"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Senin, 24 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE PENDEKAR GUNUNG NAGA


Pendekar Gunung Naga



Pendekar Gunung Naga


 Lembah merak hijau  yang terletak di propinsi

Ciat-kang merupakan sebuah lembah subur

dengan pemandangan yang indah. Lebih-lebih

karena di sebelah timur lembah ini terdapat daerah

persawahan yang luas dan pada saat itu padi yang

ditanam telah masak menguning hingga kemanapun

mata memandang, seolah-olah hamparan permadani

emaslah yang kelihatan. Bila angin bertiup, padi-padi

masak menguning itu bergoyang melambai-lambai

mengalun lemah gemulai

 Dipagi yang cerah ini diantara desau tiupan

angin lembah yang segar terdengarlah suara tiupan

seruling yang merdu sekali. Barang siapa yang

mendengarnya, pastilah akan tertegun dan mema-

sang telinga baik-baik menikmati suara seruling itu.

Siapakah gerangan yang meniup seruling tersebut?

Tentunya seorang seniman pandai yang dapat meng-

gambarkan keindahan pemandangan alam sekitar-

nya lewat hembusan napas yang disalurkannya ke

dalam lobang seruling.

 Tetapi adalah diiuar dugaan karena kenyataan-

nya si peniup seruling bukanlah seorang seniman,

bukan pula seorang dewasa. Melainkan seorang

anak gembala yang baru berusia tujuh tahun dan

duduk di atas punggung seekor kerbau besar tegap

berbulu bersih dan berkilat.

 Perlahan-lahan kerbau besar itu melangkah me-

nyusur tepi sawah, memasuki lembah Merak Hijau,

kemudian mendaki bibir lembah di sebelah selatan.

Di atas punggungnya bocah berusia tujuh tahun itu

demikian asyiknya meniup seruling hingga dia tidak

perduli lagi ke mana pun kerbaunya membawanya.

 Akan tetapi ketika binatang itu sampai di atas

lembah sebelah selatan serta rnerta si bocah meng-

hentikan permainan serulingnya. Mulutnya ternganga

dan sepasang matanya yang bening melotot begitu

dia menyaksikan pemandangan di hadapannya. Dua

sosok tubuh yang hanya merupakan bayang-bayang

hitam dan putih dilihatnya berkelebat hebat, terlibat

dalam suatu perkelahian yang gencar dan seru.

 Adalah aneh... memikir anak itu... di tempat yangbegini indah dan segar, ada orang berkelahi. Mem-

perhatikan dengan mata tak berkesip lama-lama

membuat si bocah menjadi pusing sendiri. Beberapa

kali dia memejamkan matanya, dibuka kembali, di-

pejamkan lagi, dibuka lagi. Ketika dia membuka

sepasang matanya untuk yang kesekian kalinya,

dilihatnya bayangan hitam mendesak bayangan pu-

tih dan tahu-tahu satu tendangan dahsyat dilancar-

kan oleh sosok tubuh bayangan hitam. Tapi bayang-

an putih dapat mengelak. Tendangan maut itu tak

sengaja terus melabrak kepala kerbau yang ditung-

gangi anak tadi.

 Terdengar lenguhan keras. Kerbau besar itu

mencelat sampai beberapa tombak, angsrok di ta-

nah, mati dengan kepala pecah. Anak lelaki tadi

terpelanting dan nyangsrang dalam semak-semak.

Pakaiannya habis koyak-koyak dan kulitnya baret

luka-luka. Tapi suling Kesayangannya masih ter-

genggam di tangan kanannya. Dengan susah payah

dia keluar dari semak-semak itu sambil mengomel

marah ketika mengetahui apa yang terjadi dengan

kerbau tunggangannya.

 Di depan sana akibat kejadian yang tak di-

sangka-sangka itu, dua orang yang tadi berkelahi

mati-matian sama melompat mundur. Perkelahian

terhenti dan keduanya memandang ke arah si bocah

dan kerbaunya.

 Kini barulah anak lelaki itu dapat melihat dengan

jelas sosok tubuh dan tampak kedua bayangan hitam

dan putih tadi.

 Di depan sebelah kanan tegak seorang kakek-

kakek berjubah hitam berkepala botak plontos yang

kilat-kilat ditimpa sinar matahari. Sepasang alisnya

tebal, kumisnya jarang tapi tebal-tebal dan panjang.

Tampangnya persis seperti anjing air!

 Di sebelah kiri berdiri pula seorang kakek-kakek

berpakaian putih. Rambutnya panjang putih meriap

bahu. Dia memelihara kumis serta janggut lebat yang

juga berwana putih. Sepasang matanya meman-

dang tajam pada bocah yang memegang suling

sedang kulit keningnya berkerut seolah-olah dia

tengah memikirkan sesuatu.

 Meskipun tadi hanya melihat bayangannya saja.

namun bocah pengembara itu yakin kakek berjubahBiar aku yang mewakilimu untuk menggebuknya!'

 Sesaat anak gembala itu terdiam. Kemudian

dengan merengut dia berkata : "Kalian tua-tua bang-

ka tak tahu diri.-Berkelahi macam anak-anak!"

 Kakek berjanggut putih tertawa gelak gelak. Tapi

sebaliknya si jubah hitam kepala botak membentak

garang dan menyerbu. Kembali kedua orang ini ber-

tempur hebat Kembali tubuh mereka menjadi bayang-

bayang hitam putih dan kembali pula si bocah menjadi

sakit mata dan pening kepalanya menyaksikan. Namun

dia memaksakan untuk memperhatikan kejadian hebat

itu sambi! tiada hentinya berteriak : Janggut putih, ayo

kau hajar kepala botak pembunuh kerbauku itu! Sikat!

Pecahkan kepalanya seperti dia memecahkan kepala

binatang gembalaanku!"

 Teriakan-teriakan anak ini seolah-olah memberi

semangat pada kakek berpakaian pulih, sebaliknya

membuat si botak jadi penasaran setengah mati!

 Dari batik jubah hitamnya si botak ini keluarkan

senjatanya berupa tongkat kayu berwarna hitam

legam dan memancarkan sinar menggidikkan. Sete-

lah bertempur hampir dua ratus jurus ternyata dia

tak dapat merubuhkan lawan dengan iangan kosong

maka kini dengan senjata itu dia berharap bakai

dapat mengalihkan kakek janggut putih.

 Diiain pihak lawannya begitu melihat musuh pe-

gang senjata tidak pula menunggu lebih lama, segera

keluarkan senjatanya yakni sebatang tombak pendek

terbuat dari baja putih yang kedua ujungnya bercagak.

 Sesaat kemudian keduanya sudah bertempur

kembali dengan hebatnya. Kini bayangan pakaian

mereka yang putih dan hitam dibuntali oleh sinar

dari senjata masing-masing dan menderu-deru de-

ngan dahsyatnya.

 Bocah gembala yang berdiri jauh dari tempat itu

merasakan bagaimana sambaran kedua senjata ter-

sebut membuat lututnya guyah dan tubuhnya ber-

getar menggigil Terpaksa dia menjauh sampai satu

tombak dari kalangan pertempuran sementara mata

dan kepalanya semakin sakit menyaksikan.

 Dalam satu gebrakan hebat kakek janggut putih

berhasil mendesak lawan dan setelah mengirimkan

tusukan-tusukan gencar ke arah tawan tiba-tiba robah gerakan tongkatnya dengan satu kemplangan

yang tidak terduga.

 Kakek botak berseru kaget. Buru-buru dia melin-

tangkan senjatanya di atas kepala. Tombak baja dan

tongkat kayu mustika beradu dengan keras, me

ngeluarkan suara nyaring. Tongkat kayu mental

patah dua sedang tombak baja terlepas dari tangan

kakek janggut putih! Nyatalah kedua kakek-kakek

itu sama tangguh meskipun si janggut putih unggul

sedikit dari lawannya.

 Selagi kakek janggut putih melompat meng-

ambil tongkatnya, si kepala botak rangkapkan dua

tangan di depan dada, kaki terkembang dan kedua

matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit. Dari

ubun-ubun kepalanya mengepul asap hitam. Kemu-

dian terdengar kekehannya.

 "Manusia keparat! Jangan harap kali ini kau bisa

bernapas lebih lama!"

 Kepulan-kepulan asap hitam itu sedetik kemu-

dian berobah menjadi delapan buah tangan yang

amat besar, berbulu dan berkuku-kuku panjang lak-

sana cakar burung garuda dan mulai menggapai-

gapai ke arah kakek janggut putih.

 "Ilmu hoatsut!" teriak si janggut putih dengan

wajah berobah. (Hoatsut ilmu sihir hitam). Hatinya

tercekat. Segala macam senjata sakti dan ilmu silat

hebat bagaimana pun dia tidak gentar. Tapi meng-

hadapi ilmu siluman mau tak mau hatinya berdebar

juga. Dia mengambil keputusan nekad. Menghajar

si kepala botak itu lebih dulu sebelum ilmu hitamnya

melancarkan serangan. Dengan memutar tombak

bajanya sekeliling tubuh, dia menyusup diantara

kepulan asap hitam!


2


AKAN TETAPI SEBELUM tongkat baja berkepala dua 

itu mampu mendekati kakek jubah hitam sampai jarak 

tiga jengkal, tiba-tiba delapan buah tangan mengerikan 

telah berserabutan menyerang kakek janggut putih!

 Si kakek tersentak dan buru-buru menghindarkan 

diri. Tapi empat tangan berkuku panjang itu masih 

memburunya dengan ganas. Si kakek kiblatkan tombak 

bajanya, sekaligus melabrak empat buah tangan yang 

menyerang. Aneh, meskipun jelas dia berhasil 

menghantam empat tangan mengerikan itu namun 

tombaknya lewat begitu saja seolah-olah menghantam 

udara kosong! Dan dalam pada itu salah satu tangan 

tersebut telah berkelebat dengan cepat dan bret!

 Pakaian dibagian dada si kakek robek besar.

Kuku-kuku yang panjang masih sempat membuat

baret daging dadanya dan kontan orang tua ini

merasakan tubuhnya panas dingin. Buru-buru dia

salurkan tenaga dalamnya kebagian dada yang ce-

dera dan rasa sakit panas dingin berangsur-angsur

berkurang.

 Dalam pada itu di depan sana kakek jubah hitam

kembali keluarkan suara tawa mengekeh dan dela-

pan tangan siluman kembali menyerbu!

 Kakek janggut putih maklum bahwa segala pu-

kulan sakti dan tombaknya tak akan mampu meng

hadapi ilmu sihir yang ganas itu. Dia hanya sanggup

bertahan dengan mengandalkan ginkangnya yang

sudah amat tinggi. Tapi sampai berapa lama dia bisa

berbuat begitu? Seratus, dua ratus atau katakanlah

sampai tiga ratus jurus di muka? Dalam umurnya

yang sudah demikian lanjut, apakah dia mampu

melaksanakannya? Cepat atau lambat dia bakal

celaka juga! Hal ini membuat dia nekad dan meng-

amuk dengan hebat. Tapi ilmu siluman musuh betul-

betul luar biasa. Dalam tempo beberapa jurus saja

dia sudah didesak habis-habisan!

 Bocah penggembala yang mengharapkan agar

kakek janggut putih bisa menghajar si botak yang

telah membunuh kerbaunya itu, jadi kecewa dan

penasaran ketika menyaksikan bagaimana justrukakek janggut putih itu terdesak hebat bahkan ter-

ancam jiwanya karena saat itu beberapa kali tangan-

tangan iblis berkuku panjang telah memukul dan

mencakar tubuhnya hingga dalam tempo singkat

kakek ini mandi darah akibat luka-luka yang diderita-

nya!

 Dengan marah anak laki-laki itu mulai mengum-

pulkan batu-batu sebesar kepalan dan melempari

kakek jubah hitam dari belakang. Tapi semua batu-

batu yang dilemparkan jangankan mengenai, men-

dekati tubuhnya saja pun tidak karena batu-batu itu

mental kembali akibat hawa sakti yang keluar dari

tubuh si jubah hitam kepala botak!

 Hebatnya kakek janggut putih itu meskipun

sadar bahwa dirinya bakal celaka dan kematiannya

sudah ditentukan saat itu, namun dia masih saja

bertahan dan melawan mati-matian, sama sekali

tidak mau menyerah apalagi lari selamatkan dirinya!

 Melihat keadaan kakek berjanggut putih itu dan

khawatir kalau tangan-tangan siluman itu bakal me-

nyerangnya pula, timbullah rasa takut dalam diri anak

penggembala. Tetapi anehnya dia sama sekali tidak

pula melarikan diri dari tempat ini. Malah untuk

menghilangkan rasa takut itu, anak ini ambil se-

rulingnya dan mulai meniup. Lagu yang dimain-

kannya sama sekali tak menentu. Rasa takut dan

khawatir melihat keselamatan si kakek janggut putih

terancam membuat tiupan serulingnya melengking-

lengking tak karuan. Tetapi justru tiupan seruling

inilah yang mendadak sontak merubah keadaan di

dalam kalangan perkelahian hidup mati itu!

 Delapan tangan iblis yang mengerikan kini ke-

lihatan berserabutan dalam gerakan-gerakan kacau.

semakin lama semakin mengecil akhirnya berubah

menjadi asap hitam. Kakek jubah hitam tersentak

kaget. Dia berkeras memusatkan pikirannya guna

mengumpulkan kekuatan bathin yang tercerai berai

namun tak berhasil bahkan tangan-tangan siluman

itu telah berubah jadi kepulan asap hitam dan lenyap.

 "Celaka!" seru kakek botak ini. Dia buka kedua

matanya justru disaat itu musuhnya yang telah luka

parah laksana banteng terluka mengamuk melihat

perubahan yang mendadak dan adanya kesempatan

untuk menyerang, tanpa tunggu lebih lama lancarkan gerakan mematikan yang bernama "Joan hun-ki-

gwat" atau "menyusup awan mengambil rembu-

lan." 

 Tongkat baja bermata dua itu menusuk laksana

kilat ke dada si jubah hitam dan tanpa dapat dielak-

kan lagi tepat menembus jantungnya hingga tanpa

suara sedikit pun kakek berkepala botak itu minggat

nyawanya ketika itu juga!

 Melihat si pembunuh kerbaunya mati, anak gem-

bala tadi bersorak gembira dan jingkrak-jingkrakan.

 "Syukur! Mampuslah pembunuh kerbau! Baru

aku puas sekarang!" Tapi bila ingat apa yang akan

dikatakannya nanti pada majikannya akan ini lantas

jadi termenung murung.

 Sementara itu si janggut putih yang tubuhnya

penuh luka-luka, dalam keadaan megap-megap se-

gera bersila di tanah. Atur jalan darah dan napas

serta salurkan hawa sakti tenaga dalam keseluruh

bagian tubuhnya. Beberapa saat kemudian dia ke-

luarkan dua macam obat yakni beberapa butir pel

dan sebungkus obat bubuk. Pel itu ditelannya sam-

pai habis sedang obat bubuk dituangkannya pada

luka-luka sekujur tubuhnya. Kemudian kembali dia

bersila. Sekitar seperminuman teh berlalu. Perlahan-

lahan orang tua ini membuka kedua matanya dan

berdiri. Meski kini dia telah selamat dari kematian

namun kesehatannya belum pulih keseluruhannya.

ternyata cakar dari jari-jari tangan siluman yang

telah membuat dia cedera itu mengandung racun

yang berbahaya. Untung saja dia membawa per-

sediaan obat, kalau tidak meskipun dia berhasil

membunuh musuh namun racun, yang mengendap

bukan mustahil bakal membuat dia menemui ajalnya

pula dalam satu dua hari dimuka.

 Orang tua ini kemudian ingat pada anak gembala

itu yang kini tengah duduk termangu-mangu di

bawah sebatang pohon. Meskipun kerbau gembala-

annya mati bukan karena kesalahannya dan si pem-

bunuh sudah pula menemui ajal namun majikannya

pasti tak mau perduli. Masih mending kalau dia

diberhentikan dari pekerjaan, kalau disuruh ganti?

 Selagi dia termenung sudah begitu rupa tiba-tiba

satu bayangan putih berkelebat. Dia merasakan

tengkuk pakaiannya dicekal orang dan kemudiandirasakannya tubuhnya laksana terbang. Meman-

dang ke samping ternyata dia telah dipanggul oleh

kakek berjanggut putih dan membawa lari dengan

kecepatan yang luar biasa, membuat dia gamang

dan ngeri.

 "Orang tua kau mau bawa aku ke mana?!" seru

si bocah dengan suara gemetar.

 "Budak... kau diam sajalah. Tak usah banyak

tanya!"

 "Tapi aku harus kembali pada majikanku. Mem-

beri tahu tentang kerbau yang mati itu...."

 Si kakek tertawa.

 Kau anak baik yang tahu apa artinya tanggung

jawab. Tapi lupakan saja majikanmu dan kerbaumu

itu! Persetan! Potongan tubuh dan ruas tulangmu

kulihat bagus sekali! Sayang... sayang kalau disia-

siakan! Aku akan bawa kau ke puncak Liongsan!

Kau dengar? Puncak Liongsan!"

 "Aku... aku...."

 Si kakek mempercepat larinya dan kerena ngeri

si bocah tak berani lagi banyak bicara, malah kini

dia pejamkan kedua matanya. Tanpa sadar akhirnya

dia tertidur di atas pundak kakek yang membawanya

"terbang" itu!

 Siapakah adanya kakek berambut putih ini?

Siapa pula musuh berjubah hitam itu dan apa tuju-

annya sampai anak gembala tersebut hendak di-

bawanya ke puncak Gunung Naga yang selama ini

dianggap angker dan jarang didatangi oleh manusia?

 Kakek-kakek jubah hitam yang menemui ajalnya

itu dalam dunia persilatan di daratan Tongkok dike-

nal dengan julukan angker Raja Setan Gunung Utara

atau Pak-san Kwi-ong. Pada masa itu diantara tokoh-

tokoh silat golongan hitam yang sesat Pak-san

Kwi-ong dianggap tokoh terlihay dan secara tidak

resmi dijadikan sebagai pimpinan. Dengan sendiri-

nya dia menjadi musuh nomor wahid dari orang

persilatan golongan putih.

 Sekitar tiga tahun yang lalu antara Pak-san

Kwi-ong dengan kakek-kakek janggut putih yang

membawa lari anak gembala tadi, telah terjadi ben-

trokan. Dalam perkelahian satu lawan satu yang seru

dan berlangsung seratus jurus, kakek janggut putih

berhasil mengalahkan Pak-san Kwi-ong. Kekalahanbibit pangkal dendam kesumat sakit hati. Selama

tlya tahun Pak-san Kwi-ong melatih diri memper-

dalam ilmu silat, tenaga dalam dan gingkangnya.

Disamping itu dia meyakini pula satu ilmu baru yakni

ilmu hitam atau sihir. Setelah dia merasa cukup

sanggup untuk melakukan penuntutan balas, maka

dicarinyalah kakek janggut putih tadi. Ternyata Pak-

sa n Kwi-ong memang berhasil menghadapi musuh

besarnya itu, bahkan ilmu hitamnya dia hampir saja

dapat membunuh lawan. Namun tiada disangka-

sangka, ilmu sihirnya musnah berantakan hanya

karena tiupan seruling bocah penggembala kerbau.

Dan akhirnya secara penasaran dia terpaksa serah-

kan jiwanya pada musuh!

 Lalu siapa pulakah kakek janggut putih itu?


3


KALAU SEBELUMNYA telah dijelaskan bahwa Pak-

san Kwi-ong merupakan tokoh silat golongan hitam 

yang paling tinggi ilmu silat dan kesetiaannya pada 

masa itu, maka dari golongan putih boleh dikatakan 

kakek janggut putih itulah yang menjadi tokoh kelas 

wahidnya. Dia dikena! dengan nama Kiat Bo Hosiang, 

berusia 70 tahun dan bergelar Sin-jiu Thung ong atau 

Raja Tongkat Tangan Sakti.

 Meskipun Kiat Bo Hosiang teiah dianggap se-

bagai jago nomor satu pada masa itu, namun tokoh-

tokoh persilatan bukan tidak mengetahui bahwa

sesungguhnya masih ada seorang tokoh yang luar

biasa kesaktiannya, yang sukar bahkan tak ada

tandingnya diseluruh Tiongkok. Namun sudah sejak

lama orang ini mengundurkan diri dari urusan dunia-

wi dan di mana beradanya sekarang tak seorang pun

yang mengetahui. Cuma diketahui bahwa tokoh luar

biasa itu adalah Suheng atau kakak seperguruan dari

Kiat Bo Hosiang. Namanya Ik Bo Hosiang dan sudah

berusia lebih dari 80 tahun, bergelar Kim-Bong-Kiam-

Khek atau Pendekar Pedang Pelangi Emas. Diduga

hanya Kiat Bo Hosiang sendirilah yang mengetahui

di mana suhengnya itu berada.

 Sementara itu diketahui pula bahwa Ik Bo Ho-

siang mempunyai dua orang pembantu rnasing-

masing berusia 60 tahun yang kepandaiannya hanya

satu tingkat saja di bawah kepandaian Kiat Bo

Hosiang. Jika baru pembantunya saja sudah me-

miliki kepandaian tinggi demikian rupa, maka dapat

dibayangkan betapa luar biasanya Ik Bo Hosiang

sendiri.

 Sebagaimana lazimnya yang terjadi dikalangan

kangouw, tokoh silat berkepandaian tinggi itu biasa

mempunyai sifat sifat yang aneh. Sifat ini tidak pula

terlepas dari diri Ik Bo Hosiang. Namun keanehannya

ini sudah melampaui batas-batas yang dianggapnya

wajar hingga banyak orang yang berpendapat bahwa

kakek sakti itu tidak sehat pikirannya alias berotak

miring atau setengah gila! Cuma untuk menyatakan

pendapat atau anggapan itu secara terang-terangantentu saja tak satu pun yang berani karena kalau

sampai terdengar oleh Ik Bo Hosiang, maka itu sama

saja dengan mengundang "penyakit".

 Setelah lari hampir seratus iie dan siang telah

berganti dengan malam, Kiat Bo Hosiang baru ber-

henti. Anak kecil yang didukungnya ternyata telah

tertidur. Perlahan-lahan bocah ini dibaringkannya di

tanah. Dia sendiri kemudian menelan beberapa pil

obat lalu duduk bersila di tanah. Mengatur jalan nafas

dan peredaran darah serta mengalirkan tenaga da-

lam ke bagian tubuh yang baru saja sembuh dari

pada racun jahat ilmu siluman Pak-san Kwi-ong.

Beberapa saat kemudian kembali dia melanjutkan

perjalanan, lari dalam gelapnya malam persis seperti

setan yang berkelebat gentanyangan.

 Menjelang pagi Kiat Bo Hosiang istirahat dan

tidur sebentar dan bila matahari terbit dia menerus-

kan perjalanan kembali.'

 Seringai gembira tersungging di mulutnya ketika

di hadapannya terlihat Gunung Naga (Liongsan)

yang menjulang tinggi. Penduduk disekitar tempat

itu menganggap gunung itu angker, tak satu orang

pun berani mendekati kaki gunung. Tapi Kiat Bo

Hosiang seperti orang tak perduli, dan terus mendaki

gunung yang menjulang ini. Sampai pertengahan

lereng jalan yang menuju puncak gunung masih mu-

dah ditempuh dan tidak berbahaya. Tapi selewatnya

pertengahan lereng, pepohonan dan semak belukar

mulai rapat. Ular-ular pohon kelihatan membelit dan

bergelantungan di mana-mana. Sekali seseorang

kena dipatuk, pasti dalam waktu dua atau tiga menit

nkan mati akibat bisanya yang jahat!

 Kiat Bo Hosiang nampaknya tidak perduli akan

binatang-binatang itu. Bahkan ular-ular itu sendirilah

yang menjauh ketakutan karena dengan kesaktian-

nya yang tinggi tubuh kakek ini mengeluarkan hawa

panas yang membuat takut ular-ular dalam hutan,

sama sekali tidak mengganggu bocah penggembala

yang sampai saat ini masih tertidur nyenyak di atas

pundak kirinya!

 Selewatnya pertengahan lereng, perjalanan be-

tul betul sulit dan berbahaya. Di mana-mana meng-

hilang batu-batu karang raksasa runcing menjulang

langit, licin berlumut lembab. Disela batu-batu karang Ini membentang jurang-jurang terjal yang gelap

sedang kabut bertebar menutupi pemandangan!

 Akan tetapi hebatnya, seolah-olah dia berlari di

jalan yang rata dan seperti sepasang matanya dapat

menembus tebalnya kabut, kakek sakti Kiat Bo

Hosiang terus saja lari seenaknya. Melompat dari

atas batu karang yang satu ke batu karang yang

lainnya; melayang di atas jurang-jurang maut hingga

akhirnya sampai di puncak Uongsan!

 Saat itu di salah satu puncak Liongsan yang

dingin, dua orang tua berpakaian putih-putih asyik

bermain tioki (catur). Yang pertama berambut putih

berbadan pendek. Usianya sekitar 60 tahun dan

dikenal dengan nama Toa Sin Hosiang. Yang se-

orang lagi kurus tinggi, bermuka hitam juga berusia

sekitar 60 tahun. Keduanya bukan lain adalah pem-

bantu-pembantu Ik Bo Hosiaig yang berkepandaian

tinggi itu.

 Sementara orang menyebut mereka sebagai

pembantu Ik Bo Hosiang karena memang sebegitu

jauh tokoh berkepandaian luar biasa itu tak pernah

mengangkat mereka sebagai murid, sekalipun se

gala kepandaian silat yang diperdapat dari Ik Bo

Hosiang sendiri. Disamping itu mereka dari sejak

dulu memang bertugas melayani dan memenuhi

apa apa keperluan Ik Bo Hosiang.

 Seperti telah diterangkan sebelumnya Ik Bo

Hosiang mempunyai sifat-sifat aneh yang boleh

diKatakan seperti kurang sehat pikiran. Keanehan ini

dengan sendirinya menular pula pada kedua 

pembantunya, meskipun tidak segawat Ik Bo Hosiang

sendiri.

 Demikianlah, selagi asyik main tioki dan ketika

Toa Sin Hosiang baru saja hendak membunuh salah

satu bidak lawan, tiba-tiba Lo Sam Hosiang meng-

goyangkan kepalanya dan berkata : "Heh ada orang

datang!"

 Toa Sin Hosiang juga sudah mendengar. Se-

saat keduanya saling memandang heran. Memang

sudah sejak lama sekali tak pernah ada orang luar

yang naik ke puncak Liongsan. Jika hari itu ada

orang yang datang ini merupakan suatu yang luar

biasa.

 Baru saja Lo Sam Hosiang bicara maka berkelebat satu bayangan putih dan tahu-tahu di depan

mereka sudah tegak seorang kakek-kakek berpakai-

an, janggut, kumis dan rambut serba putih. Di pun-

daknya kirinya tidur nyenyak seorang bocah lelaki

berusia 7 tahun.

 Begitu melihat siapa adanya kakek ini, secepat

kilat kedua pembantu Ik Bo Hosiang jatuhkan diri

dan berlutut hormat.

 "Ah sungguh tak dinyana kalau puncak Liongsan

hari ini akan kedatangan tetamu yang bukan lain

adalah susiok kami sendiri!" (Susiok - paman guru).

Yang berkata ini adalah Lo Sam Hosiang.

 Sang tetamu yang tentu saja sudah dapat diduga

yakni Kiat Bo Hosiang adanya menyeringai.

 Apakah saudaraku Ik Bo Hosiang ada?'

 "Tentu saja ada. Sudah sejak 20 tahun beliau tak

pernah meninggalkan puncak Liongsan ini “ men-

jawab Lo Sam Hosiang.

 Sementara itu Toa Sin Hosiang bertanya dengan

hormat: "Apakah susiok baik-baik saja selama ini?"

 "Tentu... tentu saja."

 Eh. susiok. Siapakah bocah yang kau bawa ini?"

kembali Toa Sin Hosia-ig bertanya. Lo Sarn Hosiang

pun kepingin pula mengetahui.

 "Siapa namanya pun aku tidak tahu, aku cuma

kenal dia adalah anak gembala!

 Selama belasan tahun Kiat Bo Hosiang tak

pernah datang dan sekali muncul membawa seorang

anak lelaki tentu saja ini mengherankan kedua pem-

bantu Ik Bo Hosiang itu.

 "Sekarang lekas kalian beri tahu pada suhengku

itu bahwa aku ingin bertemu dengan dia untuk

utusan penting!

 Sekilas dua pembantu \k Bo Hosiang saling lirik.

Lalu memperhatikan bocah di atas bahu susiok

mereka dan memperhatikan pula pakaian Kiat Bo

Hosiang yang robek-robek serta guratan-guratan

panjang pada kulit dadanya.

 "Hai kalian berdua tunggu apa lagi? Cepat beri

tahu!"

 Saat itu dua pembantu Ik Bo Hosiang sudah

bangkit dan berdiri kembali.

 "Maaf susiok," Toa Sin memberikan jawaban.

Sebelumnya suhu telah berpesan untuk tidak diganggu. Jelasnya siapapun yang datang beliau se-

kaii-kali tak boleh diganggu karena saat ini sedang

bersemedi."

 "Sekalipun yang datang aku, sute-nya?!"

 "Sekalipun susiok harap dimaafkan," sahut Toa

Sin.

 Kiat Bo Hosiang mendungak ke langit lalu ter-

tawa gelak-gelak. Karena memiliki tenaga dalam

yang luar biasa, dengan sendirinya suara tawanya

dahsyat sekali!

 Dua pembantu Ik Bo Hosiang terheran-heran.

Keduanya saling pandang. Dan karena mereka me-

mang kurang beres jalan pikirannya maka lantas saja

keduanya ikut tertawa gelak-gelak. Puncak Gunung

Naga itu seolah-olah bergetar dilanda gelombang

suara tertawa tiga manusia sakti ini!

 Tiba-tiba Kiat Bo Hosiang hentikan tawanya.

Parasnya berobah kelam membesi. Sepasang mata-

nya membeiiak dan dari mulutnya keluar bentakan

garang.

 "Kalian berdua kacung-kacung rendah berani

melarang aku Sin-jiu Thung-ong untuk menemui

suheng-ku sendiri?!"

 Serta meria dua pembantu ini hentikan pula tawa

mereka. Toa Sin menyahut: "Bukan kami melarang,

susiok. Tapi suhu sendiri yang berpesan begitu.

Kami pembantu-pembantu yang rendah cuma me-

nuruti perintan."

 Persetan dengan segala pesan dan perintah!

Aku tidak rnengenal segala aturan yang dibuat oleh

suhumu yang berotak miring itu!"

 "Ah, susiok keliwat menghina. Suhu sama sekali

tidak miring otaknya. Cuma sedikit kurang sehat

pikirannya," kata Lo Sam Hosiang.

 "Otak miring dan tidak sehat pikiran adalah sama

saja, goblok! Dasar gurunya gila, muridnya sinting.

Sekarang menyingkirlah kalian. Aku mau lewat."

 "Mau lewat ke mana, susiok?" bertanya Toa Sin

macam orang tolol.

 "Pendek! Jangan bikin aku marah. Lekas me-

nyingkir atau kau bakal menerima gebukan dariku!"

Kiat Bo Hosiang sudah tak dapat lag! menahan

marahnya.

 "Ah, susiok. Kau tentu tahu kami ini bukananak-anak yang harus digebuk. Kami sudah tua

bangka dan menjalankan perintah dengan segala

tanggung jawab dan akibatnya."

 Kiat Bo Hosiang menyeringai.

 "Jadi kalian kacung-kacung geblek berani ku-

rang ajar pada paman guru sendiri ya! Bagus, mari

kuberi sedikit pelajaran!"

 Habis berkata begitu Kiat Bo Hosiang kebutkan

ujung lengan bajunya yang lebar. Satu gelombang

angin menggebu dengari dahsyatnya. Toa Sin dan

Lo Sam bagusnya sudah berlaku waspada dan buru-

buru menghindar ke samping. Namun tak urung

sambaran angin pukulan itu masih membuat mereka

terhuyung-huyung ke belakang.

 “Susiok, kau pun nyatanya sinting! Hendak me-

nurunkan tangan jahat terhadap pembantu-pem-

bantu suhengmu. Tapi jangan kira kami takut! Demi

tugas, setan kepala seratus pun kami bakal hadapi!

Dan kau nyatanya cuma punya satu kepala!" Yang

bicara begitu adalah si pendek Toa Sin Hosiang yang

memang lebih keblinger dari pada rekannya. Bahkan

kemudian dia tertawa-tawa seenaknya.

 Kutuk serapah menyembur dari mulut Kiat Bo

Hosiang dan langsung saja menerjang ke arah Toa Sin!


4


MESKIPUN cuma pembantu-pembantu dari Ik Bo 

Hosiang namun dua orang tua dari Liongsan itu 

memiliki ilmu kepandaian yang sudah amat tinggi. Jika 

diukur maka kepandaian mereka rata-rata hanya satu 

tingkat saja dibawah kepandaian Kiat Bo Hosiang. 

Kalau saat itu mereka maju berbarengan dengan 

sendirinya Kiat Bo Hosiang akan terdesak dan kalah. 

Namun ada beberapa hal yang membuat Kiat Bo lebih 

unggul dari kedua lawannya.

 Pertama sebagai pembantu-pembantu Ik Bo

Hosiang kedua kakek itu boleh dikatakan jarang

sekali turun gunung hingga tidak banyak peng-

alaman dalam pertempuran. Sekalipun memiliki ke-

pandaian tinggi namun kurang pengalaman meru-

pakan hal yang ikut menentukan. Kedua, sepasang

kakek-kakek dari Liongsan itu dikarenakan otaknya

yang miring menganggap bahwa mustahil sute dan

suhu mereka sendiri akan mau menurunkan tangan

jahat terhadap mereka. Karenanya mereka ber-

tempur seperti main-main saja dan sambil tertawa-

tawa haha-hihi! Ketiga, sampai saat itu Kiat Bo

Hosiang masih memanggul tubuh anak gembala di

atas pundak kirinya hingga dua kakek dari Liongsan

tidak mau menyerang dengan terlalu buas karena

khawatir akan mencelakai bocah itu.

 Pertempuran dua lawan satu itu berlangsung

sampai seratus jurus. Pembantu-pembantu Kiat Bo

Hosiang mulai terdesak. Tiba-tiba salah seorang dari

mereka keluarkan satu teriakan keras dan serta merta

permainan silat dua kakek ini menjadi berobah. Kiat

Bo Hosiang menjadi kaget. Sebagai sute dari Ik Bo

Hosiang dia tahu betul setiap jurus ilmu silat dari

kakak seperguruannya. Namun permainan silat yang

dikeluarkan oleh dua lawannya saat itu aneh dan

tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Apakah si Ik Bo

Itu sudah menciptakan ilmu baru tanpa setahuku,

demikian Kiat Bo Hosiang membathin. Dan lebih

terkejut lagi begitu merasakan bagaimana permainan

silat dua lawannya itu kini menekan setiap gerakan

yang dibuatnya!"Tua bangka-tua bangka Liongsan, jadi kalian

hendak pamer dan andalkan ilmu silat kalian yang

baru? Bagus! Aku mau lihat sampai di mana kehe-

batan kalian!" berseru Kiat Bo Hosiang dengan pe-

nasaran. Dari balik pinggang pakaiannya dia segera

keluarkan senjatanya yang ampuh yakni tongkat baja

yang ujung-ujungnya bercabang dua. Dengan tong-

kat di tangan kanan dan bahu kiri masih mendukung

bocah penggembala Kiat Bo Hosiang yang bergelar

Hln jiu Tlmng-ong atau Raja Tongkat Tangan Sakti

Itu mengamuk hebat. Tubuhnya lenyap terbungkus

muai senjatanya dalam tempo singkat dia sudah

mendesak lawannya dengan hebat!

 Haik Toa Sin maupun Lo Sam Hosiang sama-sama 

kaget melihat serangan-serangan ganas yang

mematikan oleh susiok mereka itu. Permainan silat

mereka mulai kacau.

 "Susiok, kami ini kau anggap musuh-

musuhmukah?!" berseru keras Lo Sam Hosiang.

 "Tutup mulutmu manusia muka pantat dandang!" 

tukas Kiat Bo dan tongkatnya dengan ganas

menderu ke arah kakek muka hitam dari gunung

Naga itu. Dan krak!

 Lo Sam Hosiang menjerit. Dia melompat keluar

dari kalangan pertempuran sambil pegangi lengan

kiri yang kuntal-kantil kerena tulangnya telah patah!

 "Susiok, kau sudah gilakah," teriak Toa Sin

namun kakek yang satu ini pun segera pula men-

dapat bagiannya. Kalau kawannya patah tulang le-

ngan maka dia sendiri remuk tulang kakinya sebelah

kanan dan berguling di tanah sambil merintih. Tapi

dasar gila, sekali dia masih bisa juga tertawa haha-

hihi!

 "Tua bangka-tua bangka tak tahu untung! Masih

bagus tidak kepala kalian yang kuremukkan! Lain

kali suhu kalian harus memberi pelajaran sopan

santun pada kalian! Bagaimana menghormat se-

orang paman guru!"

 "Paman guru sableng macammu mana patut

dihormati!" teriak Toa Sin lalu menunggingkan pan-

tatnya dan kemudian kentut! Untung saja Kiat Bo

Hosiang sudah tidak lagi ada di tempat itu. Kalau

tidak kakek ini pastilah akan marah setengah mati

dihina begitu rupa!Dengan beberapa kali lompatan kilat Kiat Bo

Hosiang telah sampai ke puncak Liongsan. Anak

pengembara yang ada di bahu kirinya masih tertidur

nyenyak tanpa sadar apa yang telah terjadi 

sebelumnya!

 Kiat Bo melangkah menuju ke sebuah pondok

kayu Dia tak perlu susah-susah masuk ke dalam

pondok mencari suhengnya karena Ik Bo Hosiang

ditemuinya di halaman samping tengah bersemedi

dengan cara yang luar biasa!

 Ik Bo Hosiang bersemedi di atas sebuah batu

hitam, kaki lurus ke atas sedang kepala di sebelah

bawah, pada batu hitam itu. Tubuhnya tak sedikit

pun bergerak sedang dua tangannya dirangkapkan

dldepan dada. Janggut dan kumis putihnya yang

panjang, menjulai menutup wajah dan sepasang

matanya.

 Diam-diam Kiat Bo menjadi kagum juga melihat

nira bersemedi suhengnya ini. Dia yakin betul di

antara tokoh tokoh silat terkemuka di Tiongkok saat

itu hanya kakak seperguruannyalah yang sanggup

melakukan hal itu.

 Kalau tadi Kiat Bo ingin buru-buru menemui

suhengnya, kini setelah bertemu dia jadi serba salah

bagaimana harus membangunkannya. Tiba-tiba anak 

yang didukungnya menggeliat dan terbangun.

membuka matanya bocah ini terheran-heran melihat

di mana dia berada. Dan lebih heran lagi ketika

menyaksikan Ik Bo Hosiang yang bersemedi kaki ke

utas kepala ke bawah.

 “Hai. patung atau manusiakah ini?!" si bocah

berseru lantas turun dari pundak Kiat Bo Hosiang.

 "Aku sendiri tidak tahu, budak. Coba kau tarik

 keras-keras janggutnya. Jika dia manusia tentu dia

 akan menjerit kesakitan. Tapi kalau patung pasti

 diam saja!" Berkata Kiat Bo yang nyatanya telah

 mendapat akal bagaimana harus membangunkan

 suhengnya.

 Bocah penggembala mendekati Ik Bo Hosiang

 yang disangkanya patung. Tangan kanannya diulur-

 kan untuk menarik janggut orang tua itu. Tapi men-

 dadak terjadi hal yang mengejutkan si bocah, ter-

 masuk pula Kiat Bo Hosiang. Ketika tangan itu

 hampir hendak menjenggut jenggot, tiba-tiba janggut panjang putih itu bergerak dan sesaat kemudian

 tahu-tahu lengan anak itu terlibat erat!

 "Hai!" si anak kaget. Dia gerakkan tangan kirinya,

 namun tangan yang satu ini pun kemudian kena

 dilibat. Bagaimana pun kerasnya dia berusaha be-

 rontak untuk melepaskan kedua tangannya tetapi

 sia-sia saja!

 "Suheng! Kau bangunlah!" Kiat Bo Hosiang ber-

 seru. Jika janggut-janggutnya bisa bergerak pasti Ik

 Bo Hosiang sudah jaga dari samadinya, demikian

 Kiat Bo berpikir.

 Tiba-tiba si anak menjerit karena kedua lengan-

 nya terasa sakit dan dilain kejap tahu-tahu tubuhnya

telah terpental ke arah Kiat Bo Hosiang. Kakek ini

 melenggak kaget, untung masih sempat dia me-

 nangkap tubuh si bocah, kalau tidak pasti akan jatuh

dengan keras di atas sebuah batu besar. Untuk

sesaat Kiat Bo Hosiang tertegun bengong. Membuat

mental seseorang dengan menggerakkan janggut

yang tentunya dialiri tenaga dalam betul-betul me-

rupakan satu hal yang amat luar biasa. Dan itulah

yang telah dilakukan oleh suhengnya!

 "Kiat Bo! Belasan tahun kau tak muncul, begitu

unjuk tampang kau hanya mengganggu ketenteram-

an puncak Liongsan ini saja!" terdengar suara halus

yang bukan lain adalah suara Ik Bo Hosiang. Me-

mandang ke depan Kiat Bo melihat suhengnya itu

sudah duduk tenang-tenang di atas batu hitam di

atas mana sebelumnya dia bersemedi.-Sepasang

mata Ik Bo memandang tajam pada adik seperguru-

annya. Pandangan ini terasa seolah-olah menembus

dada dan jantung Kiat Bo.

 "Ah suheng," menyahut Kiat Bo setelah terlebih

dahulu menjura. "Bukan maksudku untuk meng-

ganggu ketenteraman di puncak Liongsan ini. Tapi

aturan yang dibuat oleh kacung-kacungmulah yang

telah memaksaku berlaku keras...."

 "Kekerasan itu memang harus ada. Tapi pada

waktu-waktu tertentu dan pada orang-orang tertentu.

Kekerasan yang dilakukan secara sembarangan ada-

lah satu kejahatan. Lo Sam dan Toa Sin memang

kacung-kacung tak berharga. Tapi betapa pun di

puncak Liongsan ini mereka adalah tuan rumah yang

harus dihormati oleh setiap tamu, siapa pun dia

adanya. Di sini, di puncak Liongsan ini tuan rumah

yang membuat aturan, bukan orang luar!"

 Paras Kiat Bo kelihatan bersemu merah men-

dengar kata-kata keras suhengnya itu.

 "Sekarang katakan apa keperluanmu datang ke

mari."

 "Budak itu, suheng...."

 "Aku tidak tanya budak itu! Aku tanya keperlu-

anmu!" menukas Ik Bo Hosiang tanpa menoleh atau

melirik pada penggembala yang tegak di samping

sutenya.

 "Begini suheng..." lalu Kiat Bo menerangkan

peristiwa perkelahiannya dengan Pak-san Kwi-ong

(Raja Setan Gunung Utara). "Jelas sekali, jika tidak

ada bocah penggembala yang pandai meniup su-

ling ini niscaya bukan saja aku kalah, malah jiwaku

akan melayang di tangan Pak-san Kwi-ong. Aku

berhutang nyawa pada budak ini dan wajib mem-

balasnya!"

 Memang betul apa yang dikatakan oleh Kiat Bo

Hosiang. Ketika berkelahi melawan Pak-san Kwi-ong

yang mengeluarkan ilmu hoatsut (sihir), Kiat Bo

Hosiang hampir-hampir saja menemui ajal jika saat

itu di tempat tersebut tidak ada anak penggembala

yang memainkan sulingnya. Padahal suara tiupan

seruling itu mengganggu pemusatan pikiran dan

bathin yang menjadi dasar dari kehebatan ilmu sihir

Pak-san Kwi-ong.

 "Aku tidak tertarik pada ceritamu." Tidak tertarik

padamu ataupun budak tukang angon kerbau itu!

Nah sekarang silahkan angkat kaki dari puncak

Liongsan ini!"

 "Suheng...I"

 Tapi Ik Bo Hosiang tidak perdulikan lagi sutenya

itu, malah seenaknya dia membuka mulut dan me-

nyanyi:

 Puncak Liongsan tinggi sekali

 Tapi lebih tinggi akal dan budi

 Laut Selatan hijau dan dalam sekali

 Namun lebih dalam perasaan hati sanubari

 Yang tinggi gampang jatuh

 Yang dalam sukar diselam

 Akal dan budi terkadang tak bergunaJika perasaan lebih menggelora.

 Ik Bo Hosiang mengulang sekali lagi lagu itu.

Dilain pihak, bocah penggembala yang mendengar

merasa nyanyian itu cukup merdu dan terus saja

keluarkan sulingnya, meniup benda itu mengiringi

nyanyian si kakek. Mengetahui nyanyiannya ada

yang mengiringi Ik Bo Hosiang lantas saja meng-

ulang-ulang nyanyian sampai empat kali berturut-

turutl

 Tiba-tiba tokoh aneh dari Liongsan ini hentikan

nyanyiannya, mendongak ke langit dan tertawa

gelak-gelak. Si bocah yang sedang asyik-asyiknya

meniup suling merasakan lututnya goyah oleh suara

tertawa itu dan sesaat kemudian dia pun terhuyung

jatuh ke tanah. Kiat Bo Hosiang sendiri pun jika tidak

lekas-lekas mengerahkan tenaga dalamnya pasti

akan menggeletar sekujur tubuhnya oleh kehebatan

suara tertawa suhengnya itu!

 "Budak, siapakah namamu dan apa she-mu?!"

Ik Bo Hosiang tiba-tiba ajukan pertanyaan.

 "kakek nyanyianmu bagus sekali. Kenapa ber-

henti?!"

 "Budak kurang ajar! Ditanyai malah menyuruh

orang menyanyi. Apa kau kira kau ini biduan sandi-

wara keliling?!" Ik Bo Hosiang membentak. Tiba-tiba

berkelebat jungkir-balik. Sedetik kemudian kepala-

nya sudah terletak di atas batu di mana dia tadi

bersemedi dan kaki lurus-lurus ke atas! "Hai budak!

Kenapa kau menghentikan tiupan sulingmu! Ayo

lekas mainkan lagi!"

 "Apa kau kira aku ini tukang tiup suling sandi-

wara keliling?!" si bocah ngambek dan balik me-

nyindir Ik Bo Hosiang. Kiat Bo Sang khawatir kalau-

kalau suhengnya bakai kumat otak miringnya

marah mendengar kata-kata si bocah itu, buru-buru

saja membuka mulut.

 Suheng, kau tahu aku telah berhutang nyawa

padanya! Hutang dalam bentuk apa pun harus di-

bayar. Kau saksikan sendiri keadaan budak ini.

Potongan tubuh dan susunan ruas-ruas tulangnya

amat baik. Rasanya sulit mencari bocah seperti dia

di delapan penjuru angin Tiongkok. Sebetulnya aku

berniat untuk mengambilnya jadi murid. Tapi kautahu sendiri. Sejak aku mengambil Li Bwe Hun jadi

murid tunggalku, aku sudah bersumpah untuk tidak

akan mengambil murid lain lagi dalam keadaan atau

alasan apapun juga. Memikir sampai saat ini kau

sendiri tidak pernah mempunyai murid yarig sebe-

narnya bisa disebut murid, dan sekaligus untuk

membalas hutang nyawaku padanya, maka kuharap

kau sudi mengambil bocah ini menjadi muridmu!'

 "Enak betul bicaramu. Kiat Bo!" tukas Ik Bo

Hosiang. "Anak penggembala yang tidak tahu asal-

usulnya, tak dikenal bapak moyangnya, tak tahu

juntrungannya, eh tahu-tahu kau minta aku meng-

ambilnya jadi murid! Kau sudah gila atau otakmu

memang sudah rengat?"

 "Suheng, kau bisa lihat sendiri. Anak ini lain dari

yang lain...."

 "Apanya yang lain? Dia bertangan, berkaki,

punya mata dua, hidung satu, mulut satu, telinga

dua.... Itu kau bilang lain. Ah sute! Kau rupanya

betul-betul sudah gila! Kasihan...!"

 "Suheng, aku memohon padamu...!"

 "Kau keblinger, Kiat Bo. Bagaimana kalau kemu-

dian hari bocah itu mengecewakan aku?!"

 "Kau boleh bunuh aku, suheng!"

 "Buset! Dua tiga bulan di muka mungkin kau

sudah lebih dulu mampus! Apakah aku harus meng-

gali kuburmu lalu membunuhmu? Gila kau sute!"

 Lama-lama berdebat begitu rupa Kiat Bo Ho-

siang yang memang punya watak lekas jengkel jadi

penasaran juga. Dia berkata: "Sudahlah suheng, jika

kau tak sudi aku pun tak memaksa!"

 "Dan aku pun tidak mengemis untuk jadi murid-

mu!" menimpali si bocah.

 "Bocah kurang ajar! Aku tidak bicara dengan-

mu!" hardik Ik Bo Hosiang. "Hai, kau masih belum

menerangkan nama dan she-mu!"

 "Namaku Thian Ong, she Song. Dan sekarang

aku akan angkat kaki dari sini!" Anak penggembala

itu berpaling pada Kiat Bo Hosiang dan berkata:

"Kakek, kau punya tanggung jawab membawaku ke

mari. Sekarang kau punya kewajiban membawaku

turun dari tempat memuakkan ini!"

 "Budak edan! Orang hendak membalas budi

malah bersikap konyol!" bentak Kiat Bo Hosiang.Aku tak perlu segala balas budi. Kalaupun...."

 "Thian Ong anak kurang ajar, kau mendekatlah

ke mari," tiba-tiba Ik Bo Hosiang memanggil. Tapi si

bocah tak mau datang. Namun satu hawa aneh yang

keluar dari tubuh si kakek menyedotnya hingga

tubuhnya terseret sampai ke hadapan orang itu. Aku

sudah lihat susunan tubuhmu dari luar, tapi belum

pada bagian-bagian yang tertutup. Sekarang tang-

galkan seluruh pakaianmu. Telanjang!"

 Kiat Bo Hosiang diam-diam merasa gembira

mendengar kata-kata suhengnya itu. Tapi sebaliknya

bocah yang bernama Song Thian Ong berkata

marah: "Kakek, kau betul-betul sudah gila, menyuruh

orang telanjang! Kau saja telanjang sendiri!"

 "Anak kurang ajar! Kualat kau!" teriak Ik Bo

Hosiang. Dia mengulurkan kedua tangannya. Bret....

Bret.... Bret! Maka robeklah seluruh pakaian Thian

Ong hingga dia kini telanjang bulat. "Hem bagus....

Kau memang boleh!" Dan habis berkata begitu Ik Bo

Hosiang mencekal tengkuk Thian Ong, melempar-

kannya ke udara, menyambutnya dengan kedua

kakinya, lalu dengan kaki-kaki itu tubuh Thian Ong

dipentalkan kembali ke atas, disambut lagi, dipen-

talkan lagi demikian seterusnya. Anehnya Thian Ong

tidak merasa sakit barang sedikit pun. Tapi rasa

gamang membuat dia ngeri. Dan anak ini tak henti-

hentinya menjerit.

 Selagi Ik Bo Hosiang mempermainkan Thian

Ong seperti itu seolah-olah anak ini adalah sebuah

bola, tiba-tiba datanglah Lo Sam Hosiang dan Toa

Sin Hosiang. Masing-masing mereka telah membalut

lengan dan kaki yang cidera serta mengganjalnya

dengan potongan kayu. Menyaksikan guru mereka

"bermain-main" begitu rupa keduanya tertawa gelak-

gelak.

 "Suhu," seru Toa Sin, "apakah kami berdua boleh

Ikut main bersamamu?"

 Sebagai jawaban Ik Bo Hosiang berseru: "Pen-

dek, kau sambutlah!" Dan tahu-tahu tubuh Thian Ong

sudah melesat ke arah Toa Sin Hosiang. Dan kakek-

kakek ini dengan gembira menyambut tubuh yang

terlempar itu dengan kaki kirinya. Tubuh Thian Ong

melayang ke arah Lo Sam Hosiang. Dengan gembira

kakek yang seorang ini menyambut pula dengantendangan. Tubuh Thian Ong kembali lagi melayang

ko arah Ik Bo Hosiang. Begitulah seterusnya. Tiga

kakek-kakek keblinger dari gunung Naga itu telah

asyik dengan permainan "bolanya". Tidak perduli lagi

akan jerit ketakutan si bocah. Apalagi terhadap Kiat

Bo Hosiang.

 Kiat Bo Hosiang yang menyaksikan hal itu cuma

bisa geleng-geleng kepala. "Gila dasar manusia

manusia gila!" katanya dalam hati. Namun diam-diam

dia gembira sekalipun suhengnya tidak mengatakan

apakah dia mau mengambil Song Thian Ong menjadi

muridnya, namun secara tidak langsung. Dengan

cara main bola" seperti itu, Ik Bo Hosiang telah

menyatakan bahwa dia berkenan dengan bocah itu.

 Dengan senyum puas Kiat Bo Hosiang ber-

kelebat pergi meninggalkan puncak Liongsan.


5


UA BELAS TAHUN kemudian.... Pada permulaan 

abad ke XV daratan Tiongkok sebelah utara jatuh ke 

dalam cengkeraman bangsa mongol. Penjajahan oleh 

bangsa manapun juga atas bangsa lain pastilah 

mendatangkan penderitaan. Dan yang paling 

sengsara seperti biasanya ialah rakyat jelata.

 Di mana-mana kaum penjajah yang berkuasa 

melakukan pemerasan, perkosaan, penindasan dan 

seribu satu macam tindakan sewenang-wenang lain-

nya.

 Pemerintah Tiongkok di selatan yang pada masa 

itu beribu kota di Nanking tidak bisa berbuat apa-apa 

menghadapi kaum penjajah. Selain selatan memang

memiliki balatentara dan persenjataan lemah, roda 

pemerintahan pun sudah kacau-balau centang-

perentang. Mulai dari kaisar sampai pada pejabat-

pejabat yang terendah di desa-desa sibuk memupuk 

kekayaan, harta dan uang, tanah dan sawah. Dalam 

pada itu mereka terlena pula dalam bujuk rayu 

perempuan-perempuan cantik hingga mana pula akan 

terpikir untuk membebaskan negeri di utara dari 

tangan penjajah Mongol.

 Pedih sakitnya penderitaan yang melanda, lambat 

laun merupakan cambuk bagi rakyat jelata untuk 

bersatu dan secara diam-diam menyusun kekuatan.

 Kekuatan tersebut dibagi dua. Yang pertama untuk

menghantam kaum penjajah di utara dan kedua

untuk menyingkirkan pejabat-pejabat pemerintahan

yang korup, keji sewenang-wenang dan sebagainya.

Pada masa itu bukan rahasia lagi kalau gerakan

rakyat yang menderita ini secara diam-diam dibantu

oleh orang-orang kangouw sehingga akibat yang

ditimbulkannya makin hari makin hebat dan mem-

buat kaum penjajah merasa terancam.

 Namun tidak jarang pula rakyat yang berjuang

itu menemui nasib malang. Yaitu bilamana mereka

dihantam oleh pasukan Mongol berjumlah besar atau

diserang dan ditangkap oleh balatentara Kaisar dari

selatan. Pemimpin-Pemimpin mereka digantung di

tempat terbuka, prajurit-prajurit yang tak lain adalahrakyat jelata biasa dibunuh secara massal!

 Gerakan rakyat yang ingin membebaskan negeri

mereka dari penindasan bangsa Mongol serta sekali-

gus mengikis para pejabat Pemerintah yang korup

dan memeras, dengan sendirinya menghadapi dua

lawan berat. Korban dan kerugian lebih banyak jatuh

dikalangan mereka, namun demikian semangat per-

juangan mereka tak kunjung padam. Jangankan

orang lelaki yang sudah dewasa, bahkan anak-anak

belasan tahun dan kaum wanita pun ikut turun ke

dalam kancah peperangan tanpa rasa takut sama

sekali!

 Pada suatu hari di bulan kelima, malapetaka

telah pula menimpa serombongan pasukan rakyat

yang berjumlah 50 orang yang pada saat itu berada

di sebuah kaki bukit. Tanpa setahu pemimpin pasu

kan, salah seorang diantara anggotanya adalah

mata-mata. Pemerintah selatan yang berhasil me-

nyusup. Selagi pasukan itu tengah beristirahat di'

kaki bukit, diam-diam mata-mata tadi meninggalkan

tempat tersebut, langsung menuju tempat rahasia di

mana telah menunggu satu kelompok pasukan Pe-

merintah yang terdiri dari lebih seratus orang

 Dalam waktu singkat pasukan rakyat yang te-

ngah istirahat itu telah terkurung. Dan ketika mereka

diserbu dengan sendirinya mereka tidak berdaya.

Sedapat-dapatnya mereka mempertahankan diri dan

berjuang mati-matian. Namun jumlah lawan dua kali

lipat disamping itu serangan datangnya mendadak

sekali.

 Dalam waktu sebentar saja dua puluh orang

anggota pasukan rakyat gugur. Komandan pasukan

seorang lelaki separuh baya bernama Pouw Keng In

berteriak kepada anak buahnya untuk lari menye-

lamatkan diri dan membiarkan dia sendiri mengha-

dapi pasukan Pemerintah. Tekadnya biar dia mati

asal sisa-sisa anak buahnya masih bisa diselamat-

kan. Akan tetapi mana ada diantara mereka yang

mau mengikuti perintah Pouw Keng In. Malah pasu-

kan rakyat itu bertempur makin hebat hingga 10

orang lagi diantara mereka menjadi korban.

 "Bunuh semua anjing-anjing pemberontak ini.

Tangkap komandannya hidup-hidup!" teriak koman-

dan pasukan Pemerintah. Dia menyeringai puasmelihat bagaimana musuh porak-poranda dan ber-

guguran satu demi satu dalam waktu yang cepat.

Dan pandangan matanya rakyat yang berjuang itu

tak lebih dari pada anjing, yang dapat dibunuh secara

sewenang-wenang,

 Pada saat yang gawat bagi pasukan rakyat itu.

dimana Pauw Keng In sendiri sudah luka parah dan

mandi darah, tiba-tiba berkelebatah satu bayangan

hijau disertai gulungan sinar coklat. Terdengar pekik

susul-menyusui. Dalam waktu amat cepat enam

anggota pasukan Pemerintah telah menjadi korban,

ada yang pecah kepalanya, remuk dada. bobol perut

dan sebagainya.

 Tentu saja pasukan Pemerintah terkejut sekali

terutama Komandannya. PasuKan rakyat pun tak

kurang kagetnya. Namun karena menduga ada orang

kangouw yang telah turun tangan membantu mereka

meskipun mereka beium melihat jelas siapa adanya

orang itu karena saking cepatnya gerakannya maka

kembali mereka jadi bersemangat dan menempur

iawan berjumlah besar itu dengan hebatnya.

 "Iblis dari mana yang berani mencari mati di

sini?!" berteriak Komandan prajurit Pemerintan. Na-

manya Cu Lay Seng. Berbadan tinggi tegap bermata

sedikit juling dan punya tampang garang, lengkap

dengan kumis melintang serta cambang bawuk.

 Bayangan hijau yang mengamuk tidak menya-

huti malah berkelebat makin cepat. Delapan orang

lagi pasukan Pemerintah berjungkalan mati! Kawan-

Kawannya yang lain jadi gentar dan tak berani

 didekati bayangan hijau itu. Sebaliknya kelengah-

an mereka itu merupakan sasaran baik bagi prajurit-

prajurit rakyat hingga banyak diantara mereka ber-

hasil ditewaskan

 "Setan alas." maki Cu La i Seng marah sekali.

Saat itu dia masih duduk di atas punggung kudanya.

Dengan tangan kanan dirampasnya pedang anak

buahnya yang terdekat. Perlu diketahui Cu Lay Seng

ini seorang yang amat lihay dalam ilmu menyam-

bitkan berbagai macam senjata. Sekali tangannya

mencari sasaran pastilah tak akan melesat! Begitu

tangan kanannya memegang pedang segera senjata

ini dilemparkan dan melesat deras ke arah bayangan

hijau yang tengah memporak-porandakan pasukanPemerintah.

 Cu Lay Seng sudah dapat membayangkan ba-

gaimana tubuh bayangan hijau itu akan tertembus

oleh pedang yang dilemparkannya. Namun alangkah

kagetnya Komandan pasukan ini sewaktu menyak-

sikan senjata yang dilemparkannya itu malah di-

tangkap oleh lawan dengan tangan kirinya. Dan

dengan memegang senjata ini di tangan kirinya si

bayangan hijau mempergunakannya untuk memba-

bat musuh kian kemari hingga dalam waktu singkat

makin banyaklah anggota pasukan Pemerintah yang

tewas.

 Cu Lay Seng maklum kini bahwa dia berhadapan

dengan seorang lawan yang berkepandaian amat

tinggi dan memiliki gingkang luar biasa hingga dia

sendiri sampai saat itu tidak dapat jelas melihat siapa

adanya bayangan hijau itu.

 "Mundur semua", teriak Cu Lay Seng.

 Prajurit-Prajurit Pemerintah yang memang su-

dah sejak tadi-tadi merasa ngeri, tanpa disuruh dua

kali terus saja melompat mundur. Di pihak pasukan

rakyat Pouw Keng ln memberi isyarat agar anak

buahnya tidak terus memburu musuh. Dia sendiri

yang saat itu terluka parah, amat kagum melihat

kehebatan bayangan hijau. Dengan dipapah oleh

seorang anak buahnya dia menyaksikan apa yang

terjadi selanjutnya.

 Saat itu Cu La y Seng telah melompat turun dari

kudanya dengan satu gerakan enteng tahu-tahu

sudah berada lima langkah di hadapan bayangan

hijau. Dan ketika bayangan hijau ini menghentikan

gerakannya yang luar biasa cepatnya itu, Cu Lay

Seng dan semua orang yang ada di situ jadi melotot

dan ternganga. Mereka semua melengak kaget! Be-

tapa tidak! Si bayangan hijau yang kini tegak tak

bergerak di tengah kalangan pertempuran itu nyata-

nya adalah seorang gadis berparas elok jelita. Ram-

butnya hitam panjang dan digelung di atas kepala

dengan sepasang cambang halus meliuk dikedua

pipinya! Menurut perkiraan paling banyak gadis ini

baru berusia sekitar 17 tahun. Secantik dan semuda

itu sudah memiliki kepandaian yang hebat, siapa

orang yang menyaksikan tak akan melengak kaget?

 "Nona, kau telah menurunkan tangan ganas

terhadap prajurit-prajurit Kaisar. Terpaksa aku harus

menangkapmu dan membawamu ke Kotaraja!" ber-

kata Cu Lay Seng dengan nada keren dan keras.

 "Aku?! Kau mau menangkap aku...?" si gadis

menjawab lalu tertawa merdu sekali.

 "Kuharap kau tidak mengadakan perlawanan

dan menyerah dengan suka rela," berkata lagi Cu

Lay Seng.

 "Begundal penjilat pantat kaisar!" tiba-tiba gadis

hijau membentak marah. Wajahnya merah dan justru

dalam keadaan marah ini dia kelihatan tambah can-

tik. Jika kau bilang aku menurunkan tangan jahat

terhadap prajurit-prajurit Kaisar, lantas kau yang

telah membunuhi rakyat jelata pantas disebut apa-

kah?! Dosamu besar sekali Komandan! Sebaiknya

kaulah yang lekas menyerah dan cepat berlutut minta

ampun di hadapan Thian. Karena kalau kau terlalu

banyak mulut, aku tak segan-segan mengirimmu ke

akhirat!"

 Cu Lay Seng tertawa sinis. Dia telah menyaksikan 

kehebatan gadis itu, tapi jangan kira dia merasa takut. 

Selain memiliki ilmu tinggi dia sudah berpengalaman 

luas. Kalau baru gadis binal begini saja kenapa musti 

jerih? Demikian dia menganggap enteng.

 "Jika kau tak mau menyerah secara baik-baik,

jangan salahkan kalau aku menurunkan tangan

kasar," Cu Lay Seng mengeluarkan ancaman yang

disambut oleh sang nona dengan tertawa mengejek.

 "Majulah! Aku mau lihat sampai dimana kehe-

batan segala manusia pepesan macam kau!"

 Dimaki "pepesan kosong" begitu rupa di hadap-

an sekian banyak orang dan anak buahnya sendiri

betul-betul merupakan penghinaan luar biasa bagi

Cu Lay Seng. Dengan didahului bentakan dahsyat.

Komandan pasukan ini meloncat sebat ke arah nona

berbaju hijau dan saat itu juga berkiblatlah sinar

putih menyilaukan. Inilah sinai senjata di tangan Cu

Lay Seng yaitu sebuah ruyung perak.

 "Nona baju hijau!" Pouw Keng In Komandan

pasukan rakyat berseru. Kau hati-hatilah dia lihay

sekali!"

 Memang Pouw Keng In mengetahui betul kalau

Cu Lay Seng berkepandaian tinggi. Dibandingkan

dengan dirinya masih ketinggalan jauh. Meskipuntadi dia sudah menyaksikan kehebatan si nona

namun tetap saja dia khawatir. Karena kalau sampai

Cu Lay Seng menang bukan saja dia dan seluruh

anggota pasukannya akan dibunuh, tetapi nasib si

nona pun akan jauh lebih buruk. Pouw Keng In cukup

mengenal kebejatan para anggota pasukan Kaisar

pada masa itu, apalagi Komandan-komandan me-

reka.

 Tapi nona baju hijau justru malah tertawa men-

dengar peringatan itu. Dia menjura pada Pouw Keng

in dan berkata: "Terima kasih atas peringatanmu.

Kau lihat sajalah bagaimana aku menghajar manusia

kecoak yang tidak berguna ini."

 Sambil menjura tadi dengan tak acuh nona itu

gerakkan tongkat kayu di tangan kanannya ke atas

Cu Lay Seng yang saat itu tengah melancarkan

serangan hebat menjadi amat terkejut ketika tiba-tiba

dirasakannya ada sambaran angin dingin menderu

ke arah lengannya. Komandan yang berpengalaman

ini segera maklum kalau lawannya memiliki tenaga

dalam yang jauh lebih lihay dari dia Karenanya

secepat kilat Cu Lay Seng robah gerakannya, batal-

kan serangan pertama dan menyusul dengan serang-

an ruyung ke arah kaki sang nona.

 Tapi lawan ternyata sudah mengetahui lebih

dulu gerakannya. Karena begitu ruyung perak me-

nyamber ke bawah si nona segera melintangkan

tongkat kayunya ke arah yang sama

 Selain tak menyangka kalau lawan akan me-

nolong gerakannya seperti itu. Cu Lay Seng pun

kelewat yakin bahwa ruyung peraknya lebih ampuh.

Karenanya dia tidak berusaha menghindarkan ben-

trokan senjatanya dengan tongkat lawan yang hanya

terbuat dari kayu coklat.

 Tapi apa yang terjadi kemudian membuat Cu

Lay Seng berseru tegang dengan muka pucat. Pada

saat bentrokan senjata terjadi ruyung perak di tangan

Komandan itu patah dua dan mencelat mental!

Sedang tongkat kayu yang dianggap remeh oleh Cu

Lay Seng ternyata tidak cacat barang sedikit pun.

 Dalam keadaan sang Komandan masih kaget

begitu rupa nona baju hijau yang sampai saat itu di

tangan kirinya masih memegang pedang yang tadi

dilemparkan oleh Cu Lay Seng sudah memburu kedepan kirimkan satu tebasan kilat. Dan cras ! Cu Lay

Seng menjerit keras. Darah mancur dari tangan

kanannya yang kini sudah terbabat putus!

 "Sekarang lekaslah kau menghadap Tuhan untuk

mempertanggung jawabkan dosa-dosamu.'' berseru

si nona seraya tusukkan pedang di tangan kirinya

tepat ke jantung si Komandan.

 Hanya satu senti saja lagi ujung pedang akan

menembus dada Cu Lay Seng tiba-tiba terdengar

bentakan marah:

 "Bwe Hun! Lagi-lagi kau! Lagi -lagi kau!"

 Satu bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu

pedang di tangan kiri sang dara terdorong ke sam-

ping selamatlah Cu Lay Seng dari kematian!


6


NONA BERBAJU HIJAU palingkan muka dan 

berubahlah parasnya. Lalu gadis ini cepat jatuhkan diri, 

berlutut pada seorang kakek-kakek berpakaian putih 

yang tegak dihadapannya.

 "Suhu...!"

 "Bwe Hun. Berapa kali aku sudah bilang jangan

melakukan pengacauan! Jangan berani menentang

alat-alat kerajaan!" si kakek berkata dengan nada

keras.

 "Suhu, murid sama sekali tidak mengacau, tidak

menentang siapapun. Murid hanya ingin mengikis

kejahatan, kekejaman dan ketidak adilan dari muka

bumi ini!"

 "Dengan jalan membunuh seenakmu?!"

 "Orang-orang jahat dan se-wenang-wenang

macam mereka layak dibunuh. Dan perjuangan rak-

yat untuk membebaskan tanah air dari kaum pen-

jajah dan penindasan bangsa sendiri wajib dibantu!"

 "Bwe Hun! Kau masih hijau dan tidak tahu

banyak artinya perjuangan. Sekarang lekas angkat

kaki dari sini. Lain kali jika aku memergoki kau

melakukan perbuatan begini, aku akan jatuhkan

hukuman berat padamu! Kau dengar?!"

 Si nona yang bernama Li Bwe Hun gelengkan

kepalanya dan sikapnya gagah ketika menjawab:

"Suhu hukuman berat bagiku bukan apa-apa. Tapi

yang aneh adalah perbuatan Suhu sendiri. Kau

menetap si utara, ditengah-tengah bangsa Mongol

dalam kemewahan luar biasa. Tapi tanpa menyadari

bahwa Suhu sebenarnya telah diperalat oleh kaum

penjajah untuk menindas bangsa sendiri! Sebagai

murid aku...."

 Belum sempat Li Bwe Hun meneruskan kata-

katanya itu satu tamparan telah mendarat di pipinya,

membuat gadis itu terhuyung ke belakang satu

langkah. Keseluruhan wajahnya menjadi merah me-

ngetam. Bukan karena sakit tapi karena tak percaya

kalau suhunya sendiri-yang telah mendidik dan me-

rawati selama belasan tahun - tega-menamparnya

seperti itu dihadapan sekian banyak mata! Betulsuhunya telah berubah sejak masuk ke dalam bujuk

rayu bangsa Mongol!

 "Sekali lagi kau berani bicara lancang seperti itu

kubunuh kau Bwe Hun!"

 "Suhu, aku tidak takut mati di tanganmu! Aku

lebih rela mati dari pada menjadi murid Kiat Bo

Hosiang yang kenyataannya adalah seorang peng-

khianat bangsa dan negara!"

 Cu Lay Seng, Pouw Keng In dan semua orang

yang ada di situ sama-sama kaget mendengar siapa

adanya nama kakek di hadapan mereka saat itu.

Ternyata Kiat Bo Hosiang, tokoh silat utama yang

boleh dikatakan tak ada tandingnya untuk masa itu

diseluruh penjuru Tiongkok!

 Baik Komandan pasukan Kaisar maupun Ko-

mandan pasukan rakyat masing-masing merasa ge-

lisah dan berdebar. Karena kini di hadapan mereka

berdiri tokoh silat berkepandaian tinggi yang sejak

beberapa waktu belakangan ini telah membantu

kaum penjajah Mongol. Jadi sekaligus merupakan

musuh besar pasukan rakyat dan juga Pemerintah!

 Sepasang bola mata Kiat Bo Hosiang berkilat-

kilat dan laksana dikobari api mendengar kata-kata

muridnya itu. Dia menggerung dahsyat dan ber-

teriak: "Li Bwe Huni Mulai hari ini aku bukan gurumu

lagi! Kau murid kualat! Murtad! Kau harus serahkan

seluruh ilmu yang kau dapat dariku!"

 Habis berteriak demikian Kiat Bo Hosiang lantas

kirimkan satu serangan berupa totokan ke arah jalan

darah kian le hiat di dada dan jalan darah gi hay hiat

di punggung muridnya. Dua totokan ini bukan merupa-

kan totokan maut akan tetapi amat berbahaya. Jika

totokan-totokan itu sampai menemui sasarannya,

pembuluh-pembuluh darah di tubuh Li Bwe Hun akan

menjadi rusak. Dan yang paling hebat akibatnya ialah

bahwa dia akan kehilangan seluruh ilmu kepandai-

annya bahkan akan menderita gagu seumur hidup!

 Bwe Hun kaget sekali melihat bagaimana suhu-

nya melancarkan totokan yang jahat itu. Kini nyata

kalau gurunya memang sudah gelap mata dan tidak

tedeng aling-aling untuk menurunkan tangan jahat.

Bagusnya dia berlaku waspada hingga cepat meng-

hindar selamatkan diri.

 Melihat serangan dapat dikelit, Kiat Bo Hosiangjadi penasaran. Kembali dia menyerbu dengan se-

rangan-serangan kilat secara berantai. Dan setiap

serangan senantiasa diserta totokan-totokan jahat

tadi. Sampai belasan jurus dimuka kakek-kakek sakti

ini walaupun membuat sibuk muridnya namun masih

belum sanggup merobohkan, ini membuat kemarah-

annya semakin meluap!

 "Perempuan sialan! Menyesal aku mengambil-

mu jadi murid! Menyesal aku mewarisi segala macam

ilmu kepandaian padamu!" teriak Kiat Bo Hosiang

berulang kali.

 "Aku malah seribu kali lebih menyesal dan malu

karena memiliki suhu jahat dan pengkhianat macam-

mu! Dan jangan lupa, aku tak pernah meminta untuk

dijadikan murid! Kau yang menculik aku dari tangan

orang tuaku!"

 "Murtad! Laknat! Kubunuh kau sekalian biar

puas hatiku!" Maka Kiat Bo Hosiang lantas mem-

pergencar serangannya. Tubuhnya hanya tinggal

bayangan putih saja lagi, mengurung Bwe Hun dari

segala penjuru. Untuk menghadapi kehebatan suhu-

nya terpaksa gadis ini kerahkan pula seluruh kepan-

daiannya. Karena masing-masing pihak mengetahui

betul jurus-jurus silat yang dimainkan, termasuk

tipu-tipu dan kelemahan-kelemahannya maka de-

ngan sendirinya pertempuran itu penuh ketegangan

dan seru sekali. Dalam hal Lweekang memang Bwe

Hun masih berada di bawah suhunya. Namun dalam

memainkan ilmu silat tangan kosong dan kegesitan

dia tidak kalah! Sampai seratus jurus dimuka Kiat

Bo Hosiang masih belum bisa berbuat apa-apa!

 Bagaimanakah asal mulanya sampai Kiat Bo

Hosiang bentrokan dan hendak membunuh murid

nya sendiri! Dan apakah betul tokoh silat golongan

putih itu menjadi kaki tangan penjajah Mongol?

 Seperti sudah sama dimaklumi jarang sekali

manusia yang betul-betul dapat membebaskan diri

dari daya tarik keindahan hidup di dunia yang seribu

satu macam ragamnya itu. Salah seorang diantara-

nya adalah Kiat Bo Hosiang. Selagi dia masih mem-

beri pelajaran silat pada Li Bwe Hun. Kiat Bo yang

memang mempunyai dasar watak suka akan hidup

mewah di dunia dan disamping itu lemah iman dalam

menghadapi perempuan cantik, telah terjebak dalambujuk rayu orang-orang Mongol.

 Kepadanya diberikan sebuah gedung besar bak

istana layaknya di Undur Khan. Harta benda dan

uang berlimpah ruah. Disamping itu tak lupa pula

perempuan-perempuan cantik yang dia tinggal pilih

saja berganti-ganti setiap hari. Semua ini membuat

Kiat Bo Hosiang lupa segala-galanya. Dan diam-diam

orang Mongol mulai memperalatnya. Memang ba-

nyak gunanya tokoh lihay ini oleh kaum penjajah.

Pertama, jika Kiat Bo berada dalam genggaman

mereka berarti tak akan ada bahaya dari pihak

Pemerintah Tiongkok ataupun dari pergerakan rak-

yat karena memang masa itu Kiat Bo seorang tokoh

sakti yang ditakuti oleh pihak Mongol. Kedua Kiat

Bo bisa dipergunakan untuk menghadapi orang-

orang Pemerintah dan rakyat. Dan kenyataannya

memang Kiat Bo Hosiang telah berhasil mematahkan

perlawanan-perlawanan yang dibangkitkan oleh

bangsanya sendiri.

 Disatu pihak Kiat Bo mendapat imbal kehidupan

yang mewah penuh kesenangan namun dilain pihak

dia menjadi momok kebencian rakyat dan juga

Pemerintah Tiongkok. Salah satu dari orang yang

membencinya ialah muridnya sendiri Li Bwe Hun

yang telah digemblengnya selama lebih dari sepuluh

tahun.

 Gadis yang baru meningkat usia 17 ini begitu

memulai pengelanaannya di dunia kangouw telah

dihadapkan dengan kenyataan pahit yaitu gurunya

ternyata adalah seorang pengkhianat yang menjada

kaki tangan penjajah Mongol dan diperalat untuk

menghancurkan rakyat serta Pemerintahnya sendiri!

Sedangkan dia sendiri yang walaupun masih muda

tapi dapat membedakan mana yang betul dan mana

yang salah, telah memilih untuk berpihak perjuangan

rakyat tertindas. Karenanya dalam petualangannya,

gadis ini berulang kali membantu pasukan rakaat dan

disamping itu setiap dia mendengar ada pejabat-

pejabat Pemerintah di daerah-daerah yang berlaku keji

serta semena-mena, pastilah dia turun tangan untuk

menghukum pejabat itu. Sekali dua diberi peringatan,

tapi bila masih tidak mau insyaf, Bwe Hun tak segan-

segan untuk menebas batang lehernya.

 Dalam melakukan hai yang dianggapnya se

bagai tugas kewajiban itu tentu saja Bwe Hun men-

dapat tantangan dan menghadapi lawan-lawan berat.

Dan salah satu diantaranya adalah gurunya sendiri

yakni Kiat Bo Hosiang. Sebelumnya Kiat Bo Hosiang

telah memberi peringatan keras pada muridnya itu

untuk tidak ikut campur dalam kekalutan yang ber-

kecamuk akhir-akhir ini. Namun Bwe Hun tak mau

perduli karena dia yakin apa yang dilakukannya

adalah benar. Dia sadar ilmu kepandaian yang di-

milikinya bukanlah untuk membuat dia menjadi beo

atau berlepas tangan ataupun melakukan perbuatan-

perbuatan yang salah, tapi justru guna menolong

orang-orang yang tertindas, untuk kebaikan dan

membela keadilan serta kebenaran. Dan nyatanya

hari ini kembali dia dipergoki oleh subangnya ketika

membela pasukan rakyat yang hendak dimusnahkan

oleh pasukan Pemerintah Tiongkok dibawah Koman-

dannya yang bernama Cu Lay Seng!

 Sekali ini Kiat Bo Hosiang sudah jauh tersesat

hingga dia mempunyai tekad keji untuk mencelaka-

kan muridnya sendiri, membuat Bwe Hun menjadi

cacat seumur hidupnya. Akan tetapi karena sampai

begitu jauh dia masih belum sanggup menyerangkan

dua totokan ganas itu ke tubuh muridnya yang

dianggapnya murtad laknat, disamping itu ucapan-

ucapan Bwe Hun betul-betul membuat dia gelap

mata, maka dalam sesatnya Kiat Bo memutuskan

untuk membunuh saja gadis itu!

 Li Bwe Hun tersirap darahnya ketika melihat

tiba-tiba suhunya mengeluarkan senjatanya yang

hebat yakni tongkat baja yang kedua ujungnya ber-

cagak.

 "Suhu...! Orang-orang Mongol betul-betul telah

membuat kau jadi buta mata dan hati serta pikiran!

Insyaflah Suhu!" berseru Bwe Hun.

 Tapi seruan itu justru membuat Kiat Bo Hosiang

jadi semakin naik pitam. Tongkat bajanya berkiblat.

Sinar putih menderu-deru menyilaukan. Bwe Hun

terpaksa keluarkan tongkat kayu coklatnya yang tadi

telah diselipkannya di pinggang.

 Namun dalam ilmu permainan tongkat, Bwe Hun

yang di mata Cu Lay Seng serta Pouw Keng In sudah

amat luar biasa, dihadapan Kiat Bo Hosiang dia

hanya sanggup bertahan sampai 5 jurus. Selewatnyajurus, setelah tongkatnya dibabat patah oleh suhu-

nya, dia segera terdesak hebat. Kegesitannya tiada

berarti untuk menyelamatkan diri dari dua ujung

tongkat yang terus-menerus menyambar. Beberapa

bagian pakaiannya telah robek disambar senjata

sang suhu dan agaknya dalam dua jurus dimuka

gadis ini akan menemui kematian secara mengenas-

kan. Menyaksikan ini semua orang jadi gelisah.

Lebih~lebih ketika satu-satu sodokan ujung tongkat

bersarang di dada Bwe Hun, membuat gadis ini

terpekik dan roboh terguling di tanah. Darah kental

mengalir disela bibirnya.

 "Sekarang kau mampuslah, murid celaka!" teriak

Kiat Bo Hosiang seraya melompat dan tusukkan

ujung tongkatnya ke leher Bwe Hun.

 "Tua bangka keji!" tiba-tiba terdengar bentakan.

"Kau yang lebih dulu layak mampus!" Dua orang

berkelebat ke depan. Ternyata adalah Cu Lay Seng

dan Pouw Keng In!"


7


BAGAIMANA pula sampai kedua Komandan 

pasukan yang tadinya saling bermusuhan dan 

bertempur itu kini bersatu menyerbu Kiat Bo

Hosiang? Ada beberapa hal yang membuat mereka

tiba-tiba saja turun tangan dalam keadaan yang kritis

itu tanpa memperduiikan keadaan dan tingkat kepan-

daian mereka sendiri. Pertama bagaimana pun juga

Li Bwe Hun merupakan nona penolong bagi Pouw

Keng In sewaktu tadi dia luka parah menghadapi

pasukan Pemerintah di bawah pimpinan Cu Lay

Seng. Kedua, baik Cu Lay Seng maupun Pouw Keng

In tahu, yaitu jika Bwe Hun sampai kalah, maka Kiat

Bo Hosiang pasti akan membasmi mereka pula.

Karena itu sebelum si nona celaka lebih baik mereka

lekas-lekas turun tangan menolong. Ketiga Cu Lay

Seng seolah-olah sadar bahwa apa yang terjadi di

negerinya selama ini memang membawa penderita-

an bagi rakyat jelata. Dan dia merasa berdosa telah

melakukan pembasmian ganas terhadap rakyat yang

selama ini berjuang.

 Akan tetapi, meski dibantu oleh dua orang Ko-

mandan pasukan yang gagah berani Itu, keadaan

Bwe Hun tidak lebih baik Malah setelah membantu

dua jurus, Cu Lay Seng dan Pouw Keng In mulai

terdesak. Melihat ini Cu Lay Seng segera berteriak,

memerintah pada anak buahnya untuk mengeroyok.

Demikian pula Pouw Keng In. Kini Kiat Bo Hosiang

dikurung oleh lebih dari tujuh orang dengan Bwe

Hun, Lay Seng dan Keng ln sebagai pelopornya.

Namun keadaan bukannya lebih menguntungkan

Bwe Hun dan kawan-kawan, malah jalannya pertem-

puran jadi sembrawutan-

 Tongkat baja di tangan Kiat Bo Hosiang mulai

minta korban. Jerit sakit dan erang kematian ter-

dengar setiap tongkatnya berkiblat. Kemudian Cu

Lay Seng menenun ajalnya pula dengan kepala

pecah. Satu jurus kemudian menyusul Pouw Keng

In. Sesudah kedua orang ini roboh anggota-anggota

pasukan yang mengeroyok menjadi kecut. Kebanyakan diantara mereka segera melarikan diri hingga

pada akhirnya Li Bwe Hun yang hanya mengandal-

kan tangan kosong, tinggal sendirian menghadapi

suhunya. Dan boleh dikatakan ajalnya di depan mata

kini!

 Disaat tongkat baja Kiat Bo Hosiang menderu-

deru untuk menamatkan riwayat muridnya sendiri

tiba-tiba terdengarlah tiupan seruling yang keras tapi

merdu Li Bwe Hun yang tahu ajalnya sudah di depan

matanya sama sekali tidak perduli dengan suara itu,

lain halnya dengan Kiat Bo Hosiang, Serta merta

kakek ini melompat dari kalangan pertempuran dan

berpaling ke arah datangnya suara suling itu

 Dan kelihatanlah satu pemandangan aneh tapi

juga luar biasa. Seorang pemuda berpakaian gom-

brang mengaitkan kaki kirinya pada cabang sebuah

pohon yang tinggi hingga dia tergantung-gantung

dengan kaki ke atas kepala ke bawah. Sambil ber

gantung dia meniup seruling dan ayun-ayunkan

tubuhnya mengikuti irama seruling itu. Lagu yang

dimainkannya adalah lagu ketika 12 tahun yang lalu

Kiat Bo Hosiang hampir menerima kematian waktu

bertempur melawan Pak-san Kwi-ong! Meskipun kini

telah berlalu demikian lama namun Kiai Bo Hosiang

tak bisa pangling. Pasti inilah bocah penggembala

yang tempo hari telah menolongnya dan yang telah

dibawanya ke puncak Liongsan untuk diserahkan

pada suhengnya. Ternyata kini dia telah dewasa.

Tapi tingkahnya yang muncul secara aneh itu diam-

diam membuat Kiat Bo Hosiang merasa kurang enak.

Ah, pastilah dia telah pula mewariskan sifat gila

suhengku! Demikian Kiat Bo Hosiang membathin

lalu dia berseru :

 "Thian Ong Kau! Ayo lekas turun!'

 Pemuda berpakaian gornbrong yang berayun-

ayun di cabang pohon sambil meniup suling itu

memang adalah Song Thian Ong, bocah penggem-

bala yang 12 tahun yang lalu dibawa oleh Kiat Bo

kepada suhengnya di puncak Liongsan! Selama

bertahun-tahun menerima pelajaran ilmu silat dari

seorang sinting seperti Ik Bo Hosiang dan berada

diantara pembantu-pembantunya yang berotak

miring pula yakni Toa Si Hosiang dan Lo Sam

Hosiang, maka selain telah memiliki ilmu kepandaianyang hebat luar biasa, ternyata pemuda itu juga

mewarisi sifat-sifat keblinger suhu serta dua pem-

bantu suhunya itu!

 "Hai Thlan Ong. Turunlah! Apa kau tak kenal aku

lagi? Aku Kiat Bo Hosiang yang dulu membawamu

ke puncak Liongsan. Kau boleh panggil aku susiok!'

 Tapi anehnya Thian Ong bukannya turun malah

terus saja mainkan serulingnya. Seolah-olah dia

tidak mendengar suruan susioknya itu. Sementara

Itu Li Bwe Hun yang begitu mendengar bahwa

pemuda aneh di atas pohon yang tentunya berke-

pandaian tinggi adalah murid keponakan dari Kiat

Bo Hosiang, menyadari betapa makin sulit keduduk-

annya. Barusan dia hampir menemui kematian

menghadapi Kiat Bo Hosiang seorang diri. Kini

ditambah munculnya murid keponakan suhunya,

pastilah tak ada harapan baginya untuk selamatkan

diri. Karenanya selagi kakek itu lengah berseru seru

memanggil Thian Ong. tanpa tunggu lebih lama lagi

Li Bwe Hun segera berkelebat kabur. Tapi dari atas

pohon tiba-tiba terdengar seruan:

 "Nona baju hijau kau mau ke mana? Kenapa buru-

buru? Aku belurn puas melihat kecantikan

wajahmu!' hampir tak kelihatan Thian Ong jentikkan

jari telunjuk tangan kirinya secara acuh tak acuh.

Inilah satu ilmu menotok jarak jauh yang amat lihay

dan jarang terlihat dalam dunia persilatan di Tiong-

kok selama 40 tahun belakangan ini! Dan di bawah

sana tahu-tahu Li Bwe Hun merasakan kedua kakinya

Kaku tak sanggup untuk dibawa lari. Sekujur tubuh-

nya menjadi kaku tak bisa digerakkan barang sedikit

pun. Malah bersuara pun dia tak sanggup!

 Kiat Bo Hosiang yang menyaksikan ha! itu diam-

diam merasa terkejut. Dia sudah mengetahui kelihay

an suhengnya. Tetapi adalah hampir tak dapat

dipercaya kaiau murid suhengnya sehebat ini;

karena dia sendiri pun telah meyakini ilmu menotok

jarak jauh itu selama 10 tahun dan tak kunjung

berhasil mencapai kesempurnaannya.

 "Thian Ong!" Kenapa kau masih belum mau

memberi hormat padaku?!"

 Sebagai jawaban tiba-tiba terdengarlah nyanyian

dari atas pohon


Menghormati memang satu kewajiban,

 Dari vang muda kepada yang tua.

 Kehormatan adalah satu yang berharga.

 Terkadang lebih berharga dari nyawa,

 Tetapi menghormat harus melihat orang dan tempat,

 Karena terkadang si penghormat bisa jadi penjilat,

 Apakah wajib menghormat seorang pengkhianat,

 Apakah wajib menghormat seorang sesat,

 Apakah wajib menghormat penindas dan pembunuh 

rakyat?

 Ataukah penghormatan itu satu hal yang bisa

dipaksakan?

 Siapakah orangnya yang bisa membendung

arus sungai Yangtse menuju laut?

 Siapakah orangnya yang bisa memindahkah

puncak gunung Thaysan?

 Sekaiipun, seorang Kaisar yang gila hormat?

 Mendengar nyanyian itu berubahlah paras Kiat

 Bo Hosiang. Jelas semua syair dalam nyanyian yang

 dibawakan oleh Thian Onq tadi merupakan sindiran

 langsung atas dirinya. Tetapi dengan berpura-pura

 tidak tahu, Kiat Bo Hosiang tertawa geiak-gelak lalu

 berkata; "Bagua sekali nyanyianmu itu, Thian Ong!

 Rupanya kau betul-betul telah mewarisi kepandaian

 suhumu, lahir dan bathin!"

 Baru saja Kiat Bo Hosiang habis berkata demi-

 kian, kembali terdengar Song Thian Ong bernyanyi:

 Lahir dan bathin dua hal yang berbeda,

 Karenanya sering tidak sama dan serupa,

 Malah kerap bertolak belakang,

 Yang satu memalsukan yang lainnya,

 lahir bagus belum tentu batinnya baik,

 Bathin baik belum tentu lahirnya bagus,

 Di luar kebijaksanaan di dalam mungkin culas,

 Di luar culas di dalam mungkin bijaksana.

 Menipu diri sendiri berarti tolol,

 Menipu orang lain berarti jahat,

 Menghormat orang lain adalah wajib,

 Minta keliwat dihormat adalah otak rengat!

Kalau tadi Kiat 3o Hosiang masih bisa menahan

rasa dongkolnya maka kini sesudah sindiran Thian

Ong berterang-terangan begitu rupa, marahlah

kakek-kakek ini. Langsung dia membentak:

 "Thian Ong! Apakah kau begitu berani bicara

 lancang dan menghina terhadap susiokmu sendiri?!"

 Dan jawaban Thian Ong lagi lagi berupa nyanyian 

yang membuat hati Kiat Bo Hosiang laksana bara

panas.

 Lancang adalah perbuatan salah,

 Tetapi masih bisa diperbaiki.

 Tak ada yang terhina kalau semua bersih,

 Kekotoran itulah yang perlu diperbaiki,

 Hinanya si miskin hal yang lumrah.

 Tapi hinanya mereka yang tersesat harus cepat

diperbaiki,

 Sudah tiba saatnya bertobat,

 Sudah tiba saatnya mengambil pikiran sehat,

 Atau apakah mau menunggu hari kiamat?

 Tiba-tiba Kiat Bo Hosiang lepaskan satu pukulan

tangan kosong ke arah batang pohon di mana Thian

bergelantungan seenaknya Brak! Batang pohon be-

sar itu patah, lalu tumbang dengan suara gemuruh.

Suara gemuruh ini disertai gelak tertawanya Thian

Ong. Tubuhnya sesaat terlihat membuat beberapa

kali putaran mengelilingi cabang pohon, lalu lenyap

dan tahu-tahu sudah berada di hadapan Kiai Bo

Hosiang. Di depan susioknya ini, Thian Ong meman-

dang dengan kening berkernyit dan salah satu ta-

ngan diletakkan di atas alis, seolah-olah dia tengah

memperhatikan sesuatu yang jauh dikesilauan sinar

matahari. Ditambah dencan bajunya serta celananya

yang gombrang sekali, maka sikap pemuda ini betul

menggelikan. Anggota-anggota pasukan kerajaan

dan pasukan rakyat yang masih ada di situ meskipun

tercekat tegang namun tak dapat menahan suara

tertawa masing-masing. Bwe Hun sendiri pun kalau

saja tidak dalam keadaan tertotok pastilah akan

tertawa pula cekikikan."Ah, Susiok! Kau rupanya! Kukira siapa!" tiba-

tiba Thian Ong berkata begitu, seolah-olah baru tahu

kalau orang di depannya adalah susioknya! Tentu

saja Kiat Bo Hosiang jengkel setengah mati diper-

lakukan seperti itu.

 "Anak setan! Kalau kau tidak berlutut minta

ampun atas semua kekurang ajaranmu ini, niscaya

aku akan menjatuhkan hukuman berat padamu!"

 Air muka Song Thian Ong mendadak berubah

pucat dan sikapnya seolah-olah orang yang ketakut-

an setengah mati mendengar ancaman susioknya

itu. Tiba-tiba dia jatuhkan diri berlutut.

 Anehnya begitu kedua lututnya menyentuh ta-

nah itu jadi melesak dan merupakan lubang besar.

Dan tubuh Thian Ong lantas roboh jatuh. Tapi dia

bangun kembali, melangkah ke bagian tanah yang

rata lalu jatuhkan berlutut lagi. Namun begitu kedua

lututnya mencium tanah hal seperti tadi terjadi lagi.

Tanah itu melesak dalam, tubuhnya kembali jatuh.

Hal ini berkali-kali dilakukan Thian Ong dan pada

akhirnya dia berdiri terbungkuk-bungkuk di hadapan

susioknya seraya berkata:

 “Mohon maafmu, Susiok. Semua tanah di sini

tak ada yang rata. Hingga setiap aku berlutut terus

jatuh. Aku tak dapat menghormatimu secara sem-

purna!"

 Paras Kiat Bo Hosiang berubah mengejam. Dia

tahu betul semua yang dilakukan Thian Ong itu

bukanlah penghormatan melainkan kesengajaan un-

tuk mengejek mempermainkannya. Dan sekaligus

hendak menyombongkan kehebatan tenaga dalamnya 

karena saat itu semua tanah di tempat itu telah

penuh dengan lobang-lobang dalam bekas hantam-

an lutut Thian Ong! Tadipun Kiat Bo Hosiang me-

rasakan betapa setiap kedua lutut pemuda itu me-

nyentuh tanah, tanah jadi bergetar keras!

 "Thian Ong keparat! Yang tak tahu membalas

budi! Kalau bukan aku yang membawamu pada Ik

Bo Hosiang mana mungkin kau berkepandaian sakti

mandraguna dan berilmu silat tinggi! Dan sekarang

ilmu itu yang hendak kau obral di depanku!"

 "Ah, Susiok, budi yang bagaimanakah yang kau

bicarakan ini? Apakah orang menanam budi untuk

mengharap suatu pamrih dikemudian hari sepertiyang kau lakukan saat ini dalam kesempatanmu?"

Thian Ong tertawa gelak dan sampai saat itu masih

saja tegak terbungkuk-bungkuk. Susiok sekarang ini

zaman edan, banyak orang-orang sinting macam aku

ini, tapi tidak berbahaya. Yang berbahaya ialah

orang-orang pandai tapi yang mempergunakan ke-

pandaiannya untuk berbuat segala kesesatan yang

gila! Karenanya jika kau tidak buru-buru keluar dari

kesesatan itu, kau pasti akan dicap gila! Ketahuilah,

aku diminta oleh suhu untuk membawamu ke jalan

yang benar!"

 "Bangsat rendah! Kau rupanya sudah lupa asal.

Anak gembala jembel hina dina hendak memberi

nasihat pelajaran kepadaku! Ingusmupun kau belum

mampu menyekanya!"

 "Ah, kau salah susiok! Apakah kau lihat saat ini

aku sedang ingusan? Celaka, matamu rupanya su-

dah mulai buram!"

 Saat itu Kiat Bo Hosiang sudah tak dapat lagi

membendung kemarahannya. Dia berteriak dahsyat

dan gerakan tangan kanannya ke pinggang. Dilain

kejap berkiblatlah sinar putih menyilaukan ke arah

Thian Ong.


8


TERNYATA Kiat Bo Hosiang telah menyerang murid 

suhengnya itu dengan senjatanya yang paling dahsyat 

yakni tongkat baja yang ujung-ujungnya bercagak dua.

 Sebelumnya 12 tahun yang lewat Thian Ong

telah menyaksikan kehebatan tongkat tersebut, bah-

kan tadi pun Kiat Bo Hosiang telah memperguna-

kannya melawan musuh-musuh tangguh serta hen-

dak dipakai membunuh muridnya sendiri. Dan kini

senjata yang sama dipergunakan pula untuk meng-

hadapi Thian Ong. Dalam waktu singkat pemuda itu

telah terkurung sinar tongkat namun dasar gendeng

dia masih saja tertawa-tawa.

 Penasaran Kiat Bo Hosiang segera robah per-

mainan tongkatnya. Kini senjata itu bergerak lebih

cepat dan suaranya menderu dahsyat. Selama 10

jurus dimuka Thian Ong masih melayani serangan-

serangan susioknya dengan tangan kosong dan

melancarkan serangan balasan dengan mengandal-

kan kebutan-kebutan ujung lengan pakaiannya yang

gombrangi Karena tenaga dalamnya yang luar biasa

angin yang keluar dari ujung-ujung lengan pakai-

annya itu sanggup membuat mental tongkat di ta-

ngan Kiat Bo setiap senjata itu mendekati Thian Ong.

Namun selewatnya 10 jurus pemuda itu mulai ke-

repotan. Saat ini Kiat Bo Hosiang telah keluarkan

ilmu tongkatnya yang terhebat dan bernama "sin

eng-thunghoat" atau ilmu tongkat garuda sakti.

 Serangan tongkat datang bertubi-tubi dan tidak

beda seperti burung garuda yang menyambar-nyam-

bar keseluruh bagian tubuh Thian Ong. Kadang-

kadang menukik seperti hendak mematuk kepala-

nya, kadang-kadang pula menusuk tajam ke perut

atau dada dan tak jarang berkelebat menggempur

tubuhnya sebelah bawah!

 Diam-diam dalam marah dan penasarannya Kiat

Bo Hosiang mengagumi pemuda ganteng itu. Se-

lama ini jarang sekali dia mengeluarkan ilmu tongkat-

nya dalam jurus-jurus yang lihay itu, bahkan ketika

menghadapi dua pembantu-pembantu suhengnya dipuncak Liongsan 12 tahun silam dia sama. sekali

tidak mengeluarkannya. Kini menghadapi murid dari

suhengnya ternyata dia terpaksa harus keluarkan

kepandaiannya yang paling diandalkan itu! Meski-

pun Thian Ong kelihatan terdesak tapi nyatanya si

pemuda masih sanggup melayani sin-eng thonghoat

sampai sepuluh jurus. Padahal tokoh-tokoh silat

ternama yang pernah dihadapinya, paling bantar dua

jurus sudah pasti konyol di tangannya!

 Mendapati kenyataan bahwa susioknya kini ber-

hasil mendesaknya dengan ilmu tongkatnya yang

amat lihay, Song Thian Ong anehnya malah per-

dengarkan suara tertawa gelak-gelak.

 "Bret!" ujung tongkat menyambar robek dada

pakaian Thian Ong. Sedikit saja tongkat itu lebih ke

depan dengan pasti dada pemuda ini akan kena

dilabrak hancur!

 "Tertawalah terus pemuda sedeng!" teriak Kiat

Bo Hosiang. "Sebentar jagi perutmu yang akan ku-

robek!"

 "Enak betul! Kamu musti ganti dulu bajuku yang

robek Tua bangka sesat!" balas berteriak Thian Ong.

Lalu sambil tertawa gelak-gelak dia jungkir balik di

udara tiga kali berturut-turut. Bagi orang yang tidak

berpengalaman, saat lawan berjungkir balik seperti

itu amat empuk untuk dijadikan sasaran serangan

mematikan. Tapi Kiat Bo Hosiang yang sudah ber-

ilmu amat tinggi dan berpengalaman luas, serta

mengetahui pula sedikit seluk beluk ilmu suhengnya,

mengerti betul adalah bahaya besar jika dia me-

lancarkan serangan saat itu.

 Setelah jungkir balik Thian Ong melayang turun

dengan kemudian kedua tangan menuju tanah lebih

dahulu. Sedetik kemudian dia sudah tegak lurus

dengan kepala menempel tanah sedang kedua kaki

dikeataskan. Kakinya yang di ke ataskan ini mem-

buat gerakan aneh dan mendatangkan siuran angin

keras. Kadang-kadang turun naik seperti orang me-

ngayuh. Sesekali menendang-nendang dengan dah-

syatnya, lalu berganti pula berputar-putar. Dan lebih

keblingernya lagi, sambil membuat gerakan aneh

dengan kedua kakinya itu, Thian Ong keluarkan

serulingnya lalu mulai meniup lagu-lagu yang tak

karuan. Terkadang merdu lembut, terkadang melengking-lengking menyakitkan telinga.

 Melihat bagaimana tingkah Thian Ong dalam

pertempuran itu yang seolah-olah mengejek mem

permainkannya, semakin mendidihlah amarah Kiat

Bo Hosiang. Dia teringat pada masa 12 tahun yang

lalu ketika dia membawa Thian Ong ke puncak

Liongsan lalu suhengnya dan dua orang pembantu-

pembantunya membuat Thian Ong seperti bola,

ditendang kian kemari dari satu kaki ke kaki lain

sedang main-main mereka tegak dengan kepala di

bawah kaki ke atas!

 "Pemuda keparat! Asalmu jembel tukang angon

kerbau! Kenapa kini keliwat sombong?!" teriak Kiat

Bo Hosiang. Lalu menyerbu dengan tongkatnya. Tapi

serta merta saja dia tersurut kembali. Ternyata gerak-

an-gerakan kedua kaki Thian Ong yang aneh itu

merupakan benteng pertahanan yang kokoh dan

sekaligus dapat menjalankan serangan berbahaya!

 Tapi Kiat Bo Hosiang masih jauh dari rasa gentar.

Meski dia tak dapat menyerang lawan dari sebelah

atas namun matanya yang tajam segera melihat

bahwa ilmu silat aneh Thian Ong itu memiliki kele-

mahan di sebelah bawah. Jika dia melancarkan

serangan yang hebat antara pinggang sampai ke

bagian kepala lawan yang saat itu menempel di tanah

pastilah dia akan berhasil merobohkan Thian Ong,

sekurang-kurangnya membuat cidera pemuda itu!

 Maka setelah menunggu kesempatan yang baik,

tiba-tiba Kiat Bo Hosiang membuat gerakan yang

bernama "sin-eng-tian-ci" atau garuda sakti pentang

sayap. Kaki kirinya melesat menghantam ke arah

selangkangan Thian Ong sedang dalam detik yang

sama tongkat bajanya menunjuk deras ke arah

tenggorokan si pemuda. Memang dua serangan

yang dilancarkan oleh Kiat Bo Hosiang sekali ini

betul-betul luar biasa. Dua-duanya sulit dikelit saking

cepatnya dan disamping itu merupakan serangan

maut total! Kiat Bo Hosiang yakin salah satu dari

serangan itu pasti akan mengenai sasarannya, ter

utama tusukan tongkat ke arah leher.

 Tetapi adalah kecele kalau Kiat Bo berpikir

demikian. Didahului oleh lengkingan seruling yang

ditiup gila-gilaan kerasnya tiba-tiba tubuh Thian Ong

sebatas pinggang ke kaki melejit ke samping. Inimembuat serangan kaki kiri Kiat Bo hanya mengenai

tempat kosong.

 Disaat yang sama suling di tangan Thian Ong

tiba-tiba membeset laksana kilat dan bret! Robeklah

pakaian putih kakek-kakek itu di sebelah dada.

 Kiat Bo Hosiang kaget sekali. Dia cepat membuat

gerakan untuk menjatuhkan tubuhnya yang sete-

ngah melayang itu dari lawan. Namun masih kurang

lekas karena saat itu tubuh Thian Ong sudah melejit

lurus kembali dan tahu-tahu satu tendangan sudah

mendepak pantat si kekek! Tak ampun Kiat Bo

Hosiang mencelat mental sampai satu tombak. Un-

tung saja meskipun otaknya agak keblinger Song

Thian Ong tidak bermaksud jahat terhadap paman

gurunya itu, kalau tidak pastilah tendangan tadi akan

membuat Kiat Bo Hosiang celaka, sekurang-kurang-

nya cacat seumur hidup.

 Dilain pihak sambil tertawa haha hihi, Thian Ong

bergerak jungkir balik dan berdiri di atas kedua

 kakinya kembali.

 "Susiok! Harap maafkan aku. Kalau saja aku tahu

 pantatmu itu sudah tak ada lagi dagingnya alias

 tulang melulu, pastilah aku tak akan menendang

 pantatmu itu!"

 "Anjing jadah!" maki Kiat Bo Hosiang meng-

 geledek. "Aku mengadu jiwa denganmu!" Lalu kakek

 ini secara menerjang ke depan. Namun gerakannya

 terhenti karena saat itu mendadak terdengar suara

 tawa bergelak :

 "Kiat Bo Hosiangl Ada berapa nyawakah kau

 punya hingga hendak mengadu jiwa dengan pemuda

 itu?! Apa kau tak malu sudah dipermainkan begitu

 rupa?!"

 Kiat Bo Hosiang mengeram macam harimau

 menggerang. Di sekitarnya tiba-tiba saja sisa-sisa

 pasukan Kaisar dan pasukan rakyat yang tadi asyik

 menonton pertempuran hebat luar biasa yang tak

 pernah mereka saksikan sebelumnya, pada lari ber-

 serabutan, ketakutan seolah-olah melihat setan ke-

 pala sebelas!

 Li Bwe Hun dan Thian Ong jadi terheran-heran

 sementara Kiat Bo Hosiang cepat memutar kepala

 ke arah datangnya seruan dan suara tertawa bergelak

tadi. Memandang ke jurusan itu mendadak wajahnyayang beringas gemas kelihatan gembira dan dia

tertawa lebar. Kakek ini lalu menjura.

 "Ah, kiranya Pengho lo-enghiong. Kukira siapal

 Bagus sekali kau datang dan dapat membantu aku

 meringkus pemuda pengacau ini!"

 "Cuma meringkusnya?"

 "Eh... tidak! Membunuhi" sahut Kiat Bo Hosiang

pula. "Aku tidak malu-malu meminta bantuanmu

untuk mengirimnya ke akhirat!"

 Terdengar suara tertawa kembali. "Ahoi! Se-

orang tokoh ternama yang katanya paling lihay di

seluruh Tionggoan hari ini tidak mampu untuk meng-

hadapi seorang pemuda otak miring! Percuma saja

kami orang-orang Mongol memeliharamu, memberi-

kan uang dan harta berlimpah, gedung mewah serta

perempuan cantik. Nyatanya kau sama sekali tidak

berguna bagi kami!"

 Merahlah paras Kiat Bo Hosiang mendengar

kata-kata itu. Namun kali ini kenyataannya dia mati

kutu!


9


SAAT itu di hadapannya Kiat Bo Hosiang berdiri 

seorang kakek kakek berambut pirang dan bermuka 

merah macam kepiting rebus. Tubuhnya kurus tinggi 

dan dia mengenakan jubah biru gelap. Dialah tokoh 

kelas wahid dari Mongol yang dikenal dengan nama 

Pengho. Dibandingkan dengan Kiat Bo Hosiang 

ilmunya memang jauh lebih tinggi.

 Di samping Pengho tegak pula seorang berpa-

kaian rombeng dekil, kurus kering dan bungkuk. Dia

memegang sebuah tongkat di tangan kiri untuk

menopang tubuhnya yang bungkuk tak seimbang

itu. Orang kedua ini adalah kawan kental Pengho,

bernama Wanglie dan bergelar Pengemis Sakti Ta-

ngan Kidal, dan merupakan salah seorang tokoh-

tokoh ternama berasal dari Tibet.

 Orang ketiga yang datang bersama dua tokoh

terdahulu itu ialah seorang pendek bermata juling

yang mukanya tembam selalu berkeringat. Yang

hebat dari menusia ini ialah sepasang lengannya

yang panjang sekali, hampir menyentuh ke tanah.

Dia juga seorang tokoh lihay dari Mongol, yang

kepandaiannya masih satu tingkat di atas Kiat Bo

Hosiang. Nama aslinya tak ada yang tahu. Dia dikenal

dengan gelar Sepasang Tangan Perenggut Jiwa!

 Dengan hadirnya gembong-gembong besar

pihak Mongol ini, tak heranlah kenapa sisa pasukan

Pemerintah dan rakyat kontan ambil langkah seribu

begitu melihat dan mengenali mereka!

 Li Bwe Hun yang saat itu masih tertegak me-

matung dan tak bisa bersuara karena masih tertotok,

yang juga mengenali siapa adanya ketiga manusia

itu, diam-diam terkejut dan mengeluh. Dia sudah

dapat menduga walau betapapun lihaynya pemuda

berpakaian gombrong itu pastilah akan kalah jika

menghadapi Pengho, apalagi jika dikeroyok ber-

sama-sama!

 Sambil rangkapkan tangan di muka dada,

Pengho berpaling pada Thian Ong dan geleng-

geleng kepala.

 Hanya seorang pemuda gendeng begini kau taksanggup menghadapinya? Betul? Memalukan, Kiat

Bo!"

 "Dia memang sedeng, Pengho Loenghiong,"

sahut Kiat Bo Hosiang dengan muka merah. "Tapi

kunasihatkan jangan terlalu dianggap remeh. Dia

adalah murid suhengku Ik Bo Hosiang dari Liong-

san!"

 "Cuma muridnya saja? Itu toh lebih memalukan,

Kiat Bo! Bagaimana lagi kalau suhunya yang jadi

pengacau. Tentu kau sudah modar!" ejek Pengho

pula. Memang pada masa itu bukan rahasia lagi

kalau orang-orang asli Mongol kurang menyenangi

bangsa Han yang dipelihara oleh Kaisar Mongol

secara mewah berlebih-lebihan untuk mengharap-

kan imbal kepandaiannya dalam mencengkeram

Tiongkok. Seolah-olah pada kalangan orang-orang

Mongol sendiri tidak ada tokoh-tokohnya yang lihay.

Dalam pada Itu perlakuan Kaisar Mongol terhadap

orang-orang Han (Tiongkok) kelihatan menyolok

berlebih-lebihan.

 Ejekan Pengho tadi membuat dada Kiat Bo

Hosiang panas dingin bergetar. Tapi dia tak bisa

berbuat lain dari pada berdiam diri.

 Pengho berpaling pada Sepasang Tangan Pe-

renggut Jiwa. Diantara mereka bertiga memang yang

satu ini paling rendah ilmunya tapi dibandingkan

dengan Kiat Bo Hosiang masih lebih tinggi satu

tingkat.

 "Sobatku Perenggut Jiwa, apakah kau bersedia

mengotorkan tanganmu membunuh monyet baju

gombrang yang katanya adalah murid dari Ik Bo

Hosiang?!"

 Si muka tembam Sepasang Tangan Parenggut

Jiwa menyeringai dan basahkan bibir dengan ujung

lidah. Dia melirik dengan matanya yang juling ke

arah Li Bwe Hun, kemudian berpaling pada Kiat Bo

Hosiang.

 "Kiat Bo-Lo Jianpwe, apakah aku ingin aku

membunuh murid suhengmu ini?" bertanya si Pe-

renggut Jiwa.

 "Betul, lakukanlah cepat!" sahut Kiat Bo Hosiang.

 Si Perenggut Jiwa goyangkan kepalanya ke arah

Kiat Bo Hosiang dan berkata lagi: "Nona cantik ini

kalau aku tak salah adalah muridmu, bukan?"Kiat Bo Hosiang mengangguk.

 "Ada satu syarat, Lotjianpwe. Jika aku ingin aku

turun tangan, upahnya kau harus hadiahkan nona

muridmu itu padaku!" Sepasang Tangan Perenggut

Jiwa memang seorang tokoh silat Mongol yang

terkenal hidung belang. Habis berkata demikian dia

melirik pada Bwe Hun, leletkan lidah lalu tertawa

mengekeh.

 Tiba-tiba suara tawanya itu ditimpali lebih hebat

oleh suara seorang lainnya ternyata adalah Song

Thian Ong! Dan mendengar suara pemuda itu,

Pengho kernyitkan kening, Pengemis Sakti Tangan

Kidal mendongak ke langit sedang si Perenggut Jiwa

tertegun! Mereka sama terkesiap mendapatkan ba-

gaimana suara tertawa Thian Ong itu mereka rasakan

membuat tanah bergetar.

 Masing-masing saling pandang sesaat, kemu-

dian Pengho berbisik: "Hanya pemuda edan macam

dia apa pula artinya tak perlu ditakutkan!"

 Sepasang Tangan Perenggut Jiwa menggaruk

lalu berpaling pada Kiat Bo Hosiang.

 "Bagaimana Lotjianpwe?"

 Kiat Bo Hosiang memang sudah miring jalan

pikirannya, ditambah pula saat itu dia disungkup

amarah serta malu luar biasa. Karenanya menceplos

saja jawabannya:

 "Terserah padamu kau mau buat apa atas diri

gadis laknat itu! Tadipun aku hendak membunuhnya!"

 Mendengar jawaban ini si Perenggut Jiwa ternyata 

puas.

 "Ah rejekimu besar nian hari ini, Sobat," berkata

Pengho seraya menepuk bahu hambratnya itu.

 Si Perenggut Jiwa basahi bibirnya dengan ujung

lidah. Sambil mengedipkan matanya yang juling

pada Li Bwe Hun dia berkata : "Nonaku, kau tung-

gulah sebentar. Saksikanlah bagaimana aku meng-

hajar pemuda gila itu. Kemudian kita berdua ting-

galkan tempat ini, pergi bersenang-senang di atas

ranjang."

 Li Bwe Hun benar-benar tak menyangka kalau

hati gurunya demikian bejatnya. Tapi apakah daya-

nya? Harapannya satu-satunya kini terletak pada

Song Thian Ong. Dapatkah pemuda berotak miring

ini mengalahkan si Perenggut Jiwa? Kalaupun dapatlantas apakah dia mampu pula melawan Pengemis

Sakti Tangan Kidal serta Pengho? Bagaimana kalau

orang-orang itu kemudian mengeroyoknya? Betapa-

pun lihaynya pemuda murid Ik Bo Hosiang itu namun

adalah mustahil dia akan sanggup menghadapi mu-

suh-musuh tangguh demikian rupa. Dan ini berarti

celakalah dirinya sendiri!

 "Ah, mengapa Tuhan tidak mencabut saja

nyawaku saat ini!" keluh Li Bwe Hun dalam hati dan

air mata mulai menggenangi pelupuk-pelupuk mata-

nya.

 Dalam pada itu dengan mengumbar suara ter-

tawa mengekeh si Perenggut Jiwa melangkah men-

dekati Thian Ong. Sebaliknya Thian Ong tampak

acuh tak acuh, malah membelakangi musuh yang

datang mendekat itu, berpaling menghadap Kiat Bo

Hosiang dan dengan jari telunjuk tangan kirinya

diacungkannya tepat ke hidung orang tua ini.

 "Tua bangka sedengl Kau betul lebih sinting dari

manusia edan manapun di dunia ini. Hatimu bejat

dan keji. Bukannya memberi hajaran malah menye-

rahkan bulat-bulat tubuh dan kehormatan murid

sendiri pada si pendek juling ini!"

 Paras Kiat Bo Hosiang jadi merah saga. Dia

membentak: "Tutup mulutmu Bwe Hun bukan murid-

ku lagi! Kau hadapi saja musuh si Pendekar Pe-

renggut Jiwa untuk menerima mampusmu!"

 "Kaulah yang lebih dulu layak mampus!" teriak

Thian Ong, lalu menggebrak tanah dengan kaki

kirinya hingga tanah itu tenggelam sampai satu

jengkal. Tubuhnya berkelebat ke depan melancarkan

hantaman satu pukulan tangan kosong yang hebat

namun saat itu belakangnya terdengar deru yang

deras. Ternyata Sepasang Tangan Perenggut Jiwa

telah ulurkan kedua tangannya dan dalam gerakan

kilat siap untuk menangkap batang leher Thian Ong

yang telah lengah membelakangi. Sekali leher itu

kena tertangkap nyawa murid Ik Bo Hosiang yang

agak berotak miring itu pastilah tak akan tertolong!

 Memang sesuai dengan gelarnya yaitu Se-

pasang Tangan Perenggut Jiwa maka tokoh silat

Mongol bermata juling itu memang memiliki se-

pasang tangan yang luar biasa hebatnya. Selain

cepat dalam gerakan juga memiliki kekuatan atosdan ampuh.

 Baik Kiat Bo Hosiang maupun Wanglie (Pe-

ngemis Sakti Tangan Kidal) serta Pengho sudah

dapat memastikan bahwa dengan sekali gerakan

kilat saja dan saat lawan dalam keadaan lengah, si

Perenggut Jiwa betul-betul akan dapat merenggut

lepas nyawa Thian Ong.

 Pada saat itu, ketika merasakan sambaran angin

di belakangnya, Song Thian Ong maklum kalau

dirinya tengah diserang orang secara pengecut. Dia

menggerendeng dan rundukkan tubuh sedikit sambil

memutar dan serentak dengan itu tangan kirinya

yang tadi dipergunakan untuk menuding hidung Kiat

Bo Hosiang kini dipakainya sebagai kemplangan

menebas ke arah datangnya serangan!

 Buk!

 Terdengar suara bergedebukan yang keras ke-

tika lengan kiri Thian Ong beradu dengan lengan

kanan si Perenggut Jiwa.

 Tokoh lihay dari Mongol ini merasakan tubuhnya

terbanting ke kiri sampai empat langkah tapi lengan-

nya sama sekali tidak cedera bahkan terasa sakit

pun tidak! Inilah kehebatan ilmu kebal sepasang

tangan yang dimilikinya. Padahal jangankan manu-

sia, batang pohon pun kalau sampai kena digebuk

lengan Thian Ong yang berisi kekuatan tanaga-dalam

luar biasa itu, pastilah akan remuk berantakan!

 Kini Pengho dan Pengemis Sakti Tangan Kidal,

lebih-lebih si Perenggut Jiwa sendiri baru terbuka

matanya. Meskipun jago silat dari Mongol ini tidak

cidera namun tubuhnya yang terlempar sampai se-

jauh empat langkah itu cukup membuktikan bahwa

Thian Ong meskipun gendeng tapi betul-betul tak

bisa dibuat main. Padahal sesungguhnya murid Ik

Bo Hosiang dari Gunung Naga itu hanya membuat

gerakan acuh tak acuh dan tidak pula disertai ke-

kuatan tenaga dalam yang berarti)

 Walau dia tidak apa-apa, namun Perenggut Jiwa

merasa malu sekali karena lawan gila yang diang-

gapnya remeh dan gila itu ternyata tak dapat diberes-

kannya dalam satu gebrakan saja.

 Didahului dengan bentakan galak dia sengaja

keluarkan jurus silatnya yang terlihay untuk me-

nebus rasa malunya yakni jurus yang bernamasiang-lui-guisan' atau sepasang petir membelah

gunung!

 Kehebatan jurus ini memang luar biasa. Sepasang

tangan si Perenggut Jiwa kini hanya merupakan ba-

yangan sinar putih dan mengeluarkan suara keras

setiap serangan dilancarkan. Tampaknya Thian Ong

kerepotan dibuatnya meskipun dia sudah lancarkan

serangan balasan dengan kebutan ujung lengan pa-

kaiannya yang gombrong. Semakin lama pertempuran

semakin seru. Tiba-tiba Thian Ong membentak nyaring

dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke atas, turun lagi

dengan kaki ke atas kepala ke bawah.

 Pemuda ini agaknya merobah permainan silat-

nya dan mengeluarkan ilmu yang tadi telah diper-

gunakannya dalam menghadapi Kiat Bo. Namun

setiap tendangan yang dilancarkannya selalu dapat

dikelit atau ditangkis oleh tangan si Perenggut Jiwa.

 Thian Ong jadi penasaran. Dia jungkir balik

kembali dan kini mainkan jurus silat baru. Memang,

si Siperenggut Jiwa jadi terdesak hebat namun

sekalipun tubuhnya terbanting atau tercelat mental

selama dia masih sanggup mempergunakan sepa-

sang tangannya yang benar-benar ampuh untuk

menangkis maka dia sama sekali tak mengalami

cidera. Lama-lama Thian Ong jadi beringas.

 Murid Ik Bo Hosiang ini mencak-mencak macam

orang kemasukan setan. Tapi setiap tangannya dige-

rakkan, menghamburlah pukulan-pukulan ganas

yang dialiri tenaga dalam tinggi. Berkali-kali si Pe-

renggut Jiwa jatuh bangun dihantam pukulan tangan

kosong itu. Akan tetapi karena dia selalu memper-

gunakan kedua lengannya untuk menangkap maka

setiap jatuh dia cepat bangun kembali dan balas

menyerang!

 20 jurus berlalu. Si Perenggut Jiwa kelihatan

mandi keringat, pakaian kusut masai dan muka

celemongan karena berulang kali jatuh atau ter-

guling-guling di tanah. Sebaliknya Thian Ong masih

biasa saja, hanya suara menggerendeng tak hentinya

keluar dari mulutnya. Selagi dia berpikir-pikir bagai-

mana dapat merobohkan lawan yang memiliki se-

pasang tangan laksana benteng baja itu, tibat-tiba

terdengarlah siulan nyaring menusuk telinga yang

disusul dengan suara orang menyanyi.

20 jurus berlalu percuma

Hanya karena serangan membabi buta

Dua tangan memang laksana benteng baja

Untuk apa diserang menghabiskan tenaga?

 

 Semua orang yang ada di situ terkejut, termasuk

Thian Ong. Pemuda ini melompat mundur dan men-

dongak ke atas pohon, dari arah mana suara orang

menyanyi itu datang. Pada cabang sebuah pohon

tampak duduk seorang pemuda asing tak dikenal,

rambutnya gondrong dan mulutnya penuh berisi

buah apel yang digerogotinya.

 Melihat pemuda di atas pohon, Thian Ong tiba-

tiba tertawa bergelak.

 "Gondrong! Tampangmu tolol dan lagakmu juga

edan seperti aku! Jika kau merasa berkawan dengan

aku, silahkan turun beri petunjuk!"

 Tapi orang di atas pohon tidak mau turun, malah

kembali bersiul-siul lalu menyanyi lagi:

Segala sesuatunya tidak sempurna

Otakmu tidak seluruhnya gila

Pergunakan bagian yang tidak gila

Untuk menduga dan mereka

Bahwa tidak seluruhnya sekeras baja

Diantara yang keras ada yang lemah

Pada kelemahan terdapat kelembutan

Dan kelembutan pangkal celaka.

 Orang di atas pohon kunyah terus buah apel

dalam mulutnya lalu garuk-garuk kepala. Thian Ong

ikut-ikutan garuk-garuk kepalanya. Dia memandang

lagi pada si gondrong di atas pohon, lalu tertawa.

 "Aku mengerti... aku mengerti sekarang cihuy

terima kasih! Kau memang kawanku, memang sobat

ku! Cihuyl" Thian Ong kelihatan girang sekali dan

sampai-sampai dia membuat gebrakan jungkir balik

di udara beberapa kali. Begitu kakinya menginjak

tanah kembali, langsung dia menuding si pendek

Perenggut Jiwa dan berkata keras.

 "Mata juling, ayo kita bertempur lagi." Lalu dia

berpaling pada Pengho, Pengemis Sakti Tangan

Kidal dan Kiat Bo Hosiang. "Manusia-manusia pen-

jajah, sekarang kalian lihat bagaimana aku akan

merobohkan jagomu ini dalam satu jurus!'

 Thian Ong tertawa lagi gelak-geiak. Selagi dia

tertawa begini si Perenggut Jiwa menyerbunya de-

ngan hebat. Serangannya datang bertubi-tubi selama

lima jurus. Di jurus keenam, Thian Ong melakukan

pembalasan. Dia lancarkan serangan ganas dengan

tangan kiri ke arah batok kepala Thian Ong demikian

rupa hingga tak bisa dikelit dan mau tak mau si

Perenggut Jiwa harus pergunakan lengannya untuk

menangkis. "Buk!"

 Lagi-lagi sepasang lengan mereka beradu.

Namun disaat yang sama Thian Ong kirimkan jotosan

selusupan ke arah perut lawan. Dan perut si Pereng-

gut Jiwa tidaklah mempunyai ilmu kebal seperti yang

dimiliki kedua lengannya. Manusia ini menjerit se-

tinggi langit ketika tubuhnya terlempar empat meter,

menggeletak tak berkutik lagi, mati dengan perut

bobol!

 "Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih saha-

batku?" teriak Thian Ong berulang kali sambil jing-

krak-jingkrakan lalu melesat ke cabang pohon di

mana pemuda gondrong yang makan buah apel itu

nongkrong.

 "Eh, apakah kau doyan apel, Sahabatku!" berkata

si gondrong.

 "Thian Ong manggut-manggut, lantas saja di

keruk saku pakaian si gondrong dan sambar dua

buah apel. Keduanya sambil tertawa-tawa kemudian

asyik mengunyah buah-buah apel itu seolah-oleh

tidak perduli di mana mereka berada, seolah-oleh

tidak ada terjadi apa-apa di situ!"

 "Manusia-manusia sinting! Gila!" maki Pengho

dengan mata mendelik dan meludah ke tanah.

 "Kalau tidak karena diberi tahu oleh si gondrong

itu kambrat kita si Perenggut Jiwa tak bakal mati di

tangannya 'Pengho Lo enghiong, apakah kau kenal

siapa bangsat gila yang berambut gondrong itu?"

 "Tak pernah kuketahui siapa dia adanya. Mung-

kin sute atau suheng dari keparat bernama Thian

Ong itu?"

 Kiat Bo Hosiang gelengkan kepala. Ik BoHosiang tak pernah mengambil murid lain dari pada

Thian Ong bocah penggembala hina dina itu. Pemu-

da yang gondrong ini jelas bukan orang Han!"

 Sementara itu di atas pohon saking girangnya

Thian Ong begitu tenggak habis dua buah apel lantas

keluarkan serulingnya dan tiup benda itu keras

membawakan lagu gembira.

 "Ah Sobat! Kau ternyata pandai sekali main

suling. Boleh aku ikut menimpali?!" bertanya si

gondrong.

 "Tentu, tentu saja!" sahut Thian Ong gembira

sambil ongkang-ongkang kaki. "Silahkan! Silahkan!"

 Si gondrong merogoh pinggang pakaiannya se-

saat kemudian terlihatlah sinar menyilaukan. Ter-

nyata pemuda ini keluarkan sebuah senjata ber-

bentuk kapak bermata dua yang pada mata-matanya

yang menyilaukan itu tertera angka 212. Kapak aneh

ini gagangnya terbuat dari gading dengan ukiran

kepala naga pada sebelah bawahnya, sedangkan

pada batang gagang terdapat lobang-lobang. Dan

ketika pemuda ini tempelkan bibirnya ke bibir naga-

nagaan lantas meniup, maka membersitlah suara

lengkingan seperti tiupan seruling, dahsyat luar

biasa.

 Kiat Bo Hosiang, Pengho dan Pengemis Sakti

Tangan Kidal merasakan telinga masing-masing ber-

getar sakit. Buru-buru mereka tutup indera pen-

dengaran. Tapi dada masing-masing masih saja

terasa bergetar. Hebat sekali. Sungguh belum pernah

mereka menyaksikan dan mendengar tiupan-tiupan

suling yang demikian luar biasa hingga. Menggetar-

kan tanah yang mereka pijak dan mempengaruhi

mereka. Pengho, sebagai orang yang paling tinggi

ilmunya tahu betul kalau saja dia dan kawan-kawan-

nya masih merupakan jago silat kelas rendah pasti-

lah telinga masing-masing telah rusak berdarah

mendengar tiupan suling yang luar biasa karena

disertai aliran tenaga dalam dahsyat itu!

 "Merdu sekali! Merdu sekali!" teriak Thian Ong.

Lalu tiup sulingnya lebih keras.

 Pengho tokoh silat kelas wahid dari Mongol tak

dapat lagi menahan kejengkelannya. Amarahnya

meluap karena dia merasa seolah dipermainkan . Di

samping itu Thian Ong harus mati untuk menebusnyawa si Perenggut Jiwa yang telah dibunuhnya!

 "Thian Ong pemuda keparat! Turunlah untuk

menerima kematian!" teriak Pengho menggelegar

diantara hiruk-pikuknya tiupan-tiupan suling.

 Tapi Thian Ong dan juga si gondrong tidak ambil

perduli malah kini ongkang-ongkang kaki dan terus

meniup suling masing-masing dalam lagu tanpa

nada tak karuan!

 Mendidihlah amarah Pengho tokoh dari Mongol

ini angkat tangan kanannya dan menghantam ke

atas pohon!


10


SATU gelombang sinar hitam menggebu ke arah 

cabang pohon di mana Thian Ong dan pemuda 

gondrong yang bukan lain adalah Wiro Sableng si 

Pendekar 212 tengah duduk ongkang-ongkang kaki 

enak-enakan sambil tiup suling.

 Terdengar suara keras hancurnya cabang pohon

serta rontoknya dedaunan yang kemudian disusul

oleh tumbangnya pohon besar itu.

 Tapi suara tiupan dua suling sama sekali tidak

berhenti dan baik Wiro maupun Thian Ong tidaklah

menemui celaka dihantam pukulan sakti tadi karena

sebagai orang-orang berkepandaian tinggi tentu saja

mereka tahu bahaya dan siang-siang sudah ber-

kelebat turun ke tanah. Begitu sampai di tanah enak

saja mereka duduk menjelepok dan terus memain-

kan suling!

 Kiat Bo Hosiang melengak, Pengemis Sakti Ta-

ngan Kidal naik turun tenggorokannya sedang

Pengho Lio Bwe Hun yang saat itu masih berada

dalam keadaan tertotok meskipun hatinya cemas

setengah mati namun melihat tingkah dua pemuda

yang agaknya sama-sama keblinger itu dalam hati

jadi tertawa geli. Menghadapi tiga tokoh silat begitu

lihay keduanya masih saja gila-gilaan, padahal maut

sudah di depan mata!

 "Thian Ong manusia keparat. Lekas ke sini untuk

menerima kematian!" teriak Pengho.

 "Ah, di sini banyak pengganggu. Bagaimana

kalau kita main suling di tempat lain saja?" ujar Thian

Ong seraya hentikan permainannya dan masukkan

sulingnya ke balik pinggang pakaiannya yang gom

brong. Wiro pun hentikan permainannya, masukkan

Kapak Naga Geni 212 ke balik pakaiannya.

 "Mari!" kata Wiro pula seraya berdiri mengikuti

Thian Ong.

 "Bangsa!, kau mau pergi ke mana?'" teriak

Pengho lalu berpaling pada Pengemis Sakti Tangan

kidal dan memerintah : "Bunuh dia!"

 Pengemis Sakti Tangan Kidal mendongak ke

langit lalu tertawa melengking? Terima kasih

Pengho - twako, memang aku sudah lama tak mem-

bunuh orang. Hari ini tanganku yang sudah gatai

akan dapat bagian!"

 Sambil melintangkan tongkat kayu yang dipe-

gangnya di tangan kiri, Pengemis Sakti Tangan Kidal

maju mendekati Thian Ong.

 "Thian Ong, kaum ditakdirkan mampus di ta-

nganku. Nah, bersiaplah untuk mati!"

 "Eh, Sobat," ujar Thian Ong sambil menepuk

bahu Wiro. "Lagak kakek-kakek bungkuk itu seperti

malaikat maut saja. Apakah begini tampangnya

malaikat maut!"

 Wiro garuk-garuk kepala.

 "Entahlah, aku pun belum pernah melihat. Tapi

aku yakin malaikat maut tampangnya lebih cakepan

dari tua bangka keriputan ini' sahut Wiro pula sambil

cengar-cengir.

 Kedua anak geblek itu lantas tertawa terpingkal-

pingkal.

 Wut!

 Entah kapan dia bergerak tahu-tahu tongkat di

tangan kiri Pengemis Sakti Tangan Kidal sudah

membabat ganas ke batok kepala Thian Ong. Mes-

kipun tadi kelihatannya acuh tak acuh namun begitu

diserang murid Kiat Bo Hosiang ini ternyata waspada

sekali. Secepat kilat dia jatuhkan diri, kedua tangan

lebih dulu mencapai tanah. Sesaat kemudian kedua

kakinya telah melancarkan serangan balasan. Satu

mendepak ke arah perut sedang lainnya menendang

ke tenggorokan lawan. Namun tingkat kepandaian

si kakek bungkuk ini lebih tinggi dari si Perenggut

Jiwa. Ilmu tongkatnya lebih lihay dari Kiat Bo

Hosiang. Dua serangan itu dikelitkannya dengan

mudah, bahkan kini tongkat di tangan kirinya me-

nyapu-nyapu dahsyat sekali.

 Song Thian Ong dalam tingkahnya yang gila-

gilaan itu beberapa kali hampir kena dihantam sen-

jata lawan. Dan masih saja dia bertingkah aneh yang

bukan-bukan sambil tak lupa mengejek dan mencaci

maki lawannya sehingga Wanglie alias Pengemis

Sakti Tangan Kidal penasaran setengah mati.

 Dengan matanya yang tajam dan pengalaman

luas, Pengho si tokoh utama di Mongol segeramelihat bahwa sesungguhnya Thian Ong memiliki

dasar ilmu silat yang iebih hebat dari Pengemis Sakti

Tangan Kidal. Buktinya sampai 20 jurus di muka

pemuda ini masih melayani tokoh lihay yang berasal

dari Tibet itu dengan tangan kosong! Cuma karena

tingkahnya yang aneh dan gila-gilaan itulah yang

membuat dia seolan-olah tak mau menurunkan ta-

ngan jahat dan hanya ingin mempermainkan musuh.

 "Kiat Bo Hosiang! Kau bantulah Pengemis Sakti!'

berseru Pengho setelah 20 jurus lagi berlalu tanpa

kambratnya itu bisa melakukan sesuatu terhadap

Thian Ong.

 Kiat Bo Hosiang cabut tongkat bajanya dan

menyerbu ke dalam kalangan pertempuran.

 "Curangi" teriak Wiro marah.

 "Orang asingi Tutup mulutmu!' sentak Pengho.

"Kau tak ada hak mencampuri urusan orang lain!

Lekas angkat kaki dari sini kaiau tidak ingin ku-

gebuk!"

 "Eit enak betui memerintah orang. Kau kira aku

ini kacungmukah?! Makan ini!" teriak Wiro sambil

keluarkan sisa satu buah apel dari dalam sakunya.

buah ini dilemparkannya dengan sebat. Pengho

bergerak cepat tapi dia kecele karena Wiro sama

sekali tidak menyerangnya, melainkan melemparkan

buah apel itu ke arah Li Bwe Hun yang masih tegak

tak berdaya karena ditotok.

 "Buk!"

 Buah apel itu mencerai tepat di tengkuk Li Bwe

Hun. Totokan yang sejak tadi menguasai si gadis

serta merta buyar karena memang disitulah sebelum-

nya Thian Ong teiah menotok Bwe Hun yakni se-

waktu gadis ini hendak melarikan diri dari Kiat Bo

Hosiang yang hendak membunuhnya.

 "Nona, tadi kau telah diselamatkan oleh pemuda

itu. Sekarang bantulah dia!" seru Wiro.

 Li Bwe Hun katupkan bibirnya rapat-rapat. Ke-

mudian seolah-olah patuh, dia memungut sebilah

golok milik bekas seorang prajurit Kerajaan dan

tanpa banyak bicara terus ke kalangan pertempuran!

 Sebenarnya Wiro merasa yakin kalau Thian Ong

tak akan mudah dikalahkan sekalipun dikeroyok dua

orang oleh Pengemis Sakti Tangan Kidal dan susiok-

nya sendiri. Namun Pendekar 212 ini yang sudahgatal tangan ingin ikut bertempur, diam diam men-

dapat akal Maka dilepaskannya totokan Bwe Hun

lalu disuruhnya gadis ini membantu Thian Ong.

Mendapat bantuan ini dengan sendirinya Thian Ong

semakin sulit untuk dirobohkan malah kebalikannya

dua lawannyalah kini yang berada dalam kedudukan

sulit!

 Dan hal ini diketahui oleh Pengho si tokoh lihay

dari Mongol. Sebenarnya dia tidak perlu mengkha-

watirkan keselamatan Kiat Bo Hosiang. bahkan dia

ingin sekali kakek-kakek bangsa Han yang sejak

lama dibencinya itu mampus saat itu juga. Namun

dia sama sekali tak ingin kalau kambratnya dari Tibet

yakni Pengemis Sakti Tangan Kidal sampai celaka.

Maka tak menunggu lebih lama lagi, Pengho segera

menyerbu pula ke dalam kancah pertempuran.

Justru inilah yang dikehendaki Wiro!

 "Tua bangka bermuka kepiting rebus!" teriak

Wiro memaki Pengho yang memang memiliki tam-

pang merah seperti kepiting rebus. "Aku lawanmu,

jangan main keroyok!

 Mendengar makian itu dan melihat Wiro ber-

kelebat ke arahnya serta merta Pengho lepaskan

pukulan saktinya yang tadi telah dikeluarkannya

waktu menyerang Wiro dan Thian Ong di atas pohon.

 Sinar hitam menderu ganas ke arah Pendekar

212. Wiro kaget juga karena tak menyangka begitu

mulai berkelahi lawan sudah lancarkan serangan

pukulan sakti itu. Memang Pengho tak mau kepalang

tanggung menghadapi lawan yang sudah diduganya

tidak berkepandaian rendah itu. Apalagi karena pe-

tunjuk Wirolah sampai Thian Ong berhasil mem-

bunuh si Perenggut Jiwa. Dengan sendirinya den-

dam serta kebencian bertumpuk jadi kemarahan

yang bukan alang kepalang.

 Wiro keluarkan siulan melengking lalu lepaskan

pukulan sinar matahari ke depan. Sedangkan sinar

putih panas dan menyilaukan bergemuruh memapas

sinar hitam serangan Pengho.

 Bumi terasa bergetar ketika dua pukulan sakti

itu bentrokan di udara dengan mengeluarkan suara

yang hebat! Tubuh Pengho terhuyung sampai lima

langkah ke belakang sedang tangan kanannya sam-

pai sebatas pangkal bahu terasa sakit berdenyutdenyut. Diiain pihak sepasang kaki Pendekar 212

Wiro Sableng melesak sampai setengah jengkal dan

tubuhnya bergetar.

 Paras Pengho berubah pucat. Sebagai tokoh

kelas satu di seluruh Mongol baru kali ini dia meng-

alami bentrokan pukulan sakti yang hebat. Jelas

sudah bahwa pemuda rambut gondrong itu memiliki

kepandaian luar biasa dan agaknya tidak berada di

sebelah bawah sobatnva si orang Han yaitu Song

Thian Ong.

 "Celaka! Naga-naganya aku bakal mendapat ke-

sulitan!" membathin Pengho dengan hati tidak enak.

Dan dia semakin tak enak lagi ketika melihat bagai-

mana kambratnya Pengemis Sakti lengan Kidal yang

membantu Kiat Bo Hosiang berada dalam keadaan

terdesak, bahkan sesaat kemudian Thian Ong yang

mempergunakan serulingnya sebagai senjata dan

mainkan jurus-jurus silat aneh berhasil memukul

mental tongkat kayu Pengemis Sakti!

 "Tahan, seru Pengho tiba-tiba seraya melompat

menjauhi Wiro. "Sobatku Pengemis Sakti, kurasa

cukup sudah kita main-main dengan orang-orang

ini. Kita masih ada urusan lain yang lebih penting

harus diselesaikan. Iain hari saja kita layani mereka

kembali. Mari!"

 Pengemis Sakti Tangar» Kidal yang maklum apa

arti kata-kata Pengho itu dsn menyadari pula keada-

an mereka yang sulit bahkan bakal celaka jika bicara

lagi segera meninggalkan tempat itu menyusu!

Pengho yang telah berkelahi pergi lebih dulu tanpa

memperdulikan Kiat Bo Hosiang.

 Kiat Bo Hosiang yang ditinggal sendirian, sesaat

jadi tertegun. Hendak menyusul kabur keadaannya

terjepit antara Thian Ong dan Bwe Hun. Dan saat itu

sambil menyeringai Thian Ong datang mendekati.

 Kasihan kau tak mempunyai kesempatan kabur,

susiok ku yang sesat. Dan lebih kasihan lagi karena

suhu telah berpesan bahwa jika seseorang sesat tak

mau insaf dan tobat adalah layak untuk dibunuh'"

 Sebagai penutup kata-katanya Thian Ong lantas

kirimkan tusukan dengan serulingnya ke arah dada

Kiat Bo Hosiang. Orang tua ini agak gugup. Meskipun

dia sempat berkelit tapi tak urung bahunya masih

kena keserempet hingga dagingnya terkelupas. Dengan menggembor marah Kiat Bo Hosiang mengi-

rimkan serangan balasan. Tongkat bajanya bersuit

suit mengeluarkan sinar putih.

 Tapi bagaimana pun juga tingkat kepandaian

Kiat Bo Hosiang tidak mampu menghadapi murid

keponakannya itu. Kalau dalam pertempuran sebe-

lumnya Thian Ong banyak mengejek dan main-main,

maka kini jurus silat yang dikeluarkannya betul-betu!

aneh dan tidak main-main lagi. Setelah perkelahian

berlangsung empat jurus tiba-tiba pendekar aneh

berbaju gombiong dari Gunung Naga ini berteriak:

"Awas tongkat!"

 Baru saja kata-katanya itu berakhir, tahu-tahu

tongkat baja di tangan Kiat Bo Hosiang sudah

terlepas kena dirampas.

 "Lihat suling/' terdengar lagi seruan Thian Ong.

Dan detik Itu pula suling di tangannya telah menyam-

bar ke arah leher si kakek tanpa sempat berkelit lagi.

Kiat Bo Hcsfanu hanya bisa mendelik kaget melihat

datangnya maut.

 Sedetik lagi suling itu akan menusuk amblas

leher Kiat Bo Hosieng tiba-tiba terdengar teriakan

Bwe Hun :

 "Tahan! Jangan bunuh dia!"

 Thian Ong tersentak heran. Masih untung dia

sempat ubah arah tusukan sulingnya hingga benda

ini hanya menyambar robek bahu pakaian Kiat Bo

Hosiang.

 "Eh, apa-apaan kau Nona Li?!" bertanya Thian

Ong. Sedang Wiro juga heran sambil garuk-garuk

kepala.

 Yang paling heran tentu saja Kiat Bo Hosiang.

Seharusnya dia sudah menemui ajal saat itu.

 "Nona, tadi kau hendak dibunuhnya dan malah

mencoba pula untuk menamatkan riwayatnya. Seka-

rang kenapa kau mencegah aku membuat dia ko-

nyol?!" bertanya kembali Thian Ong. "Ingat, manusia

sesat pengkhianat semacam ini amat berbahaya.

Ular berkepala dua seperti dia harus dibunuh!"

 "Betapa pun sesat dan jahatnya, dia tetap adalah

suhuku," jawab Bwe Hun dengan suara bergetar.

 Kiat Bo Hosiang terkesiap. Dadanya berdebar

dan wajahnya pucat. Apakah sebenarnya kehendak

Bwe Hun bekas muridnya itu? Hendak membalasnyaatau hendak turun tangan sendiri membunuhnya?

 "Suhu!" tiba-tiba Bwe Hun melangkah ke depan

gurunya. "Kurasa kau masih bisa diperbaiki. Kurasa

kau masih bisa keluar dari segala macam comberan

busuk yang kau renangi selama ini. Jika kau sadar

dan berjanji untuk kembali ke jalan yang benar,

kurasa murid suhengmu ini pasti akan mengampuni-

mu. Bagaimana...."

 Semakin pucat wajah Kiat Bo Hosiang. Tiba-tiba

saja sepasang matanya berkaca-kaca. "Tak mung-

kin," desisnya. "Aku telah terlalu jauh dalam ke-

sesatan. Aku pengkhianat paling terkutuk. Kau bu-

nuhlah aku sekarang. Aku.tak akan melawan. Thian

Ongl Bwe Hun! Bunuh aku sekarang juga!" Si kakek

lalu jatuhkan diri dan buang tongkat bajanya, me-

nangis tersedu-sedu.

 "Suhu, tak ada dosa yang tak berampun. Kalau-

pun kau merasa telah berbuat dosa dan kesalahan

besar kurasa masih ada jalan untuk menebusnya.

Yaitu bersama-sama kami memusnahkan kaum pen-

jajah Mongol yang selama ini mendatangkan mala-

petaka."

 "Itu betul!" seru Thian Ong yang tiba-tiba saja

kasihan melihat susioknya itu.

 "Tapi syaratnya satu," menyelinap Wiro. "Asal

jangan dia menipu kita. Kalau tidak bisa berabe

seumur-umur!"

 "Kalau... kalau kalian memang bersedia mem-

berikan pengampunan dan ingin berjuang bersama,

aku rasa memang inilah kesempatan bagiku untuk

menebus dosa...."

 "Berdirilah suhu, mari kita atur rencana," kata

Bwe Hun pula seraya memegang bahu Kiat Bo

Hosiang dan memungut senjata kakek ini.

 Menurut Kiat Bo Hosiang yang paling tahu seluk

beluk kekuatan pasukan Mongol, adalah sulit untuk

menumpas habis pasukan-pasukan Mongol yang

kuat dan banyak disekitar perbatasan. Sebenarnya

bala tentara Mongol bukanlah apa-apa jika saja

mereka bisa memusnahkan pusat dan orang-orang

yang mengatur semua kekuatan itu, yang sekaligus

menjadi pengatur dari segala kegiatan penjajahan.

Pusat kekuatan dan pengaturan ini terletak di kotaAnsi, tak berapa jauh dari perbatasan. Di sini terdapat

sebuah gedung besar yang merupakan markas dari

pada tokoh-tokoh Mongol, terdiri dari "arsitek" dan

"pelaksana" pejajahan. Mereka adalah orang-orang

yang berkepandaian silat tinggi, diantaranya Pengho

sebagai kepala dan wakil Raja Mongol, lalu seorang

jenderal bernama Karfi Khan, kemudian Penghu,

sute dari Pengho, ditambah dengan Pengemis Sakti

Tangan Kidal dan kira-kira selusin perwira-perwira

tinggi yang lihay.

 "Terus terang saja, sebelumnya aku pun menjadi

salah seorang diantara mereka di sana. Namun

syukur kalian telah membuka kedua mataku. Jika

kita sanggup mengobrak-abrik markas mereka itu

dan membunuh semua tokoh yang ada di situ kukira

hancurlah induk kekuatan kaum penjajah Mongol.

Balatentara Mongol yang banyak tak ada artinya. Tak

lebih dari serombongan anak ayam yang kehilangan

induk. Dalam pada itu aku tahu betul bahwa prajurit-

prajurit Mongol telah muak dengan peperangan apa-

lagi kekejaman-kekejaman yang lewat batas ke-

manusiaan yang selama ini diperlihatkan oleh pim-

pinan mereka. Cuma satu hal yang diperhatikan,

markas tokoh-tokoh Mongol banyak alat rahasianya!"

 Sesaat semua orang terdiam setelah mendengar

keterangan Kiat Bo Hosjang itu.

 "Bagaimana...?" Bwe Hun bertanya.

 "Kita menyerbu ke sana!" Thian Ong menyahut.

 "Betul, kita menyerbu ke sana! ujar Wiro pula.

 'Bagus! Sebaiknya kita berangkat sekarang

juga!" kata Kiat Bo Hosiang dan disetujui oleh semua

orang. Maka keempat menusia berkepandaian tinggi

itu pun berkelebat meninggalkan tempat itu. Kalau

tadi di tempat itu suasananya hiruk-pikuk maka kini

jadi sunyi tapi tetap saja mengerikan karena di sana

sini bertebaran puluhan mayat.


11


SETELAH melakukan perjalanan yang cukup sulit 

hampir selama dua minggu akhirnya mereka sampai 

juga diluar kota Ansi. Kota ini adalah kota Kerajaan 

Tiongkok pertama yang direbut oleh bangsa Mongol 

sewaktu pecah perang. Karena terletak di daerah yang 

kini dikuasai bangsa Mongol maka suasananya tenang 

dan aman, tak banyak prajurit-prajurit yang kelihatan 

berkeliaran. Namun adalah berbahaya bagi Thian Ong, 

Wiro dan Bwe Hun untuk memperlihatkan diri dan 

memasuki kota pada siang hari sekalipun mereka 

bersama Kiat Bo Hosiang yang oleh penduduk 

setempat dianggap sebagai salah satu tokoh pimpinan 

bangsa Mongol. Maka mereka mengatur rencana dan 

baru pada malam hari rencana itu akan dijalankan.

 Bila senja berganti dengan malam, gedung besar

yang menjadi markas para tokoh Mongol kelihatan

terang dan tenang. Di pintu depan lima orang penga-

wal asyik bercakap-cakap sedang lainnya melakukan

perondaan sekeliling tembok halaman. Tadi sudah

dikatakan bahwa keadaan kota Ansi aman, namun

untuk gedung penting seperti markas itu tentu saja

harus mendapat pengawal yang cukup terjamin.

 Di dalam gedung, pada sebuah ruangan besar

empat belas orang kelihatan duduk mengelilingi

meja. Mereka adalah Pengho di kepala meja, Jen-

deral Karfi Khan di kepala meja yang lain, lalu Penghu

 sutenya Pengho, Wanglie alias Pengemis Sakti Ta-

ngan Kidal ditambah 10 orang perwira tinggi bangsa

 Mongol.

 Satu jam yang lalu Pengho dan Pengemis Sakti

 baru saja kembali dan langsung mengumpulkan

 orang-orang itu untuk mengadakan pembicaraan.

 Yang jelas tentu saja Pengho menuturkan apa yang

telah terjadi dua minggu lalu antara dia dan murid

 Ik Bo Hosiang.

 "Pemuda itu lihay sekali dan yang lebih bahaya

 adalah konconya, seorang pemuda asing berambut

 gondrong," berkata Pengho.

 "Bagaimana dengan Kiat Bo Hosiang?" bertanya

 Jenderal Karfl Khan."Entahlah, kami tinggalkan saja dia sendirian.

 Mungkin sudah mampus di tangan muridnya sendiri

 atau si keparat Thian Ong itu," menyahuti Pengemis

 Sakti.

 "Bagiku lebih baik dia mampus. Aku tak begitu

 senang padanya," kata Pengho pula blak-blakan.

 Setelah membicarakan susunan dan keadaan

 pasukan Mongol di beberapa tempat di selatan,

 Pengho kemudian berkata: "Dengan adanya penga-

 cau-pengacau seperti Thian Ong dan pemuda asing

 serta gadis murid Kiat Bo Hosiang itu pasti akan

 banyak mempengaruhi keadaan kita. Dalam per-

jalanan kemari aku dan Pengemis Sakti telah mem-

 bicarakan rencana untuk mendatangkan beberapa

tokoh utama Tibet guna membantu kita. Kalau sam-

pai Ik Bo Hosiang sendiri turun tangan keadaan kita

 akan semakin sulit. Kita basmi dulu tiga kurcaci itu,

 soal Ik Bo baru kita urus kemudian. Dengan ratusan

 pasukan dan dipimpin oieh tokoh-tokoh lihay seperti

 kita masakan Ik Bo Hosiang tak dapat kita gusur dan

 puncak Longsan?! AKU hanya menunggu persetuju-

 an dari para hohan di sini saja.' (Hohan = orang

 gagah).

 Kurasa semua kita di sini dengan menyetujui

 rencana Pengho lo enghiong dan Wanglie lo

 enghiong." menjawab Jenderal Karfi Khan.

 "Terima kasih kalau begitu aku dan Pengemis

 Sakti akan berangkat bes....

 Pengho tak meneruskan kata-katanya karena

 saat itu matanya melihat alat rahasia yang terletak

 di dinding bergerak-gerak.

 Ada orang di atas genteng! Semua siap!" seru

 Pengho.

 Orang-orang yang ada dalam ruangan pertemu-

 an itu serta merta melompat dari kursi masing-

 masing dan hunus senjata Pada saat itu pintu

 ruangan tiba-tiba terbuka dan muncullah Kiat Bo

 Hosiang.

 "Eh, bukankah kau sudah mampus di tangan

murid keponakanmu!" Pengho berseru kaget.

 "Belum, masih belum Pengho lo enghiong,"

sahut Kiat Bo Hosiang.

 "Jadi kau berhasil lolos dari kepungan tiga orang

muda lihay itu?!" Pengemis Sakti kini yang ajukanpertanyaan.

 Sebelum Kiat Bo Hosiang sempat menjawab

Pengho kembali buka mulut: "Apakah kau masih

 punya muka untuk kembali kemari?!"

 "Ah soal muka tak perlu kita bicarakan. Mukamu

 atau muka siapapun di ruangan ini tidak lebih baik

 dari mukaku!"

 "Wah kau bicara keren amat Kiat Bo Hosiang!"

 tukas Jenderal Karfi Khan. Sementara Pengho me-

 lirik pada alat rahasia di dinding yang sampai saat

 itu masih kelihatan bergerak sedikit.

 "Ketahuilah aku datang bukan sebagai Kiat Bo

 Hosiang yang dulu. Selama ini kalian orang-orang

 Mongol telah memperdayaiku, membujuk dan me-

 rayu hingga aku lupa daratan dan menindas, me-

 musnahkan bangsa sendiri!"

 "Kiat Bo Hosiang! Kau bicara apakah! Dan apa

 maumu sebenarnya," membentak Pengho.

 "Kalian kaum penjajah terkutuk hari ini harus

 bertanggung jawab atas kejahatan dan kekejian apa

 yang telah kalian lakukan terhadap tanah air dan

 bangsaku!" Habis berkata begitu Kiat bo Hosiang

 lantas cabut tongkat bajanya lalu berseru: "Kawan-

 kawan silahkan turuni"

 Serentak dengan itu terdengar suara ribut di atas

atap. Loteng ruangan tiba-tiba bobol dan tiga sosok

tubuh melayang turun dalam gerakan yang sebat

 luar biasa!

 "Kurang ajar!' teriak Pengho. Dia sudah maklum

siapa-siapa adanya tiga manusia yang masuk me-

nerobos itu karenanya segera saja dia hantamkan

kedua tangannya ke atas. Dua larik sinar hitam

menderu memapaki Thian Ong, Bwe Hun dan Wiro

Sableng yang tengah melayang di udara.

 Terdengar suara tertawa Thian Ong disusul de-

ngan berjumpalitannya tubuh pemuda Ini ke kiri dan

laksana seekor naga dia menukik ke arah Pengho

sambil lancarkan satu jotosan. Tokoh dari Mongol

ini cepat membuang diri ke samping hingga serang-

an lawan mengenai tempat kosong.

 Di atas sana pukulan sinar hitam Pengho telah

menghancur leburkan atap ruangan sementara Pen-

dekar 212 Wiro Sableng yang membalas dengan

pukulan sinar matahari telah membuat lantai ruangan hangus retak-retak, ubinnya pecah bermentalan!

 "Bangsat!" memaki Pengho. "Penghu! Kau dan

Jenderal Karfi Khan hadapi murid gila Ik Bo Hosiang

itu. Wanglie locianpwe kau pimpin lima perwira tinggi

menghadapi bangsat berambut gondrong. Aku sen-

diri akan mencincang bangsat pengkhianat ular

kepala dua Kiat Bo Hosiang. Yang lain-lainnya lekas

kepung gadis binal baju hijau itu!"

 Pengho sengaja mencari lawan dan menghadapi

Kiat Bo Hosiang karena dia merasa jerih terhadap

Thian Ong apalagi Wiro Sableng.

 Di dalam ruangan besar yang sudah porak

poranda itu maka terjadilah pertempuran yang amat

seru!

 Dengan sebilah pedang berwarna ungu, Pengho

mengamuk yang dilayani oleh Kiat Bo Hosiang

dengan tongkat bajanya. Namun hanya lima jurus

saja Kiat Bo Hosiang segera terdesak hebat!

 Li Bwe Hun yang menghadapi lima pengeroyok

tidak mendapat kesulitan. Meski pengeroyok-penge-

royoknya terdiri dari perwira-perwira berkepandaian

tinggi namun dengan mainkan jurus-jurus ilmu tong-

kat yang dikuasainya dengan sempurna dalam tem-

po enam jurus saja sudah membuat lima pengeroyok

bergeletakan mandi darah.

 Pada saat gadis ini hendak menolong suhunya

yang tengah didesak hebat oleh Pengho, tiba-tiba

dari pintu menyerbulah selusin pengawal dipimpin

oleh seorang perwira tinggi. Terpaksa Bwe Hun

menghadapi mereka lebih dahulu. Setelah meng-

amuk hampir sepuluh jurus dan membuat lawan

roboh satu demi satu, sisa yang masih hidup ambil

langkah seribu, maka Bwe Hun menerjang ke depan

membantu suhunya.

 Dalam keadaan terdesak tadi, Kiat Bo Hosiang

telah keluarkan ilmu tongkat yang paling hebat yaitu

ilmu tongkat garuda sakti atau "sin-eng thunghoat".

Namun Pengho yang jauh lebih tinggi tingkat kepan-

daiannya hanya dua tiga jurus saja dibikin repot oleh

ilmu tongkat itu. Dilain saat pedangnya sudah meng-

gebu-gebu kembali melabrak ke arah lawan dan di

satu kesempatan berhasil membabat bahu kiri Kiat

Bo Hosiang hingga putus buntung dan darah menyerbu!

 "Suhu!" seru Bwe Hun. Dengan kalap gadis ini

menyerbu ke arah Pengho sementara Kiat Bo

Hosiang menotok bahunya di beberapa tempat hing-

ga darah berhenti memancur kemudian dengan

gagah berani kembali dia menghadapi Pengho, bahu

membahu dengan muridnya.

 "Bagus! Kalian datang berdua! Hingga aku tak

susah-susah membunuh guru dan murid sekaligus!"

seru Pengho dengan seringai maut lalu kiblatkan

pedang ungunya menghadapi dua lawan yang dia

yakin dapat dirobohkan dalam waktu singkat.

 Thian Ong yang dikeroyok oleh jago-jago lihay

yakni Penghu (adik dari Pengho) dan Jenderal Kaili

Khan untuk beberapa lamanya dibikin repot. Hal ini

terutama karena dia sesekali masih saja kejangkitan

penyakit keblingernya hingga menghadapi lawan

lebih banyak mempermainkan dan mengejek. Tetapi

ketika satu hantaman dari Penghu mendarat di dada-

nya dan membuat dia kesakitan, pemuda sinting

aneh ini baru sadar. Serta merta dia cabut sulingnya

dan keluarkan jurus-jurus ilmu silat aneh dari Liong-

san yang dipelajarinya selama 12 tahun dari Ik Bo

Hosiang!

 Menghadapi ilmu silat yang tak pernah dilihatnya

sebelumnya, dengan sendirinya Penghu serta Jen-

deral Karfi Khan kebingungan. Betapapun lihaynya

mereka namun jurus demi jurus keduanya mulai

terdesak. Dalam hebatnya kecamuk pertempuran itu

tiba-tiba Thian Ong keluarkan pekik nyaring. Se-

rentak dengan itu tubuhnya berkelebat lenyap dan

tahu-tahu terdengarlah pekik Penghu.

 Tubuhnya mencelat lima langkah. Keningnya

kelihatan berlubang dan mengucurkan darah. Sekali

lagi adik dari Pengho ini berteriak mengerikan lalu

roboh. Thian Ong telah menghantam keningnya

dengan suling hingga berlobang dan membuat

nyawanya lepas.

 Melihat adiknya mati Pengho menggembor ma-

rah. Tubuhnya berkelebat dalam amukan yang hebat

dan sesaat kemudian dia berhasil merobohkan Kiat

Bo Hosiang. Kakek ini terjungkal dihantam ten-

dangannya dan selagi sempoyongan pedang

Pengho cepat menebas lehernya hingga Kiat Bo matidengan kepala menggelinding!

 Li Bwe Hun terpekik ngeri melihat kematian

suhunya itu. Dengan kalap tanpa mempertimbang-

kan lagi kemampuan sendiri dia menyerbu Pengho

seorang diri. Tapi sekali Pengho gerakkan pedang-

nya maka patah mentallah pedang di tangan si nona.

Dilain saat senjata Pengho membacok ganas ke

kepala si nona tanpa dapat dikelit lagi ataupun

ditangkis oleh Bwe Hun.

 Disaat yang kritis itu tahu-tahu melesat sesosok

tubuh antara kepala Bwe Hun dan pedang Pengho

yang tengah turun dengan deras. Pengho melengak

kaget. Dia tidak tahu tubuh siapa yang dilemparkan

karena saking cepatnya lemparan dan di samping

itu dia tak dapat pula menahan turunnya pedangnya.

 "Cras!"

 Pedang Pengho membacok tepat di pertengah-

an tubuh yang terlempar. Terdengar jeritan, tubuh

itu terhampar ke lantai tak berkutik lagi dengan

pinggang terbabat putus. Ketika diperhatikan ter-

nyata dia bukan lain adalah Wanglie alias Pengemis

Sakti Tangan Kidal! Bwe Hun sendiri selamat dan

tertegun sedang Pengho dengan muka pucat ber-

paling ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat

itu asyik "menggebuki" perwira-perwira Mongol yang

tengah mengeroyoknya!

 Apakah sebenarnya yang telah terjadi?

 Seperti diketahui sebelumnya Pengemis Sakti

Tangan Kidal bersama dengan lima perwira tinggi

Mongol telah mengeroyok Wiro. Kenyataannya lima

perwira ini adalah lebih lihay dari lima perwira lain

yang mengeroyok Bwe Hun hingga dipimpin oleh

Pengemis Sakti mereka sempat membuat Wiro ka-

lang kabut. Namun setelah keluarkan jurus-jurus silat

yang dipelajarinya dari Pendekar Pedang Akhirat

Long-sam-kun maka dalam satu gebrakan saja dia

berhasil merobohkan dua perwira tinggi. Ketika dia

menendang mental perwira yang ketiga matanya

yang tajam menyaksikan bagaimana Pengho tengah

melancarkan satu bacokan ganas ke arah kepala

Bwe Hun tanpa si gadis bisa berkata apa-apa.

 Di saat yang sama Pengemis Sakti Tangan Kidal

kirimkan satu sodokan dengan tongkat kayunya ke

arah ulu hati Wiro. Dengan mainkan jurus bernama"lo-han-ciang-yau" atau malaikat menundukkan silu-

man, Wiro sambar lengan kiri Pengemis Sakti dan

tarik demikian rupa hingga tubuh kakek itu berputar

di atas kepalanya lalu dilempar ke arah Pengho.

Seperti yang diperhitungkan oleh Wiro dan malang

bagi Pengemis Sakti, tubuh kakek-kakek itu ter-

lempar tepat antara kepala dan bacokan pedang

hingga tak ampun lagi pedang di tangan Pengho

menghantamnya tepat di pinggang I

 Wiro tertawa gelak-gelak. "Pengho! Apakah kau

sudah gila membacok mati kawan sendiri?!" ejek

pendekar sableng ini lalu tertawa gelak-gelak. Se-

mentara Thian Ong mendengar suara tertawa kam-

bratnya itu ikut-ikutan pula tertawa dan membuat

gerakan yang bernama "koay-liong-hoan-in" atau

naga aneh berjumpalitan. Tubuhnya seperti terjung-

kal kaki ke atas kepala ke bawah. Kaki menendang

ke muka lawan dan begitu lawan mengelak tahu-tahu

suling di tangan kanan memburu dengan cepat.

Terdengarlah jerit kematian Jenderal Karfi Khan

sewaktu perutnya kena dikoyak oleh Suling Thian

Ong hingga ususnya berbusaian keluar!

 Dengan matinya Jenderal Karfi Khan maka kini

Pengho jadi tinggal sendirian. Dan mau tak mau ini

membuat nyalinya lumer. Tanpa tunggu lebih lama

dia segera melompat ke pintu.

 Wiro memburu disusul oleh Thian Ong.

 "Biang racun anjing penjajah kau mau kabur ke

mana!" teriak Thian Ong.

 Saat itu, sebelum keluar ruangan menghambur

lari, Pengho masih sempat pergunakan tangannya

untuk memutar sebuah tapel (ukiran kayu) kepala

manusia di dinding dekat pintu. Serta merta ter-

dengarlah suara mendesir di Seantero ruangan.

 "Awas senjata rahasia!" teriak Wiro memper-

ingatkan.

 "Lekas tiarap!" seru Thian Ong.

 Wiro, Thian Ong dan Bwe Hun segera jatuhkan

diri di lantai ruangan. Detik itu pula dari empat

tembok ruangan yang dilapisi kayu melesatlah se-

ratus pisau terbang berwarna hijau gelap. Bagai-

manapun lihaynya seseorang, jika berdiri di tengah

ruangan pastilah tak bakal dapat menyelamatkan

jiwanya Begitu serangan pisau terbang berhenti, Wiro

cepat melompat ke atas atap yang bobol. Dia sampai

di sana dalam waktu yang tepat karena masih sempat

melihat bayangan Pengho berkelebat di balik atap

gedung sebelah kiri. Wiro segera memburu dan

dalam waktu singkat berhasil menyusul pentolan

kelas wahid gembong penjahat itu.

 Pengho sadar dia tak akan bisa menang meng-

hadapi Pendekar 212, tapi lari pun tak mungkin.

Apalagi waktu itu berkelebat pula dua bayangan di

atas genteng yakni Thian Ong dan Bwe Hun. Dan si

nona belum apa-apa lantas saja sudah menyerang-

nya dengan sebuah golok besar yang diketahuinya

adalah milik Jenderal Karfi Khan.

 Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Pengho

daripada melawan mati-matian. Sebenarnya dalam

tingkat ilmu kepandaian jelas sekali Bwe Hun jauh

tertinggal dari tokoh kelas satu Mongol itu. Namun

saat itu Pengho bertempur dalam pikiran kacau balau

takut dan gugup. Pikirannya tak terpusat karena dia

senantiasa mengintai kelengahan lawan untuk me-

larikan diri. Dalam pada itu Thian Ong dan Wiro

meskipun tidak langsung turut pula ambil bagian

dalam pertempuran.

 Setiap Pengho mendesak Bwe Hun atau lancar-

kan serangan berbahaya maka tahu-tahu pantatnya

ditendang oleh Thian Ong dari belakang. Terkadang

Wiro menjambak rambutnya atau menarik turun

celananya. Sambil berbuat begitu kedua pemuda

sableng itu tertawa-tawa tiada henti.

 Akhirnya dalam keadaan penasaran, Pengho

pergunakan pedangnya untuk tusuk dadanya sen-

diri! Tokoh utama dari Mongol ini roboh, terguling

dari atas genteng, jatuh ke tanah dengan pedang

masih menancap di dadanya!

 Penyerbuan Thian Ong, Wiro Sableng, Li Bwe

Hun serta Kiat Bo Hosiang ke markas besar pentolan-

pentolan tertinggi penjajah di Ansi itu betul-betul

menggemparkan baik empat kalangan Pemerintah

Mongol maupun Pemerintah Tiongkok.

 Kalau orang Mongol merasa sangat terpukul

maka pihak Tiongkok jadi mendapat semangat. Ribu-

an tentara Tiongkok dua minggu kemudian me-

nyerbu ke perbatasan. Dan betullah seperti kata-kata

mendiang Kiat Bo Hosiang. Jika markas sumber

kekuatan penjajah itu dihancurkan maka balatentara

Mongol meskipun berjumlah besar namun tak lebih

dari anak-anak ayam yang kehilangan induknya.

Seluruh kekuatan Mongol disapu bersih dan bumi

Tiongkok bebas lepas dari kaum penjajah yang

selama ini telah mendatangkan 1001 macam keseng-

saraan di kalangan rakyat. Namun agaknya tugas

Song Thian Ong dan Li Bwee Hun masih belum

selesai karena di selatan masih banyak pemimpin-

pemimpin yang tak tahu diri yang perlu disingkirkan.

Sementara Pendekar 212 Wiro Sableng terus pula

melakukan petualangannya.


 TAMAT

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive