"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Sabtu, 29 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE SINGA GURUN BROMO


Singa Gurun Bromo


 WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Episode : Singa Gurun Bromo 

SATU 

Warung nasi Mbok Sinem kecil. Tapi tamunya selalu penuh dari pagi sampai 

malam. Lezat makanannya terkenal sampai ke mana-mana. Siang itu banyak orang 

bersantap di sana. Para pengunjung begitu selesai makan cepa-cepat membayar dan

pergi. Mereka seperti mengawatirkan sesuatu. Tapi nyatanya mereka tidak pergi 

begitu saja melainkan tegak di bawah pohon tak jauh dari warung. Orang-orang ini 

sengaja berdiri di sini, memandang warung, sepertinya ada sesuatu yang mereka 

tunggu dan hendak mereka saksikan. 

“Kalau Singa Gurun Bromo berani muncul, dia tak bakal lolos!” berkata 

seorang lelaki muda berbadan langsing. Setelah menyedot rokok kawungnya dalam-

dalam dia melanjutkan “Seharusnya dia tak perlu datang ke Kuto Inggil ini. Ah, 

mengapa dia berlaku setolol itu.” 

“Bagaimanapun Kuto Inggil adalah kampung halamannya. Tempat dilahirkan. 

Walau ayah dan ibunya sudah tak ada, tak ada sanak tak ada kadang, mana mungkin 

dia melupakan Kuto Inggil!” menyahuti kawan lelaki muda tadi. 

Orang ketiga ikut bicara. “Enam tahun dia menghilang. Kalau dia berani 

muncul pasti dia sudah membekal ilmu yang lebih tinggi. Ingat kejadian enam tahun

lalu? Waktu dia melumpuhkan para pengawal kadipaten, memberi malu Adipati 

Dirgo Sampean?” 

Orang pertama rangkapkan kedua lengannya di depan dada lalu berkata. 

“Singa Gurun boleh punya segudang ilmu. Tapi kau lihat berapa orang yang ada di 

dalam dan di luar warung itu. Lalu siapa-siapa saja mereka? Dulu kalau dia memang 

tidak bersalah seharusnya dia tak usah melarikan diri!” 

“Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Belum tentu dia kabur karena 

bersalah. Bisa saja hanya untuk menghidari malapetaka yang lebih besar. Kau tahu

sendiri kedua orang tuanya menjadi korban dari masalah yang tidak pernah

terjelaskan itu…..” 

“Yah ….. Kita lihat saja. Apa yang bakal terjadi kelak.” 

Saat itu di dalam warung nasi Mbok Sinem yang ramai, di antara para tamu 

yang duduk menikmati makan siang terdepat enam orang berpakaian petani. Yang

dua bertubuh tegap kekar serta memiliki pandangan mata liar. Mereka adalah dua 

orang perwira tinggi kerajaan yang bersama perajurit manyamar sebagai petani. Di 

balik baju-baju gombrrong yang mereka kenakan, tersembunyi golok. Di luar warung

masih ada delapan perajurit lagi yang menyamar sebagai penduduk biasa. Lalu agak

jauh dari warung, dekat serumpun pohon bambu berdiri dua orang berusia sekitar lima 

puluh tahun. Sikat mereka tenang tapi pandangan mata keduanya tajam. Mereka 

adalah tokoh-tokoh silat Istana. Yang pertama dikenal degnan nama Ki Bumi 

Wirasulo dan satunya Mangku Sanggreng. 

Kedua tokoh silat ini muncul di Kuto Inggil atas permintaan Adipati Dirgo 

Sampean setelah salah seorang dari mata-mata yang disebar melaporkan bahwa Panji 

Argomanik, pemuda yang lebih dikenal dengan julukan Singa Gurun Bromo itu akan

muncul di Kuto Inggil setelah menghilang selama enam tahun. 

Saat itu udara panas sekali. Matahari bersinar terik. Sudah sejak lama hujan

tak pernah turun. Bumi Tuhan menjadi gersang. Kalau angin bertiup debu jalanan 

beterbangan menyakitkan mata dan menyesakkan jalan nafas.“Lihat! Singa Gurun datang!” Seorang berseru seraya menunjuk ke ujung 

jalan. Semua mata serta merta memandang ke arah yang ditunjuk. 

“Dia benar-benar berani mati!” 

Di tikungan jalan saat itu muncul seprang penunggang kuda coklat berpakaian

dan berikat kepala putih. Debu beterbangan di belakang kuda tunggangannya. Dalam 

waktu singkat dia sudah berada di depan warung Mbok Sinem. Selesai meanmbatkan

kudanya pada sebuah tiang bambu sambil bersiul-siul dia melangkah menuju pintu

warung. Masuk ke dalam warung dilihatnya hanya ada satu bangku yang masih

kosong, tepat di tengah ruangan. 

Sesaat pemuda ini tegak mengusap-usap dagunya. Dalam hatinya dia berkata 

“Aneh satu-satunya bangku kosong berada di tengah ruangan. Sepertinya ada yang 

sengaja mengatur.” 

Setelah melirik ke kiri dan ke kanan pemuda ini lalu melangkah ke arah 

bangku kosong. Baru saja dia duduk di situ tiba-tiba beberapa orang di sekitar meja 

berdiri dan terdengar suara-suara senjata dicabut dari sarungnya. Lalu menyusul suara 

bentakan-bentakan. 

“Singa Gurun Bromo! Jangan kau berani bergerak!” 

“Berani melawan amblas nyawamu!” 

Pemuda yang barusan duduk di bangku tentu saja menjadi kaget dan 

memandang berkeliling. Enam orang lelaki tak dikenal mengurung dengan golok di 

tangan. Yang dua dengan gerakan kilat menyergap ke arahnya. Satu menempelkan 

ujung golok ke perut dan satunya lagi membelintangkan senjatanya di leher si pemuda. 

Setelah sirap kagetnya, si pemuda tampak tenang, malah meyeringai. “Sobat! 

Kalau kalian hendak merampokku, kalian salah mencari mangsa. Aku hanya seorang 

manusia miskin! Apaku yang hendak kalian rampok?” 

Enam orang yang mengurung tampak berubah kelam tampang mereka tanda 

menahan amarah. Yang menghunuskan goloknya ke leher si pemuda tekankan

senjatanya hingga kulit leher pemuda itu teriris luka. Dia berkata dengan suara 

bergetar. “Kami bukan perampok. Aku dan kawanku adalah perwira tinggi kerajaan. 

Empat orang ini perajurit-perajurit kelas satu.” 

“Eh, hebat! Lalu apa mau kalian? Hendak menyembelihku?! Aku bukan singa, 

apalagi kambing!” 

“Sebelum mampus memang tak ada salahnya kau bergurau dulu. Nanti kalau 

sudah di liang kubur buronan Singa Gurun Bromo hanya bisa bergurau dengan setan-

setan kuburan!” 

“Eh, kau menyebut aku buronan? Kau tadi menyebut namaku apa? Singa 

Gurun…..? 

“Panji Argomanik! Jangan kau berpura-pura!” bentak orang yang menodong 

dengna ujung goloknya ke perut si pemuda. 

“Nah, nah! Sekarang kau menyebut aku Panji Argomanik! Kalian ini aneh-

aneh saja! Sudah pergi sana! Aku ke sini mau mengisi perut bukan ikut-ikutan 

sandiwara konyolmu ini!” 

“Siapa yang konyol dan siapa yang main sandiwara!” bentak salah seorang

dari perwira tinggi itu. “Aku Kunto Areng. Perwira Kerajaan. Mengikuti amarah aku 

bisa mencincangmu saat ini juga. Tapi Sri Baginda dan Adipati ingin melihat kau

mampus di tiang gantugnan!” 

“Mencincangku? Memangnya aku daging perkedel?!” semprot si pemuda lalu

menyeringai lebar.“Setan alas!” maki Kunto Areng. Lalu dua jari tangan kirinya bergerak cepat 

menusuk ke arah dada si pemuda untuk menotok. Tapi dengan cepat si pemuda itu 

angkat tangan kanannya. Sekali bergerak dia berhasil menangkap lengan Kunto Areng. 

“Orang gila!” desis pemuda itu. “Siapapun kau adanya, aku muak melihat 

tampangmu! Aku bukan Panji Argomanik, juga bukan singa Gurun Bromo! Pergi!” si 

pemuda tahan tangan kanan Kunto Areng yang memegang golok dengan tangan

kirinya sedang tangan kanannya dengan cepat membuat gerakan aneh. Tahu-tahu 

tubuh perwira tinggi kerajaan itu terlempar ke atas. Dari mulut Kunto Areng keluar 

suara jerit kesakitan. Sambungan siku dan sambungan tulang bahunya berderak. 

Melihat kejadian ini, Jalak Toga, perwira tinggi yang satu lagi segera tusukkan 

goloknya ke perut si pemuda. Namun dia kalah cepat. Si pemuda sudah dapat 

menerka apa yang bakal dilakukan orang itu. karenanya sebelum tusukan datang dia 

sudah berkelit ke samping. Dari samping dia hantam tengkuk Jalak Toga dengan 

pukulan tangan kiri. Rupanya perwira ini juga sudha maklum datangnya serangan 

balasan itu. dia membungkuk sambil membabatkan goloknya. 

“Bretttt!” 

Pinggang baju putih si pemuda robek besar disamber golok Jalak Toga tapi 

dirinya sendiri selamat. Warung nasi itu serta merta menjadi kacau balau. Kunto 

Areng yang masih dalam keadaan kesakitan, pindahkan goloknya ke tangan kiri. Dia 

memberi isyarat pada empat perajurit di dekatnya. Kini pemuda berpakaian puih itu 

dikeroyok habis-habisan. Enam golok berkelebat menghantam dari berbagai penjuru. 

Si pemuda yang meamang memiliki kepandaian tinggi dan saat itu hanya 

mengandalkan tangan kosong menangkis dan mengelak dengan cekatan. Satu kali dia 

berhasil menjotos keras muka salah seorang Prajurit yang mengeroyok. Perajurit ini 

terpental dengan muka yang bersimbah darah karena hidung dan mulutnya pecah

dihantam tinju si pemuda. 

Meskipun dikeroyok begitu rupa di mana serangan golok datang silih berganti, 

namun si pemuda tampaknya seperti sengaja mempermainkan para penyerangnya. 

Dia berkelebat kian kemari. Kadang-kadang naik ke ujung bangku panjang dengan

gerakan keras hingga ujung bangku yang lain mencuat naik menjadi perisainya. 

Terkadang dia melompat ke atas meja yang masih dipenuhi makanan. Lalu enak saja 

dia menendangi makanan-makanan itu hingga mencelat melumuri pakaian atau muka 

para pengeroyok. 

“Kawan-kawan!” Kunto Areng berteriak marah setelah sebutir telur bercabe 

menghantam mata kirinya sehingga dia jadi kalang kabut kesakitan dan keperihan. 

“Aku perintahkan kalian untuk mencincang manusia satu ini!” Lalu dia memberi 

isyarat pada Jalak Toga. Melihat isyarat ini Jalak Toga segera robah permainan

goloknya, mengikuti gerakan-gerakan Kunto Areng. Memang kedua orang ini 

memiliki ilmu golok hebat yang khusus dimainkan secara berpasangan. Serangan 

mereka datang laksana curahan air hujan, membuat si pemudai kini tak berani lagi 

petantang petenteng dan harus bertindak hati-hati kalau tak mau tubuhnya terkuntung-

kuntung. Selain itu masih ada serangan tiga perajurit lainnya yang menambah 

beratnya tekanan para pengeroyok. 

Dua jurus berlalu cepat. Lalu dua jurus lagi. Kunto Areng dan Jala Toga mulai 

saling melirik. Keduanya sama-sama heran melihat kenyataan bahwa setelah 

keluarkan ilmu golok andalan dan masih dibantu oleh tiga perajurit yang 

berkepandaian tidak rendah, ternyata senjata-senjata mereka masih belum dapat 

menyerntuh tubuh lawan, bahkan bajunyapun tidak! 

“Kunto……” berkata jalak Toga. “Aku melihat satu keanehan! Ilmu silat yang

dimainkan pemuda ini bukan ilmu silat Singa Gurun. Jangan-jangan“Mengapa musti ragu!” balas Kunto Areng. “Enam tahun menghilang bukan 

mustahil dia telah mendapatkan ilmu baru! Memang terus terang kita belum pernah

melihat jelas tampang pemuda ini di masa lalu! Tapi aku yakin kita tiak menghadapi 

orang lain. Dia pasti Singa Gurun Bromo!” 

Baru saja kedua orang itu selesai bicara tiba-tiba pemuda yang mereka 

keroyok kembali melompat ke atas meja makan panjang. Di sini dia tegak tolak

pinggang sambil cengar cengir. Lalu seperti seorang gila dia melenggak lenggok kian

kemari. Sesekali tubuhnya terhuyung seperti orang mabok hendak jatuh. Sesekali dia 

melompat sambil tertawa mengekeh lalu membuat gerakan seperti hendak jatuh

duduk. Dengan gemas para pengeroyok menyerbu karena mereka menyangka tengah

diejek dan melihat si pemuda kini merupakan sasaran empuk. Tetapi para pengeroyok 

terutama dua perwira tinggi itu diam-diam jadi terkejut ketika mereka dapatkan justru

dengan membuat gerakan-gerakan aneh itu si pemuda semakin sulit untuk dirobohkan. 

Malah dalam satu gebrakan hebat, kaki kiri lawan berhasil menghantam kepala 

seorang perajurit hingga tak ampun lagi perajurit ini terpelanting, terkapar di atas 

salah satu meja, tak berkutik lagi. Rahang kirinya remuk. Dua perajurit lainnya 

menjadi ciut nyalinya masing-masing sementara dua perwira tinggi walaupun tercekat 

melihat kejadian itu tetap harus terus menggempur. 

“Para sahabat! Biar kami bantu kalian meringkus tikus comberan ini!” Satu 

suara terdengar dari luar warung. Sesaat kemudian dua bayangan berkelebat masuk. 

Mereka ternyata adalah dua tokoh silat istana yaitu Mangku sanggreng dan Ki Bumi 

Wirasulo.



DUA 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Sebenarnya baik Kunto Areng maupun Jalak Toga merasa agak malu menerima 

bantuan itu karena hal ini menunjukkan ketidak mampuan mereka merobohkan atau

meringkus si pemuda. Namun dari pada urusan menjadi kapiran di mana mereka 

mungkin akan mendapat malu lebih besar maka keduanya diam saja dan menerima 

bantuan kedua tokoh silat itu. Agar tidak terlalu malu maka Mangku Sangreng

sengaja berkata dengan suara dikeraskan “Memang tugas kita semua untuk 

membekuk cacing tanah ini! Tapi aku ingin dia dicincang di tempat ini juga!” 

Ki Bumi Wirasulo menyeringai. “Sesuai pesan, dia justu harus ditangkap

hidup-hidup. Bukankah Sri Baginda dan Adipati Dirgo Sampean ingin menyaksikan 

kematiannya d tiang gantungan?!” 

“Perintah atasan, apalagi perintah raja memang harus dijalankan. Aku 

mengikuti apa mau kalian berdua saja!” berkata Kunto Areng. 

Dengan masuknya dua orang tokoh berkepandaian tinggi itu jalannya 

perkelahian kini menjadi berat sebelah. Tapi konyolnya, pemdua yang dikeroyok

tetap saja cengar cengir. Memang sampai dua jurus di muka si pemuda masih belum 

tersentuh tangan atau senjata lawan. Namun sedikit demi sedikit keadaanya semakin 

terjepit. Di satu sudut warung dia harus bertahan mati-matian dengan hanya 

mengandalkan sebuah kursi kayu. Dalam waktu singkat kursi kayu ini musnah

berantakan dibabat golok Kunto Areng dan Jalak Toga! 

“Sialan!” maki si pemuda. Kedua tangannya segera diangkat. 

Mangku Sanggreng dan Ki Bumi Wirasulo segera maklum kalau lawan 

hendak menghantam dengan pukulan tangan kosong jarak jauh yang mengandung 

kesaktian dan tenaga dalam. Kedua tokoh silat ini saling memberikan isyarat. Tangan

mereka tampak bergerak ke pinggang. Ketika diangkat ternyata mereka memegang 

seutas tali halus berwarna putih. Si pemuda maklum kalau lawan hendak menjirat atau

mengikatnya. Maka dia segera lepaskan pukulan saktinya. Namun tiba-tiba ada asap 

kelabu mengepul menutupi pemandangan. Di lain kejap dia merasakan ada sesuatu

yang menggelung kedua lengannya. Ketika asap kelabu sirna, si pemuda dapatkan 

kedua tangannya telah terikat ketat oleh tali halus putih itu! 

“Celaka!” keluh si pemuda. Dia kerahkan tenaga untuk meloloskan atau 

memutuskan ikatan tali halus. Tapi sia-sia saja. Selagi dia sibuk berusaha 

membebaskan diri, Mangku Sanggreng berkelebat menotok punggungnya dari 

belakang. Tak ampun lagi pemuda itu menjadi kaku tegang tak bisa berkutik ataupun

bersuara! 

“Gotong dia! Lemparkan ke dalam gerobak!” perintah Mangku Sanggreng. 

Empat orang perajurit segera menggotong pemuda yang tertotok itu keluar lalu

melemparkannya ke dalam sebuah gerobak yang telah menunggu di halaman depan

warung. Orang-orang kerajaan dan dua tokoh silat Istana menyusul keluar. Sampai di 

luar Kunto Areng mendekati Ki Bumi Wirasulo. “Sesuai pesan begitu tertangkap

Singa Gurun Bromo harus segera di bawa ke Kotaraja. Tapi kalau kita langsung

berangkat ke sana, rasanya menjelang pagi baru akan sampai. Bagaimana kalau kita 

mampir dulu di kadipaten. Selain melapor bukankah Adipati juga ingin lebih dulu

menghajar pemuda keparat itu?” 

Ki Bumi Wirasulo tak segera menjawab. Dia melirik pada Mangku Sanggreng

seolah minta pendapat. Mangku Sanggreng kemudian berkata “Tangkapan besar 

sudah kita dapat. Rasa tegang kini jelas seudah berkurang. Di samping itu kita perlu

sedikit istirahat. Bagaimana kalau kita menuju ke kadipaten saja dulu. Menginap di 

sana lalu pagi-pagi sekali melanjutkan perjalanan!” Habis berkata begitu mangku 

Sanggreng mendekatkan mukanya ke muka Ki Bumi Wirasulo dan berbisik. 

“Aku sudah beberapa bulan tidak melihat tubuh telanjang Ni Suri Arni, 

perempuan penghibur di kadipaten itu. Kau tentu akan mencari kesempatan pula 

menemui pacarmu si gemuk Larawati, bagaimana……?” 

Ki Bumi Wirasulo tersenyum. Lalu dia berpaling pada dua perwira kerajaan

dan berkata. “Aku setuju kita mampir dan menginap di kadipaten. Besok pagi-pagi 

sekali baru kita berangkat menuju Kotaraja.” 

Tepat dengan turunnya malam rombongan yang membawa tawanan bernama 

Panji Argomanik dan berjuluk Singa Gurun Bromo itu memasuki kawasan luar 

Kadipaten Lumajang. Saat itu hujan yang sudah lama tidak turun tiba-tiba saja jatuh

rintik-rintik. Udara siang yang tadi panas membakar kulit kini berubah menjadi dingin. 

Waktu rombongan berada di kaki sebuah bukit kecil. Di balik bukit itulah terletak 

Lumajang yang menjadi tujuan. 

“Percepat jalan! Aku tak mau basah kuyup kehujanan!” berteriak Mangku

Sanggreng. 

Setiap anggota rombongan menggebrak kuda-kuda masing-masing. Sais 

gerobak mencambuk dua kuda penarik gerobak agar binatang-binatang itu

menghambur lebih cepat. Kunto Areng yang berkuda di sebelah depan tiba-tiba 

berseru. 

“Lihat! Ada nyala api di dalam hutan sana!” 

“Rombongan berhenti!” teriak Mangku Sanggreng. Lalu mereka sama 

memperhatikan ke arah hutan kecil di tepi kiri jalan. 

“Aneh,” kata Ki Bumi Wirasulo. 

“Ya, memang aneh!” menyahuti Jalak Toga. “Setahuku hutan ini jarang

didatangi orang. Hari gerimis pula. Siapa yang menyalakan api itu? Kelihatannya 

seperti api unggun.” 

“Mungkin kelompok penjahat pimpinan Warok Keling!” ikut bicara Kunto 

Areng. 

Saat itu tercium bau daging panggang yang sedap dan harum sekali. Hal ini 

membuat setiap anggota rombongan seolah baru menyadari bahwa perut mereka 

memang minta diisi. 

“Hemmmmm, dugaanmu kurasa betul, Kunto.” Kata Ki Bumi Wirasulo. 

“Gembong penjahat itu justru sedang dicari-cari. Tidak ada salahnya kita saat ini 

berbuat pahala untuk kerajaan. Kalau kita berhasil meangkapnya Sri Baginda tentu

sangat berbesar hati. Bagaimana kalau kita menyelidiki?” 

Mangku Sanggreng menengadahkan kepalanya lalu menghirup udara malam 

yang gerimis itu dalam-dalam. “Aku setuju kita melakukan penyelidikan. Tapi hati-

hati. Warok Keling memiliki kepandaian tidak lebih rendah dari Singa Gurun

Bromo!” 

Sebenarnya Kunto Areng merasa segan untuk ikut menyelidiki karena saat itu 

keadaan bahu dan sambungan sikunya masih terasa sakit akibat pelintiran Singa 

Gurun Bromo waktu terjadi perkelahian di warung siang tadi. Namun takut dianggap

pengecut Kunto terpaksa menyetujui maksud pawan-kawannya itu. 

Dua perwira tinggi dan dua tokoh silat Istana berunding. Kemudian mereka 

turun dari kuda masing-masing mendekati nyala api dari jurusan yang berbeda. Duaorang perajurit diajak serta, enam lainnya termasuk dua yang cidera sengaja ditinggal 

untuk menjaga gerobak berisi Singa Gurun Bromo. 

Semakin dekat ke nyala api di dalam hutan, semakin santar dan harum bau

daging panggang. Tak lama kemudian enam orang itu sudah mengurung perapian. 

Mereka melihat ada binatang yang sudah dikuliti tengah dipanggang di atas nyala api. 

Mungkin kelinci besar atau anak rusa. Tapi mereka tidak menemukan satu orangpun

di tempat itu. tak ada kuda, tak ada kantong-kantong perbekalan atau tikar untuk tidur. 

“Aneh, daging itu sudah hampir hangus. Tapi tak ada siapapun di tempat ini!” 

kata Ki Bumi Wirasulo. 

“Mungkin orang yang memanggangnya sedang ke tempat lain…..” kata Jalak

Toga. 

“Tak masuk akal,” sahut Mangku Sanggreng. “Sama sekali tidak ada tanda-

tanda orang berkemah di tempat ini!” 

“Lalu bagaimana? Kita sembunyi menunggu sampai ada yang muncul? Kurasa 

sabaiknya kita tinggalkan tempat ini!” berkata Kunto Areng yang memang ingin

cepat-cepat pergi saja. 

“Kita tunggu sebentar. Kalau memang tidak ada yang muncul kita akan

pergi!” jawab Mangku Sanggreng. “Tapi daging panggang itu tak ada salahnya kita 

sikat dulu untuk mengganjal perut!” lalu dia mendekati nyala api. Dengan sepotong

ranting dia mengorek daging panggang lalu menyantapnya. Beberapa orang lainnya 

ikut mencicipi daging panggang itu. Hanya Kunto Areng dan dua orang perajurit yang

tidak ikut makan. Selesai menghabiskan daging panggang orang-orang itu lalu

bersembunyi di balik pohon atau semak belukar. 

Waktu berjalan. Tunggu punya tunggu tetap tak ada yang muncul. Kunto

Areng berpaling pada Ki Bumi Wirasulo. “Bagaimana?” tanyanya. 

Yang ditanya berpaling pada Mangku Sanggreng. “Ya sudah. Kita kembali 

saja melanjutkan perjalanan ke Kadipaten.” Kata Mangku Sanggreng pula. 

Orang-orang itu segera kembali ke tempat mereka meninggalkan kuda dan 

gerobak. Begitu sampai di tempat semula semuanya menjadi terkejut dan berseru

tegang



TIGA 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Enam orang perajurit yang mengawal gerobak kelihatan terbujur malang melintang 

di tanah. Dua di antaranya tersandar ke sebatang pohon dan roda gerobak. Empat 

sudah tak bernyawa lagi. Mereka sudah menjadi mayat dengan kepala hancur. Yang

dua dalam keadaan sekarat. Kuda-kuda tunggangan tak seekorpun di tempat itu. 

hanya dua kuda penarik gerobak yang masih tetap di tempatnya. Memeriksa ke dalam 

gerobak ternyata Singa Gurun Bromo tak ada lagi di situ! 

“Kita tertipu!” teriak Jalak Toga dengan muka berubah pucat. 

Ki Bumi Wirasulo, Mangku Sanggreng dan yang lain-lainnya ikut pucat 

tampang mereka. Mereka sadar bahwa mereka telah tertipu. 

“Celaka! Susah-susah kita menangkap manusia itu, tahu-tahu kini dia lenyap

begitu saja!” ujar Mangku Sanggreng. 

Ki Bumi Wirasulo walaupun sangat terpukul dan tak mampu mengeluarkan

sepotong ucapanpun tapi otaknya coba berpikir bagaimana hal itu bisa terjadi. Singa 

Gurun Bromo berada dalam keadaan tertotok. Jelas tak mungkin dia melarikan diri. 

Pasti ada yang menolongnya. Lalu siapa si penolong itu? Orang yang menyalakan api 

dan membakar daging hanya untuk sekedar menipu? 

“Begitu mudahnya kita tertipu….!” Kunto Areng membuka mulut. “Kalau saja 

kita tidak menyelidiki apa yang ada di sini, tidak akan pemuda buronan itu bisa 

melarikan diri. Pasti ada orang pandai yang telah menolongnya!” 

“Jelas memang begitu. Tapi siapa orangnya?!” tanya Mangku Sanggreng pula. 

Tak ada yang bisa memberikan jawaban. 

“Gara-gara ingin tahu beginilah jadinya!” gerutu Jalak Toga. “Apa yang akan

kita lakukan sekarang? Meneruskan perjalanan ke Kadipaten lalu ke Kotaraja. 

Memberi laporan bahwa kita kebobolan? Kita semua pasti akan didamprat habis-

habisan. Aku akan kehilangan jabatan sebagai perwira. Kalian semua bakal 

mengalami hal yang sama! Kalau sudah begitu…..” 

“Tutup mulutmu Jalak!” bentak Ki Bumi Wirasulo tiba-tiba. “Tak ada 

gunanya memaki dan menggerutu panjang lebar. Semua salah kita…..” 

“Siapa tadi yang punya usul untuk melakukan penyelidikan?!” memotong

Kunto Areng. “Dia yang bertanggung jawab!” 

Semua mata lantas ditujukan pada Ki Bumi Wirasulo. Memang dialah tadi 

yang mula-mula mengajak untuk menyelidik nyala api di dalam hutan itu. 

Paras tokoh silat Istana itu jadi berubah mengelam. “Jadi kalian menuduh aku 

yang salah dan harus bertanggung jawab? Bangsat! Aku memang mengajak tapi 

kalian semua ikut menyetujui! Jadi kalian juga harus ikut bertanggung jawab!” 

“Sudah tak perlu kita bertengkar di tempat ini!” Mangku Sanggreng

menengahi. “Adipati dan Sri Baginda yang nanti akan menjatuhkan putusan. Kita 

harus melanjutkan perjalanan. Aku dan Wirasulo akan mempergunakan dua ekor kuda 

penarik gerobak itu agar bisa berangkat lebih dulu dan melapor dengan cepat! Kalian

agaknya terpaksa harus jalan kaki. Tapi kadipaten tak berapa jauh lagi…..” 

“Kau memilih enakmu saja!” memotong Jalak Toga. “Kalau kami harus jalan 

kaki semua harus jalan kaki!” Lalu dia cabut goloknya. Dengna senjata ini diputuskan

tali-tali pengikat dua ekor kuda ke gerobak. Lalu digebraknya binatang-binatang itu 

hingga menghambur lari dalam kegelapan malam. 

“Keparat kau Jalak Toga! Apa maksudmu melakukan hal itu?!” bentak Ki 

Bumi Wirasulo seraya melompat ke hadapan perwira tinggi itu. Jalak Toga sudah siapmenyambuti sergapan orang dengan hantaman tinju kanan. Tapi Kunto Areng dengan

cepat menengahi. 

“Kalian tolol semua! Mengapa bertengkar dan saling gebuk? Kita berangkat 

sama-sama, sampai di tujuan harus sama-sama. Ayo semua jalan kaki!” lalu dengan

langkah terhuyung-huyung karena bahu dan sikunya masih sakit Kunto Areng 

melangkah lebih dulu. 

Ki Bumi Wirasulo dan Mangku Sanggreng masih memandang melotot pada 

Jalak Toga. Terdengar Ki Bumi kemudian berkata dengan suara ketus. “Kalian 

perwira-perwira kerajaan memang sejak dulu merasa iri melihat Sri Baginda lebih 

memperhatikan kami tokoh-tokoh silat Istana. Itu semua karena ketololan kalian 

sendiri yang mabuk pangkat…..” 

Jalak Toga menyeringai. “Setelah kejadian ini, kita akan lihat Ki Bumi. 

Apakah Sri Baginda akan tetap memanjakan kalian tokoh-tokoh silat yang kerjanya 

lebih banyak petatang-peteteng menghabiskan uang kerajaan dan tahunya hanya bisa 

main perempuan!” 

“Kurang ajar kau Jalak! Jaga mulutmu!” teriak Mangku Sanggreng marah lalu 

melompat ke hadapan Jalak Toga hendak menampar muka perwira tinggi Kerajaan itu. 

Jalak Toga cepat cabut goloknya seraya mengancam. “Teruskan gerakanmu. Kutebas 

putus tangan celakamu!” 

Rahang Mangku Sanggreng menggembung. Ki Bumi Wirasulo memegang

bahunya. “Sudah Mangku. Sabarlah sedikit hatimu. Masih ada waktu untuk memberi 

pelajaran sopan santun pada cacing tanah ini!” 

“Aku bersumpah untuk menghajarmu agar kau bisa bicara lebih tahu 

peradatan!” kata Mangku Sanggreng pula. 

Jalak Toga menjawab dengan meludah ke tanah lalu memutar tubuh dan

melangkah menyusul kawannya Kunto Areng. 

“Aku ingin membunuh bangsat itu malam ini juga!” kata Mangku Sanggreng 

begitu Jalak Toga berlalu. 

“Sama, aku juga!” jawab Ki Bumi Wirasulo. “Tapi jangan sekarang. Kita 

harus mencari saat yang baik……” 

Apa sebenarnya yang telah terjadi sewaktu Ki Bumi Wirasulo dan anggota 

rombongan lainnya memasuki hutan untuk menyelidiki nyala api? 

Hanya beberapa saat setelah orang-orang itu melangkah pergi masuk ke dalam 

rimba belantara, dari balik sebuah pohon besar di tepi jalan keluar satu bayangan

putih. Sosok ini bergerak cepat menuju gerobak di mana tergeletak pemuda yang 

dituduh sebagai Panji Argomanik alias Singa Gurun Bromo. Ketika dia hendak

melompat ke dalam gerobak, dua orang perajurit pengawal sempat melihatnya dan 

berteriak. Bersama dua orang kawannya perajurit ini segera melompat dengan golok

di tanan. Orang yang hendak melompati gerobak itu ternyata seorang pemuda 

berpakaian serba putih dengan ikat kepala merah. Rambutnya sepanjang bahu. 

“Siapa kau?!” hardik salah seorang perajurit. 

Baru saja dia membentak begitu, kaki kanan pemuda itu tiba-tiba melesat. 

“Krak!” perajurit yang barusan membentak terpental dan roboh tanpa nyawa lagi. 

Mukanya hancur dimakan tendangan!entu saja tiga kawannya menjadi marah. Dua lainnya yang berada dalam 

keadaan cidera juga tidak tinggal diam. Mereka cabut golok masing-masing dan ikut 

membantu kawannya mengeroyok si pemuda. 

Sehabis membunuh perajurit yang pertama, pemuda tak dikenal itu melompat 

ke atas kereta. Lalu dari atas kereta tendangan-tendangannya berkelebat menebar 

maut. Tiga perajurit menemui kematian dilanda tendangan kakinya yang memang luar 

biasa. Dua perajurit lainnya masih untung hanya cidera muntah darah, namun agaknya 

nyawa mereka pun tak bakal lama. Bagian tubuh mereka di sebelah dalam ada yang

pecah. 

Setelah menghajar keenam perajurit itu, pemuda tadi berbalik ke arah Singa 

Gurun Bromo yang tergeletak di lantai gerobak. Dia telah sempat menyaksikan 

kehebatan pemuda tak dikenal ini menghajar enam perajurit tadi. 

Si rambut coklat membungkuk. Dia memeriksa tubuh Singa Gurun Bromo 

dengan cepat lalu membalikkannya. Dengan ujung-ujung jarinya dia kemudian

lepaskan totokan di punggung pemuda itu. 

“Terima kasih! Kau siapa?!” tanya Singa Gurun Bromo seraya melompat. 

“Nanti saja kujawab pertanyaanmu,” jawab si pemuda. “Kita tak ada waktu 

banyak. Harus lekas pergi dari sini sebelum orang-orang itu kembali!” 

“Sesudah kau tolong begini aku justru ingin mencari keparat-keparat itu. Ingin

aku menggebuk mereka satu persatu. Enak saja aku diperlakukannya seperti ini!” 

Pemuda penolong tersenyum. “Kau mau ikut aku atau tidak?” 

“Tidak! Kecuali kau terangkan siapa dirimu!” 

“Baiklah. Aku Panji Argomanik orang yang mereka juluki Singa Gurun 

Bromo!” kata pemuda itu pada akhirnya. 

Si gondrong yang satu jadi melengak kaget, garuk kepala dan mendamprat. 

“Sialan! Gara-gara kau aku jadi dibuat babak belur begini!” 

“Aku sudah tahu apa ang terjadi dengan dirimu sejak awal. Itu sebabnya aku

menguntit perjalanan rombongan. Aku yang membuat nyala api di dalam hutan dan 

memanggang seekor kelinci besar sebagai tipuan. Begitu mereka menyelidi masuk ke 

dalam hutan aku segera keluar dari persembunyian!” 

“Sialan! Lalu bagaimana orang-orang itu tidak bisa membedakan aku dengan

kau?!” 

“Usia kita sebaya. Potongan tubuh agak serupa. Lagi pula orang-orang itu

tidak pernah mengenal jelas tampangku. Apalagi setelah enam tahun aku

menghilang!” 

“Sialan!” maki si rambut gondrong sambil menggaruk kepalanya kembali. 

“Dari tadi kau hanya memaki saja sobat. Coba katakan dulu siapa namamu!” 

“Aku Wiro Sableng!” 

“Namamu boleh juga. Kuharap kau tidak sableng beneran!” kata Panji

Argomanik alias Singa Gurun Bromo yang asli. 

“Kenapa kau menolongku?” tanya Wiro. 

“Aku tidak tega. Kau hanya korban ketololan orang-orang itu. Mereka 

mencari aku tapi menyangka kaulah Singa Gurun Bromo itu. Masakan aku sampai 

hati membiarkan kau digantung tanpa salah dan dosa!” 

“Ah, kau orang baik. Aku ikut denganmu!” kata Wiro 

“Bagus. Cepatlah. Orang-orang itu agaknya segera akan kembali ke tempat 

ini!” 

Pendekar 212 Wiro Sableng garuk kepalanya. Sambil menggeleng dia berkata. 

“Gila! Bagaimana aku bisa mendapat pengalaman pahit sepertii ini. Kalau tidak kau

tolong pasti aku akan jadi mayat di tiang gantungan!”Sudah jangan mengoceh juga. Mari!” Singa Gurun Bromo berrkelebat turun

dari atas gerobak. Murid Sinto Gendeng bergerak mengikuti. Di satu tempat Wiro 

bertanya. 

“Apa dosamu hingga ada Adipati bahkan Raja ingin menggantungmu?!” 

“Kita cari tempat yang baik. Nanti kuceritakan semuanya padamu. Aku harus 

menemui seseorang dulu di Kuto Inggil!” 

“Orang tuamu?” 

Singa Gurun Bromo menggeleng. “Mereka sudah meninggal.” 

“Hemmmm….. Kalau begitu pasti kau menemui seorang perempuan. 

Kekasihmu! Betul?!” 

Sambil berlari Panji Argomanik berpaling “Bagaimana kau bisa tahu?” 

“Mudah saja. Jika dalam keadaan berbahaya seorang pemuda masih 

memerlukan menemui orang lain, pasti yang ditemuinya itu adalah kekasihnya!” 

“Rupanya dalam soal perempuan otakmu cerdik juga!” kata Panji Argomanik 

pula yang disambut gelak tawa oleh Pendekar 212 Wiro Sableng. 

“Astaga! Janagn kau tertawa keras-keras. Sekali terdengar oleh orang-orang 

itu bisa berbahaya…..” 

“Siapa takutkkan mereka? Terus terang aku penasaran hendak menjajal 

kepandaian mereka. Sialan! Mereka menipuku dengan asap kelabu itu. Tahu-tahu

kedua tanganku sudah terikat!” 

“Dua orang yang muncul kemudian itulah dua tokoh silat Istana. Ki Bumi 

Wirasulo dan Mangku sanggreng. Mereka selalu berkelahi berpasangan. Mereka 

berasal dari satu guru. Kepandaian mereka sebetulnya tidak seberapa tinggi. Namun 

mereka memiliki kecerdikan luar biasa dan senjata-senjata aneh. Di antaranya Benang

Dewa yang sempat membuatmu tak berdaya itu!” 

Diam-diam Wiro mengagumi ilmu lari yang dimiliki Singa Gurun Bromo. 

Namun jika dia mengerahkan seluruh kepandaiannya pasti Singa Gurun Bromo itu 

sanggup ditinggalkannya sampai sejauh seratus langkah di balakangnya. Tapi murid 

Sinto Gendeng tidak ingin membuat pemuda itu kecewa. Lagi pula selain

menyukainya, Wiro juga ingin tahu mengapa dia sampai jadi buronan para penguasa. 

Lalu karena dia yang menjadi pimpinan dalam pelarian itu maka Wiro biarkan

sahabat barunya itu berlari di sebelah depan.



EMPAT 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Dua pemuda yang baru saling kenal itu lari ke arah Barat Kuto Inggil di mana 

terletak sebuah kampung kecil bernama Telogosari. 

“Hatiku tidak enak….” Kata Panji Argomanik begitu mereka memasuki 

pinggiran kampung. “Lihat ada kepulan asap di sebelah sana…..?” 

Wiro memandang ke arah yang ditunjuk Panji dan mengangguk. “Sepertinya 

barusan saja ada kebakaran.” Kata murid Sinto Gendeng pula. 

Panji Argomanik lari laksana terbang. Wiro mengikuti dari belakang. Mereka 

masuk ke Telogosari lewat jalan kecil di sebelah Selatan. Beberapa buah rumah kayu 

dalam keadaan gelap gulita mereka lewati. Di ujung jalan, dekat sebuah gubuk

kosong Panji hentikan larinya. Tangannya berpegang pada tiang bambu. Mukanya 

yang merah karena berlari tampak berubah pucat. 

“Ya Tuhan…..” Pemuda ini mengucap. 

Murid Sinto Gendeng tak perlu bertanya. Dia memperhatikan ke arah yang 

dipandang Panji. Di ujung jalan sebuah rumah kayu baru saja musnah dimakan api. 

“Rumah kekasihmu….?” 

Panji tak menjawab. Dia lari sambil berteriak. “Larasati…..!” 

Panji Argomanik tegak dengan tubuh gemetar di depan puing-puing rumah 

yang terbakar. Dia berteriak lagi. Tak ada yang menjawab. Sebuah palang kayu yang 

dimakan api berderak patah lalu jatuh. Panji hendak melompat ke dalam rumah yang 

masih dikobari api itu. Wiro cepat memegang tangannya. 

“Jangan lakukan. Semua sudah musnah!” 

“Aku kawatir Larasati ikut terbakar…..” kata Panji dan jatuh berlutut. 

Wiro memandang berkeliling. “Aneh,” katanya dalam hati. “Rumah satu ini 

terbakar. Tapi penduduknya yang diam di sekitar sini tak ada satupun yang keluar 

untuk memberikan pertolongan ataupun sekedar melihat. Ini bukan kebiasaan orang 

kampung!” Wiro lalu katakan rasa herannya itu pada Panji Argomanik. 

“Aku yakin ini bukan kebakaran biasa!” kata pemuda berambut coklat itu. 

“Rumah ini sengaja dibakar! Jika penduduk tak ada yang berani keluar untuk 

menolong, pasti ada yang mereka takutkan!” 

“Siapa menurutmu yang punya pekerjaan biadab ini Panji?” 

“Tak dapat dipastikan. Tapi pangkal dari segala malapetaka ini hanya 

disebabkan oleh satu orang!” 

“Siapa?” 

“Adipati Lumajang. Dirgo Sampean!” 

“Kalau begitu kita bisa menyelidik ke Kadipaten.” 

Panji mengangguk. “Aku memang sudah bersumpah untuk mematahkan 

batang leher adipati keparat itu dengan tanganku sendiri. Dia yang membuatku harus 

kabur dari Kuto Inggil. Juga dia penyebab kematian kedua orang tuaku. Pasti dia juga 

yang menyuruh bakar rumah ini. Larasati….. Di mana kau Larasati…..? Keparat! 

Jangan-jangan dia telah membakar kekasihku bersama rumah ini!” Panji Argomanik 

melompat berdiri. Rahangnya menggembung. “Aku harus memastikan dulu!” katanya. 

Lalu dia mengelilingi ruamh yang kobaran apinya mulai mengecil. Tiba-tiba 

terdengar teriakan Panji Argomanik. Wiro cepat mendatangi. 

“Ada apa……?” 

“Lihat di balik gedek yan masih terbakar itu…..Wiro merasakan tengkuknya merinding. Di balik dinding kajang yang hampir 

musnah menyembul sepasang kaki yang belum sempat dimakan api. Di atas kaki ada 

sepotong hangusan kain panjang yang menyatakan si pemilik kaki adalah seorang 

perempuan. 

“Mereka membakar Larasati! Mereka membunuh kekasihku!” teriak Panji 

Argomanik seperti gila. Dia hendak melompat ke dalam reruntuhan rumah yang 

terbakar. Lagi-lagi Wiro mencegahnya dengan memegang tangan pemdua itu erat-erat. 

“Kita bisa mengambil tubuh yang terbakar itu Panji. Tapi tidak perlu dengan

menyabung nyawa melompat masuk ke dalam api!” Wiro lalu ambil sebatang bambu

yang tersandar dekat sumur. Pada ujung bambu ini dikaitkannya seutas kawat yang 

dibentuk berupa lingkaran. Lalu dengan galah berkawat itu dia coba menjirat salah

satu kaki yang terjulur di bawah dinding kajang. Bukan pekerjaan mudah, apalagi 

nyala api yang menyengat panas. Dengan tubuh dan pakaian kuyup oleh keringat 

Wiro berhasil memasukkan lingkaran kawat ke salah satu kaki di bawah kajang. Lalu 

dengan tengkuk masih merinding, disaksikan dengan tegang oleh Panji Argomanik, 

murid Eyang Sinto Gendeng ini mulai menarik kaki itu dengan hati-hati dan perlahan-

lahan. 

Sedikit demi sedikit sosok tubuh yang berada di bawah kajang tertarik keluar. 

Mula-mula kelihatan sepasang betis yang sudah hangus hitam. Lalu….. Wiro 

mengerenyit. Panji pejamkan kedua matanya. Bagian tubuh di atas betis sampai ke 

pinggang bahkan sampai ke dada hanya tinggal tulang belulang gosong yang tak

dapat dikenali lagi. 

“Demi Tuhan….. Teruskan Wiro. Tarik lagi. Aku ingin memastikan. Aku 

ingin melihat bagian kepalanya…..” kata Panji Argomanik dengan suara gemeteran. 

Dengan hati-hati Wiro kembali menarik galah bambu itu. Bagian dagu sosok

yang terbakar mulai kelihatan. Tapi celakanya saat itu des! Lingkaran kawat yang

dipakai untuk mengait pergelangan kaki putus tak tahan panas. Wiro terduduk. Panji 

Argomanik mengusap mukanya berulang kali. 

“Wiro lakukan sesuatu! Aku harus melihat wajah orang itu!” teriak Panji 

seperti mau gila. 

“Kalau sebagian tubuhnya sudah gsong, apa kau masih bisa mengenali 

tengkorak kepalanya yang mungkin sudah jadi debu?!” 

“Tidak! Jangan ucapkan itu! Lakukan sesuatu! Demi Tuhan lakukan sesuatu 

atau aku akan melompat ke dalam api itu!” teriak panji Argomanik lagi. 

Wiro berdiri. Perlahan-lahan dijangkaunya galah bambu tadi lalu berdiri, 

melangkah dan mencoba mendekati runtuhan rumah yang masih terbakar. Dengan

ujung bambu dicobanya mendorong dan membalikkan sisa-sisa dinding kajang. 

Sekali, dua kali dan sampai tiga kali tidak berhasil. Wiro maju lagi beberapa langkah. 

Panasnya api bukan alang kepalang. Wiro coba bertahan dengan segala kekuatan yang 

ada dia coba lagi membalikkan dinding kajang itu. Kali ini berhasil. Dinding kajang 

yang terbakar terbalik ke kiri membuat nyala api serta debu hitam menggebubu ke 

atas. Di tanah, di antara puing-puing hitam reruntuhan yang terbakar tampak satu 

kepala yang sudah hitam dan tak dapat dikenali lagi. Di atas kepala masih tersisa 

sebagian rambut yang berwarna keputih-putihan. 

“Ya Tuhan….. Ya Tuhan…..!” Nafas Panji Argomanik memburu dan dadanya 

turun naik. “Bukan dia Wiro. Bukan Larasati. Mayat ini berambut putih….. aku yakin 

itu mayat Bibi kanoman yang selama ini memelihara Larasati….” 

Wiro menarik nafas lega. Kalau itu mayat orang lain, lalu di mana kekasih

sahabat barunya itu? Wiro tak berani mengucapkan hal itu. 

“Kalau penjahat yang melakukan hal ini pasti Larasati diculik“Mungkin kekasihmu tidak ada di rumah ketika rumah ini dibakar. Berarti dia 

dalam keadaan selamat.” 

“Tak dapat kupastikan Wiro…. Aku harus menyelidikinya. Aku harus 

mendatangi gedung Adipati Dirgo Sampean! Biadab!” 

Wiro memandang berkeliling. “Aku yakin ada satu atau dua tetangga di 

sekitar sini yang mengetahui apa yang telah terjadi. Aku akan gedor dan tanyai 

mereka!” 

Pendekar 212 mendatangi sebuah rumah terdekat lalu mengetuk pintu rumah 

itu dengan keras. Digedor berulang kali tak ada yang menjawab apalagi muncul 

membuka pintu. 

“Sialan!” Wiro memaki. Dia tendang pintu itu sampai jebol lalu pindah ke 

rumah di sebelahnya. Setelah menggedor berulang kali akhirnya terdengar langkah

kaki di sebelah dalam. Lalu muncul seorang lelaki separuh baya dengan muka pucat 

ketakutan. 

“Kami…. Kami tidak punya apa-apa. Kami petani miskin. Tak ada barang

berharga yang bisa kuserahkan pada kalian…..” 

“Sialan! Aku bukan perampok!” hardik Wiro seraya menjambak sarung orang

itu lalu menariknya keluar. “Tapi aku akan mematahkan batang lehermu kalau kau 

tidak menceritakan apa yang terjadi. Siapa yang membakar rumah itu!” 

“Saya……saya…..” 

“Plak!” Wiro tampar orang itu dengan keras hingga dia terjajar nanar. Saat itu 

Panji Argomanik sudah berdiri di samping Wiro. Begitu orang bersarung melihat 

pemuda ini, kedua matanya menjadi besar. Rupanya dia mengenali siapa adanya 

pemuda ini. 

“Kau….. Panji…. Kaulah yang mereka cari! Di desa tersiar kabar bahwa kau 

akan kembali ke Kuto Inggil. Mereka menyangka kau pasti akan datang ke sini. Tapi 

begitu mereka tidak menemukan kau, mereka terus membakar rumah. Membunuh Ibu 

Kanoman…..” 

“Bagaimana dengan Larasati?!” tanya Panji memotong. 

“Mereka menculiknya. Mereka membawa lari kekasihmu. Kami penduduk tak

berani menolong. Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang….” 

“Kau mengenali siapa mereka….?” Tanya Wiro. 

Orang yang ditanya menggeleng. 

“Gerombolan rampok Warok Keling?” tanya Panji Argomanik. 

“Tidak bisa saya ketahui Panji. Mereka menutupi wajah dengan kain….. 

Mereka menunggangi kuda. Mereka melarikan diri setelah mendapatkan Larasati…..” 

Panji Argomanik mendengarkan keterangan itu dengan kedua tinju terkepal. 

“Kalau…. Kalau tak ada lagi yang hendak ditanyakan, izinkan aku masuk. Di 

dalam anak istriku setengah mati ketakutan….” 

Wiro menarik tangan Panji Argomanik, mengajaknya meninggalkan tempat 

itu. “Kita harus mencari petunjuk siapa orang-orang yang menculik kekasihmu, 

Panji.” 

“Kalau mereka bertopeng siapa yang bisa mengenali?!” ujar Panji hampir 

putus asa. 

“Apa silang sengketamu sebenarnya dengan kerajaan dan Adipati Lumajang?” 

“Aku dituduh membunuh seorang putera Pangeran yang tergila-gila pada 

Larasati dan ingin mengambilnya jadi istri. Adipati Lumajang yang paling marah atas 

kejadian itu karena berlangsung di wilayah kekuasaannya. Dia sengaja memburuku

karena ingin berbuat pahala pada Kerajaan, sekalian menjilat pada sang Pangeran dan 

Sri Baginda!”“Aku ingat keterangan orang tadi. Katanya rombongan itu datang karena 

menyangka kau ada di rumah kekasihmu. Berarti mereka adalah suruhan sang

Pangeran atau petugas-petugas Kerajaan. Berarti Sri baginda sendiri atau Adipati 

Lumajang yang menyuruh mereka untuk turun tangan!” 

“Mungkin begitu. Tetapi mengapa mereka harus menutupi muka dengan kain

segala? Berati mereka takut wajah masing-masing dikenal penduduk Telogosari!” 

menjawab Panji. 

Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya. Matanya kemudian tertumpuk pada 

sebuah benda yag tergeletak di tanah. Dia melangkah mendekati dan memungutnya 

lalu memperlihatkannya pada Panji Argomanik. Benda itu ternyata adalah sebuah

ladam kuda. 

“Mungkin ini bisa dijadikan bahan pengusutan…..” kata Wiro. 

Panji tidak memberikan jawaban. Pemuda ini berkata. “Aku akan menyelidik 

ke gedung Kadipaten lebih dulu. Jika berangkat sekarang menjelang pagi aku bisa 

sampai ke sana.” 

“Aku ikut bersamamu,” kata Wiro pula.



LIMA 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Karena mampu berlari cepat menjelang dini hari Singa Gurun Bromo dan

Pendekar 212 Wiro Sableng sudah memasuki Kadipaten. Panji Argomanik langsung

menuju gedung Kadipaten yang terletak di depan sebuah alun-alun. Mereka sengaja 

datang dari bagian belakang gedung agar tidak melewati lapangan terbuka di mana 

mereka akan mudah terlihat oleh para pengawal. 

Setelah memanjat halaman belakang kedua pemuda ini menyelinap di balik 

jambangan-jambangan besar lalu menyusup ke halaman samping yang gelap. Saat itu 

di dalam gedung ada cahaya terang lampu tanda penghuninya ada yang belum tidur. 

Begitu Wiro dan Panji bergerak ke dekat jendela, di dalam gedung terdengar suara 

orang bercakap-cakap lalu langkah-langkah kaki menuju ruang depan. Pintu depan

terbuka. Adipati Dirgo Sampean muncul diiringi oleh lima orang lelaki. Kelima orang

ini membungkuk hormat sebelum turun dari tangga gedung Kadipaten. Mereka 

berjalan menemui lima orang lainnya yang rupanya tidak ikut masuk dan sengaja 

menunggu di halaman depan. Tak lama kemudian kesepuluh orang itu tampak

meninggalkan kadipaten dan lenyap ditelah kegelapan malam. 

“Hatiku berdetak, jangan-jangan rombongan sepuluh orang itu yang 

membakar rumah dan menculik Larasati….” Kata Panji Argomanik pada Wiro. 

“Dugaanmu mungkin betul. Di sebelah sana ada kandang kuda. Kita bisa 

mengambil dua kuda tunggangan dan mengejar rombongan tadi….” 

“Aku setuju. Kita harus bergerak cepat!” kata Panji pula. 

Baru saja kedua pendekar ini endak meninggalkan halaman samping itu tiba-

tiba di halaman depan terlihat enam orang memasuki pintu gerbang kadipaten. 

Seorang penjaga mendatangi. Begitu mengenali siapa yang datang dengan cepat 

penjaga ini masuk ke dalam gedung. Tak lama kemudiaan penjaga tadi muncul 

kembali dan mempersilahkan masuk empat dari enam orang yang datang. Keempat 

orang yang masuk ini bukan lain adalah Ki Bumi Wirasulo, Mangku Sanggreng lalu 

Kunto Areng dan Jalak Toga. 

Melihat kemunculan orang-orang ini yang datang tanpa kuda dan pakaian 

serta tubuh basah oleh keringat, lalu muka dan rambut kusut masai Adipati Dirgo

Sampean yang baru saja hendak masuk ke dalam kamar tidurnya jadi terheran-heran. 

Sesuatu pasti telah terjadi dengan orang-orang ini pikirnya. Maka tanpa 

mempersilahkan keempat orang itu duduk dia langsung saja bertanya seraya menyapu 

wajah keempat orang itu dengan pandangan tajam. 

“Ada apa?!” 

“Waktu hendak menuju kemari, di tengah jalan kami, kami berpapasan dengan 

serombongan orang. Apaah mereka barusan datang dari sini?” yang membuka mulut 

adalah Ki Bumi Wirasulo. 

Rahang sang Adipati tampak menggembung. “Ki Bumi! Kau seperti orang

yang tidak tahu peradatan saja! Aku mengajukan pertanyaan. Kau bukannya 

menjawab malah balik bertanya. Kalian datang kemari untuk melapor atau

menanyaiku!” 

“Harap maafkan saya, Adipati,” jawab Ki Bumi Wirasulo dengan wajah

merah. “Bukan maksud kami berlaku kurang ajar. Tapi kami melihat orang-orang itu 

rata-rata berwajah garang dan kami tidak mengenali mereka. Kami kawatir……“Siapa adanya orang-orang itu bukan urusan kalian. Ki Bumi, kau mewakili 

kawan-kawanmu. Katakan saja apa yang telah terjadi! Aku mencium bau tak enak

saat ini!” kata Adipati Dirgo Sampean dengan suara keras. 

Ki Bumi Wirasulo jadi panas hatinya. Dia berpaling pada Mangku Sanggreng 

dan berkata. “Kau saja yang menerangkan apa yang telah terjadi.” 

Mangku Sanggreng batuk-batuk dulu beberapa kali. Baru membuka mulut. 

“Kami mengalami nasib apes Adipati. Sebenarnya kami telah berhasil 

meringkus Singa Gurun Bromo di Kuto Inggil. Pemuda itu kami sergap di warung

nasi Mbok Sinten. Dalam perjalanan kemari kami melihat ada nyala api yang

mencurigakan dalam hutan belantara. Kami coba menyelidik karena bukan mustahil 

gerombolan Warok Keling yang berkemah di tempat itu…..” Mangku Sanggreng

kemudian menuturkan apa yang terjadi selanjutnya. 

Tampang Adipati Lumajang itu tampak kelam membesi begitu mendengar 

seluruh keterangan yang disampaikan Mangku Sanggreng. 

Sesaat sang Adipati tertegak tak bergerak, hanya sepasang matanya saja yang 

memandang melotot dan beringas pada keempat orang itu. Perlahan-perlahan 

kelihatan dia menggeleng-gelengkan kepalanya. 

“C….c….c…! Bukan main!” kata Dirgo Sampean pula. “Dua orang tokoh 

silat Istana berkepandaian tinggi. Dia orang perwira tinggi Kerajaan. Ditambah 

delapan orang perajurit! Gila! Tolol dan menggelikan. Kalian sampai bisa ditipu

orang seperti itu! Aku tidak mau melaporkan kejadian ini pada Sri Baginda. Kalian

harus tanggung jawab sendiri dan berangkat sekarang juga ke Kotaraja!” 

Keempat orang itu terdiam. 

“Kalau begitu perintah Adipati, kami akan mematuhinya. Tapi harap jangan

bicara terlalu keras!” berkata mangku Sanggreng. 

“Apa maksudmu?!” tanya Dirgo Sampean dengan mata kembali membeliak. 

“Kami bekerja di bawah perintah Sri Baginda. Tidak layak Adipati 

mengeluarkan kata-kata kasar begitu rupa. Terhadap dua orang perwira ini silahkan

saja. Menggebuk merekapun kami tidak mau tahu karena memang bekerja untuk

kerajaan dan berada di bawah pimpinan Adipati…..!” 

Adipati Dirgo Sampean menyeringai. “Jika kalian berdua berkata begitu, 

silahkan angkat kaki dari gedung ini saat ini juga!” Lalu Adipati Lumajang itu

bergegas ke pintu. Pintu depan dibukanya lebar-lebar dan dia memberi isyarat dengan

goyangkan kepala pada Ki Bumi Wirasulo dan Mangku Sanggreng agar segera keluar. 

Sebelum keluar kedua tokoh silat Istana itu masih sempat melihat Jalak Toga 

dan Kunto Areng lontarkan seringai sinis ke arah mereka. 

Adipati Dirgo Sampean membantingkan pintu. Lalu berpaling pada dua 

perwira tinggi yang tegak tak bergerak dengan wajah kuncup. 

“Kalian berdua tidak usah takut. Aku tidak marah pada kalian. Aku hanya 

melepaskan kebencianku pada dua orang tadi.” 

Mendengar ucapan Adipati itu Kunto Areng dan Jalak Toga menjadi lega dan

berdarah kembali wajah masing-masing. 

“Mereka sedikit bekerja tapi hidup enak. Mendapat kesenangan dari Istana. 

Kita yang telah mengabdi pada kerajaan sekian puluh tahun malah tidak diperhatikan. 

Kaum penjilat seperti mereka sekali-sekali memang harus diberi pelajaran!” 

“Ah, rupanya bukan kami saja yang punya pendapat begitu. Syukur kalau 

Adipati mengetahui hal itu….” kata Jalak Toga. 

“Kalian boleh bermalam di sini. Besok ada tugas untuk kalian!” 

“Terima kasih, Adipati masih mempercayai kami!” kata Kunto Areng seraya 

membungkuk.“Kita orang-orang satu kelompok harus saling menghormat dan bekerja 

sama,” kata Adipati pula sambil menepuk bahu perwira tinggi itu. 

Di halaman samping begitu melihat Ki Bumi Wirasulo dan Mangku 

Sanggreng meninggalkan halaman Kadipaten, Pendekar 212 segera hendak bergerak. 

“Itu mereka! Kurasa ini saat yang baik untuk menjajal kembali kehebatan keduanya!” 

“Baik bagimu tidak bagiku sobat!” kata Panji seraa menarik celana sang 

pendekar. “Apa yang hendak kau lakukan bisa merusak rencanaku untuk mengusut di 

mana Larasati saat ini berada dan siapa yang telah menculiknya.” 

“Ingat ladam kuda yang kita temui itu? ujar Wiro. “Tunggu saja sampai pagi . 

Kau hanya tinggal menunjukkan padaku di mana orang biasa mengupah memperbaiki 

atau memasang ladam kudanya…..” 

“Cuma ada satu di Kuto Inggil. Bengkel kuda Karjo Lugu.” Jawab Panji. 

“Bagus kalau cuma satu. Berarti kita tidak perlu menghabiskan waktu

menyelidik ke mana-mana.” 

Kedua orang itu menunggu sampai seorang pengawal yang melakukan

penjagaan keliling lenyap di ujung gedung. Lalu cepat-cepat mereka menuju halaman

belakang, memanjat tembok dan lenyap ditelan kegelapan malan dan udara dingin

menjelang pagi itu.


ENAM 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Di bengkel kuda milik Karjo Lugu para pemilik kuda dapat membeli segala 

keperluan yang berhubungan dengan kuda. Misalnya kain keras penutup mata kuda, 

tali kekang, pelana dan juga ladam. Di samping itu Karjo Lugu juga mengerjakan 

perbaikan ladam atau tapal besi, perbaikan pelana maupun injakan kaki. 

Pagi itu Wiro dan Panji sampai di sana Karjo Lugu sudah tampak sibuk di 

bengkelnya. Karjo Lugu seorang lelaki berambut putih berusia hampir enam puluh 

tahun. Walaupun berusia lanjut tapi otot-otot badannya masih tampak kukuh. Seperti 

namanya, orang ini memang bersifat lugu dan murah senyum. 

Karjo Lugu menyambut salam yang diucapkan Panji. Namun ketika dia 

mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang, berubahlah paras orang tua ini. 

“Pak Lugu…..”kata Panji, begitu orang biasa memanggil Karjo Lugu. “Kau 

kelihatan seperti terkejut melihatku. Apakah wajahku sudah berubah jadi setan?!” 

“Anak muda, apa kau tak tahu dirimu dalam bahaya berani datang ke sini?” 

“Rupanya kau sudah mendengar apa yang terjadi siang kemarin di warung

Mbok Sinem,” kata Panji pula dengan tersenyum. 

“Tentu saja. Berita itu tersiar cepat. Kau dikabarkan sudah diringkus dan 

dibawa ke Kotaraja. Bagaimana tahu-tahu kau bisa muncul di sini?” 

“Kau tak usah merisaukan hal itu Pak Lugu. Aku baik-baik dan sehat-sehat 

saja….” 

“Siapa anak muda ini?” tanya Karjo Lugu pada Panji Argomanik. 

“Sahabatku,” jawab Panji. 

“Panji, sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Kalau ada mata-mata yang melihat 

dan melaporkan kau muncul serta berbincang-bincang denganku, aku bisa celaka…..” 

“Ada hal penting yang hendak kami tanyakan padamu Pak Lugu.” Kata Wiro 

pula. 

“Eng…..” pemilik bengkel kuda itu tampak serba salah. 

“Pak Lugu,” kata Panji. “Semasa hidupnya kau bersahabat baik dengan

ayahku. Sekarang kami butuh bantuanmu. Apa kau melupakan begitu saja 

persahabatan dengan ayahku?” 

“Tentu saja bukan begitu. Tapi kau adalah orang buronan. Jika ada yang…. 

Sudahlah. Ikuti aku. Kita bicara di dalam saja.” Orang tua itu menunjuk ke arah pintu. 

Panji dan Wiro segea masuk ke dalam ruangan di balik pintu itu. Karjo Lugu 

memandang dulu ke arah jalan, lalu pada beberapa bangunan di sekitarnya. Bila 

dirasakannya aman maka orang tua ini segera masuk ke dalam rumahnya. Sampai di 

dalam dia bertanya pada kedua pemuda itu. 

“Hal penting apa yang hendak kalian tanyakan?” 

Wiro yang menjawab. “Tadi malam rumah Larasati, kekasih sahabatku ini 

dibakar orang. Seorang perempuan bernama Bibi kanoman ditemui sudah jadi mayat 

terbakar hangus….” 

“Ya Tuhan, belum kudengar berita itu…….” seru Karjo Lugu. 

“Larasati lenyap diculik orang…..” 

“Gusti Allah!” mengucap Karjo Lugu. 

Wiro meneruskan. “Kami tidak tahu siapa manusia-manusia biadab yang

melakukan perbuatan laknat itu. Namun kami menemukan benda ini di dekat rumah

yang terbakar.”Wiro keluarkan ladam kuda yang ditemuinya dan diperlihatkannya pada Karjo 

“Apa hubungan ladam ini dengan hal penting yang hendak kalian tanyakan

Yang menjawab kini adalah Panji Argomanik. “Kami yakin ladam kuda ini 

adalah ladam salah seekor kuda tunggangan orang-orang yang membakar rumah dan

menculik Larasati. Malam tadi, atau pagi-pagi sebelum kami datang, apakah ada 

seseorang yang datang membawa kudanya yang salah satu kakinya tidak berladam. 

Lalu minta dipasangkan ladam baru…..” 

Paras Karjo Lugu jadi berubah. Wiro dan Panji maklum sudah. Keduanya 

menunggu. 

“Pagi buta tadi….” Kata Karjo Lugu. “Ada orang menggedor bengkelku. 

Ketika kubuka orang ini tenyata datang bersama dua orang temannya. Tampang-

tampang tak dapat kukenal karena tertutup kain menyerupai topeng. Salah seorang 

dari mereka minta agar aku memasangkan ladam baru pada kaki kudanya sebelah kiri 

belakang. Aku bilang besok saja kalau bengkel sudah buka. Tapi orang-orang itu

mengancam akan menggorok leherku kalau aku tidak melakukannya malam itu juga. 

Masih dalam keadaan mengantuk aku terpaksa memenuhi permintaan mereka. Orang 

yang punya kuda membayar cukup tinggi. Tapi sebelum dia pergi dia berpesan……” 

“Berpesan? Pesan apa?” tanya Panji. 

“Agar aku tidak mengaakan pada siapapun kedatangan mereka ke 

bengkelku…..!” 

“Hemmmmmm,” Wiro bergumam sambil garuk-garuk kepala. Kalau begitu 

mereka merasa kawatir kau mengenali salah satu dari mereka. Walau mereka 

menutupi wajah masing-masing dengan kain….. Coba kau ingat-ingat Pak Lugu. 

Mungkin ada benda atau tanda-tanda pada ketiga orang itu, di tubuh mereka atau pada 

kuda-kuda mereka. Tanda-tanda yang bisa mmberi petunjuk siapa mereka 

sebenarnya.” 

Karjo Lugu mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut-janggut pendek

berwarna putih. “Rasan-rasanya memang ada. Waktu itu aku tidak memperhatikan. 

Tapi setelah kau mengatakannya aku teringat sesuatu. Salah seorang dari ketiga yang

datang itu mengenakan baju berlengan sangat pendek. Di tangannya sebelah atas, 

dekat bahu ada sebuah rajah. Rajah itu bergambar seekor kelelawar yang tengah 

mengembangkan sayapnya…..” 

“Itu rajah tanda komplotan rampok Warok Keling” kata Paji hampir berteriak. 

“Terima kasih Pak Lugu. Keteranganmu sangat berharga.” Pemuda bergelar Singa 

Gurun Bromo itu menarik lengan Wiro, cepat-cepat mengajaknya meninggalkan

tempat itu. 

“Aku tahu sarang penjahat keparat itu. Kita menuju ke sana sekarang juga! 

Larasati pasti berada di tangan mereka!” 

“Mendatangi sarang penjahat siang-siang begini apa tidak terlalu berbahaya, 

Panji?” 

“Aku sudah siap mati untuk menyelamatkan Larasati”! jawab Panji 

Argomanik alian Singa Gurun Bromo pula. “Kalau kau takut kau boleh saja tidak ikut 

dan kita berpisah sampai di sini.” 

Wiro menyeringai. “Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi aku punya firasat 

ada satu rahasia di balik semua kejadian ini. Dan aku ingin menyingkap rahasia ini!” 

Hanya beberapa saat setelah kedua pemuda itu meninggalkan bengkel Karjo 

Lugu, tiga orang penunggang kuda tiba-tiba muncul. Si orang tua terkejut ketika 

memperhatikan. Ternyata mereka adalah tiga orang yang tadi malam mendatangiuntuk dipasangkan ladam baru. Wajah mereka masih ditutupi secarik kain. Karjo 

Lugu mendadak merasa tidak enak. Namun dengan ramah orang tua ini menegur. 

“Ah, kalian rupanya. Apa lagi yang bisa kubantu?’ 

Lelaki yang lengan sebelah atasnya memiliki rajah turun dari kudanya. 

“Malam tadi kami lupa membayar harga ladam dan ongkos pemasangannya. 

Kebetulan kami lewat lagi di sini. Saat ini kami hendak membayarnya.” 

“Wah, kalian orang baik-baik rupanya. Tidak dibayarpun tidak jadi apa asal 

kita bisa jadi langganan.” Kata Karjo Lugu pula. 

Lelaki yang lengannya dirajah bergambar kelelawar tersenyum. Dia 

menggerakkan tangan kirinya ke arah pinggang seperti layaknya orang hendak

mengambil uang. Tetapi ketika tangan itu keluar lagi dari balik pakaian, yang 

kelihatan bukan kantong uang tetapi sebilah pisau berkilat yang panjang matanya 

hampir dua jengkal. Sebelum Karjo Lugu menyadari apa yang akan dilakukan orang

itu, tiba-tiba pisau sudah menghujam dalam ke perutnya. Karjo Lugu menjerit tapi 

lehernya cepat dicekik hingga suara teriakannya menjadi tertahan dan lenyap. 

“Tua bangka keparat! Kau tidak menepati pesanku. Kau pasti telah 

memberitahu sesuatu tentang kami pada kedua orang pemuda itu. Benar?!” 

“Ha….h…ha….hu!” Karjo Lugu tidak bisa menjawab karena lehernya masih

dicekik sementara perutnya yang bersimbah darah terasa sakit bukan kepalang. Lelaki 

berajah itu lemparkan tubuh Karjo Lugu ke atas meja tempat penempaan besi. Orang 

tua itu mengeluh tingi. Dia berusaha manarik nafas panjang tapi nafasnya justru

putus!


TUJUH 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Dua pendekar nekad itu memacu kuda masing-masing menuju ke Selatan kaki 

Pegunungan Maha Meru. Selewatnya Candipuro mereka membelok memasuki sebuah 

dataran tinggi. Di balik pedataran itu terbentang sebuah rimba belantara sarang segala 

binatang buas dan manusia jahat. Dulunya terdapat beberapa kelompok penjahat 

mendekam dan bersarang di tempat itu. namun setelah Warok Keling muncul, dia 

menggabungkan semua kelompok gerombolan itu ke dalam kelompoknya. Siapa yang

tidak mau tunuduk padanya ditumpasnya sampai habis. Saat itu Warok Keling 

menjadi raja di raja perampok yang memiliki anak buah hempir seratus orang. 

Bersama kelompoknya dia mendirikan sebuah kawasan perumahan di dalam hutan itu. 

walaupun hutan tapi keadaannya subur sekali. Air bersih mudah didapat. Begitu juga 

buah serta binatang buruan yang bisa disantap. 

Menjelang tengah hari mereka sampai di bagian hutan yang tanahnya 

meninggi. Wiro dan Panji terus mendaki menuju puncak tertinggi. Begitu sampai di 

puncak kelihatanlah belasan rumah kayu yang dipagar dengan tiang-tiang terbuat dari 

batang-batang pohon yang ujungnya dibabat runding. Pada jarak-jarak tertentu di atas 

pagar itu terdapat sebuah pondok tempat pengawal melakukan tugasnya berjaga-jaga 

mengawasi daerah sekitarnya. Begitu Wiro dan Panji muncul mendekati pagar kayu

satu suitan nyaring terdengar dari sebelah Timur kawasan. Lalu sekitar sepuluh orang

muncul di atas pagar. Mereka memegang busur dan panah yang siap dibidikkan ke 

arah kedua pemuda itu. 

Di sebelah belakang Wiro dan Panji mendengar suara menggeresek. Ketika 

berpaling mereka melihat ada kira-kira sepuluh orang meluncur dari atas pohon. Di 

cabang-cabang terendah mereka berhenti dan dari sini mereka membidikkan pula 

panah atau sumpritan ke arah Wiro dan Panji. 

“Kita terkurung!” kata Wiro. 

“Tenang saja. Jangan membuat gerakan-gerakan yang mencurigakan. Anak-

anak panah dan sumpritan itu beracun!” kata Panji. Lalu dia membawa kudanya 

mendahului Wiro menuju satu tempat terbuka hingga semua orang di atas pagar kayu 

meupun di atas pohon dapat melihatnya dengan jelas. Wiro menyusul bergerak ke 

samping Panji. 

Panji Argomanik kemudian mengangkat tangannya. Lalu dia berseru. “Aku

Panji Argomanik dan seorang sahabat ingin menemui pimpinan kalian!” 

Dari atas rumah penjaggan terdengar jawaban. “Dua cacing tanah seperti 

kalian mana cukup pantas menemui pimpinan kami!” 

“Keparat!” maki Wiro. 

“Diam saja!” tukas Panji. Lalu dia berseru lagi. “Kami memohon sekali lagi! 

Ada hal penting yang hendak kami bicarakan!” 

“Bicaralah dengan setan-setan rimba belantara ini! Harap kalian berdua segera 

meninggalkan tempat ini atau tubuh kalian akan kami tambus dengan panah-panah 

beracun!” 

“Edan!” Kini Panji yang keluarkan suara makian. “Kalau kita tidak 

diperbolehkan masuk menemui Warok Keling berarti kita terpaksa menyusup malam 

hari. Atau mencegat orang itu jika dia keluar dari sarangnya. Tapi semua itu memakan

waktu. Sementara itu banyak hal bisa terjadi pada Larasati……” 

“Agaknya kita tak ada pilihan lain. Mari…..” kata Wiro. 

Kedua orang itu memutar kuda masing-masing.Sementara itu di atas bangunan pagar, sorang bertubuh tinggi luar biasa, 

berkulit sangat hitam dan mengenakan pakaian merah gelap serta memakai semacam 

sorban berwarna merah di atas kepalanya muncul di atas salah satu rumah penjagaan. 

“Aku mendengar suara suitan lalu suara orang berteriak-teriak. Apa yang 

terjadi?” tanya orang berkulit hitam legam itu. Suaranya parau dan sember. Inilah 

manusianya yang bernama Warok Keling, raja diraja komplotan penjahat di masa itu. 

Seorang anak buahnya segera menerangkan. 

“Ada dua pemuda tak dikenal muncul dan minta bertemu dengan Warok….” 

“Ah, begitu lama aku jadi pemimpin kalian baru sekali terjadi hal seperti ini. 

Dua pemuda itu rupanya punya nyali besar. Apa mereka menyebutkan nama atau 

gelar?” 

“Gelar tidak, tapi yang seorang memperkenalkan diri dangan nama Panji 

Argomanik!” 

“Panji Argomanik…..” mengulang Warok Keling samgil mengusap dagunya 

yang klimis. Biasanya gembong penjahat selalu memelihara janggut atau berewok dan 

kumis tebal melintang. Tapi Warok Keling justru memelihara wajah kelimis dan

wajahnya yang hitam cukup keren. “Panji Argomanik…. Aku rasa-rasa pernah

mendengar nama itu! Coba aku mengingat-ingat dulu….. Hem….. Jangan-jangan….. 

Hai, coba kau tanyakan pada orang yang bernama Argomanik itu. apakah dia 

orangnya yang bergealr Singa Gurun Bromo?” 

“Keduanya sudah pergi Warok.”jawab si anak buah. 

“Beri tanda pada kawan-kawanmu di luar pagar agar menyuruh kedua orang 

itu kembali.” 

Anggota penjahat itu keluarkan dua kali sutian berturut-turut, lalu dua kali lagi. 

Di dalam rimba belantara di luar pagar empat anak buah Warok Keling

meluncur turun dari atas pohon. Mereka melompat ke tanah lalu mencegat Wiro dan 

Panji sambil membidikkan panah-panah beracun. 

“Pimpinan kami meminta kalian kembali!” kata salah seorang di antara 

mereka. 

Wiro dan Panji saling pandang. 

“Ada apa kami disuruh kembali?!” bertanya Panji Argomanik. 

“Apa kau orangnya yang bernama Panji Argomanik, bergelar Singa Gurun 

Bromo?” 

Panji mengangkat tangannya dan berteriak membenarkan ucapan itu. 

“Kalau begitu kau boleh masuk. Tapi kawanmu tetap tinggal di tempat! Dia 

tidak cukup layak menginjakkan kaki di tempat kami!” 

“Sialan! Aku lagi yang dihinanya!” maki Wiro. 

Saat itu pintu gerbang kayu tampak terbuka. 

“Kau masuklah. Aku biar menunggu di sini,” kata Wiro. 

Panji Argomanik mengangkat tangannya. “Aku tidak akan masuk kalau

temanku ini tidak diperbolehkan ikut serta!” 

Dari atas rumah penjagaan terdengar orang bertanya. “Siapa nama kawanmu

itu. apa dia punya julukan?!” 

“Namanya Wiro Sableng!” berteriak Panji. 

Sunyi sejenak. Lalu dari atas rumah penjaggan terdengar suara orang berteriak, 

bertanya. “Apa orang gila itu punya julukan?!” 

Panji Argomanik berpaling pada Wiro. Murid Sinto Gendeng garuk-garuk 

kepalanya. “Tidak! Dia tidak…..” 

Wiro tekap mulut Panji Argomanik lalu dia sendiri berteriak. “Gelarku

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!”Kedua mata Panji Argomanik membeliak besar. Ketika Wiro menurunkan 

tangannya pemuda bergelar Singa Gurun Bromo itu berseru. “Kau…..! Jadi kau

pendekar dari Gunung Gede yang terkenal itu?!” 

“Aku tidak lebih hebat dari kau Singa Gurun Bromo!” 

“Jangan merendah! Aku banyak mendengar riwayatmu yang hebat-hebat!” 

Wiro tertawa. “Orang selalu menambah bumbu dalam setiap cerita…..” 

katanya. 

Dari atas rumah penjagaan tiba-tiba terdengar suaa teriakan. “Kalian berdua 

boleh masuk!” 

Pintu gerbang terbuka. Kaliini lebih besar. Wiro dan Panji masuk ke dalam. 

Pintu menutup kembali. Begitu masuk ke dalam dua orang bertubuh besar 

menghampiri mereka. Keduanya dipersilahkan turun dari kuda masing-masing lalu 

binatang-binatang itu dibawa ke satu tempat untuk ditambatkan. Kemudian seorang

lelaki muncul, membawa mereka ke sebuah rumah besar dari kayu bertingkat dua. 

Wiro melangkah sambil memandang kian kemari. Dia melihat banyak anak-anak

tengah bermain di halaman luas. Juga ada orang-orang perempuan yang duduk-duduk

di bawah pohon. Ada yang tengah merenda, ada yang tengah bercakap-cakap. 

Keadaan di tempat itu bukan seperti di sarang perampok tapi tidak beda dengan 

kampung biasa. 

Wiro dan Panji dibawa ke tingkat rumah kayu besar. Lalu diminta duduk pada 

dua buah kursi kayu. Di antara dua kursi itu terdapat sebuah kursi ketiga yang lebih

besar dan lebih tinggi. Keduanya diminta menunggu. 

Tak lama kemudian muncullah Warok Keling. Dia masih mengenakan sorban 

merahnya. Tapi dia kini telah berganti pakaian dengan sebuah jubah terbuat dari kain 

sangat tebal yang beratnya hampir lima puluh kati. Bersamanya mengikuti empat 

orang pengawal bertampang bengis dan membawa golok besar-besar. 

Warok Keling duduk di kursi besar. Dia melambaikan tangan pada keempat 

pengawalnya. Keempat orang ini tampak ragu untuk meninggalkna pimpinan mereka 

sang Warok lantas berkata. “Kalian pergi saja. Mereka adalah teman-temanku!” 

Mendengar ucapan itu keempat pengawal tadi segera berlalu. Wiro dan Panji 

merasa heran karena tidak menyangka akan mendapat sambutan begitu rupa. 

“Dua sahabat muda. Kuucapkan selamat daang di tempatku yang buruk ini. 

seumur hidup baru kali ini ada dua orang tokoh silat yang punya nama besar 

menyambangiku di sini. Kalian ingin kusuguhkan apa?” 

“Kami orang biasa-biasa saja. Jangan Warok keliwat memuji,” kata Panji. 

“Terus terang kami memang haus. Tapi kami tak ingin merepotkanmu.” 

“Kau bagaimana?” tanya Warok Keling pada Wiro. 

“Aku memang haus sekali. Aku tiak malu-malu minta minum apa saja. 

Kawanku juga…..” 

Warok Keling tertawa lebar. 

“Kau orang jujur. Aku suka pada aorang yang terus terang dan polos!” Warok

Keling lalu bertepuk dua kali. Seorang gadis berwajah cantik muncul. “Ini puteriku, 

Jayengsari…..” Warok Keling memberitahu. 

Dalam hatinya Wiro berkata. “Sulit dipercaya. Manusia buruk hitam begini 

rupa punya puteri secantik ini dan berkulit kuning langsat! Ibunya pasti seroang

bidadari yang tertangkap hidup-hidup dan tak dapat kembali ke dunianya!” 

“Anakku. Ita kedatangan dua orang tamu penting. Harap sediakan tuak manis 

dan jangan lupa talas rebus makanan utama kita yang paling lezat!” 

Jayengsaru Mengangguk. Dia melirik ke arah Pendekar 212 sekilas lalu masuk 

ke dalam dengan langkah-langkah lincah.“Sobat-sobatku muda! Semetara menunggu hidangan dan minuman, sekarang

ceriakan apa hal penting yang hendak kau bicarakan denganku!” kata Warok Keling.

“Kami, maksudku aku mengalami kesulitan…..” 

Warok Keling tersenyum “Aku pernah mendengar kesulitanmu. Enam tahun

kau menghilang gara-gara tuduhan membunuh putera Pangeran Sendoyo….” 

“Bagaimana kau bisa tahu Warok?” tanya Panji heran. 

“Aku dan anak buahku memang tinggal jauh di hutan. Tapi kami punya mata 

dan telinga di mana-mana…. Nah, sekarang ceritakan apa kesulitanmu yang lain!” 

“Kesulitanku, selain jadi buronan Sri Baginda dan Adipati Lumajang, saat ini 

aku butuh bantuanmu dan kesediaanmu untuk mengembalikan kekasihku Larasati. 

Rumahnya dibakar kemarin malam. Bibinya tewas dan Larasati diculik orang!” 

“Larasati diculik orang. Lalu mengapa kau datang kemari? Eh, tadi kudengar 

kau meminta aku agar bersedia mengembalikan anak gadis itu padamu. Apa kau 

kira….” 

“Maafkan aku Warok. Aku tidak menuduh kau menculik Larasati. Tetapi ada 

orang memberi kesaksian bahwa salah seorang penjahat yang membakar dan

menculik gadis itu memiliki lengan dengan rajah burung kelelawar!” 

Warok Keling menggulung lengan bajunya sebelah kiri sampai ke bahu. Lalu

dia memperlihatkan rajah kelelawar di bahunya itu. “Rajah seperti ini?” 

“Kira-kira begitu Warok.” 

“Seperti ini?” Sang Warok buka kancing bajunya. Di dadanya kelihatan lagi 

sebuah rajah kelelawar yang lebih besar. Panji mengangguk. 

Paras Warok Keling berubah semakin hitam. “Singa Gurun Bromo…..” 

katanya dengan suara bergetar. “Jika tuduhanmu itu tidak benar, tubuhmu akan 

kulempar ke luar pagar tanpa kepala!” Lalu sang Warok berpaling pada Wiro. “Kau

juga!” hardiknya sehingga pendekar 212 tersentak kaget. “Siapa yang memberikan 

kesaksian padamu?” 

“Karjo Lugu. Pemilik bengkel kuda di Kuto Inggil.” 

“Aku akan perintahkan anak buahku untuk menyelidik. Tapi ada satu hal yang 

perlu kuceritakan pada kalian!” Saat itu Jayengsari keluar membawakan minuman tak

dalam tabung bambu pendek serta rebusan talas yang diurap dengan kelapa parut. 

“Aku tahu kalian pasti haus danjuga lapar….” 

Wiro ulurkan tangan hendak mengambil tabung bambu. Tapi Warok Keling 

segera mengepret tangannya. 

“Aku tidak akan menyuruh kalian minum dan makan sebelum kalian

mendengar dulu keteranganku.” Kata Warok Keling dengn mata berkilat-kilat. “Aku

sudah tiga puluh tahun lebih jadi raja diraja penjahat di kawasan Timur ini. Selama 

aku malang melintang ratusan orang telah menjadi korbanku. Kurampok habis-

habisan dan kubunuh jika mereka melawan. Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat 

baik-baik. Mereka yang jadi korbanku adalah orang-orang kaya yang tidak mau

memberi hartanya pada rakyat jelata. Atau pejabat-pejabat rakus yang kekayaannya 

seabrek-abrek tapi tak pernah bersedekah pada orang-orang miskin. Padahal kekayaan

itu mereka dapatkan dari hasil menipu! Kaum pedagang yang terlalu rakus mencari 

keuntungan juga kujadikan korban dan kuburu di manapun mereka berada. Tapi 

dengar! Aku tidak pernah merampok dan membunuh rakyat jelata! Dengar lagi baik-

baik! Aku tidak pernah menculik dan melarikan anak istri orang! Waktu datang 

kemari kalian lihat anak-anak dan orang-orang perempuan. Anak-anak bermain-main. 

Orang-orang perempuan duduk merenda atau melakukan pekerjaan lain sambil 

ngobrol sesama perempuan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang dikawin sah

oleh anak-anak buahku. Dan anak-anak itu bukan anak-anak haram! Ini memangperkampungan sarang perampok. Tetapi di sini kehidupan lebih baik dari pada di luar 

sana! Jadi ingat! Kami bukan tukang culik apalagi tukang perkosa orang-orang 

perempuan., jika anak buahku bertemu seorang perempuan yang disukainya, dia akan

mengajaknya baik-baik dan tinggal di sini. Jika mereka menolak, mreeka dilepas 

dengan aman. Bahkan diantar pulang sampai ke kampung dan rumah mereka! Karena 

cara-cara kami itulah maka tidak ada orang dari dunia persilatan yang memusuhi kami. 

Tapi mereka juga sungkan untuk mendekati kami, tidak seperti yang saat ini kalian

lakukan. Kalian orang-orang muda sungguh bisa dibuat contoh. Lalu, pihak 

kerajaanpun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kami. Kami memang penjahat tapi 

sebenarnya kami lebih cocok dikatakan sebagai tangan jahil yang merampas sedikit 

harta benda yang berlebihan untuk disalurkan pada orang-orang miskin!” 

Panji terdiam mendengar kata-kata Warok Keling itu sementara itu Wiro

hanya bisa garuk-garuk kepala! 

“Aku tidak bisa percaya akan penjelasan bahwa ada anak buahku terlibat 

penculikan Larasati. Tetapi aku berjanji akan menyelidik. Jika betul anak buahku dia 

akan kuhukum berat dan Larasati akan kembali padamu dengan selamat! Sekarang 

kalian boleh meneguk minuman dan mencicipi hidangan!” 

Wiro dan Panji segera mengulurkan tangan untuk mengambil tabung tuak

masing-masing. Tapi ketika diangkat ternyata tabung-tabung bambu itu tidak 

bergerak sedikitpun. Seolah-olah melekat ke kayu meja. Semakin dikerahkan tenaga 

untuk mengangkatnya semakin melekat keras kedua tabung bambu itu. Wiro dan 

Panji segera maklum bahwa tuan rumah tengah menjajal kekuatan mereka. Kalau tadi 

mereka hanya mengerahkan tenaga kasar atau tenaga luar maka kini diam-diam 

keduanya mengerahkan tenaga dalam. Di atas kursinya Warok Keling yang tadi 

tampak duduk sambil menyeringai kini kelihatan mengernyit. Keningnya dipenuhi 

percikan keringat. Tubuhnya yang besar tampak bergetar. “Hem…. Dua anak muda 

ini memiliki kekuatan tenaga dalam yang bukan main-main!” kata sang Warok dalam 

hati. Dia lalu kerahkan seluruh tenaga dalamnya pula. 

Tuak di dalam tabung bambu itu beriak seperti mendidih. Wiro dan Panji 

merasakan tangan mereka seperti diserang hawa panas. Tapi keduanya tetap bertahan. 

Di samping mereka perlahan-lahan tubuh Warok Keling tampak terangkat ke atas 

sampai setinggi tiga jengkal. Wiro kedipkan matanya ke arah Panji. Kedua pemuda 

ini tiba-tiba secara serentak lepaskan pegangan mereka pada tabung bambu. Dan

terjadilah satu hal yang hebat tapi lucu. 

Karena tenaga dalam wang Warok kini lepas menghantam tempat kosong 

maka tak ampun lagi tubuhnya yang tadi terangkat dengan tiba-tiba dan keras luar 

biasa terbanting jatuh ke atas kursi yang didudukinya. 

“Brak!” 

Kursi kayu yang kokoh itu patah keempat kakinya. Tak ampun lagi tubuh

tinggi besar Warok Keling jatuh ke lantai! 

Empat orang pengawal keluar dari ruangan dalam sambil menghunus golok 

dan siap untuk menyerang Wiro dan Panji. Tapi Warok Keling cepat bersiri dan

tertawa mengekeh. Dia melambaikan tangannya pada keempat pengawalnya itu. 

“Pergi saja! Tak ada apa-apa di sini. Kami hanya bersendau gurau! Ambillah

aku kursi baru!” 

Walau ragu-ragu keempat orang pengawal itu segera ke dalam lalu keluar lagi 

membawa kursi baru. Kursi yang patah mereka singkirkan. 

Warok Keling seka keringat yang membasahi mukanya.“Kalian orang-orang muda yang hebat. Kalau kalian mau, tadi kalian bisa 

mengirimku ke akhirat. Kini cukup jlas bagiku. Kalian datang bukan mencari silang

sengketa. Ayo, lekas minum tuaknya. Cicipi talas rebus yang lezat itu!” 

Wiro dan Panji segear ulurkan tangan kembali untuk mengambil tabung berisi 

tuak. Setealh meneguk minuman yang lezat sejuk itu mereka mencicipi talas rebus 

yang dihidangkan. Hanya sesaat setelah sepotong besar talas amblas masuk ke dalam 

perut mereka, kedua pemuda itu mendadak merasakan mulut mereka menjadi gatal. 

Makin digaruk makin gatal. 

“Bibirmu bengkak besar!” kata Panji seraya menunjuk ke mlut Wiro. 

“Mulutmu juga bengkak!” ujar Wiro pula. 

Kedua pemuda itu sama-sama memegangi mulut masing-masing. Dan

menggaruk tiada henti. Lalu sama memandang pada Warok Keling dengan rasa curiga. 

Sebaliknya sng Warok tertawa gelak-gelak. 

“Warok, apa yang kau perbuat terhadap kami?!” tanya Wiro sambil mengusap 

lagi bibirnya yang semakin melendung. 

Gelak sang Warok semakin keras. “Dulu, waktu aku dan anak buahku pertama 

kali makan talas, bibir kami bengkak dan gatal-gatal seperti kalian. Tapi lama 

kelamaan kami jadi kebal karena terbiasa! Maaf saja kalau saat ini kalian mengalami 

nasib sama. Itu bukan disengaja. Ha….ha….ha! Kalian berdua jangan marah pada 

siapapun!” 

Panji berdiri dari duduknya. Wiro mengikuti. 

“Warok, kami minta diri…..” 

“Silahkan. Aku gembira mendapat kunjungan kalian. Satu hal agar kalian 

ketahui. Jika suatu waktu kalian ingin bergabung dengan kami, pintu selalu terbuka!” 

Kedua pemuda itu menyeringai. Karena mulut mereka pada bengkak, ketika 

menyeringai tampang-tampang mereka menjadi lucu dan ini membuat sang Warok

jadi terpingkal-pingkal!


DELAPAN 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Keluar dari rimba belantara hujan deras turun memaksa Wiro dan Panji mencari 

tempat untuk berlindung. Untungnya mereka menemukan sebuah gubuk reyot tak 

jauh dari situ. Keduanya segera berteduh di dalam gubuk tanpa dinding dan atapnya 

penuh lobang itu. 

“Sobat, kurasa sekarang saat yang baik kau menuturkan riwayatmu. Kau 

bilang terpaksa kabur dari Kuto Inggil enam tahun lalu. Lalu punya silang sengketa 

dengan kerajaan dan Adipati Lumajang. Apa betul kau membunuh putera Pangeran

Sendoyo?” 

Panji meraba rambutnya yang coklat yang kejatuhan tirisan air hujan. 

Digelengkannya kepalanya. “Tidak, tidak betul. Ada orang yang mengatur fitnah. 

Menjebakku demikian rupa hingga tuduhan jatuhan padaku. Aku akan ceritakan 

padamu awal malapetaka enam tahun yang lalu itu…..” 

Larasati bunga Kuto Inggil baru berusia lima belas tahun. Kecantikannya yang 

memang luar biasa telah dibawa angin keharuman sampai di Kotaraja. Seorang 

pangeran bernama Sendoyo yang mendengar kecantikan Larasati itu telah sengaja 

menyempatkan diri untuk datang ke Kuto Inggil. Dia menemui Bibi Kanoman untuk 

melamar Larasati agar dapat dipersunting oleh puteranya yang bernama Tayu

jenggolo. Bibi Kanoman yang maklum akan kekuasaan sang Pangeran tentu saja tak

berani menolak walau dia tidak suka akan lamaran itu. dia sudah sejak lama 

mendengar bahwa putera Pangeran Sendoyo itu suka berjudi, penyabung ayam, suka 

mengganggu anak istri orang dan pantat botol alias suka minuman keras. Secara halus 

dia menyerahkan persoalannya pada Larasati. Si gadis, yang sebenarnya telah 

menjalin cinta dengan Panji Argomanik dengan tegas menolak lamaran itu. 

Sang Pangeran kembali ke Kotaraja dengan perasaan malu, tersinggung dan 

marah. Diam-diam dia berusaha mencari jalan untuk mendapatkan Larasati, 

bagaimanapun caranya. Untuk itu dia meminta bantuan Dirgo Sampean, adipati 

Lumajang yang membawahi Kuto Inggil. Dirgo Sampean mau membantu karena 

dijanjikan akan diberikan satu kedudukan tinggi di Istana kelak. 

Hari itu merupakan hari pasar di Kuto Inggil. Pasar raya yang berlangsung di 

alun-alun ramai dikunjungi orang. Rumah makan dan tempat-tempat minum penuh 

oleh manusia. Para perjaka dan para gadis mempergunakan hari ini sebagai 

kesempatan untuk bertemu dan berhandai-handai. 

Siang itu Panji memerlukan datang ke pasar untuk mencari seorang teman 

karibnya. Belum sampai ke pasar di tengah jalan dia berpapasan degnan Tayub

Jenggolo diiringi oleh tiga orang temannya. Keempat pemuda itu sedang mabuk

sehabis menenggak banyak minuman di satu rumah minum. Tapi yang terparah

adalah putera Pangeran Sendoyo itu. 

Begitu melihat Panji, Tayu Jenggolo seperti kemasukan setan dan berteriak 

marah. Dia mencaci maki Panji dengan kata-kata kotor. Walau telinga dan hatinya 

jadi panas mendengar caci maki itu namun karena tahu Tayub Jenggolo sedang

mabuk maka Panji tidak melayani. Dia terus saja melangkah menuju ke pasar. Tapi 

begitu berhadap-hadapan tiba-tiba Tayub Jenggolo mencabut sebuah pisau besar dari 

pinggangnya. 

Panji Argomanik terkejut sekali ketika melihat pisau yang digenggam Tayub 

Jenggolo adalah pisau miliknya yang diketahuinya telah hilang sejak tiga hari lalu.“Aneh, bagaimana pisau itu bisa berada di tangan putera Pangeran ini?” pikir 

Panji. Tapi pemuda ini tidak bisa berrpikir lebih jauh karena saat itu Tayub sudah

menyerangnya. Dengan cepat Panji mengelak. 

Tayub membalik, “Bangsat kau Panji! Kau yan hendak merampas Larasati 

dari tanganku! Kau tak bakal dapat memperistrikannya! Kau akan kawin dengan

cacing-cacing tanah di liang kubur! Kau boleh bawa gelar besarmu Singa Gurun 

Bromo itu ke liang kubur!” 

Tayub Jenddolo kembali menyerbu. Karena saat itu dia sedang mabuk dan 

Panji sendiri sudah menguasai ilmu silat dari seorang sakti yang diam di sebuah goa 

di Gurun Bromo sehingga dia mendapat julukan Singa Gurun Bromo, dengan mudah

Panji menghadapi setiap serangan lawan. Sementara itu tiga orang kawan Tayub 

Jenggolo yang juga dalam keadaan mabuk berteriak-teriak ketakutan. Ketiganya lalu 

melarikan diri entah kemana. 

Beberapa lama kemudian, seorang pedagang sayur yang tengah memikul 

dagangannya ke pasar menemukan sosok Tayub Jenggolo tergeletak di tengah jalan 

dalam keadaan mandi darah. Muka dan beberapa bagian tubuhnya penuh dengan 

luka-luka. Sebuah pisau besar- pisau milik Panji Argomanik menancap di pertengahan

dadanya! Panji sendiri lenyap entah kemana! 

Setelah kejadian itu serombongan pasukan dari kadipaten mendatangi rumah

kediaman Panji. Ketika mereka tidak menemukan si pemuda di sana maka mereka 

menangkap ayah Panji Argomanik. Di sebuah rumah kayu mereka menyekap orang 

tua itu, menyiksanya setiap hari. Di luar disebar kabar jika Panji tidak muncul 

menyerahkan diri maka ayahnya akan dijadikan tumbal di tiang gantungan. 

Suatu pagi Panji Argomanik akhirnya muncul di kadipaten untuk

menyerahkan diri. Ayahnya dilepas. Tapi dua hari kembali ke rumah, orang tua ini 

menghembuskan nafas karena luka-luka dan cidera berat yang dideritanya. Kabar 

kematian ayahnya itu disampaikan seorang kawan Panji di tempat dia disekap. Panji 

seperti hendak gila. Apalagi ketika dia mendengar bahwa dirinya akan digantung 

dalam dua hari mendatang. Kesalahannya telah terbukti pisau yang menancap di 

tubuh Tayub Jenggolo adalah pisau miliknya. Lalu ada seorang pedagang di Kuto

Inggil bernama Janar Gandewo memberi kesaksian bahwa dia melihat memang Panji 

Argomanik yang menusukkan pisau ke tubuh Tayub jenggolo…. 

Selama satu hari satu malam Panji bersemedi meminta petunjuk pada Yang

Kuasa. Suatu malam seperti mendapat kekuatan gaib, pemuda ini menghancurkan

dinding papan tebal dan kokoh ruang tahanannya. Dia menghantam roboh dua orang

pengawal di tempat itu. Lalu dengan seekor kuda curian dia melarikan diri menuju ke 

Utara. 

Larinya Panji Argomanik segera dilaporkan kepada Adipati Lumajang. 

Rombongan pengejar yang terdiri dari dua puluh perajurit dipimpin langsung oleh

Adipati Dirgo Sampean. Karena mereka memiliki seorang ahli pencari jejak maka 

larinya Singa Gurun Bromo segera dapat diketahui. Di pedataran pasir sebelah Utara, 

rombongan pengejar berhasil mengejar pemuda itu. Di satu tempat Panji Argomanik

dikurung lalu dikeroyok. Panji mengamuk hebat untuk mempertahankan diri dan

kehormatannya. Tapi musuh terlalu banyak dan Adipati Dirgo ternyata memiliki 

kepandaian tinggi pula. Meskipun berhasil merobohkan enam orang perajurit yang 

mengeroyoknya namun dalam keadaan mandi darah pemuda itu akhirnya jatuh 

tersungkur di tanah. 

Adipati Dirgo Sampean menyambar tombak yang tersisip di leher kudanya 

lalu melompat turun. Tombak itu dihujamkannya ke arah tenggorokan Panji 

Argomanik yang berada dalam keadaan tak berdaya antara sadar dan tiada.Sesaat lagi mata tombak akan menembus leher Panji tiba-tiba sebauh benda 

bulat menghantam pertengahan batang tombak hingga senjata itu patah dua dan

terlepas mental dari genggaman Adipati Dirgo Sampean. Sang Adipati merasakan

tangannya seperti disengat api. Penuh rasa kejut dia memandang sekeliling. Hal sama 

juga dilakukan oleh para perajurit yang ada di tempat itu. Mereka semua melihat ada 

seorang tua berjubah putih berambut panjang putih yang melambai-lambai ditiup 

angin. Orang tua itu duduk di atas punggung seekor kuda hitam. Tapi mereka hanya 

melihat sekejapan saja. Karena ketika orang tua itu memukulkan kedua tangannya ke 

depan, terdengar deru keras seperti munculnya topan prahara. Pasir gurun 

beterbangan menutupi pemandangan Adipati Dirgo dan semua perajurit yang ada di 

sana berusaha bertahan dengan susah payah agar tubuh mereka tidak roboh. 

Pemandangan mereka tertutup oleh pasir-pasir yang beterbangan. 

Ketika gelombang angin mereda dan pasir yang beterbangan luruh ke tanah

kembali semua orang terkejut. Tubuh Panji Argomanik yang tadi tergeletak di atas 

pasir tak ada lagi di situ. Memandang ke arah kiri mereka dapatkan kakek

penunggang kuda hitampun sudah lenyap entah kemana! 

Para perajurit yang ada di tempat itu jadi merinding. Adipati Dirgo Sampean

diam-diam ikut merasa takut. Dia memang tidak penah mendengar adanya setan atau

hantu gurun pasir. Tetapi kalau bukan setan mana mungkin orang tua itu bisa muncul 

dan lenyap bersama hilangnya tubuh Panji. 

“Pasukan! Kita kembali ke Lumajang!” seru Adipati itu pada para perajuritnya. 

Ketika siuman, mula-mula Panji merasa heran dan bertanya-tanya dimana dia 

berada saat itu. Secara perlahan-lahan begitu ingatannya pulih kembali dia segera 

mengenali tempat itu dan ingat kalau dulu dia pernah berada di situ selama beberapa 

tahun. Dengan mengumpulkan tenaga walau sekujur tubuh dan persendiannya terasa 

sakit Panji berusaha bangkit. Dia memandang berkeliling. Dia hanya sendirian dalam 

goa itu. 

“Guru….?!” Suara Panji bergema dan memantul pada dinding-dinding goa. 

Di ruang sebelah dalam goa batu yang terletak di gurun pasir Bromo itu 

terdengar suara batuk-batuk. Lalu sesosok tubuh tua muncul. 

“Kau sudah siuman Panji….?” 

“Sudah guru. Saya tahu pasti. Guru yang telah menyelamatkan saya dari 

orang-orang itu….. Saya berterima kasih padamu guru.” 

“Berterima kasih pada Tuhan. Dia yang masih memanjangkan umurmu,” kata 

orang tua sambil memegang bahu muridnya. Lalu dia bertanya. “Mengapa mereka 

mengejar dan ingin membunuhmu?” 

Panji lalu menceritakan apa yang terjadi. 

Si orang tua menarik nafas panjang. “Ada orang atau orang-orang yang 

sengaja menjebakmu muridku. Dan kau belum sanggup menghadapi mereka. Jika kau

berani muncul di Kuto Inggil, mereka akan membunuhmu!” 

“Saya mohon petunjukmu guru.” 

Si orang tua tersenyum kecut. “Itu sebabnya dulu kukatakan padamu, kalau

berguru jangan kepalang tanggung. Belum selesai semua kepandaia kuwariskan

padamu kau sudah seperti anak kecil minta-minta diizinkan pulang. Tenaga dalammu 

masih rendah. Ilmu meringankan tubuhmu masih cetek. Kau memang telah 

menyandang julukan hebat. Singa Gurun Bromo. Tapi kau hanya keberatan gelar 

muridku!” 

“Maafkan segala tindakan saya di masa lampau guru.” Kata Panji. “Kalau

guru tidak keberatan saya ingin menyambung pelajaran lagi di sini….”Pengalaman pahit itu rupanya menjadi guru terbaik bagimu. Mungkin kau 

memang berjodoh untuk meneruskan pelajaran silatmu di sini. Kau akan kugembleng

selama enam tahun. Jika kau berani minta pergi hanya ada satu syarat dariku. Aku tak

akan mengajarkan apa-apa lagi padamu. Dan aku tidak ingin melihat mukamu lagi!” 

“Saya berani mematuhi semua peraturan guru….” Jawab Panji. 

“Kalau begitu kau teruskan dulu beristirahat. Besok pagi-pagi pelajaran 

pertama akan dimulai.” 

“Terima kasih guru,” kata Panji Argomanik. Dipegangnya tangan orang tua itu 

lalu diciumnya penuh hormat dan terima kasih. 

Hujan deras telah berhenti. Kini udara dingin luar biasa datang menyungkup. 

Pendekar 212 Wiro Sabelng rangkapkan kedua tangannya di depan dada. 

“Nah, itu kisahku enam tahun lalu,” kata Panji menyudahi riwayatnya. “Kini 

aku muncul untuk meluruskan segala tuduhan keji itu. Aku harus mencari tahu siapa 

biang racun di balik semua kejadian ini. Aku curiga terhadap Pangeran Sendoyo. 

Kematian ayahku perlu aku balaskan. Dan yang paling penting aku harus segera 

menemukan Larasati kembali!” 

“Kau tidak menceritakan tentang ibumu setelah ayahmu meninggal.” Kata 

Wiro. 

“Ah, itu satu sisi gelap lagi dari kehidupanku yang malang. Waktu aku masih 

mengikuti guru, aku mendapat kabar dari seseorang. Beliau menyusul ayah sebulan

kemudian.” 

Wiro terdiam sesaat. “Boleh aku tahu siapa nama gurumu itu?” 

“Dia tidak pernah memberitahu namanya. Dia memiliki gelar sama denganku. 

Singa Gurun Bromo. Ketika dia melepas aku enam tahun lalu, dia menyuruh aku 

memakai gelar itu.” 

Sunyi sesaat di dalam gubuk itu. “Kita harus berangkat sekarang Wiro.” 

“Ya. Tapi kemana tujuan kita?” 

“Aku akan mencari Janar Gandewo pedagang keliling yang memberi 

kesaksian palsu itu.” 

Pendekar 212 mengangguk. Kedua pemuda itu lalu naik ke atas kuda masing-

masing.



SEMBILAN 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Hari hampir malam ketika mereka emmasuki Kuto Inggil dari arah Selatan. 

Setelah melewati sebuah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon karet keduanya 

menemui sebuah kali kecil. Sebelumnya kali ini merupakan parit kering akibat musim 

panas yang panjang. Kini setelah hujan turun kali itu tampak berair kembali walaupun

sangat dangkal dan kotor. 

Panji Argomanik menunggangi kudanya di sebelah depan diikuti oleh 

Pendekar 212 dari belakang. Di kejauhan kelihatan nyala sebuah lampu minyak. 

“Itu rumah Janar Gandewo,” kata Panji seraya menunjuk ke arah lampu. Lalu

dia mempercepat lari kudanya. Di satu tempat kira-kira lima puluh langkah dari 

rumah kecil di daerah terpencil itu Panji turun dari kudanya. Dia memberi isyarat 

pada Wiro agar terus mengikuti dengan jalan kaki. Tinggal beberapa belas langkah

lagi dari rumah yang dituju Wiro berbisik. 

“Kau duluan saja Panji. Aku mau kencing dulu….. Dari tadi aku berusaha 

menahan. Sekarang tak sanggup lagi!” 

“Sialan! Ada-ada saja kelakuanmu!” maki Panji jengkel sekali. Dia tidak lagi 

memperdulikan Wiro dan bergerak sendirian dalam rumah kecil yang lantainya 

berkolong rendah. 

“Ada nyala lampu berrarti ada orangnya,” kata Panji dalam hati. Dia 

melangkah ke pintu depan lalu berseru. “Janar Gandewo! Aku mencarimu! Lekas 

keluar!” 

Tak ada jawaban dari dlam rumah itu. 

“Janar!” 

“Si…..siapa di luar?!” Tiba-tiba ada yang bertaya dari dalam rumah. 

“Aku Panji Argomanik!” 

“Tung…..tunggu sebentar…” 

“Suaranya seperti gemetar dan gagap. Ada sesuatu yang ditakutinya,” kata 

Panji dalam hati. Dia menunggu sesaat. Tiba-tiba nyala lampu dalam rumah padam. 

Panji jadi curiga dan melompat ke balik sebatang pohon. Dia tak menunggu lama. 

Pintu belakang rumah kecil kelihatan terbuka lalu seorang lelaki bertubuh tinggi 

langsung melompat keluar, dengan cepat menyelinap hendak melarikan diri. Panji 

segera mengejar dan menghadang. Sekali sergap saja dia berhasil membengbeng leher 

pakaian orang itu. 

“Mau kabur ke mana Janar?!” 

“Si….siapa bilang aku mau kabur…..?” Janar Gandewo si pedagang keliling

menjawab tapi jelas dia berdusta dan sangat ketakutan. 

Panji tarik leher pakaian orang itu lalu membantingkannya hingga 

punggungnya terhempas ke dinding rumah. Janar Gandewo merintih kesakitan. 

Tulang punggungnya seperti luluh. “Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini…..?” 

“Ini belum seberapa!” kertak Panji. “Aku tak segan-segan menghancurkan 

batok kepalamu!” 

“A…..apa salahku?!” 

“Keparat! Kau pandai berpura-pura!” Tangna kiri Panji bergerak meninju 

muka Janar Gandewo hingga bibirnya pecah dan dua giginya rontok! Janar meraung 

kesakitan. “Kau mau minta mampus sekarang juga?!” bentak Panji lalu kedua 

tangannya dicekikkan ke leher orang itu. 

“Jang….jangan….. Jangan bunuh aku. Apa salahku…..”“Siapa yang menyuruhmu memberi kesaksian palsu enam tahun lalu. Kau

bersaksi melihat aku membunuh Tayub Jenggolo putera Pangeran Sendoyo!” 

“Aku…..” 

“Bangsat! Jawab cepat!” Panji angkat lagi tangan kanannya. 

“Aku…. Aku terpaksa. Aku disuruh. Kalau tidak kemaluanku akan dipotong! 

Aku akan dikebiri!” 

“Siapa yang menyuruhmu? Siapa yang mau mengebirimu?!” teriak Panji. 

“Walang Daksi…..” 

“Walang Daksi….? Dukun Iblis di Lembah Waru?!” 

Janar Gandewo mengangguk. 

“Aku tidak percaya! Kau membual! Biar kupatahkan batang lehermu saat ini 

juga!” 

“Aku tidak dusta! Aku tidak berbohong Panji. Aku tahu Walang Daksi juga 

disuruh orang lain….” 

“Siapa?!” 

“Su…..Sur……” 

Belum sempat Janar Gandewo menyebutkan sabuah nama tiba-tiba terdengar 

suara berdesing. Panji berpaling. Sebatang anak panah melesat dan menancap tepat di 

mata kiri Janar Gandewo. Orang ini meraung setinggi langit. Lidahnya terjulur. 

Mukanya kelihatan menjadi biru. 

“Panah beracun!” desis Panji serta merta lepaskan cekikannya. Tubuh Janar 

terkulai lalu roboh ke tanah tanpa nyawa lagi! 

Dalam keadaan masih terkesiap Panji tidak menyadari bahwa saat itu sebuah

anak panah lagi melesat dan kali ini sasarannya adalah dirinya sendiri. Dia mendengar 

suara berdesing namun perhatiannya masih tertuju pada kematian Janar hingga dia 

bertindak lengah. Sesaat lagi anak panah itu akan menancap di punggungnya tiba-tiba 

sebuah benda hitam melesat dalam kegelapan malam, memotong luncuran anak panah

dan trak! Anak panah mental patah dua. Panji melompat. Saat itulah dia baru sadar 

kalau dirinya baru saja terlepas dari bahaya maut! 

Sesosok tubuh melompat ke hadapan panji. Pemuda bergelar Singa Gurun 

Bromo ini berkelebat dan siap untuk menghantam. Tapi dia cepat tarik serangannya 

ketika dilihatnya yang datang adalah Wiro. 

“Ada untungnya aku kencing tadi,” kata Pendekar 212. “Kalau tidak mungkin 

kita berdua sudah jadi mayat. Yang dituju si pembokong adalah kau, bukan kunyuk

jangkung itu!” Lalu Wiro membungkuk mengambil sebuah benda yakni batu hitam 

sakti yang merupakan pasangan kapak Maut Naga Geni 212. 

Selain memungut batu hitamnya Wiro juga mengambil patahan anak panah

yang tadi dihantamnya dengan batu hitam itu. 

“Aku mengenali mata panah ini. Bagaimana pendapatmu, Sobat?” tanya Wiro. 

Panji memperhatikan anak panah itu. Dia juga segea mengenali “Sama dengan

anak panah milik orang-orangnya Warok Keling….” Katanya. “Berarti bangsat itu 

memang terlibat dalam urusan ini! Keparat!” dalam amarahnya Panji kemudian ingat. 

“Terima kasih. Kau telah menyelamatkan jiwaku.” Dia memandang ke arah 

mayat Janar Gandewo. “Manusia sialan itu tadi menyebutkan nama seseorang. Orang

yang katanya menyuruh dia melakukan kesaksian palsu. Sur…… entah Sur siapa. Dia 

juga menyebutkan nama seorang dukun di Lembah Waru. Aku akan mencari dukun

itu sekarang juga!” 

“Kau dengar suara derap kaki kuda di kejauhan itu?” 

“Ya…..” 

“Apa maksudmu Wiro?”“Itu derap kaki kuda si pembokong. Dia belum lari jauh. Kita masih punya 

kesempatan untuk mengejarnya! Kau harus memilih satu di antara dua. Mengejar si 

pembokong atau pergi ke Lembah Waru.” 

“Si pembokong itu lebih dulu!” jawab Panji. 

“Tepat!” sahut Wiro seraya acungkan ibu jari tangan kanannya. Kedua 

pendekar ini segera berkelebat ke tepat di mana mereka meninggalkan kuda 

sebelumnya. 

Di malam yang gelap dan dingin itu memang tidak mudah untuk mengejar 

seseorang yang melarikan diri dengan menunggang kuda. Satu-satunya petunjuk ke 

arah mana larinya si pembokong adalah suara derap kaki kudanya. Tapi celakanya di 

satu tempat suara derap kaki kuda orang yang dikejar itu lenyap! 

“Keparat!” maki Panji. “Dia menghilang!” 

Pendekar 212 tidak menjawab. Telinganya dipasang baik-baik. “Aku

mendengar suara kaki-kaki kuda di air….” 

“Kau ingat kali kecil itu?!” ujar Panji. 

“Dia pasti tengah menyebrangi kali dangkal itu! Pantas derap kaki kudanya 

lenyap. Ayo kita kejar!” 

Kedua pendekar ini memacu kuda masing-masing ke arah kiri. Tak lama 

kemudian mereka sampai di satu tempat ketinggian. Di bawah sana keliahtan kali 

kecil berair dangkal. Di seberang kali tampak seorang penunggang kuda baru saja 

menyeberangi kali itu. 

“Itu bangsatnya!” kertak Panji. “Aku akan memintas jalannya dari arah kiri. 

Kau memotong dari arah kanan. Dia pasti tidak bisa lolos. Apalagi di seberang sana 

merupakan kawasan terbuka!” 

Panji membedal kudanya. Wiro menyentakkan tali kekang tunggangannya. 

Kedua orang ini melesat dalam kegelapan malam. Selewatnya kali dangkal mereka 

berpencar menggunting larinya orang yang mereka kejar dari dua arah. Tepat di 

pertengahan pelataran terbuka, Panji telah berada di depan, Wiro menjepit dari 

belakang. 

Orang yang dikejar mengenakan pakaian ringkas warna gelap. Kepalanya 

ditutupi sebuah topi berbentuk aneh dan wajahnya tersembunyi di balik sehelai cadar. 

Tahu kalau ada dua orang mengejarnya si penunggang kuda tadi segera membelok ke 

kiri dan memacu kudanya sepanjang lereng pedataran. Namun dia tidak bisa lari jauh

karena dalam waktu singkat Wiro dan Panji berhasil mengejarnya. Dari jarak sepuluh

langkah di sebelah kiri, Singa Gurun Bromo yang sudah tidak tahan lagi lepaskan satu 

pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Yang diarah adalah

pinggang orang itu. 

Selarik angin keras menderu. Membabat ke arah pinggang laksana sambaran 

sebilah mata pedang. Inilah pukulan sakti yang disebut Kilat Manyapu Gurun Bromo. 

Jangankan tubuh manusia, batang pohon pun akan terbabat putus bila kena hantaman 

pukulan sakti ini! 

Rupanya orang di atas kuda sudah tahu kalau dirinya terancam maut. Dari 

balik cadarnya dia keluarkan suara mendengus. Lalu tubuhnya tiba-tiba melesat ke 

atas. Serangan Singa Gurun Bromo lewat di bawah kedua kakinya. Hebatnya, karena 

kedua tangannya masih memegang tali kekang kuda, ketika melompat turun kembali 

dia membuat gerakan jungkir balik, di lain kejap dia sudah duduk kembali di atas 

pelana kuda dan menghambur menjauhi kedua pengejarnya. 

Pendekar 212 leletkan lidah mengagumi kehebatan orang itu. Sebaliknya Panji 

Argomanik walaupun terkesiap tapi kemarahannya memuncak. Sebenarnya dia harus 

dapat menangkap orang ini hidup-hidup untuk mendapatkan keterangan mengapa diamemanah mati Janar Gandewo lalu hendak membunuh dirinya pula. Tetapi amarah

lebih mempengaruhi hingga Panji ingin membunuh orang ini saat itu juga! 

Begitu serangan pertamanya gagal Singa Gurun Bromo menggebrak kudanya 

dan mengejar kembali. Tapi sekali ini gerakannya tertahan karena sambil melarikan

diri orang yang dikejar lambaikan tangan kanannya. Puluhan benda sebessar-besar 

pasir beterbangan di udara mengeluarkan kilauan aneh. 

“Awas pasir beracun!” teriak Pendekar 212 yang mengenali apa adanya 

benda-benda yang melesat ke arah sahabatnya itu. 

Singa Gurun Bromo menggertak marah. Tangan kanannya diangkat. 

“Wusss!” Satu gelombang sinar putih kebiruan menderu dahsyat. Pasir 

beracun tersapu habis. Sinar serangan Panji Argomanik terus menerpa ke arah orang

bercadar. Orang ini cepat angkat tangan kanannya guna melepaskan pukulan tangan

kosong. Dua kekuatan dahsyat saling bentrokan di udara. Terdengar suara berdentum 

disusul oleh suara ringkikan tiga ekor kuda! 

Singa Gurun Bromo merasakan sekujur tubuhnya seperti tergontai-gontai 

sedang kuda tunggangannya menjadi liar dan meringkik tiada henti. Pendekar 212 

yang berada tak jauh dari Panji dan sempat tersapu angin serangan juga merasakan 

getaran hebat menjalari tuuhnya. Kuda tunggangannya seperti sempoyongan dan 

meringkik beberapa kali. 

Yang bernasib buruk adalah orang yang dikejar tadi. Tubuhnya terhempas ke 

samping lalu jatuh ke tanah. Kudanya meringkik keras dan lari meninggalkannya. 

Puluhan langkah di depan sana baru binatang ini berhenti. Melihat orang buruannya 

jatuh ke tanah, Singa Gurun Bromo segea melompat turun dari atas kuda dan

kirimkan tendangan ke arah dada orang itu. Yang diserang gerakkan tangan kanannya 

ke pinggang. 

“Wuut!” 

Lalu sebilah golok menyambar tak terduga. Ujungnya menderu di perut Singa 

Gurun Bromo membuat pendekar ini terkejut dan cepat melompat. Tak urung 

sebagian bajunya di sebelah perut masih kena tersambar ujung senjata lawan hingga 

robek. 

Singa Gurun Bromo melompat mundur sambil pegangi perutnya. Parasnya 

berubah mengelam tanda amarahnya sudah mencapai di puncaknya. Di depannya 

orang bercadar tegak sambil putar-putar goloknya. Dalam gelapnya malam senjata itu 

lenyap dari pemandangan hanya suaranya saja yang terdengar menderu-deru. 

Selangkah demi selangkah, sambil terus memutar goloknya orang ini mendekati Singa 

Gurun Bromo. Tiba-tiba dia menyergap ke depan. Goloknya berkiblat dalam satu

bacokan deras. Singa Gurun Bromo mundur satu langkah. Kedua lututnya menekuk. 

Bersamaan dengan itu kedua tangannya menyusup ke atas. Begitu dia berhasil 

mencekal lengan yang memegang golok itu secepat kilat dia jatuhkan dirinya ke tanah. 

Kaki kanannya menendang ke arah perut lawan. Orang bercadar terangkat ke atas lalu 

tertarik keras. Goloknya terlepas dan tubuhnya terbanting ke tanah. Dari balik cadar 

terdengar suara pekikan. Suara pekik perempuan!



SEPULUH 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Pendekar 212 dan Singa Gurun Bromo tentu saja tersentak kaget begitu mendengar 

suara jeritan orang itu adalah suara perempuan. Sekali lompat saja Singa Gurun

Bromo sudah berdiri di samping tubuh yang tergeletak di tanah becek. Kaki kanannya 

menginjak leher lalu dia membungkuk dan membetot lepas cadar yang menutupi 

wajah orang itu. 

“Kau!” keluar teriakan kaget dari mulut Panji Argomanik alias Singa Gurun 

Bromo. Pendekar 212 sendiri tertegun dengan mulut ternganga seperti tak percaya 

pada penglihatannya. Akhirnya dia hanya bisa garuk-garuk kepala. 

“Jadi kau rupanya! Bapaknya perampok besar. Ternyata anaknya juga 

penjahat keji! Mengapa kau hendak membunuhku?! Mengapa kau membunuh Janar 

Gandewo! Pasti bapakmu yang menyuruh!” 

“Mulutmu lancang! Belum tahu urusan sudah mendamprat! Jika kau ada 

persoalan denganku jangan hina orang tuaku!” bentak perempuan yang tergeletak di 

tanah dan lehernya masih diinjak oleh Singa Gurun Bromo. Dia bukan lain adalah

Jayengsari, puteri Warok Keling, raja diraja para perampok! 

“Baik! Sekarang jawab dulu pertanyaanku tadi. Kalau kau tidak menjawab 

kuinjak hancur batang lehermu!” ancam Singa Gurun Bromo. 

“Siapa yang hendak membunuhmu? Siapa itu Janar Gandewo?” balik 

membentak Jayengsari. Lalu dengan mata membelalang gadis ini berkata. “Aku itdak 

takut mati! Kau mau bunuh aku saat ini juga silahkan! Ayo injak leherku!” 

“Akalmu selicik akal bapak moyangmu!” 

“Kurang ajar! Kalau kau punya nyali lepaskan injakanmu. Mari kita berkelahi 

sampai seratus jurus! Buktikan bahwa kau yang punya gelar Singa Gurun Bromo

bukan seorang pendekar banci yang hanya berani melawan perempuan!” 

Amarah Singa Gurun Bromo jadi mendidih lagi mendengar kata-kata 

Jayengsari itu. “Manusia sepertimu tidak perlu dihormati! Matipun kau aku tak 

merugi! Nah, mampuslah!” 

Singa Gurun Bromo injakkan kaki kanannya kuat-kuat ke leher si gadis. 

Namun sebelum hal itu terjadi, murid Eyang Sinto Gendeng cepat mendorongnya 

hingga injakkannya lepas dan tubuhnya terhuyung-huyung. 

“Wiro! Kau hendak membelanya?! Kau bersekutu dengan gadis iblis ini?!” 

teriak Singa Gurun Bromo marah. 

“Tenang Panji, sabar dulu sedikit,” kata Wiro. “Apa untungku membela gadis 

cantik ini…..!” 

“Gila! Kau masih bisa menyebut gadis yang hendak membunuh sahabatmu ini 

dengan kata-kata gadis cantik!” semakin naik darah Singa Gurun Bromo mendengar 

pujian Wiro itu. 

“Aku tidak memujinya berlebihan sobat. Tapi memang kenyataannya dia 

cantikkan?” Wiro berpaling pada si gadis sambil kedipkan matanya dia berkata. 

“Jayeng, berdirilah….” 

Puteri Warok Keling itu tampak merengut walau hatinya sempat berbunga-

bunga mendengar pujian Wiro atas kecantikan wajahnya. 

“Wiro, katakan apa maumu?!” tanya Panji Argomanik dengan suara bergetar 

menahan amarah. 

“Dengar Panji, aku punya dugaan bukan dia yang membunuh janar Gandewo

dan juga bukan dia yang tadi hendak membunuhmu dengan panah beracun itu!”

“Hebat! Bagaimana kau bisa berkata begitu sobatku?!” 

“Kau lihat sendiri. Dia tidak membawa busur ataupun kantong panah!” 

“Aku sudah katakan. Gadis seperti dia sudah terdidik untuk berbuat jahat dan 

mengandalkan tipu daya! Bisa saja dia membuang busur dan kantong panahnya di 

tengah jalan!” 

Jayengsari terdengar mendengus. Saat itu dia sudah berdiri di hadapan Wiro 

dan Panji. “Aku memang tidak membawa panah dan busur!” katanya. 

“Baik! Sekarang katakan bagaimana kau tahu-tahu muncul di tempat ini! Apa 

keperluanmu! Kalau kau memang tidak berniat jahat mengapa melarikan diri ketika 

kami kejar dan mengapa kau menyerang kami? Dengar, anak panah yang membunuh

Janar Gandewo jelas anak panah buatan komplotan ayahmu!” 

“Soal panah memanah aku tidak menahu. Perduli setan! Aku tak mau 

membicarakannya! Aku tidak tahu kalau kalian tadi yang mengejarku! Aku

menyerangmu karena menyangka kalian orang-orang jahat!” 

“Kau dengar Wiro. Seorang anak penjahat enak saja mengatakan kita orang-

orang jahat!” 

“Jangan tolol!” bentak Jayengsari. “Malam begini gelap dan kalian tahu-tahu 

muncul di belakangku!” 

“Kalau kau tidak bermaksud culas mengapa kau menutupi wajahmu dengan

cadar?!” sentak Singa Gurun Bromo. 

“Hem…… Kau ingin tahu sebabnya? Jika kau punya saudara perempuan apa 

kau merasa tenang mengetahui dia berjalan seorang diri dalam pakaian dan dandanan

perempuan?!” 

Panji Argomanik terdiam. 

“Jayeng,” Wiro menengahi. “Coba katakan saja mengapa kau ada di sini. 

Kalau memang bukan kau yang membunuh Janar Gandewo, mungkin kau tau siapa 

pelakunya?” 

“Aku, aku ditugaskan ayah ke Kuto Inggil.” Jawab gadis itu. “Sebetulnya 

bukan ditugaskan. Tapi aku sendiri yang minta…..” 

“Apa keperluanmu ke Kuto Inggil?” tanya Wiro pula. Kelihatannya si gadis 

mau dan lebih terbuka bicara dengannya. Hal ini membuat Panji Argomanik menjadi 

tidak sabaran dan merasa sangat jengkel terhadap sahabatnya itu. 

“Aku sebenarnya bermaksud menemui kalian guna menyampaikan pesan 

ayah.” Jawab Jayengsari. “Jejak kalian berhasil kuketahui dan kuikuti sampai di 

tempat kediaman Janar Gandewo. Aku sampai di situ ketika seorang penunggang 

kuda berusaha melarikan diri. Kurasa dialah yang membunuh pedagang keliling itu

dan juga hendak membunuhmu….” 

“Kau mengarang cerita!” potong Singa Gurun Bromo. 

“Kalau kau berpendapat begitu boleh saja! Penjelasanku cukup sampai di sini. 

Kau pendekar gagah bergelar hebat. Silahkan kau selesaikan sendiri urusanmu!” 

Jayengsari segera membalikkan diri. Tapi Wiro cepat menghampirinya dan

memegang lengannya. 

“Jangan pergi dulu. Kau jangan marah padaku…..” kata Wiro membujuk. 

“Aku tidak marah padamu. Tapi jengkel pada manusia satu itu. Tidak tahu

ditolong orang malah memaki, menuduh dan mendamprat seenaknya!” jawab 

Jayengsari. 

“Maafkan dia. Pikirannya sedang kalut…..” Wiro enak saja menciumi jari-jari 

tangan gadis itu. Jayengsari cepat menariknya sambil berseru. “Ihhhh!” Murid Eyang

Sinto Gendeng menyengir. Dia yakin kalau Panji tak ada di situ si gadis pasti akan

senang dipegang dan dicium.“Kau sama saja kurang ajarnya dengan dia. Malah lebih kurang ajar!” bentak

Jayengsari. 

Wiro menyengir lagi. “Aku hanya bergurau,” katanya. Lalu, “Sekarang coba 

kau katakan apa pesan ayahmu itu. Pesan untuk sahabatku Panji atau untukku sendiri? 

Ah, kalau pesan itu untukku aku berharap-harap ayahmu memanggilku mungkin 

untuk membicarakan soal perjodohan kita!” 

Jayengsari terpekik marah sedang Panji Argomanik segera membentak. 

“Wiro! Tidak pantas dalam keadaan seperti ini kau masih bisa membanyol!” 

Wiro senyum-senyum. “Banyolanku tadi memang tidak lucu,” katanya. Dia 

berpaling kembali pada Jayengsari. “Kau mau meneruskan keteranganmu tadi?” 

Jayengsari tampak merengut. Namun kemudian dia melanjutkan

keterangannya. “Aku berusaha mengejar orang yang membunuh dengan panah itu. 

Tapi dia keburu melarikan diri. Kudanya kencang sekali. Tungganganku yang sudah

keletihan tidak berhasil mengejarnya. Di seberang kali kecil dia menghilang. Justru 

begitu dia lenyap kalian berdua muncul mengejarku!” 

“Sayang bangsat itu lolos. Tapi mungkin kau dapat mengenali sosok atau 

perawakannya meskipun gelap?” tanya Wiro. 

“Wajahnya memang tidak sempat kulihat. Tapi potongan tubuhnya aku 

hampir yakin dia adalah Daruka…..” 

“Siapa Daruka?” tanya Wiro. 

“Salah seorang anak buah ayahku. Dialah yang dicurigai melakukan

penculikan atas diri Larasati. Tapi nyatanya nanti ceritanya jadi lain…..” 

“Hemmmm…. Kalau begini jelas ada seseorang di belakang Daruka.” Kata 

Wiro. 

“Menurut Janar Gandewo sebelum mati, dia disuruh oleh Walang Daksi. 

Walang Daksi disuruh oleh Suryaning. Lalu mengapa Daruka membunuh Janar dan

ingin membunuhku juga? Berarti bukan Suryaning yang menyuruh Daruka! Tapi 

seorang lain. Mungkin Pangeran Sendoyo?” Panji memandang pada Wiro. 

Wiro menggeleng. “Sang Pangeran punya kelompok sendiri. Dua tokoh silat 

Istana dan dua perwira kerajaan itu. berarti ada orang lain Panji. Aku mulai mencium 

baunya. Nanti saja kukatakan. Mungkin kau akan tahu dengan sendirinya. Sekarang

kita harus mencari tahu di mana Suryaning menyekap Larasati.” Wiro memandang

pada puteri Warok Keling itu. Kelihatannya si gadis masih jengkel. Maka Wiro 

mengalihkan pembicaraan. “Kau masih meneruskan keteranganmu yang terputus 

tadi?” 

“Tak lama setelah kalian pergi ayah segera mengadakan pertemuan dengan 

kepala-kepala kelompok untuk menyelidiki siapa di antara para anggota yang berada 

di luar perkampungan. Kemudian segera diketahui bahwa seorang anak buah ayah 

sejak beberapa waktu lalu tidak ada di kampung. Namanya Daruka. Dia berada di luar 

tanpa setahu ayah ataupun pimpinan kelompok dan tanpa suatau tugas apapun. 

Mungkin sekali dialah yang telah membunuh Karjo Lugu pemilik bengkel kuda di 

Kuto Inggil itu. Ayah mengirim dua orang anak buahnya untuk menyelidik lebih jelas. 

Seorang lain ditugaskan ayah untuk menemui kalian. Tapi aku meminta agar aku yang 

pergi. Kami berhasil menemui Daruka di satu tempat. Setelah dipaksa dia mengaku 

memang dia yang telah membakar dan membunuh perempuan bernama Bibi kanoman 

dna Karjo Lugu. Celakanya Daruka sempat melarikan diri. Namun satu pengakuan 

penting sudah diucapkannya. Yaitu bahwa bukan dia yang menculik Larasati. Gadis 

itu telah diculik lebih dulu oleh seseorang…..” 

“Siapa?!” tanya Panji cepat.“Tunggu dulu!” ujar Jayengsari. “Apa hubunganmu dengan seorang dukun

perempuan bernama Walang Daksi?” 

“Eh, mengapa kau bertanya begitu?!” balik bertanya Panji Argomanik. 

“Dukun itu ditemui mati di rumahnya. Ada yang menggantungnya!” 

Panji berpaling pada Wiro. 

Pendekar 212 garuk-garuk kepala. “Berarti kita tidak bisa mencari tahu siapa 

orang yang disebutkan Janar Gandewo. Kita hanya tahu sepotong nama depannya. 

Sur….. Bisa Surga, bisa Susur….. bisa…..” 

“Sudah! Kau jangan ngacok!” potong Panji dengan suara keras. 

“Mungkin aku tahu kelengkapan sepotong nama yang barusan kau sebut itu. 

tasa-rasanya orangnya sama dengan yang tadi hendak kuberitahukan….” 

“Siapa?” tanya Wiro dan Panji hampir berbarengan. 

“Suryaning…..” jawab Jayengsari. 

“Suryaning?” ujar Panji dengan nada terkejut dan wajah berubah. “Hanya ada 

satu orang bernama Suryaning. Dia adalah puteri Adipati Lumajang!” 

“Justru dia yang menculik Larasati kekasihmu!” 

“Hah?! Apa katamu?! Suryaning puteri Adipati Dirgo Sampean yang 

menculik Larasati?!” sepasang mata Singa Gurun Bromo membeliak. 

Jayengsari mengangguk. 

“Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin!” kata Panji masih tidak berkedip. 

“Perempuan menculik perempuan! Apa perlunya? Apa untungnya?!” ujar 

Wiro pula. “Kalau aku menculikmu atau kau menculik aku, nah itu masih masuk

akal…..” 

“Kurang ajar! Siapa mau menculikmu!” damprat Jayengsari denan mata 

melotot sedang Wiro menutup mulut menahan tawa. 

Panji mendekati Wiro lalu berbisik. “Aku punya dugaan gadis ini sengaja 

menipu kita. Dia punya maksud buruk terhadap kita…… Larasati tidak punya silang 

sengketa dengan puteri Adipati itu. Mengapa dia menculiknya?” 

“Yang juga tidak jelas. Siapa yang membunuh dukun perempuan bernama 

Walang Daksi itu.” 

Panji memandang Jayengsari. Lalu dia bertanya. “Bagaimana kau tahu kalau

puteri Adipati itu yang menculik Larasati?” 

Jayengsari menyeringai. “Aku bukan cuma tahu hal itu, aku malah juga tahu 

di mana kekasihmu sekarang disekap!” 

“Kalau begitu lekas kau beritahu padaku tempatnya!” 

Kembali Jayengsari menyeringai. “Kau cari tahulah sendiri!” katanya. 

Rupanya dia masih dendam atas perlakuan Panji sebelumnya. Habis berkata begitu 

gadis ini segera hendak tinggalkan tempat itu. terpaksa Wiro kembali membujuknya. 

“Sobatku cantik. Jika kau mau menolong orang jangan kepalang tanggung. 

Ayo kita pergi sama-sama ke tempat Larasati disekap. Kau jalan duluan memberi 

petunjuk biar kubawa kudamu kemari.” Sebelum gadis itu bisa menolak Wiro sudah

lari ke tempat di mana kuda tunggangan Jayengsari berada. Lalu membawa binatang

ini pada pemiliknya dan mengulurkan tali kekang pada si gadis. Dia memandang pada 

Jayengsari sambil tersenyum. Mau tak mau hati si gadis jadi luluh dan lembut jgua. 

Sebenarnya dia memang tertarik pada murid Eyang Sinto Gendeng ini sejak pertama 

kali melihatnya di perkampungan. Gadis ini tundukkan kepala. Baru saat itu 

disadarinya kalau seluruh pakaiannya basah dan kotor oleh tanah becek akibat jatuh

tadi. Wiro maklum apa yang dipikirkan gadis itu. Maka dia cepat berkata. 

“Gadis secantikmu tentu saja tidak pantas berpakaian kotor basah begini. Aku 

ada salinan di kantong perbekalan. Kau bisa ganti pakaian saat ini juga…..“Tak perlu,” jawab Jayengsari cept. “Aku tidak percaya pada manusia 

macammu….” 

“Eh, maksudmu apa?” tanya Wiro. 

“Waktu aku ganti pakaian kau pasti mengintip!” 

Pendekar 212 tertawa bergelak. Panji Argomanik mau tak mau juga jadi 

tertawa. Jayengsari memandang pada pemuda bergelar Singa Gurun Bromo ini lalu

berkata sambil cemberut. “Ih….. Ikut-ikutan tertawa…..!” ucapan Jayengsari 

membuat gelak tawa Wiro semakin menjad



SEBELAS 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Walaupun malam gelap namun dari bibir lembah podnok kayu itu masih dapat 

terlihat cukup jelas. Jayengsari hentikan kudanya lalu menunjuk ke arah pondok. 

“Itu tempatnya.” Katanya dengan nada dingin. 

“Aku masih belum percaya kalau tidak melihat sendiri!” berucap Singa Gurun

Bromo. Lalu disentakkannya tali kekang kuda. Dia mendahului Wiro dan Jayengsari 

menuruni lembah. Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah berada di depan

pondok kayu. Singa Gurun Bromo di depan sekali dan lebih dulu melompat dari 

kudanya. 

Di dalam pondok yang hanya merupakan satu ruangan terbuka dan diterangi 

oleh sebuah lampu minyak berkelap kelip karena kehabisan minyaknya, soerang gadis 

yang kecantikannya terbungkus rasa takut duduk terikat di atas sebuah kursi kayu. Dia 

mengenakan baju dan celana panjang warna biru muda. Kedua kaki celananya tampak 

penuh robek sampai sebatas lutut. Dari robekan itu kelihatan sepasang kakinya yang 

penuh dengan guratan-guratan luka. Gadis ini terduduk dengan muka pucat dan ada 

air mata jatuh di atas pipinya. 

Di hadapannya melangkah mundar mandir seorang gadis lain berpakaian serba 

merah yang saat itu memegang seutas cambuk. Gadis satu ini menutupi kepalanya 

dengan sehelai kain tipis hingga parasnya hanya kelihatan samar-samar. 

“Jadi namamu Larasati huh?!” Mulut di bali kain tipis berucap dengan nada 

ketus. Tiba-tiba dia angkat tangannya. Cambuk yang dipegangnya berkelebat. 

Terdengar suara keras menggidikkan ketika cambuk itu menghantam kedua kaki 

gadis yang duduk terikat di kursi. Si gadis menjerit kesakitan. Luka baru kelihatan 

mengoyak kakinya. 

Gadis yang melakukan cambukan tertawa mengekeh. “Sakit? 

Hik….hik…hik….! Kau menjerit?! Kau menangis?! Gadis cengeng! Sakit yang kau 

rasakan tidak ada artinya dibandin dengan sakit hati yang kualami selama ini!” 

“Persetan dengan sakit hatimu! Mengapa kau menculik dan memperlakukan

aku seperti ini?! Kau manusia biadab!” teriak gadis di kursi. 

“Diam!” Lalu cambuk itu menghantam kembali. Gadis di kursi kembali 

menjerit. Kedua kakinya luka lagi. Darah semakin banyak mengucur. 

“Namamu Larasati! Kau bakal benar-benar mengalami lara seumur hidup! 

Jangan harap kau bakal mendapatkan pemuda itu! Jika aku tidak bisa mendapatkan

Panji Argomanik, kau juga tidak bakal bisa memiliki pemuda bergelar Singa Gurun 

Bromo itu!” 

“Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau menutupi wajahmu dengan cadar?! Kau

perempuan iblis….!” 

Gadis yang memegang cambuk tertawa panjang. “Aku memang manusia iblis. 

Bahkan biasa lebih buas dari iblis! Sebentar lagi pekerjaanku akan selesai. Setelah 

wajahmu kurusak aku mau lihat apakah kekasihmu itu masih mencintaimu! 

Hik…hik…hik….!” 

“Manusia celaka! Apa yang hendak kau lakukan?!” 

“Sabar, jangan banyak tanya dulu. Nanti kau akan tahu sendiri!” lalu gadis 

yang kepalanya ditutup kain tipis memutar-mutar cambuknya. Dari mulutnya 

kemudian terdengar suara teriakan keras. Bersamaan dengan itu cambuk di tangan

kanannya menghantam ke arah wajah gadis di atas kursi. 

Larasati menjerit.Saat itu pula pintu pondok hancur berantakan diterjang orang dari luar. 

Seseorang bekelebat masuk dan melompat ke hadapan gadis bercadar. Sekali dia 

mengulurkan tangan, dia berhasil menangkap ujung cambuk yang hendak

menghantam wajah Larasati! 

Gadis yang memegang cambuk tampak terkejut. Dia segera menyentakkan 

cambuk agar terlepas dari pegangan Singa Gurun Bromo. Tapi pegangan sang

pendekar begitu kuat hingga sekalipun dia mengerahkan tenaga sekuatnya, cambuk

itu tak bisa lepas. Sebaliknya dengan sekuat tenaga pula Singa Gurun Bromo menarik 

cambuk hingga si gadis terbetot ke depan. Agar dirinya tidak tertarik lebih jauh gadis 

ini mau tak mau harus lepaskan cambuk yang dipegangnya. Lalu dia melompat ke 

dinding pondok, menajuhi Singa Gurun Bromo. 

“Siapa kau?!” bentak Singa Gurun Bromo dengna mata membelalang. 

“Mengapa kau menculik Larasati?!” 

Gadis bercadar tertawa tinggi. 

“Kau mana mau pernah mengenalku. Kau mana pernah mau mengingat-ingat 

diriku. Dia kekasihmu, ya? Hik….hik…..hik!” 

“Diam! Jawab pertanyaanku!” hardik Singa Gurun Bromo. Dia ingat pada 

Larasati. Cambuk yang dipegangnya dibantingkannya ke lantai lalu dia segera 

menghampiri Larasati, memeluk gadis itu sesaat. 

Selagi Panji Argomanik membuka ikatan Larasati, kesempatan ini 

dipergunakan oleh gadis bercadar untuk melarikan diri. Dia melompat ke pintu. Tapi 

di pintu saat itu sudah menghadang Pendekar 212. Di belakangnya berdiri Jayengsari. 

“Eh, kau mau pergi ke mana?” tegur Wiro. Tangan kanannya diulurkan untuk

menarik pinggang si gadis. Tapi tiba-tiba gadis bercadar ini keluarkan sebilah keris 

dan menusukkannya ke dada Wiro. Dari caranya menikam serta gerakan serangan

yang tidak mengeluarkan angin Wiro tahu kalau orang itu sama sekali tidak memiliki 

kepandaian silat, apalagi tenaga dalam. Karenanya dengan mudah Wiro dapat 

meringkusnya. Gadis ini berteriak-teriak berusaha melepaskan diri. 

“Wiro, lepaskan dia!” kata Panji Argomanik. “Aku akan menanyainya. Jika 

dia tidak mau membuka mulut akan kupatahkan batang lehernya!” Lalu pemuda itu 

melangkah ke hadapan si gadis bercadar yang saat itu bersurut dan baru berhenti 

begitu punggungnya tertahan dinding pondok. 

“Lekas katakan siapa dirimu! Mengapa kau menculik Larasati! Jawab! Buka 

cadarmu!” 

Gadis bercadar hanya menjawab dengan suara mendengus. 

Panji Argomanik mulai hilang sabarnya. Dia mengambil cambuk yang tadi 

dicampakkannya. 

“Tadi kau hendak merusak muka kekasihku! Sekarang biar wajahmu dulu 

yang akan kurusak!” 

Anehnya si gadis bercadar malah keluarkan suara tertawa nyaring dan panjang. 

“Kua hendak merusak mukaku?!” katanya menantang dan sambil maju 

selangkah. “Lakukanlah!” tiba-tiba gadis ini merenggutkan cadar yang menutupi 

kepalanya. 

Larasati yang berada di sudut pondok terpekik ngeri. Jayengsari keluarkan

seruan tertahan. Panji Argomanik sendiri tampak mengernyit bergidik. Sedang Wiro 

sipitkan kedua mata, memandang tak berkedip dengan kuduk terasa dingin. 

Wajah yang tadi tersembunyi di balik cadar itu kini tersingkap jelas 

mengerikan. Wajah itu bukan wajah seorang gadis tapi merupakan wajah yang sangat 

seram. Hidungnya gerumpung. Mata kirinya menyembul membeliak. Kening danpipinya penuh guratan luka yang dalam. Bibirnya sebelah atas robek sedang yang

sebelah bawah menggelantung hampir copot! 

“Mahluk bermuka setan! Siapa kau?!” teriak Panji Argomanik sambil mundur 

satu langkah. 

Orang itu keluarkan suara tertawa panjang. “Tentu saja kau tidak mengenali 

diriku Panji. Tidak ada satu orangpun yang mau mengenalku. Bahkan ayah dan 

ibukupun benci padaku! Aku adalah Suryaning, puteri dan anak tunggal Adipati 

Dirgo Sampean dari Lumajang!” 

Semua orang di dalam pondok itu tersentak kaget dan sekaligus juga 

diselimuti rasa ngeri melihat wajah seram yang tidak pernah mereka sangkakan 

sedikitpun. 

“Kalian ngeri? Takut atau jijik melihatku?!” Suryaning membuka mulut dan 

maju beberapa langkah hingga kini berada di tengah-tengah ruangan. Sebaliknya 

Larasati dan Panji serta Wiro dan Jayengsari justru bergeser ke sudut-sudut pondok. 

Puteri Adipati iu tertawa panjang. “Kalian, seperti juga semua orang tidak pernah 

menyangka wajah seorang puteri Adipati seperti wajahku yang kalian lihat saat ini! 

Nasibku memang malang! Ketika berusia delapan tahun ayah membawaku ke Hutan

Jatiroto, ikut berburu. Ketika berkemah, ayah dan para pengawal berlaku lengah. 

Tiba-tiba ada seekor harimau menyerbu kemah pada saat aku terbaring tidur keletihan. 

Binatang itu memang berhasil diusir tapi dia sempat mencakar wajahku hingga jadi 

rusak begini. Semua orang mengira aku kaan mati. Bahkan ayah dan ibuku berharap 

aku mati saja. Ternyata aku bertahan hidup. Tapi selama bertahun-tahun mereka 

menyembunyikan diriku. Mereka mengurungku di sebuah kamar. Hanya karena 

kabaikan para pengawal yang merasa iba terhadapku aku bisa menyelinap keluar pada 

malam hari. Setiap kesempatan ada kupergunakan untuk mendekati rumah

kediamanmu Panji. Ketika kau menjadi buronan dan menghilang selama enam tahun, 

aku seperti mau mati rasanya…..” 

Semua orang yang ada di tempat itu jadi terdiam mendengar penuturan 

Suryaning itu. 

“Dengar…..” kata Panji Argomanik dengan suara gemetar. “Siapapun kau 

adanya, mengapa kau menculik Larasati. Mengapa kau menganiaya dan hendak

merusak wajahnya? Karena kau iri? Karena parasnya cantik dan wajahmu seburuk

setan?!” 

Dari mulut Suryaning keluar suara menggembor. “Kau betul Panji! Aku

memang iri! Aku cemburu! Aku ingin kau adalah milikku sendiri! Aku tidak ingin dia 

merampasmu dari tanganku!” 

“Apa maksudmu…..?” tanya Panji heran. 

“Aku sudah lama mencintaimu Panji….. Tapi kau tak pernah membalasnya. 

Tidak secara nyata, juga tidak dalam mimpi!” 

Panji berpaling pada Larasati, lalu menoleh pada Wiro dan Jayengsari. “Gadis 

ini pasti tidak waras! Bertemupun sebelumnya aku tidak pernah…..” 

“Memang Panji, kita memang tidak pernah bertemu. Kau tak pernah

melihatku. Tapi aku sering melihatmu. Hampir setiap malam aku memimpikanmu. 

Tapi aku tahu diri. Keadaanku yang begini tidak memungkinkan aku bisa 

memperlihatkan rupa padamu. Apalagi mendapatkan cinta darimu! Karena itu aku 

bersumpah. Kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak seorang gadis lainpun boleh

memilikimu! Tidak juga gadis itu!” Suryaning menunjuk tepat-tepat ke arah Larasti 

yang membuat Larasati seperti terbang nyawanya. 

“Jadi karena itu kau menculiknya lalu hendak merusak tubuh dan wajahnya!” 

kata Panji pula.“Betul! Memang itu yang hendak kulakukan!” jawab Ssuryaning. “Tapi 

ketahuilah, aku bukan hanya tak mau gadis itu jadi milikmu, tapi juga tidak ingin 

melihat dia jadi istri muda ayahku!” 

Terkejutlah semua orang yang ada di situ. Semua mata ditujukan pada Larasati. 

Gadis ini sesaat menutupi wajahnya lalu terdengar suaranya di antara isakan. “Adipati 

Lumajang memang pernah melamarku pada Bibi Kanoman. Waktu itu aku baru 

berusia empat belas tahun. Kami menolak dengan halus. Kurasa hal itu telh berakhir 

sampai di situ saja…….” 

“Bagimu dan bagi bibimu mungkin begitu. Tapi bagi ayahku tidak. Dia sudah

tergila-gila padamu! Dia sudah bertekad apapun yang terjadi, jalan apapun akan

ditempuhnya untuk mendapatkanmu. Ketika Pangeran Sendoyo setahun kemudian 

meminta ayahku untuk melamarmu guna dijadikan istri puteranya yang bernama 

Tayub Jenggolo, ayahku melihat ada satu kesempatan untuk memanfaatkan keadaan. 

Bibimu menolak pinangan sang Pangeran. Pngeran Sendoyo tersinggung. Ayahku 

memperuncing keadaan dengan mengatakan bahwa sebenarnya pinangan itu ditolak

karena Larasati sudah mempunyai seorang kekasih bernama Panji Argomanik yang di 

Kuto Inggil dikenal dengna julukan Singa Gurun Bromo. Ayah lalu membujuk 

Pangeran agar melenyapkan Panji. Sekaligus dia akan mendapatkan keuntungan. Jika 

Panji mati, dia bisa mengulang maksudnya untuk mengawinimu…..” Sampai di situ

Suryaning menatap ke arah Larasati. Yang ditatap hanya bisa tundukkan kepala. 

“Apa yang kemudian dilakukan Adipati dan Pangeran Sendoyo?” tanya Panji. 

“Ayah mengumpan putera sang Pangeran yaitu Tayub Jenggolo yang dalam 

keadaan mabuk agar memancing keributan dengan Panji. Ayah sengaja membayar 

tiga orang pemuda kawan-kawan tayub berpura-pura mabuk lalu mencegat Pnaji di 

satu tempat. Begitu mereka berkelahi ketiga pemuda itu melarikan diri. Lalu sewaktu 

tayub tergeletak di tengah jalan, seorang penjahat yang dibayar ayahku menusuk

putera Pangeran itu sampai mati. Mayatnya ditinggalkan di tengah jalan….” 

Pelipis Panji Argomanik tampak bergeark-gerak. Rahangnya menggembung. 

“Tayub ditemukan dengan pisau milikku menancap di tubuhnya. Kau tahu bagaimana 

pisau itu berada di tangan Tayub yang kemudian dijadikan senjata pembunuhnya dan 

dijadikan bukti bahwa akulah yang telah menghabisi putera Pangeran itu?!” 

Suryaning berpaling pada Panji. Sambil menundukkan kepala gadis ini berkata. 

“Itu juga sebagian dari siasat ayahku agar kau bisa ditangkap dan digantung. Pisau itu

disuruhnya curi ketika kau tidak ada di rumah!” 

“Manusia keji!” rutuk Panji sambil kepalkan tinju. “Siapa yang melakukan 

pencurian itu? Kau tahu juda siapa yang sebenarnya membunuh Tayub Jenggolo?” 

“Orangnya sama…..” 

“Aku sudah dapat memastikan siapa orangnya!” memotong Jayengsari. “Pasti 

Daruka!” 

Suryaning menoleh pada puteri Warok Kelin itu lalu menganggukkan

kepalanya. 

“Kau tahu siapa yang membakar rumah dan membunuh Bibi Kanoman?” 

tanya Larasati. 

“Daruka juga. Adipati yang menyuruh dengan bayaran tinggi. Daruka 

kemudian membawa beberapa orang penjahat dari Barat. Maksud semula adalah 

untuk menculikmu. Ketika Daruka dan para penjahat itu tidak menemukan dirimu, 

mereka membakar ruamhmu dan membunuh Bibi Kanoman……. Kemudian Daruka 

juga….” 

Belum sempat Suryaning melanjutkan ucapannya tiba-tiba di luar pondok

terdengar suara orang membentak.“Anak tak tahu diri! Apa yang talah kau ceritakan pada manusia-manusia 

keparat itu!” 

Paras setan Suryaning tampak tercekat. “Ayahku…..” desisnya. 

Lalu di atas atap ada nyala terang. 

“Mereka membakar pondok!” teriak Jayengsari. 

Semua orang lari berserabutan ke arah pintu. Tapi Pendekar 212 cepat 

menghalangi. 

“Jangan lari lewat pintu depan! Ikuti aku!” teiak Wiro. 

Murid Eyang Sinto Gendeng melompat ke bagian belakang pondok. Dengan

pukulan sakti Kunyuk Melempar Buah dia menghantam dinding belakang pondok 

hingga hancur berantakan. Lewat dinding yang porak poranda itu semua orang lalu 

menghambur keluar pondok. 

Apa yang dilakukan Pendekar 212 Wiro Sableng memang sangat tepat. Jika 

seandainya mereka keluar lewat satu-satunya pintu maka tubuh mereka akan disambut 

oleh panah-panah beracun yang sudah disiapkan oleh Daruka dan delapan orang

kawan-kawannya


DUA BELAS 

WIRO SABLENG 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 

Kelima orang itu bersembunyi di balik semak belukar lebat. Dalam waktu singkat 

sebagian dari pondok kayu sudah musnah dimakan api. Beberapa orang penunggang 

kuda mengitari pondok yang terbakar. Mereka adalah penjahat-penjahat dari Barat 

yang dibawa serta oleh Daruka untuk membantunya. Saat itu mereka tidak lagi 

mengenakan kain penutup muka. Daruka sendiri kelihatan di sebereang sana bersama 

Adipati Dirgo dan beberapa orang anak buahnya serta sekelompok perajurit kadipaten. 

Dalam gelap mereka juga melihat dua orang di bawah sebatang pohon. Wiro

segera mengenali keduanya dan berbisik pada Panji. “Kunto Areng dan Jalak Toga 

ada di antaa mereka.” 

Seorang anak buah Daruka memberitahu bahwa di dalam pondok tidak 

kelihatan satu orangpun. 

“Mereka pasti bersembunyi di sekitar sini. Mereka tidak bisa lari. Kuda-kuda 

mereka sudah kita preteli…..” Yang bicara adalah Adipati Dirgo Sampean. “Pimpin 

anak buahmu melakukan pencarian! Ingat tak ada satu orangpun yang boleh lolos. 

Bunuh mereka semua. Termasuk anakku!” 

“Orang tua bangsat!” terdengar Suryaning memaki dalam gelap. Lalu dia 

bergerak. Wiro cepat memegang tangannya. 

“Kau mau kemana?” tanya Wiro. 

“Aku ingin membunuh ayahku dengan tanganku sendiri!” jawab Suryaning. 

“Betapapun kesalahan ayahmu, dia tetap orang tuamu. Jangan jadi anak 

durhaka. Ayahmu serahkan pada kami….” 

Suryaning jadi terdiam. Tapi dari kedua matanya yang cacad samar-samar 

tampak melelehkan air mata. 

Saat itu Daruka dan tiga orang anak buahnya lewat di depan mereka, 

memandang kian kemari. Terangnya nyala api yang membakar pondok kayu

memaksa Wiro dan empat orang lainnya itu menajuh dan mencari tempat terlindung 

yang lebih gelap. 

“Itu pasti Daruka…..” desis Singa Gurun Bromo. “Aku ingin mengorek

jantungnya saat ini juga!” 

“Tidak bisa! Dia bagianku! Dia harus menerima hukuman dari ayah. Saat ini 

aku yang mewakili ayahku Warok Keling!” kata Jayengsari. Kedua orang itu sama-

sama berdiri lalu sama-sama saling pandang. Sesaat wajah si gadis tampak merengut. 

Lalu sekali tubuhnya berkelebat dia sudah menghambur dari balik semak belukar. 

Daruka terkejut ketika melihat ada seseorang tiba-tiba berkelebat dari tempat 

gelap dan berusaha membetot tali kekang kuda. Dia lebih terkejut lagi ketika 

mengenali bahwa orang itu ternyata seroang gadis dan bukan lain adalah Jayengsari 

puteri pimpinannya. 

“Kau terkejut melihatku Daruka?!” seringai Jayengsari. 

Saat itu Singa Gurun Bromo sudah melompat pula ke depan Daruka. Melihat 

munculnya sang pendekar mau tak mau Daruka jadi bergeming juga nyalinya. Dia 

berteriak “Adipati! Mereka di sini!” Lalu pada tiga orang anak buahnya dia 

memerintahkan “Cincang orang berikat kepala merah ini! Aku ingin menyelesaikan

urusan lebih dulu dengan gadis ini!” 

Tiga orang lelaki berbadan tegap dengan bersenjatakan golok segear 

menggerakkan kuda masing-masing menyerbu Singa Gurun Bromo. Tiga golok 

menderu dalam gelapnya malamSinga Gurun Bromo yang sudah sampai di puncak amarahnya tidak tinggal 

diam. Jotosannya menghantam kepala kuda di sebelah kanan. Binatang ini meringkik

kesakitan dan melemparkan penunggangnya hingga jatuh terbanting ke tanah. 

Serangan golok yang datang dari sebelah kiri dapat dielakkannya. Begitu golok

mendesing di atas kepalanya Singa Gurun Bromo melompat ke depan. Kedua 

tangannya menyambar lengan anak buah Daruka yang ketiga. Orang ini terbetot ke 

depan. Saat itu juga Singa Gurun Bromo lipat tangannya hingga golok yang

dipegangnya menghujam menembus perutnya sendiri! 

“Jayengsari….. Bagaimana kau bisa berada di sini?!” tanya Daruka. 

“Kau tak layak bertanya! Kau tahu kau sudah membuat banyak kesalahan. 

Warok Keling menugaskanku untuk membawa kepalamu ke hadapannya!” 

“Kau anak yang baik. Tapi aku yakin kau bisa jadi kekasih atau istri yang

baik!” 

“Bangsat! Apa maksud mulut kotormu?!” hardik Jayengsari. 

“Dengar gadis cantik. Aku sudah lama diam-diam menyukaimu. Bagaimana 

kalau saat ini kau bergabung bersamaku. Kalau urusan sudah selesai kau ikut aku. 

Kita bisa hidup sebagai sepasang kekasih!” 

Paras Jayengsari kelihatan merah gelap. “Bagus! Kuterima usulmu! Aku

bersedia bergabung! Tapi terima dulu ini!” 

Sebagai anak Warok Keling, Jayengsari memang telah mendapat gemblengan

berbagai ilmu langsung oleh ayahnya sendiri. Dibanding dengan Daruka, 

kepandaiannya lebih tinggi dua tingkat. Karenanya sewaktu gadis ini melancarkan 

satu jotosan keras ke pinggangnya Daruka cepat mengelak selamatkan diri. Walaupun

saat itu dia memegang sebilah golok namun rasa sukanya terhadap Jayengsari 

membuat Daruka tidak tega untuk mengirimkan bacokan. Dengan tumit kirinya dia 

coba menendang bahu Jayengsari. Justru inilah kesalahan besar yang akan merenggut 

nyawanya. 

Sambil membungkuk Jayengsari berhasil menangkap pergelangan kaki 

Daruka lalu ditariknya kuat-kuat ke bawah hingga Daruka yang bertubuh tinggi besar 

itu jatuh dari punggung kudanya. Belum lagi dia sampai di tanah jotosan tangan kiri 

Jayengsari melabrak perutnya. Daruka mengeluarkan suara seperti mau muntah. 

Selagi dia tegak terhuyung-huyung sambil pegangi perutnya, dari samping kiri Singa 

Gurun Bromo yang baru saja menghajar tiga orang pengeroyoknya ayunkan tinju 

menghantam batok kepalanya. 

“Praaaak!” 

Batok kepala Daruka rengkah. Tubuhnya terhempas ke tanah, menggeliat 

beberapa kali lalu diam tak berkutik lagi. 

Beberapa orang berkuda menghambur datang ke tempat itu. di depan sekali 

adalah Adipati Lumajang Dirgo Sampean. Di belakangnya enam penunggang kuda, 

tiga di antaranya adalah anak buah Daruka, tiga lainnya perajurit kadipaten. Keenam 

orang ini merentang busur menarik panah beracun yang ditujukan tepat-tepat pada 

Jayengsari dan Singa Gurun Bromo. 

“Jika kalian ingin segera mampus silahkan bergerak. Anak-anak panah itu

beracun!” 

“Adipati keparat! Kau kira aku takut mati!” teriak Singa Gurun Bromo. 

Adipati Dirgo Sampean menyeringai. Dia berpaling pada Jayengsari lalu 

tersenyum lebar. “Bukan main! Puteri Warok Keling ternyata berkomplot dengan

manusia buronan ini! rejekiku besar sekali malam ini! mendapatkan buronan 

pembunuh putera Pangeran Sendoyo, sekaligus mendapatkan puteri raja diraja kepalarampok!” Adipati berpaling ke belakang. “Bunuh pemuda ini sekarang juga! Gadis ini 

tangkap hidup-hidup!” 

Tiga orang anak buah Daruka yang merentang busur serta merta menarik 

anak-anak panah lebih ke belakang dan siap melepaskan ke arah Singa Gurun Bromo. 

Pada saat itu, di tempat gelap di mana Wiro dan Suryaning bersembunyi 

kelihatan sinar terang. Dua gadis itu sama berpaling ke arah Wiro dan terheran-heran 

ketika melihat tangan kanan sang pendekar berubah putih menyilaukan. 

“Apa yang hendak kau lakukan….?” Bertanya Larasati. 

Sebagai jawaban Pendekar 212 Wiro Sableng hantamkan tangna kanannya ke 

arah tiga orang anak buah Daruka yang siap melepaskan panah-panah beracun. Saat 

itu juga terdengar suara menderu disertai berkiblatnya sinar terang menyilaukan. 

Hawa panas menghampar di tempat itu. kuda-kuda yang ada di tempat itu meringkik 

keras. Adipati Dirgo Sampean berteriak keras lalu melompat turun dari aas kudanya. 

Sinar panas menyilaukan tadi lewat di atasnya. Lalu terdengar jeritan tiga orang di 

belakangnya. Ketiganya mencelat ke udara sampai dua tombak. Begitu jatuh ke tanah

mereka sudah tak bernafas lagi. Mati dengan tubuh gosong! 

Tiga perajurit yang juda tengah mengancam Jayengsari dengan panah-panah

beracun dan tadinya bersiap-siap untuk meringkus gadis itu berlompatan dari kuda 

masing-masing begitu pukulan Sinar Matahari menyambar di udara. Mereka 

bergulingan di tanah. Panah dan busur lepas entah kemana. Ketiganya menyangka 

sudah selamat tapi selagi mencoba bangkit tendangan demi tendangan menghantam 

kepala, dada dan perut mereka. Ketiganya bergelimpangan malang melintang. Yang

kena tendang kepalanya menemui ajal saat itu juga. Yang kena hantaman di bagian

dada muntah darah dan siap untuk sekarat. Satunya lagi terkapar mengerang dengan

perut pecah! 

“Gadis Iblis! Tak dapat menggantung ayahmu, kau juga sudah cukup pantas!” 

Dua penunggang kuda muncul di tempat itu. merka adalah Kunto Areng dan yang

berteriak adalah Jalak Toga. Keduanya bukan lain adalah perwira-perwira kerajaan 

kaki tangan Adipati Dirgo Sampean. Mereka sama melompat turun dari kuda masing-

masing, lalu menyerbu Jayengsari dengna bersenjatakan golok. 

“Bagus! Aku kenal siapa kalian!” teriak Jayengsari. “Perwira-perwira culas 

macam kalian harus disingkirkan dari kerajaan!” dengan mengandalkan tangan

kosong puteri Warok Keling ini tanpa rasa jerih sama sekali menyongsong serangan 

kedua lawannya yang berkepandaian tinggi itu. 

Begitu jatuh di tanah dan berdiri, Adipati Dirgo Sampean langsung disergap

Singa Gurun Bromo. Keduanya sama-sama mengandalkan tangan kosong. Berarti 

sama-sama mengerahkan pukulan-pukulan sakti dan tenaga dalam. Dengan

kepandaiannya yang masih rendah enam tahun lalu Singa Gurun Bromo berhasil 

melarikan diri dari tempat sang Adipati menyekapnya. Kini setelah digembleng lagi 

selama enam tahun, tingkat kepandaian Singa Gurun Bromo tentu saja semakin tinggi 

dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Dirgo Sampean. Karenanya dalam waktu 

singkat Adipati itu segera terdesak hebat. Beberapa pukulan Singa Gurun Bromo

berhasil mendarat di tubuhnya. Satu mampir di pinggiran matanya sebelah kiri hingga 

robek dan mengucurkan darah. 

Dengna menggertakkan rahang menahan sakit Adipati Dirgo Sampean

kerahkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Asap hitam aneh tiba-tiba menggebubu 

dari telapaknya disertai hawa busuk bukan main. 

“Awas asap beracun!” satu teriakan perempuan keluar dari tempat gelap. Panji 

Argomanik cepat tutup jalan pernafasannya. Kalau saja bukan karena teriakan tadi 

mungkin sang Adipati akan meneruskan serangan asap beracunnya yang bisa

mencelakakan Singa Gurun Bromo. Namun dia terkejut sekali ketika mengenali suara 

yang berteriak tadi adalah suara puterinya sendiri. Disamping terkejut dia juga jadi 

sangat marah. Serta merta dia melompat ke balik semak belukar dari mana datangnya 

teriakan tadi. 

“Hemmmm, kalian berdua lengkap sudah berada di sini!” kata Adipati Dirgo

Sampean sambil memandang melotot pada puterinya dan Larasati. 

“Bertiga dengan aku!” kata Wiro seraya melompat bangkit dan kirimkan satu

jotosan ke arah perut sang Adipati. 

Karena masih mempelototi anaknya dan gadis yang digilainya itu ketika 

serangan datang Adipati Dirg seperti tak acuh hanya menepis dengan tangan kirinya. 

Tepi begitu lengan dengan lengan beradu, menjeritlah Adipati ini. Tulang lengannya 

serasa patah. Selagi dia kesakitan setengah mati seperti ini puterinya berseru “Ayah, 

sebaiknya kau menyerah saja! Itu lebih baik bagimu!” 

“Anak setan! Kau berkomplot dengan keparat-keparat ini……”

Tadinya masih ada sedikit rasa kasihan dalam diri Suryaning terhadap

ayahnya. Tetapi setelah dimaki begitu rupa gadis bermuka cacat dan seram ini jadi 

mendidih amarahnya. 

“Kau keparat! Kau yang berkomplot dengan para panjahat untuk mendapatkan

gadis itu dan membunuh Janar Gandewo! Membunuh Bibi Kanoman…..” 

“Anak sundal! Seharusnya dulu kubiarkan kau mati di rimba belantara itu!” 

Suryaning menjawab tak kalah sengitnya. “Kau menyesal punya anak

seburukku! Aku juga menyesal punya ayah sejahatmu!” 

Adipati Dirgo tak dapat lagi menahan amarahnya. Dia melompat ke hadapan 

puterinya itu sambil menghantamkan tangan kanannya ke muka Suryaning. Namun

jotosannya itu tidak sampai di sasaran karena saat itu Pendekar 212 telah lebih dulu 

menggebuknya dengan pukulan tangan kiri ke arah dadanya. Selagi Adipati ini 

melintir kesakitan Singa Gurun Bromo yang tadi hampir celaka oleh semburan asap

hitamnya melompat dari samping. Dengan kedua tangannya dia hendak mematahkan 

leher Adipati Dirgo. Begitu bernafsunya pendekar ini untuk dapat menghabisi musuh

besarnya saat itu juga, dia tidak lagi memperhatikan keadaan sekelilingnya. Saat itu 

jalak Toga dan Kunto Areng berhasil mendesak Jayengsari ke dekat sebuah pohon 

besar. Tanpa sengaja jalak Toga melihat Singa Gurun Bromo tengah berlari untuk 

menerkam Adipati Dirgo Sampean tanpa memperhatikan lagi keadaan sekeliling 

ataupun dirinya sendiri. Jalak toga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. golok di 

tangannya dilemparkannya ke arah Singa Gurun Bromo. 

“Panji awas!” terdengar suara orang berteriak. Orangnya bukan lain adalah

Suryaning puteri sang Adipati. 

Kesempatan bagi Singa Gurun Bromo untuk mengelak hampir tidak ada. Wiro 

sendiri terhalang oleh tubuh Adipati Dirgo. Dalam saat yang sangat menentukan itu, 

tanpa pikir panjang Suryaning melompat ke hadapan Singa Gurun Bromo, merangkul 

tubuh pemuda ini. Kejap itu pula golok yang dilemparkan Jalak Toga sampai. Senjata 

yang seharusnya menancap di pangkal leher Panji Argomanik itu kini menancap di 

punggung kiri Suryaning, terus tembus sampai ke jantungnya! Dari mulut gadis 

malang ini hanya keluar satu keluhan pendek. Nafasnya putus dalam keadaan masih 

memeluk pendekar yang diam-diam sangat dicintainya itu! 

Adipati Dirgo Sampean berteriak setinggi langit. Betapapun bencinya dia pada 

Suryaning, namun kematian anak darah dagingnya sendiri di depan mata begitu rupa 

sangat mengguncang dirinya. Dia meraung dan memegang tubuh anaknya yang

perlahan-lahan merosot jatuh dari tubuh Panji yang dirangkulnya.Dengan tubuh bergetar Adipati Dirgo perlahan-lahan membaringkan jenazah

anak tunggalnya itu di tanah. Sesaat dia seperti hendak menangis. Tetapi yang keluar 

dari mulutnya adalah satu raungan dahsyat. Kedua matanya tampak tiba-tiba berubah

merah. Dia memandang pada Panji Argomanik. 

“Bangsat!” kertaknya. Seperti seekor harimau tubuhnya melompat ke hadapan 

Panji. Singa Gurun Bromo menyongsong dengan menghantamkan kedua tangannya. 

“Buk! Bukk!” 

 Tinju kiri kanan Singa Gurun Bromo mendarat di dada sang Adipati. Tak

ampun lagi tubuhnya terjengkang jatuh. Dari mulutnya keluar darah segar. 

Seharusnya pukulan itu bisa membuatnya mati paling tidak pingsan. Namun dengan

segala tenaga yang ada Adipati Lumajang ini bangkit berdiri kembali dengan

terhuyung-huyung. 

Singa Gurun Bromo siap menghantamkan tinjunya sekali lagi, namun saat itu

tiba-tiba muncul dua orang penuggang kuda disertai sesrombongan pasukan dari 

Kotaraja. Orang di sebelah kiri berteriak keras. 

“Atas nama kerajaan hentikan perkelahian!” 

Singa Gurun Bromo batalkan serangannya. Adipati Dirgo tertegun lemas. 

Pendekar 212 Wiro Sableng yang hendak melabrak Jalak Toga juga hentikan

gerakannya. Hanya Kunto Areng yang sepertinya tidak mau perduli. Saat itu perwira 

ini tengah mendesak Jayengsari habis-habisan dan siap untuk mengirimkan satu

bacokan maut. Dia sama sekali tidak mau menghentikan serangannya. Sebaliknya 

Jayengsari hanya bisa tertegun diam seperti tidak menyadari kalau kematian

mengancam dirinya. Melihat hal ini Wiro dengan kecepatan luar biasa angkat tubuh

Jalak Toga lalu dilemparkannya ke arah Kunto Areng, tepat pada saat Kunto Areng

tengah membacokkan goloknya. Tak ampun lagi golok yang gseharusnya bersarang di 

kepala Jayengsari itu kini menghantam rusuk kiri Jalak Toga. Perwira tinggi ini 

menjerit setinggi langit. Tubuhnya terhempas ke tanah. Darah memebasahi 

pakaiannya. Tapi nyawanya masih tertolong karena hanya bagian luar tubuhnya saja 

yang terluka ditambah dua tulang iga terbabat putus! 

Kunto Areng yang seperti tak percaya dengan apa yang terjadi untuk sesaat 

lamanya tertegun terkesiap. Tubuhnya mendadak terasa lemas lalu akhirnya jatuh

terduduk di tanah. 

“Hentikan perkelahian!” terdengar suara teriakan seperti tadi sekali lagi. 

Semua mata dipalingkan. Dua penunggang kuda yag barusan muncul ternyata adalah

tokoh silat Istana yaitu Ki Bumi Wirasulo dan Mangku Sanggreng. Keduanya 

memandang berkeliling dan pandangan mereka terhenti ketika melihat Penekar 212. 

“Mangku, kunyuk gondrong itu ternyata ada di sini. Bagaimana pendapatmu?” 

“Isi surat Sri Baginda tidak menyebut-nyebut namanya. Lagi pula kita sudah

mengetahui dia bukan Singa Gurun Bromo yang sebenarnya,” jawab Mangku

Sanggreng. “Lekas kau bacakan saja surat Sri Baginda.” 

Ki Bumi Wirasulo lalu merentangkan gulungan surat yang dibawanya. 

Dengan suara keras dia membaca. “Atas nama kerajaan dan keadilan Sri Baginda 

memerintahkan untuk menangkap Adipati Lumajang Dirgo Sampean. Yang

bersangkutan terbukti menjadi perencana keji sehingga terbuhnya Tayub Jenggolo, 

putera Pangeran Sendoyo. Dua orang perwira kerajaan masing-masing Kunto Areng 

dan Jalak Toga juga dinyatakan ditangkap karena terbukti berkomplot membantu 

Adipati Lumajang. Kepada pemuda yang bernama Panji Argomanik dikenal dengan

gelaran Singa Gurun Bromo dinyatakan bebas dari segala tuduhan dan kesalahan. 

Tertanda Sri Baginda.Ki Bumi Wirasulo menggulung surat itu kembali. Jalak Toga yang ketika surat 

Sri Baginda dibacakan menguatkan diri untuk dapat bangun. Tapi begitu mendengar 

isi surat langsung rebah kembali dan pingsan. Adipati Dirgo Sampean tampaknya 

pasrah saja karena dia tidak bergeak sedikitpun dan hanya bisa memandang kuyu 

pada Panji argomanik yang berdiri di depannya. 

Lain halnya dengan Kunto Aeng. Begitu mendengar dirinya dinyatakan

ditangkap tiba-tiba dia melompat bangkit melarikan diri. Namun satu tangan tiba-tiba 

menahan jidatnya. Bagaimanapun dia berusaha mengumpulkan tenaga untuk 

melarikan diri, jidatnya tetap saja tertahan tangan itu. 

“Bangsat keparat! Makan pisauku!” teriak Kunto Areng marah lalu mencabut 

sebilah belati berkeluk dari pinggangnya. Senjata ini ditusakkannya sekuat tenaga ke 

perut orang yang sejak tadi memegang jidatnya. Namun tangan yang menahan

jidatnya itu tiba-tiba melesat ke atas lalu turun lagi mengemplang ubun-ubunnya! 

Kunto Areng mengeluh kesakitan. Kedua matanya mendelik jereng dan tubuhnya 

berputar-putar. Pendekar 212 yang tadi memukul kepala perwira itu pergunakan tumit 

kirinya untuk mendorong pinggul Kunto Areng. Orang ini roboh ke tanah, mukanya 

jatuh tepat di atas pantat salah seorang perajurit kadipaten! 

Panji Argomanik masih tertegak tak bergeak ketika Larasati berlari 

mendatanginya lalu memeluk tubuhnya dan menangis tersedu-sedu. 

“Hentikan tangismu Laras…. Semua sudah berakhir…..” bisik Panji. 

Wiro sendiri celingak celinguk mencari seseorang. Yang dicarinya adalah

jayengsari. Puteri Warok Keling itu tiba-tiba lenyap begitu saja. 

“Kau mencari aku, Wiro?” Satu suara menegur di belakangnya. Dia berpaling. 

Astaga, ternyata gadis itu bersembunyi di balik punggungnya! 

“Lihat mereka itu,” kata Wiro sambil menunjuk pada Panji dan Larasati. 

“Tidakkah kau ingin merangkul aku seperti itu….?” 

“Pemuda nakal bermulut usil! Tidak. Aku tidak akan mau memelukmu!” kata 

Jayengsari. 

Wiro tertawa lebar. “Maksudmu tidak, artinya tidak di sini kan? Kalau di 

tempat lain ya mau? Begitu?” 

Jeyangsari menjewer telinga kiri Pendekar 212. Lalu telinga itu ditariknya 

keras-keras hingga Wiro mau tak mau terpaksa melangkah mangikuti gerakan kaki si 

gadis. Sampai di tempat gelap jayengsari lepaskan jewerannya dan tiba-tiba saja dia 

memeluk pemud aitu dengan penuh nafsu sehingga murid Eyang Sinto Gendeng itu 

jadi kelagapan. 

“Aku membawa pesan khusus dari ayah,” bisik Jayengsari. “Beliau ingin

bicara denganmu. Apa soal aku tidak tahu. Yang jelas kita berangkat sekarang

juga…..” 

“Meninggalkan orang-orang itu begitu saja?!” ujar Wiro. 

“Tahanan kerajaan itu sudah ada yang mengurus. Panji dan Larasati bisa 

mengurus diri mereka berdua. Mereka pasti akan memeprhatikan jenazah Suryaning. 

Mengenai mayat-mayat lain yang bergelimpangan itu peduli setan! Kau ikut aku atau

harus kujewer lagi?!” 

Wiro tertawa lebar. Digelungkannya tangannya ke pinggang Jayengsari. 

Kedua insan itu kemudian lenyap ditelan kegelapan dan dinginnya malam. 


TAMAT


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive