"Allahumma ajirni minannar" adalah doa dalam bahasa Arab yang berarti "Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka."👉Catatan Penting Buat Penggemar Cerita Silat Di Blog Ini .. Bahwa Cerita Ini Di Buat Pengarang Nya Sebagian Besar Adalah Fiksi Semata..Ambil Hikmahnya Dan Tinggalkan Buruk Nya.. semoga bermanfaat.. semoga kita semua kelak mendapatkan surga dari Allah SWT.. aamiin...(Hadits tentang tiga perkara yang tidak terputus pahalanya setelah meninggal dunia adalah: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak sholeh yang mendoakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra ) ..(pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di alam kubur : . Man rabbuka? Atau siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Atau apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Atau siapa nabimu? 4. Ma kitabuka? Atau apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Atau di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Atau siapa saudaramu?)..sabda Rasulullah Saw mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu..

Selasa, 16 Juli 2024

WIRO SABLENG EPISODE HANTU SANTET LAKNAT

  

Hantu Santet Laknat



Wiro Sableng - Hantu Santet Laknat

BASTIAN TITO 

 LUHTlNTl TERTAWA. DENGAN MANJA DIA TURUN DARl 

PANGKUAN WIRO. WALAU KEADAAN Dl DALAM GOA REDUP 

AGAK GELAP NAMUN WIRO MASlH BlSA MELIHAT BAHWA 

SAAT ITU Dl SEBELAH ATAS LUHTlNTl TlDAK MENGENAKAN 

APA-APA LAGI. 

"WIRO, SEPERTI AKU KATAKAN TADI AKU INGAT ADA SATU 

CARA YANG BlSA MEMBUAT KlTA MAMPU KELUAR DARl RlMBA 

BELANTARA TERKUTUK INI." 

"KALAU BEGITU LEKAS KATAKAN ...." 

"CARANYA SANGAT SEDERHANA WIRO," KATA SI GADlS 

DENGAN WAJAH DITENGADAHKAN DISERTAI LAYAMGAN 

SENYUM. 

"KAU MENGAWlNl AKU, MENGAMBIL AKU JADl ISTRIMU ...." 

PENDEKAR 212 TERSENTAK MENDENGAR KATA-KATA 

LUHTlNTl ITU. SI GADlS SEBALIKNYA MALAH TERTAWA 

PANJANG



SATU

LANGlT malam bertambah gelap ketika bulan sabit tertutup 

lenyap dibalik awan hitam. Di kejauhan terdengar suara auman 

binatang buas dari arah rimba belantara Lasesatbuntu. Suara tiupan 

angin berdesirdingin. Tiba-tiba ada suara sayap menggelepar di 

udara. Lalu tampak dua titik merah bercahaya melayang dari jurusan 

Gunung Latinggimeru. 

Dua titik merah ini ternyata adalah sepasang mata seekor 

kelelawar besar yang terbang menuju puncak sebuah bukit batu 

berbentuk kerucut tumpul. Di atas bukit batu ini tampak mendekam 

duduk satu sosok tubuh kurus kering memiliki wajah seperti seekor 

burung gagak hitam. Mulut dan hidungnya jadi satu membentuk 

paruh. Sepasang matanya kecil tanpa alis. Tubuhnya mengenakan 

sehelai pakaian dari jerami kering warna hitam. 

Dari sikapnya duduk makhluk ini seperti tengah bersemadi. 

Tapi anehnya sementara dua tangannya diletakkan di atas batu, dua 

kakinya dinaikkan ke atas disilangkan di atas bahu kiri kanan. Orang 

ini adalah dukun seribu jahat seribu keji yang di Negeri Latanahsilam 

dikenal dengan nama Hantu Santet Laknat. 

Banyak orang telah jadi korban kejahatannya. Antara lain Lakasipo 

(Baca Bola Bola Iblis) dan Lawungu (baca Rahasia Kincir Hantu). 

Kemudian nenek dukun jahat ini juga telah menguasai Latandai 

hingga orang berjuluk Hantu Bara Kaliatus ini menjadi kaki 

tangannya yang mau melakukan apa saja termasuk membunuh 

istrinya sendiri karena si nenek sudah mencuci otaknya (baca 

Episode Wiro di Negeri Latanahsilam berjudul Hantu Bara Kaliatus.) 

Bastian Tito: Hantu Santet Laknat [angx2006] 3 

Kelelawar bermata merah bercahaya berputar dua kali di 

sebelah Timur lalu melesat ke arah puncak batu kerucut tumpul. 

Suara kepakan sayap binatang ini masuk ke telinga si nenek 

Membuat dia segera buka sepasang matanya yang sejak tadi 

dipejamkan. Bibirnya bergetar ketika dia mengucap."Junjungan telah datang ...." 

Kelelawar hitam keluarkan suara pekikan aneh. Hantu Santet 

Laknat turunkan dua kakinya. Lalu dia bersujud di atas batu. Ketika 

dia bangkit kembali kelelawar bermata merah telah mengapung di 

udara, hanya satu tombak di sebelah depan atas kepalanya. 

Kepakan sayapnya yang menimbulkan angin deras membuat rambut 

dan pakaian si nenek melambai-lambai. 

"Junjungan selamat datang aku ucapkan! Sudilah Junjungan 

memberi tahu maksud kedatangan!" Si nenek kembali bersujud 

hingga keningnya menempel di batu lalu dia duduk tak bergerak, 

menatap ke atas, menunggu Kelelawar hitam yang mengapung di 

udara keluarkan suara memekik halus. Sayapnya berhenti bergerak. 

Lalu sosok hitamnya mengepul, berubah menjadi asap. Asap ini 

secara aneh kemudian membentuk satu sosok sangat angker. 

Hantu Santet Laknat yang juga bertampang angker tetap saja 

mengkirik kuduknya walau sebelumnya sudah beberapa kali dia 

melihat sosok seram tersebut Makhluk yang mengapung dalam 

kegelapan malam di atas bukit batu berbentuk kerucut tumpul itu 

adalah satu sosok berjubah hitam yang wajahnya berupa tengkorak 

Tangan dan kakinya yang tersembul dari bagian bawah jubah serta 

ujung lengan jubah berupa jerangkong tulang belulang putih. 

Sepasang mata tengkorak yang hanya merupakan lobang besar 

mengeluarkan cahaya kemerahan. 

Di atas batok kepala yang putih bertumbuhan rambut-rambut 

putih panjang, melambai-lambai ditiup angin malam. Tiba-tiba 

rambut yang menjulai ke bawah itu berjingkrak ke atas, tegak berdiri, 

kaku laksana kawat Dua bolongan mata pancarkan cahaya merah 

lebih terang. Mulut tengkorak yang didereti barisan gigi-gigi besar 

bergerak membentuk seringai menggidikkan. Dari sela-sela giginya 

keluar kepulan asap. Sesaat kemudian makhluk muka tengkorak 

tubuh jerangkong yang tertutup jubah hitam itu keluarkan ucapan. 

Suaranya bergema aneh, seolah keluar dari satu liang dala. 

"Hantu Santet Laknat, tiada kekecewaan paling hebat selain 

kekecewaan terhadap dirimu. Semua apa yang kau lakukan 

menemui kegagalan! Aku sudah cukup bersabar diri. Mungkin sudah

saatnya kau meninggalkan Negeri Latanahsilam. Kukirim kembali ke 

tempat asalmu di dasar Samudera Labiruhijau!" 

Si nenek bernama Hantu Santet Laknat keluarkan suara 

tercekat dari hidung dan mulutnya yang jadi satu berbentuk paruh 

burung. Lalu buru-buru dia jatuhkan diri, bersujud di hadapan 

makhluk yang disebutnya dengan panggilan junjungan. 

"Wahai Junjungan, bukan aku membela diri. Semua tugas 

telah aku laksanakan. Namun apa yang kemudian terjadi sungguh di 

luar dugaan ...." 

Makhluk muka tengkorak menyeringai. Dari mulutnya 

berhembus keluar asap putih. 

"Hantu Santet Laknat, kau memang tidak mebela diri. Tapi 

kau pandai mencari akal untuk berdalih! Aku ingin tahu apa yang 

kau maksudkan dengan kejadian di luar dugaan itu!" 

"Junjungan, kalau kau mau mendengar, akan kuterangkan 

satu persatu," kata Hantu Santet Laknat Lalu nenek bermuka burung 

gagak hitam ini angkat kepalanya yang sejak tadi bersujud 

menempel di atas batu. 

"Kejadian pertama, menyangkut Lakasipo yang kemudian 

dijuluki Hantu Kaki Batu itu. Junjungan pasti tahu bagaimana aku 

berhasil membangkitkan roh istrinya yang bernama Luhrinjani. Lalu 

kusuruh dia menjebak suaminya sendiri hingga sepasang kaki 

Lakasipo tenggelam dalam cairan yang berubah menjadi batu! Tapi 

kemudian tak terduga ada seorang makhluk aneh bersama dua 

kawannya muncul menolong Lakasipo. Jika Junjungan mau men-

dengar, biar aku menceritakan apa yang terjadi sejelas-jelasnya ." 

Makhluk muka tengkorak berambut putih riap riapan 

enyeringai. Dari hidung dan mulutnya kembali mengepul asap putih. 

Sedangkan dari dua matanya memancar cahaya kemerahan. Dia 

keluarkan suara mendengus lalu berkata. 

"Tak ada salahnya aku mendengar ceritamu, Hantu Santet 

Laknat Paling tidak aku mau membandingkan apa yang kau bilang 

sama dengan apa yang aku ketahui. Jika kau berdusta, kau tahu apa 

akibatnya"Aku tidak berdusta wahai Junjungan. Akan kuceritakan 

semua padamu ...." Lalu si nenek bermuka burung gagak hitam itu 

memulai penuturannya .... 

* * * 

Dalam keadaan sang surya yang sebentar lagi akan 

tenggelam Lakasipo mendukung jenazah Luhrinjani, istrinya yang 

menemui ajal, mati bunuh diri di jurang batu tak jauh dari Bukit Batu 

Kawin. Dia melangkah mendekati lubang batu yang telah 

disiapkannya sebagai makam sang istri. Jenazah perempuan yang 

hanya sempat dikawininya selama tiga hari itu dengan hati-hati 

dimasukkannya ke dalam lubang. Tak ada orang lain di tempat itu. 

Hanya alam semata yang menyaksikan penguburan Luhrinjani. 

Mendadak cuaca berubah. Gulungan awan hitam entah dari mana 

datangnya muncul menutupi langit Petir mendera sabung 

menyabung, guntur menggelegar. Lalu hujan lebat turun membasahi 

bumi. Lakasipo merasa tidak enak. 

Dia memandang ke langit Gelap. Sesaat gerakannya 

menurunkan jenazah ke dalam lubang jadi tertahan. Kilat 

menyambar. Sekejapan udara menjadi terang benderang. Saat 

itulah Lakasipo melihat bagaimana sepasang mata jenazah 

Luhrinjani yang barusan dibaringkannya di liang batu dan sejak tadi 

tertutup tiba-tiba kelihatan membuka. 

Bukan itu saja! Wajah perempuan yang sudah jadi mayat itu 

juga tampak tersenyum! 

"Luhrinjani ..!I desis Lakasipo. Tubuhnya bergetar. Cahaya 

kilat lenyap. Bukit batu Latinggihijau kembali diselimuti kegelapan. 

Sesaat Lakasipo asih terkesiap. Namun begitu sadar dia cepat 

mengambil sebuah batu besar berbentuk pipih dan menutupkannya 

di atas lubang makam. Enam buah batu kemudian disusunnya di 

atas batu pipih penutup makam itu. Sebelum bertindak pergi, di 

bawah hujan lebat dan dalam keadaan basah kuyup Lakasipo 

pandangi makam istrinya. Lalu mulutnya berucap perlahan..

"Wahai Luhrinjani .... Apapun yang telah kau lakukan sebelum 

ajalmu, aku Lakasipo telah melupakan dan memaafkan semuanya.... 

Kau lihat sendiri Luhrinjani, aku sudah menyiapkan satu makam 

untuk diriku di samping makammu." Lakasipo melirik kearah sebuah 

makam kosong yang sebelumnya sengaja dibuatnya di sebelah 

kubur sang istri. 

"Aku akan meninggalkanmu Luhrinjani. Aku akan sering-

sering mklihatmu. Tenanglah dalam peristirahdanmu. Para Dewa 

dan para Peri akan menghiburmu. Selamat tinggal wahai Luhrinjani 

...." Lakasipo cium batu makam di bagian kepala lalu bangkit berdiri. 

Hujan mulai reda tapi cuaca masih kelam. Lakasipo turuni 

bukit Latinggihijau, berjalan ke tempat dia meninggalkan 

Laekakienam, kuda tunggangannya. Belum lama menunggangi kuda 

itu, tiba-tiba Lakasipo melihat ada satu bayangan putih berkelebat di 

hadapannya. Kuda hitam berkaki enam bertanduk dua itu angkat 

empat dari enam kakinya lalu meringkik keras. Sepasang matanya 

yang merah pancarkan sinar aneh. 

Lakasipo cepat usap tengkuk tunggangannya, 

”Tenang Lae. ... Tenang. Tak ada yang perlu kau takutkan." 

Lakasipo memandang berkeliling. Saat itu dia sudah mencapai kaki 

bukit Latinggihijau. Sudut matanya menangkap sesuatu di arah kiri. 

Laekakienam kembali menunjukkan gelagat gelisah. Lakasipo cepat 

berpaling. Bayangan putih itu kembali muncul di kejauhan sana. Di 

antara deretan pepohonan. Ada satu sosok perempuan berpakaian 

putih. Meliuk-liuk seperti asap tertiup angin. Ketika dia 

memperhatikan wajah perempuan itu tersiraplah darah Lakasipo! 

Wajah itu adalah wajah Luhrinjani! 

"Luhrinjani ..." desis Lakasipo. 

"Bagaimana mungkin! Barusan saja aku menguburkanmu di 

makam batu ...." 

Sosok putih di antara deretan pepohonan tiba-tiba lambaikan 

tangan seolah memanggil Lakasipo. Lalu lapat-lapat ada suara. 

"Lakasipo .... Lakasipo suamiku. Datanglah keari. Tolong 

diriku. Keluarkan aku dari alam gelap. Lakasipo ....""Wajah itu wajah Luhrinjai! Suara itu suara Luhrinjani ...." 

desis Lakasipo. 

"Lakasipo .... Turun dari kudamu. Kemarilah .... Tolong diriku 

wahai suamiku ...." Mula-mula Lakasipo masih diselimuti rasa takut 

dan heran. Lalu dia mulai bimbang. Matanya digosok berulang kali. 

"Aku tidak bermimpi. Sosok itu memang Luhrinjani," Lakasipo 

segera turun dari kudanya. Setengah berlari dia menghampiri sosok 

Luhrinjani. Dia berlari di sela-sela pepohonan melompati semak 

belukar, tidak lagi memperhatikan jalan yang dilaluinya. 

"Wahai Lakasipo suamiku .... Lekaslah. Lari lebih cepat Jarak 

kita hanya tinggal dekat..." Sosok Luhrinjani kembali memanggil-

manggil. Lakasipo lompati serumpunan semak belukar pendek. 

Namun begitu turun ke tanah, dua kakinya amblas masuk ke dalam 

dua buah lubang sedalam pangkal betis. Kalau tidak cepat dia 

imbangi diri pasti akan tersungkur di tanah. Dia tarik dua kakinya. 

Tapi alangkah terkejutnya Lakasipo. Dia sama sekali tidak sanggup 

mengeluarkan kedua kakinya. Lalu dia mendengar suara 

menggelegak seperti air mendidih. Ketika dia memandang ke bawah 

mukanya jadi pucat. 

Dua kakinya dilihatnya terpendam dalam cairan aneh 

berwarna kelabu berbuih-buih. Begitu gejolak buih berhenti, cairan 

telah berubah menjadi keras, memendam sepasang kaki Lakasipo 

ke tanah. 

"Apa yang terjadi ... ?!" Lakasipo membungkuk Meraba cairan 

beku yang memendam dua kakinya. 

"Betul!" ujar Lakasipo dengan suara bergetar. 

"Tidak mungkin!" Dia gerakkan kakinya berusaha melepas 

diri. Sia-sia saja. Dia memukul dengan dua tangannya berulang kali. 

Pukulan yang sanggup menghancurkan batu karang itu bahkan tidak 

sanggup membuat bergeming batu keras yang memendam dua 

kakinya. Lakasipo segera keluarkan ilmu pukulan sakti bernama 

"Lima Kutuk Dari Langit". Lima lariksinar hitam menggidikkan 

menghantam batu. 

"WUSSSS! Bummmm!"Sinar hitam berbalik mental ke udara disertai dentuman keras. 

Tapi dua kakinya tetap saja terpendam dalam batu keras yang tidak 

hancur, retakpun tidak. Lakasipo penasaran. Dia kembali kerahkan 

ilmunya. Hawa Sakti dikerahkan pada dua kakinya. Dia keluarkan 

kesaktian bernama "Kaki Roh Pengantar Maut." Cahaya hitam 

memancar dad kakinya kiri kanan. Tapi segera meredup. Dan 

celakanya hawa sakti yang tadi dikerahkannya seolah berbalik 

mencengkeram dua kakinya. Sakitnya bukan kepalang. 

"Celaka! Apa yang terjadi dengan diriku! Pasti ada orang jahat 

..." Lakasipo ingat pada sosok Luhrinjani. Ketika dia memandang ke 

depan justru dilihatnya sosok itu bergerak seperti melayang datang 

ke arahnya. 

"Luhrinjani ...." 

Tiba-tiba terdengar suara berdentrangan. Sosok Luhrinjani ternyata 

memegang sebuah rantaiditangan kanannya. Pada kedua ujung 

rantai ada sebentuk jopitan besi besar. 

"Luhrinjani! Betul kau yang ada di hadapanku Ini?" tanya 

Lakasipo. Luhrinjani menyeringai. Wajah itu mendadak berubah. 

Mula-mula pada mulutnya. Mulut ini mencuat enonjolkan gigi-gigi 

mengerikan. Lalu kulit wajahnya aeolah leleh hingga membentuk 

tulang tengkorak. Dua mata berubah menjadi sepasang rongga 

mengerikan. Rambutnya yang hitam juga lenyap. Kepalanya kini 

telah menjadi sebuah kepala tengkorak putih. Lalu dua tangan yang 

tersembul dari balik pakaian putih bergantian pula menjadi tulang 

belulang mengerikan. 

Lakasipo keluarkan seruan tertahan saking kagetnya. Sosok 

tengkorak merunduk. Dengan satu gerakan sangat cepat makhluk ini 

mejapit pangkal betis Lakasipo kiri kanan. 

"Kau! kau bukan Luhrinjani! kau makhluk jahat jejadian!" 

teriak Lakasipo. Sosok tengkorak tertawa melengking. 

"Takdir buruk telah jatuh atas dirimu Lakasipo! Kau akan 

terpendam dalam dua batu seumur hidupmu. Tubuhmu akan rusak, 

busuk dan hancur luar dalam. Kau akan mengalami siksaan hebat 

sebelum menemui ajal!""Makhluk jahanam! Kau pasti suruhan orang jahat! Katakan 

siapa yang menyuruhmu?l" teriak Lakasipo. 

"Kau akan mendapatkan jawaban lama sekali Lakasipo," 

jawab makhluk muka tengkorak 

"Setelah sosokmu berubah menjadi jerangkong dan rohmu 

melayang di langit hampa!" Lakasipo hantamkan tangan kanannya. 

Pukulan "Lima Kutuk Dari Langit" menderu. Lima larik sinar hitam 

berkiblat 

"Bummmm!" 

Pukulan sakti menghantam telak sosok putih di depan sana. 

"Braaakkk! Byaaarrr!" 

Sosok putih hancur berantakan. Serpihan tulang tengkorak 

dan tulang jerangkong bertaburan di udara. Lalu berubah menjadi 

asap lenyap tanpa bekas. Lakasipo meraung keras. Dia hantamkan 

pukulan sakti bertubi-tubi. Namun akhirnya dia lemas sendiri dan 

jatuh terduduk di tanah. (Secara lebih lengkap kisah di atas dapat 

Anda baca dalam Episode pertama Petualangan Wiro di Negeri 

Latanahsilam berjudul Bola-Bola Iblis " )


DUA


SI NENEK bermuka burung gagak hitam bersujud di batu. 

Begitu bangkit dia langsung berkata. 

"Wahai Junjungan, itulah kisah bagaimana aku telah 

mencelakai Lakasipo. Aku berhasil melakukannya sesuai dengan 

permintaan Lahopeng, musuh besar Lakasipo. Junjungan, bukankah 

aku juga telah memberi tahu padamu sebelum aku menyantet 

Lakasipo melalui roh istrinya hingga dua kakinya tenggelam dalam 

dua buah batu. Namun seperti kataku tadi, secara tidak terduga 

muncul satu makhluk dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. 

Walau sosoknya hanya sejari kelingking tapi dia mampu menolong 

Lakasipo... ." 

Makhluk yang dipanggil dengan sebutan Junjungan 

menyeringai buruk lalu rangkapkan dua tangan jerangkongnya. 

"Hantu Santet Laknat aku tahu sebetulnya kau lebih banyak 

dipengaruhi oleh Lahopeng hingga menempuh cara keliru dalam 

menyantet Lakasipo. Sebenarnya kau bisa membunuh orang itu 

dengan ilmu Lintah Penyedot Jantung! Dalam waktu sepenanakan 

nasi saja Lakasipo pasti sudah menemui ajal! Mengapa harus 

memakai jalan sulit berbelit, menyantet lewat roh halus segala?!" 

Hantu Santet Laknat terdiam. Lalu dia buru-buru jatuhkan diri 

bersujud dan berkata. 

"Kalau caraku memang keliru, aku mohon maafmu wahai 

Junjungan ...." 

"Apa yang kau terima dari Lahopeng sebagai upah?" Sang 

Junjungan bertanya. 

"Dia memberikan beberapa butir batu permata. Semua sudah 

kutelan," jawab si nenek bermuka gagak hitam. Sang Junjungan 

menyeringai. 

Bastian Tito: Hantu Santet Laknat [angx2006] 11 

"Kau sengaja menelan batu-batu permata itu. Berarti kau 

masih ingin mempertahankan llmu Bersalin Wajah yang kau miliki ."Kira-kira memang begitu wahai Junjungan," jawab Hantu 

Santet Laknat 

"Sekarang aku ingin kau menerangkan tentang makhluk dari 

negeri seribu dua ratus tahun mendatang, yang katamu muncul tak 

terduga menolong Lakasipo ...." 

" Aku akan terangkan padamu wahai Junjungan. Aku akan 

terangkan ..." kata Hantu Santet Laknat pula setelah lebih dulu 

bersujud tempelkan keningnya di atas batu. 

"Orang itu masih muda. Namanya Wiro Sableng, konon dia 

berjuluk Pendekar 212 ...." 

"Dua satu dua ..." engulang sang Junjungan. 

"Apa artinya itu?" 

"Mohon maafmu wahai Junjungan. Aku sendiri tidak mengerti 

apa arti tiga buah angka itu ...." 

"Kau harus menyelidikinya nanti. Mungkin di situ terletak 

kehebatannya. Tapi bisa juga sekaligus letak kelemahannya .... 

Teruskan keteranganmu Hantu Santet Laknat!" 

"Pemuda itu muncul bersama dua temannya. Yang satu 

seorang bocah bernama Naga Kuning. Satu lagi seorang kakek bau 

pesing karena selalu kencing di celana. Dipanggil dengan sebutan 

Setan Ngompol." 

"Air kencing..." berkata sang Junjungan. 

"lngat hal itu Hantu Santet Laknat Cairan itu salah satu benda 

terlarang yang bisa mencelakai dirimu...." 

"Aku selalu ingat hal itu wahai Junjungan," kata Hantu Santet 

Laknat pula. Lalu dia lanjutkan keterangannya. 

"Wiro bertemu dengan Lakasipo dalam rimba belantara. 

Tadinya Lakasipo hendak membunuh pemuda itu dan dua 

kawannya. Tapi entah bagaimana mereka kemudian jadi bersahabat 

Bahkan pemuda inilah yang kemudian menolong Lakasipo. Mula-

mula ia pergunakan sebuah senjata aneh. Sebilah kapak bermata 

dua…..” 

"Sebilah kapak bermata dua katamu?" 

"Betul sekali Junjungan," jawab si nenek. 

”Tunggu, coba kusirap dulu senjata itu adanya. Sampai 

dimana kehebatannya...." 

Makhluk tengkorak berjubah hitam dongakkan kepalanya. 

Dua tangan dirangkapkan di depan dada. Dari dua rongga matanya 

memancar cahaya kemerahan sedang dari hidung dan sela 

mulutnya membersit keluar asap putih. Sesaat kemudiaan dia 

berucap. 

"Kapak itu menyimpan banyak kesaktian. Semua berasal 

pada kekuatan api putih. Kau harus berhati hati. Kau harus 

mengusahakan untuk mendapatkannya ...." 

"Akan aku lakukan Junjungan...!' 

Sang Junjungan kembali mendongak. Matanya kembali 

memancarkan cahaya merah dan asap putih lagi-lagi berhembus 

keluar dari hidung dan mulutnya. 

"Tapi Hantu Santet Laknat... Menurut apa yang aku sirap dari 

alam gaib, bukan kapak itu yang mampu membebaskan Lakasipo! 

Dalam alam gaib kulihat ada sesosok binatang berbulu putih polos. 

Seekor harimau ...." 

"Benar Junjungan. Setelah gagal membebaskan Lakasipo 

dengan dua larik sinar hijau yang keluar dari matanya, pemuda itu 

lantas keluarkan satu ilmu kesaktian aneh. Dia memelihara seekor 

harimau putih bermata hijau. Harimau jejadian inilah yang kemudian 

mampu memutus rantai besi pengikat kaki Lakasipo. Juga binatang 

ini menggali tanah batu tempat Lakasipo terpendam hingga akhirnya 

dia bisa keluar dari dalam tanah!" 

"Aku harus menyirap kembali ke alam gaib!" kata sang 

Junjungan. Lagi-lagi dia mendongak ke langit dan rangkapkan dua 

tangan di atas dada jubah hitam. Sesaat kemudian dia memandang 

pada Hantu Santet Laknat. Rambut putih di atas kepalanya kelihatan 

tegak kaku seperti kawat 

"Nenek bermuka burung gagak!" katanya. 

"Kau benar-benar menemui seorang lawan tangguh. Dua larik 

sinar hijau yang katamu keluar dari sepasang matanya adalah 

senjata sakti gaib bernama Sepasang Pedang Dewa! Aku tidak bisa 

menduga Dewa dari mana yang memberikan ilmu itu padanya.Ketika dia menolong Lakasipo bukankah keadaan dirinya masih 

sebesar kelingking?" 

"Benar Junjungan ...." 

"Karena sosoknya yang kecil, dia tidak mampu menghimpun 

kekuatan. Tapi sekarang sosoknya sama besar dengan mahkluk di 

Negeri Latanahsilam. Kehebatan Sepasang Pedang Dewa tidak bisa 

dianggap enteng. Kau benar-benar harus hati-hati terhadap orang itu 

Hantu Santet Laknat. Lalu harimau putih yang kau sebutkan itu, 

binatang gaib tersebut memang pelindung yang mengikutinya 

kemana dia pergi. Walau dia tidak bisa menghancurkan dua batu 

bundar yang membungkus kaki Lakasipo tapi harimau putih itu 

sangat berbahayal" 

Hantu Santet Laknat terdiam sejenak Lalu berkata. 

"Sebenarnya aku tidak takut pada pemuda itu wahai 

Junjungan. Aku yakin bisa membunuhnya jika berhadapan!" 

"Jangan menganggap enteng makhluk satu ini Hantu Santet 

Laknat. Dia bukan saja punya ilmu kesaktian hebat, tapi juga 

memiliki akal dan otak cerdik!" 

"Kalau begitu aku minta petunjukmu wahai Junjungan," 

memohon Hantu Santet Laknat 

"Dengar baik-baik apa yang aku ucapkan!" kata sang 

Junjungan pula. 

"Jika seseorang merasa sanggup menguasai musuh, maka 

dia harus menghancurkan musuh itu. Tapi jika dia merasa belum 

atau tidak sanggup maka dia haws merangkul musuh tersebut, 

menjadikannya sahabat Pada saatnya dia merasa mampu maka 

baru dia menghancurkan sang musuh!" 

"Aku mengerti apa yang kau katakan itu Junjungan. Tapi yang 

belum jelas, apa yang harus aku lakukan terhadap pemuda bernama 

WiroSableng itu?" tanya Hantu Santet Laknat pula. 

"Kau harus enjebaknya agar dia tidak bisa kembali pulang ke 

negerinya! Aku tahu kau punya otak cerdik dan akal panjang! Kau 

harus enjebak pemuda Itu masuk ke dalam Rimba Lasesatbuntu. 

Buat dia tak bisa keluar lagi. Buat dia mendekam seumur hidupnyadalam rimba belantara itu. Dengan demikian segala npa yang kau 

lakukan tidak akan mendapat gangguan ...." 

Hantu Santet Laknat mengangguk-angguk. 

"KaIau begitu petunjukmu akan aku lakukan ...." 

"Tapi! Seperti ucapanku tadi!" berkata sang Junjungan. 

"Jika kau menghadapi perlawanan dan kau tidak sanggup 

melawannya, kau harus menjalankan rencana ke dua. Kau harus 

merangkul musuh berbahaya itu! Kau harus memperlakukannya 

sebagai suami! Kau harus mengawininya!" 

Sosok si nenek Hantu Santet Laknat tersentak saking 

kagetnya mendengar ucapan sang Junjungan. 

"Wahai Junjungan, bagaimana mungkin aku mengawini 

pemuda itu ... ?" 

"Mengapa tidak mungkin? Dia laki-laki, kau perempuan? Apa 

kesulitannya? Lain halnya kalau kalian sama-sama lelaki atau kalian 

dua duanya perempuan!" 

"Maksudku .... Maksudku bukan itu wahai Junjungan! Tekad-

ku sudah bulat untuk membunuhnya dari pada di belakang hari 

menimbulkan malapetaka bagi diriku. Tapi untuk mengawininya ...." 

"Hantu Santet Laknat, apa kau pernah melihat sendiri? 

Pernah bertemu muka dengan pemuda bernama Wiro itu?" tanya 

sang Junjungan pula. 

"Selama ini memang belum pernah Junjungan." 

"Makin cepat kau bertemu dengan pemuda itu makin baik! 

Lihat saja nanti bagaimana sikap dan perasaanmu setelah 

melihatnya!" 

"Junjungan, kalau maksudmu aku akan tertarik padanya 

mungkin jauh panggang dari api. Bukankah kau tahu bahwa hanya 

ada satu orang yang aku cintai di dunia ini? Yaitu Hantu Muka Dua." 

Muka tengkorak sang Junjungan menyeringai. Dari mulutnya 

mengepul asap putih. 

"AKu tidak ingin kau memutus cinta dengan Hantu Muka Dua. 

Tapi jika aku jadimu sudah sejak lama aku tinggalkan makhluk keji 

satu itu. Setiap hari dia bergelimang dosa dengan gadis cantik, Apa 

kau merasa dirimu bisa bersaing dengan gadis-gadis itu walau kaupunya llmu Bersalin Wajah? Karena itu lagi-lagi kuminta agar kau 

segera mencari pemuda bernama Wiro itu. Jika kau meang tidak 

suka padanya dan tidak ingin merangkulnya, tidak ingin berselingkuh 

dengan kekasihmu si Hantu Muka Dua, maka kau tinggal 

menjebloskan Wiro ke dalam rimba Lasesatbuntu." 

"Aku akan lakukan apa katamu.wahai Junjungan," kata Hantu 

Santet Laknat mengambil sikap mengalah. 

"Sekarang mengenai muridmu bernama Latandai alias Hantu 

Bara Kaliatus itu!" kata makhluk muka tengkorak dan jerangkong 

berjubah hitam. 

"Bukankah kau telah memerintahkannya untuk membunuh 

Lakasipo dan istrinya sendiri yang bernama Luhsantini itu? Jangan 

kau berdusta! Semua tugas itu belum terlaksana!" 

"Aku mohon maafmu Junjungan. Hantu Bara. Kaliatus meang 

sedang kucari-cari karena sejak beberapa lama ini dia tidak muncul. 

Setahuku dia memang pernah hendak mencoba membunuh istrinya 

Luhsantini. Tapi muncul seorang gadis sakti penunggang kura-kura 

terbang bernama Luhjelita. Gadis ini menolong Luhsantini hingga 

maksud Hantu Bara Kaliatus membunuh istrinya gagal. Dia juga 

gagal membunuh Lakasipo!" 

"Murid seperti itu tidak ada gunanya. Kau harus cari dia! 

Perintahkan sekali lagi untuk membunuh Lakasipo dan Luhsantini. 

Jika dia gagal lagi aku perintahkan padamu untuk membunuh murid 

tak berguna itu! Kau harus sadar Hantu Santet Laknat! Lakasipo 

adalah salah satu musuh besarmu yang selalu berusaha mencari 

dan membunuhu. Karena dia sudah tahu kaulah yang menyantet 

dirinya!" Hantu Santet Laknat mengangguk perlahan. 

"Akan aku lakukan apa katamu wahai Junjungan." 

"Sekarang mengenai manusia bernama Lawunqu!" berucap 

sang Junjungan. 

"Kau gagal membunuh manusia satu itu padahal sekujur 

tubuhnya sampai tulang belulangnya telah diselubungi luka borok 

membusuk akibat santetanmu! Mengapa kau gagal membunuh 

manusia itu?! Apa yang telah terjadi?!""Aku mohon aafmu wahai Junjungan. Seperti. kejadian yang 

lain-lainnya, peristiwa satu inipun gagal akibat ulah tak terduga. 

Padahal racun ular yang aku susupkan ke tubuh Lawungu adalah 

racun paling jahat! Kali ini yang punya pekerjaan adalah Hantu 

Sejuta Tanya Sejuta Jawab ...." 

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" mengulang makhluk 

muka tengkorak 

"Aku sudah lama mendengar kalau dia memang bersekutu 

dengan Lawungu dan juga Lasedayu! Tapi kesaktiannya tidak cukup 

mampu untuk menyembuhkan santetanmu terhadap Lawungu. 

Kecuali ada satu kekuatan atau kesaktian lain ...." 

"Aku menyirap kabar dia menemukan sendok emas sakti 

bernama Sendok Pelangkah atau Sendok Pemasung Nasib. Dengan 

benda itu dia mengobati Lawungu!" Menjelaskan Hantu Santet 

Laknat (Harap baca Episode sebelumnya berjudul "Rahasia Kincir 

Hantu") 

"Aku kecewa! Benar-benar kecewa! Semua ilmu kepandaian 

yang aku berikan Upadamu seolah tidak ada artinya dan gunanya. 

Sendok sakti itu! Bagaimana bisa jatuh ke tangan Hantu Sejuta 

Tanya Sejuta Jawab?" 

"Dari kabar yang aku sirap, konon Hantu Sejuta Tanya Sejuta 

Jawab merampasnya dari tangan Hantu Muka Dua!" 

"Kalau Hantu Muka Dua bisa dipercaya seperti itu berarti 

memang benar kabar yang aku dengar bahwa Hantu Sejuta Tanya 

Sejuta Jawab adalah makhluk paling tinggi kepandaiannya di Negeri 

Latanahsilam. Wahai, kau harus memutar otak, mempergunakan 

kelicikan untuk menyingkirkan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. 

Tapi buat dulu dia menderita tersiksa batin sebelum kau habisi ...." 

"Caranya bagaimana wahai Junjungan?" tanya Hantu Santet 

Laknat. 

"Kudengar dia punya dua orang cucu yang cantik-cantik. 

Bernama Luhkemboja dan Luhkenanga. Mungkin kau bisa 

melakukan sesuatu atas diri mereka. Biar Hantu Sejuta Tanya Hantu 

Sejuta Jawab tahu rasa! Sekarang apa kau tahu dimana beradanya 

Sendok Pemasung Nasib itu?""Aku memang tengah menyelidik dan menyirap kabar. Aku 

akan berusaha mendapatkannya...." 

"Sendok emas sakti itu harus kau dapatkan. Tapi yang 

penting bagimu saat ini adalah mencari pemuda asing bernama Wiro 

itu!" 

"Aku akan segera melakukannya wahai Junjungan," kata 

Hantu Santet Laknat pula. 

"Jangan lupa menyelesaikan urusan nyawa dengan Lakasipo 

dan Luhsantini. Aku akan mengawasi prilaku serta semua 

perbuatanmu di Negeri Latanahsilam. Sekali lagi kau mengecewa-

kan aku, riwayatmu akan kuakhiri selama-lamanya. lngat hal itu 

Hantu Santet Laknat! Jika aku masih merasa kasihan padamu 

mungkin aku hanya akan mencabut semua kepandaian yang pernah 

aku berikan padamu. Tapi itu baru kemungkinan saja. Karena aku 

lebih suka melihat kau terjelapak tanpa nyawa! lngat itu baik-baik!" 

Kuduk Hantu Santet Laknat terasa dingin. 

"Aku akan ingat, wahai Junjungan," kata si nenek muka gagak 

lalu sujud di atas batu. Ketika dia mengangkat kepalanya kembali 

makhluk kepala tengkorak badan jerangkong sudah tidak ada lagi.


TIGA


KUDA hitam berkaki enam dan memiliki sepasang tanduk di 

kepalanya tegak di puncak bukit batu dengan sikap gagah. Di 

atasnya duduk Hantu Kaki Batu, memandang ke arah lembah batu 

dibawahnya. Di kejauhan menjulang Gunung Labatuhitam. 

"Sunyi, tak kelihatan ada makhluk apapun di bawah sana. 

Apakah sejak berpisah dengank tempo hari dia memang kembali ke 

sini atau pergi ke tempat lain?" Hantu Kaki Batu alias Lakasipo 

bertanya-tanya dalam hati. 

"Kalau dia memang tidak ada di tempat ini kemana aku harus 

mencari?" Lakasipo memandang seputar lembah yang dipenuhi 

bebatuan hitam berbagai bentuk dan ukuran sambil usap-usap 

tengkuk laekakienam, kudaraksasa tunggangannya. 

"Lae, keluarkan ringkikanmu. Beri tanda bahwa kita berada di 

tempat ini!" kata Lakasipo berucap pada kuda hitamnya. Mendengar 

ucapan itu kuda hitam berkaki enam angkat empat kaki depannya 

lalu keluarkan suara ringkikan keras, menggelegar dan bergema di 

seantero kawasan bukit dan lembah batu. Begitu suara gema 

ringkikan kuda lenyap, suasana di tempat itu kembali sunyi. 

Lakasipo memandang lagi, menyelidik ke setiap sudut lembah. 

"Mungkin aku harus turun menyelidik ke lembah. Setahuku di 

bawah sana ada satu goa. Mungkin dia tengah melatih ilmu atau 

bersemadi hingga tidak mendengar suara ringkikan Laekakienam." 

Berpikir begitu Lakasipo segera tepuk pinggul kudanya. Namun 

sebelum binatang bermata merah ini bergerak melangkah tiba-tiba 

dari arah langit sebelah utara terdengar suara suitan keras. 

Mendongak ke atas Lakasipo melihat satu makhluk hitam bersayap 

lebar, melesat terbang ke arah bukit di mana dia berada, ditunggangi 

seorang lelaki berambut panjang melambai-lambai. "Walet raksasa!" 

desis Lakasipo"Penunggangnya pasti si jahanam Latandai! Masih hidup 

rupanya makhluk keji satu itu!" Baru saja Lakasipo berkata begitu 

tiba-tiba dari atas sana melesat dua buah benda berapi yang 

mengeluarkan cahaya merah seperti ekor panjang. Satu 

menghantam ke arah kepala Laekakienam, satu lagi menyambar ke 

jurusan kepala Lakasipo. Lakasipo keluarkan seruan keras. Tangan 

kirinya menepuk pinggul Laekakienam. Kuda hitam raksasa ini 

meringkik dahsyat lalu melompat ke kiri. Binatang ini selamat karena 

benda merah berbuntut api lewat hanya setengah jengkal dari sisi 

kiri kepalanya. Benda ini yang ternyata adalah sebuah bara menyala 

amblas masuk ke dalam lamping batu. Lamping batu kepulkan asap 

tebal lalu 

"krakkk! Byaaarr!" 

Dinding batu itu hancur berantakan! Ketika menggebrak 

pinggul kudanya Lakasipo sendiri saat itu telah melesat dari 

punggung kuda, membuat gerakan jungkir balk Sambil melayang 

turun dia hantamkan kaki kanannya yang terbungkus batu berbentuk 

bola. 

"Byaaarr!" 

Benda merah menyala yang hendak menghantam kepalanya 

mencelat mental, hancur bertaburan. Lakasipo sendiri merasa 

kakinya seperti disengat api Termiring- miring dia tegak di atas batu 

bukit Ketika diperhatikan temyata ada bagian batu yang 

membungkus kakinya telah menjadi gompal dan hangus di salah 

satu bagian. 

Di udara, penunggang walet raksasa tertawa bergelak, 

Setelah berputar dua kali walet hitam itu menukik turun. Saat itulah 

Lakasipo hantamkan tangan kanannya. Lima jari tangan menjentik 

keras. 

Lima larik sinar hitam membeset ke udara, menggempur 

walet raksasa dan penunggangnya dari lima jurusan. Seperti tahu 

bahaya walet raksasa menggebrakkan sayapnya. Binatang ini 

menukik tajam sementara penunggangnya melompat sebat, lalu 

laksana terbang dia melayang ke bawah dan turun di atas bukit batu, 

terpisah sejarak dua belas langkah dari hadapan Lakasipo.Sepasang alisnya menjungkat ke atas ketika mendengar 

suara walet hitam menguik di udara pertanda binatang itu 

mengalami kesakitan hebat Nyatanya, salah satu dari lima larikan 

sinar hitam berhasil menghantam sayapnya, merobek hangus 

bagian kulitnya dan menghancurkan jaringan tulang-tulangnya. 

Sebagian dari sayap itu kelihatan menciut pendek Dalam keadaan 

oleng dan sayap mengepulkan asap walet hitam ini mendarat di atas 

sebuah batu berbentuk miring. dari mulutnya tiada henti keluar suara 

menguik kesakitan. 

"Hantu Kaki Batu jahanam!" merutuk orang yang barusan 

melompat dari punggung walet hitam dan berhasil selamatkan diri 

dari serangan larikan sinar hitam. Rahangnya menggembung. "llmu 

Lima Kutuk dari Langit yang dimilikinya benar-benar berbahaya!” 

“Dia harus bayar mahal apa yang telah dilakukannya! Dia 

telah melukai walet tungganganku!" Orang yang tegak di hadapan 

Lakasipo itu bertubuh tinggi besar tapi tidak sekekar Lakasipo. 

Berdirinya agak terbungkuk seolah ada sesuatu yang berat di 

bawah perutnya. Gerakannya walau kelihatan hebat, tapi mata orang 

pandai akan melihat bahwa sebenarnya dia bergerak lamban. 

Rambutnya panjang acak-acakan. Pipi kirinya ada cacat besar 

bekas luka. Tangan kirinya sebatas siku ke bawah disambung 

dengan sejenis logam biru yang dipenuhi tonjolan tonjolan runcing. 

Yang hebat dan juga aneh ialah keadaan bagian tubuhnya di 

sebelah dada sampai ke perut. Seolah ada api di sebelah dalam, 

bagian tubuhnya itu meancarkan cahaya kemerah-merahan. Cahaya 

ini berasal dari bara menyala yang mendekam di dalam tubuhnya. 

Beberapa waktu silam dari dukun jahat si nenek Hantu Santet 

Laknat dia pernah mendapatkan satu ilmu dahsyat yang disebut 

Bara Setan Penghancur Jagat. Di kepala, dada dan perutnya 

menempel dua ratus bara menyala yang bisa dijadikannya senjata 

ganas luar biasa. Kejahatan dan kekejian yang dibuatnya 

menyebabkan Peri Bunda enjatuhkan kutuk. Baa menyala yang 

tadinya ada di luar tubuhdimasukkan ke dalam perutnya! Membuat 

dia menderita tersiksa setengah mati.Dalam keadaan antara hidup dan mati dia melakukan tapa di 

satu tempat terpencil hingga akhirnya dia mampu meredam 

panasnya bara menyala yang ada di dalam tubuhnya. Malah 

kemudian bara menyala itu kembali dapat dipergunakannya sebagai 

senjata seperti barusan yang dilakukannya terhadap Laekakienam 

dan Lakasipo. 

"Hantu Kaki Batu! Kau masih berani datang ke tempat ini 

mencari istriku Luhsantini! Benar-benar berani mati!" Lakasipo 

tertawa bergelak. 

"Hantu Bara Kaliatus ternyata kau masih hidup! Tapi sayang, 

otakmu sudah miring! Apa kau tidak sadar, sejak kau hendak 

membunuhnya yang ke dua kali, sejak itu pula dia tidak sudi lagi 

menjadi istrimu?! Baginya kau tidak lebih dari pada iblis biadab dari 

pusaran neraka jahanam!" Mendidih amarah Latandai alias Hantu 

Bara Kaliatus. 

"Makhluk jahanam! Perampas istri orang! Kalau Luhsantini 

ada di sini biar perempuan celaka itu menyaksikan bagaimana aku 

memanggang tubuhmu sampai gosong!" 

" Jangan bicara terlalu sombong hantu laknat! Cacat di pipi 

kirimu bekas hantaman rantai kakiku, serta cacat di lengan kirimu 

bekas hajaran Luhsantini masih membekas nyata! Apa kau mau 

minta tambahan hajaran baru dariku?! Atau mungkin kau minta 

barang di bawah pelutmu aku buat tambah besar dari yang ada 

sekarang?!" (Seprti dituturkan dalam Episode berjudul "Hantu Bara 

Kaliatus” atas nasihat nakal Naga Kuning Lakasipo telah menotok 

urat besar di pangkal paha Hantu Bara Kaliatus. Akibatnya anggota 

rahasia lelaki itu menjadi gembung besar seperti orang kondor. lnilah 

yang membuat gerakannya menjadi lamban). 

Tambah mendidih amarah Hantu Bara Kaliatus mendengar 

kata-kata Lakasipo itu. Rahangnya menggembung, mulutnya 

berkomat-kamit. Dia angkat tangan kirinya tinggi-tinggi melewati 

kepalaDari belasan tonjolan runcing yang ada di sekujur lengan besi 

Hantu Bara Kaliatus membersit nyala api berwarna biru gelap 

mengeluarkan suara mendesis tak berkeputusan. 

"Hantu Kaki Batu, sayang sekali! Kau tidak menyadari bahwa 

kau akan menemui kematian lebih cepat dari yang kau duga!" 

"Nyawa manusia tidak berada dalam kuasa manusia lainnya! 

Karenanya jangan bicara berpongah diri! Mungkin kau yang lebih 

dulu akan kujebloskan ke alam Roh!" Bersamaan dengan selesai 

ucapannya Hantu Kaki Batu melompat. Kaki kirinya yang terbungkus 

bola batu berdesing mencari sasaran di pinggul Hantu Bara Kaliatus 

dalam jurus yang disebut "Kaki Roh Pengantar Maut." Dari kaki serta 

bulatan batu membersit sinar hitam. Bersamaan dengan itu tangan 

kanannya lepaskan pukulan "Lima Kutuk Dari Langit"! 

Hantu Bara Kaliatus seolah menganggap enteng serangan 

maut yang dilancarkan lawan. Sambil tertawa mengejekdia gerakkan 

tangan kirinya. Terjadilah hal yang membuat kejut Hantu Kaki Batu 

bukan alang kepalang. Begitu Hantu Bara Kaliatus menggerakkan 

tangan kirinya yang sebagian terbuat dari logam aneh, dari belasan 

tonjolan runcing, bergulung keluar larikan larikan api panjang 

berwarna biru, sangat panas. Gulungan api ini berbentuk demikian 

rupa seperti jaringan besar yang dengan cepat menghantam dan 

menggulung ke arah Hantu Kaki Batu! 

"Api lblis Penjaring Roh!" teriak Lakasipo menyebut ilmu yang 

dikeluarkan lawannya itu. 

"Setahuku ilmu ini hanya dimiliki oleh Hantu Santet Laknat! 

Celaka! Bagaimana jahanam Ini bisa memilikinya!" 

"Dress!" 

Bola batu di kaki kiri Lakasipo terpental.Tubuhnya ikut 

terpelanting sampai tiga tobak. Lalu jatuh terbanting di tanah. 

"Wuss! Wusssss! Wusssss! wussssss!" 

Lima larik sinar hitam pukulan sakti Lima Kutuk Dari Langit 

yang tadi dihantamkan Lakasipo hancur bertaburan berubah menjadi 

asap begitu saling bentur dengan jaringan api biru. Dengan uka 

pucat dan sekujur tubuh sakit Lakasipo cepat bangkit berdiri. Namun"wuuutttt!" 

Jaringan Api lblis cepat berkelebat menggulung dan 

membungkus tubuhnya. 

"Cessss! Cessss! Cessss!" 

Tubuh Lakasipo terpanggang hangus di beberapa bagian. 

Lelaki ini menjerit kesakitan. Dia berusaha lepaskan diri dari jaring 

api biru tapi sia-sia saja. Semakin dicoba semakin banyak bagian 

tubuhnya yang terluka hangus! 

"Celaka! Aku tak bisa membebaskan diriku! Aku akan 

terpanggang hancur dalam jaring api ini!" Di hadapan Lakasipo. 

Hantu Bara Kaliatus berkacak pinggang dan tertawa bergelak. Sekali 

dia meniup maka api biru yang membersit dari tonjolan tonjolan 

runcing di tangan kirinya pun padam. Tapi jaring api biru masih tetap 

membungkus sosok Lakasipo dan semakin panas hingga Lakasipo 

merasa tubuhnya seolah mulai meleleh! 

"Bara Kaliatus keparat! Apa hubunganmu dengan Hantu 

Santet Laknat?!" Berteriak Laksipo. 

"Ha .... ha .... ha! Jadi kau rupanya mengenali ilmu kesaktian 

yang kini menjaring sekujur tubuhmu! Ha ... ha ... ha! Dengar baik-

baik wahai makhluk malang! Aku adalah murid si nenek sakti 

berjuluk Hantu Santet laknat yang kau tanyakan itu! Ha ... ha ... ha ... 

ha!" 

Dalam sakitnya Lakasipo terkejut bukan main. Lebih-lebih 

ketika mendengar Hantu Bara Kaliatus meneruskan ucapannya. 

"Dendam kesumatku terhadapmu hari ini terbalas sudah! 

Sekaligus aku berhasil pula melaksanakan tugas dari guruku! 

Selamat tinggal Hantu Kaki Batu! Sebelum matahari tenggelam 

sekujur tubuhmu akan berubah menjadi bangkai meleleh!" 

Lakasipo mendongak langit. Saat itu sang surya telah jauh 

menggelincir ke arah barat. Tak lama lagi matahari akan segera 

tenggelam. Berarti umurnya memang tak akan lama. Dia coba 

gerakkan tangan untuk menghantam tapi 

"cesss!" 

Sedikit saja dia bergerak, jaring api melukai dan 

menghanguskan tubuhnya"Hantu .Bara Kaliatus jahanam! Kelak para Dewa akan 

menjatuhkan hukuman atas dirimu!" Hantu Bara Kaliatus yang sudah 

berjalan beberapa langkah menghampiri walet tunggangannya 

balikkan diri. Sambil menyeringai dia berkata. 

"Kalau kau merasa punya Dewa, panggilah! Berteriak minta 

tolong! Agar kau bisa keluar dari Api lblis Penjaring Roh! Ha ... ha ... 

ha!" Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak lalu tinggalkan tempat itu. 

"Terkutuk kau Latandai! Terkutuk kau Hantu Bara Kaliatus!" 

teriak Lakasipo. Latandai alias Hantu Bara Kaliatus tidak perdulikan 

teriakan caci maki Lakasipo. Sambil terus tertawa dia menghampiri 

walet hitam. Dia tahu walau binatang itu menderita cidera akibat 

hantaman Lakasipo tadi, sang walet masih bisa menerbangkannya 

meninggalkan lembah batu itu. Namun tiga langkah di hadapan 

walet raksasa, kaki Hantu Bara Kaliatus seolah terpantek ke tanah. 

Matanya membeliak begitu menyaksikan bagaimana kepala walet 

tunggangannya berada dalam keadaan hancur. Dua sayap dan 

kakinya menggelepar dan melejang-lejang beberapa kali lalu diam 

tak berkutik lagi. Hantu Bara kaliatus berteriak marah. 

"Jahanam berani mati! Siapa membunuh waletku?!" Sebagai 

jawaban tiba-tiba menggema suara cekikikan dari balik sebuah batu 

besar di samping kiri Hantu Bara Kaliatus. Lelaki ini segera 

membalik dan menghantam dengan pukulan Selusin Bianglala 

Hitam!. Dengan ilmu kesaktian inilah dulu dia hendak membunuh 

istrinya atas suruhan Hantu Santet Laknat!. 

Dua belas sinar hitam menderu angker. Dua belas lobang 

kelihatan di batu itu. Asap mengepul lalu 

"braakk ... byaaarrr!" 

Batu besar hancur berantakan berkeping-keping. Pecahan 

dan debunya beterbangan ke udara mmenertupi pemandangan. 

Ketika kepingan batu dan debu surut jatuh ke tanah dan keadaan 

terang kemlbali, di depan sana tampak berdiri dua orang. Yang 

pertama seorang kakek yang berdiri terbalik secara aneh yakni dua 

tangan dijadikan kaki sedang sepasang kaki berada di sebelah atas. 

Orang ke dua seorang perempuan cantik berpakaian serba 

merah. Saat itu Lakasipo berada di dalam keadaan cidera berat Hampir sekujur tubuhnya hangus akibat bersentuhan dengan Api 

lblis Penjaring Roh. Sakitnya bukan olah-olah. Lututnya sudah 

goyah, pemandangannya berkunang-kunang. Walau samar-samar 

dia masih bisa mengenali siapa adanya dua orang di seberang sana.


EMPAT


MULUT Lakasipo bergetar ketika perlahan, antara terdengar 

dan tiada dia menyebut nama kedua orang itu. 

"Hantu Langit Terjungkir.... Luhsantini...." Kakek yang tegak di 

atas dua tangannya itu memang Lasedayu alias Hantu Langit 

Terjungkir adanya. Sedang perempuan cantik berpakaian serba 

merah adalah Luhsantini, bekas istri Hantu Bara Kaliatus. 

Melihat kemunculan istrinya, Hantu Bara Kaliatus yang 

sedang marah karena menemukan walet terbang tunggangannya 

dalam keadaan mati pecah kepala jadi bertambah marah. Sekali 

lompat saja dia telah berada di hadapan Luhsantini. 

"Perempuan laknat! lstri celaka! Pasti kau yang telah 

membunuh walet tungganganku! Kepalanya hancur!" 

"Makhluk keji tak mengenal tobat! Tangan kirimu sudah 

kuhancurkan! Apa itu tidak cukup menjadi pelajaran? Rupanya kau 

memang minta kuhancurkan kepalamu seperti aku menghancurkan 

kepala walet hitam itu!" Balas mendamprat Luhsantini. Hantu Bara 

Kaliatus keluarkan suara menggembor. Mulutnya berteriak. 

"lstri celaka! Dicari-cari tidak bertemu! Sekarang malah 

muncul sendiri mengantar nyawa!" Rahang Hantu Bara Kaliatus 

menggembung lalu begitu dia meniup ke depan, dua buah bara 

menyala melesat menyerang Luhsantini. Tapi Luhsantini cepat 

menyingkir selamatkan diri 

"Makhluk keji! Haram bagimu menyebut diriku istri!" 

"Kalau begitu biar kusebut kau gendak Lakasipo alias Hantu 

Kaki Batu! Mungkin kau lebih senang dipanggil begitu!" Penuh 

luapan amarah kembali Hantu Bara Kaliatus menyergap Luhsantini. 

Dia melompat sambil kembali semburkan dua bara api yang ada 

dalam perutnya. Jelas sekali dia benar-benar ingin membunuh 

Luhsantini Perempuan ini cepat berkelebat dan siap balas menyerang. 

Namun dari samping kakek yang tegak kepala ke bawah kaki di atas 

gerakkan dua kakinya. Dua larik angin dahsyat berwarna ke biruan 

menebar hawa dingin melabrak ke depan. 

Latandai alias Hantu Bara Kaliatus tersentak kaget ketika 

hantaman angin itu sanggup membuat dua bara api yang 

disemburkannya terpental kesamping hingga Luhsantini selamat dari 

serangannya. Selain itu sambaran angin tadi sempat membuat dia 

terhuyung huyung sampai dua langkah. 

"Tua bangka jahanam! Siapa kau!" teriak Hantu Bara Kaliatus 

walau diam-diam dia sudah bisa menduga siapa adanya kakek aneh 

berpakaian compang camping dan berdiri kaki ke atas kepala ke 

bawah ini. Kakek yang dibentak keluarkan suara mengekeh. Dua 

kakinya digerakkan kembali, siap untuk menghantam, tapi di 

sebelahnya Luhsantini berkata. 

. "Kakek Hantu Langit Terjungkir, harap kau suka menolong lelaki 

dalam jaring api biru itu! Biar aku melayani jahaman sesat yang 

otaknya sudah dicuci oleh si dukun santet Hantu Santet Laknat ini!" 

Mendengar ucapan Luhsantini Hantu Langit Terjungkir berkata 

"Hati-hatilah. Perhatikan gerak tangan kirinya! llmu jaring api 

birunya sangat berbahaya!" Sehabis memberi ingat begitu si kakek 

segera berkelebat ke arah sosok yang terjebak dalam jaring api. Dari 

jauh dia tidakbegitu jelas dan tidak mengenali siapa adanya orang 

itu. Tapi begitu berdekatan, terkejutlah si orang tua. 

"Lakasipo ...." Katanya menyebut nama itu dengan suara 

bergetar. 

"Kau rupanya .... Aku memang tengah mencarimu. Sejak kau 

datang ke Lembah Seribu Kabut, aku selalu teringat padamu dan 

ingin bertemu denganmu ...." 

"Kek, aku tak dapat menyalahkanmu," jawab Lakasipo. Saat 

itu tubuhnya yang penuh luka dan hangus sudah mulai goyah. 

Tegaknya menghuyung. Pemandangannya seperti kabur. Diakumpulkan seluruh tenaga untuk bisa keluarkan ucapan menyam-

bung kata katanya tadi. 

"Kau tentu masih merasa sangat penasaran. Karena 

kebodohan dan kelalaianku hingga sendok emas sakti yang bisa 

mengembalikan kesaktianmu amblas dilarikan orang!" Kepala si 

kakek yang berada di sebelah bawah kelihatan digelengkan 

beberapa kali. 

"Wahai ... Bukan! Sendok sakti itu memang sangat penting 

artinya bagi penyembuhan diriku yang menderita tersiksa penuh 

sengsara ini. Tapi jauh lebih penting ada hal lain yang hendak aku 

bicarakan denganmu. Menyangkut rahasia aku sebagai seorang 

ayah dan ...." 

"Kek, aku ...." Belum habis Hantu Langit Terjungkir bicara 

Lakasipo sudah memotong. Saat itu sosoknya yang berada di dalam 

jaring api biru tersandar ke belakang. 

"Cesss!” 

 Daging punggungnya yang bersentuhan dengan jaring api 

langsung luka. Lakasipo keluarkan jerit kesakitan. Tulang-tulang di 

sekujur tubuhnya seolah leleh. Dia jatuh terkulai. Pingsan tak 

sadarkan diri. 

"Jaring jahanam! Kalau tidak kutolong sesaat lagi dia pasti 

akan hangus menemui ajal! Para Dewa beri aku kemampuan 

menolong dirinya!" Enteng sekali, laksana kabut mengambang di 

udara, sosok Hantu Langit Terjungkir naik ke atas. Lalu laksanakan 

kilat gerakannya berubah cepat luar biasa, melompat ke bagian atas 

jaring Api lblis Penjaring Roh lalu mencengkram! 

"Cesss! Cesssss!" 

Telapak tangan kiri kanan Hantu Langit Terjungkir hangus 

terkelupas. Sakitnya bukan kepalang tapi si kakek cuma kelihatan 

menyeringai. Dia kerahkan tenaga dalamnya yang secara aneh 

berpusat di kening. Dari tubuhnya kelihatan memancar asap kebiru-

biruan. Ketika mulutnya meniup ke bawah maka menyemburlah 

cahaya biru menebar hawa dingin luar biasa. 

"Ceeessssssss!"Jaring Api lblis Penjaring Roh yang merupakan pancaran api 

biru panas luar biasa keluarkan suara mendesis panjang laksana 

diguyur air es. Asap biru membubung ke udara. Warna birunya 

bukan saja menjadi redup tapi hawa panasnya serta merta lenyap. 

Jaring biru itu kini tidak bedanya seperti terbuat dari tali biasa. 

Lakasipo selamat dari kematian walau hampir sekujur tubuhnya 

hangus terkelupas dan saat itu dia masih tergeletak tak sadarkan 

diri. Dengan dua tangannya Hantu Langit Terjungkir berusaha 

merobek putus jaring api biru. Tapi luar biasanya jaring yang sudah 

berubah dingin itu atos sekali. Bagaimanapun si kakek mengerahkan 

kesaktiannya tetap saja dia tidak mampu menjebol jaring guna 

mengeluarkan Lakasipo yang masih terjerat. 

"Jaring jahanam! Setahuku Hantu Santet Laknat tidak 

memiliki kepandaian menciptakan jaring seperti ini. Kalau tadi 

makhluk bertangan logam itu mengaku murid si nenek, niscaya 

dukun jahat itu dapatkan ilmu keparat ini dari seseorang. Aku harus 

mencari tahu siapa adanya .... Tapi perduli setan! Yang penting saat 

ini anakitu sudah berhasil aku selamatkan. Kalau perlu aku akan 

membawanya dalam keadaan masih berada dalam jaring itu. 

Mungkin benar kabar yang pernah ku dengar. Hanya ada 

beberapa orang saja di Negeri Latanahsilam ini yang sanggup 

menjebol jaring celaka itu. Satu diantaranya si nenek berjuluk Hantu 

Lembah Laekatakhijau. Tapi tak bisa kuduga apa nenek itu masih 

hidup. Yang kedua seorang setengah waras berjuluk Hantu Raja 

Obat atau Hantu Seribu Obat. Tapi salah-salah meminta bisa isi 

perutku dibedolnya dijadikan ramuan obat!" 

Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu pandangi sosok 

Lakasipo yang melingkar di dalam jaring api biru. Mata orang tua ini 

tampak berkaca-kaca. Perlahan-lahan tubuhnya melayang ke 

bawah. Dari sisi kanan kembali dia memperhatikan. Kini pandangan 

matanya dipusatkan pada bagian belakang atas tangan kanan 

Lakasipo. 

Di antara daging yang terluka dan hangus dia masih bisa 

melihat tanda aneh dekat ketiak lelaki itu. Yakni tanda menyerupaisekuntum bunga dalam lingkaran. Tetesan air mata jatuh 

membasahi kening Hantu Langit Terjungkir. 

"Aku yakin .... Yakin sekali. Dia salah seorang dari mereka. 

Wahai Dewa .... Beri aku petunjuk. Yang penting saat ini selamatkan 

nyawanya. Sembuhkan luka lukanya ...." 

Baru saja Hantu Langit Terjungkir berucap seperti itu tiba-tiba 

disampingnya ada suara orang berkata. 

"Tua bangka tolol! Memakai tangan sebagai kaki! Kau 

menangis meneteskan air mata! Apa orang di dalam jaring itu sudah 

menemui ajal? Menyingkirlah! Aku mau tahu siapa yang mampus! 

Orang atau binatang! Jangan-jangan dia! Kalau benar dial sungguh 

sial nasib diriku!" Setelah itu 

"buuuut ... !" 

Ada suara orang kentut! Lalu ada satu tangan mendorong. 

Seperti diketahui walau Hantu Langit Terjungkir telah kehilangan 

banyak ilmu kesaktian akibat dirampas oleh Hantu Muka Dua, 

namun sewaktu berada di Lembah Seribu Kabut dia berhasil 

menghimpun tenaga dalam baru dan menciptakan ilmu kesaktian. 

Tidak mudah untuk mendorong sosok tubuhnya. 

Tapi gerakan orang barusan ternyata mampu membuat si 

kakek terhuyung-huyung dan sepasang tangannya tergeser satu 

jengkal ke kiri! Satu sosok berpakaian kuning kemudian lewat 

disamping Hantu Langit Terjungkir, ulurkan kepala memperhatikan 

ke dalam jaring api biru. 

"Huh! Hanya seekor kadal raksasa mati hangus! Apa 

perlunya ditangiskan?!" Si baju kuning berkata lalu tertawa 

cekikikan. Kemudian 

"buuuuttt!


LIMA


HANTU Langit Terjungkir delikan matanya. Yang tegak di 

depan jaring ternyata seorang nenek yang sekujur tubuhnya serba 

kuning mulai dari rambut sampai ke kaki. Di punggungnya dia 

memanggul sebuah keranjang besar terbuat dari rotan penuh 

dengan bulu dan kotoran ayam. Saking marahnya mendengar 

Lakasipo dianggap seekor kadal raksasa si kakek membentak. 

"Matamu kuning belekan! Pantas! Manusia hidup kau katakan 

kadal! Kalau bisamu cuma mengigau dan kentut lekas angkat kaki 

dari tempat ini!" Tanpa berpaling pada Hantu Langit Terjungkir si 

nenek muka kuning yang bukan lain adalah Luhkentut alias Nenek 

Selaksa Angin alias Selaksa Kentut songgengkan pantatnya lalu 

"buuutttt ... !" 

Dia kentut seenaknya! Setelah itu dia tertawa cekikikan. 

Sepasang matanya yang kuning sesaat melirik ke arah Hantu Langit 

Terjungkir. Tiba-tiba dia hentikan tawanya dan mukanya yang kuning 

kelihatan berkerenyit. 

"Heh .... Rasa-rasanya aku pernah melihat tampangmu 

sebelumnya. Apakah aku pernah mengenal dirimu?!" 

"Lebih baik kau tidak kenal diriku! Siapa sudi kenal dengan 

nenek-nenek busuk sepertimu!" Luhkentut alias Nenek Selaksa 

Angin alias Hantu Sclaksa Angin tertawa lalu 

"buutt!" 

Dia kembali terkentut-kentut. 

"Tua bangka tidak tahu diri! Jangan kira Cuma kau saja yang 

bisa kentut! Aku juga bisa!" Teriak Hantu Langit Terjungkir. Lalu dari 

mulutnya dia keluarkan suara 

"buuuttlt ... !" 

Hantu Selaksa Angin mendongak ke langit lalu tertawa gelak-

gelak."Kau memang hebat dalam keanehanmu! Pertama kulihat kau 

pergunakan tangan sebagai kaki, sementara kaki cuma diuncang-

uncang di udara! Lalu kalau aku kentut dari pantat kau pandai kentut 

dari mulut! Apa tidak aneh dan hebat?! Hik.. hik ... hik!" Hantu Langit 

Terjunkir memaki panjang pendek. 

Sebelumnya dia memang sudah mendengar sifat dan 

kelakuan nenek satu ini. Maka dia berucap. 

”Tidak heran kalau penyakit kentutmu tidak pernah sembuh! 

Sifat, ucapan dan perbuatanmu selalu seperti orang tidak waras!" 

"Siapa bilang aku tidak bisa sembuh! Ada seorang pemuda 

dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang tengah menolongku! 

Aku pasti sembuh! Buktinya sekarang kentutku sudah tidak panjang 

lagi seperti dulu!" 

"Tua bangka tolol! Masih banyak urusanku di tempat ini. 

Lekas menyingkir dari sini! Jangan mengganggu orang dengan 

mulut dan pantatmu!" 

"Huh! Bicara sombongnya! Wahai! Kalau tidak kebetulan 

lewat di sini, dan mengira kadal hangus itu pemuda penolongku, 

perlu apa aku berada di tempat hi!" Si nenek cibirkan bibirnya. Dia 

melirik pada si kakek, lalu perhatikan acuh tak acuh perkelahian 

yang terjadi antara Luhsantini dengan Hantu Bara Kaliatus. Si nenek 

kembali songgengkan pantatnya dan 

"buu ttt... !" Lalu dia putar tubuh hendak pergi. 

"Tunggu!" Hantu Langit Terjungkir berseru. 

"Pemuda asing yang kau katakan itu. Apakah namanya Wiro 

Sableng?" 

"Apa perdulimu! Siapapun namanya apa urusanmu?!" tukas 

Luhkentut. 

"Buuumt!" saking geramnya Hantu Langit Terjungkir 

keluarkan suara seperti orang kentut dari mulutnya. 

"Aku memang harus perduli. Pemuda itu pernah menyelamat 

kan diriku! Dengar kau nenek buruk muka kuning! Jika kau beranimencelakai pemuda itu, akan kurajam tubuhmu! Akan kubuat kau 

jadi matang seperti ikan asap!" Si nenek songgengkan pantatnya. 

Kembali hendak keluarkan kentut. Tapi tak jadi. Seperti tadi 

mukanya yang kuning kembali tampak mengerinyit. 

"lkan asap ...." ujar si nenek mengulang. 

"Aku pernah mendengar nama hidangan itu. lkan pindang ... ! 

Itu nama lainnya! Wahai .... Apakah aku pernah mengenal dirimu 

sebelumnya kakek aneh yang pergunakan dua tangan sebagai 

kaki?!" 

"Sudah kubilang aku tidak sudi kena! denganmu! Lekas 

angkat kaki dari tempat ini!" teriak Lasedayu alias Hantu Langit 

Terjungkir. Si nenek menyeringai. 

"Aku akan pergi. Kau tak usah khawatir. Siapa sudi berlama-

lama di tempat celaka ini! Tapi sebelum pergi aku mau lihat dulu 

tampangnya yang tertutup janggut dan kumis menjulai itu! Siapa 

tahu aku memang pernah kenal dirimu!" Lalu dengan satu gerakan 

cepat Nenek Selaksa Kentut alias Selaksa Angin menyambar dua 

kaki Hantu Langit Terjungkir. Maksudnya dia hendak membalikkan 

tubuh si kakek sebagaimana mestinya yaitu kepala ke atas kaki ke 

bawah. Dengan demikian dia bisa melihat lebih jelas sosok serta 

wajah si kakek. 

Namun sebelum sempat hal itu dilakukannya tiba-tiba di arah 

kiri terdengar suara bergemuruh seperti ada pohon yang tumbang 

lalu menyusul jeritan perempuan. Gerakan si nenek jadi tertahan 

sementara Hantu Langit Terjungkir begitu mendengar suara jeritan 

serta merta berkelebat ke kiri. 

Apa yang terjadi? 

Sesaat setelah tadi Hantu Langit Terjungkir meninggalkan 

Luhsantini karena hendak menolong Lakasipo yang terjerat dalam 

jaring api biru, tanpa menunggu lebih lama Latandai alias Hantu 

Bara Kaliatus menyergap ke arah Luhsantini yang bekas istrinya itu."Perempuan laknat, istri terkutuk! Sebelum kubunuh kau lekas 

katakan dimana berada anakku si Lamatahati?!" Mendendar ucapan 

Hantu Bara Kaliatus itu Luhsantini langsung mendamprat! 

"Jangan kau berani menyebut Lamatahati sebagai anakmu! 

Bukankah dulu kau hendak membunuhnya bersama diriku di tepi 

kawah Gunung Latinggimeru?! Manusia durjana! Sebelum kau 

membunuhku biar aku lebih dulu mencabut nyawamu! Biar 

kemudian para Dewa menggiring Rohmu ke pusaran neraka atas 

langit" Habis berkata begitu Luhsantini berkelebat Tangan kanannya 

laksana kilat menyambar ke arah dada Hantu Bara Kaliatus. Dari 

sambaran angin yang mendahului datangnya pukulan, Hantu Bara 

Kaliatus maklum kalau serangan Luhsantini tidak bisa dianggap 

remeh. Karena dia tidak bisa bergerak cepat akibat tubuhnya 

sebelah bawah yang menggembung besar maka Hantu Bara 

Kaliatus langsung jatuhkan diri, jatuh punggung ke tanah. 

"Bukkkk!" 

Pukulan Luhsantini menghantam lamping batu Di sebelah 

depan batu itu tidak kelihatan bergeming sedikitpun, apa lagi 

retakatau jebol. Tapi luar biasanya, disebelah belakang lamping batu 

keluarkan suara berderak lalu retak-retak. Satu per satu retakan itu 

kemudian berderai jatuh, mengepulkan asap seperti hangus! lnilah 

kehebatan lima pukulan yang selama ini dipelajari dan diyakini 

Luhsantini, disebut Di balik Labukit Menghancurkan Lagunung! 

Melihat serangannya luput, Luhsantini tak tinggal diam. Selagi 

Hantu Bara Kaliatus masih tertelentang di tanah dia cepat mengejar 

dengan serangan ke dua. Kalau tadi tenaganya yang bekerja maka 

kini kaki kanannya membuat gerakan menghunjam. Tumit Luhsantini 

menderu ke arah kening Hantu Bara Kaliatus. 

"lstri laknat perempuan jahanam!" teriak Hantu Bara Kaliatus 

seraya gulingkan diri ke kanan. 

"Terima kematianmu!" Sambil bangkit, dalam keadaan 

setengah duduk Hantu Bara Kaliatus kerahkan tenaga dalam lalu 

menyambar. 

"Wuutt! Wuuuuttt!Latandai keluarkan ilmu Bara Setan Penghancur jagat. Tiga 

bara merah menyala menyambar cepat dan ganas ke arah 

Luhsantini. Satu mengarah kepala. Yang ke dua mencari sasaran di 

dadanya, sedang bara ke tiga menderu ke bagian bawah perutnya. 

Melihat tiga serangan dahsyat mengancam dirinya mau tak 

mau Luhsantini batalkan gerakannya menghantam kepala lawan. 

Dengan cepat perempuan ini berkelebat ke kanan sambil lepaskan 

satu pukulan tangan kosong. Luhsantini berhasil menghantam 

mental bara menyala yang menyerang ke arah kepalanya. Walau 

serangan sangat berbahaya itu dapat ditangkis, namun tak urung 

tangan kanannya bergetar hebat sedang ujung lengan panjang 

pakaian merahnya kepulkan asap. Ujung lengan itu ternyata telah 

hangus! 

Dengan melompat tadi, Luhsantini juga berhasil menghindari 

batu bara ke dua yang melesat ke arah dadanya, Namun serangan 

ke tiga masih sempat menyerempet pinggulnya. Perempuan ini 

terpekik kesakitan. Bukan saja pinggul pakaian merahnya robek 

hangus tapi daging pinggulnya ikut terserempet luka! Selagi 

Luhsantini tertegak menahan sakit, Hantu Bara Kaliatus telah berada 

di hadapannya. Menyeringai sambil angkat tangan kirinya yang 

disambung dengan logam. 

"Gendakmu sudah kujebloskan dalam jaring api biru! 

Sekarang giliranmu!" Hantu Bara Kaliatus kertakkan rahang. Tangan 

kirinya digerakkan. Dari pentolan pentolan runcing di sepanjang 

lengan palsu yang terbuat dari logam itu, melesat keluar larikan-

larikan sinar biru, bergulung membentuk jaring. Lalu menyambar ke 

arah Luhsantini! Perempuan itu cepat menghindar, melompat dan 

berlindung ke balik sebatang pohon. 

"Wuuusss!" 

Jaring api yang disebut Api lblis Penjaring Roh menyambar. 

Laksana senjata tajam membelah air begitulah kelihatan jaring api 

itu melewati batang pohon. Begitu lewat batang pohon serta merta 

berubah hangus hitam kebiru-biruan lalu tumbang dengan suarabergemuruh. Luhsantini cepat menyingkir namun dia terkesiap kaget 

ketika tiba-tiba saja, cepat sekali. Di atasnya jaring api biru telah 

menyambar ke bawah, siap menjerat tubuhnya! Perempuan ini 

keluarkan pekik ngeri seraya coba menghantam dengan pukulan 

tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Namun sia-sia 

saja! 

Sekejapan lagi Luhsantini akan dilibas Api lblis Penjaring Roh 

tiba-tiba menyambar satu gelombang kabut memencarkan warna 

kebiru-biruan dan menebar hawa dingin luar biasa. Begitu kabut ini 

bersentuhan dengan jaring api biru terdengar suara "ceesss. 

..cessss" berkepanjangan. Cahaya jaring biru kelihatan menjadi 

redup. Hawa panasnya serta merta menjadi lenyap. Tapi gerakan 

jaring yang hendak menjerat sosok Luhsantini tetap tidak 

tertahankan. 

Sesaat kemudian perempuan itu sudah terlibat dalam jaring. 

Masih untung larikan-larikan api jaring telah berubah menjadi seperti 

tali-tali biasa. Kalau tidak niscaya sekujur wajah dan tubuh 

Luhsantini akan menjadi terbakar hangus! 

"Celaka!" Di sebelah sana Hantu Langit Terjungkir berseru 

kaget melihat bagaimana Luhsantini telah masuk dalam libatan 

jaring. Bagaimana pun dia berusaha meloloskan diri tetap saja tidak 

berhasil. Si kakek sendiri saat itu tengah berusaha mengatur jalan 

darah dan pernafasannya. Bentrokan antara kabut saktinya tadi 

dengan api jaring biru telah membuat tubuhnya tergoncang hebat 

luar dalam. Begitu keadaannya pulih kembali, cepat dia berkelebat 

mendekati Luhsantini. Tangannya bergerak kian kemari untuk 

merobek dan memutus jaring. Sia-sia belaka! Hantu Bara Kaliatus 

keluarkan suara tawa bergelak. 

"Jangan harap dia bisa keluar dari dalam jaring itu! Tidak ada 

satu makhlukpun bisa membebaskannya! Aku memang tidak 

berhasil membunuh mereka. Tapi aku sudah cukup puas 

menjebloskan keduanya seumur hidup dalam Api lblis Penjaring Roh 

Ha... ha ... ha!" Hantu Bara Kaliatus balikkan badannya lalu 

tinggalkan tempat itu"Makhluk keparat!" teriak Hantu Langit Terjungkir. 

"Kemana kau lari akan kukejar! Tapi sebelum kau mati di 

tanganku ada sesuatu yang perlu kutanyakan!" Melihat si kakek 

hendak mengejar Hantu Bara Kaliatus jadi marah tapi juga khawatir. 

"Kakek yang tegak menyungsang ini memiliki kepandaian 

tinggi! Keadaanku membuat aku tak bisa bergerak cepat. Dia pasti 

mampu mengejarku! Jahanam! Aku harus dapat mencegahnya!" 

Hantu Bara Kaliatus buka mulutnya lebar-lebar lalu meniup ke arah 

si kakek. Yang keluar kali ini bukan lesatan bara api tetapi satu 

gelombang api. Hantu Langit Terjungkir berseru kaget ketika dia 

dapatkan dirinya tiba-tiba terkurung kobaran api. Cepat-cepat dia 

kerahkan tenaga dalam yang ada di kening ke kaki kanannya. Satu 

larikan besar kabut dingin membeset udara begitu si kakek 

tendangkan kaki kanannya. Kabut ini lalu bergulung-gulung 

menyambar kobaran api. 

"Wusss ... wussss!" 

Kobaran api !enyap. Namun Hantu Bara Kaliatus tak ada lagi 

di tempat itu. 

"Kurang ajar!" Hantu Langit Terjungkir memaki. Dia meman-

dang berkeliling. Memperhatikan Lakasipo yang ada dalam jaring. 

Melihat pada nenek bermuka dan berpakaian serba kuning. Sesaat 

dia tampak bimbang. 

"Apa yang harus aku lakukan .... Lakasipo sementara dalam 

keadaan aman walau masih dilibat jaring. Nenek muka kuning itu 

nanti saja kuselidiki siapa dirinya. Biar aku mengejar Hantu Bara 

Kaliatus. Aku tadi sempat melihat ada tanda bunga dalam lingkaran 

di lengan kanannya sebelah belakang. Wahai, bagaimana mungkin 

ada darah dagingku sejahat dirinya? Seganas itukah kutuk Dewa 

terhadap diriku? Aku harus menyelidiki, harus tahu siapa dia 

sebenarnya sebelum aku salah menjatuhkan tangan maut!" Habis 

berkata begitu Hantu Langit Terjungkir segera berkelebat ke arah 

yang diduganya lenyapnya Hantu Bara Kaliatus."Kek! Jangan pergi!" teriak Luhsantini ketika melihat Hantu 

Langit Terjungkir berkelebat pergi. Saat itu dia masih terus berusaha 

menjebol jaring agar bisa lolos. Tapi si kakek keburu lenyap. 

Luhsantini alihkan pandangannya pada nenek muka kuning. 

"Wahai! Menurut penglihatanku kau adalah seorang ber-

kepandaian tinggi. Mengapa tidak mencoba membebaskan diriku 

dan menolong pemuda itu?!" 

"Buuttt!" si nenek men jawab dengan terkentut lalu tertawa 

cekikikan membuat Luhsantini menjadi merah wajahnya dan 

menggerutu marah. 

"kalau bisamu cuma kentut melulu, harap pergi saja dari sini!" 

Nenek Selaksa Angin pencongkan mulutnya. 

"Aku memang mau pergi. Aku mau mengejar kakek aneh tadi! 

Aku harus harus mencari jawab apa aku kenal padanya atau tidak!" 

"Perempuan tua tidak bermalu! Kakek itu jelas tidak sudi 

berkenalan denganmu, mengapa kau kejar kejar? Jangan-jangan 

kau bangsa tua bangka gatal!" Luhsantini mendamprat saking 

marahnya. Dimaki seperti itu si nenek jadi marah. Tangan kanannya 

bergerak dan 

"plaak!" Tamparannya melayang ke pipi kanan Luhsantini. 

Tamparan yang cukup keras itu membuat Luhsantini terbanting dan 

terguling-guling dalam jaring. Pipi kanannya serasa lebam dan 

tulangnya seolah pecah. Terhuyung-huyung Luhsantini bangkit dan 

menggapai-gapai dalam libatan jaring. Dalam sakit dan juga 

marahnya tiba-tiba dia melihat salah satu tali jaring di bagian mana 

tadi tamparan si nenek mendarat berada dalam keadaan putus! 

Berarti nenek muka kuning itu memiliki kesaktian yang mampu 

memutus jaring! 

"Tua bangka gatal! Mengapa kau cuma menamparku satu 

kali?! Ayo tampar lagi! Lakukan sepuasmu!" Tiba-tiba Luhsantini 

berteriak. Si nenek pelototkan matanya. Dia hendak bergerak maju 

dan benar-benar hendak menampar Luhsantini. Tapi tiba-tiba diahentikan gerakannya dan menyeringai. Setelah kentut dua kali dia 

berkata. 

"Jangan kira aku tidak tahu akal busukmu! Kau minta aku 

menampar agar bisa memutus tali-tali jaring!" 

"Buutt!" Si nenek kentut. 

"Perlu apa menolongmu. Lebih baik aku mencari kibul ayam 

jantan. Tinggal enam belas ekor lagi! Aku akan segera sembuh! Hik. 

.. hik!" Si nenek songgengkan pantatnya ke arah Luhsantini lalu 

kentut lagi dua kali berturut-turut. Setelah itu sekali berkelebat 

perempuan tua itupun lenyap. Luhsantini memaki habis-habisan. 

"Nenek otak miring! Mencari kibul ayam jantan katanya! Apa 

artinya kibul? Tua bangka tidak berbudi!" Luhsantini kemudian 

periksa bagian jaring yang putus. Dia coba menarik-narik dan 

memasukkan kepalanya. 

Tapi lobang di jaring masih sangat kecil. Jangankan 

kepalanya, kepalannya saja tak bisa disusupkan. Dalam bingungnya 

karena tidak tahu apa yang hendak dilakukan Luhsantini 

memandang ke arah sosok Lakasipo yang masih terjerat di dalam 

jaring satunya. Dia tak dapat memastikan apakah lelaki itu hanya 

pingsan saja atau sudah menemui ajal. 

"Lakasipo! Lakasipo!" Luhsantini memanggil berulang-ulang. 

Namun sosok Lakasipo tidak bergerak. Hanya ada suara erangan 

pendek keluardari mulutnya. Setelah itu keadaan di tempat itu 

kembali sunyi senyap. 

Sementara di langit sang surya semakin mendekati ufuk 

tenggelamnya. Sebentar lagi tempat itu akan menjadi gelap. Dalam 

keadaan seperti itu tiba-tiba semak belukar di sebelah kiri terkuak. 

Tiga sosok muncul dan salah satu diantaranya berucap. 

"Seruan yang memanggil-manggil nama Lakasipo tadi pasti 

datang dari tempat ini! Tapi tak ada siapa siapa di sini!"

"Hei! Lihat di sebelah sana! Ada orang tergeletak di dalam 

jaring aneh!" Suara ke dua berseru Menyusul orang ke tiga ikut 

berteriak. 

"Di sebelah situ juga ada jaring satu lagi! Ada orang terjebak 

di dalamnya!" 

"Kawan-kawan! Kau lekas memeriksa orang di dalam jaring 

sebelah sana! Aku akan berusaha menolong orang satunya!" Ketika 

orang yang bicara ini melompat ke hadapan jaring dimana Luhsantini 

berada kagetlah dia karena dia masih bisa mengenali siapa adanya 

perempuan itu. 

"Bukankah .... Bukankah kau orangnya yang bernama 

Luhsantini?" orang itu bertanya sambil garuk garuk kepala. 

Luhsantini memperhatikan dari dalam jaring. Matanya penuh selidik. 

"Kau siapa?" 

"Aku Wiro, saudara angkat Lakasipo. Mungkin kau tidak 

mengenali diriku. Karena pertama kali bertemu dengan kawan-

kawan sosok kami bertiga masih sebesar jari!" Sepasang mata 

Luhsantini pandangi Pendekar 212. Dia melirik pada sosok dua 

orang di sebelah sana yakni Naga Kuning dan Si Setan Ngompol. 

"Wahai! Aku ingat riwayat kalian bertiga!" 

"Apa yang terjadi denganmu? Siapa orang yang ada di dalam 

jaring sebelah sana ...." 

"Dia Lakasipo." Terkejutlah Wiro mendengar jawaban 

Luhsantini itu. Dia memandang berkeliling. Lalu bertanya. 

"Aku harus menolongmu! Ceritakan bagaimana kejadiannya 

sampai dirimu terjebak dalam jaring aneh ini!" 

"Jangan perdulikan diriku. Lebih baik kau menolong Lakasipo 

lebih dulu. Keadaannya gawat ..." kata Luhsantini. 

"Kalau begitu ...." Wiro garuk kepalanya lalu melangkah cepat 

menghampiri Lakasipo yang tergeletak di tanah, berada dalam 

jaring. Naga Kuning dan Si Setan Ngompol berusaha membebaskanlelaki itu. Namun akhirnya mereka bingung sendiri karena apapun 

yang mereka coba tidak sanggup memutus jaring api biru. 

"Wiro! Keluarkan kapakmu. Mungkin itu bisa dipakai memutus 

jaring celaka ini ...." Dari. balik jaring tiba-tiba terdengar suara orang 

berucap. Suara Lakasipo. Tanpa banyak cerita murid Sinto Gendeng 

segera keluarkan KapakMaut NagaGeni212. Cahaya matahari yang 

hendak tenggelam memantuk kuning kemerahan di permukaan dua 

mata kapak. Ketika Wiro hendak membungkuk mencari bagian yang 

baik di sebelah kaki jaring untuk dibacok dengan kapak sakti, tiba-

tiba ada satu bayangan biru berkelebat dan tegak di hadapan Wiro. 

Pendekar 212 angkat kepalanya. 

"Luhcinta!" ujar murid Eyang Sinto Gendeng ketika melihat 

siapa yang berdiri di hadapannya. Tentu saja Pendekar 212 merasa 

gembira dapat bertemu kembali dengan gadis cantik jelita itu. 

Namun dibalik kecantikan si gadis saat itu Wiro melihat ada satu 

bayangan rasa gelisah. 

"Wiro, ada satu hal sangat penting ingin kubicarakan 

denganmu. Harap kau sudi mengikutiku ... !' Suara Luhcinta 

terdengar lirih pertanda memang ada satu tekanan batin yang 

tengah dialaminya saat itu. Si gadis tahu Wiro akan,memenuhi 

kehendaknya. Karenanya tanpa menunggu jawaban Wiro dia segera 

berkelebat pergi. 

"Kalian berdua tunggu di sini. Aku tidak akan lama," kata 

Pendekar 21 2. Lalu dia segera berkelebat pula ke arah lenyapnya 

Luhcinta. 

"Seharusnya dia tinggalkan kapak saki itu. Agar kita bisa 

menolong Lakasipo!" kata Naga Kuning. 

"Dia segera kembali. Dia sendiri bilang tak bakal lama!" 

menyahut Si Setan Ngompol. 

"Kau orang tua yang seperti tidak pernah muda saja Kek! 

Seorang pemuda dan seorang pemudi berdua-dua di satu tempatsunyi, mana mungkin mau sebentar saja. Apa lagi Luhcinta 

kelihatannya seperti punya masalah besar!" Apa yang dikhawatirkan 

Naga Kuning, bocah aneh yang sebenarnya adalah kakek berusia 

120 tahun itu menjadi kenyataan, Sampai matahari tenggelam dan 

kegelapan mencekam di lembah batu itu, Pendekar 212 tak kunjung 

muncul. 

"Apa kataku. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan 

Wiro! Kek, kau tunggu di sini. Aku akan menyelidik!" Si Setan 

Ngompol yang takut ditinggal sendirian langsung terkencing. 

"Aku ikut bersama!" katanya pada Naga Kuning seraya 

pegangi celana si bocah. Berjalan beberapa tindak Naga Kuning 

hentikan langkahnya. 

"Bagaimanadengan Luhsantinidan Lakasipo?" Anak ini 

bertanya pada Si Setan Ngompol lalu memandang pada Luhsantini. 

Dari balik jaring terdengar perempuan itu berucap. 

"Jangan perdulikan diriku! Lekas cari Wiro. Lakasipo perlu 

lekas ditolong. Keadaannya gawat!" 

"Kami segera mencarinya! Bertahanlah!" berkata Setan 

Ngompol. Lalu tetap masih sambil pegangi pantat celana Naga 

Kuning dia berkata. 

"Ayo jalan duluan! Arah sana! Aku lihat si gondrong itu tadi 

menuju ke sana!" Si kakek menunjuk ke arah deretan pohon-pohon 

besar dan semak belukar yang merupakan bagian luar atau tepi 

rimba belantara yang disebut Lasesatbuntu.


ENAM


PENDEKAR 212 berlari cepat melewati deretan pepohonan 

dan semak belukar tinggi. Luhcinta berada di sebelah depannya. 

Walau saat itu cahaya sang surya yang hendak tenggelam mulai 

redup namun karena Luhcinta tak berapa jauh di depannya dengan 

mudah Wiro bisa mengikuti lari si gadis. 

Sebentar saja kedua orang itu telah masuk jauh ke dalam 

rimba belantara. Di satu tempat sosok Luhcinta lenyap. Wiro 

hentikan larinya, memandang berkeliling. 

"Luhcinta! Dimana kau?!" Wiro memanggil. Suaranya 

bergema dalam rimba belantara yang mulai gelap itu. Tak ada 

jawaban. Wiro menunggu. Sesekali terdengar suara desir dedaunan 

yang saling gesek oleh tiupan angin. 

"Luhcinta?!" Wiro memanggil kembali. Setelah ditunggu tetap 

tak ada jawaban Wiro bersiap untuk mengerahkan Ilmu Menembus 

Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung. Namun tak jadi karena 

saat itu lapat-lapat mendadak dia mendengar suara orang menangis. 

"ltu seperti suara Luhcinta! Ada apa dia menangis ...." Wiro 

sibakkan serumpunan semak belukar lalu bergerak cepat ke arah 

datangnya suara orang menangis. Suara tangisan itu terdengar 

semakin jelas tanda semakin dekat. Namun sampai sekian lama 

Wiro masih belum juga menemukan Luhcinta. Sementara itu tanpa 

disadarinya Wiro telah masuk makin jauh ke dalam rimba belantara 

Lasesatbuntu. 

Di satu tempat Wiro akhirnya hentikan langkah. Udara 

bertambah kelam. Wiro mulai menyadari keanehan yang 

dihadapinya. 

"Suara tangis gadis itu dekat sekali. Aku seperti bisa meraba-

nya jika tanganku kuulurkan. Tapi sosoknya tetap tidak kelihatan ...." 

"Luhcinta! Kau berada di mana?!" Wiro berteriak."Wiro .... Aku di sini .... Di balik pohon," ada suara perempuan 

menjawab. Di samping kiri Wiro memang ada sebuah pohon besar 

yang akar gantungnya menjulai sarat menimbulkan satu peman-

dangan angker. Pendekar 212 segera mendekati pohon ini, sibakkan 

akar-akar gantung di sekitarnya. Begitu dia sampai di balik pohon 

besar, memang benar di situ dilihatnya Luhcinta duduk di atas akar 

besar yang menonjol di tanah. Gadis ini duduk dengan bahu 

tersentak-sentak menahan sesenggukan. Wajahnya ditutup dengan 

kedua tangan. 

"Luhcinta ...." Wiro pegang bahu si gadis. 

"Ada apa sampai kau menangis. Kalau memang mau bicara 

mengapa jauh-jauh masuk ke dalam hutan. Di sini keadaannya 

gelap. Hawanya tidak enak. Mari kita 'kembali ke lembah batu sana. 

Kalau memang ada sesuatu, kau bisa mengatakannya parjang lebar 

di sana. Selain itu ada dua orang sahabat yang perlu kita tolong." 

"Wiro, biar kita berdua-dua dulu di sini barang sesaat. 

Memang ada ganjalan hati yang hendak aku keluarkan agar kau 

tahu," kata Luhcinta pula. 

"Kalau begitu maumu baiklah," jawab Wiro. Sang pemuda 

menduga jangan-jangan gadis ini hendak membicarakan peristiwa 

belum lama berselang. Menyangkut hubungannya dengan Luhjelita, 

Peri Angsa Putih serta Peri Bunda. Sambil membelai rambut 

Luhcinta dia berkata. 

"Usap air matamu, turunkan dua tanganmu biar aku bisa 

melihat wajahmu yang cantik. Setelah itu katakanlah apa yang 

hendak kau sampaikan ...." Luhcinta hentikan suara isaknya. 

Perlahan-lahan dia turunkan kedua tangannya. Saat itu seolah 

datang dari atas pohon mendadak terdengar suara tawa bergelak. 

Demikian hebatnya tawa itu hingga Wiro merasa tanah di 

sekitar pohon bergetar sepetai ada lindu. Dalam kejutnya murid 

Sinto Gendeng serta merta mendongak memandang ke atas pohon. 

Tapi dia tidak melihat siapa-siapa di situ. 

"Aneh!" pikir Wiro. 

"Luhcinta, kau mendengar suara orang tertawa tadi?" 

bertanya Wiro seraya palingkan kepala, memandang kepadaLuhcinta kembali. Seperti melihat setan kepalatujuh begitulah kaget-

nya sang pendekar ketika melihat baik sosok maupun wajah yang 

duduk dihadapannya saat itu bukan lagi Luhcinta. Tapi satu sosok 

seorang nenek berjubah hitam. Wajahnya luar biasa angker karena 

hidung dan mulutnya menjadi satu membentuk paruh burung. 

Sepasang matanya yang kecil menyembul tanpa allis 

berputar-putar r6emandangi Wiro. Sesaat kemudian nenek ini 

keluarkan suara tawa 'bergelak yang sama dengan suara bergelak 

sebelumnya. 

"Siapa kau?!" bentak Wiro. 

"Luhcinta! Kau tengah bergurau mempermainkanku atau 

bagaimana?" 

"Hik ... hik ... hik! Siapa bemama Luhcinta! Siapa bergurau 

mempermainkanmu! Hik ... hik ... hik!" Suara si nenek tinggi kecil, 

mendenging dan menyentak. Wiro yang mulai mencium adanya 

bahaya di balik keanehan ini segera kerahkan tenaga dalamnya 

untuk sewaktu-waktu bisa menghantam. 

"jika kau bukan Luhcinta berarti kau setan rimba belantara! 

Makhluk jejadian! Jangan berani mempermainkan, apalagi 

bermaksud jahat mencelakaiku!" Si nenek kembali tertawa panjang. 

Sambil tertawa dia bangkit berdiri. Wiro mundur beberapa langkah. 

Astaga, si nenek kurus hitam dan agak bungkuk ini ternyata 

satu kepala lebih tinggi dari dia. 

"Pendekar212 Wiro Sableng, saat ini kau memang sudah 

celaka!" 

"Nenek sialan! Apa maksudmu?! Siapa kau sebenarnya? 

Mana Luhcinta?!" 

"Luhcinta tak pernah ada di tempat ini! Hik ... hik. .. hik! Yang 

ada hanyalah aku. Hantu Santet Laknat!" 

"Hantu Santet Laknat!" Wiro berseru tegang. Kejapan itu juga 

dia ingat semua penuturan Lakasipo. Juga kejadian yang menimpa 

Lawungu. 

"Kau menipuku! Kau memperdayaiku masuk ke dalam rimba 

belantara ini!""Kau memang sudah tertipul Sudah terjebak dalam rimba 

Lasesatbuntu! Seumur hidup kau tak bakal bisa keluar lagi dari 

tempat ini! Dewa sekalipun tak bakal bisa menolongmu! Hik ... hik ... 

hik! Nasibmu memang malang anak muda!" 

Hantu Santet Laknat tertawa panjang lalu melangkah mundur. 

Sebaliknya Wiro cepat bergerak. Sekali lompat saja dia sudah 

mencekal rambut putih di kepala si nenek dengan tangan kiri 

sementara tangan kanan mencengkeram di leher. 

"Tua bangka keparat! Aku memang sudah lama mendengar 

kejahatanmu! Antara kita tidak ada permusuhan! Mengapa kau 

hendak mencelakai aku? Siapa menyuruhmu?!" Si nenek hanya 

menjawab dengan tawa cekikikan. 

Wiro gerakan dua tangannya. Sosok si nenek dibanting-

kannya ke tanah hingga mengeluarkan suara bergedebukan. Tapi 

hebatnya si nenek cepat bangkit dan kembali tertawa panjang 

melengking-lengking. Dengan dua tangannya Wiro tangkap leher si 

nenek. Namun dia tak mampu meneruskan gerakannya untuk 

mencekik atau mematahkan leher kurus itu. Seperti ada satu 

kekuatan aneh membendung apa yang hendak dibuatnya. Tiba-tiba 

si nenek gerakkan kedua tangannya. 

"Bukk ... bukkk ... bukkk!" Jotosan keras melanda dada 

Pendekar 21 2. Berteriak kesakitan Wiro terpaksa lepaskan 

cengkeramannya di leher si nenek. Terhuyung-huyung dia cepat 

imbangi diri lalu tidak menunggu lebih lama Wiro menghantam tubuh 

si nenek dengan pukulan sakti Segulung Ombak Menerpa Karang. 

Serangkum angin sedahsyat prahara melabrak tubuh si nenek. 

Jangankan tubuh manusia, sesuai dengan hebatnya nama pukulan 

sakti itu, batu karangpun bisa dihancur leburkannya. 

Sosok Hantu Santet Laknat mencelat ke udara. Pukulan Wiro 

yang terus melabrak pohon besar di belakang si nenek membuat 

pohon itu bergoncang keras. Batangnya berderak, di sebelah bawah 

akar-akarnya bergeletar lalu "braakk!" Pohon besar miring 

bergemuruh dan tumbang setelah batangnya terlebih dulu hancur 

berkeping-keping.Wiro melompat, mencari sosok Hantu Santet Laknat yang 

dipastikannya sudah ikut hancur dan berkaparan di sekitar 

tumbangan pohon. Tapi dia tidak menemukan apa-apa. Pendekar 

212 memaki panjang pendek. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara 

tertawa, panjang melengking-lengking di belakangnya. Wiro berbalik. 

Hendak menghantam dengan pukulan Sinar Matahari. Tapi dia sama 

sekali tidak melihat sosok si nenek. Dalam keadaan seperti itu Wiro 

merasa ada cairan meleleh di bibirnya. Ketika dia mengusap dan 

memperhatikan ternyata darah. 

"Aku terluka di dalam. .." kata Wiro dalam hati dan kini baru 

ingat kalau tadi dadanya telah dihantam bertubi-tubi oleh Hantu 

SantetLaknat 

"Nenek jahanam itu. Kalau mau dia bisa membunuhku 

dengan pukulannya. Tapi dia tidak melakukan! Pasti dia menyem-

bunyikan maksud lebih jahat dan lebih keji terhadapku!" Murid Sinto 

Gendeng usap dadanya yang mendenyut sakit. 

Perlahan-lahan dia dudukdi tanah. Mengatur jalan darah, 

pernafasan dan kerahkan tenaga dalam ke dadanya yang sakit 

* * * 

DALAM gelapnya malam, di atas pohon di pinggir kawasan 

rimba Lasesatbuntu, Hantu Santet Laknat mendekam tak bergerak. 

Sepasang matanya yang tanpa alis terpejam. Paruh burungnya 

bergerak-gerak. Saat itu pikirannya sedang kacau. Hatinya terus 

menerus membatin. 

"Betul apa yang diucapkan Junjungan. Ternyata pemuda itu 

memiliki wajah cakap serta perawakan gagah sempurna. Wahai .... 

Bersyukur aku masih bisa menahan diri hingga pukulanku tadi tidak 

sampai merenggut nyawanya. Wahai, apakah hatiku telah tergoda? 

Junjungan, apakah aku benar harus mengikuti ucapanmu? 

Mengawini pemuda itu, menjadikannya sebagai suamiku? tapi 

bagaimana mungkin? Keadaan rupaku yang seperti ini tidak 

memberi jalan baginya untuk menyukai diriku. Apalagi dia sudah 

mengetahui kejahatan yang aku lakukan terhadapnya. Aku memang 

memiliki ilmu kesaktian bernama llmu Bersalin Wajah. Dengan ilmuitu aku bisa merubah diri setiap saat aku suka. Merubah wajah 

dengan wajah siapa saja yang aku suka. Tetapi hal itu tak bisa abadi 

.... Apa yang harus aku lakukan ... ?" 

Hantu Santet Laknat duduk tak bergerak, mendekam sambil 

rangkapkan dua tangan di depan dada. Wajah Pendekar 212 Wiro 

Sableng selalu terbayang sekalipun dia memejamkan kedua 

matanya. 

"Pemuda itu .... lakasipo dan Hantu Muka Dua tidak ada apa-

apanya dibandingkan dengan dirinya. Mungkin aku harus 

mengurangi, menarik sebagian manteraku agar dia tidak celaka di 

dalam hutan. Setelah itu apa yang harus kuperbuat? Menemuinya? 

Bercinta dengannya? Aku harus tahu siapa gadis idamannya. Untuk 

bersalin wajah menjadi Luhcinta rasanya teralu berbahaya. Aku 

harus mencari wajah seorang lain yang disukainya. Mungkin 

Luhjelita...?".


TUJUH


Dalam gelapnya malam Wiro berusaha mencari jalan keluar 

dari rimba belantara gelap itu. Bukan saja dia tidak berhasil keluar 

tanpa disadarinya dia malah tersesat semakin dalam ke dalam 

hutan. Di satu tempat Wiro menemukan sebuah telaga kecil. Dia 

berhenti di sini dan memutuskan untuk tetap berada di tempat itu 

sampai matahari terbit Malam terasa lama. 

Udara mencucuk dingin. Kesunyian menimbulkan rasa tidak 

enak bagi Wiro selain saat itu dadanya masih mendenyut sakit. 

Sesekali terdengar suara aneh dikejauhan. Entah suara binatang 

buas entah suara makhluk halus penghuni rimba belantara. 

Sepanjang malam Wiro tak bisa tidur karena selalu diganggu oleh 

puluhan bahkan mungkin ratusan nyamuk hutan yang seperti 

berlomba-lomba ingin menghisap darahnya. 

Menjelang pagi, serasa matanya, mau terpejam karena tak 

sanggup menahan kantuk tiba-tiba Wiro melihat sesuatu bergerak di 

seberang telaga kecil. 

"Manusia, seperti perempuan. Dalam gelap tubuhnya 

kelihatan putih. Astaga .... Perempuan itu nyaris tidak berpakaian di 

sebelah atas ... ." Wiro bangkit berdiri. Melihat Wiro bergerak orang 

di seberang telaga serta merta menyelinap ke balik semak belukar. 

"Tunggu! jangan lari! Aku bukan orang jahat!" Berseru Wiro. 

Cepat dia memutari telaga Namun ketib sampai di balik semak 

belukar sosok itu tak ada di sana. 

"Jangan-jangan yang kulihat tadi hantu penghuni rimba 

belantara ini ...” pikir Wiro dengan tengkuk merinding. Dia kembali 

ke tempatnya semula. Menunggu kalau-kalau sosok tadi terlihat 

kembali. Tapi orang itu ternyata tidak muncul lagi. Wiro memandangke arah timur. Langit masih tampak gelap pertanda sang surya 

masih lama baru akan terbit. 

Tiba-tiba terdengar suara seperti ada satu benda meluncur di 

dalam air. Wiro palingkan kepalanya menatap tajam-tajam ke dalam 

telaga. Kejut pemuda ini bukan alang kepalang ketika tiba-tiba 

pandangannya membentur satu sosok panjang, hitam berkilat 

melesat keluar dari dalam telaga, langsung menyambar ke arahnya! 

"Ular besarl" seru Wiro, Dia jatuhkan diri ke tanah lalu 

berguling menjauhi tepi telaga. Namun dari arah kanan tiba-tiba ada 

yang menyambar. 

”Wuuuuttt!" 

"Bukkkk!" 

Wiro mengeluh tinggi. Tulang pinggulnya serasa hancur. 

Binatang panjang yang keluar dari dalam telaga ternyata telah 

menghantamnya dengan ujung ekornya. Lalu binatang ini yang 

memang menyerupai ular tapi memiliki dua kepala keluarkan 

desisan keras, kembali melesat ke arah Wiro. 

Kali ini Wiro tak tinggal diam. Sambil tekuk lututnya sedikit 

dan menahan sakit pada pinggulnya Wiro hantamkan satu jotosan 

ke pangkal leher ular kepala dua. 

"Bukkkk!" 

Pukulan yang dilancarkan dengan jurus bernama Kepala 

Naga menyusup Awan itu dengan telak mendarat di leher ular 

kepala dua Jangankan benda hidup, batu sekalipun pasti akan 

hancur berantakan dihantam pukulan sakti mengandung tenaga 

dalam tinggi itu. Namun justru saat itu Wiro sendiri yang jatuh 

terkapar dan mengeluh kesakitan. Tangan kanannya dikibas-

kibaskan. Sakit bukan main seolah jari-jarinya ada yang remuk! 

"Ular kepala dua ini pasti binatang jejadian!" pikir Wiro. 

"Ular biasa pasti sudah mampus kena hantamanku tadi!" Saat 

itu Wiro tak bisa berpikir lebih lama. Dalam gelap ular kepala dua 

yang tadi hanya sempoyongan dilanda pukulan Wiro sambil 

keluarkan suara mendesis kembali menyerang. Tubuhnya yang 

hitam berkilat berubah lunrs. Laksana tombak besi yang dilemparkan 

dengan sebat, binatang ini melesat ke arah selangkangan Wiro"Kurang ajar! Mengapa barangku yang diincarnya!" maki 

Pendekar 212. Dengan cepat dia melompat. Lalu dari atas kirimkan 

tendangan ke kepala ular. Hebat sekali binatang ini bukan saja 

mampu mengelak dengan cara rundukkan kepala, tapi tiba-tiba 

sekali bagian belakang tubuhnya berkelebat demikian rupa. 

"Wuuuutttt!" 

Sebelum dia sadar apa yang terjadi tahu-tahu Wiro dapatkan 

dirinya sudah dilibat ular hitam besar itu mulai dari pinggang sampai 

ke dada. Kepalanya dan kepala ular saling berhadap hadapan. 

Binatang berkepala dua ini buka mulutnya lebar-lebar. Dalam gelap 

Wiro dapat melihat bagian dalam dua mulut ular, Lidahnya merah 

bercabang. Gigi-giginya panjang runcing, memancarkan sinar aneh. 

"Wuuuuttt!" 

Dua kepala ular menyambar ubun-ubun pendekar 212. Wiro 

hantamkan dua tangannya ke atas. Satu memukul, satu lagi 

berusaha mencekal leher binatang itu. Celakanya, dua gerakan 

tangan Wiro itu tidak satupun menemui sasaran! 

"Tamat riwayatku!" 

Wiro masih berusaha menggerakkan kepalanya ke samping 

untuk menghindarkan patukan ular. Namun sia-sia saja! Sesaat lagi 

ubun-ubun di batok kepala Pendekar 212 akan jebol dihantam 

patukan dua kepala ular, tiba-tiba dari kegelapan melesat selarik 

sinar hitam. Laksana pedang sinar itu membabat pangkal leher ular 

kepala dua. 

”Crassss” 

Leher itu putus. Darah muncrat menyembur kepala dan 

pakaian Wiro. Tidak tunggu lebih lama Wiro segera betot tubuh ular 

yang melingkar menggulung dirinya lalu dibantingkannya ke sebuah 

batu di tepi telaga. Lalu dia memandang berkeliling. Dia tak melihat 

siapa-siapa. 

"Orang pandai yang barusan menolongku!" Wiro berseru. 

"Harap sudi perlihatkan diri untuk menerima ucapan terima 

kasihku!" Tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Wiro seka kepala dan 

mukanya yang berselomotan darah ular. Dia hendak membungkukke telaga, bermaksud mencuci mukanya. Tapi khawatir kalau kalau 

ada lagi ular seperti tadi, pendekar ini segera urungkan niatnya. 

"Lebih baik aku menjauh dari telaga keparat ini!" Wiro lantas 

mencari tempat yang dirasakannya lebih aman. Di atas sebatang 

pohon yang tidaK terlalu tinggi dan berdaun jarang akhirnya dia 

duduk di salah satu cabang. Kantuknya sudah lenyap sejak tadi-tadi. 

"Hantu Santet Laknat! Ini semua gara-gara nenek keparat itu! 

Aku tidak ada permusuhan dengan dia. Mengapa dia mencelakai 

diriku seperti ini. Janganjangan...!' Wiro garukk kepalanya. 

"Mungkin karena aku sahabat atau saudara angkat Lakasipo 

Mungkin dia tahu aku pernah menolong lelaki itu. Jadi menganggap 

aku sebagai musuhnya. Gila betul!" 

Sementara itu di tempat lain dalam gelap dan dinginnya 

malam menjelang pagi Hantu Santet Laknat mendekam tak bergerak 

di balik sebuah batu berlumut. Saat itu dia dibayangi rasa takut 

"Kalau Junjungan mengetahui aku tadi telah menyelamatkan 

pemuda itu, .bukan saja aku akan kena damprat. Hukuman berat 

pasti akan dijatuhkannya atas diriku!" pikir si nenek. Namun hati 

kecilnya menyahuti. 

"Perlu apa takut pada Junjungan. Bukankah dia sendiri 

menyuruhku agar mengawini pemuda itu? Menjadikannya sebagai 

suamiku?! Kalau siang tiba kau harus melakukan sesuatu! Kau 

harus dapatkan pemuda itu! Lupakan Hantu Muka Dua! Kau hanya 

tergila seorang diri padanya! Bertepuk sebelah tangan! Kau harus 

mendapatkan pemuda bernama Wiro itu! Harus!" 

* * * 

"RIMBA belantara aneh ..." kata Wiro yang saat itu masih 

mendekam di atas pohon berdaun jarang. 

"Suara kicau burungpun terdengar menyeramkan!" Dia 

memandang ke arah timur. Langit di ufuk sana mulai kelihatan 

terang pertanda sang surya sebentar lagi akan muncul 

memperlihatkan diri menerangi jagat.Dari atas pohon Wiro memandang ke arah telaga kecil. Di tepi 

telaga tampak bangkai besar ular hitam masih tergeletak. Kicau 

burung semakin riuh. Di kejauhan ayam hutan mulai berkotek 

bersahut-sahutan. Langit di sebelah timur semakin terang. Wiro 

melompat turun dari atas pohon melangkah menuju telaga. Bangkai 

ular ditendangnya dengan kaki kiri hingga terpental jauh. Dia 

memperhatikan keadaan didalam dan sekitar telaga. Setelah 

memastikan tempat itu benar-benar aman baru dia masuk ke dalam 

telaga untuk membersihkan diri. 

Ketika dia keluar dari telaga Wiro dapatkan matahari telah 

muncul di sebelah timur. 

"Aku harus keluar dari hutan celaka ini!" kata Wiro dalam hati. 

Karena tidak tahu arah mana yang harus ditempuhnya, Wiro lalu 

memilih berjalan ke jurusan timur. Menyongsong sang surya yang 

baru terbit Dia berjalan cepat di antara pepohonan dan semak 

belukar lebat. Di satu tempat terbuka berupa pedataran yang 

ditumbuhi rumput liar Wiro hentikan langkahnya. Cahaya matahari 

yang sedang bergerak naik saat itu baru mencapai ujung pedataran. 

Wiro kemudian sengaja melangkah ke ujung pedataran ini 

agar dirinya bisa tersiram sinar matahari. Sebagian pakaian dan 

rambut di kepalanya saat itu masih basah kuyup sehabis dicuci di 

telaga. Hatinya merasa lega sedikit karena saat itu sakit di dadanya 

telah jauh berkurang. Hanya pikirannya masih dibungkus oleh teka-

teki siapa kira-kira orang yang telah menolongnya dari serangan 

maut ular kepala dua tadi malam, 

"Mungkinkah Peri Angsa Putih, atau Peri Bunda ... ?" Ketika 

Wiro mencapai ujung pedataran, sewaktu sinar matahari menyentuh 

dirinya terjadilah hal yang tidak terduga dan benar-benar 

mengejutkan. Pakaian putih yang dikenakannya mendadak sontak 

mengepulkan asap laksana terbakar. Di lain kejap seluruh pakaian 

itu lenyap tidak berbekas! Kini dia berdiri dalam keadaan bugil polos. 

Kapak Naga Geni 212 dan batu hitam pasangannya jatuh ke tanah. 

Wiro jadi kalang kabut. Cepat-cepat dia mengambil dua benda sakti 

itu lalu cepat-cepat pula dia menutup auratnya sebelah bawah 

dengan tangan kiri."Gila! Apa yang terjadi? Mana mungkin sinar matahari bisa 

membuat sirna pakaianku!" Dia memandang berkeliling. 

"Untung tak ada orang lain! Benar-Benar gila! Bagaimana 

mungkin aku berkeliaran dalam hutan ini, mencari jalan keluar, 

bertelanjang bulat seperti ini?! Kalau sampai bertemu orang lain, 

orang perempuan matilah aku! Kemana aku sembunyikan perabotan 

di bawah perutku!" Wiro hendak menggaruk kepalanya dengan 

tangan kiri Tapi tak jadi. Karena kalau tangan kirinya diangkat ke 

atas berarti aurat di bawah perut yang ditutupinya akan terbuka 

melompong! 

"Gila! Aku harus bagaimana?!" Wiro memaki panjang pendek 

"Jangan-jangan ini lagi-lagi pekerjaannya Hantu Santet 

Laknat! Nenek celaka jahanam!".


DELAPAN


SETlAP kali Naga Kuning menepuk lepas tangan si Setan 

Ngompol yang selalu memegang celananya, kembali si kakek 

menjambret pakaian bocah itu. 

"Kakek geblek! Bagaimana aku bisa berlari cepat kalau kau 

selalu memegangi pantat celanaku!" Naga Kuning mengomel. 

"Jangan salahkan diriku!" jawab Setan Ngompol. 

"Aku menaruh firasat hutan ini celaka! Kita bakal menghadapi 

bahaya tak terduga! Sudah satu malaman kita di dalam hutan! Kita 

seperti berputar-putar tak karuan. Wiro tak kunjung ditemukan!" 

Jawab Setan Ngompol sambil tangan kirinya ditekapkan ke bawah 

perut. 

"Naga Kuning, baiknya kita kembali saja ke lembah batu ...." 

"Tidak bisa! Kita harus mencari Wiro sampai dapat. Aku juga 

punya firasat kalau si sableng itu sedang dihadang marabahaya!" 

"Malam gelap, dingin. Di dalam rimba seram begini rupa! Aku 

...." Serrrr. Si kakek tak sanggup lagi menahan kencingnya. Dia 

beser sambil terus lari mengikuti Naga Kuning. 

"Sebentar lagi bakal siang. Apa tidak kau lihat langit di 

sebelah timur sudah mulai terang?!" Bocah ini pukul lengan orang 

tua itu hingga lepas. Tapi kembali si kakek ulurkan tangan pegangi 

pantat celana Naga Kuning. 

"Kek! Lebih baik kau berteriak-teriak memanggil Wiro. 

Mungkin bisa menolong menemukannya lebih cepat!" 

"Di dalam rimba belantara angker begini rupa aku tak berani 

berteriak Salah-salah leherku bisa dicekik dedemit penghuni hutan!" 

Saking kesalnya Naga Kuning menjawab. 

"Kalau di sini memang ada dedemit bukan lehermu sebelah 

atas yang dicekiknya. Tapi lehermu sebelah bawah yang peot bau 

pesing itu!""Anak samba!! Jangan Kau menakut-nakuti diriku!" kata si 

kakek pula dan perkencang pegangannya pada pakaian si bocah. 

Tak lama kemudian mentari mulai kelihatan muncul di ufuk timur. 

Keadaan yang tadinya gelap kini menjadi terang, membuat lega hati 

si Setan Ngompol. 

"Ada pedataran berumput di sebelah sana!" Naga Kuning 

berseru sambil menunjuk ke arah barat 

"Kita menuju ke sana! Aku perlu istirahat! Dadaku sudah 

sesak. Nafasku tinggal satu-satu !" Kedua orang itu berjalan cepat di 

sela-sela kerapatan pepohonan dan menyeruak di antara semak 

belukar. Hanya tinggal beberapa tombak lagi mereka akan sampai di 

ujung pedataran rumput liar tiba-tiba ada satu hawa aneh datang 

dari depan, mendorong mereka hingga Naga Kuning yang berada di 

sebelah depan terhuyung keras ke belakang, mendorong si kakek, 

membuatnya hampir jatuh! Menyangka si bocah sengaja hendak 

bercanda lagi, si Setan Ngompol mengomel marah. 

"Anak geblek! Masih berani kau main-main! Jangan kau kira 

perbuatanmu barusan lucu! Kalau aku sampai jatuh dan pantatku 

cidera, kupencet barang bututmu!" 

"Siapa main-main? Apa maksudmu?!" Naga Kuning 

mendamprat tak kalah marahnya 

"Mengapa kau barusan pura-pura terhuyung-huyung? kalau 

bukan sengaja mau mendorongku sampai jatuh!" 

"Siapa pura-pura! Perlu apa mendorong tubuh rongsokan 

macam kau! Kau tahu, ada angin aneh menyambar dari depan!" 

"Dusta besar! Aku tidak merasa apa-apa!" 

"Kalau tidak percaya majulah. Jalan ke arah sana ...." Setan 

Ngompol menyeringai. Masih menganggap si bocah bergurau. Dia 

melangkah ke depan. Baru berjalan tiga langkah tiba-tiba ada angin 

menyambar keras, membuatnya terpental dan jatuh duduk di tanah, 

langsung terkencing-kencing. Mukanya pucat 

"Ada yang tidak beres. Tempat ini pasti tempat angker. Lekas 

pergi dari sini ..." kata Setan Ngompol seraya bangkit berdiri. Naga 

Kuning memandang berkeliling. Meski hatinya mulai was-was namun 

dia ingin mencoba sekali lagi. Kali ini dia tidak berjalan cepat tapimelangkah perlahan-lahan. Pada langkah ke empat tubuhnya seperti 

membentur sebuah tembok yang tidak kelihatan. Dia tidak bisa 

meneruskan langkah. Dua tangannya diacungkan ke depan. Dia 

menyentuh sesuatu yang keras tapi tidak berujud. Dia coba 

mendorong. Daya dorongnya membalik ke arah dirinya sendiri. 

Makin keras dia mendorong makin keras daya balik mendera 

tubuhnya. 

"Ada apa ... ?" bertanya Setan Ngompol ketika dilihatnya 

wajah Naga Kuning bukan saja keringatan tapi juga memutih pucat. 

"Ada kekuatan aneh. Seperti ada tembok kaca yang tak 

terlihat menghalang di depan sini ....” 

"Coba kau hantam dengan pukulan sakti! Masakan tidak 

jebol! Mana ada tembok yang tidak kelihatan! Kau punya bisa-bisa 

sendiri Naga Kuning!" kata Setan Ngomnpol sambil menahan 

kencing karena kakek ini memang sudah ketakutan. 

"Kau saja yang memukul!" sahut Naga Kuning. Karena kesal 

terus-terusan tidak dipercaya anak ini lantas dorong punggung si 

kakek hingga Setan Ngompol hampir tersungkur dan pancarkan air 

kencing. 

"Bocah sialan!" maki Setan Ngompol. Tapi diam diam dia 

kerahkan juga tenaga dalam ke tangan kanan lalu memukul ke 

depan. 

"Bukkk!" 

Jotosan Setan Ngompol menghantam sesuatu yang tidak 

kelihatan. Si kakek terpekik kesakitan. Tangan yang tadi memukul 

dikibas-kibas sementara tangan kiri bum-buru menekap bagian 

bawah perut tapi air kencingnya sudah keduluan mancur. 

"Kalau sudah tahu rasa baru percaya!" kata Naga Kuning 

sambil mencibir. Lalu dia memandang ke jurusan depan. Tiba-Tiba 

anak ini berteriak. 

"Kek! Lihat!" 

"Ada apa lagi?!" sembur Setan Ngompol yang masih 

kesakitan. 

"Lihat si sableng itu! Dia ada di sana! Mengapa dia telanjang 

begitu rupa? Sudah benar-benar sableng dia rupanya!" Mendengarucapan Naga Kuning si kakek Setan Ngompol segera palingkan 

kepala, memandang ke jurusan yang ditunjuk. 

"Astaga!" Kagetlah si Kakek. 

"Apa yang terjadi dengan anak itu! Jangan-Jangan dia sudah 

dipukau setan hingga jadi gila! Bertelanjang bulat begitu rupa! Lihat, 

perabotannya gundal-gandil kemana-mana! Gila betul! Wiro! Hai! 

Wiro!" Setan Ngompol berteriak. Suara teriakannya keras dan 

menggema di seantero rimba belantara karena dia berteriak disertai 

pengerahan tenaga dalam. Naga Kuning juga ikut berteriak 

memanggil-manggil Wiro. Malah anak ini berlari kedepan, tapi 

terhempas kembali seolah ada dinding yang tak kelihatan telah 

ditabraknya. 

"Wiro!" teriak Naga Kuning sambil lambai-lambaikan tangan. 

"Wiro! Anak sableng!" Setan Ngompol kembali berteriak. Di 

ujung sana, dekat pedataran rumput liar, Pendekar 212 kelihatan 

berjalan kian kemari seperti orang bingung. Dia memandang ke 

langit, berpaling ke kiri atau ke kanan, memandang berkeliling. 

Sekali-sekali tangannya menggaruk-garuk kepala. Agaknya dia 

sama sekali tidak mendengar teriakan Naga Kuning dan Setan 

Ngompol! Dan memang aneh luar biasa bagi Setan Ngompol dan 

Naga Kuning karena saat itu Wiro sama sekali tidak mengenakan 

pakaian. Dia berjalan polos kian kemari sambil memegang kapak 

sakti dan batu hitam. 

"Aneh! Masakan dia tidak mendengar teriakan kita!" ujar 

Setan Ngompol. Naga Kuning juga terheran heran. 

"Sepertinya ada sesuatu yang membatasi antara kita dengan 

dia. Dinding tak kelihatan itu .... Kita bukan saja tak bisa melintasi 

tempat ini, malah suara kita juga tidak bisa tembus ke sebelah 

sana!" kata Naga Kuning. Otaknya bekerja. Dia melihat sebuah batu 

sebesar kepalan. Batu ini diambilnya lalu dilemparkannya ke arah 

Wiro di ujung lapangan. 

Tapi "blukkk!" Batu sebesar kepalan itu mental kembali. Kalau 

tidak lekas merunduk batu itu akan medarat di kening Setan 

Ngompol. Terkencing-kencing si kakek memaki panjang pendek. 

"Bocah edan! Kau mau membuat somplak kepalaku!""Wiro! Hai! Kau budek atau tuli? Torek hah?!" Naga Kuning 

kembali berteriak Tapi sia-sia saja. Wiro tetap tidak mendengar 

padahal jarak mereka hanya terpisah kurang dari tujuh tombak. 

"Jangan-jangan anak itu sudah dicium setan congek hingga 

telinganya jadi tuli!" kata Naga Kuning 

"Aku.khawatir dia bukan cuma tuli, tapi matanya juga ikut-

ikutan tidak beres. Masakan kita berada sedekat ini dia tidak bisa 

melihat!" ujar Setan Ngompol pula. 

"Kita cari jalan berputar. Mungkin bisa tembus! Jalan ke ujung 

sana baru membelok ke arah pedataran rumput!" kata Naga Kuning. 

Setan Ngompol setuju. 

Dua orang itu lari ke ujung timur. Setelah cukup jauh mereka 

membelok ke kiri. Tapi "buukk.. bukkk!" Kembali sosok mereka 

menghantam dinding yang tidak kelihatan. Selagi terhuyung-huyung 

tiba-tiba Naga Kuning berseru. 

"Dia lenyap! Wiro lenyap!" 

Saat itu Pendekar 212 yang tadi berada di dekat lapangan 

sebelah sana kini memang lenyap tak kelihatan lagi. 

"Kemana kita harus mencari? Apa yang terjadi dengan anak 

itu?!" Setan Ngompol tampak bingung sekali dan tak putus-putusnya 

menekapkan tangan ke bawah perut. 

"Aku tidak percaya pada segala macam setan, jin atau 

dedemit!" berkata Naga Kuning. 

"Jangan-jangan ada orang jahat berkepandaian tinggi me-

nguasai kawasan rimba belantara ini sengaja hendak mencelakai 

Wiro!" berbisik Naga Kuning. 

"Kalau cuma masih namanya manusia, bagaimana pun tinggi 

kepandaiannya pasti bisa kita tembus. Kau boleh saja tidak percaya. 

Tapi kurasa kita tengah berhadapan dengan sebarisan jin atau 

dedemit penguasa hutan! Kita harus mencari seseorang untuk minta 

bantuan. Aku punya firasat kalau tidak ditolong si Wiro itu tak bakal 

bisa keluar dari hutan ini sampai kiamat dan kita tak bisa tembus 

masuk ke dalam!" 

"Kalau mau minta tolong pada siapa?" tanya Naga Kuning."Nanti kita selidiki. Yang penting kita harus tinggalkan tempat 

ini sebelum kita berdua juga ditelanjangi!" Walau dia sendiri yang 

berkata begitu tapi rasa takut tak bisa dibendungnya. Begitu Naga 

Kuning lari meninggalkan tempat itu si kakek segera mengikuti 

sambil terkencing-kencing. 



SEMBILAN


WIRO duduk dengan paha dirapatkan. Kapak Naga geni 212 

dan batu hitam diletakkannya di atas pangkuan. Memandang ke 

langit dilihatnya matahari mulai menggelincir ke barat Sampai saat 

itu dia masih bingung karena tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi 

dengan dirinya. 

Apa lagi setelah hampir setengah harian dia mengelilingi 

rimba belantara itu namun tidak kunjung bisa keluar. Tanpa 

setahunya sepasang mata mengintip dari balik serumpunan semak 

belukar lebat Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah benda hijau 

melayang di udaraa lalu jatuh di tanah, beberapa langkah di 

hadapannya. 

Pendekar 212 tidak segera memperhatikan benda apa yang 

jatuh di tanah itu. Sebaliknya perhatiannya lebih tertuju pada arah 

datangnya benda tersebut Saat itu dia melihat ujung semak belukar 

di sebelah sana tampak bergerak-gerak. Tanpa sadar akan keadaan 

dirinya dan mengira ada orang bermaksud jahat padanya dia cepat 

melompat ke arah semak belukar sambil putar Kapak Maut Naga 

Geni 212 di atas kepala. Sinar putih berkilauan bergulung di udara, 

suara seperti tawon mengamuk menderu. 

Begitu Wiro menjejakkan kaki di tanah di balik semak belukar, 

satu pekikan perempuan melengking keras di tempat itu. Meman-

dang ke depan Wiro dapat kan dirinya berhadap-hadapan dengan 

seorang gadis cantik berkulit hitam manis. Karena hanya mengena-

kan pakaian terbuat dari daun-daun hijau yang disambung-sambung, 

maka lekuk-lekuk tubuhnya yang bagur dan kencang terlihat cukup 

jelas. Ketika melihat Wiro yang tanpa pakaian tegak di hadapannya, 

kembali si gadis terpekik keras dan balikkan badannya lalu lari ke 

balik semak belukar lain di sebelah kiri.Murid Eyang Sinto Gendeng baru sadar akan keadaan dirinya 

dan jadi kalang kabut berusaha menutupi aurat. Dalam bingungnya 

dia hampir hendak lari, berlindung ke balik semak belukar yang 

sama di mana gadis tadi bersembunyi. 

"Gila! Apa yang terjadi dengan diriku! Aku takut dan malu 

bertemu orang. Malah kini bertemu seorang gadis. Siapa dia?! 

Manusia sungguhan atau makhluk halus jejadian? Jangan-jangan 

dia Hantu Santet Laknat yang kembali merubah diri hendak 

mencelakaiku! Mungkin juga dia sosok orang yang kulihat malam 

tadi ... ?" 

Wiro lalu berlindung ke belakang semak belukar di mana 

sebelumnya gadis berbaju daun hijau tadi I pertama kali sembunyi. 

Dari sini dia bisa melihat benda hijau yang masih tergeletak di tanah. 

Ketika diperhatikannya sekali lagi baru dia menyadari. Benda hijau 

itu adalah rangkaian daun-daun hijau yang dibentuk demikian rupa 

hingga merupakan sehelai celana pendek walau agak mekar di 

sebelah bavrlah, menyerupai pakaian perempuan. 

"JanganJangan gadis itu hendak berbuat baik. Sengaja 

melemparkan pakaian dari daun itu untukku! Ah!" Wiro garuk garuk 

kepala. Dia memandang ke arah semak belukar di seberang sana. 

Si gadis agaknya masih sembunyi ditempat itu. Wiro perhatikan 

kembali pakaian dari daun lalu berjingkat-jingkat sambil dua tangan 

yang memegang kapak dan batu hitam ditutupkan ke auratnya 

sebelah bawah, dia melangkah mendekati pakaian itu. Ketika dia 

membungkuk hendak mengambil pakaian dari daun itu tiba-tiba dari 

balik sermak belukar terdengar si gadis berseru. 

"Tunggu!" 

"Sial!" Wiro memaki karena terkejut dan hentikan langkahnya. 

Dia cepat tutup auratnya sebelah bawah lalu berpaling ke arah 

semak belukar. 

"Ada apa ini sebenarnya? Kau siapa?! Apa celana dari daun 

itu bukan untukku?!" Dari balik semak belukar terdengar jawaban. 

"Celana itu memang untukmu! Tetapi kau tidak boleh 

menyentuh dengan tanganmu! Ambil celana dengan jalan menjepit 

dengan jari-jari kaki kananmu! Lalu lemparkan ke udara. Sebelumjatuh sambut dengan kepalamu! Jika celana itu memang ditakdirkan 

menjadi pakaianmu, celana itu akan langsung melekat di tubuhmu!" 

Wiro tentu saja terheran-heran mendengar penjelasan itu. Sambil 

garuk-garuk kepala dia membatin. 

"Aneh-aneh saja! Ambil celana musti dengan kaki segala!" 

Lalu Wiro berkata ditujukan pada gadis di belakang semak belukar. 

"Aku tidak tahu apa kau tengah menolangku, sedang mem-

permainkan diriku atau menyembunyikan kejahatan di balik semua 

ke keanehan ini! Orang gila saja pasti tahu mana ada orang 

mengenakan celana dengan cara menjepit dan melemparkannya ke 

udara! Gila dan aneh! Aneh dan gila! Mengapa musti begitu?!" Dari 

baliksemak belukardi seberang sana kembali terdengar suara orang 

menjawab. 

"Kau berada di dalam rimba Lasesatbuntu...." 

"Hutan Lasesatbuntu!" ujar Wiro. Dia ingat, Lakasipo pernah 

menuturkan keangkeran hutan ini. Lalu dia ajukan pertanyaaan. 

"Apa kau penguasa rimba belantara ini?" 

"Bukan! Kita senasib...." 

"Apa maksudmu senasib?!" tanya Wiro lagi. 

"Jangan banyak bertanya dulu. Dengar, sebagian dari 

kawasan hutan Lasesatbuntu ini berada di bawah pengaruh ilmu 

hitam. Tak tembus pandang, tak tembus suara. Para Peri dan para 

Dewa pun tidak sanggup menembus, melihat dan mendengar apa 

yang terjadi di sini! Jika celana itu memang layak bagimu maka 

begitu menyentuh kepalamu dia akan bergerak turun menutupi 

tubuhmu dari pinggang ke bawah." Wiro terdiam sesaat. Pakaian 

dari daun itu terletak di tanah di tempat terbuka. Jika dia melakukan 

apa yang dikatakan si gadis, dari tempatnya bersembunyi gadis itu 

akan dapat melihatnya jelas sekali. 

"Aku akan lakukan apa yang kau katakan! Tapi harap kau 

jangan memperhatikan!" 

"Siapa sudi memperhatikan! Dari tadipun aku sudah mem-

balikkan diri!" jawab si gadis dari balik rerumpunan semak belukar. 

Wiro ulurkan kaki kanannya."Sialan! Mengapa aku jadi keluarkan keringat dingin!" Murid 

Sinto Gendeng ini memaki sendiri di dalam hati. Pakaian dari daun 

itu dijepitnya dengan jari-jari kaki kanan lalu seperti yang dikatakan 

gadis berkulit hitam manis itu Wiro lemparkan benda itu ke udara. 

Begitu melayang jatuh dia cepat sambut dengan kepalanya. 

”wuuuttt!” 

"Seettt!” 

Pakaian dari daun itu melewati kepala Wiro, turun ke dada 

terus ke perut seolah dia tidak memiliki dua tangan yang 

menghalangi gerak. Sesaat kemudian pakaian itu telah melingkar 

mentutupi auratnya mulai dari pinggang sampai ke paha. 

"Aneh! Benar-benar aneh! Seperti sulap saja!" kata Wiro 

sambil garuk kepala. Dia ingat pada gadis yang sembunyi di balik 

semak belukar. 

" Aku sudah berpakaian! Terima kasih kau sudah 

menolongku! Aku akan menemuimu!" Di belakang semak belukar 

Wiro kembali berhadap-hadapan dengan gadis berkulit hitam manis 

tadi. 

"Aku tidak mengenalmu. Kau telah memberikan pakaian dari 

daun aneh ini padaku! Siapa kau sebenarnya. Apa maksudmu 

dengan Ucapan kita senasib tadi?" 

"Namaku Luhtinti. Aku sahabat Lakasipo. Laki-laki itu pernah 

menolongku dari tangan jahat Hantu Muka Dua!" 

"Namaku Wiro. Aku juga sahabat Lakasipo!" Luhtinti 

mengangguk. 

"Aku pernah mendengar riwayat dirimu dan dua sahabatmu 

dari Laksipo," kata si gadis pula. Tiba-tiba Wiro ingat. 

"Aku harus keluar dari hutan ini. Lakasipo dalam bahaya! Dia 

masuk dalam sebuah jaring iblis milik nenek jahat berjuluk Hantu 

Santet Laknat! Aku harus menolongnya. 

"Kau tak bisa berbuat apa-apa .... Kau tak mungkin bisa 

keluar dari dalam rimba belantara ini. Kau berada di bawah 

pengaruh dan kekuasaan ilmu hitam Hantu Santet Laknat!" Wiro 

terkejut”Apa?! Bagaimana kau bisa tahu?! Jangan-jangan kau adalah 

kaki tangan nenek jahat itu!" 

"Aku senasib denganmu! Hantu Santet Laknat menjebloskaan 

aku ke dalam rimba belantara ini atas perintah Hantu Muka Dua. 

Dulu aku adalah budak .Hantu Muka Dua yang dipaksa menjadi kaki 

tangan pembantunya bersama empat orang gadis lain. Ketika aku 

melarikan diri bersama Lakasipo, dia menuduhaku sebagai 

pengkhianat Karena dia punya pantangan membunuh maka dia 

menyuruh Hantu Santet Laknat untuk menghukumku. Aku 

dijebloskan ke dalam rimba belantara ini! Tak mungkin bisa keluar 

lagi untuk selama-lamanya. 

Ketika pertama aku dijebloskan ke dalam rimba ini, hal yang 

kau alami juga terjadi atas diriku. Pakaianku musnah secara aneh 

begitu tersentuh sinar matahari. Aku membuat dua pakaian dari 

daun. Satu kupakai sendiri, satu lagi yang kau kenakan itu ...." 

(Mengenai riwayat Luhtinti baca Episode berjudul "Peri Angsa 

Putih") 

"Celaka... celaka,..." Wiro berucap berulang kali. Kapak Maut 

Naga Geni 212 dan batu hitam sakti diselipkannya ke pinggang 

celana yang terbuat dari sambungan-sambungan daun-daun hijau itu 

yang ternyata selain tebal juga cukup kuat. 

"Kita memang telah dilanda celaka dihantam bala!" menyahuti 

Luhtinti. 

"Apa benar katamu, kita selama-lamanya akan terpendam 

dalam rimba belantara ini. Tak bisa keluar dan orang dari luar juga 

tak bisa menolong kita termasuk para Peri dan Dewa?!” 

"ltulah nasib kita ..." jawab Luhtinti sedih. 

"Aku tidak percaya! Pasti ada cara! Pasti ada jalan! Setiap 

ilmu hitam bagaimanapun hebatnya pasti ada titik kelemahannya! 

Pada titik kelemahan itu kita dapat menghancurkannya!" 

"Aku sudah tiga purnama berada dalam rimba celaka ini. 

Gerak dan pandanganku terbatas. Setiap aku coba mencari jalan ke-

luar, aku hanya berputar-putar dan selalu kembali ke tempat semula. 

Aku ingin menjerit, ingin menangis! Bahkan kadang-kadang timbul 

jalan sesat dalam benak dan hatiku! lngin bunuh diri saja! Tapi ..Murid Eyang Sinto Gendeng pandangi wajah dan sosok 

Luhtinti. Jika tidak dalam keadaan seperti itu dia akan menyadari 

betapa gadis berkulit hitam manis ini bukan saja memiliki wajah 

cantik jelita tapi juga tubuh yang sangat bagus dan tersingkap di 

sana-sini penuh menggairahkan. Sebaliknya Luhtinti yang berada 

dalam keadaan lebih tenang setiap dia menatap paras sang 

pendekar dadanya terasa berdebar. Dia harus mengakui, tidak ada 

pemuda di Negeri Latanahsilam yang memiliki wajah segagah 

pemuda asing ini. 

Wiro kepalkan dua tangannya. Lalu dia ingat akan "llmu 

Menembus Pandang" yang di dapatnya dari Ratu Duyung. Pada 

Luhtinti dia berkata. 

"Kita pasti bisa keluar dari sini! Aku akan berusaha!" Lalu 

Wiro salurkan tenaga dalamnya ke kepala. Matanya dikedipkan dua 

kali berturut-turut. Dia memandang berkeliling. Seperti diketahui 

dengan ilmu itu Wiro bisa melihat apa saja dikejauhan sekalipun 

terhalang sesuatu. 

Namun saat itu sampai dia cucurkan keringat dingin dan 

sepasang matanya menjadi perih dia tidak mampu melihat apa-apa. 

Yang terlihat tetap saja semak belukar, pohon-pohon dan benda-

benda lain yang ada di sekelilingnya. 

"Aku tak mampu ..." ujar Wiro perlahan antara kecewa dan 

marah. 

"Wahai, sudah nasib kita seperti ini ...." 

"Aku tak mau menyerah pada nasib!" kata Wiro keras. 

 "Kalaupun aku harus menemui ajar di dalam rimba celaka ini, 

nenek jahat bernama Hantu Santet Laknat itu harus kuhabisi lebih 

dulu!" Tiba-tiba Wiro mencium bau aneh. Nafasnya mendadak 

menjadi sesak. Dadanya mendenyut sakit. Tenggorokannya terasa 

panas. Dia batuk-batuk berulang kali. Lalu ada cairan mengalir 

keluar dari hidungnya. Wiro meraba ke bawah bibir. 

"Hidungku berdarah!" kata Wiro terkejut. Hal yang sama juga 

terjadi dengan Luhtinti. Tapi dia tampak lebih tenang."Hawa aneh itu datang lagi ..." kata si gadis. Dia memberi 

isyarat pada Wiro agar cepat mengikutinya meninggalkan tempat itu. 

Tak lama kemudian setelah berjalan cukup jauh bau aneh itu lenyap. 

"Hawa aneh itu ..." menerangkan Luhtinti. 

"Bisa muncul setiap saat secara tak terduga. Dan itu bukan 

cuma satu-satunya siksaan yang bakal kau alami. Ada hawa aneh 

yang membuat mata menjadi perih berair serta hidung dan telinga 

mengeluarkan cairan. Ada hawa aneh yang membuat kulit terasa 

gatal. Ketika digaruk rasa gatal berubah menjadi rasa melepuh. Lalu 

belum lagi gangguan binatang-binatang jejadian ...." 

"Tadi malam aku diserang ular aneh kepala dua. Pasti semua 

ini perbuatannya Hantu Santet Laknat!" 

"Siapa lagi kalau bukan dia ...." 

"Kau berjalan terus. Kita ini mau kemana?" bertanya Wiro. 

"Dalam rimba belantara ini ada satu tempat yang sedikit agak 

aman. Sebuah goa batu .... Masih jauh dari sini. Cepat ikuti aku ...." 

Tak lama berjalan mengikuti Luhtinti sekonyong konyong Wiro 

mendengar ada suara orang memanggil-manggil di belakangnya. 

"Wiro ... ! Wiro!" 

"Wiro! Hai! Kami ada di sini!" 

Pendekar 212 segera hendak berpaling. Tapi Luhtinti cepat 

berteriak. 

"Jangan menoleh! Jangan menyahuti!" 

"Memangnya kenapa?" tanya Wiro heran. 

"Yang memanggilmu itu adalah suara gaib dari alam roh jahat 

yang berada dalam kekuasaan Hantu Santet Laknat!" 

"Mana mungkin!" sahut Wiro. 

"Aku kenali betul! Itu suara dua sahabatku! Naga Kuning dan 

kakek berjuluk si Setan Ngompol." 

"Percaya padaku wahai sahabat! Kita berada dalam rimba 

Lasesatbuntu! Rimba seribu celaka seribu petaka. Kita berada di 

bawah kekuasaan Hantu Santet Laknat! Suara-Suara yang kau 

dengar itu adalah tipuan jahat semata!" 

"Kalau ... kalau aku menoleh apa yang terjadi?" tanya Wiro.Jika kau sampai menjawab apa lagi menoleh, kepalamu 

akan berubah tempat. Bagian muka akan berada di sebelah 

belakang, yang belakang akan menghadap ke depan. Kau akan 

tersiksa begini rupa selama tiga puluh hari tiga puluh malam!" 

"Aku tidak percaya!" kata Wiro. 

"Aku pernah mengalami sendiri pertama kali dijebloskan ke 

dalam rimba belantara ini!" menerangkan Luhtinti. 

Di belakang sana masih terdengar suara Naga Kuning dan 

Setan Ngompol memanggil-manggil. 

"Tapi bagaimana kalau suara itu sungguhan suara sahabat-

sahabatku. Mereka mungkin dalam bahaya!" 

"Percaya padaku Wiro!" 

"Tapi Luhtinti ...." 

"Kalau kau tidak percaya dan tidak mau ikuti I nasehatku, 

silakan saja. Menolehlah! Berpaling ke belakang! Tapi nanti jangan 

menyesal!" kata Luhtinti dengan muka pucat. 

Murid Eyang Sinto Gendeng gerakkan kepalanya. Tapi 

setengah jalan dia merasa jerih juga dan hentikan gerakannya. 

Luhtinti hembuskan nafas lega. 

"Ayo, lekas ikuti aku! Goa itu masih jauh dari sini." Wiro 

geleng-geleng kepala dan kembali berjalan mengikuti si gadis. Baru 

saja mereka melangkah pergi di belakang sana terdengar suara 

tawa keras, melengking tinggi menggetarkan seantero rimba 

belantara. 

"Gila ..." rutuk Pendekar 212. 

Setelah berjalan cukup jauh Wiro beranikan diri ajukan 

pertanyaan. 

"Kalau tadi aku menoleh, apa hanya kepalaku sebelah atas 

saja yang berubah tempat? Kepala sebelah bawah apa juga ikut 

berpindah ke belakang?" 

"Aku tak mengerti maksudmu. Coba ulangi pertanyaanmu ...." 

kata Luhtinti. Wiro menyeringai. Dia diam saja tidak mengulangi 

pertanyaannya. 

"Hai, apa yang kau tanyakan tadi?""Tidak, tidak apa-apa ... !" jawab Pendekar 212. Luhtinti 

hentikan langkahnya dan menatap sejurus pada Wiro. Wajah si 

gadis kemudian tampak bersemu merah. Cepat-Cepat dia palingkan 

kepala dan melangkah pergi. Wiro kembali menyeringai seraya 

garuk-garuk kepala. Di sebelah depan Luhtinti berkata dalam hati. 

"Lakasipo memang pernah menuturkan riwayat dan sifat-sifat 

pemuda asing ini. Tapi tidak kusangka, dalam keadaan seperti ini dia 

masih bisa bicara kurang ajar! Sableng .... Wiro Sableng. Kata orang 

di negeri sana Sableng artinya sinting, tidak waras. Di sini artinya 

kencing kuda .... dua-duanya betul. Otak pemuda ini memang 

agaknya sedikit kurang waras dan mulutnya bicara meluncur seperti 

kencing kuda!" Luhtinti tertawa sendiri. 

"Kulihat kau tertawa. Ada apa Luhtinti...?" bertanya Wiro. 

"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab si gadis. Pendekar 212 

garuk-garuk kepala. 

"Ah, dia ganti membalas rupanya!" kata Wiro dalam hati.


SEPULUH


WIRO pegang lengan Luhtinti. Sambil memandang berkeliling 

dia berkata. 

"Keadaan di tempat ini aneh sekali. Barusan saja aku masih 

melihat matahari di langit dan cuaca terang benderang. Mengapa 

tahu-tahu di sini keadaan redup, matahari mendadak lenyap, udara 

berubah gelap seolah-olah siang telah berganti dengan malam. Atau 

saat ini hari sebenarnya memang telah malam? Aku menangkap 

suara jengkerik tiada henti di sekitar sini. Lalu ada suara kodok ...." 

Disentuh lengannya begitu rupa membuat Luhtinti jadi 

berdebar. Si gadis balas letakkan jari jari tangannya yang halus di 

atas tangan Wiro. 

"lnilah kawasan yang kukatakan sedikit aman bagi kita .... Di 

luar sana sebenarnya hari masih siang. Tapi di sini siang malam 

sama saja. Suara jengkerik dan kodok tak pernah putus ...." 

"Katamu ada sebuah goa .... Aku tidak melihat apa-apa," kata 

Wiro pula. Luhtinti menunjuk pada tiga pohon besar yang tumbuh 

berdampingan. 

"Di balik pohon besar sebelah kanan ada satu gundukan 

tanah tertutup semak belukar liar. Lalu ada barisan batu-batu besar. 

Di bawah salah satu batu besar sebelah tengah ada sebuah lobang 

setinggi kepala manusia. ltulah pintu goa...." 

"Menurutmu tempat ini cukup aman bagi kita. Memangnya 

Hantu Santet Laknat tidak bisa memburu kita sampai ke sini?" 

"Nenek jahat itu bisa saja gentayangan sampai kesini. Tapi 

setahuku dia tidak begitu suka mendatangi tempat ini. Selama aku 

berada di tempat ini, apalagi di dalam goa, seolah-olah kekuatan 

jahatnya tidak bisa menyentuh diriku." 

"Tapi kau tak bisa mendekam terus menerus di dalam goa 

itu!" kata Wiro."Betul, tapi selama aku tidak tahu cara lain untuk 

menyelamatkan diri maka goa ini satu-satunya tempat aku 

berlindung .... Ikuti aku. Di luar sana sebentar lagi hari akan 

memasuki senja. Senja akan berubah menjadi malam. Jika malam 

tiba Hantu Santet Laknat selalu gentayangan membuat hal-hal aneh 

untuk mencelakai diriku ...." Luhtinti dan Wiro melewati deretan tiga 

pohon besar. 

Sementara itu suara jengkerik dan kodok serta binatang 

malam lainnya terdengar semakin keras dan berada di mana-mana. 

Seperti yang dikatakan si gadis, di bawah salah satu batu besar itu 

kelihatan sebuah lobang setinggi manusia. Tanpa ragu-ragu Luhtinti 

segera memasuki lobang yang merupakan mulut goa. Wiro bimbang 

sejenak. Tiba-Tiba ada hawa dingin menerpa sekujur tubuhnya, 

membuat Wiro menggeletar menggigil. 

"Hawa aneh, pasti perbuatan jahat Hantu Santet Laknat ...." 

pikir Wiro. Cepat-Cepat dia masuk ke dalam goa. Walau keadaan di 

dalam goa redup namun disini udara terasa lebih hangat. 

"Kau tidak memiliki lampu minyak atau obor?" bertanya Wiro 

pada Luhtinti. 

"Api adalah kawannya makhluk jahat seperti Hantu Santet 

Laknat Aku tidak pernah menyalakan apapun di dalam goa ini." 

"Lalu di dalam sini apa yang akan kita lakukan?" tanya Wiro. 

"Kita berlindung dari ilmu hitamnya Hantu Santet Laknat. 

Paling tidak kau bisa beristirahat..." 

"Mana mungkin aku beristirahat?" Aku harus mencari jalan 

menyelamatkan diri. Lalu menolong Lakasipo dan sahabatnya 

bernama Luhsantini yang terjebak dalam jaring Hantu Santet 

Laknat!" Luhtinti menarik nafas dalam. 

"Dulu, hari-hari pertama aku tersesat ke dalam rimba 

belantara celaka ini, aku juga selalu berusaha mencari jalan untuk 

keluar dari hutan ini. Tapi setelah berminggu-minggu tidak 

membawa hasil aku sadar. Yang harus aku lakukan ialah bagaimana 

bisa mempertahankan hidup dan menjaga agar tidak berubah pikiran 

alias gila! Menyelamatkan diri sendiri saja tidak bisa, apalagi hendak 

menolong orang di luar sana!"Wiro terdiam walau kurang setuju dengan ucapan gadis 

berkulit hitam manis itu. Di luar suara berisik binatang malam masih 

terus terdengar berkepanjangan masuk dan bergaung sampai ke 

dalam goa. Bersamaan dengan masuknya suara binatang binatang 

malam tanpa disadari kedua orang itu, ikut bersama hembusan 

angin masuk pula satu hawa aneh. 

"Aku letih dan ingin istirahat..." kata Luhtinti dari sudut goa. 

Lalu dia menguap. 

"Aku juga letih. Perutku lapar ..." jawab Wiro. Mulutnya 

terbuka. Seperti Luhtinti dia juga ikut – ikutan menguap. 

* * * 

PENDEKAR 212 Wiro Sableng tidak tahu berapa lama dia 

terbaring lelap di lantai goa. Ketika terbangun dia dapati ada satu 

sosok hangat dan harum terbaring rapat di sebelahnya. Satu tangan 

halus melintang merangkul di atas dadanya. Darah sang pendekar 

mengalir lebih cepat. Badannya terasa panas dan kencang. Setiap 

dia menghela nafas, bau harum tadi masuk ke dalam alur 

pernafasannya, membangkitkan rangsangan aneh. Wiro berusaha 

memalingkan kepala untuk mengetahui siapa gerangan yang tidur di 

sebelahnya sambil memeluk tubuhnya. Sebelum dia sempat melihat 

wajah orang, satu suara berbisik hangat di telinganya. 

"Wiro, kau sudah bangun...?" Lalu ada satu benda lembut, 

hangat dan basah menjilati daun telinganya, membuat Pendekar 212 

jadi merinding menggeliat. 

"Luhtinti?" Wiro menyebut nama gadis itu karena suara yang 

barusan didengar dan dikenalinya adalah suara Luhtinti. Cepat-cepat 

Wiro bangkit dan duduk. Karena si gadis tidak mau melepaskan 

rangkulannya, sosoknya jadi ikut bangkit dan kini terduduk diatas 

pangkuan Wiro. 

"Wiro, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Aku lupa 

memberi tahu sebelumnya .... '! 

"Aku .... Luhtinti aku .."Aku ingat satu cara yang bisa membuat kita keluar dari 

dalam rimba Lasesatbuntu ini ...." 

"Katakanlah," jawab Wiro ketika Luhtinti hentikan ucapannya. 

"Tapi harap kau dudukdi lantai. Kalau kau duduk di 

pangkuanku rasanya aku tak bisa bernafas!" Luhtinti tertawa. 

Dengan manja dia turun dari pangkuan Wiro, lepaskan rangkulannya 

dan duduk di lantai. Walau keadaan di dalam goa itu redup dan agak 

gelap namun Wiro masih bisa melihat bahwa saat itu di sebelah atas 

Luhtinti tidak mengenakan apa-apa lagi. Dadanya yang polos 

kencang menantang. Senyumnya tidak berkeputusan dan sepasang 

matanya menatap tidak lepas-lepas dari wajah Wiro. 

"Kau seperti berubah. Ada apa Luhtinti?" tanya Wiro. 

"Wahai, aku terlalu bergembira, Wiro. Seperti kau katakan 

tadi aku ingat ada satu cara yang bisa membuat kita mampu keluar 

dari rimba belantara terkutuk ini!" 

"Kalau begitu lekas kau katakan agar kita secepatnya 

berusaha melakukan," jawab Wiro. Bau harum yang merebak dari 

tubuh dan rambut si gadis membuat darah sang pendekar tambah 

bergejolak. Apalagi jika sesekali dia memberanikan diri memandang 

ke dada Luhtinti. Kemudian matanya melihat pakaian hijau bagian 

atas yang sebelumnya di kenakan Luhtinti terletak di lantai goa. Wiro 

ambil pakaian yang terbuat dari daun-daun ini lalu menutupkannya 

ke dada si gadis. 

"Bicaralah Luhtinti. Katakan bagaimana caranya kita bisa 

keluar dari rimba belantara Lasesatbuntu ini." 

"Caranya sangat sederhana Wiro," kata si gadis dengan 

wajah ditengadahkan disertai layangan senyum dan mata 

membesar. 

"Kau mengawini aku, mengambil aku jadi istrimu ...." 

Pendekar 21 2 tersentak mendengar kata-kata Lu htinti itu. Si gadis 

sebaliknya malah tertawa panjang. 

"Ucapanku belum selesai. Kau sudah seperti ketakutan ..." 

kata Luhtinti seraya pegang lengan Wiro."Perkawinan ini hanya sekedar untuk memusnahkan kekuat-

an hitam. Hantu Santet Laknat yang mengurung kita di hutan ini. Kau 

tidak perlu selama-lamanya mengambil diriku sebagai istri. Begitu 

kekuatan hitam Hantu Santet Laknat musnah, kau boleh saja 

meninggalkan diriku ...." 

"Tapi ....” 

"Dengar dulu," potong Luhtinti. 

”Jangan kau mengira perkawinan ini harus melalui segala 

macam upacara atau meminta izin para Peri dan Dewa. Cukup kita 

melakukan hubungan sebagai suami istri di dalam goa ini. Itu sudah 

berarti kau mengawini diriku ...." 

"Hal itu tidak mungkin kulakukan Luhtinti!" kata Wiro. 

"Mengapa tidak mungkin?!" 

"Perkawinan adalah sesuatu yang suci dan sakral! Mana 

mungkin kita kawin seperti kucing atau ayam begitu saja. Luhtinti 

tertawa panjang. 

"Kita ini memang bukan kucing dan bukan juga ayam! Jadi kalau kita 

kawin bukan berarti kita kawin kucing atau kawin ayam! Lagi pula 

perkawinan kita adalah demi untuk menyelamat-kan diri dari 

malapetaka yang bisa mencelakai kita sampai kiamat!" 

"Aku memilih celaka sampai kiamat ..." kata Wiro tegas sambil 

bangkit berdiri. Dia segera ingat akan peristiwa yang dialaminya di 

Puri Pelebur Kutuk milik Ratu Duyung ketika berusaha 

menyelamatkan diri sang Ratu dari kutukan jahat yang akhirnya 

membuat Wiro kehilangan semua kesaktian (Mengenai Ratu Duyung 

harap baca serial Wiro Sableng berjudul Wasiat Sang Ratu terdiri 

dari 8 Episode sedang mengenai peristiwa di Puri Pelebur Kutuk 

dapat diikuti dalam serial Wiro Sableng berjudul Tua Gila Dari 

Andalas, terdiri dari 11 Episode) 

Kini untuk bisa selamat dari tangan Hantu Santet Laknat dan 

keluar dari rimba belantara Lasesatbuntu, apakah memang dia harus 

melakukan hubungan badan dengan Luhtinti? Wajah Luhtinti tampak 

berubah sedih mendengar ucapan Wiro tadi. 

"Wahai, kenapa kau berpikiran begitu dangkal? Bagiku 

keselamatan diriku sendiri sudah tidak kupikirkan lagi, Wiro. Akujustru ingin membantu menyelamatkan dirimu. Apalagi kau mengata-

kan bahwa dua orang sahabatmu di luar sana yang mungkin berada 

dalam bahaya. Lalu kau sendiri pula yang mengatakan bahwa 

Lakasipo dan Luhsantini terjerat dalam jaring Hantu Santet Laknat. 

Kuharap kau mau mempertimbangkan. Semua yang akan kita 

lakukan bukan mencari kesenangan pribadi. Tapi untuk menolong 

dirimu dan diri orang lain. Atau mungkin kau tidak ingat lagi untuk 

kembali ke negeri asalmu di tanah Jawa sana?" 

Pendekar 212 pandangi wajah Luhtinti tak berkesip. 

"Semua yang kau katakan itu benar adanya. Tapi melakukan 

hubungan badan denganmu tak mungkin aku lakukan ...." Luhtinti 

tersenyum. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Pakaian daun yang 

menutupi dadanya jatuh ke lantai goa. Kembali dada gadis ini ter-

singkap polos. Tubuhnya kemudian dirapatkan ke badan Wiro yang 

tegak tersandar ke dinding goa. 

Lalu dua tangan Wiro dibimbingnya ke pinggulnya. Ketika 

Wiro menyentuh pinggul gadis itu, dia tidak merasakan apa-apa 

kecuali memegang kulit yang lembut dan halus. Wiro melirik ke 

bawah. Dadanya bergoncang. Dia tidak tahu entah kapan dan 

bagaimana caranya si gadis telah membuka pakaiannya disebelah 

bawah. Karena saat itu dilihatnya Luhtinti tegak tanpa sehelai 

daunpun menutupi auratnya! 

" Wiro ,lakukanlah. Demi keselamatanmu dan sahabat-

sahabatmu...." Luhtinti berkata lirih, wajahnya ditengadahkan, 

lidahnya yang merah basah tergantung antara bibirnya yang seperti 

delima merekah dan bergetar halus. 

"Luhtinti, aku tidak bisa melakukan permintaanmu ...." Aku 

yakin kau bisa. Jika kau mau.... Jika tidak , berarti kau bukan saja 

tega mencelakai diri sendiri tapi juga tega membiarkan sahabat-

sahabatmu menemui malapetaka!" Sambil berkata Luhtinti semakin 

rapatkan tubuhnya ke badan Wiro. 

Dua tangannya merangkul ke pinggang dan punggung 

Pendekar 212. Lalu perlahan-lahan tubuh Wiro dibawanya luruh 

jatuh ke lantai goa. Ketika gadis itu hendak menanggalkan pakaiandi tubuh Wiro, sang Pendekar segera sadar. Dia melompat berdiri 

dan lari ke luar goa. 

"Wiro!" Luhtinti bangkit berdiri, menyambar pakaian daunnya 

lalu mengejar. Wiro sengaja menyembunyikan diri di tempat gelap, di 

antara dua batu besar dibalik serumpunan semak belukar. Di 

sekelilingnya suara jangkrik ditingkah suara kodok terdengar tidak 

berkeputusan. Sambil duduk Wiro genggam kapak saki Naga Geni 

212 yang diletakkannya di pangkuannya. 

"Luhtinti, aku menaruh curiga. Jangan-jangan gadis itu me-

nyembunyikan satu niat jahat Mengapa dia tiba-tiba menunjukkan 

sikap jalang? Waktu bertemu pertama kali rambut dan tubuhnya 

tidak wangi. Tapi tadi baunya harum sekali. Dan bau harum itu 

merangsang darah di tubuhku. Di sengaja memakai minyak pemikat 

Gila, hampir saja! Jika dia memang tahu rahasia keluar dari hutan 

terkutuk ini seharusnya...." 

"Wiro. ...!” Pendekar 212 tersentak. Memandang ke depan 

Luhtinti tahu-tahu sudah tegak di hadapannya. Gadis ini telah 

mengenakan pakaian daunnya. 

"Mungkin aku telah melakukan satu kesalahan besar. Aku .... 

Aku harus minta maaf padamu ...." Si gadis duduk bersimpuh di 

tanah di hadapan Wiro. Murid Sinto Gendeng usap-usap gagang 

kapak saktinya. 

"Tak ada yang harus dimaafkan Luhtinti. Aku tahu maksudmu 

baik Hanya saja aku tidak bisa melakukan apa yang kau minta ...." 

"Aku tak ingin membicarakan hal itu lagi. Udara di luar sini 

terasa dingin. Baiknya kita masuk kembali ke dalam goa. Aku 

berjanji tidak akan menganggumu lagi ...." 

"Kau saja masuk ke dalam goa," kata Wiro sambil terus 

mengusap-usap kapaknya dan pandangi lobang lobang senjata itu. 

Entah mengapa saat itu muncul saja niat di hati murid Eyang Sinto 

Gendeng untuk meniup kapak itu seperti meniup suling. Apa lagi di 

sekitarnya suara jangkerik dan kodok masih menggema terus. Wiro 

angkat kapaknya, dekatkan ujung gagang kapala kapak yang 

berbentuk kepala nagaJika mulut kepala naga itu ditiup, dan lobang-lobangnya 

ditelusuri dengan jari-jari tangan maka senjata itu memang akan 

mengeluarkan suara seperti suling. Kalau meniupnya dengan 

mengerahkan tenaga dalam maka suara yang keluar akan terdengar 

sangat keras, bisa-bisa memekakkan telinga. Wiro menatap ke arah 

Luhtinti sebentar lalu berkata. 

"Aku ingin berada ditempat ini barang beberapa saat. Aku 

ingin sendirian ...." Luhtinti merasa tidak enak mendengar ucapan 

Wiro itu. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Perlahan-lahan gadis 

ini bangkit berdiri. Tetapi gerakannya tertahan sewaktu melihat Wiro 

mendekatkan gagang kapak yang berbentuk kepala naga itu ke 

bibirnya. 

"Wahai, apa yang hendak kau lakukan Wiro?" tanya si gadis. 

"Senjataku ini memiliki beberapa keandalan. Satu diantaranya 

bisa ditiup dijadikan suling. Aku ingin menenangkan pikiran. Siapa 

tahu aku masih ingat beberapa nyanyian lama. Kalau tiupan 

serulingku buruk, jangan kau tertawakan ...." 

"Wiro! Jangan kau lakukan itu!" kata Luhtinti tiba-tiba seraya 

bangkit berdiri. Wajahnya tampak lain. 

"Eh, jangan melakukan apa maksudmu?" tanya Wiro heran 

"Jangan tiup kapakmu! Jangan keluarkan suara seruling di 

tempat ini!" 

"Memangnya kenapa? Jika kau tidak suka suara tiupan 

serulingku masuk saja ke dalam goa dan tekap dua telingamu rapat-

rapat!" kata Wiro pula. Lalu kembali dia dekatkan mulut naga pada 

gagang Kapak Maut Maga Geni 212 ke bibirnya. Belum sempat dia 

meniup Luhtinti berteriak seraya melompat. 

"Wiro! Hentikan perbuatan itu! Jangan! Kau mengundang 

bencana besar!" 

"Bencana apa?" tanya Wiro. 

"Aku tak bisa mengatakan. Yang penting jangan meniup 

kapakmu. Simpan senjata itu!" Melihat air muka si gadis, mendengar 

nada suaranya yang keras Pendekar 212 Wiro Sableng jadi curiga. 

Tanpa perdulikan Luhtinti Wiro meniup. Kali ini Luhtinti benar-benarmarah rupanya. Sekali dia bergerak tangannya menyambar hendak 

merampas Kapak Maut Naga Geni 212 dari tangan Wiro. 

Namun Wiro tidak tinggal diam. Masih tetap duduk kaki 

kanannya diajukan ke depan, menahan perut Luhtinti hingga 

gerakannya merampas tidak bisa dilakukan. Selagi si gadis 

berusaha menurunkan kaki Wiro sambil memukul, Pendekar 212 tiup 

kapak saktinya. Karena dia meniup dengan pengerahan tenaga 

dalam maka suara yang keluar menggema keras menusuk telinga. 

"Jangan!" teriak Luhtinti seraya menekap telinganya. Wiro 

meniup terus, lebih keras dan tak karuan karena selain masih terus 

menahan tubuh Luhtinti dengan kakinya agar gadis itu tidak 

bergerak lebih dekat, dia juga harus mengelak kian kemari karena 

Luhtinti mulai melepaskan pukulan-pukulan. Ternyata pukulan si 

gadis bukan sembarangan karena mengeluarkan angin tajam 

pertanda ada pengerahan tenaga dalam tinggi. 

Luhtinti kembali berteriak. Dadanya yang kencang beroncang 

keras. Dari ubun-ubunnya ada asap putih mengepul tipis. Wajahnya 

yang cantik tampak mengerenyit mengkirik. Bibirnya bergerak-gerak 

seperti tengah melafatkan mantera. Sepasang matanya mendelik. 

Pendekar212 meniup kapaksaktinya lebih keras. Luhtinti 

menjerit dahsyat! Di udara yang redup gelap terdengar suara 

berderak seperti ada benda rengkah dan siap runtuh. . Daun 

pepohonan kelompok demi kelompok tampak jatuh berluruhan. 

Suara jengkerik dan kodok yang tadi terdengar tidak berkeputusan 

lenyap seperti ditelan bumi. Lalu di sela-sela jari tangan Luhtinti yang 

dipakai untuk menekap telinganya kiri kanan kelihatan ada cairan 

merah mengalir. Darah! 

"Aku sudah curiga!" kata Wiro dalam hati. Matanya tak 

berkesip terus mengawasi Luhtinti. Tiupan serulingnya semakin 

menggila. Kemudian terjadilah beberapa keanehan. Kawasan sekitar 

goa yang tadinya redup perlahanlahan menjadi terang. Peman-

dangan yang tadinya sangat terbatas berangsur-angsur menjadi luas 

dan jauh. Lalu yang sama sekali tidak terduga dan membuat 

pendekar 212 jadi merinding ialah perubahan yang terjadi atas diri 

Luhtinti


Pakaian Luhtinti yang sebelumnya berupa daun-daun hijau 

kini berubah menjadi sehelai jubah hitam. Ketika Wiro melirik dirinya 

sendiri dia juga kaget karena dapatkan pakaian putihnya yang 

sebelumnya sirna secara aneh kini telah melekat kembali dl 

badannya sementara celana yang terbuat dari daun-daun hijau 

masih menempel diatas pakaian putihnya. Namun Wiro tidak 

perdulikan keanehan yang ada pada dirinya karena dia lebih 

memperhatikan apa yang terjadi pada Luhtinti. Wajah si gadis yang 

tadinya hitam manis cantik jelita ini berubah menjadi satu wajah 

menyeramkan dengan sepasang mata kecil menonjol tanpa alis. 

Mulut dan hidungnya jadi satu membentuk paruh bengkok dan 

hitam. Kalau tadi rambut serta tubuhnya menebar bau harum 

semerbak, kini sebaliknya memancarkan bau busuk! 

"Hantu Santet Laknat!" teriak Wiro kaget. 

"Jadi kau rupanya!" Si nenek menyeringai geram. 

"Aku menawarkan madu, kau lebih suka minum racun! Aku 

menawarkan kenikmatan hidup, kau lebih suka menelan hazab!" 

Habis berkata begitu si nenek keluarkan suara jeritan melengking 

seperti hendak merobek langit. Dua tangannya lalu didorongkan ke 

depan!


SEBELAS


WIRO maklum selain memiliki ilmu hitam jahat si nenek juga 

menguasai ilmu silat dan kesaktian tinggi serta kelicikan tipu daya 

tak terduga. Karenanya dia bertekad untuk menghadapi Hantu 

Santet Laknat habis-habisan. 

Dua gelombang angin menyapu kearahnya. Wiro membentak 

garang. Sesaat suara tiupan seruling lenyap. Sambil melompat ke 

atas dan jungkir balik di udara Wiro yang memegang kapak sakti di 

tangan kiri kembali meniup senjata itu. Kali ini dengan pengerahan 

hampir tiga perempat tenaga dalamnya! Wiro maklum sudah 

kelemahan ilmu hitam Hantu Santet Laknat dalam menyirap 

kawasan rimba belantara Lasesatbuntu. Yaitu tidak sanggup 

bertahan dan buyar terhadap kekuatan bunyi yang dahsyat! 

Mungkin itu sebabnya dia tidak terlalu suka berada di 

kawasan sekitar goa yang selalu dihantui suara jangkrik dan kodok 

terus menerus. Walau suara-suara binatang itu tidak sampai 

membuyarkan ilmu hitamnya namun hatinya selalu tidak tentram jika 

telinganya mendengar suara aneh berkepanjangan. 

Kawasan rimba belantara dimana dua orang yang bertempur 

itu berada semakin terang. Daun-daun pepohonan tambah banyak 

yang rontok. Tanah terasa bergetar. Tapi Hantu Santet Laknat yang 

menderita cidera pada dua telinganya tidak merasa gentar. Marah 

besar melihat dua serangannya tadi luput, si nenek kembali 

menggebrak. Sepasang matanya yang kecil menonjol ke depan 

mengeluarkan asap. Wiro mengira dari dua mata itu akan melesat 

dua larik sinar mematikan. 

Tapi ternyata tidak. Malah secara tak terduga dari mulut si 

nenek yang berbentuk paruh melesat keluar dua larik kobaran api 

berbentuk sinar aneh warna biru. Sinar api ini bergulung-gulung 

membentuk jaring yang kemudian dengan kecepatan kilat menebar 

ke arah Pendekar 212."Api lblis Penjaring Roh!" seru Pendekar 212 begitu 

mengenali benda yang melesat ke arahnya itu. Jaring inilah 

sebelumnya yang telah menjerat Lakasipo dan Luhsantini. Sampai 

saat itu Wiro tidak mengetahui bagaimana keadaan kedua orang itu. 

Hantu Santet Laknat keluarkan tawa mengekeh lalu sentakkan 

mulutnya yang berbentuk paruh. 

"WUSSSSS!” 

Jaring api biru menyambar ke arah kepala Pendekar 212. 

Wiro hantamkan tangan kanannya, melepas pukulan Sinar Matahari. 

Sinar putih panas terang benderang berkiblat! 

"Bummmm!" 

Sinar biru dan putih saling bentrokan di udara! Tanah bergetar 

seperti dilanda gempa. Pendekar 212 keluarkan seruan keras. 

Tubuhnya terpental sampai dua tombak lalu terbanting di tanah. 

Hawa panas mendera seolah badannya diselubungi kobaran api. 

Ketika dia bangkit berdiri, kagetlah murid Sinto Gendeng ini. Kapak 

Maut Naga Geni 212 tidak ada lagi di tangan kirinya! Memandang ke 

depan, ternyata senjata itu telah berada dalam jaring api biru yang 

mengambang di udara, dikendalikan oleh Hantu Santet Laknat lewat 

hidung dan mulutnya yang berbentuk paruh. 

Walau kapak sakti yang masih berada dalam jaring api biru itu 

tidak mengalami kerusakan namun sulit bagi Wiro untuk 

merampasnya kembali. 

"Tua bang ka jahat! Kembalikan kapak itu padaku!" Si nenek 

keluarkan suara tertawa mengekeh. 

"Pemuda tolol! Jangan bersombong diri mengira bisa 

mengalahkanku! Kapak ini akan kukembalikan padamu asal kau 

mau bersumpah! Bersedia menjadi kekasih peliharaanku!" 

"Tua bangka tidak tahu diri! lblis penjaga neraka pun tidak 

sudi bergendak denganmu! kau akan menyesal jika tidak segera 

mengembalikan kapak itu padakul" 

"Begitu? Hik.. hik ... hik!" si nenek kembali mengekeh. 

"Kau inginkan kapak silakan mengambil sendiri!" Lalu Hantu 

Santet Laknat goyangnya kepalanya. Jaring.api iblis serta merta 

lenyap. Kapak Naga Geni 212 kini berada di tangan kiri si nenek.Dengan tangan kanannya Hantu Santet Laknat tiba-tiba merorotkan 

bagian dada jubah hitamnya sebelah atas hingga dia kini tegak 

dalam keadaan setengah telanjang. Gagang Kapak Naga Geni 212 

diciumnya sambil tertawa terkekeh-kekeh. Bagian gagang yang 

berbentuk kepala naga dihisap-hisapnya dengan cara menjijikkan. 

Lalu senjata itu diletakannya di atas dadanya yang peot. Secara 

aneh kapak sakti itu menempel di dadanya. 

"Wahai! Kau tunggu apa lagi? Kau inginkan kapakmu 

kembali, silakan ambil!" berseru Hantu Santet Laknat sambil 

berkacak pinggang dan senyum-senyum genit 

"Jahanam!" rutuk Pendekar 212. Sesaat dia hanya bisa tegak 

dengan mata mendelik. 

"Ho ... ooo! Kau tak mau mendekati diriku, tak mau 

mengambil kapak karena takut menyentuh dadaku yang buruk. 

Jangan takut anak muda! Saat ini aku bukan lagi Hantu Santet 

Laknat si nenek buruk. Tapi aku adalah gadis-gadis yang 

mengasihimu! Lihat! Kau tinggal memilih mana yang kau suka! 

Pandang baik-baik!" 

Saat itu Pendekar 212 memang masih memandangi si nenek 

dengan penuh geram. Tapi mendadak dia berseru kaget dan tersurut 

beberapa langkah. Sosok dan wajah Hantu Santet Laknat mendadak 

berubah menjadi wajah sosoksetengah telanjang Ratu Duyung, lalu 

berubah menjadi sosok dan wajah Anggini lalu Pandansuri dan 

malah Bunga alias Suci, gadis yang telah meninggal di tanah Jawa 

itu. Begitu terus berganti-ganti. 

"Astaga! Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu!" 

membatin Wiro dengan tubuh bergetar. 

"Kau tidak ingin mengambil kapak dan menyentuh dadaku?! 

Aku kekasihmu! Bidadari Angin Timur!" Sosok di depan Wiro 

berucap. Dan saat itu Wiro benar-benar melihat sosok utuh serta 

wajah cantik Bidadari Angin Timur tegak, tersenyum di hadapannya 

dalam keadaan dada membusung putih dan polos. Selagi Wiro 

terpana tak bergerak sepcrrti itu tiba-tiba di udara melesat cahaya 

biru dan "wuttt!" Hantu Santet Laknat pergunakan kelengahan lawanuntuk menyerang. Api lblis Penjaring Roh Kembali melesat, menebar 

menjirat ke arah Pendekar 212. 

"Kau tak akan bisa lolos! Kali ini kau tak akan bisa 

menyelamatkan diri! Masuk ke dalam jaring! Masuk ke dalam jaring!" 

Suara Hantu Santet Laknat mengiang aneh di telinga Wiro. Ternyata 

nenek jahat ini telah pergunakan ilmu kesaktiannya yang disebut 

Menyadap Suara Batin. Ucapannya itu masuk ke telinga Wiro, 

menyerap ke dalam otak dan hatinya. Antara sadar dan tidak murid 

Sinto Gendeng kini bukan cuma berdiri diam, tapi malah melangkah 

maju seolah menyambut kedatangan jaring api birir yang hendak 

menggulung dirinya dari atas! 

"Wiro awas!" satu teriakan keras tiba-tiba menggeledek di 

tempat itu, membuat Pendekar 212 segera sadar dan cepat jatuhkan 

diri di tanah, bergulingan sambil lepaskan satu pukulan sakti dalam 

jurus Tangan Dewa Menghantam Rembulan. Ini adalah salah satu 

dari tujuh inti jurus pukulan sakti yang didapatnya dari sebuah kitab 

sakti yang diberikan Datuk Rao Basaluang Ameh, makhluk yang 

dianggap setengah manusia setengah Dewa. 

(Baca serial Wiro Sableng berjudul "Delapan Sabda Dewal'yang 

merupakan Episode ke 4 dari 8 Episode) 

"Buummmm!" 

Satu ledakan dahsyat menggelegar di udara. Sosok Wiro 

terhenyak amblas sampai satu jengkal ke dalam tanah! Sekujur 

tubuhnya seperti memar dan tulang belulangnya laksana 

terpanggang. Dadanya mendenyut sakit Dari sela bibirnya mengalir 

darah! Di atas sana jaring api biru terpental sampai dua tombak. 

Tapi kembali melayang cepat ke bawah. Kali ini tidak menyerang ke 

arah Wiro, tapi pada orang yang tadi berteriak memberi peringatan 

padanya. 

Terhuyung-huyung Wiro keluar dari dalam lobang di tanah. 

Ketika dia memandang ke depan terkejutlah Pendekar 212. Semula 

dia tidak mengenali. Tapi kemudian sadar, orang yang hendak 

dilibas jaring api biru itu adalah Luhtinti yang kini mengenakanpakaian berwarna hitam. Pakaiannya yang terbuat dari daun daun 

hijau masih melekat di tubuhnya. 

"Celaka Luhtinti! Dia pasti tak bisa menyelamatkan diri dari 

jaring api itu! Aku tak mungkin menolongnya!" Tiba-tiba Wiro ingat 

Dari mulutnya kelisar seruan keras. 

"Sepasang Pedang Dewa!" 

Saat itu juga dari sepasang mata Pendekar 212 memancar 

dua larik sinar hljau berbentuk sepasang pedang. Sesaat lagi 

jaringan api biru akan jatuh menimpa dan menggulung Luhtinti, dua 

pedang aneh itu berkiblat ganas. Udara dibeset oleh dua larik sinar 

hijau. Lalu 

"taar ... taarrr!" 

Dua ledakan keras menggelegar. Wiro terbanting ke tanah. 

Luhtinti terpekik dan terguling-guling babak belur tapi selamat Di 

sebelah sana Hantu Santet Laknat menjerit keras. Tubuhnya 

mencelat sampai tiga tombak lalu muntahkan darah hitam! Tertatih-

tatih si nenek bangkit berdiri. Dari kepalanya mengepul asap putih. 

llmu sepasang Pedang Dewa yang juga didapat Wiro dari Datuk 

Basaluang Ameh sirna. Jaring api biru lenyap entah kemana. 

Tapi luar biasanya ternyata si nenek masih memegang Kapak 

Maut Naga Geni 212 di tangan kanannya! Dia meludah ke tanah lalu 

memandang beringas pada Wiro. 

"Jangan kira kau bisa mengalahkan aku, anak muda! Kapak 

saktimu menjadi milikku! Hik ... hik ... hik!" Si nenek kembali 

meludah. 

"Lain waktu aku akan kembali! Tidak untuk membunuhmu! 

Tapi untuk bercinta denganmu! Kau tak akan kulepas sampai hari 

kiamat sekalipun! Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu! Hik ... hik 

... hik! Selamat tinggal anak muda. Selamat tinggal kekasihku! Hik ... 

hik ... hilt...!" Pendekar212 jadi merinding mendengar kata-kata 

Hantu Santet Laknat itu. 

Sosok si nenek berkelebat dan di mata Wiro dia seperti 

melayang terbang ke udara hingga dia tidak mungkin mengejar. 

Padahal ini adalah tipuan ilmu hitam belaka karena sebenarnya saatitu Hantu Santet Laknat hanya berjalan biasa meninggalkan tempat 

itu. 

"Kembalikan kapakku!" teriak Wiro. Di udara Wiro melihat 

Hantu Santet Laknat melayang terbang semakin jauh dan akhirnya 

lenyap dari pemandangan. 

''Mati aku!" keluh Wiro sambil tepuk keningnya sendiri lalu 

jatuhkan diri. Untuk beberapa lamanya dia terduduk menjelepok di 

tanah. Kemudian pandangannya membentur sosok Luhtinti yang 

tergelimpang pingsan. Ketika tubuh gadis itu bergerak menggeliat 

Wiro segera mendekati untuk menolong 

"Luhtinti .... Kau betulan Luhtinti?!" tanya Wiro. Dia khawatir 

kalau-kalau gadis itu lagi-lagi adalah jelmaan ilmu hitam Hantu 

Santet Laknat. Luhtinti buka dua matanya. 

"Wiro ..." katanya perlahan. 

"Syukur kau masih hidup. Tadinya aku sudah putus asa ...." 

"Tunggu! Bagaimana aku tahu kau adalah Luhtinti yang asli. 

Bukan jejadian Hantu Santet Laknat!" kata Wiro sambil tetap 

menjaga jarak dan berlaku waspada. 

"Aku memang tidak bisa membuktikan ..." kata Luhtinti pula. 

"Tapi jika kau bersangsi, wahai, tinggalkan saja diriku 

sekarang juga!" Wiro garuk-garuk kepalanya. 

"Kalau begitu biar aku yang membuktikan," kata Wiropula. 

Lalu Pendekar 212 ulurkan tangan kanannya ke dada si gadis 

seraya berkata. 

"Jika kau masih inginkan kita bersenang senang di dalam 

goa, apa boleh aku meraba dadamu lebih dulu?" Berubah paras 

Luhtinti. Sepasang matanya mendelik. 

"Aku tidak percaya pada pendengaranku! Bagaimana 

mungkin kau berbuat dan berucap seperti itu padaku?!" Wiro 

menyeringai. Sambil garuk-garuk kepala dia berkata. 

"Sekarang aku yakin kau Luhtinti betulan ...." 

"Aku tak mengerti. Memangnya ada apa ... ?" tanya si gadis. 

"Kalau kau Luhtinti jejadiannya Hantu Santet Laknat, waktu 

aku katakan hendak meraba dadamu tadi pasti kau sudah membuka 

pakaianmu dan angsurkan diri!" Merahlah paras Luhtinti.Nanti aku ceritakan bagaimana nenek keparat itu hendak 

mengelabuiku. Sekarang terangkah apa yang terjadi dengan dirimu." 

Wiro lalu menolong Luhtinti bangkit dan duduk. Maka Luhtinti lantas 

menuturkan. 

"Malam tadi sewaktu kita berada dalam goa. Tiba tiba Hantu 

Santet Laknat muncul. Dia menginjak ulu hatiku dengan kakinya 

hingga aku tidak sadar. Ketika tadi aku siuman kudapati diriku 

dicampakan si nenek di satu tempat tak jauh dari sini. Tubuhku 

terbungkus pakaianku sendiri yang dulu pernah sirna terkena 

sentuhan matahari. Selain pakaian ini, seperti kau lihat aku masih 

mengenakan daun-daun hijau ini." Luhtinti lalu membuka dan 

campakkan daun-daun hijau di atas pakaiannya itu. Wiro mengikuti, 

menanggalkan dan membuang celana daunnya. 

"Aku yakin telah terjadi sesuatu yang membuat musnah ilmu 

hitam si nenek. Lalu aku mendengar suara bentakan-bentakan serta 

tawa cekikikan Hantu Santet Laknat Aku cepat-cepat menuju ke sini 

...." 

"Aku harus berterima kasih sekali lagi padamu. Kalau tadi kau 

tidak berteriak memberi ingat, aku pasti sudah dilibas nenek celaka 

itu di dalam jaring apinya!" Wiro ingat pada Lakasipo, Luhsantini dan 

kawan kawannya. 

"Aku harus meninggalkan tempat ini. Aku musti mencari 

kawan-kawanku. Menolong Lakasipo dan Luhsantini." 

"Aku ikut bersamamu!" kata Luhtinti pula 

"Eh ...." Wiro pandangi si gadis sambil garuk-garuk kepala. 

"Ada apa?" tanya Luhtinti 

"Sebenarnya aku lebih suka kau mengenakan pakaian dari 

daun itu. Dari pada pakaian hitam yang menyembunyikan 

kebagusan tubuhmu ini!" 

"Pemuda bermata gatal!" kata Luhtinti seraya memencet 

hidung Pendekar 21 2 hingga Wiro terpekik kesakitan. 

* * * 

MESKI keadaannya babak belur dan dia tidak dapat 

menjaring Wiro namun Hantu Santet Laknat masih terhibur karenadia berhasil mendapatkan senjata sakti Kapak Maut Naga Geni 212 

milik Wiro Sableng. Lagi pula seperti yang tadi diucapkannya tanpa 

malu si nenek memang telah jatuh cinta pada pendekar kita. Sambil 

berjalan dia berkata sendirian 

"Kapak sakti ini akan kubawa ke Gunung Latinggimeru. Akan 

kubuang ke dalam kawahnya! Biar terpendam seumur umur! 

Betapapun aku mencintainya aku tetap harus berjaga-jaga!" Habis 

berkata begitu si nenek lantas meludah. Ludahnya masih bercampur 

darah pertanda dia menderita luka di dalam. 

Baru saja Hantu Santet Laknat meludah, bahkan ludahnya 

belum sempat jatuh ke tanah tiba-tiba ada satu suara di belakangnya 

berkata. 

"Dari pada jauh jauh dan susah-susah pergi ke Gunung 

Latinggimeru untuk membuang kapak itu, lebih baik serahkan saja 

padaku!" 

"Pemiliknya dicintai tapi barangnya mau dibuang! Hik ... hik ... 

hik! Lucu juga nenek peot satu ini!" Kejut Hantu Santet Laknat 

bukan kepalang. Dalam hati dia membatin. 

"Walau keadaanku seperti ini, tapi adalah aneh! Aku sampai 

tidak tahu dan tidak mendengar kalau ada beberapa orang mengikuti 

langkahku disebelah belakang! Agaknya mereka memiliki 

kepandaian tinggi!" Dengan cepat si nenek memutar badan.


DUA BELAS


KARENA mengejar setengah hati dan sambil mencari ayam 

jantan, akhirnya si nenek berjuluk Nenek Selaksa Angin alias 

Selaksa Kentut itu kehilangan jejak Hantu Langit Terjungkir. Tapi 

nenek kurang waras ini agaknya tidak begitu perduli. Siang itu dia 

tampak duduk di bawah sebatang pohon rindang. Keranjang besar 

berisi tiga ekor ayam terletak di hadapannya. Di sekitarnya tujuh 

ekor ayam bergelimpangan mati dengan dubur amblas karena telah 

dicabuti kibulnya untuk disantap. 

Si nenek lunjurkan sepasang kakinya. Dadanya sesak turun 

naik Sambil usap-usap perutnya dia memandang ke arah keranjang. 

"Aku sudah menelan tujuh puluh empat kibul ayam jantan. 

Tinggal tiga ekor itu. Huh ... aku akan sembuh! Pasti sembuh! KaIau 

tidak, pemuda asing itu akan kucabut duburnya, akan kubetot 

ususnya! Tiga ekor lagi .... Tapi aku benar-benar kenyang! Rasanya 

mau muntah!" Luhkentut alias Nenek selaksa Kentut usap-usap 

perutnya yang gembul. Lalu 

"buut ... prett!" Dia terkentut! 

Sekali ini si nenek memandang berkeliling, lalu pegang-

pegang pantatnya sendiri. Bola matanya yang kuning berputar-putar. 

"Kentutku terdengar aneh sekali ini! Buutnya pendek lalu ada 

prettnya! Hik ... hik. .. hik! Enak juga kedengarannya! Jangan Jangan 

aku memang siap sembuh!" Girang sekali si nenek jadi 

bersemangat. Lalu dia ambil salah seekor ayam dalam keranjang. 

Dengan cepat binatang itu dipesianginya. Dijebol ujung duburnya 

lalu dimakan mentah-mentah. Begitu habis disambarnya ayam ke 

dua. Masih megap-megap dia tancap ayam ke tiga! Dengan mata 

mendelik setelah menelan kibul ayam yang terakhir si nenek 

berteriak seraya melompat. 

"Tujuh puluh tujuh! Aku sudah menelan tujuh puluh tujuh kibul 

ayam! Aku sudah sembuh!" Si nenek merasakan geli-geli di sekitar 

duburnya. Lalu"butt.. prett!" Dia kentut lagi, dengan suara aneh tidak seperti 

biasanya. 

"Heh, bagaimana ini! Aku masih kentut! Berarti belum 

sembuh! Kurang ajar! Apakah aku telah tertipu! Aku harus mencari 

anak itu!" 

Tiba-tiba semak belukar di samping kiri si nenek bergerak. 

Luhkentut cepat berbalik seraya hendak menghantam dengan 

tangan kanannya. 

"Nek, jangan! Ini kami!" Satu suara berseru lalu dua sosok 

berkelebat dan muncul di hadapan Luhkentut! 

"Kalian!" hardik si nenek muka kuning dengan mata melotot! 

"Mana kawanmu yang bernama Wiro Sableng itu?!" 

"Kami justru kehilangannya!" jawab salah satu dari dua orang 

yang barusan datang yang bukan lain adalah Naga Kuning. 

"Kami tengah mencarinya! Dia lenyap dan tak muncul lagi 

setelah mengikuti seorang gadis bernama Luhcinta," menerangkan 

orang ke dua yaitu si kakek berjuluk si Setan Ngompol. 

"Hemm. ... Dia berani menipuku, sekarang malah asyik 

bercinta dengan gadis bernama Luhcinta itu! Kurang ajar! Kau bakal 

menerima pembalasanku Wiro! Aku setengah mati menelan tujuh 

puluh tujuh kibul ayam jantan! Penyakit kentutku ternyata tidak 

sembuh!" 

"Butt..l prett!" 

"Nek jangan salahkan sahabat kami! Jika mendengar 

kentutmu kurasa kau sudah hampir sembuh ...." 

"Hampir sembuh bagaimana! Apa kau tuli tidak mendengar 

aku masih kentut-kentut?!" bentak si nenek kepada Setan Ngompol 

hingga kakek ini terpancar air kencingnya. 

"Tunggu Nek," Naga Kuning menyahuti. 

"Kau memang masih kentut-kentut. Tapi apa kau tidak 

menghitung? Sekarang kentutmu jauh berkurang. Tidak terus-

terusan seperti dulu. Lagi pula kalau dulu kentutmu panjang buuttt. .. 

buuuutttt. .. buuttt! Sekarang kau cuma kentut pendek-pendek saja. 

Butt! Dan sekali-sekali. Lalu ada tambahan Prett! Apa itu tidak berarti 

kau sudah hampir sembuh malah kentutmu terdengar indah lucu?!""lndah lucu bapak moyangmu! Aku tetap harus mencari 

pemuda itu! Kalian berdua harus menunjukkan dimana dia berada!" 

"Kami tidak tahu Nek, sungguh!" jawab Naga Kuning. 

"Sahabatku nenek muka kuning," Setan Ngompol ikut bicara. 

"Jika kau hendak mencelakai Wiro padahal dia telah 

menolong menyembuhkan penyakit kentutmu, paling tidak 

mengurangi, bisa-bisa kau bakal kena . kutuk!" 

"Kekek mata lebar kuping sumplung! Kena kutuk apa 

maksudmu? Apa telingamu yang sebelah lagi mau kuambil dan 

kupindah ke selangkanganmu?!" 

"Serrr!" Kencing si kakek langsung terpencar. Tergagap-

gagap Setan Ngompol berkata. 

"Maksud kami berdua baik. Memberi tahu agar kau tidak 

salah kaprah ...." 

"Aku tidak mengerti! Apa itu salah kaprah!" bentak Luhkentut. 

"Begini Nek," Naga Kuning coba menerangkan. 

"Sahabat kami Wiro Sableng telah menolongmu. Walau 

penyakit kentutmu tidak sembuh seluruhnya tapi dibanding dulu 

sudah jauh berbeda. Kini kau Cuma kentut sekali-sekali. Kentutmu 

jadi pendek. Lalu ada sedikit hiasan Prett dibelakangnya! Kau 

bukannya berterima kaSih pada sahabatku itu, tapi malah mau 

mencelakainya. Mencelakai orang yang telah menolong bisa-bisa 

penyakit kentutmu kambuh kembali. Malah lebih parah, lebih 

panjang! Bagaimana kalau kau nanti kentut sambil kepulkan asap 

dari duburmu!" 

Habis berkata begitu Naga Kuning tekap hidung dan mulutnya 

mencegah jangan sampai tersembur tawanya. 

"Anak kurang ajar! Jangan kau berani menakut nakuti diriku! 

Kuperas peralatanmu baru tahu rasa!" Nenek muka kuning ulurkan 

tangannya ke bagian bawah perut Naga Kuning. Si bocah tentu saja 

cepat-cepat melompat selamatkan diri. Setan Ngompol walau agak 

takut-takut segera berkata. 

"Anak itu tidak menakut-nakuti. Kalau kau tidak percaya 

padanya harap percaya padaku. Kita sama-sama tua..""Aku tua wajar, kau tua terjemur, bau dan buruk!" semprot 

Nenek Selaksa Kentut. Si Setan Ngompol tersurut dua langkah. 

Sambil menahan kencing dengan suara perlahan dia berkata. 

"Terserah padamu. Aku hanya memberi tahu. Kalau kau 

sampai salah kaprah bisa celaka. Apa kau suka nanti setiap kentut 

kau juga sekaligus mencret?!" Naga Kuning membuang muka 

menahan tawa. Si Setan Ngompol pura-pura membetulkan 

celananya padahal sudah tidak sanggup menahan kencing. Kedua 

orang ini melirik ke arah si nenek muka kuning. 

Saat itu Luhkentut tampak terdiam seperti berpikir pikir Diam 

diam dia merasa kecut Apalagi mendengar ucapan si kakek. 

Bagaimana kalau nanti dia benar benar kentut dan mencret hanya 

gara-gara hendak mencelakai pernuda bernama Wiro Sableng itu? 

Si nenek melangkah mondar-mandir. Diam diam dia mengakui dan 

sebenarnya merasa senang karena kentutnya kini memang hanya 

tinggal sekali-sekali. Walaupun kentut, suaranya tinggal pendek dan 

ada tambahan Prett yang oleh si bocah bernama Naga Kuning itu 

disebut sebagai sesuatau yang "indah" 

Satu senyum akhirnya menyeruak di wajah si nenek. Dia 

memandang pada dua orang di hadapannya. 

"Baiklah, aku memang pantas berterima kasih pada 

sahabatmu bernama Wiro Kencing Kuda itu. Kebaikan seharusnya 

memang musti dibalas dengan kebaikan. Aku akan rnencarinya 

untuk berterima kasih bukan untuk mencelakainya ...." 

"Kau memang orang yang rendah hati tinggi budi!" memuji 

Setan Ngompol 

"Baik hati dan en gg.... Lumayan cakep!" kata Naga Kuning 

menyambungi. 

"Cakep? Apa itu cakep?" tanya Luhkentut tak mengerti. 

"Cakep artinya kau cantik selangit tembus!" jawab Naga 

Kuning. Si nenek tertawa mengekeh. 

"Kau pandai memuji Tapi dibalik pujianmu itu kau masih 

bercanda nakal mempermainku! Mana ada di dunia ini nenek-nenek 

punya kecantikan selangit tembus! Kau salah berucap. Bukanselangit tembus tapi selangit gosong! Hik ... hik ... hik!" Setelah 

mendongak ke langit sebentar si nenek berkata. 

"Kita segera saja mencari sahabatmu itu. Aku khawatir anak 

murid Hantu Santet Laknat bernama Hantu Bara Kaliatus itu telah 

berbuat macam-macam mencelakai orang!" Naga Kuning lalu 

menceritakan di mana dan bagaimana terakhir kali dia dan Setan 

Ngompol melihat Wiro dalam keadaan tanpa pakaian berada di satu 

pedataran liar dalam rimba belantara Lasesatbuntu. 

"Kawanmu itu sudah kena sirap nenek dukun jahat itu! Kalau 

kita sampai terlarnbat bisa-bisa mereka berdua sudah jadi suami 

istri!" 

"Suami istri?" Naga kuning terkejut. 

"Apa?!" Setan Ngompol tersentak kaget, tak percaya pada 

pendengarannya. 

"Kurasa anak itu belum cukup gila untuk mau bercinta dengan 

si nenek buruk bau itu!" Luhkentut menyeringai. 

"Hantu Santet Laknat bukan dukun jahat namanya kalau tidak 

mampu menyirap menipu orang. Setahuku dia punya ilmu hitam 

yang disebut llmu Bersalin Rupa. Dia bisa merubah diri menjadi 

gadis paling cantik di muka bumi ini. Apa sahabatmu si Sableng itu 

tidak akan terangsang?" 

"Celaka! Wiro benar-benar dalam bahaya besar!" kata Naga 

Kuning. 

"Aku punya dugaan, kalau Hantu Santet Laknat menjebak 

pemuda seperti sahabatmu itu, dia pasti punya satu maksud 

tersembunyi! Kita berangkat sekarang juga ke rimba Lasesatbuntu!" 

"Nek, sebelum pergi, aku mau tanya apa potongan kuping 

kananku masih ada padamu?" bertanya Setan Ngompol harap-harap 

cemas. 

"Aku tak tahu aku simpan dimana kupingmu itu! Entah sudah 

kubuang entah sudah kujadikan makanan anjing!" 

"Celaka!" Setan Ngompol tersurut pucat dan keluarkan 

kencing. Tangan kanannya mengusap-usap telinga kanannya yang 

tak ada daunnya lagi karena memang sudah diambil oleh nenektukang kentut itu waktu berada di goa tempat disembunyikannya 

patung Luhmintari (Baca Episode berjudul Hantu Langit Terjungkir) 

Kemampuan si nenek mengambil dan memindah bagian-

bagian tubuh manusia ini dimungkinkan karena dia mempunyai ilmu 

yang disebut Menahan Darah Memindah Jazad 

"Memangnya kenapa kau tanyakan kupingmu itu?!" bertanya 

Luhkentut. 

"Sesuai perjanjian, kuping itu untuk jadi jaminan bahwa kau 

bisa disembuhkan. Sekarang kau sudah bisa dikatakan sembuh. 

Lagi pula bukankah kita ini sekarang sudah bersahabat?" Setan 

Ngompol berkata sambil tersenyum dan kedip-kedipkan matanya. 

Si nenek muka kuning tertawa masam. Dia meraba-raba 

pakaian kuningnya, rnencari-cari disetiap sudut sosok tubuhnya. 

Meraba sampai di bawah perut si nenek berhenti. Matanya yang 

kuning menatap pada Setan Ngompol lalu dikedipkan. Si nenek 

kemudian balikkan badannya sambil mengangkat pakaian kuningnya 

ke atas. Sesaat kemudian ketika dia kembali membalik, potongan 

kuping kanan Setan Ngompol sudah berada di tangan kirinya. 

"lni, kau ambillah kembali! Aku memang tidak butuh lagi 

kupingmu ini!" Setan Ngompol menerima potongan kupingnya. 

Benda itu terasa hangat, basah dan bau pesing. 

"Nek, kau letakkan di mana kupingku ini tadi ... ?" tanya Setan 

Ngompol. 

"Kakek tolol! Coba kau cium sendiri! Kau pasti sudah tahu 

kusimpan dimana daun telingamu itu!" jawab si nenek lalu berpaling 

pada Naga Kuning. Kedua orang ini kemudian sama-sama tertawa 

cekikikan. 

"Aku ... !" Setan Ngompol kibas-kibaskan potongan daun 

telinganya. 

"Bagaimana ini .... Bagaimana aku menempelkannya ke 

telingaku kembali. Nek ... !" Luhkentut ambil daun telinga yang 

dipegang si kakek lalu ditempelkannya ke telinga kanan Setan 

Ngompol. Tapi tempelannya ternyata terbalik. Bagian daun telinga 

yang seharusnya menghadap ke depan diletakkannya di sebelah 

belakang. Akibatnya Setan Ngompol merasa bising karena telinga'kirinya menangkap suara dari depan senang telinga kanan 

menangkap suara dari sebelah belakang. Naga Kuning yang 

mengetahui hal ini diam saja sambil menahan ketawa. 

"Sudah?! Kau puas sekarang?!" tanya Luhkentut. 

"Pu ... puas Nek. Tapi .... Ah, aku tak tahu apa yang salah 

pada diriku! Tempat ini tiba-tiba seperti bising ...." 

"Kek," kata Naga Kuning. 

"Kau seperti masih menyesali diri. Seharusnya kau berterima 

kasih pada nenek itu. Dia telah mengembalikan potongan daun 

telingamu ...." 

"Aku memang berterima kasih!" jawab Naga Kuning. 

"Tapi kau tahu dimana dia menyirnpan kupingku ini?" kata 

Setan Ngompol dengan mata melotot. 

"Sudahlah, mengapa hal itu diributkan. Kau sudah dapatkan 

telingamu kembali dan sudah dipasangkan ditempatnya semula!" 

"Tapi apa kau tidak melihat tadi?! Dia meletakkan kupingku di 

anunya!" 

"Sudahlah Kek, seharusnya kau berterima kasih dan merasa 

senang. Si nenek sudah menyimpan dan menempatkan daun teli-

ngamu di tempat yang paling aman, sedap hangat dan terhormat ..." 

"Sedap bapak moyangmu! Daun telingaku malah basah dan 

bau!" kata Setan Ngompol. Naga Kuning tertawa cekikikan. Tanpa 

perdulikan si Kakek dia segera melangkah menyusul nenek muka 

kuning yang sudah berjalan duluan menuju rimba Lasesatbuntu. 

Di sebelah belakang si kakek berjalan mengikuti. Sesekali dia 

usap daun telinganya yang basah. Lalu tangannya didekatkan ke 

lobang hidung. 

"Sial .... Tapi hemmm.... Baunya lama-lama terasa enak-enak 

sedap. Betul juga omongan bocah sialan itu!" Si kakek lalu mesem-

mesem tertawa. Melangkah sambil mengendus-endus jari-jari 

tangannya. 


TAMAT

Penulis : bastian tito

Create : matjenuhkhairil

Blog : https://matjenuhkhairil.blogspot.com


BERHASILKAH NENEK SELAKSA KENTUT, NAGA KUNlNG DAN 

SI SETAN NGOMPOL MENEMUI WIRO? 

BERHASILKAH WIRO MENDAPATKAN KAPAK SAKTINYA YANG 

TELAH DIRAMPAS HANTU SANTET LAKNAT? 

JUGA BERHASILKAH HANTU LANGIT TERJUNGKIR MENGEJAR 

HANTU BARA KALIATUS UNTUK MENYINGKAP RAHASIA TANDA 

BUNGA DALAM LINGKARAN PADA LENGAN LELAKI ITU? 

DAPATKAH LAKASIPO DAN LUHSANTlNl DIKELUARKAN DARI 

JARING API BIRU? 

HARAP PEMBACA MENGlKUTl EPISODE BERIKUTNYA 

BERJUDUL : 

BADAI FITNAH LATANAHSILAM


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Blog Archive