"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Selasa, 25 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE BAJINGAN DARI SUSUKAN

Bajingan Dari Susukan



Bajingan Dari Susukan


SATU

Lelaki berpakaian merah itu berlari seperti dikejar setan. Dalam kegelapan malam 

tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, 

bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. 

Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa 

dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan lidahnya terjulur-julur seperti 

anjing gila. Di tangan kirinya ada kantung kain.

Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke arah timur. Saat demi saat langit 

di jurusan itu tampak menjadi terang. Hal inilah yang agaknya ditakuti orang 

berpakaian merah itu. Sebentar-sebentar dari mulutnya terlontar kata-kata 

“Celaka…..! Celaka diriku! Tak mungkin aku mencapai tempat itu sebelum matahari 

terbit! Celaka! Mati….! Aku akan mati!” Orang ini berlari terus. Berusaha lebih 

kecang. Namun tenaganya hampir punah. Kedua kakinya seperti diberati batu besar. 

Beberapa kali dia terserandung jatuh tapi bangkit kembali dan berlari lagi. Berpaling 

kembali ke timur, langit di sana tampak semakin terang.

“Celaka! Celaka diriku…..!” Sekali lagi dia tersungkur di tanah. Kantung kain 

yang dibawanya terlepas. Cepat-cepat benda ini diambilnya lalu dia bangkit dan lari 

lagi.

Di pepohonan mulai terdengar kicau burung. Jalan mendaki yang dilaluinya 

mulai terang. Seperti ada semangat dan kekuatan baru dalam tubuh orang itu, dia 

mampu lari lebih kencang. Pondok kayu di ujung jalan yang mendaki itu, yang 

kelihatan di kejauhan, itulah yang seolah memberi kekuatan padanya. Akan tetapi 

maksudnya untuk mencapai pondok itu tidak pernah kesampaian. Ketika di timur 

matahari memancarkan cahayanya yang kuning kemerahan dan berangsur memutih, 

ketika rambasan cahaya sang surya ini menimpa tubuh orang yang berlari itu, kontan 

dari mulutnya terdengar suara jeritan. Sekujur tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum. 

Lalu seperti ada api yang memanggang. Tubuhnya mengepulkan asap. Dia menjerit 

lagi. Tapi masih berusaha lari. Sejarak lima belas langkah dari poneok kayu di ujung 

jalan mendaki, orang ini jatuh terguling. Sekali ini dia tak sanggup lagi untuk bangkit. 

Matanya membeliak. Kakinya melejang-lejang. Darah tampak mengucur dari telinga, 

hidung dan sela bibirnya.

“Pangeran…… Pangeran….tol…..tolong aku…..” Orang itu memanggil di 

antara suara erangannya. “Pangeran…….!”

Tiba-tiba pintu pondok yang sejak tadi tertutup terpentang lebar. Sesosok 

tubuh berpakaian serba hitam dengan gambar matahari serta gunung di bagian dada 

dan berikat kepala merah keluar dai dalam pondok. Sesaat dia memandang pada lelaki 

yang melingkar di tanah, melejang-lejang sambil tiada hentinya mengerang. Si baju 

hitam bertampang angkuh mendengus dingin.

“Manusia tolol!” teriaknya. “Mengapa kau kembali dalam keadaan terlambat! 

Melanggar pantang!”

“Pangeran….Aduh….tubuhku! Tubuhku seperti dibakar!”

“Bangsat! Jawab pertanyaanku!” hardik si baju hitam yang jelas-jelas adalah 

Pangeran Matahari, pemuda berkepandaian tinggi dan memiliki kesaktian dari puncak 

Merapi. Yang sejak beberapa waktu lalu mengacau dan menimbulkan malapetakabukan saja dalam rimba persilatan tetapi juga dalam kalangan Kerajaan bahkan 

menembus sampai ke dalam istana! “Katakan mengapa kau datang terlambat!”

“Mo….mohon ampunmu Pangeran. Aku tergoda nafsu….Aku bermain-main 

dengan seorang janda muda dan kesiangan!”

“Keparat! Kau memang tidak pantas jadi Bajingan Dari Susukan!” Pangeran 

Matahari ulurkan kaki kanannya. Dengan jari-jari kaki dibetotnya kantong kain yang 

masih berada di tangan kanan lelaki di hadapannya. Kantong kain ini melayang ke 

udara dan cepat ditangkapnya dengan tangan kiri.

“Pangeran……tolong……”

Pangeran Matahari tidak perdulikan erangan orang. Dia membuka kantong 

kain dan memeriksa isinya. Tampak beberapa potong perhiasan, beberapa bongkah 

perak lalu kepingan uang logam.

“Setan! Hasilmu tidak seberapa!”

“Pangeran! Tolong…. Tubuhku seperti dipanggang….”

Pangeran Matahari menyeringai. “Nafsu sama dekatnya dengan darah dalam 

tubuh manusia! Nafsu menjadi sahabat manusia sejak langit dan bumi diciptakan! 

Tetapi dalam hal yang bersifat pantangan bila manusia sampai lupa diri, dia akan 

musnah!”

“Aku mohon ampunmu Pangeran. Tolong….. Selamatkan selembar 

nyawaku…..”

“Tak ada yang bisa menyelamatkanmu manusia tolol! Tidak setan tidak juga 

malaikat!”

Pangeran Matahari melangkah menuju pintu pondok. Di balakangnya 

terdengar lolong lelaki yang tubuhnya tampak mengepulkan asap dan mulai berubah 

kehitaman seperti kayu gosong. Dia berguling-guling di tanah.

“Pangeran. Tolong…. Hanya kau yang bisa menolongku! Tolong…..!”

“Tubuhmu telah tersiram sinar matahari! Mati adalah lebih baik bagimu!” ujar 

Pangeran Matahari. Di depan pintu pondok dia berhenti lalu berseru.

“Gajah Rimbun! Kemari kau!”

Dari dalam pondok melompat keluar seorang pemuda bermuka bulat, berkulit 

hitam legam, berkumis dan berjengot tipis. Sikapnya tangkas, gerakannya gesit. Dia 

memberi hormat pada Pangeran Matahari seraya berkata. “Saya sudah di hadapanmu 

Pangeran!”

“Kau lihat manusia tolol itu?!”

Si muka bulat bernama Gajah Rimbun berpaling ke arah lelaki yang masih 

melejang-lejang di tanah, tapi lejangannya makin lama makin perlahan. Suara 

teriakannya minta tolong semakin sember dan hanya tinggal erangan parau.

“Saya melihatnya Pangeran….” Kata Gajah Rimbun.

“Apakah kau mau jadi manusia tolol seperti dia?” 

“Tidak Pangeran. Saya tidak ingin….”

“Kalau begitu ingat semua pesan dan pantangan. Selalu kembali kemari 

sebelum matahari terbit!”

“Saya akan ingat semua pesan dan pantangan, Pangeran.”

“Mulai hari ini kau akan bergelar Bajingan Dari Susukan! Ingat hal itu baik-

baik. Kemanapun kau pergi perkenalkan dirimu dengan julukan itu…..!”

“Akan saya lakukan Pangeran.”

“Dari semua yang kupesankan untuk dilakukan, yang paling penting adalah 

menyelidiki di mana beradanya dua manusia bernama Wiro Sableng bergelar 

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dan seorang lagi entah lelaki entah perempuan,tapi dulu dikenal dengan nama Ni Luh Tua Dari Klungkung, muncul dengan sosok 

tubuh seorang nenek!”

“Saya akan menyelidiki Pangeran!”

“Jangan lupa mengeduk harta dan uang sebanyak mungkin!”

“Saya tidak lupa Pangeran.”

“Kau tahu di mana harus memusatkan pekerjaan?”

“Pangeran sudah mengatakan sebelumnya. Di Kotaraja dan desa-desa 

kaya…..!”

“Bagus! Sekarang mendekatlah padaku!”

Gajah Rimbun melangkah mendekati Pangeran Marahari. Pada jarak satu 

langkah Pangeran Matahari angkat kedua tangannya dan letakkan di atas kedua bahu 

Gajah Rimbun. Pemuda ini merasakan ada hawa panas dari telapak tangan Pangeran 

Matahari, masuk ke dalam tubuhnya lewat bahu.

“Sekarang kau boleh pergi! Ingat perintah, ingat larangan, ingat pantangan! 

Dalam tubuhmu ada satu kekuatan yang membuat kau mampu melakukan tugas dan 

mampu menghancurkan siapapun yang berani menghalangimu!”

“Saya pergi Pangeran…..”

“Pergilah. Bawa mayat manusia tolol itu! Lemparkan ke dalam jurang!”

“Akan saya bawa Pangeran.” Lalu Gajah Rimbun memanggul mayat hangus 

yang sejak tadi tergeletak di tanah dan tinggalkan tempat itu melalui jalan tanah menurun


DUA

Diiringi alunan gamelan pengantin lelaki keluar dari dari pintu sebelah kanan 

ruangan besar, melangkah bersama para pengiring lalu duduk di atas kasur tertutup 

permadani. Di sebelah kanan penghulu berjubah dan bersorban putih siap memimpin 

jalannya upacara akad nikah.

Dari pintu sebelah kiri, diapit oleh para pengiring, keluarlah pengantin 

perempuan yang kemudian mengambil tempat duduk berhadap-hadapan dengan 

pengantin lelaki.

Melihat pada keadaan kedua mempelai, maka ini adalah satu perkawinan yang 

benar-benar tidak serasi. Pengantin lelaki, seorang lelaki tua yang pantas disebut 

seorang kakek. Bertubuh kurus, berwajah cekung keriput, berambut putih dan 

berkumis jarang yang juga sudah berwarna putih. Sebaliknya sang mempelai 

perempuan belum lagi berusia enam belas tahun, berparas cantik jelita tapi jelas masih 

kekanak-kanakan. Kepalanya selalu tertunduk, seolah-olah menyembunyikan 

sepasang matanya yang balut karena terlalu banyak menangis.

Ketika penghulu mulai membuka upacara, alunan gamelan terdengar menjadi 

perlahan lalu berhenti sama sekali.

 Di antara para tamu yang hadir pada sore menjelang malam itu tampak dan 

terasa adanya sesuatu yang tidak enak. Tidak enak bukan saja karena menyaksikan 

upacara pernikahan si kakek dengan si gadis yang pantas menjadi cucunya, melainkan 

disebabkan oleh polah tingkah seorang tetamu muda bermuka hitam, berjenggot dan 

berkumis tipis. Saat itu tuan rumah masih belum mempersilahkan para tetamu untuk 

mencicipi minuman ataupun hidangan. Tapi tamu yang satu ini justru dengan 

seenaknya melahap makanan yang ada di depannya, meneguk minuman sepuasnya 

dan duduk sambil senyum-senyum cengengesan. Padahal sekian banyak wajah dan 

pandangan mata menatapnya dengan asam bahkan ada yang berang.

Seorang lelaki mendekati pemuda itu. dia adalah salah seorang anggota 

keluarga pihak pengantin lelaki yang punya hajat. Orang ini menegur dengan berbisik. 

“Saudara, harap kau berhenti makan minum. Jika upacara pernikahan sudah selesai 

kau boleh makan sekenyangmu dan minum sampai mabuk….”

Pemuda yang ditegur kelihatan bersikap acuh. Tenpa berpaling dia malah 

menjawab. “Perutku lapar. Makanan dan minuman dihidangkan untuk disantap 

tetamu. Dan aku adalah tetamu di tempat ini. jika kau tuan rumah, mengapa tidak 

menghormati tetamu…..?”

Lelaki yang tadi menegur tampak tak enak mendengar kata-kata itu. maka dia 

berkata lagi, kini bukan berbisik tapi dengan suara keras hingga terdengar oleh orang-

orang di sekitarnya. “JIka sebagai undangan di situ tidak mau menghormati upacara 

ini, saya persilahkan saudara meninggalkan tempat ini. Pesta ini diadakan bukan 

untuk orang-orang rakus dan kelaparan!”

“Oooo begitu…..?” Si pemuda kembali menyahuti dan lagi-lagi tanpa 

berpaling pada orang yang menegurnya. “Baiklah, aku akan meninggalkan tempat ini 

sebentar. Tapi harap kau ikut bersamaku!” Lalu pemuda itu berdiri. Dia menyentuh 

bahu orang yang menegurnya. Anehnya orang ini seperti bahu seekor kerbau yang 

dicucuk hidung kemudian melangkah mengikuti si pemuda meninggalkan ruangan. 

Para tetamu yang hadir menyangka pihak tuan rumah itu sengaja mengantarkan si 

pemuda keluar ruangan. Mereka merasa lega karena kini pemuda yang menyebalkan

itu sudah keluar. Namun tak seorangpun tahu kalau sesuatu telah terjadi dengan 

anggota keluarga tuan rumah itu.

Tak selang berapa lama, pemuda tadi nampak muncul kembali. Seorang diri. 

Dan dia kembali duduk di tempatnya semula. Seperti tadi diapun kembali pula 

melahap makanan yang ada di hadapannya.

Sementara itu upacara pernikahan sampai pada mempersembahkan dan 

mempertunjukkan emas kawin lelaki untuk mempelai perempuan.

Emas kawin itu terletak di atas sebuah nampan perak besar, berupa tiga buah 

kotak kayu kecil berisi emas perhiasan dan beberapa di antaranya bertahtakan batu-

batu permata yang sangat mahal. Ketika tiga buah kotak itu dibuka, tiba-tiba pemuda 

yang asyik menggerogoti paha ayam bangkit berdiri. Dua kali membuat lompatan dia 

telah berada di hadapan penghulu.

“Perkawinan gila ini tidak perlu diteruskan! Kalian harus membayar semua 

kegilaan ini dengan tiga kotak berisi perhiasan itu!” Pemuda itu berteriak lantang. 

Sekali dia berkelebat maka tiga kotak kayu berisi perhiasan sudah berada dalam 

kempitan tangan kirinya.

Serta merta ru

0ang besar itu menjadi geger. Semua orang terkejut. Penghulu terbeliak. Pengantin 

lelaki dan para pengiringnya tegak melompat. Beberapa perempuan pengiring 

pengantin perempuan terpekik sementara pengantin perempuan sendiri untuk pertama 

kali angkat wajahnya dan menyaksikan kejadian itu dengan terheran-heran.

Penghulu berjubah putih setelah lenyap kagetnya kini berganti marah. Namun 

sebelum dia membentak, seorang lelaki bertubuh tinggi besar mengenakan jas tutup 

coklat gelap sudah lebih dulu menghardik. Dia adalah paman pengantin perempuan.

“Orang gila kesasar! Lekas letakkan kembali tiga kotak kayu itu! Dan cepat 

minggat dari sini!”

Si pemuda tertawa lebar. “Aku tahu sampean adalah Sentono Puro, paman 

pengantin perempuan! Aku juga tahu sampeanlah yang mengatur secara paksa 

perkawinan ini. karena sampean mengharapkan imbalan harta dan uang serta jabatan

dari pengantin lelaki, seekor kambing tua itu!”

Plaak!

Tamparan keras melabrak pipi si pemuda. Yang menampar adalah Sentono 

Puro, paman pengantin perempuan.

Yang ditampar usap pipinya yang tampak merah. Tak kelihatan bayangan rasa 

sakit pada air mukanya, malah pemuda ini menyeringai. Tiba-tiba dia gerakkan 

tangan kanannya.

Bukk!

Sentono Puro terpental ketika dada kirinya ditumbuk jotosan si pemuda. 

Tubuhnya terguling di atas permadani. Dia mencoba bangkit kembali. Tapi matanya 

tampak mendelik dan detik itu pula tubuhnya tersungkur kembali. Kali ini tidak 

bangkit lagi untuk selama-lamanya. Darah mengucur di sela bibirnya!

“Kurang ajar! Kembalikan perhiasan milikku itu!” Pengantin lelaki tiba-tiba 

berteriak. Dua orang perngiringnya tempak mencabut keris.

Si pemuda kembali tertawa lebar. “Masih untung aku hanya mengambil 

perhiasan milikmu, bandot tua. Apakah kau mau aku juga mengambil jiwamu seperti 

yang kulakukan pada Sentono Puro barusan?! Bandot tua tak bermalu! Memaksa 

kawin anak orang yang pantas jadi cucunya!”

Dua orang pengiring pengantin yang sudah tidak sabar, langsung saja 

melompati pemuda itu sambil tusukkan keris.“Kalian cecunguk-cecunguk pengiring kambing tua memang layak mampus 

dahulu!” Si pemuda membentak. Tangan dan kakinya bergerak. Dua penyerang 

terlempar ke belakang. Yang satu melolong setinggi langit karena hancur 

selangkangannya, satunya lagi remuk dadanya. Keduanya menyusul Sentono Puro.

Jerit pekik terdengar di sana-sini. Pengantin perempuan dilarikan ke ruangan 

lain. Para tetamu menjauh ketakutan. Namun seseorang menyeruak ke depan seraya 

membentak “Pemuda iblis. Lehermu layak ditabas!”

Pemuda itu berpaling. Di hadapannya tegak seorang pemuda berpakaian ungu, 

sikapnya keren dan di tangan kanannya ada sebilah golok panjang.

“Hem….. Lagakmu boleh juga sobat. Siapa kau?” tanya pemuda yang 

merampas tiga kotak perhiasan.

“Aku Suto Anget. Perwira Ketiga pada jajaran Pasukan Kotaraja!” Pemuda 

yang memegang golok kenalkan diri. “Kau sendiri siapa? Mengapa berani mengacau 

perjamuan orang? Malah menggarong emas kawin?!”

“Aku bukan menggarong! Tapi menghukum bandot tua yang pergunakan 

kekayaan dan kekuasaan untuk mengawini seorang gadis cilik!”

“Lagakmu seperti pahlawan saja!” dengus Suto Anget. “Kau belum 

menerangkan siapa dirimu!”

“Dengan senang hati aku perkenalkan. Aku Bajingan Dari Susukan!”

“Seorang bajingan rupanya! Memang gelar yang tepat sekali!” ujar Suto 

Anget. Goloknya diangkat setinggi bahu, siap membabat. “Jika kau tidak segera 

mengembalikan tiga kotak perhiasan itu, putus lehermu!”

“Aku mau lihat bagaimana kau memutus leherku!” dengus Bajingan Dari 

Susukan.

“Bagus kalau kau memang sudah siap untuk mati! Ingat, kau berhadapan 

dengan Perwira Kerajaan!”

“Suto Anget! Jangan kau bawa-bawa nama Kerajaan! Ayo bergeraklah!”

Golok di tangan Perwira Ketiga itu berkelebat mengeluarkan suara angin 

bersiuran, menabas ke arah batang leher pemuda bermuka hitam. Tapi serangan maut 

ini hanya setengah jalan. Dalam satu gerakan cepat jotosan tangan kanan Bajingan 

Dari Susukan menghantam dada sang Perwira lebih dulu. Tubuh Suto Anget mencelat 

mental, pedangnya terlepas, dia terjengkang di lantai semburkan darah segar lalu 

rebah tak berkutik lagi. Sebelum tubuh itu mencium lantai Bajingan Dari Susukan 

sudah menyambar kembali tiga kotak kayu yang tadi diletakkannya di atas nampan 

perak. Tepat di saat yang sama pengantin tua bangka itu hendak mengambilnya. 

Penasaran didahului orang, kakek tua itu serta merta melompati si pemuda. Satu 

tangan coba merampas kotak-kotak berisi perhiasan, satunya lagi mencakar kea ah 

wajah.

Traak!

Pengantin tua menjerit. Tubuhnya terhuyung-huyung sambil pegangi tangan 

kanannya yang patah akibat dipukul Bajingan Dari Susukan. Pemuda ini menyeringai.

“Masih untung cuma lenganmu yang kupatahkan! Bukan lehermu!”

Habis berkata begitu pemuda ini melangkah ke pintu sebelah kiri. Sesaat 

kemudian terdengar pekik jerit orang banyak.

“Pengantin perempuan dilarikan!”

“Pengantin perempuan diculik!”

Kekacauan di tempat perhelatan itu tidak terkirakan lagi. Pengantin lelaki 

terduduk di pelaminan, tidak henti-hentinya berteriak seperti orang kurang waras.

“Perhiasanku! Tolong! Emas kawin itu….. Istriku…..Istriku….. Mana 

istriku……


TIGA

Di langit bulan setengah lingkaran tertutup awan. Malam yang gelap jadi tambah 

gelap. Udara tambah dingin karena menjelang dini hari. Di dalam pondok kayu di 

ujung jalan yang mendaki, Gajah Rimbun alias Bajingan Dari Susukan duduk 

menghadap Pangeran Matahari yang duduk bersila tiada hentinya tersenyum dan 

memuji.

“Kau memang pantas menyandang julukan Bajingan Dari Susukan itu Gajah 

Rimbun. Hasilmu yang pertama sangat memuaskan. Bukan saja tiga kotak berisi 

barang-barang perhiasan ini, tapi kau malah juga membawakan seorang gadis cantik 

untukku….”

“Itu jika Pangeran berkenan padanya. Kalau tidak, sayapun tak akan 

menampik….” Menjawab Gajah Rimbun.

Pangeran Matahari tertawa gelak-gelak.

“Ketika saya bawa lari gadis ini tidak melawan atau menejrit. Katika saya 

tanyakan, katanya dia pasrah hendak diapakan asal bebas kawin paksa dengan bandot 

tua bermuka kambing itu….”

“Hemm…. Beegitu? Siapa namanya Gajah Rimbun?” bertanya Pangeran 

Matahari.

“Katakan namamu pada Pangeran….” Berkata Gajah Rimbun pada gadis yang 

masih berpakaian pengantin dan duduk di sudut ruangan. Tak ada bayangan rasa takut 

padanya. Hanya dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa pemuda yang menculiknya 

itu memanggil pemuda berpakaian hitam dengan sebutan Pangeran. Apakah dia 

benar-benar seorang Pangeran?

“Nama saya Sri Andini….” Menerangkan si gadis enam belas tahun.

“Namamu bagus. Apakah kau menyukai si pemuda yang menculikmu 

ini…..?”

Ditanya begitu Sri Andini tak bisa menjawab.

“Kau bebas memilih aku atau dia. Tak ada paksaan….” Berkata Pangeran 

Matahari, membuat si gadis tambah bingung.

Jika dibandingkan antara dua pemuda itu, tentu saja yang dipanggil dengan 

sebutan Pangeran Matahari jauh lebih gagah dan tampan.

“Jika saya memilih salah satu di antara kalian, lantas apakah yang hendak 

kalian lakukan….?” Sri Andini yang memang masih kekanak-kanakan itu bertanya 

polos, membuat Pangeran Matahari tertawa lebar sedang Gajah Rimbun senyum-

senyum kecut. Dia hampir dapat memastikan kalau gadis itu akan memilih Pangeran 

Matahari.

“Siapa saja yang kau pilih di antara kami, maka kau akan mendapatkan malam 

pengantinmu di sini….” Berkata Pangeran Matahari.

“Pengantin….? Pengantin tanpa nikah…..?”

Pangeran Matahari tertawa gelak-gelak. “Nikah itu hanya dilakukan oleh 

orang-orang tolol! Nah katakan pilihanmu!”

“Saya…..saya memilih kakak ini….” kata Sri Andini sambil berpaling pada 

Gajah rimbun membuat pemuda ini terkesiap hampir tak percaya namun diam-diam 

merasa takut kalau-kalau Pangeran Matahari menjadi marah.

“Gajah rimbun rezekimu besar!” kata sang Pangeran. Lalu berdiri dan 

melangkah ke pintu. Tiba-tiba dia membalikkan tubuh. Tangan kanannya digerakkan 

perlahan. Di seberangnya terdengar jeritan Sri Andini. Tubuhnya terpentalmenghantam dinding. Wajah yang tadi putih, tubuh yang tadinya berkulit mulus kini 

tampak gosong menghitam.

“Pangeran!” seru Gajah Rimbun tersentak kaget hingga melompat dari 

duduknya. “Mengapa kau membunuh gadis itu….?”

“Manusia tak berbudi layak disingkirkan…..!”

“Tak berbudi bagaimana maksudmu Pangeran?”

“Kalau tidak aku yang memerintahkanmu mengadakan perjalanan, tidak 

nantinya dia selamat dari kawin paksa itu. Kini setelah selamat dia melupakan budi 

orang!”

“Tapi mana dia tahu kalau saya menyelamatkannya bertalian dengan tugas 

yang Pangeran berikan….?”

“Manusia berbudi selalu berusaha mencari tahu, Gajah Rimbun!” sahut 

Pangeran Matahari.

“Tapi, gadis ini masih kanak-kanak…..”

Pangeran Matahari menyeringai. “Tubuhnya matang montok. Payudaranya 

besar. Kerlingan matanya menikam. Itukah yang kau sebut kanak-kanak….. Atau 

inginkan kau berdebat dengan aku, Gajah Rimbun?”

“Tidak…. Saya tidak bermaksud begitu Pangeran. Hanya sayang…..”

“Apa yang sayang…..?’

“Sebetulnya dia bisa kita manfaatkan….”

“Sebaiknya kau lupakan dia Gajah Rirmbun. Kau telah menyelesaikan tugas 

dengan baik. Tapi hanya sebahagian. Berita apa yang kau dapat tentang dua manusia 

bernama Wiro Sableng dan Ni Luh Tua Klungkung….?”

“Mohon maafmu Pangeran. Tak satupun saya menyirap kabar tentang orang-orang itu. 

tapi saya punya berita lain yang tak kalah pentingnya……”

“Lekas katakan. Jika tidak cukup penting nyawamu imbalannya!”

Pucatlah paras Gajah Rimbun. Tapi orang ini sangat yakin berita yang 

didapatnya sangat berguna bagi Pangeran Matahari. Maka diapun menjelaskan.

“Kalangan istana saat ini tengah mengamati bahkan boleh dikatakan 

mencurigai istri Sri baginda yang ketiga…..”

“Hemmmm…..” Pangeran Matahari keluarkan suara bergumam. Sepasang alis 

matanya yang tebal mencuat ke atas. Setengah acuh ia bertanya. “Apa yang menjadi 

dasar kecurigaan itu. Dan kecurigaan tentang apa?”

“Kecurigaan bahwa Raden Ajeng Siti Hinggil, istri Sri Baginda yang ketiga 

itu, mempunyai hubungan tertentu dengan Pangeran…..”

Diam-diam Pangeran Matahari semakin tertarik akan cerita Gajah Rimbun. 

Namun sikap dan air mukanya di luar tetap seperti tak acuh.

“Mengapa orang-orang itu bersikap demikian? Aneh…..!”

“Menurut penuturan, sewaktu Pangeran menyerbu Istana beberapa bulan yang 

silam, mereka mengenali cincin emas bergambar burung rajawali yang Pangeran 

pakai itu. Menurut mereka, cincin itu dikenal sebagai milik Raden Ayu Puji Lestari. 

Jika ibu dan puterinya itu tidak dapat menerangkan apa hubungan mereka dengan 

Pangeran, besar kemungkinan Sri baginda sendiri akan mengambil tindakan hukum. 

Memenjarakan istri dan puterinya itu…..”

“Raja tolol!” kertak Pangeran Matahari. “Ibu dan anak itu juga tolol! Tidak 

bisa memberikan jawaban….”

“Mereka tidak bisa membela diri. Karena tidak bisa memperlihatkan mana 

cincin milik puteri pemberian Sri Baginda……”Pangeran Matahari terdiam. Sesaat kemudian dia berkata. “Kau berangkatlah 

ke Kotaraja. Serahkan cincin itu pada Raden Ayu Puji Lestari Ambarwati. Dengan 

demikian dia dan ibunya akan dapat mementahkan kecurigaan orang-orang itu…..”

“Jadi….jadi benar cincin itu milik Raden Ayu Pauji Lestari?” bertanya Gajah 

Rimbun.

“Aku tidak menyuruhmu banyak bertanya Gajah Rimbun. Tugasmu adalah 

menyerahkan cincin ini pada puteri itu!” sentak Pangeran Matahari dengan mata 

mendelik, membuat Gajah Rimbun ketakuran dan buru-buru meminta maaf atas 

kelancangannya, lalu cepat mengambil cincin emas yang diangsurkan Pangeran 

Matahari. “Kau tahu siapa-siapa saja yang bersikap curiga pada ibu dan puterinya 

itu?”

“Yang pertama Patih Kerajaan. Lalu Panglima Kotaraja Raden Kertopati. 

Kalau saya tidak salah Panglima Balatentara Kerajaanpun bersikap sama. Malah dia 

yang mula-mula sekali minta Sri Baginda mangusut istri ketiga dan puterinya itu…..”

“Gajah Rimbun, kau pergilah cepat. Ingat baik-baik satu hal. Siapa saja yang 

akan mencelakai kedua perempuan itu aku perintahkan kau untuk membunuhnya!”

Tentu saja Gajah Rimbun terkejut mendengar kata-kata itu. “Saya siap 

menjalankan perintah Pangeran. Tapi jika harus berhadapan dengan orang-orang 

seperti Raden Kertopati Panglima Kotaraja dan Raden Mas Jayengrono Panglima 

Kerajaan, mana mungkin saya punya kemampuan?”

“Tak perlu kawatir. Kau akan punya kemampuan. Mendekatlah!”

Gajah Rimbun naju mendekati Pangeran Matahari. Sang Pangeran angkat 

kedua tangannya. Telapak kiri kanan ditempelkannya ke dada Gajah Rimbun. 

Mulutnya tampak berkomat-kamit. “Sekarang kau sudah punya kemampuan Gajah 

Rimbun. Pergilah! Dan ingat, jangan lupa memperkenalkan siapa namamu!”

“Saya ingat Pangeran. Nama saya adalah Bajingan Dari Susukan!” jawab 

Gajah Rimbun.


EMPAT

Ponggawa berkuda hitam itu memasuki halaman rumah besar kediaman R.A. Siti 

Hinggil. Sesaat dia bicara dengan perajurit yang tengah bertugas di pintu. Perajurit ini 

masuk ke dalam. Tak selang berapa lama dia keluar kembali dan mempersilakan 

ponggawa tadi masuk mengikutinya. Kedua orang ini duduk bersila di depan sebuah 

kasur tinggi berselimutkan permadani. Duduk menunggu tanpa ada satupun yang 

bicara.

Tak berapa lama kemudian istri Sri Baginda yang ketiga keluar diiringi 

seorang anak lelaki berusia enam tahun, berwajah cakap dan berpakaian bagus. Inilah 

Pangeran Sabrang, putera bungsu R.A.Siti Hinggil, adik Puji Lestari Ambarwati yang 

juda merupakan adik Pangeran Anom alias Pangeran Matahari. Anak ini duduk 

seenaknya di samping ibunya yang duduk di atas kasur tinggi.

“Kau membawa berita atau pesan dari Keraton…..?” R.A. Siti Hinggil 

bertanya.

Ponggawa itu memberi hormat sebelum menjawab. “Betul sekali Raden 

Ajeng….. Bisakah saya sampaikan sekarang?”

“Katakanlah…..”

“Raden Ajeng dan Raden Ayu Puji Lestari diminta Patih Haryo Unggul untuk 

menghadap siang nanti sehabis Ba’dal Asar.”

“Apakah Patih mengatakan mengapa dia memanggil kami?”

“Tidak Raden Ajeng. Rasa rasa tentunya Raden Ajeng lebih tahu…..”

“Apakah Sri Baginda mengetahui kalau kami berdua harus menghadap?”

“Sudah tahu Raden Ajeng. Justru dalam pertemuan nanti Sri Baginda akan 

ikut hadir,” menjelaskan ponggawa itu.

“Kalau begitu ini adalah kehendak Sri Baginda. Patih hanya dipakai sebagai 

penyambung lidah. Kau boleh pergi. Katakan kami berdua akan datang menghadap 

sehabis sembahyang Asar.”

Ponggawa itu memberi hormat lalu dengan terbungkuk-bungkuk 

meninggalkan tempat itu, diikuti perajurit yang tadi menemaninya. Ketika dia 

melangkah ke tempat kuda hitamnya ditambatkan, ponggawa itu terkejut. Di atas 

kuda itu tampak duduk seorang pemuda tak dikenal berkulit hitam bermuka bundar. 

Menyangka orang hendak mencuri kudanya, ponggawa itu segera menghunus 

pedangnya.

“Bangsat pencuri! Besar sekali nyalimu!” Pedang di tangan ponggawa 

menderu. Namun sesaat kemudian terdengar pekiknya. Bersamaan dengan pekik dan 

terlepasnya pedang, terdengar pula suara kraak! Ternyata tulang siku tangan kanannya 

remuk dihantam tendangan pemuda di atas kuda.

Perajurit di sebelahnya mengangkat tangan, siap untuk menusukkan 

tombaknya. Tapi diapun bernasib sama. Tombak yang hendak dihantamkannya ke 

perut orang patah dua dan mental ke udara begitu dilabrak tendangan pemuda di atas 

kuda.

“Ponggawa! Kau kembali ke Keraton! Katakan pada orang-orang di sana 

bahwa Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya tidak akan datang menghadap ke sana! 

Juga katakan jika mereka masih berani mengganggu ketentraman ibu dan anak itu, 

jika mereka masih menaruh curiga terhadap keduanya, mereka bakal menemui 

kesulitan. Bahkan kematian!”

“Kau…..kau siapa……?!” bertanya si ponggawa.“Namaku Bajingan Dari Susukan. Berani malawan kehendakku berarti minta 

mampus! Pergi lekas…..!”

“Tapi….. Kudaku…..”

“Kudamu tetap di sini! Kau bisa jalan kaki…..”

“Tidak bisa. Itu kuda istana. Aku harus kembali bersamanya…..”

“Begitu? Baiklah! Kau boleh menungganginya. Berarti kedua kakimu tak ada 

gunanya!”

Pemuda di atas kuda hitam melompat turun. Begitu menjejakkan tanah dia 

melompati si ponggawa. Kaki kanannya menabas. Terdengar dua kali suara kraak. 

Ponggawa itu tersungkur ke tanah, menjerit kesakitan. Kedua tulang kakinya kiri 

kanan patah. Dalam keadaan menjerit-jerit kesakitan, Bajingan Dari Susukan alias 

Gajah Rimbun angkat tubuhnya dan naikkan ke atas punggung kuda hitam. Kuda ini 

digebraknya, membuatnya lari kencang membawa ponggawa yang masih terus 

berteriak-teriak.

Suara jerit ribut-ribut di halaman membuat Siti Hinggil dan Puji Lestari keluar 

dari dalam gedung diikuti Pangeran Sabrang. Mereka masih sempat melihat 

ponggawa yang tadi menghadap terbujur melintang di atas punggung kuda yang 

berlari meninggalkan halaman rumah besar.

“Apa yang terjadi dengan ponggawa itu…..?” bertanya Siti Hinggil. Perajurit 

yang ada di tangga rumah tak berani membuka mulut. Ketika pandangan Siti Hinggil 

membentur Gajah Rimbun dia segera menegur “Kau siapa?”

Gajah Rimbun menjura hormat tapi matanya sesaat mengerling pada Puji 

Lestari Ambarwati. Hatinya berdesir. Tak pernah dia melihat gadis secantik ini. 

Rambutnya yang hitam. Kulitnya yang kuning mulus. Sepasang mata yang berkilat-

kilat dan tubuh yang begitu besar montok. Apakah sebenarnya hubungan Pangeran 

Matahari dengan kedua perempuan ini? Hatinya benar-benar terpikat pada Puji 

Lestari. Jika Pangeran Matahari mengizinkan, sangat beruntung kalau dia dapat 

memiliki gadis ini. Tapi memiliki puteri raja? Gajah Rimbun mentertawai dirinya 

sendiri. Heh, apa salahnya?!

“Orang bertanya kau tak menjawab! Apakah bisu? Atau tuli?!” Yang 

membentak adalah Puji Lestari. Membuat Gajah Rimbun gugup.

“Saya….. Ga…..eh, saya Bajingan Dari Susukan…..”

“Nama apa itu?!” ujar Puji Lestari. “Apa betul itu namamu?”

“Betul sekali Raden Ayu. Nama saya memang jelek…..”

“Mungkin sifatmu lebih jelek!” kata Puji Lestari ketus. Sekali melihat pemuda 

bermuka hitam itu dia langsung merasa tidak senang.

Siti Hinggil bersikap lebih wajar. “Ada apa kau di sini. Mengapa ponggawa 

itu terbujur dan menjerit-jerit di atas kudanya?”

“Saya di sini menjalankan tugas, Raden Ajeng. Ponggawa itu mendapat celaka 

karena ulahnya sendiri!”

“Kau bukan perajurit istana atau perajurit Kerajaan. Tugas apa yang kau 

lakukan di sini?!”

“Menjaga keselamatan Raden Ajeng dan puteri sehubungan dengan adanya 

niat buruk orang-orang Keraton mencurigai Raden Ajeng berdua…..”

Siti Hinggil terkejut. Puji Lestari mengerenyit.

“Maksudmu apa?” bertanya Siti Hinggil.

“Maksud saya sehubungan dengan tuduhan bahwa Raden Ajeng dan Raden 

Ayu berdua mempunyai hubungan dengan Pangeran Matahari. Saya diperintahkan 

membunuh siapa saja yang berani menyulitkan orang-orang di rumah ini…..”

“Siapa yang memerintahkanmu?” tanya Puji Lestari.“Saya tidak berani mengatakannya, Raden Ayu,” jawab Bajingan Dari 

Susukan alias Gajah Rimbun.

“Siapapun kau adanya dan perintah apapun yang sedang kau jalankan, aku 

tidak senang melihatmu di sini. Keselamatan rumah ini adalah dalam tanggung jawab 

Raja…..”

“Namamu saja Bajingan Dari Susukan! Siapa percaya padamu!” manyambung 

Puji Lestari. “Jangan-jangan kau bangsa maling atau garong yang hendak berbuat 

jahat terhadap kami!”

Gajah Rimbun tersenyum tawar. Dan menjawab “Jika saya ingin berbuat jahat, 

sudah dari tadi dapat saya lakukan. Semudah saya membalikkan telapak tangan!” 

berkata pemuda itu. “Lihat apa yang ada dalam tangan saya!” katanya demikian. 

Tangan kirinya yang tadi terkepal dibukanya. Siti Hinggil dan Puji Lestar sama-sama 

memandang ke arah tangan kiri itu. Dan keduanya sama-sama terkejut. Di atas 

telapak tangan si pemuda bermuka hitam mereka melihat sebuah tusuk kundai emas.

“Astaga!” Raden Ajeng Siti Hinggil berseru seraya memegang rambutnya. 

Tusuk kundai yang ada di tangan si pemuda adalah tusuk kundai yang sebelumnya 

menancap di gelungan kondenya! Bagaimana benda itu tahu-tahu berada dalam 

tangan pemuda ini tanpa dia melihat kapan orang mengambilnya bahkan tanpa merasa 

sama sekali?

“Kau punya ilmu hitam!” sentak Puji Lestari.

Gajah Rimbun tersenyum.

“Saya tidak punya ilmu apa-apa, Raden Ayu,” jawab pemuda itu. Lalu 

mengembalikan tusuk kundai emas pada Siti Hinggil.

“Lebih cepat kau pergi dari sini, lebih baik!” kata istri Sri Baginda yang ketiga 

itu.

“Saya memang akan pergi Raden Ajeng. Tapi tidak terlalu jauh. Satu hal perlu 

diketahui. Justru Sri Baginda sendiri sangat menaruh curiga pada kalian ibu dan anak. 

Kalangan istana menduga keras kalian punya sangkut paut tertentu dengan Pangeran 

Matahari. Berniat menumbangkan tahta Raja. Ini semua gara-gara cincin milik Raden 

Ayu yang diberikan dan dipakai oleh Pangeran Matahari waktu menyerbu keraton 

tempo hari…..”

“Jadi! Kalau begitu Pangeran itulah yang memerintahkanmu!” ujar Sri Puji 

Lestari.

“Saya tidak berani membenarkan hal itu,” jawab Gajah Rimbun.

“Katakan di mana Pangeran itu sekarang?” ujar sang dara.

“Saya tidak tahu dia ada di mana Raden Ayu. Saya ditugaskan untuk 

menyerahkan barang ini…..” Lalu Gajah Rimbun mengeluarkan cincin emas 

bergambar burung rajawali pada Puji Lestari.

Dalam terkejut Puji Lestari mengambil cincin itu, mengamatinya sebentar lalu 

memandang pada ibunya.

“Saya yakin, Pangeran Matahari yang menyuruhnya!”

Siti Hinggil mengangguk dan membuka mulut hendak menanyakan sesuatu. 

Tapi Bajingan Dari Susukan sudah berkelebat pergi.


LIMA

Belum lama Gajah Rimbun berlalu, belum lama Raden Ajeng Siti Hinggil dan 

puterinya serta Pangeran Sabrang masuk ke dalam rumah besar, serombongan orang 

berkuda muncul. Mereka berjumlah lima orang. Dari pakaian dan senjata yang tersisip 

di pinggang masing-masing jelas mereka adalah abdi-abdi atau pasukan Kerajaan. 

Bertindak sebagai pemimpin seorang perwira muda bertubuh tinggi kurus yang 

memiliki sepasang mata sangat merah. Di kalangan pasukan dia dikenal dengan 

julukan Si Mata APi. Pandangannya memang angker dan ilmu silatnya cukup tinggi.

Baru saja kelima orang itu turun dari kuda masing-masing, bahkan belum 

sempat bicara dengan perajurit pengawal yang datang menyongsong. Gajah Rimbun 

tahu-tahu sudah berdiri di tangga rumah besar. Sikapnya jelas menghalangi siapa saja 

yang hendak masuk. Sementara itu sebuah kereta kecil kelihatan memasuki pintu 

halaman.

Perwira muda berjuluk si Mata Api memandang tak berkesip pada Gajah 

Rimbun, membuat Bajingan Dari Susukan ini tergetar juga hatinya.

“Tampangmu baru hari ini kulihat! Aku tahu pasti kau bukan perajurit 

Kerajaan atau pengawal gedung kediaman istri Sri Baginda! Mengapa kau berani 

menjual lagak kurang ajar di hadapan kami pasukan Kerajaan?!”

Gajah Rimbun seperti tak acuh. Sambil memandang ke kiri dia bertanya 

“Perwira, apakah kau mencari orang bernama Bajingan Dari Susukan?”

“Bukan saja mencarinya, tapi akan mematahkan batang lehernya!” sahut Si 

Mata Api. “Dia telah menganiaya seorang anak buahku!”

“Ah, kalau begitu kau datang tepat pada waktunya.” Habis berkata begitu 

Gajah Rimbun ulurkan lehernya. “Akulah orang yang kalian cari. Silakan 

mematahkan batang leherku!”

“Bangsat! Memang minta mampus!” teriak Si Mata Api marah. Tapi dia tak 

mau turun tangan sendiri. Seraya berpaling pada empat orang anak buahnya dia 

berikan perintah “Cincang keparat muka hitam ini!”

Empat buah pedang berkeresekan keluar dari sarung masing-masing lalu 

serentak diayunkan ke arah Gajah Rimbun. Dua menabas pundak, satu membacok 

kepala, satunya lgai membabat leher yang masih diulurkan!

Apa yang terjadi kemudian membuat Si Mata Api yang terkenal buas menjadi 

bergidik. Ketika empat buah pedang itu dilihatnya hanya tinggal sejengkal mencapai 

sasaran, tiba-tiba pemuda bermuka hitam gerakkan kedua tangannya. Dua buah 

pedang mencelat ke udara bersamaan dengan jeritan dua perajurit. Tangan masing-

masing patah dan tampak berubah menjadi hitam. Dua perajurit lagi terhempas ke 

tanah dan berguling-guling sambil menggerung. Tubuh mereka tampak mengeluarkan 

asap. Sesaat kemudian keduanya melingkar tak berkutik lagi dalam keadaan tubuh 

gosong seperti dibakar!

Ketika pemuda itu hendak bergerak ke arahnya, Si Mata Api cepat berseru 

“Tahan!”

“Eh, kau takut mampus……?” tanya Gajah Rimbun sambil menyeringai. 

Membuat Si Mata Api merinding.

“Jika kau menyerah hidup-hidup, hukuman atasmu akan kuperingan!”

“Kalau kau mau pergi dari sini, nyawamu akan kuampunkan!” balas Bajingan 

Dari Susukan.“Kurang ajar! Kau kira aku takut padamu!” bentak Si Mata Api. Tinju 

kanannya menderu deras ke arah muka Gajah Rimbun. Yang diserang merunduk tapi 

buk! Tinju yang tadi mengarah muka tahu-tahu berubah cepat menghantam dada dan 

mengenai dada kiri Gajah Rimbun dengan keras hingga pemuda ini terjengkang.

Melihat lawan dapat dipukul rubuh dalam satu jurus saja, Si Mata Api timbul 

keberanian dan rasa percaya diri. “Hanya begitu saja kehebatan keparat ini!” katanya 

dalam hati. Lalu dia melompat seraya kirimkan tendangan kaki kanan ke muka Gajah 

Rimbun. “Hancur kepalamu!” teriak Si Mata Api.

Tapi sekali ini dia kecele. Bukan kepala lawan yang hancur tapi kaki kanannya 

yang kena ditangkap. Sebelum dia sempat menarik kaki yang tertangkap sambil 

menghujamkan tumit kirinya ke dada lawan, tahu-tahu dia merasakan sekujur 

tubuhnya panas seperti dipanggang api. Sesaat kemudian tubuhnya terlempar ke atas. 

Karena sakit, terkejut dan bingung, walaupun sudah jungkir balik agar dapat jatuh di 

atas kedua kakinya, namun tetap saja perwira muda itu jatuh bergedebuk, jatuh 

punggung di tanah. Sekujur tubuhnya tampak merah seperti terseduh. Dari mulutnya 

keluar suara mengerang menahan sakit yang luar biasa. Ketika dia mencoba bangkit, 

sebuah kaki yang kuat dan berat meninjak dadanya. Memandang ke atas ternyata 

pemuda bermuka hitam itu yang menginjaknya!

“Nyawamu kuampunkan! Kembali ke istana dan sampaikan pesanku pada 

semua orang di sana! Jangan sekali-kali mengganggu dan membuat kesulitan atas diri 

Raden Ajeng Siti Hinggil serta puterinya. Ibu dan anak itu tidak ada hubungan apa-

apa dengan Pangeran Matahari. Siapa berani mengabaikan pesanku ini akan 

berhadapan dengan malaikat maut! Katakan namaku adalah Bajingan Dari Susukan!”

Gajah Rimbun angkat kakinya dari atas dada Si Mata Api. Dengan 

menanggung sakit amat sangat perwira muda ini bangkit berdiri. Dalam keadaan 

seperti itu dia melihat sebilah pedang tergeletak di tanah tiga jengkal dari tangan 

kanannya. Secepat kilat perwira ini menyambar senjata itu, lalu sambil membalikkan 

tubuh dia ayunkan pedang tepat pada batasan pinggang Bajingan Dari Susukan.

“Diberi ampun malah minta racun!” rutuk Gajah Rimbun. Kaki kanannya 

bergerak leih cepat melabrak dada Si Mata Api. Tubuh perwira itu terpental bersama 

pedang yang terlepas dari pegangannya. Dia melingkar dekat roda kereta, mengerang 

beberapa kali, muntah darah lalu pingsan.

Di atas kereta, kusir tua berkumis putih gemetar ketakutan setengah mati ketik 

Bajingan Dari Susukan melangkah mendatangi.

“Angkat tubuh perwira itu. Bawa ke istana! Jika dia mampus di perjalanan 

maka kau yang harus menyampaikan apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar di 

tempat ini! mengerti?!”

“Sa….saya mengerti….” Kusir tua cepat turun lalu mengangkat tubuh Si Mata 

Api dengan susah payah. Tanpa menunggu lebih lama dia segera membedal kuda 

penarik kereta.

Ketika Gajah Ribun melangkah meninggalkan tempat itu, di tangga rumah 

tampak tegak Raden Ajeng Siti Hinggil dan Puji Lestari Ambarwati.

“Lagi-lagi kau berani membuat onar di sini!” terdengar ucapan Puji Lesatri 

disertai air muka sangat tidak senang.

Gajah Rimbun membungkuk hormat. “Maafkan saya Raden Ayu. Bajingan 

Dari Susukan hanya menjalankan perintah….”

“Kau tunggulah! Orang-orang dari istana pasti akan menangkapmu hidup atau 

mati!”

Gajah Rimbun tersenyum. Dengan ilmu hebat yang diberikan Pangeran 

Matahari secara aneh, tak satu orangpun ditakutinya. Dia yakin sekali hal ini. Yangdipikirkannya justru bagaimana kalau nanti setelah Pangeran Matahari mengambil 

kembali kepandaiannya itu. sekali lagi pemuda bermuka bundar itu melayangkan 

senyumnya pada Puji Lestari, menjura dan meninggalkan tempat itu.

Ketika kusir tua menceritakan apa yang terjadi. Ruang sidang istana menjadi 

gempar.

“Apakah kejadian ini perlu segera diberitahu pada Sri Baginda?” tanya Raden 

Kertopati, Panglima Pasukan Kotaraja.

“Sebaiknya kita periksa dulu keadaan perwira itu. Mungkin dia bisa memberi 

keterangan lebih banyak!” menjawab Raden Mas Jayengrono, Kepala Balatentara 

Kerajaan. Lalu bersama-sama Patih Haryo Unggul, diiringi belasan perwira tinggi dan 

perwira muda mereka meninggalkan ruangan sidang, menuju halaman istana. Ketika 

diperiksa ternyata perwira muda berjuluk Si Mata Api itu sudah tak bernyawa lagi.

“Melihat keadaan tubuhnya yang merah seperti terpanggang, perwira ini 

menemui ajal akibat ilmu kesaktian yang bukan sembarangan…..” ujar Patih Haryo 

Unggul setelah memeriksa dengan teliti.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” bertanya Kertopati.

“Siapkan selusin perwira. Bawa seratus perajurit! Kurung rumah kediaman 

Raden Ajeng Siti Hinggil dari jarak lima tombak!” Yang berkata adalah Raden Mas 

Jayengrono.

“Ada baiknya dimas Kertopati ikut berangkat ke sana…..” berkata patih 

Kerajaan. “Salah satu dari kami akan menyusul. Jangan melakukan apa-apa sebelum 

kami datang…..”

Maka Raden Kertopati segera jalankan perintah atasannya itu. Setelah 

rombongan itu pergi Patih Haryo Unggul berpaling pada Raden Mas Jayengrono dan 

bertanya “Apakah Raden Mas pernah mendengar orang berjuluk Bajingan Dari 

Susukan itu sebelumnya?”

Yang ditanya menggeleng.

Patih haryo Unggul usap-usap dagunya. “Aneh,” desisnya. “Seorang dengan 

julukan seperti itu, tak dikenal sebelumnya, tapi memiliki ilmu luar biasa. Bertindak 

sebagai pelindung dan pembela Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya….. Sungguh 

aneh!”

“Saya rasa ada baiknya paman patih memberi tahukan Sri Baginda. Biar saya 

menyusul Raden Kertopati untuk melihat sampai di mana kehebatan orang itu….”

“Saya setuju hal itu,” sahut Patih Haryo Unggul. “Yang penting menyelidiki. 

Kita harus tahu apa hubungan Bajingan Dari Susukan ini dengan istri Sri Baginda. 

Ingat keterangan kusir tua itu…..? Dia sempat mendengar ketika Bajingan Dari 

Susukan berkata bahwa dia hanya menjalankan tugas. Nah, kita harus tahu siapa di 

belakangnya. Siapa yang menugaskannya! Jika tidak dapat dari orangnya langsung, 

istri Sri Baginda itu pasti mengetahui…..”

“Saya berangkat sekarang Paman patih…..”

“Pergilah. Walaupun manusia itu tidak terkenal, tapi jangan Raden Mas 

menganggapnya enteng. Saya lebih suka kalau dia dapat ditangkap hidup-hidup…..”

“Itu memang keinginan saya paman patih,” jawab Raden Mas Jayengrono. 

Namun dalam hatinya diapun punya keinginan untuk menyaksikan bahkan hendak 

menjajal sampai di mana kehebatan manusia yang memperkenalkan dirinya sebagai 

Bajingan Dari Susukan itu.


ENAM

Ketika Kepala Balatentara Kerajaan Raden Mas Jayengrono sampai di tempat 

kediaman istri Raja yang ketiga maka dia menyaksikan satu pemandangan luar biasa. 

Halaman rumah yang cukup luas itu dikurung rapat oleh puluhan perajurit. Sekitar 

enam perajurit, dua perwira muda dan seorang perwira tinggi tampak tergeletak di 

tanah. Kebanyakan dari mereka sudah tak berkutik lagi alias mati. Yang masih diup 

terdengar mengerang megap-megap tanda umurnyapun tak bakal lama. Rata-rata 

mereka menderita patah tulang tangan atau kaki, atau hancur tulang-tulang iganya. 

Yang menemui kematian rata-rata kelihatan kehitaman kulit tubuhnya, seperti hangus 

dipanggang api.

Raden Ajeng Siti Hinggil, Raden Ayu Lestari dan Pangeran Sabrang tegak di 

tangga rumah, menyaksikan Raden Kertopati yang dibantu oleh seorang perwira 

tinggi dan tiga orang perwira muda mengeroyok seorang pemuda berkulit hitam, 

berwajah bundar. Melihat pada ilmu silat yang dimainkan pemuda tak dikenal ini, 

jelas dia tidak memiliki kepandaian yang dapat diandalkan. Bahkan boleh dikatakan 

hampir tak ada sama sekali jurus-jurus ilmu silat yang dimainkannya. Akan tetapi, 

setiap gerakan yang dibuatnya mengeluarkan deru angin tanda dia memiliki tenaga 

dalam yang kuat. Dan setiap dia menggerakkan tangan dan kakinya, para pengeroyok 

cepat bertindak mundur atau menyelamatkan diri. Yang terlambat kalau tidak 

menemui ajal pastilah cidera berat!

Beberapa kali Jayengrono melihat para pengeroyok berhasil menyarangkan 

pukulan atau tendangan ke tubuh pemuda itu. Namun seperti kebal pukulan, si 

pemuda seolah-olah tidak merasakannya. Dia terus merangsak menyerang para 

pengeroyoknya.

Ada satu hal yang sempat diperhatikan Kepala Balatentara Kerajaan itu. 

betapapun hebatnya tenaga dalam dan berbahayanya setiap gerakan tangan atau kaki 

si pemuda namun dia tidak memiliki nafas yang panjang. Dadanya turun naik, 

tenggorokannya bergerak-gerak dan hidungnya mengembang-kempis tanda nafasnya 

mulai memburu.

“Hentikan pertempuran!” Tiba-tiba Raden Mas Jayengrono berteriak keras.

Pihak Kerajaan yang mengenali suara Kepala Balatentara itu segera berhenti 

menyerang. Masing-masing melompat dua langkah ke belakang. Mereka semua 

memandang dengan heran pada Raden Mas Jayengrono.

“Ada apakah? Mengapa kangmas menghendaki perkelahian ini 

dihentikan…..?” bertanya Kertopati. Tubuhnya tampak mandi keringat tanda 

tenaganya terkuras.

“Biarkan aku bicara dulu dengan pemuda berkulit hitam itu,” jawab 

Jayengrono. Lalu dengan suara lebih perlahan hingga hanya Kertopati yang 

mendengar, dia menegur. “Bukankah Patih sudah memberi ingat. Jangan melakukan 

apa-apa sebelum salah satu dari kami datang ke tempat ini?”

“Saya ingat sekali pesan itu kangmas. Tapi pemuda itu tiba-tiba muncul dan 

mengusir kami dari tempat ini…..” menjawab Kertopati.

Jayengrono berdehem beberapa kali lalu palingkan kepalanya ke arah Gajah 

Rimbun.

“Kau orangnya yang bernama Bajingan Dari Susukan?” tanya Kepala 

Balatentara Kerajaan dari atas punggung kudaGajah Rimbun alias Bajingan Dari Susukan mengangguk. Dia tegak di tengah 

kalangan dengan sikap pongah sambil bertolak pinggang.

Dengan tenang meskipun hatinya mulai jengkel, Jayengrono kembali bertanya 

“Mengapa kau membuat keonaran di tempat kediaman istri Sri Baginda?”

“Bukan aku yang membuat keonaran tapi kalian yang datang menimbulkan 

kerusuhan” sahut Bajingan Dari Susukan.

“Namamu cocok dengan sifatmu! Kau pandai bersilat lidah! Apa hakmu 

melarang abdi Kerajaan yang diperintah Raja untuk memeriksa Raden Ajeng Siti 

Hinggil?” bertanya Jayengrono dengan mata melotot.

“Raja menyuruh menyelidik istrinya sendiri! Ini adalah aneh!” tukas bajingan 

Dari Susukan. “Jika kalian hendak menyelidik orang lain, mengapa Raden Ajeng dan 

puterinya yang kalian curigai?!”

“Karena cincin emas milik Raden Ayu Paji Lestari dipakai oleh seorang 

pengacau mengaku bernama Pangeran Matahari! Kalau tak ada sangkut paut dengan 

orang itu mana mungkin cincin tersebut ada padanya? Raden Ayu telah 

memberikannya karena ada hubungan tertentu! Bukan begitu…..?” Jayengrono 

berkata sambil berpaling dan memandang tajam pada Puji Lestari Ambarwati, 

membuat gadis ini sesaat gugup dan pucat wajahnya.

Saat itu terdengar suara Bajingan Dari Susukan kembali. “Sungguh kecurigaan 

keji! Menuduh tanpa bukti! Raden Ayu perlihatkan bahwa cincin itu tak pernah kau 

berikan pada siapapun!”

Puji Lestari ulurkan tangan kirinya. Pada jari manis tangan kiri sang puteri 

kelihatan cinicn emas bergambar burung rajawali melingkar di jari manisnya.

Sesaat Raden Jayengrono jadi terpaku. Penuh heran tak mengerti. Bagaimana 

cincin yang beberapa waktu lalu jelas dilihatnya berada di tangan Pangeran Matahari 

kini tahu-tahu sudah ada lagi di jari Raden Ayu Puji Lestari. Padahal beberapa hari 

lalu ketika ditanya, sang puteri tidak dapat memperlihatkan benda itu.

“Ada sesuatu yang tidak beres di sini!” ujar Jayengrono. Dia memandang 

berkeliling lalu memerintah “Tangkap pemuda ini!”

Teriakan ini membuat beberapa orang yang ada di sekeliling Bajingan Dari 

Susukan segera melompat menyerbu. Mereka adalah Raden Kertopati Kepala 

Pasukan Kotaraja, tiga orang perwira muda dan dua orang perwira tinggi. Dalam 

waktu sekejapan saja pemuda berkulit hitam itu sudah dilanda hujan serangan. Bukan 

serangan biasa tapi serangan mengandung tenaga dalam tinggi. Jangankan manusia, 

seekor kerbau besarpun akan babak belur dihantam pukulan dan tendangan orang-

orang itu.

Terdengar suara gedebak-gedebuk ketika tinju dan kaki mendarat di tubuh 

Bajingan Dari Susukan. Tubuhnya terbanting kian kemari. Tapi anehnya dia seperti 

tidak merasakan apa-apa. Jangankan menjerit, meringispun tidak. Melihat kejadian ini 

dengan beringas Raden Kertopati merangsak ke depan, lancarkan serangan-serangan 

dalam jurus-jurus ganas. Raden Mas Jayengrono tampak tertegun. Hampir tak pernah 

dilihatnya bawahannya itu menggempur lawan seperti itu. Kenyataannya memang 

Bajingan Dari Susukan dibuat terpental dan bergulingan di tanah sewaktu kaki kanan 

Raden Kertopati tepat menghantam lambungnya.

Belum sempat bangun, dua perwira muda dan dua perwira tinggi berkelebat 

berebut cepat mengirimkan serangan. Kalau tidak mati dalam keadaan mengerikan 

pastilah pemuda berkulit hitam itu akan menderita luka parah dan cacat seumur 

hidupnya. Demikian orang-orang yang ada di tempat itu memastikan. Namun apa 

yang terjadi kemudian membuat semua orang terkejut bahkan Jayengrono keluarkan seruan tertahan.

Didahului bentakan keras tubuh Bajingan Dari Susukan melesat setinggi satu 

tombak. Tangan dan kakinya bergerak. Empat perwira Kerajaan yang tadi 

menggempurnya mental berpelantingan. Masing-masing keluarkan jeritan mengerikan. 

Tubuh keempatnya kemudian jatuh ke tanah tak berkutik kagi daalm keadaan hangus 

hitam!

“Manusia ini bukan saja memiliki kekebalan tapi kesaktian mematikan….” 

Desis Raden Mas Jayengrono sementara Raden Kertopati tegak tak bergerak dengan 

muka pucat!

“Pembunuh biadab! Siapa kau sebenarnya?!” membentak Jayengrono.

“Sudah diberitahu masih saja bertanya! Bukankah lebih baik kalian pergi 

semua dari tempat ini dan jangan ganggu Raden Ajeng Stiti Hinggil serta puterinya!”

“Kentut busuk!” maki Jayengrono. Memandang pada keadaan mayat yang 

hangus hitam itu, Kepala Balatentara Kerajaan ini tiba-tiba saja ingat sesuatu dan 

curiga besar. Ketika beberapa waktu lalu Pangeran Matahari menyerbu istana, lawan-

lawan yang mati di tangannyapun mengalami nasib seperti keempat perwira itu. mati 

dengan tubuh hangus hitam seperti dipanggang. Ilmu pemuda mengaku Bajingan Dari 

Susukan ini serupa dengan yang dimiliki Pangeran Matahari. Maka Jayengronopun 

kembali membentak “Apa hubunganmu dengan Pangeran Matahari?!”

“MAsih saja mengajukan pertanyaan! Jika kalian tidak cepat minggat dari sini, 

jangan menyesal kalau cuma arwah kalian yang meninggalkan tempat ini!” Berkata 

Bajingan Dari Susukan alias Gajah Rimbun sambil menyeringai dan berkacak 

pinggang.

“Sombong dan menghina sekali!” kertak Jayengrono yang saat itu masih 

duduk di atas punggung kudanya. Dia berpaling pada Raden Kertopati dan berkata 

memberi perintah “Dimas, tangkap keparat itu hidup atau mati!”

Menerima perintah seperti itu Kepala Pasukan Kotaraja itu menjadi agak 

terkesiap. Melihat kehebatan pemuda kulit hitam hatinya jadi meragu apakah 

kepandaian silat dan kesaktiannya akan mampu menghadapi orang itu.

Melihat bawahannya itu tidak bergerak dari tempatnya Jayengrono cabut keris 

berhulu gading gajah di pinggangnya dan melemparkan senjata ini pada Raden 

Kertopati seraya berkata “Pergunakan Kiyai Gajah Putih ini! Masakan tubuhnya tidak 

akan tertembus sekalipun dia punya kesaktian seperti malaikat!”

Kiyai Gajah Putih adalah sebilah keris berhulu gading berbadan putih karena 

terbuat dari perak yang diramu dengan sejenis racun jahat berwarna putih. Senjata 

sakti mandraguna ini didapat Raden Mas Jayengrono dari gurunya almarhum. Untuk 

mendapatkan keris itu Jayengrono harus menempuh ujian sangat berat. Yaitu 

berpuasa selama 100 hari dengan hanya minum air embun yang ada di dedaunan serta 

hanya sekepal nasi putih setiap malam Jum’at. Setelah itu dia harus pula bersamadi di 

tujuh tempat selama 7 hari untuk setiap tempat. Ketika sang guru menyerahkan keris 

itu kepadanya, disebutkan pula satu larangan yang tidak boleh dilanggar oleh 

Jayengrono setelah memiliki senjata itu yakni larangan menggauli perempuan yang 

bukan istrinya alias berzina.

Raden Kertopati menyambut Kiyai Gajah Putih yang dilemparkan Jayengrono 

kepadanya. Jelas dia tak bisa berbuat lain maka Kepala Pasukan Kotaraja ini segera 

mencabut senjata itu. Begitu keris keluar dari sarungnya memancarlah cahaya putih. 

Cahaya ini menjadi lebih terang karena saat itu matahari hampir tenggelam dan udara 

mulai gelap.

Sesaat Bajingan Dari Susukan merasa keder juga melihat cahaya angker keris 

di tangan Kertopati. Namuan dia begitu yakin akan kehebatan ilmu titipan yang

diberikan Pangeran Matahari padanya. Maka dengan tetap berkacak pinggang, 

pemuda berkulit hitam ini sunggingkan seraingai mengejek.

“Kalau kau memang hendak mencoba kehebatan keris butut itu, mengapa 

tidak lekas menyerang?!”

Jayengrono panas sekali hatinya mendengar keris saktinya diejek dan 

dilecehkan begitu saja oleh Bajingan Dari Susukan. Dia berteriak marah “Dimas! 

Lekas bunuh bangsat itu!”

Maka Kertopatipun melompat menyergap lawannya sambil tikamkan Kiyai 

Gajah Putih. Sinar putih berkiblat disertai desingan angin. Bajingan Dari Susukan 

berkelit sambil menuju ke depan. Gerakannya menjotos terasa seperti tertahan oleh 

angin yang datang menyambar dari badan keris. Maka dia ganti pergunakan kaki 

untuk menendang kaki musuh. Kertopati melompat sambil tikamkan keris di tangan 

kanannya sekali lagi. Kali ini ke arah tenggorokan lawan.

Buk!

Tendangan Bajingan Dari Susukan meskipun agak meleset masih sempat 

menghajar betis kanan Raden Kertopati hingga orang ini kehilangan keseimbangan, 

limbung dan jatuh tersungkur. Walaupun tusukan keris ke arah tenggorokan meleset 

namun dalam jatuhnya Raden Kertopati masih berkesempatan membabatkan Kiyai 

Gajah Putih ke arah kedua kaki lawan.

Breet!

Kaki celana kiri Bajingan Dari Susukan robek besar. Salah satu bagian 

pahanya tergurat ujung keris. Untuk pertama kalinya terdengar suara pekik kesakitan 

keluar dari mulut Bajingan Dari Susukan. Meskipun pahanya hanya tergurat sedikit 

dan sama sekali tidak mengeluarkan darah namun tubuhnya terasa menjadi sangat 

dingin hingga gigi-giginya bergemeletakan.

“Celaka! Apakah kesaktian yang diberikan Pangeran Matahari tidak sanggup 

menghadapi keris putih itu…..?!” Bajingan Dari Susukan merasa kawatir sekali. Rasa 

kecut membayangi hatinya. Apakah dia akan terus berkelahi di situ atau sebaiknya 

pergi saja, kembali dan melapor pada Pangeran Matahari?

Sementara itu Raden Kertopati yang tadi terjatuh berusaha bangun. Alangkah 

kagetnya Kepala Pasukan Kotaraja ini ketika mendapatkan dirinya tak sanggup lagi 

bangkit. Disingsingkannya kaki celananya. Betisnya yang tersingkap kelihatan 

menghitam. Pucatlah paras Kertopati. Dia cepat menotok pangkal paha dan bagian 

dada di dekat jantung untuk mencegat aliran rasun jahat. Lalu masih dengan 

menggenggam keris Kiyai Gajah Putih di tangan Kepala Pasukan Kotaraja ini 

gulingkan tubuh menajuhi Bajingan Dari Susukan. Beberapa orang perwira segera 

menolongnya dan menggotongnya ke dekat tangga rumah besar.

Menyaksikan kejadian itu Raden Mas Jaengrono melompat urun dari kudanya. 

Dia akan turun tangan sendiri untuk menghajar Bajingan Dari Susukan. Namun di 

saat yang sama pula pemuda berkulit hitam itu sudah melompat dari kalangan 

pertempuran. Berkelebat ke arah pintu halaman.

“Tangkap! Jangan biarkan dia lari!” teriak Jayengrono seraya mengangkat 

tangan kanan untuk menghantam dengan pukulan jarak jauh mengandung tenaga 

dalam tinggi. Namun serangan ini terpaska di batalkan karena belasan perajurit dan 

para perwira saat itu telah berserabutan mengejar Bajingan Dari Susukan hingga 

menutup alur pukulan. Kalau diteruskan hanya akan mencelakai orang-orang sendiri.

Jayengrono semakin gemas dalam hati. Terlebih lagi ketika kemudian 

dilihatnya di depan sana perajurit-perajurit dan para perwira yang berusaha 

menangkap Bajingan Dari Susukan terlempar dan rubuh ke tanah. Empat di antaranya 

menemui ajal dengan tubuh menghitam hangus!“Manusia laknat!” kertak Jayengrono. Karena tak bisa berbuat lain akhirnya 

Kepala Balatentara Kerajaan ini melangkah cepat ke langkan rumah besar. Saat itu 

Raden Ajeng Siti Hinggil, Raden Ayu Puji Lestari dan Pangeran Sabrang masih 

berada di sana.

“Raden Ajeng,” tegur Jayengrono seraya membungkuk. “Izinkan saya bicara 

denganmu di dalam.” Lalu tanpa menunggu jawaban orang Jayengrono mendahului 

memasuki rumah besar, langsung menuju ke sebuah ruangan berpintu kayu berukir-

ukir di mana biasanya dipakai Sri Baginda beristirahat bilamana sedang mengunjungi 

istrinya yang ketiga ini.

Sewaktu Bajingan Dari Susukan melarikan diri dikejar oleh para perajurit dan 

perwira Kerajaan, di pinggir jalan, di seberang rumah kediaman Raden Ajeng Siti 

Hinggil, terlindung di balik kerapatan pohon-pohon bambu tampak dua orang pemuda 

secara diam-diam menyaksikan apa yang terjadi di depan mereka. Pemuda pertama 

berpakaian serba putih, berambut gondrong. Sesekali tampak dia menggaruk-garuk 

kepala, entah gemas melihat pertempuran yang tengah berlangsung entah memang 

kepalanya gatal. Kawan di sebelahnya seorang pemuda bertampan cakap, berbadan 

langsing berambut pendek dan mengenakan pakaian warna abu-abu.

“Bagaimana, kita tangkap pemuda bermuka bundar itu?” bertanya si abu-abu 

ketika melihat Bajingan Dari Susukan hendak melarikan diri.

“Enggg…..” si gondrong garuk-garuk kepalanya sesaat. “Aku punya rencana 

lain,” katanya kemudian. “Ingat, tadi kita sudah sama menduga, pemuda itu memiliki 

ilmu aneh. Keanehan itu dapat dihubungkan dengan ilmu kesaktian Pangeran 

Matahari. Setiap lawan yang mereka bunuh, menemui kematian dengan cara sama. 

Tubuh hangus hitam. Kalau kita tangkap dia sekarang, berarti kita tidak dapat 

mengetahui sumber semua keanehan ini. Jika benar dia ada sangkut paut dengan 

Pangeran sialan itu, berarti kita tidak dapat mencari jejaknya. Justru inilah 

kesempatan paling baik untuk mencari tahu di mana biang kerok itu berada lalu 

membekuknya!”

“Lalu, apa yang ada di benakmu?” tanya si abu-abu.

“Aku akan menguntit si hitam muka bundar itu…..”

“Kalau cuma itu serahkan saja padaku….”

“Tidak. Kau harus menolong Raden Ajeng Siti Hinggil dan bicara dengan 

Jayengrono….” Menyahuti pemuda gondrong.

“Aku kawatir kalau-kalau Jayengrono dapat menerka siapa aku sebenarnya. 

Maksud menolong bisa jadi berantakan. Lagi pula sejak aku memutuskan untuk tidak 

kembali mengabdi pada Sri Baginda aku akan merasa kikuk menghadapi orang-orang 

itu. Kau saja yang bicara dengan mereka. Aku biar menguntit si hitam bernama 

Bajingan Dari Susukan itu….. Lagi pula aku masih punya hutang piutang yang harus 

aku selesaikan dengan Pangeran Matahari. Kalau saja si hitam tadi memang 

benggolan cecunguknya!”

“Kalau itu sukamu baiklah. Tapi bagaimana aku nanti mencari dan 

menyusulmu….?” Tanya si gondrong sambil memegang bahu pemuda berpakaian 

abu-abu.

“Nah, tanganmu lagi-lagi menggerayang seenaknya. Ingat, aku bukan leleaki 

sepertimu…..!” Pemuda berpakaian abu-abu itu mengomel cemberut sambil 

menepiskan tangan yang memegang bahunya.

Si gondrong tertawa geli. “Aku lupa! Seharusnya kau tidak menyamar seperti 

ini sahabat! Bangsat itu sudah lari jauh, bagaimana aku menyusul dan mencarimu?”

“Gampang saja! Aku akan mematahkan ranting-ranting pepohonan yang 

kulalui….”“Kau cerdik! Pergilah. Tapi hati-hati…..!” Dan si gondrong ini kembali lupa. 

Sambil menyuruh pergi tangannya menepuk pantat pemuda bertubuh ramping itu.

“Brengsek!” teriak si abu-abu



TUJUH

Raden Mas Jayengrono menunggu sampai Raden Ajeng Siti Hinggil duduk di 

kursi besar lalu menutup pintu ruangan. Hanya mereka berdua saja ada di tempat itu. 

Di ruangan itu masih terdapat beberapa buah kursi namun Kepala Balatentara 

Kerajaan itu memilih berdiri. Sesaat dia tegak sambil menatap wajah Siti Hinggil 

hingga akhirnya perempuan ini menundukkan kepala dengan wajah bersemu merah.

“Ada apakah saya dibawa ke ruangan ini?” terdengar kemudian suara Siti 

Hinggil, perlahan tapi cukup jelas.

“Saya hanya ingin jawaban jujur,” berkata Jayengrono. “Apa hubungan Raden 

Ajeng dengan orang bernama Pangeran Matahari itu? Lalu mengapa sampai ada 

seorang pemuda yang muncul serta bertindak selaku pelindung Raden Ajeng dan 

anak-anak…..”

“Sebelum saya menjawab, saya ingin mengajukan satu pertanyaan lebih 

dahulu….” Kata Siti Hinggil pula yang membuat Raden Mas Jayengrono agak 

terkejut.

“Apa pertanyaan itu?”

“Betul Raden Mas yang telah mengambil langkah untuk mencurigai kami 

anak beranak serta melakukan pengusutan?”

“Saya hanya menjalankan tugas, Raden Ajeng. Demi keselamatan kita semua. 

Demi keselamatan Kerajaan…..”

Siti Hinggil tersenyum lalu menggelengkan kepala. “Saya tahu apa sebab 

sebenarnya…..”

“Hemmm….” Raden Mas Jayengrono mengusap dagunya.

“Raden Mas mendendam kepada saya…..”

“Apa yang perlu kudendamkan Raden Ajeng?”

“Karena sejak Pangeran Anom lahir saya tidak mau lagi mengikuti kinginan 

Raden Mas…..”

“Kau keliru Siti…..” Tiba-tiba saja Jayengrono menyebut nama istri Sri 

Baginda itu secara langsung.

Dan anehnya Siti Hinggilpun melakukan yang sama. “Tidak Jayeng. Saya 

tidak keliru. Saya tahu benar hatimu…..”

“Jika kau tahu mengapa kau bersikap lain…..?”

Air muka Siti Hinggil nampak redup menggelap. Kedua matanya berkaca-

kaca. “Apakah tidak cukup kita membuat kesalahan dengan melahirkan Puji Lestari 

dan Pangeran Anom…..? Apakah kita akan menambah dengan satu jiwa manusia lagi, 

lagi dan lagi….? Bukankah saya katakan saya sudah bertobat dan tak akan 

mengulanginya lagi yaitu setelah Anom lahir? Juga bukankah sebulan setelah Anom 

lahir kau mendapatkan keris sakti itu dan harus mematuhi larangan untuk tidak 

menggauli perempuan lain selain istrimu……”

Jayengrono diam sejenak. Kemudian jawabnya “Kau tahu istri tunggalku 

selain sakit-sakitan dan aku tidak punya selir atau istri peliharaan. Semua itu karena 

aku masih mengharapkan kau dan hubungan kita kembali seperti dulu…… Delapan 

belas tahun aku menunggu Siti. Delapan belas tahun aku tak pernah merasakan 

kehangatan kasih sayang dan tubuhmu seperti dulu….”

“Saya sudah bertobat Jayeng dan kau punya larangan. Cukup hubungan kita 

yang berlumuran dosa itu hanya menghasilkan Puji dan Anom. Jangan ditambah 

lagi…..”“Persetan dengan larangan itu Siti! Apakah kau menyuruh aku harus meracun 

Sri Baginda agar dapat menikah dan memilikimu secara syah……?’

“Kau akan terkutuk dunia akhirat jika kau melakukan itu Jayeng!”

“Kalau begitu…… berarti apa yang kuinginkan lebih baik dari pada 

membunuh Sri Baginda dan mengambilmu jadi istri…..”

“Keduanya sama-sama besar dosanya. Sekalipun kau membunuh Sri baginda, 

tidak akan aku mau diperistrikan olehmu! Pembunuh dari suami anak-anakku…..!”

“Puji dan Anom bukan anakmu dan anak Raja! Tapi anak kita!” ujar 

Jayengrono dengan mata membesar.

“Saya ingin keluar dari ruangan ini Jayeng. Bukakan pintu itu…..” kata Siti 

Hinggil sambil bergerak bangkit dari kursi.

Tapi Jayengrono memberi isyarat agar dia duduk kembali. “Kau belum 

menjawab pertanyaanku tadi!”

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Pangeran Matahari. Juga tidak tahu 

mengapa ada pemuda yang muncul mengaku hendak melindungi kami….”

“Siti, jangan dusta! Sangat jelas ceritanya bagiku! Cincin emas bergambar 

burung rajawali milik puterimu, milik anak kita pernah terlihat dipakai Pangeran 

Matahari waktu keparat itu menyerbu Istana! Setelah sekian lama lenyap tahu-tahu 

cincin itu dikabarkan berada di tangan Puji! Kalau tidak ada apa-apa mana mungkin 

hal itu bisa terjadi!”

Siti Hinggil duduk terpaku di kursinya. “Sebaiknya kukatakan saja bagaimana 

kejadiannya….?” Hati kecil perempuan ini bertanya-tanya. Namun sebelum dia 

sempat membuka mulut, di hadapannya Raden Mas Jayengrono melangkah 

mendekati dan berkata setengah berbisik seraya merunduk.

“Dengar Siti. Aku sudah mengatur satu rencana hingga kita bisa berhubungan 

seperti dulu tanpa satu orangpun tahu atau curiga, termasuk Sri baginda….”

Siti Hinggil tercengang mendengar kata-kata Jayengrono itu.

“Apa maksudmu Jayeng?”

“Kau akan kutangkap dan dimasukkan dalam kamar penyekapan di salah satu 

bagian istana. Di situ aku telah membuat sebuah pintu rahasia hingga bisa keluar 

masuk tanpa ada yang mengetahui. Kita bisa bertemu setiap saat. Kita bisa melakukan 

apa yang dulu pernah kita lakukan delapan bels tahun lalu. Bukankah ini yang sama-

sama kita tunggu Siti? Delapan belas tahun! Gila! Waktu yang sangat lama!”

“Tidak!” Siti Hinggil bangkit dari kursi besar. Wajahnya menyatakan perasaan 

hatinya yang sangat marah. “Aku sudah bertobat! Apapun yang terjadi aku tidak akan 

mengulang perbuatan terkutuk itu lagi! Yang sudah ya sudah! Cukup kita mempunyai 

dua orang anak haram. Puji dan Anom…..”

“Tapi sekali ini kita tak perlu menjalin hubungan yang menghasilkan 

keturunan!”

“Keluarlah dari ruangan ini!” ujar Siti Hinggil dengan suara mendesis.

“Kalau begitu aku betul-betul akan menyuruh tangkapmu! Dengan tuduhan 

mempunyai hubungan dengan perusuh dan pembunuh bernama Pangeran Matahari 

itu!”

“Kau boleh melakukan apa saja. Aku tidak takut!..... jawab Siti Hinggil. 

Ketika dia hendak melangkah ke pintu tiba-tiba dari luar terdengar pintu diketuk.

“Panglima Jayengrono harap segera keluar untuk memberikan pertolongan!”

“Keparat!” maki Jayengrono dalam hati. Seperti hendak ditendangnya pintu 

itu berikut orang yang ada di luar karena geramnya. Namun mau tak mau dia terpaksa 

membuka pintu seraya membentak “Ada apa berani mengganggu kami yang sedang 

melakukan pembicaraan penting?!”Perwira muda yang tegak di depan pintu dengan muka pucat ketakutan cepat 

membungkuk.

“Raden Kertopati gawat. Racun pukulan Bajingan Dari Susukan agaknya tak 

terbendung oleh totokan. Darah mulai keluar dari hidung, telinga dan mulutnya!”

“Lalu kalau sudah begitu apa kau kira aku bisa menoong?! Apa kau kira aku 

dukun patah ahli pengobatan?!” sentak Jayengrono.

Perwira muda itu semakin ketakutan. “Maafkan saya Panglima. Saya hanya 

melapor karena kawatir…..”

“Di mana dia sekarang?”

“Masih terbaring di tangga depan….”

“Pergilah! Aku akan menyusul ke sana!” kata Jayengrono. Setelah perwira 

muda itu berlalu Jayengrono berpaling ada Siti Hinggil. “Kau tak ingin merubah 

keputusanmu?”

“Tidak.” Jawab Siti Hinggil. “Sekalipun kepalau kau pancung!”

“Hatimu terlalu keras. Mana cinta kasih yang dulu selalu kau berikan untuk 

kehangatan kita berdua…..?”

“Masa lalu tak perlu diungkit dan tak akan terulang lagi. Apa masih belum 

jelas bagimu Jaeng?”

“Kau akan menyesal Siti…..”

“Mudah-mudahan tidak!” habis berkata begitu Siti Hinggil melangkah keluar 

pintu.

Marah dan jengkel Raden mas Jayengrono meninggalkan ruangan itu menuju 

serambi rumah. Dalam hati dia merutuk. “Mengapa si Kertopati itu tidak mampus

saja! Kalau tidak oleh keadaannya mungkin aku masih bisa membujuk perempuan itu. 

Ah Siti….. Delapan belas tahun memang cukup lama. Tapi tidak terlalu cepat untuk 

mengikis cinta gelap kita…..”

Sewaktu Jayengrono sampai di tangga depan rumah besar itu dia terkejut 

mendapatkan seorang pemuda berpakaian putih berambut gondrong tengah duduk 

bersimpuh di samping tubuh Kertopati yang tergeletak di lantai serambi, dekat tangga. 

Di tangan pemuda itu tergenggam sebilah kapak bermata dua yang memancarkan 

sinar berkilauan tertimpa cahaya sang surya yang hendak tenggelam. Salah satu mata 

kapak ditempelkannya di betis Kertopati yang berwarna hitam seperti hangus yakni 

akibat tendangan Bajingan Dari Susukan tadi. Kertopati sendiri berada dalam keadaan 

pingsan.

“Hai! Siapa kau! Apa yang kau lakukan?!” hardik Jayengrono. Dalam 

kemarahan dia tidak sempat mengingat atau mengenali pemuda gondrong itu.

Yang ditanya karena sedang berusaha mengobati Kertopati dengan 

menghimpun kekuatan tenaga dalam dan mengosongkan pikiran dari segala cipta dan 

rasa tentu saja tidak menjawab. Hal ini membuat Jayengrono menjadi tambah marah. 

Sambil menggereng dia ulurkan tangan untuk menjambak rambut pemuda itu. 

Rambut itu berhasil disentuhnya. Namun jari-jari tangannya terasa panas dan dia tak 

mampu menggerakkan apalagi menyentak menjambak. Perlahan-lahan Jayengrono 

lepaskan jambakannya.


DELAPAN

Pemuda gondrong berpakaian dan berikat kepala putih yang duduk bersila dengan 

menempelkan kapak berkilat ke betis Raden Kertopati nampak menggigil sekujur 

tubuhnya ketika dia mengerahkan tenaga dalam untuk mulai menyedot racun jahat 

mematikan yang telah menjalari sebagian tubuh Kepala Pasukan Kotaraja itu. Butir-

butir keringat memercik ke keningnya sebesar-besar jagung.

Perlahan-lahan, mata kapak yang tadi berkilat tampak meredup oleh cairan 

darah kehitaman yang tersedot keluar dari betis Kertopati. Si gondrong terengah-

engah napasnya namun dia terus kerahkan kekuatan tenaga dalam untuk menyedot 

hingga semakin banyak darah hitam yang keluar. Ketika darah hitam berangsur-

angsur berubah menjadi merah, pertanda racun maut yang mendekam di tubuh 

Kertopati telah tersedot keluar semuanya maka si pemuda memperkendur sedotan 

tenaga dalamnya.

Sepasang kaki Kertopati tampak bergerak. Sedotan yag dilakukan si pemuda 

sekaligus telah memusnahkan dua totokan yang dibuat sendiri oleh Kertopati. Kepala 

Pasukan Kerajaan ini terdengar mulai mengerang pertanda telah sadarkan diri meski 

kedua matanya masih tertutup. Ketika si gondrong mengangkat kapaknya dan 

meniupnya, secata aneh noda darah hitam pada mata kapak itu sirna sementara 

Kertopati telah pula membuka sepasang matanya. Sesaat dia menatap wajah si 

gondrong, lalu memandang berkeliling. Mula-mula dia tidak apa yang terjadi, 

mengapa dia berada dalam keadaan terbujur di serambi rumah besar itu. Setelah 

memejamkan mata beberapa ketika dan memusatkan jalan pikiran, Kertopati mulai 

dapat menduga apa yang dialaminya.

“Kau……” desisnya ketika kembali matanya memandang wajah pemuda 

berambut gondrong. Yang ditegur menyeringai dan menyisipkan senjatanya ke 

pinggang.

Saat itu Raden mas Jayengrono melangkah berputar hingga dia dapat melihat 

wajah si pemuda dengan jelas.

“Bukankah kau yang beberapa hari lalu bersama kawanmu membantu kami 

orang-orang Kerajaan menghadapi Pangeran Matahari…..?” Jayengrono menegur.

“Ah, kau masih ingat pada kami Raden Mas…..” menyahuti si pemuda.

Raden Kertopati dengan bantuan dua orang perwira bangkit dan bersila di 

lantai serambi. “Pendekar 212…….. Kau muncul lagi menyelamatkan diriku. 

Bagaimana aku harus mengucapkan terima kasih…..”

Si gondrong yang memang adalah Pendekar 212 Wiro Sableng kembali 

menyeringai. “Jangan berterima kasih pada saya, semua adalah atas keredohan Yang 

Maha Kuasa….”

Kertopati hanya bisa geleng-gelengkan kepala.

“Kau dulu pergi secara diam-diam dalam kabut asap sewaktu istana terbakar. 

Kini kau muncul secara aneh. Jangan-jangan kaupun sebenarnya ada sangkut pautnya 

dengan Pangeran Matahari…..”

Yang bicara adalah Raden Mas Jayengrono. Entah dari mana Kepala 

Balatentara Kerajaan ini mempunyai jalan pikiran seperti itu hingga mengeluarkan 

ucapan yang mengejutkan semua orang yang ada di situ. Sebaliknya murid Eyang 

Sinto Gendeng dari Gunung Gede sendiri dicurigai seperti itu tetap duduk bersila dan 

tenang, malah masih sunggingkan senyum.“Raden Mas, orang telah menolong kita, mengapa menuduh yang tidak pada 

tempatnya?” menegur Raden Kertopati

“Pertolongan bisa saja menyembunyikan sesuatu!” jawab Jayengrono. 

“Banyak masalah yang harus kuusut. Soal hubungan Raden Ajeng Siti Hinggil masih 

belum tuntas. Kini muncul pemuda ini dengan masalah baru. Sebaiknya kita berjaga-

jaga dimas Kertopati!” lalu tiba-tiba sekali Kepala Balatentara Kerajaan itu 

menusukkan dua jari tangannya ke arah dada kiri Pendekar 212.

Wiro Sableng cepat menangkis.

Tapi totokan Jayengrono mendarat di dadanya lebih dulu hingga tak ampun 

lagi tubuhnya menjadi kaku kejang. Seharusnya jalan suaranyapun ikut tertutup. 

Namun karena gerakan menangkisnya tadi, totokan Jayengrono hanya sempat 

membuat auratnya saja yang kaku sedang jalan suara masih membuka.

“Jadi begini balasan kalian orang-orang Kerajaan…..?!” Wiro Sableng 

keluarkan ucapan. “Sungguh kalian manusia-manusia tidak berbudi!”

“Raden Mas, saya minta pemuda itu dibebaskan…..” Yang bicara adalah 

Raden Kertopati sementara semua orang yang ada di tempat itu sama tidak mengerti 

mengapa Jayengrono menotok pemuda gondrong yang telah menyelamatkan jiwa 

Raden Kertopati.

“Serahkan saja urusan ini padaku dimas. Kau harus istirahat agar kesehatanmu 

pulih kembali. Jika dia ternyata memang tidak menyembunyikan niat jahat terhadap 

kita, pasti akan kubebaskan. Aku ada satu pertanyaan untukmu gondrong! Dulu kau 

muncul bersama kawanmu pemuda langsing berpakaian abu-abu itu. Di mana dia 

sekarang?”

“Dia justru menguntit pemuda kulit hitam yang kabur itu!” jawab Wiro polos.

“Nah, apa kataku. Temanmu itu bukan menguntit mungkin sakali tengah 

menolongnya dari luka akibat goresan Kiyai Gajah Putih!”

“Heran, bagaimana orang sepertimu punya pikiran buruk dan picik seperi itu!” 

tukas Wiro Sableng yang membuat wajah Jayengrono bersemu merah. Dia lalu cepat-

cepat memberi perintah pada orang-orangnya untuk menaikkan pendekar itu ke atas 

punggung seekor kuda. Dia juga memerintahkan para bawahannya untuk menangkap 

Raden Ajeng Siti Hinggil dan Raden Ayu Puji Lestari Ambarwati.

Di atas punggung kuda, dalam keadaan tertotok Pendekar 212 Wiro Sableng 

terdengar keluarkan ucapan.

“Bawa pemuda itu!” teriak Jayengrono pada bawahannya.

Sesaat setelah kuda yang membawa Pendekar 212 berlalu, Kepala Balatentara 

Kerajaan ini masih tegak termangu. “Apa maksud keparat itu dengan tembok ruangan 

punya seribu telinga…..?” dia membatin dalam hati, namun tak bisa menjawab 

ataupun menduga.

Di dalam ruangan batu yang terletak di bawah tanah pada ujung timur 

kawansan istana, Pendekar 212 Wiro Sableng tergeletak di atas lantai dingin berlumut. 

Dia merasa bersyukur karena Jayengrono tidak merampas Kapak Maut Naga Geni 

212 yang ada di pinggangnya. Berkali-kali dia mencoba mengerahkan tenaga dalam 

untuk memusnahkan totokan yang menguasai tubuhnya, tapi sia-sia saja. Dalam 

merutuk habis-habisan perbuatan panglima Balatentara Kerajaan itu, Wiro tenggelam 

dalam satu kekawatiran yang amat sangat.

Seperti dituturkan di muka, antara dia dan pemuda berpakaian kelabu 

sahabatnya itu telah diatur rencana. Wiro akan menolong Raden Ajeng Siti hinggil 

dan Raden Ayu Puji Lestari dari tuduhan Jayengrono sedang si kelabu akan menguntit

pemuda berkulit hitam (Bajingan Dari Susukan) untuk menyelidik siapa pemuda itu 

sebenarnya dan kemana dia melarikan diri.

Dalam serial Wiro Sableng sebelumnya yang berjudul “Pangeran Matahari 

Dari Puncak Merapi” telah dijelaskan bahwa pemuda berbaju kelabu itu bukan lain 

adalah seorang gadis jelita berkepandaian tinggi bernama Ni Luh Tua Klungkung. 

Selama beberapa tahun dia menyamar sebagai seorang nenek yang selalu mengenakan 

pakaian biru dan mengabdi pada Kerajaan. Sampai pada suatu hari dia menjadi putus 

asa ketika dirinya dikalahkan oleh Pangeran Matahari. Tak kuat menanggung rasa 

malu dan merasa tak layak kembali mengabdikan diri pada Kerajaan maka Ni Luh 

Tua Klungkung terbujuk oleh hasutan setan, menjadi mata gelap dan hampir bunuh 

diri jika tidak tertolong oleh Pendekar 212 Wiro Sableng. Keduanya kemudian jadi 

bersahabat.

Keadaan sahabatnya inilah yang sangat dikawatirkan Wiro. Saat itu Ni Luh 

Tua Klungkung menguntit dan mengejar Bajingan Dari Susukan. Kalau benar dugaan 

bahwa pemuda berkulit hitam itu ada sangkut pautnya dengan Pangeran Matahari dan 

kalau sampai sahabatnya itu berhadapan degan Pangeran keparat itu, berarti Ni Luh 

Tua Klungkung akan menemui bahaya besar tanpa dia sendiri dapat menolong.

“Jayengrono keparat! Kau akan menerima pembalasanku!” begitu Wiro 

memaki tiada henti. Lalu pendekar ini menyesali diri sendiri. Mangapa dia menyetujui 

usul gadis itu untuk menguntit Bajingan Dari Susukan, bukan dia sendiri yang 

melakukannya? Wiro menarik nafas dalam. “Kalau sampai terjadi apa-apa dengan 

sahabatku itu, sampai ke nerakapun aku akan mencari Pangeran keparat itu….” Wiro 

berjanji pada diri sendiri. “Apa yang bisa kulakukan saat ini? Sialan betul! Apakah 

aku harus berteriak seperti orang gila?! Sialan! Benar-benar sialan!”



SEMBILAN

Matahari yang mulai tenggelam, malam yang mulai turun membuat udara mulai 

gelap. Meskipun pemandangan dalam jarak jauh agak tertutup kini namun 

pendengaran yang tajam membuat Ni Luh Tua Klungkung tetap dapat mengetahui ke 

mana arah lari orang yang dikuntitnya. Sambil berlari dia tidak lupa untuk 

mematahkan setiap ujung ranting dri pepohonan yang dilaluinya. Ini adalah sesuai 

janjinya pada Pendekar 212 Wiro Sableng, Sebagai petunjuk jika pendekar itu 

menyusul dan mencarinya. Dia sama sekali tidak tahu kalau kini Wiro tengah 

mendapatkan kesulitan, ditotok dan disekap di sebuah ruangan bawah tanah.

Gajah Rimbun alias Bajingan Dari Susukan berusaha mempercepat larinya. 

Goresan luka keris sakti Kiyai Gajah Putih terasa sangat perih dan sekujur tubuhnya 

saat demi saat semakin dingin. Demikian dinginnya hingga walaupun dia berlari 

sejauh itu namun tak setetes keringatpun keluar dari pori-pori tubuhnya. Nafasnya 

mulai menyesak. Lidahnya terjulur dan kepalanya terasa pening. Namun semangatnya 

menjadi besar ketika di kajauhan dia mulai melihat jalan lurus mendaki. Di antara 

kegelapan turunnya malam, dia bahkan dapat melihat pondok kayu di ujung jalan 

yang mendaki itu.

Begitu dia sampai di depan bangunan langsung Gajah Rimbun jatuhkan diri ke 

tanah, mengengah-engah dan keluarkan seruan tercekik “Pangeran, saya Gajah 

Rimbun telah kembali!”

Tak ada jawaban.

“Agaknya Pangeran tak ada di rumah….” Membatin Gajah Rimbun.

Kreekek….. Terdengar suara berkereketan. Pintu pondok terbuka. Sesosok 

tubuh berpakaian serba hitam muncul. Ada gambar gunung dan matahari di dada 

pakaian hitam itu.

“Pangeran!” seru Gajah Rimbun.

“Bajingan Dari Susukan! Kau kembali lebih cepat dari perkiraan! Apakah kau 

berhasil menjalankan tugas sesuai perintah?!”

“Saya berusaha melakukan sesuai dengan petunjuk dan perintah! Namun 

mohon maafmu Pangeran. Saya menemui kesulitan…..” jawab Gajah Rimbun. Ada 

bayangan rasa takut tersembunyi di antara kata-katanya.

Paras Pangeran Matahari tampak berubah.

“Katakan apa yang terjadi…..” katanya perlahan tapi uaranya bernada angker.

Gajah Rimbun lalu menerangkan pengalamannya di Kotaraja. Dia juga 

memperliatkan goresan luka yang kini tampak seperti membusuk di pahanya. 

Pangeran Matahari sama sekali tidak perduli dengan luka itu. Menolehpun dia tidak. 

Sementara itu karena rasa dingin yang semakin menggila, Gajah Rimbun kini tak

sanggup lagi berdiri. Kedua kakinya seperti beku. Tubuhnya terduduk ke tanah.

“Sayang…..sayang sekali…..” kata Pangeran Matahari sambil melangkah 

mundar-mandir di depan pondok. “Kehebatan yang telah kau perlihatkan sehari 

sebelumnya menjadi pupus dengan kegagalan hari ini…..!”

“Saya telah melakukan apa yang saya bisa, Pangeran…..”

“Diam!” hardik Pangerarn Matahari. “Kau bukan melakukan apa yang kau 

bisa. Tapi harus melakukan apa yang ditugaskan! Kau tahu artinya kegagalan ini?!”

Gajah Rimbun terdiam. Wajahnya yang pucat semakin pucat.

“Saya mohon pertimbanganmu Pangeran. Beri kesempatan sekali lagi….” 

Meminta Gajah Rimbun.Pangeran Matahari mendengus lalu tertawa hambar.

“Bagiku kesalahan dan kegagalan bukanlah satu hal yang bisa diperbaiki. 

Karena itu sudah terjadi! Penyesalanpun tiada arti! Namun aku masih bermurah hati 

memberikan satu kesempaan padamu…..”

“Terima kasih Pangeran! Terima kasih! Apa yang harus saya lakukan 

Pangeran tinggal mengatakan. Saya akan mengerjakannya!”

“Begitu…..?” ujar Pangeran Matahari tak acuh. “Apakah kau sadar waktu kau 

melarikan diri kembali ke mari ada orang yang menguntitmu…..?!”

Terkejutlah Gajah Rimbun mendengar pertanyaan itu. Dia memandang 

berkeliling dengan mata dibesarkan tapi tak melihat orang lain berada di tempat itu.

“Manusia tolol! Percuma kau menyandang nama Bajingan Dari Susukan!” 

memaki Pangeran Matahari. Dia berpaling ke arah semak belukar lebat di sebelah kiri 

jalan yang menurun lalu berseru.

“Penguntit! Keluarlah dari tempat persembunyianmu!”

Ni Luh Tua Klungkung yang berada di balik rerumpunan semak belukar itu, 

menyadari kehadirannya di situ sudah diketahui orang tak bisa berbuat lain kecuali 

keluar perlihatkan diri.

Ketika melihat siapa yang muncul itu, Pangeran Matahari kaget sesaat 

kemudian langsung saja dia mengumbar tawa panjang.

“Ha….ha…..ha….! Cicak kurus berpakain kelabu ini rupanya! Mana 

kawanmu satu lagi! Pemuda gendeng itu……!”

Ni Luh Tua Klungkung tak mau kalah. Dia ikut mengumbar tawa melengking. 

“Aku memang sudah menduga! Manusia bernama bajingan Dari Susukan itu pasti 

cecunguk kaki tanganmu! Dan terbukti memang benar! Meminjam tangan orang lain 

untuk berbuat kejahatan! Rupanya sejak kabur dari Kotaraja tempo hari kau tak punya 

nyali lagi untuk turun tangan sendiri!”

“Keparat sombong! Mendekatlah biar aku dapat melihat tampangmu lebih 

jelas! Jangan sembunyi di balik bayangan pohon dan kegelapan!”

“Jika kau ingin melihat lebih jelas silahkan datang mendekat ke hadapanku!” 

sahut Ni Luh Tua Klungkung.

Rahang Pangeran Matahari yang memang berbentuk menonjol jadi tambah 

menggembung. Dia berpaling pada Gajah Rimbun.

“Tugasmu Bajingan Dari Susukan! Bunuh pemuda itu!”

Mendengar perintah Pangeran Matahari, meskipun berdiri saja sudah sangat 

susah bagi Gajah Rimbun, namun demi harapan pengampunan maka dia kerahkan 

seluruh sisa tenaga dan melompat ke hadapan Ni Luh Tua Klungkung,langsung 

menghantamkan jotosan ke muka pemuda berpakian kelabu itu.

Ni Luh Tua Klungkung tak berani menangkis. Dia berkelit ke samping lalu 

angkat kaki kanannya mengirimkan tendangan ke arah tulang rusuk lawan. Gajah 

Rimbun yang saat itu memang tak berdaya lagi karena racun keris Kiyai Gajah Putih 

tak sanggup mengelak.

“Kraak…..!”

Tiga baris tulang-ulang iganya patah. Tubuhnya terpental menghantam 

dinding pondok. Matanya mendelik dan nafasnya minggat. Orang ini sebenarnya 

bukan mati karena tendangan Ni Luh Tua Klungkung, tapi lebih banyak diakibatkan 

oleh racun keris sakti yang telah mempengaruhi sekujur tubuhnya. Pada titik puncak 

rasa dingin yang tak tertahankan nyawanya pun lepas, berbarengan dengan datangnya 

tendangan lawan tadi! Hal inipun diketahui oleh Pangeran Matahari.

Selain memang tak ada rasa takut terhadap pemuda berpakaian kelabu ini, 

sejak peristiwa kekalahannya dalam pertempuran di Kotaraja beberapa waktu lalu(baca serial Wiro Sableng : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi) maka sang 

pangeran telah menanam dendam kesumat terhadap pemuda satu ini dan juga 

terhadap Wiro Sableng. Itulah sebabnya Pangeran Matahari menyuruh Bajingan Dari 

Susukan untuk menyelidik. Meskipun Bajingan Dari Susukan gagal menyelamatkan 

Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya namun sebenarnya untuk tugas menyelidik 

dua musuh besar itu sebagian sudah dijalankan oleh Bajingan Dari Susukan tanpa 

sadarnya. Yaitu membawa Ni Luh Tua Klungnkung ke tempat Pangeran Matahari.

Sampai saat itu Ni Luh Tua Klungkung tetap tegak di bagian gelap bayangan 

pohon. Dia sengaja mendekam di situ karena kawatir di tempat terang lawan dapat 

mengetahui siapa dia adanya.

“Hem…. Kau membunuh orangku! Berarti bertambah lagi hutangmu padaku! 

Berarti tak bakal ada pengampunan untukmu pemuda kerempeng!”

Ni Luh Tua Klungkung mendengus. “Aku datang ke mari bukan untuk minta 

pengampunan! Justru untuk menyingkirkan kejahatan yang disebabkan oleh manusia 

sesat macammu!”

“Bagus sekali kalau begitu! Rupanya kau masih belum tahu dalamnya lautan, 

tingginya Merapi! Umurmu hanya tinggal tujuh hitungan!” Habis berkata begitu 

Pangeran Matahari gerakkan tangan kanannya. Perlahan saja.

Ni Luh Tua Klungkung yang sudah mengetahui benar kehebatan lawan, cepat 

berkelebat lenyap sebelum sang pangeran lepaskan pukulan tangan kosong. Lompatan 

yang dilakukan mendahului serangan lawan memang menyelamatkannya dari 

serangan. Di bawah kakinya sesiur angin panas menyambar ganas. Gadis yang 

menyamar seperti seorang pemuda itu merasakan kedua kakinya seperti disambar api. 

Secepat kilat jungkir balik di udara. Ketika tubuhnya membentuk garis sama datar 

dengan tanah maka dia segera lepaskan pukulan saktinya. Tangan kiri memegang 

perut. Tangan kanan diluruskan ke arah lawan. Mulut ditiupkan keras-keras. 

Serangkum angin berwarna kekuningan yang menebar bau harum kayu cendana 

mambuntal menerpa Pangeran Matahari!

Sebelumnya sang pangeran telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan 

kesaktian pemuda berpakaian kelabu itu ketika terjadi pertempuran hebat disaat itu 

dia berdampingan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Walau lawan ternyata 

memiliki kesaktian yang tidak bisa dianggap enteng, namun tentu saja Pangeran 

Matahari yang congkak itu tidak merasa kecut sama sekali. Apalagi si pemuda hanya 

sendirian. Sebelum buntalan sinar kuning menyentuh dan mencelakinya, Pangeran 

Matahari langsung menghantam dengan pukulan sakti bernama Merapi Meletus. 

Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas. Lima jari tangan membentuk tinju. 

Tiba-tiba tangan itu disentakkan ke bawah lalu dihantamkan ke atas. Bersamaan 

dengan itu lima jari yang tadi mengepal dibuka serentak.

Terdengar suara berdentum laksana gunung meletus. Hawa panas menyambar. 

Ranting-ranting dan daun-daun pepohonan meranggas hangus. Buntalan sinar kuning 

yang jadi andalan pemuda baju kelabu buyar sirna.

Ni Luh Tua Klungkung merasakan tubuhnya bergoncang keras. Dia kerahkan 

tenaga dalam sambil dorongkan kedua telapak tangan ke depan, bertahan agar tidak 

jatuh. Namun sewaktu Pangeran Matahari balas mendorong, tak ampun gadis ini 

terpental jungkir balik. Kain pembungkus kepalanya tanggal. Rambut samaran pendek 

terlepas dan kini tambut aslinya yang panjang hitam tergerai sampai ke punggung.

“Hai!” seru Pangeran Matahari kaget. “Kau ini pemuda banci atau perempuan 

sungguhan! Pasti wajah aslimu kau sembunyikan di balik sehelai topeng! 

Ha….ha….ha…! Jika wajahmu nanti kulihat cukup cantik, malam ini berarti aku akan 

mendapat kawan tidur dalam pondok!”“Manusia dajal! Maut sudah di depan mata masih saja bicara ngacok!” hardik 

Ni Luh Tua Klungkung.

Pangeran Matahari kembali tertawa bergelak. Tubuhnya berkelebat lenyap. Di 

lain kejap si gadis sudah terkurung dalam serangan dahsyat yang membuatnya 

bertahan mati-matian. Beberapa kali dia terpental ketika berusaha menangkis 

hantaman lawan. Biasanya siapa saja yang berani bentrokan lengan dengan Pangeran 

Matahari akan menemui celaka bahkan maut. Tangan akan hitam hangus oleh racun 

jahat yang dimiliki sang pangeran. Tapi anehnya Ni Luh Tua Klungkung tidak 

mengalami cidera apa-apa kecuali sakit di bagian luar saja. Diam-diam gadis ini jadi 

merinding. Tak bisa tidak musuh memang sengaja tidak ingin mencelakainya karena 

punya maksud tertentu yaitu menangkapnya hidup-hidup agar dapat melakukan niat 

kejinya!

Breet…..!

Ni Luh Tua Klungkung terpekik. Topeng tipis yang menutupi wajahnya kena 

disambar hingga wajah aslinya kini tersingkap jelas!

“Nah….nah! ternyata kau memang cantik jelita! Kau pantas jadi teman tidurku. 

Besar nian rezekiku malam ini!”

“Keparat! Mampuslah!” teriak Ni Luh Tua Klungkung. Tiga jari tangannya 

menusuk ke tenggorokan lawan. Pangeran Matahari berkelebat lenyap. Sebelum gadis 

itu sempat mengetahui di mana lawannya berada tiba-tiba pakaiannya terasa ditarik.

Breett…..breet…..breett……

Ni Luh Tua Klungkung kembali terpekik. Pakaiannya robek besar di beberapa 

bagian hingga auratnya tersingkap. Selagi dia sibuk berusaha menutupi tubuhnya 

yang hampir telanjang itu, satu remasan keras mencengkam payudaranya sebelah kiri. 

Gadis itu menjerit. Setelah itu tubuhnya kaku. Suaranya pun lenyap! Dia tak kuasa 

menyelamatkan diri. Tak dapat berteriak minta tolong. Dengan nafas menyeringai dan 

nafsu berkobar Pangeran Matahari memeluk tubuh gadis itu lalu menggendongnya ke arah pondok kayu


SEPULUH

Orang itu melangkah sepanjang lorong batu yang hanya diterangi sebuah pelita 

yang hampir padam karena kehabisan minyak. Langkahnya terhuyung-huyung. Kalau 

tidak ditolong oleh sebatang tongkat yang digenggamnya di tangan kanan, mungkin 

dia tak sanggup berjalan. Sesekali dia berhenti melangkah, bersandar ke dinding batu 

sambil mengurut dada, mengaur jalan nafas, mengumpulkan tenaga, baru melangkah 

lagi.

Di depan sana lorong yang dilaluinya membelok ke kiri. Lalu tampaklah 

sebuah pintu besar dijaga oleh dua orang perajurit bertubuh kekar bertampang galak. 

Masing-masing membekal sebilah golok dan sebatang tombak.

“Siapa di sana!” Salah seorang pengawal pintu membentak begitu melihat ada 

orang bertongkat mendatangi.

Yang ditegur tidak menjawab.

“Hai! Mengapa tidak menjawab! Lekas bicara atau akan kutembus dengan 

tombak ini!” Pengawal tadi mengangkat tombak di tangan kanannya tinggi-tinggi. 

Kawan di sebelahnya melakukan hal yang sama.

“Aku Raden Kertopati, Kepala Pasukan Kotaraja!”

Kedua perajurit pengawal cepat turunkan tombak, membungkuk memberi 

hormat dan salah seorang dari mereka buru-buru meminta maaf.

“Kami tidak tahu kalau Raden ang datang…..”

“Pemuda tawanan itu masih ada di dalam….?”

“Masih ada di dalam Raden….”

“Buka pintu! Aku ingin bicara dengannya!” memerintah Kertopati.

“Maaf Raden! Kami menerima perintah agar tidak memperkenankan siapapun 

masuk ke dalam menemui tawanan…..!”

“Siapa yang membei perintah?” tanya Raden Kertopati.

“Raden Mas Jayengrono. Panglima Balatentara Kerajaan…..”

Raden Kertopati menggeram “Di Kotaraja ini aku adalah atasan kalian. Berarti 

kalian ikut perintahku! Buka pintu besi itu!”

“Kami tak berani melakukannya Raden….”

“Kalian tidak mentaati perintahku?!” hardik Raden Kertopati marah.

“Kami hanya taat pada perintah Panglima Raden Mas Jayengrono!”

Raden Kertopati diam sejenak. “Baiklah…..” katanya kemudian. Dia memutar 

tubuh seperti hendak berlalu. Namun tiba-tiba tongkat kayu di tangan kanannya 

berdesing ke udara. Praak…..praaak!

Kepala dua perajurit pengawal yang tegak di kiri kanan pintu rengkah! 

Keduanya tersungkur ke lantai batu. Raden Kertopati cepat mengambil kunci dari 

pinggang salah seorang pengawal itu lalu membuka gembok besi yang membuhul 

rantai besar pengunci pintu. Dengan cepat dia menyelinap masuk ke dalam. Di dalam 

ternyata gelap sekali. Tak ada lampu, tak ada cahaya. Kertopati terpaksa mengambil 

pelita yang ada di lorong.

“Pendekar 212 kau berada di sebelah mana…..?” Kertopati berseru seraya 

mengangkat lampu minyak tinggi-tinggi.

Wiro Sableng yang terbujur di salah satu sudut rruangan tak segera menjawab. 

Dia tak dapat mengenali suara itu karena gaungan yang memantul pada empat dinding 

batu. Kertopati memanggil sekali lagi. Baru kali ini Wiro mengenali suara Kepala 

Pasukan Kotaraja itu.“Raden, aku di sudut kiri di belakangmu!”

Kertopati membalik lalu melangkah cepat ketika dilihatnya pemuda itu di 

sudut ruangan dalam keadaan tak berdaya. Lampu minyak diletakkannya di lantai. 

Dia sendiri kemudian berlutut di samping Pendekar 212.

“Aku datang untuk menolongmu. Membayar budi dengan budi…..”

“Terima kasih Raden. Aku sebenarnya tidak mengawatirkan keselamatan 

diriku. Yang kucemaskan adalah sahabatku pemuda berbaju kelabu itu. Kalau dia 

sampai tertangkap Pangeran Matahari…… Tolong lepaskan totokan di dadaku…..”

“Jangan kawatir. Jayengrono memang ahli ilmu totokan. Sulit dilepas. Tapi 

aku tahu cara membebaskanmu!” kata Kertopati. Pakaian Wiro di bagian dada 

disingkapkannya lalu dia mendekatkan mulut dan meniup dada itu. Dengan ujung 

tongkat dia membuat tusukan cukup keras pada dada yang ditotok hingga Pendekar 

dari Gunung Gede itu merintih kesakitan. Sekali lagi Kertopati meniup dada si 

pemuda. Setelah itu dia membuat tiga kali usapan, barulah totokan di tubuh Pendekar 

212 Wiro Sableng terlepas musnah. Wiro cepat duduk bersila mengatur jalan nafas 

dan aliran darah.

“Terima kasih Raden. Aku harus meninggalkan tempat ini sekarang juga. Tapi 

sebelum pergi ada satu permintaanku. Maukah kau menolong Raden Ajeng Siti 

Hinggil dan puterinya……?”

“Kalau bisa mengapa tidak?”

“Dua perempuan itu hanya korban hati busuk Jayengrono. Kebetulan saja sang 

puteri pernah memberikan cincin emas burung rajawali itu pada Pangeran 

Matahari……” Lalu Wiro menceritakan apa yang diketahuinya tentang riwayat cincin 

itu. “Nah jelas bagi Raden kalau mereka tidak ada sangkut paut apa-apa dengan 

Pangeran Matahari…..”

“Saya akan menghadap raja dan meminta agar ibu dan anak itu dibebaskan. 

Tap saya tetap merasa aneh mengapa Jayengrono bertindak terlalu jauh seperti 

itu……”

“Karena ada satu rahasia Raden…..”

“Rahasia?? “ Kertopati kerenyitkan kening.

“Saya akan ceritakan rahasia itu padamu. Saya mendengar secara kebetulan 

ketika datang ke rumah Raden Ajeng Siti Hinggil sore tadi…..”

Lalu Wiro Sableng menuturkan percakapan antara Jayengrono dan Siti 

Hinggil yang sempat didengarnya meskipun dia berada di luar ruangan.

Tentu saja Raden Kertopati terbelalak hampir tak percaya mendengar 

penuturan Wiro Sableng itu.

“Nah kau sudah tahu Raden. Saya pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih atas 

pertolonganmu…..”

Selagi Raden Kertopati masih terkesiap oleh cerita yang disampaikan Wiro, 

Pendekar 212 sudah melompat ke pintu dan mencari jalan sendiri menuju tembok 

timur istana.

Dalam kegelapan malam ternyata tidak mudah bagi Wiro untuk mencari jejak 

sahabatnya Ni Luh Tua Klungkung. Meskipun tanda-tanda patahan ranting 

pepohonan yang dibuat gadis itu dapat ditemuinya namun gerakannya menjadi lambat 

karena terhalang oleh kepekatan malam.

Di dalam kamar yang luas Raden Mas Jayengrono merasa sangat gelisah. 

Sebentar dia berbaring di atas tempat tidur empuk, lalu berdiri, melangkah mundar 

mandir atau duduk di kursi, melangkah lagi, mundar mandir dan sesekali memandangke dalam taman lewat jendela kamar. Demikian terus menerus keadaannya. Hatinya 

risau karena tidak dapat menerka apa sebenarnya yang dimaksud oleh Pendekar 212 

Wiro Sableng dengan ucapannya “…….tembok ruangan punya seribu telinga……”

“Teka-teki apa yang dilontarkan pemuda keparat itu padaku sebenarnya……” 

merutuk Kepala Balatentara Kerajaan itu. Dia kembali melangkah mudar mandie lalu 

membantingkan diri di atas tempat tidur. Memandang ke langit-langit kemar yang 

penuh ruangan. Memejamkan mata. Tiba-tiba lelaki tinggi besar ini membuka kedua 

matanya besar-besar.

“Jangan-jangan……”desisnya. Tubuhnya melompat dari atas tempat tidur. Dia 

menyambar keris Kyai Gajah Putih dari atas meja batu mar-mar. Tanpa pengiring dia 

menuju ke istana lewat pintu sebelah timur. Setengah berlari dia memasuki lorong 

menuju pintu ruangan di mana Pendekar 212 Wiro Sableng disekap. Tidak dapat tidak, 

dengan ilmu kesaktiannya yang tinggi, pemuda itu telah sempat mencuri dengar 

pembicaraannya dengan Siti Hinggil di rumah perempuan itu.

“Kalau tidak kubunuh, ulahnya nanti bisa berekor panjang!” kertak 

Jayengrono.

Dia sampai di depan pintu besi itu. Dan terperangah!

Pintu terbuka lebar. Dua orang perajurit pengawal telah jadi mayat dengan 

kepala pecah. Ketika dia memeriksa ke dalam, ruangan penyekapan itu ternyata 

kosong melompong. Pemuda yang dijebloskan di tempat itu ternyata telah lenyap!

“Celaka aku!” keluh Jayengrono. “Siapa yang punya pekerjaan ini! Siapa yang 

menolong membebaskan pemuda keparat itu! Pasti hanya satu orang! Si keparat 

Kertopati! Ya, siapa lagi!”

Raden Mas Jayengrono segera mendatangi rumah kediaman Raden Kertopati. 

Di sana didapatinya Kepala Pasukan Kotaraja itu tengah tidur nyenyak mendengkur. 

Dari seorang pengawal dia mendapat keterangan kalau sejak sore tadi Raden 

Kertopati tak pernah meninggalkan kamar tidurnya.

“Aku yakin hanya manusia satu ini yang mampu dan mau menolong si 

gondrong itu! Tapi ternyata dia tidur sejak sore…… Ah, semua urusan bisa jadi gila! 

Bagaimana bisa jadi begini…..!”

Jayengrono sama sekali tidak tahu kalau Kertopati sudah menduga kira-kira 

apa yang bakal terjadi kalau lenyapnya tawanan itu sampai diketahui. Maka Kertopati 

siang-siang sudah menyusun rencana, memberi kisikan pada seluruh anak buahnya 

dan berpura-pura tidur nyenyak di atas tempat tidur. Ketika Jayengrono meninggalkan 

halaman rumahnya, dia memperhatikan lewat jendela dengan sesungging senyum.

“Riwayatmu akan berakhir tak lama lagi Jayeng…..” katanya masih terus 

tersenyum penuh arti.


SEBELAS

Seumur hidupnya Pangeran Matahari belum pernah melihat aurat terlarang orang 

perempuan, apalagi menyentuhnya. Mendapatkan seorang gadis cantik dalam keadaan 

tak berdaya di bawah kekuasaannya sepenuhnya membuat pemuda ini serta merta 

terbakar oleh nafsu terkutuk. Setelah menotok tubuh Ni Luh Tua Klungkung secara 

aneh yakni dengan jalan meremas payudaranya, Pangeran Matahari mendukung tubuh 

gadis itu ke dalam pondok kayu. Sambil mendukung tangannya bebas tiada hentinya 

menggerayang kian kemari.

Meski tubuhnya penuh gelegak marah namun sang gadis tidak mampu berbuat 

apa untuk membebaskan diri, apalagi menolak kehendak keji Pangeran Matahari. 

Dalam hatinya sudah tekad bulat untuk bunuh diri jika kelak dia masih dibiarkan 

hidup setelah dirusak kehormatannya.

Sekarang mari kita ikuti kembali Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro 

Sableng yang saling kejar dengan waktu karena sudah mendapat firasat kalau 

sahabatnya gadis yang sampai saat itu tidak diketahuinya nama aslinya tengah 

mengalami bahaya besar. Malam makin gelap dan bertampah sulit baginya untuk 

meneliti secara cepat rerantingan patah yang ditinggalkan sang dara sebagai jejak. Di 

sebuah bukit patahan ranting berakhir. Tak ada lagi ranting lain yang patah padahal 

memandang berkeliling pendekar ini sama sekali tidak melihat apa-apa. Tak ada 

tanda-tanda terjadi perkelahian di tempat itu. tak ada pula bangunan di sekitar situ.

“Tak mungkin gadis itu lenyap menembus tanah bebukitan ini atau terbang ke 

langit…..” ujar Wiro Sableng seraya menggaruk-garuk kepalanya yang berambut 

gondrong. Dia meneliti ke jurusan kiri, ke sebelah kanan, tetap saja tidak menemui 

apa-apa. Ketika dia coba bergerak lurus ke depan, sebuah jalan kecil mendaki 

terbentang di hadapannya. Setelah meneliti sesaat, Wiro ikuti jalan mendaki ini. di 

depan sana di kegelapan malam dilihatnya sebuah bangunan kayu. Sepuluh langkah 

sebelum dia sampai ke bangunan itu, sesosok tubuh ditemuinya tergelimpang di jalan 

kecil itu. ketika ditelitinya sosok tubuh itu ternyata pemuda bermuka bundar berkulit 

hitam yang dikenal sebagai Bajingan Dari Susukan. Tubuh itu hanya merupakan 

mayat dingin.

Murid Eyang Sinto Gendeng memandang berkeliling. Sunyi yang aneh terasa 

membungkus tempat itu. pintu pondok tampak tertutup. Tak ada nyala lampu di 

sebelah dalam. Tapi bagi sang pendekar yang sudah berpengalaman tidak ada nyala 

lampu belum tentu berarti tidak ada seorangpun di dalam sana. Jika seorang lelaki 

hendak berbuat bejat terhadap seorang gadis maka tentunya dia akan mencari tempat 

yang sedap. Wiro hunus Kapak Maut Naga Geni 212, lalu tanpa suara melangkah 

mendekati pintu pondok kayu. Sepasang telinganya terpentang untuk mencari dengar 

setiap gerakan. Suara nyamuk yang terbang di kejauhanpun tak bakal lepas dari 

pendengarannya.

Braak!

Wiro Sableng tendang pintu pondok hingga hancur dan terpentang lebar. 

Keadaan di dalam pondok yang tak seberapa besar itu gelap pekat. Wiro memasang 

telinga. Tak ada seorangpun di dalam sana. Tapi tak mungkin pondok ini dibangun 

kalau hanya ditinggal kosong melompong. Atau pemiliknya sedang keluar? Tapi Ni 

Luh Tua Klungkung lenyap di sekitar tempat ini! Wiro menggenggam senjata 

mustikanya lebih erat. Dengan langkah tetap dia masuk melalui pintu. Baru sajakakinya menginjak lantai papan di sebelah dalam mendadak telinganya mendengar 

suara berdesir dari empat jurusan!

“Senjata rahasia!” seru Wiro dalam hati seraya kertakkan rahang. Kapak Naga 

Geni 212 diputar membentuk lingkaran. Sinar terang berkiblat disertai gaungan 

seperti ribuan tawon mengamuk.

Tring…..tring….tring…..tring.

Empat buah benda yang berdesing ternyata adalah empat buah pisau terbang 

kecil, hancur mental berantakan.

“Pembokong pengecut! Unjukkan tampangmu!” teriak Pendekar 212 marah.

Tapi tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Jelas senjata rahasia itu dipasang 

untuk menjebak lawan yang lengah. Bukan mustahil masih ada senjata-senjata rahasia 

lainnya tersembunyi di tempat itu. Dari pada mendapat serangan konyol begitu rupa 

Wiro memutuskan untuk menghancurkan pondok kayu itu. Maka dia hantamkan 

pukulan Benteng Topan Melanda Samudera ke arah atap. Bersamaan dengan mental 

hancurnya atap dan runtuhnya empat dinding kayu, Wiro melesat keluar bangunan. 

Dari kejauhan dia memperhatikan bangunan yang kini hanya merupakan keping-

keping hampir sama rata dengan tanah. Lagi-lagi tak ada suara tak ada gerakan. Tapi 

ketika dia melangkah mendekati, satu letusan dahsyat menggelegar membuat 

pendekar dari Gunung Gede itu jatuh duduk ke tanah.

Letusan yang terjadi membuat lantai bangunan terbongkar. Di situ Wiro 

melihat sebuah lobang batu berbentuk tangga menurun yang sebelumnya tersembunyi 

di bawah lantai kayu bangunan. Kuduk pendekar ini menjadi dingin. Bulu romanya 

berdiri. Kalau tadi dia sempat menginjak lantai di atas lobang itu, ledakan dahsyat tadi 

pasti akan menghancur luluhkan seluruh tubuhnya. Dengan hancurnya pondok kayu 

tersebut maka tak ada lagi senjata rahasia yang tersembunyi. Wiro memutuskan untuk 

menyelinap memasuki lobang batu itu. namun dia cepat melesat ke atas cabang 

sebuah pohon ketika lapat-lapat telinganya mendengar ada orang yang melangkah 

cepat menaiki tangga batu.

Sesaat kemudian sebuah kepala gondrong berikat kain merah muncul dari 

dalam lobang. Kepala ini bergerak berputar seperti meneliti keadaan. Ketika merasa 

aman, kepala ini segera bergerak keluar. Kelihatanlah sebuah sosok tubuh 

mengenakan pakaian hitam bergambar matahari dan puncak gunung.

“Pangeran Matahari……” desis Wiro tercekat. Lalu dia melihat sosok tubuh 

siapa yang dipanggul di bahu kiri sang pangeran. Sosok tubuh itu hampir tidak 

tertutup karena seluruh pakaian yan masih melekat hanya tinggal cabikan-cabikan 

belaka.

“Keparat haram jadah! Kalau dia sampai telah memperkosa sahabatku itu akan 

kucincang tubuhnya, kuhisap darahnya!” Geraham Pendekar 212 bergemeletakan.

“Manusia iblis! Kau hendak lari ke mana?!” teriak Pendekar 212 menggeledek. 

Ketika dilihatnya Pangeran Matahari hendak berkelebat kabur sambil mendukung 

tubuh Ni Luh Tua Klungkung.

Kagetnya sang pangeran bukan kepalang. Sambil meneruskan larinya dia 

hantamkan tangan kiri ke atas pohon di mana Pendekar 212 berada.

Wuss!

Cabang, ranting dan dedaunan pohon besar iru hangus dan luruh sementara 

Wiro sudah melayang turun lebih dahulu. Kapak Naga Geni 212 menderu dalam 

kegelapan malam. Melihat sinar menyilaukan berkiblat dan mendengar suara seperti 

tawon mengamuk Pangeran Matahari maklum siapa yang menyerangnya. Satu-

satunya senjata yang mempunyai cirri-ciri serangan seperti itu adalah Kapak Maut 

Naga Geni 212. Pemiliknya siapa lagi kalau bukan Pendekar 212 dari Gunung Gede“Dicari-cari ternyata kau datang sendiri mengantar nyawa! Hutang lamamu 

rupanya hendak kau bayar hari ini bersama bunganya!” Pangeran Matahari menegur 

keren dengan kaki terkembang, tangan kiri di pinggang dan tubuh Ni Luh Tua 

Klungkung masih di atas bahu kanannya.

“Manusia congkak takabur! Dosa dan kejahatanmu sudah lewat takaran! Hari 

ini kau tambah lagi dengan satu kekejian!” bentak Wiro.

Pangeran Matahari tertawa bergelak.

“Rupanya kaupun berhasrat mendapatkan perawan ini! Ha…ha…ha! Kau 

memang belum terlambat Pendekar 212! Tapi jangan harap kau bisa membebaskan 

gadis ini dari tanganku!”

Gembira mendengar pengakuan Pangeran Matahari, Pendekar 212 Wiro 

Sableng hampir bertindak lengah ketika musuh di hadapanny aitu tiba-tiba menyerbu 

sambil lepaskan pukulan maha ganas yang dimilikinya yakni pukulan Gerhana 

Matahari!

Sinar kuning, hitam dan merah mencuat panas melanda ke arah murid Sinto 

Gendeng. Wiro tak berani membalas karena kawatir akan mencelakai Ni Luh Tua 

Klungkung. Didahului bentakan nyaring pendekar ini melesat tiga tombak ke udara. 

Dari atas dia menukik sambil babatkan Kapak Naga Geni 212. Tapi Pangeran 

Matahari berlaku cerdik. Dia tidak menangkis ataupun balas menyerang melainkan 

angsurkan tubuh gadis yang ada di bahunya, memotong tabasan senjata lawan.

Wiro berseru kaget dan buru-buru tarik pulang serangannya. Saat itulah 

kembali Pangeran Matahari menghantam dengan pukulan Gerhana Matahari. Kali ini 

lebih dahsyat lagi karena mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya. Wiro 

kembali melompat sambil lindungi diri dengan Kapak Naga Geni 212. Pohon besar di 

belakangnya terdengar berderak lalu roboh dalam keadaan terbakar!

“Iblis keparat!” maki Pendekar 212. Dadanya terasa sesak. Dia melompat 

turun ke tanah langsung sisipkan Kapak Naga Geni 212 di pinggang lalu angkat kadua 

tangan dengan telapak tangan menghadap ke arah lawan. Perlahan-lahan dua telapak 

tangan itu diputar, mulut terkancing dan sepasang mata memandang tak berkesip ke 

arah Pangeran Matahari.

Sikap tegak Wiro yang sama sekali tidak terlindung itu di mata Pangeran 

Matahari merupakan suatu sasaran empuk. Maka dia segera siapkan pukulan Gerhana 

Matahari untuk ketiga kalinya. Tapi mendadak sontak saat itu dirasakannya udara 

menjadi sangat dingin, sepuluh kali lebih dingin dari udara di puncak Merapi di mana 

dia pernah tinggal sebelumnya! Sekujur tubuh sang pangeran seperti dilapisi es. 

Rahangnya menggembung, hembusan nafasnya seperti mengeluarkan asap. Lututnya 

mulai goyah!

“Ilmu apa yang tengah dikeluarkan setan ini untuk menyerangku!” gumam 

Pangeran Matahari dengan gigi-gigi bergemeletakkan. Dia hantamkan tangan 

kanannya. Lepaskan pukulan Gerhana Matahari. Sinar kuning, merah dan hitam 

memang berkiblat. Namun sebelum mencapai tubuh Wiro, hawanya yang panas 

membakar berubah menjadi dingin hingga ketika serangan itu melanda Pandekar 212, 

dia hanya merasakan seperti disapu angin sejuk!

Kaget Pangeran Matahari bukan kepalang. Diam-diam nyalinya mulai menciut. 

Namun manusia congkak ini tak mau mangalah begitu saja. Sekali lagi dia hendak 

mencoba. Bahu kanannya digerakkan. Tubuh Ni Luh Tua Klungkung mencelat 

mental ke arah semak belukar dan tersangkut di sana. Sang pangeran kemudian 

membuat kedudukan yang hampir sama dengan apa yang dilakukan Wiro. Kedua 

kakinya mengangkang. Tangan diangkat ke atas. Mulut komat kamit. Telapak tangandigerakkan perlahan. Didorong ke arah Wiro. Terdengar suara berdesir. Menyusul 

deru angin panas keluar dari masing-masing telapak tangan.

Di seberang Pangeran Matahari, Wiro tetap tegak di tempatnya dan lipat 

gandakan kekuatan tenaga dalamnya. Tubuhnya bergetar keras dan keringatnya 

bercucuran padahal udara di tempat itu dingin bukan kepalang!

Deru angin panas yang keluar dari dua telapak tangan Pangeran Matahari, 

yang disesrtai kekuatan tenaga dalam penuh mula-mula tertahan seolah terbendung 

oleh tembok baja yang sangat atos. Begitulah kehebatan ilmu Angin Es yang jarang-

jarang dikeluarkan oleh Pendekar 212. Namun ternyata murid Sinto Gendeng ini tak 

bisa bertahan lama. Karena begitu Pangeran Matahari mendorong sambil maju 

selangkah demi selangkah Wiro meraskan dadanya menjadi panas. Ketika dia merasa 

tak sanggup bertahan maka sambil berteriak keras Wiro menekuk lutut dan 

menghantam ke depan dengan Dewa Topan Menggusur Gunung. Ilmu pukulan sakti 

ini didapatnya dari Tua Gila di pulau Andalas. Terdengar suaa menggemuruh yang 

mengingatkan Pangeran Matahari pada meletusnya Gunung Merapi belasan tahun 

silam. Pukulan Merapi Meletus yang terus dilancarkannya dan diharapkan dapat 

merobohkan lawan ternyata kini mulai menjadi kendur.

“Gila!” maki Pangeran Matahari.

Sementara tangan kiri masih terus bertahan dari serangan pukulan Merapi 

Meletus, tangan kanan tiba-tiba diturunkan dan dengan tangan ini dia kembali 

lancarkan pukulan sakti dengan kempiskan perutnya. Inilah satu pertanda bahwa dia 

kini menghadapi lawan dengan seluruh tenaga dalam yang ada!

Letusan dahsyat menggelegar di tempat itu. tanah puncak bukit longsor di 

beberapa bagian. Pohon-pohon bertumbangan. Ni Luh Tua Klungkung yang 

menyangsrang di semak belukar jatuh terguling dan secata aneh totokan yang 

menguasai tubuhnya mendadak terlepas buyar!

Pendekar 212 Wiro Sableng terpental sampai enam langkah. Sebaliknya 

Pangeran Matahari jatuh duduk lalu terbanting ke tanah. Mulutnya terasa panas dan 

asin pertanda ada darah yang melesat lewat tenggorokannya, melesat ke mulut. 

Dadanya mendenyut sakit. Sadarlah manusia ini kalau tingkat tenaga dalamnya 

walaupun sangat tipis, tapi masih berada di bawah lawannya.

Ketika dapatkan dirinya terbebas dari totokan, tanpa sadar akan keadaan 

dirinya, Ni Luh Tua Klungkung langsung melompat ke arah Pangeran Matahari 

sambil ayunkan kepalan menghantam batok kepala orang yang tadi hampir 

menodainya. Meskipun masih dicekam rasa kaget, sakit dan kecut namun Pangeran 

Matahari masih sempat melihat datangnya serangan itu. Kalau tadi dia tengah 

berusaha bangkit, diserang begitu rupa maka dia jatuhkan diri kembali ke tanah 

sambil hantamkan tangan kanan ke atas melepas tangkisan dan juga sekaligus totokan 

karena sang pangeran masih menginginkan gadis itu tertawan hidup-hidup.

Namun di saat yang sama dari jurusan kiri Pendekar 212 Wiro Sableng 

menyerbu melompatinya dan lepaskan pukulan tangan kosong jarak pendek. Hingga 

mau tak mau Pangeran Matahari terpaksa batalkan serangan terhadap Ni Luh Tua 

Klungkung sambil mengelak lalu pusatkan perhatian untuk menangkis serangan Wiro.

Perkelahian jarak pendek iu tidak dapat menghindarkan terjadinya bentrokan 

lengan. Justru inilah yang diharapkan Pangeran Matahari karena dia percaya dengan 

terjadinya bentrokan dia dapat mengirimkan racun jahat hitam panas dan 

menghanguskan ke ubuh lawan. Sebaliknya murid Sinto Gendeng yang yakin akan 

keampuhan Kapak Naga Geni 212 unuk menolak segala macam racun jahat tidak 

ingin menghindari bentrokan itu. MakPangeran Matahari karena sebelumnya telah terluka di dalam berada pada 

keadaan cukup parah. Tubuhnya terguling sambil mulutnya muntahkan darah segar. 

Wiro memang terlepas dari keganasan racun manghanguskan sang pangeran tapi 

tulang lengan kanannya terasa sakit tanda ada bagian yang retak.

“Ah, untuk kedua kalinya aku terpaksa mengalah! Keparat betul!” mengeluh 

dan memaki Pangeran Matahari dalam hati. Bertapapun hatinya ingin memboyong Ni 

Luh Tua Klungkung kembali namun keselamatan diri lebih diutamakannya. Maka 

tanpa pikir panjang dan menunggu lebih lama Pangeran Matahari segera berkelebat 

larikan diri kea ah kanan, ke bagian paling gelap di sekitar tempat itu.

Ni Luh Tua Klungkung nekad hendak mengejar tapi Wiro cepat mencegah 

sambil berseru “Jangan kejar!” Dia kawatir gadis ini justru bakal mengalami 

malapetaka baru.

Sang dara hentakkan kakinya ke tanah. “Kau melarangku mengejar manusia 

terkutuk yang hendak merusak kerhormatanku! Apa hakmu!” Si gadis berbalik dan 

menghardik marah.

Wiro buka bajunya dan melemparkan pakaian ini ke arah Ni Luh Tua 

Klungkung. “Kau pakailah baju itu. Tubuhmu terbuka tak karuan!”

Mendengar ucapan Wiro baru sadar sang dara akan keadaan dirinya. Sambil 

memungut baju yang dilemparkan itu dia berkata “Aku bersumpah untuk membunuh 

manusia satu itu!” Ni Luh mengenakan baju itu di balik pohon besar yang tumbang. 

Karena dia lebih pendek dari Wiro maka baju putih yang cukup dalam itu dapat 

menutupi tubuhnya sampai sebatas lutut.

“Kau tak kurang suatu apa sahabat?” tanya Wiro ketika Ni Luh Tua 

Klungkung keluar dari balik pohon.

“Untung kau cepat datang. Terlambat sedikit saja aib besar pasti sudah 

menimpa diriku! Pangeran keparat itu terhalang maksud kejinya ketika atap pondok 

bobol dan dinding-dinding runtuh. Disusul letusan peledak yang agaknya memang 

sengaja ditanamnya di lantai pondok. Dia membawaku lari keluar sekalian untuk 

menyelidiki siapa yang jadi korban bahan peledaknya. Gila! Udara di sini mengapa 

dingin sekali seperti di punca gunung!”

“Itu karena kau memakai baju pinjaman!” sahut Wiro seraya tersenyum. “Aku 

yang bertelanjang dada tidak merasa dingin apa-apa!”

“Uh! Kalau tidak terpaksa siapa sudi mengenakan baju busuk dan basah oleh 

keringat ini!” jawab sang dara merengut.

Wiro kembali tertawa. “Kurasa kau lebih bagus muncul dengan wajah aslimu 

dari pada memakai segala macam topeng penyamaran!”

Ni Luh Tua Klungkung mengusap wajahnya. “Sebaiknya kita pergi saja dari 

tempat celaka ini! Makin cepat aku mendapatkan pakaian pengganti akan lebih baik 

bagiku!” Lalu dara itu tinggalkan puncak bukit gelap tersebut. Pendekar 212 Wiro 

Sableng mengikuti dari belakang.


TAMAT

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive