"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Sabtu, 22 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE RAJA RENCONG DARI UTARA

 

Raja Rencong Dari Utara


RAJA RENCONG DARI UTARA

SATU

DISAMPING BUKIT KARANG YANG curam itu 

terletak sebuah bangunan batu yang dikelilingi tembok 

setinggi sepuluh tombak. Diluar tembok berderet-deret 

barisan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai 

ditiup angin laut. Bangunan yang terletak didekat pantai ini 

terdiri dari sebuah rumah besar yang pada kedua 

ujungnya terdapat sebuah bangunan bertingkat berbentuk 

menara. Bangunan ini adalah sebuah pesantren yang 

dipimpin oleh seorang Kyai bernama Suhudilah. Karena 

itulah pesantren ini dinamakan Pesantren Suhudilah.

Disamping ilmu agama Kyai Suhudilah juga

mengajarkan ilmu silat dan ilmu kesaktian kepada

murid2nya. Karena Kyai Suhudilah lama sekali ber-

mukim di Turki, maka jurus2 ilmu silatnya banyak

dipengaruhi oleh jurus2 silat Turki. Dengan sendirinya 

ilmu silat tersebut disamping aneh juga hebat

sekali. Pada masa itu nama Pesantren Suhudilah telah

terkenal didelapan penjuru angin Pulau Andalas

bahkan juga sampai2 ketanah Jawa.

Saat itu telah rembang petang. Satu dua jam

dimuka sang surya segera akan tenggelam, kembali

masuk keperaduannya dan baru akan muncul lagi

esok pagi. Dibawah menara timur kelihatan dua orang

berjubah. Keduanya sama2 tua dan sama2 berjanggut

putih. Mereka sedang asyik bermain dam. Yang seorang 

menyodorkan buah damnya kedepan membuat satu 

perangkap yang tak bisa dihindarkan oleh lawannya.

“Celaka!" kata Iaki2 tua yang kena dijebak sambil 

menepuk keningnya. Buah dam yang disodorkan

lawannya mau tak mau harus dimakannya dan akibatnya 

dia akan kehilangan empat biji dam sekaligus!

Lawannya tertawa mengekeh sambil mengelus-elus 

janggutnya yang putih.

"Mana bisa kau mau mengalahkan aku lagi",

katanya, "tadi kuberi kau menang hanya untuk memberi 

semangat saja. Ayo makanlah

"Tak ada jalan lain" kata sijanggut putih yang terjebak.

Diulurkannya tangan kanannya. Jari telunjuk dan ibu jari 

hendak memindahkan buah dam. Tapi aneh! Buah dam 

yang kecil dan terbuat dari kayu itu tak bergerak 

sedikitpun! Dicobanya sekali lagi mengangkat buah itu, 

tapi tak sanggup! Buah dam itu laksana sebuah benda 

yang sangat berat!

"Heh, kenapa? Ayo jalan!"

"Buah dam ini ... . tak bisa bergerak! Tak bisa

.kuangkat"

Kawan Iaki2 itu menyangka dia ber-olok2. Dan

mengulurkan tangan kanan menyentuh buah dam!

Terkejutlah dia.! Memang betul! buah dam itu tak

sanggup digeser, apalagi diangkat. Diam? dia kerahkan setengah bagian tenaga dalam dan mencoba lagi

mengangkat buah dam! Tetap seperti sedia kala ketika 

dicobanya mengangkat buah2 dam yang lain, benda2 

itupun ternyata tak bisa terangkat! Laki2 ini memandang 

berkeliling.

"Aneh desisnya. Dan dikerahkannya kini

seluruh tenaga dalamnya. Tangannya tergetar hebat.

Keringat dingin memercik dikeningnya dan dadanya

terasa sakit!

"Agaknya ada seseorang berilmu tinggi tengah

mempermainkan kita "

"Tapi siapa ?".

Keduanya memandang berkeliling. Suasana

sunyi sepi, jangankan manusia, seekor lalatpun tak

engkaukelihatan! Laki2 itu kerahkan lagi tenaga 

dalamnya.

Tiba2 papan dam mencelat menta! ke udara! Buah2

nya berhamburan! Kedua laki2 tua berjanggut putih

tersentak kaget dan berdiri cepat sewaktu kesunyian

dirobek oleh gelak tertawa yang hebat, menggetarkan

liang telinga dan memukul-mukul dada serta menyen-

datkan jaian darah ditubuh mereka!

Sesaat kemudian entah dari mana datangnya

tahu2 sesosok tubuh sudah berdiri dua tombak di-

hadapan mereka. Orang yang datang ini berpakaian

ungu berdestar tinggi dan juga berwarna ungu! Pada

bagian muka destar ini terdapat lukisan dua buah

rencong kuning yang saling bersilangan! Manusia ini

bertampang ganas. Dibavvah hidungnya melintang

kumis tebal. Bajunya tidak terkancing, mungkin di-

sengaja demikian untuk memperlihatkan dadanya

yang bidang dan berbulu! Pada kedua tangan dan

kakinya terdapat gelang akar bahar. Dan dari mulutnya 

masih terdengar suara tertawanya yang hebat!

Meskipun rasa geram menyelimuti hati kedua

orang tua itu namun mereka tak mau bertindak gega-

bah. Suara tertawa yang begitu hebat cukup menjadi

peringatan bagi keduanya bahwa manusia berbaju

ungu berdestar tinggi itu memiliki ilmu kesaktian

yang tinggi.

Salah seorang dari penghuni Pesantren Suhudilah

ini menjura hormat dan melayangkan senyum. Lalu

menegur:

"Tamu dari manakah yang datang ini, tanpa

memberi tahu lebih dulu sehingga kami tidak me-

nyambut sepatutnya?"

Orang yang ditegur tak segera menjawab, melainkan 

tertawa dengan lebih hebat hingga tanah yang

dipinjak oleh kedua orang tua berjanggut putih terasa

bergetar! Dan mereka mulai merasa tidak enak. 

Perbuatan sang tamu yang tadi secara diam2 telah me-

ngerahkan tenaga dalam menahan buah2 dam yangtengah mereka mainkan sesungguhnya sudah sangat

menyakitkan hati, apalagi setelah ditegur hormat

begitu rupa sang tamu masih bersikap seenaknya dan

penuh kecongkakan!

"Saudara, harap beritahukan siapa kau! Juga

maksud kedatanganmu kemari ....!"

Sang tamu bertolak pinggang.

"Apakah ini Pesantren Suhudilah?" tanyanya

dengan suara berat dan serak.

"Betul

"Kalau begitu lekas panggil Pemimpinmu dan

bawa kehadapanku!" memerintahkan sang tamu.

“Ah, lebih dulu harap terangkan nama dan maksud 

kedatanganmu, baru kami bisa menjalani sebagai-mana 

mestinya".

Sang tamu pelototkan mata.

"Benar2 Kalian berdua masih belum tahu berha-

dapan dengan siapa?!"

"Ya..ya kami belum tahu siapa sebenarnya 

saudara?".

Laki2 berpakaian ungu menyeringai.

"Aku adalah manusia yang bakal menguasai

seluruh pulau besar ini, dari utara keselatan, dari

barat sampai ke timur! Apa kalian masih belum men

dengar gelar Raja Rencong dari Utara?!"

"Ah" kedua orang tua berpakaian putih sama2 

menjura mesti hati mereka terkejut dan ter getar hebat 

sewaktu sang tamu kenalkan gelarnya

"Nama itu sudah seringkali kami dengar. Tapi karena

kami orang pesantrenan jarang mengurus soal2 diluaran 

harap dimaafkan kalau tadi kami tidak tahuengkautengah 

berhadapan dengan siapa.

Sementara itu yang seorang diam2 memberi 

peringatan dengan ilmu menyusupkan suara: "Hati2 dan

waspadalah. Manusia ini adalah bangsa iblis terkutuk

yang kekejamannya tiada tara!"

"Raja Rencong Dari Utara, sekarang harap terangkan 

maksud kedatanganmu kemari "

"Kalian tidak layak bertanya!" sentak Raja

Rencong Dari Utara. "Lekas panggil pemimpin kalian!"

"Menyesal sekali! Sebelum kami tahu angin apa

gerangan yang membawa Raja Rencong kemari,

tak bisa kami memenuhi permintaanmu. Lagi pula

pemimpin kami sedang keluar ".

"Kurang ajar! Kau berani dusta?!"

"Kami orang agama mana berani berdusta? Kyai

Suhudilah pergi sejak pagi tadi

"Aku tidak percaya! Aku akan geledah seluruh

pesantren ini!". Raja Rencong melangkahkan kaki

menuju kepintu dikaki menara tapi kedua orang tua

berpakaian putih menghalangi.

"Harap kau menghormati aturan kami. Tak seorangpun boleh masuk tanpa mendapat izin . . . !"

"Kurang ajar! Terhadap Raja Rencong Dari

Utara tak berlaku segala macam aturan! Masakan

untuk masuk kebangunan sarang tikus ini saja perlu

minta izin? Persetan!"

Tapi kedua orang tua itu kembali menghalangi

langkah Raja Rencong. Maka marahlah Raja Rencong

dan dorongkan tangan kanannya! Gerakannya acuh

tak acuh dan kelihatannya Iemah2 saja! Tapi tahu2

suatu angin pukulan yang dahsyat sudah menghantam

,kedua orang dihadapannya!

Karena tak menyangka akan diserang mendadak

begitu rupa kedua orang tua berjubah putih itu tak

sanggup menangkis atau berkelit. Tak ampun lagi

tubuh mereka dilanda angin pukulan Raja Rencong

Dari Utara. Keduanya mencelat mental sampai bebe-

rapa tombak. Yang satu begitu terhampar ditanah tak

berkutik lagi. Yang seorang lainnya masih mencoba

bangun terhuyung-huyung. Tubuhnya terbungkuk

ke depan, dadanya sakit dan sewaktu dirasakannya

seperti mau batuk, yang keluar dari mulutnya ternyata 

adalah muntahan darah kental berbuku buku!

Laki ini kesaktiannya cum? dua tingkat di bawah

Kyai Suhudilah tapi Raja Rencong merubuhkannya

dalam satu kali pukulan saja! Namun sebelum meregang 

nyawa dia masih sempat berteriak memberi tanda 

bahaya!

Sesaat kemudian dua puluh orang anak murid

Pesantren Suhudilah sudah berada ditempat itu.

Rata2 mereka memiliki kepandaian silat yang tak bisa

dianggap enteng, bahkan tiga diantaranya adalah

kakek2 tua renta yang tingkat kepandaiannya sama

dengan Iaki2 yang berteriak tadi sebelum sampai ajalnya. 

Ketiganya disamping berguru pada Suhudilah

juga merupakan tenaga pengajar murid2 yang masih

muda.

Melihat dua orang kawan mereka menggeletak

dikaki menara tanpa nyawa, semuanya terkejut dan

dengan segera mengurung Raja Rencong Dari Utara.

Salah seorang dari mereka maju menegur:

"Tamu tak dikenal, alasan apakah yang membuat 

kau menjatuhkan korban ditempat suci ini?"

Raja Rencong memandang berkeliling dengan

pandangan merendahkan semua orang itu.

"Mana pemimpinmu?!" tanya Raja Rencong.

engkau"Jawab dulu pertanyaanku, saudara tamu . . .".

"Heh apakah kau dan kawan2mu hendak menyusul 

yang dua orang itu?!" belalak Raja Rencong.

Dengan tenang orang tua tadi menjawab: "Musuh tidak 

dicari, kalaupun datang mana mungkin kami berpangku 

tangan? Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. 

Kawan2 mari tangkap pembunuh ini! . Serempak denganitu dua puluh orang segera melompat kemuka. 

Serangan2 bersiuran laksana hujan!

Raja Rencong Dari Utara ganda tertawa. Kedua

tangannya dipukulkan kemuka menyongsong serangan. 

Dua gelombang angin menderu. Lima orang disebelah kiri 

dan lima orang disebelah kanan menjerit lalu tergelimpang 

rubuh! Delapan diantaranya tiada berkutik lagi. Yang dua 

menggerang kesakitan muntah2 darah!

Kejut para toa Pesantren Suhudilah bukan alang

kepalang! Segera mereka menghunus pedang panjang

berkeluk dan menyerbu kembali!! Dengan senjata

ditangan maka meski jumlah mereka kini tinggal se-

puluh orang tapi daya serang mereka jauh lebih hebat

Dan berbahaya dari pada pertama kali tadi!

Raja Rencong Dari Utara diserang demikian rupa

masih cengar-cengir tertawa se-akan2 serangan itu

adalah satu permainan yang menyenangkannya!

"Manusia2 tak berharga berani melawan Raja

Rencong Dari Utara terimalah mampus!"

Mendengar seruan itu, mengetahui bahwa manusia yang 

tengah mereka gempur adalah Raja Rencong

Dari Utara, tercekatlah hati orang2 Pesantren Suhudilah! 

Untuk sesaat lamanya mereka tak jadi teruskan

serangan. Namun salah seorang dari mereka berseru :

engkau

"Saudara2ku, kalau betul bangsat ini Raja Rencong 

Dari Utara mari kita berebut pahala membunuhnya! Kita 

balaskan sakit hati saudara2 kita dan tokoh2 silat yang 

telah dimusnahkannya!"

Mendengar ini keberanian yang tadi menciut kini

berkobar kembali dan kesepuluh orang itu dengan

serentak teruskan serangan mereka secara lebih

hebat lagi! Sepuluh pedang menderu. Tiga menusuk,

empat membabat dan tiga lainnya membacok dari

atas kebawah! Dapat dibayangkan bagaimana tubuh

Raja Rencong akan tersatai dan terkutung-kutung dilanda 

serangan sepuluh pedang itu!

Raja Rencong membentak garang. Tanah bergetar! 

Tubuhnya lenyap dalam satu gerakan yang luar biasa 

cepatnya. Kemudian terdengar satu suara keluhan yang 

disusul dengan suara "trang trang .trang2 sampai 

beberapa kali! Jeritan terdengar susul menyusul. Tiga 

batang pedang mental keudara, lima buah tangan 

terbabat putus!

Apakah yang sesungguhnya telah terjadi?!

Pada waktu sepuluh pedang berkiblat. Raja Rencong 

dengan jurus silat yang luar biasa cepat dan hebatnya, 

menyelinap diantara tusukan, bacokan dan babatan 

pedang. Kaki kanan menghantam kesamping

menendang seorang penyerang yang paling dekat dan

berlaku lengah! Begitu tendangan mendarat begitu

Raja Rencong rampas pedang ditangan Iaki2 itu danpergunakan senjata itu untuk menangkis serangan

sembilan pedang lainnya dalam satu jurus ilmu pe-

dang yang teramat lihay! Tiga buah pedang ditangan

tua2 Pesantren Suhudilah yang berkepandaian tinggi

mental sedang lima orang lainnya menjerit keras

karena tangan masing2 terbabat buntung! Meski tahu

bahwa Raja Rencong bukanlah tandingan mereka

engkautapi ketiga orang tua itu bukanlah manusia2 

pengecut. Lebih baik mati daripada lari atau menyerah!

Setelah saling memberi syarat ketiganya menyerang

lagi dari kiri kanan dan depan!

Raja Rencong melintangkan pedang yang berlu-

muran darah dimuka dada. Sengaja ditunggunya

sampai tiga serangan lawan berada dekat sekali 

ketubuhnya baru dia menggerakkan' tangan kanan

menyelundupkan pedangnya dalam tiga tusukan

berantai yang cepat laksana kilat dan sukar diduga!

Ketiga tua Pesantren itu terhuyung bermandikan darah. 

Yang seorang segera roboh tak berkutik lagi karena 

tusukan pedang Raja Renconq tepat menembus 

jantungnya. Yang dua lagi terhuyung2 nanar,

perut robek usus menjela2 dan akhirnya roboh pula

menyusul kawan2nya!, Raja Rencong tertawa gelak2

sambil bertolak tangan kiri kepinggang. Tiba2 Raja 

Rencong Dari Utara hentikan tertawanya. Satu suara

laksana ngiangan nyamuk menyelusup ditelinganya:

"Demi Tuhan! Pesantren yang begini suci telah

jadi korban keganasan! Bangunan suci hendak dimusuhi 

Padahal disini tidak terdapat harta berharga emas

berbungkah! Sungguh diluar perikemanusiaan!".

Belum lagi Raja Rencong sempat berpaling .

tahu2 sesosok tubuh berjubah putih melompat turun

dari jendela menara sebelah barat! Gerakan orang ini

enteng seringan kapas!

DUA

ORANG BERJUBAH PUTIH INI berbadan sangat 

pendek hingga jubahnya menjelajela ditanah. Dibahu 

kanannya terselempang sehelai selendang putih 

berumbai-umbai. Sorbannya besar sekali. Melihat kepada 

keadaan tubuhnya yang masih tegap itu orang akan 

menaksir dia baru berusia sekitar setengah abad. Tapi 

sesungguhnya dia telah hidup tujuh puluh tahun lebih 

diatas dunia ini!

"Kau Kyai Suhudilah?!" bentak Raja Rencong

Dari Utara. Orang pendek berjubah putih tidak menjawab.

Diputarnya kepalanya memandang mayat2 yang 

bergelimpangan hanya seorang yang masih hidup yaitu

yang pedangnya tadi dirampas Raja Rencong, namun

keadaannya juga tak ada harapan karena tendangan

Raja Rencong telah mematahkan tulang pinggangnya! 

Paras Iaki2 pendek itu mula2 tenang sekali.

Namun melihat mayat yang demikian banyaknya tak

dapat iamenyembunyikan gelora darahnya. Wajahnya

yang tertutup kumis dan janggut putih itu kelihatan

kelam membesi!

"Demi Tuhan", katanya seakan-akan pada

dirinya sendiri, "dosa apakah yang telah kami buat

hingga menerima cobaan yang begini besar?!".

Sejak pertanyaannya tadi tidak dijawab, Raja

Rencong merasa dianggap remeh dan menjadi marah

sekali. Dan mendengar ucapan sijubah putih Raja

Rencongpun berkata dengan suara lantang : "Manusia

katai tolol! Ini bukan cobaan! Orang2 itulah yang

sengaja mencari mati sendiri karena keliwat berani

melawan Raja Rencong Dari Utara!"

"Alasan yang tidak beralasan!" jawab sijubah

putih masih tanpa memandang pada Raja Rencong.

"Nyawa manusia bukan milik manusia! Kenapa ada

manusia yang berani berbuat se-wenang2 begini

rupa?!"

"Katai! Jangan bicara ngelantur terus2anl Katakan kau 

Kyai Suhudilah apa bukan?!"

"Ada apakah kau mencari Kyai itu?!"

"Tak perlu bertanya! Kalau kau bukan Kyai

Suhudilah lekas katakan dimana dia berada "

"Apakah ada dendam kesumat lama yang kau

bawa datang kemari? Kyai Suhudilah tak ada disini!

Aku wakilnya! Kalau ada keperluan katakan saja

nanti kusampaikan!"

Raja Rencong Dari Utara menimang sejenak. Dia

percaya kalau orang dihadapannya tidak berdusta

bahwa Kyai Suhudilah tak ada di Pesantren saat itu.

"Sebagai wakil di Pesantren ini, disamping harus

menyampaikan pesanku pada Kyai Suhudilah kurasa

ada baiknya kau mengetahui maksud kedatangankukemari! Katakan pada Suhudilah bahwa pada tanggal

satu bulan dimuka dia harus datang ke Bukit Toba

membawa lima puluh keping uang emas sebagai tanda

tunduk padaku dan masuk kedalam sebuah partai

besar yaitu Partai Topan Utara yang bakal kudirikan

dan kuresmikan! Katakan juga padanya kalau dia

berani menolak, lebih baik bunuh diri saja!"

Paras laki2 berjubah putih itu tambah kelam membesi.

"Kalau aku boleh bertanya, hak apakah yang

membuat kau memaksa orang untuk tunduk dan

tnaiuk kedalam partai yang hendak kau dirikan?!"

Raja Rencong Dari Utara tertawa tawar.

"Itu akan kuterangkan nanti pada hari peresmian

berdirinya Partai Topan Utaral Dan jangan lupa,

adalah juga menjadi kewajibanmu untuk mematuhi

pesanku tadi dan datang ke Bukit Toba!"

Kini sijubah putihlah yang tertawa rawan.

"Hendak mendirikan partai dengan main paksa? 

Hendak mendirikan partai dengan menempuh jalan 

berlumuran darah? Sungguh keji!"

"Jadi kau menolak untuk tunduk dan datang?!"

tanya Raja Rencong. Nada suaranya membayangkan

ancaman.

"Aku Kyai Hurajang sebagai wakil pemimpin pesantren 

Suhudilah berhak menolak permintaanmu yang secara 

memaksa itu, apalagi mengingat apa yang telah kau 

lakukan disini! Pembicaraan tentang segala macam 

partai, tentang segala macam tanggal dan tahun, 

tentang segala macam peresmian kita tutup

Sampai disini! Sekarang yang patut dibicarakan ialah

tentang pertanggung jawabmu atas dua puluh korban

yang berhamparan itu!"

Raja Rencong Dari Utara meneliti paras Kyai

Hujarang sejenak lalu tertawa ge!ak2.

“Kukira dengan melihat dua puluh mayat didekatmu

Kukira hidungmu akan menjadi satu. Peringatan Bagimu 

untuk tidak bicara apalagi bertindak gegabah! Tapi dasar 

manusia tidak tahu tingginya Gunung Leuser tak tahu 

dalamnya danauToba! Dikasih anggur malah meminta 

racun”.

Kyai Hujarang menghela nafas dalam

“ Betapapun tingginya gunung lebih bagus tingginya 

budi. Betapapun dalamnya Danau lebih baik dalamnya 

jalan Pikiran dan kemanusiaan. Terserahlah kalau disitu 

menganggap ini suatu penantangan Bagaimanapun aku 

tak dapat menerima permintaanmu! Sekarang ulurkan 

tangan kananmu yang telah menebar maut disini!"

"Kalau kuulurkan tangan, kau mau berbuat apakah?!" 

tanya Raja Rencong Dari Utara ingin tahu.

"Siapa yang membunuh hukumannya harus dibunuh! 

Tapi aku masih memberi ampun padamu CUKUP hanya 

dengan memotong tangan kananmu sebatas siku!"Kembali Raja Rencong Dari Utara tertawa

gelak2. 

"Kyai tak tahu diuntung!" dampratnya, "jika kau 

sanggup menahan seranganku sampai lima jurus

aku bersumpah untuk bunuh diri dihadapanmu!"

"Ajaran agamaku mengatakan balaslah kebaikan

dengan kebaikan, tapi balaslah kejahatan dengan 

keadilan! Akan kulaksanakan keadilan namun sengaja

kau minta hukuman yang lebih berat! Ah ... . mungkin 

sudah takdir aku harus turun tangan menyelamatkan 

dunia dari angkara murka yang kau timbulkan!"

"Sudah jangan ngelantur! Terima jurus yang pertama 

ini!" bentak Raja Rencong Dari Utara. Tangan

kanannya dipukulkan kemuka! Satu angin dahsyat

menderu dengan kekuatan setengah tenaga dalam!

Melihat datangnya serangan ini Kyai Hurajang

salurkan tiga perempat tenaga dalamnya kelengan

jubah lalu kebutkan lengan jubah itu! Selarik angin

putih menyambar. Tapi betapa terkejutnya Kyai Hurajang 

sewaktu tenaga dalam mereka saling bentrokan, 

tubuhnya terjajar kebelakang samai dua tombak!

Nyatalah tenaga dalam lawan jauh lebih hebat! Dan

sang Kyai sama sekali tidak tahu kalau Raja Rencong

baru cuma mengandalkan setengah bagian saja dari

tenaga dalamnya!

Melihat sekali hantam saja lawan sudah huyung

begitu rupa dengan tertawa Raja Rencong lipat ganda-

kan tenaga dalamnya! Jika saja Kyai Hurajang tidak

engkaulekas melompat pastilah tubuhnya akan kena 

disapu dan terlempar jauh!

Menyadari tenaga dalam lawan lebih hebat maka

Kyai Hurajang begitu melompat diudara segera 

menyambar selendang berumbai-umbai yang 

terselempang dibahunya! Dan serentak turun ketanah 

kembali selendang itu dikebutkannya kearah lawan!

Raja Rencong terkejut sekali sewaktu merasakan

bagaimana kebutan selendang berumbai-umbai itu

mendatangkan angin keras yang dingin menyembilu

tulang2 sekujur badannya! Tubuhnya tergontai-gontai. 

Tapi cepat dia menguasai diri dan membuka jurus

kedua dengan satu serangan yang luar biasa cepatnya!

Kyai Hurajang putar selendangnya sekeliling

tubuh melindungi diri dari gempuran dua tendangan

dan dua jotosan lawan! Laksana disapu topan layaknya 

serangan Raja Rencong menemui kegagalan total!

Tergetar juga hati Raja Rencong. Tidak disang-

kanya selendang lawan mempunyai kehebatan demi-

kian rupa! Tidak menunggu lebih lama dia segera pen-

tang tangan kanan dan kembangkan kelima jari.

"Aku mau lihat apakah kau sanggup menerima

pukulan ilmu kuku api ini?" hardiknya. Kelima jari

tangan dijentikkan kemuka. Dari kuku2 jari tanganitu menderulah lima larik sinar merah!

Kyai Hurajang kerahkan seluruh tenaga dalam

dan menangkis dengan selendangnya!

"Wuss!"

Kyai Hurajang berseru kaget dan lepaskan selendangnya 

yang dalam kejap itu telah berubah menjadi kepulan api 

dilanda pukulan kuku api yang dilepaskan Raja Rencong! 

Muka Kyai ini berubah pucat laksana kertas! Raja 

Rencong Dari Utara tertawa mengekeh.

"Apakah cuma itu satu2nya senjata yang kau

andalkan hingga kau demikian pucatnya?!" ujar Raja

Rencong mengejek!

"Aku masih belum kalah" kata Kyai Hurajang.

"Dalam Dua jurus mendatang jangan harap kau bisa

lepas dari tanganku!"

Kyai Hurajang rangkapkan kedua tangan dimuka dada, 

mata meram dan mulut komat kamit Sesaat kemudian 

wajahnya berubah menjadi biru.

"Haha ... . ilmu siluman apakah yang

hendak kau keluarkan Kyai?!" ejek Raja Rencong

Dari Utara.

Kyai Hurajang usapkan telapak tangannya kemuka. 

Warna biru diwajahnya lenyap dan sebagai gantinya kini 

kedua tangannya sampai pergelangan berubah menjadi 

biru legam dan bersinar!

"Bersiaplah untuk menerima kematian!" desis

Kyai Hurajang lalu tutup ucapannya dengan hantamkan 

kedua tangannya kemuka! Dua larik sinar biru

menderu kearah Raja Rencong Dari Utara! Inilah

ilmu pukulan kelabang biru yang pernah dituntut

Kyai Hurajang dari seorang sakti di Pulau Jawa!

Jangankan manusia, batu karang yang bagaimanapun

atosnya akan hancur lebur dilanda dua larik sinar biru

itu. Jika dipukulkan kepohon besar, maka pohon itu

akan menciut mati detik itu juga akibat racun dahsyat

yang terkandung dalam larikan sinar biru itu!

Raja Rencong Dari Utara juga sudah pernah

mendengar tentang ilmu pukulan kelabang biru dan

sudah maklum akan kehebatannya. Karenanya

begitu lawan lepaskan pukulan tersebut tak ayal lagi

dia segera gerakkan tangan kanan kepinggang! Sekejap 

kemudian sewaktu dua larik sinar biru itu akan

melandanya, selarik sinar kuning yang terang berkelebat 

kedepan dan terdengarlah satu letusan yang keras sekali 

sewaktu kedua sinar itu saling beradu diudara!

Kyai Hurajang terjajar kebelakang, tersandar kekaki 

menara. Dadanya sakit, nafasnya sesak sedang

parasnya pucat tiada berdarah. Dilain pihak kelihatan

kedua kaki Raja Rencong Dari Utara melesak ketanah

sedalam satu setengah dim. Tangan kanannya yang

memegang sebilah Rencong Emas masih diacungkan

ke udara! senjata inilah tadi yang telah mengeluarkansinar kuning dan bertubrukan dengan sinar biru

pukulan Kyai Hurajang! Perlahan-lahan Raja Rencong

turunkan tangan kanannya dan masukkan Rencong

Emas itu kebalik baju ungunya. Dan memandang 

kemuka. Kyai Hurajang telah melosoh ketanah. Ketika

kepalanya terkulai kesamping, nyawanyapun lepaslah!

Raja Rencong Dari Utara tertawa mengekeh.

Dari dalam saku pakaiannya dikeluarkannya sebuah

benda dan dilemparkannya kearah kepala Kyai Hura-

jang! Benda itu menancap tepat dikening sang Kyai

dan ternyata adalah sebuah bendera kecil berbentuk

segitiga berwarna ungu, pada tengah2nya terdapat

gambar dua buah rencong kuning saling bersilangan.

Pada tiang bendera kecil terikat segulung kertas!

Raja 'Rencong terus juga mengumbar tertawanya. 

Setelah memandang berkeliling akhirnya ditinggalkannya 

tempat itu!


TIGA

PADA MASA ITU DIBAGIAN UTARA Pulau Andalas 

terdapat satu gerombolan rampok yang sangat ganas dan 

ditakuti didelapan penjuru angin. Gerombolan rampok ini 

terdiri dari lima orang yang dipimpin oleh seorang yang 

bergelar Setan Cambuk. Empat orang anak buahnya 

masing2 Setan Pedang, Setan Pisau, Setan Rencong dan 

Setan Gada. Kelimanya ahli dan lihay memainkan 

senjata yang sesuai dengan gelar yang mereka pakai! 

Dimana- mana mereka muncul pasti timbul keonaran 

bahkan tak jarang pula mereka menculik perempuan2 

untuk dirusak kehormatannya lalu dibunuh! Kelima 

rampok2 ganas yang berkepandaian tinggi itu 

menamakan kelompok mereka dengan nama 

"Gerombolan Setan Merah" :

Telah beberapa orang tokoh silat diutara Pulau

Andalas turun tangan untuk membasmi Gerombolan

Setan Merah! Tapi tokoh2 silat yang bermaksud suci

itu terpaksa korbankan jiwa mereka sendiri karena

tidak sanggup menghadapi kelima manusia jahat

itu. Lagi pula untuk mencari sarang mereka bukan hal

yang mudah! Konon kabarnya Gerombolan Setan

Merah itu bersarang disatu rimba belantara yang

sangat rapat tak tertembuysinar matahari dan hampir

tak pernah dimasuki manusia, bahkan binatang buas-

pun ngeri diam disana karena sekali masuk kedalam

rimba itu sukar untuk dapat keluar lagi!

Dunia persilatan gempar ketika Gerombolan

Setan Merah bentrokan dengan seorang anak murid

kias satu dari partai silat Bintang Utara. Hal ini terjadi

belum lama berselang. Anak murid Partai Bintang

Utara yang berkepandaian tinggi itu mula2 berhasil

melukai salah seorang anggota Gerombolan Setan

engkauMerah yaitu yang bergelar Setan Pisau, namun 

nasibnya sial. Gerombolan Setan Merah berhasil 

menawannya hidup2. Kepalanya dipenggal dan dikirimkan 

kepada Ketua Partai Bintang Utara. Pecahlah 

permusuhan dan ketika Gerombolan.Setan Merah datang 

mengamuk kepusat kediaman Partai Bintang Utara, tak

satupun yang mereka biarkan hidup! Ketua dan Wakil

Ketua Partai terbunuh! Seluruh anak murid Partai

menemui ajal dan tempat kediaman Partai Bintang

Utara mereka musnahkan sama rata dengan tanah!

Sejak itu nama Gerombolan Setan Merah semakin 

ditakuti orang diseluruh pelosok utara Pulau Andalas. 

Jangankan berhadapan, mendengar namanyapun orang 

sudah tercekat dan ngeri!

Pada suatu malam yang gelap gulita tiada berbulan 

dan tiada berbintang, dipuncak sebuah bukit kelihatanlah 

sesosok bayangan hitam berlari sangat cepatnya. 

Demikian cepatnya hingga beberapa detik kemudianbayangan itu sudah lenyap dari puncak bukit dan kini 

kelihatan dengan sebatnya lari menuruni lereng bukit 

sebelah tenggara menuju kesebuah lembah berbatu-batu. 

Dipertengahan lembah, diatas sebuah batu besar 

bayangan ini berhenti dan memandang berkeliling. 

Pandangannya tertuju pada rimba belantara hitam pekat 

ditelan kegelapan yang terletak di ujung lembah. Ketika 

dia berniat hendak menggerakkan kedua kakinya 

melanjutkan perjalanan menuju kerimba belantara itu 

mendadak telinganya menangkap suara kaki2 manusia 

yang tengah berlari dikejauhan. Menurut taksirannya lebih 

dari tiga orang. Dengan cepat orang ini menyelinap 

kebalik batu besar dan bersembunyi.

Hampir setengah peminum teh kemudian, dari

arah timur kelihatan lima titik hitam yang lari dengan

engkaucepat memasuki lembah. Ternyata lima titik hitam 

ini adalah lima sosok tubuh manusia yang berpakaian

merah, berikat kepala merah, berambut gondrong

merah bahkan muka merekapun dicat dengan warna

merah! Dan kelimanya bukan lain daripada Gerombolan 

Setan Merah yang saat ini tengah kembali kesarangnya 

didalam rimba belantara. Dua orang diantara mereka 

membawa sebuah buntalan. Dipertenganan lembah, tak 

berapa jauh dari batu besar dimana orang tadi 

bersembunyi, salah seorang dari kelimanya yaitu Setan 

Cambuk hentikan lari dan memandang berkeliling.

"Ada apa?" tanya Setan Rencong. Dia dan ka-

wan2nya memandang pula berkeliling. Sebagai pemimpin. 

Setan Cambuk adalah paling tinggi ilmunya. Dia 

menjawab : "Aku mendapat firasat ada seseorang yang 

tengah mengintai gerak gerik kita saat ini!"

"Ah, itu hanya perasaanmu saja, Setan Cam-

buk!" kata Setan Gada sambil usut2 dagunya. "Siapa

manusianya yang berani berada ditempat ini? Bangsa

iblis jadi2anpun tak punya nyali berada disekitar

daerah kita ini!"

Setan Cambuk masih kurang enak perasaannya.

Dia memandang lagi berkeliling sampai sepasang

matanya membentur batu besar yang terletak tiga

tombak jauhnya. Tangan kanannya bergerak menge-

luarkan senjatanya yaitu sebuah cambuk berwarna

merah! Sekali tangan itu menggerakkan hulu cambuk

maka terdengarlah suara menggelegar dan byurr! Batu

besar ditengah lembah hancur lebur berkeping-keping!

"Nah kau lihat sendiri Setan Cambuk!" kata Setan 

Gada. "Jika ada bangsa manusia yang bersembunyi dan 

mengintai kita dibalik batu itu tentu sudah mencelat 

hancur lebur tubuhnya! Ayo kita lanjutkan perjalanan!"

Sewaktu Gerombolan Setan Merah itu lenyap didalam 

rimba belantara, sesosok tubuh yang bertiarap hampir 

sama rata didekat batu besar yang tadi dihancurkan oleh 

Setan Cambuk, dengan cepat bangkit!Meskipun batu dimana dia bersembunyi itu dihancur-

leburkan oleh cambuk namun keadaan malam yang

gelap gulita ditambah dengan rumput2 liar yang

tinggi masih sanggup menyembunyikannya hingga

tidak terlihat oleh Setan Cambuk dan kawan2nya.

"Kurang ajar!" maki orang ini. "Sebentar lagi

kalian akan rasakan hadiahku Setan2 Merah!". Habis

berkata begitu orang ini segera berkelebat kearah 

lenyapnya Gerombolan Setan Merah.

Kira2 setengah jam memasuki rimba belantara

yang gelap gulita itu dia menghentikan larinya dan

berjalan dengan perlahan penuh waspada. Sepasang

matanya demikian tajamnya hingga meski disekitar-

nya berada dalam kepekatan gelap gulita tapi dia

masih sanggup melihat jelas sejarak lima tombak ber-

keliling!

Kurang dari sepeminum teh orang ini menghentikan 

langkahnya. Didepannya berdiri sebuah pohon

yang luar biasa besarnya laksana raksasa hitam yang

berdiri dengan megah dimalam buta! Ketika mendongak 

keatas, tertahan oleh cabang2 pohon yang besar2 

kelihatanlah sebuah pondok diatas pohon itu.

Mulai dari lantai dan dinding sampai keatap pondok ini

terbuat dari rotan yang sebesar-besar pergelangan kaki

berwarna kuning mengkilap. Rotan2 itu dibuat

demikian licinnya hingga jangankan manusia biasa,

seekor semutpun pasti akan terpeleset dan jatuh bila

engkau menginjaknya.

Pintu pondok diatas pohon besar itu kelihatan

tertutup. Namun dari celah2 dinding, atap dan lantai

kelihatan menyeruak sinar lampul Setelah meneliti

suasana sekitarnya orang yang berada dibawah pohon

lalu melompat keatas pohon dan sesaat kemudian

tanpa mengeluarkan sedikit suarapun tahu2 dia telah

berada diatap pondok rotan. Seperti telah dijelaskan

rotan itu sangat licin sekali hingga jangankan manusia

biasa, seekor semutpun akan terpeleset jika merayap

diatasnya. Tapi melihat kepada kenyataan bagaimana

orang itu sanggup berdiri diatas atap pondok bahkan

tanpa suara sama sekali maka jelaslah dia seorang

yang berilmu sangat tinggi!

Melalui celah2 atap rotan orang itu mengintip kedalam 

pondok. Lima orang berpakaian merah, berambut merah 

dan berwajah merah duduk mengelilingi meja bukan lain 

dari. Gerombolan Setan Merah. Mereka sibuk 

menghitung kepingan2 uang emas dan barang2 perhiasan 

hasil rampokan mereka malam itu.

Tengah asyik menghitung-hitung itu tiba2 dengan

ilmu menyusupkan suara Setan Cambuk berkata :

"Kalian bersiaplah! Ada seseorang diatas atap!"

Keempat orang itu terkejut dan segera bersiap.

Setan Cambuk mendongak keatas dan berserulantang : "Tamu lancang! Kau telah berani datang

dan mengintai! Lekas turun serahkan diri!"

Dari atas atap terdengar suara tertawa mengekeh! Tiba2 

beberapa buah rotan diatas atap menguit dan terbuka 

lebar. Sesosok tubuh berpakaian gelap melompat turun. 

Serentak dengan itu Setan Cambuk kiblatkan senjatanya 

kearah sipendatartg! Setan Pisau tak ketinggalan. Sekali 

tangannya bergerak maka lima buah pisau melesat 

terbang! Lima buah pisau menancap dipakaian orang 

yang turun dan disaat itu pula ujung cambuk melanda

membuat sasarannya hancur lebur! Tapi alangkah ter-

kejutnya kelima orang itu melihat apa yang terjadi!

Ternyata yang mereka serang bukanlah sosok

tubuh seseorang melainkan cuma sehelai pakaian dan

celana panjang yang saling dikaitkan satu sama lain!

"Kurang ajar! Siapa yang berani mempermainkan 

Gerombolan Setan Merah?!"

Terdengar lagi suara mengekeh diatas atap. Sebuah 

rotan terkuit dan sebuah benda melayang kebawah! 

Karena takut akan tertiup lagi, kelima manusia berwajah 

merah itu tak mau menyerang! Tapi ketika benda yang 

melayang itu menancap diatas meja dihadapan mereka 

maka kembali kelimanya terkejut! Benda itu ternyata 

adalah sebuah bendera kecil berbentuk segi tiga dengan 

gambar dua buah rencong bersilangan dibagian 

tengahnya!

"Raja Rencong Dari Utara!" seru Setan Pisau!

Setan Cambuk meskipun berada disarang sendiri

dan lengkap bersama kawan2nya namun melihat 

bendera kecil itu dan mengetahui siapa adanya tamu

diatas atap menjadi tercekat lalu lambaikan tangannya 

dan sekaligus pelita diempat sudut pondokpun

padamlah! Suasana gelap gulita kini dan diatas atap

terdengar suara tawa bergelak.

"Gerombolan Setan Merah! Beginikah cara kalian 

menyambut kedatangan tamu?l"

Didalam kegelapan Gerombolan Setan Merah sudah 

cabut senjata masing2. Juga dari dalam kegelapan itu 

terdengar suara jawaban Setan Cambuk.

"Raja Rencong! Angin apakah gerangan yang

membawa kau datang ketempat kami?! Jika angin

baik dipersilahkan turun dengan hormat! Jika angin

engkauburuk yang membawa penyakit sebaiknya lekas

tinggalkan tempat ini!"

Terdengar suara tertawa gelak2 dari orang diatas

atap yang memang Raja Rencong Dari Utara adanya.

Dari celah2 rotan atap kelihatan melesat empat buah

benda bercahaya seperti kunang2 yang masing2 menuju 

keempat sudut pondok dimana terletak pelita.

Sesaat kemudian keempat pelita itupun menyalalah

kembali! Lima manusia bermuka merah terkejut

bukan main namun mereka menyembunyikan rasakagum masing2.

"Lekas katakan maksud kedatanganmu!" seru

Setan Cambuk pula.

"Ah, aku sudah masuk kedalam pondokmu,

sungguh keterlaluan kalau kalian tuan rumah sama

sekali tidak melihatnya!"

Gerombolan Setan Merah terkejut dan serempak

berpaling kebelakang. Astaga! Mata mereka terbeliak

besar. Tamu yang mereka sangkakan masih diatas

atap tahu2 sudah masuk kedalam pondok dan berada

dibelakang mereka!


EMPAT

SETAN PEDANG ADALAH YANG PALING

lekas naik darah diantara kelima Setan Merah.

Melihat orang berani mempermainkan dirinya

dan kawan2 serta masuk kedalam pondok dengan 

petatang-peteteng begitu rupa marahlah dia dan segera

menghunus pedang.

"Raja Rencong. Kau anggap kami ini apakah

hingga tak memandang mata sedikitpun terhadap

kami?!" bentak Setan Pedang. Setan Gada menepuk 

bahu kerabatnya itu dan berbisik : "Jangan kesusu 

bertindak gegabah. Bangsat ini sangat lihayl".

Sementara itu Setan Cambuk maju selangkah

dan berkata : "Harap segera beri tahu maksud ke-

datanganmu, Raja Rencong!".

Raja Rencong Dari Utara menyeringai dan rangkapkan 

tangan dimuka dada.

"Kedatanganku kesini adalah membawa angin

baik dan juga angin buruk!"

Setan Cambuk kerenyitkan kening!

"Kami tak mengerti. Harap dijelaskan biar terang!"

Kembali Raja Rencong menyeringai dan mem-

buka mulut : "Pertama jika kalian berlima sedia

tunduk padaku dan masuk kedalam Partai Topan

Utara yang bakal kuresmikan pada tanggal 1 bulan

dimuka maka aku datang kesini membawa angin

baik. Untuk itu kalian harus menyerahkan masing2

lima puluh keping uang mas dan pada hari peresmian

berdirinya Partai Topan Utara kalian harus datang

ke Bukit Toba!" Kelima Setan Merah saling berpandangan.

"Dan kalau kami menolak?" menyeletuk Setan

Rencong.

"Berarti kalian sengaja menghendaki angin

buruk!" jawab Raja Rencong Dari Utara. "Dan kalian

terpaksa kumusnahkan dari atas bumi ini!".

Kesunyian menyeling beberapa saat lamanya.

"Bagaimana? Angin yang manakah yang kalian

pilih?" terdengar Raja Rencong bertanya.

Setan Cambuk rangkapkan tangan dimuka dada

dan menjawab : "Soal mendirikan partai adalah urusanmu. 

Mengapa kami yang tak ada sangkut pautnya hendak 

dilibatkan?!"

"Kau tak layak bertanyat" bentak Raja Rencong Dari 

Utara.

"Kalau begitu kau juga tidak layak memaksa!"

balas membentak Setan Pedang penuh berangasan.

Raja Rencong memandang Iekat2 pada Setan

Pedang lalu tertawa sedingin salju dipuncak gunung.

"Memang maksudku mendirikan Partai Topan

Utara itu banyak mendapat tantangan! Tapi semua

yang menantang telah tinggal nama belaka Agaknyahari ini aku berhadapan pula dengan manusia2 keras

kepala yang ingin tinggalkan nama percuma dimuka

bumi ini!"

"Jangan mimpi disiang bolong sobat!" tukas

Setan Pedang. "Kami bukan bangsa kacoak yang bisa

dipaksa, kami bukan bangsa kroco yang bisa diperbu-

dak siapapun! Sekalipun Raja Dari Akherat!".

Meski hatinya sepanas bara dan mukanya kelam

memerah namun Raja Rencong Dari Utara masih saja

tertawa seenaknya.

"Setan Cambuk! Kau sebagai pemimpin dari Ge-

rombolan Setan Merah harap segera beri jawaban.

Mau masuk partaiku atau musnah?!"

engkau"Raja Rencong!" menyahuti Setan Cambuk.

"Didunia ini masing2 manusia berhak hidup 

menempuh jalannya sendiri2! Mau malang, mau 

melintang itu adalah urusan dan kepentingannya sendiri! 

Maksudmu untuk mendirikan Partai Topan Utara itu

tentu saja baik. Tapi untuk masuk kedalamnya harap

kau suka memberikan kelonggaran barang satu dua

minggu agar kami pertimbangkan dan pikirkan!"

"Aku datang malam ini dan harus dapat jawaban

malam ini juga!" kata Raja Rencong tegas.

Mendidihlah amarah Setan Cambuk.

"Barangkali kau sudah jemu hidup Raja Rencong?!"

"Kurasa demikian" menimpali Setan Pedang.

"Dari Raja Rencong diatas dunia dia hendak minta

jadi Raja Neraka dialam akhirat!"

Raja Rencong Dari Utara menyeringai. Dia memandang 

tak berkesip pada Setan Cambuk dan berkata : "Sekali 

lagi aku minta jawabanmu yang tegas. Jika menolak 

kalian tak akan melihat matahari besok hari!"

Setan Cambuk buka kedua tangannya yang sejak

tadi dirangkapkan dimuka dada. Dengan tertawa getir

dia berkata : "Meski namamu ditakuti dimana-mana

tapi nama Setan Merah telah lebih dulu tersohor di

delapan penjuru angin! Adalah tidak sepantasnya

kalau Setan Merah musti patuh pada Raja Rencong!"

"Jawabanmu sudah cukup jelas! Betul2 kau

dan kambrat2mu sudah jemu hidup!"

"Kami berlima kau seorang diri! Sekalipun kau

punya lima kepala sepuluh tangan dan kaki, mana

mungkin bisa menang?!" ejek Setan Gada.

"Sebaliknya sekalipun kalian dua kali lebih

banyak dan ini jangan harap akan lolos dari lobang

jarum kematian!"

"Bangsat rendah! Minggatlah ke neraka!" ben

tak Setan Pedang. Tak terlihat kapan dia mencabut

pedangnya dan tahu2 senjata itu sudah berkiblat di-

depan hidung Raja Rencong Dari Utara!

"Keparat!" damprat Raja Rencong. Sesaat

sebelum pedang menyambar mukanya lima jaritangannya menjentik! Lima sinar merah kekuningar

menderu dan tubuh Setan Pedang mencelat kedinding

pondok dalam keadaan hangus, roboh kelantai tanpa

bisa berkutik lagi! Bau daging terpanggang memenuhi

pondok itu!

Kejut Setan Cambuk dan tiga Setan Merah lainnya 

bukan alang kepalang! Setan Pedang adalah jago

nomer dua sesudah Setan Cambuk. Bagaimana dia

bisa dibikin konyol dalam satu gembrakan begitu saja?!

Setan Cambuk tak menunggu lebih lama. Begitu

juga tiga kawannya. Serentak mereka cabut senjata

masing2 dan menerjang kedepan! Pertempuran

hebat segera berkecamuk! Bertempur dalam jarak

dekat begitu rupa menyukarkan bagi Setan Cambuk 

untuk mempergunakan senjatanya. Setelah melipat tiga 

lebih, dulu cambuknya baru dia menerjang membantu 

kawan2nya.

Tiga jurus berlalu dengan cepat. Menyangka

dalam tiga jurus itu dia dan kawan2nya segera akan

dapat membereskan lawan sebaliknya Setan Cambuk

mengeluh dalam hati karena kenyataannya dia ber-

empatlah yang kena didesak!

Tiba2 Setan Cambuk bersuit memberi tanda.

Setan Pisau , Setan Rencong dan Setan Gada melom-

pat pondok. Dan disaat itu terdengar suara menggele-

gar! Cambuk ditangan Setan Cambuk melesat 

mengengkauhantam ke arah muka Raja Rencong. Dikejap 

yang sama lima buah pisau menderu dilemparkan Setan 

Pisau! Raja Rencong membentak keras hingga pondok

rotan itu tergetar hebat! Kelihatan sekilas tangannya

yang sebelah kiri bergerak kemudian tubuhnya lenyap. 

Sekejap kemudian terdengar suara bergedebuk

yang disusul suara pekik setinggi langit dan yang terakhir 

suara seruan tertahan!

Apa yang terjadi demikian cepatnya hingga tak

sempat seorangpun dari keempat Setan Merah itu

dapat melihat dengan jelas. Ketika semua itu telah

terjadi barulah mereka sadar dan terkesiap!

Sewaktu diserang oleh cambuk dan lima buah

pisau. Raja Rencong jatuhkan dirinya kelantai sambil

mempergunakan tangan kiri menyambut bagian belakang 

dari ujung cambuk! Bukan saja Raja Rencong berhasil 

menyambut dan menangkap ujung cambuk Setan 

Cambuk tapi sekaligus begitu jatuhkan diri dia

melewatkan lima pisau yang terbang kearahnya dan

bergulingan ketempat Setan Pisau yang telah 

melepaskan kelima pisau itu. Saking cepatnya gerakan 

itu Setan Pisau sendiri tak tahu kalau dirinya diserang.

Dan tiba2 saja satu jotosan yang ratusan kati beratnya

telah melanda dadanya! Tulang dadanya hancur! Darah 

membusah dimulutnya. Tubuhnya rebah kelantai!dan membuat tiga kali putaran. Maka tahu2 Setan

Cambuk merasakan sekujur tubuhnya telah terikat

erat oleh cambuknya sendiri hingga untuk beberapa

saat lamanya dia tak bisa bergerak barang sedikitpun!

Raja Rencong Dari Utara tertawa mengekeh!

Suara tawanya lenyap ditelan deru dua serangan dari

samping yaitu serangan yang dilancarkan Setan Rencong 

dan Setan Gada! Serangan ini hebat dan ganas

sekali karena dilancarkan dengan penuh amarah serta

segala kelihayan yang ada! Dan hasil dari serangan itu

adalah lebih hebat lagi!

Sekejap senjata kedua Setan Merah itu akan me-

nemui sasarannya maka kelihatanlah kiblatan sinar

kuning yang menyilaukan. Rencong dan gada dita-

ngan kedua kawan Setan Cambuk itu terlepas mental.

Keduanya terhuyung-huyung dengan memegangi

dada yang berlumuran darah tertusuk Rencong Emas

ditangan Raja Rencong Dari Utara. Sesaat kemudian

mereka merasa sekujur tubuh mereka panas dingin,

jalan darah seperti terbalik dan kepala laksana mau

pecah. Sewaktu lutut masing2 menjadi goyah keduanya 

bergelimpangan rebah, berkelojotan sejenak lalu

tak bergerak lagi alias mati!

Raja Rencong Dari Utara tertawa mengekeh.

Sekali dia meniup Rencong Emas maka lenyaplah noda

darah pada ujung senjata itu. Sambil memasukkan

senjata sakti itu kesarungnya yang tersisip dipinggang

Raja Rencong berpaling pada Setan Cambuk yang

saat itu telah melupakan untuk membebaskan dirinya

dari libatan cambuk karena terkesiap melihat bagaimana 

keempat anak buahnya satu demi satu menemui ajal 

ditangan Raja Rencong!

"Bagaimana?! Apakah kau masih punya nyali untuk 

menghadapi ku?!" tanya Raja Rencong.

Paras Setan Cambuk yang tadi sepucat kertas

kini menjadi kelam merah. Sekali dia berontak maka

lepaslah ikatan cambuk disekujur tubuhnya!

"Masih mau melawan?!" bentak Raja Rencong

seraya siapkan ilmu pukulan kuku api ditangan

kanannya. Meski darahnya mendidih, meski amarah 

bergejolak membakar hatinya namun pada dasarnya

Setan Cambuk memang sudah tak punya nyali untuk

menempur Raja Rencong. Dia sudah saksikan sendiri

kehebatan Raja Rencong! Sudah saksikan pula kema-

tian kawan2nya. Berlima dia tak sanggup mengalahkan 

Raja Rencong, apalagi dengan seorang diri.

"Aku mengaku kalah", desis Setan Cambuk

seraya melemparkan senjatanya.

"Mengaku kalah berarti tunduk kepadaku!"

"Aku tunduk!" kata Setan Cambuk dengan hati

penasaran.

"Dan harus bersumpah untuk masuk kedalamPartai Topan Utara!"

"Aku bersumpah!" dan Setan Cambuk mengangkat 

tangan kanannya sebagaimana laku seorang yang tengah 

disumpah. Tapi tiba2 tangannya itu secepat kilat 

dipukulkan kemuka.

"Wutt!"

Selarik sinar hitam menderu kearah Raja Rencong. Kejut 

dan amarah Raja Rencong bukan main!

"Keparat berani menipuku!" hardik Raja Rencong.

"Bangsat! Mampuslah!" teriak Setan Cambuk

seraya hantamkan tangan kanannya sekali lagi!

Tapi yang sekali ini Raja Rencong Dari Utara

tidak memberi hati lagi. Lima jari tangan kanannya

menjentik. Lima sinar merah kekuningan menderu

dan terdengarlah pekik pemimpin Gerombolan Setan

Merah itu! Riwayatnya tamat! Tubuhnya hangus 

kehitaman menghampar bau daging yang terpanggang!


LIMA

PUNCAK BUKIT TOBA MERUPAKAN selimutan 

hutan belantara yang amat rapat karena jarang diinjak dan 

didatangi manusia. Delapan penjuru kaki bukit 

berhubungan dengan pantai yang setiap saat disirami 

pecahan dan buih ombak sehingga dengan kata lain bukit 

besar itu adalah sebuah pulau yang terletak di tengah 

danau yang sangat luas.

Dalam tiupan angin siang yang sepoi2 basah,

diatas air danau kelihatan meluncur sebuah perahu

yang ditumpangi oleh.tiga orang berjubah dan ber-

sorban putih! Ketiganya tidak memegang sebuah

pendayungpun, tapi hebatnya, dengan memperguna-

kan telapak2 tangan sebagai pengganti pendayuTig,

ketiganya membuat perahu itu meluncur laksana naga

terbang diatas permukaan air danau hingga dalam

tempo yang singkat perahu merekapun sudah men-

darat dibagian timur pulau, dan mereka melompai

dalam gerakan2 yang luar biasa ringannya! Sewaktu

melangkah diatas pasir pantai yang basah, sama sekal'

kaki2 mereka tidak meninggalkan jejak barang sedi

kitpun Nyatalah ketiga orang ini manusia2 berke

pandaian tinggi!

Salah seorang dari ketiganya yang agaknya men-

jadi pemimpin rombongan memandang berkeliling,

lalu memberi isyarat pada kedua kawannya dan se-

bentar kemudian ketiganya sudah berlari laksana

terbang menuju kepuncak Bukit Toba. Semakin jauh

keatas bukit semakin susah perjalanan karena sangat

rapatnya pohon2 dan semak beluar. Ketiga orang ini

tentu saja tidak mau rusak pakaian mereka terkait

ujung ranting dan semak belukar. Karenanya mereka-

engkaupun melanjutkan perjalanan dengan "berlari" 

diatas pohon, melompat dari satu cabang kecabang lain 

dan tanpa mengeluarkan suara barang sedikitpun! Benar2

amat mengagumkan!

Beberapa lama kemudian ketiganya sampai

dipuncak Bukit Toba. Yang terdepan berhenti dica-

bang paling atas dari sebuah pohon yang besar dan

luar biasa tingginya. Kawan2nya kemudian berdiri

disisi kiri kanan dan mereka sama memandang ke-

depan.

Didepan sana, dikelilingi oleh pohon2 besar

tinggi terdapat sebuah bangunan berbentuk istana.

Tapi bangunan ini sudah sangat tua sekali dan tidak

mendapat rawatan sebagaimana mustinya hingga ke-

adaannya amat menyeramkan!

Seluruh bangunan diselimuti debu tebal. Hampir

disetiap sudut kelihatan jaring Iabah2 bahkan juga

tampak sarang2 burung dan kelelawar! Atap bagian

depan miring kekiri. Diatas genting tumbuh pohon2kecil, lumut menyelimut dimana-mana.

"Inikah tempatnya?!" tanya salah seorang Iaki2

tua diatas pohon.

"Kelihatannya seperti tak pernah didatangi manusia. 

Mungkin kau salah ".

Laki2 yang berdiri ditengah memandang berkeliling 

sebentar lalu menjawab : "Kemanapun mata

ditujukan hanya itu satu2nya bangunan yang kelihat-

an dipuncak bukit ini!"

"Tapi sungguh tak ".

"Diam! Ada orang datang!" kata orang tua yang

ditengah. Sesaat kemudian baru dua orang tua lainnya

mendengar suara bergemerisik. Ini sudah cukup men-

jadi pertanda bagaimanapun tingginya ilmu kedua

orang yang belakangan ini tapi masih berada dibawah

engkauorang tua yang pertama. Ketiganya cepat 

memandang berkeliling. Baru saja memutar leher tiba2 

mengumandang suara bentakan yang sangat keras!

"Tiga tua renta diatas pohon, apakah datang

ada membawa kain kafan untuk pembungkus jenazah

kalian masing2 kelak?!"

Ketiga orang tua diatas pohon terkejut bukan alang 

kepalang. Terkejut bukan karena keras lantangnya suara 

bentakan itu yang hingga saat itu masih mengumandang 

keseluruh pelosok bukit, juga bukan karena bentakan 

yang demikian menganggap rendah bahwa mereka akan 

menemui ajal! Yang mengejutkan mereka ialah karena 

suara bentakan itu jelas sekali adalah suara perempuan!

Dan belum habis keterkejutan ketiganya suara

bentakan itu mengumandang kembali lebih keras dan

kali ini bernada memerintah:

"Manusia2 berjubah putih! Lekas turun!"

Pertama sekali suara bentakan itu terdengar da-

tangnya dari arah barat, diantara pohon2 besar yang

rapat. Yang kedua kali tadi bentakan itu datangnya

dari arah bangunan tua! Maka ketiga orang tua ber-

jubah putih itupun tanpa melupakan kewaspadaan

segera melompat turun kepelataran batu yang ter-

dapat didepan bangunan.

Namun tiada terkirakan kejut dan peranjat me-

reka sewaktu orang yang tadi membentak bukan

muncul dari dalam bangunan tua melainkan dari balik

pohon besar diatas mana mereka tadi berdiri! Nyata-

lah betapa hebat dan lihaynya ilmu memindahkan

luara orang itu! Dan yang lebih membuat ketiga

orang tua bersorban itu Iebih2 kagum ialah orang

yang muncul itu adalah seorang perempuan berpakaian 

ungu. Rambutnya panjanq hitam tergerai sampai

Kepunggung. Parasnya ditutup dengan sehelai kerudung 

yang juga berwarna ungu. Mendengar kepada

suaranya yang tajam menyorot perempuan ini pastilah 

bersifat keras dan galak! Ketiga orang tua takdapat menduga berapa kira2 usia perempuan 

berkerudung ini. Dan dalam berdiri terpisah sejauh 

beberapa tombak itu ketiganya dapat mencium bau harum

yang keluar dari tubuh dan pakaian perempuan 

berkerudung!

"Dengan siapakah kami berhadapan?!" tanya

orang tua yang bertindak sebagai pemimpin rom-

bongan.

Dari balik kerudung ungu terdengar suara mendengus. 

"Kalian pendatang2 yang tidak tahu diri dan

lancang berani datang kemari yang musti terangkan

diri!"

Orang tua itu batuk2 dan sunggingkan senyum.

"Jangan tertawa macam monyet kurang ingatan!" 

bentak perempuan-berkerudung!

"Kalau sekiranya kau mau membuka kerudung,

baru kami akan terangkan siapa kami dan juga maksud 

kedatangan kami bertiga kesini!"

Terdengar suara gigi2 berkeretakan!

"Tua bangka keparat! Sudah hampir mampus

masih berhati kotor ingin melihat paras perempuan!

Apakah itu sifat orang beragama macam kalian!"

Merahlah wajah ketiga orang berjubah putih,

apalagi yang tadi bicara. Dia berkata begitu tadi de-

ngan maksud untuk mengetahui dengan siapa se-

sungguhnya dia berhadapan, tapi sikerudung ungu

salah, sangka dan mendampratnya!

"Kami orang2 tua mana ada pikiran untuk tergoda 

pada keindahan dunia ini! Justru kedatangan kami kesini 

adalah untuk menyelamatkan dunia ini dari segala 

macam kekotoran!"

Perempuan berkerudung tertawa. Suara tawanya cukup 

merdu tapi juga cukup menyeramkan!

"Hebat sekali kalau begitu!", katanya dengan

nada mengejek. "Tapi kau kesasar datang kesini,

orang2 tua! Kau kesasar mengantarkan jiwa! Tahukah 

kau bahwa'setiap ada manusia luaran yang berani

menginjakkan kakinya dipulau ini berarti mati?!

Sekarang lekas beri tahu nama kalian agar setan2

penghuni pulau lebih cepat mengenal calon2 kawannya!"

Penghinaan perempuan berkerudung itu sudah

melewati batas. Tapi ketiga orang tua berjubah putih

tetap berdiri dengan sabar malah yang seorang men-

jawab :

"Aku Kyai Suhudilah dan dua orang kawan-

ku ini Kyai Selawah dan Kyai Tanjung Laboh “

"Hem jadi kau Kyai Suhudilah! Aku tahu sudah apa 

maksud kedatanganmu bersama dua kambratmu itu 

kesini. Pasti untuk membalas dendam karena ayahku 

telah menghancurkan Pesantrenmu beberapa waktu yang 

lampau!".

"Jadi kami berhadapan dengan anak perempuanRaja Rencong Dari Utara?!" ujar Kyai Suhudilah.

"Sudah tahu kenapa tidak Iekas2 berlutut?!"

. Kyai Suhudilah tertawa dingin.

"Menurut ajaran agama kami, satu2nya kepada

siapa manusia berlutut ialah Tuhan bukan manusia,

apalagi manusia macam kau, anak seorang durjana

biang penyebab malapetaka dan bencana didelapan

penjuru angin!" Lekas panggil ayahmu!"

"Tua bangka sialan! Kau tidak layak memerintahku!" 

bentak perempuan berkerudung ungu.

"Jika demikian ", berkata Kyai Selawah,

"harap dimaafkan kalau kami mungkin terpaksa me-

maksamu ".

Anak Raja Rencong Dari Utara berpaling kepada

Kyai Selawah. "Mulutmu sombong, tapi kau bicara

masih punya perasaan. Kelak kematianmu lebih men-

dingan dari pada kawanmu yang satu ini!" dan dia

menuding pada Kyai Suhudilah. Dan setelah meman-

dang Kyai Suhudilah dengan sorot matanya, perem-

puan itu berkata : "Kedatanganmu kesini pasti

untuk balas dendam pada ayahku! Sebelum avahku

muncul kunasihatkan agar kau cepat2 saja bunuh diri!

Itu lebih baik bagimu, orang tua!".

Air muka Kyai Suhudilah kelihatan merah. Bagaimanapun 

sabarnya seseorang, lambat laun kesabarannya akan 

luntur juga.

"Perempuan, kesombongan dan kecongkakan

ayahmu rupanya sudah kau wariskan selagi dia masih

hidup! Kuharap kesombongan dan kecongkakan itu

segera kau buang bila ayahmu meninggal !"

"Tua bangka bermulut besar! Kau berani meng-

hina aku dan ayah! Makan jariku ini!". Perempuan

berkerudung jentikkan lima jari tangan kirinya sekaligus!

"Wuut!"

Lima sinar merah kekuningan menderu kearah

Kyai Suhudilah!

"Awas pukulan kuku api!" teriak Kyai Suhudilah 

memperingatkan kedua kawannya. Dia sendiri sambil 

menghindar kebutkan lengan jubahnya sebelah kanan!

"Wuus!"

Kyai Suhudilah pucat pasi parasnya! Meski kebutan 

lengan jubahnya berhasil membuyarkan serangan maut 

itu namun tak urung lengan jubahnya menjadi hangus 

hitam dan hawa panas menjalar kekulit lengan! Dengan 

cepat sang Kyai sobek ujung lengan jubahnya.

Gadis berkerudung ungu tertawa gelak2.

"Kalau kepandaianmu cuma sedalam sungai

yang dangkal, betul2 hanya mengantarkan jiwa

datang kemari! Lebih baik kalian bertiga bunuh diri!"

Kyai Suhudilah mendekam dalam hati, dan berkata : 

"Kami bukan manusia2 bangsa pengecut yang bersedia 

melawan seorang perempuan! Lekas panggil ayahmu!""Benar2 tidak tahu diri! Diberi kesempatan bunuh diri 

malah tambah menantang!". Bola2 mata sigadis menyorot 

tajam dan sesaat kemudian tubuhnya berkelebat dan 

tahu2 sudah membagi serangan pada ketiga Kyai dalam 

satu jurus bernama "tiga ekor naga menggempur sang 

surya"

Kembali ketiga Kyai dikejutkan oleh kehebatan

serangan ini! Cepat2 mereka menghindar dan setelah

aling memberi isyarat serentak maju untuk meringkus 

anak gadis Raja Rencong itu hidup2! Namun mereka 

tertipu! Tidak semudah itu untuk menangkap

hidup2 gadis yang sudah menguasai lebih setengah

bagian dari ilmu silat ajaran ayahnya! Begitu ketiga

Kyai serempak maju, tubuh sigadis berkelebat dan

lenyap! Lalu terdengar suara lengkingan seperti 

lengkingan burung raksasa. Lobang2 telinga ketiga Kyai

terngiang sakit! Dan dalam pada itu satu tebasan tepi

telapak tangan menderu sekaligus kearah kepala mereka!

Kyai Suhudilah dan kawan2 terpaksa bersurut undur 

untuk selamatkan kepala masing2! Mereka mengeluh, jika 

anaknya demikian hebatnya tentu ayahnya bukan lawan 

enteng meskipun mereka bertiga!

Kyai Suhudilah merenung cepat. Dia adalah

seorang yang bermata tajam dan setiap bertempur

selalu memperhatikan gerakan2 yang dibuat lawan!

Meski baru satu gerakan namun dia telah dapat

melihat sifat2 gerakan sigadis dan tahu dimana letak

kelemahan ilmu silat lawan! Dengan cepat Kyai Suhu-

dilah berkaca dengan ilmu menyusupkan suara pada

kedua Kyai lainnya : "Kita serang dia dengan barisan

tiga malaekat lenyap kelangit!"

Kyai Salawah dan Kyai Tanjung Laboh mengangguk 

tanda mengerti. Kyai Suhudilah mengedipkan

matanya dan ketiganyapun kemudian menyerbu dari

tiga jurusan. Kyai Suhudilah dari depan, Kyai Selawah dari 

samping kanan dan Kyai Tanjung Laboh dari samping kiri!

"Ilmu silat picisan macam apa yang hendak kalian obral di 

hadapanku?!" ejek anak gadis Raja Rencong. Tubuhnya 

dibungkukkan sedikit dan dengan mengandalkan tumit 

kaki kirinya, laksana sebuah titiran dia berputar dengan 

kaki kanan menderu ke arah ketiga penyerangnya!

Yang sekali ini tidak mudah bagi gadis ber kerudung 

ungu ini untuk memusnahkan serangan ke tiga Kyai itu. 

Karena begitu tubuhnya berputar dan menghantamkan 

tendangan dalam bentuk lingkaran, ketiga lawannya 

berkelebat cepat, lenyap dari pemandangannya dan 

tahu2 sudah menyerang lagi dari jurusan yang lain yaitu 

Kyai Suhudilah dari belakang. Kyai Selawah dari depan 

sedang Kyai yang satu lagi Dari samping kanan. Tiga 

buah totokan menderu ke Arah tiga jalan darah si gadis!

Gadis itu kertakkan geraham tanda penasaran

Kedua kakinya menjejak tanah. Didahului oleh satulengkingan keras dia melompat ke atas. Kaki kiri

dihantamkan kedepan menendang lengan Kyai Selawah. 

Kaki kanan ditendangkan saperti kuda menendang kearah 

Kyai Suhudilah yang menyerang dari belakang sedang 

satu pukulan tangan kosong yang mendatangkan angin 

keras dihantamkan kebatok kepala Kyai Tanjung Laboh 

yang menotok dari samping!

Karena tubuh sigadis berada diudara dan lebih tinggi 

dari ketiga lawannya maka meski bagaimanapun 

hebatnya serangan para Kyai namun serangan. balasan 

dari sigadis tak dapat tidak akan berhasil mencelakakan 

mereka lebih dulu!

Anak gadis Raja Rencong menyeringai dibalik

kerudungnya sewaktu melhat ketiga penyerangnya

menarik pulang tangan masing2. Segera dia hendak

susulkah dengan tiga serangan berantai yang 

menurutnya tidak dapat tidak pasti akan mengirim mereka

kepintu kematian! Dengan gelak mengejek maka dia

segera lancarkan tiga serangan berantai itu!

Tapi hatinya menciut!

Parasnya yang, tersembunyi dibalik kerudung

berubah total! Peluh dingin mengucur dikeningnya

sewaktu entah bagaimana ketiga calon korbannya itu

lenyap dari pemandangan dan tahu2 tiga pusat jalan

darahnya terasa dingin! Sadarlah sigadis bahwa ketiga

 lawannya sebelum sempat dia menyerang telah lebih

dulu mengirimkan totokan2 dari jurusan lain yang

tak diduganya! Meski bagaimanapun kehebatan dan

kecepatannya untuk mengelak atau menangkis tapi

kini sudah kasip! Yang bisa dilakukannya cumalah

memaki dan merutuk dalam hati!!

engkauSigadis mengeluh tinggi sewaktu totokan yang

pertama melanda jalan darah dipunggungnya. Kedua

tangannya dengan serta merta lumpuh. Tubuhnya ter-

huyung-huyung kemuka. Dalam sedetik lagi dua

totokan segera pula akan mendarat susul menyusul

di bagian lain tubuhnya!

Dalam keadaan yang demikian kritisnya bagi sigadis tiba2 

mengumandanglah suara bentakan yang kerasnya 

laksana gelegar gunung meletus!

"Pandansuri! Siapa yang berani berlaku kurang

ajar terhadapmu?!"

Satu gelombang angin yang luar biasa dahsyatnya 

menderu, membuat ketiga Kyai terhuyung lima langkah 

dari kalangan pertempuran sedang gelombang angin itu 

sekaligus melepaskan totokan ditubuh sigadis yang 

ternyata bernama Pandansuri!


ENAM

PENDENGAR SUARA BENTAKAN ITU

dan merasa totokan pada punggungnya lepas

Pandansuri menjadi lega. Sebaliknya ketiga

Kyai terkejut bukan main! Mereka adalah orang2

cabang atas dalam ilmu silat, tapi sekali terpa saja

ketiganya telah "dilemparkan" keluar sejauh lima

langkah dari kalangan pertempuran! Mereka sama

palingkan kepala dengan cepat!

Seorang Iaki2 berbadan tinggi tegap berdiri ber-

tolak pinggang dibawah atap bangunan tua! Pakaian-

nya dan juga destarnya yang tinggi berwarna ungu.

Tampangnya yang angker itu dihias dengan kumis

hitam melintang. Bajunya yang sengaja tidak dikan-

cingkan memperlihatkan dada yang penuh otot dan

berbulu!

"Apakah kami berhadapan dengan Raja Ren-

cong dari Utara?!" tanya Kyai Suhudilah.

Pelipis Iaki2 itu menggembung. "Sialan! Ditanya

malah menanya! Jawab! Apa kalian tidak malu me-

ngeroyok seorang perempuan?!"

"Malu atau tidak malu bukan itu soalnya", ja-

wab Kyai Suhudilah. "Kami datang mencari Raja

Rencong! Dan anak gadisnya hendak membunuh

kami bertiga! Apakah salah kalau kami tak bisa ber-

pangku tangan ?!"

 Laki2 berkumis melintang tertawa sambil usap2

dadanya yang berbulu.

"Baru menghadapi anaknya kalian sudah kewalahan! 

Bagaimana kalian punya nyali untuk datang kemari dan 

mencariku ?!"

 "Ayah! Perlu apa bicara panjang lebar dengan

Tua bungka ini! Dia telah menghina kita! Biar kau 

engkausaksikan bagaimana daku memberi pelajaran 

caranya mati pada mereka!". Pandansuri lantas cabut 

sebilah rencong perak dari balik pakaiannya. Senjata ini 

berkilauan ditimpa sinar matahari dan adalah sebuah 

senjata mustika. Tanpa berbaling pada anaknya Raja 

Rencong berkata : "Pandan, kau masuklah! Siapkan 

Arena Topan Utara!".

Meskipun hatinya penasaran sekali diperintah

demikian, dengan banting2 kaki Pandansuri akhirnya

masuk kedalam bangunan tua yang berbentuk seperti

bangunan tempat kediaman hantu itu!

"Raja Rencong Dari Utara!" kata Kyai Suhudilah. 

"Banyak hal pertanggungan jawab yang hendak

kuminta padamu !".

"Begitu?! Silahkan masuk ketempatku! Kita bicara di 

Arena Topan Utara!".

"Cukup disini saja", sahut Kyai Suhudilah.

Raja Rencong menyeringai. "Walau bagaimanapun aku masih punya peradatan dalam menerima

kunjungan tamu! Sekalipun tamu2 itu datang sengaja

untuk mencari mampus!". Habis berkata begitu Raja

Rencong memutar tubuh dan masuk kedalam bangunan 

tua. Mau tak mau ketiga Kyai terpaksa mengikuti dari 

belakang!

Bangunan itu ternyata panjang sekali. Ketiga

Kyai melangkah dibelakang Raja Rencong terpisah

sejauh sepuluh langkah. Mereka senantiasa berlaku

waspada karena kalau bangunan tua itu betul2 men-

jadi sarang Raja Rencong Dari Utara bukan mustahil

dilengkapi dengan segala macam alat rahasia yang ber-

bahaya. Dan bukan tidak mustahil pula Raja Rencong

tengah hendak menjebak mereka bertiga!

"Kawan2, bagaimana kalau kita serang dan ringkus 

dia hidup2 selagi membelakangi kita ini?!" bisik

Kyai Selawah. Kyai Suhudilah merenung sejenak lalu 

menggeleng pelahan. "Itu tindakan pengecut", katanya.

"Kalau kita menang tak akan terpuji, kalah malah

memalukan!"

"Tapi terhadap manusia biang malapetaka macam 

yang satu ini kurasa tak perlu memakai segala

macam ukuran baik dan buruk lagi!", bisik Kyai

Tanjung Laboh.

"Walau bagaimanapun kita tak bisa bertindak

begitu", menyahut Kyai Suhudilah.

Ketiganya melangkah terus mengikuti Raja Rencong. 

Mereka menuruni sebuah tangga batu. Tangga

Itu sebenarnya terbuat dari batu mar-mar yang putih

bersih. Tapi karena tak pernah dirawat dan dibersih-

kan tangga itu telah menjadi hitam diselimuti lapisan

debu setinggi beberapa mili! Raja Rencong menuruni

anak tangga dengan sikap acuh tak acuh. Ketika Kyai

Suhudilah dan kawan2 memandang kebawah, pada

lapisan debu yang menutupi anak2 tangga tak ke-

lihatan sedikit jejakpun! Sebaliknya ketika mereka

memandang kebelakang, keanak-anak tangga yang

tadi mereka lewati kentaralah jejak2 kaki mereka,

meskipun tidak membayang jelas! Dan ketiga Kyai ini

sama2 menggigit bibir.

"Kuatkan hati kalian!" bisik Kyai Suhudilah

memberi semangat. "Betapapun kejahatan itu tak bisa

bertahan lama! Kalaupun kita harus pasrahkan jiwa

ditempat ini, kita mati dalam berjuang! Mati syahid!"

Di bagian bawah bangunan tua itu terdapat sebuah 

ruang batu yang amat luas yang kira-kira dapat 

menampung lima ratus orang di keempat tepinya. 

Ruangan batu ini berbeda sekali dengan seluruh keadaan 

bangunan yang telah dilihat oleh ketiga Kiai. Keadaannya 

luar biasa bersihnya hingga bayangan-bayangan tubuh 

orang yang berada di ruangan itu akan kelihatan samar-

samar di lantai dan dinding serta atap. Ruangan ituberbentuk empat persegi. Di bagian tengahnya terdapat 

pelataran yang agak tinggi, berbentuk lingkaran. Inilah 

Arena Topan. Utara!

Di tengah Arena terdapat sebuah meja kayu jati yang 

indah berukir-ukir dikelilingi empat buah kursi. Satu dari 

keempat kursi ini lebih bagus dan besar dari tiga lainnya.

Di atas meja terdapat empat buah piala perak. Raja 

Rencong naik ke atas Arena dan duduk di kursi besar, 

memandang pada ketiga tamunya dan berkata :

"Silahkan mengambil tempat duduk !"

Ketiga Kiai duduk di masing-masing kursi.

Kewaspadaan mereka semakin dipertebal. Tak seorang 

lainpun yang kelihatan.

"Sebelum kita bicara silahkan minum arak dalam 

piala!" Raja Rencong lalu mendahului meneguk arak 

dalam piala di hadapanny.a. Ketika dia meletakkan piala 

yang kosong itu di atas meja kembali matanya 

membeliak: ."Kenapa kalian tidak mau minum?".

"Terima kasih! Agama kami tidak memper-

kenankan meneguk minuman keras macam begini",

sahut Kiai Suhudilah.

"Agamamu-agamamu! Di sini kalian harus

mengikuti aturanku dan menghormati diriku! Lekas

minum!".

"Terima kasih. Lebih baik ".

"Apakah kau kira aku hendak meracuni kalian?!" 

sentak Raja Rencong mulai beringasan.

"Kami datang ke sini bukan untuk minum-minum" 

membuka mulut Kiai Tanjung Laboh.

"Tapi untuk bicara! Untuk meminta pertanggungan

jawabmu ..

Raja Rencong menyeringai. Lalu matanya yang

garang menyapu paras ketiga Kiai di hadapannya.

Dan dari mulutnya mendesis suara pertanyaan :

"Bicara hal apa dan pertanggungan jawab apa?!"

"Kurasa kau sudah cukup maklumi" jawab

Kiai Suhudilah. "Tapi aku tak keberatan untuk 

mengatakannya blak-blakan padamu. Selama belasan 

tahun daerah utara ini aman tenteram! Namun sejak

kau muncul maka di mana-mana timbul malapetaka,

dlmana-mana timbul keonaran! Kalau cuma malapetaka 

dan keonaran biasa itu bukan apa-apa tapi kau juga 

sekaligus mempunyai cita-cita untuk mendirikan sebuah 

Partai yang bertujuan jahat sematamata!"

Sampai di situ Raja Rencong menukas.

"Apakah menjadi hak orang lain untuk tidak

tenang dengan cita-cita seseorang ?!"

"Memang bukan hak orang lain! Tapi kalau cita-cita itu 

hendak dicapai dengan mengorbankan nyawa manusia 

yang tak mau tunduk dan ikut dalam Partaimu, dengan 

jalan membunuh puluhan manusia tanpa kemanusiaan,maka itu adalah hak setiap Orang untuk turun tangani 

Di samping itu aku pribadi Ingin meminta pertanggungan 

jawabmu atas kematian Wakil serta duapuluh orang 

penghuni Pesantren Suhudilah!"

Raja Rencong Dari Utara memuntir-muntir kumis 

kumisnya. Dalam pada itu Kiai Tanjung Laboh berkata

pula: "Aku dan Kiai Selawah merasa mempunyai

tanggung jawab untuk mengamankan dan 

menenteramkan daerah utara yang telah dilanda 

malapetaka besar itu! Karena itulah kami berdua datang

menyertai Kiai Suhudilah !".

"Jika begitu katakan saja cara bagaimana kalian

bertiga hendak turun tangan terhadap Raja Rencong

Dari Utara!", kata Raja Rencong.

"Atas apa yang kau telah buat didunia luar dan

di Pesantrenku, aku dan kawan2 berhak memisahkan

batang lehermu dengan badan! Namun sebagai orang

beragama kami masih mau memberikan ampunan

dengan jalan hanya memotong kedua tanganmu se-

batas siku !"'

Raja Rencong Dari Utara kerenyitkan kening,

mendelikkan mata lalu tertawa gelak2 hingga keempat 

dinding ruangan itu bergetar! Tangan kirinya

mengusap-usap dadanya yang berbulu. Kyai Suhudilah 

keluarkan sebatang golok besar yang tajam luar biasa. 

Sehelai rambut yang dimelintangkan diatas mata golok 

lalu ditiup pelahan pasti akan putus!

"Terima kasih..terima kasih! Sungguh kalian bertiga 

manusia2 agama yang baik budi dan punya 

pertimbangan yang adil!" kata Raja Rencong.

Lalu sambungnya : "Karena kalian bertiga mau meng-

ampuni jiwaku, maka akupun rela pula untuk tidak

mencabut nyawa kalian meskipun aku mempunyai

aturan bahwa siapa yang berani datang kepulau ini

pasti akan kubunuh! Karenanya kalian bertiga Iekas2

saja bunuh diri! Bagaimana cara terserah masing2

kalian! Tentang jenazah kalian tak perlu dikhawatir-

kan! Danau yang mengitari pulau ini cukup layak

menjadi kubur kalian!"

"Raja Rencong", ujar. Kyai Suhudilah. "Keja-

hatanmu akan kami balas dengan keadilan! Itu sudah

lebih dari layak! apakah kau masih hendak berkeras

kepala mengikuti kesesatannya setan?!"

Raja Rencong Dari Utara berdiri dari kursinya

sambil tertawa sedingin es.

"Diberi kesempatan untuk bunuh diri, kalian

tidak mau melakukan! Terpaksa tanganku yang bertindak.

Perlahan lahan Raja Rencong angkat tangan

kanannya. Lima jari yang dikembang kukunya ke-

lihatan berubah merah kekuningan!

"Wuut!"

Lima larik sinar merah kekuningan yang panasnya bukanolah-olah menggempur ke arah tiga Kiai.

Baiknya para Kiai ini sudah bersiap sedia sehingga

begitu serangan ilmu kuku api dilancarkan maka

ketiganya sudah melewat dari kursi masing-masing!

Yang menjadi korban ialah tiga kursi bekas tempat

mereka duduk. Ketiga kursi itu serta merta menjadi

hitam hangus mengebul!

Meski hati tergetar hebat melihat kehebatan

kesaktian lawan namun ketiga Kiai sudah bertekad

bulat untuk berkorban jiwa demi kemusnahan manusia 

biang malapetaka! Serentak turun ketiganya

Ialah mencabut senjata dan menyerang dengan hebat!

Kiai Suhudilah menyerang dengan sebuah tasbih Kumala 

Hijau, sedang tangan kiri memutar golok Datar yang tadi 

hendak dipakai untuk memotong kedua lengan Raja 

Recong. Kiai Selawah menggempur dengan sebilah 

pedang biru sedang Kiai yang ketiga yakni Kiai Tandjung 

Laboh menghantam dengan sebuah kebutan yang 

berbentuk seperti sapu kecili

Raja Rencong Dari Utara berdiri di tempatnya

dengan sikap acuh tak acuh meski topan serangan

melandanya. Yang hebat ialah jangankan tubuhnya,

rambut atau pakaiannyapun tidak berkibar dilanda

angin serangan para Kiai! Sesaat tiga ujung senjata

akan '.'mencium" dirinya, Raja Rencong Dari Utara

gerakan tangan kanannya! Pedang, Tasbih Kumala

Hijau dan Kebutan Sakti terpental kembali laksana

menghantam benda karet yang atos!

Berobahlan paras ketiga Kiai!

Raja Rencong Dari Utara tertawa mengejek.

Tiba-tiba sekali tangan kanannya bergerak dan dari

mulutnya yang tadi tertawa keluar seman :

"Makan jotosan selaksa palu godam ini !"

Meski sebelumnya berseru demikian rupa yang

sekaligus memberi peringatan pada calon korbannya

namun ketiga Kiai tak dapat melihat gerakan tangan

lawan dan yang lebih hebat lagi mereka tak tahu

siapa di antara mereka yang menjadi sasaran, demi-

kianlah saking cepatnya geraan serangan Raja Ren-

cong Dari Utara.

Lalu terdengarlah suara :

"Ngek!"

Tubuh Kiai Selawah tertekuk ke muka sebentar

lalu mencelat mental keluar Arena, menggeletak

di lantai batu dengan perut pecah !

Kiai Suhudilah dan Kiai Tanjung Lor tertegun

terkesiap beberapa ketika lamanya!

"Kenapa termangu?! Kalian tokh.akan mene

rima nasib macam dia pula ?!" ujar Raja Rencong

pula. Kedua Kiai kertakan rahang. Pelipis-pelipis

keduanya menggembung tanda mereka tak dapat lagi

mengendalikan amarah yang meluap! Kiai Suhudilahengkaumenyerang lebih dahulu dengan jurus silat Turki

yang aneh gerakannya.

"Hemm silat picisan dari negeri orang yang 

ditontonkan di depanku!" ejek Raca Rencong.

"Sanggupkan ilmu silat Turki menerima pukulanku

yang ini ?!"

Dengan jari-jari tangan mengembang, Raja Rencong Dari 

Utara dorongkan tangan kanannya ke arah Kiai 

Suhudilah! Bacokan golok besar dan hantaman

Tasbih Kumala Hijau tertahan dan mental. Bersamaan 

dengan itu satu gelombang angin yang luar biasa

hebatnya menerpa tubuh Kiai Suhudilah! Kiai ini

mengeluh dan mental ke luar Arena. Begitu terhantar

di lantai batu tak berkutik lagi karena meski di luar.

tubuhnya tak kelihatan rusak namun di dalam dua

balas urat-urat yang paling penting telah putus!

Itulah kehebatan ilmu pukulan "topan pemutus

urat"!

. Semangat Kyai Tanjung Laboh seperti terbang

menyaksikan kematian kedua, kawannya itu! Muka-

nya pucat tiada berdarah. Dan tiba2 Raja Rencong

berpaling padanya dengan seringai maut bermain dibibir.

"Sesudah melihat tontonan ngeri itu apakah

kau masih punya nyali? Bukankah lebih baik bunuh

diri saja agar kau bisa mampus dengan enak?!"

"Demi Tuhan! Lebih baik mati dengan senjata

ditangan dari pada melakukan kepengecutanf" jawab

Kyai Tanjung Laboh. Seluruh tenaga dalamnya telah

dialirkan keujung kebutan dan sekali dia menggerakkan 

senjata itu maka sepuluh jalan darah ditubuh

Raja Rencong diancam bahaya maut!

Anehnya Raja Rencong cuma ganda tertawa yang 

membuat darah Kyai Tanjung Laboh tambah meluap-

luap! Sekejap lagi sambaran ujung kebutan akan 

melanda jalan2 darah ditubuh lawannya tiba2 tangannya 

terasa kesemutan dan kebutannya terpental lepas dari 

tangan!

Meski menyadari sepenuhnya bahwa Raja Rencong 

bukan lawannya namun dengan kalap Kyai

Tanjung Laboh yang berhati jantan itu menyambar

pedang Kyai Selawah yang tadi terjatuh dan dengan

senjata itu dia menggempur habis2an! Hujan serangan

menelikung tubuh Raja Rencong yang sama sekali

tidak bergerak ditempatnya malah menanggapi 

serangan itu dengan tertawa-tawa!

Kyai Tanjung Laboh penasaran dan juga heran

kenapa pedangnya sama sekali tak berhasil menyentuh 

bagian tubuh manapun dari lawannya! Tengah dia

pergigih serangan tiba2 Raja Rencong berseru :

"Tiga jurus kau mencak2 sudah keliwat cukup!

Lihat jotosan, awas kepalamu!"

Meski sudah diperingatkan demikian rupa namunsewaktu pukulan "selaksa palu godam" menyerang 

kepalanya Kyai Tanjung Laboh tak sanggup berkelit. 

Dicobanya membabat lengan lawan dengan pedang. Tapi 

sudah tidak keburu! Kyai yang terakhir ini terbadai dilantai 

dengan kepala pecah, darah muncrat dan otak 

berhamburan!


TUJUH

DIATAS SEBUAH BATU DALAM SEBUAH GOA

seorang laki-laki tua berjanggut dan berambut putih

duduk bersila meramkan mata tengah bersemedi.

Sejak tengah malam tadi dia bersemedi dan sampai

matahari terbit di ufuk timur masih juga dia belum

bergerak dari tempatnya. Menjelang tengah hari,

jadi sesudah dua belas jam lamanya duduk bersemedi

perlahan-lahan baru dia membuka kedua matanya.

Aneh dan juga menyeramkan! Ternyata kedua

matanya berwarna putih keseluruhannya! Tapi dia

tidak buta!

Kakek ini menghela nafas dalam. Air mukanya

keruh tanda ada sesuatu yang dipikirkannya dan apa

yang dipikirkannya itu menimbulkan kesusahan

dalam dirinya. Di dunia persilatan orang tua ini berjuluk

Datuk Mata Putih. Umurnya hampir mencapai

tujuh puluh lima tahun. Tubuhnya kurus hanya

tinggal kulit pembalut tulang. Namun kekuatannya

tidak kalah dengan orang-orang yang berumur se-

tengah abad dan menilik bagaimana batu tempat dia

duduk bersemedi mencekung dalam, nyatalah bahwa

orang tua ini memiliki tenaga dalam yang sangat

tinggi!.

Setelah menghela nafas dalam sekali lagi dia

berdiri dan melangkah ke mulut goa. Di luar goa

pemandangan indah sekali. Betapa bahagianya 

menikmati keindahan alam ciptaan Yang Kuasa itu. 

Namun jauh di luar keindahan itu, hampir disegala 

penjuru Jagat raya bertebaran noda-noda hitam yang 

merusak keindahan! Noda-noda hitam itu ialah kejahatan,

kecurangan, kekejian dan segala macam kemaksiatan! 

Dan yang membuat orang tua ini untuk ketiga

kalinya menghela nafas panjang dan" dalam ialah

karena seorang di antara manusia-manusia yang

melakukan kejahatan dan kekejian itu adalah muridnya 

sendiri!

Telah tiga bulan ini didengarnya tentang perilaku 

muridnya itu di luaran. Dan ini membuat dia

terkejut serta merasa menyesal telah mempunyai

murid seperti itu! Apakah yang bisa dibuatnya selain 

meninggalkan pertapaan, mencari murid yang

sesat itu lalu menghukumnya? Diam-diam dia merasakan 

penyesalan tambah mendalam bila dia ingat karena 

kepercayaan penuh terhadap sang murid, sebelum 

dilepas dari pertapaan dia telah menyerahkan Rencong 

Emas, sebuah senjata sakti luar biasa yang merupakan 

satu dari beberapa buah senjata mustika dunia 

persilatan!

Beberapa saat kemudian orang tua itupun berlalu 

meninggalkan pertapaan! Ilmu larinya hebat sekalihingga dalam waktu yang singkat sosok tubuh-

nya sudah lenyap di kejauhan !

Bersamaan dengan lenyapnya sang surya di ufuk

tenggelamnya, sesosok tubuh berkelebat dan berdiri

di bawah atap bangunan tua yag terletak di Bukit

Toba. Tanpa memandang berkeliling, tanpa bimbang

ragu sedikitpun, orang ini melangkah cepat memasuki

bangunan tua. Dalam tempo yang singkat dia sudah

berada di Arena Topan Utara yang terletak dibagian

bawah bangunan tua! Segala sesuatunya diruangan

luas itu berada dalam keadaan bersih. Namun orang

yang memasuki ruangan tersebut tahu bahwa baru

engkauseminggu yang lalu tiga orang Kyai telah menemui 

kematiannya ditempat itu!

Orang itu menggerakkan bibirnya sedikit. Maka

menggemalah suaranya yang keras lantang menggetar-

kan seantero bangunan dan ruangan.

"Hang Kumbara aku datang!".

Belum habis kumandang gema suara itu, dari

sebuah pintu didinding kanan muncullah seorang

berpakaian ungu. Begitu melihat siorang tua, Iaki2

berpakaian ungu ini berseru : "Guru!". Dia melang-

kah cepat kehadapan siorang tua dan menjura dalam

penuh hormat.

"Sungguh satu kegembiraan bisa bertemu dengan 

guru. Mohon dimaafkan kalau- murid sudah lama tak 

menyambangi guru hingga guru sendiri yang sampai 

berkunjung kesini!".

Orang tua itu atau bukan lain dari pada Datuk Mata Putih 

meneliti paras muridnya sejenak lalu tertawa rawan.

"Kudengar kau sudah mendapat nama besar

diluaran", kata Datuk Mata Putih.

"Ah, hanya nama dan gelar yang tak berarti

guru. Marilah kita bicara dikamarku", kata Iaki2

berpakaian ungu yaitu Raja Rencong Dari Utara.

"Pandansuri ada disini?".

"Sudah sejak sepuluh hari dia meninggalkan

Pulau ".

"Kalau begitu biar kita bicara disini saja".

"Baik guru. Tapi perkenankan murid menyuguhkan 

minuman lebih dahulu ".

"Tak usah", sahut Datuk Mata Putih.

"Agaknya ada sesuatu hal penting yang amat

mendesak hendak guru bicarakan", kata Raja Rencong 

Dari Utara.

"Hang Kumbara", Datuk Mata Putih menyebut nama 

asli Raja Rencong, "kurasa kau sudah bisa menduga 

maksud kedatanganku".

"Ah, murid yang bodoh ini mana mungkin bisa

menduga, guru".

"Kedatanganku sehubungan dengan apa2 yang

kudengar di luaran tentang kau " Apakah itu

betul?!"

"Apakah yang guru dengar diluaran tentang

diriku itu?"

Datuk Mata Putih merasa kurang senang bicara

bersilat lidah begitu. Maka diapun berkata secara

blak-blakan.

"Kulepas kau dari pertapaan beberapa waktu

yang lalu hanya dengan dua maksud! Pertama untuk

mencari pembunuh ayahmu dan kedua untuk berbuat 

kebaikan diatas dunia ini! Tapi apa yang kau perbuat 

kemudiannya? Demi cita2 besarmu kau membunuh 

belasan manusia, mendatangkan malapetaka

dimana2. Nyatalah kau telah sesat dan aku sangat

menyesal akan hal ini. Kuharap kau menyerahkan

kembali Rencong Emas yang dulu kuberikan dan ikut

aku kepertapaan untuk dikurung dalam goa selama

sepuluh tahun !" Sepasang bola mata Raja Rencong Dari 

Utara membelalak.

"Guru apakah sesat namanya jika murid bercita-cita 

hendak mendirikan sebuah Partai di daerah Utara ini?".

'Tidak. Asal saja kau menempuh cara2 yang

wajar!"

"Murid telah mencobanya. Tapi tokoh2 silat didaerah 

sini terlalu keras kepala dan tidak memandang sebelah 

matapun terhadap murid….”

"Kalau mereka tak mau masuk Partaimu, kau

tidak layak memaksa, aalagi kalau sampai membunuh 

orang-orang yang tak berdosa itu!".

"Tapi harap guru maklum kenapa murid bertindak 

sampai demikian jauh".

"Terangkan alasanmu!" ujar Datuk Mata Putih pula.

"Murid merasa mempunyai dendam terhadap

orang-orang dunia persilatan. Karena kalau tidak ada

orang-orang pandai itu maka tak akan ayah menemui

kematian dalam cara yang mengerikan! Dipenggal

lehernya dan kepalanya ditancapkan di atas sebilah

tombak di tengah-tengah pasar!"

"Aku tahu hal itu. Dan kau telah berhasil mencari 

serta membunuh manusia yang telah menewaskan 

ayahmu! Lantas kenapa kau menjadi tersesat?!"

"Murid tidak merasa tersesat, guru! Orang-orang

dunia persilatanlah yang telah sesat dan menyebabkan 

kebencian murid tiada batas lagi ternadap mereka! 

Sesudah menamatkan riwayat pembunuh ayah,

.beberapa orang tokoh silat mencari murid hendak

balas dendam! Dendam! Seakan-akan adalah dosa

besar bagi murid karena membunuh orang yang

telah membunuh ayah! Mereka tak berhasil mencari

murid! Dan guru tahu apa yang dibuat orang-orang

berkepandaian tinggi itu?! Ibu dibunuh, adik-adikku

dipancung satu demi satu! Dua orang adik perempuanku 

diperkosa lalu ditinggalkan begitu saja sampai

mereka bunuh diri! Dan orang-orang pandai itu belum

puas rupanya! Sampai-sampai calon istrikupun

mereka rusak kehormatannya dan dibunuh! Ketika

salah seorang dari mereka berhasil murid pecahkan

kepalanya, seluruh keluarga calon istriku ditumpas!

engkauKekejaman dan kebiadaban manakah yang 

lebih terkutuk dari itu?! Kata mereka, mereka adalah

orang-orang pandai, tokoh-tokoh silat utama ! Tapi

kebejatan yang mereka lakukan! Salahkan kalau

murid menanam rasa kebencian terhadap orang-

orang pandai itu?! Sesatkah kalau murid membunuh

belasan manysia yang bertanggung jawab atas kema-

tian ibu, adik-adikku, calon istriku dan seluruh ke-

luarganya ?"

"Orang-orang yang bertanggung jawab atas

semua itu jumlahnya hanya sepersepuluh saja dari

jumlah manusia yang telah kau bunuh! Apa 

pertanggungan jawab atau alasanmu atas yang sembilan

persepuluh lainnya? Yang kau bunuh tanpa pangkal

sebab atau kesalahan atau dosa apapun juga ?!"

"Sudah murid katakan bahwa murid bertekad

untuk melenyapkan orang-.orang pandai di dunia ini!

Karena justru merekalah yang menjadi pangkal sebab

segala kejahatan!"

"Sungguh picik jalan pikiranmu! Beberapa

belas orang yang bersalah dan punya dosa tapi ratusan

manusia yang kau jadikan korban! Aku tak dapat

menerima alasanmu! Lekas serahkan Rencong Emas

dan kau ikut aku kembali kepertapaan!".

Hang Kumbara atau Raja Rencong Dari Utara

terkejut. Untuk beberapa ketika lamanya guru dan

murid saling pandang memandang; Sekelumit senyum

kemudian tersungging di bibir Hang Kumbara.

"Apakah ini suatu perintah, guru?" tanyanya.

"Lebih dari perintah" jawab Datuk Mata Putih

tegas. Senyum itupun lenyaplah dari bibir Raja Rencong. 

"Mohon dimaafkan. Kali ini murid tak dapat mengabulkan 

permintaan, tak dapat mematuhi perintah guru ".

"Kau sudah tahu hukuman bagi seorang murid

yang membangkang?!" tanya Datuk Mata Putih.

Sepasang matanya yang putih memandang tajam-

tajam menyorot ke mata muridnya. Jika bukan

Raja Rencong pastilah seseorang akan merasa ber-

gidik dipandang begitu rupa oleh Datuk Mata Putih-

"Guru, harap kau mengerti kedudukan murid

saat ini. Dalam waktu singkat murid hendak meres-

mikan berdirinya Partai Topan Utara dimana murid

menjadi Ketuanya".

"Aku tidak perduli apa urusanmu, apa kedudukanmu! 

Sekali aku bilang serahkan Rencong Emas dan Ikut 

kepertapaan maka kau harus patuh!"

Air muka Raja Rencong Dari Utara berubahtotal. Perubahan ini segera dimengerti oleh Datuk

Mata Putih? Dan tanya orang tua ini : "Kau hendak

melawan terhadap gurumu sendiri ?!".

"Sungguh aneh kehidupan ini!" kata Raja Rencong 

tanpa memandang pada gurunya. "Tiap2 manusia terlalu 

mengurus kepentingan dirinya sendiri tanpa mau 

memperhatikan kepentingan orang barang sedikitpun! 

Karena kau memaksa sedang murid tak dapat

mematuhi maka cukup pembicaraan sampai disini

guru!". Raja Rencong Dari Utara menjura dan hendak

berlalu dari hadapan Datuk Mata Putih.

" Aku menyesal mempunyai murid sesat macammu ini 

Hang Kumbara!" ujar Datuk Mata Putih.

"Dan murid juga menyesal menghadapi kehidupan 

macam begini!", kata Raja Rencong pula, lalu

sambungnya : "biarlah penyesalan itu sama2 kita

bawa mati bila sudah tiba saatnya!".

"Mungkin memang begitu caranya memupus

penyesalan" menyahuti Datuk Mata Putih. "Tapi

bagiku penyesalan itu hanya bisa ditebus dengan men-

jatuhkan hukuman tegas terhadapmu!"

Raja Rencong Dari Utara menghentikan langkahnya dan 

memutar tubuh. Pandangan matanya tak berkesip.

"Hukuman tegas macam apakah, guru?!"

"Mulai detik ini putus hubungan kita sebagai

guru dan murid ".

"Kalau begitu silahkan kau angkat kaki dari

tempatku!" belalang Raja Rencong Dari Utara.

Paras Datuk Mata Putih kelam kemerahan.

Dadanya bergejolak dan darahnya seperti men-

didih karena marah.

"Aku akan angkat kaki Hang Kumbara!" sahut

Datuk Mata Putih. "Tapi setelah lebih dulu meme-

cahkan batok kepalamu!"

Raja Rencong Dari Utara rangkapkan kedua

tangan dimuka dada lalu tertawa gelak2. Arena Topan

Utara bergetar dan diam2 Datuk Mata Putih terkejut.

Suara tertawa yang hebat itu berarti hebatnya pula

tenaga dalam Hang Kumbara. Rupanya Hang Kum-

bara sudah maju tenaga dalamnya dari sejak dia me-

ninggalkan pertapaan tempo hari.

"Kalau seorang guru hendak membunuh murid

sendiri ditutup dengan topeng alasan sebagai kewajib-

an! Tetapi kalau seorang murid membuat kesalahan

dikatakan murid sesat! Biarlah kau menamakan aku

murid sesat karena dalam kesesatan itu kau sendiri

sudah kesasar untuk mengantar nyawa kesini Datuk

Mata Putih!"Datuk Mata Putih serasa mau pecah kepala 

dan dadanya dilanda amarah! Sekali tubuhnya berkelebat

maka diapun lenyap dan dua jari tangannya tahu2

sudah mendarat di dada Raja Rencong Dari Utara,

melontarkan satu totokan yang luar biasa cepat danlihay!

Tapi kejut Datuk Mata Putih bukan olah ketika

melihat Hang Kumbara masih berdiri ditempatnya,

cuma terhuyung-huyung sebentar dan sambil ter-

tawa mengejek! Sama sekali tidak menjadi kaku

tegang akibat totokan yang dilancarkan tadi! Kalau

tidak manusia ini memiliki tenaga dalam yang tinggi

mana mungkin dia sanggup menutup jalan darahnya

melawan tenaga totokan yang besar itu?!

Hanya dalam beberapa bulan saja turun dari per-

tapaan Hang Kumbara telah demikian jauh maju ilmu

kepandaiannya! Tak mungkin hal ini terjadi kalau dia

tidak berguru pada seorang sakti lainnya! Maka se-

waktu menyerang kedua kalinya, tak ayal agi Datuk

mata Putih mengeluarkan jurus terhebat yang dimili-

kinya yaitu yang bernama : "Dua ekor naga keluar

dari goa".

Jurus ini sengaja dikeluarkannya karena dia ber-

maksud untuk meringkus Hang Kumbara detik itu

juga. Kedua tangan terpentang Iebar2 kemudian ber-

kelebat dalam bentuk silang, satu memukul kearah

perut dan satu lagi menjambak kearah rambut. Kaki

kanan ditendangkan kemuka untuk menghantam

tulang kering lawan. Seseorang yang kena dipreteli

Oleh jurus yang hebat ini pasti tubuhnya bagian

bawah akan terlontar kebelakang sedang rambut ter-

Jambak dan otot2 perut menderita sakit yang luar

biasa. Dalam keadaan begitu akan mudah untuk me-

ringkus lawan!

Namun untuk kedua kalinya Datuk Mata Putih

dibikin kaget. Kaget bukan saja karena Hang Kumbara 

sanggup mengelakkan serangannya itu tapi begitu

mengelak begitu Hang Kumbara menyerangnya dengan

jurus yang sama, malah jurus "dua ekor naga keluar

dari goa" yang dilancarkan oleh Hang Kumbara jauh

lebih dahsyat dan mendatangkan angin laksana topan

prahara! Ini adalah satu hal yang tak pernah diduga

oleh Datuk Mata Putih. Dengan segera sang Datuk

keluarkan sehelai selendang putih yang merupakan

senjata yang diandalkannya. Sekali kebutkan selendang 

itu maka musnahlah serangan Raja Rencong Dari 

Utara!

Raja Rencong Dari Utara sudah tahu dan makum 

akan kehebatan senjata ditangan bekas gurunya.

Meski senjata itu tidak sehebat Rencong Emas namun

tak bisa dibuat main2! Sekali kepala kena terpukul

pasti akan rangkah! Karenanya Raja Rencong Dari

Utarapun segera mencabut Rencong Emas dari 

pinggangnya. Sinar kuning menerangi Arena Topan 

Utara!

"Datuk Mata Putih" kata Raja Rencong dengan

seringai bermain dimulutnya. "Seandainya ini kauyang membuat! Hari ini kau sendiri akan menjadi

korbannya! Betapa kau akan mampus penuh penye-

salan karena telah membuat Rencong Emas ini!".

Ucapan itu membuat Datuk Mata Putih tambah

mendidih amarahnya. Dengan cepat dan menyerang

kembali. Selendang putih berkelebat kearah dada

Raja Rencong kemudian bergerak laksana mematuk

ketenggorokan dan sewaktu Raja Rencong mengelak,

ujung selendang dengan cepat meliuk melibat Raja

Rencong ditangan Raja Rencong Dari Utara!

Raja Rencong Dari Utara ganda tertawa. Bagaimanapun 

hebatnya selendang putih itu tak akan dapat menandingi 

Rencong Emas yang sakti. Karenanya begitu selendang 

hendak melibat senjatanya. Raja Rencong babatkan 

senjata itu dengan cepat, siap untuk merobeknya!

Datuk Mata Putih juga sudah maklum apa yang

terlintas dipikiran Hang Kumbara. Pada saat Rencong

Emas membabat, saat itu pula dia menggerakkan

lengan kanannya. Ujung selendang laksana seekor ular

menyelusup kebawah lalu naik lagi keatas dan meng-

hantam Raja Rencong Dari Utara dengan amat kerasnya!

Raja Rencong terbanting kebelakang sampai

lima langkah. Dadanya sakit bukan main. Nafasnya

sesak, wajahnya merah karena menahan sakit dan

amarah. Bagaimanapun hebatnya akibat pukulan

ujung selendang tapi tidaklah sehebat yang diduga

Datuk Mata Putih. Jangankan tubuh manusia, batang

pohon besarpun akan hancur patah dilanda pukulan

selendang itu! Tapi Hang Kumbara boleh dikatakan

tidak mengalami sesuatu apapun! Tentu saja ini mem-

buat Datuk Mata Putih jadi penasaran. Selagi Hang

Kumbara mengatur jalan nafas serta darah dan me-

ngerahkan tenaga dalamnya kebagian dada yang sakit

maka Datuk Mata Putih telah menyerangnya dengan

jurus yang mematikan!

Dengan mengandalkan kegesitan ilmu meng-

entengkan tubuh, Hang Kumbara berkelebat kian

kemari dan dalam tempo yang singkat murid dan guru

itu sudah bertempur sepuluh jurus!

Sinar putih dari selendang ditangan Datuk Mata

Putih bergulung-gulung sedang sinar kuning Rencong

Emas ditangan Hang Kumbara mencurah laksana

hujan dan kedua senjata itu saling mengeluarkan

engkauangin yang teramat hebat!

Kalau dalam sepuluh jurus itu Hang Kumbara

mengeluarkan jurus2 ilmu silat yang dipelajarinya dari

Datuk Mata Putih dan dapat bertahan dengan gigih,

maka dalam jruus2 berikutnya didahului oleh satu

bentakan menggelegar Hang Kumbara merobah per-

mainan silatnya yang jurus2nya serba asing dan aneh

bagi Datuk Mata Putih. Demikian hebatnya jurus2 ini

hingga dalam tempo yang singkat sang Datukpunsudah terdesak hebat! Bagaimanapun sebatnya kebut-

an selendang saktinya, bagaimanapun rapatnya per-

tahanan namun Datuk Mata Putih tiada sanggup

membebaskan diri dari telikungan senjata lawan, apa-

lagi untuk balas menyerang!

Dalam jurus kedelapan belas terdengar keluhan

Datuk Mata Putih! Ujung Rencong Emas merobek

pakaiannya dan melukai jidatnya! Meski luka itu

tidak berapa dalam namun karena Rencong Emas

bukan senjata sembarangan maka bekas luka men-

datangkan hawa panas yang mengalir kesekujur tubuh

dan mempengaruhi gerakan2nya. Dia mulai gugup

dalam posisi bertahannya. Tusukan kedua menggores

pelipisnya! Darah mengucur menutup mata kanan-

nya! Datuk Mata Putih semakin kepepet. Dalam ke-

adaan putus asa orang tua itu menyerbu dengan

kalap. Selendang menderu, tangan kiri menghantam-

kan pukulan tangan kosong yang mendatangkan angin

ratusan kali beratnya sedang kaki kanan bergerak

dalam satu tendangan kearah selangkangan Raja Ren-

cong Dari Utara! Ini betul2 satu -serangan yang me-

matikan. Jika saja lawan yang diserang tingkat ke-

pandaiannya berada disebelah bawah pastilah dia

akan konyol! Namun keadaan Datuk Mata Putih yang

menyerang dengan kalap itu adalah satu hal yang sia2!

Meski tendangannya berhasil juga menghantamkan 

pinggul kiri Raja Rencong namun orang tua ini

terpaksa menerima satu tikaman yang keras didada

kirinya, tepat pada jantungnya! Tak ampun lagi begitu 

'Rencong Emas dicabut begitu Datuk Mata Putih

terkapar dilantai. Kedua matanya yang putih berputar-

putar sebentar, kakinya bergerak-gerak. Tapi

kemudian tak satu bagian tubuhnyapun yang bisa

berkutik lagi! Betapa mengenaskannya seorang guru

menemui kematian ditangan muridnya sendiri dan di-

tusuk dengan senjata ciptaannya sendiri!


DELAPAN

DILERENG GUNUNG SINABUNG ADA

sebuah bangunan kecil yang atapnya berbentuk puncak 

mesjid. Itulah tempat kediaman Panglima Sampono, 

seorang laki-laki berumur enam puluh tahun yang 

dianggap gagah perkasa dan sakti oleh penduduk 

disebelah timur daratan Pulau Andalas. Adapun 

Panglima Sampono ini dulunya adalah seorang pendatang 

dari selatan yang telah berjasa besar dalam mengusir 

pasukan asing yang mendarat dipantai Pulau Andalas 

sebelah timur, yang bermaksud hendak merampas

beberapa daerah subur dan kaya raya. Sampono 

kemudian diangkat oleh Sultan Deli menjadi kepala 

Balatentara dan diberikan pangkat Panglima. Pada umur 

lima puluh tahun dia mengundurkan diri namun demikian 

sampai saat itu semua orang dan Sultan sendiri masih 

menyebutnya sebagai Panglima.

Sejak mengundurkan diri Panglima Sampono

berdiam dilereng Gunung Sinabuhg, mempertekun

diri dalam urusan akhirat serta memperdalam ilmu

silat dan kesaktiannya. Bila terjadi huru hara di-

kesultanan Deli, Sultan mengirimkan utusan untuk

minta bantuan Panglima Sampono menumpas huru

hara itu Panglima Sampono tidak jarang pula turun

dari Gunung Sinabung secara diam2 dan menghan-

curkan manusia2 jahat seperti perampok, bajak laut

dan lain sebagainya.

Didalam bangunan kecil yang atapnya berben

tuk puncak mesjid itu duduklah Panglima Sampono

bersama tiga orang tamunva. Ketiganya datang

dengan maksud yang sama dan ketiganya adalah

tokoh2 dunia persilatan yang cukup terkenal, ditakuti

oleh kaum hitam dibagian Utara Pulau Andalas. Yang

pertama ialah Datuk Nan Sabatang, seorang tokoh

silat berbadan tinggi besar, berkumis melintang. Tamu

kedua Lembu Ampel, tokoh silat berasal dari tanah

Jawa tapi telah sejak dua tahun menetap di Pulau

Andalas. Antara Lembu Ampel dan Datuk Nan Saba-

tang terjalin hubungan erat karena adik kandung

Datuk Nan Sabatang kawin dengan Lembu Ampel.

Kemudian orang yang ketiga berasal dari Malaka, ber-

nama Sebrang Lor. Seperti telah diterangkan diatas

kedatangan ketiga orang itu ketempat Panglima Sam-

pono membawa maksud yang sama yaitu yang ada

sangkut pautnya dengan meraja-lelanya perbuatan

sewenang2 yang dilakukan oleh Raja Rencong Dari

Utara.

Berkata Sebrang Lor : "Petualangan Raja Ren-

cong sudah sampai pula ke Malaka. Empat tokoh

silat di Malaka dibunuh dengan kejam ketika mereka

menolak untuk tunduk dan masuk kedalam PartaiTopan Utara. Entah berapa belas orang lainnya yang

juga telah dibunuh oleh Raja Rencong, diantaranya

enam orang adalah teman2ku sendiri. Juga Raja Ren-

cong pernah melarikan dua orang gadis dan kedua

gadis itu tak diketahui nasibnya sampai sekarang,

apa masih hidup atau sudah mati !. Boleh dikatakan

pertolongan Tuhanlah yang masih menyelamatkanku

sewaktu aku dan beberapa orang kawan bertempur

dengan Raja Rencong. Kawan2ku mati semua, aku

sempat menyelamatkan diri. Tapi beberapa hari ke-

mudian kudengar keluargaku ditumpas oleh manusia

laknat itu!".

 Sebrang Lor menghentikan penuturannya

sebentar untuk menghela nafas dalam dan menenang-

kan hati serta darahnya yang bergejolak, lalu baru

ia meneruskan :

"Meski mungkin ilmu silatku masih terlalu rendah 

untuk menghadap Raja Rencong, namun dendam 

kesumat tak bisa kupendam lebih lama. Itulah sebabnya 

aku menyeberang kesini mencari beberapa kawan untuk 

bersama-sama membalas dendam sakit hati. Ternyata 

kejahatan Raja Rencong di Pulau Andalas sebelah Utara 

ini lebih hebat dan bejad lagi! Namun demikian aku 

bersyukur karena telah berhasil menemui Datuk Nan 

Sabatang serta Lembu Ampel. Dan hari ini berhadapan 

pula dengan Panglima Sampono! Demi kebenaran dan 

demi ketenteraman hidup dunia persilatan kiranya 

Panglima Sampono tidak keberatan ikut bersama-sama 

kami menumpas biang malapetaka itu!".

Panglima Sampono merenung sejenak lalu men-

jawab : "Memang kejahatan dan ke-sewenang2an Raja

Rencong Dari Utara sudah sejak beberapa bulan ini

kudengar sudah melewati takaran. Tak bisa didiam-

kan lebih lama. Bahkan mungkin saudara Sebrang

Lor tidak percaya kalau kuterangkan bahwa Raja

Rencong Dari Utara sudah demikian gilanya sehingga

gurunya sendiripun dibunuh!'.

Sebrang Lor terkejut, demikian pula Datuk Nan

Sabatang serta Lembu Ampel.

"Gurunya yang mana, Panglima?" tanya Lembu

Ampel. "Kabarnya dia tidak cuma punya seorang

guru!"

"Guru yang pertama. Yang bernama Datuk Mata

Putih!", sahut Panglima Sampono pula.

Terbelalaklah mata Seberang Lor.

"Datuk Mata Putih ilmu silatnya tinggi dan sakti

sekali!", kata Seberang Lor pula dan diam2 dia mem-

bathin bahwa mungkin kalau berhadapan dengan

orang tua itu dia cuma sanggup bertahan sampai dua

puluh jurus!

"Tapi kita jangan lupa" menyahut Lembu Ampel. 

"Disamping Datuk Mata Putih, Raja Rencong

juga telah berguru dengan seorang sakti lainnya yang

sampai saat ini tidak diketahui siapa adanya".

Seberang Lor mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia 

memandang berkeliling lalu berkata : "Nyatalah manusia 

itu tinggi kesaktiannya. Disamping sakti juga bernati luar 

biasa jahatnya. Namun aku yakin, berempat kita pasti 

dapat menyingkirkannya dari bumi Tuhan ini!"

"Bukan aku mematahkan semangat kalian",

berkata Panglima Sampono, "bukan pula hendak me-

rendahkan ketinggian ilmu silat dan tenaga dalam

saudara2 bertiga. Kemudian bukan pula hendak ber-

pangku tangan, namun sekalipun kita berempat,

belum tentu dapat dengan mudah menghadapi Raja

Rencong Dari Utara. Ketinggian ilmunya sukar di-

jajaki! Yang paling berbahaya ialah senjatanya sebilah

Rencong Emas dan ilmu pukulan yang bernama ilmu

pukulan kuku api!"

Semua orang berdiam diri beberapa lamanya.

"Lalu apa daya kita?" bertanya Datuk Nan Sabatang. 

Metjnang diantara mereka Panglima Sampono

paling dihormati karena ilmunya yang tinggi dan

pangkat yang pernah dijabatnya. Ketiga orang itu

mengharapkan jawaban sang Panglima.

"Untuk menghadapi Raja Rencong, tak bisa

tidak harus mempergunakan akal. Menurut pengeta-

huanku Raja Rencong Dari Utara mempunyai seorang

anak perempuan yang sudah gadis remaja. Gadis ini

senang mengelana seorang diri. Meski dia mendapat

pelajaran ilmu silat dan ilmu kesaktian langsung dari

Raja Rencong, tapi ilmunya belum berapa tinggi. Kita

cari gadis itu dan menawannya hidup2. Lalu kirimkan

seorang utusan atau surat pada Raja Rencong dan

suruh dia menyerah! Sementara itu kita berusaha

pula menemui beberapa .orang tokoh silat lainnya

untuk menambah kekuatan. Meski anaknya kita

tawan tapi manusia macam Raja Rencong bukan mus-

tahil mau mengorbankan keselamatan anaknya agar

dapat membasmi kita!"

Semua orang menyetujui akal Panglima Sam-

pono. Setelah dirundingkan lebih masak maka renca-

napun diaturlah. Satu hari kemudian keempat orang

itu turun dari lereng Gunung Sinabung.

Sinar matahari yang tadi panas terik kini memu-

dar kilauannya. Langit yang tadi cerah kini mendung

tertutup awan hitam yang berarak dari jurusan utara

ditiup angin keras. Agaknya tak lama lagi akan segera

turun hujan lebat. Dikaki bukit yang sebelumnya di-

selimuti kemendungan dan kesunyian itu Iapat2 ter-

dengar suara derap kaki kuda datang dari jurusan

timur. Makin lama makin keras. Dari pengkolan jalan

kemudian muncullah seorang penunggang kuda berwarna coklat. Kuda ini agaknya bukan kuda biasa.

Disamping tubuhnya yang besar tinggi, larinyapun

laksana anak panah lepas dari busurnya. Dalam

waktu yang singkat binatang dan penunggangnya

sudah meninggalkan pengkolan tadi sejauh dua puluh

tombak!

Kini kuda dan penunggangnya siap memasuki

lagi sebuah pengkolan tajam. Meski pengkolan itu

demikian patahnya namun sipenunggang tidak ber-

usaha untuk memperlambat lari kuda coklat. Debu

dan pasir beterbangan. Sesaat lagi kuda bersama pe-

nunggangnya itu hendak memasuki pengkplan tajam

mendadak laksana melihat setan, kuda coklat mering-

kik keras dan mengangkat kedua kaki depannya ke-

atas tinggi2l Sepasang kakinya yang sebelah belakang

kaku tak bisa bergerak laksana dua buah patok yang

ditancapkan kedalam tanah.

Sipenunggang yang hampir saja hendak dilem-

parkan dari punggung binatang itu terkejut bukan

main dan cepat2 melompat turun. Dia memandang

kedepan lalu memandang berkeliling. Tak satu makh-

luk hiduppun yang tampak. Orang ini kemudian ber-

lutut untuk memeriksa kedua kaki kuda tunggangan-

nya. Untuk kedua kalinya dia menjadi kaget sewaktu

mendapati sepasang kaki kuda disebelah belakang itu

 berada dalam keadaan kaku tegang akibat totokan2

hebat! Ditanah tak jauh dari kaki2 kuda kelihatan

dua buah jambu klutuk. Pasti benda inilah yang telah

dipakai untuk menotok kaki2 kuda tersebut. Dengan

pemas orang itu melepaskan kedua totokan itu lalu

berdiri, memandang berkeliling dan membentak.

"Bangsat rendah yang berani kurang ajar lekas

unjukkan diri!"

Suara bentakan itu melengking keras menggetar-

kan seantero kaki bukit dan itu adalah suara bentakan

orang perempuan! Dan memang penunggang kuda

coklat berpakaian ungu itu, meski parasnya ditutup

dengan sehelai kerudung, namun dari potongan tubuh

serta rambut panjang yang menjenguk dikuduknya

akan sangat mudah dikentarai bahwa dia adalah

seorang perempuan!

 Tiba2 dari sebuah tebing yang terletak dipengkolan 

tajam yang tingginya kira2 delapan tombak berkelebat dua 

sosok tubuh manusia. Belum lagi kedua orang ini 

menjejakkan kaki masing2 ditanah, dari jurusan lain 

berkelebat lagi dua bayangan manusia dan sesaat 

kemudian empat orang Iaki2 telah berada disitu dalam 

posisi mengurung sibaju ungu ditengah-tengah!

Sibaju ungu mendengus marah dibalik kerudungnya.

"Siapa kalian?!" bentaknya.

Salah seorang dari keempat manusia itu maju

selangkah dan berkata : "Jawab dulu apakah kauanaknya Raja Rencong Dari Utara itu atau bukan?!"

Sepasang alis dibalik kerudung mengerenyit dan

dua bola mata yang tajam memandang meneliti ke-

empat Iaki2 dihadapannya.

"Apa maksud apa kalian terhadap anak perempuan 

Raja Rencong?!"

"Jawab dulu pertanyaanku tadi!"

"Keparat!" Aku memang Pandansuri, anak Raja

Rencong Dari Utara!" jawab perempuan itu dengan

garang. Lalu bentaknya: "Kalian berempat mau apa?!".

"Ah kawan2 akhirnya berhasil juga kita menemui 

gadis ini", kata Iaki2 tadi yang bukan lain Seberang Lor 

adanya. "Ketahuilah kami berempat sudah

sejak lama mencarimu untuk diculik! Sebenarnya

mungkin kau tidak punya salah apa2. Tapi akibat

dosa2 bapakmu, terpaksa kau kami culik!"

"Kalau begitu kalian adalah bangsat2 pengecut

yang tak berani berhadapan langsung dengan bapak-

ku!" tukas Pandansuri. "Kalian mau menculik aku

silahkan! Tidak semudah itu untuk menculik anak

Raja Rencong Dari Utara!". Seberang Lor dan ketiga 

kawan2nya yaitu Panglima Sampono, Lembu Ampel dan 

Datuk Nan Sabatang saling memberi tanda lalu menyerbu 

dari empat jurusan menyerang kesatu sasaran yaitu 

Pandansuri!"

Dengan keluarkan tertawa mengejek Pandansuri

jejakkan sepasang kakinya ketanah dan sekejap ke-

mudian tubuhnya yang ramping itu melesat keatas

tinggi lima tombak! Dari atas dia gerakkan kesepu-

luh jari2 tangannya sekaligus. Maka sepuluh larikan

llnar kuning kemerahan mencurah kearah Panglima

Sampono dan kawan2!'


SEMBILAN

PUKULAN KUKU API!" SERU PANGLIMA

Sampono. "Lekas menyingkir!"

Keempat tokoh silat itu sebenarnya bisa balas

menghantam langsung keatas namun mereka belum

mengetahui sampai dimana ketinggian tenaga dalam

lawan. Hingga kalau mereka tak menyingkir dan

tenaga dalam lawan lebih tinggi sedikit saja dari me-

reka pastilah mereka akan celaka! Keempatnya me-

lompat kebelakang sejauh tujuh langkah lalu sekaligus

menghantamkan tangan kanan keatas! Empat gelom-

bang angin keras laksana angin punting beliung me-

nerpa satu jengkal diatas kepala Pandansuri. Panglima

Sampono dan kawan2 sengaja menyerang bagian satu

jengkal diatas kepala sigadis karena mereka hendak

memaksa gadis itu turun ketanah kembali untuk ke-

mudian diringkus hidup2!

Pandansuri memang tak ada jalan lain, terpaksa

melayang turun kebawah. Tapi dia tidak bodoh dan

sudah maklum maksud ke empat lawannya. Maka

begitu melayang turun untuk kedua kalinya

dia menebar pukulan Kuku Api yang dahsyat itu ke-

arah keempat lawannya! Kalau tadi Panglima Sampo-

no melompat kebelakang untuk menghindari pukulan

maut yang membuat tanah berlobang besar dan

hangus itu, maka kini keempatnya melompat kemuka

dan serentak dengan itu masing2 mereka lalu melom-

pat keatas.

Datuk Nan Sabatang serta Seberang Lor melan-

carkan dua buah totokan sedang Panglima Sampono

dan Lembu Ampel ulurkan sepasang tangan mereka

untuk meringkus Pandansuri hidup2!

Pandansuri tidak menyangka kalau keempat lawan 

akan berani menyelusup kemuka dibawah deru

sinar serangannya. Pada saat pukulan kuku api itu me-

landa tanah, membuat tanah terbongkar dan hangus

hitam maka dia lebih tak menduga lagi karena saat itu

cepat sekali tahu2 keempat lawannya sudah berada

dekat sekali disampingnya melancarkan dua totokan

dan dua serangan meringkus! Padahal posisinya saat

itu dalam keadaan yang tak menguntungkan!

Sebagai seorang yang menerima langsung pela-

jaran dari Raja Rencong tentu saja tingkat kepandai-

an Pandansuri meski tak bisa disejajarkan dengan

ayahnya tapi telah mencapai tingkat tinggi. Tahu diri-

nya sudah kepepet namun gadis ini tak kehilangan

akal. mengelak mungkin kasip dan mungkin salah

satu dari serangan lawan akan berhasil juga bersarang

ditubuhnya. Kalaupun dia kena dihantam dia harus

pula dapat balas menghantam sekurang-kurangnyaseorang dari keempat lawannya. Maka tak ayal lagi

Pandansuri kembangkan kedua telapak tangannya

lalu tubuhnya berputar laksana titiran, tangannya

menyambar seperti baling2 dari angin laksana topan

menderu menerpa keempat tokoh silat! Itulah pukul-

an "selaksa palu godam" 'yang dilancarkan dalam

jurus yang bernama "titiran dewa menjulang langit"!

Panglima Sampono dan kawan2 tiada menduga

kalau sigadis akan balas menyerang kalap begitu rupa.

Lembu Ampel, Datuk Nan Sabatang dan Seberang Lor

yang ragu2 untuk mengadakan bentrokan pukulan

segera menarik pulang serangan mereka. Sebaliknya

Panglima Sampono yang merasa sudah kepalang

tanggung lipat gandakan tenaga dalamnya dan mem

babat lengan Pandansuri! Bentrokan lengan tak dapat

dihindarkan lagi.

"Buk"!

Dua lengan beradu mengeluarkan suara keras.

Panglima Sampono merasa tangannya sakit

bukan main dan tubuhnya terjajar kebelakang sampai

lima langkah. Sebaliknya Pandansuri mengeluh dalam

hati menahan sakit sedang tubuhnya mental sampai

enam langkah! Kini maklumlah Panglima Sampono

dan kawan2. Tingkat tenaga dalam sigadis nyatanya

hanya sedikit saja berada dihawahnya! Karena ketiga

orang lainnya itu hanya satu tingkat saja lebih ren-

dah tenaga dalamnya dari Panglima Sampono maka

ketiganya menjadi bernyali besar dan ber-sama2

dengan sang panglima mereka kembali menggempur

Pandansuri!

Pertempuran empat lawan satu berkecamuk

dengan hebatnya. Berkali-kali Pandansuri merobah

jurus2 ilmu silatnya. Setiap gerakannya cepat dan

aneh serta mempunyai lima sampai delapan pecahan

yang hebat. Namun sampai jurus keduapuluh tetap

saja gadis ini tak dapat menguasai jalannya pertem-

puran malah jurus demi jurus selanjutnya dia mulai

terdesak. Hanya kegesitan dan ilmu meringankan

tubuhnya yang lebih tjnggi tingkatnya dari keempat

lawannya itulah yang menyelamatkan Pandansuri dari

dilanda hantaman pukulan lawan!

Namun sampai berapa lamakah Pandan suri akan

dapat bertahan? Sampai berapa jurus dimuka dia bisa

mengandalkan kegesitan dan ilmu meringankan

tubuhnya? Satu ketika, cepat atau lambat pasti salah

satu lawannya kan berhasil menghajarnya dan celaka

lah dia'

Pada jurus ketiga puluh dua, qadis ini tak sanggup

lagi bertahan. Dia segera terdesak total. Sebelum

kasip Pandansuri menggerakkan tangannya kepinggang

Sesaat kemudian mencurahlah sinar putih yang 

mendatangkan angin dingin menggidikkan,membuat keempat tokoh silat tersuruk dan terkejut.

Ketika memandang kedepan ternyata sigadis telah

mencabut sebilah rencong perak.

Saat itu udara semakin mendung. Awam hitam

tebal menutupi hampir seluruh langit disekitar

kaki bukit sedang angin bertiup makin besar. Hujan

rintik2 telah mulai turun.

"Manusia2 keparat! Batas kesabaranku sudah

lewat! Mulai detik ini jangan harap kalian bisa lolos

dari lobang jarum kematian!"

Ucapan Pandansuri itu disusul oleh gelegar guntur yang 

menggetarkan bumi! Dan dalam kejap itu

maka turunlah hujan yang bukan alang kepalang

lebatnya! Didahului lengkingan yang tak kalah hebat-

nya oleh suara guntur. Pandansuri melompat kemuka,

menebar empat serangan sekaligus dalam jurus yang

dinamakan "empat ekor naga menggempur sang surya"!

Bagi Panglima Sampono dan kawan2, jurus yang

bernama "empat ekor naga menggempur sang surya"

itu tidak mengkhawatirkan mereka. Yang membuat

mereka harus berhati-hati ialah senjata ditangan si-

gadis. Dari sinar- dan hawa yang keluar dari rencong

perak itu nyata bahwa senjata itu adalah sebuah sen-

jata mustika yang tak bisa dibuat main. Maka Pang-

lima Sampono segera keluarkan pula senjatanya yaitu

sebuah tombak pendek yang ujungnya bercagak dua.

Datuk Nan Sabatang menghunus sebilah keris ber-

warna biru. Seberang Lor mencabut pedang berkeluk

sedang Lembu Ampel meloloskan sebuah rantai berduri!

Dibawah hujan lebat yang sekali-sekali diseling

oleh suara guntur dan sabungan kilat maka kelima

engkauorang itu bertempur dengan hebat! Panglima 

Sampono dan kawan2 meski serangan2 mereka 

kelihatan hebat namun keempatnya tidak berniat untuk 

mencelakai Pandansuri, sebaliknya mendesak sampai

akhirnya mereka punya kesempatan untuk meringkus

si gadis hidup2!

Dilain pihak Pandansuri yang diam2 mengetahui

maksud Iawan2nya itu dan yang tadi bertempur

dengan segala kehebatannya yang ada maka kini se-

makin memperderas serangannya hingga cukup me-

nyukarkan juga bagi Panglima Sampono dan kawan2

untuk melaksanakan niat mereka. Tapi itu tidak ber-

jalan lama.

Setelah berulang kali dibawah hujan lebat itu

terjadi bentrokan senjata maka dalam satu gerakan

yang gesit lihay Panglima Sampono berhasil menyu-

supkan tombak bercagaknya kebadan rencong yang

ditangan Pandansuri. Gadis ini cepat2 menarik

tangannya tapi terlambat. Cagak dari tombak besi di-

tangan Panglima Sampono berputar lebih cepat dan

terlepaslah rencong perak itu dari tangan Pandansuri.Panglima Sampono menyabut senjata itu dengan

tangan kiri!

Penuh kalap Pandansuri menyentikkan lima jari

tangannya ke arah Panglima Sampono, melancarkan

pukulan kuku api! Tapi dari samping menabas pedang

berkeluk Seberang Lor. Mau tak mau anak Raja Ren-

cong Dari Utara itu batalkan serangannya kecuali

kalau dia, mau kehilangan lima jari tangan kanannya itu!

"Sebaiknya kau menyerah saja!" kata Seberang

Lor "Niscaya kami akan perlakukan kau secara

baik2!"

"Keparat! Lebih baik mampus dari pada menye-

rah!" bentak Pandansuri! Dia melompat kearah se-

batang cabang sebesar lengan yang panjangnya kurang

dari satu meter dan terus menyerbu Panglima Sampono 

dan kawan2nya. Dengan cabang pohon yang

penuh dengan ranting2 itu, Pandansuri menyerang

dalam jurus "raja naga mengamuk"!

"Dara tolol!" gerutu Panglima Sampono. Dia

memberi isyarat pada ketiga kawan2nya dan serentak

keempat orang itu menyerbu kembali. Dan dibawah

hujan lebih itu dilanjutkanlah pertempuran empat

lawan satu yang hebat itu. Pada waktu langit disekitar 

bukit tertutup awan gelap dan udara menjadi mendung, 

dikaki bukit sebelah timur seorang, pemuda berjalan 

seenaknya. Tampaknya dia cuma lenggang kangkung 

biasa saja namun luar biasa dalam tempo yang singkat 

dia sudah meninggalkan kaki bukit sebelah timur itu dan 

mencapai sebuah jalan buruk.

Angin bertiup keras melambai-lambaikan pakai-

an putih serta rambutnya yang gondrong. Mendongak

keatas langit pemuda itu berkata dalam hati : "Cela-

ka! Kalau hujan turun aku bisa basah kuyup!".

Sambil "berjalan" cepat itu dia memandang kian ke-

mari mencari-cari tempat yang baik untuk kelak ber-

teduh bila hujan turun.

Lapat2 jauh dimuka sana telinganya yang tajam

mendengar suara ringkikan kuda. Cuma ringkikan

kuda, pikir pemuda ini dan dia terus juga lenggang

kangkung seenaknya, debu dan pasir jalanan beter-

bangan dibelakangnya. Semakin jauh menempuh jalan

itu telinganya kembali menangkap suara didepan

sana. Kali ini bukan suara ringkikan kuda lagi tapi

suara bentakan2. Sipemuda mempercepat "jalan-

nya". Hampir sepeminum teh jelas sudah baginya

bahwa ditempat atau diarah yang ditujunya itu

tengah terjadi pertempuran karena telinganya me-

nangkap suara beradunya senjata. Ketika dia sampai

dekat sebuah tikungan tajam meskipun dia sudah

menduga tadi bahwa disitu terjadi pertempuran, tapi

adalah tidak disangkanya sama sekali kalau yang ber-

tempur itu adalah seorang perempuan berpakaian danberkerudung ungu melawan empat orang Iaki2!

Melihat kepada potongan tubuh serta kegesitannya 

sipemuda segera bisa memastikan bahwa perempuan itu 

masih muda. Meski muda tapi dengan gerakannya yang 

gesit serta ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi sigadis 

masih dapat mengimbangi serangan keempat lawannya!

Gadis berpakaian ungu itu memegang sebilah

rencong perak sedang Iawan2nya yang mengeroyok

bersenjatakan tombak pendek bercagak dua, pedang,

keris dan rantai berduri. Sewaktu melihat pertempuan ini 

yang bukan saja tidak seimbang tapi juga karena empat 

Iaki2 melawan seorang dara muda, maka memakilah 

sipemuda berambut gondrong. Hati kesatrianya 

bergejolak untuk segera turun tangan membantu sigadis. 

Namun setelah memperhatikan sejenak dan melihat 

kenyataan bahwa gadis berkerudung ungu itu dengan 

rencong mustikanya dapat mengimbangi kehebatan ilmu 

silat empat orang lawannya yang tangguh itu, maka 

sipemuda membatalkan niatnya dan melompat kesebuah 

tebing untuk menikmati jalannya pertempuran yang seru 

itu!

Jurus demi jurus berlalu penuh ketegangan. Si

pemuda rambut gondrong diatas tebing melihat bagai-

mana dara berbaju ungu mulai terdesak oleh tekanan2

serangan keempat lawannya. Sementara itu hujan

rintik2 mulai turun dan kemudian berganti dengan

hujan lebat. Kilat sambar menyambar sedang guntur

gelegar-menggelegar! Sipemuda diatas tebing kalau

tadi dia cemas akan kehujanan kali ini sama sekali

tidak memperdulikan hujan yang mengguyurnya

hingga basah kuyup dari rambut sampai ke kepala!

Si pemuda mengatupkan mulutnya rapat2 ketika

dalam satu jurus yang berkecamuk hebat salah

seorang pengeroyok yaitu yang bersenjatakan tombak

besi pendek bercagak dua berhasil menjepit dan me-

mutar senjata sigadis hingga rencong perak itu terlepas 

mental dan dirampas!

Sigadis agaknya marah sekali melihat senjatanya

berhasil dirampas lawan lalu menjentikkan kelima

jarinya kemuka. Lima sinar merah kekuningan men-

deru. Tapi sang dara terpaksa menarik pulang tangan-

nya karena salah seorang lawan menebas dengan

pedang!

"Ilmu pukulan gadis itu kelihatannya hebat sekali!" 

berkata sipemuda diatas tebing dalam hatinya. 

Dibawahnya sementara itu terdengar suara bentakan 

salah seorang pengeroyok:

"Sebaiknya kau menyerah saja! Niscaya kami

akan memperlakukan kau secara baik2!"

Sigadis terdengar memaki lalu laksana seekor

burung walet melompat keudara, mematahkan se-

buah cabang pohon dan melayang turun kembali menyerbu keempat lawannya!

"Gadis hebat!" kata pemuda diatas tebing.

"Nyali besar, kepandaian tinggi sayang parasnya 

ditutup!"

Dibawah hujan lebat itu pertempuran berkeamuk 

kembali. Namun bagaimanapun hebatnya sigadis 

memainkan cabang pohon itu sebagai senjatanya, lambat 

laun, jurus demi jurus cabang kayu itupun gundul daunnya 

dan semakin pendek akibat tebasan2 senjata keempat 

lawannyal Disatu gebrakan yang tegang, Iaki2 yang 

memegang rantai berduri berhasil menghancurkan 

cabang pohon ditangan sigadis hingga untuk kedua 

kalinya kini sang dara bertangan kosong!

"Apakah kau masih belum mau menyerah cara

baik2?!" sipemuda diatas tebing mendengar Iaki2

yang bersenjatakan tombak pendek bertanya pada

sigadis.

"Lebih baik mampus dari menyerah pada tikus2

macam kalian!" semprot sigadis lalu menggerakkan

kedua tangannya. Sepuluh larik sinar merah keku-

ningan menderu dibawah lebatnya hujan! Keempat

pengeroyok melompat mundur lalu secepat kilat

menyerbu kembali! Dan kali ini sang gadis tak punya

daya lagi untuk bertahan! Dalam satu jurus yang

penuh ketegangan kaki sang dara terpeleset. Tubuh-

nya terbanting kekiri!

Pemuda rambut gondrong diatas tebing 

memencongkan hidungnya lalu garuk2 kepala. Laksana

anak panah lepas dari busurnya dia melesat turun.

Suara bentakannya mengalahkan deru hujan lebat:

"Manusia2 edan! Masakan beraninya mengero-

yok seorang perempuan! sungguh tidak bermalu!"

Keempat orang itu terkejut. Belum habis kejut

mereka tahu2 satu gelombang angin menerpa dan

tubuh mereka terbanting kebelakang sampai lima

enam langkah! Gadis baju ungu tak menyia-nyiakan

kesempatan segera melompat keluar dari kalangan

pertempuran!


SEPULUH

MARAH KEEMPAT ORANG ITU BUKAN

alang kepalang.

"Pemuda lancang!" maki Sebrang Lor. "Ada

urusan apa kau berani mencampuri persoalan orang

lain?!"

Sipemuda garuk2 kepalanya yang basah kuyup

dan menjawab sambil senyum2 seenaknya :

"Empat orang Iaki2 bersenjata mengeroyok se-

orang perempuan bertangan kosong, apakah itu

bukan satu hal yang memalukan?!"

"Apakah itu menjadi hakmu untuk ikut campur?!"

"Lantas hak apakah yang membuat kalian me-

lakukan pengeroyokkan?!" balas bertanya sipemuda.

Saking marahnya Sebrang Lor hendak buka

suara mengatakan sesuatu tapi Panglima Sampono

memberi isyarat. Panglima Sampono kemudian berka-

ta dengan nada tenang :

"Orang muda, barangkali kau ada hubungan

apa2 dengan gadis ini?!".

Sipemuda menggeleng. "Aku menolongnya

karena tidak suka melihat tindakan kalian yang ter-

lalu pengecut! Yang sama sekali tidak memegang

aturan dunia persilatan!"

Panglima Sampono tersenyum.

"Kuhargai hati satriamu, kuhormati nyali jantanmu. 

Tapi apakah kau tahu siapa gerangan adanya

gadis ini?!" ujar Panglima Sampono.

Sipemuda rambut gondrong angkat bahu. Panglima 

Sampono hendak berkata tapi dari samping datang 

sambaran sinar merah kekuningan yang sekaligus juga 

menyerang pada ketiga kawan2nya. Dilain kejap 

terdengar suara dara baju ungu.

"Bergundal2 keparat! Aku dan ayahku pasti

akan datang mencari kalian! Kalau bertemu jangan

harap kalian bakal hidup lebih lama!". Sigadis kemu-

dian melompat keatas kuda coklat.

"Betina sialan! Kau kira bisa lari dari sini?!"

teriak Sebrang Lor marah sekali. Dia melompat dan

kiblatkan pedang berkeluknya. Pandansuri untuk ke-

sekian kalinya melepaskan pukulan kuku api mem-

buat tokoh silat dari tanah Malaka itu terpaksa meng-

hindar kesamping. Dan sebelum yang Iain2nya bisa

turun tangan, Pandansuri telah melesat pergi bersama

kudanya!

Dengan sendirinya kemarahan total kini tertuju

pada pemuda tadi! Panglima Sampono yang sebelum-

nya masih berlaku lunak kini membentak garang :

"Pemuda sedeng! Kalau tidak karena kau gadis

itu pasti tak akan lolos!". Sang panglima menutup

kata2nya dengan melemparkan rencong perak milikPandansuri dengan tangan kirinya. Lemparan itu

bukan lemparan sembarangan! Senjata itu sampai

mengeluarkan suara mendesing saking kencang dan

kerasnya daya lemparan!

Dua jengkal dari ujung rencong akan men-

darat dikeningnya, tiba2 sipemuda menggerakkan

tangan kanan dan tahu2 rencong perak itu sudah dijepit 

di antara jari tengah dan jari telunjuknya! Kejut

Panglima Sampono dan kawan2 bukan alang kepalang! 

Kepandaian menjepit senjata yang dilemparkannya 

selihay itu bukan kepandaian sembarangan!

"Orang muda berilmu tinggi!" kata Panglima

Sampono pula. "Pameran yang kau lakukan tadi

cukup menarik! Biarlah aku main2 sebentar dengan

kau!". Sipemuda tertawa tawar.

"Apakah kau akan maju berempat dengan

kawan2mu itu?!".

Merahlah paras Panglima Sampono. Meski maklum 

betapa lihaynya pemuda itu, lebih lihay dari

Pandansuri tapi untuk tidak kehilangan muka dia

menjawab : "Untuk meringkus tikus sombong ma-

cammu ini mengapa musti minta bantuan kawan2

ku?!" Ucapannya itu ditutup dengan satu tusukan

kilat tombak bercagak dua kearah tenggorokan si-

pemuda!

Dengan gesit pemuda itu mengelak kesamping

lalu memukul kemuka dari jarak tiga langkah! Pang-

lima Sampono terkejut sekali sewaktu begitu menge-

lak begitu tamannya talas menyarang. Angin pukulan

tawan terata keras laksana sebuah batu besar yang

dilemparkan kearahnyal Itulah ilmu pukulan "Kunyuk 

melempar buah. Dan pendekar muda mana

lagi yang memiliki pukulan itu kalau bukan Wiro

Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Seni 212 !

Dengan amat penasaran Panglima Sampono

membentak keras lalu kembali menyerang dengan

|urus2 silatnya yang hebat dan mengandung tipu2

berbahaya! Tubuh Wiro Sableng yang berkelebat 

terkurung oleh gulungan sinar senjata ditangan

sang panglima. Lima jurus berlalu tanpa Panglima

Sampono bisa berbuat sesuatu apapun! Memasuki

jurus kesepuluh. Datuk Nan Sabatang, Lembu Ampel

dan Sebrang Lor tak dapat tinggal diam lebih lama.

.Ketiganya segera menyerbu kedalam kalangan per-

tempuran membantu Panglima Sampono! Namun

sebelum ketiga orang itu turun tangan melancarkan

serangan. Pendekar 212 Wiro Sableng dengan meng-

andalkan ilmu meringankan tubuhnya yang telah

mencapai tingkat tinggi melompat ke atas, sekejap

kemudian telah berdiri dicabang pohon yang ada

ditepi jalan!

"Sebelum meneruskan pertempuran brengsekini mari kita bicara baik2 dulu sobat2!" kata Wiro

dari atas pohon.

"Pemuda lancang! Sesudah kau meloloskan

perempuan itu kini kau hendak bicara baik2?! Makan

ini!" damprat Sebrang Lor. Tangan kanannya dihan

tamkan keatas. Selarik angin dahsyat menyambar.

"Kraak"!

Cabang pohon dimana Pendekar 212 berdiri

patah pemuda itu sendiri sudah pindah meloncat ke

cabang yang lain! Dengan sendirinya Sebrang Lor dan

kawan2nya tambah penasaran! Serentak mereka

sama2 menghantamkan tangan keatas! Terdengar

suara berisik! Beberapa cabang pohon patah dan

ranting2 serta daun2 berhamburan kian kemari!

Wiro memaki dalam hati, dan melompat ke

tebing ditikungan jalan. Jarak antara pohon dan

tikungan jalan hampir mencapai sepuluh tombak

Tentu saja lompatan yang dibuat Wiro membikin

kagum keempat orang yang berada dibawahnya

Namun kekaguman itu segera sirna oleh rasa marah

yang menggejolak! Tanpa tunggu lebih lama Panglim.i

Sampono segera melompat keatas tebing diikuti oleh

ketiga kawan2nya. Diatas tebing Pendekar 212 pin

tangkan kedua telapak tangan dan memukul ke

bawah.

Keempat orang yang telah melayang keatas

tebing amat terkejut ketika mendapatkan diri mereka

merasa ditekan dari atas oleh satu tekanan dahsyat

Bagaimanapun mereka kerahkan tenaga dalam tetap

saja tubuh mereka tak bisa melesat keatas Keempat

nya terkatung-katung beberapa ketika lamanya.

"Kurang ajar! Dia lihay sekali!" gerutu Sebrang

Lor. Tokoh silat dari tanah Malaka ini memberi

isyarat pada k.awan2nya. Tiba2 keempatnya sama

membentak keras dan sama menghantamkan kedua

tangan masing2 kearah Pendekar 212. Delapan ge-

lombang angin menderu laksana topan prahara! Em-

pat buah serangan yang luar biasa dan bukan alang

kepalang hebatnya!

Diatas tebing Wiro Sableng kerahkan seluruh

tenaga dalamnya ketangan dan memukul kebawah!

Bagaimana hebatnya gelegar guntur, hampir seperti

Itu pulalah hebatnya benturan delapan angin pukulan

dengan dua gelombang pukulan dinding angin ber-

hembus tindih menindih yang dilepaskan Wiro Sableng! 

Sebrang Lor, Datuk Nan Sabatang, Panglima

Sampono dan Lembu Ampel berpelantingan kebawah. 

Untung saja mereka sudah memiliki ilmu meringankan 

tubuh yang tinggi serta tenaga dalam yang sempurna 

hingga tidak mendapat celaka dan tak sampai jatuh 

tunggang langgang bergedebukan ditanah!

Sebaliknya diatas tebing Wiro Sableng merasakanpula hebatnya serangan keempat tokoh2 silat itu.

Tubuhnya terdorong keras lalu terhuyung-huyung lima 

langkah kebelakang. Tidak sampai disitu tiba2 lututnya 

terasa goyah dan ujung tebing yang dipijaknya hancur 

berantakan. Tubuhnya mencelat sampai dua tombak dari 

atas tebing!

"Gendeng betul!" gerutu Wiro Sableng dalam hati

Setelah memeriksa dan mengetahui tubuhnya

dibagian dalam maupun bagian luar tak ada yang

terluka maka Pendekar ini bersuit nyaring. Tubuhnya

melayang kebawah berkelebat dan lenyap

dari pemandangan Panglima Sampono dan kawan2l

Dilain kejap terdengar dua keluhan tertahan!

Sebrang Lor dan Lembu Ampel merasakan

tubuh mereka kejang kaku tak bisa bergerak. Betapa-

pun mereka mengerahkan tenaga dalam namun tak

sanggup membuka jalan darah yang telah ditotok

oleh Pendekar 212 Wiro Sableng. Kedua tokoh silat

ini memaki habis2an!

Wiro Sableng malah tertawa cenqar cengir.

"Pemuda kurang ajar!" teriak Panglima Sam-

pono marah sekali, "tadi aku cuma berniat untuk me-

ringkusmu hidup2! Tapi mulai detik ini terpaksa ke-

palamu kupecahkan!"

Habis berkata begitu Panglima Sampono memukulkan 

tangan kiri ke depan lalu menyusul serangan ini dengan 

satu tusukan tajam tombak bercagak dua yang saat itu 

sudah berada kembali dalam tangan kanannya! Dikejap 

yang sama Datuk Nan Sabatang menggembor dan 

berkelebat kirimkan serangan dari samping kiri dengan 

keris birunya!

Wiro Sableng ingat pada rencong perak milik

gadis baju ungu yang tadi diselipkan dipinggang.

Segera pendekar ini mencabut senjata itu. Maka :

"Traang trang"!

Terdengar dua kali berturut-turut suara beradu

nya senjata. Bunga api memercik! Datuk Nan Saba

tang dan Panglima Sampono terkejut besar, dengan

muka pucat sama2 melompat kebelakang dan memar

dang dengan mata membeliak pada tangan kanan

mereka yang kini kosong karena tangkisan Wiro

Sableng tadi telah memukul lepas senjata masing2'

Jelas bahwa pemuda berambut gondrong itu memiliki

tenaga dalam yang luar biasa tingginya dan bukan 

tandingan mereka! Namun sebagai tokoh2 silat yang

sudah mendapat nama besar dan memegang teguh

jiwa kesatria, mana mereka mau menyerah begitu

saja?! Lebih baik mati dari pada menerima hinaan

demikian rupa. Apalagi ketika melihat bagaimana

Wjro Sableng tertawa gelak2 dan mengejek!

Dengan tangan kosong Datuk Nan Sabatang

serta Panglima Sampono memasuki kalangan pertempuran kembali! Serangan mereka hebat sekali hingga

air hujan yang bergenangan dilobang-lobang jalanan

muncrat berhamburan!

"Sobat2! Kalian keliwat menurutkan darah ke-

marahan!" seru Wiro. "Orang mau ajak bicara baik2

malah menyerang terus2an!"

"Tutup mulutmu pemuda keparat!" bentak

Datuk Nan Sabatang.

"Jaga batok kepalamu!', teriak Panglima Sam-

pono. Tinjunya menderu kekepala Pendekar 212.

Lalu terdengarlah suara keluhan!

Tubuh Panglima Sampono terbanting kesamping

sewaktu angin dahsyat menyambar dadanya. Selagi

dia berusaha mengimbangi tubuh tahu2 satu totokan

mendarat dibahunya dekat leher dan kejap itu juga

sang panglima berdiri dengan kaki mengangkang di-

tanah tanpa bisa bergerak sedikitpun!

Datuk Nan Sabatang juga bernasib sial. Baru saja

serangannya bergerak setengah jalan tahu2 jari lawan

sudah menyelusup dibawah ketiaknya!

"Kurang ajar!" maki Datuk Nan Sabatang.

Tangan kirinya memukul kemuka. Tapi tak ada

artinya karena totokan yang dijatuhkan Wiro tadi

telah membuat sebagian tubuhnya sebelah kanan

menjadi kaku. Lucu sekali keadaan Datuk ini. Tangan

kirinya mencak2 dan kaki kiri dibanting-bantingkan

ketanah sedang mulut memaki-maki habis2an tapi

seluruh tubuhnya bagian kanan tak dapat digerakkan

sama sekali, laksana menjadi batu!

"Sekarang mungkin kita bisa bicara baik2",

kata Wiro sambil tertawa dan memasukkan rencong

perak kebalik pinggang pakaiannya. Setelah me-

nyapu paras keempat orang itu satu demi satu dengan

sepasang matanya maka Wiro melangkah kehadapan

Panglima Sampono dan berkata : "Bapak, tadi kau

bertanya apakah aku tahu siapa adanya perempuan

berkerudung itu ... . ".

Panglima Sampono diam saja. Hatinya kesal

bukan main dan dadanya bergejolak menahan amarah. 

Kalau saja tubuhnya tidak ditotok pasti pemuda

itu sudah diserangnya kembali!

Sebaliknya sambil masih tertawa-tawa Wiro berkata : "Aku 

memang tidak tahu siapa dia adanya ..."

"Kalau tidak kenal mengapa kau ikut campur

urusan orang?! Gadis itu lolos karena kelancanganmu

pemuda sialan!"

Wiro Sableng senyum2 saja dimaki pemuda sialan.

"Meski aku tidak tahu siapa dia, tapi melihat

kalian mengeroyoknya tentu saja aku tak bisa ber-

diam diri. Apalagi dia bertangan kosong sedang kalian

berempat pakai senjata, mendesak gadis itu! Bukan-

kah sayang sekali kalau gadis itu terpaksa matimuda?!"

Hampir saja Panglima Sampono hendak meludahi muka 

pemuda itu saking gemasnya. Dibukanya mulutnya : 

"Memang hati satriamu hendak menolong

gadis itu patut dihargakan! Tadinya kukira dia gen-

dakmu hingga kau begitu kesusu turun tangan tanpa

menyelidik lebih dulu! Sekarang dia telah lolos. Dunia 

persilatan akan sukar untuk diselamatkan!"

Wiro Sableng kerenyitkan kening.

"Harap kau suka menerangkan siapa adanya

gadis itu!" kata Wiro pula.

Panglima Sampono mendengus. "Kalau kau mau

tahu, gadis itu adalah Pandansuri! Anak Raja Rencong 

Dari Utara!"

Sepasang mata Pendekar 212 terpentang lebar

dan memandang pada keempat orang dihadapannya

itu satu persatu.

"Anak gadisnya Raja Rencong Dari Utara?"

desis Wiro seraya garuk2 rambutnya yang basah

kuyup oleh air hujan yang sampai saat itu masih juga

turun meskipun tidak selebat semula. "Aku sendiri

sebenarnya memang tengah mencari-cari si Raja Ren-

cong itu!"

Keempat tokoh silat sama2 mendengus. Pemuda edan! 

Kami muak melihat lagakmu! Lekas lepaskan totokan 

kami dan berlalu dari sini!"

Yang bicara adalah Sebrang Lor,

Wiro memandang pada Sebrang Lor sejenak sam-

bil berpikir2. Kemudian katanya : "Memang aku

turun tangan keliwat kesusu. Tidak menyelidik lebih

dulu! Kalau saja aku tahu bahwa gadis itu adalah

anaknya Raja Rencong Dari Utara aku akan membantu 

kalian meringkusnya hidup2 ".

"Tak perlu bicara ngelantur!" tukas Sebrang Lor

gemas. "Semuanya sudah kasip! Gadis itu sudah lo-

los! Kau telah menghancurkan rencana yang kami

susun selama satu bulan! Benar2 kau kurang ajar

dan sialan sekali!".

"Dengar", kata Wiro, "kalau aku bertemu

gadis itu aku akan tawan dia dan menyerahkan

pada kalian. Tapi katakan dulu apa rencana kalian

"Kau tak ada sangkut paut dengan kami! Karenanya 

tak perlu bertanya!" sahut Panglima Sampono.

"Kalau begitu baiklah! Kuharap saja kalian bisa

melupakan kelancanganku tadi ".

Wiro membalikkan badannya hendak pergi.

"Hai tunggu dulu! Lepaskan dulu totokan

kami!" teriak Sebrang Lor dan Lembu Ampel hampir

bersamaan.

Wiro tertawa.

"Sebenarnya aku memang bermaksud hendak

melepaskan totokan di tubuh kalian! Tapi karenakalian memakiku terus-terusan seenaknya, biarlah

kalian jadi patung-patung hidup sampai beberapa

jam di muka!".

"Keparat!"

"Setan Alas!"

“..bedebah!"

"Edan kau!"

Begitulah maki-makian yang dilontarkan keempat orang 

itu. Wiro tertawa gelak-gelak. Sekali dia berkelebat, 

tubuhnya sudah melesat sejauh sepuluh tombak. Di 

bawah hujan rintik-rintik akhirnya Pendekar 212 lenyap 

dari pemandangan keempat orang itu.

* * *


SEBELAS

KEDAI NASI ITU ADALAH KEDAI NASI

yang paling besar di seluruh daerah selatan.

Sebenarnya kurang pantas kalau disebut

kedai nasi; lebih tepat agaknya jika dikatakan rumah 

makan. Karena di samping besar, juga rumah

makan itu terkenal kemana-mana. Pemiliknya seorang

laki-laki berbadan gemuk pendek persis macam

babi buntak. Kata setengah orang konon kabarnya

pemilik kedai yang bernama Dang Lariku itu ada

memasukkan sejenis bumbu ke dalam masakannya

hingga apa saja yang dijualnya di rumah makan itu

terasa enak sekali. Bumbu apa yang dimaksudkan

Dang Lariku itu tak seorangpun yang mengetahuinya. 

Tentu saja Dang Lariku sendiri merahasiakannya

agar tidak ditiru oleh lain orang.

Saat itu hari sudah petang, matahari hampir

tenggelam. Sore berebut dengan senja. Keadaan di

rumah makan Dang Lariku agak sepi. Hanya ada

satu dua orang yang duduk bercengkrama sambil

menikmati kopi pahit.

Dang Lariku baru saja menyalakan sebuah lampu

besar di ruangan tengah rumah makan sewaktu

didengarnya suara derap kaki kuda yang kemu-

dian berhenti tepat di hadapan rumah makannya.

Dang lariku merasa gembira. Karena suara derap

kaki kuda yang berhenti di depan rumah makannya

Itu berarti datangnya seorang tamu dan berarti uang

dalam kasnya akan bertambah pula 

Dia memandang ke pintu dan tersenyum hendak

Menyambut tamunya! Namun begitu sang tamu

masuk maka berubahlah paras Dang Lariku dari

jembira menjadi pucat seperti kertas! Tamu yang

engkaumasuk seorang perempuan berpakaian ungu. 

Parasnya tak bisa dilihat karena tertutup dengan kerudung

biru! gerakannya melangkah menggetarkan lantai

rumah makan! Beberapa orang yang tengah asyik

mengisi perutnya dalam rumah makan segera berdiri dan 

dengan ketaKutan cepat-cepat angkat kaki lewat pintu 

belakang!

Siapakah sesungguhnya tamu yang datang ini?

Tentu pembaca sudah dapat menduga. Dia bukan

lain Pandansuri, anak Raja Rencong Dari Utara.

Dan siapakah di daerah selatan yang tidak kenal

dengan gadis itu?! Pandansuri sudah terkenal keke-

jamannya! Menghajar seseorang yang terlalu berani

memandang kepadanya sampai setengah mati bukan

apa-apa bagi gadis itu! Membunuh orang-orang

yang berlaku kurang ajar sudah menjadi kebiasaan-

nya! Bahkan belakangan ini dia laksana seekor

harimau lapar yang sengaja mencari mangsanya!

Meski hatinya kecut berdebar dan parasnya

sepucat kertas namun dengan semanis dan seramah

mungkin Dang Lariku menyabut tamunya, memper-

silahkan duduk lalu berteriak pada pelayan agar

segera menyediakan hidangan yang paling lezat

serta tuak yang paling harum! Sementara itu Pandansuri 

duduk di sudut rumah makan, memandang

berkeliling dan tersenyum kecil sewaktu menyaksikan 

bagaimana rumah makan itu menjadi sunyi

akibat kedatangannya! Tak lama kemudian Dang

Lariku sendiri yang muncul membawakan hidangan

dan minuman ke meja Pandansuri. Seorang pelayan

membawakan sepiring besar buah-buahan.

"Sungguh satu kehormatan besar lagi bagiku

karena puteri Raja Rencong Dari Utara kembali

berkenan mampir di rumah makanku yang buruk

ini ", kata Dang Lariku pula.

Pandansuri tak menjawab. Diputarnya kerudung

mukanya sedikit hingga mulutnya bisa menyantap

hidangan dengan leluasa. Gadis ini baru menghabis-

kan setengah bagian dari hidangannya sewaktu 'se-

buah kereta berhenti dan tak lama kemudian

dua orang pemuda memasuki rumah makan. Melihat

kepada pakaiannya yang serba bagus dapat diduga

bahwa kedua pemuda ini adalah anak bangsawan.

Sedang melihat kepada paras masing-masing jelas

mereka bersaudara, adik dan kakak.

Karena dalam rumah makan itu hanya Pandan

suri yang ada maka dengan sendirinya gadis ini men-

jadi perhatian kedua pemuda. Sambil mencari tempat

duduk, mereka tiada berhenti memandang Pandan-

suri.

"Aneh", kata pemuda yang seorang. Namanya

djebat Seloka. "Baru kali ini kulihat ada orang ber-

kerudung begini. Bahkan tengah makanpun dia tak

mau membuka kain penutup wajahnya itu ".

"Bukan aneh ', menyahuti pemuda yang seorang

Namanya Gandra Seloka dan dia adalah adik Djebat 

Seloka. "Bukan aneh", mengulang lagi Gandra Seloka, 

"tapi lucu!". Kedua pemuda itu tertawa-tawa.

Dang Lariku yang sudah berada di dekat meja

kedua bangsawan menjadi cemas sekali! Siapa yang

berani mengganggu apalagi menghina pasti akan

dihajar babak belur bahkan tidak jarang dibunuh

Oleh Pandansuri. tapi agaknya si gadis kali ini tidak

mengambil perduli. Mungkin juga tidak mendengar

ucapan-ucapan kedua orang itu karena dia terus

taja menyantap makanannya.

"Mungkin juga dia bangsa perampok", berkata lagi 

Djebat Seloka. kawannya tertawa. "Kurasa kurang 

tepat!" dia menyahuti. "Kalau perampok seperti ini tentu

semua orang akan mau menyerahkan barang-barangnya,

bahkan dirinya sekaligus!".

Kembali kedua pemuda bangsawan itu tertawa

gelak-gelak Tawa mereka masih belum berakhir tiba-

tiba gadis berkerudung menggebrak meja dan tahu-

tahu dua buah piring melesat ke arah kepala Gandra dan 

Djebat Seloka!

Kedua pemuda ini kaget bukan main! Dengan

cepat mereka melesat dari kursi masing-masing!

dua buah piring menghantam dinding rumah makan

hingga pecah berantakan sedang isinya berhamburan

di lantai! Dang Lariku meramkan mata melihat hancurnya 

kedua piring itu. Dan dia tahu bahwa sebentar lagi bukan 

hanya kedua buah piring itu saja yang menjadi kerugian 

baginya!

"Bagus! Kalian tikus-tikus busuk rupanya punya ilmu 

juga huh?!" bentak Pandansuri. Dia sudah berdiri di depan 

meja dengan kedua tangan di pinggang sedang 

matanya menyorot penuh amarah!

"Saudari kau galak sekali!" kata Gandra Seloka dan 

kembali dia mulai cengar cengir. Saudaranya menimpali. 

"Bukalah kerudungmu itu agar kami bisa melihat, betapa 

cantiknya paras mu kalau sedang marah!".

"Keparat! Kalian minta mampus!" bentak Pan

dansuri. Kursi di depannya ditendang hingga hancur

berantakan dan hancuran kursi itu melesat ke arah

dua bersaudara Seloka. Tapi lagi-lagi keduanya bisa

mengelak! Ini membuat Pandansuri semakin meluap

amarahnya.

"Anjing anjing bermuka manusia! Kalian tahu dengari 

siapa berhadapan? Aku Pandansuri anak Raja Rencong 

Dari Utara!"

Kini rasa terkejut kedua pemuda itu bukan rasa

terkejut main-main lagi. Lutut mereka menggigil

sedang mata mereka membeliak, mulut menganga.

Meski mereka menguasai ilmu silat yang dapat diar.

dalkan, tapi berhadapan dengan anak Raja Rencong

Dari Utara benar-benar mereka tidak punya nyali,

bukan tandingan mereka!.

"Celaka kakak", bisik Djebat Seloka, "baiknya

kita segera saja angkat kaki dari sini!"

Gandra Seloka menganggukkan kepala. Lalu

. kedua pemuda ini cepat melompat ke pintu.

"Bedebah, mau kabur kemana?!" teriak Pandansuri. 

Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah

menghadang di ambang pintu! Kedua pemuda laksana 

kain kafan pucat paras mereka. Djebat seloka bicara 

tergagau-gagau:

"Saudarai ha... harap kau mau mememaafkan. 

Ka... kami tidak mengira kalau kau.. .. adalah anaknya 

Raja Rencong . .. I".

 Di balik kerudungnya Pandansuri mendengus.

Dia melompat ke muka. Kedua tangan terpentanglebar dan tahu-tahu kedua pemuda bangsawan itu

merasakan rambut mereka diiambak lalu: praakl

Kedua kepala pemuda bersaudara itu diadu satu sama 

lain oleh Pandansuri, hingga mengeluarkan

suara keras! Batok kepala Djebat dan Gandra Seloka

pecah. Darah dan otak bermuncratan.

"Itu hadiah yang paling bagus buat kalian"

Kata Pandansuri seraya melepaskan jambakannya.

Tubuh Djebat dan Gandra Seloka melingkar di Lantail. 

Dang Lariku si pemilik rumah makan ketika menyaksikan 

bagaimana kepala kedua pemuda itu pecah lantas saja 

roboh pingsan! Para pelayan tak ada seorangpun yang 

berani menjengukkan muka!

Seperti tak ada kejadian apa-apa Pandansuri

kembali ke mejanya lalu berteriak memanggil pelayan. 

Pelayan datang dengan tubuh menggigil mukapucat.

"Hidangkan makanan baru buatku!" kata Pandansuri.

"Ba .... baik yang mulya kata pelayan.

Sesaat kemudian Pandansuri sudah duduk pula

menyantap hidangannya.

Belum lagi waktu berjalan sampai lima menit

tiba-tiba di luar terdengar derap kaki kuda banyak

sekali dan suara seseorang memberi aba-aba berhenti.

Pandansuri tidak mengambil perduli suara berisik

di luar rumah makan. Juga tidak menoleh ketika

seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, berkumis

melintang serta membawa sepasang pedang di ping-

gang, diiringi oleh lima orang yang juga rata-rata

berbadan tegap memasuki rumah makan!

"Hai!"

Keenam orang itu sama-sama mengeluarkan seruan dan 

menghentikan langkah diambang pintu

sewaktu mata mereka membentur dua sosok tubuh

yang menggeletak di lantai rumah makan dengan

kepala-kepala pecah!

"Apa yang terjadi di sini?!" ujar laki-laki paling

depan lalu dia memandang seputar ruangan dan

sewaktu matanya melihat Pandansuri yang duduk

di sudut kanan enak-enak menyantap hidangan

kembali laki-laki ini berseru terkejut: "Hai! Dia

adalah anaknya Raja Rancong! Musuh besar yang kita

cari-cari! Kurung seluruh rumah makan ini!". Kelima orang 

di samping laki-laki itu segera memencar dan 

memberikan perintah beruntun hingga dalam sekejap 

saja seluruh rumah makan itu telah dikurung lebih oleh 

dua puluh orang.

Siapakah laki-laki berkumis melintang serta

pengiring-pengiringnya itu? Dia adalah Dipa Warsyah 

seorang perwira tinggi balatentara Kesultanan Deli, yang 

tengah menjalankan tugas Sultan Deli

yaitu mencari dan menangkap Raja Rencong Dari

Utara baik hidup atau mati! Karena Raja Rencongsudah dikenal kehebatan dan kesaktiannya, meski-

pun Dipa Warsyah bukan seorang yang berkepandaian

rendah namun perwira ini tidak mau ambil risiko.

Dalam menjalankan tugas Sultan itu maka Dipa

warsyah membawa serta lima orang tangan kanannya

dan dua puluh orang prajurit-prajurit yang terlatih baik!

Mendengar seruan Dipa Warsyah tadi, Pandansuri 

berpaling sebentar lalu meneruskan makannya

dengan sikap yang kelihatannya tetap acuh tak acuh,

tapi diam-diam gadis ini mempertinggi kewaspadaan-

nya karena dia tahu siapa adanya orang-orang itu!

Melihat sikap ei gadis demikian rupa, sang per-

wira merasa dongkol dan dianggap sepele.

"Anak Raja Rencong! Kau berhadapan dengan

perwira Kesultanan Deli I".

Sebelum Dipa Warsyah meneruskan bicaranya,

Pandansuri sudah berpaling dan memotong: "Apa

urusanmu, perwira? Apa mau mengemis ketika orang

sedang makan? Hanya pengemis-pengemislah yang

suka mengusik orang makan!"

Merahlah paras Dipa Warsyah.

Dia berpaling pada kelima bawahannya yang

berkepandaian tinggi dan memerintah: "Atas nama

Sultan Deli tangkap gadis itu!".

Kelima orang yang diperintah segera bergerak.

"Tunggu dulu!" seru Pandansuri dengan suara

keras dan sambil mencampakkan tulang ayam yang

di tangan kanannya ke lantai papan hingga tulang

ayam itu menancap di lantai!.

"Atas alasan apa Sultan kalian menyuruh tang-

kap aku?!" bentak Pandansuri lantang.

Dipa Warsyah menjawab: "Sebenarnya ayahmu

yang kami cari! Tapi menangkap anaknyapun cukup

berharga!".

"Pandansuri tertawa gelak-gelak. Suara tertawa

itu merdu sekali namun kemerduan itu dibayangi oleh

sesuatu yang mengerikan. Dia memandang pada ke-

lima bawahan Dipa Warsyah. "Kalian mau menang-

kap aku? Majulah!".

Mengandalkan jumlah yang banyak serta ke-

pandaian mereka yang tinggi maka tanpa cabut sen-

jata kelima anak buah Dipa Warsyah melompat ke

muka. Lima pukulan dan lima totokan menderu

bersirebut cepat! Sekejap kemudian menguman-

danglah lima pekikan di dalam rumah makan itu!


DUABELAS

KEDUA MATA DIPA WARSYAH MEM-

belalak besar seperti mau melompat dari

rongganya sewaktu menyaksikan bagaimana

kelima bawahannya jatuh bergedebukan di lantai

dalam keadaan tubuh hangus dihantam pukulan kuku

api yang dilancarkan oleh Pandansuri.

"Gadis jahanam I Jaga batang lehermu!"

Tubuhnya melompat ke muka dan hampir tak

kelihatan kapan dia mencabut sepasang pedangnya,

tahu-tahu dua sinar putih telah menyambar pinggang

dan leher Pandansuri dari kanan dan kiri!

Pandansuri terkejut melihat datangnya serangan

hebat dan cepat ini. Lekas-lekas dia menyingkir

ke samping lalu menyusupkan satu tendangan ke arah

perut sang perwira. Permainan pedang Dipa Warsyah

hebat sekali karena begitu serangannya mengenai

tempat kosong, sepasang pedang itu laksana kilat

menderu ke bawah membuat Pandansuri terpaksa

tarik pulang kaki kanannya dan sewaktu dia melan-

carkan dua jotosan ganas ke dada dan ke kepala

lawan, kembali' sepasang pedang membabat ke atas

menggagalkan serangannya!

Panaslah hati si gadis. Dia bersuit nyaring dan

sekali tubuhnya berkelebat lenyaplah dia dalam jurus-

jurus serangan yang ganas! Kedua orang itu berkecamuk 

dalam pertempuran yang luar biasa hebatnya!

Meski sang perwira dalam hal tenaga dalam masih kalah 

satu tingkat dari Pandansuri namun dengan

permainan sepasang pedangnya yang hebat luar biasa 

dia berhasil memberikan tekanan-tekanan yang

berbahaya pada lawannya! Kalau saja ilmu meringankan 

tubuh Pandansuri belum mencapai tingkat yang lebih 

tinggi dari sang perwira, niscaya gadis ini sudah sejak 

tadi kena celaka tersambar ujung pedang!

Melihat lawan begitu tangguh dengan hati memaki 

Pandansuri mulai keluarkan jurus-jurus simpanannya 

yang terlihay. Dipa Warsyah terkesiap melihat bagaimana 

permainan silat si gadis berubah total dan sukar diduga 

sasaran yang ditujunya. Dengan serta merta perwira ini 

percepat permainan pedangnya hingga rumah makan itu 

terbenam dalam deru sepasang pedang!

"Perwira edan! Makan pukulan selaksa palu godam 

ini!" teriak Pandansuri. Tubuhnya berkelebat dan tahu-

tahu tangan kanannya menyusup di bawah pedang 

sebelah kiri Dipa Warsyah, menderu ke atas mengarah 

muka sang perwira!

Meski kagetnya bukan alang kepalang, tapi perwira ini 

tidak kehilangan akal. Dengan sebat pedang di tangan 

kanannya digerakkan ke atas! Pandansuri terkejut dan

tak menyangka lawannyaakan bergerak sekalap dan secepat itu. Namun demi-

kian meskipun pedang datang menyambar gadis ini

tidak takut. Sedikit saja dia merubah gerakan pukul-

annya tadi maka lengannya telah menghantam

badan pedang. Pedang itu bukan saja mental dari

tangan kanan Dipa Warsyah tapi juga patah dua!

Sambil mengirimkan satu tusukan sang perwira

melompat ke samping kiri dan ke luar dari kalangan

pertempuran. Justru ini adalah kesalahan besar. De-

ngan memisah jarak sejauh itu dia memberi kesempat-

an pada Pandansuri untuk melepaskan pukulan kuku

api yang ganas! Perwira ini berusaha mengelak sambil

menangkis tapi sia-sia saja. Tubuhnya sebatas dada

ke atas hangus dilanda lima larik sinar merah 

kekuningan yang melesat dari lima kuku jari tangan

kanan Pandansuri!

"Perempuan iblis!" teriak seorang kepala prajurit 

yang mengurung rumah makan. Sekali dia berteriak maka 

dua puluh prajurit-prajurit lainnya menyerbu! Rumah 

makan itupun hiruk pikuklahl

Tapi hanya sebentar karena setiap kali Pandansuri

berkelebat, setiap kali dia menjentikkan kelima jari

tangannya maka sekelompok demi sekelompok prajurit-

prajurit itu rebah ke lantai tanpa nyawa dan dalam 

keadaan tubuh hangus! Akhirnya enam orang sisa-sisa 

yang masih hidup segera ambil langkah seribu!

Rumah makan itu kini penuh dengan gelimpangan 

mayat. Suasana yang mengerikan itu ditambah pula 

bergidiknya oleh beberapa orang prajurit

yang masih hidup megap-megap merintih menjelang

ajal sampai! Kursi dan meja centang perenang tak

karuan. Piring-piring dan gelas berhamburan di-

mana-mana. Makanan berhamparan! Satu-satunya

meja dan kursi yang tidak berpindah dari tempatnya

ialah yang tadi diduduki oleh Pandansuri!

Gadis ini melangkah ke kursi, duduk di situ dan

meneguk tuak harum di dalam piala perak beberapa

kali. Di tengah-tengah suasana yang mengerikan itu

dia meneruskan menyantap hidangannya kembali!

Pandansuri sudah menyelesaikan makannya dan

tengah meneguk tuak sewaktu dari pintu terdengar

suara keras menggetarkan Seantero ruangan:

"Buset ! Ini rumah makan apa tempat pembantaian 

manusia? !..Anak gadis Raja Rencong Dari Utara terkejut

dan cepat berpaling.

"Ah, dia ", kata Pandansuri. Kedua bola matanya 

bersinar. Dia merasa geli dan juga merasa aneh melihat 

sikap orang diambang pintu menyaksikan mayat yang 

malang melintang dalam rumah makan dengan mata 

membeliak, mulut ternganga dan sambil garuk-garuk 

kepala! Tiba-tiba orang itu berpaling kepadanya dan:

"Hai kau!" seru pemuda rambut gondrong.Dia melangkah melompati mayat-mayat yang ber-

gelimpangan mendadak dia menghentikan lang-

kahnya ketika salah seorang dari mayat mayat itu

dikenalnya.

"Ini Dipa Warsyah, perwira pasukan Kesultanan 

Deli!" katanya setengah berseru dan kembali

memalingkan kepala pada Pandansuri. Sambil melangkah 

ke meja gadis itu dia bertanya: "Apa yang

terjadi di sini?"

"Siapa tanya siapa?!..

"Eh !., si pemuda tertegun. Dua alis matanya

yang tebal naik ke atas lalu sekelumit senyum ter-

sungging di mulutnya. "Tentu saja aku bertanya

dengan kau saudari, kecuali kalau mayat-mayat

itu masih sanggup diajak bicara!"

Pandasuri pelototkan matanya. Si pemuda juga

beliakkan sepasang matanya meski senyum tadi

masih belum pupus dari mulutnya.

"Berlalu dari hadapanku sebelum aku jadi muak !" 

bentak Pandansuri.

"Saudari, kau galak sekali! Tidak percuma kau

jadi anaknya Raja Rencong Dari Utara?!...

Pandansuri terkejut.

"Dari mana kau tahu aku anak Raja Rencong?!"

"Ah kehebatan ayahmu dan kehebatanmu 

disampaikan orang dari mulut ke rnuiut. Dihembuskan 

angin ke pelbagai penjuru ...

Pemuda itu kemudian menyeret sebuah kursi yang

terbalik lalu duduk di hadapan Pandansuri dengan

sikap seenaknya.

"Pemuda lancang! Kalau kau sudah tahu siapa

aku mengapa tidak lekas angkat kaki dari rumah

makan ini?!"

Si pemuda tertawa pelahan.

"Kau tak punya hak mengusirkul Rumah ma-

kan ini bukan milikmu!" •

Si gadis mendengus.

"Ka|au begitu berarti akan bertambah satu

mayat lagi di tempat ini!"

Si pemuda yang bukan lain Wiro Sableng si

Pendekar 212 adanya tertawa perlahan.

"Jadi kau rupanya yang telah membunuhi

semua manusia ini!", Wiro gelengkan kepala dan

leletkan lidah. "Dan aku yakin mereka bukan manu-

sia-manusia berdosa ! Sekalipun punya salah tapi

sangat tak berperikemanusiaan menjagal mereka

seperti ini !".

"Punya dosa atau tidak, salah atau tidak itu

bukan urusanmu ! Lekas menyingkir dari hadapan-

ku!" bentak Pandansuri. "Kecuali kalau mau segera

mampus!".

Kembali Pendekar 212 tertawa. Dia memandangke luar lewat pintu rumah makan lalu berkata:

"Seekor binatang jika dilepaskan dari bahaya besar,

mungkin masih bisa menyatakan terima kasih! Tapi

seorang manusia malah sebaliknya!"

"Keparat ! Kalau tidak mengingat pertolonganmu tadi 

siang-siang aku sudah bunuh kau!", bentak

Pandansuri. "Soal pertolongan yang tak seberapa

itu jangan diungkap-ungkap! Lagi pula siapa yang

engkauminta tolong padamu sewaktu aku bertempur me-

lawan empat manusia hina dina itu?!"

"Aku sama sekali bukan bermaksud meng-

ungkap-ungkap pertolongan kecil itu" sahut Wiro,

"tapi cuma sekedar membandingkan seorang 

manusia dengan seekor binatang., I".

Ejekan ini membuat Pandansuri menjadi marah

sekali.

"Keparat! Kau betul-betul mau mampus cepat-

Cepat !". Pandansuri mengangkat tangan kanan-

nya. Lima jadi tangannya siap dijentikkan ke arah

Pendekar 212 Wiro Sableng. Yang hendak diserang

sebaliknya tenang-tenang saja malah tersenyum-

senyum. Ketenangan ini membuat Pandansuri menjadi 

ragu.

"Eh, kenapa maksudmu tidak diteruskan?

Bukankah kau mau membunuh aku?!" kata Wiro

ketika dilihatnya Pandansuri berada dalam kebim-

bangan.

"Setan alas!" maki Pandansuri geram. Sekali

tangan kirinya digerakkan maka meja makan yang

dihadapannya melesat ke arah Wiro Sableng. Piring

mangkuk dan gelas menyambar lebih dahulu!

"Benar-benar manusia yang tak tahu budi

orang!" damprat Wiro Sableng. Laksana panah lepas

dari busurnya tubuhnya mencelat ke atas. Piring

mangkuk dan gelas lewat di sampingnya. Begitu meja

makan menyusul datang, tanpa tedeng aling-aling

Wiro Sableng tendangkan kaki kanannya. Meja itu

hancur berantakan. Pecahan-pecahan papan dan kaki-

kaki meja yang keseluruhannya berjumlah delapan

belas keping langsung menyerang ke tubuh Pandansuri!

Dengan cekatan gadis ini melompat ke atas seraya 

memukulkan tangan kiri ke muka. Kepingan-

kepingan meja yang menyerangnya berpelantingan

kian ke mari. Wiro kemudian susulkan dengan satu

jotosan ke arah perut si gadis. Dengan gerakan gesit

Pandansuri berhasil mengelakkan malah di lain kejap dia 

berhasil menyambar patahan kaki meja dan menyerang 

Wiro Sableng dengan benda itu.

“..wut"l

Wiro membuang diri ke samping kanan. Terlambat 

sedikit saja pasti pipinya kena disambar ujung

kaki meja itu! Melihat serangan untuk kesekian kaliluput lagi maka Pandansuri berkelebat cepat dan

serangan dahsyatpun bertubi-tubi melanda Pendekar

212 wiro Sableng!

Diam-diam Wiro Sableng memuji kehebatan ilmu

sifat dan kegesitan Pandansuri. Sebelum dirinya

kena didesak, Wiro segera berkelebat cepat untuk

mengimbangi kegesitan lawart. Lima jurus pertempuran

berkecamuk dengan hebat Kaki meja di tangan

Pandansuri merupakan senjata yang ampuh, men-

deru kian ke mari laksana belasan buah banyaknya

dan menyerang dalam gerakan-gerakan yang sukar

diduga. Penasaran sekali, wiro Sableng keluarkan se-

buah jurus silat tangan kosong yang dipelajarinya

dari Tua Gila (Mengenai siapa adanya Tua Gila ha-

rap baca serial Wiro Sableng yang berjudul: Banjir

Darah di Tambun Tulang). Jurus ini bernama: "ular

gila membelit pohon menarik gendewa"!

Jurus ini sepenuhnya mempergunakan kecepatan 

gerakan tangan. Bagi Pandansuri yang tak bisa melihat 

kecepatan tangan lawannya, dan hanya melihat tubuh 

lawan berada dalam keadaan tak terlindung segera 

hantamkan kaki meja di tangan kanannya secepat kilat 

ke arah dada Wiro Sablengi

"Wuutt!"

Kaki kursi itu menderu dan diantara dahsyatnya deru 

tersebut Pandansuri mendengar suara tertawa lawan 

yang menjengkelkan hatinya. Tenaga dalamnya dilipat 

gandakan hingga dalam satu kejapan mata lagi akan 

hancur remuklah dada Pendekar 212 dilanda kaki meja!

Namun betapa terkejutnya Pandansuri sewaktu

merasakan gerakan tangan kanannya itu tertahan

oleh satu kekuatan yang tak kelihatan, dan tahu-

tahu kaki meja terlepas dari genggamannya!.

Bila dia menyurut mundur dan memandang

ke depan dilihatnya Wiro Sableng berdiri tertawa-

tawa sambil membolang balingkan kaki meja itu!

"Saudari, kurasa cukup sudah kita main-mainl

Sekarang kau dengarlah baik-baik! Sewaktu melihat

kau bertempur melawan empat orang tokoh silat

itu dan berada dalam keadaan terdesak aku telah

membantumu! Tapi setelah kau lolos dan tahu siapa

kau adanya, nyatalah bahwa aku telah membuat

kesalahan besar! Aku berjanji pada keempat orang itu

untuk menangkap dan menyerahkanmu kepada me-

reka. Nah bagaimana tanggapanmu! Menyerah baik-

baik atau terpaksa kita musti main-main lagi barang

beberapa jurus?!"

"Menyerah diri pada manusia macammu lebih

baik bunuh diri!".

"Ah jangan! Jangan bunuh diri!" tukas Wiro

sambil senyum-senyum. "Kalau kau bunuh diri ke-

kasihmu tentu akan sedih dan menangis, lalu mengamuk macam orang gila! Aku kawatir manusia-

manusia tak berdosa akan jadi korban amukannya!"

"Pemuda sombong kurang ajar! Aku meng

adu jiwa sampai seribu jurus!" teriak Pandansuri

Didahului oleh satu pekikan yang dahsyat maka

gadis ini menyerang hebat sekali. Gerakannya jauh

berbeda dari jurus-jurus serangan sebelumnya. 

Sebelum serangan itu sampai anginnya sudah 

menyambar keras!

Wiro tetap berdiri di tempatnya sambil bolang

balingkan kaki meja di tangan kanannya. Dia terke-

jut sewaktu merasakan angin serangan yang tajam

menyelusup ke arah barisan tulang-tulang iga di sisi

kanannya! Wiro Sableng sabatkan kaki meja dengan

sigap.

"Buuk"!

Wiro Sableng mengeluh! Kaki meja terlepas dari

tangan kanan sedang tubuhnya terjajar ke belakang

sampai tiga langkah! Ketika memandang kelengannya 

sebelah kanan lengan itu kelihatan bengkak dan merah. 

Ternyata tumit kiri Pandansuri telah berhasil

menghantam lengan itu!

"Itu baru lenganmu! Sebentar lagi kepalamu

yang bakal pecah!"

Wiro keluarkan suara bersiul.

"Rupanya kau memang tak boleh dibuat main!

Baik, kau mulailah!" kata Pendekar 212 Wiro Sa-

bleng dan memasang kuda-kuda untuk menyerang.

Namun sebelum dia bergerak tubuh si gadis sudah

berkelebat dan lenyap! Angin serangan yang dahsyat

menelikung sekujur tubuh Wiro. Untuk mengimbangi

gerakan lawan mau tak mau pemuda ini kerahkan

ilmu meringankan tubuhnya dan sesaat kemudian

tubuhnya itu hanya merupakan bayang-bayang pu

tih saja!

Diam-diam Wiro Sableng merasa kagum juga

dengan permainan silat Pandansuri. Saat itu mereka

sudah bertempur sepuluh jurus lebih. Meski Pandansuri 

tak berhasil menjatuhkan serangan kepadanya namun 

dia sendiri dipaksa untuk bertahan terus-terusan, sama 

sekali tak punya kesempatan untuk

balas menyerang! Ini membuat Wiro Sableng menjadi

penasaran. Beberapa kali totokannya tak mengenai

sasarannya. Kalau saja dia tidak bermaksud untuk

meringkus gadis itu hidup-hidup, itu lain perkara,

dia bisa turun tangan dengan ganas!

Dalam telikungan serangan yang dahsyat itu

mendadak Wiro Sableng menyaksikan berkelebatnya 

sinar merah kekuningan! Melihat lawan menyerang 

dengan ilmu pukulan sakti yang berarti

menginginkan jiwanya maka Wiro Sableng tentu saja

tak mau tinggal diam lagi. Tenaga dalamnya yangsejak tadi sudah disiapkan secepat kilat dialirkan

ke tangan kanannya. Sesaat kemudian tangan itupun

didorongkan ke depan. Gerakan Wiro Sableng ini

sekaligus merupakan campuran dari pukulan "ben-

teng topan melanda samudrra" dan "tameng sakti

menerpa hujan".

Terdengar suara letusan yang dahsyat. Langit-

langit rumah makan hancur hangus berantakan. Tubuh 

Pandansuri mencelat sepuluh langkah, terbanting

ke dinding! Wiro sableng sendiri terhuyung gontai.

Kejutannya bukan olah-olah sewaktu menyaksikan

bagaimana ujung lengan bajunya mengepul hangus

terasa panas dan perih! Buru-buru pemuda ini mero-

bek ujung lengan baju itu. Ketika dia memandang

ke jurusan dinding dimana tubuh Pandansuri tadi

terbanding keras, astaga! Gadis itu sudah lenyap!

Wiro melompat ke pintu depan! Kasip sudah! Si

gadis tak kelihatan lagi! Wiro memaki dalam hati.

Segera pula dia meninggalkan rumah makan itu.


TIGABELAS

HARI ITU TANGGAL SATU, SAAT peresmian 

berdirinya Partai Topan Utara. Puluhan perahu kelihatan 

menyeberangi Danau Toba menuju ke pulau besar yang 

terletak di tengah- tengah danau. Penumpang-penumpang 

perahu-perahu itu ialah tokoh-tokoh silat dari pelbagai 

penjuru yang sengaja datang untuk menghadiri peresmian 

berdirinya Partai Topan Utara. Semua mereka ini tiada

menduga bahwa kedatangan mereka itu ke sana

hanya untuk mengantar nyawa karena Raja Rencong

yang berhati sejahat iblis itu telah berniat untuk

menamatkan riwayat semua tokoh-tokoh silat, tak

perduli dari golongan manapun mereka adanya!

Di Arena Topan Utara yang terletak di bawah

bangunan tua di bukit Toba suasana penuh sesak

oleh para tetamu. Kelihatannya para tamu itu sudah

tak sabar lagi menunggu kemunculan Raja Rencong

Dari Utara. Namun sampai sedemikian lama sang

tuan rumah masih juga belum muncul. Ini menim-

bulkan kegelisahan di kalangan para tamu.

Sementara itu di lereng bukit kelihatan sekelebatan 

sosok tubuh manusia. Paras dan perawakannya tidak 

dapat diteliti dengan jelas karena luar biasa cepat 

larinya. Dalam tempo yang singkat dia sudah lenyap ke 

dalam rimba belantara, meneruskan larinya dengan 

melompat dari atas cabang pohon yang satu ke cabang 

pohon lainnya hingga akhirnya dia sampai di hadapan 

bangunan tua, satu-satunya bangunan yang terdapat di 

Bukit Toba itu. Suasana kelihatan sepi tapi matanya yang 

tajam dapat mengetahui bahwa sebelumnya belasan 

orang telah memasuki bangunan itu. Apalagi 

sebelumnya dia telah melihat perahu banyak sekali di 

tepi pantai. Setelah memandang berkeliling, orang di 

atas pohon ini melompat ke bawah dan tanpa 

menimbulkan suara dia bergerak ke bagian belakang 

bangunan. Berlindung di balik sebuah runtuhan dinding 

tembok dia meneliti bagian belakang bangunan itu 

dengan cepat hingga akhirnya pandangannya membentur 

serumpun semak belukar lebat di hadapan sebatang 

pohon kelapa. Jika saja dia tidak mendapat penjelasan 

dari gurunya Si Tua Gila pasti dia tidak mengetahui

bahwa di bawah rerumpunan semak belukar itu terdapat 

sebuah lobang yang merupakan jalan rahasia menuju ke 

bagian bawah bangunan tua!

Segera orang ini melompat tanpa suara ke arah

semak belukar, menarik semak belukar itu ke atas

hingga kini kelihatan sebuah lobang yang sangat

kotor dan besarnya hanya untuk tempat masuk se-

sosok tubuh manusia. Tanpa ragu-ragu orang ini

masuk ke dalam lobang itu dan menyeret rumpunan

semak-semak hingga lobang kembali tertutup sepertisedia kala. Lobang itu ternyata hampir lima belas

tombak dalamnya. Setengah bagian sebelah atas

dari tanah sedang setengah bagian sebelah bawah

dilapisi dengan batu. Dengan mengandalkan ilmu

meringankan tubuhnya, orang yang masuk ke lobang

ini menyerosot turun tanpa mengeluarkan sedikit

suarapun! Dia sampai di satu lorong sempit dan gelap.

Lantai, dinding dan atap lorong yang terbuat dari

batu itu penuh dengan debu tebal. Agaknya lorong

tersebut tak pernah dilalui orang selama bertahun-

tahun. Ditempuhnya lorong itu hingga dia mencapai

sebuah pengkolan. Tepat di pengkolan ini terdapat

dua buah pintu Pengkolan itu sendiri buntu.

Orang itu menggaruk rambutnya yang gondrong. Rambut 

gondrong dan kebiasaan menggaruk kepala

yang tidak gatal bukan lain dua ciri-ciri khas dari

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Dan memang

orang yang menyelinap masuk ini adalah Wiro Sableng!

Dengan penuh hati-hati Wiro mendekati pintu

sebelah kiri. Ternyata pintu itu tidak dikunci. Dan

ketika dibuka, kelihatanlah sebuah ruangan empat

persegi. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah roda

besi yang amat besar. Bagian pusat dari roda besi ini

berhubungan dengan dua puluh helai kawat-kawat

halus. Selanjutnya kawat-kawat halus ini menyelusup

ke bagian atas ruangan tak diketahui Wiro kemana

seterusnya.

"Mungkin sekali ini adalah senjata rahasia"

pikir Wiro Sableng. Ditutupnya pintu itu kembali

lalu bergerak ke pintu yang satu lagi. Begitu dibuka

maka kelihatanlah sebuah tangga batu pualam yang

menuju ke atas. Tak membuang-buang waktu Wiro

segera melompat dan sampai di sebuah lorong yang

sangat bagus. Dinding-dindingnya penuh dengan

lukisan-lukisan sedang sebagian dari gang itu tertutup

permadani berbunga-bunga. Pada sisi kiri kanan lo-

rong terdapat masing-masing sebuah pintu. Pintu

yang ketiga terletak di ujung gang.

Perlahan-lahan dan hati-hati sekali Wiro Sa-

bleng bergerak mendekati kedua pintu di kiri kanan

lorong. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Dari

pintu sebelah kanan terdengar suara orang bercakap-

cakap. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Suara yang perempuan ini rasa-rasa pernah didengar

Wiro Sableng. Cepat pendekar ini tempelkan telinganya 

ke daun pintu untuk mendengarkan pembicaraan kedua 

orang di dalam kamar.

Sementara itu di dalam kamar Raja Rencong Dari

Utara duduk di sebuah kursi besar. Dia mengenakan 

pakaian ungu yang baru bertaburkan mutiara. Di tangan 

kirinya ada sebuah piala berisi anggur harum. Setelah 

meraba sebentar kumisnya yang tebal hitam melintang,laki-laki ini bertanya: "Apakah semua tamu sudah 

datang?".

Pertanyaannya itu diajukan pada gadis berbaju ungu 

yang berdiri di hadapannya, parasnya cantik jelita dan 

dia bukan lain Pandansuri anak Raja Rencong sendiri.

"Sudah", menjawab Pandansuri. "Agaknya sudah 

waktunya bagi ayah untuk keluar".

"Yasudah waktunya", kata Raja Rencong pula 

dengan tersenyum. Diteguknya anggur dalam piala. 

Tangannya yang memegang piala tiba- tiba diturunkan 

dan dia memandang lagi pada anaknya: "Pemuda 

rambut gondrong yang bertempur denganmu di rumah 

makan Dang Lariku apa juga kelihatan?".

"Sampai saat terakhir saya mengintai dari jendela

rahasia di Arena Topan Utara dia tidak kelihatan".

"Panglima Sampono dan ketiga kawannya itu

juga hadir?".

Pandansuri mengangguk.

Raja Rencong Dari Utara meletakkan piala

anggur ke atas meja lalu berdiri.

"Segera aku meninggalkan kamar ini, kau cepat

menuju ke kamar pesawat rahasia itu. Di mimbar

telah kupasang sebuah tombol. Kelak bila tomboi

itu kutekan pesawat rahasia itu akan berbunyi dan

detik itu juga kau harus mencabut dua puluh helai

kawat-kawat halus pada pusat pesawat secara sekaligus! 

Kau mengerti tugasmu, Pandansuri?!"

"Mengerti ayah", jawab Si gadis.

Raja Rencong Dari Utara tertawa lalu berkata:

"Sekali kawat-kawat itu terlepas dari pusat pesawat,

lantai Arena Topan Utara akan ambruk, atau akan

runtuh! Semua keparat-keparat yang ada di situ akan

tertimbun hidup-hidup! Akan mampus!"

"Dan kita ayah dan anak akan menguasai dunia

persilatan di seluruh Pulau Andalas ini!"

"Benar! Benar sekali!" kata Raja Rencong

dengan tertawa gelak-gelak. "Namun demikian,

meski keparat keparat di Arena Topan Utara itu

sudah berada dalam perangkap kita, segala hal yang

tak terduga mungkin saja terjadi. Agar kau dapat

menjalankan tugas dengan aman, kau bawalah pedang

ini". Raja Rencong Dari Utara menyerahkan sebilah

pedang ke tangan anaknya. "Senjata ini tidak kalah

hebatnya dengan Rencong Perakmu yang hilang itu.

Pandansuri ".

Pandansuri menerima senjata itu. Kemudian dilihatnya 

ayahnya mengeluarkan sehelai lipatan kertas.

"Sekali lagi kukatakan", ujar Raja Rencong

pula, "segala kemungkinan yang tak diingini bisa

terjadi. Surat ini kuberikan padamu, anakku. Kelak

kau baru boleh membukanya jika aku menemui

ajal secara tak terduga di Arena Topan Utara nanti.Jika segala sesuatunya berjalan beres, surat itu musti

kau kembalikan padaku ".

"Ayah, apakah artinya ini?" tanya Pandansuri.

Kata-kata dan surat yang diserahkan ayahnya itu

membuat hatinya tidak enak.

Raja Rencong Dari Utara tertawa perlahan.

ditepuknya bahu Pandansuri. Dibukanya mulutnya

hendak mengatakan sesuatu tapi mendadak kepalanya 

dipaling ke pintu kamar.

"Seperti ada seseorang yang tengah mencuri

dengar pembicaraan kita. Pandan "

Pandansuri menoleh ke pintu lalu berkata:

"Ah itu cuma perasaan ayah saja. Siapa orangnya

yang berani menyusup ke sini dari Arena Topan

Utara? Sekali dia memasuki lorong pertama pasti

tubuhnya akan tertambus senjata-senjata rahasia

meski bagaimana pun tinggi ilmunya!"

Raja Rencong membenarkan hal itu. Namun

kekawatiran belum lenyap dari hatinya. ..menyusup dari 

Arena Topan Utara memang tidak mungkin.

Tapi yang aku kawatirkan ialah penyusupan lewat

lobang rahasia di bagian belakang bangunan tua.

Dari lobang sampai ke lorong dan sampai ke sini

sama sekali tidak dirintangi oleh satu senjata rahasiapun!"

"Ayah", kata Pandansuri tertawa. "Menurut

keteranganmu satu-satunya manusia yang menge-

tahui seluk beluk dan jalan rahasia masuk ke tempat

ini ialah Tua Gila, Dan orang itu sudah mati belasan

tahun yang silam. Apakah dia mungkin hidup kembali dan 

menggerayang ke sini?!"

Raja Rencong Dari Utara merasa malu pada

dirinya sendiri. Namun telinganya yang tajam itu

tadi telah mendengar suara hembusan nafas tepat.

di belakang daun pintu kamar dimana dia beradal

Melihat ayahnya masih berada dalam kebimbangan, 

Pandansuri berkata lagi: "Kalaupun ada seseorang 

yang berhasil masuk ke sini, masakan telinga ayah tak

sanggup mendengar gerakan langkahnya?!"

"Aku belum puas kalau belum menyelidikinya

sendiri" kata Raja Rencong pula. Lalu dengan cepat

melompat ke pintu!

* * *

EMPATBELAS

DI LUAR KAMAR SEWAKTU MENDENGAR

ucapan Raja Rencong bahwa dia merasa

ada seseorang yang mendengarkan pembi-

caraannya maka Wiro segera maklum cepat atau

lambat laki-laki itu akan segera ke luar untuk menye-

lidik. Untuk lari ke ujung lorong yang tadi dile-

watinya terlalu besar risikonya karena ujung lorong

itu jauh sekali. Untuk baku hantam menempur Raja

Rencong dan Pandansuri baginya bukan halangan.

Sekalipun dia harus pasrahkan nyawa dia bisa mati

dengan rela. Tapi yang paling penting ialah menye-

lamatkan jiwa puluhan tokoh-tokoh sakti yang ada di

Arena Topan Utara, terutama mereka yang dari

golongan putih!

Wiro Sableng melangkah cepat ke pintu di

samping kiri. Didorongnya pintu itu tapi ternyata

dikunci. Mendobrak pintu itu akan menimbulkan

suara berisik dan sama saja dengan memberi tahu

terang-terang kehadirannya di situ pada Raja

Rencong!

Wiro berkelebat ke pintu di ujung depan lorong.

Baru saja dia berdiri di depan pintu itu mendadak

terdengar suara macam nyamuk mengiang di telinganya.

"Cepatlah masuk anakku".

Wiro terkejut bukan main. Meski tidak tahu

apakah yang bakal ditemui di dalam sana perangkap

yang sangat berbahaya namun tanpa pikir panjang

dalam keadaan kepepet begitu rupa Wiro Sableng

segera mendorong daun pintu. Pintu itu ternyata

tak dikunci. Wiro cepat masuk ke dalam. Ketika daun

pintu itu tertutup kembali maka daun pintu dilorong 

sebelan kanan terbuka. Raja Rencong Dari Utara ke 

luar. Matanya meneliti setiap sudut lorong.

Tak seorangpun yang kelihatan. Namun Raja Rencong 

tak yakin bahwa perasaan dan telinganya telah 

menipunya. Sekali dia melompat maka dia sudah

sampai di pintu kamar di ujung lorong dan sekaligus

membuka pintu itu!

Sewaktu Wiro masuk ke dalam' kamar itu satu

pemandangan yang luar biasa membuat dia sangat

terkejut hingga sepasang kakinya laksana dipakukan

ke lantai!

Kamar itu tak seberapa besar. Meski bagian luarnya 

kelihatan bagus tapi di dalamnya hanya merupakan 

dinding lantai dan atap batu yang kasar. Seluruh kamar 

diselimuti debu. Di beberapa sudut labah-labah telah 

membuat sarangnya. Di tengah-tengah kamar inilah 

kelihatan duduk seorang laki-laki tua bermuka biru, 

berpipi sangat cekung. Tubuh-nya yang kurus tertutup 

sehelai jubah biru yang luarbiasa besarnya hingga bagian bawahnya menutupi

hampir seluruh lantai kamar! Kedua tangan orang tua

ini buntung sebatas siku, salah satu telinganya sum-

plung. Pada lehernya terikat sebuah rantai baja yang

ujungnya dipantek dengan sebuah paku besar ke

dinding batu di belakangnya. Sikap orang tua ini

yang memeramkan matanya tak ubahnya seperti

orang yangtengahbersemedi,

"Orang tua, kau siapa?!" tanya Wiro.

Orang tua itu membuka kedua matanya.

Astaga! Wiro merasa tengkuknya dingin. Kedua

mata itu hanya merupakan sepasang rongga yang

dalam dan mengerikan!

"Anak tolol! Lekas sembunyi dalam jubah di

belakang punggungku!" kata si orang tua. Wiro Sableng 

yang sadar akan keadaannya segera mengikuti perintah si 

orang tua. Namun demikian karena dia tiada mengenal 

siapa adanya orang tua ini dan bukan mustahil seorang 

musuh yang hendak menjebak maka sambil menyusup 

ke dalam 'jubah biru yang lebar diam-diam Wiro siapkan 

pukulan sinar matahari di tangan kiri sedang tangan 

kanan memegang gagang Kapak Naga Geni 212! '

"Anak, aku bukan musuhmu! Kenapa musti

meraba senjata segala?!", tiba-tiba terdengar suar

mengiang di telinga Wiro Sableng. Suara orang tua itu! 

Orang ini hebat sekali, tentu sakti luar biasa, pikir Wiro. 

Tapi mengapa kedua tangannya buntung dan matanya 

buta sedang lehernya dirantai begitu rupa?

Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar bentakan

Raja Rencong Dari Utara:

"Tua renta buta! Siapa yang masuk ke sini?!"

Si orang tua menghela nafas dalam lalu menjawab. 

Suaranya kecil sekali seperti suara anak perempuan. 

"Jika aku sampai tidak mengetahui ada seorang yang 

masuk ke sini itu bukan karena ketololanku tapi karena 

mataku memang tak melihat. Tapi jika kau yang punya 

mata dan telinga tajam sampai tidak mengetahuinya 

dan malah bertanya padaku itu adalah satu ketololan 

yang tak ada taranya! Apakah kau lihat ada orang lain 

di kamar ini?!"

Ejekan itu membuat Raja Rencong Dari Utara

memaki habis-habisan. Memang selain orang tua itu

tak ada siapapun di situ

"Apakah kau sudah memeriksa, Hang Kumbara?" 

bertanya si orang tua.

"Tutup mulutmu setan tua!"

engkauDimaki begitu rupa malah si orang tua tertawa

dan menyahuti: "Hari ini hari peresmian berdirinya

Partai Topan Utara bukan?!"

"Kunyuk peot! Kau tahu apa tentang Partai

Topan Utara!" semprot Raja Rencong.

"Aku memang tidak tahu-tahu apa-apa. Tapidi balik ketidak tahuan itu aku mendapat firasat

bahwa Partaimu itu akan runtuh sebelum saat 

diresmikannya. Dan kau sendiri akan mampus. Hang

Kumbara . . .!

"Ya, aku akan mampus!" jawab Hang Kumbara

alias Raja Rencong Dari Utara. "Tapi sebelum mampus, 

untuk yang keseratus kalinya terima dulu tamparanku 

ini!".

"Plaak"!

Tamparan yang dilayangkan Raja Rencong keras luar 

biasa. Tubuh si orang tua terhuyung-huyung dirasakan 

oleh Wiro tapi tidak roboh. Mulutnya mengucurkan darah! 

Wiro Sableng marah sekali melihat orang tua yang telah 

tolong menyembunyikan dirinya diperlakukan begitu 

rupa. Segera saja dia hendak melompat ke luar dari balik 

jubah. Tapi ditelinganya terdengar suara seperti 

ngiangan nyamuk: "Jangan tolol anak!". Terpaksa Wiro 

Sableng mendekam terus di belakang punggung orang

tua itu. Kemudian terdengar pintu kamar ditutupkan, 

Raja Rencong telah ke luar.

"Sekarang kau keluarlah!" kata orang tua itu.

Wiro keluar dari balik jubah lalu menjura hormat: "Terima 

kasih atas budi pertolonganmu, orang tua. Harap kau 

sudi menerangkan namamu. Kelak di kemudian hari aku 

harap bisa membalas budi besarmu ini . . .!

Orang tua itu tertawa.

"Sewaktu mendengar langkahmu di bagian

belakang bangunan tua, sewaktu kudengar kau

mengangkat rerumpunan semak-semak lalu menyusup 

turun ke dalam lorong hatiku gembira. Kukira

kau adalah Tua Gila. Tapi dari suara langkahmu

kuketahui kemudian bahwa kau bukanlah si Tua Gila.

Namun demikian aku yakin kau ada sangkut paut

dengan orang tua itu. Mungkin sekali kau muridnya.

Betul?!"

Wiro Sableng melengak.

"Aku hanya menerima beberapa jurus ilmu

silat dari Tua Gila. Bagaimana kau bisa tahu semua

gerak gerikku?" tanya Wiro heran.

"Ilmu yang tinggi adalah seribu mata dgn seribu telinga 

bagi seseorang", jawab si orang tua. "Tapi semuanya 

itu berakhir dalam kesia-siaan! Buktinya diriku ini!"

"Kenapa kau sampai dirantai begini rupa?"tanya 

Wiro.

"Muridku sendiri yang melakukannya" jawab

si orang tua penuh rawan dan penyesalan.

"Muridmu?!" kejut Wiro.

"Kau terkejut?! Tak perlu terkejut atau heran

orang muda. Di dunia ini sekarang penuh dengan

orang-orang sesat dan murtad!".

"Kalau aku boleh bertanya, siapa muridmu itu?"

"Masakan kau tidak bisa menerka. Hang Kumbara!""Maksudmu Raja Rencong Dari Utara?"

"Itu gelarnya".

“benar-benar terkutuk manusia itu!" geram

Wiro. Sekali digerakkannya- tangan kanannya membetot 

maka tanggallah paku di dinding batu. Dengan cepat 

Wiro lalu melepaskan rantai yang mengikat leher orang 

tua itu.

"Terima kasih anak. Tenaga dalammu luar biasa

sekali. .*. ".

"Aku cuma punya waktu sedikit, orang tua.

Harap kau sudi memberikan sedikit keterangan

tentang dirimu. Kelak kalau tugasku selesai aku akan

membawamu dari tempat terkutuk ini!"

"Terima kasih terima kasih! Tak perlu kau bawa 

diriku yang sudah pikun cacat dan tak berharga ini. 

Dengar anak, namaku adalah Nyanyuk Amber. Dulu aku 

diam di Gunung Singgalang sampai kedatangannya Hang 

Kumbara manusia laknat itu Dia datang mengemis ilmu 

padaku. Karena kulihat sifatnya baik dan lagi pula dia 

adalah murid kenalan baikku si Datuk Mata Putih maka 

aku tak keberatan mewariskan beberapa ilmu yang 

hebat kepadanya! Tapi siapa nyana kalau manusia itu 

sesungguhnya sudah sejak lama mendekam maksud 

jahat hendak menimbulkan bencana di atas jagat ini! 

Maksudnya mendirikan Topan Utara dan memaksa 

orang-orang untuk menghadirinya adalah bohong belaka! 

Sebenarnya dia sengaja untuk menghimpun seluruh

orang-orang pandai di sini lalu dibunuh secara masai!

Gurunya sendiripun, gurunya yang pertama sebelum

aku yaitu Datuk Mata Putih dia juga yang mem-

bunuhnya! Benar-benar manusia iblis yang haus

darah", si orang tua yang bernama Nyanyuk Amber

menghela nafas panjang lalu berkata: "Meski bagai-

manapun dibandingkan dengan Datuk Mata Putih

aku masih bernasib lumayan, tidak dibunuh! Tapi

apakah artinya hidup cacat begini rupa?!".

"Apakah Hang Kumbara juga yang telah memutus 

kedua lenganmu?" tanya Wiro.

"Bukan hanya lenganku anak. Bukan hanya

lenganku! Coba kau singkap jubah ini di bagian kakiku".

Wiro menyingkapkan jubah biru Nyanyuk Amber. 

Astaga, ternyata kedua kaki orang tua itu sebatas lutut 

juga telah buntung!

"Hang Kumbara yang melakukannya", desis

Nyanyuk Amber. "Juga kedua mataku ini dia yang

mengorek!"

"Benar-benar laknat terkutuk yang kejam luar

biasa!" kata Wiro geram. "Orang tua, aku berjanji

untuk memecahkan kepalanya demi membalaskan

sakit hatimu. Tapi orang tua mengapa dia sampai

melakukan kekejaman begini rupa terhadapmu?1..

Nyanyuk Amber menghela nafas dalam lalu

menjawab: "Seperti Datuk Mata Putih akupun

datang ke sini untuk menginsyafkan Hang Kumbara

dari kesesatannya! Tapi dengan ilmu yang kuajarkan

kepadanya Hang Kumbara menyerangku. Tubuhku

berhasil ditotoknya. Kedua tangan dan kakiku di-

potong, kedua mataku dicongkel. Dalam keadaan

tubuh masih tertotok aku diseret ke sini dan leherku

dirantai!"

"Keparat betul manusia itu! Belum pernah aku

menemui manusia sejahat dia. Tapi apa pula sebab-

nya dia mempunyai niat jahat untuk melenyapkan

seluruh orang-orang pandai yang kinf berada di

Arena Topan Utara itu?!"

"Panjang kisahnya anak, panjang sekali! Kelak

jika sama-sama ada umur akan kututurkan padamu.

Sekarang lakukanlah apa yang bisa kau lakukan untuk

menyelamatkan jiwa orang-orang yang berada di

Arena Topan Utara!".

Wiro mengangguk. Sebelum pergi dilepaskannya 

totokan di tubuh Nyanyuk Amber. Si orang tua

itu mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba ingat sesuatu. 

"Orang tua, kalau sekiranya tak dapat dicegah

penghancuran Arena Topan Utara oleh Raja Ren-

cong, mungkin tempat ini turut musnah. Sebaiknya

kuselamatkan dulu kau ke tempat yang aman!"

"Ah, kau terlalu memikirkan diriku, anak.

Tempat ini cukup jauh dari Arena Topan Utara,

tak akan sampai ambruk. Kau pergilah cepat sebelum

terlambat".

Mendengar ucapan itu maka Wiropun meninggalkan 

kamar itu dengan cepat.


LIMABELAS

ARENA TOPAN UTARA

Ruangan ini penuh sesak oleh manusia. Di

Tengah-tengah terletak sebuah mimbar dan

berdiri di belakang mimbar itu ialah Raja Rencong

Dari Utara!

Matanya yang menyorot memandang ke arah

tamu-tamu yang hadir. Pada dasarnya semua tamu itu

terbagi atas dua golongan yaitu golongan putih dan

golongan hitam. Namun golongan putih telah ter-

pecah menjadi dua hingga dengan demikian semua

orang pandai di situ terbagi menjadi tiga golongan.

Golongan pertama ialah golongan hitam yang

secara mutlak tunduk dan berada di pihak Raja

Rencong Dari Utara. Golongan kedua ialah golongan

putih yang telah ditaklukkan oleh Raja Rencong

dan dipaksa untuk masuk serta menghadiri peres-

mian berdirinya Partai Topan Utara. Baik golongan

hitam maupun golongan putih yang tersebut di atas

semuanya telah masuk perangkap Raja Rencong,

dicekok dengan pil-pil kematian yang disuruh telan

secara paksa oleh Raja Rencong pada saat mereka

menyatakan diri bersedia masuk ke dalam Partai

Topan Utara.

Golongan putih yang kedua ialah mereka yang

sengaja datang ke Bukit Toba bukan untuk meng-

hadiri peresmian Partai tapi untuk membalas dendam,

untuk membalaskan sakit hati kawan-kawan mereka

yang telah menemui kematian di tangan Raja Rencong 

Dari Utara atau di tangan anaknya!

Raja Rencong sendiri sudah mengetahui jelas

akan golongan-golongan para tamunya. Dalam hati

dia tertawa. Tertawa karena dia tak perduli siapapun 

adanya para tamu itu, apakah dari golongan

putih ataupun hitam, yang jelas mereka semua sudah

berada di tempat itu yang berarti sudah masuk

ke dalam perangkap mautnya! Raja Rencong melirik

ke sebuah tombol merah yang terletak di kayu

mimbar dekat tangan kanannya! Sekali dia menekan

tombol ini maka tubuhnya akan melesat ke atas,

ke luar dari ruangan tersebut lewat sebuah celah

yang terbuka secara otomatis sedang pada detik itu

pula lantai Arena Topan Utara akan longsor ke

bawah, atap runtuh! Begitu semua orang tertimbun

hidup-hidup maka seluruh Arena Topan Utara akan

meledak hingga jangan diharapkan satu nyawapun

bisa selamat dari tempat itu!

Setelah memandang berkeliling. maka Raja

Rencong Dari Utarapun membuka suara:

"Saudara-saudara sekalian, pertama sekali aku

Raja Rencong Dari Utara, mengucapkan banyak terimakasih atas kedatangan saudara-saudara. Beserta

dengan ucapan terima Kasih itu aku sampaikan pula

permohonan maaf karena mungkin penyambutan

dan layanan terhadap saudara-saudara kurang me-

muaskan dan juga maaf karena peresmian berdirinya

Partai Topan Utara ini tidak disertai upacara dan

pesta besar-besaran I

Saudara-saudara sekalian, dalam mendirikan

Partai Topan Utara ini aku sama sekali tidak melihat

kepada asal usul saudara-saudara atau menilai go-

longan mana adanya saudara. Bagiku, jika Saudara-

saudara sudah mau datang dan hadir di sini maka

berarti saudara-saudara semua sudah masuk menjadi

anggota Partai Topan Utara!"

Ucapan ini membuat tokoh-tokoh silat golongan putih 

yang datang untuk menuntut balas kematian kawan-

kawan mereka menjadi gelisah. Dan di antara

kegelisahan itu maka melesatlah ke atas Arena empat

sosok tubuh. Mereka adalah panglima Sampono,

Datuk Nan Sabatang, Lembu Ampel dan Sebrang Lor.

Sementara tiga orang kawannya berdiri berjejer

maka Panglima Sampono maju ke hadapan mimbar.

Suasana di Arena menjadi sesunyi di pekuburan!

"Manusia-manusia tak tahu aturan I" bentak

Raja Rencong marah sekali. "Perbuatanmu naik

ke depan mimbar merupakan penghinaan besar

bagi semua anggota Partai yang hadir di sinil".

"Raja Rencong!" menyahut Panglima Sampono.

"Kami berempat ke sini bukan untuk masuk Partai-

mu tapi untuk minta pertanggungan jawab atas kema-

tian sobat-sobat kami tokoh-tokoh silat golongan putih!"

"Kalau begitu berarti kalian ingin segera menyusul 

mereka!" tukas Raja Rencong. Dia berpaling ke

Arena sebelah timur dan berseru: "Empat Tombak

Sakti! Lenyapkan pengacau-pengacau ini!"

Baru saja seruan Raja Rencong berakhir maka

melompatlah empat orang berpakaian ringkas hitam.

Tampang-tampang mereka galak buas dan mengerikan! 

Dalam kejap itu pula empat buah tombak

menderu ke arah kepala Panglima Sampono dan

ketiga kawannya!

Pertempuran antara Empat Tombak Sakti melawan 

Panglima Sampono, Datuk Nan Sabatang,

Sebrang Lor dan Lembu Ampel berjalan seru sekali.

Kedua belah pihak agaknya berimbangan. Serangan-

serangan datang silih berganti! Namun walau bagai-

manapun seimbangnya satu pertempuran, pada suatu

saat tertentu pasti salah satu pihak akan menjadi

pecundang!

Setelah bertempur hebat selama lima belas

jurus maka korban pertamapun robohlah. Korban

pertama ini orang ketiga dari Empat Tombak Sakti,meregang nyawa di ujung pedang Sebrang Lor!

Panglima Sampono kemudian berhasil pula

merobohkan orang kedua dari Empat tombak Sakti

hingga dengan bertempur kini adalah Datuk Nan

Sabatang dan Lembu Ampel melawan orang ke satu

dan ke empat! Tingkat kepandaian Datuk Nan Sa-

batang dan Lembu Ampel hanya sedikit lebih rendah

dari Panglima Sampono maka setelah lima jurus

lagi berlalu kedua orang terakhir dari Empat Tombak

Sakti itupun menemui ajalnya pula. Raja Rencong Dari 

Utara marah luar biasa.

"Tongkat Baja Hijau! Majulah untuk menghan-

curkan empat bangsat-bangsat rendah ini!"

Sekelebat sosok tubuh berpakaian hijau melesat ke atas 

Arena. Orang ini berbadan tinggi langsing.

Tubuhnya agak bungkuk dan usianya sudah lanjut.

Di tangan kanannya ada sebuah tongkat yang hampir

sebetis besarnya. Tongkat ini terbuat dari baja asli

dan dilapisi racun hijau yang dahsyat!

"Lekas lenyapkan mereka Tongkat Baja Hijau!"

kata Raja Rencong.

Tongkat Baja Hijau tertawa mengekeh. Tongkat

bajanya diketuk-ketukkan ke lantai Arena. Hebat

sekali, semua orang merasa bagaimana lantai yang

mereka injak jadi bergetar! Panglima Sampono dan

kawan-kawan segera maklum bahwa manusia ber-

jubah hijau ini tinggi sekali ilmunya dan senjata

di tangannya sangat berbahaya.

"Tak usah kawatir Raja Rencong", kata Tongkat

Baja Hijau. "Manusia-manusia macam kunyuk-kunyuk 

ini mudah saja dibereskan!". Lalu dia menyapu paras 

keempat orang di hadapannya dan bertanya: "Hai, 

kalian mau maju satu-satu atau berempat sekaligus? 

Bagusnya berempat saja biar cepat kubereskan!"

Merah paras keempat tokoh itu. Panglima

Sampono bergerak tapi Sebrang Lor mendahuluinya

melompat ke hadapan Tongkat Baja Hijau.

"Tongkat Baja Hijau! Setahuku dulu kau adalah

seorang tokoh golongan putih! Sungguh disayangkan

di samping sesat kau juga mau-mauan masuk men-

jadi bergundalnya Raja Rencong, murid murtad

si pembunuh guru itu! Kau mulailah Mari kita ber-

tempur sampai ratusan jurus!"

Tongkat Baja Hijau mengekeh.

"Jika aku tak salah lihat, kau adalah manusia

yang bernama Sebrang Lor. Tempatmu jauh di

tanah Malaka. Aneh juga kalau kau sampai nyasar

ke sini! Orang Malaka jangan jual lagak di sini, kau

tahu hanya namamu saja yang kembali ke negerimu!"

Habis berkata begitu Tongkat Baja Hijau menyerbu ke 

muka. Sinar hijau menderu dari tongkat mustikanya. 

Sebrang Lor segera pula kiblatkan pedang berkeluknya.Maka pecahlan pertempuran yang hebat! Tapi 

kehebatan itu segera berubah menjadi satu 

pertempuran yang tidak seimbang! Serangan-serangan 

tongkat hijau datang mencurah laksana hujan. Dalam 

jurus keempat senjata itu menderu ke bahu Sebrang Lor 

tanpa bisa ditangkis dan dikelit! Sebrang Lor menjerit! 

Tubuhnya terguling-guling ke luar Arena, nyawanya lepas!

"Keparat, aku lawanmu!" teriak Datuk Nan

Sabatang menggeledek! Tubuhnya berkelebat dan keris 

biru meluncur dahsyat ke arah tenggorokan

Tongkat Baja Hijau!

"Jangan omong besar Datuk!" ejek Tongkat Baja 

Hijau. Sekali tongkatnya disapukan Datuk Nan

Sabatang tersurut sampai lima langkah! "Ha…ha! Aku 

muak bertempur satu lawan satu! Ayo Panglima dan 

Lembu Ampel, kalian berdua majulah!" Sambil 

menyerang Datuk Nan Sabatang,

Tongkat Baja Hijau sekaligus melancarkan serangan

pada Panglima Sampono dan Lembu Ampel! Mula-

mula kedua orang ini tak mau ikut turun ke dalam

kalangan pertempuran. Tapi karena diserang terus

terusan mau tak mau akhirnya kedua orang ini turun

juga ke gelanggang!

Bagi orang-orang yang ada di situ nama Panglima

Sampono dan kawan-kawannya adalah nama-nama

besar. Namun sewaktu melihat bagaimana dengan se-

orang diri Si Tongkat Baja Hijau berhasil mendesak

ketiga lawannya maka diam-diam semua orang me-

muji kehebatan Si Tongkat Baja Hijau!

Dalam jurus ke sepuluh terdengar pekik Datuk

Nan Sabatang! Tubuhnya mencelat mental. Kepala-

pecah karena tongkat lawan' bersarang tepat di ke-

palanya!

"Tongkat Baja Hijau, yang dua lainnya segera

saja dibereskan cepat-cepat!" berseru Raja Rencong.

"Jangan kawatir Raja Rencong jawab Tongkat

Baja Hijau. Didahului oleh satu bentakan yang

menggelegar Si Tongkat Baja Hijau mengeluarkan satu

jurus yang lihay luar biasa! Tokoh-tokoh silat golongan 

putih yang hadir di situ terkesiap dan cemas.

Serangan lawan yang hebat tak mungkin dikelit atau

ditangkis karena tongkat baja yang dahsyat itu

hanya tinggal sejengkal saja lagi dari kepala Panglima

Sampono dan Lembu Ampel!

Dalam detik yang tegang itu tiba-tiba berkelebat

satu bayangan putih! Satu gelombang angin yang bukan 

kira-kira dahsyatnya menderu laksana topan

menggila! Beberapa tokoh silat yang berada di tepi

Arena merasa tubuh mereka tergetar oleh sambaran

angin itu dan tahu-tahu terdengar pekik Si Tongkat

Hijau! Orang dan tongkatnya mencelat sampai meng-

hantam dinding Arena. Begitu jatuh nyawanya sudahlepas dengan muka hancur memar. Di tengah Arena

semua mata menyaksikan berdirinya seorang pemuda

berambut gondrong dengan senyum di bibirnya!

"Pemuda gondrong! Kau siapa?!" bentak

Raja Rencong.

"Siapa aku bukan urusanmu.- Terlebih dulu

perkenankan aku bicara!".

"Keparat! Kau terlalu berani mampus!" damprat Raja 

Rencong. Dia berpaling ke kanan dan berseru: 

"Sepasang Pengemis Gila bunuh pemuda ini!" lalu 

sambil berpaling ke kiri: "Datuk Arak Sakti musnahkan 

Panglima Sampono dan "Lembu Ampel!"

Dari Arena sebelati kanan melesat dua orang

berambut acak-acakan dan berpakaian kotor ber-

tambal-tambal. Mereka inilah Sepasang Pengemis

Gila. Keduanya sambil berteriak-teriak tak karuan

langsung menyerang Pendekar 212 Wiro Sableng!

Dikejap yang sama dari samping kiri melompat pula

seorang berpakaian merah, dari mulutnya menyem-

bur arak yang menyerang ke seluruh jalan darah

di tubuh Panglima Sampono dan Lembu Ampel!

Kedua orang ini terkejut dan cepat-cepat memukul ke 

depan. Namun di saat itu terjadilah satu peristiwa yang 

membuat semua orang kaget dan kagum luar biasa!

Tiga jeritan terdengar susul menyusul! Tiga

tubuh mencelat mental dan terbanting ke dinding

lalu roboh di antara orang banyak!

Apakah yang telah terjadi?!

Sewaktu Sepasang Pengemis Gila dengan berteriak-

teriak melompat menyerang Wiro dan sewaktu

Datuk Arak Sakti menggempur Panglima Sampono

dan Lembu Ampel, Pendekar 212 Wiro Sableng

mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah

orang-orang yang menyerang itu. Dua pukulan yang

dilancarkannya bukan lain pukulan "dewa topan

menggusur gunung" yang dipelajari Wiro Sableng

dari Tua Gila. Pukulan yang luar biasa hebatnya itu

,mana sanggup diterima oleh Sepasang Pengemis

Gila dan -Datuk Arak Sakti Tak ampun lagi ketiganya

terlempar dan mati!

Baik tokoh-tokoh golongan hitam maupun golongan putih 

sama-sama leletkan lidah melihat kehebatan si pemuda. 

Di lain pihak mata Raja Rencong terbeliak besar-besar. 

Dua pukulan yang dilepaskan pemuda rambut gondrong 

itu adalah pukulan "dewa topan menggusur gunung". 

Dan setahunya hanya satu orang yang memiliki ilmu 

pukulan dahsyat itu yakni Tua Gila! Tapi si pemuda telah 

melancarkan ilmu pukulan itu tadi yang berarti dia punya 

sangkut paut dengan Tua Gila! Rasa kecut membuat 

dingin tengkuk Si Raja Rencong, Inilah untuk pertama

kalinya dia merasa ngeri! Tua Gila sudah lama di-

dengarnya meninggal, dan seumur hayatnya

Tak pernah punya murid. Tapi bagaimana sekarang ada

seorang pemuda memiliki ilmu pukulan Tua Gila?

Apakah Tua Gila masih hidup dan telah mengambil

seorang murid? Dan yang lebih mengawatirkannya lagi 

apakah Tua Gila juga berada di dalam ruangan itu?

Dan untuk pertama kalinya Raja Rencong

ingat akan kecurigaannya sewaktu berada di kamar

bersama Pandansuri tadi. Jika betul pemuda rambut

gondrong itu murid Tua Gila, pastilah dia telah me-

nyelusup lewat jalan rahasia di bagian belakang

bangunan tua. Tapi dimana dia bersembunyi sewaktu

seluruh tempat diselidikinya tadi?

Raja Rencong Dari Utara tak mau berpikir

berpanjang-panjang. Saat itu sudah tiba waktunya

untuk menekan tombol merah di atas mimbar!

Sambil tertawa mengekeh Raja Rencong meng-

gerakkan jari telunjuknya ke tombol merah dan

berseru; "Manusia-manusia tolol, kalian semua pergilan 

ke neraka!". Dan jari telunjuk itupun ditekan

sekuat-kuatnya pada tombol merah!

Mata Raja Rencong membeliak seperti mau

tanggal dari sarangnya. Parasnya berobah total.

terkejut amat sangat! Sewaktu tombol ditekan, atap

di atas tidak membuka, lantai Arena Topan Utara

tidak ambruk! Seperti tak percaya akan dirinya

sendiri Raja Rencong menekan lagi tombol merah

itu. Lagi, lagi dan lagi sampai berulang kali! Tetap

saja tak satu pun yang terjadi!

Tiba-tiba didengarnya suara tertawa bergelak.

Ketika dia mengangkat kepala yang tertawa itu

bukan lain si pemuda berambut gondrong Wiro

Sableng!

"Kau heran dan terkejut melihat ruangan ini

tidak amblas, tidak hancur lebur?" Wiro tertawa

lagi gelak-gelak. "Ha ha! Pesawat rahasia terkutukmu 

yang hendak membunuh semua orang yang hadir di 

sini tidak bisa berjalan, Raja Rencong!"

Bukan main marahnya Raja Rencong Dari Utara.

Tanpa menunggu lebih lama lagi segera sepuluh jari

tangannya dijentikkan!

Sepuluh larik sinar merah kekuningan menderu

menyambar Pendekar 212! Wiro sudah pernah me-

nyaksikan keganasan ilmu pukulan kuku api yang

dimainkan oleh Pandansuri! Kalau Raja Rencong

yang mengeluarkannya tentu lebih dahsyat lagi!

Karenanya pemuda ini cepat-cepat melompat ke atas

seraya lepaskan pukulan sinar matahari! Ruangan itu

laksana mau pecah sewaktu pukulan sinar matahari

beradu dengan dahsyatnya dengan pukulan kuku

api! Karena tenaga dalam Wiro dan Raja Rencong

berada dalam tingkat yang sama maka setelah saling

berbentur kedua sinar pukulan sakti itu melesatke kiri dan buyar keempat penjuru! Jerit kematian

terdengar di bagian itu. Sembilan orang tokoh golongan 

hitam roboh hangus! Delapan tokoh golongan putih 

meregang nyawa! Dengan serta merta kacau balaulah 

suasana!

Di antara kekacau balauan itu Wiro berteriak

keras: "Semua tokoh silat yang ada di sini mari ber-

sama-sama mencincang manusia biang malapetaka

ini. Sebelumnya dia telah punya rencana untuk me-

ngubur kalian hidup-hidup di bawah ruangan ini!"

Mendengar teriakan itu tak perduli tokoh silat

golongan manapun laksana air bah serentak me-

nyerbu Raja Rencong! Raja Rencong adalah tokoh

silat sakti luar biasa. Namun melihat lebih dari dua

puluh jago-jago ternama menyerbunya ditambah

dengan kegugupan, nyalinya jadi meleleh! Dia segera

berkelebat melarikan diri. Namun lebih cepat dari itu 

Wiro Sableng sudah menghadangnya dengan Kapak 

Naga Geni 212 siap di tangan!

"Keparat kau kubunuh lebih dulu!" teriak Raja

Rencong.

"Sreet!"

Raja Rencong cabut Rencong Emas maka sinar 

kuningpun bertaburlah. Di lain kejap puluhan

senjata berkelebat menggempur Raja Rencong dan

di depan sekali Kapak Naga Geni 212 menderu

laksana seribu tawon mengamuk!

"Trang"!

Rencong Emas dan Kapak Naga Geni 212 beradu. 

Bunga api berpercikan! Raja Rencong terkejut

bukan main. Senjata di tangannya hampir saja ter-

lepas dilanda senjata lawan! Dan rasa terkejut ini

masih belum habis sewaktu laksana kilat Kapak

lawan kembali menderu di depan hidungnya semen-

tara dari sekelilingnya menggempur puluhan senjata

tajam! Raja Rencong Dari Utara keluarkan jurus

yang hebat yang dinamakan jurus "sepasang kincir

sakti menghadang bumi". Kedua tangannya kiri

kanan bergerak cepat. Jurus ini bukan saja merupakan

jurus pertahanan yang paling tangguh dari ilmu

silatnya namun sekaligus juga merupakan jurus

serangan yang hebat luar biasa. Sinar kuning Ren-

cong Emas bergulung gulung sedang lima jari tangan

kiri tak henti-hentinya dijentikkan melancarkan

ilmu pukulan kuku api! Beberapa orang tokoh silat

tergelimpang disambar pukulan jahat itu!

Namun betapapun hebatnya Raja Rencong

mana mungkin baginya menghadapi tokoh-tokoh

kias wahid yang berjumlah lebih dari dua puluh

orang itu. Apalagi sambaran Kapak Naga Geni 212

saat itu sudah menelikung mendesaknya. Angin senjata 

itu menyakitkan mata dan memerihkan kulitnya.Sesaat kemudian terdengar jeritan Raja Rencong ! Kuping 

kanannya putus dibabat Kapak Naga Geni 212. Racun 

yang hebat dari senjata itu mulai mempengaruhi dirinya.

Raja Rencong cepat menutup jalan darah penting 

dibeberapa Bagian tubuh lalu dengan sisa kekuatan 

mengamuk membabat ke arah salah seorang tokoh 

putih diantaranya Lembu Ampel yang kena sambaran 

Rencong Emas. Akan tetapi itu tidak lama karena begitu

Pendekar 212 Wiro Sableng menyusup dibalik serangan

Raja Rencong, Kapak Naga Geni 212 berhasil membabat

putus lengan kiri tokoh silat durjana itu ! Tidak sampai 

disitu saja, sewaktu jerit kesakitan Raja Rencong belum 

sirna Kapak Naga Geni 212 mengaung dahsyat dan 

”crass”! Darah muncrat membasahi pakaian beberapa 

orang tokoh silat. Raja Rencong dari Utara terhuyung

huyung dengan kepala hampir tebelah. Dalam keadaan

begitu rupa dia harus menerima tusukan dan sabetan

senjata tajam lainnya sehingga tubuhnya tak beda

dengan daging yang dicincang cincang.

Sewaktu tubuh yang hancur dari Raja Rencong

menggeletak di Arena Topan Utara, Pendekar 212

Wiro Sableng sudah melompat pergi dari ruangan itu.

Sesungguhnya apakah yang telah terjadi sehingga 

ketika Raja Rencong menekan tombol merah,

Arena Topan Utara tidak amblas ke bawah?

Seperti telah dituturkan di atas, sehabis meninggalkan 

Nyanyuk Amber, Wiro Sableng segera pergi ke kamar 

di mana senjata rahasia penghancur itu berada. Karena 

di sini sudah berada Pandansuri maka dengan 

sendirinya pecahlah pertempuran. Kalau sewaktu di 

rumah makan Dang Lariku, Wiro Sableng masih bisa 

main-main melayani gadis ini maka kini menghadapi 

keselamatan puluhan jiwa tokoh-tokoh sakti yang 

berada di Arena Topan Utara, Wiro tidak bisa main-main 

lagi. Meski senyum cengar cengir tetap tersungging di 

mulutnya namun Wiro menempur habis-habisan. 

Pandansuri hingga dalam tempo tiga jurus akhirnya dia 

berhasil menotok jalan darah di tubuh si gadis. Dari sini 

Wiro langsung menuju Arena Topan Utara dan terjadilah 

kelanjutan sebagaimana yang dituturkan di atas.

Kini Pendekar 212 Wiro Sableng kembali ke kamar 

pesawat rahasia itu. Pandansuri duduk tersandar

ke dinding dekat pintu masih dalam tubuh tertotok.

"Saudari, hukuman yang setimpal telah jatuh

atas diri ayahmu ".

"Maksudmu kau telah membunuh ayahku?!"

"Aku dan tokoh-tokoh silat yang ada di Arena

Topan Utara!" sahut Wiro Sableng.

"Keparat! Lepaskan totokanku! Mari kita ber-

tempur sampai seribu jurus!"

Wiro Sableng tertawa."Apakah kau masih belum melihat jalan terang

menuju kehidupan yang baik? Atau mungkin kau

mau menerima nasib seperti ayahmu? Sekali aku

beritahu pada orang-orang itu bahwa kau berada di

sini, pasti kau akan mati secara mengenaskan!".

"Silahkan kau beri tahu! Aku tidak takut!"

jawab Pandansuri ketus. Wiro tertawa.

"Kau keras kepala tapi kuhargai nyalimu sau-

dari. Dan aku tidak sepengecut yang kau duga untuk

memberitahukan kau pada orang-orang itu!". Pe-

muda ini melangkah mendekat. "Sebelum pergi aku ingin 

melihat wajahmu dulu, saudari."

"Keparat kalau kau berani...................".

Tapi tangan Wiro Sableng sudah bergerak me-

narik kerudung ungu yang menutupi wajah Pandansuri. 

Begitu kerudung terbuka terkejutlah Wiro Sableng.

"Ah, kiranya parasmu cantik sekali saudari."

memuji Wiro sejujurnya. "Tapi sayang aku tak bisa

lama-lama menikmati kecantikan parasmu. Aku

harus pergi dari sini bersama Nyanyuk Amber.

Selamat tinggal ".

"Saudara tunggu dulu!" seru Pandansuri. "Lepaskan 

dulu totokanku".

"Dan setelah bebas kau akan menyerangku?"

ejek Wiro.

"Aku berjanji untuk tidak melakukan apa-apa 

kecuali hanya untuk membaca sepucuk surat.

Selesai membaca kau boleh menotok aku kembali!

Membunuhpun aku tak keberatan!"

"Heh, surat katamu? Surat apa? Surat dari

pacarmu?"

Wiro melihat kesungguhan di paras si gadis.

"Baik aku percaya ucapanmu", kata Wiro pula lalu

melepaskan totokan di tubuh Pandansuri dan berdiri

di ambang pintu kamar pesawat rahasia menjaga

segala kemungkinan yang ada sementara Pandansuri

mengeluarkan sehelai surat dari balik pakaiannya.

Surat ini adalah surat yang diberikan Raja Rencong

kepadanya. Dibukanya lipatan surat lalu dibacanya:

Pandansuri,

Kalau aku sudah mati maka itulah saatnya

aku memberitahukan rahasia besar tentang dirimu

melalui surat ini. Sebenarnya kau bukan anak kandungku 

tapi seorang anak angkat . Jelasnya kau

kuculik dari orang tuamu sejak kau masih kecil.

Ayahmu Kepala kampong Pasirputih. Kembalilah

Padanya dan tempuhlah jalan hidup yang baik.

Raja Rencong

Wiro Sableng terkejut sewaktu melihat tetesan-tetesan airmata membasahi pipi Pandansuri

Sedang surat yang dibacanya terlepas dan jatuh

Ke lantai. Wiro mengambil surat itu dan membacanya.

Dilipatnya surat itu kembali seraya menghela napas

Panjang.

”Sekarang jelas bagimu bahwa kau berasal

Dari orang baik baik. Karenanya musti kembali ke jalan 

Baik baik ”, kata Wiro Sableng. Dikembalikannya

Surat yang dipegangnya pada Pandansuri dan 

Berkata lagi. ” Aku tak akan menotok tubuhmu 

Kembali. Apa yang kau lakukan terserah padamu.

Selamat tinggal ”

”Saudara, kau hendak meninggalkan Danau Toba ini 

?”

"Ya, menyeberang bersama-sama Nyanyuk Amber".

"Keberatan kalau aku ikut bersama kalian?".

"Ah justru itulah yang aku harapkan" jawab

Pendekar 212 seraya senyum dan mengedipkan mata

kirinya. Dan Pandansuri tidak membantah sama

sekali sewaktu Wiro Sableng memegang tangannya

dan melangkah bersama-sama menuju kamar Nyanyuk Amber.


TAMAT.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive