"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Minggu, 23 Juni 2024

WIRO SABLENG EPISODE PEMBALASAN NYOMAN DWIPA

Pembalasan Nyoman Dwipa



PEMBALASAN NYOMAN DWIPA


 1 


KETIKA dia memasuki Klung-kung, kota itu 

masih diselimuti embun pagi. Kesunyian pagi 

dipecah oleh derap kaki kuda yang 

ditungganginya. Sesampainya di depan pura 

besar yang terletak dipersimpangan jalan 

seharusnya dia membelok ke kiri. Tapi karena 

hari masih terlalu pagi diputuskannya untuk 

menghangati perutnya dengan secangkir kopi 

lebih dulu di kedai yang terletak tak berapa 

jauh dari persimpangan itu. 

Meskipun hari masih pagi di dalam 

kedai sudah penuh oleh pengunjung. Laki-laki yang baru datang ini duduk di tempat yang masih lowong sementara pemilik 

kedai melayaninya. Beberapa orang tamu memandang kepadanya lalu meneruskan menyantap kue-kue atau menghirup 

minumannya. Beberapa diantara mereka meneruskan percakapan yang tadi terhenti karena kedatangan pengunjung baru ini. 

"Semarak kota Klungkung kini semakin tambah dengan kedatangannya orang baru itu," berkata seorang laki-laki sambil 

memandang pada cangkir kupinya. Umurnya kira-kira lima puluhan. 

"Sudah seminggu ini tentang penduduk baru itu saja yang dipercakapkan orang, termasuk kau." menyahut kawannya. 

"Kalau anak-anak muda yang mempercakapkannya itu bukan soal, tapi kau yang sudah tua begini, ampun . . . " Dicabutnya 

rokok kaungnya dari sela bibir lalu dihembuskannya jauh-jauh. 

Laki-laki yang pertama tertawa. Waktu tertawa ini kelihatan gigi-giginya yang cuma tinggal beberapa saja sedang kedua 

pipinya mencekung kempot. "Kau salah sahabatku. Kecantikan seorang perempuan bukan hak orang muda-muda semata untuk 

membicarakannya. Kita yang tua-tua inipun tak ada salahnya. Dan anak gadis I Krambangan itu benar-benar cantik luar biasa. 

Belum pernah aku sampai setua ini melihat yang secantik dia." 

"Apakah dia secantik bidadari?" 

"Ah sobat!" kata laki-laki tua itu sambil mengelus dadanya, "kau belum bertemu dengan dia. Nantilah .... kalau kau lihat 

anak gadisnya I Krambangan itu hem ... Kau akan menyesal karena terlalu cepat dilahirkan ke dunia ini hingga ketika dia 

muncul di Klungkung ini kau sudah jadi seorang tua renta, kakek-kakek peot macam terong rebus!" 

Beberapa orang tersenyum-senyum mendengar ucapan itu. Dan orang tua tadi meneruskan lagi kata-katanya sementara

tamu yang baru datang, sambil menikmati kopi hangatnya tidak menyia-nyiakan pula untuk memasang telinga. 

"Kau tanya apakah dia secantik bidadari. Sobat ... meski aku belum pernah lihat bidadari, tapi aku yakin mungkin dia 

lebih cantik dari bidadari di kayangan! Kau tahu, kulitnya kuning langsat, potongan tubuhnya besar diatas besar di bawah dan 

langsing di tengah-tengah. Matanya . . . hem ... pernah kau lihat bintang timur? Sepasang mata anak gadis I Krambangan itu 

lebih bagus dari bintang timur. Lehernya jenjang, pipinya selalu merah, apalagi kalau kena sinar matahari persis macam pauh di 

layang. Sepasang alisnya tebal hitam seperti semut beriring, hidungnya mancung kecil macam dasun tunggal. Dagunya seperti 

lebah bergantung ... pokoknya segala macam oerumpamaan yang diberikan orang cocok melekat pada darinya. Dan kalau dia 

tersenyum sobatku, hem ... rasa di awan kita melihatnya ..." 

"Sudahlah," memotong kawannya. "Habiskan saja kopimu. Kalau kau terus bicara tentang anak gadis I Krambangan itu 

mungkin lewat tengah hari baru kita sampai ke tempat pekerjaan!" 

Setelah kedua orang tua itu pergi, tamu tadi berpikir-pikir. Rupanya tentang kecantikan anak gadis I Krambangan itu 

sudah tersebar luas sampai ke pelosok kota Klungkung. Jangankan orang-orang muda, orang-orang tua seperti yang dua tadipun 

masih punya minat untuk membicarakannya. Dia memandang ke luar kedai. Matahari telah agak tinggi. Dihabiskannya 

kopinya dan setelah membayar harga minuman serta kue yang dimakannya orang inipun keluar dari kedai itu, menunggangi 

kudanya dengan tidak tergesa-gesa menuju ke selatan. 

Di tepi jalan seorang laki-laki separuh baya tengah mengukir sebuah patung di depan rumahnya. Penunggang kuda ini 

berhenti dan bertanya letak rumah yang tengah ditujunya. Setelah mendapat keterangan maka dia pun melanjutkan perjalanan. 

Rumah itu kecil mungil. Keseluruhan papannya baru dicat. Baru saja dia berhenti dan turun dari kudanya, pintu muka 

terbuka, seorang laki-laki berpakaian bersih keluar, ketika melihat orang yang turun dari kuda ini, orang itupun berseru 

gembira, "Made Trisna!" 

"I Krambangan!" 

"Sahabat lama! Kedatanganmu laksana dibawa oleh Dewa-dewa di Swargaloka! Bagaimana kau bisa tahu aku tirggal di 

sini?" 

"Secara kebetulan saja. Aku bertemu dengan Ida Bagus Seloka di Denpasar. Dia yang menerangkan bahwa kau pindah dan 

menetap di sini." 

"Oh⁄.." I Krambangan manngut-marggut beberapa kali. "Mari silahkan masuk sahabat. Tadinya aku hendak ke ladang. 

Tapi biar kubatalkan. Seharian ini kita akan bicara panjang lebar!" 

Kedua sahabat lama itupun naik kegatas rumah Setelah bicara panjang lebar ke barat-ke timur maka Made Trisna 

mengutarakan maksud kedatangannya yang sebenamya. 

"Sahabatku I Krambangan, di samping hendak menyambangimu disini, sebenarnya maksud kedatanganku ini membawa 

pula satu maksud yang sangat baik.hidup ...?" 

"Kau keliwat merendah, sahabat," kata Made Trisna pula seraya menggulung sebatang rokok kaung. "Kecantikan paras 

anak gadismu laksana bunga harum semerbak yang dihembuskan angin ke pelbagai penjuru. Pagi tadi sebeLum ke sini aku 

mampir di sebuah kedai. Dan kau tahu? Pagi-pagi buta begitu tamu-tamu di situ sudah bicara tentang kecantikan paras anakmu. 

Bayangkan!" 

I Krambangan mengusap-usap dagunya, memandang ke arah jalan di mana meluncur sebuah pedati menarik tumpukan 

kayu-kayu bakar. Suara klenengan sapi-sapi penarik pedati itu terdengar sepanjang jalan. 

"Walau bagaimanapun gunjingan orang di luaran tentang diri anakku, tapi Tjokorda Gde Jantra sendiri belum pernah 

bertemu muka dengan anakku. Jangan-jangan begitu lamaran kuterima, setelah bertemu tahu-tahu pemuda itu kecewa dan 

menyesal ⁄" 

"Kalau dia tak pernah melihat paras anakmu dengan mata kepala sendiri, masakan dia dan ayahnya sampai memaksaku 

agar datang kemari!" kata Made Trisna pula. 

Kembali I Krambangan menelan ludahnya. Akhirnya berkata laki-laki ini. "Beri aku waktu barang seminggu dua minggu 

untuk merundingkan hal ini bersama istriku. Aku sendiri pada dasarnya setuju, cuma bagaimanapun aku musti minta pula 

pertimbangan istriku. Di samping itu yang terpenting Tantri pun harus diberi tahu." 

Made Tisna manggut-manggut. 

"Aku yakin istrimu serta Ni Ayu Tantri menyetujui pinangan yang kusampaikan ini. Dua minggu terlalu lama sobat, biar 

aku datang minggu depan kemari untuk meminta jawabanmu. Akur..." 

"Baiklah Made. Karena istriku sudah menyiapkan hidangan pagi di dalam, marilah kita masuk." Kedua orang itu berdiri 

lalu masuk ke ruang tengah.


SEPERTI yang dikatakan Made Trisna, satu minggu kemudian dia kembali ke Klungkung menemui I Krambangan untuk 

meminta kabar atau jawaban mengenai pinangan yang disampaikannya tempo hari. Dia yakin betul I Krambangan akan 

menerima pinangan Tjokorda Gde Anyer. Begitu sampai di rumah sahabatnya itu langsung Made Krisna menanyakan 

persoalan. 

"Minumlah dulu, Made." kata I Krambangan mempersilahkan sahabatnya. Bila Made Trisna sudah meneguk minuman 

yang disuguhkan maka I Krambangan baru membuka persoalan. 

"Seperti yang kukatakan tempo hari, pada dasarnya aku bisa menerima lamaran Tjokorda GdeAnyer. Bukan saja 

menerimanya tapi malah menganggapnya itu satu penghormatan yang luar biasa mengingat dia bangsawan kaya raya mau 

mengulurkan tangan pada keluargaku bangsa rakyat jelata. Ketika kubicarakan pada istrikupun, dia terkejut dan hampir tak 

percaya. Dan seperti aku, diapun menyetujui lamaran itu. Namun setelah kuterangkan pada Tantri, kita terbentur pada satu 

persoalan, Made. Hal ini memang sudah kuduga dari semula, yaitu sejak kau mengemukakan lamaran satu minggu yang lalu 

itu." 

"Persoalan apakah yang menjadi halangan itu, I Krambangan?" tanya Made Trisna pula. 

"Dua tahun sebelum kami pindah kesini, sebenarnya Tantri telah mempunyai pilihan hati sendiri. Kau tentu mengerti 

maksud ucapanku ...." 

"Maksudmu Tantri telah mempunyai kekasih?" 

I Krambangan mengangguk. "Mereka saling mencinta dan sudah punya rencana untuk menikah sesudah Hari Raya 

Galungan beberapa bulan dimuka. Meski aku orang tuanya, tapi kau tentu dapat memaklumi Made, bagaimana aku tak bisa 

memaksa Tantri untuk memutuskan hubungannya dengan itu pemuda yang dicintainya. Terlalu besar dosanya memutuskan tali 

kasih seseorang. Aku kawatir tak akan dirakhmati Dewa-dewa lagi jika aku berani memutuskan hubungan kasih anakku." 

Lama Made Trisna termenung. Kemudian berkatalah laki-laki ini, "Kau terlalu banyak kawatir, sahabatku. Masakan Dewa-

dewa di kayangan tidak akan merakhmatimu. Bukankah dengan menikahkan Tantri dengan Tjokorda Gde Jantra berarti kita 

membuat satu kebajikan dan pahala besar?" 

"Itu betul Made. Tapi bagaimana dayaku untuk memutus hubungan Tantri dengan pemuda yang dikasihinya? Aku sebagai 

orang tua benar-benar tidak tega . . . " 

"Apakah kau sudah terangkan padanya bahwa yang melamar adalah Tjokorda Gde Anyer? Apakah kau terangkan pula 

orang yang bagaimana adanya bangsawan kaya raya itu?" 

"Sudah." jawab I Krambangan, "semuanya sudah. Bahkan kubujuk pula anak itu untuk mau menerima lamaran tersebut.Tapi sia-sia belaka, Made." 

Untuk kedua kalinya Made Trisna termenung. 

Setelah saling berdiam diri beberapa lamanya kemudian bertanyalah Made Trisna, "Apakah kau tak melihat cara atau jalan 

lain agar Tantri menyetujui perjodohannya dengan Tjokorda Gde Jantra?" 

"Sudah kutempuh berbagai cara Made. Agaknya memang sukar melembutkan hati yang sudah diberikan pada seorang lain 

yang dikasihi. Kita harus maklum itu karena kitapun pernah muda ..."' 

"Sebagai orang tua, apakah kau tidak merasa itu merupakan satu keingkaran? Menyatakan bagaimana anakmu tidak 

berbakti padamu ...?" 

I Krambangan menggigit bibirnya. Pertanyaan itu merupakan satu pukulan baginya. Tapi dia tersenyum sewaktu 

menjawab, "Meski aku orang tuanya. Made, tapi aku juga bisa melihat sampai batas-batas mana seorang tua bisa mencampuri 

urusan pribadi anaknya. Penolakan yang dikemukakan Tantri bukan kuanggap sebagai satu keingkaran atau satu kenyataan 

bahwa dia tidak berbakti terhadapku. Kurasa siapa saja mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya mengenai. urusan 

pribadinya. Apalagi urusan yang menyangkut masa depan. Kukatakan aku dan istriku menyetujui lamaran Tjokorda Gde Anyer. 

Tapi kita musti sadar pula bahwa bukan aku atau istriku atau kau atau juga Tjokorda Gde Anyer yang akan dijodohkan dan 

akan menempuh hidup baru berumah tangga itu, tapi Tantri." 

"Betul, betul sekali." sahut Made Trisna cepat-cepat karena kata-kata I Krambangan itu menggejolakkan hatinya. "Betul 

sekali apa yang kau katakan itu, sahabat. Tapi kita musti pula menyadari, dunia ini masih belum terbalik. Kita orang-orang tua 

mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara anak kita dan kalau sudah besar membuat dia berbakti pada kita, mengikuti 

apa mau kita karena niscaya orang tua itu tak ada yang berniat mencelakakan anaknya. Dunia masih belum terbalik sahabatku. 

Masakan kita orang-orang tua musti mengikuti maunya anak kita, justru anaklah yang harus patuh dan mengikuti kemauan 

orang tuanya!" 

"Menyesal sekali, rupanya jalan pikiran kita sedikit berbeda Made," kata I Krambangan. "Bagaimana pun aku tak merasa 

dunia ini telah terbalik hanya karena aku memberikan hak untuk menentukan kehidupan masa depan pada anakku. Dan aku 

juga menyadari bahwa memang bukan adat atau pun kebiasaan kita untuk berlaku seperti itu. Tapi harus disadari Made, dunia 

kita di masa lalu tidak sama dengan dunia orang-orang sekarang. Dunia orang-orang sekarang tak sama pula dengan dunia 

orang-orang di masa nanti. Segala sesuatunya harus tunduk pada keadaan dan kehendaknya jaman . . . " 

"Dimana orang tua-tua tidak mempunyai daya apa-apa lagi terhadap anaknya? Dimana anak-anak sanggup mengatur 

orang tuanya dan bukan orang tuanya yang mengatur diri mereka? Sungguh lucu jaIan pikiranmu. Jika memang itu 

pendirianmu, memang sungguh berbeda jalan pikiran kita sahabat. Dan adalah sangat disayangkan kalau kau sampai mau 

menolak lamaran Tjokorda Gde Anyer. Kau tahu, I Krambangan. Jika perjodohan ini jadi, kau sekeluarga akan dibuatkan 

sebuah rumah gedung dan disuruh pindah ke Denpasar. Tentang kehidupan masa tuamu tak perlu memikirkan, kau hanyaongkang-ongkang kaki saja karena semua keperluan dijamin oleh Tjokorda Gde Anyer. Tentang anakmu ... dia akan hidup 

bahagia bersama Tjokorda Gde Djantra!" 

"Memang sudah kubayangkan betapa kebahagiaan akan menyelimuti bila Tantri nikah dengan anak Tjokorda Gde Anyer. 

Tapi aku tak punya daya untuk memaksa Tantri." 

Made Trisna menjadi putus asa dan penasaran sekali pada sahabatnya itu. "Kalau aku boleh bertanya," katanya, "siapa 

gerangan pemuda yang dikasihi oleh anakmu itu? Apakah dia tampan gagah, anak orang bangsawan tinggi, punya sawah ladang 

berhektar-hektar, punya ternak berkandang-kandang dan punya harta bergudang-gudang, hingga mata dan hati anakmu tak 

dapat dialihkan kepada yang lain lagi?" 

"Pemuda itu bernama Nyoman Dwipa. Dia tinggal di desa Jangersari dan agaknya bagi Tantri, sawah ladang atau ternak 

atau harta kekayaan itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan nilai kasih sayang yang dipadunya dengan Nyoman Dwipa." 

Rasa putus asa dan penasaran yang menggelorai hati Made Trisna lama-lama berubah menjadi kejengkelan dan rasa muak 

yang akhirnya berubah pula menjadi rasa benci terhadap sahabat lamanya itu. Dianggapnya I Krambangan keterlaluan tolol! 

"Baiklah I Krambangan," kata Made Trisna seraya berdiri, "kalau begitu putusanmu memang tak bisa aku memaksa. Tapi 

terus terang kukatakan bahwa sebagai manusia hidup kau terlalu bodoh untuk tidak mau menerima lamaran Tjokorda Gde 

Anyer." 

"Terserahlah kau mau bilang apa, sahabatku," jawab I Krambangan dengan pelahan. "Mungkin aku memang orang tolol. 

Tapi aku yakin dalam ketololan itu aku berpijak pada kebenaran dan hak pribadi yang tak bisa diganggu gugat!" 

Made Trisna memacu kudanya dengan kencang. Hatinya mencaci maki habis-habisan I Krambangan! 

*** 

Denpasar sebuah kota besar dan bagus di pulau Bali. Beberapa buah pura besar yang sangat indah bangunannya terdapat 

di sana. Di tengah-tengah kota terdapat sebuah gedung besar yang atapnya berbentuk candi. Tak ada satu orangpun di Denpasar 

yang tidak tahu siapa pemilik gedung bagus dan besar itu. Bahkan penduduk yang tinggal di pinggiran kotapun tahu bahwa itu 

adalah gedung kediaman bangsawan kaya raya Tjokorda Gde Anyer. 

Waktu itu hari telah rembang petang ketika Made Trisna dan kudanya sampai di pintu gerbang gedung, langsung masuk 

ke halaman dalam, dan menemui Tjokorda Gde Anyer. Sebelum dia membuka pembicaraan, Tjokorda Gde Djantra sudah 

muncul pula hingga dapatlah ia memberi keterangan sekaligus pada kedua beranak itu. 

Betapa terkejutnya bangsawan dan anak tunggalnya itu tatkala mendengar penuturan Made Trisna, tatkala mengetahui 

bahwa lamaran mereka ditolak oleh I Krambangan. Tak perduli alasan apapun yang dikemukakan I Krambangan, yang nyata 

ini adalah merupakan satu penghinaan besarongkang-ongkang kaki saja karena semua keperluan dijamin oleh Tjokorda Gde Anyer. Tentang anakmu ... dia akan hidup 

bahagia bersama Tjokorda Gde Djantra!" 

"Memang sudah kubayangkan betapa kebahagiaan akan menyelimuti bila Tantri nikah dengan anak Tjokorda Gde Anyer. 

Tapi aku tak punya daya untuk memaksa Tantri." 

Made Trisna menjadi putus asa dan penasaran sekali pada sahabatnya itu. "Kalau aku boleh bertanya," katanya, "siapa 

gerangan pemuda yang dikasihi oleh anakmu itu? Apakah dia tampan gagah, anak orang bangsawan tinggi, punya sawah ladang 

berhektar-hektar, punya ternak berkandang-kandang dan punya harta bergudang-gudang, hingga mata dan hati anakmu tak 

dapat dialihkan kepada yang lain lagi?" 

"Pemuda itu bernama Nyoman Dwipa. Dia tinggal di desa Jangersari dan agaknya bagi Tantri, sawah ladang atau ternak 

atau harta kekayaan itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan nilai kasih sayang yang dipadunya dengan Nyoman Dwipa." 

Rasa putus asa dan penasaran yang menggelorai hati Made Trisna lama-lama berubah menjadi kejengkelan dan rasa muak 

yang akhirnya berubah pula menjadi rasa benci terhadap sahabat lamanya itu. Dianggapnya I Krambangan keterlaluan tolol! 

"Baiklah I Krambangan," kata Made Trisna seraya berdiri, "kalau begitu putusanmu memang tak bisa aku memaksa. Tapi 

terus terang kukatakan bahwa sebagai manusia hidup kau terlalu bodoh untuk tidak mau menerima lamaran Tjokorda Gde 

Anyer." 

"Terserahlah kau mau bilang apa, sahabatku," jawab I Krambangan dengan pelahan. "Mungkin aku memang orang tolol. 

Tapi aku yakin dalam ketololan itu aku berpijak pada kebenaran dan hak pribadi yang tak bisa diganggu gugat!" 

Made Trisna memacu kudanya dengan kencang. Hatinya mencaci maki habis-habisan I Krambangan! 

*** 

Denpasar sebuah kota besar dan bagus di pulau Bali. Beberapa buah pura besar yang sangat indah bangunannya terdapat 

di sana. Di tengah-tengah kota terdapat sebuah gedung besar yang atapnya berbentuk candi. Tak ada satu orangpun di Denpasar 

yang tidak tahu siapa pemilik gedung bagus dan besar itu. Bahkan penduduk yang tinggal di pinggiran kotapun tahu bahwa itu 

adalah gedung kediaman bangsawan kaya raya Tjokorda Gde Anyer. 

Waktu itu hari telah rembang petang ketika Made Trisna dan kudanya sampai di pintu gerbang gedung, langsung masuk 

ke halaman dalam, dan menemui Tjokorda Gde Anyer. Sebelum dia membuka pembicaraan, Tjokorda Gde Djantra sudah 

muncul pula hingga dapatlah ia memberi keterangan sekaligus pada kedua beranak itu. 

Betapa terkejutnya bangsawan dan anak tunggalnya itu tatkala mendengar penuturan Made Trisna, tatkala mengetahui 

bahwa lamaran mereka ditolak oleh I Krambangan. Tak perduli alasan apapun yang dikemukakan I Krambangan, yang nyata 

ini adalah merupakan satu penghinaan besar!"I Krambangan manusia tak tahu diri! Tak tahu diuntung!" maki Tjokorda Gde Anyer. Lalu dia berpaling pada anaknya 

dan berkata, "Sudah, kau cari saja gadis lain! Di Denpasar ini, di pulau Bali ini ada ratusan gadis-gadis yang jauh lebih cantik 

dari anaknya si Krambangan itu, yang turunan bangsawan terpandang, kaya raya!" 

Tjokorda Gde Djantra termanggu beberapa lamanya. Mukanya yang senantiasa pucat macam orang mau mati besok, saat 

itu kelihatan makin tambah pucat! Seperti ayahnya, pemuda inipun merasa terhina. Tapi hatinya benar-benar sudah terpaku 

pada gadis itu hingga tak mungkin baginya untuk mencari lain gadis seperti yang dikatakan ayahnya. 

"Kita sudah diberi malu Djantra!" berkata Tjokorda Gde Anyer. "Kuharap kau jangan memberi malu yang kedua kalinya. 

"Tapi ayah aku tak sanggup hidup bersama gadis lain." 

"Kenapa tidak sanggup? Sepuluh gadis yang lebih cantik dari si Tantri itu bisa kau ambil jadi istri sekaligus!" 

Tjokorda Gde Djantra berdiri dari kursinya. 

"Walau bagaimanapun aku musti dapatkan gadis itu, ayah. Tidak dengan cara baik-baik dengan jalan burukpun bisa. Rasa 

malu yang kita terima akan kubalas malam ini juga!" Tjokorda Gde Djantra lantas berlalu dari situ. 

Tjokorda Gde Anyer dan Made Trisna saling berpandangan. Kedua orang ini sudah bisa menduga apa yang bakal 

dilakukan oleh Tjokorda Gde Djantra. Dan berkatalah Made Trisna, "Kalau betul itu hendak dilakukan oleh Tjokorda Gde 

Djantra, kurasa tak ada salahnya. Itu sudah menjadi adat kebiasaan kita di sini."


HARI itu sejak petang lingkungan langit di ataskota Klungkung diselimuti kemendungan. Gumpalan awan hitam datang 

bergulung-gulung tiada hentinya dari arah barat. Menjelang senja angin keras mulai bertiup, menerbangkan debu di segala 

pelosok, membuat kota tenggelam dalam udara pengap. Tepat sewaktu sang surya lenyap di ufuk barat maka hujan deraspun 

turunlah. Suaranya menggemuruh ditimpal oleh deru angin. Setiap telinga yang mendengarnya merasa ngeri. Sekali-sekali 

menggelegar guntur, berkelebat kilat. Dalam tempo yang singkat parit dan selokan di seluruh kota telah luber oleh air hujan, 

sungai-sungai kecil banjir menerpa segala apa saja yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang hujan itu mereda sebentar lalu turun 

lagi dengan lebih lebat. Dinginnya udara seperti merembas dan mencucuk sampal ke tulang-tulang sungsum! 

Dalam lebatnya curahan hujan, dalam kerasnya deru angin dan dalam gelapnya suasana malam yang sangat dingin itu, 

dari jurusan timur laksana bayangan setan, kelihatanlah empat penunggang kuda memasuki Klungkung. Sesampainya di 

persimpangan jalan di depan pura, keempatnya membelok ke kiri tanpa mengurangi kecepatan kuda masing-masing. Air hujan 

dan lumpur bercipratan di belakang kaki-kaki ke empat binatang itu. 

Hampir mencapai ujung jalan, salah seorang penunggang kuda menunjuk ke depan dan berkata, "Yang itu rumahnya! 

Pergilah, aku menunggu di sini." 

Tiga penunggang kuda lainnya segera mengeluarkan sapu tangan-sapu tangan besar yang berwarna hitam dan menutupi 

paras mereka dengan sapu tangan itu sebatas mata ke bawah kemudian ketiganya segera bergerak ke rumah kecil yang ditunjuk 

tadi. 

Seperti keadaan rumah-rumah di sekitarnya, rumah yang mereka tuju inipun sunyi senyap, tak satu lampupun yang 

menyala tanda seluruh penghuninya telah tidur nyenyak dalam kehangatan selimut masing-masing. 

Ketiga orang itu turun dari kuda. Setelah meneliti keadaan sekeliling mereka langsung ketiganya menuju ke pintu depan. 

Dengan mempergunakan sebuah alat, pintu yang terkunci berhasil dibuka. Hampir tanpa suara sedikitpun ketiga orang itu 

masuk ke dalam rumah. Mata mereka terpentang lebar-lebar dalam kegelapan. Selangkah demi selangkah ketiganya bergerak. 

"Kurasa yang ini kamarnya," berbisik salah seorang dari yang tiga lalu mendahului kawan-kawannya maju ke pintu dan 

mengintai. Di dalam kamar gelapnya bukan main, tapi matanya yang tajam sanggup juga melihat sesosok tubuh yang terbaring 

bergelung diatas tempat tidur. 

"Biar aku yang masuk," berkata laki-laki bertubuh kurus. Didorongnya daun pintu. Pintu itu mengeluarkan suara 

berkereketan tapi suara ini tertelan oleh suara hembusan angin deras dan hujan lebat. Dengan dua jari tangan terpentang lurus 

siap untuk menotok, laki-laki berbadan kurus ini melangkah mendekati tempat tidur. 

Tiba-tiba orang yang tidur di atas pembaringan menbalikkan badannya, selimut yang menutupi sebagian wajahnyaterbuka dan ketika dia bangun dengan cepat orang ini segera membentak, "Siapa kau?!" 

"Keparat! Bukan dia!" rutuk laki-laki yang mukanya tertutup kain hitam sementara dua orang kawannya yang berdiri di 

ambang pintu berjaga-jaga juga terkejut sekali. Tadinya mereka menyangka orang yang tidur di atas pembaringan itu adalah Ni 

Ayu Tantri, gadis yang hendak mereka culik. Tapi suara bentakan itu nyata sekali suara laki-laki! Tak dapat tidak yang tidur di

situ adalah ayah dari gadis itu! 

"Maling rendah! Kau berani masuk ke dalam rumahku!" terdengar lagi bentakan. Itu adalah suara bentakannya I 

Krambangan yang menyangka manusia yang masuk ke dalam kamar itu adalah maling! Segera laki-laki itu melompat 

menyambar sebilah parang yang tersisip di dinding. Namun sebelum tangannya mencapai senjata itu satu pukulan menyambar 

dari samping! 

I Krambangan dulunya adalah seorang bekas kepala prajurit kerajaan, dengan sendirinya memiliki ilmu silat yang cukup 

bisa diandalkan, apalagi kalau cuma menghadapi seorang maling! Mendapat serangan itu dengan cepat dia melompat ke 

samping, berkelit dan menyusupkan satu tendangan ke dada lawan! 

Tapi yang dihadapi I Krambangan bukan "maling biasa". "Maling" itupun ternyata memiliki ilmu silat yang lihay. Dengan 

mudahnya dia mengelakkan serangan I Krambangan lalu berkelebat cepat dan "buk". Tahu-tahu jotosannya melanda dada I 

Krambangan. 

Orang tua itu mengeluh tinggi. Tubuhnya terhempas ke dinding. Nafasnya sesak dan dadanya sakit bukan main. Tapi 

karena dia tersandar ke dinding dengan sendirinya dia mempunyai kesempatan baik untuk menyambar parang. Cuma dia 

masih kurang cepat. Sebelum tangannya berhasil menyentuh benda itu dari kiri kanan dua pasang tangan yang kuat-kuat telah 

mencekal kedua lengannya. Dia coba berontak tapi tak berhasil. Sesaat kemudian satu pukulan yang amat keras mendarat di 

keningnya. I Krambangan coba mempertahankan diri berusaha agar tidak jatuh pingsan. Tapi pukulan itu terlalu keras. 

Lututnya tertekuk dan sewaktu dua orang yang mencekalnya melepaskannya, laki-laki ini terhempas ke lantai tanpa sadarkan 

diri! 

Di kamar sebelah, mendengar suara ribut-ribut itu, dua orang terbangun dari tidur masing-masing. Mereka adalah Ni Ayu 

Tantri dan ibunya. Biasanya Tantri tidur sendirian di kamar depan tapi karena malam itu ibunya diserang demam panas, si 

gadis sengaja tidur bersama sekalian untuk menjaga perempuan itu. 

"Ada apa, nak ...?" bisik Ni Warda, ibunya Tantri. 

"Seperti suara orang berkelahi, bu." jawab Tantri "Kudengar keluhan ayah ... Biar aku lihat keluar." 

Ni Warda menarik pakaian anaknya dan berkata gemetar: "Jangan, Tantri. Pasti itu orang-orang jahat. Kalau kau keluar...." 

"Tapi ayah bu," ujar Ni Ayu Tantri dengan hati cemas. Dan baru saja gadis ini berkata demikian pintu kamar itu 

terpentang lebar oleh satu tendangan keras! Ni Warda dan Ni Ayu Trisna menjerit sewaktu melihat tiga orang laki-laki 

bertutupkan kain hitam paras masing-masing, menyerbu ke dalam kamar itu!Baru saja matahari pagi tersembul di ufuk timur, seluruh Klungkung sudah heboh oleh berita yang disampaikan dari 

mulut ke mulut yaitu bahwa Ni Ayu Tantri, gadis cantik yang belum lama ini pindah bersama ayah dan ibunya telah lenyap 

diculik orang malam tadi! I Krambangan dan beberapa orang penduduk semalam-malaman itu telah berusaha mencari jejak si 

penculik, namun sia-sia belaka. Rata-rata penduduk menduga bahwa yang menculik Ni Ayu Tantri itu adalah gerombolan 

rampok yang bersarang di Bukit Jaratan karena rampok-rampok itu memang selalu mengenakan kain hitam penutup muka bila 

menjalankan kejahatannya. 

Tapi I Krambangan sendiri mempunyai dugaan lain. Bersama dua orang tetangga, dengan menunggangi kuda pagi itu dia 

berangkat menuju Denpasar. Tak sukar baginya mencari gedung kediaman Tjokorda Gde Anyer. 

Akan Tjokorda Gde Anyer ketika melihat kedatangan I Krambangan berubahlah parasnya. Tapi seseat kemudian 

bangsawan ini tertawa lebar dan berkata: "Sungguh tak disangka-sangka kedatanganmu ini, I Krambangan. Mari silahkan 

masuk." 

"Cukup kita bicara disini saja, Tjokorda Gde Anyer. . ." 

"Eh, kenapa begitu? Tak pantas sekali seorang yang bakal jadi besanku hanya berdiri ..." 

"Jangan bicara segala macam soal besan, Tjokorda Gde Anyer!" potong I Krambangan pula dengan suara keras. "Panggil 

anakmu! Aku ingin bicara dengan dia!" 

Tjokorda Gde Anyer memandang tajam-tajam pada tamunya. "Sobat lama, agaknya satu kemarahan menyelimuti dirimu. 

Bicaralah dengan tenang tak perlu kesusu. Katakan maksud kedatanganmu, dan maksudmu hendak bertemu serta bicara dengan 

anakku. Dalam pada itu kuharap kau suka masuk agar kita bisa bicara baik-baik." 

Seseorang keluar dari dalam gedung. Parasnya kusut mungkin kurang tidur. Orang ini bukan lain Made Trisna. Dia tak 

dapat menyembunyikan rasa terkejutnya sewaktu melihat I Krambangan. Namun seperti Tjokorda Gde Anyer tadi, diapun 

lantas tertawa dan menegur laki-laki itu. I Krambangan tidak perdulikan orang ini melainkan memandang menyorot pada 

Tjokorda Gde Anyer. 

"Agaknya ada sesuatu yang tidak beres, I Krambangan?!" tanya tuan rumah. 

"Ya, memang ada sesuatu yang tidak beres! Dan berat dugaanku anakmulah yang menjadi biang ketidak beresan ini!" 

"I Krambangan, tuduhanmu agaknya sangat tidak beralasan! Katakan apa yang telah terjadi sampai kau bicara begini 

rupa!" 

"Kurasa kau dan juga Made Trisna sudah tahu apa yang terjadil Aku bisa mengetahui pada pertama kali aku melihat air 

muka kalian! Tapi tak apa saat ini kalian berkura-kura dalam perahu! Suatu ketika aku akan tahu kedustaan kalian! Dengar,sesudah pinanganmu kutolak secara baik-baik kemarin, malam tadi tiga orang telah memasuki rumahku dan menculik Ni Ayu 

Trisna!" 

"Oh! Lalu saat ini hendak kau tuduhkan bahwa anakkulah yang telah menculik anak gadismu? Sungguh tuduhan yang 

sangat rendah dan tanpa bukti sama sekali!" 

"Memang tuduhanku tidak ada bukti. Tapi aku yakin bahwa anakmulah yang melakukannya! Sekarang katakan dimana 

anakmu itu?" 

"Dia tak ada di sini, I Krambangan." 

"Itu satu bukti bahwa memang anakmu ada sangkut paut dengan diculiknya Ni Ayu Trisna!" 

"Jangan menuduh sembarangan!" tukas Tjokorda Gde Anyer dengan marah. "Sekalipun lamaranku ditolak apa perlunya 

anakku menculik anakmu? Sepuluh gadis-gadis yang lebih cantik dari anakmu bisa didapat oleh Tjokorda Gde Djantra!" 

I Krambangan menyeringai. "Katakan saja di mana anakmu berada!" 

"Sejak siang kemarin dia meninggalkan rumah! Kemana perginya aku tidak tahu. Kalau kau tidak percaya silahkan tanya 

pada Made Trisna." 

"Dengar Tjokorda Gde Anyer!" kata I Krambangan dengan memandang tajam-tajam. "Jika aku mendapat bukti-bukti dan 

kenyataan bahwa anakmulah yang telah menculik anakku dan terjadi apa-apa dengan diri Ni Ayu Tantri, aku akan bunuh dia! 

Siapa saja yang berani menghalangi perbuatanku akan kusingkirkan dari muka bumi ini! Termasuk kau dan Made Trisna!" 

Habis berkata begitu I Krambangan dan dua orang kawannya memutar tubuh dan segera meninggalkan gedung itu.


DALAM hujan lebat di malam buta itu empat orang penunggang kuda meninggalkan rumah I Krambangan dengan cepat. 

Dalam waktu yang singkat keempatnya telah meninggalkan kota Klungkung. Di satu persimpangan jalan keempatnya berhenti. 

Laki-laki bertopeng kain hitam yang membawa sesosok tubuh perempuan di pangkuannya berkata pada tiga orang lainnya, 

"Kita berpisah di sini." 

"Baik Tjokorda Gde Djantra. Hati-hatilah!" sahut salah seorang dari mereka. Bersama dua orang kawannya laki-laki ini 

segera meninggalkan persimpangan itu sedang yang seorang tadi menyentakkan tali kekang kudanya dan menempuh jalan 

sebelah kanan. Dua jam lamanya laki-laki ini memacu kudanya tanpa henti. Sewaktu fajar menyingsing dia sampai di sebuah 

lereng bukit dan memperlambat lari kudanya. Sambil menunggangi kuda tak henti-hentinya dia menundukkan kepala 

memandang paras jelita dari gadis yang berada dalam keadaan pingsan di pangkuannya. Di puncak bukit laki-laki ini berhenti 

untuk melepaskan lelah sementara kuda tunggangannya menjilati air empun dan memakan rumput-rumput liar yang tumbuh 

di sekitar sana. Tak lama kemudian orang itu meneruskan perjalanannya kembali. 

Di tepi sebuah telaga berair bening yang terletak dua puluh kilo dari Klungkung dan lima belas kilo dari Denpasar 

terdapatlah sebuah pondok. Pondok ini buruk dan tak terurus. Tapi karena lantai, dinding dan atap dibuat dari kayu jati, meski 

tak terurus, keadaannya masih cukup baik untuk ditempati. 

Tjokorda Gde Djantra menghentikan kudanya di tepi telaga lalu membawa perempuan yang diculiknya ke dalam pondok, 

membaringkannya di atas sebuah tumpukan jerami kering yang dibuat demikian rupa hingga merupakan tempat tidur yang 

cukup nyaman. Dibukanya kain hitam yang menutupi parasnya. Setelah memandangi wajah gadis itu beberapa lamanya dengan 

seringai di bibir, Tjokorda Gde Djantra keluar dari pondok dan membersihkan diri dalam telaga. Tubuhnya terasa segar bila dia 

keluar dari telaga. Ketika dia masuk ke dalam pondok didapatinya gadis itu telah siuman dan duduk di tepi tempat tidur jerami 

tengah memandang berkeliling dengan perasaan takut bercampur heran. 

"Kau sudah siuman Tantri ... ?" 

Ni Ayu Tantri terkejut oleh suara teguran itu dan memandang ke arah pintu dengan cepat. Dia tak kenal dengan pemuda 

berparas pucat yang berdiri di ambang pintu itu. Tapi bila dia ingat pada peristiwa malam tadi yakinlah dia bahwa manusia ini 

pastilah salah seorang dari orang-orang jahat yang menculiknya! Cepat-cepat gadis ini berdiri. 

"Kelihatannya kau takut sekali padaku, Tantri." berkata Tjokorda Gde Djantra. 

Yang mengherankan Ni Ayu Tantri ialah karena pemuda ini mengenal namanya. Melihat kepada pakaiannya yang bagus 

kemungkinan dia seorang pemuda bangsawan! Tapi siapa dia dan mengapa telah melakukan penculikan benar-benar tak bisa 

dimengerti oleh Ni Ayu Tantri sementara rasa takutnya semakin bertambah besar detik demi detik. " 

"Siapa kau? Mengapa menculik dan membawa aku kemari?!" tanya Ni Ayu Tantri.Tjokorda Gde Djantra tersenyum. Meski suara itu bernada keras namun sedap sekali terdengar di liang telinganya. 

"Kau tak usah takut Tantri," berkata si pemuda, "kau memang tak kenal aku tapi aku kenal padamu. Kurasa namaku telah 

pernah kau dengar dalam beberapa hari belakangan ini." 

"Aku tak perduli siapa kau. Yang penting aku harus meninggalkan tempat ini dan kembali ke Klungkung dengan cepat!" 

"Kau tak akan kembali ke Klungkung Tantri," kata Tjokorda Gde Djantra. 

Ni Ayu Tantri terkejut. Rasa takut semakin mencekam dirinya. "Apa ... Aku tak akan kembali ke Klungkung?!" tanyanya. 

Tjokorda Gde Djantra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. "Kau akan kembali ke Denpasar. 

Kerumahku. Dan kita akan tinggal bersama-sama di sana sebagai suami istri yang berbahagia!" 

Pucatlah paras Ni Ayu Tantri. Kini tahulah gadis ini dengan siapa dia berhadapan. Tidak bisa tidak pastilah pemuda 

bermuka pucat ini Tjokorda Gde Djantra, anak bangsawan yang telah ditolak lamarannya satu hari yang lewat! Dan ketika 

Tantri menyadari apa maksud penculikan yang dilakukan Tjokorda Gde Djantra sesudah lamarannya ditolak itu, merindinglah 

bulu kuduk Ni Ayu Tantri! Gadis ini menjerit dan coba menerobos ke pintu. Tjokorda Gde Djantra memegang lengan gadis itu 

dan menariknya ke tengah pondok. 

"Tak ada yang harus kau takutkan Tantri," kata pemuda itu. "Seharusnya kau bergembira karena kita akan hidup 

bahagia⁄. " 

"Lepaskan aku!" teriak Tantri seraya menyentakkan lengannya. Tapi cekalan Tjokorda Gde Djantra terlalu keras dan erat 

untuk bisa dilepaskannya. 

"Duduklah dulu ditumpukan jerami itu, Tantri. Biar kita bisa bicara baik-baik ..." 

"Aku tak ingin bicara dengan kau! Perbuatan ini keji sekali! Terkutuk!" teriak Tantri. 

Tjokorda Gde Djantra tertawa pelahan. "Perbuatanku ini keji dan terkutuk?" ujarnya. "Justru perbuatan pemuda-pemuda 

Bali yang gagah dan berhati jantan! Justru hal ini dibenarkan oleh adat kebiasaan pulau Dewata ini!" 

"Lepaskan aku manusia keji! Lepaskan!" Sambil menjerit Tantri meninju dada pemuda itu berulang kali. Tjokorda Gde 

Djantra mendorong Tantri keras hingga terbaring di atas tempat tidur jerami lalu cepat-cepat dia menutup pintu dan 

memalangnya sekaligus! Perlahan-lahan dia melangkah mendekati Tantri yang menjerit-jerit dan ketakutan setengah mati. 

"Aku tak mengerti," kata Tjokorda Gde Djantra seraya rangkapkan tangan dimuka dada, "tak mengerti mengapa kau 

sampai menolak lamaranku ..." 

"Manusia keji keluarkan aku dari sini!" 

"Kudengar kau sudah mempunyai seorang kekasih, Betul?" 

"Itu bukan urusanmu! Keluarkan aku dari sini, Keluarkan!" 

"Tak ada gunanya berteriak terus-terusan. Suaramu yang bagus nanti bisa serak, Tantri." 

Ni Ayu Tantri melompat ke pintu. Namun usahanya untuk melarikan diri sia-sia saja karena untuk kedua kalinya pemudabangsawan itu berhasil mencekal lengannya dan mendorongnya kembali hingga terbanting di atas tempat tidur jerami kering. 

"Nama pemuda kekasihmu itu Nyoman Dwipa bukan?" 

Tantri tak menjawab melainkan menangis dan berteriak-teriak. 

"Dengar Tantri," berkata lagi Tjokorda Gde Djantra. "Hidup berumah tangga bersamaku pasti kau akan bahagia dan tidak 

tersia-sia. Segala keperluan hidupmu kujamin penuh." 

"Aku tak perlu semua itu! Tutup mulutmu manusia keji! Keluarkan aku dari sini!" 

"Kadang-kadang cinta itu memang membuat seorang menjadi buta dan tolol tak bisa lagi berpikiran sehat. Kau hendak 

sia-siakan hidup masa depanmu di tangan seorang pemuda desa yang tak punya apa-apa? Kau hendak sia-siakan kehidupanmu 

yang masih panjang ini hanya karena kasih sayang gilamu ...?!" 

"Diam!" jerit Ni Ayu Tantri. 

"Kekasihku memang tak punya apa-apal Tapi itu adalah seribu kali lebih baik dari pada kekejian yang kau lakukan ini! 

Menculik gadis yang tidak sudi kawin dengan kau! Cis! Kau adalah pemuda bangsawan yang paling rendah di atas dunia ini!" 

"Sesudah kau kubawa kemari, sesudah kulakukan apa-apa atas dirimu, apakah masih akan menolak nanti untuk kawin 

denganku?" tanya Tjokorda Gde Djantra pula dengan seringai mengejek. 

"Aku lebih baik bunuh diri dari pada kawin dengan kau!" jawab Ni Ayu Tantri blak-blakan! 

"Tolol sekali mau mati muda begitu rupa," ejek Tjokorda Gde Djantra lalu melangkah maju. 

"Pergi!" teriak Tantri! 

"Tantri, kau sudah dewasa. Kenapa bertingkah macam anak kecil? Dengar ... aku tak akan melakukan apa-apa atas dirimu 

jika kau bersedia menerima lamaranku." 

"Lebih baik aku kawin dengan setan dari pada dengan manusia macammu!" jawab Tantri pula seraya mundur menjauhi 

pemuda itu. 

Ucapan yang dilontarkan Ni Ayu Tantri adalah hinaan luar biasa yang tak pernah diterima pemuda bangsawan itu selama 

hidupnya. Mukanya yang senantiasa pucat pasi mendadak sontak menjadi kelam merah. Mulutnya terkatup rapat-rapat, 

rahangnya bergemeletukan. Tiba-tiba laksana seekor harimau yang kelaparan pemuda ini melompat ke muka. Kedua tangannya 

bergerak cepat. Ni Ayu Tantri Menjerit. 

"Breet! Breet ...!" 

Suara robekan pakaian terdengar beberapa kali berturut-turut. Pekik Tantri mengumandang melengking tinggi. 

Kemanapun gadis ini berusaha lari dia tak dapat menyelamatkan diri dari keganasan sepasang tangan Tjokorda Gde Djantra 

yang merobek-robek pakaiannya itu! Dalam waktu yang singkat boleh dikatakan gadis itu sudah seperti tak berpakaian lagi. 

Auratnya yang kuning langsat penuh kemulusan tersingkap di mana-mana, membuat darah di tubuh Tjokorda Gde Djantra 

laksana mendidih!"Ini kemauanmu sendiri Tantri!" desisnys. "Aku telah memberi jalan baik-baik padamu!" 

"Bunuh aku! Bunuh saja!" teriak Tantri. Suaranya sudah serak akibat menangis dan menjerit terus-terusan. 

Tjokorda Gde Djantra menyeringai macam setan muka putih. Sekali tangan kanannya mendorong ke muka, Ni Ayu 

Tantri terpelanting dan jatuh di atas tempat tidur jerami! 

"Terlalu gila kalau aku mau membunuhmu,Tantri!" kata pemuda itu dengan mata yang bersinar-sinar penuh nafsu. Ni 

Ayu Tantri tahu apa yang bakal terjadi atas dirinya. Cepat-cepat dia melompat tapi kembali tangan pemuda itu membuatnya 

jatuh tertelentang di atas tumpukan jerami! 

"Jika kau sudah tidak perawan lagi, kau tak akan bisa menolak kawin denganku, Tantri⁄" Suara Tjokorda Gde Djantra 

lebih merupakan hembusan nafas panas penuh nafsu dari pada ucapan sebenarnya yang sampai ke telinga Tantri. Gadis ini co-

ba menghantamkan salah satu lututnya ke perut si pemuda tapi Tjokorda Gde Djantra telah menghimpitnya membuat gadis itu 

tak punya daya apa-apa lagi selain dari pada menjerit parau dan merapatkan kedua pahanya sedapat mungkin! Namun sampai 

dimanakah kekuatan seorang perempuan menghadapi manusia yang laksana sudah berubah menjadi binatang buas! 

Di luar pondok hujan rintik-riptik turun. Hembusan angin dingin dan sayu. Keadaan alam ciptaan Tuhan di sekitar 

pondok itu laksana meratap menangisi apa yang telah terjadi di dalam pondok. 

Ni Ayu Tantri menggeletak di atas tumpukan jerami kering. Tubuhnya yang tak tertutup selembar benang itu tiada 

bergerak-gerak. Sejak kebuasan menimpa dirinya, gadis ini telah jatuh pingsan. 

Di lantai pondok, di samping tumpukan jerami itu, terbaring Tjokorda Gde Djantra dengan tubuh mandi keringat, 

hidung kembang kempis diburu nafas panas. Perlahan-lahan diputarnya kepalanya ke arah Ni Ayu Tantri. Betapa bagusnya 

tubuh itu. Betapa luar biasanya kenikmatan yang bisa didapatnya dari kebagusan tubuh itu. Dengan apa yang telah diper-

buatnya terhadap Ni Ayu Tantri, bagi Tjokorda Gde Djantra jelas sudah bahwa baik Tantri sendiri maupun kedua orang tuanya 

tak bakal bisa lagi menolak lamarannya tempo hari. 

Memandangi tubuh itu, lama-lama menggejolak kembali rangsangan nafsu bejat di sekujur tubuh Tjokorda Gde Djantra. 

Ketika dia bangkit dengan pelahan dilihatnya tubuh itu bergerak sedikit. Sewaktu dia berdiri, kedua mata Tantri membuka. 

Telah sadar dia rupanya dari pingsannya. Dia bangun dengan cepat, memandang pada tubuhnya sebentar lalu ketika sepasang 

matanya membentur Tjokorda Gde Djantra, dari mulut Ni Ayu Tantri keluarlah pekik yang mengerikan! Tjokorda Gde Djantra 

sendiri sampai berdiri bulu kuduknya mendengar pekik itu. Sementara dia masih termanggu-manggu antara dipagut kengerian 

dan dirasuk oleh rangsangan yang mengobari sekujur tubuhnya, tiba-tiba Ni Ayu Tantri melompat ke arah dinding kayu jati. 

"Tantri! Jangan!!" teriak Tjokorda Gde Djantra menggeledek. Dia melompat dengan sebat. Tapi nasib! Terlambat sudah! 

Kepala Ni Ayu Tantri telah membentur dinding kayu jati itu dengan amat kerasnya. Terdengar suara pecahnya batok kepala 

perempuan itu. Tubuhnya terkapar ke lantai tanpa berkutik lagi. Meski bunuh diri bukanlah satu perbuatan baik, namun Ni 

Ayu Tantri telah memperlihatkan bahwa baginya kehormatan dan kesucian diri adalah jauh lebih berharga daripada jiwanya!


DI daerah sekitar Denpasar, Gianyar dan Klungkung tiga rombongan yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang telah men-

jelajah melakukan pencarian terhadap Ni Ayu Tantri yang telah diculik itu. Rombongan pertama dipimpin oleh I Krambangan 

menyelidik daerah sekitar Denpasar. Rombongan kedua dipimpin oleh Nyoman Dwipa, kekasih Ni Ayu Tantri, menjelajahi 

daerah Gianyar dan sekitarnya. Rombongan yang terakhir dipimpin oleh Kepala Keamanan Kota Klungkung yang bernama 

I Gusti Wardana. Telah hampir satu minggu ketiga rombongan itu melakukan penyelidikan namun sia-sia belaka. Pada hari ke 

delapan I Krambangan dengan putus asa meninggalkan daerah luar kota Denpasar, kembali menuju ke Klungkung. 

Dalam perjalanan pulang ini sengaja I Krambangan menempuh daerah sebelah timur laut, menyusur rimba belantara dan 

kaki-kaki bukit. Udara panasnya bukan main karena matahari bersinar dengan terik. Sewaktu melewati sebuah kaki bukit, 

I Krambangan melihat kuda tunggangannya menggerak-gerakkan sepasang telinganya. Mulutnya yang berbusah senantiasa tak 

bisa diam sedang cuping hidungnya bergerak-gerak. I Krambangan tahu betul jika binatang itu berada dalam keadaan seperti itu, 

ini merupakan suatu tanda bahwa dia tengah membaui air segar. 

Mulanya I Krambangan tak mau perduli dengan binatang itu. Lebih cepat kembali ke Klungkung adalah lebih baik 

baginya. Siapa tahu rombongan yang dipimpin oleh Nyoman Dwipa atau I Gusti Wardana telah berhasil menemukan anak 

gadisnya. 

"I Krambangan," tiba-tiba seorang anggota rombongan yang berada di samping I Krambangan menegur. "Bagaimana kalau 

kita berhenti dulu untuk istirahat barang beberapa ketika? Kalau aku tidak salah, di sebelah sana terdapat sebuah telaga berair

jernih . . . " 

Atas ajakan ini akhirnya I Krambangan membawa rombongan ke arah telaga yang dikatakan anggota rombongan tadi. 

Semakin dekat ke arah telaga, sesuatu bau yang tidak enak semakin santar menyambar hidung setiap anggota rombongan. 

"Adakah kalian membaui sesuatu?" tanya I Krambangan. 

"Ya. Bau busuk apa ini!" jawab seorang di belakangnya sambil memandang berkeliling. 

Akhirnya rombongan itu sampai di tepi telaga. 

"Hai lihat!" seru seorang di antara mereka. "Ada pondok di tepi telaga sana!" 

Memang benar di seberang telaga kelihatan sebuah pondok kayu. Dan dari pondok inilah agaknya santar sekali 

menyambarnya bau busuk itu. I Krambangan mengernyitkan keningnya. Tiba-tiba selintas pikiran timbul di benak orang tua 

ini. Dadanya berdebar. Disentakkannya tali kekang kudanya. I Krambangan memacu binatang itu memutari telaga hingga 

akhirnya sampai di depan pondok. Laki-laki ini melompat turun dari kudanya dan lari ke pintu pondok. Pintu itu tidak 

dikunci. Ketika didorong segera terpentang lebar dengan menimbulkan suara berkeret yang membuat suasana tambah ngeri

asanya oleh I Krambangan. Begitu pintu terbuka bau busuk menerpa hidung menyesakkan pernafasan laki-laki itu. Sambil 

menutup hidung I Krambangan masuk ke dalam dan langkahnya terpaku ke lantai pondok sewaktu matanya membentur 

sesosok tubuh perempuan yang menggeletak di atas lantai. 

Hanya seketika I Krambangan terpaku ke lantai laksana patung. Bila ditelitinya paras yang rusak itu terpekiklah dia! 

"Dewa Agung!" 

I Krambangan melompat dan berlutut di samping sosok tubuh itu. Beberapa orang anggota rombongan kemudian 

memasuki pula pondok kecil itu dan semua mereka terkesiap ngeri melihat pemandangan di depan mata mereka! 

Sosok tubuh yang terhampar di lantai pondok bukan lain adalah sosok tubuh Ni Ayu Tantri yang telah jadi mayat. Selain 

tak selembar benangpun yang menutupi auratnya, tubuh itupun sangat rusak, sudah membusuk bahkan di beberapa bagian 

sudah ada yang dimakani ulat! Parasnya yang cantik jelita kini hanya merupakan satu benda yang mengerikan untuk dipandang. 

Keningnya pecah. Seluruh mukanya yang tertutup darah kental beku itu sebagiannya telah busuk. Mata kiri kanan tempat 

bersarangnya belatung-belatung yang berjalan kian kemari! 

"Dewa Agung⁄" rintih I Krambangan yang menundukkan kepala dan mencucurkan air mata karena tak sanggup 

menyaksikan keadaan anak gadisnya, "dosa apakah yang aku buat, kesalahan apakah yang dilakukan anakku hingga mengalami 

nasib begini rupa . . ?" 

Rintih atau jeritan hati itu tentu saja tidak mendapatkan jawaban. Sebaliknya di lubuk hati I Krambangan seolah-olah 

muncul sebuah titik merah yang makin lama makin besar, makin besar ... makin besar dan akhirnya berubah menjadi satu 

kobaran api yang membakar hati dan mendidihkan darah di sekujur tubuhnya! Kemarahan yang menyelimuti dirinya membuat 

tubuh laki-laki itu bergetar hebat! Rahang-rahangnya terkatup. Geraham-gerahamnya mengeluarkan suara bergemeletukan. Tiba-

tiba berteriaklah I Krambangan laksana geledek dahsyatnya, membuat semua orang yang ada di situ menjadi kaget sekali. 

"Tjokorda Gde Anyer! Ini semua gara-garamu! Ini pasti anakmu yang punya perbuatan! Demi Dewa Agung aku 

bersumpah untuk membunuh seluruh keluargamu! Akan kuhirup darah anakmu yang jahanam itu!" 

Bersarnaan dengan berakhirnya teriakan itu, di luar pondok udara tiba-tiba menjadi gelap. Langit mendung. Angin 

menderu keras. Guntur menggelegar, kilat menyambar dan hujan lebatpun_ turunlah! Keadaan seperti itu seolah-olah delapan 

penjuru jagat dan Dewa-dewa di Kahyangan telah mendengar teriak sumpah I Krambangan tadi! 

*** 

Saat itu memang musim hujan. Dalam keadaan basah kuyup I Krambangan memasuki Denpasar. Di belakangnya 

kelihatan empat orang laki-laki memacu kuda masing-masing. Sejak dari Klungkung keempat laki-laki itu telah coba 

menjernihkan hati serta pikiran I Krambangan yaitu agar laki-laki itu mencari penyelesaian menurut jalan wajar. Mereka telahmenasihatkan agar perkara tersebut diserahkan saja pada Kepala Keamanan Kota Klungkung yaitu I Gusti Wardana yang 

sampai saat itu belum kembali dalam memimpin rombongan mencari Ni Ayu Tantri. Tapi dalam keadaan kalap, dalam 

keadaan darah mendidih amarah bergejolak mana mungkin untuk memberi nasihat pada I Krambangan yang sudah seperti 

manusia kemasukan setan itu! 

Sambil menyisipkan sebilah keris pusaka almarhum kakeknya I Krambangan berkata pada tetangga-tetangga yang ada di 

hadapannya, "Nyawa dan kehormatan anak gadisku harus dibayar oleh seluruh keluarga Tjokorda Gde Anyer keparat itu! Aku 

belum puas kalau tidak dapat menghirup darah anaknya yang durjana! Kalian tak usah ikut campur! Ini adalah urusan 

pribadiku!" 

Semua orang segera maklum pasti akan terjadi peristiwa besar. Maka untuk berusaha agar jangan sampai terjadi hal-hal 

yang tak diinginkan itu, empat orang tetangga telah berangkat pula sengaja mengikuti I Krambangan ke Denpasar. 

Pintu gerbang besar rumah gedung Tjokorda Gde Anyer terkunci. Tanpa turun dari kudanya I Krambangan menggedor 

pintu itu. Tak berapa lama kemudian pintu besarpun terbuka. Seorang pelayan laki-laki memunculkan kepalanya. 

"Bangsat yang bernama Tjokorda Gde Anyer dan anaknya yang bernama keparat Tjokorda Gde Djantra itu ada di 

dalam?!" bentak I Krambangan. 

Bentakan itu mungkin tak membuat si pelayan kaget. Tapi ucapan I Krambanganlah yang menjadi terkejut. Pelayan ini 

ingat pada pesan majikannya, maka diapun berkata, 

"Sayang sekali, majikanku dan keluarganya pagi tadi telah berangkat ke Tabanan. Beliau berpesan kalau ada tamu agar 

kembali saja minggu depan." 

"Hem . . . begitu pesannya?" ujar I Krambangan. 

Pelayan itu menganggukkan kepalanya. Justru saat itu I Krambangan menggerakkan kaki kanannya, menendang dengan 

sekuat tenaga ke arah kepala pelayan itu. Didahului oleh satu jeritan kesakitan yang luar biasa, si pelayan terpelanting dan 

roboh tak sadarkan diri lagi! Dengan kaki kirinya I Krambangan menendang pintu hingga pintu itu terpentang lebar. 

Di depan tangga langkan gedung kediaman Tjokorda Gde Anyer, laki-laki ini melompat turun. Empat orang laki-laki 

lainnya melakukan hal yang sama dan berdiri di belakang I Krambangan. Setelah memandang berkeliling dengan mata yang 

merah laksana dikobari nyala api, maka berteriaklah I Krambangan. 

"Anjing busuk yang bernama Tjokorda Gde Anyer keluarlah untuk menerima mampus!" 

Tak ada jawaban I Krambangan berteriak lagi, lagi dan lagi sampai berulang-ulang! Sewaktu masih tetap tak ada jawaban 

maka menggelegaklah kemarahan laki-laki ini. Kakinya bergerak! Pot bunga buatan Cina yang besar dan terletak di langkan itu 

pecah berantakan dengan mengeluarkan suara berisik. Apapun perabotan yang ada di ruangan muka itu hancur musnah dirusak 

I Krambangan sementara empat orang kawannya tak bisa berbuat apa-apa, apalagi melarang. Mereka hanya memperhatikan saja 

dengan hati cemas.tu-satunya benda yang masih utuh di ruang depan gedung mewah itu ialah lampu minyak besar yang tergantung di 

langit-langit. I Krambangan mengambil sebuah kursi yang telah patah-patah dan melemparkan ke arah lampu! Tak ampun 

lampu itu pecah berantakan, minyaknya tumpah ke lantai! Dan pada saat itu pulalah pintu di sudut kanan terbuka. Seseorang 

memunculkan diri. 

Kemunculan orang ini disambut oleh dampratan I Krambangan, "Tikus kotor Made Trisna! Mana majikanmu si anjing 

Tjokorda Gde Anyer itu?!" 

Paras Made Trisna berubah. Matanya memandang tajam-tajam lalu katanya dengan suara lunak, "Sahabatku, I 

Krambangan." 

"Tikus kotor! Berlalu dari hadapanku, lekas panggil kau punya majikan kalau tidak ingin mampus! " 

"Apa-apaan ini sebenarnya I Krambangan? Tak ada pasal lantaran kenapa kau mengamuk di rumah orang ... ?!" 

"Keparat laknat! Anakku diculik! Dirusak kehormatannya lalu dibunuh oleh anjing kurap bernama Tjokorda Gde 

Djantra! Dan kau masih bisa bilang tak ada pasal tak ada lantaran...!" 

" Krambangan, kau jangan menuduh yang bukan-bukan!" 

"Manusia bedebah! Kau cukup pantas untuk mampus lebih dulu!" teriak I Krambangan. Sambil melompat ke muka keris 

pusaka di pinggangnya dicabut. Sesaat kemudian secarik sinar putih menderul Itulah satu tusukan cepat yang dilancarkan oleh 

I Krambangan dengan keris peraknya ke arah leher Made Trisna! 

Melihat orang benar-benar meminta nyawanya, Made Trisna cepat-cepat melompat. Serangannya yang mengenai tempat 

kosong membuat I Krambangan jadi tambah gelap. Cepat laksana kilat dia membalik. Sewaktu I Krambangan hendak melancar-

kan serangan maut untuk kedua kalinya, maka menggemalah satu teriakan lantang, 

"Tahan!" 

I Krambangan hentikan serangannya dan berpaling dengan cepat. 

"Anjing busuk! Akhirnya kau keluar juga dari persembunyianmu!" seru I Krambangan. 

Paras Tjokorda Gde Anjer mengelam. "I Krambangan!" katanya menegur, "Apa yang kau perbuat di sini benar-benar 

membuat aku terkejut!" 

I Krambangan mendengus keras. 

"Apakah hati anjingmu juga terkejut sewaktu mengetahui anakmu telah menculik dan merusak kehormatan Tantri dan 

membuhuhnya?!" 

"A ... apa?!" seru Tjokorda Gde Anyer terkejut. Dan ini adalah satu kepura-puraan. Sesungguhnya dari Made Trisna dia 

telah tahu apa yang terjadi atas diri Tantri. 

"Anjing! Kau tak perlu berpura-pura! Kalau kau tidak takut atas tanggung jawab yang harus kau pikul perlu apa kau 

memberikan pesan dusta pada pelayanmu yang terkapar di luar sana?!""Aku sedang tak enak badan. Sebab itu kuberikan pesan begitu rupa pada pe ..." 

"Sudahlah! Dihadapanku kau tak perlu bicara berpanjang lebar! Bicaralah nanti di liang kubur!" 

Habis berkata demikian I Krambangan melompat dan keris perak untuk kesekian kalinya berkiblat mencari maut! 

"I Krambangan! Lebih baik kita bicara dengan tenang dulu!" seru Tjokorda Gde Anyer. 

"Aku sudah bilang bicaralah nanti di liang kubur!" jawab I Krambangan dan serangannya makin ganas. Di serang bertubi-

tubi begitu rupa Tjokorda Gde Anyer tak bisa berdiam diri saja. Bangsawan kaya raya ini segera mencabut sebilah keris bereluk 

dua belas dari pinggangnya. Maka sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang seru! Baik Made Trisna maupun keempat 

kawan I Krambangan tak bisa mencegah atau menghentikan pertempuran itu. Akhirnya mereka cuma memperhatikan jalannya 

pertempuran dengan hati penuh kekawatiran. Pertempuran yang hebat itu sudah dapat dipastikan akan meminta salah satu 

korban jiwa! 

Bagaimanapun hebatnya serangan-serangan Krambangan pada jurus-jurus permulaan pertempuran itu namun sudah dapat 

dipastikan bahwa Tjokorda Gde Anyer bukanlah tandingannya. Bangsawan ini sewaktu terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan 

Bali sekitar dua puluh tahun yang lalu adalah seorang perwira Kerajaan yang memiliki kepandaian tinggi. Berkat bantuannya 

dan beberapa perwira lainlah kaum pemberontak berhasil ditumpas, takhta kerajaan berhasil diselamatkan. I Krambangan 

sendiri sewaktu pertumpahan darah itu terjadi hanya memegang jabatan sebagai Kepala Prajurit Kerajaan, hingga dengan 

sendirinya dari kedudukan atau pangkat itu sudah dapat ditaksir ketinggian tingkat ilmu silat masing-masing. 

Lima jurus berlalu. Serangan-serangan I Krambangan yang laksana hujan mencurah itu mulai ditanan dan dibendung oleh 

keris bereluk dua belas di tangan Tjokorda Gde Anver vang nyatanya bukanlah keris sembarangan pula! Dengan senjata itulah 

dulu kabarnya Tjokorda Gde Anyer menyelamatkan Kerajaan Bali! 

Pada jurus kesembilan, dalam satu serangan yang sangat kalap dan membahayakan dirinya sendiri, I Krambangan berhasil 

melukai bahu kiri lawannya Tjokorda Gde Anyer jadi naik pitam. Kalau tadi dia cuma bertahan dan menunggu kesempatan 

untuk merampas senjata lawan maka kini diapun tak mau main-main lagi. Keris ditangannya diputar demikian rupa, gerakan-

gerakannya berubah dan dalam satu jurus saja I Krambangan menjadi dibikin sibuk! Berada dalam keadaan terdesak bukan 

membuat I Krambangan menjadi cemas sebaliknya makin naik darah. Dia sudah bertekad bulat untuk membunuh lawannya itu 

meskipun apapun yang terjadi. Maka diapun mengeluarkan segala kepandaian yang ada. 

Memasuki jurus keduapuluh sembilan I Krambangan benar-benar kalang kabut. Delapan kali saling benturan senjata 

dengan lawan telah membuat telapak tangannya pedas dan sakit. Melihat pada keadaannya dalam satu dua jurus di muka atau 

paling lama tiga jurus lagi, laki-laki ini akan menemui kekalahannya! 

"I Krambangan, kalau kau menyerah dengan baik-baik, aku bersedia untuk tidak memperpanjang urusan!" berseru 

Tjokorda Gde Anyer. 

"Seluruh keluargamu mampus dulu di tanganku baru aku mau menyerah pada mayat-mayat busuk kalianl" jawab Krambangan. 

Tjokorda Gde Anyer jadi penasaran sekali. Didahului oleh satu bentakan menggeledek dia membuka jurus ketiga puluh 

dengan satu serangan yang hebat. Serangan ini dinamakan lengan dewa merangkul awan." Mula-mula kerisnya kelihatan 

menusuk tajam ke arah batok kepala lawan. Ketika lawan menangkis, mendadak lengannya bergerak menghantem ke leher 

dalam kecepatan yang luar biasa dan sukar diduga. Mana diduga kalau serangan senjata yang dilancarkan oleh tangan kanan, 

bisa berubah dengan satu pukulan tangan kosong yang lihay! 

I Krambangan tau bahwa dia tak punya daya untuk menangkis, tak punya kesempatan untuk mengelak. Karenanya 

dengan untung-untungan laki-laki ini tusukkan kerisnya ke dada lawan. Tapi posisi Tjokorda Gde Anyer terlalu jauh untuk 

dicapai oleh tusukan itu! Bahkan baru saja tusukan meluncur setengah jalan, lengan kanan Tjokorda Gde Anyer membabat 

deras dan "krak"! Patahlah batang leher I Krambangan! Sebelum tubuhnya mencium lantai langkan, nyawanya sudah lepas! 

Kalau tadi keempat orang kawan-kawan I Krambangan hanya berdiam diri menyaksikan pertempuran itu dengan kawatir, 

kini bagaimanapun juga rasa setia kawan membuat mereka menjadi marah sewaktu melihat I Krambangan menggeletak di lantai 

tanpa nyawa, Tanpa menunggu lebih lama keempatnya menghunus keris dan menyerbu! 

Made Trisna tidak tinggal diam pula. Maka kini pecahlah pertempuran empat lawan dua yang teramat seru tapi yang juga 

berjalan duabelas jurus. Satu demi satu keempat orang itu roboh mandi darah dan mati!


DALAM melarikan kuda hitamnya laksana diburu setan itu, masih terbayang di pelupuk matanya upacara pembakaran jenazah 

Ni Ayu Tantri. Masih terbayang olehnya upacara pembakaran jenazah I Krambangan. Lalu terbayang olehnya upacara 

pembakaran jenazah I Krambangan. Lalu terbayang pula bagaimana Ni Warda, istri I Krambangan dengan segala ketabahan dan 

keberanian yang luar biasa mencebur masuk ke dalam gejolak api di mana jenazah suaminya dibakar! 

Berhenti di puncak bukit itu dikeluarkannya sebuah kotak kayu jati yang berukir-ukir dari balik pakaiannya. Sebelum abu 

pembakaran jenazah Tantri dibuang kelaut, pemuda ini telah memisahkan sebagian abu suci itu dan menyimpannya di dalam 

kotak yang indah itu. Diciumnya kotak itu dan dibisikkannya kata, "Tantri, aku bersumpah untuk membalas sakit hatimu dan 

keluargamu! Bila manusia-manusia keji itu berhasil kutumpas, akupun rela untuk menyusulmu!" 

Perlahan-lahan dimasukkannya kotak itu ke balik pakaiannya kembali. Ketika tali kekang kuda hitam hendak 

disentakkannya, matanya melihat seorang penunggang kuda keluar dari hutan, memasuki jalan kecil di kaki bukit lalu memacu 

kudanya ke arah timur. Entah karena apa timbul kesyakwasangkaan di hati pemuda di atas puncak bukit terhadap penunggang 

kuda di bawah sana. Dia memandang ke timur. Jika dia bergerak cepat, sekurang-kurangnya dia akan berhasil menyusul orang 

itu dan menunggunya di tikungan dekat jurang di sebelah timur sana! Setelah mempertimbangkan sebentar niatnya itu akhirnya 

diletakkannya tali kekang dan larilah kudanya menuju ke timur. 

Kira-kira setengah jam kemudian pemuda berkuda hitam itu sudah berada di tikungan jalan. Tikungan itu selain patah 

tajam juga berbahaya karena di sebelah kirinya terdapat jurang batu yang sangat dalam. Di balik sebuah tebing batu di tepi 

kanan jalan pemuda ini menunggu dengan sabar sampai penunggang kuda yang tadi dilihatnya lalu. 

Kira-kira lewat sepeminum teh telinga pemuda ini mulai menangkap suara derap kaki-kaki kuda di kejauhan. Makin lama 

suara itu makin jelas dan keras tanda kuda dan penunggangnya sudah tambah dekat. Ketika orang yang dihadangnya itu tinggal 

beberapa tombak saja, pemuda berkuda hitam keluar dari balik tebing batu. 

Orang yang dihadang, seorang pemuda berpakaian bagus, mula-mula tidak menaruh curiga akan kemunculan seorang 

penunggang kuda di hadapannya. Jalan yang ditempuhnya satu-satu jalan yang menghubungkan Denpasar jengan daerah luar 

kota. Jadi adalah biasa saja kalau berpapasan dengan orang lain. Namun sewaktu melihat pemuda berkuda hitam itu sengaja 

berhenti di tengah jalan maka syak wasangkalah hatinya. Pemuda berpakaian bagus itu menghentikan kudanya dalam jarak lima 

belas langkah. 

Keduanya saling pandang sejurus. Pemuda yang berpakaian bagus akhirnya membuka mulut, "Saudara, harap kau suka 

memberi jalan." 

Orang yang diajak bicara masih memandang tajam-tajam."Saudara! Apa kau tak dengar orang minta jalan!" ujar pemuda berpakaian bagus, berbadan tinggi kurus dan berwajah 

pucat pasi. Suaranya mulai keras tanda gusar. 

"Jalan ini bukan milikku! Silahkan lewat!" kata pemuda berkuda hitam tapi dia sama sekali tidak menepikan kuda 

tunggangannya! 

Melihat ini pemuda berpakaian bagus jadi penasaran dan membentak: "Siapa kau? Apa maksudmu menghadang 

perjalanan orang!!" 

Satu seringai tersungging di mulut pemuda berkuda hitam. "Akui terus terang manusia muka pucat! Kau tentu bangsatnya 

yang bernama Tjokorda Gde Djantra dari Denpasar!" 

Ucapan ini membuat pemuda berpakaian bagus menjadi kaget. Nalurinya memperingatkan agar mulai detik itu dia harus 

berhati-hati karena memang dia adalah Tjokorda Gde Djantra! 

"Katakan dulu kau siapa, baru aku menerangkan tentang diriku!" 

Sebagai jawaban pemuda berkuda hitam mencabut sebilah keris bereluk tujuh berwarna coklat tua. Sinar matahari yang 

terik membuat senjata ini berkilau memancarkan sinar kehitaman! 

"Silahkan cabut keris di pinggangmu! Aku yakin kau adalah manusia keji yang bernama Tjokorda Gde Djantra. Aku 

Nyoman Dwipa kekasih Ni Ayu Tantri! Kau harus serahkan jiwamu saat ini juga sebagai pertanggungan jawab atas apa yang 

telah kau lakukan terhadap gadisku! Juga atas apa yang telah dialami oleh I Krambangan serta empat orang kawan-kawannya!" 

Kejut Tjokorda Gde Djantra bukan alang kepalang. Tapi dia tidak gentar. Dia tertawa gelak-gelak kemudian berkata, "Jadi 

ini tampang manusia yang mengaku kekasih Ni Ayu Tantri? Ha . . . ha ... ha! Tampangmu boleh juga sobat! Tapi kalau kau 

punya rencana untuk membunuhku, kau harus berpikir tiga kali sebelum melakukannyal Apakah kau punya kepandaian yang 

bisa diandalkan? Hidungku membauimu masih bau pupuk! Sebaiknya pulang saja kembali ke desamu, cuci kaki dan tidur! 

Kalau tidak pasti terlambat sobat!" Dan Tjokorda Gde Djantra tertawa lagi terbahak-bahak! 

Nyoman Dwipa kertakkan rahang-rahangnya dan majukan kudanya beberapa langkah. 

"Tertawalah sepuasmu manusia keji. Kalau kau sudah mampus hanya setan iblislah yang akan tertawa menyambutmu di 

liang kubur!" 

Tjokorda Gde Djantra mendengus lalu berkata, 

"Aku yakin tentu kau berpikir bahwa akulah yang telah menculik dan membunuh kekasihmu itul Semua orang berpikir 

begitu! Alangkah tololnya! Sungguh kurang ajar sekali menuduh orang lain berbuat jahat tanpa punya bukti-bukti kuat dan 

nyata!" 

"Pemuda keji! Lamaranmu ditolak! Adalah cukup alasan bagimu untuk menculik Ni Ayu Tantri!" 

Tjokorda Gda Djantra kembali mendengus dan menjawab, 

"Kau kira cuma gadis itu saja yang ada di pulau Bali ini? Sepuluh gadis-gadis lebih cantik bisa kuambil sekaligus untukjadi istriku, perlu apa aku sampai menculik perempuan tak berguna dan hina dina itu!" 

"Jadi kau tidak mau mengaku bahwa kau manusia biang racun yang telah melakukan kejahatan kotor terkutuk itu!" 

"Aku katakan padamu sobat! Jangan menuduh sembarangan!" bentak Tjokorda Gde Djantra. 

Nyoman Dwipa menggerakkan tangan kirinya ke saku pakaian. Ketika tangan itu keluar lagi kelihatan memegang sebuah 

benda bundar yang ternyata adalah sebuah kancing baju yang terbuat dari perak. 

"Manusia laknat pengecutl Kancing baju ini ditemukan di pondok di tepi telaga. Kancing ini sama bentuknya dengan 

kancing pakaian yang kau kenakan saat ini! Apakah mulut busukmu masih mau mungkir!' 

Tjokorda Gde Djantra terdiam. Kancing perak itu memang kancing pakaiannya yang telah direnggut putus oleh Ni Ayu 

Tantri sewaktu dia hendak merusak kehormatan gadis itu! 

"Kau terdiam dan tampangmu tambah pucatl Sekarang bersiaplah untuk mampus!" teriak Nyoman Dwipa. Tali kekang 

disentakkannya. Kuda melompat ke muka dan keris berluk tujuh di tangan kanannya berkelebat dengan ganas, mengirimkan 

satu tusukan ke arah dada kanan Tjokorda Gde Djantra! 

"Trang!!!" 

Terdengar suara beradunya senjata sewaktu Tjokorda Gde Djantra menangkis serangan lawan dengan keris Bradjaloka 

bereluk tujuh belas. Bunga api memercik. Di atas punggung kudanya Nyoman Dwipa terkejut bukan main! Daya tangkis lawan 

kuat luar biasa hingga bukan saja tangan kanannya tergetar hebat tapi tubuhnyapun terhuyung-huyung. Kalau saja tangan 

kirinya tidak berpegang pada tali kekang kuda mungkin sekali dia terpelanting jatuh! Dan yang lebih mengejutkan serta 

membuat pemuda ini mengeluh dalam hati ialah sewaktu melihat bagaimana bagian yang tajam dari kerisnya yang cuma 

bereluk tujuh telah gompal dihantam keris lawan dalam bentrokan senjata tadi! 

Mengetahui sampai dimana tingkat kepandaian lawan maka tertawalah Tjokorda Gde Djantra berkakakan seraya 

melontarkan ejekan, 

"Manusia yang ilmunya cuma sedangkal comberan hendak jual lagak besar di hadapanku!" 

"Iblis bermuka manusia pucat!" jawab Nyoman Dwipa, "percuma aku menghadangmu kalau tidak dapat mencincang 

seluruh tubuhmu!" 

Tjokorda Gde Djantra ganda tertawa. Dia hendak menangkis lagi sewaktu Nyoman untuk kedua kalinya melancarkan 

serangan dari depan. Tapi kali ini dia tertipu. Serangan lawannya hanya pancingan belaka. Begitu Tjokorda Gde Djantra 

menggerakkan tangan untuk menangkis, keris di tangan Nyoman Dwipa berkelebat turun dan membabat ke arah perut! 

"Keparat!" maki Tjokorda Gde Djantra. Disentakkannya tali kekang kudanya hingga binatang itu melompat ke depan dan 

dengari memiringkan tubuhnya pemuda ini berhasil mengelakkan sambaran keris lawannya. Namun Nyoman Dwipa rupanya 

tidak kepalang tanggung. Dengan amat cepat pemuda ini susulkan satu tendangan kaki kanan! 

Masih untung Tjokorda Gde Djantra sempat berkelit. Tapi kuda tunggangannya bernasib sial. Tendangan Nyoman Dwipamendarat tepat di leher binatang itu. Kuda ini meringkik keras, mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ke atas dan 

membuat penunggangnya terpelanting jatuh ke tanah! 

Tjokorda Gde Djantra seorang pemuda turunan bangsawan yang telah menuntut ilmu silat dan kebatinan serta kesaktian 

pada seorang sakti di puncak Gunung Agung bernama Sorablungbung. Di pulau Bali pada masa itu terdapat tiga orang tokoh 

silat kawakan yang sangat tinggi ilmu silat dan kesaktiannya. Salah seorang di antaranya ialah Sorablungbung, kemudian 

Walalang Tjarda yang diam di Danau Batur. Karena dia sering mengembara maka jarang sekali dia berada di Danau tersebut. 

Tokoh silat ketiga bernama Menak Putuwengi. Sejak sepuluh tahun belakangan ini dua persilatan di Pulau Bali tidak 

mengetahui ke mana perginya Menak Putuwengi karena tokoh silat yang berumur 70 tahun ini lenyap begitu saja dari dunia 

persilatan, entah mengundurkan diri entah telah menemui ajalnya. Di antara ketiga tokoh silat itu Menak Putuwengilah yang 

paling tinggi ilmu kepandaiannya. Senjatanya segala benda apa saja yang berbentuk tongkat, baik beberapa helai lidi atau daun 

bambu ataupun ranting kering atau besi, bila berada di tangannya pasti akan menjadi senjata yang dahsyat. Karena itulah 

Menak Putuwengi mendapat julukan Raja Tongkat Empat Penjuru Angin. Pernah sekitar lima belas tahun yang lalu ketiga 

tokoh itu bertemu di puncak Gunung Tabanan untuk mengadakan pertandingan persahabatan, menguji ilmu kepandaian 

masing-masing. Dalam pertandingan yang sangat hebat dan dihadiri oleh tokoh-tokoh silat di Pulau Bali maka Menak 

Putuwengi keluar sebagai jago nomer satu setelah berturut-turut mengalahkan Sorablungbung dan Walalang Tjarda. Setelah lima 

belas tahun berlalu tak dapat lagi dipastikan siapa sesungguhnya yang lebih hebat karena di samping ketiga orang tokoh itu tak 

pernah lagi mengadakan pertandingan juga kabarnya Sorablungbung serta Walalang Tjarda telah memperdalam ilmu masing-

masing hingga mencapai tingkat yang sangat tinggi. Sebaliknya Manak Putuwengi lenyap begitu saja tak diketahui kemana per-

ginya! 

Sebagai salah seorang murid Sorablungbung yang pernah digembleng selama empat tahun, dengan sendirinya Tjokorda 

Gde Djantra memiliki kepandaian yang tinggi. Dan dibandingkan dengan Nyoman Dwipa yang cuma berguru pada seorang 

pertapa yang tingkat kepandaiannya jauh berada di bawah Sorablungbung dengan sendirinya Nyoman Dwipa bukan apa-apa 

bagi Tjokorda Gde Djantra. Tapi karena kurang hati-hati meski tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi Tjokorda Gde Djantra 

kena juga dihantam lawan meski kudanya yang menjadi korban! 

Tjokorda Gde Djantra terpelanting ke tanah tapi berkat ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi dia jatuh dengan kaki 

lebih dulu dan tetap berdiri. Kemarahan membuat darahnya seperti mendidih. 

"Setan alas! Kematianmu tak dapat ditawar-tawar lagi!" 

Tjokorda Gde Djantra melompat ke muka, tangan kiri kanam berkelebat cepat dalam satu jurus yang hebat! Nyoman 

Dwipa terkejut ketika melihat bagaimana kecepatan gerak lawannya membuat tubuh Tjokorda Gde Djantra laksana lenyap. Dia 

cuma merasakan sambaran angin yang deras dari kiri kanan maka cepat-cepat pemuda ini melompat turun dari kudanya. 

"Breet!""Buuk!" 

Dua suara itu terdengar hampir bersamaan. Yang pertama suara robeknya pakaian Nyoman Dwipa di sambar ujung keris 

Brajaloka sedang suara kedua ialah suara pukulan dahsyat yang menghantam kepala kuda hitam milik Nyoman Dwipa. 

Binatang ini rubuh dengan kepala pecah, melejang-lejang beberapa ketika lalu tak bergerak lagi! 

"Kudamu sudah duluan, Nyoman Dwipa! Dia akan menunggumu untuk membawa tuannya ke neraka!" ejek Tjokorda 

Gde Djantra! 

Sebenarnya sejak bentrokan senjata pertama kali tadi Nyoman Dwipa telah memaklumi bahwa tingkat kepandaian ilmu 

silat dan tenaga dalam Tjokorda Gde Djantra bukanlah lawannya. Tapi untuk membatalkan niatnya menuntut balas tentu saja 

pemuda itu tidak sudi! Lebih baik mati secara jantan dari pada lari atau menyerah secara pengecut! 

Dengan mengeluarkan bentakan yang keras Tjokorda Gde Djantra berkelebat ganas. Seperti tadi kedua tangannya bergerak 

cepat. Nyoman Dwipa bertahan mati-matian. Dalam jurus itu dia berhasil mengelakkan seluruh serangan lawan namun pada 

jurus berikutnya, satu sampokan yang bertenaga besar sekali membuat dia tak dapat lagi mempertahankan kerisnya! Senjata itu 

terlepas mental dihantam senjata lawan! 

Sambil tertawa gelak-gelak dan sambil melangkah mendekati Nyoman Dwipa yang kepepet ke tepi jurang, Tjokorda Gde 

Djantra berkata, "Kau akan segera mampus sobat! Dan kau tahu ...? Betapa mengerikannya kematian itu! Kau lihat keris 

Brajaloka yang terbuat dari emas di tanganku ini? He ... he..! Sebentar lagi sobat! Beberapa detik lagi kau akan segera pergi ke 

neraka! Ke neraka! Ha . . Ha . . ha ...!" 

Tjokorda Gde Djantra mengangkat tangan kanannya yang memegang keris tinggi-tinggi sementara dalam keadaan kepepet 

ke tepi jurang itu Nyoman Dwipa berusaha mencari jalan agar dapat menyelamatkan diri! Kalau lawan menyerang dia sudah 

nekat untuk menyerbu ke muka dengan tangan kosong, menarik tubuh Tjokorda Gde Djantra dan sama-sama menghambur 

masuk jurang! Itu adalah cara yang paling baik menurut Nyoman Dwipa asal saja dia benar-benar bisa melakukannya! 

Jarak kedua orang itu semakin pendek dan kini cuma tinggal empat langkah saja lagi. Antara Nyoman dengan tepi jurang 

di tikungan jalan itu hanya satu setengah langkah saja. Nyoman Dwipa memutuskan untuk tidak mundur lebih jauh. Dia 

menunggu dengan kedua tangan terpentang dan mata memandang tajam-tajam ke muka, menunggu kesempatan yang ada! 

Mendadak Tjokorda Gde Djantra hentikan langkahnya dan kembali dia tertawa gelak-gelak. Bila suara tertawa itu 

dihentikannya maka berkatalah dia, "Tidak! Aku tak akan membunuhmu dengan keris ini! Kau harus mati dalam kengerian 

yang luar biasa sobat! He ... he ... he, pernahkah kau memikirkan bagaimana ngerinya bila jatuh ke dalam jurang di belakangmu 

itu? Kematian menunggumu di batu-batu cadas di bawah sana, tapi selagi tubuhmu melayang menuju detik-detik kemampusan 

itu kau akan dikungkung kengerian yang luar biasa!" 

Nyoman Dwipa menggeram mendengar ucapan dan maksud Tjokorda Gde Djantra yang ganas itu. Dia tak bisa 

menunggu lebih lama! Saat itu juga dia harus bertindak! Harus menyerbu merangkul tubuh lawannya walau apapun yangterjadi! Maka tanpa menunggu lebih lama Nyoman Dwipa segera melompat ke hadapan lawannya. 

Tjokorda Gde Djantra mendengus. Dengan seringai maut tersungging di mulutnya pemuda ini memukulkan tangan 

kirinya ke depan! 

Nyoman Dwipa merasakan satu sambaran angin yang laksana badai hebatnya! Bagaimanapun dia berusaha untuk tidak 

tersapu angin dahsyat itu tapi sia-sia belaka! Tubuhnya mencelat mental sampai enam tombak untuk kemudian jatuh ke dalam 

jurang diiringi suara kumandang tertawa Tjokorda Gde Djantra.


DALAM tubuhnya melayang jatuh ke jurang batu itu Nyoman Dwipa pada mulanya memang merasa ngeri sekali! Siapa yang 

tak akan ngeri menemui ajal apalagi mengetahui bahwa ajalnya akan sampai begitu tubuhnya menghantam batu-batu cadas 

besar di dasar jurang! Namun bila dia ingat bahwa kematian yang bakal dihadapinya itu adalah kematian secara jantan, 

ditabahkannya hatinya. Dia percaya pula bahwa rohnya akan berjumpa di alam akhirat dengan roh Ni Ayu Tantri. Kalau di 

dunia mereka tak punya kesempatan untuk hidup berdampingan, moga-moga di alam akhirat hal itu akan kesampaian. 

Makin jauh ke bawah makin cepat jatuhnya tubuh pemuda itu. Di atas jurang masih mengumandang suara tertawa 

Tjokorda Gde Djantra. Betapapun tabahnya hati Nyoman Dwipa namun ketika sekilas matanya memandang ke bawah jurang, 

pada batu-batu besar yang cuma tinggal beberapa tombak lagi untuk menghancurkan kepala dan tulang-tulang ditubuhnya, 

Nyoman Dwipa jatuh pingsan! 

Tapi dalam kehidupan ini kerap kali kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan bahwa sebelum ajal berpantang mati. Hal 

itu pulalah yang terjadi dengan diri Nyoman Dwipa. 

Sewaktu tubuh pemuda itu hanya tinggal enam tombak saja lagi dari permukaan sebuah batu cadas yang sangat besar 

berkelebatlah satu bayangan putih yang dibarengi dengan suara seruan, "Dewa Agung ⁄!!" 

Yang berseru ini adalah seorang kakek-kakek tua renta berpakaian putih. Rambutnya yang panjang terurai macam rambut 

perempuan, janggutnya yang menjela dada serta kumis bahkan kedua alisnya berwarna putih bersih macam kapas. Meski 

umurnya sudah lebih dari 70 tahun tapi kakek-kakek ini memiliki tubuh yang masih kekar dan kegesitan yang luar biasa. 

Sewaktu dia melinat sesosok tubuh melayang jatuh ke dalam jurang kejutnya bukan alang kepalang. Dia tidak tahu apakah 

manusia yang jatuh itu masih hidup atau sudah mati. Meski demikian kakek-kakek ini segera mengangkat kedua tangannya dan 

mendorong ke atas! 

Satu gelombang angin padat bertiup memapasi tubuh Nyoman Dwipa. Untuk beberapa detik tubuh pemuda itu tertahan 

di awang-awang. Untuk mengurangi kekuatan jatuh tubuh pemuda itu si orang tua menggerakkan kedua tangannya ke kanan. 

Tubuh Nyoman Dwipa terpelanting ke kanan lalu didorong lagi ke atas dan ketika jatuh kembali ke bawah orang tua itu 

menyambutnya dengan kedua tangan! Sungguh luar biasa apa yang dilakukan orang tua ini. 

Tubuh Nyoman Dwipa dipanggul di atas bahu kanan dan sekali berkelebat orang tua itu sudah lenyap dari pemandangan. 

Si orang tua membawa Nyoman Dwipa ke dalam sebuah goa batu dan setelah diperiksa ternyata pemuda itu masih bernafas. 

Kakek-kakek ini mengurut dada dan kening Nyoman Dwipa beberapa kali hingga akhirnya pemuda itu sadar dari pingsannya. 

Setelah membuka kedua matanyaı Nyoman Dwipa kemudian memandang berkeliling. Sekelilingnya ruangan batu yang 

bersih. Apakah aku sudah berada di alam baka, pikir pemuda ini. Tapi bila matanya membentur tubuh dan paras seorang tua

berpakaian putih-putih, berkumis dan berjanggut putih heranlah pemuda ini. Orang tua itu duduk di sebuah batu bundar di 

tengah ruangan. Kedua telapak tangannya saling dirapatkan di muka dada sedang kedua matanya terpejam. Nyatalah orang tua 

ini tengah bersemedi. 

Tapi anehnya begitu Nyoman Dwipa menyalangkan mata dan memandang terheran-heran berkeliling, tanpa membuka 

matanya si orang tua berkata: "Orang muda, kau tak usah heran. Kau berada di tempat aman." 

"Di manakah saya, bapa? Apa yang telah terjadi dan siapakah bapa ini ...?" tanya Nyoman Dwipa seraya bangun dari 

tempat tidur yang terbuat dari batu. 

Tanpa membuka kedua matanya kembali si orang tua berkata: "Kau berada di tempat yang aman orang muda. Ketika aku 

berada di dalam goa kudengar suara bentakan-bentakan yang diseling suara tertawa serta suara beradunya senjata di atas. Aku 

keluar dari goa tepat pada saat kulihat sosok tubuhmu melayang jatuh ke dasar jurang. Selanjutnya Dewa Yang Agung telah 

menyelamatkan kau dari kematian . . .". 

Kini ingatlah Nyoman Dwipa akan apa yang telah terjadi dengan dirinya. Dia bertempur dengan Tjokorda Gde Djantra 

kemudian didorong dengan satu pukulan dahsyat hingga mencelat mental dan jatuh masuk jurang! Dari ucapan si orang tua 

berambut putih meski dia tadi mengatakan bahwa Dewa Yang Agunglah yang telah menyelamatkan jiwanya tapi Nyoman 

Dwipa sadar bahwa orang tua inilah yang telah menolongnya dari renggutan maut. Segera Nyoman Dwipa turun dari tempat 

tidur batu, melangkah ke hadapan kakek-kakek itu dan berlutut seraya berkata, "Orang tua, aku Nyoman Dwipa menghaturkan 

terima kasih yang tak terhingga atas budi pertolonganmu. Semoga aku kelak bisa membalas hutang nyawa ini dan semoga Dewa 

Agung merakhmatimu. Sudilah kau memberi tahu namamu agar sewaktu-waktu aku tidak sukar mencarimu." 

Si orang tua tertawa dan menjawab, "Apalah artinya nama? Kita dilahirkan tanpa nama. Apa gunanya menyebut-nyebut 

segala hutang nyawa karena memang kita manusia ditugaskan Yang Kuasa untuk menolong sesama manusia. Orang muda, 

cobalah kaus terangkan apa yang telah terjadi atas dirimu hingga kau jatuh dari tepi jurang." 

Nyoman Dwipa lalu menuturkan pertempurannya dengan Tjokorda Gde Djantra bahkan diterangkannya juga pangkal 

sebab pertempuran itu termasuk kematian I Krambangan dan empat orang penduduk Klungkung. 

Si orang tua menghela nafas dalam dan untuk pertama kalinya dia membuka kedua matanya. Mata itu sipit sekali macam 

mata orang Tiongkok tapi menyorotkan sinar yang tajam penuh wibawa! 

"Cinta itu pada dasarnya adalah sesuatu yang suci. Tapi nafsu selalu membuatnya menjadi hal yang kotor. Seringkali 

menusia buta karena cinta, karena kecantikan paras perempuan. Kalau sudah begitu segala sesuatunya yang keji dan kotor bisa 

terjadi hingga tidaklah aneh lagi kalau manusia tega membunuh manusia lain bahkan sahdara kandungnya sendiri hanya karena 

cinta." 

Nyoman Dwipa termangu diam beberapa lamanya. Kemudian katanya: "Orang tua beritahulah namamu. Sebelum 

meninggalkan tempat ini kuharap kau suka memberi petunjuk-petunjuk padaku."berpakaian putih-putih, berkumis dan berjanggut putih heranlah pemuda ini. Orang tua itu duduk di sebuah batu bundar di 

tengah ruangan. Kedua telapak tangannya saling dirapatkan di muka dada sedang kedua matanya terpejam. Nyatalah orang tua 

ini tengah bersemedi. 

Tapi anehnya begitu Nyoman Dwipa menyalangkan mata dan memandang terheran-heran berkeliling, tanpa membuka 

matanya si orang tua berkata: "Orang muda, kau tak usah heran. Kau berada di tempat aman." 

"Di manakah saya, bapa? Apa yang telah terjadi dan siapakah bapa ini ...?" tanya Nyoman Dwipa seraya bangun dari 

tempat tidur yang terbuat dari batu. 

Tanpa membuka kedua matanya kembali si orang tua berkata: "Kau berada di tempat yang aman orang muda. Ketika aku 

berada di dalam goa kudengar suara bentakan-bentakan yang diseling suara tertawa serta suara beradunya senjata di atas. Aku 

keluar dari goa tepat pada saat kulihat sosok tubuhmu melayang jatuh ke dasar jurang. Selanjutnya Dewa Yang Agung telah 

menyelamatkan kau dari kematian . . .". 

Kini ingatlah Nyoman Dwipa akan apa yang telah terjadi dengan dirinya. Dia bertempur dengan Tjokorda Gde Djantra 

kemudian didorong dengan satu pukulan dahsyat hingga mencelat mental dan jatuh masuk jurang! Dari ucapan si orang tua 

berambut putih meski dia tadi mengatakan bahwa Dewa Yang Agunglah yang telah menyelamatkan jiwanya tapi Nyoman 

Dwipa sadar bahwa orang tua inilah yang telah menolongnya dari renggutan maut. Segera Nyoman Dwipa turun dari tempat 

tidur batu, melangkah ke hadapan kakek-kakek itu dan berlutut seraya berkata, "Orang tua, aku Nyoman Dwipa menghaturkan 

terima kasih yang tak terhingga atas budi pertolonganmu. Semoga aku kelak bisa membalas hutang nyawa ini dan semoga Dewa 

Agung merakhmatimu. Sudilah kau memberi tahu namamu agar sewaktu-waktu aku tidak sukar mencarimu." 

Si orang tua tertawa dan menjawab, "Apalah artinya nama? Kita dilahirkan tanpa nama. Apa gunanya menyebut-nyebut 

segala hutang nyawa karena memang kita manusia ditugaskan Yang Kuasa untuk menolong sesama manusia. Orang muda, 

cobalah kaus terangkan apa yang telah terjadi atas dirimu hingga kau jatuh dari tepi jurang." 

Nyoman Dwipa lalu menuturkan pertempurannya dengan Tjokorda Gde Djantra bahkan diterangkannya juga pangkal 

sebab pertempuran itu termasuk kematian I Krambangan dan empat orang penduduk Klungkung. 

Si orang tua menghela nafas dalam dan untuk pertama kalinya dia membuka kedua matanya. Mata itu sipit sekali macam 

mata orang Tiongkok tapi menyorotkan sinar yang tajam penuh wibawa! 

"Cinta itu pada dasarnya adalah sesuatu yang suci. Tapi nafsu selalu membuatnya menjadi hal yang kotor. Seringkali 

menusia buta karena cinta, karena kecantikan paras perempuan. Kalau sudah begitu segala sesuatunya yang keji dan kotor bisa 

terjadi hingga tidaklah aneh lagi kalau manusia tega membunuh manusia lain bahkan sahdara kandungnya sendiri hanya karena 

cinta." 

Nyoman Dwipa termangu diam beberapa lamanya. Kemudian katanya: "Orang tua beritahulah namamu. Sebelum 

meninggalkan tempat ini kuharap kau suka memberi petunjuk-petunjuk padaku.""Kau hendak pergi dan kemudian melampiaskan lagi sakit hati dendam kesumatmu itu, Nyoman?" 

"Benar, orang tua." jawab Nyoman Dwipa terus terang. 

"Kau tak akan kuat menghadapi Tjckorda Gde Djantra," kata kakek-kakek itu pula secara terus terang. "Buktinya pukulan 

tangan kosongnya saja sanggup mengirimkan kau ke liang maut jika saja Dewa Agung tidak menghendaki agar kau tetap hidup. 

Kau mungkin tidak tahu siapa adanya Tjokorda Gde Djantra. Dia salah seorang murid Sorablungbung, orang tua sakti yang 

diam di puncak Gunung Agung." 

Terkejutlah Nyoman Dwipa mendengar keterangan itu. Pantas saja dia tak sanggup melawan Tjokorda Gde Djantra. Maka 

kalau diteruskannya niat untuk membalas dendam dengan tingkat kepandaian yany jauh lebih rendah pastilah akan sia-sia 

belaka dan diam-diam pemuda ini mengeluh dalam hati. Diangkatnya kepalanya yang ditundukkan dan berkata dengan 

sungguh-sungguh pada si orang tua. 

"Aku yang bodoh ini mohon petunjukmu orang tua." 

Kakek-kakek itu tertawa. Sampai saat itu Nyoman Dwipa tidak tahu dengan siapa sesungguhnya dia berhadapan. Kakek-

kakek berambut dan berjanggut putih itu bukan lain Menak Putuwengi itu tokoh silat yang paling tinggi ilmu kesaktiannya di 

antara tokoh-tokoh silat lainnya sekitar belasan tahun yang silam! 

"Aku tak bisa memberi petunjuk apa-apa padamu Nyoman," kata Menak Putuwengi pula. 

Pemuda itu merasa kecewa tapi juga heran ketika melihat dalam berkata itu si orang tua tersenyum. Dan Menak 

Putuwengi lantas berkata, "Aku cuma bisa mengajukan satu tawaran. Sudikah kau mempelajari permainan silat ilmu tongkat? 

Bukan aku sombong, dalam tempo dua-tiga bulan saja pasti kau dapat mengalahkan murid Sorablungbung itu." 

Bukan alang kepalang gembiranya hati Nyoman Dwipa. Dia menjura dalam-dalam ,dan menjawab: "Tentu saja mau. 

Kalau kau tak keberatan mulai saat ini aku akan memanggilmu guru. Sekali lagi aku mohon agar kau sudi memberitahu 

namamu, orang tua..." 

"Ah, soal namaku ..." kata Menak Putuwengi, "Sudah sejak belasan tahun dilupakan dunia persilatan di Pulau Bali ini. 

Biarlah nanti saja kuberi tahu padamu. Nah sekarang mari kita berangkat ..." 

"Berangkat kemana guru?" tanya Nyoman tak mengerti. 

"Goa ini terlalu sempit dan kurang baik untuk belajar ilmu silat. Kau lihat pedataran tinggi di sebelah, timur sana ....?" 

ujar Menak Putuwengi seraya menunduk keluar goa. "Disitu lebih cocok tempatnya." 

"Baiklah guru", jawab Nyoman Dwipa seraya bangkit dan mengikuti gurunya keluar goa. Ternyata bagian lamping kiri 

dari jurang tersebut menuju ke sebuah daerah pesawangan yang banyak ditumbuhi lalang lebat. Menak Putuwengi kelihatannya 

berjalan lenggang kangkung seenaknya. Tapi bagaimanapun Nyoman Dwipa mengerahkan ilmu larinya, tetap saja dia 

ketinggalan belasan tombak di belakang! 

Sesampainya di pedataran tinggi itu, Nyoman Dwipa tercengang-cengang melihat indahnya pemandangan disekelilingnya. 

"Kita mulai saja pelajaran permulaan", kata Menak Putuwengi. "Coba keluarkan dan perlihatkan padaku jurus-jurus ilmu 

silat yang kau miliki." 

Atas perintah gurunya itu maka Nyoman Dwipa mulai bersilat sampai dua puluh jurus. 

"Sudah . . . sudah cukup!" seru Menak Putuwengi. "Ilmu silatmu jauh dari pada lumayan. Tapi permulaan yang cukup 

baik!" Habis berkata begitu Menak Putuwengi lantas mematahkan dua buah ranting pohon. Salah satu diberikannya kepada 

Nyoman Dwipa seraya berkata, "Pertama kali ini kuberikan kau dasar-dasar ilmu tongkat. Kemudian kau harus melatih diri 

dalam tenaga dalam dan meringankan tubuh." 

Demikianlah, mulai saat itu Nyoman Dwipa digembleng oleh tokoh silat klas satu Menak Putuwengi.



BERDIRI di tepi danau yang dikeiilingi pohon-pohon besar pada siang hari yang panas terik itu membuat pemuda pengelana 

itu ingin sekali mandi merasakan kesejukan air danau. Sambil bersiul-siul pemuda ini lalu membuka pakaiannya. Sesaat 

kemudian diapun sudah mencebur masuk ke dalam air danau. Sengaja dia menyelam dalam-dalam lalu muncul lagi 

dipermukaan air danau untuk bernafas lalu menyelam lagi. Gemikian sampai beberapa kali. Pada kali yang keenarn dia 

memunculkan kepala di permukaan air danau mendadak sontak berubahlah parasnya oleh rasa kaget yang bukan aiang 

kepalang! 

Dari seluruh tepi danau dilihatnya meluncur ular hitam berbelang-belang kuning sebesar betis dan rata-rata panjangnya 

satu sampai satu setengah meter! Binatang-binatang itu dengan sangat cepat berenang ke tengah danau di mana pemuda berada! 

"Gila!" seru pemuda itu lalu kedua kakinya dihentakkan ke bawah. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya 

yang hebat dari dalam air pemuda ini sanggup melesatkan tubuhnya sampai beberapa tombak. Ketika dia berhasil melompat ke 

daratan cepat-cepat dia hendak mengambil pakaiannya! Tapi untuk kedua kalinya pemuda ini menjadi melengak kaget karena 

dari balik semak belukar, puluhan ekor ular jenis yang sama telah menyerbunya pula hingga dia tak punya kesempatan untuk 

mencapai pakaiannya! 

Dengan memaki dalam hati pemuda ini melompat ke sebuah pohon. Tapi au! Kakinyamenginjaksesuatu yang bulat dan 

licin hingga kalau saja ilmu meringankan tubuhnya tidak sempurna pastilah dia akan jatuh! Ketika dia memandang ke bawah, 

pemuda ini kertakkan rahang karena benda bulat licin yang tadi dipijaknya nyatanya adalah seekor ular hitam berbelang-belang 

kining. Dan ketika dia memandang berkeliling, seluruh pohon serta pohon-pohon di sekitar tempat itu penuh dengan ular-ular 

tersebut. Kemanapun dia mernandang, ke pohon-pohon, ke tanah dan ke danau seluruhnya penuh dengan ular! Betul-betul dia 

tak bisa mengerti dari mana datangnya puluhan bahkan ratusan binatang itu! Dari lidahnya yang bercabang dan berwarna hijau 

nyatalah bahwa ular-ular itu mengindap racun yang amat jahat. Meskipun dia kebal segala macam racun namun menyaksikan 

itu mau tak mau merinding juga bulu tengkuknya! Dan menyadari dirinya tanpa pakaian begitu rupa pemuda ini merutuk 

habis-habisan dalam hati. 

Sementara itu dia tak dapat berdiri lebih lama di cabang pohon karena sebentar saja belasan ekor ular telah menyerbunya 

pula! Tak ada tempat yang kosong lagi untuk tempat berpindah! Sambil melompat turun pemuda ini pukulkan kedua 

tangannya ke bawah! Angin deras menderu. Puluhan ular mental dan si pemuda berhasil turun di tanah yang kini kosong dari 

ular-ular itu. Tapi anehnya binatang-binatang yang kena dihantam dan dibuatnya mental tadi sama sekali tidak cedera ataru 

mati dan dalam waktu yang singkat bersama kawan-kawannya segera menyerbu pemuda itu kembali. 

Kini pemuda tersebut segera maklum bahwa binatang-binatang yang dihadapinya itu bukan ular-ular biasa. Mungkinbinatang jadi-jadian. Dan binatang apapun ular itu adanya dia musti bisa menyelamatkan diri. Tiga ekor ular hitam berbelang 

kuning berhasil melilit kakinya. Seekor diantaranya mematuk betis pemuda itu hingga menoeluarkan darah kehitaman 

bercampur racun yang tertekan ke luar akibat hawa tenaga dalam yang ada di tubuh si pemudar. Sekali dia menggerakkan tubuh 

rnaka ketiga ular itu berpelantingan. Tapi puluhan lainnya menyerbu lagi dengan dahsyat laksana air bah! 

Tidak main-main lagi kini pemuda itu pergunakan ilmu pukulan sakti yang sangat diandalkannya. Sepasang tangannya 

kelihatan putih memerah, sepuluh kuku jarinya mengeluarkan sinar yang menyilaukan! 

"Wuus! Wuuss!" 

Dua larik sinar putih yang panas menderu dahsyat! Itulah pukulan sinar matahari yang hebat luar biasa! Puluhan ekor 

ular menemui ajalnya mati terkuntung-kuntung dalam keadaan hangus! Yang masih hidup agaknya marah sekali melihat 

kematian kawankawan mereka. Binatang-binatang ini dengan mengeluarkan suara mendesis menyerbu si pemuda dan si pemuda 

menyambutinya dengan pukulan-pukulannya yang dahsyat. Binatang-binatang yang masih hidup bukannya takut tapi malah 

terus menyerbu dengan kalap sehingga pemuda yang berada dalam keadaan bertelanjang bulat itu menjadi sibuk sekali! Meski 

suasana mengerikan sekali di tempat itu, tapi melihat si pemuda mencak-mencak telanjang begitu rupa ada juga kelucuannya! 

Menurut dugaan si pemuda sudah lebih dari seratus ular yang dibunuhnya tapi yang datang menyerangnya seperti tak ads 

kurang-kurangnya malah makin lama makin banyak! Dalam pada itu ular-ular yang berjalaran di pohon dengan melilitkan ekor-

ekor mereka di cabang atau di ranting-ranting pohon, bergelantungan menyambar si pemuda hingga si pemuda bukan saja 

diserang dari bawah tapi juga dari atas! 

"Benar-benar edan!" maki pemuda itu seraya percepat melancarkan pukulan-pukulan sinar matahari ke atas dan ke bawah! 

Dalam seru-serunya pertempuran antara ular lawan manusia itu tiba-tiba terdengarlah seruan, "Sobat! Bertahanlah terus! Aku 

akan membantu!" 

Baru saja seruan itu berakhir maka disitu muncullah seorang pemuda berpakaian biru. Di tangan kanannya ads seikatan 

jerami tebal yang ujungnya dibakar. Kobaran api jerami ini membuat puluhan ular hitam berbelang kuning menjadi terbirit-

birit ketakutan. Tapi tidak semua binatang itu lari. Puluhan lainnya menyerbu pemuda baju biru ini. Si pemuda 

menghadapinya dengan tenang-tenang saja. Di tangan kiri pemuda ini ada sebatang tongkat kecil terbuat dari bambu kuning. 

Dengan memutar-mutar tongkat kecil itu maka setiap ular yang berani mendekatinya pasti akan mati dalam keadaan tubuh 

terkuntungkuntung! Hebat sekali permainan tongkat bambu kuning si pemuda hingga dalam tempo yang singkat puluhan ular 

hitam berhasil dimusnahkannya! 

"Hebat!" kata pemuda yang pertama dalam hati lalu menyambar pakaiannya, dengan cepat mengenakannya kemudian 

bersama-sama pemuda baju biru terus memusnahkan ular-ular yang mengamuk itul 

Lebih dari separoh ular hitam berbelang kuning yang ads di tempat itu telah musnah menemui kematiannya. Sementara 

itu dalam berlangsungnya pemusnahan binatang-binatang tersebut terjadilah perkenalan antara kedua pemuda."Namaku Nyoman Dwipa!" kata pemuda pakaian biru seraya sabatkan tongkat bambu kuningnya. Dua ekor ular rubuh 

dengan kepala pecah. "Darimana ular sebanyak ini! Bagaimana kau sampai diserang mereka?!" 

"Aku sedang asyik-asyikan mand!" menerangkan pemuda berpakaian putih. "Ketika menyelam dan muncul di atas'air 

danau kulihat puluhan ekor ular, entah dari mans datangnya berenang menyerangku! Sewaktu aku naik kedaratan ternyata 

puluhan binatang itu telah menungguku pula disana. Gila betul!" 

"Hai kau belum menerangkan namamu sobat!" seru pemuda baiu biru. 

"Namaku Wiro Sableng!" 

"Kau bukan penduduk sini agaknya!" 

"Betul" sahut pemuda baju putih yang bukan lain dari Pendekar 212 Wiro Sableng adanya! "Terima kasih atas 

pertolonganmu, Nyoman!" 

"Ular-ular ini benar-benar gila betul!" seru Nyoman Dwipa yang melihat bagaimana binatang itu masih terus menyerbu 

mereka dengan beraninya! "Sebaiknya mari kita tinggalkan tempat ini!" Bagaimana Nyoman Dwipa sampai berada di tempat itu 

baiklah kita tuturkan sedikit. 

Sebagaimana yang telah diceritakan, sewaktu jatuh ke dalam jurang Nyoman Dwipa telah diselamatkan oleh seorang 

kakek-kakek sakti bernama Menak Putuwengi. Orang tua ini kemudian mengambil pernuda itu menjadi muridnya. Setelah tiga 

bulan lebih menggembleng Nyoman Dwipa maka boleh dikatakan pemuda itu sudah menguasai pelajaran silat ilmu tongkat si 

kakek cuma tentu saja dia musti banyak berlatih agar mencapai tingkat kesempurnaan. Memasuki pertengahan bulan yang 

keempat Menak Putuwengi mengizinkan muridnya untuk pergi mencari orangorang yang bertanggung jawab atas kematian 

kekasihnya dan I Krambangan serta beberapa penduduk Klungkung lainnya. Menak Putuwengi juga memberi nasihet agar 

pemuda itu jangan terlalu mengikuti nafsu dendam kesumat dan kalau bisa jangan menurunkan tangan maut terhadap siapa 

pun selagi masih ada jalan penyelesaian yang baik! 

Demikianlah maka Nyoman Dwipa dengan bekal ilmu kepandaian yang dipelajarinya dari Menak Putuwengi 

meninggalkan tempat kediaman si orang sakti yang nyatanya masih hidup, jadi tidak benar seperti yang diduga dunia luaran 

bahwa kakek-kakek sakti itu telah meninggal dunia. Menak Putuwengi sebenarnya sudah jemu dengan persoalan-persoalan 

duniawi karena itulah dia mengundurkan diri dari dunia persilatan, membersihkan diri dari dosa dan kesalahan-kesalahan di 

masa mudanya serta memperdalam ilmu silat, ilmu kesaktian dan kebathinan di dalam goa di dasar jurang itu. 

Dalam perjalanannya menuju Denpasar pemuda itu sengaja melewati hutan belantara mengambil jalan singkat agar lebih 

lekas sampai ke tempat tujuan. Karena melewati rimba belantara itulah maka dia sampai bertemu dengan Pendekar 212 Wiro 

Sableng! 

Mulanya dia merasa heran dan kaget sewaktu menyaksikan seorang pemuda berambut gondrong basah kuyup dalam 

keadaan bertelanjang bulat bertempur melawan ratusan ekor ular yang sebesar-besar betis. Dilihat pada gerakan-gerakan sertaulan-pukulan yang dilancarkannya dalam memusnahkan binatang-binatang itu nyatalah dia memiliki kepandaian tinggi. 

Tapi mengapa sampai bertempur telanjang bul!at begitu rupa?! Nyoman tidak tahu bahwa sewaktu diserang, Wiro tengah mandi 

dalam danau. 

Sebenarnya Nyoman Dwipa maklum bahwa tanpa dibantupun pemuda yang bertelanjang itu pasti akan sanggup 

memusnahkan semua ular yang menyerbunya. Tapi bukankah lebih baik dia turun tangan menolong seraya mempraktekkan 

ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Menak Putuwengi? Maka setelah mengumpulkan lalang serta jerami kering dan memba-

karnya dengan tongkat bambu kuning di tangan kiri Nyoman Dwipa menyerbu ke dalam pertempuran binatang lawan manusia 

itu! 

"Wiro! Ayo kita tinggalkan tempat ini!" kata Nyoman Dwipa kembali. 

"Tunggu dulu sobat!" sahut Wiro Sableng, "aku mempunyai firasat bahwa ular-ular ini bukan binatang biasa! Mungkin 

binatang jadi-jadian, mungkin pula ada pemiliknya. Bagaimana kalau kita selidiki sama-sama?!" 

Baru saja Wiro berkata begitu maka dari dalam hutan mengumandanglah suara bentakan menggeledek! 

"Manusia-manusia kotor dari mana yang berani membunuh binatang peliharaanku?!" 

Wiro mengeluarkan suara bersiul dan berpaling pada Nyoman Dwipa. 

"Nah, apa kataku!" ujarnya.



9

BEGITU bentakan lenyap maka dari dalam hutan belantara keluarlah seorang laki-laki yang memiliki tampang dahsyat. 

Kepalanya panjang, kening menjorok ke depan sedang leher kecil singkat. Rambutnya hitam legam tapi cuma sedikit tumbuh di 

atas batok kepalanya. Kulit mukanya berwarna hitam dan berminyak hingga bila disorot sinar matahari mukanya itu jadi 

berkilat-kilatl Jika dibandingkan dengan ular, tampang manusia ini memang hampir tidak beda! Dia mengenakan pakaian 

berbentuk jubah yang terbuat keseluruhannya dari kulit u!ar. Yang dahsyatnya di lehernya melilit dua ekor ular besar yang 

sudah mati dan dikeringkan! 

Begitu sampai di hadapan Wiro Sableng serta Nyoman Dwipa dan melihat puluhan ekor ular musnah berkaparan di 

mana-mana marahlah manusia yang punya tampang macam ular itu! 

"Keparat-keparat laknat! Tentu kalian sudah bosan hidup berani membunuh binatang peliharaanku!" 

Sementara Wiro dan Nyoman masih sibuk menghadapi ular-ular hitam berbelang kuning maka manusia aneh itu telah 

menyerbu dan membagi serangan pada kedua pemuda itu! Wiro dan Nyoman kaget bukan main karena serangan si orang aneh 

sebelum sampai sudah didahului oleh sambaran angin yang sekaligus mengarah dua belas jalan darah kematian di tubuh 

pemuda-pemuda itu! Baik Wiro maupun Nyoman Dwipa cepat-cepat melompat menyelamatkan diri! 

Siapakah manusia aneh yang baru muncul dari rimba belantara dan mengaku sebagai pemelihara ular-ular yang 

menyerang kedua pemuda itu? Di Bali namanya belum dikenal karena dia seorang pendatang dari pulau Jawa yang diam-diam 

menyelusup ke pulau untuk maksud tertentu. Ki Sawer Balangnipa, demikian nama orang ini selain memiliki ilmu silat yang 

tinggi, juga telah memelihara tiga ratus ekor ular hitam belang-belang kuning yang sangat berbisa! Tentu saja dia menjadi marah

setengah mati ketika menyaksikan bagaimana dua orang pemuda tak dikenal berani membunuh binatang-binatang 

peliharaannya. Maka dengan serta merta dia melancarkan satu jurus serangan yang dahsyat yaitu yang bernama "dua raja ular 

menyerbu ke langit". Kehebatan jurus serangan ini sudah kita ketahui di muka yaitu sebelum pukulan sampai, sambaran angin 

telah mendahului menggempur dua bela: jalan darah kematian di tubuh kedua pemudal Dengan melancarkan serangan hebat 

itu Ki Sawer Balangnipa bermaksud untuk membuat pemuda-pemuda itu konyol sekaligus detik itu juga! Tapi betapa 

terkejutnya dia sewaktu menyaksikan bagaimana Wiro dan Nyoman berhasil mengelakkan dua serangannya itu! 

Ki Sawer Balangnipa mengeluarkan suara suitan keras yang menyakitkan telinga! Anehnya ular-ular yang ada di situ, 

mendengar suara suitan itu segera berserabutan lari ke dalam hutan. Ki Sawer Balangnipa berdiri dengan bertolak pinggang! 

"Kunyuk-kunyuk bermuka manusia! Nyatanya kalian memiliki ilmu yang diandalkan hingga aku tahu sampai dimana 

kelebatan kunyuk-kunyuk yang berasal dari Pulau Bali ini!" 

Nyoman Dwipa marah sekali mendengar hinaan itu. Tapi Wiro ganda tertawa dan menjawab, "Kawanku ini memangberasal dari Pulau Bali, tapi aku bukan! Soal asal tak perlu dipidatokan di sinil Tapi kalau kau memaki kami kunyuk-kunyuk 

bermuka manusia, berarti kau sama saja dengan monyet-monyet bermuka setan!". Habis berkata begitu Wiro tertawa berkakan 

hingga menggetarkan seantero tempat! Sekaligus dia hendak memperlihatkan bahwa suitan yang menyakitkan telinga dari Ki 

Sawer Balangnipa itu cukup bisa ditandinginya dengan suara tertawanyal Diam-diam Ki Sewer Balangnipa sendiri terkejut 

melihat kehebatan tenaga dalam si pemuda, tapi dia sama sekali jauh dari gentar! 

"Enam puluh tahun hidup baru hari ini ada tikus busuk yang berani menghina Ki Sawer Balangnipa!" 

"Ah, nyatanya kau juga bukan orang sini!" ujar Wiro dengan menyengir seenaknya. "Sekarang kau katakan aku tikus 

busuk, betul-betul keterlaluan! Tapi supaya kau tahu diri memang namamu sesuai dengan tampangmu macam raja ular 

penyakitan!" (Sawer = ular, bhs. Jawa, pen.) 

"Bangsat rendah! Kau benar-benar minta kubikin lumat!" 

Tubuh Ki Sawer Balangnipa berkelebat dalam satu gerakan yang hampir tak kelihatan dan tahu-tahu sepuluh jari 

tangannya sudah mencengkeram ke perut dan ke muka Pendekar 212 Wiro Sableng! Ini adalah jurus serangan yang bernama 

"sepasang cengkeram kehancuran". Sekali cengkeram itu bersarang di muka Wiro pasti muka pemuda itu akan hancur mengeri-

kan. Jika perutnya kena direnggut lima jari tangan lainnya pasti akan robek dan ususnya berserabutan keluar! Begitulah 

kehebatan jurus "sepasang cengkeram kehancuran"! 

Pendekar 212 Wino Sableng memang masih muda dalam usia tapi sudah cukup punya pengalaman dalam berbagai 

pertempuran menghadapi tokoh-tokoh silat kelas satu di pelbagai penjuru rimba persilatan! Sewaktu menerima serangan 

pertama kali dari Ki Sawer Balangnipa tadi dia sudah maklum bahwa orang tua ini bukan seorang yang bisa dibuat main. Maka 

dengan cepat pendekar kita berkelit ke samping seraya lancarkan satu tendangan kaki kanan ke arah rusuk lawan! 

Melihat dua cengkeramannya yang hebat sanggup dikelit oleh lawan Ki Sawer Balangnipa penasaran bukan main. Di lain 

pihak Wiro Sableng merasakan adanya satu ancaman yang tersembunyi sewaktu menyaksikan bagaimana tendangannya yang 

hampir menemui sasarannya itu sama sekali tidak diperdulikan oleh lawan! Mustahil manusia itu tidak mengetahui bahaya 

yang mengancam dirinya! 

Satu detik lagi kaki kanan Pendekar 212 akan mendarat dan menghancurkan tulang-tulang rusuk lawan, Pendekar 212 

Wiro Sableng yang punya firasat tidak enak mendadak sontak segera menarik pulang kakinya dan melancarkan satu pukulan 

tangan kosong yang dinamakan pukulan "kunyuk melempar buah"! 

Satu hal yang hebatpun terjadilah! 

Adalah satu keuntungan besar bagi Wiro Sableng menarik pulang tendangannya tadi karena di saat yang hampir 

bersamaan Ki Sawer Balangnipa membab)atkan tepi telapak tangan kanannya ke bawah dengan deras! Bukan saja ini satu 

pukulan tangan yang amat dahsyat tapi juga diisi dengan kekuatan sakti yang sanggup membuat batu karang paling ataspun 

bisa hancur lebur! Dapat dibayangkan bagaimana kalau pukulan itu mengenai kaki kanan Wiro Sableng! Karena pukulannya

mengenai tempat kosong dengan dendirinya angin pukulan itu terus melanda tanah! Pasir dan batu-batu berhamburan sampai 

beberapa tombak ke samping dan ke atas. Bumi bergetar dan etika Wiro memandang ke depan dilihatnya bagaimana tanah yang 

kena angin pukulan lawan berlobtang besar dan berwarna kehitaman! Diam-diam Pendekar 212 kaget juga karena sebelumnya 

tak pernah ia melihat ilmu pukulan yang begitu hebatnya! Mulai saat itu dia kerahkan tiga perempat tenaga dalamya untuk 

menghadapi lawan. Dari mulutnya terdegar suara suitan keras dan pada detik itu juga tubuhya lenyap! 

Kalau tadi Wiro yang dibikin terkejut oleh serangan hebat lawan maka kini Ki Sawer Balangnipalah yang terkejut bukan 

main! Didengamya suitan pemuda itu, lalu tubuh si pemuda lenyap dari hadapannya dan sesaat kemudian dirasakannya 

sambaran angin serangan yang tajam dari kiri kanan! 

Ki Sawer Balangnipa melompat mundur sampai lima langkah membentak keras dan maju lagi dalam satu kelebatan cepat 

menyambuti serangan Pendekar 212 Wiro Sableng! 

Nloman Dwipa yang menyaksikan pertempuran diam-diam memuji kehebatan kedua belah pihak yang bertempur. Kalau 

saja dia tidak mendapat gemblengan dari Menak Putuwengi pastilah matanya akan sakit dan kepalanya akan pusing melihat 

kelebatan-kelebatan mereka yang bertempur yang hanya merupakan bayang-bayang hitam dari jubah yang dikenakan Ki Sawer 

Balangnipa dan bayangan putih pakaian Pendekar 212 Wiro Sableng. Kini semakin terbuka mata Nyoman Dwipa bahwa di atas 

jagat ini banyak sekali terdapat tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi seperti kedua orang itu! Dan diam-diam Nyoman Dwipa 

membathin apakah tingkat kepandaian Tjokorda Gde Djantra setingkat dengan kedua orang itu. Kalau betul tentu masih bukan 

suatu hal yang mudah baginya untuk bisa mengalahkan musuh besamya itu dalam tempo sepuluh sampai duapuluh jurus! 

Nyoman Dwipa kembali memperhatikan kedua orang yang bertempur. Sementara itu telinganya mendengar lengking 

siulan yang nyaring luar biasa. Sesudah mengerahkan tenaga dalam dan menutup pendengarannya barulah rasa sakit yang 

menyamaki gendang-gendang telinganya akibat suara siutan aneh itu menjadi lenyap! Dan di muka sana dilihatnya bagaimana 

Ki Sawer Balangnipa mulai terdesak oleh serangan-serangan gencar Pendekar 212. 

Dalam jurus keempat puluh Ki Sawer Balangnipa mulai menyadari bahwa jika dia terus bertahan dalam posisi demikian 

rupa naga-naganya paling lama sepuluh jurus lagi pasti dia akan kena dihantam lawannya! Keringat telah membasahi tubuh laki-

laki ini, apalagi karena dia mengenakan jubah yang terbuat dari kulit ular yang tak tembus air! 

"Pemuda gelo! Jika kau sayang nyawa cepat cabut senjatamu!" tiba-tiba Ki Sawer Balangnipa berseru dan habis berseru 

demikian dia lepaskan dua ekor ular yang telah dikeringkan dari lehernya! Sepasang binatang yang sudah mati itu, di tangan Ki 

Sawer Balangnipa tak ubahnya kembali menjadi hidup, menyambar dan meliuk, mematuk dan menjabat ke arah Pendekar 212. 

Dari tubuh ular-ular yang sudah dikeringkan itu menghampar bau anyir yang menyesakkan rongga pernafasan sedang dan 

mulutnya yang membuka menyambar sinar hijau menggidikkan. Itulah sinar racun yang jahat sekali. Menghadapi ini Wiro 

segera tutup jalan pernafasannya dan berkelebat lebih cepat untuk menghindarkan serangan- serangan sepasang ular kering di 

tangan lawannya! Sepuluh jurus lagi berlalu. Agaknya Ki Sawer Balangnipa mulai mengeluarkan jurus-jurus ilmu silatsimpanannya kanena kelihatan sekali bagaimana permainan silatnya berubah. Tubuhnya bergerak gesit laksana seekor ular besar, 

meliuk kesana meliuk kesini! 

Pendekar 212 Wiro Sableng mulai berada di bawah angin! Jurus demi jurus dia semakin terdesak ke tepi danau membuat 

pemuda ini memaki dalam hati. 

Dia tengah berpikir-pikir untuk mulai mengeluarkan ilmu silat "orang gila" yang dipelajarinya dari Tua Gila ketika salah 

satu dari senjata di tangan Ki Sawer Balangnipa menghantam dadanya! 

Pendekar 212 menjerit keras! Tubuhnya terjerongkang ke belakang dan kecebur masuk danau! 

Dadanya sakit bukan main dan laksana hancur remuk! Pemandangannya berkunang-kunang! Untuk beberapa lamanya dia 

apungkan diri di permukaan air danau sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian yang kena dihantam lawan! 

Di lain pihak Ki Sawer Balangnipa adalah hampir tidak percaya akan apa yang disaksikannya. Seorang yang kena digebuk 

ular kering yang menjadi senjatanya, tak ampun lagi pasti akan menemui kematian dengan tubuh remuk! Tapi kenyataannya 

pemuda itu masih hidup dan mengapungkan diri di atas air danau! 

"Ki Sawer Balangnipa hadapi aku!" satu suara membentak dari samping dan Nyoman Dwipa dengn tongkat bambu 

kuningnya sudah melompat kehadapan Ki Sawer Balangnipa! 

Manusia yang punya tampang seperti ular itu menyeringai mengejek. "Bagus!" katanya, "kaupun minta digebuk! Ayo 

majulah!" 

Nyoman Dwipa bolang-balingkan tongkat bambu kuningnya. Meski tongkat itu kecil saja tapi deru angin yang keluar 

akibat putarannya deras bukan main. Sinar kuning menjulang panjang hingga diam-diam Ki Sawer Balangnipa segera maklum 

bahwa lawannya yang kedua inipun bukan orang sembarangan pula! 

"Silahkan mulai, Ki Sawer Balangnipa!" kata Nyoman Dwipa pula. Dia sudah siap dengan kuda-kuda pertahanan sambil 

membolang-balingkan tongkat kecilnya! 

"Sialan! Disuruh mulai menyerang lebih dulu malah menantang sombong!" damprat Ki Sawer Balangnipa. Dia maju satu 

langkah untuk melancarkan sebuah serangan yang dahsyat. 

Di saat pertempuran antara Nyoman Dwipa dan Ki Sawer Balangnipa hendak pecah tiba-tiba dari arah danau terdengar 

seruan keras: "Nyoman! Biar aku teruskan pertempuranku dengan manusia bermuka ular penyakitan itu!" Seruan itu disertai 

dengan melayangnya kira-kira selusin ular-ular yang telah mati ke arah Ki Sawer Balangnipa! Jika saja laki-laki itu tak lekas 

menyingkir pasti kepala dan tubuhnya akan dihantam binatang-binatang peliharaannya itu sendiri! Ki Sawer Balangnipa 

menjadi lupa terhadap Nyoman Dwipa dan membalikkan tubuh dengan cepat melompat ketepi danau. Tenaga dalam 

dikerahkan seluruhnya ke tangan kanannya dan sekali dia menyapukan ular di tangan kanannya itu, maka menderulah 

satu gelombang angin yang deras ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang mengapung di tengah danau! Air danau muncrat 

sampai setinggi delapan tombak dilanda derasnya pukulan tangan kosong tersebut tapi Wiro sendiri saat itu sudah melesatkan

tubuhnya ke tepi danau sebelah kiri. Dadanya sebenamya masih sakit tapi karena-yakin bahwa dirinya tak mengalami luka di 

dalam maka begitu sampai di daratan pemuda itu berseru lantang, "Muka ular! Terima pukulanku ini!" 

Terlalu cepat bagi Ki Balangnipa untuk bisa melihat pukulan apa yang dilepaskan lawan tahu-tahu "wuus" satu larik sinar 

putih yang panas dan menyilaukan matanya menerpa dahsyat ke arahnyal Manusia yang mukanya seperti ular itu berseru keras 

lalu melompat cepat-cepat ke samping kanan. Tapi tak urung ular kering yang ditangan kirinya masih tempat disambar pukulan 

sinar matahari yang dilepaskan Wiro Sableng hingga senjata itu hancur lebur dan hanya bagian ekornya saja yang masih 

tergenggam dalam tangan kiri Ki Sawer Balangnipa! 

"Keparat rendah!" maki Ki Sawer Balangnipa marah luar biasa hingga sepasang matanya laksana api berkobar! Selagi 

Pendekar 212 Wiro Sableng belum menjejakkan kedua kakinya di tanah, dia segera melancarkan serangan balasan yang tak kalah 

hebatnya! 

Tangan kiri dipukulkan ke depan. Satu gelombang angin menggebu laksana topan, siap untuk menyapu dan menghancur 

leburkan tubuh Pendekar 212. Yang dilepaskan Ki Sawer Balangnipa adalah pukulan sakti yang sangat diandalkannya dan yang 

jarang sekali dikeluarkannya jika tidak menghadapi lawan yang teramat tangguh! Itulah pukulan yang bernama "sejagat baju". 

Jangan kata manusia, batu karangpun jika dihantam pasti akan hancur jadi debu! Serangan yang dilancarkan Ki Sawer 

Balangnipa tak kepalang tanggung karena sehabis memukul itu tubuhnya melesat ke depan dan menyusul serangan pertama tadi 

dengan serangan ular kering di tangan kanannya yang menderu ke arah batok kepala Pendekar 212 Wiro Sableng! 

Pukulan "sejagat baju" membuat tubuh Wiro Sableng tak dapat melayang turun menjejak tanah Betapapun dia 

mengerahkan tenaga dalamnya serta memukul ke muka dengan ilmu pukulan "dinding angin berhembus tindih menindih" 

tetap saja tubuhnya tersapu sampai delapan tombak! Jika dia tak cepat membuang diri ke samping dengan mempergunakan 

ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, pastilah dia akan menghantarn pohon besar di belakang sana! Pukulan sejagat baju 

melanda pohon besar itu dan pohon-pohon serta semak belukar di sekitarnya, membuat semuanya itu tumbang dan tersapu 

sampai sepuluh tombak lebih dengan mengeluarkan suara berisik luar biasa. Air danau yang turut terserempet pukulan tersebut 

muncrat setinggi dua tombak! 

Setelah jungkir balik dua kali berturut-turut Wiro Sableng berhasil mencapai tanah dengan kedua kaki lebih dahulu. 

Nafasnya sesak, tulang-tulang di sekujur tubuhnya serasa tanggal sedang dari sela bibirnya kelihatan darah kental! Pemuda ini 

ternyata telah terluka di dalam! Cepat-cepat Wiro menelan butir pil merah lalu duduk tak bergerak, meramkan mata mengatur 

jalan nafas dan tenaga dalam serta mengalirkan hawa sejuk dari pusarnya ke dada! 

Ki Sawer Balangnipa tertawa gelak-gelak sambil mendekati Wiro Sableng. "Ha ⁄ ha! Sekarang kau baru tahu kehebatan Ki 

Sawer Balangnipa! Nah selamat jalan ke neraka, budak hina dina!" 

Ki Sawer Balangnipa mengangkat tongkat ularnya tinggi-tinggi lalu dihantamkan secepat kilat ke arah batok kepala 

Pendekar 212 Wiro Sableng "Pengecut! Beraninya menyerang lawan yang sudah tak berdaya!". 

Satu bentakan menggeledek dan selarik sinar kuiing menderu menangkis ular kering di tangan Ki Saver Balangnipa. Itulah 

tongkat bambu kuningnya Nyoman Dwipa. Pemuda ini ketika menyaksikan bagaimana Ki Sawer Balangnipa hendak 

menamatkan riwayat Wiro Sableng dalam keadaan pemuda itu tak berdaya, menjadi sangat geram dan menyerbu ke muka! 

Namun sebelum tongkat bambu kuning di tangan Nyoman Dwipa saling beradu dengan ular kering di tangan kanan Ki 

Sawer Balangnipa, terdengar suara menggembor yang disusul dengan bentakan lantang. 

"Siapa bilang aku tak berdaya, Nyoman!" 

Dan "wuut"! 

Selarik sinar putih yang amat menyilaukan serta panas berkelebat diiringi suara mengaung macam ratusan tawon 

mengamuk! 

Dan "cras"! 

Terdengar kemudian pekik setinggi langit keluar dari mulut Ki Sawer Balangnipa. Tangan kanannya sebatas pergelangan 

lengan buntung dan memuncratkan darah! Telapak dan jari-jari tangan yang masih memegang ular kering tadi, kelihatan mental 

ke udara lalu jatuh ke dalam danau, membuat air danau di tempat jatun berwrrna kemerah-merahan oleh darahl Apakah yang 

telah terjadi? 

Sewaktu Ki Sawer Balangnipa siap untuk menamatkan riwayat Wiro Sableng, sebelum Nyoman Dwipa sempat menangkis 

senjata Ki Sawer Balangnipa maka Wiro sableng yang duduk diam mematung itu tiba-tiba membuat gerakan cepat luar biasa, 

mencabut Kapak Maut Naga Geni 212 dan membabat ke depan! Maksudnya cuma hendak menabas senjata lawan tapi tak 

terduga serangannya itu justru membuat buntung pergelangan Ki Sawer Balangnipa! 

Laki-laki ini menotok jalan darah di bahu kanan hingga darah berhenti memancur! 

"Pemuda keparat! Kali ini kau menang! Tapi lain ketika jangan harap kau bisa hidup jika aku muncul kembali di depan 

hidungmu!" Habis berkata begitu Ki Sawer Baangnipa berkelebat dan lenyap di jurusan timur danau! 

Wiro Sableng masukkan Kapak Naga Geni 212 ke balik pakaiannya lalu berdiri dengan perlahan-lahan. Nyoman Dwipa 

memegang bahunya. 

"Kau tak apa-apa, Wiro?" 

"Aku terluka di dalam," jawab Wiro mengaku terus terang, "tapi tak begitu berbahaya. Manusia itu hebat sekali ilmu 

pukulannya!" 

"Tapi kau jauh lebih hebat!" kata Nyoman Dwipa pula. Dan dalam hati pemuda Bali ini menyadari sepenuhnya kalau saja 

dia yang berhadapan dengan Ki Sawer Balangnipa pasti akan lebih cepat dirobohkan, bahkan mungkin akan memenuhi ajal 

secara mengenaskan! 

"Terima kasih atas bantuanmu, Nyoman."ku kebetulan lewat di sini dan mendengar suara ribut-ribut. Ketika kuselidiki kutemui kau mencak-mencak telanjang 

bulat melawan puluhan ular!" 

Wiro tertawa sambil garuk-garuk kepalanya yang berambut basah. Kedua orang pemuda itu lalu menuturkan riwayat 

masing-masing. Wiro Sableng geleng-gelengkan kepala mendengar cerita Nyoman dan berkata, "Hebat sekali riwayatmu, 

Nyoman. Juga menyedihkan. Manusia macam Tjokorda Gde Jantra itu memang patut dihajar Sayang aku ada urusan yang perlu 

diselesaikan dengan cepat Kalau tidak pasti aku akan seiring denganmu. Tapi begitu urusanku selesai aku segera akan 

menyusulmu, Nyoman! Ingin sekali aku melihat tampangnya itu pemuda yang bernama Tjokorda Gde Jantra!" 

"Terima kasih yang kau ada perhatian terhadap urusanku, Wiro," kata Nyoman Dwipa pula. 

Wiro Sableng sekali lagi mengucapkan terima kasih dan kedua sahabat baru itu saling menjura lalu berpisah.

 

10

SEPERTI telah dituturkan untuk mempercepat sampai ke Denpasar, Nyoman Dwipa sengaja menempuh rimba belantara. 

Menjelang tengah hari dia sampai ke kaki sebuah bukit. Bukit itu jarang didatangi manusia bahkan lewat di sanapun boleh 

dikatakan tak ada yang berani karena dibukit itulah bersarangnya gerombolan rampok yang dipimpin oleh seorang bernama 

Warok Gde Jingga. Sebenarnya nama asli orang itu adalah Warok Jingga saja. Namun kemudian ditambah di tengah-tengah 

dengan kata "Gde". 

Bagi Nyoman Dwipa, bila dia mengelakkan bukit itu berarti memperpanjang perjalanannya selama setengah hari. 

Meskipun dia sendiri tahu bagaimana besarnya bahaya jika mendaki bukit tersebut namun karena ingin cepat-cepat sampai ke 

Denpasar dan ingin cepat-cepat melunaskan sakit hati dendam kesumat yang telah diindapnya selama beberapa bulan di lubuk 

hatinya, maka pemuda itu dengan tekat bulat sengaja menempuh bukit tersebut. 

Beberapa jam kemudian dia sudah sampai kelereng bukit sebelah selatan. Sekurang-kurangnya menjelang magrib dia pasti 

sudah sampai ke kota tujuannya. Dia harus memasuki satu rimba belantara sebelum mencapai kaki bukit di mane membujur 

jalan yang menuju ke Denpasar. Hatinya gembira karena sampai saat itu nyatanya dia tak mengalami kesukaran apa-apa dalam 

menempuh Bukit Jaratan yaitu bukit tempat bersarangnya gerombolan rampok Warok Gde Jingga. 

Sewaktu Nyoman Dwipa telah menempuh tiga perempat bagian dari rimba belantara itu, mendadak di sebelah muka di 

dengamya suara bentakan-bentakan dan suara beradunya senjata. Tak dapat tidak itu pastilah suara orang yang tengah 

bertempur. Pemuda ini percepat larinya. Tak diperdulikannya lagi bagaiman baju birunya dikait semak belukar. Tepat di kaki 

bukit, di tepi jalan besar kelihatanlah satu pemandangan yang hebat! 

Empat orang laki-laki berpakaian prajurit-prajurit klas satu tengah bertempur mengeroyok seorang perempuan berpakaian 

dan berkerudung kain hitam. Di tepi jalan sebelah sana berdiri seorang pe-empuan tua dengan tubuh mengigil sedang 

dibelakangnya, di tepi jalan berhenti sebuah kereta. Di bagian depan kereta, seorang kusir tua duduk dengan paras pucat pasi! 

Perempuan yang parasnya ditutup dengan kain hitam itu gerakannya gesit sekali. Pedang perak di tangan kanannya 

berkelebat kian kemari, menangkis serangan-serangan golok panjang ke empat pengenyok bahkan juga sekaligus balas 

menyerang dengan gencarnya! 

Namun betapapun hebatnya ilmu pedang perempuan itu, lawan-lawan yang dihadapinya adalah prajurit-prajurit klas satu 

yang berkepandaian tinggi. Ketika Nyoman Dwipa datang mereka telah bertempur lebih dari sepuluh jurus dan si baju hitam 

berada dalam keadaan terdesak yang cukup membahayakan keselamatannya! 

"Breet"! 

Tiba-tiba salah satu ujung golok panjang berhasil nembabat putus buhul kain hitam yang menjadi kerudung si bajuhitam! Kini kelihatanlah paras di balik kerudung itu! Jangankan Nyoman Dwipa, keempat prajurit yang bertempurpun 

terkesiap saking tidak menyangka kalau paras di balik kerudung itu nyatanya adalah paras seorang dara yang jelita dan paras itu

kelihatan pucat akibat sambaran senajata lawan yang hampir saja membelah batok kepalanya! 

Salah seorang prajurit melompat ke muka dan berseru, "Dara hina dina! Kalau kau tak segera mengembalikan patung itu, 

jangan harap kau akan melihat matahari tenggelam sore nanti!" 

Dara jelita berpakaian hitam mendengus dan meludah ke tanah! Sebagai jawaban dia kiblatkan pedang peraknya hingga 

pertempuran kembali berkecamuk! Tapi kali ini seperti tadi, lagi-lagi si baju hitam berhasil di desak, bahkan kini agaknya ke 

empat prajurit itu tak mau memberi hati lagi sehingga nyawa sang dara benar-benar terancam! 

Meski dia tak ada sangkut paut dengan pertempuran yang berkecamuk itu, tapi Nyoman Dwipa merasa kasihan dan tidak 

tega kalau sang dara berbaju hitam sampai mendapat celaka di ujung golok-golok ke empat lawannya. Dari balik semak-semak di 

mana dia bersembunyi mengintai pertempuran itu, Nyoman melompat ke tengah kalangan pertempuran seraya berseru, 

"Hentikan pertempuran!" 

Karena suara itu disertai aliran tenaga dalam maka kerasnya mengumandang ke seantero rimba. Keempat prajurit 

berpaling terkejut dan kemudian menjadi marah melihat seorang pemuda tak dikenal mengganggu serta mencampuri jalannya 

pertempuran! 

Salah seorang dari mereka memberi isyarat agar tak usah memperdulikan Nyoman Dwipa. Maka keempatnya kemudian 

kembali hendak menyerbu si gadis baju hitam. Tapi betapa terkejutnya mereka ketika melihat kenyataan bahwa dara itu tak ada 

lagi dihadapan mereka, sudah lenyap melarikan diri tatkala perhatian mereka tertumpah pada Nyoman Dwipa! Dengan 

sendirinya kemarahan keempat prajurit itu tertuju pada diri Nyoman Dwipa kini! Maka langsung saja tanpa banyak bicara 

mereka kiblatkan golok panjang menyerang pemuda itu! 

Karena sudah menyaksikan kehebatan permainan golok keempat orang prajurit itu Nyoman segera pula bertindak cepat. 

Golok pertama yang datang menusuk ke dadanya dikelit sigap dan tahu-tahu lima jari tangan kirinya yang dilipat sudah 

menyelinap ke mukal Prajurit itu berseru kesakitan! Goloknya terlepas sedang sambungan sikunya putus dihantam pukulan 

Nyoman Dwipa. Sementara tiga orang prajurit lainnya terkesiap melihat peristiwa itu, Nyoman Dwipa dengan cepat 

menyambuti golok yang jatuh. Lalu dengan golok itu Nyoman membabat golok-golok di tangan ketiga lawannya hingga satu 

demi satu bermentalan di udara! 

Keempat prajurit itu kagetnya bukan alang kepalang! Tapi dalam hati mereka memaki habis-habisan. Bahkan salah 

seorang dari mereka secara blak-blakan berkata dengan suara keras penuh amarah. 

"Pemuda tak tahu diri! Ada sangkut paut apakah kau dengan gadis bedebah itu hingga mencampuri urusan orang lain?!" 

Prajurit yang kedua membuka mulut pula, "Tahukah kau siapa kami dan siapa gadis berbaju hitam tadi?!" 

"Aku memang tak ada sangkut paut apa-apa." jawab Nyoman Dwipa tenang. "Juga tidak tahu siapa kalian, apalagi gadisyang kabur itu!" 

"Tindakanmu ceroboh lancang! Tak tahu diri! Akibatnya bedebah itu berhasil merampas dan melarikan patung emas yang 

kami bawa!" 

"Patung emas?!" ujar Nyoman. 

"Ya, patung emas! Dan kau musti menggantinya! Kalau tidak kau kami tangkap dan clihadapkan pada Adipati Surabaya 

untuk menerima hukuman!" kata prajurit yang lain. 

"Jadi kalian adalah prajurit-prajurit Kadipaten Surabaya?" tanya Nyoman. 

"Tak usah banyak tanya! Lekas serahkan dirimu!" 

"Sobat, sebaiknya kau terangkan dulu asal musabab sampai kalian mengeroyok gadis itu. Jika memang dari keteranganmu 

nanti aku telah melakukan kesalahan, percayalah aku akan menebus kesalahanku itu." 

Salah seorang dari keempat prajurit lalu mem berikan keterangan. Mereka adalah utusan dari Kadipaten Surabaya yang 

berangkat menuju ke Bali untuk melamar seorang gadis anak bangsawan yang tinggal di Denpasar. Sebagai bawaan, Adipati 

Surabaya telah memberikan sebuah patung emas untuk diserahkan pada keluarga si gadis sebagai tanda penghormatan. Setelah 

menyeberangi lautan, sesampainya di Bali mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta. Perempuan tua yang ikut bersama 

keempat prajurit itu adalah orang yang bakal menyampaikan lamaran Adipati Surabaya kepada si gadis. 

Sebagai orang asing tentu saja mereka tidak mengetahui bahwa bukit Jaratan dan daerah sekitarnya adalah tempat malang 

melintangnya gerombolan rampok yang dikepalai oleh Warok Gde Jingga. Ketika mereka lewat di kaki bukit di sepanjang tepi 

hutan, mereka telah dicegat oleh seorang perempuan berkerudung kain hitam. Kusir kereta yang pernah mendengar tentang ciri-

ciri perempuan itu segera memberi tahu bahwa dia adalah Luh Bayan Sarti, adik kandung kepala rampok Warok Gde Jingga 

yang sangat ditakuti! Luh Bayan Sarti masih gadis. Karena memiliki ilmu silat yang tinggi maka dia selalu melakukan kejahatan 

seorang diri. Rupanya rampok betina ini sudah mencium bahwa rombongan utusan Adipati Surabaya itu ada membawa benda 

berharga. Maka begitu dia melakukan penghadangan dengan cepat dia menerobos masuk ke dalam kereta dan berhasil 

merampas patung emas! Keempat prajurit Kadipaten Surabaya tentu saja tidak tinggal diam. Justru mereka telah diberi 

kepercayaan untuk melindungi barang berharga itu. Maka tanpa banyak cerita lagi segera mereka mengeroyok Luh Bayan Sarti. 

Ketika mereka sudah hampir berhasil menghajar rampok betina itu tahu-tahu muncullah Nyoman Dwipa memberikan 

pertolongan hingga buntut-buntutnya Luh Bayan Sarti berhasil kabur dengan membawa serta patung emas! 

Kini tahulah Nyoman Dwipa akan kesalahan yang telah diperbuatnya. Tapi memang siapa yang bisa menduga kalau gadis 

secantik Luh Bayan Sarti itu adalah seorang perampok? Dan pemuda manakah yang tega membiarkan seorang dara jelita ter-

ancam bahaya mautl! Setelah merenung sejenak maka Nyomanpun berkata. "Memang besar salahku! Kurasa sebelum gadis itu 

berlalu jauh, sebaiknya kita lakukan pengejaran. Kalau perlu kita datangi sarangnva!" 

Keempat prajurit Kadipaten Surabaya saling berpandangan. Kusir kereta yang sejak tadi berdiam diri karena ketakutanuntuk pertama kalinya buka suara, "Mendatangi sarang Warok Gde Jingga berarti mencari mati!" 

"Kalau begitu kalian tidak menginginkan patung emas itu kembali?" 

"Tentu saja menginginkanl" jawab seorang prajurit. "Tapi pergi ke sarangnya gerombolan rampok itu besar sekali 

bahayanya. Karena itu kau yang punya gara-gara maka kau sendiri yang harus pergi ke sana. Kami menunggu di sini! Kami tak 

perduli apakah untuk mendapatkan patung emas itu kau harus menyerahkan kepalamu!" 

"Kalau aku pergi seorang diri dan berhasil mengambil kembali patung itu, jangan harap aku akan membawanya ke 

sini....," kata Nyoman Dwipa dengan menyeringai. 

"Kalau begitu ...." kata seorang prajurit sesudah berpikir-pikir beberapa lamanya, "aku, kau dan dua orang kawanku 

berangkat ke sana. Yang lain tetap tinggal di sini." 

Nyoman menyetujui pendapat itu, lalu tanpa menunggu lebih lama mengajak ke empat orang itu untuk segera berangkat. 

Kusir kereta mendadak membuka mulut, "Saudara-saudara dengar nasihatku. Adalah sia-sia kalian pergi mengambil kembali 

patung emas itu! Warok Gde Jingga memiliki ilmu silat tinggi sekali. Di samping itu dia memiliki anak buah yang banyak. 

Ditambah dengan Luh Bayan Sarti maka sekalipun kalian berjumlah lima kali lebih besar, jangan harap kalian akan berhasil. 

Kataku kalian cuma mengantar nyawa! Sebaiknya kembali dan seret pemuda biang runyam itu ke hadapan Adipati Surabaya!" 

"Bagiku kemarahan Adipati Surabaya bukan apa-apa. Kalaupun aku dihukum, kurasa kalian semua juga tak luput dari 

hukuman! Kalau tak ada yang mau ikut, tak apa. Jangan menyesal kalau patung emas itu jatuh ke tanganku sedang kalian 

mendapat hukuman dari Adipati kalian!" 

Nyoman Dwipa cepat berlalu dari situ. Tiga orang prajurit saling berpandangan. Akhirnya setelah mengambil senjata 

masing-masing yang tadi jatuh di tanah, ketiganya segera menyusul Nyoman Dwipa. 

"Mereka akan mati percuma! Mati percuma!" desis kusir kereta sambil memperhatikan kepergian orang-orang itu.


11 

SEORANG anggota rampok yang berada di puncak sebuah pohon tinggi telah melihat kedatangan keempat orang itu. Cepat-

cepat dia turun dari atas pohon dan memberikan laporan pada pemimpinnya yaitu Warok Gde Jingga. Kebetulan saat itu Luh 

Bayan Sarti ada pula di situ. 

"Coba terangkan ciri-ciri mereka!" kata Luh Bayan Sarti. 

"Yang tiga orang berpakaian seragam, seperti pakaian prajurit. Yang seorang lagi pemuda berpakaian biru." 

"Hem ...." gadis itu mengguman lalu berpaling pada kakaknya. "Bagaimana pendapatmu?" tanyanya. 

"Biarkan saja mereka datang kemari. Tak ada tang harus ditakutkanl" sahut si kepala rampok. 

"Memang pendapatkupun demikian," kata Luh Bayan Sarti lalu menganggukkan kepala pada anggota rampok yang 

melapor. 

Setelah anggota rampok itu pergi berkatalah Warok Gde Jingga. "Kau akan berhadapan kembali dengan tuan penolongmu 

yang gagah itu! Bukankah itu yang kau inginkan, Sarti?" 

Luh Bayan Sarti menjadi merah parasnya. "Sebaiknya kita keluar saja menyambut kedatangan mereka!" 

Warok Gde Jingga tertawa lalu mengikuti diknya keluar rumah besar. Mereka menunggu di langkan. 

Karena telah dipesankan agar keempat pendatang itu dibiarkan saja, maka ketika memasuki perkampungan, tak ada 

seorang rampokpun yang mengalangi. Nyoman Dwipa dan ketiga prajurit-prajurit kadipaten itu. Di halaman rumah besar 

keempatnva berhenti. 

Nyoman melirik sekilas pada Luh Bayan Sarti lalu berpaling pada laki-laki bertubuh tinggi besar yang hanya mengenakan 

celana panjang hitam. Dadanya yang bidang tertutup oleh bulu sedang wajahnya diranggasi cambang bawuk yang lebat kaku. 

"Apakah kami berhadapan dengan Warok Gde Jingga?" tanya Nyoman Dwipa sesudah terlebih dahulu menjura. 

"Orang muda," kata Warok Gde Jingga "Sungguh nyalimu besar sekali untuk datang ke mari! Sesudah menolong adikku 

dari bahaya dikeroyok oleh prajurit-prajurit hina dina itu, apakah kedatanganmu ke sini hendak minta hadiah imbalan?!" 

Nyoman Dwipa tertawa, lalu menjawab, "Jauh dari itu, Warok. Justru aku datang ke sini untuk menebus kesalahanku 

terhadap prajurit-prajurit Kadipaten Surabaya ini. Satu-satunya jalan untuk dapat menebus kesalahanku itu ialah meminta 

kesudianmu untuk mau menyerahkan kembali patung emas yang telah dirampas oleh adikmu ini." Nyoman lalu meng-

goyangkan kepalanya ke arah Luh Bayan Sarti. 

Gadis itu tertawa cekikikan. Bola matanya sejak tadi tidak lepas dari memandangi paras Nyoman Dwipa yang gagah cakap 

itu. 

"Enak betul bicaramu. Sudah lancang dating kemari, sekarang berani bertingkah! Apakah kau bersedia menyerahkanselembar nyawamu sebagai pengganti patung emas itu?!" 

Nyoman tertawa lebar. Dalam tertawa itu dia harus mengakui bahwa paras Luh Bayan Sarti sungguh jelita. Kulitnya halus 

mulus. Sungguh sangat disayangkan dara sejelita ini hidup menjadi perampok, berbuat kejahatan dan diam di tengah-tengah 

manusia-manusia kasar! 

Sementara itu Warok Gde Jingga mengusap-usap dagunya yang penuh dengan berewok. 

"Selembar nyawaku bukan apa-apa," terdengar suara Nyoman Dwipa menjawab pertanyaan Luh Bayan Sarti tadi. "Yang 

penting patung emas itu harus diserahkan pada ketiga prajurit ini." 

"Kalau begitu biar kutabas dulu batang lehermu. Kalau sudah kelak patung emas itu akan kuberikan pada manusia-

manusia jelek ini!" 

"Serahkan dulu patung emas itu pada mereka" ujar Nyoman Dwipa. 

Luh Bayan Sarti mendelikkan kedua matanya. "Sret"! Gadis ini mencabut pedang peraknya. 

"Tahan dulu, Sarti!" kata Warok Gde Jingga sambil memegang bahu adiknya ketika gadis itu hendak melompat ke 

hadapan Nyoman Dwipa. "Sebaiknya kita atur begini saja orang muda. Karena patung emas itu boleh dibilang milik ketiga 

kunyuk-kunyuk Kadipaten Surabaya ini maka kupersilahkan mereka turun tangan sendiri. Jika mereka bertiga berhasil 

mengalahkanku, kuserahkan patung itu kembali pada mereka. Tapi kalau mereka kalah, patung emas itu tetap milikku dan 

mereka kubebaskan. Untuk itu kau harus mempertaruhkan batang lehermu!" 

Ketiga prajurit Kadipaten Surabaya terkejut bukan main. Jangankan mereka bertiga, sepuluh orangpun mereka belum 

tentu sanggup mengalahkan Warok Gde Jingga yang kesaktian dan ilmu silatnya sangat tinggi itu! 

Nyoman Dwipa berbatuk-batuk. 

"Warok Gde Jingga," kata pemuda ini, "karena aku yang punya gara-gara maka biarlah aku mewakili ketiga prajurit itu 

untuk memenuhi permintaanmu tadi." 

Warok Gde Jingga tertawa gelak-gelak. "Kuhargakan nyalimu sobat dan kuberi kelonggaran padamu! Kau boleh maju 

bersama-sama prajurit-prajurit tak berguna itu!" 

"Walau ilmuku sangat dangkal," sahut Nyoman Dwipa, "tapi mengingat kesalahanku biarlah aku menghadapimu seorang 

diri." 

"Baik ... baik ... baik! Jika itu kehendakmu! Mari kita mulai!" kata Warok Gde Jingga seraya melompat ke halaman. 

Tubuhnya yang tirrggi besar dengan berat lebih dari tujuh puluh kilo itu tak sedikitpun menimbulkan suara ketika kedua 

kakinya menjejak tanah halaman. Satu pertanda bahwa ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat yang tinggi! 

Nyoman Dwipa tak mau kalah siap! Sekali dia berkelebat maka bayangannya lenyap dan sedetik kemudian sudah berdiri 

enam langkah di hadapan kepala rampok itu! Warok Gde Jingga terkejut bukan main! Tiada diduganya pemuda yang 

dianggapnya sepele itu memiliki gerakan gesit serta ilmu meringankan tubuh yang tidak berada di bawahnya!


Melihat kedua orang itu sudah siap untuk bertempur. Luh Bayan Sarti tiba-tiba melompat dan berseru, "Kak Gde Jingga! 

Biar aku yang mengadapi pemuda sombong ini! Kau lihat sajalah bagaimana adikmu akan memberi pelajaran padanya!" 

Tanpa menunggu jawaban kakaknya, Luh Bayan Sarti sudah menghadapi Nyoman Dwipa, tersenyum sekilas lalu berkata 

sambil mengerling dan mencabut pedang peraknya. "Silahkan kau mulai lebih dulu!". 

"Ah, tuan rumahlah yang lebih pantas memulai," sahut Nyoman Dwipa pula. "Kuharap kau benar-benar memberi 

pelajaran berguna pada orang bodoh macamku ini, saudari!" 

Luh Bayan Sarti tertawa kegenit-genitan. "Kau hati-hatilah orang muda karena pedangku ini tidak bermata." Ucapan itu 

dibarengi si gadis dengan satu serangan setengah melompat. Ketika menabas pedang peraknya hanya merupakan selarik sinar 

putih yang mengeluarkan suara bersiur karena saking cepatnya! Sebelumnya Nyoman Dwipa telah melihat ilmu 

pedang gadis itu yakni sewaktu Luh Bayan Sarti bertempur melawan prajurit-prajurit. Kadipaten Surabaya. Namun sekali ini 

dilihatnya si gadis mengeluarkan jurus serangan yang lain dari yang lain hingga Nyoman Dwipa tak mau bersikap memandang 

enteng, cepat mencabut tongkat bambu kuningnya yang kecil dan dengan gesit berkelebat mengelakkan tabasan yang mengincar 

pinggangnya! 

Setengah jalan tiba-tiba sekali tabasan yang dilakukan Luh Bayan Sarti berubah menjadi satu tusukan tajam ke arah dada. 

Tusukan ini sebelum sampai memecah laksana kilat keempat bagian tubuh Nyoman Dwipa yaitu kepala, leher, dada dan perut! 

Ketiga prajurit Kadipaten Surabaya menahan nafas. Serangan yang dilancarkan si gadis adalah serangan hebat luar biasa. 

Melihat dekatnya tusukan-tusukan pedang itu dari tubuh Nyoman Dwipa, ketiganya merasa cemas kalau-kalau si pemuda kali 

ini tak sanggup menvelamatkan dirinva! 

"Hebat!" Justru dalam suasana yang tegang itu Nyoman Dwipa mengeluarkan seruan memuji. Tubuhnya lenyap menjadi 

bayang-bayang biru. Dan di antara bayangan biru itu bekelebatlah selarik sinar kuning. Itulah sinarnya bambu kuning di tangan 

Nyoman Dwipa. 

Melihat lawan memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat maka Luh Bayan Sarti kerahkan pula ilmu meringankan 

tubuhnya hingga dalam jurus pertama itu keduanya sudah merupakan baying-bayang saja! 

Nyoman tersenyum melihat kecerdikan si gadis. Segera pemuda ini menggerakkan bambu kuningnya dalam jurus 

"gendewa sakti membentur gunung". Jurus ini mengandalkan tenaga dalam yang dialirkan ke tongkat bambu kuning. Dalam 

jurus kedua terjadilah hal yang sangat mengejutkan Warok Gde Jingga. 

Sewaktu dalam jurus kedua Luh Bayan Sarti kembali melancarkan serangan yang hebat, bambu kuning di tangan Nyoman 

sudah bergerak dalam jurus "gendewa sakti membentur gunung" itu. 

Luh Bayan Sarti heran ketika merasakan bagaimana tetakan pedangnya yang semula meluncur pesat tahu-tahu dengan 

tiba-tiba sekali tersendat laksana diterpa oleh satu angin yang luar biasa dahsyatnya. Belum habis rasa herannya itu, bambu 

kuning di tangan Nyoman tiba-tiba dilihatnya sudah berada dekat sekali di samping pedang peraknya!Luh Bayan Sarti seorang berpikiran cerdik. Dari gerakan bambu kuning itu dan mengetahui bahwa tenaga dalam lawan 

tinggi sekali, tahulah dia bahwa Nyoman Dwipa hendak memukul badan pedangnya dalam satu pukulan yang hebat dan me-

mungkinkan pedang perak itu terlepas dari tangannya! Karenanya dengan sigap gadis ini menaikkan tangannya ke atas lalu 

membabat ke samping, menaebas ke arah batang leher Nyoman Dwipa! 

Di lain pihak Nyoman Dwipa tidak terlalu bodoh untuk menunggu lebih lama. Kedudukan tangan dan senjata lawan 

yang berada lebih tinggi di atas senjatanya sendiri justru itulah yang dikehendakinya! Bambu kuning di tangan pemuda ini 

menerpa ke atas Dan tahu-tahu Luh Bayan Sarti merasakan tangannya yang memegang pedang menjadi kesemutan. Dia 

melompat mundur tapi tak bisa karena pada saat itu bambu kuning di tangan lawan laksana seekor ular seakan-akan telah 

membelit pedangnya. Ketika Nyoman Dwipa memutar-mutar bambu kuningnya, pedang perak di tangan gadis itupun ikut 

berputar melintir. Luh Bayan Sarti tak bisa mempertahankan senjata itu kecuali kalau tangannya mau ikut-ikutan terpuntir dan 

tanggal dari persendiannya! 

Warok Gde Jingga bukan olah-olah kejutnya menyaksikan bagaimana adiknya yang berkepandaian tinggi itu hanya 

mampu menghadapi pemuda itu dalam tempo dua jurus saja. Bahkan dalam dua jurus itu bukan saja dia dikalahkan tapi 

senjatanya sekaligus kena dirampas! Luh Bayan Sarti sendiri sesudah pedangnya tertarik dan berada digenggaman Nyoman 

Dwipa bukan main marahnya. Tapi dia juga malu sekali. Dengan paras merah sambil banting-banting kaki gadis ini memutar 

tubuh dan meninggalkan tempat itu. 

"Eh, saudari tunggu dulu! Ini kukembalikan pedangmu!" seru Nyoman Dwipa. 

Luh Bayan Sarti tak mau berpaling apalagi hentikan langkahnya. Dia terus nyelonong ke langkan rumah Karena orang tak 

mau menerima kembali senjatanya maka Nyoman Dwipa menggerakkan tangan kirinya yang memegang pedang. Senjata itu 

lepas dan mendesing di udara lalu menancap di tiang langkan rumah, tepat pada saat Luh Bayan Sarti berada di samping tiang 

itu! 

Luh Bayan Sarti berbalik dan mendelikkan kedua matanya pada Nyoman Dwipa. Sebaliknya pemuda itu hanya tersenyum 

saja, membuat si gadis benar-benar penasaran setengah mati. Di cabutnya pedang itu dari tiang langkan lalu cepat-cepat masuk 

ke dalam rumah! 

Nyoman berpaling pada Warok Gde Jingga dan berkata. "Adikmu telah kupercundang. Karena dia bertindak sebagai 

wakilmu dan dia kalah maka kau harus menepati janjimu Warok. Harap kau segera mengembalikan patung emas itu pada 

ketiga prajurit ini.... " 

Warok Gde Jingga mengusap-usap dadanya yang berbulu lebat lalu tertawa gelak-gelak. 

"Ingatanmu selalu pada patung emas itu saja. Dan kau terlalu bangga dengan kemenanganmu! Terangkan dulu namamu 

dan siapa kau sebenarnya ..." 

"Kalau sudah kuterangkan lantas kau akan mengembalikan patung itu?!"Kembali kepala rampok itu tertawa. Dia melirik pada anak-anak buahnya yang berdiri mengeliling halaman lalu 

menggelengkan kepalanya. "Sesudah aku tahu nama dan siapa kau adanya, kita main-main sebentar . . . " 

Nyoman tahu apa yang dimaksudkan Warok Gde Jingga dengan kata "main-main" itu. Maka dia berkata, "Dan kalau 

dalam main-main itu kau mengalami nasib sama dengan adikmu, apakah kau juga mencari dalih lain untuk tidak menyerahkan 

patung emas itu?!" 

Merahlah paras Warok Gde Jingga. "Aku tidak serendah yang kau kirakan, pemuda sontoloyo!" katanya keras. 

"Ah kalau begitu baiklah. Namaku Nyoman Dwipa dan aku orang kampung. Nah, apakah kini kita bisa memulai 

permainan yang kau maksudkan itu?!" 

Warok Gde Jingga menggeram. Tangannya ditepukkan. Maka dari dalam rumah besar keluarlah seorang pelayan 

membawa sebuah senjata milik Warok Gde Jingga yang bentuknya aneh dan dahsyat! Belum pernah Nyoman Dwipa melihat 

senjata semacam itu. Anak-anak buah Warok Gde Jingga sendiri kelihatan saling berbisik karena setahu mereka, Warok Gde 

Jingga jarang sekali mempergunakan senjata itu kalau tidak dalam keadaan terpaksa atau ketika menqhadapi lawan yang 

tangguh luar biasa!


12 

SENJATA di tangah Warok Gde Jingga adalah sebuah toya besi hitam yang pada kedua ujungnya digantungi masing-masing tiga 

buah kaitan besi yang juga berwarna hitam. Setiap ujung kaitan besi itu mempunyai tiga anak kaitan lagi dan masing-masing 

ujungnya tetah dicelup dengan racun yang amat jahat selama tiga tahun. Sekali manusia yang tidak memiliki kekebalan racun, 

meskipun memiliki tenaga dalam bagaimanapun tingginya pasti akan menemui kematian bila sampai kena tertusuk oleh ujung-

ujung kaitan itu! Di samping itu kaitankaitan tersebut merupakan senjata yang berbahaya karena sanggup membetot daging 

atau urat seorang lawan! Menurut taksiran keseluruhan senjata itu beratnya lebih dari lima puluh kati. Tapi Warok Gde Jingga 

memegangnya tak ubahnya seperti memegang sebuah ranting kering belaka! 

Nyoman Dwipa tahu benar kehebatan ilmu suit lawan yang dihadapannya itu. Jauh lebih tinggi dari ilmu silat Luh Bayan 

Sarti yang tadi telah dikalahkannya. Dan melihat kepada senjata di tangan Warok Gde Jingga, pemuda ini sudah maklum bahwa 

senjata itu amat berbahaya, maka tanpa menunggu lebih lama segera Nyoman Dwipa pasang kuda-kuda pertahanan yang 

bernama "elang menukik laut". Kedua kaki merenggang agak menekuk di bagian lutut. Tangan kiri agak mengembang ke 

samping sedang tangan kanan yang memegang tongkat bambu kuning dipalangkan di muka dada. 

"Ayo majulah!" kata Warok Gde Jingga. 

"Silahkan tuan rumah memulai lebih dulu." sahut Nyoman Dwipa. 

Kepala rampok dari bukit Jaratan itu mendengus. Sementara itu anggota-anggota rampok yang mengelilingi tempat 

tersebut membuka mata masing-masing selebar mungkin untuk menyaksikan pertempuran yang bakal berlangsung yang tidak 

bisa tidak pasti sangat hebat! 

"Awas perut!" teriak Warok Gde Jingga tiba-tiba. Teriakannya ini dibarengi dengan berkelebatnya tubuh pemimpin 

rampok itu. Ujung toya sebelah kanan menderu ke arah perut Nyoman Dwipa. Ujung-ujung kaitan berdesing siap untuk 

membetot dan membusaikan isi perut pemuda itu! 

Nyoman Dwipa melompat ke belakang untuk mengelak. Di'saat itu pula dengan tak terduga, cepat sekali ujung toya besi 

yang sebelah kiri menyambar ke arah leher pemuda itu! Kejut Nyoman Dwipa bukan alang kepalang. Sambil membentak keras 

pemuda gemblengan Menak Putuwengi itu miringkan tubuhnya ke samping dan menggerakkan tongkat bambu kuningnya, 

memukul bagian tengah toya besi di tangan Gde Jingga. 

Melihat lawan hendak memukul senjatanya, kepala rampok itu sengaja tidak mengelak! Dia beranggapan bahwa sekali 

tongkat bambu kuning itu membentur toya besinya pastilah akan patah dua! Tapi betapa terkejutnya Warok Gde Jingga sewaktu 

melihat bukan saja tongkat lawan tidak patah bahkan sewaktu bentrokan terjadi, toya besinya terpukul keras hampir saja 

terlepas dari genggamannya!Dengan menggertakkan rahang Warok Gde Jingga menerjang ke muka. Toya besinya laksana titiran, menderu dan 

mengurung Nyoman Dwipa dari seluruh penjuru! 

Sementara itu dari satu tempat yang terlindung di balik jendela rumah besar, sepasang mata menyaksikan pertempuran itu 

dengan hati cemas. Kecemasan itu tertuju pada diri Nyoman Dwipa. Kecemasan itu adalah kalau-kalau si pemuda akan menjadi 

korban mendapat celaka di tangan Warok Gde Jingga. Tapi cetika menyaksikan bagaimana Nyoman Dwipa dengan tenang 

melayani lawannya, orang yang mengntai itu merasa lega sedikit. Dan orang ini bukan ain Luh Bayan Sarti, adik Warok Gde 

Jingga yang telah dikalahkan oleh Nyoman Dwipa tadi! 

Dua puluh jurus telah berlalu. Gerakan-gerakan Warok Gde Jingga semakin gesit dan ganas. Toyanya lenyap dalam 

sambaran-sambaran sinar hitam yang nengeluarkan angin dingin serta bersiutan. Debu dan pasir beterbangan di sekeliling 

orang-orang yang bertempur itu! Semakin bertambah jurus demi jurus, semakin meluap kemarahan Warok Gde Jingga. Sebagai 

kepala rampok yang ditakuti dan punya nama besar dikalangan rimba persilatan di Pulau Bali, baru kali ini dia menghadapi 

lawan yang demikian tanguhnya. Karena pertempuran itu disaksikan oleh anak-anak buahnya pula maka tentu saja rasa malu 

membuat amarahnya tambah menggelegak! Amarah yang menggelegak ini tak bisa lagi dikendalikan karena bagaimana pun dia 

menggempur lawan dengan toya besi serta dibarengi dengan pukulan-pukulan tangan kosong yang hebat tetap saja menemui 

kesia-saan! Akibatnya saat itu semua orang menyaksikan bagaimana Warok Gde Jingga bertempur macam kerbau gila atau 

celeng kemasukan setan, seradak sana seruduk sini, melompat sini melompat sana! Keringat membasahi tubuhnya yang tidak 

mengenakan pakaian. Gerakan-gerakannya yang gerabak-gerubuk itu tambah tak karuan lagi sewaktu dia dengan kalap terus 

menggempur marah karena ujung tongkat bambu kuning Nyoman Dwipa berhasil memukul ikatan kaitan di ujung toya 

sebelah kanan hingga kaitan-kaitan itu terlepas dan mental! 

Tiga puluh lima jurus telah berlalu kini. 

"Warok Gde Jingga apakah masih akan diteruskan pertempuran ini atau cukup sampai di sini saja?!" berseru Nyoman 

Dwipa. 

Seruan ini membuat darah kepala rampok itu tambah mendidih. Dia balas berteriak, "Aku belum kalah! Kalau kepalamu 

sudah pecah terpukul toyaku baru pertempuran berhenti!" 

Nyoman Dwipa tertawa kecil. Tiga perempat tenaga dalamnya dialirkan ke tongkat bambu kuning. Dan ketika tongkat itu 

membuat satu sambaran tajam ke bagian tengah toya besi di tangan Warok Gde Jingga, ketika benturan keras terjadi, Warok 

Gde Jingga merasa tangannya pedas dan sakit bukan main. Dia tak sanggup lagi mempertahankan toya itu hingga terlepas dari 

tangannya dan mental ke udara! Sewaktu toya itu menggeletak jatuh di tanah terbeliaklah mata Warok Gde Jingga. Badan toya 

yang kena dihantam bambu kuning temyata telah menjadi bengkok dan genting hampir putus! 

Nyoman Dwipa tersenyum kecil lalu memasukkan tongkat bambu kuningnya ke balik pinggang kembali. "Permainan 

sudah selesai, Warok. Kuharap kau memenuhi janjimu, menyerahkan kembali patung emas yang telah dirampok oleh adikmu!"Meskipun saat itu Warok Gde Jingga malu dan marah bukan main, meskipun dia seorang yang sudah terkenal 

kejahatannya namun dalam satu hal kepala rampok ini patut dipuji. Hal itu ialah sifatnya yang memegang teguh segala janji 

yang diucapkannya. Maka dia memerintah seorang anak buahnya untuk mengambil patung emas dari dalam rumah. Benda itu 

kemudian diserahkannya pada. Nyoman Dwipa dan Nyoman Dwipa selanjutnya menyerahkan pada prajurit-prajurit Kadipaten 

Surabaya. Bukan main gembira prajurit-prajurit itu. 

Di hadapan Warok Gde Jingga Nyoman Dwipa menjura dan berkata, "Terima kasih atas segala pelayanan yang kau 

berikan. Juga terima kasih yang kau sudah suka mengembalikan patung emas itu. Aku dan prajurit-prajurit ini hendak minta 

diri sekarang." 

"Prajurit-prajurit itu boleh pergi, tapi kau tetap di sini, Nyoman!" sahut Warok Gde Jingga. 

"Eh, kenapa begitu Warok?" tanya Nyoman Dwipa heran. 

"Aku mau bicara denganmu," sahut kepala perampok dari bukit Jaratan itu. 

Setelah berpikir dengan cepat, Nyoman Dwipa kemudian menganggukkan kepala dan berpaling pada prajurit-prajurit di 

sampingnya. "Kalian pergilah, biar aku tetap di sini dulu." 

Setelah mengucapkan terima kasih pada si pemuda maka prajurit-prajurit itu kemudian meninggalkan sarang perampok 

tersebut dengan cepat. Mereka kawatir kalau-kalau mendapat kesulitan baru pula di tempat itu. 

"Nah, mereka sudah pergi. Apa yang hendak kau bicarakan, Warok?" tanya Nyoman Dwipa. 

"Kita bicara di dalam, Nyoman!" jawab kepala rampok itu lalu dibawanya Nyoman Dwipa masuk ke dalam rumah besar. 

Sampai di dalam Nyoman dipersilahkan duduk di satu ruangan yang berperabotan serba mewah. Warok Gde Jingga 

memerintahkan bujang-bujangnya untuk menghidangkan makanan dan minuman yang tezat-lezat, Setelah menyantap hidangan 

itu barulah Warok Gde Jingga menerangkan maksudnya menahan Nyoman Dwipa. 

"Ilmu silatmu tinggi sekali. Permainan tongkatmu lihay. Melihat kepada jurus dan gerak yang kau keluarkan, dan 

mengetahui bahwa di Pulau Bali ini cuma ada seorang tokoh sakti yang memiliki ilmu tongkat yang hebat luar biasa, apakah 

kau bukannya murid orang sakti itu, Nyoman?" 

Nyoman Dwipa tertawa. 

"Orang sakti manakah maksudmu?" tanyanya. 

"Ah, kau pura-pura bertanya pula. Orang tua gagah yang bernama Menak Putuwengi itu tentunya!" 

Kembali Nyoman Dwipa tertawa. "Guruku cuma guru silat biasa, Warok. Tokoh temama seperti Menak Putuwengi itu 

mana mau mengangkat aku jadi muridnya?" 

Warok Gde Jingga meneguk tuaknya habishabis lalu berkata, "Baiklah Nyoman, soal siapa gurumu tak perlu kita 

bicarakan. Yang penting adalah kenyataan bahwa ilmu silatmu amat tinggi dan membuat aku benar-benar kagum. Bagaimana 

kalau kita bekerja sama memimpin orang-orangku yang ada di seluruh bukit Jaratan ini? Segala hasil yang kita dapat menjadimilik bersama, kita bagi dua! Bahkan harta kekayaanku yang ada sekarang akan kuberikan separohnya padamu!" 

"Rupanya inilah maksud kepala rampok ini menahanku." kata Nyoman Dwipa pula dalam hati. 

"Terima kasih atas tawaran dan kepercayaanmu itu. Warok. Tapi menyesal aku tak dapat menerimanya...." 

"Ah! Mari, kau lihatlah dulu gudang penyimpanan harta kekayaanku. Kalau kau sudah melihat, pasti kau tak akan mau 

menampik lagi tawaranku." kata Warok Gde Jingga seraya hendak berbangkit dari duduknya. 

Nyoman melambaikan tangannya dan berkata, "Aku percaya harta kekayaanmu banyak sekali dan tak ternilai harganya," 

kata pemuda ini, "namun sebenarnya ada banyak urusan yang harus kusalesaikan. Untuk saat ini aku benar-benar tak bisa 

menerima tawaranmu, entah di lain ketika." Lalu pemuda inipun berdiri dari kursinya. 

Warok Gde Jingga kecewa sekali. Kalau saja Nyoman Dwipa mau ikut bersamanya pasti seluruh Bali akan berada dalam 

genggamannya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa memaksa. Dan pemimpin rampok inipun lantas berdiri, 

mengantarkan tamunya ke ujung halaman. 

*** 

Belum lewat sepeminuman teh lamanya Nyoman Dwipa meninggalkan bukit Jaratan telinganya dan perasaannya yang 

tajam menyatakan bahwa seseorang saat itu tengah menguntitnya. Di satu tikungan jalan pemuda ini menghentikan larinya dan 

menyelinap bersembunyi di balik sebatang pohon besar yang bagian bawahnya ditumbuhi semak belukar lebat. Dia menunggu 

dan selang beberapa ketika lamanya penguntit itupun muncul di tikungan jalan. Betapa terkejutnya Nyoman ketika melihat 

bahwa orang itu ternyata bukan lain dari Luh Bayan Sarti, adik kandung Warok GdeJingga adanya! Maka dengan penuh heran 

pemuda inipun keluar dari persembunyiannya. 

"Selamat berjumpa kembali saudari." kata Nyoman. 

Luh Bayan Sarti terkejut. Parasnya merah seketika kemudian dicobanya tersenyum dan berkata, "Aku tengah menuju ke 

Denpasar. Tak diduga bertemu denganmu di sini." 

Nyoman berpikir apakah ucapan gadis itu bukan kedustaan belaka? 

"Aku sendiri juga tengah menuju ke sana," kata Nyoman. 

"Betul? Kalau kau tak keberatan . . . . " 

Nyoman Dwipa sudah tahu kelanjutan katakata gadis itu maka diapun memotong. "Tentu saja aku tak keberatan pergi 

sama-sama denqanmu ke Denpasar". Namun dalam hatinya Nyoman merasa menyesal mengeluarkan ucapan itu. Maksudnya ke 

Denpasar adalah untuk mencari musuh bebuyutannya. Dan kini dia ke sana bersama gadis itu, tentu akan mencari tambanan 

pekerjaan saja dan salah-salah bisa cari urusan baru! Dipandanginya paras gadis itu. Cantik memang. Dan sungguh disayangkan 

kalau dara secantik ini menjadi adik kandung kepala rampok dan ikut-ikutan pula menjadi perampok!"Agaknya kau menyesal mengeluarkan ucapan tadi?" tanya Luh Bayan Sarti tiba-tiba seraya mengerling pada si pemuda. 

Nyoman tertawa lebar-lebar. "Seiring dengan dara secantikmu dalam perjalanan adalah satu hal yang menyenangkan," 

katanya. "Apakah maksudmu pergi ke Denpasar?" 

"Hendak mengunjungi seorang sahabat lama." jawab Luh Bayan Sarti. 

"Kawan atau kekasih?" tanya Nyoman pula. 

Paras sang dara kembali menjadi kemerah-merahan. "Aku tak punya kekasih," katanya kemudian. 

"Oh....!" 

"Dan kau sendiri perlu apakah ke Denpasar? Kau tinggal di situ?" ganti menanya Luh Bayan Sarti. 

"Ada urusan penting," jawab Nyoman. Dia memandang ke langit lalu berkata. "Kita harus berangkat cepat-cepat. Sebelum 

malam musti sudah sampai di Denpasar." 

Luh Bayan Sarti mengangguk. Lalu keduanyapun meninggalkan tempat itu.


13 

MEREKA memasuki Denpasar ketika sang surya baru saja tenggelam di ufuk barat. Untuk tidak menarik perhatian orang 

keduanya memasuki kota dengan jalan kaki biasa. 

"Aku akan mencari penginapan." kata Nyoman Dwipa. "Bagaimana dengan kau, apakah akan terus ke tempat sahabatmu 

itu?" 

"Tubuhku letih sekali," sahut Luh Bayan Sarti. "Rumah sahabatku terletak di sebelah barat luar kota. Karena kita datang 

dari jurusan timur cukup jauh juga untuk mencapai tempatnya itu. Kurasa sebaiknya aku juga mencari penginapan. Besok baru 

meneruskan perjalanan kerumahnya." 

Nyoman menganggukkan kepala. Kini semakin yakin pemuda ini bahwa kepergian Luh Bayan Sarti yang katanya hendak 

menguniungi sahabat lamanya itu adalah satu kedustaan belaka. Sepanjang jalan dari bukit Jaratan sampai ke Denpasar banyak 

sekali sikap gadis itu yang dirasakannya aneh. Berulang kali dilihatnya Luh Bayan Sarti memperhatikannya secara diam-diam. 

Bila sekali-sekali mereka saling berbentur pandangan, paras gadis itu berubah kemerah-merahan dan kepalanya ditundukkan 

atau dipalingkan kejurusan lain. Nyoman sendiri jadi merasa aneh lama-lama mempunyai perasaan lain yang membuat hatinya 

jadi berdebar. Tapi perasaan itu dibuangnya jauh-jauh bila dia ingat pada almarhum kekasih yang dicintainya yaitu Ni Ayu 

Tantri. Kepergiannya ke Denpasar justru untuk menuntut balas kematian gadis itu, juga kematian ayah dan kawan-kawannya. 

Dan kini hati yang mendendam kesumat itu dibayangi oleh perasaan lain tersebut membuat Nyoman merasa bahwa seolah-olah 

dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Ni Ayu Tantri! 

Di sebuah rumah penginapan yang torletak di pusat kota Nyoman menyewa dua buah kamar. 

Satu untuknya sendiri dan yang lain untuk Luh Bayan Sarti. Kalau sang dara begitu masuk ke kamar terus berbaring dan 

tertidur pulas maka Nyoman Dwipa terlebih dulu pergi mandi membersihkan diri. Habis mandi rasa letihnya agak hilang 

berganti dengan kesegaran. Dia memanggil pelayan dan memesan dua porsi nasi. Yang satu porsi disuruhnya mengantarkan ke 

kamar Luh Bayan Sarti. Sambil menyantap makanannya Nyoman berpikir-pikir apakah malam itu juga akan dilakukannya 

penyelidikan di mana letak tempat kediaman musuh besamya yang bemama Tjokorda Gde Jantra itu dan sekaligus melakukan 

pembalasan melampiaskan dendam kesumat yang dipendamnya selama hampir lima bulan. Atau ditunggunya sampai besok? 

Tengah dia menyantap makanan dan berpikirpikir itu mendadak pintu kamar diketuk orang. Nyoman Dwipa meletakkan 

piringnya di atas meja lalu membuka pintu. Pelayan penginapan berdiri di muka pintu itu dan menerangkan bahwa ketika dia 

mengantarkan hidangan ke kamar Luh Bayan Sarti temyata kamar itu kosong melompong, si gadis tak ada di dalamnya. 

"Saya rasa terjadi hal yang tidak beres." menerangkan pelayan itu. 

Mulanya Nyoman Dwipa menyangka Luh Bayan Sarti sedang pergi mandi. Tapi mendengar keterangan pelayan itu diai terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu ada yang tak beres?" 

"Jendela terpentang lebar, engselnya rusak!" 

Tanpa menunggu lebih lama Nyoman Dwipa segera lari ke kamar Luh Bayan Sarti. Apa yang di terangkan oleh pelayan 

temyata betul. Kamar itu kosong, jendela terbuka lebar dan sebuah engselnya rusak. Buntalan pakaian milik Luh Bayan Sarti 

masih tergeletak di atas pembaringan. Tak ada tanda-tanda bekas terjadinya perkelahian di kamar itu. Apakah sesungguhnya 

yang telah terjadi? Ke mana perginya Luh Bayan Sarti? Nyoman keluar dari rumah penginapan. Di luar hari telah malam. Udara 

dingin oleh hembusan angin. Gumpalan-gumpalan awan hitam menggantung di langit. Setelah melakukan penyelidikan di 

sekitar penginapan dan tak berhasil menemui Luh Bayan Sarti Nyoman Dwipa kembali menemui pelayan tadi dan berpesan 

agar tidak menerangkan peristiwa itu kepada siapapun. Lalu Nyoman sendiri kemudian meninggalkan rumah penginapan itu 

untuk menyelidiki ke mana lenyapnya gadis itu. Dalam hati kecilnya dia mengeluh. Jika betul terjadi apa-apa dengan gadis itu 

sedikit banyaknya dia harus bertanggung jawab. Ini berarti datangnya satu urusan baru padahal urusannya yang lebih penting 

yaitu melakukan pembalasan terhadap Tjokorda Gde Djantra sampai saat itu masih belum dilaksanakan! 

Hampir dua jam lamanya Nyoman Dwipa meiakukan penye!idikan di seluruh Denpasar bahkan sampai ke-pelosok-

pelosok dan daerah luar kota. Penyelidikannya sia-sia belaka. Jangankan orangnya, jejak Luh Bayan Sarti-pun tak dapat 

dicarinyal Bayan Sarti-pun tak dapat dicarinya! 

"Berabe kalau begini." keluh Nyoman Dwipa. Dengan putus asa dan juga mengkal pemuda ini kembali ke penginapan. 

*** 

Apakah sebenarnya yang telah terjadi dengan Luh Bayan Sarti? 

Ketika petang itu Nyoman dan Luh Bayan Sarti memasuki Denpasar dari jurusan barat, seorang penunggang kuda yang 

tangan kanannya buntung memapasi mereka. Karena jalan yang ditempu memang banyak dilewati orang dan lagi pula saat itu 

hari sudah agak gelap maka baik Nyoman maupun Sarti sama sekali tidak memperhatikan orang-orang 

yang mereka papasi, termasuk penunggang kuda tadi. Namun penunggang kuda ini bukanlah orang yang lalu lalang biasa saja. 

Dia bukan lain dari Ki Sawer Balangnipa, si manusia yang tampangnya macam ular yang telah pemah bertempur melawan 

Nyoman Dwipa dan Wiro Sableng beberapa waktu yang lalu! Karena manusia pemelihara ular ini seorang hidung belang 

bermata keranjang maka setiap melihat perempuan pasti tak akan luput dari pandangan matanya! Begitu juga ketika dia 

berpapasan dengan Luh Bayan Sarti. Melihat paras Sarti yang jetita, timbullah niat terkutuk dalam hati dan benaknya! 

Namun sewaktu dia memperhatikan pemuda yang berjalan di samping sang dara, kagetlah Ki Sawer Balangnipa. Cepat dia 

mengenali Nyoman Dwipa sebagai pemuda yang telah bertempur dengan dia di tepi danau beberapa waktu yang lalu! Jika gadis 

itu ada hubungan apa-apa dengan si pemuda tentu saja dia tak punya nyali untuk melaksanakan maksud terkutuknya itu. Tapi

sebagai seorang yang licik, Ki Sawer Balangnipa punya seribu satu macam akal. Sengaja dia melewati kedua orang itu sampai 

beberapa jauhnya kemudian berbalik kembali dan mengikuti Nyoman serta Sarti secara diam-diam. Dia sudah menyusun 

rencana sebagai berikut. Mula-mula akan diculiknya gadis berpakaian hitam yang sangat rnenarik hati dan merangsang nafsu 

bejatnya itu! Bila dia sudah dapatkan itu gadis akan dihubunginya beberapa tokoh-tokoh silat yanq berada di Denpasar lafu 

bersama-sama mereka akan mendatangi pemuda itu untuk rnelakukan pembalasan atas kekalahannya tempo hari dalam 

pertempuran di tepi danau! 

Sewaktu melihat kedua orang itu memasuki sebuah penginapan, Ki Sawer Balangnipa berpendapat inilah kesempatan 

yang baik baginya untuk segera melaksanakan niat busuknya itu. Dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi Ki Sawer 

Balangnipa berhasil memasuki kamar penginapan di mana Luh Bayan Sarti terbaring tidur keletihan tanpa mengeluarkan suara 

sedikitpun! Karena gadis itu sedang tidur nyenyak mudah sekali bagi manusia yang punya tampang seperti ular itu untuk 

menotok urat di tubuh Luh Bayan Sarti. Dalam keadaan masih tertidur gadis itu kemudian dilarikannya keluar kota. 

Kuda yang ditunggangi Ki Sawer Balangnipa laksana anak panah lepas dari busurnya dalam gelapan malam. Menjauhi 

kota dia berpikir-pikir ke mana akan dibawanya gadis itu. Akhirnya dia ingat sebuah kuil tua yang terletak di sebelah barat 

Denpasar. Kuil itu sudah sejak lama tidak dipergunakan. Orang yang lalu lintas memakainya sebagai tempat beteduh di kala 

hujan dan panas terik. Segera laki-laki ini memutar kudanya ke jurusan barat. Di langit buan sabit muncul setelah beberapa 

lamanya bersembunyi di balik awan hitam tebal. Sinar bulan sabit ini tak sanggup mengalahkan gelapnya malam di saat itu. 

Selewatnya sebuah pesawangan Ki Sawer Balangnipa membelok memasuki sebuah jalan berbatu dan mendaki. Kira-kira 

sepeminuman teh dia sampai satu persimpangan. Ki Sawer Balangnipa menghentikan kudanya karena di antara persimpangan 

itulah letak kuil tua yang ditujunya. Pada siang hari dua mulut jalan yang mengapit kuil tua itu ramai dilewati orang-orang yang 

lalu lintas terutama para pedagang. Tapi pada malam hari suasana di situ sunyi senyap. Tak satu orangpun yang berani lewat 

kecuali prajurit-prajurit kerajaan yang meronda. Daerah sekitar situ sering kali menjadi tempat beroperasinya gerombolan 

rampok Warok Gde Jingga dari Bukit Jaratan yaitu kepala rampok yang telah dikalahkan Nyoman Dwipa beberapa hari yang 

lalu. 

Dengan memanggul Luh Bayan Sarti laki-laki itu melangkah memasuki halaman kuil. Semula dia hendak menurunkan 

tubuh gadis itu di bagian depan, tapi setelah berpikir sejenak akhirnya dia masuk ke bagian dalam kuil. Di sini keadaan lebih 

gelap, tapi dibandingkan dengan di luar keadaan lantai jauh lebih bersih. Ki Sawer Balangnipa menyandarkan Luh Bayan Sarti 

di dinding kuil. Seringai setan terpampang di wajahnya yang bermuka binatang itu. Di sekanya peluh yang mencicir di kening, 

kemudian dua jari tangan kirinya bergerak melepaskan totokan ditubuh gad is itu. 

Luh Bayan Sarti membuka kedua matanya. Kegelapan menghambar di hadapannya. Kemudian ketika sepasang matanya 

menjadi biasa dengan kegelapan itu heranlah gadis ini. Di manakah aku berada, pikirnya. Dia memandang sekali lagi 

berkeliling. Tiba-tiba tersentaklah dia karena tidak dinyananya kalau saat itu dekat sekali di hadapannya duduk mencangkungosok tubuh yang hitam pekat di telan kegelapan. Tak dapat dipastikan oleh gadis ini apakah yang dihadapannya itu manusia 

atau setan tapi yang jelas paras sosok tubuh itu mengerikan sekali, macam kepala dan paras seekor ular! 

"Mungkin aku bermimpi," pikir Luh Bayan Sarti. Digigitnya bibirnya. Terasa sakit. Dan pada saat itu makhluk di 

hadapannya datang mendekat, mengulurkan tangannya hendak menjamah tubuhnya. Di mulutnya tersungging seringai buruk 

yang menggidikkan dan dari sela bibirnya terdengar suara seperti mengekeh yang amat pelahan sedang dari hidungnya 

menghembus nafas panas! 

"Siapa kau?!" bentak Luh Bayan Sarti seraya melompat. 

Orang dihadapannya berdiri perlahan-lahan seraya keluarkan suara tertawa mengekeh. 

"Jangan bertanya segalak itu, gadis cantik. Kau berhadapan dengan Ki Sawer Balangnipa ⁄" 

"Aku tak kenal kau! Lekas angkat kaki dari dapanku!" 

Ki Sawer Balangnipa tertawa gelak-gelak. 

"Gadis galak biasanya juga galak di atas tempat tidur! Sayang di sini tak ada tempat tidur . . . " 

"Bangsat rendah! Kau kira berhadapan dengan siapakah?!" bentak Luh Bayan Sarti. 

"Sreett!!" 

Gadis itu cabut pedangnya dari balik pakaian. Sedetik kemudian tubuhnya sudah berkelebat dan pedang di tangan 

kanannya menderu dalam satu bacokan yang laksana kilat cepatnya ke batok kepala Sawer Balangnipa. 

"Trang!!" 

Pedang Luh Bayan Sarti menghantam tembok kuil hingga hancur berguguran. Entah bagaimana mendadak sekali Ki 

Sawer Balangnipa tahu-tahu lenyap dari hadapan gadis itu hingga serangan Luh Bayan Sarti mengenai tempat kosong dan terus 

melanda tembok kuil! Gadis itu mengutuk habisibisan dalam hati. Sewaktu dirasakannya sambaran angin datang disamping 

kanannya, gadis ini cepat membalik seraya kiblatkan pedangnya. Tapi lagi-lagi dia menghantam tempat kosong dan sebelum dia 

bisa berbuat suatu apa, sebuah totokan bersarang di dadanya membuat sekujur tubuhnva mendadak sontak menjadi kaku tegang 

dalam keadaan masih memegangi pedang! 

Didahului oleh suara tertawa mengekeh maka anusia bermuka ular itu kembali muncul di hadapan Luh Bayan Sarti 

dengan cengar-cengir seenaknya. 

"Senjata ini tak boleh dibuat main", kata Ki iwer Balangnipa dengan tertawa-tawa lalu diambilnya pedang dari tangan 

gadis itu dan dilemparkannya sudut kuil. 

"Bangsat kau lepaskah totokanku atau tidak." bentak Luh Bayan Sarti. 

"Siapa yang mau ambil risiko, nona manis?!" sahut Ki Sawer Balangnipa. "Sudahlah, kau tak usah bicara keras-keras yang 

hanya mengejutkan setan-setan penghuni kuil tua ini saja! Di samping itu tak baik berdiri terus-terusan. Mari kutolong kau ber-

baring di lantai sinietan alas! Kau mau bikin apa?!" 

"Mau bikin apa ...?" Ki Sawer Balangnipa mengulang sambil tertawa mengekeh. "Kau lihat saja nanti. Yang pasti kau bakal 

merasakan bagaimana pandainya aku merubah malam yang dingin ini menjadi malam yang hangat bagi kita!" Habis berkata 

begitu dengan tangan kirinya Ki Sawer Balangnipa meraih pinggang si gadis dan membaringkannya di lantai kuil! 

"Keparat kalau kau tidak lekas melepaskan aku, niscaya kau akan menyesal seumur hidup bahkan menyesal sarnpai ke 

hang kubur!" 

"Ha .... ha, siapa yang akan menyesal merasakan kemulusan dan kepadatan tubuhmu! Siapa yang menyesal merasakan 

kenikmatan dirimu sebagai seorang perempuan, seorang perawan?! Ha ... ha . . . ! Matipun aku tidak menyesal nonaku!" 

Sehabis berkata begitu Ki Sawer Balangnipa menyelinapkan tangan kirinya ke bawah baju si gadis! Luh Bavan Sarti 

laksana disengat kalajengking sewaktu merasakan bagaimana jari-jari tangan laki-laki itu menyentuh buah dadanya! 

"Manusia dajal! Rupanya kau belum tahu siapa aku!" 

"Ah sudahlah jangan mengoceh juga," desis Ki Sawer Balangnipa. Lalu dengan penuh geram nafsu dibetotnya baju gadis 

itu hingga kancing-kancingnya berputusan. 

"Keparat! Nyawamu tak akan berampun! Aku adalah adik Warok Gde Jingga dari Bukit Jaratan!" 

Ki Sawer Balangnipa terkejut juga mendengar ucapan ,gadis itu. Sesaat kemudian kemheli terdengar suara tertawanya. 

"Oh, jadi kau adiknya kepala rampok hina dina itu? Siapa takutkan dia? Sepuluh manusia macam dia dijejer di hadapan Ki 

Sawer Balangnipa pasti akan kulabrak musnah!" Lalu tangan laki-laki itu berjerak mengelus perut Luh Bayan Sarti untuk 

kemudian dengan sangat terkutuknya meluncur ke bawah! 

"Keparat! Kalau tidak kakakku, kawanku pasti akan datang menabas batang lehermu!" 

"Hem siapakah kawanmu itu?" 

"Nyoman Owipa! Dia murid Menak Putuwengi!" 

"Jangan menipuku! Menak Putuwengi sudah sejak lama lenyap! Sudah mampus!" Dan gerakan tangan Ki Sawer 

Balangnipa yang tadi terhenti kini kembali meluncur! Namun sebelum tangan terkutuk itu dapat meluncur lebih jauh, satu 

bentakan menggeledek dari ruang depan. 

"Terkutuk! Di tempat suci berani bikin kotor!" Terdengar satu suara siulan melengking langit dan berbarengan denjan itu 

selarik angin keras dan dingin menggidikkan menyambar ke arah batok kepala Ki Sawer Balangnipa!KAGETNYA Ki Sawer Balangnipa laksana melihat dan mendengar petir menyambar di puncak hidungnya! Kalau saja dia tidak 

cepat menjatuhkan diri dan bergulingan di lantai kuil pastilah kepalanya tak bisa diselamatkan dari hantaman angin dahsyat 

tadi! Begitu berdiri begitu dia membentak! 

"Bangsat rendah yang menyerang secara gelap, coba unjukkan tampangmu!". Tiba-tiba Ki Sawer Balangnipa melengak 

karena baru saja dia habis membentak di belakangnva terdengar suara tertawa mengekeh. 

"Silahkan putar tubuh dan kau akan melihat tampangku manusia muka ular!" 

Ki Sawer Balangnipa membalikkan tubuhnya dengan cepat! Heran, hebat sekali gerakan manusia itu hingga dia tak 

sempat melihat bayangannyapun dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya! Ketika berhadap-hadapan dengan manusia itu 

mendadak menciutlah nyali Ki Sawer Balangnipa. Betapakan tidak. Orang yang kini berdiri di depannya bukan lain pemuda 

yang tempo hari telah membunuh puluhan ekor ularnya di tepi danau! Tapi rasa ngerinya itu tidak diperlihatkannya. Malah dia 

menyembunyikan dengan membentak garang! 

"Kau rupanya bangsat haram jadah! Di cari-cari tak ketemu kini datang sendiri mengantar nyawa!" 

Orang dihadapannya mengeluarkan suara bersiul. "Apakah tangan kananmu yang buntung sudah disambung hingga kau 

bernyali besar sekali?!" 

Ki Sawer Balangnipa marah sekali. "Keparat! Apa yang kau lakukan tempo hari kini kau bakal terima balasannya bangsat 

Wiro Sableng!" 

Habis berkata begitu Ki Sawer Balangnipa menggerakkan tangan kirinya dan sesaat kemudian sebuah senjata yang dibuat 

dari ular kering menderu ganas ke depan. 

Pendekar 212 Wiro Sableng yang tahu kelihayan lawan meskipun saat itu tangannya cuma tinggal satu, dengan tidak ayal 

segera bergerak menyelamatkan kepalanya. Dilain pihak Ki Sawer Balangnipa yang sudah pernah berhadapan dengan si pemuda 

dan suclah tahu betapa tingginya ilmu silat serta kesaktian Wiro Sableng, segera mengeluarkan jurus-jurus terhebat dari ilmu 

silatnya. Ular kering di tangan kirinya laksana hidup menjadi puluhan banyaknya dan menyerbu ke seluruh bagian tubuh 

Pendekar 212 Wiro Sableng! Yang lebih hebatnya lagi karena dari mulut ular itu setiap saat menvambar racun hijau yang amat 

berbahaya. Meskipun kebal segala macam racun namun Wiro menutup penciumannya. 

Pertempuran berjalan demikian serunya hingga Luh Bayan Sarti yang menyaksikan sampai-sampai lupa diri di mana dia 

berada dan apa sesungguhnya yang telah terjadi sebelumnya atas dirinya. Juga lupa nasib apa yang bakal menimpa dirinya jika 

pemuda berambut gondrong berpakaian putih itu tidak muncul di saat yang sangat kritis itu! 

Untuk menghadapi serangan-serangan ganas yang bertubi-tubi serta jurus-jurus aneh yang dilancarkan lawan, WiroSableng sengaja keluarkan jurus-jurus pertahanan ilmu silat "orang gila" yang dipelajarinya dari Tua Gila. Jurus-jurus pertahanan 

tersebut diselingnya dengan jurus-jurus serangan warisan gurunya Eyang Sinto Gendeng. Hingga walau bagaimanapun hebatnya 

Ki Sawer Balangnipa, untuk merobohkan pemuda itu sampai seribu juruspun dia belum tentu bisa melakukannya. Di lain 

pihak WiroSablengsendiri maklum pula yang dia tidak pula akan bisa mempecundangi lawannya dengan mudah! Karena itu 

kedua tangannya kiri kanan mulai melancarkan pukulan-pukulan sakti yang mengandung tenaga dalam teramat tinggi! Ki Sawer 

Balangnipa mulai kewalahan! Jika saja gerakannya tidak gesit sudah tiga kali kepalanya hampir dilanda pukulan lawan! 

Jurus kedua puluh ke atas Ki Sawer Balangnipa sudah terdesak hebat. Ketika lengan kirinya kena terpukul dan ular kering 

yang menjadi senjatanya mental jauh, nyali manusia ini benar-benar meleleh! Didahului dengan bentakan dahsyat laki-laki ini 

harttamkan tangan kirinya ke depan. Satu gelombang angin yang amat keras menderu menyambar ke arah Pendekar 212 Wiro 

Sableng. Itulah pukulan sejagat bayu! Sewaktu Wiro Sableng berdiri limbung diterpa angin pukulan, kesempatan itu 

dipergunakan oleh Ki Sawer Balangnipa untuk melesat ke ruangan luar dan sebelum Wiro sempat mengejar, laki-laki itu sudah 

lenyap di kegelapan malam! 

Pendekar 212 Wiro Sableng merutuk habis-habisan. Baginya manusia semacam Ki Sawer Balangnipa tukang rusak 

kehormatan perempuan itu tak ada pengampunan, apalagi mengingat pertempuran tempo hari di tepi danau. Tapi saat itu dia 

tak bisa berbuat suatu apa karena lagi-lagi Ki Sawer Balangnipa berhasil pula melarikan diri. 

Wiro Sableng masuk ke dalam kuil tua kembali dan melangkah ke tempat di mana Luh Bayan Sarti terbujur dengan dada 

tiada tertutup dan celana panjangnya merorot turun. Meskipun keadaan dalam kuil itu gelap namun sepasang mata Pendekar 

212 masih sanggup menikmati kebagusan buah dada dan keputihan perut Luh Bayan Sarti. Dengan mempergunakan jari-jari 

tangan kirinya Wiro kemudian melepaskan totokan di tubuh sang dara. 

Begitu tubuhnya terlepas dari totokan, secepat Kilat Luh Bayan Sarti melompat, merapikan baju dan celana hitamnya. 

"Pemuda tak dikenal, terima kasih atas pertolonganmu. Harap kau sudi memberi tahukan nama ..." kata Luh Bayan Sarti 

bila pakaiannya sudah rapi. 

"Aku Wiro Sableng. Kau siapa?" 

"Luh Bayan Sarti," jawab si gadis memberi tahukan namanya. "Sekali lagi terima kasih". Lalu gadis itu melompat ke pintu 

kuil. 

"Hai tunggu dulu!" seru Wiro Sableng mengejar. Sekali lompat saja dia sudah berada di hadapan gadis itu. 

"Ada apa?!" tanya Luh Bayan Sarti. "Mohon dimaafkan kalau aku tak bisa bicara lama-lama dengan kau. Itu bukan aku 

tidak tahu diri dan tak menghargai pertolonganmu, tapi karena aku harus cepat-cepat kembali ke kota." 

Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya yang berambut gondrong. 

"Waktu aku sampai ke sini tadi kudengar kau menyebut-nyebut nama Nyoman Dwipa. Apa sangkut pautmu dengan 

pemuda itu?"uh Bayan Sarti tak segera menjawab. Di tengah perjalanan ke Denpasar, Nyoman Dwipa menuturkan kepadanya tentang 

dendam kesumatnya terhadap seorang pemuda yang telah membunuh kekasihnya. Nyoman tidak menerangkan siapa nama 

pemuda itu. Tak bukan mustahil pemuda yang berdiri di hadapannya saat ini adalah musuh besar Nyoman Dwipa. Kalau tidak 

mengapa dia bertanya apa sangkut pautnya dengan Nyoman Dwipa? 

"Katakan dulu apa hubunganmu dengan Nyoman Dwipa," ujar Luh Bayan Sarti. 

Wiro kerenyitkan kening dan kembali menggaruk kepalanya. Dia tadi bertanya, tapi malah dijawab dengan balik bertanya. 

"Dia sahabatku," jawab Wiro. 

"Betul?! " 

Wiro tertawa dan berkata, "Ada alasan yang membuat kau tak percaya ucapanku?!" 

"Walau bagaimanapun baru kali ini aku kenal kau, meski kau adalah tuan penolongku!" 

"Ah, jangan sebut-sebut soal pertolongan itu. Yang penting terangkan di mana Nyoman Dwipa berada saat ini. Aku ingin 

bertemu dengan dia." 

"Kenapa ingin bertemu?" 

"Eh, kau sangat curiga terhadapku! Dua sahabat ingin berternu apakah ada larangan? Kalau aku seorang gadis cukup 

pantas kau tidak menyukai pertemuanku dengan pemuda itu. Tapi toh aku ini laki-laki, sama seperti Nyoman?!" 

"Kau tahu, sahabatku itu datang ke Denpasar untuk mencari musuh besarnya. Seorang pemuda yang telah membunuh 

kekasihnya . . . " 

"Dan kau menduga aku orangnya yang menjadi musuh besar Nyoman Dwipa itu?!" Wiro Sableng lantas tertawa gelak-

gelak. Lalu diceritakannya pada Luh Bayan Sarti bagaimana pertama kali dia bertemu dengan Nyoman dan sama-sama 

bertempur melawan Ki Sawer Balangnipa. "Justru aku dalam perjalanan ke Denpasar mencari dia untuk menanyakan bagaimana 

penyelesaian persoalannya itu." 

"Kalau begitu kita sama-sama saja ke Denpasar," kata Luh Bayan Sarti. 

Wiro menyetujui. Kedua orang itu kemudian berangkat ke Denpasarr 

*** 

Mereka sampai di Denpasar menjelang tengah malam. Penginapan sunyi senyap, hanya dibeberapa bagian saja kelihatan 

lampu masih menyala. Seorang pelayan membukakan pintu depan sewaktu diketuk oleh Luh Bayan Sarti. Setengah mengantuk, 

pelayan itu berkata. "Semua kamar terisi. Harap cari saja penginapan lain." 

"Aku memang menginap di sini sebelumnya," jawab Luh Bayan Sarti. Diterangkannya bahwa dia dari luar kota menemui 

seorang kawan."Dan saudara ini ...?" tanya pelayan seraya menunjuk pada Wiro Sableng. 

"Dia bisa tidur sekamar dengan kawanku yang juga sama-sama menginap di sini." sahut Luh Bayan Sarti. 

Pelayan penginapan kemudian membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan kedua orang itu masuk. 

Nyoman Dwipa saat itu belum tidur. Dia duduk di tepi pembaringan dalam kamarnya penuh gelisah memikirkan Luh 

Bayan Sarti yang lenyap tak tahu ke mana perginya. Dalam kegelisahan itu pemuda ini mendengar suara langkah-langkah kaki 

mendekati kamarnya. Dia menyangka itu adalah langkah tamu yang menginap dipenginapan itu dan hendak pergi ke belakang. 

Tapi dia jadi terkejut sewaktu pintu kamarnya diketuk orang dari luar. Begitu pintu dibuka kejut Nyoman Dwipa lebih lagi 

karena yang berdiri diambang pintu adalah Luh Bayan Sarti sendiri dan dibelakang gadis itu dilihatnya berdiri Wiro Sableng! 

Rasa terkejut Nyoman Dwipa sesaat kemudian berubah menjadi kegembiraan. Karena kurang baik bicara bertiga-tigaan di dalam 

kamar maka Nyoman mengajak kedua orang itu ke tempat penerimaan tamu dan di sini dia minta agar Luh Bayan Sarti 

menceritakan apa sesungguhnya yang telah terjadi. 

Bukan main geram dan marahnya Nyoman Dwipa sewaktu mendengar bahwa Ki Sawer Balangnipalah yang telah 

membuat gara-gara, menculik Luh Bayan Sarti dan hampir berhasil merusak kehormatan gadis itu jika sekiranya Wiro Sableng 

tidak kebetulan lewat di depan kuil tua dalam perjalanannya ke Denpasar. 

"Bangsat bermuka ular itu tidak sukar untuk mencarinya," kata Wiro. "Tapi bagaimanakah persoalanmu dengan orang 

yang bernama Tjokorda Gde Djantra itu ... ?" 

"Sebenarnya aku bermaksud mengadakan penyelidikan malam ini jika saja tidak terjadi peristiwa yang menimpa Luh 

Bayan Sarti. Besok pagi akan segera kucari keterangan di mana tempat kediamannya! Bagaimanapun nyawa busuk manusia yang 

satu itu tak bakal lepas dari kematian!" 

Karena hari sudah jauh malam ketiga orang itu meninggalkan ruang tamu. Luh Bayan Sarti kembali ke kamarnya sedang 

Wiro menumpang tidur di kamarnya Nyoman Dwipa.⁄


15 

MENJELANG Dinihari hujan rintik-rintik turun membasahi Denpasar. Dinginnya udara bukan alang kepalang membuat setiap 

orang yang seharusnya sudah bangun saat itu, menyelimuti tubuhnya kembali dan meneruskan tidur. Beberapa saat kemudian 

fajarpun menyingsing. Bersamaan dengan munculnya sang surya di sebelah timur hujan rintik-rintikpun berhenti. Udara kini 

kelihatan cerah terang benderang. Suasana dingin diganti dengan kehangatan sinar sang surya yang segar. Di jalanjalan dalam 

kota Denpasar mulai kelihatan kesibukan orang-orang dan kendaraan-kendaraan yang lalu lintas. 

Di bagian barat kota dua orang pemuda dan seorang gadis kelihatan melangkah cepat menuju ke pusat Denpasar yang 

ramai. Gadis berpakaian hitam bukan lain adalah Luh Bayan Sarti. Pemuda yang berpakaian putih ialah Pendekar 212 Wiro 

Sableng. 

Kecantikan paras Luh Bayan Sarti, kecakapan wajah Nyoman Dwipa serta kegondrongan rambut yang menjela bahu dari 

Pendekar 212 Wiro Sableng menjadi perhatian setiap orang yang memapasi mereka. Kebanyakan orang segera memaklumi 

bahwa ketiga orang muda itu adalah orang-orang dari dunia persilatan. Menyaksikan orang-orang persilatan di dalam kota 

Denpasar bukan soal baru lagi karena memang banyak dari mereka yang memasuki kota untuk mengurus keperluan. Bahkan di 

Denpasar sendiri terdapat beberapa perguruan silat sedang di luar kota terletak sebuah gedung besar tempat berkumpul tokoh-

tokoh silat yang terkenal di kota itu dan dari lain-lain kota di Pulau Bali. 

Nyoman Dwipa telah mendapatkan keterangan dimana letak rumah kediaman musuh besarnya yang bernama Tjokorda 

Gde Djantra. Kesanalah ketiga orang menuju dipagi hari itu. 

Pintu halaman yang merupakan sebuah pintu gerbang besar dari gedung kediaman Tjokorda Gde Djantra masih dikunci. 

"Kita dobrak saja!" kata Nyoman Dwipa seraya siap hendak menendang pintu gerbang besar itu dengan kaki kanannya. 

"Jangan!" kata Wiro cepat. "Itu akan menarik perhatian orang. Jangan lupa bahwa di Denpasar ini terdapat juga tokoh-

tokoh silat klas satu ..." 

"Siapa takutkan mereka?!" sahut Nyoman beringas karena dia sudah tak sabaran untuk segera melampiaskan dendam 

kesumatnya. 

"Bukan itu soalnya, Nyoman. Jika tokoh-tokoh itu ikut campur sebelum kau berhasil membalaskan sakit hatimu, berarti 

cukup besar juga halangan bagimu. Sebaiknya selagi tak ada orang sekitar sini kita melompat saja. Tembok itu tak seberapa 

tinggi." 

Nyoman menyetujui pendapat Wiro. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh masing-masing ketiga orang itupun 

melompati tembok dan sampai di halaman dalam tanpa kaki-kaki mereka menimbulkan suara sedikitpun sewaktu menyentuh 

tanah.Gedung besar tempat kediaman Tjokorda Gde Djantra berada dalam keadaan sunyi senyap. Mungkin penghuninya masih 

tidur. Namun saat itu pintu samping tiba-tiba terbuka dan seorang laki-laki separuh baya berpakaian bagus muncul membawa 

dua ekor ayam jago yang dikempit di ketiak kiri kanan. Orang ini menghentikan langkah dan memandang heran campur kaget 

pada Nyoman Dwipa dan dua orang lainnya. Dia mengerling sekilas pada pintu gerbang dan jelas dilihatnya pintu itu masih 

dipalang dari dalam. Tak dapat tidak ketiga manusia tak di kenal itu pasti memasuki halaman gedung dengan jalan melompat. 

"Orang-orang muda, kalian siapa?!" orang ini bertanya. 

"Katakan dulu dengan siapa kami berhadapan!" jawab Nyoman Dwipa. 

"Aku Tjokorda Gde Anjer, pemilik gedung ini." 

Rahang Nyoman Dwipa terkatup rapat-rapat lalu mulutnya terbuka. "Jadi kau bangsawan yang bernama Tjokorda Gde 

Anjer itu ...?" ucapan ini disertai dengan suara mendengus. 

"Harap kalian menerangkan siapa kalian adanya dan punya maksud apa memasuki rumah orang pagi-pagi begini secara 

tidak terhormat?!" 

Nyoman Dwipa menyeringai. "Rupanya kau masih memandang tinggi nilai-nilai kehormatan, Gde Anjer!" 

ParasTjokorda Gde Anjer berubah. 

"Apa maksudmu, orang muda?" dia bertanya. 

"Masih ingat pembunuhan yang kau lakukan atas diri I Krambangan dan beberapa orang kawan-kawannya sekitar lima 

bulan yang lewat?!" 

Tjokorda Gde Anjer terkejut. Betul-betul terkejut dia kini karena pertanyaan itu sama sekali tak diduganya. Sesudah 

peristiwa itu terjadi sebenarnya bangsawan ini merasa menyesal sekali. Dan hari ini muncul seorang pemuda dengan dua orang 

kawannya mengungkap kembali persoalan yang sebenarnya sudah dilupakannya, sekurang-kurangnya diusahakannya untuk 

melupakan! 

"Apa sangkut pautmu dengan peristiwa itu orang muda?" tanya bangsawan tersebut. Matanya mengawasi ketiga orang itu 

terutama Nyoman Dwipa. "Apakah kau anaknya I Krambangan yang datang untuk menuntut balas?!" 

"Jadi kau siapa?!" 

"Pembalasan juga bisa dilakukan oleh apa yang dinamakan kebenaran! Kau dengar Tjokorda Gde Anjer?! Hari ini 

kebenaran datang untuk minta tanggung jawab atas nyawa-nyawa manusia yang pernah kau bunuh lima bulan yang lalu itu!" 

"Kalau kau tak ada sangkut pautnya, dengan peristiwa itu mengapa kini kau muncul untuk minta pertanggungan jawab 

segala?!" ujar Tjokorda Gde Anjer. 

"Setiap kebenaran selalu mempunyai sangkut paut dengan kejahatan!" jawab Nyoman Dwipa seraya melontarkan senyum 

mengejek. 

Tjokorda Gde Anjer tertawa. Tapi tertawa pahit. Setelah menarik nafas panjang diapun berkata: "Sebenarnya aku menyesalterjadinya hal itu. Tapi keadaan memaksaku untuk berbuat begitu ..." 

"Penyesalan selalu datang terlambat, Tjokorda Gde Anjer. Kalau tidak terlambat namanya bukan penyesalan!" kata 

Nyoman Dwipa pula. 

Ucapan-ucapan yang dilontarkan Nyoman Dwipa sejak tadi tak ubahnya seperti pukulan-pukulan berat yang menghunjam 

bathin bangsawan itu. 

"Sekarang apa maumu orang muda?!" 

"Apakah kau sebagai seorang laki-laki masih mempunyai hati jantan untuk bertempur sampai beberapa puluh jurus guna 

mempertanggungjawabkan perbuatanmu tempo hari?!" 

Tjokorda Gde Anjer tertawa getir. 

Sebagai jawaban bangsawan itu melepaskan dua ekor ayam jantan yang sejak tadi dikempitnya. "Sebelum kita bertempur 

katakan dulu siapa kau adanya!" 

"Namaku Nyoman Dwipa. I Krambangan adalah calon mertuaku . . . " 

"Cuma baru calon?" ejek Tjokorda Gde Anjer yang membuat wajah Nyoman Dwipa menjadi merah. 

"Kedatanganku ke sini juga untuk mencari anakmu yang bernama Tjokorda Gde Djantra. Karena dialah kekasihku 

menemui kematian setelah sebelumnya dirusak kehormatannya! Di mana anakmu itu sekarang?!" 

Tjokorda Gde Anjer memutar otaknya dengan cepat lalu menjawab. "Anakku berada di Gedung Putih. Jika kau punya 

nyali silahkan datang kesitu. Tapi itupun jika seandainya kau masih punya nyawa setelah bertempur denganku!" 

Nyoman Dwipa tertawa menggeram lalu mencabut tongkat bambu kuningnya. Tjokorda Gde Anjer sendiri segera pula 

mencabut senjatanya yaitu sebilah keris kuning ber-eluk duabelas. 

"Apakah kau akan maju bertiga?!" tanya bangsawan itu. 

"Aku tidak sepengecut yang kau kirakan, Gde Anjer. Dulu kudengar kau menghadapi I Krambangan bersama seorang kaki 

tanganmu. Kalau dia ada di sini cepat panggil biar dapat kubereskan sekaligus!" 

"Jangan terlalu congkak orang muda! Aku sendiripun mungkin cuma sepuluh jurus bisa kau hadapi! Mulailah!" 

"Kau yang hendak mampus silahkan mulai lebih dulu!" kata Nyoman Dwipa penuh penasaran karena ucapan ayah musuh 

besamya itu. 

Senyum mengejek lenyap dari bibir Tjokorda Gde Anjer pada saat laki-laki ini menerjang kemuka. Keris di tangan kanan 

berkelebat dan menderu ke arah dada Nyoman Dwipa lalu membabat ketenggorokan dengan teramat cepatnya hingga hanya 

sinar senjata itu saja yang kelihatan! Sungguh hebat serangan yang dikeluarkan Tjokorda Gde Anjer ini. Itu adalah jurus 

serangan yang bernama "menusuk bukit membabat puncak gunung". Dengan mengeluarkan jurus itu dia berharap akan 

membuat si pemuda kepepet demikian rupa hingga dia bisa menyusul dengan serangan kedua yang mematikan! 

Nyoman Dwipa meskipun muda belia dan belum punya pengalaman apa-apa dalam dunia persilatan tapi dia adalahurid gemblengan Menak Putuwengi. 

Serangan dahsyat Tjokorda Gde Anjer tidak membuatnya jadi gugup apalagi kepepet! Dengan membuat langkah mengelak 

ke samping dia berhasil membuat serangan lawan mengenai tempat kosong. 

Dan di saat itu pula dengan kecepatan yang luar biasa pemuda ini balas menyerang. Tongkat bambu kuningnya bersiuran 

dafr tahu-tahu ujungnya menusuk ke perut lawan. 

Tjokorda Gde Anjer terkejut bukan main hingga dia terpaksa membatalkan serangan susulannya yang sudah direncanakan 

tadi dan meloncat mundur ke belakang seraya menyapukan kerisnya ke muka dengan sebat sengaja memapas jalannya senjata 

lawan dengan maksud memotongnya jadi dua! 

Nyoman Dwipa tidak ragu-ragu untuk meneruskan tusukannya ke perut lawan hingga sesaat kemudian bambu dan keris 

itupun saling bentrokanlah! 

Tangan kanan Tjokorda Gde Anjer tergetar hebat. Bukan saja kerisnya tak sanggup membabat buntung bambu kuning itu 

tapi senjatanya sendiri hampir terlepas mental karena licinnya bambu dan kerasnya bentrokan! Diam-diam Tjokorda Gde Anjer 

memercikkan keringat dingin di tengkuknya. Tiada diduganya anak muda yang menjadi lawannya memiliki tenaga dalam yang 

ampuh dan tidak dinyananya senjata lawan yang cuma sebilah bambu kuning itu nyatanya sebuah senjata yang tak bisa dibuat 

main! 

Menyadari semua itu Tjokorda Gde Anjer tanpa menunggu lebih lama segera mengeluarkan ilmu silat simpanannya yang 

terhebat. Kerisnya mencuit-cuit di udara, tubuhnya lenyap merupakan bayang-bayang. Di lain pihak dengan mengertakkan 

geraham Nyoman Dwipa mempercepat pula gerakannya. Dalam tempo yang singkat belasan jurus telah berlalu. Sinar bamboo 

kuning menderu-deru. Detik demi detik sinar itu semakin rapat mengurung tubuh Tjokorda Gde Anjer. 

Pada jurus keduapuluh lima Nyoman Dwipa benar-benar sudah berada di atas angin dan merasa tak ada gunanya lagi dia 

bertempur lebih lama dengan lawannya itu. Diiringi oleh satu hentakan yang menggeledek dan menyirapkan darah Tjokorda 

Gde Anjer, bambu kuning di tangan Nyoman Dwipa membuat gerakan setengah lingkaran lalu laksana kilat menusuk ke perut 

Tjokorda Gde Anjer! 

Tjokorda Gde Anjer terpekik! Tubuhnya terhuyung ke belakang. Kerisnya lepas sedang kedua tangannya memegangi 

perutnya yang robek besar dan memancurkan darah. Sekali lagi bangsawan ini menjerit lalu tubuhnya tergelimpang roboh di 

tanah, ususnya menggelegak membusai keluar! 

Di saat itu pula diambang pintu muncul sesosok tubuh. Orang ini adalah istri Tjokorda Gde Anjer. Perempuan ini 

menjerit lalu lari menubruk tubuh suaminya yang saat itu megap-megap menuju sakarat! Pemandangan itu benar-benar 

menyayat hati. Namun semua itu terpaksa dan harus terjadi karena jalinan hiduplah yang menghendakinya!


16 

KEMANA kita sekarang?" Tanya Luh Bayan Sarti ketika mereka sudah berada jauh dari gedung kediaman Tjokorda Gde Anjer. 

"Ke Gedung Putih!" sahut Nyoman Dwipa seraya mempercepat langkahnya. 

"Tunggu dulu Nyoman," kata Luh Bayan Sarti seraya pegang lengan pemuda itu hingga sesuatu perasaan aneh menyamak 

di hati Nyoman. Karena di situ ada Pendekar 212 Wiro Sableng, dengan wajah merah Nyoman lantas menarik lengannya. 

"Ada apa?" tanya Nyoman Dwipa pula. 

"Sebaiknya kita jangan pergi kesana, Nyoman..." 

"Memangnya kenapa? Justru musuh besarku berada di sana!" 

"Aku mengerti. Kita tunggu saja bila dia meninggalkan gedung itu dan baru membuat perhitungan. Pergi ke sana besar 

bahayanya!" 

Nyoman tertawa. 

"Aku memang pemah mendengar tentang Gedung Putih itu," berkata Wiro Sableng. "Di situ tempar berhimpunnya tokoh-

tokoh silat kawakan di seluruh Bali. Jika Tjokorda Gde Djantra berada di situ pasti di sana terdapat pula beberapa tokoh silat 

temama lainnya . . ." 

"Aku tidak takut masuk ke sana!" kata Nyoman. 

"Memang, hitung-hitung untuk cari pengalaman baru." sahut Wiro lalu berpaling pada Luh Bayan Sarti. 

"Aku cuma mengawatirkan kalau-kalau terjadi apa-apa dengan diri Nyoman sebelum dia sempat membalaskan sakit 

hatinya terhadap Tjokorda Gde Djantra .... " 

Wiro tersenyum kecil. "Sepatutnva kau mengawatirkan keselamatannya, Sarti!" kata Pendekar ini sehingga baik Nyoman 

maupun gadis itu menjadi sama-sama kemerahan paras mereka. Tanpa banyak perdebatan lagi akhirnya ketiga orang itupun 

meianjutkan perjalanan. 

Gedung Putih adalah sebuah gedung besar yang terletak di luar kota sebelah tenggara. Seperti yang diketahui oleh Wiro 

Sableng, memang gedung itu manjadi pusat pertemuan tokoh-tokoh silat ternama bahkan juga menjadi tempat menguji 

kepandaian serta tempat memberikan latihan ilmu silat tingkat tinggi kepada orang-orang yang menjadi anggota Gedung Putih. 

Salah seorang di antaranya adalah Tjokorda Gde Djantra. Meskipun pemuda ini sudah tinggi ilmu silatnya tapi dari beberapa 

tokoh silat lainnya dia masih memerlukan untuk menambah pelajaran silatnya hingga dibandingkan dengan waktu lima bulan 

yang lalu kepandaian pemuda ini sudah jauh bertambah! Sudah sejak satu minggu Tjokorda Gde Djantra berada di Gedung 

Putih menerima latihan-latihan dari beberapa tokoh silat dan ke sanalah Nyoman Dwipa serta kawan-kawannya menuju. 

Sesungguhnya keterangan Tjokorda Gde Anjer yang mengatakan bahwa anaknya berada di Gedung Putih adalahmempunyai maksud tertentu! Sengaja hal itu dikatakannya dengan keyakinan bahwa kelak Nyoman Dwipa betul-betul akan 

pergi ke sana. Dan pergi ke sana berarti sama saja masuk ke dalam perangkap karena di Gedung Putih banyak sekali tokoh-

tokoh silat klas satu yang menjadi kawan anaknya sehingga dapat dipastikan bahwa Nyoman Dwipa akan menemui 

kematiannya kalau berani masuk ke Gedung Putih! 

Di satu pendataran tinggi ketiganya berhenti. 

Luh Bayan Sarti menunjuk ke bawah pedataran di mana terletak sebuah bangunan besar yang keseluruhannya berwarna 

putih hingga berkitau-kilau kena sorot sinar matahari. 

"Itulah Gedung Putih" kata gadis itu. 

Nyoman memandang dengan mata disipitkan dan tangan terkepal. "Ayo!" katanya, "makin cepat kita sampai di sana 

makin baik!" 

Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, ketiganya menuruni pendataran tinggi menuju ke Gedung Putih. Kira-kira 

setengah peminuman teh merekapun sampai di hadapan gedung besar itu. Dua orang laki-laki yang berdiri di ambang pintu 

gedung yang tertutup menyambut kedatangan mereka. Salah seorang di antaranya setelah melirik dulu pada Luh_Bayan Sarti 

bertanya dengan nada keren. 

"Siapa kalian dan maksudapa datang ke mari?!" 

Nyoman Dwipa yang sudah berangasan segera membuka mulut tapi Pendekar 212 Wiro Sableng yang berotak cerdik cepat 

mendahului. 

"Kami bertiga mencari sahabat lama yang bernama Tjokorda Gde Djantra." 

Karena di antara mereka terdapat seorang dara berparas cantik tentu saja kedua orang penjaga pintu tidak menjadi curiga 

malah kini menunjukkan sikap hormat. Nyatalah bahwa Tjokorda Gde Djantra disegani di Gedung Putih itu. 

"Sahabat yang kau cari memang berada di dalam. Tapi harap kau rnenunggu sampai nanti siang atau kembali saja nanti 

siang jika ingin bertemu dengan dia...." 

"Agaknya ada pertemuan penting di dalam gedung?" tanya Wiro. 

"Betul. Di dalam tengah diadakan pemilihan Ketua Gedung Putih yang baru dan Tjokorda Gde Djantra adalah Ketua 

Panitia Pemilihan. Pemilihan baru selesai siang nanti, jadi kalian bertiga kembali saja nanti siang kalau sekiranya tak bersedia 

menunggu di sini." 

"Karena kami datang dari jauh, baiklah kami sedia menunggu," kata Wiro Sableng seraya menggaruk-garuk kepala dan 

memandang berkeliling pura-pura mencari tempat duduk. Tapi begitu kedua penjaga pintu lengah, sekali bergerak saja Wiro ber-

hasil menotok mereka hingga kaku tegang tak bisa bersuara. Kedua orang itu kemudian dilemparkan ke balik sebuah gundukan 

tanah yang terdapat tak jauh dari pintu depan tersebut. 

Dengan mudah pintu besar dibuka. Nyoman Dwipa masuk lebih dulu diiringi oleh Luh Bayan Sarti dan Pendekar 212Wiro Sableng. Mereka sampai di sebuah ruangan yang bagus berperabotan mewah tapi di situ sunyi senyap tak seorangpun yang 

kelihatan. Di ujung ruangan membentang sebuah tirai biru. Ketiganya melangkah tanpa suara ke dekat tirai ini dan Nyoman 

menyibakkan ujung tirai sedikit, memandang ke ruangan di balik sana. Dilihatnya sebuah tangga batu mar-mar yang menuju ke 

sebuah pintu kayu jati yang berukir-ukir bagus sekali. Di kiri kanan pintu itu berdiri dua orang laki-laki berpakaian putih, 

bersenjatakan masing-masing sebilah pedang. Di samping mereka terdapat sebuah gong besar yang terbuat dari perunggu. 

Sebuah pemukul tergantung di samping gong. 

Wiro tengah memikirkan satu akal untuk membuat kedua orang itu tidak berdaya. Dia mempunyai pikiran bahwa gong 

yang terletak di samping keduanya adalah gong tanda bahaya. Namun sebelum dapat akal, Nyoman sudah menyibakkan tirai 

dan melangkah cepat ke hadapan kedua orang itu. Terpaksa Wiro dan Luh Bayan Sarti cepat-cepat mengikuti. 

"Hai siapa kalian?!" seru salah seorang dari penjaga itu seraya tangan kanannya cepat bergerak ke hulu pedang. 

"Jangan bertindak ceroboh Nyoman," bisik Wiro, "biar aku yang jawab pertanyaannya! 

Wiro lantas maju ke hadapan kedua penjaga itu dan memberi hormat lalu berkata, "Dua orang kawanmu di luar sana 

telah mengizinkan kami untuk masuk ke dalam menemui Tjokorda Gde Djantra ⁄" 

"Tak mungkin!" kata penjaga yang seorang, "semua penjaga Gedung Putih telah diberi tahu untuk tidak memberi izin 

masuk siapapun ..." lalu dia melangkah mendekati gong perunggu. 

"Teman-temanmu juga bilang begitu," kata Wiro cepat, "tapi karena kami datang membawa gadis ini mereka telah 

memberi izin." 

"Siapa gadis ini?!" 

"Kekasih Tjokorda Gde Djantra . . . Dia ada urusan penting sekali. Jika kalian tidak memberi izin menemuinya kelak 

kalian berdua akan kena damprat dari Tjokorda Gde Djantra . . . " 

Kedua penjaga itu saling pandang seakan-akan meminta persetujuan masing-masing apakah memberi izin masuk terhadap 

ketiga orang itu. Dan ini sudah cukup bagi Wiro Sableng untuk melompat ke muka dan menotok urat besar di dada kedua 

penjaga tersebut hingga mereka berubah laksana menjadi patung-patung batu yang kaku tegang di tempatnya masingmasing! 

Di ruangan di balik pintu kayu jati ... 

Dua puluh orang tokoh-tokoh silat di Pulau Bali duduk mengelilingi sebuah meja besar. Di ujung meja berdiri seorang 

pemuda yang bukan lain Tjokorda Gde Djantra adanya. Di hadapannya terdapat sebuah kotak kayu yang beriobang bagian 

atasnya. Ke dalam kotak itulah nanti akan dimasukkan kertas-kertas pemilih bertuliskan nama calon. Ketua Gedung Putih yang 

dipilih. Saat itu Tjokorda Gde Djantra baru saja hendak membuka suara ketika di ujung sama dilihatnya pintu besar terbuka 

dan tiga sosok tubuh masuk ke dalam. Begitu pandangan matanya membentur paras Nyornan Dwipa yang segera dikenalnya, 

terkaejutlah dia! 

Kemunculan ketiga orang itu tentu saja bukan cuma mengejutkan Nyoman Dwipa tapi semua orang yang ada di ruanganpemilihan tersebut. Bagaimana penjaga-penjaga di luar berani-beranian mengizinkan mereka masuk? Atau mungkin ketiga orang 

ini telah mempreteli penjaga-penjaga Gedung Putih?! Dan melihat kepada gerak-gerik ketiganya nyatalah bahwa mereka orang-

orang dari dunia persilatan! 

"Para hadirin yang ada di sini, mohon dimaafkan kalau kedatangan kami ini mengganggu acara di sini... " 

"Kunyuk-kunyuk kotor! Siapa kalian yang berani mengacau masuk ke Gedung Putih?!" membentak seorang kakek-kakek 

berjubah putih bernama Prakata Gandara, Dia adalah ketua Gedung Putih yang segera akan meletakkan jabatannya bila calon 

Ketua baru terpilih. 

Wiro berpaling dan menjura pada orang tua ini seraya sunggingkan senyum seenaknya. 

"Orang tua, kedatangan kami ke sini bukan untuk mengacau. Kami tidak ada urusan buruk dengan kau orang tua 

maupun dengan yang lain-lainnya, kecuali kawanku ini mempunyai silang sengketa dendam kesumat dengan seorang pemuda 

bemama Tjokorda Gde Djantra yang katanya berada di sini!" 

Semua mata memandang pada Nyoman Dwipa lalu berpaling pada Tjokorda Gde Djantra yang saat itu berdiri tak 

bergerak di ujung meja besar seraya matanya memandang bulat-bulat pada Nyoman Dwipa dengan penuh tanda tanya 

Bukankah dulu dia telah bertempur melawan pemuda ini dan telah mengirim Nyoman Dwipa ke dasar jurang?! Tapi kenapa 

sekarang hidup lagi dan datang bersama dua orang tak dikenal lainnya?! Benar-benar dia tak mengerti dan tak bisa percaya!' 

Sementara itu Luh Bayan Sarti yang memandang berkeliling telah melihat pula Ki Sawer Balangnipa diantara para hadirin 

sehingga begitu Wiro berhenti bicara dia segera menyambungi, "Aku sendiri juga mempunyai seorang musuh besar pula 

diantara para hadirin! Itu ... manusia yang punya tampang macam ular!" 

Merahlah paras Ki Sawer Balangnipa mendengar ucapan itu. Dia berdiri kursinya dan membentak, "Gadis! Kau mencari 

mati berani masuk ke sini bersama kawan-kawanmu!" 

Prakata Gandara berdiri dari kursinya dan berpaling pada Nyoman Dwipa. "Katakanlah dendam kesumat apa yang kau 

pendam terhadap salah seorang anggota Gedung Putih!" 

"Aku tidak mendendam dia sebagai seorang anggota Gedung Putih tapi sebagai manusia busuk yang bemama Tjokorda 

Gde Djantra!" sahut Nyoman Dwipa pula. 

"Baik, katakan urusanmu hingga kami di sini bisa memutuskan langkah selanjutnya!" ujar Prakata Gandara. 

"Dia telah menculik calon istriku, merusak kehormatannya hingga gadis itu akhirnya mati bunuh diri secara penasaran!" 

jawab Nyoman Dwipa tanpa tedeng aling-aling. 

"Betul?!" tanya Prakata Gandara pada Tjokorda Gde Djantra. 

"Ketua, aku menculik anak gadis orang bukan dengan niat jahat, tapi untuk mengawininya. Dan cara itu sudah menjadi 

adat kebiasaan di Pulau Bali ini!" sahut Tjokorda Gde Djantra. 

"Lidahmu tidak bertulang pemuda busuk hingga kau bisa mencari-cari alasan! Kalau kau bemiat baik terhadap gadis itusetelah dia bunuh diri mengapa mayatnya kau tinggalkan busuk di tepi telaga? Dan kau juga punya hutang jiwa yang belum 

terselesaikan terhadap diriku sendiri!" semprot Nyoman Dwipa. 

"Dan kau gadis cantik, apa urusanmu dengan Ki Sawer Balangnipa hingga kau berani datang ke sini dan menghinanya di 

depan mata hidung kami?!" 

"Menghina ular tua itu bukan berarti menghina anggota-anggota Gedung Putih yang benar-benar berjiwa satria dan 

berhati polos! Aku datang menginginkan jiwanya karena beberapa hari yang lalu dia menculik dan hendak memperkosaku!" 

Ki Sawer Balangnipa berbatuk-batuk beberapa kali lalu berkata dengan cepat sebelum Prakata Gandara menanyainya: 

"Ketua, pertama sekali ingin kuberitahukan padamu dan pada semua yang hadir di sini bahwa gadis berbaju hitam ini bukan 

lain Luh Bayan Sarti, adik kandung perampok ganas yang bernama Warok Gde Djingga dari Bukit Jaratan! Puluhan manusia 

tak berdosa telah mati di tangan rampok perempuan ini serta kakaknya. Tak terhingga banyaknya harta kekayaan Kerajaan yang 

dirampoknya. Kurasa sebaiknya kita cepat-cepat membekuknya dan menyerahkannya pada Kerajaan. Bukan saja berarti kita 

membuati pahala tapi dirinyapun bisa dipakai sebagai alat untuk membekuk batang leher kakaknya!" 

"Soal mencari pahala untuk kerajaan itu baik kita bicarakan setelah urusan-urusan dendam kesumat itu selesai Ki Sawer!" 

kata Wiro Sableng mengetengahi. Ki Sawer Balangnipa mengatupkan mulutnya rapat-rapat penuh geram. Dia sudah tahu 

kelihayan Pendekar kita, karenanya dia saat itu hanya mengutuk dalam hati habis-habisan. 

Prakata Gandara berpaling pada Wiro Sableng dan bertanya, "Kau siapa pemuda rambut gondrong? Apakah juga punya 

urusan dendam kesumat dengan salah seorang di sini?!" 

"Ah, aku orang buruk ini cuma jadi pengantar kedua orang ini," sahut Wiro Sableng. 

"Kalau kau cuma kacung pengantar kau tak layak bicara!" semprot Prakata Gandara. Disemprot begitu Wiro Sableng 

ganda tertawa dan keluarkan suara bersiulan! Kejut Ketua Gedung Putih dan semua orang di situ bukan main karena suara 

siulan Wiro Sableng yang cuma terdengar pelahan itu tapi menyakitkan liang telinga mereka! Maklumlah semua orang kalau 

pemuda berambut gondrong bertampang tolol itu memiliki ilmu tinggi. 

Prakata Gandara membuka mulut kembali. "Karena nyatanya memang ada anggota-anggota Gedung Putih yang membuat 

sedikit kesalahan di luaran maka biarlah aku dan para toa Gedung Putih yang akan menjatuhkan hukuman setimpal atas diri 

mereka!" 

Nyoman tersenyum mendengar ucapan cerdik orang tua itu. "Terima kasih Ketua Gedung Putih yang mau turun tangan 

terhadap orang-orangmu! Tapi kedatangan kami ke sini bukan untuk memintamu untuk berbuat begitu, melainkan untuk 

turun tangan sendiri." 

"Baiklah jika memang demikian kehendakmu," kata Ketua Gedung Putih. Tangan kanannya diangkat ke arah sebuah tirai 

merah di ujung ruangan. Jarak antara tirai dan tempatnya berdiri sekira dua puluh langkah tapi hebatnya dengan kekuatan 

tenaga dalamnya Prakata Gandara berhasil menyibakkan tirai tersebut hingga di seberang sana kelihatanlah sebuah panggungdatar yang amat luas! Laki-laki ini memandang seraya tersenyum pada Nyoman Dwipa, dan berkata, "Arena telah siap 

menunggu. Tapi terus terang saja sebagai orang-orang Gedung Putih, semua kami di sini tentu tak akan berlepas tangan saja ..." 

"Kalau begitu naga-naganya," menimpati Wiro Sableng seraya garuk-garuk kepala, "sebagai kacung yang buruk tentu aku 

tidak pula bisa berpangku tangan!" Habis berkata begitu Pendekar ini melangkah seenaknya menuju ke arena. Dan mengikuti 

tindakan pemuda itu, semua orang menjadi membeliakkan mata mereka. Betapakan tidak! Setiap langkah yang dibuat Wiro, 

setiap kakinya menginjak batu mar-mar diruangan tersebut, lantai batu itu melesak kehitaman dalam bentuk telapak-telapak 

kakinya! 

Wiro Sableng sampai di atas arena batu sementara Luh Bayan Sarti dan Nyoman Dwipa sudah berada pula di 

sampingnya. Prakata Gandara mau tak mau menjadi tercekat juga hatinya. Pemuda gondrong bertampang tolol itu saja ilmunya 

tinggi bukan main, apalagi yang bernama Nyoman Dwipa pikirnya. Dia tidak tahu bahwa di antara ketiga manusia yang berdiri 

di arena itu justru Wiro Sablenglah yang paling berbahaya! 

"Bangsat yang bernama Tjokorda Gde Djantra silahkan naik ke sini agar kau bisa menyusui ayahmu lebih cepat!" seru 

Nyoman Dwipa. 

Terkejutlah Tjokorda Gde Djantra mendengar ucapan itu. "Apa?! Apa yang telah kau perbuat terhadap ayahku?!" 

teriaknya. 

"Bapak moyangmu itu bertanggung jawab atas kematian I Krambangan dan beberapa orang kawannya! Aku telah 

mewakili roh-roh mereka untuk merampas jiwa bapakmu, mengerti?!" 

"Anjing kurap!" teriak Tjokorda Gde Djantra dan melompat ke atas arena. Selarik sinar kuning menderu ke arah Nyoman 

Dwipa. Itulah keris Bradjaloka yang ber-eluk tujuh belas di tangan Tjokorda Gde Djantra. Di saat yang hampir bersamaan, 

selarik sinar kuning membabat pula ke depan. Yang ini adalah sambaran tongkat bambu kuning milik Nyoman Dwipa. 

Tjokorda Gde Djantra terkejut dan tak menduga bahwa lawannya telah mengalami kemajuan tinggi. Sinar kuning senjata 

memusnahkan tusukan kerisnya bahkan hampir saja ujung bambu kuning itu menghantam pergelangan tangannya! Segera Gde 

Djantra mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan kiri untuk melepaskan pukulan raja selaksa angin. Dengan pukulan itulah dia 

tempo hari telah melemparkan Nyoman Dwipa ke dalam jurang! 

Nyoman Dwipa yang pernah di serang oleh pukulan itu segera maklum dan bersiap sedia sewaktu dilihatnya lawan 

menarik tangan kiri ke belakang. 

Pada saat Gde Djantra memukul ke depan, Nyoman menyarnbuti dan membalas dengan hantaman tangan kiri.. 

Terdengar suara bersiuran dan dari telapak tangan Nyoman Dwipa melesat selarik sinar putih. Itulah pukulan "selendang dewa 

melanglang bumi" yang dipe!ajarinya dari gurunya Menak Putuwengi. Bukan saja pukulan sakti ini memusnahkan pukulan "raja 

selaksa angin" tapi sinar putih terus meluncur dan melibat ke arah batang leher Tjokorda Gde Djantra! Yang diserang kaget 

bukan main dan cepat membuang diri ke samping, justu saat itu tongkat bambu kuning Nyoman Dwipa datang menderu kearah kepalanya! Dalam saat yang kritis ini satu sambaran angin datang dari samping hingga tongkat Nyoman Dwipa melenting 

ke kiri dan selamatlah kepala Tjokorda Gde Djantra! 

Berbarengan dengan itu terdengar bentakan Wiro Sableng. "Tua bangka curang! Kalau mau main kayu mari hadapi aku!" 

Prakata Gandara menggeram. Parasnya merah. Memang dialah tadi yang turun tangan menyelamatkan nyawa Tjokorda 

Gde Djantra. Kini dimaki begitu rupa oleh Wiro marahlah dia dan dengan gerakan amat enteng melompat ke atas arena. 

Begitu sampai di atas arena Prakata Gandara kebutkan ujung lengan jubah putihnya. Ujung lengan jubah ini sengaja 

dibuat amat lebar dan merupakan senjata ampuh bagi Ketua Gedung Putih itu. Sambaran ujung lengan keras sekali dan 

mengarah jalan darah di dada Wiro Sableng. Sambil tertawa mengejek pendekar 212 berkelit ke sarang dan dalam gerakan yang 

tidak karuan tahu-tahu tangannya nyelonong ke muka! Kalau saja Prakata Gandara tidak lekas-lekas menarik tangannya pastilah 

ujung lengan jubahnya kena direnggut robek olen Wiro! Disamping geram orang tua itu juga kaget sekali. Serangannya tadi 

bukan serangan sembarangan. Angin kebutan lengan jubah saja sanggup memukul bobol tembok batu, tapi lavwannya yang 

bertampang tolol itu bisa mengelak bahkan balas menyerang. Tak ayal lagi Ketua Gedung Putih ini segera mencabut senjatanya 

yang teramat aneh yaitu sebuah lonceng perak! 

Begitu lonceng tersebut berada di tangannya maka menggemalah suara berkelenengan yang memekakkan dan 

menyakitkan telinga. Lonceng itu sendiri yang lingkaran luarnya tajam luar biasa, berkeltbat kian kemari menggempur Wiro 

Sableng dari delapan jurus! Menghadapi suara lonceng yang klanang-kleneng itu Wiro merasa bagaimana satu kekuatan yang tak 

kelihatan menekannya membuat gerakannya tidak leluasa. Permainan silatnya menjadi kacau sedang te!inganya tambah sakit! Di 

situ;ah kehebatan senjata Prataka Gandara! Menanggapi kenyataan ini Wiro segera tutup jalan pendengarannya. Tapi anehnya 

suara klanang-kleneng lonceng perak tersebut semakin keras! 

"Sialan!" maki Wiro. Dari tenggorokannya menggeledek suara bentakan membuat semua orang yang ada di situ merasakan 

dada, masing-masing berdebar. Begitu bentakan berakhir tubuh Wiro lenyap dan kini terdengarlah suara siulan yang amat tajam 

membawakan lagu hiruk pikuk tak menentu! Perang suara antara deru siulan dan gema lonceng berkecamuk hebat! Namun 

lambat laun kentara bagaimana suara klanang-kleneng lonceng perak di tangan Prakata Gandara menjadi sirna di telan suara 

siulan Pendekar 212 Wiro Sableng. 

Di bagian yang lain pertempuran antara Nyoman Dwipa dan Tjokorda Gde Djantra berkecamuk dengan hebatnya. Murid 

Sorablunohling dan Menak Putuwengi saling keluarkan kepandaian untuk dapat merobohkan lawan masing-masing. 

Saat itu pertempuran telah berlangsung hampir lima puluh jurus. Sebenarnya nyali Tjokorda Gde Djantra telah menciut 

sewaktu melihat bagaimana pukulan "raja selaksa angin" tidak sanggup merobohkan lawannya padahal di samping permainan 

silatnya yang tinggi, pukulan itu adalah kekuatannya yang sangat diandalkan! Nyalinya tambah meleleh sewaktu jurus tiga 

puluh ke atas dia mulai mendapat tekanan-tekanan serangan yang hebat dari lawannya. Karena menang pengalamanlah dia 

masih bisa bertahan sampai jurus yang kelima puluh!Pada jurus kelima puluh dua, Nyoman Dwipa mulai mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat "raja tongkat empat penjuru 

angin" yang paling hebat hingga Tjokorda Gde Djantra semakin kepepet dan musti bertahan mati-matian! 

Pertempuran antara Wiro dan Prataka Gandara juga semakin hebat. Sebagai Ketua Gedung Putih, Prataka Gandara merasa 

telah luntur namanya karena sebegitu jauh jangankan sanggup untuk merobohkan lawannya, bahkan dirinya sendiri mulai 

sibuk menghadapi serangan lawannya yang sampai saat itu masih bertangan kosong! 

Tiba-tiba terdenyar seruan Ki Sawer Balangnipa. 

"Saudara-saudara sekalian! Ketua kita bertempur mati-matian. Masakan kita berpangku tangan saja?! Mari berebut pahala 

melenyapkan pengacau-pengacau ini!" 

Mendengar seruan itu, semua orang yang ada di situ segera cabut senjata dan laksana air bah menyerbu ke atas arena! 

Sebenarnya jika bukan dalam keadaan terdesak tentu saja Prataka Gandara tidak sudi main keroyok begitu rupa. Tapi karena 

maklum dalam sepuluh jurus di muka belum tentu dia bisa bertahan maka serbuan orang-orang itu malah menggembirakannya! 

"Bangsat rendah, berani main keroyok! Makan pedangku!" teriak Luh Bayan Sarti. Pedangnya menderu ke arah Ki Sawer 

Balangnipa. 

"Bergundal perempuan! Sekali kau tertangkap Kerajaan akan menggantungmu di tanah lapang luas!" bentak Ki Sawer 

Balangnipa. Di tangan kirinya kini tergenggam sebuah ular kering yang rupanya baru saja dibuatnya. Betapapun hebatnya dan 

besarnya keberanian gadis itu namun tentu saja Ki Sawer Balangnipa bukan lawannya. Apalagi beberapa orang anggota Gedung 

Putih yang berkepandaian tinggi ikut pula membantu manusia bermuka Ular itu! 

Wiro Sableng tidak mengira kalau lawan betul-betul mau main keroyok! Ketika didengarnya komando Ki Sawer 

Balangnipa dan dilihatnya semua orang yang ada di situ menyerbu ke atas arena, menggelegaklah amarah Pendekar 212 Wiro 

Sableng! Tangan kanannya bergerak kepinggang. Sesaat kemudian terdengarlah suara menggaung macam ribuan tawon 

mengamuk. Dua orang pengeroyok berteriak kaget dan melompat mundur. Yang satu tangannya terbabat buntung, seorang lagi 

memegangi dadarya yang mandi darah! Hawa panas dari luka mereka akibat disambar Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan 

Wiro menerobos ke jantung dan sedetik kemudian keduanya roboh di lantai arena tanpa nyawa lagi! 

Kejut Prataka Gandara dan semua anggota Gedung Putih bukan kepalang. Kedua orang yang menemui kematian itu 

adalah anggota yang tinggi ilmu kepandaiannya! Namun dalam satu kali gebrakan saja senjata lawan telah membuat mereka 

meregang nyawa! 

"Kurung yang rapat!" teriak Prataka Gandara seraya menghantam dengan lonceng peraknya. 

"Trang!" 

Ketua Gedung Putih itu menjerit. Loncengnya terbelah dua sedang tangannya berlumuran darah! Gemparlah semua 

orang! Celaka pikir mereka. Kalau Ketua mereka bisa mendapat cidera begitu rupa adalah gila untuk meneruskan pertempuran. 

Tapi untuk mengundurkan diri tentu saja mereka tidak berani.

Prataka Gandara keluar dari kalangan pertempuran dan berdiri di sudut arena sambil mengerahkan tenaga dalamnya. Dia 

telah menelan dua butir pil namun hawa panas, yang mengalir dari luka di tangan kanannya tak kuasa dibendungnya. Akhirnya 

sebelum hawa maut itu mencapai bahunya, Prataka Gandara pergunakan tangan kirinya untuk membetot seluruh lengan 

kanannya. 

"Krak"! 

Tanggallah lengan kanan Ketua Gedung Putih itu. 

Di atas arena Wiro Sableng mengamuk hebat. Dia tahu bahwa dia harus bergerak cepat untuk dapat melindungi kedua 

kawannya terutama Luh Bayan Sarti dari keroyokan orang-orang itu. Dalam tempo singkat tokoh-tokoh Gedung Putih roboh 

satu demi satu menemui kematiannya dalam keadaan yang mengerikan. Melihat korban pihaknya yang semakin lama semakin 

banyak jatuh sedang dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa, Prataka Gandara memberi isyarat. Mereka yang melihat isyarat ini 

segera mengikutinya lari meninggalkan ruangan itu! 

"Siapa yang mau lari silahkan!" seru Wiro. "Kecuali dua bangsat yang bernama Tjokorda Gde Djantra dan Ki Sawer 

Balangnipa!". Habis berseru begitu pendekar ini melompat ke ambang pintu dan menghadang hingga tak seorangpun yang 

berani mendekati pintu itu, termasuk Prataka Gandara! Di atas arena Tjokorda Gde Diantra sudah terdesak hebat oleh tongkat 

bambu kuning lawannya. Ki Sawer Balangnipa sudah melompat dan kalangan tempuran dan berdiri di belakang Ketua Gedung 

tih yang luka parah dengan muka pucat pasi. 

Tiba-tiba terdengar jeritan Tjokorda Gde Djantra atas arena. Semua mata ditujukan ke atas sana. Kelihatan bagaimana 

Tjokorda Gde Djantra memegangi kepalanya dengan tubuh terhuyung-huyung. Darah mengucur dari keningnya yang pecah 

dihantam ujung tongkat Nyoman Dwipa. Dia menjerit lagi lalu macam orang kemasukan setan lari sana lari sini hingga 

akhirnya kedua kakinya menekuk dan tubuhnya roboh ke lantai, masih berkutik-kutik beberapa saat lalu diam tak bergerak lagi 

tanda nyawanya lepas sudah! 

Suasana di ruangan itu sesunyi dipekuburan kini. Semua orang, termasuk juga Wiro, Luh Bayan Sarti dan Nyoman 

sendiri diam-diam merasa ngeri melihat detik-detik kematian Tjokorda Gde Djantra tadi! 

Tiba-tiba Ki Sawer Balangnipa berlari dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan Wiro Sableng seraya menangis tersedu-

sedu. 

"Pendekar gagah! Aku mohon kau mengampuni selembar jiwaku!" pinta laki-laki bertampang ular itu. 

"Soal ampun jangan minta padaku tapi pada gadis itu!" sahut Wiro seraya tertawa lalu dia berpaling pada Prataka Gandara 

dan delapan orang tokoh Gedung Putih lainnya yang masih hidup. "Kalian semua yang tak ada urusan kuharap berlalu dari 

sinil". 

Meski marah dan penasarannya bukan main, namun Ketua Gedung Putih saat itu benar-benar mati kutu. Tanpa banyak 

bicara dia ajak orang-orangnya meninggalkan ruangan itu.Sesudah semua orang pergi Ki Sawer Balangnipa masih juga berlutut dan menangis di hadapan Wiro. 

"Manusia banci! Bangun! Aku muak melihat tampangmu!" bentak Wiro Sableng. 

Ki Sawer Balangnipa bangun perlahan-lahan tapi masih menangis dan berkali-kali mohon ampun pada Wiro dan Luh 

Bayan Sarti, juga pada Nyoman. 

Luh Bayan Sarti tiba-tiba maju dan berkata, "Manusia macammu tak layak hidup lebih lama. Tak ada gunanya kau 

meratap minta ampun!" 

Ki Sawer Balangnipa menggerung lalu menjatuhkan diri di depan kaki Luh Bayan Sarti, hingga lemah juga hati gadis ini 

pada akhirnya. 

"Kuampuni jiwamu!" katanya. "Tapi sebelum kau pergi aku musti yakin dulu bahwa kau benarbenar tidak akan berbuat 

kejahatan lagi!" Tangan kanan Luh Bayan Sarti bergerak kepinggang dan cras! Putuslah tangan kiri Ki Sawer Balangnipa hingga 

manusia itu kini tak punya sebelah tanganpun lagi! Ki Sawer Balangnipa menjerit kesakitan dan terhampar di lantai. 

"Sekarang kau pergilah sebelum aku merubah putusanku!" bentak Luh Bayan Sarti. 

Ki Sawer Balangnipa berdiri -dengan susah payah lalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah huyung serta mulut 

tiada henti mengelurkan rintihan kesakitan! 

*** 

Di puncak pedataran tinggi itu Wiro Sableng menghentikan larinya, berpaling pada Nyoman Dwipa dan Luh Bayan Sarti. 

"Sahabat-sahabatku, aku tak terus ke Denpasar. Kita berpisah di sini saja." 

Tentu saja ini tidak di sangka-sangka oleh kedua orang itu. "Kau mau terus ke manakah, Wiro?" tanya Nyoman Dwipa. 

"Aku masih ada urusan lain. Mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi . . . " 

"Tapi sebaiknya kita sama-sama ke Denpasar dulu," saran Luh Bayan Sarti. 

Wiro tertawa dan berkata pada Nyoman. "Kurasa kau sudah menemukan ganti kekasihmu yang hilang itu, Nyoman." 

"Eh, apa maksudmu?" tanya Nyoman Dwipa. Tapi parasnya berubah merah sedang Luh Bayan Sarti memandang ke 

jurusan lain. 

Wiro Sableng tertawa gelak-gelak. "Kataku kau sudah menemukan ganti kekasihmu yang hilang dulu, Nyoman. Apakah 

kau masih belum mengerti atau pura-pura tidak mengerti?! Nah, selamat tinggal sahabat-sahabatku . . . " 

Nyoman Dwipa hendak mengatakan sesuatu tapi Pendekar 212 Wiro Sableng sudah berkelebat dan tahu-tahu sudah 

berada dua puluh tombak di lereng pedataran. 

Nyoman menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sahabat baik seperti dia sukar dicari. Bahkan mengucapkan terima kasihpun 

aku sampai lupa!"Luh Bayan Sarti menarik nafas dalam dan berkata perlahan, "Kalau tak ada dia, entah apa jadi diriku sekarang ini . . . " 

Dari puncak pedataran itu keduanya memperhatikan tubuh Wiro Sableng yang lari cepat ke arah utara, makin lama 

makin kecil hingga akhirnya lenyap di kejauhan. Nyoman memutar kepalanya pada saat mana Luh Bayan Sarti berpaling pula 

kepadanya. Sepasang mata mereka saling bertemu. Dan seulas senyum sama-sama muncul di bibir mereka. Nyoman Dwipa 

menyadari kini betulnya ucapan Wiro Sableng. Yaitu bahwa dia telah menemukan ganti kekasihnya yang hilang itu. 


T A M A T

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive