"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Senin, 24 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE CINTA ORANG ORANG GAGAH

Cinta Orang Orang Gagah



 Cinta Orang Orang Gagah


SATU

SAAT ITU menjelang fajar menyingsing. Kesunyian dirobek oleh suara tawa bergelak 

seseorang. Orang ini tengah berlari cepat ke jurusan timur. Jelas suara tawanya bukan 

tawa sembarangan. Bukan saja mengejutkan burung-burung serta binatang-binatang lain 

yang tengah tertidur nyenyak dalam pelukan udara dingin, tetapi juga menggetarkan 

tanah pada tempat-tempat yang dilajuinya.

 Begitu cepat manusia ini berlari hingga dalam waktu singkat dia sudah menempuh 

jarak ratusan tombak. Suara tawanya masih juga terus mengumandang. Di lain saat di 

ufuk timur merambas sinar terang tanda matahari telah terbit menyembulkan diri. Tanda

malam telah berganti dengan siang.

 Orang itu hentikan larinya. Dibasahinya mukanya dengan air embun yang menempel 

pada dedaunan di sekitarnya, Setelah merasakan kesegaran maka dia meneruskan 

perjalanan kembali. Seperti tadi lagi-lagi berlari sambil mengumbar tawa. Namun sekali 

ini suara tawanya tidak berlangsung lama.

 Dua bayangan hijau berkelebat. Satu teguran yang hampir merupakan bentakan 

lantang terdengar.

 "Singgar Manik! Gerangan apakah yang membuatmu pagi-pagi begini demikian 

gembiranya?!"

 Orang yang lari sambil tertawa hentikan Jari dan memandang ke depan. Begitu 

melihat dua manusia berjubah hijau yang berdiri sepuluh langkah di hadapannya, 

bergetarlah hatinya. Perasaannya serta merta jadi tidak enak.

 Dua orang berjubah hijau itu adalah dua brahmana kembar dari Bali yang dikenal 

dengan julukan Sepasang Kobra Dewata.

 Jubah mereka yang hijau, kepala yang botak plontos ditambah muka yang lebar serta 

tampang-tampang yang tidak sedap untuk dipandang, membuat keduanya benar-benar 

hampir menyerupai dua ekor ular kobra yang angker. Siapa tokoh silat di Jawa Timur 

yang tidak kenal dengan dua manusia yang menguasai rimba persilatan di Pulau Dewata 

ini?

 Mereka bukan dari golongan baik-baik. Inilah yang membuat orang tadi yakni Singgar 

Manik merasa tidak enak walau dia sendiri bukan pula tergolong manusia bersih dan 

baik!

 Setelah berbasa basi dan menjura pada kedua orang itu Singgar Manik lantas 

berkata: "Di pagi begini bertemu dengan Sepasang Kobra Dewata sungguh merupakan 

hal yang tidak terduga. Satu kehormatan bagiku kalian mau menegur bertutur cakap. 

Hendak kemanakah kalian berdua?"

 Nyoka Gandring, orang tertua dari Sepasang Kobra Dewata rangkapkan tangan di 

muka dada. Sambil mengulum senyum dia berkata: "Angin kegembiraanmu Iah yang 

agaknya telah membawa kami ke mari. Coba kau terangkan apa. yang begitu 

menggembirakanmu hingga tertawa bergelak sepanjang jalan? "

 “Ah, sebenarnya tidak ada apa-apa," menjawab Singgar Manik. Hatinya semakin tidak 

enak. "Aku tertawa karena menurutku hidup dengan tawa gembira bisa mendatangkan 

kebahagiaan."

 "Betul sekali!" menyahuti orang kedua dari Sepasang Kora Dewata yaitu Nyoka 

Putubayan. "Tetapi kami mendapat firasat bahwa kegembiraanmu kali ini bukan 

kegembiraan biasa. Terangkanlah. Bagi sedikit kegembiraanmu itu pada kami berdua!"

 Singgar Manik coba tersenyum."Jika kalian memang ingin bergembira, mari ikut ke tempat kediamanku biar kujamu 

makanan dan minuman yang enak enak! Dan kalau kalian butuh perempuan cantik untuk 

hiburan, tak usah kawatir. Katakan saja kalian mau yang bentuk bagaimana aku Singgar

Manik pasti menyediakannya!"

 Nyoka Gand ring mendehem beberapa kali sedang Nyoka Putubayan hanya 

menyeringai.

 " Aih, undanganmu sungguh patut untuk diterima, Hanya sayang kami tak punya 

waktu banyak. Karenanya kuharap kau sudi membagi kegembiraan mu di sini saja 

sobatku Singgar Manik!?

 Singgar Manik coba sembunyikan rasa kagetnya sambil berkata: "Kegembiraan 

apakah yang musti kuberikan di sini. Kau ini ada-ada saja, sobatku Nyoka Gandring. Ah, 

akupun tidak punya banyak waktu . . . "

 Singgar Manik menjura dalam-dalam lalu siap untuk meninggalkan kedua orang itu.

 Tetapi Nyoka Putubayan cepat bergerak menghadangnya seraya berkata: "Kenapa 

musti terburu-buru Singgar Manik. Siang masih jauh. Lagi pula pembicaraan kita belum 

selesai"

 "Harap maafkan aku sobat-sobatku. Aku musti cepat kembali ke tempat 

kediamanku. Ada seorang tamu yang bakal datang"

 Nyoka Putubayan kembali menyeringai lalu bertanya: "Apakah tamumu itu pemilik 

tusuk kundai mustika yang kau curi dan sekarang berada di balik pakaianmu . . . . ?!"

 Kini Singgar Manik tak dapat lagi menyembunyikan perubahan air mukanya. 

Meskipun demikian dia masih menjawab: "Nyoka Putubayan, aku tidak mengerti. Kau 

ini membicarakan soal apakah?"

 Nyoka Putubayan tersenyum jumawa. Sambil rangkapkan sepasang tangan di depan 

dada dia lalu berkata: "Seminggu lalu kami ketahui kau berada di sekitar danau 

Jembangan. Kau telah mencuri sebentuk tusuk kundai dari tempat kediaman tokoh silat 

yang bergelar Si Pemusnah Iblis. Tusuk kundai itu bukan benda sembarangan. 

Merupakan satu senjata mustika. sakti. Sejak lama kami dengar kau adalah seorang 

pencuri lihay yang suka mencuri dan mengumpulkan barang-barang curian itu, 

terutama benda-benda mustika, apalagi berupa senjata pasti jadi incaranmu. Sekarang 

perlihatkan pada kami tusuk kundai itu!"

 Singgar Manik geleng-geleng kepala sambil berdecak.

 "Pendengaran dan penglihatan kalian benar-benar tajam luar biasa. Memang satu 

minggu lalu aku berada di danau Jembangan. Aku berniat hendak mencuri tusuk 

kundai yang kau katakan itu. Namun maksudku tidak kesampaian. Si Pemusnah Iblis 

terlalu tinggi ilmunya. Dia memergokiku. Untuk melawannya aku mana punya 

kemampuan? Daripada mendapat celaka lebih baik mengundurkan diri. Lain hari jika 

angin baik aku akan berusaha lagi mendapatkannya. Kalau kalian mau ikut sama-sama, 

hatiku akan senang sekali! Nah puaskah kalian atas keteranganku ini?!"

 "Puas! Puas sekali! "sahut Nyoka Putubayan. Lalu saudaranya menimpali: "Juga 

puas sekali melihat kecerdikanmu. Tapi jangan harap kau bisa menipu Sepasang Kora 

Dewata dengan kecerdikanmu itu Singgar Manik. Keluarkan tusuk kundai itu. Berikan

padaku. Lekas! Jangan berani berbohong!" Habis berkata begitu Nyoka Gandring 

ulurkan tangannya.

 "Nyoka Gandringl Apakah aku harus bersumpah untuk meyakinkan bahwa aku betul-

betul belum berhasil mendapatkan tusuk kundai mustika itu?"

 "Bersumpah?! Bagus juga. Tapi jangan bersumpah pada Dewa atau Tuhan! 

Bersumpahlah pada setan! Ayo serahkan senjata mustika itu padaku sebelum aku

kehilangan kesabaran!" Nada suara Nyoka Gandring mengandung hawa ancaman.Singgar Manik terkesima sesaat. Dia menimbang-nimbang. Untuk mengikuti kemauan 

Sepasang Kobra. Dewasa itu terlalu berat baginya. Sebaliknya tidak mengikuti berarti 

melawan yang pasti disusul dengan terjadinya bentrokan. Menghadapi Sepasang 

Kobra Dewata yang terkenal hebat itu bukan satu hal yang mudah.

 Tiba-tiba Nyoka Gandring mendengus. Matanya yang besar memandang garang pada 

Singgar Manik. Kedua kakinya merenggang sedang sepasang tangannya yang tadi 

mendekat di dada perlahan-lahan bergerak diturunkan.

 "Kuhitung sampai tiga. Jika tusuk kundai itu tidak juga kau serahkan, maka 

bersiaplah untuk mampus!"

 "Nyoka Gandring! Dengar dulu keteranganku..."

 "Satu!"

 Nyoka Gandring mulai menghitung;

 "Benda itu benar-benar tak ada padaku!"

 "Dua____ !"

 "Aku bersumpah!"

 "Tiga!"

 Singgar Manik bersurut mundur.

 NyokaGandring membentak buas lalu hantamkan tangan kanannya ke arah Singgar 

Manik. Serangkum angin deras datang menyambar. Singgar Manik cepat menyingkir 

seraya berseru:

 "Antara aku dan kalian tak ada silang sengketa! Kenapa menyerang aku sejahat ini?! "

 “Wus!”

 Serangkum angin lagi menyapu ganas. Kali ini datang dari samping. Untuk, kedua 

kalinya Singgar Manik melompat dan berhasil selamatkan diri.

 "Adikku mari kita beg pelajaran pada pencuri penipu ini!" seru Nyoka Gandring.

 Bersama Nyoka Putubayan maka diapun kembali menyerbu Singgar Manik. 

Menghadapi satu saja dari Sepasang Kobra Dewata sudah merupakan hal yang sulit 

bagi Singgar Manik. Apalagi melawan keduanya sekaligus. Terpaksalah dia harus 

bertindak cepat dan hati-hati. Sekali salah gerakan atau salah langkah tak ampun lagi 

serangan lawan pasti akan mencelakakannya, bahkan mungkin membunuhnya!

 Sambil berkelebat mengelak Singgar Manik tiada hentinya berteriak agar Sepasang 

Kobra Dewata menghentikan serangan. Namun dua brahmana berjubah hijau ini tidak 

ambil perduli. Malah mereka semakin memperhebat serangan masing-masing. Hingga

setelah bertahan susah payah selama delapan jurus Singgar Manik mulai tampak 

terdesak!


DUA

 DUA KALI pukulan keras Nyoka Gandring bersarang di tubuh Singgar Manik. Lalu 

satu jotosan Nyoka Putubayan menghantam rusuknya pula. Singgar Manik tampak 

terhuyung-huyung. Keningnya mengerenyit menandakan dia tengah menahan rasa 

sakit yang amat sangat. Salah satu hantaman Nyoka Gandring tadi telah membuat 

tubuhnya terluka di bagian dalam.

 Jika dia bertahan terus, cepat atau lambat maut pasti akan merenggut nyawanya. 

Karenanya Singgar Manik sedapat mungkin berusaha mengintai kelengahan lawan agar 

dapat menerobos keluar dari kurungan mereka lalu melarikan diri.

 Singgar Manik lepas dua pukulan tangan kosong yang dahsyat ke arah kedua 

lawannya. Lalu susul dengan serangan senjata rahasia.

 Sepasang Kobra Dewata melompat jauh untuk mengelakkan pukulan sedang untuk 

menangkis serangan senjata rahasia, mereka kebutkan lengan jubah hijau masing-

masing hingga senjata rahasia itu mental berantakan.

 Gerakan-gerakan lawan inilah yang memang ditunggu Singgar Manik. Melihat 

adanya kesempatan tanpa tunggu lebih lama pencuri kelas kakap ini segera putar tubuh 

dan kabur.

 Namun Sepasang Kora Dewata bukan manusia-manusia kemarin. Dari gerakan yang 

dibuat lawan mereka sudah maklum apa yang sedang direncanakan Singgar Manik. 

Karenanya begitu lawan ambil ancang-ancang untuk larikan diri, Nyoka Gandring dan 

Putubayan cepat berkelebat menghadang.

 Melihat dirinya dihadang begitu rupa hingga ga gal kabur, dengan penasaran Singgar 

Manik lepaskan satu pukulan ke batok kepala Nyoka Gandring. Sambil mendengus yang 

diserang menangkis dan balas menjotos. Dua kepalan beradu mengeluarkan suara 

keras. Singgar Manik terpekik. Tubuhnya terdorong sampai empat langkah dan ketika 

diperhatikan tiga jari, tangan kanannya telah hancur. Di depannya sebaliknya Nyoka

Gandring tegak sambil tolak pinggang dan menyeringai mengejek.

 "Masih juga kau belum mau menyerahkan tusuk kundai itu?" dengus Nyoka 

Gandring.

 "Manusia keparat! Kalau kau mau k an benda itu, ini kau ambillah!"

 Selesei berkata begitu Singgar Manik mengeruk ke balik pakaian. Sesaat kemudian 

sebuah benda, yakni sebuah tusuk kundai dari perak berbentuk sederhana berada dalam 

genggamannya. Dengan mengandalkan tusuk kundai ini sebagai senjata diapun 

menyerang Nyoka Putubayan.

 Sinar putih yang disertai angin panas menyembur dari tusuk kundai! Nyatalah benda 

yang biasanya menjadi hiasan di kepala perempuan itu bukan benda biasa, tetapi 

sebentuk senjata mustika sakti. Karena kesaktiannya inilah Sepasang Kobra Dewata 

menginginkannya. Ingin merampas dari Singgar Manik yang mereka anggap sebagai 

pencuri dan penipu besar.

 Nyoka Putubayan yang sudah maklum kehebatan tusuk kundai itu tak ayal lagi cepat 

menyingkir sambil kebutkan lengan jubahnya. Sebaliknya Singgar Manik tidak tinggal 

diam. Dia teruskan serangannya dengan membalikkan mata tusuk kundai ke arah 

tangan lawan.

 Bret!

 Lengan jubah hijau Nyoka Putubayan robek besar direnggut bagian runcing tusuk 

kundai! Nyoka Putubayan sendiri merasakan lengannya menjadi ngilu panas. Masihuntung hanya lengan jubahnya saja yang robek. Jika daging tangannya sampai kena 

atau terluka oleh senjata itu yang kabarnya menyerap racun jahat, niscaya celakalah 

dirinya!

 "Adikku hati-hati!"

 Nyoka Gandring memberi ingat. "Bangsat pencuri senjata itu tak usah kita takutkan. 

Tapi terhadap tusuk kundai itu kau harus waspada!"

 Singgar Manik yang melihat kejerihan lawan tertawa mengejek.

 "Jika kalian sudah tahu kehebatan tusuk kundai ini mengapa tidak lekas-lekas 

minggat dari sini? Apa kalian tunggu sampai benar-benar kena kucelakai!"

 "Singgar Manik! Jangan keliwat sombong!" teriak Nyoka Putubayan. "Coba kau 

terima pukulan ku ini!" Habis berkata begitu Nyoka Putubayan hantamkan tangan 

kannya ke depan. Angin laksana badai menggebu bu ke arah Singgar Manik.

 Ketika merasa tubuhnya tergetar hebat bahkan hampir roboh oleh angin pukulan 

lawan Singgar Manik serta merta sapukan tusuk kundai yang dipegangnya ke depan. 

Hebat! Angin pukulan orang kedua dari Sepasang Kobra Dewata itu musnah!

 Kejut Nyoka Putubayan. bukan kepalang, juga kakaknya ketika menyaksikan 

kejadian itu. Pukulan yang barusan dilepaskannya adalah pukulan Kobra Sakti 

Mematuk. Merupakan salah satu pukulan simpanannya. Dia bersama kakaknya telah 

meyakini ilmu pukulan itu selama bertahun-tahun, ternyata sanggup dibikin punah oleh 

tusuk kundai kecil itu!

 Menyadari kehebatan tusuk kundai perak itu, semakin keraslah hasrat Sepasang 

Kobra Dewata untuk memilikinya. Keduanya saling kedipkan mata memberi isyarat. 

Lalu didahului dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menyerbu. Satu datang dari

samping kiri, satunya lagi dari sebelah kanan.

 Singgar Manik hantamkan tusuk kundainya pada Nyoka Putubayan yang menyerang 

lebih dulu dan lebih dekat di hadapannya. Sebelum serangannya sampai brahmana dari 

Bali ini tahu-tahu sudah lenyap dari pemandangan. Bersamaan dengan itu dari 

samping menderu angin pukulan kencang luar biasa.

 Sekali ini kembali Singgar Manik rasakan tubuhnya tergoncang keras hendak roboh. 

Segera dia kiblatkan tusuk kundai perak ke samping. Namun satu pukulan telak 

menghantam per gel angan tangan kanannya hingga tulang lengannya patah dan tusuk 

kundai yang tadi dipegangnya terlepas mental!

 Singgar Manik menjerit kesakitan.

 Dia melompat untuk menyambar tusuk kundai yang mental di udara dengan tangan 

kiri. Namun tubuhnya segera terbanting ke belakang begitu satu jotosan melanda 

dadanya dengan keras!

 Lelaki ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Dengan mengandalkan 

kepandaiannya dia berjumpalitan dan cepat berdiri sambil pasang kuda-kuda baru. 

Namun dadanya sudah terlanjur sakit. Tenggorokannya terasa panas. Sesaat kemudian 

darah kental mengalir keluar dari sela bibirnya. Memandang ke depan dia lihat Nyoka 

Putubayan sudah berhasil menguasai tusuk kundai perak itu.

 "Singgar Manik!" kata Nyoka Putubayan seraya acungkan tusuk kundai di tangan 

kanannya. "Kami Sepasang Kobra Dewata masih punya rasa kemanusiaan terhadapmu. 

Berlalulah dari hadapan kami sebelum kami berubah pikiran dan minta nyawamu.

 Singgar Manik semburkan darah dan ludah dari mulutnya.

 "Sialan! Kau tunggu apa lagi? Dikasih hidup malah menantang! "hardik Nyoka 

Gandring.

 "Bangsat!" kertak Singgar Manik. "Aku mengadu jiwa dengan kalian!"

 Lalu Singgar Manik menyerang ke depan."Manusia tolol!" teriak Nyoka Gandring.

 "Benar-benar minta mampus!" berseru Nyoka Putubayan seraya tusukkan tusuk 

kundai di tangan kanannya. Tanpa bisa mengelak Singgar Manik keluarkan jeritan 

panjang. Tusuk kundai menghantam tepat di keningnya hingga berlubang dalam dan 

darah mengucur. Lelaki ini menjerit sekali lagi lalu tubuhnya terputar ke samping dan 

roboh tak berkutik lagi, mati dengan mata melotot!

 Nyoka Putubayan seka tusuk kundai yang bernoda darah dengan ujung lengan 

jubahnya. Dia perhatikan Singgar Manik sebentar lalu meludah dan berkata:

"Diberi ampun minta racun! Diberi hidup minta mampus!"

 Orang kedua dari Sepasang Kobra Dewata ini memberi isyarat pada kakaknya. 

Kedua brahmana itu kemudian berkelebat tinggalkan tempat itu.


TIGA

 DI ATAS tempat tidur rotan itu duduk bersila seorang tua bermata buta. Kedua kakinya 

buntung sebatas lutut sedang kedua tangannya di rangkapkan di muka dada. Kepalanya 

menghadap lurus-lurus ke pintu pondok yang terbuka. Rambutnya yang putih melambai-

lambai ditiup angin yang datang dari arah danau.

 "Hentikan tangismu Lestari!" Tiba-tiba orang tua ini berkata dengan nada keras. 

"Sampai kiamat kau menangis benda yang hilang itu tak bakal bisa kembali!"

 Dara berbaju putih yang duduk sesenggukan didepan si orang tua menyusut air 

matanya dengan tepi pakaian. Bibirnya bergetar dan tubuhnya bergoncang menahan 

tangis yang seperti hendak meledak.

 "Tusuk kundai itu bukan benda biasa Lestari. Kau tahu hal itu I" berkata lagi si orang 

tua.

 Sekali ini Lestari menyahuti dengan suara gemetar: "Saya tahu eyang. Saya tahu 

semua salah saya....Saya bersedia dihukum untuk kelalaian ini!"

 "Benda itu bukan hanya merupakan senjata sakti, tapi juga sebagai tanda 

perjodohanmu- Kini ketika aku pergi tusuk kundai itu lenyap! Amblas dicuri orang.

Dan kau tidak tahu siapa pencurinya!"

 Orang tua'berambut putih itu diam sesaat lalu meneruskan kata-katanya: 

"Bagaimana aku musti mempertanggung jawabkan nanti pada Sinto Gendeng! 

Tusuk kundai perak itu diberikannya padaku dua tahun yang lalu sebagai tanda 

persetujuan ikatan jodoh antaramu dengan murid tunggalnya yaitu Wiro Sableng, 

pemuda sakti bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Ayo, coba kau katakan 

bagaimana aku musti mempertanggung jawabkannya! Jika saja kedua kakiku ini tidak 

buntung pasti sudah sejak lama aku meninggalkan pondok gua mengejar pencuri 

laknat itu!"

 "Eyang, saya yang salah ini yang akan pergi mencari benda yang hilang itu," Lestari 

membuka mulut

"Saya tak akan kembali sebelum dapat...."

 Orang tua itu usap-usap dagunya. Dia tengah menimbang-nimbang. Akhirnya dia 

berkata: 'Terserah padamu apapun yang bakal kau lakukan. Kau boleh pergi. Kuharap 

kau dapat menemukan tusuk kundai itu kembali. Kalau tidak, aku tak tahu lagi 

bagaimana menghadapi Sinto Gendeng nanti.

 Gadis bernama Lestari berdiri. Dia masuk ke da- lam sebuah kamar. Ketika keluar 

sudah berganti pakaian. Kini dia mengenakan pakaian merah ringkas. Di pinggangnya 

tergantung sebilah pedang merah. Rambutnya yang tadi panjang tergerai kini diikat 

buntut kuda. Meski wajahnya murung dan kedua matanya merah habis menangis 

namun kecantikannya masih terlihat jelas.

 "Eyang, saya sudah siap untuk berangkat," katanya pada si orang tua.

 Orang tua itu mengangguk dan memberi isyarat agar gadis itu datang mendekat. 

Sambil menepuk-nepuk bahu Lestari dia berkata: "Pergilah. Lekas kembali jika tusuk 

kundai itu kau temukan."

 "Baik eyang."

 "Ada baiknya jika kau hubungi beberapa tokoh persilatan golongan putih. Mungkin 

kau dapat menyirap keterangan dari mereka. Jangan lupa meminta bantuan mereka 

jika sewaktu-waktu kau ditimpa mara-bahaya dan kau tak sanggup menghadapinya 

seorang diri."

 "Semua nasihat eyang saya perhatikan.".Setelah menjura tiga kali berturut-turut di hadapan gurunya Lestari tinggalkan 

pondok itu.

 Ratusan tombak meninggalkan danau Jembangan, di satu tempat yang penuh 

dengan pepohonan rindang Lestari berhenti untuk istirahat. Dia duduk di bawah 

sebatang pohon sambil memikirkan kemana dia harus pergi dan bagaimana caranya 

dapat mengetahui siapa pencuri tusuk kundai pertanda jodohnya dengan Wiro Sableng.

 Ingat soal jodoh wajah sang dara jadi kemerahan. Sebelum peristiwa besar 

penghancuran Istana Darah beberapa waktu yang lalu (baca serial Wiro Sableng

Hancurnya Istana Darah) gadis itu tak pernah tahu kalau dirinya telah dijodohkan oleh 

gurunya dengan Wiro Sableng. Wiro sendiri agaknya begitu pula ketika secara kebetulan 

gurunya memberi tahu , mengenai urusan perjodohan itu. Bagi Lestari dia tak akan 

menolak hal apapun yang dilakukan gurunya karena dia percaya bahwa semua itu 

untuk kebaikan dirinya. Namun yang jadi pertanyaan apakah Pendekar 212 Wiro Sableng 

bersedia mematuhi ikatan jodoh yang tak pernah diketahuinya sebelumnya. Pemuda itu

telah menyelamatkan diri dan kehormatannya dari Hulubalang Istana Darah. Hutang 

nyawa itu tak mungkin akan dibalasnya. Pembalasan hanya bisa dilakukan dengan 

bersedia menjadi istri Wiro, setia dan mengabdi pada suami. Tapi apakah dia mencintai 

pemuda itu?

 Memandang ke langit Lestari melihat matahari telah tinggi. Hari telah bertambah 

siang. Akhirnya sang dara lanjutkan perjalanan. Belum sampai seratus tombak jauhnya 

murid silat dari danau Jembangan ini lanjutkan perjalanan, mendadak bau amat busuk 

menyambar hidungnya. Lestari hentikan langkah dan memandang berkeliling. Dia 

dapatkan bau busuk itu datang dari jurusan tenggara. Segera dia melangkah menuju

sumber bau itu untuk mengetahui lebih jauh. Mula-mula dia melihat burung-burung 

gagak hitam pemakan bangkai, terbang berputar-putar lalu menukik turun, kemudian 

terbang kembali ke udara, demikian berulang kali. Berjalan lima puluh langkah lagi 

Lestari melihat benda yang menjadi sumber bau busuk itu. Yakni sesosok tubuh 

manusia yang terbakar di tanah dalam keadaan busuk dan rusak.

 Lestari tak berani mendekat. Dari tempatnya berdiri dia melihat kedua mata mayat 

itu hanya tinggal merupakan dua lobang besar mengerikan. Hidung dan bibirnya, 

bahkan hampir keseluruhan daging pada wajahnya telah habis berlubang-lubang

digerogoti burung-burung gagak. Demikian pula daging di bagian tubuh lainnya yakni 

dada, perut dan kedua kaki serta tangan.

 Tak dapat Lestari menduga siapa adanya orang yang telah jadi mayat ini. Matanya 

yang tajam dapat melihat dua buah titik lobang pada kening mayat serta darah yang 

telah keras membeku.

 Mayat busuk yang dijumpai sang dara bukan lain adalah mayat Singgar Manik yang 

dibunuh oleh Sepasang Kobra Dewata.

 Karena tak tahan oleh bau busuk yang amat sangat Lestari segera hendak tinggalkan 

tempat itu. Namun matanya masih sempat melihat sepotong kain berwarna hijau. 

Lestari ambil potongan kain ini dan menelitinya. Mungkin sekali ini sobekan ujung lengan

pakaian. Lengan pakaian siapa? Dia memandang pada mayat. Mungkin lengan pakaian 

orang yang membunuh? Agaknya telah terjadi perkelahian sebelumnya di tempat itu. 

Tanda-tanda memang menyatakan demikian.

 "Mungkin ada gunanya jika kusimpan," membatin Lestari. Robekan kain hijau itu lalu

dimasukkannya ke balik pakaian merahnya.

 Dia memandang lagi berkeliling. Karena tak ada lagi yang bisa ditemukannya di 

tempat itu sang dara segera berlalu.


EMPAT

  

SEBENARNYA TAMPANG pemuda itu cukup gagah asal kulit mukanya tidak amat 

pucat dan tubuhnya tidak tinggi kerempeng macam tiang bambu. Jika saja dia bukan 

putera seorang- bekas perwira kerajaan, niscaya mulut-mulut usil di kota Jember akan

menggelarinya "Si Jangkung Kerempeng Muka Mayat" atau "Si Pucat Kerempeng" atau 

lain sebagainya. Namun karena dia putera bekas perwira tinggi kerajaan yang dulu 

dihormati rakyat maka tak ada penduduk yang tega memberi gelar ejekan itu pada si 

pemuda.

 Di samping itu pemuda ini juga memiliki ilmu pedang yang hebat, yang dipelajarinya 

dari ayahnya; Sebagai seorang perwira tinggi yang pernah mengabdikan diri selama dua 

puluh lima tahun pada kerajaan, sang ayah memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi 

hingga semasa jayanya dia mendapat julukan "Raja Pedang Kotaraja".

 Meski sang anak belum mewarisi seluruh kepandaian ayahnya namun tingkat 

kepandaiannya cukup mengagumkan. Lima orang perwira muda kerajaan yang 

mengeroyoknya sekaligus belum tentu dapat mengalahkannya dalam perkelahian dua 

puluh lima jurus!

 Kalaupun pemuda itu tidak sampai diberi julukan mengejek oleh penduduk, namun 

rata-rata banyak penduduk yang tidak suka padanya. Ini disebabkan kesombongannya. 

Dan kesombongan ini berpangkal pada kepandaiannya memainkan pedang. Menurut dia

selain ayahnya maka dialah jago pedang kelas satu di tanah Jawa. Karenanya semua 

orang harus hormat dan tunduk padanya. Harus melakukan apa saja yang dimintanya!

 Hari itu Ronggo Bogoseto, demikian nama putera bekas perwira kerajaan itu, berada 

di rumah makan paling besar di kota Jember. Dia duduk di meja besar bersama tiga 

orang kawan, asyik menyantap hidangan. Di luar rumah makan terdapat sebuah tong 

sampah yang telah dua hari tidak dibersihkan hingga isinya meluber dan bau busuk 

menebar serta lalat datang bergerombolan. Binatang ini ternyata tidak hanya mencari 

makanan pada tong sampah itu saja, tetapi juga masuk dalam rumah makan, hingga di 

atas makanan yang terhidang di meja.

 Sejak tadi Ronggo Bogoseto dan kawan-kawannya terganggu dengan adanya 

puluhan lalat ini. Lama-lama pemuda muka pucat ini jadi jengkel. Sambil mengomel dia 

berteriak memanggil pelayan. Pelayan datang dengan cepat dan ketakutan. Dengan 

mata melotot dan mulut tersumpal makanan Ronggo Bogoseto membentak hingga 

sebagian makanan dalam mulutnya tersembur mengenai muka dan pakaian si pelayan.

 "Lekas usir lalat-lalat celaka itu t Kalau tidak aku tak akan mau membayar makananmu 

yang jadi kotor dihinggapinya!"

 Tentu saja pelayan segera melakukan apa yang diperintahkan si pemuda. Dia 

mempergunakan dua buah serbet sekaligus, mengusir lalat. Namun baru saja diusir 

binatang-binatang ini kembali datang, malah lebih banyak.

 'Tolol! Coba kau pasang lampu di atas meja ini! Lalat takut dengan lampu!" bentak 

Ronggo Bogoseto seraya menggebrak meja.

 Sebuah lampu minyak lalu dinyalakan. Apinya sengaja diperbesar. Tetapi lalat yang 

ada di atas dan sekitar meja terlalu banyak untuk dapat ditakuti dengan lampu itu.

 "Binatang sialan!" makin salah seorang kawan Ronggo Bogoseto. Dia pergunakan 

kedua tangannya menepuki binatang itu. Dua kawannya melakukan hal yang sama. 

Banyak lalat yang mati, tapi tangan mereka jadi kotor sedang jumlah lalat tak banyak 

berkurang.

 Ronggo Bogoseto jadi marah. Dia mendengus dan meludah seenaknya di lantai 

rumah makan. Sambil memandang berkeliling dengan mata mendelik dia berteriak."Kawan-kawan, melihat kalian menepuki binatang celaka itu aku jadi ingat pada 

cerita tentang seorang yang mampu membunuh tujuh lalat dengan sekali tepuk! Hai, 

apa kalian pernah dengar cerita itu?!" Ketiga pemuda kawannya itu sama mengatakan

pernah.

 Ronggo tersenyum. Jelas adanya bayangan kesombongan di balik senyumnya itu.

 "Sekarang akan kuperlihatkan pada kalian bertiga. Juga pada semua yang ada di 

rumah makan jorok ini! Dengan pedangku aku sanggup membunuh lebih dari tujuh ekor 

lalat dalam sekali tebas saja!"

 "Ah, ini bakalan hebat jadinya! "seru salah seorang pemuda kawan Ronggo.

 "Aku benar-benar ingin melihat! Ayo Ronggo, kau perlihatkan pada kami dan 

semua orang di sini!" menimpali kawannya yang seorang lagi. Sedang pemuda yang 

ketiga ikut berkata: "Aku percaya! Kau pasti mampu melakukan kehebatan itu Ronggo!"

 Ronggo berdiri dari kursinya. Dia memandang dulu berkeliling lalu sret! Pemuda ini 

cabut pedang yang selalu dibawanya.

 "Lihat! Kalian lihat semual" katanya. "Jangan ada yang mengedip. Gerakannya 

sangat cepat Kalau kalian mengedip, kalian tak akan sempat menyaksikan

kehebatanku!"

 Lalu wut!

 Pedang di tangan kanan Ronggo Bogoseto mencuit di udara. Sembilan ekor lalat 

terkaparan di lantai dan di meja. Semuanya mati dalam keadaan tubuh belah dua! 

 “Luar biasa!'

 "Hebat!"

 "Gila! Aku hampir tak percaya!"

 Begitu tiga kawan si pemuda berseru seraya berdiri.

 Ronggo Bogoseto menyeringai dan lagi-lagi meandang berkeliling. Memang mau tak

mau semua yang ada dalam rumah makan itu dan menyaksikan apa yang barusan 

dilakukan si pemuda memuji kagum. Dan melihat semua orang mengaguminya 

bertambah sombonglah Ronggo. Dia ingin semua orang'benar-benar meyakini bahwa 

dialah jago pedang nomor satu sesudah ayahnya di Jember dan seluruh Jawa. Maka dia

kiblatkan pedangnya kembali.

 "Lihat lagi!"

 "Lihat!"

 "Ini lagi!"

 Tiga kali Ronggo Bogoseto berteriak. Tiga kali pedangnya menderu. Masih belum 

puas dia susul lagi dengan lima kali gerakan. Ketika dia menghentikan gerakannya, tak 

seekor lalat hidup pun bersisa di atas meja makan itu,

 Tiga kawan Ronggo Bogoseto tegak dari kursi masing-masing sambil leletkan lidah. 

Seorang dari mereka berkata:

 "Gila Ronggo! Kurasa ilmu pedangmu jeuh lebih hebat dari ayahmu!"

 Cuping hidung Ronggo tampak mengembang dan bergerak-gerak oleh pujian itu. 

Sambil duduk kembali ke kursinya Ronggo berkata: "Sekarang kalian saksikan sendiri 

kehebatanku! Mari kita teruskan makan!"

 Keempat pemuda itu duduk kembali. Salah seorang yang duduk menghadap pintu 

meneguk minumannya, namun gelas minuman buru-buru diletakkan seraya berkata: 

"Astaga ronggo! Bidadari dari mana yang diutus dewa datang ke rumah makan ini?!"

 Ronggo berpaling, memandang ke pintu. Semua orang kini ikut memandang ke 

jurusan itu.Seorang dara bertubuh tinggi semampai, berpakaian ringkas merah, berambut hitam 

buntut kuda tampak memasuki rumah makan. Parasnya cantik sekali. Jangankan para 

pemuda itu, lelaki-lelaki tua yang ada di rumah makan itupun tak segan memandanginya

dengan hati kagum.

 "Amboi!" Ronggo sandarkan punggungnya ke kursi dan lunjurkan kedua kaki

sedang sepasang mata menyipit. "Itu bukan bidadari sobatku," katanya.

"Tapi sekuntum bunga mawar merah segar yang menebar harum semerbak, terbang 

dihembuskan angin untuk menemui kita di sini!"

 Tiga kawan Ronggo tertawa. Sementara dera yang baru masuk yang bukan lain 

adalah Lestari mengambil tempat duduk tak jauh dari meja mereka.

 "Gadis cantik, jika kau tak keberatan sudilah duduk bersama kami di sini. Jangan 

kawatir, kau tak usah membayar makanan dan minuman. Kau boleh makan dan minum 

sepuasmu!"

 Lestari melirik sesaat pada Ronggo Bogoseto.

 Dilirik begitu si pemuda merasa mendapat perhatian dan berkata pada ketiga 

temannya: "Lihat, dia melirik padaku. Ah, taksangka hari ini aku bakal melihat bunga 

yang begini cantik!"

 Tetapi setelah melirik Lestari tidak perdulikan lagi pemuda bermuka pucat itu. Dia 

melambaikan tangan memanggil pelayan dan memesan makanan.

 "Ronggo, rupanya gadis itu malu duduk semeja dengan kita. Baiknya kau saja yang 

pergi duduk ke mejanya!" berkata salah seorang kawan Ronggo.

 Putera bekas perwira tinggi itu tersenyum lebar.

 "Kau betul sobatku. Tentu saja dia malu duduk di sini. Kita berempat dia sendiri. Kalau 

sendiri lawan sendiri tentu lain lagi!" kata Ronggo pula seraya berdiri dan melangkah ke 

meja Lestari lalu duduk di kursi di hadapan sang dara. Setelah cengar cengir sebentar

pemuda ini memanggil pelayan.

 "Hidangkan makanan lezat dan minuman kelas satu untuk kami berdua! Lekas! "

 Pelayan itu menjura lalu cepat-cepat masuk kedalam guna menyiapkan pesanan.

 "Darah manis, kau datang dari mana dan siapa namamu?" Ronggo Bogoseto 

bertanya sementara semua orang memperhatikan tanpa berani bicara apa-apa.

 Lestari palingkan wajahnya. Sesaat keduanya saling bertatapan.

 "Aih, betapa bagusnya kedua matanya. Bening tapi berkilat seperti bintang timur. 

Pipinya kemerahan, keningnya licin, hidungnya kecil mancung. Bibirnya merah seperti 

delima merekah!" kata Ronggo dalam hati memuji. Namun sesaat kemudian dia merasa 

terkesima karena pandangan mata sang dara seperti menusuk.

 "Kau sendiri siapa?" tiba-tiba Lestari balik bertanya.

 "Ah! Namaku Ronggo Bogoseto!" sahut Ronggo dengan dada agak dibusungkan. 

Dia merasa senang ditanya seperti itu. Baginya ini satu pertanda bahwa sang dara juga 

menaruh perhatian terhadapnya. "Namaku bagus bukan! Dan tampangku gagah! 

Ayahku adalah bekas perwira tinggi kerajaan. Jago pedang kelas satu berjuluk Raja 

Pedang Kotaraja. Tapi ada orang yang berpendapat sebenarnya kepandaianku memutar 

balik pedang lebih tinggi dari ayahku!"

 "Betul, betul!" salah seorang kawan Ronggo berkata sambil tegak dari kursinya. 

"Sayang kau terlambat datang.Kalau kau muncul lebih tadi-tadi pasti kau akan sempat 

menyaksikan kehebatannya membelah tubuh sembilan ekor lalat hanya sekali 

membabatkan pedangnya!"

 "Ah, dia keliwat memuji. Tapi apa yang dikatakannya memang benar!" ujar Ronggo 

Bogoseta senang dan cuping hidungnya kembali tampak mekar. Lalu dia berkata: "Kalaukau suka, di hadapan dara secantikmu ini aku bersedia memperlihatkan kehebatan 

permainan pedangku!"

 "Oo begitu . . . ?" ujar Lestari sambil angguk-anggukkan kepala. Lalu dalam hati dia 

menambahkan:

"Pemuda ini sombong sekali, Mungkin ada yang tidak beres dengan otaknya!"

 Menyangka orang kagum padanya Ronggo lantas berkata: "Jadi kau mau melihat 

kehebatanku dengan mata kepala sendiri?!"

 "Silahkan! Siapa yang tidak suka melihat tontonan gratis!" sahut Lestari lalu meneguk 

minuman yang dihidangkan pelayan.

 "Kau akan lihat! Kau akan saksikan!" Ronggo Bogoseto tegak dari kursi sambil usap-

usap dada.

 Lestari hampir tak melihat kapan-tangan pemuda itu bergerak tahu-tahu dia 

merasakan ada sambaran angin di belakang kepalanya. Pita kecil yang mengikat

rambutnya putus. Rambut sang dara yang hitam panjang terlepas dari ikatannya dan 

tergerai di bahunya. Di saat yang sama pedang yang tadi berkelebat kini sudah kembali 

berada dalam sarungnya. Sungguh satu gerakan ilmu pedang yang luar biasa cepatnya.

 "Hebat! Hebat luar biasa!" seru tiga kawan Ronggo seraya bertepuk-tepuk memuji.

 Meskipun jengkel melihat tingkah kesombongan pemuda bermuka pucat itu namun 

sebagai orang yang tahu seluk beluk ilmu silat Lestari harus mengakui bahwa ilmu 

pedang si pemuda memang luar biasa.

 "Saudari kau belum memberikan pendapatmu mengenai gerakan ilmu pedangku 

tadi!" Ronggo berkata dan pandangi wajah Lestari dengan sepasang bola

mata meliar.

 "Pantas dikagumi!" jawab Lestari sepolosnya.

 Ronggo mendongak ke atas dan tertawa gelak-gelak.

 'Tapi!" katanya kemudian. "Itu belum seberapa. Aku akan lihatkan lagi kehebatan ilmu 

pedangku. Nah, kau duduklah tenang-tenang di kursimu!''

 Habis berkata begitu Ronggo Bogoseto kembali gerakkan tangan kanannya ke 

pinggang. Sinar putih berkelebat di depan hidung Lestari dari atas ke bawah dan 

terdengarlah suara tring . . . tring . . . tring .... tiga kali berturut-turut.

 Ketika Lestari memandang ke bawah ternyata tiga kancing pakaian merahnya telah 

putus tanggai hingga dadanya yang putih tersingkap lebar. Sepasang mata Ronggo 

Bogoseto dan juga semua mata lelaki yang ada di situ menyaksikan satu pemandangan 

yang membuat mata mereka mendelik dan dada bergetar. Lestari cepat-cepat 

tutupkan pakaiannya dan melompat dari kursi sementara Ronggo serta kawan-

kawannya tertawa gelak-gelak.

 "Pemuda keparat kurang ajar!" bentak Lestari.

 ''Benar! Pemuda kerempeng muka mayat! Kau manusia paling kurang ajar yang perlu 

diberi pelajaran!" Satu suara menyambungi bentakan Lestari tadi dan datang dari arah 

pintu rumah makan

 BESIUR angin menderu keras. Meja tergeser tak karuan dan kursi bermentalan. Kalau 

Ronggo Bogoseto tak lekas berkelit pastilah tubuhnya akan kena disambar angin deras 

tersebut!

 Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Lebih-lebih pemuda putera bekas 

perwira tinggi kerajaan yang sombong itu. Cepat dia berpaling dan memandang ke pintu. 

Di situ tegak seorang pemuda berpakaian serba putih. Tampangnya keren sikapnya 

gagah.

 "Bangsat! Siapa kau!" Bentak Ronggo. Mukanya yang senantiasa pucat sesaat tampak 

membiru."Siapa aku bukan urusanmu! Aku paling tidak suka pada manusia-manusia kurang 

ajar yang pergunakan kepandaian untuk mempermainkan dan menghina perempuan! 

Angkat kakimu dari sini. Bawa kawan-kawanmu!"

"Ahoi! Ada pahlawan pembela hak-hak perempuan di tempat ini!" seru salah seorang 

pemuda kawan Ronggo. Pemuda lainnya langsung mendamprat. "Pemuda hina dina! 

Kau bicara keren amat! Apa tidak tahu kautengah berhadapan dengan siapa?!"

"Siapa kau dan dua kawanmu itu tak lebih dari monyet-monyet! Lalu kawanmu yang 

satu lagi, yang berpakaian mewah dan sesumbar sebagai jago pedang kelas satu di Jawa 

itu, di mataku tak lebih dari seekor kunyuk yang bertingkah aneh kalau melihat 

perempuan cantik!"

 Tanpa perdutikan keempat pemuda itu yang jadi mendelik dan marah, si pemuda 

melangkah mendekati Lestari. Lestari sendiri yakin sebelumnya pernah melihat pemuda 

ini tapi tidak ingat entah di mana dan kapan.

 "Lupa?" si pemuda menegur sambil tersenyum.

 "Nggg . . . Bukankah kau Panji Kenanga? Murid brahmana Lokapala dari gunung 

Raung?" tanya Lestari.

 "Ah, ssyukur kau masih ingat padaku!" kata si pemuda tertawa lega.

 (Baca serial Wiro Sableng berjudul Hancurnya Istana Darah. Di situ dikisahkan 

bagaimana Panji Kenanga bersama gurunya serta Wiro dan Lestari juga tersama 

gurunya menghancurkan Istana Darah. Juga diceritakan Panji Kenangalah yang telah 

mengembalikan suling perak milik Lestari yang dicuri oleh seorang tokoh silat jahat 

bernama Tapak Biru).

 Dimaki dan dihina begitu rupa membuat tiga pemuda kawan Ronggo sakit hati dan 

marah bukan main. Namun karena mereka tak satupun memiliki kepandaian silat maka 

mereka tak berani bergerak. Lain halnya dengan Ronggo Bogoseto. Pemuda ini 

menghardik.

 . "Bangsat baju putih! Urusanmu dengan aku belum selesai. Jangan enak-enak 

bermesraan dengan gadis itu di depanku!"

 Dengan tersenyum Panji Kenanga menjawab. "Oh, rupanya kau masih di situ. Kukira 

sudah minggat bersama kawan-kawanmu!"

 "Keparat! Kau belum tahu siapa aku!"

 "Aih, namamu Ronggo Bogoseto bukan? Kau putera bekas perwira tinggi kerajaan. 

Ayahmu berjuluk Raja Pedang Kotaraja. Mukamu pucat seperti kain kafan, tingkahmu 

pongah! Kau jadi lebih sombong jika melihat gadis cantik seperti kawanku ini!"

 Oo . . . jadi gadis itu kawanmu! Bagus! Di depan kawanmu itu kau akan kuhajar 

sampai babak balur!"

 "Seharusnya kau yang layak mendapat hajaran karena tadi telah menghina keji 

kawanku ini. Apa kau kira jika ayahmu bergelar Raja Pedang lalu kau merasa tentunya 

kau Pangeran? Hik. . . hik!"

 "Setan alas!"

 Amarah Ronggo Bogoseto meledak.

 Sret!

 Ronggo hunus pedangnya.

 "Cincang dia Ronggo! Tak seorang pun boleh menghinamu!" salah seorang 

pemuda berteriak memberi semangat

 Ronggo luruskan pedangnya di depan hidung. Lalu berkata pada Panji Kenanga. 

"Kulihat kaupun membekal pedang. Lekas cabut jika tak ingin mampus percuma!"

 Panji Kenanga memang sudah mengetahui kehebatan ilmu pedang pemuda muka 

pucat itu. Karenanya tidak sungkan-sungkan diapun segera cabut pedangnya"Gajah Biru", sebuah senjata mustika berwarna biru dan gagangnya terbuat dari gading 

gajah.

 Ketika melihat badan pedang yang memancarkan sinar biru, diam-diam Ronggo 

Bogoseto agak bergeming juga. Namun karena dia terlalu yakin akan kepandaiannya 

maka dia menyimpan rasa takutnya dan berganti dengan sikap percaya diri yang 

keterlaluan dan menjadikannya pongah sombongi Dia melangkah mendekati Panji 

Kenanga. Tiba-tiba didahului bentakan keras pedang di tangannya menyambar. 

Demikian sebatnya hingga benda itu kini berubah menjadi sinar putih yang bersiur 

deras dan bertabur ke arah kepala Panji Kenanga.

 Yang diserang cepat melompat ke belakang sambil tundukkan kepala, lalu berkelebat 

ke kanan sapukan pedang Gajah Biru. Melihat gerakan lawan seperti itu Ronggo 

Bogoseto tertawa mengejek.

 "Pemuda yang mau jadi pahlawan! Keluarkan seluruh kepandaianmu! Dalam waktu 

tiga jurus kepalamu akan ku belah dua!"

 "Sombongnya!" balas mengejek Panji Kenanga. "Coba kau terima dulu seranganku 

ini!" Lalu dia susupkan satu tusukan ke tenggorokan lawan.

 "Puah! Hanya tusukan tipuan! Siapa takut!" seru Ronggo.

 Panji Kenanga terkesiap. Serangan yang dilancarkannya tadi memang hanya 

merupakan satu tipuan. Bagaimana lawan bisa membaca? Ilmu pedang pemuda muka 

pucat itu benar-benar bukan sembarangan. Dari gerakan dan letak tangan musuh dia 

sudah mengetahui mana serangan sungguhan, mana yang palsu!

 Setelah mementahkan serangan lawan, Ronggo menerjang ke muka. Pedangnya 

berkelebat bertubi-tubi. Ilmu pedangnya asing dan aneh di mata Panji Kenanga. 

Untung dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi hingga dapat mengelakkan 

semua serangan. Di sini tampaklah bahwa di satu pihak Ronggo Bogoseto memiliki 

ilmu pedang yang jauh lebih tinggi tetapi rendah dalam ilmu meringankan tubuh.

Sebaliknya Panji Kenanga memiliki ilmu pedang yang lebih rendah namun tingkat ilmu 

meringankan tubuhnya jauh melampaui lawan.

 Panji putar pedangnya dengan sebat hingga sinar biru tampak bertabur bergulung-

gulung. Dia coba menerobos ke depan untuk membuyarkan serangan pedang lawan 

yang seolah-olah membuntal dirinya. Usahanya tak kunjung berhasil walaupun dia 

sudah mengerahkan seluruh kepandaian. Di jurus ke sembilan Panji Keanga mulai 

menyadari bahwa sambaran angin pedang lawan sama sekali tidak mengandung 

tenaga dalam yang berbahaya. Nyata Ronggo hanya mengandalkan tenaga luar atau 

tenaga kasar ditambah dengan kecepatan yang memang luar biasa. Maka di jurus

ke sepuluh Panji ambil keputusan!

 Ketika pedang Ronggo Bogoseto membacok laksana kilat ke arah bahu kirinya tepat 

di pangkal leher. Panji Kenanga kiblatkan pedang Gajah Biru menyongsong serangan.

 Trang!

 Dua pedang saling bentrokan mengeluarkan suara nyaring. Bunga api memercik.

 Ronggo Bogoseto keluarkan seruan tertahan. Mata pedangnya gompal sedang

pedang itu sendiri terlepas mental dari genggamannya, menancap dilangit-langit 

rumah makan. Dengan wajah yang tambah pucat pemuda ini melompat mundur. 

Matanya membeliak tak percaya memandang pada Panji Kenanga lalu pada pedangnya 

yang ada di langit-langit. Ketiga kawannya juga sama terkesiap kaget. Semua orang 

yang ada di situ tidak menyangka jago pedang kelas wahid putera Raja* Pedang 

Kotaraja dapat dikalahkan oleh seorang lawan muda yang tidak dikenal!

 "Muka pucat! Kenapa kau diam saja!" seru Panji."Jika kau anggap urusan kita belum selesai silahka ambil pedangmu di atas sana dan 

teruskan perkelahian!"

 Mau rasanya Ronggo berteriak dan memukul kepalanya sendiri saking marah dan 

malu. Dan yang membuatnya benar-benar terpukul saat itu justru rasa malu dan seperti 

tak punya muka lagi saat itu!

 "Keparat! Jika kau benar-benar punya nyali besar jangan lari! Tunggu di sini!" ujar 

Ronggo Bogoseto. Lalu pemuda ini putar tubuh diikuti ketiga kawannya. Mereka 

menuju; ke pintu. Namun satu bayangan merah berkelebat dan menghadang.

 "Pangeran sombong! Sebelum pergi aku akan balas dulu kekurang ajaranmu tadi! "

 "Betina sialan! Kau mau apa pula?!" bentak Ronggo begitu mengetahui yang 

menghadangnya adalah Lestari.

 "Mauku ini!" sahut Lestari. Lalu cepat sekali tangan kanannya bergerak menampar 

muka pemuda itu. Bagaimanapun pucatnya wajah Ronggo, tetap saja tamparan Lestari 

membekas merah di wajahnya! Sudut bibirnya sebelah kiri pecah.

 "Jahanam!" maki Ronggo. Lalu meninju dada Lestari. Namun pukulannya ini dengan 

mudah dapat dielakkan Lestari malah kini kembali tangan gadis itu bergerak ke atas. Kali 

ini menjambak rambut si pemuda lalu menyentakannya keras-keras. Tak ampun tubuh

ronggo tertarik dan terlempar ke luar pintu rumah makan, jatuh tersungkur di tanah. 

Mukanya berkelukuran, lecet dan bercelemong tanah. Darah mengucur dari

hidungnya.

 Sambil mengerang kesakitan Ronggo berdiri dibantu oleh tiga temannya. Kedua 

tangannya terkepal. Matanya berkilat-kilat oleh hawa amarah.

 "Gadis iblis! Kau tunggu pembalasanku!" mengancam Ronggo. Bersama tiga 

temannya dia bergerak pergi.

 "Pangeran! Pedangmu ketinggalan!" seru Panji Kenanga. Tapi keempat pemuda itu 

tak menoleh lagi. Dari melangkah kini mereka malah mulai berlari.

 Panji geleng-gelengkan kepala sedang Lestari hanya tersenyum. Pemuda itu 

kemudian dekati si gadis.

 "Lestari, bagaimana kau sampai berada di Jember ini. Apakah gurumu si Pemusnah 

Iblis itu ada dalam keadaan baik-baik?"

 Lestari mengangguk. Sesaat dia sibuk membetulkan pakaiannya.

 "Sambil menunggu hidangan ceritakan apa yang membuatmu meninggalkan danau 

Jembangan

 "Panjang kisahnya. Tak dapat kuceritakan padamu di tempat ini " sahut Lestari.

 "Memangnya kenapa?"

 "Sebaiknya kita tinggalkan rumah makan ini. Aku yakin pemuda muka pucat itu akan 

datang bersama seseorang berkepandaian tinggi!"

 "Lalu, apakah kau takut?" tanya Panji Kenanga pula.

 "Jauh dari itu" sahut Lestari. "Yang aku kawatirkan adalah kalau-kalau semua yang 

terjadi di sini bakal mempersulit urusan atau tugas yang harus kujalani. .

 "Hemm... tugas'urusan apakah itu?"

 "Aku sudah katakan, tak mungkin hal itu kuceritakan di sini. Hai Pangeran sedang 

itu datang kembali!" seru Lestari ketika dia melihat keluar pintu-rumah makan.


ENAM

 PANJI KENANGA memalingkan kepala ke arah pintu. Apa yang dikatakan Lestari betul. 

Ronggo Bogoseto bersama tiga kawannya muncul kembali, melangkah cepat ke arah 

rumah makan. Di depan mereka melangkah seorang lelaki berpakaian bagus dan rapi, 

berbadan tegap. Rambutnya yang tersembul di bawah blangkon berwarna memutih. 

Menurut taksiran Panji, lelaki ini berusia paling tidak sekitar enam puluh tahun. Dan pasti 

dia adalah ayah Ronggo, manusia yang bergelar Raja Pedang Kotaraja itu!

 Kelima orang itu sampai di hadapan Panji dan Lestari. Lelaki berpakaian bagus 

sesaat menatap wajah kedua muda mudi itu lalu melirik ke langit-langit rumah makan 

dimana dilihatnya menancap sebilah pedang.

 "Ayah!" Ronggo tiba-tiba maju dan buka suara. "Inilah monyet yang berani membuat 

keonaran. Membuat malu dan menghina kita!" Ronggo menunjuk tepat-tepat ke arah 

Panji Kenanga.

 Panji Kenanga memutar duduknya sedikit lalu bertanya: "Apakah kami berhadapan 

dengan bekas perwira tinggi berjuluk Raja Pedang Kotaraja?"

 'Tepat! Tidak meleset dugaanmu anak muda!" jawab orang tua berambut putih.

 Dari sikap dan nada bicaranya Panji maupun Lestari cepat menarik kesimpulan 

bahwa orang inipun memiliki sifat sombong walau tidak keterlaluan seperti puteranya.

 Panji Kenanga tersenyum. Dia menoleh pada Ronggo dan berkata: "Kau sudah 

membawa ayahmu kemari. Mengapa tidak membawa ibumu sekalian?!” Merahlah paras 

Ronggo Bogoseto. Juga wajah sang ayah.

 "Keparat!" maki Ronggo. Dengan adanya ayahnya di situ dia mendapat keberanian 

dan melompat untuk menendang Panji. Tapi ayahnya bergerak mencegah dan 

mendorongnya ke samping.

 "Orang muda! Apa yang telah kau lakukan terhadap pu teraku merupakan 

penghinaan. Merupakan tindakan kejahatan dan kekerasan. Dan kini di hadapanku kau 

masih berani bicara kurang ajar! Apa kau punya segudang ilmu hingga berani berlaku 

begitu!"

 "Orang tua, apa kau sudah menyelidik hingga menimpakan tuduhan seenak 

perutmu sendiri?!" Lestari buka mulut

 Raja Pedang berpaling pada si gadis dan memandangnya sesaat. "Wajahmu 

cantik, tapi rupanya kaupun bukan gadis baik-baik!"

 Panaslah darah Lestari. Dia mengambil baskom kecil berisi air cuci tangan.

 "Kau ayah dan anak coba berkaca dulu dalam air cuci tangan ini. Coba kalian lihat 

apakah kalian juga orang baik-baik?!"

 Mendidih amarah Raja Pedang.

 "Gadis lancang! Penghinaanmu melewati batas!" Secepat kilat orang tua ini 

layangkan tamparan ke muka si gadis* Namun baru setengah jalan sebuah benda keras 

membentur tangannya hingga tergetar sakit. Ternyata Panji telah menepis dan

menangkis tamparannya itu!

 Raja Pedang Kota raja kaget. Tidak disangkanya kalau pemuda itu memiliki kekuatan 

seperti itu. Dengan penasaran kini dia lancarkan satu pukulan kemuka Panji. Namun 

serangannya hanya mengenai tempat kosong karena si pemuda sudah berpindah 

tempat.

 Di saat ayahnya menampar Panji, Ronggo pergunakan kesempatan untuk melompat 

mengambil pedangnya dari langit-langit rumah makan. Dengan senjata ini dia kemudian 

memburu ke arah Lestari."Gadis liar! Ayo keluarkan pedangmu! Jangan kira aku tidak tega mencincang 

tubuhmu!"

 "Rupanya hajaran kawanku tadi tidak membuatmu kapok! Kau ingin aku ganti 

menghajarmu? Memang kalau tidak kuhajar kau sampai babak belur belum

puas hatiku!"

 Wut!

 Pedang di tangan Ronggo berkelebat.

 Lestari angkat sebuah kursi dan menangkis dengan benda ini. Dua kaki kursi putus 

dibabat pedang.

 "Sebentar lagi tanganmu . . . . "

 Ronggo tak sempat teruskan ucapannya karena tiba-tiba kursi yang masih dipegang 

oleh Lestari menusuk ke arah kepalanya. Kalau tidak cepat dia mengelak, pasti mukanya 

akan cidera berat Dengan sebat dia putar pedangnya. Sinar senjata itu bergulung-gulung

menguning Lestari.

 Sebelumnya Lestari sudah melihat kehebatan ilmu pedang pemuda itu. Namun dia 

juga mengetahui kalau Ronggo tidak memiliki ilmu silat tangan kosong yang tinggi, 

apalagi ilmu meringankan tubuh atau tenaga dalam. Maka Lestari memanfaatkan 

kelemahan lawan dengan bergerak cepat sambil keluarkan jurus-jurus silat andalan

yang dipelajarinya dari gurunya Si Pemusnah Iblis. Setelah dua jurus menyerang tanpa

hasil, Ronggo putar pedangnya lebih sebat. Rahangnya menggembung tanda marah. 

Namun kursi di tangan lawan merupakan senjata yang sulit untuk dihadapinya. Berkali-

kali dia berusaha menghancurkan kursi itu terlebih dulu. Setiap kali serangannya tidak 

membawa hasil. Malah di jurus ketujuh tendangan Lestari tepat menghantam lengan 

kanannya.

 Trak!

 Ronggo menjerit kesakitan. Tulang lengannya patah. Pedangnya mental jatuh

bergrompyangan di lantai. Dengan sudut matanya Raja Pedang Kotaraja dapat 

menyaksikan apa yang terjadi atas diri puteranya tanpa dapat menolong. Karena saat itu 

dia sendiri tengah mengeluarkan seluruh kepandaian menghadapi Panji Kenanga. 

Orang tua ini memang lihay sekali memainkan pedangnya. Senjata yang berat dan besar 

itu seperti sebuah tongkat enteng yang dapat digerakkannya ke mana saja. Namun 

seperti anaknya, diapun kalah dalam kegesitan dan tenaga dalam. Cuma orang tua satu 

ini memiliki pengalaman luar biasa hingga dalam sepuluh jurus dia dapat mengunci 

Panji Kenanga di salah satu sudut rumah makan.

 Panji keluarkan keringan dingin. Kalau saja pedang Gajah Biru di tangannya bukan 

senjata mustika pasti sudah sejak tadi-tadi dia dapat dicelakai lawan. Selama sepuluh 

jurus lagi Panji bertahan mati-matian.

 "Kalau tidak ku barengi dengan pukulan, sulit membuyarkan serangan yang 

mengurung ini!" kata Panji dalam hati.

 Karenanya memasuki jurus ketiga puluh empat pemuda ini keluarkan bentakan 

garang dan lepaskan satu pukulan tangan kosong dengan tangan kiri.

 Jago tua itu terkejut ketika merasakan ada angin yang menyambar dan membuatnya 

tergontai. Cepat dia sapukan pedang untuk melindungi diri. Namun gerakannya ini 

membuat tubuhnya di sebelah bawah jadi terbuka. Justru ke arah bagian tubuh inilah 

Panji membebatkan pedangnya disertai tenaga dalam hingga senjata itu menaburkan 

sinar biru.

 "Celaka!" seru Raja Pedang Kotaraja. Buru-buru dia melompat menjauhi serangan 

lawan. Karena kawatir masih akan terkena sambaran Ujung pedang Panji, orang tua ini 

babatkan pedangnya ke bawah.

 Trang!Dua pedang beradu keras.

 Apa yang diduga bekas perwira tinggi kerajaan itu benar-benar terjadi. Pedangnya 

mental, tangannya terasa kaku seperti kesemutan. Kedua matanya melotot. Kembali dia 

menyurut beberapa langkah. Wajahnya gelap. Seumur hidup baru kali ini dia 

dipecundangi oleh seorang lawan yang jauh lebih muda darinya.

 "Gila! Aku betul-betul tak punya muka lagi!" kata Raja Pedang dalam hati. Ketika dia 

berpaling ke kiri dilihatnya puteranya terduduk di lantai dengan muka penuh benjut, 

dikelilingi oleh ketiga kawannya. Panji Kenanga sarungkan pedang Gajah Biru kembali. 

Dia menoleh pada Lestari. Dilihatnya gadis itu memberi isyarat. Lalu keduanya 

melangkah ke pintu.

 "Orang, muda tunggu dulu!" Tiba-tiba terdengar seruan Raja Pedang Kotaraja 

memanggil.

 "Ada apa?!! tanya Panji.

 "Sebelum pergi harap kalian suka memberi tahu nama masing-masing . . . . "

 "Untuk apa?" Kini Lestari yang bertanya.

 "Untuk sekedar jadi kenangan," jawab bekas perwira tinggi itu. Kalian berdua telah 

membuka mataku bahwa kesombongan itu hanyalah satu kepalsuan hidup yang bisa 

membawa bencana bagi diri sendiri!"

 "Ah, aku yang tua ini benar-benar merasa mendapat pelajaran dari kalian orang-orang 

muda. Mulai saat ini aku tak mau lagi memakai gelar Raja Pedang Kotaraja!" Lalu orang 

tua itu memungut pedangnya. Ketika dia hendak tinggalkan rumah makan pu teranya 

yang mengalami patah tangan cepat menghadang seraya berseru.

 "Ayah! Mereka mematahkan lenganku. Kau hendak pergi begitu saja tanpa memberi 

hukuman pada mereka?!"

 "Kaulah yang patut diberi hukuman!" bentak sang ayah dan plak! Tamparannya 

melayang menghantam pipi Ronggo Bogoseto. Pemuda ini mengeluh kesakitan. Tak 

tahan menanggung malu.dia lari lebih dulu meninggalkan tempat itu. Tiga kawannya 

menyusul di belakang.


TUJUH

 KUDA PUTIH polos bernama Angin Salju itu berlari cepat di kegelapan malam. Di atas 

punggungnya di sebelah depan duduk Lestari dan di belakangnya duduk Panji Kenanga. 

Semula sang dara menolak untuk menunggangi kuda besar itu bersama-sama. Tapi 

akhirnya mau juga. Di tepi sebuah telaga mereka berhenti.

 "Kita bermalam di sini dan membuat perapian. Kau setuju?"

 Lestari tak menjawab.

 "Di samping itu kau bisa memberikan keterangan mengenai urusan dan tugas yang 

harus kau jalankan itu. . . "

 Setelah berpikir beberapa lamanya akhirnya Lestari menyetujui usul Panji. Sementara 

Angin Salju merumput. Panji segera mencari kayu untuk perapian.

 Setelah api menyala, keduanya duduk berhadap-hadapan. Panji menatap paras gadis 

di hadapannya itu. Paras yang tak pernah dilupakannya sejak perjumpaan pertama 

dahulu. Sebenarnya sudah sejak lama pemuda ini ingin mengunjungi Lestari di tempat 

kediaman gurunya di danau Jembangan. Namun sebelum kesampaian malah bertemu di 

Jember.

 "Lestari_____ "

 Dara itu mengangkat kepalanya.

 Sesaat pandangan mereka saling beradu.

 "Kau kedinginan? Duduklah lebih dekat ke perapian

 "Cukup hangat di sini. Panji'

 "Sekarang coba ceritakan apa urusanmu itu. Jika ada yang bisa ku bantu, pasti akan 

kulakukan."

 Lestari memandang nyala api yang melenggang-lenggok dipermainkan hembusan 

angin malam.

 "Seseorang telah mencuri senjata mustika milik guru. Hal itu terjadi ketika guru tidak 

di rumah. Ini kelalaian ku sendiri. Guru amat marah. Aku tahu sekali hal itu walau dia 

tidak memperlihatkannya padaku. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain 

meninggalkan danau Jembangan dan mencari senjata mustika itu sampai dapat. 

Sebelum dapat aku tak akan kembali."

 "Senjata apakah yang dicuri itu?" tanya Panji Kenanga.

 "Sebuah tusuk kundai. Terbuat dari perak"

 "Pencurinya pasti seorang berkepandaian tinggi."

 "Pasti," membenarkan Lestari. "Guru menasihatkan agar aku menghubungi 

beberapa tokoh silat golongan putih untuk mencari keterangan. Sampai saat

ini segala sesuatunya masih gelap bagiku

 "Jelas yang melakukannya seseorang atau beberapa orang dari golongan hitam. Kita 

akan menyelidikinya bersama-sama."

 "Kita?" ulang Lestari.

 "Ya____ Kau tak suka aku bantu?"

 "Terima kasih. Aku berterima kasih sekali. Tapi kau tahu. Ada puluhan tokoh silat 

golongan hitam. Bagaimana kita bisa menemukan pencurinya...."

 "Itulah yang harus kita selidiki Lestari. . . . "

 Sang dara hanya mengangguk pelahan. Dia telah menceritakan hilangnya tusuk 

kundai sakti itu. Namun sama sekali tidak diberitahukannya kalau benda itu

adalah pertanda ikatan tali perjodohannya dengan murid Eyang Kunti Kendil yang 

bernama Wiro Sableng.Malam bertambah larut dan dingin. Panji Kenanga mengambil sehelai tikar kulit dan 

selimut tebal dari kantong perbekalan di punggung kudanya. Tikar itu lalu 

dibentangkannya dekat perapian.

 "Kau tidurlah di sini. . . . " katanya pada Lestari.

 "Aku belum mengantuk."

 "Mengantuk atau tidak kau butuh istirahat Untuk mencari senjata yang hilang itu 

mungkin kita harus mengadakan perjalanan jauh yang menguras tenaga... ."

 Lestari menyadari bahwa apa yang. Dikatakan Panji itu benar. Perlahan-lahan 

direbahkannya dirinya di atas tikar kulit itu. Panji kemudian menyelimutinya.

 'Terima kasih. Kau baik sekali. . . ."kata Lestari polos..

 Panji tersenyum. Dengan bergelung sehelai kain sarung pemuda ini membaringkan 

diri di seberang perapian. Sesekali dia melirik dan melihat Lestari masih belum 

memejamkan mata.Kesunyian malam kadang- kadang digemeretaki oleh suatu ranting 

kayu yang berderak dimakan api.

 "Ingat peristiwa di Istana Darah dulu _ ?" tiba-tiba Panji bertanya.

 "Ya, kenapa?"

 "Sejak peristiwa itu apa kau pernah bertemu Wiro ? "

 "Tidak. Memangnya kenapa?" Lestari bertanya lagi.

 "Pemuda itu ilmunya tinggi sekali. Ingin sekali aku bertemu dengan dia. Selain 

bertukar pengalaman siapa tahu dia berbaik hati mau memberikan sejurus dua ilmu 

baru"

 Yang dipikirkan Lestari saat itu justru bukan ketinggian ilmu Wiro Sableng melainkan 

hubungan jodohnya dengan pemuda itu, yang ikatannya diatur oleh guru mereka. 

Apakah Wiro mengetahui hal itu?

 Lama kesunyian menggantung. Sayup-sayup terdengar riak air telaga terhembus 

angin.

 "Lestari. . . "

 "Hemm . . . Aku masih ingin ngobrol. Entah kalau kau sudah mau tidur. . . . "

 'Tubuhku memang agak letih. Tapi mata ini masih belum bisa dipicingkan "

 "Dalam kehidupanmu yang mencapai usia sekarang ini, apakah kau pernah 

mencintai dan dicintai seseorang . . . . ? "

 Pertanyaan Panji Kenanga ini membuat Lestari terkejut Dia sadar wajahnya saat itu 

pasti menjadi merah.

 "Ada-ada saja yang kau tanyakan. Kenapa kau bertanya begitu?"

 "Hanya ingin tahu __ "

 "Soal cinta belum terpikir olehku . . . . "

 "Lalu soal seseorang yang mencintaimu?"

 "Mana aku tahu? Kalau ada yang mencintaiku dia tak pernah bilang begitu

 Panji tertawa.

 "Bagaimana kalau andai kata kau kemudian mengetahui bahwa ada seseorang yang 

mencintaimu dengan sepenuh hati. . . . "

 "Aku harus tahu yang jatuh cinta ini lelaki atau nenek-nenek. Atau seekor kucing 

. . . . Aih, malam-malam begini bicara soal cintai Siapa orangnya yang mau 

mencintaiku.....?"

 "Ada!""Sudahlah. Aku tak mau membicarakan hal itu lagi . . . ." Kata Lestari. Namun diam-

diam dia ingin tahu juga siapa orang yang kata Panji ada mencintainya itu. Wiro Sableng?

 "Kau tak ingin tahu siapa orang yang mencintaimu itu Lestari?" tanya Panji.

 "Kalau kau tahu katakanlah."

 "Orangnya saat ini dekat sekali denganmu," kata Panji pula.

 'Tak ada orang lain di sini."

 "Ada. Kau tak melihat? Atau lupa?"

 "Siapa?"

 "Akui" jawab Panji Kenanga.

 Lestari palingkan kepalanya. Kedua matanya terbuka lebar dan memandang tak 

berkedip pada Panji Kenanga. Sesaat kemudian terdengar suara tawa dara itu.

 "Kau tengah membanyol Panji!"

 "Aku tidak melucu. Apa yang kukatakan adalah sebenarnya. Aku mencintaimu!"

 Lestari merasakah dadanya berdebar.

 "Kau bodoh Panji!"

 "Bodoh? Bodoh bagaimana?"

 "Bodoh karena mau-mauan mencintaiku. Me mangnya aku ini apa sih!"

 "Cinta itu terkadang memang aneh Lestari. Kata orang cinta bisa membuat buta. Lalu 

bodoh seperti katamu itu. Lalu perasaan bahwa dunia ini hanya dia yang punya "

 "Aih, pengalamanmu tentang cinta rupanya banyak juga "

 "Seperti katamu, mungkin benar aku ini pemuda bodoh. Namun aku tak mau 

menyembunyikan sesuatu yang aku rasakan "

 Sunyi. Lestari tak bisa berkata apa-apa lagi. Panji juga terdiam. Gadis itu akhirnya 

picingkan kedua matanya. Namun dia tidak tidur. Mendadak dirasakannya ada hawa 

panas menghembus wajahnya. Ketika kedua matanya dibuka dilihatnya sebuah wajah 

dekat sekali ke mukanya. Wajah Panji.

 v "Lestari. . . ."bisik Panji. "Dengarlah _ " Sambil bicara dibelainya rambut gadis itu. 

"Aku benar-benar mencintaimu . . . ." Lalu kepala si pemuda datang lebih dekat. Satu 

ciuman menyapu kening Lestari.Si gadis merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Itulah

pertama kali tubuhnya dibelai dan parasnya dicium lelaki.

 "Panji . . . jangan . . . . " bisik Lestari ketika ciuman kedua melembut jatuh di pipinya.

 "Jangan . . ." bisik Lestari lagi. Namun dia tak berusaha menjauhkan wajahnya. Ketika 

bibir pemuda itu menempel di bibirnya. Lestari merasakan nafasnya seperti terbang. 

Entah sadar entah tidak kecupan Panji pada bibirnya dibalasnya dengan hangat.

 MENJELANG dinihari baru Lestari bisa memejamkan matanya dan tidur. Panji 

Kenanga masih duduk di sampingnya, memandang dan menjaganya dengan pe-

rasaan penuh kasih sayang.

 Ketika di timur kelihatan langit mulai terang barulah pemuda ini berdiri dan 

melangkah ke telaga. Semalam suntuk dia tidak memicingkan mata barang

sekejappun. Namun tubuhnya sama sekali tidak terasa letih. Kebahagiaan kasih sayang 

yang dirasakannya laksana suatu kekuatan dalam dirinya. Dia maklum kalau sang 

dara menyukainya, mungkin juga mengasihinya. Walaupun semua itu tidak diucapkan 

dalam bentuk kata-kata.

 Tak lama setelah Panji mandi di telaga Lestari terbangun. Dia duduk di samping 

perapian yang telah padam. Kepalanya terasa agak berat. Di telaga dilihatnya Panji 

berkecimpung di air telaga. Begitu melihat pemuda ini berdebarlah dada sang dara.Serta merta dia ingat apa yang terjadi malam tadi. Dia telah dipeluk dan balas memeluk 

pemuda itu. Dia telah dicium dan balas mencium. Bagaimana semua itu bisa terjadi?

 Teringat Lestari akan tugas yang masih harus dijalankannya. Yaitu menemukan 

kembali tusuk kundai perak yang telah dicuri orang. Benda yang merupakan tanda 

perjodohannya dengan Wiro Sableng. Guru Wiro dan gurunya telah mengadakan 

pengikatan jodoh bagi mereka. Tapi semalam dia telah bercumbu berkasih mesra 

dengan Panji Kenanga. Apakah ini berarti suatu dosa? Apakah ini merupakan satu 

pengkhianatan terhadap calon suaminya yakni Wiro? Ada rasa dosa dan malu dalam 

hati gadis ini. Lalu apakah dia akan meneruskan perjalanan bersama Panji Kenanga? 

Bagaimana kalau terulang lagi kejadian malam tadi. Terulang lagi malah mungkin lebih 

jauh dari itu.

 Lestari merapikan rambut dan pakaiannya. Tekadnya sudah bulat Dia harus 

meninggalkan Panji Kenanga dan menempuh jalannya sendiri. Tanpa menunggu lebih 

lama dia segera lari meninggalkan tempat itu.

 Pada saat matahari pagi muncul di ufuk timur maka Lestari telah berada jauh dari 

telaga. Dia sengaja memasuki rimba belantara karena dia tak mengharapkan agar Panji 

Kenanga dapat menyusulnya. Namun baru saja dia memasuki hutan itu beberapa belas 

tombak mendadak di belakang terdengar suara bergemeresik disusul satu teriakan 

keras.

 "Randu Wongso! Lihat! Dara berbaju merah itulah yang tengah kita cari-cari!"


DELAP AN

 LESTARI terkejut dan cepat Wpaling ke belakang. Kira-kira lima tombak di belakangnya 

dilihatnya dua orang lelaki. Yang seorang bertubuh tinggi langsing tak dikenalnya. 

Sedang orang kedua bukan lain Ronggo Bogoseto, pemuda bermuka pucat sombong 

yang kemarin dihajarnya di rumah makan Jember.

 Sadar kalau kedua orang itu mengejarnya dengan maksud yang tidak baik maka 

Lestari segera melarikan diri. Dia berhasil meninggalkan Ronggo Bogoseto jauh di 

belakang. Namun si tinggi langsing ternyata memiliki kepandaian lari. Karena dalam 

waktu dekat dia segera dapat mendekati Lestari.

 "Kalau mereka berani berbuat sesuatu kubunuh keduanya!" kata Lestari dalam hati.

 Sang dara tidak mengetahui kalau lelaki bertubuh tinggi langsing yang dibawa 

Ronggo Bogoseto itu adalah seorang berkepandaian tinggi.

 Siapakah adanya orang ini?

 Mari kita ikuti apa yang dilakukan Ronggo setelah dia mendapat hajaran di rumah 

makan itu.

 Meskipun ayahnya sudah menganggap selesai pertikaian dengan Panji Kenanga 

serta Lestari namun ronggo Bogoseto tak dapat melenyapkan rasa sakit hati dendam 

kesumatnya terhadap kedua muda mudi itu. Kini dia tak punya muka lagi di seluruh 

Jember. Semua orang seperti memandangnya dengan mengejek.

 Sebenarnya di samping sakit hati diam-diam pemuda bermuka pucat sangat tertarik 

pada kecantikan Lestari. Telah banyak dia melihat gadis cantik, namun tak ada yang 

secantik dan begitu menggiurkan seperti yang satu ini

 Setelah mengobati mukanya yang babak belur, dan tangannya yang patah, dengan 

menunggangi seekor kuda pemuda ini meninggalkan kota menuju ke arah timur. 

Tujuannya adalah sebuah candi tua yang di diami oleh seorang tokoh silat berilmu 

tinggi. Tokoh silat ini bukanlah seorang baik-baik. Sering sekali dia mempergunakan 

kepandaiannya untuk maksud-maksud jahat Apalagi jika seseorang mau memberikan

hadiah padanya maka apapun akan dilakukannya. Karena itu orang mencapnya 

sebagai tokoh silat golongan hitam.

 Hari telah malam ketika Ronggo, sampai di candi tua itu. Semula dia kawatir kalau 

orang yang dicarinya tak ada di tempat. Tokoh silat itu memang jarang ada di candi 

tersebut. Namun begitu melihat ada nyala lampu, maka senanglah hati pemuda ini.

 Di depan candi tua pemuda ini hentikan kuda, begitu turun langsung masuk ke dalam 

candi. Sebagian besar bangunan itu sudah sangat rusak dan kotor. Di salah satu sudut 

terletak sebuah lampu minyak. Apinya bergoyang-goyang dipermainkan angin hingga

membentuk bayang-bayang yang mengerikan di dinding candi. Udara terasa dingin. 

Ronggo memandang berkeliling. Orang yang dicarinya tidak nampak.

 "Randu . . . ." panggil si pemuda. "Randu Wongso . . . . Apakah kau ada di sini. . . . ? "

 Tak ada jawaban.

 Tetapi telinga Ronggo tjba-tiba mendengar suara seseorang.

 Suara perempuan merintih!

 Dia memandang tak berkedip ke sudut kiri lalu melangkah ke arah tumpukan balok-

balok tua yang seperti membatas bagian depan candi dengan bagian belakang. 

Ronggo sampai di susunan balok setinggi dada dan menjenguk ke balik susunan balok 

itu. Kedua matanya terpentang lebar ketika apa yang terpampang di depannya, di antara 

kesuraman sinar lampu minyak.Di sana, di lantai candi yang hanya dialasi tikar jerami butut dilihatnya Randu Wongso 

dalam keadaan tanpa pakaian tengah menggagahi seorang perempuan!

 Perempuan ini masih muda. Parasnya tidak cantik, berkulit agak hitam. Tetapi dia 

memiliki bagian-bagian tubuh yang kencang serta serba besar.

 "Sialan!" rutuk Ronggo Bogoseto. "Randu!" serunya kemudian. "Lekaslah! Aku ada 

urusan amat penting perlu dibicarakan!"

 "Sompret anjing kurap!"

 Lelaki bernama Randu Wongso itu memaki.

 "Anak setan! Siapa kau yang berani mengganggu kesenanganku! Apa mau 

kurengkahkan batok kepalamu?!"

 "He . . . he . . . . Tenang Randu. Tenang. Aku Ronggo Bogoseto!"

 Mendengar nama itu kemarahan Randu Wongso kontan lenyap. Tetapi tentu saja dia 

tidak mau meninggalkan apa yang tengah dilakukannya saat itu. Apa lagi dia menjelang 

akan sampai ke puncak kenikmatannya.

 "Sobat muda! Apa pun urusanmu bisa menunggu! Malah kalau kau suka bisa 

kebagian! Eh, apakah kau membawa uang banyak?"

 "Soal uang kau tak usah kawatir. Yang penting cepat sudahi pekerjaan dajalmu itu!" 

Ronggo benar-benar tidak sabaran. Yang dikawatirkannya adalah Panji dan Lestari jadi 

terlalu jauh untuk dikejar. "Sialan! Perempuan mana yang digagahinya itu!" Ronggo

melangkah mundar-mandir di bangunan candi yang kecil sempit itu. Telinganya terus 

menerus menangkap suara rintihan perempuan itu, diseling oleh suara nafas

Randu Wongso yang memburu.

 Tiba-tiba terdengar suara Randu Wongso seperti mengerang.

 "Bangsat!" maki Ronggo.

 Beberapa saat kemudian baru Rando Wongso keluar dari balik tumpukan balok. 

Tubuhnya penuh keringat dan dia hanya mengenakan sehelai cawat kumal.

 "Kelakuan bejatmu masih belum berobah Randu! Perempuan mana puja kali ini yang 

kau rusak kehormatannya? Sudah berapa lama kau peram di tempat ini. Sudah berapa 

kali kau tiduri*?!"

 Randu Wongso tertawa gelak-gelak. Di sekanya keringat yang mengucuri dahinya.

 "Yang satu ini lain, Ronggo. Dia mau ikut denganku ke sini. Dan . . . ha . . . ha . . .

Sungguh luar biasa. Kau ada minat?"

 "Gila! Aku kemari bukan untuk begituan!"

 "Kau akan menyesal sobat. Yang satu ini benar-benar lain "

 "Kentut! Kau selalu memberikan sisa padaku!"

 "Sisa bukan sembarang sisa. Kau tahu, paling lama aku hanya memeram perempuan 

dua hari. Tak lebih. Tapi dia . . . . sudah lima hari berada di sini. . . "

 Sekilas Ronggo melirik ke balik tumpukan balok. Perempuan muda itu masih 

terbaring tanpa pakaian. Melihat keadaan tubuhnya yang bagus memang Ronggo harus 

mengakui ucapan Randu tadi bahwa yang satu ini lain.

 "Hai sobat! Jangan memandang terlalu lama! Nanti kau tergiur! Sekarang katakan 

apa urusan pentingmu itu!"

 Dengan singkat Ronggo Bogoseto menuturkan apa yang telah dialami dia dan 

ayahnya di Jember. Tak lupa dia memperlihatkan bibirnya yang luka akibat tamparan 

Lestari, lalu tangannya yang dibalut.

 "Lalu apa hubungan kejadian* jtu dengan kedatanganmu kemari?" bertanya Randu 

Wongso.

 "Kita harus cari kedua orang itu. Hajar si pemuda dan sang dara itu urusanku...."

 Ronggo tertawa gelak-gelak."Nyatanya kau sendiripun masih memiliki nafsu setan. Apakah gadis itu cantik sekali 

hingga kau ingin mencarinya?"

 "Cantik luar biasa. Tak pernah sebelumnya aku melihat gadis secantik, itu. Ketika 

pedangku memutuskan kancing-kancing pakaiannya hingga dadanya tersingkap . . . . 

Mau mati rasanya aku ketika melihat dadanya. Putih dan kencang!"

 "Ha . . . ha . . . hal Sifat kita tak jauh berbeda sobat! Aku suka hal itu!" ujar Randu 

Wongso pula. "Kau tak usah kawatir. Kita cari mereka sama-sama. Tapi..."

Habis berkata begitu Randu kembangkan telapak tangan kirinya dan 

mengangsurkannya kepada Ronggo

 Tanpa banyak bicara Ronggo keluarkan sebuah kantong kecil berisi uang dan 

berikan pada Randu Wongso.

 "Kita pergi sekarang?" tanya Randu. Ronggo mengangguk.

 "Aku berpakaian dulu. Tunggu di sini. Tapi . .Heh, kau benar-benar tidak berhasrat 

terhadap perempuan itu?"

 "Urusanku lebih penting. Kita harus cepat...."

 ' 'Cepat . . . . cepat! Seperti waktu ini dikejar-kejar setan. Bersama Randu Wongso kau 

pasti akan menemukan gadis itu. Kau sungguh tak mau? Urusan beginian kan tidak lama 

Ronggo...."

 Pemuda itu jadi bimbang. Dia melirik lagi ke balik tumpukan balok. Memandangi tubuh 

perempuan yang gempal kencang itu lambat laun terangsang juga nafsu Ronggo 

Bogoseto. Memang bukan satu. hal baru dia melakukan hal seperti itu bersama-sama 

Randu Wongso. Randu yang menculik lalu mereka gagahi bergantian.

 Randu tepuk-tepuk bahu pemuda itu. Lalu mendorongnya ke balik tumpukan balok.

 "Pergilah, aku akan menunggumu sampai selesai . . . ." bisik Randu Wongso. 

Akhirnya sambil melangkah ke balik susunan balok, Ronggo tanggalkan pakaiannya.

 LESTARI berusaha mempercepat larinya. Namun Randu Wongso cepat sekali 

gerakannya. Menyadari bahwa dia tak mungkin lepas jika terus lari. Lestari

akhirnya berbalik dan menunggu dengan sikap siap menyerang.

 "Aha! Akhirnya kami temui juga kau!" kata Ronggo dengan nafas memburu 

sementara Randu Wongso tegak tolak pinggang, memandang tak berkedip pada gadis 

berbaju merah di hadapannya.

 "Apa maumu?!" sentak Lestari.

 ' 'Wah Ronggo! Gadismu ini galak sekali!" kata Randu Wongso.

 "Brengsek! Enak saja kau mengatakan aku gadisnya!" semprot Lestari dengan mata 

melotot.

 "Aih,melotot marahpun kau malah tambah cantik!" ujar Randu Wongso semakin 

menggoda. Diam-diam dia sudah terpikat pula pada kecantikan gadis ini dan otak 

kotornya mulai bekerja. Tangannya diulurkan hendak menjamah tubuh Lestari.

 "Berani kau menyentuh tubuhku akan kubunuh!" mengancam Lestari seraya tangan 

kanannya bergerak ke pinggang d i mana tersisip pedangnya.

 "Ah, mati di tanganmu pun aku senang! Ha . . . ha. . . ha “ ujar Randu Wongso lalu 

tertawa gelak-gelak.

 "Mana pemuda keparat kawanmu itu?!" bertanya Ronggo dengan nada garang.

 "Sebentar lagi dia datang. kau akan dihajarnya seperti kemarin!"

 Kata-kata Lestari itu membuat wajah pucat Ronggo Bogoseto sesaat jadi memerah."Gadis cantik, aku dan sobatku ini tidak tega melihat kau melakukan perjalanan 

seorang diri. Jika terjadi apa-apa denganmu ah, kami rasanya tak tega berlepas tangan. 

Kami bersedia menemanimu. Bahkan aku mau mendukungmu sampai ke manapun 

kau pergi

 "Manusia edan! Mulutmu kotor! Kurang ajar! damprat Lestari.

 Randu Wongso kembali tertawa gelak-gelak dan kali ini sambil kedip-kedipkan 

matanya membuat Lestari tambah jijik melihatnya. Dengan cepat gadis ini putar tubuh.

 "Hai! Kau mau kemana gadisku cantik?!" seru Randu Wongso.

 "Randu sebaiknya cepat kau ringkus dia!" berkata Ronggo yang menjadi tidak 

sabaran.

 "Meringkus burung molek ini perkara mudah sobatku. Lihat! Aku akan tangkap 

pinggangnya! Ah, betapa nikmatnya merangkul tubuhnya!"

 Setelah berkata begitu dengan satu gerakan Randu Wongso berkelebat. Begitu 

cepatnya gerakan orang ini tahu-tahu tangan kirinya sudah meraih pinggang Lestari 

sedang tangan kanan menjamah dadanya!

 "Bangsat kurang ajar!" teriak Lestari marah sekali.

 Wut!"Nyatanya kau sendiripun masih memiliki nafsu setan. Apakah gadis itu cantik sekali 

hingga kau ingin mencarinya?"

 "Cantik luar biasa. Tak pernah sebelumnya aku melihat gadis secantik, itu. Ketika 

pedangku memutuskan kancing-kancing pakaiannya hingga dadanya tersingkap . . . . 

Mau mati rasanya aku ketika melihat dadanya. Putih dan kencang!"

 "Ha . . . ha . . . hal Sifat kita tak jauh berbeda sobat! Aku suka hal itu!" ujar Randu 

Wongso pula. "Kau tak usah kawatir. Kita cari mereka sama-sama. Tapi..."

Habis berkata begitu Randu kembangkan telapak tangan kirinya dan 

mengangsurkannya kepada Ronggo

 Tanpa banyak bicara Ronggo keluarkan sebuah kantong kecil berisi uang dan 

berikan pada Randu Wongso.

 "Kita pergi sekarang?" tanya Randu. Ronggo mengangguk.

 "Aku berpakaian dulu. Tunggu di sini. Tapi . .Heh, kau benar-benar tidak berhasrat 

terhadap perempuan itu?"

 "Urusanku lebih penting. Kita harus cepat...."

 ' 'Cepat . . . . cepat! Seperti waktu ini dikejar-kejar setan. Bersama Randu Wongso kau 

pasti akan menemukan gadis itu. Kau sungguh tak mau? Urusan beginian kan tidak lama 

Ronggo...."

 Pemuda itu jadi bimbang. Dia melirik lagi ke balik tumpukan balok. Memandangi tubuh 

perempuan yang gempal kencang itu lambat laun terangsang juga nafsu Ronggo 

Bogoseto. Memang bukan satu. hal baru dia melakukan hal seperti itu bersama-sama 

Randu Wongso. Randu yang menculik lalu mereka gagahi bergantian.

 Randu tepuk-tepuk bahu pemuda itu. Lalu mendorongnya ke balik tumpukan balok.

 "Pergilah, aku akan menunggumu sampai selesai . . . ." bisik Randu Wongso. 

Akhirnya sambil melangkah ke balik susunan balok, Ronggo tanggalkan pakaiannya.

 LESTARI berusaha mempercepat larinya. Namun Randu Wongso cepat sekali 

gerakannya. Menyadari bahwa dia tak mungkin lepas jika terus lari. Lestari

akhirnya berbalik dan menunggu dengan sikap siap menyerang.

 "Aha! Akhirnya kami temui juga kau!" kata Ronggo dengan nafas memburu 

sementara Randu Wongso tegak tolak pinggang, memandang tak berkedip pada gadis 

berbaju merah di hadapannya.

 "Apa maumu?!" sentak Lestari.

 ' 'Wah Ronggo! Gadismu ini galak sekali!" kata Randu Wongso.

 "Brengsek! Enak saja kau mengatakan aku gadisnya!" semprot Lestari dengan mata 

melotot.

 "Aih,melotot marahpun kau malah tambah cantik!" ujar Randu Wongso semakin 

menggoda. Diam-diam dia sudah terpikat pula pada kecantikan gadis ini dan otak 

kotornya mulai bekerja. Tangannya diulurkan hendak menjamah tubuh Lestari.

 "Berani kau menyentuh tubuhku akan kubunuh!" mengancam Lestari seraya tangan 

kanannya bergerak ke pinggang d i mana tersisip pedangnya.

 "Ah, mati di tanganmu pun aku senang! Ha . . . ha. . . ha “ ujar Randu Wongso lalu 

tertawa gelak-gelak.

 "Mana pemuda keparat kawanmu itu?!" bertanya Ronggo dengan nada garang.

 "Sebentar lagi dia datang. kau akan dihajarnya seperti kemarin!"

 Kata-kata Lestari itu membuat wajah pucat Ronggo Bogoseto sesaat jadi memerah."Gadis cantik, aku dan sobatku ini tidak tega melihat kau melakukan perjalanan 

seorang diri. Jika terjadi apa-apa denganmu ah, kami rasanya tak tega berlepas tangan. 

Kami bersedia menemanimu. Bahkan aku mau mendukungmu sampai ke manapun 

kau pergi

 "Manusia edan! Mulutmu kotor! Kurang ajar! damprat Lestari.

 Randu Wongso kembali tertawa gelak-gelak dan kali ini sambil kedip-kedipkan 

matanya membuat Lestari tambah jijik melihatnya. Dengan cepat gadis ini putar tubuh.

 "Hai! Kau mau kemana gadisku cantik?!" seru Randu Wongso.

 "Randu sebaiknya cepat kau ringkus dia!" berkata Ronggo yang menjadi tidak 

sabaran.

 "Meringkus burung molek ini perkara mudah sobatku. Lihat! Aku akan tangkap 

pinggangnya! Ah, betapa nikmatnya merangkul tubuhnya!"

 Setelah berkata begitu dengan satu gerakan Randu Wongso berkelebat. Begitu 

cepatnya gerakan orang ini tahu-tahu tangan kirinya sudah meraih pinggang Lestari 

sedang tangan kanan menjamah dadanya!

 "Bangsat kurang ajar!" teriak Lestari marah sekali.

 Wut!


S E M B I L A N

SINAR putih menyambar ke arah lambung Randu Wongso disertai suara bersuit. Kaget 

lelaki

 ini bukan olah-olah. Sambaran angin yang datang sangat berbahaya. Mau tak mau 

segera dia lepaskan pegangannya di pinggang si gadis dan melompat mundur.

 Di hadapannya kini Randu melihat Lestari berdiri memegang sebuah seruling terbuat 

dari perak. Benda ini berkilat-kilat tertimpa sinar matahari pagi.

 Randu berpaling pada Ronggo lalu bertanya.

 "Sobatku, sebenarnya siapakah si cantik berbaju merah ini? "Kulihat gerakan ilmu 

pedangnya boleh juga!"

 "Siapa dia nanti saja kita bicarakan. Aku tak mau kau membuang waktu. Lekas 

tangkap dia!"

 "Baiklah sobatku. Rupanya kau sudah tidak sabaran! 'Kembali Randu Wongo 

bergerak.

 "Majulah kalau ingin mampus!" kata Lestari ketika dilihatnya Randu Wongo datang 

mendekat.

 Sambil tertawa Randu Wongso melangkah menghampiri si gadis.

 Tiba-tiba Randu menyergap ke depan. Lestari menghantamkan sulingnya ke arah 

dada lawan.

 Namun kali ini dia tertipu.

 Serangan Randu Wongso hanya pura-pura saja karena sedetik kemudian dia sudah 

berpindah kedudukan dan berkelebat ke jurusan lain. Lestari tak kalah cepat. Dia 

putar gerakan tangannya dan sulingnya kini justru menusuk ke muka lawan! Ketika 

Randu Wongso berkelit untuk menghindarkan mukanya. Lestari lepaskan satu pukulan 

tangan kosong dengan tangan kiri,

 "Eh!"

 Untuk kedua kalinya Randu Wongso dibuat terkejut. Dia benar-benar sadar kini kalau 

dara berbaju merah yang tadi dianggapnya sepele itu tak bisa dipandang enteng. Di 

balik wajahnya yang jelita, di belakang gerakan tubuhnya yang halus gemulai itu,

tersembunyi satu ilmu silat tinggi!

 "Kalau tak segera kuringkus gadis ini bisa berbahaya!' 'kata Randu Wongso dalam 

hati. Dengan gerakan bernama pelangi menggelung langit dia me-

nyambar dari samping, kiri. Gerakannya aneh, perlahan sekali, seperti acuh tak acuh dan 

sangat mudah untuk balas dihantam. Namun Lestari walau tidak banyak pengalaman 

telah digembleng oleh gurunya Si Pemusnah Iblis secara meyakinkan. Dia tegak 

menunggu dengan waspada. Ketika lawan sampai di hadapannya baru dia bersurut dua 

langkah: Betul saja apa yang diduganya. Lawan tiba-tiba membuat gerakan susulan.

Baru serangan Randu bergerak setengah jalan Lestari sudah menyongsong

mendahului dengan satu tendangan ke arah ulu hati lawan. Tapi serangan ini hanya

mengenai tempat kosong karena Randu Wongso berhasil mengelakkannya

 Dengan penasaran Lestari lepaskan pukulan tangan kosong dengan mengerahkan 

tenaga dalamnya.Randu Wongso juga tak kalah jengkelnya. Dia ingin tahu sampai di 

mana ketinggian ilmu lawan. Serangan Lestari disambutnya dengan pukulan tangan 

kosong pula.

 Dua (arik angin menderu, saling labrak satu sama lain.

 Lestari rasakan tubuhnya bergoyang gontai. Serta merta dia lipat gandakan tenaga 

dalamnya. Namun ternyata tenaga dalam lawan jauh lebih tinggi. Sekali mendorongkan tangan kanannya ke depan maka Lesta ri terjajar ke belakang. Selagi dia 

coba mengimbangi diri Randu Wongso menyergap.

 "Celaka! "seru Lestari dalam hati ketika dilihatnya lawan berhasil merampas suling 

peraknya. Dengan senjata ini Randu Wongso kemudian berusaha menotok pundak sang 

dara. Sekali totokan itu mengena maka akan lumpuhlah sekujur tubuh Lestari. Masih 

untung gadis ini cepat mengelak hingga terhindar dari bahaya.

 Ronggo Bogoseto yang sejak tadi menyaksikan perkelahian kedua orang itu 

dengan berdebar kini mulai was-was apakah Randu Wongso akan mampu menangkap 

sang dara. Sikapnya yang tertawa-tawa cengengesan membuat pemuda ini jadi jengkel.

 ' Randu! Lakukan pekerjaanmu dengan cepat! Kau berhasil merampas senjatanya. 

Masakan menangkapnya saja kau membutuhkan waktu begitu lama! "

 "Aku tahu apa yang aku kerjakan Ronggo!" Randu Wongso kini ber balik nampak 

kesal. Lalu dia menghadapi Lestari kembali. "Gadisku cantik," katanya. "Jika kau mau 

serahkan diri secara baik-baik, aku berjanji tidak akan mencideraimu. Bagaimana . . . ?

Kau tahu pemuda sobatku ini putera orang terpandang, memiliki kekayaan. Jika kau 

ikut dengan dia pasti kau bahagia. . . "

 "Baiklah, aku akan menyerah saja . . . " kata Lestari. "Tapi makan dulu ini! "

 Hampir tak terlihat kapan Lestari menggerakkan tangannya tahu-tahu lusinan senjata 

rahasia berbentuk jarum merah menderu ke arah Randu Wongso!

 "Wah hebat juga senjatamu ini!" memuji Randu

Wongso. "Terpaksa aku memakai suling perakmu untuk menghadapinya!' '

 Randu Wongso sehatkan suling perak milik Lestari yang barusan dirampasnya.

 "Tring . . . tring . . . tring. . .

 Semua senjata rahasia berbentuk jarum ini mental dan luruh ke tanah. Berdebarlah 

Lestari ketika melihat kejadian itu.

 “Manusia keparat ini tinggi sekali ilmunya! "Ada rasa takut di hati sang dara kini. Dia 

menghantam dengan kedua tangannya lalu susul dengan tendangan. Tapi orang yang 

diserang lenyap dari hadapannya.

 "Gadis cantik! Aku di sini! Mengapa menyerang tempat kosong?!" ejek Randu. 

Suaranya datang dari sebelah kanan. Cepat Lestari memukul ke arah ini.

 "Hai! Lagi-lagi kau menyerang tempat kosong. Aku ada di sebelah kirimu! " Kembali 

suara Randu Wongso terdengar dan sekali ini memang datang dari kiri.

 "Setan!" rutuk Lestari. Penasaran gadis ini menghantam ke kiri. Justru di saat itu satu 

totokan tiba-tiba bersarang di punggungnya. Lestari mengeluh pendek. Tubuhnya tak 

bisa digerakkan lagi. Kaku tegang ditempatnya berdiri. Jalan suaranyapun tertutup!

 Randu Wongso melangkah ke hadapan Lestari sambil tertawa gelak-gelak. Ronggo 

Bogoseto pun tak kurang gembiranya. Dia berputar-putar mengelilingi Lestari. Ketika 

berhenti di depan si gadis enak saja dia mencuil dagu Lestari dengan tangan kirinya.

 "Gadis cantik! Akhirnya kau kami ringkus saja! Kalau tadi-tadi kau mau menurut 

secara baik-baik tentu tak begini jadinya. Nah sekarang kau harus ikut aku ke Jember! 

Aku akan sediakan rumah bagus dan tempat tidur mewah untukmu!" Ronggo berpaling

pada Randu. 'Tolong naikkan dia ke bahu kiriku. "

 "Ronggo, tangan kananmu yang patah itu membuatmu sulit memanggul nya meski di 

bahu kiri. Biar aku yang mendukungnya!"

 "Tidak bisa!" sentak Ronggo Bogoseto. Tentu saja pemuda ini tak percaya pada 

lelaki itu.

 "Kau tak usah cemburu padaku sobat Aku tahu kau ingin bersenang-senang dengan 

gadis ini. Tapi kalau kau jadi tambah celaka sebelum sempat melakukannya

apa enak? Candi kediamanku lebih dekat dari sini. Bagaimana kalau kita bawa ke sana 

saja? Nanti baru kau pindah ke Jember. ""Buset! Gadis secantik ini hendak dibawa ketempatmu yang kotor buruk itu Jangan

ngaco Randu!" Gadis ini bukan perempuan sembarangan! Jika dia mau menuruti 

kemauanku aku akan ambil dia jadi istri!' '

 ' WaIah! Jadi aku tidak akan kebagian?! "

 ' Aku tidak suka mendengar ucapanmu itu. Dia milikku sendiri! Kau boleh kembali 

ke Candi dan meneruskan memuaskan nafsumu dengan gadis berkulit hitam manis itu!"

 ' Tapi aturan macam begitu tak ada kita janjikan sebelumnya sobatku! " ujar Randu 

Wongso pula.

 "Sudahlah! Kau jangan bicara melantur terus. Nanti akan kutambahkan uang 

untukmu! "kata Ronggo. Lalu tanpa bantuan Randu Wongso pemuda ini panggul tubuh 

Lestari di bahu kirinya.

 Baru saja tubuh Lestari melintang di bahunya tiba-tiba terdengar satu bentakan.

 "Pemuda keparat! Turunkan gadis itu! "



S E P U L U H

RONGGO terkejut. Rantu tak kalah kagetnya. Seorang pemuda berpakaian putih-putih 

dari balik semak-semak. Di belakangnya mengikuti seeko kuda putih polos tinggi dan 

kekar.

 "Hemm . . . Ronggo siapa manusia ini?" bertanya Randu Wongso tanpa melepaskan 

pandangannya dari pemuda berkuda putih itu.

 "Dia kunyuk yang mengaku sahabat gadisku ini. Hebat benar lagaknya. Seperti gadis 

ini miliknya. Ayo Randu. Menolongku jangan kepalang tanggung. Hajar dia sampai 

mampus!"

 Randu Wongso seorang yang banyak pengalaman. Walau jelas pemuda dihadapannya 

itu tampak sederhana namun dari gerak-geriknya jelas dia membekal ilmu yang tidak 

rendah. Apalagi suara bentakannya tadi begitu keras menggetarkan liang telinga. 

Sebelumnya diapun telah mendengar cerita Ronggo bahwa pemuda ini memiliki ilmu 

pedang yang jauh lebih tinggi dari yang dikuasai ayahnya. Padahal sang ayah bergelar 

Raja Pedang Kotaraja!

 "Orang muda!" tegur Randu Wongso. "Kulihat tampangmu cukup keren. Apa tak 

sayang kalau wajahmu yang cakap itu menjadi cacat seumur hidup? Lebih baik lekas 

angkat kaki dari hadapan kami!"

 Pemuda berkuda putih alias Panji Kenanga menyeringati.

 "Bagusnya kalian berdua berlutut minta ampun. Jika itu kalian lakukan aku bersedia 

membatalkan niatku untuk menghajar kalian berdua!"

 Randu Wongso tertawa gelak-gelak.

 Tiba-tiba dia hentikan tawanya dan berkata.

"Baiklah! Baiklah orang muda. Jika itu maupun aku menurut saja. Aku akan berlutut di 

depanmu. Lihat! "

 Kedua lutut Randu Wongso menekuk. Tubuhnya perlahan-lahan turun ke bawah 

seperti orang yang memang siap berlutut. Namun sesaat sebelum kedua tempurung 

lututnya menyentuh tanah, di dahului oleh bentakan yang menggetarkan Seantero 

belantara, tubuhnya mencelat ke depan. Kaki kanannya kirimkan tendangan keras ke 

dada Panji Kenanga!

 Murid mendiang brahmana Lokapala itu untungnya telah bersiap sedia. Dengan 

sigap dia berkelit ke samping. Tendangan lawan lewat. Randu susul dengan pukulan, 

juga tidak berhasil. Sebagai balasan Panji lepaskan dua jotosan. Satu menghantam ke 

salah satu tempurung lutut, lainnya ke sambungan siku tangan kanan Randu Wongso.

 Serangan balasan itu membuat Randu kaget tapi tak dapat membuatnya jadi kecut. 

Kaki kirinya yang masih menginjak tanah digerakkan sedikit. Gerakan kaki kirinya yang 

masih menginjak tanah digerakkan sedikit Gerakan kaki ini membuat tubuhnya miring 

ke belakang dan meluncur ke bawah. Sekaligus dia berhasil mengelakkan kedua 

serangan balasan Panji Kenanga.

 Si pemuda tahu betul bahwa mengelak dengan cara seperti yang dilakukan Randu 

Wongso adalah sangat berbahaya dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang 

benar-benar berilmu tinggi. Kenyataan ini memberi bukti kepada Panji Kenanga bahwa

Randu Wongso siapapuri adanya, adalah seorang yang berkepandaian tinggi serta 

berbahaya!

 Karenanya begitu Randu Wongso kembali menerjang ke arahnya pemuda ini segera 

menyambut dengan pukulan mega putih.

 Sinar putih keabu-abuan melesat deras, bersiur menghantam ke pertengahan tubuh 

Randu Wongso.Yang diserang kaget bukan main. Dia sama sekali tidak menyangka kalau lawan yang 

masih muda itu memiliki pukulan sakti begitu rupa. Betapapun gesit dan cepatnya dia 

mengelak membuang diri ke samping kanan namun tak urung bahu kirinya kena juga 

disambar oleh sinar pukulan lawan. Masih untung kenanya tidak begitu tepat. Inipun 

sudah cukup membuat Randu Wongso kesakitan setengah mati. Bahu kirinya terasa 

seperti remuk sampai ke dalam.

 Tampang Randu Wongso kelam membesi menahan sakit dan juga oleh amarah yang 

menggelegak. Sebagai jago kelas satu tak pernah dia mengalami hal seperti ini 

sebelumnya. Dihantam lawan hanya dalam beberapa jurus!

 'Pemuda bangsat! Apa yang kau lakukan terhadapku harus kau bayar dengan 

nyawa anjingmu! " menyumpah Randu Wongso. Tangan kanannya dipentang di depan 

dada. Bibirnya bergetar. Mulutnya berkomat-kamit dan sepasang matanya memandang 

kedepan tak berkedip. Panji Kenanga kemudian melihat bagaimana tangan kanan lelaki

itu mulai dari ujung jari sampai ke siku berubah menjadi hitam, makin

hitam dan gelap legam.

 "Pukulan mengandung racun jahat! "kata Panji dalam hati dan bersiap waspada. 

Tiga perempat tenaga dalamnya segera dialirkan ke tangan kanan. Dia menunggu tak 

berkedip.

 Randu Wongso berteriak garang. Tangan kanannya dipukulkan ke arah Panji.

 Murid Brahmana Lokapala itu sertamerta angkat pula tangan kanannya dan 

menghantam sambuti pukulan lawan!

 Dari tangan kanan Randu Wongso menyembur menggulung sinar hitam yang 

menyebarkan bau amat busuk. Dari tangan Panji Kenanga membersit sinar putih 

kelabu yang segera menghantam dan menyapu sinar hitam pukulan lawan. Randu 

Wongso yang sadar kalau lawan memiliki tenaga dalam ampuh yang dapat

menghancurkan sinar hitamnya.segera gerakkan tangan kanan membentuk setengah 

lingkaran. Sinar hitamnya yang hampir musnah dihantam sinar mega putih .Panji

Kenanga menyusup ke bawah dan lolos dari hantaman pukulan lawan. Begitu lolos 

Randu Wongso secepatnya kembali menghantam dengan tangan kanan. Tangan

kirinya juga ikut dipukulkan, mendorong pukulan tangan kanan hingga kekuatannya 

jadi berlipat ganda. Serangan ini sama sekali tidak terduga oleh Panji Kenanga!

 Sinar hitam lawan menghantam dada dan menerjang mukanya. Aneh, tak terasa 

apa-apa seolah-olah sinar pukulan itu hanya merupakan sapuan angin belaka. Namun 

begitu rongga hidung Panji Kenanga mencium bau busuk, yang terkandung dalam sinar, 

mendadak sontak sekujur tubuhnya seperti kaku, tak dapat lagi digerakkan. Bukan itu 

saja, nafasnyapun menyesak. Akhirnya tubuhnya roboh terguling di tanah!

 'Celaka! Tamatlah riwayatku!" keluh Panji Kenanga. Di dalam pemandangannya 

yang menjadi kabur dilihatnya Ronggo Bogoseto sambil memanggul tubuh Lestari 

melangkah kehadapannya.

 Pemuda ini tertawa mengejek.

 "Bangsat! Hanya sampai disitu kehebatanmu! Masih untung aku tak mau 

membunuhmu saat ini! Tapi belum puas hatiku sebelum melakukan sesuatu

terhadapmu!"

 Ronggo gerakkan kaki kanannya. Tendangannya menghantam muka Panji. Murid 

brahmana Lokapala ini merasakan kepalanya seperti meledak. Tubuhnya mencelat 

mental dan dia tak ingat apa-apa lagi.

 "Rasakan olehmu!" kata Ronggo Bogoseto seraya meludahi muka Panji Kenanga. 

Ketika dia hendak melangkah pergi Randu Wongso coba membujuknya kembali.

 ' Bawa saja gadis itu ke candiku."

 "Tadi aku sudah bilang, gadis ini milikku. Kau tak bisa mengaturku Randu!"Ronggo melangkah pergi. Saat itulah dilihatnya kuda putih milik Panji Kenanga. Dari 

pada capai-capai jalan kaki atau berlari ke Jember sambil memanggul tubuh Lestari, 

bukanlah lebih baik memanfaatkan binatang itu. Segera Ronggo mendekati kuda ini dan 

siap naik ke punggungnya. Namun baru saja dia mendekat, kuda putih itu tiba-tiba 

menghentakkan kaki belakangnya dan tepat mengenai pinggul Ronggo hingga pemuda 

ini terpekik kesakitan. Tubuhnya melintir dan jatuh bersama Lestari yang dipanggulnya. 

Kuda putih itu sendiri meringkik keras lalu lari.

 "Binatang keparat!" maki Ronggo sementara Randu Wongso tertawa membabak 

dan melangkah ke arah Lestari untuk menolong gadis itu.

 "Randu! Awas! Jangan sentuh gadis itu. Bukan dia tapi aku yang harus kau tolong 

dulu!" teriak Ronggo Bogoseto ketika dilihatnya Randu Wongso hendak memegang

lengan Lestari.

 Mendengar ucapan Ronggo itu terpaksa Randu membatalkan niatnya menolong 

Lestari. Kini dia membantu Ronggo berdiri.

 "Nasibmu amat sial hari ini, Ronggo. Kudapun berani menyerangmu!"

 "Tutup mulutmu!" tukas Ronggo kesal. Tangan kanannya yang patah terasa sakit. 

Untung saja balutan kain dan kayu penopang lengan itu cukup kuat, kalau tidak patahan 

tulang yang berusaha disambungkan itu akan terbuka kembali. Dengan susah payah dia 

mengangkat tubuh Lestari, lalu berlutut dan menaikkan kembali gadis itu ke bahu 

kirinya.

 "Aku akan ikut kau ke Jember!" Randu Wongo mengambil keputusan.

 "Aku tak butuh kau lagi Randu. Kau boleh kembali ke candimu dan meneruskan 

pekerjaanmu menggeluti tubuh perempuan hitam manis itu!" kata Ronggo yang tak 

senang akan maksud Randu mengikutinya.

 "Sobatku! Apa kau lupa janji yang kau ucapkan? Kau akan memberi tambahan uang 

karena aku telah bantu meringkus gadis itu . . . ' '

 Mendengar kata-kata Randu itu Ronggo jadi jengkel. 'Tahumu hanya uang dan 

perempuan . . . "

 "Eh, apakah ada hal lain yang diperlukan manusia di dunia ini selain uang dan 

perempuan . . . ?" ujar Randu pula.

 Ronggo tak menjawab. Dia juga tak melarang ketika dilihatnya Randu berlari 

mengikutinya.



S E B E L A S

D I LERENG bukit itu terdengar suara siulan membawa lagu tak menentu. Suara 

siulan ini akan aneh terasa jika ada orang lain mendengarkan. Bukan saja karena lagu 

serta irama yang disiulkannya tidak menentu, tetapi suara siulan itu sendiri demikian 

kencangnya hingga mengalahkan deru angin yang bertiup dari barat ke timur.

 Yang bersiul adalah seorang pemuda berpakaian putih dan agak lusuh. Dia 

mengenakan ikat kepala putih dan saat itu sambil bersiul dia berlari cepat menuju

puncak bukit.

 Sampai di puncak bukit dia hentikan lari, berdiri sambil memandang berkeliling. 

Rambutnya yang gondrong menjela bahu melambai-lambai ditiup angin.

 "Sialan.' Tak satu bangunanpun kulihat!' 'pemuda ini memaki pada dirinya sendiri. 

"Di mana sebenarnya letak candi laknat itu . . . ?"

 Pemuda ini menyelidik ke ujung puncak bukit sebelah timur. Dengan penasaran 

sambil garuk-garuk kepala dia kemudian lari ke bagian barat. Tetap saja tak satu 

bangunanpun yang tampak dari tempat itu. Dia lantas berpikir-pikir. Apakah sebaiknya 

dia menuruni bukit itu dan langsung menuju Jember. Mungkin di situ dia bisa 

mendapatkan keterangan tentang letak candi tua tempat kediaman Randu Wongso, 

seorang tokoh silat jahat dan mesum yang sudah lama dicarinya.

 "Tapi kalau sampai di Jember, jauh-jauh aku tak bisa mendapatkan secuil 

keterangan pun, berarti aku harus kembali ke sini!" Pemuda ini kembali garuk-garuk 

kepalanya. "Padahal keterangan yang kudapat candi itu terletak di bukit sialan ini! 

Bagusnya aku menyelidik dulu

 Keputusan yang diambilnya ternyata tidak sia-sia. Setelah menyelidik hampir 

sepenanakan nasi, candi yang dicarinya itu akhirnya ditemuinya di lereng bukit sebelah 

timur, terletak di balik lindungan pohon-pohon besar.

 Pemuda ini tidak segera memasuki candi. Dia memutari bangunan tua itu beberapa 

kali sambil memasang mata dan telinga. Tak ada terdengar suara apa-apa, juga 

takkelihatan tanda-tanda ada orang di dalam sana.

 "Jangan-jangan bangsat itu tak ada di sini," menduga si pemuda dalam hati. Setelah 

mengelilingi candi itu sekali lagi, dia melangkah ke bagian depan candi dan langsung 

masuk ke dalam bangunan tua ini.

 Sepi. Tapi di sudut candi sebelah sana dilihatnya sebuah lampu minyak menyala, 

hampir padam karena minyaknya tinggal sedikit.

 Lampu itu . . . " desis si pemuda. Baginya ini berarti si penghuni candi tua tersebut tak 

ada di situ. Pergi tanpa mematikan lampu. Dan perginya pasti sudah lama. Paling tidak 

sejak malam tadi.

 "Sialan! Aku tunggu saja di luar. Kalau sampai sore dia tak muncul baru aku ke 

Jember. . . "

 Ketika hendak melangkah meninggalkan bangunan itu tiba-tiba telinganya 

menangkap suara seperti tarikan nafas. Suara ini datang dari balik tumpukan

balok-balok kayu. Sekali lompat saja dia sudah berada di atas tumpukan balok itu. 

Memandang ke bawah berubahlah paras pemuda ini.

 Di sana, di atas lantai candi yang beralaskan tikar jerami butut terbaring sosok tubuh 

perempuan muda tanpa pakaian. Kedua matanya terpejam, tubuhnya tak bergerak, 

dadanya turun naik sedang wajahnya membayangkan seperti menahan rasa sakit yang 

amat sangat. Sebagai seorang lelaki pemandangan itu mau tak mau membuat darahnya 

jadi panas juga. Apalagi perempuan itu memiliki tubuh yang sekal dengan sepasang 

payu dara yang besar kencang. Pada kedua payudara itu tampak tanda-tanda merah 

seperti bekas gigitan. Walaupun terangsang namun rasa kasihan lebih mempengaruhihati si pemuda. Dia turun dari atas balon kayu, melangkah ke sudut ruangan. Di sini

dilihatnya gulungan pakaian perempuan. Diambilnya pakaian itu lalu ditutupkannya ke 

tubuh yang terbaring itu.

 Merasakan ada sesuatu diletakkan di atas auratnya, perempuan itu buka kedua 

matanya. Mata itu kuyu sekali. Tiba-tiba membesar sesaat, seperti ketakutan, lalu kuyu 

kembali. i

 "Jangan takut. Aku tak akan menyakitimu. Aku ingin menolong . . . " berkata si 

pemuda.

 “Ha .. . haus . . . Aku . . . minum . . . " lapat lapat terdengar suara keluar dari sela 

bibir perempuan muda itu.

 ' Air, di mana akan kudapat air di tempat ini. . . ?" Pemuda itu memandang berkeliling. 

Dilihatnya sebuah kendi. Diambilnya dan diguncangnya. Terdengar suara air di dalam 

kendi itu. Segera pemuda ini berlutut dan menempelkan bibir kendi ke bibir perempuan 

itu. Setelah minum beberapa teguk dengan susah payah wajahnya tampak agak 

segaran. Pemuda itu menunggu beberapa ketika lalu berkata.

 "Kalau kau bisa bicara, katakan apa yang terjadi..."

 "Kau . . . kau . . . siapa ?"

 'Namaku Wiro Sableng. Kau tak usah takut. . . "

 ' Kalau bukannya orang jahat? Atau kawan lelaki yang memperkosaku tadi malam? ”

 "Siapa yang memperkosamu . . . ?"

 "Ada dua orang. . . "

 "Ya, dua orang. Siapa mereka?"

 "Aku tidak kenal. Aku tidak ingat. . . "

 "Kau harus ingat. Kalau tidak bagaimana aku bisa menolongmu. . . "

 "Kepalaku sakit. Sekujur badanku sakit . . . "

Perempuan itu meraba wajahnya, lalu meraba dada dan badannya. Kemudian dia mulai 

terisak menangis.

 Si pemuda yakni murid Eyang Sinto Gendong menggigit bibir den garuk-garuk 

kepala.

 "Kau mau minum lagi?" tanyanya kemudian.

 Yang ditanya mengangguk. Wiro memberinya beberapa teguk lagi air kendi yang 

sejuk itu. .

 "Siapa namamu . . . "

 "Warsih. . . "

 Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan sebutir obat. Obat ini diminumkannya pada 

perempuan itu. Lalu katanya: "Warsih, kau harus bisa mengingat siapa mereka itu. 

Paling tidak keduanya satu sama lain tentu saling memanggil nama . . . "

 "Sulit sekali mengingatnya. Mereka.... Tunggu . . . Kudengar yang datang belakangan 

itu menyebut satu nama. Randu . . . ya Randu . . . "

 "Bagus, kau ingat kini Warsih. Lalu siapa nama yang satu lagi?

 Perempuan itu pejamkan mata mengingat-ingat.

 "Ronggo . . . " katanya kemudian sambil membuka mata.”

 "Di mana kedua orang itu sekarang ...T'

 "Pergi..."

 "Kau tahu pergi ke mana . . ?" tanya Wiro lagi. "Dan kapan mereka pergi. . . "

 "Tadi malam. Ke mana mereka pergi aku tidak tahu..."

 "Orang yang bernama Randu itu yang membawamu ke tempat ini?"

 "Ya . . . Aku diculiknya dari desa . . . ""Di mana desamu?"

 "Paritwangi."

 "Aku akan tolong kau kembali ke desa itu."

 "Tidak, aku tak mau kembali. Memalukan kembali ke rumah. Semua orang desa akan 

tahu apa yang terjadi. Aku ingin mati saja. Lebih baik mati!"

 "Jangan berpikiran pendek begitu. Yang mati kalau bisa ingin hidup . . . "

 "Tapi hidup dengan menanggung malu besar begini siapa sudi. Apalagi kalau 

sempat aku hamil . . . " Perempuan itu kembali menangis.

 "Dengar Warsih. Kau harus hidup. Paling tidak untuk melihat atau mengetahui bahwa 

manusia bernama Randu serta kawannya yang bernama Ronggo itu telah menerima 

pembalasan atas dosa-dosanya . . . " kata Wiro pula.

 "Pembalasan . . . Siapa yang akan membalaskan kejahatan terkutuk mereka? Sejak 

dulu pejabat-pejabat kadipaten tak ada yang turun tangan. Manusia bernama Randu itu 

pasti telah sering melakukan perbuatan keji ini!" '

 "Aku sudah bilang, aku akan menolongmu. Aku memang sudah lama mencari 

manusia bernama Randu itu..."

 "Kalau begitu kau temannya . . . " .

 "Bukan. Justru aku mau menghajarnya. Kini menyaksikan penderitaanmu aku 

bersumpah untuk menghajar manusia itu sampai mati . . . Sekarang, kalau kau sudah 

cukup kuat berdirilah. Kenakan pakaian mu kembali. Kita sama-sama ke Paritwangi."

 Wiro lalu tinggalkan tempat itu untuk memberi kesempatan pada Warsih berpakaian.

 Tetapi baru saja dia berada di balik tumpukanbalok, mendadak didengarnya satu suara 

benturan,disusul oleh suara jatuhnya sesosok tubuh ke lantai.

Pendekar 212 melompat ke balik tumpukan balok.Namun terlambat. Di lantai dilihatnya tubuh 

Warsih— masih belum berpakaian — terkapar dengan kepala rengkah bedarah. Perempuan 

malang ini memutuskan lebih baik mati dari pada hidup menanggung aib. Dia telah 

membenturkan kepalanya sendiri ke dinding candi! v

 Wiro tertegun beberapa saat. Mayat Warsih ditutupnya dengan tikar jerami. Tak ada 

kesempatan baginya untuk mengurusi jenazah itu. Cepat-cepat pendekar ini tinggalkan candi.


D U A B E L A S

PENDEKAR 212 Wiro Sableng tak dapat memastikan berapa jauh dia telah 

meninggalkan candi kediaman Randu Wongso ketika tiba-tiba dia mendengar suara 

ringkikan kuda. Wiro segera lari ke jurusan datangnya suara binatang ini.

 Di tepi sebuah telaga berair jernih tampak seekor kuda putih polos tegak tak bisa diam 

dan meringkik terus menerus. Di bagian lain dari telaga kelihatan bekas perapian.

 Murid eyang Sinto Gendeng ini berpikir-pikir. Sebetulnya dia merasa pasti pernah 

melihat kuda putih itu. Tapi di mana dan kuda milik siapa? Tiba-tiba pendekar ini tepuk 

keningnya. Dia ingat. Binatang itu adalah milik Panji Kenanga, murid brahmana 

Lokapala dari gunung Raung. Bersama pemuda itu dulu dia menghancurkan Istana 

Darah. Kalau dia tidak salah ingat, kuda ini bernama Angin Salju.

 Jika Angin Salju ada di situ pasti Panji Kenanga juga ada di tempat itu. Sambil 

memandang berkeliling Wiro melangkah mendekati Angin Salju. Binatang ini

masih terus meringkik. Ketika didekati dia merundukkan kepala dan men g geser-

geserkan lehernya yang berbulu tebal ke bahu Pendekar 212.

 "Tenang sobat. Kau tampak gelisah. Mana tuanmu?" kata Wiro sambil mengelus-

elus leher Angin Salju.

 Binatang itu memutar-mutarkan ekornya. Kedua kakinya diangkat tinggi-tinggi dan 

kembali dia meringkik. Wiro menyelidik lagi berkeliling. Tak ada tanda-tanda adanya 

Panji Kenangan di situ. Ini satu hal yang mengherankan.

 Tingkah laku Angin Salju membawa firasat yang tidak enak bagi pendekar itu. Dia 

memandang ke tengah telaga. Apakah Panji tenggelam?

 . "Sesuatu telah terjadi dengan majikan binatang ini," pikir Wiro.

 Tiba-tiba Angin Salju meringkik keras. Lalu berputar dan lari meninggalkan telaga. 

Wiro Sableng segera mengikuti binatang ini. Kuda putih itu lari masuk ke dalam hutan. 

Makin dalam dan makin jauh. Di satu tempat dia jatuhkan diri, melosoh ke tanah. Tepat

dekat sesosok tubuh yang menggeletak tak bergerak.

 Sekali lompat saja Wiro sudah berada dekat sosok tubuh itu. Ketika ditelitinya 

terkejutlah pemuda ini.

 "Panji Kenanga!" desisnya. Didukungnya pemuda itu dan dipindahkannya ke tempat 

yang lebih baik.

 Muka Panji Kenanga penuh oleh darah yang hampir mengering. Darah itu tampaknya 

mengucur keluar dari hidung. Salah satu pipinya bengkak membiru. Mungkin bekas 

pukulan keras. Dari sela bibir membuih cairan hitam, Wiro mendekatkan hidungnya ke 

cairan itu. Ada bau aneh. Dirabanya tubuh Panji Kenanga. Terasa tegang. Tapi bukan 

tegang karena totokan.

 "Dia keracunan . . . " ujar Wiro memastikan. Apa yang terjadi? Wiro meneliti 

keadaan sekitar tempat itu. Jelas terlihat tanda-tanda perkelahian. Setahunya Panji 

Kenanga memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi. Jika dia dapat dikalahkan dan berada 

dalam keadaan seperti ini pasti lawannya jauh lebih hebat. Bukan mustahil dia 

dikeroyok.

 Wiro pegang per gel angan tangan kiri Panji Kenanga. Masih ada denyutan walaupun 

sangat perlahan. Dengan pengetahuan ilmu pengobatan yang dimilikinya murid Sinto 

Gendeng itu segera menotok tubuh Panji Kenanga di beberapa bagian. Adapun racun 

yang menyerap dalam tubuh pemuda itu harus cepat-cepat dikeluarkan. Jika sampai 

terlambat nyawanya tak akan tertolong lagi.

Dengan sehelai daun keladi hutan Wiro menampung air telaga. Air ini dicampurnya 

dengan sejenis bubuk obat yang selalu dibawanya di balik pakaian. Setelah diaduk, 

cairan obat itu sedikit demi sedikit dituangkannya ke mulut Panji Kenanga. Sesudah 

menunggu beberapa saat Wiro lantas keluarkan Kapak Naga Gen i 212. Mata kapak 

ditempelkannya pada kedua ujung telapak kaki Panji Kenanga.

 Sambil mengalirkan tenaga dalamnya Wiro mengusapi tubuh Panji dengan mata 

kapak. Mulai dari kaki, betis, paha, keperut, ke dada, lalu tenggorokan. Ketika mata kapak 

menyentuh mulut, dari mulut Panji Kenanga mengalir cairan hitam banyak sekali. Wiro

menekan perut dan dada pemuda ini. Cairan hitam makin banyak keluar. Wiro baru 

berhenti menekan setelah tak ada lagi cairan hitam yang keluar.

 Tak lama kemudian kelihatan kepala Panji Kenanga bergerak. Kedua matanya 

terbuka, tampak kuyu. Lama dia memandang ke langit, ke arah cabang-cabang pohon 

dan dedaunan yang rapat. Kemudian matanya beralih memandang Wiro.

 "Di . . . dimana aku . . . Sakitnya kepala ini . . .Kau ... . kau siapa?" kata-kata itu 

meluncur dari mulut Panji Kenanga.

 "Aku sobat lamamu. Panji. Aku Wiro Sableng," menyahuti murid Sinto Gendeng.

 Panji Kenanga menatap Pendekar 212 lama sekali.

Sesaat setelah pandangannya mulai jelas dan jalan pikirannya menjadi jernih, perlahan-

lahan pemuda itu anggukkan kepala dan kedipkan matanya.

 "Ya . . . aku ingat kau. Apa yang terjadi dengan diriku . . . ?" Panji meraba mukanya 

lalu memperhatikan tangannya. "Darah . . . " desisnya kemudian. Dia mencoba bangkit. 

Tetapi terbaring kembali. Tubuhnya terasa lemas seolah-olah tidak bertulang.

 "Tenang dan berbaring sajalah . . . " kata Wiro Sableng. "Kau telah melewati saat-

saat gawat . . . "

 "Bagaimana kau bisa muncul dr sini. Apakah . . apakah aku akan menemui ajal 

seandainya kau tidak datang? Kau pasti menolongku . . . "

 "Soal nyawa adalah urusan Tuhan. Hanya manusia tidak boleh terima nasib begitu 

saja. Harus berusaha. Aku tengah mencari sarang mesum manusia dajal bernama 

Randu Wongso. Candinya kudapati dalam keadaan kosong. . . "

 "Ah! Kita berurusan dengan manusia yang sama. . . " ujar Panji Kenanga. Kini 

dikumpulkannya seluruh tenaganya. Dengan susah payah dia mencoba bangun. Wiro 

membantu dan menyandarkannya kebatang pohon kelapa pendek. "Wiro . . kau 

tahu.

Manusia dajal bernama Randu Wongso itu ikut membantu Ronggo Bogoseto menculik 

Lestari. . . "

 Terkejutlah Pendekar 212 Wiro Sableng. Dadanya bergetar. Lestari! Dara yang suka 

berbaju merah itu, yang dulu pernah diselamatkannya dan kini ternyata diculik orang!

Hampir dua tahun dia tidak pernah bertemu dengan dara jelita itu.

 Dalam kehidupannya Wiro telah menemui banyak sekali gadis-gadis cantik. Namun 

entah mengapa dara yang satu ini begitu menarik perhatiannya, tak pernah bisa pupus 

dari ingatannya. Berkali-kali timbul hasrat dalam hatinya untuk menyambangi Lestari di 

tempat kediaman gurunya, tetapi hal itu tak pernah dilakukannya karena merasa malu. 

Gila! Biasanya dia selalu bersikap berani terhadap setiap gadis atau perempuan yang 

ditemuinya. Hanya pada yang satu ini dia seperti merasa takut. Bukan, bukan takut tetapi 

mati kutu! Rasanya dia melakukan apa saja yang dikatakan gadis itu! Tak dapat 

dipungkirinya bahwa dia telah terpikat pada Lestari. Diam-diam ada rasa kawatir dalam 

dirinya akan kehilangan gadis itu.

 Dan kini didengarnya dari Panji Kenanga gadis itu diculik oleh seseorang, dibantu 

oleh Randu Wongso, tokoh silat yang terkenal sebagai tokoh cabul bejat. Lestari berada 

dalam keadaan bahaya. Jika dia sampai diapa-apakan hancurlah masa depannya..

 "Siapa Ronggo Bogoseto itu?" tanya Wiro.

"Seorang pemuda brengsek, putera bekas perwira tinggi kerajaan yang tinggal di 

Jember . . . "Dia memiliki jlmu pedang yang tinggi tetapi tidak punya dasar ilmu silat 

yang dapat diandalkan . . . "

 "Kau tahu ke mana kira-kira Lestari dilarikan?"

 "Tak dapat kupastikan. Mungkin ke Jember atau candi tua di sebuah lereng bukit. . . " 

"Aku sudah menyelidik ke candi itu. Kosong . . . " Wiro tidak menceritakan pertemuannya 

dengan Warsih yang malang.

 "Kalau begitu pasti Lestari dibawa ke Jember. Tidak sulit mencari rumah bekas 

perwira tinggi itu. Semua orang di Jember pasti tahu letak rumahnya."

 "Kalau begitu aku harus ke sana saat ini juga. Hanya, bagaimana dengan kau . . . ?"

 "Tak usah pikirkan diriku!" ujar Panji Kenanga.

 "Yang penting selamatkan gadis itu dari bencana. Demi Tuhan aku harus berterus 

terang padamu Wiro. Aku mencintai Lestari. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan dirinya. 

Tolong selamatkan dia. Jasamu tak akan ku lupakan dunia akhirat!"

 "Aku mencintai Lestari!"

 "Tiga rangkai kata itu mengiang lama di kedua telinga Wiro Sableng. Dadanya terasa 

menyesak. Jika Panji Kenanga mencintai Lestari, apakah Lestari juga mencintai pemuda 

ini?

 "Katamu kau mencintai Lestari, Panji?" Wiro bertanya ingin menegaskan.

 " Y a . . . " 1

 "Apakah Lestari juga mencintaimu?" tanya Wiro lagi.

 "Aku tidak tahu. Tak pernah hal itu dikatakannya. Tapi aku yakin dia juga 

menyayangiku. Aku bisa melihat dari gerak-geriknya . . . "

 Wiro merasa dadanya makin sesak. Dia terduduk disamping Panji. Untuk sesaat tak 

bisa berkata apa-apa. "Pemuda ini tidak tahu kalau akupun mencintai gadis itu."

 "Wiro, tolong. Selamatkan Lestari," terdengar suara Panji Kenanga. "Jika terjadi apa-

apa dengan diri-nya, rasanya tak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini..."

 "Sahabatku Panji Kenanga . . . " sahut Wiro. Suaranya kali ini agak bergetar 

karena menahan gejolak dalam dadanya. "Kau benar-benar mencintai gadis itu. 

Maksudku dengan cinta murni, dengan setulus jiwa ragamu . . . ?"

 "Demi dia aku rela menyerahkan jiwa ragaku, Wiro. Aku bersumpah jika memang itu 

baru dapat membuatmu percaya. . . "

 Perlahan-lahan Wiro berdiri. Lututnya terasa goyah. Tak terpikir lagi olehnya saat itu 

bagaimana Panji Kenanga dan Lestari bertemu di tempat itu. Tak tertanyakan lagi 

bagaimana Panji dan Lestari sampai bentrokan dengan Randu Wongso dan pemuda

bernama Ronggo Bogoseto itu.

 "Pergilah Wiro. Kau harus bertindak cepat!" kata Panji Kenanga yang tak dapat 

membaca apa sebenarnya terjadi dalam diri pemuda yang tegak seperti linglung di 

hadapannya itu.

 "Baik! Tentu Panji! Aku segera pergi. Semoga aku tidak terlambat. Kau terpaksa 

kutinggalkan di sini. Hati-hatilah . . . "

 Semua kata-kata itu diucapkan Wiro dengan peraaan bergalau.

 Dia ingin menyelamatkan Lestari. Bukan karena permintaan yang disampaikan Panji 

Kenanga. Tetapi karena diapun ingin melihat gadis itu selamat. Karena diapun 

mencintai Lestari. Tetapi Panji Kenangapun mencintai gadis itu. Bagaimana kalau 

kemudian diapun mengetahui bahwa Lestari mencintai Panji? Akan sanggupkah dia 

menghadapi kenyataan itu?!

 Jika dia mengikuti bisikan setan yang mulai merasuk hatinya, maulah dia saat itu 

mencelakakan Panji Kenanga. Mungkin juga membunuhnya. Namun sebagai seorangpendekar berjiwa besar pantaskah hal itu dilakukannya? Kalaupun dia berhasil 

mendapatkan Lestari lalu kemudian mengetahui bahwa gadis itu tidak mencintainya, 

apakah jadinya kelak kehidupan mereka?

 "Wiro! Kau melamun!" seru Panji Kenanga yang sudah tidak sabaran.

 "Ti... tidak! Aku segera pergi Panji!" sahut Wiro. Lalu segera ditinggalkannya tempat 

itu, lari secepat yang bisa dilakukannya menuju Jember.



T I G A B E L A S

SEPERTI yang dikatakan Panji Kenanga memang tidak sukar bagi Wiro Sableng untuk

mencari gedung kedi akan Ronggo Bogoseto. Sekali bertanya saja dengan mudah dia 

menemukan gedung itu, terletak tak berapa jauh dari pusat keramaian kota. Bagian 

depan rumah besar yang berhalaman luas ini dibatasi dengan pagar besi berwarna 

hitam.

 Seluruh halaman ditumbuhi rumput dan aneka ragam bunga. Di sebelah tengah 

terlihat sebuah kolam dengan hiasan patung perempuan setengah telanjang memegang 

dua ekor burung merpati.

 Di samping bangunan besar megah itu terdapat sebuah gedung kecil beratap merah. 

Tepat di depan gedung besar behenti dua buah kereta. Suasana di tempat itu tampak 

sunyi-sunyi saja. Lewat pintu halaman yang tidak dikunci Wiro Sableng masuk ke

dalam. Ketika dia sampai di dekat dua buah kereta, muncullah seorang lelaki tua.

 "Bapak, siapakah raden Ronggo ada di rumah?" tanya Wiro.

 "Anak muda, kau siapakah . . .'?" tanya orangtua itu. Nada suaranya tidak 

menunjukkan kecurigaan.

 "Saya sahabat raden Ronggo," sahut Wiro berdusta.

 "Ah, kalau begitu kau pergilah ke gedung kecil sebelah sana. Itu tempat kediaman 

raden Ronggo."

 Wiro tersenyum lalu malangkah tanpa terburu-buru agar tidak menimbulkan 

kecurigaan. Seperti di rumah besar, gedung kecil inipun tampak sunyi. Dia tegak 

meneliti sesaat. Terkadang kesunyian bisa menipu seseorang. Matanya yang tajam 

melihat pintu depan gedung kecil itu tidak dikunci, hanya ditutupkan dan itupun tidak 

rapat. Lewat celah pintu, ketika Wiro mendekat dia melihat seorang lelaki bertubuh tinggi

kurus melangkah mundar mandir di ruangan depan. Sikapnya jelas menunjukkan 

ketidak sabaran. Dan ternyata orang ini memiliki pendengaran tajam.

 Begitu Wiro sampai di langkan gedung, dia memburu ke pintu dan keluar seraya 

membentak.

 "Siapa kau?!"

 Melihat pada pakaian yang terbuat dari jenis murahan, air muka yang kusam serta 

sikap yang kasar Wiro segera menduga orang ini bukan penghuni gedung itu, jadi bukan 

Ronggo Bogoseto. Tampaknya diapun bukan penjaga atau pengawal gedung. Tetapi 

mengapa sikapnya begini galak. Atau apakah ini ayah Ronggo yang berjuluk Raja 

Pedang Kotaraja itu? Tak bisa jadi. Wiro segera mengatur siasat.

 Murid Sinto Gendeng itu cepat menjura lalu ber- kata: "Aku ingin bertemu dengan 

Ronggo Bogoseto

 "Hmm, Katakan dulu siapa kau!' '

 "Aku sahabat lamanya. . . "

 "Dia tak ada di rumah. Sedang keluar!' '

 Wiro garuk kepalanya. "Lelaki tua di luar sana bilang Ronggo ada di sini. Aku datang 

dari jauh. Ada urusan penting. Tolong beritakan padanya.' '

 'Tidak mungkin . . . " kata lelaki tinggi kurus yang bukan lain adalah Randu Wongso.

 "Kalau kedatanganku tidak diberitahu, aku kawatir dia nanti akan marah, ini 

menyangkut urusan yang benar-benar penting," ujar Wiro.

 ' Justru Ronggo saat ini sedang ada urusan. Tak bisa diganggu oleh siapapun!"

 "Kalau begitu biarlah aku menunggu sampai urusannya selesai," kata Wiro pula. Lalu 

seperti tak acuh enak saja dia hendak menyelinap masuk ke dalam gedung."Eit! Orang muda! Jangan bertindak lancang seenakmu!" bentak Randu Wongso.

 "Lancang'bagaimana?" tanya Wiro lagi-lagi sambil garuk kepala.

 "Meski kau mengaku kawan Ronggo Bogoseto, tapi kalau mau menunggu bukan di 

sini tempatnya. Di sana, di luar pagar halaman! "

 "Ah, di luar sana panas sekali. Bagaimana kalau aku menunggu di langkan sini 

saja?!"

 "Kurang ajar! Kau berani membantah perintahku .Mau kupuntir kepalamu . ?!"ancam

Randu

 "Jangan! Jangan sobat. Jangan galak begitu . . . " Wiro pura-pura ketakutan.

 Randu Wongso menyeringai.

 "Kalau tak ingin kupuntir kepalamu lekas pergi!"

 "Baik, tapi dengan siapakah sebenarnya aku yang bodoh ini berhadapan?"

 Yang ditanya tertawa lebar dan menjawab sambil berkacak pinggang.

 "Apa kau tak pernah mendengar nama Randu Wongso? Tokoh silat kelas satu yang 

ditakuti di delapan penjuru Jawa Timur?!"

 "Ah! Inilah dia keparat yang kucari-cari!" kata Wiro dalam hati. Tubuhnya bergetar. 

Jika diturutkannya hawa amarah yang merangsak dirinya saat itu maulah dia menghajar 

Randu Wongso detik itu juga. Namun tujuan utamanya datang ke situ adalah untuk

menyelamatkan Lestari. Dan kini dia yakin gadis itu pasti berada di gedung kecil itu, 

berada dalam sekapan Ronggo Bogoseto di bawah pengawalan si keparat ini!

 "Aduh! Tak kusangka hari ini aku dapat berhadapan dengan tokoh yang sangat 

terkenal ini. Harap maafkan kalau aku tadi berlaku kurang hormat," kata Wiro lalu 

menjura sampai beberapa kali. Padahal dalam hati dia menyumpah setengah mati!

 "Nah, kalau sudah tahu siapa aku, lekas minggat. Tunggu di luar pagar sana!"

 "Baik . . . baik . . . ," kata Wiro. Sekali lagi dia menjura. Tetapi gerakannya kali ini 

bukan gerakan menghormat sembarangan. Sambil merunduk tangan kanannya 

menyusup ke depan dengan dua jari terpentang lurus.

 Randu Wongso tak sempat keluarkan seruan. Urat besar dipangkal lehernya 

sebelah kanan telah ditotok pemuda yang mengaku sahabat Ronggo Bogoseto itu. 

Kontan detik itu juga Randu Wongso tak dapat bergerak lagi, juga tak bisa bersuara. 

Kedua matanya membeliak. Seumur hidupnya baru hari itu dia bisa dibokong orang 

secara berhadap-hadapan. Seribu caci maki kutuk serapah menggeru-geru dalam dada

lelaki ini.

 Sambil tersenyum dan tepuk-tepuk pipi Randu Wongso, Pendekar 212 Wiro Sableng 

berkata.

 "Monyet jangkung, sebetulnya ingin sekali aku mematahkan lehermu saat ini. 

Kejahatanmu sudah lewat takaran. Kebejatanmu sudah selangit tembus. Tapi biar 

kuberikan kesempatan beberapa saat lagi bagimu untuk bernafas. . . "

 Dengan ujung jari tangan kanannya yang dialiri tenaga dalam tinggi serta hawa amat 

panas, Wiro menggurat tiga buah angka di kening Randu Wongso: 212. Lelaki ini 

merasa seperti ditoreh dengan besi panas. Kalau saja dia tidak ditotok saat itu pastilah 

dia akan mengeluarkan jerit kesakitan luar biasa. Dalam hatinya dia bersumpah: 

'Pemuda haram jadah! Kelak kau bakal kucincang. Lalu kubakar!"

 "Randu! Sekarang kaulah yang harus menunggu di luar pagar sana!"

 Habis berkata begitu enak saja Wiro jambak rambut Randu Wongso dan seret lelaki 

itu ke luar pagar.

 'Tubuhmu bau! Pakaianmu kumal! Kau lebih layak berada di sini! "ujar Wiro lalu 

hempaskan Randu Wongso ke tepi jalan yang panas dan berdebu. Kemudian dia segera 

masuk ke dalam gedung kecil kembali. Setelah melewati ruangan depan dan ruangantengah yang penuh dengan berbagai macam perabotan dan lemari pajangan, Wiro 

sampai di sebuah ruangan di mana berderet beberapa kamar dengan pintu dalam

keadaan tertutup. Di dalam kamar yang mana Lestari disekap? Dia melangkah 

perlahan-iahan, memasang telinga serta mata. Di hadapan pintu ke empat deretan

sebelah kiri pendekar ini hentikan langkah. Dari balik pintu jelas terdengar suara berisik. 

Wiro tempelkan telinganya ke daun pintu. Setelah merasa pasti maka sekali tendang 

pintu yang terbuat dari kayu jati itu hancur berantakan. Secepat kilat Wiro melompat 

masuk ke dalam kamar.

 Apa yang diperkirakannya tidak meleset.

 Di atas sebuah tempat tidur besar bekelambu biru muda berseperai putih serta 

penuh keharuman tampak seorang pemuda bermuka pucat yang tangan kanannya 

dibalut, dan hanya mengenakan celana dalam tengah menggeluti sesosok tubuh 

perempuan yang saat itu berada dalam keadaan tak berdaya dan tidak mengenakan 

pakaian atau penutup apapun.

 "Manusia keparat haram jadah!" teriak Wiro Sableng menggelegar. Dia menerjang ke 

atas tempat tidur.

 "Wiro!" jerit Lestari. Namun jeritan itu tependam di tenggorokannya karena sampai 

saat itu tubuhnya masih tertotok, membuat dia tak bisa bergerak ataupun bersuara.

 Sejak hancurnya pintu kamar kaget Ronggo bukan kepalang. Apalagi ketika melihat 

seseorang melompat ke atas tempat tidur. Tapi karena merasa berada di rumah sendiri 

ditambah di luar sana ada Randu Wongso maka dengan marah pemuda ini membentak.

 ' Bangsat! Maling atau pencuri kau?!"

 "Aku memang maling yang hendak mencuri nyawamu!" teriak Wiro.

 Kaki kanannya menyambar ke depan, tepat pada saat Ronggo mencoba berdiri. 

Pahanya tepat dihantam tendangan. Terdengar suara krak! Dibarengi jerit kesakitan 

dan mentalnya tubuh pemuda bermuka pucat itu!

 Seperti diketahui Ronggo Bogoseto meski memiliki ilmu pedang yang tangguh 

namun tidak mempunyai dasar ilmu silat yang bisa diandalkan. Apalagi saat itu dia 

diselimuti rasa terkejut hingga sama sekali tak mampu membuat gerakan mengelak. Dia 

terbanting ke lantai. Ketakutan setengah mati dia menggulingkan diri ke pintu kamar 

sambil berteriak.

 "Randu! Randu! Tolong . . . !" Tak ada jawaban,

 Ronggo Bogoseto berdiri dengan susah payah. Baru saja dia setengah

membungkuk, satu cengkeraman mencengkam lehernya dari belakang. Cekikan itu

makin keras, makin keras. Ronggo Bogoseto tak dapat bernafas. Matanya mendelik, 

lidahnya menjulur dan ludah membuih keluar dari mulutnya.

 Tiba-tiba dengan sekuat tenaga Wiro hantamkan muka pemuda itu ke dinding kamar.

 Prak!

 Darah muncrat.

 Muka Ronggo Bogoseto remuk. Batok kepalanya rengkah. Nyawanya lepas sebelum 

tubuhnya mencium lantai.

 Wiro tutup tubuh Lestari dengan seperai lalu lepaskan totokan di tubuh gadis itu. Dia 

kemudian menghindar ke pintu seraya membelakangi dan berkata: "Lekas cari dan 

kenakanan pakaianmu. Kita harus segera pergi dari sini!"

 Lestari menemukan pakaian merahnya di ujung kaki tempat tidur dan segera 

mengenakannya.

 "Bagaimana kau tahu aku ada di sini Wiro?" tanya Lestari.

Ingin sekali dia menjatuhkan tubuhnya ke dada pemuda itu, memeluk bahkan 

menciumnya sebagai pernyataan terima kasih karena telah menyelamatkan diri dan

kehormatannya. Namun sekejap bayangan wajah Panji Kenanga muncul. Maksud si 

gadis tertahan.

 "Nanti saja kuterangkan. Kita harus pergi. Mari!" sahut Wiro lalu mendahului menuju 

keluar.

 Di luar pagar di tepi jalan tampak beberapa orang mengerumuni Randu Wongso yang 

terkapar di tanah.

 'Orang ini gagu dan lumpuh!" seseorang berkata.

 Lelaki disampingnya menyahuti: "Kurasa dia bukan lumpuh. Tapi ditotok. Kalau tak 

salah dia kawannya Ronggo . . . "

 "Kalau begitu beri tahu pada pemuda itu apa yang terjadi!" kata yang lain.

 Baru saja mereka ramai-ramai bicara begitu sesosok bayangan putih dan merah 

berkelebat. Empat orang terpelanting. Ada yang berseru kaget. Ketika memandang ke 

depan mereka lihat sosok tubuh Randu Wongso telah dibawa lari oleh seorang lelaki 

berpakaian putih. Di belakangnya mengikuti seorang perempuan berpakaian merah.


E M P A T B E L A S

 WIRO SABLENG membawa Randu Wongso ke candi tua tempat kediamannya di 

mana sosok tubuh Warsih masih terkapar tak bernyawa akibat bunuh diri karena tak 

sanggup hidup menanggung malu setelah diperkosa oleh manusia bejat itu.

 "Wiro, aku ingin membunuh keparat ini sekarang juga! Ketika melarikanku ke 

Jember, sepanjang perjalanan dia berlaku kurang ajar! "berkata Lestari begitu Wiro 

melemparkan tubuh Randu Wongso ke lantai candi.

 "Sabar Lestari. Jangan berikan kematian terlalu enak padanya. Kita harus mengatur 

kematian paling bagus hingga dia benar-benar merasakan pembalasan atas segala 

dosa-dosanya. Kau tunggu dulu di sini."

 "Kau mau ke mana?"

 Wiro menerangkan pertemuannya dengan Panji Kenanga.

 "Aku akan bawa pemuda itu kemari. Kau bisa merawat luka-lukanya . . . "

 Sesaat Wiro melihat wajah Lestari tiba-tiba menjadi merah. Namun dia pura-pura tidak 

tahu malah berkata: "Dia mencintaimu Lestari. Kurasa kau juga sudah tahu. Kau harus 

merawatnya baik-baik hingga cepat sembuh. . . "

 "Wiro, ada sesuatu yang perlu kujelaskan. Yaitu mengapa aku mengadakah perjalanan 

ini. . . "

 "Itu bisa kau terangkan jika Panji sudah ada di sini nanti. Dia sudah terlalu lama 

kutinggalkan. Aku kawatir keadaannya akan lebih parah kalau tidak lekas

ditolong."

 Lestari hendak bertanya lagi. Tapi Wiro sudah berkelebat pergi.-"Heran, bagaimana 

dia tahu kalau Panji mencintaiku . . . ?" membatin Lestari. "Apakah dia sudah tahu kalau 

antara aku dan dia ada ikatan jodoh . . . ? Ah bagaimana jadinya ini . . . " Gadis itu

geleng-gelengkan kepalanya. Kemudian pandangannya membentur sosok tubuh Randu 

Wongso. Rahang Lestari menggembung. Dia melangkah besar-besar dan duk!

Tendangannya menghantam muka Randu Wongso hingga terpental ke dinding. 

Hidungnya remuk mengucurkan darah. Tiga buah giginya tanggal dan bibirnya

pecah.

 Jika diikutinya dendam kesumat sakit hatinya mau Lestari menggorok leher Randu 

Wongso saat itu. Namun sebelum dia sempat menjadi kesetanan Wiro Sableng telah 

muncul kembali mendukung tubuh Panji Kenanga. Meski menanggung sakit dan masih 

berceiomotan darah di bagian mukanya namun melihat Lestari tak kurang suatu apa 

pemuda itu tampak lega. Sambil duduk bersandar ke dinding dia coba tersenyum dan

berkata: "Syukur kau selamat Lestari. Kau . . . maksudku kita, harus berterima kasih 

pada Wiro . . . "

 Lestari tak menjawab. Jika saja saat itu tak ada Wiro di situ mungkin dia telah 

melompat untuk merangkul tubuh Panji Kenanga dan merawat lukanya.

 "Kau ingin menyelesaikan urusan dengan Randu Rongso?" Wiro bertanya.

 "Dia harus mampus di tanganku!" jawab Lestari. Wiro melangkah. Dia menggeledah 

pakaian Randu Wongso. Di situ dia menemui beberapa buah kantong kain berisi uang 

dan juga sebatang suling perak. Wiro menimang-nimang benda itu lalu 

menyerahkannya pada Lestari. Ini adalah kali kedua pemuda itu mengembalikan senjata 

itu kepada si gadis. Pertama sewaktu peristiwa penghancuran Istana Darah.

 Setelah menyerahkan suling perak itu Wiro kemudian lepaskan totokan di tubuh 

Randu Wongso.Begitu totokannya lepas, tubuh Randu Wongso tiba-tiba laksana seekor harimau 

mencelat dan mengirimkan serangan berupa tendangan maut ke selangkangan Wiro 

Sableng!

 Pendekar kita memang sudah menduga hal itu. Karenanya dia bersikap penuh 

waspada dan ketika Randu Wongso membuat gerakan yang mengawali serangan Wiro 

sudah lebih dulu menyingkir. Tendangan lelaki itu mengenai tempat kosong.

 Marah dan penasaran serangan mautnya gagal, Randu Wongso kini berpaling pada 

Lestari.

 'Satu di antara kalian layak mampus lebih dahulu" geram Randu Wongso. Mulutnya 

komat-kamit. Tangan kanannya mendadak berubah menjadi hitam. Melihat hal ini Wiro 

cepat melompat ke hadapan Randu Wongso, sekaligus membelakangi Lestari.

 "Wiro, awas!" memperingatkan gadis itu. "Dia hendak melepaskan pukulan 

berbahaya! "

 "Tak usah kawatir," jawab Wiro. "Manusia dajal! ini akan menemui kematian di sarang 

mesumnya ini!"

 "Kau yang mampus lebih dulu! "teriak Randu Wongso lalu pukulkan tangan 

kanannya ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

 Sinar hitam menyambar dahsyat.

 Wiro cepat tutup jalan pernafasannya. Serentak dengan itu tangan kannya 

menghantam ke depan. Ruangan candi menjadi terang benderang oleh sinar putih 

menyilaukan yang keluar dari telapak tangan murid eyang Sinto Gelung itu.

 "Pukulan sinar matahari!" seru Randu Wongso kaget sekali. Cepat-cepat dia

susupkan pukulan sinar hitamnya ke bawah hingga sinar itu kini berbuntal-buntal 

seperti gurita yang hendak merobek-robek tubuh Wiro.

 Sebelumnya Wiro sudah mendengar kehebatan ilmu Randu Wongso ini. Karenanya 

dia harus menghadapi tidak kepalang tanggung. Dengan tangan kiri Wiro lepaskan 

pukulan pemagar diri sekaligus merupakan serangan ganas yakni pukulan dewa 

topan menggusur gunung!

 Kembali Randu Wongso keluarkan seruan tegang. Cepat dia kerahkan tenaga 

dalam. Namun tak urung tubuhnya mental ke luar candi terseret hawa pukulan yang 

dilepaskan Wiro.

 Dengan dada berdenyut keras Randu Wongso sesaat tegak untuk mengatur jalan 

darahnya.

 "Jadi kau adalah muridnya nenek busuk Sinto Gendeng itu hah!" ujar Randu 

Wongso. Sret! Dia cabut sebilah golok yang terbuat dari kuningan dan mengandung 

racun jahat sekali.

 Mendengar nama gurunya disebut secara kurang ajar marahlah Wiro. Entah kapan 

dia bergerak tahu-tahu Randu Wongso telah menerima dua pukulan. Satu mendarat di 

dadanya, satu lagi di ulu hatinya. Lelaki mesum ini keluarkan suara seperti mau 

muntah. Yang menyembur dari mulutnya adalah darah kental. Tidak perduIikan 

keadaan dirinya yang terluka parah di sebelah dalam Randu Wongso membabat ganas 

ke arah Wiro. Golok besarnya bersiuran. Namun dia hanya mampu membuat dua kali 

gerakan pulang balik. Di kali yang ketiga terdengar suara krak! Tulang lengan kanannya 

patah disambar tepi telapak tangan kiri Wiro. Golok kuningannya mental, langsung 

disambar Wiro. Senjata ini dilemparkannya ke arah Lestari seraya berkata: "Lestari, 

selesaikan urusanmu dengan manusia terkutuk itu! "

 Lestari yang tahu apa maksud ucapan Wiro segera menangkap hulu golok, lalu 

secepat kilat melompat ke arah Randu Wongso. Golok di tangan kanannya

menyambar ke arah leher lelaki itu.

 Cras!Lestari terpekik sendiri ketika menyaksikan hasil tabasannya. Kepala Randu Wongso 

menggelinding dilantai candi. Darah muncrat dari lehernya yang kutung. Tubuhnya 

terjungkal jatuh. Bergerak-gerak beberapa ama lalu diam tak berkutik lagi.

 MALAM itu udara dingin sekali. Untuk menolak hawa yang membuat tubuh menggigil 

ini Wiro menyalakan api unggun. Saat itu mereka berada di sebuah mata air kecil, di kaki 

sebuah bukit yang penuh ditumbuhi pohon jati.

 Sebenarnya ingin sekali Lestari menuturkan persoalan yang tengah dihadapinya 

kepada Wiro. Namun dia terpaksa menunggu sampai Panji Kenanga tertidur.

Lewat tengah malam setelah pemuda itu kelihatan memejamkan mata. Lestari lalu 

duduk mendekati Wiro dan menceritakan tentang hilangnya tusuk kundai perak.

 "Tusuk kundai itu, bukan hiasan rambut biasa. Tapi sebuah senjata mustika. 

Diberikan oleh gurumu pada guruku beberapa tahun yang silam . . . "

 Wiro kaget mendengar keterangan ini. Setelah merenung sejenak diapun 

menanggapi: "Kalau tak salah, gurumu dulu pernah bilang bahwa dia adalah saudara

angkat guruku. Eyang tidak akan memberikan tusuk kundai itu pada sembarang orang. 

Pasti ada tujuan tertentu . . . "

 Lestari terdiam sejenak. "Harus kukatakan sekarang," dia membatin mengambil 

keputusan.

 "Mungkin kau masih belum tahu Wiro."

 "Belum tahu apa?" bertanya Wiro.

 "Tusuk kundai itu diberikan gurumu pada guruku sebagai tanda ikatan jodoh kita 

. . . "

 Wiro Sableng sampai terbangkit dari duduknya mendengar ucapan Lestari yang tidak 

disangka-sangka ini.

 "Kau tidak bergurau Lestari?"

 Sang dara menggeleng. "Karena itulah guru sangat marah terhadapku. Dan aku 

sudah bertekad tak akan kembali ke tempat guru sebelum menemukan kembali tusuk 

kundai itu . . . "

 Perlahan-lahan Wiro duduk kembali di depan api unggun. Lama dia termenung. 

"Ikatan jodoh itu memang tak pernah kuketahui. Mereka menghubungkan kita secara 

diam-diam. . . "

 Wiro memandangi wajah Lestari. Yang dipandang menunduk lalu berpaling ke jurusan 

lain. Justru pandangannya membentur Panji Kenanga yang tengah tertidur. Pada 

dasarnya Lestari lebih tertarik pada Panji Kenanga yang wajahnya memang lebih 

tampan dari pada Wiro. Namun mengingat dia telah dijodohkan dengan Wiro, apalagi

mengingat Wiro baru saja menyelamatkannya dari perbuatan terkutuk Ronggo 

Bogoseto maka terpaksa dengan berat hati dipupuskannya segenap rasa terhadap Panji 

Kenanga. Kini dicobanya untuk menggantikan tempat Panji dengan Wiro.

 Sebaliknya setelah mengetahui Panji Kenanga mencintai Lesdari dan dari gerak-

gerik si gadis, Wiro meyakini bahwa Lestari lebih menyukai Panji Kenanga dari dirinya, 

maka betapapun dia menyayangi gadis ini dia harus melupakan perasaan itu. Dan ini 

merupakan satu hal yang berat. Seolah-olah dia tengah menghancurkan dirinya sendiri!

 "Kalau Lestari bisa lebih berbahagia dengan Panji, kenapa aku harus berkeras kepala . 

. . ," pikir Wiro coba menghibur diri. "Itu mungkin lebih baik bagi mereka. Tapi 

urusan jodoh yang diikatkan oleh para guru? Ah, inilah akibat kalau pihak-pihak 

berkepentingan tidak diberi tahu lebih dulu!"

 Setelah berpikir dalam-dalam dan setenang mungkin akhirnya Wiro berkata. "Lestari, 

soal ikatan jodoh kita sebaiknya kita tunda dulu untuk dibicarakan. Yang pentingsekarang adalah mencari tusuk kundai itu. Kita bertiga harus mencari seorang kenalan 

lamaku. Aku tak tahu namanya, dia berjuluk si Segala Tahu. Siapa tahu dia bisa 

memberi keterangan siapa pencuri benda pusaka itu dan di mana bisa ditemukan . . . "

 "Orang saktikah dia atau tukang ramal atau dukun . . . ?" tanya Lestari.

 "Tak dapat kupastikan. Tapi dia punya semacam kepandaian aneh yang dapat 

melihat kejadian di masa silam serta apa yang bakal terjadi di masa mendatang. Nah, 

malam sudah larut. Kau tidurlah . . . "

 Baik Wiro maupun Lestari tak satupun dari mereka yang mengetahui kalau 

sementara mereka bicara tadi sesungguhnya Panji Kenanga hanya pura-pura tidur. 

Segala apa yang dibicarakan kedua orang itu didengar jelas oleh Panji Kenanga. Betapa 

remuk hati pemuda ini sewaktu mengetahui bahwa gadis yang dikasihinya itu ternyata 

telah dijodohkan dengan Wiro Sableng. Dia mengeluh, meratap dalam hati. Ingin 

sekali dia mati saat itu juga!

 "SEBAIKNYA kalian segera saja berangkat tanpa menunggu kesembuhanku . . . "

kata Panji Kenanga keesokan harinya.

 ' Kau akan segera sembuh Panji. Kita berangkat sama-sama," jawab Wiro.

 "Aku hanya kawatir kalau-kalau tusuk kundai itu semakin jauh dilarikan pencuri," ujar 

Panji Kenanga. Empat hari kemudian kesehatan Panji Kenanga telah pulih kembali. 

Apalagi Wiro membantunya dengan beberapa jenis obat dan aliran tenaga dalam.

Sebenarnya sejak dia tahu hubungan jodoh antara Lestari dan Wiro, pemuda ini tak 

ada lagi semangat untuk meneruskan perjalanan bersama-sama. Namun untuk pergi 

begitu saja dirasakannya kurang enak. Pada hari ke lima mereka memulai perjalanan. 

Panji menolak keras ketika disuruh menunggangi Angin Salju. Dia lebih suka 

Lestarilah yang menaiki kuda itu. Karena Lestari juga menolak akhirnya terpaksa Panji 

naik ke punggung kudanya.

 Sesuai rencana mereka bergerak ke sekitar kaki gunung Lamongan. Menurut 

perkiraan di situ kemungkinan bisa menemui Si Segala Tahu. Karena sering-sering 

berhenti, hampir seminggu kemudian baru mereka sampai di tujuan.

OOoOO


L I M A B E L A S

 DI SEBELAH timur gunung Lamongan terdapat sebuah bukit kapur yang dari jauh 

kelihatan memutih. Wiro, Lestari dan Panji Kenanga segera menuju ke bukit kapur ini. 

Hawa sekitar bukit terasa panas. Tiba-tiba Wiro memberi isyarat agar berhenti. Dia 

menunjuk ke puncak bukit kapur. Di atas sana seseorang berjalan terbungkuk-bungkuk. 

Di tangan kirinya ada sebuah tongkat. Dia mengenakan topi lebar dan melenggang 

seenaknya menuju ujung bukit sebelah timur. Sesekali terdengar suara 

berkerontangan.

 "Itu dia! Pasti dia!" seru Wiro girang. Ketiga orang ini serta merta menuju puncak 

bukit sebelah timur. Meskipun orang di atas bukit melangkah bungkuk seenaknya, 

namun cukup memakan waktu lama baru mereka berhasil mengejarnya.

 "Bapak segaia Tahu! Tunggu! Berhenti dulu!" teriak Wiro. Dia sengaja 

mengerahkan tenaga dalam agar suaranya dapat didengar. Namun orang yang berjalan 

terus saja melangkah sambil kerontangan kaleng buruk berisi batu kerikil di tangan 

kirinya. Terpaksa Wiro dan Lestari mempercepat lari sementara Panji Kenanga 

membedal Angin Salju.

 Sebelumnya Wiro telah pernah bertemu dengan Si Segala Tahu dan tak heran 

melihat perangai orang tua ini. Orang berjuluk Si Segala Tahu ini berpakaian compang 

camping dan memakai topi lebar. Di kempitnya sebelah kanan ada sebuah buntalan. 

Tampak dia memindahkan tongkat dari tangan kanan ke tangan kiri. Kaleng butut kini 

berada di tangan kanannya dan terus menerus d ikerontang-kerontangkannya. Kedua 

matanya buta. Tapi di manapun dia berada, tongkatnya menjadi sepasang mata hingga 

dia tak pernah nyasar ataupun terperosok.

 "Bapak Segala Tahu! Tunggu! "seru Wiro kembali.

 "Panas-panas begini siapa yang memanggil aku? Beraninya mengganggu aku yang 

tengah menikmati pemandangan indah di puncak bukit!" Hebat juga orang tua ini 

menggerutu. Menikmati pemandangan katanya padahal kedua matanya buta!

 Wiro sampai di hadapan si orang tua. Lestari dan Panji Kenanga berada di 

sampingnya.

 "Bapak Segala Tahu, harap manfaatkan kalau aku dan kawan-kawan mengganggu 

tamasyamu. Kami betul-betul membutuhkan pertolongan. Ada satu persoalan penting 

yang harus kami tanyakan. Kuharap kau bisa menolong."

 "Aih, panas-panas begini kau membicarakan soal penting. Soal apakah . . . ? Hai 

tunggu dulu! Kalau tak salah ingat, delapan belas bulan lalu kita pernah bertemu. 

Kupingku hafal suaramu!" berkata Si Segala Tahu.

 "Betul sekali! Kau belum lupa!" jawab Wiro.

 "Waktu itu aku ramalkan kau bakal dapat banyak susah. Terutama karena sifatmu 

yang mata keranjang, tidak boleh melihat jidat licin, tak boleh melihat perempuan cantik 

. . . Betul?!"

 Wiro Sableng tertawa. Tapi mukanya merah.

 Si Segala Tahu kerontangkan kalengnya.

 "Nah, saat ini apakah kau mau mendengar ramalan baru tentang dirimu?"

 "Tentu saja!" sahut Wiro Sableng.

 "Ulurkan tangan kirimu!"

 Wiro lantas ulurkan telapak tangan kirinya. Si Segala Tahu kerontangkan kalengnya 

lalu meraba-raba telapak tangan pemuda itu.Ah, nyatanya nasibmu kali ini pun masih malang, orang muda!"

 "Malang bagaimana?" Wiro kepingin tahu.

 "Kau tengah menghadapi persoalan pribadi yang pelik! "Si Segala Tahu kembali 

kerontangkan kalengnya.

 'Tersoalan pribadi apa maksudmu pak?" tanya Wiro berdebar.

 "Aih, kau jangan berpura-pura anak muda. Kukatakan saja blak-blakan! Persoalan 

pribadi menyangkut ihwal asmara!" -

 Berubahlah paras Pendekar 212. Dia tak berani memandang ke arah Lestari ataupun 

Panji Kenanga. Si Segala Tahu melanjutkan.

 "Kau mencintai seorang gadis. Tapi gadis rtu menyukai orang lain. Lalu kau bertekad 

memperlihatkan pribadi dan jiwa besarmu yang luhur. Mengundurkan diri demi 

kebahagiaan orang yang kau kasihi itu. Betul...?!"

 Wiro garuk-garuk kepala. Apa yang dikatakan orang tua itu betul. Tapi mana berani 

dia membenarkan.

 "Entahlah pak tua. Aku tak begitu mengarti persoalan yang kau katakan itu!"

 Si Segala Tahu tertawa.

 "Kau pandai menyembunyikan rahasia hatimu orang muda. Aku menghormati 

manusia-manusia berjiwa besar sepertimu! Rela berkorban untuk kebahagiaan orang 

lain. Nah, sekerang katakan kau hendak tanyakan apa padaku!"

 Wiro lalu menuturkan peristiwa lenyapnya tusuk kundai perak sebagaimana yang 

didengarnya dari Lestari sementara Panji Kenanga sudah turun dari punggung Angin 

Salju.

 "Karena gadis murid si Pemusnah Iblis itu ada di sini sebaiknya biar dia saja yang 

menceritakan sekali lagi, biar jelas," kata Si Segala Tahu sambil kerontang-kerontangkan 

kaleng bututnya. "Tapi sebelumnya apakah kau mau kuramalkan nasib perjalanan 

hidupmu? Kau boleh percaya boleh tidak pada apa yang nanti akan kukatakan."

 "Terima kasih bapak segala tahu," jawab Lestari menolak secara halus. Dia kawatir 

ramalan orang tua itu akan membuka rahasia pribadinya di hadapan dua pemuda itu. 

"Lebih penting kalau aku dapat menerangkan peristiwa lenyapnya tusuk kundai."

 "Baik, baik . . . Sekarang terangkan kisah lenyapnya benda itu termasuk perjalananmu 

sampai kemari. Jangan satu hal pun kau lupakan."

 Lestari lalu memberi keterangan. Baru setengah bagian mengenai perjalanannya 

dituturkan Si Segala Tahu memotong dengan kerontangkan kalengnya.

 "Cukup. Sekarang coba keluarkan carikan kain hijau yang kau temukan dekat mayat 

busuk pada petang hari pertama kau meninggalkan danau Jembangan." 

 Lestari keluarkan secaraik kain hijau dari balik pakaiannya dan menyerahkannya 

pada Si Segala Tahu.

 Sambil meremas-remas robekan kain hijau itu dengan tangan kirinya orang tua ini 

mendongak ke langit dan goyangkan kalengnya tiada henti. Lama sekali, setelah 

mukanya keringatan baru dia hentikan kerontangan kalengnya dan berpaling pada 

Lestari.

 "Kalian bertiga dengarlah baik-baik. Tusuk kundai itu pada mulanya memang dicuri 

oleh seorang yang punya kelihayan mencuri. Katakanlah raja paling tingkat tinggi, Mayat 

yang ditemukan oleh gadis ini itulah mayat si raja maling. Jika aku tidak salah hanya ada

satu raja maling di rimba persilatan masa ini yakni manusia bernama Singgar Manik. 

Mengapa dia jadi mayat? Bukan mati karena sakit. Dia dibunuh orang. Singgar Manik 

bukan seorang berkepandaian rendah. Aku merasa pasti dia dihadang oleh lebih dari 

satu orang yang juga menginginkan tusuk kundai itu. Terjadi perkelahian. Singgar Manik 

jadi korban. Tusuk kundai dirampas oleh pencuri-pencuri baru . . . "

 'Apakah kau tahu siapa orang-orang itu . . . ?" tanya Lestari penuh harapan."Siapa mereka itu? Hemm . . . Karena kejadian ini di wilayah timur, ditambah bukti 

cabikan kain hijau, berat dugaanku tusuk kundai itu kini berada

di tangan dua bersaudara Nyoka Gandring dan Nyoka Putubayan!"

 "Siapa mereka ini?" tanya Wiro.

 'Dua saudara kembar. Keduanya brahmana sesat. Mereka berseragam pakaian hijau, 

Bermuka seperti ular. Karena itu mereka diberi julukan Sepasang Kobra Dewata! Selain 

berilmu tinggi juga diketahui gemar mengumpulkan senjata atau benda-benda 

mustika!"

 "Terima kasih. K eter angan mu sangat, berguna. Tanpa petunjukmu tak mungkin 

kami bisa menemukan kembali kedua senjata itu," ujar Wiro. Lestari pun mengucapkan 

terima kasih berulang kali.

 "Bapak Segala Tahu, berapa kami harus membayarmu?1

 tiba-tiba Lestari bertanya.

 Si orang tua tertawa mengekeh. "Pertanyaanmu lucu sekali anak gadis. Selucu 

tindakanmu menghadapi kenyataan yang menyangkut dirimu akhir-akhir ini. Kau tak 

perlu menanyakan soal bayaran. Jika Sepasang Kobra Dewata dapat kaliat tamatkan 

riwayatnya maka itu adalah lebih dari bayaran. Manusia-manusia seperti mereka harus 

dilenyapkan agar dunia yang indah permai ini menjadi tenang tenteram . . . "

 "Budi baik dan pertolonganmu tak akan kulupakan," kata Lestari lalu menjura dalam-

dalam.

 Si Segala Tahu angkat bahu, kerontangkan kalengnya lalu tinggalkan tempat itu.

Kelihatannya dia cuma melangkah biasa. Namun sesaat kemudian dia sudah berada 

jauh di ujung bukit.

 Astaga! Kita tidak menanyakan di mana harus mencari Sepasang Kobra Dewata!" 

seru Panji Kenanga.

 "Tak usah kawatir. Aku tahu di mana sarang mereka. Kita harus segera berangkat ke 

Banyuwangi! jawab Wiro Sableng.


E N A M B E L A S

 DUA BELAS hari mengadakan perjalanan baru ketiga orang muda itu sampai ke 

Banyuwangi, kota paling ujung di timur pulau Jawa. Saat itu Banyuwangi tengah 

menyambut dengan upacara besar-besaran kedatangan Adipati Surabaya yang

berkunjung untuk meresmikan pengangkatan Adipati pembantu di Banyuwangi. 

Adipati Surabaya datang dengan sebuah kapal layar. Karenanya suasana di pelabuhan 

Banyuwangi ramai bukan main.

 Di antara keramaian itu menyelinaplah Wiro, Lestari dan Panji Kenanga. Menurut 

keterangan yang mereka peroleh dari beberapa orang di tengah jalan, Sepasang Kobra 

Dewata berada di sebuah rumah makan di tengah pantai. Rupanya kedua orang ini

bermaksud menyambut kedatangan Adipati Surabaya. Mungkin bukan sekedar 

menyambut, tapi sambil mencari mangsa kalau-kalau ada benda berharga yang bisa

disikat.

 Meskipun rumah makan itu ramai sekali namun tiga muda mudi yang masuk segera 

dapat mengenali dua orang yang mereka cari. Dua lelaki berkepala botak, bermuka 

angker dan mengenakan pakaian hijau duduk di sebuah meja yang agak terpisah di 

tengah ruangan besar. Agaknya para pengunjung yang lain merasa segan atau mungkin 

takut duduk dekat-dekat meja mereka.

 * Nyoka Gandring dan Nyoka Putubayan serta merta melayangkan pandangannya 

pada dara berbaju merah yang barusan masuk bersama dua pemuda.

 Nyoka Putubayan menyentuh lutut kakaknya seraya berkata perlahan. "Heh, lihat, 

gadis cantik berbaju merah itu seperti sengaja menuju ke arah kita. Kau kenal dia?"

 'Eh, betul. Siapa bidadari ini adanya? Aku bisa setengah mati tergila-gila padanya!" 

sahut Nyonya Gandring.

 Begitu sampai di hadapan kedua orang itu Wiro segera menegur. "Apakah kami 

berhadapan dengan Sepasang Kobra Dewata?"

 Baik Nyonya Gandring maupun Putubayan saat itu hanya memandang ke pada 

Lestari. Tanpa mengalihkan pandangannya Putubayan bertanya: "Kalian siapa?"

 Seenaknya Nyoka Gandring menimpali. "Apa kalian datang untuk mengantar gadis 

jelita ini?"

 Wiro tertawa lebar. "Betul, dara jelita ini memang untuk kalian. Tapi ada syaratnya 

. . . "

 "Ah, katakan cepat syaratnya!" ujar Nyoka Gandring pula.

 "Mudah saja!" yang menyahut Panji Kenanga. "Serahkan dulu tusuk kundai perak 

yang kau curi dari tempat Si Pemusnah Iblis di danau Jembangan . . . !"

 "Ah!" Sepasang Kobra Dewata sama-sama terkejut. Nyonya Gandring berkata: "Aku 

tidak begitu suka membicarakan persoalan itu. Aku lebih suka kalian pergi dari sini tapi 

tinggalkan si cantik ini!"

 "Kawan-kawan ... . " kata Wiro sambil memandang pada Lestari dan Panji Kenanga 

dan kedipkan matanya. "Agaknya terpaksa kita harus meninggalkan gadis ini pada dua 

manusia botak ini. Tapi bagaimana kalau kita minta tebusan nyawa mereka?!"

 "Setuju!" jawab Lestari dan Panji Kenanga. Sang dara segera keluarkan suling perak 

yang menjadi senjatanya. Melihat benda ini Nyoka Putubayan menyeringai. "Hari ini 

rejeki kita besar sekali. Dapat gadis cantik dan tambahan senjata baru . . . !"

 "Manusia ular jelek . . . Kalian hanya ada satu pilihan!" membentak Wiro. "Tusuk 

kundai itu atau nyawa kalian!""Bangsat kurang ajar!" teriak Nyoka Putubayan jadi marah. Tanpa berdiri dari 

kursinya dia pukulkan tangan kanannya ke depan. Seguluhg angin menerpa dahsyat. 

Tiga muda-mudi itu cepat menyingkir. Namun seorang tamu yang duduk jauh di 

belakang mereka menjadi korban. Tubuhnya mencelat dengan kepala kelihatan 

membiru!

 "Kalian memang minta racun!" teriak murid Sinto Gendeng lalu sekali bergerak dia 

balikkan meja besar di hadapan kedua brahmana sesat itu. Serta merta kacaulah 

rumah makan besar itu. Perkelahian tiga lawan dua terjadi. Lestari tak mau mundur 

walau Wiro dan Panji memperingati. Wiro menghadapi Nyoka Gandring sedang Panji dan 

Lestari melayani Nyoka Putubayan.

 Orang ramai yang ada di pelabuhan begitu mengetahui perkelahian di rumah makan 

itu serta merta datang berlarian untuk menyaksikan dan melupakan penyambutan 

terhadap Adipati Surabaya. Mereka hanya berani menonton dari jauh karena takut akan 

terkena pukulan-pukulan maut yang saling dilepaskan.

 Semula Sepasang Kobra Dewata menganggap remeh tiga muda mudi itu. Dua 

jurus paling banyak mereka pasti akan merobohkan Wiro serta Panji dan melumpuhkan 

Lestari. Namun dua saudara kembar ini jadi terkejut ketika setelah tujuh jurus tak satu

serangan merekapun yang berhasil. Malah tekanan lawan mulai dirasakan dan ini 

membuat keduanya jadi penasaran.

 Nyoka Putubayan keluarkan jurus-jurus simpanannya lebih dulu. Didahului bentakan 

keras dia menyerbu dengan jurus kobra sakti mengamuk. Sejak jurus ke delapan itu 

hamburan serangannya membuat gerakan Lestari dan Panji Kenanga seperti 

terbendung.

 Di lain pihak Nyoka Gandring yang berkelahi menghadapi Wiro Sableng yang mulai 

terdesak hebat juga sejak tadi-tadi sudah keluarkan jurus-jurus silat andalannya. 

Beberapa kali dia melepaskan pukulan saktinya yang menebar sinar beracun. Namun 

Wiro yang sudah mendapat peringatan dari Panji Kenanga berlaku waspada hingga tak 

satu serangan lawanpun mampu mencelakainya. Melirik ke kiri Nyoka Gandring melihat 

adiknya mengucurkan darah dari pelipis kiri. Tusukan suling Lestari telah berhasil 

menyerempet kepalanya. Hatinya jadi was-was. Sadar dia kini kalau tiga lawan yang 

mereka hadapi bukan pemuda-pemuda biasa. Mereka pasti murid-murid tokoh silat

tingkat tinggi.

 Berada dalam was-was begitu membuat Nyonya Gandring menjadi lengah. Akibatnya 

satu jotosan Wiro tak sempat dikelitnya.

 Bu k!

 Nyoka Gandring terpental dan terguling di atas meja di belakangnya. Sambil 

menahan sakit dia kirimkan tendangan untuk mencegah lawan mendekat. 

Tenggorokannya terasa panas tanda-tanda darah yang hendak mengalir keluar.

 Baik Nyoka Gandring maupun Nyoka Putubayan adalah dua tokoh silat yang hanya 

mengandalkan kehebatan ilmu silat tangan kosong termasuk tenaga dalam dan pukulan-

pukulan sakti. Namun setelah habis-habisan menghantam tak satu pun serangan 

mereka mengenai sasaran malah kini mereka mulai terdesak hebat bahkan kena digebuk, 

maka keduanya benar-benar jadi marah. Selama ini memang tak satu lawanpun dapat

bertahan lama menghadapi salah satu dari mereka, apalagi jika turun berdua 

sekaligus. Hari ini mereka ternyata bertemu tembok baja!

 "Monyet gondrong!" maki Nyoka Gandring.

 "Jika kau inginkan benda ini ambillah! " terdengar seruan Nyoka Gandring.

 Satu sinar perak menyilaukan disertai semburan angin panas berkelebat ke 

arah Wiro Sableng. Tusuk kundai perak mencari maut!

 Wiro sudah tahu kehebatan benda rnilik gurunya itu cepat menyingkir. Dia 

tak mau menunggu lebih lama. Senjata itu hanya bisa dihadapi oleh senjata


gurunya yang lain yakni Kapak Naga Geni 212. Maka Wiro segera keluarkan 

senjata ini.

 Ketika Kapak Maut Naga Geni 212 dikiblatkan ke depan terdengar suara 

seperti seribu tawon mengamuk. Orang banyak yang menonton tambah 

ketakutan dan tutup kuping mereka. Sinar putih menggelombang menyongsong

hantaman sinar perak. Rumah makan besar itu seperti diguncang gempa. 

Dentuman dahsyat meruntuhkan sebagian atap. Jeritan maut yang keluar dari

mulut Nyoka Gandring lenyap begitu tubuhnya tertimbun runtuhan atap. Tangan 

kanannya yang terbabat putus oleh Kapak Maut Naga Geni 212 mental dan jatuh 

di atas sebuah meja. Tusuk kundai masih tergenggam dalam kutungan tangan 

itu. Wiro segera ambil senjata mustika itu. Setelah memperhatikan sejenak 

dengan perasaan getir benda lambang perjodohannya itu Wiro lalu masukkan ke 

balik pinggang pakaiannya.

 Nyoka Putubayan seperti gila ketika menyaksikan kematian kakaknya. Dia 

tinggalkan Lestari dan Panji Kenanga, langsung menyerbu Wiro Sableng. Namun 

mengalihkan serangan kepada Pendekar 212 justru hanya mempercepat kematiannya. 

Setelah membuat gerakan mengelak dua kali berturut-turut, Wiro yang masih 

memegang Kapak Naga Geni 212 segera hantamkan senjata itu ke kepala Nyoka 

Putubayan. Tak ada rasa belas kasihan lagi di hati pemuda ini. Baginya Nyoka Putubayan 

dan Nyoka Gandring disamping Singgar Manik adalah manusia-manusia penimbul 

bencana hingga tali perjodohannya dengan Lestari berantakan begitu saja. Kalau tusuk 

kundai itu tidak mereka curi, tak akan Lestari meninggalkan tempat kediaman gurunya, 

yang akhirnya membawa pertemuan kembali sang dara dengan Panji Kenanga!

 Nyoka Putubayan ajal dengan kepala hampir ter-belah!

 Rumah makan itu menjadi gempar. Bahkan seluruh pelabuhan jadi geger. Diantara 

keramaian itu Panji berbisik. 'Lestari, aku tak melihat Wiro lagi. Kemana lenyapnya?"

 Gadis itu terkejut dan memandang berkeliling. "Mungkin dia sudah keluar lebih 

dulu. Kita cari ke tempat penambatan kuda . . . I"

 Lestari dan Panji Kenanga segera meninggalkan rumah makan. Orang banyak 

menyingkir memberi jalan. Di tempat Panji menambatkan Angin Salju juga tak kelihatan 

orang yang mereka cari. Ada firasat tak enak dalam hati Panji dan dikatakannya terus

terang pada Lestari.

 "Jangan-jangan Wiro sudah pergi. Sengaja meninggalkan kita. . . "

 "Panji, ada kertas di leher kudamu . . . " Lestari berkata sambil menunjuk pada 

secarik kertas yang digantungkan dengan sehelai benang ke leher Angin Salju. Panji 

Kenanga segera mengambil kertas itu, membuka lipatannya. Ternyata sepucuk surat 

yang kelihatannya sudah disiapkan Wiro selama sebelumnya.

Sahabatku Panji dan Lestari,

 Bagaimanapun ikatan jodoh tidak ada arti dan tuahnya dibanding dengan kasih 

sayang murni yang kalian tanamkan dalam hati masing-masing. Kudoakan kalian 

berbahagia dalam menghadapi masa depan.

 Cinta murni lebih agung dan suci dari ikatan jodoh yang d/atur: Karenanya tusuk 

kundai perak terpaksa kubawa untuk kuserahkan kembali pada guruku.

 Selamat tinggal. Tuhan akan memberkahi kalian.

 Sahabat kalian,

 Wiro Sableng


Panji menoleh dan menyerahkan surat itu pada Lestari. Sang dara tak berani menerima 

surat itu. Kedua matanya berkaca-kaca. Untuk beberapa lamanya tak satu pun diantara 

mereka bisa bicara. Di pelabuhan kapal layar Adipati Surabaya telah merapat. Tapi

orang banyak masih saja berkerumun di dalam dan di luar rumah makan. :

 Akhirnya Panji memegang lengan Lestari dan berkata. "Kukira Wiro satu-satunya 

manusia berjiwa paling besar di dunia. ini. Mari kita tinggalkan tempat ini. Kita harus ke 

danau Jembangan menemui gurumu. Kita harus menceritakan apa yang telah terjadi . . . "

 . Lestari hanya mengangguk perlahan lalu naik kepunggung Angin Salju, Panji duduk 

di belakangnya. Sesaat kemudian keduanya lenyap di tikungan jalan, meninggalkan 

kepulan debu yang diterjang kaki kuda.


T A M A T


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive