"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Kamis, 11 Juli 2024

WIRO SABLENG EPISODE PERI ANGSA PUTIH

 



Sinopsis :

 

HANTU TANGAN EMPAT PANDANGI WAJAH PERI

ANGSA PUTIH SESAAT LALU BERKATA. "ADALAH

ANEH! WAHAI! BIASANYA PARA PERI YANG DATANG

MEMBAWA BERKAH. KINI JUSTRU ENGKAU SEBAGAI

PERI YANG MEMOHON BERKAH PADA KAKEK JELEK

DAN TOLOL SEPERTI DIRIKU INI!"

 "KEK, JANGAN KAU MERENDAH SEPERTI ITU.

KALAU AKU TIDAK YAKIN KAU BISA MENOLONG

TIDAK NANTI AKU DATANG KEMARI...."

 "BAIKLAH WAHAI CUCUKU. KATAKAN BERKAH

PERTOLONGAN APA YANG HENDAK KAU MINTAKAN

PADAKU?"

 PERI ANGSA PUTIH BUKA GULUNGAN PAKAIAN

PUTIHNYA DI SEBELAH PINGGANG DI MANA WIRO

DAN KAWAN-KAWANNYA BERADA. KETIGA ORANG

INI KEMUDIAN DILETAKKANNYA DI ATAS RUMPUT

BIRU, DI DEPAN BATU DATAR DI HADAPAN SI KAKEK.

 HANTU TANGAN EMPAT SAMPAI MELESAT

SATU TOMBAK KE UDARA SAKING KAGETNYA

MELIHAT KETIGA MAKHLUK KECIL DI ATAS RUM-

PUT ITU. DARI ATAS SAMBIL MEMANDANG KE

BAWAH DIA BERKATA DENGAN SUARA GEMETAR.

 "WAHAI CUCUKU PERI ANGSA PUTIH. KATAMU

KAU DATANG MEMINTA BERKAH PERTOLONGAN

PADAKU. TAPI TAHUKAH ENGKAU BAHWA KAU SE-

BENARNYA MEMBAWA BENCANA PADAKU?"


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

1

 INDAHNYA bulan purnama dengan sinarnya yang

lembut terang tidak terlihat di kawasan Telaga 

Lasituhitam. Air telaga tetap menghitam, suasana dicekam 

kesunyian dan udara terasa dingin pengap. Angin seolah 

tidak mau bertiup menyapu permukaan telaga dan 

kawasan sekitarnya.

 Jauh di bawah dasar telaga, dalam sebuah ruangan

diterangi dua belas obor, yang disebut Ruang Dua

Belas Obor, di atas sebuah tempat ketiduran terbuat

dari batu, duduk satu sosok tubuh aneh yang kepalanya

memiliki dua muka. Satu di depan satunya lagi di

belakang. Muka sebelah depan dan muka sebelah

belakang memiliki raut serta bentuk yang sama, yaitu

wajah tampan seorang lelaki berusia sekitar empat

puluhan. Bedanya yang di depan berkulit kuning sedang di 

muka sebelah belakang hitam keling.

 Selain keanehan angker pada kepalanya yang

bermuka dua itu, makhluk ini memiliki sepasang mata

yang masing-masing bola matanya tidak berbentuk

bulat melainkan berupa segi tiga berwarna hijau meng-

gidikkan. Konon bentuk segi tiga bola matanya ini

menjadi pelambang tiga sifat yang dimilikinya hingga

ia dijuluki Hantu Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsul

 Di samping kiri dan kanan ranjang batu tempat orang 

bermuka dua duduk, empat orang gadis cantik bersimpuh 

di lantai. Mereka mengenakan pakaian dari kulit kayu 

namun tak ada artinya sebagai penutup aurat. Selain 

tipis, pakaian itu hanya terdiri dari beberapa potongan 

kecil yang membuat tubuh keempat gadis itu nyaris

terlihat bugil.

 Mahluk bermuka dua, yang punya dua pasang aneh

dan angker ini, tidak sepasangpun dari mata itu 

memperhatikankan wajah-wajah cantik dan tubuh-tubuh 

elok mulus para gadis yang ada di sekitarnya. Ada dua 

pasang mata di sebelah belakang berputar-putar

memandang ke langit-langit ruangan. Sementara dua

mata disebelah depan memandang tak berkesip ke arah 

pekarangan. Di dua muka orang di atas ranjang batu itu 

jelas terlihat bayangan ketidaksabaran.

 Dua mata pada muka sebelah depan sesaat membuka 

tambah lebar. Dari mulutnya keluar suara mengeluh “Apa 

yang dilakukan perempuan celaka itu! Wahai, masakan 

pekerjaan begitu mudah saja dia pergi berapa lama 

.Belum muncul sampai saat ini Apa aku harus marah lagi? 

Minta darah lagi?!" Dua mata sebelah depan Ini terus 

membelalak tak berkedip Memandang ke arah pintu 

masuk.

 Beda lagi dengan muka ke dua yakni muka berkulit

 hitam legam di sebelah belakang. Mulutnya berkomat

 kamit. Sesaat kemudian mulutnya berucap. "Jangan-

jangan perempuan satu itu pergunakan kesempatan

 kabur melarikan diri!"

 "Wahai! Kalau itu sampai dilakukannya!" menyahuti 

mulut sebelah depan. "Alamat dirinya akan menjadi

 penghuni Ruangan Obor Tunggal"

 'Tunggu...!" mulut muka berwajah hitam keling di

sebelah belakang berkata. 'Tidakkah kau dengar langkah-

langkah kaki halus melintas di Ruang Empat Obor.

 Bergerak menuju ke sini!"

 Sesaat kemudian di pintu Ruang Dua Belas Obor

melangkah masuk seorang gadis berwajah sangat

cantik. Rambutnya yang hitam digulung di atas kepala

hingga kuduknya yang putih dan ditumbuhi bulu-bulu

halus tersembul memikat. Gadis ini mengenakan pakaian 

kulit kayu dicelup jelaga berwarna Jingga, dihias

dedaunan aneka warna di bagian belakang dan dada.

 "Lain yang ditunggu lain yang datang! Wahai!" Mulut 

sebelah belakang orang di atas ranjang batu berseru.

 Wajah di bagian depan tersenyum lebar. "Luhjelita

kekasihku! Wahai! Kutunggu-tunggu kau tak pernah

muncul. Tidak diharap-harap kau tahu-tahu datang!

Wahai! Kau membuat diriku jadi kikuk depan belakang!"

 Gadis yang barusan masuk berhenti tiga langkah

di samping kanan ranjang batu. Matanya yang bening

bagus menyapu pada empat sosok gadis di depannya.

Sepasang alis matanya perlahan-lahan naik ke atas.

Mulutnya terkatup rapat-rapat.

 "Ha... ha! Kau mulai cemburu!! Wahai!" Mulut sebelah 

depan orang bermuka dua berseru. Lalu dia tepukkan 

tangannya tiga kali. Melihat isyarat ini empat

gadis cantik yang duduk di lantai serta merta bangkit

berdiri dan tinggalkan Ruangan Dua Belas Obor.

 "Kekasihku Luhjelita! Wahai! Berucaplah. Katakan

padaku apa hatimu sedang senang atau tengah 

diselimuti kegundahan! Melihat air mukamu, apa yang

selama ini kau cari dan kau rahasiakan padaku masih

belum kau dapatkan! Wahai! Betulkah dugaanku?!"

 Gadis berpakaian Jingga dudukkan dirinya di atas

ranjang batu di samping orang bermuka dua. Lalu

dengan suara perlahan lirih yang membuat darah

bergejolak panas dia berkata. "Aku datang karena aku

rindu sokali padamu, wahai Hantu Muka Dua...."

 Orang bermuka dua yang duduk di atas tempat

ketiduran batu dan dipanggil dengan nama Hantu Muka

Dua tertawa bergelak.

 "Wahai! Rindu adalah penyakit maha nikmat orang-

orang bercinta! Akupun tak kalah rindu Luhjelita!" Mulut

sebelah depan berkata lalu kepala dua muka itu bergerak 

hendak mencium si gadis. Tapi Luhjelita dengan

sikap manja mendorong dada Hantu Muka Dua dan

jauhkan kepalanya seraya berkata. "Jangan kau mem-

bakar diriku, wahai Hantu Muka Dua. Kulihat kau telah

memiliki teman-teman baru. Siapa empat gadis tadi?'

 Hantu Muka Dua pegang lengan Luhjelita. Mulut

berwa|ah hitam di sebelah belakang berkata. "Kita

sudah kenal sejak lama. Bagaimana sifatku kau sudah

tahu Mengapa masih bertanya? Bukankah sudah 

kukatakan Wahail Boleh ada seribu gadis cantik di

taklimku tapi yang terpendam dalam hatiku! Wahai!

Hanyalah Luhjelital"

 'Kau pandai merayul"

 Dua mulut Hantu Muka Dua sama-sama tertawa

keras Ialu yang sebelah depan berkata. "Kau yang

mengajarkan segala rayuan dan kegenitan padaku!

Kau yang telah menghangatkan hati dan membakar aliran

darahku Sekarang wahai! Coba kau ceritakan kabar

apa sa|a yang kau bawa dari luar."

 "Aku mau bertanya dulu," ujar Luhjelita. "Waktu

menuju ko sini aku melihat ada satu perempuan 

mendekam di balik semak belukar. Tak jauh dari mulut

goa! Kulitnya hitam manis, kulit yang paling kau 

gandrungi. Wajahnya cantik dan sosok tubuhnya kencang

pertanda usianya masih sangat muda. Sikapnya seperti

tengah menyelidiki sesuatu dan sebentar-sebentar

mendongak ke langit. Siapa dia?"

 "Wahai! Kau tak perlu curiga dan tak usah cemburu," 

jawab mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua.

"Dia adalah Luhtinti, perempuan yang kujadikan mata-

mata!"

 "Heh.... Selain kau jadikan mata-mata, lalu kau

jadikan apa lagi? Kau letakkan di bawah mata kakimu

heh...?"

 Hantu Muka Dua tertawa lebar. "Wahai Luhjelita.

 Kau tahu diriku...."

 "Lebih dari tahu!" jawab Luhjelita dengan wajah

 merengut sambil menggeser duduk menjauh. "Percuma 

saja kau dijuluki sebagai si Segala Keji, Segala Tipu, 

Segala Nafsu. Memang aku yang bodohi Sudah tahu 

masih bertanya!"

 "Luhjelita! Wahai! Jangan merajuk. Bukankah sudah 

kubilang cuma kau seorang yang ada di hatiku," kata 

Hantu Muka Dua. "Sekarang ceritakan apa saja yang 

terjadi di luaran sana."

 "Aku hanya akan menceritakan yang ada sangkut

 pautnya dengan tugas yang tengah kujalani...."

 Hantu Muka Dua kembali hendak tertawa bergelak.

 Tapi tak jadi. Dia berkata. "Baiklah. Wahai! Apakah kau

 berhasil menemui manusia bernama Latandai yang

tengah mengejar ilmu di kawah Gunung Latinggimeru

 itu?"

 Luhjelita anggukkan kepala. "Latandai sekarang

 memakai nama Hantu Bara Kaliatus. Di kepala, sekujur

dada dan perutnya penuh dengan bara menyala. Ber-

 jumlah dua ratus! Tapi sayangnya setelah kuperiksa

ternyata dia hanya punya satu tahi lalat di bawah

pusarnyal"

 Hantu Muka Dua tak dapat menahan tawanya!

 “Latandai! Manusia miskin tahi lalat! Ha... ha... ha! Tapi

 wahai kekasihku! Kuharap kau jangan putus asa! Cari

 lagi, cari lagi, dan aku akan terus membantu. Sampai

 akhirnya kau mendapatkan tujuh lelaki yang punya tiga 

tahi lalat di bawah pusarnya!"

 Mulut sebelah belakang menyambut! ucapan mulut 

sebelah depan tadi. "Wahai Luhjelita, menurut 

pengintaianku dalam masa seratus tahun mendatang kau

masih akan tetap muda dan cantik. Mengapa kau begitu

bernafsu mengejar ilmu. Bukankah kau mencari tujuh

lelaki dengan tiga tahi lalat di bawah pusarnya itu

sebenarnya ingin mendapatkan ilmu awet muda 

sepanjang jaman?'

 Sepasang mata Luhjelita membesar. "Dari mana

kau tahu aku tengah mencari ilmu awet muda?!" tanya

si gadis.

 "Hantu Muka Dua pandai menduga. Wahai! Dan

setiap dugaanku biasanya tak pernah meleset!"

 Luhjelita tersenyum lalu mencibir dan berkata.

"Aku tidak akan mengiyakan atau menidakkan ke-

benaran dugaanmu Itu wahai Hantu Muka Dua. Aku

butuh bantuanmu. Siapa saja lagi yang harus 

kuselidiki...."

 Wajah Hantu Muka Dua depan belakang tersenyum. 

"Sedorct nama dan orang bisa kau selidiki. Mengapa kau 

tidak berusaha mencari lelaki bernama Lakasipo yang kini 

punya dua julukan. Bola Bola Iblis dan Hantu Kaki Batu. 

Tapi aku punya satu pesan. Jika kau menemui lelaki itu 

dan berhasil menyelidiki, apapun hasil penyelidikanmu 

aku minta kau membunuhnya! Paling tidak mengetahui 

kelemahan segala ilmu yang dimilikinya!"

 Luhjelita menatap wajah sebelah depan Hantu

Muka Dua lalu tersenyum, membuat Hantu Muka Dua

tidak sanggup menahan diri dan angsurkan kepalanya

hendak mengecup bibir si gadis. Wajah mereka hampir

bersentuhan tapi jari tangan kanan Luhjelita telah lebih

dulu ditempelkan di atas bibir lelaki Ku hingga tak

kesampaian menyentuh bibirnya.

 "Wahai Hantu Muka Dua. Turut apa yang aku

dengar Hantu Santet Laknat telah turun tangan melakukan 

hal yang sama. Kabarnya dia telah menguasai otak dan 

jalan pikiran Latandai. Lalu pergunakan tangan Latandai

alias Hantu Bara Kaliatus untuk membunuh Lakasipo. 

Mengapa kau harus bersusah payah dan menyuruh aku 

melakukan hal itu?"

 "Terus terang. Wahai! Aku tidak begitu percaya pada 

Hantu Santet Laknat. Nenek satu itu punya rencana 

terselubung. Kelihatannya dia ingin...."

 "Wahai Hantu Muka Dua, aku tahu maksudmu!

 Kau takut Hantu Santet Laknat jatuh hati pada Lakasipo.

 Padahal bukankah nenek itu sejak lama jatuh hati

 padamu tapi kau seperti tidak pernah mengacuhkan?"

 Mendengar kata-kata Luhjelita itu terjadi satu keanehan 

pada kepala Hantu Muka Dua. Kepalanya yang bermuka 

dua dan berupa wajah dua lelaki usia empat puluh tahun 

tiba-tiba berubah menjadi dua wajah orang tua yang air 

mukanya pucat putih karena terkejut. Dalam hati Hantu 

Muka Dua berkata. "Dari mana perempuan satu ini tahu 

ihwal hubunganku dengan Hantu Santet Laknat...."

 Keadaan dua muka Hantu Muka Dua seperti dua

 orang tua bermuka pucat hanya sesaat. Di lain kejap

dua mukanya kembali seperti tadi yaitu wajah dua lelaki

 berusia sekitar empat puluh tahun, satu hitam satu

 putih. "Luhjelita'kekasihku! Wahai! Kalau kau sudah

tahu tentang sikap Hantu Santet Laknat terhadapku,

 kuharap kau jangan menebar luas apa yang kau ketahui

 Itu. Aku menyuruhmu membunuh Lakasipo karena aku

punya firasat, di masa mendatang dia akan menjadi

 seorang tokoh sangat berbahaya di kawasan 

Latanahsilam.... Maukah kau menolongku wahai 

kekasihku?"

 Luhjelita tersenyum membuat hati Hantu Muka

 Dua menjadi sejuk namun sesaat kemudian darahnya

 kembali menggelora. Mulutnya sebelah depan berbisik.

"Berbilang waktu telah berlalu. Berbilang lagi yang akan

 datang. Wahai! Kapan kita bisa bersenang-senang

wahai Luhjelita?"

 "Saatnya akan tiba, kau harus sabar menunggu..."

 kata Luhjelita setengah membujuk sambil memegang

lengan Hantu Muka Dua. "Selain menyelidik Lakasipo,

apa tidak ada orang lain yang menurutmu pantas aku

selidiki keadaan dirinya?"

 "Pernah kau mendengar seorang bernama Hantu

Jatilandak?" tanya Hantu Muka Dua.

 "Maksudmu makhluk menghebohkan yang tinggal

di kawasan Hutan Lahitamkelam? Beberapa waktu

yang lalu dia telah membantai serombongan orang

yang kabarnya adalah kaki tangan Hantu Lumpur Hijau

yang menguasai sebagian kawasan hutan."

 "Betul. Kau selidiki dia. Siapa tahu dia memiliki

tiga tahi lalat di bawah pusarnya. Tapi hati-hati wahai

kekasihku. Hantu Jatilandak benar-benar makhluk biadab 

yang sanggup membantai siapa saja dengan

Ilmunya yang aneh-aneh...."

 Aku akan perhatikan ucapanmu wahai Hantu

Muka Dua Sekarang lzinknn aku pergi...."

 Tidak sebelum aku boleh membelai dadamu dan

mengecup bibirmu!" kata Hantu Muka Dua pula. Lalu

dua tangannya cepat hendak merangkul. Tapi lagi-lagi

Luhjelita mendahului mendorong dada lelaki itu seraya

berbisik. "Kalau kau mau bersabar sedikit lagi, kelak

aku akan memberikan apa saja yang kau minta...."

 "Sayang aku sudah tidak sabar menunggu lebih

lama!" jawab Hantu Muka Dua pula. Sementara dua

mulutnya tertawa bergelak dua wajah di kepalanya

mendadak berubah menjadi dua wajah anak muda

yang sangat tampan. Perubahan ini menjadi pertanda

bagi Luhjelita bahwa Hantu Muka Dua tengah mengalami 

puncak hasrat yang menggelora dan berusahamemikat 

dengan merubah dirinya sebagai pemuda gagah.

Bersamaan dengan terjadinya perubahan itu tiba-tiba 

cepat dua kaki Hantu Muka Dua bergerak ke depan dan 

tahu-tahu dua kaki itu telah menggelung pinggul dan 

pinggang Luhjelita lalu menariknya hingga hampir saja 

gadis itu jatuh menindih tubuh Hantu Muka Dua.

 "Kau harus belajar punya kesabaran Hantu Muka

Dua. Ini hadiah untuk kesabaranmu itu!" Luhjelita per-

gunakan tangan kanannya mencubit perut Hantu Muka

Dua hingga orang ini menjerit antara kesakitan dan

kegelian. Bersamaan dengan itu Luhjelita gerakkan

tubuhnya ke belakang hingga rangkulan dua kaki Hantu

Muka Dua terlepas.

 "Luhjelita tunggu!" berseru Hantu Muka Dua. "Wa-

hai...!" Tapi Luhjelita telah berkelebat meninggalkan

Ruang Dua Belas Obor.

 Hantu Muka Dua terduduk di atas ranjang batu.

Dua mulutnya beberapa lama keluarkan suara meng-

gerendeng. Lalu mulut sebelah depan berucap perlahan. 

"Luhjelita. Wahai! Jangan kau kira aku tak tahu apa 

sebenarnya yang tengah kau lakukan dan kau cari.

Aku hanya pura-pura percaya bahwa kau tengah men-

cari ilmu awet muda. Tapi aku tahu sebenarnya kau

tengah mencari satu ilmu kesaktian yang langka dan

sangat hebat. Aku akan membantumu mendapatkan

ilmu itu. Aku akan mengikuti saja apa maumu Luhjelita!

Wahai kekasihku! Tapi begitu kau mendapatkannya

aku akan merampasnya dari tanganmu! Ha... ha... ha...!

Percuma aku dijuluki Hantu Segala Keji, Segala Tipu,

Segala Nafsu!"

 Hantu Muka Dua usap perutnya yang merah akibat

cubitan Luhjelita tadi. Lalu dia singkapkan pakaiannya

di bagian bawah perut. Dia menyeringai memperhatikan 

tiga buah tahi lalat yang menebar berdekatan tepat

di bawah pusarnya.

Hantu Muka Dua bertepuk tiga kali. Empat gadis

cantik yang tadi meninggalkan ruangan itu kini muncul

kembali. Melihat dua muka Hantu Muka Dua yang telah

berubah menjadi wajah pemuda-pemuda tampan, mereka 

segera maklum. Hantu yang berjuluk Si Segala Nafsu ini 

ingin bersenang-senang.

 "Empat gadis cantik! Wahai! Apa kalian siap 

melayaniku?"

 Empat yang ditanya anggukkan kepala lalu tanpa

menunggu lebih lama sama-sama menghambur ke

atas tempat tidur batu.


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

2

BERSEBELAHAN dengan Ruang Dua Belas Obor

terdapat sebuah ruangan batu redup suram serta bau. 

Hantu Muka Dua menyebut ruangan ini Ruang Obor 

Tunggal karena hanya diterangi sebuah obor kecil. Siapa 

saja yang memasuki atau melewati ruangan itu, pertama 

kali pasti akan merasa heran. Perasaan heran ini 

kemudian akan segera berubah menjadi ngeri 

menggidikkan.

 Di lantai ruangan yang lembab dan di sana-sini

diselubungi lumut, terbaring enam sosok tubuh 

perempuan. Empat di antaranya sudah sangat tua, hanya

tinggal kulit pembalut tulang. Yang dua lagi masih

muda, walau tubuh mereka kelihatan cukup segar

namun wajah masing-masing pucat pasi seolah tak

berdarah. Enam sosok perempuan itu terbaring 

menelentang. Tiga dengan mata terpejam, tiga lagi me-

natap ke langit-langit ruangan dengan mata nyalang

mombclalak dan sangat jarang berkedip. Kalau tidak

diperhatikan benar sulit mengetahui apakah enam

sonok perempuan itu masih bernafas atau tidak. Selain

tidak bergerak, keenamnya terbaring dengan mulut

menganga.

 Dari langit-langit ruangan pada waktu-waktu tertentu 

menetes setitik air yang langsung jatuh dan masuk ke 

dalam mulut keenam perempuan itu. Empat erempuan tua 

telah puluhan tahun berada di ruangan itu. Dua yang 

masih muda baru sekitar dua belas kali bulan purnama. 

Keadaan mereka seolah mati tidak hidup pun tidak. 

Tetesan-tetesan air telah memanjangkan umur mereka

dalam kesengsaraan itu.

 Empat perempuan tua yang ada dalam Ruang

Obor Tunggal itu dulunya pernah menjadi musuh besar

Hantu Muka Dua sedang dua perempuan muda adalah

gadis-gadis di sebuah pemukiman di selatan Latanah-

silam yang diculik untuk dijadikan budak pemuas

nafsu. Berkali-kali dua gadis itu berusaha melarikan

diri dan berkali-kali pula mereka bermaksud mem-

bunuh Hantu Muka Dua namun selalu gagal. Hantu

Muka Dua akhirnya kehilangan kesabaran lalu men-

jebloskan keduanya ke Ruang Obor Tunggal. Kalau

saja Hantu Muka Dua tidak mempunyai pantangan

membunuh perempuan, sudah sejak lama keenam

perempuan itu dihabisinya!

 Di ats ranjang batu di Ruang Dua Belas Obor,

Hantu Muka Dua terbujur mandi keringat. Saat itu dua

wajah di kepalanya yang sebelumnya berupa wajah

pemuda telah berubah kembali menjadi wajah lelaki

separuh baya. Wajah sebelah depan putih sedang

sebelah belakang hitam keling.

 "Malam semakin laruti Wahail Mengapa orang

suruhan kita masih belum kembali!" Mulut sebelah

depan Hantu Muka Dua berucap.

 "Mungkin saja perempuan celaka itu benar-benar

telah kabur melarikan diri sejak tadi-tadil" Menyahuti

mulut bermuka hitam.

 "Wahai! Jika dia berani berkhianat pertanda akan

bertambah satu lagi penghuni Ruang Obor Tunggal!"

 "Aku sudah berkata sebaiknya berpuas-puas dulu

dengan dirinya. Tapi kau malah memberinya tugas di

luar goa."

 Pada saat seperti itu Hantu Muka Dua seolah-olah

berubah menjadi dua orang yang berlainan tetapi

memiliki satu tubuh.

"Kau betul," kata mulut sebelah depan. "Kalau dia

datang akan kurendam dia sampai pagi. Ha... ha....ha...!"

 "Diam! Jangan tertawa! Aku mendengar langkah-

langkah kaki melintas di Ruangan Obor Tunggali" kata

mulut sebelah belakang.

 Tak lama kemudian muncullah seorang gadis berkulit 

hitam legam berwajah ayu. Rambutnya yang hitam 

panjang tergerai lepas sampai ke pinggul, berkilat-kilat 

dan menebar bau harum karena diberi semacam minyak 

wangi. Tubuhnya yang padat melenggok bagus ketika 

melangkah memasuki Ruang Dua Belas Obor.

 "Luhtinti! Wahai!" Mulut sebelah belakang Hantu

Muka Dua berseru. "Apa yang kau lakukan sampai

berlama-lama di luar sana!"

 Belum sempat perempuan muda berdada busung

itu menjawab, mulut di sebelah depan menyusul mem-

bentak. "Kau tengah mencari akal hendak melarikan diri

Wahail Apa benar begitu?! Wahai! Jawab!"

 Perempuan yang dibentak tampak ketakutan. Lebih 

lebih ketika melihat dua muka di kepala Hantu Muka Dua 

mendadak berubah menjadi muka-muka mengerikan. 

Berupa dua wajah berkulit merah, dilebati kumis, janggut 

dan cambang bawuk. Hidung dan mulutnya membesar 

bengkak sedang dua matanya menggembung membeliak. 

Dari sela bibirnya mencuat sepasang taring. Keadaan dua 

wajah Hantu Muka Dua saat Itu tidak bedanya seperti 

wajah-wajah raksasa yang menakutkan. Perubahan muka 

ini satu pertanda bahwa Hantu Muka Dua berada dalam 

keadaan marah.

 "Wahai Hantu Muka Dua," gadis bernama Luhtinti

tepat berkata. Suaranya gemetar. "Saya, saya tidak

bermaksud melarikan diri. Saya melakukan apa yang

diperintahkan. Wahai!"

 Muka di sebelah belakang menyeringai lalu men

dengus. "Kau sudah melakukan perintah! Wahai! Bagus!

Sekarang katakan apa yang telah kau lihat di luar sana!"

 "Wahai Hantu Muka Dua, sesuai perintah saya

menatap ke langit. Saya melihat memang bulan purnama 

telah muncul menerangi kawasan Telaga Lasituhitam...."

 Mulut sebelah muka Hantu Muka Dua menggeram

panjang. Taring-taringnya menyembul mengerikan. Se-

pasang matanya yang memiliki bola mata berbentuk

segi tiga hijau membersitkan cahaya menggidikkan.

Mulut sebelah belakang berucap.

 "Apa kataku! Wahai! Malam ini tepat tiga puluh hari

Hantu Tangan Empat kau perintahkan pergi ke dunia luar. 

Malam ini adalah akhir dari waktu menjalankan perintah! 

Dan jahanam itu tidak muncul! Wahai tidak kembali! Aku

tidak tahu bagaimana hasil urusannya ke negeri seribu 

dua ratus tahun mendatang" Muka di sebelah belakang 

kelihatan bertambah merah.

 "Jangan-jangan ada sesuatu terjadi dengannya! Wahai, 

bukankah aku biasa memberi peluang sampai tujuh hari 

sebagai tambahan?!" ujar mulut sebelah depan.

 Dua mata di sebelah belakang memandang ke

langit-langit ruangan, berputar tiada henti. "Aku punya

firasat Hantu Tangan Empat telah gaga! menjalankan

tugas! Dia tidak bisa menemukan Batu Sakti Pembalik

Waktu itu! Wahai! Aku yakin dia sudah berada di Negeri

Latanahsilam! Tapi sembunyi karena wahai! Dia takut

akan mendapat hajaran darimu!

 "Wahai! aku menaruh percaya besar padanya! Jika

dia berbuat macam-macam malah sembunyikan diri,

laknat sengsara akan kujatuhkan atas dirinya!" kata

mulut Hantu Muka Dua yang sebelah depan.

 "Wahai Hantu Muka Dua," perempuan muda bor

tubuh bagus berkulit hitam manis berkata. "Jika kau

terlalu lama menunggu saya, mohon kiranya maafmul

Namun ada sesuatu yang saya lihat di langit malam di

luar sana dan harus saya beritahukan padamu...."

 "Heh...." Mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua

bergumam. Sementara itu perlahan-lahan dua mukanya 

yang menyeramkan dan berwarna merah berubah

kembali ke bentukdua wajah lelaki usia empat puluhan.

 "Katakan apa yang kau lihat! Tapi wahai! Luhtinti!

Awas! Kalau kau berani mengarang cerita hanya se-

kedar membuat diriku senang! Kau tahu, kau lihat apa

yang terjadi dengan enam orang perempuan di Ruang

Obor Tunggal!"

 Ruangan Obor Tunggal terletak di sebelah depan.

setiap orang yang menuju atau keluar Ruang Dua Belas

Obor harus melewati Ruang Obor Tunggal hingga dia

pasti akan melihat kengerian yang ada di Ruang Obor

Tunggal Ku.

 Perempuan muda di depan tempat tidur batu

menjadi pucat parasnya. Betapakan tidak. Dia tahu

betul yang dimaksud Hantu Muka Dua dengan enam

orang perempuan di Ruang Obor Tunggal ialah enam

orang yang tengah menjalani siksaan mengerikan,

dijadikan mayat hidup. Ke enamnya tergeletak 

menelentang di ruangan itu. Tubuh kaku tak bisa bergerak

tak blsa bersuara. Mulut menganga. Dari atas langit-

langit ruangan pada saat-saat tertentu jatuh menetes

setitik air, masuk ke dalam mulut keenam perempuan

itu. Tetesan-tetesan air itulah yang memberi kehidupan,

menyelamatkan nyawa mereka. Beberapa di antara

mereka ada yang telah belasan tahun berada dalam

keadaan seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang

sangat dlbenci oleh Hantu Muka Dua. Empat dari

mereka adalah bekas musuh besarnya. Luhtinti 

sebenarnya tahu Hantu Muka Dua ingin membunuh 

mereka semua. Namun karena mempunyai pantangan

membunuh perempuan maka terpaksa dia 

memperlakukan keenam perempuan tersebut seperti itu. 

Mati tidak hidup pun tak ada artinya, tersiksa sepanjang 

usia!

 "Luhtinti! Lekas bilang apa yang katamu kau lihat

di luar sana!" Tiba-tiba mulut sebelah belakang mem-

bentak hingga semua orang yang ada di situ, termasuk

empat gadis yang duduk bersimpuh di samping ranjang

batu tersentak kaget dan ketakutan.

 "Wahai Hantu Muka Dua," ujar Luhtinti. "Saya me-

lihat sebuah benda putih berleher tinggi, bersayap lebar

melayang berputar berulang kali di atas telaga...."

 "Benda putih di atas telaga. Berleher tinggi. Wahai!"

ujar mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua.

 Mulut sebelah depan menimpali. "Bersayap lebar.

Wahai! Terbang berputar berulang kali di atas telaga!

Itu adalah seekor angsa putih raksasa! Luhtinti! Apa

kau lihat ada seseorang menunggang benda putih

bersayap lebar yang terbang berputar-putar di atas

telaga itu?!"

 "Memang ada saya lihat wahai Hantu Muka Dua.

Seorang berpakaian serba putih. Pakaiannya begitu

panjang hingga sesaat menjela ke bumi sesaat lagi

melayang tinggi seolah menembus langit. Rambutnya

yang hitam panjang berkibar-kibar ditiup angin. Saya

juga seperti membaui sesuatu yang harum "

 Sepasang mata sebelah belakang Hantu Muka

Dua menatap berputar-putar ke atas. Di sebelah depan

sepasang mata lainnya mendongak tak berkedip. Lensa

mata yang berbentuk segi tiga hijau kembali mem-

bersitkan sinar aneh. Lalu mulut depan dan mulut

belakang sama-sama berucap.

 "Peri Angsa Putih...!"

 "Aku tidak takut!" Mulut belakang berteriak.

"Aku juga tidak takuti" berteriak mulut di sebelah

depan. Sesaat dua muka Hantu Muka Dua kembali

berubah menjadi merah dan membentuk tampang-

tampang raksasa. Empat taring mencuat. Namun sekali

ini perubahan itu hanya sebentar. Begitu amarahnya

turun, dua wajah Hantu Muka Dua berubah lagi menjadi

wajah-wajah lelaki separuh baya.

 Hantu Muka Dua kepal dua tangannya. "Peri satu

Itu memang pernah mengancamku! Lihat saja apa yang

bisa dilakukannya! Kalau dia sampai masuk ke dalam

pelukanku! Hik... hik... hik! Wahai! Habis kukelupas

sekujur tubuhnya dengan lidahku!"

 "Taringku akan kutancapkan di bagian-bagian tubuhnya 

yang menonjol dan empuk!" kata mulut belakang pula lalu 

tertawa gelak-gelak.

 "Luhtinti, aku tadinya berburuk sangka. Ternyata kau

menjalankan perintah dengan baik. Wahai! Patut aku

memberi hadiah kesenangan padamu!" kata Hantu Muka

Dua. Yang bicara adalah mulutnya sebelah depan Lalu

makhluk aneh ini usap mukanya dengan tangan kanan.

Saat itu juga muka Hantu Muka Dua sebelah depan

berubah menjadi muka seorang pemuda tampan.

 Pemuda itu tersenyum dan lambaikan tangannya

memberi isyarat agar mendekat. Namun Luhtinti tidak

segera bergerak. Sekalipun jelas dia melihat wajah

sebelah depan Hantu Muka Dua telah berubah menjadi

wajah seorang pemuda yang cakap. Walau matanya

terpesona dan hatinya tertarik akan ketampanan dua

wajah lelaki muda itu namun Luhtinti merasa bimbang.

Hal ini rupanya diketahui oleh Hantu Muka Dua. Maka

mulut depan segera berkata.

 "Wahai Luhtinti, sekarang mendekatlah. Jangan

biarkan darahku menggelora sampai muncrat dari

ubun-ubun!" dua tangan Hantu Muka Dua terkembang

seperti siap hendak merangkul.

 Perlahan-lahan Luhtinti langkahkan kakinya ke

depan. Begitu sosoknya sampai di muka tempat tidur

batu, Hantu Muka Dua serta merta memeluk gadis

berkulit hitam manis ini penuh nafsu. Ketika dia hendak

merebahkan tubuh Luhtinti di atas tempat tidur batu

tiba-tiba Ruang Dua Belas Obor terasa bergetar. Di

kejauhan terdengar suara menderu seperti ada air

mencurah berkepanjangan.

 Hantu Muka Dua lepaskan pelukannya. Luhtinti

dibaringkannya di atas tempat tidur batu lalu dia turun

ke lantai. "Wahai! Gerangan apa yang terjadi?!" bertanya

mulut depan.

 Getaran di ruangan itu semakin keras. Suara deru

air mencurah terdengar semakin kencang. Lalu ada

hawa panas yang perlahan-lahan seolah memanggang

ruangan itu. Dinding dan langit-langit Ruang Dua Belas

Obor berderik. Nyala api dua belas obor bergoyang-

goyang padahal tak ada angin bertiup.

 Empat perempuan cantik yang sejak tadi duduk

bersimpuh di lantai tak dapat menahan rasa takut.

Mereka bangkit berdiri, memandang pada Hantu Muka

Dua lalu berpaling ke arah jalan keluar. Luhtinti sendiri

saat itu telah turun pula dari atas tempat tidur batu,

bergabung jadi satu kelompok dengan empat perempuan 

lainnya.

 "Kalian semua tetap di sini! Jangan ada yang berani

keluar! Aku akan menyelidik!" Mulut Hantu Muka Dua

sebelah belakang berkata. Lalu Hantu Muka Dua cepat

berkelebat meninggalkan tempat itu. Lima orang 

perempuan yang berada dalam ketakutan mana mau

tetap berada dalam ruangan yang semakin digoncang

getaran dan semakin panas itu. Kelimanya berhamburan 

lari menuju jalan ke luar. Luhtinti di depan sekali.


BAST1AN TITO

Peri Angsa Putih

3

HANTU MUKA DUA melompat ke atas sebuah gundukan 

batu di satu tempat ketinggian di sebelah timur Telaga 

Lasituhitam. Begitu dia melayangkan mata, memandang 

ke bawah tersentaklah makhluk bermuka dua ini. Dua 

mata di depan dan dua mata di belakang membeliak. Di 

samping rasa terkejut yang amat sangat, pada dua wajah 

Hantu Muka Dua jelas terlihat bayangan amarah. Dua 

wajahnya berubah menjadi dua wajah orang tua bermuka 

pucat pasi. Sesaat kemudian wajah-wajah ini berubah 

pula menjadi dua muka raksasa berwarna merah 

menyeramkan. Bola-bola matanya yang berbentuk 

segitiga menyorotkan sinar hijau angker.

 Saat itu terjadi sesuatu yang luar biasa di Telaga

Lasituhitam. Di bawah penerangan rembulan, Hantu

Muka Dua melihat pinggiran utara telaga yang 

sebelumnya dipagari batu-batu serta pohon-pohon besar

kini seolah jebol. Batu-batu besar lenyap entah kemana

sedang pohon-pohon bertumbangan malang melintang. 

Sebuah celah selebar dua puluh tombak membentuk parit 

besar, menurun ke bawah. Melalui parit Ini air telaga hitam 

mengalir deras. Suara aliran air yang menderu keras inilah 

yang tadi terdengar dan membuat kawasan itu bergetar 

hebat sampai ke Ruang Dua Belas Obor di tempat 

kediaman Hantu Muka Dua yang terletak tepat di bawah 

telaga.

 "Wahai!" Hantu Muka Dua keluarkan suara tertahan. 

"Apa yang terjadi?! Tidak ada gempa, tidak ada topan dan 

hujan! Mengapa batas telaga di arah utara jebol begitu

rupa!"

 "Sebentar lagi telaga ini pasti akan menjadi kering

Wahai!" Mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua ikut

bicara.

 Baru saja Hantu Muka Dua berucap seperti itu

mendadak dari arah pinggiran telaga sebelah selatan

terdengar suara menggemuruh. Hantu Muka Dua pa-

lingkan kepala. Serta merta dua mulut makhluk ini

berteriak keras. Dua pasang matanya membuka lebar

seperti mau memberojol keluar.

 "Wahai! Apa Negeri ini mau kiamat!" seru mulut

Hantu Muka Dua sebelah depan.

 "Aku tidak bisa bertahan lama di sini! Sebentar

lagi tempat celaka ini akan jadi neraka! Jahanam betul!"

 Saat itu kalau di arah utara air hitam dari telaga

mengalir deras hingga dalam waktu singkat Telaga

Lasituhitam nyaris kering airnya, maka dari jurusan

selatan menggemuruh cairan berbentuk lahar panas!

Sesekali ada lidah api mencuat ke udara disertai batu-

batu besar berwarna merah menggelinding dan ber-

sama-sama cairan lahar masuk ke dalam telaga. Telaga

yang barusan terkuras airnya dan hampir kering kini

digenangi dan dipenuhi cairan panas berwarna merah

itu. Udara serta merta menjadi panas luar biasa.

 "Lahar panasi Wahai! Dari mana datangnya? I"

teriak mulut Hantu Muka Dua sebelah depan.

 "Lahar seperti itu hanya ada di kawah Gunung

Latinggimeru!" menyahuti mulut sebelah belakang.

"Pasti lahar ini datang dari sana! Tapi bagaimana hal

ini bisa terjadi?! Wahai! Padahal Gunung Latinggimeru

tidak meletus!"

 "Lihat!" mulut Hantu Muka Dua sebelah depan

berteriak seraya tangan kanannya menunjuk ke utara.

"Batu-batu besar dan pohon-pohon raksasa di pinggiran

telaga sebelah utara kembali muncul! Menutup

lompat yang tadi jebol. Menahan cairan lahar!! Uhhh...!

Panasnya tempat ini! Sebentar lagi Telaga Lasituhitam

akan digenangi lahar merah mendidih! Di sini saja

panasnya seperti di neraka! Apa lagi di tempat ke-

diamanku yang terletak di bawah telaga!" Saat itu

sekujur tubuh Hantu Muka Dua basah oleh keringat

akibat hawa panas luar biasa yang keluar dari dalam

telaga. Makin tinggi cairan lahar mendidih, makin

bertambah panasnya udara.

 Bisingnya deru lahar panas yang mencurah masuk

ke dalam telaga tiba-tiba ditingkahi oleh suara meng-

gemuruh dahsyat. Kawasan sekitar telaga bergetar

hebat. Lahar panas di bagian tengah telaga menderu

ke bawah, seolah memasuki sebuah lobang raksasa.

 "Wahai!" teriak mulut Hantu Muka Dua depan

belakang. Dua muka raksasanya langsung berubah

menjadi dua muka kakek-kakek pucat pasi. "Dasar

telaga amblas! Tempat kediamanku tertimbun lahar!

Empat gadis itu! Wahai! Luhtinti! Wahai! Mati mereka

semua!"

 "Apa perduliku!" teriak mulut sebelah belakang.

"Apa di negeri begini luas hanya ada Luhtinti dan empat

gadis itu? Aku masih bisa mencari gadis-gadis cantik

lainnya untuk mengumbar nafsu!"

 "Kau betul!" menjawab mulut yang di depan. Lalu

dua mulut itu tertawa gelak-gelak. Sungguh luar biasa.

Dalam kengerian mencekam begitu rupa Hantu Muka

Dua masih bisa tertawa bergelak.

 Sudut mata Hantu Muka Dua melihat lima sosok

tubuh bergerak mendekati tempat ketinggian itu. Me-

lihat siapa yang datang Hantu Muka Dua pencongkan

mulutnya. Mereka ternyata adalah Luhtinti dan empat

gadis cantik. "Mereka lolos! Tak jadi mampus mereka

rupanya! Ha... ha... ha!" Mulut sebelah belakang ber

ucap dan kembali tertawa.

 Saat itu dalam keadaan pakaian tidak karuan dan

tubuh basah oleh keringat dan dikotori tanah, Luhtinti

dan empat gadis yang berhasil keluar selamatkan diri

dari Ruang Oua Belas Obor, tersungkur jatuh di kaki

batu. Dada mereka yang nyaris tidak tertutup bergerak

turun naik sedang wajah masing-masing pucat ke-

ringatan.

 Seolah tidak perduli akan kehadiran lima gadis itu

mulut Hantu Muka Dua sebelah depan berkata.

 "Ini pasti ada yang punya pekerjaan! Hendak men-

celakai diriku! Hendak membunuhku! Siapa bangsat

haram jadahnya!"

 Mulut sebelah belakang menjawab. "Aku tidak

perlu bertanya, tak perlu menduga. Lihat ke langit, ke

arah rembulan!"

 Hantu Muka Dua dongakkan kepalanya sebelah

depan, memandang ke langit. Benar saja, di arah bulan

purnama tampak sebuah benda putih mengapung di

udara.

 Benda ini adalah seekor angsa raksasa berwarna

putih. Sayapnya bergerak-gerak perlahan tapi sosok

tubuhnya tetap tidak bergerak, sengaja mengapung di

udara. Di atas punggung angsa raksasa bermata biru

ini duduk seorang gadis berwajah cantik seolah bida-

dari. Pakaiannya berupa gulungan kain putih halus

yang melambai-lambai di udara malam. Rambutnya

panjang hitam, tergerai dalam tiupan angin. Bila di-

perhatikan dekat-dekat ternyata gadis ini memiliki se-

pasang bola mata berwarna biru.

 "Peri Angsa Putih! Wahai! Jadi dia yang punya

pekerjaan..." desis mulut Hantu Muka Dua sebelah

depan. Sepuluh jari tangannya digerakkan hingga me

ngeluarkan suara berkeretatan. Lalu teriakan keras

menggeledek dari mulutnya.

 "Peri Angsa Putih! Wajahmu cantik! Tapi hatimu

jahat! Wahai! Mengapa kau rubah Telaga Lasrtuhitam

menjadi kawah panas mendidih! Padahal kau tahu

Kediamanku berada di bawah telaga itu! Kau telah

memusnahkan tempat kediamanku!"

 Di atas punggung angsa putih, gadis cantik yang

dipanggil dengan nama Peri Angsa Putih mengulum

senyum. "Hantu Muka Dua! Berbilang hari berbilang

minggu. Berbilang bulan berbilang tahun! Sudah berapa

kali aku memberi peringatan padamu agar merubah diri 

dan jalan hidup! Agar merubah pekerti dan

perbuatan! Tapi semua himbauan itu tidak kau de-

ngarkan! Kau punya empat telinga! Tapi seolah tuli!

KAU punya empat mata tapi seperti buta! Di usiamu

yang sudah ratusan tahun ini kau masih saja berbuat

Jahat. Menimbulkan bencana dan aniaya bagi orang-

orang tak berdosa. Dengan.kehebatan ilmumu kau

memperalat orang lain untuk menimbulkan mala pe-

taka! Setiap tarikan nafasmu kau selalu mengagulkan

nama besarmu sebagai Hantu Segala Keji, Segala Tipu

Segala Nafsu! Para Dewa dan para Peri telah cukup

sabar. Apa yang aku lakukan malam ini merupakan

satu peringatan kecil bagimu! Aku telah melakukan

atas perintah Peri Bunda, Simpul Agung Segala Peri,

Peri Junjungan Dari Segala Junjungan! Mereka tidak

mau melihatmu berdiam di bawah Telaga Lasrtuhitam!

Karena itu mereka memerintahkan Dewa Air untuk

menguras air Telaga Lasrtuhitam. Lalu Dewa Gunung

diperintahkan menimbun telaga dengan lahar men-

didih! Para Dewa dan Peri tidak ingin melihatmu ber-

cokol lebih lama di tempat ini. Pergi dari sini dan jangan

berani kembali ke Negeri Latanahsilam. Jika di ke

mudian hari kau masih belum berubah diri, maka

hukuman lebih berat akan dijatuhkan para Dewa dan

para Peri atas dirimu!"

 "Peri Angsa Putih!" teriak Hantu Muka Dua. Yang

berteriak adalah mulutnya sebelah belakang. "Di malam

bulan purnama seindah ini, tidak sangka kau tega-

teganya menjatuhkan malapetaka atas diriku! Kau tidak

sadar! Wahai! Perbuatanmu bukan saja merusak alam,

tapi juga kau telah membunuh enam orang perempuan

yang ada di bawah telaga! Kau bertanggung jawab

atas kematian mereka!"

 "Mereka berada di situ sebagai korban kebiadaban-,

mu! Kalau mereka mati maka nyawa mereka adalah

tanggung jawabmu! Enam nyawa akan jadi roh yang

kelak akan gentayangan mencarimu!"

 "Peri busuk! Pandainya kau memutar balik lidah

dan ucapan!" teriak Hantu Muka Dua marah. Taring-

taring di mulutnya mencuat menggidikkan. Kulit muka-

nya merah seperti saga dan matanya membelalang

memancarkan sinar hijau. Tapi wajah yang marah

beringas itu mendadak sontak berubah menjadi te-

nang, malah kini dihiasi senyum. Dan dua wajah Hantu

Muka Dua berubah menjadi dua wajah pemuda gagah.

 "Heh..." gumam Peri Angsa Putih dalam hati. 'Tipu

daya apa yang hendak dilancarkan makhluk terkutuk

satu ini."

 "Peri Angsa Putih, walau kau seorang Peri tapi aku

percaya kau punya hati dan perasaan. Lebih dari itu

kau punya kemauan dan hasrat...."

 "Apa maksud ucapanmu Hantu Muka Dua?" tanya

Peri Angsa Putih.

 "Lihat dua wajahku! Pernahkah kau melihat pe-

muda segagah diriku saat ini?"

 "Aku menilai seseorang tidak dari kegagahannya

wahai Hantu Muka Dua...."

 Hantu Muka Dua tersenyum. "Sebagai makhluk

yang punya perasaan dan hasrat, maukah kau ber-

cumbu denganku?"

 Paras Peri Angsa Putih menjadi merah padam.

Jika menurutkan amarahnya saat itu juga mau dia

melabrak Hantu Muka Dua. Tapi dia sadar daiam

menjalankan tugas dari Peri Bunda dia memiliki ke-

terbatasan dalam berucap apalagi bertindak.

 Bukan saja menunjukkan kemarahan, tapi di atas

sana Peri Angsa Putih hanya tersenyum mendengar

ucapan Hantu Muka Dua itu. "Nafsu telah membuat

dirimu lebih bejat dari kutuk neraka. Nafsu terkutukmu

telah menimbulkan malapetaka atas diri banyak perem-

puan. Yang terakhir perbuatan kejimu terhadap 

Luhsantlni, istri Latandai. Tapi ketahuilah wahai Hantu

Muka Dua. Kelak nafsu itu sendiri yang akan membakar

dan menghancur leburkan dirimu! Aku akan pergi! Jika

aku menyelidik ke sini lagi dan melihat kau kembali

membangun tempat kediaman di kawasan ini, hukuman 

lebih hebat akan menjadi bagianmu Hantu Muka Dua!"

 "Wahai! Kau tak akan pernah kembali ke sini Peri

Angsa Putih!" teriak Hantu Muka Dua.

 "Oh ya? Wahai! Mengapa bisa begitu?" tanya Peri

Angsa Putih sambil menaikkan sepasang alisnya hingga 

wajahnya tampak tambah cantik.

 "Karena aku mengambil keputusan membunuhmu

liat Ini juga!" jawab Hantu Muka Dua.

 DI atas batu yang dipijaknya Hantu Muka Dua

lantakkan kepalanya. Bersamaan dengan itu dua larik

sinar hijau berbentuk segi tiga berkelebat ke udara.

Belum lagi dua kilatan cahaya itu menemui sasarannya,

Hantu Muka Dua putar lehernya. Mukanya sebelah

balakang didongakkan ke udara. Lalu "set... set!" Dua

kilatan sinar hijau berbentuk segi tiga panjang keluar dari 

dua mata Hantu Muka Dua, menderu ganas

kjearah Peri Angsa Putih yang ada di ketinggian belasan

tombak di udara!

 "Dasar makhluk keji! Diberi pengampunan dan

peringatan malah nekat menyerang! Sampai di mana

ketinggian ilmumu wahai Hantu Muka Dua?!" berseru

Peri Angsa Putih. Lalu dengan tangan kirinya ditepuk

pinggul angsa putih yang ditungganginya seraya ber-

kata. "Laeputih! Beri pelajaran pada makhluk tak tahu

diri itu!"

 Mendengar ucapan sang Peri, angsa putih ber-

nama Laeputih keluarkan suara aneh. Lehernya me-

manjang lurus ke depan. Bersamaan dengar! itu dua

sayapnya dikepakkan. Dua gelombang angin sedahsyat 

topan menggemuruh ke bawah, menyongsong

empat larik sinar hijau yang menyambar dari empat

bola mata Hantu Muka Dua!

 Hantu Muka Dua berteriak kaget. Lima gadis yang

ada di dekatnya berpekikan. Pohon-pohon sekitar tempat 

itu keluarkan suara berderik lalu rubuh bertumbangan. 

Batu besar tempat tadi Hantu Muka Dua tegak berpijak 

hancur bertaburan. Lima gadis terpental dan

terguling-guling di tanah.

 Di udara terdengar empat letusan dahsyat. Empal

larik sinar hijau berubah menjadi serpihan menyala

dan bertaburan kian kemari. Beberapa serpihan melesat 

menyambar sayap angsa putih. Binatang raksasa itu 

keluarkan suara menguik panjang. Di beberapa bagian 

sayap bulu-bulu putihnya kelihatan rontok berjatuhan. 

Beberapa diantaranya tampak hangus kehitaman. 

Binatang yang mengapung di udara ini teroleng-oleng kian 

kemari.

 Peri Angsa Putih menjerit marah. Dia menunjuk

ke bawah! Angsa putih panjangkan lehernya. Dua

sayap dikepakkan. Saat itu juga binatang raksasa itu

menukik cepat ke arah tepian telaga sebelah timur. 01

bawah sana sosok Hantu Muka Dua telah lenyap dalam

kegelapan.

 Mata biasa termasuk mata Peri Angsa Putih se-

kalipun tak dapat menerobos kegelapan malam. Apa-

lagi sekitar tepian telaga sebelah timur penuh ditum-

buhi semak belukar dan pohon-pohon besar. Namun

mata Laeputih tak bisa ditipu. Binatang tunggangan

Mei I Angsa Putih ini walaupun dalam kelam masih

sanggup melihat dari ketinggian puluhan tombak. Be-

gitu melihat sosok Hantu Muka Dua yang berkelebat

ka arah tenggara, Laeputih cepat mengejar. Namun

sosoknya yang besar serta sayapnya yang panjang

tidak memungkinkan angsa raksasa ini terbang rendah,

melayang menerobos kerapatan pepohonan.

 Tahu dirinya dikejar, Hantu Muka Dua percepat

talinya dan sengaja memilih jalan yang gelap serta

penuh pepohonan. Di satu tempat dia lari memutar 

maksudnya hendak menipu angsa pengejar. Tapi tak

berhasil. Begitu sempat melihat bayangan sosok tubuh

yang yang dikejarnya di bawah sana, Laeputih me-

nukik lalu kuncupkan dua sayapnya. Lima tombak dari

sosok Hantu Muka Dua, Laeputih gerakkan kepala dan

paruhnya Sekali bergerak pinggang Hantu Muka Dua

masuk ke dalam japitan paruhnya yang panjang. Begitu

mulut dikatupkan tak ampun lagi tubuh Hantu Muka

Dua pasti akan terkutung dua. Tapi justru saat itu Peri

Angsa Putih keluarkan seruan tertahan.

 "Laeputlhl Benda apayang kau jepit di mulutmu?!"

 Angsa putih keluarkan suara menguik panjang.

 Dalam penglihatan Peri Angsa Putih, benda yang digigit 

laeputih dalam mulutnya adalah batangan potongan kayu,

bukan sosok Hantu Muka Dua.

 "Iekas kau lepaskan batang kayu tak berguna itu

Laeputih Kita harus mengejar Hantu Muka Dua. Jika

terlambat bertindak pasti dia berhasil melarikan diri!"

 Mendengar kata-kata Peri Angsa Putih kembali

Laeputih keluarkan suara menguik pertanda dia 

sebenarnya tidak suka melakukan apa yang diperintahkan 

sang Peri namun tak berani membantah. Dari ketinggian 

tiga tombak Laeputih lepaskan benda yang digigit di 

paruhnya. Benda ini jatuh bergedebukan ditanah. Laeputih 

meneruskan terbang rendah dan berputar-putar. Namun 

sosok Hantu Muka Dua tidak kelihatan lagi.

 "Wahai Laeputih! Kita kena dibodohi! Hantu Muka

Dua berhasil melarikan diri!"

 Laeputih menguik keras.

 'Tak usah kecewa Laeputih," kata Peri cantik itu

sambil usap leher tunggangannya. "Masih banyak waktu 

untuk menjatuhkan hukuman pada makhluk jahat itu. 

Putar terbangmu. Kita kembali saja, tapi terbang sekali 

lagi di atas telaga Lasituhitam...."

 Laeputih tegakkan ekornya ke samping kiri. Angsa

raksasa ini berputar di udara, kembali terbang ke arah

telaga.

 Di bawah sana, dalam rimba belantara yang gelap,

batang kayu yang tadi dilepaskan Laeputih dari gigitannya 

kelihatan bergerak. Jika lebih diperhatikan ternyata benda 

itu bukanlah batang kayu melainkan sosok Hantu Muka 

Dua. Sambil bergerak bangkit Hantu Muka Dua tertawa 

mengekeh.

 "Peri Angsa Putih, ternyata aku si Hantu Segala

Tipu masih bisa memperdayaimul Ha... ha... ha! Lain

saat kau akan menerima Segala Keji dan Segala Nafsu

dariku!"


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

4

MATAHARI belum lama tersembul di permukaan bumi. 

Lakasipo tegak terheran-heran di tepi timur Telaga 

Lasituhitam. "Aneh... aneh... anehi" katanya berulang-

ulang.

 "Apa yang aneh, Lakasipo?' tanya Pendekar 212

Wlro Sableng. Saat itu bersama Naga Kuning dan Si

Setan Ngompol dia berada dalam sebuah jaring akar

kayu yang dilekatkan ke bahu kanan Lakasipo. Bukan

saja mereka bisa menghirup udara segar serta luas

pemandangan tapi yang lebih penting kini mereka bisa

bicara dan didengar karena dekat telinga Lakasipo.

 "Wahai tiga saudaraku! Apakah kalian tidak melihat

keadaan air telaga itu? Ini telaga Lasituhitam. Dulu

airnya berwarna hitam. Tapi hari ini kulihat telaga ini

isinya adalah lahar mendidih!"

 "Mungkin saja di bawah telaga ada kawah gunung

api..." kata Setan Ngompol.

 "Yang jelas pagi ini kita tak bisa mandi..." kata

Lakasipo yang dijuluki Bola Bola Iblis alias Hantu Kaki

Batu.

 "Duk... duk... duk... dukkk!" Setiap langkah yang

dibuat Lakasipo mengeluarkan suara keras dan meng-

getarkan tanah. Sekali lagi Lakasipo perhatikan ke-

adaan di sekitarnya. Dia melihat batu-batu di tepi telaga

banyak yang hancur dan seolah terbungkus lapisan

hijau aneh. Lalu pohon-pohon banyak yang bertum-

bangan. Selagi dia menduga-duga apa yang telah

tarjadi tiba-tiba di sebelah sana kuda tunggangannya

 Laekakienam meringkik keras.

 "Dukkk... duk... dukkk." Lakasipo melangkah men-

 dekati kuda hitam berkaki enam Ku. Ternyata binatang

 ini tengah menjilati sosok seorang gadis berkulit hitam

 manis berwajah ayu yang tergeletak pingsan di tanah.

 Di dekat sKu masih ada empat gadis lainnya. Berada

 dalam keadaan sama seperti yang tengah dijilati Lae-

 kakienam.

 "Wahai! Tambah lagi satu keanehan di tempat ini!"

 kata Lakasipo. "Lihat! Kudaku menemukan lima orang

 gadis cantik bergeletakan di tanah!"

 "Sebenarnya aku sudah melihat dari tadi..." kata

 Naga Kuning pula.

 "Lalu mengapa tidak kau beri tahu padaku?!" ujar

 Lakasipo.

 "Soalnya siapa mau melewatkan pemandangan

 luar biasa seperti ini. Lima gadis cantik tergeletak di

tanah. Dalam keadaan tubuh hampir tidak tertutup...."

 Berkata Setan Ngompol sampai tertawa cekikikan dan

 menahan kencing.

 "Kau tua bangka gatal mata! Bagaimana kalau lima

gadis itu sampai tidak keburu dKolong dan menemui

ajal?!"

 "Kami tahu lima gadis Ku cuma pingsan," kata

murid Sinto Gendeng.

 "Wahai! Jelas kalian bertiga sudah bersekongkol

rupanya!" Lakasipo tak mau lagi bicara. Dia dekati gadis

yang berkulit hitam manis dan tengah dijilati Laelaki-

enam. Setelah memeriksa keadaan gadis ini Lakasipo

berpindah pada empat gadis lainnya. Seperti yang

dikatakan Wiro kelima gadis tak dikenal itu memang

berada dalam keadaan pingsan.

 'Turunkan kami, biar kami bisa ikut menolong!''

kata Naga Kuning.

 "Bocah tengill Aku tahu yang ada di benakmu!

Kau ingin melihat tubuh mereka lebih dekat. Kalau bisa

mau merabai" tukas Lakasipo.

 Naga Kuning cuma bisa cemberut. Setan Ngompol

tertawa lebar sedang Pendekar212Wiro Sableng garuk-

garuk kepala. Lalu Wiro berkata. "Lakasipo, kalau kau

mengerahkan tenaga dalam lalu memijat bagian-bagian 

tertentu tubuh mereka, lima gadis itu pasti akan

lebih cepat siuman...."

 Lakasipo tidak perdulikan ucapan Wiro. Dia sibuk

mencari pohon berdaun lebar. Dengan daun-daun yang

kemudian dirangkai-rangkainya satu sama lain dia

menutupi bagian-bagian penting tubuh kelima gadis itu. 

Selesai melakukan 'itu baru Lakasipo berkata. "Nah

Wiro. Sekarang katakan bagian tubuh mana yang

kupljat agar lima gadis cantik ini segera siuman...."

 "Baiknya jangan kau beri tahu," bisik Naga 

Kuning."Kalau dia berhasil menolong lima gadis itu, 

paling-paling dia yang bakal dapat puji sanjungan. Kita

tetap begini saja!"

 "Betul," ikut berbisik Setan Ngompol. "Biar kita saja

yang melakukan."

 "Kalian bocah dan kakek sama saja konyolnya!"

ujar Wiro. Lalu pada Lakasipo dia memberi tahu agar

lelaki Itu memijat urat besar di sebelah kiri atau kanan

leher kelima gadis. Setelah mengalirkan tenaga dalam-

nya ka tubuh lima gadis itu, seperti yang dikatakan

Wiro, Lakasipo lalu memijat urat besar di leher mereka.

Situ persatu mereka sadarkan diri. Setelah memandang 

berkeliling, dengan terheran-heran mereka menatap 

Lakasipo.

 "Orang gagah berkaki batu," kata gadis berkulit

Hitam manis. "Bagaimana kami bisa berada di tempat ini,

Kau siapa...?"

 "Bagaimana kalian berada di tempat ini mana aku

tau. Kailan berlima kutemukan tergeletak pingsan.

Coba kalian ingat-ingat. Apa yang terjadi sebelumnya

dengan kalian.... Dan kau gadis hitam manis, siapa

namamu."

 "Aku Luhtinti. Malam tadi aku dan empat kerabat

ini berada di Ruang Dua Belas Obor di bawah Telaga

Lasituhitam...." Lalu Luhtinti menceritakan apa yang

masih sempat diingatnya.

 "Tidak bisa tidak, semua yang terjadi ini adalah

kehendak Para Dewa dan Peri," kata Lakasipo begitu

selesai mendengar penuturan Luhtinti.

 "Orang berkaki batu, karena kau telah menolongku,

aku menghatur banyak terima kasih "

 "Kami juga!" kata empat gadis berbarengan. Lalu

salah satu dari mereka berkata. "Sebelumnya kami

berada di bawah kekuasaan Hantu Muka Dua. Karena

kini kami telah bebas dan kau sebagai tuan penolong,

maka kami berempat menyerahkan diri padamu....

Terserah kami mau dibawa kemana. Selain itu mohon

sudi memberi tahu siapa adanya kau tuan penolong

kami."

 "Apa kubilang!" kata Naga Kuning sambil menepuk

tangan Wiro. "Kita yang memberi tahu cara menolong,

Lakasipo yang dapat untung! Empat gadis cantik me-

nyerahkan diri sekaligus padanya! Kita satupun tidak

kebagian! Kita dilupakan begitu saja!"

 "Menolong dengan mengharap pamrih tidak ada

gunanya. Lagi pula jika mereka menyerahkan diri pada-

mu, apa yang bisa kau lakukan? Masuk ke dalam

lobang hidungnya? Nongkrong di tiang telinganya?!"

sahut Pendekar 212. Membuat Naga Kuning dan juga

Setan Ngompol terdiam.

"Namaku Lakasipo," kata Lakasipo menjawab per-

tanyaan Luhtinti tadi. "Luhtinti, jika benar kau dan empat

gadis itu sebelumnya berada di tempat kediaman Hantu

Muka Dua, kau tahu di mana orang itu kini berada se

karang?'

 Luhtinti menggeleng. Gadis yang empat ikut-ikutan 

menggeleng. "Mungkin ada satu hal yang perlu

kuberitahu," kata dara ayu berkulit hitam manis ini.

"Sebelum terjadinya peristiwa hebat di telaga, aku

diperintahkan Hantu Muka Dua untuk menyelidiki ke-

adaan di luar kediamannya. Apakah bulan purnama

muncul malam tadi atau tidak. Ternyata purnama penuh

memang kelihatan di langit tadi malam...."

 "Apa perlunya Hantu Muka Dua menyelidiki hal

itu? Atau ada sesuatu bersangkut paut dengan bulan

purnama?"

 "Aku mendengar Hantu Muka Dua menyebut-nyebut 

Hantu Tangan Empat. Agaknya ada satu tugas yang 

diberikan pada Hantu Tangan Empat. Tapi Hantu Tangan 

Empat tidak pernah muncul menemui Hantu Muka Dua 

memberi tahu hasil tugasnya...."

 "Mungkin Hantu Tangan Empat gagal menjalankan

lugas," kata Lakasipo.

 "Kelihatannya begitu...."

 Wiro dan kawan-kawannya yang ada di dalam

jaring dan sejak tadi sudah gatal untuk bicara segera

berseru. "Lakasipo, tanyakan padanya apa dia tahu di

mana Hantu Tangan Empat berada?"

 Lakasipo tidak acuhkan permintaan Wiro. Baginya

ada pertanyaan lain yang lebih penting. "Wahai Luhtinti,

kau mungkin mendengar dan tahu, tugas apa yang

harus dilakukan Hantu Tangan Empat?"

 "Aku mendengar Hantu Muka Dua menyebut-nyebut 

sebuah benda bernama Batu Sakti Pembalik Waktu...."

Air muka Lakasipo berubah. Tapi yang paling

terkejut adalah Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol.

 "Lakasipo!" seru Wiro. "Kini tersingkap Hantu Muka

Dua menugaskan Hantu Tangan Empat mencari Batu

Sakti Pembalik Waktu. Itu sebabnya dia masuk ke alam

kami, alam seribu dua ratus tahun di muka alammu

yang sekarang. Kau sudah tahu dari kami Hantu Tangan

Empat tidak berhasil mendapatkan batu sakti itu. Batu

itu sebelumnya ada pada Setan Ngompol. Jatuh di

satu tempat, pertama sekali kami bertiga muncul di

Negeri Latanahsilam ini...."

 "Itu sebabnya kami minta bantuanmu mencari batu

itu. Kalau sampai jatuh ke tangan Hantu Tangan Empat

apalagi Hantu Muka Dua, jangan harap kami bisa

kembali ke dunia kami!"

 "Lakasipo, untuk sementara lupakan dulu batu itu,"

kata Wiro. 'Tanyakan pada gadis itu apa dia tahu di

mana Hantu Tangan Empat berada."

 Sementara itu sejak tadi Luhtinti dan empat gadis

cantik terheran-heran melihat kelakuan Lakasipo. Mereka 

memperhatikan sambil sesekali memandang ke arah 

bahu kanannya, di mana Wiro, Naga Kuning dan Setan 

Ngompol berada dalam sebuah jaring.

 "Lakasipo, dari tadi kami lihat kau bicara seorang

diri.... Kau bicara dengan siapa sebenarnya?"

 "Ya, jelas bukan dengan kami!" kata satu dari empat

gadis cantik di samping Luhtinti.

 "Aku mendengar suara-suara aneh halus. Benda

apa yang ada di atas bahumu, wahai Lakasipo?'

 "Kalau kuterangkan kalian pasti sulit percaya. Luhtinti, 

apakah kau atau salah satu dari kalian tahu di mana 

beradanya Hantu Tangan Empat?"

 Baru saja Lakasipo bertanya tiba-tiba di tanah

bergerak satu bayang-bayang besar.

"Siapa yang bertanyakan perihal Hantu Tangan

Empat?!"


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

5

SEMUA orang yang ada di tepi telaga termasuk Wiro dan 

kawan-kawannya memandang ke langit. Di atas sana 

kelihatan seekor angsa putih besar terbang berputar-

putar. Makin lama makin turun ke bawah lalu di satu 

tempat mengapung diam di udara.

Diatas punggung angsa putih ini duduk seorang gadis

cantik luar biasa berpakaian gulungan kain putih.

Tubuhnya menebar bau harum.

 Sementara Naga Kuning dan Setan Ngompol ternganga 

heran, Pendekar 212 Wiro Sableng tegak tertegun di atas 

bahu Lakasipo. Matanya menatap sosok gadis cantik di 

atas punggung angsa putih.

 "Harum bau tubuh dan pakaiannya mengingatkan pada 

Bidadari Angin Timur..." kata Wiro dalam hati.

"Kecantikan dan sepasang matanya yang biru 

mengingatkan aku pada Ratu Duyung.... Ah, bagaimana

sebenarnya perjalanan hidupku ini! Melihat semua

keanehan gadis cantik di atas angsa terbang itu apa

Mungkin antara dirinya ada sangkut paut dengan Ratu

Duyung? Mungkin, mustahil.... Aku terbenam terlalu

jauh dalam alam pikiranku. Mereka terpisah dalam jarak 

waktu seribu dua ratus tahun...."

 "Apakah tak ada seorangpun yang mau menjawab

pertanyaanku?' Gadis di atas angsa putih yang meng-

apung di udara kembali bertanya. Matanya yang biru

Memandang tajam ke bawah. Dia menatap wajah dan

sosok Lakasipo. Lalu dia juga melihat sesuatu yang tak

bisa dipastikan benda apa adanya yang terletak di

atas bahu Lakasipo.

 Seperti tersadar dari sesuatu yang tidak diduga,

Lakasipo cepat menjura lalu letakkan dua tangan yang

dirapatkan di atas kepala.

 "Wahai Peri Angsa Putih, Peri Junjungan dan

tercantik di tujuh lapisan langit. Mohon kau sudi me-

nerima sembah hormat saya. Kehadiranmu sungguh

tidak disangka-sangka. Itu sebabnya saya sampai lupa

menjawab pertanyaan. Mohon maafmu wahai Peri Angsa 

Putih. Saya yang rendah ini bernama Lakasipo dari

Negeri Latanahsilam. Adapun hal ihwal yang menyangkut 

Hantu Tangan Empat dipertanyakan karena ada tiga 

orang saudara saya membutuhkan pertolongannya."

 Sepasang mata biru Peri Angsa Putih kembali

menatap wajah dan sosok Lakasipo, lalu seperti tadi

pandangannya beralih pada benda yang menempel di

bahu kanan lelaki itu.

 Dalam hati sang Peri berkata. "Lakasipo, sudah

lama aku mendengar nama dan riwayat hidupnya. Baru

sekali ini aku melihat jelas keadaannya. Ternyata dia

seorang lelaki berperawakan kekar, berwajah jantan

dan gagah. Tidak heran ada kecemburuan terselubung

di hati Hantu Muka Dua. Kalau sampai lelaki ini jatuh

ke tangan si nenek Hantu Santet Laknat, heh.... Aku

melihat dua kaki itu. Walau mungkin menyengsarakan

dirinya namun dia memiliki sesuatu yang luar biasa....

Sangat disayangkan kalau lelaki segagah ini jatuh ke

tangan Hantu Santet Laknat atau mungkin.... Aku me-

nyirap kabar seorang gadis sakti bernama Luhjelita

menginginkan dirinya. Entah untuk maksud jahat atau

maksud baik. Bisa saja Luhjelita berhasil memikat

hatinya dibanding dengan Hantu Santet Laknat Mungkin 

aku perlu menemui Peri Bunda dan berterus terang

padanya...."

 DI dalam jaring di atas bahu Lakasipo, kakek Setan

Ngompol berbisik pada Wiro dan Naga Kuning. "Hai,

apakah kalian tidak melihat sejak tadi gadis cantik di

atas angsa putih itu memperhatikan diriku?'

 Naga Kuning tertawa cekikikan. Wiro tekapkan

tangannya ke mulut menahan tawa.

 "Tua bangka edani Kalau sampai Peri itu jatuh

olnta padamu, aku berani digantung kaki ke atas kepala

ke bawahi"

 "Aku berani disunat sekali lagi sampai habisi" kata

Wiro pula.

 Setan Ngompol tertawa cekikikan. "Kalaupun dia

tidak suka padaku, apa kalian mengira Peri itu suka

pada aalah satu dari kalian? HuhI"

 Di atas angsa putih Peri Angsa Putih hendak

berkata. Tapi mendadak urungkan niatnya karena

tiba-tiba matanya melihat ada sesosok tubuh berpakaian

Jingga mendekam sembunyi di bawah sebatang pohon 

yang dikelilingi semak belukar lebat.

"Heh.... Baru disebut sudah muncul. Ternyata dia

memang benar-benar mencari Lakasipo. Luhjelita,

gerangan apa maksudmu sebenarnya? Jika kau ber-

makaud baik mungkin kau akan mengecewakan diriku. 

Jika kau berniat jahat jelas-jelas itu tidak berkenan

di hatiku...."

 Di balik pohon besaryang dikelilingi semak belukar

lebat dan terletak tak jauh dari Lakasipo berada memang 

mendekam sosok seorang gadis berkulit halus, berwajah 

cantik yang bukan lain adalah Luhjelita. Di sebelahnya 

mendekam pula sosok seekor kura-kura raksasa coklat 

bersayap yang selama ini menjadi tunggangannya. 

Seperti dituturkan sebelumnya Hantu Muka Dua yang 

menganggap gadis itu sebagai kekasihnya telah

memerintahkan Luhjelita mencari dan membunuh 

Lakasipo. Seperti Peri Angsa Putih, selama ini Luhjelita 

tidak pernah bertemu muka dan melihat jelas sosok dan 

wajah Lakasipo. Ternyata lelaki itu memiliki wajah gagah 

walau sepasang kakinya berbentuk aneh, terbungkus oleh 

bola-bola batu.

 "Kalau dia segagah ini, apakah sampai hatiku

membunuhnya...?' membatin Luhjelita. "Ah! Bagai-

mana ini!" Luhjelita garuk-garuk rambutnya berulang

kali. Lalu dia memandang ke atas. "Heh.... Peri Angsa

Putih.... Sepertinya dia telah tahu kehadiranku di tempat

ini. Apakah aku harus terus bersembunyi atau langsung

saja menghadang Lakasipo. Tapi membunuh lelaki itu

sepertinya...."

 "Lakasipo...." Tiba-tiba terdengar suara Peri Angsa

Putih dari atas sana. "Setahuku kau dilahirkan sebagai

anak tunggal. Bagaimana sekarang kau bisa berkata

punya tiga orang saudara?'

 "Panjang ceritanya wahai Peri Angsa Putih. Tapi

jika kau sudi mendengarkan penuturan saya...."

 Peri Angsa Putih gelengkan kepala. "Tidak sekarang 

wahai Lakasipo. Pertolongan apa yang dibutuhkan tiga 

saudaramu itu?'

 "Mereka ingin kembali ke dunia mereka. Dunia

seribu dua ratus tahun mendatang bagi kita. Jika itu

tidak mungkin, mereka ingin agar diri mereka bisa

dirubah menjadi sebesar manusia di negeri Latanah-

silam ini...."

 "Aneh kedengarannya. Saudaramu berasal dari

dunia seribu dua ratus tahun setelah dunia kita. Lalu

saudaramu ingin dirubah menjadi sebesar kita. Me-

mangnya bagaimana keadaan diri mereka...?"

 "Sulit bagi saya memberi tahu wahai Peri Angsa

Putih kalau tidak menerangkan dari pangkal ceritanya.

"Beberapa waktu lalu Peri Bunda pernah men-

ceritakan tentang makhluk aneh sebesar jari kelingking

yang entah bagaimana tahu-tahu berada di dunia

kita.... Merekakah yang dimaksudkan oleh Peri

Bunda?"

 "Saya yakin memang mereka wahai Peri Angsa

Putih...." Lakasipo lalu ambil jaring akar kayu yang

menempel di bahu kanannya. Wiro, Naga Kuning dan

setan Ngompol diletakkannya di telapak tangan kiri

lalu diperlihatkannya pada Peri Angsa Putih.

 Naga Kuning langsung menjura. Setan Ngompol

terbungkuk-bungkuk tekap bagian bawah perutnya.

Hanya Pendekar 212 Wiro Sableng yang tetap tegak

sambil rangkapkan dua tangan di depan dada.

 Pari Angsa Putih tundukkan kepalanya, meman-

tang ke bawah. "Heh.... Tiga saudaramu memang

aneh-aneh wahai Lakasipo. Ada yang sikapnya tengil,

ada yang bau dan ada yang bersikap mau gagah

sendirl...."

 "Harap maafkan mereka wahai Peri Angsa Putih.

Mareka berasal dari alam dunia yang berbeda dengan

kita..”

 "Jika keadaan dan sikap mereka seperti ini, aku

khawatir Hantu Tangan Empat tak akan mau menolong

mereka," kata Peri Angsa Putih pula.

 Mendengar kata-kata sang Peri hampir terlompat

ucapan dari mulut Wiro bahwa Hantu Tangan Empat

Mati mau menolong. Karena waktu di alam dunia

mereka, dia pernah menolong kakek itu. Tapi karena

tadi dirinya sudah disindir sebagai seorang yang bersikap

mau gagah sendiri, murid Sinto Gendeng akhirnya 

memutuskan diam saja.

 "Perl Angsa Putih, menurut tiga saudaraku, dan

setahuku sendiri, Hantu Tangan Empat selalu bersikap

baik pada semua orang. Aku yakin kakek itu mau

menolong tiga saudaraku. Kalau saja Peri mau 

menunjukkan di mana dia berada...."

 "Aku tak mungkin memberitahu tanpa ijinnya..."

kata Peri Angsa Putih pula.

 "Lakasipol" teriak Wiro. "Dari ucapan Peri Angsa

Putih aku yakin dia tahu di mana Hantu Tangan Empat

Itu berada. Kau harus memaksanya. Ini kesempatan

satu-satunya bagi kami untuk bisa kembali ke dunia

kami!"

 "Peri Angsa Putih, saya harap kau mau bermurah

hati menolong tiga saudaraku ini...."

 "Maafkan aku wahai Lakasipo. Saat Ini aku belum

bisa menjanjikan apa-apa. Entah di kemudian hari...."

 Wiro hentakkan kaki kanannya di atas telapak

tangan Lakasipo. "Lakasipol Katakan pada Peri itu,

setahuku yang namanya Peri bersifat murah hati, penuh

hasrat menolong. Peri yang satu ini Peri sungguhan

atau apa...?'

 "Aku tak berani memaksanya wahai saudaraku...."

 "Kalau begitu biar aku yang bicara dengannya!

Angkat diriku lebih ke atas...."

 "Jaraknya terlalu jauh Wiro...."

 "Kalau begitu minta dia turun lebih dekat ke sini,"

kata Wiro pula.

 Tapi Lakasipo mana berani memerintah Peri Angsa

Putih.

 Di atas punggung tunggangannya Peri Angsa Putih

mendengar ucapan-ucapan Lakasipo. Dia menimbang-

nimbang seketika lalu ketika dia siap hendak berucap

tiba-tiba dari balik semak belukar melompat sosok

tubuh seorang gadis berpakaian Jingga.

 "Lakasipo! Kita belum pernah bertemu muka! Apa-

kah diriku cukup layak menemuimu untuk membicara

kan satu urusan sangat penting?'

 "Dukk... dukkk!"

 Lakasipo sampai tersurut dua langkah saking kagetnya. 

Sambaran angin orang yang barusan berkelebat bukan 

olah-olah kerasnya pertanda dia memiliki ilmu kepandaian 

tinggi. Memandang ke depan Lakasipo tercekat melihat 

seorang gadis berpakaian Jingga, berwajah cantik dan 

memiliki kulit putih mulus serta rambut digulung ke atas. 

Potongan tubuhnya yang padat elok membuat nafas 

Lakasipo seolah tertahan beberapa lamanya.

 "Wahai gadis berpakaian Jingga. Siapakah engkau

dan urusan sangat penting apa yang kau maksudkan?"

bertanya Lakasipo.

 Di atas sana paras Peri Angsa Putih langsung

berubah ketika melihat siapa yang muncul. "Gadis genit

tukang rayu itu! Akhirnya berani juga ia memunculkan

diri mendahuluiku! Kalau Lakasipo sampai terpikat dia

bisa celaka... Bagaimana aku memotong pembicaraan

mereka dan memberi ingat lelaki itu."

 "Lakasipo!" Peri Angsa Putih berseru. "Pembicaraan 

kita belum selesai. Harap kau tidak membuat urusan

baru dulu!"

 Di atas telapak tangan Lakasipo Pendekar 212

Wiro Sableng cepat membaca keadaan. "Heh... Peri

Angsa Putih seolah merasa tersisih dengan kemun-

culan si cantik berpakaian Jingga ini. Mungkin juga

ada rasa cemburu. Mungkin aku bisa pergunakan

kesempatan agar dia tidak kehilangan muka!" Habis

berpikir begitu Wiro hentakkan kakinya ke telapak

tangan Lakasipo lalu berteriak.

 "Lakasipo! Jika kau tidak perdulikan Peri di atas

sana, jangan harap ada yang mampu menolong diriku

dan kawan-kawan. Kalau sampai kami tidak tertolong

karena ulahmu, jangan kira kami masih mau meng

anggap dirimu sebagai saudara!"

 Diancam seperti itu Lakasipo jadi bingung. Semen-

tara itu didepannya Luhjelita mulai merayu dengan

melontarkan senyum-senyum memikat. Malah dengan

beraninya sambil memegang lengan Lakasipo gadis

ini berkata. "Lakasipo, namaku Luhjelita. Aku datang

untuk memberitahu kabar yang kusirap. Ada seseorang

inginkan jiwamu...."

 "Siapa?!" tanya Lakasipo.

 "Tak bisa kukatakan di sini...."

 "Jika kau bermaksud baik mengapa berahasia

segala?!" sergah Lakasipo.

 "Lakasipo!" Di atas sana Peri Angsa Putih berseru

keras. "Jika kau tidak merasa perlu meneruskan pem-

bicaraan denganku, aku siap pergi...."

 Wiro kembali hentakkan kaki kanannya ke telapak

tangan Lakasipo dan berteriak mengancam. "Lakasipo!

Cukup kita bersaudara sampai di sini! Turunkan aku

dan kawan-kawan ke tanah! Biar kami memilih jalan

sendiri!"

 "Wiro, tunggu...." Lakasipo memandang ke depan.

"Luhjelita, saat ini aku...."

 Gadis cantik di depan Lakasipo tersenyum manis

lalu berkata. "Aku tidak akan mengganggumu. Aku

tidak mau mengecewakan tiga makhluk aneh yang kau

sebut saudaramu Ku. Aku akan tinggalkan tempat ini.

Tapi satu hari di muka, pada saat matahari terbit

kutunggu dirimu di Goa Pualam Lamerah. Kau akan

menyesal seumur-umur jika tidak menemuiku..."

 Tanpa menunggu jawaban Lakasipo, Luhjelita se-

gera putar tubuh dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

Sebelum berlalu dari tepi telaga dia melirik ke atas

sana dan mengulum senyum penuh arti pada Peri

Angsa Putih. Dalam hati gadis ini berkata. "Peri Angsa

Putih, dengan segala kecantikan dan kelebihan de-

rajatmu jangan mengira kau bakal mendapatkan La-

kasipo. Hatiku terlanjur jatuh padanya pada pandangan

pertama...." Luhjelita kembali ke balik semak belukar

lebat di bawah pohon besar, langsung naik ke pung-

gung kura-kura lalu melayang terbang dan lenyap di

udara.

 *

* *

BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

6

DI ATAS punggung angsa putih, Peri Angsa Putih 

luruskan jari telunjuk tangan kanannya. Jari ini diarahkan 

pada telapak tangan Lakasipo di atas mana Wiro dan dua 

kawannya berada. Ketika jari tangan itu tergetar terjadilah 

satu hal yang luar biasa. Seperti tersedot tubuh Wiro 

melesat ke atas. Belum sempat sang pendekar sadar apa 

yang terjadi tahu-tahu dirinya sudah berada di atas 

telapak tangan kiri Peri Angsa Putih.

 Untuk beberapa lamanya sepasang mata biru sang

 Peri menatap memperhatikan sosok Wiro yang hanya

 sebesar jari kelingking Ku. Melihat keadaan Wiro se-

 dekat dan sejelas Ku, sikap Peri Angsa Putih yang

 semula tidak acuh kini jadi berubah.

 "Wahai, rupanya orang ini masih muda belia. Ram-

 butnya gondrong. Wajahnya cakap. Ternyata dia lebih

 gagah dari Lakasipo. Murah senyum. Kulitnya kuning

 bersih. Pandangan matanya lucu. Suka garuk-garuk

 kepala. Tubuhnya penuh otot Heh... ada guratan tiga

 angka di pertengahan dadanya. Lalu ada sebuah benda

terselip di pinggang celananya. Pakaiannya walau dekil

tapi bukan terbuat dari kulit kayu atau dedaunan seperti

 yang dimiliki orang-orang di Latanahsilam. Sikapnya

 seenaknya saja, malah agak kurang ajar. Terhadap

 diriku dia seolah menganggap sama rata saja. Tapi

 mengapa aku mulai tertarik padanya...?"

 "Terima kasih, kau tadi telah menyelamatkan

 mukaku dari malu besar..." kata Peri Angsa Putih.

Hembusan nafasnya waktu bicara tadi membuat Wiro

terpental hingga hampir jatuh terjungkal ke tanah. Sang

Peri maklum kalau dia harus bicara perlahan di jarak

sedekat itu.

 "Sosok cebol, makhluk apa kau sebenarnya? Siapa

dirimu? Apakah kau punya nama?"

 Murid Eyang Sinto Gendeng menyeringai. "Kau

boleh memanggil saya Si Cebol, Si Kontet atau Si Katai!

Suka-sukamulah wahai Peri Angsa Putih...."

 Peri cantik itu tertawa lebar mendengar kata-kata

Pendekar 212. "Mendengar tutur bicaramu jelas kau

bukan penduduk Latanahsilam, walau kau bicara coba

meniru logat orang sini. Pakai wahai segala! Aneh

terdengarnya. Apa benar kau berasal dari dunia seribu

dua ratus tahun lebih tua dari dunia kami?"

 "Saya dan kawan-kawan memang berasal dari

dunia lain. Kami kesasar datang ke sini...."

 "Bagaimana bisa kesasar?"

 "Itu yang masih kami selidiki. Tapi saat ini yang

kami inginkan adalah kembali ke dunia kami. Jika tidak

mungkin, jika nasib kami harus tetap mendekam di

negeri ini maka kami ingin agar sosok kami bisa dibuat

sebesar sosok orang-orang yang ada di sini. Kalau

tidak bahaya akan selalu mengikuti kemana kami

pergi."

 "Katamu kau datang kesasar ke negeri ini. Berarti

sulit mencari jalan pulang. Untuk memenuhi keinginanmu 

menjadi sebesar kami, siapa pula yang bisa 

melakukannya?"

 "Hanya ada satu orang. Hantu Tangan Empat!"

jawab Wiro.

 "Mengapa kau begitu yakin kakek satu itu bisa

menolongmu?' tanya Peri Angsa Putih.

 "Kami pernah bertemu dengannya di Tanah Jawa...."

"Tanah Jawa? Di mana itu?" tanya Peri Angsa Putih.

 Wiro garuk-garuk kepalanya. "Negeri asai kami.

Sulit bagaimana menerangkannya padamu. Waktu ber-

ada di Tanah Jawa, sosok Hantu Tangan Empat sama

besarnya dengan sosok tubuh kami. Kalau dia berada

di sini tentu sosoknya sama besar dengan orang-orang

di sini. Berarti dia punya ilmu membesar dan mengecilkan 

tubuh...."

 "Kau cerdik!" kata Peri Angsa Putih seperti memuji.

 "Tidak, itu jalan pikiran wajar-wajar saja," jawab

Wiro polos. "Peri Angsa Putih, melihat kepada wajahmu

yang cantik dan tutur bicaramu yang sopan, saya tahu

kau seorang Peri baik hati. Tetapi mengapa kau tidak

mau menolong diriku mempertemukan dengan Hantu

Tangan Empat?'

 "Soalnya aku tidak tahu di mana dia berada."

 Wiro tersenyum. 'Tadi saya dengar kau berkata tidak

mau membawa saya pada kakek itu tanpa ijinnya. Bagi

saya berarti kau tahu di mana Hantu Tangan Empat

berada. Malah saya menduga kau punya hubungan dekat

dengan orang tua itu.... Seingat saya Hantu Tangan 

Empat hidungnya mancung bagus. Hidungmu juga 

mancung bagus. Mungkin itu Embanmu atau...."

 "Apa itu Emban?' tanya Peri Angsa Putih.

 Wiro jadi garuk-garuk kepala lagi. "Maksud saya

mungkin dia kakekmu...."

 Peri Angsa Putih kembali tertawa. "Kalau aku tidak

mau menolongmu, apa yang akan kau lakukan?'

 'Ya, bagaimana ya? Tapi saya tidak percaya suara

mulutmu sama dengan suara hatimu "

 Peri Angsa Putih tersenyum. Makin banyak bicara

dengan makhluk di atas telapak tangannya itu makin

senang hatinya.

 "Makhluk cebol yang tak mau memberitahu nama...."

"Nama saya Wiro. Wiro Sableng!" ujar Wiro.

 Peri Angsa Putih tertawa cekikikan.

 "Ada yang lucu wahai Peri Angsa Putih?'

 "Kau tahu apa arti sableng di negeri Latanahsilam

ini?' tanya Peri Angsa Putih.

 Wiro menggeleng.

 "Di Latanahsilam sableng artinya kencing kuda!

Hik... hik... hikl" Sang Peri tertawa cekikikan.

 "Sialan!" maki Wiro sambil garuk-garuk kepala.

"Masih bagus artinya cuma kencing kuda. Kalau anunya

kuda...!"

 Kembali Peri Angsa Putih tertawa cekikikan walau

kali ini wajahnya kelihatan kemerahan.

 "Lakasipo tak pernah memberi tahu," ujar Wiro

pula. "Dia cuma memberi tahu kata totok yang artinya

dada perempuan. Tapi tidak dijelaskan apa dada gadis

yang masih montok bagus atau punyanya nenek-nenek

yang sudah peot!"

 Walau paras Peri Angsa Putih menjadi merah

namun dia tak dapat menyembunyikan tawanya.

 "Baiklah makhluk aneh bernama Wiro Sableng.

Aku berjanji akan mempertemukanmu dengan Hantu

Tangan Empat. Mudah-mudahan dia bisa menolongmu. 

Kita berangkat sekarang...."

 "Tunggu!" seru Wiro. 'Yang perlu ditolong bukan

cuma saya seorang. Tapi juga dua orang kawanku

yang masih ada di atas telapak tangan Lakasipo itu...."

 Peri Angsa Putih gelengkan kepala. "Wahai! Aku

hanya bersedia menolong kau seorang. Perihal dua

kawanmu itu biar mereka mencari pertolongan sendiri."

 "Maafkan saya wahai Peri Angsa Putih. Kalau dua

kawanku tidak ikut, lebih baik aku tidak pergi ber-

samamu. Lebih baik kami bertiga seumur-umur berada

dalam keadaan seperti ini. Jika nasib baik mungkin

satu ketika ada yang bisa menolong kami...."

 Peri Angsa Putih tatap wajah Pendekar 212 sambil

hatinya berkata. "Pemuda cebol ini ternyata berhati

luhur. Setia kawan. Padahal tadi aku cuma ingin me

nyelami budi pekertinya yang sebenarnya. Ternyata

dia benar-benar baik."

 "Wiro, kau tak usah khawatir. Kalau kau ingin dua

kawanmu turut serta tidak jadi masalah. Mereka biar

saja ikut bersama Lakasipo. Kau ikut naik angsa ber-

samaku...."

 'Terima kasih Peri Angsa Putih. Tapi mohon maafmu. 

Jika kau sudi, bawa saya dan dua kawanku sekalian. 

Kalau tidak biar Lakasipo yang membawa kami bertiga...."

 Peri Angsa Putih kembali tatap wajah Wiro. Lalu

senyum nampak menyeruak di wajahnya yang cantik.

Jari tangannya diluruskan dan diarahkan ke bawah.

Sosok Naga Kuning dan Setan Ngompol serta merta

tersedot ke udara.

 "Wahai Lakasipo, aku akan membawa tiga saudaramu 

ini ke satu tempat. Kau menyusul dengan kuda kaki 

enammu. Turuti arah matahari terbenam hingga akhirnya 

kau menemukan sebuah sungai bercabang dua. Berhenti 

di cabang sungai sampai kau mendapat petunjuk lebih 

lanjut. Tapi ada satu hal harus kau ingat wahai Lakasipo. 

Hindari pertemuan dengan Luhjelita di Goa Pualam 

Lamerah!"

 Rupanya Peri Angsa Putih telah sempat mendengar 

ucapan Luhjelita tentang rencana pertemuan di satu goa 

bernama Pualam Lamerah.

 "Saya... saya akan perhatikan apa yang kau kata-

kan wahai Peri Angsa Putih," ujar Lakasipo pula.

 Sesaat angsa putih dan penunggangnya lenyap

di udara. Lakasipo segera melangkah ke tempat dia

meninggalkan Laekakienam. Namun baru menindak dua

langkah tiba-tiba lima gadis cantik menghadang lang-

kahnya. Mereka ternyata adalah Luhtinti dan empat gadis

yang berasal dari tempat kediaman Hantu Muka Dua.

Lakasipo hampir lupa kalau mereka masih ada di situ.

 "Lakasipo, aku ingin kau membawa aku serta..."

kata Luhtinti.

 "Kami berempat juga," kata salah satu dari empat

gadis. "Kau telah menolong kami. Kini diri kami adalah

milikmu. Bawa kami bersamamu!"

 "Wahai! Walau kudaku besar tapi enam orang

menungganginya sekaligus mana mungkin!" kata La-

kasipo. Lalu dia pandangi empat gadis di depannya.

"Kalian, bukankah penduduk sekitar sini? Sekarang

kalian bebas. Sebaiknya pulang kembali ke tempat asal

masing-masing...."

 Empat gadis itu sama-sama terdiam. Akhirnya

yang satu berkata. "Jika itu kehendakmu, kami menurut

saja. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas

pertolonganmu." Bersama tiga kawannya gadis ini

letakkan dua tangan di atas kepala lalu bersurut mundur

dan tinggalkan tempat itu.

 "Aku tak punya tempat kediaman, tak punya orang

tua ataupun sanak saudara. Apakah kau akan me-

nyuruhku pergi juga seperti mereka wahai Lakasipo?'

bertanya Luhtinti, si gadis hitam manis.

 "Luhtinti, mengadakan perjalanan bersamaku be-

rarti menjatuhkan sebagian bahaya dan malapetaka

atas dirimu. Aku tak mau...."

 "Kalau tidak kau tolong, aku sudah lama mati di

tempat ini wahai Lakasipo. Sekarang apa artinya ba-

haya atau malapetaka bagiku? Kematian pun jika meng-

hadang akan kuhadapi...."

 Lakasipo menarik nafas panjang. Akhirnya di-

pegangnya pinggul ramping Luhtinti lalu gadis hitam

manis ini dinaikkannya ke atas kuda berkaki enam

yang jadi tunggangannya.


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

7

KARENA Goa Pualam Lamerah terletak di satu arah 

perjalanan yang menuju ke tempat pertemuan yang 

dikatakan Peri Angsa Putih maka Lakasipo alias Hantu

Kaki Batu merasa tidak ada salahnya dia mampir ke goa 

itu guna menemui gadis cantik bernama Luhjelita.

 Ada beberapa hal aneh yang ingin disingkapkan

Lakasipo. Pertama mengapa Peri Angsa Putih me-

larangnya bertemu dengan Luhjelita. Ke dua, siapa

Luhjelita sebenarnya dan apakah benar keterangan

gadis itu bahwa ada seseorang ingin membunuhnya?

Semakin keras terasa panggilan larangan Peri Angsa

Putih sebaliknya bertambah kuat pula hasrat Lakasipo

untuk menemui Luhjelita.

 Saat itu sebenarnya Lakasipo ingin berada sen-

dirian. Namun Luhtinti masih terus saja ikut bersama-

nya walau sudah didesak berulang kali agar gadis itu

kembali ke tempat asal kediamannya atau diantar ke

satu tempat. Kalau tidak karena kasihan rasanya mau

Lakasipo meninggalkan gadis itu begitu saja di tengah

jalan. Kini kehadirannya seolah menjadi beban bagi

dirinya.

 Beberapa saat setelah matahari terbit pagi itu,

udara mendung menyungkup sepanjang perjalanan.

Sebelum mencapaitujuannya hujan lebat turun. Karena

ingin cepat-cepat sampai di Goa Pualam Lamerah,

Lakasipo terus saja memacu kuda kaki enamnya.

 Di bawah hujan lebat yang mendera, dalam ke

adaan basah kuyup Lakasipo akhirnya memasuki satu

daerah bebukitan penuh dengan batu-batu berwarna

putih kelabu. Inilah kawasan bukit batu pualam di mana

Goa Pualam Lamerah terletak.

 Tidak sulit bagi Lakasipo mencari goa itu karena

berada di puncak salah satu bebukitan dan dari ke-

jauhan telah kelihatan batu-batunya yang berwarna

merah. Lakasipo tinggalkan kuda kaki hitam enamnya

di mulut goa lalu melompat turun. Sebelum masuk ke

dalam goa batu merah itu dia mengelus leher kudanya

seraya berbisik. "Laekakienam, harap kau berjaga-jaga

di tempat ini. Aku punya firasat kurang enak. Beri tahu

aku jika terjadi sesuatu...."

 Lakasipo berpaling pada Luhtinti yang masih ber-

ada di atas punggung Laekakienam. "Ayo turun. Ikut

aku masuk ke dalam goa...."

 "Wahai. Aku menunggu di sini saja...."

 "Di bawah hujan lebat begini rupa?"

 "Tak jadi apa," kata Luhtinti sambil menyibakkan

rambutnya yang basah.

 Lakasipo pandangi wajah gadis itu. Seolah baru

Sadar dia melihat ternyata Luhtinti memiliki wajah cantik

dan tubuh bagus. Memandang dari arah samping wajah

Luhtinti mengingatkan Lakasipo pada wajah Luhsantini, 

istri Latandai alias Hantu Bara Kaliatus yang malang

Ku. Sebelumnya perempuan Ku bersikeras akan ikut

kemana Lakasipo pergi. Setelah diberi peringatan, apa

lagi keadaannya yang cidera di tangan kanan, dan

setelah dijanjikan akan segera ditemui baru Luhsantini

mau ditinggalkan di Latanahsilam. (Baca Hantu Bara

Kaliatus)

 Kuda hitam besar usap bahu Lakasipo dengan

ujung lidahnya tanda mengerti apa yang barusan di

katakan Lakasipo.

 "Luhtinti, kau dan Laekakienam tunggu di sini. Aku

tak akan lama...."

 Luhtinti anggukkan kepala. Namun dalam hati dia

berkata. "Jika yang kau temui adalah seorang gadis

bernama Luhjelita, kau tak akan bisa cepat-cepat me-

ninggalkannya." Ingin Luhtinti memperingatkan lelaki

itu agar berhati-hati. Namun entah mengapa ucapan

itu tidak keluar dari mulutnya.

 Lakasipo balikkan badan lalu melangkah masuk

ke dalam goa. "Dukk... duukkk... dukkkk". Kaki-kaki

batu yang melangkah menimbulkan suara dan getaran

keras di lantai goa. Setelah menempuh sebuah lorong

sepanjang dua belas tombak dia sampai ke sebuah

ruangan batu berwarna merah muda. Ruangan ini

kosong melompong. Tak ada pintu tak ada perabotan.

Ini adalah ujung buntu dari Goa Pualam Lamerah.

 "Kosong, tak ada orang tak ada apapun. Jangan-

jangan gadis itu menipuku. Atau mungkin ini satu

jebakan? Atau bisa jadi dia belum sampai di tempat

ini...." Pikir Lakasipo. Dia dudukkan diri di lantai batu.

Menunggu sesaat sambil mengeringkan rambut dan

badannya yang basah. Setelah duduk cukup lama

Lakasipo jadi kesal. Di luar goa tidak terdengar lagi

suara menderu pertanda hujan telah reda. Lakasipo

bangkit berdiri. Ketika dia hendak melangkah me-

ninggalkan ruangan itu tiba-tiba di atasnya ada suara

berdesir. Memandang ke atas Lakasipo terkejut. Se-

bagian langit-langit batu dilihatnya bergerak turun.

Langit-langit yang turun ini berbentuk sebuah tonggak

empat persegi panjang setinggi dua tombak. Di atas

tonggak batu ini tegak berdiri sosok gadis cantik

berpakaian jingga. Sebelumnya Lakasipo melihat ram-

butnya tergulung. Kini rambut gadis itu tergerai lepas

menutupi bagian dadanya. Kalau saja rambut itu tidak

menjulai di depan dada niscaya Lakasipo bisa melihat

kelembutan dada yang membukit karena hanyaditutupi

dedaunan aneka warna.

 "Luhjelita..." desis Lakasipo.

 "Wahai gembiranya hati ini. Ternyata kau masih

ingat namaku dan sudi menyebutnya..." kata Luhjelita

sambil lemparkan senyum dikulum. Dia membuat ge-

rakan dengan tangan kirinya. Tonggak batu tempat dia

berdiri secara aneh secara perlahan-lahan bergerak

miring ke kiri. Kini tonggak batu besar itu berubah

seolah menjadi tempat ketiduran. Luhjelita duduk di

salah satu ujungnya.

 "Harap maafkan diriku wahai Lakasipo. Aku telah

membuatdirimu bersusah payah, kehujanan dan basah

kuyup untuk datang ke sini...."

 Lakasipo balas tersenyum.

 "Apakah kau datang seorang diri ke Goa Pualam

Lamerah ini wahai Lakasipo?'

 "Ada seorang gadis menunggu di luar goa bersama

kuda hitamku..." jawab Lakasipo.

 "Heh.... Apakah dia itu seorang Peri atau seorang

gadis berkulit hitam manis bernama Luhtinti?"

 "Dia Luhtinti...."

 "Mengapa kau membiarkannya saja sendirian di

luar sana?'

 "Aku sudah mengajaknya masuk tapi dia tidak

mau."

 "Wahai! Mungkin dia tidak suka melihat diriku!"

kata Luhjelita pula lalu tertawa berderai. Dalam hati

Luhjelita berkata. "Luhtinti gadis cerdik. Wajahnya can-

tik. Sebelum dia menjadi sainganku lebih baik siapa

dirinya kuberitahu pada Lakasipo."

 "Luhjelita, waktu di tepi telaga kemarin kau me

ngatakan ada seseorang yang ingin membunuhku...."

 "Hal itu memang akan kita bicarakan wahai Lakasipo. 

Duduklah di atas batu ini, di sampingku. Banyak

yang akan kita bicarakan. Aku tak mau kau menjadi

lelah karena berdiri terus-terusan...."

 Lakasipo duduk di atas batu di sebelah Luhjelita.

Tapi dia sengaja menjaga jarak, tidak terlalu dekat.

 "Sebelum kujelaskan siapa yang ingin membunuhmu, 

terlebih dahulu perlu kuberitahu siapa adanya Luhtinti, 

gadis cantik yang berada di luar goa sana.... Dia adalah 

gadis culikan Hantu Muka Dua yang kemudian dipelihara 

dan diberikan tugas sebagai mata-mata...."

 "Mata-mata....? Mata-mata apa maksudmu wahai

Luhjelita?'

 "Apa kau tidak pernah menyirap kabar bahwa sejak

lama Hantu Muka Dua memaklumkan diri sebagai Raja

Di Raja segala Hantu di Negeri Latanahsilam ini?'

 "Memang pernah kudengar hal itu. Tapi kukira dia

akan mendapat banyak tantangan.... Tidak semua para

Hantu suka dan mau tunduk padanya," kata Lakasipo.

 "Benar. Namun jika ilmu kepandaiannya jauh lebih

tinggi dari kepandaian semua Hantu digabung jadi

satu, apa daya mereka? Menantang berarti hancuri

Luhtinti dijadikan mata-mata untuk menyirap kabar,

menyelidik segala sesuatunya. Karena kabarnya Hantu

Muka Dua telah membangun satu Istana Batu di mana

dia akan bertahta sebagai Raja Di Raja Para Hantu

Negeri Latanahsilam.... Aku khawatir Luhtinti sengaja

ikut denganmu dalam rangka tugasnya sebagai mata-

mata Hantu Muka Dua."

 Lakasipo terdiam. Dengan suara perlahan dia ke-

mudian berkata. "Gadis itu menunjukkan sikap sebagai

sangat berhutang budi padaku. Aku menyelamatkan-

nya di Telaga Lasituhitam. Dia seolah ingin memper

hambakan diri padaku walau terus terang aku tidak

suka...."

 "Suka atau tidak suka jangan sampai kau tertipu.

Kau tahu salah satu sifat Hantu Muka Dua adalah

Segala Tipu. Hal itu pasti sudah diajarkannya pada

gadis mata-mata itu."

 Saat itu tiba-tiba di luar goa terdengar ringkikan

Laekakienam. Lakasipo memandang ke arah lorong

keluar. Ketika dia hendak berdiri Luhjelita memegang

lengannya.

 "Kudamu hanya meringkik karena kedinginan. Mengapa 

perlu kau risaukan wahai Lakasipo. Pembicaraan kita 

masih panjang. Apa mau diputus begitu saja? Bahkan aku 

masih belum memberi tahu siapa yang berniat jahat 

hendak membunuhmu...."

 Mendengar kata-kata Luhjelita itu ditambah sentuhan 

jari-jari tangan halus dan hangat di lengannya membuat 

Lakasipo yang hendak berdiri kembali duduk di batu 

panjang.

 Luhjelita menggeser duduknya lebih dekat. Tangannya 

masih memegangi lengan Lakasipo.

 "Tidakkah kau merasa dingin Lakasipo?" tanya

Luhjelita. Hembusan nafasnya menghangati wajah lelaki 

itu.

 "Aku habis kehujanan. Memang terasa dingin. Tapi

sedikit. Tak jadi apa...."

 "Jika kau kedinginan dan perutmu terasa lapar,

kebetulan aku membawa dua bungkus kecil wajik

ketan. Gurih dan manis...." Luhjelita lalu keluarkan dua

bungkusan kecil daun pisang dan diperlihatkannya

pada Lakasipo. "Ambillah. Kau satu aku satu...."

 "Terima kasih wahai Luhjelita. Aku tidak lapar...."

 Luhjelita tersenyum. Dua bungkus wajik itu di-

simpannya kembali.

"Kapan kau akan menceritakan siapa yang ingin

membunuhku?' tanya Lakasipo.

 "Ohh... soal Ku! Pasti akan kuceritakan. Sekarang

juga!" Jawab Luhjelita seraya tertawa lebar dan dengan

manja letakkan kepalanya di bahu Lakasipo. "Kau kenal

nama Hantu Santet Laknat bukan?"

 Lakasipo mengangguk.

 "Kau juga kenal seorang bernama Latandai yang

kemudian dijuluki Hantu Bara Kaliatus?"

 "Ya, aku kenal. Lebih dari kenal..." jawab Lakasipo.

 "Hantu Bara Kaliatus adalah murid Hantu Santet

Laknat. Dia telah mendapatkan satu ilmu kesaktian

dahsyat bernama Bara Setan Penghancur Jagat. Itu

saja sudah jadi malapetaka bagi Negeri Latahasilaml

Tapi yang sangat berbahaya ialah bahwa Hantu Santet

Laknat telah mencuci otak lelaki itu. Menjadikannya

budak kekuasaannya dan akan melakukan apa saja

yang diperintahkannya. Salah satu perintah si nenek

Hantu Santet Laknat adalah membunuhmu!"

 Berubahlah air muka Lakasipo mendengar ke-

terangan Luhjelita itu. "Aku pernah bertempur melawan

Hantu Bara Kaliatus ketika dia hendak membunuh

Luhsantini istrinya sendiri. Peri Bunda turun tangan

hingga lelaki itu menerima hukuman mengerikan. Dia

lenyap entah kemana.... Tapi aku tidak pernah mengira

kalau Hantu Santet Laknat juga memberi perintah

padanya untuk membunuhku!"

 "Antara kau dan Hantu Santet Laknat pasti ada

satu silang sengketa besar. Coba kau ingat-ingat...."

 Lakasipo pandangi wajah cantik jelita di sampingnya. 

Yang dipandangi membalas dengan senyum mesra dan 

kembali letakkan kepalanya di bahu Lakasipo. Sesaat 

Lakasipo elus-elus kepala gadis itu. Lalu berkata. 

"Kemungkinan Hantu Santet Laknat merasa khawatir aku

akan membalas dendam. Karena keadaan dua kakiku 

sampai ditimbun bola-bola batu begini rupa adalah akibat 

pekerjaan santetnya. Seorang pemuda keji bernama 

Lahopeng telah membayarnya agar aku disantet begini 

rupa. Yang lebih terkutuk Hantu Santet Laknat 

memperalat roh istriku untuk mencelakai diriku!" (Baca 

serial Wiro Sableng berjudul'Bola Bola Iblis")

 Waktu berkata-kata itu dada Lakasipo tampak

turun naik pertanda darahnya dibakar oleh dendam

kesumat. Lama Luhjelita terdiam. Tidak disangkanya

Lakasipo mempunyai riwayat hidup yang begitu hebat

tetapi juga menyedihkan. Sebelumnya Luhjelita hanya

mendengar sedikit saja dari riwayat Lakasipo. Rasa

hiba muncul di hati gadis ini. Semakin jauh dia dari

maksud semula yang diperintahkan Hantu Muka Dua

yaitu membunuh Lakasipo!

 "Aku yakin dugaanmu tidak meleset. Pasti Hantu

Santet Laknat memperalat Latandai alias Hantu Bara

Kaliatus untuk membunuhmu sebelum kau melakukan

pembalasan..." kata Luhjelita pula.

 "Wahai Luhjelita, hanya itu semuakah yang hendak

kau sampaikan padaku?" bertanya Lakasipo setelah

ke duanya sama berdiam diri beberapa lamanya.

 "Masih ada satu hal lagi. Ini yang paling penting.

Hantu Muka Dua juga ingin membunuhmu...."

 Lakasipo sampai bangkit tertegak mendengar kata-

kata Luhjelita itu. Sepasang mata mereka saling ber-

tatapan. Kalau Lakasipo memandang dengan perasaan

kaget penuh tanda tanya sebaliknya Luhjelita menatap-

nya dengan senyum dan segala kemesraan.

 "Wahai Luhjelita, bagaimana... dari mana kau tahu

Hantu Muka Dua inginkan jiwaku?!"

 Pertanyaan Lakasipo yang tiba-tiba ini membuat

Luhjelita tak segera bisa menjawab. Tentu saja tak

mungkin baginya mengatakan bagaimana hubungannya 

selama ini dengan Hantu Muka Dua. Walau Hantu

Muka Dua menganggapnya sebagai kekasih padahal

sebenarnya dia tidak menyukai orang itu, mungkin saja

perasaan curiga dan tidak enak akan muncul di hati

Lakasipo terhadapnya. Karenanya Luhjelita mencari

akal dalam memberikan jawaban.

 "Gadis yang datang bersamamu itu, seperti kataku

dia adalah mata-mata Hantu Muka Dua. Dia pasti tahu

lebih banyak dariku.... Mengapa tidak kau tanyakan

padanya?'

 "Heh.... Begitu? Akan kutanyakan sekarang Jugal"

kata Lakasipo.

 Luhjelita cepat lingkarkan dua tangannya di ping-

gang Lakasipo. "Jangan kesusu wahai Lakasipo. Te-

nangkan sedikit hatimu. Jika kau bertanya seperti

memaksa mungkin kau tidak akan mendapat jawaban

yang kau inginkan. Sekarang, apakah kau masih tidak

lapar?'

 Luhjelita lalu keluarkan kembali dua buah wajik

yang dibungkusdaun pisang. "Aku perempuan, perutku

kecil. Kau ambil wajik yang besar."

 Lakasipo tersenyum. "Kau gadis baik. Kau telah

memberitahu sesuatu yang sangat berharga, yang bisa

membuat aku bedaku hati-hati. Aku tak tahu bagaimana

membalas semua budimu...."

 Luhjelita tertawa merdu. Dia rangkul pinggang

Lakasipo erat-erat lalu tempelkan kepalanya ke perut

lelaki itu.

 Di luar sana kembali terdengar suara ringkikan

Laekakienam. Membuat Lakasipo lagi-lagi palingkan

kepala. Lalu terdengar suara benda hancur.

 "Hatiku tidak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu

dengan kudaku...

"Lakasipo, ambillah wajik yang besar ini. Kau ingin

aku membuka bungkus daun pisangnya?' kata Luh-

jelita seolah tidak mendengar ucapan Lakasipo tadi.

 "Biar kubuka sendiri," kata Lakasipo akhirnya sam-

bil mengambil wajik yang diberikan si gadis. Keduanya

duduk berdampingan di atas batu besar. Hanya sesaat

setelah menelan habis wajik itu Lakasipo berkata.

"Wajikmu enak. Tapi mengapa tubuhku mendadak

merasa letih dan kepalaku jadi berat. Mataku seperti

mengantuk...."

 Luhjelita merangkul tubuh Lakasipo. "Kau kecapaian 

wahai Lakasipo. Banyak pekerjaan berat yang telah

kau lakukan. Kau perlu istirahat. Kalau kau suka kau

boleh tidur di atas batu ini.... Mari kutolong kau ber-

baring."

 Perlahan-lahan Luhjelita baringkan tubuh Lakasipo di 

atas batu besar. Gadis ini ikut membaringkan dirinya di 

samping lelaki itu. Luhjelita gerakkan tangan kirinya. Batu 

besar keluarkan suara berdesir lalu bergerak naik ke atas 

langit-langit ruangan.


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

8

PENDEKAR 212 Wiro Sableng dan Naga Kuning

gamang ketakutan setengah mati dibawa terbang angsa 

putih. Si Setan Ngompol tergeletak pucat seperti mau 

pingsan. Dari bawah perutnya terus-menerus mengucur 

air kencing. Saat itu ketiganya berada dalam gulungan 

kain putih tipis di pinggang Peri Angsa Putih. Ketiganya 

tak berani memandang kebawah padahal pemandangan 

dari ketinggian seperti itu indah sekali.

 "Mau dibawa kemana kita ini...." Setan Ngompol

tiba-tiba bersuara.

 "Diam sajalah..." menyahuti Naga Kuning. "Bukankah 

kau ingin buru-buru kembali ke Tanah Jawa? Peri yang 

membawa kita berniat hendak menolong kau masih saja 

banyak tanyai"

 Terbang membumbung tinggi di udara beberapa

lamanya Laeputih akhirnya turun merendah. Mereka

melewati beberapa gugusan bukit-bukit yang tertutup

hutan lebat, melayang di atas sebuah sungai besar

lalu turun di lamping satu bukit batu terjal di atas mana

terdapat lima buah air terjun.

 Dari lamping batu itu ada satu tangga menuju ke

bawah. Peri Angsa Putih periksa gulungan pakaian di

pinggangnya. Wiro dan kawan-kawannya tampak ter-

bujur tak bergerak entah pingsan entah tertidur. Peri

Angsa Putih melompat turun dari tunggangannya lalu

dengan cepat menuruni tangga batu. Di satu tempat

di bawah air terjun di ujung kiri dia berhenti da

memandang berkeliling.

 "Bertahun-tahun aku tak pernah ke sini. Memang

tak ada perubahan. Tapi apakah aku berada pada air

terjun yang benar?' Peri Angsa Putih berkata dalam

hati sambil memandang berkeliling. Deru air terjun

membuat terbangun Wiro dan dua kawannya.

 "Astaga! Berada di mana kita ini!" seru Naga Kuning

sementara Setan Ngompol terdiam cemas menahan

kencing. Wiro memperhatikan sekelilingnya lalu me-

mandang ke atas.

 "Air terjun! Kita berada di bawah air terjun raksasa!

Di sebelah sana kulihat ada beberapa air terjun lagi.

Apakah ini daerah tempat kediaman Hantu Tangan

Empat?"

 Pandangan Peri Angsa Putih membentur sebuah

tonjolan di lamping batu. 'Tonjolan batu itu.... Kuharap

aku tidak salah." Gadis bermata biru melangkah men-

dekati dinding batu. Dengan tangan kanannya yang

disertai pengerahan tenaga dalam gadis ini tekan kuat-

kuat tonjolan batu itu. Sesaat menunggu terdengar

suara benda berat bergeser. Lalu terlihat salah satu

bagian dari dinding batu di bawah air terjun kelima di

ujung kiri bergeser membentuk sebuah lobang empat

persegi seukuran tinggi dan besar sosok manusia.

Selagi Wiro dan kawan-kawannya keheranan melihat

apa yang terjadi, Peri Angsa Putih dengan cepat me-

nyelinap masuk ke dalam lobang di dinding batu. Begitu

dia berada di sebelah dalam, dinding batu yang tadi

bergeser bergerak kembali menutup lobang. Keadaan

di tempat itu serta merta menjadi gelap gulita. Tangan

di depan mata pun tidak kelihatan.

 Setan Ngompol tak berani membuka mulut. Tapi

kencingnya muncrat terus-terusan

"Wiro..." terdengar Naga Kuning berbisik. "Bukan-

kah kau memiliki ilmu yang disebut Menembus Pan

dang. Coba kau pergunakan untuk melihat di mana

kita berada. Siapa tahu kau bisa melihat sosok Hantu

Tangan Empat yang kita cari...."

 'Tak ada gunanya. Sebelumnya waktu mencari Batu 

Sakti Pembalik Waktu aku pernah pergunakan ilmu itu. 

Tapi Negeri Latanahsilam ini seolah mempunyai daya 

tolak aneh hingga aku tak mampu mempergunakan ilmu 

tembus pandang itu.... Atau mungkin keadaan tubuhku 

yang begini kecil tidak memungkinkan aku 

mempergunakan kesaktian itu.... Kita berharap yang 

terbaik sajalah sobatku. Aku tidak yakin Peri Angsa Putih 

mendustai kita...."

 "Aku tak berani menduga. Semakin cantik gadis

di Negeri Latanahsilam ini semakin banyak urusan

yang kita hadapi..." kata Naga Kuning pula.

 Dalam gelap Peri Angsa Putih berjalan setengah

berlari. Makin jauh jarak yang ditempuhnya makin

terang keadaan di sekitarnya. Sementara itu di atas

terdengar suara seperti ada air yang mengalir terus

menerus.

 "Kau dengar suara itu?" bisik Naga Kuning.

 'Ya, seperti suara aliran air. Kukira ada sungai

besar di atas kita..." jawab Wiro.

 Ketika keadaan menjadi terang benderang Wiro

dan kawan-kawannya dapatkan mereka berada di se-

buah bukit ditumbuhi rumput berwarna aneh. Rumput

yang biasanya hijau, di sini berwarna biru! Peri Angsa

Putih berlari cepat menuju puncak bukit di mana

terdapat satu bangunan berbentuk gapura besar. Pada

kiri kanan gapura ada patung lelaki bermuka raksasa

yang pada bahunya mendukung seorang perempuan

berwajah cantik. Bagi Wiro dan kawan-kawannya patung

yang sangat tinggi itu seperti hendak menyapu langit.

 Di kejauhan terdengar suara tiupan seruling. Demikian 

kerasnya bagi Wiro dan kawan-kawannya, hingga telinga 

mereka menjadi sakit dan terpaksa harus cepat-cepat 

menekap telinga masing-masing.

 Ternyata Peri Angsa Putih berlari ke arah orang

yang meniup seruling. Orang ini kelihatannya seperti

duduk bersila di atas sebuah batu rata, tetapi jika

diperhatikan kenyataannya sosoknya mengapung se-

tinggi setengah jengkal dari atas batu tersebut. Dia

meniup suling sambil pejamkan mata seolah benar-

benar menikmati permainannya.

 Melihat wajah dan sosok orang yang meniup

suling, Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol menjadi

kaget tapi sama berseru kaget.

 "Hantu Tangan Empat!"

 Yang duduk mengapung di atas batu itu adalah

seorang tua berambut, berkumis dan berjenggot putih

riap-riapan. Kening, hidung, pipi dan mulut serta dagu-

nya sama rata. Pakaiannya kulit kayu yang dikeringkan.

Orang tua berwajah aneh inilah yang dulu pernah

ditemui Wiro di Tanah Jawa.

 Setan Ngompol dekati Wiro sambil menahan ken-

cing. "Wiro, ketika berada di Jawa dulu aku ingat betul.

Kehadirannya dari alam seribu dua ratus tahun lalu

adalah untuk membunuh kita! Tapi hal itu urung di-

lakukannya. Sekarang dia berada di negerinya sendiri.

Bukankah mudah saja baginya sekarang menghabis-

kan kita?!"

 Wiro terdiam sesaat mendengar ucapan si kakek.

"Bahaya bisa mengancam dari segala penjuru, secara

tidak terduga," kata murid Sinto Gendeng pula. 'Tapi

aku percaya pada Peri Angsa Putih. Kalau dia tidak

bermaksud menolong kita apa perlunya dia membawa

kita jauh-jauh ke sini...."

 "Jangan kau lekas percaya, Pendekar 212. Kalau

Peri Angsa Putih membawa kita ke sini justru hendak

menyerahkan kita pada Hantu Tangan Empat, bu-

kankah berarti celaka bagi kita semua?"

 Hati Pendekar 212 jadi tidak enak mendengar

kata-kata Setan Ngompol itu. Memang kalau dipikirnya

bukan mustahil hal seperti itu bisa saja terjadi. Namun

ketika pandangan matanya membentur gambar ular

naga kuning yang ada di dada Naga Kuning maka dia

menjawab tenang. "Sewaktu di Tanah Jawa dulu kakek

itu takut setengah mati dan tunduk pada Naga Kuning

karena naga siluman yang keluar dari badannya. Kita

bisa andalkan ilmu kepandaian anak ini untuk meng-

hadapi Hantu Tangan Empat jika dia memang nanti

berniat jahat hendak membunuh kita."

 Peri Angsa Putih berdiri tak bergerak di hadapan

orang tua yang asyik meniup suling itu. Dia tidak berani

mengganggu keasyikan orang maka dia berdiri saja

menunggu sampai si kakek selesai meniup sulingnya.

Hal itu diketahui oleh Wiro dan kawan-kawannya.

Mungkin mereka terpaksa menunggu agak lama. Tapi

cepat atau lambat akhirnya kakek itu pasti akan me-

nyudahi permainannya.

 Ternyata Hantu Tangan Empat baru menghentikan

tiupan sulingnya hampir tengah hari. Padahal Peri

Angsa Putih menunggu sejak pagil Dalam keadaan

mata masih terpejam orang tua ini selipkan sulingnya

di pinggang pakaiannya yang terbuat dari kulit kayu.

 Peri Angsa Putih jatuhkan diri berlutut. Melihat

sikap gadis ini Wiro merasa heran. Kedudukan seorang

peri bagaimanapun juga adalah jauh lebih tinggi dari

seorang manusia seperti si kakek sekalipun punya

nama besar dan disebut Hantu Tangan Empat. Lalu

mengapa si gadis jatuhkan diri seolah sangat meng-

hormat orang tua itu?

 "Wahai kakek yang kusebut dengan nama Hantu

Tangan Empat, jika kau telah selesai meniup suling,

berkenan kiranya menerima kedatanganku. Aku Peri

Angsa Putih."

 Sepasang mata si kakek yang duduk mengapung

di atas batu perlahan-lahan terbuka. Begitu dia melihat

siapa yang berlutut di hadapannya, senyum menyeruak

di wajahnya yang rata. Lalu dia berbatuk-batuk be-

berapa kali.

 "Cucuku Peri Angsa Putih! Wahai! Belasan tahun

kau tak pernah muncul. Ternyata kau semakin cantik

saja. Dan syukur kau tidak tersesat sampai di tempat

ini!" Si kakek tertawa mengekeh. "Wahai, angin apa

yang melayangkan dirimu hingga muncul hari ini di

hadapanku?"

 "Angin baik disertai permohonan permintaan berkah 

darimu wahai kakekku!"

 Di dalam gulungan kain putih tipis Naga Kuning

berkata. "Peri ini menyebut Hantu Tangan Empat kakek.

Si orang tua menyebutnya cucu.... Bagaimana ini bisa

begitu?"

 "Ini satu keanehan yang sudah kuduga sebelumnya," 

jawab Wiro. "Antara Peri Angsa Putih dan Hantu

Tangan Empat ada semacam hubungan atau pertalian

darah...."

 Hantu Tangan Empat pandangi wajah Peri Angsa

Putih sesaat lalu berkata. "Adalah aneh! Wahai! Biasanya 

para Peri yang datang membawa berkah. Kini justru 

engkau sebagai Peri yang memohon berkah pada kakek 

jelek dan tolol seperti diriku ini!"

 "Kek, jangan kau merendah seperti itu. Kalau aku

tidak yakin kau bisa menolong tidak nanti aku datang

kemari...."

 "Baiklah wahai cucuku. Katakanlah berkah per-

tolongan apa yang hendak kau mintakan padaku?'

bertanya Hantu Tangan Empat.

 Peri Angsa Putih tidak segera menjawab. Dia mem

buka gulungan pakaian putihnya di sebelah pinggang

di mana Wiro dan kawan-kawannya berada. Ke tiga

orang ini kemudian diletakkannya di atas rumput biru,

di depan batu datar di hadapan si kakek.

 Hantu Tangan Empat sampai melesat satu tombak

ke udara saking kagetnya melihat ke tiga makhluk kecil

di atas rumput itu. Dari atas sambil memandang ke

bawah dia berkata dengan suara gemetar.

 "Wahai cucuku Peri Angsa Putih. Katamu kau

datang meminta berkah pertolongan padaku. Tapi

tahukah engkau bahwa kau sebenarnya membawa

bencana padaku!"

* *

BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

9

PERI Angsa Putih heran bercampur terkejut melihat sikap 

dan mendengar kata-kata Hantu Tangan Empat. "Wahai 

kakekku, gerangan apa yang membuatmu berucap seperti 

itu? Bencana apa yang bisa ditimbulkan oleh tiga makhluk 

sebesar jari kelingking ini? Jika mereka berniat jahat 

terhadapmu, aku yang pertama kali akan turun tangan. 

Sekali remas saja mereka hancur dalam genggamanku!"

 Perlahan-lahan sosok Hantu Tangan Empat yang

tadi naik satu tombak ke udara turun ke bawah dan

kembali mengapung setengah jengkal dari atas batu

rata. Sepasang matanya masih memandang lekat-lekat

pada sosok Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol

yang ada di rumput biru.

 "Cucuku.... Wahai. Aku sengaja memencilkan diri

di tempat ini untuk menjauhi kemurkaan Hantu Muka

Dua atas diriku. Dan kemurkaan Hantu Muka Dua pada

diriku berasal muasal pada diri ke tiga makhluk ini,

yang dulu pertama sekali kutemui di Tanah Jawa, tanah

yang seribu dua ratus tahun lebih maju dari dunia

kita.... Aku tak ingin melihat mereka. Singkirkan mereka

dari pandangan mataku! Mereka hanya akan menim-

bulkan celaka bagi dirikul Bagi dirimu juga! Bahkan

bagi Negeri dan semua orang yang ada di Latanahsilam

ini!"

 Mendengar kata-kata Hantu Tangan Empat 'itu Peri

Angsa Putih jadi terdiam. Tapi dua matanya yang biru

beralih, kini ditujukan pada Wiro dan kawan-kawannya

sementara Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol

yang mendengar ucapan si kakek jadi saling pandang

dan diam-diam merasa geram. Tiba-tiba Peri Angsa

Putih ambil ke tiga orang itu dan letakkan di atas telapak

tangannya.

 "Tiga makhluk cebol! Kau sudah dengar ucapan

Hantu Tangan Empat Dia tak mau menolong diri kalian.

Wahai, aku terpaksa membawa kalian pergi dari sini...."

 Naga Kuning membuka mulut hendak berteriak.

Tapi Pendekar 212 Wiro Sableng cepat mendahului.

Dia sengaja kerahkan tenaga dalam agar suaranya

terdengar oleh Hantu Tangan Empat.

 "Peri Angsa Putih, kami sangat berterima kasih

padamu. Kau telah bersusah payah membawa kami

jauh-jauh ke tempat ini. Jika kakekmu tidak mau me-

nolong kami - padahal kau belum memberi tahu

pertolongan apa yang kami minta — bagi kami tidak

jadi apa. Dunia kami dengan duniamu memang beda.

Sifat penduduk di sini dan penduduk di negeri kami

juga berbeda. Di negeri kami menolong orang lain

adalah satu kehormatan. Tapi di negerimu yang ter-

belakang seribu dua ratus tahun dari negeri kami

menolong orang merupakan satu malapetaka...."

 "Kalau perlu orang yang minta tolong harus di-

singkir dihabisi!" Menimpali Naga Kuning.

 Wiro teruskan ucapannya yang terpotong. "Ke-

tahuilah, jika ada yang harus disingkir dihabisi orangnya

adalah Hantu Muka Dua. Makhluk itu telah menjadikan

kakekmu sebagai budak suruhannya! Hantu Muka Dua

menugaskan kakekmu pergi ke dunia kami untuk

mencari sebuah batu sakti bernama Batu Sakti Pembalik 

Waktu. Sekaligus dia juga ditugaskan membunuh

kami bertiga. Karena katanya semua rencana itu telah

dilihatnya sejak lima ratus tahun lalu! Kebetulan batu

sakti itu memang ada pada salah satu dari kami. Tapi

kakekmu gagal mendapatkannya. Dia kembali bukan

saja dengan berharnpa tangan tapi hampir tewas di

tangan kawanku Naga Kuning ini. Kalau saja dia tidak

berbaik hati berbudi luhur mungkin kakekmu sudah

dibunuhnya!"

 "Kami meminta tolong kakekmu sekarang bukan

sebagai imbalan pengampunan itu!" Naga Kuning kem-

bali bicara. Saat itu kelihatan muka Hantu Tangan

Empat menjadi sangat merah.

 "Peri Angsa Putih," Wiro lanjutkan lagi kata-katanya. 

"Aku kasihan pada kakekmu. Saking takutnya pada Hantu 

Muka Dua dia sampai sembunyikan diri di tempat ini. 

Apakah dia tidak punya ilmu dan kemampuan melawan 

makhluk jahat seperti Hantu Muka Dua itu? Apakah 

semua para Hantu di sini mau menjadi budak Hantu Muka 

Dua? Apa gunanya kakekmu menyandang nama Hantu 

Tangan Empat kalau otaknya mungkin cuma 

dipergunakan seperempat saja!"

 Paras Peri Angsa Putih bersemu merah mendengar

sindiran yang ditujukan pada kakeknya itu. Hantu

Tangan Empat sendiri merah mengelam tampangnya.

Rahangnya menggembung tanda dia berusaha me-

nahan gejolak amarah.

 "Peri Angsa Putih, kami mohon kau membawa

kami keluar dari tempat ini. Antarkan kami ke tempat

di mana sungai bercabang dua. Tempat perjanjianmu

dengan Lakasipo!"

 Saat itu saking geramnya Naga Kuning usap-usap

dadanya yang tersingkap dan terasa panas. Pada dada

anak ini terpampang gambar seekor naga. Sejak tadi

Hantu Tangan Empat tak berani menatap ke arah anak

ini. Karena seperti diketahui, dalam serial Wiro Sableng

berjudul "Bola Bola Iblis" ketika kakek ini henda

membunuh Naga Kuning, anak itu singkapkan dada-

nya. Gambar atau jarahan naga kuning yang ada di

dadanya tiba-tiba laksana hidup bergerak keluar, makin

lama makin besar dan siap menerkam Hantu Tangan

Empat. Melihat kejadian itu Hantu Tangan Empat ke-

takutan setengah mati lalu jatuhkan diri mengambil

sikap seperti menyembah. Berulang kali kakek ini minta

maaf dan mohon ampun. Dia menyebut naga yang

keluar dari tubuh Naga Kuning sebagai Naga Hantu

Dari Langit Ke Tujuh. Tapi ular naga itu telah keburu

menyerangnya dan membelitnya ke sebatang pohon.

Ketika binatang jejadian ini hampir menghancur remuk

sosok Hantu Tangan Empat, Wiro berteriak keras me-

minta agar Naga Kuning jangan membunuh kakek itu.

Walau kalap namun Naga Kuning mau juga mendengar

teriakan Wiro. Selamatlah nyawa Hantu Tangan Empat!

 Wiro sempat memperhatikan gerakan tangan Naga

Kuning mengusap dadanya berulang kali. Cepat dia

berbisik. "Jangan penolakan Hantu Tangan Empat kau

jadikan alasan untuk mengeluarkan ilmumu dan me-

nyerang dirinya. Jika dia tak mau menolong berarti

nasib kita yang sial...."

 "Sebaliknya kita segera tinggalkan tempat ini

Wiro...."

 "Ya, sebelum kukencingi habis-habisan tangan

Peri yang cantik ini!" kata Setan Ngompol pula.

 "Wiro, biar aku membujuk kakekku. Siapa tahu

hatinya bisa dilembutkan..." kata Peri Angsa Putih

sangat pelan seraya mendekatkan telapak tangannya

ke wajahnya hingga dia bisa melihat Pendekar 212

lebih jelas.

 Wiro menyeringai. "Terima kasih. Kau baik sekali.

Tapi ada satu ujar-ujar di negeri kami. Jangan memaksa

orang yang tidak mau. Kalaupun dia akhirnya mau, di

dalam hatinya akan ada umpat dan penyesalan di

kemudian hari."

 Peri Angsa Putih tersenyum. "Aku senang sekali

mendengar kata-katamu yang bagus itu wahai Wiro.

Tapi apa salahnya kalau aku coba membujuk dirinya.

Kurasa kakekku saat ini sedang dalam pikiran kacau...."

Peri Angsa Putih kedipkan matanya.

 Wiro garuk-garuk kepala. "Apa pendapatmu Naga

Kuning?" tanya Wiro.

 "Terserah kau saja. Aku muak melihat tampang

kakek itu. Ingin kukentuti lobang hidungnya!" jawab

Naga Kuning perlahan hingga tidak terdengar oleh Peri

Angsa Putih dan Hantu Tangan Empat.

 "Kalau aku lebih baik segera saja pergi dari sini!"

kata Setan Ngompol.

 Peri Angsa Putih dekatkan dirinya pada si kakek

lalu berkata. "Kek, aku mohon kau...."

 "Sudahlah!" Hantu Tangan Empat memotong ucapan 

cucunya. 'Tanyakan pertolongan apa yang 

diinginkannya?"

 Paras Peri Angsa Putih jadi berseri-seri. Dia angkat

tangan kirinya. "Wiro, kakekku bertanya. Pertolongan

apa yang kalian inginkan?"

 "Kami minta agar bisa dikembalikan ke negeri

kami...." Wiro tidak teruskan ucapannya karena tiba-tiba

dia melihat wajah sang Peri berubah seperti murung.

 "Peri Angsa Putih, apakah aku salah berucap

hingga hatimu tidak senang?" tanya Wiro.

 Si gadis tak menjawab. Wajahnya bersemu merah

dan dia coba menyembunyikan perubahan itu dengan

tersenyum. Ketika mendengar permintaan yang di-

ucapkan Wiro tadi, entah mengapa hatinya mendadak

menjadi seperti sedih. "Aku suka pada orang-orang ini.

Terutama dengan yang bernama Wiro. Wahai bagai

mana aku mencegah agar mereka tidak kembali ke

dunia mereka...?" Suara Ku menyeruak muncul di lubuk

hati sang Peri. Diam-diam sang Peri merasa malu

sendiri.

"Peri Angsa Putih, mengapa kau diam saja?" Wiro 

bertanya. Sang Peri tersenyum. Dia berpaling pada Hantu 

Tangan Empat. "Kek, mereka minta dikembalikan ke 

negeri asal mereka. Bisakah kau melakukannya?" Kata-

kata itu diucapkan Peri Angsa Putih perlahan sekali 

hampir tak bersemangat.

Hantu Tangan Empat menatap paras cucunya sesaat lalu 

memandang pada ke tiga orang yang ada di atas telapak 

tangan kiri Peri Angsa Putih itu. Si kakek gelengkan 

kepalanya. "Tidak mungkin.... Hal itu tidak mungkin 

dilakukan. Kecuali kalau Batu Sakti Pembalik Waktu 

ditemukan....".

 'Tapi kakekmu bisa masuk ke dalam duniaku. Jika

itu dilakukannya sekali lagi sambil membawa kami...."

 Hantu Tangan Empat yang mendengar ucapan

Wiro itu berkata. "Ilmu kepandaianku hanya mampu

membawa diriku sendiri. Itu pun hanya bisa kulakukan

seratus tahun sekali...."

 Peri Angsa Putih pejamkan matanya. Dalam hati

ia merasa gembira mendengar kata-kata Hantu Tangan

Empat itu.

 "Kalau begitu.... Apakah kau bisa menolong mem-

besarkan tubuh kami. Jadi sebesar sosok orang-orang

yang ada di negeri ini?" tanya Wiro.

 Sesaat Hantu Tangan Empat terdiam. Membuat

Wiro dan dua kawannya jadi berdebar dan tak sabar

menunggu jawaban.

 "Hal itu hanya bisa kulakukan jika diizinkan oleh

Peri Sesepuh dan dia sendiri menyaksikan upacara

permohonan itu..." jawab Hantu Tangan Empat.

 "Siapakah Peri Sesepuh itu?" tanya Wiro. "Apa

sama dengan Peri Bunda?"

 "Peri Sesepuh adalah pemimpin dari semua Peri

dan adalah atasan Peri Bunda...."

 "Kakekmu tampaknya bersedia menolong. Tapi

bagaimana memberi tahu dan menghadirkan Peri Se-

sepuh? Apakah kau bisa membantu?" tanya Wiro pada

Peri Angsa Putih.

 Peri Angsa Putih memandang ke langit. Saat itu

matahari tengah menggelincir menuju titik tertingginya.

"Waktu kita hanya sedikit. Peri Sesepuh mempunyai

kebiasaan melakukan sesuatu sebelum jatuh tengah

hari tepat. Akan aku usahakan bicara dengan Peri

Sesepuh. Kuharap dia mau menolong. Aku juga akan

menghubungi Peri Bunda minta bantuannya mem-

bujuk Peri Sesepuh. Peri Sesepuh suka rewel dan sulit

diajak bicara...."

 Peri Angsa Putih letakkan Wiro, Naga Kuning dan

Setan Ngompol di atas rumput biru. Lalu dia bangkit

berdiri dan melangkah ke satu tempat sunyi di sebelah

kanan puncak bukit. Di tempat ini dia berlutut sambil

letakkan dua tangan di atas kening. Mulutnya tampak

bergerak-gerak namun tidak sedikit suara pun yang

terdengar.

 Sampai lama ditunggu Peri Angsa Putih masih

saja terus berlutut di puncak bukit sebelah sana.

 "Lama sekali. Apa yang dilakukan Peri itu...? Ja-

ngan-jangan dia tidak bisa menghubungi Peri Se-

sepuh...."

 "Mungkin sang Peri Sesepuh sedang pergi kencing

di sungai...!" kata murid Sinto Gendeng antara bergurau

dan jengkel tidak sabaran.

 Sosok Peri Angsa Putih nampak bergerak bangkit

Ketika dia kembali ke tempat Hantu Tangan Empat

tubuhnya penuh keringat. Sepertinya dia barusan telah

melakukan satu pekerjaan berat dan memakan tenaga.

 "Nasib kalian baik. Peri Sesepuh memberi ijin dan

bersedia turun ke bukit ini untuk menyaksikan pelak-

sanaan permohonan kalian. Peri Bunda juga tidak

 keberatan walau tidak bisa menghadiri." Peri Angsa

 Putih memberi tahu pada Wiro dan kawan-kawannya

 sambil membungkuk. Lalu pada Hantu Tangan Empat

 dia berkata. "Kek, Peri Sesepuh meminta kita me-

 nyiapkan segala sesuatunya. Dia memilih batu datar

 ini sebagai tempat pelaksanaan permohonan."

 Hantu Tangan Empatanggukkan kepala. Perlahan-

 lahan tubuhnya yang masih dalam sikap bersila dan

 mengapung di udara bergerak melayang lalu duduk di

 belakang batu datar, menghadap ke arah barat. Peri

 Angsa Putih angkat Wiro, Naga Kuning dan Setan

 Ngompol ke atas batu datar. Lalu dia sendiri duduk di

 rumput, di samping kanan si kakek. Hampir sang surya

 mencapai titik tertingginya tiba-tiba di langit sebelah

timur kelihatan ada satu titik terang berwarna merah.

Titik ini makin lama makin besar dan jelas melayang

turun ke arah puncak bukit di mana orang-orang itu

 berada.

 "Peri Sesepuh datang..." kata Peri Angsa Putih.

 Lalu Peri cantik ini angkat tangannya, telapak di-

rapatkan satu sama lain dan diletakkan di atas kening.

 Hantu Tangan Empat lakukan hal yang sama. Melihat

Wiro dan dua kawannya tenang-tenang saja di atas

batu, Peri Angsa Putih segera berkata. "Wahai! Lekas

tirukan perbuatan kami. Letakkan tangan kalian di atas

kening sebagai penghormatan pada Peri Sesepuh yang

telah berkenan datang...."

 Naga Kuning dan Setan Ngompol saling berpandangan. Wiro berkata. "Ikuti saja apa maunya. Apa

susahnya meletakkan kepala di atas kening dengan

dua telapak dirapatkan...."

 "Betul," sahut Naga Kuning. "Yang susah kalau

diletakkan di belakang pantat!" Bocah konyol ini tertawa

cekikikan.

 "Anak sialan! Jangan kau berani bergurau dalam

keadaan seperti ini!" hardik Setan Ngompol dengan

mata mendelik marah. Tapi lalu tertawa cekikikan dan

terkencing-kencing.


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

10

 TONGGAK batu berbentuk tempat tidur itu bergerak 

naik di dalam sebuah rongga batu di bagian atas Goa 

Pualam Lamerah. Ketika batu itu berhenti bergerak di 

sebuah ruangan yang bagus, dihias berbagai bunga hidup 

menebar bau harum semerbak, Lakasipo masih tergeletak 

tak bergerak seolah tertidur pulas.

 Luhjelita pandangi wajah lelaki itu beberapa lamanya. 

Begitu dia alihkan pandangan pada dua kaki Lakasipo 

gadis ini geleng-geleng kepala sambil beberapa kali 

menarik nafas dalam. Ada rasa sedih dan kasihan di 

hatinya.

 "Hantu Santet Laknat..." kata si gadis perlahan.

"Kejam nian perbuatanmu! Orang yang membayarmu

sudah menemui ajal. Tapi bekas kejahatanmu tidak

akan hilang. Sampai kapan? Sepuluh tahun? Lima

puluh tahun.... Seratus tahun? Lelaki malang. Kasihan

kau Lakasipo. Aku akan mencari jalan agar kau terlepas

dari dua batu yang membuatmu sengsara. Jika saja

aku bisa meminta pertolongan Hantu Muka Dua.... Tapi,

mungkin dia akan menjatuhkan hukuman berat atas

diriku jika tahu aku menyukaimu. Apa lagi menolong-

mu. Padahal dia sudah memerintahkan diriku untuk

membunuhmu...."

 Pandangan Luhjelita naik ke atas. Lalu kembali

terdengar suaranya. "Maafkan diriku wahai Lakasipo.

Aku tidak ingin melakukan hal ini atas dirimu. Namun

ada satu tugas berat yang harus kulakukan. Aku..

Sayup-sayup Luhjelita mendengar suara kuda me-

ringkik disusul suara seperti batu-batu menggelinding

dan hancur. "Sesuatu terjadi di luar goa. Aku harus

bertindak cepat...."

 Dengan tangan gemetar Luhjelita menyibakkan

kulit kayu pakaian Lakasipo di bagian pinggang. De-

ngan hati-hati sambil matanya mengawasi wajah orang

karena khawatir lelaki itu tiba-tiba sadar Luhjelita terus

menyingkapkan pakaian Lakasipo sampai ke bawah.

Ketika matanya kemudian memandang ke bagian ba-

wah pusar Lakasipo berubahlah paras gadis ini.

 Di situ, tepat di bawah pusar Lakasipo, dia melihat

tiga buah tahi lalat menebar. Dua di samping kiri, satu

di sebelah kanan.

 "Tiga tahi lalat..." desis Luhjelita. Tubuhnya men-

dadak bergetar hebat. Lima jari tangan kanannya di-

kembangkan. Telapak tangan dibuka lebar-lebar. Ta-

ngan itu bergoncang keras. Luhjelita kuatkan hati.

Perlahan-lahan dia kerahkan tenaga dalamnya ke te-

lapak tangan kanan. Lalu perlahan-lahan pula — masih

dalam keadaan bergetar keras - dia ulurkan tangan

itu ke bawah pusar Lakasipo. Demikian rupa hingga

telapaknya menutupi tiga buah tahi lalat yang ada di

bawah pusar. Dari mulut Luhjelita kemudian keluar

suara berkepanjangan yang tidak jelas. Entah dia te-

ngah meracau entah sedang merapal mantera.

 Keringat membasahi wajah dan sekujur tubuh

Luhjelita. Telapak tangannya yang menempel di tubuh

Lakasipo terasa panas. Dia seolah-olah memegang

bara api. Dari sela-sela jarinya keluar tiga larik asap

hitam, meliuk-liuk ke atas lalu lenyap di salah satu

sudut ruangan. Gadis ini tersentak kaget ketika men-

dadak sosok Lakasipo menggeliat Dari mulutnya ke-

luar suara seperti binatang menggereng. Dua kakinya

bergerak ke atas.

 "Duukkk... duukkkk! Byaaaarr!"

 Ujung tonggak batu hancur berantakan ketika dua

kaki Lakasipo yang berbentuk batu jatuh menghantam.

Luhjelita tiba-tiba menjerit. Bukan karena hancurnya

tonggak batu yang jadi ketiduran, tapi karena melihat

ada darah mengucur keluar dari hidung, mulut dan

telinga, bahkan pinggiran mata Lakasipo!

 "Wahai! Apa yang terjadi! Matikah dia?! Aku tak

bermaksud membunuhnya! Lakasipo! Aku tidak ber-

maksud membunuhmu!" teriak Luhjelita. Diguncang-

nya tubuh lelaki itu. Dia seperti hendak menangis. Lalu

kepalanya diletakkan di dada Lakasipo. Telinganya

ditempelkan di arah jantung.

 "Masih ada suara detakan. Dia masih hidup "

Luhjelita sesaat menjadi lega. Dia tanggalkan serang-

kaian bunga-bunga yang melingkar di pinggangnya.

Lalu dia pergunakan bunga-bunga itu untuk member-

sihkan darah di muka Lakasipo. Ketika dia mencam-

pakkan bunga-bunga itu ke lantai ruangan dan meng-

arahkan pandangannya ke bawah pusar Lakasipo ter-

kejutlah gadis itu.

 "Tiga tahi lalat di bawah pusarnya. Lenyap! Hilang

kemana?! Wahai!" Setengah tak percaya Luhjelita de-

katkan matanya ke tubuh Lakasipo. "Lenyap! Benar-

benar tak ada lagi!"

 Perlahan-lahan Luhjelita angkat tangan kanannya.

Telapak tangan dikembangkan. Gadis ini keluarkan

seruan tertahan. Telapak tangannya yang sebelumnya

putih bersih dan mulus kini di situ tahu-tahu terdapat

tiga buah tahi lalat hitam!

 "Tiga tahi lalat itu.... Berpindah ke telapak ta-

nganku!" ujar Luhjelita dengan suara bergetar. "Apakah

ini satu pertanda baik bahwa para Dewa dan Peri telah

memberi jalan padaku untuk mendapatkan ilmu yang

kucari itu?' Sepasang mata Luhjelita berkilat-kilat. Se-

nyum menyeruak di bibirnya yang bagus. Berulang

kali tangan kirinya mengusapi telapak tangan yang kini

ada tiga tahi lalat Ku. "Tiga tahi lalat..." desis si gadis.

"Aku masih harus mencari delapan belas lagi. Wahai!

Berarti aku harus mendapatkan enam lelaki lagi...."

 Luhjelita alihkan pandangannya pada Lakasipo.

 "Luhjelita! Di mana kau?! Luhjelita!"

 Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang di bawah

sana. Luhjelita tercekat kaget.

 "Wahai.... Itu suara Hantu Muka Dua! Bagaimana

dia bisa sampai kemari secepat Ku!" Wajah Luhjelita

berubah. "Dia pasti marah besar jika dia tahu...."

 Terdengar suara benda hancur.

 Luhjelita pegang dada Lakasipo dengan tangan

kiri sementara tangan kanan mengusap kening dan

rambut lelaki ini. "Wahai Lakasipo, sebenarnya aku

tidak ingin meninggalkanmu dalam keadaan seperti

ini. "Tapi aku harus pergi. Di lain hari aku akan men-

carimu lagi. Orang gagah, biar kutinggalkan separoh

hatiku di dalam hatimu...." Luhjelita usap dadanya

dengan tangan kanan. Lalu tangan Ku diusapkannya

ke dada Lakasipo. "Aku pergi Lakasipo. Kau akan aman

di tempat ini. Tak ada satu kekuatan pun sanggup

menerobos masuk ke tempat ini. Hantu Muka Dua

sekalipun tidak punya kemampuan...." Sesaat si gadis

pegangi wajah Lakasipo dengan kedua tangannya.

Lalu dia bangkit berdiri dan berkelebat ke sudut ruangan 

sebelah kiri. Sebuah celah membuka di dinding batu. 

Luhjelita cepat menyelina p masuk ke da lam celah.

Begitu dia menghilang celah Ku menutup kembali.

 Tak lama setelah Luhjelita pergi, sosok Lakasipo

di atas batu tampak bergerak. Matanya terbuka. "Wahai

di mana aku. Apa yang terjadi dengan diriku...?" Lakasipo 

memandang berkeliling. Lalu matanya perhatikan dirinya 

sendiri. Memandang ke bawah hatinya bertanya-tanya. 

Dia melihat sesuatu kelainan namun sulit menduga apa 

yang telah terjadi. "Wahai.... Mengapa pakaianku di 

sebelah bawah berkeadaan seperti ini. Apa yang telah 

terjadi...?" Lakasipo usap perutnya.

"Ada satu kelainan. Tapi aku tidak tahu pasti kelainan

apa...." Saat itu Lakasipo tidak menyadari bahwa tiga

buah tahi lalat yang sebelumnya ada di bawah pusarnya

kini telah lenyap. Yang diingatnya kemudian justru

adalah gadis itu.

 "Luhjelita..." ucapnya perlahan. "Luhjelita! Di mana

kau?!" Lakasipo bangkit dan duduk di atas batu. Kaki

kanannya jatuh ke lantai.

 "Dukkkk!" Lantai ruangan bergetar dan remuk ter-

timpa kaki batu Lakasipo. Tidak sengaja kaki batu itu

menggeser bagian tengah sebelah bawah tonggak batu

di mana justru terletak alat rahasia untuk menurunkan

batu itu. Terdengar suara berdesir. Batu di atas mana

Lakasipo terduduk perlahan-lahan turun ke ruangan

bawah. Di ruangan bawah ini telah menunggu Hantu

Muka Dua!

 *

 * *

 Kita kembali dulu pada beberapa saat sebelum

Luhjelita dan Lakasipo masuk ke dalam goa dan naik

ke ruangan yang penuh dengan bunga-bunga....

 Hujan telah lama reda. Luhtinti masih duduk di

punggung kuda kaki enam menahan dingin. Setelah

sekian lama menunggu dan Lakasipo tidak juga muncul, 

timbul rasa was-was dalam hati gadis cantik berkulit

hitam manis ini.

 "Jangan-jangan terjadi apa-apa dengan lelaki itu.

Sifat Luhjelita tidak bisa diduga. Waktu di tepi telaga

jelas kulihat pada wajah dan sikapnya bayangan rasa

cemburu terhadap Peri Angsa Putih. Pertanda dia

menyukai lelaki itu. Kalau sampai terjadi sesuatu,

bagaimana dengan diriku...?"

 Luhtinti usap-usap kuduk basah Laekakienam lalu

berkata. "Kuda hitam berkaki enam, kau tunggulah di

sini. Aku akan melihat ke dalam goa...."

 Laekakienam putar lehernya dan julurkan lidahnya

seraya mengedipkan mata seolah mengerti ucapan si

gadis. Luhtinti segera bergerak turun. Namun baru saja

kakinya menyentuh tanah tiba-tiba ada sambaran angin

dan tahu-tahu sesosok tubuh yang memiliki kepala

bermuka dua telah tegak menyeringai di hadapannya.

 "Hantu Muka Dua! Wahai...." Paras Luhtinti berubah

pucat pertanda takut.

 "Luhtinti.... Luhtinti..." kata Hantu Muka Dua ber-

ulang kali seraya geleng-gelengkan kepala. Saat itu

dua wajahnya adalah wajah lelaki separuh baya, putih

di sebelah depan dan hitam pekat di sebelah belakang.

"Jauh sekali perjalananmu sampai ke sini. Dan agaknya

barusan kau menunggangi kuda hitam berkaki enam.

Wahai! Tidak aku sangka kau punya hubungan dengan

pemilik kuda ini. Wahai mata-mataku. Kau mengkhianati 

diriku! Kau tahu Lakasipo adalah salah seorang yang 

masuk dalam daftar kematian yang telah kutentukan!"

 Tangan kanan Hantu Muka Dua menjambak rambut 

basah Luhtinti. Demikian kerasnya jambakan itu hingga 

banyak rambut yang tercabut. Luhtinti terpekik kesakitan.

 "Wahai Hantu Muka Dua.... Tidak ada niat meng

khianatimu. Sewaktu terjadi bencana di Telaga La-

situhitam saya sempat jatuh pingsan. Ketika siuman

ternyata saya dan empat gadismu telah diselamatkan

oleh Lakasipo. Kalau lelaki itu tidak menolong niscaya

kami semua bakal menemui kematian. Kami tidak tahu di 

mana kau berada. Karena Lakasipo menjadi tuan

penolong maka kami hanya bisa 'menyerahkan diri

padanya...."

 "Bagus betul perbuatanmu Luhtinti!" kata Hantu

Muka Dua dengan suara keras menghardik. "Kemana

perginya empat gadis itu! Wahai.' Aku tidak melihat

mereka seorangpun di tempat ini!"

 "Mereka kembali ke kampung masing-masing se-

telah Lakasipo menolak membawa mereka..." mene-

rangkan Luhtinti.

 Hantu Muka Dua menyeringai. "Nasibmu rupanya

beruntung! Lakasipo mau membawamu! Ha... ha...

ha...! Pasti kau sudah ditidurinya! Mengaku!"

 Masih dijambak, Luhtinti gelengkan kepalanya.

"Wahai Hantu Muka Dua, kami tidak berbuat apa-apa.

Lakasipo tidak...."

 "Perempuan laknat! Siapa percaya pada ucapan-

mu! Aku tahu lelaki macam apa adanya Lakasipo! Kau

pantas menerima hukuman dariku wahai Luhtinti!"

 Saat bicara penuh amarah itu muka Hantu Muka

Dua depan belakang berubah menjadi muka raksasa

angker menggidikkan. Tangannya yang menjambak

Luhtinti bergerak.

 "Kreeeekkkk!"

 Luhtinti menjerit. Keras dan panjang.

 Rambut hitam bagus di kepala gadis itu hampir

tercabut keseluruhannya dari kulit kepalanya. Kepala

Luhtinti nyaris botak dan darah mengucur dari kulit

kepala yang luka. Gadis malang ini terhantar di tanah,mengerang berkepanjangan.

 Masih beringas Hantu Muka Dua jongkok di sam-

ping Luhtinti seraya cekal lengan gadis itu. "Dengar

Luhtinti! Aku tidak akan membunuhmu! Tapi aku tidak

segan-segan menanggalkan tanganmu ini...."

 "Ampun! Jangan! Jangan lakukan itu wahai Hantu

Muka Dua!" jerit Luhtinti ketakutan setengah mati.

 Hantu Muka Dua tertawa mengekeh. "Kalau begitu

lekas berrtahu. Apakah Lakasipo datang ke goa ini

mencari Luhjelita?!"

 "Betul sekali wahai Hantu Muka Dua..." jawab

Luhtinti lalu suaranya putus berganti erangan. Sesaat

kemudian baru dia menyambung. "Menurut Lakasipo,

Luhjelita yang memintanya datang ke goa ini...."

 Muka seram depan belakang Hantu Muka Dua

mengerenyit. Taring-taringnya mencuat. Empat bola

matanya yang berbentuk segi tiga memancarkan sinar

hijau. "Kekasihku! Wahai! Apa kau juga telah jadi

pengkhianat?! Luhjelita! Di mana kau! Luhjelita!" Hantu

Muka Dua mendongak ke langit lalu berteriak keras.

Gaung suaranya menggetarkan kawasan bukit batu.

Rambut hitam panjang Luhtinti yang sejak tadi di-

genggamnya dicampakkannya ke tanah. Dengan kaki

kanannya ditendangnya pinggul gadis ini hingga ter-

pental bergulingan.

 "Wahai! Kalau saja aku tidak punya pantangan

membunuh, sudah kuhabisi nyawamu!" Masih belum

puas, kembali dia hendak menendang gadis yang

sudah tidak berdaya dan cidera berat itu. Namun

tiba-tiba terdengar ringkik keras Laekakienam. Kuda

raksasa milik Lakasipo ini menerjang. Dua kaki depan-

nya menderu ke kepala dan perut Hantu Muka Dua!

 "Binatang keparat! Kau minta kugebuk mampus!"

bentak Hantu Muka Dua marah. Sambil melompat

setinggi dua tombak dia hantamkan tangan kanannya

ke kepala Laekakienam. Sesaat lagi pukulan itu akan

menghancurkan kepala sebelah kiri kuda berkaki enam

Ku mendadak dua mata sebelah depan Hantu Muka

Dua sempat melihat bagian bawah di antara dua kaki

belakang binatang tersebut.

 "Wahai!" Hantu Muka Dua berseru kaget. Dia cepat

tarik pulang pukulan mautnya. "Binatang celaka ini

ternyata seekor kuda betina! Walau cuma binatang dia

tetap adalah perempuan! Aku tak berani kesalahan

melanggar pantangan!"

 Tendangan dua kaki enam Laekakienam meng-

hantam dinding batu dekat mulut goa hingga hancur

bergemuruh. Dengan cepat binatang ini berbalik, siap

mencari dan menyerang Hantu Muka Dua kembali.

Namun saat itu dari samping Hantu Muka Dua bertindak

lebih cepat. Dua tangannya dengan telapak terkem-

bang didorongkan ke arah Laekakienam. Binatang Ini

meringkik keras ketika tubuhnya yang besar laksana

dilanda topan prahara terlempar keras lalu terbanting

ke mulut goa. Sebagian mulut goa dan dinding batu

hancur berantakan. Laekakienam meringkik keras se-

kali lagi lalu jatuh melosoh. Untuk beberapa lamanya

binatang ini tak mampu bergerak tak mampu keluarkan

suara.

 Mulut Hantu Muka Dua depan belakang meludah

berulang kali. Lalu dia berkelebat memasuki Goa Pu-

alam Lamerah.

 "Luhjelita! Di mana kau! Luhjelita!" Hantu Muka

Dua berteriak memanggil. Suaranya menggema dah-

syat di seantero lorong batu. Di satu ruangan Hantu

Muka Dua hentikan langkahnya. Telinganya menang-

kap suara berdesir di atas kepalanya. Ketika dia men-

dongak, wajahnya yang saat itu masih berujud muka

dua raksasa berkerenyit. Empat buah matanya mem-

bersitkan sinar hijau. Di atasnya, langit-langit ruangan

membuka lalu muncul sebuah tonggak batu yang

perlahan-lahan bergerak turun. Lalu dia melihat bola-

bola batu itu. Tampang Hantu-Muka Dua depan be-

lakang mendadak sontak jadi beringas. Dia melangkah

mundur. Tepat pada saat punggungnya menyentuh

dinding, batu empat persegi panjang mencapai lantai

ruangan dan berhenti. Lakasipo yang berada di atas

batu itu terkejut ketika mengetahui dia tidak seorang

diri ditempat itu. Luhjelita yang dicarinya tetapi makhluk

bermuka dua itu yang ditemuinya.

 "Manusia memiliki dua muka. Satu di depan satu

di belakang. Dia pasti Hantu Muka Dua yang punya

niat hendak membunuhku!" ujar Lakasipo dalam hati.

 "Sebelum aku membunuhmu wahai manusia ber-

nama Lakasipo bergelar Hantu Kaki Batu! Beri tahu di

mana beradanya kekasihku Luhjelita!" Sambil bicara

dua mata Hantu Muka Dua sebelah depan memandang

ke arah pusar Lakasipo yang terbuka.

 "Sebelum aku menjawab ingin aku tahu! Sebab

lantaran apa kau yang dinamai Hantu Muka Dua ingin-

kan nyawaku!" menukas Lakasipo.


BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

11

 DUA mulut Hantu Muka Dua tertawa bergelak. Lalu 

dengan garang dia membentak. "Hantu Kaki Batu Jika 

tubuh kasarmu tidak mau memberitahu biar nanti rohmu 

yang akan kutanyai di mana beradanya Luhjelital 

Sekarang bersiaplah menerima kematian!"

 Habis berkata begitu Hantu Muka Dua keluarkan

suara meringkik seperti kuda melihat setani Bersamaan

dengan Ku tangan kanannya dipukulkan ke depan.

 Tak ada kiblatan sinar. Tak ada sambaran sinar

atau cahaya. Namun tahu-tahu Lakasipo merasa ada

satu kekuatan dahsyat melabrak dirinya.

 "Tangan Hantu Tanpa Suara!" teriak Lakasipo yang

pernah mendengar ilmu kesaktian yang dimiliki lawan

tapi baru sekali ini melihat dan merasakannya. Cepat-

cepat lelaki ini singkirkan diri sampai dua tombak ke

samping.

 "Braaakkkl Byaaarr!"

 Sebagian batu empat persegi panjang dan dinding

di belakang Lakasipo hancur berantakan. Asap aneh

bercampur dengan kepingan serta hancuran batu ber-

bentuk bubuk memenuhi ruangan dalam Goa Pualam

Lamerah itu, menutupi pemandangan. Lakasipo cepat

tutup jalan pernafasannya. Sesaat dia menunggu. Be-

gitu melihat bayangan Hantu Muka Dua di depan sana

dia segera menghantam dengan pukulan sakti bernama

Lima Kutuk Dari Langit\

 Lima larik sinar hitam menyambar ke arah Hantu

Muka Dua. Ini adalah satu pukulan sakti yang bukan

saja membuat lawan menjadi gosong sekujur tubuhnya

tapi tubuh yang terkena hantaman pukulan ini akan

menjadi ciut atau mengkerut! Siapa di Negeri Latanah-

silam yang tidak mengenal kehebatan dan keganasan

ilmu ini. Namun Hantu Muka Dua ganda tertawa ketika

melihat lima larik sinar maut yang datang ke arahnya itu.

 Setengah tombak lagi lima sinar itu akan menghantam

tubuhnya tiba-tiba Hantu Muka Dua membuat gerakan 

aneh. Tubuhnya berputar laksana gasing. Bersamaan 

dengan itu mulutnya depan belakang meniup keras.

 "Wusssss!"

 Suara letupan keras dan berkepanjangan meng-

getarkan ruangan batu. Bersamaan dengan itu muncul

asap merah bergulung-gulung berbentuk kerucut, kecil

di bawah melebar di sebelah atas. Gulungan asap

merah ini bukan saja membentengi dirinya dari Pukulan

Lima Kutuk Dari Langit tetapi sekaligus secara aneh

menyedot lima larik sinar hitam pukulan sakti yang

dilepaskan Lakasipo!

 Lakasipo berseru kaget ketika merasakan tubuhnya 

tertarik dan hampir tersedot masuk ke dalam gulungan 

sinar merah berbentuk kerucut. Dengan cepat dia 

kerahkan seluruh tenaga dalam lalu kaki kanannya yang 

terbungkus batu berbentuk bola ditendangkan ke depan, 

melepas tendangan yang disebut Kaki Roh Pengantar 

Mautl

 "Wusssss!"

 Sinar hitam menderu.

 "Reeekkkk!"

 "Bummmmm!"

 Ruang batu dalam Goa Pualam Lamerah itu ber-

getar hebat. Beberapa bagian langit-langit batu runtuh

dan dinding ada yang retak pecah! Lantai mencuat

ambrol! Untuk kedua kalinya tempat itu tertutup oleh

asap dan hancuran batu-batu. Ketika keadaan kembali

terang kelihatan Lakasipo terduduk di salah satu sudut

ruangan. Kaki kanannya yang tadi dipakai menendang

kini berada dalam keadaan kaku dan berat tak bisa

digerakkan. Dadanya sesak membuat dia sulit bernafas

sementara kepalanya berdenyut sakit dan peman-

dangannya berkunang-kunang. Dati sela bibirnya me-

ngucur darah kental! Tubuhnya sebelah kanan mulai

dari pipi sampai ke paha kelihatan kemerah-merahan.

Salah satu bagian dari bola batu yang membungkus

kakinya hancur!

 Beberapa langkah di depan Lakasipo, Hantu Muka

Dua kelihatan tegak dengan tubuh bergeletar bergoyang-

goyang. Makhluk bermuka dua ini keluarkan suara 

menggereng dan cepat kuasai dirinya. Dua mulutnya 

menyeringai lalu dia mengerenyit seperti menahan sakit. 

Ketika dia memandang ke dada kirinya kagetlah Hantu 

Muka Dua. Serta merta dua muka raksasa di kepalanya 

berubah menjadi wajah dua kakek yang pucat pasi! Di 

dada kirinya menancap pecahan runcing batu yang 

berasal dari bola batu di kaki kanan Lakasipo.

 "Lakasipo jahanam!" teriak Hantu Muka Dua marah

sekali. Dua wajahnya kembali berubah membentuk

tampang raksasa. Sinar hijau membersit dari empat

bola matanya yang berbentuk segi tiga. Dengan tangan

kirinya dia cabut pecahan batu yang menancap di dada

kirinya lalu dilemparkan ke arah Lakasipo.

 Dalam keadaan tak mampu menggerakkan kaki

kanan, Lakasipo pergunakan kaki kiri untuk menangkis

serangan batu runcing yang mengarah ke kepalanya.

 'Traaakkkk!"

 Batu runcing hancur berantakan begitu beradu

dengan bola batu yang membungkus kaki kiri Lakasipo.

Walau selamat namun seperti yang terjadi dengan kaki

kanannya, kembali Lakasipo merasakan kaki itu men-

jadi berat dan kaku hingga tak bisa digerakkan. Kini

Lakasipo benar-benar jadi tidak berdaya. Ketika Hantu

Muka Dua melangkah mendekatinya, dia tidak mampu

berdiri! Dengan cepat dia kerahkan tenaga dalam ke

tangan kiri kanan, menjaga segala kemungkinan, mem-

persiapkan pukulan Lima Kutuk Dari Langit. Akan

tetapi, Hantu Muka Dua bertindak lebih cepat. Dari dua

matanya di sebelah depan melesat dua larik sinar hijau

berbentuk segitiga panjang! Inilah serangan maut yang

disebut Hantu Hijau Penjungkir Rohl Konon ilmu ke-

saktian ini dulunya dimiliki oleh seorang dedengkot

hantu di Negeri Latanahsilam yang disebut Hantu

Lumpur Hijau. Dengan segala kekejian dan tipu daya

busuk Hantu Muka Dua berhasil merampas ilmu itu

dari Hantu Lumpur Hijau. Hantu Lumpur Hijau sendiri

kemudian terpaksa menyelamatkan diri ke dalam rimba

belantara yang penuh dengan lumpur dan disebut

Kubangan Lalumpur. Jangankan sosok manusia, po-

hon besar atau batu sekalipun jika terkena hantaman

sinar hijau ini akan hancur mengerikan seperti lumpur

dan berwarna hijau!

 Lakasipo masih berusaha menangkis dan meng-

hantam dengan pukulan Lima Kutuk Dari Langit seraya

miringkan tubuh ke samping. Namun tak ada gunanya.

Hantu Muka Dua tertawa mengekeh. Hanya sesaat lagi

dua larik sinar hijau yang keluar dari mata Hantu Muka

Dua akan menamatkan riwayat Lakasipo tiba-tiba ber-

kelebat satu bayangan putih. Hantu Muka Dua me-

rasakan tubuhnya bergetar oleh sambaran angin. Dua

kakinya tersurut satu langkah. Meski demikian dua

larik sinar hijau yang dilepaskannya menghantam tidak

bisa ditahan 


"Braaakkk!"

 "Braaaaakk!"

 Dinding batu dalam Goa Pualam Lamerah untuk

kesekian kalinya hancur berantakan. Namun kali ini

lebih dahsyat dan lebih mengerikan. Pada dinding

terlihat dua buah lobang besar berwarna kehijauan.

Pinggiran lobang laksana leleh. Di lantaigoa bertaburan

pecahan-pecahan batu yang telah berubah menjadi

hijau dan lunak seperti lumpurl

 Hantu Muka Dua berseru kaget dan juga marah.

Karena ketika dia memandang ke depan dan me-

mastikan sosok Lakasipo alias Hantu Kaki Batu telah

lumat menjadi lumpur hijau ternyata Lakasipo tidak

ada lagi di tempat itu!

 "Jahanam!" teriak Hantu Muka Dua marah. Muka

raksasanya menjadi semerah bara. Taring-taring men-

cuat keluar dari dua mulutnya dan dua pasang matanya

seperti mau melompat dari rongganya. "Siapa minta

mampus berani mencampuri urusan Hantu Muka Dua!"

Hantu Muka Dua bantingkan kaki kanannya hingga

lantai goa yang sudah hancur di sana sini itu kini

melesak sedalam satu jengkal!

 Kemarahan Hantu Muka Dua mendadak sontak

berubah menjadi rasa kaget ketika dia palingkan mata

sebelah belakangnya dia melihat satu sosok tegak

sejarak enam langkah di seberang sana. Sosok aneh

ini berupa seorang perempuan muda berparas cantik,

mengenakan pakaian terbuat dari bahan menyerupai

sutera tipis putih. Sekujur sosoknya bergoyang-goyang

seolah dirinya terbuat dari asap atau hanya berupa

bayang-bayang samar. Namun saat demi saat sosok

dan wajah perempuan ini semakin nyata. Dia berdiri

sambil mendukung Lakasipo yang berada dalam ke-

adaan setengah sadar setengah lupa diri. Sepasang

matanya menatap dingin tak berkesip ke arah Hantu Muka 

Dua.

 "Sulit aku percayai" kata Hantu Muka Dua. "Wahai! Apa 

betul aku melihat Luhrinjani, pengantin muda, istri yang 

dikabarkan telah tewas bunuh diri di jurang Bukit Batu 

Kawin puluhan tahun silam!"

 Mulut perempuan cantik yang mendukung Lakasipo 

terbuka. Dia memang adalah penjelmaan Luhrinjani istri 

Lakasipo yang telah meninggal bunuh diri puluhan tahun 

silam dan bisa muncul seperti itu berkat kekuatan sakti 

yang diberikan para Dewa dan para Peri.

 "Kau melihat diriku! Kau tidak buta! Wahai! Apa yang 

kau lihat itulah kenyataan yang ada! Kau mendengar 

suarakul Wahai! Apa yang kau dengar itulah kenyataan 

yang ada!"

 "Luhrinjani.... Kau muncul secara tidak wajar. Aku...."

 "Di negeri ini sudah lama terjadi ketidakwajaran!"

menukas sosok Luhrinjani. "Dan kau adalah biang racun 

segala ketidak wajaran itu! Kau menebar kekejian, tipu 

dan mengumbar nafsu. Kau merasa berbangga diri 

dengan julukan Hantu Segala Keji, Segala Tipu dan 

Segala Nafsu!"

 "Ha... ha...! Kau tahu jelas siapa diriku! Perempuan

dari alam roh! Kalau kemunculanmu hanya sekedar

menolong suamimu, aku mungkin bisa memaafkan. Tapi 

kalau kau sengaja mencari perkara lebih lanjut, aku akan 

membuat kau tidak bisa kembali ke alammu! Kau akan 

kugantung antara bumi dan langitl"

 "Wahai! Mulutmu berucap keji dan sombong! Apakah 

ilmu kepandaianmu melebihi kesaktian para Dewa dan 

para Peri di langit ke tujuh?l"

 "Untuk memberi pelajaran padamu, ilmu kepandaian 

yang sudah kumiliki rasa-rasanya bisa membuatmu 

kapok seumur jaman!" Hantu Muka Dua sentakkan

kepalanya hingga rambutnya yang gondrong acak-

acakan tersibak dan kini dua wajahnya yang seram 

kelihatan jelas.

 "Kutuk dan hukum para Dewa dan para Peri akan

jatuh atas dirimu! Sekarang menyingkir dari hadapanku!" 

Luhrinjani melangkah ke pintu lorong yang menuju

mulut goa. Tapi Hantu Muka Dua segera menghadang.

 "Kau boleh pergi. Tapi tinggalkan laki-laki itu disinil"

 "Heh.... Begitu?" Luhrinjani tersenyum lalu tertawa

perlahan. "Baik, kupenuhi permintaanmu wahai Hantu

Muka Dua. Lakasipo akan kutinggalkan di dalam goa

ini. Aku akan pergi. Tapi sebelum pergi aku minta

nyawamu lebih dulu!"

 "Makhluk jejadian jahanam!" teriak Hantu Muka Dua. 

Dua larik sinar hijau berbentuk segi tiga yang ujungnya 

runcing menyambar ke arah sosok Luhrinjani.

 Luhrinjani berseru kerasi Tubuh Lakasipo yang

berada dalam dukungannya dilemparkan ke atas

ruangan lalu dia sendiri cepat berkelebat

 "Braaakkk.... Byaaaar!"

 Dinding ruangan di belakang Luhrinjani hancur

dan berubah menjadi lelehan lumpurl

 "Bukkk!"

 Hantu Muka Dua mengeluh tinggi. Satu pukulan

keras melanda dadanya hingga dia terjengkang di lantai

goa. Sambil menahan sakit dia cepat melompat berdiri

lalu menerjang ke arah Luhrinjani. Namun yang di-

serang seolah ditelan bumi lenyap dari hadapannya.

Di lain saat kembali terdengar suara "bukkk!" Kali ini

punggung Hantu Muka Dua yang jadi sasaran hingga

dia terbanting ke dinding goa. Di saat yang sama tubuh

Lakasipo yang tadi dilemparkan ke atas, begitu jatuh

dengan cepat disambut oleh Luhrinjani.

 "Apa yang terjadi?!" Lakasipo bersuara. Rupanya

lelaki ini sudah sadarkan diri. Dia terkejut sekali ketika

dapatkan dirinya berada dalam dukungan seseorang.

Dan ketika dia memandang ke atas memperhatikan

wajah si pendukung tambah kagetlah Lakasipo. 

"Luhrinjanil Wahail Apa yang terjadi?!"

 Lakasipo cepat melompat turun dari dukungan

Luhrinjani. Goa Pualam Lamerah bergelegar keras

begitu dua kaki batunya menginjak lantai goa. Pada

saat pandangannya membentur sosok Hantu Muka

Dua lelaki ini segera sadar apa yang telah terjadi

sebelumnya.

 "Hantu Muka Dua makhluk keparat! Saatnya riwayatmu 

ditamatkan!" Lakasipo menggereng keras. Tubuhnya 

melesat ke depan. Kaki kanannya menderu ke arah 

kepala Hantu Muka Dua. Walau dengan mudah Hantu 

Muka Dua bisa mengelakkan serangan itu namun hatinya 

mulai dilanda rasa kecut. Lakasipo tidak mudah 

mengalahkannya. Sebaliknya dia merasa mampu 

membunuh lelaki itu. Namun kehadiran Luhrinjani

membuat keadaan bisa berubah. Bagaimanapun amarah 

kebenciannya terhadap Luhrinjani namun pantangan 

yang harus dijalaninya tidak memungkinkannya

membunuh perempuan itu! Menyadari keadaan ini

Hantu Muka Dua gunakan siasat licik. Serangannya

bertubi-tubi diarahkan pada Lakasipo. Pada saat-saat

tertentu dia keluarkan ilmu Hantu Hijau Penjungkir Roh.

Bagaimanapun cepatnya gerakan Lakasipo untuk

mengelakkan serangan lawan serta dahsyatnya dua

kaki batu yang dimilikinya setelah beberapa jurus

berlalu Lakasipo mulai terdesak.

 Melihat kejadian ini Luhrinjani tidak menunggu lebih 

lama. Dia melompat ke dalam kalangan perkelahian lalu 

lancarkan serangan berantai dari samping dan belakang. 

Repotnya bagi Hantu Muka Dua, walau dia bisa melayani

semua serangan Luhrinjani namun dia selalu merasa ragu 

membalas serangan itu secara keras. Khawatir Luhrinjani

cidera berat dan menemui ajal. Sebaliknya begitu melihat 

lawan mulai bingung Luhrinjani pergunakan kesempatan. 

Dia memberi isyarat pada Lakasipo. Pada saat yang tepat 

kedua orang ini melompat ke arah lorong yang menuju 

mulut goa.

 "Kalian mau lap ke mana!" teriak Hantu Muka Dua

mengejar. Namun sebelum dia sempat masuk ke dalam

lorong batu, Lakasipo dan Luhrinjani telah lebih dulu

membobol langit-langit dan dinding terowongan hingga 

runtuh menggemuruh dan menutup jalan menuju mulut 

goa!

 "Jahanam! Apa kalian mengira aku tidak bisa

menembus runtuhan batu-batu ini!" teriak Hantu Muka

Dua marah. Dua tangannya didorongkan ke depan.

Mulutnya meniup. Buntalan gelombang angin dahsyat

menderu. Batu-batu yang menutupi lorong goa men-

celat bermentalan. Hantu Muka Dua cepat melesat di

sepanjang reruntuhan lorong. Namun ketika dia sampai

di luar Goa Pualam La merah, Lakasipo dan Luhrinjani

tidak kelihatan. Kuda hitam berkaki enam dan Luhtinti

juga tidak ada lagi di tempat itu.

 Hantu Muka Dua menggeram marah. "Luhjelita!

Luhtinti! Perempuan-perempuan pengkhianatl Aku

memang tidak bisa 'membunuh kalian! Tapi awas!

Pembalasanku lebih sakit dari pada kematian! Kalian

berdua akan kusiksa sepanjang jaman! Tempat pe-

nyiksaaan seperti Ruang Obor Tunggal kelak akan

menjadi bagian kalian!"

 *

* *

BASTIAN TITO

Peri Angsa Putih

12

 KEMBALI ke puncak bukit berumput biru. Pendekar 212 

Wiro Sableng, Naga Kuning dan Setan Ngompol 

menunggu dengan hati berdebar. Mereka memandang ke 

langit tinggi di mana mereka melihat ada satu titik merah 

bergerak turun dari langit di arah timur.

 "Aku ingin sekali cepat-cepat melihat bagaimana

rupanya Peri Sesepuh yang mau menolong kita itu..."

bisik Naga Kuning.

 "Pasti sangat cantik dan paling cantik di antara

semua Peri yang pernah kita lihat. Kita sudah me-

nyaksikan cantiknya Peri Angsa Putih, sudah melihat

wajah Peri Bunda. Peri Sesepuh yang jadi pimpinan

segala Peri pasti cantiknya selangit tembus!" kata Setan

Ngompol pula.

 Titik merah yang turun dari langit makin lama

semakin besar. Hantu Tangan Empat menatap dengan

mata dibesarkan dan tak pernah berkesip. Ketika titik

Ku membentuk besarnya telur ayam, Hantu Tangan

Empat pergunakan dua tangannya mengusap muka-

nya. Saat Ku juga mukanya yang tadi rata berubah

menjadi satu wajah amat mengerikan. Rambutnya yang

sebelumnya putih kini menjadi merah darah, tegak kaku.

Dari sela-sela rambut kelihatan asap merah mengepul.

Lalu dua matanya yang besar mencuat dan kini seolah

tergantung di luar rongga. Hidungnya yang semula

rata kini tinggi panjang dan bengkok. Bibirnya berwarna

biru pekat Gigi-giginya berubah panjang dan lancip

Perubahan lain yang membuat keadaan tambah angker

ialah jumlah tangannya yang kini menjadi empati

 "Kalian lihat, Hantu Tangan Empat telah merubah

tampangnya..." memberi tahu Wiro pada Naga Kuning

dan Setan Ngompol. Kalau Naga Kuning hanya melirik

dengan rasa ngeri, sebaliknya Setan Ngompol lang-

sung terkencing karena kaget

 Di langit, benda merah berkilauan tadi semakin

membesar. Hantu Tangan Empat kembangkan dua

tangan di depan dada dengan telapak tangan terbuka

menghadap ke langit. Dua tangan lainnya diluruskan

ke samping telinga kiri kanan. Lalu dari mulutnya keluar

suara seperti orang membaca jampai-jampai terus

menerus tidak henti-hentinya. Mukanya yang mengeri-

kan kelihatan bertambah angker. Seperti tadi dua mata-

nya memandang ke langit, tidak pernah berkedip.

 Kira-kira lima puluh tombak benda merah tadi

berada di atas bukti rumput biru bentuknya mulai jelas.

Ternyata benda itu adalah sosok seorang perempuan

berpakaian merah yang duduk di atas sebuah batu

pualam berwarna merah. Ujung pakaiannya melambai-

lambai panjang dan perlahan-lahan turun ke tanah.

Bau harum semerbak memenuhi puncak bukit

 "Heh.... Baunya saja sewangi ini, pasti Peri Sesepuh

ini cantik sekali..." bisik Setan Ngompol sambil me-

nyikut Naga Kuning. Tubuhnya pasti tinggi semampai,

langsing dan dadanya heh...." Setan Ngompol senyum-

senyum sendiri.

 Semakin dekat sosok merah yang turun di langit

itu semakin jelas bentuknya. Ketika sosok ini akhirnya

sampai di puncak bukit dan menggantung di udara

setinggi dua tombak, Setan Ngompol terperangah dan

cepat-cepat tekap bagian bawah perutnya. Apa yang

diduga dan diucapkannya ternyata meleset sangat

jauh. Yang bernama Peri Sesepuh itu ternyata seorang

perempuan bertubuh luar biasa gemuknya. Wajahnya

bulat dan selalu keringatan. Hidungnya lebar pesek.

Selain dandanannya sangat mencolok, pada pipi kiri-

nya ada sebuah tahi lalat selebar telur burung merpati.

Dagu dan lehernya tidak kelihatan lagi karena gemuk

berlemak jadi satu. Rambut di kepalanya disanggul

aneh diikat dengan sebuah pita merah. Lalu pada

telinga kirinya melingkar sebuah giwang besar ber-

bentuk bulat berwarna merah.

 Tubuhnya yang berbobot lebih dari dua ratus lima

puluh kati itu duduk di atas sebuah kursi batu pualam

merah. Dia mengenakan lilitan kain sutera merah. Di

bagian atas kain merah ini tidak menutupi seluruh

dadanya yang gembrot hingga ketiaknya tersingkap

lebar. Di sebelah bawah kain sutera itu hanya melingkar

sampai pertengahan paha sedang ujungnya bergulung

di bagian belakang dan terus menjela ke bawah ke

rumput di atas bukit. Ketika sang Peri tersenyum

kelihatanlah giginya yang besar-besar.

 "Kukira yang datang ini bukan Peri Sesepuh. Tapi

Peri Raksesi...!" kata Setan Ngompol yang kecewa

besar karena apa yang dia harapkan berbeda dengan

kenyataan.

 Naga Kuning tertawa cekikikan sedang murid

Eyang Sinto Gendeng garuk-garuk kepala pulang balik.

Lalu dia cepat berbisik. "Hussssl Bagaimanapun ke-

adaannya kita harus bersyukur dan berterima kasih

dia mau menolong kita. Jangan bicara yang bukan-

bukan dan jangan bicara keras-keras. Kalau sampai

terdengar Peri gembrot itu bisa urung kita jadi orang I"

 "Kalau saja kawanmu si Dewa Ketawa atau si

Bujang Gila Tapak Sakti yang gendut-gendut itu ada

di sini, pasti mereka senang sekali melihat Peri gemuk

itu..." menyahuti Naga Kuning.

 Setelah mengapung diam di udara beberapa ke

tika, Peri Sesepuh dan kursinya bergerak merendah.

Pada ketinggian hanya tinggal satu tombak dari atas

bukit sang Peri melayang berputar-putar mengelilingi

orang-orang yang ada di atas bukit itu. Pada putaran

ke tujuh baru dia berhenti. Tepat di hadapan Peri Angsa

Putih dan Hantu Tangan Empat lalu perlahan-lahan

kursi yang didudukinya turun ke bawah menjejak per-

mukaan bukit yang ditumbuhi rumput biru.

 "Astaga!" seru Naga Kuning dengan mata melotot

seraya menggamit Wiro dan Setan Ngompol. "Wiro,

Setan Ngompol, apa yang aku lihat sudah kalian lihat

juga?!"

 Wiro mengulum senyum. Walau merasa jengah

tapi matanya tidak dialihkan dari apa yang dilihatnya

seperti barusan dikatakan Naga Kuning. Setan Ngom-

pol sendiri tertegun dengan mata mendelik, menatap

ke arah Peri Sesepuh, tak bisa keluarkan suara, hanya

tenggorokannya saja yang naik turun seperti orang

ketulangan.

 "Peri edan...!" terdengar kembali suara Naga Ku-

ning. "Duduknya ngongkongl Aku bisa melihat jelas

sekali dari sini...."

 "Aku juga! Benar-benar gilai Dia tidak pakai celanal

Mungkin dia tidak punya celana dalam!" kata Setan

Ngompol sambil matanya terus mengawasi dan dua

tangannya dipakai menekap bagian bawah perut.

 "Mungkin di negeri ini memang tidak ada perem-

puan pakai celanal Celana dalam tidak dikenal di sini!

Ha... ha... ha...!" Wiro tertawa bergelak.

 "Dari mana kau tahu?!" ujar Setan Ngompol. "Me-

mangnya kau pernah mengintip perempuan di sini

mandi...?!"

 Naga Kuning terus menimpali. "Wiro, tadi waktu

kita menunggu lama kau bilang mungkin Peri itu

sedang kencing di sungai. Mungkin benar. Selesai

kencing celananya ketinggalan di sungai! Hik... hik...

hik!"

 Wiro usap matanya yang basah karena tertawa

terus-terusan kemudian melirik pada Peri Angsa Putih.

Lalu berbisik pada teman-temannya. "Lihat Peri Angsa

Putih.... dia tidak berani memandang ke depan. Muka-

nya bersemu merah. Berarti dia sudah melihat dan

tahu kalau Peri gembrot itu tidak pakai celana!"

 "Sssstttt.... Coba kalian lihat Hantu Tangan Empat,"

bisik Naga Kuning pula. Wiro dan Setan Ngompol

berpaling.

 Saat itu Hantu Tangan Empat sudah tak kede-

ngaran lagi suara racauannya. Tenggorokannya seperti

tercekik. Beberapa kali dia batuk-batuk. Sedang dua

matanya yang memberojol keluar tampak bertambah

besar dan seperti mau melompat. Memandang lurus-

lurus ke arah Peri Sesepuh yang duduk di kursi batu

hanya empat langkah di hadapannya!

 "Dia pasti sudah melihat..." bisik Setan Ngompol.

 "Pasti!" bisik Wiro. "Matanya tidak berkedip, teng-

gorokan dan dadanya turun naik. Di pinggiran mulutnya

ada air liur mengalir!"

 "Peri Angsa Putih!" Tiba-tiba Peri Sesepuh mem-

buka mulut.

 "Orangnya seperti raksesi gendut. Suaranya se-

perti tikus nyingnying!" celetuk Naga Kuning yang tak

bisa diam.

 "Apakah persiapan pelaksanaan permohonan sudah 

rampung?"

 Peri Angsa Putih yang sampai saat itu masih

meletakkan dua tangannya di atas kepala membung-

kuk sedikit lalu menjawab. "Wahai Peri Sesepuh, pim-

pinan dan junjungan dari segala Peri. Pertama sekali

kami mengucapkan terima kasih atas kesudian Peri

turun ke bukit ini untuk menyaksikan permohonan dan

tentunya tidak akan terlaksana tanpa berkah dari Peri.

Persiapan memang sudah dirampungkan. Kami segera

akan melaksanakan...."

 Peri Sesepuh melirik ke arah Hantu Tangan Empat.

"Wahai Hantu Tangan Empat, kau sudah siap?'

 Hantu Tangan Empat manggut-manggut. "Siap

Wahai Peri Sesepuh," katanya kemudian dengan suara

tercekik lalu batuk-batuk.

 "Kalau begitu segera laksanakan!" kata Peri Se-

sepuh pula sambil angkat tangan kanannya lalu me-

nunjuk ke depan.

 "Ssttt...." Naga Kuning kembali berbisik. "Waktu

Peri itu mengangkat tangannya aku melihat ada ijuk

berjubalan di bawah ketiaknya.... Hik... hik... hik!"

 "Kau ini! Ada saja yang kau lihat..." kata Setan

Ngompol tapi segera mementang mata melihat ke arah

ketiak Peri Sesepuh.

 'Tunggu dulu!" Tiba-tiba Peri Sesepuh berseru.

Tangan kirinya diangkat. Tapi tidak menunjuk seperti

tadi melainkan dimasukkan ke salah satu lobang hi-

dungnya lalu enak saja dia mengupil sampai matanya

m era m mefek!

 "Celaka! Jangan-jangan Peri itu mendengar apa

yang barusan kau katakan Naga Kuning! Dia pasti

marah!" ujar Wiro.

 Setan Ngompol langsung terkencing.

 "Sebelum permohonan dilakukan, aku ingin me-

lihat dulu mana tiga makhluk cebol yang ingin minta

dibesarkan itu?!"

Peri Angsa Putih berpaling pada Wiro dan dua

temannya yang berada di atas batu. Lalu berkata.

"Berteriaklah: Kami ada di sini wahai Peri Sesepuh!"

 Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol segera

melakukan apa yang dikatakan Peri Angsa Putih.

 "Kami ada di sini wahai Peri Sesepuh...."

 Peri gembrot itu keluarkan tangan kirinya dari lobang 

hidung dan berpaling ke arah batu. Sesaat memandangi 

dia lalu menyeringai. "Aku mau melihat salah satu dari 

kalian lebih dekat. Bagaimana bentuk kalian 

sebenarnya...." Sang Peri gembrot ulurkan tangan kirinya.

 Peri Angsa Putih gerakkan tangannya. Wiro cepat 

menyelinap ke belakang seraya berkata. "Kau saja Naga 

Kuning!"

 "Tidak! Aku melihat sendiri Peri itu tadi mengupil 

dengan tangan kiri. Kini dengan tangan itu dia hendak 

memegangku!"

 "Kalau begitu kau saja Kek!" kata Wiro seraya 

mendorong tubuh Setan Ngompol. Dorongan itu membuat 

Setan Ngompol terjatuh di depan jari-jari tangan Peri 

Angsa Putih. Peri itu segera saja mengambil si kakek lalu 

meletakkannya di telapak tangan Peri Sesepuh. Peri 

gemuk ini dekatkan tangan kirinya ke depan wajahnya. 

Sesaat kemudian dia bergumam. "Heh.... Makhluk jelek 

begini saja maunya macam-macam. Matanya saja juling. 

Badannya bau pesing... Kalau tidak memandang pada 

dirimu dan kakekmu wahai Peri Angsa Putih, tidak sudi 

aku turun dari langit menyaksikan permohonan ini!" Lalu 

enak saja dia lemparkan Setan Ngompol pada Peri 

Angsa Putih. Kalau tidak lekas disambuti Peri Angsa 

Putih, niscaya si kakek terbanting jatuh di atas batu datar! 

Sampai di atas batu Setan Ngompol memaki panjang 

pendek.

 "Enak saja aku dibilangnya bau. Padahal upilnya yang

sebesar tetampah dan masih menempel di jarinya 

membuat aku mau muntah!"

 "Peri Sesepuh, bolehkah kami memulai upacara 

permohonan ini?' tanya Peri Angsa Putih setelah 

meletakkan kembali Setan Ngompol di atas batu.

 Peri Sesepuh anggukkan kepalanya lalu 

membersihkan tangannya yang tadi bekas memegang 

Setan Ngompol dengan ujung pakaian merahnya.

 "Kakek Hantu Tangan Empat, silahkan kau mem-

baca rapalan..." kata Peri Angsa Putih pula.

 Ditunggu-tunggu tak ada suara Hantu Tangan

Empat terdengar.

 "Kek...?!" ujar Peri Angsa Putih.

 Karena masih belum ada jawaban Peri Angsa Putih

berpaling. Ternyata Hantu Tangan Empat tengah me-

natap tak berkedip ke arah Peri Sesepuh. Dengan wajah

bersemu merah Peri Angsa Putih julurkan kakinya

menendang paha si kakek. Hantu Tangan Empat baru

tersadar lalu cepat-cepat bertanya. "Ya, apa...?"

 Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol tertawa

cekikikan. "Hantu itu rupanya terpesona melihat pe-

mandangan ajaib yang dibuat Peri Sesepuh!" kata Wiro.

 "Hantu Tangan Empat!" Peri Sesepuh tiba-tiba

berkata karena menunggu tidak sabaran. "Sebentar

lagi matahari akan sampai di titik tertingginya. Aku

tidak punya waktu banyak menunggu. Kau akan mulai

dengan upacara permohonan ini atau bagaimana?!"

 Mendapat teguran itu Hantu Tangan Empat me-

mohon maaf berulang kali. "Maafkan saya wahai Peri

Sesepuh. Saya sudah siap...."

 "Kalau begitu segera mulai!" ujar Peri Sesepuh

seraya menggeser duduknya. Celakanya gerakan ini

membuat keadaannya tambah tersingkap. Dua mata

Hantu Tangan Empat jadi tambah mendelik.

"Kek! Mulailah! Kau tunggu apa lagi?!" Peri Angsa

Putih mulai jengkel dan tidak sabaran. Dia khawatir

Peri Sesepuh jadi marah dan meninggalkan tempat itu

kembali ke langit.

 Hantu Tangan Empat berkomat kamit. Suaranya

terdengar seperti tercekik dan sebentar-sebentar dia

batuk-batuk sementara dua matanya saja melotot ke

arah Peri Sesepuh.

 "Hantu Tangan Empati" kembali Peri gemuk Ku

menegur. "Suaramu terdengar aneh. Tak jelas mantera

yang kau ucapkan. Sebentar-sebentar kau batuk. Ada

apa dengan dirimu?!"

 "Maafkan saya wahai Peri Sesepuh.... Saya me-

mang sedang kurang sehat. Masuk angin...."

 "Kalau kau masuk angin harusnya keluar angin.

Bukan melantur membaca mantera!" tukas Peri Se-

sepuh yang membuat Wiro, Naga Kuning dan Setan

Ngompol sama-sama menyengir.

 "Kurasa Hantu Tangan Empat terpengaruh melihat

Peri Sesepuh yang duduknya tak karuan seperti itu..."

kata Wiro.

 "Dia seperti lupa mau berbuat apa. Lupa membaca

mantera. Kalau salah kita bisa celaka.... Bukannya

tubuh kita jadi besar, malah tambah kecil!" ujar Naga

Kuning.

 "Maafkan saya wahai Peri Sesepuh. Saya segera

mulai..." kata Hantu Tangan Empat. Dia menunduk

sesaat dan mulai melafalkan kata-kata dalam bahasa

aneh yang tidak dimengerti Wiro dan dua kawannya.

Namun kakek ini hanya sesaat saja tundukkan kepala.

Di lain saat dia kembali mengangkat kepala dan me-

mandang ke arah Peri Sesepuh. Akibatnya mantera

apa yang harus dibacanya di luar kepala jadi kacau.

 Sementara itu setelah beberapa saat dibacai man

tera, tubuh Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol

sedikit demi sedikK menjadi besar. Ketiga orang Ku

hendak berteriak gembira saking girangnya. Tapi Peri

Angsa Putih cepat memberi tanda agar mereka berdiam

diri.

 Hantu Tangan Empat kembali meneruskan mem-

baca mantera. Sosok Wiro dan dua kawannya semakin

besar. Saat Ku telah mencapai setinggi lutut orang

orang di negeri Latanahsilam.

 "Selamat kita I Sebentar lagi kita akan jadi sebesar

mereka!" kata Wiro pada dua temannya. Ketiga orang

itu saling berangkulan saking girangnya.

 "Kalau tubuhku sudah besar, akan kucari anak pe-

rempuan bernama Luhkimkim itu..." kata Naga Kuning.

 "Aku akan mencari nenek berdandan medok

yang katanya sudah kawin beberapa kali itu tapi

lakinya mati semual Ingin tahu aku apa kehebatan

perempuan satu itu! Hik... hik... hik!" kata Setan

Ngompol menimpali.

 Di atas kursi batu pualam merah Peri Sesepuh

menguap lebar. Dua kakinya dijulurkan di atas rumput

sedang tubuhnya enak saja digeser ke depan. Dua

mata Hantu Tangan Empat berkedap-kedip lalu nyalang

besar. Tenggorokannya turun naik. Suaranya merapal

kini hilang-hilang timbul. Lalu berhenti sama sekali.

 Wiro dan kawan-kawan melepas rangkulan ma-

sing-masing. "Apa Hantu Tangan Empat sudah selesai

merapal manteranya? Tapi tubuh kita masih setinggi

lutut begini!" ujar Wiro.

 Peri Angsa Putih berpaling.

 "Kek...?!"

 "Hantu Tangan Empat?!" Di atas kursi merah Peri

Sesepuh bertanya. "Sudah selesai kau membaca man-

tera membesarkan tiga makhluk cebol Ku?l"

"Be... belum wahai Peri Sesepuh..." jawab Hantu

Tangan Empat tersendat

 "Kalau begitu lekas kau lanjutkan!" Peri Sesepuh

memandang ke langit

 "Cepat Kek!" bisik Peri Angsa Putih. Kembali gadis

ini tendang paha kakeknya dengan ujung kaki.

 Hantu Tangan Empat kembali merapal. Tapi mata-

nya masih terus nyalang besar.

 'Tutup kedua matamu!" kata Peri Angsa Putih yang

dengan muka merah maklum apa yang terus-terusan

dilihat kakeknya sejak tadi.

 "Percuma.... Aku tak bisa meneruskan merapal

mantera itu di luar kepala...."

 "Heh, kenapa tak bisa...?" tanya Peri Angsa Putih.

 "Maafkan saya. Saya lupa terusan manteranya.

Walau dicoba dan dipaksa tetap saja tidak bisa!" jawab

Hantu Tangan Empat.

 "Celaka! Hantu Tangan Empat tak bisa menerus-

kan membaca mantera. Sementara kita masih sebesar

ini!" Setan Ngompol berkata setengah menjerit lalu

terkencing-kencing.

 "Pasti ini gara-gara dia melihat Peri Sesepuh duduk

mengongkong!" teriak Naga Kuning banting-banting

kaki. "Wiro! Katakan sesuatu! Lakukan apa saja!"

 Wiro garuk-garuk kepala. "Nasib kita jelek kawan-

kawan. Hantu Tangan Empat terpengaruh oleh apa

yang dilihatnya. Dia tak bisa meneruskan membaca

mantera! Berarti keadaan kita hanya sebesar ini! Se-

tinggi lutut!"

 "Celaka!" seru Naga Kuning.

 "Sial nasib kita!" ujar Setan Ngompol.

 "Bukan kita yang sial! Tapi Hantu keparat itu yang

sialan!" maki Naga Kuning pula.

 "Kalau kupikir-pikir bukan si Hantu Tangan Empat

yang sial! Penyebab kesialan ini justru adalah Peri

Sesepuh! Coba kalau dia tidak duduk seenaknya se-

perti itu pasti bacaan mantera Hantu Tangan Empat

lancar dan kita akan jadi sebesar mereka!" kata Wiro

pula.

 "Waktuku habis!" Tiba-tiba Peri Sesepuh berkata.

Dia menggeliat lalu mengangkat dua tangan. Perlahan-

lahan kursi batu pualam merah yang didudukinya

bergerak naik ke atas.

 "Maafkan saya wahai Peri Sesepuh..." kata Hantu

Tangan Empat sambil membungkuk. Ketika Peri Se-

sepuh mencapai ketinggian sepuluh tombak di udara

Hantu Tangan Empat segera berdiri.

 "Keki Apa yang terjadi dengan dirimu?! Sekarang

kau mau kemana?!" tanya Peri Angsa Putih lalu cepat

berdiri.

 'Tak ada yang bisa aku lakukan lagi, wahai cucuku.

Aku akan pergi ke air terjun. Bersepi diri di sana barang

beberapa lama...."

 "Saat ini mungkin kau sudah ingat lanjutan mantera

itu. Bagaimana kalau kau mengulangi agar tiga orang

itu bisa mencapai besar seperti kita?"

 Hantu Tangan Empat menggeleng. 'Tidak mung-

kin untuk saat ini wahai Peri Angsa Putih. Selama Peri

Sesepuh tidak hadir menyaksikan hal itu tidak mungkin

dilakukan...."

 "Kalau begitu panggil Peri itu kembali. Ulangi lagi

besok sebelum tengah hari!" teriak Wiro.

 "Aku khawatir!" berkata Naga Kuning. "Kalau Hantu

Tangan Empat membaca mantera yang salah atau

terbalik-balik, kita bukannya tambah besar tapi bisa-

bisa tubuh dan muka kita jadi morat marit!"

 "Benar!" kata Setan Ngompol pula. "Malah mungkin

hanya bagian tubuh tertentu saja yang besar. Kalau

anuku atau anumu saja yang membesar apa tidak lebih

celaka?!"

 Wiro terdiam sesaat lalu tertawa gelak-gelak. Naga

Kuning dan Setan Ngompol ikut tertawa hingga tempat

itu menjadi riuh.

 Hantu Tangan Empat berpaling menatap pada

ketiga orang yang kini telah berubah menjadi sebesar

dan setinggi lutut itu. Perlahan-lahan dia usapkan dua

tangannya di depan wajahnya. Serta merta mukanya

kembali seperti semula, wajah seorang kakek tua ber-

muka rata. Tangannya yang empat kini menjadi dua

kembali. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia tinggalkan

puncak bukit berumput biru itu.

 "Kakek Hantu Tangan Empati" Wiro berteriak me-

manggil.

 Hantu Tangan Empat hentikan langkahnya dan

berpaling. "Ada apa...?" tanyanya datar.

 "Terima kasih! Bagaimanapun juga kami harus

mengucapkan terima kasih padamu. Kau sudah mem-

buat kaki kami, tangan, muka, badan.... Apa lagi?" Wiro

berpaling pada Naga Kuning.

 "Anu kita!" Jawab si bocah enak saja mungkin

karena masih kecewa dengan keadaan tubuh yang

tidak seperti diharapkan.

 "Ya, kau telah membuat tangan, muka, kaki, tubuh

dan anu kami menjadi lebih besar! Kami benar-benar

berterima kasih...!"

 Hantu Tangan Empat mengangguk. Lalu untuk

pertama kalinya menyeruak senyum di wajahnya yang

rata itu. "Terima kasih kembali. Mudah-mudahan kalian

bisa mempergunakan anu kalian sebagaimana mesti-

nya..." katanya.

 Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol jadi saling

pandang lalu tertawa gelak-gelak.

'Tidak disangka hantu tua itu bisa bercanda juga!"

kata Wiro.

 "Hai, apa yang kalian tertawakan?r tiba-tiba Peri

Angsa Putih bertanya sambil duduk di rumput di depan

 "Kami barusan bicara soal anu..." jawab Wiro sam-

bil senyum-senyum

 "Soal anu? Anu apa?" tanya Peri Angsa Putih.

 Ditanya seperti itu kembali ketiga orang itu tertawa

gelak-gelak.

 "Hai! Kalian Ini bicara apa? Apanya yang anu?'

tanya Peri Angsa Putih kembali.

 "Ya, anunya si anu yang sekarang sudah jadi sebesar

anu!" sahut Setan Ngompol lalu tertawa gelak-gelak dan

tentu saja disertai dengan terkencing-kencing!

TAMAT

BASTIAN TITO

Segera terbit:

HANTU JATILANDAK





Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive