"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Sabtu, 29 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE HALILINTAR DI SINGOSARI

Halilintar Di Singosari



Halilintar Di Singosari


 ARUS Kali Brantas mengalun tenang 

di pagi yang cerah itu. Sebuah perahu 

kecil meluncur perlahan melawan 

arus dari arah Trowulan. Di atasnya 

Ada dua orang penumpang 

berpakaian seperti petani. Yang satu 

berusia hampir setengah abad. 

Rambutnya yang disanggul di sebelah 

atas sebaglan nampak putih. Raut 

wajahnya yang terlindung oleh 

caping lebar jauh lebih tua dari usia 

sebenarnya. Kumis dan janggutnya 

lebat. Tetapi jika orang berada dekat-

dekat padanya dan memperhatikan wajahnya dengan seksama akan ketahuan bahwa kumis 

dan janggut lebat itu adalah palsu. 

Orang bercaping itu duduk di sebelah depan perahu. Kedua matanya memandang lurus-

lurus ke muka. Sesekali tangan kanannya meraba sebilah keris yang terselip di pinggang, 

tersembunyi di balik pakaian hitamnya. Orang kedua adalah pemuda berbadan kekar. 

Pakaiannya lecek dan basah oleh keringat. Sehelai kain putih terikat di keningnya. Rambutnya 

yang panjang tidak disanggul di atas kepala, tapi dibiarkan terlepas menjela pundak. 

"Gandita, aku sudah dapat melihat pohon cempedak miring di tepi kali di ujung sana," 

berkata lelaki yang lebih tua. 

Gandita, pemuda yang mendayung perahu, meninggikan lehernya sedikit dan memandang 

jauh ke muka, Memang diapun dapat melihat pohon cempedak yang dikatakan orang itu tadi. 

Pohon cempedak itu tumbuh di tepi kali dalam keadaan miring. Lebih dari separuh batangnya 

sampai ke puncak pohon membelintang di atas Kali Brantas."Saya juga dapat melihatnya dari sini Adipati," ujar Gandita. "Sebentar lagi kita akan 

sampai. Menurut Adipati apakah orang-orang Kedri itu akan datang?" 

"Manusia bernama Adikatwang itu tidak pernah tidak menepati janji. Dia pasti datang. 

Kalau dia tidak datang berarti dia telah bertindak tolol. Kesempatan hanya ada satu kali. Sekali 

lewat jangan harap bakal muncul lagi." 

Gandita mendayung, perahu meluncur perlahan. Da1am hati dia berkata. Kalau orang-

orang Kediri tidak muncul, sungguh gila jauh-jauh datang dari Madura seperti ini! 

Saat demi saat perahu semakin dekat ke pohon cempedak miring. Tepat di bawah 

batangnya yang membelintang di atas kali Gandita merapatkan perahu ke tebing. 

"Tidak kelihatan siapapun," kata orang yang dipanggil dengan sebutan Adipati. Dia 

bernama Wira Seta dan dia memang adalah seorang Adipati dari Madura. 

"Saatnya kita mengeluarkan tanda rahasia," kata Wira Seta. 

Gandita mengangguk. Dia bangkit dan berdiri di atas perahu. Sesaat pemuda ini 

memandang berkeliling. Lalu kedua tangannya dibulatkan dan diletakkan di depan bibir. Dari 

mulut Gandita keluar suara seperti bunyi burung tekukur. Lalu sunyi. Kedua orang dalam 

perahu menunggu dengan air muka tampak tegang. 

"Aneh, tak ada sahutan..." kata Wira Seta. "Mungkin mereka belum sampai di sini?" 

Gandita tidak menyahut. 

"Coba sekali lagi," kata Wira Seta. 

Kembali pemuda itu menirukan suara burung tekukur. Lalu sunyi lagi. Tiba-tiba ada suara 

suitan merobek kesunyian. Disusul oleh suara burung tekukur. 

Wira Seta tampak lega. "Mereka sudah ada di sini. Sebaiknya kita naik ke darat." 

Kedua orang itu keluar dari perahu, melompat ke tebing kali lalu naik ke darat. Pada saat 

itu rerumpunan semak belukar di sebelah kanan nampak tersibak. Dua orang berpakaian 

perajurit Kediri muncul. Keduanya membawa panah dan saat itu keduanya telah merentang 

busur, membidikkan anak panah ke arah Wira Seta dan Gandita. 

Panah beracun, kata Gandita dalam hati begitu melihat ujung panah yang terbuat dari besi 

berwarna sangat hitam. Baik dia maupun Wira Seta tetap berlaku tenang. 

"Prajurit-prajurit Kediri, mana pemimpin kalian?" tanya Wira Seta. 

Salah seorang perajurit menjawab. "Kami dipesan agar melihat benda tanda jatidiri lebih dahulu sebelum membawa pada pemimpin kami." 

Gandita berpaling pada Wira Seta. Adipati ini keluarkan keris yang terselip di 

pinggangnya lalu memperlihatkannya pada perajurit yang masih tegak dengan membidikkan 

panah beracun tepat ke arah jantungnya. Keris ini gagang dan sarungnya terbuat dari perak 

murni. Pada bagian-bagian tertentu dilapisi emas serta beberapa buah permata. Pada badan 

sarung dan gagang keris terdapat ukiran kepala singa dengan badan berbentuk manusia. Inilah 

keris Narasinga, salah satu senjata pusaka Keraton Kediri yang berasal dari sesepuh dan 

pendiri Kerajaan yaitu Sang Prabu Kameswara. 

Kedua perajurit Kediri itu segera mengenali keris Narasinga. Mereka mengangguk lalu 

menurunkan busur masing-masing. Yang satu berkata, "Ikuti kami." 

Setelah melewati beberapa kelompok rerumpunan semak belukar, di satu tempat yang 

agak terbuka kelihatan sepuluh orang perajurit berkuda. Salah seorang dari mereka, yang 

bertindak sebagai pemimpin segera turun dari kuda. Beberapa saat dia memandangi lelaki 

bercaping, berkumis dan berjanggut tebal itu seperti tengah meneliti. Kemudian cepat dia 

memberi penghormatan seraya berkata, 

"Harap maafkan, saya tidak mengenali Adipati dalam penyamaran ini!" perajurit-perajurit 

lainnya segera pula memberi penghormatan. 

Wira Seta membalas penghormatan itu dan memandang berkeliling lalu bertanya, "Mana 

pemimpin kalian?" 

"Beliau segera datang. Harap Adipati suka bersabar sesaat." Jawab perajurit yang ditanya. 

Tak lama kemudian seekor kuda nitam besar muncul ditunggangi seorang lelaki berusia 

hampir enam puluh tahun, berpakaian sederhana. Rambutnya hitam tebal disanggul di atas 

kepala. Orang ini turun dari kudanya, berjalan mendekati Wira Seta lalu tersenyum. 

"Penyamaran Adimas Wira Seta rapi sekali. Bertemu di tempat lain sulit bagiku 

mengenali." 

Di antara kedua orang sahabat itu Wira Seta memang beberapa tahun lebih muda. Karena 

itulah orang dihadapannya memanggilnya dengan sebutan Adimas. 

Wira Seta membuka capingnya. Kedua orang itu lalu saling berpelukan. 

"Jauh-jauh dari Sumenep Dimas tentu letih sekali. Aku ingin membawa Dimas ke Gelang-

gelang. Tetapi keadaan kurang mengizinkan. Harap Dimas maklum."Adipati Wira Seta mengangguk. "Suatu ketika akan tiba saatnya kita dapat berkumpul 

bersama-sama secara terbuka, tanpa rasa takut. Kangmas Adikatwang, apakah kau ada baik-

baik saja?" 

"Para Dewa memberkahi serta melindungiku dan keluarga. Walau hidup di bawah 

Singosari penuh tekanan tapi kita terpaksa pasrah. Sudah untung Sang Prabu masih mau 

memberikan daerah Gelang-Gelang kepadaku." 

Adipati Wira Seta mernegang bahu Adikatwang, putera Sri Baginda Kertajaya yang 

pemah berkuasa di Kediri sebelum Kerajaan itu diserbu dan ditunduk kan oleh Singosari 

dibawah pimpinan Ken Arok yang bergelar Ranggah Rajasa belasan tahun yang silam, 

"Siapa yang bisa hidup tenang dan leluasa saat ini Kangmas Adi," kata Adipati Wira Seta 

pula. "Lihat saja dengan diri saya. pengabdian dan jasa apa yang tidak saya lakukan untuk 

Kerajaan. Saya tidak mengharapkan dianggap sebagai pahlawan besar. Jalan pikiran saya 

dicurigai, perlakuan terhadap diri saya sungguh menyakitkan. Saya dipaksa menerima nasib 

ditendang dari Kotaraja. Dikucilkan jadi Adipati di Madura yang gersang! Dengan kata lain 

saya disuruh makan garam banyak-banyak agar cepat mati!" Wira Seta masih bisa tertawa 

dalam mengutarakan uneg-unegnya. 

"Aku mengerti kekecewaan Dimas Wira Seta," kata Adikatwang. 

"Kekecewaan, tekanan dan penghinaan yang kita terima tidak akan berjalan lama. Saya 

percaya waktunya untuk Kangmas memegang tampok kekuasaan akan segera datang." 

Adikatwang memandang sejurus pada pemuda yang berdiri di samping Wira Seta lalu 

bertanya, "Dimas, siapakah pemuda yang tampan ini?" 

"Namanya Gandita. Dia murid seorang sakti di puncak Gunung Kelud. Dia orang 

kepercayaan saya yang bakal banyak memberikan bantuan dalam rencana kita." 

Gandita memberi penghormatan pana Adikatwang lalu kembali tegak dengan sikap siap 

seorang perajurit. 

"Aku senang kau membantu Adipati Wira Seta. Pemuda-pemuda gagah sepertimu 

memang bakal banyak diperlukan." 

"Terima kasih Adipati," kata Gandita seraya membungkuk. 

"Kangmas Adi, sekarang kita perlu bicara empat mata. Mari kita cari tempat yang baik." 

Raden Adikatwang mengangguk. "Kalian tetap di sini," katanya pada para pengawalnya.lalu kedua sahabat ini melangkah ke arah tepian Kali Brantas. Di balik serumpunan semak 

belukar tak berapa jauh dari pohon cempedak hutan yang tumbuh miring, mereka memilih 

tempat yang baik dan duduk di tanah meneruskan pembicaraan. 

"Saya dan beberapa kawan telah siap menjalankan apa yang jadi rencana. Kami hanya 

menunggu keputusan Kangmas saja." 

"Berapa kekuatan orang Adimas keseluruhannya?" tanya Adikatwang. 

"Sekitar dua ribu orang. Semua mereka merupakan perajurit-perajurit terlatih dan 

berpengalaman. Semangat mereka tinggi. Mereka rela mengorbankan darah dan nyawa demi 

berdirinya kembali Kerajaan Kediri." 

Untuk beberapa lamanya Adikatwang berdiam diri seperti merenung. Dalam dirinya 

terjadi pergolakan. Hati kecilnya menyuarakan hal yang berbeda dengan otaknya. Sebenarnya 

aku sudah cukup pasrah menerima keadaan. Jika pecah lagi peperangan yang jadi korban 

dan banyak menderita pastilah rakyat.

"Apa Yang Kangmas pikirkan?" bertanya Adipati Wira Seta. 

"Kekuatan kita agaknya memang meyakinkan," berkata Adikatwang, 

"Belum terhitung orang-orang seperti Gandita. Lalu orang-orang dari dunia persilatan. 

Para pemuka agamapun menyokong perjuangan kita mendirikan Kediri kembali." 

"Apakah aku harus memberi keputusan sekarang Dimas Wira Seta?" 

"Bukankah untuk maksud itu saya datang jauh-jauh dari Madura?" sahut Wira Seta. 

Kembali Adikatwang tampak termenung. 

Melihat hal ini Wira Seta berusaha membakar hati sahabatnya itu dengan mengungkit 

peristiwa lama. 

"Kangmas, apakah kau akan melupakan begitu saja perbuatan jahat orang-orang 

Singosari? Mereka menyerbu dan menghancurluluhkan negeri kita. Merampas harta kekayaan 

rakyat kita. Membunuh ratusan rakyat. Salah satu korban mereka yang terbesar adalah Sang 

Prabu Kertajaya, ayahanda Kangmas sendiri. Apakah perkiraan Kangmas arwah ayahanda 

Kangmas akan berada dalam keadaan tenteram di swarga loka sebelum dia melihat kita 

menuntut balas atas kejahatan dan kekejaman musuh? Mohon maafmu Kangmas, sebagai 

seorang sahabat saya akan terpaksa berkata. Kalau Kangmas mundur dengan rencana ini, saya 

dan kawan-kawan akan tetap melaksanakannya. Kediri harus bangun kembali. Tugas dantanggung jawab itu ada di pundak orang-orang seperti kita. Apalagi mengingat Kangmas 

adalah pewaris tunggal dan syah dari tahta Kerajaan Kediril" 

Raden Adikatwang menarik nafas panjang. Setelah berdiam diri sesaat akhirnya dia 

berkata. "Kita tetap sama-sama menjalankan rencana besar ini Dimas. Bagaimana persiapan 

pasukan?" 

"Mereka sudah lama siap. Tindakan saya yang pertama dalam waktu dekat ini ialah 

membawa mereka ke Canggu. Dari sini pasukan akan disebar dalam dua arah. Yang pertama 

ke Utara Singosari, sebagian lagi ke arah Selatan sekitar Badud dan Jago." 

"Kalau begitu kita tentukan saja sekarang hari dan saat penyerangan agar pasukan dari 

Gelang-Gelang bisa bergabung dalam waktu yang tepat," kata Adikatwang. 

"Itu satu hal yang sangat bagus. Saya mengusulkan agar pasukan Kangmas memperkuat 

pasukan yang di Selatan. Saya sudah menyusun satu tipuan yang bakal menghancurkan 

Singosari dalam waktu singkat." 

Lalu Adipati Wira Seta memberi tahu rencananya itu. 

"Aku sangat setuju Dimas. Kau memang seorang Panglima Perang yang cerdik. Sang 

Prabu kelak akan menyesal seumur hidup telah menyia-nyiakan dirimu." 

Wira Seta tersenyum. Tapi tiba-tiba Adikatwang melihat air muka sahabatnya itu berubah. 

"Ada apa Dimas?" tanya Adikatwang. 

"Saya mencium bau yang sangat tajam. Bau apa ini?" Wira Seta memandang berkeliling. 

Adikatwang mendongak dan menghirup udara dalam-dalam. Dia mengenali bau yang 

diciumnya itu. "Bau buah cempedak," katanya. "Cempedak hutan!" 

Wira Seta cepat berdiri lalu melangkah ke arah ka1i. Adikatwang mengikuti dari 

belakang. Mereka bergerak ke jurusan pohon cempedak yang tumbang melintang di atas kali. 

Di satu tempat Wira Seta yang berada di sebelah depan hentikan langkah, memberi tanda pada 

Adikatwang lalu menunjuk ke arah pohon cempedak. 

"Lihat..." bisiknya. "Ada orang di atas sana." 

Adikatwang memandang ke atas pohon. "Bukankah itu Gandita, pemuda 

kepercayaanmu?" kata Adikatwang pula. 

"Warna pakaiannya dan ikat kepalanya memang sama. Rambutnya juga sama panjang. 

Tapi itu bukan Gandita," jawab Adipati Wira Seta."Jangan-jangan kita telah kecolongan, Dimas. Bukan mustahil pemuda gondrong di atas 

pohon itu adalah mata-mata Singosari. Celaka kita kalau dia telah mendengar semua 

pembicaraan kita!" 

"Saya meragukan hal itu Kangmas. Lihat caranya duduk berjuntai di batang pohon. 

Makan cempedak sambil menggoyang-goyangkan kaki. Seorang mata-mata tidak akan 

melakukan hal itu." 

"Siapapun dia kita harus menyelidiki. Aku akan memberi tahu para pengawal. Tempat ini 

harus segera dikurung. Jangan orang itu sampai melarikan diri. Kau tunggu di sini. Awasi dia. 

"Cepatlah!" kata Wira Seta. "Suruh Gandita kemari!" 

***

ORANG yang duduk di batang pohon sambil memangku buah cempedak matang dan harum 

sepertinya tidak tahu kalau dirinya diawasi. Dia terus saja menyantap buah itu sambil duduk 

berjuntai goyang-goyangkan kedua kakinya. Kulit cempedak dan juga biji buah itu 

dibuangnya seenaknya ke bawah. Beberapa potongan kulit dan biji malah ada yang jatuh ke 

dalam perahu milik Wira Seta yang ditambatkan di tepi kali. Jengkelnya Adipati Sumenep itu 

bukan kepalang. Namun dia tidak mau bertindak gegabah. Dia maklum, hanya orang-

berkepandaian tinggi yang kehadirannya tidak diduga seperti itu. Lalu bukan sembarang orang 

bisa duduk berjuntai di batang pohon sambil menyantap buah dengan cara begitu. 

Sambil menikmati buah cempedak yang harum itu si pemuda berambut gondrong sesekali 

terdengar menyanyi-nyanyi kecil. Kadang-kadang tangan kirinya tampak mengusap-usap 

perut seolah mengukur-ukur apakah dia sudah cukup kenyang. Sesekali tangannya yang 

lengket oleh getah buah itu enak saja dipakai untuk menggaruk-garuk kepalanya yang 

berambut gondrong. 

Adikatwang dan para pengawal muncul di tempat itu bersama Gandita. Tanpa suara 

mereka segera mengurung tempat tersebut. Di atas pohon si pemuda masih terus saja enak-

enakan menyantap buah cempedak. Wira Seta memberi isyarat pada Gandita. Pemuda ini 

melangkah mendekati pohon cempedak lalu berseru. 

"Ki sanak di atas pohon! Turunlah sebentar! Kami ingin bertanya!" 

Pemuda di atas pohon menoleh ke bawah. 

Wira Seta berbisik pada Adikatwang. "Lihat, dia tidak terkejut ketika diteriaki. Berarti 

secara diam-diam sebenarnya dia sudah mengetahui kehadiran kita di sini. Tapi bersikap tidak 

perduli." 

Setelah memandang ke arah Gandita sesaat, orang di atas pohon kembali meneruskan 

makan buah cempedaknya tanpa menjawab seruan orang. 

Gandita berteriak sekall lagi. Lebih keras. "Ki sanak! Aku yakin kau mendengar seruanku. 

Harap turun sebentar. Kami ingin bertanya!"

Pemuda di atas cabang pohon muntahkan biji cempedak dari mulutnya. Biji cempedak ini 

jatuh dan masuk ke dalam perahu. Gandita melirik. Ternyata perahu itu sudah penuh dikotori 

biji dan kulit buah cempedak. 

"Ki sanak!" teriak Gandita mulai berang. "Apa kau tuli? Tidak mendengar orang 

memanggil?!" 

"Tidak! Aku tidak tuli!" tiba-tiba orang di atas pohon menjawab. Suaranya parau karena 

dia menjawab sambil mengunyah cempedak. Waktu menjawab kepalanya tidak dipalingkan ke 

arah Gandita, membuat pembantu Wira Seta ini menjadi tambah jengkel. 

"Kalau tidak tuli mengapa orang bertanya kau tidak menjawab?!" Teriak Gandita. 

"Soalnya aku ingin tahu dulu siapa yang bertanya!" 

Gandita hendak menyahuti. Tetapi Adikatwang cepat memegang bahunya dan 

mendahului menjawab. 

"Kami penguasa Kediri! Kau berada di wilayah kekuasaan kami! Jadi kami berhak 

menyelidik siapa dirimu!" 

"Yang jelas aku bukan penjahat! Tapi aku memang mencuri cempedak ini. Cempedak 

dalam hutan tak bertuan, jika kuambil apakah itu namanya mencuri?" 

"Ki sanak kami minta kau turun dulu baru bicara! Sikapmu seperti orang tidak tahu 

aturan!" Gandita berteriak. 

"Ki sanak, apakah kau orang yang tahu aturan? Mengganggu orang yang sedang makan? 

Jika kau sedang enak-enakan makan apakah kau mau diganggu?" 

Adikatwang memegang bahu Wira Seta. "Jangan-jangan pemuda di atas sana seorang 

yang kurang waras. Lebih baik kita tinggalkan saja dia." 

"Tidak Kangmas. Saya berkeyaklnan pemuda itu bukan orang gila. Kita akan lihat!" Wira 

Seta lalu ganti berteriak. "Orang muda, jika kau tidak mau turun untuk kami tanyai, jangan 

menyesal kalau kami terpaksa menurunkan tangan keras!" 

"Jika memang ada hal penting yang kalian ingin tanyakan, berteriak saja dari bawah. Apa 

susahnya?" 

Jawaban itu membuat marah Wira Seta. Dia memberi isyarat pada Gandita. 

"Beri dia pelajaran!" 

Gandita melangkah lebih dekat ke pohon yang lumbuh di tebing kali itu. Sekali diaberkelebat tubuhnya melayang ke atas pohon dan kedua kakinya menjejak pada cabang, tepat 

di mana pemuda berambut gondrong duduk uncang-uncang kaki sambil menikmati buah 

cempedak. 

"Hai! Kau mau cempedak?!" si gondrong menawari. 

Plaaak! 

Satu tamparan keras dilayangkan Gandita. Tepat mendarat di pipi kanan pemuda yang 

tengah mengunyah cempedak. Buah berikut biji yang ada di dalam mulutnya menyembur 

keluar bersama ludah ke muka Gandita! 

"Kurang ajar!" Gandita marah sekali. Kalau tadi tamparan yang dilayangkannya kini satu 

jotosan segera dihantamkannya. Saat si pemuda telah terbanting akibat tamparan keras tadi. 

Tubuhnya tersentak dan jatuh ke belakang. Tapi kedua kakinya dengan cekatan menggelung 

batang pohon hingga tubuhnya tidak jatuh ke bawah melainkan hanya berputar satu kali pada 

batang cempedak. Meskipun pipinya sakit dan bertanda merah namun si gondrong itu 

memandang menyeringai kepada Gandita. 

Merasa seperti dipermainkan pembantu kepercayaan Adipati Wira Seta ini lepaskan satu 

jotosan. 

Bukk! 

Jotosan keras itu mendarat di dada membuat tak ampun lagi yang dijotos terjengkang. 

Buah cempedak besar yang tinggal setengah terlepas dari tangannya jatuh ke bawah. 

Tubuhnya sendiri menyusul melayang jatuh! 

Anehnya setelah ditunggu sekian lama tidak ada suara tubuh yang jatuh bergedebuk di 

tebing sungai atau suara orang jatuh ke dalam air kali. Gandita memandang ke bawah. Wira 

Seta dan Adikatwang serta beberapa orang perajurit melompat ke tepi kali. Apa yang mereka 

saksikan? 

Pemuda gondrong yang tadi kena jotosan Gandita enak-enak duduk setengah berbaring di 

dalam perahu milik Wira Seta. Di atas perutnya dia memegang buah cempedak dan mulutnya 

saat itu sudah mengunyah buah itu kembali! 

Tentu saja semua orang terkejut melihat hal itu. Bagaimana tubuh seseorang bisa jatuh ke 

atas perahu tanpa mengeluarkan suara, bahkan kelihatannya perahu itu hampir tidak 

bergoyang. Air Kali Brantaspun tidak tampak beriak!Di atas pohon Gandita marah bukan main. Dia benar-benar merasa dipermainkan di 

hadapan orang banyak. Segera dia melompat ke bawah ke arah perahu. Sambil melayang turun 

kaki kanannya ditendangkan ke kepala pemuda yang duduk di dalam perahu itu. 

Sekali ini si gondrong rupanya jadi merasa jengkel juga diserang terus-terusan begitu 

rupa. Kaki kanannya diinjakkan ke kayu pendayung di lantai perahu. Pendayung ini melesat 

ke atas, melayang ke arah Gandita. 

Gandita menggeram marah. Tendangannya yang seharusnya mengenai kepala pemuda itu, 

kini terhalang oleh kayu pendayung. 

Praakk! 

Kayu pendayung patah dua, mencelat ke udara lalu jatuh ke dalam Kali Brantas. Gandita 

membuat gerakan jungkir balik agar tubuhnya tidak salah jatuh ke dalam air. Sesaat kemudian 

kedua kakinya sudah menginjak tepian kali. Ketika dia kembali hendak menyerang pemuda 

yang masih duduk di atas perahu itu, Wira Seta cepat memegang bahunya. "Gandita, kau 

mundurlah. Biar aku yang mengurus pemuda ini," kata Adipati Sumenep itu. Sekali dia 

bergerak tubuhnya melayang dan masuk ke dalam perahu, duduk berhadap-hadapan dengan si 

pemuda. 

"Anak muda, maafkan kalau orangku tadi bertindak tidak pada tempatnya. Ternyata kau 

bukan pemuda biasa." 

Pemuda di hadapan Wira Seta angkat kepala. Dia menatap lelaki itu sesaat. "Ah, kau 

ternyata lebih sopan sedikit dari sobat mudamu itu. Kau mau kubagi buah cempedak ini?" 

"Terima kasih. Aku berpantang makan yang nnanis-manis," jawab Wira Seta. 

"Kepandaian seperti yang kau miliki membuat aku kagum. Pemuda sepertimu sangat 

dibutuhkan oleh Kerajaan. Apakah kau mau berbakti pada Kerajaan?" Tanya Wira Seta 

kemudian. 

"Kerajaan yang mana? Kediri atau Singosari?" 

Wira Seta sesaat terkesiap oleh pertanyaan itu. "Bukan Kediri bukan Singosari. Tapi satu 

Kerajaan baru yang kelak akan muncul. Namanya Kediri baru." 

"Maafkan aku orang tua. Aku tidak tertarik," jawab si pemuda lalu kelihatan dia senyum-

senyum. 

"Kenapa kau tertawa?" tanya Adipati Sumenep itu kurang senang."Orang tua, apakah kau ini anggota wayang orang atau pemain sandiwara keliling?" 

Paras Wira Seta menjadi merah. 

"Aku jauh lebih tua darimu. Tidak pantas kau ajak bergurau!" 

"Siapa bergurau? Aku tanya yang wajar-wajar saja. Kalau kau bukan seorang pemain 

sandiwara mengapa memakai kumis dan janggut palsu?" 

"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu. Tapi kau harus menjawab pertanyaanku! 

Katakan siapa dirimu dan apa yang kau kerjakan di tempat ini." 

"Pertanyaan mudah. Jawabnya juga mudah. Namaku Wiro. Aku di sini tengah makan 

cempedak. Nah, kau puas orang tua?" 

"Tidak, aku tidak puas." Jawab Wira Seta. "Aku punya kecurigaan kau adalah seorang 

mata-mata yang tengah mengintai kami." 

Si gondrong yang adalah Wiro Sableng murid nenek sakti Eyang Sinto Gendeng dari 

Gunung Gede yang dalam dunia persilatan dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut 

Naga Geni 212 menyeringai. 

"Tuduhanmu tidak beralasan orang tua, tapi apa yang barusan kau ucapkan justru 

menimbulkan kecurigaan dalam hatiku!" 

"Adipati, biar saya menghajar orang ini. Mulutnya terlalu lancang dan sikapnya sangat 

kurang ajar!" terdengar suara Gandita. 

Wira Seta mengangkat tangan memberi tanda agar pembantunya itu tetap berada di 

tempatnya. Lalu dia berpaling pada pemuda yang duduk dalam perahu di hadapannya. 

"Apa maksudmu? Apa yang kau curigai dan siapa yang kau curigai?" suara Wira Seta 

menyentak. 

"Jika kau tidak menyimpan satu rahasia mengapa harus mencurigai orang dan menuduh 

aku mata-mata!?" 

"Lalu mengapa kau tahu-tahu muncul di tempat ini. Kau pasti sengaja mencuri dengar apa 

yang kami bicarakan di sini!" sergah Wira Seta. 

"Orang tua, kau memang kelewatan. Sebelum kau dan orang-orang itu muncul, aku sudah 

sejak pagi berada di tempat ini. Bagaimana kalau kubalik. Justru kaulah sebenarnya yang 

tengah memata-matai diriku!" 

Raden Adiatwang maju ke tepi kali. "Dimas, pemuda ini membuat aku mual. Aku akanperintahkan pengawal menangkapnya. Aku akan bawa dia ke Gelang-Gelang dan diperiksa di 

sana! Kalau dia ternyata memang seorang pemuda kurang waras, aku akan lepaskan dia." 

"Aku punya dugaan dia sengaja bersikap dan bicara konyol seperti orang tidak waras 

untuk menutupi sesuatu." Wira Seta melompat keluar dari dalam perahu seraya berseru, "Para 

pengawal! Tangkap orang ini!" 

"Hajar kalau melawan!" menimpali Adikatwang. 

Enam orang perajurit Kediri melompat ke dalam perahu. Dua lainnya turun ke dalam air, 

mencegat di samping kiri perahu untuk mencegah si pemuda yang hendak ditangkap agar 

jangan sampai melarikan diri. 

Perahu kecil dijejali enam orang pengawal, tujuh dengan Wiro tentu saja tidak dapat 

menampung orang sebanyak itu. Perahu ini langsung amblas terbalik. Semua orang yang ada 

diatasnya jatuh masuk ke dalam air, tidak terkecuali Wiro. 

Semua orang di tepi kali kemudian terkejut ketika mereka mendengar suara teriakan-

teriakan delapan perajurit yang ada di dalam kali. Satu demi satu tubuh mereka seperti ditarik 

ke dalam air. Ketika mereka akhimya muncul kembali suasana di tepi Kali Brantas itu menjadi 

heboh. Tidak satupun lagi dari ke delapan perajurit Kediri yang keluar dari kali itu kini 

mengenakan celana! Dalam keadaan tubuh setengah telanjang pada bagian yang paling rawan 

itu, mereka kalang kabut berusaha menutupi aurat! 

Dalam keadaan seperti itu di seberang kali terdengar suara tertawa mengakak. Semua 

orang di tepi Barat kali memandang ke seberang. Di tepi Timur Kali Brantas kelihatan pemuda 

berambut gondrong itu tegak sambil tertawa terpingkal-pingkal. Di kedua tangannya dia 

memegang delapan helai celana panjang yang sebelumnya dikenakan oleh delapan perajurit. 

Satu demi satu celana itu dilemparkannya ke dalam kali, hanyut dibawa arus ke hilir. 

"Penghinaannya sudah keterlaluan!" geram Adikatwang sambil mengepalkan tinju. 

"Lepaskan panah beracun!" teriaknya. Tiga orang anak buahnya segera menyiapkan busur dan 

panah beracun. Tetapi ketika tiga panah itu melesat ke seberang kali, Pendekar 212 Wiro 

Sableng sudah lenyap. Hanya suara tertawanya yang masih kedengaran di kejauhan. 

"Manasia itu tidak gila!" kata Adikatwang. 

"Kalau dia memang sempat mendengar pembicaraan kita, keadaan bisa sangat 

berbahaya," ujar Wira Seta pula. Air mukanya tampak jadi gelisah."Aku akan sebar orang untuk mencari jejaknya." Adikatwang juga tampak tidak tenang. 

Yang paling terpukul adalah Gandita. Pemuda itu berulang kali kelihatan mengepalkan 

kedua tinjunya bahkan membanting-banting kaki. Dia memisahkan diri dari orang-orang di 

tepi kali itu. Dalam hatinya dia tidak habis pikir. Tamparanku seharusnya sudah cukup 

membuat pemuda itu cedera berat. Tapi bahkan jotosanku seperti tidak ada apa-apanya! Aku 

malu sekali! Dimana mukaku hendak kuletakkan. Apa kata Adipati Wira Seta nantinya. Juga 

bagaimana pula pandangan Raden Adikatwang. Padahal dia baru saja memujiku. Aku murid 

orang sakti dari Gunung Kelud. Digembleng selama bertahun-tahun. Tapi ternyata tidak 

mampu menghadapi anak desa tadi. Wiro... Namanya Wiro. Belum pernah aku mendengar 

seorang pendekar dengan nama itu. Siapa dia sebenarnya? Aku harus mencarinya. Aku harus 

menantangnya. Berkelahi sampai seratus bahkan seribu jurus kalau perlu. Aku harus 

menghajarnya dan membuatnya bertekuk lutut! Hanya itu satu-satunya cara untuk mengem-

balikan kepercayaan Adipati Wira Seta dan Raden Adikatwang. 

Untuk melepaskan rasa geram dan amarah yang seperti membakar dadanya Gandita 

memukul batang pohon yang ada di depannya. 

Braaak! 

Kulit pohon pecah, bagian dalamnya hancur. Terdengar suara bergemuruh ketika pohon 

itu patah dan tumbang. 

Satu tangan memegang bahu Gandita. Pemuda ini mengira orang itu adalah pemuda 

gondrong yang telah mempermalukannya. Cepat dia membalik seraya menghantamkan tinju 

dengan kekuatan tenaga dalam penuh! Angin pukulannya terdengar menggidikkan. 

Tapi Gandita cepat menarik pulang tangannya ketika melihat siapa yang berdiri di 

hadapannya. Pemuda ini jatuhkan diri dan berkata. 

"Adipati, maafkan saya. Saya kira...." 

Adipati Wira Seta mengangguk. "Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini Gandita." 

"Saya tidak berguna jadi pembantu Adipati," berterus terang pemuda itu. 

"Jangan berkata begitu anak muda. Hidup ini penuh cobaan dan tantangan. Apapun yang 

telah terjadi hanya satu pengalaman agar dimasa mendatang kita harus belajar lebih banyak. 

Aku tetap percaya kau adalah pembantuku yang terbaik. Berdirilah. Kita akan segera kembali 

ke Sumenep."Sambil mengusap mukanya Gandita bangkit berdiri. Apapun yang dikatakan oleh sang 

Adipati tidak membuat rasa sakit hatinya terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng jadi berkurang. 

***

SEBATANG panah beracun yang dibidikkan dari seberang Kali Brantas menancap di batang 

pohon. Kulit pohon ini kelihatan menghitam pertanda betapa jahat dan berbahayanya racun 

panah. Pendekar 212 sendiri saat itu sudah jauh meninggalkan tepi Timur Kali Brantas tapi dia 

masih saja tertawa terpingkal-pingkal. Ketika dadanya terasa agak sesak dan perutnya sakit 

karena terus-terusan tertawa akhirnya dia duduk di gundukan akar sebuah pohon besar. 

Tawanya sesaat berhenti. Dibukanya bajunya yang basah lalu diperasnya sampai sekering 

mungkin. Ketika dia ingat lagi akan apa yang dilakukannya terhadap prajurit-prajurit Kediri 

itu, Wiro tak dapat menahan diri. Kembali dia tertawa gelak-gelak. Tetapi saat itu ternyata dia 

tidak tertawa sendirian. Ada orang lain yang ikut tertawa bersamanya. 

Tertawa itu demikian keras dan hebatnya sehingga murid Eyang Sinto Gendeng 

merasakan akar pohon yang didudukinya ikut bergetar. Wiro hentikan tawanya. Orang lain itu 

masih terus tertawa. Akhirnya Wiro juga ikut-ikutan tertawa kembali. 

Sambil tertawa dan garuk-garuk kepala dia memandang berkeliling. Mencari dimana dan 

siapa gerangan orang yang tertawa itu. Suara tawanya keras tanda pasti orangnya berada di 

dekat-dekat situ. Tiba-tiba ada air mengucur dari atas. Air yang terasa agak hangat ini jatuh di 

pundak Wiro. Wiro mengusapnya lalu hidungnya membaui sesuatu. 

"Kurang ajar! Air kencing!" teriak Pendekar 212 sewaktu dia membaui pesingnya air 

yang jatuh di badannya. Dia melompat dari duduknya dan mendongak ke atas pohon. Mata 

Wiro Sableng jadi mendelik. 

Di atas pohon itu pada sebuah cabang yang tidak seberapa besar dilihatnya duduk seorang 

lelaki bertubuh luar biasa gemuknya. Dia duduk sambil tertawa-tawa yang membuat tubuhnya 

terguncang-guncang. Orang ini mengenakan celana hitam dan sehelai baju putih yang tak bisa 

dikancingkan karena kesempitan. Rambutnya disanggul ke atas. Dadanya yang gembrot dan 

perutnya yang berlemak tersembul. 

Kedua matanya yang sangat sipit sampal basah karena tertawa. Tapi bukan matanya saja 

yang basah. Ternyata bagian bawah perutnya juga ikut basah lalu tiris ke bawah. Airkencingnya inilah yang mengucur jatuh menimpa Pendekar 212 yang saat itu duduk dibawah 

pohon! 

Wiro usap bahunya yang terkena air kencing dengan baju yang barusan diperasnya. Dia 

hendak memaki habis-habisan, tetapi otaknya bekerja cepat. 

Dalam hatinya dia berkata. Kerbau bunting di atas pohon itu bukan manusia 

sembarangan. Beratnya pasti lebih dari dua ratus kati. Tapi lihat, dia bisa duduk di cabang 

pohon yang begitu kecil! aku lngat pada sahabatku Raja Penidur yang luar biasa gemuknya. 

Tapi kerbau bunting di atas pohon ini jauh lebih gemuk!

Wiro menunggu sampal orang itu berhenti tertawa. Tapi nyatanya si gemuk ini tawanya 

semakin menjadi-jadi. Air kencingnya juga maslh terus tiris ke bawah membuat Wiro terpaksa 

menjauh dari pohon. 

Setelah ditunggu-tunggu dan tawanya tidak juga berhenti, Wiro jadi kesal. Dia berteriak. 

"Kerbau Bunting di atas pohon! Berhenti tertawa! Kau telah mengencingiku!" 

Suara tawa sirap. Di atas pohon orang gemuk itu tampak berpaling ke kiri dan ke kanan. 

"Kerbau Bunting? Ada yang menyebut aku Kerbau Bunting? Lucu sekali! Hidup seratus lima 

puluh tahun baru hari ini ada yang memanggil diriku Kerbau Bunting! 

Ha...ha...ha...ha...haaaa!" Tubuh si gemuk berguncang-guncang dan suara tawanya kembali 

menguncang. 

"Sialan!" maki Wiro. Dia memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya melihat seekor Ular 

Keket hijau besar menempel di atas sehelai daun dekat rumpunan semak belukar. 

"Hemmmm…." Wiro garuk-garuk kepalanya. 

"Aku mau lihat apakah kau masih bisa tertawa kalau mulutmu kujejali binatang ini!" 

Meskipun agak geli-geli Wiro mengangkat Ular Keket dari atas daun lalu dilemparkannya 

ke atas pohon. 

Si gemuk di atas pohon yang masih terus tertawa gelak-gelak tampak kaget ketika sebuah 

benda hijau bergelung melesat ke arah mulutnya yang terbuka lebar. Cepat dia meniup ke 

bawah. Ular Keket itu mental tetapi kini justru jatuh dan menempel di perutnya yang 

tersembul di sela baju yang tidak terkancing! 

"Wadauuuuw….! Ular! Ular Keket...! Tolong..!" 

"Tolong!"Sekujur tubuh si gemuk menggigil. Mukanya yang tadi merah karena tertawa terus-

terusan kini menjadi pucat pasi. 

Ternyata dia takut sekali pada Ular Keket yang kini menempel di perutnya yang gendut 

berlemak itu. Kedua kakinya digoyang-goyangkan. Kedua tangannya bergerak kian kemari 

kalang kabut. Dia coba pergunakan tangan untuk menjentik binatang itu tepi tak jadi karena 

merasa sangat jijik. Saking bingungnya dia melompat ke cabang pohon yang lain. 

Bergelantungan sambil melejang-lejangkan kedua kakinya. 

"Tolong! Wadauwww…. Ular.... Tolong!" teriak si gendut lagi. 

Di bawah pohon Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa terpingkal- pingkal. 

"Rasakan olehmu sekarang! Masih untung binatang itu tidak nyemplung ke dalam 

mulutmu! 

"Tolong! Aduh! Bagaimana ini! Tolongggg.... !" Dari atas pohon kini kelihatan makin 

deras air kencing yang mengucur ke bawah. 

"Gila! Berapa gentong air yang tersimpan dalam perut Kerbau Bunting itu. Kencingnya 

tak habis-habis!" 

"Tolong...! Aduh...! Ampunnnn! Tolong! Ada Ular Keket di perutku! Batara Dewa 

Tolong diriku.... !" Lama-lama Wiro jadi kasihan juga melihat si gemuk itu. 

Dia patahkan sebuah ranting lalu melompat melesat ke atas pohon tempat di mana si 

gemuk bergelantung ketakutan setengah mati. 

Dengan ujung ranting disingkirkannya Ular Kaket hijau besar yang menempel di perut si 

gendut lalu dia melayang turun ke tanah kembali. 

Di atas pohon jeritan ketakutan si gemuk langsung berhenti. Tubuhnya mandi keringat. 

"Terima kasih...! Terima kasih! Heh, siapa yang menolongku?!" Si gendut memandang ke 

kanan dan ke kiri. 

"Hai! Aku di bawah sini!" terlak Wiro. "Kerbau Bunting itu pasti sudah tahu aku berada 

di sini. Tapi dia berpura-pura saja!" 

Si gendut memandang ke bawah. Dagunya tertahan oleh dadanya yang gembrot. Tapi dia 

bias melihat Wiro di bawah sana. 

"Ah, kau di situ rupanya!" Lalu si gendut lepaskan pegangannya pada cabang pohon. 

Tubuhnya melayang jatuh ke bawah. Sebuah batu kecil saja kalau jatuh ke tanah pasti akanmengeluarkan suara berdebuk. Tapi ketika kedua kaki si gendut yang beratnya lebih dari dua 

ratus kali itu menginjak tanah Wiro memperhatikan dan tidak mendengar ada sedikit 

suarapun! Kerbau Bunting ini benar-benar manusia luar biasa, kata Wiro dalam hati. 

Di hadapan Wiro si gemuk menjura lucu seraya berkata, "Sobatku Muda. Terima kasih. 

Kau telah menolong aku dari binatang celaka itu!" 

Wiro tertawa gelak-gelak. Si gemuk ikut-ikutan tertawa. Tapi tiba-tiba dia hentikan 

tawanya dan bertanya. 

"Eh, Sobatku Muda. Mengapa kau tertawa? Apa Ada yang lucu pada diriku?" 

"Jelas tubuhmu dari ujung rambut sampal ujung jempol sangat lucu!" 

"Apakah kau tadi yang memanggil aku dengan sebutan Kerbau Bunting?" 

"Betul." sahut Wiro dan menyangka si gendut itu akan marah. Tapi justru orang di 

depannya malah tertawa gelak-gelak sampai sekujur tubuhnya berguncang-guncang. 

"Lucu... Lucu sekali sebutan itu. Seratus lima puluh tahun hidup malang-melintang 

dimuka bumi, baru sekali ini ada yang memberikan nama lucu begitu padaku. Terima kasih 

sobatku muda!" 

Wiro jadi melongo mendengar kata-kata itu. 

"Heh, tadi aku bertanya kenapa kau tertawa waktu aku bilang terima kasih. Bukankah kau 

yang telah menolongku menyingkirkan Ular Keket celaka itu?" 

"Benar Sobatku Gendut." 

"Sobatku Gendut? Ah, sekarang kau menyebut aku dengan nama itu! Kau seorang sahabat 

yang benar-benar lucu!" Si gendut lalu tertawa gelak-gelak sampai ke dua matanya basah. 

"Terima kasih. Kau telah menolongku. Aku benar-benar takut pada binatang seperti itu. 

Cuma kenapa kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa kau tertawa waktu aku bilang 

terima kasih?" 

"Kau tidak tahu! Sebetulnya akulah yang tadi melemparkan binatang itu ke padamu!" 

jawab Wiro polos. 

Si gemuk tampak terkejut. "Kau... Kau yang melemparkannya?" tanyanya. 

Wah, kali ini Kerbau Bunting ini pasti marah besar! Membatin Pendekar 212. Lalu dia 

mengangguk. "Ya, aku yang melemparkannya!" Wiro lalu berjaga-jaga kalau-kalau si gendut 

itu menjadi marah dan menghantamnya."Kau...?" Kening si gendut tampak mengerenyit. 

Matanya yang sangat sipit seperti mau mendelik tapi tidak bisa dan tetap saja sipit. Tiba-

tiba dari mulutnya meledak keluar suara tawa mengakak. 

Lucu, aku sangka dia bakalan marah. Ternyata tidak. Malah tertawa gelak-gelak. Mahluk 

aneh macam apa dia ini sebenarnya! 

Seperti tahu apa yang dipikirkan Wiro si gemuk hentikan tawanya dan berkata. "Aku 

tertawa dan aku tidak marah. Karena kau orang jujur dan bicara polos!" Si gendut pegang 

kedua bahu Wiro lalu mengguncang-guncangnya dengan keras hingga Pendekar 212 merasa 

tubuhnya seperti diguncang gempa yang dahsyat. Tapi diam-diam dia merasakan ada hawa 

aneh yang mengalir lewat kedua bahunya. lubuhnya mendadak terasa enteng! 

Astaga! Orang ini seperti sengaja mengalirkan semoga aneh ke dalam tubuhku! Kata Wiro 

dalam hati begitu menyadari tubuhnya menjadi lebih enteng. 

"Sobatku muda, aku mau tanya," berkata si gendut. "Mengapa kau tadi melemparkan Ular 

Keket itu padaku?" 

"Karena kau mengencingi aku!" jawab Wiro. 

"Hah?! Aku mengencingimu?!" Si gendut bermata sipit itu seperti terkejut. "Bagaimana 

mungkin?" Lalu dia memperhatikan bagian bawah celana hitamnya. Dipegangnya 

selangkangan-nya. Terasa basah. Lalu tangannya yang tadi memegang celananya yang basah 

disapukan di depan hidung. Bau pesing. "Gila! Aku memang kencing rupanya!" kata si gendut 

ini. Dia diam sebentar lalu tertawa gelak-gelak. 

"Kalau aku mengencingi itu bukan disengaja Sobatku Muda!" kata si gemuk itu sambil 

mengusap kedua matanya yang basah. "Ada sebab yang membuatku terkencing-kencing. Aku 

tadi tertawa terpingkal-pingkal dan kau kebetulan ada dibawah pohon! Walaupun begitu 

kuharap kau sudi memaafkan diriku!" 

Wiro diam saja. Sesaat kemudian dia bertanya. 

"Apa yang membuatmu tertawa terpingkal-pingkal?" "Aku melihat satu kejadian lucu di 

tepi Kali Brantas!" 

"Kejadian apa?" Wiro menyambung pertanyaannya. 

"Aku melihat...ha...ha...ha..." Si gendut belum sempat meneruskan ucapannya dia sudah 

keburu tertawa. "Aku melihat... Ha... ha.., ha... ha... Ada...ada... ada delapan orang PERAJURIT Kediri dipreteli orang celananya hingga waktu mereka keluar darl air dalam keadaan bugil! 

Anunya pada bergelantungan kemana-mana....! He...ha...ha! Apakah itu menurutmu tidak 

lucu? Mereka kelabakan! Berusaha menutupi anu mereka! Lucu....! Ha.... he ...ha..." Tiba-tiba 

suara tawanya berhenti. Kedua matanya yang sipit memandang lekat-lekat kepada Wiro 

Sableng. 

Apa yang ada dalam pikiran si gendut ini, Wiro bertanya dalam hati. 

"Heh?" Bukankah… Bukankah kau orangnya yang menelanjangi delapan perajurit Kediri 

itu?!" Wiro tertawa lebar. Sambil garuk-garuk kepalanya dia mengangguk dan berkata. 

"Memang. Aku yang menelanjangi mereka. Mereka hendak menangkapku!" 

Si gemuk tertawa mengekeh. "Kau ternyata pemuda jahil! Lain kali kalau mau 

menelanjangi orang, jangan orang lelaki, tapi cari orang perempuan! Ha... ha… ha… ha…!" 

Wiro jadi ikut-ikutan tertawa. 

"Mengapa mereka hendak menangkapmu?" 

"Karena aku makan cempedak." Jawab Wiro. 

Lalu dia bertanya. "Apakah seseorang bisa ditangkap karena makan cempedak?" 

"Mana ada pasalnya orang ditangkap makan cempedak. Kecuali kalau cempedak itu buah 

curian. Atau kau makan sambil berpelukan dengan bini orang! Ha...ha...ha...ha...!" 

Wiro geleng-geleng kepala. Seumur hidup belum pernah dia bertemu dengan orang 

seperti ini. Gemuk luar biasa dan juga lucu luar biasa. 

"Hari sudah siang! Aku masih punya keperluan lain. Sobatku Muda, aku mau pergi 

sekarang." berkata si gendut. 

"Ke mana tujuanmu sebenarnya?" 

"Ah, hal itu tidak bisa kukatakan padamu. Jangan marah. Ha...ha...ha..." 

"Aku mengucapkan terima kasih padamu. Kau telah menanam budi baik padaku." 

"Eh, kau ini bicara apa Sobatku Muda?" tanya si gendut. 

"Kau berpura-pura Sobatku Gendut. Waktu memegang kedua bahuku tadi, kau diam-diam 

mengalirkan hawa aneh ke dalam tubuhku. Lalu aku merasa tubuhku lebih ringan dari 

sebelumnya." 

Si gendut tertawa gelak-gelak. "Anggap saja itu sebagai pembayar dosaku 

mengencingimu! Ha.... ha... ha...!" Habis berkata begitu dia masukkannya dua jari tangankanannya ke mulut. Lalu terdengar suara suitan. Dari balik semak belukar menyeruak keluar 

seekor keledai, kecil pendek dan kurus. 

"Tungganganku sudah datang menjemput. Aku pergi. Selamat tinggal Sobatku Muda!" 

Wiro terkejut. "Kau... Kau hendak menunggangi keledai sekecil itu?" tanya Wiro heran. 

"Memangnya kenapa?" balik bertanya si gendut. 

"Tubuhmu besar dan berat! Baru berjalan lima langkah keledai itu akan jadi mejret!" 

Si gendut tertawa gelak-gelak. "Kau saksikan saja nanti apakah binatang ini mejret atau 

tidak!" Si gendut melompat. Sekali lompat saja dia sudah duduk di punggung keledai kurus 

itu. "Ayo jalan!" seru si gendut seraya menepuk pinggul binatang tunggangannya. Keledai itu 

melangkah. Ternyata jalannya cepat sekali. Setelah lewat sepuluh langkah si gendut berpaling. 

"Apakah kau lihat keledai ini mejret?!" teriaknya. Lalu dia tertawa mengekeh. 

Wiro garuk-garuk kepala. Kedua matanya memperhatikan. Lalu. Astaga! Keledai itu 

ternyata berkaki enam. Yang dua adalah kaki si gendut sendiri! Kedua kakinya ternyata 

menjejak tanah dana berjalan seperti biasa. Hanya pantatnya saja rupanya yang menumpang 

duduk di punggung si keledai. Itupun tidak sampai menekan tubuh tunggangannya karena 

sebenarnya dia berjalan kaki seperti biasa! 

Wiro tertawa gelak-gelak. "Hai Sobat!" teriak Wiro. "Sebelum pergi kau mau memberi 

tahu siapa namamu?!" 

"Selama seratus lima puluh tahun hidup, aku tidak pernah memakai namaku. Kini aku jadi 

lupa apakah aku punya nama atau tidak. Tapi orang- orang menggelariku Dewa Ketawa! 

Gelaran lucu! Ha...ha..ha...! Tapi mungkin mereka betul! Mungkin gelar itu cocok bagiku!" Si 

gendut lalu menepuk pinggul keledai kurusnya. Binatang ini melangkah lebih cepat. Kedua 

kaki si gendut juga bergerak lebih cepat. Sesaat kemudian orang dan tunggangannya itu lenyap 

di balik kerapatan pepohonan dan semak belukar. 

Wiro masih tertegak di tempatnya semula. Dewa Ketawa. Belum pernah aku mendengar 

nama itu sebelumnya. Dia mungkin seumur dengan Dewa Tuak. Aku tidak mengerti mengapa 

dia mengalirkan hawa aneh ke dalam tubuhku. Sayang aku menyelidiki apakah dia orang 

Kediri atau orang Singosari. Dia sendiri rupanya tidak kepingin tahu namaku. Kerbau 

Bunting yang aneh… Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya lalu tinggalkan tempat itu. 

***

SETELAH Adipati Wira Seta dan Gandita meninggalkan tempat pertemuan rahasia di tepi 

Kali Brantas itu, Raden Adikatwang dan rombongannya segera kembali ke Gelang-gelang 

yang dijadikan pusat Kerajaan Kediri pada masa itu. Rombongan ini sengaja menempuh rimba 

belantara untuk menghindari pertemuan dengan pihak-pihak yang tidak diinginkan dan bisa 

membocorkan rahasia. 

Dalam perjalanan kembali ini Adikatwang lebih banyak berdiam diri. Suara hatinya 

berkata tiada henti. Apakah memang dia harus mengangkat senjata bersama Wira Seta, 

memberontak terhadap kekuasaan Singosari. Mustikah Sang Prabu dihabisi riwayatnya? 

Haruskah semua itu dicapai dengan pertumpahan darah? Bukankah nantinya bakal banyak 

rakyat yang menderita? Kalau aku menang apakah aku memang layak memegang tampuk 

kekuasaan? Memerintah dikelilingi oleh orang-orang Singosari yang tentunya akan menanam 

dendam sakit hati pula atas kekalahan mereka, atas kematian teman dan keluarga mereka? 

Ketika suara hati Adikatwang berkata begitu, telinganya seperti mengiang suara jawaban 

yang lebih keras dan menggetarkan. 

Adikatwang kau adalah turunan dan pewaris syah singgasana Kediri. Dulu orang-orang 

Singosari merebut kekuasaan dan merampas tahta Kerajaan Kediri dari moyangmu! 

Sekarang saatnya untuk membalaskan segala sakit hati! Sekarang saatnya untuk mengangkat 

senjata. Kau tidak sendirian. Dimana-mana orang akan mendukung perjuanganmu. Ada 

ribuan perajurit yang bersedia mengorbankan darah dan jiwa raganya demi berdirinya 

kembali Kerajaan Kediri. Kesempatan hanya datang satu kali. Kalau kau mengabaikannya 

kau akan tetap menjadi hamba sahaya di bawah tekanan Singosari! 

Adikativang mengusap wajahnya. Sikapnya yang berdiam diri Itu bukan tidak 

diperhatikan oleh para perajurit yang mengawalnya. Namun tak ada satu orangpun dari 

mereka yang berani mengatakan resuatu. Rombongan itu bergerak dalam kesunyian lanpa ada 

yang bicara. 

Di satu tempat telinga Adikatwang mendengar sesuatu. Dia hentikan kudanya danmemandang berkeliling. 

"Ada apakah Sri Baginda?" tanya seorang pengawal. Para pengikut Adikatwang yang 

setia selalu memanggil Adikatwang dengan sebutan Sri Baginda. Walaupun pemimpin mereka 

itu tidak lebih dari seorang raja kecil yang tiada berdaya di satu wilayah yang kecil pula, 

namun mereka tetap menganggap Adikatwang adalah raja mereka, Raja Kediri. 

"Aku mendengar sesuatu..." Jawab Adikatwang. 

Sepuluh pengawal memasang telinga. Mereka saling pandang. Beberapa saat kemudian 

salah seorang dari mereka" berkata. "Kami tidak, mendengar suara apa-apa." 

Tentu saja para perajurit itu tidak atau belum mampu mendengar suara yang datangnya 

sangat sayup-sayup di kejauhan di dalam rimba belantar itu. Karena kesaktiannya Adikatwang 

bisa mendengar suara itu yang tidak mampu didengar oleh para pengikutnya. 

"Ikuti aku... Tapi harap kalian waspada. Tangan kalian jangan jauh di senjata." kata 

Adikatwang. Maka sepuluh perajurit itu segera menempelkan tangan pada senjata masing-

masing. Mereka bergerak mengikuti Adikatwang. 

Tak selang berapa lama Adikatwang kembali hentikan kudanya dan berkata. "Suara itu 

semakin jelas. Apakah kalian bisa mendengarnya sekarang?" 

"Ya... Kami dapat mendengarnya sekarang," jawab beberapa perajurit bersamaan. 

"Apa yang kalian dengar?" Adikatwang mengulangi. 

"Itu... suara...suara orang sesenggukan. Suara orang menangis." jawab perajurit di 

samping Adikatwang. 

Adikatwang mengangguk. "Tidakkah aneh ada ingin menangis di dalam rimba belantara 

seperti? Mari kita bergerak ke arah suara. Kita akan lihat siapa adanya orang yang menangis 

itu." 

Kembali sepuluh perajurit mengikuti pimpinan mereka bergerak ke arah kanan yaitu dari 

mana datangnya suara orang menangis terisak-isak. Berapa puluh langkah menunggangi kuda, 

di suatu tempat yang agak terbuka, duduk di atas sebatang kayu yang sudah lapuk tampak 

seorang kakek berkulit hitam tengah menangis. Tangisnya sedih sekali dan setiap saat dia 

mengusap kedua matanya yang basah dengan ujung kaln putih yang diselempangkan di dada. 

Melihat kepada rambutnya yang digelung di atas kepala serta pakaiannya, tampaknya kakek 

hitam ini adalah seorang Resi. Tetapi Adikatwang yang mengenali orang tua itu tahu betulkalau kakek itu bukanlah seorang Resi atau Brahmana. 

"Dewa Sedih! Sungguh suatu rahmat dari para dewa kalau saat ini aku bisa menemuimu! 

Aku memang sudah lama mencarimu. Dicari-cari tidak ketemu tahu-tahu muncul sendiri!" 

Kakek yang dipanggil dengan julukan Dewa Sedih itu turunkan kedua tangannya. Melihat 

wajahnya, sekalipun dia tidak menangis, orang akan menyaksikan satu wajah yang selalu 

membayangkan kesedihan. Kedua alis matanya yang hitam menjulai bawah. Mulutnya 

mengkerut. Sekalipun dia tersenyum maka mimik wajah itu tetap saja menunjukkan 

kesedihan. 

Begitu melihat Adikatwang, orang tua ini berkata perlahan, "Raden..." Lalu kembali dia 

menangis terisak-isak. Siapa yang mendengarkan pasti akan merasa sedih. 

Adikatwang yang sudah tahu sifat orang tua ini hanya bisa tersenyum. "Dewa Sedih, kau 

berada jauh dalam hutan begini. Menangis sedih sekali. Apakah pasal sebabnya?" 

Dewa Sedih geleng-geleng kepala. Dia mengusap muka dan wajahnya berulang kali. 

"Aku... Aku melihat sesuatu di telapak tangan kiriku..." katanya lalu kemball menggerung 

seperti anak kecil. 

"Mana coba kulihat telapak tangan kirimu..." kata Adikatwang pula. 

Orang tua itu kembangkan telapak tangan kirinya di hadapan Adikatwang. 

"Lihat sendiri," katanya. "Lihat, sesuatu akan terjadi sesuatu peristiwa besar yang sangat 

menyedihkan..." Dewa Sedih meneruskan tangisnya. 

"Aku tidak melihat apa-apa," kata Adikatwang sambil tersenyum. Tapi diam-diam hatinya 

berdetak. Walaupun bersifat aneh dan terkadang menjengkelkan, setiap ucapan orang tua ini 

tidak boleh dianggap sepi. Dia mengatakan satu peristiwa besar yang sangat menyedihkan 

akan terjadi. Apakah dia sudah punya firasat kalau...? 

"Mata Raden buta rupanya!" terdengar Dewa Sedih berkata setengah memaki. "Masakan 

gambar yang begini jelas di telapak tanganku Raden tidak melihat?" 

"Kau betul Dewa Sedih. Mata orang tolol sepertiku mana punya kemampuan melihat 

sehebat kedua mata yang kau miliki. Coba kau ceritakan dengan jelas, apa yang kau lihat di 

telapak tanganmu." 

Sambil sesenggukan Dewa Sedih kembangkan talapak tangannya dan memperhatikan 

lekat-lekat. Sesenggukannya berubah menjadi tangisan keras. Di antara tangisnya terdengarucapannya. "Perang... ada perang. Darah di mana-mana... Mayat di mana-mana. Sedih... 

menyedihkan sekali. Dewa Batara kasihani mereka. Tolong mereka... Jauhkan malapetaka itu. 

Hik...hik...hik..." 

Paras Adikatwang jadi berubah. Begitu juga sepuluh orang prajurit yang ada di tempat itu. 

Mereka saling pandaug bahkan ada yang mulai berbisik-bisik Orang tua ini sungguh luar biasa 

kesaktiannya. Dia mampu melihat apa yang bakal terjadi dalam waktu dekat ini. Kalau apa 

yang ditetahuinya itu diberitahukannya pada orang iain, bisa celaka... 

"Dewa Sedih, dari pada kau menangis di rimba belantara ini, lebih baik ikut bersamaku ke 

Gelang-gelang. Aku memerlukan bantuanmu. Ada pekerjaan besar menunggumu. Imbalannya 

tentu saja besar pula." 

"Aku tak mau hidup terikat ikut dengan orang lain. Biarkan aku sendirian di sini. 

Tangisku belum selesai." Lalu kembali Dewa Sedih menangis tersedu-sedu. 

"Dewa Sedih, jangan kau salah kira. Aku atau siapapun tidak ada yang akan mengikatmu. 

Di Gelang-gelang kau bebas mau pergi kemana, mau melakukan apa. Bahkan menangis di 

sana akan lebih nikmat..." 

"Maksudmu?" tanya Dewa Sedih. Tangisnya terhenti. 

"Di sana kau bisa menangis dengan diiringi gamelan. Apa tidak hebat?!" 

"Menangis diiringi gamelan?" 

"Betul." Jawab Adikatwang sungguh-sungguh. 

"Ah... Aku jadi lebih sedih. Kasihan pemain-pemain gamelan itu nantinya. Mereka tidak 

akan mampu mengikuti suara orang menangis... Pergilah kalian. Aku mau menangis sampai 

mati." 

"Kalau kau memang mau mati, tidak usah menunggu lama. Di hutan ini banyak binatang 

buas dan binatang berbisa. Kau tinggal memilih mati cara bagaimana. Diterkam harimau. Atau 

dipagut ular berbisa!" 

Mendengar kata-kata Adikatwang itu paras Dewa Sedih berubah. Dia seperti ketakutan 

tetapi anehnya air mukanya justru kelihatan kuyu sedih. 

"Kalau begitu biar aku ikut bersama Raden," kata Dewa Sedih dan cepat bangkit berdiri. 

"Ikut aku itu sudah pasti Dewa Sedih. Tapi aku mau tahu di mana saudara mudamu yang 

berjuluk Dewa Ketawa itu? Sebenarnya aku ingin dia ikut bergabung bersama kami.""Ah si kentut gendut Dewa Ketawa itu aku tidak mengaku saudara padanya. Aku selalu 

diejeknya, dihina dan ditertawai." 

"Itu urusanku nanti kalau dia masih begitu terhadapmu. Yang penting kau tahu di mana 

kita bias menemukannya?" tanya Adikatwang. 

Dewa Sedih Menggeleng. 

"Coba lihat di telapak tanganmu," kata Adikatwang pula. 

"Ah, kau betul Raden. Aku baru ingat..." Masih sesenggukan dan wajah menunjukkan 

kesedihan mendalam Dewa Sedih kembangkan lebar-lebar telapak tangan kirinya. Lalu 

memperhatikan tanpa berkesip. Beberapa saat kemudian dia mengangkat kepalanya, 

memandang kepada Adikatwang. 

"Gajah buduk itu sebelumnya berada di tepi Kali Brantas sebelah Tenggara. Kini kulihat 

dia menunggangi keledai bobroknya menuju ke Barat. Jangan-jangan dia dalam perjalanan 

menuju Tumapel di Singosari." 

Adikatwang merasa tidak enak mendengar ramalan Dewa Sedih itu. "Dewa Sedih, apakah 

kau bisa memanggil adikmu itu lalu sama-sama membantu di Kediri." 

Dewa Sedih menggelengkan kepala. "Orang sedih dia mana bisa disatukan dengan orang 

ketawa. Raden harus memilih. Percaya padaku atau lebih suka padanya. Yang jelas kami 

berdua tidak bisa seiring sejalan." 

Adikatwang mengusap dagunya. "Baiklah," katanya. 

"Kalau begitu kau yang akan kuambil. Hentikan tangismu dan jangan terlalu cengeng." 

"Aku tidak cengeng! Aku hanya sedih!" kata Dewa Sedih hampir berteriak. Marah dia 

rupanya. Tapi walaupun begitu tampangnya tetap saja murung. 

"Aku tahu... Aku tahu..." kata Adikatwang. "Aku juga sedih." 

"Raden juga sedih? Jadi kita sama-sama sedih. Kalau begitu mari kita sama-sama 

menangis!" 

Manusia geblek! Maki Adikatwang dalam hati. Kalau bukan karena kesaktianmu jangan 

harap aku mau membawa manusia gila sepertimu. 

***

SIANG itu langit cerah. Diiringi oleh para pengawal, bersama-sama Patih Raganatha, 

beberapa orang Pendeta dan Panglima Perang Kerajaan Aruajaya, Sang Prabu melangkah 

menuruni tangga Candi Jago yang terletak di sebelah Selatan Tumapel. Raja Singosari itu baru 

saja melakukan upacara keagamaan. Candi Jago sengaja didirikan oleh Sang Prabu sebagai 

tempat pemujaan terhadap ayahandanya yaitu mendiang Wisnu Wardhana. Seorang hamba 

sahaya membawa payung kuning berumbai-umbai merah untuk melindungi Sri Baginda dari 

sengatan matahari. 

Ketika kaki kiri Sang Prabu Singosari menginjak anak tangga terakhir di bagian depan 

Candi, tiba-tiba di langit petir menyambar terang benderang. Bersamaan dengan itu 

menggelegar suara guntur. Bumi berguncang, Langit laksana terbelah. Semua orang yang ada 

di depan Candi Jago tampak terhuyung. Getaran yang dahsyat terasa sampai ke jantung 

mereka. Wajah mereka termasuk Sang Prabu tampak berubah pucat oleh rasa kejut yang 

bukan alang kepalang. 

"Petir di tengah hari..." desis Sri Baginda seraya memandang pada Patih Raganatha 

sementara para Pendeta tampak menundukkan kepala sambil merapal bacaan-bacaan suci. 

"Apakah artinya ini Mamanda Patih?" 

"Saya tidak dapat menjawabnya saat ini Sang Prabu. Sebaiknya kita kembali cepat-cepat 

ke Tumapel." Menjawab Patih Raganatha. "Memang kita perlu mengkaji apa arti petunjuk 

para Dewa yang diberikan melalui kejadian tadi." 

Sri Baginda mengangguk. Wajahnya agak murung. Dia maklum petir dan guntur tadi 

merupakan suatu pertanda yang tidak baik. Mungkin tidak baik bagi dirinya, mungkin sekali 

bagi Kerajaan. Ya Dewa Bhatara, hal apakah yang akan terjadi di Singosari ini? Berucap Sri 

Baginda dalam hatinya. 

Sang Prabu naik ke atas kereta. Rombongan yang baru saja melakukan upacara 

keagamaan itu bergerak cepat menuju Keraton Tumapel. Di tengah jalan, Patih Raganatha 

yang duduk di samping Sri Baginda berkata. "Sang Prabu, jika saya boleh mengusulkan,begitu sampai di Keraton sebaiknya kita mengadakan pertemuan. Sebenarnya hal ini sudah 

agak lama kami inginkan. Pertanda di Candi Jago tadi membuat saya merasakan pertemuan itu 

sebagai suatu yang mendesak." 

Sang Prabu termenung mendengar kata-kata patihnya itu. Namun akhirnya dia 

menganggukkan kepala. "Beritahu yang lain-lain," katanya. 

Begitu sampai di Keraton Sang Prabu langsung masuk ke sebuah ruangan yang biasa 

dipergunakan untuk pertemuan-pertemuan penting dan mendadak. 

Patih dan Panglima serta beberapa Pendeta mengikuti. 

Setelah semua orang duduk di tempat masing-masing berkatalah Sang Prabu. 

"Mamanda Patih, sekarang coba Mamanda memberikan penjelasan, apakah kejadian di 

Candi Jago siang tadi merupakan suatu pertanda? Jika benar pertanda apakah? Buruk atau 

baik?" 

Patih Rapanatha menghaturkan sembah terlebih dahulu baru menjawab. 

"Daulat Sang Prabu. Saya hanya tahu sedikit soal tanda-tanda ciptaan para Dewa. Saya 

takut mengemukakannya kalau-kalau keliru. Saya merasa sebaiknya kita meminta orang tertua 

di antara kita saja yang bicara. Yaitu Pendeta Mayana." 

Semua orang menyetujui ucapan Patih KerajaaniItu. Sang Prabu berpaling pada orang tua 

berambut sangat putih seperti kapas, bermata bening yang duduk di samping Panglima 

Argajaya. Dialah Pendeta Mayana. 

"Terima kasih kalau Sang Prabu mempercayai dan mau mendengar petunjuk dari kami," 

kata sang Pendeta pula setelah membungkuk terlebih dahulu. "Petir dan guntur di siang hari 

ketika tidak ada hujan adalah suatu petunjuk jelas akan terjadi sesuatu besar di bumi Singosari. 

Sesuatu itu mungkin mendatangkan kebaikan, namun sebaliknya bisa juga membawa 

malapetaka..." 

"Saya tidak percaya kalau kejadian tadi merupakan pertanda akan datangnya malapetaka," 

berkata Sang Prabu. "Kita orang-orang Singosari saat ini berada dalam keadaan berkecukupan. 

Hasil sawah ladang dan ternak melimpah ruah. Keadaan Kerajaan aman tenteram. Semua 

karena, perlindungan dan anugerah para Dewa. Kita orang-orang Singosari selalu taat pada 

agama. Selalu mengingat dan menghaturkan doa sembah kepada para leluhur. Jadi tidak 

mungkin Para Dewa akan menjatuhkan malapetaka di Kerajaan ini. Sulit bagi saya menerimabegitu saja artian yang Pendeta Mayana barusan sampaikan." 

"Mohon dimaafkan kalau ucapan kami tidak berkenan di hati Sang Prabu. Kita semua di 

sini tentu saja memohon pada Dewata agar negeri kita dijauhi dari segala malapetaka maupun 

bencana dalam bentuk apapun. Kami hanya sekedar mengingatkan bahwa yang buruk dan 

yang baik itu bisa saja terjadi tanpa terduga. Namun apakah Sang Prabu berkenan 

mendengarkan beberapa petunjuk lainnya yang berkaitan dengan kejadian siang tadi di Candi 

Jago?" 

"Beberapa petunjuk apa maksud Pendeta Mayana?" tanya Raja pula. 

"Untuk itu biarlah kami minta Panglima Argajaya atau Patih Raganatha yang memberikan 

penjelasan," kata Pendeta Mayana. 

Sang Prabu menganggukkan kepalanya ke arah Patih Raganatha. Sang Patih lalu 

membuka mulut. "Orang kita di Madura melaporkan ada tanda-tanda hahwa Adipati Wira Seta 

telah menambah kekuatan pasukan Kadipaten. Berkali-kali terlihat adanya latihan perang-

perangan. Setahu saya, kita tidak pernah meminta Sumenep untuk melakukan hal itu. Lalu 

mengapa Adipati Wira Seta berbuat demikhian? Jawabnya hanya satu yaitu bahwa dia 

mempunyai suatu rencana. Dan rencana itu tidak sulit untuk diterka. Dia tengah menyusun 

kekuatan untuk memberontak pada Singosari." 

Alis mata Sang Prabu nampak naik ke atas. Keningnya berkerut. "Wira Seta hendak 

memberontak? Tak masuk akal! Bukankah dia sekarang inenjadi Raja Kecil di Madura? Lebih 

tinggi kedudukannya dari pada di Tumapel ini. Sikapnya selama ini tidak menunjukkan 

perubahan sedikitpun. Dia mensyukuri jabatan dan tugas yang diberikan. Bagaimana sekarang 

tahu-tahu Mamanda Patih mengatakan dia menyusun kekuatan hendak berontak? Bukankah 

latihan perang-perangan suatu hal biasa saja bagi suatu Kerajaan sebesar Singosari ini? 

Apalagi Madura dipisahkan oleh laut dengan tanah Jawa. Patut dia memperkuat diri untuk 

berjaga-jaga terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Sesungguhnya apakah yang terjadi di 

Keraton Tumapel ini? Saya mencium ada orang-orang yang tidak suka terhadap Adipati Wira 

Seta." 

Paras Patih Raganatha tampak berubah merah. Dalam hati dia merasa sangat menyesal 

telah mengeluarkan kata-kata tadi. 

Padahal apa yang diucapkannya adalah sejujurnya tidak ada niatan memburukkan oranglain apa lagi mengkhianati. Diam-diam sang patih menjadi sangat sedih. 

Karenanya dia memutuskan untuk tidak membuka mulut lagi. 

Sang Prabu berpaling pada Argajaya. "Panglima, apakah kau tidak akan mengatakan 

sesuatu?" 

Panglima Pasukan Kerajaan ini sesaat tampak meragu. 

Dia melirik pada Patih Ragantha. Dia merasa hiba terhadap orang tua itu. Dengan maksud 

hendak membelanya maka diapun berkata. 

"Memang ada yang hendak saya laporkan, Sang Prabu. Itu jika Sang Prabu berkenan 

mendengarnya..." 

"Apakah ada sangkut pautnya dengan kejadian siang tadi?" tanya Raja pula. 

"Saya tidak berani mengatakan begitu," sahut Argajaya karena dia kawatir dirinya akan 

ditempelak seperti Patih Raganatha "Yang ingin saya sampaikan ialah menyangkut keadaan 

dan keamanan negeri. Sesuai dengan tugas dan kewajiban saya menjaga Kerajaan." 

"Kalau begitu katakanlah," perintah Sang Prabu. 

"Daulat Sang Prabu. Sang Prabu ingat sewaktu utusan Raja Cina keturunan Mongol 

Kubilai Khan datang ke Singosari beberapa waktu lalu?" 

"Saya ingat. Semua kita di sini pasti ingat hal itu." jawab Sang Prabu pula. 

"Kejadian dimana kita mengusir utusan itu setelah terlebih dahulu membuat cacat muka 

pemimpin mereka tidak dapat tidak akan membuat murka Raja Cina. Saya kawatir kalau Raja 

Cina sewaktu-waktu memerintahkan balatentaranya untuk menyerbu kemari." 

Sri Baginda tertawa gelak-gelak mendengar ucapan Panglima Pasukannya itu. 

"Orang asing kalau diberi hati, mereka akan menginjak kita. Apalagi kalau kita 

memperlihatkan sikap takut! Ingat hal itu baik-baik bagi semua yang ada di sini!" Sri Baginda 

memandang satu persatu wajah-wajah di hadapannya. "Mengenai penghinaan yang kita 

lakukan terhadap pimpinan utusan Raja Cina itu, apakah kalian tidak melihat bahwa itu adalah 

lebih ringan dibanding dengan penghinaan yang mereka lemparkan pada kita. Mereka 

meminta agar kita tunduk kepada Kerajaan Cina!" Pelipis Sang prabu tampak bergerak-gerak 

tanda dia menahan kemarahan besar. "Kubilai Khan boleh mengirim serdadunya kemari. Raja 

Cina itu boleh menyerbu Singosari. Kita akan memukul mereka sampai hancur. Tidak ada satu 

Kerajaanpun mampu menundukkan Kerajaan lain yang terpisah jauh. Mereka mungkin bisamenang, tapi hanya sesaat. Begitu jalur perbekalan mereka putus, mereka akan jadi sasaran 

hantu kelaparan atau senjata lawan!" 

Panglima Argajaya dalam hati mengagumi kecerdikan jalan pikiran Sang Prabu.Tetapi 

bagaimana kalau Adipati Wira Seta mempergunakan kesempatan. Bergabung dengan pasukan 

Cina untuk menyerbu Singosari? Rasa-rasanya Singosari hanya akan sanggup bertahan satu 

hari satu malam. Setelah itu... 

Hal itulah yang dikawatirkan oleh Argajaya dan juga diketahui oleh Patih Raganatha. 

Bahkan para Pendeta yang hadir di situ saat itu juga dapat meraba jalan pikiran kedua orang 

tokoh Kerajaan tersebut. Namun tidak satupun yang berani mengemukakannya karena takut 

dituduh yang bukan-bukan. 

Melihat Argajaya diam saja Sang Prabu lantas bertanya. 

"Masih ada lagi yang hendak mengemukakan sesuatu? Kalau tidak pertemuan ditutup 

sampai di sini." 

Patih Raganatha melirik kepada Argajaya. Panglima Pasukan Singosari yang mengerti arti 

lirikan ini membungkuk dalam-dalam dan berkata. 

"Izinkan saya menyampaikan sesuatu Sang Prabu." 

Sang Prabu mengangguk. 

"Ada seorang pelapor memberi tahu tentang pertemuan rahasia antara Adipati Wira Seta 

dengan penguasa di Kediri." 

"Maksudmu Raden Adikatwang?" 

"Betul sekali Sang Prabu." 

"Apa yang dilaporkan orang itu?" tanya Sang Prabu. 

Lalu panglima Argajaya menceritakan pertemuan rahasia antara Adipati Wira Seta dengan 

Adikatwang beberapa waktu lalu di sebuah hutan tak berapa jauh dari Kali Brantas. 

"Ini cerita baru yang sungguh tidak enak didengar. Bahkan mengejutkan!" kata Raja pula. 

"Tetapi saya lagi-lagi sulit mempercayainya. "Saya tahu betul selama ini Adikatwang 

menghambakan dirinya penuh kejujuran dan kesetiaan pada Singosari. Itu sebabnya kita 

memberikan kekuasaan di Gelang-gelang kepadanya. Upetinya tidak pernah putus. Apakah 

orang sebaik itu bisa dipercaya akan melakukan pemberontakan? Dan kawan pemberontaknya 

adalah Wira Seta yang juga mengabdi begitu baik terhadap Kerajaan?"Orang-orang yang ada di tempat itu, terutama Patih Raganatha dan Panglima Argajaya 

merasa putus asa dan sangat kecewa atas tanggapan yang diberikan oleh Raja mereka. Sang 

Prabu rupanya memaklumi hal ini. Maka diapun bertanya. 

"Siapa pelapor yang kau katakan itu Panglima?" 

"Seorang pemuda bernama Wiro." 

"Dia orang Singosari?" 

"Dia mengaku dari Barat. Dari Gunung Gede." Jawab Argajaya. 

"Ahhhh...Orang dari Barat!" ajar Sang Prabu sambil menarik napas panjang. "Bukan 

mustahil dia adalah sisa-sisa turunan orang-orang Tarumanegara atau Pajajaran yang kita 

semua tahu bahwa mereka tidak punya hubungan baik dengan Singosari sejak jaman nenek 

moyang kita." 

Mendengar ucapan Raja mereka itu Argajaya apalagi Patih Raganatha tidak bisa berbuat 

apa-apa selain berdiam diri. 

"Orang bernama Wiro itu, di mana dia sekarang? Apakah kita bisa menanyainya secara 

lebih seksama?" 

Mendengar pertanyaan Sang Prabu itu Argajaya segera menjawab. "Jika Sang Prabu 

berkenan menemuinya, saya bisa menyuruhnya panggil saat ini juga." 

"Bawa dia ke mari," kata Sri Baginda. 

Argajaya berdiri dan meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Dia menemui dua orang 

pengawal. Kedua pengawal itu lalu bergegas menuruni tangga Keraton, berjalan menuju ke 

tembok bagian Timur di mana terletak sebuah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat 

bermalam para pengawal. Tak lama kemudian kedua pengawal itu muncul kembali bersama 

sebrang pemuda berpakaian putih-putih dan berambut gondrong. Dia melangkah diapit dua 

pengawal sambil senyum-senyum. 

Ketika pemuda itu sampai di hadapan Sang Prabu, dia segera menjura memberi 

penghormatan tetapi masih tetap sambil senyum-senyum. Hal ini mendatangkan rasa tidak 

enak di hati Sang Prabu. 

Sikapnya cukup hormat tapi rasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan pemuda ini, 

kata SriBaginda dalam hati. 

"Orang muda, namamu Wiro?" tanya Raja."Betul Sang Prabu." 

"Kau keturunan orang-orang Tarumanegara atau Pajajaran?" 

Wiro garuk-garuk kepalanya, kurang mengerti maksud pertanyaan itu. "Kalau soal 

keturunan, saya kurang jelas. Saya dibesarkan di puncak Gunung Gede. Hanya itu yang saya 

tahu." 

"Panglimaku melaporkan bahwa kau mengetahui adanya pertemuan rahasia antara Raden 

Adikatwang dari Kediri dengan Adipati Wira Seta di Sumenep. Betul?" 

"Betul sekali Sang Prabu," jawab Wiro. 

"Di mana pertemuan itu diadakan. Kapan?" 

"Tiga hari lalu. Dekat Kali Brantas. Tak jauh dari pohon cempedak yang batangnya 

melintang di atas kali. Waktu itu saya sedang enak-enak makan cempedak di atas pohon. 

Lalu..." 

"Hal itu tidak perlu diceritakan," memotong Argajaya yang jadi risih mendengar Wiro 

menccritakan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan Raja. 

Sang Prabu melirik pada Panglima Argajaya lalu geleng-gelengkan kepala. Argajaya 

seperti tak bisa bernafas melihat sikap dan cara Wiro memberi keterangan. Seolah-olah Sang 

Prabu adalah temannya, bukan dianggap sebagai Raja. 

"Laporanmu tidak bisa dipercaya. Kecuali kalau bisa memberikan bukti-bukti. Kau bisa 

menunjukkan bukti-bukti tentang adanya pertemuan itu?" tanya Raja Sri Baginda. 

Wiro jadi garuk-garuk kepala mendengar perfanyaan itu. Lalu dia ingat akan peristiwa di 

kali. "Saya bisa memberikan bukti yang Sang Prabu minta," berkata Wiro. "Bisa ditanyakan 

pada delapan orang perajurit Kediri yang sempat saya telanjangi di sungai!" 

Patih Raganatha dan Panglima Argajaya jadi berubah paras mereka. Para Pendeta 

tundukkan kepala, beberapa di antaranya senyum-senyum. 

"Cukup!" Sri Baginda berdiri dad duduknya. "Kau tidak bisa memberikan bukti. Malah 

bicara ngawur!" 

Wiro jadi jengkel. 

"Sang Prabu, kewajiban saya hanya melapor. Karena saya merasa Singosari dalam 

bahaya. Bukan tugas saya memberikan bukti-bukti. Itu adalah tugas orang-orang Singosari 

sendiri untuk menyelidiki kebenarannya. Saya bicara apa adanya. Jika saya berkata dusta sayabersedia dihukum!" 

"Orang muda!" bentak Argajaya. "Kau tidak layak mengajari Sang Prabu!" 

Wiro menatap wajah Panglima Singosari itu, sesaat lalu berkata, "Saya yang tolol mana 

berani mengajari Raja. Jika tidak dipercaya sebaiknya saya pergi saja dari sini." 

Wiro hendak memutar tubuhnya. 

"Kau kutuduh memberi keterangan palsu dan fitnah! Siapa dirimu harus diselidiki!" 

Ucapan Raja Singosari itu membuat Pendekar 212 Wiro Sableng hentikan langkahnya. 

"Tangkap pemuda gondrong ini!" perintah Sang Prabu. 

Wiro terkejut karena tak menyangka akan diperlakukan seperti itu. Enam perajurit 

berbadan kukuh segera melompat dan mencekal kedua tangannya lalu ditelikungkan ke 

punggung. 

Wiro sampai mengerenyit karena kesakitan. Sebuah belenggu besi segera hendak 

dikatupkan pada kedua pergelangannya. 

Murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini menjadi kalap. Kaki kanan dan 

kedua tangannya bergerak dengan cepat. 

Tiga perajurit terpekik lalu terjengkang di lantai di hadapan Sang Prabu. Tiga lainnya 

tegak memaing kaku dalam keadaan tertotok! 

***

SEMUA orang yang ada di ruangan pertemuan terkejut sekali menyaksikan kejadian itu. 

Tidak sembarang orang mampu melumpuhkan enam orang penyerang sekaligus dalam satu 

gerakan kilat yang hampir tidak terlihat. Panglima Argajaya dalam hati harus mengakui bahwa 

dia bahkan Patih Raganatha, mungkin tidak bakal mampu melakukan hal itu. Pemuda yang 

mengaku bernama Wiro ini memiliki ilmu silat tinggi. Apakah dia juga mempunyai tenaga 

dalam dan kesaktian yang hebat? Berpikir Argajaya dan juga Raganatha. Sementara para 

Pendeta yang duduk tidak bergerak di tempat masing-masing dan tidak dapat 

menyembunyikan air muka rasa kagum mereka. 

Sri Baginda tidak ingin orang-orang yang ada di situ sempat terpengaruh oleh kehebatan 

yang barusan diperlihatkan pemuda berambut gondrong itu. Maka diapun berkata dengan 

suara keras. 

"Kalian saksikan sendiri! Dia muncul dengan sikap berpura-pura seperti orang dungu. 

Tapi nyatanya memiliki kepandaian tinggi. Jelas dia membekal maksud yang tidak baik. Apa 

kalian masih be1um percaya kalau dia sebenarnya seorang mata-mata pihak yang mempunyai 

maksud jahat terhadap Singosari?!" 

Tidak ada yang membuka suara. Panglima Argaraya melangkah mendekati Sang Prabu 

lalu berbisik. "Maafkan saya Sang Prabu. Jika dia memang nemiliki ilmu tinggi, bukankah 

lebih baik memanfaatkannya untuk kepentingan Kerajaan?" 

Sri Baginda memandang pada Panglimanya dengan wajah beringas. "Kenapa kau bicara 

tolol Panglima? Kau ingin kita memelihara anak harimau. Kalau pada suatu hari dia akan 

menerkam kita?!" 

Argajaya terdiam, tak bisa berkata apa-apa lagi. Saat itu terdengar suara Raja keras sekali. 

"Panglima Argajaya! Aku perintahkan kau meringkus pemuda itu!" 

"Tapi Sang Prabu..." 

"Kau berani menolak perintahku, Panglima?" Kedua mata Sri Baginda membelalak. 

"Siap Sang Prabu!" jawab Argajaya. Lalu Panglima Kerajaan ini melompat ke hadapanWiro. "`Serahkan dirimu secara baik-baik. Kecuali kalau kau ingin kugasak sampai remuk!" 

Wiro menatap wajah Panglima itu dengan sinis. "Panglima," katanya. "Saya tahu kau 

hanya menjalankan perintah walau hati kecilmu menentangnya. 

Tetapi jika kau sampai menangkap diriku, itu adalah kesalahan yang keterlaluan. Kau tahu 

aku tidak punya salah apa-apa..." 

"Tutup mulutmu! Aku tidak segan-segan membunuhmu di hadapan Sang Prabu!" hardik 

Panglima Argajaya. 

Dada murid Eyang Sinto Gendeng seperti terbakar mendengar ucapan Argajaya itu. 

Sebelumnya dia percaya penuh pada keterangan tentang pertemuan rahasia antar Raden 

Adikatwang dan Wira Seta. Itu sebabnya aku mau disuruhnya menunggu sampai ada 

kesempatan untuk menemui Raja. Kini dia berubah. Jangankan membela, membunuhpun dia 

mau! Panglima tak bisa dipercaya. Panglima ular kepala dua!

"Kalau kau hendak menangkapku silakan. Aku, orang Gunung yang tidak punya daya!" 

kata Wiro. Lalu dia tegak dengan kaki dikembangkan dan bahu merunduk. Tangan kanannya 

bergetar karena ada tenaga dalam yang dialirkan ke situ. 

Saat itu Wiro tiba-tiba mendengar ada suara mengiang di kedua telinganya. 

"Anak muda, walau hatimu terbakar tapi jangan unjukkan kekuatan di tempat ini. Aku 

percaya kau bisa merobohkan Panglima Argajaya dalam dua tiga kali gerakan. Tapi apakah itu 

perlu? Serahkan saja dirimu baik-baik. Mengalah secara kesatria tidak ada celanya. Ada 

saatnya kau bisa membebaskan diri. Itu harus kau lakukan pada saat yang tepat. Jika kau 

melawan dan mempergunakan kekerasan semakin kuat dugaan Sang Prabu bahwa kau adalah 

mata-mata musuh. Lagi pula betapapun kepandaian yang kau miliki, jika Raja mengerahkan 

seluruh orang pandai dalam Istana kau pasti akan mengalami kesulitan." 

Wiro memandang pada orang-orang yang ada di ruangan itu. Sulit baginya untuk 

menduga siapa yang barusan mengeluarkan ucapan itu dengan nempergunakan ilmu 

mengirimkan suara yang tidak terdengar oleh orang lain, kecuali orang yang dituju. Yang 

bicara pasti bukan Argajaya atau Patih Raganatha, apalagi Sang Prabu. Wiro memandang ke 

jurusan para Pendeta. Mereka duduk dengan sikap tenang dan balas memandang dengan air 

muka yang agak berubah. 

Aku yakin salah seorang dari mereka yang barusan mengirimkan ucapan jarak jauh itu.

Tapi yang mana ...? Wiro menatap wajah Pendeta Mayana. Pandangannya dipusatkan pada 

kedua mata sang pendeta yang sangat bening. Hatinya berdetak, Pendeta satu inilah yang 

diduganya mengeluarkan peringatan itu. Memikir bahwa petunjuk yang disampaikan lewat 

suara tadi benar adanya maka Wiro batalkan niatnya untuk melakukan perlawanan. Dia 

berpaling pada Panglima Argajaya. 

"Saya tidak punya salah, tidak punya dosa. Jika setetes kebajikan yang hendak saya 

berikan pada Singosari dianggap satu kesalahan besar, Panglima boleh saja menangkap saya. 

Namun kelak Panglima in melihat kenyataan bahwa apa yang dilakukan adalah keliru. Saat ini 

saya yakin ada beberapa orang dari yang hadir di sini mempunyai pendapat yang sama dengan 

apa yang saya katakan. Tetapi mereka tidak bersedia mengatakan secara terus terang." 

Wiro tersenyum ketika melihat para Pendeta yang ada di ruangan itu sama menundukkan 

kepala. Murid Sinto Gendeng itu lalu ulurkan kedua tangannya. Seorang perajurit cepat 

membelenggu kedua pergelangan tangan Wiro dengan belenggu besi sementara beberapa 

orang perajurit lainnya sibuk menolong enam kawan mereka yang cidera. 

"Bawa tawanan ini ke penjara di tembok Timur Keraton. Jangan lepaskan belenggunya. 

Dua orang harus selalu mengawal pintu penjara siang malam." Kata Panglima Argajaya pada 

bawahannya. 

Sepuluh orang perajurit segera menggiring Wiro meninggalkan ruangan itu. Sebelum 

melangkah pergi, Pendekar 212 berhenti di depan Argajaya. Dia keluarkan suara bersiul lalu 

berkata, "Terimakasih atas perlakuan yang sangat mengesankan ini. Saya merasa sebagai 

tahanan terhormat. Bukan maling bukan pencuri, juga bukan perampok. Kau tak usah kawatir 

saya akan melarikan diri. Karena itu saya tidak memerlukan belenggu besi ini!" 

Wiro salurkan tenaga dalam dan hawa panas dari perutnya. Kedua tangannya bergetar dan 

tampak berubah warna menjadi putih seperti perak. Sang pendekar telah merapal aji kesaktian 

ilmu pukulan matahari. 

Belenggu besi tampak seperti leleh. Lalu traakk! 

Belenggu itu terbelah dua. Selagi semua orang terkesiap menyaksikan kejadian itu Wiro 

berpaling ke arah Sang Prabu. Dia menjura dengan sikap mengejek lalu melangkah ke arah 

pintu. Ketika melewati Pendeta Mayana murid Sinto Gendeng ini tersenyum polos. Kedipkan 

matanya dan berbisik, "Terima kasih atas petunjuk tadi..."Pendeta Mayana hanya diam saja. Tidak mau memberikan reaksi apa-apa karena kawatir 

sikapnya akan menimbulkan rasa curiga dalam diri Sang Prabu dan dapat memperburuk 

suasana. 

Pada saat Wiro mencapai pintu ruangan digiring oleh para pengawal tiba-tiba terdengar 

satu suitan nyaring yang membuat semua orang terkesiap. Wiro hentikan langkahnya. Dia 

mendengar suara berdering. 

Entah dari mana munculnya sebuah benda melesat dan menancap di tiang kayu jati besar 

di tengah ruangan. Ketika semua orang memperhatikan benda itu ternyata adalah sebuah tusuk 

kundai yang terbuat dari perak. Pendekar 212 Wiro Sableng terkejut etika dia mengenali benda 

itu. Tusuk kundai tersebut adalah perhiasan yang biasa dipakai gurunya di kepala. Eyang, 

katanya dalam hati. Kau ada di sini...

Pada ujung tusuk konde yang berbentuk gelungan, tersisip segulungan daun lontar kering. 

Semua orang yang ada di situ memandang pada Sang Prabu, seolah menunggu isyarat atau 

perintah apa yang harus mereka lakukan. 

"Ada orang berkepandaian tinggi mengirimkan pesan. Punya ilmu tapi tidak punya nyali 

untuk unjukkan diri!" kata Sang Prabu pula. Dia memandang berkeliling. Semua orang, 

termasuk Wiro melakukan hal yang sama. Namun tidak satupun melihat orang yang 

melemparkan tusuk kundai itu tadi. Bahkan bayangannya pun tidak. 

Sang Prabu akhirnva memandang Panglima Argaraja. 

"Panglima, ambil tusuk kindai itu!" perintah sang Prabu. 

Panglima Argajaya segera melangkah ke tiang besar lalu mencabut tusuk kundai yang 

menancap di situ. Tusuk kundai serta daun lontar yang tersisip diperhatikannya seketika lalu 

diserahkannya pada Raja. Sri Baginda membuka gulungan daun lontar. Di situ ternyata ada 

sederetan tulisan berbunyi : 

Jika seseorang membuat muridku menderita tanpa salah, maka penderitaan akan 

menimpa orang itu lebih parah. 

Wiro merasa tidak enak ketika Sri Baginda memandang dengan wajah membesi ke 

arahnya. Dilihatnya Sang Prabu menyerahkan daun lontar pada Panglima Argajaya. Argajaya 

membaca apa yang tertulis di situ lalu memberikan daun itu pada Patih Raganatha.

"Kecurigaanku tidak melesetl Orang yang mengaku guru pemuda itu ternyata ada di sini. 

Apa lagi yang mereka lakukan kalau bukan sama-sama berkomplot dengan musuh Singosari! 

Murid dan guru sama saja kurang ajarnya. Berani dia memberi teguran dengan cara seperti 

itu!" Sehabis berkata begitu Sri Baginda bantingkan tusuk kundai perak yang dipegangnya ke 

lantai. Benda ini menancap sampai setengahnya ke dalam lantai batu yang keras. Lalu Raja 

Singosari ini berpaling pada Patih Raganatha. 

"Besok siapkan sidang pengadilan kilat bagi pemuda itu. Tapi satu hal sudah jelas. Dia 

harus dijatuhi hukuman mati!" 

"Daulat Sang Prabu," jawab Patih Raganatha. 

Paras Wiro jadi berubah mendengarkan kata-kata dari Baginda itu. Tak ada jalan 1ain. Dia 

harus melarikan diri saat itu juga. Ketika dia siap hendak melakukan hal itu tiba-tiba ada 

sambaran angin di belakangnya. Murid Eyang Sinto Gendeng cepat memutar tubuh seraya 

menghantamkan tangan kanannya. 

Bukk! 

Jotosannya tepat menghantam dada orang. Orang yang menyerang ini terpental tiga 

langkah dan jatuh tergelimpang di lantai. Dari mulutnya terdengar suara erang kesakitan. Di 

saat yang sama ketika jotosannya mengenai orang Wiro sendiri merasakan satu totokan 

melanda dadanya dengan telak hingga saat itu juga sekujur tubuhnya menjadi kaku tak bisa 

bergerak tak bisa bersuara. Di dapannya Panglima Argajaya berusaha bangkit dengan tubuh 

terhuyung-huyung. Di sela bibirnya ada lelehan darah. Pukulan Wiro telah membuat Panglima 

Singosari ini terluka dalam yang cukup parah! 

Wiro digotong empat orang prajurit menuju halaman belakang Keraton. Di tembok 

sebelah Timur rombongan ini membelok ke kanan melewati arah pintu. Dari sini mereka akan 

menyeberangi sebuah jalan besar yang mengelilingi Keraton. Di seberang jalan ada sebuah 

bangunan batu berbentuk panjang. Ke bangunan inilah Pendekar 212 akan dibawa. 

Ketika rombongan itu baru saja hendak menyeberangi jalan seorang penunggang kuda 

melintas dengan cepat. Di belakangnya ada dua orang pengawal mengikuti. Tiba-tiba 

penunggang kuda di sebelah depan membalik ke arah rombongan yang tengah menyeberang. 

Orang di atas kuda itu ternyata adalah seorang gadis remaja berparas cantik sekali. Dia 

mengenakan pakaian ringkas. Rambutnya yang panjang hitam dijalin satu lalu digelung di ataskepala. Dua orang penunggang kuda yang bertindak sebagai pengawal segera bertanya. 

"Raden Ayu Gayatri, mengapa kita berhenti?" 

Gadis di atas kuda tidak perdulikan pertanyaan pengawalnya. Dia membawa kudanya ke 

depan rombongan yang tengah menggotong Wiro. Empat orang perajurit yang menggotong 

langsung meletakkan Wiro begitu saja di tanah. Bersama enam oran perajurit lainnya mereka 

membungkuk menghatur sembah. 

Dalam keadaan tertelentang di tanah Pendek. 212 Wiro Sableng jadi tercengang ketika 

melihat semua perajurit yang mengawalnya memberi penghormatan seperti itu terhadap si 

gadis. Dalam hati dia berkata. Ah, dia rupanya. Siapa gadis sebenarnya? Mengapa semua 

perajurit menghormat seperti sikap menghormat seorang Raja? Dulu waktu kutanya dia tidak 

mau memberi tahu nama, juga tidak di mana dia tinggal

Gadis cantik berpakaian ringkas tidak perdulikan pertanyaan pengawalnya tadi. Dia 

memperhatikan Wiro yang tertelentang di tanah, tidak bergerak tidak bersuara. Hanya bola 

matanya saja yang berputar-putar. 

Apa yang terjadi dengan dirinya? Tangan dan kakinya tidak bergerak. Sekujur tubuhnya 

seperti kaku. Bersuarapun dia tidak bisa. Keadaannya seperti orang ditotok. Gadis itu 

melompat turun dari kudanya. 

"Siapa pimpinan dalam rombongan ini?" Si gadis ajukan pertanyaan. 

Seorang perajurit maju ke depan. "Hamba Den Ayu..." 

"Mau dibawa kemana orang ini?" 

"Atas perintah Sang Prabu tawanan ini hendak dijebloskan ke dalam penjara." 

"Tawanan? Hendak dijebloskan ke dalam penjara?!" Paras si gadis tampak berubah. Dia 

memandang pada Wiro. Lalu kembali bertanya pada si pengawal. "Apa kesalahannya?" 

Pengawal menjawab. "Dia mata-mata musuh." 

Si gadis kembali memandang ke arah Wiro. Dia mata-mata musuh? Benarkah? Tidak 

mungkin. Aku tak percaya. Kalau bukan karena dia diriku...

"Dia bukan mata-mata. Aku tahu betul hal itu. Harap kalian segera melepaskan dirinya. 

Biarkan dia pergi dari sini!" 

Semua orang yang ada di jalanan itu tentu saja sangat terkejut mendengar ucapan si gadis 

sementara Pendekar 212 hanya bisa menatap"Kami menghormati Raden Ayu dengan segala ucapannya," kata perajurit yang jadi 

pimpinan. "Tetapi mana mungkin kami menyalahi perintah Sang Prabu. Mohon Raden Ayu 

mengerti dan memaafkan." 

"Katakan di mana Sang Prabu berada saat ini?" tanya gadis yang dipanggil dengan 

sebutan Raden Ayu Gayatri itu. 

"Sang Prabu ada di ruangan pertemuan Keraton bersama Patih dan Panglima serta para 

Pendeta." 

Gadis cantik itu berpaling pada dua orang yang mengawalnya dan berkata. "Latihan 

menunggang kuda cukup sampai di sini dulu." Lalu gadis ini melompat ke atas kudanya dan 

membedal binatang ini memasuki halaman Timur Keraton. Empat orang perajurit meneruskan 

menyeberangi jalan, menggotong Wiro menuju bangunan penjara. 

Pertemuan di dalam keraron segera akan berakhir ketika Raden Ayu Gayatri memasuki 

ruangan. Kecuali Sang Prabu semua orang yang ada di situ menjura memberikan 

penghormatan. 

"Gayatri, kau tidak berlatih menunggang kud hari ini?" tanya Sri Baginda. 

"Sudah tapi tidak sampai selesai. Ananda harap kedatangan Ananda tidak mengganggu 

Ayahanda." kata Gayatti pu1a. Ternyata dia adalah anak Sang Prabu. Gayatri bungsu dari 

empat orang puteri bersaudara. 

"Kau tidak mengganggu. Pertemuan baru saja selesai," jawab Sang Prabu. Dia menatap 

pada puterinya sesaat, lalu bertanya, "Ada apa Gayatri. Agaknya ada sesuatu yang penting?" 

Gayatri menggangguk. 

"Katakanlah. Atau kau ingin hanya kita berdua saj di ruangan ini? Jika itu maumu, 

Ayahada akan minta semua orang yang ada di sini untuk pergi..." 

"Tidak perlu. Biarkan semuanya tetap di sini agar bisa ikut mendengar," jawab Puteri Raja 

pula. Sang Prabu Singosari menjadi agak heran mendengar kata-kata puterinya itu. "Ada 

apakah sebenarnya Gayatri?" 

"Di jalan saya berpapasan depgan perajurit yang tengah menggotong seorang pemuda ke 

penjara." 

"Hemmm, kau melihat rombongan itu rupanya." 

"Ananda minta agar pemuda itu dilepaskan." Kalau ada ledakan keras yangmenghancurkan ruangan itu mungkin tidak sedemikian terkejutnya Sang Prabu, Patih dan 

Panglima Singosari sementara para Pendeta tegak tak bergerak tanpa dapat menyembunyikan 

air muka mereka yang menunjukkan rasa heran. 

"Kau minta tawanan itu dilepaskan, Gayatri?" tanya Sang Prabu. Ketika puterinya 

mengangguk, Raja Singosari ini lanjutkan pertanyaannya. "Katakan apa sebabnya." 

"Dia bukan mata-mata musuh. Bukan orang jahat." 

"Rupanya kau sudah mengenal pemuda asing itu sebelumnya. Anakku, katakan apa 

hubunganmu dengani pemuda itu. Jangan kau berani memberi malu keluarga Istana 

Singosari!" 

"Kalau bukan karena dia ananda saat ini sudah tidak ada lagi." 

"Apa maksudmu Gayatri?" kejut Sang Prabu Singosari. "Apa yang telah terjadi dengan 

dirimu?!" 

"Tadinya Ananda sengaja merahasiakan apa yang telah terjadi sekitar sepuluh hari lalu. 

Tapi saat ini Ananda harus memutuskan untuk rnenceritakannya. Agar Ayahanda bersedia 

memenuhi permintaan Ananda membebaskan pemuda itu." Lalu Raden Ayu Gayatri 

menuturkan suatu peristiwa yang selama ini tidak diketahui oleh Sang Prabu maupun 

Permaisuri. 

***

PAGI itu ketika seorang pengasuh di Kaputren memberi tahu bahwa dua orang pengawal yang 

biasa melatihnya menunggang kuda siap menunggu, puteri bungsu Sang Prabu mengatakan 

bahwa dirinya kurang sehat. Latihan hari itu ditunda saja sampai besok. Sebenarnya Gayatri 

punya rencana sendiri yang sudah sejak lama ingin dilakukannya. 

Di sebuah hutan kecil di Timur Laut Singosari, tak berapa jauh dari Gunung Bromo sejak 

lama diketahui orang banyak terdapat kupu-kupu dari berbagai jenis ukuran dan bentuk. 

Warnanya juga macam-macam dan sangat menarik hati. Raden Ayu Ciayatri ingin sekali pergi 

ke sana untuk melihat dan menangkap binatang-binatang itu lalu mengawetkannya dan 

menjadikannya benda pajangan. Namun sebagai seorang puteri Raja hal itu tidak mungkin 

dilakukannya. Paling tidak harus ada pengawal mendampinginya. Hal inilah yang tidak 

disukai sang puteri. Dia merasa seperti terkekang dan dibatas gerak-geriknya kalau ke mana-

mana selalu dikawal, Karena itu secara diam-diam dia mempersiapkan tangguk dan kantong 

besar untuk menangkap kupu kupu itu. Dia akan pergi seorang diri dengan menunggang kuda. 

Dia merasa sudah cukup mahir menunggang kuda tanpa pengawal atau pelatih. Kini tinggal 

menunggu kesempatan saja. Dan hari itu dirasakannya adalah hari yang paling tepat karena 

diketahuinya Sang Prabu bersama Patih dan Panglima Kerajaan akan melakukan perjalanan ke 

Selatan. 

Setelah dua orang pelatih yang merangkap pengawal meninggalkan Kaputeran dan 

pengasuh berlalu, Gayatri segera mengganti pakaiannya dengan celana dan baju ringkas. 

Rambutnya diikat dengan sehelai sapu tangan kuning. Jaring dan tangguk penangkap kupu-

kupu diambilnya dari balik sebuah lemari besar. Sebilah golok pendek diselipkannya di 

pinggang. Lalu tanpa setahu siapapun dia menyelinap ke kandang kuda di belakang Kaputren. 

Tak lama kemudian puteri bungsu Raja Singosari ini tampak membalap kudanya 

meninggalkan Tumapel ke arah Timur Laut. 

Sebagai seorang Puteri Raja Gayatri tidak pernah pergi jauh meninggalkan Keraton. 

Kalaupun pergi dia selalu dikawal. Hal ini menyebabkan dia tidak banyak tahu seluk beluk diluar Keraton dan akibatnya dalam perjalanan menuju hutan yang banyak kupu-kupunya itu 

gadis ini tersesat ke sebuah hutan lain yang juga terletak di Timur Laut, dipisahkan dengan 

hutan kupu-kupu oleh sebuah kali dangkal. 

Setelah cukup lama berada dalam hutan yang salah itu, Gayatri merasa heran karena dia 

sama sekali tidak menemukan seekor kupu-kupupun. Keadaan hutan dilihatnya aneh. 

Pepohonannya lebat dan tua tetapi di mana-mana terdapat bebatuan dan jurang-jurang kecil. 

"Jangan-jangan kupu-kupu itu hanya cerita dusta aja," membatin Gayatri. Dalam keadaan 

letih gadis ini akhirnya memutuskan untuk kembali pulang saja. Malangnya dia tidak berhasil 

mencari jalan pulang ialah berputar-putar dalam rimba itu sampai akhirnya matahari condong 

ke Barat. Rasa takut dan menyesal telah melakukan perjalanan itu seorang itu mulai muncul 

dalam dirinya. Sementara itu yang membuatnya tambah gelisah ialah karena kuda 

tunggangannya sebentar-sebentar mengeluarkan suara meringkik. Seolah-olah ada sesuatu 

yang ditakutkan binatang ini. 

"Tenang.... Tenanglah Grudo," kata Gayatri sambil mengelus kuduk kudanya. "Aku tahu 

kau tentu letih. Tapi kita harus segera keluar dari hutan ini. Kita harus dapat mencari jalan 

pulang. Ayo Grudo, jalan terus, kita harus pulang sebelum malam tiba..." 

Tapi binatang dan tuannya itu tidak mampu keluar dari rimba belantara itu. Di sebuah 

mata air kecil Gayatri membiarkan kudanya minum. Dia sendiri tidak berani meneguk mata air 

itu. Tiba-tiba Grudo mengangkat kepalanya lalu meringkik keras-keras sambil menaikkan kaki 

tinggi-tinggi, membuat Gayatri hampir jatuh terbanting ke tanah. Kuda itu kelihatan seperti 

ketakutan. 

"Grudo, tenang. Tak ada apa-apa..." kata Gayatri coba menenangkan kuda dan juga 

dirinya sendiri. Baru saja gadis ini berkata begitu tiba-tiba di belakangnya terdengar suara 

menggereng. Gayatri berpaling. Nyawanya seperti lepas ketika hanya sepuluh langkah di 

belakangnya, dekat sebatang pohon besar tegak merunduk seekor harimau besar hitam belang 

kuning. 

Harimau sebesar anak sapi itu tiba-tiba mengaum. Aumannya laksana guntur. Jantung 

Gayatri seperti mau copot. Grudo, kuda tunggangannya meringkik keras lalu menghambur lari 

sekencang-kencangnya. Gayatri jatuhkan diri sama rata di atas punggung binatang itu, 

memagut leher kudanya kuat-kuat. Sekali dia berpaling ke belakang. Wajah gadis ini menjadipucat pasi ketika ternyata dilihatnya harimau besar itu mengejar dan sangat dekat di 

belakangnya. 

"Lari yang kencang Grudo! Lari yang kencang!" teriak Gayatri sambil memukul terus 

menerus pinggul kudanya dengan tangan kanan. Tiba-tiba di sebelah depan tidak terduga, di 

antara kerapatan pepohonan menghadang sebuah batu besar Grudo coba menghindari dengan 

membelok ke kiri. Tapi di belokan yang tajam dan sangat tiba-tiba itu membuat tubuh Gayatri 

terbanting keras ke kanan. Pegangannya pada leher kuda terlepas. Tubuh gadis itu terlempar. 

Masih untung dia jatuh di atas rerumpunan semak belukar hingga tidak mengalami cidera 

berat. Hanya pakaiannya saja yang robek dan kulitnya tergurat di beberapa tempat. 

Gayatri cepat turun dari semak-semak itu. Namun baru saja kakinya menginjak tanah 

harimau besar itu tahu-tahu sudah berada tujuh langkah di hadapannya! Binatang ini 

rundukkan tengkuknya tanda dia siap menerkam mangsanya. Ketakutan setengah mati Gayatri 

gerakan tangan ke pinggang. Maksudnya hendak mengambil golok yang diselipkannya. Tapi 

senjata itu tak ada lagi di pinggangnya. Telah mencelat mental entah ke mana sewaktu tadi dia 

jatuh dari kuda. 

Untuk melarikan did tidak mungkin. Melawanpun tebih tidak mungkin. Dalam keadaan 

tidak berdaya begitu rupa yang bisa dilakukan Gayatri hanyalah berteriak minta tolong. Tapi 

siapakah yang akan menolongnya dalam rimba belantara yang sunyi itu? 

Harimau besar itu mengaum dahsyat. Tubuhnya menerkam ke depan. Dua kaki depannya 

siap membeset ke arah dada sedang mulutnya yang terbuka lebar mencari sasaran di leher 

Gayatri! 

Hanya sesaat lagi binatang buas itu akan melahap mangsanya, tiba-tiba dari balik sebatang 

pohon menderu satu sambaran angin yang sangat deras. Angin ini menghantam tubuh harimau 

itu hingga terpental beberapa tombak, terkapar di tanah, bangun terhuyung-huyung. Kepalanya 

digelenggelengkan. Lalu terdengar aumannya yang menggetarkan rimba belantara. Untuk 

beberapa saat lamanya binatang ini hanya mengaum saja. Rupanya hantaman angin keras tadi 

walau tidak mendatangkan cidera tapi cukup membuatnya nanar. Saat itu Gayatri terduduk di 

tanah dengan muka pucat. Dia tidak mampu lagi berteriak, apalagi beranjak menyelamatkan 

diri. Di saat gadis ini seperti pasrah menerima kematian di tangan harimau itu, tiba-tiba 

sesosok tubuh berkelebat di depannya. Lalu dia melihat seorang pemuda berambut gondrongtegak membelakangi antara dia dan harimau. 

"Raja hutan!" terdengar pemuda itu berkata. "Aku tidak ingin membunuhmu. Tapi aku 

juga tidak suka kau membunuh gadis ini. Lekas tinggalkan tempat ini!" 

Harimau besar seperti mengerti ucapan orang keluarkan suara menggereng marah. 

Tubuhnya merunduk tanda dia siap menerkam pemuda berambut gondrong itu. 

"Ah, jadi kau tak mau diajak berunding...." Ucapan si pemuda terputus ketika harimau di 

depannya melompat menerkam. Dengan cepat pemuda itu merunduk. Sambil merunduk 

tangan kanannya menjotos ke atas. 

Bukk! 

Harimau besar itu terpental satu tombak ke kiri. Raungannya menggetarkan hutan. Dua 

tulang iganya patah. Tapi begitu menjejakkan kaki di tanah binatang ini cepat berputar dan 

kembali menerkam si pemuda. 

"Binatang tolol! Dikasihani malah minta digebuk!" Dengan gerakan cepat pemuda itu 

melompat ke samping menghindari serangan harimau. Begitu serangan lewat tangan kirinya 

menghantam ke depan. Kembali terdengar suara bergedebuk. Harimau besar itu melintir di 

udara lalu jatuh tergelimpang tanah. Pipinya remuk. Mata kanannya mengeluarkan darah. 

Binatang ini meraung keras dan menggapai-gapaikan kedua kaki depannya lalu dengan tubuh 

huyung dia mencoba berdiri. Si pemuda menghantam kalau binatang ini menyerang kembali. 

Tapi ternyata harimau itu melangkah mundur lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan 

tempat itu. 

Sadar kalau dirinya baru raja terlepas bahaya maut Gayatri sandarkan diri ke batang 

pohon lalu menangis keras sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. 

Pemuda berambut gondrong melangkah mendekati seraya berkata. 

"Gadis berani, harimau itu sudah kabur. Bahaya sudah berlalu...." 

Gadis berani? Aku dikatakannya gadis berani, membatin Gayatri. Aku ketakutan 

setengah mati, malah bilang aku gadis berani! 

Perlahan-lahan gadis itu turunkan kedua tangan. Si pemuda terkesiap ketika melihat wajah 

sang dara. 

Wajahnya cantik sekali. Sepasang matanya bening kaca. 

"Saya… saya bukan gadis berani. Tadi saya ketakutan setengah mati..." kata Gayatripolos. 

"Ah, ternyata kau bukan saja pemberani tapi juga jujur. Kau tahu hanya gadis yang berani 

yang mau masuk ke dalam hutan seorang diri sepertimu." 

"Sebenarnya saya tersesat. Tujuan saya bukan hutan ini." 

"Apapun tujuanmu adalah sangat berbahaya mengadakan perjalanan seorang did. Apalagi 

memasuki hutan. Apa yang kau lakukan dalam hutan ini?" 

"Saya mencari kupu-kupu," jawab Gayatri. 

"Kupu-kupu? Ah, di sini mana ada kupu-kupu. Hutan yang banyak kupu-kupunya terletak 

di sebelah Timur." 

"Itu sebabnya saya katakan saya tersesat. Kau tinggal di sekitar sini?" 

"Agak jauh dari sini...." 

"Saya Wiro. Kau siapa?" 

"Saya...." Gayatri sadar dia tak mungkin memberi tahu namanya. "Maaf.... saya tidak bisa 

memberi tahu nama." 

Wiro tersenyum. Berani masuk hutan tapi takut memberi tahu nama. Pasti ada satu rahasia 

yang coba disembunyikannya. 

"Saya berhutang nyawa padamu. Kau telah menyelamatkan saya dari raja hutan tadi..." 

Wiro garuk-garuk kepala. "Hutang uang memang ada. Kalau hutang nyawa mana ada?" 

katanya. 

"Ucapan itu lebih pantas dari pada menyebut segala hutang nyawa," kata Wiro pula. 

"Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Kita harus meninggalkan hutan ini." 

"Ya, saya harus segera pulang. Tapi saya tak mungkin pulang tanpa Grudo." 

"Grudo? Siapa Grudo?" tanya Wiro. 

"Kuda saya. Saya kehilangan binatang itu. Dia lenyap entah ke mana ketika dikejar 

harimau." 

"Apakah kudamu seekor kuda betina. Berwarna coklat, ada warna putih di atas 

mulutnya?" 

"Benar, bagaimana kau tahu?" 

"Saya sempat melihatnya. Saya akan memanggilnya agar datang kemari." 

"Kau bisa memanggil kuda? Kau bergurau...

"Lihat saja!" 

Wiro lalu mendongak ke atas. Dia mengerahkan sedikit tenaga dalamnya ke dada lalu ke 

leher. Kedua iangannya diletakkan di samping kepala. Masing-masing ibu jari menutupi liang 

telinga dan empat jari lainnya digerak-gerakkan. Gayatri hampir tak dapat menahan ketawa 

melihat sikap pemuda ini. Dari mulut Wiro kemudian, terdengar suara keras seperti ringkikan 

kuda jantan. Si gadis sampai menekap telinganya saking kerasnya ringkikan itu. Wiro 

membuat suara meringkik itu tiga kali lalu diam sebentar. Sesaat kemudian dia mengulangnya 

lagi. Begitu sampai empat kali berturut-turut. 

Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara ringkikan kuda seolah membalas ringkikan yang 

dibuat Wiro. 

"Itu suara Grudo!" seru Gayatri. Dia memandang ke arah kejauhan dari arah mana 

kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki kuda mendatangi. 

Wiro kembali meringkik. 

Tak selang beberapa lama seekor kuda betina oklat muncul dari balik pepohonan. 

"Grudo!" pekik Gayatri lalu lari dan memeluk kuda betina itu. Ketika Wiro datang 

mendekat Gayatri bertanya. "Saya belum pernah bertemu dengan orang sepertimu. Mampu 

berkelahi dengan harimau. Menyelamatkan nyawa saya dari bahaya naut. Lalu pandai 

memanggil kuda...." 

Wiro tertawa lebar mendengar kata-kata Gayatri itu. "Tidak ada yang hebat," katanya. 

"Aku hanya menirukan suara ringkikan kuda jantan. Kuda betinamu mendengar lalu 

mendatangi. Kuda begitu rupanya. Betina mencari jantan. Manusia pemuda mencari gadis. 

Ha... ha... ha...." 

Diam-diam dalam hatinya Gayatri suka sekali pada pemuda ini. Tapi saat itu dia harus 

segera pulang. Dia memandang pada Wiro lalu berkata. "Saya tidak tahu bagaimana membalas 

budi baikmu. Saya benar-benar berterima kasih. Saya harus pergi sekarang...." 

Wiro mengangguk. "Saya akan mengantar kanmu sampai ke tepi hutan." 

"Kau baik sekali. Tapi kita tidak bisa menunggangi kuda ini berdua." 

"Asal kau tidak memacu binatang itu secepat kau membedalnya sewaktu dikejar harimau, 

saya pasti dapat mengikutimu," kata Wiro pula. 

Gayatri tertawa lepas. Ditepuknya pinggang Grudo. Kuda ini mulai bergerak. Mula-mulaperlahan. Wiro berlari mengikuti dari belakang sambil sekali-sekali memberi tahu arah mana 

yang harus diambil. Gayatri mempercepat lari kudanya sambil sesekali melirik ke belakang. 

Setiap dia berpaling dilihatnya pemuda itu tetap berada dalam jarak yang sama dari kudanya. 

Dicobanya lebih mempercepat lari Grudo lalu dia melirik lagi. Tetap saja Wiro dilihatnya 

berada dalam jarak yang sama. 

Pemuda ini bukan orang sembarangan. Dia pasti murid seorang sakti. Ah, kalau dia mau 

membaktikan diri di Keraton, niscaya Ayahanda mau memberikan jabatan cukup tinggi 

padanya. Begitu Gayatri berpikir sambil menunggangi kudanya. 

Di tepi hutan gadis itu hentikan kudanya. 

"Wiro, terima kasih kau telah mengantarkan saya sampai di sini. Saya akan pulang. Kita 

berpisah di sini. Saya berharap bisa bertemu denganmu lagi!" 

Wiro seka keringat yang membasahi keningnya. 

"Saya juga berharap begitu. Hanya sayang kau tidak memberi tahu nama. Rumahmupun 

saya tidak ahu." 

"Jangan berkecil hati Wiro. Kelak kau akan kuberi tahu. Atau ada orang yang akan 

memberi tahu." Gadis itu terdiam sesaat. Lalu tangannya bergerak menanggalkan sebuah 

peniti di dada pakaiannya. Benda itu diserahkannya pada Wiro seraya berkata. "Saya berikan 

dengan hati tulus. Terimalah Wiro tak berani menyambuti. Tapi si gadis nemaksa. Begitu 

peniti berpindah tangan Gayatri segera memacu Grudo meninggalkan tempat Itu. Wiro 

memperhatikan sampai si gadis lenyap di kejauhan. Lalu diperhatikannya benda yang ada 

dalam genggamannya. 

"Astaga, ini peniti emas. Pasti mahal sekali harganya!" kata Wiro. Pada bagian atas peniti 

yang agak lebar terdapat tulisan dalam bahasa Jawa kuna yang tidak dimengerti Wiro. Sambil 

memandang ke arah lenyapnya Gayatri tadi, Wiro masukkan peniti emas itu ke dalam saku 

pakaiannya. 

***

SEMUA orang yang ada di ruang pertemuan itu termasuk Sang Prabu terdiam mendengar 

penuturan Raden Ayu Gayatri. 

"Ada yang ingin menyampaikan sesuatu?" Sang Prabu akhirnya membuka mulut 

bertanya. 

"Kalau diperkenankan, saya ingin mengatakan sesuatu," Patih Raganatha berkata. Ketika 

Sang Prabu mengangguk diapun meneruskan bicaranya. Mohon maaf Sang Prabu, mungkin 

saya salah. Turut apa yang diceritakan Puteri Sang Prabu saya menaruh kesimpulan bahwa 

mungkin sekali pemuda dari Gunung Gede itu memang bukan mata-mata." 

"Hemm..." Raja bergumam. "Ada alasan kuat Mamanda Patih mengatakan begitu?" 

"Jika dia berada di pihak yang menyeterui Singosari pasti dia telah menculik Puteri 

Gayatri waktu di hutan itu," jawab Patih Raganatha. 

"Dia tidak melakukan itu karena saat berada di hutan dia tidak tahu siapa sebenarnya 

Puteriku," kata Sang Prabu pula mementahkan pendapat Sang Patih. Patih Kerajaan terdiam. 

Tak ada yang bicara. Sang Prabu kemudian bertanya, "Ada lagi yang ingin menyampaikan 

sesuatu? Saran, permintaan?" 

Tak ada yang menjawab. Sang Prabu berpaling pada puterinya. "Ananda Gayatri, kau 

tetap pada pendirianmu agar pemuda itu dibebaskan?" 

Gayatri mengangguk. Maka Sang Prabupun berkata. "Gayatri, sesungguhnya kau telah 

membuat beberapa kesalahan yang bisa mencemarkan nama baik keluarga Keraton Singosari." 

Puteri bungsu terkejut dan memandang tak mengerti pada Ayahandanya. 

"Pertama, kau meninggalkan Keraton tanpa meminta izin atau memberi tahu siapapun. 

Kedua kau pergi ke tempat yang berbahaya tanpa pengiring atau pengawal sama sekali. Ketiga 

kau berada di hutan berdua-duaan dengan seorang pemuda asing yang dicurigai mempunyai 

maksud jahat terhadap Singosari. Kesalahan keempat, kau malah meminta agar pemuda asing 

itu dilepaskan!" 

Untuk beberapa saat lamanya Gayatri tidak dapat berkata apa-apa mendengar ucapanAyahandanya itu. Semua orang memandang padanya. Para Pendeta diam-diam merasa hiba. 

Sebetulnya Gayatri ingin segera berlalu dari tempat itu. Dia tahu kalau Ayahandanya 

punya sifat tidak suka dibantah. Namun hati kecilnya merasa tidak enak kalau semua 

kesalahan harus dituduhkan pada dirinya. Maka puteri bungsu ini akhirnya memutuskan untuk 

bicara. 

"Ayahanda, untuk hal pertama dan kedua Ananda mengaku salah dan bersedia menerima 

hukuman. Namun untuk hal ketiga dan keempat sulit bagi Ananda menerimanya. Pertemuan 

itu sama seka tidak direncanakan. Pemuda asing itu seolah-olah dimunculkan oleh Bathara 

Agung ketika Ananda berada dalam bahaya maut. Siapapun dia adanya dia telah 

menyelamatkan Ananda. Karena dia orang kebanyakan mungkin kita tidak perlu ingat apalagi 

membalas budi jasanya itu. Tetapi jika kemudian kita menuduhnya sebagai orang yang punya 

niat jahat terhadap Singosari, mata-mata musuh... entah tuduhan apa lagi, Ananda rasa itu 

sungguh sangat bertentangan dengan pikiran bijaksana dan peri keadilan. Semoga para Dewa 

mengampuni kekeliruan kita." 

Habis berkata begitu Gayatri haturkan sembah lalu melangkah cepat ke pintu. 

Paras Sang Prabu tampak merah padam. "Gayatri!" teriaknya. 

Puteri bungsu itu hentikan langkah dan berpaling. 

"Sebagai anak kau tidak layak berkata seperti itu! Urusan Kerajaan aku yang 

mengendalikan bersama tiga orang Maha Menteri yaitu Patih, Panglima dan Pendeta! Aku 

terpaksa menjatuhkan hukuman padamu. Mulai saat ini kau tidak diperkenankan 

meninggalkan Kaputeran. Berapa lamanya sampa ada keputusan lebih lanjut!" 

Kedua mata Gayatri membesar. Ada air mata merebak di kedua matanya. Gadis ini cepat 

menggigit bibirnya keras-keras hingga berdarah. Rasa sakit membuat dia mampu menahan 

tangis. Dia melangkah meninggalkan ruangan itu dengan menguatkan diri, membusungkan 

dada menegakkan kepala. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahan jiwa pada orang-orang 

yang ada di situ, terutama Ayahandanya. Tapi di ambang pintu tiba-tiba Gayatri hentikan 

langkahnya dan berpaling. Lalu terdengar gadis ini berkata. 

"Saya ingat pada kisah yang ditulis dalam sebuah kitab kuna. Seekor pelanduk yang lari 

ketakutan di tengah hutan ditangkap oleh Penguasa Rimba. Dituduh mencuri makanan. 

Ternyata tuduhan itu kemudian tidak pernah terbukti. Karena tidak pernah diperiksa apa yangsebenarnya menyebabkan si pelanduk melarikan diri. Padahal dia melarikan diri karena 

ketakutan dikejar babi hutan dan srigala yang berlomba hendak memangsanya. Seorang 

pemuda yang tidak diketahui kesalahannya ditangkap. Dijebloskan ke dalam penjara. 

Mengapa tidak seorangpun yang memikirkan untuk menyelidiki Raden Adikatwang dan 

Adipati Wira Seta? Saya tidak memerlukan jawaban karena karena saya tahu semua orang 

yang ada disini adalah orang-orang pandai yang tidak layak diajari..." 

"Gayatri!" hardik Sang Prabu dengan muka anerah padam dan marah sekali. "Keluar kau 

dari ruangan ini!" 

Puteri Sang Prabu haturkan sembah lalu membalik dan berlalu dari ambang pintu dengan 

cepat. 

Pendeta Mayana menarik nafas lalu berkata. "Sang Prabu, mohon maafmu. "Mungkin kita 

memang perlu untuk mengusut langsung dua orang yang tadi disebutkan Puteri Gayatri yaitu 

Raden Adikatwang dan Adipati Wira Seta." 

Kalau saja yang bicara itu bukan Pendeta Mayana orang tertua yang paling dihormati 

Paduka, pastilah Raja Singosari ini akan membentaknya. Sang Prabu duduk kembali ke 

tempatnya. Sambil mengusap-usap dagunya dia berkata perlahan. 

"Saya akan pikirkan hal itu Mamanda Patih." 

Namun nyatanya Sang Prabu tidak pernah memikirkan hal itu, apalagi memerintahkan 

melakukan penyelidikan. Kelak hal ini akan menjadikan penyesalan harus dibawanya bersama 

ajalnya. 

*** 

RUANGAN di mana Pendekar 212 Wiro Sableng dikurung adalah sebuah ruangan batu 

yang terletak di bagian bawah bangunan panjang. Pintunya terbuat dari besi yang bagian 

atasnya berbentuk jeruji-jeruji sebesar pergelangan tangan. 

Di luar pintu yang digembok itu, dua orang pengawal melakukan penjagaan di bawah 

penerangan sebuah obor yang dikaitkan di dinding. Ketika malam tiba keadaan di dalam dan 

di luar bangunan sepi sekali. Angin malam sesekali bertiup dingin. 

Dari arah tembok Keraton sebelah Utara kelihatan sesosok tubuh berjalan cepat dalamkegelapan malam. Orang ini ternyata menuju ke arah bangunan berbentuk panjang. Dia 

mengenakan jubah ahu-abu yang bagian lehernya di lengkapi sebuah topi berbentuk kerudung. 

Bentuk kerudung ini menyembunyikan hampir keseluruhan wajahnya hingga mukanya tidak 

dapat dilihat dan sulit dikenall. 

Di pintu depan bangunan dua orang pengawal segera mendatangi. Orang berjubah 

mengeluarkan secarik kertas. Begitu melihat kertas tersebut dua pengawal tampak menjura 

lalu memberi jalan bagi orang berkerudung untuk masuk ke dalam bangunan. 

Orang ini langsung menuju tangga yang membawanya ke sebuah lorong batu pendek. Di 

ujung lorong ada sebuah pintu besi dijaga oleh dua orang pengawal. Seperti tadi orang 

berkerudung ini keluarkan kertas dan memperlihatkannya pada kedua pengawal. Namun kali 

ini dia mendapat kesulitan. 

"Kami mendapat pesan, kalau bukan Patih atau Panglima Kerajaan yang datang, kami 

tidak boleh membuka pintu ini." berkata salah seorang pengawal. 

Orang berkerudung tampak kurang senang mendengar ucapan pengawal pintu penjara. 

Tapi dengan sabar dia berkata, "Kau lihat sendiri. Surat itu dibubuhi Cap Kerajaan. Berarti 

adalah perintah Prabu Singosari." 

"Kami memang melihatnya, namun kami tetap berpegang pada perintah yang telah 

diberikan." 

"Berarti kalian berani menyanggah perintah Raja?" orang berkerudung menggertak. 

Tapi dua pengawal itu tidak mempan digertak. Yang satu berkata, "Mana kami berani 

membangkang perintah Raja. Asalkan Panglima atau Patih Kerajaan bisa hadir di sini, kami 

tentu akan membuka pintu penjara." 

Pengawal yang satu lagi malah menyambung dengan berucap, "Harap dimaatkan. Siapa di 

situ sebenarnya kamipun tidak mengenali. Mengapa menutupi wajah dengan kerudung?" 

"Kalian berdua telah melihat Cap Kerajaan. Tapi masih berani menolak perintah. Kalian 

berdua akan mendapat hukuman berat!" 

Baru saja orang berkerudung berkata begitu tiba-tiba di ujung lorong terdengar suara 

orang berkata. 

"Aku datang membawa Surat Perintah dengan Cap Kerajaan yang asli! Kalian harus 

membebaskan tahanan itu!"Dua pengawal dan orang berkerudung sama-sama terkejut. Ketiganya berpaling ke arah 

ujung lorong. Semuanya lebih terkejut lagi ketika mengenali siapa yang datang. 

***

BEGITU orang yang barusan bicara sampai di depan pintu ketiga orang itu segera 

membungkuk memberi penghormatan. Lalu salah seorang pengawal cepat bertanya. 

"Raden Ayu Gayatri, Putri Prabu Singosari, ada keperluan apakah hingga menyempatkan 

diri dan sudi datang ke tempat ini?" 

"Saya datang membawa Surat Perintah dari Sang Prabu untuk membebaskan tawanan 

bernama Wiro," jawab orang yang barusan datang yang ternyata adalah puteri bungsu Raja 

Singosari sendiri yaitu Gayatri. Gadis ini mengenakan pakaian ringkas sderhana seperti 

pakaian berlatih menunggang kua. Dengan tangan kirinya dia menyodorkan sehelai kertas 

yang dibubuhi Stempel Kerajaan. Surat itu berisi atas perintah Raja Singosari, tahanan 

bernama Wiro harus segera dibebaskan. 

Pengawal pintu yang membaca surat tersebut membungkuk dua kali lalu berkata. "Raden 

Ayu, mohon dimaafkan. Kami tidak bisa membebaskan tahanan. Tadipun orang ini 

menunjukkan surat yang sama..." 

"Aneh!" kata Gayatri sambil memandang tajam pada orang berkerudung. Dia tidak 

mengenali siapa adanya orang ini. "Coba tunjukkan surat yang kau bawa!" 

Orang berkerudung menyerahkan surat yang dipegangnya. Gayatri memperhatikannya 

sebentar lalu berkata. "Palsu! Surat ini palsu! Yang aku bawa adalah yang asli! Lepaskan 

tahanan itu, cepat!" 

"Maaf Raden Ayu, asli atau tidaknya surat itu kami tidak bisa memenuhi permintaan 

Raden Ayu.. Kecuali jika Panglima atau Patih Kerajaan sendiri ada di sini. Mohon maaf dari 

Raden Ayu...." 

Mendengar ucapan si pengawal puteri Raja Singosari itu menjadi marah. "Lalu apa kau 

menganggap aku ini lebih rendah dari Panglima atau Patih Kerajaan?!" Gayatri membentak. 

Dua perajurit tampak pucat dan cepat-cepat membungkuk. 

"Maafkan kami Raden Ayu. Kami hanya perajurit-perajurit rendah yang menjalankan 

perintah....""Kalian perajurit-perajurit dungu!" 

Dua perajurit tundukkan kepala tidak berani menatap wajah puteri raja itu. Gayatri 

berpaling pada orang berkerudung di sebelahnya. 

"Siapa kau? Mengapa mereyeinbunyikan rupa di balik kerudung?" 

Pertanyaan si gadis membuat orang berkerudung menjadi gugup dan tidak segera 

menjawab. Dalam hati dia berkata. Aku tak perlu takut. Maksudku dan maksudnya sama.

Maka orang inipun segera membuka mulut untuk mengatakan siapa dirinya. Tapi tiba-tiba saat 

itu ada satu bayangan berkelebat. Tahu-tahu seorang nenek bungkuk telah berdiri di depan ke 

empat orang itu. Bentuk tubuh dan tampangnya yang angker membuat semua orang ada di situ 

jadi terkesiap dan kecut. 

Si nenek bertubuh tinggi kurus. Kulitnya sangat hitam, tipis keriputan seolah hanya 

tinggal kulit pembalut tulang. Kedua pipi dan rongga matanya cekung hingga jika memandang 

kelihatan menggidikkan. Sepasang alis dan rambutnya yang jarang berwarna putih. Pada 

kepalanya ada lima buah tusuk kundai perak berkilat. Rambutnya yang jarang tidak 

memungkinkan tusuk kundai itu disisipkan. Dan nyatanya kelima tusuk kundai itu disisipkan 

pada kulit kepalanya! Nenek seram ini mengenakan kebaya lusuh gombrong dan sehelai kain 

panjang dekil sebatas betis. Mulutnya yang perot kelihatan menyeringai. 

"Orang-orang tolol meributkan Surat dan Cap Kerajaan. Padahal aku yang datang 

membawa Cap yang asli! Ini!" Si nenek berkata sambil acungkan tinjunya. 

"Nenek, kau siapa?" tanya salah seorang pengawal pintu memberanikan diri. 

Sementara itu orang berkerudung memperhatikan perempuan tua ini dengan mata tidak 

berkesiap. Melihat kepada tusuk kundainya, tak salah lagi pasti dia. Tapi apakah keadaannya 

benar-benar sudah setua ini? Ah, apakah dia masih mengenaliku?

Orang berkerudung ini sesaat membayangkan masa beberapa puluh tahun yang silam. 

Namun bayangan itu menjadi buyar ketika si nenek membentak perajurit di hadapannya. 

"Kacoak macammu tidak perlu bertanya siapa diriku!" Lalu nenek ini melangkah ke 

depan, pintu besi. Sekali tangannya mengantam gembok besar dari besi yang ada di pintu 

tanggal berantakan. 

Dua perajurit sampai tersurut mundur saking kagetnya. Gayatri dan orang berkerudung 

terperangah. Tidak dapat dipercaya tangan yang kurus kering seperti tangan jerangkong itumamp memukul hancur gembok besi begitu rupa. 

Dewa Bathara, kata orang berkerudung dalam hati. Aku yakin kini memang dia. Hanya 

dia yang punya kesaktian melakukan hal itu!

Dua pengawal pintu yang tiba-tiba sadar akan tugas dan kewajiban mereka segera 

melompat ke hadapan si nenek sambil menghunus senjata. 

"Nenek tua! Kau berani melakukan perusakan! Kami terpaksa menangkapmu!" 

"Baik!" jawab si nenek. Lalu, dia tertawa mengekeh. "Tapi kau coba dulu Cap Kerajaan 

ini!" 

Dua tangan si nenek melesat ke depan. 

Bukk! 

Bukk! 

Dua pengawal jatuh ke lantai tak sadarkan diri lagi. Di kening masing-masing kelihatan 

benjut sebesar telor ayam! 

Nenek angker itu kembali perdengarkan suara tertawa menggidikkan. Lalu sekali kakinya 

bergerak pintu besi ruangan penjara jebol terpentang lebar. 

Di dalam ruangan batu itu tampak sosok Pendekar 212 Wiro Sableng terbujur 

menelentang di lantai dalam keadaan tidak bergerak karena masih di bawah pengaruh totokan 

yang dibuat oleh Argajaya. 

"Anak bandel! Ini akibat kau tidak menuruti petunjukku! Di suruh ke Barat malah 

ngeluyur ke Timur!" si nenek terdengar mengumpat. Lalu enak saja kakinya menendang. 

Bukk! 

Tubuh Wiro terpental. Ternyata tendangan itu bukan tendangan sembarangan. Karena 

begitu ditendang totokan yang menguasai Wiro serta-merta buyar terlepas! 

Dapatkan dirinya bebas dari totokan, bisa bergerak dan bicara kembali, Wiro Sableng 

segera menjura menghormat pada si nenek lalu berkata. 

"Eyang, murid mohon maafmu karena tidak mengikuti petunjuk. Murid tersesat ke 

Singosari karena maksud baik hendak berbakti memberi tahu adanya bahaya yang mengancam 

Kerajaan. Tapi...." 

"Itulah ketololanmu! Berbakti bukan pada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. 

Aku tahu kau tidak mengharapkan imbalan atau menyimpan rasa pamrih. Tapi apakah bukansialan namanya kalau maksudmu menolong malah kau kini yang digolong? Lekas keluar dari 

tempat celaka ini. Ikuti aku!" 

Jadi pemuda itu ternyata adalah muridnya. Berarti benar guru dan murid ini berada di 

Singosari. Orang berkerudung hendak maju mendekati tapi Gayatri lebih cepat mendatangi. 

"Pemuda itu tidak boleh kemana-mana. Dia harus ikut bersama saya!" 

Si nenek menatap wajah Gayatri sejurus lalu menyeringai. "Kau rupanya naksir pada 

muridku. Sampai-sampai membuat Surat Perintah palsu. Dari mana kau dapat Cap Kerajaan 

itu, gadis jelita?" 

Paras Gayatri tampak kemerahan. 

Di saat yang sama orang berkerudung berkata. "Pemuda itu tidak akan ikut satupun di 

antara kalian. Aku yang akan membawanya keluar dari tempat ini. Anak muda, ayo ikut aku!" 

Si nenek tertawa cekikikan. 

"Muridku laris rupanya. Banyak orang yang menginginkan dirinya. Manusia-manusia 

keblinger! Aku gurunya lebih berhak dari pada kalian! Menyingkir dari sini atau terpaksa 

kalian kugebuk satu persatu! 

Gayatri menjadi bimbang. Kalau nenek ini memang guru pemuda yang hendak 

dilepaskannya berarti maksudnya untuk menolong sudah kesampaian walau orang lain yang 

melakukan. Lain halnya dengan lelaki berjubah dan berkerudung. Dia melangkah cepat 

mendekati Wiro seraya berkata. "Sekarang bukan saatnya kau harus mengikuti gurumu. Cepat 

ikuti aku! Apa kalian tidak tahu kalau diri kalian dalam bahaya?!" 

Si nenek cepat bergerak memotong jalan orang berkerudung. Sepasang mata mereka 

saling bentrokan. Ada satu perasaan aneh yang membuat kedua orang ini jadi bergetar hati 

masing-masing. 

"Orang berkerudung siapa kau ini? Harap buka kerudungmu. Perlihatkan wajahmu agar 

kukenali, "kata Wiro. 

"Waktu kita singkat sekali. Sebentar lagi pengawal-pengawal pengganti akan datang. 

Kalau sampai ada yang melihat apa yang terjadi di sini, kau bias menemui kesulitan lebih 

besar. Mungkin sebelum matahari terbit kau sudah digantung!" 

"Aku mau lihat siapa yang berani menggantung muridku!" kata si nenek. Lalu ujung jari 

telunjuk tangan kanannya diluruskan dan didorongkan ke arah dada orang berkerudung."Menyingkir dari hadapanku!" 

Orang berkerudung terkejut ketika merasakan bagaimana jari yang kurus kecil si nenek 

laksana sepotong besi mendorong dadanya dengan kuat. Dia berusaha bertahan tapi dadanya 

jadi mendenyut sakit dan perlahan-lahan tubuhnya terdorong. Dia akan segera terjengkang 

kalau tidak cepat mengerahkan tenaga dalam ke bagian dada. Tenaga dalam yang 

dikerahkannya berbentuk satu tenaga lembut tetapi yang punya kesanggupan menahan tekanan 

berat. 

Si nenek terkesiap ketika merasakan bagaimana daya dorongnya yang kuat seolah-olah 

amblas masuk ke dalam permukaan selembut kapas. Matanya cepat menatap mata orang 

berkerudung di depannya. Aku seperti pernah melihat mata ini. Tapi lupa di mana dan kapan. 

Aku tak punya waktu untuk memikirkannya saat ini. Si nenek tarik pulang tangannya dan 

berpaling pada muridnya. Namun sebelum dia sempat mengatakan sesuatu pada Wiro tiba-tiba 

di dengarnya orang berkerudung di depannya berkata perlahan hingga hanya dia saja yang 

mendengar. 

"Sinto Weni, lekas tinggalkan tempat ini. Aku tunggu kau di sebuah pondok di Lembah 

Bulan Sabit...." Habis berkata begitu orang berkerudung putar tubuhnya dan cepat sekali dia 

sudah berada di ujung lorong lalu lenyap di balik tembok batu. 

Nenek kurus jangkung tampak berubah wajahnya yang angker. Kedua matanya seperti 

hendak melompat oleh rasa terkejut. Selama puluhan tahun hidup hanya beberapa orang saja 

yang tahu nama aslinya itu. Dia dikenal dengan sebutan nenek angker Sinto Gendeng dari 

Gunung Gede. 

Orang berkerudung itu! Siapa dia?! Bagaimana dia bisa tahu nama asliku?! Hanya ada 

satu jawaban. Dia pasti salah satu dari orang-orang yang kukenal di masa muda! Aku harus 

mengejarnya! Aku harus mencari tahu siapa dia adanya! 

Sinto Gendeng berpaling pada muridnya "Anak gendeng, lekas kau pergi dari sini. Aku 

tidak melarang kau melakukan kebaikan dan kebajikan. Tapi jika itu hanya akan menyulitkan 

dirimu, jangan harap aku bakal menolongmu lagi!" 

"Eyang, saya… " Wiro tidak teruskan ucapannya. Sang guru sudah berkelebat dan lenyap 

dari , hadapannya. Wiro garuk-garuk kepala lalu berpaling pada gadis di sebelahnya. 

"Saya tidak menduga kalau kau adalah puteri Raja Singosari." Lalu Wiro membungkukmemberi penghormatan. 

"Saya tidak perlu segala macam peradatan seperti itu." 

"Kau telah menolongku...." 

"Bukan saya, tapi gurumu sendiri." Jawab Gayatri. 

"Paling tidak kau telah berusaha melakukan sesuatu untuk mengeluarkan diri saya dari 

sini. Saya sangat berterima kasih..." 

Gayatri tersenyum. "Budi pertolonganmu tempo hari belum dapat saya balas, Wiro..." 

"Ah, hal itu tidak perlu disebut-sebut," jawab murid Sinto Gendeng. 

"Dengar, kita tidak bisa berada lama-lama di tempat ini. Saya harus pergi. Sebelum 

matahari terbit pergilah ke Lembah Bulan Sabit di sebelah Selatan Kotaraja. Di situ ada 

sebuah pondok papan. Tunggu sampai saya datang." 

Wiro hendak menanyakan sesuatu. Tetapi Gayatri sudah membalikkan tubuh 

meninggalkan tempat itu. 

***

10 

LEMBAH Bulan Sabit terletak di sebelah Selatan Tumapel, di satu daerah yang jarang di 

datangi orang karena kawasan ini sering dipergunakan oleh Prabu Singosari dan para petinggi 

Kerajaan untuk berburu. Malam itu udara dingin sekali dan kesunyian yang mencekam 

sesekali ditandai oleh suara siuran angin. 

Di lembah yang berbentuk bulan sabit itu terdapat sebuah pondok papan. Pondok ini 

biasanya dipakal sebagal tempat beristirahat oleh orang-orang Keraton Singosari yang berburu 

di kawasan itu. 

Di dalam gelap dan dinginnya malam menjelang dini hari itu seseorang tampak berkelebat 

cepat dari arah Timur. Inilah sosok di nenek Sinto Gendeng, guru Pendekar Kapak Maut Naga 

Geni 212 Wiro Sableng.

Aku tidak melihat bayangan orang berkerudung itu. Kalau dia menempuh jalan memintas 

itu tidak mengherankan. Tapi bilamana dia mengambil jalan yang sama yang aku tempuh. 

Sungguh luar biasa kepandaiannya. Sinto Gendeng membatin sambil berlari menuruni 

lembah. Di satu bagian lembah, dikelilingi oleh beberapa pohon besar pondok papan itu 

dengan mudah terlihat walaupun malam gelap. 

Si nenek berlari cepat ke arah bangunan ini. Tinggal beberapa belas langkah lagi dari 

pondok itu, Sinto Gendeng telah dapat melihat sosok tubuh orang berkerudung tegak di bagian 

depan bangunan. Pondok ini ternyata sebuah bangunan yang diberi dinding papan pada bagian 

kiri kanan dan belakang sedang bagian depan dibiarkan terbuka. Sebuah balai-balai kayu 

terletak di bagian kiri. 

Ah, ternyata dia sudah sampai duluan, kata Sinto Gendeng ketika dia melihat orang itu. 

Nenek ini naik ke baglan depan pondok papan. Untuk beberapa saat kedua orang ini hanya 

saling pandang dari jarak tiga langkah. 

Kegelapan tidak memungkinkan bagi Sinto Gendeng untuk melihat jelas apalagi 

mengenali orang itu. Maka diapun berkata. 

"Kau tahu namaku. Siapa kau sebenarnya? Kau menyuruh aku datang ke sini. Apaperlunya? 

Wajah di balik kerudung tersenyum. 

"Kau tidak mengenaliku? 

"Kau menyembunyikan wajahmu di balik kerudung. Mana mungkin aku mengenali. 

Tetapi suaramu... suaramu mengingatkan aku pada seseorang yang aku pernah kenal sekitar 

empat puluh tahun yang silam..." Sinto Gendeng hentikan ucapannya. Tiba-tiba saja dia 

merasakan jantungnya berdebar keras. 

"Empat puluh tahun bukan waktu yang singkat," kata orang berkerudung disertai tarikan 

nafas dalam. "Tapi perubahan kulihat sangat menyolok pada dirimu." masih tegak 

membelakangi Sinto Gendeng perlahan-lahan orang itu membuka jubahnya. Di balik jubah itu 

dia mengenakan pakaian putih. 

"Kau seorang Pendeta Tantrayana..." kata Sinto Gendeng. 

"Kau... Katakan siapa dirimu sebenarnya. Apakah kau bukannya.... Ah, mustahil. Orang 

yang pernah kukenal itu sudah meninggal empat puluh tahun yang lalu." 

Orang berpakaian pendeta membuka kerudungnya dan mencampakkannya ke lantai 

pondok. Perlahan-lahan dia memutar tubuh menghadap ke ar. si nenek. Kedua mata Sinto 

Gendeng terbuka lebar Merasa masih belum jelas dia melangkah mendekati tiba-tiba 

langkahnya tertahan. Malah kini dia surut sampai dua langkah. Dia melihat wajah itu kini 

dengan jelas. Dia mengenali orang itu. 

"Ananta... Jadi benar kau rupanya!" Nenek itu merasakan sekujur tubuhnya bergetar. 

"Atau aku salah lihat?" 

Karena terlalu asyik dalam percakapan ke dua orang itu tidak mengetahui kalau sesosok 

bayangan berkelebat di dekat pondok papan lalu mendekam di tempat gelap. Orang ini bukan 

lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng. Sesuai dengan pesan 

Gayatri malam itu sekeluarnya dari penjara Wiro segera menuju pondok di Lembah Bulan 

Sabit itu. Baik Wiro maupun Gayatri tidak mengetahui kalau sebelumnya orang berkerudung 

telah membuat janji pula dengan Sinto Gendeng untuk bertemu di tempat itu. Walaupun 

hatinya jadi tidak enak namun diam-diam Wiro mendengarkan percakapan ke dua orang itu. 

"Tidak, kau tidak salah lihat Sinto. Yang berdiri di hadapanmu ini memang Ananta 

Wirajaya. Sahabatmu empat puluh tahun lalu! Sahabat yang pernah mencintaimu dan yangjuga pernah kau cinta! Hanya sayang perjalanan nasib tidak dapat menyatukan kita sebagai..." 

Wiro jadi melongo mendengar kata-kata orang yang bicara dengan gurunya itu. Dari 

tempatnya bersembunyi Wiro mengenali orang berpakaian Pendeta bukan lain adalah Pendeta 

Mayana, salah seorang dari tiga Maha Menteri yang menjadi pembantu utama Prabu 

Singosari. Kemudian kembali terdengar suara sang pendeta. 

"Ananta..." kata Sinto Gendeng dengan suara sengaja dikeraskan untuk menyembunyikan 

getaran hatinya. Namun tetap saja suara itu terdengar bergetar. "Masa empat puluh tahun lalu 

tidak mungkin akan kembali. Apa yang terjadi dulu tidak perlu diungkit apalagi disesalkan. 

Dulu kita orang-orang muda yang keras hati, sombong, tidak mau mengalah, terlalu 

menyanjung ilmu dan kesaktian. Apa vang akhirnya kita dapat? Kini kita hanya jadi orang-

orang tua yang tidak lebih dari sebatang kayu yang sudah dimakan rayap!" 

"Sinto Weni, apakah kau menyembunyikan sesuatu di balik keadaan tubuh dan 

wajahmu?" 

Sinto Gendeng tersentak. "Apa maksudmu Ananta?" 

"Aku setuju kata-katamu tadi. Kita adalah orang-orang tua yang sudah jadi kayu dimakan 

rayap, sudah bau tanah karena hampir masuk liang kubur. Tapi aku merasa pasti tidak 

seharusnya kau seperti ini. Wajahmu tidak mungkin seperti yang aku lihat. Juga keadaan 

tubuhmu..." 

"Apa yang kau lihat adalah kenyataan Ananta. Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini." 

"Aku tidak yakin," jawab Ananta Wirajaya alias Pendeta Mayana. "Boleh aku melihat 

wajahmu yang asli, Sinto?" 

"Eh, kau kira apakah saat ini kepalaku adalah kepala palsu? Terbuat dari kayu?!" Sinto 

Gendeng coba bergurau. 

"Kepalamu tidak palsu. Hanya saja kau...Maafkan kalau dugaanku salah. Kau 

menyembunyikan seluruh kepala dan wajahmu di balik sebuah topeng. Mungkin juga kau 

mengenakan topeng tipis yang menutupi sekujur tubuhmu..." 

Sinto Gendeng tertawa panjang. Dia menatap ke mata Sang Pendeta yang bening itu. 

Nenek sakti yang keras hati ini tidak sanggup menatap kedua mata Ananta Wirajaya. 

Kekerasan hatinya seperti mencari oleh kenangan masa lalu. Dadanya berdebar. Perlahan 

terdengar Sinto Gendeng berkata. '"Aku tidak bisa berdusta padamu. Memang aku menutupikepala, wajah dan tubuhku dengan sesuatu." 

"Ah..." Pendeta Mayana berdesah. 

Di dalam kegelapan Wiro Sableng jadi terkesiap mendengar pembicaraan gurunya dengan 

Pendeta Mayana itu. Jika dia tidak mendengar sendiri rasanya tak akan pernah dia percaya 

kalau wajah yang bertahun-tahun dilihatnya itu ternyata adalah bukan wajah asli si nenek. 

Lalu didengarnya suara Sinto Gendeng. 

"Aku tidak mungkin memperlihatkan wajahku yang asli padamu, Ananta. Tidak pada 

siapapun. Bahkan muridku yang hidup bersamaku lebih dari sepuluh tahun tidak pernah 

mengetahuinya. Aku merasa lebih tenteram dengan wajah dan tubuh seperti ini..." 

"Ketenteraman hidup tidak terletak pada wajah, Sinto," kata Ananta Wirajaya yang di 

Keraton Singosari dikenal sebagai Pendeta Mayana itu. "Tapi di sini," sambungnya sambil 

menekapkan telapak tangan kirinya ke dada. 

Untuk beberapa lamanya Sinto Gendeng tidak bisa berkata apa-apa. Pendeta Mayana 

maju mendekatinya hingga jubah pendetanya hampir menyentuh pakaian si nenek. 

Berada sangat dekat begitu rupa membuat Sinto Gendeng merasakan darahnya mengalir 

lebih cepat dan jantungnya berdetak lebih keras. 

"Ananta, aku harus pergi sekarang. Aku merasa senang setelah sekian puluh tahun bisa 

bertemu denganmu lagi." 

"Sinto..." kata Ananta Wirajaya. Suaranya tercekat seperti lidahnya menjadi kelu saat itu. 

"Aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi. Mungkin tidak akan pernah lagi. Selama 

perpisahan empat puluh tahun lalu aku tidak pernah melupakan berjumpa mengapa kau ingin 

berlalu secepat ini. Apakah kau masih menanam rasa sakit hati terhadapku...?" 

Sinto Gendeng menggeleng. "Tidak, tidak ada rasa sakit hati. Semua yang terjadi di masa 

lalu biarlah berlalu." 

Ananta Wirajaya menarik nafas panjang. 

"Kalau kau memang ingin pergi aku tak dapat mencegah. Aku pasrah." kata Ananta 

Wirajaya. "Cuma aku mohon untuk terakhir kali, izinkan aku melihat wajahmu. Sekejappun 

sudah cukup menjadi obat bagi penderitaan dan pelepas rindu selama empat puluh tahun. 

Mungkin perlu kau ketahui. Aku merubah jalan hidup, meninggalkan dunia persilatan dan 

menjadi seorang Pendeta Tantrayana sejak aku menyadari kesalahanku, mengecewakanmu."Jadi dia telah menjadi Pendeta sejak empa puluh tahu silam, kata Sinto Gendeng dalam 

hati. 

"Aku meminta Sinto, Bolehkah...?" 

Hati nenek sakti dari Gunung Gede itu seperti leleh. Perlahan-lahan kedua tangannya 

diangkat ke bagian bawah lehernya. Jari-jarinya menarik satu lapisan sangat tipis yang selama 

ini menutupi wajahnya. Ketika lapisan itu tersingkap kelihatan satu wajah berkulit halus putih. 

Wajah itu memang sudah tua dan ada keriputnya tetapi bekas-bekas kecantikan masih 

membayang sangat menonjol. 

Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. Dalam hati dia berkata. Gila! Tidak pernah aku 

menyangka dia menyembunyikan wajahnya yang asli. Ternyata meskipun tua tapi cantik. Di 

waktu muda pasti wajahnya membuat setiap lelaki blingsatan melihatnya! 

Pendeta Mayana yang aslinya bernama Ananta Wirajaya untuk beberapa lamanya 

menatap wajah di depannya dengan pandangan mesra. Semua yang pernah dialaminya empat 

puluh tahun silam bersama perempuan yang dikenalnya dengan nama Sinto Weni itu seolah 

terbayang kembali. Perlahan-lahan dia mengangkat tangan kanannya. Jari-jari tangannya 

membelai pipi Sinto Weni. 

Diperlakukan mesra seperti itu Sinto Weni merasakan dirinya tergetar. Sesaat dia 

tenggelam dalam rasa bahagia. Tapi nenek sakti ini cepat sadar diri. Dia mundur dua langkah 

sambil cepat-cepat menutup kembali lapisan tipis ke wajahnya yang asli, 

"Aku harus pergi Ananta. Maafkan aku..." 

Walau sedih Ananta Wirajaya tampaknya pasrah. Dia menganggukkan kepala. "Kau tak 

ingin meninggalkan pesan apa-apa?" tanyanya. 

"Ya, memang ada pesanku," jawab Sinto Gendeng. "Jaga dirimu baik-baik. Aku mendapat 

firasat ada sesuatu peristiwa besar akan terjadi di Singosari..." 

"Firasatmu sama dengan firasatku," sahut Ananta Wirajaya. "Hanya saja sayang aku 

dalam posisi yang lemah untuk memberi ingat Sang Prabu." 

"Suatu ketika kiranya kita bisa bertemu lagi, Ananta." 

"Memang itu yang jadi harapanku." 

"Tolong kau perhatikan muridku yang bernama Wiro Sableng itu..." 

"Sableng? Mengapa kau berikan nama aneh itu pada muridmu?" tanya Ananta Wirajayaheran. Sampai saat itu dia mengira pemuda yang muncul di Keraton Tumapel itu bernama 

Wiro saja. Ternyata ada Sablengnya!" 

Sinto Gendeng tersenyum. "Dia anak baik, polos. Dia memang suka bicara ceplas-ceplos. 

Tapi hatinya putih dan jujur. Ilmunya memang tinggi, tapi lebih suka mengikuti kemauan hati 

dari pada kehendak otak. Tolong kau lihat-lihat dia dan beri teguran jika tindak tanduknya 

salah. Aku menduga dia sedang berkeliaran di Singosari ini. Entah apa yang dicarinya..." 

Di tempatnya bersembunyi di kegelapan Pendekar 212 Wiro Sableng kembali garuk-

garuk kepala mendengar ucapan gurunya itu. 

Setelah memegang lengan Ananta Wirajaya sesaat yang membuat sang pendeta merasa 

seribu bahagia Sinto Gendeng berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Wiro menarik nafas lega. 

Dia berpikir-pikir apakah akan terus mendekam di situ atau keluar saja. Sementara Gayatri 

masih juga belum kelihatan. Bagaimana kalau gadis itu muncul selagi Pendeta Mayana masih 

berada di tempat itu? Selagi dia berpikir-pikir begitu tahu-tahu sang pendeta sudah berdiri di 

hadapannya. 

Wiro jadi kaget. Sambil garuk-garuk kepala dia berdiri dan membungkuk memberi 

hormat pada orang tua di hadapannya. 

Pendeta Mayana tersenyum. 

"Orang yang kau tunggu rupanya belum datang?" 

Pertanyaan itu membuat Wiro terkejut besar. 

Dari mana dia tahu? Pikir Wiro. 

Pendeta Mayana tersenyum. "Hidup ini terkadang aneh. Kita manusia tidak bisa 

menentukan karena semuanya berada di tangan Yang Kuasa. Kau telah mendengar sendiri 

bagaimana jalan hidupku bersama gurumu. Namun sebagai manusia kita perlu mawas diri. Ini 

membuat kita paling tidak bisa menjadi tabah menghadapi apa yang bakal terjadi..." 

"Saya tidak mengerti maksud Pendeta," kata Wiro pula. 

Kembali orang tua itu tersenyum. 

"Gadis itu mencintaimu Wiro...." 

"Hah?!" Pendekar 212 terkesiap kaget. Wajahnya tentu saja menunjukkan rasa tidak 

percaya. "Pendeta pastilah bergurau..." katanya. 

"Aku tidak bergurau atau mengada-ada, anak muda. Pertolongan dan budi baikmu, sikapjujur polosmu membuat dia merasakan satu perasaan yang selama ini tidak pernah 

dirasakannya. Kehidupannya selama ini terkungkung dalam Keraton. Kau adalah satu-satunya 

pemuda yang datang dalam kehidupannya pada saat dia membutuhkan seseorang. 

Kemunculanmu juga membuat dia melihat sesuatu yang selama ini tidak dilihat atau 

didapatkannya didalam Keraton...." 

"Taruh kata apa yang Pendeta katakan itu betul, lalu apa yang akan saya lakukan? Apa 

yang musti saya perbuat?" 

"Kau mencintai gadis itu?" 

Pendekar 212 Wiro Sableng jadi garuk-garuk kepala. 

"Pendeta tahu siapa adanya Raden Ayu Gayatri. Saya tahu siapa saya. Saya tak lebih dari 

seekor kodok di bawah tempurung atau pungguk merindukan bulan... Jurang pemisah 

perbedaan antara kami sangat luas. Saya lebih banyak menaruh hormat padanya dari pada 

memendam perasaan yang bukan-bukan." 

"Anak muda, tahukah kau bahwa cinta melenyapkan segala perbedaan? Bahwa cinta 

menyingkirkan segala pembatasan…" 

"Di mata pendeta Mayana mungkin begitu. Tapi di mata Sang Prabu pasti lain. Kita orang 

Jawa selalu akan melihat kepada bibit, bebet dan bobot. Saya tahu siapa bibit saya, apa bebet 

dan bobot saya" 

"Bibit, bebet dan bobot. Memang tiga hal itu harus menjadi bahan pertimbangan. Namun 

terkadang di balik pengagungan terhadap tiga hal itu, manusia sering kali khilaf sehingga 

karena terlalu mengharapkan akhirnya mendapatkan sesuatu yang lain dari yang diinginkan 

Katakanlah bahwa kau tidak punya bibit, bebet ataupun bobot. Namun dengan pribadimu apa 

adanya saat ini ditambah dengan apa yang kau miliki sekarang ini kau mempunyai peluang 

untuk mendapatkan satu kedudukan dalam Keraton. Mengapa kau tidak mengabdikan diri 

pada Kerajaan? Dengan kepandaianmu kau bisa mendapatkan kedudukan tinggi dalam jajaran 

pasukan Kerajaan atau pengawal Keraton. Aku menaruh keyakinan, kepandaian yang kau 

miliki saat ini tidak berada di bawah apa yang dimiliki Panglima Pasukan Kerajaan yang 

sekarang. Bukan maksudku merendahkannya." 

"Lalu apa yang harus saya lakukan Pendeta Mayana?" tanya Wiro yang jadi pusing 

mendengar tutur cakap Pendeta Mayana yang begitu panjang lebar."Aku tidak bisa memberi tahu apa yang harus kau lakukan, apalagi kalau sampai 

menyuruhmu. Kau kajilah sendiri. Jika kau mencintai Gayatri dan menginginkannya sebagai 

pendamping hidupmu, pergunakan kemampuanmu sebagai batu loncatan. Bilamana kau sudah 

menduduki satu jabatan penting dalam Istana, rasanya tak ada alasan bagi Sang Prabu untuk 

tidak memikirkan kau sebagai menantunya…" 

"Pendeta Maya, saya dilahirkan sebagai orang persilatan, hidup saya selama ini dalam 

rimba persilatan. Istana atau Keraton bukan tempat saya " 

Orang tua itu tersenyum dan geleng-gelengkan kepala. "Orang banyak berlomba-lomba 

bahkan mungkin saling sikut untuk bisa mendapatkan satu kedudukan rendah saja. Kau justru 

mempunyai peluang. Mengapa kau sia-siakan anak muda? Apa akan kau tunggu setelah kau 

tua renta seperti aku ini?" 

"Saya sangat menghargai semua ucapan dan dorongan yang kau berikan Pendeta Mayana. 

Hanya mungkin saya terlalu bodoh untuk mampu berpikir ke arah itu. Terus terang saya sudah 

cukup bahagia bisa jadi sahabat Raden Ayu Gayatri " kata murid Eyang Sinto Gendeng pula. 

'Pendeta Mayana memegang bahu Pendekar 212 lalu berkata. "Dia sudah datang. Aku 

harus pergi. Tidak pantas orang tua ikut mendengar pembicaraan orang-orang muda...." 

Di kejauhan terdengar suara derap kaki kuda. 

Pendeta Mayana yang di masa mudanya dikenal dengan nama Ananta Wirajaya itu 

mengambil jubah dan kerudungnya yang tercampak di lantai pondok lalu bergerak pergi. 

"Pendeta, tunggu dulu!" seru Wiro. 

Tapi sekali berkelebat orang tua berambut putih itu sudah lenyap. Wiro hanya bisa garuk-

garuk kepala. Wiro berpaling ketika derap kaki kuda terdengar muncul di samping kanannya. 

Seorang pemuda berpakaian ringkas warna biru gelap dengan kepala ditutup sehelai sapu 

tangan lebar muncul menunggang kuda dari arah kegelapan. Di bawah hidungnya ada sebaris 

kumis tipis. Jika sebelumnya tidak pernah bertemu, Pendekar 212 tentu tidak akan mengenali 

orang ini. Dia bukan lain adalah Gayatri, puteri Prabu Singosari yang dalam keadaan 

menyamar. 

Pendekar 212 cepat menyongsong kedatangan gadis itu. 

"Kau sudah lama berada di sini?" tanya Gayatri. 

Wiro mengangguk. Gadis itu turun dari kudanya lalu melangkah ke pondok dan duduk diatas balai-balai kayu. 

"Maafkan kalau sebelumnya saya bersikap tidak pantas. Saya tidak tahu kalau Raden Ayu 

adalah puteri Raja Singosari." 

Gayatri tersenyum mendengar ucapan Pendekar 212 itu.

Ah, gadis ini cantik sekali. Ada apa dia meminta aku datang ketempat ini. 

"Bagaimana samaran saya?" bertanya Gayatri. 

"Sangat bagus. Sukar orang lain mengenali Raden Ayu." 

"Ah! Tidak usah memanggil saya dengan sebutan itu, Wiro," kata Gayatri. 

"Saya tidak berani berlaku lancang. Bagaimana pun Raden Ayu harus saya hormati." 

Gayatri hendak membantah. Tapi Wiro cepat berkata dengan mengalihkan pada hal lain. 

"Walau menyamar seperti ini tetapi keselamatan Raden Ayu tetap saja terancam. Apa lagi 

tanpa pengiring atau pengawal sama sekali." 

"Saya mengerti. Kabarnya mata-mata musuh bertebaran di mana-mana." 

"Kalau saya boleh bertanya, mengapa Raden Ayu meminta saya datang ke pondok ini?" 

"Tidak ada satu orangpun percaya pada keteranganmu. Saya telah berusaha meyakini 

Ayahanda akan bahaya yang akan mengancam Singosari. Tapi percuma. Bagaimanapun dia 

adalah ayah saya. Bila Kerajaan terancam berarti keselamatannya juga terancam. Saya ingin 

kau melakukan sesuatu untuk saya. Untuk Kerajaan..." 

"Kemampuan apa yang saya miliki hingga Raden Ayu mempercayai?" tanya Wiro. 

"Saya kagum akan kesaktian gurumu. Dia sanggup menghancurkan gembok besi dengan 

tangan kbsong. Jika gurunya sehebat itu muridnya tentu tidak seberapa beda." 

"Raden Ayu keliwat memuji. Saya cuma orang gunung " 

"Gadis itu tertawa lebar. Kemudian tampak wajahnya bersungguh-sungguh. "Wiro, saya 

ingin kau menyelidiki gerak-gerik Adikatwang. Saya yakin dia sumber malapetaka yang akan 

menghancurkan Singosari." Ketika diperhatikannya Wiro masih saja berdiri, Gayatri berkata. 

"Duduklah di sini, di samping saya " 

Wiro duduk di sebelah si gadis. Duduk berdekatan seperti itu sang pendekar dapat 

mencium harumnya bau tubuh dan pakaian sang dara. 

"Maafkan saya Raden Ayu. Saya tidak mungkin mencampuri urusan Kerajaan. Singosari 

mempunyal seorang Patih, seorang Panglima. Bukankah mereka lebih punya kewajiban dantanggung jawab untuk menjaga keamanan Kerajaan?" 

"Mereka sudah jadi dungu karena terlalu patuh pada Ayahanda. Saya yakin sebenarnya 

mereka pasti sadar akan bahaya yang mengancam." Gayatri tampak gelisah. Murid Eyang 

Sinto Gendeng serasa terbang ketika Gayatri memegang tangannya seraya berkata. "Wiro, 

saya tidak punya kakak laki-1aki. Saya menganggapmu sebagai kakak sendiri. Bahkan lebih 

dari kakak. Itu sebabnya saya mempercayaimu!.." 

Dia menganggap aku sebagai kakak, lebih dari kakak. Mengapa dia tidak terus terang 

mengatakan aku sebagai kekasih? Gila! Wiro memaki sendiri dalam hati. Masakan aku si 

sableng ini punya kekasih puteri Keraton Singosari? Bercinta dengan Puteri Raja?! Sudah 

gila aku ini agaknya! 

"Wiro," Gayatri masih memegang tangan pemuda itu. "Kau tadi bilang tidak mungkin 

mencampuri urusan Kerajaan. Karena Singosari punya Patih, punya Panglima. Saya 

tambahkan juga punya Raja. Saya mengerti. Salah-salah kau bisa dituduh lagi sebagai orang 

jahat yang bersekutu dengan kelompok yang ingin menumbangkan Sang Prabu. Tapi 

bagaimana kalau ada orang-orang dari dunia persilatan ikut campur membela orang-orang 

jahat itu. Apakah itu tidak bisa dipakal alasan bagimu untuk turun tangan membantu 

Singosari?" 

Gadis ini benar-benar cerdik! "Raden Ayu, kau ternyata cerdik sekali. Alasan itu 

mungkin mengena." 

Gayatri tersenyum manis sekali. Kini tangannya bergerak menggenggam jari-jari pemuda 

itu. "Hidup harus cerdik Wiro. Sebelum orang lain mempergunakan kecerdikannya untuk 

menindas kita." 

Wiro mengangguk. "Raden Ayu," katanya. "Jika suatu ketika kelak keturunan Raja 

Singosari mempunyai Ratu maka saya yakin kaulah orangnya." 

Gayatri tertawa berderai. "Jangan dulu ingat-ingat Singosari di masa tahunan mendatang. 

Kita bicara saja dulu bahwa kau mau membantu. Demi Singosari dan juga demi saya…" 

"Apa yang Raden Ayu ingin saya lakukan?" 

"Selidiki gerak-gerik Adikatwang di Gelang-Gelang. Usahakan mendapatkan bukti-bukti 

nyata dan saksi atas maksud jahatnya yaitu bersekongkol dengan Adipati Wira Seta dari 

Sumenep. Jika itu sudah kau dapat, hubungi saya. Kita bersama-sama akan menghadapAyahanda. Masakan nanti Ayahanda tidak akan mau percaya?" 

"Saya mengenal sifat orang seperti Sang Prabu. Sulit diubah. Apa lagi saat ini saya tak 

lebih dari seorang buronan. Bagaimana Sang Prabu bisa percaya?" 

"Lupakan dulu sifat Sang Prabu. Kau bersedia mengabulkan permintaan saya Wiro?" 

Wiro diam sesaat. Terbayang wajah gurunya. Apakah Eyang Sinto Gendeng tidak akan 

mendampratnya habis-habisan, mungkin menggebuknya sampai babak belur jika nenek sakti 

itu nanti mengetahui dia telah melanggar larangannya untuk tidak ikut campur urusan 

Kerajaan? 

"Baiklah. Saya akan melakukan apa yang saya bisa." Meluncur ucapan itu dari mulut 

Pendekar 212. 

"Saya mengucapkan terima kasih yang sangat dalam Wiro." Nada suara Gayatri jelas 

terharu. "Yang Kuasa akan menolong dan memberkatimu Saya harus pergi sekarang. Takut 

kesiangan. Apakah kau masih menyimpan peniti emas yang saya berikan tempo hari?" 

Wiro mengangguk. "Apakah Raden Ayu hendak memintanya kembali?" Wiro meraba 

pinggangnya di mana dia menyimpan peniti emas itu baik-balk. 

Gayatrl tertawa lebar lalu menggeleng. "Tentu saja tidak," kata puteri bungsu Prabu 

Singosari itu. "Saya hanya ingin kau menyimpannya baik-baik…" 

"Saya selalu menjaganya baik-baik. Jangan Raden Ayu kawatir." Lalu enak saja murid 

Sinto Gendeng meneruskan ucapannya begini. "Kalau saya rindu pada Raden Ayu saya akan 

mengeluarkan peniti emas itu, memandanginya, membelainya dan menciumnya." Wiro 

melirik. Dalam gelap dilihatnya wajah gadis di sampingnya bersemu merah tapi bibirnya 

tersenyum. "Saya tidak punya apa-apa yang dapat saya berikan sebagai pengganti peniti emas 

itu. Kalau Raden Ayu sudi menerima hanya ini yang bisa saya berikan. "Lalu Wiro membuka 

kain putih pengikat kepalanya dan menyerahkan benda ini pada Gayatri. 

"Ah... Terima kasih," kata Gayatri seraya mengambil kain pengikat kepala itu lalu 

mengikatkannya ke kepalanya sendiri. 

Hati Pendekar 212 berbunga-bunga. Gadis baik, katanya dalam hati. Kain ikat kepala 

jelek begitu mau saja dia menerima. Malah langsung diikatkan ke kepalanya. 

"Saya senang memakal ikat kepala ini," kata Gayatri pula. "Kalau tidur, kain ini akan saya 

letakkan di samping bantal saya "Ala Mak! Jangan-jangan betul kata Pendeta Mayana bahwa dia mencintaiku! 

Gayatri berdiri tapi jari-jari tangannya masih memegang dan saling bersilang dengan jari-

jari tangan Wiro. 

Wiro ikut berdiri. Keduanya tegak berhadap-hadapan dekat sekali. Wiro dapat merasakan 

hembusan nafas dan keharuman tubuh puteri Raja itu. 

"Saya pergi sekarang Wiro...." 

"Terima kasih atas semua yang telah Raden Ayu lakukan untuk saya," ujar Wiro. 

Dilihatnya gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum padanya. Kedua matanya yang 

sebening kaca tampak bercahaya. Wiro menundukkan kepalanya mencium kening Gayatri?. 

Mencium kedua matanya yang indah itu. Kedua pipinya. Ketika Pendekar 212 mengecup bibir 

Gayatri terasa kehangatan menjalari seluruh tubuhnya. Lalu dirasakannya kedua tangan gadis 

itu merangkul.erat-erat seperti tidak akan dilepaskan lagi. Wiro balas memeluk. Dada mereka 

bersatu erat. Wiro dapat merasakan detak jantung Gayatri. Kemudian pelukan gadis itu lepas. 

"Aneh…" bisik Wiro sambil membelai pipi Gayatri. 

"Aneh? Apa yang aneh?" tanya si gadis. 

"Aku bermesraan dengan seorang gadis cantik tapi mempunyai kumis " 

Gayatri memekik kecil. Tangan kanannya meraba kumis palsunya lalu tiba-tiba tangan itu 

bergerak ke dada Wiro dan habislah dada pendekar ini dicubitinya hingga Wiro terlonjak-

lonjak kesakitan. 

"Sudah…. sudah!" kata Wiro sambil menjauhi dadanya. 

"Saya harus pergi sekarang,.,," kata Gayatri kemudian. 

"Saya tahu. Hati-hati...." berbisik Pendekar 212. 

"Kau juga hati-hati...." kata si gadis seraya tersenyum. Dia mundur beberapa langkah lalu 

membalikkan tubuh dan berjalan ke arah kudanya. 

Namun langkah gadis ini tertahan. 

***

11 

SATU bentakan menggeledek dalam kegelapan malam. 

"Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Kita bertemu kembali! Apakah kau sudah siap 

untuk menyambung peristiwa di tepi Kali Brantas tempo hari?!" 

Murid Eyang Sinto Gendeng terkejut besar. Dia mengenali suara itu dan juga mengenali 

siapa adanya orangnya. Bukan lain Gandita, pemuda kepercayaan pembantu Adipati Wira Seta 

dari Sumenep.

Hemm, rupanya kadal satu ini masih menyimpan dendam terhadapku. Bagaimana dia 

tahu gelarku. Jangan-jangan dia memang telah melakukan penyelidikan dan merencanakan 

balas dendam. 

Pendekar 212 sama sekali tidak takut apapun alasan kemunculan Gandita. Sudah pasti 

untuk membalaskan sakit hati dipermainkan dan dipermalukan dulu itu. Yang dikawatirkan 

Wiro saat itu justru adalah keselamatan Raden Ayu Gayatri, puteri bungsu Sang Prabu 

Singosari. Kalau Gandita tahu siapa sebenarnya pemuda berkumis itu, urusan bisa jadi celaka. 

Tadi aku seperti melihat ada bayangan di sebelah sana. Apakah pengkhianat ini datang 

bersama seorang lain? Berpikir sampai di situ Wiro cepat melangkah mendekati gadis yang 

menyamar itu. Dengan suara perlahan dia berkata. "Lekas naik ke atas kuda. Tinggalkan 

tempat ini segera." 

"Siapa orang itu?" Gayatri bukannya pergi malah ajukan pertanyaan. 

"Nanti saja saya terangkan. Sekarang lekas pergi…!" 

Melihat air muka Wiro dan mendengar nada suaranya Gayatri segera melangkah menuju 

kudanya. Pada saat yang bersamaan Gandita melompat ke hadapan Wiro, tegak bertolak 

pinggang dengan seringai buruk tersungging di mulutnya. 

"Penghinaan yang kau lakukan dulu, hari ini harus kau bayar dengan bunganya, Pendekar 

212!" 

Wiro tertawa lebar. 

"Sebagai orang persilatan kau rupanya tidak berpikiran cerdas. Otakmu perlu diasah.Hatimu perlu dikikir. Rupanya pelajaranku tempo hari tidak cukup, tidak membuatmu kapok 

dan tahu diri. Itu sebabnya kau mencariku. Datang untuk minta pelajaran atau hajaran 

tambahan! Katakan saja apa maumu pendekar sombong. Apa kau tidak sadar kau telah salah 

jalan sesat?!" 

"Keparat bermulut besar! Biar hari ini aku Gandita merobek mulutmu!" teriak Gandita 

marah sekali. Tangan kanannya berkelebat. Lima jari tangannya menyambar ke mulut Wiro. 

Pendekar 212 terkejut dan juga heran ketika menyaksikan gerakan lawan yang sangat 

cepat. Padahal dulu ketika pertama kali berhadapan meskipun kepandaiannya tidak rendah tapi 

gerakan Gandita termasuk lamban. 

Murid Sinto Gendeng tentu saja tidak tinggal diam. Dari gerak bahu lawan dia sudah 

dapat membaca apa yang hendak dilakukan orang. Dia menggeser kaki ke kiri sambil 

memiringkan kepala. Barsamaan dengan itu tinju kanannya dihantamkan ke arah muka lawan 

dalam kecepatan luar biasa. 

Gandita menyadari bahwa serangan Wiro akan mengenai kepalanya sebelum dia sempat 

merobek mulut lawannya itu. Dengan cepat dia tarik pulang serangannya lalu melompat 

mundur dua langkah. Dari tempat dia berdiri dengan kuda-kuda baru Gandita lepaskan satu 

pukulan tangan kosong yang mengeluarkan angin keras. Selagi angin pukulan yang disertai 

tenaga dalam cukup tinggi itu menyambar pemuda ini gerakkan tangan kanannya ke pinggang 

lalu dia melompat ke arah lawan. Tahu-tahu tangan kanannya sudah mencekal sebilah golok. 

Senjata ini dibabatkannya ke perut Pendekar 212. Wiro merasakan adanya sambaran angin 

dingin keluar dari golok pertanda golok itu bukan senjata biasa. 

"Ha.... ha! Kau ternyata bukan saja sombong dalam ketidakcerdasanmu, tapi juga berlaku 

pengecut. Adat seorang persilatan tangan kosong dilawan tangan kosong. Ternyata kau 

berlaku licik memakai golok!" 

"Jangan banyak cakap! Kalau kau punya senjata silahkan keluarkan!" bentak Gandita 

menantang. 

"Untuk menghadapi anak masih bau air tetek macammu buat apa pakai senjata segala! 

Cukup nanti aku menjewer telingamu dengan tangan kosong saja!" sahut Wiro sambil 

menyeringai mengejek. 

Tampang Gandita tampak merah diejek seperti itu. Kemarahannya menggelegak. Terlebihketika serangan goloknya tadi tidak berhasil mencapai sasaran karena dengan cepat lawan 

melompat ke belakang. Dia menyergap kembali dengan geram. Goloknya menderu ganas. 

"Ganditai Tunggu dulu!" Wiro tiba-tiba berseru. 

"Bangsat! Apa maumu?!" bentak Gandita. 

"Hai! Di tempat angker seperti ini jangan bermulut kotor. Salah-salah kau bisa dicekik 

dedemit!" 

"Lekas katakan apa maumu!" 

"Aku mau bicara…" kata Wiro. 

"Kau mencari dalih karena takut?!" 

Wiro tertawa bergelak. "Sekalipun kau punya delapan tangan, delapan kaki dan empat 

kepala aku tidak bakal takut! Aku hanya ingin agar kau sadar. Apa untungnya jadi 

pengkhianat jadi pemberontak. Bukan mustahil kau hanya dijadikan alat oleh Adikatwang dan 

Adipati Wira Seta. Jika tujuan mereka sudah tercapai mungkin saja kau nanti akan 

ditendangnya!" 

"Mulutmu keji, memfitnah dan menghasut!" tukas Gandita. "Aku mengenal mereka dari 

kecil. Mereka tidak sejahat yang kau katakana!" 

"Kalau mereka bukan orang jahat lalu mengapa menyusun rencana gila, berkomplot 

hendak menumbangkan singgasana Prabu Singosari?!" 

"Kau orang kampong! Mana tahu segala urusan orang-orang besar!" jawab Gandita 

sombong. 

Wiro ganda tertawa. "Walau aku orang kampung, jelek jelek begini aku tidak pernah 

berkhianat pada Kerajaan. Tidak seperti kau jadi puntung pemberontak! Harap kau mau 

berpikir sekali lagi. Belum terlambat untuk insyaf. Apalagi kalau kau bisa menyadarkan 

Adikatwang dan Wira Seta." 

"Jadi hanya itu yang hendak kau katakan?!" tanya Gandita. 

"Masih ada," jawab Wiro. "Kau lebih suka berbuat dosa dad pada mencari pahala!" 

"Eh, apa pula maksudmu?!" tanya Gandita agak heran. 

"Memberontak adalah pekerjaan sesat dan dosa besar. Berbakti pada Kerajaan adalah 

pahala besar..." 

"Siapa sudi berbakti pada Prabu Singosari anak cucu pembunuh Raja Kediri! Kau sajayang sana pergi mencari pahala!" 

"Dengar dulu Gandita. Kau bisa berbuat pahala pada Kerajaan dan sebagal imbalan pasti 

kau akan mendapatkan kedudukan yang cukup tinggi..." 

"Hemmm... rupanya kau cecunguk Keraton Singosari yang dibayar untuk membujukku!" 

"Tidak ada yang membayarku. Aku juga tidak membujukmu. Aku ingin agar kau sadar! 

Jangan pergunakan kepandaianmu yang secuil untuk pekerjaan gila jadi pemberontak!" 

"Setan! Aku tidak gila! Semua yang aku lakukan sudah kupikirkan masak-masak." 

"Mungkin keliwat masak hingga jadi busuk!" kata Wiro pula lalu tertawa gelak-gelak. 

"Setan! Kalau tidak kucincang kau belum puas rasanya!" 

Gandita gerakkan tangan kanannya. Goloknya kembali berkelebat. Serangannya kali ini 

adalah kepala lawan. Wiro cepat rundukkan kepala sambil melompat mundur satu langkah. 

Begitu golok menyambar lewat murid Eyang Sinto Gendeng ini mencoba menyergap ke depan 

dan kirimkan satu jotosan ke perut Gandita. Namun tiba-tiba golok pendekar dari Gunung 

Kelud itu menyambar ke bawah. Jika Wiro tidak lekas menarik pulang serangannya, 

lengannya pasti dibabat putus! 

"Hebat juga kampret sialan ini!" maki Wiro dalam hati. Tengkuknya terasa dingin. Ilmu 

golok Gandita memang tidak bisa dibuat main-main. Serangan-serangannya selain ganas juga 

bisa berubah atau susul menyusul secara tidak terduga. 

Memasuki jurus ke delapan Gandita berada di atas angin. Serangan goloknya datang 

bergulung-gulung, bukan cuma dari satu penjuru, tetapi seolah-olah bertebar dari berbagai 

arah dan semua itu dalam gerakan yang luar biasa cepatnya. 

Raden Ayu Gayatri yang tegak di dekat kudanya merasa cemas melihat Pendekar 212 

mulai terdesak hebat. Hendak membantu dia tidak punya kepandaian apa-apa. Diam-diam dia 

berusaha mencari akal bagaimana caranya agar dapat menolong Wiro, pemuda kepada siapa 

dia menaruh rasa suka kalau belum mau dikatakan cinta. 

Sebaliknya Wiro yang semakin mengawatirkan keselamatan si gadis berulang kali 

memberikan isyarat agar Gayatri segera pergi dari tempat itu. Gandita bukannya tidak melihat 

isyarat yang diberikan Wiro itu namun karena perhatiannya ditujukan pada Wiro dan ingin 

membunuh lawannya itu secepat yang bisa dilakukannya maka dia tidak begitu 

memperdulikan Gayatri.Setelah terdesak hebat terus menerus, murid Eyang Sinto Gendeng kerahkan ilmu 

meringankan tubuhnya, merubah gerakan-gerakan ilmu silatnya dan dia sengaja berkelebat 

lebih cepat. Sampai dua jurus di muka Wiro sepertinya kini sanggup mengimbangi serangan 

lawan dan mulai melancarkan serangan-serangan balasan. Namun dua jurus selanjutnya 

didahului oleh satu bentakan keras Gandita robah total permainan goloknya dan kini Pendekar 

212 kembali terdesak hebat. Dalam satu gebrakan keras menegangkan golok di tangan Gandita 

berkiblat membuat silangan-silangan aneh. 

Breettt...brettt...brettt! 

Pakaian Wiro robek di tiga tempat di makan ujung golok Gandita! 

Kalau Wiro sempat keluarkan seruan tertahan dan tengkuknya menjadi dingin, maka 

Gayatri tak dapat lagi menahan kecemasannya gadis ini terpekik. Habis memekik baru dia 

sadar dan cepat-cepat menekap mulutnya. Tapi suaranya sudah kepalang terdengar oleh 

Gandita. 

Pemuda dari Gunung Kelud itu melintangkan goloknya di depan dada dan memandang ke 

arah Gayatri. Untuk beberapa saat lamanya dia memperhatikan dengan tajam lalu tampak 

sering di mulutnya. 

"Pemuda berkumis! Jadi kau seorang perempuan rupanya! Melihat potongan tubuh dan 

raut mukamu pasti kau seorang gadis yang cantik jelita. Kau berdiri saja di sana. Jangan ke 

mana-mana! Sehabis membereskan manusia satu ini kita bakal punya kesempatan untuk 

berbincang-bincang! Bermesraan kalau perlu!" 

Karena tidak dapat menahan marahnya mendengar ucapan Gandita, Gayatri membuka 

mulut dan mendamprat dengan suara keras. "Pemberontak busuk! Hatimu bukan saja jahat tapi 

mulutmu juga kotor!" 

Gandita tertawa. Dia berpaling pada Wiro dan berkata. "Ha ...ha...! Rupanya Pendekar 

212 habis berbuat mesum dalam pondok itu dengan seorang gadis yang sengaja menyamar 

sebagai laki-laki. Hebat! Menyuruh orang berbuat pahala dirinya sendiri melakukan dosanya!" 

"Setan alas! Kau kira aku ini manusia cabul!" teriak Wiro marah. Dia menerjang ke 

depan. Gandita menyongsong dengan goloknya. Kembali terjadi perkelahian seru. Dan 

kembali pula dalam waktu dekat murid Eyang Sinto Gendeng itu terdesak oleh serangan golok 

yang benar-benar luar biasa. Belum pernah Wiro melihat ilmu golok sehebat itu. Dia mulaiberpikir-pikir apakah akan mengeluarkan pukulan-pukulan sakti atau mulai menghadapi 

lawannya dengan ilmu silat orang gila yang didapatnya dari Tua Gila di Pulau Andalas atau 

segera saja mengeluarkan Kapak Maut Naga Geni 212. Selagi dia menimbang-nimbang 

begitu rupa, sekali lagi golok lawan berkelebat dan kali ini leher bajunya yang kena disambar 

robek. Ujung golok bahkan sempat mengiris samping kiri lehernya hingga terluka dan 

mengeluarkan darah. Paras Gayatri menjadi pucat. Wiro keluarkan keringat dingin. 

"Wiro! Lakukan sesuatu! Keluarkan senjatamu!" teriak Gayatri. 

Murid Eyang Sinto Gendeng kini sadar dia memang harus melakukan sesuatu. Mungkin 

juga mengeluarkan senjata seperti yang diteriakkan Gayatri tadi. Maka dia segera gerakkan 

tangan kanannya ke pinggang di mana terselip senjata mustika Kapak Maut Naga Geni 212. 

Namun belum sempat dia mencabut senjata itu tiba-tiba dari dalam gelap terdengar suara 

tertawa gelak-gelak. Suatukan suara tawa biasa. Tanah terasa bergetar dan telinga mengiang 

sakit. 

Itu suara tawa si gendut Kerbau Bunting! Ada apa dia muncul di tempat ini. Hendak 

menolongku? Pikir Wiro. Gandita sendiri yang kembali hendak menyerbu sesaat jadi tertegun. 

Dari arah kegelapan di sebelah kirinya kelihatan muncul satu kepala yang aneh. Astaga! 

Ternyata kepala seekor keledai! 

Tak mungkin binatang ini yang tadi tertawa! Membatin Gandita. Dia tak menunggu lama. 

Sesaat kemudian sosok keledai itu semakin jelas. Lalu tampak seorang bertubuh gemuk luar 

biasa yang menjadi penunggang keledai kurus kecil itu. 

Gila! Bagaimana mungkin keledai kecil kerempeng itu sanggup ditunggangi manusia 

yang beratnya lebih dari dua ratus kati! Gandita semakin heran. Lalu dia melihat ternyata si 

gendut itu hanya menempelkan pantatnya saja di atas punggung keledai karena kedua kakinya 

menjejak tanah seperti orang berjalan biasa! Gandita mulai menduga-duga siapa adanya 

manusia gemuk ini. 

Si penunggang keledai masih tertawa-tawa sampai keluar air mata dari sepasang matanya 

yang sipit. Baju dan celana hitamnya jelas kesempitan. Dadanya yang gembrot dan perutnya 

yang melendung kelihatan berguncang-guncang kalau dia tertawa. Orang ini memandang pada 

Wiro, berpaling pada Gandita lalu menoleh pada Gayatri. Setelah itu dia kembali tertawa 

gelak-gelak."Hai! Kenapa kalian berhenti berkelahi! Padahal aku datang ke sini untuk menonton!" 

kata si gendut. Dia melirik pada Gayatri lalu tertawa mengekeh hingga dia terpaksa mengusut 

air mata yang keluar dari kedua matanya. 

Manusia aneh. Pikir Gayatri. Apakah dia teman atau musuh Wiro. Kalau dia kelak 

membantu pemuda pemberontak itu Wiro bisa celaka. Aku juga! Walaupun hatinya cemas tapi 

sampai saat itu dia tetap saja tegak di tempat itu. 

"Gendut gila!" tiba-tiba Gandita berteriak. "Hentikan tawamu! Pergi dari sini! Jangan 

mengganggu urusanku!" 

Dibentak seperti itu si Gendut tampak terkesiap. Tapi hanya sebentar. Sesaat kemudian 

kembali terdengar suara tawanya menggelegar. 

"Mana ada aturannya orang tidak boleh ketawa! Ha... ha... ha! Tempat ini bukan milik 

nenek moyangmu mengapa berani menyuruh aku pergi! Siapa yang mengganggu urusanmu?! 

Jangan coba membanyol. Nanti aku bisa ketawa sampai ngompol! Kalau aku ngompol apakah 

kau mau mencebokkan?! Ha... ha... ha ...!" 

Gandita marah sekali mendengar kata-kata si gendut itu. "Gendut gila! Kalau kau tidak 

berhenti tertawa, kusumpal mulutmu dengan golok ini!" 

"Eh!" si gendut tampak terkejut. Matanya yang sipit dicobanya membuka lebar-lebar tapi 

tetap saja sipit! "Astaga! Benaran kau hendak menyumpal mulutku dengan golok itu?! Jangan! 

Kalau kau mau menyumpal jangan dengan golok. Tapi dengan pisang goreng atau ubi rebus! 

Baru sedap!" 

Pendekar 212 garuk-garuk kepala melihat tingkah si gendut yang dikenalnya sebagai 

Dewa Ketawa dan yang dulu biasa dipanggilnya dengan sebutan Kerbau Bunting! 

Kalau menurutkan kemarahannya mau rasanya Gandita menyerang si Gendut di atas 

keledai dengan goloknya saat itu juga. Namun dia berlaku cerdik. Mengapa menambah musuh 

baru sedangkan urusan dengan Wiro belum terselesaikan? Di samping itu Gandita merasa 

bahwa si gendut ini tidak berada di pihaknya. Dugaan Gandita tidak salah karena saat itu 

didengarnya si gendut. berkata pada Wiro. 

"Sobatku Muda, aku gembira bisa ketemu kau lagi! Ha.., ha... ha ...!" 

"Dewa Ketawa, aku juga gembira!" sahut Wiro. "Cuma sayang aku sedang ada urusan 

dengan pemuda pemberontak ini!""Ah, dia pemberontak rupanya! Ha... ha...ha...!" Dewa Ketawa lalu berpaling pada 

Gandita. 

"Masih bau kencur sudah berani memberontak. Hal anak muda! Kau minum dulu 

kencingku! Kalau sudah mampu minum kencingku baru boleh memberontak! Ha... ha… 

ha...!" 

Rahang Gandita menggembung tanda amarahnya menggelegak. Tapi dia pandai membaca 

keadaan. Apalagi tadi dia mendengar Wiro menyebut nama si gendut ini. Siapa tidak kenal 

dengan orang sakti bergelar Dewa Ketawa? Otak cerdiknya bekerja. Lalu mulutnya berkata. 

"Orang tua gemuk, kalau kau betul Dewa Ketawa, aku minta maaf tadi tidak berlaku 

hormat terhadapmu. Ketahuilah kakakmu si Dewa Sedih sudah bergabung dengan kami untuk 

menumbangkan kekuasaan tidak syah Prabu Singosari! Sebagai adik tentu tidak ada salahnya 

kau juga ikut kami!" 

Wiro terkejut mendengar ucapan Gandita itu. Sebaliknya Dewa Ketawa tenang-tenang 

saja, malah dia kembali perdengarkan suara tawanya. Mula-mula perlahan lalu makin keras 

dan makin keras! Tiba-tiba clep! Tawanya dihentikan. Dewa Ketawa membentak. 

"Siapa sudi mengaku kakak pada manusia sesat bernama Dewa Sedih itu! Dan kau mau, 

kasih hadiah apa kalau aku bersedia bergabung dengan kalian kaum pemberontak?!" 

"Dewa Ketawa! Kau hendak..." 

Orang tua bertubuh gemuk itu memandang pada Wiro sambil memalangkan jari 

telunjuknya di depan mulut. "Diam, jangan bersuara. Biar monyet ini memberi tahu apa hadiah 

untukku!" 

"Dengar Dewa Ketawa, Raja yang baru pasti akan memberimu harta dan uang berlimpah. 

Kau pasti akan diberikannya jabatan tinggi di Istana!" 

Dewa Ketawa tertawa gelak-gelak mendengar kata-kata Gandita itu. "Bocah geblek! Aku 

Tanya hadiah apa yang bisa kau berikan padaku. Bukan hadiah dari Raja. Lagi pula siapa Raja 

barumu itu?!" 

Wajah Gandita tampak menjadi merah. 

"Dengar anak muda," kata Dewa Ketawa pula. 

"Jika kau mau mengorek jantungmu sendiri lalu memberikannya padaku, baru aku mau 

bergabung dengan kalian!"Jika diturutkannya hawa amarahnya mau rasanya Gandita menyerang orang tua gendut itu 

dengan goloknya. Tapi lagi-lagi dia berlaku cerdik. Jika dia melibatkan Dewa Ketawa dalam 

perkelahian, berarti dia akan menghadapi dua lawan sekaligus yaitu Wiro dan Dewa Ketawa. 

Maka dia berusaha menekan amarahnya terhadap si gemuk itu dan kini segala kemarahannya 

ditumpahkan pada Pendekar 212 dalam bentuk serangan ganas. Kedua pendekar muda itu 

kembali berkelahi. 

Dewa Ketawa tertawa mengekeh melihat perkelahian itu tapi lama-lama dia tampak 

seperti jemu. 

"Perkelahian membosankan! Buat apa ditonton! Lebih baik aku pergi saja! Ha… ha... 

ha....!" Dewa Ketawa putar keledainya. 

"Orang tua, kau mau ke mana?" tiba-tiba satu suara menegurnya. 

Dewa Ketawa berpaling ke arah datangnya suara itu. Dilihatnya yang barusan bicara 

adalah pemuda berkumis tipis berwajah klimis. Sesaat dipandanginya wajah dan tubuh orang 

itu lalu meledaklah ketawanya. 

"Biasanya lelaki yang suka jadi banci! Baru hari ini aku lihat ada gadis yang mau jadi 

banci! Ha... ha... ha!" Dewa Ketawa lambaikan tangannya dan mengedipkan matanya yang 

sipit pada Gayatri. 

"Orang tua! Tunggu!" kembali Gayatri berseru. "Apa kau tidak mau menolong sahabatmu 

Wiro?" 

"Ah! Siapa sudi menolong orang tolol! Ilmunya segudang kepandaiannya selangit. 

Mengapa tidak dipergunakan?! Dia bisa menghadapi cecunguk pemberontak itu seorang diri. 

Dia tidak butuh pertolonganku!" Habis berkata begitu Dewa Ketawa mengekeh. Lalu kedua 

kakinya bergerak mengiringi empat kaki keledai kurus pendek itu. Wiro hendak berseru 

memanggil namun saat itu Gandita kembali menyerbu dengan goloknya sedang si kakek 

gendut telah lenyap dalam kegelapan malam. 

Pendekar 212 sambut serangan Gandita dengan jurus dan pukulan "Kilat menyambar 

puncak gunung." Pukulan ini berupa satu tabasan tepi telapak tangan yang dahsyat, yang 

dipelajarinya dari Tua Gila, seorang sakti di Pulau Andalas beberapa tahun lalu. 

Mendengar deru pukulan lawan serta ada hawa panas yang menyambar, mau tak mau 

Gandita berpikir dua kali untuk meneruskan serangannya. Tangan kanan Wiro menyambar disamping golok terus melesat ke arah pergelangan tangannya. Gandita terpaksa tarik pulang 

serangannya sambil. Tapi begitu tubuhnya terlontar ke kanan tiba-tiba sekali dia membuat 

gerakan aneh. Lalu tangan kirinya menyambar dan berhasil menjambak rambut Wiro Sableng 

yang gondrong. Sekali dia menjentakkan tangan kirinya maka tubuh Pendekar 212 dan 

terbanting jatuh punggung ke tanah. Wiro merasakan tulang punggungnya seolah remuk. 

Sedang kepalanya yang tadi sempat dijambak lawan masih mendenyut sakit. Meski 

pemandangannya sedikit berkunang dia masih sempat berpikir. Gerakan orang ini jauh lebih 

cepat dari dulu. Agaknya dia telah menimba ilmu baru. Aku harus berhati-hati pada kampret 

satu ini! Selagi Pendekar 212 berusaha bangkit berdiri, tiba-tiba dari depan Gandita sudah 

menyerbu kembali dengan goloknya! 

Murid Sinto Gendeng dari gunung Gede ini menggeram. Dengan cepat dia alirkan tenaga 

dalamnya ke tangan kanan lalu memukulkannya ke arah lawan. 

Wuttt! 

Segulung angin menggempur ke depan mengeluarkan suara menderu seperti ombak 

mengamuk di tepi pantai. Inilah pukulan sakti bernama "Segulung ombak menerpa karang." 

Gandita merasakan serangannya tertahan oleh satu tembok yang tidak kelihatan. 

Tangannya yang memegang senjata bergoyang-goyang sedang sekujur tubuhnya bergetar. 

Semakin dia mengerahkan tenaga luar dalam untuk menerjang tembok gaib itu semakin sulit 

keadaannya karena kekuatannya seperti membalik menggempur dirinya sendiri. 

Wiro maklum walau gerakan lawan kini jauh lebih cepat dan tadi sempat menghajarnya 

namun dalam kekuatan tenaga dia jauh lebih unggul dari Gandita. 

Wiro maklum walau gerakan lawan kini jauh lebih cepat dan tadi sempat menghajarnya 

namun dalam kekuatan tenaga dia jauh lebih unggul dari Gandita. 

Wiro cepat tambah kekuatan tenaga dalam ke telapak tangan kanan. Tiba-tiba dia 

dorongkan telapak tangan itu dan sekaligus membalikkannya. 

Di saat itu pula ketika merasa datangnya tekanan tenaga dalam lawan, Gandita kerahkan 

seluruh tenaga dalamnya. Justru disinilah kesalahannya. Tenaga dalamnya terhimpit telak di 

bawah tenaga dalam Wiro! 

Begitu dua kekuatan tenaga dalam saling bentrokan, tubuh Gandita tampak terpuntir keras 

seperti ditabrak angin punting beliung, lalu terpental sampai enam langkah. Golok ditangannya terlepas jatuh. 

"Jahanam!" maki Gandita dalam hati. "Bangsat ini harus segera kubunuh!" Murid orang 

sakti dari Gunung Kelud ini cepat berdiri. Namun dadanya terasa sakit sekali. Gerakannya 

yang sudah setengah berdiri jatuh kembali. Dia jatuh berlutut sambil pegangi dada. Marah dan 

sangat penasaran membuat pemuda ini berusaha bangkit kembali. 

Karena dipaksakan sedang tubuh di bagian dalam terluka parah dia jadi terbatuk-batuk 

beberapa kali. Tiba-tiba ada darah segar menyembur keluar dari mulutnya! 

Tadinya murid Eyang Sinto Gendeng kembali hendak menyerbu. Tapi begitu lawan 

dilihatnya terluka dalam cukup parah dia hanya berdiri berkacak pinggang. 

"Syukur-syukur kau sudah kapok! Kalau belum silahkan menyerang lagi!" ejek Wiro. 

Gandita meludah ke tanah. Ludahnya bercampur darah. 

"Manusia keparat! Kau jangan merasa cepat-cepat menang. Aku punya niat untuk 

menghabisi nyawamu malam ini juga. Niat itu harus terlaksana! Lihat keris!" 

Tangan kanan Gandita bergerak ke balik pinggang pakaiannya. Lalu kelihatan pancaran 

sinar kuning bercampur putih dalam kegelapan. Memandang ke depan Wiro melihat Gandita 

telah menggenggam sebilah keris besar di tangan kanan dan sarungnya di tangan kiri. Senjata 

ini terbuat dari perak murni bercampur paduan emas. Gagang dan sarungnya berhlas beberapa 

butir batu permata. Inilah keris Narasinga yang merupakan salah satu senjata pusaka Keraton 

Kediri dan berasal dari sesepuh serta pendiri Kerajaan yaitu Sang Prabu Kameswara. Senjata 

yang sudah berusia puluhan tahun ini tentu saja merupakan senjata sakti mandraguna. Dari 

sinarnya saja Wiro sudah maklum kalau Keris itu bukan merupakan senjata sembarangan dan 

dia harus berhati-hati. 

Sebagai puteri raja tentu saja Gayatri mengenali senjata itu. Gadis ini tidak mengerti 

mengapa senjata pusaka Keraton bisa berada di tangan seorang pemberontak seperti Gandita. 

Saat itu Gandita sendiri sudah menyerbu seraya menusukkan keris Narasinga. Wiro cepat 

berkelit. Ujung keris lewat hanya setengah jengkal dari keningnya. Matanya terasa perih oleh 

sambaran angin keris sakti itu. Ketika lawan menyerbu kembali Pendekar 212 kerahkan ilmu 

meringankan tubuhnya dan siapkan did dengan melipatgandakan tenaga dalam. Untung saja 

saat itu Gandita mengalami luka dalam yang cukup parah hingga gerakannya menjadi lamban 

dan kadang-kadang rasa sakit pada dadanya membuat serangannya seperti tertahan-tahan.Kalau tidak akan sulitlah bagi Wiro untuk menghadapinya dengan mengandalkan pukulan-

pukulan tangan kosong walaupun mengandung tenaga dalam dan aji kesaktian. 

Setelah menggempur terus-terusan tanpa hasil sedang dadanya sendiri terasa semakin 

sakit Gandita mulai berpikir sebaiknya dia tinggalkan saja tempat itu. 

Justru saat itu terdengar Gayatri berteriak. "Wiro! Keris itu senjata pusaka milik Kerajaan! 

Tidak layak berada di tangan seorang pengkhianat? Usahakan untuk merampasnya!" 

Gandita terkejut mendengar seruan Gayatri. Perempuan yang menyamar dua tahu senjata 

di tanganku ini. Siapa dia sebenarnya. Jangan-jangan… Gandita tak sempat berpikir lebih 

jauh karena saat itu Wiro tiba-tiba menyergap dengan satu jotosan tangan kirinya menyambar 

berusaha merampas keris. 

Gandita yang mulai mencium bahaya dan takut kalau-kalau Wiro sempat merampas keris 

Narasinga yang selama ini dipercayakan padanya untuk di simpan meloncat mundur beberapa 

langkah. 

"Pendekar 212! Sayang aku masih ada keperluan lalu yang lebih penting. Kalau saat ini 

aku pergi jangan kira kau sudah merasa menang. Aku akan datang kembali untuk membedol 

nyawa anjingmu! Kau tunggu saja saat kematianmu!" Habis berkata begitu Gandita sarungkan 

keris Narasinga dan menyimpannya kembali di balik pinggang pakaiannya. 

Wiro menyeringai. "Yang aku kawatir yang muncul nanti bukan tubuh kasarmu 

sungguhan, tapi setanmu atau roh halusmu! Luka dalam yang kau derita tidak bisa dianggap 

enteng! Mungkin kau duluan yang menemul ajal dari pada aku!" 

Gandita meludah ke tanah sekali lagi. Dia lalu berputar seperti hendak meninggalkan 

tempat itu. Namun tiba-tiba sekali dia membalik. Tangan kanannya bergerak. Lima buah 

benda hitam yang merupakan senjata rahasia berupa paku-paku kecil halus beracun melesat di 

udara, menyambar ke arah Pendekar 212. 

"Laknat keparatI" teriak Wiro marah. Tangan kanannya bergerak menghantam dengan 

pukulan "benteng topan melanda samudera." Segulung angin dahsyat menyambar membuat 

semua senjata rahasia yang dilepaskan Gandita mencelat mental. Pukulan sakti itu selanjutnya 

menerpa ke arah Gandita. Namun pemuda ini sudah lebih dahulu berkelebat ke balik sebatang 

pohon besar lalu menghilang ditelan kegelapan malam. 

Braakkk!

Batang pohon kayu berderak keras dilanda pukulan sakti yang dilepaskan Wiro. 

"Wiro! Kau tak apa-apa?!" terdengar Gayatri berseru lalu gadis ini setengah berlari 

menghampiri Pendekar 212. 

"Saya tak kurang suatu apa. Terima kasih," jawab Wiro. "Seharusnya Raden Ayu cepat-

cepat pergi tadi..." 

"Mana mungkin saya pergi sewaktu dirimu terancam bahaya." 

Ah, dia mengawatirkan keselamatanku, Pikir Wiro. Lalu dia teringat pada Pendeta 

Mayana yang mengatakan bahwa gadis itu mencintainya. 

"Kalau saja saya mempunyai kepandaian hebat, sudah saya bunuh pemuda pemberontak 

itu tadi," kata Gayatri pula. 

"Dia akan menerima hukumannya. Luka dalam yang dideritanya cukup parah. Kalau dia 

tidak segera mendapatkan obat nyawanya tak akan tertolong." 

"Saya menyumpah biar dia menemui ajal!" kata Gayatri. 

"Sekarang saatnya Raden Ayu meninggalkan tempat ini." 

"Ya, cuma... Saya ingin kau mengantarkan saya sampai di pinggir Timur Kotaraja." 

"Saya tidak membawa kuda," ujar Wiro walau sebenarnya dia bisa mengikuti kuda gadis 

itu dengan berlari. 

"Apa susahnya menunggang kuda berduaan. Kalau kau suka," jawab Gayatri. 

Pendekar 212 merasakan dadanya berdebar. Sambil senyum dan garuk-garuk kepala 

dipeganginya pinggang puteri Prabu Singosari itu dengan kedua tangannya lalu dinaikkannya 

ke atas kuda. Wiro sendiri kemudian hendak duduk di belakang si gadis. 

"Eh, kau seharusnya duduk di sebelah depan Wiro!" ujar Gayatri pula. 

"Di sebelah manapun tak jadi soal!" sahut Wiro seraya melompat ke atas punggung kuda, 

duduk di depan Gayatri. Lalu perlahan-lahan kuda bernama Grudo itu mulai bergerak. Setelah 

lewat beberapa lama Gayatri berkata. 

"Kuda ini seperti sakit pinggang. Mengapa tidak kau pacu agar kita lekas sampai?" 

"Maafkan saya Raden Ayu. Seumur hidup baru sekali ini saya menunggang kuda dengan 

seorang gadis yang sangat cantik, puteri Raja pula. Mana saya mau menyia-nyiakan 

kesempatan?" 

"Eh, kau mulai bicara melantur. Apa maksudmu?"Wiro tertawa lebar. "Maksud saya, biar lebih lama sampainya ke Kotaraja. Berarti saya 

bisa lebih lama berdua-dua seperti ini dengan Raden Ayu...!" 

"Tidak saya sangka kau ternyata seorang pemuda ceriwis!" kata Gayatri pula. Lalu 

cubitannya mendarat berulang-ulang di punggung Pendekar 212 hingga pemuda ini tersentak-

sentak antara geli dan kesakitan. 

"Kalau Raden Ayu terus mencubit, saya akan memacu kuda ini ke jurusan lain. Saya akan 

menculik dan menyekap Raden Ayu di satu tempat!" 

"Iih! Jika kau lakukan itu, aku bukan cuma mencubitmu Wiro. Tapi akan menggigitmu!" 

kata Gayatri pula. Lalu dia membuat gerakan seperti hendak menggigit bahu kanan Pendekar 

212. 

"Digigit mungkin sakit. Tapi terus terang saya ingin juga merasakan gigitan Raden Ayu," 

sahut Wiro. 

Karena gertakannya tidak mempan Gayatri jadi kehabisan akal. Digelungkannya kedua 

tangannya ke pinggang Wiro. Sambil memeluk jari jari tangannya menggelitiki pinggang 

pemuda itu hingga Wiro terpekik-pekik kegelian dan terpaksa memacu kudanya lebih cepat. 


TAMAT


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive