"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Rabu, 26 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE MANUSIA HALILINTAR

Manusia Halilintar



Manusia Halilintar


HUJAN TURUN DERAS, 

halilintar menyambar ganas 

dan guntur menggelegar 

menggoncang bumi. Dalam 

keadaan seperti itu Kebo Hijo 

terus melakukan pengejaran 

atas diri orang yang lari di 

depannya. Tubuhnya dan 

pakaiannya bukan saja telah 

basah kuyup oleh air hujan, tapi juga oleh cucuran keringatnya sendiri. 

"Raih Jenar keparat!" memaki Kebo Hijo seraya kepalkan tangan 

kanannya. "Kowe boleh lari ke ujung dunia! Boleh terbang menembus 

langit! Atau mencebur ke dalam laut! Tapi jangan harap kau bisa lolos! 

Sebentar lagi akan kubekuk dan kupatahkan batang lehermu! Awas kalau 

kotak hitam itu tidak kau serahkan padaku!" 

Orang yang dikejar larinya sebat sekali tanda memiliki ilmu yang 

cukup andal. Namun Kebo Hijo sendiri juga memiliki kepandaian. Dalam 

waktu singkat dia pasti dapat mengejar orang di depannya itu. 

Raih Jenar lari seperti setan. Sesekali dia menoleh kebelakang dan 

orang ini memaki habis-habisan setiap Kali melihat pengejarnya tambah 

dekat. 

Tangan kirinya menekan ke pinggang di mana tersembunyi sebuahkotak hitam terbuat dari batu. Tangan kanannya setiap saat meraba ke 

bagian lain dan pinggang tempat dia menyisipkan sebilah keras. 

"Berani kau mendekat, kukoyak tubuhmu!" mengancam Raih Jenar 

dalam hati. 

Hujan tambah lebat. Kejar mengejar itu semakin seru. Raih Jenar lari 

ke daerah persawahan di kaki bukit. Sepasang kakinya laksana terbang 

berlari di atas pematang sawah yang licin. Tiba-tiba untuk kesekian 

kalinya halilintar menyambar. Sekejapan daerah persawahan itu terang 

benderang menggidikkan. Kilauan kilat yang menyambar dari langit 

menghunjam ke bumi jatuh tepat di persawahan menghantam sosok tubuh 

Raih Jenar yang sedang lari. Suara jeritan orang ini tenggelam ditelan 

suara gelegar geledek. Tubuhnya terkapar di pematang sawah. Hangus 

gosong kehilaman! Kebo Hijo yang berada lima belas langkah di belakang 

Raih Jenar yang malang itu merasakan ada getaran keras ketika kilat 

menyambar. Tubuhnya terpental oleh dorongan satu kekuatan dahsyat. 

Dadanya mendenyut sakit. Dalam keadaan terduduk di pematang sawah 

untuk beberapa lama dia tak mampu berbuat apa-apa. Wajahnya pucat dan 

sepasang matanya melotot memandang ke arah sosok tubuh Raih Jenar. 

"Matikah si keparat itu?" Kebo Hijo bertanya pada diri sendiri. Lalu dia 

ingat pada kotak batu itu. Seolah-olah mendapat satu kekuatan, Kebo Hijo 

mampu bangkit dan melangkah bergegas mendekati tubuh Raih Jenar 

yang telah jadi mayat hangus hitam. Air hujan yang jatuh menimpa tubuh 

seperti dipanggang dan melepuh panas itu menimbulkan kepulan asap 

menebar bau daging matang terbakar. Merinding bulu tengkuk Kebo Hijo. 

Dia menunggu sampai kepulan asap lenyap dari tubuh mayat. Kemudian 

dengan ujung kakinya dibalikkannya tubuh Raih Jenar hingga terlentang.Muka mayat itu menggidikkan untuk dilihat. Pada bagian pinggang Raih 

Jenar tampak sebilah keris yang kini hanya merupakan sebuah benda 

bengkok leleh akibat hantaman halilintar. Kebo Hijo mencari-cari. Dia 

tidak melihat benda yang dicarinya itu. 

"Celaka! Jangan-jangan kotak dan isinya ikut leleh!" Memikir sampai 

disitu cepat-cepat Kebo Hijo membungkuk Dan memeriksa tubuh Raih 

Jenar. 

Benda yang dicarinya ternyata masih terselip di pinggang kirinya. 

Cepat Kebo Hijo ulurkan tangan untuk mengambil oenda itu yakni sebuah 

kotak terbuat dari batu berwarna hitam: Tapi begitu jarinya menyentuh 

batu hitam, Kebo Hijo tersentak menjerit dan tarik tangan kanannya. 

Ketika diperhatikan ternyata beberapa jari tangannya yang tadi sempat 

menyentuh batu hitam yang masih sangat panas itu kini tampak melepuh! 

Kebo Hijo buka belangkonnya. Dengan benda itu dia menciduk air 

sawah. Air dalam blangkon kemudian diguyurkannya ke atas batu hitam. 

Batu yang panas itu tampak mengepulkan asap. Setelah melakukan hal itu 

beberapa kali dan batu hitam menjadi dingin baru Kebo Hijo mengambil 

batu itu. 

"Bukan main!" menggumam kagum Kebo Hijo. "Keris yang terbuat 

dari besi pilihan saja leleh! Tapi kotak batu ini rusak sajapun tidak!" Dia 

memandang berkeliling. Di sebelah timur, beberapa belasan tombak 

tampak sebuah dangau. Kebo Hijo segera lari menuju dangau itu. Begitu 

sampai di dangau kotak batu ditelitinya. Pada bagian samping kotak 

terdapat celah tipis memanjang. Itulah batasan antara bagian bawah dan 

bagian atas yang menjadi penutup kotak batu. Dengan tangan gemetar 

Kebo Hijo membuka penutup kotak. Sulit dan keras hingga Kebo Hijo

harus mengerahkan tenaga. Ketika akhirnya kotak itu terbuka di dalamnya 

tampak sehelai kain putih. Dengan tangan gemetar mengambil kain putih 

itu dan membuka lipatannya. Di atas kain putih itu ternyata ada sederetan 

tulisan dalam huruf kuno yang dapat dimengerti dan dibaca oleh Kebo 

Hijo, berbunyi: 

Asal manusia dari tanah, air dan api 

Api dikodratkan lebih berkuasa dari 

kekuatan tanah dan air. 

Sumber api paling utama adalah 

kilat atau petir atau halilintar. 

Siapa saja manusia sakit atau sakarat, 

disentuh halilintar setelah padanya 

dilafatkan kata-kata hikmah dan mujarab 

sebanyak 10.000 kali maka kehidupan akan 

menjadi miliknya kembali. 

Adapun kata-kata berhikmah itu ialah: 

Walakalmati - Walakilhidup 

Matiwalakal - Hidupwalakil 

Setelah 10.000 kata dilafatkan, usapkan 

kotak batu hitam ke wajah dan tubuh orang 

yang sakit atau baru mati. Maka itulah 

titik mula kehidupan. Bawa dia ke tempat 

yang tinggi. Letakkan batu hitam di dadanya

di arah jantung. Bila halilintar 

menyambar tubuhnya, kesembuhan dan 

kehidupan menjadi miliknya kembali. 

Kebo Hijo merasa tegang oleh luapan kegembiraan. Dia mendongak ke 

langit seraya berteriak keras. Lalu dengan suara bergetar dia berkata : 

"Akhirnya kudapat juga batu berisi jimat kehidupan ini! Aku akan menjadi 

orang sakti! Bisa menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati!" 

Hujan masih turun dengan deras. Kebo Hijo tak mau menunggu sampai 

hujan reda. Dia sudah memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. 

Kain putih kecil dilipatnya kembali lalu dengan hati-hati dimasukkannya 

ke dalam kotak batu hitam. Kotak kemudian ditutupkannya rapat-rapat 

lalu diselipkannya di pinggang. Namun baru saja kotak itu menempel di 

pinggangnya mendadak ada satu suara menegur, membuat Kebo Hijo 

serasa terbang rohnya saking kagetnya. 

"Anak manusia! Serahkan kotak batu itu padaku!" Kebo Hijo berpaling 

ke kiri. Astaga! Disitu, di bawah hujan lebat di samping dangau tampak 

berdiri seorang lelaki tua berambut berjanggut dan berkumis putih. Dia 

mengenakan jubah putih yang kuyup. Wajahnya klimis tapi mendatangkan 

rasa angker bagi siapa saja yang memandangnya karena wajah itu putih 

pucat, seputih kain kafan! 

"Manusia atau hantukah mahluk ini?!" membatin Kebo Hijo. 

Bagaimana mungkin dia yang berilmu sampai tidak dapat mengetahui 

kemunculan orang tua tak dikenalnya itu dan tiba-tiba saja sudah berada di 

situ! 

"Anak manusia, aku tidak suka mengulang perintah sampai dua kali.Kalau itu kulakukan berarti nyawamu ikut kuminta!" Orang berjubah putih 

itu kembali angkat bicara. Dia tidak berusaha mengindari terpaan hujan 

dan terus saja tegak berbasah-basah di tepi dangau. 

"Kau, kau meminta apa tadi ..?" bertanya Kebo Hijo. 

"Kau tidak tuli! Sekali ini aku masih mau memberi tahu. Setelah itu 

jangan harap kau bisa berdalih! Aku minta batu hitam yang kau ambil dari 

tubuh Raih Jenar!" 

"Eh, bagaimana orang ini bisa tahu kalau aku memgambil kotak batu 

dari Raih Jenar. Padahal dia tak ada di sini tadi," berpikir Kebo Hijo. Lalu 

dia bertanya, "Orang tua, siapa kau ini sebenarnya?" 

"Siapa aku tidak penting. Lekas serahkan benda yang kuminta!" Lalu si 

jubah putih ulurkan tangan kanannya, siap menerima barang yang 

dimintanya. 

"Kau keliru! Aku tidak memiliki benda yang kau minta itu. Barang 

yang kau cari mungkin masih berada pada Raih Jenar. Coba saja kau 

periksa tubuhnya!" Kebo Hijo menunjuk ke arah mayat Raih Jenar yang 

tergeletak di pematang sawah, lalu memutar tubuh hendak meninggalkan 

tempat itu. 

Si jubah putih menyeringai. Tangan kirinya di ulurkan memegang bahu 

Kebo Hijo. Pegangan itu biasa-biasa saja, tapi Kebo Hip merasa seperti 

ada gundukan batu besar yang menindih tubuhnya hingga dia keberatan 

dan tak bisa bergerak. 

"Seperti katamu, mungkin aku perlu memeriksa mayat Raih Jenar. Tapi 

ketahuilah, hari ini bakalan ada dua mayat di tempat ini." Orang tua itu 

memutar tubuh, bersikap seperti benar-benar hendak pergi mendekati 

tubuh Raih Jenar. Namun sebelum tubuhnya terputar penuh, tiba-tibasekali tangan kananya bergerak ke arah batok kepala Kebo Hijo. 

Praakkk! 

Kepala Kebo Hijo rengkah. Darah dan cairan otak muncrat. Tubuhnya 

rebah ke lantai dangau tak berkutik dan tak beryawa lagi! 

Di langit kilat menyambar dan geledek menggemuruh. Si jubah putih 

menyeringai sambil usap janggul putihrrya. Dengan tangan kirinya dia 

menyibakkan pakaian Kebo Hijo. Kotak batu hitam yang terselip di 

pinggang Kebo Hijo disambamya. Lalu dia tinggalkan tempat itu sambil 

keluarkan suara tawa mengekeh. Dalam waktu singkat sosok tubuhnya 

telah lenyap di kejauhan dibawah hujan yang masih mendera lebat. 

***


KI DUKUN TAMBAK RESO membuka kedua mata dan turunkan 

sepasang tangannya yang bersidekap di depan dada ketika di pintu 

terdengar ketukan. 

"Siapa ..?!" tanyanya. 

"Saya, Gusdur. Pembantumu..." terdengar jawaban. 

"Jika kau datang membawa apa yang kuinginkan kau boleh masuk. Jika 

tidak, harap pergi saja dan jangan kembali sebelum kau mendapatkan apa 

yang kuminta!" 

"Saya memang datang membawa apa yang Ki Dukun perintahkan. Saya 

memanggul seekor anak rusa yang sakarat diterkam harimau!" 

"Kalau begitu kau boleh masuk!" 

Pintu tampak di dorong. Terdengar suara berkereketan. Lalu masuk 

sesosok tubuh lelaki, pendek tetapi tegap berotot. Orang ini hanya 

mengenakan sehelai celana pendek hitam sebatas lutut. Dia memanggul 

seekor anak rusa yang robek leher serta dadanya. Binatang ini tengah 

sakarat, beberapa saat lagi pasti mati. Darah mengalir dari luka di tubuh 

anak rusa dan membasahi bahu, punggung serta dada Gusdur. 

"Letakkan binatang itu dihadapanku!" Orang tua berjubah putih 

bernama Ki Dukun Tambak Reso memerintah lalu menarik sehelai tikar 

kulit dan menariknya kehadapannya. 

Gusdur menurunkan anak rusa dari bahunya lalu meletakkan binatang 

itu di atas tikar kulit. Ki Dukun memberi isyarat agar si pembantu dudukdi sudut ruangan. 

"Dua pumama aku menunggu dan menyiapkan diri. Sekarang baru 

kudapat mahluk yang bisa dijadikan peroobaan. Mudah-mudahan hujan 

dan kilat datang tepat pada waktunya." Habis berkata begitu Ki Dukun 

Tambak Reso keluarkan sebuah benda dad saku jubahnya. Benda ini 

ternyata adalah sebuah kotak yang terbuat dad batu berwarna hitam. Kotak 

batu di buka dan sehelai kain putih terlipat dikeluarkannya dari dalam 

kotak lalu dikembangkannya di atas pangkuan. Pada kain putih itu tertera 

tulisan kuno berbunyi: Walakalmati Walakalhidup—Matiwalakal 

Hidupwalakil. 

Dengan suara perlahan-lahan Ki dukun mulai membaca kata-kata itu 

berulang kali tiada henti-hentinya. Matanya sedikit demi sedikit terpejam, 

kepalanya bergoyang-goyang. Gusdur si pembantu memperhatikan dari 

sudut ruangan. Dia tak berani bergerak, bahkan berkesippun jarang-jarang. 

Ada rasa ngeri didalam hatinya. Dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja 

dia merasa begitu. 

Siang berganti sore dan sore mulai memasuki malam. Tambak Reso 

masih terus melafatkan kata-kata Walakalmati Walakalhidup—

Matiwalakal - Hidupwalakil. Suaranya tidak berubah sedikitpun tanda hati 

dan pikirannya sangat yakin atas apa yang tengah dikerjakannya saat itu. 

Dia seperti tidak menyadari kedatangan malam bahkan ketika di luar sana 

angin kencang bertiup, udara menjadi dingin dan hujan mulai turun 

disertai gelegar guntur dan halilintar dia masih saja terus melafatkan kata-

kata berhikmah itu. 

Hujan masih terus turun, guntur masih menggelegar dan kilat masih 

menyambar ketika Ki Dukun Tambak Reso selesai melafatkan 10.000 kalirangkaian empat kata bertuah itu. Tubuh dan jubahnya basah oleh 

keringat. 

Perlahan-lahan orang tua ini bukakan kedua matanya. Sesaat dia 

menatap tubuh anak rusa di atas tikar kulit. Kain putih di atas pangkuan 

dilipat, dimasukkan ke dalam kotak batu lalu kotak di tutup kembali. 

Dengan kotak batu itu Ki Dukun Tambak Reso kemudian mengusap 

kepala dan sekujur tubuh anak rusa, termasuk ke empat kakinya. Lalu 

cepat-cepat kotak batu dimasukkan ke dalam jubahnya. 

"Gusdur!" 

Pembantu yang hampir terlelap di sudut ruangan tersentak kaget, cepat-

cepat membungkuk seraya menyahuti, "Saya Ki Dukun..." 

"Aku akan meninggalkan tempat ini menuju ke bukit Jati Arang..." 

"Di luar masih hujan lebat Ki Dukun," mengingatkan Gusdur. 

Maksudnya baik. Tapi si orang tua cepat menukas. 

"Kau tak layak menasihatiku!" 

"Maafkan saya Ki Dukun…" ujar Gusdur seraya membungkuk 

berulang kali. 

"Ingat semua pesanku Gusdur! Jangan tinggalkan rumah ini selama aku 

pergi. Jangan menerima tamu siapapun walaupun seorang malaikat! Dan 

jangan ceritakan pada siapapun apa yang telah kau lihat di tempat ini! 

Termasuk kepergianku ke bukit Jati Arang. Kau ingat apa hukumannya 

jika kau berani melanggar pesan dan perintahku?!" 

"Saya ingat Ki Dukun dan saya tak akan melanggamya," jawab Gusdur 

pula. Lalu dilihatnya Ki Dukun Tambak Reso mencekal leher anak rusa 

yang saat itu sudah mati, melangkah ke pintu lalu lenyap ditelan kegelapan 

malam dan hujan lebat di luar sana. Sesaat udara dingin merambas masukke dalam rumah membuat Gusdur menggigil kedinginan. Buru-buru dia 

menutupkan pintu dan memasang palangnya sekaligus. Kuduknya 

merinding ketika matanya membentur noda-noda darah pada tikar kulit 

bekas tempat anak rusa itu digeletakkan. 

Beberapa lamanya Gusdur melangkah mundar-mandir di ruangan itu. 

Dia selalu dibayangi oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hati-

nya. Apa sebenarnya yang tengah dilakukan oleh Ki Dukun. Mengapa 

pula dia malam-malam hujan lebat begitu pergi ke bukit Jati Arang? 

Selama ini dia memang sering melihat perbuatan-perbuatan aneh 

dilakukan orang tua itu. Namun tak ada yang seaneh kali ini. Karena 

keletihan Gusdur membaringkan dirinya di pojok ruangan. Baru saja dia 

melunjurkan kaki tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, membuatnya terkejut 

dan memaki setengah mati. Dia tegak dan melangkah mendekati pintu. 

"Siapa?!" bertanya Gusdur. 

"Aku..." Ada suara menjawab diantara deru hujan dan angin di luar 

sana. 

"Aku siapa?! membentak Gusdur. 

"Aku kesasar dan kemalaman di jalan! Aku ingin berteduh! Tolong 

bukakan pintu! Pertolonganmu pasti tak akan kulupakan...!" 

"Rumah ini bukan tempat berteduh! Apalagi untuk orang kesasar. Cari 

saja tempat yang lain...!" ujar Gusdur pula. 

"Sobat, jangan begitu! Aku sudah sudah basah kuyup dan kedinginan 

setengah mati! Aku sudah berkeliling, tapi rumah ini satu-satunya 

bangunan di daerah ini!" Orang diluar sana mendesak. 

"Aku tidak kenal padamu! Tak ada kewajiban bagiku untuk menolong! 

Lagi pula aku tidak mau melanggar pesan majikanku pemilik rumah ini!""Eh, apa sih pesan majikanmu itu?!" orang di luar sana bertanya. 

Gusdur hendak memaki tapi lelaki pendek kekar ini menjawab juga. 

"Aku tidak diperkenankan bicara dengan siapapun! Apalagi kalau sampai 

membawa masuk seseorang ke dalam rumah ini!" 

"Apakah majikanmu ada di rumah saat ini?" 

"Tidak. Dia sedang pergi..." 

"Nah, kalau dia sedang pergi kenapa takut? Dia tak akan mengetahui 

kedatanganku di rumah ini! Nah, bukalah pintu!" 

"Pergi saja! Aku tak bisa menolongmu!" 

"Kalau begitu pintu rumah akan kubobol paksa. Kalau majikanmu 

melihat pintu ini rusak, kau pasti akan dihukumnya! Kaupilih mana? 

Menolongku atau kena damprat majikanmu ..?! Ha..ha..ha..!" 

"Kurang ajar! Berani kau memaksa dan mendesak aku! Ingin kulihat 

bagaimana tampangmu!" Gusdur menurunkan palang pintu lalu membuka 

pintu. Bersamaan dengan menyeruaknya udara dingin dari luar, melompat 

masuk ke dalam rumah seorang lelaki dalam keadaan basah kuyup. 

Ternyata dia seorang pemuda berpakaian putih berambut gondrong. Baik 

rambutnya yang gondrong maupun pakaiannya basah kuyup dan tetesan-

tetesan air dari tubuh serta pakaian pemuda ini jatuh ke bawah mambasahi 

lantai. 

"Kau maling atau rampok atau apa?! Lekas kau tinggalkan rumah ini! 

Aku tak mau menjadi susah karena kehadiranmu disini!" 

Melihat pemuda itu tetap saja tegak malah sambil menyeringai dan 

garuk-garuk kepala, Gusdur jadi gusar. Dia segera menyambar palang 

pintu dan siap menghantam si pemuda dengan benda itu. 

"Sobat, sabar dulu! Jangan cepat saja mengemplang orang!" berkata sipemuda seraya mengangkat tangan kanannya. Tiba-tiba saja Gusdur 

merasa palang pintu yang dipegangnya menjadi berat luar biasa. Karena 

tak kuat memegangnya lagi, lelaki pendek ini terpaksa menurunkan palang 

pintu itu ke lantai. 

"Sahabat, aku tahu kau orang baik. Siapa sih nama majikanmu pemilik 

rumah ini?!" bertanya si pemuda. 

Menyangka bila diberi tahu nama majikannya si pemuda akan menjadi 

takut dan buru-buru tinggalkan tempat itu maka dengan suara keras 

Gusdur memberi tahu. "Majikanku adalah Ki Dukun Tambak Reso! 

Dukun sakti yang terkenal di mana-mana! Siapa saja yang berani berlaku 

kurang ajar terhadapnya pasti akan menyesal seumur hidup. Pemuda 

macammu ini mudah sekali dibuatnya menjadi seorang pikun atau lumpuh 

seumur-umur!" 

"Wah, wah, hebat sekali majikanmu yang dukun itu. Tapi aku kan tidak 

berlaku kurang ajar padanya?!" 

"Tidak berlaku kurang ajar katamu?! Buktinya saat ini kau memasuki 

rumahnya tanpa izinnya." tukas Gusdur jengkel dan marah. 

Pemuda berambut gondrong itu kucak-kucak rambutnya yang basah. 

Sambil tertawa dia berkata. "Sobat, bukankah tadi kau sendiri yang 

membuka pintu rumah..?!" 

Mendengar ucapan itu Gusdur hanya bisa pelototkan mata. Si pemuda 

memandang geli padanya dan bertanya, "Benar majikanmu Ki Dukun 

Tambak Reso dan ini rumahnya?!" 

"Kau kira aku berdusta? Tunggu sajalah sampai dia muncul! Begitu kau 

dilihatnya celakalah nasibmu!" 

Mendengar ucapan Gusdur itu dalam hatinya si pemuda berkata,"Hem… jadi benar rupanya keterangan yang kudapat..." Dia menatap 

tampang Gusdur sesaat lalu bertanya, "Di mana majikanmu sekarang?!" 

"Kau bunuhpun aku tak akan memberi tahu!" sahut Gusdur. 

"Aku tidak akan membunuhmu, pendek! Tapi mungkin akan 

menangkapmu. Juga majikanmu!" 

Mendengar kata-kata pemuda itu Gusdur jadi agak terkejut. "Siapa kau 

ini sebenarnya?!" 

"Namaku Wiro. Aku adalah salah seorang Kepala Perajurit Keraton!" 

"Aku tidak percaya!" ujar Gusdur. "Kalau kau memang alat Kerajaan 

mengapa tidak mengenakan pakaian seragam? Dan rambutmu yang 

gondrong! Mana ada perajurit berambut gondrong sepertimu!" 

Si pemuda yang ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng 

menyeringai. "Dengar, sebenarnya ini adalah rahasia. Tapi karena aku 

menganggapmu sebagai seorang kawan maka aku akan katakan padamu. 

Aku sengaja menyamar. Aku tengah melakukan perjalanan rahasia untuk 

menangkap orang-orang jahat dan kaki tangan pemberontak! Kalau kau 

tidak mau bekerjasama, jangan heran kalau malam ini juga kau bisa 

kuseret ke Kotaraja!" 

"Edan! Aku bukan penjahat, apalagi pemberontak!" kata Gusdur 

setengah berteriak. 

"Kau kuanggap orang jahat jika tidak mau mengatakan di mana 

majikanmu..." 

"Benar-benar edan! Ki Dukun akan menghajarku habis-habisan jika 

alau berani menceritakan di mana dia berada!" 

"Kenapa dia menghajarmu? Berarti ada rahasia yang tidak beres di 

tempat ini!" ujar Wiro seraya menatap tajam pada Gusdur. "Kau maubicara terang-terangan atau bagaimana?!" Nada suara Wiro keras 

mengancam. 

Gusdur jadi agak takut. Namun rasa takutnya terhadap Ki Dukun 

Tambak Reso jauh lebih besar. Maka diapun berkata, "Pemuda rambut 

gondrong! Paling tidak aku telah memberi kesempatan padamu untuk 

berteduh. Sekarang tinggalkan rumah ini!" 

"Aku tidak akan pergi sebelum kau menceritakan rahasia menyangkut 

diri majikanmu!" sahut Wiro lalu rangkapkan kedua tangan di depan dada 

dan mulutnya menyeringai dimonyong-monyongkan. 

Gusdur jadi kalap. "Jika begitu katamu, kau rasakan ini!" Lalu dia 

menyambar palang pintu. Seperti tadi dia kembali hendak mengemplang 

Wiro dengan kayu itu. Tapi lagi-lagi dia mendadak merasakan palang 

pintu itu menjadi berat hingga dia tidak kuat mengangkatnya. Terpaksa dia 

lepaskan dan palang pintu jatuh ke lantai. Kini barulah Gusdur sadar kalau 

dia berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi. Mungkin sama 

tinggi kepandaiannya dengan Ki Dukun. Maka dengan suara rendah dia 

berkata, "Orang muda, jangan pergunakan kesaktianmu untuk membuat 

susah orang kecil sepertiku. Pergilah..." 

Wiro pegang bahu Gusdur seraya berkata, "Aku mana tega membuatmu 

susah. Justru aku akan memberikan kesaktian padamu jika kau mau bicara 

banyak tentang Ki Dukun. Juga mengatakan di mana dia berada saat ini!" 

"Kesaktian? Kesaktian apa..?" tanya Gusdur terheran-heran. 

"Lihat ini!" ujar Wiro seraya luruskan jari telunjuk dan jari tengah 

tangan kanannya. Lalu ke dua ujung jati itu ditekankan ke lantai. 

Terdengar suara berderak. Perlahan-lahan ujung dua jari itu masuk 

menembus lantai kayu yang berlubang!

Tentu saja Gusdur jadi melengak kagum melihat kejadian itu. 

"Kau juga bisa melakukan seperti yang barusan kulakukan. Cobalah!" 

ujar Wiro. 

Meski tidak percaya tapi si pembantu lakukan juga apa yang dikatakan 

Wiro. Kedua jarinya diluruskan lalu ditusukkan ke lantai kayu. Gusdur 

terpekik kesakitan dan kibas-kibaskan tangan kanannya. 

"Dusta besar!" teriaknya marah. 

Wiro tertawa. "Untuk dapat menembus lantai kayu dengan dua jarimu, 

tubuhmu perlu diisi dengan kesaktian lebih dahulu. Aku bersedia 

memberikannya tapi ada syaratnya, sobatku! Tidak sulit syaratnya. 

Ceritakan di mana majikanmu sekarang. Apa yang dilakukannya selama 

ini. Dan ..." Wiro menoleh ke arah tikar kulit di lantai." Darah apa yang 

melekat di tikar kulit itu...?" 

Gusdur tampak bingung tapi juga berpiki-rpikir. Dia sangat takut 

terhadap Ki Dukun majikannya itu. Tapi jika dia nanti memiliki kesaktian, 

apakah masih perlu takut? Pembantu ini akhirnya memilih kesaktian. 

Maka diapun berpaling pada Wiro dan berkata, "Baik, asalkan kau tidak 

menipuku aku bersedia menjawab semua apa yang kau minta. Tapi 

berikan kesaktian itu lebih dulu, baru kau mendapat keterangan dariku." 

Wiro anggukkan kepala, melangkah mendekati Gusdur dan genggam 

tangan kanan lelaki pendek itu dengan tangan kanannya. Beberapa saat 

berlalu. Gusdur merasakan ada aliran hangat memasuki jari-jari 

tangannya, terus ke telapak, terus ke lengan dan berhenti sampai di batas 

siku. 

"Apa yang kau rasakan?" tanya Wiro 

"Ada hawa hangat menjalar ke tanganku..."

"Bagus. Kau sudah jadi orang sakti sekarang!" 

Gusdur ternganga, tak percaya. 

"Coba tusuk lagi lantai itu! Kau akan melihat buktinya!" ujar Wiro. 

Gusdur merasakan dadanya berdebar. Dia luruskan jari telunjuk dan 

jari tengah tangan kanannya. Lalu... kedua jari itu ditusukkan ke lantai 

kayu. 

Kraak! 

Dua jari tangan Gusdur masuk. Ketika ditarik, di lantai kayu tampak 

lubang. Sepasang mata Gusdur terbelalak. Dia melompat dan hampir saja 

berteriak saking girangnya. "Aku jadi orang sakti! Aku jadi orang sakti...!" 

desahnya dan berpaling pada Wiro sambil kepalkan tangan kanan dan 

acungkan tinggi-tinggi ke atas. 

"Kau sudah memiliki kesaktian. Sekarang tepati janjimu..." berkata 

Wiro. 

"Akan kutepati. Aku Gusdur berterima kasih padamu. Aku akan 

menganggapmu sebagai guru! Janji akan kutepati. Aku akan 

memanggilmu guru! Guru, dengar. Aku akan menceritakan semuanya 

padamu. Bahkan kalau kau suka, aku akan antarkan kau ke tempat dimana 

saat ini Ki Dukun Tambak Reso berada! Kau tahu guru, orang tua itu 

tengah mengamalkan satu ilmu kesaktian hebat luar biasa. Dengan 

ilmunya itu dia bisa menyembuhkan orang sakit, bahkan menghidupkan 

mahluk yang sakarat atau sudah mati..." 

"Hem, sungguh luar biasa jika itu betul. Agaknya semua keterangan 

yang kudapat sebelumnya memang cocok dengan apa yang aku dengar 

dari orang ini." Wiro membatin. Lalu pada Gusdur dia anggukkan kepala 

seraya berkata. "Antarkan aku ke tempat Ki Dukun itu berada. Sambiljalan kau bisa menerangkan segala sesuatu tentang diri dan ilmu 

kesaktiannya itu." 

Gusdur balas mengangguk. Lalu mendahului melangkah menuju pintu. 

***


UNTUK MENCAPAI puncak bukit Jati Arang tidak mudah. Apalagi saat 

itu malam gelap gulita dan hujan turun dengan deras ditambah udara 

dingin bukan kepalang. Dulunya bukit itu merupakan bukit yang penuh 

ditumbuhi pohon-pohon jati yang sudah berusia puluhan tahun. Suatu 

ketika terjadi kebakaran hutan, bukit beserta pohon-pohon jatinya ikut 

terbakar musnah, berubah menjadi bukit tandus penuh bebatuan hitam dan 

gersang. Sejak itu bukit ini disebut orang sebagai bukit Jati Arang. 

Gusdur berjalan di sebelah depan. "Kesaktian" yang didapatnya dari 

sang "guru" membuat lelaki pendek bertubuh kekar ini mendaki bukit 

penuh semangat walaupun dengan susah payah. Pendekar 212 Wiro 

Sableng mengikuti dari belakang. 

Hujan agak mereda, tetapi guntur masih menggelegar dan kilat masih 

sambung menyambung ketika mereka akhirnya sampai di puncak bukit. 

Gusdur berhenti di balik sebuah batu besar lalu menunjuk ke arah atas di 

mana terdapat sebuah batu besar berbentuk hampir datar. Di depan batu 

datar yang terpisah beberapa belas tombak itu tampak berdiri seorang tua 

berjanggut putih, berpakaian jubah putih dalam keadaan basah kuyup. 

Gusdur menunjuk ke arah orang itu lalu berbisik pada Wiro. 

"Itu Ki Dukun Tambak Reso. Lihat apa yang tengah dilakukannya..." 

Wiro memang sudah sejak tadi melihat orang di puncak bukit itu, jauh 

sebelum Gusdur memberi tahu. Orang ini duduk bersila di atas batu datar. 

Di atas batu di hadapannya menggeletak sosok tubuh anak rusa yangsudah jadi bangkai. Untuk beberapa lamanya orang berjubah ini duduk 

menundukkan kepala berdiam diri, mungkin tengah membaca mantera 

atau hanya sekedar mengkhususkan diri. Kemudian tampak dia 

mengambil sesuatu dari saku jubahnya. Benda ini diletakkannya di atas 

tubuh anak rusa yang mati, di bagian dada, tepat di arah jantung. Sesaat 

dia menatap bangkai bintang itu dengan dada berdebar. Dia memandang 

berkeliling; lalu turun dari batu datar, melangkah mundur sejauh dua belas 

langkah. 

Gusdur menyentuh lengan Wiro seraya berbisik, "Yang diletakkannya 

tadi di atas tubuh rusa, itulah batu aneh yang kuceritakan padamu..." 

Wiro mengangguk sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir, 

memberi tanda agar Gusdur jangan bicara karena saat itu Ki Dukun berada 

dekat sekali dengan batu besar dibalik mana mereka bersembunyi. 

Di kejauhan terdengar guntur menggelegar. Menyusul sambaran kilat di 

langit. Suara guntur lagi, kini makin dekat dan keras menggetarkan puncak 

bukit Jati Arang. Lalu halilintar berkiblat dahsyat, menerangi puncak 

bukit. Ujungnya menghujam ke bawah, menghantam batu datar dimana 

anak rusa berada. Batu datar dan tubuh anak rusa itu sedikitpun tidak 

bergeming, padahal Ki Dukun Tambak Reso nampak terbanting jatuh 

duduk ke tanah. Begitu juga Gusdur dan Wiro Sableng yang sembunyi di 

belakang batu besar, keduanya rubuh terduduk! 

Perlahan-lahan Ki Dukun berdiri sambil kedua matanya memandang 

tak berkesip ke arah batu datar. Malah kini dengan debaran jantung lebih 

keras dia melangkah mendekati batu itu. Ada asap tipis menyelubungi 

tubuh anak rusa di atas batu. Asap ini membubung ke atas lalu lenyap. Di 

atas batu anak rusa yang jelas-jelas sudah jadi bangkai alias mati tampakmenggerakkan dua kaki belakangnya. Menyusul dua kaki depannya ikut 

bergerak. Ki Dukun kini merasakan bukan saja jantungnya yang berdebar 

keras, tapi seluruh tubuhnya ikut bergetar oleh goncangan luapan 

kegembiraan bercampur rasa hampir tidak percaya melihat kenyataan itu. 

Dari tempatnya berdiri dia melihat anak rusa membukakan kedua matanya 

Luka di tubuh binatang ini tampak meninggalkan bekas hitam. Tiba-tiba 

terdengar anak rusa ini menguik! Lalu binatang ini melompat dan tegak di 

atas batu datar. Sesaat memandang kian kemari. 

"Sungguh luar biasa! Di mana ada mujizat dan keajaiban seperti ini! 

Dan aku Ki Dukun Tambak Reso yang melakukannya!" begitu si orang 

tua jubah putih berucap pada dirinya sendiri. Dia melangkah lebih dekat 

ke batu besar. Anak rusa di atas batu itu memandang ke arahnya. Sesaat 

kemudian, sebelum Ki Dukun melangkah lebih dekat, binatang ini 

melompat dari atas batu, menghambur dalam kegelapan dan lenyap! 

Untuk beberapa lamanya Ki Dukun dan juga Wiro serta Gusdur menatap 

ke arah gelap di jurusan menghilangnya anak rusa tadi. 

Di depan batu datar, Ki Dukun kemudian tampak membungkuk untuk 

mengambil batu kotak batu hitam yang tadi terlempar jatuh sewaktu anak 

rusa melompat bangun dari kematiannya! 

Di balik batu Gusdur berkata, "Aku harus kembali sekarang juga 

sebelum Ki Dukun sampai. Jika dia mendapatkan aku tak ada di rumah, 

apalagi sampai mengetahui aku ada di sini aku bisa celaka. Aku pergi 

sekarang..." 

Wiro mengangguk. Gusdur balikkan tubuh lalu cepat-cepat tinggalkan 

tempat itu. Begitu Gusdur lenyap, Ki Dukun tampak beranjak dari tem-

patnya setelah lebih dulu menyimpan baik-baik kotak batu hitam ke dalamsaku jubahnya. Saat dia hendak melangkah pergi dalam luapan kegembira-

an dan ketakjuban yang tiada henti-hentinya, saat itulah Pendekar 212 

Wiro Sableng keluar dari balik batu dan melangkah ke hadapannya. 

Tentu saja Ki Dukun Tambak Reso sangat terkejut ketika tiba-tiba 

melihat ada seorang pemuda tak dikenal muncul di hadapannya di bawah 

hujan dan gelapnya malam serta dinginnya udara di puncak bukit itu. Serta 

merta dia hentikan langkah dan memandang meneliti. Dia tidak kenal 

pemuda di depannya ini. Perasaan curiga dan tidak enak menjadi satu 

bercampur rasa marah karena menyadari rupanya ada orang lain di tempat 

ini. 

"Sejak berapa lama keparat ini berada di tempat ini? Apakah dia 

mengetahui dan menyaksikan apa yang telah kulakukan? Melihat apa yang 

aku kerjakan?" Ki Dukun bertanya-tanya dalam hati. 

"Orang muda! Siapa kau?!" Ki Dukun Tambak Reso membentak. 

Suaranya terdengar garang dibawah hujan lebat, tatapan matanya mem-

bersitkan kemarahan. 

Dibentak keras-keras seperti itu murid Sinto Gendeng sesaat jadi 

terkesima. Ada kekuatan aneh dalam diri orang tua ini, termasuk dalam 

suaranya. Meskipun terkesima, namun dalam hatirya Wiro bertanya-tanya 

pula apakah dia akan menjawab terus terang siapa dirinya, mengutarakan 

maksud kemunculannya di tempat itu atau lebih dulu coba 

mempermainkan si jenggot putih Irn. 

"Orang tua, kau datang ke puncak bukit Jati Arang ini tanpa permisi 

tanpa izin. Sungguh lancang dan ceroboh tindakanmu!" 

Kini Ki Dukun itulah yang terkesima mendengar ucapan orang. "Tanpa 

permis? Tanpa izin...? Minta permisi dan izin pada siapa...?! Apamaksudmu?!" 

"Minta izin dan permisi padaku! Karena akulah penguasa dan pemilik 

bukit Jati Arang ini!" sahut Wiro seraya renggangkan kedua kaki dan 

tangkapkan kedua tangan di depan dada. 

Mendengar ucapan itu Ki Dukun Tambak Reso keluarkan suara tertawa 

bergelak. "Puluhan tahun aku tinggal di daerah ini! Baru malam ini aku 

mendengar kalau bukit Jati Arang ada pemiliknya, ada penguasanya! Kau 

melantur atau kau sebenarnya memang seorang berotak tidak waras?!" 

"Kau berani menghina dan bermulut kotor pada penguasa bukit Jati 

Arang! Berarti kau sudah pasrah tubuhmu dijadikan arang! Kecuali..." 

"Kecuali apa?!" sentak Ki Dukun Tambak Reso seraya kepalkan kedua 

tinjunya. 

Wiro tak segera menjawab, melainkan menyeringai lebih dulu lalu 

memencongkan mulutnya baru berkata: "Kecuali jika kau menyerahkan 

kotak terbuat dari batu hitam itu!" 

"Hem ...itu rupanya maksud kehadiranmu di sini!" Karena maklum 

orang sudah mengetahui kalau kotak batu itu ada padanya Ki Dukun tak 

mau berdalih. Maka diapun bertanya, "Hak apa kau meminta benda itu?!" 

"Karena kau ditakdirkan tidak sebagai pemiliknya. Benda itu 

merupakan salah satu barang pusaka yang paling rahasia dari Keraton. 

Jadi harus dikembalikan pada Kerajaan!" 

"Penipu besar! Aku yakin kau seorang rampok yang memakai dalih 

Keraton dan kerajaan! Dengar! Jika kau ingin selamat lekas minggat dari 

hadapanku!" Ki Dukun mengancam dengan kepalkan tinju dan beliakkan 

kedua mata. 

Dari balik pakaiannya Wiro Sableng mengeluarkan sebuah benda bulatberwarna putih berkilat terbuat dari perak murni. Melihat benda itu Ki 

Dukun Tambak Reso jadi terkejut. Itu adalah cap Kerajaan yang 

dituangkan di atas lempengan perak bulat. Dan merupakan suatu pertanda 

bahwa siapa saja yang memegangnya berarti benar-benar tengah 

menjalankan suatu tugas sangat penting dan sangat, rahasia dari Kerajaan! 

Tapi apapun alasan dan siapapun adanya Wiro, tentu saja orang tua itu 

tidak mau menyerahkan percuma kotak batu yang telah dimilikinya. 

Apalagi dia sudah punya rencana besar dalam otaknya. Dengan memiliki 

batu mijijat itu dia bisa menjadi seorang besar paling berkuasa, malah 

lebih berkuasa dari Raja! Dia bisa menjadi seorang Raja Diraja! 

"Orang muda, kau boleh menunjukkan seribu tanda apapun padaku! 

Tapi tak akan aku menyerahkan kotak batu hitam itu padamu! Nah, 

silahkah pergi!" 

Ketika dilihatnya Wiro tidak bergerak dari tempatnya malah cengar-

cengir seenaknya, Ki Dukun jadi jengkel. Tapi ada semacam kisikan 

dalam hatinya agar tidak membuat keributan atau silang sengketa dengan 

pemuda ini. Maka dengan cepat dia memutar tubuh lalu berkelebat 

meninggalkan tempat itu. Namun baru enam langkah bertindak, tahu-tahu 

si pemuda sudah berada dihadapannya, menghadang, lagi-lagi sambil 

menyeringai! 

Ki Dukun Tambak Reso berkelebat ke jurusan lain. Tapi sesaat 

kemudian dia kembali dapatkan dirinya dihadang oleh si pemuda. Dia 

mencoba sekali lagi, tetap saja pemuda itu berhasil mencegatnya. Kini 

marahlah Ki Dukun. Dengan suara bergetar dia membentak keras. "Orang 

muda, kau mencari penyakit sendiri! Rasakan bekas tanganku!" 

Orang tua itu hantamkan tangan kanannya ke depan, melabrak ke arahdada. Wiro cepat menangkis, malah dia berhasil menangkap lengan lawan. 

Tapi ketika dia memperhatikan, yang ditangkapnya ternyata sepotong 

ranting kayu. 

"Ilmu sihir gila!" teriak Wiro dalam hati. Memandang ke depan 

dilihatnya si orang tua sudah berada di kejahuan, lari menuruni bukit 

dengan cepat. Dengan geram Pendekar 212 segera mengejarnya. Ternyata 

Ki Dukun tak bisa lari jauh. Dalam waktu sesaat saja dia sudah terkejar 

dan kembali jalannya terhadang! 

"Hem, rupanya peringatanku tadi tidak membuatmu jera!" kertak Ki 

Dukun geram. "Kau minta mampus maka mampuslah!" Habis berkata 

begitu Ki Dukun Tambak Reso jatuhkan tubuhnya hingga tergelimpang di 

tanah di hadapan Wiro. Menyangka lawan hendang menelikungnya, 

Pendekar 212 cepat hantamkan tumitnya ke depan. Tapi dia mendadak 

sontak jadi tergagap kaget ketika yang hendak ditendangnya itu tiba-tiba 

telah berubah menjadi seekor ular besar yang siap untuk melilitnya! 

Pendekar 212 melompat ke atas dan dari atas lepaskan satu pukulan 

mengandung tenaga dalam panas. Binatang jejadian itu menggeliat dan 

mental beberapa tombak lalu lenyap di bawah hujan lebat. 

"Dukun sihir sialan! Kau mau lari kemana!" rutuk Wiro. Memandang 

ke depan dilihatnya Ki Dukun Tambak Reso telah berada jauh di sebelah 

kiri; tengah melompat dari atas sebuah batu. Murid Sinto Gendeng dari 

Gunung Gede ini lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Angin deras 

menderu, menghantam batu besar di mana Ki Dukun tampak berdiri siap 

melompat. Batu itu hancur berantakan. Wiro memburu. Ketika dia sampai 

di tempat itu sang dukun sudah lenyap! 

"Setan alas!" maki Wiro sambil satu tangan mengepal, satu lainnyamenggaruk-garuk kepatanya yang basah kuyup. 

***

Hari telah lama siang. Di dalam rumah Gusdur menunggu kedatangan 

sang majikan. Dia tak tahu kalau Ki Dukun Tambak Reso tak akan pernah 

kembali ke rumahnya. Setelah kejadian di puncak bukit Jati Arang orang 

tua ini menyadari bahwa kotak batu hitam yang ada padanya merupakan 

suatu benda yang dicari dan dikejar oleh banyak orang. Termasuk pemuda 

berambut gondrong yang mendapat tugas khusus dan rahasia dad Kerajaan 

itu. Apa gunanya dia kembali ke tempat kediamannya kalau akan menjadi 

incaran dan kejaran orang? Begitulah akhirnya malam itu juga Ki Dukun 

Tambak Reso memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya. 

Ketika perutnya mulai lapar dan hari bertambah siang sedang sang 

dukun tak juga muncul, Gusdur ingat akan kesaktian yang kini 

dimilikinya. Timbul niat untuk mencoba kesaktian itu kembali. Dia 

berlutut di lantai, luruskan dua jari tangan kanannya lalu ditusukkan ke 

bawah. Begitu jarinya menghantam lantai, langsung Gusdur menjerit 

kesakitan. Lantai itu bukan saja tidak tembus dan berlubang tapi kedua 

tulang jarinya hampir patah dan sakitnya bukan kepalang. 

"Hai! Kenapa jadi tidak mempan? Kenapa jari-jariku jadi sakit 

begini?!" ujarGusdur kesakitan dan terheran-heran. Dipijit-pijitnya kedua 

jarinya yang sakit itu. Meskipun sakit tapi karena ingin hendak mencoba 

lagi maka dia kembali tusukkan kedua jarinya ke lantai papan. Untuk 

kedua kalinya pula si pendek ini menjerit kesakitan seraya kibas-kibaskan 

tangan kanannya."Tidak mempan! Kesaktianku lenyap! Si Gondrong itu pasti telah 

menipuku! Kurang ajar! Sialan!" 

***


EMPAT ORANG TUA ahli pengobatan tegak di sekeliling tempat lidur. 

Di kepala tempat tidur besar berdiri mapatih Kerajaan yang berusia hampir 

tujuh puluh tahun yaitu Damar Waruseto. 

Di atas tempat tidur terbaring sosok tubuh Sri Baginda. Wajahnya putih 

pucat, tubuhnya sangat kurus hingga tampak hampir sama rata dengan 

tempat tidur. Sepasang matanya menatap ke langit-langit kamar, 

memandang dingin dan kosong. Telah hampir dua purnama Sri Baginda 

berada dalam keadaan seperti itu. Sakit yang dideritanya tak kunjung 

diketahui, karenanya sulit mencarikan obat yang tepat. Jelas sakit Sri 

Baginda tidak bersangkut paut dengan sakit yang biasa diderita karena ada 

yang tidak beres dengan tubuh kasar. Sakit Raja kali ini berkaitan erat 

dengan hal-hal yang lebih bersifat gaib. 

Bibir Sri Baginda tampak bergerak. Tak ada suara yang keluar. Tapi 

semua orang yang ada disitu segera maklum kalau Raja minta diberi 

minum. Maka salah seorang dari ahli pengobatan itu segera mengambil 

sebuah gelas besar berisi air putih, dua lainnya menolong menegakkan 

kepala Raja. Hanya seteguk yang bisa lewat di tenggorokan Sri Baginda. 

Memang hanya air putih itu sajalah menjadi pengisi perutnya sejak tiga 

minggu lalu ketika dia mulai tak bisa makan dan sulit minum. 

Ketika sepasang mata Sri Baginda mulai kuyu dan merapat tanda dia 

mulai memasuki alam tidur, mapatih Damar Waruseto memberi isyarat, 

lalu keluar dari kamar tidur Sri Baginda. Empat orang tua ahli pengobatansegera mengikuti. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan disamping 

kamar Raja. Pada seorang pengawal mapatih membisikkan sesuatu. Tak 

lama kemudian pengawal ini muncul kembali bersama seorang lelaki tua 

berpakaian biru. Meskipun sudah tua tapi orang ini memiliki tubuh tegap 

liat. Gerakannya lincah penuh wibawa dan mantap. Dia adalah Gombong 

Pengestu, salah seorang yang dulunya merupakan seorang abdi dalem 

yang kemudian diangkat menjadi satah seorang tokoh silat istana yang 

disegani karena ketinggian ilmu silatnya luar dan dalam. 

"Dimas Gombong Pangestu," berkata mapatih Damar Waruseto seraya 

menutup pintu ruangan dan memandang pada empat orang ahli 

pengobatan. "Kita semua tahu bahwa sakitnya Sri Baginda bukan 

merupakan sakit lahir, tapi adalah sakit batin karena tekanan jiwa akibat 

lenyapnya batu mustika pusaka Keraton bernama Kencono Sukmo. Inilah 

sumber penderitaan batin dan sumber sakit Sri Baginda. Kita semua tahu 

apa akibatnya kalau benda mustika itu jatuh ke tangan orang jahat yang 

mengetahui keandalannya lalu menyalah gunakannya. Bukan saja Keraton 

yang terancam tapi juga keselamatan Sri Baginda dan keluarganya, 

keselamatan kita semua bahkan keselamatan dan kelangsungan hidup 

seluruh Kerajaan. Itulah sebabnya dua bulan yang lalu, sebelum Sri 

Baginda jatuh sakit akibat memikirkan persoalan ini, beliau telah meminta 

kita untuk melakukan segala ikhtiar guna mencari dan menemukan 

Kencono Sukmo itu kembali. Melihat keadaan lahir Sri Baginda saat ini, 

yang hanya mampu meneguk air, sama sekali tidak bisa makan apapun, 

aku kawatir beliau hanya bisa bertahan beberapa minggu saja lagi. Sakit 

Sri baginda ini harus menjadi rahasia bagi kita semua. Kalau sampai 

musuh dan kaum pemberontak yang masih bercokol di perbatasanmengetahui, berarti kita akan mendapat kesulitan baru. Aku mengerti 

kalian semua sudah melakukan berbagai macam usaha yang tidak henti-

hentinya. Hanya memang petunjuk Gusti Allah masih belum kita 

dapatkan." 

Sampai disitu patih Damar Waruseto berpaling pada Gombong 

Pangestu. "Dimas, apakah ada perkembangan dengan usahamu meminta 

bantuan orang-orang rimba persilatan?" 

"Aku sudah melakukannya kangmas. Hanya saja beberapa tokoh silat 

yang kuhubungi pertama kali tidak berhasil mendapatkan keterangan 

apapun, apalagi mendapat tahu dimana benda pusaka itu berada atau siapa 

yang menyimpannya sekarang. Kemudian salah seorang tokoh di timur 

membawa berita bahwa Kencono Sukmo terakhir sekali diketahui berada 

di tangan Kebo Hijo, seorang tokoh silat yang namanya tidak begitu 

bersih. Ketika dia melakukan penyelidikan lebih jauh ternyata Kebo Hijo 

diketahui telah mati terbunuh. Siapa pembunuh tidak diketahui. Namun 

siapapun adanya pembunuh itu pasti dialah kini yang menguasai batu 

Kencono Sukmo..." 

"Jadi sampai saat ini kita masih tetap belum mengetahui dimana barang 

pusaka itu berada...?" tanya mapatih Damar Waruseto. 

"Memang belum diketahui mapatih. Tetapi satu minggu lalu orang kita 

berhasil mengadakan kontak dengan dedengkot dunia persilatan yang 

dikenal dengan nama julukan Dewa Tuak. Kabarnya, bukan kabarnya, 

maksudku secara pasti Dewa Tuak telah menghubungi salah seorang 

tokoh silat muda yang dianggapnya sebagai murid sendiri: Pendekar muda 

itulah yang kini tengah melakukan pengusutan dan pengejaran.." 

"Nama Dewa Tuak memang kukenal baik. Beberapa kali dia di masasilam berbuat jasa besar pada Kerajaan. Siapa nama pendekar muda yang 

ditugasinya melakukan penyelidikan itu, dimas Gombong?" 

"Namanya Wiro Sableng. Julukannya Pendekar Kapak Maut Naga Geni 

212. Kalau tak salah dia adalah murid si nenek sakti bernama Sinto 

Gendeng yang bermukim di Gunung Gede..." 

"Ah, pendekar itu. Akupun pernah bertemu muka dengannya!" kata 

patih Damar Waruseto pula. 

Salah seorang ahli pengobatan membuka mulut. "Maafkan aku, tapi 

barusan aku mendengar bahwa urusan ini tengah ditangani oleh seorang 

pendekar bernama Wiro Sableng. Apakah kita bisa mempercayai seorang 

sableng seperti itu …?" 

Mapatih Damar Waruseto tersenyum. "Kau dan mungkin juga para tua 

ahli pengobatan yang ada disini hanya sibuk dengan urusan obat-

mengobat, tidak tahu urusan rimba persilatan. Nama Pendekar 212 Wiro 

Sableng merupakan momok nomor satu bagi para tokoh silat sesat dan 

orang-orang jahat. Sebaliknya menjadi tokoh yang sangat dikagumi oleh 

orang-orang silat golongan putih. Dia masih muda memang, tingkahnya 

tidak terlepas dari sifat gila orang-orang muda. Namun ilmunya segudang 

dan kejujurannya dapat dijadikan andalan..." 

Juru obat yang tadi bicara hanya bisa angguk-anggukkan kepala 

mendengar keterangan sang patih. 

***


KI DUKUN TAMBAK RESO menatap pada tamunya yang berpakaian 

bagus itu sesaat lalu mengerling ke arah kereta kuda yang berhenti di 

depan pintu pekarangan rumahnya. 

"Katakan siapa dirimu dan ceritakan apa keperluanmu," ujar Ki Dukun. 

"Nama saya Tapak Lodra, pembantu merangkap pengawal keluarga 

almarhum Raden Mas Rono Wicula dari Losari di pantai utara..." 

"Hemmm...pembantu saja pakaiannya begini mewah. Pasti majikannya 

orang kaya raya, "kata Ki Dukun dalam hati. Lalu dia bertanya, "Maksud 

kedatanganmu?" 

"Saya tidak datang sendirian, tapi bersama Raden Ayu Tambakdwita, 

istri almarhum majikan saya. Kami mendengar Ki Dukun memiliki 

kesaktian yang sanggup menyembuhkan orang sakit bahkan 

menghidupkan orang yang sudah mati..." 

"Dari mana sampeyan mengetahui hal itu?" tanya Ki Dukun pula. 

"Saya sendiri tidak paham betul. Raden Ayu Tambakdwita yang 

mengetahui dan meminta saya datang kemari. Kami mengadakan 

perjalanan jauh selama tiga hari tiga malam. Syukur dapat menemui Ki 

Dukun." 

"Kau belum mengatakan maksud kedatanganmu!" 

"Mengenai hal itu biar Raden Ayu Tambakdwita sendiri yang 

menuturkan..." 

"Di mana majikanmu itu sekarang?""Ada di dalam kereta. Dengan perkenan Ki Dukun saya akan 

memanggiinya dan membawanya kemari..." jawab Tapak Lodra. 

Ki Dukun Tambak Reso mengangguk. Setiap langkah yang dibuat 

Tapak Lodra diikuti dengan pandangan mata hampir tak berkesip oleh Ki 

Dukun. Sejak dia menyembunyikan diri di tempat itu setiap ada orang 

yang datang selalu dicurigainya, termasuk yang satu ini. Bukan mustahil 

mata-mata atau kaki tangan Kerajaan yang berusaha mendapatkan batu 

hitam itu. Tapi ketika dari dalam kereta dilihatnya turun seorang 

perempuan, hatinya menjadi lega. 

Perempuan ini berusia sekitar setengah abad, namun memiliki wajah 

yang masih cantik serta tubuh dan kulit yang bagus mulus tanda terawat 

baik. Ketika sampai di hadapan Ki Dukun, orang tua ini semakin jelas 

melihat kecantikan itu dan membuatnya menelan ludah beberapa kali. 

Sejenak Ki Dukun merenung kali terakhir dia satu ketiduran dan 

bersenang-senang dengan perempuan, yakni sembilan tahun yang lalu 

ketika istrinya yang kedua masih hidup sementara istri pertamanya lari 

meninggalkannya akibat ulahnya bermain cinta dengan istrinya yang 

kedua itu. 

Berada dekat-dekat begitu Ki Dukun dapat mencium wangi 

semerbaknya bau tubuh tamunya itu. Ki Dukun mempersilahkan tamunya 

duduk. 

"Apakah saya berhadapan dengan Ki Dukun Tambak Reso yang sakti 

itu?" tanya sang tamu. 

Ki Dukun tersenyum. "Aku hanya manusia biasa, tak punya kelebihan 

apa-apa," sahut Ki Dukun merendah. Matanya menjelajahi paras dan lekuk 

dada tamunya yang putih membusung. "Apakah aku berhadapan denganRaden Ayu Tambakdwita, istri almarhum Raden Mas Rono Wiculo?" 

"Ah, betul sekali. rupanya pembantu saya Tapak Lodra telah 

menceritakan tentang diri saya pada Ki Dukun.." 

"Betul, tapi belum menceritakan maksud dan tujuan kedatangan sejauh 

ini," ujar Ki Dukun pula. 

"Saya akan ceritakan." 

"Baik, aku akan mendengarkan. Tapi aku ingin kita bicara empatmata 

saja. Bisa...?" 

"Tentu saja bisa," sahut Raden Ayu Tambakdwita. Lalu dia berpaling 

pada Tapak Lodra yang tegak di tangga rumah dan menganggukkan 

kepalanya. Melihat isyarat itu Tapak Lodra segera meninggalkan tempat 

itu, pergi ke kereta dan duduk di samping kusir. Hatinya merasa tidak enak 

kalau tidak mau dikatakan tersinggung. Melihat tampang dan sikap sang 

dukun sebenarnya dia tidak merasa suka terhadap orang itu. Kini melihat 

majikannya berdua-dua dengan orang tua itu seperti ada rasa cemburu 

dalam hatinya. Sebenarnya sejak lama memang Tapak Lodra menaruh hati 

pada Tambakdwita. Sebagai orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun 

berbakti apalagi dia tidak punya istri, sebenarnya Tapak Lodra memang 

cukup pantas menjadi pasangan janda cantik itu. Namun karena menyadari 

dirinya berasal dari kalangan rendah saja maka Tapak Lodra tidak pernah 

berani mengutarakan maksudnya itu. 

"Nah Raden Ayu, ceritakan maksud kedatanganmu," kata Ki Dukun 

Tambak Reso begitu mereka kini hanya tinggal berdua saja di ruangan 

depan itu. 

"Saya mempunyai seorang putera yang merupakan anak tertua, kini 

berusia sekitar dua puluh satu tahun, Sejak masih berumur enam belastahun, selagi ayahnya hidup, anak itu telah diberi berbagai pelajaran 

termasuk itmu silat. Ternyata dia memang banyak lebih tertarik pada ilmu 

silat dan kesaktian hingga meninggalkan begitu saja pelajaran-pelajaran 

lain. Dia sering meninggalkan rumah berbulan-bulan guna mencari dan 

mendapatkan ilmu baru. Ilmu silatnya memang tinggi dan kesaktiannya 

mengagumkan. Namun dua bulan lalu dia jatuh sakit dan tak bisa lagi 

meninggalkan tempat tidur. Dua minggu lalu keadaannya tambah parah. 

Matanya setalu tertutup. Keadaannya seperti orang tidur. Mungkin 

pingsan. Hari demi hari tubuhnya semakin kurus. Ki Dukun, inilah 

persoalan saya. Bisakah Ki Dukun mengobati putera saya itu? Berbagai 

tabib dan ahli pengobatan telah berusaha menolongnya, namun dia tetap 

saja tak bergerak di atas ranjang." 

"Menurut para ahli yang telah coba mengobati putera Den Ayu, apakah 

sudah diketahui apa sakitnya?" bertanya Ki Dukun seraya usap-usap 

janggut putihnya sementara kedua matanya terus menjelajahi wajah dan 

dada perempuan cantik di hadapannya. 

"Tak satupun mereka bisa memastikan apa penyakit putera saya. 

Beberapa diantara mereka menduga, kemungkinan besar sakitnya putera 

sebagai akibat terlalu banyak menguasai ilmu silat dan kesaktian dari 

berbagai sumber, dicampur-campur satu sama lain yang sebenarnya 

merupakan pantangan... Saya tidak tahu dan tidak mengerti tentang ilmu 

silat dan ilmu kesaktian. Bagaimana menurut Ki Dukun sendiri...?" 

"Hem...." Ki Dukun menggumam. "Mungkin pendapat itu ada 

benarnya. Namun harus diperiksa dan diselidiki dulu. Siapakah nama 

puteramu itu Den Ayu ....?" 

"Pati Rono," jawab Tambakdwita. Lalu dia bertanya, "Apakah KiDukun bersedia melihatnya di Losari...? Perjalanan ke sana memang jauh. 

Tapi percayalah, semua jerih payah Ki Dukun akan saya beri imbalan 

yang sesuai. Apalagi kalau Pati Rono bisa disembuhkan..." 

"Jangan kawatir…" kata Ki Dukun pula seraya memegang tangan 

Tambakdwita. "Aku akan datang ke Losari." 

"Terima kasih. Saya memang sudah menduga Ki Dukun mau 

menolong. Karena itu sebelumnya saya sudah menyiapkan sebuah kereta 

untuk menjemput Ki Dukun. Paling lambat petang nanti penjemput itu 

sudah sampai disini." 

"Sebetulnya sama-sama berangkat dengan Den Ayu saat ini aku tidak 

keberatan. Tapi tak jadi apa kalau Den Ayu memang sudah mengatur 

begitu," kata Ki Dukun 

Dari dalam sebuah tas kain yang dibawanya Den Ayu Tambakdwita 

mengeluarkan sebuah kantong kulit kecil. Ketika kantong itu diletakkan di 

atas meja terdengar suara berdering tanda berisi uang. 

"Itu sebagian dari imbalan yang saya janjikan. Sisanya akan Ki Dukun 

terima setelah sampai di Losari, lalu ada tambahan istimewa jika Pati 

Rono bisa disembuhkan..." 

"Sebetulnya yang ada dalam kantong itu sudah lebih dari cukup, Den 

Ayu. Tambahannya tidak perlu berupa harta atau uang." 

"Maksud Ki Dukun?" tanya Tambakdwita pula. 

"Setelah ditinggal Raden Mas Rono Wiculo dan hidup sendirian 

bertahun-tahun, apakah Den Ayu tidak mempunyai keinginan untuk 

mencari pengganti suami yang hilang itu?" 

Pertanyaan Ki Dukun Tambak Reso itu membuat wajah Den Ayu 

Tambakdwita menjadi kemerah-merahan. Apalagi ketika didengarnya siorang tua berkata, "Nama kita sama. Aku Tambak Reso, di situ 

Tambakdwita. Mungkin ini satu kecocokan yang ditakdirkan Tuhan?" 

"Ki Dukun," kata Tambakdwita dengan suara bergetar. Dia tak berani 

memandang kedua mata orang di hadapannya itu. Karena setiap dia 

bertemu pandang ada sesuatu kekuatan yang membuatnya bergetar disertai 

hawa aneh menjalari tubuhnya. "Kalau Ki Dukun tidak keberatan, hal-hal 

lain bisa kita bicara akan lain kali saja. Saya mohon diri. Kadatangan Ki 

Dukun saya nantikan di Losari," Lalu Tambakdwita berdiri dan 

melangkah cepat-cepat menuju kereta. Ki Dukun Tambak Reso 

mengantarkannya sampai di tangga sambil mengulum senyum. 

"Perempuan satu ini harus dapat olehku. Tak pernah ada yang begitu besar 

daya tariknya, membuatku sampai-sampai keringatan!" 

***


DI DALAM KAMAR yang besar dan mewah serta harum itu ada empat 

orang. Pertama Ki Dukun Tambak Reso, lalu Raden Ayu Tambakdwita 

bersama Tapak Lodra. 

Orang yang keempat terbujur di atas tempat tidur berkasur tebal dan 

berseperai bagus. Orang ini adalah Pati Rono, putera Tambakdwita yang 

berada dalam keadaan sakit. wajahnya, kedua tangannya yang tersembul 

di atas selimut pucat pasi seperti tiada berdarah. Wajahnya mengerikan 

untuk dipandang karena pipi dan rongga matanya sangat cekung serta 

berwarna kebiruan. 

Ki Dukun meraba tangan pemuda itu. Dingin. Lalu meraba wajah dan 

bagian lehernya. Juga dingin. Ketika ditekan bagian lengannya kiri kanan, 

juga ketika ditekan urat besar di lehernya, sama sekali tak ada denyutan. Si 

orang tua lalu membalikkan kelopak mata kanan Pati Rono. Putih, bagian 

hitam lensa matanya hanya tarlihat sedikit di sebelah bawah. 

Ki Dukun Tambak Reso berpaling pada ibu si pemuda. 

"Bagaimana...?" tanya Tambakdwita dengan suara tercekat. 

"Puteramu sudah meninggal sejak beberapa hari lalu," menerangkan 

sang dukun. 

Mendengar itu Tambakdwita langsung menggerung dan menubruk 

serta merangkul tubuh anaknya. Tapak Lodra tertegun tak percaya dan 

beberapa kali menarik nafas dalam. 

Ki Dukun pegang bahu Tambakdwita dan berkata; "Den Ayu, tak baikmenangis. Kalau Gusti Allah sudah menghendaki kau harus rela melepas 

anakmu..." 

"Ada satu hal yang mengherankan Ki Dukun," terdengar Tapak Lodra 

berucap. "Jika memang Raden Pati meninggal cejak beberapa hari lalu, 

mengapa jenazahnya tidak menebar bau...?" 

Ki Dukun berpaling pada pembantu dan kepala pengawal rumah tangga 

almarhum Raden Mas Rono Wiculo itu. Pertanyaan Tapak Lodra 

sebenarnya wajar-wajar saja, namun sang dukun merasakan seperti hendak 

memojokkannya. Sejak semula memang dia tidak suka pada orang ini. 

Dan Ki Dukun sendiri, dari pandangan mata Tapak Lodra dia memaklumi 

kalau lelaki itupun tidak menyukainya. Dengan suara tenang Ki Dukun 

menjawab pertanyaan Tapak Lodra tadi. 

"Ini justru satu keajaiban yang hanya Gusti Allah yang mampu 

menjawabnya," katanya. Lalu dia menyambung. "Bukan mustahil segala 

macam obat yang telah diberikan sebelumnya membuat tubuh kasarnya 

mampu bertahan begini rupa..." 

"Tidak...! Tidak! Anakku tidak boleh mati ...! Pati...Pati anakku! Kau 

tidak boleh mati…! terdengar raungan Raden Ayu Tambakdwita yang saat 

itu masih merangkuli tubuh puteranya sambil menangis dan meraung tiada 

henti. 

"Raden Ayu, sudahlah. Kau dan kita semua harus pasrah menghadapi 

kenyataan ini..." ujar Tapak Lodra. 

"Tidakkkk! Pati tidak boleh mati..." 

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang gadis berpakaian serba kuning, 

berwajah cantik sekali masuk. Dia cepat menanggapi apa yang tengah 

terjadi. Langsung saja dia melompat ke tepi ranjang, memeluk tubuh PatiRono dan ikut menangis keras. 

"Kakak...kakak...! Mas Pati...Jangan pergi mas...." 

Ternyata gadis itu adalah puteri Tambakdwita, adik perempuan Pati 

Rono. Suasana dalam ruangan itu jadi tambah mencekam. Tiba-tiba Raden 

Ayu Tambakdwita hentikan tangisnya dan berpaling menghadapi Ki 

Dukun Tambak Reso. 

"Ki Dukun! Bagaimana sekarang?! Kau bisa menghidupkan puteraku? 

Kau harus bisa! Itu janjimu..." Tambakdwita berteriak seraya memukuli 

dada Ki Dukun. 

Orang tua ini pegang pergelangan tangan perempuan itu lalu berkata, 

"Tenang Den Ayu... Tenang. Aku tak pernah berjanji tapi aku akan 

mencoba. Semua tergantung kekuasaan Tuhan. Untuk itu aku minta semua 

orang meninggalkan kamar ini... Termasuk Den Ayu. Aku akan memulai 

pekerjaan ..." 

"Tidak! Aku dan ibu harus menemani mas Pati di sini!" yang berteriak 

adalah gadis berpakaian kuning, puteri Tambakdwita yang bernama 

Tambaksari. 

Ki Dukun menatap wajah sang dara beberapa ketika. "Ah, gadis ini 

cantik sekali. Ibunya tentu secantik ini di masa mudanya..." membatin Ki 

Dukun. Lalu dia berpaling pada Tambakdwita dan anggukkan kepala. 

Melihat isyarat ini Tambakdwita menoleh pada puterinya, memegang 

lengan gadis itu, lalu mengajaknya melangkah menuju ke pintu mengikuti 

Tapak Lodra. Sebelum Tambakdwita menghilang di balik pinlu, Ki Dukun 

berkata padanya, "Ingat Den Ayu, selama aku bekerja di dalam sini, tak 

seorangpun boleh masuk dengan alasan atau keperluan apapun. Aku akan 

akan keluar memberi tahu bilamana pekerjaan telah se!esai. Harap kalianmenyiapkan sebuah usungan dan kereta. Dan satu hal, jangan coba-coba 

atau ada yang berani mengintip apa yang aku kerjakan. Akibatnya bisa 

parah dan puteramu tak mungkin ditolong!" 

Begitu pintu kamar ditutupkan Ki Dukun langsung menguncinya dari 

dalam, lalu dia naik ke atas tempat tidur dan duduk bersila di samping 

tubuh Pati Rono. Kedua matanya perlahan-lahan dipejamkan. Lalu dia 

mulai melafatkan kata-kata mujijat Walakalmati - Walakalhidup - 

Matlwalakal - Hidupwalakil, satu kali...dua kali.. sepuluh kali.. seratus kali 

dan seterusnya sampai sepuluh ribu kali. Ketika akhirnya dia selesai 

merapal sampai sepuluh ribu kali tubuh dan pakaiannya telah basah oleh 

keringat. Di luar hari telah senja. Raden Ayu Tambakdwita, Tapak Lodra 

dan Tambaksari menunggu dengan sangat tidak sabar dan harapharap 

cemas. Apakah yang tengah dilakukan Ki Dukun Tambak Reso sekian 

lamanya? Jika menurutkan hatinya mau Tambakdwita melabrak pintu dan 

menjebol masuk. 

Di dalam kamar Ki Dukun buka kedua matanya, menyeka keringat di 

wajahnya beberapa kali lalu turun dari tempat tidur, berdiri untuk 

meluruskan kedua kakinya. Kemudian dari saku jubahnya dikeluarkannya 

benda keramat, batu hitam Kencono Sukmo. Dengan hati-hati batu ini 

disapukannya ke seluruh wajah dan tubuh Raden Pati Rono. Selesai 

melakukan itu batu mustika disimpannya kembali, memandang seputar 

kamar lalu melangkah ke pintu. 

***


KI DUKUN TAMBAK RESO memegang bahu kusir kereta. Sang kusir 

yang tahu isyarat ini segera hentikan kereta. Saat itu lewat tengah malam. 

Angin bertiup kencang. Dari tempat mereka berada terdengar deburan 

ombak laut di pantai. Ki Dukun memandang bekeliling. Kusir kereta 

menuju ke sebelah barat di mana tampak menghitam sebuah bukit karang. 

Angin bertiup lagi lebih kencang. 

"Itu satu-satunya bukit karang yang paling tinggi di bagian pantai ini," 

menerangkan kusir kereta. 

Ki Dukun mengangguk "Cukup kau hanya mengantar aku sampai 

disini. "Tunggu di tempat ini sampai aku kembali." Lalu orang tua itu 

turun dari kereta, membuka pintu disebelah belakang, menarik usungan 

dimana terbaring sosok tubuh Raden Pati Rono. 

Kuda penarik kereta terdengar meringkik ketika Ki Dukun menaikkaft 

tubuh pemuda itu ke atas bahunya dan mulai melangkah cepat ;menuju 

bukit karang di sebelah barat. Kusir kereta merasakan bulu kuduknya 

berdiri. Dia hampir tak berani bergerak saking merasa takut. Juga masih 

tetap disitu ketika hujan rintik-rintik mulai turun. Memang daerah pantai 

Losari di bagian itu merupakan suatu daerah bebukitan batu karang yang 

paling sering turun hujan. 

Dari melangkah cepat Ki Dukun kini tampak berlari-lari. Semangatnya 

jadi berkobar-kobar ketika melihat hujan mulai turun. Ini satu pertanda 

bahwa kelanjsrtan usahanya untuk menghidupkan pemuda yang sudahmati di panggulannya itu akan berjalan cepat. Di timur terdengar guntur 

menggelegar. Lalu kilat mulai menyambar. 

Meskipun agak susah payah karena harus mendaki bukit batu karang 

yang licin berlumut namun akhirnya Ki Dukun Tambak Reso sampai juga 

dipuncaknya. Nafasnya meng-engah. Perlahan-lahan tubuh Raden Pati 

Rono dibaringkannya di bagian batu yang agak rata. Angin laut bertiup 

kencang dan tajam. Hujan turun makin deras. Ki Dukun menyeringai. Dari 

dalam saku jubahnya dikeluarkannya kotak batu ham Kencono Sukmo lalu 

diletakkannya didada mayat, tepat di bagian jantung. 

"Ahak manusia, kuberikan kehidupan padamu. Hiduplah! Hiduplah! 

Dan berikan ibumu padaku!" berkata Ki Dukun dengan suara perlahan 

bergetar. Lalu dia menuruni bukit karang itu, memilih tempat yang 

terlindung tapi tidak terlalu jauh. Di sini dia menunggu dengan dada 

berdebar. Dia pernah menghidupkan seekor binatang, menyembuhkan 

beberapa orang yang sakit parah. Tetapi baru kali ini dia mencoba 

menghidupkan seorang yang telah meninggal. Diam-diam bulu romanya 

terasa berdiri. Guntur menggelegar, kilat sambung menyambung. 

"Halilintar… datanglah! Sambar batu dan tubuh itu! Halilintar … 

datanglah!" ujar Ki Dukun berulang kali. tapi dia harus menunggu lama 

sampai menjelang dini hari, yaitu ketika tubuhnya berada dalam keadaan 

basah kuyup dan terasa dingin seperti diselimuti es. Saat itu rangkaian 

halilintar tampak sambar menyambar berkepanjangan dari arah timur. 

Sambaran yang terakhir berkiblat tepat di atas bukit karang, menghantam 

ke bawah, menghunjam tepat di atas tubuh Raden Pati Rono! Tubuh itu 

tampak terangkat ke atas lalu jatuh kembali ke atas batu karang dan 

mengeluarkan kepulan asap. Setelah itu terbujur tak bergerak. Tempat itutiba-tiba saja sunyi seperti di pekuburan. Guntur tak terdengar lagi, kilat 

atau halilintar tak tampak lagi. Bahkan angin seolah-olah berhenti bertiup 

dan ombak seperti berhenti berdebur! 

Dengan tubuh bergetar Ki Dukun Tambak Reso memanjat menuju 

bagian alas bukit karang. Dengan mempergunakan sahelai sapu tangan dia 

memungut batu Kencono Sukmo yang tercampak di atas bukit batu lalu 

memasukkannya ke dalam saku jubahnya. Di atas batu karang tubuh 

Raden Pati Rono tampak tidak bergerak. Ki Dukun memperhatikan 

dengan seksama dan mata dibesarkan. Darahnya tersirap ketika tiba-tiba 

dia melihat ibu jari kaki kanan si pemuda bergerak. Perlahan sekali tapi 

dia jelas melihatnya. Ki Dukun memegang ibu jari yang bergerak itu. 

Terasa panas. 

"Panas adalah api. Api adalah hawa kehidupan..." desis Ki Dukun. Lalu 

dipegangnya betis pemuda itu. Kemudian dilihatnya jari-jari kanan Pati 

Rono juga mulai bergetar. Ki Dukun cepat memegang tangan kanan itu. 

Tiba-tiba jari-jari Pati Rono menggenggam mencengkeram tangannya. Ki 

Dukun terpekik kaget dan cepat sentakkan lengannya untuk melepaskan 

cekalan itu. 

Walau di hatinya ada terselip rasa ngeri namun kegembiraan sang 

dukun juga melupa. "Dia hidup...Dia hidup! Batu hitam itu betul-betul 

batu mujijat. Gusti Allah Maha Besar!" 

Untuk memastikan bahwa Pati Rono benar-benar sudah hidup kembali 

Ki Dukun membungkuk dan dekatkan telinga kanannya ke dada Pati 

Rono. Lapat-lapat dia mendengar ada suara yang memukul-mukul di dasar 

dada itu. Itulah suara degupan jantung! 

"Luar biasa...Aku sendiri hampir tak percaya!" ujar Ki Dukun dalamhati. Untuk sesaat dia masih mendekapkan telinga mendengar degupan 

jantung itu. Tiba-tiba kedua tangan Pati Rono bergerak menyilang dan 

punggung Ki Dukun tersikap kencang! Orang tua itu merasakan jiwanya 

seperti terbang. Dia menggeliat keras-keras, dengan susah payah akhirnya 

berhasil meloloskan diri dari sikapan tadi. Begitu terlepas, kedua tangan 

Pati Rono kembali terkulai di kedua sisi. "Sebelum kekuatannya pulih, aku 

harus cepat membawanya ke Losari...." pikir Ki Dukun. Lalu tubuh 

pemuda itu dipanggulnya di bahu kanan. Dalam perjalanan menuruni bukit 

karang menuju di mana kereta menunggu Ki Dukun selalu bersikap 

waspada. Bukan mustahil mayat yang barusan hidup kembali itu tiba-tiba 

saja bergerak mencekiknya! 

*** 

KERETA PEMBAWA Pati Rono itu sampai di Losari menjelang senja, 

disambut oleh Tapak Lodra, Tambakdwita, puterinya dan beberapa 

pelayan. Ketika usungan diturunkan dari kereta oleh kusir dan Tapak 

Lodra, kuda penarik kereta tiba-tiba mengangkat kedua kaki depannya dan 

meringkik keras, membuat semua orang tercekal. 

Ketika melewati ruangan tengah rumah besar mendadak terdengar 

suara mengeong keras. Seekor kucing putih belanghitam melompat dari 

balik tirai, berusaha lari ke arah usungan. "Belang... Belang, jangan 

berisik!" Tambaksari cepat mendukung binatang peliharaannya itu. Dalam 

dukungan si gadis kucing ini terus mengeong. Kedua matanya memandang 

tak berkesip ke arah tubuh Pati Rono di atas usungan. Sikapnya garang 

sekali. "Heran, tak biasanya kau seperti ini, Belang..." Untuk kesekiankatinya si belang mengeong, menggeliat lalu menghambur dari arah 

gendongan Tambaksari. 

Dengan sangat hati-hati tubuh Pati Rono dibaringkan di atas tempat 

tidur bertilam indah. Sang ibu duduk di kiri tempat tidur. Yang lain-lain 

tegak berkeliling. Sambil duduk Tambakdwita tidak hentinya mengusap 

wajah dan memijiti tangan anaknya. Dia ingin agar anaknya itu segera 

bangun agar dia melihat kenyataan bahwa Pati Rono benar-benar hidup. 

Selagi dia memegang-megang tangan puteranya, tiba-tiba tangan itu 

bergerak. Tambakdwita terpekik. Lima jari tangan Pati Rono 

mencengkeram lengannya. Kuat dan sulit dilepaskan. 

"Tenang saja Den Ayu. Jangan dipaksakan untuk menarik tanganmu. 

Ada kalanya kehidupan mendatangkan kerinduan. Puteramu tentu sangat 

rindu padamu. Itu sebabnya tanganmu dipegangnya erat- erat..." Kata-kata 

itu diucapkan oleh Ki Dukun Tambak Reso walau diam-diam hati kecilnya 

merasa kawatir kalau-kalau cekalan yang keras itu tidak bisa dilepaskan. 

"Lihat! Kedua mata Raden Pati membuka!" berseru kusir kereta yang 

sampai saat itu masih ikut berada dalam kamar. 

Semua orang memandang, memperhatikan. 

Astaga! Memang betul! Sepasang mata pemuda itu tampak terbuka 

perlahan-lahan. Mula-mula tampak bagian mata yang berwarna putih. 

Menyusul bagian bola mata yang berwarna hitam kecoklatan. Tidak! 

Ternyata bola mata yang seharusnya berwarna hitam kecoklatan itu kini 

tampak memiliki warna kelabu! 

Tapak Lodra tidak sengaja saling berpandangan dengan Tambaksari. 

Jelas kelihatan bayangan rasa ngeri pada wajah gadis ini. Memang 

memperhatikan dua mata yang terbuka nyalang tidak berkesip danberwarna aneh serta membersitkan sinar dingin itu terasa adanya 

keangkeran. Dua bola mata itu bergerak sedikit, memandang ke arah 

Tambakdwita. Lalu menyeruak senyum di wajah yang mulai kemerahan 

itu. Bagi Tapak Lodra senyum itu lebih merupakan sebuah seringai yang 

mengerikan. 

"Pati anakku...!" seru Tambakdwita. "Kau tersenyum padaku Pati. Jadi 

kau benar-benar kembali! Kau benar-benar hidup lagi! Gusti Allah terima 

kasih! Terima kasih!" Air mata tampak berlinangan di kedua mata 

perempuan itu. Tangan kanan anaknya didekatkannya kewajahnya dan 

diciumnya berulang-ulang. 

"Ibu,..Aku haus..." Mulut Pati Rono terbuka dan suara minta minum 

terdengar diucapkannya. 

 Tambakdwita dan puterinya tersenyum. Sang ibu usut air mata yang 

berderai di pipinya. Lalu terdengar lagi suara sang putera, "Aku juga lapar, 

bu..." 

Tambakdwita peluk dan ciumi wajah puteranya. "Kau boleh minta apa 

saja Pati. Pasti akan ibu berikan..." Perempuan itu ciumi lagi wajah 

anaknya berulang-ulang. Lalu dia bangkit dari tempat tidur, memegang 

lengan puterinya. Ibu dan anak ini meninggalkan kamar untuk 

mengambilkan sendiri air serta makanan yang diminta Pati Rono. 

Pati Rono memandang dengan matanya yang kelabu satu persatu pada 

kusir kereta, Tapak Lodra dan Ki Dukun Tambak Reso. Pandangan mata 

yang aneh dan terasa angker ini membuat ketiga yang dipandang jadi 

merasa tidak enak. Kusir kereta segera tinggalkan kamar. Tapak Lodra 

menyusul hendak beranjak namun Ki Dukun bergerak lebih dulu. 

Terpaksa Tapak Lodra tetap berada dalam kamar karena meninggalkanputera majikannya seorang diri di tempat itu kurang sopan dirasakannya. 

Untuk menghilangkan kegelisahan akibat pandangan mata Pati Rono, 

Tapak Lodra pergi membuka jendela kamar. k.etika dia hendak 

menyingkapkan tirai jendela, terdengar suara mengeong keras. Sesuatu 

melompat ke sanding jendela. Ternyata si Belang. Binatang ini siap untuk 

melompat masuk. Tapi Tapak Lodra cepat mencegah dan mengusirnya. 

"Aneh sekali sikap kucing itu..." kata Tapak Lodra dalam hati. "Apa 

sebenarnya yang dilihat binatang itu...?" Tapak Lodra berpaling ke arah 

tempat tidur. Ternyata Pati Rono masih menyorotinya dengan pandangan 

seperti tadi. Dingin angker seperti hendak menembus jantungnya! 

***


MALAM JUM'AT KLIWON, hujan turun rintik-rintik Losari diselimuti 

kesunyian. Debur ombak di pantai terdengar di kejauhan. Sesekali ada 

suara lolongan anjing merobek kesunyian. 

Dalam ruangan depan di rumah besar itu Raden Ayu Tambakdwita 

duduk terdiam beberapa lamanya sebelum kemudian dia membuka mulut 

bertanya, "Mengapa Ki Dukun tak mau menerima uang dalam kantong 

itu? Bukankah itu tambahan pembayaran sesuai dengan janji saya...?" 

Ki Dukun Tambak Reso tersenyum. Matanya menatap wajah cantik 

perempuan berusia setengah abad di hadapannya lalu menjawab, "Raden 

Ayu ...! Ah, aku seharusnya memanggilmu Tambakdwita saja..." 

"Saya tak keberatan dipanggil seperti itu. Bukankah Ki Dukun memang 

lebih tua dari saya dan kepada siapa saya menaruh hormat...? Apalagi 

mengingat jasa besar Ki Dukun...." 

"Dengar… Tambakdwita, aku memang tidak mau menerima 

pemberianmu itu. Bahkan, uang yang kau berikan sebelumnya mungkin 

akan kukembalikan..." 

"Mengapa begitu? Apakah Ki Dukun tak mau menerima karena 

jumlahnya terlalu kecil? Saya bersedia menambahkan." 

Ki Dukun menggeleng. Malam itu, tidak seperli biasanya dia tidak lagi 

mengenakan jubah putih, melainkan sehelai baju biru dan celana hitam 

serta sebuah blangkon di atas kepalanya. Dengan pakaian itu dia tampak 

lebih gagah dan lebih muda. "Terus terang, bukan uang itu yang akuinginkan Tambakdwita. Aku menginginkan dirimu. Aku memintamu 

menjadi istriku. Sudah beberapa hari lalu hal itu kusampaikan padamu..." 

"Beri saya waktu satu dua minggu lagi untuk mengambil keputusan, Ki 

Dukun. Saya harus bicara dengan tua-tua keluarga. Di samping itu aku 

perlu memberi tahu putera saya. Pati Rono sejak beberapa hari ini selalu 

mengunci diri di kamarnya. Dia menekuni buku-buku silat dan kesaktian, 

berjilid-jilid banyaknya. Makanan yang disampaikan pembantu hanya 

disentuhnya sedikit saja. Dia lebih banyak menenguk minuman keras. Ada 

satu hal saya lihat pada dirinya. Satu hal yang dulu tidak ada. Anak itu 

membawa sikap dan sifat aneh. 

Pandangan matanya terasa angker tapi menyembunyikan kekosongan 

jiwa. Sikap acuh diperlihatkannya pada orang-orang di sekitarnya. Tapi 

sebagai ibu, di balik keacuhan itu saya merasa ada sesuatu yang 

disimpannya. Sesuatu yang terasa mengerikan..." 

"Tambakdwita, sebaiknya saat ini kita tidak membicarakan soal 

puteramu itu. Dia sudah kembali padamu. Sembuh dan hidup..." 

"Betul Ki Dukun, tapi putera saya yang kembali ini saya rasa bukan 

putera saya yang dulu ...." 

"Bagaimana kau bisa berkata begitu Tambakdwita? Pati Rono yang 

kini hidup adalah puteramu yang dulu juga. Sama sekali tidak ada 

bedanya..." 

"Tubuh kasarnya memang tidak ada beda, Ki Dukun. Tapi jiwa dan 

perasaannya ada kelainan. Dan itu terpancar pada sepasang matanya yang 

membersitkan hawa aneh. Dia seolah-olah bukan berada di tengah 

keluarga sendiri. Seolah-olah berada di satu alam yang sama sekali lain. 

Dan alam ini saya rasakan sangat mengerikan. Saya takut Ki Dukun...""Tak ada yang harus ditakuikan Tambakdwita. Apalagi selama aku 

berada di dekatmu seperti saat ini. Kau belum menjawab, kau belum 

memberi putusan tentang permintaanku..:" 

"Saya bilang beri saya waktu dua atau tiga minggu," sahut Raden Ayu 

Tambakdwita. 

"Satu atau dua minggu bisa berarti jadi tiga minggu. Aku tak bisa 

menunggu selama itu. Aku ingin memilikimu lebih cepat dari itu. Bahkan 

malam ini...!" Ki Dukun memegang tangan perempuan itu. Tambakdwita. 

berusaha menarik lengannya. Tapi ada hawa aneh menjalari lengannya, 

terus ke dada dan sekujur tubuhnya Dia merasa sesuatu yang 

menggairahkan. Ditatapnya wajah Ki Dukun. Wajah itu tampak begitu 

gagah, agung dan tersenyum padanya. 

"Aku ingin tidur bersamamu malam ini, Tambakdwita. Kau mau 

bukan...?" 

Perempuan itu tak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala, tak 

kuasa memandang tatapan Ki Dukun. Melihat ini Ki Dukun berdiri dari 

kursinya, tegak di samping Tambakdwita lalu membungkukkan. Kepala 

hendak mencium tengkuk perempuan itu. Namun sebelum ciumannya 

sampai tiba-tiba terdengar suara ngeongan kucing keras dan mengejutkan. 

Ki Dukun terkesiap. Tambakdwita tersentak kaget dengan muka pucat. 

Ada rasa tak enak dalam diri kedua orang itu. Ki Dukun memandang ke 

arah jendela. Samar-samar lewat kain tirai jendela dia melihat ada 

seseorang tegak di luar sana, memperhatikan ke dalam. Ketika Ki Dukun 

hendak mendatangi, orang itu cepat bergerak pergi dan menghilang. 

"Malam sudah larut, sebaiknya Ki Dukun pulang dulu ke rumah tempat 

menginap..." berkata Tambakdwita. Suaranya terhenti ketika kembaliterdengar suara ngeongan kucing. Suara itu datang dari arah kamar di 

tingkat atas. Dan kamar di tingkat atas adalah kamar tidur Pati Rono. 

Ki Dukun diam sesaat. Mantranya tadi sudah hampir mengena kalau 

tidak terganggu oleh suara ngeongan kucing celaka itu. 

"Baiklah, aku akan pergi Tambakdwita. Tapi besok aku akan datang 

lagi kemari. Dan saat itu aku ingin kau sudah bisa memberikan jawaban..." 

Janda kaya itu tidak menjawab. Dia melangkah ke pintu depan dan 

membukakannya untuk Ki Dukun. 

Seekor kuda tertambat dekat pintu pekarangan. Itulah kuda tunggangan 

milik Ki Dukun. Ketika orang tua ini tengah melangkah ke arah kudanya, 

tiba-tiba sebuah benda melayang dl udara dan jatuh tepat dekat kakinya. 

Ki Dukun memandang ke bawah. Benda yang jatuh itu ternyata adalah 

seekor kucing putih berbelang hitam. Si Belang, kucing kesayangan 

Tambaksari! Binatang ini tidak bergerak ataupun mengeluarkan suara. 

Kapalanya terkulai tanda lehernya patah! 

Ki Dukun mendongak ke atas, ke arah kamar di tingkat atas bangunan 

rumah besar. Dia melihat jendela kamar di tingkat atas itu terbuka dan ada 

nyala lampu di atas sana. Dia merasa yakin kucing yang mati itu 

dilemparkan dari kamar itu. 

Ki Dukun putar tubuhnya, meneruskan langkah ke arah tempat kudanya 

tertambat. Sesaat ketika dia hendak menaiki binatang itu, satu tangan yang 

dingin tiba-tiba memegang pundak kanannya. Ki Dukun terkejut dan 

menoleh. Dia berhadap-hadapan dengan Tapak Lodra. 

"Ada apa?!" tanya Ki Dukun dengan suara garang. Dia tidak suka 

dipegang seperti itu dan dia sejak lama tidak senang terhadap pengawal 

rumah kediaman Tambakdwita ini."Aku hanya ingin memberikan nasihat padamu, Ki Dukun. Majikanku 

seorang janda. Tidak pantas kalau kau mengunjunginya sampai larut 

malam begini!" 

Ki Dukun menyeringai. Dia kibaskan tangan Tapak Lodra dan 

menjawab, "Soal hubunganku dengan majikanmu bukan urusanmu! 

Sebagai pembantu kau tidak layak mencampurinya. Dan aku tidak butuh 

segala macam nasihat." 

"Aku. tahu siapa kau sebenarnya Ki Dukun. Lebih dari itu aku tahu apa 

yang ada datam benak serta hatimu. Aku tidak suka padamu!" 

"Kau bukan pemilik rumah ini. Jadi tidak pada tempatnya mengatakan 

suka atau tidak. Dan satu hal harus kau ketahui Tapak Lodra. Akupun 

tidak suka padamu!" 

"Berlalu dari sini Ki Dukun. Cepat!" desis Tapak Lodra. 

Ki Dukun Tambak Reso kembali menyeringai. "Ada satu hal yang 

pantas kau ketahui Tapak Lodra. Bagiku mudah menyembuhkan dan 

menghidupkan seseorang. Tapi lebih mudah lagi membuat seseorang sakit 

atau menemui ajalnya! Ingat hal itu baik-baik Tapak Lodra!" 

"Aku akan ingat hal itu baik-baik Ki Dukun. Jika terjadi sesuatu dengan 

penghuni rurhah besar ini orang yang pertama-tama kucari adalah dirimu!" 

habis berkata begitu Tapak Lodra lepaskan tali tambatan kuda dan 

membantingkannya ke tanah. Ketika Ki Dukun naik ke punggung binatang 

itu Tapak Lodra sudah berlalu dari situ. 

Di halaman depan, Tapak Lodra membungkuk mengangkat bangkai si 

Belang. "Kasihan kucing ini. Siapa yang begitu tega membunuhnya?" 

Tatap Lodra mendongak ke atas. Nyala lampu di kamar putera majikannya 

telah padam. Tapi matanya yang tajam melihat ada sosok tubuh dibelakang jendela tegak memperhatikan ke arahnya. 

*** 

RADEN AYU TAMBAKDWITA menatap wajah puteranya lekat-lekat. 

"Pati Rono, ibu tak habis pikir mengapa kau ingin memberhentikan Tapak 

Lodra..." 

Pati Rono melahap jambu klutuk besar lalu dengan mulut penuh dia 

menjawab, "Aku sudah bilang bu, kita tidak membutuhkan orang itu lagi. 

Tugasnya sebagai pengawal kuambil alih. Pekerjaannya sebagai penjaga 

sawah ladang serta peternakan dan perdagangan aku sendiri yang akan 

menangani. Nah, apa perlunya dia bekerja lagi disini. Tanpa dia bukankah 

kita bisa menghemat jumlah uang gajinya dan bisa dipergunakan untuk 

keperluan lain?" 

"Gajinya tidak seberapa, Pati. Lagi pula dia telah bekerja puluhan 

tahun. Sejak ayahmu masih hidup. Bahkan sebelum kau dilahirkan dia 

sudah ikut bersama kita, mulai dari kakekmu masih ada..." 

"Persetan berapa lama dia bekerja di sini! Persetan apapun jasanya. Jika 

ibu tidak mau atau segan bicara padanya, aku yang akan mengatakan 

padanya!" 

"Jangan lakukan hal itu, anakku..." ujar Tambakdwita. 

"Aku tak suka dilarang!" sahut Pati Rono. "Dan apakah ibu sudah 

menyampaikan pada guru mengaji bau apak itu bahwa dia tak perlu lagi 

datang ke sini untuk mengajar mengaji dan segala ilmu agama yang 

membosankan serta dusta besar itu!"Sepasang mata Tambakdwita membesar. "Pati, jika kau minta aku 

memberhentikan Tapak Lodra, mungkin masih bisa kucerna. Tapi kalau 

kau minta berhenti mengaji, ini merupakan satu hal yang tidak ingin aku 

lakukan. Kau butuh pelajaran agama..." 

"Tidak! Aku tidak butuh pelajaran agama! Jelas! Aku tidak sudi lagi 

melihat guru mengaji itu!" Pati Rono berdiri dari kursinya. Jambu klutuk 

yang baru setengah dimakannya dibantingkannya ke meja makan! 

*** 

"RADEN PATI," ujar Tapak Lodra dengan suara bergetar. "Ucapanmu 

bahwa mulai hari ini aku diberhentikan dari segala macam tugas sungguh 

mengejutkan. Apakah Raden Ayu Tambakdwita mengetahui hal ini dan 

jika mengetahui bisakah Raden mengatakan apakah kesalahanku maka aku 

diberhentikan...?" 

"Paman Tapak Lodra. Jika aku bicara padamu maka itu adalah aku 

bicara atas nama keluarga! Bahkan juga berarti atas nama almarhum 

ayahku. Jadi tidak usah ditanya atau dibantah!" 

"Saya benar-benar tidak mengerti Raden..." 

"Jika kau tidak mengerti berarti kau seorang toiol! Justru di situlah 

letak persoalannya! Aku tidak suka manusia tolol semacammu berkeliaran 

dalam rumah ini! Kau kuberikan waktu untuk mengemasi pakaian dan 

barang-barangmu. Sebelum tengah hari kau sudah harus pergi dari sini!" 

Habis berkata begitu Raden Pati Rono tinggalkan pembantu dan pengawal 

kepercayaan itu, naik ke tingkat atas dan mengunci diri dalam kamarnya. 

Karena merasa tidak puas, Tapak Lodra menyusul naik ke tingkat atasdan mengetuk pintu kamar Pati Rono seraya berseru, "Raden, buka pintu. 

Aku perlu bicara lebih jauh denganmu. Tolong bukakan pintunya, 

Raden..." 

Tak ada jawaban. Pintu juga tidak terbuka. Tapak Lodra mengetuk dan 

berseru lagi. Tiba-tiba pintu terbuka. Dari balik daun pintu yang terbuka 

itu mendadak satu jotosan menderu menghantam dada Tapak Lodra. 

Pengawal tua ini menjerit dan terpental. Untung dia masih sempat 

bergayut pada sebuah tiang, kalau tidak tubuhnya pasti akan jatuh 

terjungkal ke bawah! Tapak Lodra merasakan lututnya goyah. Perlahan-

lahan tubuhnya jatuh terduduk di lantai dan dari sela bibirnya tampak 

darah mengucur. Nafasnya sesak, dadanya sakit bukan main. Pukulan 

yang menghantamnya bukan pukulan sembarangan. 

Di ambang pintu Pati Rono tegak bertolak pinggang. Sepasang matanya 

memandang yang berwarna kelabu memandang buas pada Tapak Lodra. 

"Jika kau masih tidak mau pergi dari sini, aku tak akan menyesal 

mematahkan batang lehermu atau melempar tubuhmu kebawah sana!" 

"Raden, aku perlu bicara. Benar-benar harus bicara denganmu. Berikan 

sedikit waktu dan sedikit pengertian..." 

"Aku tak punya waktu dan aku tak punya pengertian! Pergi dari 

hadapanku...!" Raden Pati Rono melangkah ke hadapan Tapak Lodra lalu 

menjambak rambut orang tua itu. Sesaat kemudian tampak tubuh Tapak 

Lodra melayang jatuh ke bawah lewat jendela. Seorang pelayan yang 

berada di bawah dan kebetulan melihat kejadian itu menjerit keras. 

Sebagai seorang berkepandaian tinggi Tapak Lodra meskipun dalam 

keadaan terluka di dalam masih sanggup bedungkir balik hingga tubuhnya 

tidak jatuh tergelimpang atau kepala lebih dulu. Dia jatuh dengan keduakaki menjejak tanah, lalu cepat kerahkan tenaga dalam ke arah dadanya 

yang terluka. 

Di atas rumah Pati Rono menyeringai. "Tak ada salahnya tua bangka 

itu kujadikan barang percobaan!" katanya dalam hati. Lalu dengan 

gerakan enteng, seperti seekor burung besar dia melompat dari tingkat 

atas, melayang ke tanah dan menjejak tanah tanpa mengeluarkan suara 

sedikitpun! 

"Tapak Lodra! Aku memberikan kesempatan padamu! Jika kau mampu 

mengalahkanku dalam lima jurus, kau tidak akan kusuruh pergil" 

"Raden...," ujar Tapak Lodra seraya pegangi dadanya. "Aku tidak mau 

berlaku kurang ajar, berkelahi denganmu..." 

"Terserah padamu. Jika ingin tetap bekerja disini turut apa yang 

kukatakan. Kalau tidak silahkan angkat kaki saat ini juga" 

Mendengar kata-kata itu Tapak Lodra tidak melihat jalan lain. "Kalau 

itu permintaanmu Raden, harap maafkan diriku. Bersiaplah..." 

"Kau boleh menyerang lebih dulu Tapak Lodra!" kata Pati Rono seraya 

berdiri dengan kedua kaki terkembang. 

Tapak Lodra menarik nafas dalam. Tubuhnya membungkuk sedikit. 

Tiba-tiba tubuh itu melesat ke depan dan tangah kanannya menghantam ke 

arah dada lawan. Pati Rono angkat tangan kirinya, menangkis serangan. 

Begitu tangan Tapak Lodra bentrok dengan lengannya, kelihatan seperti 

ada bunga api yang berpijar. Bersamaan dengan itu Tapak Lodra terdengar 

menjerit. Tubuhnya terhuyung-huyung. Jari-jari tangan kanannya sampai 

ke pergelangan tampak berwarna hitam hangus dan mengepulkan asap. 

Sakitnya seperti dipanggang! 

"Raden... ilmu apa yang kau miliki hingga tega mencelakakan dirikusejahat ini..." ujar Tapak Lodra lalu jatuh terduduk di tanah. 

Pati Rono tersenyum. "Itulah kekuatan tenaga dalam yang mengandung 

kekuatan halilintar! Bukan saja mengandung hawa panas yang meng-

hanguskan, tapi mengandung racun ganas. Jika kau tidak memotong 

tanganmu sebatas lengan, dalam waktu dua hari racun akan merambat ke 

jantungmu! Nyawamu tidak ketolongan!" 

"Kau kejam sekali Raden.. Kejam sekali. Lebih baik kau membunuh 

diriku saat ini juga!" 

Mendengar kata-kata Tapak Lodra itu Pati Rono tertawa bergelak. "Jika 

memang mati yang kau inginkan, aku bersedia mengabulkannya...!" Lalu 

Pati Rono angkat tangan kanannya. Ketika dia hendak menghantam tiba-

tiba terdengar teriakan keras. 

"Pati! Tahan! Hentikan perbuatanmu itu!" Yang berteriak dan yang 

kemudian menghambur memegangi tubuh Pati Rono adalah ibunya 

sendiri. Perempuan ini mendorong anaknya ke dalam rumah lalu memberi 

isyarat pada Tapak Lodra agar cepat-cepat meninggalkan tempat itu. 

***


RADEN AYU TAMBAKDWITA menyeka air mata yang mengucur di 

kedua pipinya. Di hadapannya seorang lelaki tua tampak duduk dengan 

wajah muram. Dia adalah Ki Guru Sendang Bogayana, guru mengaji 

keluarga almarhum Rono Wiculo yang telah mengajar di situ selama lebih 

darisepuluh tahun yakni sejak Raden Pati Rono dan adiknya berusia 

sekitar sepuluh tahun. 

Setelah berdiam diri merenung beberapa lamanya Ki Guru akhirnya 

berkata, "Jika betul semua apa yang Raden Ayu katakan, memang telah 

terjadi satu perubahan luar biasa atas diri putera Den Ayu..." 

Tambadwita mengangguk. "Sifatnya berubah sekali. Jiwanya seperti 

kosong dan kekosongan itu diselimuti oleh perasaan aneh. Lebih tepat 

kalau dikatakan sesuatu yang mengerikan. Perasaannya seperti tidak ada 

sama sekali. Berganti dengan sikap penuh tega bahkan kejam. Dia 

membunuh si Belang, kucing kesayangan adiknya. Memberhentikan 

Tapak Lodra, melukainya bahkan hendak membunuh orang tua yang setia 

itu kalau saya tidak cepat mencegahnya. Saya kawatir ada hal-hal lain lagi 

yang akan terjadi. Seisi rumah ini, termasuk saya merasakan seperti 

tinggal di suatu tempat yang mengerikan. Saya sangat perlu bantuan Ki 

Guru..." 

"Saya mengerti Den Ayu. Saya merasa perlu untuk menemui Ki Dukun 

Tambak Reso, orang sakti yang katanya telah menyembuhkan dan 

menghidupkan putera Den Ayu itu. Sebenarnya bagi kita orang-orang 

beragama memang ada kepercayaan pada orang-orang beragama memangada kepercayaan pada orang-orang tertentu akan kemampuannya untuk 

menyembuhkan, suatu penyakit. Namun untuk menghidupkan seseorang 

yang telah mati, itu adalah satu hal yang tidak mungkin..." 

"Kenyataan itu terjadi pada anak saya Ki Guru. Bagaimana saya tidak 

mempercayainya..." 

Ki Guru Sendang mengusap-usap rambut tipis di bagian belakang 

kepalanya. "Mungkin kehidupan yang dialami Raden Pati hanya suatu 

kehidupan semu. Yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan 

kehidupan masa lalunya. Itu sebabnya dia memiliki sifat yang sangat 

berbeda kalau tidak mau dikatakan aneh. Sebelum menemui Ki Dukun 

Tambak Reso, saya kira saya harus bicara dengan putera Den Ayu itu 

terlebih dulu." 

"Itu yang saya inginkan Ki Guru. Makin cepat makin baik. Saya akan 

mengatur pertemuan itu sekarang juga." 

*** 

"AKU TIDAK INGIN BERTEMU, apalagi bicara dengan guru agama 

itu," berkata Pati Rono pada ibunya sambil naik ke punggung kuda. Pagi 

itu seperti biasa dia akan berangkat ke tepi pantai guna melatih ilmu silat 

dan pukulan saktinya di sebuah teluk yang sepi. 

"Tapi anakku, ini penting sekali. Untuk masa depanmu..." 

Pati Rono tersenyum mendengar ucapan ibunya itu lalu berkata :"Masa 

depanku tidak ditentukan oieh guru agama itu. Tapi jika ibu memaksa, 

suruh dia menemuiku di teluk. Aku akan bicara dengan dia di sana... " 

"Kau menyuruh Ki Guru ke sana menemuimu, sungguh tidak pantasanakku!" 

"Yang dinamakan kesopanan itu adalah tingkah laku palsu untuk 

menutupi kebobrokan seseorang. Guru agama itu tidak lebih mulia dari 

diriku. Jika dia memang ingin bicara silahkan datang ke teluk. Kalau tak 

sudi, perduli setan!" 

Habis berkata begitu Pati Rono menggebrak tali kekang kudanya. 

Binatang itu melompat dan meninggalkan si ibu sendirian di halaman 

samping rumah besar. 

Untuk beberapa lamanya Tambakdwita tertegak di tempat itu. Akhirnya 

dengan langkah gontai dia masuk ke dalam rumah. 

Meskipun masih pagi namun udara di pantai terasa terik. Air laut 

mendebur ombak di atas pasir teluk. Raden Pati Rono mendengar suara 

derap kuda di belakangnya tapi dia tidak perduli, menolehpun tidak. Derap 

kuda berhenti dan pemuda itu tahu kalau si penunggang tengah 

memperhatikannya. 

Di bawah sebatang pohon kelapa di teluk yang sunyi itu terdapat 

beberapa bangkai perahu yang sudah lama ditinggal dalarn keadaan rusak 

dan lapuk. Raden Pati berpaling ke arah pohon kelapa itu, perlahan-lahan 

mengangkat tangan kanannya lalu tangan itu dipukulkan dibarengi oleh 

satu bentakan. 

Terjadi satu hal yang hebat. Begitu tangan bergerak ke depan, satu 

jengkal diatas tangan Raden Pati berkiblat cahaya terang disertai letupan 

keras seperti sambaran halilintar kecil. Bersamaan dengan itu pohon 

kelapa di seberang sana terdengar berderak, lalu tumbang dalam keadaan 

hangus. Perahu-perahu lapuk yang ada di bawah pohon kelapa mental 

hancur lebur seperti bubuk arang!Ki Guru Sendang Bogayana letetkan lidah. 

Didalam dadanya bukan rasa kagum yang dirasakannya justru ada 

perasaan kawatir. Kalau ilmu kepandaian itu dipergunakan dalam kesesat-

an dapat dibayangkan akibatnya. Perlahan-lahan Ki Guru Sendang turun 

dari kudanya. Tengah dia melangkah ke arah Pati Rono tiba-tiba pemuda 

ini membalikkan tubuh seraya mengangkat tangan seolah-olah hendak 

menghantam guru agama itu. Sang guru terkesiap pucat dan hentikan 

langkahnya. Raden Pati Rono tertawa gelak-gelak. 

"Ki Guru.... kau datang juga ke teluk ini..." ujar Pati Rono seraya 

bertolak pinggang dan geleng-gelengkan kepalanya. "Pelajaran agama apa 

yang hendak kau sampaikan padaku hari ini?!" 

Meskipun ucapan itu jelas-jelas merupakan ejekan namun Ki Guru 

Sendang Bogayana berusaha setenang mungkin dan menjawab. "Tidak ada 

pelajaran agama hari ini, Raden Pati. Aku datang kemari memenuhi 

permintaan ibumu." 

"Hemm, begitu...?" Raden Pati rangkapkan kedua tangannya di depan 

dada. "Lalu apa yang ibuku ingin-kan melaluimu, Ki Guru?" 

"Ibumu memberi tahu ada perubahan besar dalam dirimu sejak kau 

dihi...maksudku sejak kau disembuhkan dari sakit berat tempo hari. 

Mungkin ibumu keliru Raden. Namun dia memberikan beberapa contoh 

nyata. Misal tindakanmu membunuh si Belang. Lalu perbuatanmu 

terhadap Tapak Lodra..." 

"Itu baru dua Ki Guru. Yang ketiga ialah tindakanku yang tidak ingin 

melihatmu lagi datang ke rumah, apalagi memberi pelajaran agama 

padaku!" memotong Pati Rono dengan suara ketus. 

"Raden Pati, yang namanya pelajaran itu, apapun bentuk dan macammuperlu dituntut. Termasuk pelajaran agama. Kudengar kau sering datang 

kemari untuk berlatih ilmu silat dan kesaktian. Aku saksikan sendiri tadi 

kau menjajal pukulan sakti itu. Nah, ilmu agamapun tidak kalah 

pentingnya. Matah menjadi sumber dari segala ilmu yang ada di atas dunia 

ini..." 

Raden Pati Rono tertawa bergelak mendengar kata-kata Ki Guru itu. 

"Apakah ilmu pelajaranmu bisa membuat aku memiliki pukulan sakti 

halilintar tadi?" 

"Memang tidak Raden Pati. Ilmu kesaktian adalah ilmu dunia. 

Sebaliknya ilmu agama adalah ilrnu untuk dunia dan juga untuk akhirat 

guna mendapatkan keselamatan." 

"Dusta besar yang menyesatkan! Ketika aku sakit apakah ilmu 

agamamu yang menyembuhkanku?" 

"Memang bukan ilmu agama. Tapi Tuhan yang menjadikan agama dan 

kita semua, Dialah yang menyembuhkan dirimu, Raden!" 

"Aku tidak percaya pada Tuhanmu itu Ki Guru!" 

"Astagafirullah! Jangan bicara seperti itu Raden. Besar dosanya. Jangan 

jadi orang murtad! Inilah salah satu kelainan yang kini terdapat pada 

dirimu Raden. Dulu kau seorang pemuda yang taat pada agama. Rajin 

sembahyang dan mengaji. Kini mengapa tiba-tiba kau berubah...?" 

"Mengapa hal itu tidak kau tanyakan saja pada Tuhanmu?!" tukas 

Raden Pati. 

"Ya Tuhan, ampunilah anak manusia ini atas ucapan-ucapannya..." kata 

Ki Guru Sendang Bogayana. "Raden Pati, ibumu dan juga aku tidak ingin 

kau tersesat lebih jauh..." 

"Sesat? Aku tidak merasa sesat. Kalian orang-orang bodoh yangsebenarnya berada dalam kesesatan!" 

"Hanya orang-orang sesat yang tega membunuh kucing! Bahkan 

hendak membunuh orang tua yang telah berbakti puluhan tahun pada 

keluarga!" sahut Ki Guru pula dengan suara lantang karena dia tidak dapat 

lagi menahan kesabaran dan hawa amarah atas ucapan-ucapan si pemuda. 

Rahang Raden Pati tampak menggembung. Kedua bola matanya yang 

berwarna kelabu membersitkan sinar aneh menggidikkan. Dia maju 

mendekati Ki Guru. Yang didekati tetap tegak di tempatnya. 

"Jika kau menganggap aku manusia sesat tidak jadi apa. Karena itulah 

saat ini aku tidak merasa bersalah jika harus membunuhmu!" 

"Raden! Ingat! Aku ini gurumu yang ingin menolong dan 

menyelamatkan dirimu!" teriak Ki Guru Sendang Bogayana ketika 

dilihatnya anak muridnya itu mengangkat tangan kanan sambil tertawa 

bergelak. 

"Jangan bunuh diriku Raden! Ingat Raden!" teriak Ki Guru pula kini 

seraya melangkah mundur. 

Gelak Pati Rono semakin keras. Tiba-tiba dia pukulkan tangan 

kanannya ke depan. Terdengar suara letupan keras disertai kiblatan cahaya 

terang. Lalu serangkum angin keras dan luar biasa panasnya menderu. Ki 

guru Sendang Bogayana terdengar terpekik. Tubuhnya mencelat mental. 

Ketika tubuh itu tercampak di atas pasir bentuknya tidak seperti tubuh 

manusia lagi. Berubah menjadi seonggok benda hangus gosong dan hitam 

serta mengepulkan asap berbau sangit! 

***


10 

OMBONG PANGESTU memacu kudanya dengan kencang, mengikuti 

Pendekar 212 Wiro Sableng yang menunggangi seekor kuda coklat di 

sebelah depan. Tiba-tiba Wiro menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. 

Binatang ini meringkik keras seraya angkat kedua kaki depannya tinggi-

tinggi. 

Gombong Pangestu, orang tua tokoh silat istana terkejut dan buru-buru 

hentikan kudanya. 

"Ada apa?!" tanya Gombong Pangestu. 

Murid Sinto Gendeng menunjuk ke depan dimana menggeletak sesosok 

tubuh di tengah jalan, entah sudah mati entah hanya pingsan. Sosok tubuh 

ini hampir saja diterjang kaki kuda kalau Wiro tidak lekas menghentikan 

tunggangannya. Wiro dan Gombong Pangestu sama-sama berjongkok dan 

balikkan orang yang tergeletak di tengah jalan itu. Ternyata seorang tua 

yang berada dalam keadaan meregang nyawa. Tangan kanannya tampak 

hitam pekat sebatas pergelangan. Kedua matanya terpejam. Dari mulutnya 

terdengar suara rintihan halus. Ketika Wiro membuka kelopak mata kiri 

orang itu kagetlah dia. Bagian putih matanya ternyata berwarna hitam! 

"Racun jahat!" desis Gombong Pangestu. Lalu dia cepat menotok 

empat jalan darah di tubuh orang itu. Sambil memperhatikan wajah orang 

dia berkata, "Aku rasa-rasa pernah melihat orang ini sebelumnya. Dia 

pernah muncul di Keraton beberapa kali. Ah, siapa dia ini..." 

"Kurasa jiwanya tak bisa diselamatkan. Yang bisa kita lakukanmenunda kematiannya beberapa saat, lafu berusaha mendapatkan 

keterangan apa yang terjadi alas dirinya," berkata Wiro. 

"Jika memang tak bisa ditolong mengapa menyiksa dirinya dan 

berusaha meminta keteraragan..." kata Gombong Pangestu pula. 

"Aku justru punya firasat, jangan-jangan orang ini ada sangkut pautnya 

dengan masalah yang tengah kita selidiki. Bukankah tempat ini terletak di 

antara pantai utara dan hutan tempat diduga menjadi kediaman Ki Dukun 

Tambak Reso itu?" 

Gombong Pangestu memandang berkeliling. "Hem...mungkin betul 

juga ucapanmu. Jika kau hendak melakukan sesuatu lekas laksanakan. 

Jangan sampai dia keburu mati!" 

Wirolantas menambahkan beberapa totokan di tubuh orang yang 

tergeletak di tengah jalan itu yang bukan lain adalah Tapak Lodra. Lalu 

dia memijit kedua ibu jari kaki Tapak Lodra dengan tangan kiri kanan. 

Perlahan-lahan pendekar ini kerahkan tenaga dalam panas melalui kedua 

tangannya. Mendadak dia terpental dua langkah dan jatuh duduk 

terjengkang. Mukanya tampak merah. 

"Ada apa?! tanya Gombong Pangestu keheranan. 

"Aneh, tenaga dalamku seperti didorong dan menghantam diriku 

sendiri. Ada rasa panas membersit...!" Wiro menjawab sambil garuk-garuk 

kepala. 

Gombong Pangestu merenung sejenak. "Coba kau alirkan tenaga dalam 

dingin!" katanya sesaat kemudian. 

Wiro kembali memijit kedua ibu jari Tapak Lodra. Kalau tadi dia 

mengerahkan tenaga dalam panas maka kini dicobanya mengalirkan 

tenaga dalam dingin. Tidak terjadi apa-apa. Malah sesaat kemudianterdengar rintihan orang itu menjadi lebih keras. Wiro kerahkan tenaga 

dalam penuh! Lalu dia mulai menepuk-nepuk wajah orang dan dekatkan 

mulutnya ke telinga kanan Tapak Lodra. 

"Orang tua lekas katakan apa yang terjadi pada dirimu!" 

Orang yang ditanya mengerang panjang. "Siapa bertanya siapa?!" 

terdengar jawabannya. 

"Jiwamu tak bisa ditolong lagi. Jadi jangan banyak tanya. Beri saja 

keterangan. Siapa namamu?!" yang bertanya kini adalah Gombong 

Pangestu. 

"Aku tidak takutkan kematian! Yang aku takutkan ialah kalau-kalau 

memberikan keterangan pada manusia-manusia laknat kaki tangan Ki 

Dukun Tambak Reso atau bangsat bernama Raden Pati Rono...!" 

Gombong Pangestu dan Wiro Sableng saling perpandangan. 

"Hai! Kau belum mengatakan siapa namamu! Apa yang terjadi?!" 

"Aku Tapak Lodrat Puluhan tahun mengabdi hanya berakhir pada 

kematian yang mengenaskan..." 

Mendengar orang menyebutkan nama terkejutlah Gombong Pangestu. 

Dia berseru keras 

"Sahabatku Tapak Lodra! Aku Gombong Pangestu! Bagaimana sampai 

kau mengalami nasib seperti ini? Bukankah kau bekerja pada keluarga 

almarhum hartawan Rono Wiculo di Losari?" 

Tapak Lodra mengerang panjang, baru bisa menjawab, "Ah Gombong, 

terima kasih Gusti Allah. Kalaupun aku mati ada seorang sahabat yang 

menyaksikan. Jadi tidak mati seperti anjing buduk di tengah jalan. 

Gombong, nasibku sungguh buruk di akhir hayat. Aku ..." Tapak Lodra 

batuk beberapa kali. Bersamaan dengan batuknya itu dia muntahkan darahberwarna hitam. 

Gombong Pangestu cepat seka darah yang mengotori bibir sahabatnya. 

"Kau benar, memang aku bekerja pada keluarga almarhum Rono Wiculo. 

Dia orang baik. Tapi anaknya yang pernah mati lalu dihidupkan kembali 

oleh seorang dukun edan, telah berubah menjadi iblis! Dialah yang 

mencelakaiku. Dia memiliki pukulan sakti aneh, ganas luar biasa..." 

"Apakah dukun edan katamu itu adalah Ki Dukun Tambak Reso?" 

bertanya Wiro. 

"Betul...betul sekali. Dialah yang jadi pangkal bahala. Gombong 

sahabatku. Kau harus menolong janda almarhum Raden Mas Rono Wiculo 

itu. Ki Dukun keparat itu hendak menguasai dirinya. Dia memaksa 

memperistrikan perempuan itu. Tapi hati-hati terhadap si Pati Rono. Dia 

manusia yang dihidupkan kembali sebagai iblis!" 

"Kau tahu dimana tempat kediaman dukun sakti itu?" bertanya 

Pendekar 212. 

Tapak Lodra batuk-batuk beberapa kali. Dari mulutnya semakin banyak 

darah yang keluar. Saat itu dadanya mendenyut menyesak. Lidahnya 

mulai kelu tanda ajalnya segera putus beberapa saat lagi. Kepala Tapak 

Lodra tampak menggeleng perlahan. Kalian...kalian bisa menemukannya 

di rumah almarhum Raden Rono Wiculo. Aku...Hek!" Kata-kata Tapak 

Lodra hanya sampai disitu. Dari tenggorbkannya keluar suara seperti 

tercekik. Nyawanya putus sudah! 

*** 

RADEN AYU TAMBAKDWITA terkejut sekali ketika dia memergoki 

pelayan perempuan berusia enam belas tahun itu menuruni tangga dari 

tingkat atas dengan tergopoh- gopoh. Tubuhnya nyaris telanjangkarena hanya tertutup sehelai kain panjang yang robek-robek di sana sini. 

Pada muka, leher dan bahu serta dadanya yang tersingkap tampak luka-

luka bekas gigitan dan pukulan. 

"Saminten! Dari mana kau?! Apa yang terjadi dengan dirimu?!" 

Pelayan itu tergagap kaget. Begitu mengetahui kalau saat itu 

berhadapan dengan majikannya pelayan ini langsung jatuhkan diri, 

pegangi kaki Tambakdwita dan menangis keras. Kain di bagian dadanya 

merosot. Tambakdwita merasa bulu kuduknya berdiri ketika melihat luka 

besar di salah satu payudara Saminten. 

"Mohon ampunanmu Gusti. DO Gusti, saya mohon ampunmu..," 

"Katakan apa yang terjadi! Siapa yang menganiayamu seperti ini?!" 

berianya Tambakdwita hampir berteriak. 

"Saya...saya tak berani mengatakannya Gusti. Saya...saya dipaksa..." 

"Kau tak usah takut! Siapa yang memaksamu? Ayo bilang!" 

"Duh Gusti...Mohon maafmu. Mohon ampunmu...Puteramu, Raden Pati 

yang melakukannya. Saya dipaksa melayaninya. Setelah puas sekujur 

tubuh saya digigit dan dipukulinya..." 

Bergetar sekujur tubuh Tambakdwita mendengar keterangan pelayan 

itu. "Saminten, pergi masuk ke kamarmu. Aku segera menyusut. Jangan 

ceritakan pada siapapun kejadian ini. Mengerti...?" 

"Saya mengerti Gusti Ayu. Tapi saya sudah berniat untuk berhenti 

bekerja disini..." jawab Saminten. 

"Itu bisa kita bicarakan kemudian. Yang penting sekarang masuk dulu 

ke kamarmu!" 

Begitu pelayan itu berlalu, seperti terbang Tambakdwita melompati 

tangga menuju ke tingkat atas. Di depan pintu kamar anaknya diamengetuk dan memanggil keras-keras. 

"Pati! Buka pintu! Pati.... !" 

Tak ada jawaban dari dalam. Pintu pun tidak dibukakan. Perempuan itu 

kembali mengetuk dan berteriak. Lebih keras dan lebih keras. Tiba-tiba 

pintu terbuka. Satu tangan menyambar keluar, mencekal lengan 

Tambakdwita. Di lain kejap perempuan ini terbetot masuk ke dalam 

kamar! Tambakdwita sempat terpekik. Matanya membeliak dan nafasnya 

memburu ketika dia melihat puteranya tegak di depannya. 

"Pati! Apa yang telah kau lakukan terhadap pelayan itu? Katakan apa 

yang telah kau perbuat?!" 

"Bukankah dia telah mengatakan padamu...?" menyahuti Pati Rono. 

"Jadi betul kau telah mengotori rumah ini dengan perbuatan mesum 

terkutuk! Kau mencemari nama almarhum ayahmu!" 

Pati Rono tertawa. "Apa kau tidak mengotori rumah ini sejak beberapa 

malam lalu? Ketika ibu berdua-dua di atas ranjang bersama Ki Dukun...?!" 

Tambakdwita menjerit keras mendengar kata-kata anak lelakinya itu 

lalu plaak! Tamparannya melayang dengan keras di pipi kiri Pati Rono! 

Sepasang mata kelabu Pati Rono tampak bernyala, membersitkan sinar 

menggidikkan. Dia melangkah mendekati ibunya. Sang ibu yang jadi 

ketakutan bergerak mundur tapi punggungnya tertahan dinding kamar. 

Tiba-tiba kedua tangan Pati Rono meluncur ke depan, menyambar batang 

leher Tambakdwita, langsung mencekiknya kuat-kuat. Perempuan itu 

masih sempat menjerit sebelum lidahnya terjulur dan kedua matanya 

membeliak. 

Dari tingkat bawah rumah terdengar suara orang berlari menaiki 

tangga. Lalu menggeledek satu bentakan, "Pati Rono! Kau hendakmembunuh ibumu sendiri?!" Lalu satu angin deras mendorong tubuh si 

pemuda. Dia terjajar hampir jatuh. Tapi karena cekikannya tidak terlepas 

maka Tambakdwita ikut tertarik bersamnya. Perempuan itu sudah lemas 

karena tak bisa bemafas. Jika tidak tertolong dalam waktu singkat, 

nyawanya pasti putus! 

"Pati Rono! Lepaskan! Yang kau cekik adalah dirimu sendiri! 

Lepaskan!" Kembali suara yang tadi membentak berteriak keras. 

Pati Rono terkejut. Yang dilihatnya di hadapannya dan yang dicekiknya 

dengan kedua tangannya yang kukuh memang adalah dirinya sendiri. Dan 

dia merasakan lehernya sakit sekali, sulit bernafas. 

Serta merta dia melemparkan tubuh di depannya itu. Tambakdwita 

terbanting ke luar pintu, jatuh dekat tangga. Kalau tidak lekas ditolong 

oleh Ki Dukun Tambak Reso, perempuan ini pasti akan jatuh 

menggelinding ke tingkat bawah. 

"Manusia iblis! Kau hendak membunuh ibumu sendiri!" hardik Ki 

Dukun. 

"Dukun keparat! Kau akan menerima giliranmu!" teriak Pati Rono 

marah. Lalu membanting pintu kamar. 

Ki Dukun cepat menolong Raden Tambakdwita dan menggendongnya 

ke dalam kamar tidur di tingkat bawah. Beberapa orang berlarian 

mendatangi, termasuk Tambaksari puterinya. Seseorang diperintahkan 

mengambil segelas air putih. Setelah membacakan mentera pada air itu 

dan meminumkannya pada Tambakdwita, janda almarhum Raden Mas 

Rono Wiculo itu mulai sadar walau wajahnya masih pucat. Sekilas 

terbayang di pelupuk malanya saat ketika puteranya hendak mencekiknya. 

Langsung dia menjerit. Ki Dukun cepat mengusap kening perempuan ini."Tenang Den Ayu. Kau berada di tempat yang aman. Tak ada yang 

perlu ditakutkan..." kata Ki Dukun perlahan. Sementara Tambaksari 

mengelus-elus rambut ibunya tiada henti dan kedua matanya berkaca-

kaca. 

"Ki Dukun..." terdengar suara Tambakdwita perlahan antara terdengar 

dan tiada. "Aku menyesal memintamu menghidupkan anak itu. Dia...dia 

bukan manusia. Dia adalah penjelmaan iblis...Aku ingin ...aku ingin kau 

mematikannya kembali, Ki Dukun. Bunuh anak itu dan tanam mayatnya 

jauh-jauh dari sini... 

Ki Dukun Tambak Reso tak bisa menjawab apa-apa. Tiba-tiba 

terdengar Tambaksari menangis keras dan menjatuhkan dirinya di atas 

dada ibunya. 

"Ada apa kau menanyos Sari...?" bertanya berbisik sang ibu. 

"Mas Pati... Dia memang harus disingkirkan dari rumah ini, bu. Saya 

takut..." ujar Tambaksari di antara tangisnya. 

"Dia melakukan sesuatu terhadapmu Sari...?" 

Gadis itu tak segera menjawab melainkan menangis kencang. Setelah 

tangisnya reda baru terdengar ucapannya. "Satu hari lalu dia mengajak 

saya ke teluk. Katanya untuk menyaksikan bagaimana dia melatih ilmu 

kesaktian baru yang disebut pukulan halilintar. Tapi di situ tiba-tiba saja 

dia hendak memperkosa saya..." 

Semua orang yang ada disitu tentu saja sangat terkejut mendengar 

keterangan si gadis. 

Air mata tampak mengalir di kedua pipi Tambakdwita. "Dia benar-

benar melakukan perbuatan terkutuk itu, anakku...?" 

Tambaksari menggeleng. "Saat itu kebetulan ada dua orang gagahlewat. Satu tua, satu masih muda. Mereka menolong saya. Mereka 

kemudian hampir bentrokan dengan Mas Pati. Tapi saya lihat keduanya 

sengaja mengalah dan meninggalkan teluk. Mungkin sekali mereka berada 

di Losari saat ini..." 

Sepasang mata Ki Dukun Tambak Reso tampak membuka lebih lebar. 

Tiba-tiba saja ada perasaan tak enak dalam hatinya. 

"Den Ayu Tambaksari... Dapatkah kau menerangkan lebih rinci ciri-

ciri kedua orang yang menolongmu itu...?" bertanya Ki Dukun. 

"Yang muda berpakaian serba putih. Ikat kepalanya juga putih. 

Sikapnya konyol, terkadang seperti orang kurang waras..." 

"Hemm...aku tak kenal padanya," desis Ki dukun Tambak Reso. 

"Bagaimana ciri-ciri orang yang satu lagi?" 

"Sudah lanjut usia tapi gerakannya sebat sekali. Dia mengenakan 

pakaian biru..." 

Ki Dukun merenung sejenak. Ada beberapa orang tokoh silat yang 

memiliki ciri-ciri seperti itu. Sejak beberapa waktu lalu dia mendengar 

kabar bahwa dirinya dicari-cari oleh seorang utusan dan Kotaraja. Hal itu 

ada sangkut pautnya dengan kotak batu hitam yang kini berada padanya. 

"Ki Dukun..." terdengar suara Raden Ayu Tambakdwita. "Kau sudah 

mendengar permintaanku. Singkirkan anak itu sebelum dia membunuhi 

penghuni rumah ini satu demi satu..." 

"Aku akan mencari jalan sebaik-baiknya Den Ayu…" ujar Ki Dukun. 

Lalu dia tinggalkan kamar itu. 

***


11 

PENDEKAR 212 WIRO SABLENG dan Gombong Pangestu hentikan 

kuda tak jauh dari pintu pekarangan rumah besar janda almarhum Rono 

Wiculo. Keduanya sengaja berlindung dibalik dua batang pohon besar di 

seberang jalan. 

"Aku mendengar ada suara perempuan menjerit dari dalam rumah. Di 

tingkat atas..." ujar Wiro. 

Gombong Pangestu anggukkan kepala. Sesaat dia memandang 

berkeliling. "Kita langsung masuk..?" bertanya Wiro. 

"Jangan kesusu. Kita tunggu dulu di sini sambil melihat situasi," jawab 

Gombong Pangestu, tokoh silat Keraton yang punya segudang 

pengalaman itu. 

Suara jeritan yang tadi mereka dengar adalah jeritan Raden Ayu 

Tambakdwita ketika dicekik oleh Pati Rono. 

"Aku berharap, sesuai keterangan Tapak Lodra, manusia bernama Ki 

Dukun Tambak Reso itu ada di tempat ini..." 

"Aku punya firasat dia memang ada di sini..." sahut Wiro seraya garuk-

garuk kepala. 

"Sebelum kita berhadapan dengan dukun sakti itu, ada beberapa hal 

yang harus kau ingat baik-baik pendekar muda. Tambak Reso adalah 

dukun yang sebenarnya mengandalkan pada ilmu sihir. Karena itu jika 

berhadapan jangan terlalu memandang ke arah kedua matanya dan sekali-

kali jangan mendengar apa yang dikatakannya. Jika dia mengatakan lihatular, maka kau benar-benar akan melihat ular. Kecuali jika kau tidak 

memperdulikan maka mantera sihirnya tidak akan jadi. Kita harus 

mengusahakan mendapatkan batu mustika Kencono Sukmo itu dari 

tangannya secara baik-baik. Kalau tidak bisa, dengan jalan 

membunuhnyapun tak jadi apa!" 

"Menurut dara baju kuning yang kita tolong di teluk tempo hari, kakak 

laki-lakinya itu tinggal serumah di tempat ini. Apakah kita masih akan 

mengalah lagi seperti sehari lalu ketika dia menyerang kita di teluk?" 

"Ini memang satu masalah baru bagi kita. Aku melihat ada keanehan 

pada diri pemuda itu. Pandangan matanya seperti iblis dan wajahnya 

seperti setan. Dirinya seolah-olah menyimpan satu rahasia yang dahsyat. 

Dan kedahsyatan itu tercium sebagai maut di hidungku." 

"Bagiku dai adalah seorang manusia segala bejat. Kalau tidak masakan 

tega hendak merusak kehormatan adik sendiri!" ujar Wiro pula. 

"Bejat atau bukan yang pasti kita harus berhati-hati setiap saat dia 

muncul! Ingat penjelasan Tapak Lodra? Pemuda itu memiliki pukulan 

mengandung racun mematikan. Lagi pula..." 

Pendekar 212 mengangkat tangan kirinya memberi tanda lalu berbisik, 

"Ada seseorang keluar dari pintu depan rumah dan duduk di langkan...Kau 

kenal padanya?" 

Orang yang keluar dari rumah besar dan kemudian duduk di sebuah 

kursi yang terletak di langkan rumah berpakaian hijau muda, memiliki 

janggut, kumis serta rambut putih dibawah blangkonnya yang terbuat dari 

kain bludru berwarna ungu gelap. 

"Dia bangsatnya!" kertak Wiro ketika mengenali orang berbaju hijau 

muda itu. "Dialah orang yang kutemui di puncak bukit Jati Arang!Manusia yang sanggup menghidupkan rusa yang telah mati dikoyak 

harimau. Pak tua Gombong Pangestu, orang itu adalah Ki Dukun Tambak 

Reso yang kita cari-cari!" 

"Keterangan Tapak Lodra betul. Ternyata dia ada disini! Mari..." 

Gombong Pangestu keluar dari balik pohon besar, menyeberangi jalan 

dan memasuki halaman depan rumah kediaman almarhum Rono Wiculo. 

Pendekar 212 Wiro Sableng mengikuti dari belakang. 

Ketika melihat ada dua penunggang kuda memasuki halaman, orang 

berbaju hijau muda yang memang adalah Ki Dukun Tambak Reso serta 

merta berdiri dan melangkah ke ujung langkan, berhenti di anak tangga 

rumah paling atas. 

"Kalian siapa dan ada keperluan apa?!" membentak Ki Dukun. 

Kemudian disadarinya bahwa dia rasa-rasa kenal dengan pemuda 

berambut gondrong berpakaian serba putih itu. Paling tidak pernah 

melihatnya sebelumnya. Lalu tiba-tiba saja dia ingat. Keparat gondrong ini 

adalah orang yang memata-matainya di puncak bukit Jati Arang tempo 

hari! Yang mengaku membawa tugas dari istana untuk mengambil kotak 

batu hitam dari tangannya. Otak cerdik dan licin Ki Dukun segera bekerja. 

Dia sunggingkan tawa lebar dan berkata. "Ah, kalian pastilah dua orang 

gagah yang menolong Raden Ayu Tambaksari di teluk satu hari lalu. 

Ibunda gadis itu memang tengah menunggu-nunggu kalian berdua. Ada 

hadiah besar hendak diserahkannya pada kalian. Tunggulah..." 

"Kami kemari bukan untuk mencari hadiah. Tapi..." ujar Gombong 

Pangestu. 

Namun saat itu Ki Dukun Tambak Reso sudah palingkan tubuh dan 

melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu masuk ke dalam dia tidak pergimenemui Raden Ayu Tambakdwita seperti yang dikatakannya karena itu 

memang hanya akal bulusnya saja. Dengan cepat dia naik ke tingkat alas 

di mana kamar Raden Pati Rono berada. Dengan paksa dia mendobrak 

pintu dan masuk ke dalam kamar. Pati Rono yang ada di dalam kamar itu 

menggereng marah, langsung melompati Ki Dukun. Orang tua ini cepat 

mengangkat tangan dan berkata, "Raden, jangan marah dulu. Di luar ada 

dua orang tamu mencarimu. Mereka adalah orang-orang yang bentrokan 

denganmu di teluk satu hari yang lalu..." 

"Bangsat! Ada keperluan apa mereka berani datang kemari?!" sentak 

Pati Rono. 

"Mereka bilang urusan di teluk belum selesai. Mereka sengaja datang 

menantangmu untuk menjajal ilmu pukulan halilintar yang kau miliki. 

Bukankah waktu di teluk kau tak sempat mempergunakannya?!" 

"Mereka mencari mati!" teriak Pati Rono. Tubuh Ki Dukun 

didorongnya hingga terjajar. Dengan dua kali bergerak saja dia sudah 

berada di tingkat bawah langsung lari ke bagian depan rumah. 

Ki Dukun Tambak Reso menyeringai. "Manusia-manusia tolol!" 

katanya. "Berkelahilah kalian sampai mampus semua!" Lalu dengan cepat 

dia menuruni tangga menuju bagian belakang rumah besar. 

Ketika Ki Dukun masuk ke dalam tadi, Gombong Pangestu berpaling 

pada Pendekar 212 dan berkata, "Aku kawatir, jangan-jangan dukun 

keparat itu melarikan diri lewat pintu belakang." 

"Kalau begitu biar aku menyelidik!" ujar Wiro pula. 

"Jangan. Biar aku yang melakukan. Manusia satu itu banyak tipu 

muslihatnya. Kau tetap di sini berjaga-jaga. Jika ada yang kelihatan 

hendak melarikan diri cepat memberi tanda!"Wiro mengangguk. Gombong Pangestu memacu kudanya melewati 

halaman samping, terus menuju bagian belakang rumah. Dia sampai dekat 

sebuah bangunan kecil, tepat pada saat Ki Dukun Tambak Reso melompat 

naik ke atas punggung seekor kuda dan membedal binatang ini menuju 

pintu belakang. 

"Ki Dukun! Sampean mau lari kemana?!" seru Gombong Pangestu. 

Kudanya dipacu ke samping kuda Ki Dukun. Sesaat kemudian tampak 

tubuhnya melesat di udara, langsung menubruk dan merangkul tubuh Ki 

Dukun. Kedua orang tua itu sama-sama jatuh ke tanah. Ki Dukun bangkit 

berdiri lebih dulu. Begitu berdiri dia langsung kirimkan tendangan ke 

kepala Gombong Pangestu. Sambil gulingkan diri di tanah tokoh silat 

Istana itu berhasil mengelak dan membalas dengan pukulan tangan kosong 

mengandung tenaga dalam tinggi. Tapi luput karena yang diserang sudah 

berkelit ke kiri. 

Sambil berdiri Gombong Pangestu keluarkan sebuah benda dan 

mengancungkannya ke arah Ki Dukun Tambak Reso. Benda itu berbentuk 

bulat putih, terbuat dari perak murni, Itulah cap Kerajaan yang dituang 

dalam bentuk perak. 

"Aku utusan Kerajaan. Ditugaskan untuk menangkapmu hidup atau 

mati!" teriak Gombong Pangestu. "Kecuali jika kau mau menyerahkan 

benda pusaka kotak batu hitam milik Keraton!" 

"Kotak batu hitam milik Keraton?" ujar Ki Dukun terheran-heran. 

"Jangankan memilikinya, mendengaryapun baru sekali ini!" kata orang tua 

itu pula. Lalu sambungnya, "Aku orang kebanyakan, mana berani mencuri 

harta pusaka Kerajaan! Kau pasti mendapat keterangan keliru dan 

menyesatkan!"Gombong Pangestu tersenyum. Dia tahu manusia di hadapannya ini 

banyak akal dan tipu muslihatnya. Maka diapun berkata, "Mari kugeledah 

dulu tubuh dan pakaianmu!" 

Ki Dukun menggeleng. "Aku tidak suka digeledah. Aku bukan maling 

bukan pencuri! Jangan coba-coba mendekatiku!" 

"Kalau kau menolak, terpaksa aku melakukan kekerasan!" mengancam 

Gombong Pangestu. 

"Hemm, begitu?! Silahkan kalau kau mempunyai kemampuan. Tapi 

ingin kutanyakan apa perlunya kau memegang-megang kalajengking di 

tangan kananmu?!" 

Gombong Pangestu hampir terkena sirapan mantera sihir yang 

diucapkan Ki Dukun. Tanpa sadar dia memandang ke arah tangan 

kanannya. Meski sekilas dia sempat melihat bagaimana cap Kerajaan yang 

dipegangnya dilihatnya sebagai seekor kelajengking hitam yang siap untuk 

mematuknya. Untung saja dia segera ingat dan berteriak, "Kalau ini 

memang milikmu, ambil dan makanlah!" Lalu Gombong Pangestu 

lemparkan cap Kerajaan di tangan kanannya. Benda ini melesat ke arah Ki 

Dukun, membuat dia terkejut dan buru-buru melompat selamatkan diri 

karena ucapan lawan tadi membuat benda itu menjadi seperti kalajengking 

benaran dimatanya sendiri! 

"Tua bangka satu ini berbahaya! Ilmu sihirku tampaknya tak bakal 

dapat diandalkan menghadapinya!" Ki Dukun memutar otak. Tiba-tiba dia 

menjura seraya berkata: "Aku maklum tak bakal menang menghadapi 

orang pandai sepertimu Memang kotak batu hitam itu ada padaku. Aku tak 

mau membuat urusan dengan Kerajaan. Biar benda itu kukembalikan saat 

ini juga...."Seperti diketahui batu hitam itu diselipkan Ki Dukun di pinggang 

kirinya. Tapi dia meraba saku jubah hijaunya sebelah kanan di mana 

terdapat sebuah kitab kecil. Dengan manteranya dia sanggup membuat 

kitab kecil itu berubah bentuk menjadi seperti batu hitam benda pusaka 

Keratori. Sekali lagi dia menjura dan mengulurkan kotak batu itu kepada 

Gombong Pangestu. "Terimalah. Aku mohon maafmu. Sesudah benda 

pusaka ini kukembalikan harap aku tidak diganggu lagi..." 

Gombong Pangestu merasa lega ketika melihat benda pusaka yang 

disodorkan Ki Dukun itu. Dia menggerakkan tangan hendak 

menerimanya. Namun selintas pikiran mendadak muncul dalam benaknya. 

Mengapa manusia itu tiba-tiba berubah pikiran. Mengapa mendadak 

semudah itu dia mengembalikan batu Kencono Sukmo? 

"Benda palsu kembali ke bentuk aslimu!" teriak Gombong Pangestu 

lalu dia melompat menyergap Ki Dukun. 

Batu hitam di tangan Ki Dukun serta merta berubah ke bentuk aslinya 

yakni sebuah kitab kecil. Di saat yang sama serangan Gombong Pangestu 

sampai. Tak ada jalan lain. Ki Dukun campakkan buku kecil itu lalu 

menangkis. Dua lengan saling beradu. Ki Dukun seperti disengat api 

sedang Gombong Pangestu terjajar dua langkah dengan dada berdenyut. 

Perkelahian antara dua jago tua ini memang tak dapat dihindarkan lagi! 

***


12 

"BANGSAT GONDRONG! Berani kau datang kemari! Benar-benar mencari mati!" teriak 

Pati Rono. 

Pendekar 212 Wiro Sableng yang enak-enakan duduk di atas kudanya tentu saja terkejut 

melihat munculnya pemuda ini. 

"Eh, si tua bangka edan itu lenyap entah kemana! Tahu-tahu kini pemuda sedeng ini yang 

muncul!" ujar Wiro dalam hati. Hatinya tercekat juga melihat kegarangan dan kesangaran 

orang. 

"Kau bilang hendak menjajal pukulan halilintar! Ini kau makan dan mampuslah!" teriak 

Pati Rono. Lalu tangan kanannya dipukulkan ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. 

Murid Eyang sinto Gendeng ctari Gunusig Gede melihat ada kiblatan menyilaukan keluar 

dari tangan Pati Rono disertai letupan keras tak bedanya seperti halilintar menyambar dan 

guntur menggelegar. Tubuhnya yang duduk di atas kuda bergoncang keras. Lalu ada hawa 

panas luar biasa yang menderu menerpanya. Sadar kalau orang memang hendak 

membunuhnya dengan pukulan sakti yang ganas, Wiro Sableng berteriak keras dan jatuhkan 

diri dari punggung kuda. 

Wuuttt! 

Kuda coklat itu meringkik keras dan terpental. Terkapar di tanah tanpa berkutik lagi. 

Tubuhnya sampai ke kaki hangus gosong mengepulkan asap dan menebar bau sangitnya 

daging yang terpanggang. 

Pendekar 212 letetkan lidah dan rasakan tengkuknya merinding. Sempat tubuhnya yang 

kena di hantam pukulan sakti tadi pasti nyawanya sudah terbang saat itu juga! 

"Bagus kau mampu mengelak! Coba ini sekali lagi!" teriak Pati Rono. Sepasang matanya 

yang kelabu menyorotkan hawa pembunuhan. Mulutnya berkemik seperti hendak menghisap 

darah Pendekar 212, geraham-gerahamnya bergemeletakan seolah-olah ingin mengunyah 

kepala murid Sinto Gendeng itu! 

Wiro tak mau menunggu sampai lawan menghantamnya untuk kedua kali. Tangan

kanannya yang telah berubah menjadi putih berkilau laksana perak karena aji pukulan 

matahari di angkat. Begitu lawan dilihatnya menggerakkan tangan, Pendekar 212 hantamkan 

tangan kanannya! 

Terjadilah hal yang luar biasa. Letupan dahsyat seperti gunung meletus menggoncang ha-

laman depan rumah besar. Di dalam rumah terdengar pekikan orang ketika ada bagian atap 

yang ambrol dan runtuh. Dua sosok tubuh lari berusaha menyelamatkan diri. Ternyata mereka 

adalah Raden Ayu Tambakdwita dan puterinya. Kedua perempuan ini kembali jadi melengak 

kaget ketika melihat bagaimana tanah dan pasir halaman muncrat berhamburan. Jambangan 

dan patung-patung batu, rubuh bergulingan. Ada asap putih membubung ke udara menebar 

bau terbakar yang menyesakkan pernafasan. Lalu diantara pasir debu dan kepulan asap itu ibu 

dan anak ini meeihat sosok dua orang pemuda terduduk di tanah, saling terpisah sekitar dua 

belas langkah satu sama lain. Yang di sebelah kiri bukan lain adalah Pati Rono, terduduk 

dengan muka pucat laksana mayat. Yang satunya adalah pemuda gondrong yang dikenal 

Tambaksari sebagai salah satu dari dua orang yang menolongnya di teluk. 

"Pati anakku!" seru Tambakdwita. Bagaimanapun bencinya perempuan ini, bahkan 

mengingkan kematian puteranya itu kembali, tapi hati nurani seorang ibu tidak bisa 

disembunyikan. Dia berseru sambil hendak berlari mendapatkan Pati Rono. 

Namun puterinya cepat memegangi tangannya. 

"Jangan ibu. Terlalu berbahaya. Jangan mendekat...!" 

Terpaksa sang ibu hanya tegak berdiri sambil pandangi anaknya dengan kedua mata 

berkaca-kaca. 

Wiro merasakan dadanya mendenyut sakit. Mulutnya terasa asin. Dia menyeka bibirnya de-

ngan belakang telapak tangan. Ada noda merah di tangan itu. Darah! Sadarlah pendekar ini 

kalau bentrokan pukulan sakti tadi telah membuatnya terluka di dalam! Dan di hadapannya 

dilihatnya Pati Rono tegak sambil menyeringai. Tangan kanannya diangkat kembali, siap 

untuk melepaskan pukulan halilintar. Pendekar 212 sadar dia tak bakal dapat menghadapi 

pukulan yang luar biasa hebatnya itu dengan pukulan sinar matahari yang juga mengandung 

hawa panas. Dan pasti akan sia-sia jika dia berusaha menghadapi dengan pukulan kunyuk 

melempar buah atau orang gila mengebut lalat ataupun bertahan dengan pukulan benteng 

topan melanda samudera. Semua ilmu pukulan sakti yang dimilikinya itu bertitik tolak padahawa panas. 

Di depannya Pati Rono sudah siap menghantam. Dalam saat yang sangat kritis itu tiba-tiba 

Wiro ingat pengalamannya sewaktu berusaha menolong Tapak Lodra. Hawa tenaga dalam 

panas yang coba dialirinya ke tubuh orang itu menimbulkan kekuatan mendorong yang 

membuatnya terpental. Karena Tapak Lodra sebelumnya telah cidera oleh pukulan halilintar, 

berarti ada hawa panas pukulan lawan yang masih mendekam dalam tubuhnya bersama racun 

jahat dan tidak bisa dihadapi dengan tenaga dalam panas pula. Saat itu atas nasihat Gombong 

Pangestu dia kemudian mengerahkan tenaga dalam yang bersumber pada hawa dingin dan 

memang berhasil. 

Memikir sampai disitu Pendekar 212 segera siapkan diri dengan ilmu pukulan sakti 

bernama pukulan angin es. Kedua tangan diangkat tinggitinggi ke atas, lalu dua tangan itu 

diputar-putar. Udara disekitar situ mendadak menjadi sejuk lalu tiba-tiba sekali menjadi dingin 

luar biasa! 

Raden Ayu Tambakdwita dan puterinya merasakan tubuh mereka seperti dibungkus es. Ibu 

dan anak ini langsung jatuh duduk dan menggigil kedinginan. Tambaksari segera menyeret 

ibunya menjauhi tempat itu, masuk kembali ke dalam rumah dimana hawa dingin tidak sampai 

mencekam. 

Di halaman, Pati Rono gerakkan tangan kanannya melepaskan pukulan halilintar. Ada 

letupan keras serta kiblatan sinar terang keluar dari tangan kanannya itu, namun gerakannya 

hanya sampai di situ karena sesaat kemudian tangan itu tak bisa digerakkan lagi, kaku dingin 

seperti dipendam dalam es! 

Wiro lipat gandakan tenaga dalamnya. Kedua matanya terpejam. Dia tidak perdulikan 

denyutan sakit yang menyesakkan dadanya. Keadaan kaku di tangan kanan Pati Rono 

menjalar ke bagian tubuh yang lain. Gerahamnya bergemeletakan menahan dingin yang luar 

biasa. Dia berteriak namun mulutnyapun sudah kaku tak bisa digerakkan. Ketika hawa dingin 

itu mencucuk-cucuk otaknya, pemuda ini langsung tergelimpang rubuh. Kedua matanya 

terpejam. Bersamaan dengan itu terdengar pekik Tambakdwita yang menyangka puteranya 

telah menemui ajal di tangan Wiro Sableng. Perempuan ini diikuti puterinya lari menghambur 

ke halaman, langsung memeluk tubuh Pati Rono sambil meratap. 

Tapi tiba-tiba sepasang mata yang terpejam dari Pati Rono membuka kembali. Keduatangannya bergerak dan tahu-tahu telah mencekik leher ibunya! Wiro terkesiap kaget sedang 

Tambaksari menjerit sambil berusaha menarik kedua tangan kakaknya, agar cekikan pada 

leher ibunya terlepas. Tapi sia-sia saja. Sepasang tangan Pati Rono laksana sebuah jepitan baja 

yang dipegang oleh iblis! Wiro berusaha membantu, tetap saja dua tangan yang mencekik itu 

tidak dapat dilepaskan! 

***

13 

PERKELAHfAN ANTARA Gombong Pangestu dan Tambak Reso berlangsung hebat sekali. 

Selama dua puluh jurus lagi perkelahian ini berlangsung berimbang. Sebagai seorang dukun 

yang banyak mengandalkan ilmu-ilmu sihir maka tingkat ilmu silat yang dimiliki oleh Ki 

Dukun sedikitnya masih berada di bawah kepandaian tokoh silat Istana. Hanya kelicikan dan 

akal muslihatnya saja yang membuat Ki Dukun Tambak Reso tampak mampu menghadapi 

lawannya. Namun itu tidak bertahan lama. Selewatnya jurus kedua puluh lima, orang tua yang 

kalah pengalaman silat ini mulai terjepit oleh hujan gempuran lawan. Apalagi segala ilmu sihir 

dan mantera jahatnya tidak mempan lagi terhadap Gombong Pangestu. 

Maka Ki Oukun mulai memutar otak bagaimana caranya agar dapat melarikan diri saja dari 

tempat itu. Hanya sayang sebelum maksudnya kesampaian satu jotosan keras melabrak ulu 

hatinya. Manusia berjubah hijau ini tertegak dengan tubuh tergontai-gontai. Sebelum tubuhnya 

roboh, Gombong Pangestu sudah menjambak rambut dan mencekal dagunya lalu dipuntir 

keras-keras. 

Kraak! 

Terdengar patahnya tulang leher Ki Dukun Tambak Reso. Nyawanya ikut amblas! 

Gombong Pangestu mendorong tubuh tak bernyawa itu hingga bergelimpang di tanah lalu 

cepat-cepat menggeledah tubuh dan pakaian Ki Dukun. Di pinggang kiri Ki Dukun tokoh silat 

Istana ini menemukan kotak batu hitam Kencono Sukmo. Benda pusaka Keraton itu 

diambilnya diletakkannya di atas keningnya seraya berkata, "Terima kasih Gusti Allah. 

Dengan perkenanMu, aku berhasil mendapatkan barang pusaka ini kembali. Berarti Sri 

Baginda segera disembuhkan." 

Pada saat itulah Gombong Pangestu mendengar suara jeritan Tambakdwita yang disusul 

oleh jeritan anak perempuannya. Tanpa pikir panjang lagi sambil masih memegang kotak batu 

hitam Kencono Sukmo di tangan kanannya, orang tua ini lari menghambur ke halaman depan 

dan menyaksikan bagaimana Wiro serta Tambaksari berusaha melepaskan cekikan Pati Rono 

sementara sang ibu semakin lemas. Lidahnya sudah terjulur. Ludah membusah dan sepasangmatanya hanya tinggal putihnya saja yang kelihatan. 

Tanpa pikir panjang Gombong Pangestu angkat tangan kirinya. Lalu dengan mengerahkan 

tenaga dalam penuh batok kepala Pati Rono dihantamnya. Jangankan kepala manusia, kepala 

seekor kerbaupun pasti rengkah dan pecah dihantam pukulan itu. Tapi hebatnya, kepala Pati 

Rono tidak pecah, malah tangan kiri Gombong Pangestu terpental ke atas seperti menghantam 

karet dan persendian bahunya serasa copot. Sakitnya bukan main! 

"Ibu...lbu!" jerit Tambaksari. "Mas Pati... Lepaskan cekikanmu! Jangan membunuh ibu 

sendiri! Lepaskan cekikanmu mas...!" Akhirnya gadis ini jatuh pingsan karena kehabisan 

tenaga dan putus asa tidak mampu menyelamatkan ibunya. Saat itu karena tidak tahu harus 

berbuat apa lagi, secara tidak sadar Gombong Pangestu tusukkan ujung kotak batu hitam ke 

leher Pati Rono. Walaupun kotak batu ini tumpul, namun karena ditusukkan dengan tenaga 

luar biasa, kotak itu ambias menembus leher Pati Rono sampai setengahnya! 

Terjadilah hal yang aneh. Meskipun saat itu hari terang benderang dan matahari bersinar 

terik, namun tiba-tiba berkiblat halilintar tiga kali berturut-turut disusul oleh gelegar guntur 

yang membuat tanah bergetar keras! 

Mulut Pati Rono terbuka tebar-lebar. Lalu terdengar jeritannya seperti lolongan srigala. 

Bersamaan dengan itu langannya yang mencekik terlepas dan terkulal kebawah. Dengan 

tangan gemetaran Gombong Pangestu cabut kotak batu hitam dari leher Pati Rono. Pada bekas 

tusukan kotak batu hitam kelihatan luka besar menganga berbentuk lubang mengerikan. Dari 

lubang ini mengalir keluar darah berwarna hitam yang menebar bau busuk luar biasa! 

Tambaksari menarik tubuh ibunya, mengguncang-guncangnya dengan keras lalu menepuk-

nepuk wajah perempuan itu sambil berseru memanggil, "Ibu... Ibu..." Namun sang ibu tidak 

menjawab, bahkan tidak mendengar lagi ratap tangis puterinya itu karena rohnya telah 

meninggalkan jazad kasarnya. Mati di tangan puteranya sendiri. Putera yang sebelumnya 

diinginkan kehidupannya kembali. Kehidupan yang membawa bencana dan malapetaka 

bahkan kematian dirinya sendiri! 


TAMAT


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive