang melumpuh-
kan. Maka dengan satu totokan di bawah ketiak Raka,
Soka Pura berhasil lepaskan totokan pelumpuh tadi.
Dees...!
"Oooh...!" Raka Pura langsung hembuskan na-
fas panjang dan bergegas rapikan pakaiannya.
"Hampir saja aku dimakan gerhana sinting itu!"
ujar Raka Pura yang membuat Soka tertawa cekikikan.
"Kalau dapat rezeki nomplok, bagi-bagilah pa-
daku, Raka...."
Plaaak...! Raka menampar adiknya yang menge-
jeknya. Sang adik terguling ke samping, lalu berdiri
dengan kedua lutut sambil mengusap-usap pipinya
yang kena tampar, tapi ia tidak marah dan justru ter-
tawa semakin geli.
Brus, brus, brus...!
Terdengar langkah menerjang daun-daun se-
mak yang semakin lama semakin menjauh. Disusul
kemudian suara teriakan si Kecubung Manis dl kejau-
han sana yang melontarkan ancaman bagi Nyai Rem-
pah Arum.
"Tunggu pembalasanku, Keparat Rempah
Arum! Akan ku kuliti kau di depan murid
muridmu...!!"
Mendengar suara si Kecubung Manis, Raka Pu-
ra segera menyambar pedangnya yang belum sempat
diselipkan di pinggang, ia segera berlari mengejar ke
arah Kecubung Manis.
"Berhenti kau, Kodok Panggang!" seru Raka
yang ingin mengejarnya. Namun langkahnya segera
terhenti karena dihadang oleh Nyai Rempah Arum.
"Tak perlu kau kejar! Dia sudah cukup terluka
oleh pukulan dan tendangan ku! Tak mungkin ia bisa
sembuh dalam waktu tujuh hari."
"Tap! dia hampir saja memperkosaku, Nyai!"'
"Mahkota mu belum tercaplok olehnya, bukan?"
ujar sang Nyai dengan senyum dikulum. Raka Pura
hanya mendengus kesal.
"Raka," ujar adiknya. "Kita teruskan perjalanan
kita ke Bukit Maut. Biarkan si gajah bengkak itu mela-
rikan diri. Yang penting kau belum sempat dinodai.
Kau masih suci, bukan?"
"Tentu saja aku masih perawan!" jawab Raka
dengan konyol karena menahan kejengkelan dalam ha-
tinya. Soka Pura tertawa sedikit terbahak-bahak. Na-
mun tawanya segera dihentikan, karena Raka Pura
memandangnya dengan berang. Soka takut, dan sege-
ra bersikap biasa-biasa saja.
Pakaian si Kecubung Manis yang tertinggal se-
gera dipungut oleh Raka Pura, kemudian mereka ber-
gegas pergi teruskan langkah. Soka Pura sempat aju-
kan tanya kepada kakak kembarnya.
"Mengapa pakaian permaisuri mu kau bawa?
Mau kau jual kepada Darah Kula?!"
"Mau ku buang biar biang kodok itu dipanah
orang dikira babi hutan!" jawab Raka dengan gemas.
Maka ketika mereka melewati tanggul sungai, pakaian
itu di
buang oleh Raka ke sungai tersebut. Tindakan
itu membuat Raka dan Nyai Rempah Arum tertawa ge-
li.
"Mengapa kau buang ke sungai itu?" ujar sang
Nyai. "Justru pakaian itu akan sampai padanya, kare-
na perguruan si Kecubung Manis ada di tepi sungai
itu."
"Hahhh...?" Raka Pura terkejut dan segera pan-
dangi pakaian yang sudah mengambang jauh terbawa
arus sungai.
*
* *
6
PERJALANAN malam dilakukan oleh mereka,
karena Raka Pura ingin segera berhadapan dengan Da-
rah Kula, demikian juga halnya dengan Nyai Rempah
Arum yang ingin segera selamatkan murid kesayan-
gannya. Mau tak mau Soka Pura setujui lakukan per-
jalanan malam, karena tak ada pihak lain yang men-
dukung usulnya untuk beristirahat malam. Mereka
hanya berhenti sebentar di sebuah bukit ketika fajar
menyingsing dan matahari pagi menjadi pusat peman-
dangan yang mempesona.
Rupanya bukan hanya pihak Nyai Rempah
Arum dan Pendekar Kembar yang mengincar kematian
Darah Kula, tapi ada pihak lain yang lebih dulu berge-
rak ke Bukit Maut. Pihak yang telah lakukan serangan
ke Istana Merah di puncak Bukit Maut sejak pertenga-
han malam itu adalah Lodayu, dari Perguruan Gagak
Putih. Pendekar Kembar sangat kenal dengan Lodayu,
karena mereka pernah saling jumpa dan menjadi ber
sahabat setelah mengakui kekalahannya dalam men-
gadu kesaktian dengan Pendekar Kembar, (Baca serial
Pendekar Kembar dalam episode: "Gadis Penyebar Cin-
ta").
Lodayu dan orang-orang Perguruan Gagak Pu-
tih berhasil membakar Istana Merah pada malam men-
jelang fajar. Pertarungan sengit terjadi antara anak
buah Darah Kula dengan orang-orang Perguruan Ga-
gak Putih. Sekalipun Istana Merah tempat berse-
mayamnya si anak Iblis itu telah terbakar, tapi korban
yang bergelimpangan di sekitar Bukit Maut kebanya-
kan adalah dari orangnya Lodayu.
Nyai Rempah Arum yang mengetahui bahwa
para korban itu adalah orang Perguruan Gagak Putih,
karena ia mengenali beberapa wajah mereka. Antara
pihak Perguruan Gagak Putih dan pihak Nyai Rempah
Arum menjalin persahabatan yang baik, sehingga me-
reka saling kenal.
Lodayu ditemukan Pendekar Kembar pada saat
pemuda berambut panjang diikat ke belakang itu ter-
guling-guling jatuh dari puncak bukit yang tak sebera-
pa tinggi itu. Keadaan Lodayu sangat menyedihkan.
Wajahnya hancur bagai tercabik-cabik, dada di bawah
tulang pundaknya belong, tembus ke belakang dalam
keadaan luka hangus selebar tutup botol. Perut Lo-
dayu sendiri telah robek, namun ususnya tak sampai
keluar. Ia masih bisa bernapas dan segera sadar bah-
wa tubuhnya dipapah oleh salah satu dari Pendekar
Kembar, dibawa ke suatu tempat, kemudian diobati
dengan jurus Sambung Nyawa'-nya,
Denting suara senjata beradu masih terdengar
di puncak bukit. Ledakan dan dentuman menggelegar
sesekali, membuat tanah di sekitar bukit bergetar. Nyai
Rempah Arum berkelebat lebih dulu ke atas bukit, se-
mentara itu Raka Pura menyusul sang Nyai, sedang
kan Soka masih mengurus Lodayu. "Kau... oh, kau...."
"Ya, aku Soka Pura. Masih ingat aku, Lodayu?!"
"Yaah, aku ingat sekali denganmu, Soka!" Lo-
dayu terengah-engah setelah tubuhnya memancarkan
cahaya ungu dan cahaya itu kini telah redup. Lukanya
menjadi sembuh dan hilang akibat pengobatan yang
dilakukan Soka tadi.
"Untung kau datang, Soka Pura. Orang-
orangku banyak yang tewas di tangan si Darah Kula."
"Mengapa kau menyerang tempat ini?"
"Salah satu murid perguruanku yang masih ga-
dis; Miranti namanya, diculik oleh orangnya Darah Ku-
la.. Guru perintahkan kami untuk menyerang Istana
Merah dan membebaskan Miranti. Tapi... agaknya ka-
mi tak bisa kalahkan kesaktian si Darah Kula."
"Kalau begitu, tetaplah di sini aku dan kakakku
akan segera hancurkan si Darah Kula!"
Soka Pura segera berkelebat naik ke puncak
bukit. Lodayu menunggu kekuatannya pulih, sesaat
kemudian ia menyusul Soka, ikut naik ke atas bukit di
mana bangunan megah itu masih kepulkan asap dan
api yang berkobar.
Rupanya pihak anak buah Darah Kula banyak
yang tumbang, sehingga Darah Kula akhirnya turun
tangan sendiri menghadapi penyerangnya. Ketika Raka
dan Nyai Rempah Arum tiba di tanah datar depan Is-
tana yang terbakar, Darah Kula baru saja habisi nyawa
lawannya dengan menyodokkan jari tangannya yang
mengeluarkan sinar merah lurus dan menghantam ulu
hati lawan hingga tembus ke belakang. "Hentikan ke-
biadapan mu, Darah Kula!" sentak Nyai Rempah Arum
yang membuat Darah Kula berpaling menatapnya den-
gan tajam. Sang Nyai segera mencabut kipas emasnya
yang beraroma cendana itu. Ia bersiap hadapi seran-
gan lawan dengan kipas tersebut. Tetapi Raka Pura se
gera maju dan berkata pelan kepada sang Nyai.
"Biar aku yang menghadapinya, Nyai! Jangan
sampai ada korban lagi setelah kemunculan kita ini!
Kau carilah tahu di mana para gadis itu ditawan, lalu
bebaskan mereka!"
Wuuuz...! Jleeg...!
Soka Pura tiba di tempat tersebut. Ia berdiri di
samping kakaknya dengan mata memandang tajam ke
arah seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun
itu.
Darah Kula adalah lelaki berambut pendek
yang mempunyai wajah pucat namun termasuk tam-
pan. Hidungnya bangir, alisnya tebal, matanya sedikit
merah. Sayang sekali ia mempunyai taring kecil di mu-
lutnya sehingga jika menyeringai tampak menyeram-
kan.
Anak iblis itu bertubuh kurus, tinggi, menge-
nakan jubah hitam tepian merah. Jubahnya mempu-
nyai krah yang tegak melebar menutupi tengkuk dan
lehernya. Ketika salah seorang murid Perguruan Gagak
Putih menyerangnya dengan pukulan bersinar dari
arah samping kiri Darah Kula, jubah itu dikelebatkan
menangkis sinar tersebut. Sinar itu pun padam tanpa
letupan sedikit pun. Rupanya jubah hitam si Darah
Kula adalah perisai yang melindungi dirinya dari se-
rangan para pembokong. Jubah itu bukan saja tak
mempan ditembus senjata tajam, namun juga tak bisa
ditembus sinar tenaga dalam.
"Raka...," bisik Pendekar Kembar bungsu. "Pan-
cinglah dia agar sibuk hadapi seranganmu, aku akan
menancapkan bambu ini ke tubuhnya!"
"Hati-hati, Soka!" jawab Raka sambil melebar-
kan jarak dari adiknya.
Tiba-tiba sekelebat bayangan datang menerjang
Darah Kula dari belakang. Wuuus...! Tapi Darah Kula
sangat gesit. Ia rasakan ada angin yang bergerak cepat
ke arahnya. Maka dengan berkelit ke samping, seseo-
rang yang berusaha menerjangnya itu tak berhasil
kenal tubuhnya. Justru tangan Darah Kula menyentak
ke atas dan orang yang melayang itu terjungkal dalam
keadaan melambung, kemudian jatuh terbanting tepat
di depan Soka Pura. Brruuuk...!
"Bulan Berkabut...?!!" pekik Soka dengan terke-
jut begitu melihat orang yang jatuh adalah gadis cantik
berambut pendek seperti potongan lelaki. Gadis itu
adalah murid Resi Bayakumba yang sempat membuat
hati Soka terpikat dan terjerat. Namun kala itu, ia se-
gera dipisahkan dari Bulan Berkabut oleh sang Resi
sendiri, (Baca serial Pendekar Kembar dalam episode:
"Pemburu Mahkota Dara").
Bulan Berkabut cepat bangkit walau harus me-
nahan rasa sakit.
"Terlalu lama aku menunggumu di sekitar bukit
ini, Soka!"
"Menyingkirlah, Bulan! Akan kuhadapi si pen-
gisap darah perawan itu!"
"Bagaimana dengan para gadis yang ditawan-
nya di ruang bawah tanah, di bawah istana itu?!"
"Ooh...?!" Nyai Rempah Arum terkejut menden-
gar ucapan Bulan Berkabut. Sementara itu, Raka Pura
sudah lakukan serangan, membuat Darah Kula sibuk
menghadapinya, tapi Soka masih bicara dengan Bulan
Berkabut.
Nyai Rempah Arum segera dekati Soka.
"Apa benar mereka di bawah istana yang se-
dang terbakar itu?!"
Soka Pura segera memandang Bulan Berkabut,
karena Bulan Berkabut yang mengetahui hal itu, ia tak
bisa menjawab pertanyaan Nyai Rempah Arum. Dan
saat itu Bulan Berkabut langsung menjawab dengan
suara pelan, karena harus menahan rasa sakit akibat
pukulan Darah Kula tadi.
"Aku memata-matai tempat ini, sesuai perintah
Guru. Aku nyaris tertangkap ketika mengetahui bahwa
mereka ditawan di ruang bawah tanah. Untung segera
datang penyerangan di tengah malam, sehingga aku
bisa lolos kembali!"
"Kalau begitu tunjukkan padaku di mana tem-
pat mereka tertawan!" ujar Nyai Rempah Arum.
"Bulan, bantu Nyai Rempah Arum untuk be-
baskan mereka! Aku dan Raka akan hadapi si lintah
darat itu."
"Lintah darat...?!" gumam Bulan Berkabut.
"Si pengisap darah perawan itu maksudku!"
Kedua perempuan beda usia itu segera pergi.
Sementara itu, Darah Kula benar-benar dibuat sibuk
oleh Raka dengan tebasan pedang kristalnya. Sehingga
ia tampak hati-hati sekali menghadapi pedang terse-
but.
Kejap berikut, Darah Kula tiba-tiba lenyap dari
pandangan mata. Raka kebingungan, Soka Pura pun
mencari di mana si jubah hitam itu berada. Namun ia
segera terkejut, karena tiba-tiba Raka Pura memekik
sambil terpental.
"Aaahk...!!"
"Rakaa...?!" Soka berseru tegang, karena ka-
kaknya melambung di udara dengan mengucurkan da-
rah dari hidung dan telinga. Dada sang kakak tampak
berasap, seperti habis terkena tendangan bertenaga
dalam tinggi, Tapi Darah Kula masih belum kelihatan
walau matahari pagi mulai meninggi.
"Aaahk...!" Raka Pura memekik lagi, tubuhnya
yang berusaha bangkit itu terlempar kembali dengan
pipi kanan luka cakar cukup lebar.
"Keparat! Rupanya Darah Kula mempunyai il
mu seperti si Dedengkot Iblis!" geram Soka Pura dalam
hatinya. Maka pedang kristal segera dicabut dan ia
melambung ke atas tanpa tujuan. Wuuut...!
Pada saat ia melambung, ia dapat melihat Da-
rah Kula sedang hampiri Raka Pura yang terkapar di
tanah.
"Oh, benar juga dugaanku. Kakiku tak boleh
menyentuh tanah jika ingin melihat di mana dia bera-
da! Hmmmmm... rupanya rahasia Dedengkot Iblis
punya kesamaan dengan rahasia si Darah Kula."
Soka pun segera sentakkan kakinya kembali ke
arah Raka berada. Wuuuzz...! Dalam gerakan bersalto
ia sempat melihat Darah Kula ingin sabetkan tangan-
nya yang berkuku tajam itu ke wajah Raka Pura yang
berusaha bangkit lagi.
Sebelum tangan Darah Kula berkelebat, tubuh
Soka telah meluncur mendekati Darah Kula dan pe-
dangnya disabetkan dalam jarak sekitar dua langkah.
Wess...! Craass...!
"Aaow...! Jahanam kau...!"
"O, maaf. Aku tak sengaja menyabet pundak-
mu, Kawan. Tujuanku menyabet lehermu!" ucap Soka
Pura sengaja bercanda agar hatinya tak menyimpan
kemarahan dan benci. Karena ia khawatir Darah Kula
juga tak bisa dilukai jika hatinya diliputi kemarahan
dan kebencian.
Soka Pura yang kini berani menapak di tanah
itu masih tetap bisa melihat Darah Kula sibuk atasi
lukanya. Sabetan Pedang Tangan Malaikat membuat
Darah Kula tak bisa menghilang lagi, seperti yang di-
alami oleh Dedengkot iblis.
Bahkan Darah Kula pun dapat menutup lu-
kanya menjadi seperti semula, persis seperti yang dila-
kukan oleh Dedengkot Iblis. Barangkali karena De-
dengkot Iblis adalah muridnya Raja Iblis, ayah Darah
Kula, maka ilmunya tak jauh berbeda dengan si pengi-
sap darah perawan itu.
"Bangkai busuk! Ku hancurkan kau sekarang
juga, heeaaah...!!" Darah Kula berteriak keras meme-
kakkan telinga. Tangannya mulai memancarkan ca-
haya biru yang ingin dilepaskan ke arah Soka. Tapi
Raka Pura berhasil berlutut, lalu sentakkan tangannya
ke depan dan seberkas sinar putih seperti pisau runc-
ing melesat menghantam punggung Darah Kula.
Duuubs...! Sinar itu redup tanpa ledakan apa
pun kecuali kepulan asap. Tubuh Darah Kula tak ter-
luka, jubahnya berhasil menahan sinar dari jurus
'Cakar Matahari'-nya Raka Pura. Tapi tubuh itu tersen-
tak maju satu langkah, sehingga Darah Kula sadar ada
yang menyerangnya dari belakang. Ia segera berbalik
dan kibaskan tangannya. Claaap...! Sinar biru melesat
menghantam Raka, namun Pendekar Kembar sulung
itu segera berguling ke samping hingga lolos dari maut
di ujung sinar biru tersebut.
Pada saat Darah Kula mengibaskan tangan
dengan tubuh berputar ke arah Raka, Soka pun guna-
kan kesempatan untuk melompat secepatnya.
Wuuuz...! Ia berhasil melayang di atas kepala Darah
Kula. Pedang di tangan kiri segera di pindah ke tangan
kanan, lalu tangan kiri itu mencabut Bambu Gading
Mandul. Bambu itu segera ditancapkan di kepala Da-
rah Kula dalam gerakan bersalto. Jruuubs...!
"Aaaaaaa...!!"
Darah Kula memekik keras-keras. Bambu se-
panjang dua jengkal itu tertancap tepat di ubun-
ubunnya. Bambu itu berasap dan menyemburkan api.
Secara ajaib tubuh Darah Kula segera terbungkus api,
hingga ia berguling-guling sambil meraung histeris. Api
itu tak dapat dipadamkan, sampai akhirnya Darah Ku-
la tak bernyawa lagi dan terbujur kaku menjadi arang
hitam.
Suara jeritan Darah Kula menjadi pusat perha-
tian orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, terma-
suk anak buahnya sendiri dan murid-murid Perguruan
Gagak Putih yang belum tewas. Para pengikut Darah
Kula melarikan diri begitu melihat Darah Kula menjadi
arang. Mereka dikejar oleh murid-murid Perguruan
Gagak Putih.
Lodayu ikut mengejar, karena ia segera melihat
beberapa gadis keluar dari istana yang terbakar sambil
berjeritan. Rupanya Nyai Rempah Arum dan Bulan
Berkabut berhasil bebaskan mereka. Lodayu menjadi
lega, karena Miranti belum menjadi korban, seperti
halnya si Merak Jelita yang masih belum terjamah oleh
tangan Darah Kula.
Matahari makin meninggi. Mereka yang terluka
segera diobati oleh Soka Pura, termasuk kakaknya
sendiri. Tapi Raka segera berlari tinggalkan tempat itu
setelah Soka Pura menggenggam tangan Bulan Berka-
but dengan senyum mesra.
"Hei, mau ke mana kau, Raka...?!" seru sang
adik. "Selesaikan urusan dengan Kecubung Manis!"
jawab Raka, tapi sang adik tertawa mencibir.
"Tak mungkin ia ke sana. Pasti mau menemui
Kirana!"
"Siapa Kirana itu?" tanya Bulan Berkabut.
"Entahlah, aku tak tahu apakah Raka mau ja-
dikan gadis itu kekasihnya atau sekadar sahabat, yang
jelas... dia pernah menaruh cemburu padaku," jawab
Soka Pura, membuat Bulan Berkabut tersenyum. Lalu
keduanya melangkah menemui Nyai Rempah Arum
yang sedang bergabung dengan Merak Jelita, Lodayu,
Miranti, dan gadis-gadis tawanan yang darahnya be-
lum terisap oleh si anak iblis itu.
SELESAI
Segera terbit:
TANTANGAN MESRA