"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Selasa, 25 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE DOSA DOSA TAK BERAMPUN

Dosa Dosa Tak Berampun



Dosa Dosa Tak Berampun


MESKIPUN tanah Jawa dikenal sebagai pusat perkembangan ilmu silat 

dan kesaktian, namun beberapa daerah di tanah air telah pula 

mendapat nama harum berkat kehebatan para tokoh silat serta 

kesaktian yang mereka miliki. Salah satu di antaranya adalah daratan 

Aceh di Ujung Utara Pulau Andalas.

Dalam serial Wira Sableng berjudul “Raja Rencong Dari Utara” 

telah dikisahkan munculnya seorang tokoh silat sakti mandraguna, 

bernama Hang Kumbara, bergelar Raja Rencong Dari Utara. Di situ 

dikisahkan bagaimana Raja Rencong berusaha mendirikan apa yang 

disebut Partai Topan Utara. Dia mengundang berbagai tokoh silat yang 

ada di pulau Andalas bahkan dari outau Jawa untuk datang ke Bukit 

Toba guna mengadakan pertemuan dan membicarakan rencana besar 

itu. Padahal di balik semua itu Raja Rencong mempunyai maksud keji 

yakni hendak membunuh semua para tokoh silat yang hadir. Bilamana 

para tokoh itu berhasil disingkirkan maka dia akan menjadi raja diraja 

rimba persilatan.

Raja Rencong mulai dengan menghancurkan Pesantren 

Suhudilah. Para pengurus pesantren yakni Kiyai Hurajang, Kiyai 

Selawan dan Kiyai Tanjung Laboh mati di tangan Raja Rencong. Padahal 

tiga Kiyai itu merupakan orang-orang berkepandaian tinggi bahkan telah 

dianggap sebagai Datuk rimba persilatan.

Kiyai Suhudilah sendiri, pucuk pimpinan Pesantren Suhudilah 

akhirnya tewas pula di tangan Raja Rencong. Tak ada satu kekuatanpun 

yang dapat membendung kehebatan Ilmu Kuku Api dan pukulan Topan 

Pemutus Urat yang dimiliki Raja Rencong. Dengan dua ilmu luar biasa 

itu dia malang melintang dalam rimba persilatan pulau Andalas.

Setelah Pesantren Suhudilah disapu bersih maka Raja Rencong 

menggasak satu komplotan manusia-manusia jahat yang dikenal 

dengan sebutan Gerombolan Setan Merah. Semula Raja Rencong 

bermaksud mengambil lima tokoh Setan Merah untuk menjadi para 

pembantunya. Tetapi ketika mereka menolak dan menghina. Raja 

Rencong membunuh kelimanya yakni Setan Cambuk (Pemimpin 

Gerombolan Setan Merah), Setan Pedang, Setan Pisau, Setan Darah dan 

Setan Rencong.

Dalam kehidupannya yang penuh darah dan maut itu Raja 

Rencong mempunyai seorang anak gadis bernama Pandansuri yang 

memiliki kecantikan luar biasa, tetapi kekejaman dan keganasannya 

tidak kalah dari Raja Rencong sendiri.

Apa yang terjadi di rimba persilatan pulau Andalas itu sangat 

menggelisahkan hati seorang tua berusia hampir tujuh puluh lima

tahun. Orang ini dikenal dengan nama Datuk Mata Putih, tokoh silat 

yang sangat disegani di pulau Andalas pada masa itu. Kedua matanya 

berwarna putih. Hampir tak terlihat lensa mata yang hitam. Tapi dia 

tidak buta. Dia merasa menyesal karena Rencong Emas yang kini 

dimiliki oleh Hang Kumbara alias Raja Rencong Dari Utara adalah 

pemberiannya kepada Hang Kumbara sebagai anak muridnya. Dan kini 

dengan Rencong Emas sakti mandraguna itulah sang murid malang 

melintang menimbulkan keonaran, menurunkan tangan jahat, 

melakukan pembunuhan serta perbuatan keji lainnya di mana-mana.

Karena tak dapat berpangku tangan lebih lama maka Datuk Mata 

Putih meninggalkan goa pertapaannya mencari sang murid. Dalam 

pertemuan di Bukit Toba, Datuk Mata Putih menasihatkan Hang 

Kumbara agar bertobat dan tidak lagi melakukan kejahatan karena itu 

tidak sesuai dengan perilaku seorang tokoh silat, apalagi mengingat dia 

adalah muridnya sedang sang datuk sendiri begitu disegani dan 

dihormati sesama tokoh persilatan.

Dengan dalih bahwa dia hanya membalaskan sakit hati kematian 

ayahnya yang dibunuh secara kejam semena-mena Hang Kumbara 

menganggap dia punya hak melakukan balas dendam. Namun 

kemudian dendam terbalaskan itu menjadi dendam berangkai. Para 

tokoh silat memburunya. Mau tak mau dia terpaksa mempertahankan 

diri dan menghancurkan semua orang yang berusaha menuntut balas.

Apapun alasan yang dikemukakan Hang Kumbara, semua itu tak 

dapat diterima oleh Datuk Mata Putih, dan mengharap agar muridnya 

yang tersesat kembali ke jalan yang benar. Namun Hang Kumbara 

menjawab: “Salahkah murid, sesatkah murid kalau murid murid 

membunuh belasan manusia yang bertanggung jawab atas kematian 

ayah, bahkan ibu, adik-adik, calon istriku dan seluruh anggota 

keluarganya...?!”

Datuk Mata Putih menyahuti: “Orang-orang yang bertanggung-

jawab atas semua itu jumlahnya hanya sepersepuluh saja dari jumlah 

manusia yang telah kau bunuh secara keji! Apa pertanggungan 

jawabmu atau alasanmu atas yang sembilan persepuluh lainnya? Yang 

kau bunuh tanpa pangkal sebab atau kesalahan atau dosa apa pun 

juga?!”

Karena putus asa melihat kekerasan kepala muridnya itu maka 

Datuk Mata Putih memerintahkan Raja Rencong untuk mengembalikan 

Rencong Emas yang dulu diserahkannya dan ikut bersamanya ke 

pertapaan. Tentu saja Raja Rencong menolak perintah tersebut. Maka 

perkelahian antara guru dan muridpun tak dapat dihindarkan lagi. 

Ternyata Datuk Mata Putih tidak dapat menghadapi kehebatan sang 

murid. Guru yang malang ini akhirnya tewas oleh tusukan Rencong 

Emas, senjata sakti yang diciptakannya sendiri yang kemudian 

diberikannya pada Hang Kumbara!

Kematian Datuk Mata Putih menggemparkan dunia persilatan 

terutama di belahan utara pulau Andalas.Suatu hari berkumpullah empat orang tokoh silat terkenal di 

puncak gunung Sinabung. Mereka adalah Panglima Sampono selaku 

tuan rumah. Dia dikenal sebagai tokoh silat yang pernah membaktikan 

diri pada Sultan Deli hingga akhirnya walaupun dia tidak bertugas lagi 

di Kesultanan, gelar Panglima tetap melekat pada dirinya. Orang kedua 

ialah Datuk Nan Sebatang lalu Lembu Ampel dan yang terakhir Se-

brang Lor. Lembu Ampel adalah tokoh silat berasal dari pulau Jawa tapi 

selama beberapa tahun terakhir telah menetap di pulau Andalas.

Keempat orang ini bertemu untuk membicarakan masalah besar 

yang tengah dihadapi dunia persilatan saat itu yakni merajalelanya Raja 

Rencong dengan segala keganasannya.

Sebrang Lor sendiri adalah seorang tokoh silat dari daratan 

Malaka yang menyeberang ke Andalas untuk membalas dendam 

kesumat. Menurut keterangannya Raja Rencong telah gentayangan ke 

Malaka, membunuh tokoh-tokoh persilatan di sana yang tidak mau 

tunduk dan bergabung padanya. Bahkan ketika kembali ke Andalas, 

Raja Rencong telah pula menculik dua orang gadis.

Keempat orang itu menyadari bahwa Raja Rencong memiliki 

kepandaian tinggi luar biasa. Sekalipun mereka berempat belum tentu 

dapat mengalahkannya. Karenanya harus dicari akal yang sebaik-

baiknya. Atas saran Panglima Sampono diputuskan untuk menculik 

Pandansuri yakni anak Raja Rencong. Bila anak gadisnya dikuasai maka 

sang ayah besar kemungkinan bisa ditundukkan.

Di sebuah kaki bukit empat tokoh silat tadi menghadang 

Pandansuri. Terjadi perkelahian hebat. Meskipun memiliki kepandaian 

sangat tinggi yang didapatnya dari Raja Rencong namun akhirnya 

Pandansuri terdesak. Tetapi sewaktu si gadis siap untuk diringkus, 

muncullah Pendekar 212 Wiro Sableng memberikan pertolongan. Murid 

Eyang Sinto Gendang ini sama sekali tidak mengetahui siapa adanya 

Pandansuri dan apa urusan empat orang itu mengeroyok sang dara. Dia 

memberikan pertolongan hanya karena tidak suka melihat ketidak 

adilan. Empat lelaki berkepandaian tinggi mengeroyok seorang gadis 

berkerudung. Kalau tidak ditolong niscaya si gadis akan celaka.

Begitu dirinya terhindar dari tangkapan lawan, Pandansuri segera 

melarikan diri setelah terlebih dulu mengancam akan memberitahukan 

kejadian pengeroyokan itu pada Raja Rencong.

Setelah Pandansuri meninggalkan kaki bukit, maka kemarahan 

kini tertumpah pada Pendekar 212 Wiro Sableng. Perkelahian pecah 

kembali. Kini Wiro yang menjadi sasaran keroyokan. Pendekar ini 

mempertahankan diri dengan mengandalkan Rencong Perak milik 

Pandansuri yang terlepas mental dan berhasil disambarnya sewaktu 

gadis itu berkelahi menghadapi Panglima Sampono dan tiga tokoh 

lainnya itu.

Dalam perkelahian yang berlangsung cukup lama itu akhirnya

Wiro berhasil menotok ke empat lawannya. Namun dia kemudian jadi 

terkejut setelah mengetahui kalau gadis yang barusan ditolongnyaadalah anak Raja Rencong. Padahal Raja Rencong adalah manusia 

durjana yang sedang dicari-carinya. Dia sengaja menyeberangi lautan, 

datang dari tanah Jawa ke pulau Andalas untuk menumpas Raja 

Rencong yang jahat itu! Setelah meminta maaf Wiro tinggalkan ke empat 

tokoh silat tadi masih dalam keadaan tertotok.

Perbuatan-perbuatan biadab Raja Rencong yang menggegerkan 

dunia persilatan akhirnya sampai pula ke telinga Sultan Deli. Maka 

dikirimkannyalah Dipa Warsyah seorang perwira tinggi untuk 

menangkap Raja Rencong hidup atau mati. Namun ternyata sang 

perwira bukan saja tidak berhasil menemukan Raja Rencong Dari Utara 

malah dia akhirnya menemui ajal di tangan Pandansuri, tewas dihantam 

pukulan ilmu kuku api yang ganas. Di tempat yang sama terbunuhnya 

perwira tinggi Kesultanan Deli itu Pendekar 212 Wiro Sableng bertemu 

pula dengan Pandansuri. Melihat keganasan yang dilakukan sang dara 

tentu saja Wiro merasa tidak senang. Apalagi sikap Pandansuri setelah 

dulu ditolongnya dari keroyokan Panglima Sampono sama sekali tidak 

menunjukkan itikad baik atau mengucapkan terima kasih. Maka tak 

dapat ladi dihalangi terjadinya perkelahian antara kedua orang ini. 

Setelah terdesak hebat akhirnya Pandansuri melarikan diri.

PADA hari dan tanggal yang telah ditentukan diresmikanlah 

berdirinya Partai Topan Utara. Puluhan tamu yang diundang tampak 

menaiki perahu menuju bukit Toba. Mereka umumnya terdiri dari 

orang-orang dunia persilatan. Bahkan banyak diantara mereka 

merupakan tokoh-tokoh silat ternama. Semua mereka tidak menduga 

bahwa kedatangan mereka menghadiri peresmian berdirinya partai 

darah itu hanyalah untuk mengantarkan nyawa belaka. Karena 

sebenarnya Raja Rencong Dari Utara sudah menanam niat untuk 

membunuh mereka semua! Para tamu duduk di sebuah tempat yang 

dinamakan Arena Topan Utara. Arena itu terletak di bawah sebuah 

bangunan tua. Sesuai dengan rencana yang diatur, Raja Rencong akan 

pergi ke mimbar dan Pandansuri akan menqgerakkan satu alat rahasia. 

Alat rahasia ini akan menghancurkan bagian atas Arena Topan Utara 

dan semua orang yang ada dalam Arena dengan sendirinya akan 

tertimbun hidup-hidup.

Apa yang dirundingkan ayah dan anak dalam kamar rahasia itu 

sempat terdengar oleh Pendekar 212 Wiro Sableng yang berhasil masuk 

menyusup ke tempat kediaman Raja Rencong. Tetapi celakanya 

kehadiran Wiro sempat dirasakan oleh Raja Rencong. Maka diapun 

melakukan penyelidikan sebelum menuju Arena Topan Utara. Satu-

satunya tempat bersembunyi adalah sebuah kamar. Wiro segera masuk 

ke dalam kamar ini. Dinding, lantai dan langit-langit kamar terbuat dari 

batu kasar dan seluruh ruangan penuh berselimut debu.

Di tengah ruangan duduk seorang lelaki tua bermuka biru dan 

berpipi sangat cekung. Tubuhnya yang kurus tertutup sehelai jubah 

biru yang luar biasa besarnya hingga bagian bawah jubah ini menutupi 

hampir separuh lantai ruangan batu. Kedua tangan orang tua aneh inibuntung sebatas siku dan salah satu telinganya sumplung. Di lehernya 

terikat sehelai rantai baja yang ujungnya dipantek dan ditanam pada 

dinding batu di belakangnya. Kedua matanya tertutup. Sikapnya tak 

ubah seperti seseorang yang sedang bersemedi.

“Hai... Orang tua, kau siapa?” bisik Wiro. Dia kawatir kalau Raja 

Rencong muncul dengan tiba-tiba.

Orang tua yang dibisiki membuka kedua matanya.

Astaga1. Wiro merasakan tengkuknya dingin. Kedua mata itu 

hanya merupakan sepasang rongga yang dalam dan mengerikan.

“Anak tolol!. Lekas sembunyi dalam jubah di belakang 

punggungku!” berkata orang tua.

Wiro sadar kalau dirinya terancam bahaya yakni jika Raja 

Rencong menemukannya di ruangan batu itu. Maka tanpa pikir panjang 

dia segera melakukan apa yang dikatakan orang tua itu. Menyusup 

masuk ke dalam jubah biru yang sangat besar. Meskipun orang nyata 

menolongnya namun Wiro masih belum dapat memastikan apakah 

orang tua itu musuh atau kawan. Karenanya diam-diam dia 

mengerahkan aji pukulan sinar matahari di tangan kiri sedang tangan 

kanan menggenggam hulu Kapak Maut Naga Geni 212.

“Anak, aku bukan musuhmu! Mengapa musti meraba senjata 

segala?” tiba-tiba orang tua bermata buta itu mengiangkan pertanyaan 

ke telinga Wiro.

Suara mengiang itu! Luar biasa sekali. Tentunya orang tua ini 

seorang sakti mandraguna. Mengapa kedua matanya bolong begitu 

rupa, lalu dua tangan buntung dan ditambah rantai baja yang mengikat 

lehernya?

Tiba-tiba pintu terpentang dan terdengar bentakan Raja Rencong.

“Tua renta buta! Siapa yang masuk ke sini?!”

Orang tua itu terdengar menghela nafas dalam. Lalu terdengar 

suaranya halus sekali seperti suara anak perempuan.

“Jika aku sampai tidak melihat orang masuk kemari itu bukan 

karena ketololanku. Tapi karena memang kedua mataku buta. 

Sebaliknya jika kau yang punya mata dan telinga sampai tidak 

mengetahui, malah bertanya padaku itu adalah satu ketololan yang tak 

ada taranya! Apakah kau memang melihat ada orang lain di tempat 

ini?!”

Ucapan itu membuat Raja Rencong melontarkan kata-kata kotor.

“Eh, sudahkah kau periksa Hang Kumbara?” tanya orang tua itu.

’Tutup mulutmu setan tua!” sentak Hang Kumbara alias Raja 

Rencong Dari Utara.

Disentak begitu si orang tua ganda tertawa dan menyahut: 

“Bukankah hari ini hari peresmian Partai Topan Utara?”

“Kunyuk peot!” kembali Raja Rencong menyentak. “Kau tahu apa 

tentang segala macam partai!”

“Aku memang tidak tahu apa-apa! Tapi aku mempunyai firasat 

bahwa partaimu itu akan runtuh sebelum saat peresmiannya. Dan kausendiri akan mampus!”

“Ya! Aku akan mampus! Tapi sebelum mampus untuk ke seratus 

kalinya terima dulu tamparanku!” Plaak!

Tamparan yang dilayangkan Raja Rencong keras luar biasa. 

Tubuh orang tua itu terasa oleh Wiro menghuyung tapi dia tidak roboh. 

Bibirnya yang pecah mengucurkan darah. Darah Pendekar 212 Wiro 

Sableng menggelegak mengetahui orang tua yang telah menolongnya 

diperlakukan seperti itu. Segera saja dia hendak melompat keluar dari 

dalam jubah. Tapi di telinganya terdengar suara ngiangan seperti 

nyamuk.

“Jangan tolol anak!”

Mau tak mau terpaksa Wiro mendekam terus di dalam jubah lebar 

itu. Kemudian terdengar pintu kamar ditutupkan. Raja Rencong telah 

keluar.

“Sekarang kau boleh keluar!” terdengar si orang tua berkata.

Wiro cepat keluar lalu menjura hormat seraya berkata: “Terima 

kasih atas budi pertolonganmu. Siapakah kau ini sebenarnya...?”

Orang tua itu tertawa. Tampak gusinya yang tanpa gigi lagi.

“Sewaktu kudengar orang berkelebat menuju belakang bangunan 

tua, sewaktu kudengar kau mengangkat rerumpunan semak belukar 

lalu menyusup turun dalam lorong rahasia, hatiku gembira. Kukira kau 

adalah Tua Gila. Tapi dari langkahmu kemudian segera kuketahui 

bahwa kau bukan Tua Gila. Tapi, aku yakin kau pasti ada sangkut paut 

dengan orang tua itu. Mungkin sekali kau muridnya. Betul...?”

Wiro Sableng melengak. Kehebatan orang tua cacat ini sungguh 

luar biasa. “Kau betul. Secara kebetulan aku bernasib baik dan 

mendapat beberapa jurus pelajaran ilmu silat dari Tua Gila. Kalau aku 

boleh bertanya, bagaimana kau tahu setiap gerak gerikku?”

“Ilmu yang tinggi adalah seribu mata seribu telinga. Tapi semua 

itu berakhir dalam kesia-siaan. Buktinya diriku ini!”

“Kenapa kau sampai seperti ini?” tanya Wiro.

“Muridku sendiri yang melakukannya!” jawab orang tua itu.

“Muridmu?” kejut Wiro.

“Tak perlu terkejut atau heran anakmuda. Dunia ini penuh 

dengan orang-orang sesat den murid murtad!”

“Kalau aku boleh bertanya siapakah muridmu itu?”

“Masakan kau tak bisa menduga. Siapa lagi kalau bukan Hang 

Kumbara!”

“Maksudmu Raja Rencong Dari Utara?” “Itu gelarnya!”

“Benar-benar manusia terkutuk!” desis Wiro geram. Sekali dia 

menggerakkan tangan kanannya, rantai baja yang tertanam di dinding 

batu tanggal. Wiro lalu melepaskan bagian rantai yang mengikat

leher orang tua itu.

“Terima kasih anak muda. Aku bisa bernafas lebih lega sekarang. 

Tenagamu luar biasa sekali...”

“Orang tua, aku tak punya waktu banyak. Tugasku adalah untukmenghancurkan Partai Topan Utara. Berarti juga memusnahkan Raja 

Rencong. Kalau tugas itu selesai aku akan kembali kemari membawamu 

keluar dari tempat terkutuk ini! Maukah kau menerangkan siapa 

namamu?”

“Ah, aku berterima kasih akan maksud baikmu itu. Tapi diriku 

yang cacat dan pikun ini tak perlu kau pikirkan. Yang penting 

selamatkan orang-orang itu. Dengar anak muda, namaku Nyanyuk 

Ambar. Dulu aku diam di Gunung Singgalang. Sampai munculnya Hang 

Kumbara manusia laknat itu. Dia datang mengemis ilmu padaku. Diluar 

tampaknya dia seorang pemuda baik-baik. Lagi pula kuketahui 

kemudian sebelumnya dia berguru pada Datuk Mata Putih, seorang 

sahabatku. Maka kuambil dia jadi murid dan kuajarkan berbagai ilmu 

silat serta kesaktian. Tapi siapa nyana kalau manusia itu sebenarnya 

sejak lama mendekam satu maksud jahat. Yaitu ingin menguasai dunia 

persilatan di pulau Andalas ini dengan menghimpun sekian banyak 

tokoh lalu membunuh mereka secara keji! Aku ketahui kemudian bahwa 

sahabatku Datuk Mata Putih telah menemui ajal dibunuh oleh manusia 

keparat itu. Aku sendiri tidak terlepas dari kekejamannya. Hanya saja 

aku masih dibiarkan hidup dengan dalam cacat seperti ini!”

“Jadi Hang Kumbara juga yang memutus kedua tanganmu?” 

tanya Wiro.

“Bukan hanya lenganku, anak. Bukan hanya lenganku! Coba kau 

singkap jubah biru ini di bagian kaki.”

Wiro menyingkapkan jubah biru Nyanyuk Amber. Astaga! 

Ternyata kedua kaki orang tua itu juga buntung sebatas lutut!

“Hang Kumbara yang melakukannya...” desis orang tua itu. “Dia

juga yang mencongkel kedua mataku!”

“Manusia jahanam!” Kedua tangan Wiro terkepal. “Orang tua, aku 

bersumpah untuk membunuh manusia itu! Tapi mengapa dia 

melakukan hal itu padamu?”

“Seperti Datuk Mata Putih, aku datang padanya dan memberi 

nasihat agar meninggalkan jalan sesat. Menghentikan pembunuhan 

terhadap tokoh-tokoh silat tak berdosa. Alasan itu sudah cukup baginya 

untuk melakukan kekejian ini padaku. Dia membokongku dengan

totokan. Dalam keadaan tak berdaya tangan serta kakiku dipotongnya. 

Kedua mataku dikoreknya. Lalu aku dimasukkan ke dalam ruangan ini 

dan dirantai!”

“Belum pernah aku melihat dan mendengar manusia seganas 

Hang Kumbara. Tempatnya jelas di neraka!”

Si orang tua tertawa mengekeh. “Kau pergilah cepat! Jangan 

terlambat! Kalau orang-orang itu sampai menemui ajal, celakalah dunia 

persilatan!”

Mendengar kata-kata itu Wiro segera tinggalkan ruangan batu 

dengan cepat


2


DI TENGAH-TENGAH Arena Topan Utara terletak sebuah mimbar. Di 

belakang mimbar itu berdiri Raja Rencong Dari Utara. Matanya 

menyorot memandang ke arah tamu-tamu yang hadir. Semua orang 

yang hadir di situ terbagi dalam tiga golongan. Golongan pertama ialah 

golongan hitam yang secara nyata-nyata bergabung dengan Raja 

Rencong. Golongan kedua adalah golongan putih yang telah ditaklukkan 

dan dipaksa untuk masuk serta menghadiri berdirinya Partai. opan 

Utara. Baik golongan hitam maupun golongan putih di atas semuanya 

telah masuk perangkap Raja Rencong.

Golongan ketiga yang ialah golongan putih yang sengaja datang ke 

tempat itu untuk membalaskan dendam kesumat kematian kawan-

kawan mereka yang telah dibunuh oleh Raja Rencong, puterinya atau 

para kaki tangannya.

Raja Rencong melirik pada sebuah tombol merah yang terletak di 

kayu mimbar dekat tangan kanannya. Sekali dia menekan tombol ini 

maka tubuhnya akan melesat ke atas, keluar dari ruangan itu lewat 

sebuah celah yang terbuka pada bagian atap ruangan. Lalu pada saat 

yang sama lantai Arena Topan Utara-akan longsor ke bawah, menyusul 

runtuhnya atap. Semua orang yang ada dalam Arena akan tertimbun 

hidup-hidup. Tak bakal ada satu orang pun yang bisa menyelamatkan 

diri karena berbarengan dengan runtuhnya atap serta amblasnya lantai, 

satu ledakan besar akan menghancur luluhkan tempat itu!

Setelah memandang berkeliling maka Raja Rencong membuka 

mulut memberi kata sambutan.

“Para hadirin sekalian. Pertama sekali aku Raja Rencong Dari 

Utara mengucapkan terima kasih atas kedatangan saudara-saudara di 

tempat ini. Dalam mendirikan Partai Topan Utara ini, aku sama sekali 

tidak akan melihat asal-usul, atau menilai saudara-saudara ini dari 

golongan mana. Bagiku, jika saudara-saudara telah bersedia datang dan 

hadir di sini maka berarti saudara-saudara semua sudah bersedia 

masuk menjadi anggota Partai Topan Utara!”

Pernyataan Raja Rencong itu membuat para tokoh silat golongan 

putih yang datang untuk membalaskan dendam kesumat menjadi 

gempar. Dalam keadaan suasana berisik tiba-tiba melesatlah ke atas 

Arena empat sosok tubuh. Mereka adalah Panglima Sampono, Datuk 

Nan Sabatang, Lembu Ampel dan

Seorang Lor. Tiga kawan tegak berjejer sementara Panglima 

Sampono melangkah tegap ke hadapan mimbar. Suasana yang tadi 

berisik kini menjadi sehening di pekuburan. Ketegangan menggantung 

di udara!“Manusia-manusia tidak tahu peradatan!” teriak Raja Rencong 

marah sekali. “Perbuatan kalian naik ke atas mimbar tanpa izinku 

merupakan penghinaan besar bagi semua anggota Partai yang hadir di 

sini!”

Panglima Sampono sambil bertolak pinggang menjawab dengan 

suara garang.

“Ketahuilah, kami berempat datang kemari bukan untuk 

menghadiri peresmian segala macam partai kentut busuk! Tapi untuk 

meminta pertanggungan jawabmu atas kematian sobat-sobat kami para 

tokoh silat golongan pucih!”

“Kalau itu maksud kalian, rupanya kalian berkenan untuk 

menyusul mereka ke akhirat!” tukas Raja Rencong. Dia berpaling ke 

arah Arena sebelah timur dan berseru: “Empat Tombak Sakti! 

Lenyapkan pengacau-pengacau ini!”

Empat orang berpakaian seragam hitam melompat ke atas Arena. 

Tampang mereka galak buas dan angker. Begitu naik ke arena begitu 

mereka hantamkan tombak ke arah kepala Panglima Sampono dan tiga 

kawannya! Pertempuran pecah! Tampaknya kedua pihak saling 

berimbang. Serangan datang silih berganti.

Lima belas jurus berlalu. Korban pertama roboh. Dia adalah orang 

ketiga dari Empat Tombak Sakti. Meregang nyawa di ujung pedang 

Sebrang Lor.

Menyusul kemudian Panglima Sampono berhasil membantai 

orang kedua dari Empat Tombak Sakti. Kini pertempuran berlangsung 

antara Datuk Nan Sabatang melawan orang ke satu sedang Lembu 

Ampel melawan orang ke empat. Ternyata dua orang terakhir dari Empat 

Tombak Sakti ini tidak mampu menahan serangan-serangan gencar dua 

tokoh silat golongan putih itu. Setelah lima jurus berlalu keduanya 

tergelimpang menemui ajal!

Rahang Raja Rencong tampak menggembung. Gerahamnya 

terdengar bergemeletukkan.

“Tongkat Baja Hijau!” teriak Raja Rencong. “Bunuh empat keparat 

itu!”

Sekelebat sosok tubuh berpakaian hijau melesat ke atas Arena. 

Orang ini berbadan tinggi langsing. Usianya agak lanjut dan tubuhnya 

bungkuk. Di tangan kanannya dia memegang sebuah tongkat sebesar 

betis terbuat dari baja asli. Warna hijau yang membungkus tongkat baja 

itu adalah lapisan racun ganas yang dahsyat!

“Tunggu apa lagi! Habisi mereka!” teriak Raja Rencong.

Tongkat Baja Hijau mendongak dan perdengarkan tawa 

mengekeh. Tongkat di tangan kanannya di ketuk-ketuk ke lantai Arena. 

Hebat sekali. Semua orang merasakan bagaimana lantai yang mereka 

injak terasa bergetar. Panglima Sampono dan kawan-kawan segera 

maklum kalau manusia berjubah hijau itu memiliki kepandaian tinggi 

sedang senjata di tangannya mengandung bahaya maut!

Tongkat Baja Hijau memandang pada keempat orang dihadapannya dengan mimik mengejek dan menganggap rendah.

“Kalian akan maju satu-satu atau berempat sekaligus? Lebih baik 

berempat agar aku tidak banyak membuang waktu dan tenaga!”

Mengelam paras ke empat tokoh silat itu. Panglima Sampono 

bergerak melangkah. Tapi Sebrang Lor mendahului ke hadapan Tongkat 

Baja Hijau.

’Tampangmu tak banyak berubah! Tapi pendirianmu kini 

berlainan!” berkata Sebrang Lor. “Setahuku dulu kau adalah tokoh 

golongan putih. Sungguh disayangkan kalau kini kau menjadi bergundal 

Raja Rencong, murid murtad pembunuh guru! Majulah, biar aku 

rasakan hajaranmu!”

Tongkat Baja Hijau tertawa bergelak.

“Sebrang Lor! Tempatmu jauh di Malaka! Sulit nyawamu akan 

kembali ke sana!” Habis berkata begitu Tongkat Baja Hijau menyerbu ke 

muka. Sinar hijau menggebu dari tongkat bajanya. Sebrang Lor Cepar 

cabut pedang berkeluknya. Maka pecahlah perkelahian hebat. Tapi 

kehebatan itu membawa malapetaka bagi diri Sebrang Lor. Serbuan 

tongkat baja hijau laksana air bah, menderu-deru mengurung dirinya, 

menutup jalan serangan dan lambat laun membobol pertahanan tokoh 

silat dari Malaka itu. Dia hanya sempat bertahan sampai empat jurus. 

Di jurus ke lima tongkat lawan menggebuk bahu tanpa dia bisa dikelit 

atau ditangkis. Sebrang Lor menjerit. Tubuhnya tercampak ke luar 

Arena. Nyawanya lepas!

“Manusia iblis! Aku lawanmu!” teriak Datuk Nan Sabatang 

menggeledek. Tubuhnya berkelebat dan keris biru di tangannya 

meluncur sebat ke arah teng-gorokan Tongkat Baja Hijau!

“Jangan omong besar Datuk!” ejek Tongkat Baja Hijau. Sekali 

tongkatnya disapukan Datuk Nan Sabatang tersusut ke belakang. 

Wajahnya pucat.

“Ha... ha! Aku muak berkelahi satu lawan satu! Ayo Sampono dan 

Lembu Ampel! Kalian berdua ikut majulah!” Sambil menyerang Datuk 

Nan Sabatang,

Tongkat Baja Hijau membagi serangan pula pada Panglima 

Sampono dan Lembu Ampel. Mula-mula kedua orang itu tak mau 

membalas apalagi terjun ke kalangan pertempuran. Tapi karena 

diserang terus menerus mau tak mau akhirnya mereka terpaksa juga 

turun ke gelanggang!

Bagi orang-orang yang hadir di tempat itu nama Panglima 

Sampono dan kawan-kawannya adalah nama-nama besar. Namun 

sewaktu menyaksikan berhasil mendesak ke tiga lawannya itu maka kini 

dapat diukur betapa tingginya kepandaian kaki tangan Raja Rencong 

ini.

Dalam jurus ke sepuluh terdengar pekik Datuk Nan Sabatang. 

Tubuhnya melesat. Kepalanya pecah dihantam tongkat lawan.

“Sekarang giliran kalian berdua untuk mampus!” seringai Tongkat 

Baja Hijau pada Panglima Sampono dan Lembu Ampel. Didahului olehteriakan menggeledek Tongkat Baja Hijau keluarkan jurus serangan 

yang luar biasa hebatnya. Ujung tongkatnya seperti bercabang dua. 

Satu menggebuk ke arah kepala Panglima Sampono, satunya lagi ke 

batok kepala Lembu Ampel! Dan dua orang ini seperti kena tenung, 

hampir tak punya kesempatan untuk selamatkan nyawa masing-

masing! Para tamu yang hadir menahan nafas.

Dalam detik yang tegang itu di mana maut sudah siap 

mencengkam dua korban, tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih 

disertai suara siulan nyaring. Satu gelombang angin yang bukan olah-

olah dahsyatnya menderu laksana topan membadai. Beberapa tokoh 

silat yang ada’d i pinggiran Arena merasa tubuh mereka bergetar. Di 

saat itu tahu-tahu terdengar pekik Tongkat Baja Hijau. Orang bersama 

tongkatnya mental keluar Arena menghantam dinding ruangan dengan 

keras. Ketika jatuh ke lantai tubuh Tongkat Baja Hijau tidak bergerak 

lagi. Mukanya hancur! Di tengah Arena semua mata menyaksikan 

seorang pemuda berambut gondrong sebahu, berpakaian dan berikat 

kepala serba putih tegak menyeringai. Bajunya yang tidak berkancing 

menyingkapkan dadanya yang penuh otot. Pada dada s


3


SEPASANG mata Raja Rencong Dari Utara membeliak seperti hendak 

melompat dari sarangnya. Kumis tebalnya berjingkrak dan rahangnya 

menggembung. Suara menggembor terdengar di tenggorokannya.

“Pemuda keparat! Siapa kau!” bentak Raja Rencong sementara 

semua orang yang hadir di tempat itu ada yang berdecak kagum tapi 

banyak yang melengak heran karena tidak mengetahui apa sebenarnya 

yang terjadi saking cepatnya gerakan-gerakan di atas Arena.

“Siapa aku tidak penting! Aku mau bicara!” jawab pemuda rambut 

gondrong seenaknya dan membuat semua orang kini jadi tambah kaget 

melihat keberanian pemuda yang tak dikenal itu.

“Keparat! Kau minta mampus!” teriak Raja Rencong menggeledek. 

Lalu dia berseru garang.

“Sepasang Pengemis Gila! Bunuh budak ini!”

Dari Arena sebelah kanan melesat dua orang berpakaian kotor 

compang camping penuh tambalan dan berambut acak-acakan. Tubuh 

mereka menghambur bau tidak sedap. Inilah dua tokoh silat jembel 

sinting yang berjuluk Sepasang Pengemis Gila. Keduanya berteriak-

teriak seperti monyet terbakar ekor. Dalam gerakan yang tidak karuan 

tiba-tiba mereka menyerang Pendekar 212 Wiro Sableng, pemuda yang 

tegak di tengah Arena. Di saat yang sama mendadak dari samping kiri 

melompat pula seorang berpakaian merah. Dari mulutnya menyembur 

arak merah yang menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh Panglima 

Sampono dan Lembu Ampel!

Dua tokoh silat lanjut usia ini tentu saja terkejut dan serentak 

sama pukulkan tangan ke depan. Namun sebelum dua pukulam sempat 

mencari sasaran, sebelum semburan arak menimbulkan celaka, 

mendadak sontak terjadilah satu peristiwa yang membuat semua orang 

bangkit tertegak dari kursi masing-masing.

Tiga jeritan terdengar susul menyusul. Tiga sosok tubuh mencelat 

mental seperti dilabrak topan prahara lalu terbanting ke dinding, mental 

lagi dan jatuh di-antara orang banyak!

Apa yang telah terjadi?

Ketiga Sepasang Pengemis Gila dengan berteriak-teriak menyerang 

dirinya dan selagi Datuk Arak Sakti menyembur ke arah Panglima 

Sampono dan Lembu Ampel, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung

Gede itu hantamkan kedua telapak tangannya sekaligus ke arah 

orang-orang yang menyerbu. Arena Topan Utara seperti diguncang 

gempa, laksana dilanda badai. Pendekar 212 telah melepaskan pukulan 

sakti bernama “dewa topan menggusur gunung”.

Nama angker pukulan sakti itu tidak nama percuma belaka. 

Itulah pukulan sakti mengandung tanga dalam tinggi yang dipelajarinyadari Tua Gila. Dan betapapun hebatnya Sepasang Pengemis Gila serta 

Datuk Arak Sakti namun mereka tak sanggup bertahan. Ketiganya 

mencelat mental, terlempar ke dinding batu dan menemui kematian 

dalam cara mengerikan!

Di antara para hadirin tak satu pun yang bergerak. Semua mata 

terpentang lebar ke arah Pendekar 212. Hal yang sama terjadi juga 

dengan Raja Rencong. Dia tegak hampir tak bergeming. Dia tahu betul, 

dua pukulan tangan kosong yang tadi dilepaskan si pemuda tadi adalah 

pukulan “dewa topan menggusur gunung.” Dan setahunya hanya satu 

orang yang memiliki pukulan dahsyat itu yakni seorang kakek sakti 

yang dipanggil dengan sebutan Tua Gila. Ternyata kini pemuda tak 

dikenal itu memiliki ilmu yang sama. Ada sangkut paut apakah antara 

pemuda ini dengan orang tua itu?

Diam-diam Raja Rencong merasakan dadanya berdebar dan 

lututnya bergetar. Aneh! Benar-benar aneh! Setahunya Tua Gila sudah 

lama meninggal dunia dan selama hidupnya orang tua itu tak pernah 

mempunyai seorang muridpun. Bagaimana kini ada pemuda memiliki 

ilmu pukulan sakti itu? Sepasang mata Raja Rencong bergerak berputar 

ke arah hadirin. Dia sangat kawatir kalau-kalau Tua Gila tahu-tahu 

sudah ada pula di sana di antara para tamu. Namun dia tak melihat 

orang tua itu. Hatinya lega sedikit.

Sebagai tuan rumah yang telah menyandang nama besar, tentu 

saja Raja Rencong tidak mau perlihatkan rasa jerih. Dia merasa sudah 

saatnya untuk menekan tombol merah di atas mimbar sebelum 

kekacauan baru muncul. Tak apa kehilangan dua tiga kaki tangan dan 

pembantunya. Asal sesaat lagi semua orang yang ada di situ akan 

menerima kematian termasuk pemuda gila di tengah Arena.

Sambil tertawa mengekeh Raja Rencong menggerakkan tangannya 

lalu berteriak keras: “Manusia-manusia tolol! Selamat jalan ke neraka!” 

Lalu jari telunjuk tangan kanan Rana Rencong menekan tombol merah 

sekuat-kuatnya.

Tapi tak satu pun terjadi.

Raja Rencong menekan lagi. Lagi dan lagi. Bahkan kini 

menghantamkan telapak tangannya keras-keras ke tombol merah itu. 

Namun atap di atas Arena tidak membuka dan papan Arena yang 

dipijaknya tidak melesatkan tubuhnya ke atas. Juga lantai Arena di 

mana para tamu duduk tidak roboh sedang langit-langit bangunan tidak 

runtuh!

Di hadapannya dilihatnya Wiro Sableng menyeringai. Lalu suara 

gelak membabak keluar dari mulut pemuda itu.

“Raja Rencong! Ada yang tidak beres rupanya?!”

Pertanyaan itu membuat Raja Rencong membesi wajahnya. “Apa 

maksudmu?!” sentaknya.

“Ah! Kau tahu apa maksudku! Kau panik! Lantai ruangan ini tidak 

amblas! Atap tidak runtuh! Ha... ha... ha! Kau sudah menekan tombol 

rahasia tapi pesawat celaka yang hendak membunuh semua orang yanghadir di sini tidak bekerja!”

Bukan main marahnya Raja Rencong Dari Utara. Didahului 

menggereng seperti harimau lapar terluka dia jentikkan sepuluh jari 

tangannya.

Sepuluh larik sinar merah menyambar Pendekar 212 Wiro 

Sableng. Sebelumnya Wiro telah menyaksikan keganasan ilmu kesaktian 

ini yaitu ketika dikeluarkan oleh Pandansuri. Kini kalau Raja Rencong 

sendiri yang memainkannya tentu jauh lebih dahsyat. Karenanya murid 

Sinto Gendeng segera melompat ke atap ruangan dan dari atas lepaskan 

pukulan “sinar matahari”.

Arena Topan Utara laksana disambar petir dan geledek ketika 

pukulan sinar matahari saling bentrokan dengan sinar merah ilmu kuku 

api. Dua ilmu kesaktian yang dilancarkan dengan kekuatan tenaga 

dalam sangat tinggi begitu saling beradu melesat ke kiri lalu memecah 

ke arah empat penjuru. Jerit kematian terdengar di bagian itu. Sembilan 

tokoh silat golongan hitam hangus mengerikan. Delapan tokoh golongan 

putih meregang nyawa mengenaskan! Bau hangusnya tubuh-tubuh 

yang terpanggang memenuhi tempat itu. Kekacauan meledak!

“Para tamu semua!” tiba-tiba Wiro berteriak lantang. “Kalian 

sekarang tahu kalau Raja Rencong punya maksud tersembunyi. Secara 

keji sebenarnya dia hendak membunuh kita semua yang hadir hadir di 

sini! Kenapa tidak berebut pahala mencincangnya beramai-ramai?!”

Mendengar teriakan Wiro Sableng itu semua tamu menjadi 

terbakar hati masing-masing, apalagi yang sejak semula memang tidak 

suka terhadap Raja Rencong dan hadir di situ untuk menghukumnya. 

Laksana air bah, tokoh silat golongan hitam dan putih bergabung 

menjadi satu dan menyerbu Raja Rencong yang masih tertegun di atas 

mimbar dengan dada berdenyut akibat bentrokan tenaga dalam dengan 

Wiro lewat pukulan sakti tadi.

Raja Rencong adalah tokoh silat sakti luar biasa. Keberaniannya 

dan kebengisannya tidak beda dengan setan. Namun melihat sekian 

banyak para jago silat menyerbunya dia jadi gugup. Nyalinya meleleh. 

Tanpa pikir panjang lagi dia berkelebat larikan diri. Tapi arah larinya 

telah dihadang Wiro Sableng yang saat itu sudah menggenggam Kapak 

Maut Naga Gen i 212.

“Keparat! Mampuslah!” teriak Raja Rencong.

Sreett!

Raja Rencong cabut Rencong Emasnya. Sinar kuning bertabur. Di 

waktu yang sama puluhan senjata datang menderu Ketua Partai Topan 

Utara itu. Kapak Naga Geni 212 di depan sekali dengan sinarnya yang 

menyilaukan disertai deru laksana ribuan tawon mengamuk!

Trang!

Rencong Emas dan Kapak Naga Geni 212 beradu. Bunga api 

memercik. Raja Rencong mengeluh tertahan. Tangan kanannya terasa 

panas dan getaran menjalar sampai ke pangkal bahunya. Sebelum dia 

sempat memasang kuda-kuda baru laksana kilat Kapak Naga Geni 212sudah berkiblat kembali di depan hidungnya sementara di sekelilingnya 

puluhan macam senjata datang menggempur.

“Huaaah!” Raja Rencong membentak garang. Kedua tangannya kiri 

kanan membuat gerakan yang dinamakan “sepasang kincir sakti 

menghadang bumi”. Ini bukan saja merupakan satu jurus pertahanan 

yang ampuh tapi sekaligus merupakan jurus serangan mematikan. 

Rencong Emas di tangan kanan mengeluarkan sinar kuning berbuntal-

buntal sedang lima jari tangan kiri tiada hentinya menjentikan ilmu 

kuku api. Tiga orang tokoh silat tergelimpang roboh dihantam pukulan 

kuku api. Tapi hanya sampai disitulah Raja Rencong sanggup 

menunjukkan keganasannya.

Sambaran Kapak Maut Naga Geni 212 yang menyilaukan 

mendesaknya. Angin senjata itu bukan saja menutup pemandangannya 

tapi kedua matanya juga terasa perih.

Sesaat kemudian terdengar jerit Raja Rencong! Telinga kanannya 

putus dibabat Kapak Naga Geni. Racun yang ganas langsung merasuk 

ke peredaran darahnya. Sadar bahaya yang dialaminya Raja Rencong 

cepat menotok beberapa urat penting di tubuhnya agar racun tidak 

menjalar menuju jantung. Lalu dengan segala kehebatan yang 

dimilikinya Raja Rencong mengamuk membabi buta. Dua tokoh lagi 

roboh di tangannya, satu si antaranya adalah Lembu Ampel. Tokoh ini 

menjauhkan diri ke sudut ruangan. Dadanya luka parah akibat tikaman

Rencong Emas. Dia sadar racun jahat senjata itu sebentar lagi akan 

meranjam tubuhnya. Didahului oleh satu teriakan keras menyebut 

nama Tuhannya, Lembu Ampel akhirnya jatuh ke lantai tak bergerak 

lagi.

Amukan orang takut dan putus asa seperti yang dilakukan Raja 

Rencong tidak berjalan lama. Ketika Kapak Naga Geni 212 menyusup di 

antara serangan-serangan yang dilepaskannya. Raja Rencong terdengar 

menjerit. Dia merasakan tangan kirinya panas sekali. Ketika dilihat 

ternyata tangannya itu telah buntung disambar Kapak Naga Geni 212. 

Raja Rencong menjerit lagi. Belasan senjata datang menusuk, menikam 

dan membacok sekujur tubuhnya. Tubuh itu seperti dimandikan dengan 

darah. Tapi hebatnya Raja Rencong masih tegak, bukan saja bertahan 

malah masih sanggup membuat gerakan-gerakan pembalasan. Wiro 

yang sudah kehilangan kesabarannya segera putar Kapak Maut Naga 

Geni 212. Suara seperti ribuan tawon mengaung laki disusul kembali 

jeritan Raja Rencong.

Darah muncrat dari mukanya yang hampir terbelah. Tubuh dan 

wajah yang hampir tidak berbentuk lagi itu menggeletak di lantai Arena 

Topan Utara. Darah bergelimang di mana-mana. Masih banyak para

tokoh yang melampiaskan dendam kesumatnya menghujani tubuh tak 

bernyata Raja Rencong itu dengan berbagai senjata, tendangan ataupun 

pukulan. Wiro maklum segala sesuatunya kini telah berakhir. Pemuda 

ini cepat tinggalkan tempat itu, lari menuju sebuah kamar di mana 

pesawat rahasia untuk membunuh para tokoh persilatan berada. Di situ

menggeletak Pandansuri, puteri Raja Rencong dalam keadaan tertotok. 

Apakah yang terjadi dengan dara berkerudung ungu ini?

Seperti diceritakan sebelumnya Wiro Sableng telah bertemu 

dengan Nyanyuk Amber, orang tua sakti guru Raja Rencong yang berada 

dalam keadaan dirantai tak berdaya. Setelah melepaskan orang tua itu 

dari rantai yang mengikatnya Wiro memergoki Pandansuri di kamar 

pesawat rahasia. Terjadi perkelahian. Dalam waktu tiga jurus Wiro 

berhasil membuat gadis itu tak berdaya dan menotoknya hingga ketika 

ayahnya menekan tombol sebagai tanda agar dia menggerakkan pesawat 

rahasia, sang dara tak mampu melakukannya.

“Pemuda keparat! Apa yang terjadi di luar sana! Aku dengar suara 

gaduh!” Pandansuri mendamprat begitu Wiro masuk ke dalam ruangan.

Pendekar 212 menyeringai.

“Kabar buruk bagimu. Ayahmu menemui kematian di Arena Topan 

Utara. Riwayat keganasannya berakhir hari ini!”

Pandansuri merasakan tubuhnya seperti hendak meledak. 

Sepasang matanya dibalik kerudung membeliak dan wajahnya tampak 

mengelam merah.

“Kurang ajar! Pasti kau yang membunuh ayah!”

“Aku dan puluhan tokoh silat yang hendak dicelakakannya!” 

sahut Wiro.

“Kau membunuh ayah! Berarti kau harus mati di tanganku!”

Wiro tertawa.

“Kenapa kau masih keras kepala dan tidak mau sadar? Apa kau 

ingin menemui nasib sama seperti ayahmu? Mati mengerikan di tangan 

puluhan tokoh silat yang masih ada di luar sana?”

“Aku tidak takut mati! Lepaskan totokan di tubuhku! Mari kita 

berkelahi sampai seratus jurus!”

“Aku tak punya waktu melayani orang kalap sepertimu. Sebelum 

pergi aku hanya ingin melihat wajahmu yang selalu tersembunyi dibalik 

kerudung ungu itu!”

“Kurang ajar! Kalau kau berani melakukan itu...!”

Tapi tangan Wiro sudah bergerak menarik kain kerudung tipis 

yang menutupi wajah Pandansuri. Begitu kerudung terlepas terkejutlah 

Pendekar 212

Wiro Sableng.

“Aih... Kiranya parasmu cantik sekali...!” Wiro basahi bibirnya 

dengan ujung lidah dan garuk-garuk kepalanya yang gondrong. “Hanya 

sayang aku tak bisa menikmati kecantikan parasmu berlama-lama. Aku 

harus pergi dari sini bersama Nyanyuk Amber. Selamat tinggal dara 

jelita...”

“Tunggu!” teriak Pandansuri. “Lepaskan dulu totokan di tubuhku!”

Wiro putar langkahnya, menatap paras Pandansuri sesaat lalu 

berkata: “Kalau totokan di tubuhmu kulepaskan apa kau akan 

menyerangku dan mencari perkara baru?”

“Demi setan aku tidak akan melakukan apa-apa selain membaca sepucuk surat!”

“Hemm... Ini adalah aneh!” ujar Wiro. “Kau hendak membaca 

sepucuk surat. Dari siapakah? Tidak sangka kalau dara segalakmu ini 

bisa punya pacar...!”

“Aku memang tidak punya pacar dan surat itu bukan dari siapa-

siapa. Tapi dari ayahku sendiri! Ayahku yang kalian bunuh itu!” jerit 

Pandansuri.

“Baiklah... Tapi kalau kau bersumpah aku tak mau kau 

melakukannya atas nama setan. Kau pasti punya Tuhan. Bersumpahlah 

atas NamaNya!”

“Aku bersumpah demi Tuhan!” teriak Pandansuri.

Wiro melangkah mendekati. Tangan kanannya bergerak 

melepaskan totokan di tubuh sang dara. Tapi tangan kirinya diam-diam 

menyiapkan pukulan sinar matahari. Untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba 

Pandansuri membokongnya setelah lepas dari totokan. Ternyata gadis 

itu memang tidak menyerangnya. Begitu tubuhnya bebas dari balik 

pakaiannya dia mengeluarkan sepucuk surat Tanpa memandang pada 

Wiro dia berkata: “Ayah berpesan. Surat ini hanya boleh kubuka jika 

sesuatu terjadi dengannya. Yakni kalau dia menemui ajal...”

Sang dara membuka, lipatan surat lalu membaca apa yang 

dituliskan Raja Rencong di situ.

Pandansuri,

Kalau aku sudah mati maka itulah saatnya kau harus mengetahui 

rahasia besar tentang dirimu. Sebenarnya kau bukanlah anak 

kandungku. Kau kuculik ketika masih kecil. Ayahmu adalah Kepala 

Kampung Pasirputih. Kembalilah padanya dan tempuhlah jalan hidup 

yang baik.

Orang yang pernah menjadi ayahmu

Raja Rencong.

Surat itu terlepas dari pegangan Pandansuri. Air mata 

menggelinding membasahi pipinya.

“Hai... ada apakah saudari? Mengapa kau menangis?” tanya Wiro. 

Pertanyaan itu justru membuat Pandansuri menjadi mengeras 

isakannya Wiro mengambil surat yang tercampak di lantai lalu 

membacanya. Pendekar ini kemudian menarik nafas dalam.

“Sekarang jelas bagimu. Kau berasal dari orang baik-baik. 

Karenanya musti kembali ke jalan yang baik. Mari kita tinggalkan Bukit 

Toba ini...” Wiro memegang bahu Pandansuri, bantu gadis itu berdiri 

lalu mengembalikan surat yang tadi dibacanya.

Keduanya melangkah menuju kamar Nyanyuk Amber untuk 

membawa orang tua itu sama-sama meninggalkan Bukit Toba, 

mengikuti puluhan tokoh silat yang lebih dahulu pergi meninggalkan 

tempat angkara murka tersebut.


4


HANYA beberapa ketika setelah para tokoh silat, Wiro Sableng, 

Pandansuri dan Nyanyuk Amber meninggalkan Bukit Toba, langit di 

atas bukit itu tampak menghitam ditutup gumpalan awan mendung. 

Dikejauhan terlihat petir menyambar hampir tiada henti. Lalu dentuman 

geledek seperti hendak melumat bumi dan air danau. Tak lama 

kemudian hujan lebatpun turun. Demikian derasnya hingga menutup 

batas pemandangan manusia. Di-bawah hujan lebat begitu rupa, dari 

arah tenggara danau tampak melesat sebuah perahu kecil ditumpangi 

satu orang. Hujan yang lebat menutupi pemandangan hingga tak jelas 

siapa adanya orang diatas perahu itu. Namun begitu hujan mulai 

mereda dan pemandangan menjadi terang sedikit, kelihatanlah sosok 

tubuh di atas perahu kecil tadi. Ternyata dia adalah seorang nenek 

berpakaian rombeng, bertubuh kurus kering. Rambutnya yang putih 

diikat di atas kepala membentuk secuil konde. Berlawanan dengan 

pakaiannya yang buruk rombeng, dibahunya tersandang sebuah 

selendang hitam besar berhiaskan bunga-bunga dari benang emas.

Di tangan kanannya nenek aneh ini memegang sebuah tongkat 

bambu kuning kecil. Bambu inilah yang dijadikannya sebagai kayu 

pendayung. Walaupun cuma sebuah bambu kecil namun hebatnya 

benda ini menjadi pendayung yang ampuh luar biasa. Perahu yang 

dikayuh tampak melesat membelah air danau yang bergelombang akibat 

hujan yang baru saja turun deras.

Di tangan kirinya si nenek memegang sebuah tabung kaca 

berbentuk bulat dan sangat ramping bagian tengahnya. Tabung kaca ini 

diisi dengan pasir. Pasir di bagian atas tabung mengucur jatuh sedikit 

demi sedikit ke bagian tabung sebelah bawah. Saat itu jumlah pasir 

yang jatuh ke bagian bawah tabung kaca telah mencapai setengah 

ketinggiannya. Sepasang mata si nenek tiada hentinya memperhatikan 

tabung itu sementara tangan kanannya terus mendayung dengan 

tongkat bambu kecil.

“Cepatlah perahu. Cepatlah! Kalau sampai terlambat celakalah!. 

Aku harus menunggu sampat ada korban lainnya. Mungkin setahun! 

Mungkin lima tahun! Mungkin sepuluh tahun! Atau mungkin tidak 

untuk selama-lamanya! Cepat perahu! Cepatlah! Antarkan aku ke pulau 

di depan sana! Cepat!”

Tak selang berapa lama perahu kecil itu berhasil mencapai pulau 

di tengah danau. Pasir di tabung kaca sebelah bawah hampir mencapai 

dua pertiga ketinggian tabung. Tanpa menunggu sampai ujung perahu 

menyentuh daratan pulau si nenek langsung melompat dan laksana 

terbang laru menuju puncak Bukit Toba. Jalan yang ditempuh sulit dan 

licin akibat hujan namun si nenek sigap sekali gerakannya. Jangankanterpeleset, malah enak saja dia melompat dan berlari, makin lama makin 

kencang hingga akhirnya dia sampai di puncak Bukit Toba, langsung 

menyelinap masuk ke dalam bangunan bertingkat dua.

Begitu sampai di ruangan besar yang disebut Arena Topan Utara, 

si nenek lelerkan lidah gelengkan kepala. Kedua matanya terbeliak. 

Mayat dilihatnya bergelimpangan di mana-mana. Darah bergenang di 

pelbagai penjuru. Dia melirik ke tabung kanan di tangan kirinya. Lalu 

tersentak bila ingat waktunya hanya tinggal sedikit.

Seperti seekor burung pemakan mayat nenek ini melompat ke 

pertengahan Arena Topan Utara. Dia memandang berkeliling. Kaki dan

tongkatnya mengungkit setiap sosok tubuh di dekatnya. Tapi orang atau 

mayat yang dicarinya belum juga bertemu. Dia memandang lagi 

berkeliling. Pasir di dalam tabung hampir mencapai titik tertingginya. Si 

nenek menjerit saking kawatirnya. Kemudian kedua matanya yang besar 

itu melihat sosok tubuh yang dicarinya. Tergeletak tak jauh dari 

mimbar.

“Itu dia!” pekik si nenek gembira.

Sekali lompat saja dia sampai disamping mimbar. Sosok tubuh itu 

amat mengerikan. Penuh bacokan puluhan senjata. Keadaannya seperti 

dicincang. Lebih mengerikan lagi bagian kepalanya. Telinga kanan 

buntung. Bagian wajah sulit dikenali karena hampir terbelah oleh luka 

besar yang menguak.

“Kasihan kau... kasihan kau anak manusia! Tapi tunggulah! 

Sebentar lagi kau akan kutolong! Kau belum saatnya mati! Belum 

saatnya!” Si nenek mendongak ke atas, tertawa seperti kuda meringkik 

lalu bantingkan tabung kaca di tangan kirinya ke lantai.

Tabung kaca itu pecah dengan mengeluarkan ledakan nyaring. 

Pasir di dalamnya muncrat ke udara disertai kepulan asap berwarna 

kelabu, berbau busuk luar biasa. Sambil melangkah terserok-serok 

nenek aneh itu acungkan tongkatnya tinggi-tinggi ke atas. Mulutnya 

komat-kamit melafatkan mantera. Tiba-tiba dia memekik keras. Aneh! 

Ujung buntalan asap kelabu menyambar ke ujung tongkat bambu. Lalu 

laksana sehelai selendang panjang bergerak mengikuti kemana bambu 

itu bergerak.

Si nenek turunkan bambu di tangan kanannya mendekati kepala 

mayat yang terbelah. Begitu sampai di bagian kepala, ujung tongkat 

disapukannya sepanjang belahan yang mengerikan itu. Aneh! Luar 

biasa. Perlahan-lahan, setelah disapukan beberapa kali kepala yang 

terbelah oleh hantaman Kapak Naga Geni 212 itu bertaut kembali 

meskipun tetap meninggalkan bekas yang mengerikan yaitu mulai dari 

kening, memanjang ke bawah melewati mata kiri dan pipi kiri. Si nenek 

tertawa tinggi.

Ujung tongkat berputar-putar sesaat lalu mengusap-usap 

keseluruh bagian tubuh yang seperti dicincang itu. Kembali keanehan 

terjadi. Tubuh yang penuh luka itu juga bertaut kembali. Darah berhenti 

mengucur. Namun bekas-bekas luka yang ditinggalkan sangatmengerikan. Si nenek sekali lagi terdengar tertawa. Tongkatnya diangkat 

tinggi-tinggi ke udara. Mulutnya lagi-lagi komat-kamit. Tiba-tiba ujung 

tongkat menukik dan menusuk bagian tenggorokan mayat.

Inilah puncak dari segala keanehan dan keluar biasaan. 

Tenggorokan yang tadi kaku tegang itu kini tampak bergerak, mula-

mula perlahan sekali, namun makin lama makin kencang. Nenek aneh 

itu menjerit keras dan panjang. Perlahan-lahan tubuhnya merunduk 

hingga dia tampak berlutut di atas kedua tempurung lututnya yang 

kurus kering.

“Anak manusia! Kau memang belum saatnya mati! Belum 

saatnya!” terdengar si nenek berseru. Dari kedua matanya yang besar 

tampak meleleh air mata. Kedua tangannya diacungkan ke atas dan dari 

mulutnya terdengar ucapan: “Sepuluh tahun menempa ilmu kehidupan! 

Hari ini akhirnya aku berhasil! Guru! Hari ini murid berhasil 

meneruskan pekerjanmu! Hanya sayang kau keburu menutup mata 

hingga tidak sempat menyangsikan awal dari semua kehebatan ini! 

Hik... hik... hik...” Lalu si nenek menangis seperti anak kecil.

Mendadak si nenek hentikan tangisnya. Di kedua telinganya 

seperti ada suara yang mengisang.

“Muridku... Meski aku sudah mati tapi rohku masih tetap 

mengikuti semua tindak tandukmu! Guli Rampai! Dari alamku aku 

turut bergembira melihat keberhasilanmu. Teruskan pekerjaanmu 

muridku...”

Suara mengiang lenyap.

“Guru!” Si nenek berteriak memanggil. Lalu dia jatuhkan diri 

menelungkup di lantai. Sesaat kemudian perlahan-lahan dia bangkit 

kembali, beringsut mendekati tubuh yang tadi kaku mati dan kini 

tampak mulai bergerak tanda adanya tanda-tanda kehidupan yang sulit 

diterima akal manusia. Si nenek angkat tubuh itu lalu memanggulnya 

diatas bahu kiri. Dia memandang sekali lagi berkeliling, lalu lari keluar 

bangunan, menuruni Bukit Toba menuju ke danau di mana perahu 

kecilnya berada.

***

TUBUH cacat penuh bekas luka mengerikan itu terbujur tanpa 

penutup di atas tumpukan batu berwarna merah. Di bagian bawah 

tumpukan batu itu terdapat celah memanjang dan di situ ada nyala api 

yang terus menerus berkobar

Si nenek bermata besar duduk di atas sebuah dingklik, menunggu 

dengan sabar. Tongkat bambu kuning kecil di tangan kanannya diketuk-

ketukkan ke lantai batu, sesuai dengan gerak mendenyut pada dada 

orang yang terbujur di atas batu merah.

Perlahan-lahan tetapi pasti tak selang berapa lama kemudian dua 

mata yang tadi tertutup dari orang di atas batu tampak membuka. Si 

nenek makin memperkencang ketukan tongkatnya ke atas lantai.

“Buka yang besar. Buka yang besar matamu anak manusia! Dan 

pandang wajahku... Pandang wajahku... ”

Mata yang terbuka semakin besar. Lalu sesuai dengan kata-kata 

perempuan tua itu, kedua mata tadi bergerak berputar memandang ke 

arah si nenek.

“Bagus anak manusia! Bagus! Ternyata awal kehidupanmu 

membawa pertanda yang baik. Kau mau mendengar perintahku. Kau 

sudah melihat aku. Katakan apa yang kau lihat! Katakan apa kau kenal 

aku! Buka mulutmu! Buka! Kau bisa bicara! Kau tidak bisu! Kau pasti 

bisa menjawab!”

“Si... siapa kau orang tua. Aku tidak kenal padamu...” Tiba-tiba 

meluncur ucapan itu dari orang lelaki berwajah mengerikan di atas 

batu.

Si nenek tertawa mengikik.

“Aih...! Suaramu jelek tapi tidak apa! Yang penting kau bisa 

bicara! Hik... hikkk... hik... “

“Siapa kau... siapa kau...?”

“Hik... hik... hik. Tentu saja kau tidak kenal aku. Aku adalah 

nenek tua bernama Guli Rampai bergelar Iblis Sesat Jalan Hidup. Aku 

orang yang telah menghidupkanmu dari kematian!”

“Menghidupkan aku dari kematian? Apakah aku pernah mati...?” 

Orang di atas batu bertanya.

“Hik... hik! Kau memang pernah mati. Malah kalau aku sampai 

terlambat menemui mayatmu, tak mungkin aku bisa menolong 

menghidupkanmu kembali. Setelah mati dan dihidupkan kembali 

apakah kau masih bisa mengingat siapa dirimu...?”

Sepasang mata itu yang sebelah kiri ada guratan angker bekas 

bacokan menatap langit-langit ruangan. Lalu dari mulut orang ini 

meluncur ucapan: “Namaku Kumbara. Gelarku Raja Rencong Dari 

Utara. Aku Ketua Partai Topan Utara...”

“Hebat! Kau hebat! Sungguh luar biasa. Ternyata kau masih ingat 

siapa dirimu. Otakmu masih berjalan baik! Tidak percuma aku 

memilihmu dan membawamu ke puncak Gunung Sorik Marapi ini... Kau 

telah hidup kembali! Tetapi untuk mencapai kesempurnaan kau harus 

menunggu satu tahun. Sebelum kau kusemayamkan selama satu 

tahun, apakah ada pertanyaan...?”

Sosok tubuh di atas batu merah yang ternyata adalah Raja 

Rencong Dari Utara alias Hang Kumbara kembali menatap langit-langit 

ruangan di atasnya.

“Aku memang ada satu pertanyaan. Mengapa... mengapa kau 

menghidupkan aku yang katamu sudah mati ini...?”

“Pertanyaan bagus anak manusia... Kujawab dengan balas 

bertanya. Apakah kau tidak akan membalaskan sakit hati kematianmu 

pada orang-orang yang telah mencelakaimu? Terhadap manusia-

manusia bernama Panglima Sampono misalnya. Lalu bekas gurumu 

yang merat si Nyanyuk Amber itu. Lalu anak angkat yang kau asuhselama bertahun-tahun tapi kemudian juga kabur meninggalkanmu si 

Pandansuri itu. Dan yang penting adalah menuntut balas terhadap 

seorang anak manusia yang kini menjadi musuh besarmu. Pendekar 

212 Wiro Sableng... Darah dibalas darah. Nyawa dibayar nyawa. Dosa 

dibayar dengan dosa...”

“Mereka jumlahnya banyak. Mereka memiliki ilmu kesaktian yang 

hebat. Apakah... apakah aku mampu membayar dosa dengan dosa...?”

“Kau akan mampu. Aku Iblis Sesat Jalan Hidup akan memberi 

kekuatan baru padamu. Bila tiba saatnya kelak ----setelah satu tahun 

berlalu---- kau akan bangkit kembali. Cari orang-orang itu. Bunuh 

mereka semua. Setelah musuh-musuhmu kau hancur Iudaskan, kau 

harus melanjutkan dengan membunuh tokoh-tokoh silat lainnya. 

Bukankah kau ingin menjadi raja diraja dunia persilatan?”

“Itu memang cita-citaku...”

“Bagus! Kau ternyata tidak melupakan niat besarmu. Sekarang 

sudah saatnya bagimu tidur. Kau akan kusemayamkan di atas batu 

panas ini selama satu tahun. Tutup kedua matamu kembali...”


5


SATU tahun telah berlalu. Puncak Gunung Sorik Merapi seperti tidak 

tersentuh oleh waktu. Tak tampak perubahan. Di dalam bangunan ber-

bentuk aneh, di atas tumpukan batu merah terbaring sosok tubuh Hang 

Kumbara hampir merupakan jerangkong. Lebih mengerikan lagi karena 

tubuh telanjang itu penuh dengan cacat bekas-bekas luka. Wajah 

seperti setan, cekung dengan guratan luka besar melintang di kening, 

melewati mata kiri terus ke pipi.

Di ambang pintu bangunan tegak sosok tubuh Guli Rampai alias 

Iblis Sesat Jalan Hidup. Kepalanya mendongak ke langit, kedua 

tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas. Sepasang matanya terpejam, 

mulutnya komat kamit. Sesaat kemudian terdengar pekik aneh dari 

mulutnya. Lalu menyusul ucapan-ucapan.

“Guru... Tiga ratus enam puluh hari sudah berlalu. Hari ini hari 

penyelesaian segala pekerjaan. Hari ini berakhirnya segala cara dan 

rasa. Apakah kau mendengarkan kata-kataku ini guru...?”

Wajah angker nenek berambut putih itu nampak tersenyum. 

Senyum yang lebih merupakan seringai menggidikkan. Di kedua 

telinganya terdengar suara mengiang.

“Guli Rampai muridku, aku tak pernah jauh darimu. Aku gembira 

kau telah menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik. Rampungkanlah 

segera. Tapi tahukah kau kalau hari penyelesaian adalah juga hari 

pembebasan dari segala rasa dan jiwa...?”

“Murid mengerti guru. Murid mengerti. Dan murid tidak kecewa...” 

berkata Guli Rampai lalu dia mulai sesenggukan.

Suara mengiang membentak seperti marah. “Jangan cengeng Guli! 

Aku tak suka melihat orang menangis. Rampungkan pekerjaanmu. 

Kalau selesai aku siap menunggumu...”

“Baik guru, murid akan merampungkan pekerjaan. Harap maaf 

kalau murid berlaku lemah. Murid akan segera menemuimu...”

Si nenek turunkan kedua tangannya dan buka sepasang matanya. 

Dia membalikkan tubuh dan masuk ke dalam bangunan, mendekati 

tumpukan batu merah dengan api menyala di bagian bawahnya di mana

terbujur tubuh Hang Kumbara alias Raja Rencong.

Dari sudut ruangan Guli Rampai mengambil sebuah kendi berisi 

cairan berwarna biru. Dia mengelilingi tumpukan batu merah sambil 

tiada hentinya merapalkan jampi-jampi. Kemudian dia berhenti 

disamping tubuh Hang Kumbara. Cairan dalam kendi dituangkannya ke 

ujung kaki Hang Kumbara, terus ke atas sampai ke perut, terus ke 

dada, melewati leher dan berakhir di kepala. Di situ cairan biru dalam 

kendi tertuang habis. Saat itu pula Guli Rampai bantingkan kendi tanah 

itu ke lantai. Terdengar letupan kecil lalu kepulan asap biru yangmembuntal membungkus tubuh Hang Kumbara. Ketika kepulan asap 

lenyap terjadi keajaiban. Tubuh yang terbujur selama satu tahun itu 

tiba-tiba melompat tegak. Kumis lebat yang tadinya layu seperti benang 

basah kini berjingkrak garang. Hang Kumbara putar sepasang matanya 

yang merah. Pandangannya membentur si nenek. Langsung saja laki-

laki ini jatuhkan diri berlutut.

Guli Rampai tertawa panjang.

“Hang Kumbara! Hari ini awal kehidupan bagimu tapi awal 

kematian bagiku! Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Kini kau yang 

hidup yang akan meneruskan segala-galanya. Kau ingat darah dibayar 

darah, nyawa dibayar nyawa dan dosa dibayar dengan dosa..”

“Saya ingat nenek Guli... “sahut Hang Kumbara.

“Bagus! Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Dunia persilatan 

ada di tanganmu. Aku tidak mengajarkan ilmu silat padamu. Juga tidak 

ilmu kesaktian. Karena sesungguhnya kau telah memiliki kedua hal itu. 

Tapi kini dalam dirimu ada satu kekuatan dahsyat. Kau tak akan 

pernah mati lagi. Kecuali satu hal yang tabu menimpa dirimu...”

Hang Kumbara terkejut dan juga heran.

“Aku, aku tak akan pernah mati lagi nenek Guli? Ah, mana 

mungkin. Mana ada manusia yang tidak pernah mati....”

“Kau harus percaya padaku budak tolol! Tak ada satu kekuatan 

pun yang dapat mengakibatkan kematian bagimu. Kecuali satu...”

Meskipun belum bisa percaya namun Hang Kumbara bertanya 

juga. “Apakah yang satu itu nenek Guli?”

“Satu hal yang tabu. Satu pantangan. Yakni kau tidak boleh 

bersinggungan dengan benda apa saja yang berwarna biru. Apakah itu 

batu, kayu atau kain atau air, pokoknya yang berwarna biru! Sekali 

tubuhmu tersentuh maka kekebalanmu akan punah! Sebatang 

rumputpun sanggup menjadi penyebab kematianmu. Kau dihidupkan 

dan diberi kekuatan dengan air biru dalam kendi tadi. Warna biru itu 

pula yang akan menjadi penyebab kematianmu kelak. Kecuali jika kau

memperhatikan apa yang jadi pantangan. Nah sekarang berdirilah!” 

Hang Kumbara berdiri.

Si nenek berkata sambil menatap tajam wajah angker lelaki itu. 

“Mulai hari ini nama Hang Kumbara harus kau kubur! Gelar Raja 

Rencong Dari Utara harus kau singkirkan. Mulai detik ini namamu 

adalah Iblis Sesat Jalan Hidup...”

“Bukankah itu gelarmu nenek Guli?”

“Betul. Tapi aku tidak memerlukannya lagi. Kau yang akan 

meneruskan nama itu. Nah sekarang katakan selamat jalan padaku!”

“Saya tidak mengerti maksudmu nenek Guli...” ujar Hang 

Kumbara heran.

“Anak manusia tolol! Aku bilang katakan selamat jalan padaku!” 

bentak si nenek marah.

“Selamat... selamat jalan nenek Guli...”

Sang nenek tertawa panjang. Tiba-tiba dia pukulkan tangannya kekepala.

Praakk!

Batok kepala berambut putih itu remuk. Tubuh kurus terkapar di 

lantai tanpa nyawa lagi. Hang Kum bara sesaat merasa bergeming. 

Kemudian dia membungkuk mengambil selendang hitam berbunga-

bunga kuning emas milik si nenek dan mengenakannya di bahu kanan. 

Dia melangkah ke pintu bangunan. Di hadapannya, dari puncak 

Gunung Sorik Marapi di mana dia berada, tampak menghampar dunia 

luas. Lelaki ini menyeringai lalu terdengar teriakannya.

“Dunia persilatan. Tunggulah! Hari ini Iblis Sesat Jalan Hidup 

akan muncul! Darah dibayar dengan darah. Nyawa dibayar dengan 

nyawa. Dosa dibalas dengan dosa!”


6


PUNCAK Gunung Sinabung. Di ruangan depan rumah kayu berlantai 

tinggi dan luas terbuka itu duduk sembilan pemuda. Semuanya asyik 

mengaji. Alunan suara mereka mengaji terdengar enak dalam 

keheningan malam menjelang pagi. Udara dingin di puncak gunung 

seolah-olah tidak terasa. Mereka terus mengaji untuk menghabiskan 

waktu sebelum melaksanakan sembahyang Subuh.

Bersandar ke daun pintu yang tertutup, duduklah Panglima 

Sampono, berpakaian putih lengan panjang dan sehelai sarung halus 

buatan Bugis. Kedua matanya dipicingkan. Tangan kiri terletak di atas 

pangkuan sedang tangan kanan memegang tasbih. Meskipun dia 

berzikir k busuk namun telinganya yang tajam dapat mendengar dan 

mengetahui bacaan-bacaan muridnya yang salah. Dia langsung 

menegur dan meminta sang murid mengulangi bacaannya dengan betul.

Lapat-lapat dalam dinginnya udara dan kegelapan masih 

mencekam terdengar suara burung berkuik.

Binatang ini agaknya sengaja terbang berputar-putar di atas 

bangunan kayu. Suara kuikan binatang ini membuat sebagian dari 

pemuda yang duduk mengaji menghentikan bacaanhya, saling pandang 

sejenak, melirik pada Panglima Sampono yang tetap duduk tak bergerak 

di tempatnya. Sebagiannya lagi memandang ke luar ke arah ke 

kegelapan.

“Suara burung gagak...” berbisik seorang pemuda pada taman di 

sebelahnya.

“Seperti ada pertanda yang tidak baik,” menjawab sang teman.

Sampai di situ suara burung di atas atap semakin kencang. 

Binatang ini berputar-putar terus beberapa kali, lalu terbang ke jurusan 

barat, menghilang dalam kegelapan.

“Siapa diantara kalian yang percaya takhyul...” Tiba-tiba terdengar 

suara Panglima Sampono.

Tentu saja tak ada dari sembilan pemuda itu berani menjawab 

meskipun jelas di antara mereka merasa tidak enak mendengar suara 

gagak tadi.

“Pertanda dari Allah jangan sekali-sekali diabaikan, tetapi sesuatu 

yang bersifat takhayul harus dijauhkan...” Berkata lagi Panglima 

Sampono. “Aku tahu ada di antara kalian yang merasa takut mendengar 

suara kuik burung malam tadi...” Sang Panglima sampai saat itu masih 

terus bicara dengan kedua mata terpejam dan tangan kanan memegang 

tasbih. “Tenangkan hati kalian, teruskan mengaji...”

Belum selesai Panglima Sampono berkata mendadak satu suara 

lantang membelah kegelapan malam.

“Bagaimana murid-muridmu bisa tenang. Kalau merekamenyadari maut datang menggerayang?!”

Panglima Sampono tersentak. Kedua matanya segera dibuka. 

Sembilan muridnya telah lebih dulu berpaling ke arah datangnya suara 

keras tadi. Sesosok tubuh tampak tegak di bawah pohon besar di 

halaman kiri rumah kayu. Kegelapan malam membuat wajahnya tak 

dapat dilihat, apalagi mengenali siapa adanya orang itu.

“Panglima, kita kedatangan tamu...” berbisik seorang murid yang 

duduk paling dekat dengan sang guru.

Panglima Sampono mengangguk. Kedua matanya berusaha 

menembus kegelapan malam. Namun tak dapat menerka siapa adanya 

orang yang tegak di halaman itu.

“Subuh-subuh begini, tamu dari mana yang datang ke tempat 

kami?” Menegur Panglima Sampono.

Sebagai jawaban orang dalam gelap melangkah mendekat. Tujuh 

langkah dari tangga rumah dia berhenti. Sinar lampu minyak di 

ruangan depan jatuh menimpa dan menerangi tubuhnya sebatas 

pinggang ke bawah. Dada dan kepalanya masih tidak kelihatan. 

Panglima Sampono dan sembilan muridnya melihat keanehan yang 

mengerikan. Orang yang datang itu hanya mengenakan sehelai cawat 

hingga perut, paha dan kedua kakinya terlihat jelas. Dan bagian tubuh 

itu penuh cacat bekas luka hingga samar-samar orang itu kelihatan 

seperti diselimuti sisik-sisik lebar. Anehnya ada sehelai selendang hitam 

berbunga kuning emas tergantung menutupi sebagian badannya. 

Lengan kirinya buntung.

“ Orang yang datang, jika kau membawa maksud baik kenapa 

ragu-ragu. Silahkan naik ke atas rumah” berkata Panglima Sampono.

Diuncang begitu rupa, sosok tubuh di depan rumah tiba-tiba 

melesat. Di lain detik dia sudah tegak di ruangan yang terbuka leber itu. 

Sembilan murid sang Panglima terkesiap kaget dan bersurat mundur 

dalam duduk masing-masing. Panglima Sampono sendiri sempat 

kerenyitkan wajah dan si-pitkan mata.

Manusia atau setankah mahluk yang tegak di hadapan mereka 

saat itu?! Sosok tubuh penuh cacat bekas luka itu ternyata memang 

menyandang sehelai selendang. Badannya sudah sangat mengerikan 

untuk dipandang, tetapi wajahnya seribu kali lebih mengerikan. Muka 

yang cekung itu juga penuh dengan bekas-bekas luka. Satu diantaranya 

seperti bekas bacokan, memanjang dari kening, melewati mata kiri terus 

ke pipi dan samping dagu kiri. Akibat cacat ini, mata kiri itu tampak 

seperti menyembul, merah menakutkan. Dia tidak mengenakan pakaian 

lain, kecuali sebuah topi tinggi berwarna hitam, bergaris kuning.

Panglima Sampono segera membaui adanya bahaya. Sekilas dia 

teringat pada burung gagak yang tadi datang dan berputar-putar di atas 

atap rumah sambil tiada hentinya berkuik. Haruskah kini dia 

mempercayai bahwa pertanda yang diberikan oleh burung itu tadi kini 

menjadi kenyataan? Meskipun hatinya agak terguncang melihat sosok 

tubuh yang sangat mengerikan itu, namun dengan sikap tenang sangPanglima tegak dari duduknya.

“Mahluk aneh entah manusia entah apa, katakan siapa kau 

adanya. Mengapa subuh-subuh muncul di tempat kami?” bertanya 

Panglima Sampono.

Orang yang ditanya tersenyum. Tapi senyum itu justru membuat 

tampangnya jadi seburuk iblis.

“Aku manusia yang pernah mati, tapi kini hidup kembali...!” Si 

mahluk menjawab dengan suara keras seperti penuh kebanggaan.

“Berarti kau setan! Setan gentayangan?!” ujar

Panglima Sampono.

“Ha... ha... ha! Kau boleh bilang begitu. Aku mungkin setan, 

mungkin juga hantu atau iblis! Tetapi apa pun nama yang kau berikan 

padaku aku tetap adalah Iblis Sesat Jalan Hidup!”

“Iblis Sesat Jalan Hidup...?” desis Panglima Sampono.

“Jangan meracau! Aku memang belum pernah bertemu dengan 

manusia bergelar seperti itu. Tapi aku tahu pasti dia adalah seorang 

nenek tua. Bukan lelaki bermuka iblis sepertimu!”

“Nenek yang kau maksudkan itu sudah mati setahun lalu. Aku 

adalah pewaris kehidupannya. Karena itu layak memakai gelar Iblis 

Sesat Jalan Hidup. Lihat... lihat baik-baik! Selendang yang kusandang 

ini adalah miliknya. Pemberiannya. Juga kehidupanku dia pula yang 

memberikan-Hanya sayang dia sudah mati! Hingga tidak dapat 

menyaksikan bagaimana sebentar lagi aku akan membalas nyawa 

dengan nyawa, membalas darah dengan darah, membalas dosa di atas 

dosa

“Apa maksudmu? Siapa kau sesungguhnya?!” sentak Panglima 

Sampono sementara sembilan muridnya berdiri tegak dalam dua 

kelompok. Lima di sebelah kanan, ampat di samping kiri.

Mahluk bertubuh dan berwajah angker itu tertawa panjang.

“Matamu melihat tetapi buta. Otakmu jalan tetapi lupa. Apa kau 

tidak mengenali lagi siapa aku. Apa kau lupa pada peristiwa setahun 

silam di Bukit Toba?!’

Berubahlah paras Panglima Sampono. Jika orang yang datang ini 

menyebut-nyebut Bukit Toba dan masa setahun yang lalu, jelas yang 

dimaksudkannya adalah peristiwa besar menggemparkan ketika orang-

orang rimba persilatan muncul di sana untuk membasmi Raja Rencong 

Dari Utara berikut partainya yang hendak didirikan yaitu Partai Topan 

Utara.

“Katakan apa sangkut pautmu dengan peristiwa setahun lalu itu?”

Orang di tengah mangan kembali tertawa. “Kau masih saja buta 

dan lupa. Buka matamu besar-besar, pasang telingamu lebar-lebar. 

Lihat dan dengar! Aku adalah Hang Kumbara alias Raja Rencong Dari 

Utara!”

“Hah?!” Panglima Sampono tentu saja tidak percaya.

Salah seorang muridnya berkata: “Mana mungkin! Raja Rencong 

sudah mati di tangan para tokoh silat!”“Budak lancang! Kau tahu apa tentang Raja Rencong!” menyentak 

orang di tengah ruangan yang bukan lain memang adalah Raja Rencong 

Dari Utara yang kini menyandang nama Iblis Sesat Jalan H,idup. “Raja 

Rencong sudah lama mati! Tapi kini Hidup lagi dengan nama Iblis Sesat 

Jalan Hidup! Hidup untuk membalaskan sakit hati dendam kesumat 

setahun silam. Kau!” Iblis Sesat Jalan Hidup menunjuk dengan tangan 

ke kanannya tepat-tepat ke arah Panglima Sampono. “Kau korban 

pembalasanku yang pertama! Kau harus mampus di tanganku saat ini 

juga! Dan sembilan pemuda muridmu ini! Karena mereka juga ada di 

sini dan ada sangkut paut dengan dirimu, mereka juga harus mati!”

Iblis Sesat Jalan Hidup tiba-tiba jentikkan lima jari tangan 

kanannya. Lima larik sinar merah yang memancarkan panas luar biasa 

berkiblat mengerikan.

“Ilmu kuku api!” seru Panglima Sampono. Sulit baginya untuk 

percaya bahwa manusia iblis yang tegak dan menyerang itu adalah 

benar-benar Raja Rencong yang telah mati setahun lalu. Tetapi ilmu 

pukulan sakti tadi memang hanya Raja Renconglah yang memilikinya!

“Anak-anak, lekas menyingkir!” teriak Panglima Sampono lalu 

jatuhkan diri ke lantai dan dari sini menghantam dengan tangan 

kanannya, lepaskan serangan balasan yang disertai tenaga dalam 

penuh!

Tapi yang diserang sudah berpindah tempat. Pukulan tangan 

kosong yang dilepaskan Panglima Sampono menghantam atap 

bangunan kayu hingga sebagian atap itu hancur berantakan. Belum 

sempat sang Panglima bergerak bangkit lima larik sinar merah panas 

kembali menderu dari samping. Panglima Sampono gulingkan diri 

selamatkan diri. Tapi di belakangnya tiga orang muridnya terdengar 

menjerit dan roboh dengan tubuh hangus tanpa nyawa. Pemuda-

pemuda lainnya cepat berlompatan ke halaman depan rumah kayu, 

namun ketika sinar hitam kembali menyambar tak ampun lagi empat 

orang roboh tergelimpang, putus nyawa! Hanya dua orang sempat 

melarikan diri dan lenyap dalam kegelapan malam.

“Durjana biadab!” terdengar teriakan Panglima Sampono. 

Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu kaki kanannya sudah meluncur 

deras ke muka Iblis Sesat Jalan Hidup alias Raja Rencong. Yang 

diserang mendengus, mundur selangkah sambil miringkan kepala. 

Begitu tendangan lawan lewat dia susupkan satu jotosan ke lambung 

sang Panglima. Sadar bahaya mengancam Panglima Sampono 

selamatkan diri dengan berjungkir balik di udara sambil tahu-tahu 

tangan kanannya mengemplang ke arah batok kepala Iblis Sesat Jalan 

Hidup. 

Buk!

Gebukan tangan kanan itu menghantam deras di kepala Iblis 

Sesat Jalan Hidup, membuat tubuhnya terkapar ke lantai tapi cepat 

bangkit kembali sambil tertawa mengekeh. Berdebarlah dada Panglima 

Sampono. Kepala kerbau saja kalau terkena pukulannya tadi akanhancur, tetapi bukan saja tidak terjadi apa-apa terhadap Kepala lawan, 

malah manusia iblis itu tertawa mengekeh seperti mengejek.

“Mampuslah!” teriak Panglima.Sampono. Kembali serangannya 

berkelebat. Kini berupa tendangan ke arah bawah perut lawan. Yang 

diserang masih mengekeh. malah busungkan dada dan kangkangkan 

kaki, menunggu datangnya tendangan.

Buk!

Tendangan kaki kanan Panglima Sampono benar-benar 

menghantam selangkangan Iblis Sesat Jalan Hidup. Tak dapat tidak 

anggota rahasianya pasti hancur. Tubuhnya sendiri mencelat sampai 

lima langkah. Tapi seperti tadi dia cepat bangkit berdiri dan lagi-lagi 

sambil tertawa mengekeh.

“Yang kuhadapi ini bukan manusia. Benar-benar iblis agaknya!” 

membatin Panglima Sampono. Rasa kawatir kini menyamaki dirinya. 

Tapi untuk melarikan diri sangat berpantang baginya. Selagi dia masih 

terkesiap melihat kehebatan lawan yang mengerikan itu, tiba-tiba Iblis 

Sesat Jalan Hidup berteriak seperti srigala melolong. Serentak dengan 

itu dia jentikkan lima jari tangan kanan. Sekali ini Panglima Sampono 

terlambat bergerak untuk selamatkan diri. Dua larik sinar hitam 

mengandung racun jahat sempat menyambar bahu dan pelipisnya. Jago 

tua yang pernah menyandang nama harum di Pulau Andalas ini 

terpuntir beberapa kali sebelum jatuh di lantai. Sesaat dia megap-

megap, meregang nyawa. Iblis Sesat Jalan Hidup melangkah mendekati 

dan praak! Kaki kanannya menendang kepala Panglima Sampono!


7


PASIR PUTIH sebuah kampung makmur terletak di pinggiran danau 

berair hijau kebiruan. Penduduknya rata-rata berpenghasilan dari 

bercocok tanam di tanahnya yang subur atau mencari ikan di danau 

yang sepanjang tahun seperti tak pernah habis-habis ikannya. 

Pemandangan di sekeliling danau indah sekali, apalagi tepian danau ini 

ditebari dengan pasir putih hingga kampung yang ada di situ akhirnya 

diberi nama Pasir Putih.

Rindang-Maruhun, Kepala Kampung Pasir Putih, pagi hari Mu 

tampak duduk di atas sebuah kursi goyang terbuat dari rotan di serambi 

depan rumah besarnya. Sebatang rokok daun jagung yang menebarkan 

asap harum tak lepas-lepas dari sela bibirnya. Memang orang tua 

berusia lebih setengah abad ini pecandu rokok jagung nomor satu. 

Seharian dia bisa menghabiskan sampai tiga puluh batang. Meskipun 

tua. Rindang Maruhun memiliki badan kekar dan rambutnya belum ada 

yang putih, kumisnya hitam melebat di bawah hidung. Sambil 

bergoyang-goyang dengan mata setengah terpejam dia menyahuti salam 

orang yang melintas di depan rumahnya. Dia memang Kepala Kampung 

yang disenangi dan dihormati penduduk di situ.

Pagi tadi dia telah berkeliling kampung. Memang begitu 

kebiasaannya. Memperhatikan orang-orang yang bekerja di ladang 

mereka, bercakap-cakap dengan mereka lalu pergi ke ladangnya sendiri. 

Setelah bekerja cukup lama di ladang itu dia pergi ke danau melihat-

lihat penduduk yang mencari ikan. Tak jarang penduduk memberinya 

ikan hasil tangkapan dalam jumlah cukup banyak. Tapi Rindang hanya 

mengambil beberapa ekor. Itupun kalau dia memang kepingin makan 

ikan. Kalau tidak maka pemberian itu selalu ditolaknya dengan halus.

Selagi duduk bergoyang-goyang seperti itu sambil tiada hentinya 

menyedot dan menghembuskan asap rokok jagungnya yang harum, 

tiba-tiba ada tiga orang penduduk lari memasuki halaman, langsung 

menemuinya di serambi.

Rindang Maruhun buka kedua matanya yang setengah terpejam. 

Tanpa mencabut rokok dari mulutnya dia bertanya: “Kalian muncul 

seperti dikejar setan. Apa yang hendak kalian sampaikan padaku? Minta 

rokok atau ingin kopi hangat?”

“Kepala Kampung, kami tidak minta rokok atau inginkan kopi 

panas. Ada sesuatu yang hendak kami laporkan pada Bapak Kepala...” 

menjawab penduduk yang bertopi hitam.

Kawan di sebelahnya langsung saja menyambung.

“Kami menemui dua orang pemuda tak dikenal. Tergeletak 

pingsan di tepi kampung sebelah selatan. Keduanya agak 

mencurigakan...”“Hemm...Rindang Maruhun hentikan goyangan kursinya dengan 

menekankan tumit kaki kanannya ke lantai. “Waspada adalah penting. 

Tapi buru-buru curiga itu tidak baik. Kalian melihat dan menemui orang 

pingsan. Mengapa tidak menolong dan membawa keduanya kemari...?”

“Jadi, kami boleh menolong dan membawanya kemari Bapak 

Kepala?”

“Tentu saja. Cari seorang teman lagi agar kalian berempat bisa 

lebih mudah menggotongnya kemari...” kata Rindang Maruhun pula.

Tiga orang penduduk kampung Pasir Putih itu segera 

meninggalkan rumah Kepala Kampung. Sebelum pergi ke tempat 

dimana mereka menemui dua pemuda tergeletak pingsan, lebih dulu 

ketiganya mencari seorang kawan lagi untuk membantu. Ternyata yang 

ingin ikut lebih dari enam orang.

Tak selang beerapa lama mereka kembali ke rumah Kepala 

Kampung dengan menggotong dua orang pemuda. Keduanya ternyata 

memang dalam keadaan pingsan dan dibaringkan di lantai serambi. 

Rindang Maruhun segera memeriksa keadaan kedua pemuda tak 

dikenal itu. Tak ada tanda-tanda bekas penganiayaan. Baju dua pemuda 

itu basah. Mungkin basah oleh embun, mungkin juga telah berpadu 

dengan keringat. Sepasang kaki mereka tampak pecah-pecah, penuh 

debu dan bekas-bekas tanah becek. Di beberapa bagian pakaian 

keduanya kelihatan robek seperti terkait.

Rindang Maruhun mengangguk-angguk. “Tak ada satupun di 

antara kalian yang mengenali mereka?”

Penduduk Kampung yang berkerubung di tempat itu sama 

menidakkan.

“Berarti dia memang bukan penduduk sekitar sini. Dua pemuda 

ini datang dari jauh. Wajah mereka pucat. Mungkin karena tergeletak 

lama dalam udara dingin malam tadi. Mungkin juga disebabkan oleh 

sesuatu yang menakutkan. Mungkin mereka dikejar Begu Ganjang...?” 

(Begu Ganjang = Hantu Panjang, yang dipercayai oleh orang-orang 

Tapanuli sebagai penimbul malapetaka yang mengerikan).

Mendengar disebutnya Begu Ganjang penduduk yang ada di situ 

tampak gelisah. Beberapa di antaranya segera meninggalkan rumah 

Kepala Kampung karena takut kalau-kalau Begu Ganjang itu benar-

benar muncul!

“Apa yang harus kita lakukan Bapak Kepala?” tanya seorang 

penduduk yaitu yang tadi ikut menggotong dua pemuda itu.

“Melihat denyutan urat nadi di leher keduanya, tak lama lagi 

mereka akan segera siuman. Kalau mereka sudah sadar, kita bisa 

menanyai,” jawab Rindang Maruhun.

Betul saja, tak selang berapa lama kedua pemuda itu siuman dari 

pingsan masing-masing. Begitu sadar tentu saja mereka terheran-heran 

mendapatkan diri berada di tempat itu, dikelilingi banyak orang.

“Anak muda. Kami penduduk Kampung Pasir Putih menemui 

kalian di pinggiran kampung sebelah selatan. Dalam keadaan pingsan.Siapa kalian dan apa yang terjadi dengan kalian...?” bertanya Rindang 

Maruhun.

“Ah, kalian rupanya telah menolong kami. Terima kasih. Terima 

kasih... dua pemuda itu membungkuk berulang kali.

“Eh, orang-orang di sini tidak butuh ucapan terima kasih itu. 

Kami ingin tahu kalian berdua ini siapa dan mengapa kami temui dalam 

keadaan pingsan?!” menegur sang Kepala Kampung.

Salah seorang pemuda itu lalu menjawab.

“Kami murid pengajian Panglima Sampono di Gunung Sinabung. 

Menjelang subuh ketika kami asyik mengaji menunggu saat 

sembahyang tiba-tiba mendadak muncul seorang manusia dalam sosok

tubuh dan wajah yang mengerikan. Dia mengaku bernama Iblis Sesat 

Jalan Hidup. Dia datang untuk membunuh Panglima Sampono dan 

kami murid-murid yang berjumlah sembilan orang. Tujuh murid

sepengajian kami saksikan menemui kematian. Panglima sendiri kami 

yakin pasti telah pula dibunuh oleh mahluk itu...”

Mendengar keterangan itu maka gemparlah semua orang yang ada 

di rumah Kepala Kampung Pasir Putih, termasuk Rindang Maruhun 

sendiri. Bedanya orang tua ini bisa bersikap lebih tenang. Dia berusaha 

mendapatkan keterangan lebih jelas, lalu merenung sambil pejamkan 

mata. Sesaat kemudian Kepala Kampung ini buka kedua matanya dan 

berkata:

“Aku pernah mendengar nama Iblis Sesat Jalan Hidup itu. Namun 

apakah mahluk itu benar-benar ada sulit dipercaya. Dia gentayangan 

melakukan segala kejahatan seperti dalam dongeng-dongeng yang

menakutkan. Sulit dipercaya...”

Baru saja Rindang Maruhun mengucapkan kata-kata itu tiba-tiba 

terdengar suara tertawa mengekeh disusul oleh bentakan: “Dua anak 

murid Panglima Sampono! Kalian berhasil melarikan diri! Tapi nyawa 

kalian batasnya cuma sampai di sini!”

Sesosok tubuh menebar bau busuk berkelebat di udara. Dua 

pemuda murid pengajian Panglima Sampono yang duduk di lantai 

serambi rumah Kepala Kampung Pasir Putih itu mencelat ke dinding 

rumah, terhempas di lantai. Mengerang sesaat lalu tak berkutik lagi. 

Darah mengucur dari mulut mereka.

Di tengah serambi tegak sesosok tubuh berbau busuk, 

mengerikan dan wajah seseram iblis. Tangan kiri buntung, tangan 

kanan berkacak pinggang. Orang banyak berlarian lintang-pukang 

sedang Rindang Maruhun tertegun sambil melangkah mundur dan 

akhirnya terduduk di kursi goyangnya. Setan atau hantukah yang tegak 

di hadapannya saat itu? Mahluk seram itu tiba-tiba menunjuk tepat-

tepat ke arah sang Kepala Kampung.

“Kau yang tadi berkata Iblis Sesat Jalan Hidup sulit dipercaya 

keberadaannya, apakah kau yang bernama Rindang Maruhun, Kepala 

Kampung Pasir Putih?!”

“Aku... aku...!”Braak!

Mahluk seram bertopi tinggi hitam dan menyandang selendang 

berbunga emas itu menendang kursi goyang yang diduduki Rindang 

Maruhun hingga hancur berarit akan. Kepala Kampung itu sendiri 

terguling beberapa kali, tapi selamat dan cepat berdiri.

“Kau yang bernama Rindang Maruhun?! Lekas jawab! Umurmu 

tak lama lagi...!”

“Kau... kau hendak membunuhku?! Apa salahku ...”

Sekali lompat mahluk itu sudah menjambak rambut sang Kepala 

Kampung. “Dengar... Akulah Iblis Sesat Jalan Hidup. Aku datang kemari 

untuk mencari seseorang. Mana anak gadismu yang bernama 

Pandansuri itu!”

Rindang Maruhun terbelalak mendengar orang menyebut nama 

anak gadisnya. Dia berusaha berontak. Tapi sulit melepaskan jambakan 

di kepalanya. Takut dan sekaligus sakit membuat Rindang Karuhun

nekad. Sebagai Kepala Kampung dia memang memiliki ilmu pukulan. 

Namun hanya dari tingkatan rendah yang mengandalkan tenaga luar 

dan kecepatan gerakan. Dengan tangan kanannya dia menghantam ke 

arah hulu hati mahluk seram itu. Iblis Sesat JalanHidup mengekeh. 

Tangan kanannya yang menjambak ditebaskan ke bawah. Kraak!

Rindang Maruhun menjerit. Lengan kanannya patah. Tubuhnya 

kemudian dibantingkan ke lantai. Kepala Kampung itu terpuruk 

kesakitan di sudut serambi. Kemudian dia merasakan injakan kaki di 

keningnya.

“Mana anak gadismu? Lekas jawab!”

“Di... dia tak ada di sini. Pergi dua... dua hari lalu...”

“Bangsat! Kau berani dusta?!”

“Aku tidak dusta! Dia benar-benar tak ada di sini. Siapa kau? 

Mengapa mencari anakku?”

“Siapa aku sudah kukatakan. Mengapa aku mencari gadis itu 

karena ada sesuatu yang harus diselesaikan. Nyawa dibayar nyawa. 

Darah dibayar dengan nyawa. Dosa di atas dosa! Dia mengkhianatiku 

dan melarikan diri dari Bukit Toba setahun lalu. Lekas katakan ke mana 

gadis itu pergi...!” “Aku tidak tahu...” “Kau pasti tahu! Dia anakmu!”

“Aku benar-benar tidak tahu...”

“Kalau begitu biarlah kau mampus dalam tidak tahu!”

Iblis Sesat Jalan Hidup tutup kata-katanya dengan menekankan 

tumitnya ke kening Rindang Maruhun. Kepala Kampung yang malang 

ini menggeliat-geliat dan melejang-lejangkan kaki. Ketika nyawanya 

putus, tubuhnya pun tak bergerak lagi


8


PANDANSURI duduk termenung di depan telaga. Kedua kakinya sampai 

sebatas betis dimasukkan ke dalam air telaga yang jernih dan sejuk. 

Saat itu hari masih pagi. Kicau burung masih terdengar di sana-sini. Di 

atas langkan sebuah rumah bambu yang menjorok ke telaga, duduk 

sosok tubuh berjubah biru dari seorang tua bermuka aneh dan seram. 

Wajahnya berwarna biru, hampir segelap biru jubah yang dikenakan. 

Kedua matanya hanya merupakan rongga berlobang sedang salah satu 

telinganya sumplung.

Sesaat orang tua ini tengadahkan wajahnya ke atap langkan 

seperti hendak menembus atap bambu itu dengan pandangan dua 

matanya yang bolong kosong. Kemudian dia berpaling ke arah kiri 

telaga, dimana Pandansuri duduk. Dulu gadis ini selalu mengenakan 

kerudung muka dan pakaian serba ungu. Namun sejak peristiwa di 

Bukit Toba dulu, sejak Pendekar 212 Wiro Sableng menyibakkan 

kerudung yang selalu melindungi wajahnya, sejak itu pula dia tak 

pernah lagi mengenakan kerudung muka ataupun pakaian berwarna 

ungu. Kini dia selalu berpakaian serba putih, termasuk ikat kepala 

untuk mengikat rambutnya yang panjang hitam.

“Masih sepagi ini kau sudah duduk melamun? Bukankah lebih 

baik melatih jurus-jurus baru yang kuajarkan padamu? Atau melatih 

ilmu pukulan sakti Surya Biru yang kurasa masih belum mantap kau 

miliki? Berapa lama kau bersamaku Pandan? Satu tahun! Ah, itu jauh 

dari cukup untuk mendalami ilmu pukulan sakti itu... “

Suara halus seperti suara perempuan itu datang dari langkan 

rumah bambu dan ternyata adalah suara orang tua bermata bolong.

Pandansuri mengeluarkan kedua kakinya dari dalam air telaga. 

Memang sudah setahun dia pulang balik meninggalkan kampungnya 

Pasir Putih untuk menuntut ilmu kepandaian dari orang tua bernama 

Nyanyuk Amber itu. Seperti dituturkan sebelumnya baik sang dara 

maupun si kakek sama-sama diselamatkan oleh murid Eyang Sinto 

Gandeng sewaktu terjadi malapetaka di Bukit Toba, yakni ketika 

didirikannya Partai Topan Utara oleh Raja Rencong alias Hang Kumbara. 

Atas petunjuk Wiro, Nyanyuk Amber kemudian memilih tinggal di telaga 

yang sunyi tenang itu sedang Pandansuri kemudian diambil oleh si 

kakek menjadi muridnya. Sebenarnya Nyanyuk Amber ingin pula 

mewariskan pukulan satu “Surya Biru” pada pendekar 212 Wiro 

Sableng, namun pendekar itu yang tidak mau dianggap mencari pamrih 

menolak secara halus.

Seperti diketahui kedua tangan dan kaki Nyanyuk Amber telah 

dibuat buntung oleh Raja Rencong karena pendekar sesat ini kawatir 

sang guru akan menjatuhkan tangan keras dan hukuman kepadanya.Karena itulah, selama Pandansuri berguru pada orang tua ini, sang dara 

telah berusaha membuat sepasang kaki-kakian dari kayu dan rotan. 

Dengan bantuan kaki palsu ini akhirnya Nyanyuk Amber mampu 

berdiri, bahkan berjalan. Kini Pandansuri tengah merencanakan 

membuat sepasang tangan palsu hingga kelak sang guru bisa hidup 

secara lebih baik. Apa yang telah diperbuat gadis itu membuat Nyanyuk 

Amber sangat sayang padanya hingga dia bertekad mewariskan seluruh 

ilmu kepandaiannya pada Pandansuri. Karena sebelumnya sang dara 

sudah memiliki ilmu silat dan ilmu sakti yang ampuh, maka dalam 

waktu satu tahun pandansuri telah menguasai banyak ilmu kepandaian 

yang diberikan gurunya. Terkadang

Nyanyuk Amber menggoda. Bahwa kelak jika sang dara sudah 

berhasil penuh menguasai ilmu pukulan sakti “Surya Biru” maka 

perlahan-lahan wajahnya akan berubah menjadi biru seperti wajah sang 

guru! Tentu saja hal ini tidak sesungguhnya karena wajah biru si kakek 

memang sudah begitu sejak dia dilahirkan!

Sebenarnya ada tiga hal yang membuat sepagi itu Pandansuri 

duduk termenung di tepian telaga. Pertama kenangannya yang tak bisa 

pupus terhadap pemuda gagah tapi suka menggoda dan berkepandaian 

tinggi itu yakni bukan lain Wiro Sableng si gondrong yang selalu 

dicapnya sebagai “pemuda konyol”! Tapi justru sejak pertama kali 

bertemu dia tak bisa menipu perasaannya bahwa dia menyukai pemuda 

itu dan tak dapat melupakannya. Setahun telah berlalu, sejak itu pula 

dia tak pernah bertemu dengan pemuda itu. Padahal Wiro didengarnya 

pernah berjanji pada Nyanyuk Amber akan datang menyambangi orang 

tua itu. Tapi sampai hari itu dia tak pernah muncul.

Hal kedua yang menyamaki pikiran sang dara ialah apa yang 

didengarnya terjadi di luaran sejak dua bulan terakhir ini. Beberapa 

tokoh silat di pantai utara dan timur menemui kematian di tangan 

seorang pembunuh yang dikatakan sebagai hantu mengerikan. 

Beberapa perkumpulan persilatan dihancurkannya pula. Padahal semua 

yang jadi korbannya adalah mereka yang tidak ada sangkut paut atau 

silang sengketa. Apakah rupanya dunia persilatan ini tak pernah lepas 

dari kehadiran manusia-manusia biadab dan terkutuk seperti itu?

Iblis Sesat Jalan Hidup! Begitu nama si pembunuh yang sampai 

ke telinga Pandansuri. Ada dua hal yang membuat dia tidak enak dan 

merasa heran. Yaitu si pembunuh kabarnya memiliki ilmu kebal hingga 

tak mempan senjata, tak mempan pukulan sakti apapun. Kemudian —

ini yang membuat Pandansur risau— kabarnya pembunuh itu memiliki 

ilmu kesaktian berupa jentikan jari-jari tangan yang mengeluarkan sinar 

hitam panas menghanguskan. Setahu dia ilmu pukulan seperti itu 

adalah “ilmu kuku api” yaitu seperti yang dipelajarinya dari Raja 

Rencong, ayah angkatnya yang mati sesat itu. Di dunia persilatan hanya 

ada dua orang yang memiliki ilmu kuku api itu yakni Raja Rencong dan 

dirinya sendiri. Kini Raja Rencong sudah tiada, berarti hanya dia sendiri 

yang menguasai ilmu itu. Tapi mengapa tahu-tahu kini muncul seoranglain dengan nama mengerikan dan memiliki ilmu yang sama?

Hal ketiga yang menjadi pemikiran Pandansuri sepagi itu ialah 

mimpinya tadi malam. Dia melihat ayah dan ibunya mengenakan 

pakaian serba putih. Sang ayah yakni Rindang Maruhun Kepala 

Kampung Pasir Putih mengenakan sorban putih lalu sang ibu memakai 

selendang putih. Dalam mimpi kedua orang tuanya itu menaiki sebuah 

kendaraan berbentuk aneh yang dapat meluncur di atas air danau di 

pinggir kampung, lalu sambil melambai-lambaikan tangan mereka 

terbang di atas danau, makin lama makin tinggi, makin jauh dan 

akhirnya lenyap di balik awan.

Pandansuri tak dapat menerka apa arti atau mimpinya itu. Sebab 

itulah sejak pagi dia sudah duduk di tepi telaga, merenung berpikir-

pikir. Ketika Nyanyuk Amber menegurnya gadis itu segera berdiri dan 

pergi mendapatkan sang guru. Setelah diam sesaat maka diapun 

mengutarakan dua dari tiga hal yang menjadi pikirannya itu. Hanya soal 

pada mengenang Wiro Sableng yang tidak dikatakannya pada sang guru.

Nyanyuk Amber menghela napas dalam, mendongak ke atas lalu 

memalingkan wajahnya ke arah telaga sementara burung-burung masih 

terdengar berkicauan di pepohonan sekitar situ.

“Iblis Sesat Jalan Hidup...” desis si orang tua bermuka biru. “Satu 

nama bejat yang pernah kudengar sejak enam puluh tahun lalu. Nama 

itu seperti sebuah legenda. Dikatakan orangnya ada, tak pernah aku 

menemuinya. Dikatakan tidak ada tapi malapetaka yang ditimbulkannya 

terjadi di mana-mana. Bertahun-tahun nama itu lenyap seperti ditelan 

bumi. Tahu-tahu kini muncul kembali. Sebelum kau mengatakannya 

padaku Pandan, ada seorang sahabat menyambangiku seminggu lalu. 

Diapun menceritakan hal yang sama. Juga mengutarakan kekawatiran 

yang sama.

“Siapa sebenarnya manusia itu guru? Jika dia memang seorang 

manusia, bukan setan atau iblis?” bertanya Pandansuri.

“Sulit diduga. Dia muncul seperti ibiis. Lalu lenyap seperti setan. 

Kematian dan darah ditinggalkannya di mana-mana. Seperti tak ada 

yang sanggup menandinginya. Hanya yang mengherankan, jika nama 

itu sudah muncul enam puluh tahun lalu, bagaimana masih terus ada 

sampai saat ini? Seperti orangnya tak pernah mati-mati...” Orang tua ini 

termenung sejurus. “Aku mendapat firasat, kemunculan manusia itu

kali ini seperti mencari sesuatu ...”

“Apakah dia demikian hebatnya hingga tak ada yang bisa 

mengalahkannya?” bertanya lagi Pandansuri,

“Di dunia ini sesungguhnya tak ada manusia yang hebat atau luar 

biasa muridku. Apalagi jika berhadapan dengan kekuatan dan 

kekuasaan Tuhan. Segala sesuatunya hanya menunggu waktu saja. 

Kalau aku tak salah ingat pernah seorang kawan mengatakan bahwa 

manusia berjuluk Iblis Sesat Jalan Hidup itu konon mempunyai satu 

pantangan. Pantangan inilah yang dapat mengalahkannya. Bahkan 

menamatkan riwayatnya. Hanya sayang, sebelum sang kawan sempatmenerangkan rahasia kelemahan Iblis itu, dia mati terbunuh. Kurasa, 

besar sekali kemungkinan Iblis Sesat Jalan Hiduplah yang telah 

membunuhnya!”

“Tidakkah kita bisa melakukan sesuatu untuk mencegah manusia 

terkutuk itu berbuat malapetaka lebih jauh...?”

“Aku senang mendengar pertanyaanmu itu Pandansuri. Hanya 

saja apakah yang bisa kita lakukan? Mencarinya? Dicari ke mana?”

“Bagaimanapun kita harus berbuat sesuatu, guru ...”

“Betul muridku. Aku akan memikirkan hal itu mulai sekarang.”

“Lalu bagaimana dengan mimpi saya yang tadi saya ceritakan itu, 

guru?”

“Mimpi adalah bunga tidur, Pandan. Mengingat Pasir Putih hanya 

setengah hari perjalanan dari sini, ada baiknya kau pulang dulu. 

Mungkin ayah atau ibumu kangen padamu... “

“Tak mungkin mereka kangen. Bukankah saya baru dua hari di 

sini? Dulu-dulu sampai berminggu-minggu...”

Nyanyuk Amber tersenyum mendengar kata-kata muridnya itu 

lalu menjawab. “Rindunya orang tua yang menandakan rasa sayang 

sukar diukur. Kelak kalau kau nanti sudah berumah tangga dan punya 

anak, kau akan merasakan seperti itu...”

Mendengar ucapan gurunya kembali terbayang wajah Pendekar 

212 Wiro Sableng di pelupuk mata Pandansuri.

“Kau boleh memakai kudaku, biar cepat sampai di rumah...” 

Terdengar ucapan Nyanyuk Amber.

“Terima kasih guru. Bolehkah saya pergi sekarang juga?”

’Tentu saja, pergilah. Tapi lekas kembali kemari. Aku punya firasat 

ada orang jauh yang akan berkunjung ke tempat kita ini... “

“Siapakah guru?”

“Tak dapat kupastikan. Tapi mungkin dia seorang yang selama ini 

selalu kau ingat-ingat... “

Wajah Pandansuri menjadi kemerahan. Hampir terlompat 

mulutnya hendak menyebut nama Wiro Sableng. Tapi cepat-cepat dia 

menutup mulut dengan jari-jari tangan.

Nyanyuk Amber tertawa mengekeh. “Pergilah Pandan. Hati-hati di 

jalan.”


9


MENJELANG sampai ke Pasir Putih, di kejauhan Pandansuri mendengar 

suara beduk dan tong tong dipukul tiada henti. Sesaat gadis ini tercekat. 

Suara beduk dan tongtong seperti itu hanya terdengar jika terjadi 

bahaya atau ada penduduk yang meninggal. Bahaya apa yang menimpa 

kampungnya? Atau siapa yang meninggal dunia? Pandansuri 

menyentakkan tali kekang kuda dan memacu binatang itu secepat yang 

bisa dilakukannya. Ketika dia sampai di halaman rumah, belum lagi 

kuda berhenti, gadis ini sudah melompat turun. Halaman rumah yang 

luas dipenuhi oleh penduduk. Rumah besar dipadati orang. Dari sebelah 

dalam terdengar suara isak tangis. Pandansuri lari masuk ke dalam, tak 

perduii lagi ada yang tersepak. Sampai di ruangan tengah gerakannya 

tertahan. Kedua lututnya seperti goyah. Dua jenazah yang telah tertutup 

kain kafan terbaring di atas kasur tinggi yang penuh dengan taburan 

bunga.

“Ayah...! Ibu!” raung Pandansuri. Gadis ini seolah-olah sudah tahu 

betul siapa-siapa jenazah yang terbujur di ruangan itu. Beberapa orang 

tua segera memeganginya ketika Pandansuri menjatuhkan diri dan 

merangkuli kedua jenazah.

“Apa yang terjadi?! Apa yang terjadi dengan ayah dan ibu?!” Jerit 

Pandansuri.

“Tenang Pandan... Tenang anakku. Ini cobaan besar bagi kita 

semua. Tabahkan hatimu. Iman anakku, imanlah...” yang berkata 

adalah seorang lelaki tua berkumis putih, kakak tertua ayah 

Pandansuri.

Kalau tidak dicegah orang banyak Pandansuri seperti gila hendak 

merobek kain kafan untuk melihat wajah ayah dan ibunya. Dengan 

susah payah gadis ini dibawa ke sebuah kamar. Di situ diceritakan 

padanya apa yang terjadi pagi kemarin.

“Beberapa pembantu ayahmu ikut terbunuh. Mereka sudah 

dikuburkan kemarin...” menjelaskan orang tua berkumis putih. “Kami 

tidak tahu harus mencarimu ke mana. Untung kau datang saat ini 

Pandan. Kalau tidak terpaksa jenazah keduanya kami makamkan 

karena tak mungkin menunggu lebih lama...”

Pandansuri duduk terhenyak di sudut kamar, bersimbah air mata 

dan keringat. Inilah rupanya makna mimpinya malam tadi. Dan tidak 

terduga manusia jahat yang selama imi gentayangan menyebar darah 

dan nyawa, yang bernama Iblis Sesat Jalan Hidup itu yang menghabisi 

kedua orang tuanya. Setahunya ayahnya tak pernah mempunyai 

musuh. Kenapa dia dibunuh mengenaskan begitu rupa? Juga ibunya 

yang tak berdosa. Lalu beberapa pembantu ayahnya?!Gadis itu bangkit berdiri. Sikapnya agak tenang sekarang. 

Matanya yang tadi basah oleh air mata kini tampak bersinar kemerahan. 

Dia melangkah ke pintu.

“Kau mau ke mana anakku?” tanya kakak ayah si gadis.

“Aku akan mencari bangsat bernama Iblis Sesat Jalan Hidup itu. 

Dia harus matai di tanganku!”

“Jangan bertindak kesusu. Tidakkah kau ingin menyaksikan 

pemakaman ayah ibumu lebih dulu.?”

Mendengar kata-kata itu Pandansuri segera sadar. Dia tak bisa 

pergi begitu saja bagaimana pun hebatnya dendam kesumat membakar 

dadanya.

***

LAMA setelah muridnya pergi, Nyanyuk Amber masih duduk di 

langkan rumah bambunya yang menjorok ke telaga. Lapat-lapat 

diantara siuran angin dan gemericik air telaga yang terkena kibasan 

ikan-ikan kecil, orang tua ini mendengar suara seseorang datang. 

Bersamaan dengan itu hidungnya yang tajam mencium bau busuk tidak 

enak. Nyanyuk Amber memutar kepalanya. Hatinya tiba-tiba saja 

menjadi gelisah. Orang yang datang ini agaknya bukan tamu yang 

ditunggu-tunggunya. Dia duduk tak bergerak, menanti dengan waspada.

Sesiur angin berhembus. Sesosok tubuh berkelebat naik ke atas 

langkan bambu itu. Tak ada sedikit gerakan pun terasa pada lantai 

bambu yang tak seberapa kokoh itu. Ini satu pertanda bagi si orang tua 

bahwa orang yang datang memiliki gerakan sebat dan keringanan tubuh 

yang luar biasa. Bau busuk bertambah santar.

’Tamu dari mana yang datang kemari... T’ menyapa Nyanyuk 

Amber.

Sesaat tak ada jawaban. Lalu terdengar suara sember tapi garang.

“Jadi di sini kau bercokol tua bangka buruk! Jangan harap kau 

bisa lari lebih jauh! Sekalipun kini kulihat kau memiliki sepasang 

tangan dan kaki palsu yang membuatmu jauh jadi lebih jelek! Ha... ha... 

ha...!”

Nyanyuk Amber kerenyitkan kening. Sikapnya tetap tenang. Dia 

coba mengingat-ingat suara itu. Tapi tetap saja dia tidak mengenali 

siapa adanya yang bicara.

“Tamu yang datang. Terangkan siapa kau adanya dan ada 

keperluan apa kau muncul di gubukku?!”

Sang tamu kembali tertawa. “Aku akan jawab pertanyaanmu yang 

kedua lebih dulu. Aku datang kemari untuk mencabut nyawamu! Kau 

dengar itu!”

“Hemmm... Tubuhmu memancarkan bau busuk. Pasti kau bukan 

Malaikat Jibril si pencabut nyawa. Tapi mengapa merasa punya hak 

hendak membunuhku?!”

“Hak? Tua bangka buta! Aku adalah raja diraja di dunia ini. Setiap 

hak apa pun yang kau sebutkan aku mempunyainya. Termasuk hak 

untuk menghabisi riwayatmu! Hutang nyawa dibayar nyawa. Darahdibayar darah. Dosa di atas dosa

“Jelas kau ngacok. Sekarang jawab pertanyaanku yang pertama 

tadi. Siapa dirimu!”

“Aku adalah bekas muridmu! Dulu aku bernama Hang Kumbara. 

Bergelar Raja Rencong Dari Utara, Pemimpin Partai Topan Utara yang 

hancur pada hari peresmiannya. Kau ikut ambil bagian dalam

menggagalkan berdirinya Partai itu. Kini dunia persilatan mengenalku 

dengan nama baru. Iblis Sesat Jalan Hidup! Yang tak akan pernah mati 

oleh kekuatan apa pun di dunia ini! Kau dengar itu tua bangka 

keparat?!”

Tentu saja Nyanyuk Amber terkejut mendengar kata-kata orang 

yang ada di hadapannya itu. Hang Kumbara! Raja Rencong Dari Utara! 

Bukankah manusia durjana itu sudah menemui kematiannya lebih dari 

satu tahun silam? Bagaimana kini dia bisa hidup lagi? Dan benarkah 

dia yang kini tegak di hadapannya? Sungguh satu kenyataan yang sulit 

dapat dipercaya.

Selagi Nyanyuk Amber terkesiap begitu rupa, Iblis Sesat Jalan 

Hidup tiba-tiba merasakan tengkuknya dingin dan lutunya bergetar. 

Kedua matanya menatap tajam pada pakaian dan wajah si orang tua. 

Jubah dan muka orang tua itu berwarna biru. Warna pantangan yang 

harus dijauhinya. Sekati salah satu bagian tubuhnya tersentuh pakaian 

atau muka itu tamatlah riwayatnya. Berarti dia harus menjaga jarak dan 

membunuh cepat-cepat orang tua ini!

“Nyanyuk Amber! Waktumu sudah sampai! Bersiaplah untuk 

mampus!” teriak Iblis Sesat Jalan Hidup. Lalu dia jentikkan lima jari 

tangan kanannya. Lima larik sinar hitam mengandung hawa luar biasa

panasnya berkiblat.

Nyanyuk Amber terkejut.

“Ilmu Kuku Api!” serunya ketika mengenali deru dan hawa ilju 

pukulan maut itu. Tubuhnya yang duduk serta-merta melayang ke 

samping. Meskipun kini hanya memiliki sepasang kaki kayu, namun 

gerakannya tampak sebat. Begitu berdiri dia segera hantamkan tangan 

kanannya. Angin deras menerpa ke arah Iblis Sesat Jalan Hidup tapi 

dengan mudah dielakkan.

“Murid murtad! Siapapun kau adanya! Jika kau benar Iblis Sesat 

Jalan Hidup maka aku akan membasmimu hari ini!” teriak Nyanyuk 

Amber.

Iblis Sesat Jalan Hidup tertawa mengejek.

Kraak! Dia patahkan salah satu tiang bambu penyanggah atap 

langkan. Lalu dengan bersenjatakan potongan bambu yang cukup 

panjang ini dia menyerang Nyanyuk Amber dengan ganas. Sejak Guli 

Rampai — si Iblis Sesat Jalan Hidup perempuan tua itu— mengisi 

tubuhnya dengan kekuatan aneh, kehebatan yang dimiliki Raja Rencong 

alias Hang Kumbara memang luar biasa. Dalam waktu singkat, Nyanyuk 

Amber yang penuh pengalaman dalam dunia persilatan itu terdesak 

hebat. Salah satu dari kaki kayunya hancur dihantam potongan bambu.Menyusul tangan kayu sebelah kanan. Orang tua ini menjadi kerepotan 

dan bertahan mati-matian sambil bersiap-siap menyalurkan tenaga 

dalam untuk melepaskan pukulan “Surya Biru”. Namup meskipun dia 

sanggup mewariskan ilmu sakti itu pada Pandansuri, untuk 

mempergunakannya sendiri dia mengalami kesulitan karena keadaan 

kedua tangannya yang cacat. 

Kraak!

Kaki kayu kedua hancur dihantam ujung bambu. Nyanyuk Amber 

terbanting ke lantai langkan. Menyadari bahaya, orang tua ini cepat 

gulingkan diri, tepat ketika Iblis Sesat Jalan Hidup lepaskan lagi 

pukulan sakti ilmu kuku api! Lantai langkan hancur berentakan, 

terbakar di beberapa bagian. Dalam waktu singkat api berkobar ganas.

Nyanyuk Amber bergulingan di tanah di tepi telaga. Ketika dia 

kemudian terduduk di tanah jubah birunya kelihatan menggembung. Ini 

satu pertanda dia tengah menghimpun seluruh tenaga dalam yang ada 

dan siap melakukan sesuatu yang hebat. Sebagai bekas muridnya, Iblis 

Sesat Jalan Hidup alias Hang Kumbara tahu ilmu apa yang hendak 

dilancarkan oleh sang guru. Yakni hawa panas yang menebar asap 

beracun berwarna kuning.

Tanpa rasa takut karena percaya akan kekebalan dirinya, Iblis 

Sesat Jalan Hidup malah melangkah mendekati, tapi sejarak yang 

cukup aman agar jubah biru si kakek tidak menyentuhnya.

“Kau hendak mengeluarkan ilmu racun kayangan? Ha... ha... ha. 

Keluarkanlah! Ilmu butut itu stepa yang takut!”

Meskipun hatinya jadi panas namun diam-diam Nyanyuk Amber 

merasa terkejut. Bagaimana musuh keparat itu berani menantang 

seperti itu. Padahal selama ini tak satu orang pun sanggup 

menyelamatkan diri dari kepungan asap mautnya.

Nyanyuk Amber menggembos. Jubah birunya yang tadi 

menggembung tiba-tiba menjadi kempes. Bersamaan dengan itu dari 

bagian bawah jubah melesat keluar asap kuning pekat, membuntal 

dahsyat dan langsung menerpa deras ke arah Iblis Sesat Jalan Hidup.

Yang diserang tetap tegak tak bergerak dan masih terus 

mengumbar tawa mengejek. Ternyata asap beracun ganas itu sama 

sekali tidak mempan merusak kulit apa lagi membunuhnya!

Selagi Nyanyuk Amber terkesiap akan ini, didahului bentakan 

garang Iblis Sesat Jalan Hidup melompat ke depan dan tusukkan ujung 

bambu di tangan kanannya. Dia tak berani menusuk ke tubuh atau 

muka Nyanyuk Amber. Karenanya yang menjadi sasarannya adalah 

leher orang tua itu!

Dalam keadaan tercekat melihat ilmu racun kayangan tak 

sanggup menghabisi lawannya, Nyanyuk Amber bertindak agak 

terlambat ketika tusukan bambu menderu ke arah tenggorokannya. 

Meskipun dia semapat mengelak, tetap saja ujung bambu menyerempet 

lehernya, menimbulkan luka cukup parah. Darah mengucur. Dalam 

keadaan seperti itu Iblis Sesat Jalan Hidup kemudian susul denganserangan ilmu kuku api. Tak adaa kesempatan lagi bagi orang tua yang 

malang itu untuk selamatkan diri!


10


SAHABATKU tua bangka ompong! Siapa yang berani mencelakaimu?!” 

Mendadak satu seruan keras terdengar. Bersamaan dengan itu berkiblat 

sinar putih menyilaukan mata. Hawa panas luar biasa menebar, iblis 

Sesat Jalan Hidup terpental enam langkah. Sesaat tubuhnya tergontai-

gontai, tapi dia tidak mengalami cidera apa-apa. Sebaliknya bangunan 

bambu di belakangnya, yang sepertiganya telah dimakan api, hancur 

lebur berantakan kena sambaran sinar putih perak tadi.

Tiga orang sama-sama terheran-heran. Pertama tentu saja si Iblis 

Sesat Jalan Hidup. Selain heran juga terkejut mendapat serangan yang 

tiba-tiba. Meskipun tubuhnya cidera tetapi sinar putih panas 

menyilaukan tadi sanggup membuatnya terpental. Yang kedua adalah 

Nyanyuk Amber. Orang tua ini heran tak menyangka kalau ketika ajal 

sudah di depan mata ternyata masih ada uluran tangan Tuhan yang 

menyelamatkannya. Dan orang yang ketiga adalah dia yang barusan 

berkelebat muncul di tempat itu, yakni bukan lain Pendekar 212 Wiro 

Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Selama malang 

melintang dalam dunia persilatan, jika tidak menghadapi lawan 

tangguh, tak akan dia melepaskan pukulan “sinar matahari!” Dan jika 

sekali pukulan itu dilepaskan, maka korban akan jatuh tergelimpang. 

Tapi adalah luar biasa bahwa sosok tubuh penuh cacat dengan wajah 

seangker iblis itu tidak cidera seujung rambut pun. Padahal jelas 

pukulan sinar matahari tadi tepat menghantam tubuhnya hingga 

terpental. Bahkan selendang hitam berbunga kuning emas di bahunya 

tidak bergeming sedikit pun!

“Keparat! Kau rupanya!” bentak Iblis Sesat Jalan Hidup.

“Heh, setan alas ini mengenaliku. Siapa dia sebenarnya,” 

membatin Wiro. “Kau muncul sendiri di sini hingga tak susah-susah aku 

mencarimu! Hutang nyawa bayar nyawa. Darah dibayar darah! Dosa di 

atas dosa!” tentu saja dia tidak mengenali siapa sebenarnya manusia di 

hadapannya itu.

“Bagus! Kau sudah muncul tanpa dicari! Berarti tak perlu 

membuang-buang waktu! Kalian berdus memang layak mampus 

berbarengan di tempat ini!”

“Kalau bukannya setan kau tentu iblis jejadian!” ujar Wiro 

menyahut ucapan Iblis Sesat Jalan Hidup.

Nyanyuk Amber diam-diam merasa bersyukur atas munculnya 

Wiro yang memang sudah lama ditunggu-tunggunya. Namun dia merasa 

perlu memberi tahu. Maka dengan mempergunakan ilmu mengiangkan 

suara, dia berkata pada Pendekar 212. “Wiro, hati-hati! Mahluk yang 

dihadapanmu adalah Iblis Sesat Jalan Hidup. Ilmunya tinggi dan dia 

kebal terhadap segala macam pukulan maupun senjata! Dia tidak bisadibikin mati!”

Karena sebelumnya tidak pernah mendengar tentang mahluk 

bernama Iblis Sesat Jalan Hidup ini maka Wiro tentu saja tidak dapat 

mempercayai kata-kata orang tua itu. Mana ada mahluk hidup yang 

tidak dapat mati?

Mengetahui bagaimana jalan pikiran wiro maka Nyanyuk Amber 

kembali kirimkan suaranya ke si pendekar: “Iblis itu adalah penjelmaan 

Raja Rencong yang mati setahun silam!”

Makin tak mengerti pendekar kita jadinya. Dulu dia sendiri 

bersama-sama puluhan tokoh silat mencincang Raja Rencong di Arena 

Topan Utara. Kini diakah mahluk hidup bertubuh dan berwajah seram 

ini?

Sebelum dia sempat berpikir lebih lama, di hadapannya Iblis Sesat 

Jalan Hidup jentikkan lima jari tangan kanannya. Lima sinar hitam 

pekat dan panas menggebubu!

“Ah! Ilmu kuku api!” seru Wiro dalam hati. “Memang keparat itu 

rupanya!”

Untuk kedua kalinya Wiro lepaskan pukulan sinar matahari guna 

menangkis ilmu kuku api. Sinar putih dan sinar hitam saling baku 

hantam di udara, mengei-luarkan susara berdentum yang disertai 

kilapan sinar api amat mengerikan. Ranting dan cabang serta daun-

daun pepohonan yang ada di sekitar situ hangus kehitaman. Nyanyuk 

Amber leletkan lidah. Hawa panas terasa menjalar sampai ke tubuhnya.

Jengkel melihat pukulan saktinya tidak mempan maka Pendekar 

212 Wiro Sableng cabut Kapak Maut Naga Geni 212. Suaara seperti 

ribuan tawon mengamuk memenuhi udara ketika senjata mustika sakti 

itu berkelebat ke arah Iblis Sesat Jalan Hidup.

Yang diserang tegak tak bergerak, bersikap menantang dan 

sunggingkan senyum mengejek. Malah berkata: “Pilih bagian tubuhku 

yang empuk anak muda!”

Buuk!

Mata Kapak Naga Geni 212 menghantam dada

Iblis Sesat Jalan Hidup. Tak ampun lagi tubuhnya terpental lalu 

jatuh duduk. Tapi di lain kejap dia sudah bangkit berdiri kembali tanpa 

cidera sedikit pun! Kejut Wiro Sableng bukan alang kepalang! Ilmu 

apakah yang kini dimiliki Raja Rencong hingga senjata saktinya tidak 

mempan sama sekali. Hampir tak percaya, dia pandangi kapak di 

tangannya. Di depannya terdengar suara tawa parau Iblis Sesat Jalan 

Hidup.

“Aku pernah kau bunuh! Sekarang kau ganti menemui kematian! 

Arwahmu sudah lama ditunggu arwahku!” Iblis Sesat Jalan Hidup 

melangkah mendekati Wiro. Tangan kanan terpentang seperti hendak 

mencengkeram. Wiro tabaskan kapak saktinya.

Bukk!

Kembali kapak itu menghantam dan tidak berdaya!

“Gila!” maki Wiro. Sebelum lawan datang lebih dekat pendekar inicepat menghantam dengan pukulan benteng topan melanda samudera. 

Seperti tadi Iblis Sesat Jalan Hidup hanya terpental jatuh, bangkit 

berdiri dan mendatangi Wiro kembali! Penasaran murid Sinto Gendeng 

hantamkan kapak saktinya sekali lagi. Kali ini batok kepala Iblis Sesat 

Jalan Hidup yang diarahnya. Kalau dulu senjata itu sempat membelah 

kepala Raja Rencong maka sekali ini hanya mengeluarkan suara 

bergedebuk dan ternyata kepala itupun tak mempan dikapak!

“Wiro, kita harus cepat menyingkir dari sini! Walaupun kita 

sanggup menghajarnya sampai seribu jurus tapi dia tak akan dapat 

dimatikan. Sebaliknya kita akan kehabisan tenaga dan menjadi 

korbannya!” Terdengar suara mengiang di telinga Wiro. Itulah suara 

Nyanyuk Amber.

“Aku tidak akan berlaku sepengecut itu! Aku yakin bangsat ini 

bisa dikalahkan!” menjawab Wiro.

“Jangan tolol! Sebelum kita dapat memecahkan teka-teki 

kekebalannya, kita berdua bisa mati percuma di tempat ini! Lekas 

dukung aku dan menyingkir dari sini! Cepat!”

Karena menyadari memang tak mungkin melanjutkan 

penyerangan terhadap Iblis Sesat Jalan Hidup mau tak mau Wiro 

Sableng terpaksa mengikuti apa yang dikatakan Nyanyuk Amber. 

Dengan kapak tetap di tangan kanan guna melindungi diri, Wiro sambar 

tubuh si orang tua dan berkelebat ke jurusan timur.

Iblis Sesat Jalan Hidup mengejar sambil lepaskan pukulan ilmu 

kuku api. Wiro putar Kapak Maut Naga Geni 212. Serangan lawan 

musnah setengah jalan tapi manusia iblis itu terus mengejar. Hanya 

saja dalam ilmu lari tingkat kepandaiannya tidak dapat menandingi 

murid Sinto Gendeng itu. Dalam waktu singkat dia sudah tertinggal 

jauh. Akhirnya dua orang yang dikejar itu lenyap di kejauhan di antara 

kelebatan pepohonan.

“Kalian tak akan bisa lolos sekalipun lari ke ujung dunia! Tunggu 

saja waktunya. Sekarang lebih baik aku mencari gadis keparat itu lebih 

dulu! Jika dia tidak ada di di sini, pasti dia sudah kembali ke Pasir 

Putih!”


11


SANG SURYA tampak merah membara tanda sebentar lagi akan masuk 

ke titik tenggelamnya. Di tanah pekuburan yang terletak di sebelah 

selatan Pasir Putih keadaannya sudah sepi. Dua jenazah telah 

dimakamkan. Para pengantar telah lama pergi. Hanya ada satu orang 

kelihatan masih duduk bersimpuh di hadapan dua tumpukan tanah 

merah. Pakaiannya yang putih kotor oleh merahnya tanah liat. Orang ini 

adalah Pandansuri yang tengah menghadapi makam ayah dan ibunya. 

Perasaan dara ini saat itu bercampur aduk. Pertama tentu saja rasa 

sedih dan duka cita yang mendalam karena kematian kedua orang 

tuanya. Namun sekaligus dalam hatinya juga membara dendam 

kesumat terhadap pelaku pembunuh yang tidak pernah dilihatnya, 

hanya didengarnya bernama Iblis Sesat Jalan Hidup. Dalam hatinya 

sudah bulat tekad untuk mencari manusia iblis itu guna menuntut 

balas.

Perlahan-lahan Pandansuri berdiri. Di saat dirasakannya harus 

pergi meninggalkan tempat itu, kembali air mata memercik dan 

meluncur di kedua pipinya.

“Ayah, ibu... Saya harus pergi sekarang. Saya bersumpah di 

hadapan kubur ayah ibu untuk mencari pembunuh terkutuk itu. Saya 

tak akan berhenti sebelum menemui dan membunuhnya!”

Ketika Pandansuri hendak mencium bagian tanah di kepala kubur 

ibunya tiba-tiba di belakangnya terdengar suara orang menegur. Satu 

suara yang keras tapi parau.

“Pandansuri! Kau tak perlu jauh-jauh mencari pembunuh kedua 

orang tuamu! Orangnya sudah ada di sini. Aku orangnya...!”

Kejut gadis itu bukan kepalang. Sejak menerima tambahan ilmu 

dari Nyanyuk Amber, perasaan dan pendengarannya jauh lebih tajam. 

Mengapa kini ada orang datang dari belakang dia tidak dapat 

mengetahuinya? Hanya ada satu jawaban. Mungkin pikiran dan 

perasaannya terlalu tertumpah pada nasib malang yang dihadapinya. 

Atau mungkin pula orang yang datang memiliki kepandaian tinggi luar 

biasa.

Secepat kilat Pandansuri balikkan tubuh.

Serta merta gadis ini terperangah, hampir keluarkan saruan kaget 

karena ngeri. Di hadapannya berdiri sosok tubuh dan wajah yang sangat 

menyeramkan. Sosok tubuh ini hanya mengenakan sehelai celana 

pendek, bertelanjang dada. Ada sehelai selendang hitam berbunga-

bunga kuning emas melintang di bahunya. Seluruh tubuh, mulai dari 

kaki sampai ke dada, terus ke wajah penuh luka bekas cacat yang 

mengerikan, terutama luka melintang di atas mata dan pipi kiri.“Ha... ha...! Kau takut?! Kau tak mengenaliku?!”

Sosok tubuh mengerikan itu yang bukan lain adalah Iblis Sesat 

Jalan Hidup menyeringai.

“Siapa kau?!” sentak Pandansuri setelah rasa kagetnya pulih.

“Aku Iblis Sesat Jalan Hidup! Aku yang membunuh kedua orang 

tuamu...!”

“Iblis durjana!” teriak Pandansuri. Gadis ini langsung jentikkan 

sepuluh jari tangannya. Sepuluh larik sinar merah yang luar biasa 

panasnya berkiblat menghantam ke sepuluh bagian tubuh termasuk 

kepala Iblis Sesat Jalan Hidup!

Yang diserang tak bergerak, malah bersikap menunggu dan 

menantang. Lima larik sinar merah menghantam. Terdengar suara 

berletupan. Sepuluh sinar merah musnah. Pukulan sakti tadi, 

jangankan mencelakai atau membunuhnya, meninggalkan bekas pun 

tidak! Dinginlah tengkuk Pandansuri. Wajahnya pucat lesu.

Iblis Sesat Jalan Hidup tertawa bergelak. “Ilmu Kuku Api! Ilmu itu 

aku yang mengajarkannya padamu Pandansuri!”

“Apa katamu?!”

“Ilmu Kuku Api itu! Aku yang mengajarkannya padamu! Hari ini 

kau harus mengembalikannya padaku berikut nyawa dan 

kehormatanmu!”

“Manusia iblis! Apa maksudmu! Siapa kau sebenarnya?!”

“Aku bernama Hang Kumbara. Dulu bergelar

Raja Rencong Dari Utara. Dulu pernah menjadi ayah angkatmu! 

Tapi kau mengkhianatiku! Kau bekerja-sama dengan musuh-musuhku. 

Lalu kau melarikan diri...!”

“Gila! Kau iblis gila! Ayah angkatku menemui kematian setahun 

lalu di Bukit Toba! Jangan mengaku-aku yang bukan-bukan. Dan ayah 

angkatku tidak seburuk tubuh dan mukamu yang busuk!”

Iblis Sesat Jalan Hidup kembali tertawa. Tiba-tiba dia melompat 

ke depan. Sekali tangannya bergerak, satu totokan melanda dada 

Pandansuri, membuat gadis ini terjatuh rubuh dan kaku tegang tak bisa 

bergerak lagi!

Iblis Sesat Jalan Hidup berlutut di sampingnya.

“Dulu kau selalu mengenakan kerudung ungu. Kini kulihat kau 

tidak memakainya lagi. Ternyata baru kini kusadari kau memiliki wajah 

cantik. Juga tubuh yang bagus! Ha... ha... ha...! Hutang nyawa bayar 

nyawa. Darah dibayar dengan darah. Dosa di atas dosa!”

Iblis Sesat Jalan Hidup lalu ulurkan tangannya.

Breet... bret... brettt!

Pakaian di tubuh Pandansuri habis dirobeknya hingga gadis yang 

malang itu kini terbaring dalam keadaan hampir tidak tertutup lagi 

auratnya. Yang bisa dilakukannya hanyalah memaki dan menyumpah.

“Terkutuk! Iblis terkutuk! Jika kau benar-benar Raja Rencong, 

jika kau benar-benar ayah angkatku lebih baik bunuh aku dari pada 

kau perlakukan keji begini!” teriak Pandansuri.“Dulu aku Raja Rencong! Dulu aku ayah angkatmu! Sekarang aku 

adalah Iblis Sesat Jalan Hidup! Kau minta mampus?! Aku akan 

membunuhmu, jangan kawatir! Tapi kau rasakan dulu dosa di atas 

dosa!”

Lalu Iblis Sesat Jalan Hidup jatuhkan dirinya di atas tubuh 

Pandansuri. Untuk kesekian kalinya gadis itu menjerit. Di langit sinar 

merah telah meredup. Sang surya telah tenggelam dan keadaan di 

pekuburan itu mulai gelap.

Tak jauh dari pekuburan...

Pendekar 212 Wiro Sableng berlari kencang sambil mendukung 

kakek buntung Nyanyuk Amber.

“Hai... aku mendengar suara orang menjerit,” berkata orang tua 

itu.

Saat itu Wiro masih belum mendengar apa-apa.

“Suara itu datang dari arah sana...” si kakek goyangkan kepalanya 

ke kanan.

“Mungkin hanya suara anak-anak gembala yang pulang ke 

kampung sambil bermain berteriak-teriak...” ujar Wiro. Memang dalam 

jarak sejauh itu dengan sumber suara, daya pendengaran Wiro masih 

kalah jauh dari si kakek, karena itu dia masih juga belum mendengar 

apa-apa.

“Bocah torek! Telingamu perlu dibersihkan! Lekas bawa aku ke 

jurusan sana...” Mengomel Nyanyuk Amber.

“Hari sudah hampir malam, kek! Sebaiknya kita terus saja ke 

kampung. Bukankah ke situ tujuan kita guna mencari muridmu?” Baru 

saja Wiro berkata demikian, dia merasakan kedua lutut orang tua yang

didukungnya menekan tubuhnya dan secara aneh gerakan larinya 

terseret ke kanan. Dia kerahkan tenaga. Dia tahu kalau Nyanyuk Amber 

pergunakan kepandaian untuk menguasainya agar menurut apa 

maunya. Sadar kalau si kakek memang lebih lihay tenaga dalamnya, 

Wiro terpaksa berbelok ke kanan. Sesaat kemudian pendekar ini berkata 

seperti mengomel: “Apa kataku kek! Kau menyuruhku membawamu ke 

jurusan ini. Tahukah kau apa yang ada di depan kita?”

“Katakanlah!”

“Pekuburan!” jawab Wiro.

“Pekuburan! Lalu apa salahnya? Jeritan itu semakin keras kini. 

Dan aku membaui sesuatu yang busuk!”

Wiro kini sudah pula mendengar suara jeritan itu. Juga bau 

busuk seperti yang dikatakan si kakek.

“Hai! Bau busuk itu! Bukankah ini bau busuk tubuh Iblis Sesat 

Jalan Darah?! Dia pasti ada di sekitar sini!” kata Wiro.

“Tepat! Teruslah lari ke jurusan jeritan itu. Aku hampir pasti itu 

adalah suara muridku!”

Ketika sampai di bagian pekuburan yang membukit, Wiro melihat 

sosok tubuh Iblis Sesat Jalan Hidup di kejauhan, seperti tengah 

menghimpit seseorang di bawahnya.“Durjana terkutuk!” teriak Pendekar 212. Seperti terbang 

tubuhnya melesat ke arah dua kubur yang masih merah, disamping 

mana Pandansuri siap dirusak kehormatannya.

Iblis Sesat Jaian Hidup bukan tidak tahu kalau ada orang yang 

datang. Masih dalam keadaan terbaring di atas tubuh Pandansuri dia 

lepaskan pukulan Kuku Api. Secepat kilat Wiro balas menghantam 

dengan pukulan matahari. Nyanyuk Amber yang ada dalam 

dukungannya tiba-tiba melesat ke udara, lalu jatuh di tanah, berguling-

guling sampai akhirnya berhenti karena tertahan oleh sebuah batu 

nisan. Dari jeritan muridnya dia tahu persis di mana Pandansuri 

berada. Maka tubuhnya pun digulingkan ke tempat gadis itu terbaring. 

Iblis Sesat Jalan Hidup kembali lepaskan pukulan Ilmu Kuku Api. Kali 

ini ke arah Nyanyuk Amber. Tapi lagi-lagi Wiro menghantam dengan 

pukulan sinar matahari, malah tangan kirinya sekaligus lancarkan 

pukulan yang dipelajarinya dari Tua Gila, yakni pukulan “Dewa topan 

menggusur gunung”.

Tubuh Iblis Sesat Jalan Hidup terpental. Tapi setelah bergulingan 

beberapa kali dia cepat berdiri dan kini menyerbu Pendekar 212 dengan 

pukulan sakti bernama “topan pemutus urat”. Hebatnya bukan alang 

kepalang. Selain mengeluarkan suara menggemuruh, sekali tubuh 

tersambar angin pukulan sakti ini maka kontan urat-urat yang ada di 

bagian tubuh itu hancur berputusan!

“Pukulan Topan Pemutus Urat!” seru Nyanyuk Amber ketika dia 

mengenali suara angin pukulan yang dilepaskan Iblis Sesat Jalan 

Hidup. “Ah! Keparat itu rupanya memang benar-benar si Hang Kumbara 

laknat! Aneh luar biasa! Bagaimana sudah mampus dia bisa hidup 

lagi?!”

Nyanyuk Amber terus menggulingkan tubuhnya hingga akhirnya 

berhenti ketika menumbuk tubuh Pandansuri.

Di bagian lain Pendekar 212 Wiro Sableng merasakan tubuhnya 

seperti dicengkeram oleh belasan tangan yang tak kelihatan. Sadar akan 

bahaya kehebatan kesaktian lawan, murid Sinto Gendeng ini keluarkan 

bentakan keras hantamkan Kapak Naga Geni 212 ke depan sedang 

tangan kiri lepaskan pukulan “dinding angin berhembus tindih-

menindih”. Tapi sungguh di luar dugaan sang pendekar. Angin sakti 

pukulan lawan masih terus melabraknya. Untuk selamatkan diri mau 

tak mau Wiro terpaksa melompat ke udara. Tapi saat itu terdengar 

teriakan Nyanyuk Amber.

“Jatuhkan dirimu ke tanah”.

Rupanya orang tua itu tahu cara bagaimnana menghadapi 

serangan “topan pemutus urat’ maka secepat kilat Wiro Sableng 

jatuhkan diri, menelungkup sama rata ke tanah! Angin maut lewat di 

atas punggungnya, bersiur sejuk seperti hembusan angin gunung!

“Gila...!” rutuk Wiro dan melompat berdiri. Begitu berdiri dia 

segera lindungi.diri dengan hantamkan pukulan “sinar matahari” ke 

arah lawan. Sadar kalau sebelumnya pukulan itu tidak mampumenciderai manusia iblis itu maka Wiro susul dengan membabatkan 

Kapak Naga Geni 212. Tabasannya sengaja diarahkan ke batang leher 

Iblis Sesat Jalan Hidup.

Buk!

Mata kapak telak-telak menghajar batang leher Iblis Sesat Jalan 

Hidup, membuat tubuhnya terbanting jungkir balik. Tapi di lain saat dia 

kembali berdiri sambil keluarkan suara tertawa mengekeh. Murid Sinto 

Gendeng dari Gunung Gede ini jadi keluarkan keringat dingin. “Kalau 

iblis ini memang tidak bisa dibunuh, berarti nyawaku kali ini tak akan 

ketolongan. Pasti juga orang tua dan gadis itu akan dibunuhnya!”

Akan Nyanyuk Amber, begitu tubuhnya membalik.

“Muridku... Kau tak apa-apa?”

“Kau mana bisa melihat guru!” sahut Pandansuri yang masih 

terbungkus hawa amarah terhadap Iblis Sesat Jalan Hidup. “Mahluk 

iblis itu hendak memperkosaku. Seluruh pakaianku habis dirobeknya...“

“Ah, untung mataku buta. Kalau tidak tentu aku menyaksikan 

pemandangan yang...”

“Dalam keadaan seperti ini kau masih bisa bergurau! Guru! Kau 

keterlaluan!” potong Pandansuri dengan suara keras tapi seperti hendak 

menangis.

“Sudah... sudah! Jangan marah padaku. Bahaya belum lewat. 

Lekas kau tutupi tubuhmu dengan jubah biruku ini!” kata Nyanyuk 

Amber pula. Lalu jubahnya tampak menggembung. Secara aneh pakaian 

yang sangat besar dan berwarna biru itu bergerak naik ke atas melewati 

perut, dada dan akhirnya lolos dari kepalanya. Jubah itu kemudian 

jatuh menutupi tubuh Pandansuri yang nyaris telanjang. Si orang tua 

sendiri kini hanya mengenakan celana kolor dekil!

“Guru! Aku harus menuntut balas kematian ayah dan ibuku! 

Mereka dibunuh oleh Iblis Sesat Jalan Hidup. Aku sudah bersumpah 

untuk membunuhnya. Bisakah kau tolong melepaskan totokan di 

tubuhku?!”

“Ain. rupanya kau kena ditotok oleh iblis itu. Pantas tadi kudengar 

hanya suaramu saja yang menjerit-jerit! Lekas katakan bagian mana 

tubuhmu yang ditotok?”

“Dada...” menerangkan Pandansuri.

Buk!

Nyanyuk Amber hantamkan kepalanya ke dada gadis itu hingga 

Pandansuri terpekik kesakitan. Tapi justru tumbukan kepala pada 

bagian dadanya itu membuat totokannya punah. Begitu terlepas dari 

totokan gadis ini melompat tegak dengan tubuh berselimutkan jubah 

biru Nyanyuk Amber yang menjela-jela sampai ke tanah pekuburan.

“Iblis laknak! Kau harus mampus di tanganku!” teriak Pandansuri 

seraya bergerak mendekati Iblis Sesat Jalan Hidup yang saat itu siap 

menerjang Pendekar 212 Wiro Sableng yang berada dalam keadaan 

terdesak.

Iblis Sesat Jalan Hidup berpaling dan terkejut. Bukan ancamanmaut yang diteriakkan Pandansuri yang membuatnya terkejut, tetapi 

jubah biru milik Nyanyuk Amber yang menyelubungi tubuh si gadis 

membuatnya jadi kecut.

“Gadis pengkhianat ayah angkat! Pergi kau! Menjauh dari sini 

kalau tidak ingin kubahabisi detik ini juga!”

Sebagai jawaban Pandansuri jentikkan lima jari tnagan kanannya. 

Lima larik sinar merah ilmu kuku api menyambar ganas ke arah Iblis 

Sesat Jalan Hidup. Terdengar suara berletupan ketika lima larik sinar 

merah itu menghantam tubuhnya dengan tepat. Tapi tak sedikit cidera 

pun yang kelihatan. Bahkan selendang hitam yang sampai saat itu 

masih tersandang di bahu kanannya tidak rusak sedikit pun!

“Pergi!” teriak Iblis Sesat Jalan Hidup ketika Pandansuri semakin 

mendekat.

Satu-satunya daun telinga yang dimiliki Nyanyuk Amber tampak 

bergerak-gerak. Orang tua ini memutar otak. “Aneh...” katanya dalam 

hati. “Suara iblis itu seperti menunjukkan rasa takut. Apa yang 

ditakutinya terhadap muridku? Bukankah mudah saja dia membunuh 

sementara aku tak berdaya menolong...?”

“Pergi!” Iblis Sesat Jalan Hidup berteriak lagi. Pandansuri semakin 

dekat. Takut jubah biru itu mengenai tubuhnya. Iblis Sesat Jalan Hidup 

segera lepaskan pukulan “topan pemutus urat”. Namun gebukan Kapak 

Maut Naga Geni 212 yang menghantam perutnya, meskipun tidak dapat 

melukai kulitnya, membuat tubuhnya terpental dan jatuh duduk di atas 

sebuah kuburan tua.

Sementara itu Pandansuri yang penuh dengan dendam membara 

serta penasaran melihat ilmu kuku apinya tidak mempan terhadap Iblis 

Sesat Jalan Hidup tiba-tiba ingat pada ilmu pukulan sakti bernama 

“Surya Biru” yang selama satu tahun belakangan ini dipelajarinya dari 

Nyanyuk Amber. Memikir bahwa inilah kesempatan untuk 

mempergunakan dan menjajal kehebatan ilmu tersebut, dengan 

pengerahan tenaga dalam sepenuhnya, dari jarak enam langkah 

Pandansuri bersiap untuk menghantam. Tapi baru saja dia hendak 

mengangkat tangan kanan, di depannya Iblis Sesat Jalan Hidup telah 

melompat tegak seraya kirimkan pukulan topan pemutus urat! Debu 

pasir dan tanah kuburan beterbangan ke udara!

Sebagai bekas anak angkat dan murid Raja Rencong alias Iblis 

Sesat Jalan Hidup, Pandansuri tentu saja mengetahui bagaimana 

kehebatan dan keganasan ilmu pukulan sakti itu. Namun dia pun 

mengetahui pula bagaimana cara menyelamatkan diri. Maka cepat-cepat 

gadis ini jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Angin pukulan maut 

lewat di atas tubuhnya.

“Keparat!” teriak Iblis Sesat Jalan Hidup. Ingin dia melompat dan 

mencekik batang leher gadis itu. Menghancurkan tulang belulang di 

sekujur tubuhnya.

Tapi jubah warna biru membuatnya takut tak berani mendekat, 

apalagi sampai menyentuh jubah tersebut. Warna biru adalah pantangyang berarti maut baginya!

Saat itu matahari sudah tenggelam. Keadaan di pekuburan itu 

mulai gelap. Iblis Sesat Jalan Hidup keluarkan suara menggembor. 

“Kalau kuserang terus-menerus masakan dua bangsat ini tak akan 

mampu kubereskan!” begitu dia membatin. Yang dimaksudkannya 

dengan dua bangsat adalah Pandansuri dan Wiro Sableng. Nyanyuk 

Amber —orang tua yang tak berdaya karena cacat tubuhnya itu— tidak 

dipandang sebelah mata oleh sang iblis. Maka kembali dia lepaskan 

pukulan topan pemutus urat ke arah Wiro sedang ilmu kuku api ke 

jurusan Pandansuri. Namun dengan Kapak Naga Geni 212 di tangan 

Wiro mampu menangkis sambil jatuhkan diri ke tanah sedang 

Pandansuri melihat gerakan lawan, lebih cepat melompat jauh berkelit. 

Selagi Iblis Sesat Jalan Hidup geram dan gemas, dari samping Wiro 

lepaskan pukulan sakti dengan tangan kirinya yakni pukulan topan 

melanda samudera. Ketika Iblis Sesat Jalan Hidup jatuh dan terguling 

kena hantaman pukulan itu, dia susul dengan pukulan sakti lainnya 

yang selama ini jarang dikeluarkannya yakni pukulan angin es. Kapak

diselipkan di pinggang. Kedua tangan diangkat ke atas dengan telapak 

terkembang ke arah Iblis Sesat Jalan Hidup. Dalam waktu singkat 

mendadak saja udara di tempat itu menjadi dingin sekali seperti di-

bungkus es. Nyanyuk Amber merasakan tubuhnya bergetar kedinginan. 

Apalagi saat itu dia hanya mengenakan celana kolor karena jubah 

birunya dipakai Pandansuri untuk menutupi tubuhnya. Si gadis sendiri 

merasakan tubuhnya menggigil dan gigi-giginya bergemeletukan. Makin 

lama udara makin dingin.

“Hai! Apa yang terjadi di sini?! Mengapa tubuhku seperti beku?!” 

seru Nyanyuk Amber. Orang ini kerahkan tenaga dalamnya untuk 

melawan hawa dingin luar biasa itu, tapi sia-sia.

Pandansuri tersungkur ke tanah setelah kedua lututnya tertekuk 

tak sanggup lagi berdiri menahan dingin. Akan halnya Iblis Sesat Jalan 

Hidup, mahluk yang sebenarnya sudah mati ini sama sekali tidak 

terpengaruh oleh ilmu kesaktian yang dikeluarkar Pendekar 212 Wiro 

Sableng.

“Pemuda keparat! Kau boleh keluarkan segudang ilmumu! Tak 

satu pun yang bisa mencelakai apalagi membunuh Iblis Sesat Jalan 

Hidup!” habis berkata begitu Iblis Sesat Jalan Hidup menghantam 

dengan ilmu kuku api. Karena kali ini dia kerahkan seluruh tenaga 

dalamnya yang ada maka lima larik sinar merah yang berkiblat 

panasnya bukan alang kepalang. Udara dingin serta merta punah dan 

murid Sinto Gendeng terpaksa jungkir balik selamatkan diri dari 

serangan lawan sambil memaki tegang!

Segitu merasa hawa dingin lenyap dengan tiba-tiba, Pandansuri 

cepat berdiri. Tepat pada saat Iblis Sesat Jalan Hidup berpaling ke 

arahnya dan kembali menghantam dengan pukulan topan pemutus 

urat. Namun sekali ini sang dara bergerak lebih cepat. Pukulan sakti 

“Surya Biru” yang dipelajarinya dari Nyanyuk Amber, yang sejak tadi ingin dikeluarkannya, kini begitu melihat kesempatan serta merta 

dipukulkan ke arah Iblis Sesat Jalan Hidup.

Di ujung jari-jari Pandansuri menderu sebentuk sinar biru, 

bergulung-gulung seperti mata kikir membuntal cepat ke arah sasaran, 

iblis Sesat Jalan Hidup berseru tegang melihat sinar biru yang datang 

menyambar. Sesaat dia tertegun bingung dan kecut, tak tahu apa yang 

harus dilakukan. Untuk menangkis pukulan sakti lawan dia kawatir 

cipratan atau taburan sinar biru masih sempat menyambar tubuhnya. 

Mau tak mau dia terpaksa melompat ke samping untuk selamatkan diri.

Celakanya dari samping Pendekar 212 Wiro Sableng kembati 

menghantam dengan pukulan sinar matahari. Akibatnya tubuh Iblis 

Sesat Jalan Hidup yang barusan lepas dari hantaman gulungan sinar 

biru, kini kembali terdorong dan langsung menabrak sinar biru pukulan 

sakti Pandansuri.

Terjadilah satu hal yang menggidikkan.

Iblis Sesat Jalan Hidup terdengar menjerit seperti tolongan anjing. 

Tubuhnya mengeluarkan suara seperti besi panas membara yang 

dicelupkan ke dalam air. Sekujur kulit dan daging tubuhnya meleleh 

seperti dikelupas. Bau busuk sengit memenuhi udara. Tubuh yang kini 

hanya tinggal tulang-belulang itu —tak beda seperti jerangkong—

terkulai lalu jatuh roboh ke tanah pekuburan. Lapat-lapat di kejauhan 

kembali terdengar suara seperti anjing melolong. Wiro rasakan bulu 

kuduknya berdiri sedang Pandansuri gemetar ngeri.

“Hai! Apa yang terjadi?!” terdengar Nyanyuk Amber bertanya.

Pandansuri tak kuasa menjawab. Dirinya masih dicengkam rasa 

ngeri. Wiro akhirnya membuka mulut.

“Muridmu berhasil membunuh mahluk terkutuk itu...”

“Eh... Betul begitu? Ah, sungguh luar biasa!” kata Nyanyuk 

Amber. “Bagaimana kau bisa melakukannya Pandan?”

Sang dara masih belum bisa membuka mulut. Kembali /Viro yang 

menjawab. “Tubuh manusia iblis itu seperti lilin meleleh ketika 

muridmu menghantamnya dengan pukulan sakti yang memancarkan 

gulungan sinar biru

“Pukulan Surya Biru!” seru si orang tua. “Jadi itulah yang 

membunuhnya! Tuhan Maha Kuasa! Kini aku ingat! Iblis Sesat Jalan 

Hidup berpantang dengan segala sesuatu berwarna biru!”

Wiro kerenyitkan kening sedang Pandansuri berpaling mem-

perhatikan wajah orang tua itu dalam gelap.

“Kini aku tahu mengapa dia tadi seperti ketakutan ketika muridku 

mendekatinya. Bukankah kau mengenakan jubahku yang berwarna 

biru... “

“Sulit kupercaya!” kata Wiro seraya garuk-garuk kepala.

“Jika kalian tidak percaya, coba tempelkan ujung jubahku pada 

sisa-sisa bangkai iblis itu!” berkata Nyanyuk Amber.

Pandansuri melangkah mendekati sosok jerangkong yang 

terhampar di tanah. Salah satu bagian ujung jubah yang menjela-jela

diangkatnya lalu dilepaskannya tepat di atas batok kepala atau 

tengkorak jerangkong.

Cess!

Sang dara terloncat kaget dan cepat mundur. Nyanyuk Amber 

tertawa.

Seperti tadi pertama kali ketika sinar biru pukulan sakti yang 

dilepaskan Pandansuri, terdengar suara laksana besi panas dicelup ke 

dalam air sewaktu jubah biru menempel dengan tulang tengkorak. 

Tengkorak itu sendiri kini tampak remuk seperti tertimpa batu besar 

dan berat!

“Kita patut bersyukur pada Tuhan! Satu lagi kejahatan punah dari 

muka bumi ini!” berkata Nyanyuk Amber. Lalu seperti menggerutu orang 

tua ini berseru: “Hai! Apakah kalian akan membiarkan aku setengah 

telanjang seperti ini?!”

“Kami akan membawamu ke Pasir Putih, guru,” menjawab 

Pandansuri. Lalu dia berpaling pada Wiro. Sesaat dara ini menatap 

wajah pemuda yang selama ini selalu dikenangnya. Ketika sang 

pendekar balas menatap, wajah Pandansuri langsung berubah merah. 

Cepat-cepat dia berkata: “Sahabat, tugasmu mendukung guruku sampai 

ke rumah!”

“Ah, aku selalu kebagian pekerjaan yang tidak enak. Tapi tak apa. 

Aku lebih suka mendukung tubuh gurumu daripada disuruh memakai 

jubah birunya yang butut dan sedap baunya itu!”

“Hai! Jangan menghina jubahku! Ingat, kau pernah kususupkan 

dalam jubah itu ketika Raja Rencong mencarimu!” berseru Nyanyuk 

Amber.

Wiro menyeringai. Tapi dia terus saja menggoda Pandansuri. “Kau 

tahu...” katanya pada gadis itu. “Kalau aku tidak salah hitung, paling 

tidak jubah itu tak pernah dicuci selama sepuluh tahun! Dan itu yang 

kau pakai sekarang! Hah... ha... ha! Apakah tubuhmu tidak merasa 

gatal?!”

“Kau keterlaluan! Menghina guru dan menggoda orang!” kata 

Pandansuri. Lalu gadis ini balikkan diri dan tinggalkan tempat itu. Wiro 

tak bisa berbuat lain daripada mendukung Nyanyuk Amber di 

punggungnya dan mengejar Pandansuri yang berlari menuju kampung 

Pasir Putih.


TAMAT

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive