"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Rabu, 26 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE IBLIS BERJANGGUT BIRU

Iblis Berjanggut Biru



Iblis Berjanggut Biru


DUA PEMUDA berpakaian kelabu dan 

sama menunggang kuda hitam, memacu 

kuda masing-masing menuju ke timur. 

Di belakang, di arah punggung mereka 

sang surya yang hampir tenggelam 

membersitkan sinar kuning merah. 

Ratusan kelelawar terbang berputar-

putar di arah selatan lalu lenyap di 

balik ketinggian pohon-pohon jati di 

puncak bukit kecil. 

Pemuda yang menunggang kuda di 

samping kiri bertubuh ramping semampai, memiliki kehalusan kulit seperti 

peremptlan. Kepalanya dibungkus dengan sehelai kain berwarna merah. Kawannya 

seiring berbadan tegap. Dadanya yang berbulu tersembul di balik bajunya yang tidak 

berkancing. 

Memasuki jalan yang agak mendaki di lereng bukit, kuda tunggangan pemuda 

berikat kepala merah tiba-tiba saja seperti ditarik oleh satu kekuatan dahsyat dari 

belakang hingga binatang ini berhenti berlari. Kalau saja penunggangnya tidak cekatan 

dan sigap merangkul leher kuda itu, niscaya dia akan terlempar. 

"Hai ....! Ada apa denganmu Wesi Ireng?!" Si pemuda menegur kuda tunggangannya 

lalu mengusap-usap leher binatang itu. 

"Kudamu berlaku aneh!" berkata pemuda bertubuh tegap. Namun dia sendiri 

menjadi kaget ketika mendadak kuda tunggangannya meringkik keras sambil 

mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ke udara. 

"Tenang! Tenang Panah Ireng!" Pemuda ini berusaha menenangkan kudanya yang 

bernama Panah Ireng. Dia memandang berkeliling. "Aneh, tak biasanya Panah Ireng

berlaku seperti ini . . . " 

"Wesi Ireng juga tak biasa-biasanya begini ..,." Baru saja pemuda itu berkata begitu, 

kudanya pun ikut-ikutan meringkik. Dia memandang berkeliling. "Aneh, tak ada 

binatang buas. Mengapa binatang-binatang ini seperti ketakutan?" 

Setelah diam sejenak, pemuda bertubuh tegap berkata, 

"'Sudahlah Ratih, tak perlu dirisaukan. Mari kite melanjutkan perjalanan. Tujuan 

masih jauh. Mungkin baru besok pagi kita sampai di Tegal Jenar..." 

"Betul mas Danu. Mari kita lanjutkan perjalanan . . . " kata pemuda yang dipanggil 

dengan nama Ratih, yang ternyata adalah seorang perempuan berpakaian seperti lelaki. 

Kedua orang itu menyentakkan tali kekang kuda masing-masing dan siap untuk 

meneruskan perjalanan. Tapi benar-benar aneh. Keempat kaki kuda itu seolah-olah 

seperti dipantek ke tanah. Lehernya mengulur-ulur ke depan seperti mengumpulkan 

tenaga berusaha untuk maju dan lari. Tapi tubuh dan kaki tak bisa digerakkan. 

"Hatiku jadi tak enak mas. Jangan-jangan⁄" 

Baru saja, Ratih berkata begitu di depan mereka, dari arah atas terdengar suara 

orang mendehem dua kali berturut-turut. Ratih dan Danupaya mendongak mengangkat 

kepala. Memandang ke depan. Di atas sebuah cabang pohon besar di tepi jalan di 

depan merekatampak duduk bersandar ke batang pohon seorang lelaki muda 

berpakaian biru. Meskipun muda tapi dia memiliki janggut lebat. Tidak seperti 

lazimnya janggut yang biasanya berwarna hitam atau memutih bila orangnya sudah tua, 

maka janggut pemuda ini berwarna biru! 

Pemuda berkening tinggi dengan rahang menonjol berjanggut biru itu memiliki 

sepasang mata sangat tajam, seperti hendak menembus setiap benda yang 

dipandangnya, tanpa berkesip memperhatikan dua penunggang kuda di bawah pohon. 

"Mas Danu ⁄" bisik Ratih, "mungkin orang di atas pohon itu yang membuat kuda-

kuda kita ketakutan dan tak berani bergerak maju ...?" 

"Mungkin," bisik Danupaya pula. "Tapi mungkin juga binatang ini bukannya 

ketakutan melainkan seperti ditenung hingga tidak bisa bergerak. Aku barusan 

meneliti. Binatang ini sama sekali tidak kena ditotok!" 

"Kau kenal orang di atas pohon itu?" bertanya Ratih. 

"Baru sekali ini aku melihatnya. Sikapnya dingin dan angkuh. Aku akanmenegurnya ...." 

"Biar aku yang menegurnya!" ujar Ratih yang sejak tadi sudah merasa jengkel 

melihat sikap orang berjanggut biru di atas pohon. Caranya duduk dan sikapnya 

mendehem tadi jelas orang itu telah melakukan sesuatu hingga kudanya dan kuda 

Danupaya tidak mampu bergerak maju. 

"Orang di atas pohon, apakan ada sesuatu yang membuatmu menghalangi 

perjalanan orang?!" Ratih berseru. Suaranya keras dan sama sekali terdengar tidak 

seperti suara perempuan. Jelas gadis ini menyusupkan tenaga dalam pada jalan 

suaranya. 

Pemuda berjanggut biru di atas pohon masih tetap memandang tak berkesip. 

Bibirnya tampak bergerak. Tapi bukan untuk menjawab pertanyaan orang melainkan 

meludah ke tanah! 

"Kurang ajar sekali dia. Ditanya malah meludah!" desis Danupaya. "Ki sanak, 

apakah kau tidak mendengar kawanku bertanya?! Atau kau memang tak mau 

menjawab?!" 

"Tuduhan busuk! Apakah kawanmu itu ada bukti bahwa aku menghalangi 

perjalanan kalian?!" 

Pemuda berjanggut biru di atas pohon keluarkan jawaban. Suaranya tandas tapi 

bernada tinggi menandakan satu kecongkakan. 

"Memang kami tidak punya bukti! Tapi mengapa binatang-binatang ini berlaku 

aneh dan tak mampu berjalan pada saat kau berada di atas pohon sana?!" 

Si pemuda berpakaian dan berjanggut biru tertawa bergelak. "Kalian bodoh! Tapi 

cukup cerdik...." 

"Jadi betul kau yang melakukan sesuatu terhadap kuda-kuda kami?!" tanya Ratih. 

"Perempuan memang paling bawel di dunia ini!" Pemuda di atas pohon berkata. 

Paras Ratih menjadi berubah. "Astaga .... dia mengenali diriku!" membatin sang 

dara. 

"Siapa kau sebenarnya?!" Ratih bertanya dengan membentak dan galak. 

"Kau tak layak bertanya!" balas menghardik orang yang dibentak. 

"Kalau begitu biarkan kami meneruskan perjalanan!" berkata Danupaya. 

"Silahkan kalau bisa ...." jawab si janggut biru.Danupaya menyentakkan tali kekang kudanya sementara Ratih menggebrak pinggul 

kudanya. Tapi kedua binatang itu tetap saja tidak dapat bergerak maju apalagi berlari! 

Dari atas pohon terdengar suara tertawa bergelak kembali. 

"Kau berani mempermainkan kami! Apakah hendak pamer ilmu atau hendak 

mencari silang sengketa?!" Ratih berteriak. 

"Maumu apa .... ?!" 

"Kurang ajar! Kau akan menyesal berani mempermainkanku. Turunlah biar kita 

bicara lebih blak-blakan!" 

Si janggut biru kembali tertawa. 

"Orang seperti kalian tidak layak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi 

denganku! Lagi pula aku lebih enak duduk di cabang pohon ini!" 

"Apa yang harus kita lakukan mas Danu?" berbisik Ratih. "Bagaimana kalau 

kulepaskan pukulan tangan kosong. Biar kuhancurkan cabang pohon yang didudukinya 

itu . . . . " 

"Sebaiknya jangan Ratih. Kita tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa. Tapi 

jelas orang itu memiliki kepandaian tinggi. Apa kau tidak menyadari, cabang pohon di 

mana dia duduk begitu kecil. Sebenarnya tidak mungkin dapat menahan berat 

tubuhnya. Biar aku yang bicara⁄. " Lalu Danupaya mendongak. "Ki sanak, kami adalah 

orang-orang yang mencari dan mengutamakan persahabatan. Kami yakin, kaupun 

demikian. Perjalanan kami masih jauh. Sebentar lagi malam akan tiba. Jika ada ucapan 

kami yang tidak enak di telingamu mohon dimaafkan. Kami hendak meneruskan 

perjalanan! Kami harap orang gagah di atas pohon memberi izin!" 

"Hemmmm ... Begitu?" Si janggut biru menyeringai. Mungkin sekali ucapan "orang 

gagah" tadi yang membuatnya senang. "Aku tidak menghalang apalagi melarang kalian 

meneruskan perjalanan. Tapi sebelum pergi aku perlu menitipkan pesan pada kalian!" 

"Dengan senang hati. Kalau kami boleh bertanya, pesan untuk siapa?" 

"Bukankan kalian murid-murid Ki Rana Wulung dari Bukit Sawojajar?" 

Ratih dan Danupaya tersentak kaget dan saling pandang. Hanya sedikit sekali 

orang-orang yang tahu bahwa mereka adalah murid-murid seorang kakek sakti dari 

Bukit Sawojajar, kakek bernama Ki Rana Wulung itu! Siapa sebenarnya si janggut biru 

ini?"Dan bukankah kalian keponakan-keponakan Tumenggung Puro Bekasan dari 

Keraton Surakarta? Bukankah pula kalian berdua saudara sepupu yang saling 

dijodohkan oleh orang tua kalian masing-masing .... ?" 

Bertambah kaget dan heran kedua pemuda itu mendengar ucapan pemuda 

berjanggut biru di atas pohon yang semuanya ternyata betul. 

"Siapakah Ki Sanak ini sebenarnya? Ki sanak banyak tahu tentang kami. Apakah 

orang dalam Keraton juga? Harap maaf kalau kami belum tahu siapa sebenarnya ki 

sanak." 

Si janggut biru menyeringai lagi. 

"Jangan tanyakan siapa diriku. Kalian tak layak bertanya. Sekarang dengar baik-

baik. Aku berpesan untuk gurumu Ki Rana Wulung. Katakan padanya, pada malam 

bulan purnama besok dia harus menyiapkan peta rahasia telaga emas yang selama ini 

dipegangnya sejak tiga puluh tahun lalu. Aku akan datang mengambilnya. Atau 

mungkin juga aku akan mengirimkan seorang utusan untuk mengambil peta itu. 

Pesankan benar-benar padanya agar menyerahkan peta itu dengan sukarela dan ikhlas. 

Kalau dia menolak dan tak mau memberikan, mungkin aku akan mengambilnya 

sekaligus berikut nyawanya!" 

"Jika kau berani membunuh guru, nyawamu tak akan bebas dari tanganku!" 

berteriak Ratih. 

Si janggut biru tertawa pendek. "Kau murid yang baik! Aku hanya memintamu 

menyampaikan pesan. Bukan untuk mencampuri urusan orang! Salah-salah 

nyawamupun tidak ada harganya nanti. Sayang kalau kau mati masih perawan. ha ... ha 

. . ha ... !" 

"Manusia kurang ajar! Rasakan⁄!" 

Ratih mengangkat tangan kanan siap melepaskan pukulan tangan kosong 

mengandung tenaga dalam. Tapi Danupaya cepat memegang tangannya menghalangi. 

"Mengapa kau halangi dia hendak memukul? Aku kepingin tahu kehebatan murid-

murid Ki Rana Wulung⁄" 

"Maafkan dia ki sanak. Kami tidak hendak mencari silang sengketa. Pesanmu akan 

kami sampaikan pada guru. Tapi kalau niatmu kau teruskan, mungkin di Bukit 

Sawojajar kita akan bertemu lagi dalam suasana tidak seakrab seperti saat ini!""Keakraban adalah basa-basi palsu. Di dunia ini yang berlaku adalah segala cerdik, 

segala akal, segala ilmu! Kalian boleh pergi sekarang!" 

Selesai berkata begitu si janggut biru lampaikan tangan kirinya ke bawah. Dua ekor 

kuda hitam yang masing-masing ditunggangi Rati dan Danupaya meringkik keras. 

Ketika disentak tali kekang mereka, keduanya segera melompat dan berlan 

meninggalkan tempat itu.



"BAGAIMANA kalau kita ikuti orang itu?!" berkata Ratih ketika dilihatnya orang di 

atas pohon melompat turun dan melesat ke arah pepohonan di lereng bukit. 

"Jangan! Jangan membuat urusan selagi kita dalam perjalanan penting ...." 

Danupaya cepat menghalangi. 

"Sikapnya kurang ajar sekali. Congkak dan menganggap enteng kita. Dan yang 

paling membuatku marah, dia membawa-bawa nama guru, bahkan mengancam akan 

membunuh beliau!" 

"Yang harus kita lakukan saat ini ialah cepat-cepat menuju Sawojajar. Jangan sampai 

keduluan orang itu. Kita harus memberitahu guru apa yang terjadi!" 

"Orang itu menyebut peta telaga emas. Apakah mas Danu pernah mendengar peta 

itu sebelumnya?" bertanya Ratih. 

Danupaya menggeleng. "Guru juga tak pernah menceritakannya. Malam ini kita tak 

usah berkemah atau beristirahat lama. Cukup untuk sekedar memberi istirahat pada 

kuda-kuda kita saja. Kita harus lebih cepat sampai di tempat guru ..." 

"Aku setuju," sahut Ratih. 

Tetapi malangnya, malam itu mendadak udara berubah buruk. Angin bertiup 

kencang dan dingin. Hujan turun dengan lebatnya. Sungai yang harus mereka seberangi 

banjir besar. Jembatan bambu, satu-satunya tempat penyeberangan terdekat, roboh 

dilanda air. Kedua orang ini, di bawah hujan lebat, terpaksa bergerak ke arah hilir 

untuk menemukan jembatan yang lain. Tapi jembatan kedua itu pun ternyata sudah 

lenyap dihanyutkan banjir. 

"Tak ada jalan lain. Kita harus menunggu sampai banjir reda. Lalu mencari sesuatu 

untuk dapat menyerang. Kalau tidak terpaksa membuat rakit besok pagi . . . . " 

"Hujan celaka . . . . " gerutu Ratih dengan suara bergetar karena tubuhnya yang 

basah kuyup sudah diselimuti rasa dingin. "Sedang ada urusan penting, ada saja 

halangannya!" 

Danupaya hanya bisa menarik napas mendengar ucapan adik seperguruannya itu,yang sekaligus adalah kekasih dan calon istrinya. Selesai bulan Syawal tahun depan 

mereka akan melangsungkan perkawinan. 

Ketika pagi datang, hujan sudah lama berhenti. Air sungai tidak sederas dan seganas 

malam tadi. Namun banjir belum surut. 

"Agaknya kita memang harus membuat rakit untuk menyeberang . . . " kata 

Danupaya. Saat itu mereka berada di tepi sungai yang agak landai. Pemuda ini 

keluarkan sebilah golok pendek dari buntalan perbekalannya. Memandang berkeliling 

Ratih tidak melihat pohon hambu di sekitar situ. Berarti harus memotong pepohonan 

lain yang lebih besar dan keras. Berarti memerlukan waktu lebih lama. 

"Setahuku sungai ini tidak terlalu dalam. Jika kita bisa menemukan bagian yang 

paling dangkal, kita tak perlu membuat rakit penyeberang. Cukup menyeberang dengan 

menunggang kuda . . . . " 

"Kurasa lebih bagus begitu. Kalau saja kita bisa menemukan bagian yang dangkal." 

Danupaya menyetujui. Keduanya lalu bergerak ke hulu. Di satu tempat mereka 

berhenti. Danu menunjuk ke tengah sungai. Di situ tampak ujung sepucuk ranting, 

bergoyang-goyang dipermainkan arus air. 

"Kita bisa menyeberang di sini. Pohon yang tidak diterjang banjir itu cukup 

memberi tanda bagian ini dangkal." Lalu Danu naik ke atas punggung Panah Ireng. 

Ratih mengikuti jejak si pemuda, naik pula ke atas Wesi Ireng dan bergerak ai belakang 

kekasihnya. Keduanya menuruni tepian sungai beriringan. 

Ternyata sungai di bagian situ memang tidak dalam. Air hanya mencapai bagian 

perut Wesi Ireng dan Panah Ireng. 

"Syukur kita menemukan tempat ini Danu. Lihat kudaku senang sekali berada 

dalam air. Dia bergerak cepat dan pasti menyusul kudamu!" berkata Ratih. Memang 

Wesi Ireng kelihatannya gembira berjalan dalam air seperti itu. Mungkin ini 

pengalamannya yang pertama kali. Binatang ini bergerak lebih cepat dari kawannya di 

sebelah depan hingga sebentar kemudian Panah Ireng dapat disusulnya. Danupaya 

merasa penasaran melihat kudanya yang bergerak lambat seperti terseok-seok. Dia 

menggebrak pinggul Panah Ireng. Tapi binatang ini tetap saja tak dapat bergerak lebih 

cepat. 

"Kau kalah mas Danu! Kau kalah ...." seru Ratih. Justru di saat itulah mendadaktubuh kudanya amblas ke bawah seperti terperosok ke dalam lubang yang dalam. 

Ternyata bagian sungai yang dilalui Wesi Ireng dasarnya tidak rata tapi mendadak 

menurun tajam seperti bibir sebuah jurang. Tak ampun lagi binatang itu terperosok 

jatuh, meringkik keras lalu tenggelam ke dalam air. Ratih sendiri ikut terjerumus. Di 

saat yang sama dari arah hulu satu gelombang air menderu keras secara tak terduga. 

Danupaya masih sempat mendengar suara jeritan kekasihnya berteriak minta tolong 

sebelum disapu air. Dia sendiri bersama Panah Ireng seperti dibanting ke kiri ketika 

kena terjangan air. Sebelum jatuh ke dalam air, Danupaya masih sempat melompat dan 

pergunakan punggung kudanya sebagai penjejak untuk kemudian melompat ke pinggir 

sungai. 

"Ratih . . . . !" teriak pemuda itu ketika gadis itu tak tampak lagi di permukaan air. 

Ratih memang tidak bisa berenang. Danupaya sendiri yang juga tidak bisa berenang 

lari menyusuri tepi sungai penuh kebingungan. Saat itu arus air semakin deras. Sesaat 

dia sempat melihat pakaian Ratih menyembul di permukaan air. Sadar kalau dirinya 

tidak bisa berenang, tapi didorong oleh rasa ingin menyelamatkan Ratih maka tanpa 

pikir panjang lagi pemuda itu melompat ke dalam air. 

Ternyata Danu hanya mampu mengapung beberapa saat saja. Di lain kejap 

tubuhnya terbenam ke dalam air. Kedua tangannya menggapai-gapai di udara. Dia coba 

memunculkan tubuh, tapi justru semakin tertarik ke bawah. Pemuda ini me-

ngumpulkan seluruh tenaganya. Namun tenaga itu seperti tersedot. Dia sama sekali 

tiada daya ketika arus air yang mendadak deras itu menyeretnya ke hilir sekaligus 

menggulungnya. 

Di saat yang sangat kritis itu di mana Ratih sudah terbenam lebih dahulu dan 

Danu menyusul tenggelam, sedang kedua kuda mereka yang juga ikut terjerumus di 

dalam dasar sungai yang terjal, hanyut ke hilir sambil meringkik-ringkik, dari seberang 

sungai tampak sesosok bayangan putih berkelebat langsung melompat ke dalam air, me-

mapasi arah hanyutnya Ratih dan Danupaya. Gerakan orang ini sebat sekali dan 

tampaknya dia juga sangat mahir berenang. Tidak mudah menolong orang tenggelam 

di air, apalagi arus sungai yang datang dari hulu menggila seperti itu. Namun dengan 

cepat si penolong dapat mencekal lengan Ratih, menarik tubuh gadis itu ke atas lalu 

dengan gerakan cepat membetotnya ke samping. Tubuh Ratih mencelat ke udara,melayang ke arah tepi sungai. Saat itu kain merah penutup kepalanya telah tanggal 

hingga rambutnya yang panjang tergerai lepas. 

"Astaga! Perempuan rupanya!" seru si penolong, namun suaranya tercekik ketika air 

sungai memasuki mulutnya. Dia menyembur dengan ceoat. Tiba-tiba tubuhnya 

terpelanting dihantam sebuah benda. Ketika diperhatikan ternyata benda itu adalah 

sosok tubuh pemuda berpakaian kelabu. 

"Untung! Aku tidak perlu susah payah mencarinya!" Si penolong cepat menjambak 

pinggang celana Danupaya dan membawanya berenang ke tepi sungai dengan susah 

payah karena arus air menyeretnya ke hilir. 

Dua sosok tubuh itu dibaringkan di tepi sungai. Danupaya pingsan tak berkutik 

sementara Ratih setengah siuman. Si penolong menggoyang-goyangkan kepalanya 

untuk membuang air yang membasahi rambut. Sambil mengusap mukanya beberapa 

kali dia memperhatikan sosok tubuh si gadis. 

"Hemm . . . cantik juga," katanya dalam hati. Lalu orang ini menolong Danupaya. 

Sesaat ketika pemuda ini mulai siuman, si penolong berdiri. 

"Sayang ada urusan yang lebih penting. Menyesal tak dapat berkenalan dengan 

sepasang muda-mudi ini!" lalu tidak menunggu lebih lama si penolong tinggalkan 

tempat itu menuju ke selatan.



BUKIT SAWOJAJAR terletak setengah hari perjalanan kaki dari Tegal Jenar. Di puncak 

bukit yang berada di antara kaki-kaki pegunungan itu udara terasa sangat sejuk dan 

segar sepanjang siang. Bila malam tiba dinginnya udara bukan alang kepalang. 

Sebuah bangunan kayu terletak di antara kerapatan pepohonan. Bangunan ini 

hanya mempunyai sebuah kamar, selebihnya merupakan serambi terbuka di sebelah 

depannya. 

Seorang lelaki tua berpakaian dan berikat kepala putih tampak duduk di atas 

sehelai tikar yang terbentang di serambi bangunan. Di atas pangkuannya terkembang 

kitab suci Al Qur'an. Nyatalah orang tua ini tengah mengaji meskipun suaranya tiada 

terdengar saking halus dan perlahannya dia membaca ayat-ayat suci itu. 

Menjelang tengah hari, ketika seorang pemuda yang berlari kencang dari arah timur 

bukit sampai di hadapan bangunan, kakek ini masih saja asyik mengaji. Melihat orang 

yang hendak ditemuinya dalam keadaan seperti itu, orang yang datang jadi serba salah. 

Dia merasa tidak enak kalau harus menegur hingga si kakek berhenti dari mengajinya. 

Tetapi kalau tidak segera menegur dan menyampaikan maksud kedatangannya, dia 

kawatir keterlambatan itu akan mendatangkan bencana. Sesaat orang yang datang ini 

hanya tertegak bingung sambil garuk-garuk kepalanya yang berambut gondrong. Baik 

rambut maupun pakaiannya tampak basah dan kotor. 

Setelah menunggu beberapa lama si kakek masih saja terus asyik membaca Qur'an, 

tamu muda ini jadi tak sabaran. Dia sengaja berdehem beberapa kali. Dia merasa 

mustahil kalau orang tua itu tidak melihat kedatangannya sekalipun dengan sudut 

mata. Kini setelah berdehem, masakan dia masih tidak mengetahui kedatangannya, 

begitu si pemuda membatin. Tapi nyatanya kakek itu masih saja terus melanjutkan 

mengaji. Tidak mempan dengan deheman, pemuda yang datang duduk di ujung kanan 

serambi dan mulai batuk-batuk dengan suara keras. 

Suara yang mengaji berhenti sirap. Orang tua itu menutup kitab suci di 

pangkuannya lalu meletakkannya di atas sebuah bantal di samping kirinya. Perlahan

lahan dia mengangkat kepala, memandang ke ujung serambi. 

"Banyak cara untuk bertemu. Mengganggu orang yang sedang membaca Kitab 

Tuhan adalah suatu dosa besar ⁄." Terdengar orang tua itu berkata. 

Pemuda berambut gondrong melengak kaget. Sesaat dia tak bisa berkata atau 

berbuat apa-apa selain menggaruk-garuk kepalanya. 

"Anak muda kurang ajar, siapa kau yang berani mengganggu orang sedang mengaji?" 

"Ah⁄ Aku⁄ Apakah aku berhadapan dengan orang pandai bernama Ki Rana 

Wulung?" pemuda dengan pakaian basah kuyup, itu bertanya sambir menjura tanda 

menghormat. 

"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu sebelum kau menjawab pertanyaanku 

tadi!" Si orang tua bicara tegas dan tandas. 

"Aku Wiro Sableng. Aku datang membawa sepucuk surat penting dari guruku .... 

Hanya saja suratnya saat ini berada dalam keadaan basah. Aku kehujanan di tengah 

jalan ...." 

"Siapa dirimu tidak penting bagiku. Soal surat yang basah itu juga perduli amat⁄" 

"Heh!" si rambut gondrong Wiro Sableng leletkan lidah. Selama tahunan malang 

melintang dalam dunia persilatan dan menyandang nama besar, kata-kata si kakek tadi 

dirasakannya seperti sangat meremehkannya. Dia telah datang jauh-jauh dari puncak 

Gunung Gede, menempuh perjalanan yang lama dan sulit. Kini begitu sampaih di 

tujuan, orang yang hendak ditemuinya justru tidak memandang sebelah mata! Maka dia 

pun membuka mulut bertanya. 

"Lalu apa yang penting bagimu, apa yang membuatmu jadi perduli?!" 

"Siapa gurumu ⁄.?" 

"Hemmm⁄" Wiro Sableng bergumam dalam hati. "Kini giliranku membalas!" maka 

dia pun menjawab. "Jika itu yang penting bagimu, maka aku pun berkepentingan untuk 

mengetahui siapa dirimu lebih dulu. Nama guruku satu nama yang keramat bagiku. 

Tidak akan kuobral begitu saja. Jika kau tidak mau mengatakan apakah kau Ki Rana 

Wulung atau bukan, jangan harap aku akan menyerahkan surat yang kubawa! Biar 

orang lain saja nanti yang ganti datang menemuimu!" 

Selesai dengari ucapannya itu Wiro Sableng turun dari serambi bangunan dan 

melangkahkan kaki untuk pergi. Diam-diam dia melirik untuk melihat bagaimanareaksi orang tua itu. Sebaliknya, diperlakukan seperti itu si kakek keluarkan suara ter-

tawa mengekeh. 

"Contoh jeleknya adat pemuda zaman sekarang!" berkata si kakek. "Sudah datang 

tidak memberi salam, kini malah meradang menunjukkan sikap congkak. Silahkan 

pergi. Aku merasa senang jika tidak menerima kiriman surat apa-apa. Malah kau nanti 

yang pasti akan dilabrak gurumu karena tidak menyerahkan surat titipannya!" 

"Heh?!" untuk kedua kalinya Wiro Sableng jadi melengak. "Orang tua ini ternyata 

pandai bicara dan pandai membaca situasi! Akan kucoba lagi dia biar tahu rasa!" 

"Guruku bukan manusia yang tidak tahu akal budi dan perasaan. Jika kukatakan 

padanya orang yang hendak kutemui bersikap masa bodoh, bukan aku yang akan 

dilabrak tapi mungkin kau sendiri yang bakal diguyur dengan caci maki! Nah, aku 

pergi sekarang!" 

Kalau tadi dia cuma melangkah maka kini Wiro Sableng melompat. Hampir saja dia 

lenyap di balik kerapatan pepohonan di puncak bukit itu, tiba-tiba didengarnya suara 

orang tua itu memanggil. 

"Anak muda! Kembalilah! Gurumu tentu mengajarkan bagaimana bersilat lidah! 

Tapi jangan mengira aku mau mengalah lebih dulu! Kalau namamu adalah Wiro 

Sableng, kau pasti muridnya nenek bawel bernama Sinto Gendeng dari Gunung Gede!" 

"Dan kau pastilah Ki Rana Wulung!" ujar Wiro seraya berbalik. 

Orang tua itu hanya menjawab dengan tertawa lebar. 

"Gurumu tentu banyak memberikan berbagai ilmu kepandaian padamu. Tapi 

agaknya dia lupa bagaimana memberi salam jika menemui seseorang, apalagi seorang 

tua berusia hampir empat kali usiamu!" 

"Kau betul kek, guruku memang mengajarkan seribu satu ilmu kepandaian. Soal 

mengucapkan salam atau tidak itu adalah kesalahanku. Harap jangan membawa-bawa 

nama guru!" 

"Ho ... ho ... ho ...! Anak Sableng! Aku mengaku kalah berdebat denganmu! 

Sekarang lekas kau serahkan surat yang dititipkan gurumu! Kau tak usah ragu-ragu. 

Aku memang adalah Ki Rana Wulung, sahabat gurumu sejak empat puluh tahun yang 

lalu!" 

Wiro Sableng menatap wajah orang tua itu beberapa ketika. Dia percaya si kakektidak berdusta dan bahwa dia memang adalah Ki Rana Wulung orang yang dicarinya. 

Maka Wiro selinapkan tangan kanannya ke balik pakaian. Sepucuk surat yang berada 

dalam keadaan basah dikeluarkannya lalu diletakkannya di atas tikar di hadapan si 

kakek. 

"Kertasnya basah tapi tulisannya tidak luntur karena ditulis dengan cairan 

khusus..."menjelaskan Wiro. 

"Kau sudah menyerahkan suratnya. Kau sudah bertemu denganku. Sekarang kau 

boleh pergi⁄" 

Wiro menjadi penasaran mendengar kata-kata orang tua itu. Maka cepat-cepat dia 

menjawab, "Aku memang tidak suka berada lama-lama di tempat ini. Napasku terasa 

pengap. Tapi aku harus menunggu sampai kau membaca surat itu lalu menyerahkan 

apa yang diminta guruku. Harap kau suka membaca surat itu. Lebih cepat kau baca, 

lebih cepat aku meninggalkan tempat ini⁄" 

Paras Ki Rana Wulung tampak merah mendengar kata-kata Wiro Sableng itu. Dalam 

hatinya orang tua ini merutuk panjang pendek. Seorang pendekar yang menyandang 

nama besar seperti murid Sinto Gendeng ini ternyata memiliki sifat pongah dan 

kurang ajar. Kalau saja Ki Rana Wulung mau menyadari, sikap yang ditunjukkan oleh 

Pendekar 212 adalah akibat sikapnya sendiri yang tidak ramah dalam menyambut 

kedatangan, sang pendekar. 

Dengan menekan rasa jengkelnya Ki Rana Wulung mengambil surat yang diletakkan 

di atas tikar. Membukanya dengan hati-hati karena kawatir surat yang basah itu akan 

robek. Lalu membaca isinya. 

Sahabatku Ki Rana Wulung, 

Dua kali aku bermimpi badai ganas melanda negeri. Kulihat kau mengayuh perahu seorang 

diri. Perahu oleng tenggelam sudahlah pasti tak ada jalan menyelamatkan diri kecuali muatan 

yang ada dikeluarkan dan kau serahkan pada muridku yang membawa surat ini. Jangan 

bersikap, ragu atau kawatir. Muatan berusia lebih dari 30 tahun itu tidak akan kuambil walau 

kita pernah berjanji. Jika badai sudah berhenti 

Muatan akan kukembalikan adalah pasti. 

Sinto Weni (Sinto Gendeng)Selesai membaca surat Ki Rana Wulung sesaat duduk merenung. Surat dilipatnya 

kembali dan diletakkan, di atas pangkuan. 

"Orang tua, kulihat kau sudah membaca surat dari guruku. Sesuai pesan beliau kau 

akan menitipkan sesuatu padaku. Bisakah aku segera menerima sesuatu itu darimu 

sokarang agar aku lekas pergi." 

Kata-kata Wiro itu membuat Ki Rana Wulung angkat kepalanya, sesaat dia menatap 

paras Wiro lekat-lekat lalu membuka mulut. 

"Ada beberapa hal yang perlu kukatakan padamu, anak muda. Pertama apa yang 

dipesankan gurumu tidak akan kuberikan padamu. Aku merasa cukup sanggup menjaga 

barang itu. Kedua aku merasa ragu apakah kau benar-benar murid Sinto Gendeng dari 

Gunung Gede. Masa sekarang ini segala macam tipu daya dapat terjadi ...." 

"Orang tua, kau membaca surat itu. Kau pasti tahu itu gurukug yang menulis ...." 

menyergah Wiro. 

Ki Rana Wulung mengangguk. "Surat ini mungkin tidak palsu. Memang benar 

sahabatku Sinto Gendeng yang menulisnya. Tapi bagaimana surat ini bisa sampai ke 

tanganmu dan siapa engkau sebenarnya itu adalah cerita lain!" 

"Kau mencurigaiku?!" 

"Untuk selamat, curiga itu perlu. Karena itu aku akan mengujimu. Untuk 

membuktikan bahwa kau benar-benar murid Sinto Gendeng." 

Saking kesalnya, sebenarnya saat itu Wiro bermaksud mengeluarkan Kapak Maut 

Naga Geni 212 untuk membuktikan diri sebagai murid Eyang Sinto Gendeng dari 

Gunung Gede. Tapi sebelum hal itu sempat dilakukannya, Ki Rana Wulung tiba-tiba 

keluarkan membentak keras. Tubuhnya yang duduk melesat dan tangan kanannya 

memukul. 

Bukk!



PENDEKAR 2121 Wiro Sableng terpental hampir dua tombak. Dada kanannya yang 

dihantam jotosan tak terduga-duga dari Ki Rana Wulung mendenyut sakit. Sesaat 

kepalanya mendenyut dan pemandangannya berbinar-binar. Paling tidak si kakek telah 

mempergunakan hampir sepertiga dari tenaga dalamnya ketika melancarkan pukulan 

tadi. 

Wiro merasakan mulutnya asin dan panas. Ketika dia meludah ternyata ludahnya 

bercampur darah. Pemuda ini terluka di dalam! 

Ki Rana Wulung memandang tak berkesip. Kini dia yakin kalau pemuda berambut 

gondrong, bicara dan bersikap seenaknya itu adalah benarhenar murid Sinto Gendeng 

dari Gunung Gede. 

Orang lain pasti sudah meregang nyawa, paling tidak pingsan dan luka parah 

dihantam tinjunya tadi ! 

Sambil menahan sakit dan mengerahkan tenaga dalam ke bagian yang kena dipukul, 

Pendekar 212 perlahan-lahan berdiri. Karena pakaiannya basah, ketika jatuh tadi 

pakaian itu jadi bertambah kotor oleh bercakan tanah liat. 

"Terima kasih atas jotosanmu tadi!" Wiro buka mulut. "Banyak cara untuk mencari 

tahu siapa sebenarnya seseorang. Bukan dengan menunjukkan kehebatan dan 

mencelakakan orang seperti yang kau lakukan. Sifatmu bukan saja buruk, ternyata 

tanganmu pun ringan amat!" 

Ki Rana Wulung tersenyum. 

"Sekarang hal ketiga yang hendak kutanyakan padamu . . . " 

"Persetan dengan hal ketiga atau ke empat!" membentak Wiro Sableng. "Sebelum 

aku angkat kaki dari sini⁄" 

"Hai, apakah kau tidak ingin kembali ke Gunung Gede membawa kabar bagi 

gurumu? Mendengar jawaban dari surat Sinto Gendeng ⁄?" 

"Persetan dengan segala macam surat. Aku telah datang menyerahkan surat itu 

secara baik-baik! Terlalu baik sehingga aku kauanggap sebagai anjing kotor untukdigebuk seenaknya! Sebelum aku angkat kaki dari° sini, budi baikmu memukulku perlu 

kubalas dengan sebaik-baiknya!" 

Habis berkata begitu Pendekar 212 Wiro Sableng kerahkan tenaga dalamnya ke 

tangan kanan, lalu memukul ke arah enam bush kayu besar yang menjadi tiang 

bangunan kayu kediaman Ki Rana Wulung. 

"Hai! Apa yang hendak kau lakukan?!" seru si kakek. 

Baru saja seruannya itu lenyap gumpalan angin laksana batu besar bergulung-gulung 

melabrak enam tiang kayu itu. 

"Pukulan kunyuk melempar buah!" seru Ki Rana Wulung ketika dia melihat 

pukulan yang dilepaskan si pemuda. Cepat kakek ini melompat ke luar bangunan. 

Ketika kakinya baru sempat menginjak tanah, di depanny, disaksikannya enam tiang 

kayu penyangga rumahnya bukan saja patah tapi hancur berantakan! Bangunan kayu 

itu sendiri kini jatuh ke tanah, terperosok sedalam setengah jengkal dan miring di 

depan sebelah kiri! 

"Manusia kurang ajar!" Ki Rana Wulung. "Kau rusakkan rumahku!" 

Di saat itulah dua sosok bayangan berkelebat. Disertai seruan. 

"Guru! Siapa yang berani kurang ajar padamu?!" 

Disusul oleh bentakan kedua. 

"Guru! Siapa yang telah merusakkan rumahmu! Akan kuhancurkan seluruh 

tubuhnya!" 

Ketika Wiro dan Ki Rana Wulung berpaling ke samping, mereka dapati yang 

barusan datang adalah sepasang muda mudi berpakaian kelabu dalam keadaan basah 

kuyup. 

"Muridku! Kalian datang di waktu yang tepat!'" seru Ki Rana Wulung. 

"Beristirahatlah sebentar. Biar aku yang memberi pelajaran pada budak kurang ajar 

ini!" 

"Tidak guru! Biar aku yang memberinya pelajaran!" menyahut pemuda yang baru 

datang dan bukan lain adalah Danupaya. Sementara itu Ratih setelah tadi membentak 

kini agak tertegun. Dia coba mengingat-ingat. Sepertinya dia pernah melihat wajah 

pemuda berambut gondrong itu. Sebaliknya Wiro sendiri juga menatap polos pada sang 

dara. Melihat kekasihnya saling pandang dengan pemuda yang telah berlaku kurang

ajar terhadap gurunya bahkan telah merusak bangunan kayu kediaman sang guru, 

panaslah darah Danupaya oleh rasa amarah bercampur cemburu. Sekali lompat saja dia 

sudah berada di hadapan Wiro dan langsung hantamkan tinju kanannya. Pendekar kita 

menangkis dengan menyilangkan lengan kiri. 

Bukk! 

Dua tangan saling beradu. 

Wiro terjajar satu langkah. Danupaya jatuh duduk sambil pegangi lengan dan 

meringis kesakitan. 

Kalau Ki Rana Wulung segera menyadari bahwa pemuda anak murid Sinto Gendeng 

itu bukan lawan muridnya yang bernama Danupaya, maka sebaliknya Danupaya sendiri 

jadi semakin berkobar amarahnya. Dia merasa dipermalukan karena dibuat jatuh 

duduk begitu rupa dalam satu gebrakan saja. Kalau tadi dia hanya mempergunakan ta-

ngan kosong untuk menyerang Wiro maka kini di dalam hatinya berkobar niat untuk 

membunuh. Dengan cepat pemuda ini keluarkan golok pendek dari balik pakaiannya 

Selain mendapat pelajaran ilmu silat tangan kosong dan berbagai pukulan sakti dari 

gurunya, Danupaya juga diberi pelaran ilmu golok tingkat tinggi yang dianggap langka 

pada masa itu. Tidak mengherankan kalau keponakan Tumenggung Puro Bekasan ini 

sudah diincar Baginda di Kotaraja untuk memegang sebuah jabatan penting dalam 

jajaran pasukan istana. 

"Saudara⁄ Kau bermaksud membunuhku atau hanya sekedar main-main ....?" Wiro 

menegur dan tetap berdiri tenang tapi penuh waspada. Sinar yang memancar dari kedua 

mata Danupaya sebenarnya sudah cukup menjadi jawaban bagi Pendekar 212 Wiro 

Sableng bahwa pemuda di hadapannya itu memang hendak mencincangnya! 

"Apakah manusia yang berani menghina dan merusak rumah guruku layak 

dibiarkan hidup. . . ?!" menghardik Danupaya. 

Wiro menyeringai lalu keluarkan suara siulan. 

"Guru dan murid sama saja tingkahnya! Sombong congkak, tak punya pikiran 

jernih, singkat akal!" 

"Keluarkan semua kata-katamu sebelum kukeluarkan isi perutmu!" tukas Danupaya. 

Melihat muridnya sungguhan begitu rupa, Ki Rana Wulung cepat berteriak. 

"Danu! Simpan senjatamu! Biarkan dia meninggalkan tempat ini!"Namun saat itu Danupaya sudah menyergap ke depan. Sekali tangannya bergerak 

goloknya berkiblat membuat tiga serangan kilat. Pertama menusuk ke arah dadz,. lalu 

membabat ke perut dan ke tiga memapas ke arah leher. 

Ratih tahu betul. Paling tidak salah satu dari serangan ganas itu pasti akan 

mengenai sasarannya. 

Di saat yang sama, setelah berpikir-pikir dan mengingat-ingat beberapa ketika baru 

dia menyadari. Pemuda berambut gondrong yang berada dalam ancaman golok kakak 

seperguruan dan sekaligus kekasihnya itu bukan lain adalah orang yang pagi tadi 

menyelamatkannya dari bahaya maut tenggelam dalam sungai. Berarti pemuda itu juga 

yang telah menolong Danupaya. 

Maka dengan cepat Ratih berteriak. 

"Mas Danu! Hentikan seranganmu! Dia adalah orang yang menyelamatkan kita tadi 

pagi di sungai!" 

Danupaya tersentak kaget. Ki Rana Wulung juga tertegun tercekat. Justru saat itu 

golok telah memapas ke leher Pendekar 212 Wiro Sableng. Tak mungkin dia menarik 

pulang serangannya! Ki Rana Wulung menahan napas. Ratih keluarkan seruan tertahan 

sambil pejamkan mata. Tak berani menyaksikan apa yang bakal terjadi sebentar lagi. 

Yakni putusnya leher pemuda berambut gondrong itu! 

Tetapi yang diserang sendiri tetap tenang. 

Sesaat golok akan memis;jhkan badan dan kepalanya, murid Sinto Gendeng dari 

Gunung Gede itu tundukkan kepala. Tangan kanan berkelebat ke depan. Dua jari 

tangan menusuk lurus ke dada Danupaya. 

"Hek ...!" 

Murid Ki Rana Wulung itu mengeluarkan suara seperti tercekik. Di saat itu pula 

tubuhnya menjadi kaku tegang, tak bisa bergerak lagi. Dia tegak seperti patung 

sementara tangannya yang masih memegang golok menggantung di udara! 

Sambil usap-usap rambut gondrongnya Wiro melangkah meninggalkan tempat itu. 

Ketika melewati Ratih dia melempar senyum seraya berkata, "Terima kasih kau 

mengawatirkan keselamatanku!" 

"A . . aku⁄." Ratih hendak menjawab. Maksudnya hendak mengatakan bahwa se-

harusnya dialah yang berterima kasih karena pagi tadi Wiro telah menyelamatkannyadari bahaya kematian di sungai yang sedang banjir. 

Ki Rana Wulung cepat mendekati Danupaya dan melepaskan totokan yang 

membuat kaku muridnya itu. Begitu dirinya bebas Danupaya bertanya. "Guru, siapa 

pemuda tadi .... ?" 

"Namanya Wiro Sableng. Dia⁄ Ah, sudahlah. Tak perlu dibicarakan lagi. Dia sudah 

pergi. Aku senang kau dan Ratih datang kemari ⁄" 

"Saya merasa malu tidak dapat membela nama baik guru terhadap kekurangajaran 

pemuda itu!" 

"Kau tak usah malu Danupaya. Dia memang bukan tandinganmu. Juga bukan 

tandinganku⁄" menjawab Ki Rana Wulung. 

Tentu saja hal itu membuat Danupaya dan Ratih terkejut. 

"Maksudmu guru?" tanya Danupaya. 

Sang guru menarik napas dalam. "Maksudku di iuar langit masih ada langit lagi. 

Ilmu yang kita miliki acap kali masih berada di bawah ilmu orang lain. Dan semua 

ilmu manusia di dunia ini hanya secuil kecil dibandingkan dengan ilmu dan kekuasaan 

Tuhan . . . " 

Ratih dan Danupaya terdiam. Danupaya melirik pada kekasihnya lalu berkata. "Tadi 

kau bilang pemuda itu yang menyelamatkan kita waktu tenggelam di sungai yang 

banjir. ....?" 

"Betul .... Sebelum dia pergi aku masih sempat melihat wajahnya. Aku tak cepat 

mengenalinya tadi. Karena waktu itu aku masih setengah sadar⁄" 

"Kalau begitu bukan mustahil kau salah lihat Ratih. Belum tentu pemuda itu yang 

telah menolong kita⁄" 

"Aku yakin memang dia orangnya. Tapi sudahlah, apa perlunya diperdebatkan⁄" 

Ki Rana Wulung membawa kedua muridnya ke dalam rumah dan duduk di serarnbi 

terbuka yang kini berada dalam keadaan agak miring. 

"Guru . . . . " kata Danupaya membuka pembicaraan kembali. "Mau tak mau saya 

masih ingin membicarakan pemuda tadi. Saya kawatir dia adalah orang yang 

dikirimkan seorang pemuda berjanggut biru. Yang mempunyai maksud jahat terhadap 

guru." 

"Pemuda berjanggut biru? Siapa dia ...? Apa maksudmu, DanuMaka Danupaya lalu menceritakan pertemuannya dengan seorang lelaki aneh dalam 

perjalanan. Tidak lupa dia mengatakan pesan orang itu yang menyangkut peta rahasia 

telaga emas. 

Terkejutlah Hana Wulung ketika mendengar muridnya itu menyebut peta tersebut. 

Dia tidak dapat menyembunyikan perubahan air mukanya. 

"Ada apa guru. Kelihatannya guru tidak suka saya membawa berita ini ....?" 

Orang tua itu geleng-gelengkan kepala. 

"Jadi apakah benar peta rahasia telaga emas itu memang ada .... ?" bertanya Ratih. 

"Aku tidak akan menjawab ya atau tidak ..." sahut sang guru yang membuat bingung 

kedua muridnya. "Pemuda bernama Wiro Sableng itu justru jauh-jauh dikirimkan 

gurunya untuk meminta peta itu. Kau baca sendiri surat ini, Danu . . . " 

Lalu Ki Rana Wulung menyerahkan surat basah yang tadi dibawa oleh Wiro 

Sableng. 

"Saya tidak membaca peta itu disebut-sebut dalam surat ini . . . . " berkata 

Danupaya begitu selesai membaca surat yanq dikirimkan Eyang Sinto Gendeng alias 

Sinto Mini dari puncak Gunung Gede. 

"Tentu saja tidak, muridku. Benda itu adalah benda rahasia. Mengandung harga 

yang tidak ternilai. Lebih besar dari nilai kekayaan yang dimiliki Keraton Surokerto 

ditambah Keraton Jogjakarta⁄." 

Danupaya jadi leletkan lidah sedang Ratih ternganga. 

"Kata muatan dalam surat itu merupakan sandi rahasia dari peta telaga emas itu⁄." 

menjelaskan Ki Rana Wulung dengan suara perlahan sekali seolah-olah dia tak ingin 

ada orang lain mendengarnya. 

"Lalu apa maksud kalimat yang berbunyi badai ganas melanda negeri . . . . ?" 

bertanya Ratih. 

Ki Rana Wulung diam sejenak, baru menjawab. "Seolah-olah nenek sakti itu melihat 

ada bahaya yang mengancam diriku. Karena itu dia meminta agar menyerahkan peta 

rahasia pada muridnya, akan disimpannya sampai keadaan aman kembali. Hanya 

sayang, aku, malah kita semua sempat bentrokan dengan muridnya itu!" Ki Rana 

Wulung seperti menyesali diri. 

"Lalu apakah guru juga mengetahui siapa adanya pemuda berjanggut biru yang kami

temui di perjalanan?" 

"Sulit kuterka, Danu. Hanya sedikit saja orang yang tahu tentang peta telaga emas 

itu. Dan boleh dikatakan tak ada yang tahu di mana beradanya selain aku dan Sinto 

Gendeng. Bahkan murjdnya tadi itu pun sebenarnya tidak tahu harus mengambil benda 

apa dariku⁄' 

"Lelaki berjanggut biru itu, guru⁄" berkata Danupaya. "Dia berpesan agar guru 

menyerahkan peta rahasia telaga emas itu padanya nanti malam tatkala bulan purnama. 

Kalau dia tidak datang, maka dia akan mengutus seseorang .... Karena itu saya 

berprasangka apa bukan pemuda itu tadi yang bertindak selaku utusan si janggut! 

biru?!" 

Kembali Ki Rana Wulung menarik napas dalam. 

"Semua kejadian ini serba tak terduga. Dan berbau keanehan!" desisnya. 

"Guru, maafkan saya. Jika peta itu memang ada di tangan guru, demi keselamatan 

guru, lebih baik kita tinggalkan tempat ini. Kita bersama-sama ke Kotaraja 

"Tidak muridku. Siapa adanya si janggut biru itu aku ingin sekali mengetahuinya. 

Aku akan tetap berada di rumah ini sampai malam nanti..." 

"Tapi itu terlalu berbahaya guru!" ujar Ratih. 

"Hidup lebih dari tujuh puluh tahun. Berbagai bahaya sudah kuhadang. Mengapa 

bahaya sekali ini harus kutakuti dan kuhindari dengan melarikan diri ke Kotaraja?!" 

"Maksud kami bukan melarikan diri, guru. Tapi menghindar adalah lebih baik dari 

pada sengaja menyongsong bahaya!" kata Ratih pula. 

"Jika kalian murid-muridku takut menghadapi bahaya, tinggalkan tempat ini. 

Kembali saja ke Kotaraja!" 

Mendengar kata-kata gurunya itu maka Ratih dan Danupaya serta merta menjawab 

berbarengan. 

"Kami bersedia mati bersama guru di tempat ini!" 

Ki Rana Wulung tersenyum. 

"Bagus begitu . . . " katanya. "Bersiaplah. Malam sekali ini akan datang lebih cepat


BULAN PURNAMA empat belas hari, terang dan bulat. Sinarnya menyapu bukit 

Sawojajar. Rumah kayu kediaman Ki Rana Wulung yang kini tidak berkolong itu lagi 

tampak sepi. Ada nyala pelita di dalam kamar tapi tak seorang pun tampak. Juga tak 

ada suara apa-apa selain suara jengkerik di kejauhan atau gemerisik kadal liar yang 

meluncur di kaki-kaki semak belukar. 

Makin larut malam makin pudar sinar rembulan. Sesekali awan hitam melewati dan 

menutupinya. Lapat-lapat di kaki bukit terdengar suara lolongan srigala hutan. Angin 

mulai bertiup kencang dan hawa dingin mulai merayapi puncak bukit Sawojajar itu. 

Kesunyian mencengkam menimbulkan suasana aneh kalau tidak mau dikatakan 

menyembunyikan sesuatu rahasia. 

Tepat ketika awan hitam menutupi rembulan untuk kesekian kalinya, dari samping 

kiri bangunan kayu tiba-tibamenyeruak sesosok tubuh berpakaian biru gelap. Wajahnya 

tidak terlihat jelas karena tertutup oleh bayangan bangunan kayu. Ketika dia 

melangkah lebih dekat ke arah serambi, kini wajahnya tampak jelas. Wajah seorang 

pemuda berdagu kukuh dengan rahang-rahang menggembung. Pemuda ini ternyata 

memelihara janggut berwarna biru. 

Di atas pohon berdaun rimbun yang gelap karena tak tertembus sinar rembulan, 

tiga sosok tubuh mendekam tak bergerak. Yang seorang berbisik sangat pelan, seperti 

suara nyamuk mendengung saja. 

"Anggukan kepalamu jika itu orangnya yang kau ceritakan siang tadi." 

Orang disamping si penanya menganggukkan kepalanya. Baru saja dia mengangguk, 

si janggut biru di bawah sana terdengar berseru sambil berkacak pinggang. 

"Ki Rana Wulung! Aku datang untuk mengambil pesanan⁄" 

Sunyi. Sepi. 

Tak ada jawaban. 

Si janggut biru memandang lekat-lekat ke arah bangunan seolah-olah hendak 

menembus dinding kayu di mana membersit nyala pelita di antara celah-celah papandinding. 

Sambil mengusap janggutnya dia menyeringai. Lalu mulutnya berseru kembali. 

"Aku tahu kau tak ada di dalam sana! Aku juga tahu kalau kau berada di sakitar 

sini! Jika tak ada yang ditakutkan kenapa bersembunyi?!" 

Wuut! 

Si janggut biru melompat mundur satu langkah. 

Sebilah golok pendek yang tadi menderu ganas hampir memancung tanggorokannya 

tampak menancap di dinding bangunan. 

Paras si janggut biru mengelam. Sepasang matanya seperti menyorotkan nyala api. 

Tapi anehnya manusia ini justru perdengarkan suara tertawa bergelak. Tawanya 

kemudian ditutup dengan bentakan lantang. 

"Sungguh tidak tahu peradatan! Begini caranya orang persilatan menyambut 

kedatangan tamu! Huh!" 

Si janggut biru pegang hulu golok yang menancap di dinding dengan tangan kiri. 

Sekali sentak saja golok itu lepas. Pergelangan tangan kirinya bergerak aneh dan tahu-

tahu golok itu melesat mendesing ke arah pohon besar di depan rumah kayu! 

Di lain kejap terdengar suara keluhan! 

Tiga sosok tubuh kemudian tampak melayang turun dari atas pohon besar tadi! 

Pemuda berpakaian biru menyapu wajah tiga orang itu dengan pandangan mata tak 

berkesip. Mereka bukan lain adalah Ki Rana Wulung. Lalu Danupaya dan Ratih. 

Denupaya tampak memegangi bahu kirinya yang terluka akibat sambaran mata golok 

yang tadi dilemparkan si janggut biru. Masih untung tadi waktu di atas pohon dia 

berlaku waspada hingga ketika golok berdesing dia sudah mengambil ancang-ancang 

untuk mengelak. Nasibnya masih baik karena golok yang seharusnya menembus 

dadanya berkat gerakannya yang cepat hanya menyayat bahu kirinya. 

"Apakah kalian sudah menyampaikan pesanku pada guru kalian ...?" Si janggut biru 

ajukan pertanyaan. Pandangan matanya ditujukan ganti berganti ke arah Danupaya dan 

Ratih. 

"Pesan memang sudah kuterima!" yang menjawab Ki Rana Wulung sendiri. "Tetapi 

karena pesan itu tak tahu juntrungannya maka aku tidak menanggapi!" 

Si janggut biru tertawa bergelak. "Orang tua, kau pandai bicara. Tapi kau hendaksembunyi di balik sehelai lalang!" 

"Siapa kau sebenarnya?!" 

"Siapa aku kau tak layak bertanya orang tua! Tugasmu saat ini adalah cepat 

menyerahkan peta rahasia telaga emas! Serahkan secara suka rela hingga aku tidak perlu 

menurunkan tangan jahat!" 

"Peta rahasia telaga emas! Eh, benda atau binatang apa itu?!" bertanya Ki Rana 

Wulung dengan mengejek. 

"Jangan bermain sandiwara padaku, Rana Wulung! Aku tak punya banyak waktu 

bicara dengan tua bangka sepertimu. Lekas serahkan peta itu!" si janggut biru 

tarnpaknya mulai hilang kesabaran. Kedua kakinya dlrenggangkan dan tangan kirinya 

diletakkan di pinggang. 

"Aku tidak tahu menahu dengan segala macam peta! Mengapa kau memintanya 

padaku?!" 

"Karena aku tahu memang kau memilikinya. Peta itu ada di tanganmu sejak tiga 

puluh tahun lalu! Sesuai dengan bunyi surat yang pagi tadi kau terima dari seorang 

pemuda gondrong! Bukan begitu . . . . ?!" 

Tersirap darah Ki Ranah Wulung. Ratlh dan Danupaya menahan kejut. Ketiganya 

sama membatin. Bagaimana pemuda berjanggut biru ini tahu tentang surat yang dibawa 

oleh Wiro Sableng? Jawabnya satu di antara dua. Mungkin sekali sejak pagi tadi dia 

sudah mendekam di tempat itu untuk memata-matai segala apa yang terjadi. Yang 

kedua, mungkin dia ada sangkut pautnya dengan Wiro Sableng. Begitu ketiga orang 

tadi menduga-duga. 

"Lekas kau serahkan pudaku, Rana Wulung!" Si janggut biru ulurkan torr,i,rn. 

"Setelah itu aku akan pergi secara baik-baik⁄" 

"Kau salah alamat orang muda! Aku tidak tahu soal peta. Dan aku tidak 

memilikinya. Mungkin si penulis surat itu yang memilikinya. Kenapa kau tidak ke 

Gunung Gede saja menemui Sinto Gendeng? Kurasa nenek sakti itu yang memilikinya." 

Si janggut biru tersenyunr. Sepasang matanya kembali terlihat seperti menyinarkan 

nyala api. 

"Kau memberi keterangan dusta Rana Wulung!" ujar si janggut biru seraya usap-

usap telapak tanngannya satu sama lain. "Agaknya kau tidak sayang pada nyawa sendiri.Karena kalau kau tak mau memberikan peta itu, aku akan mengambilnya sekaligus 

bersama nyawamu!" 

Ki Rana Wulung rangkapkan kedua tangan di depan dada. 

"Aku sudah terlalu tua untuk hidup lebih lama di dunia ini. Liang lahat sudah lama 

menunggu. Tapi siapa manusia yang ingin mati berpangku tangan .... ?!" 

"Bagus! Kalau begitu kau memang sudah saatnya mampus!" 

Si janggut biru mundur selangkah. Dia menggerakkan tangan kanannya ke atas lalu 

menarik ke bawah perlahan-lahan kemudian dihantamkan lagi ke depan sambil lima 

jari yang tadi membentuk tinju dibuka! 

Semula Ki Rana Wulung mengira dirinyalah yang akan menjadi sasaran serangan 

aneh tersebut. Tapi dia tertipu. Di samping kirinya terdengar jeritan Danupaya! Sang 

murid tampak menggelepar-gelepar sembari pegangi perut. Saat itu Danupaya 

merasakan seolah-olah isi perutnya dibetot ke luar dan kepalanya seolah-olah 

dikemplang dengan pentungan besi! Darah tampak mengucur dari hidung, mulut dan 

telinganya. Pemuda ini kembali menjerit. Menjerit dan menjerit lalu roboh terguling ke 

tanah. Ratih memekik dan jatuhkan diri memeluk kekasihnya itu. Tapi Danupaya telah 

menjadi mayat! 

"Manusia biadab! Terima kematianmu!" teriak Rana Wulung.



TERNYATA yang menyerbu si janggut biru bukan hanya Ki Rang Wulung. Tetapi juga 

Ratih. Gadis ini seperti kemasukan setan, sembari menjerit tiada henti dia menyerang 

dengan pukulan-pukulan maut mengandung tenaga dalam tinggi. Sang guru sendiri 

menghantam dengan pukulan-pukulan sakti yang jauh lebih ganas. Tetapi hebatnya, 

semua serangan yang mematikan itu dielakkan si janggut biru dengan sikap congkak 

meskipun dada pakaiannya sampat terenggut robek oleh kuku panjang Ki Rana 

Wulung. 

"Manusia-manusia tolol!" teriak si janggut biru. "Apa kematian pemuda itu tidak 

membuat kalian sadar! Kau tua bangka goblok! Masih tidak mau menyerahkan barang 

yang kuminta!" 

"Anjing kurap! Kau inginkan nyawaku! Ambillah sendiri! Kalau tidak nyawa 

anjingmu yang akan kubetot dari tubuhmu!" balas berteriak Rana Wulung. 

"Kau musti mampus di tanganku musti mampus!" terdengar pula teriakan Ratih. Di 

tangan kanannya kini dia mernegang sebilah golok. Sekali golok diputar, suaranya 

berdcsing dan senjata itu seperti berubah jadi tujuh buah banyaknya! Karena Rana 

Wulung keluarkan ilmu silatnya yang paling andal maka datam dun jurus saja guru 

dan murid itu telah mengurung rapat pemuda berjanggut biru. Tetapi hanya dua jurus 

itulah batas kemampuan Rana Wulung Dan Ratih berbuat. 

Didahului satu bentakan buas, si janggut biru berkelebat di antara dua penyerang. 

Ketika Ratih dan Rana Wulung berbalik untuk mengejar sembari menggempur, 

ternyata lawan sudah membalikkan diri lebih dahulu seraya kirimkan satu jotosan dan 

satu sapuan kaki! 

Ratih terpekik ketika dia merasakan kaki kanannya sakit bukan kepalang dan tanah 

yang dipijaknya seperti amblas. Tubuhnya yang ramping terbanting ke tanah. Dengan 

mengandalkan kegesitan dan keringanan tubuh gadis ini masih sanggup jungkir balik, 

lalu sebelum kakinya menginjak tanah, tangan kanannya dengan satu gerakan kilat 

menusukkan golok ke perut lawan.Si janggut biru yang tidak mengira sang dara sanggup melancarkan serangan seperti 

itu, kalau tidak lekas mengelak hampir saja perutnya tertembus golok. Kemarahan 

membuat dia melipatgandakan pukulan yang ditujukan pada Ki Rana Wulung. Dan 

kakek ini menerima nasib malang. Tubuhnya terpental ketika jotosan si janggut biru 

dengan telak menghantam dedenya. Rana Wulung merasakan tulang dadanya seperti 

melesak ke dalam. Napasnya langsung sesak. Rasa sakit yang amat sangat membuat 

kepalanya seperti pecah. Orang tua ini jatuh terduduk di tanah sambil muntahkan 

darah segar. Menyadari bahaya yang mengancam dirinya, Rana Wulung rebahkan 

tubuhnya ke tanah lalu berguling menjauhi si janggut biru. Sewaktu dia berhenti 

berguling di akar pohon besar, memandang ke depan dilihatnya Ratih sudah terbujur 

di tanah dalam keadaan tak berdaya. Satu totokan telah melumpuhkan sekujur 

tubuhgadis ini, bahkan jalan suaranya pun tidak bekerja lagi! 

"Tua bangka tolol! Kalau saja kau mau menyerahkan peta itu dari tadi, tak akan kau 

kehilangan murid lelaki itu. Tak akan muridmu yang perempuan ini mendapat cidera. 

Dan nyawamu sendiri tak akan tertolong! Apalagi jika kau masih saja bertindak tolol 

tidak mau menyerahkan peta telaga emas itu!" 

"Kau boleh membunuhku! Dan kau tetap tak akan mendapatkan apa-apa dariku 

manusia biadab!" menjawab Rana Wulung. 

"Kita akan lihat, tua bangka tolol!" sahut si janggut biru. 

Selesai berkata begitu si janggut biru gerakkan kedua tangannya untuk membuka 

pakaian birunya. Ternyata di balik pakaian biru itu dia mengenakan pakaian hitam 

gelap dengan gambar puncak gunung berlatar belakang matahari berwarna merah 

disertai tiga larik sinar masing-masing berwarna kuning, merah dan hitarn. 

Melihat gambar pada dalam pakaian si janggut biru itu pucatlah paras Ki Rana 

Wulung. 

"Jadi .... jadi kau⁄. kau!" 

Si janggut biru menyeringai. 

"Kau ini mengenaliku Rana Wulung .... " 

"Pangeran Matahari!" Tenggorokan orang tua itu seperti tercekik ketika menyebut 

nama itu. 

"Ha. .. ha ... Tidak salah Rana Wulung! Aku memang Pangeran Matahari. Pangerandari segala° Pangeran di dunia ini! Datuk dari segala Datuk! Pendekar dari segala licik, 

segala akal, segala ilmu, segala cerdik dan segala congkak!" 

Si janggut biru yang ternyata adalah Pangeran Matahari, satu nama yang telah 

menjadi momok dalam dunia persilatan di masa itu melangkah mendekati Rana 

Wulung. 

"Kau masih belum mau menyerahkan peta itu?" 

"Aku sudah siap mati!" kata si orang tua seraya pejamkan mata. Sejak dua tahun 

terakhir ini dia sudah mendengar dan tahu banyak tentang malapetaka yang melanda 

dunia persilatan akibat munculnya seorang pemuda berkepandaian silat tinggi dan 

mempergunakan kehebatannya dengan segala kecongkakan untuk melakukan berbagai 

macam kejahatan. Mulai dari membunuh tokoh-tokoh persilatan sampai pada 

merampok dan menculik. Dia tidak pernah menduga kalau malam itu justru manusia 

ganas inilah yang muncul di puncak Sawojajar untuk merampas jiwanya. Dia tidak 

takut mati. Tapi bagaimana dengan keselamatan murid perempuannya?! Hal ini 

membuat Ki Rana Wulung membukakan kedua matanya yang tadi dipejamkan. 

Puluhan tahun dia memiliki ilmu silat, belajar dan belajar, berlatih dan berlatih. 

Malam ini semuanya itu tidak berarti apa-apa di hadapan pemuda terkutuk yang 

menyebut dirinya sebagai Pangeran Matahari itu! 

"Ha . ... ha ... Kau membuka matamu kembali Rana Wulung! Rupanya kau belum 

rela mati!" 

Tiba-tiba, dalam keadaan terluka di dalam cukup parah, seperti mendapat suatu 

kekuatan baru Ki Rana Wulung melompat. Dari mulutnya bersemburan darah segar. 

Tapi ia tak perduli. Didahului jeritan keras orang tua ini lepaskan pukulan dari jarak 

dua langkah ke arah kepala Pangeran Matahari. Satu gelombang angin yang 

mengeluarkan deru dahsyat menyambar menebar hawa panas! 

Wuss! 

"Ilmu picisan mainan anak-anak!" ejek Pangeran Matahari. Tapi dia cepat 

menyingkir karena diam-diam sebenarnya dia merasa terkejut juga melihat kehebatan 

lawan, yang dalam keadaan terancam jiwanya akibat luka dalam, masih mampu 

melepaskan pukuian hebat disertai aliran tenaga dalam tinggi. 

"Tua bangka edan! Kau bukan saja tolol tetapi juga edan!" teriak PangeranMatahari. Angin pukuian lawan sesaat masih sempat menyapu tubuhnya hingga dia 

tergontai-gontai. Dalam keadaan seperti itu Rana Wulung dilihatnya kembali 

menyerbu. Mukanya tampak angker karena penuh berselemotan darahnya sendiri. 

Kali ini Pangeran Matahari tidak memberi kesempatan lagi. Belum sampai serangan 

Rana Wulung, dia sudah menyongsong dengan pukulan tangan kanan. 

Dua lengan beradu tak terelakkan. 

Kraak! 

Ki Rana Wulung terpental. Untuk kedua kalinya kakek ini terbanting ke tanah. 

Keadaannya kini lebih parah lagi karena lengan kanannya patah akibat beradu denqan 

tangan lawan tadi! 

"Bagaimana . . .? Masih belum mau menyerahkan peta itu?" bertanya Pangeran 

Matahari sambil dua tangan bertolak pinggang. 

"Terkutuk! Mampuslah kau manusia terkutuk!" 

Pangeran Matahari meludah ke tanah. Sekali tendang saja dia dapat menghancurkan 

kepala orang tua itu. Tetapi mungkin dia akan mengalami kesulitan menemukan peta 

rahasia itu. Pasti Rana Wulung menyembunyikannya di satu tempat yang sulit 

diketahui. 

"Kau akan melihat keterkutukanku Rana Wulung! Kau akan melihat! Kau tidak 

takut mati! Bagus! Tapi apakah kau tidak takut menyaksikan apa yang bakal kulakukan 

terhadap murid perempuanmu ini?!" 

Pangeran Matahari berbalik, lalu melangkah ke tempat di mana Ratih terbujur di 

tanah dalam keadaan tegang karena ditotok. Pemuda berjanggut biru itu membungkuk. 

Lalu! 

Dada pakaian kelabu yang dikenakan Ratih robek besar di beberapa bagian. 

Auratnya terbuka putih membusung. 

"Ha . . . ha! Kau akan melihat keterkutukanku! Kau akan melihat!" 

Pangeran Matahari kembali membungkuk dan ulurkan tangannya untuk menarik 

pakaian sebelah bawah Ratih. 

"Ya Tuhan! Laknat terkutuk!" teriak Ki Rana Wulung. "Apa yang hendak kau 

lakukan! Kau boleh bunuh aku! Tapi jangan sentuh gadis itu!" 

Pangeran Matahari hanya tertawa mendengar ucapan Rana Wulung itu. "Yang akankulakukan bukan hanya menyentuhnya, lebih dari itu Rana Wulung! Dan kau boleh 

menyaksikan! Buka matamu lebar-lebar!" 

Ki Rana Wulung coba merangkak mendekati Pangeran Matahari untuk menolong 

muridnya. Tapi keadaannya sengsara sekali. Jangankan merangkak, beringsut pun dia 

tak sanggup. 

"Demi Tuhan! Jangan kau lakukan itu! Bunuh aku! Bunuh!" 

"Aku tidak butuh nyawamu lagi Rana Wulung! Tak kubunuhpun kau akan segera 

mampus. Aku lebih butuh tubuh muridmu yang cantik ini! Kau lihatlah! Hai 

pernahkah kau melihat tubuh muridmu tanpa sehelai benangpun menutupnya . . . ? 

Ha⁄ Ha.... ha.... 

"Tunggu!" teriak Rana Wulung.



PANGERAN MATAHARI yang sudah siap untuk menelanjang tubuh Ratih yang 

berada dalam keadaan tertotok itu sesaat hentikan gerakan tangannya dan berpaling 

pada orang tua yang menggeletak di tanah itu. 

"Apa maumu . . .?" tanyanya. 

"Dengar. . . dengar. Demi Tuhan .... Aku akan berikan peta itu padamu. Aku akan 

berikan peta itu! Asalkan kau berjanji ... tidak, bukan berjanji! Tapi bersumpah! Asal 

kau mau bersumpah tidak akan mengganggu muridku!" 

"Pasti kau hendak menipuku!" sahut Pangeran Matahari dengan sikap tak acuh. 

"Aku tidak menipumu! Aku akan berikan peta itu! Bersumpahlah . . . ." 

Pangeran Matahari manggut-manggut beberapa kali. 

"Baik, serahkan peta itu padaku!" 

"Bersumpah dulu!" 

"Aku bersumpah!" ujar Pangeran Matahari. Satu tangan diangkat ke atas, satunya 

lagi mengusap-usap janggut birunya. "Nah, mana peta itu!" 

"Di sana. . . ."" Rana Wulung menunjuk dengan tangan kiri gemetar. Yang 

ditunjuknya adalah arah pohon besar disamping kanan rumah kayu. 

"Di sana di mana maksudmu?!" sentak Pangeran Matahari. 

"Di ... di bawah pohon. Tiga langkah ke kanan dari akar yang menonjol. Gali tanah 

di situ. Kau akan menemukan sebuah kotak besi tipis. Peta itu ada dalam kotak besi." 

"Kalau kau berdusta kau dan muridmu tidak akan mendapatkan pengampunan!" 

mengancam si janggut biru lalu dia melangkah ke tempat yang dikatakan. Dengan 

golok milik Ratih dia menggali tanah sejarak tiga langkah dari tonjolan akar. Menggali 

sedalam dua jengkal, ujung golok membentur sebuah benda keras. Ketika dikorek 

terlihat sebuah kotak besi yang sudah karatan. Kotak ini dililit dengan sehelai kawat 

yang juga sudah karatan. Dengan cepat Pangeran Matahari membuka lititan kawat itu 

lalu membuka kotak besi. Di dalam kotak itu kelihatan sebuah kertas tebal yang 

berwarna kekuningan dimakan usia. Dengan hati-nati Pangeran Matahari membukalipatan kertas tebal itu. Di situ tergambar sebuah sungai dan gunung lalu lingkaran 

bengkok-bengkok mungkin merupakan gambaran dari sebuan telaga, lalu tanda silang 

di sebelah timur telaga. 

Pangeran Matahari menyeringai. Peta itu dilipatnya kembali lalu dia bangkit berdiri 

dan melangkah mendekati Rana Wulung. 

Orang tua itu cepat membuka mulut. 

"Kau sudah mendapatkan apa yang kau ingini! Sekarang tinggalkan tempat Ini!" 

"Percuma aku mempunyai jalan hidup segala cerdik, segala congkak segala akal dan 

segala licik, kalau aku pergi begitu saja sementara rezeki besar sudah di depan mata⁄" 

Paras Rana Wulung yang pucat jadi berubah. 

"Apa maksudmu ⁄?" 

"Aku telah kepalang tanggung melihat keindahan tubuh muridmu! Tak baik kalau 

dibiarkan begitu saja. Karena kau telah berbaik hati menyerahkan peta itu, maka aku 

memberi sedikit keringanan padamu. Aku tak akan bersenang-senang dengan gadis itu 

di hadapanmu. Tapi aku akan membawanya ke suatu tempat. Ha. .. ha ... ha ..." 

"Manusia Iblis!" teriak Rana Wulung. Seperti ada yang memberi kekuatan padanya 

tubuhnya yang sejak tadi terkapar tiba-tiba bisa bangkit berdiri. Namun sebeltim 

mencapai Pangeran Matahari orang tua ini roboh ke tanah dan tak sanggup lagi 

bangun. "Ya Tuhan ... dosa apa yang telah kuperbuat hingga mqngalami nasib seperti 

ini ..." mengeluh Rana Wulung dalam hatinya. 

"Selamat tinggal orang tua tolol! Muridmu kubawa!" 

Pangeran Matahari membungkuk siap untuk memanggul tubuh Ratih. Di saat 

itulah terdengar suara siulan disusul bentakan menggeledek. 

"Dicari-cari tidak bertemu! Ternyata kau menjual lagak di puncak Sawojajar ini!" 

Bersamaan dengan itu hemhusan angin kencang menderu deras membuat Pangeran 

Matahari sesaat tergontai-gontai dan hampir saja jatuh duduk kalau tidak lekas 

memasang kuda-kuda pertahanan dengan merenggangkan kedua kakinya. 

"Bangsat dari mana yang berani mencampuri urusan orang!" hardik Pangeran 

Matahari! 

Sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu sosok tubuh Ratih yang terbaring di 

tanah lenyap. Ketika berpaling ke kiri Pangeran Matahari dapatkan gadis itu kini sudahterbaring di lantai serambi depan rumah kayu. Tegak disampingnya seorang pemuda 

berambut gondrong, berpakaian putih, bersikap seenaknya sambil menyeringai. 

"Kau!" seru Pangeran Matahari. Nadanya keras dan marah. Tapi dalam hatinya dia 

merasa tidak enak kalau tidak mau dikatakan takut. Beberapa kali sebelumnya dia telah 

bentrokan hebat dengan pemuda yang menyandang pelar Pendekar Kapak Maut Naga 

Geni 212 itu. Dan dalam setiap bentrokan dia selalu berada di pihak yang kurang 

menguntungkan. 

"Rupanya kau sudah rindu akan kematian hingga mencariku ke tempat ini!" 

Wiro Sableng tertawa gelak gelak. 

"Kalau pemuda rindukan gadis itu lumrah. Tapi kalau aku rindukan kamu untuk 

mencari mati. Ha ... ha ... ha⁄! Terbalik perutku!" Habis berkata begitu Wiro berlagak 

seperti orang mau muntah! 

Paras Pangeran Matahari berubah kelam dan membesi. 

Dan ejekan Wiro Sableng masih belum habis. 

"Eh, sejak kapan kau pakai janggut seperti itu. Pandai juga kau mewarnainya. 

Apakah kau pakai tahi kerbau atau kotoran kuda untuk mewarnai janggutmu hingga 

jadi biru seperti itu ....?" 

"Orang yang hendak mampus memang sering bicara ngacok!" kata Pangeran 

Matahari dengan suara bergetar. Dari tempatnya berdiri dia langsung hantamkan 

tangan kanan. 

Sinar merah, kuning dan hitam berkiblat di puncak bukit Sawojajar itu. Udara 

terang benderang mengerikan karena disertai hembusan hawa panas yang luar biasa. 

Sebagian atap rumah kayu langsung hangus. Daun-daun dan juga ranting-ranting 

pepohonan menghitam. 

"Iblis berjanggut biru ini benar-benar sakti luar biasa!" membatin Rana Wulung. 

Seumur hidupnya baru sekali itu dia melihat pakulan sakti seperti yang dilepaskan 

Pangeran Matahari. Sementara itu di atas serambi rumah, kalau saja dia bisa berteriak 

pastilah Ratih sudah menjerit melihat bahaya yang mengancam pemuda gondrong yang 

telah dua kali menyelamatkan dirinya. 

Tapi gilanya dia melihat si gondrong malah masih tegak tenang.-tenang saja. Hanya 

dia kemudian menyaksikan tangan kanan Wiro berubah putih berkilau seperti peraksampai ke siku. Dan ketika pemuda itu pukulkan tanqannya ke depan, terdengar suara 

menggeledek disertai bertebarnya sinar putih menyilaukan dan panas luar biasa! 

"O.. ladalah! Inikah yang dinamakan pukulan sinar matahari ...?" ujar Rana Wulung 

dalam hati. Tubuhnya terguling jauh. Begitu juga Ratih, terbanting ke dinding kamar. 

Asap kelabu kemudian menyungkup seantero tempat itu. 

"Bangsat!" memaki Pangeran Matahari di dalam kepulan asap. Dia melompat ke 

kiri. Dendam kesumatnya atas kejadian di masa lalu terhadap Wiro masih belum 

terbalaa. Malam itu kembali dia tak mampu merobohkan lawan. Menimbang bahwa dia 

sudah mendapatkan peti yang dicarinya maka dia mengambil keputusan untuk 

meninggalkan tempat itu. Selagi asap menupi pemandangan, Pangeran Matahari 

berkelebat dan lenyap dari situ.



KI RANA WU LUNG duduk bersandar ke dinding kayu kamarnya. Dadanya masih se-

sak dan sakit. Tapi berkat obat yang diberikan Wiro, luka di dalam yang dideritanya 

menunjukkan tanda-tanda membaik. Darah tak lagi keluar setiap dia batuk dan 

meludah. 

Ratih duduk di sampingnya, membalut potongan kayu yang ditempelkan ke lengan 

kanan sang guru yang patah. Hari itu adalah hari kedua sejak terjadi bencana akibat 

kejahatan Pangeran Matahari. 

"Sudah .... Ikatanmu sudah cukup kencang. Kau pergilah mengurus kuburan Danu. 

Kulihat dari sini timbunan tanah di sebelah kepala agak tenggelam. 

"Baik guru . . . ." jawab Ratih perlahan. "Tapi sampai hari ini guru belum memberi 

petunjuk apa yang hendak kita lakukan atas manusia terkutuk bernama Pangeran 

Matahari itu. Jika guru setuju saya bisa meminta bantuan pamanda Tumenggung Puro 

Bekasan untuk rnengirimkan pasukan Kerajaan mencari dan menangkap orang itu ..,." 

Ki Rana Wulung menarik nafas dalam. Sesaat dia melirik pada Pendekar 212 Wiro 

Sableng yang duduk bersila di dekat pintu kamar lalu gelengkan kepalanya. 

"Manusia iblis seperti Pengeran Matahari itu sulit untuk dikejar, apalagi ditangkap 

sekalipun mengerahkan seluruh pasukan Kerajaan⁄." 

"Sehebat itukah dia? Bukankah di Kotaraja juga banyak para tokoh silat istana yang 

bisa dimintakan bantuannya ...?" ujar Ratih dengan agak kecewa. 

"Menurut pendengaranku, manusia itu beberapa kali membuat keonaran di 

Kotaraja. Berani mengacau sampai ke dalam Keraton ..." 

"Lalu kita biarkan saja dia berbuat kejahatan? Bahkan dia telah mengambil peta 

rahasia yang sangat berharga itu, guru!" 

"Dunia ini memang aneh. Dalam keanehan itu aku merasa malu dan ingin minta 

maaf ... Juga ingin berterima kasih." 

"Eh, kau malu karena apa guru. Dan mau minta maaf pada siapa?""Pada pemuda itu ...." jawab Rana Wulung seraya menggoyangkan kepalanya ke arah 

Wiro. "Anak muda, kau masuklah ke mari." 

Karena dipanggil Wiro masuk ke dalam. 

"Sebetulnya aku ingin minta diri . . ." berkata Wiro begitu duduk di hadapan Rana 

Wulung. 

"Jangan begitu anak muda. Kalau tidak kusampaikan rasanya akan menjadi 

ganjalan. Kukatakan tadi aku malu. Malu karena telah terlanjur bersikap kasar dua hari 

lalu padamu. Padahal kau yang telah menyelamatkan kedua muridku sewaktu dihanyut-

kan banjir. Lalu kau juga yang menyelamatkan kami dari manusia iblis bernama 

Pangeran Matahari itu⁄" 

"Memang begitulah maunya keanehan dunia, kek!" jawab Wiro. 

Rana Wulung tertawa karena untuk pertama kalinya pemuda itu memanggilnya 

dengan sebutan kakek. 

"Guru," tiba-tiba Ratih menyelak pembicaraan. "Kau masih belum menjawab apakah 

akan kita biarkan iblis berjanggut biru itu lolos membawa peta rahasia milikmu .... ?" 

Rana Wulung memegang bahu muridnya dengan tangan kiri. 

"Pangeran Matahari mengagulkan dirinya sebagai seorang yang terhebat dalam 

segala licik, segala akal, segala congkak dan segala akal. Kau tak perlu mengawatirkan 

peta itu, muridku. Peta yang dirampasnya itu adalah peta palsu!" 

Ratih dan Wiro terkejut. 

"Kau cerdik guru! Jadi kau masih menyimpan peta yang asli ... ?" 

"Ya, dan aku akan memberikannya pada murid Sinto Gendeng ini. Sesuai dengan 

surat gurunya itu . . . . Tentang Pangeran Matahari aku percaya hukuman bakal jatuh 

padanya!" Rana Wulung berpaling pada Wiro. "Syukur kau muncul kembali ke tempat 

ini⁄ " 

"Kek, aku kemari bukan untuk meminta peta itu. Bukankah kau sudah memutuskan 

untuk tidak memberikannya. Aku kembali kemari karena di tengah jalan secara tidak 

aengaja melihat seorang berpakaian biru, berjanggut biru dengan gerak-gerik 

mencurigakan. Ketika aku rasa-rasa kenal akan wajahnya walaupun kini memakai 

janggut biru, maka diam-diam aku menguntitnya. Ternyata dia datang kemari. Musuh

besar yang sangat licik, yang sampai hari ini selalu lolos dari tanganku ...." 

"Terlepas apapun tujuanmu kembali kemari tapi aku sudah memutuskan untuk 

menyerahkan peta rahasia telaga emas itu padamu. Harap kau suka menyampaikannya 

pada gurumu di puncak Gunung Gede." 

"Kalau begitu keputusanmu, aku hanya menurut saja," jawab Wiro. 

Ki Rana Wulung membuka kain putih penutup kepalanya. Tampak rambutnya yang 

berwarna kelabu tergulung membentuk sebuah sanggul kecil di atas kepalanya. Dengan 

tangan kirinya orang tua ini membuka sanggul itu. Darl dalam sanggul yang terbuka 

itu tampak sehelai kain berwarna hitam tergulung rapi tak lebih besar dari jari 

kelingking. 

Selagi Ratih dan Wiro bertanya-tanya dalam hati benda apa sebenarnya yang ada 

dalam gulungan rambut Ki Rana Wulung, orang tua itu membuka gulungan kain hitam 

tadi. Ternyata lebarnya kain ini hanya selebar telapak tangan. Dan di atas kain itu 

terdapat sebuah lukisan telaga berwarna putih. Di bawah lukisan kecil ini ada 

serangkaian tulisan putih berbunyi : 

Berbiduk di atas Bengawan 

Dari selatan ke arah barat 

Dari utara ke arah timur 

Telaga sejuk hanya satu 

Beringin sakti hanya satu 

Duduk bersila di atas batu merah 

Menghadap lurus ke utara 

Pasti terlihat pohon bersilang 

Rahasia tersembunyi di bawahnya 

Hanya yang mendapat berkah Ilahi aku mendapatkannya. 

"Inikah peta telaga emas itu, guru?" bertanya Ratih. 

Sang guru mengangguk. Lalu kain hitam kecil itu digulungnya kembali dan 

diulurkannya pada Pendekar 212 Wiro Sableng. 

"Simpan baik-baik. Serahkan pada gurumu. Dia tak perlu mengembalikannyapadaku. Apa yang akan dilakukannya terhadap harta itu terserah dia. Aku sudah terlalu 

tua untuk mengurus segala urusan dunia. . ." 

"Terima kasih atas kepercayaanmu, kek." kata Wiro seraya mengambil gulungan 

kain hitam. Benda ini kemudian dimasukkannya ke dalam ikatan ikat kepalanya di 

sebelah belakang. 

Rana Wulung tersenyum. "Sepintas tampangmu tampak tolol. Nyatanya otakmu 

cerdik ..." 

Wiro garuk-garuk kepala. 

"Aku minta diri sekarang kek. Kudoakan kau lekas sembuh . . ." 

"Obatmu pasti mujarab. Sekali lagi aku berterima kasih⁄" 

Ratih tampak seperti hendak mengatakan sesuatu. 

"Ada yang hendak kau sampaikan Ratih ...?" 

Sang dara agak gugup. Namun akhirnya dia menggelengkan kepala. 

"Kalau tak ada apa-apa lagi, tolong ampilkan Qur'anku. Di umur setua ini apa lagi 

yang akan kukerjakan kalau bukan berbuat Ibadah ..."



PANGERAN MATAHARI menjadi sangat heran ketika dalam rimba belantara itu tiba-

tiba saja dia mendengar suara orang bernyanyi di kejauhan. Nyanyian itu diiringi 

tabuhan gendang dan kerincingan. 

"Setan atau manusia yang berpesta di hutan ini?!" ujar sang pangeran dalani hati. 

Meskipun dia menempuh rimba belantara itu untuk urusan penting dan memintas 

jalan, namun keanehan yang didengarnya itu membuat dia memutar langkah menuju 

arah datangnya suara nyanyian dan tabuhan gendang serta kerincingan. 

Di suatu tempat yang leguk, hampir menyerupai lembah kecil, Pangeran Matahari 

melihat sepasang kakek-nenek asyik menyanyi sambil menari-nari dalam gerakan 

berputar-putar membentuk lingkaran. Masing-masing memegang tetabuhan berbentuk 

rebana yang pada pinggirannya dilingkari lembaran-lembaran kaleng tipis kecil. Setiap 

rebana itu ditabuh, kerincingan ikut berbunyi. 

"Dua tua bangka edan! Kalau tidak edan masakan berada di tempat ini dan menari! 

Ada-ada saja." 

Pangeran Matahari hendak balikkan diri guna melanjutkan perjalanan. Namun 

niatnya ini dibatalkan. Kakek nenek di bawah sana dilihatnya mengeluarkan sebuah 

bumbung kecil. Sambil menari keduanya kemudian mendongak ke atas dan tempelkan 

mulut bumbung bambu itu ke bibirnya. Dari tempatnya berdiri Pangeran Matahari 

dapat mencium harumnya bau minuman yang direguk kedua orang tua itu sambil 

menari dan menyanyi. 

"Mabuk .... Pantas mereka seperti orang gila. Tapi minuman itu sungguh luar 

biasa.Sejauh itu bau harumnya menebar sampai ke sini. Tenggorokanku kering. Kalau 

saja aku kebagian barang beberapa teguk .... Ah, aku coba menemui mereka!" 

Pangeran Matahari melangkah menuruni bagian rimba yang berbentuk lembah itu. 

Seperti tidak melihat kedatangan orang, dua kakek nenek tadi terus saja menari-nari 

dan menyanyi, menabuh rebana dan meneguk minuman harum di dalam bumbungbambu. 

Tiba-tiba suara nyanyian berhenti. Tabuhan rebana dan suara gemerincing kaleng-

kaleng lenyap. Dua kakek nenek palingkan wajah masing-masing ke arah pemuda 

berjanggut hiru. Ketika Pangeran Matahari menatap wajah krrdua orang tua itu, astaga! 

Hatinya tergetar. Kakek dan nenek ini memiliki sepasang mata sengat merah dan tidak 

memiliki bagian mata berwarna putih! 

"Jangan, jangan⁄" Ucapan dalam hati Pangeran Matahari terputus ketika tiba-tiba si 

nenek berpakaian aneh penuh tambalan itu berkata pada temannya. 

"Hai, kedatangan tamu dari jauh. Akan diajak minum atau diajak menari ⁄?" 

Kawannya si kakek yang juga berpakaian penuh tambalan menjawab setelah lebih 

dulu tertawa cekikikan. 

"Minum dan menari soal kedua. Tapi apakah dia pandai menyanyi ... ?!" 

Si nenek kini yang ganti tertawa cekikikan. 

"Hai! Apakah kau pandai menyanyi?!" Si kakek ajukan pertanyaan. 

Pangeran Matahari menggeleng. 

"Ah, janggutmu saja yang keren tapi tak pandai menyanyi!" Si nenek tampak 

kecewa. 

"Apa maumu datang ke mari?!" Si kakek bertanya. Rebana di tangan kiri 

diletakkannya di atas kepala lalu dia menurunkan tubuh, duduk bersila di tanah. 

Anehnya rebana yang tadi dijunjungnya tetap berada di batas kepalanya semula, seolah-

alah rebana itu tergantung di udara, diikat oleh tali yang tak kelihatan! 

Bergetarlah hati Pangeran Matahari. Dadanya berdebar. 

Yang dihadapinya saat itu mungkin bukan orang-orang gila, tetapi manusia-manusia 

sakti dengan kepandaian langka! 

"Hai! Di mana rebanaku?!" Tiba-tiba si kakek berseru dan menoleh kian ke mari, 

lalu memegang-megang kepalanya mencari-cari. Kawannya tertawa terpingkal-pingkal. 

"Tua bangka pikun! Itu rebanamu, bukankah kau tinggalkan di puncak gunung?!" 

Mendengar kata-kata kawannya itu, si kakek mendongak ke atas. Dia melihat 

rebananya mengapung di udara lalu tepuk kening sendiri seraya berkata, "Pelupa benar 

aku ini. Tolong kau ambilkan rebanaku itu nek!"Si nenek angguk-anggukkan kepalanya. Aneh sekali. Rebana yang mengapung di 

udara itu bergerak turun naik lalu jring! Rebana itu hinggap kembali di atas kepala si 

kakek! Kedua kakek nenek itu kemudian tertawa terpingkal-pingkal. 

"Siapa gerangan dua manusia aneh luar biasa ini ...." membatin Pangeran Matahari. 

Karena hatinya merasa tidak enak maka dia memutuskan untuk segera tinggalkan 

tempat itu. Tapi baru saja dia membalikkan tubuh, tahu tahu si nenek sudah 

menghadang langkahnya. 

"Aih, datang baik-baik kini hendak pergi begitu saja. Sungguh tidak tahu 

peradatan⁄" 

"Dia mungkin tak suka kita, nek. Biar saja dia pergi!" 

"Tidak bisa ... tidak bisa . . . " sahut si nenek sambil geleng-gelengkan kepala. "Aku 

harus tahu dulu mengapa dia datang ke mari. Jangan-jangan membawa maksud 

tersembunyi ..." 

"Betul ... betul! Ayo orang muda berjanggut biru. Katakan mengapa kau datang dan 

mengganggu kami di sini? Kalau kau tidak muncul nyanyi dan tarian kami tak akan 

terganggu ..." 

"Aku sama sekali tidak membawa niat tersembunyi. Apalagi hendak mengganggu 

kalian. Hanya saja minuman yang kalian teguk itu baunya harum sekali, menebar jauh 

menimbulkan selera. Apalagi aku sedang kehausan . . . ." 

"Aih, itu rupanya. Mengapa kau tidak bilang dari tadi?" ujar si nenek. "Kalau cuma 

sebumbung arak harum, masakan aku tidak mau memberi. Asal saja kau minum dan 

habiskan di tempat ini!" 

Dari balik pakaian anehnya nenek itu keluarkan sebuah bumbung bambu berisi 

penuh arak lalu menyodorkannya pada Pan geran Matahari. "Nah, kau minumlah 

sampai habis sepuasmu. Tapi minum di sini saja, janyan dibawa. Tabungnya aku masih 

perlu!" 

"Terima kasih nek. Aku hanya butuh beberapa teguk. Tak perlu semuanya." 

"Terserah padamu. Asal kau minum itu sudah tanda menghormat kami . . . ." 

Pangeran Matahari menerima tabung bambu itu. Tiba-tiba saja saat itu hatinya 

mendadak tidak enak. Ketika mulut bambu didekatkannya ke bibirnya, hidungnyamembau sesuatu di antara keharuman arak dalam bambu. Racun! 

"Hai! Kenapa kau tidak segera minum ? Apa arakku tidak enak? Jangan berani 

menghina . . ." 

"Terima kasih. Kau ambil kembali arakmu. Aku baru ingat berpantang minum 

minuman keras . . ." jawab Pangeran Matahari pula. 

Kemudian dilihatnya paras si nenek membersitkan kemarahan. Sepasang matanya 

yang merah seperti sambaran api. 

"Kalau tidak kau minurn, kubunuh kau!" Perempuan tua itu mengancam. 

"Jangan terlalu memaksa! Aku tidak suka dipaksa!" Pangeran Matahari menghardik. 

Kedua tangannya diletakkan di pinggang setelah lebih dulu mencampakkan tabung 

arek ke tanah. Terjadi hal yang hebat. Ketika arak dalem tabung terguyur ke luar, tanah 

dan pohon-pohon kecil yang tersiram tampak menjadi hitam dan mengepulkan asap. 

Marahlah Pangeran Matahari. Duyaannya betul! 

"Tua bangka keparat! Kau hendak membunuhku dengan minuman itu!" 

"Hik , . . hikk ... hikkkk," si nenek tertawa cekikikan. 

Pangeran Matahari cekal dada pakaian perempuan puan tua ini dan angkat tinggi-

tinggi tubuh si nenek lalu menghempaskannya ke tanah. Tapi ternyata si nenek jatuh 

dengan dua kaki lebih dulu dan tetap dalam keadaan berdiri! 

Dari samping kawannya melompat marah. "Berani kau berlaku kurang ajar pada 

kawanku? Nyawamu tidak akan kami ampuni! Kau memilih dibunuh atau bunuh diri?!" 

Pangeran Matahari tertawa dingin. 

"Kalian belum tahu berhadapan dengan siapa!" Lalu dia buka pakaian luarnya yang 

berwarna biru. Di balik pakaian biru itu tampak pakaian hitam dengan gambar puncak 

gunung, matahari serta garis-garis sinar berwarna merah. 

"Ah, pakaian jelek begitu hendak disombongkan! Kami sudah memutuskan kau 

harus mampus! Kecuali⁄." Si nenek menggantung ucapannya. 

"Kecuali apa?!" sentak Pangerun Matahari. 

"Kau menyerahkan pada kami peta rahasia telaga emas!" 

Terkejutlah Pangeran Matahari mendengar kata-kata perempuan tua itu. Jelas dia 

sudah kena tipu hingga datang menghampiri dua tua bangka edan itu. Tapi bagaimanamereka tahu kalau dia membawa peta telaga emas? 

"Siapa kalian sebenarnya?!" 

Kakek dan nenek tertawa panjang. Lalu sama-sama menjawab seperti sudah diatur 

dan dihafal baik-baik. 

"Dari utara sampai selatan, dari timur sampai barat, siapa tidak kenal Sepasang 

Setan Bermata Api .... ?" 

"Celaka!" keluh Pangeran Matahari dalam hati begitu mendengur dan mengetahui 

siapa adanya kedua kakek nenek itu. "Kalau tidak dengan segala licik dan segala akal 

aku bisa celaka ..." Lalu dia mundur selangkah seraya berkata. "Ah, tidak tahunya aku 

berhadapan dengan datuk-datuk dunia hitam yang ditakuti dalam rimba persilatan. Jika 

kalian yang meminta sesuatu padaku, mana aku berani menolak. Tapi bagaimana kalau 

kita sama-sama memecahkan teka-teki dalam peta itu. Hasilnya kita bagi tiga." 

"Aku setuju!" ujar si kakek. 

"Aku tidak!" menampik si nenek. "Peta itu harus kau serahkan padaku. Sam ini 

juga!" 

"Kalau begitu pintamu baiklah . . . ." 

Pangeran Matahari masukkan tangannya ke balik pakaian hitam. Tapi di lain kejap 

tangan itu tiba-tiba melesat ke depan dalam serangan kilat berupa satu dorongan 

telapak tangan. Si nenek yang rupanya juga tidak bodoh dan telah waspada, begitu 

melihat tangan orang berkelebat, cepat pula gerakkan kedua tangannya sekaligus dan 

memukul ke depan. 

Bukk! 

Dua telapak tangan saling beradu. Di saat yang sama tangan kiri si nenek berhasil 

mencekal lengan Pangeran Matahari. Sekali dia membuat gerakan membetot maka 

tubuh Pangeran Matahari terlempar ke atas! 

Meskipun berhasil membuat Pangeran Matahari jungkir balik di udara, namun si 

nenek menerima nasib mengenaskan. Bentrokan telapak tangan tadi membuat 

tubuhnya jatuh berlutut. Isi perutnya seperti dibetot-betot. Kepalanya seperti dihantam 

palu godam. Darah mengucur dari kedua telinga, hidung dan mulut! Dia telah 

menerima hantaman pukulan Merapi Meletus! Meskipun memiliki tenaga dalam tinggi,ternyata masih berada di bawah tingkat tenaga dalam Pangeran Matahari. Dalam pada 

itu si nenek juga kalah kesaktian! 

Perlahan-lahan tubuh si nenek terkulai ke depan. Akhirnya roboh ke tanah tanpa 

nyawa lagi. Pukulan itulah yang beberapa hari lalu hampir menewaskan Ki Rana 

Wulung di puncak bukit Sawojajar kalau saja tidak diobati oleh Pendekar 212 Wiro 

Sableng! 

Melihat kawannya mati, si kakek berteriak marah. Kedua tangannya membuat 

gerakan menggapai ke langit. Tetapi anehnya kedua tangan itu seperti mulur menjadi 

panjang dan di lain saat yang kiri melesat ke tenggorokan Pangeran Matahari sedang 

tangan yang kanan mencengkeram.ke arah selangkangannya! 

Pangeram Matahari berseru kaget dan cepat menghindar selamatkan diri sambil 

lepaskan pukulan Merapi Meletus. Tapi gerakannya setengah jaIan dipapas secara 

cerdik oleh lawan dengan satu ketukan pada sikunya.Pangeran Matahari menjerit. 

Sekujur tubuhnya bergeletar. Tangan kanannya terkulai seperti lumpuh. Kagetlah si 

janggut biru ini. Sebelum lawan menyerbu untuk kedua kalinya dia segera menghantam 

dengan pukulan Telapak Matahari. Ini merupakan satu dua tiga pukulan sakti yang 

dimilikinya. Angin deras menderu panas. Si kakek menjerit ketika dirasakannya 

tubuhnya seperti terpanggang. Dia memukul ke depan. Tapi semakin dia mengerahkan 

tenaga semakin keras hawa panas yang membakarnya. Sekujur tubuhnya tampak 

menjadi merah lalu mcngepul. Kakek bermata merah ini menjerit keras. Itulah suara 

terakhir yang bisa dilakukannya. Tubuhnya roboh ke tanah, meregang nyawa menyusul 

kawannya. 

"Tua bangka-tua bangka keparat! Membuang-buang waktuku saja!" maki Pangeran 

Matahari. Sesaat dia meraba selangkangannya. Tengkuknya terasa rasa dingin. Kalau 

saja cengkeraman lawan tadi sempat menghancurkan anggota rahasianya, sekalipun dia 

bisa bertahan hidup maka hidupnya sengsara selama-lamanya! 

Pangeran Matahari siap melangko pergi. Mendadak matanya tertancap pada sebuah 

benda dalam genggaman tangan kanan lelaki tua yang terbujur di tanah itu. Astaga! 

Pangeran ini memeriksa pakaiannya. Ternyata peta rahasia telaga emas itu tak ada lagi 

di tempat dia menyembunyikan di balik pakaian. Bagaimana benda itu kini beradadalam genggaman si kakek? Dia cepat menarik peta itu dari tangan mayat. Tapi ketika 

dia membungkuk tahu-tahu kaki kanan mayat bergerak menghantam perutnya ! 

Pangeran Matahari terlempar dan jatuh terguling di tanah! Perutnya seperti pecah. 

Nafasnya megap-megap. Bagaimana mungkin mayat bisa menendang? Kecuali kakek 

edan itu memang sebenarnya belum mati?!" 

Pemuda berjanggut biru ini berdiri. Baru saja berdiri, di depannya si kakek ternyata 

telah terlebih dulu berdiri. Orang tua bermata merah ini dalam keadaan tubuh seperti 

hangus acungkan peta rahasia di tangan kanannya. 

"Peta ini palsu!" berkata si kakek sambil campakkan benda itu ke tanah. Lalu dia 

melangkah pergi. 

Pangeran Matahari cepat mengambil peta yang dicampakkan dan mengejar si kakek. 

Secara licik dari belakang dia lepaskan pukulan Telapak Matahari. Kali ini dengan 

kekuatan hampir dua pertiga tenaga dalamnya. Di depan sana tubuh si kakek terpental 

jatuh. Berguling-guling beberapa kali lalu tak bergerak lagi. Sang pangeran mendekat 

dan memeriksa. Tubuh si kakek sama sekali tak bergerak. Dada dan perutnya tidak 

menunjukkan tanda-tanda pernafasan. Tapi dia tak mau tertipu untuk kedua kalinya. 

Tumit kaki kirinya dihantamkan ke batok kepala si kakek. 

Praak! 

Kepala itu rengkah! 

"Manusia aneh. Bagaimana tadi jelas-jelas sudah mampus bisa hidup lagi ...?" 

berkata Pangeran Matahari dalam hati penuh tak mengerti. Sambil melangkah pergi 

dan sesekali berpaling ke belakang. Seolah-olah khawatir kalau manusia aneh itu tiba-

tiba hidup kembali dan menyerangnya! 

Sambil melangkah di dalam rimba belantara itu telinga Pangeran Matahari seperti 

dingiangi terus menerus ucapan si kakek tadi. Peta itu palsu! Benarkah? Kalau palsu di 

mana yang asli? Apakah Ki Rana Wulung telah menipunya? Di satu tempat dia duduk 

menjelepok di tanah dan kembangkan peta rahasia telaga emas. Lama dia 

memperhatikan gambar gunung, sungai dan lingkaran bengkok serta tanda silang. 

Sebelumnya dia sudah meneliti peta itu berulangkali. Terus terang saja memang sulit 

untuk mengerti atau mendapatkan petunjuk. Tanda silang mungkin sekali tempat dimana harta berupa emas itu disembunyikan. Tapi sungai dan, gunung, sungai mana 

dan gunung apa? 

"Gila! Jangan-jangan peta ini memang benarbenar palsu!" kata Pangeran Matahari 

seraya memukulkan tinju kanannya ke dalam telapak tangan kiri. "Bangsat tua itu telah 

memperdayaiku! Akan dirasakannya pembalasanku!"



10 

MATAHARI telah condong ke barat. Di dalam kamarnya Ki Rena Wulung baru saja 

memasuki tahajud terakhir sembahyang Asar ketika tiba-tiba pintu kanrar itu didobrak 

hancur berantakan. 

Satu bentakan menggeledak. Sesosok bayangan biru berkelebat. 

"Bangsat penipu! Kau akan mampus tersiksa!" 

Dalam kekhusukan sembahyang Ki Rana Wulung sama sekali tidak sempat 

membuat serangan mengelak ketika satu tendangan menghantam dadanya. Orang tua 

yang baru saja mulai sembuh ini mencelat menghantam dinding di belakangnya. 

Dinding itu bukan saja jebol tapi tubuhnyapun terlempar ke luar dan jatuh di halaman 

samping bangunan! 

Pangeran Matahari hantamkan kaki dan tangannya untuk menerobos dinding, 

langsung melompat ke hadapan Ki Rana Wulung yanq saat itu tergeletak megap-megap 

sementara darah kental menyembur tiada henti dari mulutnya. 

"Manusia iblis ...." Rutuk Ki Rana Wulung. Suaranya hampir tak terdengar karena 

kerongkongannya tersendat oleh darah. 

Pangeran Matahari jambak rambut orang tua itu lalu hantamkan kepalanya ke tiang 

serambi. Rana Wulung mengeluh pendek lalu roboh pingsan. Pangeran Matahari tarik 

kain sarung yang dikenakan si orang tua. Dengan kain itu diikatnya kedua kaki Rana 

Wulung lalu kakek malang ini digantungnya kaki ke atas kepala ke bawah pada sebuah 

balok melintang di serambi rumah. Selesai melakukan kebiadaban itu Pangeran 

Matahari memeriksa seluruh bangunan kayu bahkan sampai ke halaman. Setiap benda 

termasuk batu, pepohonan dan semak belukar ditelitinya. Tapi sampai sang surya 

mulai redup di ufuk barat apa yang dicarinya tidak ditemukan. 

"Keparat betul! Di mana disembunyikannya peta itu." Pangeran Matahari 

memandang berkeliling. Sesaat dia menatap tubuh tua yang tergantung tak bergerak 

itu. Entah sudah mati entah masih hidup. Pangeran Matahari, merasa jengkel dan tidakpuas. Dia menggeledah sekali lagi. Mengelilingi bangunan untuk ke empat kalinya 

ketika tiba-tiba matanya melihat sehelai kertas lusuh terselip di bawah tikar yang 

terbentang di lantai serambi bangunan. Surat itu adalah surat yang disampaikan 

Pendekar 212 Wiro Sableng dan dikirimkan oleh gurunya di puncak Gunung Gede. 

Lama Pangeran Matahari merenung dalam menyelidik isi dan arti surat yang aneh 

itu. Di balik keanehan itu dia yakin tersembunyi sesuatu. 

"Rahasia surat ini tersembunyi di balik kalimat muatan berusia tiga puluh tahun 

lebih .... Hemmm..." Bergumam Pangeran Matahari sembari mengusap-usap janggutnya. 

"Jangan-jangan ... Bukan mustahil yang dimaksud dengan muatan adalah peta rahasia 

telaga emas itu! Bukankah peta itu sudah berumur tiga puluh tahun sejak diketahui 

muncul pertama kali dalam rimba persilatan ...? Aku harus menyelidik ke puncak 

Gunung Gede..." 

Namun setelah memikir sampai di situ, Pangeran Matahari menjadi gelisah. Datang 

ke puncak Gunung Gede sama saja masuk ke goa harimau. 

Dia masih ingat akan pesan gurunya Si Muka Bangkai alias Setan Muka Pucat 

sebelum dilepas pergi. Ada tiga tokoh silat muda yang harus diperhatikannya karena 

memiliki ilmu kepandaian yang sulit ditandingi. Salah satu dari tiga pendekar itu 

adalah Wiro Sableng. Jika Wiro sudah dilihatnya begitu hebat, tentu sang guru jauh 

lebih berbahaya lagi. Mungkin dia hanya mencari mati jika muncul di Gunung Gede. 

Apalagi jika Wiro ada pula di sana. 

"Tetapi bukan mutahil peta rahasia itu diberikannya pada murid perempuannya! 

Ah, bagaimana ini!" Pangeran Matahari tenggelam dalam jalan pikiran penuh segala 

duga. "Apakah aku harus menyelidiki pula ke Kotaraja dan mencari keponakan 

Tumenggung Puro Bekasan itu ..." Kembali sang pangeran merenung. Otak iblisnya 

bekerja. "Pemuda itu .... si gadis! Tolol! Mengapa aku tidak memanfaatkan segala akal, 

segala licik, segala cerdik!" 

Dengan seringai muncul di wajahnya yang keras angkuh, Pangeran Matahari 

berkelebat tinggalkan tempat itu. 

***

TUMENGGUNG PURO BEKASAN tengah mereguk kopi hangat di cangkir besar 

ketika pagi itu pengawal masuk memberi tahu bahwa seorang penebang kayu dari Tegal 

Jenar datang menghadap. "Seorang penebang kayu... ?" mata Tumenggung Puro Bekasan 

mendelik karena merasa terhina ada seorang rendahan dutang mengganggu 

ketenteraman dan kenikmatan sarapan paginya. 

"Betul Kanjeng Radon Tiimenggung, seorang penebang kayu dari Tegal Jenar ..." 

"Apa keperluannya. Atau kau usir saja dia ..." 

"Saya siap melakukan itu Kanjeng Raden. Hanya saja katanya dia datang membawa 

berita penting tentang Ki Rana Weleng, guru Den Ayu Ratih Weningputri, keponakan 

Kanjeng Tumenggung ..." 

"Hemm ... Kalau begitu suruh dia masuk tapi panggilkan dulu keponakanku itu!" 

Tak selang berapa lama Ratih datang menemui pamannya sementara dari arah 

halaman depan, pengawal muncul membawa seorang lelaki setengah tua yang 

melangkah terbungkuk-bungkuk. Di pinggang kanannya terselip sebuah kapak. 

Pakaiannya bukan saja lusuh tapi berselimut debu, juga mukanya yang mulai keriput 

bercelomong debu. Inilah si penebang kayu dari Tegal Jenar. 

"Berita apa yang kau bawa ..?" Tumenggung Puro Bekasan langsung bertanya begitu 

si penebang kayu menghatur sembah. 

"Nama saya Timbul Karso, penebang kayu asal Tegal Jenar. Seminggu lalu saya 

menebang kayu di puncak bukit Sawojajar. Tidak seperti biasanya, hidung saya 

mencium bau busuk dan di langit saya lihat banyak burung gagak hitam pemakan 

bangkai terbang berputar-putar, menukik lalu terbang lagi berputar-putar. Karena 

merasa curiga saya naik ke puncak bukit. Saya tahu di situ diam orang tua sakti 

bernama Ki Rana Wulung. Saya juga tahu kalau keponakan Kanjeng Tumenggung 

adalah salah seorang muridnya . . . ." 

"Dari mana kau tahu kalau keponakanku adalah muridnya .... ?" 

"Saya acap kali bertemu dengan orang tua itu. Kami sering berbincang-bincang. Satu 

kali dia menerangkan bahwa keponakan Tumenggung Puro Bekasan adalah salah 

seorang muridnya ..."Ratih yang merasa tidak enak ajukan pertanyaan. "Apa yang kau temukan di puncak 

bukit ...?" 

"Mengerikan sekali Den Ayu. Saya tak tega mengatakannya⁄" 

"Jangan konyol!" sentak Tumenggung Puro Bekasan. "Kowe datang kemari untuk 

menyampaikan berita. Sesudah sampai di sini bicara segala macam tidak tega!" 

"Maafkan saya Kanjeng Raden Tumenggung ..." kata si penebang kayu seraya 

membungkuk-bungkuk. "Saya menemukan kakek itu telah menjadi mayat, tergantung 

kaki ke atas kepala ke bawah. Tubuhnya rusak dipatoki burung-burung gagak dan . . . ." 

"Kau tidak memberi keterangan dusta?!" Ratih ajukan pertanyaan setengah berteriak. 

Matanya membelalak tapi ada genangan air mata mengambang di kelopak matanya. 

"Saya bersumpah den ayu. Saya datang dari jauh membawa berita atas apa yang saya 

saksikan. Saya tidak mengharapkan apa-apa⁄" 

"Kau tahu siapa yang melakukan perbuatan keji itu?" tanya Tumenggung Puro 

Bekasan. 

Timbul Karso gelengkan kepala. "Saya tidak tahu Kanjeng Raden Tumenggung, saya 

tidak tahu . . . ." 

"Saya tahu siapa yang melakukan itu paman," Ratih menyahuti. "Ingat penuturan 

saya tentang manusia iblis berjanggut biru yang mengaku bernama Pangeran Matahari? 

Siapa lagi kalau bukan dia yang melakukannya!' 

"Tapi menurutmu, bukankan orang itu sudah pergi setelah dapatkan peta rahasia 

dari gurumu?" 

"Betul. Mungkin kemudian dia mengetahui peta itu palsu. Lalu kembali ke bukit 

Sawojajar dan membunuh guru. Manusia iblis! Saya akan mencarinya. Saya mohon 

petunjukmu paman . . ." Ratih menyeka air mau yang meluncur di pipinya. 

"Soal mencari Pangeran Matahari aku bisa mengirimkan pasukan. Namun yang 

penting saat ini adalah mengurus jenazah gurrnnu Ki Rana Wulung . . . ." Tumenggung 

Puro Bekasan berpaling pada Timbul Karso. "Penebang kayu, aku harap kau mau 

membantu mengurus dan mengubur jenazah orang tua itu⁄" 

"Jangan saya Kanjeng Raden Tumenggung, jangan saya. Terlalu mengerikan. Saya 

tidak berani.""Cari orang-orang desa.Minta bantuan mereka. Jerih payah mereka akan kuganjar 

dengan bayaran setimpal." 

"Paman," Ratih bersuara. "Izinkan saya pergi ke Sawojajar. Biar saya sendiri yang 

mengurus dan mengubur jenazah guru. Kasihan orang tua itu . . ." 

Tumenggung Puro Bekasan berpikir sejenak. Akhirnya dia mengangguk. "Kau boleh 

pergi. Lima orang pengawal kelas satu akan mendampingimu. Bawa kuda-kuda yang 

kuat. Berikan seekor kuda pada penebang kayu ini. Juga sejumlah uang atas budi 

baiknya . . . ."' 

"Saya tidak mengharapkan pamrih apa-apa Kanjeng Raden Tumenggung . . . ." kata 

si penebang kayu sambil membungkuk. 

Tumenggung Puro Bekasan tersenyum. Dia bangkit dari kvrsinya. Sesaat dia 

menatap paras penebang kayu itu lalu masuk ke dalam.




11 

DI DALAM KAMARNYA setelah Ratih Weningputri meninggalkan Kotaraja, 

Tumenggung Puro Bekasan duduk merenung. Seorang sebaik dan sesakti seperti Ki 

Rana Wulung menemui kematian secara mengerikan begrtu rupa. Sulit bisa 

dipercayainya. Sekeji itukah dunia persilatan. Hatinya risau karena keponakannya 

Danupaya dibunuh oleh orang persilatan. Dan Ratih, keponakannya yang tinggal satu-

satunya, apakah akan mengalami nasib sama? Berpikir sampai ke situ akhirnya 

Tumenggung Puro Bekasan memanggil perwira muda kepala pengawal gedung 

ketumenggungan. 

"Aku merasa was-was dengan keselamatan Ratih. Bawa enam orang pengawal lagi 

dan susul rombongan mereka. 

Ketika pengawal itu hendak berlalu, sang Tumenggung memanggil kembali. "Ada 

satu pertanyaan perwira muda. Jika ada seorang mengatakan dirinya penebang kayu, 

bisa kau menyebutkan hal-hal yang membuktikan bahwa dia memang benar-benar 

penebang kayu . . . ?" 

"Pertanyaan Kanjeng Tumenggung cukup sulit. Saya akan menjawab sebisanya ..." 

jawab perwira muda itu. "Pertama, tentu saja orang itu akan memiliki tubuh kekar, 

otat-utot keras mulai dari betis sampai ke pangkal lengan ..." 

"Aku setuju dengan pendapatmu!" berkata Tumenggung Puro Bekasan. "Apa lagi ..." 

"Biasanya tubuhnya agak miring ke kanan, lehernya juga. Atau ke kiri. Tergantung 

apakah dia kidal atau tidak. Ini karena setiap menebang sikap tubuhnya akan tertumpu 

pada tangannya yang lebih kuat...." 

"Yang ini aku kurang setuju. Tapi tak apa. Mungkinkah seorang penebang kayu 

bertubuh bungkuk?" 

Sang perwira berpikir sejenak. 

"Kalau tubuhnya bungkuk .... Yang bisa dilakukannya adalah membelah kayu. 

Untuk menebang pohon dia akan mengalami kesulitan ...."Tepat seperti apa yang ada di benakku!" kata sang Tumenggung pula. "Sekarang 

tangannya. Bagaimana menurutmu bentuk tangan seorang penebang kayu?" 

"Mungkin tangannya tidak besar. Tapi walaupun kecil akan tampak kukuh. Urat-

uratnya menonjol di antara otot-otot. Jari-jari dan telapak tangannya kekar bahkan 

biasanya tebal kapalan ... Tumenggung tahu arti kapalan ... ?" 

"Dugaanku tepat! Timbul Karso tidak memiliki tangan seperti itu! Dia bukan 

penebang kayu!" Tumenggung Puro Bekasan hampir berteriak ketika mengucapkan 

kata-kata itu. Wajahnya jelas sekali membayangkan rasa kawatir. 

"Perwira, siapkan dua puluh pengawal. Aku akan memimpin sendiri rombongan 

mengejar Ratih. Aku punya firasat keponakanku itu berada dalam bahaya!" 

Terbungkuk-bungkuk di atas punggung kuda, penebang kayu itu ternyata cekatan 

menunggang kuda. Sejak meninggalkan Kotaraja kudanya menempel terus di belakang 

kuda Ratih Weningputri yang berada paling depan. Lima pengawal kelas satu memacu 

kuda masing-masing di sebelah belakang. 

Di satu pedataran jauh di luar Kotaraja, si penebang kayu berseru: "Den Ayu . . . . 

Saya tahu jalan memintas menuju bukit Sawojajar. Kita bisa sampai satu hari lebih 

cepat ...." 

Ratih diam saja. Pikirannya tengah terpusat pada suatu hal yang lain. 

"Tentunya jika Den Ayu setuju. Saya hanya menyarankan . . . Saya khawatir keadaan 

jenazah orang tua itu akan tambah rusak oleh cuaca dan burung-burung gagak . . ." 

"Kalau memang ada jalan yang lebih pendek tentu saja aku setuju," terdengar 

jawaban Ratih. "Kau silahkan memimpin di sebelah depan!" Gadis ini membawa 

kudanya ke samping memberi jalan pada kuda Timbul Karso. 

Sepanjang siang sampai menjelang sore rombongan itu bergerak menyusuri kaki 

bukit-bukit kecil, lalu menembus hutan jati. Ketika keluar dari hutan jati menjelang 

sore tahu-tahu mereka sudah sampai di seberang sebuah sungai. Ratih terkejut. Sungai 

ini adalah sungai yang biasa diseberanginya bersama Danupaya pada setiap kali 

mengunjungi Ki Rana Wulung di puncak Sawojajar. 

"Ah, jalan memintas yang kita lalui benar-benar lebih dekat . . ." kata Ratih pada 

Timbul Karso. "Kalau tahu, tentu dulu-dulu aku akan mengambil jalan ini setiap kalimenyambangi guru. Mari kita menyeberangi sungai. Sampai di seberang kita 

beristirahat dulu. Menjelang malam kita teruskan perjalanan." 

"Saya mengikut saja Den Ayu ..." jawab Timbul Karso. 

Karena air sungai cukup jernih dan bersih, lima pengawal dalam rombongan itu 

tertarik untuk turun ke air. Mereka membuka pakaian luar masing-masing lalu pergi 

mandi. Si penebang kayu duduk melepaskan lelah di bawah sebatang pohon jati 

sementara Ratih mengasingkan diri di satu tempat agak ketinggian di tebing sungai 

yang terlindung semak belukar. 

Malam mulai turun, udara siang yang panas berubah sejuk, Ratih bangkit berdiri 

dari balik semak belukar itu. Ketika dia kembali ke tempat para pengawal berada 

didapatinya Timbul Karo masih duduk bersandar ke pohon jati, kedua matanya 

terpejam dan dari mulutnya keluar suara mendengkur. Gadis itu memandang 

berkeliling. Dia sama sekali tidak melihat para pengawal itu. Menyangka mereka masih 

asyik-asyikan mandi di tikungan sungai, Ratih membangunkan si penebang kayu. 

"Bangun! Sudah saatnya meneruskan perjalanan. Tolong kau panggilkan para 

pengawal!" 

Timbul Karso mengusap-usap kedua matanya. Lalu terbungkuk-bungkuk dia berdiri. 

"Maafkan saya. Terlalu letih sampai ketiduran. Saya akan panggil pengawal-pengawal 

itu . . . ." 

Lalu penebang kayu ini melangkah ke tikungan sungai. Sesaat kemudian terdengar 

teriakannya dari arah tikungan itu. Dia kemudian muncul setengah berlari. 

"Den Ayu ... Den Ayu . . ." serunya berulang kali. 

Ratih Weningputri segera mendatangi. "Ada apa...?" 

"Celaka! Lihat sendirilah .... Mereka ...." Ratih berlari cepat menuju tikungan 

sungai. Timbul Karso mengikuti terbungkuk-bungkuk dari belakang. Gadis itu serta 

merta hentikan larinya ketika pandangan matanya membentur lima sosok tubuh 

pengawal kelas satu malang melintang di tepi sungai. Kelimanya telah jadi mayat 

dengan kepala pecah! 

"Pembunuhan!" teriak Ratih marah sambil kepalkan kedua tinjunya. 

"Mungkin binatang buas . ."Tidak bisa jadi. Kalau binatang buas pasti ada bagian tubuh mereka yang lenyap 

digerogot." 

"Atau hantu . . . ." 

"Bukan hantu! Bukan binatang buas! Mereka mati dibunuh! Benar-benar keji!" Ratih 

memandang berkeliling. 

"Kalau dibunuh, siapa pembunuhnya?" bertanya Timbul Karso dan ikut-ikutan 

memandang berkeliling. 

Tentu saja Ratih tak dapat menjawab pertanyaan itu. Dia diam saja. Mulutnya 

terkancing tapi kemarahannya menggelegak. Ketika rasa amarah itu dapat ditekannya 

dan pikiran sehat kembali muncul, diam-diam gadis ini merasa kawatir. Jika ada orang 

yang membunuh lima pengawalnya yang berkepandaian tinggi, berarti keselamatannya 

pun ikut terancam. 

"Kita tinggalkan tempat ini sekarang juga!" Ratih memutuskan. 

"Mayat lima pengawal itu . . . ?" tanya si penebang kayu. 

"Kau ceburkan mereka ke sungai. Biar arus membawanya ke laut!" 

Timbul Karso melakukan apa yang dikatakan gadis itu. Ketika dia kembali ke 

tempat Ratih, dilihatnya gadis itu sudah duduk di punggung kuda. 

"Lekas naik ke kudamu. Kita berangkat sekarang!" 

Ratih sesaat terheran ketika dilihatnya si penebang kayu gelengkan kepala. Lalu 

tubuhnya yang sejak pertama kali dilihatnya selalu terbungkuk-bungkuk kini tampak 

naik melurus. Ternyata dia memiliki badan tinggi semampai. 

"Hai!" seru Ratih. "Sandiwara apa yang kau lakukan ini!" 

"Terserah kau menamakan sandiwara apa. Tapi sandiwara ini cukup sampai di sini!" 

"Suaramupun lain. Tidak seperti sebelumnya!" 

Si penebang kayu keluarkan tawa bergelak. 

Ratih lebih terkejut. Dia rasa-rasa pernah mengenali atau mendengar suara tertawa 

seperti itu sebelumnya. 

"Ah, matamu tidak terlalu tajam untuk mengetahui siapa aku sebenarnya!" Si 

penebang kayu membuka mulut sambil menanggalkan bajunya yang lusuh dan dekil. 

Ternyata dia mengenakan pakaian lain di bawah pakaian kotor itu. Pakaian berwarnabiru! 

Berubahlah paras Ratih. Dadanya berdebar. "Tak mungkin dia! Pakaian bisa sama 

tapi wajahnya jelas bukan dia!" 

Seperti membaca apa yang ada di hati si gadis, lelaki berpakaian biru yang tadinya 

mengaku bernama Timbul Karso dan penebang kayu dari Tegal Jenar, gerakkan tangan 

kirinya ke wajahnya. Ketika tangan itu diturunkan, ada selapis topeng sangat tipis ikut 

tertarik dan tanggal. Kini kelihatan wajahnya yang asli. Satu wajah dengan rahang 

menggembung membersitkan kecongkakan dan kekerasan, tetapi juas dihiasi janggut 

berwarna biru pada dagunya! 

Paras Ratih Weningputri seputih kain kafan! "Kau ..." desis gadis ini dengan lidah 

hampir kelu. 

Pangeran Matahari tertawa gelak-gelak. "Senang bertemu aku kembali . . . ?" 

Tidak tunggu lebih lama Ratih gebrak pinggul kudanya. Tapi seperti kejadian 

sewaktu bersama Danupaya dulu, kuda tunggangannya sama sekali tidak bisa bergerak, 

hanya leher binatang itu saja yang menjulur-julur. Tubuh dan empat kakinya tidak 

bergeming sedikitpun! 

"Kau mau buru-buru ke mana gadis jelita? Perjalananmu cukup sampai di sini. 

Kalaupun kita berangkat maka kau harus menurut ke mana mauku!" 

"Manusia iblis! Kau pasti yang telah membunuh kelima pengawalku!" 

Mereka tidak cukup pantas mengawal gadis secantik dan semulusmu! Aku lebih 

layak!" Habis berkata begitu Pangeran Matahari melompat ke punggung kuda dan 

duduk di belakang Ratih. Kedua tangannya langsung merangkul dada gadis itu. 

Hidungnya meluncur ke tengkuk putih yang ditumbuhi rambut-rambut halus. 

"Iblis terkutuk! Lepaskan!" teriak Ratih. Kedua sikutnya dihantamkarr ke belakang. 

Tapi disadarinya kalau saat itu dia tak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Hanya jalan 

suaranya yang masih terbuka. Pangeran Matahari telah menotoknya! Bahaya besar 

mengancam. Dan kini agaknya tak ada seorang lainpun yang bisa menolongnya! Tidak 

hantu tidak pula malaikat! Ratih menjerit-jerit sementara Pangeran Matahari terus 

menciumi dan merabai dadanya. 

"Hentikan jeritanmu!" bentak sang pangeran. "Dengar baik-baik! Nyawa dankehormatanmu ada di tanganmu! Nyawa dan kehormatanmu bagiku tidak ada 

harganya. Karenanya jika ingin selamat dengar dan jawab pertanyaanku!" 

"Turun dari kuda ini! Kalau tidak aku tak akan menjawab! Lepaskan totokan di 

tubuhku!" 

"Kau tidak layak memerintah! Kau yang harus mendengar apa yang kukatakan! 

Menjawab apa yang kutanyakan! Mengerti?!" hardik Pangeran Matahari. Kalau tadi 

tangannya hanya meraba dari luar, kini dengan lebih kurang ajar sepuluh jari 

tangannya menyelusup ke balik pakaian gadis itu. Ratih merasakan tubuhnya seperti 

terbakar oleh rasa malu dan amarah yang bukan alang kepalang. 

"Di mana peta telaga emas itu ...." 

Pangeran Matahari ajukan pertanyaan. 

"Tak ada padaku!" sahut Ratih. 

"Kalau tak ada padamu dan juga tak ada pada gurumu . . . ." 

"Kau telah membunuh guruku!" 

"Diam!" teriak Pangeran Matahari sambil sepuluh jarinya meremas. 

"Kalau peta itu tak ada padamu, juga tak ada pada gurumu, lantas di mana? Siapa 

yang memegangnya?!" 

"Guru telah memberikan pada pemuda bergelar Pendekar 212 Wiro Sableng itu ...!" 

"Hemmm, begitu? Lalu di mana pemuda itu sekarang berada. Kau pasti tahu!" 

"Dalam perjalanan ke tempat kediaman gurunya di puncak Gunung Gede! Kalau 

kau inginkan peta itu silahkan pergi ke sana. Kalau saja kau mampu merampasnya! 

Kalau saja kau tidak takut dia akan memecahkan kepalamu seperti kau memecahkan 

kepala pengawal-pengawal itu!" 

Pangeran Matahari tertawa mengekeh. 

"Apa sulitnya menghadapi pemuda tolol itu!" 

"Kecongkakanmu kosong belaka! Buktinya ketika dia menggebrakmu di puncak 

bukit Sawojajar, kau melarikan diri. 

"Diam!" hardik Pangeran Matahari. "Kau ikut aku ke Gunung Gede! Jika bangsat 

bernama Wiro Sableng itu tidak mau berikan peta telaga emas padaku, kau akan 

kubunuh!"Ratih hanya bisa kertakkan geraham. 

Saat itulah terdengar suara siulan nyaring dari arah sungai. Lalu suara orang keluar 

dari air. Sesaat kemudian sesosok tubuh yang rupanya baru saja berenang menyeberang 

muncul di pinggiran sungai. Begitu muncul orang ini keluarkan ucapan: "Siapa 

inginkan peta telaga emas silahkan berurusan denganku! Jangan berlaku seperti banci 

hanya berani pada perempuan!" 

Ratih dan juga Pangeran Matahari segera mengenali suara itu. 

"Pendekar 212!" seru sang dara.



12 

YANG TEGAK, di tebinq sungai memanglah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 

Wiro Sableng. Dia berdiri bertolak pinggang dalam keadaan basah kuyup. Senyum 

seenaknya bermain di mulutnya. 

"Pangeran Banci! Turun dari kudamu!" menghardik Wiro. 

Mendidih darah Pangeran Matahari dipanggil dengan sebutan "Pangeran Banci" itu. 

Tapi terlalu bodoh jika dia harus memenuhi permintaan orang. Dengan menguasai 

Ratih, berarti dia akan menguasai keadaan. 

"Pemuda sedeng! Jika kau inginkan gadis ini selamat lekas serahkan peta telaga 

emas!" 

"Jika begitu janjimu, aku akan memenuhi!" sahut Wiro tanpa tedeng aling-aling. 

Lalu dia membuka simpul ikatan kain kepalanya. 

Melihat hal ini Ratih cepat berteriak, "Jangan serahkan padanya. Demi arwah guru 

aku bersedia mati dari pada peta jatuh ke tangan iblis berjanggut biru ini!" 

"Jangan tolol!" menghardik Wiro. "Harta bisa dicari tapi nyawa dan kehormatan tak 

ada gantinya!" 

Dari ikatan kain kepalanya Wiro keluarkan segulung kain hitam. Itulah peta telaga 

emas yang diterimanya dulu dari Ki Rana Wulung untuk disampaikan pada gurunya 

Sinto Gendeng. 

"Kau pengecut! Manusia tidak berbudi!" teriak Ratih pada Wiro. "Guru terlalu 

bodoh menyerahkan peta itu padamu!" 

Wiro tidak perdulikan teriakan si gadis. Dia ulurkan tangan kanannya pada 

Pangeran Matahari. "Ini yang kau inginkan. Ambillah!" 

Manusia segala cerdik segala licik dan segala akal seperti Pangeran Matahari tidak 

sebodoh itu saja mau menerima langsung gulungan kain peta dari tangan Wiro. 

"Lemparkan peta itu ke dekat batu hitam sana. Lalu melangkahkah mundur dan 

masuk ke dalam sungai!"Wiro menyeringai. Seperti yang diperintahkan Pangeran Matahari, gulungan kain 

hitam berisi peta rahasia telaga emas dilemparkannya ke dekat sebuah batu hitam yang 

terletak di tepi sungai. Lalu dia melangkah mundur dan perlahan-lahan masuk ke 

dalam sungai sampai sebatas dada. 

Sambil memeluk Ratih, Pangeran Matahari membuat lompatan dari punggung 

kuda. Tetapi pada saat itu sang kuda yang sejak tadi tertegun tak bisa bergerak, tiba-

tiba saja seperti ada yang memusnahkan kekuatan aneh yang menguasai dirinya. 

Binatang ini meringkik keras sambil angkat kedua kakinya ke atas. Gerakan melompat 

yang dilakukan Pangeran Matahari walaupun berhasil namun tubuh Ratih keburu 

jatuh, tidak melayang bersama-sama tubuhnya. Di saat yang sama Pendekar 212 Wiro 

Sableng menghambur keluar dari dalam air sungai! 

*** 

Meskipun bergerak kencang seharian suntuk tanpa istirahat tapi rombongan yang 

dipimpin oleh Tumenggung Puro Bekasan masih belum dapat mengejar atau menemui 

rombongan Ratih. Di satu tempat sang Tumenggung memerintahkan rombongan 

berhenti dan berunding dengan perwira muda yang ikut bersamanya. 

"Mereka pasti tidak menempuh jalan biasa! Ada di antara kalian mengetahui jalan 

lain ?" 

Seorang pengawal maju ke muka. 

"Setahun silam ketika saya ikut membasmi gerombolan rampok Warok Kutoireng, 

saya dan sejumlah perajurit melewati jalan setapak di kakikaki bebukitan. Kalau jalan 

itu masih ada, mungkin kita bisa lebih cepat sampai di Sawojajar ..." 

"Tak ada pilihan lain! Ikuti jalan itu. Kau memimpin di depan!" 

Jalan yang mereka lalui ternyata memang jalan yang sebelumnya telah diambil oleh 

Pangeran Matahari. Ketika Wiro dan sang Pangeran saling berhadapan di tepi sungai, 

rombongan ini sampai pula di tempat tersebut. Tumenggung Puro Bekasan langsung 

memerintahkan puluhan perajurit mengurung tempat itu. 

Saat itu Pangeran Matahari tengah berpikir keras untuk mengambil keputusan.Apakah dia akan serta merta mengambil peta yang dicampakkan Wiro di atas tanah 

atau terlebih dahulu menguasai Ratih kembali untuk jaminan keselamatan dirinya. 

Namun ketika dia melihat munculnya pasukan dari Kotaraja dibawah pimpinan 

Tumenggung Puro Bekasan, manusia iblis ini memutuskan untuk langsung mengambil 

peta yang tercampak di tanah lalu meninggalkan tempat itu. 

Maka diapun membuat lompatan kilat untuk mengambil peta yang terbuat dari 

kain tergulung itu. Serambut lagi jari-jari tangannya akan menyentuh kain hitam, 

mendadak sontak gulungan kain itu mencelat terbang ke arah Wiro Sableng! Kejut sang 

Pangeran bukan alang kepalang. Wiro sendiri keluarkan suara tertawa mengejek sambil 

gulung benang hitam yang diikatkannya ke gulungan kain hitam! 

"Manusia segala lick segala cerdik segala akal! Hari ini kau tertipu oleh selembar 

benang!" 

"Bangsat rendah! Mampuslah!" teriak Pangeran Matahari. 

Dua tangannya dihantamkan ke depan. Satu ke arah Wiro dan satu lagi ke arah 

Ratih yang masih terduduk di tanah sehabis jatuh dari kuda tadi. 

Sinar kuning, merah dan hitam melesat keluar dari tangan kiri kanan manusia iblis 

berjanggut biru tua. Ternyata dia lepaskan pukulan maut ganas bernama Gerhana 

Matahari! Terdengar suara menggelegar dahsyat disertai hawa panas luar biasa. Ratih 

menjerit. Tumenggung Puro Bekasan keluarkan seruan tertahan. Orang ini coba 

menyerbu ke depan untuk menolong keponakannya tetapi hawa panas membuatnya 

mundur teratur. Dia tak berani mencoba lagi karena kepandaian apapun yang dimiliki-

nya saat itu tidak sanggup menembus sinar menggidikkan yang keluar dari pukulan 

sakti Pangeran Matahari. Perwira muda dan para pengawal lainnyapun lebih tak 

berdaya lagi. 

Wiro berseru tegang. Dari tempatnya berdiri jarak Ratih dengan Pangeran Matahari 

lebih dekat berarti pukulan lawan bisa sampai lebih dulu dari pada yang ditujukan 

padanya. Tanpa pikir panjang lagi, sambil siapkan pukulan sinar matahari di tangan 

kiri kanan, Wiro melompat ke depan. 

Ratih kembali terdengar menjerit, ketika dua larik sinar menyilaukan yang juga 

mengandung hawa panas luar biasa menggebu-gebu menyongsong sinar pukulan mautPangeran Matahari. 

Kawasan tepi sungai itu seputar jarak dua pupuluh tombak terang benderang dan 

menggelegar seperti dilanda gempa. Belasan perajurit pengawal jatuh berkaparan. Ratih 

terguling-guling tapi selamat. Tumenggung Puro Bekasan dan perwira muda yang tetap 

disampingnya tergontai-gontai lalu cepat-cepat berpegangan ke pohon agar tidak 

terhempas jatuh. 

Ketika asap hitam merah bercampur kuning musnah dilabrak cahaya dahsyat 

pukulan sinar matahari, kobaran api tampak di beberapa pohon. Asap hitam 

bergulung-gulung. Wiro tak mau tertipu oleh kelicikan lawan. Dia keluarkan Kapak 

Maut Naga Geni 212 lalu melompat masuk ke dalam asap tebal dan sini putar senjata 

mustikanya itu untuk mencegah kalau-kalau Pangeran Matahari tanpa kelihatan 

lepaskan pukulan-pukulan sakti secara membokong. Suara seperti ribuan tawon 

mengamuk keluar dari desingan kapak membuat suasana di tempat itu bertambah 

rnengerikan dan menegangkan. 

Perlahan-lahan asap hitam tebal mulai berkurang lalu akhirnya pupus lenyap sama 

sekali. Api yang membakar dedaunan dan ranting pepohonan perlahan-lahan padam. 

Semua orang memandang berkeliling dengan rasa tegang masih menyungkup. 

Pendekar 212 Wiro Sableng tegak di tengah kalangan pertempuran sambil 

melintangkan Kapak Naga Geni 212 di depan dada. Pangeran Matahari tak tampak lagi 

di tempat itu. Tetapi di tanah kelihatan gumpalan darah kental. Wiro maklum musuh 

besarnya itu telah terluka di dalam dan memuntahkan darah segar. Setelah sekali lagi 

meneliti keadaan sekelilingnya untuk memastikan bahwa Pangeran Matahari betul-betul 

telah melarikan diri dari situ, Wiro masukkan senjata mustikanya ke balik pakaian. 

Lalu melangkah mendapatkan Ratih yang tengah diurut-urut oleh Tumenggung Puro 

Bekasan untuk melepaskan totokan yang membuat kaku sekujur tubuhnya. Tapi sang 

Tumenggung ternyata tidak berkemampuan membebaskan keponakannya itu. 

"Maafkan saya," kata Wiro seraya berlutut di samping Ratih. Dipegangnya urat 

besar di leher sang dara. Di situ terasa darah mengalir seperti biasa. Berarti totokan 

Pangeran Matahari tidak bersarang di situ. Wiro memeriksa lagi. Lalu garuk-garuk-

garuk kepala."Bagaimana orana muda, kau tak bisa menolongnya?" tanya Tumenggung Puro 

Bekasan dengan cemas. 

"Bisa Tumenggung. Tapi tidak di sini. Terlalu banyak mata yang menyaksikan ..." 

Lalu Wiro mendukung tubuh Ratih dan membawanya ke balik semak belukar. Di sini 

gadis itu dibaringkannya di tanah. 

"Maafkan saya ..." kata Wiro sekali lagi. Lalu dengan cepat membuka dada pakaian 

si gadis. Ratih mengatupkan mulutnya dan memejamkan matanya rapat-rapat. 

Dirasakannya sepasang tangan pendekar itu mendekapi payudaranya. Ada hawa panas 

menjalar. Lalu ada jari yang menusuk pada sebelah bawah. Setelah itu totokan yang 

menguasai tubuhnya pun punah. Gadis ini melompat bangun seraya menutup dada 

pakaiannya dengan cepat dan paras merah karena jengah. 

"Aku tak tahu harus mengucapkan apa padamu, Wiro. Hutang budi dan hutang 

nyawa, hutang kehormatan . . . ." 

Wiro tertawa kecil. "Soal hutang piutang itu adalah urusannya pedagang, bukan 

urusan kita orang-orang tolol! Aku harus pergi sekarang. Di lain waktu aku akan 

menyambangimu di Kotaraja." 

"Tidak! Kau harus ikut kami sekarang ke Kotaraja!" berkata Ratih. 

Wiro gelengkan kepala. "Lain kali saja. Aku harus menemui guru guna melaporkan 

semua yang terjadi. Selamat tinggal sahabat. Jaga dirimu baik-baik ...." Sehabis berkata 

begitu Wiro susupkan tangan kanannya ke balik dada pakaian sang dara. Hal ini 

membuat Ratih tersentak kaget. Dia sama sekali tidak marah diperlakukan seperti itu. 

Tetapi sekurang ajar itukah pemuda satu ini? Sama seperti Pangeran Matahari ...? Ratih 

mengusap dadanya yang tadi disentuh Pendekar 212. Terasa ada sesuatu yang terselip 

antara dada dan pakaiannya. Ketika diperiksanya ternyata benda itu adalah gulungan 

kain hitam yang bukan lain adalah peta rahasia telaga emas! Mengertilah kini sang dara 

apa sebenarnya maksud pemuda itu tadi meraba dadanya. Bukan untuk sesuatu yang 

kurang ajar, tapi guna menyelipkan benda berharga itu. 

"Pemuda nakal⁄ " desis Ratih. Di bibirnya tersimpul senyum bahagia. "Entah kapan 

aku bisa melihatnya lagi⁄" 

Semak belukar di samping kiri Ratih tiba-tiba terkuak. Satu kepala muncul.

Ternyata Tumenggung Puro Bekasan. 

"Hai, mana pemuda hebat itu?" bertanya sang Tumenggung. 

"Dia lenyap seperti ditelan malam . . ." sahut Ratih. 

"Hanya setan yang bisa lenyap secepat itu," ujar Tumenggung Puro Bekasan. 

"Atau malaikat⁄ " sahut sang dara dan senyum masih tersimpul di bibirnya yang merah. 


TAMAT

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive