"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Sabtu, 22 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE BANJIR DARAH DI TAMBUN TULANG


Banjir Darah Di Tambun Tulang


1


Kiai Bangkalan menggeletak di lantai batu dalam Goa

Belerang. Sedikit pun tubuh itu tidak bergerak lagi karena 

nafasnya sudah sejak lama meninggalkan

tubuh!

 Orang tua itu menggeletak menelentang. Dua buah

keris kecil yang panjangnya hanya tiga perempat jengkal

berhulu gading menancap di tubuh Kiai Bangkalan.

Darah bercucuran menutupi seluruh wajahnya.

 Dalam jari-jari tangan kiri Kiat Bangkalan tergenggam 

secarik kertas tebal empat persegi. Sedang tepat di

ujung jari telunjuk tangan kanannya, yaitu pada lantai

batu tergurat tulisan:

TAMBUN TULANG

 Pendekar 212 Wiro Sableng yang berdiri di dekat tubuh 

tak bernyawa Kiai Bangkalan tidak mengetahui apa arti dua 

buah kata itu. Apakah nama seseorang yaitu manusia yang 

telah membunuh orang tua itu, ataukah nama sebuah 

tempat. Yang diketahuinya ialah bahwa si orang tua telah 

menuliskan dua buah kata itu pada saat-saat menjelang 

detik kematiannya karena ujung jari tangan yang dipakai 

menulis masih terletak kaku di atas huruf terakhir kata 

yang kedua.

 Diam-diam Wiro Sableng memaki dirinya sendiri.

Seharusnya dia datang lebih cepat ke Goa Belerang itu

sehingga nasib malang begitu tidak terjadi atas diri si orang 

tua. Kiai Bangkalan tempo hari telah menyuruhnya datang 

dan menjanjikan akan memberi pelajaran tentang ilmu 

pengobatan. Kini dia datang terlambat Kiai Bangkalan 

hanya tinggal tubuh kasarnya saja lagi!

 Perlahan-lahan pendekar muda ini berlutut di samping 

tubuh Kiai Bangkalan. Diperhatikannya kertas tebal empat 

persegi yang tergenggam di tangan kiri Kiai Bangkalan. 

Ternyata kertas tebal ini adalah robekan kulit sebuah 

buku. Dan pada kertas itu tertulis:

SERIBU MACAM ILMU PENGOBATAN


Wiro Sableng tarik nafas panjang yang mengandung 

penyesalan. Satu kesimpulan lagi dapat ditarik oleh 

pendekar ini. Yaitu bahwa Kiai Bangkalan menemui 

kematiannya dalam mempertahankan sebuah buku 

ciptaannya. Buku tentang pengobatan itu tentulah sebuah

buku yang sangat berguna bagi dunia persilatan hingga

seseorang telah mengambilnya dengan jalan kekerasan.

Dan Wiro lalu ingat kembali janji Kiai Bangkalan yang

hendak mengajarkan ilmu pengobatan kepadanya. 

Rupanya orang tua itu telah membukukan seluruh macam

cara pengobatan yang diketahuinya.

 Sepasang mata Wiro Sableng kemudian berputar

memperhatikan dua buah keris kecil yang menancap di

tubuh Kiai Bangkalan. Menurutnya kedua keris itu pasti

mengandung racun jahat karena seseorang yang ditusuk 

bahkan yang dicungkil kedua matanya belum tentu,

menemui kematian. Tak pernah dia sebelumnya melihat

keris semacam itu. Kiai Bangkalan bukan seorang berilmu 

rendah dan melihat pada keanehan bentuk senjata yang 

menancap itu Wiro sudah dapat menduga, siapapun 

pembunuh Kiai Bangkalan adanya, manusianya pastilah 

bukan orang sembarangan! Dan siapakah kira-kira yang 

telah melakukan perbuatan terkutuk ini?

 Untuk beberapa lamanya Pendekar 212 masih berlutut 

di situ. Akhirnya dia sadar bahwa dia harus menguburkan 

jenazah Kiai Bangkalan: Didukungnya tubuh tiada bernyawa 

itu dan melangkah menuju ke pintu. Untuk terakhir kalinya, 

sebelum meninggalkan ruangan itu, Wiro memandang 

berkeliling. Dan saat itulah sepasang matanya membentur 

sebuah benda. Benda itu tadi tidak kelihatan karena 

tertindih oleh tubuh Kiai Bangkalan yang menggeletak di 

lantai. Wiro melangkah mendekatinya. Benda yang mulanya 

disangkanya cabikan pakaian ternyata adalah kulit 

harimau. Bulunya bagus berkilat, kuning berbelang-belang 

hitam. Apakah Kiai Bangkalan telah bertempur melawan 

harimau? Mana mungkin seekor harimau bisa 

menancapkan dua buah keris aneh di mata orang tua itu? 

Atau mungkin harimau siluman? Kulit Itu kering dan bersih. 

Ini membawa pertanda,bahwa itu bukan kulit harimau 

hidup! Pendekar 212 Wiro Sableng masukkan robekan kulit 

harimau, itu ke dalam saku pakaian lalu meninggalkan 

ruangan batu tersebut dengan cepat.

 Langit di ufuk timur mulai terang disorot sinar merah

kekuningan sang matahari yang hendak ke luar daperaduannya Katulistiwa detik demi detik kelihatan dengan 

jelas. Di bawah sorotan sinar matahari air laut laksana 

hamparan permadani yang indah sekali. Kemudian 

mataharipun ke luarlah tersembul di ufuk timur itu

merupakan sebuah bola raksasa seolah-olah muncul

dari dalam lautan luasi

 Sepasang mata Pendekar 212 tiada berkedip me-

mandang ke arah timur itu. Telah lima kali dia melihat ke-

munculan sang surya di lengah lautan. Betapa indahnya.

Sukar dilukiskan dengan kata-kata. Dan setiap dia mem-

perhatikan keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa

itu, teringatlah dia pada Si Pelukis Aneh. Dengan keahli-

annya melukis, tentu orang tua itu akan sanggup me-

nuang segala keindahan yang ada di depan mata itu ke

atas kain lukisannya.

 Perahu besar itu meluncur laju di lautan yang tenang, 

dihembus angin barat. Ke manapun mata memandang 

hanya air laut yang kelihatan. Itulah batas kemampuan 

penglihatan manusia yang menandakan bahwa 

sesungguhnya dia hanyalah makhluk lemah belaka

dibandingkan dengan kehebatan alarn!

 Angin dari barat bertiup lagi dengan keras. Layar pe-

rahu besar menggembung dan perahu meluncur lebih

pesat. Di.kejauhan kelihatan serombongan burung terbang 

di udara. Ini satu pertanda bahwa terdapat daratan di 

sekitar situ. Namun demikian daratan itu agaknya masih 

terlalu jauh hingga pandangan mata tak kuasa 

menangkapnya. Puas memandangi keindahan laut di waktu

pagi itu maka Wiro Sableng memutar tubuh. Dia melangkah 

ke buritan. Seorang laki-laki berbaju hitam berdiri di

buritan itu dan memandang tajam-tajam ke arah langit di

sebelah tenggara, Wiro tak tahu apa yang tengah diper-

hatikan laki-laki pemilik perahu ini.

 ''Ada apakah, bapak?" tanya Wiro.

 Tanpa alihkan pandangan matanya pemilik perahu

menjawab. "Orang muda, perhatikan baik-baik. Adakah

terlihat olehmu sekumpulan awan kelabu dr kejauhan

sana...?" 

 "Awan semacam itu biasanya membawa pertanda

tidak baik." 

 "Tidak baik bagaimana?" tanya Wiro yang tak tahu

apa-apa segala soal pelayaran ataupun keadaan di laut.

 "Akan timbul angin ribut," kata pemilik perahu pula.

Latu dia pergi kehaluan dan menyuruh anak buahnyamerubah arah menjauhi awan kelabu itu.

 Wiro Sableng angkat bahu. Awan kelabu itu sangat jauh 

sekali. Udara sekitar mereka bagus dan indah. Perlu apa 

dikhawatirkan awan kelabu itu? Kalaupun terjadi angin 

ribut, tentu terjadinya di sebelah tenggara itu! . Maka 

karena, segala sesuatunya dianggap tak perlu di-

khawatirkan oleh Wiro, diapun duduk di buritan itu sambil 

bersiul-siul. Tapi menjelang tengah hari kecemasan mulai 

membayangi hati pemuda ini.

 Di sebetah tenggara, awan yang tadinya kelabu kini

kelihatan menjadi hitam dan bergerak cepat sekali ke arah 

perahu. Dan awan itu bukan hanya satu kelompok saja lagi 

melainkan berkelompok-kelompok dan menyebar di mana-

mana. Pemandangan yang serba indah kini menjadi 

diselimuti kemendungan. Angin pun bertiup keras dan tak 

tentu arahnya. Kelompok awan hitam semakin banyak dan 

semakin lebaL Cuaca semakin buruk. Air laut bergelombang 

dan berputar-putar tak menentu. Jalannya perahu tersendat-

sendat. Kemudian hujan rintik-rintik mulai turun.

 "Arahkan perahu ke pulau itu!" teriak pemilik perahu

pada pemegang kemudi. 

 Jauh di sebelah barat kelihatan sebuah titik hitam.

Kemudi diputar. Perahu menjurus ke barat, ke arah titik

hitam itu. Didahului oleh sabungan kilat, yang disusul

oleh gelegar guntur maka hujan yang tadinya rintik-rintik

kini berubah menjadi hujan lebat yang mendera seluruh

perahu! Angin seperti suara ribuan seruling yang ditiup

bersama karena derasnya, laut marah menyabung ge-

lombang, menghempaskan perahu kian ke mari semen-

tara udara telah berubah laksana malam hari, gelap pe-

kat! Sekali-sekali kilat menyambar menerangi perahu.

Tapi ini hanya menambah rasa ketakutan orang-orang

yang ada di dalam perahu itu.

 "Gulung layar besar!" teriak pemimpin perahu.

 Namun baru saja perintahnya itu diucapkan satu

angin dahsyat menerpa,perahu.,

 "Kraak!" ,

 Tiang layar utama perahu patah. Perahu condong

tajam mengikuti arah tumbangnya bagian atas tiang layar.

Dalam pada itu dari samping datang pula satu gelombang

yang luar biasa besarnya. Perahu yang tidak berdaya itupun 

ditelan bulat-bulat. Di antara deru angin dan deru hujan, di 

antara sambaran kilat dan di antara menggeledeknya suara 

guntur, di antara semua itu maka terdengarlah suara jerit 

pekik manusia yang mengerikan. Tapi suara jerit pekik ituhanya sebentar saja karena sedetik kemudian perahu itu 

telah amblas digulung gelombang!

 Sewaktu perahu itu muncul kembali maka keadaannya 

hanya merupakan hancuran dan kepingan-kepingan papan 

dan balok-balok belaka yang tersebar kiah ke mari untuk 

kemudian dipermainkan gelombang lagi secara ganas. 

 Setiap manusia yang ada dalam perahu itu, dengan

segala, daya yang ada berusaha menyelamatkan diri.

Tapi apakah daya manusia dalam melawan keganasan

alam yang maha dahsyat itu?!

 Pendekar 212 Wiro Sableng bergulat sekuat tenaga

untuk ke iuar dari bencana maut yang mengerikan itu.

Dia berusaha berenang mencapai kayu pecahan-pecahan 

perahu namun mana mungkin berenang dalam gelombang 

yang menggila seperti itu. Baru saja kepalanya muncul telah 

disapu kembali oleh air laut!

 Wiro mulai megap-megap kehabisan nafas sewaktu dia 

melihat sebuah papan besar kira-kira dua belas tombak 

dihadapannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang terakhir 

pemuda ini berusaha berenang mencapai benda itu. Baru 

saja satu tombak, sebuah gelombang mendera tubuhnya. 

Pendekar itu amblas lagi masuk ke dalam laut.

 Sewaktu kepalanya muncul lagi papan besar tadi telah

lenyap!

 "Celaka! Tamatlah riwayatku!" kata Pendekar 212

dalam hati. Baru saja dia mengeluh begitu sebuah 

gelombang datang dengan ganas dari muka. Dia menyelam 

dengan cepat untuk menghindarkan pukulan gelombang. 

Namun tetap saja tubuhnya diterpa sampai puluhan tombak 

membuat pemandangannya menjadi gelap!

 Ketika dia memunculkan kepalanya kembali di 

permukaan air laut dalam keadaan setengah hidup 

setengah mati, sesuatu melanda keningnya dengan'keras. 

Kulit keningnya robek dan mengucurkan darah! Wiro tak 

tahu benda apa yang telah menghajar keningnya itu karena 

dia tak bisa membuka kedua matanya. Namun demikian 

otaknya masih terang untuk berpikir. Apapun benda itu

adanya mungkin bisa dipakai untuk menyelamatkan

jiwanya! Maka dalam mata terpejam dan muka berlumuran 

darah dengan membabi buta Wiro Sableng gerakkan

tangannya untuk menangkap benda itu. Pertama kali dia

cuma menangkap angin. Yang kedua kali dia cuma 

menampar air laut di sampingnya. Ketiga kalinya juga tak

berhasil apa-apa namun kali yang keempat baru dia 

berhasil menangkap benda itu dan dipegangnya erat-erat.Beberapa saat kemudian ketika kedua matanya sudah

bisa dibuka ternyata benda itu adalah sebuah balok pendek 

yang terpaku pada sepotong papan yang lumayan besarnya.

 Wiro Sableng bersyukur. Dengan benda itu dia bisa

mempertahankan diri agar tidak tenggelam untuk 

kemudian berusaha berenang mencari daratan. Belum 

lama pemuda ini berpegang pada papan itu, terombang 

ambing dipermainkan ombak, satu benda meluncur 

dihadapannya, sebentar timbul sebentar tenggelam. Ketika 

diperhatikan ternyata tubuh seorang anak kecil. Wiro tahu 

betul anak kecil itu adalah anak laki-laki yang dibawa oleh 

seorang penumpang perahu, Ditangkapnya tangannya. 

Sewaktu diperiksa ternyata anak itu dalam keadaan 

pingsan, perutnya gembung.

 Wiro Sableng menyadari bahwa papan yang di dapatnya 

tidak cukup besar untuk menolong mereka berdua

sekaligus! Berarti kalau dia mau selamat terus, dia musti

meninggalkan anak kecil itu! Pertentangan terjadi di lubuk

hati Pendekar 212. Akhirnya pemuda itu membuka 

bajunya. Dengan baju itu diikatnya anak yang pingsan pada

papan lalu didorongnya ke tempat yang agak tenang.

 "Mudah-mudahan kau selamat anak," kata Wiro dalam

hati.

 Dia memandang berkeliling. Tak sepotong papan atau 

balokpun yang kelihatan. Laut yang tadi menggila kini mulai 

tenang sedikit. Wiro mengeluh dalam hati. Rupanya sudah 

ditakdirkan bahwa dia harus mati hari itu, di tengah lautan! 

Berdiri bulu kuduknya! Inilah untuk pertama kalinya dia 

merasa ngeri! Ngeri menghadapi kematiannya sendiri! Ingin 

dia memekik, berteriak setinggi langit. Namun siapa yang 

akan mendengar? Siapa yang akan menolongnya? Lagi pula 

mulutnya serasa terkancing. Dicobanya berenang. Namun 

kekuatannya sudah sampai ke batas terakhir. Kaki dan 

tangannya kaku tak sanggup digerakkan lagi. Sedikit demi 

sedikit, perlahan-lahan tetapi pasti, tubuhnya mulai 

tenggelam. Sebelum kepalanya lenyap ditelan air laut 

pemuda ini merasa seperti melihat sesuatu jauh 

dihadapannya, meluncur di atas air laut menuju ke arahnya. 

Dia tak tahu benda apa itu. Kelihatannya seorang, manusia 

berjubah putih, tapi mungkin juga malaekat maut yang 

hendak mencabut nyawanya! Pada detik dia menyebut 

nama Tuhan dan memanggil nama gurunya pada detik 

itupula tubuh pendekar 212 lenyap keseluruhannya dari 

permukaan air laut


1


Ketika dia siuman tubuhnya terasa panas. Kepalanya

berdenyut sakit. Matanya berat sekali untuk dapat dibuka. 

Di manakah aku sekarang, apakah sudah berada di alam 

akhirat, berada di neraka?!

 Wiro Sableng membuka kedua matanya dengan 

perlahan, Yang pertama sekali dilihatnya ialah atap rumbia.

Dia berusaha memutar bola matanya dan memandang

berkeliling. Sesungguhnya sudah mati atau masih hidup aku 

ini, pikir Wiro. Ingatannya merayap pada saat dia berada di 

atas perahu tengah menyeberangi Selat Sunda,

meninggalkan Pulau Jawa menuju ke Pulau Andalas! 

Kemudian datang angin topan dan hujan lebat. Perahunya

amblas ditelan gelombang. Lalu setelah mengikatkan

seorang anak laki-laki pada sebuah papan, tubuhnya 

tenggelam di dalam laut dan tak tahu apa-apa lagi!

 Tapi kini dilihatnya atap rumbia itu. Dilihatnya dinding 

kayu, dilihatnya isi pondok kecil itu, bermimpikah dia?! 

Digigitnya bibirnya. Terasa sakit. Tidak, dia tidak bermimpi! 

Tapi sukar untuk bisa menerima kenyataan yang ada 

dihadapannya saat itu. Untuk memastikan dicobanya 

bangun dan duduk di tepi balai-balai kayu dimana dia 

terbaring. Tapi tubuhnya yang lemah tiada berdaya itu 

terhempas kembali ke atas balai-balai. Wiro mengeluh 

kesakitan: Dan dia pingsan lagi.

 Kedua kali dia sadarkan diri, hawa panas dari demam

yang menyerangnya telah berkurang tapi tubuhnya masih 

lemas, tenggorokannya kering dan sendat. Lapat-lapat 

didengarnya suara anak kecil. Tapi mungkin itu cuma 

desau angin yang meniup telinganya. Rasa haus 

menyerarig tenggorokannya. Tapi kepada siapa dia minta 

air, sedang untuk mengeluarkan suarapun dia tiada 

sanggup?

 Didengarnya suara berkeretekan di belakang 

kepalanya. Dia lak bisa berpaling. Dia tak tahu suara apa 

itu. Namun kemudian seorang laki-laki tua berpakaian putih

tahu-tahu sudah berdiri di samping balai-balai. Rambutnya 

jarang sekali hingga kulit kepalanya kelihatan jelas.

Orang tua ini memelihara kumis dan janggut. Baik rambut 

maupun kumis serta janggutnya, seluruhnya berwarnaputih. Yang membuat Wiro jadi menahan nafas ialah

sewaktu menyaksikan keangkeran muka orang tua tak

dikenal ini!

 Manusia ini berpipi dan bermata yang sangat lebar dan 

cekung. Mukanya tiada beda dengan tengkorak karena 

tiada berdaging. Hanya selembar kulit pucat saja yang 

menutupi parasnya. Hidungnya kecil, panjang dan bengkok 

seperti paruh burung kakak tua. Dia tersenyum, tapi 

senyumnya ini justru lebih menambah keangkeran pada 

parasnya. Diam-diam Wiro Sableng merasa bulu kuduknya 

berdiri. Manusia atau setankah yang berdiri dihadapannya 

itu? Kalau manusia, tak pernah dia menyaksikan yang 

seseram ini tampangnya. Si orang tua mengedipkan 

matanya yang lebar luar biasa dan menyeringai.

 "Sudah sadar hah?!" bentaknya menggeledek. Wiro

terkejut. Dirasakannya balai-balai di mana dia terbaring

bergetar hebat dan pondok itu mengeluarkan suara

berkereketan.

 "Empat hari empat malam mendengkur terus-terusan. 

Enak betul!" orang tua bermuka angker itu berkata lagi.

 Wiro membuka mulut hendak berkata. Tapi tak sedikit 

suarapun yang sanggup dikeluarkannya. Dalam kengerian 

melihat orang tua itu dia masih terus berpikir siapa adanya 

manusia ini. Dilihatnya timbul kepastian bahwa orang tua 

itu adalah orang yang telah menyelamatkan jiwanya. Tapi

setelah menolong mengapa sikapnya demikian keras serta 

menunjukkan hati jahat?!

 "Apa yang kau pikirkan!" tiba-tiba orang tua itu

membentak lagi. Balai-balai serta pondok kembali 

bergetar. ,

 Hebat sekali tenaga dalam orang tua ini.

 Wiro buka lagi mulutnya. Kali ini dia bisa bersuara

meskipun perlahan; "Air..."

 "Apa?!" 

 "Air.:." desis Wiro.

 "Air?! Kau minta air?! Kau kira aku ini pelayanmukah?! 

Sialan betul!" Kedua mata si orang kelihatan tambah lebar.

 Wiro terkesiap mendengar jawaban,orang tua 

bertampang angker itu. Diam-diam dia menggerutu dalam

hati. Dicobanya meminta air kembali. Dan kembali si orang 

tua mendampratnya.

 Tiba-tiba seorang anak kecil masuk ke dalam pondok itu.

 "Ah... anakku!" kata si orang tua seraya mendukung anak 

yang baru masuk. Wiro terkejut. Anak yang dalam

dukungan orang tua itu bukan lain daripada anak kecil yang tempo hari ditolongnya di tengah laut sewaktu badai 

mengamuk. Semakin jelas bahwa orang tua itulah yang 

telah menolongnya dan juga menolong anak laki-laki itu. 

Tapi mengapa sikapnya demikian aneh dan galak?

 "Anakku, apakah kau dengar si tukang tidur ini minta 

air...? Gila betul dia! Disangkanya bapakmu ini budaknya!" 

Habis berkata begitu si orang tua tertawa gelak-gelak. Tiba-

tiba dia hentikan tawanya dan membentak si anak: "Hai! 

Kau dengar apa tidak?!"

 Dibentak keras begitu, si anak berumur dua tahun

menangis dan meluncur turun dari dukungan si orang tua, 

lalu meninggalkan tempat itu. Si orang tua kembali tertawa 

gelak-gelak. "Orang gila," katanya kemudian pada Wiro. 

"Kalau kau mau minum, itu di atas meja ada kendi berisi 

air. Ambil sendiri. Aku bukan pelayanmu! Bukan budak, 

bukan kacung!" Lalu dia ke luar dari pondok. !

 "Edan!" desis Wiro.

 "Eh, apa?! Kau memakiku edan?! Kau yang edan!"

Tiba-tiba si orang tua bertampang angker masuk kembali. 

Meskipun cuma mendesis tapi ucapan Wiro tadi telah

didengarnya.

 "Braak!" 

 Orang tua aneh itu tendang kaki balai-balai yang ditiduri 

Wiro Sableng. Tak ampun lagi balai-balai itu roboh dan Wiro 

terguling ke lantai, lalu pingsan lagi! Si orang tua tertawa 

gelak-gelak, lalu mendengus dan tinggalkan pondok itu.

 Pagi itu Wiro merasakan badannya berangsur baik dan 

segar. Sesudah duduk bersila mengatur jalan nafas serta 

darah dan mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian-bagian 

tubuh yang perlu maka dia turun dari balai-balai. Di atas 

meja reyot di sudut pondok ada sebuah kendi berisi air 

putih. Diteguknya air ini beberapa kali. Terasa dingin dan 

segar. Dengan air itu juga dicucinya mukanya. Kemudian 

sewaktu.rnelihat sepiring ubi rebus di atas meja, tanpa pikir 

lagi Wiro segera menyambarnya.

 Mendadak di luar didengarnya suara si orang tua.

 "Ah... salah! Salah! Kaki kananmu majukan lagi..: nah.

Eee... itu tangan kananmu musti begini. Bagus.... Sekarang 

coba memukul ke muka... ah salah! Salah! Dasar bocah 

geblek!"

 Sedang mengapa orang tua itu, pikir Wiro Sableng.

Dia bergerak ke pintu pondok. Langkahnya berat dan pe-

mandangannya berkunang waktu dibawa berjalan itu. Di

pintu pondok dia berdiri dengan bersandar dan meman-

dang ke halaman. Orang tua berwajah angker itu dilihatnyatengah berjongkok di hadapan anak laki-laki yang

berumur dua tahun. Dari gerak gerik dan apa-apa yang

dikatakannya nyatalah bahwa dia tengah mengajarkan

ilmu pukulan tangan kosong pada anak itu. Wiro Sableng

tertawa geli. Mana mungkin anak sekecil itu diajar ilmu

silat langsung disuruh memukul! Dan si anak sendiri

kelihatannya tidak senang dipaksa-paksa seperti itu.

Kelihatan dia menggeleng-gelengkan kepala.

 "Apa?!" bentak si orang tua, "Kau tak mau diajar silat?! 

Bocah geblek! Kalau besar kau mau jadi apa?! Mau jadi 

laki-laki banci pengecut?!"

 Si anak menangis. Dan Wiro bukan cuma sekali itu

mendengar anak itu menangis. Sebaliknya melihat anak

tersebut menangis si orang tua menjadi marah dan 

memaki-maki. Tapi kemudian dia sendiri ikut-ikutan nangis!

 Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. "Aneh sekali

orang tua ini," katanya dalam hati. "Mungkin otaknya

kurang waras. Tapi agaknya kepandaiannya tinggi sekali. 

Dan Wiro lantas ingat pada gurunya yaitu Eyang Sinto

Gendeng. Sifatnya hampir sama dengan orang tua ini.

 "Bocah tolol! Kalau kau tak mau belajar silat pergilah 

sana main-main! Nanti kalau ada yang mengatakan kau 

laki-laki pengecut jangan salahkan aku!" Habis berkata 

demikian si orang tua pukul-pukul keningnya sendiri sambil 

membalikkan badan dan melangkah ke pondok.

 Mendadak dia hentikan langkahnya dan memandang 

mendelik ke pintu pondok.

 "Orang edan! Siapa yang suruh kau bangun dan berdiri di 

situ?!" bentak si orang tua begitu melihat Wiro Sableng. Dia 

marah sekali dan banting-banting kedua kakinya di tanah. 

Dan bukan main terkejutnya Wiro Sableng sewaktu melihat 

bagaimana tanah yang kena bantingan kaki orang tua itu 

amblas sampai setengah jengkal!

 Tiba-tiba Wiro ingat bahwa siapapun adanya orang tua 

bertampang angker itu dia adalah orang yang telah

menyelamatkan jiwanya. Maka dengan segera Pendekar

212 menjura dalam-dalam.

 "Betut-betut kau sudah gila!" sentak si orang tua.

 "Apa-apaan menjura segala?!"

 "Orang tua aku berhutang nyawa padamu, juga berhutang 

budi. Aku...."

 "Hutang nyawa?! Hutang budi...?! Kau gila!"

 "Bukankah kau yang telah menolongku sewaktu perahu 

yang kutumpangi tenggelam di tautan? Kemudian 

merawatku di sini?!"Orang tua itu urut-urut keningnya. Mimiknya seperti 

seorang yang tengah berpikir-pikir atau mengingat-ingat. 

 "Tidak!" katanya kemudian dengan keras. "Aku tak

pernah menolong orang gila macam kau!"

 Meski Wiro menjadi gusar karena dimaki orang gila

namun dia bertanya juga: "Lantas bagaimana aku bisa

berada di tempatmu ini?"

 "Maha aku tahu! Tanya dirimu sendiri!" menyahuti

orang tua bertampang angKer.

 "Meski kau tak mau mengakui terus terang tapi aku

yakin bahwa engkaulah yang telah menyelamatkan diriku, 

juga anak kecil tadi. Aku mengucapkan terima kasih.

Di lain waktu kuharap akan bisa membalas hutang jiwa

dan budi kebaikan itu. Sudilah kau memberitahukan

namamu, orang tua...."

 "Buat apa?!"

 "Agar dapat kuingat selama hidupku," jawab Wiro pula.

 "Hanya sekedar diingat?" tukas orang tua itu.

 Wiro tak tahu harus berkata apa. Orang tua itu ke-

mudian dilihatnya duduk di bawah sebuah pohon kelapa

dan bernyanyi. Wiro tak tahu apa yang dinyanyikannya,

bahasanya sama sekali tidak dimengerti. Bahkan suara

menyanyinya itu tak ubahnya seperti suara orang mengigau!

 Tiba-tiba orang tua itu hentikan nyanyiannya dan

pukulkan tangan kanan ke atas pohon kelapa. Terdengar

suara berkeresek lalu suara benda meluncur. Ternyata

pukulan tadi telah menjatuhkan sebuah kelapa muda.

Dua tombak lagi kelapa itu akan jatuh menimpa tubuh si

orang tua, tiba-tiba orang tua ini ambil sebutir kerikil dan

melemparkannya ke arah kelapa yang melayang turun!

Buah kelapa itu berlubang dan dari lubang itu 

memancurlah airnya. Si orang tua buka mulutnya. Air 

kelapa memancur masuk ke mulut orang tua sampai 

akhirnya habis!

 Wiro sampai ternganga dan, melotot melihat hal ini.

Luar biasa hebatnya apa yang disaksikannya itu. Gurunya 

sendiri belum tentu sanggup berbuat seperti itu. Dan

sementara itu buah kelapa yang airnya sudah habis itu

terkatung-katung di udara seperti ada tangan yang tak

terlihat memegangnya!

 Orang tua itu gerakkan tangan kanannya.

 "Wuuut!"

 Kelapa itu tiba-tiba sekali melesat ke arah pintu pondok 

dalam kecepatan yang luar biasa! Wiro melompat ke

samping. Tubuhnya hampir tersungkur karena masih lemah.Dan di dalam pondok didengarnya suara pecah berantakan. 

Buah kelapa telah menghantam kendi air terus

membobolkan dinding pondok!

 Wiro memaki dalam hati habis-habisan.

 Sebaliknya orang tua itu malah tertawa gelak-gelak

sampai ke luar air mata!

 "Orang gila! Kemari kau!" Orang tua itu memanggil

Wiro. Dia melototkan mata sewaktu Wiro dilihatnya tak 

bergerak di tempatnya. Sebaliknya Wiro juga memandang 

tak berkedip pada orang tu.a itu. Maka menggeramlah si 

tampang angker ini. "Bah, kau berani menantangku nah?!" 

Dari balik pakaiannya orang tua ini mengambil sesuatu. 

Saking cepatnya Wiro tak mengetahui benda apa itu dan 

tiba-tiba benda itu sudah dilemparkan ke, arahnya. Untuk 

kedua kalinya Pendekar 212 dipaksa melompat dalam 

keadaan tubuh, lemah demikian rupa. Kali ini dia tak 

sanggup lagi mengimbangi dirinya. Meski benda yang 

dilemparkan itu lewat di atas kepalanya namun tubuhnya 

tersungkur di tanah dan keningnya yang baru saja sembuh 

lukanya kini berdarah kembali!

 Pendekar 212 kaget sekali karena sewaktu dia 

berpaling ternyata benda yang dilemparkan orang tua tadi 

adalah senjata miliknya sendiri yaitu Kapak Maut Naga Geni 

212! Pantas saja anginnya membuat tubuhnya laksana 

dilanda badai! Senjata itu menancap di tiang pondok 

sebelah kiri.

 Sambil menyeka darah yang mengalir turun ke dekat 

alisnya Wiro berdiri. Dia melangkah untuk mengambil

Kapak Naga Geni, tapi baru saja tangan kanannya diulurkan 

dari samping datang serangkum angin halus. Ketika dia 

berpaling dilihatnya sebuah benang aneh berwarna putih 

dan berkilauan melayang ke arah tangannya. Wiro cepat-

cepat tarik tangan kanannya tapi terlambat. Benang putih 

itu telah melibat! lengannya!

 Si orang tua tertawa gelak-gelak. Sekali dia 

menyentakkan benang tersebut maka Wiro tertarik keras 

ke arahnya. Wiro merasakan tangannya seperti mau copot! 

Dia memaki lagi. Kalau saja tidak mengingat bahwa orang

tua itu telah menyelamatkan jiwanya maulah dia 

mengirimkan sebuah serangan biar si orang tua tahu rasa!

 "Ha... ha! Orang, gila macam begini yang hendak

membangkang kepadaku?!" ejek orang tua itu begitu Wiro 

sampai dihadapannya. Wiro coba lepaskan lipatan benang 

tapi sukar sekali.

 "Orang gila siapa namamu?!""Orang tua, kuharap kau jangan panggil aku orang gila 

terus-terusan!" kata Wiro dengan kesal. ,

 "Ah... kau memang gila!" tukas si muka angker.

 "Ayo katakan siapa namamu!"

 "Wiro," sahut Pendekar 212 meskipun dengan hati agak 

gusar.

 "Wiro apa?!" bertanya lagi si muka angker.

 Pendekar 212 katupkan rahang rapat-rapat menahan 

kesal.

 "Hai! Apa kau tuli?! Wiro apa?!"

 "Wiro Sableng," menyahuti juga pemuda itu akhirnya.

 "Wiro Sableng?! Nah... itu buktinya kau memang

orang gila. Kalau bukan orang gila mana ada manusia

yang memakai nama Sableng! Sableng sama saja artinya

dengan edan alias gila!"

 "Tapi itu bukan mauku memakai nama demikian...."

 "Aku tahu, orang tuamu yang memberikan nama itu

padamu...."

 "Bukan, tapi guruku!" potong Wiro Sableng.

 "Ah... kalau begitu berarti gurumu juga Sableng alias 

keblinger!"

 Marahlah Pendekar 212. Dia melangkah kehadapan

si muka angker dan menghardik: "Orang tua, jangan hina

guruku!" Wiro kerahkan tenaga dalamnya dan menyentak 

dengan keras. Selain tubuhnya masih lemah, benang aneh 

yang melibat lengannya kuat sekali hingga tak sanggup 

diputuskan oleh sentakan itu! 

 Si muka angker sebaliknya tertawa mefihat perbuatan 

Wiro dan berkata: "Jangankan kau! Gurumu dan nenek 

gurumu sekalipun belum tentu sanggup memutuskan

benang kayangan ini! Eh orang gila! Aku sudah tahu

namamu, sekarang lekas beri tahu kau punya gelar!"

 “Aku tak punya gelar apa-apa," jawab Wiro. Tangannya 

yang tadi disentakkan untuk melepaskan libatan benang 

kayangan terasa sakit dan pedas.

 "Jangan berani dusta terhadapku orang gila! Sekali

kusentakkan benang ini dalam Jurus Kilat Menyambar

Puncak Gunung pasti lenganmu akan putus!"

 "Kalau hatimu memang jahat begitu rupa mengapa

tidak segera dilaksanakan?!" tukas Wiro Sableng 

menantang.

 Orang tua itu mendelikkan matanya sehingga kelo-

paknya yang merah membuka lebar dan tampangnya

jadi tambah mengerikan! Tiba-tiba dia tertawa gelakgelak.

 "Orang gila! Kau memang pandai bicara! Pertanyaanku 

tadi anggap saja-tidak ada. Tapi sebagai gantinya lekas kau 

beri tahu nama gurumu!"

 "Aku bukan seorang yang suka agul-agulkan nama guru.,"

 "Jadi kau tidak mau beri tahu?!"

 "Tidak," jawab Wiro Sableng tegas.

 Si muka angker mendelik, "Hidup delapan puluh tahun, 

kau adalah orang yang kedua yang pernah membangkang 

terhadap perintah si Tua Gila ini!"

 Habis berkata begitu si muka angker yang menyebut

dirinya Tua Gila itu goyangkan benang kayangan yang

dipegangnya. Pendekar 212 menjerit kesakitan dan

tubuhnya mencelat ke atas sampai beberapa tombak!


3


Tua Gila tertawa gelak-gelak dah diam-diam perhatikan 

gerakan jungkir balik yang dibuat Wiro Sableng sewaktu 

melayang turun dan menjejakkan kedua kakinya di tanah.

 "Ah gerakan kincir padi memutar yang belum sempurna 

hendak dipamerkan di depan hidungku!" ejek Tua Gila lalu 

tertawa lagi gelak-gelak.

 Wiro Sableng terkesiap kaget. Baru hari itulah seseorang 

mengenali gerakan yang dibuatnya. Memang sewaktu dia 

jungkir balik tadi dia telah mengeluarkan gerakan yang 

dinamakan kincir padi memutar yaitu yang dipelajarinya 

dari Eyang Sinto Gendeng sewaktu dia digembleng di 

puncak Gunung Gede. Sebenarnya gerakan tersebut sudah 

dikuasai Wiro dengan sempurna namun karena gugup, 

terkejut dan ditambah dalam keadaan tubuh lemah maka 

gerakannya itu menjadi tidak sempurna. Jika sekiranya Tua 

Gila menyusul dengan satu serangan lagi pastilah Pendekar 

212 Wiro Sableng akan mendapat celaka. Untung saja si 

muka angker itu hanya terus duduk dan tertawa gelak-

gelak.

 Wiro berdjri dengan nafas sesak dan muka pucat.

Matanya tiada berkesip memandang si Orang tua. Jika dia 

diperlakukan begitu terus-terusan, dicaci maki, diserang 

dan ditertawakan, sampai berapa lama dia akan sanggup 

menahan kesabarannya? Sampai berapa lama dia akan 

menghormati orang tua itu sebagai tuan penolongnya? 

Kepada siapa dia telah berhutang budi dan nyawa?! 

 "Kau masih mau membangkang?!"

 Wiro tak menjawab.

 Tua Gila berkata: "Mengingat bahwa kau telah me-

nyelamatkan seorang anak laki-laki yang bakal kuambil

jadi muridku maka kuampuni jiwamu, orang gila."

 "Orang tua, aku tak bisa menerima perlakuanmu yang 

keterlaluan...."

 "Perlakuanku apa yang keterlaluan?!" bentak Tua Gila 

marah sekali. "Manusia tidak tahu diri! Sudah diampuni 

jiwanya malah mengomel! Ayo lekas katakan siapa nama 

gurumu!"

 "Kau buhuhpun aku tak akan memberi tahu!""Apa kau tidak takut mati?!"

 "Kenapa musti takut?!" jawab Wiro pula.

 Tua Gila tertawa pendek dan berkata: "Apa di dunia

 ini betul-betul ada manusia yang tidak takut mati?!"

 "Semua manusia akan mati, orang tua. Juga kau!"

 Tua Gila tersentak oleh ucapan Wiro Sableng itu. Selama 

puluhan tahun hidup tak pernah dia ingat tentang kematian 

sekalipun sudah berpuluh kali melihat manusia-manusia 

lain menemui ke matian. Ucapan Wiro tadi menyentakkan 

hati dan mengingatkan pikirannya pada hal kematian itu. 

Betapa mengerikannya kematian itu dan tiada terasa dua 

butir air mata menuruni kelopak matanya yang lebar, turun 

menetes pipinya yang cekung! 

 Wiro Sableng merasa heran melihaPhal ini! Si orang, tua 

yang begitu keras adat, galak, tertawa tak karuan dan aneh 

itu nyatanya juga bisa menangis keluarkan air mata.

Suasana menjadi sunyi untuk beberapa lamanya.

 Tiba-tiba Tua Gila acungkan telunjuk tangan kirinya

 ke dada kanan Pendekar 212 Wiro Sableng.

 "Apa arti angka 212 di dadamu itu?!" '

 Wiro baru sadar bahwa waktu itu dia cuma mengenakan 

celana panjang saja sedang tubuhnya bagian atas tiada 

berbaju karena sewaktu peristiwa perahu terbalik dia telah 

mempergunakan bajunya untuk mengikat anak laki-laki 

yang ditolongnya. 

 "Guruku yang menuliskannya," kata Wiro.

 "Dasar tolol! Aku tanya apa,arti angka itu! Bukan siapa 

yang menulisnya. Sekalipun,setan atau jin yang menulisnya 

aku tak perduli!"

 "Tak bisa kuterangkan orang tua," jawab Wiro.

 Paras Tua Gila tampak kembali menjadi marah.

 "Pembangkanganmu sudah keterlaluan! Kau betul-betul 

tidak memandang sebelah mata terhadapku! Kau akan 

kubunuh saat ini juga." Lalu Tua Gila tarik benang yang 

dipegangnya, ffiro tersentak ke muka. "Bersiaplah untuk 

mati, orang gila!"

 Dan Tua Gila lalu angkat tangan kirinya. Begitu tangan 

hendak dipukulkan, tiba-tiba djtariknya kembali. Dia 

menyeringai. "Ah... sebetulnya aku sudah muak melihat 

kematian! Orang gila, jika kau bisa menjawab sebuah 

pertanyaanku aku akan ampunkan jiwamu. Tapi kalau kau 

tak bisa menjawabnya, terpaksa kau kubunuh juga!"

 Wiro Sableng kertakkan rahang.

 Dan Tua Gila-lanfas ajukan pertanyaan"

 "Menurutmu oang tua manakah yang paling celakahidupnya di dunia ini?!"

 Wiro terkesiap dan merenung. Pertanyaan aneh yang 

sukar dijawab kata hati pendekar ini. Ditatapnya wajah 

angker orang tua itu. ,

 "Kalau kau tak bisa menjawab kau akan kubunuh!"

Tua Gila menyeringai. Dia lalu menunjuk ke atas pohon

kelapa dan berkata: "Aku akan jatuhkan sebuah kelapa.

Sebelum buah itu mencapai tanah kau musti sudah bisa

menjawab pertanyaanku tadi!"

 Tua Gila memukul ke atas.

 Wiro kerutkan kening.

 Terdengar suara berkeresekan dan sebuah kelapa

 lepas dari tangkainya lalu melayang turun dengan cepat!

 "Bumm!"

 Buah kelapa jatuh dan pecah di atas tanah!

 Tua Gila menghela nafas panjang dan tertawa rawan. 

"Jiwamu kuampuni, orang gila," katanya. "Jawabanmu 

memang betul." Kemudian dari balik pakaian putihnya Tua 

Gila mengeluarkah sebuah benda dan diacungkannya 

dihadapan Wiro. ''Benda ini kutemui di dalam saku 

pakaianmu yang dibuat pengikat anak laki-laki yang kau 

tolong itu. Dari mana kau dapatkan benda ini?!"

 Ketika diperhatikan ternyata benda itu adalah potongan 

kulit harimau yang tempo hari ditemui Wiro di Goa Belerang 

di mana Kiai Bangkalan menemui ajalnya dibunuh. Saat itu 

ternyatalah di hati Wiro untuk meminta beberapa 

keterangan kepada Tua Gila. Maka diapun menuturkan 

riwayat Kiai Bangkalan sampai peristiwa terbunuhnya orang 

lua itu.

 "Jadi perjalananmu itu adalah untuk mencari buku 

Seribu Macam Pengobatan Ha?"

 Wiro mengangguk.

 "Kalau kau berhasil menemuinya apakah buku itu akan 

kau ambil sebagai milikmu?! Berarti kau maling besar 

karena Kiai Bangkalan tak pernah mengatakan bahwa buku 

itu akan diwariskannya kepadamu!"

 "Aku tidak mengatakan hendak mengambil atau 

memiliki buku itu. Tapi aku merasa punya kewajiban untuk

mencarinya dan merampasnya kembali dari manusia yang 

telah mencuri buku itu"

 "Kau tak punya hak melakukan itu, orang gila. Kau

 bukan muridnya Kiai Bangkalan!"

 "Sekalipun demikian buku itu tidak layak berada di

 tangan orang yang bukan pemiliknya."

 "Lalu kalau sudah kau temui kau mau bikin apa denganbuku itu?"

 "Aku akan pelajart isinya,...",

 "Berarti kau mencuri ilmu kepandaian orang lain!"

 potong Tua Gila.

 "Mana mungkin! Kiai Bangkalan pernah mengatakan 

bahwa dia akan mengajarkan ilmu pengobatan padaku. Kini 

dia sudah tiada dan kalau aku mempelajari ilmu 

pengobatan itu dari bukunya bukan berarti aku mencuri 

kepandaian orang lain!"

 Tua Gila tertawa.

 "Apapun alasannya, mempelajari ilmu orang lain dari 

buku tulisannya, tanpa izin orang itu sama saja dengan 

mencuriKiai Bangkalan berkata akan memberikan

pelajaran ilmu pengobatan padamu. Langsung dari dia

sendiri, bukan dari bukunya. Jangan mengada-ada,

orang gila!"

 Wiro Sableng menjadi penasaran sekali.

 Dalam pada itu Tua Gila berkata lagi: "Karenanya kau lak 

usah teruskan perjalananmu mencari buku itu. Pulang saja. 

Kau akan sia-sia mengerjakan apa-apa yang bukan jadi 

hakmu!"

 "Apakah menjadi hakmu melarang aku?!" tukas Wiro.

 Tua Gila usut-usut janggutnya yang putih dan panjang.

 "Perjalananku semata-mata bukan cuma untuk mencari 

buku itu. Tapi juga sekaligus mencari manusia yang telah 

membunuh Kiai Bangkalan!"

 "Kau bukan muridnya. Kau tak berhak menuntut balas! 

Kau dengar orang gila?!"

 "Tapi aku berhutang budi yang besar padanya. Hutang 

budi itu tak akan lunas sebelum aku berhasil membekuk si 

pencuri dan si pembunuh!"

 "Kau mau membunuh orang yang telah membunuh Kiai 

Bangkalan...?" ejek Tua Gila. '

 "Kalau keadaan memaksa," sahut Wiro. Tapi di hatinya 

dia yakin bahwa dia kelak betul-betul akan membunuh 

manusia itu.

 "Dasar gila! Apa kau kira nyawa orang lain itu milikmu 

hingga kau bisa main bunuh seenaknya?!"

 Wiro sunggingkan senyum sinis dan. menjawab:

 "Tadi kaupun berniat membunuhku. Apa nyawaku milik-

mu?!"

 Tua Gila tertegun. Lalu tertawa membahak. "Kau

meskipun gila nyatanya pintar bicara! Sekarang kau

kembalilah masuk ke dalam pondok. Lama-lama aku jadi

muak melihat tampangmu!"Wiro mehggerendeng.

 Tua Gila gerakkan tangan kanannya. Dan hebat sekali, 

satu aliran angin aneh menjalar di benang yang mengikat 

lengan Wiro terus memukul tubuhnya dengan hebat! 

Laksana sebuah bola yang diikat dan dilemparkan, tubuh 

Pendekar 212 mencelat masuk ke dalam pondok!


4


Dari Tua Gila, Wiro berusaha mendapat keterangan di 

mana letaknya bukit Tambun Tulang. Dulu sewaktu 

berangkat meninggalkan Pulau Jawa, dari seorang pelaut 

dia mendapat tahu bahwa Tambun Tulang adalah nama 

sebuah bukit yang terletak di Pulau Andalas.

 Namun Tua Gila mengejeknya, malah mendamprat dan 

memaki-makinya.

 "Orang gila! Bagusnya kau tak usah pergi ke situ. 

Kalaupun kau berhasil sampai ke sana, kau cuma datang 

mengantar nyawa...."

 "Setiap bahaya maut adalah tantangan hidup yang harus 

kita hadapi," kata Wiro pula.

 Tua Gila tertawa sinis. "Jangan bicara sombong. Orang 

gila, apa kau tahu artinya Tambun Tulang? Kalau aku kasih 

tahu baru bulu kudukmu merinding. Kalau tidak pingsan 

pasti kau terkencing-kencing karena ketakutan.

 "Kalau aku begitu pengecutnya masakan aku berani

 ambil keputusan untuk mengadakan perjalanan," sahut

 Wiro karena merasa dihina sekali.

 Tua Gila membelai janggutnya sebentar lalu berkata: 

"Nyalimu memangbesar, orang gila. Tapi percuma Saja 

keberanian yang luar biasa kalau kau tidak punya ilmu yang 

diandalkanl"

 Wiro Sableng tertawa. Untuk kesekian kalinya, meskipun 

Tua Gila marah-marah dan mendampratnya, namun Wiro 

mengucapkan terima kasih kepada orang tua aneh 

berwajah angker itu dan minta diri.

 "Apa?! Kau mau pergi?! Tidak bisa! Kau tetap berada 

dipulau ini sampai kau ada kemampuan untuk membuat 

urusan di Tambun Tulang."

 Dua hal membuat Wiro Sableng terkejut.

 Yang pertama ucapan Tua Gila yang mengatakan

bahwa dia tak boleh meninggalkan pulau itu. Selama ber-

hari-hari bersama si orang tua aneh, baru hari itu dia tahu

kalau dia berada di sebuah pulau. Pantas saja seringkali

didengarnya suara menderu seperti ombak sedang angin 

keras sekali. Hal kedua yang mengejutkan Pendekar 212 

ialah bahwa dia musti tinggal di pulau itu sampai dia adakemampuan untuk ini, berarti bahwa Tua Gila si orang aneh 

bertampang angker itu hendak memberinya pelajaran ilmu 

silat? Melihat sikap dan ucapan-ucapannya agaknya Tua 

Gila mengetahui banyak hal tentang Tambun Tulang!

 Tengah Pendekar 212 Wiro Sableng berpikir-pikir begitu 

rupa tiba-tiba Tua Gila membentaknya: "Coba perlihatkan 

beberapa jurus ilmu silatmu yang kau anggap paling hebat!"

 "Apa maksudmu sebenarnya, orang tua?" tanya Wiro 

Sableng dengan hati meragu.

 “Tak usah banyak tanya! Lekas perlihatkan!" bentak Tua 

Gila.

 Wiro Sableng yang saat itu sudah sembuh dan berada 

dalam keadaan normal seperti sedia kala segera maklum 

bahwa orang tua aneh itu mempunyai maksud tertentu 

terhadapnya. Maka dia segera mainkan beberapa jurus ilmu 

silat tangan kosong yang dipelajarinya dari Eyang Sinto 

Gendeng!

 Mula-mula dikeluarkannya jurus yang dinamakan

"Segulung Ombak Menerpa Karang", menyusul "Ular

Naga Menggelung Bukit", lalu Wiro balikkan badan dan

lancarkan jurus "Dibalik Gunung Memukul Halilintar"

dan yang keempat kalinya jurus yang dinamai "Membuka 

Jendela Memanah Rembulan". Semua gerakan itu 

dilakukannya dengan cepat hingga dalam sesaat saja dia

sudah menyelesaikannya.

 Tua Gila tertawa gelak-gelak. Sambil batuk-batuk

kemudian dia berkata: "Coba kau ulangi lagi keempat jurus 

itu." Lalu dia mematahkan sebatang ranting dan berdiri 

empat langkah dihadapan Wiro Sableng.

 Tahu kalau dirinya hendak diuji maka sewaktu bergerak 

kembali Wiro Sableng sengaja lipat gandakan tenaga 

dalam dan berkelebat dengan ilmu mengentengi tubuh 

yang sudah mencapai tingkat kesempurnaannya! Tubuh 

Pendekar 212 Wiro Sableng lenyap ditelan oleh gerakannya 

sendiri yang berkelebat merupakan bayang-bayang! 

 Pada waktu Wiro Sableng mengeluarkan jurus "Segulung 

Ombak Menerpa Karang" maka kedua tangannya kiri kanan 

memukul sebat sampai mengeluarkan suara angin yang 

deras,, betul-betul laksana ombak dahsyat memukul 

karang. Debu dan pasir serta batu-batu kerikil beterbangan. 

Semak belukar bergoyang-goyang!

 Anehnya Si Tua Gila menyerangnya, Wiro Sableng

lipat gandakan daya gerakannya. Jurus yang dinamai

“Segulung Ombak Menerpa Karang" itu mengeluarkan

angin pukulan yang laksana ganas mencari sasaran di kepala dan dada Tua Gila.

 Tua Gila mendengus. Ranting di tangan kanannya lenyap 

dan gerakan memutar sedang tubuhnya sendiri jingkrak-

jingkrakkan tak menentu macam monyet terbakar ekor! 

Anehnya meski gerakan si orang tua bertampang angker 

jingkrak-jingkrakkan tak karuan dan dilakukan sambil 

cengar-cengir mengejek namun jurus "Segulung Ombak 

Menerpa Karang" secara aneh dapat dielakkannya dengan 

mudah!

 Wiro Sableng penasaran sekali. Tak pernah selama ini 

jurus yang dikeluarkannya itu sanggup dielakkan lawan 

demikian mudahnya! Karena dengan satu bentakan keras 

Wiro susul dengan jurus "Ular Naga Menggelung Bukit". 

Jurus ini didahului oleh satu tendangan dahsyat ke arah 

bawah perut. Namun ini hanyalah gerak tipu belaka. Bila 

lawan menangkis atau mengelak akan menyusul 

sambaran sepasang lengan ke al-ah leher atau pinggang. 

Sekali leher atau pinggang kena digelung oleh lengan yang 

berisi kekuatan tenaga dalam luar biasa itu, tak ampun lagi 

pasti akan putus dan orangnya akan konyol!

 Dengan gerakan gerabak-gerubuk Tua Gila hindarkan 

tendangan,ke arah bawah perutnya. Juga dengan gerakan 

aneh macam begitu dia berhasil pula mengelakkan

gelungan tangan lawan yang mengincar leher lalu turun

ke arah pinggang!

 "Edan!" maki Pendekar 212. Dalam lain kejap dia sudah

melompat ke muka dan lancarkan jurus "Membuka

Jendela Memanah Rembulan".

 Tapi dia cuma menyerang tempat kosong karena si

orang tua sudah lenyap dihadapannya dan terdengar

suara dengus mengejeknya di belakang!

 Wiro bersuit nyaring. Balikkan badan dengan cepat

sambil lancarkan serangan dalam jurus "Dibalik Gunung

Memukul Halilintar!"

 Tapi lagi-lagi dengan gerakan aneh gerabak-gerubuk 

macam monyet mabuk si orang tua berhasil mengelakkan 

jurus serangan terakhir yang dilancarkan Wiro Sableng itu!

 Wiro melompat mundur.

 "Orang tua, aku mengaku kalah!" kata Wiro sejujurnya. 

Dia kagum sekali melihat kelihayan orang tua ini.

 Tua Gila tertawa mengekeh dan sambit membuang

ranting kering yang ditangannya dia berkata: "Aku tidak

memikirkan soal menang atau kalah! Hanya tukang-

tukang judilah yang memikirkan kalah menang!"

 Kemudian dia duduk di bawah pohon kelapa denganmasih tertawa mengekeh. "Dengan ilmu silat picisan itu

kau mau pergi ke Tambun Tulang...? He... he... he... he....

Belum sampai mungkin kau sudah kojor!"

 Wiro Sableng panas sekali hatinya. Ilmu silat warisan 

Eyang Sinto Gendeng yang selama ini dianggapnya hebat 

dan lihay kini dikatakan sebagai ilmu silat picisan! Betul-

betul Pendekar 212 jadi mengenas hatinya. Namun

demikian adalah satu kenyataan bahwa dia tak sanggup

menghadapi si orang tua dalam keempat jurus tadi! Ini

membuktikan bahwa sepandai-pandainya manusia, masih 

ada manusia lain yang lebih pandai dari dia. Bahwa di luar 

langit ada langit lagi! Diam-diam Wiro menggerendeng 

sambil tundukkan kepala. Tapi ketika kepalanya 

ditundukkan, astaga, membeliaklah matanya karena 

terkejut!

 Betapakah tidak! Baju putih yang dikenakannya ternyata 

robek besar diempat bagian! Wiro angkat kepala dan 

memandang tak berkesip pada si orang tua! Kalau saja 

benda di tangan Tua Gila tadi adalah sebatang pedang dan 

benar-benar dipakai untuk mencelakai dirinya, pastilah 

sudah sejak tadi nyawanya melayang ke akhirat! Betul-betul 

bahwa di luar langit ada langit lagi!

 Tua Gila sementara itu tertawa terkekeh-kekeh sambil 

usap-usap janggutnya yang putih panjang.

 "Sia-sia orang gila! Sia-sia kalau dengan ilmu yang kau 

miliki sekarang iri i kau hendak pergi ke Tambun Tulang! 

Kau akan mampus percuma!"

 "Kalau begitu aku mohon petunjukmu, orang tua,"

 kata Wiro Sableng pula.

 "Apa? Siapa sudi kasih petunjuk pada orang gila macam 

kau!" damprat Tua Gila membuat Wiro untuk kesekian 

kalinya memaki dalam hati!

 "Aku sudah lihat jurus-jurus silatmu yang tak berguna 

itu!" bicara lagi Tua Gila. "Sekarang coba keluarkan ilmu-

ilmu pukulan saktimu! Aku mau lihat apakah juga tak ada 

artinya?!"

 Penasaran sekali Wira menyurut mundur delapan

 langkah. Kedua kakinya direnggangkan. Tenaga dalam

 segera dialirkan ke lengan kanan.

 "Orang tua! Berdirilah)" seru Wiro Sableng ketika di-

 lihatnya Tua Gila masih duduk di bawah pohon kelapa

 sambil cengar cengir seenaknya.

 "Ah, untuk menerima.pukulanmu yang tak berguna

 kenapa musti berdiri segala?! Silahkan memukul, orang

 gila!"Wiro kertakkan rahang dan lipat gandakan tenaga

 dalamnya. "Kalau kau mendapat celaka, jangan salahkan 

aku!" gerendeng Wiro. Tangan kanannya diangkat tinggi-

tinggi ke atas. Begitu tinju dihantamkan ke muka maka 

kelima jari membuka dan satu gumpalan angin keras 

menderu ke arah Tua Gila yang masih saja duduk tertawa-

tawa.

 "Ah! Cuma pukulan kunyuk melempar buah! Tak ada 

gunanya bagiku!" ejek tua Gila. Tangan kirinya dilambaikan 

ke arah gumpalan angin yang hendak melabraknya. 

Terdengar suara berdentum, Wiro tersurut. tiga langkah ke 

belakang! Ketika dia memandang ke muka, si orang tua 

dilihatnya tertawa mengekeh dan masih tetap duduk di 

bawah pohon kelapa itu! . 

 Wiro merutuk setengah mati.

 Kedua tangan diangkat ke atas.

 "Tua Gila! Terima pukulanku yang kedua ini!" Kemudian 

tanpa tunggu lebih lama Wiro putar-putarkan kedua 

tangannya di udara. Gelombang angin yang tiada tara 

dahsyatnya menderu. Debu dan pasir beterbangan. Batu-

batu kerikil mental. Semak belukar luruh, daun-daun pohon 

berguguran bahkan banyak cabang-cabang dan rantingnya 

yang patah! Pakaian, rambut dan janggut Tua Gila kelihatan 

berkibar-kibar! Tapi anehnya dia tetap saja duduk di 

tempatnya, malah berkata' "Ah, sejuknya pukulan angin 

puyuh ini. Mataku sampai-sampai mengantuk!" Dia 

menguap lalu letakkan kepalanya di atas lutut seperti sikap 

orang yang hendak tidur mencangkung!

 "Edan!" maki Wiro Sableng. Pukulan angin puyuh segera 

diganti dengan pukulan angin es. Udara di atas pulau itu 

mendadak sontak menjadi dingin tiada terperikan. 

Binatang-binatang kecil seperti burung, jatuh menggelepar 

kaku. Sebaliknya si orang tua mendongak ke langit dan 

berkata seakan-akan pada dirinya sendiri; "Ah, panas sekali 

hari ini!.Tubuhku sampai keringatan!" Lalu Tua Gila kibas-

kibaskan pakaian putihnya. Dengan serta merta lenyaplah 

pengaruh pukulan angin es yang telah dilepaskan oleh Wiro 

Sableng!

 "Orang gila! Apakah kau masih punya ilmu simpanan 

yang lain?!" seru Tua Gila dengan nada mengejek!

 Wiro jambak-jambak rambutnya saking gemas.

 "Ayo! Pukulan sinar matahari belum kau keluarkan!

Sudah lama aku tidak melihat pukulan itu!"

 Sebenarnya susah sejak tadi Wiro Sableng terkejut

karena Tua Gila mengetahui setiap jurus pukulan yang hendak dilepaskannya. Bahkan kini kejutnya itu bertambah 

lagi sewaktu Tua Gila menyuruhnya mengeluarkan

pukulan sinar matahari!1 Siapa sesungguhnya orang tua

aneh ini, pikir Wiro tiada henti!

 "Ayo! Kenapa jadi macam orang pikun?! Keluarkan

pukulan sinar matahari!" berseru lagi Tua Gila.

 Penasaran sekati Wiro alirkan seluruh tenga dalamnya ke 

tangan kanan. Mulutnya komat-kamit. Sekejap kemudian 

tangannya itu mulai dari siku sampai ke ujung-ujung jari 

berubah menjadi putih sekali! Lima kuku-kuku jarinya 

memijar menyilaukan laksana perak ditimpa sinar

matahari!

 Tua Gila untuk pertama kalinya berdiri dengan cepat. 

Matanya yang lebar memandang ke muka tak berkedip. 

Tubuhnya sedikit dibungkukkan dan pada saat dilihatnya 

Wiro memukulkan tangan kanan ke muka, orang tua ini 

dorongkah telapak tangan kanannya ke depan!

 Dari tangan Wiro Sableng menderu satu larik besar

sinar putih yang tiada terkirakan panasnya! Sebaliknya

dari tangan Tua Gila berkiblat tujuh sinar pelangi yang

menderu ganas-dan memapasi sinar putih berkilau!

 Terdengar suara berdentum yang teramat dahsyat!

 Langit laksana robek!

 Pulau itu laksana tenggelam ke dasar laut!

 Dunia seperti mau kiamat!

 Wiro Sableng mencelat sampai tiga tombak. Ketika

dia berdiri mengimbangi badan, dadanya terasa sakit.

Tenggorokannya gatal. Dia terbatuk lapi darah yang

menyembur! Cepat-cepat Wiro telan sebutir pil! Lalu atur

jalan darah dan nafasnya! Di seberangnya dilihat se-

pasang kaki Tua Gila amblas ke dalam tanah sedalam

betis! Sambil batuk-batuk dan tertawa-tawa, orang tua

itu cabut kedua kakinya.

 "Ah... baru pukulanmu yang satu itu yang agak berguna 

dimataku!" kata Tua Gila. Perlahan-lahan dia duduk

kembali di bawah pohon kelapa. Tiba-tiba dia berpaling

ke kiri dan mendamprat keras: "Bocah sialan! Kau berani

mengintai urusan orang! Pergi!" 

 Ternyata yang dibentak dan diusirnya itu adalah anak 

kecil yang tempo hari ditolong oleh Wiro di tengah

lautan. Si anak dengari takut segera lari meninggalkan

tempat itu.

 Tua Gila mendongak ke langit. Saat itu sang surya telah 

menggelincir ke arah barat.

 "Hem... sudah rembang pelang. Tentu pasang sudah naik”Dia berpaling pada Wiro dan berdiri. Lalu katanya:

 "Mari ikut aku ke pantai!"

 Mula-mula Wiro merasa bimbang dan tetap berdiri di

tempatnya. Tapi ketika Tua Gila membentaknya dengan

mata melotot marah, maka dengan rasa ingin tahu apa

yang hendak diperbuat orarig tua aneh itu akhirnya Wiro

mengikut juga!


5


Seperti yang dikatakan Tua Gila tadi ternyata memang 

kini mereka sampai di tepi pantai. Orang tua itu melangkah 

sepanjang tepi pasir menuju ke sebuah teluk sempit yang 

penuh dengan batu-batu karang serta batu-batu cadas 

hitam. Wiro memperhatikan bagaimana Tua Gila 

melangkah seenaknya di atas pasir yang basah tanpa 

meninggalkan sedikit jejak pun! Se-baliknya ketika dia 

memandang ke belakang, meski tak begitu kentara namun 

tetap saja matanya bisa melihat bekas-bekas telapak kedua 

kakinya! Bagaimana dia bisa menganggap ilmunya sudah 

tinggi dan sempurna? Wiro garuk-garuk kepalanya. Dalam 

bati dia- merasa malu sendiri!

 Di teluk sempit itu terdapat dua buah batu karang yang 

menonjol tinggi. Lebih tinggi dari batu-batu di sekelilingnya. 

Jika pasang naik meskipun kedua batu karang itu tidak 

terendam air laut namun hampir setiap saat ombak yang 

sebesar-besar rumah menderanya dengan dahsyat! Setiap 

pasang naik, setiap hari, entah sudah berapa ratus tahun, 

entah sudah berapa juta kali ombak mendera kedua batu 

karang itu! Namun sampai saat itu keduanya masih tetap 

berdiri dengan kukuh dan megah laksana dua raksasa yang 

tiada terkalahkan sepanjang masa!

 Dengan gesit dan sambil menyanyi-menyanyi membawa-

kan lagu tak menentu Tua Gila melompat-lompat di atas 

batu-batu cadas, sampai akhirnya dia berada di puncak 

salah satu batu karang yang tinggi itu. Dia memandang ke 

bawah dan berteriak pada Wiro: "Kau melompatlah ke batu 

karang yang di sebelah sana!"

 "Kau gila!" teriak Wiro. "Kalau ombak dalang kau

pasti dihantam dan terpelanting ke batu-batu karang

yang runcing menonjol itu. Kira-kira dua puluh tombak!"

 Dan baru saja Wiro habis berteriak begitu sebuah

ombak sebesar rumah bergulung dan menerpa ke arah

puncak batu karang!

 Wiro berseru memberi Ingat agar Tua Gila lekas

melompat turun! Tapi gilanya, malah Tua Gila memutar

tubuh menghadapi datangnya ombak. Kedua tangannyadiangkat tinggi-tinggi dan dia berjingkrak-jingkrak di

atas puncak karang itu seperti seorang anak yang gembira 

sekail di kala ke luar rumah mandi hujan! Begitu ombak 

mendera begitu si orang tua dorongkan kedua tangannya 

menyongsong ke muka!

 "Byuur!"

 Ombak menerpa, Batu karang bergoyang keras.

Tapi Tua Gila masin berdiri di atas puncak karang itu,

Bajunya basah kuyup. Dan dia berteriak-teriak gembira;

"Ayo ombak! Ayo ombak datanglah lagi! Datanglah lagi

lebih besari"

 "Manusia aneh gili" desis Wiro. tapi diam-diam dia

kagum sekali! Sedangkan batu karang itu waktu dilanda

ombak kelihatan jelas bergoyang hebat! Sebaliknya seorang 

manusia yang berada di puncaknya tiada sanggup disapu 

oleh ombak! Benar-benar tak bisa dipercaya kalau dia tak 

menyaksikannya sendiri.

 "Hai! Melompatlah. Kau tunggu apa lagi?!" teriak Tua 

Gila sewaktu dilihatnya Wiro Sableng masih berdiri bengong 

melompong di bawah sanal

 "Tobat! Aku masih mau hidup orang tua!" sahut Wiro.

 Tua Gila memaki lalu gerakkan tangan kanannya.

 Wiro tak tahu apa yang dikerjakan orang tua itu tahu-

 tahu sebuah benda halus putih yang berkilauan telah

 melibat pinggangnya. Benang kayangan! Belum sempat

 Wiro berbuat suatu apa tahu-tahu tubuhnya sudah ter-

 sentak dan melesat ke atas puncak karang yang kedua.

 Dengan kerahkan ilmu meringankan tubuh Wiro men-

 jejakkan kedua kakinya di atas puncak karang yang sem-

 pit runcing, serta licnin berlumut itu!

 Bila dia memandang ke muka, Wiro terkejut. Segulung 

ombak sebesar rumah menderu ke arah kedua puncak batu 

karang di mana dia berada bersama Tua Gila.

 "Bagi dua tenaga dalammu ke kaki dan tangani" teriak 

Tua Gila. "Begitu ombak datang songsong dengan pukulan 

kedua telapak tangan!"

 Karena khawatir tubuhnya akan disapu dan dihempas-

kan ombak ke batu-batu cadas di teluk yang sempit itu, 

dengan sedapat-dapatnya Wiro mengikuti ucapan Tua Gila! 

Tapi percuma saja! Begitu ombak menyapu begitu tubuhnya 

mencelat mental!

 "Tobat! Tamatlah riwayatku!" keluh Wiro Sableng. Satu 

tombak lagi tubuhnya akan menghantam sebuah batu 

cadas Ijba-tiba dirasakannya badannya tersentak membal 

dan mencelat lagi ke udara! Kiranya Tua Gila telahmenyentakkan benang kayangan yang menjerat

pinggangnya. Untuk kedua kalinya Wiro berdiri lagi di 

puncak batu karang itu!

 "Ayo orang gila! Jangan takut!" seru Tua Gila sambil 

tertawa gelak-gelak. "Nah ini ombak besar datang lagi! Ayo, 

sambutlah!"

 ''Byuuur!"

 Ombak menggulung menerpa bagian atas puncak-

puncak karang. Untuk kedua kalinya tubuh Wiro Sableng

mencelat mental. Seperti tadi, sebelum jatuh ke atas batu-

batu cadas, kembali Tua Gila menariknya dan 

melemparkannya ke puncak karang! Berkali-kali hal itu 

terjadi hingga Wiro merasakan sekujur tubuhnya laksana 

tiada bertulang lagi, laksana hancur lebur dan orang tua gila 

itu masih juga melemparkannya ke atas batu karang setiap 

ombak menerjangnya jatuh!

 Tiada terasa senjapun datang. Senja segera pula berganti 

dengan malam. Entah sudah berapa puluh kali Wiro disapu 

ombak dan "dipermainkan" oleh Tua Gila. ' Lambat laut 

timbullah rasa penasaran di hati Wiro Sableng, Dengan 

menguatkan diri dap menabahkan hati, ketika untuk 

kesekian kalinya ombak dalang lagi menderu maka 

pemuda ini coba berbuat seperti yang dilakukan Tua Gila. 

Sebagian tenaga dalamnya dikerahkan ke kaki, sebagian 

lain ke tangan. Begitu ombak datang tubuhnya 

dibungkukkan sedikit dan kedua telapak tangan

didorongkan ke muka!

 "Byuur!"

 Wiro mencelat mental. Tapi kali ini tidak sejauh seperti 

sebelumnya. Dan bila hal itu dicobanya lagi berulang-ulang, 

maka menjelang tengah malam akhirnya Wiro sanggup 

juga beberapa kali tetap berdiri di puncak batu karang itu 

meskipun tubuhnya tergoyang gontai dengan hebat! Namun 

karena kekuatannya telah habis, akhirnya pemuda ini roboh 

pingsan! Dari mata, telinga, hidung dan mulut ke luar darah. 

Ini adalah akibat tubuh lemah yang dipaksakan 

mengerahkan tenaga untuk melakukan pekerjaan yang tak 

pernah dilakukan sebelumnya! Sebaliknya. Tua Gila tertawa

gelak-gelak penuh gembira. Ditariknya benang sakti di 

tangannya. Sekali menyentakkan kemudian tubuh Wiro 

Sableng sudah berada di atas bahu kirinya.

 Tua Gila mendongak ke langit, memandang ke arah bulan 

sabit. Sambil melompat turun dan tertawa-tawa dia berkata: 

"Tidak percuma... tidak percuma Si Sinto Gendeng itu punya 

murid macam ini! Tidak percuma!"Kalau saja Wiro Sableng tidak pingsan, kalau saja Wiro 

Sableng mendengar ucapan Tuan Gila itu, pastilah dia akan 

heran dan terkejut sekali. Karena Eyang Sinto Gendeng 

adalah guru Wiro Sableng yang telah menggembleng 

pemuda ini selama tujuh belas tahun di puncak Gunung 

Gede!

 Ternyata Tua Gila dengan mengajak Wiro Sableng ke 

puncak batu karang di teluk sempit itu, telah mengajarkan 

sebuah ilmu pukulan yang amat hebat kepada si pemuda. 

Wiro sendiri begitu menyadari bahwa Tua Gila memberikan 

pelajaran ilmu pukulan sakti kepadanya segera hendak 

berlutut mengucapkan terima kasih. Tapi dengan tertawa-

tawa Tua Gila berkata:

 "Meski kau kuberi pelajaran satu ilmu pukulan yang

hebat, tapi jangan sangka bahwa aku telah jadi guru dan

kau telah jadi murid antara kita tak ada hubungan apa-

apa...!"

 "Terima kasih orang tua! Terima kasih!" kata Wiro,

"Tapi mengapakah kau sampai demikian bermurah hati

 mengajarkan ilmu pukulan itu?"

 Tua Gila tertawa gelak-gelak.

 "Pertama sebagai ucapan terima kasihku karena di

 tengah laut kau telah menyelamatkan seorang anak yang

 bakal menjadi muridku! Kedua karena mengingat... ah....

 Agaknya tak perlu kuteruskan...."

 Wiro Sableng merasa tak enak.

 "Karena mengingat apa, orang tua...?"

 "Sudah! Tak usah banyak tanya!" kata Tua Gila tak 

senang. "Ilmu pukulan yang telah kau pelajar! itu bernama 

"Dewa Topan Menggusur Gunung". Merupakan satu diantara 

tujuh pukulan hebat yang ada di dunia persilatan! Sekarang, 

untuk menambah bekalmu ke Tambun Tulang, aku akan 

ajarkan padamu beberapa jurus silat ciptaanku yang 

bernama Ilmu Silat Orang Gila"

 "Nah sekarang kau seranglah aku selama tiga jurus," 

kata Tua Gila.

 Wiro segera menyerang orang tua itu dengan gencar! 

Bagaimanapun hebat dan cepat gerakannya tetap saja dia 

tak bisa menyentuh tubuh Tua Gila. Sebaliknya dia kena 

didesak dan akhirnya dipaksa "makan" sebuah jotosan 

pada dadanya! Padahal ilmu silat yang dimainkan oleh Tua 

Gila kelihatannya gerabak-gerubuk tidak teratur! Tapi justru 

disitulah letak kehebatan ilmu silat orang gila yang 

diciptakan oleh Tua Gila! Dalam waktu yang singkat Wiro 

Sableng telah dapat meyakinkan jurus-jurus silat itu.Meskipun belum sempurna, tapi bila dia terus melatih diri,

pastilah kepandaiannya akan mencapai tingkat 

kesempurnaan.

 Di pagi hari keesokannya setelah bersemedi hampir

setengah malam Tua Gila memanggil Wiro Sableng.

 "Hari ini adalah hari yang paling memuakkan bagiku 

untuk melihat tampangmu!" kata si orang tua. Wiro 

terkejut. Belum sempat dia bertanya Tua Gila sudah 

menyambung: "Karenanya hari ini pula kau harus angkat

kaki! Nah berlalulah sebelum aku betul-betul muntah

melihatmu!"

 Wiro berpikir sejenak lalu dengan tertawa lebar dia duduk 

dihadapan Tua Gila. Dia tahu orang tua ini bersifat aneh. 

Karenanya meski disuruh pergi dia tak mau angkat kaki 

dari situ.

 "Sebelum pergi, pertama sekali aku akan mengucapkan 

terima kasih sekali lagi, Terima-kasih karena kau juga telah 

mewariskan ilmu pukulan sakti dan menurunkan ilmu silat 

yang hebat padaku...."

 "Lalu apa lagi?]" tanya Tua Gila. "Ah, sudahlah! Perutku 

sudah mual melihatmu! Ayo berlalu cepat!" Tua Gila

lambaikan tangannya. Angin yang hebat mendorong Wiro

hingga terjajar beberapa langkah ke pintu pondok.

 "Aku butuh beberapa petunjuk darimu, Tua Gila,"

kata Wiro.

 "Eh, petunjuk apa?!"

 "Kau sudah tahu bahwa aku akan pergi ke Tambun

Tulang."

 "Dan aku sudah berikan beberapa ilmu sebagai

bekalmu. Apa itu masih belum cukup?!"

 "Maksudku bukan minta ilmu lagi, tapi beberapa

keterangan."

 "Keterangan apa?!" tanya Tua Gila cepat seperti

orang yang tidak sabar.

 "Aku tak tahu banyak tentang letak dan apa artinya

Tambun Tulang itu...."

 "Dan juga tidak tahu bahwa ajal mungkin menantimu di 

situ?!" Tua Gila tertawa mengekeh.

 "Ajal menunggu manusia di mana-mana, orang tua,"

sahut Wiro.

 "Betul! Sedang tidurpun bisa mampus! Tapi mati yang 

paling mengenaskan dan mengecewakan ialah mati 

percuma dalam tak berhasil melakukan sesuatu yang kita 

rasakan sebagai kewajiban!" Orang tua itu tertawa lagi 

seperti sebelumnya. Setelah memijit-mijit kedua pipinyayang cekung. Tua Gila membuka mulut lagi:

 "Tempat tujuanmu itu terletak di sebelah utara, kira-kira

diperlengahan Pulau Andalas. Cukup jauh dari sini! Tapi kau 

pasti bisa sampai di situ karena bukankah kuburmu 

memang terletak di sana?" Tua Gila tertawa kembali. Lalu 

meneruskan lagi: 'Tambun Tulang artinya Timbunan Tulang. 

Bukan timbunan tulang binatang tapi timbunan tulang 

ratusan, mungkin ribuan manusia! Demikian banyak hingga 

merupakan sebuah bukit yang kelihatan putih dari jauh! Bila 

didekati, pemandangan di sana mengerikan sekali! Bukit 

Tambun Tulang daerah kekuasaannya Datuk Sipatoka, 

seorang jago silat dan sakti mandraguna. Dia memiliki 

anak buah dan pembantu-pembantu yang lihay. Di samping 

itu memelihara puluhan harimau! Sekali kau masuk ke 

daerahnya itu, tipis harapan kau bakal keluar hidup-hidup, 

orang gila! Nah, apa bukan lebih bagus kau membatalkan 

saja niatmu pergi ke situ?!"

 Wiro gelengkan kepalanya.

 "Kau masih muda, orang gila. Mati muda mati yang sia-

sia!" kata Tua Gila pula.

 Wiro tak menghiraukan ucapan orang tua itu, Malah dia 

bertanya: "Menurutmu, apakah mungkin manusia bernama 

Sipatoka itu yang telah membunuh Kiat Bangkalan dan 

mencuri kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan?"

 "Dasar orang gila! Masakan hal itu kau tanyakan padaku! 

Aku tidak tahu dan kalaupun tahu belum tentu kuberi tahu 

padamu!"

 "Wiro mendumel dalam hati”.

 "Orang bernama Sipatoka itu, apakah dia termasuk 

tokoh silat golongan hitam?"

 "Itu urusanmu untuk menyelidikinya!" jawab Tua Gila

 "Mengenai bukit tulang manusia itu... apakah itu 

manusia-manusia korban keganasan Datuk Sipatoka dan

 orang-orangnya?" tanya Wiro lagi.

 Tua Gi|a tertawa dingin. "Kau akan melihat dan me-

ngetahuinya sendiri nanti, orang gila! Kalau nasibmu baik, 

kau akan mati berkubur! Tapi kalau tidak, tulang-tulangmu 

akan turut menambah tingginya bukit Tambun Tulang Ku! 

Nah sekarang kau tunggu apa lagi! Cepat angkat kaki!"

 Sekali lagi Wiro Sableng ucapkan terima kasih lalu 

setelah menjura berulang kali pendekar ini melangkah

dengan cepat ke pintu.

 "Orang gila! Tunggu dulu!" seru Tua Gila memanggil.

 Wiro Sableng membalikkan badan.

 "Sampai hari ini, sudah sejak beberapa lamakah kauturun meninggalkan puncak Gunung Gede?!"

 Kagetlah Wiro Sableng mendengar pertanyaan orang tua 

itu. Bagaimana si Tua Gila tahu kalau dia berasal dari 

Gunung Gede?!

 "Jawab sejujurnya orang gila! Aku tahu banyak tentang 

kau tapi tidak tentang orang lain itu!"

 "Orang lain siapa, Tua Gila?" tanya Wiro.

 "Gurumu si Sinto Gendeng! Lebih empat puluh tahun aku 

tak mendengar kabar beritanya!"

 Keterkejutan Wiro Sableng makin bertambah-tambah.

 "Kau... kau kenal dengan guruku?!"

 "Jawab dulu sudah berapa lama kau turun gunung?!"

 Wiro berpikir-pikir. "Kurasa ada satu tahun," sahutnya. 

"Ada apakah orang tua?"

 "Sejak satu tahun itu tak pernah ketemu-ketemu dengan 

si Sinto Gendeng?!"

 Melihat Tua Gila menyebut nama gurunya dengan "Si 

Sinto Gendeng" nyatalah bahwa Tua Gila mempunyai

hubungan akrab. Atau mungkin sebaliknya?!

 "Tidak," Wiro menjawab pertanyaan Tua Gjla tadi.

"Sebetulnya ada hubungan apakah kau dengan guruku,

Tua Gila?"

 Orang tua itu tertawa rawan. Dia memandang jauh-jauh 

ke muka seakan-akan sesuatu di masa lampau kini

terbayang di ruang matanya.

 Tiba-tiba Wiro Sableng melihat butiran-butiran air

mata menetes dan turun ke pipi cekung si orang tua.

Aneh, pikir Wiro.

 Lalu tiba-tiba lagi sambil seka air mata itu tua Gila

tertawa gelak-gelak. "Kadang-kadang orang yang sudah

tua berlaku seperti anak kecil. Menangis macam anak 

kecil!" Tua Gila kemudian hela nafas panjang. "Sebenarnya

aku dan gurumu itu adalah saudara satu guru...."

 Tentu saja ini tak diduga sama sekali oleh Wiro Sableng! 

Kagetnya bukan olah-olah! Tapi begitu sadar cepat-cepat 

dia menjura dalam-dalam dihadapan Tua Gila.

 "Betul-betul aku tidak menduga kalau kau adalah 

saudara seperguruan dari Eyang Sinto Gendeng. Ah... 

pantas saja kau sakti dan lihay sekali!"

 Kembali Tua Gila tertawa rawan.

 "Aku lima tahun lebih tua dari dia, orang gila....". Dan

 dia memandang lagi jauh-jauh ke muka. "Gurumu itu 

sekarang tentu sudah tua renta, bungkuk dan buruk 

keriputan! Tapi dulu dia seorang dara yang cantik sekali!

Dan aku yang kini begini buruk macam mayat hidupdulupun punya tampang keren, tegap gagah! Tapi itu dulu...! 

Semua yang dulu-dulu itu tak bakal kembali lagi!"

 Untuk kedua kalirjya Jua Gila menghela nafas dalam. 

Lalu meneruskan, penuturannya. "Orang gila, aku naksir 

pada gurumu di masa kami muda-muda dulu. Dia juga 

senang padaku. Kami saling mencintai! Bahkan sewaktu 

turun gunung, guru kami merestui kalau benar-benar kami 

hendak bergabung dalam satu perkawinan! Tapi celakanya 

sesudah turun gunung aku tertipu oleh kecantikan dunia 

luar! Aku terjebak dan mati kutu di tangan seorang janda 

muda anak seorang Adipati di Plered! Aku kawin dengan 

janda Itu dan meninggalkan gurumu! Gila! Betul-betul gila 

perbuatanku!" Dan Tua Gila memukul-mukul keningnya 

sendiri! "Ketika janda itu sakit dan mati, baru aku sadar! 

Aku cari gurumu dan bertemu. Tapi dia tak sudi lagi 

padaku! Sekalipun aku menangis air mata darah, dia tak 

bersedia menerimaku dan hidup bersama! Gurumu patah 

hati, orang gila! Memang aku yang salah! Gila! Aku jadi 

putus asa lalu bertualang dan membuat keonaran di mana-

mana! Seluruh tokoh-tokoh, silat di Pulau Jawa tunduk dan 

takut padaku! Dua puluh tahun lebih aku merajai dunia 

persilatan! Orang-orang menjulukiku berbagai rupa. Ada 

yang memberi gelar "Pendekar Gila Patah Hati". Ada pula

yang menjuluki "Iblis Gila Pencabut Jiwa"! Banyak lagi

gelar-gelar yang lain, tapi persetan dengan semua gelaran 

itu! Di akhir hayatku ini aku memakai gelar yang kuciptakan 

sendiri yaitu Tua Gila! Orang tua yang gila! Kurasa itu cocok 

bagiku! Dan selama bertualang membuat keonaran itu 

tahukah kau sudah berapa manusia yang menjadi korban di 

tanganku?"

 Wiro angkat bahu.

 Tua Gila hela nafas lagi. "Tiga ratus lebih," katanya men-

desis. 'Tiga ratus lebih nyawa manusia yang harus kuper-

tanggung jawabkan di akhirat nanti! Betul-betul gila! Tapi 

semua mati dalam pertempuran yang jujur! Meski demikian 

kurasa jtu tetap gila! Dan di hari tua ini datanglah 

penyesalan. Tapi,apa gunanya lagi? Sudah nasib!"

 ''Apakah selama bertualang itu kau tak pernah bertemu 

dengan guruku?" tanya Wiro ingin tahu..

 "Pernah... memang pernah, orang gila! Waktu itu 

keadaan diriku menyedihkan sekali. Pakaian compang-

camping penuh tambalan. Rambut gondrong, lebih 

gondrong darimu dan acak-acakan. Badanku kurus kering,

muka tak terpelihara dan kalau aku tak salah, waktu itu

aku tak pernah mandi-mandi! Dan waktu itu kami berumurkira-kira empat puluh tahunan! Rupanya gurumu kasihan 

juga melihat aku! Lalu dia berkata kalau aku menghentikan 

membuat keonaran, kembali ke jalan yang benar, maka 

kelak di tiga puluh tahun mendatang dia bersedia untuk 

kawin denganku! Gila tidak?! Di tiga puluh tahun men-

datang aku dan dia sudah jadi kakek nenek tua renta 

keriputan! Dan kawin di umur setua macam begini, betul-

betul gila dan tak pantas sekali! Atau menurutmu pantas-

kah orang setuaku dan setua gurumu itu, melangsungkan 

perkawinan?!".

 Wiro Sableng garuk-garuk'kepala. Hatinya geli sekali.

 "Aku tak tahu, Tua Gila. Kalau suka sama suka kurasa tak 

ada halangannya...”

 Tua Gila tertawa gelak-gelak sampai ke luar air mata.

"Memang tak ada halangan dan tak ada yang melarangl

Tapi semua orang tentu akan mentertawai dan meng-

anggap kami berdua pada gila dan memang aku dan 

gurumu itu memang sudah gila! Sesudah bertemu dengan 

gurumu lantas aku mengundurkan diri dari dunia persilatan

dan tinggal di sini selama tiga puluh tahun lebih, men-

dalami ilmu silat ciplaanku dan memperyakin beberapa

ilmu pukulan sakti sambil berharap-harap sebelum

mampus bisa mendapatkan seorang murid! Dan nyatanya 

harapanku terkabul! Kau orang gila telah menyelamatkan 

seorang anak yang telah kuambil jadi murid!"

 Lama kedua orang itu sama berdiam diri.

 "Kalau kelak kau mengunjungi gurumu, jangan lupa

 sampaikan salamku padanya," kata Tua Gila.

 Wiro mengangguk."Tapi kurasa lebih baik lagi bila kau 

sendiri yang datang menyambanginya...."

 "Ah... hatiku memang rindu! Tapi aku malu sekali! Kau 

tahu orang gila, rasa malu lebih kukuh dari dinding baja!"

 "Liku hidup ini banyak ragam dan keanehannya,"

 kata Wiro.

 Dan Tua Gila menyambungi: "Segala liku keanehan itu 

akan berakhir pada satu hal yakni kematian.... Nah, Wiro 

sekarang kau pergilah! Jangan tunggu sampai aku muntah!"

 Wiro Sableng tertawa dan berkata: "Aku tetap berharap 

kau sudi menyambangi guruku di puncak Gunung Gede!"

 Paras tua itu kelihatan memerah. Tua Gila membentak: 

"Sialan! Aku tak butuh nasihatmu! Ayo pergi!"

 Wiro Sableng keluarkan suara bersiul. Setelah menjura 

cepat-cepat dia tinggalkan tempat itu. Di tepi pantai pulau 

ditemuinya dua buah perahu lengkap dengan kayu pen-

dayungnya. Tanpa pikir panjang Wiro masuk ke dalamsalah satu perahu itu dan mulai mendayung menuju ke 

utara!


6


Di tengah pasar yang ramai itu kelihatanlah banyak orang 

berkerumun dalam bentuk lingkaran. Dalam lingkaran 

berdiri dua orang, yang pertama seorang laki-laki separuh 

baya berpakaian dan berdestar hitam. Tampangnya gagah 

dan senyum senantiasa terbayang di bibirnya. Orang kedua 

seorang dara yang juga berbaju dan berikat kepala hitam. 

Kulitnya putih rambutnya menjulai panjang di punggung dan 

parasnya jelita. Seperti laki-laki tadi, dibibirnya yang segar 

juga selalu mengulum senyum yang diberikan pada orang 

ramai di sekelilingnya.

 Laki-laki berpakaian hitam, melangkah ke tengah

lingkaran, memandang berkeliling lalu menjura ke segala 

penjuru. Suaranya keras dan enak didengar ketika dia

bicara.

 "Saudara-saudara sekalian! Banyak terima kasih yang 

saudara-saudara sudah, sudi berkumpul di sini. Kita 

bukanlah orang-orang yang baru berjumpa kali ini.

Sudah seringkali aku dan anakku berkunjung ke pasar

ini sekedar memberi hiburan tak berguna untuk mencari

uang. Hari ini kita berjumpa lagi. Kuharap saja saudara-

saudara tidak bosan melihat pertunjukan kami! Juga tidak 

keberatan bermurah hati memberi beberapa ketip sebagai 

sumbangan. Kami ayah dan anak mengucapkan terima

kasih...."

 Sampai di situ ucapan laki-laki ini terhenti sejenak. Yang 

menghentikannya ialah karena dua buah matanya melihat 

kedatangan seorang penunggang kuda bertubuh tegap, 

berkumis melintang, berpakaian dan berikat kepala serba 

hitam. Dibagian dada pakaiannya kelihatan lukisan kepala 

harimau berwarna kuning! Penunggang kuda itu berhenti 

dan ikut bergerombol di belakang orang banyak. Laki-laki 

separuh baya yang ada di lengah lingkaran merasa tak 

enak. Demikian juga anaknya kelihatan berubah air 

mukanya sewaktu melihat kemunculan si penunggang kuda 

berkumis melintang. Sedang orang banyak yang berjubalan, 

begitu mengetahui kedatangan penunggang kuda ini segera 

bersibak menjauh dengan muka yang membayangkan 

ketakutan. Banyak diantara mereka yang tak punya minatlagi untuk meneruskan melihat pertunjukan kedua beranak 

itu dan berlalu dengan cepat!

 Laki-laki separuh baya meskipun dengan hati tidak enak 

kembali meneruskan ucapannya.

 "Saudara-saudara sekalian. Maksud kami melakukan 

pertunjukan ini bukan untuk memamerkan ilmu 

kepandaian kami yang tak seberapa tapi semata-mata 

hanyalah untuk mencari Uang guna membeli sesuap nasi. 

Kami tahu pula, diantara saudara-saudara yang hadir disini 

tentu ada yang memiliki kepandaian dan kesaktian yang 

jauh lebih tinggi, karenanya kami minta maaf terlebih 

dahulu dan sudilah untuk tidak berlaku keras terhadap 

kami dan menahan pertunjukan kami nanti. Sekali lagi 

maaf. Sekarang kami akan mulai...."

 Laki-laki itu mencabut sebilah keris dari pinggang-nya. 

Senjata itu dibawanya berkeliling, diperlihatkannya dekat-

dekat pada penonton. Lalu diambilnya sepotong kayu jati 

dan kayu itu ditusuknya dengan keris! Kayu itupun 

berlubanglah! Ini untuk menunjukkan bahwa keris itu betul-

betul senjata tajam bukan keris palsu yang terbuat dari 

kayu atau kertas tebali

 Kemudian laki-laki ini menganggukkan kepalanya pada 

si dara jelita. Anak gadis itu mengambjl sebuah gendang 

dan mulai memukulnya. Ayahnya membuka baju. 

Kelihatanlah dadanya yang bidang dan berbulu. Kemudian 

mengikuti irama pukulan gendang, laki-laki ini menari 

sambil menghunjam-hunjamkan keris di tangan kanannya 

ke dada! Jelas sekali kelihatan ujung senjata itu menusuk 

kulit daging tubuhnya, namun kulit itu jangankan luka, 

tergorespun tidak! Semakin cepat irama pukulan gendang 

semakin cepat tar ia n yang dimainkannya dan semakin 

gencar pula tusukan-tusukan ujung keris ke dadanya!

 Lewat sepeminum teh maka irama gendang kembali

perlahan dan akhirnya berhenti. Laki-laki itu hentikan

pula "permainannya lalu menjura kepada orang banyak

yang disambut dengan tepuk sorak yang riuh!

 "Saudara-saudara sekalian, pertunjukan, berikutnya

dilakukan oleh seorang yang bukan lain adalah anak saya 

sendiri." Sementara itu ayahnya mengeluarkan sebatang 

golok tajam, putih berkilat ditimpa sinar matahari. Untuk 

membuktikan bahwa benda itu sebenarnya golok maka 

diambilnya kayu jati tadi lalu dibacoknya. Kayu jati terbelah 

dua!

 Gendang mulai dipalu. Dengan langkah ringan si dara 

baju hitam menuju tengah lingkaran. Dia tersenyumberkeliling lalu mulai menari mengikuti irama gendang.

Tariannya bagus sekali dan lemah gemulai membuat, se-

mua orang terpesona. Ketika ayah sang dara melangkah

mendekati anaknya dengan golok terhunus semua

orang merasa ngeri meskipun pertunjukkan demikian

sudah sering mereka saksikan. Laki-laki itu mulai pula

menari mengelilingi anaknya. Kemudian "wuut," golok-

nya dibacokkan ke punggung si gadis. Terdengar suara

"buuk!" Gadis itu tersenyum! Aneh! Hantaman mata golok 

yang tajam bukan saja tidak melukai punggung sang dara 

tapi bahkan juga tidak merobek pakaiannya! Dan dengan 

senyum simpul si gadis terus menari seakan-akan tak ada 

terjadi apa-apa sementara golok menderu bertubi-tubi 

membacok bagian atas tubuhnya dan suara

"Buuk... buuk... buuk." Terdengar tak kunjung henti! Ke-

ngerian orang banyak berubah menjadi tempik sorak

kagum!

 Lewat sepeminum teh pula maka pertunjukan yang

kedua itupun berakhirlah! Orang banyak bertepuk riuh

dan bersorak gembira. Beberapa diantara mereka ada

yang melemparkan uang logam ke tengah lingkaran

yang segera dikumpulkan oleh anak laki-laki lalu di-

masukkan ke dalam kotak.

 "Sekarang pertunjukan yang ketiga, saudara-saudara," 

kata laki-laki berpakaian hitam. Dia melirik sekilas pada 

penumpang kuda berkumis melintang yang sampai saat itu 

masih berada di situ dan menyaksikan peri tinjukan.

 "Saudara-saudara sekalian," kata laki-laki itu 

selanjutnya. "Saudara lihat kuati besardibela kang itu? Kuali

 itu berisi air yang dijerang hingga mendidih! Saudara-

 saudara akan melihat bagaimana saya akan masuk ke

 dalamnya dan mandi!"

 Lalu laki-laki itu melangkah mendekati sebuah kuali

 yang* besar sekali. Bagian bawah kuali yang ditopang

 oleh tiga buah batu besar itu berkobar api besar. Air yang

 ada di dalam kuali berbunyi mendidih dan mengepulkan

 asap panas.

 "Tapi!" berkata laki-laki tadi seraya palingkan muka

 ke segala penjuru. "Mungkin saudara-saudara mengira

 air yang mendidih dan api yang berkobar ini hanyalah

 tipuan belaka! Aku akan buktikan bahwa aku Pagar Alam

 bukanlah seorang penipu!"

 Dari dalam sebuah kolak laki-laki yang mengaku

 bernama Pagar Alam itu mengeluarkan seekor tikus.

Tikus Hu kemudian dimasukkannya ke dalam api! Binatang itu mencicil dan meregang nyawa di situ juga. Bau

 dagingnya yang terbakar meranggas hidung! ",

 Pagar Alam mengeluarkan seekor tikus lagi lalu di-

cemplungkannya ke dalam air yang mendidih. Tikus itu

 mencicil sebentar dan menggelepar-gelepar lalu mati

matang! Setelah mengeluarkan tikus Hu dari dalam kuali

Pagar Alam berkata:."Sekarang saudara-saudara saksi-

kan sendiri bahwa aku tidak menipu kalian! Nah, aku

akan masuk ke dalam kuali ini!"

 Semua penonton menahan nafas penuh tegang se-

baliknya disudut bibir-penunggang kuda berkumis me-

lintang tersungging senyum penuh arti!

 Pagar Alam mencelupkan kaki kanannya ke dalam

air mendidih di kuali. Lalu kaki kirinya. Dan kini dia ber-

diri di atas kuali berair mendidih yang dibawahnya ber-

kobar api besar! Hebat dan aneh, kakinya tidak melepuh,

seakan-akan air di dalam kuali itu adalah air dingin biasa!

Bahkan laki-laki ini memutar tubuhnya berkeliling sam-

bil tersenyum! Orang banyak bertepuk riuh rendah!

 "Saudara saudara sekarang aku akan duduk dalam

kuali Ini dan akan mandi! Sudah lama badan buruk ini tak

pernah mandi-mandi. Daki telah tebal di sekujur tubuhku!"

 Semua orang tertawa gelak-gelak. Mata masing-

masing dibentangkan lebih lebar.

 Kemudian Pagar Alam membungkuk, siap untuk duduk di 

dasar kuali. Tapi baru saja dia bergerak sedikit tiba-tiba laki-

laki ini menjerit keras dan melompat ke luar dari kuali. 

Tubuhnya terguling di tanah. Kedua kakinya sebatas lutut 

kelihatan putih matang laksana daging direbus! Semua 

orang menjerit dan terbeliak kaget! Anak gadis Pagar Alam 

memburu dengan cepat. Dari balik baju hitamnya 

dikeluarkannya sejenis bubuk lalu ditebarkannya dikedua 

kaki ayahnya yang merintih kesakitan di tanah! Rupanya 

seseorang berilmu lebih tinggi diam-diam telah "menahan" 

dan "memunah" ilmu yang dimiliki Pagar Alam dan 

akibatnya kedua kaki itu terebus matang!

 Setelah mengobati kaki ayahnya, sang dara berdiri

dan memandang beringas ke segala penjuru.

 "Saudara-saudara siapakah diantara kalian yang begitu 

tega mencelakai ayahku? Ayah tiada punya permusuhan 

dengan siapapun di sini. Pertunjukan ini bukan untuk jual 

lagak atau memamerkan kepandaian, tapi hanyalah untuk 

mencari makan! Sungguh keterlaluan kalau ada yang 

demikian jahatnya mencelakai ayahku!"

 Sekali lagi gadis itu memandang beringas berkeliling.Sepasang matanya-beradu pandang dengan penunggang 

kuda berkumis melintang! Hatinya berdetak! Kemudian 

dengan suara lantang sambil memandang berkeliling gadis, 

ini berteriak keras: "Siapa yang telah mencelakai ayah 

silahkan maju kehadapanku! Siapapun dia adanya aku 

tidak takut! Aku Mayang akan mengadu jiwa padanya!"

 Orang banyak memandang pula berkeliling. Dan

 rata-rata pandangan mereka tertuju pada satu sasaran

 yaitu laki-laki berpakaian hitam yang duduk di atas

 punggung kuda!

 "Bangsat yang telah mencelakai ayahku tapi tak berani 

unjuk muka adalah pengecut terkutuk!" teriak Mayang 

lantang! 

 Sementara itu dengan merintih kesakitan Pagar

 Alam coba duduk dan bersandar ke sebuah peti. Sepa-

 sang matanya menyorot penuh amarah, memandang

 berkeliling. Bila matanya itu menyapu paras laki-laki

 yang duduk di atas kuda maka Pagar Alam pun membuka

 mulut dengan suara bergetar:

 "Gempar Bumi, kaukah yang melakukan kejahatan ini?!"

 Si penunggang kuda tertawa bergumam. Sekali dia

 gerakkan badan maka .tubuhnya ringan sekalj melesat

 dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Pagar Alam yang

 duduk di tanah bersandar ke peti!

 Dengan bertolak pinggang laki-laki bernama Gempar 

Bumi ini berkata: "Sudah berulang kali kuperingatkan

bahwa kau tidak boleh mengadakan pertunjukan dan minta 

sumbangan rakyat dengan seenaknya! Tapi itu tidak kau 

pedulikan! Dan pajak yang musti kau berikan pada 

atasanku penguasa negeri ini tak pernah kau serahkan!"

 "Penghasilan kami tak ada artinya!" teriak Mayang.

 "Dan pajak yang kau minta melewati batas besarnya!

 Lagi pula hak apakah atasanmu memungut pajak dari

 kami? Semua rakyat bebas mencari penghasilan'. Rakyat

tidak merasa atasanmu itu sebagai pemimpin dan pe-

 nguasa negeri ini!"

 "Aha.... Mayang. Cakapmu terlalu berani. Kalau

Datuk mendengarnya pasti kau akan celaka!"

 Mayang meludah ke tanah. "Aku tidak takut pada

Datukmu itu!"

 Gempar Bumi menyeringaijdan puntir-puntir kumisnya. 

 "Aku tahu Gempar Bumi!" tiba-tiba Pagar Alam berkata. 

"Kau mencelakai diriku bukan karena soal pajak ataupun 

soal yang lain! Tapi karena aku dan anakku telah menolak 

lamaranmu dua minggu yang lalu!"Gempar; Bumi tertawa dingin.

 "Di negeri ini rupanya mulai ada keledai-keledai tolol yang 

hendak coba-coba menentang kekuasaan Datuk dan 

pembantu-pembantunya! Dan ketika dia diberi babaran 

baru menyesal!"

 "Aku tidak menyesal telah menolak lamaran manusia 

macammu!" sentak Pagar Alam. Kalau saja dia bisa berdiri 

mungkin sudah diserangnya laki-laki itu!

 Gempar Bumi memandang berkeliling dan berkata

dengan suara nyaring. "Siapa-siapa yang coba menantang 

kekuasaan Datuk dan menghina pembantu-pembantunya 

sama saja dengan mencari mati!"

 "Bangsal terkutuk!" damprat Mayang. "Aku lebih baik 

mampus daripada jadi isirimu. Aku lebih baik mati

berkalang tanah daripada tunduk kepada Datuk 

keparatmu!" Habis berteriak begitu anak gadis Pagar Alam 

ini menyambar sebilah golok dan menyerang Gempar 

Bumi!


7


Suasana di pasar itu pun hebohlah! Golok di tangan

Mayang berkiblat kian kemari dengan suara menderu. 

Dalam tempo yang singkat kelihatanlah bagaimana 

Gempar Bumi terbungkus sambaran golok yang

menyerangnya ke seluruh bagian tubuhl Gempar Bumi

sendiri tiada menyangka kalau si gadis memiliki 

kehebatan begitu rupa. Tapi dia tidak jerih. Dengan senyum

mengejek Gempar Bumi menghadapi si gadis dengan

tangan kosong dan buka jurus pertahanan. Senjata lawan 

lewat di depan pinggangnya. Jurus pertahanan diganti kini 

dengan jurus serangan. Tangan kanan dengan cepat 

menyelusup ke dada mayang, siap untuk menjamah buah 

dadanya yang padat montok!

 "Wuuut!"

 Tersirap darah Gempar Bumi sewaktu golok di tangan 

sang dara membatik laksana kilat! Kalau saja dia tidak 

cepat-cepat menarik pulang tangannya, pastilah akan 

terbabat putus!

 Mayang sendiri dengan gigih terus menyerbu. Sambaran-

sambaran goloknya laksana hujan mencurah! Gempar 

Alam tidak mau main-main lagi. Hatinya heran dari mana si 

gadis memiliki ilmu kepandaian begini rupa! Jika ditinjau 

jelas sekali ilmu silatnya lebih tinggi satu dua tingkat dari 

ayahnya sendiri! Tentu dia telah berguru pada seorang jago 

silat, pikir Gempar Bumi.

 Dalam waktu singkat sepuluh jurus telah berlalu dan

Gempar Bumi masih berada di bawah angin. Laki-laki ini

mengomel dalam hati. Dia membentak keras dan sekejap

saja berubahlah jurus-jurus ilmu silatnya. Tubuhnya ber-

kelebat kian ke mari membuat bayang-bayang hitam.

Satu jurus kemudian terdengar pekik Mayang.

 Lengan kanannya kena dipukul oleh lawan. Golok

terlepas mental dan di saat itu pula, dara ini merasakan

tubuhnya kaku tegang tak kuasa digerakkan. Ternyata

sewaktu memukul lengan kanan lawan, sekaligus Gempar 

Bumi menotok dada Mayang dengan jari-jari tangan

kirinya!"Manusia haram jadah! Beranimu hanya sama 

perempuan!" bentak Pagar Alam yang tergeletak duduk di

tanah bersandar ke peti.

 Gempar Bumi tertawa mengekeh!

 "Anakmu hebat juga, Pagar Alam! Walau kau menolak 

lamaranku tempo hari, tapi saat ini terpaksa kau harus 

menyerahkan Mayang bulat-bulat ke tanganku!"

Laki-laki berpakaian hitam ini tertawa lagi

 "Keparat! Kau mau bikin apa?!" hardik Pagar Alam

seraya hendak berdiri. Tapi tubuhnya terduduk kembali.

Sepasang kakinya yang terebus matang tak kuasa untuk

ditegakkan! Darah laki-laki ini bergejolak marah. Pelipisnya 

mengembung!

 "Bikin apa lagi kalau bukan mau membawanya 

ketempatku!" jawab. Gempar Bumi seraya melangkah ke 

arah Mayang.

 "Anjing baju hitami Kalau kau berani menjamah

tubuhnya kupecahkan kepalamu!"

 Gempar Bumi menyeringai!

 "Berdiripun kau tak mampu! Bagaimana mau mem-

 bunuh aku?!" Dan dia melangkah lagi mendekati

 Mayang.

 Tapi begitu tangannya diulurkan untuk meraih pinggang 

sang dara tiba-tiba "buuk!" Punggungnya dihantam orang 

dari belakang yang kerasnya cukup membuat Gempar 

Bumi mengerenyitkan kulit kening kesakitan! Dia berpaling 

dengan cepat dan berkeretekanlah geraham-gerahamnya! 

Ternyata yang meninju punggungnya tadi bukan lain anak 

laki-laki kecil adik Mayang!

 "Buyung! Berlalulah dari hadapanku kalau tak ingin

kena tempelak!" bentak Gempar Bumi.

 "Orang jahat! Kalau kau berani membawa lari kakakku, 

aku akan...."

 "Akan apa?!" tanya Gempar Bumi seraya bertolak

pinggang.

 Si anak menjawab dengan menyerang marah. Tinjunya 

yang kecil tapi cukup keras dihantamkan ke perut Gempar 

Bumi. Tapi tentu saja Gempar Bumi bukan tandingan si 

buyung kecil ini. Ditangkapnya lengan anak itu lalu 

dipuntirnya ke belakang hingga si anak menjerit-jerit

kesakitan dan coba menendang paha Gempar Bumi dengan 

tumitnya! Gempar Bumi mendorongnya ke muka hingga 

hampir saja dia jatuh menyungkur tanah!

 Tiba-tiba si anak melihat golok yang dipakai kakaknya 

untuk menyerang Gempar Bumi. Dengan cepat diamembungkuk dan mengambil senjata itu lalu membalik

 menyerang Gempar Bumi kembali!

 "Tikus cilik tak tahu diunlung!" maki Gempar Bumi dan 

sebelum senjata itu sampai ke dekat tubuhnya, tangan 

kanannya sudah bergerak.

 "Plaak!1

 Si anak terpekik.

 Bibirnya pecah dan berdarah. Dua buah giginya

 mencelat mental Tubuhnya terpelanting satu tombak

 dan menggelusur di tanah tanpa sadarkan diri!

 "Bangsat rendah! Terima ini!" teriak Pagar Alam

 dengan amarah mendidih. Dijangkaunya keris yang ter-

 letak di atas peti lalu dilemparkannya ke arah Gempar

 Bumi. Senjata itu melesat mencari sasaran di batang

 leher Gempar Bumi!

 Yang diserang ganda tertawa. Setengah jengkal lagi

 ujung keris akan menembus tenggorokannya, laki-laki

 ini gerakkan tangan kanannya! Dan sesaat kemudian

 kelihatanlah bagaimana dengan mudahnya senjata itu

 dijepit di antara jari tengah dan jari telunjuk! Itulah ilmu

 menjepit senjata yang lihay! Semua orang yang menyak-

 sikan hal ini sama leletkan lidah kagum, tapi bila mereka

 ingat siapa Gempar Bumi adanya, maka kekaguman itu

 mendadak sontak berubah menjadi kebencian!

 Gempar Bumi timang-timang beberapa kali keris itu.

Tiba-tiba tangannya itu digerakkan dan "cup!" Senjata

itu menancap di peti di mana Pagar Alam duduk bersandar, 

hanya setengah senti dari telinga kirinya!

 Gempar Bumi tertawa gelak-gelak!

 "Jika tidak mengingat kau bapaknya Mayang pasti

sudah kutembus keningmu dengan senjata itu!" katanya. 

Lalu dia menambahkan: "Tapi dilain hari jika kau masih 

tidak tahu tingginya Gunung Merapi dan dalamnya Ngarai 

Sianok, aku tak akan ampuni jiwamu!" 

 Habis berkala demikian Gempar Bumi melompat ke-

hadapan Mayang. Dan kini tak satu orangpun yang bisa

atau berani menolong gadis yang hendak dilarikan itu!

 Tangan kanan bergerak meraih pinggang Mayang

dengan ketat! Tapi mendadak raihan itu terlepas kembali. 

Dari balik gerombol orang banyak di tepi jalan melesat 

sebuah benda kecil menghantam sambungan siku

Gempar Bumi. Kulit di lengan siku itu lecet. Sekujur lengan 

kanan Gempar Bumi tergetar dan rasa sakit membuat dia 

melepaskan raihannya! Tak seorangpun agaknya yang 

mengetahui kejadian itu selain Gempar Bumi sendiri! Lakilaki ini memandang berkeliling dengan geram, mencari-cari 

siapakah manusia yang telah melemparkan benda itu! Tapi 

siapa yang hendak diduga diantara orang sebanyak itu?! 

Dan ketika ditelitinya ternyata benda kecil yang dipakai 

untuk menghantam tangannya itu adalah hanya sebutir 

kerikil yang besarnya tak sampai seujung jari kelingking! 

Nyatalah ada seorang pandai yang telah turun tangan.

 Sementara itu semua orang, termasuk Pagar Alam

dan Mayang sendiri merasa heran kenapa Gempar Bumi

tak jadi meneruskan niatnya melarikan dara itu! Gempar

bumi berdiri bimbang seketika. Tiba-tiba laksana kilat

tubuh Mayang sudah disambarnya dan dengan cepat

membawa gadis itu ke atas kuda! Dengan tangan kiri

Gempar Bumi menepuk pinggul binatang itu. Rasanya

 sekali tepuk saja kuda itu akan segera melompat dan lari!

Tapi kali ini kuda itu jangankan melompat dan lari,

bergerakpun tidak!

 Gempar Bumi menepuk sekali lagi lebih keras.

 "Ayo! Larilah!"

 Tapi binatang itu tetap berdiri di tempatnya. Keempat 

kakinya tak bergeser sedikitpun! Hanya kepala dan lehernya 

saja yang digerak-gerakkan. Kemudian binatang ini 

meringkik beberapa kali!

 "Ayo lari!" bentak Gempar Bumi.

 Tetap saja kuda itu tegak di tempatnya! Di samping

rasa heran dan penasaran kekejutan juga timbul di hati

 Gempar Bumi Ketika diperiksanya dengan cepat ternya-

 ta keempat kaki kudanya telah ditotok! Dan empat butir

 kerikil kelihatan tak jauh dari kaki-kaki binatang Ini! Tan-

 pa tunggu lebih lama Gempar Bumi melompat dari pung-

 gung kuda terus lari. Namun sekali inipun dia tak mampu

 lari jauh karena sebutir kerikil lagi menyelusup menem-

 bus kaki pakaiannya terus menghantam belakang lutut

 kaki kanannya! Dengan serta meria kaki kanan itu ke-

 semutan dan lemas sukar digerakkan!

 Gempar Bumi yang tahu gelagat bahwa dia benar-

 benar berhadapan dengan seorang lihay yang tersem-

 bunyi di antara manusia banyak di tengah pasar itu per-

 lahan-lahan turunkan tubuh Mayang. Orang ramai masih

 tak tahu apa yang telah terjadi. Sementara itu sepasang

 mata Mayang memandang ke tanah. Dilihatnya sebutir

 kerikil dekat kaki kanan Gempar Bumi. Gadis bermata

 tajam dan memiliki ilmu yang cukup tinggi ini untuk per-

 tama kalinya mengetahui apa yang sebenarnya telah ter-

 jadi. Dan bila dia memandang paras laki-laki itu sangberubah!

 Gempar Bumi menyadari kalau diteruskannya niat

 untuk melarikan Mayang, pasti orang pandai yang ter-

 sembunyi diantara manusia banyak dipasar itu akan

 turun tangan dan lebih mencelakainya lagi! Lemparan-

 lemparan batu kerikil tadi bukan lain merupakan per-

 ingatan keras terhadapnya!

 Perlahan-lahan Gempar Bumi berpaling pada Pagar

 Alam dan berkata dengan suara lantang: "Pagar Alam,

biarlah hari ini aku berlaku baik hati padamu! Anakmu

 kubebaskan! Tapi ingat, aku akan datang kembali untuk

 mengambilnya!"

 Gempar Bumi lepaskan totokan pada keempat kaki

kudanya lalu naik ke punggung binatang itu. Sebelum

berlalu dilepaskannya totokan di dada Mayang kemudian 

cepat-cepat menghilang dari tempat itu.

 Di jalan yang buruk penuh dengan lobang-lobang

demikian rupa bendi itu tak dapat berjalan cepat. Apalagi

barang-barang. Ketiga penumpang itu bukan lain daripada 

Pagar Alam, Mayang dan adik gadis ini. Mereka dalam 

perjalanan pulang. Karena nasib buruk yang menimpa 

Pagar Alam, orang-orang di pasar telah bermurah hati

memberi, sumbangan uang lebih banyak kepadanya

hingga pendapatannya hari itu tiga kali lipat lebih besar

dari biasanya! Namun uang yang sedemikian banyak tidak 

menggembirakan hati Pagar Alam. Pikirannya risau bila dia 

ingat si Gempar Bumi keparat itu. Cepat atau lambat pasti 

dia akan datang kembali untuk mengambil Mayang dengan 

paksa lalu melarikannya! Dimakluminya bahwa Gempar 

Bumi bukan tandingannya, juga bukan lawan anaknya. 

Sekalipun mereka mengeroyok laki-kaki itu tetap saja 

mereka tak akan mampu mengalahkannya! Ini hal pertama 

yang merisaukan hati Pagar Alam. Hal kedua ialah keadaan 

kakinya itu. Meski sudah diobati oleh anak gadisnya tapi 

dalam seminggu dua minggu pasti tak akan sembuh! 

Sementara itu bendi yang mereka tumpangi berjalan juga 

menempuh jalan buruk dan sunyi Kedua tepi jalan 

ditumbuhi semak belukar lebat dan di belakang semak 

belukar itu berderetan pohon-pohon besar tinggi.

 Bendi bergerak terus dan mereka bicara-bicara

juga. Kusir bendi sudah sejak lama tak mencampuri lagi

pembicaraan kedua beranak itu. Tali kekang kuda dipe-

gangnya dengan terkantuk-kantuk. Hembusan angin

yang sejuk ditengah hari itu memang menimbulkan rasa

kantuk. Tiba-tiba Pagar Alam dan Mayang hentikan pembicaraan mereka.

 Di kejauhan terdengar derap kaki kuda, makin lama

makin keras. Dari balik tikungan dihadapan mereka muncul 

seorang penunggang kuda berpakaian serba hitam. Pada 

bagian dada bajunya terpampang lukisan kepala harimau 

berwarna kuning. Ketika penunggang kuda itu tambah 

dekat, berubahlah paras seisi bendi itu! Pagar Alam 

meraba hulu keris yang tersisip di pinggangnya.

 Mayang mengeluarkan golok dari dalam peti sedang

 kusir bendi bersiap-siap dengan sebatang besi yang ter-

 geletak di lantai bendi dekat kakinya! Si penunggang

 kuda bukan lain dari Gempar Bumi adanya!

 Gempar Bumi hentikan kudanya. Kusir bendi pun

 telah pula menghentikan kendaraannya.

 "Sekarang kuharap kau tak usah banyak rewel

 Pagar Alam!" kata Gempar Bumi dengan nada keren.

 "Anakmu akan kuambil!"

 "Kau manusia yang paling tidak bermalu di dunia ini. 

Gempar Bumi! Pinanganmu ditolak! Aku kau celakai dan 

kini kembali kau memaksa untuk melarikan anakku!"

 Gempar Bumi tertawa sinis. "Mulutmu masih tetap

 besar! Aku hargai nyalimu! Tapi agar tidak lebih celaka

 kuharap kau serahkan anakmu secara baik-baik! Kalau

 tidak terpaksa aku memberi hajaran yang lebih keras

 padamu!"

 "Kau boleh bawa anakku, Gempar Bumi," desis Pagar 

Alam. "Tapi... langkahi dulu mayatku!" Dan Pagar Alam 

menghunus kerisnya!

 Gempar Bumi tertawa bergelak dan menyentakkan tali 

kekang kudanya. Sesaat kemudian kuda dan bendipun

telah bersisi-sisian.

 "Turun dari bendi itu Mayang!" perintah Gempar Bumi.

 Pagar Alam beringsut ke samping kereta sebelah

 kanan. Dalam jarak yang cukup dekat itu tanpa banyak

 bicara lagi keris di tangan kanannya dihunjamkan cepat-

 cepat ke muka Gempar Bumi!

 "Manusia tolol!" maki Gempar Bumi. Sekali dia gerakkan 

tangan kanan memukul lengan Pagar Alam, mentallah keris 

laki-laki itu sedang lengan yang kena dipukul kelihatan 

bengkak matang biru! Pagar Alam merintih kesakitan.

 Dalam pada itu dari samping menderu satu sambaran 

golok ke arah batok kepala Gempar Bumi. Ternyata Mayang 

telah melancarkan serangan yang pertama sambil 

melompat dari bendi. Adiknya juga tak tinggal diam. 

Dengan sebatang kayu anak laki-laki ini mengemplang kearah bahu kanan Gempar Bumi sementara Pagar Alam 

mengambil sebuah lembing dari dalam peti.

Si Malin kusir bendi meski tak ada sangkut paut dalam

urusan itu, tapi memang sudah sejak lama membenci ter-

hadap Gempar Bumi tak ayal lagi segera mengambil

batang besi dari lantai bendi dan menyerang Gempar

Bumi dari belakang!

 Diserang begitu rupa Gempar Bumi marah bukan main! 

Dia berteriak: "Jangan menyesal kalau kalian kuhajar babak 

belur!" Lalu dia melompat dengan cepat dan gerakkan 

kedua tangannya.

 Dua orang terpekik! Yang pertama anak laki-laki Pagar 

Alam. Kayu di tangan anak itu mental. Tangannya yang kecil 

laksana tanggal dan persendiannya. Tubuhnya mencelat 

dan terguling di tanah, kepalanya terbentur roda kereta 

terus pingsan!

 Orang kedua yang terpekik ialah Malin si kusir bendi. 

Gempar Bumi yang merasakan sambaran angin di

belakangnya sudah maklum kalau dia mendapat serangan 

dari arah itu. Karenanya begitu melompat dari punggung 

kuda Gempar Bumi laksana kilat hantamkan sikut

kanannya ke belakang!

 "Kraak!"

 Suara "Kraak" itu hampir tak kedengaran karena pekik 

setinggi langit yang ke luar dari tenggorokan Malin!

 Tulang iganya sebetah kanan patah dua buah. Tubuhnya

 mental sampai satu tombak. Begitu jatuh dia sudah tak

 sadarkan diri lagi! Pertempuran kini berjalan jauh dari

 kereta. Meskipun Pagar Alam memegang sebuah lem-

 bing namun dia tak bisa berbuat suatu apa karena dia

 tak bisa berdiri apalagi berjalan dan turun dari kereta.

 Otomatis pertempuran itu kini hanya berjalan satu lawan

 satu yaitu Gempar Bumi menghadapi Mayang. Tingkat

 kepandaian Mayang jauh lebih rendah dari lawannya.

 Maka dalam setengah jurus saja gadis berparas jelita

 yang telah membuat Gempar Bumi tergila-gila itu ter-

 desak hebat.

 "Gadis cantik!" kata Gempar Bumi dengan senyum

 mengejek. "Kalau saja kau serahkan dirimu secara baik-

 baik, pastilah...."

 "Wuuut!"

 Gempar Bumi tak bisa melanjutkan ucapannya. Se-

buah benda panjang berdesing ke arahnya. Ternyata

lembing yang dilemparkan dengan sebat oleh Pagar

Alam dari atas bendi! Gempar Bumi rundukkan kepala.Lembing itu lewat di alas kepalanya. Pada saat yang

sama kaki kanan Mayang menderu ke arah dadanya.

 "Mayang! Terpaksa kuakhiri segala kehebatannya

ini!'' kata Gempar Bumi. Ditangkapnya kaki kanan dara

itu. Dengan kalap Mayting membacok ke bawah. Gempar

Bumi angkat kaki sang dara. Akibatnya Mayang terpaksa

tarik pulang bacokan goloknya karena kalau diteruskan

pasti akan membabat kaki kanannya sendiri! Begitu se-

rangan ditarik, begitu Gempar Bumi gerakkan tangan

kiri. Maka terampaslah golok di tangan Mayang. Gempar

Bumi lepaskan kaki kanan lawan. Dengan tangan itu dia

segera hendak menotok tubuh Mayang. Tapi secepat kilat si 

gadis jatuhkan diri di tanah lalu berguling. Ketika bangun 

lagi di tangannya sudah tergenggam lembing

yang tadi dilemparkan ayahnya!

 "Batang lehermu dulu kutambus baru aku larikan diri!" 

jawab Mayang lalu kirimkan satu tusukan kilat ke leher 

lawannya!

 Gempar Bumi bergerak untuk merampas senjata itu

tapi tusukan lembing kini berubah menjadi satu kem-

plangan yang ganas ke arah batok kepalanya! Penasaran 

Gempar Bumi sambut hantaman lembing dengan pukulan 

lengan kiri. Lembing patah dua! Bagian yang runcing mental 

ke udara sedang yang lainnya masih tergenggam di tangan 

Mayang dan dengan patahan lembing itu si gadis bertahan 

mati-matian. Tapi sampai beberapa lamakah dia dapat 

mempertahankan diri?!


8


Wiro Sableng SI Pendekar 212 murid Eyang Sinto

Gendeng dari puncak Gunung Gede tengah menempuh 

rimba belantara, mengambil jalan memotong agar lebih 

lekas sampai di tempat tujuan yaitu antara Gunung Merapi 

dan Gunung Singgalang. Lapat-lapat didengarinya suara 

orang membentak beberapa kali yang diselingi suara 

seseorang yang tertawa gelak-gelak. Wiro yang sudah 

banyak pengalaman segera mengetahui bahwa biasanya 

bentakan-bentakan itu ke luar dari mulut seseorang yang 

marah dan geram. Sebaliknya tertawa mengekeh ke luar 

dari mulut orang yang mengejek kemarahan dan 

kegeraman orang pertama tadi. Dan suasana seperti itu 

hanya ditemui dalam satu perselisihan yang kemudiannya 

akan berkelanjutan dengan perkelahian atau pertempuran!

 Karena pohon-pohon sangat rapat, semak belukar

sangat lebat, agak sukar bagi Wiro untuk bergerak.

Dalam pada itu didengarnya dua jeritan sekaligus! Wiro

mempercepat langkahnya dan tak perduli lagi pakaian-

nya yang cabik robek dikait ranting semak belukar! Dia

yakin bahwa di tempat yang hendak didatanginya itu

telah terjadi perkelahian. Yang mengherankannya ialah

karena satu dari dua jeritan itu kedengarannya seperti

jeritan anak kecil!

 Ketika dia sampai di satu tepi jalan kecil yang sangat

buruk terkejutlah pendekar ini menyaksikan peman-

dangan yang terbentang di depan matanya. Adalah tidak

dinyananya kalau yang bertempur adalah seorang laki-

laki tegap melawan seorang dara jelita. Keduanya sama

berpakaian hitam cuma pada bagian dada baju laki-laki

terpampang gambar kepala harimau warna kuning! Yang

lebih mengejutkan Wiro Sableng ialah karena laki-laki ftu

bukan lain manusia berkumis melintang yang tadi di pasar 

hendak melarikan gadis itu. Dan si gadis sendiri adalah 

orang yang telah ditolongnya secara diam-diam ketika mau 

dilarikan! Rupanya si kumis melintang yang bernama 

Gempar Bumi flu sudah nefcad untuk membawa

lari si jelita hingga dalam perjalanan pulang, si gadistelah dihadang!

 Di tengah jalan kecil berhenti sebuah bendi. Seorang 

anak kecil menggeletak dekat roda bendi Kemudian 

seorang lainnya tak berapa jauh dari situ, agaknya dia

adalah kusir bendi. Dan di atas bendi tampak duduk laki-

laki bernama Pagar Alam. Mukanya pucat dan cemas

sekali! Betapa kan tidak, anak gadisnya tengah bertempur 

mati-matian mempertahankan diri dari tangan laki-laki yang 

hendak melarikannya, sedang dia sendiri Pagar Alam -tak 

dapat berbuat suatu apa! Diatas bendi tak ada lagi benda-

benda yang bisa dijadikan senjata untuk dilemparkan

kepada Gempar Bumi. Dalam kecemasan yang memuncak 

melihat anaknya terdesak hebat itu dan tak ada harapan 

lagi untuk menyelamatkan diri maka tiba-tiba dia melihat 

sesosok tubuh menyeruak dari semak-semak. Ternyata 

yang muncul adalah se- orang pemuda bertubuh tegap, 

bertampang seperti anak-anak dan berambut gondrong!

 "Hentikan pertempuran!" teriak Wiro Sableng.

 Suara teriakannya yang menggeledek mengiang

anak telinga mengejutkan orang-orang yang ada di situ,

terutama mereka yang sedang bertempur! Pagar Alam

merasakan dadanya bergetar karena kerasnya teriakan

itu. Kalau tidak memiliki ilmu kepandaian tinggi pasti hal

itu tak mungkin terjadi, pikir Pagar Alam seraya mene-

nangkan dirinya kembali. Kemunculan pemuda ini mem-

berikan sekelumit harapan padanya. Tapi apakah pemu-

da ini bukan seorang bangsa jahat terkutuk pula?; Melihat 

kepada potongan pakaian dan ciri-cirinya nyata sekali dia 

bukan penduduk setempat!

 Akan Gempar Bumi begitu mendengar bentakan

yang menggeledek tadi dengan cepat melompat mundur

padahal saat itu dia sudah hampir dapat meringkus

Mayang. Ketika dia berpaling di depan semak belukar di-

lihatnya seorang pemuda tak dikenal berdiri dengan ber-

tolak pinggang!

 "Orang sinting! Siapa kau?!" hardik Gempar Bumi.

 "Siapa aku tak kau usah perduli! Lekas angkat kaki

dari sini atau kutekuk batang lehermu!"

 Paras Gempar. Bumi membesi. Pelipisnya mengembung.

 "Sepuluh tahun malang melintang di Pulau Andalas baru 

hari ini ada bangsa kucing dapur yang bicara hendak 

menekuk batang leherku!"

 Mengetahui bahwa si pemuda menunjukkan sikap

demikian maka legalah sedikit hati Pagar Alam dan 

Mayang. Jika berani membentak demikian berarti dia memiliki ilmu yang diandalkan. Namun Gempar Bumi seorang 

yang berilmu sangat tinggi, akan sanggupkah pemuda belia 

yang bertampang tolol itu menghadapinya?! Diam-diam 

kedua ayah dan anak itu jadi gelisah harap-harap cemas!

 "Manusia kumis melintang! Aku tidak main-main.

Lekas angkat kaki dari sini! Syukur aku bersedia meng-

ampuni kekejianmu! Lekas pergi sebelum aku berubah

pikiran!"

 Gempar Bumi bertolak pinggang. Matanya melotot

meneliti Wiro Sableng dari kepala sampai ke kaki. Lalu

dia tertawa gelak-gelak.

 "Kucing dapur, apakah kau lihat gambar kepala harimau 

yang ada di dada bajuku ini?!"

 "Itu bukan gambar kepala harimau!" sahut Wiro.

Gempar Bumi beliakkan mata. Dan Wiro menyambung :

"Kalau kau mau tahu, itulah gambar kepala kucing

dapur!" Lalu Pendekar 212 tertawa gelak-gelak.

 Marahlah Gempar Bumi. Seumur hidup baru hari itu

dia mendapat hinaan dan ejekan demikian rupa!

 "Anak setan! Tidak tahukah kau dengan siapa ber-

hadapan?”

 "Buset kau bisa memaki aku anak setani" jawab

Wiro dengan sunggingkan senyum,, "Kalau aku anak setan, 

apakah kau lantas merasa jadi bapak moyangnya setan?!"

 Mayang dan Pagar Alam meski geli mendengar ucapan 

itu namun terheran-heran melihat sikap dan tindak tanduk 

si pemuda yang agak anehi Bicaranya seperti orang main-

mainan saja!

 Sebaliknya dengan nada mendesis karena mendidih

 hawa amarah yang menggejolakkan darahnya Gempar

.Bumi berkata: "Melihat kepada tampangmu agaknya kau

 bukah orang sini! Pantas kau tak dapat membedakan

 mana tikus dan mana singa jantan...."

 "Oh... jadi kau adalah seekor singa jantan? Pantas!

 Pantas! Kau memang punya tampang seperti singa jantan!" 

kata Wiro pula memotong ucapan Gempar Bumi lalu 

tertawa gelak-gelak!

 Kemarahan Gempar Bumi tak dapat dikendalikan

 lagi. Dia melompat kehadapan Wiro dan hantamkan tinju

 kanannya ke kepala pemuda itu! Sekali menghantam dia

 berharap akan menghancurkan kepala si pemudal Karena 

itu sengaja dikeluarkannya jurus ilmu silatnya yang

 hebat yang bernama "Palu Sakti Memukul Genta"!

 Tapi tidak semudah itu untuk menghancurkan kepala 

Pendekar 212 Pada saat serangan lawan baru bergeraksetengah jalan dia sudah menyingkir ke samping dan

dari samping kirimkan satu tempelak untuk menanggalkan 

sambungan sikut lawan!

 Terkejutlah Gempar Bumi. Serangannya yang hebat

 itu bukan saja dapat dielakkan lawan tapi malah keba-

 likannya, kini dia sendiri yang kena diserang! Kedua ka-

 kinya dijejakkan ke tanah. Tubuhnya melesat ke atas

 membuat tempelakan Wiro Sableng lewat. Dengan cepat

 kemudian Gempar Bumi kirimkan satu tendangan ke perut 

lawan sedang tangan kanan untuk kedua kalinya turun 

menghantam batok kepala Wiro Sableng!

 Pendekar 212 bersiul! Meskipun gerakan ilmu silat

 Gempar Bumi agak aneh lapi dasarnya tiada beda dengan 

ilmu silat yang dimainkan tokoh-tokoh silat di Pulau Jawa! 

Begitu bersiul Wiro kelebatkan badannya! Untuk kedua 

kalinya Gempar Bumi dibikin kaget. Dia tak mengerti 

bagaimana pemuda bertampang tolol, sanggup 

mengelakkan sekaligus kedua serangannya. Sedangkan 

dalam pada saat itu tahu-tahu tangan kirinya sudah 

menyelinap menampar ke arah dada dalam satu gerakan 

kilat yang mendatangkan angin keras!

 Penuh penasaran Gempar Bumi pergunakan lengan

kanannya untuk memapasi serangan lawan. Kalau ilmu

silat lawan boleh diandalkan, dalam tenaga dalam tentu

si pemuda tak akan menang, begitulah pikiran Gempar

Bumi!

 Wiro sendiri yang melihat datangnya serangan memapas 

ini, meski tamparannya pada dada tadi pasti akan

mengenai sasarannya, tapi karena ingin menjajaki tenaga 

dalam lawan sengaja melintangkan tangan kirinya!

 "Buuk!" Maka beradulah kedua lengan itu!

 Gempar Bumi keluarkan seruan tertahan! Tubuhnya

terjajar sampai tujuh langkah ke belakang sedang le-

ngannya yang beradu dengan lengan lawan bukan saja

tergetar hebat tapi juga sakit bukan main! Ketika di-

telitinya lengan itu tampak kemerah-merahan! Menciut-

lah hati laki-laki berkumis melintang ini. Nyatanya tena-

ga dalam si pemuda tidak berada di bawahnya! Menurut

taksiran Gempar Bumi tenaga dalam lawan berada dua

atau tiga tingkat di atasnya! Sebenarnya dugaan Gempar

Bumi ini meleset Kalau waktu bentrokan lengan tadi dia

mengerahkan seluruh tenaga dalamnya maka Wiro Sa-

bleng cuma mengandalkan tiga perlima bagian saja dari

tenaga dalamnya! Lengannya pedas kesemutan sedang

tubuhnya tergontai nanar beberapa detik lamanya Menyadari bahwa lawan lebih unggul dalam tenaga

dalam maka Gempar Bumi segera mengeluarkan ilmu silat 

simpanannya yang paling diandalkan, yang telah 

diyakininya selama, delapan tahun yaitu "Ilmu Silat 

Harimau", Kedua kakinya menjejak bumi laksana batu 

karang. Tubuhnya setengah merunduk sedang, kedua 

tangan terpentang ke muka dengan jari-jari membuka.

Pendekar 212 Wiro Sableng memperhatikan bahwa ke

sepuluh kuku jari laki-laki itu panjang-panjang. Tubuh

Gempar Bumi semakin merunduk sedang dari mulutnya

ke luar suara menggerang macam harimau hendak me-

nerkam mangsanya dan kedua matanya menyorot ganas! 

Keseluruhan paras manusia ini membayangkan

maut! 

 Tiba-tiba gerangan dimulutnya berubah keras 

menyeramkan! Dan dikejap itu pula tubuhnya melesat ke

muka persis seperti seekor harimau lapar menerkam

mangsanya! Dua tangan yang tadi terpentang berkelebat

tak kelihatan saking cepatnya. Hanya suara siurannya

yang terdengar menyambar!

 Wiro dengan mengandalkan setengah bagian tenaga 

dalamnya bergerak ke muka menyambut dengan Jurus 

"Segulung Ombak Menerpa Karang". Jurus ini 

mengeluarkan sambaran angin laksana topan prahara.

Kedua lengan Wiro menghantam ke depan sekaligus!

 Melihat lawan memapaki serangannya dengan cara

begitu rupa dan Sudah tahu kalau Wiro memiliki tenaga

dalam yang lebih tinggi, maka Gempar Bumi tak berani

bentrokan untuk kedua kalinya! Dengan cepat dia mem-

buyarkan Jurus serangannya tadi dan laksana kilat pula

menyerbu kembali dalam jurus yang dinamakan "Harimau 

Sakti Melompati Gunung Menukik Ngarai"! Tubuhnya 

mencelat ke udara. Kedua kaki mencari sasaran di perut 

dan dada lawan. Namun ini hanya serangan sambilan saja 

karena begitu Wiro mengelak dan begitu Gempar Bumi 

berada dua tombak di udara tiba-tiba dia menukik ke 

bawah dengan kedua tangan diacungkan siap untuk 

mencengkeram kepala Wiro Sableng!

 Wiro bersiul nyaring. Setengah merunduk dia lepaskan 

pukulan Kunyuk Melehipar Buah ke arah lawan diatasnya! 

Laksana berpegang pada sebuah tiang yang tak kelihaian 

Gempar Bumi berkelit ke samping. Angin pukulan Kunyuk 

Melempar Buah lewat di sebelahnya dan sedetik kemudian 

tubuhnya meliuk lalu berputar dengan kedua kaki meluncur 

deras ke dada serta kepala Wiro Sableng!"Gerakanmu hebat juga, Gempar Bumi!" seru Wiro.

Sesaat kedua kaki lawan akan mendarat di dada dan 

kepalanya, Pendekar 212 membentak keras. Tangan 

kanannya didorongkan ke atas!

 Angin sedahsyat badai mengamuk menggebu! Inilah 

pukulan "Benteng Topan Melanda Samudera" yang

dilancarkan dengan mengandalkan setengah bagian

tenaga dalami Mula-mula Gempar Bumi merasakan se-

rangannya laksana ditahan oleh tembok baja yang tak

kelihatan. Dia terkejut sekali dan belum habis kejutnya

ini mendadak tubuhnya terdorong keras ke udara, men-

celat sampai beberapa tombak! Sambil jungkir batik tiga

kali berturut-turut Gempar Bumi keruk saku pakaiannya.

Sebelum kedua kakinya menginjak tanah maka dari ta-

ngan kanannya melesat puluhan benda hitam yang ber-

desing mendenging seperti suara nyamuk! Benda ini bukan 

lain senjata rahasia jarum hitam yang direndam dalam 

racun jahat! Sekali seseorang kena dihantam sebuah saja 

dari jarum ini, pasti dalam tempo dua puluh empat jam 

nyawanya akan lepas ke akhirat!

 Oari bunyi yang mendesing dan warna jarum-jarum

Wiro sudah maklum kalau itu adalah senjata rahasia

yang ampuh sekali! Tanpa menunggu lebih lama dia

pukulkan tangan kanannya ke depan yang disusul dengan 

pukulan tangan kiri. Dua angin deras menderu susul 

menyusul. Inilah yang dinamakan ilmu pukulan "Dinding 

Angin Berhembus Tindih Menindih"! Bukan saja puluhan 

jarum-jarum itu mental dan luruh ke tanah tapi beberapa 

diantaranya kembali melesat menyerang tuannya sendiri! 

Dengan kertakkan rahang Gempar Bumi kebutkan lengan 

baju hitamnya! Jarum-jarum yang menyerangnya luruh ke 

tanah! Dan kedua lawan itu saling pandang memandang. 

Yang satu dengan mata membeliak beringas sedang yang 

lain dengan cengar cengir seenaknya!

 "Orang muda!" kata Gempar Bumi. "Antara aku dan kau 

tidak saling mengenal! Urusanku tidak ada sangkut pautnya 

dengan dirimu! Mengapa kau mau mencampurinya?''

 Wiro tertawa dingin.

 "Bagiku terhadap manusia jahat semacam kau tentu ada 

urusan yang musti diperhitungkan! Kecuali kalau kau mau 

angkat kaki dari sini sekarang juga!"

 Gempar Bumi mendengus.

 "Apakah bukan lebih baik kau saja yang cepat-cepat

berlalu dari hadapanku sebelum aku betul-betul meng-

hajarmu? Ilmumu boleh juga! Percuma kalau kau mampusdalam usia muda begini rupa!"

 Wiro keluarkan satu siulan.

 "Terima kasih atas nasihatmu, Gempar Bumi! Nah,

kau pergilah!"

 Sikap tenang Gempar Bumi tadi kini menjadi marah

yang mendidihkan darahnya. "Kau orang rantau, sungguh 

mengenaskan mampus di negeri orang! Belum tentu pula 

angin akan membawa pulang namamu ke kampung

halaman!"

 "Ah, jangan bersajak sobat!" tukas Wiro Sableng.

 "Aku tidak bersajak!" sahut Gempar Bumi."Aku hanya 

akan mengukir nyawamu di pintu akhirat!" Lalu laki-laki ini 

cabut sebilah keris dari pinggangnya! Senjata itu berhulu 

gading, bereluk dua belas dan berwarna sangat hitami Sinar 

yang memancar dari keris ini menggidikkan sekalil'

 "Manusia yang akan mampus! Keris ini bernama Keris Si 

Penyingkir Jiwa! Delapan puluh dua jiwa telah musnah 

ditelannya! Apakah kau berniat untuk menjadi korban yang 

ke delapan puluh tiga...?!"

 Wiro tertawa gelak-gelak.

 "Apapun nama keris di tanganmu itu aku tidak perduli! 

Juga berapa korban yang dimakannya aku tidak tanya! 

Sebaliknya bagaimana kalau keris Hu kurebut, lantas 

kupergunakan untuk membuat konyol kau sendiri...?!"

 "Boleh, boleh kau coba untuk merebutnya!" jawab

Gempar Bumi dengan hati geram. "Nah ini, kau rebutlah!" 

Secepat kilat Gempar Bumi tusukkan senjata itu ke dada 

Wiro Sableng. Sinar hitam terasa dingin menyambar dada 

sang pendekar.

 "Awas orang muda!" seru Pagar Alam dari atas kereta. 

"Keris itu mengandung racun jahat!" Diam-diam

laki laki ini merasa cemas. Jika Gempar Bumi sudah me-

ngeluarkan senjata itu, biasanya lawan tak akan sanggup 

bertahan lama Sekali saja tergores kulit, dalam tempo dua 

puluh empat jam pasti menemui kematian.

 "Terima kasih atas nasihatmu, bapak!" kata Wiro sambit 

cepat-cepat berkelit. Ketika kelihatannya serangan Gempar 

Bumi hanya mengenai tempat kosong tiba-tiba Keris Si 

Penyingkir Jiwa membelok ke iga kanan, hampir-hampir 

akan melanda iga meliuk pula ke perut dan tiba-tiba haik 

laksana kilat, menusuk ke arah lekuk dagu dekat ujung 

leher! Di samping itu angin yang keluar dari Keris Si 

Penyingkir Jiwa dinginnya menyembilui tulang-tulang 

sumsum, membuat darah Pendekar 212 laksana beku dan 

berhenti mengaliri Untuk mencegah agar dirinya tidak terpengaruh oleh hawa jahat senjata lawan cepat-cepat 

Wiro Sableng alirkan hawa panas dari pusarnya ke seluruh 

bagian tubuh! Sesudah itu diapun menghadapi serangan 

lawan tanpa main-main lagi.

 Tiga jurus yang berlalu Wiro tak bisa berbuat apa-apa 

selain bertahan dengan gigih. Keris di tangan lawan

laksana curahan hujan dan berubah jadi puluhan 

banyaknya. Menusuk, menyambar dan memapak ke pelba-

gai bagian tubuh Wiro Sableng. Jurus ke empat dan ke

lima Sampai seterusnya keadaan Wiro semakin buruk.

Bagaimanapun dia berkelebat cepat tapi sia-sia saja! Sinar 

hitam senjata lawan laksana Jaring atos yang tak sanggup 

ditembusnya!

 Pagar Alam yang menyaksikan pertempuran Hu

menjadi pusing karena tak dapat lagi menyaksikan

gerakan-gerakan mereka yang bertempur saking cepat-

nya! Mayang sendiri yang lebih tinggi ilmu kepandaiannya 

mengedipkan matanya beberapa kali! Diam-diam gadis ini 

leletkan lidah melihat hebatnya pertempuran yang

berjalan! Siapakah pemuda berambut gondrong yang

bersedia mengorbankan keselamatan dan Jiwanya itu

untuk menolong dia bersama ayahnya?! Ilmunya tinggi,

tapi apakah sanggup bertahan menghadapi Gempar

Bumi yang ganas dari bertubi-tubi itu? Setahunya tak

satu orang pun yang sanggup menghadapi Gempar

Bumi bila Keris Si Penyingkir Jiwa itu sudah berada da-

lam tangannya! Dan melihat kenyataan bagaimana si pe-

muda terdesak hebat maka mengeluhlah sang dara.

Pagar Alam sendiri kembali menjadi cemas!

 "Saudara! Ambil golok ini sebagai senjatamu!" seru

Mayang sambil melemparkan goloknya yang tadi telah

dirampas oleh Gempar Bumi tapi kemudian oleh Gempar

Bumi dibuang begitu saja ke tanah.

 "Terima kasih saudari, aku tak perlu senjata meng-

hadapi tikus berkumis melintang ini!" jawab Wiro.

 "Tapi kau terdesak saudara!! seru Pagar Alam dari

atas kereta.

 "Dan pertempuran ini tidak adil!" menyambungi

Mayang. "Dia pakai senjata, kau bertangan kosong!"

Maka meski Wiro tidak mau diberikan senjata namun

sang dara melemparkan juga golok itu kepadanya. Wiro

Sableng mau tak mau segera menyambut senjata itu.

 Tapi: "Traang!"

 Keris Si Penyingkir Jiwa lebih cepat. Golok yang di-

lemparkan mental ke udara dalam keadaan patah dua!"Sialan!" maki Wiro. Kalau tidak cepat-cepat dia me-

narik tangannya pasti senjata lawan menyambar tangan

itu! Sesaat kemudian terjadi lagi pertempuran seru dan

Wiro makin kepepet!

 Tiba-tiba Pendekar 212 bersuit nyaring! Tubuhnya

lenyap dalam satu kelebatan yang sukar dilihat mata. 

Dengan merobah jurus-jurus ilmu silatnya maka dia mulai

membuka serangan. Dari sela bibirnya terus menerus

melesat suara siulan yang nyaring tak menentu dan 

menyakitkan telinga! Permainan silat Gempar Bumi agak

mengendur sedikit akibat pengaruh siulan Pendekar

212. Tapi begitu dia tutup jalan pendengarannya maka

pengaruh yang mengacaukan itupun lenyap dan kembali

dengan gencar laki-laki ini mendesak lawannya!

 Di samping memaki habis-habisan Wiro juga mengagumi 

keampuhan senjata sakti di tangan lawan. Setiap 

serangannya selalu kandas laksana menghadang

tembok kukuh yang tak kelihatan! Tubuh lawan seperti

terbungkus oleh satu kekuatan yang tidak nampak! Dan

Pendekar 212 dalam keadaan kepepet itu mulai pikir-

pikir untuk keluarkan Kapak Maut Naga Geni 212!

 Tapi sebelum maksudnya itu kesampaian tiba-tiba

dia ingat! Bagaimana kalau dia mengeluarkan jurus-

jurus silat yang diajarkan Tua Gila kepadanya?! Ah,

benar-benar tolol sekali dia! Mengapa tidak dari tadi dia

mengeluarkan "Ilmu Silat Orang Gila" dan sekaligus un-

tuk menjajaki sampai di mana kehebatan ilmu silat yang

diajarkan oleh Tua Gila itu?!

 Pendekar 212 membentak nyaring. Tubuhnya lenyap.

 Gempar bumi mengiringi gerakan lawan itu dengan

tawa mengejek. "Keluarkan seluruh ilmu kepandaianmu!

Dalam tiga jurus di muka nyawamu tak bisa diselamatkan 

lagi tikus busuk!" Dan sebelum Wiro bergerak dia telah 

menyerang lebih dulu dengan satu tusukan yang ganas 

cepat!

 Wiro Sableng gerakan kedua kakinya dalam gerakan 

yang aneh dan tak teratur kelihatannya. Tubuhnya diliukkan 

ke samping laksana batang padi dihembus angin sedang 

kedua tangan bergerak ke kiri ke kanan juga dalam 

gerakan yang tak teratur! Tapi justru gerakan yang acak-

acakan ini berhasil melewatkan tusukan senjata lawan! 

Dengan gemas Gempar Bumi kirimkan lagi satu serangan 

yang lebih cepat dan lebih ganas! Suara keris menderu. 

Sinar hitam berkiblat! Wiro mencak-mencak kian ke mari! 

Wuut! Ujung keris di tangan Gempar Bumi menderu kemuka pemuda itu dan kelihatannya dalam kejap itu juga 

akan menghunjam di wajahnya!

 Pagar Alam mengeluarkan seruan tertahan.

 Mayang menutup wajahnya, tak berani menyaksikan 

bagaimana keris itu akan menancap di muka pemuda yang 

diharapkan bakal menolong dirinya!

 Tapi aneh!

 Sedetik lagi ujung senjata Gempar Bumi akan menemui 

sasarannya, dalam satu gerakan tak menentu kelihatan 

kepala Pendekar 212 seperti disentakkan oleh satu tenaga 

besar ke belakang. Dan ini membuat tusukan keris Gempar 

Bumi hanya menghantam tempat kosong!

 Gempar Bumi kertakkan rahang. Segera dia lipat

gandakan tenaga dalam serta keluarkan seluruh tipu-tipu 

serangan ilmu silatnya! Wiro bergerak cepat. Jingkrak kiri 

lompat kanan. Mundur terhuyung-huyung dan maju laksana 

babi celeng! Tangan dan kaki menyambar tiada menentu 

dan tiada terduga! Bagaimanapun Gempar Bomi percepat 

serangan dan keluarkan segala jurus yang terlihay dari ilmu 

silatnya, tetap saja dia tak sanggup mendesak lawan

seperti yang sudah-sudah. Beberapa kali dia menusuk 

dengan seluruh tenaga tapi Cuma menghantam tempat 

kosong hingga tubuhnya tersaruk ke muka dan beberapa 

kali hampir membuatnya kena dihantam kaki dan tangan 

tawan!

 Diam-diam sambil mundur Gempar Bumi perhatikan

ilmu silat aneh yang dimainkan si pemuda.

 "Buuk!"

 Gempar Bumi tertatih-tatih sampai sembilan langkah ke 

belakang diusapnya dadanya yang kena dipukul lawan 

dengan tangan kiri dan pada sela bibirnya kelihatan darah 

kental berlelehan! Gempar Bumi seka darah itu dengan 

ujung lengan baju. Nafasnya sesak, cepat-cepat diaturnya 

jalan darah dan pernafasan. Kedua matanya menyorot 

ganas.

 “Tikus busuk! Kalau aku tidak salah lihat kau telah

memainkan jurus-jurus silat orang gila. Apakah kau

muridnya Tua Gila!"

 "Kau tak ada hak bertanya, monyet berkumis!"

jawab Wiro Sableng!"

 "Keparat! kau dengarlah! Hari ini kuampuni jiwamu!

Tapi jika kau berani muncul lagi di depan hidungku jangan 

harap ada ampunan yang kedua kalinya!"

 Wiro tertawa mengejek.

 Gempar Bumi berpaling pada Pagar Alam dan berkata:"Pada tanggal tiga bulan mendatang kudengar kau

akan meresmikan berdirinya perguruan Kejora! Hari itu

aku akan datang Untuk mengambil anakmu! Dan jangan

harap belas kasihan dariku kalau kau berani berlaku

seperti yang sudah-sudah! Niscaya kau akan mampus

berdarah!"

 "Manusia anjing tidak bermaki! Apakah hajaran yang

kau terima hari ini tidak membuat kau insyaf?!' hardik

Pagar Alam.

 Gempar Bumi tidak menyahuti hardikan itu tapi ber-

paling pada Wiro Sableng dan berkata: "Apa yang kuterima 

hari ini kelak akan kubayar berikut bunganya dalam waktu 

singkat! Sekarang katakan kau punya nama agar tidak 

susah aku mencarimu!"

 "Mau tahu namaku? Baiklah. Ini...' Tiba-tiba Wiro

Sableng hantamkan tangan kanannya ke muka.

 Karena tiada menduga. Gempar Bumi tak sempat

berkelit Tapi anehnya pukulan jarak jauh lawan itu tidak

mencelakakannya sekalipun dirasakannya angin itu me-

nyambar dadanya. Tapi sewaktu dia memandang ke 

dadanya terkejutlah laki-laki ini. Pada dada kiri baju 

hitamnya terpampang tiga buah angka. Angka : 212!

 Gempar Bumi tidak tahu apa artinya tiga deretan

angka tersebut. Namun kepandaian untuk membuat angka-

angka seperti itu dalam jarak jauh demikian rupa bukan 

kepandaian sembarangen. Nyali Gempar Bumi menciut 

lumer. Tanpa banyak bicara lagi dia segera berkelebat 

meninggalkan tempat itu!


9


Begitu Gempar Bumi lenyap maka Mayang segera 

menjura di hadapan Wiro Sableng dan mengucapkan terima 

kasih atas pertolongannya. Wiro senyum-senyum malu 

kemudian menganggukkan kepala pada Pagar Alam.

 "Orang muda," kata Pagar Alam, "Pertolonganmu

sangat besar terhadap kami ayah dan anak! Kami meng-

ucapkan terima kasih. Boleh aku tahu nama dan dari

mana kau datang?"

 "Namaku Wiro. Aku datang dari Pulau Jawa."

 "Ah... ternyata kau orang perantauan. Pantas permainan

silatmu hebat! Tapi melihat kau tadi mengeluarkan ilmu 

silat orang gila aku jadi heran. Setahuku pencinta ilmu silat 

itu adalah seorang tua aneh yang diam di satu pulau di 

sebelah barat Pulau Andalas ini, jadi bukan dari Pulau 

Jawa."

 Wiro Sableng menuturkan riwayat perjalanannya

secara singkat.

 Pagar Alam angguk-anggukkan kepala.

 "Kau beruntung, Wiro. Tak sembarang orang diberi

anugerah ilmu kepandaian seperti itu oleh Tua Gila si

orang aneh. Bahkan jarang sekali dia memperlihatkan

diri, dicaripun sukar!"

 Wiro Sableng memandang ke kaki Pagar Alam yang

terebus air mendidih sewaktu mengadakan pertunjukan

mencari uang di pasar tadi. Lalu dikeluarkannya sebutir

pil dan diberikannya pada laki-laki itu.

 "Telanlah, mungkin bisa menolong lukamu itu."

 Pagar Alam menerima pil itu, menelitinya sebentar

lalu menelannya tanpa ragu-ragu. Setengah menit 

kemudian rasa sakit pada kedua kakinya lenyap sama 

sekali, meskipun keadaan kedua kaki itu diluarnya tidak 

ada perubahan apa-apa.

 "Terima kasih Wiro," kata Pagar Alam sementara

Mayang mengangkat adiknya yang mulai siuman ke atas

kereta. Malin si Kusir bendi juga sudah sadarkan diri dan

duduk menjelepok di tanah sambil mengurut-urut tulangiganya yang patah dan merintih kesakitan. Wiro memeriksa 

keadaan kusir bendi ini, mengurut dadanya di beberapa 

bagian lalu memberikan sebutir pil. Kalau saja dia dulu 

sudah mempelajari ilmu pengobatan pada Kiai Bangkalan 

pastilah dalam waktu yang singkat dia sanggup mengobati 

penderitaan Pagar Alam dan si kusir bendi.

 'Kalau aku boleh tanya, urusan apakah yang telah

membuatmu sampai menginjakkan kaki di Pulau Andalas 

ini?" tanya Pagar Alam.

 "Hanya sekedar ingin berkelana saja," jawab Wiro tak 

mau menerangkan maksud perjalanannya. Tapi kemudian 

dia ingat tanpa mencari keterangan dan penduduk 

setempat tak mungkin perjalanannya mencari pembunuh 

Kiai Bangkalan akan mudah dilakukan. Maka bertanyalah 

Pendekar 212: "Aku berniat pergi ke bukit Tambun Tulang. 

Mungkin kau bisa memberi petunjuk jalan mana yang musti 

kutempuh agar bisa lekas sampai disitu?!" 

 Pagar Alam, Mayang dan si kusir bendi sama-sama 

terkejut.

 "Kau mau pergi ke Tambun Tulang, Wiro...?"

 "Ya. Menurut si Tua Gila, orang yang tengah kucari

 mungkin berada di situ..." tanpa disadari oleh Wiro walau

 tadi dia menyembunyikan maksud perjalanannya tapi

 kini diungkapkannya sendiri.

 "Siapakah orang yang kau cari itu?" tanya Pagar

 Alam.

 "Aku sendiri tak tahu siapa orangnya. Tapi dia telah

 membunuh seseorang dan mencuri sebuah kitab penting!"

 "Tambun Tulang adalah bukit maut bagi penduduk

 sekitar sini," kata Malin.

 Dan Pagar Alam menyambungi: "Tak ada seorangpun 

yang berani berada dekat-dekat ke bukit itu. Bukit Tambun 

Tulang dan daerah sekitarnya di bawah kekuasaan Datuk 

Sipatoka. Seorang manusia bermuka setan berhati iblis! 

Sejak usia belasan tahun dia telah menebar kejahatan dan 

membunuh ratusan manusia tanpa dosa! Setiap manusia 

yang jadi korbannya atau anak-anak buahnya dikumpulkan 

di satu tempat hingga lambat laun, bertahun-tahun 

kemudian tempat itu telah menjadi sebuah bukit putih yang 

terdiri dari timbunan tulang belulang manusia!"

 “Tua Gila ada menerangkan hal itu padaku," ujar Wiro.

 "Dan manusia yang kau hajar tadi adalah tangan kanan 

pembantu utama Datuk Sipatoka. Di samping dia Datuk 

Sipatoka masih mempunyai beberapa pembantu ber-

kepandaian tinggi, memiliki beberapa puluh anak buahyang kerja mereka bukan lain daripada merampok dan

memeras penduduk, melarikan perempuan-perempuan

desa tak perduli apakah istri orang, apalagi anak-anak

gadis! Kemudian dari itu Datuk Sipatoka memelihara

pula puluhan ekor harimau yang taat dan tunduk pada

segala perintahnya! Beberapa tokoh dunia persilatan

pernah turun tangan dan datang ke sana. Sampai saat ini

mereka tidak kembali. Kabar beritapun tidak diketahui.

Apalagi kalau bukan meregang nyawa di bukit Tambun

Tulang? Dua buah partai silat belum tiga bulan yang lalu,

secara serempak menyerbu ke Tambun Tulang. Hasilnya? 

Ratusan manusia mati percuma di sana! Kau saksikan 

sendiri kehebatan keparat bernama Gempar Bumi itu! Dan 

Datuk Sipatoka mungkin sepuluh kali dari itu tinggi 

ilmunya! Kejahatan Datuk Sipatoka dan orang-orangnya 

sudah lewat batas, tak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Tapi 

siapa manusianya yang sanggup menghadapi dia dan anak-

anak buah serta harimau-harimau peliharaannya itu?! 

Kehidupan penduduk sekitar sini selalu dicekam rasa 

ketakutan setiap hari!"

 Wiro Sableng menghela nafas dalam. Kalau kejahatan di 

atas dunia sudah demikian besarnya, mengapa tokoh 

utama seperti Tua Gila tidak mau turun tangan atau

mungkin pernah tapi tidak membawa hasil?

 Tengah Wiro berpikir-pikir begitu Pagar Alam berkata: 

"Kurasa memang ada kemungkinan bahwa Datuk

Sipatoka pembunuh dan pencuri yang kau maksudkan.

Dan sesudah kau tahu siapa dia, apakah kau masih hendak 

meneruskan niat pergi ke Tambun Tulang?".

 Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya.

 "Sekali pergi pantang bagiku untuk kembali pulang."

 Pagar Alam mengagumi keberanian pemuda ini.

 "Kami hendak meneruskan perjalanan. Kuharap kau

sudi ikut sama-sama dan mampir di rumahku. Kita bisa

bicara banyak hal dan siapa tahu aku dapat membantumu 

dalam usahamu pergi ke Tambun Tulang."

 Wiro menimbang sebentar. Kemudian dia ingat akan

ucapan Gempar Bumi sebelum pergi tadi yaitu bahwa

laki-laki itu akan kembali pada tanggal tiga bulan di muka

pada hari peresmian berdirinya Perguruan Kejora. Maka

diapun menerima permintaan Pagar Alam lalu naik ke

atas bendi. Karena Maljn masih sakit, terpaksa Wiro

yang pegang tali kekang kuda penarik bendi. Seumur

hidupnya baru kafi itulah Pendekar 212 menjadi kusir

bendi!Ketika hari menjelang pelang, Wiro minta diri pada

Pagar Alam dan keluarganya untuk meneruskan per-

jalanan. Sebenarnya Pagar Alam ingin menahan pemuda

ini sampai tanggal tiga bulan di muka yaitu pada hari dia

meresmikan berdirinya Perguruan Kejora yang 

dipimpinnya. Namun sebagai seorang laki-laki berhati 

jantan yang tidak ingin memaksakan diri untuk 

mengandalkan orang lain, Pagar Alam membatalkan 

niatnya itu.

 Pendekar 212 pun meneruskan perjalanan. Belum

lagi seratusan meter dia meninggalkan rumah Pagar

Alam, disadarinya bahwa dia tidak sendirian. Telinganya

yang tajam telah sejak lama mendengar suara orang

mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi. Karena khawatir 

orang itu adalah Gempar Bumi yang berniat hendak

membokongnya maka Wiro pun berhenti dan memutar

tubuh seraya berseru: "Manusia tukang kuntit, tak usah

sembunyi! Segera perlihatkan tampangmu!"

 Suara Pendekar 212 bergema di seanfero rimba be-

lantara. Tapi tak satu orang pun yang muncul! Wiro jadi

penasaran. Sekali meneliti saja dia sudah tahu di mana si

penguntit berada yaitu di belakang sebatang pohon jati

yang besarnya tiga pemeluk tangan.

 "Ayo lekas keluar! Kalau tidak jangan menyesali"

 Tetap saja orang yang sembunyi di balik pohon tidak 

mau keluar.

 Tanpa menunggu lebih lama Wiro segera hantam-

 kan tangan kanannya ke pohon jati itu. Satu gelombana

 angin besar menderu laksana topan"

 "Kraak!"

 Batang jati yang besarnya tiga pelukan tangan manusia 

itu patah lalu tumbang dengan mengeluarkan suara 

dahsyat ribut! Dan pada kejap patahnya pohon itu sesosok 

tubuh melompat sebat! 

 "Ah... kau!" seru Wiro ketika dia melihat siapa

 adanya orang itu. "Untung saja kau tidak kena celaka»"

 Nyatanya dia bukan lain dari Mayang, anak gadis

 Pagar Alam.

 "Kenapa kau ikuti aku?!" tanya Wiro.

 Paras sang dara memerah jengah.

 "Aku tidak mengikutimu, saudara Wiro " kata Mayang.

 "Lalu?!" tanya Wiro dan dia tahu kalau si gadis berdusta

 “Aku ingin balas dendam pada si keparat Gempar Bumi!"

 Wiro angguk-anggukkan kepala macam orang tua.

 "Kau memang seorang gadis berhati jantan! Kupujikeberanianmu! Tapi kau pergi dalam keadaan ayahmu

 masih sakit begitu rupa...?"

 "Ibu bisa merawat ayah sendirian. Lagi pula lukanya

 tidak berat..." , '

 "Soalnya bukan adanya ibumu atau luka ayahmu

 yang tidak berat itu. Tapi apa kau lupa bahwa walau ba-

gaimanapun ilmu kepandaianmu tak sebanding dengan

Gempar Bumi? Sekali kau mencarinya bukankah itu sama 

saja dengan sengaja mengantarkan diri?! Apalagi se:

minggu dimuka ayahmu akan meresmikan Perguruan

Kejora! Kau tentu sangat dibutuhkannya...!"

 "Tapi... tapi...."

 Wiro tertawa dan melangkah ke hadapan gadis itu

 "Kembalilah pulang...."

 "Tapi apakah... apakah kau tidak akan kembali lagi...

maksudku tidak akan mampir lagi ke rumah?"

 Wiro kembali tertawa.

 "Tentu aku akan mampir lagi," sahut Wiro. Dia maklum 

akan perasaan gadis ini. Dan gadis yang diamuk perasaan 

seperti Mayang bukan baru sekali ini ditemui oleh Pendekar 

212. Soalnya apakah dia bersedia melayani dan 

menurutkan kata hatinya. Diam-diam Wiro Sableng ingat 

pada Permani. Mayang tidak kalah kecantikannya dengan 

Permani, dan juga telah banyak Pendekar 212 menemui 

gadis-gadis cantik tapi entah mengapa dia tak bisa 

melupakan Permani!

 "Aku berjanji akan kembali," kata Wiro meyakinkan

Mayang. Tapi dara itu tak beranjak dari hadapannya.

Wiro mengeluh dalam hati. Kalau lama-lama berdiri ber-

hadap-hadapan seperti ini bisa celaka pikirnya. Ditepuknya 

bahu Mayang seraya berkata: "Pulanglah. Di lain hari

aku akan mampir menyambangimu." Habis berkala be-

gitu Wiro berkelebat dan lenyap dari hadapan Mayang.

Sang dara hela nafas panjang. Gemuruh hatinya kini ber-

ubah menjadi satu kekecewaan, namun juga satu harapan


10


 Mulutnya terkatup rapat-rapat sehingga kedua 

rahangnya menonjol dan pelipisnya menggembung.

Sepasang matanya memandang menyorot tak ber-

kedip ke bawah bukit kecil, ke arah sebuah kampung

yang kini hanya tinggal musnahannya saja berupa rerun-

tuhan rumah-rumah yang telah jadi debu! Jelas dilihat-

nya mayat-mayat yang bergelimpangan di sana sini,

mayat-mayat manusia dan binatang-binatang yang mati

tertambus hidup-hidup di dalam api! Dan yang paling

menusuk matanya ialah mayat anak-anak yang menemui

kematian mereka secara mengenaskan dalam pelukan

ibu mereka!

 Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan dalam landasan

kemusnahan itu! Kemusnahan yang telah dilakukan oleh

manusia-manusia jahat tanpa rasa belas kasihan sama

sekali!

 Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng

ingat akan kampung-kampung yang dimusnahkan Dewi

Siluman di Pulau Madura tempo hari. Dan kemusnahan

kampung yang hari ini disaksikannya tidak ada beda,

malah lebih membuat luapan amarah menggejolak,

darahnya laksana api disiram dengan minyak!

 "Siapakah manusia-manusia keparat yang mem-

buat kebiadaban begini rupa?!" tanya Wiro Sableng

padadirinya sendiri. Untuk menjawab pertanyaan itu, pe-

muda ini segera menuruni bukit dan memasuki kampung

yang telah musnah itu. Penyelidikannya tak membawa '

hasil apa-apa. Dan hati kemanusiaannya memaksa dia

untuk menggali beberapa buah lubang lalu mengubur-

 kan mayat-mayat yang bergeletakan di sana sini. Rata-

 rata semua menemui kematian akibat tusukan atau

 bacokan senjata tajam!

 Wiro melanjutkan perjalanan sewaktu matahari ter-

 gelincir ke Barat. Kalau daerah sekitar situ berada di ba-

 wah kekuasaan Datuk Sipatoka, pastilah yang berbuat

 ganas itu Datuk Sipatoka atau anak-anak buahnya! Danini mendorong Wiro Sableng untuk mempercepat per-

 jalanannya Menjelang senja dia berhenti di sebuah anak

 sungai dangkal berair jernih. Wiro membuka pakaian dan

 langsung masuk ke dalam sungai. Betapa sejuknya air

 sungai itu. Tengah dia asyik-asyik mandi mendadak se-

 pasang telinganya mendengar suara hiruk pikuk pekik

 manusia banyak sekali di kejauhan! Ketika dia meman-

 dang ke arah datangnya suara itu maka tampaklah langit

 di arah itu kemerahan-merahan!

 "Kebakaran," pikir Wiro. Disudahinya mandinya lalu

 naik ke darat dan berpakaian dengan cepat. Sesaat ke-

 mudian dia sudah berlari sekencang angin ke jurusan

 langit malam yang merah menyala!

 Ketika Pendekar 212 sampai ke tempat kejadian Hu,

 yang dilihatnya bukan cuma kebakaran! Beberapa orang

 berpakaian hitam bertempur melawan penduduk kam-

 pung. Perempuan dan anak-anak berpekikkan dan lari

 menyelamatkan diri. Kira-kira setengah lusin mayat te-

 lah bergelimpangan di tanah! Wiro segera maklum apa

 yang terjadi. Kebakaran itu adalah kebakaran yang dise-

 ngaja dan pelakunya adalah manusia-manusia be r sera-

 gam hitam. Mereka bukan saja membakar rumah-rumah

 penduduk dan membunuh sewenang-wenang tetapi

 juga merampok! Dan ketika Wiro memandang berkeliling, 

dari dalam sebuah rumah yang telah setengahnya

 dimakan api kelihatan seorang laki-laki berpakaian hi-

 tam tengah menyeret seorang perempuan muda yang

 meronta dan menjerit-jerit!

 Mendidihlah amarah Pendekar 212!

 "Keparat betul!" bentak Wiro. Dia melompat dan

 menghantam dengan tinju kanan!

 Laki-lakt berpakian hitam yang tengah menyeret

 perempuan muda tiada menyangka akan mendapat

 serangan begitu rupa! Karenanya dia tak sanggup meng-

 elak, sama sekali! Tubuhnya mencelat! Pekiknya setinggi 

tangit! Begitu jatuh di tanah dia tak berkutik lagi sebab.

 kepalanya yang kena hantam rengkah bermandikan

 darah dan air otak!

 Wiro menyerbu ke tengah-tengah manusia-manusia

berseragam pakaian hitam lainnya yang tengah menempur 

habis-habisan penduduk yang coba mempertahankan hak 

dan harta serta nyawa dan keselamatan pribadi serta 

keluarga mereka! Dua orang tergelimpang dihantam 

tendangan dan tinju kirinya. Yang lima orang lainnya

terkejut!"Bedebah! Siapa kau?!" teriak salah seorang dari!

mereka.

 Begitu habis berteriak orang ini melihat sesuatu

menyambar di hadapannya.

 "Awas!" teriak kawan-kawannya.

 Tapi orang itu tak keburu berkelit ataupun menang-

kis. Yang dilihatnya berkelebat ialah pukulan tangan

kanan Wiro Sableng yang melayang tepat-tepat ke

keningnya!

 "Praak!"

 Orang itu menjerit!

 Keningnya pecah! Nyawanya lepas!

 Bukan saja empat kawannya menjadi kaget tapi juga

tergetar hati masing-masing! Setelah memberi tanda se-

rempak mereka menyerbu! Pendekar 212 Wiro Sableng

diserang dari empat penjuru!

 "Setan-setan kesasar! Keganasan kalian cukup

sampai hari ini! Makan ini!"

 Wiro kirimkan dua pukulan dua tendangan!

 "Wutt... wutt... wutt... wutt!" Keempat serangannya hanya 

mengenai tempat kosong! Wiro terkejut! "Bangsat, apakah 

mereka ini punya ilmu melenyapkan diri?!" maki Wiro dan 

memandang berkeliling! Dalam pada itulah empat angin 

pukulan tahu-tahu melanda ke arahnya dengan ganas!

 Pendekar 212 menggereng macam harimau lapar!

 Kedua tangannya kiri kanan menghantam berkeliling! 

Dua gelombang angin pukulan yang dahsyat membadai 

berputar! Dua orang pengeroyok terpekik! Tubuh mereka 

berpelantingan. Satu menghantam pohon, pinggangnya 

patah, nyawanya lepas! Yang satu lagi begitu jatuh di tanah 

coba berdiri tapi terus muntah darah dan kojor di situ juga! 

Dua orang lainnya seputih kertas pucat paras mereka. Yang 

satu tanpa pikir panjang segera ambil langkah seribu. 

Kawannya melompat ke balik sebatang pohon dan 

keluarkan satu suitan nyaringi

 "Monyet hitam! Tempat larimu adalah ke akhirat!"

teriak Wiro seraya hantamkan tangan kanannya ke arah

laki-laki yang ambil langkah seribu!

 Belum lagi angin pukulan Wiro sampai orang itu

telah memekik macam dihadang setan! Kemudian 

pekiknya lenyap dan tubuhnya mencelat beberapa tombak.

Terguling di tanah tanpa nyawa lagi!

 Wiro Sableng segera pula hendak kirimkan pukulan

maut ke arah laki-laki yang bersembunyi di balik pohon.

Sekaligus dia hendak hantam pohon dan orangnya! Tapibaru tangan kanan diangkat, tahu-tahu empat bayangan

hitam melompat di hadapannya dan serentak meng-

urungnya.

 Wiro memandang berkeliling dengan cepat. Ke-

empat manusia berpakaian dan berdestar serba hitam itu

rata-rata berbadan tegap dan bertampang ganas. Ke-

empatnya memelihara kumis melintang. Dan pada dada

pakaian masing-masing terpampang gambar kepala ha-

rimau warna kuningi Wiro teringat pada .manusia ber-

nama Gempar Bumi, pembantu utama Datuk Sipatoka.

Ada perbedaan gambar harimau yang terpampang di

dada pakaian keempat orang ini dengan yang dilihatnya

pada dada pakaian yang dikenakan Gampar Bumi. Per-

bedaannya ialah pada besar kecilnya. Gambar kepala

harimau di pakaian Gempar Bumi besar sedang pada ke-

empat manusia ini agak kecil! Ini mungkin berarti bahwa

keempatnya adalah pembantu-pembantu Datuk Sipato-

ka juga tapi dari tingkat yang lebih rendah dari Gempar

Bumi!

 ''Pemuda keparat! Melihat tampangmu nyata kau bu-kan 

penduduk sini! Lekas katakan siapa kau?!" membentak 

salah seorang dari empat manusia berkumis melintang.

 Wiro mendengus.

 "Kau tak layak bertanya! Lebih bagus kau tanyakan

bagaimana caranya cepat-cepat pergi ke neraka!" Dan

habis berkata begitu Wiro pukulkan tangan kanannya da-

 lam jurus serangan Kunyuk Melempar Buah yang di-

 perbawa dua perlima tenaga dalamnya!

 Yang diserang terkejut melihat datangnya angin ke-

 ras ke arahnya dan dengan serta merta pukulkan pula

 tangan kanannya ke depan memapasi serangan lawan!

 Dalam pada itu ketiga kawannya tidak tinggal diam.

 Serentak ketiganya menyerbu Pendekar 212 dari tiga

 jurusan! Seorang diantaranya mencengkeram dengan

 kedua tangan dari belakang!

 Sekali melihat bagaimana pukulan kunyuk melem-

 par buahnya sanggup dipapasi lawan dan melihat pula

 gerakan tiga orang lainnya dalam melancarkan serangan

 itu Wiro segera maklum bahwa keempatnya berkepan-

. daian tinggi yang tak bisa dianggap remeh! Kalau dinilai

 masing-masing setiap dua manusia yang mengeroyok-

 nya itu sebanding dengan kepandaian Gempar Bumi. De-

 ngan kata lain saat itu dia menghadapi dua. lawan ber-

 kepandaian setinggi Gempar Bumi.

 Pertempuran hebat berkecamuk!Wiro andalkan ilmu meringankan tubuhnya untuk

 mengelit serangan-serangan lawan yang sangat ganas

 dan bertubi-tubi. Tubuhnya merupakan bayangan-bayang 

putih yang coba didesak oleh keempat manusia

 berpakaian hitam-hitam itu! Karena telah pernah bertem-

 pur melawan Gempar Bumi maka sedikit banyaknya

 Wiro mengerti, gerakan-gerakan lawan! Dan ini banyak

 menolongnya Meski pada empat jurus pertamanya dia

 kena didesak namun jurus-jurus selanjutnya dia mulai

 berada di atas angin. Serangan-serangannya membuat

 keempat pengeroyok mundur terus-terusan dan dalam

 jurus ke delapan salah seorang dari mereka terjungkal

 ke luar kalangan pertempuran dengan tulang dada dan

 beberapa tulang iga ringsek dilanda tendangan kaki kanan 

Wiro Sableng! Nafasnya sesak, mulutnya megap-megap. 

Dari kerongkongannya terdengar suara seperti

 orang tercekik dan; sesaat kemudian tubuhnya tak ber-

 gerak lagi! 

 Kematian seorang kawan mereka membuat tiga manusia 

baju hitam lainnya menjadi tergetar. Apalagi sesudah dalam 

jurus-jurus selanjutnya mereka dipaksa bertahan mati-

matian dalam desakan hebat serangan berantai Pendekar 

212!

 Salah seorang berseru memberi tanda. Wiro me-

nyangka mereka hendak melarikan diri maka dia siapkan

pukulan jarak jauh untuk melabrak ketiganya bila me-

reka benar-benar hendak kabur! Tapi dugaannya mele-

set! Ketiga anak buah Datuk Sipatoka itu dalam gerakan

yang aneh yaitu lompatan-lompatan macam katak me-

nyerbunya dari tiga jurusan! Wiro pukulan kedua tangan-

nya berkeliling! Tiga lawan gerakkan kedua kaki dan da-

lam keadaan tubuh melayang di udara mereka membuat

satu lompatan lagi, begitu-Wiro hendak menghantam ke

atas, ketiganya tahu-tahu sudah melesat ke bawah dan

entah kapan mereka menggerakkan tangan mereka tahu-

tahu tiga bilah keris hitam menderu ke arahnya! Satu me-

nusuk ke kepala, yang dua lainnya membabat dari dua

jurusan yang berlawanan!

 Wiro terkesiap kaget melihat serangan yang hebat

ini! Dengan cepat segera dia keluarkan jurus pertahanan

yang terlihay dari "Ilmu Silat Orang Gila" yaitu yang di-

namakan jurUs "Orang Gila Melenggang ke Awan!"

 Kedua tangannya dikembangkan ke atas sedang ke-

dua kakinya menjejak ke tanah mengandalkan tenaga

dalam dan ilmu meringankan tubuh! Laksana panah lepas dari busurnya, tubuh Wiro Sableng melesat meleng- ,

gang lenggok ke atas; dua kembangan tangan yang men-

datangkan angin bukan saja sanggup menangkis tusuk-

an keris yang datang dari atas tapi sekaligus membuat

lawan terpelanting laksana daun kering dihembus angin!

 Meskipun tubuhnya selamat namun tak urung pa-

kaiannya masih sempat dirobek oleh ujung keris salah

seorang lawan yang menyerang dari samping!

 "Edan!" maki Wiro. Segera dia siapkan jurus serang-

an Kunyuk Melempar Buah yang mengandalkan sete- ,

ngah bagian tenaga dalamnya!

 Sementara itu salah seorang dari lawan-lawannya

yang bermata awas berseru: "Kawan-kawan! Kulihat

bangsat Ini mengeluarkan Jurus ilmu Silat Orang Gila!

Pastilah dia muridnya Si Tua Gila! Ingat bahwa Datuk kita

punya dendam kesumat terhadap Tua Gila pada empat

puluh tabun yang lalu?! Kalau kita musnahkan muridnya

ini pasti kita mendapat pahala besar dari Datuk! Mari!"

 Serentak dengan itu dan diikuti oleh kedua kawan-

nya maka menyeranglah dia! Tapi kali ini ketiganya di-

bikin terkejut. Karena begitu mereka bergerak Wiro han-

tamkan tangan kanannya ke depan! Dua orang berseru

keras dan melompat ke samping! Yang seorang lagi ter-

lambat untuk selamatkan diri. Kedua tangannya ditelak-

kan ke muka dada laksana seorang yang berusaha me-

nahan tindihan benda berat yang tak kelihatan di depan

dadanyal Wiroputar sedikit telapak tangannya! Laki-laki

di depan sana menjerit keras! Tubuhnya mental dan ke-

tika menggeletak di tanah kelihatan bagaimana seluruh

tubuh laki-laki ini terutama dari bagian dada ke atas han-

cur memar laksana buah pepaya dibantingkan ke batu!

 Pucat pasilah wajah dua anak buah Datuk Sipatoka

lainnya! Mereka saling memberi isyarat. Lalu mengeruk

satu. pakaian masing-masing dan sedetik kemudian

enam puluh batang jarum hitam yang mengandung bisa

jahat beterbangan ke arah Pendekar 212! Jarum-jarum

ini bentuknya sama dengan senjata rahasia milik Gem-

par Bumi. .Wiro gerakkan tangan kanannya! Sebagian

dari jarum-jarum itu mental yang sebagian lagi berbalik

ke arah pemiliknya! Salah seorang dari mereka tiada

menduga hal ini hingga terlambat untuk selamatkan diri!

 "Akhhh...." Jerit maut ke luar dari mulutnya. Belasan

jarum menembus tubuh dan jantungnya. Nyawanya le-

pas saat itu juga! Yang seorang lagi masih untung! Be-

gitu lolos dari bahaya maut segera putar tubuh untuk ambil langkah seribu! Tapi perbuatannya ini sia-sia saja ka-

rena lebih cepat dari itu satu totokan telah menyambar

punggungnya, membuat dirinya tegak kaku kejap itu

juga!

 "Monyet hitam, sekarang kau akan jadi penunjuk

Jalanku! Kau musti antarkan aku ke sarang majikanmu

yang bernama Datuk Sipatoka Itu!"

 Mendadak terdengar jerHan perempuan yang di-

susul oleh teriakan seorang laki-laki. "Tolong! Anakku...

anakku!"

 Wiro berpaling cepat! Masih sempat dilihatnya se-

sosok bayangan hitam memboyong lari seorang gadis

dan lenyap dikegelapan malam!

 Wiro kerenyitkan kening, gigit bibir. Hatinya me-

maki. Dia berpaling pada laki-laki. di hadapannya dan

berkata: "Monyet hitam! Keadaan memaksaku membuat

nasibmu lebih baik dari kambrat-kambratmu yang lain!

Kau kulepaskan hidup-hidup! Tapi jangan lupa sampai-

kan pesanku pada Datukmu bahwa disatu hari dalam

waktu yang singkat aku akan membuat perhitungan de-

ngan dia! Bila dia menanyakan siapa aku, ini kutuliskan

namaku di keningmu!" Kemudian dengan ujung jarinya

Wiro menggurat angka 212 di kuIH kening laki-laki itu!

Lalu tanpa tunggu lebih lama dia berkelebat ke jurusan

lenyapnya laki-laki yang memboyong gadis tadi!

 Namun satu teriakan memanggil membuat dia hentikan 

lari! 

 “Wiro!"


11


Wiro Sableng membalik dengan cepat. Terkejutlah

 dia! Yang berseru memanggil namanya bukan lain

 daripada Pagar Alam. Laki-laki ini berdiri terhu-

yung-huyung dengan sebatang pedang pendek menan-

cap di dadanya! Wiro melompat dan dengan cepat mem-

bopong tubuh laki-laki itu ke langkan sebuah rumah.

Darah membasahi pakaian hitam Pagar Alam dan me-

nodai pakaian Wiro sendiri!

 Melihat kepada keadaannya tak mungkin tertolong

lagi. Nafas Pagar Alam tinggal satu-satu. Parasnya pucat

tanpa darah. Sedang kedua matanya mulai mengabur.

 "Bagaimana kau bisa sampai di sini, bapak??" tanya 

Wiro. Kemudian pendekar ini mengutuki dirinya sendiri. 

Dalam keadaan begitu masakan dia ajukan pertanyaan 

demikian rupa.

 "Wiro, tolonglah selamatkan anakku.... Mayang dilarikan 

oleh.... Gempar Bu... mi...."

 "Bedebah itu lagi!" desis Wiro dengan geraham-geraham 

bergemeletukan!

 "Kej... kejar dia, Wiro...."

 "Tapi kau sendiri, pak...."

 Pagar Alam kumpulkan sisa-sisa tenaganya yang ada 

untuk dapat membuka mulut dan mengeluarkan suara.

 "Diriku tak... usah kau pikirkan nak. Tak ada harap-

an.... Yang perlu Mayang. Nasib dan... dan dirinya ku-

serahkan padamu. Kuharap kalian...."'

 Pagar Alam tak dapat meneruskan kata-katanya. Ke-

palanya terkulai. Kedua matanya terbalik dan nafasnya

lepas meninggalkan tubuh. Perlahan-lahan Wiro mem-

baringkan jenazah Pagar Alam di langkan rumah. Dipan-

danginya tubuh tanpa nafas itu beberapa ketika. "Nasib

dan dirinya kuserahkan padamu. Kuharap kalian...."

Meski Pagar Alam tak sempat menyelesaikan ucapan-

nya, tapi Wiro tahu apa kelanjutan kata-kata yang hendak

disampaikan laki-laki itu. Tanpa menunggu lebih lama

pemuda ini segera meninggalkan tempat itu dengan ce-

pat, lenyap di jurusan perginya manusia yang telahmelarikan Mayang!

 Hampir satu jam lamanya Wiro melakukan pengejaran. 

Tapi sia-sia belaka. Di malam gelap begitu rupa mana

mungkin mencari dan mengejar seseorang yang tak di-

ketahui ke mana perginya! Akhirnya di satu pesawangan

yang gelap gulita Wiro menghentikan larinya. Di sekitarnya 

hanya suara jangkrik yang kedengaran, yang sekali-sekali 

ditimpali oleh suara ketekung kodok. Lapat-lapat

terdengar pula suara burung hantu mengerikan semen-

tara angin malam bertiup dingin mencucuk sampai ke

tulang-tulang sumsum.

 Wiro Sableng garuk-garuk kepala, menghela nafas

kesal. Ke-mana dia harus meneruskan pengejaran? Jika

menunggu sampai siang pasti Mayang sudah tertimpa

celaka dan tak ada artinya menyelamatkan dara itu!

Mungkin Gempar Bumi melarikan Mayang langsung ke

Tambun Tulang? Ini berarti dia musti lekas-lekas me-

lakukan pengejaran ke sana. Dan sekaligus untuk mem-

buat perhitungan dengan Datuk Sipatoka. Tapi bagai-

mana kalau Gempar Bumi tidak membawa gadis itu ke

sana? Dan merusak kehormatan Mayang di tengah jalan?! 

Pendekar 212 banting-banting kaki karena gemas!

Gemas karena tak bisa berbuat apa-apa, sedangkan dia

tahu gadis itu pasti akan mendapat celaka malam ini

juga! Dirusak kehormatannya oleh Gempar Bumi! Pan

apakah lagi yang lebih berharga bagi seorang gadis

kalau bukan kehormatannya?!

 Wiro Sableng memandang ke langit di atasnya yang

hitam gelap. Tak ada bulan, tak ada satu bintang pun

yang kelihatan. Dan tubuh pemuda ini bergetar bila dia

membayangkan apa yang bakal dilakukan oleh Gempar'

Bumi terhadap Mayang. Atau apakah kebejatan itu telah

dilakukan oleh Gempar Bumi?!

 "Kalau betul-betul Hu dilakukannya, akari kupatahkan

batang lehernya! Akan ku patah k ani" kata Wiro dengan 

hati menggeram! Dihantamkan tinjunya dan "Brak!" 

sebatang pohon yang tak punya dosa apa-apa patah 

tumbang ke bumi!

 Di malam sunyi dan gelap itu sesosok tubuh berlari

laksana angin kencangnya. Di bahu kanannya terpang-

gul seorang dara berpakaian hitam dalam keadaan tak

berdaya. Dara ini bukan lain Mayang. Dan laki-laki yang

tengah memboyongnya lari itu adalah Gempar Bumi!

 Beberapa jam berlari, menjelang tengah malam baru

dia berhenti hanya sekedar untuk beristirahat kemudiandia lari lagi hingga akhirnya memasuki sebuah lembah

yang dialiri sebatang anak sungai. Sepanjang anak su-

ngai ini penuh dengan pohon tembakau. Di salah satu

bagian tepinya kelihatan sebuah pondok. Setengah dari

dasar pondok ini berada di tebing sungai, setengahnya

lagi di atas sungai, ditopang oleh dua buah tiang yang

terbuat dari kayu yang tahan air. Gempar Bumi mem-

bawa Mayang ke pondok ini. Dua puluh tombak dia akan

mencapai pondok, pintu pondok tiba-tiba terbuka. Dan

diterangi oleh sinar pelita yang ada di dalam pondok,

kelihatan sesosok tubuh berpakaian hitam berdiri di am-

bang pintu dengan rangkapkan kedua tangan di muka

dada. Ketika melihat orang yang datang dengan mem-

bawa sesosok tubuh pada bahunya, laki-laki ini kerenyitkan 

kening.

 "Gempar Bumi, siapakah yang kau bawa ini?!"

orang itu bertanya begitu Gempar Bumi sampai di

hadapannya.

 Gempar Bumi menyeringai.

 "Sati! Malam ini biarlah aku yang menghuni pondokmu!"

 Ketika mengetahui yang dipanggul Gempar Bumi

adalah tubuh seorang dara berparas jelita, laki-laki ber-

nama Sati menelan ludahnya.

 ''Dari mana kau dapat, Gempar Bumi?" tanya Sati

dan matanya meneliti tubuh dan paras Mayang penuh arti.

 "Semprul! Dari mana aku dapat bukan urusanmu!

Lekas pergi!"

 Mata Satj tidak berpindah dari paras Mayang. Perintah 

Gempar Bumi tidak diperdulikannya malah dia melangkah 

lebih dekat kemudian membisikkan sesuatu ke

 telinga Gempar B,umi,

 Marahlah Gempar Bumi mendengar bisikan Sati.

 "Kalau kau tak lekas berlalu dari hadapanku, kupatahkan

 batang lehermu!"

 Sati menjadi takut. Dengan langkah berat akhirnya

 ditinggalkannya tempat itu.

 Gempar Bumi masuk ke dalam pondok yang berlantai 

papan. Sebagian dari lantai ditutup dengan tikar pandan. 

Mayang dibaringkannya di atas tikar. Setelah menutup pintu 

dan memeriksa isi pondok. Gempar Bumi duduk di 

hadapan Mayang lalu membuka jalan suara gadis ini.

 Begitu jalan suaranya dibuka maka mendampratlah

 Mayang.

 "Manusia keparat! Lepaskan totokan ku...!"

 "Ah, kau masih saja bersikap galak," kata GemparBumi.

 "Bedebah! Lepaskan totokan ku!"

 "Kalau kau masih keras kepala terpaksa kutotok

 jalan suaramu kembali!" mengancam Gempar Bumi dan

 diulurkannya tangan kanannya.

 "Jangan sentuh!" teriak Mayang.

 Gempar Bumi ganda tertawa Dibelainya pipi gadis itu.

Mayang memaki habis-habisan sampai suaranya serak.

 "Dengar Mayang, kalau kau mau bersikap lunak aku

 akan kawini kati secara baik-baik, tapi...'

 "Siapa sudi kawin dengan manusia anjing macammu!" 

potong Mayang.

 "Tapi kalau kau berkeras kepala macam ini jangan

 menyesal akan kuperlakukan Secara kasar!"

 "Manusia anjing, lebih bagus kau bunuh aku siang-

siang! Saat ini juga...."

 "Eh, apakah kau tidak takut mati?!"

 "Lebih baik mati daripada jadi korban kebejatanmu!"

 Gempar Bumi tertawa mengekeh.

 "Mati muda adalah mati yang paling rugi! Kalau kau

inginkan mati biarlah nanti terserah pada putusan Tuhan! 

Yang penting kau harus hidup dulu bersama-samaku.... Kau 

akan merasakan betapa indahnya hidup ini nanti. Betapa 

nikmatnya... betapa...."

 "Tutup mulutmu bedebah! Bila kau menyentuh tubuhku 

lalu membiarkan aku hidup, niscaya sampai kelautan api 

pun akan kucari kau! Akan kupenggal batang lehermu!"

 Gempar Bumi tertawa gelak-gelak.

 "Kurasa nanti itu kau mencariku bukan untuk mem-

bunuh tapi untuk mengajak kembali menikmati segala

keindahan hidup itu! Ha... ha... ha... ha!"

 "Keparat! Kalau aku betul-betul panjang umur akan

kupancung lehermu! Akan kucincang seluruh tubuhmu

sampai lumat!"

 "Ilmu silatmu ilmu silat kampungan!" ejek Gempar

Bumi: "Menghadapiku beberapa jurus saja sudah tak sang-

gup, bagaimana mungkin kau hendak mencincangku?!"

 "Kalau tidak aku ada orang lain yang akan me-

lenyapkanmu dari muka bumi ini!"

 "Aha... siapa kira-kira orangnya?!" tanya Gempar

Bumi sambil puntir-puntir ujung kumisnya yang tebal

melintang.

 "Guruku!"

 "Gurumu?!" Gempar Bumi tertawa membabak. "Pe-

rempuan tua renta yang bernama Inyak Nini itu? Kepandaiannya cuma lima enam kali saja lebih tinggi dari kau!

Dalam sepuluh jurus, mungkin kurang, pasti sudah jadi

mayat dia kalau berani berhadapan denganku!"

 Mayang mendengus.

 "Kalaupun guruku kalah masih banyak orang-orang.

sakti berilmu tinggi yang sewaktu-waktu sanggup mem-

bunuhmu! Juga melabrak majikanmu yang bernama

Datuk Sipatoka itu!"

 "Begitu? Aku ingin tahu siapa saja orang-orang

sakti itu?!" ujar Gempar Bumi. 

 "Di antaranya pemuda berambut gondrong yang

mempecundangimu tempo hari!" sahut Mayang.

 Berubahlah paras Gempar Bumi. Dia memang tak

pernah melupakan pemuda itu. Selama menjadi pembantu 

utama Datuk Sipatoka yang ditakuti di delapan penjuru 

angin Pulau Andalas belum pernah dia menghadapi

lawan yang setangguh itu, bahkan memaksa dia untuk

mengundurkan diri dengan muka tebal karena malu.

 "Ah, kalau cuma bangsat muda itu siapa takutkan

dia? Tempo hari aku sengaja menghentikan pertempuran 

karena ada urusan yang lebih penting! Kalau diteruskan 

niscaya tidak kuampunkan jiwanya...."

 "Justru pemuda itulah yang masih memberi kelonggaran 

padamu untuk ambil langkah seribu!"

 Gempar Bumi menggeram dalam hati. Tiba-tiba ta-

ngannya diulurkan kembali dan kali ini dengan cepat me-

nyelusup ke balik baju hitam yang dikenakan Mayang!

Gadis ini berteriak dan memaki! Sebaliknya dengan se-

ringai nafsu yang mengembang kempiskan cuping hi-

dungnya, jari-jari tangan Gempar Bumi menggila di atas

dada sang dara!

 Bagaimana Mayang dan ayahnya sampai di kampung 

yang tengah dimusnahkan anak-anak buah Datuk

Sipatoka itu? Dan sampai Gempar Bumi berhasil me-

laksanakan niatnya melarikan si gadis?

 Seperti telah diceritakan sebelumnya. Pagar Alam

hendak meresmikan berdirinya satu perguruan yang di-

namakannya Perguruan Kejora, Tapi karena adanya

maksud Gempar Bumi untuk datang pada hari peresmian 

itu dan mengadakan kekacauan serta terutama sekali

hendak melarikan Mayang, mau tak mau Pagar Alam

mengundurkan peresmian berdirinya Perguruan Kejora.

Dia harus mencari seorang yang dapat diandalkan yang

sanggup menghadapi Gempar Bumi dan kawan-kawan-

nya. Karena itu sesudah luka pada kedua kakinya semuh bersama Mayang laki-laki ini dengan mengendarai

dua ekor kuda berangkat ke Danau Maninjau, tempat

kediaman Inyak Ninik, guru Mayang.

 Di tengah jalan mereka berhenti dan menginap di se-

buah kampung. Justru pada malam itu pula anak-anak

buah Datuk Sipatoka di bawah pimpinan Gempar Bumi

mendatangi kampung itu, merampok dan membakar

serta melarikan gadis-gadis dan istri penduduk kam

pung! Gempar Bumi tidak menduga kalau di kampung itu

terdapat pula Mayang dan Pagar Alam di tengah-tengah

penduduk. Tentu saja ini sangat menggembirakan Gempar 

Bumi. Gadis itu berada di depan matanya kini, tak perlu dia 

menunggu berlama-lama! Ketika dia hendak menyergap 

Mayang mendadak didengarnya suara suitan nyaring di 

sebelah Barat kampung! Gempar Bumi kaget, demikian 

juga empat anak buahnya! Suitan itu adalah tanda bahaya! 

Bersama keempat orang itu Gempar Bumi cepat menuju ke 

Barat kampung. Mayang bisa diringkusnya nanti. Itu soal 

mudah. Dia ingin tahu bahaya apakah yang tengah dihadapi 

anak-anak buahnya di bagian Barat sana! Dan sewaktu dia 

sampai di bagian Barat kampung, berubahlah parasnya. 

Untung saja malam itu gelap hingga keempat anak buahnya 

tak dapat melihat perobahan parasnya itu!

 Seorang pemuda berpakaian putih, berambut gondrong 

tengah mengamuk dengan hebat. Dan pemuda ini bukan 

lain pemuda yang telah mempecundanginya tempo hari! 

Meski dia membawa anak-anak buah yang berkepandaian 

tinggi namun untuk menghadapi Wiro Sableng saat itu 

Gempar Bumi tidak mempunyai nyali! Dilain hal kalau dia 

melibatkan diri menempur si pemuda, mungkin tak akan 

kesampaian lagi sekali ini niatnya untuk melarikan Mayang.

 Maka tanpa tunggu lebih lama Gempar Bumi segera

perintahkan keempat anak buahnya untuk menyerang

Wiro Sableng.

 "Bunuh bangsat itu!" demikian dia memerintah! Dan

dari tempat gelap dia memperhatikan jalannya pertem-

puran. Dan bukan main terkejutnya Gempar Bumi ketika

dalam tempo yang singkat Wiro berhasil mempereteli

anak-anak buahnya satu demi satu! Padahal keempat

anak buahnya itu berkepandaian hanya dua tingkat saja

di bawah kepandaiannya! Nyali Gempar Bumijadi tam-

bah mencair! Ketika anak buahnya yang ketiga jatuh

menjadi korban Wiro Sableng tidak tunggu lebih lama

saat itu juga Gempar Bumi segera tinggalkan tempat itu.

 Mayang dan ayahnya ditemuinya tengah bertempurmelawan beberapa anak buahnya dari tingkatan yang

lebih rendah. Akan Pagar Alam, begitu melihat kemun-

culan Gempar Bumi, tersiraplah darahnya! Dia tahu apa

artinya ini, maka segera saja dengan sebilah pedang

pendek laki-laki ini melompat ke hadapan Gempar Bumi

dan menyerangnya dengan satu tebasan yang dahsyat!

 Walau bagaimanapun Gempar Bumi bukan tandingan 

Pagar Alam, meski dia bersenjata golok dan lawan

bertangan kosong namun Pagar Alam dalam dua jurus

saja sudah kena didesak oleh Gempar Bumi. Melihat

ayahnya terdesak. Mayang segera memberikan bantuan!

Tetapi saja pertempuran tidak berjalan seimbang. Gem-

par Bumi berhasil merampas pedang di tangan Pagar

Alam dan dengan senjata itu dia mendesak kedua ber-

anak!

 Dalam satu gebrakan yang hebat Gempar Bumi ber-

hasil menyelundupkan pedangnya dan menancap de-

ngan tepat di dada Pagar Alam. Sesaat kemudian Ma-

yang berhasil ditotoknya hingga tak bisa bersuara tak

bisa bergerak. Dengan memboyong Mayang. Gempar

Bumi kemudian meninggalkan tempat itu. Pagar Alam

dalam keadaan tak berdaya dan bergumul dengan maut

hanya bisa berteriak minta tolong! Dan teriakannya ini

terdengar oleh Pendekar 212 Wiro Sableng yang ke-

mudian segera melakukan pengejaran....

 Darah di tubuh Gempar Bumi laksana air mendidih

bergejolak. Tangannya menggerayang di sekujur tubuh

Mayang yang tak bisa berbuat suatu apa selain berteriak

dan menangis.

 Sementara itu Sati yang disuruh meninggalkan pon-

doknya berlari di kegelapan malam tanpa tujuan. Ingat-

annya masih tertuju pada gadis itu. Tak dapat dilupakan-

nya parasnya yang jelita, kulitnya yang mulus kuning

langsat dan potongan tubuhnya yang montok padati

Ingatan kepada Mayang membuat larinya kadang-kadang

tertegun-tegun. Hatinya mendorong-dorong agar kem-

bali ke pondok itu. Siapa tahu Gempar Bumi berubah

haluan dan berbaik hati mau memberikan sedikit bagian

kepadanya! Kalaupun tak dapat bagian mengintip pun 

jadilah. Dan semakin besar rasa yang mendorong-dorong

di hati Satt, Akhirnya laki-laki ini memutar tubuhnya, dan

kembali lari menyusuri jalan yang sebelumnya telah di-

tempuhnya. Kembali ke pondok di tepi sungai itu!

 Ketika sampai di pondok itu segera Sati mencari se-

buah lobang tempat mengintip dengan hati-hati sekali.Sekujur tubuhnya menggigil, lututnya goyah, darahnya

memanas dan seperti menyungsang mengalirnya ketika

dari lobang di dinding pondok dia menyaksikan peman-

dangan yang terpampang di depan matanya, di bawah

penerangan pelita.

 Gadis itu terhampar di atas tikar, menangis serak.

Sebagian tubuhnya tak kelihatan, tertutup oleh tubuh

Gempar Bumi yang mandi keringat! Dan keduanya tanpa

selembar pakaianpunl Berkali-kali Sati meneguk ludahnya. 

Seperti hendak diterjangnya saja dinding pondok di

hadapannya dan menerobos masuk ke dalam, meng-

gulung tubuh gadis itu.

 "Ah, tentu dia sudah tidak gadis lagi!" desis Sati.

"Keparat betul si Gempar Bumi ini!"

 Mendadak Gempar Bumi menghentikan segala gerak

yang dibuatnya laki membalik dengan cepat Sepasang

matanya memandang liar berkeliling dan tiba-tiba tangan

kanannya dipukulkan ke dinding pondok sebelah kanan.

 "Braakl"

 Dinding itu berlobang besar.

 Di luar pondok seseorang terdengar berteriak: "Ke-

terlaluan kau Gempar Bumi! Kawan sendiri diserang!"

 "Sati keparat! Kau berani kembali dan mengintip?

Kau akan terima hukuman berat dariku!" teriak Gempar

Bumi marah sekali. Dengan cepat dia mengenakan pa-

kaian hitamnya lalu melompat ke pintu. Namun sebelum

pintu itu sempat dibukanya, di atasnya terdengar suara

sesuatu yang ambruk dan ketika Gempar Bumi meman-

dang ke atap pondok, sesosok tubuh melayang turun

dan satu sinar putih berkiblat melanda ke arahnya!


12


Terkejut Gempar Bumi bukan alang kepalangl 

Dihadapannya berdiri seorang perempuan tua renta

berpakaian putih. Tubuhnya sangat bongkok sedang

di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang yang

terbuat dari perak dan berkilauan ditimpa sinar pelita.

 Begitu melihat perempuan ini, Mayang berseru:

 "Guru!"

 Si perempuan tua lemparkan sebuah mantel untuk

menutupi tubuh Mayang.

 Mendengar seruan Mayang tadi Gempar Bumi maklum 

kini bahwa perempuan tua di hadapannya bukan lain

Inyak Nini, guru gadis yang barusan saja dirusak kehor-

matannya! Nama Inyak Nini sudah sering didengarnya,

tapi baru kali ini dia berhadapan. Tak bisa dia menduga

sampai di mana kehebatan perempuan ini walau se-

belumnya di hadapan Mayang dia telah menganggap

Inyak Nini seorang lawan enteng yang bisa dirobohkan-

nya di bawah sepuluh jurus!

 "Manusia bejat!" suara Inyak Nini bergelar.

 "Kau harus bayar dengan kau punya jiwa atas per-

buatan yang kau telah lakukan terhadap muridku!"

 Gempar Bumi tertawa sedingin angin malam.

 "Apa kau masih belum tahu berhadapan dengan

siapa, nenek-nenek bongkok?!"

 Inyak Nini meludah ke lantai. Ludahnya merah ka-

rena susur yang senantiasa menyumpal di mulutnya.

 "Nama Gempar Bumi terlalu sering kudengar! Ter-

lalu memuakkan untuk didengar! Dan malam ini aku akan

menumpas segala kemuakan itu!"

 Tanpa banyak cakap lagi, Inyak Nini melompat ke

muka. Pedang perak di tangan kanannya berkiblat.

Angin tebasan menderu! Gempar Bumi mengelak de-

ngan sebat lalu selipkan satu serangan balasan, tapi

senjata lawan membalik ganas membuat dia melompat

mundur dan memasang kuda-kuda baru! Ternyata Inyak

Nini bukan lawan yang bisa dibuat main-main.

 Tiba-tiba sesosok bayangan hitam muncul di ambang pintu.

 "Gempar Bumi, biaraku yang hadapi setan tua ini!"

kata orang yang di ambang pintu. Dia bukan lain dari-

pada Sati.

 "Sati keparat!" bentak Gempar Bumi- "Kau tetap di

tempatmu dan awas kalau berani lari! Kau akan terima

hukuman dariku!"

 Menciut hati Sati. Maksudnya hendak menghadapi

Inyak Nini adalah sebagai penebus kesalahannya. Ter-

nyata Gempar Bumi tidak mau ambil perduli dan tetap

akan menjatuhkan hukuman terhadapnya. Dia berpikir-

pikir untuk Jari tapi itu tentu membuat Gempar Bumi akan

bertambah-tambah kemarahannya! Karenanya Sati ber-

diri di ambang pintu itu dengan hati yang tidak enak dan

serba salah!, 

 Pondok itu tidak seberapa besar karenanya tanpa

senjata agak sukar juga bagi Gempar Bumi menghadapi

amukan Inyak Nini. Pedang perak bersiuran kian kemari,

memapas dan membacok, sedang tusukan-tusukan ga-

nas meluncur berulang kali! Namun mata Gempar Bumi

yang tajam segera melihat kelemahan-kelemahan jurus

ilmu pedang yang dimainkan oleh lawannya. Segera dia

menggempur tempat-tempat pertahanan yang lemah ini

hingga pertempuran berjalan berimbang beberapa lama-

nya!

 "Tua renta sialan! Makan ini!" teriak Gempar Bumi.

Tangannya mengetuk saku, sedelik kemudian puluhan

jarum mendengung laksana tawon, menyambar ke arah

Inyak Nini! Inyak Nini terkejut! Serta merta dia putar per

dangnya. Belasan jarum hitam mental dan luruh ke lantai. 

Tapi beberapa di antaranya tak sanggup dipapasinya

dengan pedang, dan terus menembus dagingnya!

 Inyak Nini menggerung macam serigala dan me-

nyerbu dengan dahsyat! Dia sudah tahu keganasan ra-

cun yang terendam di jarum hitam itu. Meski dia telah ke-

rahkan tenaga dalamnya untuk menutup beberapa jalan

darah yang penting agar racun jahat itu tidak merambas

ke jantungnya namun tetap saja rangsangan jarum ber-

membobolkan jalan darah, terus mengalir menuju

jantung! Inyak Nini sadar bahaya besar yang mengidap

dalam dirinya. Dalam tempo dua puluh empat jam jika

tidak terdapat pertolongan pasti jiwanya melayang!

 Gempar Bg#i tertawa sewaktu mengetahui senjata

rahasianya berbasil menemui sasaran di beberapa bagi-

an tubuh lawan."Perempuan tua! Lebih baik kau bunuh diri sebelum

racun jarum itu menghancurkan kau punya jantung!"

 "Manusia dajal kau musti menyertaiku ke akhirat!"

teriak Inyak Nini lalu menggembor dan menyerang

dengan dahsyat.

 "Braak!"

 Sambaran pedang Inyak Nini mengenai tempat ko-

song dan menghantam dinding pondok hingga hancur

bobol! Gempar- Bumi pergunakan kesempatan ini untuk

menyerang dari samping! Tapi "Buuk!" Tahu-tahu ten-

dangan kaki kanan Inyak Nini bersarang di bahunya! Tu-

buhnya terhuyung-huyung beberapa langkah dan bahu-

nya sakit bukan main!

 "Perempuan bedebah!" maki Gempar Bumi. Mulutnya 

komat kamit, tubuhnya membungkuk hampir sebungkuk 

Inyak Nini sedang kedua tangan terkembang kemuka 

dengan sepuluh jari-jari menekuk!

 Inyak Nini maklum kalau lawan hendak keluarkan jurus 

ilmu silat yang hebat. Maka tidak menunggu lebih

lama dia mendahului menyerang dengan pedang di ta-

ngan! Dalam detik itu pula Gempar Bumi keluarkan suara

keras macam harimau meraung dan tubuhnya berke-

lebat ke depan! Gerakan kedua tangannya asing seka»

bagi Inyak Nini, suara seperti harimau meraung yang ke

luar dari mulut Gempar Bumi membuat perempuan tua

itu terkesiap dan bergidik!

 Kemudian terdengarlah pekik perempuan tua itu!

 Dan menyusul pula pekik Mayang yang melihat

paras gurunya berlumuran darah mengerikan!

 Inyak Nini terhuyung-huyung sampai lima langkah

ke belakang. Kulit mukanya terkelupas dalam lima guratan 

yang dahsyat, parasnya berselomotan darah sedang

pedang perak di tangan kanannya sudah berpindah ke

dalam tangan kanan Gempar Bumi! Sungguh dahsyat

jurus "Mencakar Kepala Ular Naga, Merampas Busur Pe-

manah", yang telah dilancarkan Gempar Bumi tadi.

Jurus itu adalah salah satu jurus terhebat dari "Ilmu Silat

Harimau".

 "Apakah masih belum mau bunuh diri?!" ejek Gem-

par Bumi.

 Inyak Nini tidak menjawab. Lututnya menekuk dan

tubuhnya perlahan-lahan turun ke bawah macam orang

hendak roboh. Tapi mendadak diiringi satu lengkingan

dahsyat perempuan ini melompat ke muka, hantamkan

kedua tinju kiri kanan dan lancarkan dua tendangan susul menyusul! Ini adalah satu serangan percuma saja.

Rasa marah, dendam kebencian yang bertumpuk di hati

Inyak Nini membuat dia lupa memperhitungkan bahwa

lawannya tidak lagi bertangan kosong saat itu, tapi

menggenggam pedang perak miliknya sendiri!

 Sekali Gempar Bumi memutar pedang, maka terde-

ngarlah raungan Inyak Nini. Kedua lengannya terbabat

putus, salah satu kakinya luka parah!

 Mayang menjerit lalu menangis tersedu-sedu!

 Inyak Nini terhampar di lantai pondok. Tubuhnya

berkelojotan beberapa detik kemudian diam tak berkutik

lagi

 Gempar Bumi melangkah cepat-cepat ke hadapan

tubuh Mayang dan memanggul gadis yang telah hilang

keperawanannya itu.

 "Bunuh aku! Bunuh aku keparat!"

 "Kau terlalu banyak rewel!" hardik Gempar Bumi

dan menotok jalan darah di leher Mayang hingga Mayang

di samping, kaku tak bisa bergerak kini juga tak dapat ke-

luarkan suara!

 Di ambang pintu Gempar Bumi hentikan langkahnya

dan memandang dengan sorot mata melotot pada Sati

yang berdiri dengan paras pucat.

 "Kesalahanmu terlalu besar Sati...!"

 Sati menjatuhkan dirinya dan menangis macam

anak kecil. "Harap kau sudi mengampuni aku. Gempar

Bumi," pintanya.

 "Aku ampuni jiwamu! Tapi lekas korek salah satu

matamu yang suka mengintip itu! Lekas!"

 "Gempar Bumi!" Sati menggerung dan bersujud.

 "Keparat! Lekas korek matamu," bentak Gempar

Bumi. "Atau aku sendiri yang akan mengorek kedua-

duanya sekaligus?!"

 Sati maklum tak ada lagi keringanan baginya. Dari-

pada hilang dua mata atau hilang jiwa lebih baik dia

cepat-cepat mengorek salah satu matanya! Dengan jari-

jari tangan kanan Sati kemudian menusuk mata kirinya.

 "Craas!"

 Biji mata itu mencelat ke luar bersama busaian da-

rah. Sati terduduk di ambang pintu; merintih-rintih me-

nahan sakit yang tiada taranya!

 "Itu lebih bagus bagimu daripada mampus!" kata

Gempar Bumi pula. Lalu dengan tubuh Mayang di bahu-

nya dia segera hendak tinggalkan tempat itu. Namun

langkahnya terhenti. Kedua kakinya laksana dipakukanke tanah! Di Timur pondok terdengar suara orang mem-

bentak.

 "Manusia jahanam! Berani bergerak satu langkah

saja kupecahkan batok kepalamu!"

 Waktu suara teriakan orang di malam buta itu belum

habis gemanya ketika tahu-tahu sesosok tubuh sudah

berdiri tujuh langkah di hadapan Gempar Bumi!

 Paras Gempar Bumi mendadak sontak berubah pucat 

putih laksana kain kafan! Mayang dengan susah

payah coba putar mata memandang ke muka! Satu

harapan muncul di hatinya sewaktu melihat bahwa yang

datang itu benarlah orang yang diduganya. Kalau saja

mulutnya sanggup bersuara pastilah dia akan berseru

memanggil nama orang itu!

 "Turunkan gadis itu...! Cepat!"

 "Bangsat! Dia milikku! Kalau kau inginkan dia silah-

kan ambil sendiri!" jawab Gempar Bumi. Lalu tak ayal

lagi segera dia cabut Keris "Si Penyingkir Jiwa".

 "Dajal bermuka manusia, kali ini jangan harap ada

ampun bagimu!" Orang ini hantamkan tangan kanannya

 ke arah kaki Gempar Bumi. Satu gumpalan angin yang

 bertenaga tiga perempat tenaga dalam menyambarde-

 ngan cepat! Gempar Bumi buru-buru melompat. Teng-

 kuknya terasa dingin ketika memandang ke bawah dan

 melihat bekas angin pukulan lawan! Tanah dan pasir ber-

 muncratan. Sebuah lobang besar kelihatan di tanah! Itu-

 lah akibat pukulan "Kunyuk Melempar Buah" yang telah

 dilepaskan oleh si pendatang tadi yang bukan lain Pen-

 dekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng adanya!

 Menghadapi lawan tangguh berkepandaian tinggi

 dengan memanggul tubuh Mayang tentu saja sangat ber-

 bahaya bagi Gempar Bumi. Maka sebelam Wiro kembali

 lancarkan serangan. Gempar Bumi sudah meletakkan

 tubuh Mayang di tanah.

 Sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang hebat! 

Kalau dalam pertempuran pertama dulu kelihatannya agak 

seimbang itu adalah karena Wiro masih memberi hati 

terhadap Gempar Bumi. Tapi hati ini tak ada lagi segala 

macam belas kasihan di hati Pendekar 212 Wiro Sableng. 

Melihat tubuh Mayang yang hanya tertutup sehelai mantel 

dia sudah tahu apa yang dilakukan Gempar Bumi terhadap 

gadis itu!

 Sebenarnya, di satu tempat pada malam itu Wiro sudah 

berniat menghentikan pengejarannya terhadap Gempar 

Bumi. Sementara dia mencari tempat yang baik untuk tidurtapi lapat-lapat didengarnya suara teriakan, suara

 pekik raungan. Suara itu didengarnya sampai berulang

kali dan dari arah yang sama! Penuh curiga, Wiro lak-

 sana terbang segera lari ke jurusan sumber suara. Dia

berada beberapa puluh tombak, di satu pedataran tinggi

sewaktu di ambang pintu sebuah pondok yang diterangi

oleh pelita dilihatnya berdiri seorang laki-laki berpakaian

hitam, memanggul sesosok tubuh! Meski dalam jarak se-

jauh itu Wiro tak dapat melihat jelas tampang manusia itu

namun dia yakin, orang ini pastilah Gempar Bumi!

 Keris hitam di tangan Gempar Bumi laksana puluhan 

buah banyaknya. Serangannya mencurah seperti hujan 

deras! Tak jarang sekaligus dia mengirimkan beberapa 

buah tusukan dalam satu jurus serangan! Betapapun 

hebatnya Gempar Bumi, namun segala kehebatannya Hu 

hanya sepuluh jurus saja sanggup diperlihatkannya. Jurus-

jurus berikutnya dia telah kena didesak hebat oleh 

permainan silat "Orang Gila" yang mulai dikembangkan 

Wiro. Dalam keadaan terdesak Gempar Bumi lepaskan... 

senjata rahasianya. Tapi tiada guna Sekali Wiro hantamkan 

telapak tangan kirinya ke muka jarum-jarum hitam itu 

bermentalan kian ke mari!

 "Aku minta tangan kirimu dulu, Gempar bumi!" kata

Wiro. Tubuhnya maju cepat ke muka dalam gerakan yang

terhuyung-huyung. Gerakan ini bagi Gempar Bumi me-

rupakan suatu gerakan yang sangat mudah untuk di-

serang! Segera dia tusukkan Keris Penyingkir Jiwa ke

dada lalu setengah jalan robah menusuk ke kepala! Namun

dalam gerakan yang tak teratur Wiro berhasil mengelit

tusukan itu.

 Dan Gempar Bumi memekik keras sewaktu tahu-

tahu tangan lawan telah mencengkeram lengan kirinya!

 Gempar Bumi menusuk lagi dengan kalap. Tapi

tubuhnya terbanting ke kanan dan "Kraak!"

 "Suara "kraak" itu disusul dengan suara pekikan se-

tinggi langit dari mulut Gempar Bumi! Lengan kirinya se-

batang bahu tanggal, daging dan urat-urat berbusaian!

Darah memancur! Laki-laki ini menjerit-jerit kesakitan!

 "Berteriaklah memanggil majikanmu Datuk Sipa-

toka!" ejek Wiro. Tiga jari tangan kirinya menyusup ke

depan.

 "Kraak!"

 Untuk kedua kalinya terdengar lagi pekik Gempar

Bumi. Dua buah tulang iganya yang sebelah kanan

patah"Kau akan mampus dengan menderita lebih dulu,

Gempar Bumi keparat! Kau akan terima imbalan atas

dosa-dosa kejimu!" Kembali dengan mengeluarkan

jurus-jurus silat Orang Gila yang dipelajarinya dari Tua

Gila, Wiro tusukkan lagi dua jari tangan kanannya.

 "Craas!"

 , Gempar Bumi melolong.

 Biji matanya yang sebelah kanan berbusaian keluar.

Tubuhnya terhuyung nanar.

 "Sati! Bantu aku!" teriak Gempar Bumi.

 Tapi Sati sudah sejak lama terhampar di muka pintu

pondok dalam keadaan pingsan!

 "Kenapa tidak minta bantuan pada setan-setan

penghuni sekitar tempat ini?! Bukankah kau manusia tu-

runan iblis juga hah?!" bentak Wiro dan melangkah men-

dekati Gempar Bumi.

 Gempar Bumi mundur terus. Tiba-tiba kakinya meng-

injak sesuatu dan tak ani pun lagi tubuhnya tergelimpang

jatuh punggung menimpa sesosok tubuh. Muianya di-

sangkanya, tubuh yang terhimpit badannya itu adalah tu-

buh Sati tapi ketika ditolehnya ternyata tubuh Mayang.

Satu pikiran terlintas di kepala Gempar Bumi. Meski

bagaimanapun dia tak ada harapan untuk hidup!

 "Pemuda keparat! Kau inginkan perempuan ini!

Ambillah!" teriak Gempar Bumi dan serentak dengan itu di-

hunjamkannya Keris Si Penyingkir Jiwa ke dada Mayang!

 Laksana orang kemasukan setan Wiro Sableng me-

raung! Seantero bergetar! Sinar putih melesat menyam-

bar ke arah Gempar Bumi! Laki-laki ini coba membuang

diri ke samping untuk menghindarkan Pukulan Sinar Ma-

tahari itu tapi sia-sia saja! Sebagian dari tubuhnya kena

tersambar dan hangus hitam! Gempar Bumi menjerit.

Terguling di tanah sampai enam tombak dan mengerang

kesakitan. Meski dalam beberapa kejap mata lagi Gem-

par Bumi akan segera menghembuskan nafas peng-

habisan namun Wiro masih belum puas. Dia melompat

ke muka, mencengkeram rambut dan dada Gempar

Bumi. Terdengar suara patahnya tulang leher manusia

terkutuk itu! Tamatlah riwayat kedurjanaan Gempar

Bumi!

 Wiro Sableng lari menghampiri Mayang. Dipangku-

nya gadis ini. Darah telah membasahi dada yang tiada

tertutup apa-apa. Wiro tak mem perduIikan darah yang

membasahi pula pakaiannya.

 "Mayang..." bisiknya."Mayang," panggil Wiro lebih keras. Diusapnya ke-

ning dan rambut perempuan itu. Sepasang mata Mayang

membuka sedikit. Yang kelihatan lebih banyak putihnya

daripada hitamnya.

 "Wi... ro...." Mata yang sudah mengabur itu masih

sanggup juga mengenali wajah di depannya. "Sakit sekali

rasa... nya...."

 "Kau... kau akan kuobati. Kau akan sembuh," kata

Pendekar 212 tersendat-sendat karena dia tahu kata-

katanya itu tak bakal menjadi kenyataan.

 Mayang juga tahu ajalnya akan sampai. Seulas

senyum muncul di bibirnya. Dan pada kejap matanya di-

tutupkan, nafasnya berhenti. Malaekat maut telah meng-

ambil nyawanya. Dia mati dengan senyum masih mem-

bayang di bibirnya yang mungil dan agak membuka se-

dikit. Wiro tak tahu entah sudah berapa lama dia merang-

kuli tubuh yang tidak bernafas dan mulai mendingin itu.

Dia baru sadar ketika di ufuk Timur kelihatan sinar te-

rang. Ternyata fajar telah menyingsing. Dipandanginya

lagi wajah Mayang dikeheningan pagi yang segar. Per-

lahan-lahan ditundukkannya kepalanya dan diciumnya

bibir yang membuka itu dengan segala rasa kasih dan

mesra. Kemudian diangkatnya tubuh Mayang, dibawa-

nya ke pondok. Di pintu pondok tergelimpang tubuh Sati

yang masih dalam keadaan pingsan. Wiro gerakkan kaki

kanannya. Tubuh Sati mencelat mental, dadanya remuk.

Dan kalau tadi tubuhnya tak bergerak karena pingsan

maka kali ini tubuh itu tak berkutik lagi tanpa nafas!

 Di dalam pondok Wiro menemui mayat seorang pe-

rempuan tua: Dia tak tahu siapa perempuan tua ini ada-

nya tapi sepintas lalu saja Wiro sudah maklum bahwa pe-

rempuan tua itu seorang yang berilmu tinggi dan dari go-

longan putih. Karenanya sesudah menggali kubur untuk

Mayang, digalinya lagi sebuah kubur lain untuk perem-

puan tua itu. Dan bila sang surya muncul menerangi ja-

gad raya maka di muka pondok di tepi sungai itu

kelihatanlah dua buah kuburan saling berdampingan....


13


Matahari berada di titik tertingginya tanda saat itu tengah 

hari tepat. Angin dari barat bertiup keras, menggoyang dan 

melambai-lambaikan segala daun-daun pepohonan hingga 

menimbulkan suara gemerisik yang keras. Pendekar 212 

Wiro Sableng berdiri di satu pedataran tinggi. Tak d i perdu I 

ikannya keterjkan sinar matahari. Tak diacuhkannya butir-

butir keringat yang turun mendekati alis matanya yang 

tebal. Juga tak di perdulikannya hembusan angin yang 

keras. Seperti tak terdengar di telinganya suara gemerisik 

daun-daun pepohonan. .

 Sepasang mata dan perhatian Pendekar 212 tertuju

 lurus-lurus ke muka. Jauh di hadapannya menjulang se-

 buah bukit putih. Oi sebelah Timur kaki bukit putih tam-

 pak sebuah bangunan besar yang juga berwarna putih,

 dikelilingi oleh pagar tinggi putih. Wiro memandang lagi

 ke bukit putih itu. Dia tahu bukit itu kalau didekati bukan

 lain dari tumpukan tulang belulang dan tengkorak manusia 

yang jadi korban Datuk Sipatoka dan anak buahnya! Berapa 

ribukah manusia yang telah menjadi korban keganasan 

itu?! Berapa ribukah tulang belulang dan tengkorak 

manusia ditumpuk demikian rupa hingga kemudian 

menjadi sebuah bukit yang mengerikan? Bukit Tambun 

Tulang?!

 Wiro memperhatikan baik-baik rumah besar dan se-

kitarnya. Rumah besar ini beratap seperti tanduk kerbau.

Pada masing-masing ujung terdapat sebuah tangga se-

dang di bagian samping terdapat lagi empat buah tangga

yang menghubungkan tanah dengan pintu rumah besar.

 Yang membuat Wiro Sableng merasa aneh ialah ka-

rena matanya tidak melihat seorang manusia pun baik di

dalam atau di luar pagar putih yang tinggi itu! Kenapa

suasana begini tenangnya di tempat yang dikabarkan

paling mengerikan dan membawa maut?! Atau mungkin

itu bukan bukit Tambun Tulang yang di hadapannya?!

 Wiro tak mau membuang waktu lebih lama untuktenggelam dalam Segala macam pikiran begitu rupa. Di-

perbaikinya letak Kapak Maut Naga Geni 212 yang tersi-

sip di pingang di balik baju putihnya. Kemudian diambil-

nya buntalan yaag terletak dekat kakinya dan sekali ber-

kelebat dia sudah melompat sejauh delapan tombak, te-

rus lari laksana tiupan angia menuruni lereng pedataran

tinggi.

 Ketika dia sampai ke pagar putih itu suasana masih

tenang-tenang saja seperti sediakala. Dan waktu me-

mandang ke muka terkejutlah Wiro. Ternyata pagar putih

itu terbuat dari susunan tulang belulang dan tengkorak

manusia! Wiro tekaakaa telapak tangan kirinya ke pagar

tulang belulang dan «jeodareng. Astaga! Pagar itu ko-

koh luar biasa! Wiro lipat gandakan tenaga dalamnya!

Tetap saja pagar itu tak bergerak apalagi bobol!

 Wiro memandang berkeliling lalu mendongak ke

atas. Menurut taksirannya pagar itu setinggi dua puluh

tombak lebih. Bagian atasnya rata oleh susunan teng-

korak kepala manusia. Wiro melompat ke cabang se-

buah pohon besar. Dia melompat-lompat di atas cabang

itu beberapa kali untuk menambah daya lenting cabang

lalu dengah satu gerakan yang lebih keras maka tubuh-

nya terlempar melesat ke atas susunan tengkorak. Se-

telah meneliti beberapa saat lamanya baru Wiro me-

layang turun ke halaman dalam

 Begitu kakinya menginjak tanah kembali dia meneliti 

keadaan sekitarnya. Rasa ngeri menyelinap di hati

pendekar ini sewaktu mengetahui bahwa rumah besar

yang terletak tiga puluh tombak di hadapannya ternyata

dari tiang-tiang sampai ke atapnya terbuat dari tulang

belulang dan tengkorak manusia!

 Belum lagi Pendekar 212 sempat menindas rasa

ngeri ini mendadak semua pintu dan jendela-jendela ru-

mah besar terpentang lebar! Terdengar suara mengaum

dahsyat laksana halilintar! Tanah yang dipijak Wiro Sa-

bleng bergetar hebat! Sekejap kemudian dari pintu-pintu

dan jendela-jendela rumah besar berserabutan ke luar

puluhan ekor harimau besar, mengaum memperlihatkan

taringnya yang besar runcing lalu serempak menyerbu

ke arah Wiro Sableng!

 Wiro sadar kalau dia lelah masuk ke dalam perang-

kap kematian! Segera dia songsong serangan harimau

itu sekaligus! dengan dua pukulan "Kunyuk Melempar

Buah!" Belasan harimau terdorong dan terpelanting tapi

sesaat kemudian dengan serempak mereka telah menyerang kembali! Dan sewaktu sekilas Wiro memandang

berkeliling kejutnya bukan olah-olah! Seluruh halaman

itu telah penuh dengan harimau! Dia merasa laksana ber-

ada di tengah lautan harimau! Dan kesemua binatang itu

sama-sama menyerbu, bersirebut Cepat untuk merobek

atau menerkam tubuhnya!

 Melihat gelagat maut ini Wiro segera cabut Kapak

Naga Geni 212. Kapak di tangan kanan dan Pukulan

Sinar Matahari siap di tangan kiri maka Wiro Sableng

mulai bergerak menghadapi puluhan harimau!

 Melihat kilauan dan angin deras ganas yang keluar

dari Kapak Naga Geni 212, binatang-binatang itu tampak

tertegun dan bersurut mundur. Tapi cuma beberapa ke-

tika saja. Sesaat kemudian mereka sudah menggerung

dan menyerbu kembali. Wiro kiblatkan Kapak Naga Geni

212 dan hantamkan tangan kiri! Lima ekor harimau me-

ngaum dahsyat dan rebah bermandikan darah kena di-

sambar Kapak Naga Geni 212. Kira-kira selusin lainnya

mati hangus dilanda Pukulan Sinar Matahari! Jika dia

menghadapi seorang manusia mungkin dia sudah ber-

tempur seratus jurus lebih! Puluhan ekor harimau telah

dttewaskannya! Namun yang masih tinggal menyerang

lebih ganas lagi laksana kemasukan roh gaib karena

melihat genangan darah kawan-kawan mereka!

 Wiro putar terus Kapak Naga Geni 212 dan tangan

kirinya tiada henti memukul ke depan atau ke belakang.

Akhirnya lima belas ekor harimau yang masih hidup

yang menjadi ngeri melihat amukan pemuda ini bersurut

mundur. Setelah sama-sama menggerung kesemuanya

melompat masuk ke dalam rumah besar dan di saat itu

pula semua jendela serta pintu tertutup kembali! Melihat

ini Wiro segera tahu bahwa seseorang telah menggerak-

kan alat rahasia untuk membuka dan menutup pintu!

 Tapi di mana orangnya sembunyi dia tidak tahu. Dan

agaknya Wiro tidak memperdulikan lagi hal itu. Tubuh-

nya terasa letih! Keringat membasahi pakaiannya. Tu-

lang-tulangnya laksana bertanggalan dari persendian.

Kejurusan mana saja dia memandang hanya bangkai-

bangkai harimau yang kelihatan. Dan suasana yang di-

liputi kesunyian itu membuat Wiro benar-benar jadi ber-

gidik! Keletihan membuat dia duduk terhenyak di tanah.

Sambil mengatur jalan nafas dan darah serta mengem-

balikan tenaganya kedua matanya senantiasa berlaku

awas. Entah perangkap apa lagi yang bakal meng

 hadangnya!

 Bila dirasakannya kekuatannya sudah putih maka

Wiro segera menyelidiki keadaan rumah besar tempat

sarang harimau-harimau itu. Tak kelihatan tanda-tanda

adanya manusia di situ tapi Wiro yakin bahwa setiap

gerak pasti tengah diawasi orang dari tempat yang ter-

sembunyi! Sementara itu kedua kakinya telah kotor oleh

genangan darah harimau dan tanah yang sudah menjadi

lumpur akibat darah binatang-binatang itu!

 Wiro Sableng akhirnya hentikan penyelidikan. Dia

mendongak ke atas, dengan kerahkan tenaga dalam dia

berteriak:

 "Datuk Sipatoka! Beginikah caranya kau menyambut

tamu yang datang untuk menyelesaikan urusan? Harap

ke luar perlihatkan dirimu...!"

 Baru saja Wiro berteriak begitu tiba-tiba dirasakannya 

tanah berlumpur yang dipijaknya bergetar. Kedua kakinya 

laksana disedot! Wiro melompat ke salah sebuah tangga 

rumah besar yang terbuat dari tulang! Kejutnya bukan alang 

kepalang. Halaman di mana bergelimpangan puluhan 

harimau itu kelihatan mencekung memanjang dari Utara ke 

Selatan dan pada pusatnya membentuk sebuah lobang 

besar. Telinganya menangkap suara berkereketan. Astaga 

rumah besar di mana dia berada sedikit demi sedikit 

amblas sedang bangkai-bangkai harimau bergelindingan ke 

pusat cekungan.

 "Gendeng betul!" maki Wiro. Cepat-cepat dia melompat 

ke atas atap rumah yang berbentuk tanduk ker bau dan dari 

sini melompat lagi ke puncak pagar tengkorak! Sewaktu dia 

sampai di atas puncak pagar da memandang ke bawah, 

seperti mimpi dia rasanya. Rumah besar dan bangkai-

bangkai harimaa lenyap! Yang kelihatan kini ialah sebuah

halaman rata yang tertutup rumput hijau! Wiro menggosok 

matanya Digigitnya bibirnya. Terasa sakit. Dia tidak 

bermimpi! Tapi bagaimana keanehan ini bisa terjadi?!

 Dalam selubungan rasa heran dan terkejut itu tiba-tiba 

dia melihat sebuah pintu di kaki pagar sebelah Timur. Tadi 

sama sekali tidak dilihatnya pintu itu, kini kenapa tahu-tahu 

sudah terpampang begitu rupa! Lagi-lagi, keanehan yang 

tak bisa dimengerti oleh Wiro. Dan mendadak pintu itu 

terbuka. Wira cepat raba Kapak Naga Geni 212-nya. 

Ampun! Yang muncal bukan bahaya yang dikhawatirkannya 

tapi dua orang gadis jelita berpakaian kuning 

bergemerlapan ditimpa sinar matahari. Keduanya 

melangkah di halaman berumput dan berhenti cepat ditengah-tengah. Mereka mendongak ke arah ujung pagar 

tempat Wiro berdirj dengan bantalan di tangan kiri lalu 

salah seorang di antaranya berseru.

 'Tamu berpakaian putih-putih silahkan turun!"

 "Kalian siapa?!" tanya Wiro.

 "Kami adalah pesuruh-pesuruh Datuk Sipatoka!"

 "Kalau begitu katakah padanya bahwa aku hendak

 bertemu dengan dia."

 'Turunlah! Kami antarkan kau padanya!"

 Wiro berpikir sejenak. Seruan dara jelita itu kerasnya 

bukan main, menggetarkan pagar tulang belulang di mana 

dia berada. Bukan mastahil dengan mengandalkan kedua 

dara berbaju kuning ini musuh hendak memasang 

perangkap baru baginya!

 "Suruh saja Datuk Sipatoka datang ke sini!" ujar Wiro.

 Jelas kelihatan pembahan pada wajah kedua dara

 berpakaian kuning.

 "Nyalimu besar sekali! Tapi mengapa disuruh turun

 untuk diantar menghadap Batak Sipatoka kau tak 

mempunyai keberanian sama sekali?!"

 "Sialan! Kalau aku tak punya keberanian masakan mau 

datang kemari?! Lekas panggil Datukmu! Katakan aku 

membawa oleh-oleh bagus untuknya!"

 Kedua dara berpakaian kuning kerutkan kening. Yang 

seorang, yang sejak tadi berdiam diri saja tiba-tiba buka 

mulut keluarkan suara:

 "Sekali kau bisa datang ke sini jangan kira sanggup

ke luar hidup-hidup!"

 Wiro Sableng tertawa. "Setiap ada datang musti ada

pergi! Setiap ada masuk musti ada keluar!"

 Si dara baju kuning mendengus.

 "Apa matamu buta, tidak melihat keadaan sekitarmu?!"

 Wiro tersentak dan memandang berkeliling. Tak ada

hal-hal yang mencurigakan yang dilihatnya. Tapi hidungnya 

mencium hawa aneh yang membuat sendi-sendi di sekujur 

tubuhnya menjadi linu kesemutan dan jantungnya bergetar. 

Ditelitinya lagi keadaan sekelilingnya. Dan kali ini 

terkejutlah dia! Sekeliling pagar tinggi itu terselimut

semacam asap tipis yang tak akan kelihatan bila tidak 

diperlihatkan sungguh-sungguh. Asap tipis aneh inilah yang 

mengeluarkan hawa yang tercium oleh Wiro.

 Di bawahnya terdengar suara bergelak sang dara baju 

kuning.

 "Sekali kau berani melompat coba menerobos Asap

Seribu Tulang itu, kau akan lumpuh cacat seumur hidup!Lekas turuni"

 Wiro tahu bahwa ucapan itu bukan sekedar untuk

menakut-nakutinya. Dia telah rasakan sendiri kehebatan

asap itu. Pemandangannya agak berkunang-kunang se-

dang debaran jantungnya bertambah keras! Heran, pa-

dahal dia telah digembleng demikian rupa hingga kebal

terhadap segala macam racun tapi mengapa asap seribu

tulang itu masih sanggup mempengaruhinya?!

 Dengan kertakkan rahang Wiro Sableng melompat

turun. Untuk beberapa detik lamanya dia saling pandang

memandang dengan kedua dara baju kuning. Dan dalam

hatinya Wiro berkata: "Buset, gadis-gadis begini cantik

jadi pesuruh Datuk Sipatoka! Geblek betul!" Agaknya ke-

dua gadis pun lelah terpesona melihat kegagahan tam-

pang Pendekar 212. Namun yang seorang segera mem-

bentak:

 "Lekas ikut kami!"

 "Awas! Kalau kalian menjebakku, kalian akan mam-

pus percuma!" peringatkan Wiro.

 Kedua gadis tak berkata apa-apa dan melangkah

menuju pintu di sebelah Umur, Wiro mengikuti di be-

lakang penuh waspada. Tangan kanannya senantiasa

siap dekat hulu Kapak Naga Geni 212 untuk menjaga se-

gala kemungkinan yang ada! Mereka memasuki pintu di

sebelah Timur pagar tulang belulang. Begitu masuk be-

gitu pintu tertutup dengan sendirinya. Wiro melipat gan-

dakan kewaspadaannya. Sepuluh langkah meninggal-

kan pintu terdapat tangga tulang yang menurun ke ba-

wah, disusul oleh sebuah lorong sepanjang dua puluh

tombak. Lorong itu kemudian bercabang dua. Kedua

dara baju kuning membelok ke kiri. Wiro mengikuti.

Tengkuknya terasa dingin sewaktu memasuki lorong ini.

Lorong ini baik bagian lantai maupun atas serta samping

dilapisi dengan tulang-tulang manusia, dihias dengan

beberapa tengkorak kepala yang dibuat sedemikian rupa

hingga seperti bunga!

 Lewat sepeminum teh Wiro merasa tambah tidak

enak. 

 "Ini ke mana?!" tanyanya.

 "Jangan banyak tanya! Ikut sajalah!" sentak dara

baju kuning paling muka.

 Tak lama kemudian lorong Hu sampai juga ke ujungnya. 

Sebuah pintu gerbang kelihatan di depan, dikawal oleh dua 

orang dara berbaju kuning dan dua ekor harimau yang luar 

biasa besarnya, jauh lebih besar dari harimau-harimau yangtelah dihadapi Wiro sebelumnya! Ketika Wiro memandang 

ke bagian atas pintu gerbang tulang belulang ilu, di situ 

terdapat rentetan huruf-huruf yang terbuat dari tulang-

tulang iga manusia yang berbunyi : ISTANA SIPATOKA.

 Pintu gerbang Hu diberi hiasa gaba-gaba untaian

tulang-tulang manusia. Kedua gadis menyibakkan gaba-

gaba ini laju memberi jalan pada Wiro Sableng.

 Pendekar 212 tak segera masuk. Dia memandang ke

dalam dengan mata menyelidik dan terkesiap. Di hadapan 

pintu gerbang itu terhampar sebuah halaman berumput 

yang dihias arca-arca besar yang terbuat dari tulang

belulang! Di seberang halaman berumput kelihatan bagian 

depan sebuah bangunan yang sangat indah yang atapnya 

berbentuk tanduk kerbau. Seluruh bangunan terbuat dari 

tulang putih, diukir-ukir. Meskipun indah tapi keindahan itu 

dibayangi kengerian bagi Pendekar 212.

 "Ayo masuk!" seru dara baju kuning.

 Wiro menggigit bibir. Meski hatinya bimbang untuk

masuk tapi sudah terlambat untuk kembali. Dengan kuat-

kan hati besarkan nyali tapi juga penuh waspada Pendekar 

212 memasuki pintu gerbang Istana Sipatoka.


14


Sampai di hadapan tangga gedung besar dari tulang

belulang kedua gadis baju kuning hentikan langkahnya.

 'Terus masuk ke ruang tengah. Datuk Sipatoka telah 

menanti kedatanganmu!" kata salah seorang dari dara-

dara baju kuning.

 "Kalian sendiri mau ke mana?"

 "Apa urusanmu?!"

 Wiro memaki dalam hati. Sepasang matanya meneliti 

suasana sebentar lalu menaiki tangga. Dilewatinya

ruangan muka dan sesaat kemudian dia sudah berada di

satu ruangan tengah yang amat luas. Kira-kira dua puluh

orang kelihatan duduk di ujung dalam ruangan, di atas

kursi-kursi yang terbuat dari tulang-tulang kaki, tulang iga 

dan tulang punggung manusia! Semuanya berpakaian 

hitam, hanya seorang yang berpakaian lain dari yang lain.

 Orang yang berpakaian lain dari yang lain ini duduk

di deretan terdepan sebelah tengah. Tubuhnya cebol se-

kali, demikian cebolnya hingga kedua kakinya tidak

mencapai lantai ruangan! Tidak berpadanan dengan tu-

buhnya yang cebol itu, kepalanya amat besar sekali, de-

mikian juga telinganya. Rambutnya panjang menjulai

bahu, kumis tebal melintang dan janggut macam janggut

kambing! Sepasang matanya yang merah menyorot ta-

jam, keseluruhan air muka manusia ini membayangkan

kebengisan!

 Inikah Datuk Sipatoka? Pikir Wiro. Kalau betul maka

melesetlah dugaannya. Sebelumnya dia menduga ma-

nusia bernama Datuk Sipatoka itu bertubuh tinggi kekar,

tapi nyatanya cebol begitu rupa.

 Di samping potongan tubuh dan raut wajahnya yang

bengis itu ada beberapa hal yang menjadi perhatian Wiro

Sableng. Yang pertama ialah pakaian manusia cebol ini.

Dia mengenakan jubah pendek macam rok bertangan

panjang yang terbuat dari kulit harimau, kuning berbelang 

hitam. Di seluruh pakaiannya ini bergantungan puluhan 

keris-keris emas berhulu gading, tanpa sarung dan 

panjangnya kira-kira tiga perempat jengkal! Itulah halkedua yang menarik perhatian Wiro. Hal ketiga ialah

kedua tangan manusia ini yang berwarna hitam legam

tanda dia memiliki semacam ilmu pukulan yang hebat

dan mengandung racun jahat!

 Wiro berdiri di tengah ruangan besar itu, sejauh dua puluh 

tombak dari deretan kursi terdepan. Suasana sesunyi di 

pekuburan. Tak ada yang bergerak, tak ada yang buka 

suara. Hanya pandangan-pandangan mata yang saling 

bentrokan dengan pandangan mata Wiro Sableng! Ketika 

hampir setengah peminum teh suasana masih sunyi juga, 

Wiro akhirnya berkata:

 "Apakah aku berhadapan dengan Datuk Sipatoka

dari Tambun Tulang?!"

 Si tubuh cebol kepala besar memandang lekat-lekat

pada Wiro lalu tengadahkan kepala dan tertawa gelak-

gelak! Suara tertawanya demikian dahsyat hingga meng-

getarkan sekujur tubuh Wiro Sableng dan menyendat-

nyendat jalan darahnya. Buntalan di tangan kirinya kalau

saja tidak dipegangnya erat-erat pastilah akan terlepas!

 Wiro kaget bukan main! Cepat-cepat dia kuasai jalan

darah dan kerahkan tenaga dalam untuk menolak

gempuran suara tawa yang dahsyat itu.

 "Istana Sipatoka di bawah bukit Tambun Tulang!

Siapa datang jangan harap bisa pulang!" si cebol kepala

besar tiba-tiba keluarkan suara. Kata demi kata yang di-

ucapkannya itu laksana genta yang memukul jalan pen-

dengaran Wiro Sableng hingga kembali pendekar ini me-

rasa tergetar sekujur tubuhnya. Cepat-cepat pula Wiro

lipat gandakan tenaga dalamnya kembali.

 Dan di hadapan sana Datuk Sipatoka kembali buka

suara. Ucapan-ucapannya laksana bait-bait pantun.

 "Delapan puluh lima harimau pengawal Istana Sipatoka 

telah musnah! Halaman luar banjir darah! Entah apa

pangkal sebabnya. Hingga tamu tak dikenal berbuat

demikian rupa?!"

 Wiro kerenyitkan kening mendengar ucapan-ucapan 

berpantun ini. Setelah merenung sejenak maka dia pun 

menjawab dengan ucapan berpantun pula!

 "Jauh berjalan menyeberangi samudera. Mengarung 

maut mengadu jiwa. Kalau tidak ada pangkal sebabnya. 

Masakan mau berbuat sedemikian rupa?"

 Semua orang kelihatan saling berpandangan sedang 

Datuk Sipatoka sendiri naikkan sepasang alis matanya. 

Dan saat itu Wiro berkata pula:

 "Delapan puluh lima harimau mati percuma! Pemiliknyabertanya berpura-pura. Kenapa tamu tak dikenal berbuat 

begitu rupa? Padahal dia yang memulai silang sengketa?!"

 Datuk Sipatoka berbatuk-batuk lalu menjawab:

 "Silang sengketa apa gerangan adanya! Berhadapan pun 

baru hari ini! Kalau sudah bosan hidup katakan saja! 

Mengapa datang sengaja mencari mati?!"

 Wiro tertawa mengekeh.

 "Datuk Sipatoka! Aku muak bicara berpantun-pantun

macam orang main sandiwara tapi untuk mengusut urusan 

yang telah kau buat di Pulau Madura!"

 "Urusan apa, hai orang gila?!" tanya Datuk Sipatoka yang 

saat itu masih merah mukanya karena ucapan Wiro tadi.

 "Di Pulau Madura kau telah membunuh seorang bernama 

Kiai Bangkalan dan mencuri sebuah kitab miliknya!"

 Paras Datuk Sipatoka berubah. Lalu dia tertawa

gelak-gelak untuk melenyapkan perubahan paras itu!

 "Jangan bicara tak karuan di sini! Apa kau punya

bukti atas tuduhanmu itu?!"

 "Dua buah keris yang menancap di mata Kiai Bangkalan 

sama dengan keris-keris yang bergelantungan 

dipakaianmu!" sahut Wiro Sableng.

 "Ocehanmu bagus sekali!" tukas Datuk Sipatoka.

 Wiro menyeringai.

 "Kita akan lihat aku yang mengoceh atau kau yang

berkicau macam burung kehilangan sarang!" Habis ber-

kata begitu Wiro keruk saku bajunya dengan tangan ka-

nan dan melemparkan sebuah benda ke hadapan kaki

Datuk Sipatoka. Benda itu adalah robekan kulit harimau

yang ditemui Wiro dipertapaannya Kiai Bangkalan di

Pulau Madura tempo hari.

 "Itu adalah robekan pakaianmu yang kutemui di

tempat Kiai Bangkalan! Apakah kau masih mau mungkir? 

Terlalu pengecut seorang sepertimu mencoba untuk

mungkir!"

 Air muka Datuk Sipatoka membesi.

 "Katakan siapa namamu dan apa sangkut pautnya

dengan Kiai Bangkalan?!"

 "Namaku telah kusampaikan beberapa hari yang lalu 

lewat seorang anak buahmu," sahut Wiro seraya 

memandang berkeliling lalu menunjuk pada seorang laki-

laki yang di keningnya tertera tiga buah angka 212. Laki-

laki inilah yang memiliki pondok di tepi sungai yang telah 

dipergunakan Gempar Bumi untuk memperkosa Mayang."

 Datuk Sipatoka tidak palingkan kepala. Dia memang

telah mendapat laporan dari anak buahnya itu tapi tidakmenyangka kalau inilah pemudanya yang telah "mengukir" 

tiga buah huruf itu di kening anak buahnya!

 "Dan tentang sangkut pautnya dengan Kiai Bangkalan, 

bukan urusanmu untuk menanyakan!"

 "Pemuda nyalimu setinggi gunung! Kau toh tidak

mempunyai tiga kepala enam tangan?! Mungkin hendak

mengandalkan ilmu silat dan kesaktian? Jauh-jauh datang 

ke mari hanya untuk mencari mati!"

 Wiro tertawa dingin.

 Ini membuat Datuk Sipatoka menjadi naik darah. Dia

memandang berkeliling. Namun sebelum dia memerintah 

anak buahnya untuk turun tangan Wiro Sableng memotong:

 "Datang jauh-jauh aku tidak bertangan kosong, Datuk. 

Sengaja aku membawa oleh-oleh untukmu!"

 Setelah berkata begitu Wiro lemparkan buntalan yang 

sejak tadi dipegangnya di tangan kiri.

 "Apa ini?!".sentak Datuk Sipatoka.

 "Silahkan buka sendiri!" jawab Wiro seenaknya.

 Meski hatinya teramat geram namun Datuk Sipatoka

berikan isyarat pada seorang anak buahnya. Anak buahnya 

ini segera berdiri dari kursi, melangkah dan membungkuk 

membuka ikatan buntalan yang terletak dihadapan kaki 

Datuk Sipatoka.

 Begitu buntalan terbuka maka gemparlah seisi ruangan!

 Yang terbungkus dalam buntalan itu ternyata adalah

kepala manusia! Matanya sebelah kanan hanya merupa-

kan rongga besar yang tergenang darah beku dan serabutan 

urat-urat. Seluruh muka berselimutkan darah yang 

mengering! Meski kepala itu sudah demikian rusak

dan busuk namun tak ada satu orang pun di ruangan ter-

sebut yang tak mengenalinya! Kepala itu adalah kepala

Gempar Bumi! Pembantu utama Datuk Sipatoka!

 Datuk Sipatoka dikungkung pelbagai macam rasa.

Marah, heran, dan entah apa lagi! Mungkin juga dirinya

dirayapi rasa ketakutan! Gempar Bumi adalah pembantu

utamanya yang berkepandaian sangat tinggi di antara

anak buahnya! Tapi tokh dia mati demikian rupa! Dan

siapa lagi kalau bukan pemuda di hadapannya itu yang

telah membunuh Gempar Bumi!

 "Bedebah bernama 212! Tak ada jalan lain! Kematianmu 

terpaksa kupercepat!" Datuk Sipatoka memandang 

berkeliling lalu memerintah dengan suara menggeledek: 

"Semua yang ada di sini serbu bedebah itu! Hancur 

lumatkan tubuhnya hingga jadi debu!"

 Maka dua puluh orang laki-laki berseragam hitamberlompatan dari kursi masing-masing. Enam orang di

antaranya adalah pembantu-pembantu kelas satu de-

ngan gambar kepala harimau kuning besar di dada pa-

kaiannya. Selebihnya pembantu-pembantu biasa tetapi

yang tingkat kepandaiannya tak bisa dianggap sepele!

 Ketika menyerbu pembantu-pembantu biasa dan

pembantu-pembantu kelas dua langsung mencabut keris. 

Pembantu-pembantu kelas satu hanya mengandalkan 

tangan kosong!

 Melihat serbuan yang laksana air bah ini Wiro

Sableng bersuit nyaring dan cabut Kapak Naga Geni 212

sedang tangan kiri sudah memutih laksana perak oleh aji

Pukulan Sinar Matahari!

 Begitu tawan menyerbu Wiro segera bergerak.

 Terdengar suara pekikan! Dua orang pembantu kelas satu 

terhuyung-huyung, muntah darah dan rubuh! Tiga orang 

pembantu kelas dua terduduk di lantai dan rebah tak 

berkutik lagi. Empat orang pembantu-pembantu biasa 

mencelat mental dan jatuh bergelimpangan di lantai tanpa 

nafas!

 Datuk Sipatoka kaget luar biasa. Anak-anak buahnya 

demikian juga bahkan Pendekar 212 Wiro Sableng ikut 

terkejut!

 Waktu lawan-lawan menyerbu, Wiro memang sudah

gerakkan kedua tangan tapi sama sekali belum meng-

hantam! Dirasakannya satu sambaran angin luar biasa

dahsyatnya di atas kepalanya lalu beberapa penyerangnya 

roboh!

 Datuk Sipatoka keluarkan sebuah lonceng kecil dan

menggoyang-goyang nya beberapa kali. Empat puluh dara-

dara jelita berseragam kuning muncul dengan pedang di

tangan. Mereka adalah pesuruh-pesuruh istana tapi yang

sekaligus merangkap peliharaan Datuk Sipatoka!

 "Lepaskan asap seribu tulang! Tutup semua jalan keluar!" 

perinlah Datuk Sipatoka pada dara-dara itu. Begitu perintah 

dikatakan begitu keempat puluh gadis itu lenyap dari 

pemandangan Wiro Sableng.

 Datuk Sipatoka memandang ke langit-langit ruangan di 

belakang Wiro lalu membentak: "Orang yang sembunyi di 

atas loteng silahkan turun perlihatkan diri!"

 Wiro Sableng kerenyitkan kening sewaktu dari atas

loteng terdengar suara tertawa bergelak. Dia rasa-rasa

pernah mendengar tawa macam begitu tapi tak bisa men-

duga dengan pasti siapa orangnya!

 "Sipatoka, kau belum layak melihat diriku!" kata orangyang di atas loteng.

 Datuk Sipatoka mendelik. Dia berpaling pada keempat 

jago kelas satu dan memberi isyarat! Keempat anak 

buahnya ini segera melompat ke langit-langit. Tangan 

kanan memegang keris sedang tangan kiri menghantam. 

Empat larik angin pukulan yang dahsyat menderu ke atas! 

Langit-langit yang terbuat dari tulang bobol hancur 

berantakan! Tapi bersamaan dengan jatuhnya hancuran 

tulang-tulang itu, keempat jago kelas satu itupun terhempas 

ke lantai, mengeluh panjang laki muntah darah dan konyol!

 Geraham-geraham Datuk Sipatoka bergeme Makan.

Anak-anak buahnya saling pandang dengan muka pu-

cat! Dan di loteng tepat di atas Kepala Datuk Sipatoka

kembali terdengar suara tertawa bergelak!

 "Kurang ajar!" geram Datuk Sipatoka. Tangan ka-

nannya bergerak mencabut sepuluh keris emas kecH

yang bergantungan di jubah kulit harimaunya! Sekejap

kemudian senjata-senjata Hu laksana kilat melesat ke

loteng di atas kepalanya!


15


Tapi betapa terkejutnya Datuk Sipatoka. Masih setengah 

jalan tahu-tahu laksana ranting-ranting kering dilanda angin 

puting beliung ke sepuluh keris itu berpelantingan ke 

bawah. Dua buah melesat ke arah Datuk Sipatoka, 

selebihnya bermentalan ke arah pembantu-pembantunya

yang duduk di kursi! Sekali mengebut kan jubah kulit 

harimaunya maka mentallah kedua keris yang menyerang 

Datuk Sipatoka. Tapi tidak demikian dengan pembantu-

pembantunya! Suara pekik melengking raungan laksana 

hendak meruntuhkan langit-langit. Delapan orang terkulai 

di kursi masing-masing tanpa bisa bergerak lagi. Mereka 

adalah dua orang pembantu kelas satu, empat orang 

pembantu kelas dua dan dua orang pembantu biasa! Tubuh-

tubuh mereka ditancapi keris kuning milik Datuk mereka 

sendiri! Ada yang menancap tepat di ubun-ubun, ada yang

di muka, di dada dan di perut!

 Paras Datuk Sipatoka kelam membesi. Mulutnya

berkomat kamit. Janggut dan kumisnya laksana kawat

meranggas karena amarah! Kedua tangannya yang hitam 

saling digosok-gosokkan satu sama lain. Sedetik kemudian 

dari kedua tangannya itu mengepullah asap hitam yang 

berbau busuk!

 "Manusia di atas loteng tahukah kau pukulan apa

yang sebentar lagi hendak kulepaskan jika kau tetap 

berkeras kepala tidak mau unjukkan diri?!"

 Orang di atas loteng tertawa gelak-gelak.

 "Dari tempatku ini aku dapat melihat jelas, Sipatoka!

Cuma Ilmu Pukulan Hawa Neraka siapa yang takutkan? 

Sayang ilmu itu adalah ilmu kesaktian paling hebat yang

terakhir kau miliki Sayang..." dan orang itu tertawa lagi

gelak-gelak lalu menyambungi: “Tapi jika kau mau meng-

adakan perjanjian aku bersedia muncul unjukkan diri!"

 "Perjanjian macam mana?!" tanya Datuk Sipatoka

seraya hentikan menggosok-gosok kedua telapak ta-

ngannya. Sampai saat itu dia masih tetap duduk di kursi

kebesarannya!

 "Kau bertempur sampai seratus jurus melawan pemudapakaian putih rambut gondrong itu...!"

 Wiro Sableng tersentak kaget.

 "Lalu?!" bentak Datuk Sipatoka.

 "Jika pemuda itu menang, kau harus bunuh diri! Sebelum 

bunuh diri kau harus pesankan pada anak-anak buahmu, 

pada seluruh isi Istana Sipatoka ini untuk memusnahkan 

semua bangunan yang ada di sini dan agar mereka semua 

kembali ke jalan yang benar!"

 "Jika dia yang kalah apa imbalannya?" tanya Datuk

Sipatoka.

 "Pertama kau boleh bunuh pemuda itu, juga boleh

tamatkan riwayatku. Kedua buku Seribu Macam Ilmu

Pengobatan yang kini ada padaku silahkan kau miliki

untuk selama-lamanya!"

 Berubahlah paras Datuk Sipatoka. Dia tidak terkejut

pada syarat-syarat perjanjian yang dikatakan. Tapi be-

gitu mengetahui bahwa buku Seribu Macam Ilmu Peng-

obatan berada di tangan orang yang di atas loteng itu

kagetlah dia! Wiro Sableng sendiri terkesiap karena

justru kedatangannya ke Tambun Tulang adalah untuk

mencari buku itu!

 "Kurang ajar!" terdengar makian Datuk Sipatoka

menggeledek. "Darimana kau ambil buku itu?!"

 "Dari dalam kamarmu tentu!" sahut orang di atas

loteng dan tertawa mengekeh. "Bagaimana?!"

 Dalam hati Datuk Sipatoka mengutuk habis-habisan. Jika 

orang itu dapat masuk ke dalam Istana Sipatoka dan 

mencuri kitab Seribu Macam Ilmu Pengobatan dari dalam 

kamarnya, nyatalah kepandaiannya luar biasa sekali dan 

dia telah saksikan sendiri tadi! Menurut pandangan Datuk 

Sipatoka kalau bertempur melawannya belum tentu dia 

bisa dikalahkan oleh orang sakti itu. Tapi untuk 

mengalahkan lawan bukan hal yang mudah pula bagi 

Datuk Sipatoka. Dan karena menganggap Wiro Sableng 

seorang pemuda yang tak perlu begitu ditakutkan maka dia 

pun mendongak ke loteng dan berseru:

 "Aku terima perjanjianmu!"

 "Bagus! Tapi harap kau sampaikan dulu pesanmu

pada seluruh isi istana ini!" sahut orang yang masih ber-

sembunyi di balik loteng.

 "Kentut apa kati kira pemuda tengik itu pasti akan

mengalahkah aku?!" teriak Datuk Sipatoka marah.

 "Belum tentu memang! Tapi kalau kau tak bersedia

menerima persyaratan berarti perjanjian balai. Dan ter-

paksa buku Seribu Macam Ilmu Pengobatan kubawa pergi!""Kurang ajar!" maki Patuk Sipatoka geram. Tapi dia

kerahkan juga tenaga dalam dan berteriak hingga me-

ngumandang ke seluruh pelosok Istana Sipatoka.

 "Seluruh isi Istana Sipatoka. kalian dengarlah pesan

Datukmu ini! Aku akan bertempur melawan seorang pe-

muda tengik yang kesasar datang ke tempat kita! Jika

aku kalah maka kalian harus memusnahkan segala apa

yang ada di sini dan kalian kembali ke dunia luar, ke

dalam jalan yang benar. Sekian!" Datuk Sipatoka me-

mandang ke atas dan berseru: "Nah orang di atas loteng,

puaskah kati sekarang?!"

 "Puas... puasi" sahut orang itu. Sekejap kemudian diiringi 

dengan suara tertawa gelak-gelak maka bobollah langit-

langit ruangan dan sesosok tubuh berpakaian putih 

berkelebat dan hampir tak dapat disaksikan oleh mata

saking cepatnya tahu-tahu orang ini sudah duduk menje-

lepok seenaknya di sudut ruangan! Di pangkuannya ada

sebuah kitab. Seisi ruangan terkejut. Wiro sampai 

ternganga dan garuk-garuk kepala:

 "Tua Gila-.." desis Pendekar 212 laki cepat-cepat menjura 

hormat.

 "Ah! Kau masih saja pakai segala macam peradatan

yang membikin muak perutku!" kata orang yang duduk

di sudut ruangan yang memang Tua Gila adanya!

 "Hadapi si cebol itu! Kalau nasibmu baik kau menang tapi 

kalau tidak kau akan mampus, aku akan konyol!" Sehabis 

berkata keras begitu Tua Gila pergunakan ilmu 

menyusupkan suara memberi bisikan pada Wiro. "Kapak di 

tangan kanan. Pukulan Sinar Matahari di tangan kiri! Sekali-

kali jangan pukul bagian tubuhnya! Jika dia pergunakan 

Ilmu Pukulan Hawa Neraka, tangkis dengan Pukulan Sinar 

Matahari dan hantam dengan Pukulan Dewa Topan 

Menggusur Gunung yang kuajarkan padamu!"

 "Ayo Sipatoka kau tunggu apa lagi?!" Tua Gila 

membentak.

 Dan Datuk Sipatoka melompat turun dari kursinya.

 Gerakannya seringan kapas! Setelah meneliti Wiro sejenak 

dia bertanya: "Maumu dengan tangan kosong atau pakai 

senjata?!"

 Wiro ingat nasihat Tua Gila. Maka dia pun menjawab: 

"Kalau kau punya senjata silahkan dikeluarkan!"

 Datuk Sipatoka tertawa sinis dan cabut sebilah keris

 hitam yang bercabang tiga! Sinar senjata ini hitam meng-

 gidikkan!

 "Mulailah!" kata Datuk Sipatoka.Wiro tertawa. "Kau tuan rumah silahkan mulai lebih

 dulu!" Lalu Wiro cabut Kapak Naga Geni 212.

 Datuk Sipatoka sunggingkan seringai mengejek. Meski 

dia belum bisa mengukur ketinggian ilmu lawannya namun 

dia merasa yakin akan membereskan si pemuda di bawah 

dua puluh jurus! Tubuhnya dibungkukkan hingga makin 

tambah cebol kelihatannya. Dari mulutnya terdengar suara 

menggoreng macam suara harimau. Mula-mula perlahan 

lalu mendadak sontak keras menggedetek, menggetarkan 

seantero ruangan! Baiknya Wiro Sableng sudah kerahkan 

tiga perempat dari tenaga dalamnya hingga suara bentakan 

dahsyat itu tidak mempengaruhinya!

 Tiba-tiba tubuh Datuk Sipatoka berkelebat lenyap! Tahu-

tahu keris hitam bercabang tiga sudah berkelebat hanya 

tinggal satu jengkal dari muka Wiro Sableng!

 Wiro terkejut lekas-lekas melompat ke samping. Meski 

tangan kirinya mempunyai kesempatan leluasa menjotos 

tubuh lawan tapi karena ingat akan ucapan Tua Gila tadi 

maka hal itu tidak dilakukannya!

 Hampir keris bercabang tiga itu lewat di sampingnya

tiba-tiba dengan sebal Datuk Sipatoka menusuk ke perut 

sedang tangan kiri lepaskan satu pukulan yang hebat!

Wiro geser kaki kanan. Sambit miringkan badan Kapak

Naga Geni 212 dibabatkan ke bawah! Meski senjatanya

adalah senjata mustika sakti namun melihat Kapak lawan 

yang agaknya bukan sembarang senjata pula maka Datuk 

Sipatoka tak berani ambil keputusan untuk adu senjata! 

Tarik pulang tangan kanan Datuk Sipatoka lipat gandakan 

pukulan tangan kirinya hingga angin pukulan yang ke luar 

laksana topan prahara! Di lain pihak Wiropun sudah 

menangkis dengan pukulan Kunyuk Melempar Buah yang 

mengandalkan seluruh bagian tenaga dalamnya!

 Terdengar suara seperti letusan sewaktu kedua angin 

pukulan itu saling beradu dengan segala kehebatannya. 

Istana Sipatoka bergetar. Wiro Sableng terhuyung-huyung 

sampai tujuh langkah. Datuk Sipatoka jika tidak lekas-lekas 

pergunakan ilmu mengentengi tubuhnya, meski dia tak 

sempat terhuyung ke belakang namun mungkin akan 

terhenyak jatuh duduk di lantai tulang!

 Terkejutlah manusia cebol ini. Tidak disangkanya tenaga 

dalam lawan begitu hebat, lebih tinggi sekitar satu dua 

tingkat dari tenaga dalamnya sendiri! Dan diam-diam dia 

mulai menyangsikan apakah dia akan sanggup

mengalahkan pemuda itu di bawah dua puluh jurus

sebagaimana yang dipastikan semula!Jurus kedua dibuka kembali oleh Datuk Sipatoka dengan 

serangan yang lebih ganas dari pertama tadi. Dia meraung 

macam harimau ketika serangannya yang sekali ini pun 

berhasil dielakkan lawan. Jurus ketiga, Datuk Sipatoka 

keluarkan ilmu silat yang pating diandaikannya yaitu ilmu 

Silat Harimau! Wiro telah pernah menghadapi ilmu Silat 

Harimau yang dimainkan Gempar Bumi. Waktu itu kalau dia 

tidak mengeluarkan ilmu Silat Orang Gila yang diajarkan 

Tua Gila pastilah dia kena dicelakai. Dan kini Datuk 

Sipatoka memainkan Ilmu Silat Harimau yang jurus-

jurusnya aneh berbahaya dan lima kali lebih hebat dari yang 

dimainkan Gempar Bumi!

 Dan dari mulut Pendekar 212 Wiro Sableng keluar suara 

suitan keras yang disusul dengan siulan tinggi tak menentu 

luar biasa Wiro mulai keluarkah jurus-jurus pertahanan dari 

ilmu Silat Orang Gila! Dalam tempo yang singkat lima belas 

jurus sudah berlalu. Datuk Sipatoka merutuk dalam hati 

dan perhebat serangannya!

 Tiba-tiba mengiang suara halus laksana suara nyamuk di 

telinga Wiro Sableng.

 "Goblok! Mengapa cuma bertahan? Apa tidak mampu 

menyerang?!" Itulah dampratan yang dilontarkan Tua Gila 

yang duduk enak-enak di sudut ruangan.

 Wiro juga sadar. Meski dia bisa bertahan tapi kalau tak 

membalas serangan tawan lama-lama dirinya bisa

dicelakai juga. Dia pegang hulu Kapak Naga Geni 212 di

tangan kanan lebih erat. Lalu memasuki jurus ke enam

belas untuk pertama kalinya dia menyerang dengan

mempergunakan Jurus Kepala Naga Menyusup Awan.

 Kapak Naga Geni 212 mendengus laksana suara ribuan 

tawon. Sinar pulih berkiblat. Kepala kapak menderu ke 

bawah lalu laksana seekor naga yang memunculkan 

kepalanya dari dalam lautan sen jala itu melesat ke arah 

batang leher Datuk Sipatoka!

 Sang Datuk sengaja tidak berkelit. Keris cabang tiga

ditusukkannya ke depan, ke arah bawah ketiak tawan 

karena dia berkeyakinan bahwa tusukan senjatanya akan

lebih cepat menemui sasarannya daripada senjata lawan!

 Pendekar 212 tidak bodoh. Dia sudah memperhitungkan 

kerugian posisinya bila dia meneruskan serangannya. 

Karenanya dengan cepat Wiro geser kedua kaki dan 

berkelit. Begitu berkelit begitu dia susul dengan jurus 

serangan baru yang dinamakan Kincir Padi Memutari Kapak 

Naga Geni 212 mengaung dahsyat dan berkiblat dalam 

bentuk putaran yang sangat kecil!Datuk Sipatoka berseru keras dan tundukkan kepala

untuk menghindarkan diri dari sambaran senjata lawan.

Tapi sedetik kemudian mata kapak telah menyambar ke

bahu kirinya! Sang Datuk melompat ke kanan dan dia

memaki keras sewaktu sesaat kemudian senjata lawan

telah memapas ke pinggul terus ke arah kedua kakinya!

Satu-satunya jalan untuk mengelakkan serangan yang

berputar itu ialah melompat ke luar dari kalangan per-

tempuran. Meskipun ini akan memberi pandangan pada

orang-orangnya bahwa dia mulai kewalahan menghadapi si 

pemuda berambut gondrong tapi Datuk Sipatoka terpaksa 

melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Bila dia 

sudah lepas dari serangan yang berputar itu dia akan 

segera balas menyerang. Tapi kejutnya bukan alang 

kepalang karena ketika baru saja dia keluar dari kalangan 

pertempuran tahu-tahu senjata lawan memburu dalam 

jarak yang sangat dekat dan sangat cepat. Mengelak pasti 

kasip! Tiada jalan lain daripada menangkis. Datuk Sipatoka 

palangkan keris mustikanya

 'Traang!"

 Bunga api memercik.

 Datuk Sipatoka tersurut tiga langkah. Salah satu cabang 

kerisnya patah dan mental! Tangannya tergelar hebat! Wiro 

sendiri merasakan tangan kanannya yang memegang 

gagang Kapak Naga Geni 212 menjadi pedal sakti. Dia 

tidak perduli, malah dengan mempergunakan tiga 

perempat tenaga dalamnya dia lepaskan Pukulan Sinar 

Matahari!

 Beberapa orang anak buah Datuk Sipatoka menyingkir 

seketika melihat selarik sinar pulih yang silau dan luar biasa 

panasnya menderu di depan mereka!

 Meski dalam keadaan kepepet, Datuk Sipatoka tidak

kehilangan akal! Serta merta dia jatuhkan diri sama rata

dengan lantai dan berbarengan dengan itu tangan kirinya 

cabut sepuluh keris-keris emas yang; bergantungan di 

pakaiannya lalu dilemparkan ke muka!

 Pukulan Sinar Matahari menyambar ke atas tubuh

Datuk Sipatoka. Keris emas melesat di bawah sinar pukulan 

yang dilepaskan Wiro lalu menyambar dengan ganas ke 

arah sepuluh bagian tubuh Pendekar 212.

 Wiro Sableng kiblatkan Kapak Naga Geni 212 dalam

Jurus Tameng Sakti Menerpa Hujan.

 "Trang... trang... trang!"

 Suara itu terdengar berturut-turut sampai sepuluh kali. 

Dan ke sepuluh senjata mustika yang dilemparkanDatuk Sipatoka mental patah tersambar Kapak Naga

Geni 212! Oikejap yang hampir bersamaan Pukulan Sinar

 Matahari yang tak berhasil menerpa tubuh Datuk Sipa-

 toka terus melanda dinding Istana Sipatoka. Dinding

 yang terbuat dari tulang yang kokoh itu bobol berkeping-

 keping. Atap istana turun ke bawah hampir runtuh!

 "Kurang ajar!" rutuk Datuk Sipatoka seraya melompat 

bangun. Seluruh ilmu simpanannya telah dikeluarkannya. 

Mereka telah bertempur hampir enam puluh jurus dan 

ternyala dia tak sanggup menumbangkan lawannya malah 

nyawanya hampir saja dilalap mentah-mentah!

 "Kematianmu dalam saat ini juga, keparat!" desis

 Datuk Sipatoka. Kerisnya dimasukkan ke balik pinggang. 

Kedua tandannya yang hitam digosok-gosokkan satu sama 

lain. Sedetik kemudian asap hitam mengepul dari kedua 

tangan itu. Asap hitam yang berbau busuknya bangkai

manusia! Wiro tutup indera penciumannya. Sesuai dengan 

ucapan Datuk Sipatoka. Kapak Naga Geni 212 dimasukkan 

kembali ke dalam pakaiannya. Pukulan Sinar Matahari 

disiapkan di tangan kiri sedang telapak tangan kanan 

sudah terisi aji pukulan "Dewa Topan Menggusur Gunung".

 Kepulan asap hitam yang busuk luar biasa itu semakin 

banyak memenuhi ruangan. Anak-anak buah Datuk 

Sipatoka yang ada di tempat itu sudah sejak tadi 

menyingkir karena mereka maklum akan kedahsyatan

Pukulan Hawa Neraka yang hendak dilepaskan pemimpin 

mereka. Kalaupun lawan tak sampai mati oleh pukulan itu 

tapi tubuhnya akan berbau busuk seumur hidup!

 "Orang muda, sekalipun kau punya seribu macam ilmu 

kesaktian, jangan harap kali ini kau bisa larikan diri dari 

liang neraka!"

 "Wiro berdiri dengan siap saja. Meski kewaspadaan

penuh tapi suara siulan tak teratur dari sela bibirnya

sampai saat itu masih mengumandang, membuat Datuk

Sipaloka merasa dirinya dianggap sepi saja!

 Suasana sehening di pekuburan sewaktu perlahan-

lahan Datuk Sipatoka angkat kedua tangannya ke atasi

Kemudian suara menggeledek keluar dari mulutnya. Se-

rentak dengan itu kedua tangan dipukulkan ke muka, dua

larik sinar hitam pekat yang busuk, menggidikkan me-

nyambar ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng!

 Sewaktu Datuk Sipatoka memukul ke depan, Wiro

juga telah memukulkan tangan kirinya ke muka. Sinar

putih menyilaukan melesat ke depan, sekaligus mema-

pasi dua sinar hitam. Terdengar letupan yang dahsyat!Masing-masing pihak tersurut lima langkah ke belakang.

Sinar putih dan sinar hitam masih kelihatan di udara ka-

rena kedua orang yang bertempur masih belum turunkan

tangan masing-masing. Tiga sinar itu laksana tiga ekor

naga yang berpalun-paiun, berkelahi dan saling gempur

dengan dahsyat! Masing-masing sudah keluarkan keringat 

dingin dan urat-uraft leher menegang biru!

 Wiro membentak dam dorongkan lagi tangan kirinya.

Tubuh Datuk Sipatoka tergontai-gontai. Wiro membentak 

lagi sampai beberapa kali. Datuk Sipatoka laksana ditekan 

dinding baja. Dia mundur terus menerus dan bertahan 

dengan sekuat tenaga. Ketika untuk ke lima kalinya Wiro 

membentak lagi dan dorongkan kembali tangan kirinya 

Datuk Sipatoka tak sanggup bertahan lebih lama. Tubuhnya 

terhampar jatuh duduk di lantai. Ilmu Pukulan Hawa 

Nerakanya buyar dan lenyap sedang Pukulan Sinar Matahari 

Wiro terus menyerampang salah satu kakinya! Datuk 

Sipaloka meraung terguling-guling. Wiro tidak memberi hati. 

Tangan kanan didorongkan kini. Dan satu gelombang angin 

yang luar biasa hebatnya menyapu tubuh Datuk Sipatoka 

membuat tubuh itu terguling-guling di halaman berumput 

Istana Sipatoka. Tangan dan kaki tanggal dari 

persendiannya sedang kepala hancur memar! Itulah 

kehebatan ilmu Pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung 

yang telah dilepaskan Wiro Sableng tadi!

 Suasana yang hening menggidikkan itu dirobek oleh 

suara tertawa Tua Gila. Orang tua ini berdiri dari duduknya 

dan berkata: "Pertempuran hebat! Luar biasa sekali untuk 

disaksikan!" Kemudian Tua Gila memandang berkeliling 

dan berseru: "Empat puluh perempuan-perempuan muda 

yang ada di luar Istana harap segeramasuk!"

 Sesaat kemudian ke empat puluh, pesuruh Datuk

 Sipatoka yang terdiri dari perempuan-perempuan muda

 belia itu masuk ke dalam, istana. Melihat kolega-kolega

 mereka yang ada di dalam istana, yaitu sisa-sisa pembantu 

Datuk Sipatoka pada berlutut di lantai maka ke empat

puluh perempuan-perempuan ini pun berlutut pula di

hadapan Tua Gila dan Wiro Sableng.

 "Berdiri semua!" bentak Tua Gila.

 Serempak semua orang itu berdiri.

 “Kalian semua sudah dengar pesan perjanjian Datuk 

keparat itu, . ?

 Semua orang mengiyakan.

 "Begitu kami pergi, kalian segera memusnahkan

 istana..bejat ini. Hancurkan semua yang ada rata dengantanah..Lalu tinggalkan tempat ini dan pergi ke mana kalian

rnau asal saja menempuh jalan kehidupan yang benar! 

Kalau kelak kutemui atau kudengar ada di antara kalian. 

Yang coba-coba untuk kembali jadi orang jahat atau 

memperhamba diri pada orang jahat, pasti tak ada 

ampunan bagi kalian!"

 Tua Gila berpaling pada Pendekar 212 dan 

menyodorkan buku Seribu Macam Ilmu Pengobatan, yang

kulitnya sudah robek.

 "Ambillah. Kau rupanya memang berjodoh dengan kitab

ini,..”

 Wiro menerima kitab itu lalu menjura sambil berkata 

"Banyak terima kasih atas segala, bantuan mu, Tua Gila?'

Kemudian ketika dia angkat kepalanya ternyata si orang 

tua sudah lenyap dari hadapannya! Hanya kumadang suara 

tertawapya yang terdenga di kejauhan! Wiro Sableng, hela 

nafas dalam dan garuk-garuk kepala


TAMAT

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive