WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Karya: BASTIAN TITO
MUSLIHAT PARA IBLIS
BAB I
WALAU saat itu masih sangat pagi dan sang surya belum muncul namun
Lawunggeni merasa batu di atas mana dia duduk bersila tak ubahnya seperti bara. Untuk
beberapa lamanya orang tua ini memandang dengan mata mendelik tak berkesip pada
lelaki separuh baya yang duduk di depannya.
Keadaan Lawunggeni baik pakaian maupun tubuhnya sungguh mengenaskan.
Dulu pakaian yang dikenakannya adalah pakaian bagus terbuat dari bahan mahal. Kini
pakaian itu hanya tinggal potongan-potongan kain compang-camping, kotor dan bau.
Kulit muka dan tubuhnya hitam melepuh padahal dulu dia memiliki kulit kuning bersih.
Keganasan laut telah merubah orang tua ini seperti jerangkong hidup.
Orang yang dipandang bersikap tenang. Balas memandang seolah tanpa rasa. Hal
ini membuat Lawunggeni menjadi geram. Pelipisnya bergerak-gerak dan rahangnya
menggembung tanda dia berusaha menahan amarah.
“Pangeran Soma!” tegur Lawunggeni. Suaranya perlahan tapi tajam mendesis.
“Harap kau mau memakai pikiran dan perasaan. Hampir enam bulan aku mengarungi laut
selatan untuk mencarimu. Kulitku melepuh hangus, pakaian di badan hancur luluh,
kulitku hitam terbakar sengatan matahari. Tubuhku berubah seolah jerangkong hidup!
Dan kau menyambut kedatanganku seolah aku ini cuma patung hidup atau batu tanpa
nyawa! Padahal sudah kukatakan. Aku mengarung lautan menyabung nyawa untuk
mencarimu demi kesembuhan adik perempuanmu satu ayah!”
Lelaki separuh baya yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Soma sama sekali
tidak bergerak bahkan wajahnya yang setengah putih setengah biru tidak bergeming
menunjukkan perubahan. Sepasang matanya sama sekali tidak memantulkan perasaan
apa-apa. Di dalam mulutnya gigi-giginya bergerak mengunyah sirih campur tembakau.
”Kau tahu aku datang tapi kau buta. Kau mendengar apa yang kusampaikan
namun kau seperti tuli! Hatimu telah berubah menjadi batu! Mungkin kau sudah bukan
manusia lagi Pangeran. Kau sama sekali tidak punya perasaan...!”
Perlahan-lahan lelaki separuh baya itu angkat kepalanya, menengadah
memandang ke langit yang masih dibungkus kegelapan. Mulutnya bergerak me-
nyunggingkan seringai lalu terbuka.
“Aku ingin tanya padamu wahai utusan Sri Baginda yang datang dari jauh dan
katanya menyabung nyawa demi kesembuhan seorang gadis. Ketika Sri Baginda
menyuruh orang membuang sosok bayiku dari istana karena malu mempunyai seorang
putera yang cacat muka, apakah dia memakai pikiran dan punya perasaan?! Dia
mendengar nasehat para abdi dalem tapi telinganya tertutup seolah tuli. Hatinya seolah
batu! Ucapanmu barusan mengingatkan aku pada banyak hal di masa silam. Kau tahu
dimana ibuku kini berada ki Lawunggeni? Mengalami nasib dibuang atau mungkin juga
telah disingkirkan dari muka bumi?!! Atas perintah Sri Baginda yang mengutusmu
datang kemari!”
“Pangeran Soma, apa yang telah terjadi tiga puluh tahun silam tak perlu diungkit.
Lagi pula Sri Baginda telah memesan. Selain meminta obat padamu juga aku diminta
membawamu ke Kotaraja. Hanya saja mengenai Ibumu... aku tidak tahu menahu.
Perempuan itu melenyapkan diri sehari setelah dia tahu bahwa kau dibuang.”
“Ki Lawunggeni, kau melakukan perjalanan percuma. Kau mengarungi laut
selatan menyabung nyawa sia-sia. Pulanglah, aku tak bisa menolongmu!”
“Pangeran, aku taitu kemampuanmu. Semua tabib di Puri Agung mengatakan
hanya kau yang bisa menolong adik perempuanmu dari sakit lumpuh yang dideritanya...”
“Aku tak bisa menolong apa-apa Ki Lawunggeni. Kembalilah ke Kotaraja dan
berdoalah. Hanya Tuhan yang bisa menolong gadis itu...”
“Hatimu dicekam dendam Pangeran. Aku tahu hanya kau yang bisa
mengobatinya. Kalau tidak aku tak akan bersusah payah datang ke sini. Kami semua
yakin gelarmu Raja Obat Delapan Penjuru Angin bukan nama kosong belaka. Kalau
orang lain kau tolong masa kau tidak mau menyelamatkan diri adikmu sendiri walau dia
hanya adik satu ayah?!”
Perlahan-lahan Pangeran Soma turunkan kepalanya. Sepasang matanya menatap
pada orang tua utusan Kerajaan itu. Dipandang begitu rupa Ki Lawunggeni menjadi
gelisah.
“Ki Lawunggeni, apakah kau melihat topan mengamuk malam tadi di lautan?!”
Ki Lawunggeni menjadi heran. “Aneh,” katanya dalam hati. “Lain yang
dibicarakan lain yang ditanyakannya! Jangan-jangan manusia satu ini sudah tidak waras
lagi pikirannya!”
“Aku bertanya Ki Lawunggeni!”
“Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu Pangeran. Tapi aku ingat betul malam
tadi tidak ada topan mengamuk di tengah laut.”
“Hemmm... itu berarti alam tidak menyukai kehadiranmu di tempat ini!” ujar
Pangeran Soma. “Sekali lagi kukatakan kembalilah ke kora saja. Bawa kembali hadiah
yang kau bawa ini! Pangeran Soma goyangkan kepala ke arah seperangkat poci-poci
tempat sirih terbuat dari emas yang diletakkan di atas batu di hadapannya. “Aku hidup di
alam, berteman dan menyatu dengan alam. Aku tidak butuh benda-benda itu.”
Lama Ki Lawunggeni terdiam. Semakin ditatap wajah Pangeran Soma yang biru
sebelah itu semakin berkobar rasa jengkelnya. Dengan sikap kasar perlengkapan tempat
sirih itu dimasukkannya ke dalam kantong kain. Lalu dia berdiri. Sebelum memutar tubuh
dia berkata. “Ternyata aku menemui seseorang yang tidak seperti aku perkirakan. Tugas
sebagai seorang tabib penyembuh tidak mengenal kebencian. Sekalipun musuh wajib
ditolong. Aku datang ke tempat yang salah. Kasih sayang sejati ternyata belum menjamah
hati sanubarimu Pangeran. Selamat tinggal!”
“Tunggu dulu Ki Lawunggeni!” ujar Pangeran Soma alias Raja Obat Delapan
Penjuru Angin tiba-tiba. Dua jari tangannya diluruskan lalu ditusukkan ke batu merah di
hadapannya. Dua jari tembus ke dalam batu. Ketika ditarik, dua keping batu yang pecah
ikut terangkat. Pangeran Soma cepat menggenggam dua keping batu merah yang lalu
meremasnya.
“Ulurkan tanganmu Ki Lawunggeni!”
Walau terkesiap Ki Lawunggeni ulurkan tangan kanannya.
“Kembangkan telapak tanganmu.”
Kembali Lawunggeni melakukan apa yang dikatakan orang. Telapak tangan
kanannya dikembangkan lebar-lebar.
Pangeran Soma buka tangan kanannya yang menggenggam. Dari tangan yang
terbuka itu mengucur keluar batu merah yang tadi diremasnya dan telah berubah menjadi
bubuk.
“Minumkan bubuk batu merah itu pada orang yang sakit. Ampasnya jadikan lulur
untuk kedua kaki yang lumpuh.”
“Bubuk batu...” ujar Ki Lawunggeni dalam hati. “Baru kali ini aku mengetahui
bubuk batu dijadikan obat. Apakah bisa mujarab?” Ada keraguan dalam diri suruhan Sri
Baginda dari Kotaraja ini.
“Aku dapat membaca apa yang ada dalam pikiranmu, Ki Lawunggeni,” tiba-tiba
Raja Obat Delapan Penjuru Angin berkata. “Jika ada keraguan dalam hatimu silahkan
kau buang saja bubuk itu. Kembali ke Kotaraja dengan berhampa tangan!”
Ki Lawunggeni seperti disentakkan mendengar ucapan Pangeran Soma itu. “Luar
biasa. Bagaimana dia bisa membaca apa yang ada dalam benakku!” Namun sadar kalau
orang telah memberikan obat yang dimintanya, maka dia cepat-cepat membungkuk.
“Maafkan diriku. Aku telah salah menduga. Perjalananku ke sini ternyata tidak sia-sia.
Terima kasih Pangeran. Terima kasih banyak...”
“Pergilah...”
Ki Lawunggeni kembali membungkuk. “Kalau begitu biar kutinggalkan benda
ini...” Si orang tua letakkan kantong kain berisi seperangkat tempat sirih dari emas itu di
atas batu.
Pangeran Soma menggeleng. “Aku tidak membutuhkan benda itu. Bawa saja...”
“Terima kasih... Aku pergi sekarang...”
Sesaat setelah Ki Lawunggenl meninggalkan tempat itu Pangeran Soma alias Raja
Obat Delapan Penjuru Angin bangkit berdiri. Dia tegak tepat di atas batu merah yang tadi
dicungkilnya hingga berlubang. Mulutnya komat-kamit beberapa kali. Ketika mulut itu
dibukanya cairan merah meluncur jatuh. Sesaat kemudian lobang batu yang tadi pecah
tertutup, rata utuh seperti semula.
Pangeran Soma menarik napas panjang. Dia menatap ke tengah laut sementara di
kejauhan ada sinar kuning seolah mencuat keluar dari dasar samudera. Itulah sinar
pertama sang surya yang mulai terbit.
Mendadak Pangeran Soma pejamkan kedua matanya. Telinganya dihadapkan ke
arah lautan lepas.
“Ada anak manusia tenggelam di dalam laut. Pusaran air tidak membuatnya mati.
Arus dasar laut selatan menggiringnya ke dalam terowongan sebelah atas. Kalau saja aku
bisa menghadangnya sebelum jatuh ke dalam terowongan sebelah bawah, mungkin aku
bisa menyelamatkannya... Tiga mimpiku secara beruntun rupanya menjadi kenyataan.
Aku melihat perahu besar dan perahu kecil. Aku mendengar suara jeritan seolah
membelah langit. Agaknya aku akan mendapat kawan penghuni pulau batu merah ini.
Samakah malang nasibnya dengan diriku?”
Manusia bermuka biru sebelah ini, yang punya kesaktian mengobati dengan
remasan batu merah melangkah cepat menuju ke bagian selatan pulau batu itu.
***
BAB II
SOSOK tubuh Ki Hok Kui tenggelam ke dasar laut. Empat jalur darah yang
keluar dari dua tangan dan dua kakinya yang buntung kelihatan mengerikan. Adalah aneh
belasan ikan hiu ganas yang ada di sekitar situ tak seekorpun memburu dan
menjadikannya mangsa. Hanya beberapa saat lagi tubuh Ki Hok Kui akan sampai di
dasar laut tiba-tiba satu pusaran air menyedotnya. Tubuh buntung itu tertarik ke atas lalu
diseret ke arah pulau batu merah. Kejadiannya cepat sekali. Di lain kejap sosok Ki Hok
Kui lenyap!
Apa yang telah terjadi?
Dalam keadaan tidak sadar diri Ki Hok Kui terseret masuk ke dalam sebuah
terowongan batu. Di satu tempat ketika air laut tidak lagi menggenangi terowongan,
kalau tadi tubuhnya seperti melayang dalam air laut maka kini tubuh itu berguling-guling
seperti bola.
“Braaakk!”
Sosok Ki Hok Kui melabrak dinding batu. Ternyata terowongan itu buntu. Namun
tepat di bagian yang buntu, sebelah atasnya terdapat satu lobang besar. Di sebelah
atasnya lagi lobang itu dikelilingi oleh gundukan batu-batu merah tinggi dan runcing.
Seseorang yang berada di luar sana tidak akan mudah mengetahui kalau di tempat itu ada
sebuah lobang batu.
Sepasang kaki tersembul dari balik jubah putih yang berkibar-kibar ditiup angin
laut. Itulah kaki Pangeran Soma alias Raja Obat Delapan Penjuru Angin. Dia berdiri di
bagian datar yang sempit di tepi lobang batu.
Sinar matahari yang baru terbit menerangi pinggiran lobang dan menyeruak ke
bawah. Ketika Pangeran Soma memperhatikan ke dalam lobang berubahlah parasnya.
Sesaat matanya terpejam dan mulutnya berucap. “Ini orang Cina yang aku lihat dalam
mimpiku. Ternyata anak manusia ini bernasib jauh lebih malang dari diriku. Gusti Allah,
mengapa malapetaka begitu berat kau timpakan pada dirinya? Tantangan apakah yang
hendak kau berikan padaku ya Allah?”
Pangeran Soma membuka kembali kedua matanya dan memperhatikan ke dalam
lobang batu merah. “Dua tangan dan dua kaki buntung. Seperti ditebas senjata tajam.
Mukanya tak bisa kulihat jelas, bergelimang dengan darah. Ada sesuatu melekat... ada
sesuatu terikat di dadanya...” Pangeran Soma merunduk. Kepalanya diturunkan sampai
masuk sejauh dua jengkal ke datam lobang batu. “Sebuah kitab...” desis lelaki ini. Dia
membuka matanya lebar-lebar. Berusaha membaca tulisan yang tertera di sampul kitab.
Hanya sebagian yang bisa dibacanya karena sebagian lagi tertutup oleh bayangan gelap
batu goa yang tidak tersentuh sinar matahari. Namun Pangeran Soma sudah bisa
menduga. “Kitab Putih Wasiat Dewa...” ucapnya dengan suara bergetar. Kembali dia
teringat pada tiga kali mimpi yang dialaminya. “Tuhan Maha Benar. Petunjuk dalam
mimpi jelas adanya. Gusti Allah... Apa yang harus aku lakukan? Beri aku petunjuk lebih
lanjut.”
Lama Pangeran Soma menatap sosok tubuh Ki Hok Kui yang terlentang di dasar
lobang pada ujung terowongan buntu. “Lukanya akan membusuk... dia akan mati. Tuhan,
dengan kuasaMu aku ingin menolongnya. Dengan kuasaMu selamatkan nyawa orang
ini.”
Tangan kanan Pangeran Soma bergerak ke arah satu gundukan batu merah
runcing di samping kirinya.
”Traakkk!”
Ujung runcing itu dipatahkannya. Lalu tangannya meremas. Perlahan-lahan
tangan itu diturunkan sedalam mungkin ke dalam lobang batu. Lalu lima kali berturut-
turut genggamannya dibuka. Pada genggaman pertama batu merah yang telah jadi bubuk
jatuh bertabur dan masuk ke dalam mulut Ki Hok Kui. Taburan kedua dan ketiga jatuh
pada buntungan luka di tangan kiri kanan. Bubuk-bubuk batu merah keempat dan kelima
menyiram di atas luka buntung dua kaki Ki Hok Kui. Dari mulut dan empat bagian tubuh
yang kejatuhan bubuk batu merah itu kelihatan keluar kepulan asap. Pangeran Soma
menarik napas lega. “Tuhan, Kau tolong orang ini...”
Namun kelegaan Raja Obat Delapan Penjuru Angin ini hanya sesaat. Tiba-tiba dia
merasakan batu merah tempatnya berpijak bergetar keras. Tubuhnya tergontai-gontai.
Pemandangannya nanar. Sepasang lututnya bergoyang goyah.
Makin lama getaran itu semakin keras.
“Gempa!” seru Pangeran Soma.
”Rrrrrkkkk... Kraaaakkkk!”
Pangeran Soma cepat membuang diri ke samping agar tidak terjerembab masuk
ke dalam lobang batu. Untuk beberapa lamanya dia duduk terhenyak di antara dua
gundukan batu merah. Ketika getaran lenyap tanda gempa berakhir perlahan-lahan dia
berdiri. Yang diperhatikannya pertama kali adalah lubang batu itu. Begitu dia
memandang ke dalam berubahlah paras sang Pangeran.
Sosok tubuh Ki Hok Kui tidak ada lagi di dasar lobang. Dasar lobang itu sendiri
kini kelihatan terbelah rengkah.
”Tubuh orang itu pasti jatuh ke dalam terowongan sebelah bawah. Aku tak
mungkin menolongnya. Hanya kuasa Tuhan yang mampu menyentuhnya...”
Perlahan-lahan Pangeran Soma bangkit berdiri. Sambil melangkah mundur
melewati celah dua batu runcing kedua matanya masih terus memandangi lobang batu
itu.
***
BAB III
DUA kuda hitam berlari kencang menembus kabut dini hari. Kegelapan perlahan-
lahan sirna begitu sang surya muncul menyapu permukaan lereng gunung. Kabut pun
menghilang. Butiran-butiran embun di dedaunan menguap pupus.
Dua penunggang kuda seolah berpacu agar lebih dulu sampai di puncak gunung
Merapi. Bau busuk aneh membersit mengikuti kemana mereka pergi. Bila seseorang
tidak tahu siapa adanya mereka atau tidak pernah melihat tampang-tampang keduanya
pastilah akan menduga bahwa jangan-jangan dua orang ini bukan manusia tetapi
sebangsa setan atau jin yang gentayangan sejak pagi buta.
Penunggang kuda di sebelah kanan mengenakan jubah hitam. Mata kanannya
besar mendelik sedang mata kiri kecil seolah terpejam. Kepalanya sulah licin di bagian
kiri tapi berambut tebal awut-awutan di sebelah kanan. Pada keningnya orang ini
memiliki tiga guratan aneh. Wajahnya yang garang seram menyerupai setan tertutup
kumis dan cambang bawuk lebat.
Temannya yang memacu tunggangannya di sebelah kiri mengenakan pakaian
terbuat dari kain tebal kotor dan rombeng. Mukanya tak kalah mengerikan dari kawannya
karena penuh cacat seperti daging dicacah. Selain itu bagian bawah kelopak kedua
matanya menggembung merah dan selalu basah. Antara dua mata yang seram tapi juga
menjijikkan ini terpancang satu hidung tinggi bengkok seperti paruh burung elang. Kedua
lengannya penuh bulu. Jari-jarinya bukan seperti jari manusia karena berbentuk cakar
dengan kuku-kuku hitam panjang mengandung racun. Di punggungnya tergantung satu
kantong kain yang tadinya berwarna putih tapi kini kelihatan merah oleh noda darah yang
mulai mengering. Entah apa isinya bungkusan ini tapi yang jelas dari bungkusan itulah
membersit sumber bau sangat busuk itu! Dari ciri-ciri dua orang ini jelas mereka bukan
lain adalah dua bersaudara sumpah darah Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan.
Seperti dituturkan dalam Episode II (Wasiat Dewa) mereka ditipu oleh Pangeran
Matahari sehingga menenggak racun yang akan membunuh mereka dalam tempo 300
hari. Sang Pangeran tidak percaya bahwa dua kaki tangannya itu telah benar-benar
berhasil membunuh Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng kecuali jika
mereka mampu membawa ke hadapannya kepala Pendekar 212. Selama hal itu tidak
mereka laksanakan maka Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tidak akan mendapatkan
obat pemusnah racun. Jadi mereka hanya tinggal menunggu mati saja.
“Saudaraku Elang Setan!” berseru Tiga Bayangan Setan. “Bagaimana kalau
Pangeran celaka itu tidak memberikan obat pemusnah racun tiga ratus hari yang
mendekam dalam tubuh kita?!”
Elang Setan menyeringai. “Kali ini kurasa dia tidak punya alasan. Kalaupun dia
mungkir aku sudah nekad untuk mengadu jiwa! Bagaimana dengan kau?!”
“Aku akan bertindak lebih cerdik darimu!” jawab Tiga Bayangan Setan.
”Hemmm... apa maksudmu?!”
“Aku akan berusaha mencuri Kitab Wasiat Iblis yang dimilikinya terlebih dulu.
Selama kitab sakti itu berada di tangannya sulit bagi kita untuk membunuhnya. Ingat
peristiwa di dekat sumur batu di bukit itu waktu dia membunuh Iblis Tua Ratu Pesolek?
Kitab iblis itu tidak bisa dibuat main!”
“Kau betul,” kata Elang Setan pula. “Kita harus memancingnya demikian rupa.
Kalau dia sudah dibikin mampus pada salah satu kantong pakaiannya pasti akan kita
temui obat pemusnah racun itu!”
Jalan menuju ke puncak gunung semakin mendaki tajam, penuh dengan batu-batu
terjal. Di satu tempat kedua orang ini turun dari kuda masing-masing, melanjutkan
perjalanan dengan jalan kaki. Mereka sama sekali tidak memperdulikan indahnya
pemandangan di kejauhan. Yang mereka pikirkan saat itu adalah secepatnya mencapai
puncak gunung Merapi tempat kediaman Pangeran Matahari guna menyelesaikan urusan.
Sementara itu di puncak gunung, tak berapa jauh dari sebuah bangunan dua orang
gadis asyik bermain air di telaga dangkal berair jernih dan sejuk. Rambut mereka yang
panjang basah riap-riapan di punggung mereka yang putih. Tiba-tiba gadis di sebelah
kanan berbisik pada gadis satunya.
“Pangeran datang...”
“Hemmmm...Kalau begitu kau pergilah. Bukankah hari ini giliranku untuk
bersenang-senang dengannya?”
“Jangan berkata begitu. Apa kau lupa sang Pangeran seorang lelaki kuat
perkasa?!”
“Gila, aku tak suka bercumbu kalau ada gadis lain di dekatku!”
Gadis di sebelah kanan tertawa geli. “Apa kau lupa kita ini sebenarnya sudah
bukan gadis lagi? Kita telah memberikan semua yang kita miliki pada pangeran itu!”
“Terserah kau mau bicara apa. Tapi aku tidak sudi dia mencumbu kita berdua
sekaligus...”
“Jangan bodoh, mengapa kau sengaja melewatkan pengalaman yang sangat hebat
ini?!”
Pemuda bertubuh kekar, berambut tebal hitam yang melangkah cepat menuju
telaga sunggingkan senyum lalu berseru.
“Kekasih-kekasihku cantik! Mengapa kalian mendahului mandi di telaga?”
“Maafkan kami Pangeran.” jawab gadis yang berada di tepi telaga. ”Pangeran
kami lihat masih tidur nyenyak. Mana kami berani membangunkan.”
“Pangeran tampak letih. Kami sengaja membiarkan agar Pangeran bisa
istirahat...” menambahkan gadis satunya.
“Aku Pangeran Matahari letih?” Lelaki itu tertawa gelak-gelak lalu buka mantel
hitamnya. “Akan aku buktikan pada kalian berdua saat ini juga bahwa aku tidak pernah
mengenal letih!”
Gadis di pinggir telaga tersenyum genit sedang kawannya tampak bersemu merah
wajahnya.
Pangeran Matahari buka mantel hitamnya. Ketika bajunya ditanggalkan dua gadis
melihat sebuah kitab hitam terikat di dadanya yang tegap berotot dan berbulu.
“Pangeran... Kau selalu membawa kitab itu kemana kau pergi. Rupanya kitab itu
sangat penting bagimu...”
“Kitab ini merupakan nyawa kedua bagiku!” jawab Pangeran Matahari seraya
meletakkan pakaiannya di tepi telaga. Kitab Wasiat Iblis diletakkannya hati-hati sekali di
atas bajunya lalu dibungkusnya dengan baju itu.
Air telaga muncrat menyiprat ke atas ketika pemuda itu melompat masuk ke
dalam telaga. Dua gadis berpekikan. Yang satu merasa gembira dan langsung mendekati
sang Pangeran. Gadis kedua tertegun di tengah telaga dengan muka merah. Tiba-tiba dia
melihat dua sosok mendatangi dari arah kiri telaga.
“Pangeran, ada yang datang...” Si gadis memberi tahu.
Pangeran Matahari palingkan kepala. “Jahanam-jahanam itu datang pada waktu
yang salah!” rutuk Pangeran Matahari. Lalu hidungnya mencium bau busuk.
Elang Setan dan Tiga Bayangan Setan nampak terkejut ketika mendapatkan orang
yang mereka cari ternyata tidak sendirian berada di telaga itu. Walau ada firasat sang
Pangeran akan marah besar namun mereka tidak mau melepaskan pandangan mata dari
dua sosok tubuh bagus dua gadis yang ada dalam telaga, yang satu malah berada dalam
dekapan Pangeran Matahari.
”Bangsat! Siapa yang menyuruh kalian kemari?!” bentak Pangeran Matahari.
“Kami tidak menemuimu di rumah sana lalu datang ke sini. Mohon maafmu
Pangeran karena tidak mengira kalau kau tidak sendirian di sini...” jawab Elang Setan.
“Jangan berani melangkah lebih dekat! Kembali ke rumah dan tunggu aku di
sana!”
“Kami akan menunggu sesuai perintahmu Pangeran,” jawab Elang Setan seraya
membungkuk. Tiga Bayangan Setan juga ikut membungkuk memberi hormat.
“Tunggu dulu! Apa kalian datang membawa berita baik?!”
Elang Setan mengangguk. Dia angkat bungkusan kain yang dipanggulnya di bahu
kiri. Bau busuk menyengat membuat dua gadis cepat menutup hidung.
“Hemmmmm...” Pangeran Matahari menyeringai. “Kalau begitu kalian lekas ke
rumah. Aku segera menyusul!”
“Pangeran! Kita belum mandi bersama. Kita belum...” berkata gadis dalam
rangkulan Pangeran Matahari.
Sang Pangeran lepaskan rangkulannya. Setelah membenamkan hidungnya di
celah dada si gadis dia berbisik.
“Ada urusan sangat penting. Aku tak akan lama. Kalian berdua tetap di sini. Aku
segera kembali!”
Si gadis mengikuti kepergian Pangeran Matahari dengan pandangan kecewa. Dia
berpaling pada temannya di tengah telaga. Lalu dengan muka cemberut dia berkata. “Dua
manusia bermuka setan dan bau busuk itu rupanya lebih penting daripada kita berdua.”
“Aku punya firasat sesuatu yang mengerikan akan terjadi,” jawab gadis di tengah
telaga lalu berenang menuju ke tepian. “Bagaimana kalau kita tinggalkan saja tempat
ini.”
“Tinggalkan tempat ini? Jangan bertindak bodoh sahabatku. Kita belum sempat
bersenang-senang. Belum menerima hadiah... Kalau Pangeran membatalkan janjinya
malanglah nasib kita!”
“Terus terang aku tidak percaya pada janji pemuda itu. Selain kita dia punya
beberapa perempuan peliharaan dan kekasih gelap. Salah satu diantaranya gadis cantik
berbadan harum yang mengenakan pakaian tipis warna biru itu.”
”Sebagian dari ucapanmu ada betulnya. Kalaupun kita tidak dikawini kurasa
sudah kepalang tanggung untuk mundur. Sasaran kita sekarang adalah uang perhiasan
dan harta lainnya. Dan dengar... Jangan sekali-kali kau berani meninggalkan tempat ini.
Kalau Pangeran bilang tunggu di sini kita harus menunggu. Nyawa manusia baginya
tidak lebih berharga dari nyawa seekor lalat...”
Ketika Pangeran Matahari sampai di bangunan di puncak gunung Merapi, Tiga
Bayangan Setan dan Elang Setan yang duduk di tangga depan segera berdiri. Sang
Pangeran memperhatikan bungkusan yang dipanggul Elang Setan sesaat lalu bertanya.
“Berita baik apa yang kalian bisa sampaikan padaku? Kalian berhasil mendapatkan
kepala musuh besarku Pendekar 212 Wiro Sableng?”
“Kami bernasib mujur Pangeran. Perintah Pangeran telah kami laksanakan dengan
baik!” jawab Tiga Bayangan Setan lalu memberi isyarat pada Elang Setan dengan
anggukkan kepala.
Elang Setan turunkan kantong kain yang dipanggulnya lalu meletakkannya di
lantai bangunan. Bau busuk memancar santar. Perlahan-lahan Elang Setan membuka
ikatan kantong, ketika kantong ditunggingkannya menggelindinglah potongan kepala
manusia di atas lantai. Bau busuk menghampar bukan olah-olah.
“Pangeran saksikan sendiri...!” kata Elang Setan sambil menyeringai sementara
Tiga Bayangan Setan lantas saja tegak sambil berkacak pinggang.
Sepasang mata Pangeran Matahari membuka besar besar. Di lantai dua langkah di
hadapannya tergeletak potongan kepala manusia berlumuran darah. Rambutnya panjang
hitam awut-awutan. Pada keningnya ada ikatan kain putih. Sang Pangeran membungkuk
sedikit agar dapat meneliti lebih jelas. Satu seringai tersungging di mulutnya. Perlahan-
lahan dia berpaling pada Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan.
“Kalian manusia-manusia hebat!” memuji Pangeran Matahari. Lalu tertawa
bergelak.
Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan ikut-ikutan tertawa.
“Ini memang kepala si keparat Pendekar 212 itu!” ujar Pangeran Matahari pula
dengan wajah berseri. ”Sekarang siapa yang bisa menandingiku dalam rimba
persilatan?!”
”Tak seorangpun Pangeran! Kau sekarang jadi raja di raja dunia persilatan!” kata
Elang Setan.
Pangeran Matahari kembali memandang pada potongan kepala di lantai. “Aku
percaya itu memang kepala pendekar bangsat itu! Aku kenal betul wajahnya!”
“Kami gembira kalau kini Pangeran bisa percaya bahwa Pendekar 212 sudah
tamat riwayatnya! Mati di tangan kami dua bersaudara!”
“Ya... ya aku percaya!” kata Pangeran Matahari pula seraya mengusap-usap
telapak tangannya satu sama lain.
Elang Setan melirik pada Tiga Bayangan Setan lalu mendehem beberapa kali.
“Pangeran, turut perjanjian saat ini tentunya kami akan menerima obat pemusnah
racun tiga ratus hari itu...” kata Tiga Bayangan Setan pula.
Pangeran Matahari menyeringai. “Kalian rupanya benar-benar takut mati! Tak
usah khawatir, janji akan kutepati. Malah kalian akan kuberi hadiah besar!”
“Terima kasih Pangeran! Terima kasih!” kata Elang Setan dan Tiga Bayangan
Setan berbarengan sambil membungkuk berulang kali.
Sang Pangeran meraba ke balik mantel hitamnya. Dari sebuah tabung kecil
terbuat dari bambu dikeluarkannya dua butir obat berwarna merah lalu satu demi satu
diserahkannya pada kedua orang bermuka setan di hadapannya itu.
Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan cepat menyambut! Namun setelah
memegang obat itu mereka tidak segera menelannya. Ada keraguan pada tampang
masing-masing.
“Kalian tidak mempercayai diriku?!” Pangeran Matahari membentak.
“Ka... kami tidak bermaksud begitu Pangeran. Cuma mengingat telah dua kali kau
menjalankan muslihat...”
“Keparat! Muslihat adalah permainan iblis! Aku bukan iblis! Kalau kalian mau
mampus buang saja obat itu!” Pangeran Matahari membentak dengan mata membeliak.
Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan serta merta menelan obat yang ada dalam
genggaman mereka. Keduanya tampak pucat ketika mendadak merasa ada hawa panas
menjalar di saluran tenggorokan terus merambat ke perut. Namun perlahan-lahan hawa
panas itu lenyap berganti dengan rasa sejuk.
”Terima kasih Pangeran...” kata Elang Setan.
”Mengenai hadiah yang tadi kau katakan itu...” berucap Tiga Bayangan Setan.
Pangeran Matahari menyeringai. ”Hemmm....Ada dua gadis cantik bertelanjang
dalam telaga. Kalian telah melihatnya, betul...?”
”Benar, kami telah melihatnya Pangeran!”
”Itu hadiah besar buat kalian! Kalian boleh memperlakukan apa saja terhadap
mereka. Termasuk membunuhnya! Kalau kalian tega... Ha... ha... ha...!”
Habis berkata begitu Pangeran Matahari jambak rambut potongan kepala
Pendekar 212 lalu melangkah menuruni tangga. Akan halnya Tiga Bayangan Setan dan
Elang Setan tidak tunggu lebih lama lagi segera menghambur lari menuju telaga. Dua
gadis di dalam telaga tentu saja menjerit ketakutan begitu dua manusia bermuka setan ini
muncul, membuka pakaian dengan cepat lalu menceburkan diri ke dalam air dan
langsung menubruk mereka dan menyeretnya ke tepi telaga.
Sekonyong-konyong ada bayang-bayang jatuh di sekitar mereka. Tiga Bayangan
Setan dan Elang Setan memandang ke langit.
”Dia!” teriak Elang Setan seraya menunjuk ke atas.
***
BAB IV
TIGA Bayangan Setan tak kalah kagetnya. Di udara saat itu tampak tujuh buah
payung melayang dalam keadaan terkembang. Pada gagang payung warna merah
bergantung seorang gadis cantik berpakaian biru berkembang-kembang kuning. Payung
merah melayang turun lebih cepat sementara enam payung lainnya menebar seolah
melindungi payung merah dan si gadis.
“Dia berani muncul! Benar-benar minta mampus!” kata Tiga Bayangan Setan.
Rahangnya menggembung dan gerahamnya bergemeletakan. Sejak dirinya dibuat cidera
pada perkelahian beberapa waktu lalu di muara Kali Opak dendam manusia setan ini
terhadap gadis berpayung itu memang bukan main-main. Begitu juga sobatnya si Elang
Setan. Tapi saat itu Elang Setan yang biasanya berangasan entah mengapa bisa berpikiran
lebih jernih. Dia cepat memegang bahu sahabatnya seraya berbisik.
“Kalau mengikuti dendam kita berdua memang harus memperkosanya lalu
menggebuknya sampai hancur luluh! Tapi lebih baik saat ini kita menghindari...”
“Jangan bicara ngaco Elang Setan!” hardik Tiga Bayangan Setan.
“Tenang sobatku! Pakai pikiran sehat! Dua gadis cantik yang sudah ada di tangan
ini belum sempat kita nikmati. Mengapa merepotkan diri mencari urusan dengan gadis
berpayung itu?! Jangan lupa Pangeran Matahari masih berada di puncak gunung ini.
Mendadak dia tahu kita memuslihatinya urusan bisa kapiran!”
Pelipis Tiga Bayangan Setan bergerak-gerak.
”Kau betul. Baik, mari kita boyong gadis-gadis ini lalu tinggalkan tempat ini!”
Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan yang dalam keadaan bugil yang segera memanggul
dua gadis yang juga tanpa pakaian sama sekali. Keduanya bergerak cepat meninggalkan
telaga setelah terlebih dulu menyambar pakaian masing-masing. Dua gadis yang mereka
panggul menjerit-jerit tiada hentinya.
”Dua setan telanjang! Jangan pergi dulu!” seru gadis yang bergelantungan di
payung merah yang tentu saja adalah Puti Andini bergelar Dewi Payung Tujuh.
”Jahanam!” maki Tiga Bayangan Setan dan cepat menyusup di antara semak
belukar.
”Hai! Aku hanya ingin bertanya!” teriak Puti Andini.
”Bertanyalah pada iblis telaga!” teriak Elang Setan.
”Apakah kalian telah menemukan mayat Pendekar 212?!”
”Hah! Itu yang hendak kau tanyakan!” jawab Tiga Bayangan Setan. “Ketahuilah
kami bukan cuma menemukan mayat pemuda itu tapi juga telah menebas batang lehernya
dan menyerahkan potongan kepalanya pada seseorang!”
Paras Puti Andini berubah, hatinya berguncang, tapi pikirannya tak lekas
terpengaruh. “Mungkin dua bangat itu tidak berdusta. Ah, celaka kalau begini. Makin
berat dan besar urusanku! Bagaimana caranya sekarang aku mencari jejak Kitab Putih
Wasiat Dewa itu!” Si gadis memandang ke bawah. Sosok Tiga Bayangan Setan dan
Elang Setan masih terlihat di sela-sela pepohonan dan semak belukar. Maka dia berteriak
kembali. “Kepada siapa kalian serahkan kepala Pendekar 212?!”
“Kau punya kepandaian tinggi! Silahkan menyelidik sendiri!” jawab Tiga
Bayangan Setan.
“Atau tanya pada setan neraka!” teriak Elang Setan.
“Gadis sakti! Tolong kami!” Gadis yang berada di panggulan Elang Setan tiba-
tiba berteriak minta tolong.
“Kalian gadis-gadis sesat! Memilih hidup jadi pelacur! Perlu apa aku merepotkan
diri menolong kalian!” jawab Dewi Payung Tujuh yang jadi jengkel oleh jawaban dua
bersaudara sumpah darah tadi. Lalu dia kembali berseru pada Tiga Bayangan Setan dan
Elang Setan. “Jika kalian tidak mau memberi tahu tentang Pendekar 212 tak jadi apa.
Jawab pertanyaanku yang satu ini! Apakah puncak gunung int tempat kediaman orang
sakti bergelar Pangeran Matahari?!”
“Ha... ha! Kau rupanya hendak bergendak dengan sang Pangeran!” berseru Elang
Setan. “Kau memang cocok jadi peliharaannya!”
“Tapi hati-hati! Sekali dia sudah bosan padamu, kau akan dipesianginya mentah-
mentah!” menimpali Tiga Bayangan Setan. “Walau kau punya tujuh nyawa dan
kepandaian setinggi langit, jangan harap bisa menghadapi keganasan Kitab Wasiat Iblis
yang dimilikinya!”
“Hemmm... jadi benar kabar yang kusirap. Kitab Wasiat Iblis itu telah jatuh ke
tangan Pangeran Matahari,” Kata Puti Andini dalam hati. ”Aku punya dugaan mungkin
sekali Pangeran Matahari yang memerintah mereka menebas kepala Pendekar 212 lalu
diserahkan padanya. Dua manusia setan itu tidak punya daya karena mereka berada
dalam kekuasaan sang Pangeran. Bukankah waktu di pantai tempo hari aku lihat ada
tanda keracunan di bibir mereka?”
Tak lama kemudian Puti Andini melayang turun menjejakkan kedua kakinya yang
berkasut kulit di tepian telaga. Enam payung sengaja dibiarkannya mengambang
berputar-putar di udara. Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tak kelihatan lagi. Sayup-
sayup masih terdengar jeritan-jeritan dua gadis yang mereka boyong namun Puti Andini
tidak peduli.
Sambil memegangi payung merah di atas kepala dia memandang berkeliling.
“Sunyi... tenang, serba hijau dan segar...” katanya dalam hati. “Tapi di balik
semua itu aku mencium sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang mengerikan di tempat ini...
Hemm, jika keterangan dua manusia setan itu bahwa Pendekar 212 benar-benar sudah
tewas dapat dipercaya, berarti aku akan kehilangan jejak penuntun. Sebenarnya dia bisa
kujadikan sahabat untuk mendapatkan kitab sakti itu. Kini putus harapanku menyusuri
jejak Kitab Putih Wasian Dewa, apalagi mendapatkannya. Guru pasti akan memarahiku
setengah mati. Ah, mengapa dia memberi tugas begini berat padaku? Tuhan, cobaan apa
lagi yang akan aku hadapi...?”
Selagi dia memandang berkeliling sekali lagi sekonyong-konyong terdengar suara
bentakan-bentakan di kejauhan. “Ada orang lain di tempat ini. Pangeran Matahari...?”
desis Puti Andini dalam hati. Lalu dia mendongak. Seolah bicara pada manusia saja, dia
berkata pada enam payung yang mengambang dan berputar-putar di udara. “Kalian
jangan tertipu angin. Jangan berani kemana mana. Tunggu tanda atau tunggu sampai aku
datang!” Habis berkata begitu gadis ini cepat berkelebat ke arah datangnya suara
bentakan tadi. Dia hentikan langkahnya di balik serumpunan semak belukar lebat. Bau
busuk menghampar menusuk hidung.
Memandang ke depan dilihatnya sebuah bangunan. Di hadapan bangunan ini
terdapat halaman dan di tengah halaman terpampang satu pemandangan yang membuat
Puti Andini mendelik, berubah pucat wajahnya dan dingin tengkuknya!
Sebatang tiang bambu menancap di tengah halaman. Pada ujung atas tiang ini
menancap potongan kepala manusia. Inilah rupanya sumber bau busuk yang menyengat
itu. Walau wajahnya tertutup rambut gondrong awut-awutan serta noda darah yang telah
membeku namun Puti Andini masih bisa mengenali. Wajah itu adalah wajah Pendekar
212 Wiro Sableng!
Mendadak saja si gadis merasakan dadanya berdebar keras dan sesak. “Dua
manusia setan itu tidak berdusta! Mereka memang benar-benar telah memenggal kepala
Pendekar 212...!” Puti Andini terduduk terhenyak di tanah di balik semak belukar.
“Walau guru menyuruh aku membunuhnya, sebetulnya aku tidak ada permusuhan dengan
pemuda itu Belakangan ini aku selalu ingat padanya. Wajahnya sering muncul dalam
bayanganku...” Puti Andini menarik nafas dalam berulang kali. Tanpa disadarinya
sepasang matanya berkaca-kaca. “Untuk terakhir kali aku ingin mengurus jenazahnya.
Aku hanya melihat kepalanya. Dimana gerangan badannya...? Mungkin di dalam
bangunan? Milik siapa bangunan itu? Tempat kediaman Pangeran Matahari?”
Selagi berpikir seperti itu tiba-tiba bayangan hitam berkelebat keluar dari dalam
bangunan. Sesaat kemudian Puti Andini melihat seorang pemuda gagah bertubuh tinggi
kekar berdiri di tengah halaman. Tampangnya yang keras kelihatan merah mengelam,
Pelipisnya bergerak-gerak dan sepasang matanya menyorotkan hawa amarah. Orang ini
mengenakan mantel hitam. Pada baju hitamnya yang tersingkap di balik mantel
terpampang gambar gunung biru dan matahari kuning.
”Pangeran Matahari... Pasti dia!” membatin Puti Andini.
“Bangsat! Jahanam keparat! Berani dia memuslihati diriku!” orang bermantel
yang bukan lain Pangeran Matahari adanya membentak sambil hantamkan kaki kanannya
ke tanah.
Puti Andini terkesiap ketika melihat bagaimana tanah yang terkena hempasan
kaki melesak sampai setengah jengkal dan berwarna kehitaman.
”Manusia ini memiliki tenaga dalam tidak di bawah tingkat yang dimiliki guru...”
kata Puti Andini dalam hati.
”Tiga Bayangan Setan! Elang Setan! Kalian bisa kabur dari puncak Merapi! Tapi
kalian tidak bisa lolos dari kematian! Akan kukelupas kulit tubuhmu! Kucincang daging
serta tulang kalian! Bangsat! Setan! Kurang ajar! Mengapa aku sampai berlaku bodoh!
Seharusnya obat penawar racun tiga ratus hari itu tidak aku berikan pada mereka!”
Pada puncak kemarahannya Pangeran Matahari melompat ke atas. Tangan
kanannya menyambar rambut potongan kepala yang menancap di ujung bambu. Dengan
geram potongan kepala Pendeka 212 itu dibantingkan ke tanah.
“Praaakkk!”
Potongan kepala rengkah lalu menggelinding ka arah semak belukar di balik
mana Puti Andini mendekam bersembunyi. Gadis ini merasakan tubuhnya menggigil
berada sedekat itu dengan potongan kepala. Dia menekap mulutnya agar tidak
mengeluarkan suara. Matanya membeliak memandangi potongan kepala Pendekar 212
itu.
Untuk beberapa lamanya Pangeran Matahari masih menyumpah sambil
melangkah mundar mandir di halaman bangunan. Tiba-tiba dia ingat.
“Dua bangsat itu! Mereka pasti masih berada di telaga. Bersenang-senang dengan
dua gadis yang kuhadiahkan! Jahanam! Kalian akan rasakan tanganku! Sekarang kalian
dapat sorga, sebentar lagi akan kusumpalkan neraka ke pantat dan sekujur tubuh kalian!”
Dengan beringas Pangeran Matahari berkelebat menuju ke telaga. Sampai di
telaga dia bukan saja tidak menemukan Tiga Bayangan Setan dan dua gadis itu tapi justru
disambut oleh satu pemandangan. Sepasang alis mata Pangeran Matahari berjingkrak ke
atas. Keningnya mengernyit dan dua matanya membeliak. Di atas tepian telaga enam
buah payung berbagai warna melayang berputar-putar.
“Enam payung warna-warni...” desis sang Pangeran. Lalu satu persatu menyebut
warna payung itu. ”Hitam, hijau, kuning, biru, putih, ungu... Mana satu lagi yang
berwarna merah...” Dia memandang berkeliling. “Jadi betul keterangan yang kudapat
tempo hari. Dewi Payung Tujuh berada di tempat ini...”
Pangeran Matahari memandang berkeliling dengan mata membeliak tajam. Lalu
dia berteriak. “Dewi Maling Tujuh! Aku tahu kau ada di tempat ini! Harap perlihatkan
diri! Jadi tamu jangan menyelinap seperti tikus comberan!”
Tak ada jawaban. Pangeran Matahari berteriak sekali lagi. Tetap tak ada jawaban.
”Jahanam!” makinya. Lalu dia berlari kembali ke tempat kediamannya. Di halaman
bangunan hanya kesunyian menyambutnya. Tak kelihatan siapapun. Namun dia
merasakan suatu kelainan. Dekat potongan kepala Pendekar 212 yang tercampak di tanah
tergeletak satu benda lain seperti kertas.
Begitu Pangeran Matahari tadi meninggalkan tempat itu, Puti Andini menyibak
semak belukar agar lebih jelas melihat potongan kepala itu. Tidak syak lagi itu memang
kepala Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun! Matanya yang tajam melihat sesuatu. Dia
teringat pada caci maki Pangeran Matahari yang menyumpahi Tiga Bayangan Setan dan
Elang Setan yang dituduh telah memuslihati menipunya.
”Ada keanehan pada bagian leher itu. Sepertinya kulit luar tidak menyatu dengan
daging di sebelah dalam...” Puti Andini memandang ke jurusan lenyapnya Pangeran
Matahari tadi lalu dengan cepat keluar dari semak-semak. Sambil menahan napas
tangannya yang gemetaran diulurkannya. Matanya dipejamkan begitu jari-jarinya
menyentuh kulit leher pada bagian yang terpotong. Tengkuknya terasa dingin dan
jantungnya berdegup keras menahan rasa ngeri.
Puti Andini sentakkan jari-jari tangannya dua kali.
“Sreettt! Srettt!”
Terdengar dua kali suara seperti benda robek. Ketika kemudian dia membuka
matanya terbeliaklah gadis ini. Sebagian dari kulit leher dan kulit wajah potongan kepala
yang tadi disentakkannya kini terkelupas. Kelupasannya berada dalam pegangannya! Dan
wajah asli potongan kepala itu walau tidak tersibak keseluruhannya tapi cukup jelas
terlihat.
“Bukan wajah Pendekar 212...” desis Puti Andini. Matanya lalu memandangi
kelupasan kulit muka yang dirobeknya. “Topeng tipis. Dua manusia setan itu ternyata
memang benar memuslihati Pangeran Matahari. Potongan kepala orang lain diberi topeng
tipis menyerupai wajah Pendekar 212...”
Puti Andini campakkan robekan topeng tipis lalu secepat kilat menyelinap
meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa saat saja setelah dia berkelebat pergi Pangeran
Matahari muncul kembali. Dia mengobrak abrik semak belukar di sekitar halaman.
Berkelebat menyelidik kian kemari.
“Kurang ajar! Aku yakin tadi dia pasti ada di sini!” maki sang Pangeran.
Kemudian diperhatikannya potongan kepala yang menggeletak di tanah. Di dekat
potongan kepala itu ada secarik benda seperti kertas atau kulit. Pangeran Matahari
melangkah mendekati. “Dia merobek topeng tipis di potongan kepala. Hemm. Agaknya
Dewi Payung Tujuh tengah melakukan satu penyelidikan. Mungkin dia tengah mencari
Kitab Wasiat Iblis? Tapi mengapa tidak berani unjukkan diri. Malah kabur? Akan aku
hancurkan enam payungnya yang ditinggal di tepi telaga!”
Pangeran Matahari cepat kembali ke telaga namun dia kecewa dan marah besar.
Saat itu dia mendengar suara suitan keras enam kali berturut-turut. Datangnya dari udara.
Ketika dia mendongak enam payung yang tadi mengambang di sekitar telaga kini
kelihatan membubung cepat ke udara. Payung ke tujuh berwarna merah berada paling
atas dan pada tangkai payung bergantung gadis cantik berpakaian biru berkembang-
kembang. Si gadis melambai-lambaikan tangannya sambil tertawa mengejek.
Dalam marahnya Pangeran Matahari hantamkan kedua tangannya ke udara
lepaskan pukulan ”Telapak Matahari”. Terdengar dua suara mendesis berbarengan.
Bersamaan dengan itu dua rangkum angin menebar hawa panas menderu ke udara. Sudah
dapat dibayangkan oleh Pangeran Matahari bahwa enam payung akan hancur lebur
dihantam pukulan saktinya dan si gadis akan cidera berat. Namun dugaannya meleset.
Sang Pangeran lupa memperhitungkan jarak yang terpisah antara dia dengan sasaran.
Saat itu tujuh payung dan Puti Andini sudah terlalu jauh di udara. Walaupun dua
serangan saktinya masih sanggup mencapai sasaran namun daya kekuatannya tak mampu
menciderai. Malah secara luar biasa enam buah payung tiba-tiba berputar lalu menukik
ke bawah membentengi payung merah dan Puti Andini.
“Kurang ajar! Dewi Payung Tujuh! Apa kau kira bisa lolos dari kematian?!”
teriak Pangeran Matahari.
Lalu dia busungkan dada dan kerahkan tenaga dalam ke tempat terletaknya Kitab
Wasiat Iblis.
”Bunuh!” perintah Pangeran Matahari.
Dada dan Kitab Wasiat Iblis sesaat menjadi panas namun hawa panas itu cepat
meredup dan lenyap. Dari kitab sakti di dadanya sama sekali tidak keluar sinar sakti yang
diharapkan. Pangeran Matahari lipat gandakan tenaga dalamnya. Malah sambil menepuk-
nepuk kitab itu dia berteriak berulang kali.
“Bunuh! Bunuh!”
Tidak terjadi apa-apa. Tak ada sinar maut mencuat keluar dari dada sang
Pangeran.
”Kitab Wasiat Iblis!” desis Pangeran Matahari dengan suara bergetar. “Apa yang
terjadi?! Apa kitab ini telah hilang kesaktiannya?” Saking geramnya disibakkannya
mantel hitamnya lalu dirobeknya baju hitamnya. Kitab Wasiat Iblis yang diikatkannya di
dada tersingkap. Sekali lagi dia mengerahkan tenaga dalam penuh dan berteriak.
“Bunuh!”
Tetap saja tidak terjadi apa-apa!
Tampang sang Pangeran menjadi gelap. Rahangnya menggembung. Kitab Wasiat
Iblis direnggutkannya dari dadanya. Kalau mengikuti kemarahannya mau dia merobek
dan membanting kitab sakti itu ke tanah. Dengan tubuh bergetar akhirnya dia terduduk di
sebuah batu di tepian telaga. Kitab Wasiat Iblis diletakkannya di pangkuannya dan
dipandanginya dengan mata melotot. Sebelumnya sang Pangeran telah beberapa kali
menyaksikan bagaimana Kitab Wasiat Iblis itu secara luar biasa mengeluarkan sinar maut
yang sanggup membunuh. Beberapa orang tokoh silat kawakan telah menjadi korbannya.
Diantaranya Iblis Tua Ratu Pesolek (Episode I: Wasiat Iblis) dan Datuk Sengkang
Makale alias Hantu Tinggi Pelebur Jiwa (Episode II: Wasiat Dewa) tanpa dia berbuat
suatu apapun. Sinar kematian itu keluar dari Kitab Wasiat Iblis begitu saja menghantam
mati lawan-lawannya. Sekarang mengapa kesaktian kitab itu tidak keluar? Sang Pangeran
tidak mengetahui bahwa walau kitab itu memiliki kesaktian dan kekuatan membunuh luar
biasa namun jika dirinya tidak diserang maka kesaktian yang terkandung dalam kitab itu
tidak akan keluar! Sekali seseorang menyerang dan siapa saja yang memegang Kitab
Wasiat Iblis terancam keselamatannya maka barulah kekuatan sakti yang ada di dalam
kitab dengan sendirinya akan keluar mendahului membunuh lawan! Penuh kecewa sang
Pangeran duduk termenung sambil sekali-sekali menjambak rambutnya yang tebal.
”Mungkin ini disebabkan aku tidak melakukan puasa selama tiga kali malam
Jum’at Kliwon seperti yang dikatakan dalam kitab...” pikir Pangeran Matahari. Namun
hatinya meragu. “Pada saat kitab itu aku dapatkan, tanpa puasa kesaktiannya telah
sanggup membunuh Iblis Tua Ratu Pesolek. Sekarang mengapa bisa jadi begini...?”
Inilah kali pertama dalam hidupnya Pangeran Matahari menjadi sangat bingung.
Perlahan-lahan dia berdiri tinggalkan telaga. Kitab Wasiat Iblis dimasukkannya kembali
ke balik baju hitamnya yang robek.
***
BAB V
SUARA seorang bernyanyi itu datang dari salah satu bukit batu di sebelah timur
pulau. Cukupi jauh dari tempat Wiro berada saat itu. Dia memasang telinga baik-baik,
berusaha mendengar jelas setiap bait nyanyian yang dilantunkan.
Laut selatan tak pernah tenangj
Gelombang selalu datang menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu tua renta malang
Yang ditunggu budak malang
Apakah saat ini petunjuk Yang Kuasa turun menjelang
Mungkinkah ini akhir penantian dan permulaan dari satu harapan
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh harapan
Agar tubuh tua ini bisa lepas menempuh jalan abadi menghadap Sang Pencipta
Murid Eyang Sinto Gendeng garuk-garuk kepalanya. Dia coba mencerna arti
nyanyian itu. ”Menunggu ribuan pagi ribuan petang, berarti ada seorang tua bangka di
puncak bukit sana. Yang ditunggu budak malang. Eh, apa aku yang ditunggunya? Apa
dia kenal pada diriku. Yang jelas nasibku saat ini buka cuma malang tapi juga melintang!
Ha... ha... ha!” Pendekar 212 tertawa sendiri. “Bait akhir nyanyian aneh itu seolah si
penyanyi ingin buru-buru mati. Aneh!” Wiro percepat langkahnya.
Karena ingin cepat-cepat melihat siapa adanya orang yang menyanyi maka Wiro
pergunakan ilmu ”Menembus Pandang” yang didapatnya dari Ratu Buyung (baca
Episode III: Wasiat Sang Ratu) Tenaga dalamnya dialirkan ke matanya kiri kanan. Dia
mendongak memandang ke puncak bukit batu di sebelah Timur. Lalu mata itu dikedipkan
dua kali.
Mula-mula Wiro melihat warna merah berkepanjangan pertanda dimana-mana di
atas sana hawa batu-batu merah yang ada. Kemudian samar-samar dia melihat sesosok
tubuh berjubah putih. Wajahnya tak terlihat jelas karena membelakangi. Kalau dia ingin
melihat bagian depan orang itu berarti dia harus berputar setengah pulau. ”Daripada
menghabiskan waktu lebih baik aku terus saja menempuh jalan ini,” pikir murid Sinto
Gendeng.
Suara nyanyian itu diulang-ulang beberapa kali. Namun pada ulangan keempat
mendadak suara nyanyian lenyap di bait pertengahan.
”Hemm... Orang tua di puncak bukit sana pasti sudah kecapaian menyanyi,” pikir
Wiro.
Tak lama kemudian dia sampai di kaki bukit batu merah di sebelah timur. Di sini
Wiro baru menyadari satu keanehan.
Pulau ini usianya pasti sudah ratusan bahkan ribuan tahun. Tapi tak satu
bagianpun batu-batu di sini diselimuti lumut. Semua bersih, batu merah asli. Tak
terpengaruh oleh cuaca.
Karena batu merah itu tidak licin, meskipun bukit yang didakinya cukup terjal
namun Wiro tidak mengalami kesulitan naik ke atas. Begitu sampai di puncak bukit batu
merah Wiro segera melihat sosok orang berjubah putih itu, duduk di atas sebuah batu
merah pada puncak bukit yang tak seberapa luasnya. Orang ini membungkus kepalanya
dengan sehelai kain putih menyerupai selendang.
Mengira orang tengah bersemadi maka Wiro melangkah dengan hati-hati,
berputar dan sesaat kemudian sampai di hadapan orang itu. Ternyata selendang putih di
kepalanya menutupi hampir seluruh wajahnya. Hanya sepasang matanya saja yang
kelihatan terpejam. Bagian selendang di bagian mulut kelihatan basah dan berwarna
merah. Sepasang tangan dan kaki orang itu tersembunyi di balik jubahnya. Wiro
mencium bau sirih dan tembakau. Tapi hidungnya yang tajam mencium bau lain. Karena
tiba-tiba orang di hadapannya mengeluarkan suara maka Wiro tak berkesempatan untuk
mengingat-ingat dimana sebelumnya dia pernah mencium bau itu.
“Ribuan pagi ribuan petang... Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan... Yang
menunggu tua renta malang... Yang ditunggu budak malang...”
Perlahan-lahan Wiro duduk bersila di hadapan orang berjubah dan berselendang
putih itu.
“Orang tua, maaf kalau kehadiranku mengganggumu. Apakah kau yang dijuluki
Raja Obat Delapan Penjuru Angin?”
Yang ditanya menghela napas panjang lalu menjawab. “Kau telah bertemu
dengan orang yang kau cari. Giliran diriku yang bertanya ada keperluan apa kau
mencariku anak manusia? Sebelum kau menjawab pertanyaan itu jawab dulu pertanyaan
ini. Apa kau manusianya yang dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?”
”Aku belum menerangkan siapa diriku bagamana dia bisa menerka? Orang tua ini
benar-benar berkepandaian sangat tinggi,” kata Wiro dalam hati. Maka diapun menjawab.
“Aku memang yang oleh orang-orang tolol diberi gelar begitu padahal aku hanya anak
manusia bernama Wiro Sableng!”
Si orang tua tertawa mengekeh. Bau aneh kembali menusuk hidung Wiro. Dalam
hati dia membatin.
"Menurut keterangan orang tua ini memiliki wajah biru sebelah. Tapi wajahnya
ditutup begitu rupa, sulit bagiku untuk melihat“
“Anak manusia, jika kau benar-benar Pendekar 212, perlihatkan padaku Kapak
Maut Naga Geni 212!” tiba-tiba orang di hadapan Wiro berkata.
Wiro terkesiap. “Bertemu baru sekarang. Bagaimana orang tua ini tahu kalau aku
Pendekar 212 dan punya senjata Kapak Maut Naga Geni 212! Ah, pengetahuannya tentu
luas sekali padahal... Dari tadi dia tak pernah mengeluarkan kedua tangannya dari balik
jubah. Jangan jangan si Raja Obat ini buntung!”
”Aku menunggu jawabanmu anak muda!”
Wiro garuk-garuk kepala lalu tersenyum. “Jangan cengengesan di hadapanku!
Kalau kau berani memuslihati diriku berarti umurmu tidak bakal panjang. Kau tak akan
pernah meninggalkan pulau ini...”
”Nasibku jelek. Senjata mustika itu dan pasangannya sebuah batu hitam sakti
lenyap dicuri orang...”
Si orang tua geleng-gelengkan kepalanya. “Seperti dalam nyanyianku tadi, kau
ternyata memang seorang budak malang. Apa kau tahu siapa yang telah mencuri dua
senjata saktimu itu?’
”Dua orang berjuluk Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan...” jawab Wiro.
“Hemmm... Mereka memang iblis-iblis berkepandaian tinggi. Tapi aku tidak
begitu saja percaya omonganmu. Setahuku Pendekar 212 tidak pernah mengenakan
pakaian serba hitam seperti yang kau kenakan saat ini. Dia selalu pakai baju dan celana
putih. Aku ingin melihat dadamu. Kabarnya di situ ada rajahan angka 212. Jika kau
memang memiliki baru aku bisa percaya!”
“Sialan! Sulit juga rupanya membuat urusan dengan tua bangka ini!” rutuk Wiro
dalam hati. Lalu dia buka baju hitam pemberian Ratu Duyung di bagian dada.
Sepasang mata Raja Obat Delapan Penjuru Angin melihat rajah angka 212 pada
dada Wiro.
“Kau sudah saksikan sendiri?” tanya Wiro.
Orang tua itu anggukkan kepala.
”Nah sekarang giliranku bertanya...”
”Tunggu dulu!” memotong Raja Obat Delapan Penjuru Angin. “Ada hubungan
apa antara kau dengan Ratu Duyung?!”
“Eh, orang ini benar-benar tahu banyak tentang diriku,” pikir Wiro. “Aku
berhutang budi dan nyawa pada penguasa laut itu. Itu saja...”
”Hemm... Sekarang aku masih ingin satu kepastian. Ulurkan kedua tanganmu.
Telapak dibuka ke atas!”
“Ah orang tua. Kau rupanya menyuruh aku menirukan lagak pengemis. Tapi
mengapa dua tangan sekaligus?” tanya Wiro sambil tertawa.
“Jangan berani bergurau padakul* menyentak orang tua. “Lekas ulurkan kedua
tanganmu!”
Walau kini dia mulai jengkel dengan sikap orang tua itu namun Wiro ulurkan juga
kedua tangannya ke depan. Telapak tangan dikembangkan ke atas.
Pada saat itulah tanpa diduga sepasang tangan si orang tua yang sejak tadi
mendekam di balik jubah tiba-tiba melesat keluar dari balik jubah putih.
”Bukk!”
”Bukk!”
Dua jotosan laksana palu godam menghantam ke arah Pendekar 212 Wiro
Sableng.
***
BAB VI
JERITAN keras meledak keluar dari mulut murid Sinto Gendeng ketika dua
jotosan yang dihantamkan orang tua berjubah dan bertutup kepala putih itu mendarat di
dada dan pipi kanannya. Kepalanya seolah terlempar pecah, dadanya laksana remuk.
Tubuhnya mencelat sampai dua tombak, menggelinding ke lereng bukit, tertahan pada
satu gundukan batu merah runcing! Darah menyembur dari mulutnya. Tubuh Wiro
tergeletak tak berkutik lagi!
Di atas sana terdengar suara tawa mengekeh lalu satu bayangan putih berkelebat,
melayang turun dan berdiri di hadapan sosok Pendekar 212. Dengan ujung kakinya orang
ini membalikkan tubuh Wiro.
“Ha... ha... ha! Mampus juga kau akhirnya!” Habis berkata begitu orang ini buka
jubah putih dan selendang penutup wajahnya. Di balik jubah itu ternyata orang ini
mengenakan jubah lain yang kotor dekil serta bau. Tangannya yang tersembul dari balik
jubah penuh dengan koreng bernanah dan menebar bau busuk. Wajahnya lebih
mengerikan lagi karena hancur penuh oleh koreng cacar air busuk yang sama! Tiga jari
kanannya yang tersembul di balik jubah tampak buntung kehitaman. Salah satu bagian
bawah jubahnya hangus seperti pernah terbakar.
Pada punggungnya tergantung sebuah caping bambu. Dari mulutnya dia
menyemburkan cairan merah sirih dan tembakau. Ketika caping itu dikenakannya di atas
kepalanya dan sehelai kain ditutupkannya ke wajahnya jelaslah sudah orang tua ini bukan
lain adalah si Makhluk Pembawa Bala! Makhluk iblis yang sebelumnya telah dua kali
mencoba membunuh Wiro!
Sambil tertawa-tawa dia menjambak rambut gondrong Pendekar 212 lalu enak
saja dia menyeret Wiro ke arah timur pulau. Hampir lima puluh tombak menyeret,
Makhluk Pembawa Bala hentikan langkahnya di satu bagian pulau dimana terdapat satu
batu rata berukuran dua kali dua tombak. Di atas batu warna merah ini tergeletak sesosok
tubuh kurus kering seorang tua berambut, berkumis dan berjanggut putih. Wajahnya
sebelah kanan berwarna biru. Saat itu boleh dikatakan orang tua ini nyaris telanjang
karena hanya secarik kain putih kecil yang terselempang di aurat sebelah bawah
perutnya. Melihat keadaannya saat itu yang tak bisa bergerak maupun bersuara kecuali
hanya sepasang matanya saja yang bergerak-gerak nyatalah dirinya berada dalam
keadaan tertotok. Orang tua yang malang ini bukan lain adalah si Raja Obat Delapan
Penjuru Angin.
Makhluk Pembawa Bala hempaskan tubuh Wiro di samping sosok si orang tua.
Pinggul mereka saling bersentuhan. Wajah Raja Obat Delapan Penjuru Angin berubah
pucat ketika melihat pemuda yang tergeletak di sampingnya.
Makhluk Pembawa Bala mendongak ke langit lalu tertawa gelak-gelak. Dengan
kaki kanannya ditendangnya tulang kering Raja Obat.
”Ini anak manusia yang kau tunggu dalam nyanyianmu itu?! Ha... ha... ha..!
Nasibnya memang malang! Dia keburu mampus sebelum sempat melihat tampangmu!”
Makhluk Pembawa Bala kembali tertawa mengakak. “Eh, kau diam saja! Ah, biar aku
berbaik hati sedikit membuka jalan suaramu agar aku bisa mendengar apa saja uneg-uneg
yang hendak kau keluarkan!”
Makhluk Pembawa Bala membungkuk lalu menotok pangkal leher sebelah kiri
Raja Obat. Saat itu juga punahlah totokan yang menutup jalan suaranya.
“Kau bukan manusia tapi iblis! Apa salah pemuda itu hingga kau
membunuhnya?!” Begitu jalan suaranya terbuka Raja Obat langsung membentak.
”Ha... ha... ha! Mentang-mentang sudah bisa bicara omonganmu tidak sedap
masuk ke telingaku. Kau tidak melihat kenyataan Raja Obat! Kalau aku tega membunuh
kecoak satu ini apa kau kira aku tidak tega mencabut nyawamu?!”
”Tadipun aku sudah bilang agar kau segera membunuhku! Kau tak bakal
mendapatkan keterangan apa-apa dariku!” jawab Raja Obat.
”Kita akan lihat! Kita akan lihat!” kata Makhluk Pembawa Bala pula.
”Silahkan kau mau membunuh aku cara bagaimana! Menghancurkan kepalaku!
Mematahkan batang leherku atau menjebol isi perutku!”
“Ah! Rupanya kau tahu juga banyak cara mati yang enak! Ha... ha... ha! Tidak...
semua cara yang kau sebutkan itu tidak akan kejadian. Aku punya cara lain yang lebih
sedap... Pertama, satu persatu kuku jari tangan dan kakimu akan kubetot lepas. Lalu kulit
kepalamu akan kukupas. Setelah itu lidahmu... Oh tidak... Lidah belakangan. Aku masih
ingin mendengar jeritanmu. Salah satu matamu akan kukorek lebih dulu. Setelah itu...
hik... hik... hik! Ini yang sedap dan lucu! Kau pasti akan menikmatinya. Bijimu akan
kupencet, kulepas, kupencet. Lepas... pencet... lepas... pencet! Ha... ha... ha... Kalau
suaramu sudah serak karena menjerit baru kuremas hancur bijimu itu! Ha... ha... ha... ha!”
Selagi Makhluk Pembawa Bala bicara sambil tiada hentinya tertawa Raja Obat
Delapan Penjuru Angin diam-diam merasakan bahwa pinggul Wiro yang bersentuhan
dengan pinggulnya terasa hangat. Lalu ada denyutan-denyutan halus pada sisi perut si
pemuda. Dari tanda-tanda ini si Raja Obat segera maklum kalau pemuda itu sebenarnya
belum menemui kematian tapi cuma pingsan dengan luka dalam teramat parah. Hati
orang tua ini menjadi lega, Otaknya segera bekerja.
Saat itu Makhluk Pembawa Bala telah keluarkan sebuah catut besi dari balik
jubah dekilnya. Benda ini ditimang-timangnya beberapa kali lalu dia berlutut di ujung
kaki Raja Obat.
”Aku masih memberi kesempatan padamu. Memilih mati tersiksa atau kau lekas
memberi tahu dimana beradanya Kitab Putih Wasiat Dewa itu!”
”Kalau hendak membunuhku mengapa tidak langsung saja? Mengapa masih
bertanya-tanya?! Aku sudah bilang tidak tahu menahu soal segala kitab dewa itu!
Kalaupun tahu tak bakal kukatakan pada makhluk durjana macammu.”
Makhluk Pembawa Bala tertawa gelak-gelak.
”Rupanya kau memilih menyusul pemuda ini. Kupikir-pikir dalam usiamu yang
seratus tahun ini apa perlunya kau hidup lebih lama! Baik! Jika kau ingin mampus aku
tuan besarmu segera membuka pintu neraka untukmu!”
Makhluk Pembawa Bala lalu tempelkan ujung catut besi ke kuku ibu jari kaki
kanan Raja Obat. Mulutnya yang korengan bernanah menyeringai, “Umur sudah
bangkotan. Lobang neraka sudah menunggu! Masih tidak tahu diri! Rasakan siksaanku!”
Dua ujung catut menjepit kuku. Ketika siap untuk disentakkan tiba-tiba Raja Obat
berseru. ”Tunggu!”
”Hemmm. Apa kau mau bicara?!” tanya Makhluk Pembawa Bala pula.
“Ya... ya... Aku menyerah!” jawab Raja Obat.
“Kalau begitu lekas bicara! Katakan dimana beradanya Kitab Putih Wasiat Dewa
itu!”
“Ba... baik... Tapi untuk mengetahuinya tak bisa diterangkan begitu saja. Aku
harus melakukan sesuatu. Aku harus melihat di alam gaib baru bisa membaca dan
mengatakan...”
“Jangan berani menipu!”
“Terserah padamu! Jika tidak percaya aku tak bisa melakukan apa yang kau
minta...”
“Apa yang hendak kau lakukan? Apa kau tidak bisa langsung mengatakan?!”
“Tidak... Aku harus minta petunjuk dari alam gaib lewat asap batu merah...”
“Apa itu asap batu merah?”
“Jika dibacakan mantera dan ditebarkan bubuk batu merah ke udara maka akan
kudapat petunjuk dimana beradanya kitab sakti itu. Petunjuk tak bisa didapat cepat,
tergantung bagaimana alam gaib menerimanya...”
“Aku tidak percaya!” kata Makhluk Pembawa Bala seraya berdiri lalu melangkah
mundar-mandir.
“Kalau begitu bunuh aku sekarang saja!” Raja Obat seolah benar-benar pasrah
dan tidak takut sama sekali.
”Setan!” memaki Makhluk Pembawa Bala seraya tendang rusuk Raja Obat hingga
orang tua ini mengeluh tinggi dan mengerenyit kesakitan. “Baik, aku akan lepaskan
totokanmu. Tapi jika kau berani memuslihatiku kau akan mampus lebih cepat!” Ancam
Makhluk Pembawa Bala lalu dia membungkuk dan lepaskan totokan di tubuh si orang
tua.
Begitu totokan di tubuhnya lepas Raja Obat bangkit dan duduk bersila. Dengan
sehelai kecil kain putih ditutupnya auratnya sebelah bawah lalu dia rangkapkan dua
tangan di depan dada. Sebelum pejamkan matanya dia memberi tahu.
“Aku akan bersemadi sambil merapal mantera...”
“Cepat lakukan!” bentak Makhluk Pembawa Bala seraya berkacak pinggang dan
mengawasi.
Raja Obat lalu pejamkan kedua matanya. Mulutnya yang berisi sirih dan
tembakau berkomat-kamit tiada henti. Makhluk Pembawa Bala menunggu tidak sabaran.
Tak selang berapa lama orang tua ini buka kedua matanya. Orang di depannya segera
menghardik.
“Kau sudah tahu dimana letak kitab sakti itu?!”
”Harap bersabar...” jawab Raja Obat pendek. Lalu tangan kanannya diulurkan ke
depan. Dengan dua jari tangannya dicungkilnya batu merah di hadapannya. Pecahan batu
ini kemudian diremasnya hingga hancur menjadi bubuk. Selagi perhatian Makhluk
Pembawa Bala tertuju pada tangan kanannya, perlahan-lahan Raja Obat turunkan tangan
kirinya ke bawah. Dua jari mencungkil batu merah di ujung lututnya. Seperti dengan
tangan kanan tadi, pecahan batu diremasnya hingga berubah jadi bubuk sementara
mulutnya terus berkomat kamit.
”Pertunjukan apa yang hendak diperlihatkan jahanam ini padaku!” rutuk Makhluk
Pembawa Bala semakin tidak sabar.
Mulut si orang tua tiba-tiba terbuka. Lalu terdengar suaranya berucap. “Alam gaib
akan kusebar persembahan! Sebagai imbalan beri petunjuk padaku. Beri petunjuk padaku
dimana letaknya Kitab Putih Wasiat Dewa. Persembahan harap dibalas dengan petunjuk
agar seimbang budi di alam gaib...”
Perlahan-lahan Raja Obat angkat tangan kanannya. Bubuk batu merah yang ada
dalam genggamannya disebarkan ke udara. Maka di tempat itu bertebarlah bubuk yang
berubah menjadi asap merah. Untuk beberapa lamanya ada bau aneh yang menindih bau
busuk tubuh Makhluk Pembawa Bala. Untuk beberapa lamanya pula pemandangan si
makhluk tertutup oleh lapisan asap merah. Pada saat itulah dengan cepat Raja Obat
gerakkan tangan kirinya ke samping. Begitu dia berhasil menyentuh mulut Pendekar 212,
bubuk batu merah yang ada dalam genggamannya disumpalkannya ke dalam mulut sang
pendekar. Lalu dengan dua ujung jarinya ditotoknya urat besar di leher si pemuda.
“Hekkk!”
Bubuk batu merah larut dan masuk ke dalam tenggorokan Wiro terus masuk ke
dalam perutnya.
“Aku mendengar suara orang tercekik!” Tiba-tiba Makhluk Pembawa Bala
berteriak. Dia mulai curiga.
”Itu suaraku batuk karena kemasukan debu batu merah. Jangan berani buka suara
lagi dan jangan bergerak dari tempatmu. Kalau tidak semua bisa buyar dan aku tak dapat
petunjuk dari alam gaib!”
Makhluk Pembawa Bala meskipun marah terpaksa menutup mulut dan tak
bergerak dari tempatnya berdiri yakni sekitar lima langkah di hadapan Raja Obat yang
duduk bersila di atas batu merah.
***
BAB VII
PADA saat bubuk batu merah masuk ke dalam tubuhnya terjadilah hal yang luar
biasa. Tubuh Pendekar 212 yang saat itu menderita luka dalam yang amat parah dan
keadaannya tak beda dengan orang yang sedang sekarat diserang oleh satu aliran sakti
hawa sejuk. Setelah mengalir ke seluruh jalan darahnya hawa ini berkumpul di bagian
dada yakni pada bagian yang kena hantaman Makhluk Pembawa Bala. Saat itulah Wiro
perlahan-lahan kembali siuman. Pipi kanan dan dadanya mendenyut sakit. Lalu
dirasakannya hawa sejuk aneh menyengat dadanya. Rasa sejuk mendadak berubah
menjadi sengatan hawa panas luar biasa. Mulut Pendekar 212 terbuka lebar hendak
berteriak karena kesakitan. Tapi tak ada suara yang keluar. Dia coba menggerakkan
tangan untuk memegang dada. Tak bisa. Sadarlah murid Sinto Gendeng kalau saat itu
dirinya berada dalam keadaan tertotok. Dia coba melirik ke samping. Di udara dilihatnya
ada tebaran asap merah menutupi pemandangan. Lalu telinganya mendengar suara orang
meracau seperti membaca mantera.
“Aku ingat betul. Makhluk Pembawa Bala menghantamku dengan tiba-tiba. Aku
pingsan. Sekarang berada di mana diriku ini? Asap aneh apa di depanku itu. Siapa pula
yang sedang membaca mantera?” Berbagai pertanyaan muncul dalam hati Pendekar 212.
Perlahan-lahan sengatan hawa panas lenyap. Hawa sejuk kembali muncul di sekitar dada.
Tapi tidak lama karena hawa sejuk ini bergerak mengalir menuju ke atas, naik ke kepala
Wiro mengarah pipi kanannya yang saat itu bengkak besar hingga matanya hampir
tertutup. Di sebelah dalam ada bagian tulang pipinya yang retak.
Wiro merasa kepalanya seperti dipanggang ketika tiba-tiba hawa sejuk lenyap
berganti dengan hawa panas yang menghantam laksana sambaran petir. Kalau saja
dirinya tidak tertotok saat itu niscaya jeritannya setinggi langit.
”Gila! Apa yang terjadi dengan diriku! Siapa yang punya pekerjaan ini?!” rutuk
Pendekar 212 dalam hati.
Ketika hawa panas hilang berganti dengan hawa sejuk Wiro merasakan sakit di
kepalanya lenyap, bengkak besar di mukanya sebelah kanan telah berkurang walau
matanya masih agak menggembung.
“Ada seseorang mengobati diriku. Siapa...?” Wiro berusaha membalikkan badan
dan memutar kepala tapi tidak mampu karena dirinya masih berada dalam keadaan
tertotok.
Pada saat itulah tiba-tiba murid Sinto Gendeng mendengar suara halus seperti
nyamuk mengiang di telinganya.
“Ada orang sakti menyampaikan sesuatu padaku...” ujar Wiro dalam hati.
“Anak muda... Sebentar lagi asap merah di depanmu akan pupus. Kau akan
melihat seorang memakai caping di kepalanya, mengenakan jubah kotor tegak beberapa
langkah di depanmu. Kau harus membunuh manusia itu. Pergunakan ilmu kesaktianmu
yang paling hebat. Kau harus mampu membunuhnya dengan sekali menghantam. Kalau
tidak kau dan juga aku akan celaka besar!”
Wiro hendak menjawab tapi tak mampu. Sesuai petunjuk yang didengarnya murid
Sinto Gendeng ini segera salurkan tenaga dalamnya ke tangan kiri dan tangan kanan. Saat
itu juga sepasang lengannya sampai ke ujung kuku berubah menjadi seputih perak. Ini
satu pertanda bahwa Pendekar 212 siap melancarkan pukulan “Sinar Matahari” dengan
tenaga dalam penuh!
”Tua bangka keparat!” tiba-tiba. Wiro mendengar suara orang membentak. “Apa
kau sudah mendapat petunjuk?! Aku sudah tidak sabaran! Aku punya firasat kau hendak
menipuku! Lebih baik kau kubunuh saat ini juga!”
“Kalau kau bersabar sedikit lagi, aku segera mendapat petunjuk. Di hadapanku
sudah terlihat sesuatu. Aku akan mengatakan padamu apa yang aku lihat. Aku melihat
seorang nenek dengan wajah seseram setan. Di kepalanya ada satu mahkota
memancarkan sinar kehijauan. Di tangan kanannya dia memegang sebuah tongkat besi
berwarna kuning. Aku lihat dia berucap mengatakan sesuatu. Aku dengar dia
mengatakan... mengatakan...”
“Mengatakan apa?!” sentak Makhluk Pembawa Bala.
Saat itu asap merah bubuk batu merah perlahan-lahan mulai menipis. Seperti yang
dikatakan ngiangan suara di telinganya, walau dengan sudut matanya Wiro dapat melihat
sesosok tubuh berdiri beberapa langkah di hadapannya. Orang ini memakai caping di
kepalanya, mengenakan sehelai jubah butut. Tangan dan mukanya mengerikan karena
dipenuhi cacar air bernanah dan menebar bau busuk.
“Makhluk Pembawa Bala!” kata Wiro dalam hati.
Amarah langsung naik ke kepalanya. “Aku sudah menduga...” Maka Pendekar
212 segera kerahkan seluruh tenaga dalamnya pada tangan kanan kiri.
”Nenek bermuka setan mengatakan...” kembali terdengar suara Raja Obat sambil
tangan kirinya dengan cepat bergerak ke arah punggung dan pangkal leher Pendekar 212.
“Nenek itu mengatakan siapa yang ingin mengetahui dimana tersembunyinya Kitab Putih
Wasiat Dewa maka dia harus mendengarkan dengan telinga terpentang dan mata
terpejam. Makhluk Pembawa Bala harap kau buka telingamu baik-baik dan pejamkan
kedua matamu!”
Makhluk Pembawa Bala yang tegak beberapa langkah dari hadapan si Raja Obat
segera pasang telinga baik-baik. Ketika dia hendak memejamkan mata, di balik asap
merah yang semakin menipis tiba-tiba dia melihat sosok tubuh Pendekar 212. Lalu
pandangannya membentur wajah si pemuda dan samar-samar melihat sepasang mata
Wiro yang terbuka.
“Eh... Pemuda itu bukankah dia tadi sudah mati...?!” Makhluk Pembawa Bala
angkat tangan kanannya dan maju selangkah. ”Jahanam! Tua bangka keparat! Kau
menipuku!” teriak Makhluk Pembawa Bala marah. Tangan kanannya dihantamkan pada
Raja Obat. Justru pada saat itu pula sosok Pendekar 212 melompat ke hadapannya. Dari
jarak hanya tiga langkah murid Sinto Gendeng lepaskan pukulan ”Sinar Matahari”
dengan tangan kiri kanan. Dua larik sinar panas menyilaukan berkiblat.
Suara Jeritan Makhluk Pembawa Bala tenggelam oleh gemuruh dua pukulan
“Sinar Matahari” yang menghantam dirinya. Tubuh orang ini mencelat ke udara dalam
keadaan cerai berai, hangus dan mengepulkan bau menggidikkan!
Sepasang kaki yang hancur hangus melesat ke timur. Potongan badan dengan isi
perut berbusaian mencelat ke barat. Dua tangan terlepas entah kemana. Bagian dada dan
kepala yang hancur melesat ke utara ke arah lautan lepas!
Di tengah laut selatan yang saat itu ombaknya mulai besar akibat tiupan angin
kencang dari utara, sebuah jukung kelihatan meluncur pesat membelah ombak. Perahu
kecil ini ditumpangi oleh seorang nenek berdandan aneh yang mengingatkan kita pada
Iblis Tua Ratu Pesolek. Meskipun sudah tua keriputan namun si nenek berdandan
mencorong. Bibir dan pipi dicat merah. Bedak putih kekuningan hampir setebal dempul
menutupi wajahnya. Sepasang alis hitam mencuat ke atas. Sanggulnya rapi dan bagus.
Dia mengenakan sehelai baju panjang berwarna hitam dengan bunga-bunga putih.
Selagi enak-enak di dalam perahu yang dihantam gelombang itu tiba-tiba dia
melihat satu benda melayang di udara.
“Burung bukan, kampret juga bukan! Makhluk apa yang melayang itu...?” si
nenek membatin seraya berdiri tegak di atas jukung dan terus mendongak memperhatikan
benda yang melayang di udara. Alisnya yang mencuat mengernyit. Dia tidak dapat
memastikan benda apa itu adanya. “Tak puas kalau aku tidak tahu benda apa yang
melayang itu!” katanya dalam hati. Ketika benda di udara hampir lewat di atas kepalanya,
si nenek angkat tangan kanannya. Terjadilah satu hal yang hebat. Benda yang melayang
di udara seolah-olah tertahan. Ketika si nenek memutar-mutarkan tangannya benda itu
ikut berputar.
Begitu si nenek gerakkan tangannya perlahan-lahan ke bawah, benda yang di
udara seolah-olah tersedot ikut tertarik ke bawah. Sesaat kemudian ”braakkk!” Benda itu
jatuh bergedebuk di lantai perahu di hadapan si nenek. Bau busuk bercampur bau
sangitnya daging yang terpanggang melanda hidungnya.
Sepasang mata perempuan tua berdandan mencorong itu mendelik besar. Yang
dilihatnya saat itu adalah potongan tubuh manusia mulai dari dada sampai ke kepala
dalam keadaan terpanggang hangus mengerikan!
”Oo ladalah! Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan pemandangan begini
rupa! Manusia atau binatang yang menggeletak di hadapanku ini?” ujar si nenek. Sambil
menekap hidungnya dia coba meneliti lalu geleng-gelengkan kepala. ”Tak bisa
kukenali...” katanya. “Aku tak mau ketumpangan makhluk busuk seperti ini. Pergilah!”
Sekali kaki kirinya menendang maka potongan tubuh dan kepala yang mengerikan itu,
yang bukan lain adalah potongan tubuh dan kepala Makhluk Pembawa Bala mencelat
mental sampai beberapa tombak dan jatuh ke dalam laut, dilamun ombak dan amblas
tenggelam tak kelihatan lagi.
***
BAB VIII
PENDEKAR 212 jatuhkan diri ke atas batu datar merah. Berlutut dengan dada
turun naik. Wajahnya yang masih bengkak tampak agak pucat. Perlahan-lahan dia duduk
bersila, atur jalan napas, darah dan tenaga dalam. Ketika dia berpaling ke kiri
pandangannya membentur orang tua bermuka biru itu. Wiro segera bangkit berdiri,
melangkah mendekati lalu berlutut di hadapannya. Untuk beberapa lamanya dia
memandangi wajah berbelang biru, rambut, janggut dan kumis panjang memutih itu.
“Orang tua, aku berterima kasih padamu. Kalau tidak dengan pertolonganmu aku
pasti sudah menemui ajal di tangan Makhluk Pembawa Bala itu. Aku berhutang budi dan
nyawa padamu dan tak tahu bagaimana harus membalasnya...” Wiro membungkuk
hormat sampai tiga kali.
“Makhluk Pembawa Bala itu memang jahat busuk, ganas dan licik. Sejak satu
tahun belakangan ini dia malang melintang di laut selatan. Pasti ada sesuatu yang
dicarinya. Sekaligus menunggu seseorang untuk dibunuh... Mungkin sekali ada yang
menyuruhnya.”
“Pasti diriku yang diarahnya. Siapa yang menyuruhnya apakah kau tahu
orangnya?” tanya Wiro. Yang ditanya menggeleng.
“Ada permusuhan apa antara kau dengan dirinya hingga dia inginkan
nyawamu?!”
“Aku tidak tahu. Dua kali dia menghadangku di tengah lautan. Aku berhasil lolos.
Kali yang ketiga dia memuslihati diriku dengan menyamar menjadi...”
Si orang tua tersenyum. “Dia menyamar menyerupaiku dan berhasil
mengelabuimu...”
“Sekali lagi aku berterima kasih atas pertolonganmu,” kata Wiro pula.
“Pertolonganku belum selesai. Putar dudukmu. Hadapkan punggungmu ke
arahku...”
Walau tidak mengerti apa maksud orang tua itu namun Wiro memutar duduknya
membelakangi. Pada saat itulah tanpa suara dan tanpa disadari oleh Wiro tiba-tiba orang
tua di belakangnya mengangkat tangan kanan dan menghantam punggungnya.
“Bukkk!”
Wiro Sableng menjerit keras. Tubuhnya mencelat sampai satu tombak, terbanting
menelungkup di atas batu merah. Punggungnya laksana hancur luluh. Bersamaan dengan
teriakannya tadi dari mulutnya menyembur darah hitam berbuku-buku.
Wiro mencoba bangkit. Terhuyung-huyung sambil menyeka darah yang
membasahi pinggiran mulutnya dia mendatangi si orang tua lalu jatuhkan diri di
hadapannya dan membentak dengan mata melotot.
”Orang tua, kau hendak membunuhku...?!”
“Aku hanya membersihkan sisa-sisa darah beku yang masih bersarang di dadamu
akibat pukulan Makhluk Pembawa Bala itu. Jika darah beku itu terus mendekam di
tubuhmu, kau akan menemui ajal dalam waktu dekat setelah disiksa oleh penyakit yang
sulit disembuhkan...”
”Terima kasih, lagi-lagi kau telah menolongku,” kata Wiro begitu menyadari
bahwa apa yang dilakukan orang tua itu tadi adalah menolongnya. Sesaat Wiro pandangi
orang yang duduk di hadapannya itu lalu berkata. “Orang tua, melihat pada ciri-cirimu
aku yakin bukankah kau orang yang digelari Raja Obat Delapan Penjuru Angin itu?”
Yang ditanya tersenyum lalu menjawab.
“Kau sudah tahu siapa diriku. Sekarang katakan siapa dirimu.”
”Namaku Wiro Sableng. Aku murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede...”
“Gunung Gede jauh sekali dari tempat ini. Jika kau menyabung nyawa untuk
menyeberangi daratan mengarungi lautan berarti ada sesuatu yang sangat penting menjadi
tujuanmu.”
Wiro lalu menceritakan pengalamannya ditolong pertama kali oleh anak buah
Ratu Duyung (baca Episode II: Wasiat Dewa). “Ketika aku dilepas pergi oleh Ratu
Duyung, di tengah laut mendadak muncul dua orang berkulit hitam yang tubuhnya
bersirip seperti ikan. Mereka bermaksud membunuhku tapi aku berhasil lolos. Belum
lama selamat dari dua makhluk keparat itu tiba-tiba Makhluk Pembawa Bala muncul
pula. Nasibku masih untung. Sebelum ajalku sampai di tangan makhluk busuk itu enam
orang anak buah Ratu Duyung walaupun dalam keadaa samar-samar kulihat datang
menolongku. Rupanya Makhluk Pembawa Bala tidak punya nyali melawan mereka lalu
melarikan diri...”
“Cerita dan pengalamanmu luar biasa! Tapi kau belum mengatakan apa tujuanmu
datang ke pulau ini...”
“Aku mendapat petunjuk dari Ratu Duyung bahwa sebuah pulau yang
keseluruhannya terdiri dari batu merah terletak di tenggara. Aku harus menuju ke pulau
itu. Namun seperti yang kututurkan tadi, di tengah laut aku dihadang oleh orang-orang
yang hendak membunuhku. Dalam keadaan pingsan perahuku mungkin sekali terombang
ambing ke pulau ini. Lalu entah apa yang terjadi aku dapatkan diriku berada di sebuah
batu datar miring berwarna merah. Baru saja aku siuman tiba-tiba ada satu benda bersinar
melayang jatuh dari angkasa, menembus ke dalam batok kepalaku. Setelah itu aku seperti
ditelan waktu. Aku melihat satu jalinan kisah seperti satu mimpi yang panjang...”
“Hebat sekali... Hebat sekali apa yang kau tuturkan tadi,” kata Raja Obat Delapan
Penjuru Angin. “Tapi mengapa kau masih belum mengatakan apa tujuanmu mencari
pulau batu merah ini?”
“Aku mendapat tugas dari guruku Eyang Sinto Gendeng serta dua tokoh silat
yaitu Si Raja Penidur dan Kakek Segala Tahu. Mereka menyuruh aku mencari dan
mendapatkan sebuah kitab sakti bernama Kitab Putih Wasiat Dewa. Menurut mereka kau
satu-satunya orang yang mengetahui di mana beradanya kitab itu.”
Raja Obat Delapan Penjuru Angin tertawa. “Aku hanya seorang tukang obat tak
berguna. Kemampuanku serba terbatas termasuk pengetahuanku. Bagaimana mungkin
mereka bisa menduga bahwa aku satu-satunya orang yang mengetahui dimana beradanya
kitab sakti itu?”
”Ketika bertemu dengan Ratu Duyung, perempuan sakti itu juga memberi tahu
bahwa memang hanya kau yang mengetahui hal kitab sakti itu.”
”Hemmmmm.. Ratu Duyung. Dia memang manusia luar biasa. Cantik dan
memiliki kepandaian tinggi,” kata si orang tua pula. “Anak muda. Orang-orang yang
menyuruhmu itu benar-benar memberikan tugas maha berat padamu. Kau tahu mengapa
mereka inginkan kitab itu?”
“Menurut mereka dalam dunia persilatan akan muncul sebuah kitab sakti yakni
Kitab Wasiat Iblis. Barang siapa yang memilikinya akan menjadi raja di raja dunia
persilatan. Karena kitab ini berdasarkan pada ajaran hitam yang sesat maka harus
dimusnahkan. Hanya ilmu yang terkandung dalam Kitab Putih Wasiat Dewa yang
sanggup mengalahkan kesaktian Kitab Wasiat Iblis. Kini kitab iblis itu kabarnya sudah
jatuh ke tangan seorang sakti sesat dan jahat yaitu Pangeran Matahari.”
Untuk pertama kalinya Raja Obat Delapan Penjuru Angin meludah membuang
cairan sirih dan tembakau yang ada di mulutnya ke atas batu merah di sampingnya.
Anehnya cairan itu seolah meresap ke dalam batu, sesaat kemudian lenyap tak berbekas.
“Anak muda, selama tujuh puluh tahun aku memencilkan diri di pulau ini...”
“Tujuh puluh tahun?” mengulang Wiro sambil menatap lekat-lekat ke wajah si
orang tua. Lalu dia memandang sekeliling pulau. Sejauh mata memandang hanya batu,
bebukitan dan pegunungan merah yang tampak. Sama sekali tak satu tetumbuhanpun
yang kelihatan. Tujuh puluh tahun memencilkan diri? Siapa sebenarnya si Raja Obat ini?
Pemberontak yang dikejar-kejar lalu lari ke sini?” Begitu Wiro membatin. Dia tidak tahu
kalau sebenarnya si orang tua adalah seorang Pangeran.
“Makhluk Pembawa Bala dan dirimu adalah dua manusia terakhir yang
mendatangi pulau ini setelah tujuh puluh tahun. Kau bisa membayangkan. Sekian lama
aku tak pernah meninggalkan pulau. Bagaimana mungkin aku mengetahui segala urusan
dunia persilatan di luar sana, termasuk kitab yang kau katakan itu...?!”
”Jadi?!” seru Wiro lalu terdiam. Hanya matanya saja yang memandang besar dan
tak berkesip pada Raja Obat yang duduk bersila di depannya dengan air muka tidak
berubah. “Jadi kau sama sekali... benar-benar kau tidak mengetahui tentang Kitab Putih
Wasiat Dewa itu?”
”Mendengarnyapun baru sekali ini?’ jawab Raja Obat.
Wiro menarik napas panjang. Lalu ”plaakk!” Dia menepuk jidatnya sendiri
dengan telapak tangan kanan. Dia seperti terhenyak di atas batu merah yang didudukinya.
Dalam hati dia setengah mengeluh setengah menyumpah. “Celaka! Percuma aku jauh-
jauh menyabung nyawa! Lebih baik mati saja agar tidak kecewa sebesar ini!” Saking
kesalnya Wiro lalu garuk-garuk kepalanya hingga rambutnya yang gondrong awut-
awutan. Kemudian dia memandang pada si Raja Obat tak berkesip. Satu hal teringat
dalam benaknya. “Jangan-jangan si muka belang ini Raja Obat palsu pula dan hendak
memuslihatiku!” pikir Pendekar 212.
”Raja Obat,” ujar Wiro pula. “Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di
pulaumu ini aku mendengar suara orang menyanyi. Bukankah kau yang menyanyi itu?”
Si Raja Obat tidak menjawab. Hanya menatap Wiro dengan air muka tidak
berubah. Namun sesaat kemudian dia bertanya. “Mengapa kau bertanya begitu?”
“Ah, tidak apa-apa!” jawab murid Sinto Gandeng. ”Suara yang menyanyi jelek
tak enak didengar. Lebih bagus suara kaleng rombeng diberi batu lalu digoyang-
goyang...” Wiro melirik. Dilihatnya paras belang si orang tua agak berubah sedikit.
Dalam hati Wiro tertawa. ”Rasakan kau. Kena batunya aku sindir!” Lalu dia meneruskan.
”Tapi bait-bait dalam nyanyiannya itu mengingatkan aku akan sesuatu!”
“Sesuatu apa?” tanya Raja Obat.
“Bahwa berdusta atau memuslihati orang itu hanyalah pekerjaan manusia-
manusia culas seperti Makhluk Pembawa Bala yang sudah kojor itu. Tak layak dilakukan
oleh orang-orang yang dianggap mempunyai kepentingan untuk berbaik budi dan
menolong sesamanya...”
“Ah, aku ingat pada seorang Biksu di Kotaraja. Ucapanmu hampir bersamaan
dengan Biksu itu. Kau punya bakat jadi Biksu!” Raja Obat lalu tertawa gelak-gelak.
“Menjadi Biksu, menjadi pemuka agama atau tokoh silat ataupun hanya seorang
rakyat jelata sepertiku sama saja. Seseorang tidak dipandang dari siapa dirinya. Tapi dari
apa yang dikatakannya dan apa yang dilakukannya!” jawab Wiro pula. Lalu dia melirik
lagi. Kembali dilihatnya tampang si Raja Obat yang belang biru itu berubah. ”Rasakan!”
maki Wiro lagi dalam hati.
“Anak muda, bait-bait dalam nyanyian itu setahuku tak ada sangkut pautnya
dengan apa yang kau ucapkan...”
”Nah, nah!” kata Wiro dalam hati seraya menyeringai. “Secara tidak langsung dia
mengakui bahwa memang dialah si penyanyi. Tapi biar saja aku tak mau membuatnya
malu.”
Sambil menggaruk kepalanya Wiro kemudian berkata.
“Raja Obat, nyanyian yang kudengar itu seolah Menceritakan tentang seorang tua
renta yang telah puluhan tahun menunggu kedatangan seorang budak malang. Pertemuan
dengan budak itu adalah akhir penantian datangnya satu harapan bahwa dia akan kembali
menghadap Yang Kuasa tanpa beban batin. Aku berharap, akulah budak malang dalam
nyanyian itu dan kaulah orang tua gagah yang melakukan penantian!”
Raja Obat Delapan Penjuru Angin menatap wajah Pendekar 212 beberapa ketika
lalu tertawa gelak-gelak.
”Wiro, dalam sikap bodohmu ternyata kau adalah seorang cerdik. Memang aku
telah menunggumu sejak tujuh puluh tahun yang lalu...”
”Tujuh puluh tahun yang lalu?” ulang Wiro dengan nada tidak percaya dan mata
membesar. ”Gila! Saat itu aku masih belum lahir. Jadi anginpun rasanya belum!”
Raja Obat tertawa.
”Tujuh puluh tahun lalu ada dua kejadian yang tak pernah kulupakan. Pertama,
kedatangan seorang utusan Kerajaan bernama Lawunggeni. Meminta obat untuk puteri
Sri Baginda yang adalah juga adikku lain ibu...”
Terkejutlah Wiro mendengar keterangan Raja Obat itu.
”Jadi, kalau begitu kau adalah seorang Pangeran!” katanya.
Si orang tua hanya tersenyum kecil. “Sri Baginda mengucilkan diriku karena malu
mempunyai seorang anak bermuka cacat seperti ini... Selama bertahun-tahun aku dibuang
di sebuah hutan. Aku hidup sendirian hanya berteman alam. Tetumbuhan dan binatang.
Ibuku jatuh sakit. Jiwanya terguncang hebat. Diam-diam dia meninggalkan kawasan
Istana tanpa seorangpun mengetahui. Saat ini kurasa dia sudah tak ada lagi.”
“Aku ikut sedih mendengar kisahmu. Lalu bagaimana kau bisa menjadi seorang
ahli dalam ilmu pengobatan...?” tanya Wiro pula.
“Tuhan memberi petunjuk, alam memberi jalan. Selama di hutan aku mengetahui
dan mempelajari bahwa akar pepohonan, kulit dan daun tetumbuhan, darah dan daging
serta kulit binatang masing-masing mempunyai daya pengobatan yang ajaib...”
“Di hutan, aku bisa memaklumi karena hutan mengandung seribu satu macam
obat jika manusia memang mau menyelidiki. Tapi di pulau batu ini. Seperti yang aku
lihat sama sekali tidak ada pohon, tetumbuhan, apa lagi binatang!”
”Tuhan menjadikan obat bukan hanya dari tetumbuhan dan hewan. Tapi juga dari
batu! Dengan batu merah di pulau inilah aku menyembuhkan adik perempuanku dari
kelumpuhan. Juga dengan batu merah pula aku menolongmu hingga luka dalammu yang
parah bisa sembuh dan tulang pipimu yang retak bisa bertaut kembali...”
“Luar biasa! Batu bisa dijadikan obat... Bagaimana caranya?” tanya Wiro terheran
heran.
“Kalau tidak melihat sendiri memang sulit mempercayai,” sahut Raja Obat. Lalu
dengan dua tangan kanannya ditusuknya batu di depannya hingga pecah berkeping-
keping. Diambilnya satu kepingan batu yang lancip tajam. Dengan gerakan tak terduga
Raja Obat lalu menorehkan batu itu ke lengan Pendekar 212 hingga Wiro berseru kaget
dan kesakitan. Darah mengucur dari daging lengannya yang terkoyak.
“Apa yang kau lakukan ini?!” teriak Wiro.
“Kau ingin membuktikan bahwa batu bisa dijadikan obat. Bukan begitu?!”
“Tapi kau bukan mengobatiku. Malah mencelakai!” teriak Wiro lagi.
Tenang saja si Raja Obat ambil dua pecahan batu merah. Lalu diremasnya hingga
kepingan-kepingan batu itu menjadi hancur sehalus bubuk. Bubuk batu merah ini
kemudian ditebarnya di atas goresan luka pada lengan Wiro. Asap tipis mengepul dari
luka itu. Ketika asap lenyap luka di lengan Wiro telah bertaut kembali. Yang terlihat
hanya tebaran bubuk merah. Begitu si orang tua menyapu bubuk itu maka terlihat
keadaan lengan Wiro seperti semula seolah tak pernah terluka sedikitpun!
“Bukan main. Kau memang hebat dan pantas menyandang gelar Raja Obat
Delapan Penjuru Angin!” memuji Wiro seraya garuk-garuk kepala. “Sekarang, apakah
kau masih tak mau menceritakan perihal Kitab Putih Wasiat Dewa itu?”
Orang tua di hadapan Wiro tersenyum. “Kau pandai mengatur jalan percakapan.
Tapi akhirnya kau tetap pada tujuan semula. Aku suka padamu anak muda. Aku hanya
berkisah satu kali. Jadi kau dengar baik-baik.”
***
BAB IX
TUJUH puluh tahun yang silam, menurut Raja Obat Delapan Penjuru Angin
sesosok tubuh buntung tanpa tangan dan kaki terdampar ke pulau batu merah lewat
sebuah terowongan di bawah pulau.
“Menurut taksiranku, orang itu berusia hampir sama denganku, yaitu sekitar tiga
puluh tahun. Melihat kepada kulit dan wajahnya aku yakin dia berasal dari Tiongkok.
Orang Cina...”
Wiro yang ingat pada penuturan Ratu Duyung langsung saja memotong. “Ratu
Duyung pernah mengatakan padaku, orang Cina itu adalah Ki Hok Kui, murid Kanjeng
Sri Ageng Musalamat yang bergelar Tiat Thouw Houw alias Harimau Kepala Besi!”
Raja Obat tersenyum. “Selain keterangan Ratu Duyung apakah kau ingat dengan
apa yang terjadi dengan dirimu sebelumnya? Di luar sadarmu kau tenggelam ke dalam
alam gaib masa tujuh puluh tahun yang lalu itu...”
“Betul sekali. Dalam alam aneh itu aku melihat segala sesuatunya seolah-olah aku
berada di dalamnya. Bahkan aku melihat Jenderal Suma bercinta polos-polosan dengan
kekasih gelapnya yang bernama Louw Bin Nio bergelar Tjui-hun Hui-mo alias Iblis
Terbang Pencabut Nyawa...”
“Hal-hal yang agak seronok rupanya melek baik-baik dalam benakmu, anak
muda!” menyindir Raja Obat hingga Wiro hanya bisa mesem-mesem sambil garuk
kepala.
Si orang tua lantas melanjutkan penuturannya.
”Aku berusaha mengobati luka pada empat anggota badannya yang buntung dan
memasukkan bubuk batu merah ke dalam mulutnya. Satu hal menarik perhatianku. Pada
dada orang Cina ini ada terikat sebuah kitab. Mungkin terbuat dari daun lontar. Aku
sempat membaca tulisan pada sampul kitab. Di situ tertulis Kitab Putih Wasiat Dewa...”
Murid Sinto Gendeng hampir terlonjak mendengar keterangan si Raja Obat. “Apa
yang terjadi kemudian? Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“Sesuatu yang tak terduga terjadi dengan sekonyong-konyong. Aku belum sempat
turun memasuki lobang di ujung terowongan itu. Tiba-tiba terjadi satu gempa dahsyat.
Batu merah di dasar lubang terowongan rengkah. Sosok Ki Hok Kui itu amblas ke
bawah. Setahuku di bawah sana ada sebuah terowongan lagi. Dia pasti jatuh ke sana...”
“Raja Obat,” kata Wiro dengan suara bergetar, ”Jadi kau tak sempat mengambil
Kitab Putih Wasiat Dewa yang kau lihat terikat di dada Ki Hok Kui?!”
Orang tua itu menggeleng. “Aku juga tak mungkin menolong Ki Hok Kui karena
setelah dia amblas celah batu di dasar lobang terowongan secara aneh bertaut kembali
setelah terjadi gempa berikutnya...”
”Jadi kitab sakti itu ikut amblas bersama sosok Ki Hok Kui?” tanya Wiro dan dia
tak perlu menunggu jawaban. Untuk kedua kalinya murid Sinto Gendeng ini seperti
terhenyak. “Raja Obat, selama tujuh puluh tahun mendekam di pulau ini apakah kau
mengetahui kalau Hok Kui masih hidup atau sudah mati di dasar terowongan batu sana?
Apa kau tak pernah menyelidik dengan masuk ke dalam laut lalu mencari terowongan
kedua itu?”
“Sebentar lagi aku akan membawamu ke mulut terowongan yang bermuara di
dalam lautan itu. Kau akan saksikan sendiri apa penghalangnya. Di laut sekitar
terowongan atas maupun bawah siang malam selalu berkeliaran ikan-ikan hiu penyantap
daging manusia!”
“Jangan-jangan orang itu sudah menemui ajalnya...” kata Wiro perlahan. Putuslah
harapannya untuk mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Tubuhnya terasa lemas.
Pandangannya kosong. Lalu dia berpaling pada Raja Obat. “Orang tua, seperti kusaksikan
tak ada pohon tak ada tetumbuhan pulau ini. Selama tujuh puluh tahun berada di sini kau
hidup makan apa...?”
“Rezeki dari Tuhan selalu ada bagi setiap hambaNya,” Jawab Raja Obat. “Ombak
melempar berbagai macam ikan ke mulut terowongan. Binatang-binatang itulah yang jadi
santapanku.”
“Maksudmu kau panggang dulu atau bagi mana?”
“Tak ada api di pulau ini. Tak ada kayu untuk pemanggang...”
“Jadi kau makan mentah-mentah?”
Raja Obat tersenyum. “Tak ada makanan paling sedap di dunia ini selain ikan
mentah yang segar.”
Tenggorokan Pendekar 212 jadi turun naik mendengar ucapan itu.
“Eh, kulihat tenggorokanmu turun naik. Seleramu menitik rupanya mendengar
nikmatnya ikan mentah...”
“Justru aku seperti mau muntah!” jawab Wiro polos.
Raja Obat tertawa mengekeh. “Justru kau akan segera mencobanya, anak muda.
Kecuali kalau kau ingin berpuasa selama kau berada di sini.”
”Aku akan berusaha mencapai terowongan tempat Ki Hok Kui berada...”
Raja Obat menarik napas dalam lalu berkata, ”Puluhan tahun berada di sini aku
telah berulang kali mencoba hal itu. Lewat mulut terowongan di dalam laut selalu gagal
karena terhalang oleh ikan-ikan hiu buas. Pernah pula kucoba untuk membobol dari atas
sini agar ada jalan tembus ke terowongan di bawah sana namun sia-sia saja. Jari-jari
tanganku tak mampu melakukannya. Setiap kucungkil batu merah di atas terowongan
dengan jari-jari tanganku secara aneh beberapa hari kemudian batu itu membentuk
lapisan baru di atasnya.”
“Menurutmu apakah Ki Hok Kui masih hidup di bawah sana?” tanya Wiro.
”Itulah yang aku masygulkan...” sahut Raja Obat.
”Apakah kau pernah mencium bau busuknya mayat manusia?”
Raja Obat menggeleng.
”Kalau orang itu masih hidup tentu dia sudah tua renta sepertimu. Kalau ternyata
dia sudah meninggal lama, berarti sia-sia semua apa yang telah aku lakukan!”
”Kau memiliki ilmu pukulan yang hebat. Bagaimana kalau kau coba
membobolkan terowongan sebelah atas agar bisa tembus ke terowongan sebelah bawah?”
“Aku akan coba! Baiknya sekarang juga. Tapi... Raja Obat, apakah kau tidak
kedinginan hanya menutupi tubuhmu dengan sehelai kain sekecil itu?”
”Aku sudah terbiasa dengan alam di pulau ini. Namun untuk sopannya biar aku
mengambil pakaian dulu. Aku tahu kau tak suka memandangi tubuh tua kurus kering
seperti jerangkong ini. Lain halnya kalau aku seorang gadis berwajah cantik dan punya
badan mulus. Ha... ha... ha... !”
Raja Obat membawa Wiro ke sebuah lekukan batu. Di dalam lekukan batu ini
terletak sebuah peti terbuat dari besi yang bagian luarnya sudah karatan. Terdengar suara
berkereketan ketika penutup peti dibuka. Dari dalam peti ini Raja Obat mengeluarkan
sebuah jubah putih yang langsung dikenakannya. Dari sini dia membawa Wiro ke
pertengahan pulau batu di mana terdapat satu lobang yang merupakan ujung sebuah
terowongan. Dasar lobang digenangi air dan beberapa ekor ikan sebesar ibu jari kaki
kelihatan berkeliaran kian kemari.
“Itu makananku...” kata Raja Obat sambil menunjuk pada ikan-ikan itu. ”Nah kau
sudah siap?”
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Wiro.
“Kerahkan tenaga dalam penuh. Lepaskan pukulan saktimu yang paling hebat.
Hantam dasar lobang itu. Di bawah sana ada sebuah lobang yang merupakan ujung
terowongan di mana Ki Hok Kui berada. Jika kau mampu menjebol dasar terowongan ini,
kita akan bisa melihat apakah Ki Hok Kui masih hidup dan apakah Kitab Putih Wasiat
Dewa Hu masih ada padanya...”
Wiro segera melangkah lebih dekat ke tepi lobang. Tangan kanannya diangkat.
Tenaga dalam dialirkan penuh. Tangan kanan itu segera berubah menjadi seputih perak,
panas dan menyilaukan.
“Raja Obat...” tiba-tiba Wiro berpaling dan turunkan tangannya.
”Ada apa?” tanya si orang tua heran.
“Jika lobang itu kuhancurkan, kau akan kehilangan tempat penampungan ikan-
ikan yang jadi santapanmu sehari-hari...”
Raja Obat jadi terkejut mendengar ucapan Pendekar 212 itu. “Eh, anak muda. Kau
benar juga. Tapi... Hemmm! Ya sudah! Hantam saja! Soal makananku biar kita pikirkan
nanti saja!” kata orang tua itu akhirnya.
Wiro lalu angkat tangan kanannya. Tapi mendadak dia turunkan tangannya
kembali dan memandang pada Raja Obat.
“Eh, ada apa lagi?” tanya orang tua itu.
”Bagaimana kalau pukulan saktiku bukan saja menghancurkan lobang itu tapi
menciderai bahkan bisa membunuh Ki Hok Kui di bawah sana...?”
“Ah, ini susahnya!” ujar Raja Obat sambil usap-usap dagunya yang berjanggut
putih panjang.
Tiba-tiba Wiro ingat akan ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu
Duyung. “Biar kucoba...” katanya. Lalu matanya diarahkan tepat-tepat pada lobang batu
merah. Tenaga dalam dialirkan ke kepala. Sepasang matanya kemudian dikedipkan dua
kali.
”Eh, apa yang tengah dilakukan anak ini,” bertanya Raja Obat dalam hati.
Samar-samar Wiro melihat sebuah lobang lain di bawah lobang yang ada di
hadapannya. Namun hanya itu yang mampu dilihatnya. Setelah itu seperti ada satu
kekuatan dahsyat menerpa ke arahnya membuat kepalanya terhuyung ke belakang dan
kedua matanya sakit laksana dicucuk.
“Kau barusan melakukan apa?!” tanya Raja Obat.
Wiro hanya menggelengkan kepala. Hatinya bimbang. Namun saat itu
didengarnya Raja Obat berkata. “Kau mau melakukan atau tidak? Tak ada jalan lain
untuk mengetahui apakah orang itu ada di terowongan kedua atau tidak. Terserah padamu
anak muda... Tugasku sudah selesai memberi petunjuk...”
Wiro garuk-garuk kepalanya. “Tadi aku memang tidak melihat apa-apa di dalam
lubang kedua. Namun mungkin saja Ki Hok Kui berada di dalam terowongan, tak jauh
dari lobang itu...”
“Bagaimana Wiro?!” Raja Obat bertanya dengan nada mendesak.
“Baiklah. Aku terpaksa melakukan. Kalau orang Cina itu sampai mati oleh
pukulan saktiku, dosanya biar kau yang tanggung!”
“Apa?! Tunggu dulu! seru Raja Obat. “Enak saja kau bicara!”
Wiro menyeringai.
“Kalau kau tak mau menanggung sendirian, baik. Kita bagi dua. Kau menanggung
separuh, dosa yang separuh lagi aku yang tanggung. Adil ‘kan?!”
“Gila!” maki Raja Obat.
“Dunia ini memang sudah gila Raja Obat. Suka atau tidak kita sebenarnya telah
ikut larut dalam kegilaan itu!” jawab Wiro pula.
“Kalau begitu kau hantamlah!” kata Raja Obat akhirnya.
“Tidak, sebelum kau mengatakan setuju dosa pembunuhan ini dibagi dua!”
Raja Obat menggerutu panjang pendek. “Sukamulah! Aku menurut saja!”
***
BAB X
DIDAHULUI satu bentakan keras Wiro hantamkan tangan kanannya ke dalam
lobang. Sinar putih menyilaukan berkiblat. Satu dentuman keras menggelegar. Pulau batu
merah itu bergetar laksana dilanda gempa. Baik Wiro maupun Raja Obat sama-sama
terpelanting dan jatuh duduk beberapa tombak jauhnya dari lobang terowongan.
”Kau tak apa-apa, Raja Obat?” tanya Wiro.
“Aku baik-baik saja, cuma pantatku terasa geli-geli!” jawab Raja Obat yang
membuat Wiro tergoncang-goncang menahan tawa. “Ayo kita lihat apa hasil
hantamanmu!”
Kedua orang itu segera bangkit berdiri dan melangkah ke tepi lobang batu merah.
Dua pasang mata memandang terperangah dan melotot ke dalam lobang batu lalu saling
pandang satu sama lain.
“Kau saksikan sendiri Wiro. Ada kekuatan aneh yang tak bisa kita tembus...”
Wiro garuk-garuk kepala dan terduduk di tepi lobang. ”Tidak mungkin... Tidak
mungkin!” katanya berulang kali.
“Apa yang tidak mungkin?” tanya si Raja Obat.
Wiro tak menjawab. Dia berdiri dan melangkah cepat ke arah satu gundukan batu
merah setinggi manusia yang terletak kira-kira lima tombak dari tempat mereka berada.
Dua tombak dari gundukan batu itu Wiro berhenti. Tangan kanannya diangkat ke atas.
Tenaga dalam dikerahkan. Lalu “wuusss!”
Sinar putih panas berkiblat.
”Braaakkk! Byaaarr!”
Satu dentuman keras menggelegar.
Gundukan batu di depan sana hancur berantakan. Setiap kepingan yang mencelat
ke udara seolah berubah menjadi bara menyala dan mengepulkan asap!
Raja Obat terkesiap menyaksikan kejadian itu. Sebaliknya seperti tak percaya
Wiro memandang hancuran batu lalu perhatikan tangan kanannya.
“Orang tua, kau saksikan sendiri pukulan Sinar Matahari yang baru kulepaskan
sanggup menghancurkan gundukan batu besar, tebal dan tinggi itu. Lalu...” Wiro
berpaling ke arah lobang terowongan. Penasaran, dengan langkah cepat dia mendatangi,
berdiri di tepi lobang lalu menghantam.
Untuk kesekian kalinya pulau batu merah itu dilanda gelegar dentuman dan
bergetar hebat. Wiro yang berada di tepi lobang terbanting jatuh punggung. Raja Obat
tergontai-gontai lalu roboh!
Tak perduli tulang punggung dan tulang pantatnya sakit murid Sinto Gendeng
cepat berdiri dan melangkah ke tepi lobang batu. Si Raja Obat mengikut dari belakang.
Ketika keduanya memandang ke bawah, masing-masing sama keluarkan seruan tertahan.
Seperti tadi, lobang batu itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Air laut tergenang
jernih dan ikan kecil-kecil masih berenang kian kemari!
Raja Obat pegang bahu Pendekar 212 lalu berkata. “Wiro, ada satu kekuatan yang
tak bisa kita kalahkan. Mungkin ini membawa pada satu petunjuk...”
”Bagiku petunjuknya sudah jelas,” kata Pendekar 212 pula.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak berjodoh dengan Kitab Putih Wasiat Dewa itu!”
“Jangan cepat berputus asa...”
“Raja Obat, aku bukan orang yang mudah menyerah. Tapi kalau kenyataan begitu
rupa kurasa tak ada gunanya...”
”Dengar anak muda! Dengar dulu ucapanku! Tujuh puluh tahun silam. Sehari
setelah Ki Hok Kui amblas ke dalam terowongan kedua, pada malam harinya aku
bermimpi. Tidak... Bukan bermimpi! Tapi ada yang datang padaku. Mula-mula aku
dengar suara tiupan seruling. Tak lama kemudian menyusul gelegar suara auman
binatang buas yang menggetarkan seantero pulau. Setelah itu muncul bayangan seorang
tua bertubuh sangat tinggi. Mengenakan selempang kain putih. Bola matanya berwarna
biru angker. Dia memegang sebatang tongkat kayu putih. Di pinggangnya tersisip sebuah
salung, yakni seruling khas orang seberang. Dia tidak datang sendiri tapi membawa
seekor binatang besar. Seekor harimau putih yang memiliki mata hijau menggidikkan.
Sosok tubuh mereka antara ada dan tiada, seolah terbuat dari asap atau kabut tipis.
Namun apa yang diucapkannya cukup jelas masuk ke telingaku. Aku masih ingat kata-
katanya.
”Pangeran Soma, anak manusia bergelar Raja Obat Delapan Penjuru Angin. Aku
Datuk Rao Basaluang Ameh dan sahabatku ini adalah Datuk Rao Bamato Hijau. Hari ini
sesuatu telah terjadi di pulau dan kau tahu apa yang terjadi itu.
Seorang anak manusia yang datang dari negeri jauh atas kehendak Yang Kuasa
telah tersesat ke pulau ini dan mendekam dalam terowongan batu yang menjadi sumber
kehidupanmu. Dia datang membawa sebuah kitab sakti bernama Kitab Putih Wasiat
Dewa. Kitab ini berusia ratusan tahun dan dititipkan secara turun temurun pada orang-
orang tertentu. Kitab ini mengandung satu ilmu kesaktian yang mampu membendung
angkara murka disebabkan oleh perbuatan manusia-manusia iblis. Hanya ilmu dalam
kitab inilah yang akan sanggup menumpas ilmu jahat dan segala ilmu hitam yang hendak
menguasai dunia secara keji.
Namun kitab ini hanya berjodoh pada satu orang yang telah ditentukan oleh
takdir. Tujuh puluh tahun dari sekarang orang itu akan muncul di pulau ini.
Kepadanyalah kau harus memberi tahu di mana kitab itu berada. Kau berada di bawah
satu amanat. Jika kau memberitahukan hal ihwal kitab itu pada orang lain yang tidak
berhak, maka malapetaka akan jatuh atas dirimu...”
Raja Obat memandang pada Wiro dan berkata. “Waktu itu entah aku sadar entah
tidak, aku bertanya pada orang tua yang muncul membawa harimau putih itu. Datuk Rao,
tujuh puluh tahun bukan kurun waktu yang pendek. Apakah aku masih akan hidup selama
itu? Sang Datuk menjawab. Pangeran Soma soal umur, soal hidup dan mati manusia
hanya Tuhan yang tahu. Kau tak usah pertanyakan hal itu Aku masih belum puas. Lalu
aku bertanya lagi. Siapa adanya orang yang akan muncul itu? Bagaimana aku tahu bahwa
dialah orangnya? Datuk Rao menjawab. Lihatlah ke samping kirimu Pangeran.
Perhatikan baik-baik. Kau akan melihat bayangan orang yang kumaksudkan itu. Aku
lalu berpaling ke kiri. Tiba-tiba saja seperti dalam kabut, aku melihat sosok seorang
pemuda kekar, berambut gondrong, mengenakan pakaian serba hitam. Bajunya tidak
berkancing. Tiupan angin menyingkapkan pakaiannya dan aku melihat ada tiga rajah di
dadanya. Angka 212! Sosok yang kulihat itu ternyata adalah dirimu, Wiro! Ketika tadi
pertama kali aku melihat kau aku tahu bahwa memang kaulah orang yang aku tunggu
selama kurun waktu tujuh puluh tahun itu. Sebelum pergi Datuk Rao Basaluang Ameh
mengajarkan sebait nyanyian padaku. Aku menyanyikan lagu itu pada saat aku
mengetahui kedatanganmu di pulau ini.”
”Bagaimana kau bisa mengetahui kedatanganku?” tanya Wiro ingin tahu.
”Datuk Rao juga memberikan sebuah benda aneh padaku. Katanya pada saat aku
mengetahui kau akan datang batu itu harus aku letakkan demikian rupa lalu merapal satu
bacaan. Lalu berseru begini: Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun
menukik bumi. Cari dan dapatkan anak manusia penerima Delapan Sabda Dewa. Di
dalam dirimu ada petunjuk. Di dalam dirinya ada kekuatan untuk menangkal
malapetaka. Ingat hanya ada satu kekuatan dan satu kekuasaan di delapan penjuru
angin. Gusti Allah tempat semua kekuatan itu berpulang menjadi satu. Batu sakti batu
pembawa petunjuk. Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun menukik
bumi. Cari dan dapatkan anak manusia penerima Delapan Sabda Dewa”
Wiro ternganga mendengar ucapan si orang tua. Sambil memegang lengan Raja
Obat dia berkata. ”Aku Ingat! Waktu itu hari baru berganti malam dan aku baru saja
sadar dari pingsan. Sebelumnya memang aku mendengar ada nyanyian aneh. Kau yang
bernyanyi. Lalu belum sempat aku berdiri tiba-tiba di angkasa aku melihat ada sebuah
benda bercahaya melayang turun cepat sekali. Laksana kilat! Kukira bintang jatuh! Aku
jadi kaget setengah mati ketika menyadari benda bercahaya itu jatuh ke arahku, masuk ke
dalam batok kepalaku! Aku menjerit. Sekujur tubuhku terasa dingin bukan kepalang
seolah aku dipendam di dalam gunung es. Ketika aku siuman ada beberapa keanehan.
Luka di keningku sembuh dengan sendirinya. Lalu aku sadari penuh dalam pingsanku
aku melihat apa yang terjadi di daratan Tiongkok masa tujuh puluh tahun lalu sampai
akhirnya Ki Hok Kui dibantai secara keji dan mencebur masuk ke dalam laut tak jauh
dari pulau ini.”
Raja Obat anggukkan kepalanya beberapa kali lalu berkata. “Kedatanganmu telah
kuketahui dalam mimpiku malam tadi. Aku melihat satu ombak besar bergulung menuju
pulau batu merah ini. Di atas ombak aku lihat sosok dirimu. Dari mimpi itu aku sudah
maklum bahwa kau akan segera datang ke tempat ini. Itu sebabnya dari pagi aku sudah
duduk menunggu sambil melantunkan nyanyian yang diajarkan Datuk Rao Basaluang
Ameh...” Raja Obat hentikan keterangannya. Dia menatap pada pemuda yang duduk di
hadapannya. Sejurus kemudian dia berkata lagi. “Kau tadi menyebut Delapan Sabda
Dewa. Dalam kemunculannya tujuh puluh tahun lalu Datuk Rao pernah menyebutnya...
Apa kau ingat unsur-unsur delapan sabda itu?”
Wiro mengangguk.
“Coba kau sebutkan,” kata Raja Obat pula ingin menguji.
“Tanah, air, api, udara, bulan, matahari, kayu dan batu...”
Si orang tua tersenyum lalu mengangguk-angguk. “Hebat! Kau bisa mengingat
semua. Datuk Rao pernah memberi tahu padaku. Tapi otakku tidak setajam otakmu. Aku
selalu lupa delapan sabda itu. Apalagi kalau disuruh menyebut sesuai urut-urutannya...”
Wiro menghela napas panjang.
“Anak muda, kau tampak gelisah, tapi juga masih ada bayangan putus asa pada
wajahmu...”
“Kau berulang kali mengatakan kitab itu berjodoh padaku. Tapi buktinya aku
ataupun kau tak mampu berbuat apa-apa. Rasanya lebih baik aku meninggalkan tempat
ini. Mungkin aku perlu minta petunjuk lebih jauh dari tua-tua dunia persilatan. Mungkin
juga menemui Ratu Duyung untuk bertanya...”
Raja Obat Delapan Penjuru Angin terdiam.
”Aku tidak tahu bagaimana harus mencegahmu. Aku yakin sekali bahwa Kitab
Putih Wasiat Dewa memang sudah ditakdirkan jatuh ke tanganmu, sesuai dengan
petunjuk gurumu dan dua tokoh silat yang kau katakan itu, juga sesuai amanat Datuk
Rao. Yang kau perlukan hanyalah bersabar dan mencari jalan mencari akal...”
”Bersabar telah jadi bagianmu. Kau telah bersabar selama tujuh puluh tahun
menunggu kedatanganku. Mencari jalan dan mencari akal ada baiknya juga menjadi
bagianmu...”
“Wiro, apa jadinya kalau kitab sakti itu sampai jatuh ke tangan orang lain?
Tugasmu adalah mendapatkan kitab itu untuk menyelamatkan dunia persilatan...."
"Apa yang kau ucapkan barusan memang betul orang tua. Tapi aku dapat
mengukur kemampuan sendiri. Aku tak mungkin mendapatkan kitab itu. Jika sampai
jatuh ke tangan orang lain maka itu adalah takdir yang sebenarnya. Aku mohon maaf dan
aku merasa lebih baik pergi saja...."
Baru saja Wiro berkata begitu tiba-tiba ada satu suara merdu terdengar di udara di
antara desau angin laut.
"Kita belum saling bertemu bertatap muka. Mengapa buru-buru hendak
meninggalkan pulau yang indah ini?!"
Raja Obat dan Wiro sama-sama terkejut. Serta merta keduanya palingkan kepala.
***
BAB XI
Kalau Raja Obat Delapan Penjuru Angin terkesiap dan tak percaya melihat ada
seseorang tahu-tahu muncul di pulau batu merah itu maka sebaliknya murid Sinto
Gendeng keluarkan seruan lalu bersiul panjang.
"Aaaaahhhhh.... Mungkin yang ini yang berjodoh denganku!" kata Wiro sambil
pentang matanya lebar-lebar.
Di hadapan mereka saat itu berdiri seorang gadis mengenakan baju panjang hitam
berbunga-bunga putih. Wajahnya cantik sekali dan sikapnya genit. Dia berdiri sambil
menggoyang-goyangkan pinggulnya dan senyum bermain di mulut. Kecantikan dan sikap
genitnya inilah yang membuat Wiro tadi sampai keluarkan siulan panjang.
"Gadis cantik aku menghormatimu sebagai tetamu. Katakan siapa dirimu...." Raja
Obat menegur.
Gadis tak dikenal itu masih memandang pada Wiro. Tanpa mengalihkan matanya
dia menjawab pertanyaan Raja Obat.
"Orang tua kau menganggap aku sebagai tetamu. Rupanya kau merasa diri jadi
pemilik dan tuan rumah di pulau batu gersang tak berpenghuni ini. Kalau begitu mengapa
kau tidak segera menyuguhkan minuman untuk tamu agungmu ini?" Habis berkata begitu
si gadis tertawa ha-ha hi-hi.
"Aha!" ujar Wiro. "Suaramu semerdu kicau burung, tawamu semerdu buluh
perindu. Kalau aku boleh bertanya naik apa kau datang kemari?"
Si gadis tersenyum dan kedipkan matanya.
”Hemmm... Jelas aku ke sini tidak jalan kaki! Hik...hik...hik! Maunya aku ke sini
digendong olehmu! Hik... hik... hikk! Aku bukan burung jadi tak bisa terbang! Pemuda
ganteng tapi tolol! Tentu saja aku ke sini naik perahu!”
Mendengar jawaban orang Wiro jadi garuk-garuk kepala. “Aku senang dengan
gadis sepertimu. Cantik dan pandai bergurau...”
Raja Obat memotong ucapan Wiro. “Kau kemari tidak secara kebetulan, bukan?”
“Apa kau kira aku sengaja ke sini untuk menyambangi dirimu dan melihat
tampangmu yang jelek ini? Hik...hik...hik. Masih banyak pemuda gagah di dunia ini yang
sedap untuk dipandang. Terus terang aku menyesal tersesat ke tempat ini. Masih untung
ada seorang pemuda gagah di sini! Hik...hik...hik... Kalau tidak kacau sudah
pemandanganku! Hik...hik...hik!
”Kau belum menerangkan siapa dirimu...” kata Wiro lalu bangkit berdiri dan
melangkah ke arah si gadis. Terpisah tinggal tiga langkah dari hadapan gadis itu tiba-tiba
Wiro mendengar ada suara mengiang di telinganya.
“Wiro, jaga jarakmu dan hati-hatilah. Aku melihat siapa gadis ini sesungguhnya.
Di balik wajahnya yang cantik aku melihat wajah seorang nenek berdandan
mencorong...”
“Eh?!” Wiro berpaling ke arah Raja Obat karena dia tahu orang tua itulah yang
barusan menyampaikan ucapan itu padanya. Dalam hati Wiro berkata. “Aku tidak buta.
Yang kulihat jelas seorang gadis cantik jelita. Tapi Raja Obat tak mungkin berdusta.
Apakah gadis ini siluman laut yang menampakkan diri sebagai gadis cantik?” Wiro lalu
amati sepasang kaki si gadis. Tapi pakaiannya yang dalam menjala batu tempatnya
berdiri membuat Wiro tak bisa melihat kaki si gadis. Penasaran Wiro maju mendekat.
“Maafkan kalau aku sedikit jahil!” kata Wiro. Lalu dengan cepat tangan kirinya
menyingkap bagian bawah pakaian panjang gadis itu.
Wiro melihat sepasang kaki berkasut menginjak batu dan dua betis putih bagus.
“Dia bukan setan bukan siluman!” kata murid Sinto Gendeng dalam hati. “Bagaimana
Raja Obat bisa bicara begitu tadi...” Lalu Wiro turunkan kembali pakaian si gadis.
Gadis di hadapannya dongakkan kepala dan tertawa panjang. “Kau sudah melihat
betisku yang putih dan bagus. Mengapa tanggung-tanggung. Apakah kau tidak ingin
melihat bagian tubuhku yang lain-lain?”
Paras belang Raja Obat Delapan Penjuru Angin berubah. Sebaliknya Wiro
Sableng tertawa lebar. Enak saja mulutnya nyeplos bicara. “Kalau rejeki kami memang
besar mengapa tidak ingin? Bukankah menolak rejeki termasuk salah satu dosa?”
“Hik...hik... hik! Pemuda ganteng, aku suka cara bicaramu. Kau suka bergurau,
aku juga. Rupanya kita punya sifat dan selera sama. Hemm. Kau bisa jadi kekasihku...”
Gadis cantik itu keluarkan lidahnya yang merah basah dan beberapa kali membasahi
bibirnya dengan ujung lidah. “Kalau kau memang jujur mau melihat tubuhku, aku tidak
akan menutup rejekimu. Tapi bagaimana dengan sahabatmu orang tua berjubah putih
itu?”
Bagian putih wajah Raja Obat kelihatan menjadi merah. Lalu Wiro enak saja
menjawab. “Tua atau muda sama saja. Yang namanya laki-laki tidak ada beda. Sekarang
terserah kau...”
Si gadis tersipu-sipu. Dia berpaling pada Raja Obat lalu berkata. “Orang tua,
kalau kau memang tidak suka tutup saja matamu. Atau menoleh ke belakang. Tapi lebih
aman kalau kau angkat kaki meninggalkan tempat ini...”
”Sudah, tak usah perdulikan dia!” ujar Wiro. “Apa yang hendak kau pertunjukkan
padaku?”
Si gadis melirik ke arah Raja Obat. Orang tua itu tidak beranjak dari tempatnya.
Juga tidak menoleh ke belakang atau memejamkan matanya.
”Kau benar!” kata si gadis tiba-tiba pada Wiro.
”Benar apa?” tanya Pendekar 212.
“Tadi kau bilang laki-laki itu tua atau muda sama saja. Sahabatmu orang tua itu
ternyata tidak berpaling, tidak memejamkan mata dan juga tidak pergi dari sini. Berarti
dia juga suka! Hik... hik... hik...”
”Wiro...” tiba-tiba mengiang suara Raja Obat di telinga Pendekar 212. “Aku
memang tidak berpaling, tidak memejamkan mata dan juga tidak pergi dari sini. Ada satu
keanehan pada gadis itu. Aku sudah melihat. Cuma sayang kau tidak percaya. Apapun
pendapatmu aku tetap di sini dengan mata terpentang. Aku khawatir dia tadi telah
mencuri dengar apa yang kita bicarakan.”
Wiro sesaat garuk kepalanya sambil menatap wajah cantik di depannya.
“Kau sudah siap?” tanya si gadis.
Wiro mengangguk.
Gadis berpakaian hitam berkembang putih itu gerakkan kedua tangannya ke
bawah menyingsingkan pakaian ke atas. Makin ke atas, makin ke atas dan lalu dengan
gerakan cepat tahu-tahu pakaian itu sudah tanggal dari tubuhnya!
Sepasang mata Pendekar 212 terpentang lebar. Darahnya mengalir lebih cepat dan
sekujur tubuhnya mendadak sontak menjadi panas menyaksikan gadis cantik tanpa
selembar benangpun kini menutupi auratnya, tegak hanya dua langkah di hadapannya
dengan kaki terkembang dan tangan bertolak pinggang. Sikapnya benar-benar
menantang.
Lain halnya dengan Raja Obat Delapan Penjuru Angin. Walau sepasang matanya
menatapi tubuh telanjang itu namun pandangannya tampak kosong dan di balik kebugilan
si gadis itu justru dia melihat sesuatu yang membuat hatinya diam-diam merasa cemas.
“Pemuda ganteng! Sekarang aku menantangmu!” kata si gadis sambil kembali
ulurkan lidahnya yang merah.
“Menantang bagaimana maksudmu...?” tanya Wiro.
Si gadis tertawa cekikikan. “Kau pura-pura tidak tahu padahal aku tahu nafsumu
sudah sampai di tenggorokan! Hik...hik...hik. Dengar aku sudah menanggalkan seluruh
pakaian. Sekarang kutantang agar kau juga membuka semua pakaianmu. Bukankah kita
punya selera sama?!”
“Ah...” Wiro garuk-garuk kepala. “Kalau sekedar melihatmu begini siapa saja
suka. Aku paling nomor satu. Tapi kalau kau suruh aku membuka pakaian, walah! Aku
tidak mau jadi orok lagi!”
”Kau sungguhan tidak mau menikmati apa yang kau lihat?
“Aku sungguhan. Melihat saja bagiku sudah cukup. Aku tak berani lebih dari
itu...”
”Kau tidak merasa rugi?”
”Rugi tidak, untung juga tidak. Anggap saja impas!” jawab Wiro sambil
menyeringai sementara di belakangnya Raja Obat Delapan Penjuru Angin jengkel bukan
main melihat sikap dan mendengar kata kata Pendekar 212 itu.
”Dengar, tidak sepuluh tahun sekali aku mempelihatkan diriku seperti ini. Kalau
aku sudah mengenakan pakaianku walau kau minta sambil menangis air mata darah aku
tak bakal mau menanggalkannya kembali!”
“Gadis cantik, sebaiknya kau kenakan pakaianmu kembali. Kalau masuk angin
kau bisa berabe,” kata Wiro pula.
”Hemm... Kau juga tak ingin menyentuh tubuhku? Kau tinggal pilih bagian mana
yang kau senang...”
”Terima kasih...”
“Kau berlagak malu karena ada orang tua itu disini?”
”Bukan begitu. Sinar matahari mulai menyengat. Sayang kalau kulitmu yang
mulus sampai disengat panas...”
Gadis itu tersenyum. “Kau jujur. Aku suka padamu. Baiklah, aku tidak akan
mempermainkan dirimu lebih lama. Akan kuperlihatkan padamu siapa aku sebenarnya...”
Habis berkata begitu si gadis lalu goyangkan pinggulnya.
***
BAB XII
MURID Sinto Gendeng tergagau dan keluarkan seruan tertahan. Dua matanya
masih terpentang lebar tapi kini dia menyaksikan satu pemandangan berbeda seperti
langit dan bumi. Sementara itu Raja Obat Delapan Penjuru Angin tetap tenang walau
diam-diam dia tetap berwaspada.
Di hadapan Wiro kini bukan lagi tegak seorang gadis berwajah cantik dengan
tubuh polos mulus. Wajah cantik itu kini telah berubah menjadi wajah seorang nenek-
nenek yang dilumuri bedak setebal dempul. Sepasang alis mata diberi penghitam dan
mencuat ke atas. Bibir dan pipi semerah saga.
Tubuh telanjang yang tadi begitu bagus dan mulut putih kini telah berubah
menjadi tubuh kurus kering berkulit keriput. Sepasang payudaranya yang tadi
membusung kencang kini hanya tinggal sepasang daging leper menjijikkan. Yang tetap
sama dari manusia ini hanya sanggul rambut di kepalanya hitam dan rapi.
Perlahan-lahan si nenek kenakan pakaiannya kembali.
Sambil garuk-garuk kepala Wiro bertanya. ”Nenek cantik, siapa kau ini
sebenarnya?”
Dipanggil nenek cantik perempuan berdandan mencorong di hadapan Wiro
tertawa mengekeh. ”Seumur hidup baru sekali ini ada orang yang memanggil aku dengan
sebutan itu. Nenek cantik! Aku suka panggilan itu. Kau benar-benar suka membanyol.
Aku senang bergurau. Kita rupanya benar benar cocok satu sama lain. Apakah kau masih
suka kujadikan kekasihku?”
Ditanya begitu Pendekar 212 jadi mesem-mesem dan kembali garuk-garuk
kepalanya.
“Eh, aku memperhatikan. Kalau sedang menghadapi sesuatu yang membuatmu
tercekat kau selalu menggaruk-garuk kepalamu... Untung!”
”Untung bagaimana?” tanya Wiro tidak mengerti.
”Untung kau menggaruk kepalamu yang sebelah atas. Kalau kau menggaruk
kepala yang lain... Hik... hik... hik!”
Wiro terbatuk-batuk mendengar ucapan si nenek. ”Kau belum mengatakan siapa
dirimu sebenarnya,” ujar murid Sinto Gendeng.
”Juga harap terangkan ada keperluan apa kau datang ke sini?” ikut bicara Raja
Obat.
Si nenek juiurkan kepalanya ke arah Raja Obat. ”Eh, kukira kau sudah tidur
tadi...” katanya sambil senyum-senyum. “Kalau menurut umur seharusnya aku cocok
denganmu. Tapi maaf saja sobatku tua, aku lebih suka dengan anak muda ini walau aku
tahu dia belum tentu suka padaku. Hik... hik... hik...”
“Apakah kau tidak mau menerangkan siapa dirimu?” tanya Wiro.
”Hemmm... Apa susahnya menerangkan diriku,” jawab si nenek. Tapi mendadak
dia putuskan ucapannya dan mendongak ke langit.
”Eh, kampret tua ini mengapa tiba-tiba menangis?” ujar Wiro dalam hati ketika
melihat si nenek teteskan air mata. Air mata itu segera berguling di atas kedua pipinya
yang berbedak tebal.
Raja Obat Delapan Penjuru Angin juga terheran heran melihat perihal si nenek.
”Nek, ada apa kau menangis...?” Wiro bertanya seraya ulurkan tangan dan
memegang lengan kiri perempuan tua itu. Yang dipegang lalu meremas tangan Wiro
dengan jari-jari tangan kanannya. Sesaat kemudian pegangannya dilepaskan.
“Aku mempunyai seorang saudara kembar... Namanya tak perlu kalian tahu! Dia
dikenal dengan julukan Iblis Tua Ratu Pesolek...” Sampai di situ si nenek hentikan
ucapannya. Dia menyeka air mata di kedua pipinya.
Di saat yang sama Wiro mendengar suara Raja Obat mengiang di telinganya.
“Aku pernah dengar siapa adanya Iblis Tua Ratu Pesolek itu. Seorang nenek yang mau
melakukan kejahatan apa saja asal diberi imbalan barang berharga seperti perhiasan,
uang. Kalau saudaranya jahat kurasa yang satu ini tidak seberapa beda. Tetap waspada
anak muda. Dia bisa merubah dirinya menjadi seekor singa lapar yang siap
menyergapmu...”
Wiro tidak perdulikan peringatan Raja Obat. Dia malah berkata pada si nenek.
“Kalau saudara kembarmu itu berjuluk Iblis Tua Ratu Pesolek, apakah kau menyandang
gelar Iblis Muda Ratu Pesolek...?”
Yang ditanya tersenyum sedikit namun senyum itu tidak dapat menutup
kesedihannya. “Aku tidak menyandang gelar apa-apa. Tapi orang-orang brengsek di
dunia persilatan memanggilku Iblis Putih Ratu Pesolek. Mungkin ini disebabkan karena
aku punya cara dan jalan hidup yang bertentangan dengan kakak kembarku itu...”
“Lalu apa maksud kedatanganmu ke pulau ini dan pakai menyamar serta telanjang
segala dan tahu-tahu kini menangis?” tanya Wiro.
“Walau kakakku orang jahat tapi dia tetap kakak kembar sedarah sedaging.
Beberapa waktu yang lalu aku mendengar dia menemui ajal dibunuh orang. Aku
berusaha mencari jenazahnya untuk diurus baik-baik. Di samping itu aku sudah punya
tekad bulat untuk mencari siapa pembunuh jahanam itu dan membalaskan sakit hati
dendam kesumat kematian kakak kembarku...”
Raja Obat Delapan Penjuru Angin menarik napas lega karena mengetahui bahwa
perempuan tua itu datang ke pulau bukan untuk membuat kejahatan walau tadi segala
perbuatannya membuat dia jadi panas dingin. Namun orang tua ini kembali jadi tidak
enak ketika mendengar Wiro ajukan pertanyaan.
“Lalu kau kira apakah pembunuh kakak kembarmu itu ada di pulau ini? Dia
mungkin?!” Wiro enak saja tudingkan ibu jari tangan kanannya ke arah Raja Obat.
Iblis Putih Ratu Pesolek gelengkan kepala. “Aku ke sini sebetulnya tersesat tidak
sengaja... Dalam perjalanan di laut selatan aku melihat sebuah benda melayang di udara.
Mula-mula kukira burung atau kelelawar. Tapi ketika benda itu jatuh di lantai perahu
ternyata adalah satu kepala manusia, busuk dan terpanggang. Tak dapat kukenali. Namun
satu hal kuketahui kepala itu datangnya dari arah pulau ini. Lalu aku coba menyelidik
kemari. Yang kutemui kau yang ganteng dan temanmu yang tua jelek itu!”
Wiro tersenyum dan berpaling pada Raja Obat yang saat itu dilihatnya jadi
meringis asam mukanya yang belang.
“Iblis cantik...” kata Wiro perlahan. ”Apakah kau sudah tahu siapa pembunuh
kakak kembarmu itu?”
Si nenek rapikan sanggulnya, permainkan ujung lidahnya di atas bibir. Sikapnya
yang mendendam tertutup oleh gayanya yang genit. Dia mengangguk. “Mereka berdua...”
jawabnya. “Sepasang manusia setan...”
“Apa?!” Wiro bertanya setengah berseru karena mendadak saja dia ingat pada dua
musuh besarnya.
“Yang satu bernama Tiga Bayangan Setan. Jahanam satunya dikenal dengan
nama Elang Setan!”
“Ah! Kita punya musuh-musuh yang sama rupanya!” ujar Wiro.
“Apa maksudmu?” tanya si nenek. “Apa mereka juga membunuh kakak
kembarmu?!”
Kalau tidak menahan diri Wiro hampir meledak suara tawanya. “Aku tidak punya
saudara kembar. Kalau punya pasti kasihan dia...”
“Eh, kasihan bagaimana?” tanya Iblis Putih Ratu Pesolek pula sambil kerenyitkan
keningnya hingga sepasang alisnya yang tebal hitam tambah mencuat ke atas.
“Tampangku sudah begini jelek. Kalau punya kakak kembar pasti tampangnya
lebih jelek!”
Iblis Putih Ratu Pesolek tatap wajah Pendekar 212 sesaat lalu meledaklah tawa si
nenek ini.
”Wiro! Kita punya urusan besar! Mengapa kau membuang waktu berkonyol-
konyol melayani perempuan itu!” Suara Raja Obat tiba-tiba mengiang di telinga murid
Sinto Gendeng. Tapi Wiro cuma tenang saja dan memberi isyarat dengan gerakan tangan
agar Raja Obat mau bersabar.
“Satu hari suntuk aku mendengar senda guraumu aku bisa ngompol habis-
habisan!” Iblis Putih Ratu Pesolek berucap sambil menyeka pipinya kiri kanan. Setelah
hentikan ketawa dia lalu ajukan pertanyaan.
“Tadi kau menerangkan Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan juga adalah
musuh-musuh besarmu. Perbuatan keji apa yang telah mereka lakukan terhadapmu?”
“Mereka berdua berniat membunuhku. Mereka berhasil dan pergi begitu saja,
tidak mengira kalau aku sebenarnya masih hidup. Seseorang kemudian menolongku. Aku
selamat namun dua senjata mustika milikku mereka curi...”
“Senjata apa?”
Wiro hendak menerangkan tapi lewat kepandaiannya mengirimkan suara secara
diam-diam Raja Obat memperingatkan. “Wiro, jangan memberi keterangan banyak pada
orang yang tidak kau ketahui siapa dan bagaimana dirinya...”
Wiro melangkah mendekati Raja Obat dan bicara setengah berbisik. ”Dia secara
jujur menceritakan diri dan keadaannya. Menurutmu apakah aku perlu membatasi diri?
Siapa tahu dia malah bisa membantu...”
Raja Obat terdiam lalu setelah menarik napas dalam dia berkata. “Terserah
padamulah anak muda...”
“Eh, apa yang dikatakan sahabat tuamu itu?’ tanya Iblis Putih Ratu Pesolek ketika
Wiro kembali ke hadapannya. “Tidak apa-apa, dia cuma mau mengatakan sedang sakit
perut dan mau buang hajat. Aku bilang silahkan saja tapi aku tidak menjamin kalau nanti
kau diam-diam akan mengintipnya waktu buang hajat!”
”O... lala!” si nenek pelototkan mata tapi kemudian tertawa gelak-gelak. “Apa
untungnya aku mengintip tubuh peot begitu? Paling-paling aku cuma akan melihat terong
bonyok! Hik...hik...hik!”
Kedua orang itu jadi sama-sama tertawa riuh membuat Raja Obat selain heran
juga jengkel dan mengomel dalam hati habis-habisan.
Setelah puas tertawa Wiro lalu menerangkan. ”Senjata milikku yang dicuri dua
manusia setan itu adalah sebilah kapak bermata dua dan pasangannya sebuah batu
hitam...”
Iblis Putih Ratu Pesolek mendongak ke langit. ”Aku tidak seperti kakakku suka
malang melintang kemana mana di rimba persilatan. Tapi kalau kau menyebut kapak
bermata dua, setahuku di dunia persilatan hanya ada satu manusia yang memiliki senjata
seperti itu. Apakah kau Pendekar...?”
Si nenek tidak teruskan ucapannya saking hatinya terguncang keras.
”Dugaanmu tepat. Aku monyet jelek yang dijuluki orang Pendekar Kapak Maut
Naga Geni 212. Gelar gila padahal kemampuanku dibanding dengan dirimu aku masih
kalah jauh...”
“Anak muda, nama besarmu sudah bertahun-tahun kudengar dengan penuh rasa
kagum. Rejekiku sungguh besar kalau hari ini aku bisa bertemu denganmu. Kau pandai
merendah diri. Aku benar-benar suka padamu. Jika Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan
pernah berniat keji hendak membunuh lalu mencuri dua senjata mustikamu sedang
mereka juga adalah musuh-musuh besarku, berarti kita memang berjodoh satu sama lain.
Paling tidak untuk sama-sama seperjalanan mencari dua bangsat itu! Terakhir sekali ada
yang melihat mereka berada di muara Kali Opak, tengah bicara dengan seorang gadis
yang membawa tujuh buah payung.”
“Gadis membawa tujuh buah payung? Ah, dialah yang menyelamatkan aku dari
tangan dua setan itu...” Saat itu Wiro jadi terkenang pada Puti Andini yang berjuluk Dewi
Payung Tujuh dan rasanya ingin sekali dia bertemu dengan gadis itu.
“Kabarnya dia cantik dan berilmu tinggi...” kata si nenek seolah cemburu.
“Tidak secantikmu di masa muda,” jawab Wiro yang membuat Iblis Putih Ratu
Pesolek jadi terbatuk-batuk beberapa kali.
“Pendekar 212, kau pandai mengajuk hati orang. Apakah kau menerima ajakanku
pergi seperjalanan?”
”Nenek cantik, terus terang aku suka pergi sama-sama dengan kau. Namun...”
”Namun! Nah buntutnya ini yang jelek!” kata si nenek yang sudah maklum kalau
sang pendekar tak mungkin diajaknya pergi sama-sama.
“Jangan salah mengira. Selain masih punya urusan yang belum selesai di tempat
ini, aku juga mendapat keterangan bahwa dua senjata mustikaku itu telah diserahkan oleh
dua setan tadi pada seseorang...”
“Berarti Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan telah diperalat seseorang untuk
membunuhmu dan mencuri kapak serta batu mustika itu... ‘
“Tepat sekali!”
“Apa kau sudah tahu siapa biang racunnya?”
Wiro anggukkan kepala. “Dia musuh bebuyutanku, seorang pendekar sesat
dikenal dengan julukan Pangeran Matahari”
Paras si nenek mendadak sontak berubah. Jangan-jangan dia juga yang
membunuh saudara kembarku...”
”Kau harus memastikan hal itu agar tidak kesalahan tangan...”
“Tapi bagaimanapun juga Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan memang sudah
saatnya harus disingkirkan dari muka bumi. Kejahatan mereka sudah bertumpuk, lebih
tinggi dari gunung! Dan bangsat yang bernama Pangeran Matahari itu kabarnya telah
memiliki satu ilmu baru. Ilmu Iblis yang bersumber pada sebuah kitab...” {Seperti
diketahui yang membunuh Iblis Tua Ratu Pesolek adalah Pangeran Matahari. Baca
Episode I: Wasiat Iblis)
“Kitab Wasiat Iblis! Dia memang telah memiliki kitab itu. Yang akan
menjadikannya raja di raja dunia persilatan...”
“Kalau tidak ada yang mencegah kiamatlah dunia persilatan ini...”
“Nenek cantik, mengingat kau juga digelari orang sebagai perempuan iblis, maaf
bicara aku masih belum tahu kau ini di pihak mana adanya...”
Si nenek tersenyum. ”Tadi sudah kukatakan, jalan hidupku berbeda dengan kakak
kembarku. Nasib dan mukaku yang jelek. Tapi hatiku rasa-rasanya tidak seperti itu.
Cuma terus terang sebagai manusia biasa walau mungkin sudah bau-bau tanah kalau ada
lelaki yang mau bercumbu denganku masakan aku menolak. Apa kau punya minat anak
muda? Kalau kau sudah tua sepertiku nanti, kelak kau akan merasakan sendiri bahwa
rangsangan itu makin dikekang semakin mau meledak. Kalau kau tidak percaya coba
tanyakan saja pada kawanmu si tua itu. Tapi kurasa dia malu-malu mengakuinya, hik...
hik...hik!” Iblis Putih Ratu Pesolek lalu tertawa cekikikan.
“Nenek cantik, perbedaan antara kita tidak menghalangi untuk bersahabat...”
“Hanya bersahabat, tidak pakai cumbu-cumbuan segala?” tanya si nenek.
“Itu bisa kita bicarakan nanti...”
“Anak muda gila!” makian itu mengiang di telinga Wiro. “Jangan kau berani
membuat janji dan memberikan harapan pada orang seperti dia. Sekali dia menagih dia
akan mengejarmu sampai ke liang kubur sekalipun!”
Wiro garuk-garuk kepalanya.
“Kau menggaruk kepala, pasti ada sesuatu yang menyekat hatimu. Aku tahu sejak
tadi sahabat tuamu secara diam-diam mengirimkan ucapan-ucapan padamu walau aku
tidak tahu apa yang dikatakannya...”
“Tak usah perdulikan sahabatku itu. Dia orang tua yang baik...”
”Baiklah pemuda gagah. Aku sungguh gembira bisa bertemu dengan pendekar
besar yang selama ini kukagumi segala tindak tanduknya. Aku setuju dengan kata-katamu
tadi. Persahabatan melebihi segala-galanya. Tapi kalau ada bumbu-bumbunya tentu akan
lebih sedap bukan?” Si nenek mendongak ke langit. “Matahari sudah tinggi. Aku harus
tinggalkan tempat ini untuk mencari manusia keji penyebab kematian kakak kembarku.
Sebelum pergi aku ingin tanyakan satu hal padamu. Apakah hari sepuluh bulan sepuluh
punya arti bagimu?”
“Hari sepuluh bulan sepuluh...?” ulang Wiro dan coba mengingat-ingat. Lalu dia
menggelengkan kepala walau agak meragu.
“Ini ada artinya bagimu?” tanya si nenek lagi. Lalu dari balik dada pakaiannya dia
mengeluarkan secarik kertas yang sudah lecak. “Bacalah!” katanya seraya menyerahkan
kertas itu pada Wiro.
Wiro mengambil kertas yang disodorkan. Di situ tertera sebait tulisan. Hari
Sepuluh Bulan Sepuluh di Pangandaran.
Begitu membaca apa yang tertulis di kertas tersebut paras Pendekar 212
mendadak berubah. Dia lalu tepuk kepalanya sendiri. ”Astaga!” desisnya.
“Kau ingat sekarang, anak muda?” ujar si nenek.
Wiro mengangguk. “Dari mana kau mendapatkan surat ini? Siapa yang
membuatnya?”
“Seorang sahabat...”
“Iblis Pemabuk?”
“Nah, kau sudah tahu orangnya?” kata Iblis Putih Ratu Pesolek pula. “Hari
sepuluh bulan sepuluh masih cukup lama. Kalau tidak mungkin bertemu lagi berarti kita
akan bertemu pada hari tersebut. Eh, apakah kau sudah mendapat undangan serupa dari si
pemabuk aneh itu! Karena dia lebih banyak membunuh orang daripada menunjukkan
sikap bersahabat.”
“Aku bertemu dengannya di tempat kediaman Ratu Duyung...”
”Ratu Duyung!” seru si nenek. Lalu berdecak berulang kali. “Kau sungguh
beruntung bisa masuk ke tempat kediamannya. Eh, apakah kau sudah diajaknya tidur?
Hik... hik... hik!”
Wiro tertawa lebar. “Pertanyaanmu ada-ada saja nenek cantik...”
Si nenek kembali mendongak ke langit. “Sayang matahari sudah tinggi. Aku
harus pergi sekarang, sebelum pergi apakah aku boleh menciummu?”
Wiro belum sempat menjawab ataupun menyingkir tahu-tahu.
“Cup! Cup!”
Pipinya kiri kanan kena dicium si nenek. Ketika dia memandang ke depan Iblis
Putih Ratu Pesolek telah berkelebat pergi. Hanya suara tawa cekikikannya terdengar
menggema di seantero pulau perlahan-lahan sirna di kejauhan.
“Enak dicium orang itu?” tanya Raja Obat sambil senyum-senyum sementara
Wiro gosok-gosok pipinya kiri kanan dengan kedua tangan. Wiro mendekat dan duduk di
hadapan si orang tua. “Raja Obat rasanya akupun harus bersiap pergi...”
”Kau hendak melupakan Kitab Putih Wasiat Dewa begitu saja? Mengabaikan
tugas dari guru dan dua tokoh persilatan yang kau hormati? Menganggap enteng bencana
besar yang bisa membuat kiamat rimba persilatan?”
Wiro terdiam sesaat. “Aku tidak mungkin dapatkan kitab sakti itu. Mungkin saat
ini belum entah nanti. Itu sebabnya aku pergi untuk mencari petunjuk lebih lanjut.
Mungkin aku harus menemui ketiga orang itu...”
Raja Obat gelengkan kepala. “Petunjuk sudah kau terima. Di mana beradanya
kitab itu sudah kau ketahui. Tinggal kita mencari akal bagaimana mendapatkannya.”
“Satu-satunya jalan adalah terowongan di bawah laut yang kau katakan itu. Tapi
ikan-ikan hiu pemangsa manusia berkeliaran di sana...” kata Wiro. “Obat bubuk batu
merahmu, apakah bisa dipakai untuk meracuni ikan-ikan itu?’
“Obatku untuk menyembuhkan makhluk, bukan untuk membunuh,” jawab Raja
Obat pula.
”Kalau aku masuk ke dalam laut dan membunuh binatang-binatang itu dengan
pukulan Sinar Matahari...”
“Itu lebih celaka lagi, Wiro. Setiap kau membunuh seekor ikan hiu di sekitar
mulut terowongan, sepuluh kawannya akan muncul membantaimu!”
“Kalau begitu jelas tak ada jalan untuk mendapatkan kitab itu. Kita juga tidak
tahu apakah Ki Hok Kui masih ada di dalam lobang sana... Lalu apa gunanya kita
berdebat?”
“Bukan berdebat anak muda, tapi mencari segala akal. Aku ingin, semua orang
juga ingin, jika kau meninggalkan pulau ini Kitab Putih Wasiat Dewa sudah menjadi
milikmu...”
“Apa yang harus aku lakukan...?” ujar Wiro perlahan.
Ditanya seperti itu Raja Obat juga tak bisa menjawab.
Sekonyong-konyong di kejauhan terdengar suara orang berteriak.
“Penghuni pulau, aku datang menjalankan amanat! Harap beri tanda dimana kau
berada!”
Suara teriakan itu menggema keras dan untuk beberapa lamanya baru lenyap dari
pendengaran Raja Obat dan Wiro Sableng. Saat teriakan menggema batu pulau yang
diduduki kedua orang itu ikut bergetar.
“Gangguan baru datang pula...” kata Raja Obat.
“Yang datang orangnya pasti memiliki kepandaian sangat tinggi serta tenaga
dalam sempurna,” ujar Wiro pula.
Raja Obat berdiri. Sekali berkelebat orang tua ini melesat dan naik ke atas sebuah
batu besar di tempat ketinggian. Memandang berkeliling dia melihat orang yang berteriak
itu jauh di sebelah barat pulau. Saat itu Wiro sudah melesat pula dan tegak di samping
Raja Obat.
”Melihat caranya datang dengan memberi tahu lebih dulu berarti orang ini
siapapun adanya dia punya niat baik. Lekas kau beri tanda agar dia tahu kita berada di
sini.”
”Tanda akan aku berikan. Namun aku tidak setuju dengan ucapanmu. Bahwa
orang itu punya niat baik baru bisa dibuktikan kalau kita sudah menyelidik. Hati-hati dan
jangan bertindak lengah!”
Raja Obat lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
”Aku ada di sini! Jika datang membawa maksud baik silahkan kemari. Jika
membawa maksud keji terselubung lebih baik segera angkat kaki!”
Teriakan Raja Obat tak kalah hebatnya dengan teriakan orang tadi. Pendatang di
sebelah barat segera melihat Raja Obat dan Wiro di puncak batu itu. Dia balas
mengangkat tangan lalu berlari mendatangi.
***
BAB XIII
DALAM waktu singkat orang itu sudah sampai di hadapan Wiro dan Raja Obat.
Ternyata dia seorang lelaki muda bertubuh tinggi kekar, mengenakan pakaian serba putih
yang tidak dikancing hingga dadanya yang penuh otot terpentang lebar. Keningnya diikat
dengan sehelai kain putih. Rambutnya berombak tebal dan panjang. Di atas sepasang
matanya yang memandang dengan sikap tajam melintang sepasang alis tebal hitam.
Bibirnya yang tipis panjang dan hidungnya yang tinggi menandakan kekerasan hati.
Sekujur tubuhnya mulai dari rambut sampai ke kaki basah kuyup.
“Orang muda, kau telah berhadapan dengan penghuni pulau. Harap jelaskan siapa
dirimu dan ada keperluan apa datang ke sini.” Menegur Raja Obat.
Mendengar ucapan itu, orang yang barusan datang segera menjura lalu
menganggukkan kepala pada Wiro.
“Kau tentu Raja Obat Delapan Penjuru Angin, aku gembira akhirnya bisa
menemuimu. Namaku Mahesa Kelud. Aku datang menjalankan amanat dari Ratu
Duyung...”
Wiro dan Raja Obat saling berpandangan.
“Jadi Ratu Duyung yang mengirimkanmu ke pulau ini?’ tanya Raja Obat.
Pemuda itu mengangguk. Dia berpaling pada Wiro. Sekali lagi dia
menganggukkan kepala memberi hormat “Kau tentunya Pendekar 212 yang terkenal
itu...”
“Ah, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Wiro.
“Ratu Duyung yang mengutusku kemari sebelumnya telah memberi tahu bahwa
kelak di pulau ini selain bertemu dengan Raja Obat, aku juga akan bertemu dengan
seorang pemuda gagah bergelar Pendekar 212...”
“Tempat kediaman Ratu Duyung rasanya sangat jauh dari sini. Bagaimana kau
bisa menemukan pulau ini dengan mudah?” bertanya Wiro.
“Tidak mudah, aku menghabiskan waktu sehari penuh. Itupun dibantu dengan
panduan anak buah Ratu Duyung dan ditarik beberapa ekor ikan lumba-lumba...”
“Jadi kau kesini setengah berenang... Pantas pakaianmu basah kuyup...”
“Kira-kira begitu...” jawab orang yang mengaku bernama Mahesa Kelud.
“Apa amanat yang kau bawa hingga Ratu Duyung mengutusmu ke sini?” tanya
Raja Obat.
”Sebelumnya Ratu Duyung berulang kali memantau lewat cermin saktinya. Dia
mengetahui kesulitan yang kalian hadapi di tempat ini...”
“Kesulitan apa?’ tanya Wiro.
“Dia tidak mengatakan dengan rinci. Cuma memberi tahu bahwa kalian tengah
mengalami kesulitan dan aku harus membantu...”
“Kalau kau tidak tahu kesulitan yang kami hadapi bagaimana mungkin bisa
membantu?” ujar Raja Obat pula.
“Ratu Duyung hanya mengatakan agar aku menghancurkan batu merah, membuka
jalan sebuah lobang di bawah pulau...”
Terkejutlah Raja Obat dan Pendekar 212 mendengar kata-kata orang yang tidak
mereka kenal itu.
“Hanya itu yang dikatakannya, tak ada hal-hal lain?” bertanya Raja Obat.
Mahesa Kelud menggeleng. Baik Raja Obat maupun Wiro Sableng tidak dapat
memastikan apakah orang ini benar-benar tidak mengetahui perihal Kitab Putih Wasiat
Dewa itu.
“Saudara muda kami sangat berterima kasih dan menghargai kedatanganmu.
Namun kami meragukan apakah kau bisa menolong kami dari kesulitan. Sebelumnya
kami berdua telah bekerja keras namun sia-sia. Kau diamanatkan untuk menghancurkan
batu merah. Kau membawa peralatan apa?’
Atas pertanyaan Raja Obat itu Mahesa Kelud mengangkat kedua tangannya lalu
mengepalkan tinjunya.
“Aku cuma punya sepasang tangan ini. Raja Obat...”
Kembali Raja Obat dan Wiro Sableng saling berpandangan.
“Pukulan sakti Sinar Matahari saja tidak mampu menjebol batu merah di bagian
lobang itu. Kalaupun aku memiliki Kapak Naga Geni 212 saat ini juga belum tentu
senjata mustika itu akan mampu menjebol lapisan batu merah. Dia sesumbar mampu
menjebol batu merah dengan mengandalkan sepasang tinju! Benar-benar konyol! Tetapi
aku tak boleh terlalu memandang sebelah mata. Bukankah ada ujar-ujar yang mengatakan
di atas langit masih ada langit lagi...?!” Begitu Pendekar 212 berkata dalam hati.
“Raja Obat dan Pendekar 212, aku tidak punya waktu banyak. Tunjukkan bagian
mana yang harus kujebol nanti akan kukerjakan...”
“Kucing besar yang basah kuyup ini kuharap saja tidak bermulut besar. Biar aku
menguji lebih dulu!” kata Wiro dalam hati.
“Sobat, kami berdua ingin melihat kemampuanmu. Coba kau hantam batu merah
besar di samping kananmu itu.”
Mahesa Kelud berpaling ke kanan. ”Aku tidak menyalahkan kalian. Sebelumnya
kita tidak saling kenal. Tahu-tahu aku muncul berlagak seperti seorang maha jago. Tapi
jika kalian ingin mengujiku, mana mungkin aku menampik?!”
Habis berkata begitu Mahesa Kelud maju mendekati batu besar. Tangan kanannya
berkelebat.
“Bukkkk!”
“Byaaarrr!”
Batu merah sebesar sosok tubuh gajah yang kena jotosan Mahesa Kelud hancur
lebur berantakan. Wiro garuk-garuk kepala. “Dengan salah satu pukulan sakti aku juga
mampu menghancurkan batu itu. Tapi apakah dia mampu menghancurkan batu di lobang
ujung terowongan sana?”
“Orang muda kau telah memperlihatkan satu hal yang luar biasa. Bagaimana aku
tahu bahwa kau benar-benar dikirim oleh Ratu Duyung dan tidak datang dengan maksud
culas.”
Mendengar ucapan itu Mahesa Kelud menjawab. “Menurut Ratu Duyung
Pendekar 212 mempunyai kemampuan untuk melihat jauh. Saat ini Ratu Duyung sengaja
menunggu, siap dengan cermin saktinya. Jika kau mengadakan sambung rasa pasti kau
akan mampu melihat sang Ratu dan mendapatkan tanda-tanda darinya.”
Raja Obat memandang pada Pendekar 212. “Aku hanya memiliki ilmu Menembus
Pandang. Tak mungkin dipergunakan untuk melihat jauh...” kata Wiro pula.
“Ratu menyadari hal itu. Itu sebabnya dia sengaja menunggu sampai kau
melakukan sesuatu. Katanya lewat cermin sakti dia akan menyalurkan tenaga dalam dan
hawa aneh hingga kau sanggup melihatnya walau terpisah sangat jauh...”
Murid Sinto Gendeng segera kerahkan tenaga dalamnya ke kepala lalu kedipkan
sepasang matanya dua kali berturut-turut. Kepalanya bergoyang-goyang oleh munculnya
satu gelombang angin halus. Sesaat kemudian dia melihat laut membiru. Lalu ada cahaya
matahari seolah keluar dari dalam laut.
Kemudian walaupun samar-samar dia melihat sebuah benda memantulkan sinar
menyilaukan. Itulah pantulan cahaya yang jatuh pada cermin yang dipegang Ratu
Duyung. Tak selang berapa lama Wiro melihat wajah sang Ratu menganggukkan kepala
beberapa kali. Lalu perlahan-lahan bayangan wajah itu lenyap.
“Aku melihat sang Ratu. Dia memberi tanda yang bisa dipercaya bahwa kau
memang utusannya...”
Raja Obat lalu memegang bahu Mahesa Kelud. ”Ikuti aku...” katanya. Orang tua
ini berkelebat. Tubuhnya melayang turun dari bukit batu, dengan cepat dia berjalan
menuju lobang di ujung terowongan. Mahesa Kelud mengikuti. Wiro menyusul di
belakang.
Tak lama kemudian mereka sampai di pertengahan pulau di mana terletak lobang
pada ujung terowongan. Raja Obat berdiri di pinggir lobang.
“Ini lobangnya. Dasar lobang dulunya rengkah akibat gempa. Kemudian secara
aneh bertaut kembali. Sanggupkah kau menjebolnya dengan kekuatan pukulanmu?”
“Semoga Tuhan membantu kita semua,” jawab Mahesa Kelud pada Raja Obat
Delapan Penjuru Angin. Dia melangkah ke tepi lobang batu.
“Tunggu dulu!” seru Wiro.
“Ada apa Wiro?” tanya Raja Obat.
”Kita perlu memberi tahu bahwa di bawah lobang ini ada sebuah lobang lagi. Ki
Hok Kui besar kemungkinan berada di sana. Jika pukulan yang menjebol lantai lobang
sebelah atas sempat mengenai dirinya...”
“Jangan khawatir Pendekar 212... Pukulanku hanya akan menghancurkan benda
yang kita inginkan. Sekalipun ada sehelai rambut di belakang batu itu niscaya tidak akan
tersentuh... Hanya saja kita terpaksa membunuh ikan-ikan kecil itu.”
Baik Wiro maupun Raja Obat menjadi lega mendengar keterangan Mahesa Kelud
itu.
Lalu lelaki ini kerahkan tenaga dalamnya dan disalurkan pada sepuluh jari tangan
yang telah mengepal membentuk tinju. Otot-otot lengan Mahesa Kelud mengembang.
Uratnya bertonjolan. Rahangnya mengencang. Tiba-tiba dia melompat masuk ke dalam
lobang. Bagian tubuh sebelah atas masuk lebih dulu. Dua tangan menghantam ke dasar
lobang batu merah.
“Bukkk!”
“Bukkk!”
“Byaarr!”
“Byaaar!”
Dua jotosan dahsyat menghantam dasar lobang hingga hancur berantakan. Semua
hancuran batu merah dan ikan-ikan kecil tak satupun yang amblas ke dalam tetapi mental
dan muncrat ke atas lobang. Hebatnya lagi walau pecahan-pecahan batu mengenai kepala
dan mukanya namun Mahesa Kelud sama sekali tidak cidera barang sedikitpun!
“Betul-betul luar biasa!” seru Wiro ketika dia melihat sebuah lobang besar kini
menganga di bawah sana. Cukup untuk jalan masuk dua orang sekaligus. Raja Obat turun
lebih dulu disusul oleh Wiro sementara Mahesa Kelud tetap berdiri di luar.
Masuk ke dalam lobang ujung terowongan kedua mula-mula dua orang itu tidak
dapat melihat apa-apa. Selain cahaya matahari yang masuk agak terbatas juga debu
hancuran batu merah masih menghalang di sebelah atas.
Setelah mendekam beberapa saat sepasang mata Wiro dan Raja Obat menjadi
biasa dan bisa melihat keadaan seluruh lobang bahkan sebagian terowongan sebelah
kanan.
Memandang berkeliling, mata Raja Obat membentur sesuatu di lantai lobang.
Orang tua ini tercekat dan tersurut satu langkah.
”Pendekar 212, kita terlambat. Ki Hok Kui telah lama menemui kematian. Tapi
apa yang kita cari berada di depan mata...” Raja Obat berkata.
Wiro cepat menyorongkan badan dan kepalanya di samping sosok Raja Obat
Delapan Penjuru Angin. Memandang ke depan murid Sinto Gendeng melihat sebuah
jerangkong manusia tanpa tangan dan kaki tergeletak dalam keadaan utuh di lantai goa
batu merah arah terowongan. Pakaian yang melekat di tubuh tengkorak ini sebagian besar
sudah hancur. Pada tulang-tulang dada jerangkong tergeletak sebuah benda yang tak lain
adalah Kitab Putih Wasiat Dewa. Kitab yang terbuat dari daun lontar ini ternyata dalam
keadaan utuh walau ada beberapa bagian ujung sebelah atas dan bawah mulai hancur dan
tertutup lumut. Pada sampul kitab sebelah depan jelas terlihat tulisan dalam huruf Jawa
kuno : Kitab Putih Wasiat Dewa.
Sekian lama mencari dan mengejar kitab sakti itu, begitu berhadapan Pendekar
212 justru merasa merinding sendiri dan tak berani langsung mengulurkan tangan
mengambilnya. Dalam hati malah dia sempat berkata. “Kitab sakti, bentuknya biasa-biasa
saja malah sudah butut...”
“Kau tunggu apa lagi anak muda? Kitab yang kau cari sudah di depan mata.
Ambillah...” Raja Obat memberi jalan pada murid Sinto Gendeng untuk mengambil kitab
sakti itu.
Mendengar ucapan si orang tua Wiro dengan gemetar ulurkan tangan kanannya
untuk mengambil Kitab Putih Wasiat Dewa.
Begitu jari-jari tangan Pendekar 212 menyentuh kitab sakti tiba-tiba di kejauhan
terdengar lantunan suara seruling. Bersamaan dengan itu satu auman dahsyat
menggelegar menggetarkan seantero pulau dan seolah hendak merobohkan lobang dan
terowongan dimana kedua orang itu berada. Wiro terkesiap kaget dan cepat bertindak
mundur sementara Kitab Putih Wasiat Dewa telah berada dalam pegangannya.
“Dia datang...” bisik Raja Obat Delapan Penjuru Angin.
“Dia siapa?” tanya Wiro tak mengerti.
“Kau lihat saja. Sebentar lagi dia akan menampakkan diri...”
Wiro memandang ke depan. Matanya dibuka lebar-lebar tapi diam-diam
tengkuknya terasa dingin juga dan lututnya bergetar. Di hadapannya di arah terowongan
dia hanya melihat benda tipis putih, entah kabut entah asap.
***
BAB XIV
Perlahan-lahan kabut tipis itu berubah membentuk dua sosok makhluk. Yang
pertama adalah sosok seorang tua bertubuh sangat tinggi, memiliki wajah gagah. Dia
mengenakan selempang kain putih. Di tangan kirinya dia memegang sebatang tongkat
terbuat dari kayu putih. Kegagahan wajahnya hampir tertutup oleh keangkeran sepasang
matanya yang berwarna biru, yang memandang seolah-olah menembus. Pada
pinggangnya orang tua ini menyisipkan sebatang saluang yakni sebuah suling besar khas
Minangkabau. Di sebelahnya mendekam seekor harimau besar berwarna putih memiliki
bola mata berwarna hijau. Dua makhluk yang muncul dari dalam kabut putih ini adalah
Datuk Rao Basaluang Ameh dan harimau pengiringnya Datuk Rao Bamato Hijau.
Bersamaan dengan terbentuknya sosok dua Datuk itu mendadak sontak ruangan di
dalam lobang dan terowongan menjadi sangat dingin hingga baik Wiro maupun Raja
Obat menggigil kedinginan. Padahal selama puluhan tahun Raja Obat sudah terbiasa
dengan dinginnya udara di pulau batu merah itu, tetap saja orang tua ini menjadi goyah
lututnya.
“Aduh, mengapa udara tiba-tiba menjadi dingin! Kalau terus-terusan begini aku
bisa-bisa tak sanggup menahan kencing!” kata Wiro dalam hati padahal saat itu
tengkuknya sudah merinding oleh angkernya suasana.
Raja Obat Delapan Penjuru Angin segera membungkuk memberi hormat. Dia
menendang kaki Wiro agar segera memberi penghormatan.
“Eh, dua makhluk ini sama dengan yang aku lihat sewaktu diriku tenggelam ke
dalam arus masa lampau...” pikir Wiro. Lalu dia cepat-cepat membungkuk.
“Pangeran Soma...” Datuk Rao angkat bicara. “Tujuh puluh tahun kita tidak
bertemu. Tujuh puluh tahun kau membuktikan kesabaranmu, menunggu sesuai amanatku.
Hari ini tugasmu selesai. Aku dan Datuk Rao Bamato Hijau mengucapkan terima kasih
padamu dan puji syukur pada Yang Maha Kuasa bahwa akhirnya apa yang kita
rencanakan tujuh puluh tahun lalu kini menjadi kenyataan walau seorang gagah dari kita
yaitu Ki Hok Kui telah mendahului. Ketahuilah Raja Obat, semua apa yang terjadi adalah
atas jalan dan kehendak Allah. Kita semua hanyalah para pelaku yang memikul beban
menjalankan tugas. Ada yang hendak kau sampaikan Pangeran?”
“Pertama sekali kita memang patut memanjatkan puji syukur pada Gusti Allah
yang telah memberi kekuatan pada kita hingga semua apa yang Datuk inginkan bisa
terlaksana. Selanjutnya masih ada amanat yang harus kami laksanakan hingga petunjuk
lebih jauh dari Datuk sangat diperlukan.”
Datuk Rao Basaluang Ameh mengangguk sedang Datuk Rao Bamato Hijau
keluarkan gerengan perlahan.
“Pangeran karena semua tugas sudah kau laksanakan maka kau kini bebas untuk
melakukan apa saja. Namun jika aku boleh memberi petunjuk ada baiknya kau
meninggalkan pulau ini. Kembali ke Kerajaan. Di sana kau akan lebih banyak
manfaatnya daripada di sini. Di sana kau bisa berbuat lebih banyak kebajikan daripada di
sini. Perlu kau ketahui Ayahandamu Sri Baginda telah lama wafat. Kau harus merintis
kembali hubungan darah yang selama ini terputus dengan saudara-saudaramu...”
“Terima kasih Datuk. Kata-kata Datuk akan saya perhatikan,” jawab Pangeran
Soma alias Raja Obat Delapan Penjuru Angin.
Datuk Rao Basaluang Ameh memalingkan kepalanya ke arah Pendekar 212 Wiro
Sableng. Pandangan sepasang mata biru angker itu membuat murid Sirrto Gendeng
tercekat.
“Anak manusia terlahir bernama Wiro Saksana, oleh gurumu kau diberi nama
Wiro Sableng dan oleh dunia persilatan kau dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni
212. Hari ini akhirnya kita bertemu muka juga...”
“Astaga...” membatin Wiro. ”Bagaimana makhluk ini bisa tahu nama asliku.”
Sang Datuk melanjutkan. “Tujuh puluh tahun yang silam nama dan rupamu sudah
tertanam di alam gaib dan hanya beberapa orang pandai saja mengetahui. Lewat liku
perjalanan panjang, terakhir lewat mimpi si Raja Penidur kau akhirnya terlibat penuh
dalam urusan besar ini. Urusan menyelamatkan dunia persilatan dari kiamat yang akan
ditimbulkan oleh manusia-manusia keji berhati iblis. Hari ini Kitab Putih Wasiat Dewa
itu sampai di tanganmu. Karena memang begitu takdir mengatakan. Tugasmu sangat
berat. Kau harus menjaga kitab itu seperti menjaga nyawamu sendiri sebelum kau
akhirnya mempunyai kesempatan untuk memusnahkan kitab hitam orang-orang sesat
pembawa malapetaka yaitu Kitab Wasiat Iblis. Kau telah mengetahui di tangan siapa
beradanya Kitab Wasiat Iblis itu. Kejahatan memang selalu satu langkah lebih dulu dari
kebenaran. Tapi satu hal yang pasti kebenaran tidak pernah tunduk dan kalah dari
kejahatan. Dalam alam gaib yang kau lihat ketika kau pingsan, kau telah mengetahui
sebagian isi Kitab Putih Wasiat Dewa. Aku tahu kau telah menghafal dengan baik apa-
apa yang disebut sebagai Delapan Sabda Dewa. Tugasmu sekarang adalah membuka
halaman kelima yang selama ini tak satu orangpun diperkenankan membuka dan
membaca apalagi mempelajari isinya. Pulau batu merah ini adalah tempat yang baik
bagimu untuk meresapi segala isi Kitab Putih Wasiat Dewa yang hanya terdiri dari
delapan halaman itu. Tapi jika kau ingin pergi ke tempat lain yang kau lebih suka tak ada
yang melarang. Kitab itu hanya berjodoh denganmu. Bila kau telah selesai mempelajari
isinya harus kau simpan baik-baik. Karena kelak pada seratus tahun dimuka baru ada
orang lain yang berjodoh lagi dengan kitab itu. Sekarang harap kau berlutut di
hadapanku. Berlutut bukan berarti kau menyembahku atau aku merasa lebih tinggi
darimu. Hanya Tuhan yang disembah umat dan tiada manusia yang lebih tinggi di mata
Tuhan kecuali ketakwaannya...”
Dengan menggoyangkan tongkat kayu putihnya Datuk Rao Basaluang Ameh
memberi isyarat pada Wiro agar maju lalu berlutut di hadapannya. Dengan menabahkan
diri Wiro melakukan apa yang diperintah. Dia maju sampai sejarak satu langkah dari
hadapan Datuk Rao Basaluang Ameh, lalu berlutut.
“Apa gerangan yang hendak dilakukannya terhadapku?” membatin murid Sinto
Gendeng. Matanya melirik pada Datuk satu lagi yakni si harimau putih besar. Moncong
binatang ini hanya dua langkah dari hadapannya di sebelah kanan!
Datuk Rao Basaluang Ameh meletakkan tongkat kayu putihnya di atas kepala
Wiro. “Arahkan kepalamu ke kanan dan ulurkan lehermu. Menunduk sedikit...”
Sesuai yang diperintah Wiro Sableng putar kepalanya ke kanan, lehernya
dipanjangkan dan kepala agak ditundukkan. Dengan sikap seperti itu kepalanya berada
sangat dekat dengan mulut harimau putih. Napas sang pendekar mendadak menjadi sesak
dan lututnya bergetar keras.
“Datuk Rao Bamato Hijau,” kata Datuk Rao Basaluang Ameh seraya angkat
tongkat putihnya dari atas kepala Pendekar 212. ”Temanmu sudah siap...”
Harimau putih besar itu menggereng keras. Wiro merasa seolah-olah dilemparkan
mental ke langit ke tujuh. Tiba-tiba binatang itu melangkah mendekatinya. Kepalanya
diulurkan dan mulutnya dibuka besar-besar. Lalu haummm!
Kepala Pendekar 212 amblas masuk ke dalam mulut Datuk Rao Bamato Hijau!
Nyawa murid Sinto Gendeng serasa terbang. Selangkangannya mendadak sontak basah
tanda dia tak dapat lagi menahan kencingnya!
“Kalau binatang ini sampai mengatupkan mulutnya, putus leherku!” ujar Wiro
dalam hati. Lututnya goyah.
Di dalam mulut harimau Wiro merasa kepalanya dilanda hawa panas dan sejuk
silih berganti. Sekujur pakaian hitamnya telah basah oleh keringat. “Apa yang tengah
dilakukan binatang ini? Mau diapakan diriku ini oleh si Datuk...?” Wiro merasa makin
lama nafasnya makin pengap.
“Cukup Datuk,” terdengar suara Datuk Rao Basaluang Ameh.
Datuk Rao Bamato Hijau mengaum keras. Karena kepalanya masih berada di
dalam mulut harimau putih itu maka Wiro merasa seolah kepalanya pecah amblas
disambar petir. Sewaktu harimau putih menarik mulutnya, sekujur kepala Pendekar 212
kelihatan basah kuyup. Dari mata, hidung dan telinga serta mulutnya kelihatan ada darah
mengucur. Raja Obat tampak gelisah tetapi Wiro sendiri tidak merasa sakit apa-apa.
“Datuk, bersihkan dulu kepala dan muka temanmu,” kata Datuk Rao Basaluang
Ameh pada sang harimau. Binatang ini ulurkan lidahnya. Lalu dengan lidah itu dijilatinya
seluruh kepala dan muka Pendekar 212. Rambut Wiro menjadi kering, noda-noda darah
di mukanya menjadi bersih.
Wiro menarik napas lega. Lalu cepat-cepat mau berdiri.
“Tunggu, pekerjaan Datuk Rao Bamato Hijau masih belum selesai,” kata Datuk
Rao Basaluang Ameh.
”Walah! Mau diapakan lagi diriku ini?” pikir Wiro. Namun tak berani menolak
atau membantah.
“Ulurkan tangan kananmu Pendekar 212. Lima jari tangan harus dikepal kuat-
kuat,” perintah Datuk Rao.
Wiro ulurkan tangan kanannya.
“Datuk...” kata Datuk Rao Basaluang Ameh pada harimau putih di sebelahnya.
Binatang ini maju dua langkah, ulurkan kepalanya dan buka lebar-lebar mulutnya.
“Haummmm!“
Tangan kanan Wiro sampai sebatas siku lenyap masuk ke dalam mulut harimau
itu.
“Gila! Jangan sampai binatang ini kemasukan setan dan menggerogot putus
tanganku! Uhhh... Perutku mendadak sakit. Jangan-jangan aku sudah kecipirit!”
Sesaat kemudian seperti tadi Wiro merasakan ada hawa panas dan sejuk menjalari
tangannya silih berganti.
“Cukup Datuk...” kata Datuk Rao Basaluang Ameh. Harimau putih bersurut. Wiro
cepat tarik tangannya. “Untung tanganku masih utuh!”
“Buka kepalanmu Pendekar 212 dan kembangkan telapak tanganmu lebar-lebar,”
kata Datuk Rao Basaluang Ameh selanjutnya.
Wiro Sableng buka kepalan dan kembangkan telapak tangan kanannya lebar-
lebar.
“Apa yang kau lihat di telapak tanganmu Pendekar 212?” tanya Datuk Rao
Basaluang Ameh.
Ketika dia memperhatikan terkejutlah murid Sinto Gendeng. Raja Obat yang
tegak di sampingnya tak kalah kagetnya. Pada telapak tangan kanan Wiro tertera sangat
jelas gambar kepala harimau putih.
“A...ada gambar kepala harimau putih Datuk...” jawab Wiro dengan mulut
bergetar.
“Itu gambar temanmu Datuk Rao Bamato Hijau. Berarti kini kau telah memiliki
satu kekuatan dahsyat Wiro. Jika kau tiup satu kali gambar itu akan lenyap. Jika kau tiup
lagi gambar itu akan muncul. Bersamaan dengan munculnya gambar itu tubuhmu sudah
dialiri kekuatan yang membuatmu mampu menghadapi lawan tangguh. Kau bisa
menghancurkan benda apa saja tanpa harus mengalirkan tenaga dalam. Tapi ingat dan
selalu ingat, setiap ilmu bukan segala-galanya...”
Wiro masih melotot memandang telapak tangan kanannya lalu dia melirik pada
Datuk Rao Bamato Hijau. Harimau putih ini mengaum keras membuat Wiro tergagau dan
Raja Obat tersurut.
“Datuk Rao Bamato Hijau, kita sekarang berteman. Jangan takuti diriku...”
Datuk Rao Basaluang Ameh tersenyum. “Datuk Rao Bamato Hijau merasa
senang berteman denganmu. Kau tak usah takut padanya Wiro. Pada saat kau
memerlukannya dia akan muncul secepat kilat menyambar...”
Wiro mengangguk tapi matanya kembali memandangi tangannya. Dia ingin tahu.
Tangan kanannya itu didekatkannya ke mulut. Lalu dia meniup. Gambar kepala harimau
putih serta merta lenyap. Wiro masih belum percaya. Kembali dia meniup. Gambar
kepala harimau itu kembali muncul!
“Pangeran Soma dan Pendekar 212 Wiro Sableng. Tugas kami berdua sudah
selesai. Kini tugas besar menghadang kalian, terutama kau Wiro. Selamatkan dunia
persilatan. Makin cepat kau menyingkirkan Kitab Wasiat Iblis makin baik bagi rimba
persilatan. Semuanya kini mempertaruhkan diri dalam tanganmu Wiro. Jaga dirimu baik-
baik. Jaga betul Kitab Putih Wasiat Dewa itu. Kau harus berhasil. Jika aku merasa perlu
untuk menyampaikan sesuatu padamu, aku akan muncul...”
“Terima kasih Datuk Rao,” kata Wiro pada orang tua berselempang kain putih itu.
Lalu dia berpaling pada harimau besar. Terima kasih teman...” Binatang ini buka
mulutnya lebar-lebar lalu mengaum keras seolah mengatakan sesuatu menyambut ucapan
Wiro tadi.
Datuk Rao Basaluang Ameh berpaling pada Raja Obat dan berkata. “Beritahu
pemuda ini agar membersihkan tanda merah bekas kecupan bibir di kedua pipinya...”
Pendekar 212 terkejut dan cepat mengusap pipinya kiri kanan. Sementara itu
perlahan-lahan sosok dua makhluk di hadapannya kembali berubah menjadi kabut putih
tipis dan akhirnya lenyap dari pemandangan. Hawa dingin yang tadi mencekam ikut
sirna. Keadaan di dalam lobang di ujung terowongan itu berubah menjadi panas.
Wiro memandang berkeliling.
“Aneh, lobang batu sesempit ini bagaimana tadi kita berempat bisa berada di
sini...?” ujar Pendekar 212 terheran-heran Lalu dia pandangi tangan kanannya kembali.
“Orang bernama Mahesa Kelud itu memiliki ilmu pukulan hebat luar biasa.
Sanggup menjebol batu di lobang. Menurut Datuk Rao kini aku sudah memiliki satu ilmu
yang hebat. Aku mau buktikan sampai di mana kehebatanku. Apa ilmu baruku sanggup
menghancurkan batu merah ini?”
Wiro memutar tubuhnya menghadap ke dinding batu di ujung terowongan.
“Tanpa tenaga dalam aku sanggup menghancurkan apa saja!” katanya. Lalu dia mundur
selangkah. Tangan kanannya dikepal. Hanya mengandalkan tenaga luar murid Sinto
Gendeng hantam batu merah di depannya. Langsung saat itu juga dia terpekik sambil
kibas-kibaskan tangan kanannya. Dinding batu di hadapannya sama sekali tidak
bergeming. Malah ketika memperhatikan ternyata jari-jari tangannya lecet dan bengkak!
Hampir terlepas ucapan kotor dari mulutnya. ”Raja Obat, jangan-jangan aku
sudah kena dimuslihati Datuk Rao. Kau dengar sendiri tadi ucapannya mengatakan
bahwa aku kini telah memiliki satu ilmu pukulan yang bisa menghancurkan apa saja!
Buktinya? Kau lihat sendiri tanganku! Untung tidak ada jari-jariku yang patah!”
Raja Obat Delapan Penjuru Angin tertawa lebar.
“Eh, sudah aku ditipu orang dan kesakitan setengah mati kau malah
menertawaiku! Jangan-jangan kau berkomplot dengan dua makhluk asap tadi!”
“Anak muda. jangan cepat menduga salah. Tak ada yang menipu memuslihatimu.
Kau sendiri yang salah!”
”Nah...nah! Sekarang malah kau menuduhku yang salah! Apa-apaan ini
sebenarnya?!”
“Waktu kau memukul dinding batu merah itu, apakah di telapak tanganmu sudah
ada gambar temanmu si harimau putih itu?”
”Eh?!” Wiro kembangkan telapak tangan kanannya. Dia lalu berpaling pada si
orang tua di sampingnya. “Kau betul... Memang aku yang ngaco!” katanya. Habis berkata
begitu lalu meniup telapak tangan kanannya. Serta merta di telapak tangan itu muncul
gambar kepala harimau putih. Lalu dia mundur kembali satu langkah.
“Sekarang!” teriak Pendekar 212 sambil menghantam menjotos dinding batu di
depannya. Terdengar suara menggelegar. Dinding batu merah amblas hancur berantakan!
Murid Sinto Gendeng jadi terperangah sendiri. “Kau betul Raja Obat. Datuk Rao
dan harimau putih itu tidak menipu. Aku yang tolol!” Lalu dia tiup telapak tangan
kanannya. Gambar kepala harimau putih serta merta lenyap.
Raja Obat menepuk bahu Pendekar 212. “Simpan Kitab Putih Wasiat Dewa itu
dan kita harus keluar dari dalam lobang ini.” Lalu orang tua itu mendahului keluar dari
dalam lobang batu. Wiro cepat memasukkan kitab sakti ke balik pakaiannya. Tapi dia
tidak segera menyusul Raja Obat keluar dari dalam lobang. Dia melangkah ke mulut
terowongan di mana tergeletak sosok jerangkong Ki Hok Kui. Dipegangnya batok kepala
tengkorak dan diusapnya berulang kali sambil berkata.
“Kalau kau masih hidup tentu sudah jadi kakek saat ini. Kakek Ki Hok Kui,
jasamu membawa Kitab Putih Wasiat Dewa ke tanah Jawa ini hanya Tuhan saja yang
bisa membalas dengan pahala besar. Aku harus pergi sekarang Kek. Aku berterima kasih
padamu. Semoga aku bisa melanjutkan tugasmu. Aku doakan agar kau mendapat tempat
yang paling baik di akhirat. Tapi doakan juga aku ya, agar aku berhasil dan siapa tahu
bisa jalan-jalan ke negeri leluhurmu di Tiongkok sana!”
Di atas lobang Raja Obat yang sempat mendengar doa Wiro itu walau tidak
sabaran tapi jadi senyum-senyum juga mendengar segala apa yang diucapkan Wiro itu.
“Selamat tinggal kakek Ki Hok Kui!” Wiro mengusap sekali lagi batok kepala
tengkorak itu lalu melesat keluar lobang.
Begitu berada di atas lobang kembali yang pertama sekali dilakukannya adalah
mencari lelaki bernama Mahesa Kelud tadi.
“Eh, kemana orang sakti yang tadi menolong kita menjebol dasar lobang batu
merah...” tanya Wiro sambil mencari-cari.
Raja Obat memandang berkeliling. Tapi Mahesa Kelud memang tak ada lagi di
situ.
“Rasanya dia sengaja pergi duluan. Tidak mau berbasa basi menerima ucapan
terima kasih kita,” kata Raja Obat.
”Kelak aku akan mencari orang gagah itu untuk menghaturkan terima kasih,” kata
Wiro pula. (Siapa adanya Mahesa Kelud harap baca serial Mahesa Kelud karangan
Bastian Tito)
“Aku ingat pada ucapan Datuk Rao tadi. Rasanya memang sudah saatnya aku
meninggalkan pulau batu ini. Kembali ke Kotaraja. Kau mau sama seperjalanan
denganku?” tanya Raja Obat pada Pendekar 212.
“Aku suka sekali pergi bersamamu. Namun ada satu hal yang aku pikirkan saat
ini...”
“Apa...”
”Mungkin ada baiknya aku kembali dulu ke tempat Ratu Duyung. Dia banyak
membantuku dalam usaha mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa ini. Dia juga
memberiku ilmu yang sangat berharga. Kalau bukan orang-orangnya yang
menyelamatkan, aku tak akan pernah sampai di pulau ini...”
”Hemmm.. Hutang budi memang satu hal yang sulit untuk dibayar. Apakah kau
punya pikiran untuk menolongnya dari penyakitnya? Membebaskannya dari kutukan
dengan jalan memenuhi permintaannya melakukan hubungan badan...?”
Pendekar 212 garuk-garuk kepala. “Ratu Duyung pernah bercerita bahwa dia
telah mencoba menghubungimu untuk meminta obat penyembuhan...”
“Betul, itu terjadi puluhan tahun lalu sewaktu aku masih dikucilkan di tengah
hutan... Aku tak bisa menolongnya. Penyakit karena kutukan tidak dapat disembuhkan
dengan obat.”
”Puluhan tahun lalu katamu? Jadi berapa umurnya saat ini?”
”Seratus tahun... Mungkin dua ratus tahun!” Jawab Raja Obat. “Eh, mengetahui
umur Ratu Duyung apakah kini kau jadi hilang selera?”
Wiro tertawa lebar. “Terus terang aku tak bisa melupakannya. Aku harus
menemuinya kapan-kapan. Tapi kalau boleh aku bertanya mengapa dia tidak meminta
lelaki lain untuk melakukan hal itu. Misalnya lelaki muda yang gagah utusannya tadi si
Mahesa Kelud itu...”
Raja Obat menggelengkan kepala. “Masalahnya bukan masalah nafsu Wiro. Tapi
menyangkut semacam kasih sayang tulus. Dia tak mungkin melakukannya dengan orang
yang tidak dicintainya...”
“Maksudmu... Maksudmu Ratu Duyung mencintaiku?” tanya Wiro.
“Bukan cuma dia Wiro. Tapi kalau bisa aku sebutkan satu persatu di antaranya
Pandansuri anak angkat almarhum Raja Rencong dari Utara. Lalu Anggini murid Dewa
Tuak. Suci alias Dewi Bunga Mayat. Lalu masih ada Bidadari Angin Timur, Dewi
Payung Tujuh...”
“Sudah... sudah!” seru Wiro sambil garuk-garuk kepala. “Bagaimana kau bisa
tahu semua itu?!”
Raja Obat tertawa mengekeh. “Tuhan memberikan beberapa kelebihan pada tua
renta buruk ini... Kalau saja aku masih muda sepertimu hemm...”
Wiro membalas senda gurau Raja Obat itu dengan gurauan pula. “Kau menyesal
terlanjur lahir cepat? Walau sudah tua bukankah kau bisa meramu obat kuat hingga
mampu berbuat lebih hebat dari anak muda?! Ha... ha... ha! Kalau kau nanti meramu obat
kuat itu jangan lupakan diriku. Tinggalkan barang segenggam! Ha...ha...ha!”
Raja Obat tertawa pencong lalu berkata. “Kau sudah siap meninggalkan pulau ini
dan seperjalanan denganku?”
”Tentu saja!”
“Maaf saja anak muda. Aku merasa malu berjalan sama-sama denganmu!”
“Eh, memangnya ada apa Raja Obat?” tanya Wiro.
“Di pipimu kiri-kanan masih ada tanda merah bekas kecupan Iblis Putih Ratu
Pesolek itu!”
“Eh, bukankah tadi waktu di lobang sudah kubersihkan?!”
“Apanya yang kau bersihkan. Tanda itu masih ada!”
“Jangan bergurau Raja Obat!”
“Siapa yang bergurau?!”
“Wah... wah!” Wiro pergunakan kedua tangannya untuk menggosok pipinya kiri
kanan. “Sudah hilang?” tanyanya pada Raja Obat.
Yang ditanya menggeleng.
Kini Wiro pergunakan baju hitamnya dan menggosok keras-keras.
“Tetap tidak hilang!” memberi tahu Raja Obat.
“Gila! Alat pewarna bibir apa yang dipakai nenek setan itu. Jangan-jangan
sebangsa cat yang tak bisa dihapus. Tapi tunggu dulu. Aku belum mencoba yang ini!”
Wiro ludahi kedua telapak tangannya kiri kanan. Dengan basahan ludah dia
membersihkan kedua pipinya.
“Percuma saja Wiro. Tanda bibir bekas kecupan itu tak mau hilang. Kau harus
mencari sejenis minyak untuk menghilangkannya!”
“Mati aku! Bagaimana aku bisa kemana-mana seperti ini?!“
“Agaknya kau terpaksa memakai topeng atau memakai cadar!”
“Nenek setan keparat!“ maki Wiro.
***
TAMAT
0 comments:
Posting Komentar