"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Rabu, 26 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE BADAI DI PARANGTRITIS

Badai Di Parangtritis



Badai Di Parangtritis


SIANG ITU  laut selatan tampak 

cerah. Ombak memecah tenang 

di pantai Parangtritis. Burung-

burung laut terbang 

berkelompok-kelompok dan 

angin bertiup membendung 

teriknya sinar sang surya. 

Belasan perahu tampak 

berjejer di tepi pasir. Para 

nelayan sibuk memperbaiki dan 

membenahi jaring masing-

masing untuk persiapan turun 

ke laut malam nanti. Di tepi 

pantai, dibawah jejeran pohon-

pohon kelapa anak-anak ramai bermain-main. Baik nelayan-nelayan 

maupun anak-anak itu semuanya serta merta memalingkan kepala 

ketika telinga mereka menangkap suara tiupan seruling yang keras dan 

merdu. Yang meniup seruling ternyata adalah seorang bocah 

bertelanjang dada. Anak ini meniup suling bambunya sambil duduk di 

atas punggung seekor kerbau yang melangkah di sepanjang jalan di 

teluk. 

"Anak si Kantolo itu pandai sekali meniup suling. Mengalahi 

kepandaian ayahnya...." berkata salah seorang nelayan lalu menyedotrokok kawungnya dalam-dalam. 

Ketika anak dan kerbau bergerak menjauhi tepi pasir seorang 

nelayan berseru, "Bocah pintar! Berhenti saja di bawah pohon kelapa 

sana! Teruskan meniup sulingmu agar kami terhibur!" 

Anak di atas punggung kerbau tertawa lebar. Dia mengacung-

acungkan suling di tangan kanannya dan terus berlalu, tidak 

mengacuhkan permintaan orang. 

Saat itu tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda keras dan 

berkepanjangan. Dari arah berlawanan jalannya kerbau, muncul 

sebuah delman ditarik seekor kuda coklat yang lari kencang seperti 

dikejar setan sambil tiada hentinya meringkik dan melejang-lejangkan 

kaki. Anak yang tadi meniup suling cepat-cepat membawa kerbaunya 

ke tepi jalan. Ketika delman itu lewat di depannya si anak tiba-tiba 

keluarkan pekik ketakutan, melompat turun dari punggung kerbau dan 

lari sekencang-kencangnya ke arah nelayan-nelayan yang ada di 

sepanjang jejeran perahu. Mukanya pucat dan nafasnya memburu. 

"Ada apa Kambali?!" bertanya seorang nelayan. 

"Del.... delman itu " bocah bernama Kambali menunjuk dengan 

muka masih pucat dan tangan gemetar ke arah delman yang saat itu 

hampir lenyap di kelokan teluk. Semua orang memandang ke jurusan 

yang ditunjuk. Memang ada keanehan. Di atas delman, dari kejauhan 

para nelayan sama sekali tidak melihat kusir ataupun penumpang. 

Tetapi Kambali yang tadi sempat dilewati kendaraan itu melihat jelas 

tiga sosok tubuh bersimbah darah malang melintang di atas delman! 

"Kenapa delman itu Kambali?" tanya nelayan yang lain. 

Nelayan Satunya ikut bicara, "Bukankah itu delman milik Ageng 

Lontar, juragan kita?""Eh, kau betul! Kambali katakan lekas! Kau melihat sesuatu! 

Mengapa wajahmu pucat dan tubuhmu menggigil anak?!" 

"Ada tiga orang.... ada tiga orang di atas delman itu," 

menerangkan Kambali. "Semuanya rebah malang melintang. Tubuh 

mereka penuh luka bergelimang darah.... Saya takut ...." 

"Anak ini tidak dusta! Sesuatu telah terjadi!" 

"Jangan-jangan...." 

"lebih baik kita berlari mengejar delman! Kuda itu tampaknya lari 

ke jurusan rumah kediaman Ageng Lontar!" 

Tanpa diberi aba-aba lagi, semua nelayan yang ada di teluk serta 

merta lari berhamburan ke arah lenyapnya kuda penarik delman tadi. 

Mereka lari menuju rumah kediaman Ageng Lontar, juragan ikan yang 

memiliki belasan perahu sekaligus juragan ternak yang mempunyai 

puluhan kerbau dan sapi, belum lagi kambing itik dan ayam. Di kaki 

bukit sebelah timur sawahnya puluhan petak. Ageng Lontar memang 

dikenal sebagal orang kaya raya di pantai selatan. Dia terkenal bukan 

saja karena kekayaannya tetapi karena sikap pemurahnya kepada 

orang-orang yang bekerja untuknya, juga orang-orang lain yang 

sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan apa saja. Karena itulah 

penduduk setempat telah sama-sama bersepakat umuk memilihnya 

sebagal Kepala Desa pada pergantian jabatan bulan di muka. 

Ketika nelayan-nelayan teluk Parangtritis itu sampai di rumah 

kediaman Ageng Lontar, halaman rumah itu telah penuh dengan 

kerumunan manusia. Selusin lelaki tampak menjirat leher dan empat 

kaki kuda coklat hingga binatang yang tadi seperti gila ini kini 

angsrok ke tanah tak berkutik. Dan di dalam delman yang tersungkur 

miring ke tanah, tampaklah pemandangan yang mengerikan.Seperti yang sebelumnya dilihat dan diterangkan bocah bernama 

Kambali, di dalam delman menggeletak tiga sosok tubuh bersimbah 

luka dan darah mulai dari kepala hingga ke tubuh. Meskipun wajah-

wajah itu rusak mengerikan namun semua orang masih dapat 

mengenali dengan jelas siapa adanya ketiga orang itu. 

Yang pertama, yang menggeletak paling bawah lantal delman 

adalah Ageng Lontar sendiri. Pakaiannya yang berwana kelabu 

tampak merah dan basah oleh darah. Pakaian itu robek-robek di 

beberapa tempat menyingkapkan luka-luka mengerikan. Muka Ageng 

Lontar seperti dicincang. Hancur mengerikan. Hidungnya hampir 

sumplung dan salah sebuah dari matanya tak ada lagi di rongganya! 

Orang kedua yang bernasib malang di atas delman adalah istri 

Ageng Lontar. Luka-luka pada wajahnya tidak seberapa dan tubuhnya 

hampir seperti tidak berpakaian lagi. Mungkin dirobek sebelum atau 

sesudah dia dibunuh. Dan berat dugaan orang banyak, perempuan 

yang jauh lebih mudah dari Ageng Lontar ini telah diperkosa karena 

pakaiannya di sebelah bawah tersingkap menusuk mata! 

Korban ketiga yang menggeletak di lantai delman sebelah depan 

adalah pemuda yang dikenal dengan nama Jajamat, orang yang telah 

bekerja lebih dari lima tahun sebagai kusir kereta keluarga Ageng 

Lontar. 

Semua orang yang berkerumun di tempat itu merasakan kuduk 

merinding dan tubuh menggeletar. Siapa yang telah melakukan 

pembunuhan keji biadab seperti ini? Dan hampir tak dapat dipercaya 

ada orang yang mau membunuh orang sebaik Ageng Lontar, bahkan 

juga istri serta kusir delman! Siapa pelaku jahanam itu? Gerombolan 

rampok? Tak ada rampok malang melintang di teluk Parangtritisbahkan di pantal selatan waktu itu. Musuh? Semua orang tahu Ageng 

Lontar tak pernah punya musuh! Lalu siapa ?! 

Pertanyaan itu belum lagi terjawab. Tiba-tiba dari arah rumah 

besar terdengar pekik perempuan. Seorang gadis menghambur lari ke 

arah delman sambil tiada henti berseru memanggil. "Ayah.... ayah!" 

Tapi begitu sampai di depan delman dan menyaksikan pemandangan 

di dalam kereta, si gadis langsung pingsan dan rubuh setelah lebih 

dahulu memekik dahsyat! Beberapa orang segera menggotongnya ke 

dalam rumah. 

"Mayat-mayat ini harus diurus! Ambil usungan dan bawa ke 

dalam rumah!" terdengar seorang berbicara. Namun belum ada yang 

bergerak, satu suara laln terdengar lantang. 

"Menyingkir! Apa yang terjadi disini?" 

Orang banyak yang berkerumun di sekitar delman palingkan 

kepala. Mereka melihat munculnya seorang laki-laki bertubuh kekar, 

berambut kelabu dan memegang sebuah tongkat sepanjang tiga 

jengkal. Orang ini adalah Ki Demang Wesi, Kepala Desa Parangtritis. 

"Ki Demang! Untung sampean datang!" seorang nelayan 

membuka mulut. 

"Juragan Ageng Lontar dan istrinya dibunuh orang. Juga kusir 

Jajamat!" 

Ki Demang Wesi mendorong dan menyeruak diantara kerumunan 

orang. Langkahnya terhenti didepan delman. Parasnya berubah dan 

rahangnya menggembung. 

"Hanya iblis yang bisa melakukan kekajaman seperti ini!" desis 

Kepala Desa itu. "Kalian semua harus membantu atau menemukan si 

pembunuh!""Kami akan membantumu Kepala Desa!" jawab orang banyak. 

Ki Demang memandang berkeliling. Sepasang matanya berhenti 

bergerak dan pandangannya tertancap pada seorang pemuda 

bertampang tolol, berambut awut-awutan dan tegak memandang ke 

arah delman sambil tiada henti geleng-gelengkan kepala. Pakaian 

putihnya yang lusuh di bagian dada lampak ada warna merah. 

Percikan darah. 

"Kurasa kalian tidak perlu bersusah payah membantuku! Aku 

sudah tahu siapa pembunuhnya!" ujar Ki Demang yang membuat 

semua orang terkejut dan memandang tak berkesip pada Kepala Desa 

mereka itu. Ki Demang angkat tangan kanannya, menunjuk tepat-tepat 

pada pemuda berpakaian putih lalu berseru, "Tangkap pemuda 

gondrong itu!" 

Beberapa orang dengan cepat mencekal kedua tangan si pemuda. 

Ada yang menelikung lehernya, ada pula yang menjambak rambutnya. 

"Hai! Apa-apaan in?!" teriak si pemuda sambil coba meronta 

untuk lepaskan pegangan orang banyak. Tapi tidak bisa, dan saat itu 

semakin banyak orang yang ikut mencekalnya. 

"Kepala Desa! Apa-apaan ini?!" pemuda itu kembali bertanya. 

"Jangan banyak tanya! Kaulah pembunuh suami istri Ageng 

Lontar dan juga kusir delman!" 

"Tuduhan gendeng!" teriak si pemuda tampak marah. "Aku 

barusan saja sampai di tempat ini! Bagaimana enak saja kau 

menuduhku?!" 

"Kau orang asing di sini! Siapa kau akan segera aku usut. Noda 

darah di pakaianmu menjadi bukti bahwa kau ada sangkut pautnya 

dengan kematian ketiga orang dalam delman!"Si pemuda memperhatikan percikan darah di pakaiannya. Lalu 

berkata, "Darah ini memang darah…" 

"Nah apalagi! Kau sudah mengaku!" ujar Ki Demang. 

"Kata-kataku belum habis! Darah ini memercik dari lantai 

delman, tepat ketika delman rubuh dan aku sampal didekatnya! Lihat 

saja, saat inipun masih ada darah yang menetes dari lantai delman!" 

"Siapa percaya ucapanmu!" sahut Ki Demang ketus. "Sebagian 

dari kalian bawa pembunuh itu ke Balai Desa. Selebihnya segera 

mengurus jenazah-jenazah ini!" 

Melihat orang tetap menuduh, si pemuda jadi penasaran. Kaki 

kanannya bergerak. Dua orang yang mencekalnya jatuh tergelimpang. 

"Pembunuh biadab! Sekali lagi kau berani melawan akan kusuruh 

semua orang di sini mencingcangmu!" Ki Demang Wesi berteriak 

marah dan mengancam. 

"Aku tidak bersalah! Aku bukan pembunuh! Siapa yang berani 

melarang aku membela diri!" 

Mendengar ucapan itu KI Demang Wesi jadi beringas. Lalu 

berteriak, "Bunuh pemuda itu!" 

Orang banyak berteriak ikut terangsang marah. Berbagai senjata 

dihunus. 

"Kepala Desa, kalau kau tidak menyuruh orang-orang ini 

melepaskanku, jangan salahkan aku apa akibat yang terjadi!" 

Ki Demang menyeringai. "Manusia biadab! Lagakmu hebat 

sekali! Biar aku yang pertama sekali menghajarmu!" Habis berkata 

begitu Ki Demang Wesi tusukan tongkat di tangan kanannya ke arah 

mata kiri pemuda yang berada dalam keadaan dicekal orang banyak. 

Jauh sebelum menjadi Kepala Desa, Ki Demang Wesi adalahmurid keempat seorang guru silat di Bukit Tunggul. Kabarnya guru 

silat itu juga memiliki berbagai kesaktian yang kemudian diturunkan 

pada Ki Demang Wesi. Lalu ada pula kabar bahwa Ageng Lontar 

masih punya kaitan atau hubungan dengan guru silat tersebut karena 

Ageng Lontar pernah pula berguru pada adik guru di Bukit Tunggul. 

Dengan kata lain antara Ageng Lontar dan KI Demang Wesi ada 

hubungan dekat lewat guru masing-masing. 

Pemuda yang diserang dengan tongkat ke arah mata kirinya tentu 

saja terkejut melihat bahaya yang mengancamnya. Apalagi dia dapat 

merasakan adanya sambaran angin mendahului tusukan itu. 

Gerahamnya bergemelatakan menahan marah namun marah itu 

akhirnya meledak juga. Didahului satu bentakan si pemuda 

menyikutkan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu tubuhnya dia 

jatuhkan ke belakang. Kaki kanannya menendang ke depan. 

Empat orang mencekal si pemuda terpelanting dan jatuh 

bergelimpangan di tanah. Meskipun mereka tidak cidera namun 

masing-masing mereka merasakan mereka seperti diserang demam 

panas. 

Untuk beberapa lamanya ke empatnya terhampar ke liangan. 

Ki Demang Wesi sendiri yang tidak menyangka si pemuda dapat 

loloskan diri dari begitu banyak orang yang mencekalnya jadi lebih 

terkejut ketika tusukan tongkatnya yang sanggup menembus mata dan 

batok kepala si pemuda dapat dielakan bahkan kini satu tendangan 

mematikan menghantam ke arah selangkangannya! 

Maklumlah kini Kepala Desa itu bahwa pemuda yang dituduhnya 

sebagai pembunuh suaml istri Ageng Lontar dan kusir delman Jajatma 

bukanlah seorang pemuda sembarangan, tapi pasti sekali memiliki"isi". 

"Bagus! Rupanya kau mengusal ilmu silat! Jangan harap dengan 

kepandaianmu itu kau bisa lolos dari tempat ini!" Lalu KI Demang 

Wesi susul ucapannya itu dengan teriakan agar semua orang yang ada 

di tempat itu melakukan pengurungan, jangan sampai si pembunuh 

lolos. 

"Kepala Desa, aku bilang sekali lagi padamu!" sentak pemuda 

berpakaian putih itu. "Aku tidak melakukan pembunuhan!" 

"Siapa percaya padamu!" tukas Ki Demang Wesi. Tongkat di 

tangan kanannya diputar seperti titiran dan mengeluarkan suara 

menderu. Dengan senjata ini kembali dia menyerang pemuda itu. 

Yang diserang tak tinggal diam. Dia berkelebat beberapa kali. 

Memasuki jurus kedua terdengar pemuda ini berseru, "Lihat tongkat!" 

Ki Demang Wesi tidak perdulikan bentakan orang. Sebagai orang 

silat yang berpengalaman dia tidak mau tertipu oleh berbagai gerak 

ataupun ucapan lawan. Tongkatnya menderu ke arah dada lalu 

menusuk ke arah leher. Tapi Kepala desa ini jadi kaget ketika 

dirasakan dan dilihatnya sendiri tangan kiri lawan tahu-tahu sudah 

memegang ujung tongkatnya padahal ujung senjata itu hanya tinggal 

seujung kuku dari tenggorakan lawan! 

Kepala Desa Parangtritis coba selamatkan senjatanya dari 

rampasan lawan, tetapi si pemuda telah lebih dulu membetot! Kini 

giliran si pemuda yang jadi kaget. Karena ketika dia merasa sudah 

berhasil merampas senjata lawan, ternyata yang dipegangnya hanyalah 

bagian tongkat yang berupa sarung belaka. Sedang di tangan kanan Ki 

Demang saat itu tampak bagian lain dari tongkat yang berbentuk hulu 

lengkap dengan mata pisaunya yang panjang. Ternyata tongkat ituadalah sebuah golok pendek yang tajam berkilauan! 

Ki Demang Wesi menyeringai mengejek. 

"Pembunuh, kau telah tolong membukakan sarung senjataku. 

Berarti kau memang sudah siap untuk menerima kematian sesuai 

dosamu!" 

Si pemuda balas mengejek. "Lagakmu seperti malaikat maut saja! 

Aku tidak mau meneruskan perkelahian ini karena aku memang bukan 

pembunuh!" Habis berkata begitu pemuda ini bantingkan sarung golok 

ke tanah. Benda itu menancap di tanah sampai setengahnya. 

"Kau kira aku takut dengan pertunjukanmu! Di tempat lain kau 

boleh pamer ilmu anak muda! Tapi di hadapanku kau harus serahkan 

nyawa!" Ki Demang Wesi lalu menyerbu dengan golok pendeknya. 

Senjata ini mengeluarkan angin deras menebar hawa dingin. Pastilah 

ini sebuah senjata mustika andalan. 

Lima jurus Kepaia Desa itu menyerbu dengan ganas. Goloknya 

menyambar dan menusuk ke sana ke mari. Tetapi dia seolah-olah 

berkelahi sendiri karena setiap serangannya hanya mengenai tempat 

kosong. Lawannya ternyata gesit sekali dan seperti dapat membaca 

serangannya, dia mendahului bergerak untuk menghindari tusukan 

atau sambaran golok. Kepala Desa itu jadi marah dan juga malu. Dia 

merasa dipermainkan di sekian banyak mata penduduk Parangtritis. 

Didahului oleh bentakan garang dia rubah permainan silatnya. 

Tubuhnya kini melompat-lompat ke udara seperti bola karet yang 

membal. Golok di tangan kanannya berkiblat secara aneh. Dua jurus 

berlalu terdengar suara brettt! Dada pakaian si pemuda robek besar. 

Pemuda ini berseru kaget dan melompat mundur! Golok Ki Demang 

Wesi bukan saja merobek pakaiannya di bagian dada, tapi kulitdadanya juga ada yang ikut tergurat! 

"Kepala Desa sialan…" maki sipemuda. "Kau merobek 

pakaianku! Kau harus menelannya sekalian!" Lalu semua orang 

melihat pemuda itu merobek sendiri pakaiannya di bagian depan. 

Robekan kain pakaian dibuntalnya lalu dia melangkah mendekati 

Kepala Desa itu. Tentu saja Ki Demang Wesi kembali menyambutnya 

dengan serangan golok dalam gerakan melompat-lompat yang aneh 

seperti tadi. Hanya saja kali ini dia kecele. Kehebatan dan keanehan 

ilmu silatnya itu menjadi tidak berguna karena pemuda lawannya kini 

telah pula mengeluarkan jurus dan gerakan aneh. Tubuhnya sepertl 

orang mabuk sempoyangan kian kemari. Bagi Ki Demang keadaan 

tubuh lawan seperli itu merupakan sasaran serangan yang ernpuk. 

Tapi sungguh aneh, setiap dia menyerang, tubuh atau kepala lawan 

sudah bergerak ke jurusan lain sementara tangannya yang memegang 

buntalan kain bergerak-gerak berusaha menggapai ke arah mulutnya! 

Ki Demang merangsak sekali lagi. Inilah kali terakhir dia mampu 

menyerang. Karena sesudah itu terdengar suaranya seperti tercekik. 

Sesaat kemudian halaman rumah Ageng Lontar jadi ramai oleh suara 

tawa orang banyak, padahal di situ masih tergelimpang tiga jenazah 

yang belum sempat diurus! 

Apa yang terjadi dan apa yang kini disaksikan penduduk desa? Di 

depan mereka tampak Ki Demang Wesi berdiri dengan mata melotot 

dan mulut tersumpal potongan kain. Lalu celana luar dan celana 

dalamnya kelihatan merosot sampai ke lutut hingga aurat terlarangnya 

tersingkap dengan jelas. Kepala Desa ini sadar penuh apa yang terjadi 

dengan dirinya, tapi dia tak bisa menggerakan tangan untuk menarik 

buntalan kain yang menyumpal mulutnya, juga tidak mampu untuk

menarik celananya ke atas. Kepala Desa ini ternyata berada dalam 

keadaan kaku tegang akibat satu totokan yang bersarang di pangkal 

lehernya. Karena perhatian orang banyak hampir semuanya tertuju 

pada sang Kepala Desa, tidak satupun menyadari kalau pemuda 

berpakaian putih dan berambut gondrong awut-awutan tadi tak ada 

lagi di tempat itu. 

***


MESKIPUN HATINYA kini lega dapat meninggalkan desa di 

Parangiritis itu namun masih ada satu tanda tanya yang mengganjal 

hati si pemuda. Siapa yang telah membunuh Ageng Lontar dan 

istrinya serta kusir delman secara biadab seperti itu. Ingin sekali ia 

menyingkap tabir rahasia pembunuhan itu. Namun selama orang desa 

masih mencurigainya sebagai pembunuh akan sulit baginya untuk 

bergerak. Apalagi dia masih ada satu keperluan penting di timur. 

"Kepala Desa sialan! Enak saja dia menuduhku!" Si pernuda 

memaki sendirian. Diperhatikannya pakaian putihnya yang robek 

besar di bagian dada, kotor bernoda debu dan darah sambil jalan 

akhirnya pakaian itu dibuka lalu dilemparkannya ke semak-semak di 

tepi jalan. Pada saat itu pula tiba-tiba terdengar suara orang 

mendamprat. 

"Manusia sial dangkalan! Siapa kau yang berani melemparkan 

pakaian busuk ke atas kepala orang!" 

Sf pemuda yang telah berjalan beberapa langkah serta merta 

berhenti dan palingkan kepalanya. Astaga! Di pinggir jalan yang 

barusan dilewatinya tampak berjongkok seorang berpakaian serba 

hitam. Tak dapat dia duga apakah orang ilu lelaki atau perempuan 

karena sekujur kepalanya sampai ke wajah tertutup oleh pakaian putih 

yang tadi dilemparkannya! 

"Aneh! Tadi waktu lewat di situ tak kulihat ada orang sama 

sekali! Mengapa tahu-tahu dia muncul di situ dan gila betul! Masakanaku mau-mauan mencampakkan bajuku menutupi kepalanya begitu 

rupa!" 

Buru-buru pemuda yang kini bertelanjanq dada itu melangkah 

mendekati orang yang jongkok di tepi jalan, lalu mengambil 

pakaiannya. Begitu pakaian diangkat tampaklah wajah orang itu. 

Ternyata dia seorang nenek bermuka hitam yang ketika menyeringai 

tampaklah deretan gigi-giginya yang terbuat dari emas berwarna 

kuning berkilat-kilat. 

"Hai! Pendekar 212 Wiro Sableng rupanya!" si nenek menegur, 

membuat si pemuda yang memang Wiro Sableng menjadi terkejut 

karena tidak menyangka nenek itu mengenal dirinya sedang ia sendiri 

tidak pernah bertemu perempuan tua itu sebelumnya. "Aku sudah 

lama mendengar kekonyolanmu pendekar muda. Hanya saja tidak 

menduga kalau begini kurang ajar perilakunya terhadap orang tua! 

Berani melemparkan pakalan busuk sampai-sampai menutupi muka 

dan kepalaku! 

Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. Dia cepat-cepat duduk di 

hadapan si nenek, memberi hormat membungkukkan tubuh lalu 

berkata, "Aku terima salah nek! Bukan maksudku berlaku kurang ajar. 

Tapi waktu lewat tadi sama sekali tidak melihatmu di sini. Kalau kau 

memang ada di sini masakan aku berani berlaku sekurang ajar itu!" 

Si nenek tertawa tergelak-gelak. Gigi-gigi emasnya kembali 

tampak berkilat-kilat terkena sinar matahari. Wiro sendiri tak habis 

pikir bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Jangan-jangan si nenek 

sengaja mempermainkannya dan tampaknya dia memang bukan 

sembarang orang tua. 

"Pendekar utama tidak memiliki mata tajam! Sungguh tak bisakupercaya!" berkata si nenek sambil geleng-geleng kepala. Ucapannya 

bernada keras tapi wajahnya yang keriput terus saja mengumbar 

senyum. "Kalau golok terbang atau panah beracun yang menyambar 

dari balik semak belukar dan kau tidak sempat melihatnya berarti kau 

akan mati konyol anak muda." 

Wiro yang tak mau berdebat dengan si nenek dan menganggap 

diri merasa salah hanya manggut-manggut saja lalu berkata, "Harap 

maafkan diriku..." 

Si nenek balas mengangguk. "Aku terima maafmu, kulihat kau 

tidak berbaju, apa sengaja hendak memamerkan senjata mustika 

Kapak Maut Naga Geni 212 itu.... ?" 

Astaga! Wiro baru sadar. Dengan membuang pakaian dan 

setengah telanjang seperti itu dia tidak menyadari senjata saktinya 

Kapak Maut Naga Geni tersembul dari balik pinggang celana. Karena 

tidak membawa bekal pakaian mau tak mau dia harus mengenakan 

kembali pakaiannya yang sudah kotor dan robek besar. Ketika dia 

hendak mengambil pakaian itu dari tanah, si nenek tertawa lalu 

berkata, 

"Aku memiliki sehelai pakaian putih. Masih baru. Ukurannya 

kurasa pasti cocok dengan tubuhmu!" lalu perempuan tua itu 

menggerakkan tangan kanannya ke balik punggung. Sesaat kemudian 

dia menarik sehelai pakaian putih yang memang ternyata masih sangat 

baru. Pakaian itu dilemparkannya ke pangkuan Wiro. "Pakailah!" 

"Ah, pakaian bagus!" seru Wiro sambil mengembangkan pakaian 

putih berlengan panjang dengan potongan kerah yang menarik. "Kau 

baik sekali nek. Terima kasih… " Wiro segera berdiri dan kenakan 

pakaian putih itu. Ternyata memang cocok sekali dengan tubuhnya.Pakaian putih itu terasa enak dipakai. Pada bagian dada sebelah kiri 

tampak sulaman benang merah bergambarkan mahkota dan keris 

silang. 

"Kau senang mengenakan pakaian itu pendekar muda?" si nenek 

bergigi emas bertanya. 

"Senang sekali nek, sedap dipakainya. Tapi kalau aku boleh 

bertanya apa arti sulaman gambar mahkota dan keris bersilang ini?" 

"Ah, itu hanya sekedar gambar yang disukai pembuatnya. Apakah 

mahkota, keris atau gambar ular tak ada bedanya…" Sambil bicara si 

nenek mematahkan sepotong belukar kering di samping jalan lalu 

dengan potongan kayu itu dia menggurat-gurat di tanah. Ada garis 

panjang, ada yang berbentuk bola, garis bersilang dan terakhir sekali 

si nenek membuat garis panjang mulai dari tepi jalan di sebelah 

depannya sampai tepi jalan di dekat dia duduk. 

"Lukisan apa yang kau buat nek?" Wiro bertanya. 

"Ah, hanya iseng saja. Orang sepertiku mana pandai melukis. 

Aih kulihat kau benar-bener gagah dengan pakaian itu pendekar muda. 

Aku jadi teringat pada Suto Engging. Wajah dan potongan tubuhmu 

banyak kesamaannya dengan dirinya di masa muda." 

"Siapa orang bernama Suto Engging itu nek?" 

"Kekasihku di masa muda, Lima tahun yang lalu kami berpisah. 

Dia ke barat aku ke timur. Tak pernah kudengar lagi kabar tentang 

dirinya. Tapi aku yakin dia masih hidup!" 

"Ah, pengalaman hidupmu tentu banyak sekali nek. Dan aku 

yakin di masa muda kau pasti memiliki paras cantik jelita. 

Sekarangpun kau masih kulihat cantik." 

Si nenek tampak merah mukanya. Tapi hatinya berbunga-bungamendapat pujian itu dan tertawalah dia mengekeh. "Pendekar muda, 

kau pandai menyenangkan hati orang. Pangalaman hidup jadi bekal 

pelajaran masa depan bagi setiap orang. Pengalaman hidup itu pula 

yang mengajarku agar tidak melakukan perkawinan dengan siapapun! 

Dan percaya atau tidak anak muda sampai hari ini aku yang tua renta 

masih seorang perawan sejati! Hik… hik... hik...!" 

Wiro merasa tenggorokannya seperti tercekik dengan keterangan 

si nenek. Dia cepat-cepat mengangguk dan berkata, "Aku percaya nek. 

Dan aku melihat buktinya. Meskipun tua kulihat tubuhmu masih 

kencang, tak banyak guratan di wajahmu…" 

Si nenek tertawa panjang sampai keluar air mata. 

"Nek, aku harus melanjutkan perjalanan. Kau tahu namaku dan 

pasti tahu banyak tentang diriku. Sebelum kita berpisah maukah kau 

mengatakan siapa dirimu ini?" 

"Waktu kecil aku diberi nama Tuwini Jenti. Sudah tua begini 

orang-orang memanggilku Nenek Hitam Bergigi Emas. 

Hik...hik..hik..." 

"Terima kasih kau telah menerangkan siapa dirimu. Juga terima 

kasih lagi atas pemberian pakaian ini. Aku minta diri sekarang!" Wiro 

menjura dua kali berturut-turut. Ketika dia hendak melangkah pergi 

dan pada saat kaki kanannya mendekati garis panjang yang tadi dibuat 

si nenek dengan belukar kering, mendadak Wino merasakan seperti 

ada satu kekuatan yang mendorong kaki kanan itu hingga dia tidak 

bisa meneruskan langkah, malah kakinya terbanting ke belakang. 

Dicobanya sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi lalu dengan 

mengerahkan seluruh tenaga tetapi tetap saja dia tidak mampu 

melewati garis di tanah itu! Maka diapun berpaling pada nenek yangsaat itu masih tetap jongkok di tepi jalan sambil senyum-senyum. 

"Kau memiliki ilmu kesaktian yang mengagumkan, mataku jadi 

terbuka betapa luas dan tingginya ilmu kepandaian dan kesaktian di 

atas dunia ini. Dan apa yang aku miliki sekarang hanya merupakan 

satu tetesan kecil belaka! Nek, aku mau jalan. Mohon diberikan 

petunjuk...." 

Si nenek tersenyum. Dalam hati dia berkata, "Pemuda ini begitu 

sopan penuh peradatan. Mengapa banyak orang mengatakannya 

kurang ajar, konyol dan bersifat seenaknya? Ah, lama-lama aku bisa 

jatuh hati padanya" 

"Nek, kau seperti melamun. Aku minta petunjuk bagaimana harus 

melewati garis aneh yang kau gurat di tanah ini..." 

"Oh itu! Mudah saja anak muda. Pergunakan tangan kirimu 

menghapus garis itu. Setelah garis hapus kau bisa lewat.... " menjawab 

Nenek Hitam Bergigi Emas. 

Wiro lakukan apa yang dikatakan si nenek. Dia membungkuk. 

Dengan telapak tangan kirinya dihapusnya guratan garis yang 

memanjang di tanah jalanan. Setelah hapus dia coba melangkah. 

Ternyata dia kini bisa melangkah. Kekuatan aneh yang tadi 

mendorong tak ada lagi. 

"Kau luar biasa nek!" memuji Wiro. 

Si nenek tertawa. Dia gerakkan tangan kanannya ke mulut. 

terdengar suara kraak. Apa pula yang dilakukan perempuan ini, pikir 

Wiro. Tiba-tiba si nenek ulurkan tangannya seraya berkata, 

"Ambillah! Mungkin ada gunanya di saat kau kesusahan..." 

Wiro ulurkan tangannya. Si nenek letakkan sesuatu ke telapak 

tangan si pemuda. Ketika diteliti ternyata sebuah gigi emas yangmasih basah oleh ludah! Wiro kerenyitkan kening. 

"Aku tidak berani menerima pemberianmu ini nek," kata 

Pendekar 212. 

"Kau jijik?!" 

"Tidak..." jawab Wiro agak gagap karena memang walau gigi 

palsu itu terbuat dari emas namun ada rasa jijik dalam dirinya. "Jika 

ini kau berikan berarti kau akan kehilangan salah satu gigimu!" 

"Ambil saja! Aku punya banyak persediaan gigi seperti itu!" 

berkata si nenek. "Lihatlah!" 

Lalu dari dalam sebuah kantung perempuan tua ini mengeluarkan 

beberapa potong gigi emas. Dia mengambil tiga buah lalu 

mecocokkannya dengan baglan giginya yang ompong. Gigi kedua 

ternyata bisa menempel dengan baik. Dia tersenyum sambil 

menunjukkan barisan gigi emasnya. "Lihat, gigi-gigiku utuh 

kembali."' 

Wiro garuk-garuk kepala. "Terima kasih atas pemberian gigi 

emas ini nek. Aku minta diri sekarang!" Wiro menjura lalu melangkah 

pergi sambil menggenggam gigi emas di tangan kanannya. 

*** 

TIGA HARI setelah suami isrti Ageng Lontar dimakamkan, 

Kepala Desa Parangtritis Ki Demang Wesi mendatangi rumah 

kediaman orang kaya di daerah selatan itu bertemu dan bicara dengan 

puteri yang merupakan anak tunggal mendiang suami istri yang 

Malang itu, yakni Winayu Tindi. 

"Anakku Winayu...." Begitu Ki Demang Wesi memulai 

pembicaraan. Dia memang biasa memanggil gadis itu dengan sebutananak mengingat hubungannya dengan Ageng Lontar yang terkait pada 

hubungan guru mereka masing-masing. "Kedatanganku malam ini 

guna menyambung pembicaraan kita dua hari lalu." 

"Apakah pakde Wesi sudah mengetahui siapa pembunuh ayah 

dan ibu saya?" Winayu langsung ajukan pertanyaan. Dan gadis ini 

terbiasa memanggil Kepala Desa dengan sebutan pakde begitu. 

"Belum Winayu. Tapi kita akan mengetahuinya. Ada orang atau 

kelompok yang akan dapat membongkar rahasia pembunuhan ayah 

dan ibumu. Namun kita harus berlaku hati-hati serta bersedia 

memberikan sesuatu sumbangan untuk menunjang perjuangan 

kelompok tersebut..." 

Sulit bagi Winayu untuk mencerna ucapan Ki Demang Wesi itu. 

Maka diapun bertanya, "Apa maksud Pakde? Kelompok mana yang 

pakde katakan tadi? Lalu sumbangan bagaimana. Pakde juga 

menyebut-nyebut perjuangan. Saya tidak mengerti. Kepala saya 

pusing...." 

"Jika kau merasa kurang sehat, pembicaraan ini bisa kita tunda 

sampai beberapa hari di muka." 

"Tapi saya ingin mengetahui pembunuh biadab itu pakde! Malam 

ini juga! Bahkan saat ini juga kalau bisa!" 

"Itu tidak mungkin aku lakukan, anakku. Kelihatannya ada 

masalah besar di balik kematian kedua orang tuamu. Dan satu-satunya 

yang bisa membongkar tabir rahasia ini lalu membekuk pembunuh itu 

adalah kelompok yang aku katakan tadi. Aku akan menerangkan 

siapa-siapa yang ada dalam kelompok itu...." 

"Tunggu dulu pakde. Hari ketika ayah dan ibu ditemukan tewas di 

atas delman bukankah pakde telah mencurigai seorang pemuda. Pakdemenyuruh tangkapnya tapi gagal. Orang itu berhasil melarikan diri..." 

"Memang berat dugaanku saat itu bahwa pemuda tersebutlah 

yang melakukan pembunuhan. Kepandaiannya terlalu tinggi hingga 

aku tidak berdaya menghadapinya. Namun aku yakin dia tidak bekerja 

seorang diri. Aku telah menyebar mata-mata untuk mencari tahu di 

mana pemuda itu berada. Pimpinan pasukan wilayah juga telah 

bersedia untuk mengirimkan sejumlah pasukan guna membantu 

menangkap pemuda itu." 

Winayu Tindi menyeka peluh di keningnya. "Sekarang ceritakan 

kelompok yang pakde katakan tadi!" 

Ki Demang Wesi mengangguk. "Aku akan terangkan Winayu, 

asal kau mau berjanji untuk merahasiakan apa-apa yang kita bicarakan 

selanjutnya. Ini menyangkut masalah Kerajaan...." 

Bertambah tidak mengerti jadinya gadis itu. Namun karena ingin 

mendapatkan keterangan dan lebih dari itu ingin mengetahul siapa 

pembunuh kedua orang tuanya maka Winayu anggukkan kepala dan 

berkata, "Saya berjanji akan merahasiakan apa-apa yang bakal kita 

bicarakan." 

"Baik kalau begitu. Aku akan mulai. Dengar baik-baik dan jangan 

bertanya sebelum keteranganku selesai," kata Ki Demang Wesi pula. 

"Seperti kau sendiri mengetahui anakku, saat ini Baginda terbaring 

sakit. Raja kita sedang gering. Di dalam keraton tersiar kabar bahwa 

ada kemungkinan orang-orang tertentu tengah menyiapkan calon 

pengganti yang sebenarnya belum sampai haknya atau tidak syah 

menurut jenjang usia maupun kedudukan ibunya. Dikawatirkan Sri 

Baginda telah membuat surat wasiat. Sebelum baginda wafat, sebelum 

orang yang tidak berhak menduduki tahta kerajaan, maka sekelompokpejabat Kerajaan yang didukung oleh enam orang Adipati bermaksud 

mencalonkan pangeran Adi Bintang Sasoko sebagai pewaris tahta. 

Menurut silsilah saat ini dialah yang berhak memegang tampuk 

kerajaan karena dia putera tertua meskipun bukan dari istri pertama 

Sri Baginda 

"Tetapi bukankah Pangeran itu diketahui menderita penyakit 

kurang ingatan sejak dia berusia empat belas tahun..?" ujar Winayu 

pula. 

"Itu hanya titnah yang sengaja disebar ke mana-mana dan 

perjuangan kelompok yang mendukung Pangeran Adi Bintang ini 

mendapat dukungan pula dari Keraton Sura, ditambah oleh banyak 

sekali tokoh-tokoh rimba persilatan. Jika semua rencana berjalan baik, 

kelompok itu bersama ribuan rakyat yang menjadi pendukungnya 

akan masuk ke Kotaraja. Begitu tahta jatuh ke tangan Pangeran Adi, 

semua para pendukungnya termasuk aku dan kau tidak akan 

dilupakan. Jabatan tinggi apa saja bisa kau minta pada Sri Baginda 

nanti..." 

"Saya tidak menginginkan jabatan tinggi pakde. Saya hanya ingin 

mengetahui siapa pembunuh ayah dan ibu. Lalu menuntuk balas. Itu 

saja!" Kata Winayu Tindi. 

"Betul, betul… Aku juga tidak melupakan hal itu anakku. Justru 

itulah sebabnya kuterangkan panjang lebar mengenai kelompok 

orang-orang penting ini. Hanya mereka yang bisa membongkar 

rahasia pembunuh orang tuamu!" 

"Jadi pakde adalah salah seorang anggota kelompok tersebut?" 

"Ya, juga ayahmu. Begitu rencananya. Tapi dia tewas sebelum 

masuk. Kini kaulah yang menjadi penggantinya. Kau harus bergabungdengan kelompok kami, Winayu!" 

"Harus katamu pakde?" 

"Harus. Demi meneruskan cita-cita ayahmu. Jika kau sudah 

masuk kelompok banyak yang akan membantu mencari tahu siapa 

pembunuh ayah dan ibumu! Sebaliknya saat ini kelompok sangat 

membutuhkan bantuan dana. Baik dalam bentuk uang, senjata dan 

makanan! Kau bisa menyumbangkan dua hal. Uang dan makanan!" 

Winayu tegak dari duduknya. Setelah melangkah mundar-mandir 

gadis yang berusia delapan belas tahun ini berkata, "Saya tidak mau 

ikut campur urusan kelompok pakde itu. Soal bantuan saya tidak 

keberatan...." 

"Terima kasih anakku. Kalau kau bersedia membantu kelompok 

kami sudah sama artinya kau telah bergabung dengan kami...." Ki 

Demang Wesi ikut berdiri. Dia menyerahkan sebuah bungkusan pada 

Winayu. 

"Apa ini pakde?" 

"Kebaya dalam berwarna biru muda polos. Budemu sendiri yang 

menjahitkannya untukmu. Aku pergi sekarang Winayu. Jaga dirimu 

baik-baik..." 

Sesaat setelah Kepala Desa itu meninggalkan rumahnya Winayu 

Tindi membuka Wungkusan yang tadi diserahkan Ki Demang. Ketika 

dibuka ternyata memang sehelai kebaya panjang berwarna biru muda, 

polos dengan renda-renda di bagian dadanya. Lalu ketika kebaya itu 

dibentang, Winayu melihat sulaman gambar mahkota dan keris 

bersilang dari benang merah, terletak di bagian dada kiri kebaya itu 

***

PENDEKAR 212 Wlro Sableng terheran-heran sejak dia mulai 

memasuki pinggiran Wonosari. Semua orang yang ditemuinya dan 

dipapasinya pasti menjura hormat, paling tidak menganggukkan 

kepala atau merendahkan bahu. 

"Eh, jadi siapa aku hari ini rupanya! Semua orang memberi 

hormat. Seolah-olah aku ini seorang pangeran!" begitu murid Sinto 

Gendeng tak habis pikir dalam hati. 

Ketika perutnya terasa lapar dan pendekar ini memasuki sebuah 

kedai makanan, penyambutan orang kedai dan tamu-tamu yang ada di 

situ membuat Wiro jadi salah tingkah. Semua orang yang sedang 

makan langsung tegak berdiri begitu dia muncul di pintu kedai. 

Pemilik kedai bersama istri dan seorang pelayannya buru-buru datang 

menyambut dan mempersilahkannya duduk di kursi paling bagus, di 

ujung meja besar. 

"Raden, maafkan keadaan kedai yang sangat sederhana ini. Orang 

seperti raden tidak pantas makan di sini. Ini satu kehormatan besar 

bagi kami suami istri mendapat kunjungan raden..." begitu pemilik 

kedai berkata. 

"Raden...Aku dipanggil raden ...." ujar Wiro dalam hati sambil 

garuk-garuk kepala dan tertawa lebar. "Bintang apa yang jatuh di 

kepalaku hari ini..." 

"Raden, silahkan duduk menunggu. Tidak lama. Kami akan 

hadiahkan makanan paling enak dan segar. Apakah raden inginminum tuak nomor satu...?" bertanya istri pemilik kedai. 

"Terima kasih. Beri aku air putih biasa saja. Uangku tak cukup 

banyak untuk membeli tuak nomor satu..." Jawab Wiro polos. 

"Ah, jangan berkata begitu raden, " kata pemilik kedai. "Kami 

mana berani memungut bayaran untuk orang seperti dan sepenting 

raden. Semua demi perjuangan raden..." 

Lalu suami istri pemilik kedal itu masuk ke dalam menyiapkan 

hidangan. Wiro memandang berkeliling. Setiap orang yang kebetulan 

melihat kejurusannya buru-buru menganggukkan kepala. 

"Aku ini dikatakan orang penting...Gila! Apa sebenarnya yang 

terjadi di kota ini. Jangan-jangan mereka salah sangka. Jangan-jangan 

ada seorang terhormat yang tampangnya mirip wajahku yang jelek ini. 

Ha..ha..Eh, tadi orang kedai itu mengatakan perjuangan! Perjuangan 

apa...? Ah perduli setanlah! Perutku lapar, makan dan bayar lalu pergi. 

Tapi orang kedai itu bilang aku tak usah bayar! Rejeki besar kalau 

begitu! Tapi bagaimana semua ini bisa terjadi...?!" 

Tak lama menunggu hidanganpun diletakkan di atas meja. Mulai 

dari sebakul nasi putih harum mengepul, dua potong ikan mas bakar, 

satu panggang ayam, sayur semangkuk besar lalu masih ada kerupuk 

tempe dan sayur segar lengkap dengan sambal terasi di cobek besar. 

"Silahkan makan raden, silahkan..." Kata pemilik kedai berulang 

kali sambil membungkuk-bungkuk sementara istrinya meletakkan 

sebuah cangkir tanah dan buli-buli berisi tuak harum. 

Tanpa tunggu lebih lama Wiro menyantap makanan yang 

dihidangkan. Selesai makan dia meneguk tuak nikmat dan harum, lalu 

duduk terperangah kekenyangan. Kedua matanya setengah terpejam 

saking enaknya tapi juga mengantuk.Istri pemilik kedai mendatangi dan berkata, "Raden, jika kau 

mengantuk dan ingin istirahat, kami sudah menyiapkan kamar 

untukmu... " 

Wiro menguap lebar-lebar, tersenyum dan menjawab, "Terima 

kasih, aku harus melanjutkan perjalanan saat ini juga." Lalu Wiro 

mengeruk saku celananya dan meletakkan sejumlah uang di atas meja 

untuk membayar makanan dan minuman yang telah disantapnya. 

Melihat hal ini suami istri pemllik kedai cepat mendatangi dan 

berkata, "Raden, jangan! Ambil kembali uang itu. Semua yang kau 

telah makan dan minum tidak usah dibayar..." 

Wiro geleng-geleng kepala. "Aneh...aneh..." katanya dalam hati. 

"Tidak usah bayar demi perjuangan. Begitu...? 

"Betul sekali raden." 

"Kalian keliru. Justru demi perjuangan aku harus bayar!" Lalu 

Wiro cepat-cepat tinggalkan kedai itu. Ketika dia pergi semua orang 

berdiri dan membungkuk memberi hormat. 

Suami istri pemilik kedai saling pandang satu sama lain. Sang 

suami berkata, "Baru sekali ini aku menemui yang seperti dia. Benar-

benar pejuang yang tidak mau memberatkan rakyat. Simpan baik-baik 

uang itu istriku. Jangan sampai terlihat dan diketahui oleh orang-orang 

Pangeran Adi Bintang Sasoko. Bisa-bisa kita dituduh menghambat 

perjuangan!" 

Di luar Wonosari terdapat sebuah bukit kecil. Di sini tumbuh 

pohon-pohon jati muda. Karena ingin mengambil jalan pintas agar 

lebih cepat, Wiro sengaja mendaki bukit. Perjalanan ini menarik sekali 

karena semakin tinggi ke atas semakin bagus pemandangan tampak di 

bawah bukit. Wiro berlari-lari kecil sambil bersiul-siul. Suarasiulannya bergema di hutan jati itu. Tiba-tiba pendekar kita hentikan 

siulannya. Ada suara derap kaki kuda di belakangnya. Ketika 

berpaling, Wiro melihat ada delapan penunggang kuda mendaki bukit 

jati dengan cepat. Dalam waktu singkat delapan orang itu sudah 

berada di sekelilingnya. Dari sikap mereka jelas mereka sengaja 

mengurung Wiro. Dan ternyata mereka adalah tujuh orang prajurit 

kerajaan, dipimpin oleh seorang perwira muda 

Perwira itu memperhatikan Wiro sesaat. matanya tertuju pada 

sulaman mahkota dan keris bersilang di dada kiri pakaian putih sang 

pendekar lalu diapun berkata, "Kami tidak ingin membunuhmu, 

kecuali jika kau tidak mau menyerah secara baik-baik'" 

Seorang prajurit bersenjatakan kelewang maju mendekati perwira 

Itu dan berkata, "Kenapa tidak dibunuh saja bangsat yang satu ini?" 

"Kelihatannya dia mempunyai kedudukan yang tinggi. Kita bisa 

menguras banyak keterangan darinya. Kembali ke tempatmu prajurit!" 

Jawab sang perwira dengan suara agak berbisik. 

"Kalian ini mau mengapakan aku?" Wiro bertanya sambil garuk-

garuk kepala. Baru saja beberapa waktu lalu mendapatkan 

penghormatan dan perlakuan yang membuatnya merasa seperti 

seorang pangeran, kini tahu-tahu dia menghadapi perlakuan yang jauh 

berlainan. Agaknya bintang terangnya sedang redup! 

"Karena kau masih bertanya dengan baik maka aku akan 

menjawab dengan baik pula," menyahuti si perwira muda. "Kau kami 

tangkap dan akan dibawa ke Kotaraja!" 

"Eh, apa salahku sampai ditangkap? Aku tidak membunuh, tidak 

mencuri dan merampok!" 

Perwira di atas kuda tertawa lalu keluarkan suara mendengus.

"Jangan berpura-pura tolol!" dia mulai keluarkan suara keras. 

"Perbuatanmu lebih jahat dari membunuh, merampok atau mencuri! 

Kau mau menyerah secara baik-baik atau terpaksa aku menurunkan 

tangan kasar?!" 

"Gila! Tidak bersalah tidak apa-apa disuruh menyerah! Apa-

apaan ini!" 

"Kalau begitu kau minta digebuk dulu!" Perwira muda itu tampak 

marah lalu berterlak pada anak buahnya untuk menangkap Wiro. 

Tujuh prajurit melompat turun dari kuda masing-masing. Tiga orang 

menghunus senjata untuk melindungi empat kawannya yang ingin 

meringkus Wiro. 

Pendekar 212 tegak tak bergerak sambil bertolak pinggang. 

"Perwira, suruh prajurit-prajurit ini mundur! Kalian mungkin keliru 

menangkapku!" 

"Tidak! Gerak-gerikmu sudah kami kuntit sejak di Wonosari! 

Dan dari pakaianmu itu jelas kau adalah salah seorang pentolan 

berbahaya yang tengah dicari-cari!" 

"Pentolan? Aku pentolan? Pentolan apa...?" 

"Masih berani berpura-pura!" gertak perwira muda tadi lalu sekali 

laqi dia berteriak memberi perintah anak buahnya agar segera 

menangkap Wiro. Maka tujuh prajurit itu kembali bergerak. Kali ini 

mereka bergerak dengan cepat. Empat orang berusaha mencekalnya 

sementara yang tiga todongkan senjata masing-masing. 

"Gila!" Wiro mulai jengkel. Prajurit terdekat yang hendak 

mencekal lehernya dihantamnya dengan satu jotosan sehingga orang 

ini terpental dan menjerit kesakitan. Dua kawannya balas menggebuk, 

tapi mengalami nasib sama karena lebih dahulu diterjang jotosanpendekar 212. Melihat ini prajurit-prajurit yang memegang senjata 

tanpa menunggu perintah lagi langsung tusukkan senjata masing-

masing ke tubuh dan muka Wiro! 

Saat itu Wiro sudah mencekal tubuh salah seorang prajurit yang 

tadi dihantamnya dan kini mengerang kesakitan sambil pegangi 

perutnya yang kena tonjok. Ketika tiga senjata datang menusuk Wiro 

lemparkan prajurit yang dicekalnya ke arah tiga prajurit bersenjata. 

Melihat hal ini tentu saja mereka yang menyerang dengan senjata 

terpaksa menarik pulang serangan masing-masing agar tidak melukai 

kawan sendiri. 

"Kurang ajar! Kau berani melawan dengan mengandalkan 

kepandaianmu!" Perwira muda di atas kuda marah sekali. Dia 

melompat turun dari atas kuda sambil menghunus sebilah golok 

pendek yang menjadi senjatanya. Belum lagi kakinya menjejak tanah, 

senjata di tangan kanannya itu sudah berkesiuran membabat ke arah 

kepala Pendekar 212 Wiro Sableng. Ini satu pertanda bahwa perwira 

ini memang terlatih dan memiliki ilmu bela diri yang tinggi. 

Begitu kedua kakinya menjejak tanah, perwira itu kirimkan 

serangan susulan yang sangat ganas tanda dia memang ingin 

membunuh lawannya saat itu juga. Wiro berkelebat mengelak dengan 

cepat. Lima jurus menempur habis-habisan sang perwira hanya 

menghantam tempat kosong. 

"Perwira! Sebaiknya lekas pergi dari sini. Bawa semua anak 

buahmu! Aku tidak ada silang sengketa denganmu!" 

"Kau memang tidak ada silang sengketa denganku secara pribadi! 

Tapi kau punya silang sengketa besar dengan Kerajaan!" Menyahuti 

perwira itu lalu kembali memburu dengan serangan-serangan gencar."Gila! Silang sengketa apa maksudmu?!" tanya Wiro. 

"Kau yang gila! Berkomplot menjatuhkan Raja kini bertanya 

pura-pura tidak tahu!" 

Kagetlah murid Sinto Gendeng dari gunung Gede itu. Dia hendak 

berseru ajukan satu pertanyaan lagi namun terpaksa bungkam karena 

di depannya kembali perwira muda itu menyerbu. Gerakan goloknya 

tampak berubah dan serangan senjata itu benar-benar berbahaya kini. 

Wiro sadar dia tak bisa bertahan dan mengelak terus-terusan. Satu kali 

senjata lawan pasti akan mencelakai dirinya. Ketika dia bersiap untuk 

kirimkan serangan balasan tiba-tiba seorang prajurit muncul 

menunggang kuda dan berteriak. 

"Perwira! Bahaya mengancam di bawah bukit!" 

Perwira muda itu melompat mundur, melintangkan golok di 

depan dada dan berpaling pada prajurit yang barusan datang. "Ada 

apa?!"tanyanya. 

"Serombongan pasukan musuh bersenjata lengkap, berjumlah 

sekitar lima puluh orang tengah menuju kemari. Mereka dipimpin 

oleh dua orang tokoh silat dari timur. Kita harus menyingkir dari sini. 

Kekuatan sangat tidak berimbang!" Begitu prajurit yang datang 

memberikan laporan. 

"Kalian semua lekas menghadang di lereng bukit. Aku akan 

bergabung dengan kalian setelah menamatkan riwayat pemberontak 

yang satu ini!" jawab Perwira muda itu. 

"Perwira! Kita semua akan mati konyol jika berani menghadapi 

kekuatan lawan yang begitu besar!" jawab prajurit yang datang 

melapor. 

"Aku yang memerintah di tempat ini! Kalian jangan beranimenampik!" 

Mendengar itu delapan prajurit yang ada di tempat itu tidak berani 

membuka mulut lagi. Mereka segera naik ke atas kuda masing-

masing, padahal beberapa di antaranya berada dalam keadaan terluka 

di dalam akibat gebukan Wiro tadi. Kedelapan prajurit itu segera 

menuruni buklt, menyongsong gerakan pasukan basar yang datang 

dari bawah. 

"Perwira tolol! Kau menyuruh anak buahmu bunuh diri!" 

"Mereka memang pantas untuk mampus! Kau! Mari hadapi 

golokku beberapa jurus lagi!" 

"Edan! Perwira macam apa kau ini!" teriak Wiro penasaran. 

Da1am hatinya kini muncul niat untuk menghajar perwira itu habis-

habisan. Tapi sebelum menghajarnya dia ingin mempermainkan lebih 

dulu agar si perwira benar-benar tahu rasa. 

Dengan tangan kirinya Wiro patahkan sebatang ranting. Lalu 

ranting ini dia pergunakan sebagai senjata untuk menghadapi golok 

lawan. 

"Jika kau punya senjata sebaiknya dikeluarkan saja agar kau tidak 

mati percuma!" 

Wiro menyeringai mendengar ucapan perwra itu dan menjawab: 

"Menghadapi perwira tolol sepertimu mengapa harus pakai segala 

macam senjata. Ranting ini sudah lebih dari cukup!" 

"Bangsat! Kau akan menyesal sampai ke liang kubur!" 

"Mulutmu terlalu besar. Jangan menganggap rendah semua 

orang!" sahut Wiro. Ranting di tangan kirinya diputar berlawanan arah 

dengan putaran golok si perwira. Perwira ini merasakan adanya 

sambaran angin deras mengepung gerakannya.Angin yang keluar dari ranting bukan saja membuat goloknya 

terbendung, tapi tubuhnya sampai bergoyang keras. 

"Lepas!" tiba-tiba Wiro membentak. Ranting di tangan kirinya 

menusuk ke arah tenggorokan lawan. Sewaktu si perwira berkelit ke 

samping rnurtd Sinto Gendeng cepat pukulkan ranting ke kiri. 

Terdengar suara sang perwira terpekik kesakitan ketika ranting itu 

menghantam belakang tangannya yang memegang golok. Senjatanya 

benar-benar lepas mental. Dia coba melompat untuk menyambar 

golok itu, tapi kakinya tiba-tiba dihantam ranting. Untuk kedua 

kalinya perwira itu menjerit kesakitan. Sewaktu dia turun ke tanah 

kembali dilihatnya Wiro sudali tegak dengan senyum mengejek 

sambil bolang-bolangkan golok milik si perwira yang kini berada di 

tangan kanannya. 

"Memalukan! Perwira totol! Kalau aku jadi Raja, manusia 

macammu tak akan terpakai! Ini, ambil kembali golokmu!" 

Habis berkata begitu Wiro lemparkan golok di tangan kanannya 

ke tanah. Senjata ini menancap satu jengkal di depan kaki sang 

perwira dan menghujam tanah sampai setengahnya. 

Merasa malu dan marah karena dipermainkan dan diejek begitu 

rupa, perwira muda itu cabut goloknya dari tanah. Dengan senjata itu 

dia hendak menyerbu lawannya habis-habisan. Tetapi alangkah 

kagetnya dia ketika golok yang menancap di tanah itu tak sanggup 

dicabutnya. Dia kerahkan tenaga dalam sekuat-kuatnya, lalu 

pergunakan pula tenaga dalam. Sekujur tubuhnya mandi keringat. 

Golok di tanah sama sekali tak bergeming! Tak sanggup dicabutnya. 

"Memalukan! Benar-benar memalukan! Ayo kerahkan tenagamu 

lebih besar perwira muda! Kalau mencabut golok saja tidak sanggupbagaimana mau berperang melawan musuh!" 

"Keparat kurang ajar!" maki si perwira. Dia kerahkan seluruh 

tenaganya untuk mencabut golok. Ternyata senjata itu kini mudah 

sekali dicabut. Hingga tak dapat dicegah, begitu golok tercabut 

perwira itu langsung jatuh terjengkang di tanah. Wiro tertawa 

tergelak-gelak. Merah padam muka si perwira. Golok yang ada dalam 

pegangannya dilemparkannya ke arah Wiro. Senjata ini menderu 

dengan ujungnya yang runcing tajam menyambar ke arah dada sang 

pendekar. Murid Sinto Gendeng angkat tangan kirinya yang 

memegang ranting. Begitu golok dan ranting menempel, Wiro putar 

tangannya. Golok membalik ke kanan, berputar di pertengahan ranting 

seperti sebuah titiran. 

"Manusia keparat, jangan kira aku sudah kalah! Mari kita 

berkelahi dengan tangan kosong!" teriak perwira muda itu lalu sekali 

lompat dia sudah menerjang dengan tendangan dan jotosan. 

Untuk sesaat Wiro masih asyik memutar-mutar golok di ujung 

ranting. Tiba-tiba pendekar ini tarik ranting dari badan golok. Senjata 

ini mental ke bawah, gagangnya menghantam kening si perwira 

dengan keras. Sang perwira menjerit kesakitan, mundur terhuyung-

huyung sambil pegangi keningnya yang mengucurkan darah! 

Pada saat itulah dua orang berpakaian hitam menunggang kuda 

muncul di tempat itu diikuti oleh hampir lima puluh penunggang kuda 

lainnya yang kebanyakan berpakaian kelabu. 

Dua penunggang kuda di sebelah depan adalah dua orang kakek 

berwajah hampir mirip satu sama lain. Pada dada pakaian hitam yang 

mereka kenakan tampak ada gambar mahkota dan keris bersilang yang 

disulam dengan benang merah. Anggota rombongan lainnya jugamemiliki gambar itu pada pakaian masing-masing tetapi terbuat dari 

sulaman benang berwarna biru. 

Dua kakek berpakaian hitam yang membekal sebitah senjata 

berbentuk tombak pendek di pinggangnya masing-masing, tampak 

sama manggut-manggutkan kepala. Yang di sebelah kanan keluarkan 

ucapan" "Ah..ah..ah...! Kalian berdua baru saja selesai berlatih!" 

Kakek yang satu menimpali, "Latihan kalian pasti berat dan 

keras! Buktinya kulihat salah satu dari kalian sampai-sampai 

mengucurkan darah di kening!" 

Perwira muda itu hanya berdiam diri. Sesaat dia tampak masih 

sibuk menyeka luka darah yang masih mengucur dari luka di 

keningnya. Sementara Wiro bertanya-tanya dalam hati siapa pula dua 

kakek yang datang membawa rumbongan manusia begini banyak. 

Tadi jelas dia mendengar sendiri bahwa orang-orang yang baru datang 

ini adalah serombongan pasukan musuh. Tetapi kini setelah 

berhadapan satu sama lain dengan perwira muda itu, mereka sama 

sekali tidak nampak sebagai bermusuhan. Wiro memandang 

berkeliling. Dia tidak melihat delapan prajurit yang tadi dikirimkan 

untuk melakukan penghadangan. 

"Saudara-saudara, kita tidak punya waktu banyak. Malam ini ada 

pertemuan penting. Pangeran tidak ingin melihat ada yang datang 

terlambat! Mari...." 

"Eh, apakah kau bicara denganku juga?!" tanya Wiro pada si 

kakek yang barusan bicara. 

"Apa kau kira aku bicara dengan penghuni gaib bukit Jati ini?!" 

sahut si kakek. 

Wiro perhatikan gambar mahkota dan keris bersilang di dadapakalan si kakek. Untuk pertama kali dia ingat akan gambar yang 

sama di dada pakaiannya sebelah kiri. 

"Eh ...apa artinya gambar-gambar itu. Mengapa sulaman di 

dadaku sama dengan sulaman di dada pakalan mereka. Apakah 

mereka juga mendapat pakaian itu dari Nenek Hitam bergigi Emas...?" 

Wiro tak dapat menjawab pertanyaannya sendiri. Untuk bertanyapun 

dia merasa tak enak. Lalu mengapa kakek tadi mengajaknya ikut 

serta? Melihat gambar-gambar yang sama di dada pakaian mereka dan 

di dada pakaiannya sendiri apakah ini berarti mereka berada dalam 

satu kelompok yang sama? Selagi Pendekar 212 Wiro Sableng 

berpikir-pikir seperti itu dilihatnya perwira muda tadi membuka 

pakaian seragam Kerajaannya. Ketika pakaian itu dibuka dan 

dilemparkannya ke tanah ternyata di balik pakalan itu kini tampak 

sehelai pakaian biasa, berwarna hitam yang juga ada sulaman benang 

merah bergambar dan keris bersilang di dada kirinya! Wiro jadi 

memandang lagi pada gambar yang sama yang ada di dada 

pakaiannya. 

"Berikan dua kuda pada sahabat-sahabat ini!" Salah seorang 

kakek berseru. Dua orang lalu maju menuntun dua kuda besar. Satu 

diserahkan pada si perwira, satu lagi pada Wiro. Sesaat Wiro dan si 

perwira saling pandang. 

"Kita berangkat!" terdengar kakek tadi berteriak memberi aba-

aba. 

Si perwira muda langsung melompat ke atas punggung kuda. 

Wiro masih tegak terheran-heran. 

"Eh, kenapa kau tampak seperti orang bingung, sahabat?!" 

bertanya si kakek hitman di samping kiri."Kalian mau mengajakku kemana?!" tanya Wiro sambil garuk-

garuk kepala. 

"Kemana lagi kalau bukan ke Parangtritis, markas Pangeran Adi 

Bintang Sasoko. Apakah kau masih mau bertanya? Kita orang-orang 

satu golongan! Aku sudah melupakan kejadian tadi! Anggap benar-

benar sebagal latihan!" Yang bicara adalah perwira muda itu 

"Gila!" desis Wiro sambil meinandang berkeliling. "Apa yang 

sebenarnya terjadi saat ini! Apa arti semua ini! Dan sulaman gambar 

mahkota serta keris bersilang ini…! Gila ! Hanya ada satu cara 

mencari jawaban. Aku harus ikut dengan mereka!" Wiro lalu 

melompat ke atas kuda. Rombongan bergerak menuruni bukit Jati. Di 

satu lereng bukit Who melihat delapan sosok tubuh berseragam 

prajurit kerajaan menggeletak di tanah. Semuanya sudah meregang 

nyawa dengan tubuh penuh luka. Wiro melirik ke arah perwira muda 

yang kini mengenakan pakaian hitam, yang menunggang kuda tak 

jauh di sampingnya. Di saat yang sama perwira itu juga berpaling ke 

arahnya, tersenyum kecil dan kedipkan mata! 

***


DALAM perjalanan ke Parangtritis tak satupun anggota rombongan 

ada yang membuka mulut atau bicara. Tampaknya mereka dipe-

rintahkan untuk membungkam diri. Dua kakek berpakaian serba hitam 

bergerak di sebelah depan lalu menyusul perwira muda yang ternyata 

adalah seorang pembelot. Di belakang ke tiga orang ini bergerak 

puluhan penunggang kuda berpakaian kelabu. Dan Pendekar 212 Wiro 

Sableng sengaja menyatu di tengah-tengah mereka. Walau ada hasrat 

untuk menyelinap dan kabur dari rombongan itu, namun lebih besar 

lagi niatnya untuk ikut terus guna mengetahui siapa sebenarnya orang-

orang itu. Siapa pula Pangeran Adi Bintang Sasoko. Lalu apakah dia 

akan bertemu lagi dengan Nenek Hitam Bergigi Emas yang 

memberikan pakalan putih bersulam mahkota dan keris bersilang itu? 

Karena rombongan tidak mau menempuh jalan umum maka 

perjalanan menjadi satu setengah kali lebih panjang dan lama. Maka 

menjelang matahari tenggelam mereka baru sampal di tujuan yakni 

bagian teluk Parangtritis yang agak terpencil dan jarang didatangi 

orang. Disini ternyata sudah terdapat ratusan orang yang kebanyakan 

berpakaian kelabu. Banyak pula yang berseragam perajurit Kerajaan. 

Kelompok ini tangsung memberi hormat ketika melihat kemunculan 

perwira muda yang mereka kenal. Semua kuda ditambatkan, ada yang 

dibawa ke kandang darurat untuk diberi makan dan minum. Angin 

laut bertiup kencang. 

Salah seorang dari dua kakek berpakalan hitam memandangberkeliling, mencari-cari Wiro Sableng yang saat itu duduk 

memencilkan diri di bawah sebatang pohon kelapa. Kakek ini segera 

menghampirinya lalu memberi isyarat untuk mengikuti. Bersama-

sama dengan perwira muda dan kakek yang satu lagi, Wiro melangkah 

mengikuti orang tua itu. Mereka bergerak ke bagian teluk yang penuh 

ditumbuhl pohon-pohon bakau. Setelah merancah air laut sebatas mata 

kaki dan menyibak kelebatan pohon-pohon bakau keempat orang itu 

sampai di sebuah gundukan tanah keras bercampur batu yang di 

bagian tengahnya merupakan sebuah lobang besar atau mulut goa 

selebar dan setinggi tiga tombak. Kakek yang memimpin memandang 

sesaat pada perwira muda itu, lalu pada Wiro dan akhirnya memberi 

isyarat agar mengikutinya memasuki goa. 

Bagian dalam goa merupakan satu tanjakan yang terbuat dari 

batu, mulai dari bagian bawah sampai dinding dan langit-langitnya. 

Kira-kira sepeminuman teh berjalan Wiro melihat ada cahaya terang 

di sebelah depan. Tak lama kemudian mereka sampai pada ujung goa 

yang ternyata tertetak pada sebuah bukit kecil yang penuh ditumbuhi 

semak belukar dan pepohonan rapat. Sinar matahari yang hendak 

tenggetam masih sempat menyeruak di antara dedaunan. Beberapa 

belas tombak dari luas bukit kecil itu sengaja dirambas dan di situ 

dibangun sebuah gubuk panjang tanpa dinding. 

Sepanjang gubuk terdapat meja papan kasar yang diapit oleh 

bangku-bangku panjang yang juga terbuat dari kayu hutan, setiap sisi 

meja memiliki dua lapis bangku. Dan di situ Wiro melihat kira-kira 

selusin orang duduk memandang ke arah mereka sementara di kepala 

meja sebelah kanan tampak duduk seorang pemuda berpakaian sangat 

mewah, bermuka agak pucat dan setiap saat selalu tersenyum-senyummenyunggingkan gigi-giginya yang tonggos. 

Di samping pemuda itu duduk seorang lelaki gemuk yang terus 

menerus menyedot sebatang pipa panjang. Bau tembakau yang 

terbakar memenuhi tempat itu. Di atas meja, terutama di kepala meja 

terdapat banyak makanan. Kendi-kendi tanah berisi tuak tak terbilang 

banyaknya. Tampaknya makanan dan tuak itu belum disentuh sama 

sekali. Mungkin masih menunggu sesuatu. 

Wiro memandang berkeliling, mencari-cari. Namun orang yang 

dicarinya yakni si Nenek Hitam Bergigi Emas tak tampak hadir di 

tempat itu. Kakek berpakaian hitam memberi isyarat pada Wiro dan 

perwira muda itu. Lalu keempat orang yanog baru datang ini 

mengambil tempat duduk. Dua kakek di kepala meja sebelah kiri 

sedang Wiro dan si perwira di bangku panjang lapis belakang bagian 

tengah. 

Lelaki gemuk yang menghisap pipa, sesaat memangdang 

berkeliling lalu lepas pipanya, berpaling pada pemuda berpakaian 

mewah yang sebentar-bentar tertawa dan berkata, "Semua yang 

ditunggu sudah hadti. Apakah pertemuan penting ini bisa kita mulai 

Pangeran Adi?" 

Pemuda berpakaian mewah yang rupanya adalah Pangeran Adi 

Bintang Sasoko mengangguk lalu tertawa gelak-gelak. "Aku sudah 

lama menunggu. Kalian juga! Sudah lapar dan haus! Sebelum 

memulai pembicaraan kita makan dan minum dulu sekenyang-

kenyangnya! Ha...ha...ha...! Eh, kau setuju calon patih Kerajaan?!" 

Si gemuk yang disebut sebagal calon patih membuka mulut dan 

setengah berteriak menjawab, "Setuju!" 

Maka semua orang yang ada di situ langsung menyambarhidangan dan meneguk minuman yang ada di atas meja. 

"Hai! Sampean tidak lapar dan haus? Mengapa melongo seperti 

patung tolol?!" seorang lelaki berpakaian penuh tambalan menegur 

Wiro yang sampal saat itu masih duduk berdiam diri. 

"Atau mungkin dia menunggu sampai calon patih kita marah?!" 

seseorang berseru. Lalu orang itu tertawa gelak-gelak, diikuti tawa 

beberapa orang lainnya. 

Wiro akhirnya mengulurkan tangan juga menjangkau piring besar 

berisi ketan kunlng yang dihiasi goreng paha ayam. Sebentar saja 

makanan itu sudah berpindah ke dalam perutnya. Ketika dia hendak 

mengambil cangkir dan menuang tuak ke dalamnya tiba-tiba dia 

mendengar suara halus seperti nyamuk mengiang di telinganya. 

"Pendekar muda.... Kau boleh sumpal perutmu dengan semua 

makanan yang ada di atas meja! Tapi jangan sekali-kali kau minum 

tuak itu! Minuman yang nikmat itu telah berubah menjadi minuman 

celaka! Minuman itu beracun!" 

Wiro tersentak kaget. Kedua matanya berputar memandang 

berkeliling. Siapa gerangan yang barusan bicara jarak jauh dengannya 

itu? Satu persatu dipandanginya wajah orang-orang yang ada di 

tempat itu. Semua mereka, termasuk Pangeran Adi Bintang Sasoko 

sibuk menyantap makanan masing-masing. Wiro memperhatikan terus 

sambil melahap paha ayam. Semua orang termasuk Pangeran Adi 

meneguk tuak yang dihidangkan, malah ada yang begitu lahap hingga 

berceceran menumpahi dagu dan pakaiannya. Wiro melihat bahwa ada 

dua di antara orang-orang yang ada di situ hanya berpura-pura minum. 

Tuak yang diteguknya hanya dilelehkan ke bawah dagu! 

"Semua sudah kenyang dan puas mlnum?!" tiba-tiba si gemukyang disebut calon patih berseru. 

"Kenyang! Puas!" orang banyak menyahuti. Si gemuk berpaling 

pada Pangeran Adi. "Pangeran, saatnya kita mulai melakukan 

pembicaraan!" 

Pangeran Adi mengangguk, matanya berputar-putar lalu Pangeran 

yang berotak tidak waras ini tertawa gelak-gelak. 

Si gemuk berdiri dari bangkunya. Ujung pipa diselipkannya ke 

sela bibir. Dia memandang berkeliling dengan sepasang matanya yang 

sipit lalu berkata, "Sebelum pembicaraan penting dimulai, tempat 

pertemuan ini harus benar-benar dijaga kerahasiaannya! Pohon di 

sekitar sini bisa jadi telinga musuh! Apalagi manusia penyusup!" 

Sekali lagi si gemuk memandang berkeliling. Tatapan kedua 

matanya sesaat tak berkedip ke arah Pendekar 212 membuat murid 

Sinto Gendeng jadi menahan nafas. 

"Sebelum pembicaraan dimulai setiap yang hadir harus 

memperkenalkan diri agar kita saling kenal satu sama lain!" Si gemuk 

berteriak. "Pertama akan kuperkenalkan dulu Pangeran Adi Bintang 

Sasoko. Beliau adalah calon Raja kita semua, calon pemimpin tunggal 

Kerajaan! Pangganti satu-satunya Raja yang saat ini sedang gering! 

Bukan begitu Pangeran Adi?!" 

Pangeran Adi berdiri dari duduknya, menjura dan berteriak. 

"Betul! Aku yang bakal memegang kekuasaan dan menduduki tahta 

Kerajaan! Hanya aku! Ha… ha...hal…!" 

Si gemuk kembali membuka mulut. "Aku sendiri adalah Suto 

Gunoto, bergelar Si Tapak Api. Sesuai dengan kehendak Pangeran 

Adi, bakal menduduki jabatan Patih Kerajaan!" Habis berkata begitu 

si gemuk usap-usapkan kedua telapak tangannya satu sama lain.Terdengar suara meletup dan lidah api mencuat keluar dari celah dua 

telapak tangan itu. 

Semua orang berdecak kagum melihat hal itu dan sambil tertawa 

mengakeh Suto Gunoto kembali duduk. Dia memberi isyarat pada 

orang di sebelahnya. Orang ini berdiri dari duduknya, menjura lalu 

memperkenaikan diri. 

"Aku Jaliteng Teguh, Adipati Klaten, siap berjuang di pihak 

Pangeran Adi. Seratus orang perajuritku siap sedia di timur 

Patrangtritis!" 

Orang ketiga tegak pula dari bangku kayu. Seperti Adipati Klaten 

tadi dia juga menjura, mendongak sebentar lalu membuka mulut. 

"Namaku jelek, tampangku jelek, pakaianku jelek dan pekerjaanku 

juga jelek. Ha-ha-ha…! Aku Sumo Kandil, diberi julukan Pengemis 

Kaki Kayu! Aku berjuang bersama Pangeran Adi! Di usia tua ini aku 

ingin menghabiskan sisa hidup dengan tenang menjadi pejabat 

Kerajaan!" Habis berkata begitu Pengemis Kaki Kayu melompat ke 

atas meja. Ternyata kaki kanannya memang terbuat dari kayu. Dengan 

satu gerakan seperti asal-asalan saja orang ini hantamkan kaki 

kayunya ke meja. Papan meja yang terbuat dari kayu hutan yang tebal 

dan kasar itu langsung hancur dan berlobang besar! Orang banyak 

bertepuk tangan. Sumo Kandil kembali ke tempat duduknya. 

Orang keempat berdiri dari bangkunya. Dia seorang kakek 

bermuka cekung, mengenakan baju hijau yang kebesaran dengan 

sulaman mahkota dan keris bersilang di dada kiri. Sulaman seperti ini 

juga terdapat pada semua pakaian para yang hadir di tempat itu, 

termasuk Wiro Sableng sendiri. Ketika orang ini meletakkan kedua 

tangannya di atas meja, tampaklah sepuluh jari tangan yang memilikikuku-kuku panjang berbentuk aneh seperti seperti pisau-pisau kecil! 

"Aku tua bangka jelek ini sudah lama lupa nama sendiri. Tapi 

orang memanggilku. Si Pengupas Kepala! Itu saja. Aku tidak mau 

banyak cerita. Kelak kalian akan melihat sendiri siapa aku ini 

adanya!" dengan tenang lalu si kuku panjang ini duduk kembali ke 

bangkunya. 

Orang kelima sampai ke sembilan ternyata adalah Adipati dari 

daerah utara dan barat. Setelah menyebutkan nama masing-naasing 

dan berasal dari Kadipaten mana, sambil tak lupa mengatakan bahwa 

desekia puluh atau sekian ratus perajuritnya sudah bersiap sedia, maka 

masing-masing kembali duduk di bangku panjang. 

Orang yang ke sepeluh adalah satu dari dua kakek berpakaian 

hitam. "Aku juga ikut-ikutan pikun. Lupa nama. Bersama adikku 

ini…" Si kakek menunjuk pada kakek satunya yang duduk di 

sebelahnya, "Kami dikenal dengan julukan Sepasang Tombak Dewa! 

Aku mendapat kepercayaan menjadi Panglima Pasukan Kerajaan dan 

adikku menjadi wakilnya. Panggil saja aku ini Tombak Dewa! Kesatu 

dan adikku Tombak Dewa Kedua! Soal kepandaian kami pernah 

merajai rimba persilatan di pantai selatan ini. Tapi saat ini kami tidak 

enak badan, tak mau pamer kepandaian! Ha-ha-ha!" 

Orang kedua belas adalah perwira muda yeng duduk di samping 

Wiro Sableng. Setelah mengerling sesaat pada Wiro, orang ini berdiri 

dan memperkenalkan diri. 

"Namaku Aryo Ladam. Jabatan terakhir Perwira Muda pada 

pasukan kerajaan. Tapi mulai detik ini jabatan itu tidak kupakai lagi 

karena ingin menyumbangkan bakti pada calon Raja kita yang baru 

yaitu Pangeran Adi Bintang Sasoko. Soal kepandaian mungkin banyakdi antara para hadirin memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dariku. 

Sebelum berangkat ke mari aku telah berhasii membina sekitar enam 

puluh perajurit dan dua perwira muda untuk berjuang di pihak kita. 

Mereka semua berada di Kotaraja. Mereka akan melakukan gerakan 

menyusup dan menghantaan lawan di pusat Kota. Mereka siap 

menunggu perintah!" 

Suto Gunoro mengangguk-anggukkan kepala sementara Pangeran 

Adi Bintang Sasoko tersenyum-senyum sambil meneguk tuak. 

Sambil mengangkat kendi tuak Pangeran itu berkata, "Sesuai 

janji, kau akan aku angkat sebagal Kepala Pengawal Raja. Pangkatmu 

dinaikkan dua tingkat!" 

"Terima kasih Pangeran," kata Aryo Ladam dengan senang hati 

seraya menjura lalu duduk ke tempatnya kembali. 

Kini giliran Pendekar 212 Wiro Sableng memperkenalkan diri. 

Setelah menggaruk kepala lebih dulu, pendekar ini berdiri dan 

menjura ke arah Pangeran Adi serta Si Tapak Api. Sikap ini membuat 

kedua orang itu merasa senang karena sebelumnya tidak ada 

seorangpun yang memberikan penghormatan ketika memperkenalkan 

diri. 

"Mohon dimaaafkan kalau namaku jelek didengar. Aku Wiro 

Sableng! Pendekar pengangguran yang dicap berotak kurang waras. 

Apa yang menjadi tujuan para tokoh yang hadir di sini menjadi 

tujuanku pula! Kita bersama-sama berjuang!" Wiro lalu duduk 

kembali. Dalam hati dia menyumpah. "Persetan dengan perjuangan 

gila ini? Aku ingin buru-buru pergi dari sini! Edan, mengapa aku 

sampai terdampar di antara para pengkhianat ini!" 

Terdengar suara batuk-batuk beberapa kali, lalu disusul suaraorang bicara. Yang bicara adalah Sumo Kandil alias Pengemis Kaki 

Kayu. "Sungguh luar biasa! Tidak disangka-sangka kalau tokoh silat 

muda terkenal sepertimu ikut berada di antara kita Pendekar 212, 

apakah keikutsertaanmu bersama kami mendapat restu dari gurumu di 

puncak Gunung Gede...?!" 

"Ah, si kaki kayu ini rupanya tahu banyak tentang diriku dan 

guruku," membatin Wiro. Pendekar ini agak gugup mendapat 

pertanyaan itu tapi cepat kuasai diri dan menjawab, "Ketika aku 

melapor, guru sedang tidak di tempat. Aku hanya meninggalkan pesan 

tertulis memberitahu apa yang aku lakukan..." Wiro berdusta. 

"Bagus...bagus... Sebetulnya kau bisa mengajak beberapa tokoh 

utama lainnya menyertai kita. Tapi yang ada sekarangpun sudah 

cukup!" kata Pengemis Kaki Kayu pula. 

Orang ke empat belas yang duduk di samping kiri Wiro 

memperkenalkan diri sebagai Tumenggung Gandana Jipang. Seperti 

Aryo Ladam dia juga menerangkan bahwa ada sejurnlah besar 

pasukan kawal Istana yang berhasil ditariknya. 

Orang terakhir atau yang ke lima belas adalah yang paling lucu, 

paling konyol gerak-geriknya. Dia mengenakan baju merah menyala 

yang sangat besar tetapi seperti yang lainnya di dada pakaiannya juga 

tersulam gambar mahkota dan keris bersilang. Rambutnya yang 

panjang digulung ke atas dan pada ujung gulungan diberi pita merah. 

Mukanya dirias secara seronok yaitu bedak tebal bertotol-totol, lalu 

gincu berlepotan dari bibir sampai ke pipi dan dagu sedang alis mata 

diberi jelaga hitam bercelemongan. Orang ini berdiri dengan sikap 

malu-malu seperti perempuan. Suaranya kecil ketika memperkenalkan 

diri,"Namaku Tatata Tititi. Aku tidak bergelar tidak berjuluk! Tidak 

punya kepandaian silat! Tapi pandai bermain sulap, kalau perlu 

menyihir. Lihaat!" Orang itu menunjuk pada sepiring makanan di atas 

meja. "Saat ini kalian melihat ada makanan di alas piring itu! Tapi 

coba pejamkan mata kalian sekejapan! Lalu buka dan lihat lagi ke 

arah piring! Kalian tidak akan melihat makanan lagi! Nah 

lakukanlah!" 

Karena tertarik, hampir semua orang yang ada di tempat itu 

termasuk Wiro pejamkan matanya. Ketika kedua mata dibuka dan 

mereka memandang ke arah piring! Astaga! Memang diatas piring itu 

kini yang mereka lihat bukan lagi makanan, tapi seonggok tahi 

kerbau! Semua orang mengerenyit jijik. Tak percaya pada 

pemandangan masing-masing dan banyak yang mengusap-usap kedua 

matanya! 

"Jadi tadi kalian bukan bersantap enak. Tapi makan tahi 

kerbau...hik…hik..hik!" orang bermuka celemongan itu tertawa 

cekikikan. "Aku hanya bergurau! Hanya bergurau. Lihat sekali lagi. 

Apa yang ada di piring memang makanan!" 

Dan ketika semua orang memandang lagi ke arah piring, memang 

di situ kini tampak makanan seperti semula. Terdengar orang tadi 

berkata, "Jika aku bisa merubah makanan jadi tahi kerbau, aku juga 

bisa merubah wajah Sri Baginda menjadi tahi kerbau! Hik...hik...hik!" 

"Tukang sulap!" tiba-tiba Suto Gunoro alias Si Tapak Api 

berseru. "Coba terangkan, kau ini lelaki atau perempuan!" 

"Hik..hik..hik! Aku bukan lelaki bukan perempuan!" jawabnya 

Tatata Tititi. 

"Maksudmu....?!" Pangeran Adi Bintang yang kini ajukanpertanyaan. 

"Aku banci! Hik..hik..hik!" 

"Jangan melantur! Kau berhadapan dengan calon Sri Baglnda!" 

Membentak SI Tapak Api. 

"Hik..hik..hik! Aku tidak melantur. Aku memang banci. Jika tidak 

percaya akan kusingkapkan pakaianku! Mau melihat...?!" 

Pangeran Adi Bintang tertawa gelak-gelak dan goyang-

goyangkan tangannya ketika Tatata Tititi hendak menyingkapkan 

pakalannya yang lebar. 

"Sudah! Kami percaya padamu siapapun kau adanya. Kau telah 

menjadi satu kelompok dengan kami!" ujar Pangeran Adi sambil 

senyum-senyum. "Silahkan duduk Tatiti...." 

"Maaf, namaku Tatata Tititi, Pangeran. Bukan Tatiti .... !" 

"Oh, ya aku kesalahan!" Pangeran Adi tertawa gelak-gelak. Lalu 

dia berpaling pada Suto Gunoro dan berbisik, "Saatnya untuk 

melakukan pembersihan, patih!" 

Suto Gunoro mengangguk lalu cabut pipanya dan berdiri. 

Sepasang matanya yang sipit tampak tambah sipit ketika dia 

memandangi satu persatu semua orang yang ada di tempat Itu. 

"Saudara-saudara satu perjuangan. Sebelum pembicaraan amat 

rahasia kita mulai, tempat ini harus dibersihkan darl penyusup mata-

mata musuh!" 

"Eh…! Apakah ada mata-mata kerajaan disini?!" angkat bicara 

Pengemis Kaki Kayu alias Sumo Kandil. 

Suto Gunoro menyeringal buruk. Dia berpaling pada kakek 

bermuka cekung yang tadi memperkenalkan diri dengan juiukan Si 

Pengupas Kepala. Lalu Suto anggukkan kepalanya.Melihat isyarat ini Si Pengupas Kepala bangkit dart kursinya. 

Kedua matanya memandang menyorot satu persatu pada orang-orang 

yang ada di sekitar meja. Kedua tangannya sailing digosok-gosokkan. 

Kuku-kukunya yang beradu satu sama lain mengeluarkan suara 

bergemericik, tidak beda seperti pisau-pisau saling bergesekan, 

menggidikkan kedengarannya. Orang ini melangkah memutari meja, 

mengitari lima belas orang yang duduk laksana terpaku. Wiro 

merasakan tengkuknya dingin ketika menyadari bahwa Si Pengupas 

Kepala berhenti melangkah dan tegak tepat dibelakangnya. 

"Jangan-jangan orang ini mencurigaiku. Pasti aku yang 

dimaksudkannya dengan mata-mata musuh tadi! Celaka!" Wiro segera 

pusatkan tenaga dalam ke tangan kanan, diam-diam menyiapkan 

pukulan sakti "sinar matahari". Kedua telinganya dipasang tajam-

tajam. Begitu terdengar orang bergerak maka serta merta dia akan 

menghantam. 

Dibelakangnya Si Pengupas Kepala dengan gerakan sebat dan 

tiba- tiba mengangkat tangannya, mencekal leher orang yang duduk di 

sebelah kiri Wiro. Dia adalah Tumenggung Gandana Jipang! Wiro 

menarik nafas lega. 

"Mata-mata keparat! Berani kau menyusup ke sarang harimau!" 

teriak Si Pengupas Kepala. 

Tumenggung Gandana Jipang tampak kaku sekujur tubuhnya. 

Mukanya seputih kertas. Suaranya tercekik ketlka bicara. "Lepaskan! 

Jangan! Kau salah tuduh! Aku bukan mata-mata Kerajaan! Aku 

datang kemari justru untuk bergabung! Bukankah aku yang 

memberikan berita-berita rahasia tentang sakitnya Raja....?!"Si Tapak Api tertawa mengekeh. Si Pengupas Kepala menimpali 

dengan suara menggereng. Cekalannya mengencang. Tubuh 

Tumenggung Gandana Jipang dilemparkannya ke atas meja besar. 

Begitu orang ini terpentang di atas meja, sepuluh jari tangannya yang 

memillki kuku sekuat dan setajam pisau bergerak cepat seperti 

menggerlnda. Terjadilah satu pemandangan luar biasa mengerikan. 

Tumenggung Gandana Jipang menjerit setinggi langit, melolong dan 

menghempas-hempaskan tubuhhya sementara kepalanya mulai dari 

kulit kepala sampai kulit muka dikelupas oleh kuku-kuku maut itu! 

Hanya beberapa kejapan mata saja kepala itu kini tinggal tengkorak 

berselimut darah! Tubuh Tumenggung Gandana Jipang tak berkutik 

lagi. 

"Gusti Allah…" bisik Wiro dalam hati dan membuang muka ke 

jurusan lain. 

Kesunyian yang dicengkam ketegangan menggantung di tempat 

itu. Dan Kesunyian ini dirobek oleh suara tawa mengekeh Pangeran 

Adi Bintang dan Suto Gunoro alias Si Tapak Api sementara Si 

Pengupas Kepala sibuk membersihkan tangan dan kukunya yang 

bersimbah darah. Sambil membersihkan tangannya dia memandang 

berkeliling, lalu berkata, "Manusia ini bukan Tumenggung Gandana 

Jipang! Dia mata-mata Kerajaan yang coba menyusup. Tumenggung 

Gandana Jipang yang sebenarnya berada dalam penjara!" 

Wiro tidak perduli apa yang diucapkan oleh orang itu. Ingin 

sekali dia meninggalkan tempat itu. Ketika dia hendak bergerak 

bangkit tiba-tiba Si Tapak Api berseru. 

"Ada tamu datang! Bersihkan meja!"Pengemis Kaki Kayu cepat berdiri. Kaki kayunya bergerak ke 

atas meja. Tubuh Tumenggung Gandana Jipang mencelat mental dan 

lenyap diantara pohon-pohon lebat yang mulal tenggelam dalam 

gelapnya malam yang baru turun. 

***


YANG DATANG ternyata ada dua orang. Yang pertama seorang 

lelaki tinggi kekar berambut kelabu dan memegang sebuah tongkat 

sepanjang tiga jengkal di tangan kanannya. Di samping orang ini, 

agak ke belakang sedikit berjalan seorang gadis berkebaya panjang 

biru dangan sulaman gambar mahkota serta keris bersilang di dada 

kirinya. Gadis ini tampak agak ragu-ragu untuk melangkah lebih dekat 

ke arah meja besar dimana berkeliling belasan orang yang sama sekali 

tidak dikenalnya. Tapi lelaki berambut kelabu cepat berbisik dan 

memegang tangannya. "Tak ada yang harus ditakutkan, anakku. Kita 

berada di tengah-tengah teman seperjuangan…" 

"Aha! Ki Demang Wesi! Akhirnya kau datang juga! Untung 

pembicaraan rahasia belum dimulai!" Si Tapak Api berseru. Sesaat 

matanya jelalatan menatap wajah cantik gadis di samping lelaki 

berambut kelabu yang ternyata adalah Ki Demang Wesi, Kepala Desa 

Parangtritis. 

"Harap maafkan.... "sahut Ki Demang Wesi sambil menjura. 

"Aku terlambat karena harus meyakinkan anakku ini dulu bahwa 

perjuangan kita adalah perjuangan yang besar. Bahwa masa depannya 

akan seribu kali lebih baik begitu perjuangan selesai! Aku 

perkenalkan putriku, Winayu Tindi. Sebenarnya dia adalah puteri 

almarhum Ageng Lontar, orang paling kaya di Parangtritis. Tapi aku 

sudah menganggapnya sebagai anak sendiri dan dia sudah 

menganggap aku sebagal ayah! Dan yang penting, Winayu Tindi telahmemutuskan untuk menyumbang kekayaannya bagi perjungan kita!" 

"Hebat!" seru Si Tapak Api. 

Pangeran Adi Bintang Sasoko tiba-tiba bangkit dari kursinya. 

Matanya memandang tak berkesip pada Winayu Tindi. Tangan 

kanannya diangkat. Jari telunjuknya diarahkan tepat-tepat pada gadis 

itu, tenggorokannya turun naik. "Cantik! Cantik sekali puterimu ini Ki 

Demang! Sumbangannya untuk perjuangan sangat besar! Apakah 

balas jasa yang paling baik harus kita berikan pada si cantik jelita 

ini...?!" 

Tak ada yang menjawab. Mungkin tak ada yang berani 

menjawab. Tapi tiba-tiba Wiro berdiri. "Menurut pendapatku, dia 

pantas menjadi istri pangeran. Menjadi permaisuri begitu pangeran 

dinobatkan jadi Raja!" 

"Hah?! Tepat! Tepat sekali!" teriak Pangeran Adi lalu tetawa 

gelak-gelak. 

Yang lain-lainnya ikut bertepuk tangan dan mengatakan setuju. 

Di antara tepuk tangan dan suara riuh itu tiba-tiba Wiro mendengar 

ada suara seperti nyamuk mengiang dikedua telinganya, "Anak tolol! 

mengapa mulutmu selancang itu mengatur perjodohan orang?! 

Sableng!" 

Wiro merasakan mukanya jadi merah dan panas. Dia memandang 

berkeliling, mencari-cari siapa diantara yang hadir yang barusan 

mengirimkan ucapan itu. Sulit baginya untuk menduga. Mungkin 

Pengemis Kaki Kayu atau mungkin Si Tapak Api. 

Atau mungkin pula salah satu dari Sepasang Tongkat Dewa? 

Ketika tepuk tangan dan suara riuh lenyap, terdengar suara 

Winayu Tindi. Wajah gadis ini tampak sangat merah."Sesuai janji, saya memberikan sumbangan demi untuk mencari 

tahu siapa pembunuh ayah dan ibu saya…!" 

"Oh begitu? Urusan gampang!" sahut Si Tapak Api. 

"Calon permaisuriku! Kau tak usah kawatir! Jangankan mencari 

tahu siapa pembunuh orang tuamu! Mencari tahu beberapa banyak 

bintang di langitpun akan kulakukan!" berkata Pangeran Adi yang 

disambut dengan suara riuh rendah oleh orang banyak. 

Ki Demang Wesi membimbing Winayu lalu keduanya duduk di 

bagian meja yang masih kosong ini adalah di samping Wiro. Begitu 

melihat si pemuda kening Ki Demang Wesi jadi berkerut. 

"Eh, anak muda! Kau…" 

"Rupanya kita orang-orang satu golongan. Apakah kau masih 

menduga aku yang melakukan…?" Wiro mendahului. 

"Tidak, tentu saja tidak!" jawab Ki Demang Wesi cepat. 

Winayu Tindi tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua orang 

itu. Tapi sejak mendengar ucapan Wiro tadi, gadis ini sudah sempat 

sebal lebih dulu. Begitu Wiro memandang padanya gadis ini segera 

menempelak dengan ucapan, "Mulutmu lancang benar! Apa 

keuntunganmu mengatakan itu tadi…" 

Untuk kedua kalinya Wiro merasa wajahnya menjadi merah. 

Sadar kalau mulutnya ketelepasan. 

"Maafkan aku sahabat. Aku tidak bermaksud lancang. Tapi kata-

kataku tadi memang tidak pada tempatnya. Kurang ajar! Aku tahu 

jangankan gadis secantikmu, kambing betina yang bengekpun tidak 

mau jadi istri Pangeran gila itu…!" 

Suto Gunoro sang calon patih Kerajaan bangkit dari tempat 

duduknya. Setelah menghisap pipanya panjang-panjang diapunmenyatakan bahwa pembicaraan rahasia segera dimulai. Adapun 

pembicaraan itu menyangkut rencana penyerbuan Kraton dari tiga 

jurusan dengan kekuatan hampir seribu orang. Lalu melakukan 

penculikan terhadap Sri Baginda dan menculik atau membunuh 

Pangeran Ikronegoro yakni Pangeran yang diduga akan diangkat dan 

dinobatkan menjadi Raja begitu Sri Baginda mangkat. Setelah itu 

dilakukan penggantian terhadap pucuk pimpinan Kerajaan, termasuk 

para Adipatl, kecuali Adipati yang berpihak dan membantu Pangeran 

Adi bintang Sasoko. 

Diatur pula taktik bahwa penyerbuan akan dilakukan dua harl 

dimuka, dinihari menjelang subuh. Sebelum itu, pada permulaan 

malam akan dilakukan pembunuhan terhadap para tokoh silat Istana. 

Dan ini dilaksanakan oleh tiga orang yaitu Si Pengupas Kepala, 

Pengemis Kaki Kayu dan Pendekar 212 Wiro Sableng! 

Menjelang tengah malam pertemuan rahasia itu berakhir, Ki 

Demang Wesi meneguk tuak sampaii sekendi penuh. Winayu Tindi 

sama sekali tidak menyentuh minuman ini, dan juga tidak mencicipi 

makanan. Ini kelak menyelamatkan dari racun mematikan yang ada 

dalam minuman. 

Selain bangunan panjang tanpa dinding yang dijadikan tempat 

pertemuan itu, ternyata masih ada tiga bangunan lain yang dibuat 

berpencar di tiga tempat dan merupakan rumah-rumah kecil. Salah 

Satu rumah itu ditempatl oleh Pangeran Adi Bintang Sasoko bersama 

Si Tapak Api. Rumah kedua dan ketiga tadinya dibagi-bagi untuk para 

anggota komplotan pemberontak itu namun yang satu kemudian harus 

diberikan pada Winayu Tindi karena sudah diputuskan bahwa sejak 

kedatangan mereka malam itu ke tempat itu, tidak satu orangpundiperkenankan meninggalkan tempat rahasia itu. Penjagaan ketat 

dilakukan di setiap sudut. 

Malam itu Wiro pura-pura tidur mendengkur di bangku panjang. 

Udara dingin sekali dan suara deburan ombak di pantai terdengar 

mengerikan. Setelah pertemuan berakhir tadi, Wiro sempat melihat 

Pangeran Adi, Si Tapak Api dan Ki Demang Wesi melakukan 

pembicaraan singkat. Lalu ketiganya menuju rumah kecil di sebelah 

kanan. Murid Sinto Gendeng yakin sekali pasti ada pembicaraan. 

Ketika dilihatnya gelagat baik, Pendekar 212 cepat mengendap-endap, 

menyelinap di kegelapan malam lalu melompat ke atas pohon yang 

salah satu cabangnya menjuntai tepat di atas rumah di mana ketiga 

orang itu berada. Dari atas pohon Wiro dapat mendengar pembicaraan 

orang-orang itu cukup jelas. 

"Ki Demang Wesi, malam dingin begini aku ingin berada dekat 

puterimu yang cantik itu. Apa jawabmu Ki Demang?" terdengar suara 

Pangeran Adi. 

"Pangeran, gadis itu masih terguncang jiwanya akibat kematian 

kedua orang tuanya. Tunggulah beberapa hari. Dia akan menjadi 

permaisuri Pangeran jika Pangeran memang menyukainya…" Begitu 

jawaban Ki Demang Wesi. 

"Tentu saja aku menyukainya! Ha..ha...ha! Seperti aku menyukai 

sarapan pisang goreng dan kopi hangat pada pagi hari! Ha.. ha.. ha.. !" 

"Ki Dernang, tadi aku mendengar gadis itu menyatakan bahwa 

sumbangan diberikannya dengan imbalan kita harus mencari tahu 

siapa pembunuh kedua orang tuanya. Bukankah persoalan itu sudah 

kuserahkan agar kau selesaikan dengan tuntas?" Yang bicara adalah Si 

Tapak Api."Telah aku usahakan Suto. Hanya sayang aku salah menjatuhkan 

tuduhan. Aku tidak tahu kalau pemuda asing yang aku tuduh itu 

adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, orang kita sendiri.... " 

"Terus terang aku menaruh curiga pada pendekar satu itu. Meski 

orangnya keblinger dan kepandaiannya tinggi namun sejak lama dia 

dikenal sebagai tokoh bersih dari golongan putih...." 

"Dunia bisa berubah, apalagi manusia!" ujar Ki Demang Wesi. 

"Tapi tak ada salahnya untuk menyelidiki, siapa yang 

membawanya masuk dalam kelompok kita…" 

Melihat hal ini Ki Demang Wesi minta diri untuk meninggalkan 

tempat itu. Sebelum Ki Demang membuka pintu terdengar Si Tapak 

Api berkata, "Kau jaga baik-baik Winayu Tindi itu, Ki Demang! Dia 

calon Permaisuri!" 

"Akan aku lakukan Sumo. Tentu saja!" 

"Satu hal lagi haruss kau jaga baik-baik, Ki Demang!" 

"Apa itu...?" 

"Jangan sampai dara itu mengetahui kalau kaulah pembunuh 

kedua orang tuanya…" 

Ki Demang Wesi mengangguk perlahan. Ada rasa tidak enak di 

hatinya mendengar kata-kata Sumo Gunoro itu. Maka diapun berkata, 

"Kalau bukan demi perjuangan, sebenarnya aku tidak akan mau 

berlaku sekeji itu Sumo... Lagi pula dia menolak untuk diajak serta. 

Bahkan mengancam akan melaporkan komplotan kita ke Istana!" 

"Memang manusia seperti dia pantas disingkirkan. Tapi kudengar 

istrinya telah dirusak kehormatannya sebelum dibunuh! Apa yang kau 

lakukan Ki Demang?" 

"Ya, ceritakan apa yang kau lakukan Ki Demang!" terdengarsuara sang Pangeran. 

Terdengar Ki Demang Wesi menarik nafas. Lalu terdengar 

jawabannya. "Perempuan itu terlalu cantik dan masih sangat muda 

untuk dihabisi. Sayang dia banyak tahu dari suaminya tentang 

komplotan kita. Juga kusir kereta.... " 

"Aku tidak bertanya si kusir delman itu! Tapi apa yang situ 

lakukan terhadap istri Ageng Lontar! Ha... ha...ha.... ! Ceritakan saja 

saja Ki Demang.... " 

"Aku memang dirasuk nafsu. Perempuan itu kutiduri baru 

kubunuh. Untuk menutup rahasia kusir delman terpaksa pula 

kubunuh!" 

"Kau makan sendirian Ki Demang! Tidak membagi-bagi kami! 

Ha...ha.... ha....!" 

"Kau boleh pergl Ki Demang! Dan janjiku padamu pasti akan 

kutepati! Kau bukan saja akan terus jadi Kepala Desa Parangtritis, tapi 

akan kuangkat jadi Adipati!" 

"Terima kasih Pangeran. Aku minta izin mengundurkan diri...." 

Terdengar suara pintu dibuka lalu ditutupkan kembali. 

Di atas pohon Pendekar 212 Wiro Sableng tersentak kaget seperti 

disengat kalajengking mendengar rentetan pembicaraan yang terakhir. 

"Manusia setan haram jadah! Jadi dia pembunuh kedua orang tua 

gadis itu! Benar-benar dajal!" Amarah membuat murid Sinto Gendeng 

ini lupa berada dimana dia saat itu. Begitu melihat sosok tubuh Ki 

Demang Wesi keluar dari dalam rumah dia segera hendak melompat 

turun guna menghajar manusia itu. Tapi gerakannya tertahan ketika 

tiba-tiba ada suara mengiang di telinganya. 

"Jangan tolol! Kendalikan amarahmu! Belum saatnya! Belumsaatnya untuk memamerkan kehebatan!" 

"Sialan! Dia lagi!" maki Wiro. Matanya dibuka lebar-lebar dan 

dia memandang berkeliling. Tidak nampak seorangpun, kecuali Ki 

Demang Wesi yang melintas dibawah pohon. Saat itu pintu rumah ter-

dengar terbuka kembali. Lalu tampak Si Tapak Api keluar dan 

bergegas menyusul Ki Demang. Kedua orang ini sama berhenti di 

bawah pohon, tepat di atasnya Wiro mendekam. 

"Sumo, aku perlu bertanya. Apakah tuak itu benar-benar kau 

campur racun?" 

"Seperti yang kita rencanakan, sobatku! Dalam waktu dua minggu 

yang minum akan mampus! Putus dan hancur ususnya! Dan kita 

memang tidak memerlukan mereka lagi! Juga tidak Pangeran gila dan 

tolol itu!" 

"Kalau begitu lekas berikan padaku obat penawar racun itu! Aku 

tidak mau mati konyol!" 

S! Tapak Api tertawa mengekeh. Lalu dikeluarkan sebutir benda 

putih dari dalam saku pakalannya dan diserahkan pada Ki Demang. 

Kepala Desa ini cepat menelan obat penawar racun itu. 

"Jadi kau tetap akan menghabisi Pangeran Adi begitu tahta 

direbut?" terdengar Ki Demang bertanya. 

"Bukankah itu yang kita rencanakan? Aku jadi Raja, kau menjadi 

Patih...! Nah, hari hampir pagi. Kau pergilah tidur. Mudah-mudahan 

mimpi enak..." Si Tapak Api menepuk bahu Ki Demang Wesi. 

Keduanya berpisah. 

"Jahanam! Benar-benar manusia-manusia jahanam! Jadi benar 

bisikan orang itu. Minuman itu ternyata beracun!" 

Wiro memandang lagi berkeliling. Sangat halus, tapi dia masihsempat mendengar ada suara bergeresek di belakangnya. Dia cepat 

berpaling. Tapi terlambat. Dia hanya sempat melihat bayangan dalam 

gelap. Dia coba memburu. Bayangan itu lenyap! Tapi dari sosok 

tubuh yang sekelebatan itu dia rasa rasa bisa menduga siapa adanya 

orang itu. Wiro memperhatikan suasana sekeliling seolah-olah tengah 

meronda. Dilihatnya tokoh silat yang mengaku banci dan bernama 

Tatata Tititi tengah tidur mengorok dekat kaki meja besar. Tadi dia 

tidak melihat orang itu tidur di sana, Bagaimana kini tahu-tahu dia 

bisa ada di situ? Wiro melangkah mendekati orang ini. 

Memperhatikannya sejenak. Dia melihat ada kotoran kehijauan pada 

pakaian merah Tatata Tititi. Lalu diperhatikannya tangan sendiri. 

Noda yang sama juga terdapat pada kedua telapak tangannya. Kotoran 

Itu adalah lumut pohon yang dipanjatnya. Pendekar 212 tersenyum. 

Dalam hati dia berkata, "Hemmm... Jadi dia rupanya!" Wiro manggut-

manggut dan diam-diam merasa lega. 

Paling tidak dia tahu kalau dia tidak sendirian ditempat yang 

sangat berbahaya itu.Ada seorang teman bersamanya walau dia masih 

tidak dapat memastikan siapa adanya orang itu. Sambil garuk-garuk 

kepala Wiro melangkah ke bangku panjang di mana dia berbarlng 

sebelumnya. Dibelakangnya Tatata Tititi yang masih keluarkan suara 

mengorok tampak membuka mata kirinya. Ada sekelumit senyum 

dimulutnya yang celemongan oleh gincu itu. Dalam hati dia berkata, 

"Ah, pemuda itu sudah tahu rupanya…" 

***


SEJAK SIANG hujan turun terus. Menjelang sore reda sebentar tetapi 

begitu matahari menggelincir ke ufuk tenggelamnya hujan menderas 

menggila. Air laut bergelombang menggemuruh. Suaranya 

menakutkan. Ombak memecah di teluk bergulung-gulung setinggi 

rumah. Di kejauhan terdengar suara angin menderu mengerikan. 

Tampak kilat sambar-menyambar lalu suara guntur menggelegar 

seperti hendak membalikan isi laut. Beberapa pohon kelapa di tepi 

pasir patah berderak, tumbang ke laut. Ringkik kuda yang ketakutan 

terdengar berulang kali. 

Di dalam rumah kecil Si Tapak Api tampak melangkahi mundar 

mandir sementara Pangeran Adi tegak di sudut sambil tersenyum-

senyum lalu menyanyi-nyanyi kecil seolah-olah mengiringkan deru 

hujan dan angin serta gemuruh air laut. Sepasang Tombak Dewa 

berdiam diri sedang Pengemis Kaki Kayu duduk manggut-manggut 

sambil permainkan kaki kayunya. Tokoh aneh bernama Tatata Tititi 

berdiri dekat pintu rumah, memegang sehelai kapas berwana merah. 

Tengah berhias rupanya si banci ini! Si Tapak Api diam-diam memaki 

melihat tingkah laku orang-orang yang ada disitu. Terutama jengkel 

terhadap Pangeran Adi dan Tatata Tititi. 

"E… Hujan celaka !" akhirnya meledak kejengkelan Si Tapak 

Api, alias Buto Gunoro sang calon Patih Kerajaan. "Mengapa justru 

turun saat pasukan kita siap bergerak!" 

"Tenang saja Suto. Sebentar lagi hujan pasti berhenti. Begituberhenti kita segera bergerak menuju Kotaraja," berkata Pengemis 

Kaki Kayu. 

"Kalau segera berhenti, kalau tidak…? Kita bisa terlambat dan 

kesiangan sampai di sasaran!" 

"Kalaupun hujan tidak berhenti, apakah kita takut menempuh 

malam dan hujan?" bertanya Dewa Tongkat Kesatu. 

"Tidak ada yang perlu kita takuti di dunia ini, tapi jangan tolol. 

Cuaca bisa membuat kacau gerakan kita!" kata Si Tapak Api tambah 

jengkel. "Apa sebenarnya yang terjadi di luar sana? Siapa yang pandai 

melihat cuaca?! Tatata Tititi, kau pasti tahu soal cuaca. Coba lihat 

keluar, apakah hujan akan reda atau tidak?!" 

Tatata Tititi tampak terkejut. Dia hentikan membenahi wajahnya 

dengan bedak merah itu, memandang Si Tapak Api dan tersenyum. 

Lalu terdengar suaranya yang kecil. 

"Kalau aku berhujan-hujan keluar, bedakku, gincuku, alisku... 

semua akan luntur! Hik...hik! Mukaku akan lebih buruk dari pantat 

kuali! Suruh saja yang lain…" 

Si Tapak Api menjadi sewot perintahnya ditampik begitu rupa. 

Dia menjangkau sebuah caping lebar dari bambu dan melemparkarnya 

pada Tatata Tititi. "Pakai caping itu! Wajahmu tak akan kehujanan! 

Ingat! Kekuasaan dan perintah tertinggi ada pada Pangeran Adi. Dan 

aku mewakilinya. Jadi jangan ada yang berani menolak perintah…" 

Tatata Tititi batuk-batuk beberapa kali. Caping yang dilemparkan 

orang terpaksa disambutnya dan dikenakannya di atas kepalanya. Lalu 

dibukanya pintu rumah. Saat itu udara di luar mulai gelap. Hujan lebat 

seperti tidak bisa ditembus dengan pandangan mata. Dengan langkah 

terhuyung-huyung Tatata Tititi berjalan menuju bagian bukit yangagak tinggi. Seharusnya dari situ dia bisa melihat teluk dan laut. Tapi 

malam yang mulai turun dan derasnya hujan membuat 

pemandangannya terbatas hanya sampal dua tombak saja. Sambil 

menggigil kedinginan Tatata Tititi memandang berkeliling, mencari-

cari pohon yang baik dan mudah untuk dipanjat. Dia menemukan 

sebatang pohon yang tidak terlalu tinggi dengan cabang-cabang yang 

berdekatan satu sama lain. Sekali lagi orang yang mengaku banci ini 

memandang berkeliling. Lalu sekali dia menggenjot kaki maka 

tubuhnya pun melayang ke atas cabang kedua. Walaupun dia kini 

berada di atas pohon, tetap saja dia tidak papat melihat jauh ke arah 

laut. Yang kelihatan hanya sambaran-sambaran kilat lalu suara guntur 

yang seperti hendak merobek langit. Namun sebenarnya bukan untuk 

dapat melihat laut yang menjadi tujuan si muka celemong ini untuk 

naik ke atas pohon. Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah 

benda bulat panjang sebesar ibu jari. Bagian atas benda ini ada 

sumbunya sedang sebelah bawah ditancapi sepotong bambu kecil 

sebesar lidi. Dari sakunya yang lain dia mengeluarkan sepasang batu 

api. 

"Celaka, batu api ini basah…!" Lalu Tatata Titi gosok-gosokkan 

dua batu api itu kepakaiannya agar kering. Sementara itu di dalam 

rumah kecil, Si Tapak Api terdengar marah-marah karena sepasang 

batu apinya lenyap entah kemana. Padahal yang kini berada di tangan 

Tatata Tititi itulah batu api miliknya, dicuri oleh si muka seronok! 

Setelah sepasang batu api kering dan dia berusaha sedapat 

mungkin melindungi benda bulat bersumbu agar tidak terkena air 

hujan, maka Tatata Tititi mulai menggosok sepasang batu api itu satu 

sama lain. Karena dia menggosok dengan ketakutan kuat dan kerasmaka sebentar saja apipun memerclk. Tetapi ketika lidah api 

didekatkan ke sumbu benda bulat panjang, tiupan angin yang keras 

mematikanya. 

"Setan alas!" maki Tatata Tititi. Sampai empat kali dia mencoba 

akhirnya baru sumbu itu dapat dibakarnya dengan nyala api. Karena 

terbuat dari sejenis kain yang cepat dimakan api, sumbu itu serta 

merta terbakar. Api menyulut ke bagian benda bulat. Terdengar suara 

mendesis panjang. Tatata Tititi lepaskan pegangannya pada bambu 

kecil. Seperti didorong oleh sesuatu kekuatan yang keras, dalam 

keadaan menyala benda bulat panjang itu melesat ke udara. Siapapun 

yang berada di delapan penjuru angin pasti akan melihat nyala 

terangnya, walaupun hanya seketika yakni sebelum padam diterpa air 

hujan dan udara dingin. Tatata Tititi untuk sesaat masih mendekam di 

atas pohon itu. Dia lebih banyak mempergunakan ketajaman 

telinganya dari pandangan mata. 

"Ada badai yang bakal turun. Air laut akan segera naik. Pasang 

pasti akan menenggelamkan goa...." 

Lalu dia turun dari atas pohon kembali ke dalam rumah. 

"agaimana? Apa yang bisa kau laporkan…?!" Si Tapak Api 

langsung bertanya begitu Tatata Tititi muncul di pintu. 

"Kita harus berangkat saat ini juga. Ada badai besar berkecamuk 

di laut. Dalam waktu cepat air laut akan pasang dan goa panjang satu-

satunya jalan menuju ke pantai akan terendam air!" 

Mendengar keterangan Tatata Tititi itu Pangeran Adi Bintang 

Sasoko melompat dan memegang lengan Si Tapak Api kuat-kuat. 

Wajahnya menunjukkan ketakutan. "Aku tak mau mati ditabrak badai! 

Aku tak mau mampus tenggelam di tempat ini! Aku harus hidupkarena aku harus jadi Raja! Dan permaisuriku itu.... Dia yang nomor 

satu harus diselamatkan…!" 

"Tenang Pangeran... tenang! Semua akan kita atur dengan cepat. 

Kita akan segera meninggalkan tempat ini!" Si Tapak Api lalu 

memanggil semua tokoh silat dan para Adipati yang ikut dalam 

pertemuan malam tadi, termasuk Pendekar 212 Wiro Sableng. 

"Kita semua akan beprangkat saat ini juga. Kalian harus 

mengambil kedudukan dan tanggung jawab sesuai yang sudah diberi 

tahu. Aryo Ladam, kau dan Tongkat Dewa Kedua serta dua orang 

Adipati bertugas mengawal dan menjaga keselamatan pangeran Adi 

dan Winayu Tindi! Ingat, sebelum mencapai jembatan di dukuh 

Sitomulyo, mereka harus kalian bawa ke tempat rahasia yang sudah 

ditetapkan dan menunggu di sana sampai ada utusan datang! Aryo, 

cepat kau jemput gadis itu bersama Ki Demang Wesi…" 

Aryo Ladam cepat tinggalkan tempat itu, berlari di bawah hujan 

menuju rumah kecil di mana Winayu Tindi dan Ki Demang Wesi 

berada. Tak lama kemudian calon Kepala Pegawal Raja ini kembali 

dengan muka pucat. 

"Ada apa.... ? Mana kedua orang itu...?!" tanya Si Tapak Api. 

"Gadis itu tak ada di dalam rumah sana. Ki Demang Wesi 

kutemui dalam keadaan tertotok. Aku berusaha melepaskan 

totokannya tapi tidak bisa!" 

Pangeran Adi Bintang Sasoso keluarkan suara seperti meraung 

menangis lalu lari menghambur keluar, diikuti oleh yang lain-lain. 

Ketika sampai di rumah sebelah memang di situ hanya ditemul Ki 

Demang Wesi tegak kaku tak bergerak di tengah ruangan, menghadap 

ke dinding membelakangi pintu. Winayu Tindi sama sekali tak ada ditempat itu. 

Si Tapak Api memeriksa keadaan Ki Demang Wesi sesaat lalu 

menusukkan dua ujung jari tangan kanannya ke punggung untuk 

melepaskan totokan di tubuh orang itu. Tapi gagal. Totokan itu tidak 

musnah. Paras Si Tapak Api tampak berubah. 

"Ini bukan totokan sembarangan! Tak mungkin gadis itu yang 

melakukannya lalu melarikan diri! Ada pengkhlanat di antara kita! 

Musuh telah menyusup di tempat ini!" kata calon Patih itu dengan 

mata berapi-api lalu menatap semua orang yang ada di situ satu 

persatu. 

"Ka1au begitu pendapatmu, berarti calon permaisuri telah diculik 

orang!" kata Dewa Tongkat Kesatu. 

Mendengar ini kembali Pangeran Adi Bintang Sasoko meraung 

dan jatuhkan diri ke lantai lalu menangis seperti anak kecil. 

"Manusia gila! Sedeng!" maki Si Tapak Api dalam hati. Dia sama 

sekali tidak memperdulikan sang Pangeran. Beberapa kali dia 

berusaha melepaskan totokan di tubuh Ki Demang Wesi, tapi tetap 

saja tak berhasil. 

"Biar aku yang tolol dan banci ini mencobanya!" berkata Tatata 

Tititl. Dia maju mendekati Ki Demang Wesi, menelitinya sesaat lalu 

tiba-tiba sekali dia menarik celana Kepala Desa Parangtritis itu hingga 

melorot ke bawah. Di sebelah muka tampak perut dan pusatnya yang 

penuh bulu, di sebelah belakang tampak pantatnya yang jelek hitam. 

"Manusia banci! Apa yang kau lakukan ini?!" teriak Si Tapak Api 

sementara yang lain-lain tampak senyum-senyum dan Wiro sendiri 

hanya garuk-garuk kepala. 

"Jangan berpikir yang bukan-bukan!" Sahut Tatata Tititi. "Pusatpengunci totokan aneh ini ada dipusarnya!" Lalu Tatata Tititi menusuk 

pusar Ki Demang Wesi kuat-kuat dengan jari telunjuk tangan 

kanannya. Ki Demang menjerit. 

Duuutttt! 

Angin busuk keluar dari bagian bawah Ki Demang Wesi 

membuat semua orang menyumpah dan menekap hidung karena 

baunya yang seperti hendak meruntuhkan bulu hidung. Namun di saat 

itu pula Ki Demang Wesi tampak bergerak lalu menggeliat dan 

akhirnya membuat gerakan seperti meronta. Ternyata dia kini telah 

bebas dari totokan aneh luar biasa itu. 

"Ki Demang! Ceritakan apa yang terjadi ?!" tanya Si Tapak Api. 

"Aku mendengar suara angin bersiur, lalu tubuhku terdorong ke 

depan dan ketika aku sadar, kudapati tubuhku sudah kaku, tak bisa 

bergerak, tak bisa bersuara. Winayu Tindi lenyap!" 

"Kau sama sekali tidak melihat siapa yang melakukan?" tanya 

Dewa Tongkat Kedua. 

Ki Demang Wesi menggeleng. 

"Permaisuriku… Permaisuriku!" Kembali terdengar raungan 

Pangeran Adi Sasoko. 

"Pangeran tenanglah. Kita pasti menemukan gadis itu...." kata 

Tatata Tititi. Tapi sang Pangeran terus meraung seperti anak kecil. 

Tiba-tiba seseorang muncul di pintu. Dia adalah salah seorang 

yang ditugasi memimpin satu kelompok pasukan. 

"Ada apa?!" membentak Si Tapak Api. 

"Saya datang untuk melaporkan keadaan di luar. Air laut mulai 

menggenangi mulut goa. Badai dari laut mulai menerjang tepi pantai. 

Pohon-pohon bertumbangan. Banyak kuda yang terlepas dan lari.Anggota pasukan mulai resah…" 

Si Tapak Api mendekati Sepasang Dewa Tongkat. Ketiga orang 

ini bicara berbisik-bisik. Lalu Si Tapak Api berkata pada orang yang 

melapor. "Kembali ke tempatmu. Beritahu semua orang untuk 

bersiap-siap. Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Langsung 

menuju Kotaraja! Atur pasukan dan siapkan senjata masing-masing! 

Aryo Ladam, kuminta kau pergi bersama orang ini... " 

Aryo Ladam mengangguk lalu tinggalkan tempat itu, tetapi si 

pelapor masih tetap berdiri di tempatnya. "Ada lagi satu hal penting 

terjadi di luar sanal Dua orang pengintai melihat ada tiga rombongan 

besar pasukan Kerajaan. Mereka datang dari timur, utara dan barat, 

menuju ke arah teluk, mengurung semua jalan keluar!" 

Terkejutlah semua orang yang ada di situ. Suasana berubah 

tegang sementara Pangeran Adi masih terus meraung-raung sambil 

jambaki rambutnya sendiri. 

"Kurang ajar! Bagalmana ini bisa terjadi kalau tidak ada 

ponghianatan diantara kita! Musuh dalam selimut! Penyusup 

keparat…!" teriak Si Tapak Api sambil kepalkan kedua tangannya. 

"Lekas mengaku! Siapa di antara kalian yang jadi penghianat di 

tempat ini! Siapa di antara kalian yang jadi mata-mata Kerajaan! 

Kalau tidak ada, masakan pasukan Kerajaan tahu-tahu sudah berada di 

sekitar teluk! Berarti mereka paling tidak sejak satu hari lalu sudah 

bersembunyi di luar sana!" 

Tak ada yang bergerak. Tak ada yang menjawab. 

"Baik!" ujar Si Tapak Api dengan rahang menggembung, mata 

berapi-api dan suara bergetar saking marahnya. "Tidak apa kalau tidak 

ada yang mau mengaku! Tapi dengar kalian semua! Malam lalu kaliantelah berpesta pora dengan tuak harum! Tapi tuak itu mengandung 

racun ganas. Dalam dua minggu kalau tidak dapat obat penawarnya, 

kalian akan mampus dengan usus hancur dan rasa sakit luar biasa! 

Siapa yang ketahuan menjadi pengkhianat, begitu Kotaraja jatuh dan 

tahta Kerajaan direbut, jangan harap akan kuberikan obat penawar 

racun!" 

Mendengar kata-kata Si Tapak Api itu tentu saja semua orang 

yang ada di situ jadi terkejut dan marah. Beberapa di antaranya segera 

melompat ke hadapan Si Tapak Api. Si Pengupas Kepala angkat 

kedua tangannya. Si Tapak Api mundur selangkah. Sambil 

menyeringai dia berkata, "Aku tidak takut mati! Kalian boleh 

membunuhku sekarang juga! Tapi kalian sendiri akan mampus dua 

minggu kemudian! Silahkan pilih! Ikut bersamaku meneruskan 

rencana semula dan kuberi obat penawar atau kalian memilih bunuh 

diri sendiri-sendiri dengan racun yang ada dalam perut dan darah 

kalian!" 

"Jahanam kau Tapak Api!" mendamprat Pengemis Kaki Kayu. 

"Kami sudah percaya padamu dan ikut bersamamu! Mengapa harus 

menipu dan mencelakai kami dengan racun dalam minuman?!" 

"Manusia keparat! Pasti dia menyembunyikan satu maksud yang 

tidak baik terhadap kita! Jangan-jangan kita hanya dijadikan alat 

belaka!" Membuka mulut Tatata Tititi. 

"Tidak satupun di antara kalian yang akan mati, kecuali para 

penghianat. Aku akan memberikan obat penawar pada hari ke tiga 

belas! Jabatan dan hadiah yang telah dijanjikan tetap akan menjadi 

bagian kalian! Sekarang bukan saatnya bicara panjang lebar. Lekas 

tinggalkan tempat ini... "Baru saja Si Tapak Api mengakhiri kata-katanya, tiba-tiba angin 

dahsyat menderu. Bangunan kecil di mana mereka berada terdengar 

berderak. Lalu terdengar suara gemuruh ketika atap rumah itu terbang 

dihantam angin bersama sebagian dinding bangunan. Beberapa pohon 

di sekitar tempat itu terdengar berderak bertumbangan. 

"Badai sudah sampai di sini!" teriak Tombak Dewa Kesatu. 

Semua orang melompat keluar darl runtuhan rumah kecuali 

Pangeran Adi Bintang Sasoko. Dia masih saja menjelepok di lantai 

dan meraung. Si Tapak Api cepat angkat tubuhnya namun sang 

Pangeran meronta sambil berteriak-teriak. "Aku tidak mau pergi! 

Mana permaisuriku! Cari dulu dia! Aku harus pergi bersamanya!" 

"Pangeran! Permaisurimu pasti akan kita temui! Yang penting 

saat ini kita harus tinggalkan tempat ini! Sebentar lagi badai akan 

menghancurkan semua yang ada di bukit ini! Air laut akan semakin 

naik dan jalan menuju goa akan tertutup!" berkata Si Tapak Api. 

Tapi Pangeran berotak miring itu malah menjerit, dan 

menggembor lalu menyerang Si Tapak Api. Si Tapak Api tak dapat 

menahan kejengkelannya lagi. Begitu sang Pangeran sampai di 

hadapannya serta merta ditotoknya hingga kaku dan gagu. 

"Pendekar 212! Tugasmu memanggul tubuh calon Raja kita!" 

memerintah Si Tapak Api. 

"Bukankah tugasku bersama Pengemis Kaki Kayu dan Si 

Pengupas Kepala berangkat duluan menuju Kotaraja untuk 

menghabisi tokoh-tokoh silat Istana?" menjawab Wlro. 

"Jangan toloi! Jangan berani menampik perintahku!" bentak Si 

Tapak Api dengan mata mendelik. "Kalau pasukan Kerajaan sudah 

muncul di Parangtritis apa kau kira para tokoh itu masih buta tidakmengetahul apa yang terjadi? Apa kau kira mereka enak-enakan tidur 

dan ngorok?! Jalankan perintahku!" 

Wlro garuk-garuk kepala lalu memanggul tubuh Pangeran Adi. 

"Bebanku berat! Aku tak bisa berjalan cepat! Kalian berangkatlah 

duluan!" ujar murid Sinto Gendeng pula. 

Ketika orang-orang itu berjalan menuruni bukit dan satu demi 

satu memasuki goa panjang menuju ke pantai, Pandekar 212 dengan 

cepat turunkan beban sang Pangeran lalu menyandarkannya ke sebuah 

pohon. Dengan mempergunakan akar gantung Wiro mengikat tubuh 

pangeran itu ke pohon tersebut! 

Selesai mengikat Pangeran Adi Wiro lari ke bagian timur bukit, 

menyelinap ke balik serumpun semak belukar. Sesosok tubuh 

perempuan berpakaian biru yang basah kuyup oleh air hujan, tampak 

dalam kegelapan malam. Kedua matanya terpejam. Perempuan ini 

ternyata adalah Winayu Tindi yang sebelumnya telah dilarikan oleh 

Wiro untuk diselamatkan lalu disembunyikan di semak belukar itu. 

Dengan tangan kanannya Wiro mengurut melepas totokan pada 

tengkuk Winayu Tindi. Kedua mata gadis ini tampak bergerak lalu 

membuka. Mulutnya terbuka dan siap untuk menjerit. Wiro cepat 

menutup mulut sang dara. 

"Anak manis... jangan menjerit. Jangan takut. Kita bisa selamat 

dari tangan-tangan pemberontak itu asalkan kau mau menuruti 

nasihatku..." 

"Kau! Kau menyebut mereka pemberontak, kau sendiri salah 

seorang dari mereka!" tukas Winayu Tindi. 

Wiro menyeringai. "Kau tidak beda dariku, anak manis..." 

"Jangan sebut aku anak manis! Aku bukan anak-anak…"Tapi kalau orang-orang Kerajaan tahu kau membantu kaum 

pemberontak, nasibmu akan lebih buruk dariku. Sekarang dengar 

baik-baik! Aku tahu siapa pembunuh kedua orang tuamu dan kusir 

delman itu!" 

Paras Winayu Tindi berubah. Dia berdiri dengan cepat. "Siapa?!" 

tanyanya menjerit di antara deru hujan dan angin. Sementara malam 

tambah gelap dan udara dingin bukan main. 

"Aku akan katakan itu nanti. Yang penting mari tinggalkan 

tempat celaka ini!" 

Gadis itu tidak menolak lagi ketika Wiro menarik tangannya. 

Ketika melewati pohon di mana Pangeran Adi terikat sang dara 

berbunyi. "Apa yang terjadi dengan Pangeran gila itu?!" 

"Dia sedang mimpi jadi raja! Dan kau permaisurinya!" jawab 

Pendekar 212. 

"Kau sama saja saja sablengnya dengan Pangeran itu! Dalam 

keadaan seperti ini masih bisa bergurau! Keterlaluan!" Winayu 

merengut jengkel tapi dalam hati dia merasa geli juga melihat tingkah 

laku pemuda itu. 

Di mulut goa dengan susah payah Wiro berhasil mendapatkan dua 

ekor kuda yang sebelumnya memang ditambatkan di sekitar situ. 

"Aku akan berangkat lebih dulu menyusul orang-orang itu. Kau 

berjalan di sebelah belakang. Tapi ingat, harus mengatur jarak. Meski 

hujan dan gelap, tokoh-tokoh silat itu punya mata setajam setan! 

Jangan sampai kau terlihat oleh mereka!" 

***

WIRO MEMACU kudanya meninggalkan Winayu Tindi. Saat itu 

hujan mulai mereda tetapi tiupan angin tambah menggila dan malam 

semakin pekat. Air laut naik terus. Di bagian tepi pantai yang tertinggi 

mencapai sebatas kuku kuda. Di sebelah depan ratusan pasukan 

pemberontak bergerak di bawah pimpinan Aryo Ladam dan tiga orang 

Adipati. Menyusul di sebelah belakang masing-masing menunggang 

kuda adalah Si Tapak Api, Sepasang Tombak Dewa lalu Ki Demang 

Wesi. Di belakang ketiga orang ini bergerak Pengemis Kaki Kayu dan 

Si Pengupas Kepala. Sedang Tatata Tititi yang memakai caping 

menunggang kuda agak jauh di ujung kanan pasukan. 

Pasukan pemberontak bergerak perlahan. Bukan saja karena hujan 

dan angin badai tetapi juga karena semuanya kini diliputi 

kebimbangan. Rasa bimbang ini berasal pada apa yang kini mereka 

katahui dan hadapi yaitu munculnya tiga kelompok besar pasukan 

Kerjaan secara tidak terduga dan menjepit mereka dari tiga jurusan. 

Padahal sebelumnya mereka penuh semangat den harapan untuk 

menyerbu Kotaraja dengan serangan mendadak di mana pasti lawan 

berada dalam keadaan lengah. Kini sebaliknya malah pasukan 

Kerajaan yang datang muncul dan menyerbu di pusat markas mereka 

di teluk Parangtritis. Dua badai harus mereka hadapi kini. Badai alam 

berupa hujan dan angin serta pasukan musuh! 

Wiro mengusap mukanya yang basah oleh air hujan lalu memacu 

kudanya mendekati Tatata Tititi. Sejarak lima belas langkah dari banciberbaju gombrang merah itu mendadak Wiro mendengar suara 

mengiang. "Dalam setiap urusan dan kesempatan, selalu perempuan 

cantik saja yang jadi perhatianmu. Kau lemparkan kemana Pangeran 

Gila itu? Hik...hik...hik…" 

"Eh, suara itu lagi..." desis Wiro. Dia memandang ke arah orang 

bercaping itu lalu bergerak mendekatinya. "Hanya dia tokoh silat yang 

terdekat denganku..." Begitu berada di samping Tatata Tititi. Wiro 

menegur. "Aku sudah curiga sejak sehari lalu, kau pasti orang yang 

mengirimkan ucapan jarak jauh itu! Dan aku yakin kau bukan banci! 

Siapa kau ini sebenarnya badut celemongan?!" 

Orang yang ditegur tertawa haha-hihi. Kedua tangannya bergerak 

lalu bret-bret-breettt dia merobeki pakaian merah yang dikenakannya. 

"Hai! Kau mau menelanjangi diri sendiri?!" seru Wiro. Dalam 

hati dia berkata, "Lain pula cara gila manusia satu ini!" 

Tatata Tititi terus saja merobeki pakaiannya lalu mencampakkan 

pakaian itu ke tanah yang telah digenangi air laut. Ternyata di balik 

pakaian merah yang ada sulaman mahkota dan keris bersilang itu dia 

masih mengenakan sehelai pakaian berwarna hitam. Selagi Wiro 

keheranan melihat kelakuan orang ini, si muka celemongan angkat 

capingnya dari atas kepala lalu acuh tak acuh tapi lebar dari bambu ini 

dilemparkannya ke arah kiri. Benda ini melesat deras di udara, 

menembus hujan dan angin lalu menghantam Adipati Klaten Jaliteng 

Teguh. Ternyata lemparan caping itu merupakan satu totokan yang 

hebat. Karena begitu caping itu menghantam punggungnya, serta 

merta Jaliteng Teguh menjadi kaku dan gagu tanpa orang-orang di 

sekitarnya menyadari kejadian itu. Mereka hanya melihat sang Adipati 

tetap duduk di atas punggung kuda yang terus bergerak.Karena kepalanya tidak lagi memakai caping maka air hujan 

mengguyur wajah Tatata Tititi membuat luntur bedak tebal, gincu dan 

alis yang celemongan itu. Kini kelihatanlah wajah yang asli. Wajah 

itu berkulit hitam pekat! 

"Hai!" Wiro berseru kaget."Jadi kau Nenek Hitam Bergigi Emas! 

Tapi mengapa gigi-gigimu tampak putih?!" 

Si nenek tertawa pendek. Lalu buka mulutnya lebar-lebar dan 

masukkan jari-jari tangannya ke dalam mulut itu. Dia seperti menarik 

sesuatu berbentuk lapisan kenyal tipis berwarna putih. Begitu lapisan 

tipis itu tanggal, kelihatan barisan gigi-giginya yang terbuat dari emas. 

Selagi Wiro tercengang-cengang, si nenek berkata, "Anak muda, 

kalau orang-orang Kerajaan melihatmu dalam pakaian bersulamkan 

lambang pemberontak mahkota dan keris bersilang itu, kau akan 

mereka cincang habis-habisan! Lekas kau tanggalkan pakaian itu!" 

"Hem mm… Jadi itu sebabnya kau membuang baju merahmu 

tadi, nek...!" Wiro berkata. "Baju darimu ini cukup bagus, sayang 

kalau dibuang. Biar sulamannya saja yang aku robek!" Wiro angkat 

bagian dada kiri pakaian ke mulutnya, lalu menggigit sulaman benang 

merah dan sekalipus menariknya. Breeett! Dada kiri pakaian itu kini 

bolong sebesar telapak tangan. Sulaman mahkota dan keris bersilang 

lenyap. 

"Aku tak mau kedinginan...." kata Wiro. "Nek, aku tak tahu 

banyak tentang dirimu. Tapi karena kau yang memberikan pakaian 

bersulam ini beberapa hari yang lalu, apakah kau bukannya salah 

seorang dari pentolan pemberontak itu?" 

Nenek Hitam Bergigi Emas menyeringai. "Anak muda, aku 

adalah salah seorang tokoh silat Istana yang berhasil menyusup kedalam komplotan dan markas pemberontak. Kita sama satu haluan. 

Apa salahnya aku mengajakmu membantuku, berbakti kepada 

Kerajaan!" 

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Sebentar lagi dua 

pasukan akan bertemu muka dan beradu senjata!" 

"Kita harus berusaha menangkap hidup-hidup. Terutama Si Tapak 

Api. Dialah dalang dari pemberontakan ini. Dia punya rencana keji. 

Berpura-pura merebut tahta untuk Pangeran gila itu, padahal begitu 

dia menang, Pangeran itu akan dibunuhnya lalu mengangkat diri 

sebagai Raja..." 

"Aku sudah tahu hal itu. Apakah dua malam yang lalu kau ikut 

mencuri dengar pembicaraan rahasia antara Si Tapak Api dengan Ki 

Demang Wesi?" bertanya Wiro. 

Si nenek tertawa. "Aku berada di pohon satunya ketika kau 

mendekam di pohon yang lain .... Dengar, kita tidak punya waktu 

lama. Usahakan Pengemis Kaki Kayu dan Si Tapak Api. Yang lain-

lainnya bagianku!" 

Namun terlambat. Di depan sana dua ujung tombak pasukan 

sudah saling bertamu. Pertempuran hebat tidak dapat dielakkan lagi. 

Dua pasukan yang berkekuatan hampir sama baku hantam. Suara 

beradu senjata, pekik kesakitan dan kematlan ditimpal oleh ringkikan 

kuda serta deru hujan dan angin. Darah mengucur, membuat genangan 

air laut tampak merah dalam kegelapan malam. 

Di ujung sebelah depan pasukan pemberontak, Aryo Ladam dan 

tiga Adipati mengamuk ganas. Belasan prajurit Kerajaan tewas di 

tangan mereka. Seorang penunggang kuda bertubuh tinggi besar 

merangsek ke depan menghadang gerakan Aryo Ladam. Diamembentak, "Manusia pengkhianat, kau kuberi kesempatan menyerah, 

kecuali kalau menginginkan mampus dengan noda memalukan!" 

Si tinggi besar itu adalah perwira tinggi atasan langsung Aryo 

Ladam. 

"Majurai! Jangan bicara besar di depan malaikat mautmu! Aku 

tawarkan kau menyebrang ke pihakku atau akan mampus percuma!" 

Majurai si perwira tinggi mendengus marah lalu sabatkan 

kelewang di tangan kanannya. Bekas bawahan dan atasan itu langsung 

terlibat dalam pertempuran satu lawan satu yang seru. Namun setelah 

beberapa kali gebrakan Aryo Ladam tak dapat menandingi kehebatan 

atasannya yang memang terlatih dalam pertempuran di atas kuda. 

Kelewang Majurai mercbek dada Aryo Ladam. Perwira muda yang 

memberontak karena mengharapkan jabatan dan pangkat yang lebih 

tinggi ini terhuyung-huyung dengan dada bersimbah darah lalu 

terjungkal ke tanah. Terdengar sesaat suara erangannya, sesudah itu 

nafasnyapun berhenti! 

Majurai putar kudanya. Namun gerakannya tertahan. Tiga Adipati 

bersenjata golok panjang mengurungnya. Tanpa memberi banyak 

kesempatan ketiga Adipati langsung menyarang. Kali ini kehebatan 

Majurai tidak sanggup menghadapi keroyokan salah seorang dari tiga 

lawannya namun dirinya sendiri kemudian menderita dua bacokan 

parah, membuatnya menjadi korban pertama berpankat tinggi di pihak 

Kerajaan. 

Dari arah belakang barisan pasukan Kerajaan, tiga penunggang 

melesat dengan sebat. Satu di antaranya langsung menuju dua Adipati 

yang tadi mengeroyok si perwira tinggi. Empat prajurit pemberontak 

yang juga menunggang kuda cepat menyongsong. Dua hantamkantombak, satu tusukkan pedang dan yang keempat membabat dengan 

golok. Yang dikeroyok tampak gerakkan tangan ke pinggang. Dalam 

kegelapan berkilat sinar biru hampir kehitaman. Terdengar suara 

menderu lalu suara senjata berdentrangan dan terakhir suara jeritan 

empat penyerang. Tubuh mereka sesaat tergontai di atas punggung 

kuda masing-masing. Senjata tak lagi tergenggam di tangan. Ada luka 

yang mengeringkan di dada, leher, perut dan kepala. Darah mengucur. 

Satu demi satu tubuh yang tergontai itu rubuh dan jatuh ke tanah yang 

digenangi air laut. 

"Iblis Pedang Biru!" desis Si Tapak Api dengan suara bergetar 

ketika mengenali siapa adanya penunggang kuda yang barusan 

membabat empat prajurit dengan satu gebrakan saja! "Dia bukan 

tokoh silat Istana! Bagaimana tahu-tahu muncul dan berada di pihak 

Kerajaan...?!" 

Si Tapak Api berpaling ke kiri. Pada saat itu dua penunggang 

kuda yang tadi melesat ke depan bersama Iblis Pedang Biru sudah 

berada pula di sekitar situ. Melihat dua orang itu kembali Si Tapak 

Api jadi tergetar. Yang muncul lagi-lagi bukan tokoh silat Istana, 

tetapi dua datuk dunia persilatan golongan putih yang sama sekali 

tidak diduga akan muncul di pihak Kerajaan. Mereka adalah Si 

Benang Malaikat lalu Pendekar Paku Beracun. Seperti Iblis Pedang 

Biru, kedua datuk persilatan inipun sudah tua renta dan sama-sama 

berambut putih panjang. Ketika memandang ke jurusan lain, Si Tapak 

Apt melihat dua tokoh silat Istana muncul dengan membawa senjata 

aneh di tangan yakni satu berupa cakra besi yang diberi bertongkat 

hingga berbentuk payung kecil dan satunya lagi sebuah kelewang 

yang memiliki rantai-rantai kecil. Pada setiap ujung rantai terdapatpotongan besi berbentuk mata tombak! Si Tapak Api sama sekali 

tidak takutkan dua tokoh silat Istana ini. Tapl kemunculan tiga tokoh 

silat lainnya tadi benar-benar membuatnya harus memutar akal dengan 

cepat. Dia memandang ke arah Ki Demang Wesi. Kepala Desa 

Parangtritis ini tak bakal sanggup menghadapi salah satupun dari 

tokoh silat Istana itu. Maka dia berseru dan memberi isyarat pada 

Sepasang Tombak Dewa, bahkan berteriak ke arah Si Pengupas 

Kepala. 

"Hadapi tiga orang di sebelah depan itu! Aku akan menghadang 

dua tokoh silat Istana. Ki Demang minta Pendekar 212 dan Pengemis 

Kaki Kayu membantu! Cepat!" 

Ki Demang Wesi segera menghambur ke arah di mana Wiro 

Sableng berada. Tapi begitu dia menghampiri pendekar ini, belum 

sempat membuka mulut, satu totokan keras menghantam pangkai 

lehernya. Kepala Desa Parangtritis ini terhuyung lalu menelungkup 

kaku di atas punggung dan leher kuda. 

"Bagus!" memuji Tatata Tititi alias Nenek Hitam Bergigi Emas. 

Lalu perempuan ini tarik leher tunggangan Ki Demang Wesi hingga 

binatang ini menghadap ke arah pantai. "Pergi ke tepi pasir dan 

tunggu di sana!" Si nenek usap kepala binatang itu, lalu tepuk 

pinggulnya. Seolah-olah mengerti perintah itu, si kuda berlari menuju 

ke pantai, tepat dari arah mana Winayu Tindi mendatangi. 

"Tapak Api, kulihat urusan bisa jadi kapiran tidak karuan!" 

terdengar suara Pengemis Kaki Kayu. 

"Apa maksudmu?!" tanya Si Tapak Api. 

"Aku tidak takut menghadapi lima musuh kelas berat itu! Yang 

aku khawatirkan justru dirimu! Jika kau mampus di tangan mereka,bagaimana dengan obat penawar racun itu! Kami tidak ingtn mati 

konyol di hari ke tiga belas sedangkan kau sudah mampus duluan!" 

"Aku tidak akan mati lebth cepat darimu, Pengemis Kaki Kayu! 

Mari kita serbu mereka!" Terdengar suara bergemerincing. Ternyata 

itu adalah suara kuku-kuku jari SI Pengupas Kepala yang seperti 

potongan-potongan besi tipis dan tajam. 

"Kau saja yang menyerbu mereka sendirian Tapak Api!" berkata 

Sf Pengupas Kepala. "Tetapi berikan dulu obat penawar racun itu! 

Aku mendapat kisikan dari Tatata Tititi bahwa kau dan Ki Demang 

Wesi punya maksud busuk tersembunyi. Perjuangan yang katamu 

untuk menobatkan Pangeran Adi adalah sandiwara keji belaka. Bila 

Kotaraja jatuh kau akan membunuh Pangeran itu lalu mengangkat diri 

jadi Raja. Dan kami yang membantumu dan semua yang sudah kau 

racuni secara keji akan kau biarkan mati konyol!" 

Paras Si Tapak Api berubah. "Dusta keji! Manusia banci itu 

ternyata seorang tukang fitnah!" 

Terdengar suara tertawa gelak. Semua orang berpaling dan 

melihat Pendekar 212 beserta seseorang yang sebelumnya tak pernah 

mereka lihat. 

"Sahabatku Tatata Tititi tidak pernah dusta dan tidak pernah 

fitnah! Dua malam lalu aku turut mencuri dengar rencana kejimu itu 

waktu kau bicarakan dengan Ki Demang Wesi seusai pertemuan!" 

"Bangsat keparat! Ada komplotan busuk dalam perjuangan ini! 

Mana manusia banci Tatata Tititi itu!" 

Si nenek di samping Wiro tertawa ngekeh. "Dia bukan banci. 

Namanya bukan Tatata Tititi tapi Nenek Hitam Bergigi Emas! Tokoh 

silat Istana! Dan akulah orangnya""Penyusup pengkhianat! Sepasang Tombak Dewa! Bunuh tua 

bangka keparat bermuka hitam itu! Dan kau! Biar aku yang menghajar 

Pendekar Sableng ini! Sejak semula aku memang sudah curiga 

padanya!" 

Sepasang Tombak Dewa serta merta menyerbu Nenek Hitam 

Bergigi Emas sedang Si Tapak Apt gosokkan kedua tangannya keras-

keras. Terdengar suara meletup. Lidah api keluar dari sela kedua 

tangan yang digosokkan, langsung menyambar ke arah Wiro Sableng! 

Murid Sinto Gendeng itu melompat dari punggung kuda sambil 

cabut Kapak Naga Gent 212. Terdengar kuda yang tadi 

ditungganginya meringkik keras, disusul bau daging hangus terbakar. 

Kuda itu tampak rebah ke tanah. Sebagian tubuhnya hangus dihantam 

lidah api serangan Si Tapak Api! 

Sepasang Tombak Dewa sebelumnya sudah tahu betul siapa 

adanya Nenek Hitam Bergigi Emas, maka begitu menyerang, 

keduanya sudah pergunakan tombak pendek masing-masing. 

Tiga tokoh silat yaitu Iblis Pedang Biru, Si benang Malaikat dan 

Pendekar Paku Beracun tampak terheran-heran ketika melihat di 

antara sesama pentolan pemberontak saat itu terjadi saling serang! 

Lain halnya dengan dua tokoh silat Istana yang membekal senjata 

aneh. Mereka sudah mengetahui bahwa Nenek Hitam bergigi Emas 

memang sengaja disusupkan ke dalam komplotan pemberontak, 

namun mereka tidak mengenal siapa adanya pemuda yang saat itu 

diserang Si Tapak Api dengan lidah apinya yang ganas. 

Iblis Pedang Biru mengambil sebuah terompet yang tergantung di 

leher kuda lalu meniupnya kuat-kuat. Mendengar tiupan terompet itu, 

seluruh pasukan Kerajaan hentikan pertempuran dan cepat mundur

sampai sejarak lima tombak dari pasukan pemberontak, membuat 

pasukan pemberontak terheran-heran. 

"Kalian akan diberikan pengampunan jika menyerah!" teriak Iblls 

Pedang Biru. 

Teriakan ini dikumandangkan lagi oleh beberapa perwira 

Kerajaan. Demiklah sambung menyambung hingga seluruh pasukan 

pemberontak mendengar dan diam-diam mereka merasa gembira. Saat 

itu sebenarnya kedudukan mereka telah terjepit dari tiga arah. 

Semangat hampir patah, apalagi ketika melihat para pimpinan mereka 

kini malah baku hantam satu sama lain! Setelah berhasil menguasai 

keadaan, Iblis Pedang Biru memberi isyarat pada kawan-kawannya. 

Tokoh-tokoh silat Kerajaan itu bersama belasan perwira langsung 

membentuk lingkaran, mengurung kalangan pertempuran. 

Nenek Hitam Bergigi Emas tertawa gelak ketika dapatkan dirinya 

diserang oleh Sepasang Tombak Dewa. 

"Pengkianat-pengkhianat tolol! Apakah kalian tidak punya senjata 

lain hingga menyerangku dengan ular-ular laut?!" Si nenek berseru. 

"Jangan lihat pedang!" teriak Pengemis Kaki Kayu. 

Tapil terlambat. Sepasang Tombak Dewa dalam keterkejutan 

mereka sama melihat pada pedang masing-masing. Justru inilah 

kesalahan mereka karena di situ kekuatan sihir si nenek muka hitam. 

Tombak itu sebenarnya tidak berubah, tetapi di mata Tombak Dewa 

Kesatu dan adiknya Tombak Dewa Kedua, senjata mereka tampak 

benar-benar seperti seekor ular laut. Panjang hijau dan licin berkilat! 

Keduanya sama menjerit dan kepretkan senjata masing-masing. 

Begitu senjata itu jatuh ke air laut ternyata kini mereka melihat 

kembali bentuk astinya. Sadarlah mereka kalau sudah tertipu. Cepatcepat keduanya melompat dari alas kuda untuk mengambil senjata 

masing-masing. Tetapi terlambat. Sebilah pedang biru menempel di 

leher Tombak Dewa Kesatu sedang Tombak Dewa Kedua dapatkan 

dirinya tergulung oteh benang putih halus tapi semakin dicobanya 

membebaskan diri, semakin kencang tubuhnya teriris. Itulah 

kehebatan senjata tokoh silat bergelar Si Benang Malaikat! Dua 

pentolan pemberontak itu jadi tak berdaya. Beberapa perwira Kerajaan 

segera meringkusnya setelah Iblis Pedang Biru menotok keduanya. 

Kini semua mata tertuju pada pertempuran yang terjadi antara 

Pendekar 212 Wiro Sableng dengan Si Tapak Api. Iblis Pedang Biru 

menanyakan pada Pendekar Paku Beracun siapa adanya pemuuda 

tanpa pakaian yang bersenjatakan kapak tengah menghadapi SI Tapak 

Api itu. 

"Apa kau buta?" sahut Pendekar Paku Beracun. "Tadinya akupun 

tidak mengenali siapa dia. Tapi coba kau lihat angka 212 di kapak 

berkilat di tangan kanannya...!" 

"Astaga! Jadi dia Pendekar 212! Murid nenek sakti dari gunung 

Gede itu...!" berucap Iblis Pedang Biru. "Tidak disangka dia muncul 

di sini dan ikut berbakti pada Kerajaan...!" 

Si Tapak Api menghujani Wiro dengan serangan-serangan 

dahsyat. Setiap pukulan atau jotosan atau gerakan apapun yang dibuat 

tangannya maka lidah api yang panas berkiblat. Wiro merasakan 

tubuhnya panas seperti terpanggang. Setelah berkelebat kian kemari 

dan menyadari kalau dia tak bisa bertahan lebih lama maka pendekar 

ini segera putar Kapak Naga Geni 212. Sinar putih menyilaukan 

membelah kegelapan malam. Terdengar suara bergaung seperti seribu 

lebah mengamuk. Lidah api serangan SI Tapak Api terpental danmembalik menghantam ke arah Si Tapak Api sendiri. Orang ini 

berteriak kaget dan kesakitan. Lidah api membakar muka dan se-

bagian dadanya! Dia jatuhkan diri ke tanah dan celupkan kepala serta 

tubuhnya ke air laut saking tidak sanggup menahan panas. Tapi begitu 

luka bakar itu terkena air lout, rasa sakitnya malah semakin menggila. 

Si Tapak Api meraung. Dia buka matanya lebar-lebar, tapi dia tidak 

dapat melihat apa-apa. Kedua matanya yang terbakar lidah apinya 

sendiri ternyata kini telah menjadi buta! Kembali orang ini meraung 

lalu lari menghambur merancah air laut. 

Iblis Pedang Biru berpaling pada Pendekar Paku Beracun lalu 

anggukkan kepala. Melihat isyarat ini Pendekar Paku Beracun segera 

mengeruk saku pakalannya. Gerakan ini terlihat oleh Si Pengupas 

Kepala dan Si pengemis Kaki Kayu. Keduanya yang kawatirkan 

ancaman maut yang bakal merenggut nyawa mereka jika tidak 

mendapatkan obat penawar, padahal obat itu ada pada Si Tapak Api, 

Mereka sama-sama berteriak, "Jangan bunuh dia!" 

Namun terlambat. Dua buah paku beracun sudah keburu melesat. 

Satu menacap di batok kepala Si Tapak Api, satunya lagi menembus 

pinggangnya. Orang ini tersungkur ke dalam genangan air laut. Racun 

paku membuat tubuhnya serta merta menjadi biru! 

Pengemis Kaki Kayu dan Si Pengupas Kepala sama-sama 

terbelalak. Keduanya melompat ke arah mayat Si Tapak Api dengan 

menggeledah pakaiannya. Tapi mereka tidak menemukan obat itu! 

"Celaka!" seru Pengemis Kaki Kayu. 

"Apakah ini yang kalian cari...?" terdengar orang bertanya disusul 

suara tawa mengekeh. . 

Si Pengupas Kepala dan Pengemis Kaki Kayu sama berpaling.Dia melihat Nenek Hitam Bergigl Emas menimang dua benda bulat 

berwarna putih. Keduanya jadi beringas lalu melompati si nenek. Tapi 

maksud mereka mengambil obat-obat penawar itu tidak berhasil 

karena si nenek cepat tarik tangannya. 

"Aku bersumpah membunuhmu jika kau tidak berikan obat 

penawar racun itu!" teriak Pengemis Kaki Kayu lalu angkat kaki 

kayunya yang merupakan senjata. 

"Tunggu dulu!" berteriak SI Pengupas Kepala. "Bagaimana aku 

yakin itu memang obat penawar?!" 

Nenek Hitam Bergigi Emas tertawa. "Kalau aku sanggup mencuri 

batu api milik Si Tapak Api, apa susahnya mencuri obat ini? Dan 

padaku bukan cuma ada dua! Tapi lima belas butir! Hik..hik..hik...! 

Aku akan berikan obat ini pada kalian, tapi dengan satu syarat! Kalian 

harus menyerahkan diri pada pasukan Kerajaan. Dibawa ke Kotaraja 

dan diadili sesuai dengan dosa-dosa kalian berkomplot memberontak 

melawan Kerajaan!" 

"Kalau begitu biar kami memilih mati bersamamu!" teriak Si 

Pengupas Kepala. Lalu dia menyerbu Nenek Hitam Bergigi Emas. 

Begitu juga Pengemis Kaki Kayu. 

Terdengar suara bergemerincing jari-jari kuku Si Pengupas 

Kepala ketika berkelebat menyambar ke arah batok kepala si nenek. 

Sekali kena pastilah kulit kepala dan kulit muka perempuan tua itu 

akan terkelupas dan kepalanya akan berubah jadi tengkorak. Tapi dari 

samping saat ituu menyambar sinar putih yang sangat menyilaukan. 

"Anjing kurap! Berani kau ikut campur!" teriak Si Pengupas 

Kepala begitu melihat Wiro menghantamkan kapaknya memapasi 

serangannya. Sepuluh jari tangannya kini diarahkan untuk menangkaptangan dan lengan kanan Wiro. Murid Sinto Gendeng putar kapaknya. 

Tring-tring-tring.... Si Pengupas Kepala berseru kaget dan melompat 

mundur. Tiga kuku jarinya yang sekeras besi itu somplak! 

"Pendekar gagah! Serahkan dia padaku! Sudah lama aku ingin 

menjajal tukang kupas kelapa ini! Ha…ha...hah....!" Yang berseru 

adalah Si Benang Matalkat. Dia putar-putar gulungan benang halus 

berwarna putih. Melihat ada lagi yang hendak menyerangnya, Si 

Pengupas Kepala jadi makin gusar. Dia menggereng ketika melihat 

benang halus di tangan Si kakek berambut putih bergulung-gulung ke 

arahnya. Si Pengupas Kepala menyambar ujung benang itu dengan 

tujuh kuku jarinya yang masih utuh. 

Des ...des...des... 

Ujung benang sakti berputusan. Si Pengupas Kepala menyeringai 

merasa menang dan yakin dapat membunuh lawannya itu. Namun dia 

kecele. Benang yang putus kini diulur dan tampak makin panjang. Si 

Pengupas Kepala kembali menggebrak dengan kedua tangannya. 

Sekali ini serangannya luput. Malah ujung benang menyelinap ke 

bawah dan tahu-tahu kedua tangannya sudah terlibat mulai dari 

pergelangan tangan sampai ke bawah bahu! 

"Setan haram jadah!" maki Si Pengupas Kepala. Dia kerahkan 

tenaga untuk lepaskan ikatan benang. Tapi kulitnya serta merta teriris 

dan darah mulal mengucur. Sadar kalau dirinya tak bisa lolos, tokoh 

silat sesat ini jatuhkan diri dan duduk menjelepok di tanah tanda 

menyerah! 

"Hebat sekali kekuatan benang itu!" membatin Wiro di dalam 

hati. Ini mengingatkannya pada benang sutera halus yang menjadi 

senjata Dewa Tuak.Setelah berhasil meringkus Si Pengupas Kepala yang merupakan 

tokoh silat sangat berbahaya itu Si Benang Malaikat turun dari 

kudanya. Maksudnya untuk menotok tubuh Si Pengupas Kepala lalu 

menyerahkannya pada pasukan untuk dibawa ke Kotaraja. Tapi tidak 

diduga, begitu Si Pengupas Kepala berada di hadapannya, tubuh yang 

duduk menjelepok di tanah itu tiba-tiba melesat. Kaki kanannya 

menendang dengan deras. 

Dukk! 

Tendangan keras itu menghantam dada si Benang Malaikat tanpa 

pendekar tua ini sempat mengelak. Tubuhnya terpental dan lalu 

terjengkang di pasir. Dari mulutnya menyembur darah segar. 

"Pembokong jahanam!" teriak Iblis Pedang Biru. Pedang 

mustikanya langsung membabat. Sinar biru pekat berkiblat di 

gelapnya malam. Sesaat kemudian kepala Si Pengupas Kepala 

menggelinding di atas pasir. 

Melihat kejadian itu Pengemis Kaki Kayu. Merasakan 

tengkuknya dingin. Begitu banyak tokoh-tokoh silat kelas satu di 

sekelilingnya. Tak mungkin baginya untuk menghadapi mereka 

semua. Tapi untuk menyerah begitu saja tentu tak mungkin 

dilakukannya. Maka diapun berpaling pada Nenek Hitam Bergigi 

Emas. 

"Jika kau berikan obat penawar racun itu padaku, aku bersedia 

meninggalkan teluk ini dan melupakan semua silang sengketa di 

antara kita!" 

"Silang sengketa katamu?!" si nenek tertawa 

"Ini bukan silang sengketa kaki kayu! Kau memberontak terhadap 

Kerajaan! Kau berkomplot untuk merebut tahta Sri Baginda!Memimpin pembunuhan terhadap prajurit dan perwira serta kami 

tokoh-tokoh silat Kerajaan. Dosamu setinggi langit sedalam lautan!" 

"Jika kami berikan obat penawar racun itu, apa yang bisa kau 

berikan kepada kami?!" Iblis Pedang Biru bertanya. 

Pengemis Kaki Kayu menggerendeng. "Apa yang kau minta?!" 

sentaknya. 

"Satu tanganmu dan satu matamu!" sahut Iblis Pedang Biru. 

"Aku memilih bertempur melawanmu sampai ada yang mati di 

antara kita!" 

Sebagal jawaban Iblis Pedang Biru melintangkan pedangnya di 

depan dada melompat turun dari kuda. Pengemis Kaki Kayu susul 

melompat. Begitu berhadapan dengan lawan, kaki kayunya yang 

terbuat dari kayu yang merupakan senjata langsung ditusukkan ke 

bawah perut Iblis Pedang Biru. Yang diserang babatkan pedangnya ke 

bawah. 

Traang! 

Pedang dan kaki kayu beradu keras. Sungguh hebat, pedang sakti 

dan tajam itu tidak sanggup memutus ataupun merusak kaki kayu itu! 

Sadarlah Iblis Pedang Biru kalau kaki kayu lawan tidak bisa dianggap 

sepele. Maka diapun mengirimkan serangan kilat pada titik kelemahan 

lawan yakni tubuh sebelah kiri yang menjadi tumpuan kekuatan 

Pengemis Kaki Kayu. Berkelahi di alas pasir yang digenangi air laut 

ternyata bukan hal yang mudah bagi Pengemis Kaki Kayu. Meskipun 

dia memiliki keentengan tubuh yang tinggi namun tak jarang kaki 

kirinya yang menjadi tumpuan bobot tubuhnya melesat ke dalam pasir 

sedangkan kaki kayunya beberapa kali terseok akibat lekatan pasir dan 

genangan air. Ketika lawannya mengajak bertempur berputar-putar,tokoh silat yang ikut terbujuk memberontak ini jadi kerepotan dan 

keteter. Lalu sewaktu satu tusukan pedang melukai pinggul kirinya, 

Pengemis Kaki Kayu mulai kehilangan akan kepercayaan diri. Hal ini 

membuatnya menjadi nekat dan coba menyerang dengan segala 

kekuatan dan kemampuan yang ada. Akibatnya dengan mudah dia 

dijadikan bulan-bulanan ujung pedang oleh Iblis Pedang Biru. 

Pengemis Kaki Kayu hanya sanggup bertahan satnpai empat belas 

jurus di muka bahkan sempat menggebuk kakek berambut putih itu 

dengan kaki kayunya walau tidak tepat. Namun untuk itu dia harus 

membayar mahal dengan jiwanya sendiri. Ujung pedang menembus 

dada kirinya, tepat di arah jantung! 

Teluk yang gelap kini diselimuti kesunyian. Hujan telah berhenti, 

angin badai mulai mereda. Pertempuran antara dua pasukan juga 

sudah berhenti meninggalkan puluhan korban. Mulai dari prajurit 

rendah sampal perwira dan tokoh silat. 

Pendekar 212 melompat ke atas kuda. Dia menjura ke arah Nenek 

Hitam Bergigi Emas dan para tokoh silat Istana. 

"Ada satu urusan lagi yang harus kuselesaikan. Aku minta diri. 

Dan kau nek, aku sangat berharap di lain waktu dapat bertemu lagi 

denganmu...!" 

"Hai! Kau mau ke mana pendekar gagah? Ikut kami dulu ke 

Kotaraja!" berseru iblis Pedang Biru. Namun Wiro telah menggebrak 

kudanya. 

"Astaga! Aku baru ingat dia! Di mana Pangeran pemberontak 

itu?!" berseru Iblis Pedang Biru. 

Yang menjawab adalah Nenek Hitam Bergigi Emas. "Menurut 

Pendekar 212 tadi, dia telah menotok lalu mengikat Pangeran itu padasebatang pohon di bukit tak berapa jauh dari mulut goa sebelah 

selatan. Sebelum air pasang naik lebih tinggi, sebelum goa terendam, 

kita harus mengirimkan orang untuk menyelamatkannya. Pangeran 

gila itu tidak tahu apa-apa. Dia hanya dipakai sebagai alat oleh Si 

Tapak Api dan Ki Demang Wesi...." 

"Kepala Desa Pemberontak itu! Aku baru ingat! Dia tidak 

kelihatan!" ujar Iblis Pedang Biru. 

Si nenek muka hitam mengangguk. "Justru itulah yang hendak 

diurus oleh Pendekar 212. Kewajlban kita saat ini adalah mengurus 

jenazah kawan-kawan...." 

Semula Winayu Tindi berniat hendak menjauh ketika seekor kuda 

dengan penunggang yang terbujur menelungkup bergerak 

mendekatunya. Namun ketika tinggal beberapa langkah saja lagi dan 

dia mengenali siapa orang yang tertetungkup di atas punggung 

binatang itu, kagetlah gadis ini. 

"Pakde!" teriak si gadis. Dia melompat dari atas kudanya, lalu lari 

ke arah orang di atas kuda. "Pakde! Kau pingsan atau bagaimana...?" 

Tubuh dan wajah Ki Demang Wesi ditepuk-tepuknya. Tapi tubuh itu 

tidak bergerak dan dipanggil-panggil tetap tidak menjawab. Dengan 

susah payah Winayu Tindi menurunkan tubuh Ki Demang Wesi, 

Karena di bagian itu air laut telah mencapai ketinggian di atas mata 

kaki, gadis terpaksa menarik tubuh lelaki yang dianggapnya sebagai 

ayah sendiri itu ke bagian yang agak ketinggian, lalu 

membaringkannya di situ. Kebetulan ada sebatang pohon kelapa. 

Punggung dan kepala Ki Demang Wesi disandarkannya ke batang 

kelapa. Lalu kembali dia berusaha membangunkan orang yang 

disangkanya pingsan itu karena dia tidak melihat adanya bekas-bekasluka. Setelah berusaha berulang kali tak juga berhasil akhirnya 

Winayu Tindi mulai keluarkan suara sesenggukan menahan tangis. 

Winayu Tindi tidak tahu entah berapa lama dia tegak menangis di 

tempat itu ketika di kejauhan dilihatnya ada seorang penunggang kuda 

muncul dan memacu kudanya ke arah tempat dia berada. 

Yang datang ternyata adalah pemuda yang dikenalnya sebagai 

penculik dirinya dan yang sebelumnya juga telah menyuruhnya agar 

menjauh dari daerah pertempuran. Wiro melompat turun dari kuda 

lalu menghampiri Winayu Tindi. 

"Anak manis, kau kulihat menangis. Apakah kau menangisi orang 

itu? Dia cuma pingsan karena ditotok." 

"Saudara lekas kau tolong dia. Lepaskan totokannya!" berkata 

Winayu Tindi. 

"Kecintaanmu pada Ki Demang Wesi besar sekali, bukan?" 

"Tentu saja! Dia adalah pakdeku! Orang yang kuanggap seperti 

ayahku sendiri!" sahut sang dara. 

"Justru dia adalah manusia paling keji dan paling terkutuk dalam 

hidupmu!" ujar Wiro. 

"Maksudmu.... ?" tanya Winayu Tindi tak mengerti. 

"Ingat, aku berjanji akah menerangkan padamu siapa pembunuh 

kedua orang tuamu dan juga kusir delman itu? Dialah orangnya!" 

Winayu Tindi seperti disambar petir. Tak percaya pada apa yang 

didengarnya. "Aku tidak percaya. Kau berdusta. Memfitnah. Dia 

orang yang aku anggap seperti ayah sendiri? Pakdeku!" 

"Jika kau tidak percaya kau tanya sendiri!" jawab Wiro lalu 

lepaskan jalan suara Ki Demang Wesi tapi tubuhnya tetap dalam 

keadaan tertotok."Pakde...Benar kau yang membunuh ayah dan ibu...?" Winayu 

Tlndi bertanya begitu melihat Ki Demang Wesi gerakkan mulut. 

"Siapa yang mengatakan fitnah dan bohong besar itu, anakku?" 

Winayu Tindi menuding ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Ki 

Demang Wesi meludahi pemuda itu. "Bangsat! Kau memang tidak 

kupercaya sejak semula! Dialah yang membunuh ke dua orang tuamu 

Winayu! Dia pemuda yang hendak kutangkap tempo hari tapi berhasil 

melarikan diri!" 

"Keparat kalau begitu...!" 

"Tunggu dulu saudari, jangan mudah tertipu!" kata Wiro cepat 

begitu dilihatnya sang dara menjadi galak dan melangkah ke 

hadapannya. "Aku punya saksi hidup jika kau tidak percaya padaku. 

Kedua orang tuamu dibunuh karena mereka menolak untuk bergabung 

dengan komplotannya, memberontak pada Kerajaan. Ayahmu 

mengancam akan melaporiaan kamplotan itu ke Kotaraja. Ki Demang 

Wesi lalu membunuh ayahmu, juga ibumu dan kusir delman itu untuk 

menutup rahasa. Bahkan ibumu... dia merusak kehormatan Ibumu 

sebelum membunuhnya!" 

"Dusta! Fitnah!" teriak Ki Demang Wesi. 

"Apa yang dikatakan sahabat mudaku itu tidak dusta! Kau 

memang manusia paling busuk di dunia ini Ki Demang Wesi. Aku 

menjadi saksi atas apa yang diucapkan Pendekar 212 tadi!" Tahu-tahu 

di tempat itu telah muncul Nenek Hitam Bergigi Emas. 

"Winayu anakku! Jangan percaya pada omongannya. Dia juga 

sama dustanya dengan pemuda itu!" teriak Ki Demang Wesi. 

Si nenek ganda tertawa lalu lemparkan segulung kertas pada 

Winayu Tindi seraya berkata, "Bacalah! Itu surat Perintah dari SriBaginda untuk menangkap Ki Demang Wesi. Surat itu sudah lama 

kusimpan. Hanya saja keadaan tidak memungkinkan aku 

mengeluarkannya lebih cepat!" 

Winayu Tindi membuka gulungan kertas lalu membaca tulisan 

yang tertera di situ. Di sebelah bawah terdapat cap Kerajaan. 

Perlahan-lahan surat itu terlepas dari tangan Winayu Tindi, melayang 

jatuh ke dalam air laut. Tiba-tiba gadis itu menjerit dan lari ke 

hadapan Wiro. Sebelum pendekar itu sadar apa yang dilakukan 

Winayu, Wiro merasa Kapak Naga Gent 212 yang terselip tersibak di 

pinggangnya ditarik lepas. Lalu ada sinar putih berkiblat disertai 

gaungan keras. 

"Winayu! Jangan!" seru Wiro ketika melihat gadis itu 

menghantamkan kapak ke batok kepala Ki Demang Wesi. Dia 

berusaha melompat untuk menangkap tangan gadis itu. Tapi Nenek 

Hitam Bergigi Emas memegang bahunya hingga gerakannya tertahan. 

Di depan sana terdengar pekik Ki Demang Wesi. Darah muncrat dari 

batok kepalanya yang hampir terbelah. 

Winayu Tindi menyusul menjerit ketika melihat dan menyadari 

apa yang barusan dilakukannya. Lalu gadis ini berdiri terhuyung. Satu 

tangan menekap wajah, tangan yang lain melepaskan Kapak Naqa 

Geni 212. Wiro cepat menyambut senjata mustika itu sebelum jatuh 

ke air lalu menopang tubuh sang dara agar tidak terjungkal. 

Pasang semakin naik. Malam bertambah gelap dan udara dingin 

menusuk tulang. Wiro menuntun gadis itu lalu menaikkannya ke atas 

punggung kuda. Jiwa yang tergoncang membuat Winayu menjadi 

lemas dan limbung. Terpaksa Pendekar 212 ikut naik ke punggung 

kuda dan duduk di sebelah belakang sang dara, menjaganya agarjangan sampai jatuh. 

Tiba-tiba ada suara mengiang. "Pendekar muda, aku merasa 

cemburu pada gadis cantik itu. Kapan kira-kira aku bisa naik kuda 

berdua-dua denganmu! Hik…hik...hik...!" 

Wiro berpaling. Astaga! Nenek Hitam Bergigi Emas tak ada lagi 

di tempat itu. Tapi pasti sekali dialah yang barusan mengirimkan 

ucapan jarak jauh itu. Murid Sinto Gendeng hanya bisa menyerigai. 

Dan hidungnya jadi kembang kempis ketika Winayu Tindi 

menyandarkan kepalanya ke dadanya. 


TAMAT

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive