"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Rabu, 26 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE DEWI LEMBAH BANGKAI

Dewi Lembah Bangkai



Dewi Lembah Bangkai


LIMA PERAJURIT berkuda berderap memasuki halaman rumah yang 

penuh ditumbuhi pohon singkong. Mereka memiliki tampang-tampang 

galak, membekal golok besar di pinggang masing-masing. Begitu sampai 

di depan rumah papan beratap rumbia, kelimanya langsung melompat 

turun. Yang didepan sekali menendang pintu rumah sambil berteriak: 

“Adi Sara! Kami perajurit Kadipaten datang membawa surat perintah 

penangkapan!”

Pintu rumah terpental tanggal. Perajurit yang menendang 

langsung masuk diikuti dua orang temannya. Dua lagi menunggu di luar 

berjaga-jaga dengan tangan menekan hulu golok.

Di dalam rumah, ketika dikejauhan terdengar derap kaki lima 

perajurit Kadipaten itu, seorang lelaki tua berambut putih memegang 

bahu seorang pemuda berusia dua puluh tahun seraya berkata: 

“Anakku Adi! mimpiku semalam mungkin akan menjadi kenyataan. Aku 

dengar suara derap kaki-kaki kuda dikejauhan. Menuju ke rumah kita 

ini. Hampir pasti itu adalah orang-orang Kadipaten. Aku tidak menyesali 

perbuatanmu bercinta dengan puteri Adipati itu. Namun jurang antara 

dirimu dengan dirinya terlalu besar. Kalaupun kau bisa melompatinya, 

masih ada bahaya lain yang menghadang ditepi jurang lainnya. Dan 

ternyata kau tidak mampu melompati jurang itu anakku. Aku ayahmu 

juga tidak berkekuatan untuk menolongmu. Adipati pasti akan 

menyuruh anak-anak buahnya untuk menangkapmu...”

“Menangkapku ayah? Apa salahku? Apakah seseorang bisa 

ditangkap karena mencinta dan dicintai oleh orang lain?!” Adi Sara 

pemuda berwajah tampan itu bertanya.

Sang ayah tertawa, tapi wajahnya menunjukkan kemuraman 

“Adipati bisa mempergunakan seribu alasan untuk menangkapmu, Adi. 

Bisa atau tidaknya seseorang ditangkap tergantung siapa yang 

memegang kekuasaan. Dan kekuasaan itu ada di tangan Adipati 

Sawung Glingging. Cepat kau tinggalkan rumah ini. Tinggalkan desa. 

Menghilanglah, tinggalkan desa dan jangan kembali-kembali lagi...”

“Aku tidak akan melakukan hal itu ayah! Kalaupun aku harus 

pergi, kita musti pergi sama-sama!” jawab Adi Sara.

“Jangan turutkan pikiran tololmu anakku! Pergilah! Sekarang 

juga! Selamatkan dirimu! Cepat...!” Wajah Adi Sara tampak bimbang. 

Dia tahu bahaya besar yang mengancamnya. L-alu dia bertanya: 

“Bagaimana dengan dirimu sendiri ayah?”

“Jangan pikirkan tua bangka ini! Pergi lekas! Sambangi makam 

ibumu sebelum meninggalkan desa! Lekas Adi!”

Di luar sana lima penunggang kuda sudah memasuki pekarangan.Adi Sara memegang tangan ayahnya, mencium tangan orang tua itu lalu 

bergerak meninggalkan rumah lewat pintu belakang. Sebelum meng-

hilang dibalik pohon-pohon besar di belakang rumah dia masih sempat 

mendengar suara pintu depan ditendang bobol. Hal ini membuat 

langkahnya terhenti. Dia menyelinap dibalik sebatang pohon besar.

Di dalam rumah Sara Jingga ayah Adi keluar dari kamar tepat 

pada saat tiga perajurit bersenjatakan golok masuk dan sampai 

dihadapannya.

“Kami mencari Adi Sara! Mana pemuda itu?!” perajurit di sebelah 

depan membentak.

“Anak itu tidak ada disini! Sejak semalam dia tidak pulang!” jawab 

Sara Jingga.

“Jangan dusta!”

“Sarungkan golok kalian! Bicara biasa-biasa saja! Senjata tidak 

akan membantu kalian menemukan anak itu! Karena dia memang tidak 

ada disini!”

“Kami membawa surat perintah dari Adipati Tawang Merto untuk 

menangkap pemuda itu!”

Terkejutlah Sara Jingga mendengar keterangan si perajurit. 

“Wilayah ini dibawah kekuasaan Adipati Sawung Glingging! Mengapa 

Adipati Tawang Merto yang mengeluarkan surat perintah penangkapan? 

Dan aku perlu tahu apa salah anakku hinggaxtia mau ditangkap!”

Si perajurit mendengus. “Siapa saja yang mengeluarkan surat 

perintah penangkapan bukan soal! Adipati Sawung Glingging dan 

Adipati Tawang Merto toh akan saling menjadi besan!”

Mendengar keterangan itu pahamlah kini Sara Jingga. Rupanya 

benar putera Adipati Tawang Merto hendak dijodohkan dengan puteri 

Adipati Sawung Glingging. Disitu pula pangkal sebabnya mengapa 

anaknya hendak ditangkap.

“Kalian boleh geledah rumah ini Adi Sara tak ada disini! Katakan 

apa salah anak itu. Kalian belum menjelaskan!”

“Anakmu diketahui menjadi anggota kelompok garong Warok 

Bekontoro! Apa perlu ditanya lagi mengapa kami datang menangkap-

nya?!”

“Fitnah! Anakku keluar desapun belum pernah. Bagaimana 

mungkin dia jadi anak buah Bekontoro!”

Si perajurit tidak menjawab. Dia memberi isyarat pada dua 

kawannya. Kedua orang ini lalu melakukan penggeledahan. Adi Sara 

tidak ditemukan. Keduanya kembali dan memberi tahu kawannya tadi.

“Kalau pemuda itu tidak ada disini, kau jadi gantinya orang tua! 

Kau kami tangkap!”

“Aku tidak bersalah, tidak berdosa! Jangan pergunakan kekuasa-

an kalian untuk berlaku semena-mena!” ujar Sara Jingga dengan suara 

tandas. Namun untuk ucapannya itu satu hantaman gagang golok 

harus diterimanya di bagian kepala. Orang tua ini menjerit kesakitan, 

lalu terhuyung antara sadar dan tiada. Tubuhnya kemudian di seret keluar rumah.

Saat itulah terdengar bentakan penuh marah disertai berkelebat-

nya seseorang.

“Perajurit-perajurit biadab! Lepaskan ayahku!”

Lima perajurit cepat berpaling.

“Adi Sara!” seru perajurit yang jadi pimpinan. “Akhirnya muncul 

juga anak yang katanya tidak pulang sedari tadi malam! Kau tak usah 

kawatir! Ayahmu akan kami lepaskan, tapi kau harus kami tangkap!”

Adi Sara melihat bagian kening ayahnya terkoyak dan ada darah 

yang mengucur. Ini membuatnya kalap.

“Bangsat! Kalian apakan ayahku!” teriak pemuda ini lalu 

melompati perajurit terdekat. Pemuda ini tidak memiliki kepandaian 

bela diri apapun, apalagi ilmu silat tinggi. Modalnya hanya keberanian 

dan kenekatan yang dibakar oleh kemarahan. Dia berhasil merampas 

golok salah seorang perajurit. Namun sebelum senjata itu sempat 

dihunusnya, dua hantaman pada punggung dan belakang kepalanya 

membuat Adi Sara tersungkur ke depan. Lalu datang tendangan 

bertubi-tubi menghajar muka dan tubuhnya. Wajahnya bengkak 

membiru. Dari hidung dan mulutnya mengucur darah. Dua tulang 

iganya patah. Pemuda ini terguling pingsan di samping sosok tubuh 

ayahnya.

“Kita bunuh saja pemuda ini!” berkata seorang perajurit.

“Jangan! Ingat perintah Adipati Tawang Merto. Dia.harus kita 

buang ke Lembah Bangkai!”

“Kenapa mencapaikan diri membuangnya jauh-jauh kesana?” 

salah seorang perajurit membuka mulut bertanya.

“Kau pergilah tanyakan sendiri pada Adipati Tawang Merto! Jika 

kau tidak mau menjalankan perintah, bersiaplah untuk dihukum dan 

dipecat!”

Dalam keadaan pingsan tubuh Adi Sara akhirnya dinaikkan ke 

atas kuda. Lima perajurit itu kemudian segera tinggalkan tempat 

tersebut.


2


AKU mulai mencium bau busuk itu. Kita segera sampai ditempat 

tujuan! Tutup hidung kalian...” Perajurit yang berkuda di sebelah depan 

memberi tahu dan cepat keluarkan sehelai sapu tangan dari saku 

pakaiannya. Sapu tangan ini diikatkannya ke mukanya hingga 

menutupi hidung dan mulutnya. Empat kawannya segera mengikuti apa 

yang dilakukannya. Bau busuk semakin keras setiap langkah mereka 

maju bergerak. Jalan yang mereka tempuh mulai mendaki. Di ujung 

pendakian, kelimanya berhenti. Disitu menghadang sebuah lembah yang 

lebih tepat dikatakan sebuah jurang sedalam lima belas tombak. Batu-

batu besar menyembul dian-tara kerapatan pepohonan dan semak 

belukar. Bau busuk menghampar santar. Bau busuknya bangkai! Lima 

perajurit itu merasakan nafas masing-masing seperti sesak. Tengkuk 

menjadi dingin oleh rasa angker yang muncul sejak tadi.

“Lemparkan pemuda itu ke lembah, lalu lekas tinggalkan tempat 

ini!” perajurit pemimpin memberi perintah. Dia memandang berkeliling, 

berusaha mencari-cari dimana sumber yang menebar bau busuknya 

mayat itu. Jika memang ada bangkai binatang atau mayat manusia, 

mengapa dia tidak melihatnya dibawah sana? Mendadak tubuhnya 

bergetar dan sekujur badannya keluarkan keringat dingin. Dibalik 

kerapatan dedaunan pepohonan dan semak belukar di dalam lembah, 

dia melihat belasan sosok tubuh yang telah membusuk, ada yang hanya 

tinggal tulang-belulang saja, tergantung di cabang-cabang pohon! 

Mayat-mayat manusia! Itulah bangkai yang menebar bau busuk 

menyesakkan jalan pernafasan! “Lekas lemparkan pemuda itu!” teriak 

perajurit itu.

Rupanya empat kawannya juga sudah melihat mayat-mayat 

busuk bergantungan di pepohonan itu dan langsung dirasuk ketakutan 

setengah mati hingga melupakan apa yang harus mereka kerjakan. Dua 

diantara mereka segera menurunkan tubuh Adi Sara. Satu mencekal 

kedua kakinya, yang lain menjambak bahu pakaiannya. Tubuh pemuda 

itu kemudian dilemparkan ke dalam lembah. Adi Sara terguling-guling 

ke bawah, lenyap diantara semak belukar dan lebatnya daun-daun 

pepohonan.

“Lekas tinggalkan tempat ini!” teriak perajurit yang jadi pimpinan. 

Dua perajurit segera melompat ke atas punggung kuda masing-masing. 

Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam lembah terdengar suara sesuatu. 

Suara ini mempunyai pengaruh yang amat hebat karena ke lima 

perajurit itu begitu mendengar begitu terpukau dan seperti tidak ingat 

lagi untuk bergerak meninggalkan tempat itu. Atau memang karena 

tiba-tiba saja mereka tidak mampu bergerak, termasuk ke lima ekor 

kuda yang mereka tunggangi!

“Suara itu... Suara apa itu...?” bisik seorang perajurit.

“Suara kecapi...” yang lain balas berbisik.

“Aneh, siapa yang main kecapi di lembah itu?”

Wajah lima perajurit mendadak sontak menjadi pucat! Makin lama 

suara petikan kecapi semakin jelas. Pada puncaknya tiba-tiba ada suara 

nyanyian yang mengalun ditimpali suara kecapi tadi. Suara nyanyian itu

terdengar merdu sekali. Tetapi syair yang dibawakan membuat lima 

perajurit Kadipaten jadi berdiri bulu tengkuk mereka.

Lembah Bangkai lembah kematian.

Jangankan menjejakkan kaki.

Melihatnya sajapun sudah cukup alasan Untuk mati!

Tak ada yang datang dan bisa pergi

Tak ada yang pergi membawa nyawa di badan

Lembah Bangkai lembah kematian

Siapa yang datang tak bisa kembali pulang!

Suara nyanyian lenyap, tapi suara kecapi terus berdentringan.

“Hai! Lihat...! Apa itu yang melesat di udara?!” tiba-tiba salah 

seorang perajurit berteriak seraya menunjuk ke arah lembah. Saat itu 

dari bawah lembah melesat seutas tali yang ujungnya dibuhul 

berbentuk lingkaran. Baru saja perajurit itu berteriak begitu, tahu-tahu 

ujung tali yang berbentuk lingkaran telah melesat ke arahnya lalu 

menjirat batang lehernya. Sebelum dia bisa berbuat apa-apa, tubuhnya 

sudah terbetot dari atas kuda, jatuh ke bibir lembah lalu tertarik dan 

terseret sepanjang lereng lembah akhirnya lenyap diantara semak 

belukar dan kerapatan pepohonan.

Melihat hal ini empat perajurit lainnya merasakan seperti putus 

nyawa masing-masing. Serentak mereka baru sadar dan cepat 

membedal kuda tinggalkan tempat itu. Namun tiga orang terlambat, 

hanya satu yang sempat kabur. Dari bawah lembah tampak melesat 

sebat empat utas tali yang ujungnya berbentuk lingkaran. Tiga tali maut 

ini langsung menjirat leher tiga perajurit, satunya membentur pohon 

dan ini menyelamatkan perajurit ke empat tadi. Di lain saat tubuh tiga 

perajurit tersentak keras lalu jatuh dari punggung kuda masing-masing. 

Selanjutnya tampak tiga tubuh itu terseret ke dasar lembah dan lenyap!

Bersamaan dengan itu suara petikan kecapi lenyap. Lembah 

angker kembali diselimuti kesunyian. Hanya bau busuk bangkai yang 

masih terus menghampar bersama siliran angin. Dan bau ini tak akan 

pernah lenyap selama lembah angker itu berada disitu!


3


DARA BERPAKAIAN hijau itu mengetuk dinding gua sebelah luar tiga 

kali berturut-turut. Dia menunggu sesaat. Lalu dari dalam gua 

menggema suara halus. Suara perempuan. “Masuklah...”

Di atas sebuah kesetan dara berpakaian hijau membersihkan 

kedua kakinya terlebih dahulu, lalu baru masuk ke dalam gua batu. 

Ternyata gua itu tidak panjang. Melangkah sebelas langkah sang dara 

sampai di sebuah ruangan kecil yang diterangi oleh sebuah pelita. Di 

tengah gua tampak duduk seorang perempuan berpakaian hijau. 

Wajahnya sulit untuk dilihat karena tertutup sehelai kain hijau tipis. 

Namun dari balik cadar yang tipis itu, sepasang matanya seperti 

menyorotkan sinar tajam yang membuat siapa saja merasa risih untuk 

berani menatap. Di atas pangkuannya terletak sebuah kecapi. Rupanya 

orang inilah tadi yang memetik kecapi, mungkin dia juga yang 

menyanyi.

Kalau seluruh lembah dibuncah oleh bau busuknya bangkai, 

maka di dalam gua ini sama sekali tidak tersentuh oleh bau busuk yang 

menyesakkan nafas itu. Malah disitu merambas bau harum semerbak

seperti harumnya bau bunga mawar dipagi yang cerah dan segar.

“Hijau Satu, berita apa yang hendak kau sampaikan padaku...?”

Dara berpakaian hijau yang dipanggil dengan nama Hijau Satu 

menjura hormat lalu duduk bersimpuh di hadapan perempuan yang 

memangku kecapi.

“Kita mendapatkan empat tambahan pajangan untuk pepohonan 

di lembah, Dewi...”

Wajah dibalik cadar hijau tersenyum. “Bagus... Siapa orang-orang 

itu?”

“Mereka adalah perajurit-perajurit Kadipaten. Saya tidak 

mengetahui dari Kadipaten mana. Sebetulnya mereka muncul lima 

orang. Tapi yang satu sempat kabur. Harap maafkan atas kelalaian ini 

Dewi... Kebetulan hanya saya sendiri yang ada di Lembah. Hijau Dua 

dan Hijau Tiga masih belum kembali...”

Sang Dewi anggukkan kepala. “Dalam waktu singkat lembah ini 

akan menjadi momok nomor satu dalam dunia persilatan. Lalu tokoh-

tokoh persilatan akan muncul disini! Mereka datang dengan alasan 

untuk membasmi angkara murka, menghancurkan kejahatan! Tapi 

mereka akan kita sapu habis-habisan! Memang tidak semua mereka 

melakukan kesalahan dan berdosa besar terhadap diriku!

Tapi dendamku setinggi langit sedalam lautan! Mereka yang 

katanya ingin menegakkan kebenaran, menolong orang-orang tertindas, 

ternyata semua omong kosong belaka! Aku telah jadi korban dari omong 

kosong itu!”Sang Dewi tutup kata-katanya dengan menjentikkan jari-jari 

tangannya diatas kawat-kawat kecapi. Terdengar suara berdentringan 

disertai berkiblatnya enam sinar yang menyilaukan. Goa kecil itu terasa 

bergetar. Hijau Satu merasakan tubuhnya terhuyung-huyung dan cepat 

mengimbangi diri agar tidak jatuh. Setelah getaran dalam gua berhenti, 

Hijau Satu baru membuka mulut kembali.

“Ada kejadian lain yang perlu saya beritahukan Dewi.”

“Ya, katakanlah...”

“Sebelum perajurit-perajurit Kadipaten itu muncul membawa 

seorang pemuda. Dalam keadaan pingsan pemuda ini mereka 

lemparkan ke dalam lembah. Pemuda itu berada dalam keadaan 

sakarat. Mukanya babak belur dan berselimut darah. Beberapa tulang 

iganya patah. Bagian belakang kepalanya ada luka besar. Saya tidak 

berani berbuat suatu apa tanpa izin Dewi...”

“Hijau Satu, bukankah ketentuan yang sudah kuberikan begitu 

pasti? Siapa saja yang berani berada didekat lembah, apalagi kalau 

sampai masuk ke dalam lembah harus dibunuh dan digantung 

mayatnya dipepohonan?!”

“Saya mengerti Dewi dan tahu sekali akan aturan itu. Maafkan 

saya kalau sudah bertindak salah. Saya tidak membunuh pemuda itu 

karena dia muncul dilembah bukan karena kemauannya sendiri. Dia 

dibawa oleh perajurit-perajurit Kadipaten dan dilemparkan ke lembah 

dalam keadaan pingsan...”

“Bagaimana kalau kemudian pemuda itu sadar dari pingsannya, 

melihat wajahmu yang cantik dan tubuhmu yang bagus dibalik pakaian 

hijaumu yang tipis itu. Lalu dia merayumu dan memperkosamu seperti 

kejadian dulu atas dirimu, atas Hijau Dua dan Hijau Tiga, juga atas 

diriku!”

Mendengar ucapan itu Hijau Satu terdiam. Wajahnya sesaat 

pucat. Lalu dengan suara perlahan dia berkata: “Maafkan saya Dewi. 

Saya mengaku bersalah tidak menuruti perintah...”

“Katakan, apa ada alasan lain sampai kau tidak membunuh 

pemuda itu...”

Hijau Satu tidak bisa menjawab. Tapi sang Dewi diam-diam sudah 

dapat meraba apa yang menjadi alasan anak buahnya itu. Maka diapun 

berkata: “Bawa pemuda itu kemari...!”

Walaupun terkejut mendengar ucapan pimpinannya, namun Hijau 

Satu cepat berdiri dan tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian dia 

muncul kembali mendukung sosok tubuh Adi Sara lalu membujurkan-

nya di atas lantai gua, dihadapkan sang Dewi.

Sesaat perempuan bercadar itu menatap wajah si pemuda yang 

tertutup darah mengering. “Ambil kain basah dan bersihkan 

wajahnya...” sang Dewi memerintah. Hijau Satu kembali keluar dari 

dalam gua. Ketika masuk dia sudah membawa sehelai kain basah dan 

langsung membersihkan darah yang mengering di wajah Adi Sara. 

Begitu wajah itu menjadi bersih kelihatanlah wajah Adi Sara. Sang Dewiterkesiap dan terdengar menarik nafas kaget. Hijau Satu ingin sekali 

melihat apa yang terjadi, namun dia tak berani menatap wajah 

pimpinannya itu.

“Sekarang aku tahu. Dugaanku tidak meleset. Hijau Satu tidak 

membunuh pemuda ini karena dia memiliki wajah begini tampan. Dan 

ya Tuhan...Mengapa wajahnya begitu mirip dengan...Kalau saja dia ada 

disini pasti akan sulit dilihat perbedaannya! Ah, bagaimana ini? 

Bagaimana aku harus mengambil keputusan...?!”

Lama sang Dewi terdiam. Lalu dia berpaling pada Hijau Satu.

“Hijau Satu. Kau harus melakukan sesuatu terhadap pemuda ini!” 

terdengar suara sang Dewi.

“Saya siap untuk membunuhnya dan menggantung mayatnya di 

pepohonan, Dewi...”

“Tidak...”, berucap sang Dewi dengan suara perlahan. “Kali ini kau 

kuperintahkan untuk mengobati dirinya!”

Hijau Satu angkat kepalanya tapi cepat-cepat menunduk. 

“Perintahmu akan saya laksanakan Dewi...” katanya. Lalu cepat-cepat 

dia mendukung tubuh Adi Sara dan meninggalkan gua itu, 

membawanya kesebuah gua lain yang tidak jauh dari gua dimana sang 

Dewi berada.


4


KETIKA pimpinan perajurit itu muncul, Adipati Tawang Merto dan 

Adipati Sawung Glingging saling pandang sesaat. Lalu Tawang Merto 

membuka mulut.

“Rundono, melihat tampang dan gerak gerikmu muncul saat ini, 

agaknya ada yang tidak beres! Apakah kau sudah menjalankan 

tugasmu? Lalu mana empat orang anak buahmu?!”

“Sesuai perintah, Adi Sara berhasil kami ringkus. Dalam keadaan 

pingsan pemuda itu kami bawa ke timur dan lemparkan ke Lembah 

Bangkai! Namun sebelum kami meninggalkan tempat itu, dari bawah 

lembah melesat sebuah tali berbentuk jiratan. Seorang perajurit 

langsung terjirat lehernya dan tubuhnya kemudian tertarik ke dasar 

lembah! Lalu ada empat tali lagi yang datang melesat. Saya masih 

sempat menyelamatkan diri. Namun tiga anak buah saya menemui 

nasib sama. Mereka kena dijirat dan lenyap di tarik ke dalam lembah!”

Kalau bukan saja Rundono yang menjadi orang kepercayaan

mereka yang menuturkan keterangan itu, Adipati Tawang Merto dan 

Sawung Glingging mungkin tak akan mau mempercayainya. Kembali

kedua Adipati ini saling pandang.

“Aku sendiri belum pernah berada di sekitar Lembah Bangkai itu,” 

berkata Tawang Merto. Namun berita yang sampai ketelingaku mengenai 

Lembah Bangkai itu macam-macam. Mulai dari baunya yang busuk 

sampai pada adanya mayat-mayat yang bergelantungan di cabang-

cabang pohon. Lalu suara-suara aneh dan angker pada siang apalagi 

malam hari. Apakah semua itu benar-benar ada. Bukan hanya lamunan 

seorang penakut?!”

“Rundono telah menyaksikan sesuatu yang mengerikan. Dia telah 

mencium sendiri bau busuk yang luar biasa! Semua itu bukan lamunan 

atau cerita bohong sahabatku. Aku punya niat untuk menyelidiki sendiri 

keadaan lembah yang disebut Lembah Bangkai itu. Ada suatu keanehan 

di tempat itu. Siapa tahu dibalik keanehan itu ada satu 

keberuntungan...”

“Calon besanku,” menukas Sawung Glingging. “Kau bicara ngacok! 

Apa maksudmu dengan keberuntungan?”

“Bukan mustahil disitu ada seorang berkepandaian tinggi. Jika 

aku bertemu dengannya siapa tahu aku kebagian ilmu yang aneh-aneh!” 

sahut Adipati Tawang Merto pula.

Sawung Glingging tahu betul sifat sahabat dan calon besannya 

itu. Sejak muda Tawang Merto memang gemar berkelana untu mencari 

dan belajar berbagai ilmu, mulai dari ilmu silat sampai ilmu kesaktian. 

Bahkan dia juga memiliki banyak ilmu hitam. Termasuk benda-benda 

sakti mandraguna.“Siapapun tidak melarangmu untuk mencari ilmu kepandaian 

walau saat ini kau sudah memilikinya sekarung penuh! Tapi menyelidik 

dan pergi ke Lembah Bangkai kurasa terlalu besar bahayanya 

sahabatku!”

“Tawang Merto tidak pernah takut dengan siapapun!” jawab sang 

sahabat sambil menyeringai dan usap-usap dadanya.

“Maksudku bukan soal takut dan berani sahabat. Tapi ingat, kita 

tengah merencanakan pesta besar. Pesta perkawinan anak-anak kita! 

Apakah kau mau membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak 

berguna seperti itu...?”

“Hemm... Sebenarnya ini bukan suatu hal yang tidak berguna. 

Tapi baiklah. Pada saat hendak mengatur hari perkawinan anak-anak 

kita, tidak pada tempatnya memang kalau aku mempunyai rencana lain. 

Biar maksudku menyelidiki Lembah Bangkai itu diundur dulu sampai 

hari perkawinan anak-anak kita...”

Adipati Sawung Glingging tersenyum gembira.

Sambil menepuk bahu sahabat yang akan menjadi besannya itu 

dia berkata: “Seharusnya memang begitu. Sekarang mari kita masuk 

untuk membicarakan rencana besar ini bersama istri-istri kita. Jangan 

biarkan orang orang perempuan itu menunggu terlalu lama. Nanti bisa-

bisa mereka mengatur rencana sendiri!”

***

ADI SARA duduk di depan gua. Udara pagi terasa segar. Embun di 

dedaunan masih belum pupus. Dia mengusap dadanya yang masih 

diberi lapisan papan tipis untuk menjaga agar tulang iganya yang telah 

dipertautkan tidak bergeser. Pemuda itu menghirup udara dalam-dalam. 

Namun cepat sekali jalan nafasnya menjadi sesak begitu bau bangkai 

merasuk masuk ke dalam penciumannya. Ketika dia beranjak untuk 

masuk kembali ke dalam gua, dara berpakaian hijau itu tahu-tahu 

sudah berada di hadapannya.

“Hijau Satu!” seru Adi Sara seraya cepat bangkit.

“Kau sudah bisa keluar goa sendiri. Itu tanda kau sudah mulai 

sembuh. Benar begitu...?”

“Aku harapkan begitu Hijau Satu. Sembuh dan cepat bisa 

meninggalkan tempat ini. Aku tidak mau membuatmu susah lebih 

lama...”

“Susah bagaimana maksudmu?”

“Ah, apakah bukan susah namanya karena selama ini kau 

merawat luka-lukaku? Menyediakan makanan dan buah-buahan...”

“Semua itu bukan suatu kesusahan bagiku. Lagi pula semua 

sesuai perintah...”

“Pasti perintah dari Dewimu itu, bukan?”

Hijau Satu mengangguk.

“Aku sangat berterima kasih padamu Hijau Satu. Aku ingin sekalibertemu dengan Dewimu itu...”

“Belum saatnya Adi Sara. Belum saatnya. Tunggu sampai kau 

sembuh benar.”

“Berarti berapa lama lagi aku harus berada disini?”

“Aku tidak tahu. Dewi nanti yang akan menentukan,” jawab Hijau 

Satu. Dalam hatinya dara ini berkata: “Aku kawatir Adi Sara, jangan-

jangan Dewi tidak mengizinkanmu meninggalkan lembah...”

“Hijau Satu... Aku ada beberapa pertanyaan!” Adi Sara berkata.

“Tanyakanlah. Jika aku bisa menjawab akan aku jawab. Jika 

kurasa Dewi tidak berkenan aku memberi jawaban, maka aku tidak 

akan menjawab.”

“Baiklah, Dewimu itu tentu seorang yang sangat agung dan 

berkuasa. Hingga segala sesuatunya kau harus tunduk padanya.”

“Dia pimpinan kami disini. Siapa saja harus tunduk pada 

pimpinan.”

“Kami...? Maksudmu kau tidak sendirian disini?” tanya Adi Sara. 

“Aku tidak melihat siapa-siapa disini!”

“Dewi punya tiga orang anak buah. Aku Hijau Satu, Hijau Dua 

dan Hijau Tiga...”

“Hemm...Semua bernama Hijau...Hijau. Mana kawanmu yang dua 

orang itu?”

“Mereka tengah menjalankan tugas di luar...”

“Kau menyebut dirimu Hijau Satu. Siapa namamu sebenarnya? 

Apakah kau tidak punya nama? Ah, pasti kau punya nama. Kikuk 

bagiku memanggilmu dengan nama Hijau Satu itu!”

Hijau Satu tersenyum. “Apa artinya nama? Aku tidak punya nama 

lain. Namaku ya itu. Hijau Satu...”

Adi Sara geleng-geleng kepala. “Pasti Dewimu itu lagi yang 

melarangmu memberi tahu nama aslimu. Tapi baiklah, tak jadi apa. 

Sekarang pertanyaanku berikutnya. Dimana aku ini berada 

sebenarnya?”

“Kau berada di Lembah Bangkai,” memberi tahu Hijau Satu.

“Lembah Bangkai! Nama aneh dan menggidikkan. Pantas sejak 

keluar dari gua aku mencium bau yang sangat busuk. Bau bangkai... 

Nafasku menjadi sesak dan dadakku mendenyut sakit jika aku 

menghirup udara dalam-dalam...”

“Sebetulnya kau belum boleh keluar dari dalam gua itu, Adi Sara. 

Dan ingat satu pesanku. Ini perintah Dewi. Kau tidak boleh 

meninggalkan gua lebih dari sepuluh langkah...”

“Eh, kenapa begitu?”

“Itu perintah dan tidak semestinya ditanya!” sahut Hijau Satu. 

Lalu dari balik pakaian hijaunya dia mengeluarkan sebuah benda kecil, 

ternyata potongan batang bambu kuning sebesar ibu jari sepanjang satu 

jengkal. Pada ujung bambu terdapat penyumpal terbuat dari kayu kecil. 

Hijau Satu tarik kayu penyumpal lalu menyuruh Adi Sara mengulurkan 

tangan kirinya. Hijau Satu kemudian menempelkan ujung bambu kebalik telapak tangan si pemuda. Sejenis minyak yang sangat harum 

leleh ke atas permukaan tangan Adi Sara.

“Gosokkan minyak itu kelobang hidungmu. Seumur-umur kau tak 

akan mencium lagi bau busuknya bangkai!” Hijau Satu menutup bambu 

kecil lalu menyimpannya kembali ke balik pakaiannya. Adi Sara

melakukan apa yang dikatakan. Telapak tangannya yang berminyak 

diusapkannya ke lobang hidungnya. Tercium bau yang sangat harum. 

Perlahan-lahan bau itu sirna. Tapi kini Adi Sara tidak lagi mencium 

busuknya bau bangkai.

“Minyak ajaib!” ujar Adi Sara sambil memandang keheranan pada 

Hijau Satu.

“Jika kau tak ada lagi pertanyaan, masuklah kembali ke dalam 

goa. Dan jangan sekali-kali keluar jika tidak kuizinkan...”

“Masih kurang jelas bagiku, mengapa tahu-tahu aku berada 

disini. Yang aku ingat adalah kemunculan lima orang perajurit 

Kadipaten. Mereka menganiaya ayahku. Aku menyerang mereka. Setelah 

itu aku tak ingat lagi...”

“Memang perajurit-perajurit Kadipaten itulah yang telah 

membawamu ke sini lalu melemparkan tubuhmu ke dalam Lembah 

Bangkai... Katakan mengapa mereka melakukan hal itu terhadapmu...?”

Adi Sara tidak menjawab. Ada dua bayangan wajah yang muncul 

dipelupuk matanya saat itu. Pertama wajah ayahnya yang tua. Dia ingat 

sekali karena melihat bagaimana orang tua itu diseret dan dipukuli oleh 

lima perajurit Kadipaten. Bagaimana keadaan ayahnya saat ini? Dibawa 

ke Kadipaten, dipenjarakan atau sudah dibunuh oleh orang-orang 

Tawang Merto?! Lalu wajah yang kedua adalah wajah Ningrum, kekasih 

yang sangat dicintainya dan juga mencintai dirinya. Hanya sayang 

percintaan mereka dan rencana untuk membangun rumah tangga

terhalang oleh jurang lebar. Ningrum adalah puteri Adipati Sawung yang 

oleh orang tuanya ternyata dijodohkan dengan Tubagus Kolokaping, 

putera Adipati Tawang Metro, sahabat Sawung. Ketika Ningrum menolak 

untuk dikawinkan dengan Tubagus dan dengan berani menyatakan 

bahwa calon suaminya satu-satunya hanyalah Adi Sara, putera petani 

miskin di desa Sumber Urip itu, maka marahlah Tawang Merto. 

Bersama Adipati Sawung Glingging dia menyusun rencana untuk 

menangkap, menghukum dan memenjarakan Adi Sara dengan tuduhan 

sebagai ikut terlibat menjadi anak buah kelompok garong Warok 

Bekontoro. Tapi dalam pelaksanaannya kemudian Adi Sara tidak 

ditangkap dan dipenjarakan, melainkan dibuang ke Lembah Bangkai 

karena dengan demikian jejak kematian dan lenyapnya pemuda itu tidak 

akan diketahui orang lain.

“Aku harus meninggalkan tempat ini!” kata Adi Sara. 

Bagaimanapun juga dia harus menolong ayahnya.

“Itu tidak mungkin dilakukan!” jawab Hijau Satu.

“Mengapa tidak? Hemm... Aku tahu. Kalau begitu apakah kau bisa 

menemukan aku pada Dewimu itu?”Hijau Satu menggeleng. “Selain aku dan Hijau Dua serta Hijau 

Tiga tidak orang lainpun boleh menemui Dewi. Kecuali Dewi memberi 

tahukan lain...”

“Jika begitu aku terpaksa melarikan diri dari sini!” jawab Adi Sara 

tandas.

Hijau Satu tersenyum. “Tidak satu orangpun bisa keluar hidup-

hidup dari Lembah Bangkai...” katanya. Ketika dia hendak beranjak 

pergi, dua sosok bayangan hijau berkelebat dan tahu-tahu di tempat itu 

sudah berdiri dua orang dara berpakaian hijau seperti yang dikenakan 

Hijau Satu. Wajah keduanya tak kalah cantik dengan wajah Hijau Satu.

“Hijau Dua dan Hijau Tiga” Bagus, kalian sudah kembali. Dewi 

menunggu kedatangan kalian!”

Dua dara yang baru datang tidak segera menjawab teguran 

sahabatnya itu, keduanya justru menatap tajam-tajam pada Adi Sara.

Hijau Tiga bertanya: “Siapa pemuda berwajah pucat ini?!”

“Namanya Adi Sara. Seminggu lalu dia dilemparkan orang-orang 

Kadipaten ke daiam lembah” menerangkan Hijau Satu.

“Lalu kenapa dia dibiarkan hidup? Tidak segera dibunuh?!” tanya 

Hijau Dua.

“Dewi memerintahkan aku untuk tidak membunuhnya malah 

merawatnya,” jawab Hijau Satu.

Hijau Dua dan Hijau Tiga saling pandang. “Hmmm... sungguh 

sulit dipercaya kalau Dewi yang memerintahkan begitu!” Dua dara itu 

menatap tajam-tajam pada Hijau Satu. “Aku yakin ada hubungan 

tertentu antara kau dan pemuda ini, Hijau satu...”

“Maksudmu?!”

“Kau bisa menjawabnya sendiri!

Kau berlaku tidak jujur! Kau menyukai pemuda ini! Betul kan?!”

“Kau bicara melantur! Jika kau menuduhku begitu berarti kau 

juga menuduh Dewi seperti itu. Jaga mulutmu Hijau Dua!”

Hijau Dua terdiam dan ada rasa takut dalam hatinya karena telah 

ketelepasan bicara seperti itu. Kawannya Hijau Tiga mengusap wajahnya 

sesaat lalu berkata: “Rupanya peraturan di Lembah Bangkai sudah 

berubah...?”

“Dengar kalian berdua. Yang berkuasa disini adalah Dewi dan dia 

pimpinan kita. Hitam katanya berarti hitam! Putih harus putih! 

Sebaiknya kau tidak menghabiskan waktu untuk mengobrol yang 

bukan-bukan di tempat ini! Lekas melapor pada Dewi!”

Walau Hijau Dua dan Hijau Tiga tidak suka atas ucapan Hijau 

Satu itu, bagaimanapun juga kedudukan Hijau Satu adalah diatas 

mereka maka mau tak mau keduanya segera meninggalkan tempat itu 

setelah sekali lagi mengerling pada Adi Sara.

“Jangan-jangan Dewi terpikat pada pemuda itu,” bisik Hijau Dua. 

“Wajahnya memang tampan...”

“Sssst... Jangan bicara terlalu keras. Kalau Dewi sempat 

mendengar celaka kita berdua...” ujar Hijau Tiga pula.


5


DI HADAPAN DEWI bercadar hijau dan memangku kecapi, Hijau Dua 

dan Hijau Tiga menjura memberi hormat lalu duduk dengan khidmat. 

Hijau dua kemudian membuka mulut bertindak sebagai juru bicara 

pemberi laporan.

“Sesuai perintah kami telah menyerbu markas Datuk Sora 

Gamanda. Tapi orang itu tidak ada di sana. Kami disambut oleh enam 

anak muridnya. Semua kami musnahkan. Tak ada yang bersisa hidup 

dan markas Datuk itu kami bakar!”

“Bagus!” Dewi bercadar hijau diam sejenak. “Apakah kalian juga 

meninggalkan pesan disana”!”

“Sesuai perintah Dewi, pesanpun kami tancapkan pada sebatang 

pohon, diatas secarik kain hijau bertulis huruf-huruf putih...”

“Coba sebutkan pesan yang kalian tinggalkan itu bunyinya 

bagaimana?” tanya Dewi pula.

“Jika ingin menuntut balas datanglah ke Lembah Bangkai!”

Dewi bercadar angguk-anggukkan kepala. “Mulai sekarang kita 

bersiap-siap untuk menyambut munculnya Datuk keparat itu. Lalu 

bagaimana dengan dua tugas kalian yang lain?”

“Itupun sudah kami laksanakan Dewi. Pendekar Kaki Satu kami 

buntungkan kakinya yang masih utuh sedang kaki kayunya kami 

hancurkan. Tiga muridnya tewas. Dua melarikan diri. Sehabis 

menyelesaikan urusan dengan Pendekar Kaki Satu kami tidak lupa 

menancapkan pesan. Setelah itu kami menyerbu bukit Walang di 

selatan namun tidak menemui Si Pedang Iblis. Kami justru disambut 

oleh perempuan simpanannya yang dikenal dengan julukan Nenek 

Kelabang Biru...”

Wajah Dewi dibalik cadar tampak berubah. “Pendekar Pedang Iblis 

yang berusia tiga puluh tahun itu, kumpul kebo dengan seorang nenek-

nenek berusia hampir tujuh puluh tahun? Sulit kupercaya!” Sebenarnya 

bukan itu yang mengejutkan sang Dewi. Diam-diam dia mengetahui 

kalau Nenek Kelabang Biru adalah salah seorang momok golongan 

hitam yang sejak sepuluh tahun terakhir ini malang melintang di daerah 

selatan. Kabarnya dia juga mengepalai para bajak yang gentayangan di 

pantai selatan.

“Kalian bentrokan dengan nenek itu?” tanya Dewi.

Hijau Dua mengangguk. “Kami kemudian mengundurkan diri. 

Bukan saja karena memang tidak ada urusan dengan dia, tapi ternyata 

ilmu kepandaiannya sungguh luar biasa. Kami mengeroyoknya berdua. 

Dalam tiga jurus dia bisa mendesak dengan serangan-serangan 

berbahaya...Dewi mengusap dagunya lalu berkata: “Itu sebabnya aku harus 

cepat-cepat menurunkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai. Kalian 

harus sudah menguasainya sebelum para tetamu yang minta mampus 

itu berdatangan di lembah ini. Dan jangan lupa, lipat gandakan 

meminum ramuan kulit pohon yang kuberikan agar tenaga dalam kalian 

meningkat dengan cepat!”

“Kami perhatikan hal itu Dewi dan terima kasih atas maksudmu 

menurunkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai.”

“Jika tak ada lagi yang hendak kalian sampaikan atau tanyakan, 

aku ingin beristirahat dulu...”

“Ada satu hal yang ingin kami tanyakan Dewi,” sahut Hijau Dua.

“Katakan!”

“Apakah aturan di Lembah Bangkai ini mengalami perubahan?” 

bertanya Hijau Dua. “Maksudmu?”

“Waktu sampai kemari tadi, kami menemui seorang pemuda 

bernama Adi Sara tengah berbincang-bincang dengan Hijau Satu. 

Menurut aturan pemuda itu siapapun dia dan bagaimanapun caranya

dia sampai disini haruslah dibunuh. Justru menurut Hijau Satu dia 

telah menyelamatkannya bahkan merawatnya dari luka-lukanya...”

Sesaat sang Dewi agak terkesiap juga mendengar pertanyaan itu, 

namun akhirnya dia menjawab juga: ‘Tak ada peraturan yang berubah 

di Lembah Bangkai ini. Orang luar yang datang harus dibunuh, 

terutama kaum laki-laki. Namun untuk maksud dan tujuan kita, ada 

kalanya kita harus memperhatikan keadaan. Lagi pula...”

Belum selesai Dewi Lembah Bangkai mengucapkan kata-katanya 

tiba-tiba ditempat itu muncul Adi Sara. Melihat kedatangan si pemuda 

Hijau Dua dan Hijau Tiga cepat berdiri. Salah satu dari mereka 

membentak.

-”Manusia lancang! Apakah kau tidak tahu bahwa tidak 

seorangpun boleh masuk ke tempat ini tanpa izin Dewi?!”

Hijau Tiga menimpali: “Lagi-lagi Hijau Satu berlaku teledor! 

Pemuda ini berada dibawah pengawasannya. Mengapa bisa masuk 

kemari?!”

Saat itu pula Hijau Satu muncul disitu.

“Apa penjelasanmu Hijau Satu?!” Dewi bertanya. Suaranya tetap 

halus tapi mengandung ancaman.

“Maafkan saya Dewi. Ketika pemuda ini sudah masuk ke dalam 

goa, saya kira dia tak akan keluar lagi. Karena saya sudah memesankan 

aturan di Lembah Bangkai ini. Tapi ternyata dia menyelinap dan tahu-

tahu sudah ada disini. Saya siap menerima hukuman!”

Hijau Dua dan Hijau Tiga yang rupanya pada dasarnya memang 

tidak senang terhadap Hijau Satu mencibirkan bibir, berharap sang 

Dewi segera menjatuhkan hukuman. Tapi diluar dugaan pimpinan 

mereka itu justru berpaling pada Adi Sara dan berkata: “Pemuda, kau 

menyalahi aturan. Memasuki tempat orang tanpa izin. Memasuki 

Lembah Bangkai saja berarti mati! Apalagi berani memasuki tempat ini.Apa kepentinganmu? Lekas katakan!”

“Pertama harap jangan salahkan Hijau Satu. Sesuai perintah Dewi

dia telah merawatku hingga saat ini meski belum sembuh tapi 

keadaanku jauh lebih baik! Aku berhutang budi dan nyawa bukan saja 

padanya, tetapi terutama sekali pada Dewi. Setelah Dewi menyelamat-

kan nyawaku, aku tidak yakin Dewi kemudian akan mengambilnya 

kembali dengan jalan membunuhku!”

“Dewi! Pemuda ini pandai bicara! Mulutnya berbisa!” teriak Hijau 

Dua.

Dewi lambaikan tangan. “Dia belum menjawab pertanyaanku 

mengapa dia berani masuk kemari!”

“Untuk itu aku mohon maafmu Dewi! Aku mengerti bahwa tempat 

ini adalah sangat pribadi. Apalagi semua yang ada disini adalah orang-

orang perempuan. Hijau Satu sudah memberi tahu dan melarangku 

keluar dari gua perawatan. Namun aku terpaksa kemari karena harus 

memberi tahu bahwa aku akan meninggalkan tempat ini untuk 

menolong ayahku! Orang-orang Kadipaten telah menganiayanya. Aku 

harus mengetahui bagaimana keadaannya sekarang...”

“Mengapa orang-orang Kadipaten menganiaya ayahmu?” tanya 

sang Dewi pula.

“Waktu itu mereka sebenarnya hendak menangkapku. Tapi 

karena yang ada di rumah cuma ayah, maka mereka menyeret dan 

memukuli orang tua itu. Aku harus pergi. Terima kasih atas...”

“Tunggu dulu! Kau harus menerangkan mengapa orang-orang 

Kadipaten hendak menangkapmu?!”

“Yang jadi biang racunnya adalah Adipati Tawang Merto dan 

Adipati Sawung Glingging. Semua gara-gara aku bermaksud mengawini 

Ningrum, puteri Adipati Sawung yang ternyata diam-diam sudah 

dijodohkan ayahnya dengan putera Adipati Tawang yang bernama 

Tubagus Kolokaping. Aku lalu difitnah sebagai ikut berkomplot dengan 

Warok Bekontroro, ditangkap, dianiaya lalu dibuang ke Lembah Bangkai 

ini...”

“Apakah kau sangat mencintai gadis bernama Ningrum itu?” tanya 

Dewi.

“Kami benar-benar saling mencinta. Aku akan menempuh cara 

apa saja untuk mendapatkannya. Tetapi kemampuan dan kekuatanku 

tidak mungkin untuk menghadapi kekuasaan kedua Adipati itu...”

Paras dibalik cadar hijau itu tampak berubah sesaat, begitu juga 

paras Hijau Satu.

“Hemm...” terdengar sang Dewi menggumam. “Kapan hari 

perkawinan Ningrum dengan Tubagus itu?”

“Hari ke lima bulan enam. Jadi tiga hari lagi. Begitu yang aku 

dengar,” sahut Adi Sara.

Sang Dewi tampak berpikir-pikir. Akhirnya terdengar kembali 

suaranya: “Mengenai diri Ningrum kau tidak usah kawatir. Gadis itu 

akan dibawa kemari...”Terkejutlah Adi Sara. Dan lebih terkejut lagi adalah ketiga gadis 

berpakaian hijau. Sang Dewi sebaliknya tetap tenang. “Hijau Dua, 

tugasmu untuk menculik gadis itu dan membawanya kemari. Untuk 

menghadapi para tetamu yang bakal datang menyerbu kita masih 

membutuhkan satu atau dua gadis lagi sebagai anak buahku. Ningrum 

kujadikan Hijau Empat... Ada yang berkeberatan?”

Baik Hijau Satu maupun Dua dan Tiga tidak berani membuka 

mulut. Justru yang terdengar adalah suara Adi sara. “Dewi, jika 

maksudmu itu sungguhan, aku benar-benar mengucapkan banyak 

terima kasih...Tapi jika gadis itu diculik, ayahku akan jadi sasaran. 

Keadaannya sekarang entah bagaimana, dia pasti akan disiksa dan 

dibunuh seperti yang mereka lakukan terhadapku!”

“Hijau Tiga akan mengurus orang tuamu itu,” jawab Dewi pula. 

Lalu dia berpaling pada Hijau Satu. “Bawa dia ke dalam goamu kembali! 

Sekali ini aku tidak ingin melihatnya meninggalkan goa itu tanpa 

izinku!”

Hijau Satu menjura. Lalu dia memberi isyarat pada Adi Sara 

untuk mengikutinya. Sebelum meninggalkan goa kediaman sang Dewi, 

Adi Sara menjura pada gadis bercadar itu, juga pada Hijau Dua dan 

Hijau Tiga.

“Terima kasih. Ternyata kalian adalah manusia-manusia berbudi 

tinggi. Aku siap berbakti pada kalian...”

“Lupakan hal itu! Disini tidak diperlukan bakti orang laki-laki!” 

sahut Dewi pula.

Setelah Hijau Satu dan Adi Sara tak ada lagi di situ sang Dewi 

berpaling pada Hijau Dua dan berkata: “Penculikan itu harus kau 

lakukan pada malam pesta perkawinan. Jangan lupa meninggalkan 

pesan. Adipati Tawang dan Sawung Glingging termasuk kaum laki-laki 

yang harus dibasmi. Aku tahu betul Tawang Merto memiliki tiga istri 

dan lebih dari setengah lusin gundik peliharaan! Sawung Glingging tidak 

lebih baik dari pada calon besannya itu. Walau tidak punya istri lebih 

dari satu dan tidak punya gundik, tapi anak istri orang banyak yang 

digerayanginya! Malam ini pelajaran lima jurus ilmu silat Lembah 

Bangkai akan kita mulai. Sampaikan pada Hijau Satu. Dan kalian harus 

punya waktu untuk beristirahat karena pelajaran itu akan sangat 

menguras tenaga...”

“Kami mohon diri dulu Dewi,” kata Hijau Dua dan Hijau Tiga 

berbarengan.ESTA perkawinan putera-puteri Adipati itu berlangsung sangat meriah 

dan penuh kemewahan. Tamu-tamu yang datang bukan orang 

sembarangan, bukan saja kaum bangsawan dan hartawan tapi banyak 

pula pejabat-pejabat serta tokoh-tokoh penting dari Kotaraja. Hiburan 

yang menyemarakan pesta perkawinan itupun merupakan hiburan kelas 

satu yaitu serombongan pemain gamelan terkenal yang pada menjelang 

tengah malam akan disambung dengan permainan wayang kulit oleh ki 

dalang Ronggo Suwito dari Madiun.

Selagi para tetamu siap untuk mengambil santap malam yang 

disediakan di sebuah bangsal besar, perhatian banyak orang tertarik 

oleh munculnya seorang tetamu gadis jelita berpakaian hijau. Hampir 

semua orang terutama kaum lelaki merasakan nafas mereka seperti 

tertahan. Bukan saja oleh kecantikan dan kemulusan kulit sang dara, 

tetapi lebih banyak oleh pakaian hijau yang dikenakannya. Pakaian itu 

begitu tipis sehingga liku-liku bentuk auratnya terlihat dengan jelas!

Sepasang pengantin dan orang-tua masing-masing yang mengapit 

mereka ikut terkesiap dan tahu-tahu tamu tunggal itu sudah berada di 

depan pelaminan!

“Bidadari dari manakah yang turun ketempat pesta perkawinan 

anakku ini!” ujar Adipati Tawang Merto. Kedua bola matanya terbuka 

lebar menggerayangi dada dan bagian perut yang membayang dibalik 

pakaian hijau tipis itu. Tenggorokannya tampak turun naik. Adipati 

yang memang mata keranjang ini basahi bibirnya dengan ujung lidah. 

Ketika Tawang Merto hendak menegur, sang tamu jelita lebih dulu 

membuka mulut.

“Aku datang bukan untuk memberi ucapan selamat. Tapi untuk 

menjemput pengantin perempuan. Ningrum tidak layak menjadi suami 

istri Tubagus Kolokaping!”

Bersamaan dengan itu lampu besar di tengah bangsal hancur 

berantakan. Dalam keadaan yang tiba-tiba menjadi redup gelap 

terdengar pekik pengantin perempuan. Lalu suara bentakan disusul 

dengan mentalnya beberapa sosok tubuh.

“Penculik! Kejar!”

“Pengantin perempuan diculik!”

Adipati Tawang Merto yang barusan terjajar hampir jatuh ke lantai 

cepat berdiri dan mengejar. Dua kali membuat lompatan dia sudah 

berada di ujung bangsal dan menghadang si baju hijau.

“Gadis gila! Berani kau mengacaukan pesta perkawinan anakku! 

Berani kau menculik puteriku! Rasakan!”

Seperti diketahui Tawang Merto memang memiliki ilmu silat dan 

kesaktian. Maka sekali dia menggebrak serangannya yang mengeluar-

kan angin keras membuat Hijau Dua terkejut! Gadis ini cepat mengelak 

dan susupkan satu tendangan. Tapi dengan mudah Tawang Merto 

menghindari tendangan itu malah kini tinjunya berkelebat ke arahkepala Hijau Dua. Sang dara segera maklum kalau Adipati itu memiliki 

kepandaian silat tinggi, Dalam pada itu beberapa orang sudah men-

datangi tempat itu dan mengurung. Beberapa pengawal yang bertugas 

berjaga-jaga disitu telah pula menghunus senjata masing-masing.

Sebagai anak buah Dewi Lembah Bangkai, Hijau Dua tidak takut 

menghadapi orang-orang itu. Namun yang lebih penting baginya adalah 

menyelesaikan tugas dengan baik yaitu membawa Ningrum dalam 

keadaan selamat ke Lembah Bangkai sesuai perintah pimpinannya. 

Memikir sampai disitu Hijau Dua putar tubuhnya dan menghantam ke 

kiri dimana Adipati Tawang Merto berada. Sang Adipati yang berada

dalam keadaan kalap langsung menyongsong serangan si gadis dengan 

satu jotosan keras. Dua pukulan saling beradu. Tawang Merto mengeluh 

kesakitan. Hijau Dua terhuyung hampir jatuh. Disaat itu dari samping 

ada yang menyerang dengan hantaman kursi. Ternyata Adipati Sawung 

Glingging.

Melihat keadaan tidak menguntungkannya, apalagi setelah 

mengetahui bahwa Tawang Merto memiliki tenaga dalam jauh lebih 

tinggi darinya, Hijau Dua memutuskan untuk melarikan diri saja.

Kursi kayu yang dihantamkan sawung Glingging tidak 

mengenai.sasaran karena Hijau Dua cepat mengelak. Sambil keluarkan 

suara tertawa aneh, dara ini kebutkan lengan baju hijaunya yang 

panjang. Serta merta menghamparlah bau busuk yang amat sangat di 

tempat itu. Semua orang merasakan nafas menjadi sesak dan dada sakit 

mendenyut. Satu demi satu mereka tampak terhuyung-huyung lalu 

berjatuhan, tergelimpang dalam keadaan tubuh lemas lunglai. Satu-

satunya yang masih mampu tegak berdiri walaupun dengan nafas 

menyengat adalah Adipati Tawang Merto. Adipati ini memburu Hijau 

Dua dengan satu jotosan ke arah dada. Namun yang diserang sudah 

memutar tubuh dan berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.

“Bangsat penculik! Jangan kira kau bisa kabur!” teriak Tawang 

Merto. Dia hantamkan tangan kanannya. Serangkum angin deras 

menderu. Tapi kekuatan pukulan sakti ini hanya mencapai setengahnya 

saja karena keadaan tubuhnya yang menjadi lemas akibat kebutan 

lengan pakaian Hijau Dua yang menyebarkan bau mayat busuk tadi.

Saat itu Hijau Dua sendiri sudah lari jauh. Yang terdengar hanya 

teriakannya dalam kegelapan malam.

“Tawang Merto! Kalau kau masih inginkan anak mantumu, 

datanglah ke Lembah Bangkai!”

“Kurang ajar haram jadah!” kertak Adipati Tawang Merto dengan 

dua tangan terkepal. Perlahan-lahan tubuhnya terduduk di tanah.

Pesta perkawinan yang tadinya begitu semarak dan penuh 

kemewahan kini berubah menjadi kacau dan geger!

***

RASA takut disertai goncangan jiwa yang keras membuat Ningrumatuh pingsan selama dilarikan oleh Hijau Daun setengah malaman. 

Sebelum mata hari terbit anak buah Dewi Lembah Bangkai itu berharap 

sudah bisa sampai di lembah, namun dalam berlari digelapnya malam 

ada satu kegelisahan merasuk dirinya. Dia merasa ada seseorang yang 

membuntutinya dan dia yakin siapapun adanya orang ini bukanlah 

orang dari Kadipaten karena si penguntit muncul setelah dia jauh 

meninggalkan Kadipaten. Dan kesanggupan menguntit sejauh itu hanya 

bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, paling 

tidak mempunyai ilmu lari yang ampuh. Namun yang membuat Hijau 

Dua menjadi sebal ialah setiap dia menoleh ke belakang, dia sama sekali 

tidak melihat si pengejar. Seolah-olah orang itu sengaja menyembunyi-

kan diri. Maka timbullah niat dalam diri dara itu untuk menjebak.

Di sebuah tikungan jalan, Hijau Dua jatuhkan selendang milik 

pengantin perempuan yang sejak tadi terlibat di leher Ningrum. Lalu dia 

merambas semak belukar di kanan jalan kemudian secepatnya 

menyeberang ke kiri jalan dan mendekam di balik serumpunan pohon 

bambu. Menunggu dengan mempertajam telinga dan sepanjang mata 

tak berke-sip.

Ternyata Hijau Dua tidak menunggu lama. Mula-mula terdengar 

suara kaki berlari. Perlahan sekali padahal orang itu berlari kencang. Ini 

sudah satu pertanda bahwa dia bukan saja memiliki ilmu lari cepat tapi 

sekaligus ilmu meringankan tubuh. Sesaat kemudian muncul satu 

sosok tubuh berpakaian putih. Orang ini berbadan tegap tanda usianya 

masih mudah. Rambutnya gondrong menjulai bahu. Dia mengenakan 

ikat kepala putih. Sambil menggaruk-garuk kepala orang ini 

memandang berkeliling. Ketika berpaling ke jurusan pohon bambu Hijau 

Dua segera dapat melihat raut wajahnya yang setengah terlindung oleh 

kegelapan.

“Hemm...Seorang pemuda bertampang keren. Tapi lagaknya 

celangak celinguk seperti orang tolol!” berkata Hijau Dua dalam hati. 

Lalu dilihatnya pemuda itu membungkuk memungut selendang 

pengantin.

Hijau Dua mengomel dalam hati ketika melihat si pemuda 

menciumi selendang itu berulang kali. “Jangan-jangan pemuda ini salah 

seorang yang tergila-gila pada Ningrum,” pikir Hijau Dua. Dia 

memperhatikan terus.

Pemuda berpakaian putih tampak melangkah ke arah semak 

belukar yang tadi dirambas Hijau Dua. Dia masuk ke balik semak 

belukar itu, memandang berkeliling. Tapi tidak menemukan apa yang 

dicarinya.

“Aneh, tak mungkin si jelita itu amblas ke dalam bumi! Tapi 

kemana perginya? Mengapa bisa lenyap? Dan selendang ini, apakah 

sengaja ditinggal sebagai tanda dia memang suka diikuti...?!”

“Pemuda geblek! Siapa suka padamu! Kenalpun tidak!” Hijau Dua 

mendamprat dalam hati. Kemudian didengarnya lagi pemuda tak 

dikenal itu berkata.“Biasanya pemuda yang menculik gadis. Sekarang malah gadis 

menculik gadis! Mau dijadikan apa? Ha...ha... ha... Semakin aneh dunia 

ini rupanya!”

“Pemuda sialan! Dikiranya aku ini menculik Ningrum untuk 

dijadikan apa!” Kembali Hijau Dua mengomel. Kalau diperturukannya 

hatinya yang memberingas mau dia keluar dari balik pohon bambu saat 

itu juga dan menghajar pemuda bermulut seenaknya itu.

“Ah, nasibku sial! Mungkin dia sudah kabur! Baiknya aku kembali 

saja ke Kadipaten...!” Si gondrong kalungkan selendang pengantin di 

lehernya lalu berbalik dan tinggalkan tempat itu ke arah mana dia 

datang sebelumnya. Setelah menunggu beberapa lama dan yakin 

pemuda tadi benar-benar telah meninggalkan tempat itu, Hijau Dua 

keluar dari balik rerumpunan pohon bambu lalu meneruskan 

perjalanan menuju Lembah Bangkai.

Dibalik sebatang pohon jati tua, terdengar suara tertawa perlahan. 

Lalu keluar sosok tubuh pemuda tadi.

“Penipu tertipu! Mana ada pemuda sepertiku ini bisa ditipu 

semudah itu...!” Dia kembali tertawa lalu mulai mengejar ke jurusan 

lenyapnya Hijau Dua yang memanggul tubuh Ningrum.


7


UDARA PAGI yang seharusnya penuh kesegaran itu justru sama sekali 

tidak dirasakan Pendekar 212 Wiro Sableng ketika pengejarannya 

berakhir di pinggir lembah yang merupakan jurang dalam penuh semak 

belukar dan batu-batu besar bertonjolan disana-sini. Hidungnya 

mencium bau busuk yang amat sangat. Wiro memandang ke arah 

lembah.

“Gadis ini lenyap di sekitar tempat ini! Apakah dia kabur 

menuruni lembah busuk ini?” Murid Sinto Gendeng dari puncak 

Gunung Gede itu meneliti kembali. Kemudian melengaklah sang 

pendekar ketika kedua matanya melihat sosok-sosok mayat yang 

bergelantungan di cabang-cabang pepohonan!

“Gila! Tempat apa inir Siapa yang digantung dan siapa yang 

menggantung?!” Dia berpikir-pikir apakah akan segera saja menuruni 

lembah meneruskan penyelidikan. Selagi dia menimbang-nimbang 

begitu rupa tiba-tiba terdengar suara nyanyian dari arah lembah, 

ditimpali petikan kecapi.

Lembah Bangkai lembah kematian

Jangankan menjejakkan kaki

Melihatnya sajapun sudah cukup alasan untuk mati!

Tak ada yang datang dan bisa pergi

Tak ada yang pergi membawa nyawa di badan

Lembah Bangkai lembah kematian

Siapa yang datang tak bisa kembali pulang!

“Ah, ini baru kejutan!” ujar Wiro sambil garuk kepala. Kedua 

matanya memandang tajam ke arah lembah. “Ada mahluk bermukim di 

dasar lembah sana. Mungkin jin mungkin manusia aneh! Petikan 

kecapi, suara nyanyian... Jelas mengandung tenaga dalam. Kalau tidak 

mana bisa sampai terdengar sejauh ini...!”

Selagi Wiro bicara sendirian seperti itu tiba-tiba dia melihat 

sesuatu melesat sangat cepat dari dasar lembah. Ketika diperhatikan 

benda itu ternyata seutas tali yang ujungnya berbentuk buhul besar. 

Dalam waktu sekejapan saja buhul besar itu telah menyambar ke arah 

kepala Wiro. Dalam keterkejutannya masih untung pemuda ini sempat 

jatuhkan diri. Tali lewat di atas kepalanya, jatuh melibat sebatang pohon 

kecil. Begitu tali melibat pohon, terdengar suara berderak. Batang pohon 

terangkat ke atas, akarnya tercabut berserabutan. Sesaat kemudian 

pohon itu terbetot ke bawah, meluncur ke dalam lembah! Wira dapat 

membayangkan kalau batang lehernya tadi sempat dilibat tali aneh itu!

“Ada orang sakti di dalam lembah yang pergunakan kepandaian

nya untuk mencelakai dan membunuh sesama manusia!” ujar Wiro 

dalam hati. “Gadis berbaju hijau yang menculik pengantin perempuan 

itu...?!” Menduga sampai disitu membuat semakin bulat tekad sang 

pendekar untuk turun ke dalam lembah. Sementara itu dari bawah sana 

kembali terdengar suara nyanyian dan petikan kecapi. Wiro menunggu 

sampai suara nyanyian dan petikan kecapi itu berhenti. Lalu pendekar 

ini pentang mulut keluarkan suara nyanyian. Nadanya sungguh tidak 

sedap karena sumbang. Tapi syair seenaknya yang dinyanyikannya 

justru membuat penghuni lembah dibawah sana menjadi tidak enak dan 

marah. 

Lembah indah ciptaan Tuhan

Berselimut bau busuk ciptaan insan

Sungguh memalukan pekerjaan yang kau lakukan

Bukan mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan

Tapi rnengotori dengan mayat dan kebusukan

Urusan kematian adalah urusan Gusti Allah

Manusia jangan sombong merasa perkasa

Bila ajal sampai sudah

Kaupun akan berkubur di liang tanah

Lembah Bangkai diselimuti kesunyian begitu gema nyanyian 

Pendekar 212 lenyap. Tapi sepasang mata murid Sinto Gendeng tak bisa 

ditipu. Tersamar diantara kehijauan daun-daun pepohonan dia melihat 

dua bayangan hijau bergerak cepat menuju bagian atas lembah. Wiro 

menunggu. Tapi dua bayangan itu mendadak berhenti di lereng lembah, 

dan mendekam di suatu tempat seolah-olah menunggu sesuatu.

Di saat yang sama Wiro mendengar suara derap kaki kuda di 

belakangnya. Ketika dia berpaling dilihatnya Adipati Tawang Merto dan 

Adipati Sawung Glingging sudah berada di tepi lembah beserta lebih dari 

dua puluh perajurit bersenjata lengkap.

“Orang muda! Siapa kau?! Apakah kau penghuni di tempat ini?!” 

Tawang Merto mendekati Wiro sambil menutup hidung, tak tahan 

mencium bau busuknya mayat.

“Aku baru saja sampai di lembah ini!” jawab Wird. “Hemmm, apa 

yang kau lakukan pagi-pagi disini?!” yang bertanya kini adalah Adipati 

Sawung Glingging.

“Aku mencari seseorang,” jawab Wiro lagi. 

“Hemm...gerak gerikmu mencurigakan! Jangan-jangan kau 

anggota komplotan penculik anakku!”

Wiro tersenyum dan menyahuti: “Adipati, jangan asal menuduh 

saja. Kau saksikan sendiri tempat ini. Angker dan menebar bau busuk! 

Inilah Lembah Bangkai!”

“Nah, kau tahu nama lembah ini, pasti kau penghuni disini!”

“Ayah! Aku yakin manusia satu ini terlibat dalam penculikan 

istriku!” seorang pemuda yang juga menunggang kuda menyeruak kedepan lalu berteriak: “Pusaka Kadipaten! Tangkap pemuda ini!”

Sepuluh perajurit segera melompat turun dari kuda mereka.

“Kalian gila semua atau bagaimana? Tidak ada ujung pangkal 

hendak menangkapku?!” teriak Wiro jadi gusar. Tapi sepuluh perajurit 

itu merangsak maju.

“Bunuh dia kalau berani melawan!” berkata pemuda diatas kuda. 

Dia bukan lain adalah Tubagus Kolokaping, putera Adipati Tawang 

Merto. Kehilangan istrinya disaat bersanding dipelaminan membuatnya 

ingin membunuh siapa saja saat itu.

Ketika perajurit-perajurit Kadipaten itu hanya tinggal tiga langkah 

lagi dari hadapan Wiro, tiba-tiba dari dasar lembah terdengar alunan 

nyanyian dan petikan kecapi. Adipati Tawang Merto dan calon besannya 

Sawung Glingging terkesiap dan saling pandang. Sepuluh perajurit yang 

hendak meringkus Wiro seolah-olah terpukau dan hentikan gerakan 

mereka.

“Betul apa yang dikatakan Rundono tempo hari. Lembah Bangkai. 

Ada bau busuk. Ada suara nyanyian aneh dan petikan kecapi yang 

menggidikkan...” berbisik Sawung Glingging.

“Jangan kita terpengaruh oleh pendengaran yang bukan-bukan. 

Tidak ada jin atau setan yang pandai menyanyi dan main kecapi! Itu 

pasti manusia juga. Aku yakin ini markas penculik keparat itu!” ujar 

Tawang Merto. Dia bersiap-siap mencari jalan untuk menuruni lembah 

dan memberi isyarat pada perajurit-perajurit yang ada dibelakangnya.

“Perajurit-perajurit tolol! Mengapa kalian diam saja?! Lekas 

tangkap pemuda gondrong itu!” terdengar Tubagus Kolokaping berteriak 

marah ketika dilihatnya perajurir-perajurit yang tadi sudah siap untuk 

meringkus Wirio kini malah tegak seperti terpukau!

Dibentak begitu rupa sepuluh perajurit itu seperti sadar. Sambil 

berteriak mereka melompati Pendekar 212 Wiro Sableng.

Adipati Tawang Merto yang sudah siap menuruni bibir lembah jadi 

menahan tali kekang kudanya ketika dia melihat enam dari sepuluh 

perajurit Kadipaten yang hendak menangkap pemuda berambut gondrog 

itu mencelat dan berkaparan di tepi lembah sambil mengerang 

kesakitan. Empat lainnya tertegun ketakutan.

Marahlah orang-orang Kadipaten itu, terutama Tawung Merto, 

anaknya Tubagus Kolokaping dan Adipati Sawung Glingging. Langsung 

saja Tawang Merto memerintahkan agar Wiro dibunuh saat itu juga! 

Belasan senjata dihunus. Tubagus Kolokaping mencekal sebilah, golok 

panjang erat-erat. Selain ayahnya, dialah yang paling mendendam atas 

penculikan terhadap Ningrum.

Tawang Merto melompat dari kudanya. Justru inilah yang 

menyelamatkannya dari seutas tali yang tiba-tiba melesat dari dasar 

lembah. Buhul besar yang tadinya akan menyambar kepalanya, kini 

hanya sempat menjirat leher kuda tunggangan. Binatang ini meringkik 

keras, melejang-lejangkan keempat kakinya. Lalu dalam keadaan seperti 

itu tubuhnya terseret menggelinding ke dalam lembah!Walau apa yang terjadi dengan kuda tunggangannya itu sempat 

membuat kuduk Tawang Merto mengkirik, namun saat itu dia lebih 

mementingkan pada tekadnya bersama yang lain-lain untuk membunuh 

Pendekar 212 Wiro Sableng.,

Disaat yang menegangkan itu tiba-tiba muncul dua bayangan 

hijau. Udara di bibir lembah serta merta menjadi busuk luar biasa. 

Semua orang merasakan nafas menjadi sesak. Yang memiliki 

kepandaian tinggi seperti dua Adipati dan puteranya serta Wiro Sableng 

segera menutup jalan penciuman. Tetapi perajurit-perajurit yang 

belasan jumlahnya mulai batuk-batuk, sakit mendenyut pada dada 

masing-masing dan kedua kaki bergetar lemas, hampir tak kuasa lagi 

menunjang tubuh mereka. Sementara itu puluhan kuda tunggangan 

yang ada disitu mulai resah, meringkik tiada henti bahkan ada yang 

sudah menghambur lari dari tempat itu.

Melihat munculnya dua gadis berpakaian tipis berwarna hijau, 

perhatian semua orang terhadap Wiro Sableng menjadi beralih.

“Bangsat penculik! Dikejar kau datang sendiri! Mana puteriku?!” 

teriak Adipati Sawung Glingging.

Hijau Dua, dara berpakaian hijau tipis yang tegak berkacak

pinggang tersenyum mencibir. “Kau rupanya ayah gadis itu! Sesuai 

permohonan anakmu, Dewi telah memberi putusan mengampuni 

jiwamu! Nah, kau tunggu apa lagi! Lekas minggat dari sini!”

“Dewi...Dewi siapa maksudmu, penculik keparat?!” teriak Tubagus 

Kolokaping. 

Plaakk!

Satu tamparan keras melabrak pipi pengantin yang kecurian istri 

itu. Tubuhnya berputar terhuyung-huyung lalu terbanting ke tanah. 

Bibirnya pecah mengucurkan darah. Melihat hal ini sang Ayah, Adipati 

Tawang Merto menggerung marah dan lepaskan satu jotosan ke wajah 

Hijau Dua. Dari samping Hijau Satu memapasi serangan Adipati itu 

dengan satu tendangan ke arah perut. Membuat Tawang Merto terpaksa 

batalkan serangannya pada Hijau Dua lalu membalik, maksudnya 

untuk menggebuk Hijau Satu. Akibatnya bentrokan dua lengan tidak 

terhindarkan. Hijau Satu terpekik. Tubuhnya terhuyung, lengan 

kanannya terasa seperti patah. Sebaliknya Tawang Merto jatuh duduk di 

tanah. Wajahnya pucat. Adipati ini cepat melompat bangkit. Kalau tadi 

dia mengerahkan hanya setengah bagian saja dari tenaga dalamya, 

maka kini dia kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang 

dimilikinya.

Akan halnya Wiro, karena merasa orang sudah melupakan dirinya 

maka pemuda ini melompat ke cabang sebatang pohon dan 

memutuskan untuk menonton saja apa yang terjadi dibibjr Lembah 

Bangkai itu!

Tidak percuma Tawang Merto mempelajari berbagai ilmu silat dan 

kesaktian selama belasan tahun. Serangan-serangan yang 

dilancarkannya menimbulkan deru angin, dibelakang kedua kakinyadebu beterbangan. Dalam waktu singkat dia berhasil mendesak Hijau 

Dua. Sebetulnya dalam ilmu silat gadis muda anak buah Dewi Lembah 

Bangkai itu tidak berada dibawah tingkat kepandaian sang Adipati. 

Namun tenaga dalam yang dikerahkan penuh oleh lawan membuat 

Hijau Dua harus berhati-hati dan memilih lebih baik mundur atau 

berkelit pada saat dia merasakan tidak mungkin mengadu kekuatan.

Berlainan dengan Tawang Merto yang menunjukkan kehebatan-

nya maka Adipati Sawung Glingging yang dibantu oleh tubagus 

Kolokaping sama sekali tidak berdaya menghadapi serangan-serangan 

Hijau Satu. Sesuai dengan pesan yang diterimanya dari sang Dewi, 

Hijau Satu tidak mau menciderai Sawung Glingging yang ayah Ningrum 

itu, sebaliknya serangannya dititikberatkan pada sang calon pengantin 

pria yang sial. Akibatnya Tubagus Kolokaping menjadi bulan-bulanan 

hantaman Hijau Satu. Dalam empat jurus saja pemuda itu sudah babak 

belur dan tergelimpang di tanah.

Sawung Glingging yang menjadi kecut berteriak pada perajurit-

perajurit Kadipaten. Setengah lusin perajurit maju. Keenam perajurit ini 

dibikin babak belur dalam tiga jurus. Sawung Glingging melompat 

mundur dengan muka pucat.

“Sekali lagi aku memberi kesempatan. Apakah kau masih tidak 

mau minggat dari tempat ini?!”

Mendengar ucapan Hijau Satu dan menyadari bahwa dia tidak 

memiliki kemampuan untuk menghadapi gadis baju hijau itu sendirian. 

Adipati Sawung Glingging melompat ke atas punggung seekor kuda lalu 

menggebrak binatang itu meninggalkan lembah. Beberapa perajurit yang 

juga sudah meleleh nyalinya termasuk Tubagus Kolokaping melakukan 

hal yang sama. Hingga kini tinggallah Adipati Tawung Merto seorang 

diri, masih ditunggui oleh sebelas perajurit yang rata-rata berada dalam 

keadaan ketakutan.

Perkelahian antara Hijau Dua dan Tawang Merto semakin hebat. 

Masing-masing mengeluarkan kepandaian. Tawang Merto andalkan 

tenaga dalam yang tinggi dan pukulan-pukulan sakti tangan kosong. 

Sebaliknya Hijau Dua andalkan kegesitan serta pukulan-pukulan ujung 

lengan baju hitamnya yang membersitkan angin deras mengandung 

hawa busuk menyesakkan. Meskipun dia dapat membendung semua 

serangan lawan namun lama-lama Hijau Dua yang kurang pengalaman 

itu mulai terdesak dan beberapa kali dia hampir kena hantaman 

pukulan lawan yang mengandung jebakan-jebakan mematikan.

Melihat hal ini, Hijau Satu keluarkan suara suitan nyaring. Dari 

dalam lembah tiba-tiba melesat seutas tali yang ujungnya membentuk 

lingkaran maut. Ujung tali ini menderu ke arah kepala Tawang Merto 

yang saat itu sama sekali tidak menyadari karena dengan segala 

dendam dan kemarahan berusaha menghabisi Hijau Dua. Ketika tali 

maut itu hampir lolos melewati kepalanya untuk menjirat lehernya, tiba-

tiba sebatang patahan cabang kecil melayang ke udara. Tali yang siap 

menjirat dan menyeret tubuh Tawang Merto terpukul mental. SangAdipati selamat dari maut.

“Bedebah minta mampus! Siapa yang berani mencampuri urusan 

orang-orang Lembah Bangkai!” teriak Hijau Satu marah. Sebagai 

jawaban terdengar suara tawa mengekah. Hijau Satu berpaling dan 

kagetlah gadis ini!


8


TEGAK sepuluh langkah di sebelah kirinya, Hijau Tiga melihat seorang 

nenek berpakaian kuning bermuka hitam. Didada pakaiannya 

terpampang gambar kelabang berwarna biru. Inilah Nenek Kelabang 

Biru tokoh silat golongan hitam yang ditempur Hijau Tiga dan Hijau Dua 

beberapa waktu lalu. Kehebatan si nenek membuat dua anak buah Dewi 

Lembah Bangkai terpaksa mengundurkan diri. Disamping si nenek 

berdiri seorang lelaki berwajah tampan tapi bersikap sombong. Sebilah 

pedang tersisip di pinggangnya sebelah kanan. Orang inilah yang 

diketahui hidup sebagai suami istri dengan si nenek dan bergelar 

Pendekar Pedang Iblis.

Si nenek masih terus tertawa mengekeh. Ketika hentikan tawa 

terdengar suaranya yang nyaring.

“Begini-begini saja keadaan Lembah Bangkai! Busuk bau! 

Ternyata tidak ada apa-apanya. Kecuali mayat-mayat tak berguna 

bergelantungan disana sini untuk menakuti binatang hutan! Hik... 

hik...hik! Beberapa waktu lalu kalian berdua mengunjungiku di bukit 

Walang. Menjajal kehebatanku lalu lari. Hik...hik...hik! Saat ini aku 

membawa serta kekasihku! Bukankah dia yang kalian cari?!”

“Kalian berdua tunggulah sampai kami menyelesaikan urusan 

dengan Adipati Tawang Merto! Jangan mencoba kabur! Sekali datang di 

Lembah Bangkai tak ada lagi jalan pulang!” menjawab Hijau Tiga. Lalu 

dia berkelebat membantu Hijau Dua yang tengah didesak oleh Tawang 

Merto. Mendapat dua lawan tangguh begitu rupa betapapun hebatnya 

sang Adipati, dalam waktu tiga jurus dia segera terdesak hebat. Dengan 

mengertakkan geraham Tawang Merto cabut senjata mustika yang 

disimpannya dibalik pakaian. Senjata ini adalah sebilah pisau bermata 

dua yang berlobang di bagian badannya, memancarkan sinar redup 

kehitaman tanda mengandung racun jahat.

Melihat lawan keluarkan senjata berbahaya Hijau Dua dan Hijau 

Tiga segera loloskan selendang yang dijadikan ikat pinggang. Selendang 

hijau ini dikebut demikian rupa sehingga setiap Tawang Merto menikam 

atau membabatkan pisaunya dia merasakan seperti ada dorongan angin 

keras menderanya. Lama-lama Adipati ini menjadi kalang kabut sendiri. 

Beberapa kali ujung selendang kedua lawannya berhasil menghantam 

tubuhnya. Sang Adipati merasakan ada hawa aneh yang menjalari 

dirinya. Keringat dingin mengucur disekujur badannya.

Selagi terdesak seperti itu, dia berteriak pada sebelas perajurit 

yang masih ada disitu agar membantu. Namun semua perajurit tidak 

ada yang berani bergerak!

“Perajurit-perajurit pengecut! Kelak kalian akan kuhukum 

gantung satu persatu “teriak Tawang Merto marah.“Jika kami berdua menjadi perajurit-perajurit yang berani, hadiah 

apa yang akan kau berikan pada kami Adipati?!” terdengar suara nenek 

Kelabang Biru.

Adipati Tawang Merto melompat mundur menjauhi kedua lawan-

nya dan berpaling. Dia tidak mengenali siapa adanya lelaki disamping si 

nenek. Tetapi melihat si nenek dia rasa-rasa pernah berjumpa 

sebelumnya. Berpikir sejenak lalu dia ingat.

“Hai, orang tua keren, bukankah kau Nenek Kelabang Biru yang 

dulu pernah membantu pasukan Kerajaan ketika membasmi kaum 

pemberontak di selatan?!”

“Ah...a h...ah! Kau masih tidak melupakan jasa yang dibuat 

kekasihku!” menyahuti Si Pedang Iblis. “Kau belum menjawab 

pertanyaannya tadi!”

“Aku...Sekotak penuh perhiasan emas dan batu-batu permata, 

sepuluh ringgit emas menantimu di Kadipaten jika kau dan kekasihmu 

itu mau membantuku menyingkirkan dua gadis keparat ini!”

“Nenek Kelabang Biru! Jangan kau berani mencampuri urusan 

kami!” teriak Hijau Dua memperingatkan.

“Ah, sudah terlanjur! Sudah terlanjur! Seharusnya kau memberi 

kehormatan pada kami. Bukankah secara tidak langsung kalian berdua 

telah mengundang kami untuk datang kemari?!”

Kawatir si nenek dan kekasihnya akan berubah pikiran maka 

Adipati Tawang Merto cepat berkata: “Tidak perlu bertutur cakap dengan 

gadis-gadis sesat ini! Mari kita sama-sama membasminya!”

“Aku sudah siap!” jawab si Nenek Kelabang Biru. Dia merangkul 

Pedang Iblis, mencium pipinya lalu bertanya: “Kekasihku! Kau sudah 

siap pula?!”

“Tentu, tentu! Sahut Pedang Iblis. Lalu mengecup bibir si nenek 

lumat-lumat, membuat Hijau Dua dan Hijau Tiga merasa jijik melihat-

nya. Di atas pohon Pendekar 212 Wiro Sableng hampir tidak dapat 

menahan tawa melihat kelakuan lelaki muda dan nenek renta itu!

“Gila gendeng! Tapi biar aku ikut-ikut gila bersama orang orang 

sedeng itu!” kata Wiro. Ketika Nenek Kelabang Biru dan Pedang Iblis 

bergerak maju mengurung, Wiro melompat turun dari atas cabang

pohon.

Saat itu sebenarnya Hijau Dua dan Hijau Tiga diam-diam merasa 

bimbang apakah mereka berdua mampu menghadapi tiga lawan 

sekaligus. Yang mereka risaukan bukannya Adipati Tawang Merto, tapi 

justru si nenek dan kekasih mudanya itu!

“Berkelahi tiga lawan dua bukan saja tidak seimbang tapi bisa 

dianggap pengecut main keroyok! Biar aku membantumu gadis-gadis 

jelita!” Wiro berseru lalu di udara dia membuat jumpalitan dua kali 

berturut-turut. Ketika menjejakkan kaki di tanah, pendekar ini tegak 

diantara Hijau Dua dan Hijau Tiga.

“Eh, tadi kulihat dua kekasih itu berciuman dulu sebelum masuk 

kalangan pertempuran. Apakah kita bertiga tidak berciuman pula?!” ujarWiro seraya berpaling pada Hijau Dua dan Hijau Tiga lalu tertawa gelak-

gelak.

Tentu saja paras Hijau Dua dan Hijau Tiga menjadi merah. 

Sebaliknya si nenek dan kekasihnya yang merasa tersinggung dengan 

ejekan itu sama membesi wajah masing-masing.

“Pemuda bertampang tolol!” bentak si nenek. “Aku berani 

bertaruh, dua gadis itu tidak akan mau menciummu. Tubuhmu saja 

apeknya tercium sampai kemari!” Lalu Nenek Kelabang Biru tertawa 

gelak-gelak.

Meskipun hatinya dongkol setengah mati, namun kehadiran 

pemuda tak dikenal itu mau tak mau dirasakan sebagai pertolongan 

yang tidak terduga oleh Hijau Dua dan Hijau Tiga. Melihat caranya tadi 

melompat dari atas cabang pohon yang tinggi jelas dia memiliki 

kepandaian. Tapi sampai ditingkat mana kepandaiannya itu? Apakah 

mampu menghadapi tiga lawan, terutama si Nenek Kelabang Biru yang 

berbahaya dan ganas itu?!

“Soal cium mencium dengan dua gadis ini kita lupakan saja!” ujar 

Wiro. “Tapi kalau kalian bertiga nanti sampai jatuh di tangan kami, 

apakah kau akan mau menciumku nek?!” Lagi-lagi Wiro mengejek.

Si nenek terdengar menggereng. “Jangankan mukamu, 

pantatmupun akan kucium jika aku sampai kalah olehmu!” kata si 

nenek saking marahnya.

“Ha...Ha! Bagus! Semua mendengar! Semua jadi saksi!” seru Wiro.

Nenek Kelabang Biru memberi isyarat pada kekasihnya. Pedang 

Iblis segera hunus senjata andalannya yakni sebilah pedang panjang 

yang berkilat-kilat ditimpa sinar matahari pagi. Senjata itu diputar dua 

kali berturut-turut! Dan terjadilah hal yang hebat! Belasan daun 

pepohonan yang terkena sambaran pedang runtuh ke tanah. Gagang-

gagang daun tampak putus seperti ditebas benda tajam!

Melihat hal ini diam-diam Pendekar 212 Wiro Sableng mau tak 

mau jadi tercekat juga sedang Hijau Dua dan Hijau Tiga merasa gelisah. 

Dari apa yang dipamerkan Pedang Iblis ternyata lelaki itu memiliki 

kepandaian diatas si nenek kekasihnya.

Padahal beberapa waktu lalu mereka berdua pernah menempur si 

nenek dan mengundurkan diri sebelum mendapat celaka. Hijau Dua 

berusaha membangkitkan semangat diri sendiri dan semangat 

kawannya dengan berbisik: “Tak usah takut Hijau Tiga! Ini saatnya kita 

mengeluarkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai yang diajarkan 

Dewi!”

Hijau Tiga mengangguk. Keduanya alirkan tenaga dalam ke lengan 

kanan, terus disalurkan ke selendang hijau yang mereka pegang. 

Selendang yang tadi lemah gemulai itu tiba-tiba berubah seperti sebuah 

pentungan besi. Tapi bila dikehendaki dalam sekejap mata kembali 

menjadi lemas dan bisa membelit atau menjirat! Inilah salah satu 

kehebatan ilmu silat yang diajarkan Dewi Lembah Bangkai pada ke dua 

anak buahnya itu.“Kekasihku, apa lagi yang ditunggu! Mari kita berpesta pora!” seru 

Nenek Kelabang Biru. Dia berpaling pada Tawang Merto. “Adipati, 

jangan bengong saja! Pilih salah satu dara jelita itu jadi lawanmu. Yang 

satu lagi biar kekasihku yang melayani! Pemuda tolol bau apak ini biar 

aku yang akan menguliti tubuhnya!”

Habis berkata begitu Nenek Kelabang Biru melompat ke arah Wiro 

Sableng. Murid Sinto Gendeng sempat melihat bagaimana kedua tangan 

si nenek yang tadinya hitam keriputan tiba-tiba berubah menjadi biru 

kelam tanda sudah dialiri tenaga dalam yang menyalurkan racun jahat! 

Dua tangan menggapai kedepan. Cepat sekali. Satu tangan tahu-tahu 

sudah mencengkeram ke arah tenggorokan sedang satunya menusuk ke 

jurusan perut!

Pendekar 212 berkelit ke kiri lalu putar tubuhnya dan mainkan 

ilmu silat orang gila yang didapatnya dari tua gila karena menurutnya 

jurus-jurus silat yang seperti orang mabuk itulah yang sanggup 

menghadapi serangan lawan yang mengandalkan sepasang tangan 

beracun.

Hijau Tiga tanpa menunggu lebih lama langsung menghambur ke 

arah Tawang Merto. Selendangnya berkelebat kian kemari, berusaha 

mementahkan setiap tusukan atau sambaran pisau di tangan sang

Adipati.

Sementara itu Hijau dua sudah terlibat dalam perkelahian yang 

hebat dengan Pedang Iblis, Keganasan ilmu pedang lelaki berusia tiga 

puluh tahun itu seolah-olah terbendung oleh kehebatan selendang di 

tangan Hijau Dua yang bisa meliuk mematuk seperti ular atau menderu 

membelit siap menjirat tangan atau senjata lawan tapi juga bisa 

berubah seperti sebuah tongkat baja yang keras.

Pedang Iblis kertakkan rahang. Dia tidak menyangka sama sekali 

kalau gadis jelita yang hanya bersenjatakan sehelai selendang hijau itu 

akan sanggup menghadapi pedang mustikanya yang tersohor di delapan 

penjuru angin! Maka sambil membentak garang, Pedang Iblis rubah 

permainan pedangnya. Senjata itu kini lenyap berubah menjadi sebuah 

sinar yang menusuk, membabat atau membacok dalam gerakan kilat 

yang sulit diduga. Beberapa kali Hijau Dua terpekik karena ujung 

selendangnya berhasil dirobek atau dibabat putus oleh senjata lawan. 

Lambat laun selendang itu hanya tinggal tiga jengkal saja lagi. Hijau 

Dua mulai terdesak. Dalam keadaan kepepet begitu rupa Hijau Dua 

segera keluarkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai yang baru saja 

dipelajarinya dari Dewi Lembah Bangkai. Setiap kedua lengannya 

bergerak, dari ujung lengan pakaian hijaunya menghambur angin deras 

yang mengeluarkan hawa dingin disertai sambaran bau busuk luar 

biasa! Pedang Iblis merasakan kepalanya pusing dan nafasnya sesak. 

Sepasang matanya mulai kabur. Cepat-cepat lelaki ini menutup 

penciumannya lalu kerahkan tenaga dalam untuk meredam hawa 

beracun yang coba menguasai dirinya. Pedang saktinya diputar dengan 

sebat, namun sampai lima jurus dimuka tetap saja dia tidak sanggupmenerobos pertahanan Hijau Dua. Marahlah lelaki ini. Tangan kirinya 

diangkat. Setiap dia melancarkan serangan dengan pedang, tangan 

kirinya ikut menggempur. Hijau Dua merasa seolah-olah dia dijepit dari 

kiri kanan, Ilmu silat Lembah Bangkai yang baru dikuasainya menjadi 

kacau. Perlahan-lahan tetapi pasti dara ini terpaksa bertindak mundur 

terus-terusan dan bertahan mati-matian.

Lain halnya perkelahian antara Tawang Merto dengan Hijau Tiga. 

Empat jurus berlalu. Mula-mula terlihat perkelahian berjalan seimbang. 

Namun memasuki jurus kelima Adipati berkepandaian tinggi itu 

membuat gebrakan-gebrakan beruntun. Hijau tiga terpekik ketika pisau 

di tangan lawan merobek besar dada pakaiannya. Payu daranya yang 

putih dan kencang tersingkap lebar membuat sesaat Tawang Merto yang 

memang doyan perempuan itu jadi terkesiap, Dengan cepat Hijau Tiga 

tutupi dadanya dengan selendang hijau, Akibatnya dia kini tidak 

bersenjata. Didalam hati Adipati Tawang Merto timbullah maksud kotor. 

Dengan pisaunya dia akan merobek-robek seluruh pakaian gadis itu. 

Maka dia menyerbu kembali. Tapi sang Adipati kecele. Saat itu Hijau 

Tiga sudah mulai keluarkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai. Bau 

busuk menghampar dan melabrak kearah Tawang Merto membuat 

Adipati ini sulit bernafas.

“Edan!” teriak Tawang Merto marah. Tangan kirinya dipukulkan 

ke depan. Serangkum angin panas menderu. Hijau Tiga menekuk kedua 

lututnya. Berbarengan dengan itu kedua tangannya dipukulkan ke 

depan menyongsong serangan lawan. Kedua pihak yang mengadu 

kekuatan tenaga dalam lewat pukulan sakti sama-sama keluarkan 

seruan tinggi. Tawang Merto terjajar beberapa langkah. Dadanya mende-

nyut sakit. Wajahnya sepucat kertas. Di depannya Hijau Tiga jatuh 

terduduk di tanah dengan wajah juga pucat pasi dan ada darah 

membersit disela bibirnya. Melihat lawan terluka di dalam Tawang Merto 

cepat memburu. Pisau beracun di tangan kanannya ditusukkan ke leher 

Hijau Tiga. Gadis ini tak mampu mengelak. Dia coba memukul tangan 

lawan yang memegang senjata maut dengan tangan kiri karena tangan 

kanan dipakai bersrtekan ketanah agar tidak jatuh. Pukulan tangan kiri 

itupun luput! Ujung pisau beracun terus meluncur deras ke arah 

lehernya!

Terdengar pekik Hijau Tiga menyambut kematian yang tak bisa 

dihindarinya. Sebaliknya Tawang Merto sendiri tiba-tiba saja merasakan 

seperti ada satu tembok besar yang menghantam tubuhnya hingga dia 

tersapu ke kiri dan jatuh teguling di tanah! Itulah pukulan sakti 

“benteng topan melanda samudera” yang dilepaskan Pendekar 212 Wiro 

Sableng yang masih sempat melihat bahaya maut mengancam Hijau 

Tiga.

Tawang Merto berdiri tertatih-tatih, Sebagian tubuhnya terasa 

seperti hancur. Dalam keadaan seperti itu dia sadar benar tak ada 

gunanya meneruskan pertempuran. Maka Adipati ini cepat menghampiri 

seekor kuda besar. Namun sebelum dia sempat naik ke atas punggungbinatang ini, tiba-tiba seutas tali menyambar dari belakang. Terdengar 

suara patahnya tulang leher Adipati ini ketika jeratan tali menyentak 

dan tubuhnya diseret oleh satu kekuatan besar masuk terjerumus ke 

dalam Lembah Bangkai!


9


KARENA berusaha menolong Hijau tiga, berarti Wiro tidak dapat 

memusatkan seluruh pematiannya dalam menghadapi Nenek Kelabang 

Biru. Kesempatan ini tidak disia-siakan lawan. Dengan gerakan kilat 

perempuan tua itu melesat ke depan. Dua tangan kembali 

mencengkeram sedang lutut kanan dilipat dan sesaat kemudian kaki 

kanan itu menendang ke arah dada. Pendekar 212 terkesiap. Dari tiga 

serangan lawan dia tahu pasti cengkeraman tangan kiri kanan si nenek 

adalah yang paling berbahaya karena mengandung racun kelabang yang 

ganas dan mematikan. Dengan gerakan ilmu silat orang gila yang aneh 

Wiro berhasil selamatkan kepala dan lehernya dari serangan dua 

tangan. Untuk menghindarkan tendangan ke arah dada pendekar ini 

jatuhkan diri ke belakang. Ketika si nenek memburu dengan geram 

karena tiga serangannya luput, Wiro angkat kakinya sebelah kiri dan 

selusupkan ke selangkangan si nenek “Manusia kurang ajar!” teriak 

Nenek Kelabang Biru marah sekali. Sambil membuang diri kesamping 

dia menghantam dengan tangan kanan. Satu sinar biru menderu 

bergemuruh!

“Mampus!” teriak si nenek karena yakin dengan pukulan sakti 

yang selama ini tidak bisa dihadapi siapapun dia akan mampu 

menamatkan riwayat Pendekar 212.

Mencium bau amis dan angkernya sinar pukulan sakti itu, murid 

Sinto gendeng sudah maklum keganasan serangan lawan. Maka tanpa 

pikir panjang lagi dia balas menghantam dengan pukulan sakti “orang 

gila mengebut lalat”. Tangan kanannya bergerak tiada henti ke kiri dan 

ke kanan. Sinar biru pukulan Nenek Kelabang Biru seolah-olah terbelah 

dan terpental ke samping, menghantam pepohonan dan sebuah 

gundukan tanah. Pohon itu langsung menjadi biru sedang gundukan 

tanah muncrat beterbangan laksana dilanda angin puyuh. Karena masih 

berusaha bertahan untuk melancarkan serangan susulan, si nenek 

merasakan tubuhnya terhuyung ke kiri dan ke kanan. Sebelum jatuh, 

sambil memaki perempuan tua ini cepat melompat mundur.

“Bangsat! Siapa kau sebenarnya?!” teriak Nenek Kelabang Biru. 

Seumur hidup baru sekali ini dia menghadapi musuh begini luar biasa 

dan masih sangat muda pula hingga dia merasa dipermalukan. Dan 

didepan mata kekasihnya pula!

“Kau barusan memanggilku bangsat! Nah, anggap saja itu 

namaku!” sahut Wiro seraya pasang kuda-kuda baru. “nek, sebelum kau 

kurobohkan lebih baik cepat-cepat saja mencium pantatku lalu bawa 

pacarmu itu meninggalkan tempat ini!”

“Sombongnya!” teriak Nenek Kelabang Biru lalu meludah ke 

tanah. “Aku bersumpah akan membunuhmu dan memperkosa

mayatmu!”

“Ih. ” Wiro berseru. Dia hendak tertawa gelak-gelak mendengar 

ucapan si nenek tapi dia melihat sinar yang memancarkan maut di 

kedua mata si nenek. “Tua bangka jelek ini tidak main-main agaknya,” 

pikir Wiro. Baru saja dia bersiap-siap untuk menghadapi lawan tiba-tiba 

si nenek sudah berteriak nyaring dan hantamkan tangan kanannya.

Tidak terdengar suara deru kekuatan tenaga dalam. Tidak 

terdengar siuran angin sakti. Namun saat itu Wiro melihat ada tiga buah 

benda aneh berwarna biru menyerbu ke arahnya. Ketika diperhatikan 

kagetlah murid Sinto Gendeng ini. Tiga benda itu ternyata adalah tiga 

ekor kelabang berwarna biru!

Karena tidak menduga akan mendapat serangan senjata rahasia 

berupa binatang-binatang beracun begitu rupa, Pendekar 212 tidak 

mampu menyelamatkan diri. Kelabang pertama sempat dihantamnya 

dengan pukulan tangan kosong mengandung aji kesaktian hingga 

hancur bermentalan di udara. Kelabang kedua terlempar ke samping 

tapi secara aneh tiba-tiba membalik dan menancap di bahu kirinya. 

Selagi pemuda ini berteriak kesakitan, kelabang ketiga melesat ke arah 

dada kirinya, searah jantung. Inilah serangan yang sangat berbahaya! 

Dan Wiro tak dapat menyelamatkan diri sama sekali!

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terdengar suara jentringan 

kecapi. Selarik sinar putih menyilaukan berkiblat. Kelabang biru yang 

sesaat lagi akan menancap di dada Wiro terus menembus jantungnya 

hancur berantakan dihantam sinar putih tadi, Wiro selamat namun 

racun kelabang yang menancap di bahunya mulai bekerja. Tubuhnya 

mulai terasa panas. Pandangan matanya mengabur. Samar samar dia 

melihat ada dua sosok bayangan hijau berkelebat di tempat itu. Lalu 

lapat-lapat sebelum jatuh pingsan dia mendengar suara perempuan 

berkata: “Hijau Satu! Tolong pemuda itu! Bawa ke guaku dan berikan 

obat penawar racun!”

Wiro melihat wajah cantik mendekati dirinya. Samar-samar sekali. 

Lalu ada totokan di dadanya, keras dan sakit. Setelah itu dia tak ingat 

apa-apa lagi!

Di hadapan Nenek Kelabang Biru tegak berdiri seorang dara yang 

wajahnya ditutup cadar hijau tipis.

Pakaian hijau yang menutupi tubuhnya yang tinggi semampai 

bergoyang-goyang ditiup angin pagi. Di tangan kirinya dara ini memeluk 

sebuah kecapi.

Nenek Kelabang Biru memperhatikan sejenak. Lalu terdengar 

kekehannya disusul ucapan: “Ah! Jadi inilah Dewi Lembah Bangkai itu! 

Gadis tolol yang ingin menyombongkan diri dengan perbuatannya yang 

aneh-aneh! Sungguh tidak disangka ternyata dia hanya seorang 

pengamen yang kemana-mana bernyanyi dan main kecapi! Hai, cobalah 

kau menyanyi dan mainkan kecapimu! Pasti aku akan membayar 

mahal! Hik...hik...hik...!”

“Tua bangka dajal! Jangan kau kira aku tidak tahu siapa kausebenarnya!” Dewi Lembah Bangkai menyeringai dibalik cadarnya. 

“Diluar kau memang tampak seperti nenek! Tapi didalam kau adalah 

dajal lelaki yang berbuat mesum dimana-mana, menyukai sesama lelaki 

tapi juga memperkosa orang-orang perempuan!”

Nenek Kelabang Biru tersurut dua langkah. Wajahnya membesi. 

Tubuhnya bergetar. Kedua matanya membeliak dan memandang tak 

berkesip ke arah Dewi Lembah Bangkai. Yang dipandang tetap berlaku 

tenang. Malah tanpa berpaling dia berkata pada anak buahnya yang 

tengah didesak habis-habisan oleh Pedang Iblis.

“Hijau Dua mundurlah. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu 

melayani lelaki yang menyediakan auratnya untuk si tua bangka yang 

sama jenisnya ini!”

Mendengar ucapan pimpinannya itu, Hijau Dua melompat 

mundur sementara Pendekar Pedang Iblis sambil berteriak marah 

hendak menyerbu Dewi Lembah Bangkai, tapi cepat dicegah oleh 

kekasihnya.

“Betina bercadar! Mulutmu kotor! Jalan pikiranmu busuk 

sebusuk tempat kediamanmu! Sebelum kau mampus dalam kebusukan 

itu, katakan siapa kau sebenarnya?!” Nenek Kelabang Biru bertanya 

sementara kedua tangannya disilangkan di depan dada.

Dewi Lembah Bangkai melihat bahwa kedua tangan si nenek 

masih berwarna biru tanda setiap saat dia bisa saja melepaskan senjata 

rahasianya yaitu kelabang-kelabang maut berwarna biru.

“Siapa aku tidak penting. Yang lebih penting ialah apa yang 

menjadi tugas dan tujuan hidupku di dunia ini...!”

“Sompret!” memaki Pedang Iblis. “Kau bicara seperti malaikat 

saja!”

“Mungkin aku memang malaikat maut yang bakal mencabut 

nyawamu! Manusia yang suka bercampur dengan manusia sejenisnya 

kabarnya paling cocok jadi kayu neraka!”

Si Pedang Iblis tak dapat lagi menahan amarahnya. Tanpa bisa 

dicegah oleh si nenek, lelaki ini menyerbu ke depan. Pedang iblisnya 

berkiblat ke arah batang leher Dewi Lembah Bangkai. Sang Dewi angkat 

kecapinya. Jari tangannya bergerak. Terdengar suara berjentringan. Tiga 

sinar putih menyilaukan membelah udara.

Trang!

Pedang di tangan kekasih Nenek Kelabang Biru terpental dan 

patah dua! Si Pedang Iblis sendiri terbanting ke kiri, sempoyongan. 

Tangan kanannya terasa panas dan kaku. Mukanya sepucat kain kafan.

Nenek Kelabang Biru tertegun tak berkesip menyaksikan kejadian 

itu.

“Gadis semuda ini, tidak dikenal dalam dunia persilatan, 

bagaimana bisa memiliki ilmu kepandaian sehebat ini?!” Memikir 

sampai disitu si nenek mendekati kekasihnya dan berbisik. “Aku tidak 

yakin betina bercadar ini memiliki kepandaian silat. Andalannya adalah 

kecapi itu. Kita serbu dia dan rampas kecapinya...!” Pedang Iblis mengangguk tanda setuju. Lalu dengan serentak 

keduanya menyerbu. Si nenek lepaskan enam kelabang beracun sedang 

sang kekasih menyusupkan dua pukulan sakti sambil coba merampas 

kecapi di tangan Dewi Lembah Bangkai!

Sang Dewi kebutkan ujung lengan pakaiannya sebelah kiri. 

Tampak sinar hijau membubung ke udara disertai hawa busuk luar 

biasa. Pedang Iblis terpental sambil pegangi dada. Nafasnya sesak. 

Disaat yang bersamaan ketika tadi dia mengebutkan lengan kiri,

Dewi Lembah Bangkai petik tali-tali kecapinya dengan jari-jari 

tangan kanan. Enam kawat kecapi berdenting. Enam sinar putih 

berkiblat ke udara. Enam kelabang biru maut hancur berkeping-keping!

Putuslah nyali si nenek dan kekasihnya melihat kejadian ini. Si 

nenek cepat menarik lengan Pedang Iblis seraya berbisik: “Kita kabur 

saja. Tak ada jalan lain...”

Kedua kekasih itu lalu putar tubuh dan ambil langkah seribu. 

Tapi dari dasar lembah saat itu tiba-tiba tampak melesat dua gulungan 

tali yang ujungnya berbentuk jiratan. Pedang Iblis keluarkan teriakan 

tercekik. Lalu tubuhnya tertarik kebelakang, terguling di tanah dan 

terseret masuk ke dalam lembah. Si Nenek Kelabang Biru berteriak 

menggerung. Dia lari mengejar kekasihnya. Tapi salah satu kakinya 

sudah masuk dalam jiratan. Lalu seperti sang kekasih, tubuhnyapun 

terseret ke dalam lembah. Pekiknya terdengar menggema. Pakaiannya 

hancur robek-robek. Ketika kemudian mayatnya digantung kaki ke atas 

kepala kebawah dicabang pohon, jelaslah dia memang seorang laki-laki, 

bukan seorang nenek sebagaimana penampilannya yang palsu!


10


DEWI LEMBAH BANGKAI menatap ayah dan anak itu beberapa lama 

lalu berkata: “Adi Sara, aku menghargai maksudmu yang tidak ingin 

meninggalkan lembah ini setelah kau berkumpul lagi dengan ayahmu, 

bahkan mendapatkan kembali kekasihmu Ningrum. Memang tidak satu 

orangpun boleh meninggalkan tempat ini sebelum semua urusan 

selesai. Dan kau Ningrum, berlatihlah dengan keras agar kau mampu 

menguasai lima jurus ilmu silat itu. Dan minum ramuan perangsang 

penimbul tenaga dalam itu pada waktu waktu yang telah ditentukan...”

“Akan saya perhatikan Dewi. Kami bertiga bukan saja berhutang 

budi tapi juga berhutang nyawa dan masa depan,” menjawab Ningrum. 

Sebelumnya dia sudah diberi tahu bahwa ayahnya Adipati Sawung 

Glingging telah kembali ke Kadipaten dalam keadaan tidak kurang suatu 

apa sedang Adipati Tawang Merto telah menemui ajal.

Dewi Lembah Bangkai tinggalkan ketiga orang itu, masuk ke 

dalam guanya. Selama tiga hari dia tidak tidur di dalam gua yang 

dijadikan tempat perawatan Pendekar 212 Wiro Sableng.

Hijau Satu yang bertugas merawat Wiro mendatangi sang Dewi.

“Bagaimana keadaannya?” bertanya Dewi Lembah Bangkai.

“Panasnya masih tinggi. Dia masih sering mengigau. Tapi racun 

yang berbahaya itu telah musnah oleh obat yang Dewi berikan...” 

menerangkan Hijau Satu.

“Apakah igauannya masih menyebut-nyebut pemuda bernama 

Panji Kondang itu...?”

“Masih...Walau tidak sesering satu hari sebelumnya,” jawab Hijau 

Satu pula. “Saya mohon petunjukmu lebih lanjut Dewi...”

“Bergabunglah bersama kawan-kawanmu yang lain. Lanjutkan 

melatih lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai itu. Hari pembalasan yang 

aku tunggu-tunggu akan segera datang, cepat atau lambat!”

Hijau Satu menjura lalu tinggalkan gua tersebut. Diluar sana 

dilihatnya Adi Sara tengah bercakap-cakap dengan ayah dan 

kekasihnya.

“Kasihan Dewi... Aku tahu dia menyukai pemuda itu. Tapi 

anehnya dia sendiri yang mengatur penculikan atas diri Ningrum hingga 

dua kekasih itu berkumpul kembali...”

Di dalam gua Dewi Lembah Bangkai memandangi Kapak Naga 

Geni 212 milik Wiro Sableng yang digantungkan di dinding gua. Lalu dia 

menatap kecapi miliknya yang disandarkan tak jauh dari situ. “Satu 

kesaktian dari satu sumber yang sama tapi berbeda wujud...” sang Dewi 

membathin. Lalu dua berpaling memandangi Pendekar 212 yang 

terbaring di lantai gua beralaskan sehelai tikar jerami tebal.

Ketika malam tiba Wiro bangun dari tidurnya. Dirabanya bahunyasebelah kiri. Masih ada bekas luka mengering dan masih terasa adanya 

denyutan sakit, namun hatinya lega karena panas ditubuhnya jauh 

berkurang. Dan ketika dia mencoba bangun kepalanya tidak pusing lagi 

serta pemandangannya tidak pula berkunang-kunang. Kemudian 

disadarinya dia tidak berada sendirian dalam gua yang diterangi pelita 

kecil itu. Berpaling ke kiri dilihatnya Dewi Lembah Bangkai tegak 

bersandar ke dinding, sepasang mata dibalik cadar menatap ke arahnya. 

Dua pasang mata saling bertemu untuk beberapa saat. Wiro coba 

mengingat-ingat sementara perutnya terasa lapar dan tenggorokannya 

kering. Dimana dia berada saat itu dan sudah berapa lama dia berada 

disitu. Lalu perempuan bercadar yang mengenakan pakaian tipis hijau 

itu...? Dia ingat apa yang terjadi. Pertempuran itu! “Ah, jangan-jangan 

inilah Dewi Lemoah Bangkai yang mendadak tersohor sejak beberapa 

bulan belakangan ini. Dimana gadis-gadis cantik lainnya...?” Lalu 

dilihatnya senjata mustika miliknya tergantung di dinding gua. Dia 

berdiri hendak mengambil senjata itu. Tapi gadis bercadar cepat 

berkata: “Tak ada yang akan mengambil kapak mustikamu. Kau berada 

di tempat aman...”

Wiro menatap sang Dewi sesaat lalu memandang ke bahu kirinya. 

“Kau pasti Dewi Lembah Bangkai yang cantik dan perkasa itu...”

“Aku tidak suka dipuji!” kata sang Dewi dingin.

“Bagaimanapun itu adalah kenyataan yang aku lihat. Juga dilihat 

semua orang. Aku yakin kau dan anak buahmu telah menyelamatkan 

diriku dari kelabang maut nenek keparat itu. Aku menghaturkan terima 

kasih dan tak tahu bagaimana harus membalas budi.”

“Kaupun telah menyelamatkan salah seorang anak buahku.

Walau tidak saling mengharapkan di dunia ini sudah lumrah budi 

dibalas budi, hutang nyawa dibalas nyawa.” Sang Dewi diam sesaat lalu 

kembali berkata: “Lembah Bangkai memiliki peraturan. Siapa yang 

berani datang kemari berarti sudah siap untuk mati. Datang berarti 

tidak pernah pulang!”

“Rupanya itu yang bakal terjadi dengan diriku?” tanya Wiro.

Dewi Lembah Bangkai tak segera menjawab. Jari-jari tangannya 

digerakkan diatas kawat-kawat kecapi. Suara kecap menggema dalam 

gua itu. Dinding terasa bergetar dan api pelita bergoyang-goyang.

“Sampai beberapa waktu lalu aturan itu memang masih berlaku. 

Namun keadaan menentukan lain. Kau akan menemui beberapa orang 

lain di luar sana. Mereka juga tidak kubunuh. Aku ada beberapa 

pertanyaan untukmu Pendekar 212...”

“Jadi kau sudah tahu siapa aku?”

“Kapak itu yang memberi tahu,” sahut Dewi Lembah Bangkai. 

“Pertanyaan pertama Kau mengikuti anak buahku Hijau Dua dari 

Kadipaten! Apa maksudmu?! Apakah ada yang membayarmu untuk 

membebaskan pengantin perempuan itu?!”

Wiro garuk-garuk kepala. Perutnya lapar sekali dan tenggorokan-

nya kering serta haus. Maka dia terus terang berkata: “Aku tidak tahuberapa lama aku terbaring pingsan atau tidur. Tapi saat ini yang 

kuketahui perutku sangat lapar dan haus sekali...”

“Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan setelah menjawab 

pertanyaan-pertanyaanku!” jawab Dewi Lembah Bangkai.

“Hemm... Rupanya aku tidak ada pilihan lain. Tinggal di tempat 

orang harus tahu diri. Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu tadi. 

Maksudku mengikuti Hijau Dua hanya ingin tahu saja. Aku berada di 

Kadipaten secara kebetulan. Sama sekali bukan tamu pesta perkawinan. 

Ketika pengantin perempuan diculik oleh seorang perempuan muda 

yang cantik jelita, bagiku ini adalah satu keanehan. Pertama ternyata 

gadis itu memiliki kepandaian tinggi. Kedua biasanya lelaki yang 

menculik gadis. Kini nyatanya gadis menculik gadis! Nah, ini 

membuatku ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Dan 

pertanyaanmu yang lain, sama sekali tidak ada yang membayar atau 

menyuruhku mengejar anak buahmu!”

“Apakah bukan karena kau mempunyai maksud kotor terhadap 

anak buahku? Karena dia mengenakan pakaian yang begitu tipis 

merangsang...?”

Wiro tertawa lebar. “Lelaki normal memang harus terangsang 

melihat yang begituan. Tapi tidak selalu. Buktinya aku mengagumi 

wajahmu yang tersembunyi dibali cadar tipis itu. Juga bentuk tubuhmu 

yang bagus dan dapat kulihat karena ditembus cahaya pelita...”

Dewi Lembah Bangkai lambaikan tangannya. Api pelita padam 

dan ruangan gua itu serta merta menjadi gelap gulita.

“Dewi, apakah pembicaraan kita habis sampai disini?” bertanya 

Wiro.

“Manusia bicara dengan mulut, bukan dengan mata. Walaupun 

gelap kau bisa meneruskan kata-katamu...”

Dalam gelap Wiro garuk-garuk kepala. “Baiklah Dewi, kau dengar 

baik-baik. Wajahmu yang cantik, auratmu yang bagus sama sekali tidak 

merangsangku. Mengapa? Karena aku menghormatimu, karena kau dan 

anak buahmulah maka aku masih hidup saat ini. Masakan aku 

mempunyai pikiran kotor yang tidak-tidak?”

“Jika kami tidak menolongmu, berarti pikiran itu akan menancap 

di benakmu!” ujar Dewi Lembah Bangkai dalam gelap.

Wiro menarik nafas dalam. “Aku bukan manusia suci, apalagi 

malaikat. Tapi seingatku tak pernah aku memperkosa anak gadis orang, 

tak pernah aku merusak kehormatan istri orang!”

“Siapa yang bisa membuktikan omonganmu!”

“Memang tidak! Namun paling tidak aku telah membuktikannya 

ditempat ini! Jika Dewi menganggapku manusia kotor, aku siap untuk 

pergi. Apapun prangsangka burukmu terhadapku, itu tetap tidak 

mengurangi rasa hormatku terhadapmu. Tidak menghilangkan rasa 

terima kasih atas jasa dan budi besarmu menolongku!”

Habis berkata begitu, walaupun tubuhnya masih lemah, Wiro 

Sableng berdiri dengan cepat lalu melangkah ke dinding gua dimanaKapak Naga Geni 212 tergantung. Ketika dia mengulurkan tangan 

hendak mengambil senjata itu, satu tangan memegang lengannya. 

Tangan itu terasa halus dan dingin sejuk. Tapi bagaimanapun dia 

mencoba, Wiro tak mampu melepaskan pegangan tersebut hingga dia 

tak bisa mengambil kapaknya.

“Jangan pergi dulu. Masih ada satu pertanyaan penting yang ingin 

kudapatkan jawabannya dari mu...”

Wiro berpaling. Saat itu dia tegak dekat sekali dengan sang Dewi, 

hingga dia dapat merasakan hembusan nafas yang hangat dan bau 

tubuh yang luar biasa harumnya. Dilain keadaan mungkin sang 

pendekar bisa terangsang. Tapi saat itu justru dia berkata: “Dewi aku 

tidak terangsang dengan keharuman tubuhmu! Aku tetap 

menghormatimu. Izinkan aku pergi...”

Pegangan tangan sang Dewi tidak lepas. Dia juga tidak berusaha 

menjauh. “Ini sangat penting Pendekar 212. Aku perlu jawabanmu atas 

satu hal...”

“Katakanlah!”

“Selama kau terbaring sakit dan dilanda demam panas akibat 

racun kelabang, kau mengigau berulang kali. Diantara kata-kata yang 

kau ucapkan dalam igauanmu adalah seorang sahabat bernama Panji 

Kondang. Berulang kali kau mengatakan bahwa sahabatmu itu harus 

mencari kekasihnya sampai dapat dan mengatakan agar mengawininya, 

apapun yang telah terjadi. Katakan apa kau kenal dengan orang 

bernama Panji Kondang itu?!”

Wiro terdiam sesaat. Dia berpikir-pikir. “Memang aku kenal 

padanya. Tapi tidak lama. Kami bertemu disebuah rumah makan. Saat 

itu keadaannya seperti orang linglung. Pakaiannya kumal, mukanya tak 

tercukur dan dia kehabisan bekal. Dia menceritakan tentang kekasihnya 

yang memiliki kepandaian silat tinggi. Tapi kemudian melenyapkan diri 

karena ternyata gurunya telah merusak kehormatannya...”

“Apakah Panji Kondang menyebutkan siapa nama kekasihnya 

itu?”

“Ya... Kalau tidak salah kekasihnya itu bernama Prantisari. Ya, 

Prantisari...”

Wiro merasakan pegangan sang Dewi di tangannya lepas. 

Bersamaan dengan itu sang Dewi meluncur jatuh terduduk di lantai 

gua.

“Eh, ada apa denganmu Dewi? Kau mendadak jatuh. Apakah kau 

sakit...?”

“Tidak. Katakan Pendekar 212... Apalagi yang dikatakan Panji 

Kondang dalam pertemuan yang singkat itu...”

“Katanya dia berniat untuk mengarungi seluruh jagat ini guna 

mencari kekasihnya itu. Kalau bertemu dia tetap akan mencintainya dan 

akan mengawininya...”

“Tetapi apakah...apakah Panji Kodang mengetahui kalau 

kekasihnya itu kini telah berbadan dua...?!”

“Heh... Bagaimana kau bisa berkata begitu Dewi?!” tanya Wiro 

heran.

“Karena..Karena akulah Prantisari itu...!” Habis berkata begitu 

Dewi Lembah Bangkai terdengar sesenggukan. Lalu suara tangisnya 

memenuhi gua itu.

Lama Wiro termenung mendengar pengakuan sang dara 

disampingnya. Lalu dengan suara meyakinkan dia berkata: “Melihat 

kesungguhan hati kekasihmu itu mencarimu aku yakin sekali dia tetap 

mencintaimu! Tetap akan memperistrikanmu sekalipun kemudian dia 

mengetahui bahwa kau hamil akibat perbuatan bejat gurumu itu! 

Aneh...benar-benar aneh. Bagaimana aku bisa berada dalam semua 

kejadian ini?” Wiro lalu ikut-ikutan duduk dilantai gua disamping Dewi 

Lembah Bangkai.

“Terakhir sekali menurut katamu Panji berada, di Kadipaten. 

Sekarang entah dimana dia berada...”

“Dia mengatakan tujuannya padaku. Jika kau mau aku bersedia 

mengantarkanmu kesana...”

“Tidak, aku tidak akan meninggalkan Lembah ini sebelum 

mencabut nyawa manusia terkutuk itu!”

“Kau, kau akan membunuh gurumu sendiri?!” tanya Wiro pula.

“Ya! Dan manusia terkutuk itu pasti akan datang mengantarkan 

nyawanya sendiri kemari! Aku dan anak buahku telah menyiapkan 

penyambutan. Hijau Satu, Dua dan Tiga adalah gadis-gadis yang 

mengalami nasib sama sepertiku. Bedanya mereka dirayu oleh kekasih 

masing-masing lalu ditinggal begitu saja. Mereka masih untung karena 

tak satupun yang hamil. Namun itu tidak mengurangi dendam kesumat 

mereka terhadap laki-laki. Karenanya jangan coba berlaku usil terhadap 

mereka!”

“Bagaimana kalau mereka yang berlaku usil terhadapku?!” tanya 

Wiro.

“Mungkin mulutmu perlu ditampar agar tidak bergurau dalam 

keadaan seperti ini!” tukas Dewi Lembah Bangkai yang bernama 

Prantisari.

“Apakah kau bakal sanggup mengalahkan gurumu jika terjadi 

perkelahian?” bertanya Wiro. “Bagaimanapun dia pasti lebih tinggi ilmu 

kepandaiannya!”

“Kau benar. Tapi aku memijiki sesuatu yang tidak mudah 

dikalahkan!”

“Apa itu? Keberanian atau kenekatan?” tanya Wiro pula.

Dalam gelap Dewi Lembah Bangkai mengambil kecapinya, 

meletakkan dipangkuan dan memetiknya beberapa kali. Alat bebunyian 

itu mengeluarkan suara berjentringan yang menggetarkan seantero gua, 

membuat telinga sakit dan ada sinar putih menyilaukan serta panas 

keluar dari setiap kawat kecapi.

“Sinar panas yang menyilaukan itu berasal dari sumber yang 

sama dengan ilmu pukulan sinar matahari yang kau miliki. Bedanyapukulan sinar matahari disalurkan melalui tangan sedang yang ini 

melalui tali-tali kawat sebanyak enam buah...”

Wiro berdecak kagum mendengarketerangan itu. Dia memamg 

menyaksikan bagaimana Dewi Lembah Bangkai menghajar patah 

pedang milik Pendekar Pedang Iblis, dan juga kelabang-kelabang maut si 

nenek sakti itu sebelum pingsan.

Dewi Lembah Bangkai menyeka air matanya lalu berdiri. “Hijau 

Satu akan membawakan makanan serta minuman untukmu.”

“Terima kasih. Juga jangan lupa katakan padanya untuk 

menyalakan pelita di dalam gua ini. Hanya tikus yang suka makan di 

tempat gelap!” jawab Wiro lalu tertawa sendirian walau sang Dewi sudah 

berlalu dari situ.


11


SIANG ITU teriknya matahari bukan alang kepalang. Seolah-olah 

hendak membakar bumi dan membuat busuknya bau mayat di dalam 

lembah menjadi jadi. Satu Hijau yang sedang berlatih jurus lima 

bersama Hijau Dua Hijau Tiga dan Ningrum mendadak hentikan latihan. 

“Ada apa?” tanya Hijau dua. Yang menjawab adalah Wiro Sableng yang 

berada tak jauh dari situ bersama Adi Sara dan Sara Jingga ayah Adi 

Sara.

“Ada orang datang!”

Semuanya memandang ke arah yang ditunjuk Pendekar 212. Di 

ujung lembah sebelah timur tampak tiga orang penunggang kuda duduk 

di punggung kuda masing-masing, memandang tajam ke dalam lembah 

sambil menutup hidung masing-masing dengan telapak tangan. Salah 

seorang diantara mereka tampak batuk-batuk karena tak tahan oleh 

busuknya udara.

“Aku akan beri tahu Dewi. Kalian semua tetap disini dan berpura-

pura tidak melihat rombongan di atas sana!”

Hijau Satu tinggalkan tempat itu.

Ketika laporan kemunculan tiga orang di tepi lembah disampaikan 

pada Dewi Lembah Bangkai, gadis ini melangkah keluar gua dan 

memandang jauh-jauh ke arah timur lembah. Dia segera mengenali 

sosok penunggang kuda yang disebelah tengah.

“Hijau Satu! Orang yang kita tunggu sudah tiba. Kau dan Hijau 

tiga lakukan penyambutan seperti yang sudah aku atur. Hijau Dua dan 

Ningrum agar berjaga-jaga di pedataran. Yang lain-lainnya jangan ada 

yang berani ikut campur urusan ini!”

Hijau Satu menjura dan cepat berkelebat tinggalkan tempat itu.

Di atas lembah tiga orang penunggang kuda masih duduk di kuda 

masing-masing sambil tiada hentinya meneliti. Yang di sebelah kanan 

adalah seorang kakek yang buntung kedua kakinya. Dia kini 

mengenakan kaki palsu dari kayu. Dua batang tongkat kayu tergantung 

di leher kudanya. Orang kedua yang disebelah tengah mengenakan 

jubah putih, bertutup kepala putih. Meskipun usianya sudah lanjut tapi 

kumis dan janggutnya masih tetap berwarna hitam. Lelaki yang ketiga 

juga seorang kakek berwajah klimis, berpakaian biru muda yang 

pinggangnya dililit seutas rantai perak berwarna putih.

“Aku yakin inilah Lembah Bangkai yang membuat geger dunia 

persilatan itu. Bau busuknya sudah tercium sampai kemari. Tapi 

mengapa orang yang katamu mengundang tidak melakukan 

penyambutan?!” membuka suara kakek berpakaian biru muda.

Baru saja dia berucap begitu, dua bayangan hijau berkelebat dan 

dua gadis berpakaian hijau tipis berwajah cantik tetapi galak muncul didepan mereka, seolah-olah keluar dari dalam perut lembah!

“Ah...ah...ah! Panjang umurnya! Baru disebut sudah datang! 

Kaliankah penghuni Lembah Bangkai ini?!” kakek yang berjubah putih 

bertanya. Matanya berkilat-kilat melihat pakaian yang tembus pandang 

itu.

“Kami berdua memang mendapat tugas menyambut para tetamu 

dari jauh! Silahkan turun dari kuda! Kami akan membawa kalian 

menemui Dewi!”

“Dewi...? Ha...Ha...Ha! Ingin sekali aku melihat bagaimana 

tampang Dewi kalian Ku!” kata si jubah putih pula lalu turun dari 

kudanya.

Kakek kaki kayu tampak sedari tadi membeliak. Bukan karena 

melihat tubuh dua gadis yang kentara jelas dibalik pakaian hijaunya 

yang tipis, tapi karena dia mengenali. “Hai! Tunggu dulu! Salah satu dari 

kalian adalah yang dulu menyerbu markasku dan membuntungi kakiku! 

Rupanya kau yang punya kerja. Kau harus ganti kaki kayuku dengan 

kedua kakimu yang mulus bagus!” Lalu kakek ini sambar dua tongkat 

dileher kuda dan dengan gerakan cepat dia melompat turun dari 

punggung binatang itu. Begitu menjejak tanah langsung menyerang 

Hijau tiga!

“Pendekar Kaki Kayu... Harap bersabar dulu! Saat pembalasan 

pasti tiba! Apa sulitnya bagi kita untuk menarik lepas sepasang kaki 

yang bagus itu pengganti kedua kakimu. Biarkan kita bertemu dengan 

sang Dewi dulu. Ingin aku melihat siapa dia sebenarnya? Berbulan-

bulan membuat kegegeran di dunia persilatan. Membunuh dan 

membunuh! Menculik...!”

“Orang tua berjubah putih! Jika kau bicara terus satu harian di 

tempat ini kau tak akan segera bertemu pimpinan kami! Percayalah, 

penyambutan untukmu pribadi pasti yang paling meriah!” ujar Hijau 

Satu pula. Dia menunjuk ke sebuah jalan kecil berbatu-batu yang 

selama ini tersembunyi dikerimbunan semak belukar. “Ikuti jalan 

menurun itu sampai kalian mencapai sebuah pedataran di dasar 

lembah. Selama perjalanan kebawah akan kami perlihatkan 

pemandangan yang indah dimana kalian dapat bertemu dengan 

beberapa sahabat. Hanya sayang kalian tidak bisa bertanya apa-apa 

pada sahabat-sahabat itu. Mereka semua sudah jadi mayat busuk!”

Kakek berpakaian biru tampak kerenyitkan kening. Si kaki kayu 

mengomel panjang pendek sedang si jubah putih dengan tenang mulai 

melangkah turun mengikuti Hijau Satu disusul Si Kaki Kayu lalu si 

pakaian biru. Disebelah belakang mengikuti Hijau tiga.

Menjelang mencapai dasar lembah mereka mulai melihat sosok-

sosok tubuh yang bergelantungan. Ada yang hanya tinggal tulang 

belulang alias jerangkong, ada yang sudah hancur membusuk, tapi 

masih ada yang baru-baru.

“Yang ini manusia kotor berjuluk Nenek Kelabang Biru!” ujar 

Hijau Satu sambil menunjuk pada mayat yang tergantung di cabangpohon kaki ke atas kepala kebawah.

Kakek berbaju biru seperti mau muntah. Berulang kali dia coba 

menutup jalan penciuman tapi tetap saja bau busuk menembus 

hidungnya. Kini melihat mayat itu perutnya mendadak menjadi mual. Si 

jubah putih tetap tenang walau hatinya terasa berdebar sedang si kaki 

kayu seperti tak acuh. Sesekali dia berpaling kebelakang seperti hendak 

menyerbu Hijau Tiga saat itu juga.

“Yang itu jagoan keji bergelar Pendekar Pedang Iblis! Kekasih 

nenek Kelabang Biru!” kembali Hijau Satu membuka mulut seraya 

menunjuk ke sebuah cabang pohon dimana tergantung mayat Pedang 

Iblis yang sudah membusuk dan belatungan kedua rongga matanya.

“Tempat ini seperti neraka!” bisik kakek baju biru.

“Yang disitu mayat Adipati Tawang Merto, kalian pasti tak 

mengenalinya karena sudah sangat rusak...” Kembali Hijau Satu 

menjelaskan seraya menunjuk pada mayat yang tergantung di pohon 

sebelah kiri jalan menurun. “Yang di ujung sana, yang hanya tinggal 

gumpalan-gumpalan potongan daging adalah mayat Warok Suro Blebek, 

raja diraja rampok di utara! Lalu’yang itu... yang hanya tinggal tulang 

belulang putih adalah mayat Sabrang Lor, seorang pendekar yang lebih 

dikenal dengan sebutan Pendekar Cabul Pemetik Bunga! Ah, sayang 

jalan begini pendek. Kita sudah sampai di pedataran yang dituju!”

Saat itu mereka memang sudah sampai di dasar lembah dimana 

terdapat sebuah pedataran batu selebar delapan tombak persegi, diapit 

oleh tiga mulut goa. Disitu telah menunggu Hijau Dua dan Ningrum.

Begitu melihat Hijau Dua, Pendekar Kaki Kayu segera saja 

berteriak: “Ini dia iblis betina satunya! Kau tunggulah! Sebentar lagi aku 

akan mengambil kedua kakimu!”

Orang tua berjubah putih memandang berkeliling. Di salah satu 

mulut gua dia melihat ada tiga orang lelaki. Mereka bukan lain adalah 

Adi Sara, Sara Jingga dan Pendekar 212 Wiro Sableng.

“Ha...ha... Ternyata disinipun terdapat orang-orang lelaki untuk 

memberi kehangatan pada kalian di tempat yang busuk ini!” berteriak si 

jubah putih.

Baru saja suaranya sirap, dari salah satu mulut goa terdengar 

sahutan halus.

“Memang disini ada orang laki-laki! Tapi bukan bangsa manusia 

keji bernafsu kotor yang tega memperkosa murid sendiri” lalu terdengar 

suara jentringan kecapi.

Paras si jubah putih berobah merah. Dia memandang ke mulut 

goa sebelah kanan. Saat itu tampak sesosok tubuh berpakaian hijau, 

memakai cadar tipis dan membawa sebuah kecapi keluar dari mulut 

goa.

“Hemm... Jadi ini rupanya Dewi Lembah Bangkai yang tersohor 

itu?!” ujar si jubah putih.

“Orang-orang memanggilku Dewi. Tapi aku tetap manusia biasa! 

Datuk Sora Gamanda, apakah kau tidak mengenali diriku?!”Siapa kenal pada dirimu yang ditutup dengan cadar begitu rupa!” 

jawab kakek berjubah putih dengan rasa kaget dalam hati karena orang 

mengetahui namanya. “Hanya satu yang kuketahui, kau membunuh 

seluruh murid perguruanku! Hari ini aku datang memenuhi 

undanganmu! Hutang darah dibayar darah, hutang nyawa dibayar 

nyawa!”

“Bagaimana dengan hutang kehormatan? Apakah kau bisa 

membayarnya Datuk cabul?!”

“Perempuan bermulut kotor! Apa maksudmu dengan kata-kata 

itu?!” teriak Datuk Sora Gamanda. Tubuhnya bergetar karena marah.

Dewi Lembah Bangkai tertawa panjang. Tutup tawanya dengan 

jentringan kecapi. Lalu perlahan-lahan dia membuka cadar hijau yang 

menutupi wajahnya.

“Prantisari!” teriak sang Datuk terkejut bukan kepalang.

Dewi Lembah Bangkai kembali tertawa panjang.

Ternyata kau belum lupa siapa aku! Pasti kau juga belum lupa 

apa yang telah kau lakukan terhadapku! Memperkosa murid sendiri! 

Manusia terkutuk! Apakah kau sudah bersiap untuk mati?!”

“Muridku...”

“Tua bangka bangsat! Aku bukan muridmu!” bentak Dewi Lembah 

Bangkai.

“Dengar...dengar dulu. Aku mengaku bersalah. Aku mengaku 

berdosa. Waktu itu aku benar-benar khilaf. Malam itu aku bermaksud 

membangunkanmu untuk menyuruh berlatih jurus-jurus silat baru. 

Kutemui kau terbaring di atas ranjang dengan kain tersingkap. Aku 

dihasut setan... Aku melakukan itu diluar sadar, muridku. Maafkan 

gurumu ini...” Datuk Sora Gamanda melangkah hendak mendekati 

muridnya tapi Dewi Lembah Bangkai menyambutnya dengan 

menjentikkan kecapi. Benda itu berjentring keras, sinar putih

menyilaukan menyambar dan pedataran batu di depan kaki DatuK Sora 

Gandama terbongkar. Hancuran batu dan debu berhamburan mengotori 

jubah putih sang datuk.

“Enak betul hidup didunia ini jika semuanya berakhir dengan 

maaf! Datuk bejat! Jika kau masih punya Tuhan minta maaflah pada 

Tuhanmu. Tapi pada aku anak manusia tak ada ampun dan maaf 

bagimu!”

“Urusan apa sebenarnya yang berlangsung saat ini?!” kakek 

berbaju biru menyeletuk.

Segera saja dia mendapat dampratan dari Dewi Lembah Bangkai. 

“Orang tua pakaian biru, aku tahu kau adalah Pendekar Alam Sakti 

yang datang kemari karena diajak oleh manusia sundal bergelar Datuk 

Sora Gamanda ini! Aku juga tahu kehidupanmu selama ini bersih tiada 

cacat. Karenanya kuberikan waktu padamu untuk meninggalkan 

Lembah Bangkai saat ini juga!”

“Alam Sakti! Jangan dengarkan ocehannya! Kita tidak bisa 

dilecehkan begitu saja! Serahkan tukang pengumpul mayat ini padaku!”,teriak Kaki Kayu.

Dewi Lembah Bangkai berpaling pada Hijau Satu dan Hijau Dua. 

“Habisi manusia kotor satu itu!” memerintah sang Dewi. Maka Hijau 

Satu dan Hijau Dua segera berkelebat, perkelahian pertama berkecamuk 

di pedataran batu itu. Begitu menyerbu kedua anak buah sang Dewi 

langsung mainkan lima jurus ilmu silat Lembah Bangkai. Dua pasang 

lengan baju menghantam tiada henti. Bau bangkai menghampar di 

tempat itu. Dibakar oleh dendam kesumat si Kaki Kayu berkelahi luar 

biasa. Kedua kaki palsunya yang terbuat dari kayu setiap saat berubah 

menjadi senjata yang berbahaya. Belum lagi sepasang tongkat yang 

berada di kedua tangannya. Tiga jurus berlalu dua anak buah sang Dewi 

belum mampu mendesak. Namun begitu mereka memainkan jurus ke 

empat dan ke lima dari ilmu silat yang baru mereka pelajari, terdengar 

pekik si Kaki Kayu.

Satu tendangan keras membuat kaki kayunya sebelah kiri patah. 

Tubuhnya terbanting ke pedataran batu. Dia berusaha menusuk perut 

Hijau Dua dengan tongkat di tangan kanannya namun saat itu 

kepalanya yang masih menempel di pedataran batu sudah keburu 

dihantam tendangan Hijau Satu. Kepala ini tanggal dari lehernya, 

mencelat mental sejauh beberapa tombak.

Pendekar Alam Sakti merasakan tengkuknya dingin. Datuk Sora 

Gamanda tercekat tak bergerak. Jelas kepandaian dua gadis berbaju 

hijau itu luar biasa. Tidak dapat tidak pastilah bekas muridnya yang 

mengajarkan. Tapi dari mana si murid mendapatkan kepandaian itu?

“Bersihkan pendataran!” Dewi Lembah Bangkai berseru.

Hijau Tiga cepat maju. Mayat si Kaki Kayu dilemparkannya 

kesemak belukar.

“Pendekar Alam Sakti, waktumu hanya tinggal sedikit!” Dewi 

Lembah Bangkai memberi ingat.

“Dewi... Maafkan diriku. Kau benar, aku kemari karena diajak 

oleh Datuk Sora. Apa urusan kalian baru disini aku ketahui! Sebagai 

teman aku tak mungkin meninggalkannya sendirian. Tapi aku tak ingin 

mencampuri urusan kalian. Biarkan aku tetap disini. Kalau terjadi apa-

apa dengan dirinya izinkan aku membawa jenazahnya!”

Dewi Lembah Bangkai tertawa perlahan. “Kau kuizinkan. Tapi 

ketahuilah. Kau tak akan mendapatkan jenazah utuh!” Lalu sang Dewi 

berpaling pada Datuk Sora Gamanda. “Waktunya sudah tiba guru 

bejat!” Dewi Lembah Bangkai melangkah ke tengah pedataran. Kedua 

kakinya terkembang. Sepasang matanya memandang tak berkesip ke 

arah bekas gurunya itu. Tak ada jalan lain bagi sang guru selain 

menerima tantangan sang murid.

“Lakukan apa maumu Prantisari! Aku tak akan melawan!” 

terdengar Datuk Sora Gamanda berkata. Suaranya bergetar.

“Manusia pengecut! Keluarkan kepandaianmu! Bagaimanapun 

bejatnya dirimu, aku berikan hakmu untuk membela diri! Sudah bejat 

jangan jadi manusia pengecut pula!”Terbakar oleh kata-kata Dewi Lembah Bangkai maka Datuk Sora 

Gamanda menerkam ke depan. Jurus ilmu silat yang dilancarkan sang 

datuk sudah terbaca dan diketahui jelas oleh Dewi Lembah Bangkai. 

Bukan saja dia mampu mengelakkannya dengan mudah, tapi sebelum 

lawan sempat memasang kuda-kuda baru gadis itu telah menyerbu 

dengan jurus silat yang pernah diterimanya dari sang datuk. Hanya saja 

gerakannya lebih cepat dan ganas. Ketika sang guru membuat gerakan 

mengelak, Dewi Lembah Bangkai langsung menyerbu dengan jurus 

pertama ilmu silat Lembah Bangkai ciptaannya.

Sewaktu menjatuhkan si Kaki Kayu tadi Datuk Sora Gamanda 

telah melihat jurus-jurus ilmu silat itu dimainkan oleh Hijau Satu dan 

Hijau Tiga. Meski mampu mempelejarinya secara singkat namun sang 

datuk tidak dapat mengandalkan pengetahuan singkatnya itu untuk 

dapat menghadapi bekas muridnya itu. Maka sang datuk keluarkan 

jurus-jurus silat yang selama ini tak pernah diturunkannya pada murid-

muridnya, termasuk Prantisari.

“Bagus! Ternyata kau memiliki ilmu simpanan! Keluarkan semua 

kepandaianmu datuk cabul!” teriak Dewi Lembah Bangkai.

Semakin terbakar amarah sang datuk. Dari mulutnya keluar 

suara menggembor. Tangannya kiri kanan bergerak. Angin serangannya 

menderu-deru. Tubuhnya hanya tinggal bayang-bayang putih saja. Sang 

Dewi tampak seperti terkurung. Tiba-tiba terdengar Dewi lembah 

Bangkai berteriak keras, tubuhnya berputar setengah lingkaran. Tangan 

kirinya menyambar seperti pedang sedang kaki kanan menghantam 

laksana palu godam. Inilah jurus ketiga ilmu silat Lembah Bangkai. 

Guru dan murid bertempur hebat dengan niat saling bunuh. Yang satu

karena dendam yang satu lagi demi untuk menyelamatkan diri!

Ketika Dewi Lembah Bangkai mainkan jurus ke empat dan kelima, 

Datuk Sore Gamanda tak sanggup lagi bertahan. Dia melompat mundur 

sambil keluarkan senjatanya, sebilah golok pendek berhulu gading. 

Sebagai bekas murid, Dewi Lembah Bangkai tahu betul kehebatan golok 

tersebut yang merupakan sebuah senjata mustika sakti. Tapi sang dara 

tidak takut. Dia yakin akan kehebatan kecapi yang dimilikinya. Dia 

sengaja tegak di tengah pedataran batu, menunggu lawan menyerang.

Datuk Sora Gamanda sendiri hampir tidak mempercayai penglihatan-

nya. Sang bekas murid hendak menghadapi senjata saktinya dengan 

alat bebunyian itu. Tapi dia tak mau berpikir lama. Perlahan-lahan sang 

datuk angkat tangan kanannya yang memegang golok. Sinar matahari 

memantul membuat senjata itu berkilau-kilau. Ketika senjata ini 

diayunkan ada sinar terang menyambar disertai letupan keras seperti 

petir menyambar dikejauhan!

Dewi Lembah Bangkai menunggu sampai sang guru datang lebih 

dekat. Begitu sinar golok menyambar dijarak lima jengkel dihadapannya, 

Dewi Lembah Bangkai acungkan kecapinya, sekaligus memetik dua tali 

kawat di sebelah depan. Dua sinar putih panas dan menyilaukan 

menyambar!Terdengar jeritan Datuk Sora Gamanda. Tubuhnya terpental. 

Lengan kanannya putus sebatas siku laksana ditabas senjata tajam. 

Golok mustikanya tampak seperti meleleh dan jatuh berdentringan di

pedataran batu.

“Prantisari...Ampuni selembar nyawaku! Aku mengaku berdosa! 

Aku mengaku bersalah!” Datuk Sora mencoba berdiri sambil 

menyembah-nyembah.

“Sudah kukatakan minta ampun pada Tuhanmu. Tapi jangan 

minta ampun pada diriku!” ujar Dewi Lembah Bangkai dengan 

pandangan mata dan air muka ganas. Perlahan-lahan dia melangkah 

mendekati sang guru. Putus harapan berubah jadi ketakutan. Datuk 

Sora melangkah mundur. Mundur dan mundur terus. Disatu tempat dia 

membalikkan diri lalu lari menuju lereng lembah sebelah selatan.

“Manusia bejat! Tak ada tempat lari bagimu...” desis Dewi Lembah 

Bangkai.

Kecapi itu terdengar berdering! Sinar putih menyambar. Jauh di 

depan sana terdengar pekik Datuk Sora Gamanda ketika tangan kirinya 

sebatas bahu putus dihantam sinar putih yang menyambar keluar dari 

kawat kecapi. Seperti orang gila kakek ini meraung. Tubuhnya melorot 

kebawah. Tapi dengan segala kekuatan yang ada dia coba mendaki 

lereng lembah. Kecapi berdentring lagi. Kembali sinar putih menerpa 

ganas. Kali ini kaki kanan DatukSora yang putus. Tubuhnya terguling 

ke dasar lembah. Dalam keadaan mengerikan seperti itu dia berusaha 

menggapai-gapai dengan kakinya yang tinggal satu. Lalu kecapi dipetik 

sekali lagi.

Jeritan Datuk Sora setinggi langit. Tubuhnya hanya merupakan 

gelondongan saja kini. Kaki kirinya putus. Pendekar Alam Sakti 

tundukkan kepala. Tak sanggup menyaksikan kengerian ini, sementara 

tubuh kawannya menyangsrang diantara semak belukar.

Dewi Lembah Bangkai petik tiga tali kecapi sekaligus. Terjadilah 

hal yang luar biasa. Tiga sinar panas menyilaukan menyambar tubuh 

Datuk Sora yang menyangsang disemak belukar. Seperti agar-agar yang 

dibanting ke lantai tubuh itu hancur berkeping-keping!

“Pendekar Alam Sakti, seperti kukatakan tadi, kau tak akan 

mendapatkan jenazah sahabatmu dalam keadaan utuh. Aku tak ingin 

melihatmu lebih lama disini. Silahkan pergi!”

Mendengar kata-kata Dewi Lembah Bangkai kali ini, kakek 

berpakaian biru tak mau berlaku ayal lagi. Cepat-cepat dia mengambil 

golok bengkok milik Datuk Sora lalu tinggalkan tempat itu melalui jalan 

yang ditempuhnya sewaktu datang tadi. Kuduknya terasa dingin, 

hatinya berdebar. Kawatir kalau-kalau Dewi Lembah Bangkai akan 

menghantam tubuhnya dengan sinar ganas kecapi sakti itu!

Di pedataran batu saat itu Dewi Lembah Bangkai justru terduduk 

bersimpuh dan tekapan kedua tangannya ke wajah. Dia terdengar 

sesenggukan. Tak ada yang berani bergerak, tak ada yang berani 

berbuat sesuatu sampai akhirnya Pendekar 212 mendatangi danbersimpuh di hadapan sang dewi. Setelah menunggu sampai isakan 

tangis gadis itu mereda murid Eyang Sinto Gendeng ini lantas berkata.

“Dewi, apa yang kau inginkan telah kau dapati. Saatnya kita 

semua meninggalkan tempat ini...”

Dewi Lembah Bangkai turunkan kedua tangannya. Dipandanginya 

wajah pemuda itu sejenak lalu berkata: “Aku tak tahu harus pergi 

kemana sekarang...”

“Jangan berkata begitu. Apa kau lupakan janjiku? Aku akan 

membawamu ke tempat dimana Panji Kondang berada. Lebih cepat lebih 

bagus supaya jangan terlalu jauh kita mengejarnya...”

“Pendekar 212, kau sungguhan mau mengantarku?” tanya Dewi 

Lembah Maut alias Prasanti.

“Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan sebagai pembayar 

hutang budi dan hutang nyawa padamu Dewi...”

“Dewi...,” desis sang dara. “Aku tak ingin mendengar panggilan itu 

lagi. “Cerita tentang Lembah Bangkai sudah berakhir sampai disini!” 

Ketika Wiro berdiri sambil mengulurkan tangan, sang dara memegang 

lengan pemuda itu lalu tegak pula sambil mengempit kecapinya. Dia 

memandang berkeliling lalu berpaling ke arah anak buahnya. “Hijau 

Satu, Hijau Dua dan Hijau Tiga! Bersama yang lain-lainnya mari kita 

tinggalkan tempat ini. Kalian semua bebas kemana mau pergi...”

“Tidak Dewi...” kata Hijau Satu.

“Lupakan panggilan itu. Sebut namaku Prantisari!”

“Kami tetap akan ikut kemana kau pergi. Tentu saja kalau De... 

maksudku kalau kau mengizinkan...Bukan begitu kawan-kawan?” Hijau 

Dua dan Hijau Tiga sama menganggukkan kepala.

Prantisari tersenyum dan usap air matanya yang berderai. “Kalau 

begitu apa yang aku cita-citakan kan menjadi kenyataan...”

“Eh, apa cita-citamu itu?” bertanya Wiro.

“Aku akan membuka perguruan silat di puncak gunung Lawu. 

Maksudku aku dan dua orang gadis sahabatku itu!”

“Kalau begitu aku akan menjadi muridmu yang pertama!” kata 

Wiro pula lalu menggandeng tangan Prantisari menuju ke lereng lembah 

sebelah timur, ketika sampai di puncak lembah sebelah timur Wiro 

berpaling pada Prantisari. Boleh kulihat kecapimu?”

“Boleh saja. Apakah kau pandai memainkannya?” tanya Prantisari 

sambil menyerahkan kecapinya.

“Entahlah. Mungkin bisa. Tapi petikan kecapiku pasti tidak 

semerdu petikanmu!”

Wiro ambil kecapi itu dari tangan sang dara. Dia mengarahkannya 

ke Lembah Bangkai. Diam-diam perutnya mengeras tanda pendekar ini 

mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Lalu dia memetik ke enam tali 

kawat kecapi sekaligus! Terjadilah hal yang luar biasa! Enam sinar putih 

menyambar laksana enam petir menghantam bumi. Suaranya 

menggemuruh seperti hendak meruntuhkan langit. Udara panas 

membakar bumi. Dibawah sana enam larik sinar kecapi menghantamlereng dan dasar terbawah dari Lembah Bangkai. Tanah, pepohonan dan 

batu-batu mental setinggi beberapa tombak. Tempat itu laksana kiamat. 

Masing-masing merasakan tubuh dan lutut mereka bergetar. Lembah 

Bangkai seperti sirna kini berubah menjadi timbunan tanah dan batu!

Wiro garuk-garuk kepalanya. Sambil menyerahkan kecapi itu 

kembali kepada Prantisari dia berkata: “Ah, petikan kecapiku ternyata 

memang tidak semerdu petikanmu. Memalukan saja! Ini aku 

kembalikan padamu kecapi ini...”

Prantisari tersenyum. “Aku gembira atas apa yang barusan kau 

lakukan Wiro. Lembah Bangkai lenyap dan benar-benar akan dilupakan 

orang...”


TAMAT


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive